Eps 11 Kisah Si Bangau Putih - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Si Bangau Putih - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Si Bangau Putih - Kho Ping Hoo.
Memalukan sekali kalau ia harus berkelahi melawan seorang anak kecil berusia sembilan tahun!
Ia lalu mengalihkan pandang matanya, memperhatikan Sin Hong tanpa membalas penghormatan pemuda itu.
"Aku mencari bocah bengal ini. Apamukah dia?"
Ia melirik kepada Yo Han yang menahan dirinya untuk diam saja karena dia takut kepada gurunya.
Akan tetapi dia membalas pandang mata gadis itu dengan berani dan sikapnya tenang sekali.
Dia merasa tidak bersalah, maka sedikit pun tidak merasa takut.
"Dia ini adalah muridku, Nona. Kalau dia melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan hatimu, harap Nona suka memaafkan anak yang masih kecil ini."
Mendengar bahwa pemuda itu guru dari anak nakal itu, lega rasa hati Siang Cun. Setidaknya, ia akan berurusan dengan gurunya, bukan dengan bocah itu.
"Bagus!"
Katanya.
"Engkau adalah gurunya maka harus engkau yang bertanggung jawab atas kejahatannya! Biarpun dia masih kecil, akan tetapi dia jahat sekali. Lihat apa yang telah dilakukannya terhadap suteku ini. Dia ini suteku, akan tetapi aku yang membimbing mereka, maka aku dapat juga disebut guru mereka. Tiga orang suteku telah luka-luka karena perbuatan muridmu yang jahat ini. Lihat pergelangan tangan suteku yang ini digigit sampai terluka parah dan banyak darah terbuang."
Sin Hong menahan senyumnya. Gadis itu lincah dan galak, menunjukkan sikap yang mengandung kegagahan walaupun ada keangkuhan membayanginya.
"Sekali lagi maaf. Muridku telah bercerita kepadaku tentang perkelahian antara dia dan tiga orang anak-anak yang usianya lebih tua darinya. Menurut dia, dia telah dihina dan dikeroyok oleh tiga orang anak itu, maka dia membela diri..."
"Dia telah menendang anjing peliharaan dan. kesayangan kami!"
Gadis itu memotong.
"Sudah sepatutnya kalau dia dihajar atas perbuatannya itu! Dan kalau dia melawan secara gagah dan benar, kami pun tidak akan ribut lagi. Kalau tiga orang suteku kalah oleh ilmu silatnya, aku hanya akan menegur murid-murid itu. Akan tetapi muridmu ini jahat, menggunakan kecurangan, menggigit dan mencakar!"
Sin Hong kini tersenyum.
"Muridku sudah mengakui kesalahannya menendang anak anjing itu karena kaget ketika diserbu anjing itu, akan tetapi tiga orang anak itu mengeroyoknya. Muridku ini tidak pandai silat, mana mungkin menggunakan ilmu silat untuk membela diri? Dia hanya dapat menggigit, mencakar, hanya untuk membela dirinya yang dipukuli tiga orang anak. Harap Nona suka memaafkan kami dan menyudahi saja urusan antara anak-anak kecil ini. Lihat, muridku juga sudah babak belur. Tentu dia lebih banyak menerima pukulan daripada para sutemu, dan dia lebih banyak menderita kesakitan."
Diam-diam Sin Hong.
merasa bangga melihat kenyataan betapa muridnya itu, biarpun lebih banyak menerima hantaman, tetap tenang dan tabah, tidak seperti anak yang lengannya dibalut itu, kelihatan cengeng.
"Tidak bisa!"
Siang Cun membantah.
"Kalau tidak ada gurunya, aku hanya akan menegur bocah bengal ini. Akan tetapi setelah ada gurunya yang bertanggung jawab, maka engkau sebagai gurunya harus berani menghadapi akibat perbuatan muridmu dan bertanggung jawab sepenuhnya!"
Sin Hong mengerutkan alisnya. Gadis ini terlalu mendesak dan mau menang sendiri saja, pikirnya. Akan tetapi dia masih tersenyum.
"Lalu apa yang harus kulakukan untuk mempertanggung-jawabkan perbuatan muridku, Nona? Tentu saja aku suka bertanggung jawab."
"Para suteku atau juga murid-muridku berkelahi dengan muridmu yang mempergunakan kecurangan. Sekarang, kita sama-sama guru atau pelatih masing-masing harus menentukan siapa di antara kita yang lebih unggul! Aku tantang kamu untuk mengadu ilmu silat dengan adil dan jujur, tidak mempergunakan kecurangan."
Setelah berkata demikian, Siang Cun sudah mengambil sikap, memasang kuda-kuda ilmu silat perguruan ayahnya.
Ayahnya adalah seorang ahli ilmu silat Ngo-heng-kun, dan ilmu silat tangan kosong ini memiliki banyak sekali perkembangan sehingga dapat dipergunakan untuk memainkan senjata apa pun juga.
Sesuai dengan namanya, Ngo-heng-kun (Silat Lima Unsur) memiliki lima macam sifat yang paling berlawanan dan juga saling membantu.
Ayah Siang Cun yang bernama Bhe Gun Ek adalah seorang pendekar yang mahir ilmu-ilmu silat Siauwlim-pai dan Bu-tong-pai.
Penggabungan kedua aliran inilah yang menciptakan Ngo-heng-kun seperti yang dimilikinya sekarang, yang berbeda dengan Ngo-heng-kun dari Siauw-lim-pai maupun Bu-tong-pai, akan tetapi yang mengandung bagian-bagian terindah dan terlihai dari keduanya.
Ketika memasang kuda-kuda ilmu silat Ngo-heng-kun, Siang Cun berdiri dengan kedua kaki terpentang, yang kiri di depan, yang kanan di belakang, ditekuk menyerong, tubuhnya tegak, kedua lengannya melingkar di depan dada, membentuk tanda Im-yang karena Im-yang merupakan inti dari Ngo-heng.
Sikapnya gagah dan kuda-kuda itu indah, membuat Sin Hong kagum dan tertarik.
Tentu saja sama sekali dia tidak berniat untuk berkelahi apalagi bermusuhan dengan gadis itu atau siapa saja hanya karena perkelahian anak-anak maka dia pun tidak mau melayani gadis itu.
"Nona, maafkanlah kami. Aku tidak ingin berkelahi dan biarlah sebelum berkelahi aku mengaku kalah padamu!"
Mendengar ini, diam-diam Yo Han merasa penasaran sekali.
Dia menganggap gurunya orang yang amat gagah perkasa, sakti dan tak mengenal takut.
Akan tetapi mengapa gurunya menerima saja sikap gadis ini yang demikian angkuh dan memandang rendah?
Dia tidak berani menegur gurunya, akan tetapi anak yang banyak akalnya ini mengambil keputusan untuk menambah minyak pada api yang membakar dada gadis itu agar gadis itu benar-benar dapat bertanding melawan gurunya!
"Bibi yang baik...."
Dia berkata sambil melangkah maju mendekati Siang Cun.
"Aku bukan bibimu!"
Bentak gadis itu, semakin marah karena ia merasa tidak pantas seorang anak berusia sembilan atau sepuluh tahun menyebut ia bibi, padahal ia baru berusia sembilan belas tahun.
Yo Han yang memang sengaja, segera melanjutkan.
"Ah, Enci yang baik, harap jangan melanjutkan sikap Enci menantang Suhuku. Tidak tahukah Enci bahwa Suhu bersikap mengalah kepadamu? Kalau Suhu menanggapi dan menyambut tantanganmu, dalam beberapa jurus saja Enci tentu akan kalah...."
"Yo Han....!"
Sin Hong berseru, alisnya berkerut dan dia terkejut mendengar ucapan muridnya itu yang demikian menyombongkan diri.
Yo Han membungkam dan melangkah mundur akan tetapi sudah cukup baginya.
Akalnya itu berhasil, karena wajah Siang Cun menjadi merah padam dan gadis itu sudah menjadi marah sekali.
"Bagus, kalian adalah orang-orang sombong! Nah, sambutlah seranganku, hendak kulihat apakah benar dalam beberapa jurus engkau mampu mengalahkan aku!"
Berkata demikian, tanpa memberi kesempatan kepada Sin Hong untuk membantah lagi, Siang Cun sudah menyerang dengan cepatnya.
Serangannya itu cepat bertubi-tubi datangnya, dan setiap tamparan, tonjokan atau tendangan mendatangkan angin yang kuat, tanda bahwa gadis ini memiliki kekuatan sin-kang yang sudah lumayan hebatnya.
"Plak-plak! Wuuuuuttt.... plak-wuuut-wuuuttt!"
Lima kali berturut-turut Siang Cun mengirim serangan yang cukup dahsyat.
Sin Hong yang didesak itu hanya main mundur, menangkis atau mengelak.
Ketika menangkis, dia menyimpan tenaganya karena tidak ingin mencelakai gadis itu, akan tetapi dia kagum ketika mendapat kenyataan bahwa kekhawatirannya itu tidak beralasan karena gadis itu ternyata memiliki sin-kang yang kuat!
Dan setiap serangan yang dilakukan gadis itu pun dahsyat, cepat dan kuat sehingga dalam gebrakan pertama saja tahulah Sin Hong bahwa gadis ini bukan seorang ahli silat sembarangan saja, melainkan seorang yang telah mewarisi ilmu silat tingkat tinggi.
Di lain pihak, Siang Cun juga terkejut bukan main.
Tadinya dipandangnya rendah pemuda berpakaian putih itu.
Muridnya hanya pandai mencakar dan menggigit, tentu gurunya juga hanya mempunyai ilmu silat pasaran saja.
Akan tetapi, sungguh mengherankan sekali betapa serangkaian serangannya yang termasuk jurus cukup ampuh dapat dihindarkan pemuda itu dengan tangkisan dan elakan yang cukup lincah!
Dan biarpun ia tidak merasakan adanya tenaga yang kuat ketika pemuda itu menangkis, namun pemuda itu pun tidak nampak terhuyung atau terdorong mundur.
Ia menjadi penasaran dan kini Bhe Siang Cun mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan jurus-jurus simpanan dari Ngo-heng-kun untuk merobohkan atau mengalahkan lawannya!
Sin Hong semakin kagum.
Kiranya gadis ini memang lihai sekali.
Ilmu silatnya itu hebat, selain cepat dan kuat, juga memiliki gaya yang indah dan daya serang yang berbahaya.
Terpaksa dia mulai mempergunakan sin-kangnya kalau dia tidak ingin celaka atau benar-benar roboh di tangan gadis ini!
Sin Hong mulai memainkan ilmu silat gabungan antara Pat-mo Sin-kun (Silat Sakti Delapan Dewa) yang dipelajarinya dari seorang di antara tiga orang gurunya di Istana Gurun Pasir, yaitu Tiong Khi Hwesio.
Dia tidak memainkan Pek-ho Sin-kun, karena ilmu ini terlalu hebat untuk dipakai main-main, dan hanya dia pergunakan kalau terpaksa sekali menghadapi lawan yang amat tangguh.
Begitu dia mainkan kedua gabungan ilmu silat sakti ini dan mengerahkan sin-kangnya, beberapa kali Siang Cun mengeluarkan seruan kaget.
Baru ia tahu bahwa pemuda berpakaian putih ini benar-benar lihai sekali dan ia pun kini merasa betapa pemuda itu sejak tadi banyak mengalah dan jarang membalas serangannya, bahkan main mundur saja.
Padahal, setiap kali beradu lengan, ia merasa lengannya kesemutan dan seperti hampir lumpuh karena getaran hebat yang terkandung dalam lengan pemuda itu.
Mulailah ia merasa kagum, heran dan menduga-duga siapa adanya pemuda yang amat lihai ini.
Sementara itu, melihat betapa gurunya selalu menangkis dan mengelak selalu main mundur, diam-diam Yo Han merasa khawatir juga.
Dia percaya penuh kepada suhunya yakin akan kelihaian suhunya.
Akan tetapi agaknya suhunya tidak mau sungguh-sungguh melawan gadis ini dan hal inilah yang membuatnya khawatir.
Adapun anak laki-laki yang dibalut lengannya, yang tadi digigitnya, kelihatan gembira sekali.
Anak itu lalu mendekati Yo Han dan berkata dengan nada suara sombong.
"Gurumu itu sebentar lagi tentu akan dipukul roboh oleh Su-ci!"
Yo Han mengerutkan alisnya dan memandang marah kepada bekas lawan itu.
"Belum tentu! Suhuku bukan orang yang mudah dikalahkan!"
"Hemmm, kita lihat saja! Suci-ku adalah puteri dari suhu, ketua dari Ngo-heng Bu-koan yang sudah terkenal di seluruh dunia. Suci-ku gagah perkasa dan tak pernah terkalahkan seperti seekor Naga Betina!"
Diam-diam Yo Han mendongkol. Mana ada manusia dibandingkan naga? Bohong dan membual saja, akan tetapi karena marah dia pun tidak mau kalah.
"Apa anehnya Naga Betina? Suhuku sama dengan Naga Emas!"
Mendengar Yo Han menyebut Kim-liang (Naga Emas), tiba-tiba anak itu terbelalak dan wajahnya berubah kaget dan agak pucat.
"Dia.... dia.... dari Kim-liong?"
Tentu saja Yo Han tidak mengerti apa yang dimaksudkan anak itu, akan tetapi karena sudah terlanjur membual, dia pun mengangguk.
"Tentu saja dia Kim-liong. Kau kira siapa?"
Sungguh mengherankan sekali. Mendengar ini, anak itu lalu lari menghampiri suci-nya yang sedang bertanding dan dia pun berteriak.
"Suci, awas! Dia itu dari Kim-liong-pang!"
Mendengar ini, Siang Cun juga nampak terkejut dan ia pun cepat mencabut sepasang pedang yang sejak tadi tergantung di punggungnya.
Dara ini memang tadi ingin mengadu ilmu dengan Sin Hong, akan tetapi hal itu terdorong oleh rasa penasaran saja.
Ia tidak ingin bermusuhan pula, maka tidak pernah menggunakan senjata.
Akan tetapi kini, begitu mendengar disebutnya Kim-liong-pang, ia menjadi marah dan kaget, lalu seketika mencabut sepasang pedangnya dan membentak.
"Keparat, kiranya engkau jahanam dari Kim-liong-pang!"
Dan tanpa memberi kesempatan kepada Sin Hong untuk membantah, Siang Cun kini sudah memutar sepasang pedangnya dan menyerang dengan hebat!
Gadis ini memang memiliki keahlian memainkan sepasang pedang.
Ilmu pedangnya masih merupakan perkembangan dari Ngo-heng-kun.
Dibantu oleh ayahnya yang ahli, gadis ini telah berhasil menciptakan ilmu pedangnya sendiri yang dinamakan Ngo-heng-kiam-hoat (Ilmu Pedang Lima Unsur) yang hebat.
Sin Hong terkejut sekali.
Dia hendak menyangkal bahwa dia dari Kim-liong-pang, karena memang dia sama sekali tidak tahu menahu tentang Kim-liong-pang.
Akan tetapi melihat permainan sepasang pedang yang indah dan ampuh itu, dia pun tertarik.
Seperti para pendekar pada umumnya, ilmu silat merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan Sin Hong.
Ilmu silat merupakan kesukaannya, olah raganya, keseniannya, bahkan pelindung dirinya.
Maka, setiap kali mendapat kesempatan bertemu tanding, hal ini merupakan suatu kegembiraan tersendiri.
Apalagi kalau melihat ilmu silat lawan yang indah dan ampuh, tentu timbul keinginan hatinya untuk menguji ilmu itu, atau juga menguji kepandaian sendiri apakah akan mampu melawan orang yang memiliki ilmu yang indah dan ampuh itu.
Oleh karena itu, begitu melihat gadis itu memainkan sepasang pedangnya, timbul keinginan hati Sin Hong untuk menguji ilmu itu dan dia pun segera memainkan Pek-ho Sin-kun!
Terjadilah perkelahian yang amat indah ditonton, akan tetapi juga menegangkan karena nampaknya amat berbahaya bagi Sin Hong.
Dua gulungan sinar pedang menyambar-nyambar dengan dahsyatnya, dibarengi suara berdesing dan tubuh Sin Hong lenyap, berubah menjadi bayangan yang berkelebatan di antara dua gulungan sinar pedang.
Sin Hong memainkan Pek-ho Sin-kun dengan cekatan sekali.
Kedua lengan ditelusuri tenaga sin-kang yang amat hebat, yaitu sin-kang gabungan yang diterimanya dari ketiga orang gurunya, manusia-manusia sakti di Istana Gurun Pasir.
Dengan tangan dan lengan telanjang, pemuda ini sekarang berani menangkis pedang atau senjata apa pun tanpa takut kalau kulit lengannya lecet!
Kedua tangan itu kadang-kadang membentuk moncong atau paruh burung bangau putih, lengan menjadi leher yang panjang dan paruh itu dapat mematuk-matuk berupa totokan-totokan pada jalan darah di tubuh lawan, bahkan lengan yang menjadi leher itu dapat menangkis dan membelit senjata, mencoba merampasnya.
Kadang-kadang kedua lengan itu menjadi seperti sayap burung dan gerakan tubuh pemuda itu indah bukan main.
Kadang-kadang, kedua kakinya membuat langkah yang lebar, kadang-kadang pula geseran kakinya halus dan pendek-pendek, dan ada kalanya tubuhnya itu meloncat tinggi seperti bangau terbang, dan dalam keadaan tubuh melayang ini keempat buah kaki dan tangannya dapat melakukan serangan yang amat dahsyat dari atas!
Akan tetapi, seperti juga tadi, Sin Hong yang hanya ingin menguji ilmu pedang gadis itu, tidak bertindak sungguh-sungguh dalam serangannya, lebih banyak membela diri saja.
Kalau dia menghendaki, meng-ingat bahwa tingkat ilmu kepandaiannya masih jauh di atas Siang Cun, tentu dalam waktu yang tidak terlalu lama dia akan dapat merobohkan gadis itu, atau setidaknya merampas sepasang pedangnya.
Namun, dia tidak mau melakukan hal itu, karena kalau dia berbuat demikian, Tentu akan semakin besar kemarahan dan dendam gadis itu kepadanya dan permusuhan antara mereka tentu akan menjadi-jadi.
Dia kini dapat menduga bahwa selain marah karena para sutenya tadi dijambak dan digigit Yo Han, juga dalam urusan antara dia dan gadis ini timbul suatu kesalahpahaman mengenai Kim-liong-pang yang belum dikenalnya.
Sementara itu, Bhe Siang Cun kini benar-benar terkejut.
Bukan hanya karena seruan sutenya yang mengatakan bahwa pemuda berpakaian putih ini dari Kimliong-pang, akan tetapi kenyataan betapa dengan kedua tangan kosong, pemuda itu mampu menghindarkan semua serangan-nya!
Dan hebatnya, pemuda itu berani menangkis kedua pedangnya dengan tangan dan lengan begitu saja tanpa terluka atau lecet sedikit pun!
Tak disangkanya bahwa lawan ini demikian lihainya dan ia pun mulai merasa khawatir.
Kalau lawannya ini dari Kim-liong-pang, maka ia tak mungkin dapat keluar dari perkelahian itu dalam keadaan hidup!
Tinggal dua pilihan, yaitu membunuh atau terbunuh!
Maka ia pun semakin nekat memutar pedangnya dengan cepat dan mengeluarkan jurus-jurus yang paling ampuh.
Melihat kenekatan gadis itu, Sin Hong juga merasa khawatir.
Perkelahian ini harus dihentikan secepatnya, pikirnya.
Maka, ketika pedang kanan dari gadis itu menyambar dari atas ke bawah, dia menggeser kaki mundur dan ketika pedang itu lewat, tangan kanannya menyambar seperti paruh bangau putih, dan tahu-tahu dua buah jari tangannya ditekuk, yaitu telunjuk dan jari tengah, telah menjepit pedang itu!
Bhe Siang Cun sekuat tenaga menarik pedangnya, namun sia-sia.
Pedang itu seperti terjepit catut baja yang amat kuat!
"Sudahlah, Nona.
Hentikan pertandingan ini dan mari kita bicara!"
"Tutup mulut! Aku tidak takut mati dan aku tidak sudi berunding dengan orang Kim-liong-pang!"
Gadis itu menarik-narik lagi tanpa hasil.
"Nona, aku bukan orang Kim-liong-pang!"
"Tak perlu berbohong!"
Siang Cun yang merasa gemas sekali karena pedangnya dijepit dua jari dan ia tidak mampu menarik kembali, merasa terhina dan dipermainkan.
Hampir tak masuk diakal kalau pedangnya dapat dijepit dua buah jari lawan tanpa ia mampu melepaskannya kembali!
Ia dianggap anak kecil yang tidak berdaya saja!
Sambil membentak, kini pedang di tangan kirinya membuat gerakan memutar dan membacok ke arah kepala Sin Hong.
"Tranggg....!"
Gadis itu terkejut karena pedang kirinya tertangkis oleh pedang kanannya sendiri, yang terbawa oleh dua buah jari tangan yang membetotnya!
Beberapa kali pedang kirinya membacok, selalu ditangkis oleh pedangnya sendiri.
Ia demikian jengkel dan malu sehingga mukanya meran dan matanya panas.
Hampir ia menangis!
Tiba-tiba terdengar anak yang dibalut lengannya itu berseru.
"Suhu, dia orang Kim-liong-pang!"
Dan pria yang baru datang itu, yang bukan lain adalah Bhe Gun Ek, melihat betapa puterinya dipermainkan seorang pemuda yang amat lihai.
Melihat betapa dengan sepasang pedang di tangan Siang Cun masih dapat dipermainkan, tahulah dia bahwa pemuda itu memiliki ilmu kepandaian tinggi.
"Orang Kim-liong-pang banyak lagak!"
Serunya dan dia pun meloncat ke dekat dua orang yang sedang tarik menarik pedang itu, dan dengan kedua tangan didorongkan, Bhe-kauwsu (guru silat Bhe) menyerang Sin Hong.
Sin Hong mendengar suara angin pukulan itu dan terkejut.
Itulah pukulan yang mengandung tenaga sakti amat kuat dan amat berbahaya.
Terpaksa dia lalu mendorong sehingga tubuh Siang Cun terhuyung ke belakang, dan dia pun cepat menyambut dorongan kedua tangan lawan baru itu dengan kedua tangannya sendiri.
Namun karena dia tidak bermaksud untuk mencari musuh, maka dia tidak mau menyambut dengan perlawanan keras, melainkan menyambut dan mengatur tenaganya untuk menyedot dan melumpuhkan tenaga dorongan lawan.
"Wuuuuuttt.... plak! Ahhh....!"
Bhe Gun Ek terkejut bukan main sehingga mengeluarkan seruan sambil melompat jauh ke samping ketika dia merasa betapa kedua telapak tangannya bertemu dengan dua telapak tangan lawan yang lembut, dan merasa betapa tenaga sin-kangnya seperti amblas masuk atau bertemu dengan benda yang lembut.
Dia merasa khawatir kalau sekali pukul dia mencelakai lawan yang belum dikenalnya siapa walaupun tadi anak itu mengatakan dia dari Kim-liong-pang, dan untuk menarik kembali pukulannya sudah tidak mungkin, maka jalan satu-satunya adalah melompat jauh ke samping sehingga hal ini akan mengurangi daya pukulannya.
Akan tetapi, alangkah terkejut dan herannya ketika dia melihat pemuda itu tidak apa-apa, bergeming sedikit pun tidak, masih berdiri tegak bahkan tersenyum kepadanya.
Dia pun tahu bahwa pemuda itu memang lihai, maka dia lalu menghampiri.
"Orang muda dari Kim-liong-pang, katakan dulu siapa namamu sebelum kita bertanding mati-matian di tempat ini!"
Tantangnya.
Sin Hong memandang penuh perhatian.
Seorang laki-laki yang gagah, berusia sekitar empat puluh lima tahun.
tubuhnya sedang namun kokoh kuat membayangkan adanya tenaga besar.
Pakaiannya sederhana saja, seperti-pakaian seorang guru silat yang ringkas.
Di pinggangnya nampak sebuah sabuk rantai dari baja dan Sin Hong dapat menduga bahwa tentu orang ini ahli pula memainkan rantai baja yang dipakai sebagai sabuk itu sebagai sebuah senjata yang ampuh.
Dia lalu menjura dengan hormat.
"Harap Paman suka memaafkan saya. Sesungguhnya, saya sama sekali bukan orang Kim-liong-pang, bahkan nama perkumpulan itu pun baru sekali ini saya dengar. Saya adalah seorang perantau yang kebetulan saja hari ini tiba di sini dan memilih kuil tua ini sebagai tempat tinggal sementara. Melihat sikap sopan pemuda itu dan mendengar kata-katanya, Bhe Gun Ek menjadi heran dan dia pun menoleh kepada puterinya.
"Benarkah dia seorang dari Kim-liong-pang?"
Tanyanya.
"Ayah, aku pun hanya mendengar dari Ceng Ki!"
Jawab gadis itu sambil menoleh kepada sutenya yang lengannya dibalut. Kini Bhe Gun Ek memandang muridnya itu dengan sikap keren.
"Ceng Ki, bagaimana engkau berani mengatakan bahwa dia ini orang Kim-liong-pang?"
Anak itu nampak ketakutan berhada-pan dengan Bhe Kauw-su yang memang terkenal galak terhadap para muridnya dan mengharuskan para muridnya memegang peraturan dan tidak melanggar.
Dia lalu menjatuhkan dirinya berlutut dan menjawab pertanyaan gurunya.
"Teecu.... teecu hanya mendengar keterangan muridnya itu...."
Kini Sin Hong yang terkejut.
"Yo Han, keterangan apakah yang telah kau berikan?"
Tanyanya keren.
"Teecu tidak memberi keterangan bahwa Suhu adalah orang Kim-liong-pang."
Yo Han membantah sambil memandang kepada Ceng Ki dengan mata melotot marah.
"tadi dia mengatakan bahwa suci-nya adalah Naga Betina, karena tidak mau kalah teecu mengatakan bahwa Suhu tidak akan kalah karena Suhu adalah Kim Liong (Naga Emas). Teecu tidak tahu mengapa mereka lalu menganggap Suhu orang dari Kim-liongpang!"
Mendengar ini, Sin Hong dan Bhe Gun Ek saling pandang, dan guru silat itu mengangguk-angguk, menarik napas panjang dan bertanya kepada puterinya.
"Nah, engkau mendengar sendiri, semua ini hanya kesalahpahaman saja karena mulut anak-anak. Lalu kenapa engkau menyerangnya mati-matian?"
"Begini, Ayah. Mula-mula, aku melihat Ceng Ki dan dua orang sutenya pulang dalam keadaan luka-luka. Ada yang kepalanya benjol-benjol karena dibentur-benturkan tanah, dan Ceng Ki sendiri pergelangan tangannya luka karena digigit sehingga harus diobati dan dibalut untuk menghentikan darah yang keluar banyak. Menurut cerita mereka, mereka berkelahi dengan seorang anak jahat yang menjambak dan menggigit. Aku segera bersama Ceng Ki mencari anak itu dan ternyata dia berada di sini dan anak itu adalah murid orang ini. Kami berdebat, berselisih dan berkelahi."
Bhe Gun Ek mengerutkan alisnya.
"Hemmm, hanya karena perkelahian anak-anak engkau lalu membela sampai berkelahi dengan orang? Siang Cun, bukanlah itu keterlaluan namanya?"
"Aku menjadi marah melihat para sute itu, apalagi Ceng Ki yang luka tergigit. Kalau mereka berkelahi biasa saja dan kalah pandai, aku pun tidak ambil peduli. Akan tetapi digigit!"
Sin Hong melangkah maju dan memberi hormat.
"Maaf, Paman, sesungguhnya urusan ini kecil saja dan harap dihabiskan saja. Murid saya ini sudah minta maaf dan menyadari kesalahannya, juga saya minta maaf untuk dia. Kami hanya dua orang perantau yang tidak ingin bermusuhan dengan siapapun, karena itu, sekali lagi, harap urusan kecil ini dihabiskan sampai di sini."
Bhe Gun Ek tadi sudah melihat betapa pemuda berpakaian putih ini memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat.
Dengan tangan kosong mampu menghadapi sepasang pedang puterinya, bahkan dia melihat betapa kedua pedang itu tidak berdaya sama sekali, yang sebatang dijepit dua buah jari dan dipakai menangkisi pedang yang lain!
Bukan itu saja, dia sendiri tadi menyerang dengan pukulan tenaga sakti, akan tetapi dapat disambut oleh pemuda itu secara aneh dan mengejutkan karena tenaga pukulannya seperti mengenai benda lunak yang membuat pukulan itu kehilangan kekuatannya.
Mendengar semua keterangan itu, dia pun cepat membalas penghormatan Sin Hong.
"Orang muda yang gagah, harap jangan terlalu merendahkan diri. Sepatutnya, kami dari Ngo-heng Bu-koan yang harus meminta maaf. Sikap murid-murid kecil kami, juga puteri kami tadi terhadap engkau dan muridmu sungguh tidak patut. Maafkanlah, orang muda dan tentu saja dengan senang hati kami menghabiskan urusan kecil itu sampai di sini saja. Bahkan, perkenankan kami mengundang Ji-wi untuk berkunjung ke rumah kami agar perkenalan ini dapat dipererat. Saya Bhe Gun Ek, juga puteri kami ini, Bhe Siang Cun, dan semua murid Ngo-heng Bu-koan mengundang Ji-wi untuk makan bersama di tempat kami."
Sin Hong merasa rikuh sekali.
Dia memang menghargai sikap guru silat itu, akan tetapi tentu saja dia merasa malu untuk hadir sebagai tamu, untuk dijamu makan, mengingat bahwa dia dan muridnya tidak mempunyai pakaian yang pantas untuk bertamu.
Akan tetapi sebelum dia menolak dengan halus, tiba-tiba Yo Han berkata.
"Wah, Suhu. Bhe-kauwsu yang terhormat ini sungguh gagah perkasa dan baik hati sekali, cocok seperti yang Suhu nasihatkan kepada teecu bahwa seorang gagah lebih dulu akan mencari kesalahan diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain! Dan bersikap ramah terhadap siapapun juga tanpa memandang kedudukan atau harta benda. Suhu, teecu senang sekali berkenalan dengan orang-orang gagah dari Ngo-heng Bu-koan!"
Mendengar ucapan yang lantang dan keluar dari mulut seorang bocah berusia sembilan tahun, Bhe Gun Ek memandang kagum dan tahulah dia mengapa bocah yang kabarnya tadi hanya mampu menampar dan menggigit menjadi murid seorang pemuda yang berilmu setinggi ini.
Kiranya bocah ini baru menerima gemblengan batin lebih dulu sehingga sekecil itu telah memiliki jiwa yang amat gagah perkasa!
Sedangkan Sin Hong diam-diam mendongkol akan tetapi juga geli hatinya terhadap muridnya.
Dia tahu bahwa Yo Han kegirangan diundang makan, karena dia masih menyesal (Lanjut ke
Jilid 25) Kisah Si Bangau Putih (Seri ke 14 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 25 menghilangkan uang dari gurunya tadi dan kini gurunya diundang makan, maka dia pun girang sekali.
Gurunya sejak kemarin belum makan dan dia pun demikian pula, dan perutnya sudah lapar sekali!
Bhe Gun Ek tersenyum girang.
"Wah, sungguh kami merasa berbahagia sekali, ternyata Ji-wi guru dan murid merupakan orang-orang gagah yang mengagumkan."
Lalu kepada puterinya dan Ceng Ki dia berkata.
"Hayo Siang Cun, engkau minta maaf kepada Tai-hiap (Pendekar Besar) ini, dan kau Ceng Ki, minta maaf kepada saudara kecil yang gagah ini!"
Siang Cun memang sudah tidak marah lagi setelah mendengar bahwa lawannya itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Kim-liong-pang, bahkan ia merasa kagum bukan main.
Selama hidupnya, baru sekali ini ia bertemu tanding seorang pemuda yang selihai ini.
Maka, mendengar ucapan ayahnya, ia pun cepat memberi hormat kepada Sin Hong.
"Saudara yang gagah, harap maafkan kesalahanku tadi karena kurang pengertian."
Sin Hong cepat membalas penghormatan itu.
"Akan tetapi, engkau sudah mengenal nama kami semua sedangkan kami belum mengenal namamu dan muridmu."
Kata Siang Cun. Sin Hong tersenyum.
"Nona, aku dan muridku hanya orang-orang pengembara yang tidak tentu tempat tinggalnya, nama kami pun sama sekali tidak terkenal."
"Enci yang gagah, jangan percaya kata-kata Suhu. Dia dijuluki orang Pek-ho Eng-hiong (Pendekar Bangau Putih)...."
"Yo Han! Berapa kali kularang engkau menyombongkan diri?"
Sin Hong membentak dengan muka merah.
Muridnya itu memang kadang-kadang nakal sekali, dan dia cepat menjura kepada Bhe Gun Ek dan Bhe Siang Cun, berkata dengan sikap merendah.
"Namaku Tan Sin Hong, dan muridku yang bodoh dan bandel ini bernama Yo Han."
Sementara itu, ketika Ceng Ki memberi hormat dan minta maaf kepadanya, Yo Han cepat berkata.
"Sudahlah, jangan minta maaf kepadaku, akan tetapi mintalah maaf kepada suhumu karena engkau telah melanggar ajarannya yang baik."
Kemudian, kontan dia berlutut di depan suhunya sendiri dan berkata.
"Harap Suhu sudi memaafkan kenakalan dan kebandelan teecu."
Yo Han memang cerdik sekali.
Dia maklum bahwa dia telah membuat gurunya rikuh, maka kini setelah memberi nasihat kepada Ceng Ki, dia pun cepat mendahului minta maaf kepada gurunya sendiri.
Mendengar ucapan Yo Han tadi, dan melihat anak itu minta maaf kepada gurunya, tentu saja Ceng Ki merasa malu dan cepat dia pun menjatuhkan dirinya di depan kaki gurunya dan mohon maaf atas kesalahannya.
"Harap Suhu sudi memaafkan teecu yang telah membuat keributan."
Melihat ini, Bhe Gun Ek tertawa bergelak dengan girang sekali.
"Ha-ha-ha! Memang banyak untungnya bergaul dengan orang-orang bijaksana. Tan-taihiap, kami merasa girang dan beruntung sekali dapat bertemu dan berkenalan dengan engkau dan muridmu. Yo Han, terima kasih atas pelajaran yang kau berikan kepada Ceng Ki! Marilah, Tan-taihiap, mari kita bercakap-cakap di rumah kami agar lebih leluasa!"
Sin Hong tidak dapat menolak lagi dan dia berjalan seiring dengan Bhe Gun Ek dan puterinya.
Yo Han mengiring-kan di belakangnya, bersama Ceng Ki yang kini bersikap manis kepadanya.
Sin Hong dan muridnya disambut sebagai seorang tamu kehormatan, dan pihak tuan rumah, dari Bhe Kauwsu, puterinya sampai para murid utama yang ikut menyambut, bersikap hormat kepada Sin Hong dan muridnya walaupun pakaian guru dan murid ini dihias tambalan.
Hal ini membuat Sin Hong tertarik dan juga kagum.
Tahulah dia bahwa dia berada di antara orang gagah dan hatinya merasa senang.
Dalam perjamuan yang meriah, ketika mereka makan minum bersama di sebuah meja besar yang terbuat dari meja disambung-sambung yang duduk mengelilingi meja itu ada belasan orang banyaknya termasuk murid-murid kepala, Sin Hong bertanya kepada tuan rumah tentang Kim-liong-pang.
"Bhe Kauwsu, aku masih merasa heran sekali ketika disangka orang dari Kim-liong-pang. Agaknya ada permusuhan antara Ngo-heng Bu-koan dan Kim-liong-pang itu. Perkumpulan apakah Kim-liong-pang itu dan kalau boleh aku bertanya, mengapa terjadi permusuhan?"
Ditanya demikian, wajah tuan rumah dan para muridnya menjadi muram. Setelah beberapa kali menarik napas panjang, Bhe Gun Ek lalu berkata.
"Kalau dipikir memang membuat orang menjadi penasaran dan sakit hati, Tan-taihiap. Bayangkan saja, Kim-liong-pang yang sarangnya berada di puncak bukit Kim-liong-san di luar kota Lu-jiang ini, dia pimpin oleh seorang sahabat baik, bahkan puteranya menjadi tunangan puteriku Siang Cun ini. Akan tetapi kini kami kedua pihak menjadi musuh besar dan terjadi perkelahian yang mengorbankan banyak murid-murid kami dan para anggauta Kim-liong-pang sendiri."
Tiba-tiba seorang di antara para murid kepala bangkit berdiri dan sambil mengepal tinju dia berkata.
"Suhu, maafkan teecu! Membicarakan Kim-liong-pang membuat teecu kehilangan nafsu makan dan sebaiknya kalau teecu tidak ikut mendengarkan. Perkenankan teecu mengundurkan diri, Suhu!"
Bhe Kauwsu memandang kepada murid itu dan menarik napas panjang.
"Aku dapat mengerti perasaanmu, Hok Ci. Kuperkenankan engkau mundur."
Murid Ngo-heng Bu-koan itu lalu menjura ke arah Sin Hong.
"Tan-taihiap, harap maafkan saya."
Dan dia lalu meninggalkan ruangan itu dengan langkah lebar.
Sin Hong memperhatikan murid itu.
Seorang pemuda berusia kurang lebih tiga puluh tahun, tubuhnya sedang saja namun nampak kuat dan gesit, wajahnya tampan namun dia melihat keganasan membayang pada pandang matanya, dan mulutnya selalu tersenyum agak sinis.
"Kasihan dia....!"
Kata Bhe Kauwsu.
"Harap maafkan dia, Tan-taihiap. Di antara kami, mungkin dia yang paling menderita akibat permusuhan dengan Kim-liong-pang, bahkan dialah yang mula-mula kehilangan seorang tunangan yang terbunuh oleh pihak Kim-liong-pang."
Sin Hong memandang tajam penuh selidik.
"Apakah Kim-liong-pang perkumpulan orang jahat?"
"Sama sekali tidak. Bahkan ketuanya, Ciok Kam Heng adalah bekas sahabatku, seorang gagah yang selalu menjunjung tinggi kebenaran. Puteranya, Ciok Lim, tadinya bahkan bertunangan dengan puteri kami Siang Cun. Sekarang tentu saja pertunangan itu putus dan mereka menjadi musuh besar kami."
"Tapi.... mengapa begitu?"
Sin Hong penasaran.
"Engkau sudah kami anggap sebagai seorang sahabat baik, Tan-taihiap, maka kami takkan menyimpan rahasia. Baiklah, kami akan bercerita mengenai permusuhan itu."
Bhe Gun Ek lalu bercerita dengan singkat namun jelas.
Dia adalah seorang ahli silat yang banyak mempelajari ilmu silat Siauw-lim-pai dan Bu-tong-pai, bahkan menggabungkan ilmu kedua partai persilatan itu dan menciptakan beberapa macam ilmu silat sendiri, di antaranya yang paling hebat adalah Ngo-heng-kun.
Ketika dia membuka rumah perguruan silat, dia memakai nama Ngo-heng Bu-koan karena memang inti pelajaran yang dia berikan adalah Ngo-heng-kun.
Bhe Gun Ek dan isterinya hanya mempunyai seorang anak, yaitu Bhe Siang Cun yang telah mewarisi ilmu-ilmunya bahkan gadis ini membantu para suhengnya, yaitu murid-murid tertua dan utama dari ayahnya, untuk membimbing kepada para murid muda.
Ketika Siang Cun berusia delapan belas tahun, setahun yang lalu, Bhe Gun Ek menerima pinangan seorang sahabatnya, yaitu Ciok Kam Heng, ketua dari Kim-liong-pang di puncak bukit Kim-liong-san yang nampak dari kota Lu-jiang.
Sudah lama dia bersahabat dengan Ciok Kam Heng dan pinangan itu segera diterima dengan senang hati.
Juga Siang Cu tidak membantah.
Putera tunggal ketua Kim-liong-pang itu bernama Ciok Lim, kini berusia dua puluh lima tahun.
Dia seorang pemuda yang cukup ganteng dan memiliki ilmu silat yang tinggi pula, bahkan dalam suatu pesta tahun baru, iseng-iseng kedua orang tua mereka menguji ilmu kepandaian pemuda dan gadis ini.
Mereka yang sudah ditunangkan itu mengadu ilmu dan harus diakui oleh Siang Cun bahwa tingkat kepandaian tunangannya itu sedikit lebih tinggi darinya.
Hal ini membuat hatinya senang, apalagi dalam adu ilmu itu, Ciok Lim selalu mengalah sehingga tidak membikin malu padanya.
Akan tetapi pada suatu malam, ketika Ciok Lim yang dijamu oleh Bhe-kauwsu pulang dalam keadaan setengah mabuk, terjadilah hal yang amat mengerikan.
Seorang murid perempuan dari Ngo-heng Bu-koan yang bernama Bong Siok Cin, seorang gadis manis berusia tujuh belas tahun, kedapatan tewas dalam keadaan telanjang bulat di dalam hutan kecil di kaki bukit Kim-liong-san!
Jelas bahwa gadis itu telah diperkosa orang lalu dibunuh!
Dan di antara pakaiannya yang berserakan direnggut dengan paksa dan robek-robek, para murid Ngo-heng Bu-koan menemukan sebuah topi merah.
Topi yang biasa dipakai oleh Ciok Lim!
Tentu saja terjadi geger di kalangan murid Ngo-heng Bu-koan!
Yang paling berduka dan marah adalah Phoa Hok Ci, karena Bong Siok Cin yang terbunuh dalam keadaan terhina dan menyedihkan itu bukan lain adalah tunangannya!
Biarpun Bhe Kauwsu membujuknya agar bersabar dan kematian murid itu perlu diselidiki dengan seksama, namun Phoa Hok Ci tidak dapat menahan dendam sakit hatinya.
Bersama tiga orang sute yang ikut berbela sungkawa dan bersetia kawan dia lalu pergi ke Kim-liong-san, mendatangi perkumpulan Kim-liong-pang dan langsung menantang Ciok Lim yang dituduhnya pemerkosa dan pembunuh!
Ciok Lim yang keluar menemui empat orang murid Ngo-heng Bu-koan itu terkejut bukan main dan tentu saja dia menyangkal keras.
Akan tetapi, dengan sikap menantang, dengan senyumnya yang sinis, Phoa Hok Ci yang menaruh dendam hebat atas kematian tunangannya itu, segera bertanya.
"Ciok Lim, kami tidak menuduh membuta-tuli! Coba katakan, ke mana semalam engkau pergi sampai larut malam?"
Ciok Lim mengerutkan alisnya. Dia mengenal Phoa Hok Ci sebagai suheng dari tunangannya, puteri Bhe Kauwsu.
"Kukira semua murid Ngo-heng Bu-koan juga melihatku. Aku mendapat kehormatan dijamu minum arak oleh calon ayah mertuaku, yaitu guru kalian. Menjelang tengah malam, aku pulang."
"Dalam keadaan mabuk, bukan?"
Phoa Hok Ci mendesak.
"Aku tidak pernah mabuk, dalam arti kata sampai tidak sadar. Memang aku telah minum banyak, akan tetapi aku masih sadar dan dapat pulang, setibanya di rumah langsung tidur."
"Hemmm, bagus sekali karanganmu itu! Engkau dalam keadaan setengah mabuk, bertemu dengan sumoi Bong Siok Cin di jalan. Engkau menggodanya dan tentu saja ia bukan lawanmu. Engkau menangkapnya dan membawanya sampai ke hutan di kaki bukit Kim-liong-san, kemudian engkau memperkosanya! Karena takut gadis itu membuka rahasia kejahatanmu, engkau lalu membunuhnya!"
"Tidak benar! Itu fitnah belaka!"
Bantah Ciok Lim dan ketika itu sudah banyak anggauta Kim-liong-pang yang keluar menyaksikan percekcokan itu.
"Aku tidak bertemu siapapun dan dan tidak melakukan perbuatan terkutuk seperti yang kau tuduhkan"
"Ciok Lim, tidak perlu engkau menyangkal lagi. Bukti-bukti telah lengkap, maka kunasihatkan engkau untuk menyerah saja agar kami tangkap dan kami bawa menghadap suhu kami!"
Kata pula Phoa Hok Ci dengan muka merah dan mencorong marah.
"Tidak! Apa buktinya bahwa aku melakukan perbuatan jahat itu?"
Tantang Ciok Lim.
"Hemmm, masih hendak menyangkal dan mau melihat buktinya?"
Phoa Hok Ci mengeluarkan sebuah topi merah yang sejak tadi disimpannya di dalam saku bajunya.
Itulah topi yang ditemukan di antara pakaian Bong Siok Cin yang berserakan.
"Nah, lihat, topi siapakah ini?"
Sepasang mata Ciok Lim terbelalak memandang kepada topi di tangan murid Ngo-heng Bu-koan itu, dan wajahnya berubah.
"Itu.... itu memang topiku.... semalam aku kehilangan topiku itu! Ah, aku berada dalam keadaan setengah mabuk karena terlalu banyak minum sehingga aku lupa lagi di mana kutaruh topiku. Akan tetapi.... bagaimana topiku itu dapat berada di tanganmu?"
Mulut Phoa Hok Ci semakin sinis menyeringai.
"Hemmm, pandai berpura-pura pula! Ciok Lim, tidak perlu engkau menyangkal lagi. Topi ini kami temukan di dekat mayat sumoi Bong Siok Cin!"
"Suheng, tangkap saja dia. Untuk apa banyak cakap lagi terhadap seorang pemerkosa dan pembunuh yang amat keji?"
Teriak seorang murid Ngo-heng Bu-koan.
Phoa Hok Ci lalu maju menyerang dengan pedangnya.
Ciok Lim terpaksa membela diri dan mencabut pedang pula.
Ketika tiga orang murid Ngo-heng Bu-koan maju mereka disambut oleh banyak murid atau anggauta Kim-liong-pang.
Terjadilah perkelahian dengan kekalahan di pihak empat orang murid Ngo-heng Bu-koan!
Mereka terpaksa melarikan diri dalam keadaan luka-luka dan sambil mengeluh mereka mengadu kepada guru mereka.
Bhe Kauwsu menjadi bingung.
Memang murid perempuan dari perguruannya diperkosa dan dibunuh orang, akan tetapi dia masih meragukan apakah benar calon mantunya yang melakukan perbuatan keji itu.
Bagaimanapun juga, topi merah itu ditemukan di antara pakaian mendiang Siok Cin yang berserakan, dan semalam, ketika dia menjamu minum arak kepada calon mantunya ltu, memang Ciok Lim memakai topi merah itu!
Ketika Bhe Gu Ek yang cukup bijaksana mengambil keputusan untuk mengunjungi Kim-liong-pang dan mengadakan perundingan yang penuh persahabatan dengan sahabatnya dan calon besannya, walaupun puterinya sendiri dan para muridnya menyatakan tidak setuju, Tiba-tiba muncul belasan orang anggauta Kim-liong-pang yang datang dengan marah-marah dan memaki-maki Ngo-heng Bu-koan yang katanya merupakan pembunuh curang!
Bhe Gun Ek melarang puterinya dan para muridnya yang hendak keluar menghajar orang-orang Kim-liong-pang, dan dia sendiri lalu keluar, diikuti oleh Siang Cun dan banyak murid kepala yang masih merasa penasaran.
Para anggauta Kim-liong-pang itu biasanya bersikap hormat kepada Bhe Kauwsu karena guru silat ini adalah calon besan dari ketua mereka.
Akan tetapi sekarang mereka bersikap lain sama sekali.
Mereka tetap berdiri tegak dan bertolak pinggang biarpun Bhe Gun Ek sudah muncul dan berdiri di depan mereka!
Melihat sikap ini, Bhe Kauwsu mengerutkan alisnya, akan tetapi dia menahan sabar karena maklum bahwa sikap mereka itu pasti ada sebabnya.
"Bukankah Cu-wi para anggauta Kim-liong-pang? Ada keperluan apakah Cu-wi datang berkunjung? Apakah diutus oleh Ciok Pangcu (Ketua Pangcu)?"
Tanya Bhe Kauwsu dengan suara ramah.
"Bhe Kauwsu, kami datang untuk menuntut balas atas kematian seorang sute kami yang tidak berdosa! Sute kami dibunuh oleh seorang murid dari Kauwsu, maka sebaiknya kalau murid yang jahat itu diserahkan kepada kami!"
Kata seorang di antara mereka, mewakili teman-temannya, dengan nada suara penuh kemarahan.
Bhe Kauwsu mengerutkan alisnya lebih dalam lagi dan setelah menarik napas panjang dia berkata.
"Aih, apa lagi ini? Terbunuhnya seorang murid perempuan dari perguruan kami belum juga diselesaikan, dan sekarang muncul tuduhan bahwa seorang anggauta Kim-liong-pang terbunuh oleh seorang muridku?"
"Bhe Kauwsu! Kongcu kami sama sekali tidak merasa melakukan pembunuhan terhadap murid perempuan perguruan sini. Kongcu berani bersumpah...."
"Sumpah palsu! Siapapun juga dapat bersumpah palsu!"
Bentak Siang Cun.
Gadis ini sekarang amat membenci tunangannya dan hal inilah yang membuat para murid Ngo-heng Bu-koan semakin bersemangat memusuhi pihak Kim-liong-pang.
"Sebaiknya kalau Kauwsu menyelidiki yang benar. Bukan kongcu kami yang membunuh. Akan tetapi kini murid-muridmu telah membunuh seorang sute kami dengan amat kejamnya! Mungkin sute dikeroyok, melihat betapa tubuhnya hancur dicacah-cacah oleh bacokan senjata tajam. Sungguh pembunuhan yang kejam dan tidak mengenal perikemanusiaan!"
"Huh! Apakah pembunuhan terhadap sumoi Bong Siok Cin itu berperikemanusiaan? Sebelum dibunuh diperkosa dulu! Perbuatan itu biadab dan lebih kejam lagi. Kalau sampai ada seorang saudara seperguruanku membalas dendam dan membunuh seorang anggauta Kim-liong-pang, hal itu sudah sepantasnya!"
"Hok Ci, diam kau! Dan Siang Cun, jangan mencampuri percakapan kami! Kalian dengarkan saja!"
Bhe Kauwsu membentak karena suara para muridnya itu hanya akan memanaskan suasana saja.
Lalu dia menghadapi orang-orang Kim-liong-pang itu dan berkata.
"Cuwi menuduh bahwa murid-murid kami melakukan pengeroyokan dan pembunuhan terhadap seorang anggauta Kim-liong-pang. Apa buktinya bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh murid perguruan kami?"
"Jenazah sute ditemukan di luar tembok kota Lu-jiang, tubuhnya hancur dan di dekat jenazahnya kami menemukan ini!"
Kata anggauta Kim-liong-pang sambil menyerahkan sebuah bungkusan kain kuning panjang.
Bhe Kauwsu menerima bungkusan itu terisi sebuah pedang panjang yang patah menjadi dua.
Dan di gagang pedang patah itu, jelas dapat dilihatnya ukiran dua huruf berbunyi Ngo Heng, ukiran yang terdapat pada semua senjata di perguruannya, senjata-senjata yang disediakan di lian-bu-thia (ruangan berlatih silat) untuk latihan!
Jelas bahwa pedang itu adalah pedang milik Ngo-heng Bu-koan, dan siapa lagi yang mempergunakannya kalau bukan seorang di antara para muridnya.
Pedang itu agaknya patah ketika dipakai berkelahi, maka dibuang begitu saja dan ditemukan sebagai tanda bukti bahwa pembunuh anggauta Kim-liong-pang adalah orang Ngo-heng Bu-koan!
Bhe Kauwsu menoleh kepada para muridnya.
Wajahnya berubah merah dan dia bertanya dengan suara yang mengandung wibawa.
"Siapa di antara kalian yang mempergunakan pedang kita ini? Hayo mengaku sebagai seorang gagah yang selalu siap mempertanggungjawabkan perbuatannya!"
Akan tetapi tak seorang pun di antara murid-muridnya yang menjawab atau mengaku. Semua berdiam diri, kemudian Siang Cun berkata dengan suara mencela.
"Ayah, apakah Ayah perlu mendengarkan fitnah yang mereka lontarkan kepada kita?"
Pimpinan anggauta Kim-liong-pang berkata, nada suaranya mengejek.
"Hemm, Bhe Kauwsu, tidak ada muridmu yang berani mengaku. Mereka itu pengecut, sudah berani berbuat tidak berani bertanggung jawab."
"Tutup mulutmu yang busuk!"
Tiba-tiba Siang Cun meloncat ke depan, menghadapi anggauta pimpinan Kim-liong-pang itu dengan marah.
"Tuan mudamu sudah jelas memperkosa dan membunuh saudara kami, dan ada bukti topinya ketinggalan akan tetapi dia menyangkal. Dialah yang pengecut besar! Dan kini kalian membalikkan kenyataan? Andaikata ada di antara kami yang membunuh sutemu, hal itu sudah tepat, karena orang-orang macam kalian ini memang patut dibasmi!"
"Siang Cun....!"
Ayahnya mencegah, akan tetapi percuma karena kedua pihak sudah saling terjang dan saling serang.
Terjadilah pertempuran antara belasan orang anggauta Kim-liong-pang melawan para murid Ngo-heng Bu-koan yang jumlahnya jauh lebih banyak!
Bhe Kauwsu tidak dapat mencegah lagi, maklum bahwa orang-orang muda kedua pihak itu sudah dibakar oleh kemarahan dan sakit hati.
Dia merasa sedih sekali, akan tetapi mengambil keputusan untuk tidak campur tangan sendiri, maka dia lalu mengundurkan diri dan masuk ke dalam kamarnya.
Perkelahian keroyokan yang berat sebelah itu tentu saja berakhir dengan kekalahan pihak Kim-liong-pang yang jauh lebih sedikit jumlahnya.
Apalagi di pihak Ngo-heng Bu-koan terdapat Siang Cun yang amat lihai.
Akhirnya, belasan orang anggauta Kim-liong-pang itu terpaksa melarikan diri sambil membawa lari teman-teman yang terluka parah.
Siang Cun melarang teman-temannya yang hendak melakukan pengejaran.
"Biarkan mereka pergi?"
Teriaknya.
"Ketika sebagian dari kalian datang ke sana, kalian dikalahkan akan tetapi tidak ada seorang pun di antara kalian yang terbunuh. Biarlah sekali ini kita membalas kekalahan itu dan biarkan mereka pulang melapor kepada ketua mereka!"
Sin Hong dan Yo Han mendengarkan cerita dari Bhe Gun Ek dengan hati tertarik sekali.
Bhe Gun Ek menarik napas panjang berulang kali, wajahnya nampak berduka dan dia pun melanjutkan.
"Demikianlah, Tan-taihiap. Semenjak penyerbuan itu, terjadi permusuhan di antara Bu-koan kami dan Kim-liong-pang. Beberapa kali aku ingin menghubungi Ciok Pangcu, akan tetapi selalu para murid kedua pihak yang mencegah, mereka sudah dibakar emosi, bahkan semenjak itu, sudah berulang kali terjadi perkelahian, bahkan sudah belasan orang dari masing-masing pihak jatuh tewas sebagai korban perkelahian terbuka maupun pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan secara diam-diam karena dendam."
"Hemmm, jadi itulah kiranya yang menyebabkan kesalahpahaman antara aku dan nona Bhe Siang Cun? Aku disangka seorang dari Kim-liong-pang dan karenanya harus dibunuh?"
Wajah gadis itu menjadi merah.
"Ada berita bahwa pihak Kim-liong-pang akan mengundang jagoan lihai untuk menghadapi kami, karena itu aku mudah menaruh curiga kepada seorang asing."
"Akan tetapi, Bhe Kauwsu, apakah semenjak peristiwa pertama, yaitu kematian murid perempuan dari perguruanmu itu, engkau tidak pernah mengadakan hubungan langsung dengan Ciok Pangcu?"
Guru silat itu menarik napas panjang.
"Itulah salahnya. Bagaimanapun harus kuakui bahwa ada rasa sakit di dasar hatiku karena perkosaan dan pembunuhan terhadap seorang muridku, dan karena pelaku kejahatan itu adalah putera Ciok Pangcu, juga sudah menjadi calon mantuku, tentu saja aku merasa amat tidak enak untuk menemuinya dan membicarakannya. Ditambah lagi dengan sikap bermusuhan yang berlarut-larut dari anggauta dan murid kedua pihak, maka kini sudah tidak mungkin lagi bagiku untuk mengadakan pertemuan secara damai dengan Ciok pangcu. Bahkan akhir-akhir ini ada berita bahwa pihak Kim-liong-pang hendak mengundang jagoan yang lihai untuk menantang kami untuk mengadakan pertempuran secara terbuka."
Guru silat itu kelihatan penasaran dan berduka. Sin Hong menggeleng-geleng kepalanya.
"Ah, kalau keadaan sudah demikian parah, sukar untuk dicari jalan damai."
Tiba-tiba Yo Han bangkit berdiri.
"Suhu, ada kemungkinan ke tiga dalam urusan ini yang agaknya dilupakan orang...."
"Hushhh! Yo Han engkau anak kecil tahu apa? Jangan ikut campur!"
Bentak Sin Hong terkejut dan rikuh sekali melihat betapa muridnya demikian lancang untuk mencampuri urusan yang demikian besarnya.
Mendengar bentakan gurunya, Yo Han diam dan duduk kembali.
Akan tetapi Bhe Kiauwsu merasa tertarik mendengar ucapan Yo Han tadi.
Pemuda yang menjadi tamunya itu seorang yang berilmu tinggi, tentu muridnya juga bukan anak sembarangan.
Sikap bocah itu saja sudah menunjukkan bahwa dia cerdas sekali.
"Aih, Tan-taihiap, agaknya muridmu mempunyai pandangan yang amat penting sekali. Biarkanlah dia bicara. Anak baik, apakah kemungkinan ke tiga yang agaknya kami lupakan itu? Katakanlah."
Yo Han melirik ke arah suhunya.
"Suhu, bolehkah teecu bicara?"
Sin Hong menahan senyumnya.
Dia tahu bahwa muridnya itu, biarpun usianya baru sembilan tahun, namun memiliki kecerdikan luar biasa, bahkan dapat mengikuti jalan pikiran orang dewasa.
Dia tahu bahwa pandangan anak itu kadang-kadang tajam dan tidak ngawur.
Kalau tadi dia terkejut dan rikuh adalah karena muridnya itu dianggap lancang mencampuri urusan orang lain, apalagi urusan permusuhan yang demikian pentingnya, yang sudah mengorbankan banyak nyawa dan yang membuat tuan rumah berduka sekali.
"Yo Han, benarkah apa yang akan kau katakan itu penting sekali? Kalau tidak penting jangan bicara!"
"Suhu, teecu tidak berani main-main. Teecu tahu ada waktu untuk main-main dan ada waktu untuk bersungguh-sungguh, dan apa yang akan teecu katakan ini menurut teecu penting sekali."
Kata Yo Han sambil bangkit berdiri lagi.
"Kalau begitu, bicaralah."
Kata Sin Hong, percaya sepenuhnya kepada murid yang baru berusia sembilan tahun lebih itu.
Semua mata ditujukan kepada Yo Han dengan penuh perhatian, namun anak itu sama sekali tidak nampak gugup walaupun yang memandangnya adalah orang-orang dewasa.
"Begini, Suhu dan para Paman yang terhormat, juga engkau, enci Siang Cun. Aku telah mendengarkan semua percakapan tadi dan aku membayangkan adanya hal-hal aneh dalam peristiwa ini. Menurut nalar, kalau Ngo-heng Bu-koan tadinya bersahabat erat dengan Kim-liong-pang, bahkan ada pengikatan perjodohan, hal itu dapat dianggap bahwa tentu Kim-liong-pang merupakan perkumpulan orang gagah pula, bukan perkumpulan penjahat. Maka, andaikata benar bahwa putera ketua Kim-liong-pang yang melakukan perkosaan dan pembunuhan itu, tidak mungkin orang tuanya dan juga perkumpulannya yang menjunjung tinggi kegagahan akan membelanya! Kalau mereka membela mati-matian sampai mengorbankan nyawa, tentu mereka merasa yakin bahwa mereka itu benar! Seperti halnya Ngo-heng Bu-koan sendiri yang menyangkal keras ketika dituduh telah membunuh seorang anggauta Kim-liong-pang dan ada pedang Ngo-heng Bu-koan ditemukan di dekat mayat anggauta Kim-liong-pang itu."
"Tapi itu fitnah!"
Siang Cun berseru.
"Akan tetapi ada bukti pedang...."
Yo Han berkata dengan maksud memancing.
"Ah, pedang itu bukan bukti mutlak. Bisa saja pedang kami dicuri orang dan dijadikan bukti palsu!"
Gadis itu membantah lagi.
"Nah, justeru ini yang menjadi maksudku, enci Siang Cun. Fitnah dan bukti palsu! Kalau pedang Ngo-heng Bu-koan dapat dicuri orang dan dijadikan bukti palsu, bukankah topi dari putera Kim-liong Pangcu itu pun dapat dicuri orang dan dijadikan bukti palsu pula? Nah, kemungkinan ke tiga yang kumaksudkan adalah fitnah dan bukti palsu itu! Siapa tahu, ada orang ke tiga yang bermain curang di sini, yaitu menjatuhkan fitnah kepada putera Ciok Pangcu, kemudian menjatuhkan fitnah sana dan fihak sini untuk mengadu domba...."
"Tidak mungkin!"
Seorang murid Ngo-heng Bu-koan bangkit berdiri dan membantah dengan suara keras.
"Siapa orang yang mau melakukan perbuatan gila itu dan apa maksudnya?"
"Itulah yang harus diselidiki,"
Kata Yo Han dengan sikap serius.
"Aku tadi hanya mengatakan kemungkinan ke tiga, mungkin terjadi demikian mungkin juga tidak."
"Luar biasa....!"
Tiba-tiba Bhe Kauwsu berseru dan matanya terbelalak memandang kepada Yo Han.
"Tan-taihiap, muridmu ini sungguh seorang anak yang luar biasa cerdiknya! Kemungkinan itu memang ada! Bagaimana tidak pernah terpikirkan oleh aku yang sudah setua ini?"
"Ah, Bhe Kauwsu terlalu memuji!"
Kata Sin Hong merendah walaupun di dalam hatinya dia merasa bangga dan juga kagum karena dia melihat adanya kemungkinan besar dalam ucapan muridnya tadi.
"Yo Han hanya ngawur saja."
"Tidak, tidak! Kemungkinan ke tiga itu memang ada! Ah, kenapa aku tidak menduga akan hal itu dan siang-siang mengadakan perundingan dengan Kim-liong-pang? Harus diadakan perundingan itu untuk bersama-sama melakukan penyelidikan akan kemungkinan ketiga itu!"
"Akan tetapi, Suhu. Keadaan sudah begini meruncing, kedua pihak telah kehilangan banyak anggauta yang roboh tewas. Sakit hati sudah semakin bertumpuk, bagaimana mungkin Suhu dapat mengadakan perundingan dengan pihak Kim-liong-pang? Teecu kira mereka tidak akan mau menerima uluran tangan Suhu."
Kata pula murid Ngo-heng Bu-koan itu. Bhe Kauwsu mengangguk-angguk.
"Engkau benar juga, memang sekarang sudah terlambat. Sayang baru sekarang ada anak cerdik ini yang mengingatkan, kalau dulu sebelum jatuh banyak korban...."
"Bhe Kauwsu, dalam keadaan seperti ini, memang tidak baik bahkan berbahaya kalau engkau yang pergi ke sana, mungkin akan menambah panasnya suasana dan menimbulkan kesalahpahaman kedua pihak. Biarlah saya yang akan mewakilimu pergi menghadapi pimpinan Kim-liong-pang untuk membicarakan kemungkinan ke tiga itu, menawarkan perdamaian dan kerja sama untuk menyelidiki persoalan ini."
"Ah, kalau Taihiap suka, sungguh kami merasa beruntung dan berterima kasih sekali!"
Kata guru silat Bhe dengan girang.
"Akan tetapi, Suhu. Apakah hal itu tidak akan merendahkan nama dan kehormatan Suhu khususnya dan para murid Ngo-heng Bu-koan pada umumnya? Mereka yang lebih dulu memulai permusuhan dan penghinaan yang teramat besar, memperkosa murid perguruan kita dan membunuhnya. Sudah patutkah kalau sekarang pihak kita yang melakukan pendekatan untuk berdamai? Kita akan dianggap takut!"
Yang bicara ini adalah seorang murid kepala lain dari Ngo-heng Bu-koan dan semua murid yang hadir dalam perjamuan makan itu mengangguk-angguk menyatakan setuju.
Yang mereka bela bukan hanya kebenaran, melainkan juga nama dan kehormatan perguruan mereka.
Mendengar ucapan murid kepala ini, Bhe Kauwsu mengerutkan alisnya dan dia pun mengangguk-angguk dan menjadi ragu.
Memang kalau dipikirkan, yang memulai permusuhan itu adalah pihak Kim-liong-pang, maka kalau kini pihak Ngo-heng Bu-koan yang membuat langkah pertama ke arah perdamaian, seolah-olah pihak Bu-koan merasa takut!
Dia memandang kepada Sin Hong dengan sinar mata ragu-ragu.
"Ucapan murid kami itu memang benar, Tan-taihiap. Permusuhan antara perguruan kami dan Kim-liong-pang sudah terlampau berlarut-larut. Sudah banyak korban kedua pihak berjatuhan. Kalau sekarang tiba-tiba Taihiap muncul sebagai utusan kami untuk mengajak damai, sungguh, hal itu dapat disalah artikan, disangka bahwa kita takut atau lebih celaka, kita disangka benar bersalah."
Sin Hong mengangguk-angguk, di dalam hati membenarkan pendapat itu.
Memang serba salah.
Didiamkan, permusuhan itu akan semakin menghebat, kalau dia mendamaikan, maka akan tersinggung kehormatan dan nama Ngo-heng Bu-koan.
Tiba-tiba terdengar suara Yo Han, nyaring dan bersungguh-sungguh.
"Ada jalan yang baik!"
Kembali semua orang memandang kagum, hanya Sin Hong yang mengerutkan alisnya, menganggap muridnya itu terlalu lancang walaupun di dalam hati dia semakin mengagumi muridnya itu yang ternyata diam-diam memperhatikan percakapan dan bahkan ikut memikirkan dan mencari jalan keluar!
Akan tetapi sebelum dia menegurnya, Bhe Gun Ek sudah menanggapi.
"Anak yang baik, ada akal apa lagikah di dalam kepalamu yang amat cerdik itu! Katakanlah!"
Yo Han mengerling kepada suhunya dan memandang dengan sinar mata minta perkenan!
Sin Hong tersenyum melihat ini.
Bagaimanapun juga, muridnya yang lancang ini sama sekali tidak bermaksud menyombongkan dirinya, dan bahkan selalu minta persetujuannya.
Dia pun mengangguk dan berkata.
"Kalau engkau memang ada pendapat yang baik, katakanlah."
Yo Han lalu bangkit berdiri dan dengan wajah bersungguh-sungguh dia berkata.
"Pendapat Bhe Kauwsu memang benar. Permusuhan itu sudah terlalu meruncing sehingga kalau yang mendamaikan itu anggauta atau utusan dari satu pihak, tentu mendatangkan perasaan rendah diri. Akan tetap kalau Suhu bertindak atas nama sendiri, sebagai orang luar yang berusaha mendamaikan antara, kedua sahabat yang kini bermusuhan, saya kira tidak akan mendatangkan perasaan tidak enak. Dan saya yakin kalau Suhu mau turun tangan mendamaikan, tentu akan membuat pihak Kim-liong-pang dapat menerima alasan dan mau bekerja sama untuk melakukan penyelidikan akan kemungkinan adanya pihak ketiga itu."
Bhe Gun Ek bertepuk tangan dengan hati girang dan mereka yang hadir tersenyum dan mengangguk-angguk. Juga Bhe Siang Cun segera berkata.
"Adik Yo Han memang luar biasa sekali, entah gurunya akan mau melaksanakan usulnya ataukah tidak,"
Berkata demikian, gadis itu melirik ke arah Sin Hong.
Wajah Sin Hong berubah kemerahan dan diam-diam dia mendongkol juga kepada muridnya, karena pendapat muridnya itu seolah-olah mendesak dan mendorongnya ke sudut.
Sekali ini dia tidak mungkin mundur, karena kalau dia menolak, seolah-olah dia enggan untuk mendamaikan kedua pihak.
Akan tetapi kalau dia maju, berarti dia bertindak atas nama sendiri dan hal ini mengandung bahaya bahwa dia akan diterima sebagai musuh oleh pihak Kim-liong-pang.
Yo Han agaknya dapat melihat isi hati gurunya melalui sinar mata dan wajah gurunya yang berubah kemerahan.
Dengan suara takut-takut dia pun berkata kepada gurunya.
"Suhu selalu mengajarkan kepada teecu bahwa seorang gagah pantang mundur untuk melakukan pekerjaan yang dianggap benar, adil dan baik. Dan teecu yakin bahwa mendamaikan Ngo-heng Bu-koan dan Kim-liongpang adalah pekerjaan yang benar dan adil."
Mau tidak mau Sin Hong tersenyum.
Muridnya ini memiliki kelihaian dalam bicara.
Dia merasa seolah-olah sudah ditodong dan tidak mampu mengelak lagi.
Secara halus anak kecil ini menyudutkannya dan menyerangnya dengan pelajaran yang diajarkannya sendiri kepada murid itu.
"Hemmm, Yo Han. Bagus engkau masih ingat akan pelajaran itu. Dengan demikian, bagaimana kalau sekarang aku menyuruh engkau yang menjadi orang yang berusaha mendamaikan kedua pihak yang bermusuhan itu? Maukah engkau menemui pimpinan Kim-liong-pang dan bicara dengan mereka, berusaha mendamaikan permusuhan mereka dengan pihak Ngo-heng Bu-koan?"
Semua orang, termasuk Bhe Gun Ek dan puterinya, terkejut dan heran mendengar ini.
Seorang anak kecil berusia sembilan tahun lebih disuruh menjadi juru damai antara Ngo-heng Bu-koan dan Kim-liong-pang?
Sungguh tidak mungkin!
Mana pihak Kim-liong-pang akan sudi mendengarkan omongan seorang bocah?
Ngo-heng Bu-koan sendiri tidak akan mau bicara mengenai permusuhan mereka dengan seorang bocah seperti Yo Han kalau dia bukan murid Tan Sin Hong!
Akan tetapi dengan suara lantang dan sikap gagah, Yo Han berkata dengan suara sungguh-sungguh.
"Tentu saja teecu mau, Suhu! Kalau Suhu memerintahkan, sekarang juga teecu akan suka menemui ketua Kim-liong-pang!"
Mendengar jawaban ini, Bhe Gun Ek, Bhe Siang Cun dan para murid Ngo-heng Bu-koan tertegun, ada juga yang tersenyum geli dan menganggap jawaban itu merupakan suatu kesombongan kanak-kanak saja.
Akan tetapi Sin Hong tahu benar bahwa muridnya itu tidak akan berlagak, melainkan akan sungguh-sungguh berangkat kalau dia memerintahkannya.
Diam-diam dia bersyukur.
Muridnya ini bukan hanya mengemukakan pendapat, melainkan juga berani mempertang-gungjawabkannya.
"Baiklah, Yo Han. Engkau pergi menemui Kim-liong-pang dan aku akan menemani-mu."
Yo Han bersorak girang.
"Kalau Suhu menemani tecu, semua akan beres!"
Tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar dan beberapa orang murid yang dipimpin oleh Phoa Hok Ci masuk sambil menggotong sesosok mayat yang masih berlumuran darah!
Ketika semua orang bangkit, Bhe Gun Ek meloncat dekat mayat itu dan berseru kaget.
"Ciang Lun....!"
Dan dia menoleh kepada Phoa Hok Ci, bertanya dengan suara gemetar.
"Apa yang telah terjadi dengan dia?"
Phoa Hok Ci menjatuhkan diri berlutut di depan kaki guru silat itu dan berkata dengan suara terkandung isak tangis.
"Suhu ketika teecu keluar kampung, teecu melihat dari jauh sute Ciang Lun sedang berkelahi, dikeroyok oleh dua orang murid Kim-liong-pang. Teecu tidak dapat melihat jelas muka mereka, akan tetapi teecu mengenal baju yang ada lambang perkumpulan itu. Ketika melihat teecu lari menuju ke tempat itu, mereka lalu melarikan diri, meninggalkan sute Ciang Lun yang sudah terluka parah. Ketika teecu membawa sute pulang, di tengah perjalanan dia tewas. Ah, Suhu sendiri maklum betapa dekatnya teecu dengan sute Ciang Lun, dia seperti adik teecu sendiri dan kini.... ah, terkutuk orang-orang Kim-liong-pang!"
Phoa Hok Ci bangkit berdiri, mukanya pucat dan basah air mata.
Dia mengepal tinju dan matanya menjadi beringas.
Agaknya, kalau di situ terdapat orang Kim-liong-pang, tidak akan ada yang mampu mencegahnya mengamuk dan menyerang musuh besar itu.
"Tidak ada damai dengan anjing-anjing Kim-liong-pang!"
Tiba-tiba Phoa Hok Ci berteriak dan para murid Ngo-heng Bu-koan menyambut dengan teriakan setuju.
Pada saat mengeluarkan teriakan itu, Phoa Hok Ci memandang ke arah Sin Hong dengan mata melotot, seolah-olah Sin Hong yang ingin mendamaikan permusuhan itu merupakan seorang anggauta Kim-liong-pang yang harus dimusuhinya!
Melihat ini guru silat Bhe segera berkata kepada muridnya itu.
"Sudahlah, lekas rawat baik-baik jenazah sutemu ini. Carikan peti yang baik dan kita lakukan upacara sembahyang di ruangan depan."
Phoa Hok Ci dan teman-temannya mengangkat jenazah itu keluar dari ruangan itu, dan Bhe Gun Ek berkata kepada Sin Hong.
"Taihiap, urusan menjadi semakin kacau sekarang! Kau lihat sendiri betapa kejamnya orang-orang Kim-liong-pang. Aku tidak dapat menyalahkan Hok Ci atas kemarahannya karena Ciang Lun yang menjadi korban itu memang amat dekat dengan dia, seperti adik kandung saja. Dia kehilangan kekasihnya yang diperkosa dan dibunuh, kemudian sekarang dia kehilangan sute yang disayangnya, dan keduanya terbunuh oleh orang-orang Kim-liong-pang atau begitu menurut dugaan. Bahkan pembunuh sutenya dilihatnya dari jauh sebagai dua orang yang mengenakan pakaian Kim-liong-peng. Tentu saja dia merasa sakit hati dan mendendam kepada Kim-liong-pang. Dan setelah peristiwa ini, agaknya hemmm, rencana kita tadi terpaksa harus ditunda dulu, Taihiap."
Sin Hong menarik napas panjang dan bangkit dari tempat duduknya.
"Aku mengerti, Bhe Kauwsu, dan sebaiknya kami mohon diri untuk melanjutkan perjalanan. Kehadiran kami hanya mengganggu saja."
"Ah, sama sekali tidak, Taihiap. Bahkan tadinya kami amat mengharapkan bantuan Taihiap untuk mendamaikan urusan ini, akan tetapi kini para murid sedang marah-marahnya, dan saya sendiri tentu saja juga penasaran karena kembali kehilangan seorang murid yang baik."
Sin Hong lalu menggandeng tangan Yo Han meninggalkan rumah perguruan silat yang besar itu, bahkan lalu keluar dari kota Lu-jiang.
Setiba mereka di luar kota, hari telah mulai gelap, senja telah mendatang.
"Suhu, apa yang akan kita lakukan sekarang?"
Yo Han bertanya. Sin Hong menoleh dan memandang muridnya sambil tersenyum.
"Apa yang akan kita lakukan? Melanjutkan perjalanan, apa lagi?"
"Tapi permusuhan antara Ngo-heng Bu-koan dan Kim-liong-pang itu...."
"Ah, itu bukan urusan kita, Yo Han. Perlu apa kita mencampuri urusan orang lain?"
Sin Hong mencela muridnya.
Hening sejenak dan kedua orang itu melanjutkan perjalanan tanpa berkata-kata.
Yo Han berjalan dan sambil menundukkan mukanya.
Tiba-tiba dia bertanya.
"Suhu, kalau teecu melihat dua orang berkelahi dan berusaha mati-matian untuk saling bunuh, apakah yang harus teecu lakukan?"
"Hemmm, tentu engkau harus melerai mereka dan berusaha untuk mendamaikan mereka, atau kalau kau tahu bahwa seorang di antara mereka jahat dan hendak menekan, kau harus membantu yang lemah tertindas."
"Suhu, bukankah kalau teecu mencampuri berarti teecu mencampuri urusan orang lain?"
Mendengar nada suara muridnya, Sin Hong menoleh dan dia pun tersenyum, dan dia mengerti apa yang dimaksud-kan muridnya yang cerdik itu lalu dia menarik napas panjang.
"Baiklah, Yo Han. Aku pun sedang memi-kirkan cara bagaimana aku akan dapat menghentikan permusuhan antara Ngo-heng Bu-koan dan Kim-liong-pang. Karena kedua pihak berkeras kepala, maka aku tidak ingin lagi mencampuri. Jangan-jangan malah akan dimusuhi kedua pihak."
"Suhu telah berkenalan dengan pihak Bu-koan dan tahu akan isi hati Bhe-kauwsu, akan tetapi belum mengenal pihak Kim-liong-pang. Kalau Suhu berkunjung ke sana dan berkenalan, teecu kira tidak akan sukar mencari jalan tengah ke arah perdamaian."
"Usulmu baik sekali. Baiklah, mari kita pergi ke bukit Kim-liong-san itu, setidaknya kita dapat menyelidiki bagaimana sesung-guhnya keadaan pihak yang bermusuhan dengan Ngo-heng Bu-koan itu."
Yo Han merasa girang sekali, akan tetapi dia hanya mengangguk dan mengikuti suhunya menuju ke bukit yang nampak dari situ walaupun cuaca sudah mulai remang-remang.
Tiba-tiba Sin Hong menarik lengan muridnya dan menyelinap ke dalam semak-semak.
Dia melihat bayangan orang.
Yo Han juga mengintai dari balik semak-semak dan dia pun melihat dua orang laki-laki sedang menggotong tubuh seorang laki-laki lain yang agaknya telah tewas.
Karena cuaca remang-remang, maka Sin Hong tidak dapat mengenal wajah kedua orang itu.
"Engkau tunggu saja di sini, aku akan membayangi mereka."
Bisiknya kepada Yo Han.
Anak ini mengangguk, maklum bahwa kalau dia ikut, hanya akan merepotkan saja dan mungkin akan menggagalkan usaha gurunya yang akan melakukan penyelidikan.
Sln Hong berkelebat dan lenyap dari depan muridnya, membuat Yo Han terbelalak kagum.
Dengan kepandaiannya yang tinggi, mudah saja bagi Sin Hong untuk membayangi kedua orang itu sampai dekat tanpa mereka melihat atau mendengar gerakannya.
Dengan jantung berdebar Sin Hong dapat mengenal seorang di antara mereka, yaitu Phoa Hok Ci, murid kepala dari Ngo-heng Bu-koan yang paling mendendam kepada Kim-liong-pang itu.
Dari Bhe Kauwsu dia mendengar betapa korban pertama di pihak Ngo-heng Bu-koan adalah seorang murid perempuan dan gadis yang diperkosa lalu dibunuh itu adalah kekasih Hok Cit dan korban terakhlr adalah seorang sute yang paling dekat dengan Hok Ci.
Kini dua orang yang menggotong sesosok mayat itu, masuk hutan kecil di lereng Kim-liong-pang dan mereka berhenti.
Sin Hong cepat menyelinap ke belakang sebatang pohon terdekat.
Dia mengintai dan mendengarkan dengan hati-hati karena merasa curiga akan sikap mereka.
"Suheng, kita apakan mayat itu? Kita kubur di sini?"
Orang ke dua bertanya dan tahulah Sin Hong bahwa dia seorang murid Ngo-heng Bu-koan pula, adik seperguruan Phoa Hok Ci.
"Kubur di sini? Huh, enaknya! Kita biarkan dia di sini agar besok pagi ada orang Kim-liong-pang yang melihatnya. Tinggalkan golokmu itu di tubuhnya, atau biar kutusukkan golok itu di tubuh mayat ini!"
Phoa Hok Ci menerima golok di tangan sutenya dan sekali bergerak goloknya itu menancap sampai dalam di dada mayat.
Tidak ada darah keluar, tanda bahwa mayat itu sudah sejak tadi tewas.
"Tapi.... Suheng, golok itu ada tanda perguruan kita."
"Bagus, memang itu yang kukehendaki. Biar mereka tahu bahwa putera ketua mereka dibunuh oleh orang-orang Ngo-heng Bu-koan!"
"Aih, bagaimana Suheng ini? Bukankah suhu sedang berusaha untuk mengadakah perdamaian dengan pihak Kim-liong-pang? Perbuatan Suheng ini akan menambah besar dendam dan permusuhan! Aku tadi sudah sangsi ketika Suheng mengajak aku, mengeroyok Ciok Lim, biarpun aku juga tidak suka kepadanya, apalagi mengingat bahwa dia tersangka utama dalam perkosaan dan pembunuhan sumoi kita."
Phoa Hok Ci mengambil pedang milik Ciok Lim yang sudah menjadi mayat itu.
Pedang itu tadinya masih terselip di sarung pedang yang tergantung di punggung, hal ini saja menunjukkan bahwa pemuda putera ketua Kim-liong-pang ini agaknya dibunuh secara mendadak sehingga dia tidak sempat membela diri.
"Aku memang menghendaki agar kedua pihak bermusuhan! Biarlah kedua pihak hancur, kecuali Bhe Siang Cun! Ia seorang yang harus hidup dan menjadi Isteriku!"
"Suheng.... apa.... apa maksudmu....?"
Orang kedua itu agaknya terkejut bukan main mendengar ucapan Phoa Hok Ci itu.
"Sudah sejak dulu kurindukan Siang Cun, dan kujelaskan niatku memperisteri gadis itu, akan tetapi suhu dengan halus menolak, bahkan hendak menjodohkan aku dengan Cin-sumoi. Aku merasa penasaran, dan lebih sakit hatiku ketika suhu menerima pinangan Ciok Lim ini! Tidak ada jalan lain bagiku kecuali menggagalkan perjodohan itu dan untuk itu, Kim-liong-pang dan Ngo-heng Bu-koan harus menjadi musuh besar yang saling bermusuhan! Aku tidak mencinta Cin-sumoi, cintaku hanya untuk Bhe Siang Cun, maka biarlah Cin-sumoi menjadi korban pertama untuk membuka permusuhan antara kedua pihak, dan aku berhasil.... ha-ha-ha, aku berhasil! Apalagi malam ini, Ciok Lim, telah tewas dan untuk kematian ini, pihak Kim-liong-pang pasti akan membalas dendam dan tidak ada kekuatan lain di dunia ini yang akan mampu menghapus dendam di antara mereka!"
"Suheng....! Kau.... kau gila....!"
"Ha-ha-ha, memang aku gila, tergila-gila kepada Siang Cun dan apa pun yang akan terjadi, ia harus menjadi milikku. Kau dengar, Sute? Ia harus menjadi milikku, aih, Siang Cun jantung hatiku....!"
"Suheng, jadi kalau begitu, Cin-sumoi bukan terbunuh oleh Ciok Lim, melainkan oleh Suheng sendiri? Dan Suheng yang memperkosanya lalu membunuhnya?"
"Hemmm, hanya orang tolol seperti engkau yang tidak mengerti! Aku memperkosa dan membunuhnya agar api kebencian dan permusuhan mulai bernyala...."
"Suheng mencuri topi milik Ciok Lim dan meninggalkannya di dekat mayat Cin-sumoi?"
"Benar!"
"Dan pembunuhan-pembunuhan yang lain itu.... pembunuhan terhadap murid perguruan kita yang tidak diakui oleh pihak Kim-liong-pang, kemudian pembunuhan terhadap murid Kim-liong-pang yang tidak kita akui, semua itu adalah perbuatanmu pula?"
"Benar."
"Dan kematian sute sore tadi.... juga engkau yang membunuhnya?"
"Benar!"
"Suheng! Engkau telah gila, dan mengapa.... mengapa kau ceritakan semua ini kepadaku? Mengapa engkau berani mengakui semua itu kepadaku?"
"Karena engkau takkan mampu membuka mulut lagi!"
Tiba-tiba pedang di tangan Hok Ci menyambar dan pedang itu telah menembus dada dan jantung murid Ngo-heng Bu-koan itu.
Dia roboh terjengkang dan matanya terbelalak, mulutnya mengeluarkan jerit tertahan dan dia pun tewas seketika, roboh terlentang dengan pedang masih menancap di dadanya dan agaknya memang dibiarkan tinggal di dada itu oleh Hok Ci.
Sin Hong terkejut bukan main dan merasa menyesal.
Sungguh tidak disangkanya sama sekali bahwa Phoa Hok Ci akan membunuh sutenya sehingga dia pun tidak menyangka sesuatu dan tidak keburu mencegah pembunuhan yang terjadi di depan matanya ini.
Tak disangkanya bahwa permusuhan hebat antara Kim-liong-pang dan Ngo-heng Bu-koan itu terjadi karena perbuatan Phoa Hok Ci yang agaknya sudah gila!
Orang ini tergila-gila kepada Bhe Siang Cun dan karena pinangannya ditolak, juga karena besarnya nafsu menguasai dirinya untuk memiliki Siang Cun, Dia tidak segan-segan melakukan segala perbuatan yang amat kejam.
Dia memperkosa mendiang Bong Siok Cin, sumoinya sendiri, lalu membunuhnya, dan meninggalkan topi milik putera ketua Kim-liong-pang yang dicurinya di dekat mayat sumoinya itu.
Dan dia pun masih memperbesar permusuhan dan dendam antara kedua pihak dengan melakukan pembunuhan-pembunuhan lagi, baik murid Kim-liong-pang yang dibunuhnya, maupun murid Ngo-heng Bu-koan sendiri!
Dan siang tadi dia membunuh sutenya yang paling dekat dengan dia, mungkin selain untuk memperbesar dendam, juga karena sutenya itu mengetahui atau mencium bau akibat perbuatannya yang jahat.
Seperti juga pembunuhan dilakukan terhadap sutenya ini dengan dua tujuan, pertama agar sutenya tidak dapat menceritakan hal-hal yang kiranya mencurigakan, Dan kedua agar ada bukti bahwa kematian putera ketua Kim-liong-pang adalah karena perbuatan sute itu, murid Ngo-heng Bu-koan!
Dan dia membunuh sutenya agar kelihatan bahwa mereka berdua itu tewas bersama dalam suatu perkelahian.
Bukan main kaget dan marahnya hati Sin Hong dan diam-diam dia kagum sekali kepada muridnya.
Ternyata dugaan Yo Han benar dan tepat!
Kemungkinan ke tiga itu bukan kemungkinan lagi melainkan kenyataan!
Ada orang ke tiga yang sengaja mengadu domba antara Kim-liong-pang dan Ngo-heng Bu-koan demi kepentingan dirinya sendiri!
Dan orang itu bukan lain adalah Phoa Hok Ci, murid utama yang dipercaya oleh Bhe Kauwsu.
Satu-satunya kebodohan dan kelemahan manusia adalah membiarkan si aku merajalela dalam diri kita masing-masing.
Kalau si aku sudah merajalela dalam diri, menguasai diri sepenuhnya, maka celakalah hidup ini.
Segala malapetaka, kesengsaraan, bersumber dari si aku ini yang mendorong kita untuk mengejar segala macam kesenangan dan menggunakan segala macam cara untuk mencapai hasil pengejaran itu.
Si aku ini yang mendatangkan loba, tamak, iri, dengki, marah, benci takut dan sebagainya.
Si aku mengotori dan merusak batin.
Si aku bagaikan setan yang menjadi raja dalam batin kita masing-masing dan selama setan itu masih bertahta di dalam batin maka hidup ini penuh konflik, penuh permusuhan, dendam, kebencian dan karenanya terciptalah rasa takut dan kesengsaraan.
Kalau setan ini tidak lagi bercokol di dalam batin, maka sinar cinta kasih akan menerangi batin, kekuasaan Tuhan sendiri akan memenuhi batin.
Sin Hong cepat meloncat keluar sambil membentak.
"Phoa Hok Ci, kiranya engkau biang keladi semua permusuhan ini!"
Phoa Hok Ci terkejut bukan main, akan tetapi tangan kirinya bergerak ke arah Sin Hong.
Pendekar ini cepat melompat ke samping untuk menghindarkan diri dari sambaran pasir hitam yang mengandung racun itu!
Akan tetapi tiba-tiba tangan kanan murid Ngo-heng Bu-koan itu bergerak dan asap hitam bergumpal-gumpal membuat penglihatan Sin Hong tertutup.
Ketika pendekar ini meloncat lagi ke samping agak jauh dan memandang, Ternyata Phoa Hok Ci telah lari jauh sekali!
Sin Hong terkejut.
Dia mengenal ilmu dari golongan hitam dan biasanya hanya orang-orang seperti para tokoh Pek-lian-kauw yang memiliki senjata rahasia seperti itu.
Bagaimana mungkin seorang murid Ngo-heng Bu-koan dapat mempergunakan senjata rahasia dari golongan sesat?
Tentu orang itu telah diam-diam berguru kepada tokoh sesat, pikirnya.
Akan tetapi Sin Hong cepat meloncat dan melakukan pengejaran.
Kembali dia terkejut.
Kiranya Phoa Hok Ci memiliki ilmu kepandaian tinggi dan mampu berlari cepat sekali!
Sin Hong menemui kesulitan karena cuaca sudah mulai gelap dan dia tidak mengenal lapangan.
Tidak seperti Phoa Hok Ci yang agaknya sudah hafal benar akan keadaan di wilayah itu sehingga Sin Hong belum juga mampu menyusul orang yang melarikan diri, Walaupun dia masih belum kehilangan jejaknya.
Phoa Hok Ci berlari cepat.
Dia merasa jerih untuk melawan Sin Hong, karena dia tahu benar betapa lihainya pemuda yang pernah menjadi tamu di Ngo-heng Bu-koan itu.
Dan yang amat mengecilkan hatinya adalah semua rahasianya.
Dia harus bertindak cepat kalau tidak ingin menemui kegagalan dalam akhir rencananya yang sudah berjalan demikian baiknya.
Tanpa disadarinya, dia lari melalui dekat tempat di mana Yo Han bersembunyi menanti gurunya.
Yo Han terkejut melihat orang lari berkelebat di dekat tempat persembunyiannya.
Dan dia mengenal orang itu sebagai Phoa Hok Ci!
Selagi dia bangkit berdiri dan memandang keheranan ke arah larinya orang itu, tiba-tiba saja gurunya telah berada di dekatnya.
"Kau melihat orang yang lari tadi?"
Tanya gurunya.
"Phoa Hok Ci?"
"Benar! Kau melihat dia?"
"Dia lari ke sana, Suhu!"
Yo Han menunjuk ke arah selatan.
"Kau di sini, aku akan mengejarnya! Dialah orang ke tiga itu!"
Berkata demikian, Sin Hong berkelebat dan lenyap ditelan kegelapan malam.
Yo Han berdiri termangu-mangu.
Ternyata dugaannya benar.
Dua pihak itu diadu domba oleh murid Ngo-heng Bu-koan sendiri.
Dia tidak tahu apa sebabnya dan dia merasa menyesal mengapa dia tidak memiliki kepandaian sehingga tidak mampu ikut pula mengejar.
Akan tetapi, menanti di situ seorang diri saja juga amat tidak enak, maka dia pun lalu melangkah meninggalkan tempat persembunyiannya, menuju ke selatan, ke arah larinya Phoa Hok Ci yang dikejar suhunya.
Karena malam itu gelap, langit hanya dipenuhi bintang-bintang yang mengeluarkan cahaya remang-remang, dan dia sama sekali tidak mengenal jalan.
Yo Han harus berjalan dengan hati-hati agar jangan sampai terjeblos ke dalam jurang.
Dia meraba-raba, akan tetapi terus menuju ke selatan.
Sementara itu, Sin Hong juga menghadapi kesukaran untuk dapat menangkap orang yang dikejarnya.
Kegelapan malam dan asingnya tempat itu baginya membuat dia jauh kalah cepat bergerak dibandingkan Phoa Hok Ci walaupun kalau mereka berdua berlomba lari cepat, tentu Sin Hong akan menang.
Bahkan setelah memasuki sebuah hutan yang keadaannya lebih gelap lagi, dia kehilangan jejak murid Ngo-heng Bu-koan itu.
Akan tetapi tiba-tiba dia melihat dinding putih agak jauh di depan.
Agaknya ada bangunan di depan dan kebetulan bangunan itu berada di tempat terbuka sehingga dindingnya dapat nampak keputihan di bawah sinar ribuan bintang di langit.
Sin Hong cepat menuju ke dinding putih itu dan tak lama kemudian tibalah dia di depan sebuah kuil!
Sebuah kuil tua di tengah hutan.
Siapa tahu orang yang dikejarnya bersembunyi di kuil itu, pikirnya dan dengan tenang namun hati-hati sekali Sin Hong menghampiri kuil dan masuk ke pekarangan kuil itu.
Sebelum dia masuk ke ruangan depan, dia memperhatikan keadaan sekelilingnya.
Sunyi saja di tempat itu, akan tetapi tiba-tiba dia berhenti dan pendengarannya yang amat tajam itu dapat menangkap gerakan lirih di sebelah dalam kuil tua.
Kemudian, ketika dia menunduk sambil mendengarkan, matanya dapat melihat pula beberapa batang kayu kering berserakan.
Ini hanya dapat terjadi, kalau ada orang di dalam kuil itu yang mengumpulkan kayu kering membawanya ke dalam kuil karena di tempat dia berdiri, yaitu di pekarangan depan kuil itu, tidak ada pohon sehingga ranting kayu itu tentu dibawa orang ke situ.
Dia semakin waspada.
Ada orang di dalam kuil, pikirnya, atau kalau suara tadi bukan gerakan orang melainkan tikus atau binatang setidaknya kuil itu pernah didatangi orang dan orang itu mengumpulkan kayu kering untuk membuat api unggun!
Sin Hong melangkah masuk ruangan depan dan hidungnya berkembang kempis.
Penciumannya juga amat tajam dan dia mencium bau hangus, bau api unggun yang baru saja dipadamkan.
Mungkin kalau cuaca tidak begitu gelap, akan dapat nampak asapnya.
Dia semakin waspada dan tiba-tiba saja dia melempar tubuh ke samping.
Untung dia bergerak cepat karena dari depan dan belakangnya ada pedang dan tombak, yang menyambar amat ganas dan cepatnya.
Kalau dia tidak melempar tubuh ke samping, satu di antara dua buah senjata itu pasti akan mengenai tubuhnya.
Dia menjatuhkan diri dan bergulingan, lalu melompat bangun.
Ketika dia bergulungan tadi, dia sengaja berguling ke luar sehingga kini dia berdiri di pekarangan kembali.
Dan dari ruangan depan yang gelap itu berloncatan dua orang.
Yang seorang (Lanjut ke
Jilid 26) Kisah Si Bangau Putih (Seri ke 14 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 26 memegang sebatang pedang dan dia itu bukan lain adalah Phoa Hok Ci!
Adapun orang yang memegang tombak adalah seorang kakek yang berusia enam puluh tahun, berambut riap-riapan panjang, mukanya seperti seekor singa, pakaiannya seperti jubah pertapa yang tebal dan matanya mencorong.
"Heh-heh-heh, inikah pendekar muda sombong yang mengancammu itu, Hok Ci?"
"Benar, Suhu, dia berbahaya sekali, dan dia bukan hanya mengancam aku, akan tetapi juga Suhu dan rencana kita akan gagal sama sekali kalau dia dibiarkan hidup lebih lama lagi."
"Ha-ha-ha, jangan khawatir. Serahkan saja dia kepadaku, akan kuhabiskan dia sekarang juga!"
Kakek bermuka singa itu tertawa sambil menancapkan tombaknya di dinding.
"Kau pasang saja lampu penerangan agar lebih mudah aku membunuh dia!"
Agaknya kakek itu tinggi hati sekali dan dia sudah dapat memastikan bahwa dia akan mampu membunuh pemuda yang mengejar muridnya itu.
Bahkan dia demikian sombongnya untuk menyimpan tombaknya dan menghadapi Sin Hong dengan tangan kosong!
Akan tetapi begitu dia menyerang dengan kedua lengan dipentang dan tangan yang berbentuk cakar itu menerkam dari kanan kiri, Maklumlah Sin Hong bahwa orang ini sombong bukan hanya lagak belaka, melainkan karena memang dia amat lihai!
Kakek bermuka singa ini memang bukan orang sembarangan.
Dia adalah seorang pertapa yang memiliki kesaktian dan berjuluk Hoan Sai-kong, dan baru beberapa tahun dia meninggalkan tempat pertapaannya di Pegunungan Thai-san di mana selama puluhan tahun dia bertapa dan mematangkan ilmu-ilmunya.
Dia turun gunung dan hidup sebagai seorang pertapa yang mengharapkan makanan dari sedekah para dermawan.
Akan tetapi, agaknya puluhan tahun bertapa itu sama sekali tidak mengubah dasar wataknya, dan ternyata setelah berada di dunia ramai, sebentar saja dia kembali telah menjadi hamba nafsu-nafsunya seperti sebelum dia bertapa.
Di waktu muda dahulu Hoan Sai-kong terkenal sebagai seorang perampok tunggal yang amat kejam.
Phoa Hok CI secara kebetulan saja bertemu dengan Hoan Sai-kong tiga tahun yang lalu.
Dia melihat betapa saktinya kakek ini, maka segera didekatinya dan dengan royal dia memberi pakaian dan makan minum kepada kakek itu, bahkan melihat betapa kakek itu tidak pantang bermain dengan wanita, Phoa Hok Ci mencarikan gadis panggilan untuk menyenangkan hatinya.
Hoan Saikong merasa senang dan dia mau menerima Phoa Hok Ci sebagai muridnya, asal Phoa Hok Ci mencukupi semua kebutuhannya.
Kemudian, setelah pergaulan mereka sebagai guru dan murid semakin akrab, mereka merencanakan sesuatu yang akan mendatangkan keuntungan bagi keduanya.
Phoa Hok Ci tergila-gila kepada Siang Cun, puteri gurunya sendiri, akan tetapi gurunya tidak suka menerimanya sebagai calon mantu, Bahkan menerima pinangan pihak Kim-liong-pang.
Hal ini membuat Phoa Hok Ci penasaran dan dia lalu berunding dengan gurunya yang baru, gurunya yang dia rahasiakan dari siapa pun juga.
Dalam perundingan inilah keduanya merencanakan siasat mereka mengadu domba antara Kim-liong-pang dan Ngo-heng Bu-koan.
Kalau mereka berhasil, maka pertalian jodoh antara Siang Cun dan Ciok Lim akan putus, dan ada harapan Siang Cun akan menjadi isteri Phoa Hok Ci.
Dan harapan lain bagi Hoan Sai-kong adalah untuk merebut dan menguasai Kim-liong-pang di mana dia akan menjadi ketua yang baru sehingga namanya akan terangkat tinggi dan dia akan menjadi seorang pangcu yang terhormat.
Hal ini tidak akan sukar dilakukan kalau Kim-liong-pang sudah menjadi lemah akibat permusuhannya dengan Ngo-heng Bu-koan.
Tentu saja dengan bantuan Hoan Sai-kong yang lihai, mudah bagi Phoa Hok Ci untuk melakukan pembunuhan-pembunuhan ke dua pihak dan mengadu domba mereka.
Dan sebagai awal siasat keji itu, dengan kejam sekali dia memperkosa dan membunuh sumoinya sendiri, Bong Siok Cin, setelah berhasil mencuri topi dari Ciok Lim yang baru saja dijamu oleh calon mertuanya sampai setengah mabuk.
Dalam keadaan setengah mabuk itu, mudah bagi Phoa Hok Ci dan Hoan Sai-kong untuk mencuri topinya tanpa dia ketahui.
Demikianlah sedikit tentang Hoan Sai-kong yang kini berhadapan dengan Sin Hong.
Ketika Phoa Hok Ci melihat bahwa Sin Hong mendengarkan percakapannya dengan sutenya sebelum sute itu dibunuhnya dia menjadi kaget dan juga khawatir sekali.
Maka dia pun teringat kepada gurunya itu dan dia sengaja memancing Sin Hong ke kuil tua itu di mana terdapat Hoan Sai-kong yang segera siap untuk membantu muridnya.
Kini, dia berhadapan dengan Sin Hong, dan karena kesombongannya, dia menghadapi Sin Hong dengan tangan kosong, mengira bahwa dengan mudah saja dia akan dapat membunuh lawan yang agaknya ditakuti muridnya itu.
Namun dia kecelik!
Tubrukan dengan kedua lengan mencengkeram dari kanan kiri itu hanya mengenai angin saja dan tiba-tiba kaki Sin Hong menggeser ke samping dan tangan kirinya menotok ke arah lambung lawan.
Gerakan pemuda itu demikian cepatnya, merupakan serangan balasan yang serentak sehingga Hoan Sai-kong juga harus cepat-cepat menarik tangannya dan menangkis sambil mencoba untuk mencengkeram lengan Sin Hong.
"Dukkk!"
Tangkisan itu membuat tubuh Hoan Sai-kong tergetar dan tentu saja dia tidak jadi mencengkeram karena lengannya sendiri sudah ditarik saking kagetnya melihat betapa lawan yang amat muda itu memiliki tenaga yang luar biasa kuatnya.
Dari pertemuan lengan itu Hoan Sai-kong dapat menduga bahwa lawannya itu biarpun masih amat muda, akan tetapi tidak seperti yang diduganya, bukan seorang lawan yang boleh dipandang ringan.
Hoan Sai-kong lalu mengeluarkan suara menggereng seperti harimau dan kini dia menyerang lagi dengan dahsyat, sambil mengerahkan semua tenaganya.
Dan tahulah Sin Hong ketika melihat gerakan kaki tangan lawan bahwa kakek itu adalah seorang ahli silat dengan gaya harimau.
Akan tetapi bukan sembarang Hauw-kun (Silat Harimau).
Memang banyak macamnya silat harimau diciptakan oleh perguruan silat yang berbeda aliran, walaupun pada dasarnya ada persamaan yaitu dengan meniru ketangkasan dan kegesitan harimau.
Akan tetapi gaya silat harimau yang dimainkan oleh kakek bermuka singa ini sungguh dahsyat sekali, bahkan jauh lebih berbahaya daripada melawan seekor harimau tulen!
Kedua tangan kakek itu membentuk cakar harimau yang amat kuat, dan walaupun kuku-kuku jari tangannya tidak panjang melengkung dan kokoh seperti kuku harimau, namun jari-jari tangannya itu mengandung sin-kang kuat sekali dan cengkeraman kedua tangannya dapat menembus batang pohon bahkan batu karang.
Dapat dibayangkan betapa kulit daging akan koyak-koyak, tulang akan remuk kalau terkena cengkeraman kedua tangan yang membentuk cakar itu!
Namun sekali lagi kakek itu kecelik.
Yang dilawannya sekarang bukanlah seorang pendekar biasa, melainkan seorang pemuda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi yang telah mewarisi ilmu-ilmu kesaktian dari para penghuni Istana Gurun Pasir!
Ketika Sin Hong melihat betapa lawannya mempergunakan ilmu silat harimau yang amat dahsyat, yang sambaran anginnya dari kedua tangan itu saja sudah mendatangkan hawa panas dan amat berbahaya, dia pun maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang sakti.
Maka, dia pun cepat mengerahkan tenaga dan memainkan ilmu silat Pek-ho Sin-kun, yaitu ilmu gabungan dari ketiga orang gurunya.
Ilmu silat ini memang hebat bukan main, bukan seperti ilmu-ilmu silat Ho-kun (Silat Bangau) biasa saja.
Biarpun gaya dasarnya meniru gerakan burung bangau putih yang indah dan lemas di samping kekuatan dan kecepatan burung itu, namun intinya mengandung perasan dari ilmu-ilmu yang dikuasai tiga orang tua sakti itu!
Bahkan untuk mempelajari ilmu silat sakti ini, Sin Hong lebih dahulu menerima pengoperan sin-kang gabungan dari ketiga orang gurunya, dan untuk dapat menguasai ilmu itu dengan sempurna, dia bahkan harus bertapa selama setahun, tidak boleh mengerahkan tenaga sedikit pun karena hal ini akan dapat menewaskannya.
Begitu Sin Hong menghadapi Houw-kun yang hebat dari kakek itu dengan Pek-ho Sin-kun, kakek itu kembali terkejut.
Gerakan kedua lengan pemuda itu yang mirip dengan gerakan leher dan kepala burung bangau, mengandung hawa pukulan yang kuat sekali dan setiap kali mereka beradu lengan, Hoan Sai-kong terdorong ke belakang seperti diserang angin taufan!
"Haaauuuwww....!"
Tiba-tiba Hoan Sai-kong mengeluarkan suara gerengan dahsyat.
Gerengan ini mengandung khi-kang yang kuat dan kalau lawannya bukan Sin Hong, sedikit banyak tentu akan terpengaruh oleh getaran suara menggereng ini.
Dan sambil menggereng, kakek itu menubruk ke depan, cakar kanannya mencakar ke arah ubun-ubun kepala Sin Hong cakar kiri dari samping mencakar perut.
Gerakannya cepat dan amat kuat, kedua cakar itu ketika menyambar mendatangkan angin keras.
Sin Hong maklum akan bahayanya serangan Ini, maka dia pun melangkah ke belakang, tubuhnya ditarik ke belakang dan kedua tangannya menyambut serangan itu dengan tangkisan kedua lengan yang dikembangkan dari tengah, yang kiri mendorong ke atas dan yang kanan mendorong ke bawah.
"Dukkk! Dukkk!"
Dua pasang lengan bertemu dan kembali tubuh kakek itu terdorong ke belakang.
Namun dengan cepatnya Hoan Sai-kong kini menubruk ke depan, bukan hanya kedua tangan yang bergerak seperti sepasang kaki depan harimau untuk mencakar, juga mulutnya dibuka lebar seperti harimau yang hendak menggigit.
Namun kakek ini tidak menggigit karena giginya pun sudah banyak yang ompong, melainkan menggunakan kepalanya untuk menyeruduk ke arah dada lawan!
Serangan kedua tangan dan kepala ini memang lebih dahsyat daripada tadi, dan tubuhnya meluncur seperti harimau meloncat.
Dengan ringan sekali, tiba-tiba tubuh Sin Hong meloncat ke atas seperti seekor burung terbang.
Tubrukan Hoan Sai-kong lewat di bawahnya dan kini tubuh Sin Hong berjungkir balik membuat salto dan dengan kepala di bawah, tubuhnya meluncur ke bawah, tangannya membentuk paruh burung menotok ke arah tengkuk dan pundak Hoan Sai-kong!
Hoan Sai-kong mengeluarkan seruan kaget.
Tak disangka-nya bahwa serangannya yang dilakukan dengan seluruh tenaganya itu selain gagal sama sekali, juga berbalik kini lawan yang menyerangnya dari atas.
Dan serangan totokan dari atas itu hebat bukan main.
Hoan Sai-kong melempar tubuhnya ke atas lantai dan bergulingan menjauh sehingga serangan Sin Hong itu pun luput.
Ketika melihat lawannya menyambar tombak dan kini menyerangnya dengan tombak, Sin Hong cepat mengatur langkah dan mengelak ke sana-sini dengan ringannya.
Kedua kakinya seperti kaki burung bangau, melangkah ringan tanpa mengeluarkan suara namun selalu dapat menghindarkan sambaran ujung mata tombak yang berkelebatan.
Akan tetapi kini Phoa Hok Ci sudah maju mengeroyok dengan mempergunakan pedangnya.
Sebagai murid pertama Ngo-heng Bu-koan, apalagi telah menerima gemblengan selama tiga tahun dari Hoan Sai-kong, tingkat kepandaian Phoa Hok Ci ini tidak boleh dipandang ringan dan begitu dia maju mengeroyok, Sin Hong dihujani serangan tombak dan pedang.
Kalau saja Si Bangau Putih, demikian julukan Sin Hong, menghendaki, agaknya dia akan mampu merobohkan kedua orang pengeroyoknya itu dengan ilmunya yang tinggi.
Namun, dia tidak bermaksud membunuh mereka, bahkan dia harus dapat menangkap Phoa Hok Ci hidup-hidup karena orang inilah yang dapat di jadikan kunci perdamaian antara Kim-liong-pang dan Ngo-heng Bu-koan, melenyapkan kesalahpahaman yang timbul karena fitnah yang disebarkan oleh Phoa Hok Ci.
Karena hendak menangkap Phoa Hok Ci, maka Sin Hong tidak mau melakukan serangan mautnya dan dia menunggu kesempatan untuk dapat menangkap pengkhianat itu.
Setelah menghadapi serangan dua orang bersenjata itu dengan mengandalkan kelincahan gerakannya, sambil menanti kesempatan baik, akhirnya Sin Hong melihat terbukanya kesempatan.
Dia berhasil menangkap tombak di tangan Hoan Sai-kong, lalu mengerahkan tenaga menarik sehingga lawan itu ikut tertarik dan dengan gagang tombak yang masih dipegangnya itu, Sin Hong menangkis pedang Phoa Hok Ci yang menyambar, berbareng dia mengirim tendangan kilat ke arah lutut kaki kiri Phoa Hok Ci.
Orang ini terkejut dan masih sempat meloncat ke samping sehingga yang terkena tendangan hanya betisnya.
Namun cukup membuat dia terpelanting dan Sin Hong yang menarik tombak, membalikkan tubuhnya, tangan kirinya menampar ke arah kepala sai-kong itu.
Hoan Sai-kong cepat memutar tombaknya terlepas dari pegangan Sin Hong, dan sambil mengelak dengan merendahkan tubuhnya dan menggeser kaki ke kiri, Hoan Sai-kong menggerakkan tombaknya untuk menusuk perut lawan!
Tusukan yang amat cepat datangnya itu dielakkan oleh Sin Hong yang memiringkan tubuh dan ketika tombak meluncur lewat dekat pinggang, dia mengerahkan tenaga dan memukul dengan tangan miring ke arah gagang tombak.
"Krekkk!"
Tombak itu pun patah menjadi dua potong!
Hoan Sai-kong terkejut dan melompat ke dalam kuil, menyusul muridnya yang sudah lebih dulu melarikan diri setelah tadi betisnya kena ditendang oleh Sin Hong.
"Phoa Hok Ci, hendak lari ke mana kau?"
Sin Hong membentak dan cepat melompat ke dalam kuil melakukan pengejaran.
Setelah mencari-cari, dia melihat Hoan Sai-kong berdiri menantinya di ruangan belakang, sebuah ruangan kecil dan keadaan di situ cukup terang karena di sudut dinding tergantung sebuah lampu dinding yang cukup terang.
Melihat ini, Sin Hong merasa curiga.
Dia bukan orang bodoh.
Kalau musuh yang sudah melarikan diri dan dikejarnya kini menantinya di sebuah ruangan yang diterangi lampu, maka hal ini patut dicurigakan.
Mungkin sebuah perangkap, pikirnya, maka dia pun melangkah masuk dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan.
Mungkin Phoa Hok Ci yang tidak nampak akan menyerangnya dengan senjata rahasia.
Akan tetapi, tidak terjadi sesuatu ketika dia melangkah masuk dan dia pun berkata kepada kakek itu.
"Locianpwe, di antara kita tidak ada permusuhan. Aku tidak mengenal Locianpwe dan sebaliknya Locianpwe tidak mengenalku. Aku hanya ingin mengajak Phoa Hok Ci untuk pulang ke Ngo-heng Bu-koan untuk membuat pengakuan tentang semua perbuatannya mengadu domba antara Kim-liong-pang dan Ngo-heng Bu-koan. Serahkan Phoa Hok Ci dan aku akan pergi dari sini, tidak akan mengganggu Locianpwe lebih lama lagi."
Akan tetapi, sebagai jawaban, Hoan Sai-kong mengelebatkan pedangnya dan langsung menyerang Sin Hong dengan permainan pedang yang dahsyat dan cepat.
Kiranya kakek ini tadi melarikan diri karena tombaknya patah dan kini sudah berganti senjata pedang yang juga dapat dimainkannya dengan cepat sekali.
Sin Hong menjadi penasaran dan marah.
Orang ini agaknya hendak mati-matian membela muridnya yang jelas telah melakukan perbuatan yang amat keji!
Kalau dia tidak lebih dulu merobohkan orang ini dengan cepat, tentu akan sukar untuk menangkap Phoa Hok Ci.
Karena itu,begitu lawan menyerangnya, Sin Hong menggunakan kecepatan gerakan tubuhnya, mengelak sambil membalas dengan cepat dan dahsyat.
Totokan demi totokan yang amat cepat dia lancarkan ke arah lengan yang memegang pedang dan bagian anggauta lain sehingga Hoan Sai-kong yang mempergunakan pedang itu sebaliknya malah terdesak hebat oleh Sin Hong.
Dan karena selama perkelahian itu tidak terjadi sesuatu yang mencurigakan, tidak ada senjata rahasia dilepaskan dari temat gelap, maka Sin Hong menjadi agak lengah dan kecurigaannya tadi menipis.
Ketika dia mendesak terus dan perkelahian itu terjadi dengan sengitnya di tengah ruangan yang tidak luas itu, tiba-tiba Hoan Sai-kong mengeluarkan teriakan nyaring sekali, akan tetapi teriakan ini bukan untuk melakukan serangan, melainkan untuk melompat pergi dari ruangan itu!
Dan teriakan itu juga merupakan isyarat kepada Phoa Hok Ci untuk bertindak karena tiba-tiba saja lantai ruangan yang diinjak oleh kaki Sin Hong terbuka ke bawah!
Sin Hong terkejut sekali.
Cepat tangannya meraih dan dia masih dapat menangkap kaki Hoan tai-kong yang hendak meloncat pergi dari ruangan itu.
Kalau saja Hoan Sai-kong melanjutkan loncatannya, tentu dia dan juga Sin Hong akan dapat keluar dari ruangan itu.
Akan tetapi, Hoan Sai-kong agaknya terkejut dan tidak menyangka bahwa pemuda yang menjadi lawannya itu masih sempat menangkap kakinya.
Dengan marah dia lalu menusukkan pedangnya ke arah leher Sin Hong.
Melihat ini, Sin Hong mengerahkan sin-kang pada tangan kirinya dan dengan tangan miring dia menyampok dan memukul ke arah pedang yang melakukan serangan maut itu.
"Plakkk!"
Pedang itu terlepas dari pegangan Hoan Sai-kong, akan tetapi karena gerakan-gerakan itu, loncatannya kehilangan tenaga dan tubuh mereka berdua tanpa dapat dicegah lagi meluncur jatuh ke dalam lubang di ruangan itu!
Melihat betapa dia bersama lawannya terjeblos ke bawah, Sin Hong cepat melepaskan pegangannya pada kaki lawan dan dia pun mengerahkan seluruh tenaganya untuk meringankan tubuhnya.
Biarpun Hoan Sai-kong juga melakukan ini, namun karena dia nampak ketakutan sekali, gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang dikerahkannya menjadi berantakan dan tubuhnya meluncur lebih cepat daripada Sin Hong ke dalam lubang yang dalam dan gelap itu.
Diam-diam Sin Hong merasa kaget juga melihat betapa lamanya dia tiba di dasar lubang jebakan itu, tanda bahwa lubang itu cukup dalam!
Terdengar jerit mengerikan dari Hoan Sai-kong di sebelah bawah ketika tubuh kakek itu lebih dulu tiba di dasar lubang, teriakan kematian!
Sin Hong mengarahkan gin-kangnya dan dia memandang ke bawah, melihat garis bentuk tubuh Hoan Sai-kong rebah meringkuk ke bawah.
Dengan hati-hati Sin Hong mengarahkan kedua kakinya menginjak tubuh itu dan untung dia melakukan hal ini karena ternyata bahwa dasar lubang yang sempit itu penuh dengan tombak-tombak runcing yang siap menerima tubuhnya!
Tubuh mayat Hoan Sai-kong telah menyelamatkannya!
Dia dapat hinggap di atas tubuh itu dan terbebas dari tusukan tombak-tombak itu.
Pantas saja Hoan Sai-kong tadi mengeluarkan teriakan ketakutan ketika terjatuh.
Agaknya dia sudah tahu akan keadaan sumur maut ini, dan begitu terjatuh, tubuhnya diterima tombak-tombak itu dan tewas seketika.
Sin Hong meraba ke kanan kiri.
Kedua tangannya menyentuh dinding sumur yang licin sekali, penuh lumut.
Tidak mungkin merangkak ke atas mempergunakan sin-kang karena dinding itu licin bukan main.
Meloncat ke atas?
Sama sekali tidak mungkin.
Ketika dia melihat ke atas, nampak lubang itu, lubang di tengah ruangan, nampak samar-samar diterangi lampu di dinding ruangan itu.
Lalu nampak kepala orang di tepi sumur.
Dari bawah pun dia dapat melihat bahwa itu adalah kepala Phoa Hok Ci!
Dia menahan napas dan tidak bergerak.
Biarlah dia disangka mati seperti kakek itu, karena kalau Phoa Hok Ci mengetahui bahwa dia masih hidup, mungkin akan menyerangnya dengan melemparkan sesuatu dan hal ini berbahaya sekali.
Kemudian, dia mendengar suara Phoa Hok Ci tertawa.
Agaknya orang itu girang dan mengira dia telah mati.
Murid itu agaknya sama sekali tidak merasa berduka biarpun gurunya juga mati di dalam lubang jebakan ini.
Hal ini saja menunjukkan betapa buruknya watak laki-laki itu.
Kepala Phoa Hok Ci itu lenyap dan penerangan di atas padam.
Suasana menjadi gelap gulita.
Sin Hong masih berdiri di atas mayat Hoan Sai-kong yang tertusuk tombak-tombak itu.
Meloncat ke atas tidak mungkin.
Merayap melalui dinding lubang itu pun tidak mungkin.
Tanpa bantuan orang dari atas, tidak mungkin dia naik ke atas!
Dalam keadaan gelap gulita itu, menyelidiki keadaan di dasar lubang itu pun tidak mungkin.
Tidak ada jalan lain baginya kecuali menanti sampai malam itu lewat dan ada sinar matahari menerangi dasar lubang itu agar dia dapat menyelidiki dan mencari jalan keluar.
Terpaksa dia harus menanti.
"Locianpwe, maafkan aku."
Bisiknya kepada mayat di bawahnya dan dia pun dengan hati-hati duduk bersila di atas tubuh mayat yang masih hangat itu.
Sementara itu, Yo Han mencari-cari gurunya.
Setelah keluar masuk hutan kecil, dia menjadi bingung.
Dia tidak.tahu ke mana harus mencari gurunya, dan untuk kembali ke tempat tadi dia pun tidak mampu lagi.
Malam terlalu gelap dan dia tidak mengenal daerah itu.
Biarpun hatinya bingung sekali namun Yo Han tidak berani memanggil nama gurunya.
Dia tahu bahwa gurunya sedang mengejar orang, dan mungkin orang itu bersembunyi dan gurunya sedang mencari-cari.
Kalau dia membuat gaduh, mungkin akan dapat menggagalkan usaha gurunya itu.
Dia mencari terus, keluar masuk hutan dan semalam suntuk dia tidak pernah berhenti.
Sampai keesokan harinya, setelah sinar matahari mengusir kegelapan malam, Yo Han memasuki sebuah hutan dan dia melihat sebuah kuil tua.
Dimasukinya pekarangan kuil itu dan anak yang cerdik ini melihat adanya jejak-jejak kaki di tanah pekarangan.
Hatinya menjadi tegang, apalagi ketika dia tiba di ruangan depan kuil tua itu dan melihat lantainya.
Jelas di tempat itu ada tanda-tanda bahwa baru saja terjadi perkelahian disitu.
Dengan hati-hati dia masuk ke dalam.
Kuil itu sunyi dan tidak nampak seorang pun, juga tidak terdengar ada suara orang.
Hatinya terasa kecut dan mulailah dia khawatir.
Gurunya sudah semalam suntuk mengejar orang, kenapa belum juga kembali?
Ataukah mungkin sudah kembali dan tidak bertemu dengan dia?
Ah, bagaimana kalau sampai dia tersesat dan tidak akan berjumpa kembali dengan gurunya?
Mungkin sekarang gurunya, seperti dia, juga sedang mencari-cari, mencari dia.
"Suhuuuuu...."
Akhirnya dia tidak dapat menahan kegelisahan hatinya dan berteriak memanggil gurunya sambil menjenguk ke dalam kuil.
Suaranya nyaring dan karena kuil itu merupakan bangunan yang cukup besar dan kosong, suaranya bergema.
"Suhuuuuu....!"
Sekali lagi dia memanggil, lebih kuat karena dia seperti mendapat firasat bahwa gurunya berada di sekitar tempat itu.
Tiba-tiba terdengar jawaban yang membuat Yo Han hampir meloncat saking kaget dan girangnya.
"Yo Han....! Engkaulah itu....?"
Suara ini jelas sekali, akan tetapi terdengar dengan bunyi gaung aneh, sehingga dia tidak mengenal apakah itu suara gurunya atau bukan dan datangnya dari arah dalam kuil!
"Suhuuuuu....!
Suhu, di mana engkau?"
Yo Han masuk ke dalam kuil itu sampai ke ruangan dalam.
"Di ruangan belakang, Yo Han. Masuklah terus ke belakang, ada ruangan yang lantainya terbuka. Hati-hati, jangan sampai terjatuh ke bawah. Aku terjebak di bawah sini!"Yo Han merasa girang bukan main menemukan gurunya. Cepat dia maju dan ketika tiba di ruangan yang dimaksudkan, dia melihat betapa lantai ruangan ini memang terbuka ke bawah. Dia mendekat sampai di tepi lubang dan melongok ke dalam. Akan tetapi, karena ruangan itu terang dengan cahaya matahari sedangkan lubang itu sempit dan dalam, yang nampak hanyalah kegelapan menghitam saja. Akan tetapi Sin Hong dapat melihat kepala muridnya dan hatinya girang bukan main. Girang dan juga kagum. Bagaimana anak itu bisa menemukannya? Dia sejak tadi sudah mencari-cari jalan keluar, akan tetapi agaknya tidak ada jalan keluar dari tempat itu kecuali kalau ada yang datang menolongnya! Dan kuil tua itu tentu jarang didatangi orang, dalam sebuah hutan sunyi lagi. Diam-diam dia bergidik. Haruskah dia mati di tempat itu? Dan, sebelum mati, dia akan tersiksa oleh bau mayat membusuk! "Suhu, apakah Suhu berada di bawah sana?"
Yo Han berteriak, berusaha menggunakan penglihatannya menembus kegelapan di bawah.
"Yo Han, dengar baik-baik. Aku terjeblos di sini dan tidak akan dapat naik tanpa bantuanmu. Kau pergilah cari tali yang panjangnya paling sedikit lima belas tombak. Kumpulkan akar-akar gantung dan sambung-sambung sampai panjang, lalu turunkan ke sini. Cepat?"
"Baik, Suhu. Teecu pergi mencari!"
Kata Yo Han dan anak yang cerdik ini tidak mau banyak cakap lagi, lalu keluar dari ruangan itu dan sebelum mencari keluar kuil untuk mengumpulkan akar gantung, dia lebih dulu mencari-cari di dalam kuil dan di belakang.
Usahanya berhasil.
Dia menemukan tali yang panjangnya ada lima tombak.
Karena permintaan suhunya harus yang panjangnya paling sedikit lima belas tombak, Yo Han lalu keluar dan mulai mengumpulkan akar gantung dari pohon-pohon besar.
Untunglah bahwa selama menjadi murid Sin Hong, biarpun dia belum dilatih ilmu silat, namun jasmaninya telah digembleng sehingga dia memiliki tubuh yang kuat, tenaga besar dan juga tahan uji sehingga biarpun pekerjaan ini amat berat bagi seorang anak kecil seperti dia, namun akhirnya setelah matahari naik tinggi, berhasillah Yo Han menyambung-nyambung akar gantung yang kuat sampai sepanjang lima belas tombak lebih.
Sementara itu, dapat dibayangkan betapa tegang rasa hati Sin Hong.
Setelah melihat munculnya Yo Han yang akan menolongnya, hati tegang bukan main, jauh lebih tegang dan bahkan mulai khawatir kalau-kalau muridnya itu gagal menolongnya.
Akan tetapi dia percaya kepada Yo Han.
Anak itu cerdik sekali, dan andaikata dia sendiri tidak mampu menolong, tentu Yo Han akan memperoleh akal untuk minta bantuan orang-orang dusun.
Kepercayaan ini menenteramkan hatinya.
Dia sudah merasa tidak enak sekali harus duduk bersila di atas tubuh mayat itu.
Setelah ada cahaya terang remang-remang memasuki lubang, dia mendapat kenyataan bahwa lubang yang di bagian dasarnya sempit ini memang tidak ada tempat baginya untuk berdiri atau duduk!
Dasar itu penuh dengan tombak-tombak runcing yang ditanam dengan runcingnya menghadap ke atas!
Maka boleh dikatakan bahwa Hoan Sai-kong telah menyelamatkannya!
Kalau tidak ada mayat Hoan Sai-kong di atas tombak-tombak itu, entah bagaimana dia akan dapat terbebas dari maut di dasar lubang jebakan ini!
Terkutuk Phoa Hok Ci yang kejam.
Teringat akan orang itu tiba-tiba Sin Hong merasa khawatir sekali.
Orang itu telah ketahuan rahasianya.
Walaupun menyangka dia tentu telah tewas di dalam lubang jebakan, mungkin orang itu akan melaksanakan rencananya yang terakhir!
Menghancurkan kedua perkumpulan dan merampas Bhe Siang Cun sebagai isterinya!
Dan orang itu sudah berkeliaran selama semalam dan setengah hari ini!
"Suhuuuuu....!"
Panggilan itu membuat Sin Hong yang sedang melamun tersentak dan dia memandang ke atas. Nampak kepala muridnya di sana.
"Yo Han, apakan engkau sudah mendapatkan tali itu?"
"Sudah, Suhu, akan teecu turunkan perlahan-lahan!"
"Baik, muridku. Turunkanlah dan ikatkan ujung yang di atas dengan tiang yang kuat. Yo Han sudah mengikatkan ujung tali itu pada tiang yang kokoh dan kini dia menurunkan ujung yang lain perlahan-lahan ke bawah. Perkiraan Sin Hong memang tepat. Ujung tali itu menyentuhnya dan hanya kelebihan panjang satu meter saja! Sin Hong mencoba kekuatan tali itu dengan menarik-nariknya dari bawah. Tahulah dia bahwa tali itu memang kokoh kuat dan dia semakin kagum saja kepada Yo Han.
"Sudah habis, Suhu! Apakah ujungnya sampai di sana?"
"Sudah. Aku siap untuk memanjat naik, Yo Han!"
Sin kiong lalu memanjat tali itu dengan mudahnya dan akhirnya dia meloncat naik.
Yo Han girang sekali dan memegang lengan suhunya, sebaliknya Sin Hong merangkulnya.
"Untung engkau datang, Yo Han. Sekarang mari, jangan membuang waktu di sini. Kita tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Phoa Hok Ci yang jahat itu!"
Kata Sin Hong dan dia pun melongok ke dalam lubang sambil berkata.
"Locianpwe, terima kasih atas pertolongan jenazahmu, beristirahatlah dengan tenang!"
Sin Hong lalu memondong tubuh Yo Han, digendongnya anak itu dan dia pun menggunakan ilmunya berlari cepat meninggalkan kuil.
Di sepanjang perjalanan, dengan singkat Sin Hong menceritakan apa yang telah terjadi sejak dia meninggalkan muridnya.
Mendengar cerita suhunya, Yo Han terkejut.
"Wah, kiranya Phoa Hok Ci itu jahat sekali dan dialah orang ke tiga yang mengadu domba. Wah, kalau Suhu terlambat, mungkin terjadi malapetaka di kedua pihak."
"Karena itu, kita harus cepat berkunjung ke Ngo-heng Bu-koan di kota Lu-jiang!"
Yo Han tidak berkata-kata lagi.
Dia memuji kelihaian dan kecerdikan suhunya.
Pantas tadi setelah keluar dari lubang jebakan itu, gurunya membawa tali yang sudah menyelamatkannya dan membuang tali itu di dalam jurang di tengah perjalanan.
Hal itu memang perlu.
Phoa Hok Ci tentu menyangka bahwa gurunya telah tewas di dalam lubang jebakan, maka tempat itu mungkin sekali akan menjadi tempat persembunyiannya kelak, dan kalau tali itu nampak di situ, tentu Phoa Hok Ci dapat mengetahui bahwa Sin Hong telah lolos.
Apa yang dikhawatirkan Sin Hong dan Yo Han memang terjadi.
Pagi hari tadi, murid-murid Kim-liong-pang menemukan mayat Ciok Lim, putera ketua mereka yang dadanya masih tertusuk golok yang gagangnya ada ukiran Ngo-heng Bu-koan, dan di sampingnya menggeletak mayat seorang murid Ngo-heng Bu-koan yang tewas dengan pedang milik Ciok Lim menembus dadanya!
Kedua orang itu agaknya berkelahi dan mati bersama!
Melihat puteranya tewas, tentu saja Kim-liong-Pangcu Ciok Kam Heng menjadi marah sekali.
Kalau permusuhan antara murid-muridnya dengan para murid Ngo-heng Bu-koan masih ditahannya dengan sabar mengingat bahwa sebetulnya antara dia pribadi dan Bhe Gun Ek terdapat tali persahabatan yang baik, kini dia tidak dapat menahan kemarahannya lagi.
Putera kandungnya, putera tunggal, tewas dan tak mungkin dia tinggal diam saja.
Ditulisnya selembar surat tantangan kepada Bhe Gun Ek untuk membereskan semua perhitungan dengan mengadu nyawa di Bukit Bambu!
Ketika Sin Hong yang menggendong Yo Han tiba di luar kota Lu-jiang, seorang murid Ngo-heng Bu-koan yang baru keluar dari pintu gerbang kota mengenalnya dan berseru.
"Tan-taihiap!"
Sin Hong berhenti dan murid itu dengan sikap gugup berkata.
"Suhu sedang menuju ke Bukit Bambu di sana untuk memenuhi tantangan Kim-liong Pangcu."
Sin Hong terkejut.
"Di mana?"
"Di bukit itu di puncaknya terdapat hutan bambu."
Mendengar ini, tanpa membuang waktu lagi, Sin Hong membalikkan tubuhnya dan berlari cepat sekali menuju ke bukit itu.
Mudah-mudahan belum terlambat, pikirnya dengan hati tegang.
Akan tetapi, ketika dia tiba di puncak bukit itu, di atas padang rumput di tengah hutan bambu, dia melihat perkelahian sudah dimulai antara Bhe Gun Ek dan seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun yang bertubuh sedang dan bermata sipit.
Dia dapat menduga bahwa orang ini tentulah Ciok Kam Heng, ketua Kim-liong-pang yang bersenjatakan sebatang pedang, sedang mati-matian saling serang dengan Bhe Gun Ek yang bersenjata sebatang sabuk rantai baja.
Ada belasan orang murid dari kedua pihak berdiri tegak saling berhadapan, akan tetapi agaknya guru masing-masing pihak melarang mereka mencampuri perkelahian mati-matian adu nyawa untuk mempertahankan kebenaran dan kehormatan masing-masing itu!
Akan tetapi Sin Hong maklum bahwa kalau satu di antara dua orang itu roboh, tentu akan terjadi pertempuran mati-matian antara kedua pihak.
Permainan sabuk rantai baja di tangan Bhe Gun Ek yang beberapa tahun lebih muda dari lawannya itu memang hebat.
Sabuk rantai diputar sedemikian rupa sehingga nampak gulungan sinar putih yang mengeluarkan suara berdesing, namun agaknya dia menemui tanding yang setingkat.
Pedang di tangan ketua Kim-liong-pang itu pun cepat dan kuat sekali sehingga berkali-kali terdengar suara berdenting disusul berpijarnya bunga api kalau kedua senjata itu bertemu.
Keduanya saling serang dan keadaan mereka masih seimbang.
Namun Sin Hong maklum bahwa justeru karena mereka seimbang, maka akhirnya tentu akan ada seorang di antara mereka yang roboh tewas.
Tanpa mengeluarkan serangan-serangan maut, tidak mungkin di antara mereka ada yang akan keluar sebagai pemenang.
Sin Hong menyuruh Yo Han meloncat turun dan dia pun cepat meloncat ke depan, langsung memasuki medan perkelahian antara dua orang pimpinan perkumpulan itu sambil berseru.
"Kedua Loenghiong harap berhenti dulu!"
Ciok Kam Heng, pangcu dari Kim-liong-pang tidak mengenal Sin Hong, maka dia menganggap bahwa pemuda ini tentu orang Ngo-heng Bu-koan yang hendak membantu Bhe Gun Ek, maka dia tidak peduli akan ucapan itu, bahkan pedangnya menyambar ke arah dada Sin Hong!
Melihat ini, Bhe Kauwsu juga menggerakkan rantai bajanya menyerang lawannya!
Sin Hong miringkan tubuhnya dan dengan tangan kanan dia menangkap pedang yang menusuk tubuhnya itu dari samping, sedangkan tangan kirinya menangkap pula rantai baja yang menyambar ke arah tubuh ketua Kim-liong-pang!
Ciok Kam Heng terkejut, dan berusaha menarik pedangnya yang dicengkeram Sin Hong namun tidak berhasil.
Pedang itu seperti dicengkeram penjepit baja yang amat kuat!
"Harap Ji-wi suka berhenti dulu, aku mau bicara penting sekali, mengenai permusuhan Ji-wi yang menjadi akibat adu domba dan fitnah!"
Mendengar ucapan ini, kedua orang itu terkejut dan ketika Sin Hong melepaskan senjata mereka, keduanya meloncat ke belakang dan memandang kepada Sin Hong dengan mata terbelalak penuh pertanyaan.
"Tan-taihiap, apa yang kau maksudkan?"
Bhe Gun Ek bertanya kaget dan heran.
Sementara itu, Ciok Kam Heng memandang dengan alis berkerut melihat bahwa lawannya telah mengenal baik pemuda pakaian putih yang amat lihai itu.
"Orang muda, siapakah engkau dan mengapa engkau mencampuri urusan kami? Apa pula maksudmu dengan fitnah dan adu domba tadi?"
Tanyanya dengan suara keren.
Sin Hong menghadapi ketua Kim-liong-pang dan sekelebatan saja dia dapat melihat bahwa orang ini memiliki sikap gagah dan juga matanya menyinarkan kejujuran.
"Maaf, Pangcu. Aku bernama Tan Sin Hong dan kebetulan saja aku berkenalan dengan pihak Ngo-heng Bu-koan dan mendengar akan permusuhan yang timbul di antara perkumpulan Ji-wi."
"Hemmm! Sudah lama terjadi permusunan dan aku masih menahan sabar. Akan tetapi semalam puteraku, anakku satu-satunya, tewas pula di tangan Ngo-heng Bu-koan. Bagaimana mungkin aku mendiamkan saja? Hari ini aku harus mengadu nyawa dengan Bhe Gun Ek, dia atau aku yang akan mati di sini demi mempertahankan kehormatan Kim-liong-pang dan membalas kematian anakku!"
"Aku mengerti, Ciok Pangcu. Aku mengerti akan semua hal itu, bahkan aku menjadi saksi utama dan pertama ketika puteramu dibunuh orang!"
"Apa? Tan-taihiap! Putera Ciok Pangcu mati dalam perkelahian melawan seorang muridku, dan mereka berdua itu berkelahi sampai keduanya tewas!"
Bhe Kauwsu membantah. Sin Hong tersenyum.
"Tidak, Bhe Kauwsu. Mereka tidak berkelahi sampai keduanya tewas, akan tetapi mereka berdua itu dibunuh orang secara keji dan orang itulah yang mengatur agar mereka kelihatan seperti berkelahi sampai keduanya mati bersama. Aku menyaksikannya dalam hutan itu! Dan bukan hanya itu, juga semua pembunuhan yang bukan merupakan perkelahian terbuka antara kedua pihak, dilakukan oleh orang yang sama! Sejak semula, orang itu yang telah mengatur agar terjadi pembunuhan-pembunuhan di kedua pihak dan membuat kedua pihak saling bermusuhan, tepat seperti yang diduga oleh muridku, Yo Han. Ada orang ketiga yang mengadu domba dan melempar fitnah."
"Ahhh....!"
Ciok Pangcu berseru.
"Apa.... apa maksudmu?"
Bhe Kauwsu juga berseru kaget.
"Dan peristiwa pertama kali itu, ketika seorang murid perempuan perguruan kami diperkosa dan dibunuh, ketika Bong Siok Cin mati dalam keadaan menyedihkan...."
"Itupun dilakukan oleh orang yang sama, Bhe Kauwsu! Ketika itu, mendiang Ciok Lim engkau jamu makan minum, bukan? Nah, dalam keadaan setengah mabuk ketika dia pulang, dia tidak tahu bahwa topinya dicuri orang. Pencuri topi itulah yang memperkosa dan membunuh muridmu itu, kemudian sengaja meninggalkan topi Ciok Lim untuk melempar fitnah."
"Juga semua pembunuhan yang dilakukan terhadap murid-murid kami?"
Tanya Ciok Pangcu.
"Dan semua pembunuhan terhadap murid Ngo-heng Bu-koan?"
Bhe Kauwsu juga bertanya, hampir tidak percaya. Sin Hong mengangguk.
"Benar, semua itu dilakukan oleh orang yang sama. Aku mendengar sendiri pengakuannya kepada muridmu yang mati bersama putera Ciok Pangcu itu, Bhe Kauwsu"
"Tapi.... siapakah orang terkutuk itu?"
Tanya Bhe Kauwsu.
"Ya, siapa dia? Kalau benar seperti yang kau katakan, Tan-taihiap, kami akan mengerahkan seluruh kekuatan kami untuk membekuk dan menghukumnya!"
Teriak Giok Pangcu pula.
Kini Sin Hong menghadapi Bhe Kauwsu dan dengan senyum sedih pemuda berpakaian putih ini berkata, suaranya lantang terdengar semua orang yang berada di situ.
"Bhe Kauwsu, bersiap-siaplah dan jangan terkejut. Orang ke tiga itu, yang melakukan pembunuhan dan menyebar fitnah untuk mengadu domba Ngo-heng Bu-koan dan Kim-liong-pang, bukan lain adalah Phoa Hok Ci!"
"Ahhhhh....!"
Bhe Kauwsu berseru, juga para murid Ngo-heng Bu-koan berseru kaget dan tidak percaya.
"Dia.... dia.... ah, betapa mungkin...."
"Bhe Kauwsu, aku melihat dengan mata sendiri, mendengar dengan telinga sendiri. Bahkan semalam, setelah dia membunuh putera Ciok Pangcu dan muridmu, aku mengejarnya, akan tetapi di sebuah kuil tua, dia dibantu oleh seorang kakek yang disebut gurunya. Kakek itu lihai sekali, dan ketika aku berkelahi dengan gurunya itu, aku terjebak ke dalam lubang bersama gurunya itu. Gurunya tewas dan aku pun nyaris tewas kalau tidak muncul Yo Han yang menolongku. Bhe Kauwsu, Phoa Hok Ci yang menjadi muridmu itu telah berkhianat dan menjadi ular berkepala dua yang berbahaya sekali."
"Tapi.... tapi sungguh sukar dapat dipercaya, dia selalu baik sekali, dan mengapa.... mengapa dia melakukan hal terkutuk itu?"
Bhe Kauwsu berseru.
"Biarlah lain kali kuceritakan, Bhe Kauwsu, sekarang yang paling penting kita cepat kembali ke perguruan Ngo-heng Bu-koan untuk mencari dan menangkapnya!"
Kata Sin Hong.
"Engkau benar! Aku sendiri yang akan membekuk batang leher keparat itu, dan akan kudengar sendiri pengakuannya!"
Bentak Bhe Kauwsu dengan muka merah sekali.
"Aku pun akan ikut menangkap jahanam itu!"
Bentak Ciok Pangcu. Kedua orang ketua itu saling pandang akan tetapi kini permusuhan sudah lenyap dari pandang mata mereka.
"Sebaiknya kita pergi bersama-sama dan menangkap orang itu beramai-ramai, akan tetapi kuminta agar jangan ada yang membunuhnya. Kita membutuhkan pengakuannya sendiri agar permusuhan antara kedua pihak dapat dibersihkan,"
Kata Sin Hong.
Mereka pun berlari-lari menuju ke kota Lu-jiang.
Kembali Yo Han digendong oleh Sin Hong dan kini belasan orang Kim-liong-pang itu berlari-lari bersama belasan murid kepala Ngo-heng Bu-koan seolah-olah mereka adalah sekutu yang hendak menyerbu musuh mereka bersama.
Tentu saja para penduduk kota Lu-jiang menjadi heran dan kaget melihat banyak orang berlarian itu, apalagi ketika mereka mengenal orang-orang Ngo-heng Bu-koan dan orang-orang Kim-liong-pang yang tadinya bermusuhan, akan tetapi kini lari bersama-sama menuju ke Ngo-heng Bu-koan.
Di perguruan silat ini, Bhe Kauwsu disambut oleh para murid yang nampak bingung dan cemas.
"Celaka, Suhu! Phoa Hok Ci mengamuk, menawan Nona Bhe dan ketika kami mencegah, dia mengamuk. Dua orang murid tewas oleh pedangnya dan kini dia telah melarikan puteri Suhu....!"
Tentu saja semua terkejut bukan main dan kini yakinlah sudah hati Bhe Kauwsu bahwa muridnya yang bernama Phoa Hok Ci itu memang jahat dan keji, bukan saja melakukan pembunuhan-pembunuhan keji dan melempar fitnah mengadu domba, bahkan kini menangkap dan melarikan puterinya!
"Keparat jahanam!
Dia lari ke mana?"
Bentaknya.
"Kami.... kami tidak tahu, Suhu. Dia memondong Nona Bhe yang agaknya tertotok atau pingsan, dan dia lari dengan cepat tanpa kami mampu mencegah atau mengejarnya."
"Celaka! Keparat jahanam itu.... Sungguh celaka puteriku....!"
Bhe Kauwsu nampak kebingungan.
"Ke mana aku harus mengejar jahanam itu?"
Yo Han menyentuh lengan suhunya.
"Suhu, kalau tidak salah dugaanku, dia pasti lari ke sana...."
Sin Hong mengangguk.
"Kau benar, Yo Han, aku pun menduga demikian.
"Bhe Kauwsu aku yakin bahwa keparat itu tentu melarikan puterimu ke kuil tua itu. Biar Yo Han tinggal di sini, aku akan mengejarnya!"
Berkata demikian, tanpa menanti jawaban lagi, Sin Hong meloncat keluar dan sebentar saja bayangannya lenyap dari situ.
"Aku pun ingin mengejarnya!"
Kata Ciok Pangcu.
"Nanti dulu, Pangcu. Engkau tidak akan dapat menyusul Tan-taihiap. Marilah kita bersama mencari kuil itu. Anak baik, engkau sudah pernah ke sana, tentu engkau tahu di mana kuil tua itu, bukan?"
Yo Han mengangguk.
"Di dalam sebuah hutan, di bukit nomor lima dari kiri di antara jajaran bukit di luar kota itu, kalau aku tidak keliru."
"Mari kita mengejar ke sana!"
Bhe Kauwsu lalu menyuruh para muridnya menyediakan kuda dan mereka pun berangkat melakukan pengejaran.
Ciok Pangcu bersama sebelas orang murid kepala, juga Bhe Kauwsu dengan belasan orang murid kepala, Yo Han membonceng.
Bhe Kauwsu dan dia menjadi penunjuk jalan menuju ke kuil dalam hutan di atas bukit itu.
Memang sikap Phoa Hok Ci amat mengejutkan dan mengherankan para murid Ngo-heng Bu-koan.
Ketika Bhe Kauwsu menerima surat tantangan dari ketua Kim-liong-pang, dia tidak berada di perguruan sehingga dia tidak ikut dengan rombongan Bhe Gun Ek yang pergi menyambut tantangan musuh besar itu bersama belasan orang murid kepala.
Dan Bhe Kauwsu melarang puterinya untuk ikut, karena guru silat ini maklum bahwa kalau puterinya ikut, tentu puterinya itu tidak akan mau tinggal diam saja kalau dia mulai mengadu kepandaian melawan Ciok Pangcu.
"Engkau tinggallah di rumah dan menjaga keamanan di sini,"
Demikian katanya kepada Siang Cun.
"Kalau kita pergi semua dan terjadi sesuatu di sini, siapa yang akan mewakili aku?"
Demikianlah, Siang Cun tinggal di perguruan ketika ayahnya dan para suhengnya berangkat.
Tak lama kemudian, muncul Phoa Hok Ci.
Ketika dia mendengar dari para murid bahwa suhunya menerima surat tantangan dari ketua Kim-liong-pang dan bahwa suhunya pergi menyambut tantangan itu bersama semua murid kepala, Phoa Hok Ci segera mendatangi Siang Cun.
"Sumoi, suhu dan para suheng dan sute pergi menghadapi musuh besar kita, kenapa engkau malah tenang saja tinggal di sini? Kenapa engkau tidak ikut membantu suhu? Berkata demikian, sepasang matanya yang ganas dan tajam itu memandang wajah yang cantik manis dari sumoinya. Siang Cun mengerutkan alisnya dan menjawab sambil cemberut.
"Tadi aku pun ingin sekali ikut dan menghadapi orang-orang Kim-liong-pang, Phoa-suheng, akan tetapi ayah melarangku dan menyuruh aku menjaga keamanan rumah."
Sepasang mata Phoa Hok Ci semakin terpikat melihat mulut gadis cantik itu cemberut dan kini pandang matanya seperti meraba-raba seluruh tubuh yang sudah selama bertahun-tahun menjadi idaman hatinya, membuatnya tergila-gila itu.
"Hemmm, katakan saja bahwa engkau takut, Sumoi!"
Siang Cun terbelalak dan mukanya berubah merah, alisnya berkerut.
"Phoa Suheng! Bagaimana kau berani mengeluarkan kata-kata itu? Aku tidak berani? Aku takut? Jangan kau menghinaku, Suheng!"
Phoa Hok Ci yang selalu tersenyum sinis itu, kini memperlebar senyumnya sehingga mulutnya menyeringai.
"Hehheh-heh, kalau engkau tidak takut, tentu kau sudah berada di sana! Kalau engkau tidak takut, mari bersama aku menyusul ke sana dan membantu suhu!"
Siang Cun bangkit berdiri dan memandang suhengnya dengan mata berapi.
"Pha-suheng, kenapa engkau bersikap begini? Mulutmu lancang dan sikapmu mengejek. Apakah engkau sudah gila?"
Memang di samping kemarahannya ia merasa heran bukan main melihat sikap Phoa Hok Ci dan mendengar kata-katanya, karena biasanya suhengnya bersikap sopan dan ramah.
"Ha-ha-ha, mungkin aku sudah gila oleh kecantikanmu, Sumoi. Marilah, mari kau ikut dengan aku pergi menyusul suhu!"
"Tidak! Kalau aku akan menyusul, aku pergi sendiri, bukan karena kau suruh. Sudah, pergilah sebelum aku habis kesabaranku!"
"Sumoi, mau tidak mau mengkau harus ikut denganku sekarang juga!"
Dan tiba-tiba saja Phoa Hok Ci menubruk dan mengirim serangan dahsyat dengan cengkeraman ke arah muka Siang Cun!
Gadis ini terkejut bukan main, sama sekali tidak pernah mengira bahwa suhengnya ini akan menyerangnya sehebat itu, serangan yang dahsyat dan berbahaya.
Suhengnya itu tentu telah mendadak menjadi gila!
Sebetulnya, dalam ilmu silat, selisih antara tingkat mereka tidak banyak, mungkin Siang Cun hanya kalah matang saja.
Akan tetapi ia tidak tahu bahwa diam-diam Hok Ci telah mempelajari ilmu silat harimau dari Hoan Sai-kong yang membuat pemuda itu kini jauh lebih lihai darinya!
Ia cepat mengelak sambil membuang diri ke samping untuk menghindarkan mukanya dari cengkeraman itu!
Akan tetapi, tetap saja lengannya yang hendak menangkis kena dicengkeram.
Siang Cun mengeluarkan seruan kaget dan kesakitan ketika merasa betapa lengannya seperti dicengkeram benda tajam dan pada saat itu, pundaknya sudah ditotok oleh Hok Ci dan seketika ia menjadi lemas!
Sambil tertawa, Hok Ci lalu memanggul tubuh gadis itu.
Pada saat itu, belasan orang murid Ngo-heng Bu-koan menyerbu masuk dan mereka terkejut sekali melihat betapa puteri guru mereka dirobohkan Hok Ci dan kini ditotok dan dipanggul.
Mereka tadi menyerbu masuk mendengar suara ribut-ribut dan kini mereka mengepung Hok Ci.
"Suheng, apa yang kau lakukan ini? Lepaskan Nona Bhe!"
Bentak beberapa orang di antara mereka sambil mengepung dan siap untuk mengeroyoknya. Sepasang mata itu dengan ganas menyapu mereka.
"Kalian mundurlah, atau terpaksa aku akan membunuh kalian!"
Berkata demikian, Hok Ci mencabut pedang dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya memanggul tubuh Siang Cun yang tak mampu bergerak itu.
Akan tetapi, para murid Ngo-heng Bu-koan tetap tidak mau pergi dan ingin membela puteri guru mereka.
Hok Ci mengeluarkan suara gerengan seperti seekor harimau dan dia pun mengamuk.
Pedangnya berkelebatan dan para murid itu cepat melawan dengan menyambar senjata yang ada.
Akan tetapi mereka hanya murid-murid tingkat dua sebentar saja dua orang di antara mereka telah roboh mandi darah dan tewas oleh sambaran pedang Hok Ci.
Lalu dengan kecepatan gerakannya, Hok Ci meloncat dan melarikan diri sambil memondong tubuh Siang Cun!
Hok Ci yang mengenal baik kota Lu-jiang, mengambil jalan yang sunyi, bahkan berloncatan ke atas genteng-genteng rumah orang, dan dia berhasil membawa tubuh gadis yang membuatnya tergila-gila itu keluar dari kota Lu-jiang, terus menuju ke kuil tua yang menjadi tempat tinggal Hoan Sai-kong.
Satu-satunya lawan yang ditakutinya hanyalah Tan Sin Hong, Akan tetapi pemuda berpakaian putih itu telah terjerumus ke dalam lubang jebakan di ruangan belakang dan tentu sudah mampus.
Orang-orang lain, baik dari Ngo-heng Bu-koan maupun Kim-liong-pang, dipandang rendah olehnya.
Kini gurunya, Hoan Sai-kong, sudah mati pula bersama Sin Hong di dalam sumur lubang jebakan.
Dia memang tidak ingin merampas Kim-liong-pang maupun Ngo-heng Bu-koan.
Yang penting baginya hanyalah mendapatkan diri Bhe Siang Cun yang membuatnya tergila-gila dan kini gadis itu telah berada di dalam pondongannya!
Tak seorang pun yang akan dapat mencegahnya memaksa gadis itu menjadi isterinya.
Pula, selain Tan Sin Hong, tidak ada seorang pun dari kedua perkumpulan itu yang tahu akan tempat persembunyiannya dalam kuil tua di hutan ini.
"Lepaskan aku....! Ah, lepaskan aku....!"
Siang Cun berseru dengan mata terbelalak penuh kengerian, namun ia tidak mampu menggerakkan tubuhnya yang masih lumpuh tertotok.
Pria yang biasanya dikenalnya sebagai seorang suheng yang pendiam dan bersikap baik itu kini tersenyum sinis, lalu membawa masuk gadis itu ke dalam kuil.
Di dalam kuil tua itu terdapat dua buah kamar yang bersih dan terawat karena itu merupakan kamar mendiang Hoan Sai-kong dan kamarnya sendiri, yang dipergunakan di waktu dia berada di situ.
Dia memasuki kamarnya sendiri, sebuah kamar yang hanya terisi sebuah pembaringan kayu dan sebuah meja serta dua buah kursi kayu yang sederhana.
Dengan sikap lembut dia merebahkan tubuh sumoinya di atas pembaringan.
"Lepaskan aku Phoa-suheng, lepaskan aku. Aku adalah sumoimu, ingatkah? Jangan ganggu aku dan lepaskan aku, Suheng"
Siang Cun kembali berseru dengan suara membujuk dan mata terbelalak penuh kengerian.
Ia masih menyangka bahwa suhengnya ini mendadak menjadi gila dan tidak sadar apa yang dilakukannya.
Hok Ci duduk di tepi pembaringan, senyumnya menyeringai menakutkan hati gadis itu, apalagi ketika dia menunduk dan mencium pipi dan bibir Siang Cun yang sama sekali tidak dapat mengelak.
Gadis itu hanya memejamkan mata dan bergidik ngeri dicium oleh orang yang disangkanya gila.
"Bhe Siang Cun, aku akan melepaskanmu kalau engkau menyatakan bahwa engkau cinta padaku dan bersedia menjadi isteriku."
Mata yang ketakutan itu makin terbelalak dan muka yang manis itu berubah merah.
"Suheng, kau.... kau telah gila...."
Hok Ci membelai dagu gadis itu, lalu membelai lehernya sehingga gadis itu merasa betapa bulu tengkuknya meremang.
"Siang Cun, kekasihku, memang aku telah gila, tergila-gila kepadamu. Apakah kau pura-pura tidak tahu betapa sejak dulu aku mencintamu? Ah, apa saja akan kulakukan untuk mendapatkan dirimu, Cun-moi. Selama ini.... ah, betapa segala jerih payah kulakukan, membunuhi mereka semua, seorang demi seorang, agar antara kedua pihak terjadi permusuhan dan ikatan perjodohanmu dengan Ciok Lim terputus. Kutanamkan bibit permusuhan sampai mendalam, kulakukan semua itu demi mendapatkan dirimu, kekasihku. Dan sekarang, engkau telah berada di tanganku, engkau menjadi isteriku. Ya, kita hari ini akan menjadi pengantin, kita bersenang-senang di sini, sebagai suami isteri, Siang Cun."
Gadis itu tiba-tiba menjadi pucat wajahnya, dan dengan mata terbelalak tanpa berkedip sejak tadi ia memandang wajah suhengnya itu, mendengarkan semua ucapannya.
"Kau.... kau yang melakukan semua pembunuhan itu? Jadi engkau yang mengatur semua itu, membunuh dan melempar fitnah, sengaja hendak mengadu domba?"
Kini Hok Ci tertawa geli.
"Benar, Cun-moi, benar. Semua itu aku yang mengatur dan melakukannya. Cerdik sekali, bukan? Mereka saling serang, saling bunuh, bahkan sekarang antara kedua ketua sudah saling serang, ha-ha-ha, semua itu karena kecerdikanku. Dan engkau akan menjadi isteriku sekarang....?"
Kedua tangan Hok Ci mulai menggerayangi tubuh Siang Cun yang menjadi semakin ketakutan.
Karena belum dapat menggerakkan tubuh untuk mengelak atau melawan, ia hanya mengeluarkan kata-kata untuk mengalihkan perhatian orang itu.
"Suheng, jadi engkau yang melakukan semua pembunuhan di kedua pihak itu? Dan bagaimana dengan sumoi Bong Siok Cin yang diperkosa itu? Ia diperkosa dan dibunuh oleh Ciok Lim, bukan?"
"Ha-ha-ha, semua orang tolol itu memang mengira demikian. Akulah yang mengaturnya sehingga Ciok Lim yang disangka, agar permusuhan itu mulai berkobar."
"Ah, jadi engkau pula yang memperkosa Siok Cin kemudian membunuhnya, menjatuhkan fitnah atas diri Ciok Lim?"
"Ha-ha-ha, benar sekali, manisku. Cerdik sekali, bukan?"
Sekarang tahulah Siang Cun bahwa suhengnya ini tidak gila.
Sama sekali tidak gila, melainkan jahat dan keji bukan main!
Dan ia kini telah terjatuh ke dalam tangan manusia iblis ini!
"Siang Cun, sekarang kita menjadi pengantin, engkau menjadi isteriku...."
Tangan pria itu mulai merenggut ke arah pakaian Siang Cun.
Bukan main takutnya hati Siang Cun.
Ia hendak meronta, hendak melawan, namun belum mampu menggerakkan kaki tangannya.
"Jangan.... ah, jangan.... lebih baik kau bunuh saja aku...."
"Bunuh engkau? Ha-ha-ha, kau kira aku sudah gila? Bertahun-tahun aku merindukannya, mencintamu, dan sekarang engkau menjadi milikku. Ah, kau kekasihku.... aku cinta padamu...."
Dan seperti orang gila atau seperti seekor harimau kelaparan melihat seekor domba muda yang lunak dagingnya, Hok Ci menubruk dan menciumi muka gadis itu, menggigiti bibir dan leher itu seperti orang gila.
Siang Cun memejamkan mata dan ia hampir pingsan saking takut, ngeri dan jijiknya.
Apalagi ketika tangan Hok Ci merenggut lepas pakaiannya satu demi satu.
Ia hanya dapat merintih dan mengeluh minta dibunuh saja.
Dalam keadaan yang amat berbahaya itu, di mana kehormatan Siang Cun sudah terancam noda yang akan menghancurkan hidupnya, nyaris bagaikan sepotong daging sudah berada di depan mulut seekor srigala buas yang siap mengunyah dan menelannya, dan Siang Cun sudah memejamkan mata dengan hati hancur, tiba-tiba pintu kamar itu tertendang roboh dari luar!
"Brakkkkk!"
Daun pintu roboh dan muncullah Sin Hong! "Phoa Hok Ci, manusia iblis jahat!"
Bentak Sin Hong dengan marah sekali melihat keadaan dalam kamar itu.
Siang Cun rebah terlentang di atas pembaringan dengan pakaian sudah lepas semua dari tubuhnya, Dan Hok Ci merangkul dan menciuminya, siap untuk memperkosa gadis itu yang nampak tak berdaya, tidak mampu bergerak karena tertotok jalan darahnya.
Hok Ci terkejut dan marah bukan main.
Dia tadi baru saja membuka bajunya, mulai melepaskan kancing baju yang kini menjadi setengah terbuka ketika terjadi gangguan itu.
Ketika dia meloncat bangkit berdiri sambil membalikkan tubuh dan mengenal Sin Hong, matanya terbelalak.
Dia merasa heran dan terkejut bukan main.
Bukankah Si Bangau Putih ini telah mampus di dasar lubang sumur jebakan?
Bagaimana tiba-tiba dapat muncul di sini, pikirnya.
Dia cerdik dan maklum akan bahaya yang mengancam dirinya.
Dia sudah mengenal baik betapa lihainya Pendekar Bangau Putih ini, bahkan gurunya sendiri, Hoan Saikong dan dia pernah mengeroyoknya, namun mereka berdua pun terdesak hebat.
Apalagi kini dia harus menghadapinya seorang diri saja.
Akan tetapi dia tidak melihat jalan lain kecuali melawan dan tanpa membuang waktu lagi, dia pun menyambar pedangnya dan menerjangnya dengan serangan ganas dan dahsyat.
Namun, Sin Hong sudah siap siaga dan dengan mudah saja dia mengelak dengan loncatan ke kiri dan dari sudut samping dia menotok ke arah pundak lawan.
Totokan itu cepat sekali datangnya.
dan nyaris pundak Hok Ci terkena totokan.
Akan tetapi Hok Ci dengan cepat memutar tubuh dan pedangnya ikut pula berputar lalu membuat lingkaran dan menyerang pula ke arah leher Sin Hong!
Gerakan ini cepat, namun sesungguhnya, Hok Ci terkejut dan jerih karena sekali gebrakan saja pundaknya hampir tertotok yang kalau mengenai sasaran tentu akan membuat dia roboh tak berdaya!
Menghadapi sambaran pedang ke lehernya, Sin Hong merendahkan tubuhnya dan tiba-tiba kakinya mencuat dan ujung sepatunya menendang ke arah lutut Hok Ci!
Inipun merupakan serangan yang amat berbahaya karena sedikit saja sambungan lutut tersentuh ujung sepatu, cukup untuk membuat Hok Ci terguling.
Namun, Hok Ci menarik kakinya dan bukan lutut yang tertendang, melainkan pahanya yang tercium ujung sepatu.
Dia tidak roboh akan tetapi tetap saja terhuyung dan cepat dia memutar pedangnya yang berubah menjadi gulungan sinar yang melindunginya.
Namun, tendangan yang mengenai tepi pahanya sudah cukup membuat Hok Ci jerih.
Sambil memutar pedangnya, tiba-tiba saja tangan kirinya bergerak dan sinar hitam kecil menyambar, bukan ke arah Sin Hong melainkan ke arah tubuh gadis yang rebah telanjang di atas pembaringan!
Otak Hok Ci yang cerdik dan licik sudah menemukan akal bagaimana dia akan dapat melepaskan diri dari tangan Sin Hong yang terlalu lihai baginya itu.
Dia menyerang Siang Cun dengan jarum hitam, jarum yang mengandung racun!
Dan mudah saja dia mengenai sasaran yang tidak mampu bergerak itu.
Terdengar Siang Cun mengeluarkan rintihan ketika pahanya terkena jarum hitam yang menyambar cepat tanpa ia mampu mengelak.
Sin Hong terkejut sekali dan terpaksa dia tidak mengejar ketika Hok Ci melompat keluar dari kamar itu untuk melarikan diri.
Sin Hong tahu bahwa jarum yang melukai Siang Cun adalah jarum beracun dan kalau tidak ditolong gadis itu dapat terancam maut.
Tentu saja menolong Siang Cun jauh lebih penting daripada mengejar Hok Ci, apalagi karena Siang Cun terancam bahaya maut.
Dan memang di sini membuktikan kelicikan dan kecerdikan Hok Ci yang dapat melepaskan diri dari tangan Sin Hong yang dia tahu bukan lawannya karena pendekar baju putih itu memiliki tingkat kepandaian yang jauh lebih tinggi dari kepandaiannya.
Sin Hong melompat ke dekat pembaringan.
Siang Cun yang membuka mata melihat betapa Sin Hong mendekatinya, teringat akan keadaannya yang telanjang bulat itu.
Segala bagian tubuhnya nampak jelas oleh pemuda itu dan hal ini membuatnya malu bukan main.
Mula-mula wajahnya berubah merah sekali, lalu pucat dan merah kembali dan perlahan-lahan kedua matanya menjadi basah air mata.
Akan tetapi Sin Hong tidak peduli akan keadaan gadis itu, tidak melihat ketelanjangannya karena seluruh perhatiannya tertarik kepada bintik hitam di paha kiri gadis itu.
Dia memeriksa dengan teliti sekali, tanpa banyak cakap dia meraba paha itu dan memijat bagian yang ada bintik hitamnya.
"Aduhhhhh....!"
Siang Cun menjerit karena bagian yang dipijat itulah yang terasa nyeri terkena jarum tadi.
Yakinlah Sin Hong bahwa bintik hitam itulah akibat luka oleh jarum.
Baca Juga: Bu Kek Siansu 2
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 2