Ceritasilat Novel Online

Kisah Para Pendekar Pulau Es 4

Eps 4 Kisah Para Pendekar Pulau Es - Kho Ping Hoo

Baca online Kisah Para Pendekar Pulau Es - Kho Ping Hoo

Cersil Kisah Para Pendekar Pulau Es - Kho Ping Hoo.

"Crottt....! Aughhh....!! Tosu itu terkejut bukan main. Karena dia kuat, maka jari-jari tangan Ceng Liong tidak sampai melubangi tulang lengannya, akan tetapi kulitnya robek dan dagingnya terluka sedikit mengeluarkan darah. Bukan main marahnya dan diapun mencabut pedangnya. Akan tetapi pada saat itu nampak sinar berkelebat dan sebuah tengkorak menyambar ke arah kepalanya dengan kecepatan dahsyat dan mendatangkan angin menyambar kuat.

"Trakkk....!!

Tosu itu mengggerakkan pedangnya menangkis.

Dia berhasil menangkap tengkorak itu yang runtuh ke atas tanah, akan tetapi dia sendiripun hampir saja terjengkang saking kerasnya tenaga sambitan tadi ketika bertemu dengan tangkisannya.

Diapun terkejut dan memandang ke arah Hek-i Mo-ong yang ternyata kini telah berdiri di atas tumpukan tengkorak dengan kaki di bawah dan tadi dia mengunakan kakinya untuk menendang sebuah tengkorak yang melayang ke arah tosu itu.

Akan tetapi, Hek-i Mo-ong tidak memperhatikan tosu itu, melainkan memandang kepada beberapa orang yang memimpin pengepungan itu dan berdiri menghadapinya.

Sementara itu, Ceng Liong juga sudah menghampiri gurunya dan berdiri di dekat tumpukan tengkorak.

"Huh, bukankah Thong-ciangkun yang datang ini?

Dan juga bersama Thai Hong Lama dari Tibet, Pek-bin Tok-ong dari Go-bi dan agaknya tokoh-tokoh penting lainnya yang belum kukenal.

Hemm....

hemm....

tokoh-tokoh besar berkumpul di sini dan mendatangi aku secara begini, ada keperluan apakah?!

Hek-i Mo-ong menatap wajah mereka satu demi satu dan diam-diam diapun terkejut karena banyak di antara mereka itu adalah orang-orang yang berilmu tinggi.

Mau apa begini banyak orang sakti yang dia tahu adalah dari golongan sesat berkumpul?

Kalau mereka ini terdiri dari para pendekar, tentu dia akan merasa khawatir karena kedatangan mereka tentu akan memusuhinya.

Akan tetapi mereka ini jelas datang dari golongan hitam bercampur dengan orang-orang yang menduduki jabatan penting seperti Thong-ciangkun, maka hatinya pun tenang.

"Hek-i Mo-ong, aku datang sebagai utusan pribadi yang rahasia dari Gubernur Yong untuk mengundang para tokoh ini menghadap ke gedung beliau.

Dan engkau termasuk seorang di antara para undangan itu untuk membicarakan urusan penting sekali.

Maka dengan resmi aku atas nama Gubernur Yong mengundangmu, Hek-i Mo-ong, agar ikut bersama kami ke gedung gubernur.!

"Hemm, mana bisa begitu?

Kalau ada urusan, katakanlah sekarang dan di sini.

Tak mungkin aku pergi menghadiri suatu undangan tanpa kuketahui urusannya, biar yang mengundang itu gubernur sekalipun!!

Thong-ciangkun, perwira tinggi yang menjadi pembantu gubernur dan panglima pasukan di wilayah barat ini adalah seorang perwira yang usianya sudah enam puluh tahun dan sudah lama dia mengenal Hek-i Mo-ong.

Dahulu sebagai ketua Hek-i-mo-pang, Raja Iblis ini memang sudah memiliki pengaruh yang besar di kalangan pembesar, bahkan ada hubungan baik antara dia dan Gubernur Yong, maka kini perwira itu maklum bahwa menghadapi seorang seperti Hek-i Mo-ong ini dia harus berhati-hati.

Sambil tersenyum dia lalu berkata.

"Hek-i Mo-ong, saudara-saudara ini datang dari Go-bi-san, dari Tibet, dari Nepal dan dari Mongol.

Mereka ini adalah sahabat-sahabat atau sekutu dari Yong-taijin.

Maka engkau diundang untuk meramaikan dan memperkuat persekutuan ini agar kelak dapat memperoleh kemuliaan bersama.!

Diam-diam Hek-i Mo-ong terkejut, akan tetapi juga girang.

Memang sudah menjadi niatnya untuk menentang kekuasaan Kaisar Kian Liong dan dia tahu bahwa kalau dia tidak mempunyai sekutu yang kuat, niat itu tidak akan mungkin berhasil.

Baru menyerbu Pulau Es saja, biarpun dia sudah mengajak empat orang datuk lain yang lihai, dia telah kehilangan kawan-kawannya itu, yang tiga orang tewas yang seorang lagi entah lari ke mana!

Kini terbukalah kesempatan baginya dan tentu saja dia tidak mau melewatkannya begitu saja.

Akan tetapi, dia adalah Hek-i Mo-ong dan di dalam persekutuan itu, dia harus dapat menjadi yang nomor satu atau setidaknya, menjadi pembantu gubernur yang paling berpengaruh dan lihai.

Maka, dia harus pula memperlihatkan kelihaiannya di depan semua orang ini.

Dia tersenyum kepada Thong-ciangkun.

"Baik, aku akan ikut menghadap.

Akan tetapi ada satu syarat yang harus dipenuhi, yaitu aku akan membuat perhitungan dengan tosu bau itu.

Sebelum itu, aku tidak akan mau pergi.!

Dia menudingkan telunjukya ke arah tosu yang tadi menyerangnya dan berkelahi dengan Ceng Liong.

Tosu itu berdiri dengan muka pucat, akan tetapi sepasang matanya berapi-api penuh kebencian.

Thong-ciangkun memandang ke arah tosu itu dan alisnya berkerut.

Tosu itu adalah Yang I Cinjin, seorang tosu perantau pertapa di daerah Pegunungan Himalaya, bukan dari golongan kaum sesat akan tetapi memiliki ambisi besar untuk membantu dan kelak memperoleh kedudukan tinggi yang mulia.

Karena kepandaiannya tinggi maka Gubernur Yong menghubunginya dan ingin menarik tenaganya untuk membantu, di samping pengetahuannya yang luas menguasai daerah Himalaya dari sekitar Tibet.

"Sungguh kami tidak tahu bahwa antara Yang I Cinjin dan engkau ada suatu urusan, Hek-i Mo-ong. Cinjin, mengapa engkau tadi menyerang Hek-i Mo-ong dan anak itu?! "Iblis ini pernah membunuh guru dan suheng pinto, dan memaksa isteri suheng menjadi selirnya. Maka, apapun akibatnya, hari ini pinto harus menebus hutang itu!! kata Yang I Cinjin. Mendengar keterangan itu, mengertilah Thong-ciangkun bahwa dia tidak dapat turun tangan melerai atau mendamaikan. Permusuhan itu agaknya terlampau mendalam sehingga satu-satunya yang dapat mengakhiri hanyalah adu nyawa! Maka diapun melangkah mundur dan berkata.

"Kami mempunyai urusan penting, tidak akan mencampuri segala urusan pribadi.! Mendengar ucapan ini, para tokoh lainnya juga melangkah mundur dan hanya menonton dari jauh. Bagaimanapun juga demi untuk suksesnya persekutuan mereka, tentu saja mereka berpihak kepada orang yang lebih kuat, yang tentu akan merupakan tenaga yang lebih berharga bagi persekutuan mereka. Hek-i Mo-ong menghampiri tosu yang untukanya pucat itu.

"Ha ha, kiranya engkau adalah sute dari Yang Heng Cinjin dan murid dari Thian-teng Losu. Tidak ada perlunya menerangkan sebab-sebab urusan lama. Kalau engkau hendak menggali urusan lama dan membalas, majulah!! Yang I Cinjin mencabut pedangnya dan nampak sinar berkelebat. Jelas dapat diduga bahwa pedangnya itu tentu sebatang pedang pusaka yang ampuh. Akan tetapi, Hek-i Mo-ong tertawa mengejek dan menoleh kepada Ceng Liong yang juga melangkah mundur dan menonton dengan jantung berdebar tegang dan gembira melihat gurunya akan bertanding dengan tosu yang sudah diketahui kelihaiannya itu.

"Heh, Ceng Liong, Coan-kut-ci yang kaumainkan tadi sudah baik akan tetapi kurang kuat.

Kau lihat baik-baik bagaimana harus mainkan Coan-kut-ci dan mengalahkan tosu bau ini!!

"Iblis busuk lihat pedang!!

Tiba-tiba tosu itu membentak dan pedangnya diputar sedemikian cepatnya sehingga lenyaplah bentuk pedangnya, berobah menjadi sinar bergulung-gulung.

Semua orang memandang kagum.

Memang tosu ini adalah seorang ahli pedang yang kenamaan dan kalau tadi dia tidak menggunakan pedang adalah karena sebagai seorang ahli pedang dia enggan menghadapi seorang bocah berusia sepuluh tahun dengan senjata yang ampuh itu.

Akan tetapi sekali ini, ahli pedang itu berhadapan dengan Hek-i Mo-ong, seorang datuk kaum sesat yang memiliki kepandaian amat tinggi.

Sebelum menghadapi pedang lawan, Hek-i Mo-ong menggulung kedua lengan bajunya dan kini dengan kedua lengan telanjang dia menandingi pedang lawan.

Hek-i Mo-ong menangkis, mengelak dan mempermainkan.

Terdengar bunyi tak-tok-tak-tok ketika kedua lengan itu menangkis pedang dan setiap kali menangkis dan pedang bertemu dengan lengan telanjang, tosu itu merasa betapa tangannya tergetar hebat dan hanya dengan pengerahan tenaga sajalah dia masih berhasil mempertahankan pedangnya sehingga tidak terlepas dari pegangannya.

Setelah membiarkan lawan menghunjamkan serangan sampai tiga puluh jurus tanpa dibalasnya, seolah-olah memperlihatkan kepada semua yang menonton bahwa serangan-serangan itu sama sekali tidak ada artinya baginya, dan menyatakan pula bahwa dia sudah banyak memberi "hati!

dan kelonggaran kepada lawan, juga untuk mendemonstrasikan keunggulan dan kepandaiannya, tiba-tiba kakek itu berseru.

"Ceng Liong, lihat Coan-kut-ci ini!! Maka mulailah kakek ini mengerahkan tenaga dan kedua tangannya membentuk cakar, persis seperti ketika Ceng Liong berlatih tadi.

"Haaaiiiiittt.... ah....!! Tangan kirinya bergerak mencengkeram ke depan, ke arah pedang yang menusuk lambungnya. Lengan itu meluncur ke depan dan ketika tangannya yang membentuk cakar itu bertemu pedang, pergelangan tangannya bergoyang kuat, tangannya mencengkeram dibarengi bentakan "ahh!! tadi.

"Krekkk!! Ujung pedang itu kena dicengkeram dan patah! "Haaiiiiittt, ahh!! Tangan kanan menyambar ke depan, sebelum dapat dihindarkan oleh tosu yang terkejut setengah mati melihat betapa pedang pusakanya dicengkeram patah itu, tangan kanannya sudah mencengkeram pergelangan tangan kanan lawan yang memegang pedang.

"Krakkk....!! Tosu itu mengeluh dan ketika dia meloncat ke belakang, lengan kanannya terkulai karena tulang lengan itu sudah patah dan remuk, hanya tinggal kulit saja yang menahan sehingga lengan itu tidak buntung. Pedangnya terlepas dan jatuh ke atas tanah. Kini tubuh Hek-i Mo-ong bergerak ke depan, mulutnya melengking.

"Haiiiiitttt, ah!! Dan cengkeraman tangan kiriya menyambar ganas ke arah perut. Tosu itu maklum akan hebatnya cengkeraman tangan yang mengandung hawa mujijat Coan-kut-ci itu, cepat mengelak ke samping. Cengkeraman itu luput, akan tetapi ternyata cengkeraman itu hanya merupakan pancingan karena kini cengkeraman tangan kanan sudah menyambar ke arah kepala lawan.

"Haiiiiittt! Ahhh!! Dan cengkeraman tangan kanan itu menyambar dahsyat, tak dapat dielakkan lagi.

"Crotttt....!!

Lima jari tangan kanan Hek-i Mo-ong amblas ke dalam kepala tosu itu.

Tosu itu membalik, mulutnya terbuka dan mengeluarkan pekik aneh dan ketika Hek-i Mo-ong mencabut jari-jari tangannya, tubuh tosu itu mengejang lalu terkulai, jatuh terguling ke atas tanah.

Terdapat lima lubang di kepalanya dari mana mengucur darah bercampur otak dan tosu itu tewas seketika.

Semua orang yang menyaksikan perkelahian itu bergidik ngeri.

Bukan oleh pembunuhan itu karena mereka semua adalah orang-orang yang sudah biasa melihat perkelahian dan pembunuhan.

Akan tetapi mereka ngeri menyaksikan ilmu cengkeraman maut yang mengerikan itu.

Mereka yang mengenal betapa lihainya pedang dari Yang I Cinjin, lebih-lebih merasa kagum bukan main dan tahu bahwa Raja Iblis itu memiliki tingkat kepandaian yang amat tinggi.

Tentu saja, orang-orang seperti Thai Hong Lama, Pek-bin Tok-ong dan beberapa orang lagi dalam rombongan itu tidak menjadi heran.

Bahkan Pek-bin Tok-ong tertawa sambil mengacungkan ibu jarinya.

"Ha-ha-ha, bukan main hebatnya Coan-kut-ci itu, Mo-ong. Engkau semakin tua menjadi semakin lihai saja!! "Omitohud!! kata Thai Hong Lama sambil merangkap jari-jari tangannya di depan dada seperti orang bersujud.

"Coan-kut-ci itu memang ilmu yang hebat!! Hek-i Mo-ong tertawa.

"Hah, pujian kalian itu kosong belaka, untuk menutupi kalian mentertawakan pukulanku tadi. Mana bisa dibandingkan dengan Hun-kin Coh-kut-ciang (Tangan Pemutus Otot dan Pelepas Tulang) dari Pek-bin Tok-ong dan ilmu pukulan Cui-beng Sin-ciang (Tangan Sakti Pengejar Arwah) dari Thai Hong Lama?! "Heh-heh, itu masih harus dibuktikan, masih harus dibuktikan!! kata Pek-bin Tok-ong sambil terkekeh.

"Omitohud, mana yang lebih hebat, sukar untuk dapat dikatakan!! kata pula Thai Hong Lama dan ucapan itupun mengandung arti bahwa dia tidak atau belum menerima kalah. Thong-ciangkun lalu melangkah maju dan menjura.

"Hek-i Mo-ong, setelah utusan pribadi selesai, kami mengundang dengan resmi untuk bersama kami berkunjung ke tempat pertemun. Bagaimana, dapatkah undangan kami terima?! Hek-i Mo-ong mengangguk-angguk.

"Baik, akan tetapi aku harus datang berdua dengan muridku ini. Bukankah begitu, Ceng Liong muridku?! Ceng Liong mengangguk. Dia merasa bangga akan kemampuan gurunya yang demikian mudah dan dia merasa kagum akan kelihaian gurunya.

"Memang harus begitu, Mo-ong. Aku tidak sudi ditinggal di sini sendirian saja!! Tentu saja semua orang merasa heran sekali mendengar ucapan bocah itu terhadap gurunya, demikian kasar tanpa hormat, bahkan menyebut gurunya Mo-ong begitu saja.

"Kalau begitu, marilah kita berangkat!! kata pula Thong"ciangkun. Hek-i Mo-ong mengangguk dan menyuruh Ceng Liong berkemas membawa pakaian. Pada saat itu terdengar teriakan dan tangis orang. Kiranya seorang pemuda tanggung yang usianya tidak akan lebih dari tiga belas tahun telah berlutut dan menangisi mayat Yang I Cinjin, kemudian memondong mayat itu dan pergi dari situ. Sebelum pergi dia menoleh dan memandang kepada Hek-i Mo-ong dan Ceng Liong. Peristiwa ini mengejutkan semua orang dan seorang di antara mereka yang berada di situ berkata.

"Itu adalah muridnya....! Mendengar ini, Hek-i Mo-ong tertawa bergelak.

"Hei, anak tikus, lihat dan ingat baik-baik muka Hek-i Mo-ong dan Ceng Liong muridku ini.

Aku tidak akan membunuhmu, memberi waktu dan kesempatan kepadamu untuk kelak datang mencari aku atau muridku ini, ha-ha-ha!!

Di dalam hatinya, Ceng Liong sungguh tidak setuju dengan sikap gurunya itu, akan tetapi karena ucapan itu sudah terlanjur dikeluarkan, diapun hanya memandang kepada anak itu dengan penuh perhatian agar dia tidak akan mudah melupakannya kelak.

Dia melihat sebuah tahi lalat hitam di ujung bawah telinga kiri anak itu dan ini menjadi tanda yang takkan pernah dilupakan oleh ingatan Ceng Liong yang tajam.

Setelah menatap wajah Hek-i Mo-ong dan Ceng Liong, anak itu sambil menangis melanjutkan perjalanan memondong jenazah gurunya dan pergi dari tempat itu.

Bagaimanapun juga, peristiwa ini membuat Thong-ciangkun merasa tidak enak dan diapun cepat merobah suasana dengan memperkenalkan tokoh-tokoh yang lain kepada Hek-i Mo-ong.

"Karena akan menjadi rekan seperjuangan, maka kami ingin memperkenalkan sahabat-sahabat ini kepadamu, Mo-ong. Ini adalah saudara Siwananda, dialah wakil koksu (guru negara) Kerajaan Nepal yang baru dan yang telah memperoleh kekuasaan mutlak dari Raja Nepal untuk menghadap Yong-taijin.! "Hemm, Koksu Nepal? Aku pernah mengenal Sam-ok Bun Hwa Sengjin....! kata Hek-i Mo-ong.

"Saudara Lakshapadma?

Dia memang pernah menjadi Koksu Nepal, akan tetapi karena mengalami kegagalan tidak berani pulang ke Nepal.

Kami pernah mendengar bahwa dia bekerja sama denganmu sampai menemui kematiannya di tangan Jenderal Muda Kao Cin Liong.!

Hek-i Mo-ong mengangguk-angguk.

Kiranya orang-orang Nepal ini telah mendengar segalanya dan dia percaya bahwa tentu orang inipun lihai seperti juga Sam-ok Ban Hwa Sengjin dahulu.

Seperti diceritakan dalam kisah Suling Emas dan Naga Siluman , Sam-ok Ban Hwa Sengjin adalah orang ke tiga dari Ngo-ok (Lima Jahat) dan pernah menjadi Koksu Nepal.

Akhirnya, ketika Sam-ok bersekutu dengan Hek-i Mo-ong dan bentrok dengan para pendekar muda, Sam-ok tewas di tangan Jenderal Muda Kao Cin Liong.

"Dan saudara ini adalah kepala Suku Tailu-cin dari Mongol.

Dia mewakili sukunya untuk berunding dengan Gubernur Yong.!

Hek-i Mo-ong dan orang Mongol bertubuh raksasa itu saling memberi hormat.

Kemudian mereka berangkat menuju ke kota Li-tan yang letaknya di dekat perbatasan antara Tibet, Ching-hai dan Propinsi Uighur yang kemudian menjadi daerah yang disebut Sin-kiang (Daerah baru).

Pasukan pengawal Thong-ciangkun mengiringkan mereka sehingga mereka itu dianggap sebagai tamu-tamu pemerintah dan tidak menimbulkan kecurigaan pada rakyat.

Di dalam sebuah gedung di kota Li-tan ini telah menanti Guberur Yong.

Pembesar ini bernama Yong Ki Pok peranakan Uighur yang memperoleh kedudukannya melalui ketentaraan.

Karena Kaisar Kian Liong paling benci akan kecurangan para pembesar, maka pembersihan diadakan sampai ke daerah ini dan Gubernur Yong merasa tersinggung ketika menerima teguran dari para pejabat pemeriksa.

Maka, diam-diam gubernur ini lalu mengadakan hubungan dengan pihak-pihak lain yang menentang kekuasaan kaisar.

Apalagi ketika dia mendengar pergerakan pasukan Nepal yang melakukan penyerbuan ke Tibet, dianggapnya itulah kesempatan baik untuk bersekutu dengan pasukan asing agar kedudukanya menjadi lebih kuat.

Maka dia lalu mengutus Thong"ciangkun, orang kepercayaannya untuk menghubungi pihak-pihak itu dan pada hari ini diadakan pertemuan antara wakil-wakil semua pihak dan dengan Gubernur Yong sendiri.

Mereka sudah berkumpul di dalam ruangan itu, sebuah ruangan besar yang cukup mewah.

Meja besar diatur memanjang sehingga semua orang dapat duduk di sekelilingnya.

Agak lucu melihat Ceng Liong, anak berusia sepuluh tahun itu, duduk pula semeja dengan gubernur dan tokoh-tokoh kaum persilatan yang berilmu tinggi itu.

Lucu dan janggal.

Akan tetapi ini merupakan syarat kehadiran Hek-i Mo-ong, yang tidak mau berpisah dari muridnya.

Tak ada seorangpun di antara mereka itu pernah menduga seujung rambutpun bahwa bocah itu adalah cucu dalam dari Pendekar Super Sakti dari Pulau Es!

Entah apa akan menjadi reaksinya kalau hal ini mereka ketahui.

Hek-i Mo-ong sendiri duduk dengan tenang sambil memandang dan memperhatikan orang-orang yang duduk semeja dengannya itu.

Dengan sinar matanya yang tajam, Hek-i Mo-ong memperhatikan tokoh-tokoh yang hadir dan sinar matanya seperti menilai dan mengukur kelihaian mereka itu.

Yang hadir di tempat itu memang merupakan tokoh-tokoh yang amat lihai.

Panglima Thong Su adalah tangan kanan Gubernur Yong dan panglima yang usianya sudah enam puluh tahun ini, yang tubuhnya tegap dan terlatih, adalah seorang ahli perang yang berpengalaman.

Biarpun ilmu silat atau kekuatan pribadinya tidaklah demikian hehat, namun dalam gerakan perang, orang seperti dia amat diperlukan untuk memimpin pasukan dan mengatur siasat pertempuran.

Thai Hong Lama, pendeta dari Tibet yang kepalanya gundul dan jubahnya merah itu nampak menyeramkan.

Tubuhnya tinggi besar dan nampak kokoh kuat, sepasang telinganya lebar sekali dan tangan kirinya memutar-mutar biji tasbeh dengan sikap alim seperti sepatutnya menjadi sikap seorang pendeta.

Sebatang suling terselip di pinggang, tertutup jubah.

Akan tetapi, di balik sikap alim ini tersembunyi ambisi yang amat besar.

Pada waktu itu, Tibet termasuk wilayah yang tunduk kepada pemerintah Ceng yang dikendalikan oleh Kaisar Kian Liong dan sebagai kepala-kepala daerah, ditunjuklah beberapa orang pembesar yang bekerja sama dengan para pendeta Lama yang berpengaruh.

Thai Hong Lama tidak kebagian tempat karena pendeta ini, biarpun memiliki kepandaian tinggi, telah dicap sebagai seorang penyeleweng ketika beberapa tahun yang lalu dia tertangkap basah memperkosa seorang wanita di kuilnya.

Maka, diam-diam dia merasa sakit hati dan bercita-cita untuk menggulingkan mereka yang berkuasa di Tibet dan agar dia dapat terangkat menjadi orang nomor satu yang paling berkuasa di daerah itu.

Ilmu silatnya tinggi dan sin-kangnya sudah sedemikian kuatnya sehingga dengan tenaga khi-kang kalau dia meniup sulingnya, dia dapat menyerang lawan dengan suara suling itu!

Juga tasbeh yang selalu dipermainkan oleh jari-jari tangan kirinya seperti orang bersembahyang membaca mantera setiap saat itu sesungguhnya merupakan senjata yang ampuh.

Kemudian Hek-i Mo-ong memperhatikan Pek-bin Tok"ong.

Dia sudah tahu akan kelihatan orang ini.

Pek-bin Tok-ong (Raja Racun Muka Putih) adalah seorang kakek berusia enam puluh lima tahun, seorang tokoh Pegunungan Go-bi-san yang luas itu.

Dia berpakaian pertapa, serba putih dan longgar, rambunya putih panjang dan kadang-kadang dibiarkan terurai, kadang-kadang digelung ke atas secara sembarangan saja.

Tubuhnya kurus tinggi dan mukanya putih seperti kapur, karena muka yang putih itulah maka dia dijuluki Raja Racun Muka Putih.

Dari julukannya saja orang sudah dapat menduga bahwa tokoh ini adalah seorang ahli yang lihai sekali dalam hal racun.

Akan tetapi, bukan dalam urusan mengenai racun saja dia lihai, juga ilmu silatnya amat tinggi dan lebih berhahaya lagi adalah ilmu-ilmunya yang semua dilatih dengan hawa beracun sehingga pukulannya bukan saja kuat, melainkan juga mengandung racun mengerikan.

Satu di antara ilmu-ilmunya yang amat hebat, seperti yang disebut oleh Hek-i Mo-ong tadi, adalah ilmu pukulan Hun-kin Coh-kut-ciang (Tangan Memutuskan Otot Melepaskan Tulang).

Orang lain yang diperhatikan oleh Hek-i Mo-ong adalah Siwananda dan Tailucin.

Siwananda berusia enam puluh tahun lebih, seorang Gorkha yang berkulit kehitaman, tinggi besar dan tubuhnya berbulu, mukanya brewok dan rambut kepalanya yang masih hitam itu dibalut kain kuning.

Wakil Koksu Nepal ini juga amat lihai dan tenaganya dapat dilihat dari keadaan tubuhnya.

Walaupun dia kurus, namun nampak tinggi besar karena tulang-tulangnya memang besar dan kokoh kuat.

Dia bukan hanya pandai ilmu silat Nepal, akan tetapi juga ahli gulat dan pandai pula ilmu sihir.

Biarpun tubuh Thai Hong Lama dan Siwananda dari Nepal itu termasuk tinggi besar, akan tetapi mereka itu nampak sedang-sedang saja kalau dibandingkan dengan Tailucin, tokoh Mong ol itu.

Tailucin ini, yang mengaku sebagai keturunan Jenghis Khan, itu Raja Mong ol yang amat termasyhur, bertubuh raksasa.

Diapun lihai sekali dan bertenaga gajah.

Juga dia pandai berlari sangat cepat seperti larinya kuda dan juga amat pandai menunggang kuda, bahkan pandai menjinakkan kuda-kuda liar.

Tentu saja di samping itu semua, dia ahli pula dengan ilmu silat dan gulat Mong ol.

Seperti diketahui, Bangsa Mong ol pernah menjajah daratan Tiong kok dan mendirikan Dinasti Goan-tiauw, mengoper sebagian besar kebudayaan Tiong kok, termasuk ilmu silatnya.

Maka raksasa Mong ol inipun tidak asing dengan ilmu silat yang telah dipelajarinya semenjak dia masih kecil.

Kalau senjata dari Siwananda berupa sebatang tong kat pikulan yang berat, maka senjata Tailucin ini lebih dahsyat lagi, yaitu sebuah tong kat penggada yang besar dan lebih berat, terbuat dari pada kayu dari batang semacam pohon yang dinamakan pohon besi.

Hek-i Mo-ong sudah pernah mendengar banyak mengenai kelihaian Thai Hong Lama dari Tibet dan Pek-bin Tok-ong dari Go-bi, akan tetapi dia belum pernah mendengar tentang Siwananda dan Tailucin, maka diapun hanya dapat menduga-duga saja sampai di mana kehebatan kedua orang ini.

"Kami merasa gembira sekali melihat betapa lo-sicu (orang tua gagah) Hek-i Mo-ong suka memenuhi undangan kami dan dapat hadir dalam pertemuan ini. Kami harap saja bahwa kehadiran lo-sicu ini berarti bahwa lo-sicu telah sanggup untuk membantu kami, bukan?! Demikian antara lain Gubernur Yong berkata kepada Hek-i Mo-ong . Hek-i Mo-ong menatap wajah pembesar itu dengan berani dan tajam seperti hendak menjenguk isi hatinya, kemudian dengan suara lantang diapun menjawab.

"Taijin, terus terang saja tadinya saya sedikitpun juga tidak mempunyai niat atau minat untuk mencampuri urusan pergerakan dan pemberontakan terhadap pemerintah.

Resiko dan bahayanya terlampau besar menentang pemerintah yang amat kuat.

Akan tetapi, karena saya sejak dahulu tidak suka kepada Kaisar Kian Liong dan melihat adanya sahabat-sahabat dari Tibet, Nepal, dan Mongol yang bekerja sama, saya sanggup membantu, akan tetapi hanya dengan satu syarat....!

Hek-i Mo-ong menghentikan kata-katanya dan menatap wajah mereka yang hadir satu demi satu, seolah-olah hendak melihat apakah ada yang menentang atau merasa tidak setuju dengan ucapannya itu.

Akan tetapi semua orang hanya mendengarkan tanpa reaksi pada wajah mereka, hanya Gubernur Yong mengerutkan alisnya karena pembesar ini diam-diam mengkhawatirkan bahwa syarat yang diajukan oleh Raja Iblis ini akan terlampau memberatkan dirinya.

"Syarat apakah itu? Kalau memang pantas dan dapat dilaksanakan, apa salahnya? Harap lo-sicu suka memberitahu.! Gubernur Yong yang pandai mempergunakan tenaga orang-orang kuat ini berkata dengan nada suara ramah.

"Taijin, sudah menjadi watakku bahwa satu kali saya bekerja, saya akan melakukannya dengan pencurahan seluruh tenaga dan pikiran, dan akan saya bela sampai mati.

Oleh karena itu, tanpa imbalan yang pantas, tentu saja saya segan untuk melakukannya.

Imbalan atau syarat itu adalah bahwa taijin akan mengangkat saya menjadi penasihat utama dan kalau kelak taijin berhasil, saya diangkat menjadi koksu.!

Semua orang terkejut mendengar ini.

Jabatan koksu adalah jabatan yang amat tinggi dalam sebuah pemerintahan karena koksu memiliki kekuasaan yang amat besar, hanya di bawah kekuasaan raja.

Bahkan sang raja akan selalu bertindak setelah memperoleh nasihat dan persetujuan dari koksu.

Akan tetapi, Gubernur Yong tertawa gembira.

"Ah, tanpa syarat itupun kami akan merasa berterima kasih dan bergembira sekali kalau lo-sicu suka menjadi pembantu dan penasihat utama kami. Tentu saja syarat itu kami terima dengan segala senang hati!! Tiba-tiba Thong-ciangkun, panglima yang sudah belasan tahun mengabdi kepada gubernur itu dan menjadi kepercayan utama, berdehem lalu berkata dengan lembut dan sopan.

"Harap taijin dan cu-wi yang hadir suka memaafkan saya.

Terutama sekali harap Mo-ong suka memaafkan karena sesungguhnya saya bukan bermaksud menentang, melainkan sudah menjadi kewajiban saya untuk mengingatkan Yong -taijin yang menjadi atasan saya.

Begini, taijin.

Jabatan calon koksu adalah jabatan yang amat penting sekali.

Seorang koksu bukan saja harus pandai mengatur siasat dan menasihati atasannya, akan tetapi juga harus memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, lebih tinggi daripada kepandaian orang-orang lain yang membantu taijin.

Oleh karena itu saya kira sudah amat tepat kalau kita semua melihat sampai di mana kehebatan ilmu kepandaian Mo-ong agar kita semua dapat menilai apakah memang dia sudah cukup pantas untuk menjadi seorang calon koksu.!

Wajah Hek-i Mo-ong berobah merah ketika dia menatap tajam kepada panglima itu.

"Hemm...., Thong-ciangkun, agaknya engkau sendiri juga menginginkan kedudukan calon koksu? Kalau begitu, majulah dan mari kita memperebutkan kedudukan itu!! berkata demikian, Hek-i Mo-ong sudah bangun dari tempat duduknya. Thong Su juga bangkit lalu menjura kepada Hek-i Mo-ong sambil tersenyum.

"Ah, satu di antara syarat menjadi koksu haruslah dapat menahan kesabaran hati, Mo-ong. Bukan sekali-kali aku bermaksud memperebutkan kedudukan koksu. Aku seorang perajurit, seorang perwira, sama sekali tidak pandai bersiasat, kecuali siasat perang. Dalam hal perang, tentu saja aku berani melawanmu, akan tetapi dalam hal ilmu silat, sedikitpun aku tidak akan menandingimu.! Hek-i Mo-ong tersenyum "Kalau engkau tidak ingin menjadi koksu, mengapa engkau mengusulkan agar aku diuji? Nah, kalau engkau hendak menguji, majulah!! Kembali Thong Su mengangkat kedua tangan memberi hormat.

"Jangan salah sangka, Mo-ong. Bukan sekali-kali aku hendak mengujimu, dan bukan sekali-kali aku tidak percaya akan kepandaianmu. Akan tetapi, tanpa memperlihatkan kepandaian, kedudukan jabatan penting itu berarti kau peroleh terlalu mudah dan tidak mengesankan. Karena itu, engkau harus memperlihatkan kepandaianmu di depan gubernur.! "Dengan cara bagaimana? Siapa yang akan mengujiku?! tanya Hek-i Mo-ong dengan sikap takabur karena tokoh ini memang sudah biasa memandang rendah semua orang dan mengangkat diri sendiri di tempat tertinggi.

"Aku sendiri tidak begitu pandai ilmu silat, akan tetapi di sini hadir ahli-ahli yang pandai, yaitu Thai Hong Lama, Pek-bin Tok-ong, saudara Siwananda dan saudara Tailucin. Sebagai para pembantu dan sekutu dari taijin, maka saya kira mereka berempat tidak keberatan untuk membantu taijin menguji kelihaian orang yang pantas menjadi calon koksu. Kelirukah pendapat hamba ini, taijin?! Gubernur Yong tersenyum lebar dan mengangguk-angguk.

"Sungguh bagus sekali usul itu! Memang sudah lama aku mendengar akan kelihaian cu-wi lo-sicu yang terhormat. Dan sekarang, setelah kita memperoleh kesempatan berkumpul, agaknya sayang kalau aku menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menyaksikan dengan mata sendiri kehebatan para pembantu dan sekutuku. Tentu saja kalau cu-wi tidak berkeberatan.! Hek-i Mo-ong segera menjawab.

"Saya tidak berkeberatan, kalau saja keempat orang saudara yang gagah ini melakukan ujian terhadap diri saya.! Ucapan ini setengah merupakan tantangan kepada empat orang yang hadir itu! Pek-bin Tok-ong adalah tokoh dunia persilatan yang sepeti kebanyakan para tokoh kang-ouw selalu "haus! akan ilmu silat dan mempunyai kesukaan mengadu ilmu untuk menguji kepandaian masing-masing. Kini mendengar usul Thong-ciangkun yang sudah disetujui oleh gubernur dia menjadi gembira sekali.

"Kalau hanya merupakan ujian kepandaian, apa salahnya? Pibu untuk menguji seseorang merupakan hal yang biasa saja dan saya sungguh merasa setuju sekali!! Tokoh ini baru saja merampungkan ilmunya Hun-kin Coh-kut-ciang yang dahsyat, maka diam-diam diapun ingin sekali mengadu ilmunya dengan Ilmu Tok-hwe-ji yang dikuasai Hek-i Mo-ong! Tailucin mengerutkan alisnya. Dengan bahasanya yang kaku dan asing diapun berseru.

"Akan tetapi, saya sama sekali tidak mengenal ujian kepandaian berkelahi yang tidak akan mendatangkan cedera, bahkan mungkin kematian kepada seseorang.

Kalau sekali saya maju memperlihatkan kepandaian, maka akibatnya hanya dua, yaitu saya menang atau kalah.

Kalau memang, tentu pihak lawan cedera atau mati dan demikian sebaliknya kalau saya kalah, saya cedera atau mati.

Bukankah hal ini akan merugikan sekali bagi persekutuan kita?!

Siwananda hanya tersenyum saja.

Dia hanya akan menurut bagaimana keputusan teman-temannya yang hadir di situ.

Wakil Koksu Nepal ini adalah seorang cerdik dan tidak mau mengambil tindakan sembrono.

Dia tidak mau menyinggung hati seorang di antara mereka yang dianggap menjadi sekutunya, yang akan menguntungkan negaranya dalam pergerakan negaranya.

Thai Hong Lama masih memutar tasbehnya ketika dia berkata.

"Omitohud....!

Kekerasan tidak akan mengatasi persoalan!

Masalah ujian kepandaian ini dapat saja dilakukan tanpa kekerasan, yaitu dengan jalan menguji ketangkasan yang menjadi inti dari ilmu kepandaian silat.

Entah Hek-i Mo-ong setuju ataukah tidak dengan pendapat pinceng ini.!

"Ha-ha-ha!

Thai Hong Lama memang pandai.

Akan tetapi bagiku, diuji secara bagaimanapun juga aku tentu setuju saja, untuk memenuhi harapan Yong-taijin.

Nah, katakanlah, bagaimana usulmu itu, Lama?!

"Menggunakan sepasang sumpit untuk menjepit makanan, merupakan hal yang amat mudah dan seorang anak kecil sekalipun akan mampu melakukannya.

Akan tetapi, untuk melakukan hal itu, tenaga dalam tangan yang memegang sumpit haruslah seimbang dan tidak boleh terganggu, karena kalau terganggu, banyak bahayanya makanan yang dijepit sumpit akan terlepas.

Kalau Mo-ong mempertahankan makanan yang dijepit di antara dua batang sumpitnya agar jangan sampai terlepas ketika menghadapi serangan sampai sepuluh jurus dari kami masing-masing, maka dapat dianggap dia menang.

Akan tetapi, pinceng peringatkan kepada Mo-ong bahwa amatlah sukar mempertahankan makanan itu sampai sepuluh jurus serangan karena selain tenaganya harus dibagi, juga kalau dia terlalu mempertahankan makanan itu, tubuhnya terbuka dan dapat menjadi sasaran serangan.

Kalau makanan itu terlepas, dia kalah, juga kalau sampai ada serangan yang menyentuh sasaran di tubuhnya, dia dapat dianggap kalah.!

Hek-i Mo-ong yang menghadapi syarat berat ini, tidak menjadi khawatir malah tertawa bergelak.

"Bagus! Bagus! Usulmu itu baik dan cerdik sekali, Lama! Nah, aku sudah siap! Siapa yang bendak menguji lebih dulu? Ataukah kalian berempat hendak maju berbarengan?! tantangnya dan tangan kanannya yang memegang sepasang sumpit itu telah menjepit sepotong daging dari dalam panci masakan.

"Ah, tidak adil kalau maju berbareng. Seyogianya satu demi satu.! Tiba-tiba Thong-ciangkun berkata dan memang perwira ini cerdik sekali. Selain ingin menguji kemampuan Hek-i Mo-ong, juga ia tidak ingin membuat Raja Iblis itu tidak senang kepadanya karena usulnya tentang ujian tadi, maka kini dia cepat mencela kalau empat orang penguji itu maju semua.

"Dan pula, karena yang boleh menyerang hanya pihak penguji sedangkan Mo-ong sendiri hanya mempertahankan dan tidak boleh membalas, maka terlalu berat bagi yang mempertahankan kalau sampai sepuluh jurus. Lima juruspun sudah cukup baik kalau dia mampu mempertahankan diri.! Gubernur Yong sudah memiliki kepercayaan mutlak kepada pembantunya ini, maka biarpun dia tidak paham tentang ilmu silat, dia tahu bahwa tentu Thong-ciangkun mempunyai alasan kuat dengan pendapat-pendapatnya itu. Maka diapun mengangguk dan berkata.

"Benar sekali seperti yang dikatakan oleh Thong-ciangkun.

Harap maju satu demi satu dan menggunakan lima jurus saja!!

Karena meja di mana mereka duduk itu penuh hidangan, maka Thong-ciangkun lalu mengatur sebuah meja kecil dengan dua bangku berhadapan, terhalang meja.

Di atas meja itu hanya ditaruh semangkok masakan dan dua pasang sumpit.

Kini Hek-i Mo-ong sambil tersenyum-senyum memandang rendah, duduk di atas sebuah bangku dan memegang sepasang sumpit.

Orang-orang lain masih duduk di tempat masing-masing dan memandang dengan penuh perhatian.

Tailucin sudah bangkit dari tempat duduknya dan kini raksasa ini duduk di atas bangku, berhadapan dengan Hek-i Mo-ong terhalang meja.

Hek-i Mo-ong lalu menggunakan sumpitnya, menjumput sepotong daging, kemudian mengacungkan daging itu ke depan sambil berkata kepada Tailucin.

"Nah, saudara Tailucin, engkau coba rampas daging ini kalau mampu. Pergunakan sepasang sumpitmu itu!! Akan tetapi Tailucin hanya memandang ke arah sepasang sumpit yang menggeletak di depannya tanpa menyentuhnya, lalu menggeleng kepala.

"Biarpun banyak bangsaku sudah ikut-ikut makan dengan sumpit, akan tetapi aku sendiri lebih suka makan dengan menggunakan tangan. Oleh karena itu, bagaimana kalau aku mencoba merampas daging itu dari sumpitmu menggunakan tangan saja, Mo-ong?! Tentu saja kalau lawan menggunakan tangan, keadaan ini amat tidak menguntungkan bagi Hek-i Mo-ong. Akan tetapi karena tokoh ini memang angkuh dan memandang rendah lawan, diapun mengangguk.

"Boleh saja, akan tetapi, makan dengan tangan tanpa mencuci tangan lebih dulu, amatlah tidak sehat!! Ucapan ini sama saja dengan mengejek lawan yang memiliki kebiasaan makan tanpa sumpit! "Mo-ong, jaga seranganku!! Raksasa Mongol itu membentak tanpa memperdulikan ejekan orang dan tangan kanannya yang besar dan lebar itu terbuka jari-jarinya menyambar ke arah daging di ujung sumpit dengan cepat dan kuat sehingga mendatangkan angin keras.

"Wuuuutttt....!! Raksasa itu tercengang karena sumpit yang disambarnya itu tiba-tiba saja lenyap dan sambarannya hanya mengenai angin kosong belaka. Tak disangkanya bahwa lawan dapat bergerak sedemikian cepatnya. Tentu saja dia merasa penasaran dan dengan bentakan nyaring, kini kedua tangannya menyambar dari kanan kiri! "Ha-ha-ha, agaknya Tailucin biasa makan dengan kedua tangan!! Hek-i Mo-ong tertawa dan seperti tadi, dia cepat menggerakkan tangan kanannya, mengelak dari sambaran kedua tangan dari kanan kiri itu.

"Plakk!!

Kedua telapak tangan besar itu bertemu seperti bertepuk dan untuk kedua kalinya serangan itu gagal.

Wajah raksasa itu menjadi merah karena kembali terdengar Hek-i Mo-ong mentertawakannya.

Karena tadi dia mendengar bahwa usaha merampas daging itu boleh dilakukan dengan menyerang maka kini dia menggunakan lengannya yang panjang dan kuat itu untuk menonjok ke arah muka lawan sedangkan tangan kirinya menyusul dengan sambaran ke arah ujung sumpit.

Akan tetapi, dengan mudah saja Hek-i Mo-ong mengelak dari pukulan itu tanpa menarik tubuhnya dan juga tangan yang memegang sumpit itu mengelak tepat pada saat tangan kiri lawan menyambar dari kiri.

Melihat usahanya gagal lagi, si Raksasa Mongol sudah melanjutkan serangannya, kini mencengkeram dengan tangan kanan ke arah pundak Hek-i Mo-ong dan tangan kirinya menghantam ke arah lengan kanan yang memegang sumpit.

Hebat serangan yang keempat kalinya ini dan amat berbahaya bagi Hek-i Mo-ong.

Kalau dia hanya mengelak dari cengkeraman itu, tentu lengannya akan diancam bahaya pukulan yang seperti palu godam datangnya itu.

Akan tetapi, Raja Iblis ini dengan tenang saja menerima cengkeraman itu dengan pundaknya sambil menarik tangan yang memegang sumpit sehingga terhindar dari hantaman.

Ketika cengkeraman tiba, si raksasa Mongol sudah merasa girang karena cengkeramannya itu tentu akan membuat lengan kanan itu lumpuh dan sumpitnya akan terlepas!

Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika dia merasa betapa jari-jari tangan yang mencengkeram itu meleset seperti mencengkeram bola baja yang amat licin saja.

Hanya terdengar kain robek, yaitu baju Hek-i Mo-ong yang hitam itu di bagian pundaknya robek terkena cengkeraman yang amat kuat.

"Ha-ha, engkau sudah menyerang empat jurus, Tailucin!!

Hek-i Mo-ong memperingatkan sambil tertawa lagi.Tiba-tiba semua orang menahan napas karena tanpa menjawab, tahu-tahu kedua tangan orang Mongol itu telah berhasil menangkap lengan kanan Hek-i Mo"ong!

Ternyata raksasa Mongol itu mengeluarkan ilmu gulatnya dan dengan kecepatan kilat tahu-tahu kedua tangan dan jari-jari tangan yang panjang dan kuat berotot itu telah menangkap lengan Hek-i Mo"ong, mencengkeramnya dengan keras hendak memaksanya melepaskan sumpit!

Terjadilah adu tenaga yang amat menegangkan.

Buku-buku jari tangan raksasa Mongol itu berkerotokan dan otot-ototnya menggembung.

Akan tetapi, lengan Hek-i Mo-ong yang nampak kecil dibandingkan dengan lawannya itu, sama sekali tidak terguncang dan sepasang sumpit di tangannya itu masih tetap menjepit potongan daging, bahkan jari-jari tangan itu masih dapat mempermainkan sumpit itu sehingga bergerak ke sana-sini!

Selain itu, dari wajah Raja Iblis itu dapat dilihat bahwa dia sama sekali tidak merasa nyeri, seolah-olah himpitan dan cengkeraman jari-jari tangan yang amat kuat itu tidak terasa sama sekali olehnya!

Dan terjadilah keanehan ketika tiba-tiba raksasa Mongol itu melepaskan cengkeraman kedua tangannya, menggerak-gerakkan kedua tangan seperti orang kepanasan lalu dia bangkit dan menjura ke arah Hek-i Mo-ong sambil berkata.

"Aku terima kalah!! Lalu dia kembali ke tempat duduknya di meja besar. Ternyata kedua telapak tangannya itu nampak merah sekali seperti baru saja dekat dengan benda panas. Rakasa itu lalu mengambil arak dan membasahi kedua tangannya dengan arak! Dan memang sesungguhnya, tadi Hek-i Mo-ong memperlihatkan kepandaiannya dengan penyaluran tenaga sin-kang yang mengeluarkan hawa panas sehingga raksasa Mongol itu merasa seolah-olah telapak kedua tangannya dibakar maka terpaksa dia melepaskan cengkeramannya.

"Omitohud! Nama besar Hek-i Mo-ong ternyata bukanlah kosong belaka. Biarlah pinceng yang bodoh mencoba-coba.! Sambil berkata demikian, Thai Hong Lama lalu bangkit dan menghampiri meja kecil, duduk berhadapan dengan Hek-i Mo-ong, dan mengeluarkan suling dan tasbehnya.

"Maaf, Mo-ong, biarpun pinceng biasa makan dengan sumpit, akan tetapi tidak biasa mempergunakannya untuk menguji. Maka, kalau engkau tidak berkeberatan, pinceng hendak mempergunakan tasbeh dan suling untuk menguji. Bagaimana?! Hek-i Mo-ong mengangguk sambil tersenyum.

"Boleh saja, Lama. Suling adalah alat musik untuk menghibur hati lara, sedangkan tasbeh adalah alat pemusatan pikiran. Kedua benda itu tentu tidak akan menyakitkan aku, ha-ha-ha!! Pendeta Lama itu lalu menoleh ke arah meja besar dan berkata.

"Harap taijin dan ciangkun suka menggunakan kedua tangan untuk menutupi kedua telinga rapat-rapat jangan sampai suara suling pinceng kedengaran oleh ji-wi.!

Mendengar ini gubernur itu menoleh dan memandang kepada Thong-ciangkun dengan heran, akan tetapi melihat panglimanya itu mengangguk dan panglima itu mengunakan kedua telapak tangan menutupi kedua telinganya sendiri, diapun melakukan hal serupa.

Sementara itu, Pek-bin Tok-ong, Siwananda dan Tailucin sudah mengatur pernapasan dan mengerahkan sin-kang karena mereka maklum apa yang akan dilakukan oleh rekan mereka itu.

Hanya Ceng Liong yang tidak mengerti dan anak ini hanya memandang kepada gurunya yang amat dikagumi karena gurunya tadi telah mengalahkan lawan dengan baik sekali.

"Ceng Liong, kau tutup kedua telingamu dengan tangan, atau untuk sementara keluarlah eugkau dari ruangan ini,! kata Hek-i Mo-ong kepada muridnya.

"Aku ingin nonton, Mo-ong!!

Ceng Liong membantah dan gurunya tertawa.

Anak itu sungguh tabah dan membanggakan hati yang menjadi gurunya.

Sementara itu, Thai Hong Lama telah mulai meniup suling dengan tangan kanannya.

Terdengar suara melengking nyaring, makin lama makin tinggi dan halus sekali, memasuki anak telinga seperti jarum menusuk-nusuk!

Itulah suara suling yang ditiup dengan pengerahan khi-kang yang amat kuat.

Hek-i Mo-ong melempar pandang sekali lagi ke arah muridnya, akan tetapi dia tidak bicara lagi karena diapun harus mengerahkan sin-kangnya untuk menghadapi serangan suara ini.

Dia merasa tubuhnya agak tergetar dan maklumlah dia bahwa suara suling itu sungguh berbahaya dan kalau dia tidak hati-hati, maka pertahanannya dapat dibobolkan sekali ini oleh Lama yang lihai itu.

"Rrrrtttt....!! Tiba-tiba nampak sinar putih berkelebat dan tasbeh di tangan kiri kakek gundul itu telah menyambar ke arah sepasang sumpit yang menjepit daging. Hek-i Mo-ong terkejut dan cepat menarik tangan kiri mengelak, akan tetapi dia merasa betapa jari tangannya tergetar, tanda bahwa pertahanannya sudah goyah oleh suara suling itu. Urat-urat halus di jari-jari tangan yang memegang sumpit itu terpengaruh dan keadaannya berbahaya sekali.

"Rrrrkkkkkkk!! Kembali tasbeh menyambar, sekali ini ke arah pergelangan tangan yang memegang sumpit.

"Trikkkkk!!

Hek-i Mo-ong terpaksa melempar daging itu ke atas, menggunakan sumpitnya menangkis tasbeh dan ketika daging itu meluncur turun, disambutnya dengan sepasang sumpitnya lagi!

Sungguh indah sekali pertahanan ini sampai Thai Hong Lama mengangguk sedikit tanpa menghentikan permainan sulingnya.

Memang hebat Raja Iblis ini, pikirnya.

Akan tetapi dia masih mempunyai tiga jurus lagi.

Sementara itu, ketika suling mulai ditiup, Ceng Liong mendengarkan dengan penuh perhatian.

Ada getaran halus yang menyerang telinganya, membuat tubuhnya tergetar, akan tetapi tanpa disadarinya, sumber tenaga sin-kang yang amat kuat, yang berada di pusarnya, bergerak sendiri naik dan melindungi tubuhnya yang segera terasa hangat dan suara suling itu sama sekali tidak mempengaruhi telinga, jantung maupun syarafnya.

Hanya anak ini merasa tidak senang sekali oleh suara itu, yang dianggapnya sumbang dan tidak enak seperti orang mendengarkan kaleng diseret.

Maka, kegemasan mendengar suara tidak enak ini mendorong Ceng Liong untuk memukul-mukulkan sumpit gading di bibir mangkok kosong di atas meja di depannya sehingga terdengarlah bunyi tang-ting-tang"ting nyaring.

Suara tang-ting-tang-ting ini berlawanan dengan suara suling, dan karena Ceng Liong memukulnya dengan sengaja untuk mengacaukan suara suling yang dianggapnya tidak enak itu, maka terdengarlah paduan suara yang sumbang dan tidak karuan!

Mula-mula suara ini membuat Thai Hong Lama terheran, akan tetapi perhatiannya segera tertarik dan suara sulingnya tersendat-sendat seperti dihalangi oleh suara pukulan mangkok itu.

Tentu saja kekuatan dalam suara suling menjadi terpecah dan kehilangan banyak daya serangnya.

Hal ini terasa oleh Hek-i Mo-ong dan Raja Iblis inipun tertawa, suara ketawanya mengandung khi-kang dan segera sisa tenaga dalam suara suling itu lenyap oleh suara ketawa ini.

"Ha-ha-ha, Lama apakah engkau sudah lupa akan sisi seranganmu?! Diejek demikian, tanpa mengandalkan suara sulingnya lagi, Thai Hong Lama lalu menggunakan suling yang sudah dilepas dari mulutnya itu untuk menotok ke arah pundak lawan sedangkan tasbehnya menyambar ke arah daging di sumpit.

"Wirrr.... wuuuutt!! Kembali serangan itu dapat dielakkan dengan mudah oleh Hek-i Mo-ong yang kini telah terbebas dari gangguan suara suling sehingga dia mampu mencurahkan seluruh perhatiannya untuk mempertahankan daging di ujung sumpit. Dua kali lagi berturut-turut Lama itu menyerang, akan tetapi, selain sumpit itu selalu dapat dihindarkan dari benturan, juga kini tangan kiri Hek-i Mo-ong membantu dan melakukan penangkisan. Pada serangan terakhir, tiba-tiba tangan kiri Hek-i Mo-ong menyambar sepotong bakso di dalam mangkok dan sekali menyentilkan bakso itu dengan telunjuk kirinya.

"peluru! ini meluncur cepat dan memasuki lubang suling. Kalau tadinya suling yang digerakkan itu mengeluarkan suara, kini tiba-tiba saja suara itu terhenti seperti jengkerik terpijak! Serangan terakhir itu menjadi kacau dan tidak berhasil menjautuhkan daging dari jepitan suling di tangan Hek-i Mo"ong.

"Sungguh Hek-i Mo-ong amat lihai, pinceng mengaku kalah,! kata pendeta berjubah merah itu yang segera kembali ke tempat duduknya semula. Kini Pek-bin Tok-ong mempersilahkan Siwananda untuk maju akan tetapi Siwananda yang merasa bahwa dia adalah wakil pemerintah Nepal, seorang wakil koksu negara, bersikap tenang dan berkata.

"Silahkan Tok-ong maju memperlihatkan kepandaian, kami ingin memperluas pengetahuan dengan menjadi saksi saja.! Terpaksa Pek-bin Tok-ong maju dan menghampiri Hek-i Mo-ong. Kakek iblis ini tertawa dan mengganti daging baru yang diambilnya dari dalam mangkok.

"Ha-ha-ha. Tok-ong, terhadap engkau aku akan menghormati dengan daging baru, dan juga harus berhati-hati. Jangan-jangan semua ototku akan putus dan tulang-tulangku akan terlepas!! Jelaslah bahwa dengan kata-kata itu Hek-i Mo-ong hendak menyindir calon lawan ini dengan Ilmu Hun-kin Coh-kut-ciang yang dimiliki Si Raja Racun itu.Pek-bin Tok-ong tersenyum. Tokoh Go-bi pertapa ini sudah pandai menyimpan perasaannya dan wajahnya nampak sabar dan tenang walaupun sesungguhnya orang ini memiliki kekejaman yang luar biasa.

"Mo-ong, aku selalu tidak percaya bahwa ada ilmu lain dapat menandingi ilmu barumu Tok-hwe-ji itu.

Marilah kita coba-coba dalam kesempatan ini!!

Sambil berkata demikian, kakek ini menyingkap jubah putihnya, menggulung lengan bajunya sehingga nampak kedua lengannya yang kurus panjang seperti tulang terbungkus kulit saja.

Akan tetapi, begitu dia menggerak-gerakkan kedua lengannya, kulit lengan yang tadinya putih pucat itu berobah menjadi agak biru seperti warna baja matang!

Biru mengkilap dan kelihatan keras sekali.

Diam-diam Hek-i Mo-ong terkejut juga dan maklumlah dia bahwa lawannya ini ternyata telah melatih sin-kang yang amat kuat, yang membuat kedua lengan itu menjadi seperti baja dan jari-jari tangan itu tentulah amat kuat pula sehingga mampu memutuskan otot dan melepaskan tulang lawan.

Maka, diam-diam diapun mengerahkan tenaganya dan mempersiapkan diri dengan ilmunya yang mujijat, yaitu Ilmu Tok-hwe-ji yang mengerikan itu.

Dengan tubuh tegak di bangkunya, tangan kanan memegang sumpit yang menjepit daging baru, tangan kiri siap di atas meja di depan dadanya, Hek-i Mo-ong memandang lawan dengan mata beringas.

Dari pandang matanya saja keluar tenaga mujijat dan walaupun dia tidak bermaksud mempergunakan ilmu sihirnya di dalam ujian itu, namun tenaga ilmu hitam keluar dari matanya dan membuat Pek-bin Tok-ong bergidik.

Tokoh inipun maklum bahwa kalau saja pertandingan ilmu ini bukan hanya sekedar ujian dan main-main, dia akan berpikir beberapa kali sebelum menentang seorang seperti Raja Iblis ini.

"Mo-ong, jagalah seranganku!!

Tiba-tiba Pek-bin Tok-ong berseru nyaring dan berbareng dengan bentakannya itu, tubuhnya sudah bergerak dan kedua lengannya menyambar ke arah lawan melalui atas meja yang menjadi penghalang di antara mereka.

Kedua tangannya itu menyambar ke depan dengan jari terbuka, seperti sepuluh batang pisau yang amat kuat dan cepat menyambar ke arah pundak dan lengan kanan Mo-ong.

Terdengar suara bercuitan ketika kedua tangan itu menyambar dan terasa angin yang dingin sekali bertiup.

Itulah ilmu pukulan Hun-kin Coh-kut-ciang yang dahsyat itu.

Namun, Hek-i Mo-ong tidak merasa gentar dan cepat tangan kirinya melakukan totokan-totokan ke arah pergelangan tangan dan siku untuk menangkis atau mematikan serangan pertama itu, sedangkan tangan kanan yang memegang sumpit juga bergerak untuk mengelak.

Serangannya belum mencapai sasaran dan di tengah gerakan telah disambut oleh totokan jari tangan yang dia tahu amat ampuh itu, maka tentu saja Pek-bin Tok-ong terpaksa menarik kembali serangannya sehingga serangan pertama itu gagal.

Selanjutnya, dia menyerang lagi dengan Hun-kin Coh-kut-ciang dan lawannya menyambut dengan Tok-hwe-ji yang menggerakkan ilmu totokan Coan-kut-ci (Jari Penembus Tulang) yang amat ampuh itu.

Hebatnya, ketika mengerahkan ilmu ini, bukan hanya jari-jari tangannya yang amat hebat, dapat menembus tulang, akan tetapi juga dari mulutnya keluar uap putih yang amat panas dan inilah yang membuat Pek-bin Tok-ong merasa kewalahan.

Beberapa kali kedua lengan bertemu, bahkan jari-jari tangan mereka sempat bertemu, akan tetapi selalu pertemuan itu mengakibatkan lengan dan tangan Raja Racun Muka Putih itu terpental dan tubuhnya tergetar.

Setelah lewat lima jurus dia menyerang tanpa hasil, akibatnya malah muka dan lehernya penuh keringat dan mukanya yang putih itu menjadi kemerahan seperti terbakar.

Itulah akibat dari serangan atau tangkisan Ilmu Tok-hwe-ji!

"Hebat....

engkau memang pantas menjadi calon koksu, Mo-ong!!

kata kakek muka putih itu sambil menjura dan kembali ke tempat duduknya.

Melihat kemenangan Hek-i Mo-ong secara berturut-turut itu, Yong-taijin memuji dan merasa girang sekali.

Mempunyai seorang pembantu atau koksu seperti Hek-i Mo-ong sungguh membesarkan hati, pikirnya.

Akan tetapi di situ masih terdapat Siwananda yang menjadi seorang diantara sekutunya yang terpenting.

Bukankah kakek berkulit kehitaman ini wakil dari Kerajaan Nepal yang amat diharapkan akan dapat memperkuat kedudukannya kalau tiba waktunya dia menyerang kota raja?

Maka, Gubernur Yong lalu berkata sambil tersenyum.

"Sekarang tiba giliran saudara Wakil Koksu Nepal untuk menguji calon pembantu kami.! Siwananda bangkit berdiri dengan sikap angkuh, menjura kepada sang gubernur dan berkata.

"Maaf, taijin. Sesungguhnya, kami sudah melihat kelihaian calon koksu yang menjadi pembantu taijin dan merasa kagum sekali. Karena tiga orang rekan kami tadi sudah mengujinya dan dia lulus dengan baik, biarlah sekarang kami menguji sampai di mana kekuatan batinnya, karena kekuatan badan saja bukan merupakan syarat mutlak untuk menjadi seorang koksu yang baik.! Gubernur Yong sudah mendengar bahwa orang Nepal ini, di samping ilmu silatnya, juga mahir ilmu sihir. Akan tetapi diapun sudah mendengar bahwa Hek-i Mo-ong juga seorang ahli sihir, maka dia merasa gembira akan dapat menyaksikan pertandingan adu kekuatan sihir. Dia mengangguk gembira dan berkata.

"Silahkan, saudara Siwananda.!

Kakek Gurkha yang tinggi besar ini segera menghampiri meja kecil di mana Hek-i Mo-ong telah menantinya dan duduk berhadapan dengan Raja Iblis itu.

Sejenak mereka hanya saling berpandang mata.

Biarpun bagi orang lain mereka itu hanya saling pandang, namun sesungguhnya kedua orang ini sedang mengukur tenaga dan kekuatan batin mereka masing-masing melalui pandang mata itu!

Terjadilah adu kekuatan mujijat melalui sinar mata mereka dan diam-diam Siwananda terkejut.

Diapun sudah mendengar bahwa Hek-i Mo-ong pandai ilmu sihir, akan tetapi dia tidak mengira bahwa kekuatan yang terkandung dalam sinar mata itu demikian kuatnya!

Dia tidak tahu bahwa kekuatan ilmu sihir memang menjadi berlipat ganda dengan kuatnya tenaga sin-kang yang dimiliki Hek-i Mo-ong.

Biarpun mereka yang hadir itu hanya menduga-duga bahwa kedua orang itu saling mengukur tenaga batin, namun mereka mulai merasakan getaran aneh yang memenuhi ruangan itu, yang membuat mereka merasa tegang dan juga seram.

"Hek-i Mo-ong, yang kau pegang dengan sumpit itu seekor burung hidup!! Tiba-tiba terdengar suara Wakil Koksu Nepal itu. Semua orang memandang ke arah potongan daging yang dijepit sumpit di tangan Hek-i Mo-ong dan terbelalaklah mereka ketika melihat bahwa daging itu kini benar-benar telah menjadi seekor burung kecil yang menggelepar-geleparkan sayapnya berusaha untuk lolos dari jepitan sepasang sumpit. Kalau burung itu sampai lolos, maka berarti Hek-i Mo-ong kalah karena bukankah ujian itu untuk merampas daging dari jepitan sumpitnya? Dan agaknya tidak akan mudah menahan terbangnya burung itu dengan jepitan sumpit saja.

"Biarpun burung hidup, kalau sayapnya gundul, mana bisa terbang?!

tiba-tiba terdengar suara Hek-i Mo-ong, sama berwibawanya dengan suara Siwananda tadi.

Dan burung yang tadinya menggeleparkan sayapnya itu tiba -tiba saja kehilangan kekuatannya dan sayap itu benar-benar telah kehilangan bulunya, menjadi gundul dan hanya dapat digerak-gerakkan naik turun dengan lemah saja!

"Hek-i Mo-ong, sepasang sumpitmu itu adalah sepasang ular!!

Dan semua orang terbelalak kaget dan heran karena begitu Siwananda mengeluarkan teriakan ini, sepasang sumpit di tangan Raja Iblis itu benar-benar berobah menjadi dua ekor ular, sedangkan burung tadi telah berobah pula menjadi sepotong daging!

"Sepasang ular yang membantuku menjaga agar daging jangan terlepas!!

Hek-i Mo-ong menyambung, dan dua ekor ular itu kini "menari"nari!

berlenggak-lenggok, akan tetapi daging itu mereka gigit dengan kuat-kuat sehingga tidak mungkin terlepas lagi.

Siwananda tertawa dan bangkit sambil menjura.

"Hek-i Mo-ong memang hebat dan kami mengucapkan selamat kepada Yong-taijin yang telah memperoleh seorang calon koksu yang amat pandai!! Kakek Gurkha ini lalu memberi hormat kepada Gubernur Yong. Pembesar ini merasa girang sekali, memandang kepada Hek-i Mo-ong yang kini mengantar sepotong daging dengan sepasang sumpitnya yang telah kembali berbentuk sumpit biasa itu ke mulut, lalu makan dengan lahapnya seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu. Ceng Liong merasa bangga dan girang. Dia menghampiri gurunya dan berkata.

"Mo-ong, aku mengucapkan selamat atas pengangkatanmu sebagai koksu!!

Dan dengan hati setulusnya anak ini mengangkat kedua tangan ke dada untuk memberi hormat!

"Ha-ha-ha, terima kasih, Ceng Liong.

Akan tetapi aku belum menjadi koksu, hanya baru calon saja.

Mudah-mudahan semua usaha kita bersama ini berhasil sehingga aku benar-benar menjadi koksu dan engkau menjadi seorang pemuda bangsawan, murid koksu.

Ha-ha-ha!!

Tailucin, Thai Hong Lama, dan Pek-hin Tok-ong juga mengucapkan selamat atas kemenangan dan keberhasilan Hek-i Mo-ong menempuh ujian itu, dan Thai Hong Lama yang tadi merasa betapa suara sulingnya dikacaukan oleh anak itu sehingga memudahkan Hek-i Mo-ong memperoleh kemenangan atas dirinya, menambahkan.

"Omitohud.... Mo-ong, muridmu ini benar-benar hebat dan kelak dia akan lebih hebat dan lebih jahat daripada gurunya!! Dikatakan jahat bagi seorang datuk sesat macam Hek-i Mo-ong sama saja dengan menerima pujian! Maka diapun tertawa bergelak. Akan tetapi Ceng Liong memandang pendeta Lama itu dengan mata mendelik, lalu terdengar dia berkata lantang.

"Lama, jangan sembarangan saja bicara!

Aku bukan seorang penjahat dan tidak akan menjadi seorang penjahat biarpun aku mempelajari ilmu dari Hek-i Mo-ong!!

Tentu saja semua orang menjadi heran mendengar ucapan anak itu, akan tetapi Hek-i Mo-ong tertawa semakin keras karena dia melihat betapa lucunya keadaan yang ditimbulkan oleh sikap muridnya yang aneh ini.

Semakin aneh watak muridnya, semakin sukalah hati Hek-i Mo-ong, karena bagi kaum sesat, yang diutamakan adalah keanehan dan sifat yang lain daripada orang lain, dan menerjang semua hukum-hukum yang telah ada tanpa memperdulikan tata susila atau kesopanan pula.

Gubernur Yong yang diam-diam tidak suka dengan watak orang-orang ini akan tetapi terpaksa bersikap ramah terhadap mereka karena memang dia amat membutuhkan bantuan mereka, lalu mengajak mereka untuk mulai berunding yang sesungguhnya merupakan acara inti dari pertemuan itu.

Sebagai seorang yang mengharapkan kedudukan koksu dan pembantu utama gubernur yang hendak memberontak itu, Hek-i Mo-ong mendengarkan dengan penuh perhatian.

Juga Ceng Liong, walaupun belum dapat menangkap seluruh maksud dari percakapan itu, mendengarkan dengan penuh perhatian dan dia mendapatkan perasaan bahwa apa yang didengarnya itu amat penting baginya.

Dengan panjang lebar dan jelas, Gubernur Yong menceritakan rencana mereka bersama.

Kerajaan Nepal akan mengirim pasukan yang kuat dan besar untuk menyerang Tibet.

Serbuan ini diharapkan dapat berhasil dalam waktu yang tidak terlalu lama dan mengandalkan bantuan dari dalam yang akan digerakkan dan diatur oleh Thai Hong Lama.

"Jangan khawatir, untuk keperluan itu pinceng telah memiliki banyak kawan sehaluan dan sewaktu-waktu tentu kami akan dapat membantu.

Pendeknya, dengan bantuan kami, bala tentara Nepal tentu tidak akan suka untuk menduduki Tibet.!

Demikian Thai Hong Lama mengutarakan isi hatinya.

Menurut perjanjian mereka, setelah Tibet jatuh ke tangan Kerajaan Nepal, Thai Hong Lama yang akan diangkat sebagai penguasa Tibet, tentu saja sebagai negara taklukan dari Nepal.

Dan untuk keperluan menyerbu Tibet, Gubernur Yong akan membantu, yaitu dengan mencegah datangnya bala bantuan berupa bala tentara Kerajaan Ceng.

Dengan demikian, tentu Tibet akan mudah direbut dan bantuan Gubernur Yong ini amatlah penting karena kalau sampai bala tentara Ceng membantu Tibet, tentu akan sukarlah daerah itu direbut oleh pasukan Nepal.

Apalagi kalau bala tentara Kerajaan Ceng itu dipimpin oleh panglima-panglima pandai seperti Jenderal Muda Kao Cin Liong yang pernah membuat tentara Nepal kocar-kacir beberapa tahun yang lalu (bacaKisah Suling Emas dan Naga Siluman).

Kemudian, setelah mereka berhasil merebut Tibet, barulah mereka akan mengadakan pasukan gabungan antara bala tentara Nepal, Tibet dan pasukan-pasukan yang berjaga di barat dan telah dikuasai oleh Thong-ciangkun sebagai pembantu Gubernur Yong dan melakukan penyerbuan ke timur untuk menentang Kerajaan Ceng.

"Akan tetapi, kita harus bertindak hati-hati sekali, tidak perlu tergesa-gesa dan menanti saat yang baik. Kita harus ingat bahwa kerajaan memiliki banyak panglima yang pandai dan pasukan yang kuat,! kata sang gubernur.

"Ha-ha-ha, harap taijin tenangkan hati dan tidak perlu khawatir tentang orang-orang pandai itu. Dengan bantuan para rekan yang kini hadir, saya sanggup untuk menentang dan membasmi para jagoan kerajaan itu. Dengan bantuan teman-teman, bahkan para penghuni Pulau Es pun tidak dapat melawan kami!! Akan tetapi, ketika bicara sampai di situ, Hek-i Mo-ong merasa betapa ada sepasang mata yang mendelik kepadanya. Dia menoleh dan terkejut melihat bahwa orang yang melotot kepadanya itu adalah muridnya. Dia sadar dan tidak melanjutkan kata-katanya. Akan tetapi ucapannya yang terakhir itu telah membuat para tokoh di situ menjadi terbelalak.

"Apa katamu? Para penghuni Pulau Es....?! kata Pek-bin Tok-ong kaget.

"Omitohud....! Kaumaksudkan bahwa engkau telah berhasil membunuh Pendekar Super Sakti dari Pulau Es?! tanya pula Thai Hong Lama yang menganggap berita itu seperti petir menyambar di siang hari panas. Hek-i Mo-ong menjadi serba salah. Dia tahu bahwa di depan muridnya, amat tidak baik membicarakan tentang kebinasaan para penghuni Pulau Es, akan tetapi dia telah terlanjur bicara dan takkan dapat ditariknya kembali. Maka diapun menarik napas panjang.

"Manusia mana di dunia ini yang sanggup mengalahkan Pendekar Super Sakti, majikan Pulau Es?

Bahkan dewa sekalipun akan sukar mengalahkannya.

Tidak, kami tidak berani melawan Pendekar Super Sakti.

Kami hanya melawan isteri-isterinya dan hal itupun mengakibatkan tewasnya banyak anak buah dan hampir semua kawan-kawanku.

Mereka itu sungguh hebat bukan main.

Aku sendiri nyaris binasa.

Bagaimanapun juga, kini Pulau Es telah terbakar habis berikut para penghuninya, dan kami akan terus melakukan sampai semua pendekar yang menentang kami lenyap dari permukaan bumi.

Bukankah kalau sudah begitu, gerakan taijin akan lebih mudah dilakukan?!

Gubernur Yong mengangguk-angguk, akan tetapi Pek-bin Tok-ong agaknya masih penasaran mengenai Pulau Es.

"Mo-ong, kau katakan bahwa Pulau Es terbakar habis berikut para penghuninya. Benarkah itu? Apakah engkau dan kawan-kawanmu yang telah berhasil membakar pulau itu?! Kalau saja dia tidak teringat kepada kehadiran muridnya, tentu dengan senang dan bangga sekali Hek-i Mo-ong akan membual dan mengaku bahwa dialah yang telah menghancurkan dan membakar Pulau Es. Akan tetapi, kehadiran Ceng Liong membuat dia tidak mungkin dapat membohong. Watak muridnya ini aneh sekali, siapa tahu muridnya akan membuatnya malu dan menyangkalnya kalau dia berbohong.

"Tidak, kami sisa para penyerbu telah meninggalkan pulau ketika kami melihat dari jauh pulau itu terbakar habis.! Karena tidak ingin mereka itu mendesak lebih lanjut tentang Pulau Es dan kini sikap Ceng Liong telah biasa kembali, Hek-i Mo-ong lalu berkata cepat.

"Akan tetapi, hal itu tidak ada sangkut-pautnya dengan perjuangan kita. Lebih baik kita sekarang melihat halangan dan hambatan apa yang kiranya akan mengganggu gerakan kita dan kita lenyapkan halangan itu.! Semua orang mengangguk setuju dan Wakil Koksu Nepal lalu berkata.

"Memang benar apa yang dikatakan Mo-ong. Kita harus menghalau semua hambatan dan ada beberapa hal yang membuat kami merasa gelisah. Pertama-tama adalah negara tetangga kami yang kecil, yakni Bhutan. Negara kecil itu menjadi penghalang besar bagi gerakan kami menyerbu Tibet karena sampai sekarang Bhutan tidak mau tunduk, bahkan tidak memiliki sikap bersahabat dengan kami. Karena itu, setiap gerakan kami yang melanggar wilayah mereka, tentu akan mereka tentang dan hal ini sungguh memusingkan dan membuang banyak tenaga kalau kami harus menggempur Bhutan lebih dulu.! "Bhutan? Negara yang demikian kecilnya?! Gubernur Yong memandang rendah.

"Apa sih kekuatan negara kecil itu?

Mengapa tidak ditundukkan saja lebih dulu?

Hal itu tentu jauh lebih mudah daripada menundukkan Tibet.!

"Agaknya Yong-taijin belum mendengar.

Bhutan sekarang tidak dapat disamakan dengan Bhutan belasan tahun yang lalu.

Biarpun negara itu kecil, akan tetapi memiliki pasukan pilihan yang amat kuat, di bawah pimpinan Puteri Syanti Dewi yang lihai dan suaminya yang lebih lihai lagi.

Tidak, menyerbu Bhutan sama dengan mencari penyakit,!

kata Siwananda, orang Gurkha yang menjadi Wakil Koksu Nepal itu dan sikapnya nampak jerih.

Tentu saja hal ini membuat semua orang merasa heran.

Wakil koksu itu sendiri demikian lihai, akan tetapi kelihatan jerih ketika menyebutkan nama seorang Puteri Bhutan dan suaminya.

"Omitohud, pinceng pernah mendengar tentang mereka dan kabarnya suami isteri itu memang luar biasa lihainya. Kabarnya, puteri itu pandai menghilang saking cepatnya ia dapat bergerak, sedangkan suaminya adalah seorang Han yang pada belasan tahun yang lalu pernah menggegerkan dunia kang-ouw. Kalau tidak salah, dia berjuluk Toat-beng-ci atau Si Jari Maut. Sang puteri kabarnya tidak mau menggantikan ayahnya dan menyerahkan tahta kerajaan kepada seorang saudara laki-laki, sedangkan ia sendiri bersama suaminya menjadi panglima-panglima yang memimpin bala tentara Bhutan. Benarkah demikian, saudara Siwananda?! Yang ditanya mengangguk membenarkan.

"Dan halangan lain, apakah itu, saudara Siwananda?! tanya sang gubernur.

"Selain adanya Bhutan yang menjadi penghalang, juga kini banyak terdapat tokoh-tokoh pertapa di Himalaya yang kabarnya diam-diam juga mengamati gerak-gerik kami. Mereka itu kadang-kadang mengambil sikap bermusuh dan agaknya mereka tentu akan ikut menentang kalau kami menyerbu Tibet. Semua ini adalah gara-gara Jenderal Kao Cin Liong yang dahulu pernah menentang kami dan di sana dia telah mempunyai banyak sahabat yang siap membantunya dan menentang kami.! Semua orang merasa khawatir dengan berita yang tidak baik ini.

"Ah, kalau begitu.... gerakan kita menghadapi ancaman yang berat.! kata Gubernur Yong, kemudian ia teringat akan Hek-i Mo-ong yang menjadi pembantu utamanya, maka diapun menoleh kepada Raja Iblis itu.!Lo-sicu, kita menghadapi rintangan yang cukup berat, kalau menurut pendapatmu, apa yang harus kita lakukan?! Pertanyaan ini selain memancing, juga agaknya sang gubernur ingin melihat kegunaan dari orang lihai ini. Hek-i Mo-ong mengangguk-angguk sambil mengerutkan sepasang alisnya yang sudah beruban, seperti seorang ahli pikir yang sedang mengerjakan otaknya yang cerdik.

"Hal itu sudah saya pikirkan sejak mendengar dari saudara Siwananda tadi, taijin. Harap taijin jangan khawatir. Kalau yang menjadi penghalang itu berupa pasukan besar, tentu saja yang harus menghalaunya juga pasukan yang lebih kuat lagi. Akan tetapi kalau yang dikhawatirkan itu perorangan, seperti suami isteri bangsawan Kerajaan Bhutan itu atau tokoh-tokoh pertapa di Himalaya, serahkan saja kepada saya, tentu akan dapat saya enyahkan mereka!! Sang gubernur mengangguk-angguk girang.

"Lalu, sekarang apa yang hendak sicu lakukan?! "Perkenankan saya dan murid saya pergi ke Bhutan dan Himalaya untuk melakukan penyelidikan dan saya akan membasmi setiap orang yang hendak menentang gerakan kita dari Nepal ke Tibet lalu ke timur.! Omitohud....! Itulah yang terbaik!! kata Thai Hong Lama.

"Kalau Mo-ong mau membantu, nanti akan pinceng tunjukkan siapa-siapa orangnya yang patut dibasmi. Kita dapat bekerja sama, Mo-ong.! "Akupun mengenal mereka yang berpihak kepada Kerajaan Ceng!! kata Pek-bin Tok-ong.

"Dan engkau bisa mendapatkan bantuanku untuk menghantam para pertapa itu, Mo-ong.! Hek-i Mo-ong mengangguk.

"Baik, kalau perlu, aku akan menghubungi kalian di sana. Akan tetapi, agaknya untuk melaksanakan pekerjaan ringan ini aku tidak akan membutuhkan bantuan orang lain.! "Dan kami akan mempersiapkan pasukan kami di perbatasan utara dan Tibet. Harap saudara Siwananda selalu mengirim kurir penghubung agar kami selalu dapat mengikuti sampai di mana majunya gerakan dari Nepal,! kata Tailucin.

"Baik, kami tentu selalu menghubungi pasukanmu, saudara Tailucin, jangan khawatir,! jawab orang Gurkha itu. Perjamuan dilanjutkan dengan meriah dan gembira. Kemudian sang gubernur dengan royal lalu membagi-bagi hadiah berupa barang-barang berharga kepada mereka semua sebelum mereka bubaran. Hek-i Mo-ong menerima sekantung uang emas sebagai bekal, juga dua ekor kuda yang amat baik. Dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Hek-i Mo-ong dan Ceng Liong telah berangkat menunggang kuda menuju ke barat.

"Sumoi, engkau lihat bagaimana dengan kemajuan latihanku?

Telah empat bulan lamanya aku berlatih menurut petunjuk suhu, aku khawatir masih belum sempurna,!

kata Louw Tek Ciang, pemuda yang diambil murid dan diambil calon mantu oleh Suma Kian Lee itu, pada suatu pagi kepada Suma Hui yang bertugas mengawasi dan membimbingnya.

Mereka berada di halaman samping rumah yang juga merupakan sebuah taman bunga.

Entah sudah berapa puluh kali pemuda itu selalu minta pendapat dara itu.

Suma Hui menganggap pertanyaan itu lumrah saja, dan ia sama sekali tidak tahu bahwa memang pemuda itu sengaja bertanya agar kembali diuji oleh Suma Hui.

Dan cara mengujinya adalah mengadu telapak tangan, suatu hal yang amat disuka oleh pemuda itu.

"Dua pekan yang lalu latihanmu sudah hampir sempurna, suheng. Kurasa sekarang engkau tentu sudah paham benar,! jawab Suma Hui yang sedang memotongi daun-daun bunga yang ditempeli telur belalang.

"Maukah engkau mencoba dan mengukur latihan dasar sin-kang yang kupelajari, sumoi?! Tek Ciang memohon dan seperti biasa, Suma Hui tidak menolaknya. Biarpun tadinya ia merasa tidak puas melihat ayahnya menerima pemuda ini sebagai murid, akan tetapi setelah bergaul selama empat bulan, sikap Tek Ciang selalu baik kepadanya, ramah dan sopan, sehingga tidak ada alasan bagi Suma Hui untuk membencinya, walaupun hal itu bukan berarti bahwa ia suka kepada pemuda ini. Ada sesuatu dalam sikap pemuda ini, mungkin sikap yang terlalu sopan dan terlalu manis itu, yang membuatnya selalu curiga dan belum penuh kepercayaan hatinya kepada suhengnya ini.

"Tentu saja. Nah, marilah kita mulai!! kata Suma Hui. Dengan girang Tek Ciang Lalu memasang kuda-kuda seperti yang diajarkan suhunya, menggerakkan kedua lengannya ke atas bawah lalu bersilang dan pada saat itu mendorongkan kedua lengannya ke depan dengan tangan terbuka sambil mengerahkan tenaga. Suma Hui yang berdiri di depannya menyambut tangan yang didorongkan itu dengan kedua tangannya sendiri.

"Plakkk!! Kedua pasang telapak tangan itu saling bertemu dan seperti biasa, Tek Ciang merasakan telapak tangan yang lunak, halus dan hangat, membuat jantungnya berdebar penuh gairah. Suma Hui mengerutkan alisnya. Pemuda ini memang berbakat dan agaknya telah menguasai tehnik latihan dasar dari Pulau Es, yaitu dasar sin-kang yang kemudian dapat dilanjutkan dengan latihan Hwi-yang Sin-kang dan Swat-im Sin-kang. Akan tetapi, seperti juga dua pekan yang lalu, pada akhir getaran itu terdapat kekacauan yang hanya terjadi kalau pemuda itu kurang memusatkan perhatian pada getaran melalui telapak tangan itu. Ini menjadi tanda bahwa pikiran pemuda itu melayang atau terkacau oleh sesuatu.

"Suheng, engkau sudah berhasil baik, hanya masih saja engkau belum dapat memusatkan seluruh perhatianmu kepada telapak tangan yang mendorong. Aku merasakan adanya kekacauan pada akhir getaran itu. Apa sih yang kau pikirkan setelah engkau melakukan gerakan mendorong itu?! Apa lagi yang mengacaukan pikiranku kalau bukan telapak tanganmu yang lunak, halus dan hangat itu, demikian pikir Tek Ciang. Akan tetapi dia cukup cerdik untuk berkata demikian lancang, maka diapun mengambil sikap menyesal.

"Ah, dasar aku yang bodoh, sumoi.

Aku selalu merasa ragu-ragu akan kemampuan sendiri sehingga pada saat aku mendorong, aku merasa khawatir kalau-kalau salah.!

"Aihh, engkau terlalu merendahkan diri, suheng.

Gerakanmu sudah benar, dan engkau pun sudah menguasai dasar penghimpunan tenaga sin-kang dari keluarga kami.

Aku mengucapkan selamat, suheng.!

"Dan engkau terlalu memuji, sumoi, padahal aku belum bisa apa-apa.

Memang engkau amat baik hati, sumoi.

Engkau lah gadis yang paling baik, paling gagah perkasa, paling cantik jelita, yang pernah kukenal.!

"Suheng....!!

Suma Hui berseru agak keras untuk menegur, akan tetapi mukanya berobah merah.

Bagaimanapun juga, suhengnya ini hanya memujinya, jadi, tidak ada alasan baginya untuk marah-marah.

"Aku hanya bicara apa adanya, sumoi....! Tek Ciang melanjutkan rayuannya.

"Sudahlah, aku tidak suka bicara tentang diriku....! "Tapi, sebaliknya aku suka sekali....! Pada saat itu, terdengar langkah orang di atas lorong berkerikil yang menuju ke taman itu dari luar. Keduanya mengangkat muka memandang.

"Siapa engkau berani masuk ke sini tanpa ijin.....?! Tek Ciang membentak marah akan tetapi dia menghentikan tegurannya ketika melihat sikap sumoinya berobah menjadi amat gembira.

"Cin Liong....!! Suma Hui berseru gembira dan kalau ia tidak ingat bahwa di situ berdiri orang lain, tentu ia sudah berlari menghampiri pemuda yang baru datang itu.

"Hui-i....!! Cin Liong juga berseru girang, akan tetapi diapun berhenti berdiri saja sambil memandang kepada pemuda tampan bermuka putih dan pesolek itu, yang tidak dikenalnya. Melihat sikap Cin Liong yang ragu-ragu, Suma Hui lalu memperkenalkan.

"Cin Liong, dia ini adalah suheng Louw Tek Ciang, murid ayah yang baru empat bulan diangkatnya.! "Ahhh....!! Cin Liong kelihatan terkejut dan juga girang, lalu teringat bahwa menurut kedudukan, dia lehih rendah, maka diapun menjura dengan sikap hormat kepada pemuda itu sambil berkata.

"Susiok....!! Kini giliran Tek Ciang yang termangu-mangu. Pemuda yang baru datang ini menyebutnya susiok (paman guru)! "Sumoi.... siapakah orang ini....?! tanyanya gagap dan bingung.

"Suheng, dia bernama Kao Cin Liong dan dia ini adalah.... eh, seorang keponakanku.! Sepasang mata pemuda itu terbelalak dan dia memandang Suma Hui dan Cin Liong bergantian dengan sinar mata tidak percaya.

"Keponakan....? Tapi.... tapi mana mungkin....!! Suma Hui tersenyum. Kegembiraannya melihat kedatangan kekasihnya itu terlalu besar untuk dapat diganggu oleh keheranan dan kebingungan Tek Ciang.

"Sudahlah, suheng. Engkau tidak mengerti dan terlalu panjang kalau diterangkan. Biarlah lain kali saja kuceritakan dan sekarang kuharap engkau suka meninggalkan kami dan membiarkan kami bercakap-cakap.! Tek Ciang merasa terpukul. Dia menunduk dengan muka merah, sekali lagi mengerling ke arah Cin Liong lalu berkata.

"Baiklah, sumoi, baiklah....!

dan diapun pergi dari situ menuju ke belakang rumah di mana terdapat sebuah kamarnya di dekat lian-bu-thia, yakni ruangan berlatih silat.

Melihat pemuda itu sudah pergi, Suma Hui lalu memandang kekasihnya.

Sejenak mereka saling pandang, kemudian Suma Hui tersenyum, sepasang matanya agak basah.

Selama ini dara itu merasa rindu bukan main kepada kekasihnya dan merasa seolah-olah kehidupan menjadi sepi dan lesu.

Kini, kemunculan Cin Liong yang tiba-tiba itu membuat hidup seolah-olah menjadi cerah dan penuh dengan sinar kebahagiaan.!Cin Liong, mari bicara di dalam....!

ajaknya dengan gembira dan iapun mengulurkan tangan kanan untuk menggandeng tangan pemuda itu.

Melihat sikap kekasihnya ini, tentu saja Cin Liong merasa gembira sekali, akan tetapi juga membuatnya ragu-ragu dan takut.

"Ayah ibumu....?! bisiknya khawatir ketika tangan mereka sudah saling bergandeng dalam pertemuan antara jari-jari tangan yang hangat dan bergetar mesra penuh perasaun rindu dan sayang.

"Mereka telah pergi empat bulan yang lalu, mencari Ciang Bun dan sampai kini belum kembali.

Di rumah kosong tidak ada orang....!

"Dan susiok tadi?!

"Ah, jangan terlalu banyak peraturan.

Tidak patut engkau menyebut susiok kepada pemuda yang baru belajar itu.

Dia disuruh tinggal di kamar belakang oleh ayah, untuk melatih diri dengan dasar sin-kang kami dan aku membimbingnya.

Mari, Cin Liong....!

Mereka bergandeng tangan dan berjalan memasuki rumah itu dari pintu samping, menuju ke ruangan depan atau ruangan tamu.

Begitu mereka tiba di ruangan itu, keduanya kembali saling berpandangan dengan tangan masih bergandengan dan agaknya seperti ada daya tarik yang luar biasa membuat keduanya makin mendekat dan tahu-tahu mereka telah berangkulan dan berdekapan, entah siapa yang lebih dahulu memulai gerakan itu.

"Hui....! bisik Cin Liong.

"Cin Liong....! Dan seperti secara otomatis, pemuda itu mengangkat dagu Suma Hui dan menciumnya. Suma Hui mendesah, tubuhnya tergetar dan matanya terpejam, kemudian ia menyembunyikan mukanya di dada pemuda itu, menghela napas lega dan bahagia.

"Aku.... aku sudah bertemu dengan ayah ibuku, dan aku sudah minta kepada mereka untuk datang ke sini meminangmu, mungkin dalam waktu dua tiga bulan ini....! bisik Cin Liong. Suma Hui hanya mengangguk, hatinya terharu bukan main, keharuan yang timbul karena kegirangan dan kekhawatiran bercampur menjadi satu.

"Dan engkau.... sudahkah orang tuamu mengetahui?! Suma Hui hanya menarik napas panjang, kemudian melepaskan dirinya dari rangkulan, dan menggandeng tangan kekasihnya untuk duduk di atas bangku. Mereka duduk berhadapan, terhalang meja. Tangan mereka masih saling berpegang di atas meja. Kemudian Suma Hui menceritakan keadaannya, bahwa ia sudah berterus terang kepada ibunya dan bahwa ibunya agaknya tidak berkeberatan.

"Ah, bagus sekali! Jadi ibumu setuju? Ayah ibuku tadinya terkejut dan meragu, akan tetapi dengan bijaksana mereka akhirnya juga setuju, walaupun mereka masih merasa takut-takut untuk melakukan peminangan atas dirimu.! "Ibuku amat bijaksana dan mencintaku. Ia setuju sepenuhnya, akan tetapi ibu menyatakan kekhawatirannya kalau-kalau ayahku yang tidak setuju.! "Lalu bagaimana dengan ayahmu?! tanya Cin Liong khawatir.

"Entahlah, aku minta tolong ibu untuk memberitahukan ayah, dan aku tidak tahu apakah hal itu dilakukan dan tidak tahu pula bagaimana tanggapan ayah....! "Aihh, aku merasa khawatir sekali.... jangan-jangan beliau tidak setuju....! Melihat wajah kekasihnya muram dan agak pucat, Suma Hui mencengkeram tangan kekasihnya dan mukanya menjadi merah, sepasang matanya berapi-api ketika ia berkata.

"Baik ayah maupun segala dewa dan siluman di dunia ini, tidak akan dapat menghalangiku berjodoh denganmu!! Cin Liong memejamkan mata, mengusir kengerian yang membayang di matanya. Dia mengenal benar watak kekasihnya ini yang amat keras dan memiliki tekad sekuat baja yang tidak mungkin ditekuk sampai bagaimanapun juga. Dia khawatir kalau-kalau jalinan cinta mereka ini akan mengakibatkan kemelut dan malapetaka di dalam keluarga itu.

"Kita harus tenang dan menghadapi segala sesuatu dengan tabah, tanpa kekerasan.

Ingat, Hui, andaikata ada yang menentang, maka yang menentang itu bukan orang lain, melainkan orang tua kita sendiri.

Di sinilah perlunya kita mempergunakan kebijaksanaan dan menjauhkan kekerasan antara keluarga yang hanya akan mendatangkan kedukaan besar.!

Suma Hui merangkul lagi, menyembunyikan mukanya yang kini dibayangi kekhawatiran itu di dada kekasihnya.

Sepasang kekasih ini lalu bicara bisik-bisik sampai beberapa lamanya, sama sekali tidak tahu bahwa segala percakapan mereka telah didengarkan telinga lain dan segala yang terjadi antara mereka telah ditonton mata orang lain yang penuh dengan kemarahan, mata yang beringas kemerahan, mata dari Louw Tek Ciang!

Biarpun mereka memiliki ilmu kepandaian tinggi, terutama sekali Cin Liong, namun saat itu mereka lengah.

Gelora asmara yangmengamuk dan melanda hati mereka mengurangi kewaspadaan.

Selain itu, juga Tek Ciang amat cerdik.

Sebelum kedua orang muda itu memasuki ruangan itu, dia telah lebih dulu berada di tempat persembunyiannya sehingga dia dapat mengintai tanpa mengeluarkan suara sedikitpun juga.

"Aku akan pergi mencari rumah penginapan dulu, Hui-i....! "Hishh, masa engkau masih harus terus menyebut i-i (bibi) kepadaku? Tidak pantas!! sela Suma Hui. Cin Liong tersenyum.

"Ah, segala macam sebutan dalam huhungan keluarga yang jauh masih terus dipertahankan orang, sungguh membuat kita merasa canggung saja. Di dalam hatiku, tentu saja aku menyebutmu Hui-moi (dinda Hui)....! "Kenapa mesti lain di mulut lain di hati? Sebut saja begitu!! "Tapi kalau terdengar orang....! "Perduli apa dengan orang lain? Cin Liong, hidup kita tidak mungkin dapat seterusnya disandarkan pada pendapat orang lain, bukan?! Cin Liong menarik napas panjang.

"Baiklah, Hui-moi.

Memang manusia amatlah lemah, sukar sekali dan merasa takut meninggalkan kebiasaan lama atau tradisi, dan aku agaknya termasuk satu di antara manusia-manusia lemah itu.

Selanjutnya aku akan banyak belajar tabah dan berani menghadapi kenyataan seperti engkau.

Nah, aku pergi dulu, Hui-moi.

Sore nanti aku akan datang berkunjung.!

"Baik, kita makan bersama sore ini di sini, Cin Liong.

Aku akan masak-masak untukmu.!

"Baiklah, tentu lezat sekali masakanmu.!

Mereka lalu bangkit berdiri dan dengan bergandeng tangan meninggalkan ruangan itu menuju keluar.

Cin Liong lalu meninggalkan kekasihnya yang mengantarnya dengan pandang mata mesra dan wajah berseri-seri.

Setelah berpisah dari kekasihnya, kewaspadaan Cin Liong timbul kembali sehingga dia dapat melihat bahwa ada orang membayanginya dari jauh!

Hatinya tertarik sekali dan juga merasa terheran-heran setelah mendapatkan kenyataan bahwa yang membayanginya itu adalah Lonw Tek Ciang, pemuda yang menjadi suheng dari Suma Hui dan yang disebutnya susiok itu!

Diam-diam dia merasa geli hatinya.

Apakah suheng yang tolol itu diutus oleh Suma Hui untuk membayanginya dan untuk melihat di rumah penginapan mana dia bermalam?

Ah, apakah kekasihnya akan melakukan hal yang setolol itu?

Ataukah pemuda itu sendiri yang membayanginya, mungkin karena pemuda itu belum begitu mengenalnya dan merasa curiga dan seolah-olah hendak "melindungi!

sumoinya?

Bagaimanapun juga, Cin Liong tidak mau membuat "susioknya!

itu menjadi tidak enak hati dan malu kalau dia memperlihatkan bahwa dia tahu akan perbuatan pemuda pesolek itu, maka dia pura-pura tidak tahu dan memilih kamar di sebuah rumah penginapan.

Setelah memperoleh kamar dia keluar lagi untuk melihat.

Ternyata "susiok!

itu telah lenyap dan diapun tersenyum sendiri.

Dengan napas terengah-engah karena hampir seluruh perjalanan menuju ke rumah ayahnya dilakukan sambil berlari cepat, Tek Ciang menghadap ayahnya.

Guru silat Louw terkejut melihat puteranya datang terengah-engah seperti itu dan cepat menyambutnya.

"Wah, celaka, ayah! Aku tidak sudi menikah dengan Suma Hui....!! "Hushhh....!! Louw-kauwsu terkejut bukan main, menarik tangan anaknya masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamarnya.

"Ucapan apa itu?! bentaknya ketika dia berada aman di dalam kamar bersama puteranya.

"Siapa sudi menikah dengan gadis seperti itu? Ia gadis tak tahu malu, ayah, berpacaran dengan keponakannya sendiri!! Dengan suara mengandung kemarahan Tek Ciang lalu menceritakan semua yang telah didengar dan dilihatnya ketika pemuda bernama Kao Cin Liong datang berkunjung ke rumah suhunya. Bukan main kaget dan herannya hati Louw Kam mendengar penuturan puteranya. Sungguh merupakan hal yang amat aneh dan sukar dapat dipercaya.

"Benarkah ceritamu itu?

Benarkah pemuda itu keponakannya?!

Kalau Suma Hui mempunyai seorang pacar, hal itu masih dianggapnya biasa walaupun tentu saja tidak menyenangkan.

Akan tetapi berpacaran dengan seorang keponakan sendiri?

Mustahil rasanya!

"Akupun tadinya tidak percaya, ayah.

Akan tetapi setelah diperkenalkan, orang itu mengaku keponakan Suma Hui, bahkan dia menyebut aku susiok.!

"Jangan-jangan hanya murid keponakan saja, bukan keluarga.!

"Dia menyebutnya Hui-i, berarti sumoi adalah i-i-nya, bukan hanya sekedar bibi gurunya.

Ayah, aku tidak sudi berjodoh dengan gadis tak tahu malu begitu!!

"Tolol!

Engkau menjadi murid, bahkan calon mantu seorang pendekar sakti seperti Suma Kian Lee-taihiap, dan engkau mengatakan tidak sudi!

Kita harus berusaha untuk menggagalkan hubungan mereka, dan aku yakin kalau Suma-taihiap mengetahui hubungan antara puterinya dan keponakan puterinya itu, tentu dia akan menentang.

Bukankah dia sudah memilih engkau untuk menjadi calon mantunya?

Pula, kurasa hubungan itu hanya hubungan akrab antara bibi dan keponakannya saja.!

"Hubungan akrab?

Ayah, kalau mereka itu sudah saling berpelukan, saling berdekapan, saling berciuman bibir, mungkin sekali mereka itu sudah saling bermain cinta, tidur bersama....!!

kata Tek Ciang marah.

"Hushh....!

Tahan mulutmu.

Pemuda itupun sungguh jahat dan kurang ajar.

Kalau benar dia itu keponakan Suma Hui, kenapa dia berani bermain gila dengan bibi sendiri?

Tek Ciang, kita adalah calon keluarga Suma-taihiap, dan engkau sendiri malah muridnya yang ditugaskan menemani nona Suma di rumah.

Kini, pemuda itu datang mengacau, kita harus melindungi kehormatan calon isterimu.

Aku sendiri yang akan menghajar dan membunuh pemuda tidak sopan itu.

Di mana dia?!

Louw-kauwsu tentu saja marah dan khawatir sekali melihat bahaya kegagalan ikatan jodoh antara puteranya dan puteri Suma Kian Lee.

Hal ini berarti akan hancurnya semua kebanggaan hatinya dapat berbesan dengan keturunan Pendekar Super Sakti, keluarga Pulau Es yang amat terkenal itu.

"Tadi aku membayanginya dan dia bermalam di hotel Tong-an, kamar nomor lima yang berada di bagian kiri.! "Baik, engkau jangan ikut-ikut. Malam ini akan kubereskan dia! Kukira itu satu-satunya jalan untuk membela kehormatan calon mantuku dan melenyapkan saingan untukmu. Nah, kau kembalilah ke rumah suhumu dan bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.! "Tapi, ayah....!! Tek Ciang yang merasa cemburu dan panas hatinya membantah karena sudah tertanam rasa tak senang bahkan benci terhadap diri Suma Hui yang mengecewakan hatinya.

"Diam!

Engkau harus mentaati perintahku.

Ketahuilah bahwa aku melakukan semua ini demi masa depanmu sendiri, tahu?!

Tek Ciang tidak berani merbantah lagi lalu kembalilah dia ke rumah keluarga Suma.

Bagaimanapun juga Tek Ciang adalah seorang pemuda yang cerdik dan pandai menyembunyikan perasaan hatinya.

Ketika sore hari itu Cin Liong datang dan diapun diundang untuk makan bersama, dia duduk semeja dengan Cin Liong dan Suma Hui menikmati masakan gadis itu dan biarpun Cin Liong dan Suma Hui menjaga sikap mereka sehingga tidak menonjolkan kemesraan di antara mereka, namun Tek Ciang merasa sekali adanya kemesraan itu di dalam pandang mata, senyum dan suara mereka.

Tentu saja hatinya terasa panas membakar, namun dia menekannya dan diam saja.

Akan tetapi begitu selesai makan, diapun berpamit dengan alasan untuk berlatih di dalam kamarnya.

Cin Liong bercakap-cakap dengan Suma Hui.

Dia mengatakan bahwa dia akan tinggal beberapa hari saja di Thian-cin, karena kedatangannya itu hanya untuk menyampaikan berita tentang akan datangnya orang tuanya ke Thian-cin untuk mengajukan pinangan.

Mereka bercakap-cakap dengan santai dan tentu saja dengan mesra, seperti yang hanya dapat dirasakan oleh dua orang yang saling mencinta.

Kekhawatiran yang timbul bahwa hubungan mereka akan ditentang oleh ayah gadis itu, dapat mereka lenyapkan dengan kebulatan tekad mereka bahwa apapun yang akan terjadi, mereka berdua akan menghadapinya bersama dan tidak ada apapun di dunia ini yang akan dapat menghalangi huhungan mereka dan niat mereka untuk menjadi suami isteri!

Senja telah berganti malam ketika Cin Liong meninggalkan rumah kekasihnya.

Bagaimanapun juga, dia dan Suma Hui masih menjaga anggapan orang luar yang kurang baik sehingga pemuda itu bermalam di rumah penginapan, dan diapun tidak berani terlalu malam bertamu walaupun hatinya merasa berat untuk meninggalkan kekasihnya.

Dia berjalan menuju ke rumah penginapan Tong-an dengan mulut tersenyum dan hati penuh rasa bahagia.

Biarpun usianya sudah dua puluh sembilan tahun, namun baru dua kali inilah Cin Liong jatuh cinta.

Pertama kali, cintanya terhadap pendekar wanita Bu Ci Sian mengalami kegagalan karena cintanya tidak terbalas dan semenjak itu, dia tidak pernah mengalami jatuh cinta lagi sampai dia bertemu dengan Suma Hui.

Maka, kebahagiaan yang terasa di hatinya membuat pemuda ini melenggang dengan senangnya, seperti seorang pemuda remaja mengalami cinta pertama saja.

Cin Liong adalah seorang jenderal muda yang namanya sudah amat terkenal di kota raja, di antara perajurit dan perwira, juga terkenal di dunia sesat, di antara para datuk yang menganggapnya sebagai seorang pendekar muda yang amat lihai, putera dari Si Naga Sakti Gurun Pasir.

Akan tetapi, rakyat tidak mengenalnya karena dia selalu pergi dengan pakaian preman, seperti seorang pemuda pelajar biasa.

Hanya ketika memimpin pasukan sajalah dia berpakaian seragam seorang panglima.

Kebiasaan berpakaian preman ini dilakukan karena memudahkan dia dalam tugasnya untuk melakukan penyelidikan-penyelidikan rahasia.

Itulah sebabnya, walaupun Thian-cin sebuah kota yang tidak jauh letaknya dari kota raja, akan tetapi ketika pemuda ini melenggang menuju ke hotelnya, tidak ada yang mengenalnya sebagai Jenderal Kao Cin Liong yang gagah perkasa itu.

Demikian pula Louw Kam atau Louw-kauwsu bersama dua orang pembantunya yang sejak tadi membayanginya, sama sekali tidak tahu bahwa pemuda yang dibayangi dan hendak diserang itu adalah seorang panglima kerajaan yang ternama, putera Si Naga Sakti Gurun Pasir yang sakti.

Andaikata Louw-kauwsu tahu akan hal ini, tentu dia akan menghitung sampai seribu kali sebelum dia berani menggunakan tindakan menyerang pemuda ini dan tentu akan menggunakan akal lain.

Penyerangan itu dilakukan ketika Cin Liong tiba di lorong yang gelap dan sepi itu.

Ketika ada tiga orang laki-laki menyerangnya dari belakang dan kanan kiri, mempergunakan golok dan pedang, Cin Liong cepat mengelak dan melompat ke depan, lalu membalikkan tubuhnya.

Penyerangan gelap merupakan hal yang tidak aneh baginya, bahkan dia sudah hampir terbiasa oleh peristiwa seperti ini.

Dia dalam tugasnya, sudah seringkali dia menghadapi penyerangan gelap yang dilakukan oleh pihak lawan.

Orang-orang ini tentu kaki tangan pemberontak, atau mata-mata yang mengenalinya dan yang berusaha membunuhnya dengan jalan membokong.

Diapun tidak merasa heran ketika melihat bahwa dia sama sekali tidak mengenal tiga orang ini.

Sementara itu, melihat betapa serangan mereka yang pertama itu dengan mudah dapat dielakkan lawan, Louw-kauwsu merasa kaget dan juga penasaran sekali.

Tadinya sudah dibayangkannya bahwa pemuda itu akan dapat dirobohkan dengan sekali serang saja.

Maka diapun lalu membentak marah.

"Penjahat cabul perusak anak gadis orang, rasakan pedangku!! Dan diapun sudah menyerang lagi dengan tusukan pedangnya ke arah dada Cin Liong.!Wirrr....!! Cin Liong mengelak lagi. Pemuda ini agak heran mendengar tuduhan orang. Biasanya, kalau dia diserang orang-orang secara menggelap, tentu ada hnbungannya dengan tugas dan kedudukannya sebagai panglima. Akan tetapi sekali ini dia diserang orang dengan tuduhan menjadi penjahat cabul perusak anak gadis orang! Tentu saja dia menjadi penasaran sekali.

"Eh, nanti dulu, sobat. Kalian salah melihat orang!! bantahnya. Akan tetapi, dua orang pembantu Louw Kam sudah menyerangnya dari kanan kiri, menggunakan golok mereka. Serangan mereka itu jelas serangan untuk membunuh dengan gerakan yang cepat kuat dan keji sekali. Memang dua orang ini adalah pembunuh-pembunuh bayaran yang disewa oleh Louw Kam untuk membantunya membunuh pemuda yang dianggapnya menjadi penghalang dan pengacau besar itu. Karena menghadapi serangan maut, Cin Liong tidak tinggal diam lagi. Cepat tubuhnya berkelebat ke belakang dan pada saat dua batang golok itu menyambar, dia bergerak seperti kilat ke depan sambil menggerakkan kaki kiri dan tangan kanannya.

"Bukkk!

Dessss....!!

Dua orang itu terpelanting, golok yang berada di tangan mereka terpental dan mereka mengaduh-aduh kesakitan.

Yang seorang tertendang patah tulang lututnya, dan orang ke dua terkena tamparan dan patah-patah tulang pundaknya.

Melihat ini, Louw Kam makin kaget dan juga makin penasaran.

Dua orang pembantunya itu adalah pembunuh-pembunuh bayaran yang walaupun tidak memiliki ilmu silat terlalu tinggi, akan tetapi cukup dapat diandalkan.

Siapa kira dalam segebrakan saja mereka sudah roboh dan tidak berdaya menghadapi pemuda yang tadinya dianggap sebagai makanan lunak itu.

Karena sudah terlanjur, guru silat yang ambisius ini lalu menyerang lagi dengan pedangnya.

Cin Liong dapat mengenal jurus ilmu silat yang baik, jauh lebih baik dan lebih tangguh dibandingkan dua orang pertama tadi, maka diapun dapat menduga bahwa tentu orang ke tiga inilah pemimpinnya.

Dia cepat mengelak dan membiarkan tusukan itu lewat di samping tubuhnya dan dengan perlahan dia mendorong dengan tangan kirinya.

Louw Kam tak dapat menahan hawa dorongan dahsyat itu dan diapun terjengkang!

Akan tetapi, Louw Kam sudah meloncat bangun lagi.

Dia menjadi nekat.

Kini dia tahu bahwa pemuda itu bukan orang sembarangan.

Diam-diam dia merasa menyesal mengapa hal ini tidak diselidiki lebih dahulu.

Betapa bodohnya dia.

Tentu saja seorang anggauta keluarga Pulau Es memiliki kepandaian yang tinggi!

Kenekatan Louw Kam membuat dia dapat meloncat bangun dan segera menyerang lagi, kini menggunakan jurus-jurus dari ilmu silat Siauw-lim-pai.

Biarpun baru diserang beberapa kali, Cin Liong sudah dapat mengenal dasar gerakan silat Siauw-lim-pai ini maka diapun mengelak lagi, merasa ragu menjatuhkan atau melukai lawan.

"Nanti dulu, sobat.

Bukankah engkau murid Siauw-lim-pai?

Mengapa engkau menyerangku?!

Makin jelaslah bagi Louw-kamsu bahwa pemuda ini benar-benar seorang ahli silat yang pandai sehingga dalam beberapa jurus saja sudah mengenal dasar ilmu silatnya.

Dia merasa makin menyesal akan tetapi tentu saja dia tidak dapat berterus terang.

Terus terang sama saja artinya dengan membongkar rahasianya.

Jalan satu-situnya hanyalah membunuh orang ini.

Dia menyerang lagi tanpa menjawab dan kini dia menyerang sambil mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya.

Pedangnya berdesing dan mengeluarkan sinar ketika menyambar ke depan, dibarengi bentakannya yang nyaring.

Cin Liong menjadi marah.

Diapun tahu bahwa murid-murid Siauw-lim-pai ada pula yang murtad, di antaranya adalah mendiang Kaisar Yung Ceng scndiri.

Maka tentu orang di depannya ini juga seorang murid Siauw-lim-pai yang murtad, atau bukan murid Siauw-lim-pai yang mencuri ilmu perguruan silat itu.

Dia harus dapat membongkar rahasia penyerangan ini dan untuk itu, dia tidak akan membunuh lawannya.

"Bressss....!!

Serangan Louw Kam disambut oleh Cin Liong dengan sebuah tendangan kilat yang amat dahsyat dan membuat tubuh guru silat itu terlempar sampai empat meter jauhnya dan terbanting ke atas tanah.

Diam-diam guru silat itu merasa terkejut bukan main.

Kalau bukan seorang sakti, mana mungkin menghadapi serangan pedangnya tadi dengan tendangan yang membuatnya terlempar?

Dia merasa sakit pada iganya, maklum bahwa ada tulang iganya yang patah.

Akan tetapi, tidak ada jalan lain baginya.

Menyerah dan mengaku berarti akan mencelakakan namanya dan nama puteranya.

Kalau sampai terdengar oleh Suma Kian Lee bahwa dia mengajak dua orang pembunuh bayaran berusaha membunuh cucu keponakan pendekar itu, sungguh dia tidak berani membayangkan apa yang akan menjadi akibatnya sehubungan dengan rencana perjodohan antara puteranya dan puteri pendekar sakti itu!

Satu-satunya jalan hanyalah melawan dan berusaha sedapat mungkin untuk membunuh pemuda ini.

Dua orang kawannya sudah dapat bangkit kembali dan mereka kini sudah maju pula, biarpun dengan terpincang-pincang.

Ternyata dua orang pembunuh bayaran itu juga memegang teguh janji mereka dan biarpun mereka sudah terluka, melihat betapa Louw-kauwsu melawan terus, merekapun mencoba untuk membantunya Diam-diam Cin Liong merasa heran dan juga penasaran.

Dia sudah menghajar orang-orang ini, akan tetapi mereka nekat terus.

Apakah yang menyebabkan mereka begini nekat dan membencinya?

Tentu ada sebabnya, dan mungkin juga hanya suatu kesalahpahaman belaka.

Maka, ketika mereka menerjang lagi, diapun cepat bergerak dan mendorong mereka sampai mereka terlempar jauh ke belakang.

Sekali ini, dua orang pembantu Louw Kam tidak dapat bangkit kembali, hanya mengaduh-aduh saja.

Louw Kam sendiri mengalami patah tulang pundak kirinya dan dia maklum bahwa melawan terus tidak ada artinya.

Pemuda itu sungguh terlampau kuat untuk dilawan olehnya.

Dan dia tahu bahwa pemuda itu agaknya hendak menangkapnya dan hendak memaksanya mengaku mengapa dia dan dua orang temannya melakukan serangan-serangan tanpa alasan.

Hal ini membuat Louw Kam menjadi bingung sekali.

Akan tetapi tiba-tiba dia memperoleh jalan terbaik untuk menolong nama puteranya dan juga untuk menjatuhkan fitnah buruk terhadap pemuda yang menjadi penghalang kebahagiaan puteranya ini.

Melihat betapa kedua orang temannya menggeletak tidak jauh dari tempat dia roboh, cepat dia menggerakkan pedangnya.

Dua kali dia menusuk dan pedangnya menembus jantung dua orang pembantunya itu.

Darah muncrat dan mereka berkelojotan sekarat.

"Heiiii!! Cin Liong berseru kaget bukan main melihat perbuatan laki-laki murid Siauw-lim-pai itu. Dia melihat orang itu meloncat dan melarikan diri. Tentu saja dia tidak mau membiarkan orang itu lari.

"Tunggu dulu, jangan lari!! bentaknya dan dengan beberapa kali lompatan saja dia sudah dapat menyusul. Akan tetapi, tiba-tiba Louw Kam membalik dan menggunakan pedang di tangannya menggorok leher sendiri.

"Celaka....!!

Cin Liong berteriak dan cepat kakinya menendang lengan yang memegang pedang.

Namun karena perbuatan guru silat itu sama sekali tidak pernah diduganya, biarpun tendangan itu tepat mengenai lengan dan pedang itu terlempar, akan tetapi leher orang she Louw itu sudah tergorok hampir putus dan tubuh Louw Kam berkelojotan lalu tewas tak lama kemudian!

Sejenak Cin Liong termenung, memandangi tiga mayat itu dengan hati sedih.

Banyak orang jahat memusuhinya, akan tetapi setiap kali dia merobohkan lawan, tentu dia mengenal siapa lawan itu dan apa sebabnya lawan menyerangnya.

Akan tetapi, tiga orang ini menyerangnya tanpa alasan dan mereka mati bukan di tangannya.

Mengapa mereka begitu nekat?

Mengapa pemimpin mereka itu sampai tega membunuh kawan-kawan sendiri kemudian membunuh diri?

Hanya satu jawaban, yakni bahwa orang itu tentu menyimpan rahasia dan tidak ingin diketahui rahasianya, tidak ingin dikenal dan lebih baik mati daripada menyerah dan tertangkap!

Cin Liong lalu pergi mengunjungi perwira yang menjadi komandan keamanan di kota Thian-cin.

Ketika Cin Liong malam-malam datang ke rumah komandan ini dan memperkenalkan diri, tentu saja komandan itu terkejut sekali dan dengan gugup melakukan penyambutan atas kedatangan Jenderal Kao Cin Liong, panglima muda yang amat terkenal dan yang datang dengan pakaian preman itu.

Cin Liong menceritakan tentang penyerangan tiga orang itu.

"Harap ciangkun suka melakukan penyelidikan, siapakah mereka itu dan mengapa pula mereka menyerangku mati-matian. Besok kutunggu laporanmu di hotel Tong-an.! Coa-ciangkun, komandan itu, mengangguk-angguk.

"Baik, Kao-goanswe, akan saya laporkan besok. Akan tetapi, apakah Kao-goanswe sebaiknya tidak bermalam saja di rumah kami? Daripada di rumah penginapan umum itu....! Akan tetapi Cin Liong menggoyang tangan.

"Engkau tahu, aku lebih suka menyamar dan melakukan perjalanan dengan diam-diam untuk dapat melakukan pengamatan dan penyelidikan dengan mudah.

Jangan beritakan tentang kehadiranku di kota ini.!

Biarpun kehadiran jenderal muda itu dirahasiakan sehingga tidak ada yang tahu, namun peristiwa itu diketahui umum dan menggegerkan kota Thian-cin.

Louw Kam yang dikenal sebagai Louw-kauwsu, bersama dua orang yang dikenal sebagai pembunuh-pembunuh bayaran, telah tewas di tepi jalan tanpa diketahui siapa pembunuhnya!

Tentu saja Tek Ciang menjadi terkejut sekali dan pemuda ini menangisi jenazah ayahnya.

Hanya dialah seorang yang tahu benar mengapa ayahnya tewas dan dia dapat menduga siapa pembunuh ayahnya itu.

Akan tetapi, dia tidak dapat membuka mulut mengatakan kepada siapapun juga karena hal itu akan membuka rahasia ayahnya yang hendak membunuh Cin Liong dan juga membuka rahasia dirinya sendiri.

"Ayah, aku bersumpah untuk membalaskan kematian ayah kepada Kao Cin Liong itu, apapun jalannya!!

Begitulah dia berbisik dalam hati ketika dia menyembahyangi peti mati ayahnya.

Suma Hui yang mendengar berita itupun terkejut sekali dan dara ini menyatakan duka citanya atas malapetaka yang menimpa diri ayah suhengnya.

Karena orang tuanya tidak berada di rumah, ia pun mewakili mereka untuk datang melayat dan bersembahyang di depan peti mati guru silat Louw Kam.

Dara ini tidak tahu betapa selagi ia bersembahyang, sepasang mata Tek Ciang memandangnya dengan penuh dendam dan kemarahan yang ditahan-tahan.

Sementara itu, pada keesokan harinya Cin Liong menerima laporan dari komandan Coa mengenai tiga orang itu.

Akan tetapi, laporan itu hanya menjelaskan siapa adanya mereka.

"Kami tidak dapat mengetahui mengapa mereka itu menyerang paduka,! demikian kata komandan Coa.

"Louw Kam adalah seorang duda, pekerjaannya guru silat, seorang murid Siauw-lim-pai yang belum pernah melakukan kejahatan. Sedangkan dua orang itu adalah dua orang pembunuh bayaran dan siapapun akan mereka serang dan bunuh asalkan mereka diberi uang. Louw-kauwsu sudah tewas, kami tidak dapat mencari keterangan mengapa dia minta bantuan dua orang penjahat itu untuk menghadang dan menyerang paduka. Putera tunggalnya juga tidak tahu, apalagi karena sudah beberapa bulan ini putera tunggalnya tinggal bersama Suma-taihiap....! "Suma-taihiap?! Cin Liong bertanya kaget.

"Suma-taihiap siapa?! "Pendekar Suma Kian Lee. Kabarnya, putera Louw-kauwsu itu menjadi murid Suma-taihiap dan memang ada jalinan persahabatan antara Suma-taihap dan Louw-kauwsu.! "Ahhh....!! Cin Liong tidak bertanya lagi dan mengucapkan terima kasih. Kemudian pergilah dia bergegas ke rumah Suma Hui. Gadis itu menyambutnya dengan berita yang mengejutkan itu.

"Cin Liong, telah terjadi malapetaka hebat. Ayah Louw-suheng tewas terbunuh orang!! Akan tetapi, bukan Cin Liong yang terbelalak kaget, sebaliknya malah Suma Hui yang memandang dengan mata terbelalak melihat kekasihnya itu tenang saja, bahkan menjawab.

"Aku sudah tahu, Hui-moi, karena orang itu adalah aku sendiri.! "Apa.... apa maksudmu....?! Cin Liong menyambar tangan kekasihnya yang terasa agak dingin itu dan menariknya masuk ke dalam rumah.

"Mari kita bicara di dalam.! Setelah mereka berada di dalam rumah, Cin Liong lalu menceritakan semua pengalamannya malam tadi sudah meninggalkan rumah kekasihnya.

"Aku berusaha untuk mengetahui sebab-sebab mengapa mereka menyerangku kalang-kabut tanpa alasan, dan aku sudah berhati-hati agar tidak sampai membunuh mereka. Maka aku hanya merobohkan mereka dengan mematahkan tulang pundak saja. Siapa kira, orang itu membunuh kedua orang temannya dengan tusukan pedang, kemudian melarikan diri. Ketika aku mengejarnya, tiba-tiba dia menggorok leher sendiri. Aku menyesal tidak dapat mencegah kenekatannya itu. Komandan Coa yang kuperintahkan menyelidiki, juga tidak dapat menerangkan mengapa guru silat Louw itu hendak membunuhku.! Suma Hui merasa demikian kaget dan heran sehingga tak dapat berkata-kata sampai beberapa lamanya. Kemudian ia menarik napas panjang.

"Sungguh mati kejadian itu amat aneh dan sukar dipercaya. Ketika komandan Coa itu datang dan bertanya kepada Louw-suheng pagi tadi, akupun berada di sana melayat. Louw-suheng tidak dapat memberi keterangan apa-apa, karena diapun sama sekali tidak tahu dan sudah empat bulan selalu berada di rumah ini.! Cin Liong mengangguk akan tetapi alisnya berkerut karena dia ingat betapa siang hari kemarin, Tek Ciang membayanginya dari rumah ini sampai ke rumah penginapan! Ada sesuatu yang aneh pada sikap pemuda itu, pikirnya.

"Aku ingin dapat bicara dengan Louw Tek Ciang. Bagaimanapun juga, aku ingin mengetahui apa sebabnya ayahnya yang sama sekali tidak kenal denganku itu demikian membenciku dan ingin membunuhku, sampai ditebus dengan nyawanya sendiri. Tentu ada sebab-sebab yang amat penting di balik perbuatannya itu dan agaknya, tidak mungkin kalau puteranya tidak tahu.! Suma Hui memandang khawatir.

"Akan tetapi, suheng tidak tahu bahwa yang menyebabkan kematian ayahnya adalah engkau! Perlukah hal itu diberitahukan kepadanya?! Cin Liong tersenyum dan memandang wajah kekasihnya, lalu memegang tangannya.

"Hui-moi, kenapa engkau? Bukankah itu sudah seharusnya? Seorang gagah tidak akan memyembunyikan semua perbuatannya, bahkan berani bertanggung jawab atas semua perbuatannya. Guru silat she Louw itu tewas bukan oleh tanganku, melainkan membunuh diri karena tidak mau kutangkap. Dan serangan-serangan itupun dimulai dari pihaknya terhadap diriku tanpa alasan. Betapapun pahitnya, Louw Tek Ciang harus berani menghadapi kenyataan ini, dan kalau dia menganggap aku sebagai pembunuh ayahnya dan mendendam, dia bukan seorang gagah dan tidak patut menjadi suhengmu!! Suma Hui sadar dan iapun mencengkeram tangan kekasihnya.

"Engkau benar, Cin Liong, engkau benar dan memang seharusnya hal ini dibicarakan dengan terus terang kepadanya.

Aku sungguh merasa heran sekali.

Ayahnya adalah sahabat baik ayahku.

Agaknya ayahku tidak akan keliru memilih sahabat.!

"Akupun sudah mendengar pelaporan Coa-ciangkun bahwa Louw-kauwsu belum pernah melakukan kejahatan.

Hal ini membuat aku semakin tertarik dan ingin tahu apa sesungguhnya yang menjadi sebab sehingga dia membenciku.

Apakah dia telah tersesat menjadi kaki tangan pemberontak?

Dan ada satu hal lagi yang amat mengganggu pikiranku.

Sebelum roboh dan sebelum membunuh diri, orang itu pernah memakiku sebagai seorang penjahat cabul perusak gadis orang!!

"Ehhh....?!

Suma Hui mengerutkan alisnya, menjadi makin heran dan tidak mengerti.

Kekasihnya dimaki penjahat cabul perusak anak gadis orang?

Sungguh aneh, lucu dan membuat orang menjadi penasaran!

Kekasihnya seorang jenderal muda, seorang panglima yang terhormat, seorang pendekar sakti yaug berilmu tinggi dan gagah perkasa!

"Itulah sebabnya yang mendorongku untuk bicara dengan Tek Ciang.

Mungkin dia dapat membantu memecahkan persoalan yang membingungkan ini.!

Terpaksa Cin Liong menunggu sampai upacara pemakaman jenazah Louw Kam selesai dan diapun memperpanjang tinggalnya di Thian-cin selama beberapa hari lagi.

Setelah penguburan selesai dan Tek Ciang kembali ke rumah suhunya dengan pakaian berkabung, Cin Liong datang menemuinya dengan perantaraan Suma Hui.

Wajar Tek Ciang masih pucat ketika dia duduk berhadapan dengan Cin Liong dan Suma Hui.

"Louw-suheng, Cin Liong ingin bicara dengan jujur dan terbuka denganmu mengenai ayahmu,! Suma Hui memulai dengan percakapan yang amat tidak enak itu. Tek Ciang mengangkat mukanya yang agak pucat, sejenak memandang kepada Cin Liong, kemudian menoleh kepada Suma Hui.

"Sumoi, apa lagi yang dapat dibicarakan? Ayahku telah meninggal....! suaranya gemetar dan matanya menjadi merah.

"Louw-susiok,! kata Cin Liong dengan sikap tenang. Dia tetap menyebut susiok untuk menghormati Suma Kian Lee biarpun kekasihnya sudah menegurnya akan hal itu.

"Apakah engkau tahu bagaimana meninggalnya ayahmu?! Tek Ciang memandang dan matanya mengandung kemarahan dan dendam.

"Dia dibunuh penjahat, apa lagi yang perlu diketahui? Kalau aku dapat mengetahui siapa penjahat itu....!! Pemuda ini mengepal tinjunya dan pandang matanya menjadi beringas. Tentu saja hati Suma Hui menjadi semakin tidak enak. Kalau saja bukan kekasihnya yang menghadapi urusan ini, tentu ia lebih baik pergi saja dan tidak usah menjadi saksi dalam perkara yang tidak enak ini.

"Susiok, ayahmu sama sekali tidak dibunuh penjahat. Ayahmu telah membunuh dirinya sendiri dengan menggorokkan pedangnya sendiri ke lehernya.! Tek Ciang bangkit berdiri dan memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat.

"Bagaimana engkau bisa tahu?! "Karena akulah orangnya yang kau namakan penjahat tadi.! Wajah itu semakin pucat dan matanya semakin terbelalak.

"Kau.... kau....? Kau pembunuh ayahku!! Dan pemuda itu sudah mengepal kedua tinjunya. Dia tentu sudah menyerang Cin Liong kalau saja Suma Hui tidak cepat berteriak menegurnya.

"Suheng, tenang dan duduklah lagi!! Tek Ciang menoleh kepada sumonya, lalu menjatuhkan diri duduk kembali, menggunakan kedua tangan menutupi mukanya.

"Maaf, Louw-susiok, kalau aku mengejutkan dan mengguncangkan hatimu. Akan tetapi, engkau sebagai puteranya harus mendengarkan peristiwa yang sesungguhnya terjadi. Akulah orangnya yang diserang oleh ayahmu tanpa sebab. Kemudian ayahmu menggunakan pedangnya membunuh dua orang temannya sebelum dia membunuh diri dengan pedangnya pula.! "Aku sudah mendengar akan kematian ayah!! Tek Ciang memotong, menurunkan kedua tangannya dan wajahnya kini merah sekali, kedua pipinya basah air mata.

"Kedua orang itu adalah penjahat atau dikenal sebagai orang jahat. Mungkin saja ayah membunuh mereka, kemudian ayah dibunuh orang yang lebih kuat!! "Suheng! Cin Liong sudah mengatakan dengan terus terang. Ayahmu membunuh diri sendiri dengan pedangnya setelah membunuh dua orang itu. Keterangan Cin Liong dapat kau percaya sepenuhnya. Akulah yang menanggung bahwa keterangannya itu benar dan tidak bohong.! Sejenak Tek Ciang menentang pandang mata sumoiny-a, kemudian menunduk sambil berkata penasaran.

"Akan tetapi ayah adalah seorang yang baik.

Sungguh tak masuk di akal kalau dia membunuh dua orang yang dikatakan temannya sendiri kemudian dia membunuh diri.!

"Untuk hal itu ada penjelasannya.

Harap kau suka dengarkan semua ceritaku, susiok, kemudian kau coba memberi penafsiran mengapa ayahmu berbuat demikian.

Kemarin malam, ketika aku pulang dari sini dan tiba di lorong sunyi dan gelap, tiba-tiba ada tiga orang menyerangku.

Dua orang menggunakan golok dan seorang, yaitu ayahmu, menggunakan pedang.

Aku mengelak dan berusaha bertanya, mengatakan bahwa mungkin mereka salah mengenal orang.

Akan tetapi mereka bertiga terus mendesakku dan mengirim serangan bertubi-tubi yang berbahaya.

Terpaksa aku menyerang dan membalas.

Aku bermaksud merobohkan dan menangkap mereka hidup-hidup karena aku ingin tahu mengapa mereka menyerangku dan siapa pula adanya mereka.

Akhirnya aku dapat merobohkan dua orang pemegang golok yang rendah ilmu silatnya.

Aku dapat mengenal jurus-jurus ilmu silat Siauw-lim-pai yang dimainkan ayahmu sehingga aku menjadi semakin heran karena Siauw-lim-pai adalah perkumpulan para pendekar yang menjadi sahabat-sahabatku.

Beberapa kali aku membuat ayahmu tak berdaya dan roboh tanpa melukainya terlalu berat.

Tiba-tiba saja ayahmu menusukkan pedangnya, membunuh kedua orang pengeroyok yang telah roboh terluka itu tanpa aku sempat menduganya, dan dia melarikan diri.

Aku mengejarnya dan dia lalu menggorok leher sendiri.

Sayang aku tidak sempat mencegahnya.

Nah, demikianlah kejadian yang sebenarnya, Louw-susiok.

Sekarang, setelah engkau mendengar semua itu, dapatkah engkau mengetahui atau menduga apa yang menyebabkan ayahmu marah dan membenciku, lalu menyerang dan hendak membunuhku?!

Sebetulnya, tanpa mendengarkan cerita itupun Tek Ciang sudah dapat menduga apa yang telah terjadi.

Dia merasa berduka sekali akan kematian ayahnya, dan merasa menyesal bahwa ayahnya telah mengorbankan diri dan nyawa untuknya.

Biarpun dia suka menjadi murid Suma Kian Lee, dan lebih senang lagi menjadi calon suami Suma Hui, akan tetapi kalau harus mengorbankan nyawa ayahnya, sungguh dia tidak rela!

Dan kini, melihat orang yang menyebabkan kematian ayahnya berada di depannya, bahkan menjadi saingannya dan agaknya akan menjadi penghalang perjodohannya dengan Suma Hui, bagaimana dia tidak akan membencinya setengah mati?

Pertanyaan Cin Liong tak dapat dijawabnya dan dia menggeleng kepala.

"Aku tidak tahu mengapa ayah berbuat demikian, yang kutahu benar adalah bahwa ayah seorang guru silat yang baik dan menjadi sahabat baik dari suhu.! Dengan ucapan itu dia hendak mengingatkan Suma Hui bahwa ayahnya adalah sahabat ayah gadis itu dan bahwa ayahnya orang baik, maka kenyataan ini dapat dipakai untuk menyudutkan pemuda itu, sebagai peringatan bahwa kalau ayahnya baik sampai terbunuh, kemungkinan besar pemuda itulah yang jahat! Mendengar jawaban itu, Cin Liong lalu mempergunakan pegangannya yang terakhir.

"Dengarlah, Louw-susiok. Sebelum ayahmu meninggal, dia pernah memaki aku sebagai penjahat cabul perusak anak gadis orang. Nah, apakah ucapan ayahmu itu tidak mengingatkan engkau akan sesuatu? Barangkali ayahmu bermusuhan dengan seseorang? Ataukah engkau mengenal seorang penjahat cabul yang dimusuhi ayahmu, seorang penjahat yang suka merusak wanita dan membuat ayahmu marah dan mendendam kepadanya?! "Ahhh....! Itukah sebabnya?! Kini Tek Ciang bangkit berdiri lagi dan menggebrak meja di depannya.

"Aku ingat sekarang!

Memang dalam pertemuan terakhir, beberapa hari yang lalu, ayah pernah bercerita bahwa di kota ini terdapat seorang penjahat cabul, seorang jai-hwa-cat dan ketika bertemu denganmu....

hemmm, Kau Cin Liong, mengapa ayahku memakimu penjahat cabul?

Siapa tahu penjahat cabul yang berkeliaran di kota ini adalah engkau?!

"Suheng, jangan menuduh sembarangan!!

Tiba-tiba Suma Hui membentak suhengnya dengan muka merah karena marah.

Akan tetapi Cin Liong hanya tersenyum "Maafkan dia, Hui-moi.

Dia terdorong oleh perasaan dendam dan duka.!

"Louw-suheng, buang jauh-jauh pikiran yang tidak sehat itu.

Engkau belum mengenal siapa adanya Kao Cin Liong.

Ketahuilah bahwa dia ini adalah Jenderal Muda Kao Cin Liong, panglima muda di kota raja yang menjadi kepercayaan sri baginda kaisar, berkedudukan tinggi dan diapun putera tunggal dari pendekar sakti Si Naga Sakti Gurun Pasir.

Nah, apakah engkau masih mempunyai kecurigaan bahwa dia adalah seorang penjahat cabul?!

Pemuda itu duduk bengong, mulutnya ternganga dan matanya terbelalak.

Tahulah dia bahwa dia dan ayahnya telah menghantam batu karang!

Siapa yang mengira bahwa pemuda ini adalah seorang panglima kota raja dan bahkan putera pendekar sakti yang amat ditakuti semua orang itu?

Ayahnya tentu saja bukan lawan pemuda ini dan tidak heran kalau ayahnya membunuh diri karena khawatir tertawan kemudian terbuka rahasianya.

"Ahhh....!! keluhnya lirih.

"Maafkan, aku tidak menuduh siapa-siapa akan tetapi agaknya ayah menyangka engkau penjahat itu.! Cin Liong mengangguk-angguk.

"Hanya itulah satu-satunya kemungkinan yang ada. Mungkin memang ada penjahat cabul berkeliaran dan ayahmu belum mengenal mukanya, lalu menyangka aku, atau memang ada kemiripan wajah antara penjahat itu dan aku atau....! Cin Liong berhenti.

"Atau kemungkinan apa lagi?! Suma Hui mendesak.

"Tidak ada lagi,! kata Cin Liong menahan diri karena dia tadi teringat akan sikap aneh Tek Ciang yang membayangi kemarin.

"Bagaimanapun juga, penjahat cabul itulah yang menjadi biang keladi kematian ayah!! teriak Tek Ciang.

"Aku takkan tinggal diam dan setiap malam aku akan mencoba melanjutkan usaha ayah, mencari jejaknya.!

Suma Hui dan Cin Liong tak dapat mencegah dan pemuda itu memang benar-benar setiap malam keluar rumah dan baru pada pagi harinya pulang dengan wajah pucat dan tubuh lesu.

Tek Ciang melakukan hal ini sama sekali bukan karena dia percaya adanya penjahat cabul yang berkeliaran, melainkan hal itu dilakukan karena kecerdikannya.

Dia tahu bahwa penjahat cabul itu tidak ada dan bahwa ayahnya memaki Cin Liong saking marahnya melihat Cin Liong sebagai penghalang perjodohannya dengan Suma Hui.

Cin Lionglah yang dimaki ayahnya sebagai penjahat cabul yang hendak merusak Suma Hui!

Akan tetapi, untuk mempertebal kesan di hati Suma Hui dan Cin Liong bahwa memang ayahnya tidak punya rahasia lain lagi dan bahwa benar ada penjahat cabul, maka diapun berpura-pura mencari penjahat cabul itu setiap malam!

Sebenarnya, ke manakah perginya pemuda ini setiap malam?

Dia pergi ke tempat sunyi di luar kota Thian-cin, di dalam sebuah kuil tua yang sudah tidak terpakai lagi dan duduk melamun sampai kantuk membuatnya tertidur di tempat itu pula.

Pada malam ke tiga, selagi dia duduk melamun, dia mendengar suara orang berdehem di bagian belakang kuil.

Tek Ciang terkejut sekali.

Akan tetapi dia bukanlah seorang penakut, apalagi setelah dia merasa menjadi murid pendekar sakti Suma Kian Lee.

Dia melompat berdiri dan cepat menuju ke ruangan belakang.

Sinar bulan memasuki ruangan itu dari atap yang sebagian besar telah berlubang dan rusak.

Dan di bagian belakang kuil itu, di ruangan sembahyang yang lantainya sudah disapu bersih, dia melihat seorang laki-laki duduk bersila!

Diam-diam dia merasa heran bukan main.

Kapan datangnya orang ini dan kalau baru saja datang, mengapa dia tidak mendengar kedatangannya?

Laki-laki itu berusia lima puluh tahun lebih namun masih nampak ganteng dan pakaiannya juga rapi dan serba baru.

Di dekatnya terdapat sebatang dupa yang mengepul dan bau harum aneh kini tercium oleh Tek Ciang.

Agaknya angin datang dari arah depan kuil sehingga asap hio wangi itu terbang ke arah belakang.

Kalau terjadi sebaliknya, tentu sejak tadi dia mencium bau harum ini karena dupa itu telah terbakar setengahnya lebih.

Dan di sebelah kanannya terdapat pula sebuah karung besar terbuat dari sutera yang isinya entah apa akan tetapi besarnya sama dengan tubuh seorang manusia.

"Siapakah engkau....?! Dengan memberanikan diri Tek Ciang menegur. Laki-laki yang tadinya bersila sambil memejamkan matanya itu kini membuka mata memandang lalu tersenyum.

"Engkau hendak mencari seorang pemetik bunga?

Nah, di sinilah aku, lalu engkau mau apa?!

Jawaban dan pertanyaan itu membuat Tek Ciang terheran.

Tentu saja dia sama sekali tidak pernah mencari penjahat pemerkosa yang biasanya disebut jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) karena hal itu dikemukakan kepada Cin Liong dan Suma Hui hanya untuk menutupi rahasia ayahnya saja.

Dan orang ini begitu saja mengaku dirinya jai-hwa-cat dan bahkan tahu bahwa dia mencari jai-hwa-cat!

Yang mendengar pernyataannya itu hanya Cin Liong dan Suma Hui, bagaimana orang ini dapat mengetahuinya?

Tentu orang ini kaki tangan Cin Liong!

Benar, bukankah Cin Liong katanya seorang jenderal dan panglima?

Tentu banyak anak buah dan kaki tangannya, dan orang ini tentu diutusnya untuk menyelidikinya.

Tek Ciang merasa kaget dan juga marah.

Dia bukan seorang bodoh yang mudah dipancing begitu saja.

"Hemm, setiap orang bisa saja mengaku sebagai jai-hwa-cat, akan tetapi apa buktinya bahwa engkau seorang jai-hwa-cat tulen ataukah palsu hanya pura-pura saja?! "Bocah tolol, berani engkau mengatakan aku jai-hwa-cat palsu? Hati-hati menjaga mulutmu!! Orang itu menegur dengan alis berkerut, jelas merasa tidak senang dikatakan penjahat palsu. Sebaliknya, Tek Ciang yang masih menaruh hati curiga, mendengar ucapan keras itu juga menjadi marah.

"Habis engkau mau apa?

Engkau tentu datang untuk memata-mataiku, keparat!!

Pemuda ini lalu menerjang ke depan menyerang orang itu dengan kedua kepalan tangannya, menghantam dua kali berturut-turut ke arah kepala orang itu.

Akan tetapi, sebelum kedua kepalannya menyentuh orang itu, yang diserang mengulur tangan dengan jari tangan terbuka didorongkan ke depan dan akibatnya tubuh Tek Ciang terlempar ke belakang, terjengkang seperti tertolak oleh kekuatan dahsyat yang tidak nampak!

Pemuda ini kaget bukan main.

Akan tetapi dia bukan seorang penakut dan dengan penasaran dia sudah menubruk maju lagi, mengirim pukulan yang lebih dahsyat.

Kembali orang itu mendorongkan tangannya dan makin keras pukulan Tek Ciang, makin keras pula dia terjengkang dan terbanting ke atas lantai kuil yang berlubang-lubang.

"Ha-ha-ha, sebagai murid Suma Kian Lee, engkau masih kosong!

Dan kenapa engkau menyerangku kalau kita mempunyai kepentingan bersama?

Engkau kematian ayahmu dan tunanganmu direbut orang.

Engkau mendendam kepada Kao Cin Liong, dan akupun juga.

Kalau kita bekerja sama, tentu akan lebih mudah membalas dendam!!

Tek Ciang memandang dengan mata terbelalak dan muka berobah.

Orang ini agaknya mengetahui segala-galanya!

Tidak mungkin dia kaki tangan Cin Liong.

Bahkan Cin Liong sendiri, juga Suma Hui, tidak tahu bahwa dia telah diangkat menjadi calon suami Suma Hui, akan tetapi orang ini mengatakan bahwa tunangannya direbut orang!

"Siapakah engkau....?!

Kembali dia bertanya, akan tetapi sekali ini dia sudah kehilangan keberaniannya.

Orang itu jelas memiliki kesaktian yang luar biasa sehingga tanpa menyentuh sudah dapat membuat dia terjengkang dua kali.

"Di dunia kang-ouww, di mana engkau tentu masih asing, aku disebut orang Jai-hwa Siauw-ok.

Tentu engkau belum mengenal namaku, akan tetapi kalau engkau mencari pemetik bunga, aku adalah Raja Pemetik Bunga!!

Orang itu memang Jai-hwa Siauw-ok Ouw Teng, seorang di antara sekutu Hek-i Mo-ong ketika para datuk kaum sesat itu melakukan penyerbuan ke Pulau Es.

Seperti telah kita ketahui, Jai-hwa Siauw-ok Ouw Teng berhasil menawan Suma Hui yang dibawanya lari ke daratan dan kemudian dia hendak mempermainkan dan memperkosa dara cucu Majikan Pulau Es itu.

Akan tetapi perbuatan keji ini gagal ketika Cin Liong muncul dan nyaris dia celaka kalau dia tidak segera melarikan diri.

Tentu saja hatinya merasa kecewa bukan main dan diapun tidak mau berhenti sampai di situ saja.

Diam-diam dia melakukan penyelidikan ke Thian-cin dan dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, dia dapat membayangi Suma Kian Lee ketika berkunjung ke rumah guru silat Louw Kam, dan kemudian diapun dapat mendengar percakapan rahasia antara guru silat itu dan puteranya.

Setelah dia melihat Loaw Kam tewas dan Louw Tek Ciang yang diangkat menjadi murid dan calon mantu oleh Suma Kian Lee itu mendendam terhadap Cin Liong, dia menjadi girang sekali.

Apalagi setelah dia melakukan penyelidikan dan tahu akan isi perut Louw Tek Ciang.

Dia melihat seorang pembantu yang amat baik dalam diri Tek Ciang, seorang pembantu yang akan dapat melampiaskan dendam dan kebenciannya terhadap keluarga Pulau Es, terutama Suma Hui dan Cin Liong.

Demikianlah, diam-diam dia membayangi Tek Ciang dan malam itu memperoleh kesempatan baik untuk melakukan penjajagan terakhir dengan menjumpai pemuda itu di kuil tua.

Sementara itu, mendengar bahwa orang ini mengaku berjuluk Jai-hwa Siauw-ok (Si Jahat Kecil Pemetik Bunga), hati Tek Ciang menjadi bimbang.

Dia tidak mengenal orang ini, bagaimana mungkin dia akan membuka rahasia hatinya yang amat berbahaya?

Memang, setelah ayahnya tewas, dalam keadaan seperti itu dia membutuhkan seorang teman dan pembantu yang boleh dipercaya.

Akan tetapi dia harus berhati-hati.

Biarpun orang ini lihai sekali, akan tetapi dia belum mengenalnya dan untuk itu dia harus yakin dulu sebelum membuka rahasianya.

"Lociapwe adalah seorang yang berilmu tinggi, hal ini aku dapat percaya,! katanya hati-hati.

"akan tetapi aku belum mengenal locianpwe, bagaimana mungkin aku dapat percaya begitu saja akan maksud baik locianpwe terhadap diriku?!

"Ha-ha-ha, di dalam dunia kita, tidak dikenal maksud baik.

Aku membutuhkan bantuanmu, karena itu aku menghubungimu, dan engkau membutuhkan aku, maka engkau pun sepatutnya menerima uluran tanganku untuk bekerja sama.

Dan kalau engkau belum yakin bahwa aku adalah seorang Raja Pemetik Bunga, lihatlah, ini korbanku terakhir malam ini, baru saja kuambil dari dalam kamarnya, ha-ha-ha!!

Jai-hwa Siauw-ok menarik ujung karung dan isinyapun menggelinding keluar.

Tek Ciang terkejut melihat bahwa isi karung itu ternyata adalah seorang gadis muda berusia paling banyak lima belas tahun, wajahnya cantik akan tetapi pucat sekali, rambutnya awut-awutan dan sepasang matanya yang indah lebar itu seperti mata kelinci yang berada dalam cengkeraman harimau, penuh rasa ngeri dan takut.

Gadis itu tadinya tidak mampu bergerak atau mengeluarkan suara, ketika Jai-hwa Siauw-ok menggerakkan tangan menotoknya, iapun dapat meronta dan mengeluh lirih, dan melihat Tek Ciang ia lalu merintih memohon.

"Tolonglah aku.... tolonglah aku.... lepaskan aku....! Tanpa disadarinya sendiri, melihat gadis remaja cantik ini ketakutan setengah mati, Tek Ciang merasa gembira. Dia memang pembenci wanita, dan kalau dia suka mendekati wanita, hanyalah untuk mempermainkannya, bersenang-senang diri dengan menghina wanita yang dibencinya. Kini, melihat gadis itu menderita, diapun merasa gembira dan puas. Seri wajah dan sinar matanya tidak lepas dari pengamatan Jai-hwa Siauw-ok, walaupun cuaca di situ remang-remang saja, hanya ada sedikit cahaya bulan yang masuk.

"Ha-ha-ha, memang cocok sekali. Engkau adalah calon seorang jai-hwa-cat yang hebat! Engkau pembenci wanita, dan dalam hal itu, aku kalah olehmu!! kata Jai-hwa Siauw-ok.

"Nah, Louw Tek Ciang, apakah engkau masih sangsi bahwa aku adalah seorang Raja Pemetik Bunga dan apakah engkau masih curiga kepadaku?! Tek Ciang menggeleng kepala.

"Kesangsian dan kecurigaanku sudah mulai berkurang, locianpwe.!

"Bagus!

Nah, kau bersenang-senanglah, baru nanti kita bicara lagi,!

katanya sambil menunjuk ke arah gadis yang masih ketakutan dan yang kini mundur-mundur merangkak dan mepet di sudut ruangan itu.

Pakaiannya masih utuh akan tetap kusut dan kini saking takutnya ia sudah tidak mampu mengeluarkan kata-kata lagi, hanya memandang bergantian kepada Siauw-ok dan Tek Ciang, merasa putus asa karena pemuda itu ternyata agaknya sahabat dari penculiknya.

Tadi, dia masih menyulam di kamarnya dan belum tidur ketika tiba-tiba ada bayangan berkelebat, jendelanya terbuka dan tahu-tahu ada laki-laki itu berdiri di depannya.

Ia hendak menjerit, akan tetapi tiba-tiba saja ia tidak mampu bersuara, bahkan tubuhnya seketika menjadi lemas ketika ia dipondong, kemudian dimasukkan karung dan merasa tubuhnya terayun-ayun dan dilarikan cepat sekali.

Berkali-kali ia pingsan dan ketika sadar, ia masih berada di dalam karung, di ruangan itu, akan tetapi baru mampu bergerak dan bersuara setelah dikeluarkan dari dalam karung.

Sepasang mata Tek Ciang berkilat.

Dia belum pernah memperkosa wanita, dalam arti kata memperkosa mempergunakan kekerasan.

Tentu saja diapun sudah memperkosa banyak wanita dengan uangnya, kemudian mempermainkan wanita itu dan menghinanya.

Sesaat timbul nafsu berahinya, akan tetapi kesadarannya melarangnya.

Dia masih dalam kesulitan.

Dia masih mempunyai perkara besar yang harus diselesaikan.

Di samping itu, dia masih belum yakin sepenuhnya kepada orang ini.

Siapa tahu semua ini hanya pancingan belaka dan kalau dia terpancing, orang lihai ini akan turun tangan mencegahnya memperkosa gadis itu, atau malah membunuhnya!

Tek Ciang menggeleng kepala.

"Tidak, locianpwe. Aku.... aku tidak ingin....! Siauw-ok menyeringai.

"Siapa bilang tidak ingin? Nafsu berahimu membakar sampai nampak di pandang matamu, akan tetapi engkau tidak berani, engkau takut dan masih belum percaya kepadaku. Hemm, kalau begitu biarlah kunikmatinya sendiri. Nanti lewat tengah malam baru kita bicara!! Setelah berkata demikian, Siauw-ok mengangkat muka memandang kepada gadis remaja yang mepet di sudut ruangan itu dan menggapai.

"Manis, ke sinilah engkau!! Tentu saja gadis itu makin ketakutan, menggeleng-geleng kepalanya dan makin mepet dinding, seolah-olah ia hendak melarikan diri dengan menembuskan tubuhnya pada dinding itu.

"Ke sinilah, jangan malu-malu dan jangan takut-takut....! kata Siauw-ok lagi sambil menggapai dan tersenyum ramah. Gadis itu menoleh ke kanan kiri, dan akhirnya ia melihat bagian belakang ruangan itu yang kosong. Jalan ke belakang! Bagaikan memperoleh tenaga dan semangat baru, gadis remaja itu bangkit dan meloncat lalu berlari ke arah pintu belakang itu.

"Ahh, jangan lari, manis!! Siauw-ok berkata, suaranya masih halus, tangannya bergerak ke depan dan gadis itu menjerit, tubuhnya terguling seolah-olah kakinya ada yang menjegalnya.

"Ha-ha-ha, engkau tidak mungkin bisa lari dariku, manis!! Siauw-ok berkata dan kembali ia mengggerakkan kedua tangannya ke depan dan.... Tek Ciang memandang kagum dan heran melihat betapa tubuh gadis itu terguling-guling ke arah Siauw-ok seperti ditarik oleh suatu kekuatan yang hebat.

"Uhhh....!!

Gadis itu mengerang ketika tangan Siauw-ok tiba-tiba memegangnya.

Terdengar suara kain robek berkali-kali disusul jerit tangis gadis itu.

Tek Ciang tersenyum melihat betapa pakaian gadis itu robek-robek, kemudian diapun meninggalkan ruangan belakang itu, menuju ke ruangan depan di mana dia duduk melamun, mendengarkan tangis dan rintihan yang terdengar dari ruangan belakang itu.

Mendengar rintihan yang memelas itu, dia tersenyum dan hatinya merasa senang sekali.

Rasakan engkau sekarang!

Demikian bisik hatinya puas.

Kalau saja dia tidak sedang dalam keadaan penasaran dan sedih, kalau saja dia sudah tidak curiga sama sekali terhadap orang itu, tentu dia ingin sekali melaksanakan sendiri penyiksaan dan penghinaan terhadap gadis itu, atau setidaknya menonton dengan puas.

Kini, dia hanya memuaskan hatinya dengan pendengarannya saja.

Rintihan dan jerit tangis wanita itu baginya terdengar seperti musik merdu yang mengelus hatinya yang luka penuh dendam dan kebencian!

Tek Ciang melamun dan tenggelam dalam renungan sampai suara rintihan dan isak tangis itu makin lemah dan akhirnya terhenti sama sekali.

Dia terkejut ketika tiba-tiba namanya dipanggil.

"Louw Tek Ciang!

Ke sinilah engkau!!

Tek Ciang mengenal suara Siauw-ok.

Dia menengadah, memandang ke langit melalui atap yang berlubang besar itu.

Bulan telah condong ke barat.

Tengah malam telah tiba dan diapun bangkit berdiri, lalu melangkah memasuki ruangan belakang di mana kini sinar bulan masuk agak banyak melalui atap bolong karena lubang atap di bagian ruangan ini menghadap agak ke barat.

Tek Ciang menyapu dengau pandang matanya.

Siauw-ok sudah duduk pula seperti tadi, bersila dan seperti tidak nampak perobahan, hanya mukanya agak basah oleh peluh yang diusapnya.

Di sebelahnya nampak sesosok tubuh yang putih tak berpakaian itu.

Tubuh gadis remaja tadi yang kini rebah terlentang, nampak wajahnya yaug pucat seperti mayat, napasnya yang empas-empis dan matanya terpejam.

Tek Ciang terpaksa menahan senyumnya yang timbul dari hati yang puas.

Dia lalu duduk di depan Siauw-ok, tidak lagi memperdulikan gadis itu.

"Nah, sekarang kita bicara tentang urusan kita.! kata Siauw-ok, juga sikapnya sama sekali tidak perduli akan gadis yang telah diperkosa dan dipermainkannya itu.

"Locianpwe telah tahu mengapa aku mendendam kepada Kao Cin Liong. Akan tetapi aku belum tahu mengapa locianpwe jugamemusuhinya .! Tek Ciang memulai. Untuk bekerja sama dengan seseorang, dia harus tahu lebih dulu dasar yang mendorong orang itu untuk bekerja sama.

"Kao Cin Liong adalah seorang panglima yang sudah banyak menghancurkan dan membunuh golongan kita, bahkan suboku dan semua supek dan susiokku juga tewas di tangan dia dan kawan-kawannya.!

"Lalu apa maksud locianpwe untuk mengajakku bekerja sama?

Aku bukan tandingan Cin Liong, dan locianpwe sendiri adalah seorang yang berilmu tinggi, mengapa mengajak kerja sama dengan aku yang masih hijau dan lemah?!

"Kita dapat saling bantu, Tek Ciang.

Engkau sudah melihat kepandaianku, dan aku telah mengenalmu, mengetahui segala hal mengenai dirimu dan rahasia ayahmu.

Karena itu, engkau tidak mempunyai pilihan lain kecuali bekerja sama denganku.

Beberapa patah kata saja dariku tentang engkau dan ayahmu, jangan harap engkau akan dapat terus menjadi murid Suma Kian Lee, apalagi menjadi mantunya.!

Diam-diam Tek Ciang terkejut.

Dia tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang yang amat licik, curang dan kejam sekali, juga amat lihai.

"Locianpwe, sebelum kita berunding, aku ingin lebih dulu mengetahui keuntungan apa yang dapat kuperoleh dengan kerja sama kita ini.! Siauw-ok tertawa.

"Ha-ha-ha, engkau cerdik, jauh lebih cerdik daripada ayahmu yang tolol itu, yang berani mencoba untuk menyerang Kao Cin Liong.!

"Harap locianpwe tidak membawa-bawa ayahku yang sudah meninggal, dan katakan keuntungan apa yang dapat kuperoleh.!

"Keuntungannya?

Wah, banyak sekali bagimu.

Pertama, engkau akan terus menjadi murid Suma Kian Lee.

Ke dua, engkau dapat dipastikan akan menjadi suami Suma Hui, atau setidaknya engkau sudah dapat menikmati kegadisannya.

Dan ke tiga, engkau akan dapat membalas dendam kepada Kao Cin Liong dengan membuat dia sengsara, terputus hubungannya dengan Suma Hui, bahkan besar sekali kemungkinan dimusuhi oleh keluarga Suma.

Ha-ha, mereka itu, keluarga Suma dan keluarga Kao, akan menjadi musuh yang saling menghancurkan!

Betapa hebat dan bagusnya rencanaku ini!!

Tentu saja hati Tek Ciang tertarik sekali.

Begitu banyak hal-hal yang menguntungkan baginya.

Akan tetapi dia masih menawar.

"Apakah tidak bisa Cin Liong kulihat mampus di depan kakiku?!

"Oho-ho-ho-ho, bicara sih mudah!

Engkau tahu, ilmu kepandaian Kao Cin Liong itu hebat sekali dan agaknya Si Naga Sakti Gurun Pasir yang menjadi ayahnya itu telah mewariskan ilmu-ilmunya yang hebat.

Aku sendiripun tidak sanggup mengalahkannya, apalagi membunuhnya.

Lebih-lebih engkau.

Kalau dia tidak sampai terbunuh oleh siasatku ini, kelak engkau masih mempunyai banyak harapan untuk melakukannya sendiri.

Bukankah engkau menjadi murid yang akan mewarisi ilmu-ilmu dari Pulau Es?

Nah, kelak masih banyak kesempatan bagimu kalau hendak membunuhnya dengan tangan sendiri.

Akan tetapi, mungkin siasatku ini akan menjerumuskannya ke dalam permusuhan dengan keluarga Suma dan siapa tahu dia akan mampus karena permusuhan itu.!

"Baik, locianpwe, aku setuju untuk bekerja sama.

Nah, apa yang harus kulakukan sekarang?!

"Mendekatlah dan dengar baik-baik....!

kata Siauw-ok.

Tek Ciang mendekat dan datuk sesat itu lalu berbisik-bisik dengan suara yang hanya dapat terdengar oleh mereka yang berada di dalam ruangan itu.

Sampai lama mereka berbisik-bisik dan tahu-tahu malam telah terganti fajar.

Mereka sudah selesai bicara dan bangkitlah keduanya, lalu mereka berjalan ke arah pintu depan.

Tiba-tiba Tek Ciang teringat sesuatu dan menoleh ke arah gadis remaja yang masih rebah terlentang.

Kini gadis itu agaknya sudah siuman, terdengar ia merintih perlahan dan mukanya miring, matanya terbuka dan air mata mengalir di sepanjang pipi dan lehernya.

"Bagaimana dengan perempuan itu?

Ia mungkin mendengar semua percakapan kita,!

kata Tek Ciang.!Dibiarkanpun ia akan mati, tapi lebih aman begini!!

Tiba-tiba Siauw-ok menggerakkan lengannya berputar, dan ketika dia melakukan gerakan memukul dengan jari terbuka ke arah gadis itu, terdengar gadis itu menjerit lemah dan tubuhnya terkulai.

Di dadanya, di antara buah dadanya, nampak guratan merah yang mengeluarkan darah seolah-olah dada itu baru saja ditusuk pedang.

Itulah Ilmu Kiam-ci (Jari Pedang) yang amat lihai dari Siauw-ok, yang diwarisinya dari mendiang Ji-ok yang menjadi guru dan juga kekasihnya.

Melihat ini, Tek Ciang melongo penuh kagum.

Membunuh orang dari jarak jauh dengan pukulan sudah banyak didengarnya, akan tetapi dengan pukulan yang mengakibatkan luka seperti ditusuk pedang, baru sekali ini dilihatnya, bahkan belum pernah didengarnya.

"Engkau sungguh hebat, locianpwe.!

"Ha-ha, kalau siasat kita berhasil dan kita menjadi sahabat, aku tidak akan berkeberatan kelak mengajarmu Ilmu Kiam-ci ini.

Nah, sekarang bawalah tubuh itu berikut semua pakaiannya, kita harus membuang jauh-jauh dari tempat ini yang akan menjadi tempat pertemuan kita.!

Tek Ciang menurut.

Dia menghampiri mayat gadis itu, memanggulnya dan membawa semua robekan pakaiannya, kemudian meugikuti Siauw-ok keluar dari kuil itu.

Di tempat sunyi, jauh dari situ, mereka melemparkan mayat dan sisa-sisa pakaiannya ke dalam sebuah jurang yang amat da1am sehingga tidak terdapat kemungkinan mayat itu akan ditemukan orang.

Kemudian mereka berdua berpisah dan mengambil jalan masing-masing tanpa banyak cakap lagi karena semua rencana siasat mereka telah mereka bicarakan sampai jelas sekali malam tadi.

Louw Tek Ciang pulang ke rumah suhunya dengan dendam yang sudah digodok matang dengan rencana siasat keji yang diatur oleh Jai-hwa Siauw-ok Ouw Teng!

Dua hari kemudian, pada suatu sore, seperti biasa Cin Liong datang mengunjungi kekasihnya, disambut dengan gembira oleh Suma Hui.

Mereka lalu duduk di ruangan tamu dan pada sore hari itu, seperti sudah dijanjikan, Cin Liong harus makan malam di situ karena sudah dipersiapkan oleh kekasihnya.

Dan baru pada waktu makan itulah, setelah lewat beberapa hari, Cin Liong berkesempatan jumpa dengan Tek Ciang.

Dia memandang tajam dan mendapat kenyataan bahwa pemuda itu sudah berobah.

Tidak muram atau pucat lagi, bahkan hormat dan ramah kepadanya.

"Kao-taihiap, aku minta maaf atas segala kesalahanku....! "Ah, Louw-susiok mengapa menyebutku taihiap segala?! "Suheng, engkau kenapa sih? Kenapa menyebut taihiap kepada Cin Liong?! Suma Hui juga menegur sambil tersenyum, merasa geli oleh sikap baru ini. Tek Ciang menarik napas panjang.

"Ahh, aku ingin menampar pipi sendiri kalau berani menyebut nama begitu saja.!

"Ih, kenapa begitu, suheng?

Cin Liong ini memang masih terhitung keponakanku, maka sudah sepatutnya dia menyebutmu susiok dan engkau menyebut namanya begitu saja.

Bukankah yang sudah-sudah engkau pun menyebut namanya saja?!

"Karena aku belum mengenal siapa dia!

Kalau dia seorang biasa yang lemah seperti aku masih mending.

Akan tetapi dia adalah seorang pendekar sakti, seorang jenderal, dan jauh lebih tua dariku.

Kalau aku menyebut namanya begitu saia tentu aku akan menjadi buah tertawaan orang.

Tidak, aku harus menyebut taihiap atau aku tidak akan berani menyebut sama sekali.!

Cin Liong tersenyum, di dalam hatinya dia membenarkan Suma Hui yang menceritakan kepadanya bahwa pemuda itu selalu ramah dan hormat.

"Baiklah, Louw-susiok, sesukamulah. Apa artinya dalam sebuah sebutan? Akan tetapi, mengapa engkau minta maaf?! "Karena aku telah bersikap kasar selama ini terhadap taihiap, juga menyangka yang bukan-bukan berhubung dengan kematian ayah, dan juga.... ketika pertama kali taihiap datang, aku.... aku telah membayangimu sampai ke rumah penginapan, maklumlah, aku.... aku ketika itu menaruh curiga kepadamu.! Cin Liong tertawa.

"Aku sudah tahu akan hal itu dan tak perlu dirisaukan, susiok. Eh, bagaimana dengan hasil penyelidikanmu tentang jai-hwa-cat itu?! Tek Ciang menggeleng kepala dan menarik napas panjang.

"Agaknya aku masih terlalu bodoh, kepandaianku masih terlalu rendah untuk dapat menemukan jejaknya, walaupun beberapa kali aku melihat berkelebatnya bayangan orang yang cepat sekali di wuwungan rumah-rumah. Bahkan aku mendengar berita akan hilang terculiknya seorang gadis dari keluarga Ciong di ujung barat kota. Aku yakin bahwa ayah benar, yakni bahwa ada jai-hwa-cat berkeliaran di kota ini.! Cin Liong mengangguk.

"Akupun sudah mendengar berita itu dari komandan kota.

Karena kebetulan akn sendiri sedang berada di kota ini, biarlah aku akan melakukan penyelidikan malam ini.!

"Aku juga akan melakukan penyelidikan sedapatku, taihiap.

Pendeknya, aku takkan berhenti menyelidiki sebelum penjahat itu tertangkap atau terbunuh!!

Tek Ciang berkata penuh semangat.

Setelah makan selesai, Tek Ciang yang "tahu diri!

lalu mundur dan memasuki kamarnya sendiri, membiarkan sepasang kekasih itu asyik berdua saja di kamar tamu.

Dan memanglah, setiap kali mereka bertemu berdua saja, Cin Liong dan Suma Hui tentu menumpahkan rindu dan sayangnya melalui suasana yang akrab dan santai, romantis dan mesra.

Mereka bercakap-cakap, bersendau-gurau, kadang-kadang berangkulan dan berciuman.

"Hui-moi, kalau ayah bundaku sudah melamar, dan kalau orang tuamu setuju, aku ingin kita tidak lama-lama menunda pernikahan. Aku ingin segera menikah denganmu, tinggal di kota raja dan aku akan mengajukan permohonan kepada sri baginda kaisar agar ditugaskan di kota raja saja, agar tidak banyak berkeliaran meninggalkan rumah seperti sekarang. Dengan demikian, kita akan dapat setiap bari berjumpa dan berkumpul.!!Ihh, kenapa tergesa-gesa amat menikah?! Suma Hui menggoda sambil tersenyum dan kedua pipinya merah. Cin Liong mencubit dagunya.

"Masa tidak mengerti? Aku aku sudah ingin.... eh, selalu di sampingmu, Hui-moi.! Sejenak mereka bermesraan. Tiba-tiba Suma Hui menarik napas panjang.

"Bagaimana audaikata.... ayahku tidak setuju?! Cin Liong mengerutkan alisnya.

"Kalau begitu....

tinggal terserah kepadamu.

Tentu saja aku tidak berani menentang orang tuamu, Hui-moi, akan tetapi demi engkau, apapun juga akan kulakukan, kalau perlu menghadapi orang tuamu.!

"Kalau aku....

jika ayah melarang dan menentang, aku akan pergi meninggalkan rumah ini, aku akan pergi bersamamu....

maukah engkau, Cin Liong?!

"Tentu saja!

Dan aku akan melindungimu, membelamu dengan nyawaku.

Akan tetapi, mudah-mudahan tidak sampai sejauh itu, Hui-moi, aku percaya akan kebijaksanaan ayahmu sebagai seorang pendekar sakti yang berpemandangan luas.!

Demikianlah, mereka bercakap-cakap, kadang-kadang gembira, kadang-kadang gelisah kalau membayangkan halangan besar yang mungkin timbul dalam hubungan mereka karena penentangan ayah gadis itu.

Kemudian pemuda itu menyatakan bahwa sebaiknya kalau dia pergi dulu ke kota raja, selain untuk urusan tugas, juga untuk menanti datangnya ayah bundanya.

Suma Hui terkejut mendengar kekasihnya akan pergi.

"Apakah engkau tidak dapat menanti sampai pulangnya ayah dan ibu?! Gadis ini membayangkan betapa hidup akan terasa sunyi dan tidak menyenangkan kalau kekasihnya ini pergi dari Thian-cin.

"Agaknya tidak baik kalau di waktu orang tuamu tidak ada di rumah, aku setiap hari datang mengunjungimu, Hui-moi. Apa akan kata orang nanti? Pula, orang tuaku sudah berjanji bahwa kalau mereka pergi ke Thian-cin, mereka akan singgah dulu di kota raja.! Biarpun hatinya terasa berat, namun Suma Hui tidak dapat membantah kekasihnya. Ia hanya bertanya muram.

"Kapan engkau akan pergi?! "Sebaiknya besok atau lusa, Hui-moi. Sudah agak lama aku berada di sini.! Malam itu, ketika Cin Liong hendak meninggalkan Suma Hui, gadis itu merangkulnya dan suaranya penuh kesedihan ketika ia berkata.

"Cin Liong, jangan terlalu lama meninggalkan aku.... aku akan merasa kesepian dan tidak betah di rumah ini....! Cin Liong merangkul dan menciumnya. Karena mereka berdua maklum bahwa besok mereka akan berpisah, maka rangkulan dan ciuman mereka lebih hangat dan mesra daripada biasanya. Cin Liong yang merasa betapa gairah berahi menyerangnya, cepat mendorong tuhuh Suma Hui dengan halus sambil berkata dan tersenyum.

"Ah, Hui-moi. Kenapa engkau bersedih? Kita berpisah hanya untuk beberapa bulan saja. Bagaimanapun juga, engkau adalah calon isteriku, apapun yang akan terjadi, bukan? Engkau adalah punyaku....! Mereka berdekapan lagi.

"Aku punyamu dan engkau milikku, Cin Liong....

hanya kematian yang akan memisahkan kita....!

"Aku cinta padamu, Hui-moi....

aku cinta padamu....!

Dengan kata-kata yang diucapkan suara tergetar ini masih terngiang di telinganya, Suma Hui mengantar kekasihnya yang meninggalkan rumahnya itu.

Cin Liong juga merasa berat sekali meninggalkan Suma Hui, walaupun besok sebelum berangkat dia tentu akan singgah untuk berpamit dulu.

Dia tidak langsung ke rumah penginapan karena teringat akan cerita yang didengarnya tentang gadis yang lenyap diculik penjahat.

Kalau memang benar ada jai-hwa-cat berkeliaran di kota ini, sebelum dia pergi, dia harus dapat menangkapnya lebih dulu.

Adanya seorang penjahat cabul di Thian-cin sama dengan memandang rendah kepada keluarga Suma!

Maka diapun mulai melakukan penyelidikan pada malam hari itu.

Malam itu Suma Hui tidak dapat tidur, gelisah saja di atas pembaringannya.

Ia memerintahkan pelayan rumah untuk menutup semua pintu dan jendela setelah kekasihnya pergi dan setelah membersihkan diri, iapun memasuki kamarnya.

Ia tahu bahwa suhengnya tidak ada, seperti katanya tadi ketika makan bersama, suhengnya itu akan melanjutkan usahanya mencari jejak jai-hwa-cat.

Juga kekasihnya akan ikut membantu dalam pengusutan dan pencarian jejak penjahat itu.

Akan tetapi ia sendiri tidak perduli.

Hati dan pikirannya sudah penuh dengan masalahnya sendiri, penuh dengan kekhawatiran bahwa ayahnya akan menentang perjodohannya.

Akhirnya pikiran yang sibuk itu membuatnya lelah dan mulailah dara itu terlelap.

Lapat-lapat ia seperti mendengar suara suhengnya perlahan-lahan bicara dengan pelayan di belakang.

Suhengnya sudah pulang agaknya, demikian pikirannya yang terakhir.

Lalu ia mencium bau harum yang aneh.

Sejenak ia terlena dan bau harum itu membuat ia sadar dan curiga akan bau harum ini.

Cepat ia membnka mata dan bangkit.

Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika ia merasa kepalanya pening begitu ia membuka mata dan bangkit.

Pada saat itu, sesosok bayangan yang amat ringan gerakannya meloncat masuk kamar melalui jendela yang dipaksanya terbuka dari luar.

Biarpun kepalanya pening, akan tetapi kewaspadaan seorang pendekar silat masih ada pada Suma Hui, membuat dara ini cepat membalikkan tubuh dan siap menghadapi lawan.

Akan tetapi orang itu ternyata lihai bukan main, sekali mengulur tangannya dia telah mengirim totokan-totokan secara beruntun.

Suma Hui mencoba untuk mengelak dan menangkis, akan tetapi tetap saja pundaknya terkena totokan, disusul totokan pada lehernya yang membuat ia tiba-tiba menjadi lemas dan tak dapat mengeluarkan suara.

Dalam keadaan lemas dan setengah terbius, juga dalam cuaca dalam kamar yang remang-remang, ia tidak mengenal orang ini, hanya melihat bentuk tubuh seorang pria yang bertubuh sedang dan tegap.

"Cin....

Cin Liong....!

Hatinya berbisik karena ia tidak mampu bersuara setelah urat gagunya tertotok.

Karena ia kini direbahkan dengan muka menghadap ke dinding dalam keadaan miring, ia tidak melihat apa yang dilakukan oleh orang yang menotoknya itu.

Hatinya penuh dengan keheranan dan juga kemarahan.

Orang itu bentuk tubuhnya seperti Cin Liong dan melihat kelihaiannya, agaknya pantaslah kalau ia menduga orang itu kekasihnya.

Akan tetapi, mungkinkah Cin Liong melakukan hal aneh ini?

Ia tidak tahu bahwa orang itu berkelebat keluar dari lubang jendela.

Waktu rasanya berjalan amat lambat bagi Suma Hui yang tidak mampu bergerak itu.

Bau harum masih memasuki hidungnya dan kepalanya terasa semakin berat dan mengantuk, tubuhnya tak dapat digerakkan dalam keadaan lemas seperti orang tidur dan iapun tidak mampu membuka mulut.

Asap harum yang mengandung obat bius itu makin menguasainya, membuat pandang matanya semakin suram.

Tiba-tiba ia menjadi kaget setengah mati ketika merasa betapa sepasang lenganmemeluknya.

Ia berusaha membuka mata melihat, akan tetapi cuaca terlalu gelap dan pandang matanya juga sudah kabur.

Ia hanya merasa ada orang yang memeluknya ketat, lalu ada orang yang menciumi mukanya, menciumi bibirnya.

Ia hanya mendengar desahnya napas memburu, lalu mendengar bisikan-bisikan lembut.

"Hui-moi.... aku cinta padamu.... aku cinta padamu....!Cin Liong! Demikian hatinya berteriak. Akan tetapi ia merasa betapa pikirannya pusing, dunia seperti berputar dan kiamat rasanya ketika ia merasa betapa jari-jari tangan meraba dan membelainya, membuka pakaiannya.

"Tidak....! Tidak....! Jangaaaannn....!! Hatinya menjerit-jerit akan tetapi tidak ada suara yang keluar. Ingin ia menjerit, ingin ia meronta dan mengamuk, ingin ia menangis. Akan tetapi hanya air matanya saja yang menetes-netes dalam tangis tanpa suara.

"Hui-moi....

engkau calon isteriku....!

demikian suara itu berbisik-bisik dan selanjutnya Suma Hui bergidik ngeri merasakan apa yang akan menimpa dirinya dan pada saat terakhir, iapun tidak ingat apa-apa lagi, tak sadarkan diri karena tidak dapat menahan guncangan batin yang terjadi melihat kenyataan bahwa dirinya diperkosa oleh orang yang dicintanya tanpa mampu mencegah, melawan atau bahkan berteriak.

Ketika ia siuman kembali, Suma Hui masih belum mampu menggerakkan tubuhnya.

Hancur luluh rasa hatinya, dunianya seperti kiamat.

Ia dapat merasakan apa yang telah menimpa dirinya, malapetaka terbesar bagi seorang wanita, terutama bagi seorang gadis.

Aib telah menimpa dirinya, aib yang hanya dapat ditebus dengan nyawa, dicuci dengan darah.

Yang membuat ia merasa semakin sedih adalah kenyataan bahwa yang melakukan hal itu adalah Cin Liong, pria yang dikasihinya, yang dicintanya, calon suaminya, calon ayah dari anak-analnya!

Cin Liong telah memperkosanya!

Padahal, tanpa diperkosa sekalipun, kalau waktunya telah tiba, ia akan menyerahkan segala-galanya kepada pemuda itu.

Akan tetapi, Cin Liong telah merusaknya, menghancurkan kebahagiaannya dengan perbuatannya yang keji dan hina!

"Ya Tuhan....!!

Dalam hatinya Suma Hui mengeluh dan merintih.

Ia teringat kepada ayah ibunya dan kembali air matanya bercucuran.

Gadis ini biasanya keras hati dan tidak mudah baginya mengucurkan air mata, akan tetapi sekali ini, dirinya telah tertimpa malapetaka yang amat hebat, yang lebih berat daripada kematian sendiri.

Ia lalu teringat bahwa dalam keadaan tertotok, ia harus dapat menenteramkan batinnya agar dapat membuka jalan darah melalui kekuatan Swat-im Sin-kang.

Dengan segala kekuatan dan kemauan yang ada, iapun lalu memejamkan matanya, mengheningkan cipta.

Perlahan-lahan, setelah ia dapat melupakan segala peristiwa yang menimpanya, ia mulai merasakan gerakan hawa dalam tian-tan di pusarnya.

Ia membiarkan hawa itu bergerak perlahan, makin lama makin cepat dan makin terasa kekuatannya, Dengan kemauannya yang membaja, akhirnya ia dapat menggerakkan hawa itu naik, membuka jalan darah yang masih dipengaruhi totokan.

Dapat juga ia membebaskan diri dari totokan sebelum waktunya.

Akan tetapi, karena pengaruh obat bius masih membuat kepalanya pening, iapun dengan hati-hati bangkit berdiri, turun dari pembaringan dan bersila di atas lantai dekat jendela yang dibukanya, lalu menghadap keluar dan membersihkan diri melalui pernapasan, mengumpulkan hawa pagi yang murni.

Malam telah hampir terganti pagi ketika akhirnya ia sadar sama sekali dan bebas dari pengaruh obat bius.

Mulailah dia meneliti dirinya dan ia mengepal tinju dengan kemarahan memuncak ketika melihat betapa sebagian pakaiannya bernoda darah.

Tanpa melihat tanda inipun ia sudah tahu apa yang menimpa dirinya, yaitu bahwa ia telah diperkosa orang, atau lebih tepat lagi, diperkosa Cin Liong ketika ia tak sadar.

Dengan menahan tangis ia lalu berganti pakaian, akan tetapi makin lama, kemarahan makin memuncak dan menusuk-nusuk hatinya seperti jarum beracun.

Makin panaslah ia dan tanpa disadarinya ia lalu mengamuk!

Meja kursi dipukuli dan ditendanginya, kasur dirobek dan diawut-awut dan mulutnya memaki-maki.

"Jahanam! Keparat bedebah engkau! Manusia laknat, aku bersumpah untuk membunuhmu, memusuhimu sampai tujuh turunan!! Terdengar suara hiruk-pikuk yang mengejutkan dari dalam kamarnya, membuat pelayan dan Tek Ciang datang berlari-larian.

"Brakkkk!! Kini daun pintu kamar itu pecah tertendang oleh Suma Hui, hampir saja menimpa Tek Ciang dan si pelayan yang sudah tiba di luar pintu. Untung Tek Ciang bergerak cepat, menarik tangan si pelayan dan meloncat ke belakang ketika daun pintu ambrol. Keduanya berdiri dengan mata terbelalak memandang kepada Snma Hui yang muncul dengan rambut awut-awutan, pakaian kusut dan mata beringas.

"Nona....!! Pelayan itu menjerit kaget.

"Sumoi....! Ada apakah, sumoi? Apakah yang telah terjadi....?! Louw Tek Ciang juga menegur sambil melangkah maju.

"Ingatlah, sumoi, ingatlah. Apa yang telah terjadi denganmu, sumoi....?! Suma Hui yang seperti kesetanan itu, tiba-tiba terbelalak memandang Tek Ciang dan pelayannya. Mendengar suara Tek Ciang yang halus dan penuh perhatian itu, tiba-tiba saja ia memperoleh pelepasan dan gadis itu tidak dapat menahan lagi tangisnya.

"Suheng.... ah, suheng.... hu-hu-huuuhhh....! Ia terhuyung dan Tek Ciang cepat memegang pundaknya. Karena Tek Ciang merupakan satu-satunya orang yang dekat dengannya, Suma Hui lalu menangis mengguguk dan menjatuhkan dirinya dalam pelukan pemuda itu, menangis sambil menyandarkan muka di dada Tek Ciang. Pemuda ini mehgelus kepala Suma Hui sambil menghiburnya dengan kata-kata yang tenang dan ramah.

"Sumoi, segala hal dapat diurus dengan baik. Tidak ada masalah yang tidak dapat diatasi dengan ketenangan dan kebijaksanaan. Sumoi, apakah yang telah terjadi....! Akan tetapi, Suma Hui makin mengguguk dalam tangisnya sehingga Tek Ciang membiarkannya saja, malah berkata halus.

"Menangislah, sumoi. Menangislah sepuasmu kalau tangis dapat meringankan hatimu, sumoi....! Dan memangtangis saja yang dapat meringankan hati yang sedang sesak oleh kedukaan bercampur kemarahan. Setelah menangis terisak-isak dan menumpahkan banyak air mata, Suma Hui dapat menguasai dirinya lagi. Tentu saja ia tidak mau menceritakan malapetaka apa yang menimpadirinya. Ia melepaskan diri dari pelukan Tek Ciang, memandang kepada suhengnya itu dengan berterima kasih.

"Maafkan kelemahanku, suheng....! "Sumoi, engkau sungguh membuat aku terkejut dan khawatir sekali. Apakah yang telah terjadi? Kenapa engkau mengamuk?! Dia memandang ke dalam kamar yang kalang-kabut itu.

"Nampaknya seperti ada perkelahian di dalam kamarmu. Engkau berkelahi dengan siapakah?! Suma Hui menggeleng kepalanya.

"Aku sendiri tidak tahu dia siapa. Tapi, suheng, apakah semalam engkau tidak mendengar apa-apa dan tidak melihat orang memasuki rumah kita?! Tek Ciang menggeleng kepalanya dan alisnya berkerut.

"Aku baru pulang menjelang pagi, bahkan belum dapat tidur ketika tiba-tiba mendengar suara ribut-ribut dari kamarmu. Semalam aku keliling kota melakukan penyelidikan dan kebetulan sekali aku melihat perkelahian yang amat hebat antara Kao-taihiap dan seorang yang tidak kukenal....! Seketika perhatian Suma Hui tertarik.

"Dia....? Dia.... berkelahi? Di mana dan siapa lawannya? Bagaimana....?! Pertanyaan-pertanyaan itu diajukan dengan gagap.

"Aku sedang melakukan penyelidikan ke lorong-lorong gelap ketika aku melihat berkelebatnya bayangan orang yang meloncat ke atas genteng.

Aku terkejut sekali dan menyelinap ke tempat gelap sambil mengintai.

Tiba-tiba aku melihat Kao-taihiap juga meloncat ke atas sambil membentak.

Mereka lalu berkelahi di atas genteng, bahkan lalu keduanya meloncat turun dan melanjutkan perkelahian di atas tanah.

Orang itu lihai sekali dan agaknya menjadi tandingan yang seimbang dari Kao-taihiap.

Keduanya berkelahi tanpa menggunakan senjata.

Entah berapa lama dan siapa yang unggul aku tidak dapat mengikuti saking cepatnya mereka bergerak.

Akan tetapi akhirnya, lawan Kao-taihiap melarikan diri dikejar oleh Kao-taihiap.

Aku berusaha mengejar pula dan mencari-cari, akan tetapi mereka lari terlampau cepat dan aku kehilangan jejak mereka.

Aku terus mencari sampai hampir pagi tanpa hasil, kemudian aku pulang.!Suma Hui mendengarkan semua itu dengan hati tertarik.

Siapakah yang berkelahi melawan Cin Liong?

Dan apakah sesudah berkelahi itu Cin Liong lalu memasuki kamarnya?

"Apakah engkau tidak melihat bagaimana wajah lawannya itu, suheng?

Bagaimana pula bentuk tubuhnya?!

"Keadaannya amat gelap, sukar mengenal wajahnya.

Akan tetapi pakaiannya mewah dan agaknya dia setengah tua, tubuhnya sedang....!

"Ah, tentu dia Jai-hwa Siauw-ok!!

Suma Hui berseru.

"Mungkin, karena ketika mengejar, Kao-taihiap juga berseru begini . Jai-hwa-cat, jangan lari!! Suma Hui termenung.

"Mengasolah, suheng. Akupun hendak istirahat....! "Tapi, sumoi.... apa yang terjadi di sini? Engkau belum menceritakan kepadaku.! Suma Hui menggeleng kepala.

"Tidak apa-apa.

Ada yang memasuki kamarku.

Kami berkelahi, akan tetapi dia keburu pergi tanpa aku dapat mengenalinya.

Sudahlah, suheng, aku lelah dan hendak istirahat.!

Suma Hui memasuki kamarnya dan mengangkat pintu yang jebol itu, menutupkannya begitu saja.

Sejenak Tek Ciang bengong di depan pintu, lalu mengangkat pundak dan memberi isyarat kepada pelayan yang juga ikut bengong itu untuk pergi dan membiarkan nona itu beristirahat dalam kamarnya yang awut-awutan.

Suma Hui memandang sekeliling kamarnya.

Meja kursi hancur berantakan oleh amukannya.

Kasurnya robek awut-awutan.

Akan tetapi ia tidak perduli dan ia menjatuhkan badannya ke atas pembaringan kayu yang kasurnya sudah robek-robek itu, memejamkan matanya dan menahan tangisnya.

Tidak, tidak ada gunanya lagi menangis, pikir dara yang keras hati ini.

Tidak ada lagi yang perlu ditangisi.

Hidupnya sudah berakhir, kebahagiaannya sudah hancur.

Ia harus menuntut kepada Cin Liong, ia akan minta pertanggungan jawabnya.

Bagaimanapun juga, ia tidak mungkin dapat mencinta Cin Liong lagi setelah pemuda itu melakukan hal yang demikian kejinya terhadap dirinya.

Cintanya sudah lenyap bersama dengan kehormatannya yang direnggut oleh pemuda pujaannya itu.

Ah, benarkah bahwa cinta antara bibi dan keponakan seperti ia dan Cin Liong itu dikutuk oleh para leluhur, dikutuk oleh Thian sehingga menimbulkan malapetaka yang begini hebat atas dirinya?

Siapa kalau bukan Cin Liong yang melakukan perbuatan keji itu?

Suaranya tak dapat dilupakannya, dan kelihaian pemerkosa itupun menunjukkan bahwa Cin Liong orangnya.

Akan tetapi, mengapa Cin Liong mempergunakan asap pembius?

Apakah agar tidak dikenal?

Tapi, ucapan pemuda itu jelas memperkenalkan dirinya!

Apakah dasar dari perbuatan kekasihnya itu?

Hanya karena dorongan nafsu berahi?

Tak mungkin!

Ketika mereka berpelukan semalam sebelum pemuda itu meninggalkannya, iapun dapat merasakan gairah berahi pada diri pemuda itu, namun Cin Liong cepat memisahkan diri.

Cin Liong bukan seorang pemuda hamba nafsu.

Ataukah....

Suma Hui membuka matanya ketika teringat akan hal itu, dan ia bangkit duduk, mengepal tinju, apakah pemuda itu melakukan perbuatan keji itu dengan maksud agar ayahnya terpaksa memenuhi tuntutan mereka untuk dapat saling berjodoh?

Karena ia sudah dinodai maka ayahnya takkan dapat menolak pinangannya lagi karena aib yang menimpa dirinya takkan dapat tercuci?

"Tidak!!

Ia mendesis.

"Aku tidak sudi! Lebih baik mati daripada menjadi isteri seorang yang berhati palsu! Noda ini hanya dapat ditebus dengan nyawa!! Kemarahannya membuat ia melotot, akan tetapi ia segera membayangkan wajah Cin Liong yang begitu tampan dan sikapnya yang begitu halus dan gagah, dan tak terasa lagi air matanya menetes turun. Sejenak ia membiarkan kekecewaan dan penyesalan menguasai dirinya, akan tetapi kekerasan hatinya segera timbul kembali. Ia bangkit berdiri dan membanting-banting kaki kirinya beberapa kali, kebiasaan yang tidak disadari kalau ia sedang marah.

"Kao Cin Liong keparat busuk!

Cintaku sudah hancur dan lenyap dan mulai malam tadi, engkau telah menjadi musuhku sampai tujuh turunan!!

Dan iapun segera membereskan rambut dan pakaiannya, berdandan dengan ringkas, kemudian dengan hati panas seperti dibakar ia melangkah keluar, membawa sepasang pedangnya yang digantungkan di punggung.

Hanya satu tujuan memenuhi batinnya, yaitu mencari Cin Liong di rumah penginapan dan membunuhnya kalau mungkin!

"Sumoi....!!

Louw Tek Ciang telah berdiri di depannya.

Pemuda itu nampak pucat seperti orang kurang tidur atau orang yang gelisah, akan tetapi tidaklah sepucat Suma Hui dan pemuda itu memandang penuh kegelisahan ke arah punggung sumoinya di mana terdapat sepasang pedang bersilang.

Tidak pernah sumoinya pergi meninggalkan rumah membawa-bawa pedang.

"Sumoi, engkau hendak pergi ke manakah sepagi ini? Dan engkau membawa pedang.... mau apakah engkau....?! Suma Hui mengerutkan alisuya, merasa tidak senang dan terganggu, maka jawabnya dengan suara dingin.

"Suheng, engkau jaga rumah baik-baik dan jangan mencampuri urusanku. Aku mempunyai keperluan dan tak seorangpun boleh mencampuri.! Setelah berkata demikian, ia membalik dan hendak melanjutkan perjalanannya.

"Hui-moi....!! Suma Hui terperanjat seperti disambar petir, akan tetapi, kemarahannya memuncak mendengar suara Cin Liong dan dengan perlahan ia membalik dan menghadapi pemuda yang baru muncul itu. Melihat wajah pemuda itu juga lesu dan ada tanda-tanda kurang tidur, hati Suma Hui merasa semakin yakin akan kesalahan orang yang tadinya amat dicintanya itu.

"Singggg....!! Nampak sinar berkelebat dan sepasang pedang telah berada di kedua tangan gadis itu.

"Keparat jahanam Kao Cin Liong, rasakan perbalasanku!! bentaknya dan dengan kemarahan meluap-luap, Suma Hui sudah menyerang Cin Liong dengan sepasang pedangnya, langsung mempergunakan jurus Ilmu Pedang Siang-mo Kiam-sut yang amat hehat karena ia tahu bahwa yang diserangnya adalah orang yang amat lihai.

"Heiiii....!! Terkejut sekali Cin Liong melihat serangan itu dan saking kaget dan herannya, terlambat dia mengelak.

"Crottt....!!

Pangkal lengan kirinya terkena serempetan pedang.

Agaknya tadinya dia mengira bahwa gadis itu hanya main-main, maka barulah dia sadar bahwa sesungguhnya kekasihnya itu tidak main-main dan serangan yang ditujukan kepadanya tadi adalah serangan maut!

"Hui-moi....

tahan dulu....!

Apa dosaku?

Apa salahku?

Apa yang terjadi?

Kenapa engkau menyerangku, memusuhiku....!

"Penghinaan itu hanya dapat dicuci dengan darah dan ditebus dengan nyawamu, manusia hina-dina!!

Dan kini Suma Hui sudah menyerang lagi dengan lebih hebat karena kemarahannya semakin memuncak, seolah-olah melihat darah yang membasahi baju pada pangkal lengan Cin Liong itu mengingatkan ia akan darahnya sendiri dan membuatnya sedih sekali.

"Eh, Hui-moi, nanti dulu....!! Cin Liong menjadi bingung sekali.

"Hyaaaattt.... sing-sing-singgg....!! Suma Hui menyerang bertubi-tubi, sepasang pedangnya itu menjadi dua sinar bergulung-gulung dan menyambar-nyambar mengarah bagian yang berbahaya dari tubuh Cin Liong. Karena panik dan bingung, hampir saja tubuh Cin Liong terbabat dan gerakannya menjadi kacau sehingga dia hanya mampu melempartubuh ke belakang, lalu bergulingan dengan cepat.

"Hui-moi, aku menuntut penjelasan....!! teriaknya penasaran.

"Apa salahku?! Dia sudah berhasil meloncat dan bangkit berdiri lagi. Akan tetapi, Suma Hui sudah tidak sudi bicara lagi. Pedangnya menyambar lagi dan ia menyerang dengan jurus-jurus pilihan Siang-mo Kiam-sut yang memang hebat bukan main. Biarpun Cin Liong memiliki tingkat yang jauh lebih tinggi, namun menghadapi serangan ilmu pedang itu tanpa membalas, tentu saja amat berbahaya. Dia berloncatan dan menyelinap di antara gulungan sinar pedang, beberapa kali nyaris tubuhnya tercium ujung pedang, bahkan ada beberapa bagian ujung pakaiannya yang robek oleh sambaran pedang yang amat tajam itu.

"Hui-moi, kita bicara dulu....!! "Engkau atau aku yang harus mampus!! bentak Suma Hui dan ia menyerang terus dengan hebat.

"Sumoi.... sumoi.... sabarlah, sumoi....!! Berkali-kali Tek Ciang juga menasihati sumoinya, akan tetapi dia tidak berani melerai karena dia merasa tidak akan mampu menghadapi permainan pedang yang dahsyat itu.

"Sing-singgg....

wuuutttt....!!

Segumpal rambut kuncir dari Cin Liong terkena sabetan pedang dan rontoklah gumpalan rambutnya ke atas tanah.

Pemuda ini terkejut sekali.

Beberapa sentimeter lagi selisihnya, nyaris lehernya yang putus.

Dia melihat bahwa kekasihnya itu sungguh-sungguh dan bahwa pada saat itu bukan waktunya untuk bicara.

Tentu saja kalau dia mau, dia dapat merobohkan Suma Hui dan membuatnya tidak berdaya lalu mengajaknya bicara, akan tetapi dia mengenal watak keras dari kekasihnya itu sehingga kalau dia merobohkannya, hal itu tentu akan menambah gawatnya keadaan karena tentu gadis itu akan menjadi semakin marah.

Jalan satu-satunya hanyalah menjauhkan diri dan membiarkan sampai hati gadis itu yang terbakar menjadi agak dingin dan marahnya mereda.

Barulah dia akan datang bicara.

"Ah, Hui-moi.... Hui-moi....! keluhnya dan cepat dia meloncat ke belakang, berjungkir balik beberapa kali lalu berlompatan jauh melarikan diri.

"Jahanam jangan lari!! Suma Hui membentak akan tetapi Cin Liong sudah lari dengan cepatnya.

"Sumoi, jangan kejar....!! Tek Ciang juga berlari mengejar gadis itu. Karena hari telah pagi dan banyak orang di jalan, tentu saja mereka merasa heran melihat orang-orang muda itu berlarian, apalagi dengan ilmu lari cepat. Suma Hui tidak memperdulikan seruan suhengnya dan ia terus mengejar menuju ke rumah penginapan di mana Cin Liong mondok. Akan tetapi ketika ia tiba di situ, ternyata Cin Liong sudah lama pergi membawa bekal pakaiannya. Terpaksa Suma Hui membanting-banting kakinya dan menahan tangis, lalu pulang. Di jalan ia bertemu dengan Tek Ciang yang mengejarnya.

"Sumoi, percuma saja engkau mengejar. Kalau ada sesuatu, kalau engkau merasa penasaran kepada Kao-taihiap, laporkan saja kelak kepada suhu. Tentu suhu akan dapat turun tangan. Engkau sendiri kiranya takkan dapat melawan Kao-taihiap yang amat lihai itu.! Suma Hui hanya mengangguk dan berjalan pulang dengan cepat. Hatinya meradang, marah dan penasaran sekali. Jelas bahwa Cin Liong bersalah, kalau tidak, tentu tidak akan melarikan diri. Keparat itu! Hatinya terasa sakit sekali, lebih nyeri rasanya karena ia tahu benar bahwa ia masih tetap mencinta pemuda itu. Setelah tiba di rumah, Tek Ciang memberanikan diri bertanya.

"Sumoi, sebenarnya apakah yang terjadi? Mengapa sumoi begitu marah dan hendak membunuh Kao-taihiap?! Suma Hui mengerutkan alisnya, memandang kepada suhengnya lalu berkata.

"Louw-suheng, aku mengharap agar engkau tidak mengajukan pertanyaan itu lagi kepadaku dan tidak menceritakan semua yang terjadi tadi kepada siapapun juga.

Kalau suheng melanggar pesanku ini, aku akan marah sekali!!

Setelah berkata demikian, dara itu lalu pergi memasuki kamarnya, meninggalkan Tek Ciang yang memandang bengong.

Semenjak hari itu, Suma Hui jarang bicara, baik terhadap Tek Ciang maupun terhadap pelayan rumah itu.

Bahkan jarang ia menemani Tek Ciang makan, dan lebih sering duduk termenung di dalam kamarnya.

Karena kurang makan dan kurang tidur, sebentar saja wajahnya menjadi pucat dan tubuhnya menjadi kurus.

Sang pelayan dan Tek Ciang menjadi prihatin sekali akan tetapi mereka tidak berani bicara.

Terpaksa Tek Ciang selalu berlatih sendirian saja karena gadis itu sama sekali tidak pernah mau menemaninya latihan lagi.

Beberapa pekan kemudian, ketika Suma Kian Lee dan Kim Hwee Li pulang bersama Suma Ciang Bun, mereka terkejut bukan main melihat Suma Hui yang begitu kurus dan agak pucat.

Akan tetapi, begitu melihat adiknya, Suma Hui merangkulnya sambil menangis.

"Bun-te.... ah, Bun-te, syukur engkau selamat....!! katanya sambil merangkul Ciang Bun yang juga merasa terharu. Kim Hwee Li mengerutkan alisnya, bukan hanya karena khawatir melihat puterinya begitu kurus, akan tetapi juga jarang ia melihat puterinya yang tabah dan keras hati itu dapat terharu sampai menangis ketika bertemu adiknya kembali.

"Hui-cici, kenapa engkau begini kurus?! "Engkau kenapakah, Hui-ji?! tanya pula ayahnya.

"Dan mukamu agak pucat,! sambung ibunya. Dihujani pertanyaan oleh ayah ibu dan adiknya itu, Suma Hui menjawab singkat dan menyimpang.

"Tidak apa-apa, ah, aku girang sekali melihat engkau selamat, Bun-te. Lekas kau ceritakan semua pengalamanmu sejak kita berpisah, sejak engkau terlempar ke lautan itu.! Suma Hui menggandeng tangan adiknya dan beramai-ramai mereka memasuki rumah. Di pintu depan muncul Tek Ciang yang cepat menjatuhkan diri berlutut memberi hormat kepada suhu dan subonya. Melihat penghormatan yang amat sopan ini, Suma Kian Lee memandang girang.

"Bangkitlah, Tek Ciang dan mari berkenalan dengan sutemu. Ciang Bun, inilah murid ayah yang bernama Louw Tek Ciang seperti yang kuceritakan itu.! "Eh, Tek Ciang, kenapa engkau memakai pakaian berkabung?! tiba-tiba Hwee Li yang waspada itu bertanya. Ditanya demikian, Tek Ciang yang masih berlutut itu lalu mengusap air matanya yang tiba-tiba membasahi kedua matanya.

"Suhu, subo, teecu dilanda malapetaka besar dan mohon petunjuk suhu berdua....! "Apakah yang telah terjadi, Tek Ciang?! "Ayah.... ayah teecu terbunuh....! "Ehhh....? Terbunuh? Siapa yang membunuh ayahmu?! Suma Kian Lee terkejut sekali mendengar ucapan itu. Tek Ciang merasa tidak enak kepada Suma Hui dan melirik ke arah sumoinya, akan tetapi Suma Hui diam saja dan hanya memandang kepadanya dengan sinar mata kosong.

"Mendiang ayah tewas ketika bertempur melawan.... melawan jai-hwa-cat yang berkeliaran di kota ini.! "Ihhh....!! Kim Hwee Li berseru kaget dan penasaran.

"Penjahat cabul mana yang begitu berani mengacau di Thian-cin?! "Suheng, kenapa engkau tidak berterus terang saja? Ayah, Louw-kauwsu tewas ketika dia berkelahi melawan Kao Cin Liong....! "Heh, bagaimana pula ini?! Hwee Li berteriak.

"Kao Cin Liong datang ke sini dan dia berkelahi dengan Louw kauwsu?! Ia memandang tajam kepada Tek Ciang.

"Tek Ciang, ceritakan sejujurnya apa yang telah terjadi!! "Mari kita semua masuk dulu dan bicara di dalam rumah,! kata Suma Kian Lee yang dapat menguasai perasaannya dan sikapnya lebih tenang. Mereka lalu masuk ke dalam rumah dan mereka semua duduk di ruangan dalam. Dengan sikap ragu-ragu dan kadang-kadang mengerling ke arah Suma Hui, akan tetapi melihat gadis itu diam saja tidak memberi tanda atau memperlihatkan sikap sesuatu, akhirnya Tek Ciang lalu bercerita.

"Menurut ayah, di kota ini ada jai-hwa-cat berkeliaran.

Pada suatu malam, ayah bersama dua orang teman yang melakukan penyelidikan, bertemu dengan Kao-taihiap, dan ayah agaknya menyangka bahwa Kao-taihiap adalah jai-hwa-cat itu, maka lalu diserangnya.

Tentu saja ayah dan dua orang temannya tidak dapat menang dan akhirnya ayah tewas....!

Suma Hui hendak membuka mulut, akan tetapi membatalkan niatnya.

Apa perlunya ia membela Cin Liong?

Biarlah, biar ayah ibunya menyangka Cin Liong yang membunuh Louw-kauwsu, ia tidak perduli!

Dan iapun tahu mengapa suhengnya tidak menceritakan bahwa ayahnya membunuh diri, bukan tewas dalam perkelahian itu.

Tentu pemuda itu merasa malu karena membunuh diri, bukan tewas dalam perkelahian berarti pengecut.

Suma Kian Lee yang sudah merasa tidak senang kepada Cin Liong karena pemuda itu berani jatuh cinta kepada Suma Hui yang terhitung bibi sendiri, mengerutkan alisnya dan mengepal tinju.

"Sungguh tidak patut sekali perbuatan Cin Liong itu!

Andaikata dia bukan jai-hwa-cat, mengapa dia harus membunuh Louw-kauwsu yang hanya bertindak untuk menentang kejahatan?

Aku pasti akan menegurnya kalau sempat berjumpa kelak!!

"Hemm, kurasa ada apa-apanya di balik peristiwa itu.

Putera Naga Sakti Gurun Pasir itu adalah seorang panglima yang terkenal, dan seorang pendekar perkasa yang sudah membela Pulau Es secara mati-matian.

Tak mungkin kiranya dia begitu sembrono membunuh orang yang tidak berdosa.

Eh, Hui-ji, mustahil kalau engkau tidak tahu apa-apa tentang peristiwa itu.

Sebenarnya, apakah yaug telah terjadi sehingga Cin Liong sampai berkelahi dan membunuh Louw-kauwsu?!

Dengan sinar mata tajam penuh selidik, nyonya yang cerdik ini bertanya kepada puterinya.

Namun Suma Hui tetap berkeras tidak sudi membela Cin Liong yang dibencinya.

"Aku tidak tahu, ibu,! jawahnya singkat, lalu dipegangnya tangan Ciang Bun sambil berkata mendesak.

"Bun-te, hayo ceritakan pengalamanmu sampai engkau dapat selamat dan dapat pulang bersama ayah dan ibu.! Tek Ciang masih berdebar rasa jantungnya karena khawatir kalau-kalau suhu dan subonya mendesak terus sehingga rahasia ayahnya terancam bahaya terbuka tabirnya, lalu bangkit dan menjura dengan hormat.

"Sebaiknya teecu mohon diri dan mundur agar suhu, subo dan sute dapat beristirahat dan bercakap-cakap dengan leluasa.! Kian Lee mengangkat tangan dan memandang kepada muridnya itu dengan rasa iba dalam hatinya. Ayah pemuda itu adalah seorang duda, maka sepeninggal ayahnya, berarti pemuda ini yatim-piatu.

"Duduklah saja, Tek Ciang. Engkau dapat dibilang anggauta keluarga kami sendiri, maka boleh engkau duduk dan ikut mendengarkan.! Tentu saja ucapan suhunya ini membesarkan hati Tek Ciang dan diapun duduk kembali namun masih mengambil sikap sungkan-sungkan.Ciang Bun lalu menceritakan pengalamannya, betapa dia diselamatkan dari lautan oleh kakak beradik Liu dengan kakek mereka sebagai penghuni Pulau Nelayan. Betapa dia kemudian tinggal di pulau itu bersama mereka bertiga, mempelajari ilmu dalam air. Tentu saja dia tidak menceritakan tentang hubungannya yang aneh dengan Liu Lee Siang dan Liu Lee Hiang, hanya menceritakan kebaikan-kebaikan kakak beradik dan kakek mereka itu.

"Setelah merasa bosan tinggal di pulau itu dan sudah mempelajari semua dasar ilmu dalam air, aku lalu meninggalkan pulau itu dan ketika mendarat, aku bertemu dengan ayah dan ibu.! Demikian Ciang Bun menutup ceritanya.

"Kebetulan kami bertemu dengan Ciang Bun,! sambung Kim Hwee Li.

"Padahal kami berdua telah berhari-hari mencari-cari di sekitar pantai namun tidak pernah melihat jejaknya atau mendengar berita tentang dirinya.

Siang hari itu, selagi kami berjalan-jalan di pantai dan hampir putus asa, bahkan sudah mengambil keputusan untuk menggunakan perahu melakukan penyeberangan ke Pulau Es untuk menyelidiki di lautan, muncullah perahu yang membawa Ciang Bun.!

Keluarga yang telah berkumpul lagi dengan lengkap itu tentu saja merasa gembira.

Akan tetapi Suma Hui seoranglah yang tidak pernah merasakan kegembiraan, walaupun ia berusaha untuk kelihatan gembira.

Ibunya telah mendesaknya dan berkali-kali menanyakan sikapnya itu di dalam kamar dengan suara bisik-bisik.

Akan tetapi, biarpun terhadap ibu kandungnya sendiri yang biasanya ia menceritakan segala hal yang rahasia sekalipun, sekali ini ia tidak dapat membuka rahasianya.

Bagaimana mungkin ia dapat menceritakan bahwa dirinya telah dinodai, bahwa kehormatannya telah dicemarkan, bahwa ia telah diperkosa oleh Cin Liong?

Sikap gadis itu membuat ayah dan ibunya sering kali membicarakannya dalam kamar mereka.

"Pasti telah terjadi sesuatu yang dirahasiakan oleh Hui-ji,! demikian antara lain Hwee Li berbisik kepada suaminya pada malam hari setelah mereka pergi tidur.

"Ia menderita sesuatu.!

"Sungguh tdak baik hal itu dibiarkan saja.

Tek Ciang telah kehilangan ayahnya, sebaiknya kalau perjodohan antara mereka itu dipercepat.

Aku akan memanggil mereka berdua dan menyatakan terus terang bahwa antara aku dan ayah Tek Ciang telah ada persetujuan untuk menjodohkan mereka.!

"Suamiku, kurasa kita tidak boleh terlalu tergesa-gesa bicara tentang itu dan memberitahu kepada Hui-ji.

Aku yakin bahwa tentu terjadi sesuatu yang luar biasa antara Hui-ji dan Cin Liong.

Hui-ji kelihatan demikian menderita tekanan atau guncangan batin yang hebat.

Aku khawatir ia akan jatuh sakit.

Hanya kekerasan hatinya saja yang masih mampu mencegah ia jatuh sakit.

Maka, kuharap engkau suka bersabar dulu dan jangan sampaikan hal yang belum tentu disetujuinya itu dalam waktu sekarang.!

Suma Kian Lee mengerutkan alisnya, akan tetapi diapun tidak dapat membantah isterinya.

Dia tahu bahwa Suma Hui memiliki kekerasan hati yang sama dengan kekerasan hati isterinya.

"Baiklah, dan aku akan segera mulai menurunkan ilmu-ilmu silat kepada Tek Ciang agar dia dapat cepat menyusul ketinggalannya dari Hui-ji.!

Suma Hui sendiri tidak tahu bahwa pada malam harinya ketika terjadi penyerangannya terhadap Cin Liong, diam-diam Cin Liong mendatangi rumahnya dan dengan kepandaiannya yang tinggi, Cin Liong berhasil menemui Tek Ciang.

Sebelum Tek Ciang mampu bersuara, Cin Liong telah menotok urat gagunya dan juga membuatnya lemas, lalu memanggul pemuda itu pergi dari rumah itu menuju ke tempat sunyi.

Setelah tiba di tempat sunyi, Cin Liong membebaskan totokannya pada tubuh Tek Ciang dan diam-diam pendekar ini merasa heran dan juga kecewa melihat betapa pucat wajah pemuda itu dan tubuhnya menggigil ketakutan!

Orang penakut begini diangkat menjadi murid pendekar sakti seperti Suma Kian Lee?

Sungguh mengecewakan sekali.

Akan tetapi pikiran itu hanya sekilas saja memasuki benaknya yang sudah sarat dengan masalahnya sendiri yang membuatnya bingung, penasaran dan berduka itu.

"Maafkan aku; Louw-susiok. Terpaksa aku menggunakan jalan ini karena aku ingin sekali bicara denganmu tanpa diketahui oleh Hui-moi.! Tek Ciang menarik napas lega dan kentara sekali bahwa baru saja dia terlepas dari himpitan rasa takut yang hebat.

"Aahhhh, taihiap, sungguh engkau membikin aku kaget setengah mati. Perkara apakah yang ingin kau bicarakan?! "Tidak lain hanya perkara Hui-moi. Engkau melihat sendiri pagi tadi bagaimana ia menyerangku dan serangan-serangannya itu sungguh-sungguh. Ia berniat keras untuk membunuhku dengan penuh kebencian. Louw-susiok yang baik, apakah artinya semua itu? Mengapa ia hendak membunuhku dan demikian membenciku? Apakah yang telah terjadi malam tadi?! Tek Ciang memandang bingung dan mengangkat pundaknya.

"Bagaimana aku tahu, taihiap?! Cin Liong penasaran dan memandang tajam penuh selidik.

"Louw-susiok, engkau tinggal serumah dengan Hui-moi, agaknya tidak mungkin kalau terjadi hal-hal yang hebat engkau tidak mengetahuinya.!

"Malam tadi hampir semalam aku tidak berada di rumah, taihiap.!

"Hemm, ke mana saja engkau pergi?!

"Sudah kukatakan kepadamu kemarin sore bahwa aku hendak menyelidiki penjahat cabul yang menyebabkan ayahku tewas itu.

Dan aku melihat ketika engkau berkelahi dengan penjahat itu!

Ternyata memang benar ada penjahat yang berkeliaran, buktinya engkau menyerangnya dan berkelahi dengannya.

Benarkah orang yang berkelahi denganmu itu penjahat cabul?!

"Jadi engkau melihatnya?

Benar, dia adalah penjahat cabul terbesar di dunia hitam.

Lalu bagaimana?!

"Aku bersembunyi dan nonton sampai penjahat itu lari dan kau kejar.

Akupun lalu ikut mengejar, akan tetapi sebentar saja kalian berdua sudah lenyap.

Aku terus mencari berputar-putar sampai hampir pagi.

Karena tidak berhasil menemukan penjahat itu maupun engkau yang mengejarnya, aku lalu pulang dan langsung memasuki kamarku.

Belum juga aku pulas, terdengar suara hiruk-pikuk dari kamar sumoi.

Aku dan pelayan terkejut, lalu lari ke kamarnya.

Di dalam kamar itu sumoi mengamuk, menghancurkan perabot-perabot kamarnya dan katanya ada penjahat memasuki kamarnya dan penjahat itu melarikan diri tanpa sumoi dapat mengenal wajahnya.!

Cin Liong mendengarkan dengan alis berkerut.

"Lalu apa katanya kepadamu setelah ia menyerangku pagi tadi?! Tek Ciang menggeleng kepalanya dan menarik napas panjang, kelihatan berduka sekali.

"Ia tidak mau bicara apa-apa, taihiap. Bahkan ketika aku mencoba bertanya mengapa ia mengamuk dan menyerangmu, ia marah-marah dan minta kepadaku agar aku tidak lagi menanyakan hal ini atau bicara tentang itu dengan siapapun juga. Ah, aku khawatir sekali, taihiap. Sebaiknya kalau taihiap tidak memperlihatkan diri lebih dulu....! "Aku harus menemuinya dan minta keterangan tentang sikapnya itu!! Cin Liong berkata penasaran.

"Ah, bijaksanakah itu, Kao-taihiap? Aku melihat sumoi sedang dalam keadaan tidak wajar, marah sekali dan juga amat berduka. Melihat keadaannya, aku yakin bahwa setiap kali taihiap muncul, tentu akan diserangnya tanpa banyak kata lagi. Watak sumoi keras sekali dan sementara waktu ini percuma saja kalau mengajaknya bicara. Kalau taihiap muncul, akibatnya hanya akan membuat ia semakin marah.! Cin Liong mengepal tinju dan alisnya berkerut.

"Habis bagaimana baiknya?

Bagaimana baiknya?

Aih, kenapa ada urusan yang begini aneh?!

"Kao-taihiap, kalau taihiap suka mendengar pendapatku, sebaiknya malah kalau sementara ini taihiap menjauhkan diri.

Sejauh mungkin karena agaknya sumoi masih terus merasa penasaran dan hendak mencari taihiap untuk dibunuh.

Susah payah aku membujuknya agar bersabar dan akhirnya baru ia mau berhenti setelah kuperingatkan bahwa segala urusan harus diselesaikan dengan tenang.

Kalau taihiap menampakkan diri, tentu kemarahannya memuncak dan berkobar lagi.

Biarlah sampai ia dingin dan tenang dulu, baru kelak taihiap boleh menemuiku, dua tiga bulan lagi, dan aku akan memberitahu taihiap kalau keadaan sudah mendingin.!

Cin Liong tidak mengira bahwa pemuda ini sedemikian baiknya.

Dia memegang pundak pemuda itu.

"Louw-susiok, engkau sungguh seorang yang berhati mulia. Aku amat mengharapkan bantuanmu dalam urusanku dengan sumoimu ini.! Tek Ciang mengangguk.

"Aku mengerti, taihiap, aku tahu bahwa ada hubungan batin antara kalian dan sekarang agaknya sedang terjadikesalahpahaman di pihak sumoi. Engkau sebagai laki-laki sepatutnya mengalah dan bersabar.! Cin Liong mengangguk-angguk.

"Tapi, apa yang harus kulakukan sementara menanti ia bersabar itu? Sungguh aku binguug sekali dan baru sekarang dunia seolah-olah gelap bagiku, membuat aku tak berdaya.! "Taihiap, kurasa sudah pasti ada hubungannya antara perkelahianmu melawan penjahat malam itu dengan sikap sumoi ini....! "Si keparat Jai-hwa Siauw-ok!! Cin Liong mengepal tinjunya.

"Nah, bagaimana taihiap pikir kalau taihiap mencari orang itu sampai dapat tertangkap dan taihiap menuntut keterangan dari dia?! "Ah, benar sekali! Andaikata jahanam itu tidak tahu apa-apa tentang Hui-moi, tetap saja dia harus ditangkap dan dihukum. Baiklah, susiok. Banyak terima kasih atas semua bantuan dan nasihatmu. Aku pergi dan harap engkau membantuku menyelidiki apa sebabnya Hui-moi marah-marah kepadaku dan bahkan hendak membunuhku. Dua tiga bukan lagi aku datang ke sini dan menemuimu sebelum aku mencoba menemuinya.! Tek Ciang mengangguk-angguk.

"Jangan khawatir, aku akan membantumu, Kao-taihiap dan mudah-mndahan semuanya akan berjalan dengan lancar.!

Demikianlah pertemuan rahasia antara Kao Cin Liong dan Louw Tek Ciang, yang tidak diketahui orang lain.

Juga ada pertemuan lain lagi di malam berikutnya yang lebih dirahasiakan oleh Tek Ciang.

Seorang diri dia pergi menganjungi makam ayahnya di luar kota pada malam hari itu.

Setelah dia merasa yakin bahwa tidak ada orang lain melihatnya dia lalu melanjutkan perjalanannya di malam gelap itu menuju ke sebuah kuil tua yang letaknya terpencil di tempat sunyi.

Seperti sikap seorang maling, pemuda itu menyelinap di tempat-tempat gelap, memandang ke kanan kiri dan setelah merasa yakin bahwa tidak ada orang lain melihatnya, barulah dia meloncat masuk ke dalam kuil tua.

Sesosok bayangan orang yang gerakannya amat ringan dan cepat seperti setan menyambutnya.

Orang itu Jai-hwa Siauw-ok Ouw Teng.

"Bagus, bagus! Engkau amat hati-hati dan memang begitulah seharusnya, waspada dan hati-hati, begitulah sikap seorang jai-hwa-cat tulen!! Datuk sesat itu tertawa bergelak. Tek Ciang merasa betapa mukanya menjadi panas.

"Tapi.... locianpwe.... aku.... bukan jai-hwa....! "Ha-ha-ha, memang belum, baru calon saja! Akan tetapi seorang calon yang amat baik dan kelak engkau bisa menggantikan aku kalau engkau suka belajar dengan tekun. Ha-ha-ha, sekarang ceritakan semua, bagaimana hasilnya siasat kita?! Tek Ciang tersenyum dan wajahnya berseri. Cuaca di dalam kuil itu remang-remang saja karena Jai-hwa Siauw-ok hanya menyalakan sebatang lilin kecil. Dia melihat betapa wajah yang masih ganteng dari kakek itu berseri-seri dan diam-diam dia kagum sekali. Memang kakek ini hebat. Selain ilmu kepandaiannya tinggi, juga memiliki kecerdikan seperti setan.

"Semua berjalan dengan baik sekali, locianpwe. Terima kasih kepada locianpwe.! "Aha, setelah aku membuat dara itu tidak berdaya dengan asap bius dan totokan, melihat ia rebah tak berdaya seperti menantang itu, timbul seleraku, akan tetapi aku ingat kepadamu, orang muda. Bagaimana, berhasilkah engkau memperkosanya?! Pertanyaan itu diajukan dengan sikap wajar seperti orang menanyakan suatu hal yang lumrah saja. Akan tetapi bagi Tek Ciang merupakan hal yang membuatnya merasa jengah dan malu. Dia mengangguk tanpa menjawab.

"Hemm, engkau menyesal setelah berhasil?! "Tidak, tidak, locianpwe. Sebaliknya, aku merasa girang sekali.! "Dan engkau sudah merasa puas?! Pemuda itu menggeleng kepala.

"Belum, ia belum menjadi isteriku dan akupun belum mewarisi ilmu Pulau Es dan belum membalas dendam terhadap jenderal itu.!

"Ha-ha-ha, tidak perlu tergesa-gesa.

Yang penting, engkau telah berhasil memperkosanya dan ia tidak mengenalmu?!

"Tidak.

Tempatnya gelap dan ia berada dalam keadaan setengah sadar.

Aku sudah sangat berhati-hati dalam menirukan suara Cin Liong.!

"Bagus!

Dan hasilnya?!

"Hasilnya baik sekali.

Ketika Cin Liong datang, dia diserang dan akan dibunuh oleh sumoi.!

Pemuda itu lalu menceritakan semua yang telah terjadi sampai ketika dia diculik oleh Cin Liong untuk dimintai keterangan.

Semua ini didengarkan oleh Jai-hwa Siauw-ok sambil tersenyum girang, hanya dia merasa agak khawatir mendengar pemuda itu diculik oieh Cin Liong.

"Untung engkau cerdik.

Jadi engkau berhasil memancingnya agar menjauhkan diri dulu dari gadis itu dan agar dia mencari aku?

Baik sekali.

Engkau telah menjalankan rencana siasatku dengan baik.

Ha-ha-ha, kita berdua sudah mengecap hasilnya.

Engkau telah menikmati tubuh dara itu dan aku....

ha-ha-ha, girang hatiku melihat permusuhan antara keluarga Suma dan keluarga Kao itu mulai tumbuh.

Tentu kelak akan menjadi permusuhan keluarga yang hebat sekali.

Akan tetapi engkau harus hati-hati, Tek Ciang.

Engkau sebagai orang di belakang layar yang memainkan semua ini, jangan sekali-kali menonjolkan diri.

Tahan dulu nafsumu kalau engkau ingin memiliki tubuh gadis itu sepenuhnya.

Kita harus cerdik.

Aku akan memancing agar Cin Liong makin menjauhi tempat ini.!

"Baik, aku akan mentaati semua pesanmu, locianpwe.!

"Kelak, sewaktu-waktu aku berada di daerah ini, engkau boleh menemui aku di sini untuk menerima beberapa macam ilmu dariku seperti yang telah kujanjikan padamu.!

Dengan girang Tek Ciang menghaturkan terima kasih.

Dia menganggap bahwa datuk sesat ini telah berjasa besar kepadanya.

Mereka lalu berpisah dan meninggalkan kuil yang sunyi itu, kuil tua yang menyeramkan karena baru saja dijadikan tempat oleh para iblis dan setan untuk mengusik hati dua orang manusia yang tersesat Dua orang yang memasuki kota Thian-cin pada sore hari itu menarik perhatian orang.

Mereka adalah sepasang pria dan wanita yang sudah berusia lima puluh tahun lebih, namun masih nampak gagah perkasa dan sehat, juga wajah mereka jauh lebih muda daripada usia mereka yang sebenarnya.

Baca Juga: Suling Emas 6

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert