Ceritasilat Novel Online

Kisah Para Pendekar Pulau Es 3

Eps 3 Kisah Para Pendekar Pulau Es - Kho Ping Hoo

Baca online Kisah Para Pendekar Pulau Es - Kho Ping Hoo

Cersil Kisah Para Pendekar Pulau Es - Kho Ping Hoo.

"Cin Liong....!

"Apa yang hendak kau katakan, Hui-i?!

"Kulihat engkau sndah lebih dari dewasa....!

"Usiaku sndah hampir tiga puluh tahun, Hui-i.!

"Kiranya sndah lebih diri cukup untuk....

menikah.!

"Sudah lebih dari cukup, terlambat malah.!

"Lalu kenapa sampai sekarang engkau belum menikah?!

Kini gadis itu berani mengangkat muka memandang dan sebaliknya malah Cin Liong yang kini menundukkan mukanya dan beberapa kali pemuda ini menarik napas panjang.

Pertanyaan itu seolah-olah merupakan serangan ujung tombak ke arah hatinya dan membuat dia mau tidak mau teringat kembali kepada Bu Ci Sian, gadis pertama yang pernah merampas hatinya akan tetapi kemudian gagal menjadi jodohnya (baca kisah Suling Emas dan Naga Siluman).

Akan tetapi dengan cepat dia mengusir bayangan itu dari ingatannya karena Bu Ci Sian kini telah menjadi isteri orang lain, isteri Pendekar Suling Emas Kam Hong.

"Hui-i, tadinya aku mengambil keputusan untuk tidak menikah selamanya, akan tetapi setelah aku berjumpa denganmu....! "Ya, bagaimana, Cin Liong?! "Pendirianku lalu goyah....! Kini Cin Liong yang mengulur tangan dan memegang tangan Suma Hui di atas meja itu, dipegangnya dengan lembut seperti memegang seekor anak burung yang lemah.

"Semenjak bertemu denganmu, aku tahu bahwa aku ingin menikah.... aku ingin dapat hidup bersama denganmu selamanya, Hui-i....! "Cin Liong....!! Tangan dalam genggaman Cin Liong itu menggelepar seperti anak burung ketakutan, akan tetapi tangan itu tidak ditarik seperti tadi dan gadis itu menunduk dengan muka merah sekali, lalu perlahan-lahan menjadi pucat dan dua titik air mata mengalir turun.

"Maafkanlah aku jika aku menyinggung perasaan hatimu, Hui-i,! kata Cin Liong, wajahnya agak pucat karena pemuda ini dilanda kekhawatiran kalau-kalau dia harus mengalami patah hati yang amat pahit untuk kedua kalinya setelah dahulu dia pernah patah hati karena cintanya ditolak oleh Bu Ci Sian.

"Tidak ada yang harus dimaafkan dan engkau tidak menyinggung, Cin Liong.

Akan tetapi....

lupakah engkau bahwa....

bahwa aku ini bibimu dan engkau keponakanku?

Ayahku, Suma Kian Lee dan ibumu, Yan Ceng, keduanya adalah putera dan cucu dari nenek Lulu.

Setidaknya, kita berdua adalah darah dari mendiang nenek Lulu....!

"Itulah yang selama ini menjadi ganjalan hatiku, Hui-i.

Kita adalah seorang pemuda dan seorang gadis, dan usiaku lebih tua darimu, akan tetapi....

kenapa engkau menjadi bibiku?!

"Kita harus dapat melihat kenyataan itu, Cin Liong.

Kiranya....

tidak mnngkin kalau di antara kita ada ikatan....

perjodohan....!

"Kenapa tidak mungkin, Hui-i?

Apa salahnya?

Kalau kita sudah sama-sama mencinta, apalagi halangannya?

Bagaimanapun juga, hubungan kekeluargaan antara kita terhitung jauh, karena kakek kita berbeda, dan she (marga) kitapun berbeda.

Engkau she Suma sedangkan aku she Kao, sungguh sudah amat jauh terpisahnya.

Hui-i, terus terang saja, aku cinta padamu, Hui-i, dan kalau aku tidak salah pandang, kalau perasaan hatiku tidak menipuku, engkau pun cinta padaku!!

"Cin Liong....!!

Kini gadis itu terisak dan menutupi mukanya dengan tangan.

"Hui-i, harap jangan menangis. Mengapa berduka? Mengenai rintangan itu, kalau memang kita sudah sama-sama mencinta, mari kita hadapi bersama! Apapun kesulitan dan kesukarannya yang akan kita tempuh, kita hadapi bersama. Maukah engkau, Hui-i?! Suma Hui membuka tangannya dan memandang dengan muka basah air mata, bahkan kini air mata masih bercucuran keluar dari kedua matanya, lalu ia menarik tangannya dan bangkit berdiri, berkata dengan suara lirih dan parau.

"Jangan bicarakan hal itu sekarang, Cin Liong. Berilah waktu padaku untuk berpikir. Aku sedang dilanda duka, karena kehilangan keluarga nenek moyang di Pulau Es, karena kehilangan kedua orang adikku yang masih belum kita ketahui bagaimana nasibnya. Dan kita dihadapkan pula dengan kenyataan adanya hubungan keluarga antara kita. Aku menjadi bingung, berilah waktu padaku, Cin Liong....! Cin Liong menjura.

"Maafkan aku, Hui-i.

Memang seharusnya kalau engkau beristirahat.

Nah, tidurlah, Hui-i.

Urusan ini dapat kita bicarakan kelak, kalau engkau menghendaki.!

Suma Hui mengangguk dan memandang dengan sayu kemudian melangkah lesu memasuki kamarnya.

Akan tetapi, kedua orang muda itu tidur dengan gelisah sekali, tenggelam dalam lamunan masing-masing, lamunan yang tak dapat dikatakan sedap atau menyenangkan.

Masalah-masalah berdatangan kepada mereka, bertumpuk dan susul-menyusul.

Kedukaan dan kegelisahan bertumpuk-tumpuk.

Dan kini mereka dihadapkan kepada kenyataan yang sungguh membingungkan dan mendatangkan rasa duka dan khawatir.

Mereka saling mencinta, padahal mereka adalah bibi dan keponakan!

Cin Liong gelisah dan tak dapat tidur.

Beberapa kali dia bangkit dan bangun, duduk termenung memikirkan nasibnya.

Sebagai seorang jenderal muda, dia dapat dibilang berhasil baik sekaii.

Kedudukannya tinggi dan terhormat, dipercaya oleh kaisar.

Di bidang ini dia memang beruntung sekali, juga dia tidak pernah kekurangan harta benda.

Sesungguhnya, haruslah diakuinya bahwa hidupnya cukup terhormat, mulia, berkecukupan dan menyenangkan.

Akan tetapi di bidang cinta, ternyata dia tidak beruntung.

Kegagalannya yang pertama ketika dia jatuh cinta kepada Bu Ci Sian sudah terasa amat berat dan luka yang dideritanya, sampai bertahun-tahun masih terasa.

Bagi seorang pendekar, perasaan hati merupakan sesuatu yanf teguh.

Kalau sekali mencinta, maka cintanya itu tidak akan rapuh melainkan kokoh kuat pula seperti keadaan jasmaninya yang tergembleng.

Maka kegagalan cintanya itu membuatnya hampir jera untuk mendekati wanita lain, bahkan dia mengambil keputusan untuk tidak menikah saja.

Ayah dan ibunya sudah berkali-kali mendesaknya, akan tetapi dia berkeras menyatakan belum ingin menikah.

Bahkan ayah ibunya menganjurkan kepadanya untuk mengambil selir saja kalau belum menemukan seorang gadis yang dianggap cocok untuk menjadi isterinya.

Akan tetapi Cin Liong tetap menolak bujukan mereka walaupun dia tahu bahwa ayah bundanya itu sudah rindu sekali untuk menimang seorang cucu!

Di luar kota Cin-an, hanya lima belas li jauhnya dari kota Cin-an, terdapat sebuah dusun yang makmur walaupun rakyatnya hidup sederhana.

Dusun ini bernama dusun Hong-cun, terletak di lembah Sungai Huang-ho yang subur.

Rakyatnya bercocok tanam, kadang-kadang kalau tanaman sudah tidak membutuhkan penggarapan lagi, mereka pergi mencari ikan sebagai kaum nelayan yang pandai.

Di dusun ini tinggal scorang pendekar yang namanya pernah menggemparkan dunia kang-ouw, akan tetapi karena pendekar ini sejak belasan tahun lamanya tidak pernah menonjolkan dirinya di dunia kang-ouw, maka tidak ada yang tahu bahwa warga dusun Hong-cun itu adalah seorang pendekar yang pernah menjadi buah bibir semua tokoh dunia persilatan dan disebut-sebut namanya dengan wajah pucat ketakutan sebagai Pendekar Siluman Kecil!

Ya, pendekar itu memang Pendekar Siluman Kecil yang bernama Suma Kian Bu, putera tunggal dari Pendekar Super Sakti dan isterinya, Puteri Nirahai, dari Pulau Es.

Suma Kian Bu mirip dengan ayahnya, dengan rambut yang dibiarkan panjang beriapan dan semua telah menjadi putih seperti benang-benang perak.

Kini usianya sudah empat puluh enam tahun, namun bentuk tubuhnya masih tegap dan amat gagah perkasa dan kuat seperti tubuh orang muda.

Hanya rambut putih itu saja yang membuat dia pantas kalau dikatakan bahwa usianya hampir setengah abad.

Isterinyapun bukan orang sembarangan, karena isterinya yang bernama Teng Siang In dan yang telah berusia empat puluh empat tahun itupun dahulu terkenal sebagai seorang pendekar wanita yang lihai.

Para pembaca serial cerita Suling Emas sampaiPendekar Super Sakti dan keturunannya tentu sudah mengenal baik siapa Suma Kian Bu ini!

Selain berdarah pendekar majikan Pulau Es, juga dari ibunya dia masih berdarah keluarga kaisar karena ibunya adalah seorang puteri dan panglima lagi.

Dan pendekar inilah yang merupakan putera Pendekar Super Sakti yang paling lihai.

Selain ilmu-ilmu dari keluarga ayahnya, yaitu ilmu-ilmu dari Pulau Es, juga dia memiliki gin-kang yang luar biasa hebatnya, yang membuat dia dapat bergerak seperti pandai menghilang saja.

Isterinya, selain hebat pula dalam ilmu silat, bahkan mempunyai keahlian dalam ilmu sihir.

Memang amat mengherankan, terutama bagi tokoh-tokoh persilatan kalau melihat cara hidup suami isteri pendekar ini sekarang.

Mereka hidup sebagai petani sederhana.

Biarpun rumah mereka cukup besar, namun sederhana dan keluarga ini hidup sebagai petani yang menggarap sawah, bahkan kadang-kadang suami isteri ini nampak sibuk pula mencari ikan dengan perahu mereka.

Bagi para penghuni dusun Hong-cun, keluarga ini amat dihormati dan biarpun keluarga itu tidak pernah menonjolkan kemampuan mereka, namun semua orang sudah dapat menduga bahwa keluarga ini adalah keluarga yang lihai.

Apalagi karena setiap kali ada penduduk kampung yang sakit, suami isteri ini dapat menolongnya dan memberi obat.

Dan setelah pendekar ini dan keluarganya tinggal di situ, tidak ada lagi terjadi kejahatan.

Beberapa orang penjahat yaug tadinya beroperasi di situ, segera lari ketakutan karena terjadi hal-hal aneh menimpa diri mereka.

Ada penjahat yang katanya digondol setan dan dilemparkan dari puncak pohon tinggi sekali, akan tetapi sebelum tubuhnya remuk terbanting di atas tanah.

"setan!

itu telah menyambar tubuhnya dan setan itulah yang mengancam agar dia menghentikan perbuatan jahatnya atau pergi dari dusun itu.

Bermacam hal aneh terjadi kepada para penjahat itu dan dalam waktu singkat, dusun itu bersih dari kejahatan, bahkan para penjahat di tempat lain yang mendengar akan angker dan keramatnya dusun Hung-cun, tidak ada yang berani mencoba-coba beroperasi di situ.

Inilah sebabnya maka dusun itu menjadi makmur dan semua penghuni dusun, sampai ketua dusun, menghormati keluarga itu sebagai keluarga sakti!

Merekapun menyebut Pendekar itu dengan sebutan In-kong (Tuan Penolong), dan isteri pendekar itu disebut Toa-nio.

Di dalam kisahSuling Emas dan Naga Siluman telah diceritakan bahwa sepasang suami isteri pendekar ini, setelah menikah belasan tahun lamanya, baru mendapatkan seorang keturunan.

Putera mereka itu mereka namakan Ceng Liong karena mereka berhasil memperoleh keturunan setelah menggunakan obat mustika ular hijau (baca kisah Suling Emas dan Naga Siluman).

Dan seperti kita ketahui, Ceng Liong diantarkan oleh orang tuanya ke Pulau Es untuk memperdalam ilmu silatnya di bawah bimbingan langsung dari Pendekar Super Sakti dan dua orang isterinya, juga untuk menemani kakek dan kedua orang nenek mereka yang sudah tua itu.

Pada siang hari itu, Suma Kian Bu dan Teng Siang In baru pulang dari ladang.

Pakaian mereka masih basah oleh keringat dan ujung celana mereka masih berlepotan lumpur.

Mereka berdua duduk di serambi depan menikmati air teh hangat yang dihidangkan oleh seorang pelayan mereka.

Sejenak mereka duduk minum teh tanpa berkata-kata.

Terasa sunyi sekali oleh mereka semenjak putera tunggal mereka meninggalkan mereka.

Sudah enam bulan lamanya Ceng Liong meninggalkan tempat itu dan kadang-kadang Teng Siang In duduk termenung penuh kerinduan kepada puteranya.

Bahkan kadang-kadang, kalau sedang seorang diri, dia suka menumpahkan rasa rindunya melalui deraian air mata.

Tentu saja Suma Kian Bu tahu akan hal ini.

Sudah kurang lebih seperempat abad lamanya dia menjadi suami Teng Siang In, maka tentu saja dia dapat mengikuti setiap perubahan air muka isterinya itu.

Ketika mereka berada duduk minum teh pada siang hari itu, diapun sudah makhim bahwa kemhali isterinya telah kumat rindunya.

Di ladang tadipun isterinya sudah diam saja, kehilangan kegembiraannya.

Padahal isterinya adalah seorang wanita yang lincah dan biasa bergembira.

"In-moi, kenapa kau diam saja sejak tadi?! tanya sang suami yang bahkan sampai hampir tuapun masih terus menyebut In-moi (dinda In) kepada isterinya, sebutan yang mesra dan penuh kasih. Teng Siang In menunduk lalu menarik napas panjang untuk menahan air mata yang sudah membikin panas kedua matanya, lalu menjawab.

"Suamiku, apakah engkau tidak merasakan kesepian yang mencekam hati ini?! Jawaban itu sudah cukup bagi Suma Kian Bu. Dia mengangguk-angguk.

"Kesepian sejak anak kita pergi? Akupun merasakan itu, isteriku dan diam-diam akupun merasakan penderitaan batin yang amat tidak enak ini.! Pendekar ini maklum akan isi hati isterinya. Bagi dia sendiri, sesungguhnya dia tidaklah begitu menderita dan ucapannya tadi hanya untuk menghibur keresahan hati isterinya. Pendekar ini yang memiliki kebijaksanaan seperti ayahnya, sudah mengerti bahwa semua bentuk kesenangan mendatangkan ikatan, dan semua bentuk pengikatan ini mendatangkan kesengsaraan. Teng Siang In juga bukan seorang wanita lemah yang cengeng. Agaknya ia merasakan bahwa sikapnya itu tidak semestinya, maka iapun menarik napas panjang.

"Suamiku, aku tahu bahwa sikapku ini bodoh. Ceng Liong berada di Pulau Es, di dalam tangan yang kokoh kuat, dekat dengan orang tua bijaksana yang mencintanya sehingga tidak ada alasan untuk mengkhawatirkan keadaannya. Akan tetapi hati ini, hati ibu ini.... maafkanlah kelemahanku.! Suma Kian Bu memegang lengan isterinya dan tersenyum menghibur.

"Aku maklum, isteriku dan aku tidak menyalahkanmu. Karena kitapun tidak terikat oleh apa-apa di tempat ini, marilah kita berdua pergi ke Pulau Es menengok Ceng Liong sekalian berpesiar.! Hampir saja Teng Siang In terlonjak kegirangan mendengar usul suaminya ini. Ia meloncat bangun, merangkul suaminya dan mencium pipinya.

"Terima kasih....! Ah, betapa girang hatiku! Engkau memang seorang suami yang baik sekali!! "Siapa bilang aku suami buruk?! Pendekar itu tertawa, rasa gembira di dalam hatinya melihat kegirangan isterinya itu agaknya jauh lebih mendalam daripada kegembiraan isterinya.

"Kapan kita berangkat? Kapan?! "Kapan saja. Kalau kau kehendaki, sekarangpun boleh.! "Sekarang? Ah, agaknya aku sudah tidak bisa menunda lebih lama lagi. Mari kita berkemas, suamiku!! Dan tanpa menjawab wanita itu berlari-lari seperti seorang anak kecil yang kegirangan ke dalam kamarnya untuk mempersiapkan segala sesuatu yang akan mereka bawa melakukan perjalanan jauh itu. Pada waktu suami isteri itu sedang mengemasi pakaian dan bekal yang akan mereka bawa pergi ke Pulau Es, tiba-tiba pelayan mereka memberi tahu bahwa di luar ada dua orang tamu yang ingin bertemu dengan mereka.

"Siapa mereka dan ada keperluan apa?! Teng Siang In bertanya sambil mengerutkan alisnya karena dalam keadaan seperti itu ia tidak ingin diganggu. Pelayan yang sudah membantu mereka sejak lahirnya Ceng Liong itu menjawab dengan wajah berseri.

"Yang seorang adalah nona Suma Hui dan yang seorang lagi saya tidak kenal, dia seorang pemuda.!

"Suma Hui....?!

Suami isteri itu saling pandang dengan wajah kaget, heran dan juga gembira.

Suma Hui juga pergi ke Pulau Es bersama dengan Ciang Bun dan juga Ceng Liong.

Maka, seperti menerima aba-aba saja, keduanya lalu meninggalkan kamar itu sambil berlari dan meninggalkan pelayan wanita setengah tua itu yang menggeleng kepala sambil tersenyum, tidak merasa terlalu heran menyaksikan sikap kedua orang majikannya yang memang aneh itu.

Ketika suami isteri itu tiba di ruangau depan di mana Suma Hui dan Cin Liong dipersilahkan duduk, Suma Hui bangkit berdiri dan segera menubruk Teng Siang In sambil menangis.

"Bibi.... paman.... ah, sungguh celaka....!! Dan gadis ini sudah menangis tersedu-sedu dalam pelukan Siang In yang hanya dapat saling pandang dengan suaminya, terkejut dan juga gelisah.

"Hui-ji (anak Hui).... ada apakah? Apa yang telah terjadi, nak?! Teng Siang In bertanya sambil mengguncang-guncang pundak gadis itu. Yang ditanya semakin terisak dan mengguguk.

"Bibi.... sungguh celaka, malapetaka telah menimpa kita....! Dan tangisnya membuat ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Melihat ini, Suma Kian Bu mengerutkan alisnya.

"Suma Hui....!! Suaranya membentak penuh wibawa sehingga amat mengejutkan hati Cin Liong.

"Sudah patutkah sikapmu itu?! Suara ini penuh teguran karena Suma Kian Bu merasa tidak puas melihat sikap keponakannya sebagai seorang cucu majikan Pulau Es telah memperlihatkan kelemahan yang seperti itu. Akan tetapi, Suma Hui yang telah digulung oleh perasaan duka, tetap tidak mampu mengeluarkan suara dan sesenggukan.

"Suma Hui....!! Suara Suma Kian Bu makin penasaran. Melihat Suma Hui dibentak dan gadis itu semakin berduka, Cin Liong merasa kasihan dan diapun menjura sambil berkata.

"Sesungguhnya begini....! "Siapa engkau?! Suma Kian Bu memotong ucapan Cin Liong dan memandang tajam wajah yang tampan dan gagah itu, diam-diam dia dapat menduga bahwa pemuda ini bukanlah orang sembarangan.

"Dan bagaimana engkau dapat datang bersama Suma Hui?! Tentu saja dia merasa tidak senang melihat keponakannya itu, seorang gadis dewasa, muncul bersama seorang pemuda yang tidak dikenalnya. Kini Suma Hui yang seperti bangkit dari tangisnya dan menjawab cepat.

"Paman, dia adalah keponakanku sendiri....! "Keponakanmu....?! Teng Siang In memotong, terbelalak, tentu saja terheran dan tidak dapat percaya bahwa Suma Hui bisa mempunyai seorang keponakan yang menurut taksirannya tentu jauh lebih tua daripada gadis itu.

"....namanya Kao Cin Liong,! sambung Suma Hui.

"Ahhh....! Jenderal muda putera Ceng Ceng itu?! Suma Kian Bu berseru, wajahnya berseri.

"Jadi engkau kah putera Kao Kok Cu Si Naga Sakti Gurun Pasir?!

Cin Liong kembali memberi hormat kepada pendekar yang masih terhitung paman kakeknya ini!

"Harap maafkan kelancangan saya.

Sebetulnya saya baru pulang dari Pulau Es dan mengalami segala peristiwa yang terjadi di sana, sampai dapat datang ke sini bersama dengan bibi Hui....!

"Mari kita duduk di dalam dan bicara.!

Suma Kian Bu mengajak Cin Liong dan Teng Siang In juga menggandeng Suma Hui yang masih menangis itu.

Mereka berempat lalu duduk di ruangan dalam dan kini Suma Hui sudah mulai dapat menguasai hatinya yang berduka.!Nah, sekarang ceritakanlah semuanya,!

kata Suma Kian Bu.

Bersama isterinya dia menanti untuk mendengarkan penuturan itu dengan jantung berdebar penuh ketegangan.

Cin Liong memandang kepada Suma Hui seolah hendak bertanya apakah dia yang akan bercerita.

Suma Hui yang juga melirik kepadanya menggeleng kepada sedikit lalu ialah yang mulai bercerita.

Setelah menarik napas panjang dan mengerahkan tenaga batin untuk menekan perasaan duka yang mencekik, ia lalu memandang kepada paman dan bibinya sejenak, kemudian dengan suara lirih namun jelas, seolah-olah mengatur agar kedua orang tua itu tidak sampai terkejut, iapun berkata.

"Paman dan bibi, harap jangan terkejut. Pulau Es telah tertimpa bencana hebat, diserbu oleh puluhan orang penjahat yang dipimpin oleh lima orang datuk kaum sesat.! "Nanti dulu, katakan siapa lima orang datuk itu?! Suma Kian Bu memotong.

"Menurut penyelidikan kami terutama Cin Liong, kami ketahui bahwa mereka itu adalah Hek-i Mo-ong, Ngo-bwe Sai-kong, Eng-jiauw Siauw-ong, Jai-hwa Siauw-ok dan wanita yang berjuluk Ulat Seribu....! Suma Kian Bu mengangguk-angguk dan mengerutkan alis. Nama-nama besar di dunia hitam, terutama sekali Hek-i Mo-ong.

"Lanjutkan ceritamu.!

"Mula-mula kami bertiga, saya, adik Ciang Bun dan adik Ceng Liong, sedang berlatih silat ketika muncul Ngo-bwe Sai-kong dan anak buahnya hendak membunuh kami bertiga.

Nenek Lulu datang dan menghajar mereka.

Nenek Lulu dikeroyok dan berhasil memukul mundur musuh, bahkan berhasil menewaskan Ngo-bwe Sai-kong yang lihai.

Akan tetapi nenek Lulu....

ia sendiri terluka parah dan setelah dapat masuk ke dalam istana, ia....

ia meninggal dunia karena luka-lukanya....!

"Aihhh....!!

Teng Siang In menahan jeritnya dan mukanya menjadi pucat, lalu berobah merah sekali karena marah.

Sementara itu, Suma Kian Bu memejamkan matanya, wajahnya tidak menunjukkan sesuatu, hanya nampak dia menarik napas panjang.

"Lanjutkan.... lanjutkan....! katanya tanpa membuka matanya.

"Sisa para penyerbu itu dihajar oleh nenek Nirahai sehingga mereka lari cerai-berai meninggalkan pulau. Malamnya kami tiga orang anak melakukan penjagaan dan muncullah Cin Liong dalam keadaan luka-luka pula. Dia mendarat di Pulau Es dan hampir saja terjadi salah paham karena pada waktu itu kami bertiga tidak mengenal bahwa dia adalah keponakan kami.! Suma Kian Bu mengangkat tangan dan membuka matanya, memandang kepada Cin Liong.

"Hentikan dulu ceritamu, Hui-ji, dan kau ceritakanlah bagaimana engkau dapat sampai ke Pulau Es dalam keadaan luka-luka, Cin Liong.! Cin Liong lalu menceritakan pengalamannya secara singkat namun jelas sekali. Dia menceritakan betapa dia bertugas menyelidiki keadaan dan betapa dia mengikuti rombongan penjahat yang hendak menyerbu Pulau Es, dan betapa di tengah pelayaran dia ketahuan dan hampir saja tewas ketika dia terlempar ke dalam lautan, namun akhirnya dia berhasil juga mendarat di Pulau Es walaupun sedikit terlambat, yaitu rombongan pertama dari kaum sesat telah menyerang ke pulau yang mengakibatkan tewasnya nenek Lulu.

"Demikianlah, saya lalu dibawa menghadap kakek buyut Suma Han dan bersama dengan keluarga Pulau Es saya lalu ikut melakukan penjagaan.! Cin Liong mengakhiri ceritanya.

"Dialah yang banyak berjasa, paman.

Kalau tidak ada dia, mungkin keadaan kami akan menjadi lebih parah lagi.

Seperti yang telah diduga oleh nenek Nirahai, gerombolan penjahat itu datang lagi menyerbu, dipimpin oleh Hek-i Mo-ong dan tiga orang datuk lainnya.

Kekuatan mereka berpuluh orang dan kami semua, kecuali kakek Suma Han yang tetap duduk bersila di dekat peti mati nenek Lulu, kami semua dipimpin oleh nenek Nirahai lalu mengadakan perlawanan mati-matian.

Namun, pihak musuh terlampau banyak.

Walaupun kami sudah merobohkan banyak orang, tetap saja kami kalah kuat.

Nenek Nirahai telah berhasil menewaskan Si Ulat Seribu, dan Cin Liong berhasil pula membunuh Eng-jiauw Siauw-ong yang lihai.

Kemudian....

sesuai dengan perintah nenek Nirahai, Cin Liong membawa kami bertiga bersembunyi karena keadaan gawat....!

Suma Kian Bu dapat mengerti akan siasat ibu kandungnya.

"Hemm, tentu disuruh bersembunyi di ruangan bawah tanah, bukan?!

"Benar, paman.

Aku sungguh tidak setuju sama sekali dan ingin aku mengamuk terus.

Akan tetapi, Cin Liong mentaati perintah nenek Nirahai dan aku ditotoknya.

Memang, kalau tidak disembunyikan, kami bertiga dan Cin Liong tentu telah tewas semua, akan tetapi sedikitnya dapat menambah jumlah kematian pihak musuh.!

"Lanjutkan, lanjutkan....!!

"Setelah kami keluar dari tempat persembunyian, ternyata musuh sudah pergi semua, bahkan mereka membawa pergi teman-teman yang tewas dan luka.

Akan tetapi....

akan tetapi....

kami melihat nenek Nirahai telah tewas pula di samping peti mati nenek Lulu....!

Sampai di sini Suma Hui tak dapat menahan tangisnya dan kembali ia terisak-isak lalu sesenggukan.

Teng Siang In menggigit bibirnya.

Wanita ini tidak menangis, artinya tidak mengeluarkan suara menangis walaupun air matanya bercucuran membasahi kedua pipinya.

Juga Suma Kian Bu hanya termenung dengan muka tidak menunjukkan sesuatu.

Semua ini terlihat oleh Cin Liong dan pemuda ini teringat akan kegagahan Ceng Liong dan menjadi kagum.

Melihat keadaan keponakannya itu, Suma Kian Bu menarik napas panjang.

Dia tidak dapat menyalahkan keponakannya itu.

Sebagai seorang gadis, Suma Hui cukup gagah dan pengalaman yang amat menyedihkan itu tentu saja mengguncang perasaan gadis itu.

"Cin Liong, sekarang engkau lah yang melanjutkan ceritanya,! katanya kepada pemuda itu. Cin Liong memandang kepada Suma Hui yang masih sesenggukan dengan sinar mata penuh kasih sayang dan iba dan hal ini sama sekali tidak lewat begitu saja dari pengamatan Suma Kian Bu, akan tetapi pendekar ini diam saja.

"Ketika kami memasuki ruangan, kami melihat nenek buyut Nirahai telah tewas di dekat peti mati nenek buyut Lulu, sedangkan kakek buyut masih duduk bersila di tempat semula.

Biarpun kami tidak melihat dan tidak tahu apa yang telah terjadi, akan tetapi melihat betapa semua musuh telah pergi dan kakek buyut masih duduk bersila, maka besar sekali kemungkinannya kakek buyut telah berhasil mengusir mereka, entah dengan cara bagaimana.

Kami semua melakukan penjagaan dan kemudian baru kami tahu, biarpun ada suara kakek buyut yang memesan agar jenazah mereka kami bakar di kamar sembahyang, dan agar kami semua cepat meninggalkan pulau senja hari itu juga dan kami diharuskan kembali ke rumah masing-masing, baru kami tahu bahwa sesungguhnya kakek buyut Suma Han juga telah meninggal dunia....!

"Ayah....!!

Seruan ini pendek saja namun menggetarkan seluruh rumah itu dan Cin Liong merasa terkejut sekali.

"Ayaaahh.... ohh, ayaahhh....!! Teng Siang In menubruk suaminya, menyembunyikan mukanya di dada suaminya. Keduanya menangis tanpa suara! Cin Liong menatap wajah Pendekar Siluman Kecil itu dan hatinya tergetar. Wajah yang gagah itu nampak menakutkan sekali. Dengan memberanikan diri diapun berkata lirih.

"Mendiang kakek buyut meninggalkan pesan bahwa kematian adalah wajar, tidak perlu diributkan atau disusahkan....! Terdengar elahan napas panjang dan pendekar itu seperti baru sadar dari mimpi buruk. Dia memandang kepada Cin Liong dan berkata lirih.

"Terima kasih, Cin Liong. Begitulah hendaknya. Isteriku, keringkan air matamu yang tiada gunanya itu dan mari kita mendengarkan penuturan mereka ini lebih lanjut.! Kini Suma Hui yang sudah dapat menguasai hatinya melanjutkan cerita itu.

"Paman dan bibi, setelah kami melakukan perintah terakhir dari kakek, kami berempat meninggalkan pulau dengan perahu dan dari jauh kami melihat betapa istana itu terbakar, kemudian.... sungguh mengejutkan dan mengherankan sekali.... kebakaran itu menjalar terus dan dalam waktu semalam itu, seluruh pulau terbakar habis!! "Hemmm....!! Suma Kian Bu mengangguk-angguk, kembali dia maklum akan maksud ayahnya yang hendak melepaskan semua ikatan dengan dunia.

"Dan pada keesokan harinya, pulau itu sudah lenyap! Pulau Es telah tenggelam!! gadis itu melanjutkan ceritanya. Kembali Suma Kian Bu mengangguk-angguk. Memang Pulau Es adalah sebuah pulau yang aneh, maka peristiwa itupun tidaklah luar biasa.

"Kemudian bagaimana dengan kalian berempat?! tanyanya dan kini ayah dan ibu ini kembali dicekam rasa gelisah karena kenyataannya kini, dari empat orang itu tinggal dua orang, Ciang Bun dan Ceng Liong tidak ada bersama mereka, ini berarti bahwa tentu telah terjadi sesuatu dengan kedua orang anak itu.

"Kami berempat melanjutkan pelayaran untuk menuju ke daratan besar, akan tetapi di tengah lautan kami dihadang dan dikepung oleh puluhan orang penjahat, sisa mereka yang agaknya melarikan diri dari Pulau Es, dipimpin oleh Hek-i Mo-ong dan Jai-hwa Siauw-ok.! "Kedua nama jahanam itu takkan pernah kulupakan!! kata Teng Siang In dengan sinar mata berapi-api.

"Kami diserang dan perahu kami digulingkan. Kami membela diri mati-matian, akan tetapi Cin Liong terlempar le laut, demikian pula Ciang Bun, padahal ketika itu badai sedang mengamuk. Saya sendiri tertawan oleh Jai-hwa Siauw-ok dan dibawa lari, sedangkan menurut keterangan Cin Liong kemudian, adik Ceng Liong juga tertawan dan dibawa pergi oleh Hek-i Mo-ong.! "Ahhhh....!! Teng Siang In meloncat bangun dan mukanya menjadi merah sekali, sepasang matanya mencorong.

"Kalau sampai terjadi sesuatu dengan anakku, aku bersumpah untuk merobek-robek kulit Hek-i Mo-ong dan mencincang hancur dagingnya!! "In-moi, tenanglah, tidak baik membiarkan perasaan menguasai batin,! terdengar Suma Kian Bu berkata dan nyonya itu lalu terduduk kembali, wajahnya kini agak pucat akan tetapi sepasang matanya masih berapi-api dan kedua tangannya dikepal.

"Hui-ji, lanjutkan ceritamu.! "Saya dilarikan oleh si jahanam Jai-hwa Siauw-ok dan nyaris mengalami bencana dan aib yang hebat. Untung muncul Cin Liong yang tiba pada saat yang tepat menolongku dan sayang sekali bahwa si keparat itu berhasil melarikan diri dari kejaran kami. Kami lalu langsung pergi ke sini untuk melaporkan kepada paman dan bibi.! "Dan Ciang Bun? Ceng Liong?! Teng Siang In bertanya. Suma Hui mengerutkan alisnya, wajahnya diselimuti kedukaan dan ia menggeleng kepala.

"Kami tidak tahu, bibi. Yang diketahui oleh Cin Liong hanya bahwa Ciang Bun terlempar ke lautan dan Ceng Liong ditawan Hek-i Mo-ong. Jahanam Siauw-ok itupun bercerita demikian kepadaku.! "Kita harus mencarinya sekarang juga!! Teng Siang In berkata sambil memandang kepada suaminya dan Suma Kian Bu yang sudah mengenal baik watak isterinya maklum bahwa andaikata dia menolak sekalipun, tentu isterinya akan berangkat sendiri. Memang mereka harus cepat melakukan pengejaran dan mencari Ceng Liong untuk dirampas kembali, dan bagaimauapun juga, mereka memang sudah berkemas-kemas untuk pergi merantau ke Pulau Es.

"Baik, kita mencarinya hari ini juga. Cin Liong dan Hui-ji, kalian hendak pergi ke mana?! "Paman, saya harus cepat-cepat pulang ke Thian-cin memberi kabar kepada ayah dan ibu.! "Saya akan menemani bibi Hui.! Suma Kian Bu mengangguk dan bersama isterinya dia mengantar pemuda dan pemudi itu sampai ke pintu depan. Setelah mereka berdua berpamit dan menjura untuk yang terakhir kalinya, Suma Kian Bu memandang kepada mereka dengan sinar mata tajam, lalu berkata.

"Cin Liong dan Suma Hui, jalan yang kalian tempuh penuh rintangan, akan tetapi berjalanlah terus, doa restuku bersamamu dan semoga Thian memberkahi kalian.! Cin Liong dan Suma Hui balas memandang dan wajah mereka seketika meujadi merah. Mereka menjura lagi dan hampir berbareng keduanya berkata.

"Terima kasih....! Lalu mereka pergi meninggalkan suami isteri yang dicekam rasa gelisah karena mendengar putera tunggal mereka ditawan Hek-i Mo-ong, datuk kaum sesat yang telah mereka dengar akan kekejamannya. Setelah kedua orang muda itu lenyap di sebuah tikungan jalan, Teng Siang In menoleh kepada suaminya.

"Engkau juga melihat bahwa mereka itu saling mencinta?!

"JeIas sekali!!

"Dan engkau malah mendorong mereka!

Mana mungkin hal itu berlangsung?

Mereka adalah bibi dan keponakan!!

"Bukan urusan kita, melainkan urusan mereka berdua.

Aku hanya percaya kepada cinta, tidak percaya kepada semua peraturan-peraturan yang kaku.

Nah, mari kita berangkat, isteriku.!

Suami isteri pendekar ini meninggalkan pesan kepada pelayan wanita yang membantu rumah tangga mereka, meninggalkan uang juga meninggalkan pesan agar hati-hati menjaga rumah, kemudian merekapun pergi.

Karena mereka tidak tahu ke mana Hek-i Mo-ong melarikan Ceng Liong, dan tidak tahu harus melakukan pengejaran ke jurusan mana, maka mereka mengambil keputusan untuk pergi ke kota raja karena di tempat ramai inilah pusat segala macam berita tentang dunia kang-ouw.

Karena mereka melakukan pencarian tanpa arah tertentu, maka mereka melakukan perjalanan lambat, melakukan penyelidikan dengan teliti, menanyai orang-orang dan tokoh-tokoh persilatan di sepanjang jalan, walaupun hati mereka gelisah dan ingin sekali mereka cepat-cepat menemukan kembali putera mereka.

Sebagaimana kemudian tercatat di dalam sejarah, Kaisar Kian Liong merupakan kaisar yang paling besar, paling bijaksana, dan paling lama menduduki tahta Kerajaan Ceng dibandingkan dengan semua kaisar Bangsa Mancu.

Kaisar ini akan memerintah selama enam puluh tahun!

Memang Kaisar Kian Liong inilah merupakan satu-satunya kaisar yang berhasil dalam pemerintahannya.

Kebesarannya bahkan menandingi kebesaran kakeknya, yaitu Kaisar Kang Shi (1663-1722).

Kalau kakaknya itu memegang kendali pemerintahan dengan kedua tangan besi, Kian Liong menggunakan satu tangan besi dan yang sebelah pula tangan bersarung sutera.

Pemberontakan-pemberontakan yang muncul memang ditindasnya dengan tangan besi, akan tetapi kaisar ini mengatur pemerintahan di dalam dengan lembut sehingga sebagian besar rakyat mencintanya.

Tentu saja, tidak ada orang yang mampn memuaskan hati semua orang lain.

Karena Kian Liong memperhatikan nasib rakyat dan menggunakan kekerasanbukan saja terhadap pemberontakan akan tetapi juga terhadap para penjahat, maka diam-diam para penjahat itu kehilangan tempat berpijak.

Hal ini, terutama mereka yang menjadi korban operasi dan gerombolannya dihancurkan, menimbulkan dendam dan sakit hati, juga kebencian terhadap Kaisar Kian Liong yang masih muda.

Inilah sebabnya mengapa bukan jarang kaisar ini mengalami serangan-serangan gelap ketika melakukan perjalanan.

Ketika dia masih menjadi seorang pangeran, Kian Liong sudah biasa merantau dan menyamar sebagai rakyat biasa sehingga dia mampu menyelami keadaan kehidupan rakyat seperti kenyataannya, bukan hanya mendengar pelaporan-pelaporan saja yang biasanya palsu karena para pejabat yang melapor selalu melaporkan yang baik-baik untuk mencari muka.

Dan semenjak masih menjadi pangeran, banyak sudah usaha para penjahat untuk melenyapkan atau membunuh pangeran ini.

Akan tetapi, betapapun banyaknya penjahat yang anti, masih banyak mereka yang pro dan yang melindungi dan membela pangeran itu.

Apalagi sekarang, sebagai seorang kaisar tentu saja dia selalu dikelilingi dan dilindungi oleh para pengawal istana.

Ketika itu, sudah dua tahun Kaisar Kian Liong menduduki tahta kerajaan dan sudah banyaklah kemajuan-kemajuan yang dicapai dalam pemerintahannya.

Baru saja bala tentara kaisar berhasil melakukan pembersihan ke selatan dan di sepanjang pantai timur.

Kini, ada kabar angin yang mendesas-desuskan bahwa di utara dan barat mulai ada gerakan-gerakan pemberontakan dan sang kaisar telah menugaskan panglima yang amat dipercayanya, yaitu Jenderal Muda Kao Cin Liong, untuk melakukan penyelidikan.

Dia percaya bahwa jenderal muda itu akan dapat menemukan kenyataan-kenyataan mengenai berita yang tidak baik itu dan dengan hati tenang, Kaisar Kian Liong pada suatu hari pergi berpesiar ke Telaga Teratai di sebelah selatan kota raja.

Dia bermaksud untuk merayakan hasil operasi pembersihan di timur dan selatan itu, karena setiap kali usahanya membebaskan rakyat dari tekanan dan kesengsaraan berhasil, hatinya gembira sekali.Perjalanan dilakukan dengan kereta yang dikawal oleh pasukan pengawal.

Dalam perjalanan pesiar ini, Kaisar Kian Liong ditemani oleh belasan orang dayang dan juga tiga orang selirnya yang muda-muda dan cantik-cantik.

Sampai dua tahun setelah menjadi kaisar, dia belum mempunyai seorang permaisuri, hanya mempunyai tiga orang selir itu yang belum juga ditambahnya walaupun para pembesar dengan usaha mereka mencari muka banyak yang menawarkan dara-dara cantik jelita untuk menambah kumpulan selir-selirnya.

Telaga Teratai itu sesungguhnya adalah sebuah telaga buatan yang mengambil airnya dari Terusan Besar, dibuat sebuah telaga yang indah dikelilingi taman bunga dan telaga itu terhias dengan bunga-bunga teratai yang mekar sepanjang masa.

Beberapa buah perahu besar mewah milik istana dipergunakan untuk pesiar oleh Kaisar Kian Liong.

Akan tetapi, tidak seperti kaisar lain yang mengutamakan kesenangan dengan hiburan tari-tarian, makan enak, kemudian bersenang-senang dengan para wanita cantik, Kaisar Kian Liong mempunyai cara bersenang-senang yang lain lagi.

Kesenangannya amat bersahaja, seperti kesenangan rakyat jelata.

Para dayang dan pengawal menahan rasa geli hati mereka tanpa merasa heran sedikitpun ketika perahu kaisar telah tiba di tengah telaga, Kaisar Kian Liong lalu mulai dengan hobbynya, yaitu mengail ikan!

Kaisar Kian Liong kelihatan gembira sekali karena ternyata di telaga itu terdapat banyak ikan rakus!

Sebentar saja umpan pancingnya disambar ikan yang cukup besar dan setelah dia berhasil menarik ikan itu ke atas perahu dan ikan itu dilepas dari pancing oleh pembantunya, kemudian mata kail dipasangi umpan baru, sebentar saja dia menarik ikan lain.

Berturut-turut kailnya mengena dan sebentar saja dia telah berhasil memancing belasan ekor ikan yang cukup besar!

Kaisar ini sama sekali tidak tahu betapa sebelum mengail, para thaikam yang selalu berusaha untuk menyenangkan hati kaisar telah lebih dulu melepaskan banyak ikan-ikan hesar di tempat itu.

Terjadi pula kelucuan yang tidak diketahui oleh kaisar muda itu, yakni bahwa di antara ikan yang terdapat olehnya itu ada beberapa ekor ikan yang sebetulnya hanya bisa didapatkan di Sungai Yang-ce!

Di tepi telaga buatan itu terdapat banyak rakyat yang sengaja datang untuk nonton perahu kaisar.

Bahkan ada pula yang memberanikan diri naik perahu.

Memang telaga buatan itu pada hari-hari biasa dibuka dan kaisar memperbolehkan rakyat untuk bermain-main di situ.

Bahkan kaisar yang sudah biasa dengan rakyat itu tidak pula melarang rakyat bermain-main pada saat dia sedang berlibur di situ.

Hal ini sesungguhnya membuat para komandan pengawal mengerutkan kening karena tidak setuju, akan tetapi tentu saja mereka tidak berani menentang.

Sebaliknya, rakyat berterima kasih dan memuji sikap kaisar yang sama sekali berbeda dengan kaisar-kaisar lain, yang biasanya amat congkak dan tidak sudi berdekatan dengan rakyat, apalagi rakyat kecil yang miskin.

Di antara beberapa orang nelayan yang mendayung perahu mencari ikan di telaga itu, terdapat seorang wanita muda yang pakaiannya seperti nelayan, memakai caping lebar untuk melindungi wajahnya yang manis dari sengatan sinar matahari yang mulai naik tinggi.

Perlahan-lahan, perahu wanita nelayan ini makin mendekati perahu kaisar.

Para pengawal yang awas memasang mata, melihat nelayan wanita ini, akan tetapi karena ia hanya seorang wanita nelayan yang sendirian saja dalam sebuah perahu kecil, asyik memancing ikan pula, maka mereka tidak menaruh kecurigaan.

Pula, apa yang dapat dilakukan oleh seorang wanita muda terhadap kaisar yang dijaga ketat oleh para pengawal?

Memang benar bahwa kaisar tidak dikerumuni terlalu banyak pengawal, dan di perahu itupun hanya terdapat enam orang pengawal, akan tetapi itupun sudah cukup kalau diingat bahwa mereka berada di atas perahu di tengah telaga, sedangkan di pantai telaga berkumpul pasukan pengawal.

Selain itu, juga para anak buah perahu bukanlah orang lemah dan dapat pula membantu jika timbul keadaan bahaya.

Kalau terlalu banyak perahu nelayan yang berani mendekat perahu kaisar, tentu para pengawal akan melarangnya.

Akan tetapi hanya sebuah perahu kecil seorang nelayan wanita saja tidak menjadi soal.

Akan tetapi para pengawal ini sama sekali tidak tahu bahwa di antara perahu-perahu nelayan yang berada agak jauh dari perahu kaisar itu terdapat penumpang-penumpangnya yang amat mencurigakan.

Dari sikap, bentuk tubuh dan pakaian mereka, jelaslah bahwa mereka itu bukan nelayan biasa.

Sama sekali bukan nelayan karena mereka adalah orang-orang kang-ouw, kaum sesat yang menaruh hati dendam terhadap kaisar karena mereka adalah orang-orang yang menjadi korban pembersihan, bekas raja-raja bajak dan perampok yang telah kehilangan anak buah dan mata pencaharian mereka, kehilangan kerajaan kecil mereka.

Ada lima orang penjahat besar di perahu-perahu kecil terpisah dan para pengawal tidak tahu betapa tak lama kemudian perahu-perahu itu kosong dan para penghuninya lenyap.

Barulah para pengawal itu menjadi panik dan geger ketika tiba-tiba ada lima orang yang pakaiannya basah kuyup berloncatan masuk ke dalam perahu dengan tangan memegang senjata tajam!

Pada saat itu, Kaisar Kian Liong sedang menghadapi panggang ikan hasil kailnya tadi dan melihat munculnya lima orang ini, tentu saja kaisar menjadi terkejut dan heran.

Namun, bukan baru sekali ini saja kaisar itu menghadapi ancaman bahaya.

Ketika masih menjadi pangeran, sudah seringkali dia menghadapi ancaman maut, maka sekali inipun dia bersikap tenang saja.

Bahkan kaisar muda ini melanjutkan makan minum sambil nonton betapa enam orang pengawalnya sudah menerjang dan menyambut lima orang penyerbu gelap itu.

Akan tetapi, ternyata lima orang penyerbu ini rata-rata memiliki ilmu silat yang tinggi.

Mereka itu terlalu kuat bagi enam orang pengawal dan berturut-turut, sudah ada tiga orang pengawal yang roboh mandi darah!

"Ha-ha-ha, Kaisar Kian Liong, engkau hendak lari ke mana sekarang?!

seorang di antara para penyerbu yang bertubuh seperti raksasa bermuka hitam itu kini mengangkat golok besarnya dan menyerbu ke arah kaisar yang sedang makan daging ikan.

Kaisar itu maklum bahwa tidak ada jalan lari baginya, maka diapun melanjutkan makan, bangkitpun tidak dari tempat duduknya!Melihat ketenangan orang itu, si penjahat menjadi termangu-mangu dan ragu-ragu, memandang ke kanan kiri untuk melihat apa yang menyebabkan kaisar begitu tenang seolah-olah ada yang diandalkan.

Penjahat ini sudah mendengar betapa kaisar ini sejak menjadi pangeran dahulu selalu dilindungi oleh para pendekar dan menurut dongeng dilindungi oleh dewa-dewa yang tidak nampak!

Kaisar Kian Liong tersenyum, melihat keraguan orang itu.

"Orang kasar, apa sebabnya engkau hendak membunuh kami?! Penjahat itu nampak marah lagi.

"Engkau menjadi kaisar bertindak sewenang-wenang terhadap golongan kami, menindas dan membasmi golongan kami. Maka kami harus membunuhmu!! "Ahh, apa untungnya kalau engkau membunuhku? Tetap saja kalian akan hidup sengsara karena ulah kalian sendiri. Bertobatlah dan bertindaklah di atas jalan yang benar dan kalian akan menemukan kehidupan baru....! "Tak perlu banyak cakap lagi!! Si penjahat yang agaknya sudah menemukan kembali keganasannya itu melompat ke depan, mengayun goloknya.

"Trrangggg....!!

Bunga api berpijar menyilaukan mata kaisar yang melindungi mukanya dengan kedua tangan agar bunga api itu tidak mengenai mukanya.

Dia melihat munculnya seorang wanita muda berpakaian nelayan yang memakai caping lebar sehingga sukar bagi kaisar untuk dapat melihat muka wanita itu yang tertutup caping.

Wanita itu memegang sebatang pedang dan tadi telah meloncat ke perahu sambil menangkis sambaran golok penjahat raksasa itu.

Kini terjadilah perkelahian di atas perahu.

Wanita muda itu lihai sekali permainan pedangnya sehingga penjahat tinggi besar menjadi kewajahan juga.

Penjahat itu kalah lincah dan sinar pedang yang bergulung-gulung itu mendesak dan menghimpitnya, membuat dia hanya mampu menangkis sambil mundur-mundur saja.

Akan tetapi, segera datang penjahat-penjahat lain dan karena tak lama kemudian semua pengawal yang berjumlah enam orang itu telah raboh semua, si wanita nelayan terpaksa melawan lima orang penjahat itu dan melindungi kaisar!

Ia memutar pedangnya dan berloncatan ke sana-sini menghadang agar mereka tidak dapat mengganggu kaisar.

Betapapun pandai dan gagahnya wanita itu, ia tidak mampu menandingi lima orang penjahat yang ganas itu dan ia telah menerima beberapa kali bacokan sehingga pakaiannya mulai penuh dengan bercak-bercak darah.

Melihat ini, kaisar menjadi marah dan tidak tega.

"Kalian berlima ini sungguh orang-orang jahat kejam dan tak tahu malu, mengeroyok seorang wanita. Hentikan pengeroyokan itu!! Akan tetapi, lima orang penjahat itu menghendaki nyawa kaisar dan si wanita menjadi penghalang, tentu saja mereka tidak memperdulikan bentakan-bentakan kaisar. Karena merasa bahwa ia tidak akan mampu mempertahankan diri lebih lama lagi, wanita itu lalu berkata dengan suara gemetar.

"Sri baginda, larilah.... larilah dari sini selagi ada kesempatan....!! Akan tetapi, biarpun dia sendiri bukan pendekar, Kaisar Kian Liong sejak dulu memiliki watak yang gagah. Ada seorang wanita yang membela dan melindunginya terancam bahaya maut, bagaimana mungkin dia mau melarikan diri begitu saja meninggalkan wanita itu sendiri saja menghadapi maut? Dia lalu bertepuk tangan dan berkata kepada para anak buah perahu yang berdiri dengan bingung.

"Jangan diam saja. Bantulah wanita ini menghadapi penjahat!! Mendengar perintah itu, barulah belasan orang anak buah perahu itu berbondong-bondong maju dengan senjata seadanya. Ada yang membawa tombak ikan, ada yang membawa dayung, dan tukang masak datang bersenjatakan pisau dapur yang besar. Mereka juga bukan orang-orang lemah, akan tetapi tentu saja bukan apa-apa bagi lima orang penjahat lihai itu. Sebentar saja merekapun sudah terlempar ke sana-sini terkena tendangan para penjahat dan kembali wanita itu dikeroyok.

"Desss....!! Sebuah pukulan yang keras sekali dengan sebuah ruyung mengenai punggung wanita itu. Wanita itu mengeluh dan muntah darah, dan pada saat itu, sebatang golok membacok lambungnya. Darah muncrat dan wanita itupun terhuyung. Namun, dengan pedangnya ia masih mampu menghalau sebatang golok yang menyambar ke arah kaisar! Wanita itu sungguh gagah perkasa dan mati-matian melindungi kaisar.

"Bunuh perempuan ini lebih dulu, baru kita sembelih kaisar!! kata si tinggi besar dan kini mereka semua menerjang ke arah wanita yang sudah lemah itu. Si wanita memutar pedangnya melindungi diri, akan tetapi karena tenaganya sudah lemah, ia terlempar ke belakang, jatuh menimpa pangkuan kaisar! Kaisar merangkulnya, tidak perduli akan darah wanita itu yang membasahi lengan dan jubahnya. Dan kaisar terkesiap kaget ketika caping itu terbuka dan wajah yang manis itu nampak.

"Li Hwa....!! Kaisar Kian Liong berseru dan memandang terbelalak.

"Kau.... kau.... Li Hwa....!! Wanita itu mencoba untuk tersenyum.

"Ampunkan hamba.... hamba tidak berhasil.... menyelamatkan paduka....! "Li Hwa....!! Kaisar mendekap kepala itu dan merangkulnya ketat. Lima orang penjahat itu tertegun menyaksikan peristiwa ini, akan tetapi segera si tinggi besar berseru.

"Bunuh mereka!! Lima orang itu menyerbu, seperti lima ekor anjing yang hendak memperebutkan tulang, menerjang ke arah kaisar yang duduk memeluk tubuh wanita nelayan itu.

"Wuuuutttt....

blaarrrr....!!

Lima orang penjahat itu terlempar ke belakang dan terbanting jatuh.

Mereka merasa seperti disambar halilintar saja dan ketika mereka bangkit berdiri dan menggoyang-goyang kepala mengusir pening, mereka melihat di situ telah berdiri seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh enam tahun, berpakaian sederhana dengan rambut riap-riapan, sepasang matanya mencorong seperti mata naga, dan di sebelahnya berdiri pula seorang wanita berusia beberapa tahun lebih muda, namun masih nampak cantik dan bertubuh ramping padat, berpakaian rapi dan pesolek, di punggungnya tergantung sebuah payung.

Sepasang suami isteri ini bukan lain adalah pendekar sakti Suma Kian Bu yang dikenal sebagai Pendekar Siluman Kecil dan isterinya yang bernama Teng Siang In.

Akan tetapi karena memang selama belasan tahun Suma Kian Bu dan isterinya tidak pernah berkecimpung di dunia kang-ouw dan tidak membuat nama besar, maka lima orang penjahat itupun tidak mengenal mereka.

Dan inilah celakanya bagi para penjahat itu.

Kalau mereka mengenal suami isteri pendekar itu, tentu mereka akan lari tunggang-langgang tidak berani melawan, meloncat ke air telaga dan berenang ke perahu masing-masing seperti yang mereka lakukan ketika mengadakan penyerbuan tadi.

Akan tetapi, kini mereka bangkit dan memandang marah, lalu menghampiri suami isteri itu dengan sikap mengancam.

Mereka adalah orang-orang kasar yang hanya mengandalkan kekerasan dan kepandaian sendiri saja, tak tahu diri dan tidak melihat bahwa terjangan Suma Kian Bu tadi saja sudah cukup menjadi bukti bahwa mereka sama sekali bukanlah tandingan pendekar sakti ini.

Mereka sudah hampir berhasil, sudah menyudutkan kaisar yang demikian tidak berdaya lagi.

Sekali menggerakkan golok saja sudah cukup untuk membunuh kaisar dan kini muncul dua orang penghalang yang tak disangka-sangka, tentu saja mereka menjadi penasaran.

Mereka maju menghampiri dan membagi kelompok, tiga orang menghampiri Suma Kian Bu dan dua orang menghampiri Teng Siang In.

Para anak buah perahu yang tadi dipukul jatuh bangun, kini berdiri berkelompok, dengan tubuh babak-belur mereka memandang ke depan, dengan penuh harapan mereka berpihak kepada suami isteri yang muncul pada saat yang tepat itu.

Sambil mengeluarkan teriakan-teriakan buas, mereka maju menyerang.

Seorang penjahat yang memegang sebatang tombak panjang menubruk dan menusuk ke arah perut Suma Kian Bu.

Pendekar ini tidak bergerak dari tempat dia berdiri melainkan menyambut tusukan itu dengan tangannya, menangkap ujung tombak dengan mudahnya dan sekali betot, orang itu terbawa mendekat dan begitu kedua tangan pendekar sakti ini bergerak, tombak panjang itu seperti benda lunak saja dilibat-libatkan pada tubuh pemiliknya sehingga penjahat itu terbelit tombaknya sendiri, tidak mampu bergerak seperti ayam ditelikung.

"Plakkk!!

Tangan pendekar sakti itu menampar dan tubuh penjahat yang sudah tidak mampu bergerak itu terlempar keluar dari perahu, jatuh menimpa air yang muncrat tinggi dan tubuh itupun tenggelam karena dibebani tombak dan kedua lengannya tidak mampu bergerak!Orang pertama yang menyerang Teng Siang In adalah seorung penjahat berperut gendut dengan kepala botak.

Dia memegang ruyung besar dan orang inilah yang tadi menggebuk punggung wanita nelayan itu.

Kini, dengan ruyung yang besar dan berat itu dia menyerang kepada Teng Siang In.

Nyonya pendekar inipun tidak bergerak dari tempat ia berdiri, melainkan sepasang matanya yang tajam berpengaruh itu menatap ke arah wajah si gendut, mnlutnya yang manis berkemak-kemik dan telunjuk kanannya menuding.

Terjadilah keanehan yang luar biasa dan membuat para anak buah perahu itu bengong terlongong.

Si gendut berkepala botak itu tiba-tiba berhenti menyerang, melotot dan ruyung yang dipegang oleh tangan kanannya itu tiba-tiba saja digerakkan memukuli kepalanya sendiri yang botak.

Terdengar bunyi tak-tok-tak-tok disusul keluhan dan teriakannya dan kepala botak itu sebentar saja bocor semua, berdarah dan benjol-benjol.

Tangan kiri orang itu berusaha mencegah tangan kanan, akan tetapi tetap saja tangan kanan itu menggerakkan ruyung, makin lama semakin keras menghantami kepalanya sendiri.

Orang itu kebingungan, ketakutan dan kesakitan, berlari ke tepi perahu akan tetapi ruyung di tangannya masih terus memukulinya, dan pada pukulan terakhir terdengar suara "prakk!!

dan diapun terguling keluar dari perahu, menimpa permukaan air dan tenggelam karena pukulan terakhir tadi agaknya membuat kepala botaknya retak-retak!

Melihat ini, mulailah para anak buah perahu percaya akan kehehatan sepasang pendekar itu dan merekapun bersorak gembira.

Penjahat ke dua yang menyerang Suma Kian Bu adalah seorang penjahat tinggi kurus yang bersenjata sebatang golok.

Melihat betapa kawannya dilempar ke telaga oleh pendekar itu, dia berseru marah dan goloknya ditusukkan ke depan, ke arah perut pendekar itu.

Seperti tadi, Suma Kian Bu tidak bergerak dari tempatnya melainkan menggunakan jari telunjuknya menyentil ke arah golok yang segera menyeleweng arahnya dan pemegangnya terhuyung.

Namun, penjahat itu membalik dan kembali menusukkan goloknya dari samping ke arah lambung.

Kian Bu menggunakan dua jari tangan menangkap atau menjepit ujung golok dan sekali dia mengerahkan tenaga, terdengar suara nyaring dan golok itupun patah menjadi dua!

Sebelum penjahat itu hilang kagetnya, Kian Bu menggerakkan tangannya dan patahan golok yang dijepitnya itu menyambar dan amblas memasuki perut si penjahat yang terbelalak dan berteriak keras.

Kian Bu menangkap punggung bajunya dan sekali tangannya bergerak, tubuh penjahat itu menyusul temannya terlempar ke air telaga, terus tenggelam karena patahan golok yang terbenam dalam perutnya itu telah merenggut nyawanya.

Penjahat ke empat yang menyerang Teng Siang In juga mengalami nasib yang sama buruknya.

Dia menggunakan sebatang pedang yang diputar-putar ke atas kepala dan ketika dia menerjang maju, Siang In berkata halus.

"Monyet busuk, engkau bermain-main dengan seekor ular apakah tidak takut digigit?!

Bagi para anak buah perahu yang enak nonton perkelahian aneh itu, terjadilah suatu pemandangan yang aneh luar biasa.

Mereka melihat betapa penjahat berpedang yang menyerang nyonya pendekar itu tiba-tiba menjerit, memandangi pedangnya di tangan yang diangkat tinggi-tinggi, matanya terbelalak ketakutan dan berkali-kali dia menjerit seolah-olah melihat pedangnya sendiri sebagai sesuatu yang menakutkan!

Dan memang sesungguhnya demikianlah.

Seperti tadi ketika menghadapi lawan pertama, nyonya pendekar ini tidak mau mengotorkan tangan menandinginya dengan ilmu silat, melainkan sudah menggunakan ilmu sihirnya.

Yang pertama tadi, ia membuat si penjahat memukuli kepala sendiri dengan ruyung sampai remuk.

Kini, ia menyihir lawan membuat si lawan itu tiba-tiba saja melihat pedangnya yang berada di tangan itu berobah menjadi seekor ular besar ganas yang menyembur-nyembur dan hendak menggigit hidungnya.

Tentu saja dia menjadi ketakutan dan panik melihat ular yang dipegangnya sendiri pada ekornya itu.

Selagi dia kebingungan, sebuah sepatu runcing menyambar ke arah pusarnya.

"Dukkk!! Penjahat itu berteriak, matanya mendelik dan tubuhnya terlempar keluar perahu menimpa air telaga mengikuti teman-temannya ke neraka! Si raksasa tinggi besar yang menjadi pimpinan lima orang itu menjadi terkejut setengah mati melihat betapa empat orang temannya tewas dalam keadaan demikian aneh, dan tak disangkanya mereka itu demikian mudahnya jatuh oleh sepasang pendekar setengah tua ini. Matanya terbelalak memandang kepada suami isteri itu bergantian kemudian dia mengkirik dan membalikkan tubuh lalu lari hendak meloncat keluar dari perahu yang mengerikan hatinya itu.

"Eh, eh, nanti dulu!

Berikan dulu golok itu padaku!!

Teng Siang In berkata halus akan tetapi sungguh aneh sekali, raksasa itu menghentikan langkahnya, membalik dan menghampiri Siang In, menyerahkan golok besar itu seperti seorang anak penurut yang taat sekali!

Siang In menerima golok dan orang itu terbelalak, seolah-olah terkejut dan terheran melihat kelakuannya sendiri dan seperti baru sadar, dia lalu membalik dan lari.

Tubuhnya melayang keluar dari perahu ketika dia meloncat.

Akan tetapi pada saat itu, nampak sinar berkelebat menyilaukan mata dan sebatang golok terbang menyambar ke arah leher penjahat itu.

Nampak darah muncrat dan ketika tubuh raksasa itu menimpa air, ternyata kepalanya telah terpisah dari badannya oleh goloknya sendiri yang tadi dilontarkan oleh Teng Siang In.

Para anak buah perahu itu bersorak, akan tetapi mereka juga bergidik ngeri menyaksikan betapa suami isteri ini membunuh lima orang penjahat itu dengan sadis.

Mengapa suami isteri pendekar ini menjadi demikian kejam dan sadis terhadap para penjahat?

Bukan hanya karena para penjahat itu memang merupakan orang-orang berbabaya yang sudah berani mencoba untuk membunuh kaisar, namun terutama sekali karena telah terjadi perobahan dalam batin suami isteri pendekar ini yang tentu saja mempengaruhi tindakan mereka.

Hal ini terjadi semenjak mereka berdua mendengar dari Cin Liong dan Suma Hui tentang terculiknya putera tunggal mereka, Ceng Liong, oleh Hek-i Mo-ong dan terutama sekali mendengar bahwa ayah bunda mereka dan Pulau Es telah terbunuh dan terbasmi oleh datuk-datuk sesat itu.

Semenjak itu, mereka berdua merasa sakit hati sekali, mendendam kepada dunia penjahat yang membuat mereka sampai hati melakukan kekejaman tadi.

Setelah menghajar lima orang penjahat itu, Kian Bu dan Siang In membalik dan menghadapi kaisar.

Akan tetapi kaisar muda itu memangku tubuh yang sudah lunglai itu sambil menangis dan menciuminya!

Kemudian terdengar Kaisar Kian Liong yang sudah mengenal baik suami isteri pendekar itu berkata.

"Suma-taihiap, tolonglah, selamatkanlah nyawa kekasihku ini....!

Mendengar ucapan ini, Kian Bu dan Siang In terkejut, cepat menghampiri, berlutut dan memeriksa keadaan wanita itu.

Akan tetapi mereka hanya saling pandang setelah mengadakan pemeriksaan karena keduanya maklum bahwa nyawa wanita itu tak mungkin dapat diselamatkan lagi.

Bagian dalam tubuhnya luka hebat oleh pukulan keras, dan juga lambungnya terluka parah oleh bacokan senjata tajam.

Belum lagi seluruh tubuhnya yang terhias luka-luka yang cukup dalam dan parah.

Mereka berdua memandang dengan hati iba dan diam-diam merekapun heran mendengar betapa kaisar menyebut wanita nelayan itu kekasih.

Memang sesungguhnyalah bahwa wanita itu adalah seorang gadis yang sejak lama menjadi kekasih hati Kaisar Kian Liong, sejak kaisar ini masih menjadi seorang pangeran.

Beberapa tahun yang lalu, orang-orang gagah dari Siauw-lim-pai yang mendendam kepada Kaisar Yung Ceng, menyerbu istana.

Di antara mereka terdapat seorang murid Siauw-lim-pai wanita yang bernama Souw Li Hwa yang pada waktu itu baru berusia delapan belas tahun.

Iapun mendendam kepada kaisar yang masih terhitung susioknya sendiri karena gurunya menderita sengsara ketika isteri gurunya itu pada suatu hari diperkosa oleh kaisar!

Souw Li Hwa ikut rombongan para hwesio Siauw-lim-pai untuk membalas dendam dan menyerbu istana.

Akan tetapi, orang-orang Siauw-lim-pai itu rohoh dan tewas semua kecuali Souw Li Hwa yang berhasil melarikan diri.

Di dalam istana ini, selagi dikejar-kejar, Souw Li Hwa bertemu dengan Pangeran Kian Liong yang segera menolongnya, menyembunyikannya, bahkan mengawalnya keluar istana sampai selamat.

Ternyata sang pangeran itu jatuh cinta kepada Souw Li Hwa.

Sebelum berpisah, pangeran itu memberikan sebuah cincin dan sang pangeran berjanji bahwa kelak dia akan berjodoh dengan Souw Li Hwa setelah menjadi kaisar.

Peristiwa ini diceritakan dengan jelas dalam cerita Suling Emas dan Naga Siluman .

Souw Li Hwa masih sadar dan gadis inipun melihat sikap sepasang suami isteri itu.

Iapun maklum bahwa dirinya tak mungkin dapat ditolong lagi, maka iapun berkata lemah.

"Sudahlah.... sri baginda.... hamba.... hamba tak mungkin dapat hidup....! "Li Hwa.... ah, Li Hwa, kenapa selama ini engkau tidak datang kepadaku? Ini.... ah, ini cincinku masih kau bawa.... tapi kenapa engkau tidak muncul....?! Kaisar muda itu menarik sebuah tali yang tergantung pada leher Li Hwa dan ternyata cincin pemberiannya tergantung pada tali itu.

"Sri baginda....

hamba hanya seorang....

rendah....

mana berani hamba....

mengganggu....

seorang mulia seperti paduka....?!

"Ahhh, Li Hwa kekasihku.

Akulah yang bersalah, aku telah melupakanmu....

terlalu banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan sampai aku terlupa padamu....

padahal, cintaku padamu tak pernah padam.

Li Hwa, kaumaafkan aku....!

"Sudahlah, sri baginda....

hamba merasa bahagia....

pada saat terakhir....

masih dapat berjumpa dengan paduka....

masih dapat membela paduka....

ah, hamba puas....

ternyata paduka masih mencinta....!

Gadis itu menghentikan kata-katanya, napasnya terengah-engah.

Melihat wajah itu makin memucat dan tubuh yang dipangkunya makin lemas terkulai, Kaisar Kian Liong menjadi panik.

"Taihiap.... ah, tolonglah dia....! Akan tetapi Kian Bu dan isterinya hanya menarik napas panjang.

"Luka-lukamya terlampau parah, sri baginda.! Jawaban ini cukup bagi Kian Liong. Dia merangkul dan menciumi muka yang pucat itu sambil menangis.

"Li Hwa.... ah, Li Hwa, jangan mati.... mari hidup di sampingku sebagai isteri tercinta....! Souw Li Hwa membuka kembali matanya dan kini sepasang matanya bersinar layu walaupun bibirnya mengarah senyum dan wajahnya berseri.

"Sri baginda.... kekasih hamba.... hamba rela mati.... hamba.... berterima kasih.... hamba cinta....! Dan iapun terkulai karena nyawanya telah melayang.

"Li Hwa....!! "Sri baginda, ia telah tiada....! Siang In berkata halus dan mengambil mayat itu dari pangkuan kaisar. Kaisar Kian Liong memejamkan matanya dan sejenak dia duduk seperti itu, air matanya turun dari kedua mata yang dipejamkan, dan dia menguatkan hatinya. Kemudian dia membuka mata, bangkit berdiri dan melihat betapa para pengawal, sepasukan besar yang tadinya berjaga di tepi telaga, sudah tiba di situ menggunakan perahu mereka, dia cepat memberi perintah.

"Tangkap penjahat-penjahat itu dan beri hukuman berat kepada mereka!!

Menerima perintah dari kaisar yang berduka dan marah ini, para pengawal menjadi bingung, akan tetapi mereka segera turun tangan, ada yang meloncat ke air dan menyelam, mencari lima oraug penyerbu tadi.

Akan tetapi, mereka hanya mampu menangkap lima mayat saja karena lima oraug penjahat tadi telah mati semua.

Suma Kian Bu dan isterinya mengawal Kaisar Kian Liong kembali ke istana di kota raja, dan jenazah Souw Li Hwa juga diangkut ke kota raja di mana kaisar menganugerahi pangkat selir pertama kepada wanita yang telah mati itu, dan jenazahnya dikubur dengan upacara kebesaran dan dibuatkan nisan yang besar dan megah.

Setelah ikut menghadiri upacara pemakaman sebagai penghormatan kepada Souw Li Hwa, suami isteri Suma Kian Bu mohon diri meninggalkan istana dan merekapun mulai melakukan penyelidikan di kota raja tentang diri Hek-i Mo-ong yang telah menculik dan melarikan putera mereka.

Namun, tidak ada orang yang mendengar tentang datuk itu dan tentu saja hal ini makin menggelisahkan hati suami isteri itu.

Mereka makin giat menyelidiki dan mengambil keputusan takkan berhenti mencari sebelum mereka berhasil menemukan putera mereka.

Peralihan dari kehidupan kepada kematian merupakan rahasia besar yang mentakjubkan.

Kalau memang kematian sadah saatnya tiba, maka ada saja yang menjadi lantaran dan kematian itu tidak dapat ditolak dengan cara bagaimanapun juga.

Betapapun pandainya manusia, namun semua harus tunduk terhadap hukum alam ini, ialah kehidupan tentu berakhir dengan kematian dan tidak ada kekuasaan yang dapat mencegahnya atau memperpanjang waktu tibanya kematian.

Kalau sadah tiba saatnya, biar hendak bersembunyi di lubang semut, tetap saja kematian datang menjemput.

Sebaliknya, kalau saat kematian belum tiba, biar kita berada di bawah ancaman maut yang bagaimana hebatpun, yang nampaknya tidak mungkin kita dapat keluar dengan selamat, namun ada saja lantarannya yang membuat kita terluput daripada cengkeraman maut dan masih dapat hidup terus.

Sudah terlalu banyak contoh-contoh tentang kematian yang datang tiba-tiba tanpa tersangka-sangka, dan tentang orang-orang yang selamat dan luput dari kematian padahal sadah terkurung maut dan agaknya tak ada harapan untuk lolos lagi.

Ada orang yang sejak mudanya menjadi perajurit sampai tua, puluhan tahun berada dalam kepungan maut, setiap saat mungkin saja maut merenggut nyawanya, namun ternyata dia selamat, terlukapun tidak, sampai dia meugundurkan diri dari pekerjaan sebagai perajurit karena sudah bosan atau lelah.

Pulang ke kampung, tergigit seekor nyamuk saja bisa mendatangkan penyakit yang akan memyeretnya ke lubang kubur!

Inikah yang disebut nasib?

Terserah.

Nasib hanya sebuah kata yang muncul karena kita kehabisan akal untuk dapat mengerti.

Dan ada atau tidak adanya yang disebut nasib, yang penting kita harus selalu menjaga diri, bukan karena takut mati melainkan untuk memelihara badan dan batin kita agar tetap sehat dan jauh dari bencana.

Dilihat keadaannya, ketika perahu yang ditumpangi para cucu penghuni Pulau Es itu terguling dan mereka disambut oleh badai yang mengamuk, sudah dapat dipastikan bahwa mereka akan mati semua.

Akan tetapi kenyataannya tidaklah demikian.

Ceng Liong yang terjatuh ke tangan datuk-datuk kaum sesat yang kejam dan jahat, ternyata tidak terbunuh, bahkan dibawa oleh Hek-i Mo-ong sebagai muridnya!

Suma Hui dan Cin Liong ternyata juga tidak tewas walaupun Suma Hui telah dilarikan oleh seorang penjahat cabul yang kejam dan Cin Liong diombang-ambingkan ombak yang membadai.

Demikian pula dengan Suma Ciang Bun.

Pemuda ini tidak tewas ditelan badai seperti yang dikhawatirkau saudara-saudaranya.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, seperti juga Cin Liong, Ciang Bun terlempar keluar perahu dan disambut oleh air laut bergelombang.

Seorang ahli renang yang bagaimana pandaipun takkan mungkin dapat melawan gelombang dahsyat dalam badai itu.

Apalagi Ciang Bun yang kepandaiannya dalam air terbatas.

Dia mencoba untuk berenang mendekati perahu, akan tetapi tubuhnya terseret makin menjauh dari perahu.

Dia berusaha mempertahankan dirinya agar tidak minum tcrlalu banyak air laut.

Tubuhnya terbawa ombak, diangkat tinggi-tinggi sampai dia merasa diterbangkan ke langit, lalu dihempaskan ke bawah, dalam sekali dan hanya berkat tubuhnya yang terisi tenaga sin-kang kuat saja maka isi perutnya tidak sampai remuk ketika dia berkali-kali dibanting oleh gelombang.

Bagaimanapun juga, tenaga manusia adalah terbatas dan ketika Ciang Bun sudah hampir tidak kuat bertahan lagi, dalam kegelapan tangan kirinya bertemu dengan sepotong papan kayu.

Bagaikan bertemu dengan pusaka, tangan kirinya itu mencengkeram kuat-kuat dan dipeluknya papan kayu itu, di mana dia bergantung dalam keadaan setengah pingsan, membiarkan dirinya dibawa ke manapun juga oleh papan kayu yang dipermainkan gelombang membadai itu.

Kalau memang belum tiba saatnya untuk mati, dalam ancaman maut, di tengah lautan bergelora yang sedang dilanda badai itu, tiba-tiba ada saja muncul sepotong papan kayu yang menjadi lantaran sehingga memungkinkan Ciang Bun terlepas dan lolos dari cengkeraman maut.

Untung bagi Ciang Bun bahwa agaknya nalurinya timbul pada saat yang gawat itu.

Kalau tidak demikian, agaknya tentu dalam keadaan setengah sadar itu dia sudah melepaskan cengkeramannya pada papan kayu itu.

Akan tetapi, entah kekuatan apa yang menggerakkan pemuda ini sehingga tanpa disadarinya, kedua tangannya tak pernah melepaskan papan kayu itu.

Air lautan tidak mengganas lagi, bahkan amat tenang dan kegelapan telah terganti sinar cerah matahari pagi ketika Ciang Bun sadar betul dari keadaan setengah pingsan itu.

Dia teringat bahwa dia terapung-apung di tengah lautan, maka rasa gentar menyentuh hatinya dan cepat-cepat dia menarik tubuhnya ke atas dan dengan sudah payah dia duduk di atas papan kayu yang tidak berapa besar itu.

Dia menggigil karena merasa dingin.

Cepat-cepat pemuda ini mengerahkan Hwi-yang Sin-kang untuk melawan hawa dingin dan sebentar saja tubuhnya sudah terasa hangat dan nyaman.

Akan tetapi berbareng dengan itu, muncul pula rasa lelah, lapar dan mengantuk.

Di samping perasaan yang bercampur aduk ini, diapun teringat kepada Cin Liong, Ceng Liong dan Suma Hui.

Pertama-tama dia membayangkan wajah Ceng Liong dan hatinya merasa berduka sekali karena dia khawatir kalau-kalau adik keponakannya itu tewas.

Kemudian, wajah Cin Liong terbayang dan diapun merasa kasihan sekali kepada pemuda perkasa yang telah banyak berjasa terhadap keluarganya itu.

Baru kemudian dia teringat kepada encinya, Suma Hui dan kesedihannya bertambah.

Semenjak mereka tinggal bersama di Pulau Es, Ciang Bun merasa lebih dekat dengan Ceng Liong daripada dengan encinya, bahkan dalam setiap percakapan dan perbantahan dia selalu membela kepada Ceng Liong.

Kemudian, ketika muncul Cin Liong jenderal muda yang gagah perkasa itu, timbul rasa kagum yang mendalam di hati pemuda itu.

Memang akhir-akhir ini terjadi suatu perobahan dalam batin Ciang Bun, perobahan yang dia sendiri sama sekali tidak menyadarinya.

Ketika dia masih kecil, perasaannya biasa saja, akan tetapi semenjak dia menjadi remaja, semenjak dia tinggal di Pulau Es dan hidup bertiga dengan Ceng Liong dan Suma Hui, tanpa disadarinya timbul suatu perobahan.

Dia merasa suka sekali untuk berdekatan dengan Ceng Liong, bahkan ketika Cin Liong muncul, ada daya tarik yang luar biasa pada diri jenderal muda itu baginya, yang membuat dia kadang-kadang merasa malu dan bingung.

Selain ini, juga dia ingin selalu kelihatan rapi dan elok seperti encinya.

Padahal Suma Hui sendiri termasuk dara yang sederhana sehingga dalam hal berpakaian, Ciang Bun lebih rapi daripada kakaknya.

Apakah gejala ini timbul karena sejak kecil dia hanya berdua saja dengan encinya sebagai saudara kandung yang tunggal?

Selalu berdekatan dengan kakak wanita sehingga dia meniru-niru encinya dan mempunyai ciri-ciri seperti seorang wanita?

Dia sendiri tidak sadar dan juga tidak tahu, akan tetapi yang diketahuinya hanyalah bahwa setelah menginjak usia lima belas tahun, dia merasa tertarik sekali kepada lelaki dan menyukai wajah dan bentuk tubuh laki-laki yang jantan.

"Aduh, lapar sekali perutku....!!

Ciang Bun mengeluh dan mengusir renungan memedihkan tentang saudara-saudaranya yang tidak diketahuinya bagaimana keadaannya itu, hidup atau mati.

Tiba-tiba dia mendengar suara orang, teriakan-teriakan gembira.

Cepat dia menoleh dan alangkah girangnya ketika dia melihat adanya dua orang muda sebaya dengan dia yang sedang bermain-main di atas air lautan yang tenang.

Dan Ciang Bun tertegun, terbelalak, juga mengkirik melihat betapa dua orang muda remaja itu, seorang pria dan seorang lagi wanita, sedang berlari-larian di atas air lautan!

Bukan manusia, pikirnya.

Mana mungkin ada manusia pandai berlari-larian di atas air?

Walaupun dia pernah menyaksikan mendiang kakeknya, Pendekar Super Sakti dari Pulau Es, melakukan hal ini untuk beberapa detik lamanya.

Akan tetapi dua orang muda-mudi itu bermain-main, berloncatan dan berlarian sambil tertawa-tawa!

"Kalau bukan sebangsa dewa lautan, tentu peri atau siluman....!

bisik Ciang Bun dalam hatinya dan tentu saja dia merasa tengkuknya meremang.

Dia mengucek matanya akan tetapi ketika membuka mata dan memandang lagi, pemuda dan dara itu masih ada, bahkan kini mereka mendekat ke arahnya.

"Heii, lihat....! Ada bekas-bekas perahu pecah!! teriak si dara.

"Benar, tentu ada perahu pecah dan tenggelam semalam, dilanda badai.

Jangan-jangan para penumpangnya tewas semua....

haiii, lihat, apa itu?

Bukankah dia manusia di atas papan itu?!

"Benar, koko!

Seorang pemuda dan dia masih hidup!!

teriak si dara dan mereka lalu menggerakkan tubuh dan meluncur mendekati Ciang Bun.

Ciang Bun memandang dengan mata terbelalak.

Baru sekarang dia tahu bahwa kedua orang itu sama sekali bukan berlari di atas air, melainkan menggunakan alas kaki kayu yang panjang runcing dan mereka itu berdiri di atas alas kaki kayu panjang itu, dan dengan menggerakkan kedua lengan ke belakang dan mengayun tubuh ke depan, alas kaki yang seperti dua perahu kecil itu meluncur ke depan!

Akan tetapi, untuk dapat mengatur keseimbangan tubuh di atas dua perahu kecil itu dan untuk dapat bergerak demikian leluasa, tentu membutuhkan keringanan tubuh dan latihan yang hebat, juga tenaga sin-kang amat diperlukan ketika mengayun tubuh ke depan.

Jelaslah bahwa dua orang muda itu bukan orang-orang sembarangan.

Hal ini tentu saja menimbulkan kagum dalam hati Ciang Bun.

Akan tetapi bukan itu saja yang membuatnya bengong terlongong.

Dua orang itu kelihatan demikian eloknya!

Yang perempuan berusia sekitar lima belas tahun, tubuhnya yang ramping dan ranum itu amat indah dan Ciang Bun kagum sekali akan keindahan tubuh dara itu yang mengingatkan dia akan keindahan tubuh encinya.

Akan tetapi wajah dara itu baginya jauh melampaui encinya dalam hal kecantikan.

Seraut wajah yang cantik jelita dan manis sekali, dengan sepasang mata yang seperti bintang, hidung mancung dan mulut yang amat manis.

Akan tetapi, hanya sebentar saja sepasang mata Ciang Bun menatap dan mengagumi wajah dan tubuh dara itu, yang hanya mengenakan pakaian pendek dan ringkas dan basah karena air lautan sehingga pakaian itu menempel ketat pada tuhuhnya, mencetak tubuh yang menggairahkan itu.

Namun, semua itu hanya lewat tanpa meninggalkan kesan mendalam di hati Ciang Bun.

Kini dia terpesona, ya terpesona, memandang ke arah pemuda yang meluncur di samping dara itu.

Pemuda itu berusia dua tiga tahun lebih tua darinya, sekitar tujuh belas atau delapan belas tahun dan pemuda itu bertelanjang dada, hanya mengenakan celana pendek sebatas lutut yang terbuat dari kulit harimau.

Wajahnya yang agak kecoklatan karena kulitnya terbakar sinar matahari, nampak amat gagah dan tampan, sepasang matanya juga mencorong seperti bintang, hidungnya mancung dan mulutnya juga manis seperti mulut si dara, hanya dagu pemuda ini membayangkan kejantanan yang membuat Ciang Bun benar-benar terpesona.

Apalagi tubuh yang telanjang bagian atas itu, nampak demikian gagah, tegap, bidang dan mengandung kekuatan yang mentakjubkan.

Baru sekarang Ciang Bun melihat bentuk tubuh yang demikian tegap dan gagahnya, dan tanpa disadarinya, jantungnya berdegup aneh, hatinya tertarik sekali dan tiba-tiba saja dia merasa sungkan dan malu-malu.

"Eh, apa yang kau lihat? Apakah engkau belum pernah melihat orang?! Tiba-tiba gadis remaja itu bertanya sambil terkekeh kocak. Pemuda yang bertelanjang baju hanya memandang sambil tersenyum ramah. Bukan pertanyaan dara itu yang membuat Ciang Bun gugup, melainkan tatapan mata dan senyuman pemuda itu.

"Aku.... aku.... ahh, aku belum pernah melihat orang-orang yang bermain-main di atas lautan seperti kalian ini....! "Hi-hi-hik....!! Dara itu tertawa terkekeh geli.

"Ha-ha-ha-ha....!! Pemuda itupun tertawa. Sikap mereka demikian gembira, suara ketawa mereka demikian bebas sehingga Ciang Bun yang biasanya pendiam dan serius, terseret oleh kegembiraan mereka dan dia sama sekali tidak merasa tersinggung karena dua orang itu sama sekali tidak seperti mentertawakannya. Maka diapun ikut pula tertawa ha-ha-he-heh walaupun dia tidak tahu apa sebenarnya yang mereka tertawakan.

"Ha-ha-ha-ha!!

Dia tertawa.

Melihat pemuda di atas papan itu tertawa menyeringai dengan muka mengandung keheranan dan tidak mengerti, dua orang muda itu makin geli dan ketawa mereka makin keras.

Ketawa itu sepertitangis.

Kalau dibiarkan berlarut-larut semakin keras, akan tetapi akhirnya akan habis tenaganya dan berhenti sendiri.

Dua orang muda yang tadinya berdiri di atas alas kaki kayu panjang itu, selalu harus mengatur keseimbangan tubuh mereka, mengerahkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) dan mengerahkan tenaga pada kaki.

Ketika mereka tertawa-tawa, mulailah keseimbangan tubuh mereka goyah dan merekapun maju mundur, meluncur ke kanan kiri dan akhirnya dara itu tidak dapat mempertahankan keseimbangan tubuhnya lagi dan terpelanting.

"Byuurrrr....!! Air muncrat tinggi.

"Heiii....!!

Si pemuda berteriak dan diapun terpelanting dan jatuh pula.

Air muncrat semakin tinggi.

Melihat betapa dua orang itu terpelanting dan jatuh ke air, Ciang Bun merasa geli sekali dan diapun terkekeh ketawa.

Kini dia ketawa ada sebabnya, ada yang ditertawakan, tidak seperti tadi dia tertawa hanya karena terseret oleh suara ketawa dan sikap dua orang muda itu.

Kini dia tertawa seorang diri sambil memandang ke air di mana kedua orang itu tadi terjatuh.

Suara ketawanya makin berkurang dan akhirnya terhenti sama sekali, matanya terbelalak dan alisnya berkerut penuh kegelisahan.

Dua orang muda yang terpelanting tadi terus tenggelam dan tidak muncul lagi!

Tentu saja Ciang Bun menjadi gelisah dan kaget sekali, mengira bahwa mereka itu tentu tenggelam terus!

Sungguh aneh sekali!

Dua orang yang begitu pandai bermain di atas air, apakah tidak pandai berenang sehingga mati tenggelam?

Dia sendiri lemas dan lelah sekali, akan tetapi melihat mereka berdua itu tenggelam dan tidak timbul lagi, tanpa ragu-ragu Ciang Bun lalu meloncat ke air, melupakan kelelahan dan kelemasan tubuhnya, kemudian menyelam dan mencari-cari dengan membuka matanya di dalam air.

Dia merasa matanya perih, akan tetapi karena sinar matahari cerah, dia dapat melihat ke bawah cukup jelas.

Dan apa yang dapat ditangkap dengan pandang matanya membuat dia merasa mukanya panas karena malu.

Dua orang muda yang disangkanya tenggelam dan mungkin mati itu sedang berenang di dalam air dengan amat lincahnya, agaknya mengejar ikan-ikan besar seperti berlumba!

Tahulah dia bahwa dia telah salah sangka dan bahwa dua orang muda itu memang benar-benar memiliki ilmu dalam air yang luar biasa seperti setan-setan air saja, maka diapun cepat-cepat naik kembali ke permukaan air.

Setelah kepalanya tersembul, dia menarik napas dalam-dalam dan agak terengah karena lama juga dia tadimenahan napas.

Dengan mengandalkan sin-kangnya, memang dia dapat bertahan lebih lama daripada orang biasa.

Akan tetapi dia merasa lelah sekali dan dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia melihat sepotong papan yang telah menyelamatkannya semalam kini sudah terbawa air amat jauh dari situ.

Mati-matian dia lalu berenang mengejar, akan tetapi tenaganya semakin lemas dan dia merasa tidak mampu menyusul papan yang hanyut itu.

Tiba-tiba, selagi dia merasa bingung, karena tanpa papan itu dia takkan dapat lama bertahan di permukaan air, apalagi setelah tenaganya makin lemas itu, papan itu seperti hidup dan bergerak membalik dan meluncur ke arahnya!

Tentu saja dia merasa terkejut dan heran, akan tetapi yang terutama girang sekali.

Ditangkapuya papan itu dan diapun naik kembali ke atasnya, duduk terengah-engah dan menyusut air laut dari rambut dan mukanya.

Dia memandang ke air dan kekaguman hatinya bercampur heran dan khawatir.

Dua orang muda itu sudah demikian lamanya di dalam air, bagaimana mereka kuat bertahan?

Tentu mereka memiliki sin-kang yang luar biasa tinggi dan kuatnya.

Siapakah mereka itu dan mengapa berada di tengah lautan?

Dia tidak melihat perahu di sekeliling tempat itu dan kembali Ciang Bun bergidik.

Manusiakah mereka?

Dia mengingat kembali percakapan antara mereka dan hatinya meragu.

Pertanyaan gadis itu menunjukkan bahwa mereka manusia, akan tetapi sikap mereka yang terbuka dan aneh, lalu keadaan mereka yang seolah-olah hidup di lautan, kepandaian mereka yang luar biasa dalam air!

Tiba-tiba air bergerak dan muncullah dua orang yang sedang dijadikan bahan renungan itu.

Sepasang sepatu itu berada di punggung masing-masing, terikat dengan belitan tali ke dada, dan kini kedua tangan mereka memegang dua ekor ikan yang sebesar betis, gemuk dan montok, yang masih menggelepar-gelepar.

"Nih, sobat, kau bawakan ikan-ikanku!!

kata pemuda itu dan tubuhnya yang berada di air itu meluncur cepat ke arah papan di mana Ciang Bun duduk.

Ciang Bun memandang kagum.

Pemuda itu menggunakan kedua tangan memegangi ikan, jadi tentu hanya mempergunakan kedua kakinya untuk berenang, namun tubuhnya dapat meluncur sedemikian cepatnya, jauh lebih cepat dibandinakan dengan dia sendiri kalau berenang, walaupun mempergunakan kaki tangannya.

Akan tetapi dia menerima dua ekor ikan itu, memegangnya dengan kuat-kuat karena ikan-ikan iti menggelepar dan meronta.

Pemuda itu lalu mengambil sepotong tali dan memasukkan tali melalui mulut ikan-ikan itu.

Si dara juga berenang mendekat dau empat ekor ikan itu kini sudah diuntai pada tali dan dipegang oleh Ciang Bun.

"Kalau begini mereka tidak akan mati dan masih segar dagingnya setelah kita sampai pulau,! kata pemuda itu sambil memandang wajah Ciang Bun.

"Engkau tentu sudah lapar sekali, bukan?! Wajah Ciang Bun menjadi merah dan diapun mengangguk.

"Ke pulau? Pulau manakah?! "Pulau kami, yaitu Pulau Nelayan.! Ciang Bun terkejut.

"Pulau Nelayan? Jadi kalian tinggal di Pulau Nelayan?! "Heii, orang muda aneh, apa yang kau ketahui tentang Pulau Nelayan kami?! gadis itu bertanya, sepasang matanya yang jeli itu menatap penuh keinginan tahu. Ciang Bun mengangguk.

"Mendiang kakekku pernah bercerita tentang Pulau Nelayan, akan tetapi katanya pulau itu sudah disapu bersih oleh badai dan menjadi pulau kosong tidak ada penghuninya lagi, sudah puluhan tahun....! Dua orang muda itu kelihatan terkejut mendengar ini dan mereka mendekat, kini mereka memegangi papan di mana Ciang Bun duduk, pandang mata mereka penuh selidik.

"Sobat baik, siapakah mendiang kakekmu yaug mengetahui rahasia daerah lautan ini?! tanya pemuda ganteng itu.

"Mendiang kakek adalah Pendekar Super Sakti dari Pulau Es.! "Aihhh....!! Dua orang muda itu melepaskan papan dan mundur, kemudian keduanya menjura ke arah Ciang Bun dengan pandang mata takjub dan penuh hormat dan kagum.

"Kiranya engkau adalah cucu Majikan Pulau Es, Suma-locianpwe....?! kata pemuda itu.

"Dan kami melihat pulau itu terbakar dan lenyap dari jauh....! sambung si dara sambil terbelalak memandang wajah Ciang Bun.

"Benar, pulau kami terbakar, kakek dan dua nenek kami tewas dan kami, yaitu aku dan saudara-saudaraku, naik perahu meninggalkan pulau, di tengah lautan diserbu musuh, perahu kami pecah dan kami cerai-berai.... ahh....!! Ciang Bun menunduk sedih teringat akan nasib keluarga Pulau Es dan nasib saudara-saudaranya yang belum diketahuinya bagaimana.

"Aihh! Mari cepat ikut bersama kami ke pulau. Kakek tentu akan terkejut mendengar tentang Pulau Es itu. Mari ikut dengan kami ke Pulau Nelayan, Suma-taihiap!! kata pemuda itu. Ciang Bun memandang dan mukanya berobah merah.

"Harap jangan menyebutku taihiap. Namaku Ciang Bun, usiaku lima belas tahun.! "Dan namaku Liu Lee Siang berusia tujuh belas tahun, ini adikku Liu Lee Hiang, lima belas tahun.! "Kalau begitu engkau kusebut twako dan adikmu kusebut siauw-moi,! kata Ciang Bun ramah.

"Bun-hiante....!! Lee Siang menyebut girang.

"Bun-koko....!! Dara itupun menyebut dengan sikap agak malu-malu namun iapun tersenyum dan wajahnya yang manis itu berseri.

"Kita tidak mempunyai perahu, bagaimana kita dapat berlayar ke Pulau Nelayan kalian?! tanya Ciang Bun.

"Hi-hik!! Lee Hiang tertawa.

"Bukankah engkau sudah naik kereta dan tinggal menggunakan dua ekor kuda saja untuk menarikmu?! "Kereta? Kuda....? Apa maksudmu, siauw-moi?! Lee Hiang tertawa manis, ketawanya bebas lepas, tidak seperti gadis-gadis kota yang kalau tertawa terkendali dan ditutup-tutupi, seolah-olah tertawa merupakan perbuatan yang memalukan.

"Itu keretamu, dan kami berdua adalah kudanya!! Kakak beradik itu lalu melepaskan alas kaki kayu berbentuk perahu-perahu kecil itu dari punggung, lalu memasang pada kaki mereka, mengikat dengan tali-temali itu dan mereka berdua lalu meloncat dan sudah berdiri di atas air. Lee Siang menggunakan sehelai tali, agaknya pcmuda ini membawa banyak tali di pinggangnya, dan mengikat ujung papan kayu yang diduduki Ciang Bun.

"Bun-hiante, harap suka berpegang kuat-kuat pada keretamu!! kata Lee Siang berkelakar menyebut papan itu kereta. Ciang Bun mengangguk dan memegangi papan. Dua orang kakak beradik itu lalu menggerak-gerakkan kedua tangan seperti orang mendayung dari depan ke belakang, tubuh membungkuk rendah ketika kedua tangan mulai digerakkan dan pada saat kedua tangan ditarik ke belakang, tubuh berdiri dan kedua kaki diisi tenaga mendorong ke depan. Tubuh kedua orang muda itupun meluncur ke depan dan papan kayu yang diduduki Ciang Bnn ikut tertarik dan melaju! Ciang Bun kagum bukan main. Memang keadaan mereka seperti dia menunggang kereta ditarik dua ekor kuda saja.

"Siang-twako, kenapa kalian bermain-main demikian jauhnya?! Ciang Bun bertanya.!Apa katamu, Bun-hiante?! Lee Siang balas bertanya sambil menoleh tanpa menghentikan gerakan tubuhnya. Ciang Bun maklum bahwa dia bicara melawan angin, maka dia mengulang pertanyaannya, sekali ini mengerahkan khi-kangnya sehingga suaranya dapat menembus tiupan angin dari depan. Ciang Bun menggeleng kepala.

"Kong-kong pernah bercerita tentang Pulau Neraka, Pulau Nelayan dan lain-lain, dan menurut kong-kong, Pulau Nelayan telah dilanda dau disapu bersih oleh badai yang dahsyat. Agaknya kong-kong menganggap bahwa semua penghuninya telah habis.! Kakek yang bernama Liu Ek Soan itu mengangguk-angguk.

"Mungkin begitu dan memang aku sendiripun masih merasa heran mengapa di antara seratus lebih penghuni pulau ini, hanya aku dan dua orang cucuku ini yang selamat secara aneh.!

Kakek Liu Ek Soan lalu bercerita.

Belasan tahun yang lalu, pada suatu malam, tanpa diduga-duga badai yang amat dahsyat mengamuk di daerah itu.

Belum pernah ada badai sehebat itu dan Pulau Nelayan yang datar itu dilanda badai.

Air laut naik tinggi ke pulau, menyapu seluruh pulau dan menyeret apa saja yang berada di pulau itu.

Habis binasalah seluruh penghuni pulau itu.

Rumah-rumah merekapun terseret bersih dan pulau itu menjadi gundul dan kosong sama sekali.

Akan tetapi, Liu Ek Soan yang menjadi ketua pulau itu, orang yang terpandai di antara semua penghuni Pulau Nelayan, berhasil menyelamatkan diri walaupun dia sendiri terseret sampai jauh sekali ke tengah lautan.

Dalam keadaan setengah mati, Liu Ek Soan berhasil kembali ke pulau itu, berduka dan ngeri menyaksikan keadaan pulau.

Seluruh keluarga dan tetangganya habis musnah.

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa heran dan juga girang hatinya ketika pada keesokan harinya muneul sebuah pernau kecil yang ditumpangi oleh dua orang cucunya, yaitu Liu Lee Siang dan Liu Lee Hiang, yang pada waktu itu baru berusia enam tahun dan empat tahun!

Kiranya dua orang kakak beradik ini, pada sore harinya sebelum badai datang, telah berperahu dan mencari ikan, akhirnya tertahan di sebuah pulau kosong kecil dan tidak berani pulang karena ombak mulai bergelora.

Malam itu, sambil menangis keduanya berangkulan di tengah pulau kosong.

Badai mengamuk hebat, akan tetapi pulau kosong itu merupakan bukit dan air laut tidak sampai menyapu permukaan bukit.

Baru pada keesokan harinya ketika laut tenang kembali, keduanya turun dari atas bukit menuju pantai di mana mereka tidak melihat lagi perahu mereka.

Dua orang auak-anak itu sudah biasa dengan lautan, bahkan sebelmn mereka mampu berjalan kaki, mereka sudah pandai berenang!

Maka ketika mereka melihat ada perahu kosong lain terapung-apung agak jauh dari pantai, Lee Siang lalu meloncat ke air, berenang dan menuju ke perahu itu.

Dia tidak tahu bahwa itu adalah satu di antara perahu-perahu dari Pulau Nelayan yang tersapu air laut dalam amukan badai semalam.

Didayungnya perahu ke pautai dan bersama adiknya dia lalu pulang ke Pulau Nelayan.

Dan di pulau ini mereka mendapatkan sisa bencana itu, seluruh permukaan pulau menjadi gundul dan hanya ada seorang manusia di situ yang menyambut mereka, yaitu kakek mereka, Liu Ek Soan yang merangkul mereka sambil menangis sesenggukan.

Ayah bunda mereka, paman-paman dan bibi mereka, saudara-saudara misan mereka, para tetangga, semua habis lenyap ditelan gelombang samudera mengganas.

"Demikianlah, kongcu. Kami bertiga selamat dan agaknya tidak ada seorangpun yang tahu akan hal ini. Aku merawat dan mendidik dua orang cucuku ini, kami hidup sederhana dan cukup bahagia di pulau kami.! Ciang Bun memandang kagum.

"Berkat pendidikan locianpwe, Siang-twako dan Hiang-siauwmoi ini menjadi orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat.!

"Ah, Suma-kongcu terlalu memuji.

Dalam hal ilmu silat, mana mungkin kami dapat dibandingkan dengan kongcu sebagai cucu Suma-locianpwe di Pulau Es?

Kami hanya mempelajari sedikit ilmu dalam air.!

"Itulah yang amat mengagumkan hatiku.

Mereka berdua ini dapat bergerak di air seperti ikan saja, begitu kuat menyelam lama dan dapat bergerak di permukaan air sedemikian gesit dan ringannya.

Sungguh mengagumkan dan aku ingin sekali mempelajari ilmu itu.!

"Bun-ko, kenapa engkau tidak tinggal di sini bersama kami dan belajar bersama kami?!

tiba-tiba Lee Hiang berkata dengan sinar mata berseri.

"Benar, kong-kong tentu akan suka sekali mengajarkan ilmu dalam air kepadamu, Bun-hiante!!

Lee Siang menyambung.

Pemuda inipun suka sekali kepada Ciang Bun yang tampan gagah dan pendiam itu, apalagi mengingat bahwa selama mereka hidup di pulau itu, jarang mereka bertemu dengan manusia lain, apalagi bersahabat.

Dua orang muda itu rindu akan persahabatan dan munculnya Ciang Bun merupakan suatu hal yang amat menggembirakan hati mereka.

Lain lagi yaug dipikirkan kakek Liu Ek Soan.

Tadi Ciang Bun menuturkan keadaannya dan kakek ini amat tertarik.

Pemuda gagah ini adalah cucu Pendekar Super Sakti, putera Suma Kian Lee keturunan Pendekar Super Sakti dan Lulu yang pernah menjadi ketua Pulau Neraka.

Pemuda ini adalah keturunan pcndekar besar dan alangkah baiknya, alangkah akan bangga dan puas rasa hatinya kalau cucunya yang terkasih, Liu Lee Hiang, dapat berjodoh dengan pemuda ini!

Dia akan berbesan dengan keluarga Pulau Es.

Hebat!

Dan hal itu bukan tidak mungkin terjadi kalau pemuda ini belajar di Pulau Nelayan.

Cucunya itu cukup cantik manis dan usia mereka sebaya, hubungan mereka yang baru sehari itu sudah nampak demikian akrab.

Mengapa tidak?

"Tentu saja aku akan merasa gembira sekali dapat membimbing Suma-kongcu dalam ilmu bergerak di air,!

katanya dengan wajah berseri.

"Dan untuk itu sebaiknya kalau Suma-kongcu sementara waktu tinggal di sini bersama kami. Bagaimana pendapatmu, kongcu?! Suma Ciang Bun memandang kepada Lee Siang. Dia merasa suka sekali kepada pemuda ini dan rasanya dia akan merasa kehilangan sekali kalau sampai berpisah dari pemuda hebat itu. Dan diapun suka kepada Lee Hiang, sedangkan kakek itu pun amat baik dan mengenal keluarga Pulau Es. Kalau dia memiliki ilmu dalam air seperti mereka, agaknya dia tidak perlu takut lagi menghadapi amukan badai seperti semalam.

"Baiklah, locianpwe.

Aku akan senang sekali tinggal di sini untuk sementara dan mempelajari ilmu itu.!

"Tapi, harap kongcu jangan menyebut locianpwe atau suhu kepadaku, sungguh aku merasa malu kalau kau sebut begitu, terlalu tinggi bagiku....!

"Lalu aku harus menyebut bagaimana?!

Kakek itu tertawa dan sekali menggerakkan tangan kanan, dayungnya menancap di atas tanah batu karang itu sampai seperempatnya lebih.

Ini saja sudah membuktikan bahwa kakek itu memiliki tenaga sin-kang yang kuat!

"Ha-ha-ha, engkau sebaya dengan dua orang cucuku, bagaimana kalau engkau pun menyebut kakek kepadaku?!

Ciang Bun menjadi girang sekali "Baik, Liu-kong-koug, akan tetapi karena kong-kong menyebut nama mereka begitu saja, maka kepadaku juga sebaiknya kalau kong-kong menyebut namaku tanpa pakai embel-embel kongcu segala macam.!

"Ha-ha-ha, baik sekali, baik sekali, Ciang Bun, engkau sungguh seorang anak yang baik dan pantas menjadi cucu Majikan Pulau Es.!

Demikianlah, mulai hari itu, Ciang Bun tinggal!Bun-koko, mari kita latihan menyelam dan mencoba untuk menangkap belut laut yang lincah itu.

Dasar-dasar ilmu bergerak dalam air sudah kau pelajari dari kong-kong, hanya tinggal mematangkan latihan saja,!

kata Lee Hiang yang berdiri di atas perahu kecil itu bersama Ciang Bun, sedangkan Lee Siang melatih diri dengan alas kaki kayunya.

Dia berlatih membuat lompatan-lompatan jauh dan nampaknya pemuda ini sudah mahir sekali.

Sejak tadi Ciang Bun yang sudah agak letih berlatih itu duduk di atas perahu memandang ke arah Lee Siang penuh kagum.

Mendengar ajakan dara itu, dia mengangguk.

"Baiklah, siauw-moi.

Akan tetapi belut itu terlalu cepat dan gesit untukku.

Pula, tubuhnya amat licin sehingga sukar untuk ditangkap.!

"Aku akan membantumu, koko.

Memang belut itu sukar ditangkap dan aku sendiripnn tanpa dibantu takkan dapat menangkapnya.

Dia harus dihadang dari depan belakang, dan dalam kebingungan baru dia dapat ditangkap karena kalau bingung dia menyusupkan kepalanya ke dalam lumpur sehingga kita tinggal menangkap ekornya saja.

Tapi dia merupakan bahan latihan bergerak dalam air yang baik sekali.!

"Baiklah, mari!!

kata Ciang Bun yang sudah bergerak hendak meloncat ke air.

Akan tetapi lengannya dipegang oleh jari-jari tangan halus itu.

Dia menoleh dan dua pasang mata saling bertemu.

Sepasang mata Lee Hiang penuh kemesraan, akan tetapi mata Ciang Bun memandang biasa saja, agak heran.

"Ada apakah, Hiang-moi?! "Engkau lupa penutup telingamu,! kata dara itu yang tiba-tiba wajahnya berobah merah karena pertemuan pandang mata itu amat berkesan di hatinya yang menjadi berdebar penuh ketegangan aneh.

"Ah, engkau benar.

Pelupa sekali aku!!

kata Ciang Bun dan diapun memasang alat pelindung telinganya.

Untuk melakukan penyelaman sampai lama di dalam lautan, telinga perlu dilindungi dan ditutup agar tidak rusak oleh tekanan air.

Setelah itu, kedua orang itu lalu meloncat ke air dan menyelam.

Bagaikan dua ekor ikan saja, mereka menyelam dan berenang di dalam air.

Ciang Bun hanya mengenakan sebuah celana pendek yang ringkas dan tubuh bagian atasnya telanjang.

Kulitnya putih halus mengkilat ketika tubuhnya meluncur di dalam air itu.

Kini, dia telah pandai menyelam dan berenang dalam air, melawan tekanan air dan gerakan ombak.

Memang pada dasarnya dia memiliki sin-kang yang amat kuat, maka setelah diberi petunjuk oleh kakek Liu, sebentar saja dia telah menguasai ilmu itu dan berkat sin-kangnya, dia malah lebih kuat menahan napas dibandingkan dengan kakak beradik Liu itu!

Hanya dia belum dapat memiliki kelincahan seperti mereka karena kalah biasa dan kalah latihan.

Juga pandang mata Lee Hiang di dalam air lebih tajam dan awas dibandingkan Ciang Bun.

Hal inipun karena kebiasaan dan latihan.

Mereka berdua mencari-cari dan Lee Hiang menjadi penunjuk jalan.

Tiba-tiba dara itu memberi isyarat dan menuding ke depan.

Nampak seekor belut merah berenang perlahan di depan.

Dari isyarat tangannya, Lee Hiang menyatakan bahwa dara itu hendak menghadang dari depan dan ia menyuruh Ciang Bun menghadang dari belakang.

Ciang Bun memberi isyarat bahwa dia telah mengerti.

Dara itu lalu mempercepat gerakannya, meluncur dan mengambil jalan memutar untuk mendahului belut itu, kemudian membalik dan menghadang di depan!

Belut itu panjang, ada satu meter panjangnya dan sebesar lengan dara itu.

Melihat ada mahluk aneh menghadang, belut itu cepat membalikkan tubuhnya.

Akan tetapi Ciang Bun mendatangi dan mengembangkan kedua lengannya, jari-jari tangannya terbuka dan siap untuk menangkap kalau belut itu lewat di dekatnya.

Melihat ini, belut itu kembali membalik dan paniklah dia ketika melihat di depan dan belakangnya ada mahluk besar yang hendak menangkapnya.

Dia meluncur ke kiri, akan tetapi Lee Hiang sudah mendahuluinya dan menyambar dengan tangan kanan.

Belut itu mengelak dan membalik, akan tetapi sudah ada Ciang Bun yang menyergapnya.

Secepat kilat, Ciang Bun mencengkeram dan berhasil menangkap belut itu pada perutnya.

Belut itu meronta, dan membelit hendak menggigit.

Akan tetapi Lee Hiang sudah menangkapnya pula, tepat pada lehernya.

Karena belut itu kuat dan tubuhnya mengeluarkan lendir yang licin, dua orang muda itu dengan susah payah mempertahankan agar belut itu tidak terlepas kembali.

Dalam pergumulan ini, tanpa disengaja tubuh mereka saling merapat dan tahu-tahu lengan Ciang Bun sudah melingkari pinggang Lee Hiang dan lengan dara itu merangkul lehernya.

Kemudian tiba-tiba saja mulut Lee Hiang sudah bertemu dengan mulut Ciang Bun.

"Ihhh....!! Pemuda itu terkejut bukan main, seluruh tubuhnya menggigil dan diapun melepaskan tubuh belut itu dan mendorong tubuh Lee Hiang! Belut itu tcrlepas dan melarikan diri, sedangkan pelukan merekapun terlepas. Ciang Bun berenang ke atas dengan jantung berdebar, sedangkan Lee Hiang juga berenang menyusulnya. Tiba-tiba Lee Hiang terkejut sekali melihat sinar putih meluncur dari arah kiri. Sekali pandang saja tahulah apa benda itu, akan tetapi Ciang Bun yang masih belum mengenal benar keadaan di lautan itu, melihat adanya seekor belut putih yang panjangnya ada satu meter akan tetapi lebih kecil daripada yang tadi, timbul kegembiraannya dan cepat dia menyambar dan menangkap belut itu.

"Pratttt!! Belut itu mengelak dan tiba-tiba mencambukkan dirinya ke lengan Ciang Bun. Pemuda itu tersentak kaget dan tak ingat apa-apa lagi. Tubuhnya seperti dibakar dari dalam dan pandang matanya gelap, dia lunglai tak sadarkan diri. Melihat ini, Lee Hiang cepat menyambarnya, menarik tangannya dan dibawanya berenang naik. Setelah ia menyembulkan kepalanya di permukaan air dan menarik kepala Ciang Bun yang pingsan itu dengan menjambak rambutnya, ia melihat kakaknya duduk di dalam perahu dan beristirahat.

"Siang-ko....! Cepat.... Bun-ko dilecut belut petir! Tolongggg....!! Mendengar ini dan melihat Ciang Bun yang pingsan, Lee Siang cepat meloncat dan berenang menghampiri, membantu adiknya membawa Ciang Bun naik ke dalam perahu kecil mereka. Melihat Ciang Bun rebah tcrlentang dengan muka pucat kebiruan dan napas nampaknya berhenti sama sekali, matanya terbelalak dan tidak bersinar lagi, Lee Hiang menjerit dan menubruk tubuh itu dan menangis.

"Bun-ko....! Bun-ko.... ah, Bun-ko, jangan mati.... jangan tinggalkan aku, Bun-ko....!! Ia menangis sesenggukan. Tangan Lee Siang yang kuat menariknya dan terdengar suara pemuda itu yang keren.

"Hiang-moi, kong-kong tentu akan memukulmu kalau melihat sikapmu yang cengeng ini!

Tenanglah dan aku akan mencoba menolongnya seperti yang pernah diajarkan oleh kong-kong.!

Lee Hiang melepaskan rangkulammya, dan duduk agak menjauh, akan tetapi ia belum berhenti menangis sesenggukan dan memanggil-manggil nama Ciang Bun.

Sementara itu, Lee Siang lalu memeriksa nadi lengan Ciang Bun dan dengan lega mendapat kenyataan bahwa urat nadi itu masih berdetak, walaupun lemah sekali.

Kalau tidak cepat ditolong, tentu urat nadi itu akau berhenti berdetak pula.

Maka tanpa ragu-ragu dia lalu mengangkat kepala Ciang Bun dengan menaruh tangan kiri pada bawah tengkuk, membuka mulut Ciang Bun, menggunakan tangan kanan menutup lubang hidung pemuda itu dan merapatkan mulutnya ke mulut Ciang Bun yang terbuka.

Maka ditiupnyalah sekuat tenaga ke dalam mulut Ciang Bun.

Dada Ciang Bun bergerak mekar dan ketika tiupan dihentikan dan Lee Siang melepaskan "ciumannya!, dada itu mengempis lagi.

Akan tetapi pernapasan Ciang Bun belum juga berjalan.

Lee Siang mengulangi tiupannya itu sampai berkali-kali.

Akhirnya pernapasan Ciang Bun mulai berjalan, mula-mula amat lemah akan tetapi sudah berjalan kembali, melegakan hati Lee Siang yang menghentikan usahanya.

"Bun-koko....

sadarlah, jangan mati....

aku....

aku cinta padamu, Bun-ko!!

Suara inilah yang pertama-tama terdengar oleh Ciang Bun.

Dia sudah sadar kembali akan tetapi belum membuka matanya, bahkan kiri hampir tidak berani membuka matanya ketika mendengar suara Lee Hiang itu.

Lee Hiang menangis!

Dan bilang cinta padanya!

Hatinya merasa tegang dan tidak enak sekali.

Lalu dia teringat akan pengalamannya tadi.

Dia berhasil menangkap belut bersama Lee Hiang, akan tetapi dara itu menciumnya!

Mencium mulutnya!

Dan ketika dia berenang hendak naik, dia melihat seekor belut putih yang hendak ditangkapnya lalu tiba-tiba dia merasa dirinya seperti dibakar dan tidak ingat apa-apa lagi.

Ciang Bun membuka matanya, melihat Lee Hiang masih menangis dan melihat Lee Siang Lee Siang merangkulnya.

Jantungnya berdebar senang.

Begitu senang dia karena rangkulan Lee Siang ini!

Akan tetapi dia juga merasa malu dan sungkan, lalu bangkit duduk dan bertanya.

"Apakah yang terjadi? Di mana.... eh, belut itu....?! Lee Hiang memegang tangan kirinya dengan kedua tangan meremas-remas tangan itu. Ciang Bun merasa semakin tidak enak dan ingin menarik tangannya, akan tetapi takut kalau-kalau menyinggung perasaan Lee Hiang, maka didiamkannya saja.

"Bun-ko, tahukah engkau bahwa engkau nyaris tewas sehingga aku menjadi amat khawatir?!Ciang Bun memandang wajah yang manis itu, yang kini sudah tersenyum akan tetapi pipinya masih basah, bukan hanya basah air laut melainkan juga air mata.

"Apa yang terjadi?!di Pulau Nelayan bersama Liu Ek Soan, Liu Lee Siang dan Liu Lee Hiang.

Dengan tekun dia mempelajari ilmu di dalam air, dibimbing dengan penuh perhatian oleh Lie Ek Soan, dan dibantu pula oleh Lee Siang dan Lee Hiang.

Seperti yang diidam-idamkan oleh kakek itu, pergaulan antara cucu keluarga Pulau Es dan cucunya itu berjalan lancar dan mereka nampak akrab sekali.

Bahkan pada bulan-bulan berikutnya, pandang mata kakek yang sudah berpengalarnan ini dapat melihat dengan jelas bahwa cucunya perempuan, Lee Hiang, telah jatuh hati kepada Ciang Bun!

Akan tetapi kakek ini merasa ragu apakah cucu Pendekar Super Sakti itu juga "ada hati!

kepada dara itu.

Ciang Bun orangnya pendiam dan sukar menjenguk isi hatinya.

Sikapnya kepada Lee Hiang memang ramah dan baik, akan tetapi tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa pemuda ini tertarik kepada dara yang sedang manis-manisnya, bagaikan bunga sedang mekar semerbak itu.

Sikap Ciang Bun biasa saja, bahkan nampaknya pemuda ini lebih akrab dan lebih dekat dengan Lee Siang daripada dengan Lee Hiang!

"Belut putih yang kau tangkap itu adalah belut beracun yang amat jahat, namanya belut petir.

Belut itu tidak menggigit, melainkan melecut dengan ekor dan tubuhnya yang mengandung kekuatan membakar seperti petir.

Biasanya, orang yang terkena lecutan belut itu tentu akan mati.

Dia tidak pernah menyerang kalau tidak diserang lebih dulu dan karena engkau hendak menangkapnya, maka dia menyerangmu.

Ah, kukira tadi engkau sudah....

sudah....

mati, koko.

Untung ada Siang-ko yang pernah belajar cara menyembuhkan orang yang belum mati dilecut binatang itu.!

Lee Siang juga menyambung.

"Dan untung sekali bahwa engkau memiliki sin-kang yang amat kuat, hiante. Lecutan belut itu mengandung kekuatan membakar yang amat hebat, seperti orang kalau disambar petir. Karena jantungmu amat kuat berkat sin-kangmu, maka hanya pernapasanmu saja yang terhenti, akan tetapi jantungmu masih berdetak lemah. Aku hanya tinggal membantu pernapasanmu saja.! "Membantu pernapasan?! Ciang Bun bertanya heran.

"Ya, membantu agar pernapasanmu pulih dan bekerja kembali karena tadinya terhenti oleh guncangan hebat akibat lecutan belut petir itu. Kalau jantungmu berhenti, baru aku akan membantu gerakan jantungmu dengan totokan dan pijatan yang kuat. Hal itu amat berbahaya karena mungkin saja dapat mematahkan beberapa ujung tulang igamu! Syukur engkau selamat berkat kekuatan sin-kangmu.! Ciang Bun memandang dengau kagum.

"Ah, kalau begitu aku berhutang nyawa kepadamu, twako.! Lee Siang menggerakkan tangan dengan jengah "Aih, mengapa engkau begitu sungkan? Sudah sepatutnya kalau aku yang tahu sedikit akan cara pengobatan itu menolongmu.! "Akupun ingin belajar ilmu itu, twako. Siapa tahu, lain kali aku perlu menolong seorang di antara kalian, atau orang lain.! Dia berhenti sebentar lalu melanjutkan.

"Bagaimana sih cara pengobatan itu? Menggunakan obat? Bagaimana engkau bisa membantu pernapasan orang lain bekerja kembali setelah napas itu berhenti? Apakah dengan totokan-totokan tertentu?! "Tidak, maelainkan dengau meniupkan hawa ke dalam paru-parumu melalui mulut,! jawab Lee Siang.

"Ehhh....? Bagaimana caranya? Coba kau beri contoh, twako, bagaimana cara engkau menolongku tadi?! Mendadak saja Lee Siang kelihatan jengah dan malu-malu, sedangkan Lee Hiang tersenyum-senyum aneh.

"Hei, kalian kenapa?! "Pengobatan itu dilakukan dengan cara mencium....! dara itu berkata jenaka.

"Ehh? Jangan main-main, siauw-moi, aku sungguh ingin belajar dan ingin tahu cara pengobatan yang aneh akan tetapi dapat menyelamatkan nyawa manusia ini.

"Siang-koko, kenapa tidak kau beri contoh saja dia ini. Biar puas hatinya,! Lee Hiang menggoda. Lee Siang menghela napas.

"Baiklah, hiante. Kau rebahlah seperti tadi ketika engkau pingsan.! Setelah Ciang Bun merebahkan diri terlentang, pemuda itu berkata.

"Mula-mula engkau periksa pernapasan dan detik nadinya.

Engkau tadi dalam keadaan pingsan, pernapasanmu terhenti sama sekali akan tetapi detik nadimu masih berdenyut walaupun lemah.

Itu berarti bahwa paru-parumu berhenti bekerja akan tetapi jantungmu masih bekerja.

Lalu aku mengangkat lehermu begini, maksudnya agar lubang kerongkonganmu terbuka lebar.

Lalu aku menutupi kedua lubang hidungmu dan meniupkan hawa ke dalam paru-parumu begini.!

Biarpun sungkan untuk mengajari pemuda itu, Lee Siang lalu menutup mulut Ciang Bun yang dibukanya itu dengan mulutnya sendiri dan diapun meniup keras-keras!

Ciang Bun terbelalak, akan tetapi jantungnya berdebar dan suatu perasaan yang amat mesra merayapi seluruh tubuhnya.

Tidak seperti ketika Lee Hiang menciumnya di dalam air tadi, kini dia merasa senang sekali beradu mulut dengan Lee Siang!

Akan tetapi dia terbatuk-batuk ketika pemuda itu meniupkan hawa dengan kuatnya ke dalam paru-parunya.

Hal ini terjadi karena dia terkejut dan tentu saja timbul perlawanan dari kerongkongannya.

Lee Hiang memandang sambil tertawa terpingkal-pingkal, sedangkan Lee Siang tersenyum saja.

"Nah, usaha itu kau ulangi terus sampai si korban dapat bernapas sendiri, atau sampai paru-paru itu bekerja kembali, hiante. Sedangkan kalau nadinya sudah tidak berdenyut lagi yang berarti jantungnya terhenti karena guncangan hebat itu, engkau totok dia di sini.! Dia meraba dua jalan darah di pungung dan atas lambung dan menambahkan.

"Kemudian engkau tekan dan pijit arah jantung dari dada depan, dan ini mungkin saja akan mematahkan ujung tulang iga, akan tetapi hal itu tidak berbahaya. Usaha ini adalah untuk meughimpit dan mendorong jantung agar jantung yang bekerja seperti pompa itu dapat bergerak dan bekerja kemhali.! Akan tetapi perhatian Ciang Bun sudah kurang dapat dipusatkan. Jantungnya berdebar keras ketika dia memandang Lee Siang, terutama memandang ke arah mulut itu, ke arah bibir yaug baru saja menempel pada bibirnya. Mukanya menjadi merah sekali dan kakak beradik itu tentu saja mengira bahwa merahnya muka itu karena tersedak ketika ditiup tadi.

"Bun-ko, kau belajarlah yang baik agar lain kali kalau aku yang menjadi korban belut petir, engkau dapat menolongku,! kata Lee Hiang dengan wajah berseri dan bibir terseryum nakal.

"Eh, bocah nakal! Kenapa engkau ingin benar ditolong Bun-hiante?! kakaknya menggoda.

"Aku lebih senang dicium oleh Bun-ko daripada oleh orang lain!! jawab Lee Hiang dengan polos dan jujur. Kakak dara itu tertawa.

"Ha-ha-ha, agaknya engkau sungguh jatuh cinta mati-matian kepada Bun-hiante. Bagaimana dengan engkau, Bun-te?! Ciang Bun menundukkan mukanya yang berubah merah sekali dan dia mengerutkan alisnya. Kakak beradik ini sungguh terlalu terbuka dan polos, bicara soal cinta begitu saja dan dara ini menyatakan keinginan diciumnya, menyatakan cintanya begitu terang-terangan sedangkan kakaknya tidak menegurnya bahkan membantunya dan mendorongnya bicara tentang cinta. Dia sendiri tentu saja merasa malu dan jengah, dan tidak dapat menjawab sama sekali. Melihat ini, kakak beradik itu hanya tersenyum, bahkan Lee Siang lalu tertawa keras.

"Ha-ha-ha, Bun-hiante nampak malu-malu, jangan kita membuat dia bingung, Hiang-moi.

Marilah kita pulang agar kong-kong tidak mengharap cemas.!

Mereka berperahu kembali ke pulau dan Ciang Bun menjadi termenung seorang diri, memikirkan keadaan dua orang kakak beradik ini, juga memikirkan keadaan batinnya sendiri yang mengalami gejolak amat hebatnya, membuat matanya terbuka dan dia melihat hal-hal aneh terjadi pada dirinya yang membuatnya cemas dan gelisah.

Tentu saja kepolosan dan kejujuran kakak beradik itu membuat Ciang Bun terkejut dan heran bukan main, bahkan ada kesan di hatinya bahwa mereka itu tidak sopan!

Apakah soal cinta, bahkan soal sex, merupakan hal yang tidak patut untuk dibicarakan secara terbuka?

Benarkah bahwa membicarakan hal itu secara jujur merupakan hal yang "tidak sopan!?

Tentu saja tidak sopan kalau diukur dari ukaran kesopanan umum, tidak susila kalau dipandang dari kacamata kesusilaan umum.

Liu Lee Siang dan Liu Lee Hiang sejak kecil hidup di pulau kosong bersama kakeknya, dan mereka itu hanya sekali waktu saja bertemu dengan orang-orang lain jika kebetulan mereka ikut kakek mereka untuk berbelanja ke daratan besar atau ke pulau-pulau lain.

Mereka mendapatkan pendidikan bun (tulisan) dan bu (silat) dari kakek mereka sendiri.

Akan tetapi kakek mereka ini cukup bijaksana untuk memberi pengertian kepada mereka tentang cinta antara pria dan wanita dan tentang hubungan antara pria dan wanita, walaupun secara sederhana.

Kemudian, dengan menyaksikan hubungan-hubungan kelamin antara binatang-binatang di sekitar tempat itu, antara ikan-ikan, burung-burung dan binatang hutan yang mereka dapatkan di kepulauan lain, kedua orang kakak beradik ini tumbuh dengan pengertian tentang cinta dan sex secara wajar.

Mereka tahu bahwa hubungan itu antara kakak dan adik adalah hal yang tidak baik, tidak wajar dan menurut kakek mereka, berbahaya bagi kesehatan mereka, maka mereka menganggapnya sebagai hal yang sama sekali tidak boleh dilakukan.

Pengertian ini membuat cinta mereka sebagai kakak beradik tidak dipengaruhi berahi sama sekali.

Namun, mereka sudah biasa untuk bicara tentang cinta, bahkan tentang sex, secara terbuka dan tanpa malu-malu, seperti kalau mereka bicara tentang penderitaan lapar dan haus, dan tentang kenikmatan makan dan minum.

Keterusterangan inilah yang membuat Ciang Bun menjadi terkejut, heran dan juga malu dan canggung.

Malam itu Ciang Bun tidak dapat memejamkan matanya.

Selama tiga bulan ini, dia tinggal di pulau itu dan merasa betah sekali karena tiga orang penghuni pulau itu amat baik kepadanya.

Dia tidur sekamar dengan Lee Siang.

Akan tetapi malam ini dia gelisah!

Dia merasa akan datangnya sesuatu yang mungkin akan merobah seluruh kehidupannya.

Peristiwa siang tadi sungguh mendatangkan kesan yang amat mendalam, ketika dia dicium Lee Hiang, kemudian ketika Lee Siang "menciumnya!

untuk mengajarnya melakukan pertolongan kepada korban lecutan belut petir.

Akhirnya ketika tanpa malu-malu lagi Lee Hiang menyatakan cintanya kepadanya, bahkan diperkuat oleh ucapan-ucapan Lee Siang!

Lee Hiang jatuh cinta padanya!

Cinta seorang wanita terhadap seorang pria.

Dia sudah banyak mendengar dan membaca tentang cinta, antara pria dan wanita ini.

Akan tetapi, mengapa dia merasa bingung?

Apakah dia tidak mencinta Lee Hiang?

Dia suka sekali kepada Lee Hiang yang jenaka dan cantik manis, lincah dan merupakan seorang sahabat yang amat menyenangkan.

Akan tetapi, terus terang saja dia sama sekali tidak merasa tertarik atau terangsang oleh Lee Hiang, bahkan ketika dara itu menciumnya di dalam air, dia merasa terkejut, malu dan tidak senang!

Sebaliknya, ketika Lee Siang mengajarkan cara pertolongan itu dan beradu mulut dengan dia, dia merasa begitu terangsang dan senang, begitu nyaman dan....

dia sendiri tidak tahu perasaan apa lagi yang mengaduk hatinya.

Pendeknya dia merasa mesra dan senang sekali!

Kini teringatlah dia betapa setiap malam, kalau Lee Siang sudah tidur nyenyak, seringkali dia duduk dan memandangi wajah dan tubuh temannya itu dengan perasaan yang luar biasa.

Dan setelah teringat akan semua itu, teringat pula akan perasaan aneh yang menyelinap di hatinya ketika pemuda itu "menciumnya!.

Ciang Bun merasa terkejut, bingung dan gelisah.

Kini dia melihat kenyataan aneh dan mengejutkan yang berada dalam batinnya, yaitu bahwa dia sama sekali tidak pernah tertarik kepada kaum wanita!

Memang dia dapat melihat keindahan tubuh wanita, kecantikan wajah wanita, akan tetapi semua itu sama sekali tidak menimbulkan gairah, sama sekali tidak mendatangkan kemesraan dan tidak mempunyai daya tarik baginya.

Sebaliknya, dia amat tertarik kepada Ceng Liong, kepada Kao Cin Liong dan kini dia arnat tertarik kepada Lee Siang!

Bahkan ketika pemuda itu "menciumnya!, dia merasa amat senang dan bangkit rangsangan gairahnya, terasa amat mesra dan menyenangkan.

"Ya Tuhan....!! Ciang Bun berseru di dalam hatinya sendiri ketika dia melihat kenyataan ini. Berahinya tidak dapat terangsang oleh wanita, melainkan oleh pria! Dengan bingung dan gelisah melihat kenyataan yang amat membedakan antara dirinya dengan kaum pria pada umumnya ini, Ciang Bun lalu menutupi muka dengan kedua tangannya dan diapun menangis! Tiba-tiba dua buah tangan yang kuat dengan lembut memegang pundaknya dan Lee Siang bertanya halus.

"Bun-te, engkau kenapakah?

Mengapa engkau menangis?!

Dalam keadaan sedang berduka, pertanyaan seorang yang disayang menambah keharuan hati.

Ciang Bun juga demikian.

Dirangkul pundaknya dan ditanya dengan suara penuh kekhawatiran itu, air matanya makin deras mengalir dan diapun balas merangkul dan menyembunyikan mukanya di atas dada yang bidang itu.

Diam-diam Lee Siang merasa heran dan kasihan sekali.

Heran melihat bagaimana pemuda yang dia tahu memiliki ilmu kepandaian tinggi dan amat gagah perkasa ini dapat bersikap begini lemah, menangis seperti seorang wanita cengeng.

Akan tetapi dia juga merasa kasihan melihat kedukaan Ciang Bun dan mengira bahwa tentu pemuda ini menangisi nasib keluarganya, yaitu kematian kakek dan para neneknya di Pulau Es dan kehilangan saudara-saudaranya yang belum diketahuinya bagaimana nasibnya itu.

Maka, karena merasa iba, ketika merasa betapa Ciang Bun merangkul dan menangis di dadanya, diapun mendekapnya dan mengelus rambutnya untuk menghibur.

Hal ini membuat Ciang Bun menjadi semakin terharu dan dia mengangkat mukanya yang basah, memandang kepada Lee Siang.

Melihat wajah yang tampan itu memandang penuh kekhawatiran, Ciang Bun kembali merangkul.

"Siang-twako.... ah, Siang-twako....! keluhnya. Lee Siang memeluk.

"Bun-te, adikku yang baik, kau tenangkanlah hatimu, kuatkanlah hatimu....! Dalam rangkulan pemuda itu, Ciang Bun merasa demikian senang dan terhibur, akan tetapi dia teringat akan janggalnya perasaannya sendiri ini. Teringat bahwa diapun seorang pria, maka diapun kembali diingatkan akan keadaannya yang luar biasa itu, keadaan yang membuatnya berduka dan menangis. Maka diapun meronta dan sekali merenggutkan tubuhnya, dia telah terlepas dari pelukan Lee Siang.

"Tidak.... tidak.... jangan....!! Dan diapun meloncat dan berlari keluar dari kamar, terus keluar dari pondok itu.

"Bun-hiante....!!

Lee Siang tadi terpental ketika pemuda itu meronta, dan dia memanggil dengan khawatir, akan tetapi melihat pemuda itu lari keluar, dia tidak berani mengejar, takut kalau-kalau akan membuat Ciang Bun menjadi marah dan tersinggung hatinya.

Lee Siang keluar dari dalam kamarnya, lalu menghampiri kamar adiknya.

Dia berpikir bahwa dalam keadaan seperti itu, orang yang paling tepat untuk menghibur hati Ciang Bun hanyalah Lee Hiang.

Adiknya itu mencinta Ciang Bun dan diapun hampir merasa yakin bahwa pemuda itu tentu membalas cinta ini.

Adiknya amat cantik manis, dan hubungan antara mereka itupun nampak demikian akrabnya.

Lee Hiang belum tidur dan dara ini terkejut sekali ketika mendengar cerita kakaknya bahwa Ciang Bun berduka dan menangis dan kini keluar dari dalam pondok.

"Agaknya dia teringat akan keluarga Pulau Es dan dilanda duka yang amat besar sampai dia lupa akan kegagahannya dan menangis seperti anak kecil.

Sudah kucoba menghiburnya akan tetapi gagal, malah dia lari keluar pondok.

Adikku, kalau memang engkau mencintanya, engkau harus dapat menghibur hatinya.

Kasihan sekali dia.!!Baik, koko, akan kuusahakan agar dia terhibur.

Kasihan Bun-ko.!

Dan Lee Hiangpun lalu keluar dari dalam pondok mencari pemuda yang dicintanya itu.

Ciang Bun duduk termenung di tepi laut, menghadap ke timur di mana nampak bulan mengambang di atas air.

Indah bukan main.

Akan tetapi tiada keindahan baginya di saat itu.

Bahkan keindahan itu menambah keharuan hatinya, karena dia teringat akan Pulau Es, teringat akan keluarga kakeknya yang binasa.

Akan tetapi semua kenangan itu ditelan oleh gelombang kesedihannya karena kenyataan yang dihadapinya.

Aku seorang manusia yang tidak lumrah, pikirnya.

Akan tetapi, tiba-tiba darah pendekar di tubuhnya memberontak.

Dia tidak boleh bersikap lemah!

Ibunya tentu akan marah-marah dan mentertawakannya.

Ibunya adalah seorang pendekar wanita yang amat keras hati, yang kuat dan sama sekali tidak lemah, bahkan ibunya membenci kelemahan.

Ketika dia masih kecil, kalau dia terjatuh atau mengalami nyeri dan menangis, ibunya marah-marah dan mengatakan bahwa tangis hanya pantas bagi seorang pengecut yang tidak berani menghadapi kenyataan hidup.

Tangis hanya tanda iba diri dan kelemahan batin, demikian kata ibunya.

Ciang Bun yang duduk di atas pantai berpasir itu meugepal tinju.

Kenapa dia begini lemah?

Kenapa dia tidak berani menghadapi kenyataan ini dan melawannya?

Dia tahu bahwa perasaannya yang berlainan dengan laki-laki biasa ini, yang condong untuk lebih menyukai pria daripada wanita, adalah sesuatu yang tidak lumrah dan dia harus dapat melawan dan menundukkannya.

Akan diperlihatkannya bahwa dia adalah seorang laki-laki sejati!

"Bun-koko....!

Eh, Bun-ko, engkau sedang mengapa di situ?!

Ciang Bun menoleh.

Lee Hiang sudah berdiri di situ, di belakangnya.

Cahaya bulan yang baru tersembul dari permukaan air itu menyorotkan cahaya kemerahan dan menimpa kepala dara itu, membuat wajah itu berada di dalam cahaya kemerahan yang indah.

Seorang dara yang cantik manis dengan tubuh yang sedang ranum padat menggairahkan.

Mengapa dia tidak tertarik?

Bodoh!

Demikian Ciang Bun mencela diri sendiri dan diapun bangkit berdiri.

"Hiang-moi....! katanya perlahan.

"Bun-ko.... ah, Bun-ko, engkau membikin aku khawatir sekali. Siang-koko bilang bahwa engkau berduka dan keluar dari pondok. Aku mencari-carimu dan melihat engkau duduk termenung di sini.! Dara itu menghampiri dan merangkul pinggang pemuda itn dengan mesra, mengangkat mukanya memandang.

"Bun-koko, jangan berduka, Bun-ko, ada Lee Hiang di sini yang akan ikut memikul semua kedukaanmu....! Bukan main lembut dan mesranya sikap dan ucapan dara itu. Aku seorang laki-laki sejati, demikian Ciang Bun menguatkan hatinya dan dia memaksa diri, memeluk tubuh dara itu.

"Hiang-moi, engkau seorang dara yang baik sekali.!

"Bun-ko....!!

Lee Hiang berkata girang dan mempererat dekapannya pada pinggang pemuda itu.

Aku harus memperlihatkan kejantananku, pikir Ciang Bun dan diapun mempererat rangkulannya.

Ketika wajah dara itu terangkat ke atas, menengadah dan memandang kepadanya dengan sinar mata lembut, dengan mulut setengah terbuka, Ciang Bun lalu menundukkan mukanya dan menutup mulut itu dengan mulutnya sendiri, mencium bibir yang menantang itu.

Ciuman itu membuat tubuh Lee Hiang menggigil dan rintihan halus keluar dari kerongkongannya.

Bagi Ciang Bun sendiri, terjadi hal yang sungguh membuatnya ngeri, mulut yang panas itu, bibir yang lunak lembut itu, ketika bertemu dengan bibirnya dalam sebuah ciuman mesra, mendatangkan rasa muak!

Bukan, bukan kelembutan seorang wanita yang didambakan, sama sekali bukan.

Dia merindukan kejantanan seorang pria, mulut yaug kuat namun lembut, bukan lunak menyerah macam mulut wanita ini.

Dia tak tahan lagi dan cepat dia merenggutkan dirinya, melepaskan pelukan.

"Tidak....! Tidak....! Jangan....!! Dan diapun, seperti tadi ketika meninggalkan Lee Siang, melarikan diri meninggalkan Lee Hiang yang berdiri bengong dengan wajah berohah pucat dan mata terbelalak.

"Bun-koko....!! Ia berteriak dan mengejar. Sesosok bayangan lain muncul dan ikut mengejar Ciang Bun. Bayangan ini adalah Lee Siang. Pemuda ini tadi mengintai dan ikut bergembira melihat betapa adiknya dan Ciang Bun berciuman di pantai. Akan tetapi, dia ikut terkejut melihat perobahan pada diri Ciang Bun dan ketika Ciang Bun melarikan diri dan dikejar oleh adiknya, diapun ikut mengejar dengan hati khawatir. Ciang Bun berdiri di tepi pantai utara, berdiri seperti arca memandang jauh ke depan, tanpa bergerak sama sekali, wajahnya pucat dan matanya sayu.

"Bun-koko....!! "Bun-hiante....!! Dia membalik, memandang kepada dua orang kakak beradik itu dengan muka pucat dan diapun menghardik.

"Pergilah kalian! Jangan dekati aku....! Pergiiii....!! Terdengar Lee Hiang terisak dan Lee Siang menahan napas saking kagetnya melihat sikap pemuda yang mereka sayang itu. Ciang Bun biasanya bersikap ramah dan halus, akan tetapi mengapa sekarang begitu berobah sikapnya, menjadi kasar dan seperti orang yang marah sekali? Akan tetapi Lee Siang mempunyai pemandangan yang jauh dan bijaksana. Dia memegang lengan adiknya dan berkata lirih.

"Baiklah, kami pergi, kami hanya ingin menghiburmu, Bun-te. Marilah, adikku!! Dan diapun setengah menyeret tubuh Lee Hiang meninggalkan Ciang Bun sendirian. Sejenak Ciang Bun masih berdiri tegak dengan sikap marah seperti tadi, memandang ke arah dua sosok bayangan yang pergi dengan lemas itu. Kemudian, terasalah seluruh tubuhnya lemas seperti dilolosi urat-uratnya dan diapun terkulai, jatuh berlutut di atas pasir.

"Ya Tuhan, ampunilah hamba....!! Dia mengeluh dengan hati penuh penyesalan. Dan semalam itu dia duduk bersila di pantai, tidak pernah beranjak dari tempat itu. Dia bingung sekali. Ketika berada dalam pelukan Lee Siang, terjadi perang dalam batinnya. Perasaannya senang akan tetapi pikirannya menentang. Sebaliknya, ketika dia memeluk dan mencium Lee Hiang, pikirannya mendorong akan tetapi perasaannya menentang keras. Dia menjadi bingung, menyesal dan berduka. Liu Ek Soan menerima laporan tentang keadaan Ciang Bun dari dua orang cucunya. Kakek ini menarik napas panjang.

"Keturunan keluarga Pulau Es sudah tentu memiliki keanehan-keanehan watak yang tidak kita mengerti. Biarkanlah saja, jangan ganggu. Besok baru aku akan bicara dengannya.! Pada keesokan harinya kakek itu menghampiri Ciang Bun yang masih duduk bersila di tepi pantai dan menegur halus.

"Ciang Bun, sepagi ini engkau sudah berada di sini dan kelihatan susah hatimu, anak baik?! Ciang Bun menoleh lalu berkata dengan sedih.

"Liu-kong-kong, hari ini aku mohon diri darimu. Aku akan pergi untuk mencari saudara-saudaraku yang terpisah dariku atau aku akan pulang dan melaporkan semua hal itu kepada orang tuaku.! Kakek itu mengangguk-angguk, lalu menarik napas panjang.

"Kami akan merasa kehilangan, Ciang Bun.

Akan tetapi bagaimana lagi, memang sepatutnya kalau engkau melaporkan semua yang terjadi kepada orang tuamu.

Sudah tiga bulan lebih engkau di sini dan semua dasar ilmu dalam air telah engkau kuasai, tinggal melatih dan memahirkan saja.

Akan tetapi ada suatu hal yang amat penting yang ingin kubicarakan denganmu, anak baik.!

"Hal apakah itu, kong-kong?!

"Tentang engkau dan Lee Hiang!

Anak itu telah mengaku kepadaku bahwa ia amat mencintamu dan engkau pun tentu tahu akan hal ini.

Maka, jika kiranya engkau dan orang tuamu tidak menganggap kami terlalu rendah, aku ingin sekali menjodohkan Lee Hiang denganmu.!Ciang Bun menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali.

Kalau dia tidak ingat akan kebaikan kakek ini dan dua orang cucunya, tentu dia akan menolak keras pada saat itu juga.

Akan tetapi dia tidak tega untuk menyinggung perasaan kakek ini, maka diapun cepat berkata.

"Aku masih terlalu muda untuk memikirkan soal perjodohan, Liu-kong-kong. Pula, soal perjodohan itu tergantung kepada ayah bundaku. Aku sendiri tidak dapat membicarakannya.! Kakek itu mengangguk-angguk.

"Memang benar sekali ucapanmu itu.

Pada suatu hari aku tentu akan menghadap orang tuamu di Thian-cin untuk membicarakan urusan ini.

Aku hanya memberi tahu kepadamu agar engkau mengetahuinya lebih dulu.

Akan tetapi, kalau engkau hendak pergi mencari saudara-saudaramu atau menuju ke daratan besar, biarlah Lee Siang dan Lce Hiang mengantar dan menemanimu.!

"Tidak, Liu-kong-kong, tidak usah!

Aku pergi sendiri.

Aku tahu bahwa letak daratan berada di barat dan sekarang, setelah aku menerima pelajaran tentang ilmu dalam air darimu, aku tidak takut menghadapi badai.!

Kakek itu tidak dapat membantah lagi dan ketika Lee Siang dan Lee Hiang diberi tahu, mereka berdua segera datang menemui Ciang Bun.

Begitu melihat mereka, Ciang Bun segera berkata, suaranya penuh penyesalan.

"Siang-twako dan Hiang-moi, harap kalian berdua sudi maafkan sikapku semalam....!

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Bun-te.

Antara kita sendiri, mana perlu sungkan dan maaf?

Hanya aku menyesal bahwa kami tidak dapat menghibur hatimu yang sedang duka.!

"Sudahlah, semua itu karena kebodohanku sendiri, twako.!

"Bun-koko....

engkau....

engkan hendak pergi....?!

Lee Hiang bertanya, suaranya mengandung kedukaan, tidak seperti biasa suaranya selalu lincah jenaka.

Ciang Bun memandang wajah dara itu dan diam-diam dia merasa kasihan kepada dara yang jatuh cinta kepadanya ini.

Dia merasa yakin bahwa dia tidak mungkin dapat membalas cinta Lee Hiang atau wanita yang manapun juga di dunia ini.

Cintanya terhadap Lee Hiang hanya cinta seperti seorang kakak terhadap adiknya, atau paling-paling seperti cinta seorang sahabat saja, cinta tanpa daya tarik dan gairah.

"Benar, siauw-moi, aku harus pergi melaporkan semua peristiwa yang terjadi kepada ayah bundaku.! "Kau pergi.... untuk selamanya.... dan tidak akan kembali lagi ke sini....?! "Ah, kenapa engkau berkata demikian, adikku?! Ciang Bun berkata ramah.

"Selagi kita masih hidup, tentu saja terbuka banyak kesempatan bagi kita untuk saling berjumpa lagi.! "Tapi, kapan, koko....? Ah, aku tentu akan merasa kehilangan sekali.... hidup akan terasa hampa dan tidak menyenangkan tanpa engkau di pulau ini. Aku akan merana dan berduka.... ah, Bun-ko yang tercinta, bagaimana engkau tega meninggalkan aku? Aku ikut....!! Dan Lee Hiang memandang dengan air mata mulai membasahi kedua matanya. Ciang Bun merasa kasihan sekali. Dia maju menghampiri dan memegang kedua tangan dara itu, sikap dan perasaannya seperti seorang kakak terhadap adiknya tersayang.

"Adikku yang baik, jangan menangis. Engkau bukan seorang dara yang cengeng dan engkau tahu bahwa aku tidak mungkin dapat melupakan engkau, Siang-twako, dan Liu-kong-kong. Kelak kita pasti akan bertemu kembali.! Lee Hiang sesenggukan dan menangis di atas dada Ciang Bun. Pemuda ini sekarang tidak lagi merasa canggung karena dia menganggap dirinya sebagai seorang kakak yang menghibur adiknya yang tersayang. Dielusnya rambut kepala dara itu dan dihiburnya dengan kata-kata halus sampai akhirnya Lee Hiang terhibur dan berhenti menangis.

"Bun-ko, kalau sampai lama engkau tidak datang, aku tentu akan pergi menyusul dan mencarimu!! katanya.

"Aih, moi-moi, jangan bodoh.

Kong-kong tentu akan menguruskan perjodohan kalian!!

kata Lee Siang, tidak tahu betapa ucapannya itu menusuk perasaan Ciang Bun dan membuat pemuda itu merasa amat tidak tenang hatinya.

Akhirnya, berangkatlah Ciang Bun naik sebuah perahu, dibekali perlengkapan secukupnya oleh kakek Liu, berikut petunjuk yang jelas arah mana yang harus ditempuhnya untuk mencapai pantai daratan besar.

!Angin bertiup dengan baiknya dan udara amat baik, kalau tidak keliru perhitunganku, dalam waktu dua hari semalam engkau akan mencapai daratan, Ciang Bun,!

kata kakek itu.

Dengan diantar oleh lambaian tangan dan tatapan mata tiga orang pulau itu, berikut air mata yang menetes-netes turun dari kedua mata Lee Hiang, berangkatlah Ciang Bun dan diapun memandang ke arah pula itu sampai lambat-laun tiga buah titik di atas pulau yang makin mengecil itu tidak dapat nampak lagi.

Perahunya meluncur cepat ketika layarnya terkembang penuh.

Sambil mengemudikan perahu, pemuda ini termenung.

Terjadi keadaan yang bertentangan antara lahir dan batinnya.

Matanya melihat betapa perahunya meluncur cepat menuju ke arah tertentu, demikian lancar dan penuh harapan.

Akan tetapi mata batinnya melihat betapa masa depan kehidupannya tak menentu dan suram.

Keadaan ini membuat mnlutnya bergerak, perasaan dan pikirannya menciptakan sebuah sajak keluhan.

"Perahuku meluncur laju menuju arah tertentu angin kencang layar terkembang di depan terang cemerlang!

Namun betapa suram jalan hidupku hati gelisah tak menentu gelap pekat meraba-raba tak tahu harus ke mana?!

"Ayah....!

Ibu....!!

Melihat Sama Hui datang bersama seorang pemuda tampan dan dara itu dari pekarangan sudah lari menghampiri mereka sambil menangis, hati Suma Kian Lee dan isterinya diliputi kekhawatiran yang timbul dari kejutan dan keheranan.

Mereka mengenal puteri mereka yang cerdik, lincah dan galak, keras hati dan tidak mudah menjadi lemah, tidak mudah menangis cengeng menghadapi apapun juga.

Kalau sekarang puteri mereka sampai demikian sedihnya, tentu telah terjadi sesuatu yang amat hebat.

Puteri mereka berada di Pulau Es bersama Ciang Bun, akan tetapi sekarang puteri mereka itu pulang tanpa Ciang Bun, bahkan bersama seorang pemuda asing, dan dara itu menangis seperti itu!

Suma Kian Lee, ayah Suma Hui, adalah seorang pendekar sakti, putera dari Pendekar Super Sakti Suma Han dan Lulu.

Berbeda dengan Suma Kian Bu, pendekar ini orangnya serius, pendiam, tenang dan sabar.

Isterinya bernama Kim Hwee Li, dahulunya seorang gadis petualang yang gagah perkasa dan berani, yang berkecimpung di dalam dunia kaum sesat namun tak pernah ikut menjadi jahat, seperti mutiara yang terendam di lumpur, tetap cemerlang bahkan lebih cemerlang.

Akan tetapi, hidup di antara kaum sesat itu membuat hatinya menjadi keras sekali dan tidak pernah merasa takut, sedangkan ilmu kepandaiannya juga amat hebat.

Ia berusia kurang lebih empat puluh tiga tahun sekarang, empat tahun lebih muda dari suaminya, namun, dengan pakaiannya yang terbuat dari sutera hitam itu, ia masih nampak ramping dan padat, wajahnya masih tetap cantik dan nampak jauh lehih muda daripada usianya yang sesungguhnya.

Mereka hidup dengan tenang di Thian-cin, sebuah kota di selatan kota raja.

Seperti telah kita ketahui, dua orang anak mereka, yaitu Suma Hui dan Suma Ciang Bun, menemani kakek nenek mereka di Pulau Es sambil memperdalam ilmu mereka.

Tentu saja suami isteri ini merasa kesepian setelah dua orang anak mereka pergi ke Pulau Es dan hampir setiap hari mereka membicarakan dua orang anak mereka dengan hati rindu.

Mereka tidak menyangka bahwa pagi hari itu, selagi mereka duduk di serambi depan, mereka akan melihat puteri mereka pulang dalam keadaan yang demikian mengherankan dan mengkhawatirkan.

Suami isteri itu menyambut Suma Hai dengan rangkulan dan ciuman.

Kalau Suma Kian Lee bersikap tenang-tenang saja, tidak demikian dengan Kim Hwee Li.

Setelah merangkul dan menciumi pipi puterinya, ibu ini membentak.

"Apa-apaan engkau ini, Hui-ji? Hayo hentikan kecengenganmu ini dan ceritakan yang jelas apa yang telah terjadi denganmu! Dan mana Ciang Bun?! "Nanti dulu,! kata Kian Lee.

"Hui-ji, perkenalkan dulu siapa orang muda yang datang bersamamu ini.! Suma Hui juga memiliki kekerasan hati seperti ibunya, maka sebentar saja ia sudah dapat menguasai hatinya dan menghentikan tangisnya.

"Ayah, ibu, dia ini adalah Kao Cin Liong, putera dari enci Wan Ceng.! "Aihhh....! Jadi engkau ini putera Naga Sakti Gurun Pasir Kao Kok Cu?! Kim Hwee Li berseru girang.

"Hemm, kalau begitu masih cucu keponakanku sendiri, bukan orang lain.

Mari kita masuk dan bicara di dalam,!

kata Kian Lee dengan sikapnya yang tenang.

Kao Cin Liong memandang kepada sepasang pendekar itu dengan kagum.

Sikap kakek pamannya itu sungguh mengagumkan, begitu tenang dan terkendali, sebaliknya suami isteri pendekar itupun membayangkan keagungan dan wibawa yang gagah perkasa.

Hatinya terasa gentar dan mengecil kalau dia teringat bahwa dia telah jatuh cinta dengan Suma Hui dan dia gentar membayangkan bagaimana suami isteri pendekar ini akan bersikap kalau mendengar akan urusan cintanya itu.

Maka diapun cepat menjura dengan hormat.

Sebenarnya dia harus menyebut cek-kong (kakek paman) kepada pendekar ini, akan tetapi dia tidak berani dan menyebut locianpwe, sebutan yang menghormat dalam dunia persilatan terhadap orang yang lebih tua dan lebih tinggi kedudukannya.

"Terima kasih, locianpwe.! Merekapun memasuki ruangan dalam. Setelah pelayan mengeluarkan air teh, Hwee Li menutupkan pintu yang menembus ruangan itu sebagai tanda bahwa para pelayan tidak diperkenankan masuk atau mendekat. Setelah itu berkatalah nyonya ini.

"Nah, sekarang ceritakanlah apa yang terjadi.! "Ohh, ibu, telah terjadi malapetaka yang amat hebat menimpa keluarga kita....! Suma Hui mengeluh.

"peristiwa yang amat buruk....! "Setiap peristiwa yang terjadipun terjadilah. Setiap penilaian baik atau buruk hanya menipiskan kewaspadaan,! kata Kian Lee mencela pendapat puterinya.

"Ceritakan saja selengkapnya dan jangan menilai.! Akan tetapi Hwee Li sudah memegang lengan puterinya dan cengkeramannya itu kuat sekali sehingga kalau bukan puterinya yang dicengkeram, tentu tulang lengan itu akan patah atan setidaknya kulit lengan itu akan terluka! "Hayo cepat katakan, apa yang telah terjadi?! Karena maklum akan watak ibnnya yang dikenaluya dengan baik, yaitu tidak sabaran dan menjadi kebalikan dari watak ayahnya, Suma Hui tidak mau membuat ibunya kehilangan kesabaran, maka iapun langsung saja menceritakan inti semua peristiwa dengan kata-kata lirih.

"Kakek dan kedua orang nenek telah tewas, Pulau Es telah terbakar habis dan lenyap, adik Ciang Bun terjatuh ke dalam lautan berbadai dan lenyap, sedang adik Ceng Liong dilarikan oleh Hek-i Mo-ong!!

Suma Kian Lee adalah seorang pendekar yang gagah perkasa dan berbatin kuat, tenang dan bijaksana, sedangkan isterinya adalah seorang pendekar wanita yang gagah dan tabah, tidak mengenal takut.

Akan tetapi, berita yang diucapkan dari mulut puteri mereka sekali ini sungguh terlalu amat hebat!

Wajah Kian Lee menjadi pucat dan alisnya berkerut, matanya memandang jauh dengan kosong dan dia tidak dapat mengeluarkan suara, sedangkan isterinya juga terbelalak pucat, mulutnya terbuka dan mulut itu ditutup dengan punggung tangan seolah-olah nyonya ini hendak menahan jeritnya.

Suasana menjadi sunyi dalam beberapa detik, kesunyian yang mengerikan dan suasana menjadi tegang penuh getaran.

"Tidak....!

Tidak mungkin....!

Siapa yang melakukan itu?

Siapa?

Hayo katakan, siapa yang melakukan kebiadaban itu?

Akan kuhancurkan kepalanya, kupecahkan dadanya, kupatahkan kaki tangannya!!

Nyonya itu bangkit dan mengepal tinjunya, dan Cin Liong mendengar suara berkerotokan pada buku-buku jari tangan yang masih halus itu!

Bukan main hebatnya nyonya ini, pikirnya kagum dan juga gentar.

Melihat keadaan isterinya tercinta itu, Kian Lee melangkah maju dan memegang kedua tangan Hwee Li.

Nyonya yang seperti tak sadar ini merasakan hawa yang hangat menggetar memasuki kedua lengannya dan iapun tersadar, lalu menoleh memandang suaminya dan tiba-tiba ia terisak, merangkul suaminya dan menangis tanpa suara di dada suaminya.

Kian Lee memejamkan kedua matanya dan mengelus rambut isterinya, menepuk-nepuk bahu isterinya, suatu gerakan yang sebenarnya untuk menepuk hatinya sendiri setelah mendengar akan kematian ayah bundanya di Pulau Es itu.

"Tenanglah.... mati hidup adalah wajar, bukan kita yang menguasainya....! katanya lirih sekali sehingga seperti bisikan dan tidak kentara kalau suaranya tergetar. Hanya sebentar saja nyonya itu menangis tanpa suara, hanya pundaknya yang bergoyang sedikit. Kini ia telah mengangkat mukanya dari dada suaminya dan bukti tangisannya hanyalah baju suaminya yang menjadi basah dan matanya yang agak merah. Akan tetapi kini tidak nampak setetespun air mata pada mata atau pipinya ketika ia duduk kembali.

"Hui-ji, kini ceritakanlah selengkapnya terjadinya peristiwa itu,!

Kian Lee berkata dengan suara yang lirih dan lesu.

Untuk kedua kalinya, pcrtama kali kepada Suma Kian Bu dan isterinya, dan kedua kalinya kepada ayah bundanya, Suma Hui menceritakan peristiwa di Pulau Es itu, didengarkan oleh ayah bundanya dengan penuh perhatian.

Tentang peuyerbuan para datuk, tentang kedatangan Cin Liong dan kemudian tentang kematian dua orang neneknya yang disusul kematian aneh dari kakeknya.

Kemudian tentang penyerbuan para datuk dan anak buahnya atas perahu mereka sehingga mereka cerai-berai dan tentu saja Suma Hui menceritakan dan menonjolkan peran Cin Liong yang telah banyak berjasa itu.

Bahkan dara itu menceritakan dengan teliti tentang jasa dan pertolongan Cin Liong kepadanya ketika dia ditawan oleh Jai-hwa Siauw-ok Ouw Teng.

"Kalau tidak ada Cin Liong yang menyelamatkan aku, mungkin hari ini aku hanya tinggal nama saja,! demikian dara itu menutup kata-katanya sambil mengerling ke arah Cin Liong.

"Bibi Hui terlalu memuji-muji saya, sesungguhnya saya merasa menyesal sekali tidak dapat melindungi para paman kecil sehingga tidak diketahui bagaimana dengan nasib mereka sekarang.! Cin Liong merendahkan diri.

"Jadi di antara lima orang datuk itu, tiga telah tewas dan yang masih hidup adalah Hek-i Mo-ong yang melarikan Ceng Liong dan Jai-hwa Siauw-ok Ouw Teng itu?! tanya Kim Hwee yang seolah-olah hendak mencatat kedua nama itu baik-baik ke dalam ingatannya.

"Betul, ibu,! kata Suma Hui.

"Akupun kelak harus dapat membalas sakit hati ini kepada dua orang datuk sesat itu, mencari adik Ciang Bun dan menolong adik Ceng Liong.! "Mudah saja engkau bicara,! kata Suma Kian Lee.

"Mereka adalah orang-orang lihai, kalau tidak mana mungkin kedua orang nenekmu sampai tewas? Pula, nama Hek-i Mo-ong sudah amat tersohor karena ilmu-ilmunya yang hebat. Engkau tinggal di rumah, aku sendiri yang akan mencari Ciang Bun.! "Aku juga pergi!! kata Kim Hwee Li.

"Biar Kian Bu dan isterinya menyusul dan mencari Ceng Liong sedangkan kita pergi mencari anak kita yang hilang. Perkara balas dendam, kelak kita rundingkan bersama keluarga Pulau Es.! Kian Lee tidak dapat membantah keinginan isterinya. Cin Liong lalu berkata dengan sikap hormat.

"Karena sudah berhasil menemani bibi Hui sampai di rumah, perkenankan saya untuk melanjutkan tugas saya. Dan saya berjanji untuk ikut juga mendengarkan berita tentang paman-paman kecil Ciang Bun dan Ccng Liong.! "Tugasmu sebagai jenderal?! tanya Kim Hwee Li tertarik.

"Benar, locianpwe. Saya ditugaskan oleh sri baginda kaisar untuk menyelidiki berita tentang pergerakan-pergerakan para pemberontak di barat dan utara. Saya ke Pulau Es juga hanya kebetulan saja dalam perjalanan saya melakukan tugas itu, ketika saya melihat rombongan anak buah para datuk itu membicarakan tentang Pulau Es. Sekarang saya akan melapor dulu ke kota raja, kemudian melanjutkan perjalanan ke barat.! Kian Lee mengangguk-angguk.

"Kalau memang begitu, tidak sepatutnya kami menahanmu, Cin Liong. Dan kami sekeluarga mengucapkau terima kasih atas segala bantuanmu, baik terhadap keluarga Pulau Es maupun terhadap Hui-ji.! "Saya kira tidak perlu demikian, locianpwe, mengingat bahwa di sana terdapat pula nenek buyut Lulu dan agaknya sudah menjadi kewajiban saya untuk membantu keluarga Pendekar Super Sakti Suma Han locianpwe dari serbuan para penjahat. Nah, saya mohon diri, locianpwe.! Dia memberi hormat kepada Suma Kian Lee dan Hwee Li, kemudian menghadapi Suma Hui.

"Bibi Hui, selamat tinggal....! "Cin Liong....!! kata Suma Hui ketika ia melihat pemuda itu melangkah keluar, lalu ia meragu dan akhirnya ia lari menghampiri dan berbisik.

"Bagaimana dengan urnsan kita....?! "Jangan khawatir, sebelum pergi ke barat, aku akan memberitahukan orang tuaku,! bisik Cin Liong kembali, lalu dia menjura lagi dan pergi dari situ, meninggalkan Suma Hui yang berdiri termangu-mangu dan merasa betapa hatinya perih dan sepi ditinggal pemuda yang semenjak beberapa lama menemaninya dan telah memenuhi hatinya itu. Ia tidak tahu betapa suami isteri itu saling pandang dengan penuh arti, dan Suma Kian Lee membalikkan tubuhnya dengan tiba-tiba. Malam itu Kim Hwee Li merangkul puterinya dan mereka bicara bisik-bisik di dalam kamar gadis itu.

"Hui-ji, engkau cinta padanya, bukan?! Dalam pelukan ibunya, Suma Hui mengangguk. Suasana sunyi dan tegang karena Suma Hui maklum betapa pentingnya pengakuannya itu bagi ibunya dan ia menantikan datangnya teguran ibunya. Setelah hening beberapa lama, terdengar suara ibunya, akan tetapi bukan suara marah sehingga debar jantung di dalam dada Suma Hui menjadi tenang.

"Hui-ji, sudah kau yakini akan cintamu itu?! Kembali Suma Hui hanya mengangguk tanpa mengangkat mukanya yang tersembunyi dalam rangkulan ibunya. Setelah semua peristiwa hebat yang dialaminya selama berturut-turut ini, kini ia merasa aman sentausa dalam rangkulan ibu kandungnya. Kembali sunyi sejenak. Dan kini kembali suara ibunya terdengar halus tanpa kemarahan.

"Akan tetapi dia keponakanmu dan dia menyebutmu bibi!! Biarpun ibunya tidak terdengar marah, akan tetapi jawaban halus ini bagi Suma Hui tetap saja merupakan kata-kata yang sifatnya menentang, maka iapun merenggutkan dirinya terlepas dari pelukan ibunya dan bangkit berdiri lalu mundur, memandang kepada ibunya yang duduk di atas pembaringannya itu dari jarak dua meter. Sampai beberapa lamanya dua orang wanita yang hampir serupa wajahnya itu saling pandang, dan barulah Suma Hui merasa yakin bahwa ibunya tidak marah dan tidak menentangnya. Maka iapun menubruk ibunya, duduk lagi dan merebahkan kepalanya di atas pangkuan ibunya dengan sikap manja.

"Akan tetapi dia itu lebih tua dariku, lebih pandai, lebih berpengalaman, dan lebih segala-galanya, ibu.

Dia adalah seorang jenderal muda kepercayaan kaisar, dia gagah perkasa, berilmu tinggi, dan bijaksana, berbudi baik.

Dialah yang membantu keluarga kakek di Pulau Es, dan dia pula yang menyelamatkan aku dari bencana besar.

Pula hanya kebetulan saja dia itu terhitung keponakanku, padahal, hubungannya sudah amat jauh!!

"Memang sesungguhnya demikian.

Kakek dari Cin Liong, kakek luar, yaitu ayah dari ibunya yang bernama Wan Keng In, hanyalah kakak tiri ayahmu, seibu berlainan ayah.

Jadi, kalaupun ada hubungan darah antara engkau dan dia, hanyalah melalui darah nenekmu saja, akan tetapi pihak kakek, sama sekali berlainan.!

Mendengar ini, Suma Hui bangkit dan memandang ibunya penuh harapan.

"Kalau begitu, ibu setuju?! Kim Hwee Li menahan rasa panas di kerongkongannya dan ia seperti menelan kembali air matanya. Bagaimanapun juga, sebagai seorang ibu, hatinya dilanda keharuan mendalam membicarakan urusan perjodohan puterinya sebagai anaknya yang pertama. Lalu ia memandang wajah puterinya dan mengangguk.

"Ibu sih setuju saja.! "Ibuuu....!! Suma Hui merangkul dan menciumi pipi ibunya.

"Ibu memang seorang yang amat berbudi....! Terima kasih, ibu.! Kim Hwee Li mengejap-ngejapkan matanya dan bahkan mengusap dua titik air mata dengan ujung lengan bajunya. Di depan anaknya perempuan, ia tidak begitu malu menitikkan air mata walaupun sejak kecil ia melarang anak-anaknya menangis.

"Jangan bergirang-girang dahulu, Hui-ji.

Aku tahu, ayahmu amat memperhitungkan urusan pertalian darah.

Bahkan kalau aku tidak salah dengar, dahulu kabarnya pernah ayahmu sebelum bertemu dengan aku, jatuh hati kepada Ceng Ceng, akan tetapi begitu mengetahui bahwa Wan Ceng adalah keponakan tirinya, segera perasaan itu dibuangnya jauh-jauh.

Entah bagaimana pendapatnya kalau mendengar bahwa engkau saling mencintai dengan orang yang masih terhitung keponakanmu sendiri.

Aku khawatir, ayahmu tidak akan senang mendengarnya.!

"Akan tetapi....

ayah tidak layak menghalangi kebahagiaan hidupku, ibu!!

kata Suma Hui, sikapnya keras.

Kim Hwee Li menarik napas panjang.

Ia mengenal watak anaknya yang keras, dan suaminya walaupun pendiam dan tenang, namun juga di dasar hatinya memiliki kekerasan dan pendirian yang teguh.

Maka ia melihat bayangan yang tidak menyenangkan dalam peristiwa ini.

"Mudah-mudahan saja tidak akan timbul pertentangan dalam keluarga kita sendiri karena urusanmu ini, Hui-ji. Aku akan berusaha melunakkan hati ayahmu.! "Terima kasih, ibu.... engkau baik sekali! Ahh, aku amat mencintamu, ibu....!! Suma Hui kembali merangkul ibunya dan beberapa lamanya ibu dan anak ini saling melepas rasa rindunya dan juga membicarakan nasib Ciang Bun yang belum ada beritanya itu dengan hati khawatir. Pada malam hari itu juga, agak larut, tidak lama setelah Kim Hwee Li keluar dari kamar puterinya, terjadi percakapan berbisik-bisik di dalam kamar suami isteri itu.

"Tidak!

Tidak mungkin dan tidak boleh!

Sungguh tidak tahu aturan sekali.

Apakah mereka sudah buta sehingga tidak melihat bahwa mereka melakukan pelanggaran yang amat besar dan amat memalukan?

Nama keluarga kita akan hancur oleh perbuatan yang tidak sopan itu.

Aib akan menimpa nama kita.

Anak kita itu perlu ditegur dan juga pemuda itu akan kutegur dengan keras!!

Dengan muka merah Suma Kian Lee berkata setelah mendengar keterangan isterinya bahwa puterinya saling mencintai dengan Kao Cin Liong, hal yang memang sudah disangkanya ketika pemuda itu berpamit kepada Suma Hui dan yang membuat dia merasa tidak enak sekali.

Dialah yang menyuruh isterinya menyelidiki persoalan itu untuk meyakinkan hati, dan kini mendengar laporan isterinya bahwa memang benar puterinya jatuh cinta kepada pemuda yang menjadi keponakannya sendiri, dia marah bukan main.

"Akan tetapi, hubungan keluarga itu sudah jauh sekali, hanya melalui mendiang nenek Lulu,! isterinya mencoba untuk membantah.

"Jauh atau dekat, Kao Cin Liong itu adalah keponakan Hui-ji dan menyebutnya bibi. Apa akan dikata orang kalau mendengar bahwa anak kita berjodoh dengan seorang keponakannya sendiri? Muka kita seperti dilumuri kotoran! Dan engkau tahu, nama dan kehormatan lebih berharga daripada nyawa!! Makin bicara, makin marahlah Kian Lee.

"Panggil Hui-ji ke sini, biar malam ini juga kutegur anak itu!!

"Tenanglah, suamiku.

Hui-ji baru saja mengalami hal-hal yang amat mengerikan.

Biarkan ia beristirahat.

Mungkin karena kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan Cin Liong, apalagi karena Cin Liong telah menolongnya dari tangan Jai-hwa-cat, maka ia tertarik dan jatuh hati.

Akan tetapi, belum tentu hal itu berakhir dengan perjodohan.

Kita harus ingat bahwa Cin Liong juga mempunyai orang tua dan kurasa, ayah bundanyapun belum tentu setuju kalau mendengar putera mereka hendak berjodoh dengan seorang bibinya.

Biarlah kita menunggu perkembangan.

Kalau benar mereka itu datang meminang, masih banyak waktu bagimu untuk menolak pinangan itu.!

"Kalau Kao Kok Cu dan Wan Ceng berani datang meminang anak kita, berarti mereka menghinaku dan aku akan menghajar mereka!!

kata pula Kian Lee semakin panas.

Isterinya lalu merangkulnya.

"Ihh, jadi pemarah amat engkau? Makin tua makin pemarah, sungguh tak baik itu. Sudahlah, mari kita tidur. Kita masih mempunyai kepentingan lain yang lebih mendesak, yaitu cepat mencari dan menemukan anak kita Ciang Bun.! Diingatkan akan Ciang Bun, Kian Lee terdiam dan termenung penuh kegelisahan dan kedukaan. Namun, isterinya yang amat mencintanya itu pandai menghibur hatinya sehingga akhirnya sepasang suami isteri pendekar itupun tertidur. Akan tetapi, keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kian Lee sudah berkata kepada isterinya.

"Isteriku, sebelum kita berangkat mencari Ciang Bun, kita harus lebih dulu mengatur sebaiknya untuk Hui-ji.!

"Apa maksudmu?!

"Maksudku, niatku yang pernah terpendam di hatiku untuk menjodohkan Hui-ji dengan Louw Tek Ciang, akan kulaksanakan.!

"Putera Louw-kauwsu (guru silat Louw) itu?

Ah, suamiku, apakah itu bijaksana?

Hui-ji belum berkenalan dengan dia.!

"Sudah kupikir masak-masak semalam.

Kuyakin lebih bijaksana daripada membiarkan ia jatuh cinta kepada keponakannya sendiri.

Tek Ciang itu kulihat cukup baik dan berbakat dalam ilmu silat.

Juga engkau tahu Louw-twako adalah sahabatku terbaik di kota ini dan dia adalah seorang ahli silat murid Siauw-lim-pai yang cukup baik, berwatak gagah pula.!

"Tapi....

bagaimanapun juga, ilmu silatnya masih jauh di bawah tingkat Hui-ji, apakah hal ini tidak akan mengecewakan kelak?!

"Hal itu tidak perlu khawatir, aku akan mengambilnya sebagai murid dan aku sendiri akan menggemblengnya sehingga dia cukup pantas menjadi suami Hui-ji.!

"Ahhh....!!

Kim Hwee Li mengerutkan alisnya.

Melihat kekhawatiran isterinya, Kian Lee memegang pundaknya dan berkata dengan tegas.!Isteriku, demi kebahagiaan anak kita di kemudian hari, demi menjaga baik nama dan keturunannya, kita harus berani bertindak bijaksana dan tepat.

Hari ini juga aku akan pergi mengunjungi Louw-twako untuk bicara soal itu, dan kalau kita pergi mencari Ciang Bun, kita boleh undang Tek Ciang agar sementara tinggal di sini menemani Hui-ji.

Dengan demikian mereka berkesempatan untuk saling berkenalan.

Bukankah ini merupakan siasat yang baik sekali?!

Percakapan dengan ayahnya itulah yang menimbulkan guncangan hebat dalam batin Tek Ciang dan tanpa disadarinya, dia memandang rendah kepada kaum wanita, bahkan ada timbuh semacam kebencian!

Akan tetapi, hal ini tumbuh di bawah sadar dan dia sendiri tidak merasakannya, karena pada lahirnya, dia suka melihat wanita-wanita cantik dan bukan tergolong seorang pemuda alim.

Dengan para murid ayahnya yang sudah dewasa, kadang-kadang dia pergi bermain-main dan ada kalanya pula dia terbawa oleh teman-teman itu pergi mengunjungi tempat pelesir dan bergaul dengan pelacur-pelacur sehingga dalam hal permainan cinta, Tek Ciang bukanlah pemuda yang hijau.

Akan tetapi, dia bersikap halus dan kelakuannya sopan seperti seorang terpelajar, maka tidak seorangpun yang akan menduga bahwa sebetulnya pemuda ini tidak asing di antara para pelacur kelas tinggi di kota Thian-cin.

Tek Ciang terlalu cerdik untuk membiarkan dirinya terlihat oleh umum di tempat pelacuran itu, maka ayahnya sendiripun tidak tahu bahwa putera tunggalnya itu bukanlah seorang perjaka tulen dan kadang-kadang menghamburkan uang di tempat pelesir itu.

Juga dia tidak tahu bahwa biarpun pada lahirnya begitu halus, ramah dan sopan, namun setelah berada berdua saja dengan seorang pelacur di dalam kamar, pemuda itu dapat bersikap lain, menjadi kejam dan suka mempermainkan wanita pelacur sesuka hatinya, suka menghinanya dan agaknya menikmati penderitaan lahir batin seorang wanita pelacur.

Maka, pemuda ini tersohor sebagai pemuda yang kejam dan tidak disukai di kalangan para pelacur, walaupun dia memang royal dengan uangnya.

Louw Kam atau Louw-kauwsu bersahabat dengan pendekar sakti Suma Kian Lee.

Tentu saja guru silat ini mengenal siapa pendekar itu, dan selain kagum, juga amat hormat kepadanya.

Maka, dia merasakan sebagai kehormatan besar sekali dapat berkenalan bahkan bersahabat dengan pendekar sakti itu.

Kunjung-mengunjung di antara mereka sering terjadi, dan perkenalannya dengan pendekar ini sungguh amat menguntungkan dirinya.

Perguruannya semakin maju karena para murid itu berpendapat bahwa seorang guru silat yang menjadi sahabat pendekar sakti Suma Kian Lee, tentu memiliki kepandaian silat yang tinggi.

Bahkan kalau ada yang diam-diam memusuhi guru silat ini, menjadi gentar melihat hubungan yang akrab antara Louw-kauwsu dan pendekar sakti itu.

Karena hubungan persahabatan ini maka martabat Louw-kauwsu ikut terangkat.

Demikianlah perkenalan kita dengan keluarga Louw ini dan pada suatu pagi, Louw-kauwsu merasa girang sekali melihat munculnya Suma Kian Lee di depan pintu rumahnya.

Akan tetapi alisnya berkerut ketika dia melihat wajah pendekar itu nampak agak muram yang berarti bahwa hati sahabat yang dihormatinya itu tentu sedang kesal.

"Ah, selamat pagi, Suma-taihiap!! kata guru silat itu dengan ramah.

"Silahkan masuk dan duduk. Sungguh gembira sekali hati saya menerima kunjungan taihiap sepagi ini.! "Terima kasih, Louw-twako,! kata Suma Kian Lee dan merekapun duduk menghadapi minuman teh panas sebagai sarapan pagi di atas meja.

"Eh, kenapa taihiap memakai pakaian berkabung?! Tiba-tiba guru silat itu terkejut ketika melihat pakaian serba putih dan tanda berkabung yang dipakai oleh pendekar itu. Pendekar itu menarik napas panjang. Dia tidak ingin menceritakan tentang malapetaka yang menimpa keluarga ayah bundanya di Pulau Es, akan tetapi pakaian berkabung yang dipakainya itu tentu saja tidak dapat disembunyikan. Mengingat bahwa guru silat ini adalah sahabat baiknya dan juga bahkan mungkin akan menjadi calon besannya, maka dia mengambil kebijaksanaan untuk berterus terang saja.

"Anak perempuan kami pulang dari Pulau Es kemarin....! "Ah, Siocia sudah pulang? Tentu telah membawa ilmu-ilmu yang luar biasa dari Pulau Es!! teriak guru silat itu dengan kagum.

"Ia membawa berita buruk, yaitu bahwa ayah ibuku telah meninggal dunia.! "Ahhh....!! Guru silat itu terkejut bukan main, cepat bangkit berdiri dan menjura dengan hormat kepada pendekar itu sambil berkata.

"Maafkan saya, taihiap, karena tidak tahu maka berani bicara sembarangan. Semoga saja Thian dapat menerima arwah orang tua taihiap dan memberi tempat yang baik.! "Terima kasih, Louw-twako. Kematian adalah hal yang wajar saja dan kami dapat menerimanya dengan tenang. Akan tetapi, dalam perjalanan pulang, terjadi malapetaka di perahu yang mengakibatkan puteraku hilang....! "Ahhh!! Untuk kesekian kalinya guru silat itu terkejut.

"Suma-kongcu hilang?

Ke mana dan bagaimana?!

"Dia tercebur ke lautan, terpisah dari encinya dan sampai kini belum ada kabar-kabar tentang dia.!

"Siancai....!

Sungguh saya ikut merasa berduka sekali, taihiap.

Bagaimana malapetaka menimpa demikian berturut-turut?!

"Memang itulah nasibku sekarang ini.

Aku dan isteriku akan melakukan perjalanan untuk mencari anakku yang hilang itu dan sebelum aku pergi, aku ingin membicarakan hal penting yang pernah kusinggung dahulu itu, twako, yaitu tentang perjodohan antara puteri kami dan puteramu.!

Berdebar kencang jantung dalam dada Louw Kam.

Hal itu memang menjadi idamannya selama ini.

Pernah secara iseng-iseng pendekar ini bicara tentang kemungkinannya tali perjodohan itu dan tentu saja dia akan merasa girang dan bangga sekali untuk dapat berbesan dengan pendekar sakti ini.

Mempunyai mantu cucu Pendekar Super Sakti!

Tentu saja cucu pendekar itu tidak dapat disamakan dengan perempuan-perempuan biasa macam isterinya itu.

Biarpun jantungnya berdebar kencang penuh kegembiraan, namun sikapnya biasa dan tenang saja.

"Bagaimanakah kehendak taihiap?

Sejak dahulu kami hanya dapat menanti keputusan taihiap dan tentu saja pihak kami setuju sepenuhnya, bahkan merasa memperoleh kehormatan besar sekali kalau anakku yang bodoh itu terpilih untuk menjadi calon jodoh puteri taihiap yang mulia.!

"Tak perlu memuji atau merendah, twako.

Manusia ini di permukaan bumi sama saja, dan kelebihan seseorang dalam suatu hal tidak perlu dijadikan alasan untuk mengangkatnya tinggi-tinggi.

Kami merasa setuju dengan puteramu, akan tetapi....

maafkan pernyataanku ini, agaknya kelak akan merupakan kepincangan yang kurang sehat kalau ilmu silat antara mereka berselisih jauh.!

Wajah guru silat itu menjadi merah dan dia menutupinya dengan tertawa.

"Ah, biar saya latih seratus tahun lagi, takkan mungkin tingkat kepandaian Tek Ciang akan dapat menandingi tingkat Suma-siocia.! "Bukan maksudku untuk merendahkan, twako. Akan tetapi kenyataannya memang demikian, yaitu bahwa puteraku dalam ilmu silat jauh lebih pandai daripada puteramu. Akan tetapi kulihat puteramu itupun memiliki bakat yang baik sekali, maka andaikata engkau memperkenankan, kalau dia menjadi muridku dan menerima bimbinganku sehingga dia dapat menyamai tingkat Hui-ji, alangkah akan baiknya itu....! Louw-kauwsu cepat bangkit dari tempat duduknya dan memberi hormat.

"Laksaan terima kasih saya kepada taihiap! Tentu saja saya setuju sepenuhnya dan agaknya sudah menjadi anugerah bagi anakku yang bodoh untuk memperoleh nasib sebaik ini. Heii! Tek Ciang....! Di mana engkau? Ke sinilah!! "Jangan beritahukan dia tentang perjodohan itu lebih dulu, twako,! kata Suma Kian Lee berbisik sebelum pemuda itu muncul dari belakang. Melihat pendekar itu, Tek Ciang segera menjura dengan sikap hormat dan sopan.

"Ah, kiranya Suma-locianpwe yang hadir. Harap locianpwe dalam keadaan baik saja dan terimalah hormat saya,! katanya ramah.

"Terima kasih, Tek Ciang,! jawab Suma Kian Lee senang melihat sikap pemuda yang sopan itu. Seorang pemuda yang cukup tampan dan gagah, sayang agak pendek, dan pakaiannya selalu rapi dan bagus.

"Tek Ciang, cepat engkau berlutut kepada Suma-taihiap dan menyebut suhu.

Dia hendak mengangkatmu sebagai muridnya!!

kata Louw-kauwsu dengan girang.

Mendengar ucapan ayahnya ini, Louw Tek Ciang terkejut bukan main dan memandang kepada pendekar itu.

Suma Kian Lee mengangguk dan tersenyum kepadanya.

Tek Ciang adalah seorang pemuda yang amat cerdik.

Dia maklum bahwa kalau dia menjadi murid pendekar ini, selain kemungkinan besar untuk memperoleh ilmu yang hebat, juga namanya akan terangkat dan tak seorangpun di kota Thian-cin, bahkan sampai di kota raja yang akan berani menentangnya!

Maka tanpa ragu-ragu lagi diapun menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Suma Kian Lee, memberi hormat sampai delapan kali dan menyebut "Suhu!!

berkali-kali.

Kian Lee membangunkan pemuda itu dan berkata.

"Tek Ciang, engkau merupakan murid pertama dariku.

Selama ini aku belum pernah menerima murid dan hanya mengajarkan ilmu-ilmuku kepada kedua orang anakku saja.

Kini, melihat kebaikan ayahmu dan besarnya bakatmu, aku suka membimbingmu mempelajari ilmu silat.!

"Terima kasih, suhu.

Segala petunjuk dan bimbingan suhu pasti akan teecu taati dan junjung tinggi.!!Sekarang keluarlah dulu dari ruangan ini karena aku hendak bicara urusan penting dengan ayahmu.!

Tek Ciang kembali menghaturkan terima kasih, kemudian pergi dari tempat itu dengan sikap patuh sekali.

Setelah pemuda itu pergi dan dengan pendengarannya yang tajam Kian Lee merasa yakin bahwa pemuda itu sudah pergi jauh ke belakang rumah, diapun berkata.

"Louw-twako, biarlah sementara ini perjodohan antara puteramu dan anakku tidak diumumkan dulu, akan tetapi kita berdua telah menyetujui untuk menjodohkan mereka.

Dan demi kebaikan mereka berdua, kurasa mereka berdua harus dipertemukan dan diperkenalkan.

Maka, aku akan mengajak puteramu untuk tinggal di rumahku, dan selama aku dan isteriku pergi mencari putera kami, biarlah anakku yang memberi petunjuk-petunjuk dalam latihan dasar.

Dengan demikian, ada dua keuntungan, yaitu pertama, anakku tidak akan bersendirian saja di rumah dan ke dua, mereka akan dapat saling berkenalan sebelum perjodohan itu diumumkan.

Bagaimana pendapatmu, Louw-twako?!

Louw-kauwsu yang sudah kegirangan dan merasa amat beruntung itu tentu saja merasa setuju sekali dan berkali-kali dia mengangguk.

Demikian girang hatinya sehingga guru silat ini tidak lagi mampu berkata-kata!

Betapa tidak?

Putera tunggalnya yang amat disayangnya itu selain akan dipungut mantu juga diangkat menjadi murid pertama dan tunggal oleh pendekar sakti Suma Kian Lee!

Peristiwa itu tentu saja akan mengangkat namanya setinggi langit.

Baru menjadi sahabat dekatnya pendekar itu saja dia sudah merasakan keuntungan besar di bidang nama, kedudukan dan pekerjaannya.

Apalagi kalau puteranya menjadi murid, bahkan mantu Suma-taihiap!

"Kalau begitu, sebaiknya kalau Tek Ciang hari ini juga berangkat ke rumahku, membawa bekal pakaian karena kami harus segera bersiap-siap.

Dalam seminggu ini kami sudah akan berangkat pergi mencari puteraku, Louw-twako.

Dan selama kami pergi dan putera twako menemani anakku di rumah, harap twako suka berbaik hati untuk kadang-kadang lewat di rumah kami melihat-lihat keadaan.!

"Jangan khawatir, taihiap.

Mulai hari ini, rumah keluarga taihiap sama dengan rumah yang menjadi tanggung jawab saya sendiri.

Pasti akan saya bantu jaga seperti rumah saya sendiri selama taihiap berdua bepergian.!

Setelah Suma Kian Lee pulang, Louw-kauwsu cepat menyuruh puteranya berkemas dan dia memberi banyak nasihat kepada puteranya itu.

"Tek Ciang, engkau memperoleh berkah yang jauh lebih berharga daripada harta benda apa saja di dunia ini.

Engkau diangkat menjadi murid putera Pendekar Super Sakti dari Pulau Es!

Tahukah engkau apa artinya itu?

Berarti bahwa kalau engkau belajar dengan baik-baik, kelak engkau akan menjadi seorang pendekar sakti yang hebat!

Bahkan seluruh nasib hidupmu di kemudian hari tergantung pada saat-saat inilah.

Suma-taihiap menghendaki agar engkau berangkat ke rumahnya sekarang juga.

Engkau akan diberi latihan dasar dan disuruh berlatih dengan petunjuk dari Suma-siocia, karena gurumu itubersama isterinya akan melakukan perjalanan jauh dan meninggalkan ergkau di sana bersama puteri mereka.

Berhati-hatilah engkau di sana, jaga rumah itu seperti rumah sendiri, bersikaplah sopan terhadap Suma-siocia dan semua pelayan di sana.

Berusahalah agar semua orang menyukaimu, Tek Ciang.

Dengan demikian, engkau tidak akanmembikin malu aku sebagai ayahmu.!

Tek Ciang tersenyum.

Ayahnya ini bersikap seperti memberi nasihat kepada seorang anak kecil saja!

Tentu saja dia sudah tahu apa yang harus dibuatnya agar suhunya suka kepadanya.

Dan tentu saja dia sudah mendengar akan Suma-siocia, dara remaja yang kabarnya selain lihai dan sakti, juga memiliki kecantikan yang amat menggairahkan!

Ah, betapa beruntungnya dia!

Berlatih diri di bawah petunjuk seorang dara remaja yang lihai dan cantik jelita!

Akan tetapi, pemuda yang cerdik ini pandai menyembunyikan perasaannya, dan diapun mengangguk taat.

"Baik, ayah. Aku akan mengingat semua nasihatmu.! Ketika Tek Ciang tiba di rumah keluarga Suma, Kim Hwee Li dan juga Suma Hui sudah mendengar dari Suma Kian Lee tentang pemuda itu yang diangkat menjadi murid dan akan tinggal di rumah itu selama suami isteri itu pergi mencari Ciang Bun.

"Ayah,! Suma Hui membantah ketika ayahnya memberitahukan perihal pemuda yang belum dikenalnya itu.

"Apakah ilmu keluarga kita akan diturunkan kepada orang luar?! Ayahnya mengerutkan alis.

"Hui-ji, di dalam keluarga kita tidak ada peraturan yang melarang bahwa kita tidak boleh memberikan ilmu-ilmu Pulau Es kepada orang luar.

Ayah dari Louw Tek Ciang, yaitu Louw-kauwsu adalah seorang sahabat baikku, dia seorang yang bersih namanya dan aku melihat putera tungggalnya itupun memiliki bakat yang amat baik, juga sikapnya baik.

Karena itu aku mengangkatnya menjadi murid.

Agar kelak dia dapat menerima ilmu-ilmu dariku secara sempurna, maka dia harus lebih dahulu berlatih sin-kang dan samadhi yang bersih, maka dia akan tinggal di sini melatih dasar-dasar sin-kang dari kita.

Karena aku dan ibumu akan pergi mencari Ciang Bun, maka aku minta engkau mewakili aku dan kadang-kadang memberi petunjuk kepadanya kalau dia berlatih.!

Mendengar kata-kata ayahnya yang diucapkan dengan nada sungguh-sungguh itu, Suma Hui mengangguk.

Ia belum memperoleh kepastian dari ibunya tentang sikap ayahnya terhadap urusannya dengan Cin Liong, maka ia berpendapat bahwa sebaiknya, sebelum urusan pribadinya itu dibikin terang, ia tidak membuat ayahnya marah.

Bagaimanapun juga, hatinya seperti merasa tidak rela ayahnya mengangkat seorang murid.

Ketika Tek Ciang muncul dengan buntalan pakaiannya dan menjatuhkan diri berlutut di depan ayah ibunya dan menyebut mereka suhu dan subo dengan sikap amat menghormat, Suma Hui terkejut.

Tak disangkanya bahwa murid yang diangkat oleh ayahnya itu ternyata adalah seorang pemuda dewasa yang lebih tua darinya!

Seorang pemuda yang cukup ganteng dan gagah, dan sikapnya amat sopan.

Pemuda itu sedikitpun tidak pernah melirik kepadanya dan hanya menunduk ketika memberi hormat kepada suami isteri pendekar itu.

"Bangkitlah, Tek Ciang. Perkenalkan, ini adalah puteri kami yang bernama Suma Hui,! kata Kim Hwee Li yang sudah diberi tahu oleh suaminya tentang "siasat! suaminya untuk mendekatkan kedua orang muda itu. Hwee Li menyuruh pemuda itu bangkit untuk dapat melihat lebih jelas wajah dan perawakan pemuda yang oleh suaminya telah dipilih untuk menjadi calon mantunya ini.

"Terima kasih, subo,! kata Tek Ciang sambil memandang kepada suhunya dengan ragu-ragu, seolah-olah dia tidak berani bangkit sebelum menerima perintah suhunya. Melihat ini, diam-diam Suma Kian Lee menjadi girang. Bocah ini sungguh amat taat dan bijaksana, berhati-hati dalam sikap agar tidak menyinggung hati gurunya, menandakan bahwa dia amat teliti dalam melakukan tindakan dan menentukan sikap! "Bangkit dan duduklah, Tek Ciang,! katanya halus. Baru pemuda itu bangkit dan menjura kepada suhu dan subonya.

"Terima kasih, subo.! Kemudian dia baru menoleh kepada Suma Hui, akan tetapi hanya sekelebatan saja dia berani menatap wajah itu, wajah yang membuat jantungnya berdebar kencang walaupun baru melihat sekelebatan saja, kemudian diapun cepat menjura kepada dara itu.

"Suma-siocia (nona Suma), saya Louw Tek Ciang yang bodoh menghaturkan hormat kepada siocia.! Sepasang alis Kim Hwee Li berkerut sebentar. Pemuda ini terlalu sopan, pikirnya, begitu amat sopan sehingga berkelebihan dan cenderung kepada sikap bermuka-muka dan menjilat. Tentu saja ia segera menekan perasaannya karena dugaan itupun masih membuat ia ragu. Sebaliknya, Suma Hui merasa canggung juga diperlakukan dengan sikap yang sedemikian merendah dan menghormatnya. Ia cepat membalas penghormatan itu.

"Terima kasih, Louw-kongcu (tuan muda Louw),! katanya.

"Hemm, buang saja cara panggilan yang sungkan-sungkan itu!! Suma Kian Lee berkata sambil tersenyum.

"Hui-ji, dia adalah murid ayahmu dan biarpun dia murid baru, akan tetapi dia lebih tua darimu dan juga engkau puteriku, bukan muridku. Maka, biarpun sebagai murid tingkatmu lebih tinggi, namun sepatutnya engkau menyebutnya suheng dan engkau Tek Ciang, engkau harus menyebut sumoi kepada Hui-ji.!Kembali Louw Tek Ciang menjura kepada Suma Hui dan tetap saja dia tidak berani mengangkat muka memandang langsung, dan suaranya halus sopan merendah ketika dia berkata.

"Maafkan saya, sumoi (adik perempuan seperguruan), saya hanya mentaati perintah suhu, walaupan sesungguhnya saya tidak berani lancang.! Bagaimanapun juga, sikap pemuda ini menyenangkan hati Suma Hui. Pemuda ini jelas tidak kurang ajar, dan matanya juga tidak jelalatan ketika memandang kepadanya, tidak seperti mata laki-laki lain yang kalau memandang kepadanya seperti mata seekor singa kelaparan. Maka iapun menjura dan berkata manis.

"Tidak mengapa Louw-suheng, kurasa ayah benar sekali dan panggilan ini terasa lebih mudah, bukan?!

"Tek Ciang, dalam beberapa hari ini aku dan subomu akan pergi merantau untuk beberapa lamanya.

Karena itu, sebelum aku pergi, aku akan menurunkan beberapa latihan dasar untuk mempelajari sin-kang dan samadhi.

Harus kau perhatikan baik-baik karena dasar latihan sin-kang ini adalah pokok dari pada ilmu-ilmu yang akan kuturunkan kepadamu.

Kalau latihan dasar keliru, maka kelak dalam mempelajari ilmu-ilmu dariku engkau pun tidak akan dapat menguasainya dengan sempurna.

Karena itu, engkau harus selalu tekun berlatih dan teliti, jangan sampai keliru.

Di sini ada sumoimu yang akan dapat memberi petunjuk sewaktu-waktu kalau engkau merasa ragu-ragu.!

"Baik, suhu.

Sumoi, saya mengharapkan petunjuk-petunjuk dari sumoi, untuk itu sebelumnya saya menghaturkan banyak terima kasih kepadamu.!

"Aku bersedia membantumu, suheng.

Harap jangan sungkan bertanya,!

jawab Suma Hui yang mulai merasa suka kepada pemuda yang sopan dan halus budi ini.

Hanya Kim Hwee Li yang sejak tadi tidak berkata apa-apa, karena nyonya ini masih merasa tidak puas melihat sikap pemuda itu yang dianggapnya tidak wajar dan terlalu sopan, seperti dibuat-buat.

Ia hanya mengharapkan bahwa sikap itu adalah sikap yang sewajarnya dan bahwa pemuda itu memang seorang yang sopan dan halus budi, bukannya dibuat-buat karena di baliknya terkandung suatu pamrih tertentu.

"Sekarang pergilah ke kamarmu dan simpan pakaianmu, kemudian kita pergi ke lian-bu-thia (ruangan berlatih silat) untuk mulai dengan teori-teori dasar latihan sin-kang,! kata pula Suma Kian Lee.

"Hui-ji, suruh pelayan datang untuk mengantar suhengmu ke kamarnya yang sudah disediakan untuknya itu.!

"Baik, ayah.!

Melihat sikap ayahnya yang gembira, hati Suma Hui juga menjadi gembira.

Ayahnya tidak kelihatan marah, padahal ibunya tentu sudah menyampaikan kepada ayahnya itu perihal urusannya dengan Cin Liong dan ini berarti bahwa ayahnya itu tidak menjadi marah atau menentang.

Hal itupun mendatangkan kegembiraan dalam hati Suma Hui dan ia melakukan perintah ayahnya dengan hati senang pula.

Demikianlah, dalam beberapa hari itu dengan sungguh-sungguh Suma Kian Lee memberi dasar latihan sin-kang kepada Tek Ciang.

Biarpun pemuda ini pernah mempelajari samadhi dan latihan sin-kang dari ayahnya, akan tetapi dasar latihan yang diberikan oleh suhunya itu amat berbeda, juga amat sukar sehingga dia harus bersungguh-sungguh kalau dia ingin mengerti benar-benar.

Memang pemuda ini cerdik dan berbakat sekali sehingga biarpun latihan itu tidak mudah dan membutuhkan perhatian dan pengerahan semua kemauan dan kejujuran hati, akhirnya dia dapat juga mengerti.

Selagi ayahnya memberi petunjuk, Suma Hui juga hadir dan gadis ini diam-diam harus memuji ketekunan murid ayahnya ini dan iapun yakin bahwa seorang murid seperti Tek Ciang ini pasti kelak akan menjadi seorang ahli silat keluarga Pulau Es yang baik dan belum tentu akan kalah tinggi tingkatannya dibandingkan dengan dirinya sendiri.

Seminggu kemudian, berangkatlah suami isteri itu meninggalkan rumah mereka, memulai dengan perjalanan mereka yang tanpa tujuan tempat tertentu, seperti orang meraba-raba di dalam kegelapan.

Bagaimanapun juga, sungguh amat sukar mencari seorang anak yang hilang di tengah lautan yang demikian luasnya.

Setelah memberi pesanan banyak nasihat kepada puterinya dan muridnya, Suma Kian Lee dan isterinyapun berangkatlah dengan menunggang dua ekor kuda.

Louw-kauwsu seringkali lewat di depan rumah keluarga Suma dan karena kakek ini ingin sekali agar puteranya jangan sampai "gagal!

menjadi mantu pendekar sakti Suma Kian Lee, maka berlawanan dengan kekerasaan hatinya sendiri diapun diam-diam membisikkan urusan pertalian jodoh itu kepada puteranya!

"Tek Ciang, engkau harus pandai-pandai membawa diri.

Ketahuilah, engkau bukan saja telah diangkat menjadi murid oleh Suma-taihiap, akan tetapi juga bahkan telah diangkat menjadi calon mantu, berjodoh dengan Suma-siocia.

Akan tetapi hal ini masih belum diresmikan, maka engkau pun pura-pura tidak tahu sajalah.

Aku menceritakannya kepadamu agar engkau pandai-pandai membawa diri.!

Demikianlah bisikannya dan mendengar ini tentu saja Tek Ciang menjadi semakin girang.

Dan pemuda ini memang terlalu amat cerdik untuk dapat terpeleset oleh tindakan yang kurang hati-hati maka dia selalu bersikap penuh hormat dan sopan terhadap Suma Hui sehingga tidak ada alasan sedikitpun juga bagi dara ini untuk merasa tidak suka kepada suhengnya ini.

Maka dengan sungguh-sungguh Suma Hui juga memberi petunjuk-petunjuk kepada suhengnya ini sehingga Tek Ciang dapat melatih dasar sin-kang itu dengan baik.

"Hyaaaaatttt, ahh!

Hyaaaaatttt, ahh!!

Lengkingan ini terdengar berkali-kali, menggema di sekeliling tempat yang amat sunyi itu, dari bagian belakang sebuah pondok yang berdiri terpencil di bukit rimbun itu.

Itulah bukit Pegunungan Ci-lian-san yang terdapat di perbatasan Sin-kiang dan Cing-hai.

Sebuah pondok kayu yang nampaknya masih baru di antara puing-puing banyak bangunan yang pernah kebakaran.

Dan pondok ini memang baru saja dibangun oleh Hek-i Mo-ong yang dibantu oleh muridnya yang baru, yaitu Suma Ceng Liong!

Puing-puing itu adalah bekas sarang Hek-i-mo-pang, yaitu Perkumpulan Iblis Baju Hitam yang pernah dipimpinnya akan tetapi yang dihancurkan oleh tiga orang pendekar pada waktu itu, ialah Bu Ci Sian, Kam Hong, dan Sim Hong Bu (baca kisah Suling Emas dan Naga Siluman), bahkan kemudian bekas sarang itu dibakar oleh rakyat yang tinggal di bawah gunung.

Karena tempat itu sunyi dan indah, Hek-i Mo-ong mengajak muridnya tinggal di situ, membangun sebuah pondok kayu yang cukup kuat biarpun sederhana dan mulailah dia melatih ilmu-ilmu yang dahsyat kepada muridnya yang baru berusia sepuluh tahun lebih itu.

Lengkingan nyaring berulang-ulang yang terdengar dari belakang pondok itu adalah lengking suara Ceng Liong!

Dan kalau ada orang yang berani melongok ke dalam tanah daratan di belakang pondok itu, tentu dia akan bergidik.

Akan tetapi siapa berani mengunjungi tempat itu?

Sebelum Hek-i Mo-ong pulang ke situpun tidak ada orang yang berani mendekat.

Rakyat yang membakar sarang itu hanya melampiaskan dendam mereka terhadap gerombolan yang sudah banyak mengganggu mereka itu.

Akan tetapi setelah membakar, merekapun cepat-cepat pergi, tidak berani berlama-lama di situ apalagi ketika mereka mendengar berita bahwa Hek-i Mo-ong sendiri tidak nampak mayatnya di antara anak buahnya, berarti bahwa iblis itu masih belum mati.

Maka yang tinggal di tempat mengerikan itu hanyalah puing bersama tulang-tulang dan tengkorak anak buah Hek-i-mo-pang yang berserakan di tempat yang kini menjadi tanah datar, di belakang pondok batu itu.

Apakah yang sedang dilakukan oleh guru dan murid di belakang pondok itu?

Mereka sedang berlatih dengan cara yang aneh dan mengerikan.

Hek-i Mo-ong sendiri nampak sedang bersamadhi dengan cara yang aneh, yaitu dengan jungkir balik.

Samadhi jungkir balik ini memang tidak mengherankan dan sudah banyak dilakukan orang, yaitu dengan kepala di atas tanah, kedua kaki lurus ke atas, kedua tangan menopang kepala.

Samadhi seperti ini amat baik untuk melancarkan jalan darah, untuk memperbanyak dan memperlancar jalannya darah ke dalam kepala untuk memulihkan kembali ketidakseimbangan antara hawa Im dan Yang di dalam tubuh.

Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh Hek-i Mo-ong itu lain daripada yang lain.

Kepalanya memang di bawah dan kedua kakinya tegak lurus ke atas, akan tetapi kepalanya itu, tidak berada di atas tanah, melainkan di atas sebuah tengkorak!

Dan kedua lengannya bersedakap di depan dadanya, dan diapun tidak berjungkir balik dengan diam saja, melainkan tubuhnya yang berjungkir balik itu berloncatan!

Kepalanya itu meloncat dan hinggap di atas sebuah tengkorak lain dan demikian seterusnya, berpindahan dari tengkorak yang satu ke tengkorak yang lain.

Semua terdapat sembilan buah tengkorak yang diletakkan di atas tanah dengan membentuk garis bintang Sim-seng (Bintang Hati) yang terdiri dari tiga titik dengan tiga buah tengkorak dan bintang Jui-seng (Bintang Mulut) yang terdiri dari enam buah tengkorak.

Dia berpindah-pindah dengan berloncatan seperti itu, terdengar suara dak-duk-dak-duk ketika kepalanya bertemu dengan sebuah tengkorak berikutnya, seperti seorang anak kecil bermain loncat-loncatan.

Tak jauh dari situ, Ceng Liong juga berlatih dengan ilmu pukulan yang diajarkan gurunya.

Setiap kali berteriak "hyaaaaaatt!!

dia berlari menyerbu ke arah sepotong tulang, baik itu tulang kaki atau tengkorak atau tulang-tulang lainnya, dan begitu tiba dia berteriak "ahh!!

dan tangannya dengan jari-jari terbuka, agak melengkung seperti cakar, mencengkeram ke arah tulang-tulang itu.

Dan tulang-tulang itupun berlubang!

Nampak lubang-lubang kecil bekas cengkeraman jari-jari tangannya!

Itulah Ilmu Coan-kut-ci (Jari Penusuk Tulang) yang amat keji karena selain jari-jari tangan itu dilatih untuk dapat menembus tulang, juga serangan jari itu membawa hawa beracun yang lama-lama terkumpul dari hawa dalam tengkorak-tengkorak dan tulang-tulang mayat itu ketika berlatih!

Biarpun masih kecil, Ceng Liong adalah putera Pendekar Siluman Kecil dan cucu Pendekar Super Sakti, sejak kecil sudah digembleng dengan hebat dan lebih dari itu, dia telah menerima warisan sumber tenaga sakti dari mendiang kakeknya.

Oleh karena itu, kini mudah saja bagi Hek-i Mo-ong untuk menggerakkan sumber tenaga sakti itu dan mempergunakannya untuk memmpelajari ilmu-ilmu sesat darinya.

Tentu saja Ceng Liong belum tahu apa artinya ilmu bersih dan ilmu kotor, hanya merasa suka kalau diberi pelajaran ilmu-ilmu baru yang aneh dan dahsyat.

Agaknya kakek iblis itu telah merasa cukup berlatih dengan loncatan-loncatan itu, maka tiba-tiba tubuhnya meloncat agak tinggi dan membuat poksai (salto), terus turun dan kini dia berdiri dengan biasa sambil tersenyum memandang kepada muridnya yang berlatih itu.

Kakek itu nampak mengerikan sekali.

Tubuhnya yang tinggi besar seperti raksasa itu nampak kuat dan kokoh, pakaiannya serba hitam sampai ke sepatunya sehingga rambutnya yang putih nampak menyolok.

"Cukup, Ceng Liong. Sekarang engkau harus membantuku melakukan latihan yang amat penting.! Berkata demikian, kakek ini lalu mengumpulkan tengkorak-tengkorak di tempat itu dan mulai menumpuki tengkorak-tengkorak itu dengan cara-cara tertentu, bersusun teratur dengan tengkorak-tengkorak itu seperti saling mengisap tengkuk tengkorak di atasnya dan semua terlentang. Paling bawah diatur sepuluh buah, lalu di atasnya sembilan buah, terus delapan buah, dan seterusnya setiap tingkat berkurang satu sampai paling atas hanya sebuah tengkorak saja.

"Latihan bagaimana, Mo-ong ?!

Ceng Liong bertanya.

Memang anak ini tidak menyebut suhu kepada gurunya, melainkan menyebut Mo-ong (Raja Iblis) begitu saja karena dia memang sudah berjanji bahwa dia mau menjadi murid akan tetapi tidak mau menyebut suhu dan tidak mau mempelajari kejahatan.

Dan bagi seorang datuk kaum sesat yang berwatak aneh seperti Hek-i Mo-ong, sebutan Mo-ong sebaliknya daripada suhu ini bahkan menggembirakan hatinya.

Makin aneh keadaannya, makin sukalah datuk ini, dan dia akan berbangga kalau orang-orang lain mendengar bahwa muridnya menyebutnya Mo-ong begitu saja, tanda keanehan mereka yang lain daripada orang lain!

"Aku hendak berlatih Ilmu Tok-hwe-ji (Hawa Api Beracun) bagian yang paling akhir.

Selama aku berlatih, keadaan diriku kosong dan sama sekali tidak berdaya andaikata ada musuh datang menyerang.

Dengan pukulan sederhana saja aku bisa mati!

Oleh karena itu, engkau harus berjaga-jaga dan engkau lindungi aku selama aku berlatih.

Ingat, selama hawa api itu masih di luar badan dan belum kutarik kembali, berarti aku masih tak berdaya dan engkau harus melindungiku dari serangan lain dari luar.!

"Tapi, siapakah yang akan berani menyerangmu, Mo-ong?!

"Memang tidak ada, akan tetapi siapa tahu?

Di dunia ini lebih banyak musuh daripada sahabat.

Dan siapa tahu malapetaka datang selagi aku berlatih.

Kau jagalah baik-baik dan hentikan latihanmu.!

"Baik, Mo-ong.

Aku akan menjagamu,!

anak itu berjanji, ia lalu dia berdiri di bawah pohon tak jauh dari timbunan tengkorak itu, memandang dengan hati tertarik sekali karena dia tahu bahwa gurunya itu memang amat lihai dan memiliki banyak ilmu yang aneh-aneh.

"Nah, kau siaplah!!

kata Hek-i Mo-ong.

Dia sendiri lalu mengatur pakaiannya, menggulung lengan bajunya, mempererat ikat pinggang, membetulkan ikatan pita rambutnya, kemudian dia berdiri tegak dan mengambil napas dalam-dalam sampai beberapa lamanya.

Kemudian, tiba-tiba saja tubuhnya itu meloncat ke atas tumpukan tengkorak, berjungkir balik dan kepalanya hinggap di atas tengkorak yang berada di tumpukan paling atas.

Karena tengkorak ini, seperti tengkorak-tengkorak yang lain, menghadap ke atas, maka mulut tengkorak itu seperti mengecup tengkuknya.

Setelah tubuhnya yang berjungkir balik itu tegak lurus dan sedikitpun kakinya tidak bergoyang, kedua lengannya lalu bersedakap seperti tadi.

Terdengar dia bernapas dalam dan keras, makin lama suara napasnya semakin keras mendesis-desis dan tak lama kemudian, Ceng Liong melihat betapa ada uap putih perlahan-lahan keluar dari mulut kakek itu yang terbuka!

Dan dia yang berdiri di sebelah kiri gurunya dalam jarak hampir tiga meter sudah mulai merasakan adanya hawa panas!

Uap putih itu ternyata tidak melayang pergi, melainkan berkumpul di depan mulut, perlahan-lahan melayang maju dan makin memanjang ada kalanya tertarik kembali mendekati mulut.

Ceng Liong memandang dengan penuh perhatian.

Biarpun dia masih kecil, namun sudah banyak melihat ilmu-ilmu yang tinggi, bahkan diapun telah mempelajari teori-teori ilmu yang tinggi lari Pulau Es.

Dia tahu bahwa ilmu-ilmu keluarganya juga amat tinggi dan di antara ilmu-ilmu itu terdapat pula penggunaan hawa sin-kang yang panas, yaitu Hwi-yang Sin-kang yang dapat membakar dan mencairkan es.

Akan tetapi, hawa tenaga sakti itu hanya dipergunakan melalui gerakan pukulan.

Dan Raja Iblis ini menggunakan hawa sakti itu melalui pernapasannya, dikeluarkan dari dalam tubuh berupa uap panas yang langsung dipergunakan untuk menyerang musuh!

Kini, uap putih yang tebal itu makin lama semakin tebal dan semakin panjang, sampai melayang lebih dari satu meter dari mulut, akan tetapi tidak pernah terlepas dari mulut yang terbuka itu.

Kalau uap itu sampai dapat mencapai dua meter lebih, baru akan menjadi senjata yang amat berbahaya bagi lawan.

Dan agaknya, dalam latihan ini, Hek-i Mo-ong mengerahkan banyak tenaga.

Tubuhnya mandi peluh dan napasnya mulai terengah.

Padahal, uap itu baru melayang sejauh satu setengah meter.

Terpaksa dia menghentikan dorongan dari dalam itu dan uap itu kini berhenti dan tidak bergerak, nampak aneh karena seperti benda keras saja.

Pada saat itu, tiba-tiba telinga Ceng Liong mendengar gerakan ringan dari belakangnya dan munculah seorang kakek berpakaian seperti tosu dengan rambut digelung ke atas.

Tosu ini membawa pedang di punggungnya dan mukanya merah sekali.

Usianya ada enam puluhan tahun.

Selain tosu ini, Ceng Liong masih melihat berkelebatnya banyak bayangan orang di sekitar tempat itu.

Tentu saja dia bersikap waspada dan siap sedia melindungi gurunya.

Mula-mula tosu itu nampak kaget dan heran, akan tetapi setelah dia mengenal muka Hek-i Mo-ong, matanya segera mendelik, mulutnya mengeluarkan seruan tertahan dan tiba-tiba saja dia mengirim serangan, pukulan yang dahsyat dilayangkannya ke arah punggung Raja Iblis itu!

"Desss....!!

Tubuh tosu itu terhuyung ke belakang dan dia memandang terbelalak kepada anak berusia sepuluh tahun yang tiba-tiba menangkis pukulannya tadi dan membuatnya terhuyung!

Hampir saja dia tidak dapat percaya kalau tidak mengalaminya sendiri.

Dia adalah seorang yang memiliki sin-kang kuat, dan ketika anak kecil tadi menangkis, dia merasa adanya hawa sakti yang amat kuat menolaknya.

Dia terhuyung dan anak itu hanya mundur dua langkah, tanda bahwa dia kalah kuat!

Tentu saja dia menjadi penasaran dan marah, dan menduga bahwa tentu anak ini murid Hek-i Mo-ong.

Tidak terlalu mengherankan kalau Raja Iblis itu memiliki murid kecil yang sudah begini lihai, dan sebelum membunuh iblis itu dia harus lebih dulu menyingkirkan anak ini.

Akan tetapi, bagaimanapun juga, di depan banyak orang dia masih merasa malu untuk mempergunakan pedangnya.

Maka tanpa banyak cakap, dia lalu menerjang maju dan menyerang Ceng Liong.

Ceng Liong mengelak, menangkis dan membalas, dan dia mainkan Iimu Silat Sin-coa-kun yang pada waktu itu merupakan satu-satunya ilmu silat dari keluarganya yang sudah agak matang dilatihnya.

Maka, untuk berkali-kali, tosu itu terheran-heran karena serangannya luput dan tertangkis, bahkan anak itu dapat mengirim serangkain balasan yang cukup cepat.

Bagaimanapun juga, Ceng Liong hanya seorang anak kecil berusia sepuluh tahun.

Gerakannya belum mantap, lengannya masih terlalu pendek dan biarpun dia mudah mewarisi tenaga sakti kakeknya, namun dia belum menguasainya benar-benar sehingga belum dapat mempergunakan sumber tenaga itu dengan baik.

Maka, belasan jurus kemudian, dia mulai dihajar tunggang-langgang oleh tamparan, pukulan dan tendangan tosu itu.

"Plakkk!! Keras sekali pukulan sekali ini yang mengenai dada Ceng Liong, membuat tubuhnya terjengkang dan terbanting keras. Akan tetapi, bulu tengkuk tosu itu meremang ketika dia melihat anak itu meloncat bangun kembali. Padahal pukulannya tadi amat keras dan akan dapat mencabut nyawa seorang lawan yang cukup tangguh! Akan tetapi, Ceng Liong merasa agak pening dan tahulah anak ini bahwa keadaan gurunya terancam bahaya. Kalau orang-orang lain yang kini sudah berdiri mengepung tempat itu turun tangan, tak mungkin dia dapat melindungi gurunya.

"Mo-ong, sadarlah, bantulah! Sadarlah kalau engkau tidak ingin mati!! Ceng Liong mulai berteriak-teriak menyadarkan gurunya. Teriakannya itu tentu saja membuat si tosu dan orang-orang lain merasa terheran-heran. Tosu itupun meragu mendengar seruan anak itu. Tidak mungkin murid si raja iblis kalau menyebut kakek itu Mo-ong begitu saja. Bagaimanapun juga, dia khawatir kalau-kalau Raja Iblis itu sadar dan tentu tidak akan mudah menyerangnya maka dengan gemas tosu inipun melakukan serangan dahsyat sekali.

"Bresss....!! Tubuh Ceng Liong kini terlempar sampai empat meter lebih terkena tendangan kilat tosu itu. Tubuhnya terbanting keras dan sebelum anak itu sempat bangkit, tosu tadi telah tiba di depannya dan dengan ganas tosu itu mengirim pukulan ke arah kepala Ceng Liong! Anak itu maklum akan datangnya bahaya maut, maka diapun teringat akan ilmu yang baru saja dilatihnya, yaitu Coan-kut-ci, maka dia mengangkat tangan kanannya menyambut pukulan itu dengan cengkeraman tangannya.

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 9

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 11

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert