Eps 11 Cinta Bernoda Darah - Kho Ping Hoo
Baca online Cinta Bernoda Darah - Kho Ping Hoo
Cersil Cinta Bernoda Darah - Kho Ping Hoo.
Sian Eng cepat mencabut pedangnya dan membacok bagian yang ada celahnya dengan maksud berusaha memperlebar celah itu.
Akan tetapi pedangnya membalik dan tidak akan sekeping pun batu dapat dipecahkan pedangnya.
Ketika ia memeriksa, ternyata batu hitam yang luar biasa kerasnya, seperti baja.
Setengah hari lebih Sian Eng berusaha mengorek dan membacoki batu.
Namun sia-sia.
Akhirnya ia menjadi lelah dan menjatuhkan diri duduk di tengah ruangan yang mulai gelap, telapak tangannya berdarah dan perih, bahkan pedangnya menjadi rusak-rusak ujungnya.
Sian Eng menangis.
Kemudian ia berteriak-teriak, menjerit-jerit memanggil nama Suma Boan yang ia tahu menanti di luar gua.
"Suma-koko, Suma-koko"
Ke sinilah dan tolong aku.."
Ia menjerit-jerit terus sampai ruangan itu menjadi gelap pekat karena matahari sudah lenyap dari angkasa, dan ia berhenti setelah suaranya menjadi serak dan habis.
Dengan lelah dan lemah lahir batin, Sian Eng kini duduk bersandar dinding.
Mulailah ia menenteramkan hatinya dan memperhatikan sekeliling yang kini menjadi gelap sekali itu.
Dan setelah ia dapat menenangkan hatinya, baru ia tahu bahwa kini banyak sekali kelelawar berseliweran di dalam ruangan itu.
Mula-mula ia merasa heran, dari mana datangnya begitu banyak kelelawar?
Kemudian ia teringat bahwa di antara batu-batu penutup lorong itu terdapat lubang-lubahg yang cukup lebar untuk diterobosi kelelawar-kelelawar itu.
Pada saat itu, alangkah inginnya dia menjadi seekor kelelawar.
Semalam suntuk, selama ruangan di bawah tanah itu gelap pekat menghitam membuat Sian Eng merasa seperti menjadi buta, merupakan saat-saat yang amat menyiksa bagi gadis ini.
Bukan hanya tersiksa oleh keadaan dan tersiksa oleh para kelelawar yang makin memenuhi ruangan itu dan menyambarinya dari segenap penjuru, juga tersiksa oleh rasa serem dan ngeri, juga takut karena ia tak dapat memikirkan jalan keluar sama sekali.
Andaikata Suma Boan datang pula menyusulnya, bagaimana pemuda itu dapat membebaskannya dari kurungan batu-batu yang kokoh kuat ini?
Sian Eng tak dapat menangis lagi, air matanya sudah kering.
Akhirnya, menjelang pagi ia masih berjalan mengelilingi ruangan itu, meraba-raba sepanjang dinding bagaikan orang yang tidak waras otaknya.
"Aku harus hidup"
Aku harus hidup"
Terdengar ia berteriak-teriak dan menjerit-jerit, kemudian ketika ada angin menyambar, ia cepat menggerakkan tangannya untuk menangkap kelelawar itu, namun sia-sia.
Binatang kecil ini amat gesit dan berbeda dengan dia yang buta di dalam gelap, binatang ini memiliki sesuatu sebagai pengganti mata, sesuatu yang merupakan indera rahasia, yang membuat ia mempunyai perasaan amat peka sehingga sambaran tangan Sian Eng itu dapat dielakkannya.
Malah kemudian tiba-tiba gadis ini merasa tengkuknya disambar seekor kelelawar dan terasa kulit tengkuknya sakit sekali.
"Kurang ajar"
Bentaknya, cepat ia mencengkeram ke belakang tengkuknya, namun binatang itu setelah menggigit sudah terbang pergi lagi.
Sian Eng meraba bekas gigitan, berdarah sedikit.
Akan tetapi agaknya bau darah ini membuat binatang-binatang kecil itu menjadi ganas dan liar, karena secara tiba-tiba binatang-binatang itu menyerang Sian Eng dari segala jurusan.
Sian Eng menggerak-gerakkan kedua tangannya, menampar ke sana-sini, mencengkeram ke sana-sini.
Ia berhasil meruntuhkan beberapa ekor kelelawar, akan tetapi gigitan-gigitan itu mengenai banyak bagian tubuhnya, leher, lengan, pipi, kaki.
Hebatnya, bekas-bekas gigitan itu terasa gatal dan panas dan akhirnya gadis ini terguling roboh ketika racun-racun dari luka gigitan membuatnya pening.
Ketika ia roboh, binatang-binatang kecil itu masih menyerbu dan menggigitinya, mengisap darah.
Suma Boan yang menunggu di luar gua tanpa mengetahui keadaan gadis itu, menjadi amat gelisah karena sudah tiga hari tiga malam ia menanti, belum juga Sian Eng muncul keluar.
Pemuda ini tetap bersembunyi di mulut gua, di belakang rumpun alang-alang karena ia khawatir kalau-kalau terlihat oleh orang-orang Beng-kauw.
Hanya di waktu malam ia meninggalkan tempat sembunyinya untuk mencari makanan.
Betapapun juga ia percaya penuh akan kesetiaan Sian Eng dan dengan sabar ia menanti.
Akan tetapi setelah lewat dua pekan masih juga belum ada bayangan gadis itu, Suma Boan habis sabar dan merasa gelisah sekali.
Tentu saja ia tidak mengkhawatirkan keadaan Sian Eng, karena pada hakekatnya pemuda bangsawan ini berhati palsu, sama sekali ia tidak mencinta Sian Eng dengan hati murni, melainkan hanya suka karena kecantikannya.
Baginya, keselamatan Sian Eng sama sekali tidaklah penting, yang penting adalah kitab-kitab itu.
Ia gelisah karena memikirkan kitab-kitab peninggalan Tok-siauw-kui.
Apakah Sian Eng tertangkap?
Ataukah gadis itu tidak mau memberikan kitab-kitab kepadanya?
Hanya itulah yang ia pikirkan.
Karena khawatir kalau-kalau usahanya mendapatkan kitab-kitab itu gagal, maka pada hari ke enam belas, pagi-pagi setelah matahari mulai bersinar, Suma Boan memasuki gua itu untuk menyusul Sian Eng.
Dengan pedang di tangan ia melangkah maju dengan hati-hati sekali.
Seperti juga halnya Sian Eng, ia sampai di lorong yang membawanya ke ruangan yang kini tertutup batu.
Akan tetapi bedanya, ketika Sian Eng memasuki lorong ini, ada cahaya terang sinar matahari dari ruangan, kalau sekarang, karena yang menyorot dari celah-celah batu penutup, maka keadaan hanya remang-remang saja.
Betapa kaget dan bingungnya hati Suma Boan ketika ia tiba di depan batu besar yang menutup lorang.
Jalan itu menjadi buntu"
Dicobanya untuk mendorong batu itu, namun sia-sia belaka.
Ia merayap pada batu itu untuk mengintai dari lubang atau celah-celah antara batu dan dinding karang, akan tetapi hanya melihat lantai batu yang amat terang karena pada saat itu cahaya matahari sudah memasuki sumur itu.
"Eng-moi"
Ia memanggil. Sunyi tiada jawaban, hanya gema suaranya yang terdengar menggereng seperti suara dari alam lain.
"Sian Eng, Di mana kau?"
Kembali ia berseru keras.
Tetap sunyi.
Ah, tentu Sian Eng tidak berada di balik batu ini, pikirnya.
Kalau dia sendiri tidak mampu mendorong batu ini, apalagi Sian Eng?
Tentu, seperti juga dia sendiri gadis itu tidak dapat menembus jalan buntu ini dan menggunakan jalan lain.
Tentu ada jalan simpangan di lorong bawah tanah ini, pikirnya.
Suma Boan lalu memutar tubuh dan dengan hati-hati, meraba-raba dinding batu ia kembali dan mencari jalan simpangan.
Siapa tahu ada jalan simpangan dan Sian Eng tentu mengambil jalan simpangan itu.
Usahanya berhasil.
Memang betul terdapat jalan simpangan ini.
Tangannya meraba lubang di sebelah kiri dinding dan ternyata di situ terdapat lorong kecil yang hanya dapat ia masuki dengan perlahan karena lebarnya hanya setengah meter saja.
Lorong kecil ini seakan-akan tidak ada ujungnya.
Suma Boan maju terus sambil memanggil-manggil nama Sian Eng.
Akhirnya lorong ini menembus pada sebuah ruangan lebar dan Suma Boan berdiri terpaku saking kaget dan serem.
Lorong itu diterangi sinar kehijauan yang entah datang dari mana.
Dapat dibayangkan betapa ngeri hatinya ketika dari tempat gelap tiba-tiba ia dapat melihat, akan tetapi ia dihadapkan penglihatan yang luar biasa seremnya.
Ruangan itu lebarnya kurang lebih dua tombak, panjangnya tiga tombak.
Di tiap ujung berdiri sebuah rangka manusia yang lengkap dengan rahang terbuka seakan-akan hendak berkata-kata atau hendak menggigit.
Anehnya, empat buah rangka itu semua memegang senjata, sebuah memegang sepasang pedang, sebuah memegang golok, sebuah memegang joan-pian (semacam cambuk baja), dan yang sebuah lagi memegang tombak.
Suma Boan bukanlah seorang penakut.
Dia murid seorang sakti yang menjadi seorang di antara Enam Iblis.
Gurunya It-gan Kai-ong, agaknya lebih menakutkan daripada empat buah rangka manusia yang memegang senjata ini.
Apa yang perlu ditakutkan dari empat buah rangka yang sudah mati dan tak dapat bergerak lagi?
Pula, melihat keadaan ruangan yang aneh dan menyeramkan ini, agaknya di situlah disimpannya kitab-kitab peninggalan Tok-siauw-kui.
Oleh karena itu, dengan tabah hati Suma Boan melangkah memasuki ruangan itu dengan pedang di tangan.
Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika ia tiba di tengah ruangan, tiba-tiba terdengar suara berkerotokan dan empat buah rangka manusia itu bergerak-gerak menyerangnya dari empat penjuru"
Suma Boan kaget, akan tetapi ia tidak merasa takut, cepat ia memutar pedang menangkis.
Ia memandang rendah.
Apalagi hanya empat buah rangka mati yang entah bagaimana sekarang dapat bergerak menyerangnya, sedangkan manusia-manusia hidup saja kalau hanya baru empat orang mengeroyoknya, ia tidak akan takut.
Dipikirnya bahwa sekali memutar pedang menangkis, tentu ia akan dapat membabat putus senjata-senjata dan tulang-tulang lengan mereka.
Terkejutlah Suma Boan ketika melihat betapa gerakan serangan mereka itu hebat dan aneh sekali, senjata mereka tidak bergerak biasa, melainkan dengan gerakan tergetar, ada yang menyerong dan ada yang berbentuk lingkaran yang sukar sekali diduga ke mana titik yang akan diserang.
Inilah gerakan-gerakan dari jurus ilmu silat yang amat tinggi dan aneh.
Ia berusaha menyelamatkan diri dan berhasil menangkis sepasang pedang dan golok sekaligus, akan tetapi ia tak dapat mencegah serampangan gagang tombak pada kakinya dan cambukan pada punggungnya.
Suma Boan merasa punggung dan kakinya sakit sekali dan tak dapat tertahankan lagi ia terguling roboh di atas lantai.
Kiranya empat buah rangka itu hanya satu kali saja menyerang karena kini secara otomatis mereka bergerak mundur dan berdiri mati di tempat masing-masing, yaitu di sudut-sudut ruangan itu.
Kemudian terdengar bunyi mendesis-desis dan muncullah tiga ekor ular dari sebelah depan, tiga ekor ular kelaparan yang langsung merayap menghampiri Suma Boan.
Sebagai seorang tokoh yang sudah banyak pengalaman, sekali melihat saja tahulah Suma Boan bahwa ular-ular itu adalah ular-ular kepala putih yang amat berbisa, yang gigitannya sekali saja dapat mendatangkan maut.
Dan ia dapat memperhitungkan pula bahwa rangka-rangka itu digerakkan oleh alat rahasia yang agaknya akan menggerakkan rangka-rangka itu kalau ia menginjak lantai ruangan, Maka jalan satu-satunya untuk dapat keluar dari ruangan ini hanya dengan jalan merangkak perlahan-lahan.
Akan tetapi kalau hal ini ia lakukan, ia akan terlambat karena ular-ular itu akan menyerangnya.
Punggungnya masih terasa sakit yang membuat gerakannya kurang cepat dan kalau ia menggunakan pedangnya melawan ular-ular itu, keselamatannya belum tentu terjamin.
Pemuda bangsawan yang cerdik ini tanpa ragu-ragu lagi lalu menggunakan pedangnya, merobek dan memotong sebagian daging betis kirinya.
Karena pedangnya amat tajam dan gerakan tangannya amat kuat, hampir tidak terasa nyeri ketika ia memotong betisnya.
Gumpalan daging betisnya ia lemparkan ke tengah-tengah ular dan seketika ular-ular itu saling terjang untuk memperebutkan daging berdarah yang segar itu.
Suma Boan mempergunakan kesempatan ini untuk merangkak, pergi dan begitu ia tiba di lorong, lalu ia menggerakkan kedua kakinya berdiri dan lari dari tempat itu.
Baru sekarang terasa betapa perih dan sakitnya kaki yang dipotong daging betisnya.
Ia berhenti di tempat gelap, merobek celananya dan membalut luka di betisnya setelah ia beri obat bubuk yang memang tersedia di saku bajunya.
Kemudian ia berjalan lagi sambil berteriak-teriak memanggil Sian Eng.
Mulai gelisah hati Suma Boan.
Apakah yang terjadi dengan gadis itu?
Terus melalui terowongan besar tentu tak mungkin karena terhalang batu besar.
Memasuki lorong kecil ini pun takkan mungkin karena tentu akan bertemu ruangan rahasia yang amat berbahaya itu.
Lalu ke mana perginya Sian Eng?
Jangan-jangan gadis itu telah tertawan oleh orang-orang Beng-kauw, pikirnya.
Kalau tewas tentu ia dapat melihat mayatnya.
Tak mungkin tiga ekor ular tadi menghabiskan seluruh badan mayat seseorang apalagi tiga ekor ular tadi kelihatan kelaparan, tanda bahwa berbulan-bulan tidak mendapat mangsa.
Dengan tubuh sakit-sakit dan hati kecewa sekali Suma Boan keluar dari terowongan itu.
Tiba-tiba ia merasa kepalanya pening dan napasnya sesak.
Cepat ia berhenti di tempat gelap dan mengumpulkan napas, mengerahkan sin-kangnya.
Sebagai murid orang sakti, tahulah ia bahwa ia telah kena hisap hawa beracun yang kini mulai mempengaruhinya.
Kaget bukan main hati Suma Boan.
Ia terhuyung-huyung dan pandang matanya kabur.
Hatinya lega ketika ia melihat sinar terang dari luar gua.
Ia telah tiba di mulut gua dan tiba-tiba tampak olehnya bayangan seorang wanita berkelebat di depan gua itu.
"Moi-moi.."
Kekasihku, akhirnya kita bertemu juga.."
Teriaknya girang sambil mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengejar keluar.
Pandang matanya agak berkunang dan kabur, akan tetapi ia masih dapat melihat bahwa yang berdiri di luar alang-alang itu adalah seorang gadis muda.
Siapa lagi kalau bukan Sian Eng?
"Kekasihku.."
"Tutup mulutmu yang kotor"
Tiba-tiba bayangan itu membentak dan sebuah tamparan keras menyambar muka Suma Boan.
Biarpun kepalanya pening, namun Suma Boan belum kehilangan kelihaiannya.
Ia cepat mengelak dan bahkan berusaha mencengkeram lengan tangan gadis itu yang juga dapat menghindarkan diri.
"Moi-moi.. kau hendak mengkhianatiku? Serahkan kitab-kitab itu, di mana kau sembunyikan?"
Bentak Suma Boan sambil menubruk lagi hendak memeluk gadis itu.
Dengan teriakan tertahan, gadis itu mengelak dan menerjang Suma Boan dengan obor di tangannya.
Kiranya cahaya terang yang kelihatan dari dalam gua oleh Suma Boan tadi adalah sebuah obor yang dipegang oleh gadis itu, dan ternyata bahwa keadaan waktu itu telah mulai gelap"
Suma Boan menjadi marah sekali dan cepat ia menggerakkan tangan melakukan pukulan jarak jauh dan..
padamlah obor itu.
Keadaan sudah menjelang malam, namun masih belum gelap benar, cuaca remang-remang.
Tampak bayangan lain berkelebat datang.
"Ada apakah, Hwee-ji (Anak Hwee)?"
Terdengar bayangan yang datang ini bertanya.
"Susiok (Paman Guru), dia ini Suma Boan si jahat itu. Dia baru keluar dari gua rahasia, Mari tangkap. Dia kelihatan seperti gila"
Jawab Liu Hwee, gadis itu.
Sementara itu, ketika Suma Boan mendengar percakapan pendek ini, sadarlah ia bahwa ia telah keliru sangka.
Gadis itu sama sekali bukanlah Sian Eng seperti yang dikiranya, melainkan Liu Hwee, puteri ketua Beng-kauw, dan yang baru datang adalah Kauw Bian Cinjin, orang ke dua dari Beng-kauw.
Tanpa banyak cakap lagi ia lalu lari tunggang langgang secepat kedua kakinya bergerak.
Liu Hwee juga melompat mengejar dan terjadilah kejar-mengejar di malam buta.
Kauw Bian Cinjin juga ikut mengejar, akan tetapi hanya sebentar ia kembali lagi.
Ia pikir bahwa seorang lawan macam Suma Boan, cukup ditandingi oleh Liu Hwee.
Ia khawatir kalau-kalau kedatangan Suma Boan itu hanya pancingan belaka agar ia ikut pula mengejar, sedangkan siapa tahu kalau-kalau guru pemuda itu, It-gan Kai-ong yang akan datang beraksi.
Karena itu, Kauw Bian Cinjin tidak melanjutkan pengejarannya, melainkan melakukan perondaan di sekitar tanah kuburan Beng-kauw yang berada di atas lorong-lorong rahasia.
Demikian, seperti kita ketahui di bagian depan cerita ini, Kauw Bian Cinjin bertemu dengan Suling Emas dan Lin Lin yang berada di depan kuburan mendiang Pat-jiu Sin-ong Liu Gan.
Kemudian Kauw Bian Cinjin minta bantuan Suling Emas untuk mencari-cari Liu Hwee yang belum juga tampak kembali.
Suling Emas mengejar ke timur sedangkan Kauw Bian Cinjin mengejar ke utara.
Suling Emas dan Lin Lin mengejar ke timur dengan cepat.
Tanpa disadari sendiri oleh gadis itu, kini ia dapat mengimbangi kecepatan Suling Emas, kemajuan yang luar biasa semenjak ia mempelajari ilmu peninggalan Pat-jiu Sin-ong, terutama sekali petunjuk-petunjuk cara bersamadhi dan mengatur napas.
Gadis ini tidak menyadari hal itu, akan tetapi Suling Emas dapat menduganya karena dahulu tidaklah sehebat ini gerakan Lin Lin.
Diam-diam pendekar ini menjadi amat khawatir.
Ilmu ciptaan Pat-jiu Sin-ong ini hebat sekali.
Baru satu jurus Soan-hong-ci-tian (Angin Puyuh Keluarkan Kilat) yang pernah dipergunakan Lin Lin ketika ia mencobanya itu saja sudah luar biasa sekali saktinya, kalau sudah terlatih matang, agaknya gadis ini akan menjadi salah satu orang sakti di dunia persilatan.
Ia hanya khawatir kalau-kalau kepandaian sakti itu pada diri seorang gadis seperti Lin Lin akan menimbulkan keributan kelak.
Ia tahu bahwa sesungguhnya kepandaian sebagian anugerah Thian (Tuhan) setelah jatuh pada diri manusia, menimbulkan dua macam hal bertentangan, yaitu baik dan buruk, tergantung daripada si manusia itu sendiri.
Dan manusia macam Lin Lin adalah manusia yang amat aneh, sukar sekali dimengerti.
Sampai sepekan mereka mengejar, belum juga mereka mendapatkan jejak Suma Boan maupun Liu Hwee.
Pada hari ke tujuh mereka sudah tiba di tapal batas wilayah Kerajaan Wu-yue dan berhentilah Suling Emas.
"Tiada guna,"
Katanya ketika mereka mengaso pada tengah hari yang panas itu di bawah pohon dalam hutan.
"Tidak ada jejak mereka ke sini, agaknya bukan ke timur mereka menuju. Pula Kauw Bian Cinjin sudah melakukan pengejaran, tentu akan dapat menyusul dan menyelamatkan puteri Beng-kauw. Andaikata tidak dapat menyusulnya, Suma Boan akan bisa berbuat apakah? Kepandaiannya tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan kesombongannya."
"Apakah kepandaian Liu Hwee itu hebat?"
Lin Lin bertanya sambil memandang wajah tampan di sebelah kanannya.
Kembali rasa cemburu menggerogoti hatinya karena ia menyaksikan sendiri betapa akrab hubungan antara Suling Emas dan Liu Hwee.
"Puteri tunggal ketua Beng-kauw tentu saja mempunyai kepandaian tinggi. Selain berilmu tinggi, juga pandangannya luas dan ia selalu hati-hati dan waspada."
Suling Emas memuji-muji sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Seketika bibir Lin Lin cemberut.
"Sekali waktu aku ingin menandinginya, coba-coba siapa yang lebih lihai antara dia dan aku"
Suling Emas yang tadinya duduk seperti melamun menjadi kaget, dan cepat menoleh memandang wajah gadis itu yang masih cemberut.
Mulut dan mata gadis itu jelas membayangkan apa yang sedang bergejolak di dalam dada Lin Lin.
Suling Emas tidak jadi menjawab, hatinya berdebar dan ia menarik napas panjang.
Melihat wajah yang begitu mirip dengan wajah kekasihnya, Suma Ceng, hampir saja pertahanan hatinya bobol.
Bagaimana ia tidak dapat mencintai gadis yang wajahnya begini mirip Suma Ceng, yang wataknya begini aneh dan lincah jenaka, yang sudah pasti sekali akan mendatangkan cahaya bahagia di ruang dadanya yang gelap muram?
Bagaimana takkan terobati luka-luka di hatinya, luka yang diakibatkan kegagalan cinta kasih, apabila ia menerime uluran hati gadis ini?
Namun tidak.
Tak mungkin ia menerima cinta kasih Lin Lin.
Ia tahu betul bahwa gadis ini mencintanya, semenjak..
semenjak peristiwa di dalam gelap di malam hari dalam kamar perpustakaan istana dulu.
Semenjak ia memeluk dan mencium gadis itu tanpa disengaja karena mengira Lin Lin adalah Suma Ceng kekasihnya.
Akan tetapi betapa mungkin ia menerima uluran cinta kasih itu betapapun inginnya?
Gadis ini adalah adik angkatnya.
Hal pertama ini sungguhpun bukan merupakan penghalang besar, namun sudah merupakan penghalang.
Ke dua, gadis ini masih amat muda kalau dibandingkan dengan dia.
Usia Lin Lin baru delapan belas tahun, sedangkan dia sudah berusia tiga puluh tahun.
Tidak, ia harus tahu diri.
"He, mengapa kau diam saja? Bagaimana pendapatmu?"
Tiba-tiba Lin Lin menepuk lengan Suling Emas yang menjadi kaget dan sadar daripada lamunannya.
"Apa? Pendapat apa?"
Tanyanya, tersenyum.
"Aku bilang tadi, ingin kumenandingi Liu Hwee untuk menguji kepandaiannya"
"Hemmm, ada-ada saja kau ini. Tidak ada alasan sedikit pun juga bagimu untuk mencari perkara dengan puteri Beng-kauwcu (ketua Beng-kauw)."
"Siapa bilang tidak ada?"
Sepasang mata yang jeli dan indah itu bersinar-sinar.
"Banyak sekali alasannya"
"Hemmm, apakah kesalahannya? Apa alasannya?"
Suling Emas membantah, mengerutkan kening.
"Banyak, terutama sekali karena aku tidak mau kalah olehnya"
Suling Emas melongo.
Dia seorang jagoan yang sudah banyak makan asam garam dunia kang-ouw, sudah banyak mengenal watak-watak orang aneh seperti iblis-iblis Thian-te Liok-koai.
Akan tetapi sesungguhnya belum banyak pengalamannya dengan wanita, karena semenjak hatinya terluka oleh Suma Ceng yang dipaksa bercerai daripadanya dan menikah dengan orang lain, seakan-akan merupakan pantangan bagi Suling Emas untuk mendekati wanita.
Karena itu, ia sama sekali tidak mengenal watak-watak wanita dan tidak dapat menyelami lubuk hati Lin Lin.
Akan tetapi melihat pandang mata yang begitu menantang dari gadis ini, pandang mata yang mengandung sinar kemesraan seperti kalau sepasang mata Suma Ceng memandangnya, Suling Emas segera menundukkan muka.
"Sudahlah,"
Katanya kemudian setelah menarik napas panjang untuk menenangkan hatinya yang berdebar tidak karuan.
"Mari kita bicarakan urusan lain yang lebih penting. Lin-moi, kurasa di sini kita harus berpisah. Kulihat kau tidak rela menjadi murid Pat-jiu Sin-ong, hal ini pun tak dapat kupaksa. Akan tetapi pesanku, kau tidak boleh mempergunakan jurus-jurus ilmu yang kau dapatkan dari dalam tongkat Beng-kauw, karena kalau hal itu diketahui tokoh-tokoh Beng-kauw, kau pasti akan dimusuhi, dianggap sebagai pencuri ilmu peninggalan pendiri Beng-kauw."
Akan tetapi Lin Lin sama sekali tidak memperhatikan atau pedulikan kalimat terakhir.
Matanya terbelalak dan wajahnya berubah, karena kata-kata "berpisah"
Itulah yang menggores hatinya.
"Berpisah?"
Ia tergagap.
"Kenapa..?"
Suling Emas tersenyum duka.
Kembali sikap gadis yang sewajarnya ini jelas menunjukkan bahwa Lin Lin tidak ingin berpisah dari padanya.
Sama dengan Suma Ceng.
Hanya bedanya, kalau Suma Ceng bersikap lemah dan menerima keadaan, sebaliknya gadis ini bersikap keras, agaknya takkan mau berpisah kalau tidak ia sendiri yang menghendaki.
"Tentu saja kita harus berpisah, karena jalan kita memang tidak sama. Kau kembalilah ke Cin-ling-san menyusul kakakmu Bu Sin. Biarkan aku sendiri mencari Sian Eng. Setelah dapat bertemu, tentu dia pun akan kusuruh menyusul ke Cin-ling-san."
"Aku ikut, Aku juga hendak mencari Enci Sian Eng sampai dapat. Kita mencari bersama, bukankah lebih baik? Aku tidak akan menyusahkanmu, biar.. biarlah aku mencari makan minumku sendiri"
Mau tak mau Suling Emas tertawa. Benar-benar gadis ini kadang-kadang mempunyai pendapat dan jalan pikiran seperti kanak-kanak.
"Bukan begitu, Lin Lin. Banyak sekali urusan besar harus kuhadapi. Bahkan pertandingan puncak antara Thian-te Liok-koai di Thai-san sudah dekat waktunya, aku pun harus hadir di sana. Selain itu, kau melihat sendiri bahwa banyak orang kang-ouw memusuhi aku. Setiap langkahku terancam bahaya.."
"Aku tidak takut. Kalau mereka mengganggumu, aku akan hajar mereka. Apa kau kira aku ini seorang manusia yang tiada gunanya? Aku akan membantumu, juga di Thai-san"
"Wah, kau mau menandingi iblis-iblis seperti Hek-giam-lo dan It-gan Kai-ong?"
"Aku tidak takut terhadap mereka. Aku akan memperdalam ilmu yang baru kudapatkan."
"Hemmm, baru saja kupesan supaya kau tidak menggunakan ilmu peninggalan.."
"Kan mereka bukan orang Beng-kauw? Takut apa menggunakan ilmu peninggalan Pat-jiu Sin-ong? Malah kalau aku dapat mengalahkan mereka dengan ilmu ini, bukankah berarti aku mengangkat nama Beng-kauw dan terutama nama pencipta ilmu ini? Roh Pat-jiu Sin-ong tentu akan tertawa melihat betapa ilmunya di tangan seorang gadis seperti aku dapat mengalahkan iblis-iblis jahat"
Suling Emas merasa kalah berdebat.
"Tak baik jadinya kalau ikut denganku, Lin Lin. Tidak bisa, kita harus berpisah. Atau.. kau boleh menanti di Nan-cao, mari kuantar sampai di Nan-cao. Kau tinggal dulu di sana, menanti sampai aku dapat menemukan Sian Eng, baru kau dan encimu pulang bersama."
"Tidak, Sekali lagi ti."
Tiba-tiba tangan Suling Emas bergerak dan tahu-tahu mulut Lin Lin sudah didekapnya dengan telapak tangannya.
Lin Lin memandang dengan mata terbelalak kaget dan heran, akan tetapi baru ia mengerti ketika Suling Emas menaruh telunjuknya di depan mulut dan memberi isyarat agar gadis itu tidak mengeluarkan suara.
Kini baru Lin Lin melihat bahwa jauh dari depan tampak bayangan manusia berkelebat cepat sekali dan sebentar saja sudah lewat.
Sukar dilihat siapa orang itu, hanya jelas tampak pakaiannya, pakaian wanita, juga bentuk tubuhnya ramping.
Akan tetapi mukanya tidak tampak karena ketika lari menghadapkan muka ke sebelah sana.
Yang mengagumkan adalah kecepatan larinya, seakan-akan kedua kakinya tidak menginjak tanah.
"Seperti Enci Sian Eng.."
Bisik Lin Lin terheran-heran.
Memang bentuk tubuh wanita itu seperti Sian Eng, akan tetapi pakaiannya bukan pakaian seorang ahli silat yang serba ringkas melainkan pakaian seorang wanita dusun atau petani yang sederhana.
Juga wanita itu rambutnya panjang terurai, sungguhpun tidak sepanjang rambut Siang-mou Sin-ni, namun terurai sampai ke lutut belakang.
"Bukan, mari kita ikuti dia, mencurigakan sekali.."
Kata Suling Emas yang sudah melompat dan mengejar.
Lin Lin terpaksa mengejar juga.
Dengan sekuat tenaga Lin Lin mengerahkan gin-kang dan berusaha lari mengimbangi kecepatan Suling Emas.
Akan tetapi kali ini ia tertinggal, karena Suling Emas betul-betul berlari cepat kini.
Baru ia tahu bahwa kepandaiannya dalam berlari cepat masih kalah sedikitnya dua tingkat oleh pendekar yang dikasihinya itu.
Sesungguhnya tidak demikian.
Hanya karena belum matang dalam latihan ilmunya yang baru, maka Lin Lin masih kalah jauh.
Namun sudah banyak maju kalau dibandingkan dengan sebelum ia mendapatkan ilmu itu.
Tiba-tiba Suling Emas berhenti ketika melihat Lin Lin tertinggal jauh.
Ketika gadis itu sudah datang dekat, ia berkata.
"Hebat ilmu lari cepat orang itu. Lin-moi, kau pegang tanganku"
Tak usah menanti diperintah dua kali, Lin Lin menyambar tangan kiri Suling Emas.
Kalau boleh ia tak ingin melepas tangan itu untuk selamanya.
Akan tetapi tak sempat ia bermimpi muluk karena segera tubuhnya tersentak keras ke depan dan di lain saat ia terpaksa harus mengerahkan gin-kangnya lagi karena Suling Emas sudah membawanya lari seperti terbang cepatnya.
Namun, bayangan wanita di depan itu tetap tak dapat tersusul.
Hal ini saja membuktikan betapa ilmu lari cepat wanita di depan itu betul-betul sudah mencapai tingkat yang luar biasa.
Lin Lin merasa kagum sekali dan ia pun ingin segera melihat siapa sebenarnya wanita itu.
Wanita di depan itu lari menuju ke timur.
Setelah tiba di daerah pegunungan yang tandus dan sunyi, mulailah ia mengurangi kecepatannya dan akhirnya ia hanya berjalan kaki.
Suling Emas mengajak Lin Lin terus mengikutinya dari belakang.
"Kenapa tidak susul dia? Aku ingin sekali melihat mukanya, ingin melihat siapa dia,"
Bisik Lin Lin.
"Sssttt, apa perlunya? Aku merasa curiga. Ilmu larinya bukan main, tentu dia seorang sakti. Aku ingin tahu dia hendak ke mana dan hendak berbuat apa. Serasa sudah mengenal orang itu, akan tetapi lupa lagi.."
Kata Suling Emas.
Akan tetapi wanita itu benar-benar kuat sekali.
Tak pernah ia berhenti berjalan sampai senja berganti malam.
Lin Lin sudah merasa lelah sekali.
"Aku.. aku tidak kuat lagi berjalan.."
Ia mengeluh.
"Kakiku serasa hendak copot sambungan tulangnya. Mau apa sih mengikuti orang gila? Suling Emas, aku mogok, tidak kuat lagi.."
Lin Lin tiba-tiba menjatuhkan dirl duduk di atas tanah.
"Mari kupondong"
Suling Emas yang betul-betul tertarik oleh wanita di depan itu yang luar biasa ilmu lari cepatnya, tanpa ragu-ragu membungkuk dan memondong tubuh Lin Lin.
Gadis ini segera merangkul lehernya dan merebahkan kepala di atas pundaknya dengan hati penuh bahagia dan manja.
Suling Emas hanya menghela napas dan melanjutkan perjalanan mengikuti wanita itu.
Ia benar-benar merasa kasihan kepada Lin Lin, gadis aneh yang kadang-kadang menyebut "kanda"
Ada kalanya menyebut "Suling Emas"
Begitu saja kepadanya.
Gadis yang bukan sedarah deging dengannya, lain ayah ibu, gadis berdarah bangsawan, puteri bangsa Khitan yang gagah perkasa.
Malam itu bulan muncul sepenuhnya.
Bulan purnama.
Lin Lin agaknya sudah lupa akan wanita yang mereka ikuti.
Seluruh perasaannya tenggelam ke dalam laut bahagia dan mesra.
Dengan bulan purnama di angkasa, suasana menjadi romantis sekali.
Tidak salah kiranya orang tua yang mengatakan bahwa sinar bulan purnama mendorong dan merangsang hati muda ke arah kemesraan dan memperkuat pengaruh asmara.
Lin Lin masih merangkul leher Suling Emas, kepalanya rebah miring di atas pundak pendekar itu dan matanya ketap-ketip menatap wajah yang mencuri hatinya itu penuh cinta kasih.
Sudah lebih tiga jam Suling Emas memondongnya.
Sudah banyak berkurang kelelahan Lin Lin, namun gadis itu tidak sadar akan hal ini.
Dirasanya baru sebentar ia dipondong.
"Koko.."
Bisiknya di dekat telinga Suling Emas.
"Hemmm..?"
Suling Emas menjawab acuh tak acuh karena perhatiannya tertuju ke depan.
Wanita itu mendaki sebuah bukit kecil di mana terdapat tanah kuburan yang penuh dengan gundukan-gundukan tanah dan batu nisan.
".. ingin sekali aku selamanya berada di dalam pondonganmu.."
"Huh, kau bukan bayi. Sudah terlalu lama kau kupondong. Turun"
Suling Emas menurunkan Lin Lin dan baiknya sinar bulan berwarna kemerahan sehingga menyembunyikan muka pendekar ini yang menjadi merah sekali.
"Koko.."
"Hushhhhh.. lihat itu.."
Suling Emas menuding ke depan.
Teringatlah Lin Lin akan wanita yang tadi sudah ia lupakan sama sekali.
Di dalam pondongan Suling Emas di malam penuh sinar bulan tadi, ia sudah lupa segala, yang teringat hanya dia dan Suling Emas, dunia ini hanya ada mereka berdua, ada urusan cinta kasih mereka, yang lain-lain tidak ada lagi.
Sekarang ia teringat dan cepat memandang.
Kagetlah hati Lin Lin ketika mendapat kenyataan bahwa mereka telah berada di daerah kuburan, bahkan Suling Emas dan dia sudah mengintai dari balik sebuah batu nisan, di bawah sebatang pohon kecil.
Wanita itu dengan lenggang yang menunjukkan bahwa dia seorang yang masih muda dan berperawakan bagus sekali, berjalan menghampiri sebuah makam, lalu menjatuhkan diri berlutut memeluk batu nisan sambil menangis tersedu-sedu.
"Ayah.., Ayah yang baik.. ampunilah anakmu.."
Ratap tangis wanita itu.
Sejenak Lin Lin tercengang, kemudian tak terasa lagi air matanya jatuh berderai di atas kedua pipinya.
Teringatlah ia akan dirinya sendiri yang sudah yatim piatu, tiada ayah bunda lagi, bahkan dibandingkan dengan wanita di sana itu, dia lebih sengsara.
Setidaknya wanita itu dapat menangisi kuburan ayahnya, sedangkan dia, di mana kuburan ayah bundanya saja tidak tahu.
Timbul rasa simpati dan kasihan kepada wanita yang berlutut dan tersedu-sedu itu, merasa senasib dan ingin ia mendekati dan menghiburnya.
Perasaan ini menggerakkan kakinya dan Lin Lin sudah bangkit berdiri hendak melangkah maju.
Akan tetapi tiba-tiba Suling Emas memegang lengannya dan menahannya.
Pendekar ini memberi isyarat dengan telunjuk di depan mulut.
Lin Lin sadar bahwa mereka sedang mengintai, maka ia membatalkan niatnya dan menghapus air mata dari pipi, lalu mengintai dan mendengarkan.
"Ayah.. ampunkan aku, Ayah. Anakmu telah gagal membalaskan dendam untukmu.. dia terlalu sakti, bukan lawanku. Banyak tokoh kang-ouw bersamaku mengeroyoknya, tanpa hasil. Ayah.. tak mungkin aku dapat membalaskan sakit hatimu, tak mungkin aku dapat mengalahkan dia, pula.. ampunkan aku, Ayah.. anakmu ini.. yang hina dina.. tidak akan tega membunuhnya. Mungkin dapat aku memperdalam ilmu untuk mengalahkannya, akan tetapi.. aku.. aku cinta padanya. Aku mencinta Suling Emas putera musuh besarmu.."
Kembali gadis itu tersedu menangis, kemudian tiba-tiba bangkit berdiri mengembangkan kedua lengannya berdongak memandang bulan purnama dan bersumpah.
"Ayah, semoga rohmu mendengarkan sumpahku, disaksikan oleh Dewa Bulan. Biarpun aku tidak akan dapat membunuh Suling Emas, namun aku bersumpah untuk membunuh semua isterinya kalau dia beristeri, dan semua anaknya kalau dia mempunyai anak"
Sampai pucat wajah Suling Emas ketika ia mengenal suara dan wanita ini yang bukan lain adalah Bu-eng-sin-kiam Tan Lian, puteri tunggal almarhum Hui-kiam-eng Tan Hui yang tewas di tangan ibunya"
Bukan main hebatnya sumpah ini sehingga biarpun hati Suling Emas sekuat baja, namun ia menjadi pucat dan gemetar juga karena maklum bahwa malapetaka akan menimpa keturunannya.
Sementara itu, Lin Lin tadinya juga pucat sekali mendengar ini, akan tetapi timbul kemarahannya mendengar pengakuan wanita itu yang mencinta Suling Emas dan bersumpah untuk membunuh anak dan isteri kekasihnya ini, membuat ia tak kuat menahan lagi.
Dengan seruan yang merupakan lengking tinggi, hasil yang tak disadarinya daripada ilmunya yang baru, ia telah melompat ke depan dan selagi wanita itu membalikkan tubuh dengan kaget dan heran, Lin Lin secara otomatis sudah melancarkan serangan berdasarkan ilmunya yang baru.
Kedua kepalan tangannya yang kecil halus saling bertumbukan, namun tepat menghantam tubuh wanita itu secara berbareng.
Wanita itu menjerit dan terpental ke belakang, menabrak batu nisan ayahnya yang menjadi pecah seketika.
Lin Lin sendiri berdiri terbelalak keheranan karena tidak mengira bahwa pukulannya akan sehebat ini, apalagi kalau diingat betapa wanita ini memiliki kesaktian, terbukti dari ilmu larinya yang luar biasa.
"Lin-moi, jangan.."
Suling Emas berseru namun terlambat.
Andaikata Suling Emas tidak demikian terpengaruh oleh sumpah Tan Lian, agaknya pendekar sakti ini tadi masih sempat mencegah.
Ia kini berkelebat dan tahu-tahu sudah membungkuk dan berlutut di depan tubuh Tan Lian yang rebah dengan mata meram dan muka pucat, mulut mengalirkan darah.
Cepat Suling Emas memeriksa dan ia mengeluarkan seruan kaget.
Ia sendiri kaget bukan main melihat akibat daripada pukulan Lin Lin karena setelah memeriksa, ia mengerti bahwa keadaan Tan Lian parah sekali dan nyawa wanita ini takkan dapat ditolong lagi.
Pukulan itu telah meracuni darah dan meretakkan tulang-tulang.
Kiranya tanpa disadarinya sendiri Lin Lin telah mewarisi ilmu pukulan dahsyat dari Pat-jiu Sin-ong yang disebut pukulan Tok-hiat-coh-kut (Racuni Darah Patahkan Tulang).
Suling Emas maklum bahwa pukulan ini mengandung hawa beracun yang hebat dan satu-satunya jalan untuk menolong Tan Lian hanya membawanya secepat mungkin kepada tabib yang sakti, karena tabib-tabib biasa saja takkan mungkin mampu menolongnya.
"Bocah lancang"
Bentaknya kepada Lin Lin.
"Mengapa memukul orang tak berdosa?"
Setelah berkata demikian, Suling Emas menyambar tubuh Tan Lian dan dibawanya lari berkelebat lenyap dari tempat itu.
"Koko.. tunggu.."
Lin Lin berseru keras sambil mengejar, akan tetapi Suling Emas tidak menjawab dan sudah tidak tampak lagi.
Lin Lin memanggil-manggil dan mengejar ke sana ke mari, akhirnya ia menjatuhkan diri di pinggir jalan dengan napas terengah-engah dan air mata membasahi pipi.
"Dia marah kepadaku.."
Pikirnya.
"mengapa marah? Perempuan itu musuhnya. Ah, aku harus mencarinya, dia harus menjelaskan sikapnya ini kepadaku. Dia akan ke Thai-san, aku pun akan ke sana, biar kunanti dia di sana."
Pikiran ini menguatkan hati Lin Lin dan menghilangkan kebingungannya, kemudian ia pun pergi dari tempat itu.
Perjalanan ke Thai-san merupakan perjalanan yang jauh dan sukar, lagi amat berbahaya pada masa itu.
Akan tetapi Lin Lin melakukan perjalanan dengan tekun, sabar, dan penuh keberanian.
Apalagi setelah ia dengan satu kali pukulan mampu merobohkan seorang yang lihai, seperti wanita di kuburan itu, timbul kepercayaan besar pada dirinya sendiri, kepercayaan bahwa ia mampu menghadapi siapapun juga karena pada dirinya terdapat sebuah ilmu yang ampuh dan sakti.
Pikiran ini pula yang membuat Lin Lin makin rajin melatih diri dengan jurus-jurus yang hanya berjumlah tiga belas dari ilmu yang ia dapatkan di dalam tongkat pusaka Beng-kauw, serta mempelajari pula petunjuk-petunjuk cara menghimpun tenaga sakti.
Karena ia sendiri tidak tahu apa namanya ilmu yang terdiri daripada tiga belas jurus itu, Lin Lin lalu menamakannya Cap-sha-sin-kun (Tiga Belas Jurus Sakti).
Berpekan-pekan Lin Lin melakukan perjalanan menuju ke Thai-san, bertanya-tanya kepada para penduduk dusun dan kota yang dilaluinya.
Akhirnya pada suatu hari sampailah ia di kaki Gunung Thai-san.
Puncak gunung itu menjulang tinggi, tampak agung dan megah.
Hati Lin Lin berdebar.
Akan berhasilkah ia bertemu dengan Suling Emas di puncak itu?
Bagaimana kalau dia tidak berada di sana?
Dan wanita yang memusuhi Suling Emas itu, yang roboh karena pukulannya, akan diapakan Suling Emas?
Hatinya tidak enak dan cemburunya makin besar ketika ia teringat betapa wanita itu ternyata masih muda dan cantik jelita.
Serasa terbakar isi dadanya kalau ia teringat betapa wanita itu dipondong oleh Suling Emas dan entah untuk berapa lamanya.
Dan masih marah hatinya kalau ia mengenangkan bentakan Suling Emas yang marah-marah kepadanya memakinya sebagai bocah lancang.
Dia lancang?
Memukul seorang wanita yang memusuhi Suling Emas tapi juga mengaku cinta, lancangkah itu?
"Ah, Suling Emas, aku cinta kepadamu..
demi cintaku maka aku memukul dia yang tidak kukenal."
Ia menghela napas dan duduk di pinggir jalan, menghapus keringatnya dengan saputangan.
Hari itu ia telah melakukan perjalanan amat jauh dan enak rasanya menyandarkan tubuh pada batang pohon yang tua dan hampir mati, duduk di atas rumput hijau yang empuk dan ditiupi angin sejuk pada sore hari itu.
Tiba-tiba perhatiannya tertarik oleh suara derap kaki kuda.
Jalan mulai sukar di bagian itu, maka penunggang kuda itu pun menahan kudanya dan maju perlahan-lahan melalui tanah yang tidak rata.
Penunggangnya seorang laki-laki yang bertubuh tegap, memakai caping lebar seperti caping petani, akan tetapi dari balik pundaknya tampak gagang pedang.
Melihat duduknya yang tegak lurus dan tidak bergoyang-goyang biarpun si kuda naik turun, Lin Lin mengerti bahwa penunggang kuda ini seorang yang berkepandaian.
Akan tetapi dari jauh ia tidak dapat melihat muka yang tertutup caping itu.
Kuda makin mendekati tempat Lin Lin duduk.
Penunggang kuda itu mengangkat muka, dan..
"Liong-twako.."
Lin Lin berseru sambil melompat bangun.
"Lin-moi.."
Penunggang kuda itu, Lie Bok Liong, melompat dari atas punggung kudanya, lari menghampiri Lin Lin dan serta merta memeluknya dan mendekap kepala gadis itu pada dadanya.
Begitu besar kegirangan hati Bok Liong sehingga ia lupa diri seperti itu.
Sedetik Lin Lin kaget dan jengah, akan tetapi mengingat akan pengorbanan pemuda ini untuknya ia membiarkan dirinya dipeluk dan mukanya didekap erat-erat pada dada Bok Liong.
"Lin-moi.. ah, Lin-moi.. alangkah bahagia hatiku melihat kau, Moi-moi. Syukur kepada Tuhan bahwa kau selamat, bisa terbebas daripada tangan Hek-giam-lo dan orang-orang Khitan yang jahat"
Seru Bok Liong dengan suara serak dan ketika Lin Lin merenggangkan diri dan memandang, hatinya terharu menyaksikan betapa pipi pemuda itu basah oleh air mata.
Dengan gerakan halus Lin Lin melepaskan diri daripada pelukan itu.
Ia tidak marah, tidak merasa terhina, bahkan terharu karena ia maklum bahwa pemuda ini benar-benar amat gembira dengan pertemuan ini sehingga berbuat agak melewati batas kesopanan.
"Twako, tenanglah, mari kita bicara yang enak. Aku pun girang sekaii melihat kau selamat. Tadinya aku sudah khawatir sekali, mengira kau tentu tewas oleh kenekatanmu melawan Hek-giam-lo dan orang-orangnya."
Lin Lin menarik tangan pemuda itu, diajak duduk di atas rumput.
Sambil berbuat demikian, Lin Lin menoleh ke sana ke mari, khawatir kalau-kalau ada orang melihat dia tadi dipeluk-peluk pemuda ini.
Akan tetapi tempat itu amat sunyi, tidak ada orang lain, bahkan tidak tampak mahluk lain kecuali kuda Bok Liong yang kini dengan enaknya makan rumput dengan peluh membasahi tubuh, tanda bahwa kuda itu pun baru saja melakukan perjalanan jauh.
Bok Liong tertawa, menghapus air matanya.
"Ah, maafkan aku, saking girangku sampai tak tahan mengeluarkan air mata seperti bocah cengeng,"
Katanya.
"Bukan begitu, Twako. Kau terlalu baik hati. Kau telah berusaha berkali-kali untuk menolongku tanpa menghiraukan keselamatan dirimu. Betapa hancur hatiku ketika melihat kau tersiksa tanpa mampu menolongmu kembali. Akan tetapi, bagaimana kau dapat selamat? Aku mendengar bahwa kau tertolong oleh suhumu yang lucu itu."
"Betul, Lin-moi. Suhu yang telah menolongku. Beliau merawatku sampai sembuh dan aku diminta tinggal bersama Suhu untuk memperdalam ilmu. Dan kau sendiri, yang sudah membuat aku putus asa, yang membuat aku hari ini tergesa-gesa hendak menemui Hek-giam-lo dan mengadu nyawa kalau tidak mau membebaskanmu, bagaimana kau dapat bebas dan tahu-tahu berada di sini?"
"Aku ditolong oleh Kim-lun Seng-jin."
Dengan singkat Lin Lin menceritakan pengalamannya dan tentu saja ia tidak menceritakan penemuannya tentang ilmu di dalam tongkat Beng-kauw, juga ia tidak mau menyebut-nyebut nama Suling Emas.
"Tapi mengapa kau bisa berada di kaki Gunung Thai-san ini, Lin-moi?"
Bok Liong meraba tangan Lin Lin terus digenggamnya.
"Tempat ini berbahaya sekali"
Thian-te Liok-koai yang tinggal lima orang, Hek-giam-lo, Siang-mou Sin-ni, It-gan Kai-ong, Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong, akan bertemu dan mengadu kepandaian di puncak gunung ini.
Kalau sampai bertemu dengan seorang di antara mereka, hal itu amat berbahaya karena mereka adalah orang-orang yang sudah bukan manusia lagi, jahat seperti iblis."
Lin Lin tersenyum dan senyum ini menyambar dan menancap di ulu hati Bok Liong, melebihi pedang runcingnya.
"Twako, justeru kedatanganku ini hendak menonton pertandingan mereka. Tentu ramai sekali"
Bok Liong melongo dan menggaruk-garuk rambutnya dengan sepuluh jari tangannya.
"Nonton? Moi-moi, kau terlalu meremehkan mereka. Ketahuilah, kejahatan mereka sudah tersohor di kolong langit. Kadang-kadang mereka menyiksa dan membunuh orang secara begitu saja, secara sembarangan. Dalam gembira bisa saja mereka membunuh orang, apalagi dalam marah atau duka. Pendeknya, sedikit persoalan saja cukup untuk mereka jadikan alasan menurunkan tangan iblis. Bahkan mereka berlumba agaknya untuk dapat disebut orang yang paling jahat, karena sebutan ini bagi Thian-te Liok-koai merupakan sebutan kehormatan, yaitu orang jahat nomor satu di dunia"
Moi-moi, mari kita pergi cepat-cepat dari tempat terkutuk ini.
Kembali Bok Liong memegang tangan gadis itu erat-erat.
Lin Lin kembali merasa tidak enak tangannya dipegang erat oleh pemuda itu, akan tetapi mengingat akan pengorbanan pemuda itu, ia mendiamkannya saja, lalu menjawab.
"Liong-twako, kenapa kau sekarang berubah begini penakut? Belum lama ini kau bahkan berani menghadapi Hek-giam-lo dan orang-orangnya, menyerbu berkali-kali dengan keberanian yang membuat orang sedunia boleh merasa kagum. Kenapa sekarang kau takut? Dan pula, bukankah kau juga datang ke tempat ini? Andaikata tidak berjumpa denganku, kau hendak ke mana?"
"Ah, Lin-moi, sudah kuceritakan kepadamu tadi. Aku sakit hati kepada Hek-giam-lo, mengira bahwa kau tentu celaka di tangah iblis itu. Oleh karena inilah setelah aku menerima gemblengan dari Suhu, aku sengaja datang ke sini karena teringat akan janji pertemuan para iblis di sini. Aku pasti akan bertemu dengan Hek-giam-lo di puncak dan akan kuajak dia bertempur sampai mati kalau dia tidak bisa mengembalikan kau. Moi-moi, sebelum bertemu denganmu, aku menjadi nekat dan tidak ingin hidup lagi kalau kau tewas di tangan Hek-giam-lo. Akan tetapi setelah kini melihat kau selamat, aku pun ingin hidup, Moi-moi"
Ucapan ini terdengar gemetar penuh perasaan dan mata pemuda itu menatap wajah Lin Lin penuh cinta kasih, membuat Lin Lin terharu dan ia pun membalas pegangan itu dengan mesra.
"Hemmm, kau selalu memikirkan tentang keselamatanku tanpa menghiraukan keselamatanmu sendiri, Twako. Andaikata aku menuruti kehendakmu tidak jadi naik ke puncak untuk nonton pertandingan hebat lalu kau hendak mengajakku ke mana?"
Tiba-tiba Bok Liong berlutut dan memegangi kedua tangan Lin Lin sambil memandang tajam dan suaranya gemetar.
"Lin Lin, Moi-moi.. aku.. aku akan mengajakmu ke Cin-ling-san, menemui bibi gurumu, aku.. aku akan meminangmu untuk menjadi isteriku.."
Bukan main kagetnya hati Lin Lin.
Memang, tentu saja ia tahu bahwa pemuda ini mencintanya, akan tetapi mendengar bahwa Bok Liong hendak meminangnya dari tangan bibi gurunya, ia benar-benar menjadi kaget dan wajahnya seketika berubah pucat.
Ia menarik kedua tangannya dan bangkit berdiri.
"Tidak.. tidak.. Liong-twako, aku.. menganggapmu sebagai kakak sendiri, seorang kakak yang baik. Biarlah kita bersumpah mengangkat saudara.. tapi aku tidak.. tidak.."
Bok Liong yang masih berlutut memegang kaki kanan Lin Lin, suaranya penuh permohonan.
"Lin Lin, dewi pujaan hatiku.. aku cinta kepadamu, Lin Lin. Perlukah ini kujelaskan lagi? Aku mencintaimu semenjak pertemuan kita yang pertama, aku rela mati untukmu.. sudilah kau menerima cintaku, bukan sebagai adik, melainkan sebagai calon teman hidup selamanya. Aku bersumpah akan membahagiakan hidupmu selamanya Moi-moi.."
Air mata bercucuran dari sepasang mata Lin Lin.
Hatinya amat terharu dan ia yakin bahwa andaikata ia menjadi isteri pemuda ini, sudah pasti hidupnya akan terjamin dengan kasih sayang yang suci.
Akan tetapi wajah Suling Emas terbayang di depan matanya, membayang di antara air mata dan tak mungkin ia menerima pinangan pemuda lain selama bayangan wajah ini tidak lenyap dari kenangannya.
Ia tahu bahwa Lie Bok Liong adalah seorang pendekar muda pilihan, seorang gagah perkasa yang berhati emas, satria sejati.
Namun, hatinya telah terampas oleh Suling Emas dan ia hanya memiliki sebuah hati untuk diberikan kepada pria idamannya.
"Tidak, Liong-twako.."
Setelah berkata demikian, Lin Lin menggerakkan kakinya terlepas daripada pelukan Bok Liong dan tubuhnya berkelebat cepat meninggalkan pemuda itu, lari seperti terbang mendaki Gunung Thai-san.
Sejenak Lie Bok Liong tercengang, mukanya pucat sekali, pandang matanya sayu mengikuti bayangan gadis pujaannya yang sebentar saja sudah menghilang di balik pepohonan.
Ia menghela napas panjang, meramkan kedua matanya, menggigit bibir kemudian bangkit dan berjalan perlahan, mendaki gunung itu pula.
Ia merasa hatinya tertusuk, akan tetapi ia tidak putus asa.
Lin Lin tidak pernah menyatakan bahwa gadis itu tidak mencintanya, hanya menolak, mungkin karena malu, mungkin karena kaget dan gelisah, hal ini memang mungkin sekali, sebagai seorang gadis remaja yang mendengar pengakuan cinta dan pinangan dari seorang muda.
Ia tidak putus asa dan akan berlaku sabar.
Akan tetapi hatinya khawatir bukan main melihat gadis itu mendaki puncak Thai-san yang ia tahu amat berbahaya pada waktu itu dengan akan hadirnya iblis-iblis itu.
Ia harus mengejar, harus menyusul dan siap untuk membela dan melindungi Lin Lin daripada marabahaya.
Gurunya, Gan-lopek, juga telah menyatakan bahwa pada hari-hari pertandingan para iblis di puncak Thai-san, gurunya itu akan datang untuk menonton pula.
Dan agaknya hanya orang-orang sakti yang memiliki kepandaian seperti gurunya itulah yang akan berani datang untuk menonton pertandingan berbahaya itu.
Maka hatinya menjadi besar dan dengan tabah Lie Bok Liong terus mendaki lereng gunung yang amat curam dan sukar dilalui itu.
Baru sekarang teringat olehnya betapa cepatnya tadi ia menyaksikan gerakan Lin Lin ketika lari dari padanya mendaki gunung.
Padahal ia tahu bahwa ilmu kepandaian gadis itu hanya sebanding saja dengan tingkatnya, kalau tidak lebih rendah malah.
Bagaimana tadi ia melihat Lin Lin berlari seperti terbang mendaki gunung sedangkan dia sendiri merasa betapa sukar dan berbahayanya sehingga ia harus bergerak dengan hati-hati dan lambat.
Ketika Lie Bok Liong tiba di daerah gunung itu yang penuh batu besar, di sebuah lereng di punggung Gunung Thai-san, tiba-tiba ia mendengar suara orang terkekeh ketawa.
Kagetnya bukan main karena ia tidak melihat bayangan orang mengapa tahu-tahu ada suara ketawa yang menyeramkan ini?
Ia menengok dan memandang ke sana ke mari, namun tidak juga melihat bayangan orangnya.
Bulu tengkuk pemuda ini berdiri dan biarpun ia tidak percaya akan setan yang dapat muncul di siang hari, ia dapat menduga bahwa tentu ada orang sakti di tempat itu.
Masih untung kalau orang sakti yang baik bagi Bok Liong, akan tetapi suara ketawa itu bukan muncul dan mulut seorang sakti yang baik, melainkan dari mulut seorang iblis sakti yang bukan main kejamnya, yaitu It-gan Kai-ong sendiri.
Kini kakek ini muncul dari balik sebuah batu besar dan mukanya lebih buruk daripada dulu.
Punggungnya makin bongkok, rambutnya yang riap-riapan itu kotor sekali, penuh lumpur dan debu, mukanya keriputan begitu dalamnya seperti tersayat, matanya yang tinggal sebelah itu melotot sedangkan mata yang buta mengeluarkan air lendir, mulutnya terkekeh dan dari ujung bibirnya mengalir air liur.
Tangannya memegang sebatang tongkat butut.
"Heh-heh-ho-hah. Orang muda, pakaianmu seperti seorang kang-ouw, kau membawa-bawa pedang. Apa kebisaanmu?"
Di dalam hatinya Bok Liong mendongkol sekali, akan tetapi maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang iblis sakti yang sama sekali tak boleh dipandang ringan, ia segera menjura dalam-dalam dan menjawab dengan sikap sopan.
"Kai-ong yang mulia, harap maafkan bahwa saya tidak tahu Locianpwe berada di sini sehingga terlambat menyampaikan salam."
"Hua-hah-hah, kau mengenal aku? Akan tetapi aku tidak mengenal kau."
"Mana mungkin Locianpwe mengenal saya yang tidak ternama dan bodoh ini? Akan tetapi saya kira Locianpwe sudah mengenal Suhu."
"Heh-heh, tak perlu kau perkenalkan, aku akan tahu sendiri. Terima ini"
Tiba-tiba tongkat butut di tangan itu bergerak dan tahu-tahu sudah mengancam jalan darah maut di dada kiri Bok Liong dengan totokannya.
"Aaaiiihhhhh"
Bok Liong terkejut sekali, akan tetapi sebagai seorang ahli ilmu silat tinggi, jurus-jurus silatnya sudah mendarah daging di tubuhnya sehingga gerak otomatisnya berjalan dan ia berhasil mengelak dari totokan ini.
Melihat gerakan itu, terutama sekali bagian tubuh belakang yang megal-megol, It-gan Kai-ong tertawa sambil menarik kembali tongkatnya.
"Heh-heh, kau murid si tukang gambar edan Gan-lopek. Mana gurumu? Suruh dia muncul"
"Maaf, Locianpwe. Saya tidak berani memanggil Suhu kalau beliau tidak berkenan muncul atas kehendak sendiri."
Jawaban Bok Liong ini mencerminkan kecerdikannya.
Ia tidak tahu apakah gurunya sudah berada di gunung ini, dan ia pun tidak mau membohong dan menyombong bahwa gurunya akan melindunginya, akan tetapi jawaban itu membayangkan bahwa gurunya mungkin ada dan mungkin tidak, jadi tidak membohong akan tetapi sekaligus merupakan peringatan bagi It-gan Kai-ong, bahwa Gan-lopek berada di situ maka ia tidak boleh mengganggu murid orang sakti itu.
Akan tetapi It-gan Kai-ong adalah seorang manusia iblis yang sukar digertak.
"Heh-heh-heh, kalau begitu gurumu tentu belum datang. Sayang sekali, sebetulnya aku hendak membekuk mampus gurumu itu agar kujadikan bukti bahwa korbanku bukan orang biasa. Akan kagumlah iblis-iblis itu kalau aku berhasil membawa she Gan si tukang gambar ke puncak. Menangkapmu tiada gunanya, kau orang tiada guna dan tidak berarti. Tapi kau sudah bertemu denganku di Thai-san, maka kau harus mampus. Kaget sekali Bok Liong. Ia bersiap-siap.
"Locianpwe, di antara Locianpwe dan saya Lie Bok Liong tidak terdapat pertentangan sesuatu, mengapa Locianpwe hendak membunuhku?"
Biarpun ia maklum bahwa keadaannya amat berbahaya, namun suara pemuda gagah ini sama sekali tidak mengandung rasa takut den tidak gemetar.
"Huah-ha-ha. Semua iblis yang datang ke sini akan membunuh siapa saja yang dihadapinya, besar kecil tua muda laki perempuan."
Kemudian kakek pengemis yang menyeramkan den menjijikkan ini membuka mulutnya meludah ke arah Bok Liong.
"Cuh-cuh"
Dua gumpal ludah menyambar bagaikan pelor-pelor baja ke arah muka dan dada Bok Liong.
Pemuda ini sudah waspada, cepat ia mengelak dengan loncatan ke kiri sambil mencabut pedangnya.
Berkat kegesitan dan kewaspadaannya maka dua gumpal ludah itu tidak mengenai dirinya, melainkan lewat cepat dan amblas masuk ke dalam batu besar di belakangnya.
"Heh-heh-heh, Gan-lopek tidak sia-sia mengajarmu. Boleh juga untuk main-main kau"
Kembali kakek itu meludah, kini ludahnya merupakan semprotan air yang lebar, namun setiap titik air menuju ke arah jalan darah dengan kekuatan yang cukup untuk mematikan lawan.
(Lanjut ke
Jilid 26) Cinta Bernoda Darah (Seri ke 03
"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 26 Bok Liong memutar pedangnya dan terbentuklah gulungan sinar pedang merupakan payung bundar di depan tubuhnya yang menangkis semua percikan air ludah itu.
Akan tetapi It-gan Kai-ong kembali menyerang dengan ludah kental yang menyambar seperti peluru-peluru baja.
Bok Liong menangkis dengan pedangnya dan alangkah kagetnya ketika ia merasa tangannya tergetar hebat dan hampir lumpuh setiap kali senjatanya itu menangkis gumpalan ludah.
Bukan main hebatnya tenaga sin-kang yang terkandung dalam serangan ludah-ludah itu.
"Heh-heh-heh-hah-hah-hah, menarilah. Cuh-cuh-cuh"
Kakek itu terus menyerang sambil meludah-ludah.
Bok Liong sibuk sekali dan ia mengerahkan sin-kang di tubuhnya lalu mainkan pedangnya dengan cepat.
Ia tidak berani lagi menangkis ludah dari depan karena kalau terus-menerus mengadu tenaga ia akan celaka.
Kini ia menangkis dari samping sehingga ia hanya mengalihkan arah ludah-ludah itu ke semping.
Biar sampai habis ludahnya, tak mau aku menerima penghinaan ini, pikir Bok Liong dan menangkis atau mengelak penuh kelincahan.
Betapapun juga, hanya diserang oleh ludah ini saja sudah cukup membuat Bok Liong repot menyelamatkan diri dan tidak mampu balas menyerang.
Namun kelincahan Bok Liong yang selalu dapat menghindarkan serangan ludahnya, membuat It-gan Kai-ong marah luar biasa.
Ia merasa penasaran juga karena biasanya, serangan ludahnya sudah cukup untuk menewaskan lawan yang muda.
"Eh, kau boleh juga. Cukup berharga untuk berkenalan dengan tongkatku"
Tiba-tiba tubuhnya menerjang maju dan tongkat di tangannya bagi pandang mata Bok Liong sudah berubah menjadi puluhan batang banyaknya yang sekaligus menerjang ke arah dirinya.
Pemuda ini terkejut dan berusaha untuk memutar pedang menangkis semua bayangan tongkat itu sambil bergerak mundur dengan loncatan-loncatan lincah.
Namun akhirnya ia terpaksa berhenti karena di belakangnya terdapat sebuah jurang yang curam dan menganga lebar, siap mencaploknya.
"Heh-heh-heh, kau hendak lari ke mana sekarang?"
It-gan Kai-ong mengejek, terkekeh-kekeh dan tongkat bututnya mendesak makin dahsyat.
Betapapun dahsyat dan hebatnya ilmu tongkat It-gan Kai-ong yang digerakkan dengan tenaga saktinya, namun Bok Liong bukanlah seorang pemuda sembarangan.
Ia murid terkasih dari Gan-lopek yang sudah menurunkan ilmunya kepada murid ini, bahkan akhir-akhir ini mendapat tambahan gemblengan lebih hebat.
Maka menghadapi desakan maut di depan dan ancaman maut di belakang, Bok Liong berlaku nekat dan pedangnya bergerak cepat mengeluarkan suara berdesing.
Ia mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan jurus-jurus pilihan, tidak lagi hanya menjaga diri, malah kini ia balas menyerang dengen nekat untuk mengadu nyawa.
Pertandingan mati-matian terjadi di pinggir jurang ini.
It-gan Kai-ong tidak lagi terkekeh sekarang.
Betapapun juga, balasan serangan pemuda yang sudah nekat ini tak boleh ia hadapi dengan sembrono kalau ia tidak mau mendapat malu.
Kakek ini pun mainkan tongkatnya lebih hebat, mendesak hebat sehingga tiap kali kedua senjata bertemu, Bok Liong merasa lengannya seakan-akan serasa patah.
Namun dengan gigih ia melawan terus.
Ketika mendapat lowongan, ia menyambar seperti kilat ke depan, menusukkan pedangnya ke arah perut It-gan Kai-ong.
Ia tidak peduli lagi bahwa dalam serangan nekat ini, ia membiarkan dirinya "terbuka"
Dan tidak terlindung.
Pedang Goat-kong-kiam (Pedang Sinar Bulan) di tangannya berubah menjadi cahaya redup kekuningan yang mengandung hawa dingin karena memang ditusukkan dengan pengerahan tenaga Im.
Akan tetapi tiba-tiba pedang itu terhenti gerakannya karena sudah menempel pada tongkat butut di tangan It-gan Kai-ong.
Bok Liong kaget dan berusaha menarik kembali pedangnya namun terlambat.
Tenaga Im-kang yang terkandung di pedangnya itu ternyata membuat dia celaka, karena tenaga ini memungkinkan lawannya yang sakti menempel dan "menyedot"
Sehingga ia merasa betapa tubuhnya menjadi lemas.
Dalam kenekatannya, Bok Liong tidak mau menyerah mentah-mentah.
Ia mengerahkan sisa tenaga yang ada, tiba-tiba tangan kirinya mengirim pukulan berbareng dengan kedudukan kakinya berubah, melangkah maju.
Pukulan ini mengarah dahi lawan yang kalau mengenai tepat akan membahayakan keselamatan nyawa.
Akan tetapi, karena memang kedudukan Bok Liong sudah kalah dan sudah dikuasai, enak saja It-gan Kai-ong menghadapi pukulan ini.
Tangan kirinya menangkis dan sekaligus tongkatnya mendorong, maka terjengkanglah tubuh Bok Liong ke belakang, rebah terlentang.
"Heh-heh-heh, mampuslah kau, murid orang she Gan"
Tongkat itu diangkat dan siap menjatuhken pukulan maut.
Melihat ini, Bok Liong tidak rela mati di tangan kakek iblis itu.
Tubuhnya menggelinding ke belakang dan ia bergulingan cepat sehingga ia terlepas daripada pukulan tongkat, akan tetapi di lain saat tubuhnya sudah terjungkal ke dalam jurang yang menganga lebar.
Pada saat itu, sebuah bayangan berkelebat datang dan kiranya bayangan ini adalah seorang kakek pendek yang bukan lain adalah Empek Gan, guru Lie Bok Liong.
"He, pengemis iblis picak"
Kau apakan muridku? Mana dia sekarang?"
"Heh-heh-heh, tua bangka she Gan, apa kau hendak menyusul muridmu ke dasar jurang sana?"
Dengan tongkatnya It-gan Kai-ong menunding ke arah jurang.
Berubah wajah Empek Gan.
Biasanya dia jenaka dan gembira, akan tetapi karena mendengar bahwa muridnya yang ia sayang terjerumus ke dalam jurang, timbullah kemarahannya.
"Gembel busuk berhati iblis. Tak tahu malu benar engkau, beraninya hanya terhadap orang muda. Kalau memang laki-laki, akulah lawanmu, tua sama tua"
"Wah, tutup mulutmu yang busuk. Kau sendiri di Nan-cao telah menghina muridku. Sekarang aku menghajar muridmu, bukankah sudah pantas?"
"Tak perlu banyak bicara, It-gan Kai-ong, kau telah membunuh muridku, kau harus dapat membunuhku pula, kalau tidak, kaulah yang akan mengganti nyawanya"
"Majulah, siapa takut kepadamu?"
Kedua orang kakek ini memasang kuda-kuda.
Maklum bahwa lawan yang dihadapi kini adalah seorang lawan yang amat tangguh, keduanya tidak main-main lagi.
It-gan Kai-ong melintangkan tongkat bututnya di atas kepala, kaki kanannya ditekuk lututnya dan diangkat ke atas, kaki kiri berdiri di ujung jari, Tangan kiri disodorkan ke depan dan matanya yang tinggal satu itu memandang lurus ke depan dengan tajamnya.
Adapun Gan-lopek sudah mengeluarkan sepasang senjatanya pula, yaitu senjata yang disebut Hek-pek-mou-pit (Sepasang Pena Bulu Hitam Putih), yang hitam di tangan kanan sedangkan yang berbulu putih di tangan kiri.
Ia berdiri dengan kedua lutut agak ditekuk ke bawah, tubuh belakangnya menonjol dan bergoyang-goyang, kedua lengannya bersilang.
Ada lima menit mereka hanya berdiri berhadapan macam ini, tidak melakukan penyerangan.
Seperti dua ekor jago aduan yang saling pandang dan saling taksir kekuatan masing-masing sebelum bergebrak.
Kemudian terdengar si raja gembel terkekeh aneh dan tubuhnya sudah menerjang maju didahului tongkat bututnya.
Tongkat ini mengandung tenaga dahsyat dan angin pukulannya sampai menggoyangkan daun-daun pohon di sekitar tempat itu.
"Wesssss"
Tongkat butut melayang lewat di dekat kepala Gan-lopek, dan pelukis sakti ini mengerjakan senjatanya melakukan dua kali totokan maut selagi serangan lawan lewat.
Akan tetapi, dengan gerakan tubuh yang tepat raja pengemis itu pun dapat menghindarkan diri.
Karena gerakan keduanya, mereka sekarang bertukar tempat dan kembali mereka berdiri tak bergerak, saling pandang dengan seluruh urat syaraf di tubuh menegang.
Bagi orang yang belum begitu tinggi ilmu silatnya, mungkin ia lebih suka melakukan penyerangan lebih dulu dalam pertempuran, karena ia tentu menganggap bahwa dalam pertempuran, siapa lebih cepat atau lebih dulu menyerang berarti menang kedudukan.
Akan tetapi bagi orang-orang sakti seperti Gan-lopek dan It-gan Kai-ong, malah sebaliknya.
Yang menyerang lebih dulu sebetulnya malah lebih lemah kedudukannya, karena setiap serangan berarti melemahkan pertahanan sendiri dan kadang-kadang kalau lawan melihat bagiannya yang lemah, terbukalah "lubang"
Dan hal ini berbahaya.
Inilah sebabnya maka keduanya sekarang sedang menaksir-naksir dan seakan-akan segan untuk mulai menyerang lebih dulu.
Akan tetapi karena tadi It-gan Kaiong sudah menyerang sebagai pembukaan pertandingan, Gan-lopek yang tidak mau dianggap takut, kini membalas dengan penyerangannya.
Ia berseru keras dan tubuhnya bergerak ke depan, sepasang mou-pit di tangannya berubah menjadi dua gulung sinar putih hitam yang kecil tapi terang menyambar-nyambar ke depan mengancam tubuh It-gan Kai-ong bagian atas dan bawah.
Biarpun sepasang pena bulu itu menotok bertubi-tubi ke arah tujuh belas jalan darah, It-gan Kai-ong dapat menghindarkan diri dengan gerakan tongkatnya yang menjadi gulungan sinar melingkar dan seperti seekor ular yang melindungi seluruh tubuhnya.
Kemudian tiba-tiba tongkatnya membalas dengan babatan ke bawah, mengancam kedua kaki Gan-lopek.
Tubuh kakek ini, dengan pantatnya tetap megal-megol seperti ikan emas berenang, tiba-tiba mumbul ke atas sehingga babatan tongkat hanya lewat di bawah kedua kakinya.
Dari atas Gan-lopek meluncur turun didahului pena bulu hitam menotok leher, ketika lawan menangkis, pena bulu putih menerjang dan sasarannya kini adalah pusar"
Hebat bukan main sepak terjang kakek pelukis ini sehingga It-gan Kai-ong harus menggunakan segala kepandaiannya untuk menghindarkan diri.
Gerakan Empek Gan gesit dan aneh, apalagi dengan gerakan khusus pantatnya yang megal-megol ini membingungkan lawannya.
Namun It-gan Kai-ong adalah seorang di antara Thian-te Liok-koai.
Tentu saja kepandaiannya sudah amat tinggi dan betapapun lihainya Empek Gan, kiranya tidak akan dapat mengalahkannya dengan mudah dan paling-paling hanya dapat mengimbanginya saja.
Begitu rapat dan kuat pertahanan masing-masing sehingga saling serang dan saling keluarkan ilmu-ilmu simpanan selama seratus jurus, belum juga ada yang tampak terdesak.
Memang harus diakui bahwa pihak Empek Gan lebih banyak menyerang, namun serangan-serangannya yang lihai selalu gagal.
Di lain pihak, It-gan Kai-ong juga merasa penasaran sekali.
Ia telah mengeluarkan ilmu-ilmu simpanannya yang pilihan, bahkan telah mengerahkan sin-kangnya yang simpanan, namun tetap tak mampu ia mendesak kakek pelukis itu, apalagi menjatuhkan"
Karena penasaran, ia menjadi marah dan tiba-tiba ia meludah, menggunakan senjatanya yang kotor dan licik ke arah muka Empek Gan.
"Heh, gembel busuk"
Empek Gan memaki, pena bulunya mengebut dan..
air itu menyambar kembali ke arah tuannya.
Akan tetapi It-gan Kai-ong memang tidak bermaksud menggunakan "ilmu"
Meludah ini yang ia tahu takkan ada gunanya terhadap seorang lawan seperti Empek Gan.
Ia tadi meludah hanya untuk melampiaskan hatinya yang gemas.
Kini ia berteriak nyaring, suaranya melengking tinggi dan tiba-tiba gerakan tongkatnya berubah sama sekali.
Angin dari empat penjuru menyambar dan berputar-putar seperti angin puyuh yang menyerang ke arah Gan-lopek.
"Ayaaa.."
Gan-lopek berseru terkejut.
Baru kali ini ia menyaksikan daya serangan sehebat dan seaneh ini.
Ia memaksa diri untuk menangkis dan mengerahkan lwee-kangnya, namun tetap saja ia ikut terputar oleh daya serang tongkat yang menimbulkan kekuatan seperti angin puyuh ini sehingga tubuhnya berpusing tak tertahankan lagi.
Ia tidak tahu bahwa inilah ilmu yang telah dipelajari oleh It-gan Kai-ong dari kitab rampasannya dari tangan Bu Kek Siansu, yaitu kitab yang separoh terampas olehnya sedangkan separohnya lagi terampas oleh Hek-giam-lo.
Tadinya It-gan Kai-ong tidak ingin mengeluarkan ilmu ini sebelum ia berada di puncak Thai-san dan berhadapan dengan anggauta-anggauta Thian-te Liok-koai yang lain, hendak menggunakannya sebagai ilmu simpanan untuk senjata terakhir.
Akan tetapi karena Gan-lopek merupakan lawan yang ampuh dan ulet bukan main, saking mendongkolnya, It-gan Kai-ong segera mengeluarkannya dan hasilnya bukan main.
Sayang bagi It-gan Kai-ong, ilmu itu hanya sebagian saja ia miliki, sedangkan bagian lain berada di tangan Hek-giam-lo, maka ia seperti kenal kepala tidak kenal buntut, tahu awal tidak tahu akhir.
Lawannya sudah "tertawan"
Oleh daya serangannya, sudah ikut berpusing, akan tetapi ia tidak tahu bagaimana untuk melanjutkan ilmunya dan merobohkan lawan.
Betapapun juga, dalam keadaan berpusing seperti itu, banyak lowongan terdapat dalam kedudukan Gan-lopek dan dengan terkekeh-kekeh beringas It-gan Kai-ong menggerakkan tongkathya untuk memberi pukulan maut kepada lawannya ini.
Tongkatnya sudah berkelebat menusuk ke arah lambung.
"Trakkkkk.."
Tiba-tiba segulung sinar kuning menyambar dan menangkis tongkat It-gan Kai-ong yang menusuk lambung Gan-lopek, disusul ucapan nyaring.
"Gan-lopek, jangan takut, biarkan kutusuk matanya yang sebelah dan kau coret-coret mukanya dengan tinta hitam putih"
It-gan Kai-ong kaget sekali karena tangkisan pedang itu membuat kakinya tergeser.
Tidak hebat tenaga orang yang baru datang ini, akan tetapi gerakannya benar-benar luar biasa sekali.
Ia terbelalak heran dan matanya yang tinggal satu itu mengeluarkan sinar berapi ketika ia mengenal bahwa yang datang menolong Gan-lopek ini ternyata hanya seorang gadis remaja yang bukan lain adalah Lin Lin.
Lebih-lebih kaget dan herannya ketika Lin Lin sudah mengerjakan pedangnya.
Pedang Besi Kuning, menerjang dengan gerakan-gerakan yang luar biasa sekali.
Karena tadinya ia memandang rendah, menyangka bahwa gadis ini masih seperti dulu, tidak berapa kepandaiannya, It-gan Kai-ong tadinya berlaku lambat.
Siapa tahu, kesalahan menduga ini hampir mencelakakannya.
Tahu-tahu pedang itu dengan gerakan melingkar sudah mendekati tenggorokan dan ketika ia mengelak, tahu-tahu ujung pedang sudah dekat sekali dengan matanya yang tidak buta, merupakan serangan yang luar biasa sekali dan agaknya matanya akan benar-benar ditusuk"
Baiknya It-gan Kai-ong memiliki kepandaian yang amat tinggi.
Dalam keadaan berbahaya ini, menangkis atau mengelak sudah tak keburu, ia meludah dan..
air ludahnya muncrat ketika bertemu pedang.
Kekuatan air ludah ini hebat karena ternyata sudah dapat menahan pedang sehingga ia berhasil menggerakkan tongkatnya menangkis pedang yang agak terlambat oleh tangkisan air ludah tadi.
"Wah, kotor. Keparat busuk, manusia jorok, Pedangku kena ludahnya. Celaka.."
Lin Lin melompat mundur dan menggosok-gosokkan pedangnya pada batang pohon untuk menghapus air ludah yang menempel di situ.
Adapun It-gan Kai-ong yang merasa kaget sekali menyaksikah gerakan pedang Lin Lin, maklum bahwa kalau ia dikeroyok, akan berbahaya baginya.
Ia seorang sakti, aaen tetapi sebagai seorang manusia iblis tentu saja ia tidak segan-segan menggunakan kecurangan dan kelicikan.
Melihat bahwa keadaan dirinya berada di pihak lemah, ia cepat menggunakan kesempatan selagi Lin Lin ribut membersihkan pedang, untuk melesat pergi sambil berseru.
"Gan-lopek, kegembiraanku lenyap dengan datangnya gangguan seorang bocah. Lain kali kita lanjutkan"
"Dia curang, dia licik, main kotor"
Lin Lin memaki-maki, kemudian menoleh kepada Gan-lopek dan berkata.
"Gan-lopek, apakah kau juga datang hendak menonton pertandingan para iblis itu?"
Sejenak, seperti juga It-gan Kai-ong tadi, Gan-lopek tertegun, dan tercengang menyaksikan gerakan pedang Lin Lin. Akan tetapi ia segera tertawa.
"Ha-ha-ha, si iblis mata satu itu kiranya jerih menghadapi seorang nona"
Kemudian kegembiraannya mereda ketika ia teringat akan muridnya.
"Nona, muridku terjerumus ke dalam jurang. Kau sahabat baiknya, bukan? Mari bantu aku mencarinya, mudah-mudahan dia masih hidup"
Bukan main kagetnya hati Lin Lin mendengar ini dan tanpa banyak cakap lagi ia lalu ikut kakek itu menuruni jurang dengan hati-hati melalui jalan memutar yang tidak begitu terjal.
Jurang itu amat curam dan betapapun pandainya, seorang manusia biasa yang tidak pandai terbang seperti burung tak mungkin dapat menuruninya tanpa memilih jalan memutar.
Oleh karena jalan memutar inilah maka sejam lebih kemudian baru mgreka berdua dapat sampai ke dasar jurang dan mulai mencari-cari.
Namun tidak ada jejak maupun bayangan Lie Bok Liong.
Ke manakah pemuda yang tadi terjungkal masuk ke dalam jurang itu?
Apakah tubuhnya sudah hancur lebur terbanting dari tempat yang amat tinggi sehingga tidak ada bekasnya lagi?
Agaknya akan begitulah kalau tidak terjadi hal yang kebetulan dan aneh, dan yang menyelamatkan nyawanya.
Ketika tubuhnya terjungkal dan melayang turun dengan kecepatan mengerikan, Bok Liong sudah yakin bahwa ia tentu akan tewas.
Namun sebagai seorang yang berjiwa gagah, ia menggigit bibirnya dan menahan diri agar tidak berteriak ketakutan.
Bahkan kedua tangannya lalu mencengkeram sana-sini, mencari pegangan.
Tentu saja ia tidak dapat mencari apa yang akan dipegang atau disambarnya, karena ia hanya melihat bayangan-bayangan batu terbang ke atas di sampingnya, amat cepat memusingkan kepala.
Akhirnya, tubuhnya yang melayang terlampau dekat dengan batu menonjol terbentur pada batu itu.
Karena yang terbentur itu adalah pundaknya dan kepalanya juga sedikit menyerempet batu, Bok Liong merasa kepalanya seolah-olah pecah dan seketika pandang matanya dan pikirannya menjadi gelap, ia pingsan tapi masih melayang terus ke bawah.
Ia tidak tahu betapa sebelum tubuhnya menimpa batu-batu di dasar jurang, tiba-tiba berkelebat bayangan yang berseru aneh, lalu bayangan ini melesat ke arah ia akan jatuh, menggerakkan kedua tangannya dan tubuhnya terayun naik lagi.
Karena kekuatan luncuran tubuhnya tadi amat keras, kini oleh bayangan itu dibelokkan dan membalik ke atas lagi, maka ada empat lima meter tubuhnya melayang ke atas, lalu turun kembali dan disambut oleh kedua tangan bayangan itu.
Hanya sebentar Bok Liong pingsan.
Ketika ia membuka kedua matanya, ia merasa kepala dan lehernya basah semua.
Ia gelagapan dan membuka matanya, seketika ingat bahwa ia tadi melayang jatuh.
Kiranya ia sudah duduk di atas batu, ketika ia bangun.
Dan tak jauh dari situ ia melihat seorang wanita muda berjalan pergi.
Melihat tubuhnya tidak hancur, biarpun ada luka-luka sedikit dan pundaknya sakit, Bok Liong menjadi heran dan mengira bahwa dia tentu sudah mati.
Inikah neraka?
Ia menjadi bingung dan melihat wanita muda itu cepat ia memanggil.
"Heeeiii, Nona, tunggu.."
Gadis itu menengok sebentar, akan tetapi lalu lari pergi.
"Eh, kau Sian Eng.."
Bok Liong begitu heran sampai ia meloncat berdiri, tidak mempedulikan rasa nyeri di pundaknya, dan melompat lari mengejar.
Biarpun hanya sekali menoleh, ia mengenal wajah itu, wajah Sian Eng.
Akan tetapi dalam sekejap mata saja bayangan gadis itu sudah lenyap dan kecepatan yang luar biasa ini membuat Bok Liong berhenti termangu-mangu.
"Aku tentu sudah mati.. dan agaknya Sian Eng juga sudah mati.. tentu ini alam baka.."
Pikirnya sambil duduk di atas batu kembali.
Akan tetapi, sedikit demi sedikit pikirannya menjadi terang kembali.
Ia masih dapat merasa, tubuhnya masih lengkap, pikirannya masih utuh dan ia tahu bahwa ia berada di dalam jurang, bahwa It-gan Kai-ong berada di atas jurang sana dan kakek itulah yang membuat ia terguling ke dalam jurang.
Entah bagaimana, ia tidak terbanting remuk, agaknya Sian Eng yang telah menolongnya, betapa tidak mungkinnya hal ini terjadi.
Sian Eng cukup ia kenal, tidak hanya orangnya, malah ia kenal pula kepandaiannya, tidak lebih tinggi dari pada tingkatnya, malah jauh lebih rendah.
Bagaimana gadis itu mau menolongnya?
Bagaimana caranya?
Dan andaikata benar Sian Eng gadis itu tadi, dan Sian Eng menolongnya, mengapa tadi terus pergi dan mengapa ada bayangan yang begitu aneh pada wajah gadis yang biasanya halus peramah itu?
Ketika teringat lagi bahwa It-gan Kai-ong masih di atas dan mungkin sekali kakek itu akan mencari jalan ke bawah dan melihatnya masih hidup, Bok Liong segera menguatkan diri, berdiri dan pergi cepat-cepat dari tempat itu.
Untung pundaknya tidak patah tulangnya, hanya luka kulit dan daging di bahu saja.
Inilah sebabnya mengapa Lin Lin dan Gan-lopek tidak dapat menemukan Bok Liong, bekas-bekasnya pun tidak.
Hal ini membuat Gan-lopek terheran-heran, akan tetapi Lin Lin segera menjatuhkan diri di atas batu dan menangis tersedu-sedu.
"Eh-eh, mengapa kau menangis?"
Gan-lopek bertanya heran. Lin Lin tidak menjawab, terus menangis keras dan akhirnya dengan kata-kata bercampur isak ia berkata.
"Kasihan.. Liong-twako.. tentu telah hancur lebur.. ah, Liong-twako kau orang yang amat baik.. mengapa mengalami nasib begini buruk? Mati pun tidak ada kuburnya.. ah, Liong-twako.."
Lin Lin menangis makin keras karena memang gadis ini merasa kasihan dan berduka.
"Hush, bocah tolol, kenapa kau bicara yang bukan-bukan? Siapa bilang Bok Liong sudah mati?"
Seketika terhenti tangis Lin Lin dan ia berdongak memandang wajah kakek itu dengan mata merah.
Diam-diam si kakek girang sekali melihat bahwa gadis ini betul-betul menangisi Bok Liong muridnya, tanda bahwa gadis ini betul-betul mencinta muridnya.
Melihat pandang mata Lin Lin penuh pertanyaan seakan-akan heran mendengar kata-katanya tadi, Gan-lopek segera tertawa dan berkata.
"Ha-ha-ha, anak baik, tenangkan hatimu dan bergembiralah. Bok Liong belum mati. Kalau tubuhnya terbanting ke dasar ini, biarpun akan hancur berantakan, sedikitnya kita tentu akan menemukan daging atau tulangnya, atau tentu ada tanda-tanda darahnya. Akan tetapi tidak terdapat tanda-tanda itu, hal ini hanya bisa berarti bahwa Bok Liong telah selamat, entah bagaimana cara Tuhan menyelamatkan seorang yang membela kebenaran, akan tetapi percayalah, aku yakin bahwa Bok Liong pasti masih hidup dan selamat di saat itu. Bukan main girangnya hati Lin Lin. Kegirangan luar biasa yang tidak dibuat-buat. Seketika ia melompat bangun dan merangkul kakek itu dan.. menangis lagi.
"Eh-eh, bagaimana ini? Kenapa kau begini cengeng, hah?"
Akan tetapi diam-diam Gan-lopek mengangguk-angguk dan hatinya sudah setuju seratus prosen kalau muridnya berjodoh dengan gadis ini.
Ia tahu betul betapa besar cinta kasih Bok Liong terhadap Lin Lin.
Hal ini diucapkan sendiri oleh Bok Liong dalam keadaan tidak sadar ketika ia merawat muridnya itu setelah menyelamatkannya dari tangan Hek-giam-lo.
Dan sekarang, melihat sikap Lin Lin, agaknya muridnya tidak bertepuk tangan sebelah, cinta kasih muridnya terhadap Lin Lin bukan tiada terbalas.
Tiba-tiba Lin Lin mengundurkan diri dan tertawa.
Gan-lopek membelalakkan matanya, tapi kemudian ia pun tertawa, girang bukan main karena ternyata calon "mantu murid"
Ini memiliki watak yang aneh.
Keduanya tertawa-tawa di dasar jurang, seperti dua orang yang sama-sama menonton dagelan (badut) di panggung.
Akan tetapi kalau ada orang lain melihat mereka, tentu mengira mereka berdua itu sudah menjadi gila atau mungkin juga mereka disangka iblis-iblis penjaga jurang.
"Eh, nanti dulu. Kenapa kau tertawa?"
Akhirnya Gan-lopek berhenti dan bertanya karena merasa betapa suara ketawanya kalah merdu oleh nona itu.
Ia seakan-akan merasa seorang penyanyi yang merasa kalah indah suaranya.
Lin Lin akhirnya dapat menghentikan ketawanya pula.
Sambil tersenyum dan mengusap air matanya dengan ujung lengan baju, gadis ini berkata.
"Banyak sekali hal yang patut membikin aku tertawa, Kek."
Tanpa ragu-ragu ia menyebut kakek kepada Gan-lopek.
"Apa itu? Kukira kau tertawa saking bahagia mendengar Bok Liong belum mati."
"Itulah yang pertama kali memang. Aku girang sekali bahwa Liong-twako belum mati. Benar sekali dugaanmu, Kek, agaknya memang Liong-twako tertolong secara ajaib dan belum tewas. Hal ini amat menggirangkan hatiku, karena muridmu itu seorang yang amat baik terhadap aku, sehingga kalau ia mati aku akan merasa sedih sekali."
"Hemmm, lalu hal apalagi yang membikin kau tertawa selain hal yang kau sebutkan tadi?"
Kembali Lin Lin tertawa dan tak segera menjawab.
Ia ketawa geli terpingkal-pingkal sambil menudingkan telunjuknya ke arah Gan-lopek.
Kakek ini tercengang keheranan, memandang ke sana ke mari, berputaran berkeliling untuk mencari apa yang menyebabkan Lin Lin tertawa.
Agaknya perbuatannya ini makin menggelikan hati Lin Lin yang makin terpingkal-pingkal.
Akhirnya kakek itu juga tertawa menandingi Lin Lin.
Gadis ini terkejut dan tentu ia akan segera berhenti tertawa saking kagetnya karena suara ketawa kakek itu kali ini bukanlah suara ketawa wajar, melainkan suara ketawa yang mengandung khi-kang dan yang membuat ia hampir terjengkang karena suara itu mendebarkan jantungnya dan membuatnya seperti lumpuh.
Akan tetapi, gadis nakal ini tidak menghentikan suara ketawanya, bahkan kini pun ia mengerahkan khi-kang dan sin-kangnya, disalurkan ke dalam suara ketawanya untuk menandingi Gan-lopek.
Maka terjadilah hal aneh dan terdengarlah hal aneh pula.
Suara ketawa mereka, yang satu merdu tinggi yang lain rendah parau, terbahak-bahak dan bergema dari dasar jurang membubung naik sampai keluar jurang, suara yang tentu akan dianggap orang yang tak melihat mereka sebagai suara ketawa raja iblis dan kuntilanak sendiri.
Lebih aneh lagi melihat keadaan tubuh mereka.
Tidak seperti orang bergirang tertawa karena keduanya berdiri tegak, lutut sedikit ditekuk seperti orang memasang kuda-kuda, wajah sama sekali tidak seperti orang kegirangan, melainkan sungguh-sungguh dan seperti orang mengerahkan tenaga ketika sedang buang air dan sukar keluar.
"Stop.."
Stop.."
Akhirnya Gan-lopek berseru sambil meloncat ke atas.
Lin Lin hampir terjengkang dan hal ini adalah karena Empek Gan telah mengerahkan seluruh tenaganya untuk "mendorong"
Gadis itu dalam "pergulatan"
Tenaga suara yang kalau dilanjutkan akan berbahaya itu.
Setelah berhasil mendorong, ia melompat dan terbebaslah mereka daripada pertandingan khi-kang yang hebat itu.
Kini Gan-lopek memandang dengan bengong, hanya bibirnya yang bergerak-gerak tanpa mengeluarkan suara sehingga kumis dan jenggotnya saja yang bergerak-gerak.
Lin Lin juga mengerahkan hawa murni untuk mengembalikan tenaga, kemudian ia memandang dan berkata.
"kau hebat, Kek"
Si tua menarik napas panjang, mengelus-elus jenggot dan mengangguk-angguk.
"Siapa bilang aku hebat? Tidak, anak baik, aku tua bangka dan tiada gunanya lagi. Akan tetapi engkau.. ah, hampir aku tidak percaya bahwa kau memiliki khikang yang begitu hebat. Hampir aku tidak kuat menahannya. Kau anak nakal, apa kau tadi bermaksud membunuh aku si tua bangka, yang biarpun jelek-jelek masih guru Bok Liong?"
Lin Lin kaget.
"Ah, mana mungkin aku mencelakakanmu, Kek? Andaikata ada maksud yang buruk itu, tak mungkin aku mampu. Menghadapi seorang sakti seperti kau ini, Kek, aku tiada ubahnya seekor semut melawan gajah"
"Huh-huh, kadang-kadang si semut berhasil memasuki telinga gajah dan si gajah tua bangka mampus sendiri. Anak baik, aku pernah melihatmu, pernah mendengar dari Bok Liong, akan tetapi kepandaianmu tidak seperti yang kau perlihatkan tadi. Anak nakal, kau memiliki ilmu begini hebat, mengapa berpura-pura bodoh?"
Kini Lin Lin benar-benar merasa heran.
Akan tetapi segera ia menjadi girang sekali karena ia dapat menduga bahwa ilmu yang ia dapatkan di dalam tongkat Pusaka Beng-kauw itulah agaknya yang tadi mendatangkan khi-kang luar biasa yang membuat Empek Gan kaget setengah mati dan keheranan.
Akan tetapi, teringat akan nasihat Suling Emas, Lin Lin tidak mau membuka rahasia ini dan ia hanya berkata.
"Kakek Gan, kau orang tua harap jangan mengejek orang muda. Kepandaian apa yang kupunyai? Dari pada mengejek dan membikin panas perut orang muda, lebih baik kau orang tua memberi petunjuk-petunjuk sehingga ilmuku yang mentah akan menjadi matang dan berguna"
Empek Gan tertawa.
"Wah, boleh.. boleh.. memang aku tahu bahwa kalau ilmumu sudah matang, aku si tua mana mampu menandingimu? Tapi, kau tadi bicara tentang perut panas, tidak demikian dengan perutku. Perutku perih sekali"
Tiba-tiba terdengar "ayam berkokok"
Dari dalam perut kakek itu sehingga Lin Lin tertawa geli.
"Tunggulah, Kek. Betapapun juga, aku adalah seorang wanita dan aku tahu bagaimana caranya menyembuhkan perut perih."
Setelah berkata demikian, gadis ini berlari memasuki hutan dan tak lama kemudian ia sudah kembali membawa seekor kelinci yang gemuk sekali.
Di dalam hatinya, Lin Lin girang dan gembira karena ia mendapat jalan untuk menyempurnakan ilmu yang baru ia dapat, yaitu dengan minta petunjuk-petunjuk Empek Gan pada bagian yang sulit.
Maklum bahwa kakek ini seorang sakti, maka ia segera menggunakan kecerdikannya untuk "mengambil hati"
Melalui perut lapar Kakek Gan.
Kita tinggalkan dulu Lin Lin dan Empek Gan, dan mari kita selidiki siapakah gerangan gadis yang telah menolong Bok Liong secara aneh itu?
Menurut pandangan Bok Liong, gadis itu mirip benar dengan Sian Eng, akan tetapi tidak mau berhenti ketika ia dipanggil.
Siapakah gadis itu sesungguhnya?
Pandang mata Bok Liong yang tajam memang tidak salah.
Gadis itu adalah Sian Eng.
Akan tetapi, kita tahu bahwa ilmu kepandaian Sian Eng tidaklah amat tinggi, dan sebaliknya, cara menolong Bok Liong yang melayang jatuh dari atas jurang itu hanya akan dapat dilakukan oleh orang yang memiliki kesaktian luar biasa.
Untuk mengetahui rahasia ini, mari kita ikuti perjalanan dan pengalaman Sian Eng.
Telah kita ketahui bahwa Sian Eng dapat dibujuk oleh laki-laki yang dikasihinya, Suma Boan, untuk memasuki lorong rahasia di bawah tanah bekas tempat sembunyi Tok-siauw-kui yang belasan tahun lamanya bertapa dan bersembunyi di tempat ini.
Dan kemudian betapa Sian Eng terjebak ke dalam ruangan di bawah tanah oleh alat-alat rahasia yang agaknya telah dipasang orang sehingga ia terkurung oleh empat dinding batu tanpa dapat mencari jalan keluar karena jalan keluar satu-satunya hanya mendorong batu yang menutup lorong, padahal batu itu beratnya ribuan kati dan ternyata Suma Boan sendiri dari luar ruangan itu tak mampu menggerakkan batu ini.
Di bagian depan cerita ini, kita tinggalkan Sian Eng dalam keadaan roboh dan dikeroyok oleh kelelawar-kelelawar kecil beracun yang menyerangnya dengan gigitan, lalu menyedot darahnya.
Setelah roboh dan merasa betapa kelelawar-kelelawar itu menyerbunya, Sian Eng diserang rasa takut dan ngeri yang bercampuran dengan sakit di seluruh tubuhnya.
Gigitan binatang-binatang kecil itu mendatangkan rasa panas, gatal dan perih.
Ia bergulingan ke sana ke mari, menjerit-jerit seperti orang gila, kemudian di dalam gelombang kengerian dan ketakutan itu timbullah suatu kenekatan yang luar biasa, kemarahan yang secara aneh membuat ia tiba-tiba mendapatkan kekuatan baru.
Sian Eng meloncat bangun, kedua tangannya mencengkeram kelelawar-kelelawar yang masih menempel di tubuhnya, membanting, menginjak, bahkan ia lalu menggigit kepala binatang-binatang kecil itu, meremukkan kepala dan mengisap darahnya.
Rasa sakit yang amat hebat membuat gadis ini seperti tidak ingat lagi akan keadaan sekitarnya, yang ada di dalam ingatan hanya membalas, membunuh, mengamuk.
Pergulatan menyeramkan di gelap ini seandainya terjadi di tempat terang dan kelihatan orang lain tentu akan membuat orang merasa ngeri dan seram.
Gadis itu sudah tidak karuan lagi pakaiannya, robek sana-sini, rambutnya terurai awut-awutan.
Juga tingkah lakunya seperti orang gila.
Ia bergulingan, kadang-kadang meloncat berjingkrak-jingkrak, kadang-kadang tertawa, lalu menangis, semua ini karena penderitaan rasa nyeri yang hebat ditambah rasa takut dan ngeri.
Akan tetapi tiada hentinya ia membunuh kelelawar dan bahkan mulai makan dagingnya dan minum darahnya.
Semalam suntuk Sian Eng bergulat.
Bangkai kelelawar bertumpuk-tumpuk di ruangan itu dan entah sudah berapa banyak darah yang diminumnya, daging yang ditelannya.
Akhirnya malam pun berakhir berganti pagi dengan ditandai seberkas cahaya memasuki ruangan.
Cahaya ini membantu Sian Eng mengusir kelelawar-kelelawar.
Akan tetapi Sian Eng juga kehabisan tenaga, menggeletak terlentang pingsan di atas bangkai-bangkai kelelawar.
Pakaiannya robek-robek, kulitnya penuh bintik-bintik merah dari darah yang keluar dari luka-lukanya.
Sehari penuh Sian Eng menggeletak di atas bangkai-bangkai kelelawar di dalam ruangan di bawah tanah itu, setengah pingsan setengah tidur, atau seperti telah mati.
Akan tetapi setelah matahari tenggelam dan ruangan itu menjadi gelap, kelelawar-kelelawar kecil mulai beterbangan kemudian menyerangnya.
Sian Eng seperti dibangunkan dan seakan-akan seekor hantu betina atau kuntilanak yang hanya "hidup"
Di waktu malam, ia bangkit lagi dan seperti malam kemarin, kembali terjadi pertandingan dengan kelelawar-kelelawar kecil yang menyerang dan mengeroyoknya secara ganas sekali.
Kembali Sian Eng menjadi korban gigitan, akan tetapi anehnya gerakan-gerakannya lebih tangkas dan lebih ganas daripada kemarin.
Kini lebih banyak lagi kelelawar yang mati, dan lebih banyak lagi yang darah dan dagingnya memasuki perut Sian Eng.
Kembali semalam suntuk terjadi perang kecil yang ganas mengerikan di dalam ruangan gelap, akan tetapi kali ini Sian Eng kelihatannya makin kuat saja sehingga menjelang pagi, binatang-binatang itu mulai gentar dan hanya satu dua ekor yang berani menerjangnya.
Namun sekali sambar, Sian Eng menangkapnya, merobeknya menjadi dua dan mengisap darah yang menyembur keluar.
Agaknya rasa darah, sakit hati, dan ditambah lapar dan haus membuat Sian Eng berubah seperti seorang kuntilanak.
Anehnya begitu sinar matahari menerangi ruangan, Sian Eng baru merasa lemas dan letih, lalu terguling dan menggeletak telentang setengah telanjang di atas "kasur"
Terbuat daripada bangkai kelelawar yang bertumpuk-tumpuk.
Seperti juga kemarin, sehari penuh Sian Eng tidur setengah pingsan.
Luka-luka kecil di kulitnya yang putih kuning dan halus, yang kemarin tampak berbintik-bintik merah, kini mulai menghilang, akan tetapi tubuhnya sebentar terasa panas membara, sebentar kemudian dingin seperti salju.
Memang terjadi sesuatu yang hebat pada diri gadis ini.
Kelelawar-kelelawar itu ternyata adalah sebangsa kelelawar yang beracun, yang biasanya sekali menggigit orang tentu meninggalkan racun yang akan cukup merampas nyawa orang itu dalam waktu dua tiga hari.
Sedangkan Sian Eng telah menerima gigitan yang bertubi-tubi dari kelelawar-kelelawar itu, gigitan ganas yang disertai kemarahan sehingga racun yang jahat dan berbahaya banyak sekali memasuki tubuh dan meracuni darahnya.
Akan tetapi, secara kebetulan sekali keadaan yang mengerikan itu membuat Sian Eng menggila dan mengganas, membuat ia marah dan makan daging kelelawar serta minum darahnya.
Justeru inilah yang menjadi obat penawar, obat penawar yang tiada keduanya di dunia ini.
Di luar pengetahuan dan kesadarannya sendiri, selain dapat mengisi perut untuk menahan lapar dan haus, Sian Eng telah mengobati dirinya sendiri.
Tidak saja mengobati dan menghalau bahaya dari racun gigitan kelelawar-kelelawar, bahkan jauh lebih dari itu, ia telah memasukkan sumber tenaga yang amat hebat, karena racun kelelawar itu mengandung hawa panas, yang biasanya akan menghanguskan jantung, mengeringkan darah, sebaliknya, racun penawar yang terdapat dalam daging dan darah kelelawar itu mengandung hawa dingin.
Kini mulailah kedua racun yang bertentangan itu bekerja, bertempur mati-matian di dalam tubuh Sian Eng, membuat gadis ini dalam keadaan tidak sadar sebentar kepanasan sebentar kedinginan.
Kalau Tuhan Yang Maha Kuasa menghendaki seseorang harus masih hidup, tidak akan kekurangan jalan, betapapun aneh dan tak mungkin tampaknya jalan itu di mata manusia.
Demikian pula dengan halnya Sian Eng.
Nyawanya tergantung di ujung sehelai rambut.
Hanya Tuhan saja yang mampu menolongnya, hanya Tuhan yang memutuskan mati hidupnya.
Dua macam racun yang memasuki tubuhnya, yang satu lewat luka-luka gigitan yang ke dua lewat mulut, adalah racun-racun yang amat berbahaya dan terlalu banyak masuk ke tubuhnya.
Kini kedua macam racun yang mempunyai kekuatan bertentangan itu saling bertanding, saling dorong untuk menguasai tubuh Sian Eng yang akan berakhir dengan maut jika satu di antara kedua racun itu kalah.
Hawa panas dan dingin saling desak, kuasa-menguasai.
Sedikit saja selisih kekuatan kedua hawa ini, akan tamatlah riwayat hidup Kam Sian Eng, gadis yang bernasib malang ini.
Namun, seperti sudah disebutkan tadi, Tuhan belum menghendaki riwayat gadis ini tamat, karenanya secara ajaib sekali, kedua macam racun itu KEBETULAN memiliki kekuatan seimbang.
Mereka saling bercampur dan lenyaplah daya merusak, bahkan sebaliknya, di dalam tubuh Sian Eng, kedua macam racun itu bercampur dan lahirlah semacam daya tenaga mujijat yang membuat sin-kang (hawa sakti) di tubuh gadis ini naik beberapa puluh kali lipat.
Tidaklah mengherankan apabila gadis itu bergerak bangun setelah hari kembali menjadi gelap, yaitu pada malam ke tiga, gadis itu merasa tubuhnya ringan dan nyaman sekali, sama sekali tidak ada rasa sakit lagi, yang ada hanya rasa hangat yang menyenangkan.
Selain ini, lenyap pula rasa takut dan rasa ngeri.
Bahkan ia tertawa-tawa ketika mendengar sambaran kelelawar-kelelawar yang untuk ketiga kalinya kini mulai hendak menyerbu musuh yang ulet itu.
Sian Eng merasa betapa sambaran binatang-binatang itu amat lambat dan lemah.
Dengan mudahnya ia menyentil dengan kuku-kuku jarinya.
Sekali sentil saja remuklah kepala kelelawar yang menyambar ke arahnya.
Ketika banyak sekali binatang itu mulai menyerbu, Sian Eng kewalahan juga dan terpaksa membiarkan satu dua ekor menggigit tubuhnya yang setengah telanjang itu.
Akan tetapi, terjadilah keanehan.
Gadis ini sama sekali tidak merasakan nyeri ketika tergigit, sebaliknya, kelelawar yang menggigitnya itu melepas gigitan, jatuh dan berkelojotan terus mati.
Tentu saja hal ini tidak tampak oleh Sian Eng, akan tetapi sejam kemudian, tidak ada seekor pun kelelawar yang menyerangnya lagi.
Binatang-binatang itu hanya beterbangan dan bercuit-cuit ketakutan, seakan-akan mereka kini mengakui bahwa manusia yang tiga malam berturut-turut dikeroyoknya itu tak terkalahkan dan patut menjadi ratu mereka.
Sian Eng terbebas daripada ancaman maut oleh racun-racun berbahaya itu.
Akan tetapi agaknya pengaruh racun-racun itu mempengaruhi juga otaknya.
Setidaknya tentu mengubah kesempurnaannya, mengganggu dan membuat Sian Eng menjadi seorang aneh.
Kadang-kadang ia tertawa sendiri kalau menangkap kelelawar untuk dimakan, kadang-kadang ia menangis karena teringat akan Suma Boan.
Malam ke tiga itu diisi dengan tawa dan tangis berganti-ganti.
Pada keesokan harinya, Sian Eng dapat bergerak dengan gesit dan pikirannya juga menjadi terang.
Teringatlah ia bahwa ia terkurung di situ, terkubur hidup-hidup.
Pikiran ini menggerakkan semangatnya dan ia menghampiri batu penutup lubang.
Dicobanya tenaganya untuk membongkar batu itu, untuk mondorongnya kembali.
Ia merasa betapa dalam tubuhnya bergolak hawa yang amat kuat, yang terasa panas sekali.
Ia mengerahkan tenaga, hawa panas meningkat, batu bergoyang, akan tetapi tiba-tiba hawa panas itu berubah menjadi hawa dingin dan..
Sian Eng roboh pingsan dan batu itu kembali menutup lubang.
Setelah siuman kembali, Sian Eng mencoba dan berkali-kali ia pingsan hanya karena perubahan hawa di dalam tubuhnya.
Akhirnya ia maklum bahwa di dalam tubuhnya terdapat hawa yang aneh, yang kadang-kadang panas, kadang-kadang dingin, akan tetapi yang demikian hebat sehingga ia tidak mampu menguasainya dan kalau ia memaksa terus mengerahkan tenaga yang aneh itu, tentu akhirnya ia akan mati terpukul sendiri.
Karena inilah Sian Eng lalu mencari jalan lain.
Ia memeriksa seluruh dinding, seinci demi seinci, diperiksanya teliti sekali.
Namun hasilnya sia-sia dan sementara itu, karena ia belum dapat menguasai dua macam hawa di tubuhnya, berkali-kali Sian Eng roboh pingsan.
Akan tetapi pada suatu hari, kurang lebih lima hari semenjak ia terkurung di situ, usahanya berhasil.
Ia mulai memeriksa lantai.
Satu per satu batu-batu lantai ditelitinya dan akhirnya ketika ia mendongkel sebuah batu di sudut kiri, terbongkarlah lubang yang lebarnya ada dua kaki persegi.
Mendadak dari dalam lubang itu meluncur keluar seekor ular yang kepalanya putih.
Bagaikan kilat menyambar, ular itu menerjang ke atas dan tanpa dapat dielakkan lagi, lengan kiri Sian Eng kena digigit.
Sian Eng menjerit dan mengerahkan tenaga.
Karena ia belum menguasai dua macam tenaga di tubuhnya, ia mengerahkan sekenanya saja dan kebetulan pada saat itu, hawa dingin di tubuhnya yang lebih kuat maka seketika pengerahan tenaga ini membuat lengannya yang tergigit ular itu terasa seperti berubah menjadi es.
Dan hebatnya, ular itu lalu melepaskan gigitannya, melingkar-lingkar menggeliat-geliat dan tak bergerak lagi, mati.
Sian Eng menjadi tertarik sekali.
Inikah tempat persembunyian kitab-kitab Tok-siauw-kui?
Tanpa ragu-ragu lagi ia memasuki lubang itu, dan ternyata setelah ia melompat turun, ia berada di sebuah ruangan lain, ruangan atas dan tepat berada di bawah ruangan yang penuh bangkai kelelawar itu.
Dan cahaya matahari masuk melalui lubang dua kaki tadi, cukup membuat ruangan itu menjadi terang.
Di sudut ruangan, terdapat sebuah meja batu atau lebih tepat sebuah bangku batu yang permukaannya legok (cekung) dan menggambarkan bentuk pantat dan kaki orang yang bersila.
Agaknya tempat ini dahulunya dipakai duduk bersila orang yang bertapa di sini.
Akan tetapi, bagaimanakah sebuah bangku batu sampai cekung seperti itu hanya karena diduduki orang saja, benar-benar merupakan hal yang luar biasa sekali.
Hanya bangku itulah yang terdapat di dalam kamar itu, dan tidak ada apa-apa lagi.
Saking besarnya rasa kecewa dan menyesalnya, Sian Eng lalu menjatuhkan diri berlutut di depan bangku itu dan menangis.
Ia melihat betepa tapak kaki bersila itu kecil mungil, menggambarkan kaki seorang wanita, maka ia merasa yakin bahwa tentu bangku ini menjadi tempat bersila dan bertapa samadhi Tok-siauw-kui Liu Lu Sian, ibu dari Suling Emas.
Ia menangis karena teringat akan hubungannya dengan Tok-siauw-kui.
Tok-siauw-kui dahulunya adalah isteri ayahnya, Jenderal Kam Si Ek, yang kemudian pergi meninggalkan suaminya sehingga ayahnya itu menikah lagi, dengan ibunya.
Agaknya Tok-siauw-kui demikian benci kepada ibunya sehingga kini biarpun sudah meninggal, Tok-siauw-kui masih melampiaskan sakit hatinya dan menghukum anak dari wanita yang merebut suaminya.
"Bibi Liu Lu Sian.. mengapa kau begini kejam? Mengapa aku yang kau siksa, padahal aku tidak berdosa kepadamu? Bibi.. betapapun juga aku adalah anak tirimu.. kau pernah mencinta ayah kandungku.. demi mendiang ayahku.. harap kau tunjukkan jalan keluar bagiku, Bibi.."
Ia menangis dan masih berlutut di depan bangku batu itu. Kemudian ia teringat akan ayahnya dan menangis makin sedih.
"Ayah.. Ayah, kau tentu sudah berkumpul dengan Bibi Liu Lu Sian.. bujuklah dia agar supaya anakmu ini diberi petunjuk keluar dari neraka ini"
Sambil menangis Sian Eng membentur-benturkan kepalanya di atas lantai depan bangku.
Tiba-tiba terdengar bunyi perlahan dan ternyata setiap kali Sian Eng membenturkan jidatnya di atas lantai, bangku batu itu bergeser ke kiri, makin lama makin ke kiri sehingga akhirnya tampaklah sebuah lubang di bawah bangku batu itu.
Sian Eng terkejut dan memandang dengan heran karena di situ terdapat sehelai kain kuning yang menutupi sesuatu dan ditulisi dengan huruf-huruf besar berbunyi.
WASIAT PENINGGAIAN LIU LU SIAN.
Jantungnya berdebar keras dan tangannya sudah digerakkan untuk meraih dan membuka kain kuning itu, untuk segera melihat wasiat deri wanita sakti itu.
Akan tetapi ia segera ingat bahwa benda-benda di bawah kain kuning itu adalah milik Liu Lu Sian, dan bahwa wasiat wanita ini mustahil ditinggalkan untuk dirinya.
Ia tidak berani melanjutkan niatnya.
Ia tidak berhak.
Akan tetapi selagi ia termenung, ia teringat akan tugasnya, teringat akan kekasihnya, Suma Boan.
Timbullah pertentangan dalam batinnya.
Ia adalah keturunan seorang gagah.
Ayahnya, Kam Si Ek semenjak muda terkenal sebagai seorang satria utama yang menjunjung tinggi kegagahan dan tidak sudi melakukan sesuatu yang tercela.
Semenjak ia masih kecil, ayahnya sudah menjejalinya dengan budi pekerti orang gagah.
Akan tetapi di lain pihak, cinta kasihnya terhadap Suma Boan juga terasa berat menekan di hati.
Akhirnya kembali Sian Eng berlutut di depan bangku batu tempat bersamadhi Tok-siauw-kui, membenturkan jidatnya di lantai sambil berkata.
"Bibi Liu Lu Sian, mohon perkenan bibi untuk mengambil sebuah dua buah kitab peninggalan demi memenuhi kehendak kekasih. Mohon bibi sudi memberi ampun.."
Tiba-tiba Sian Eng menghentikan kata-katanya karena pada saat itu, dari dalam lubang tadi melayang keluar tiga batang anak panah yang menyambar ke atas.
Anak-anak panah itu lewat di depan mukanya dan peninglah kepala Sian Eng mencium bau yang wangi memabukkan.
Terang bahwa anak-anak panah itu mengandung racun yang dahsyat dan andaikata ia tadi melanjutkan niatnya membuka kain kuning, tentu anak-anak panah itu akan tepat mengenai muka dan lehernya.
Ia mendongak ke atas dan melihat anak-anak panah itu menancap pada dinding batu, gagangnya bergoyang-goyang.
Sian Eng bergidik ngeri dan ketika ia memandang ke arah lubang tadi, ternyata kain kuningnya telah tersingkap dan di bawahnya hanya terdapat alat-alat rahasia yang tadi menggerakkan tiga anak panah.
Kiranya ketika ia membenturkan kepala di lantai depan bangku batu yang kini sudah pindah ke kiri, ada alat rahasia yang menggerakkan anak-anak panah itu sehingga ia selamat.
Seorang yang begitu saja membuka kain kuning tadi karena bernafsu memiliki wasiat, pasti akan menjadi korban anak panah, betapapun pandainya, karena anak-anak panah itu menyambar tak terduga-duga dan jaraknya amat dekat.
Sian Eng memandang lebih teliti dan ternyata selain alat-alat yang menggerakkan anak panah, juga di situ terdapat tulisan yang terukir pada dasar lubang.
Seperti tulisan di atas kain kuning, tulisan yang terukir pada batu di dasar itu pun besar-besar, dan jelas, berbunyi .
YANG TAHU AKAN SOPAN SANTUN PATUT MENJADI MURIDKU.
DUDUKLAH BERSAMADHI DI ATAS BANGKU, HANYA YANG BERJODOH AKAN BERHASIL.
Sian Eng bukan bermaksud hendak menjadi murid Tok-siauw-kui, melainkan bermaksud untuk mencari kitab peninggalan wanita sakti itu, untuk diberikan kepada kekasihnya.
Karena bukankah kitab-kitab ini akan menyenangkan Suma Boan dan seperti dijanjikan oleh kekasihnya itu, setelah ia berhasil menemukan kitab-kitab itu mereka akan pergi ke Cin-ling-san untuk merundingkan urusan perjodohan mereka dengan bibi gurunya?
Selain itu, ia tadinya tidak memiliki keinginan lain.
Akan tetapi setelah kini ia terkurung dan tidak mampu keluar, timbullah keinginannya untuk mempelajari ilmu-ilmu peninggalan Tok-siauw-kwi, sungguhpun hal ini hanya dimaksudkan untuk membuat ia mampu keluar dari neraka ini.
Karena itulah, maka tanpa ragu-ragu lagi Sian Eng lalu naik ke atas bangku batu dan duduk bersila.
Alangkah herannya ketika ia mendapat kenyataan betapa lekuk-lekuk di atas permukaan batu cocok benar dengan ukuran tubuh belakang dan kakinya, seakan-akan sudah dicetak untuk dirinya.
Kemudian ia teringat akan Tok-siauw-kui yang muncul dan menggemparkan perayaan Beng-kauw.
Memang ada persesuaian dalam bentuk tubuh wanita sakti itu dengan dirinya.
Mulailah Sian Eng mengheningkan cipta, bersiulian (bersamadhi) di atas bangku itu yang ternyata amat enak diduduki.
Akan tetapi sama sekali di luar dugaannya bahwa hal ini akan membawa ia kepada hal-hal baru yang akan mengubahnya menjadi seorang manusia lain.
Ia tekun bersiulian seperti yang diajarkan ayahnya, duduk diam tak bergerak sedikit pun juga, mematikan raga.
Tanpa ia sadari, ia sudah duduk seperti itu selama setengah hari.
Tiba-tiba terdengar suara keras dan kagetlah Sian Eng karena ia merasa tubuhnya terjatuh ke bawah.
Ketika ia membuka matanya, benar saja, bangku batu itu sudah nyeplos ke bawah dan ia sudah berada di dalam ruangan lain, di bawah ruangan yang tadi.
Ia segera turun dan melihat betapa di ruangan ini terdapat dipan untuk tidur, terdapat meja dan bangku, sedangkan di atas meja terdapat akar-akar dan buah-buah obat, juga di sana-sini bertumpuk kitab-kitab kuno.
Sedangkan di sudut kiri terdapat sebatang pedang yang mengeluarkan sinar merah, pedang telanjang yang menancap pada dinding batu karang sampai setengahnya.
Dengan hati berdebar-debar tidak karuan Sian Eng memperhatikan cara bagaimana ia tadi dapat merosot ke bawah bersama bangku yang didudukinya.
Setelah mengadakan pemeriksaan, kiranya bangku tadi dipasangi alat-alat yang halus sekali dan ternyata kehangatan tubuhnya melepaskan minyak-minyak beku dan menggerakkan alat-alat yang bergerak otomatis.
Kalau saja tubuh orang yang bersamadhi tidak cocok dengan lekuk-lekuk di permukaan batu tadi, kiranya alat itu takkan dapat berjalan.
Terang bahwa Tok-siauw-kui memang menghendaki seorang yang bentuk tubuhnya menyamainya, yang tentu saja seorang wanita, untuk menjadi ahli warisnya.
Dan kini kitab-kitab pelajaran yang serba rahasia, yaqg dicari penuh kerinduan oleh orang-orang di seluruh dunia kang-ouw, terletak di depan Sian Eng, tinggal memilih saja.
Akan tetapi Sian Eng tidak membutuhkan semua ilmu itu.
Ia hanya ingin mempelajari ilmu untuk menghimpun tenaga sakti agar ia dapat menggerakkan batu-batu penutup lubang, agar ia dapat keluar dan ia akan membawa sebuah dua buah kitab ilmu untuk diberikan kepada kekasihnya yang berada di luar gua.
Karena kitab-kitab itu banyak sekali macamnya, Akhirnya ia dapat juga menemukan sebuah kitab yang mengajarkan ilmu Ban-kin-pek-ko-chiu (Ilmu Keraskan Tangan Selaksa Kati).
Ilmu ini mengajarkan cara I-kin-swe-jwe (Ganti Otot Cuci Sumsum), cara bersamadhi dan bernapas, menghimpun tenaga sakti dan menguasainya.
Segera Sian Eng bersamadhi dan berlatih menurut petunjuk kitab ini.
Sama sekali ia tidak mengira bahwa kalau bagi orang lain harus memakan waktu berbulan-bulan untuk memetik buah latihan ilmu ini, baginya hanya membutuhkan beberapa hari saja oleh karena di dalam tubuhnya sudah terdapat dua macam hawa panas dan dingin yang amat hebat berkat racun dari kelelawar.
Berhari-hari Sian Eng tekun berlatih dan apabila ia merasa lapar, ia menangkapi kelelawar untuk dimakam dagingnya.
Untuk minum tidaklah sukar karena dinding batu-batu karang itu mengandung air, dan di sana-sini terdapat air jernih menetes-netes dari atas.
Tentang akar-akar dan buah-buah obat di atas meja, tidak ia perhatikan ketika ia membaca keterangan di sampingnya bahwa obat-obat itu adalah obat untuk pelbagai luka pukulan dan korban racun.
Demikianlah, tidak mengherankan apabila dua pekan kemudian semenjak ia memasuki gua, Sian Eng sama sekali tidak mendengar teriakan-teriakan Suma Boan yang menyusulnya dan berteriak-teriak dari luar batu penutup lubang.
Di waktu itu, ia sedang tekun bersamadhi menyempurnakan sin-kang yang sudah terasa memenuhi tubuhnya.
Dengan girang Sian Eng mendapat kenyataan bahwa tenaga panas dan dingin yang kadang-kadang menguasainya, yang membuatnya berkali-kali pingsan, kini dapat ia kuasai sepenuhnya dengan cara yang diberikan oleh kitab itu.
Setelah merasa bahwa ia dapat menguasai tenaga mujijat itu, Sian Eng menghentikan latihannya dan pada saat itulah baru ia melihat gambaran di dinding, gambaran yang ada tanda-tanda huruf kecil terukir.
Ia segera memperhatikan dan bukan main girang hatinya karena gambaran-gambaran itu merupakan tanda-tanda rahasia cara membuka dan menutup pintu-pintu rahasia dan alat-alat rahasia lain yang dipasang di dalam istana di bawah tanah ini.
Cepat ia mencari rahasia batu besar yang menutup terowongan dan kiranya rahasianya terletak pada batu itu sendiri.
Di ujung kanan atas dari batu itu terdapat bagian yang menonjol dan bagian inilah yang harus dipukul tiga kali ke dalam.
Dengan hati amat girang Sian Eng melompat melalui lubang itu ke bagian atas, kemudian sekali lagi ia menerobos ke bagian paling atas melalui lubang.
Ia tidak sadar bahwa gerakannya melompat melalui lubang ini hebat dan ringan sekali, jauh bedanya dengan keadaan dirinya sebelum memasuki tempat ini.
Begitu memasuki ruangan paling atas, hidungnya disambut bau yang amat busuk dari bangkai-bangkai kelelawar yang bertumpuk-tumpuk di situ selama beberapa hari.
Sian Eng menutupi hidungnya dan dengan menahan napas ia lalu menghampiri batu penutup terowongan.
Betul saja, di bagian atas ujung kanan batu itu terdapat bagian yang menonjol.
Ia mengepal tangannya dan menghantam tiga kali.
Terdengarlah suara berkerotokan dan..
dapat dibayangkan rasa gembira hati gadis itu melihat batu besar itu bergerak dan masuk ke dalam dinding membuka jalan terowongan itu seperti sediakala.
Saking girangnya Sian Eng lalu menjatuhkan diri berlutut dan menangis tersedu-sedu.
Kemudian ia teringat kembali kepada Suma Boan, maka cepat ia melompat dan berlari-lari keluar melalui terowongan sambil tertawa-tawa gembira.
Tadi ketika keluar dari dalam kamar rahasia, ia telah mengambil dua buah kitab kuno yang ia kira tentu akan memuaskan hati kekasihnya, karena kitab-kitab itu adalah kitab ilmu pedang dan ilmu silat.
Kini dua buah kitab kuno itu berada di balik baju dalamnya.
Akan tetapi ketika ia tiba di luar gua, di situ sunyi sekali tidak kelihatan bayangan Suma Boan.
Pada waktu itu, hari telah berganti malam, keadaan di luar gua gelap gulita.
"Suma-koko"
Sian Eng memanggil, menyangka bahwa kekasihnya tentu sedang beristirahat di suatu tempat setelah menanti-nanti keluarnya dengan hati kesal.
Tentu kekasihnya itu merasa khawatir sekali, mungkin sudah putus asa.
"Suma-koko"
Berkali-kali ia memanggil sambil melangkah keluar.
Namun tidak ada yang menjawab.
Tiba-tiba ia mendengar teriakan-teriakan dari jauh.
Sian Eng cepat menggerakkan kakinya mengejar.
Juga kali ini ia tidak sadar bahwa gerakan kakinya cepat dan ringan bukan main, dan bahwa ia telah berlari cepat sekali.
Ini adalah berkat hawa sakti di tubuhnya yang kini mulai dapat ia kuasai setelah ia memiliki Ilmu Ban-kin Pek-ko-chiu.
Sama sekali ia tidak tahu bahwa Suma Boan baru saja keluar dari dalam gua, dan bahwa pemuda itu hampir celaka oleh Liu Hwee dan Kauw Bian Cinjin.
Setelah melakukan pengejaran dengan kecepatan mengagumkan, akhirnya ia dapat menyusul dua bayangan yang berkejaran itu.
Segera ia mengenal Liu Hwee yang mengejar Suma Boan.
Ia tidak mengetahuil apa sebabnya, maka diam-diam ia hanya mengikuti mereka.
Ketika tiba di luar hutan, Liu Hwee mulai menyerang Suma Boan dengan senjata rahasia jarum perak, kemudian karena pemuda itu terhalang larinya ketika mengelak, gadis puteri ketua Beng-kauw ini cepat menerjangnya dengan senjatanya yang hebat, yaitu sepasang cambuknya yang diganduli dua buah bola baja.
"Suma Boan manusia busuk, kau hendak lari ke mana?"
Bentak Liu Hwee.
Suma Boan yang melihat bahwa gadis ini hanya mengejar sendirian saja, menjadi marah dan timbul kembali keberaniannya.
Tadi ia melarikan diri karena gadis itu berdua dengan Kauw Bian Cinjin, merupakan lawan yang amat berat.
Sekarang, melihat gadis itu sendirian saja, ia lalu membalikkan tubuh dan melawan sambil memaki.
"Bocah sombong, kau bosan hidup"
Seperti biasa, pemuda bangsawan ini melawan dengan tangan kosong saja.
Biasanya, menghadapi lawan muda, biarpun lawan bersenjata, ia selalu mendapatkan kemenangan karena sebagai murid It-gan Kai-ong, tentu saja ia memiliki tingkat ilmu silat yang tinggi.
Akan tetapi kali ini ia berhadapan dengan puteri Beng-kauw.
Pula, Lio Hwee memegang senjata aneh yang amat berbahaya.
Di samping ini, baru saja Suma Boan mengalami hal-hal yang melelahkan dan menakutkan, sedangkan betisnya yang ia potong dagingnya juga masih terasa sakit.
Oleh karena semua inilah maka sebentar saja ia terdesak hebat dalam pertandingan mati-matian itu.
Cuaca remang-remang karena hanya diterangi bintang-bintang di langit, dan dua orang ini bertanding mengandalkan ketajaman telinga, karena ketajaman pandangan mata tidaklah dapat dipercaya dalam keadaan setengah gelap itu.
Betapapun Suma Boan mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian, ia tidak dapat mengimbangi kecepatan senjata cambuk di tangan Liu Hwee dan pada saat sebuah di antara bola-bola baja itu menyambar pundaknya, Suma Boan mengeluh panjang dan terhuyung-huyung.
Ia sudah mengerahkan tenaga untuk menolak pukulan itu, namun tetap saja karena yang diarah adalah jalan darah yang lemah, ia menderita luka yang biarpun tidak parah namun cukup membuat kedudukannya menjadi makin lemah.
"Siapa berani mengotori tempat suci Beng-kauw, harus mati"
Seru Liu Hwee dan senjatanya kembali menyambar, kini mengarah kepala dan yang sebuah lagi menotok pusar.
Serangan maut yang agaknya sukar untuk dapat dihindarkan oleh Suma Boan yang sudah terhuyung-huyung.
Akan tetapi tiba-tiba menyambar angin pukulan yang amat dahsyat dari samping, yang membuat sepasang bola di ujung cambuk itu meleset arahnya, bahkan tampak bayangan orang yang cepat menyambar cambuk itu dan sekali merenggut, cambuk itu terampas dari tangan Liu Hwee.
Gadis ini kaget sekali karena sama sekali tidak menyangka-nyangka sehingga senjatanya kena dirampas orang.
Ia mengira bahwa yang datang tentulah It-gan Kai-ong atau setidaknya tentu kawan Suma Boan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka ia meloncat mundur dan siap-siap menghadapi lawan tangguh dengan tangan kosong.
Akan tetapi bayangan itu sudah menyambar tubuh Suma Boan dan dibawa lari dari tempat itu.
Lie Hwee menjadi penasaran sekali, biarpun ia maklum bahwa lawan amat tangguh dan ia harus berhati-hati, namun ia diam-diam mengikuti dan mengejar ke arah lenyapnya bayangan yang membawa lari senjata dan juga membawa lari Suma Boan itu.
Sayang baginya, malam yang gelap membuat ia kehilangan jejak lawannya sehingga akhirnya Lie Hwee hanya melanjutkan pengejarannya dengan kira-kira saja, untung-untungan.
Sementara itu, bayangan tadi membuang jauh-jauh senjata rampasannya, dan terus membawa lari Suma Boan.
"Suma-koko.. kau terluka..?"
Katanya sambil lari.
Sejenak Suma Boan tak mampu menjawab.
Tadi ketika ia sudah terancam bahaya maut di tangan Liu Hwee, ia merasa girang dan heran karena tertolong oleh bayangan yang belum ia ketahui siapa dia.
Akan tetapi ketika tubuhnya disambar dan dibawa lari, ia tahu bahwa orang ini adalah seorang gadis yang pakaiannya robek-robek tidak karuan, akan tetapi yang memiliki kepandaian hebat sekali.
Karena kehebatan gerak inilah maka ia tidak mengenal Sian Eng, karena mana mungkin Sian Eng memiliki kepandaian sehebat ini?
Pula, keadaan yang gelap membuat ia tidak dapat melihat wajah gadis itu dengan baik.
Baru sekarang setelah gadis itu membuka mulut bicara, ia tahu bahwa penolongnya bukan lain adalah Sian Eng.
Tentu saja ia menjadi bengong dan tak mampu menjawab.
Pikirannya bekerja.
Tentu terjadi sesuatu yang hebat kepada diri Sian Eng, dan tentu selama dua pekan itu, Sian Eng telah mempelajari ilmu yang sakti.
Suma Boan memang seorang yang cerdik, akan tetapi juga hatinya kotor oleh syakwasangka dan penuh tipu muslihat.
Ia mulai curiga.
Tentu gadis ini mengkhianatinya, setelah mendapatkan ilmu lalu dimilikinya sendiri.
"Suma-koko.. hebatkah lukamu?"
Kembali Sian Eng bertanya sambil melanjutkan larinya, karena gadis ini merasa khawatir kalau-kalau ada yang mengejar mereka.
Suma Boan pura-pura mengeluh panjang.
"Cukup hebat.. mengapa kau begitu lama baru muncul, Moi-moi? Dan bagaimana hasilnya, dapatkah kau menemukan kitab-kitab itu?"
"Dapat.. dapat.. jangan khawatir, Suma-koko. Aku membawa dua buah kitab untukmu."
Tiba-tiba gadis ini tertawa dan berdirilah bulu tengkuk Suma Boan.
Suara ketawa ini tidak sewajarnya, pikirnya.
Akan tetapi diam-diam ia girang bukan main.
"Mana kitab-kitab itu? Biarlah aku yang membawanya"
Katanya menahan suaranya agar tidak gemetar.
"Nanti saja, kita lari dulu, takut kalau-kalau dikejar musuh."
"Katakan saja di mana, aku yang akan ambil."
Tangan Suma Boan mulai meraba-raba. Kembali Sian Eng tertawa geli.
"Ihhh, jangan begitu. Kusimpan di balik.. baju dalam dan.."
Tiba-tiba suaranya terhenti dan gadis itu roboh lemas.
Kiranya Suma Boan telah menotoknya dengan tiba-tiba.
Karena yang ditotok adalah tong-cu-hiat di belakang leher dan thian-hu-hiat, maka seketika Sian Eng roboh lemas dan tak dapat mengeluarkan suara lagi.
Terpaksa ia hanya dapat melihat dan merasa betapa Suma Boan meraba-raba dadanya dan mengeluarkan dua buah kitab yang disimpannya di situ.
Terdengar pemuda itu berseru girang, mengantongi dua buah kitab itu lalu menyambar tubuh Sian Eng dan kini gadis itulah yang dibawa lari oleh Suma Boan, dipondong di atas pundak.
Sian Eng memjadi kecewa dan juga bingung.
Sama sekali ia tidak menyangka bahwa kekasihnya akan melakukan perbuatan seperti ini.
Saking marahnya, ketika ia berusaha untuk mengerahkan tenaga, jalan darahnya yang berhenti itu membuat hawa sakti menyerang dirinya sendiri dan ia pingsan seketika.
Ketika Sian Eng siuman dari pingsannya, ia mengerang perlahan dan tubuhnya tidak karuan (Lanjut ke
Jilid 27) Cinta Bernoda Darah (Seri ke 03
"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 27 rasanya.
Ia memandang ke kanan kiri dan mendapatkan dirinya berbaring telentang di atas sebuah dipan di dalam kamar perahu yang oleng ke kanan kiri, agaknya sebuah perahu besar yang berlabuh di pinggir.
Melihat kamar yang bersih dan indah ini, tentu ia berada di sebuah perahu yang mewah.
Sinar matahari yang memasuki jendela kamar perahu menandakan bahwa malam telah berganti pagi dan hawa pagi itu sejuk menyegarkan.
Namun Sian Eng tidak merasa segar bahkan merasa tidak enak sekali.
Kagetlah ia ketika menengok dirinya.
Ternyata pakaiannya yang robek-robek semalam telah diganti pakaian indah bersih, pakaiannya sendiri yang buntalannya dibawa Suma Boan ketika ia memasuki gua.
Seketika wajahnya menjadi merah.
Ia dapat menduga bahwa tentu Suma Boan yang mengganti pakaiannya.
Serentak ia bangkit dan ia menyeringai.
Badannya terasa sakit-sakit.
Kemarahannya bangkit ketika ia teringat akan kelakuan Suma Boan semalam, yang secara khianat telah menotoknya.
Kemudian kecurigaannya timbul ketika ia menyaksikan keadaan dirinya di pagi ini.
Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dari luar dan masuklah Suma Boan.
Pemuda ini berpakaian indah bersih pula, wajahnya berseri-seri dan ia memandang kepada Sian Eng dengan senyum lebar yang menambah ketampanan wajahnya.
"Isteriku yang manis, kau sudah bangun?"
Bagaikan disambar petir Sian Eng memandang terbelalak. Ucapan ini memperkuat kekhawatiran hatinya.
"Apa.. apa kau bilang..?"
Kemudian, pandang mata Suma Boan seakan-akan menceritakan semuanya, membuat Sian Eng gemetar seluruh tubuhnya.
"Kau.. kau telah melakukan.."
Suma Boan melangkah maju dan memeluknya mesra.
"Isteriku, kau isteriku yang tercinta. Sian Eng, kita telah menjadi suami isteri dan.. aduhhh.."
Suma Boan terlempar ke sudut kamar karena dengan tenaga yang dahsyat sekali Sian Eng telah mendorongnya.
Sian Eng kini bangkit berdiri, matanya merah menyala-nyala, pipinya seperti terbakar rasanya.
"Keparat biadab. Kau.. kau berani.."
Suma Boan terkejut bukan main, akan tetapi sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, ia tidak terluka.
Ia melangkah maju lagi dan membujuk dengan suara manis.
"Eng-moi-moi, kau kenapa? Bukankah kau mencintaku? Bukankah kau tahu bahwa aku pun mencintamu dengan seluruh jiwa ragaku, dan bahwa kita toh akan menjadi suami isteri juga kelak? Aku.. saking bahagia hatiku semalam melihat besarnya cinta kasihmu sehingga kau rela melakukan tugas berbahaya, kemudian melihatmu aku tak tahan lagi. Ah, Sian Eng, apa sebabnya kau menjadi marah-marah?"
"Keparat busuk"
Sian Eng memaki dan bagaikan seekor singa betina ia menerjang maju.
Suma Boan tentu saja tidak mau membiarkan dirinya diserang, cepat ia mengelak, malah kemarahannya kini bangkit.
Memang sesungguhnya di hati putera pangeran ini tidak ada cinta kasih murni terhadap Sian Eng, yang ada hanya cinta berdasarkan nafsu binatang belaka yang dibangkitkan oleh kecantikan gadis itu.
Perlakuannya terhadap Sian Eng memang ia sengaja, merupakan siasatnya karena ia menafsir bahwa Sian Eng telah mewarisi ilmu yang hebat dan jika sudah menjadi "isterinya"
Tentu Sian Eng akan membuka rahasia ilmu itu kepadanya.
Tentu saja di samping ini, juga kelemahan batinnya terhadap kecantikan Sian Eng merupakan sebab yang kuat pula sehingga di malam itu ia melakukan perbuatan biadab seperti binatang.
Kini dalam marahnya, Suma Boan balas menyerang.
Memang ilmunya lebih tinggi daripada kepandaian Sian Eng, maka sekali ia mengeluarkan jurus yang sulit, tangannya berhasil memukul pundak Sian Eng, membuat gadis itu terjungkal.
"Kau hendak berlagak, ya? Mulai sekarang kau harus mentaati segala perintahku, kalau tidak, kau akan kusiksa sampai mampus. Perempuan tak tahu diri, diperlakukan baik-baik kau tidak mau terima"
Sambil berkata demikian, dalam kebesaran hatinya sudah berhasil merobohkan Sian Eng, Suma Boan melangkah maju.
Sian Eng rebah miring dan menoleh.
Matanya terbelalak.
Peristiwa ini hampir membuatnya menjadi gila.
Rasa menyesal, kecewa, marah, malu, dan sakit hati memenuhi kepalanya, membuat kepalanya berdenyut-denyut, membuat tubuhnya sebentar panas sebentar dingin.
Tak disangkanya sama sekali bahwa orang yang dicintanya, yang dipujanya, yang diharapkan menjadi suaminya kelak, memperlakukan dia seperti ini.
Tiba-tiba kemarahannya memuncak, ia mengerahkan tenaga Ban-kin-pek-ko-chiu dan ketika Suma Boan sudah melangkah dekat, ia siap-siap.
Benar saja, Suma Boan yang bermaksud hendak "menundukkan"
Sien Eng mengangkat kakinya menendang.
Pada saat itu Sian Eng menyambar kaki itu dan ia melompat berdiri.
Suma Boan tidak bisa berkutik, tubuhnya jungkir-balik dan Sian Eng mengayun-ayun tubuh itu, diputar-putarnya di atas kepala.
"Kuhancurkan kepalamu, Kukeluarkan jantungmu. Binatang kau, jahanam keparat"
Sian Eng memaki-maki sambil menangis dan air matanya bercucuran.
Suma Boan takut setengah mampus.
Ia berusaha untuk mengerahkan tenaga dan melepaskan diri, namun kakinya yang dicengkeram tangan Sian Eng itu serasa hancur dan ia tidak mampu meronta.
Ia mulai merintih-rintih dan dari dalam saku bajunya meluncur keluar dua buah kitab kuno.
Melihat ini Sian Eng mendadak tertawa-tawa.
"Hi-hi-hi-hik, Untuk dua kitab ini kau tega merusak diri dan hatiku. Kau tega menghancurkan harapan hidupku, membuyarkan cita-citaku, membanting remuk kasih sayangku. Hanya untuk dua buah kitab kuno, hi-hi-hik"
Makin takutlah Suma Boan.
"Sian Eng.. Moi-moi.. Kau ampunkanlah diriku.. Eng-moi, ingatlah.. aku cinta kepadamu, sungguh mati, biar aku bersumpah.."
Akan tetapi kata-katanya tenggelam dalam suara ketawa Sian Eng.
Pada saat itu, terdengar suara wanita nyaring di luar bilik perahu.
Suara Liu Hwee yang menantang.
"Bangsat Suma Boan, Keluarlah kalau kau laki-laki"
Sian Eng terkekeh makin geli.
"Dia memang laki-laki, akan tetapi laki-laki seperti anjing. Nah, terimalah"
Ia mengayun tubuh Suma Boan dan melemparkannya keluar dari pintu.
Baiknya Suma Boan dapat mengerahkan gin-kangnya sehingga ia dapat mengatur keseimbangan tubuhnya dan dapat jatuh berdiri di luar kamar.
Alangkah kagetnya ketika ia melihat Liu Hwee yang berdiri di situ dengan sikap menantang.
Mula-mula ia khawatir kalau-kalau Liu Hwee datang bersama orang lain.
Akan tetapi setelah mendapat kepastian bahwa gadis puteri Beng-kauw ini hanya seorang diri, apalagi tidak bersenjata, melainkan bertangan kosong dan bertolak pinggang di situ, hatinya menjadi besar.
Ia merasa malu sekali.
Kalau tadi Liu Hwee atau orang lain menyaksikan keadaannya, benar-benar hal itu akan membuat ia malu dan merasa terhina oleh Sian Eng itulah maka kini kemarahannya ia tumpahkan kepada Liu Hwee.
"Perempuan keparat, Kau mau apa?"
Bentaknya.
"Suma Boan mata-mata busuk. Mau menghukummu, apa lagi?"
Suma Boan berseru keras dan cepat menyerang.
Akan tetapi dengan mudah Liu Hwee mengelak dan balas menyerang.
Suma Boan menyeringai karena merasa betapa kakinya yang tadi dicengkeram Sian Eng terasa sakit dan kaku, membuat gerakannya kacau.
Sebetulnya kalau dibuat perbandingan, dalam hal kematangan ilmu silat, kiranya Suma Boan lebih tinggi sedikit daripada Liu Hwee.
Ia sudah mewarisi banyak macam ilmu dan sudah lebih banyak pengalamannya bertempur.
Akan tetapi pada saat itu, Suma Boan sedang merasa gelisah memikirkan keadaan Sian Eng.
Selain itu, ia pun masih menderita luka di betisnya, luka yang terasa perih, ditambah lagi cengkeraman Sian Eng pada pergelangan kakinya tadi serasa meremukkan tulang kakinya.
Oleh karena merasa kaku dan sakit-sakit kakinya, segera Suma Boan mengeluarkan ilmunya yang paling ia andalkan, yaitu Tok-ci-ciang-hoat (Ilmu Silat Jari Beracun).
Ilmu silat ini ia warisi dari It-gan Kai-ong, hebatnya bukan main.
Untuk mainkan ilmu silat ini, ia hanya menggunakan jari telunjuk dan jari tengah dari kedua tangannya, dipakai menyerang secara menusuk.
Namun jangan dipandang remeh jari-jari ini, karena ketika ditusukkan, jari-jari ini mengandung hawa pukulan beracun yang sekali mengenai tubuh lawan dapat mengakibatkan maut datang menjemput.
Melihat datangnya serangan yang mengeluarkan angin berciutan serta melihat uap hitam yang mengepul dari jari-jari itu, Liu Hwee sebagai puteri ketua Beng-kauw yang sakti maklum dan dapat menduga bahwa lawannya mempergunakan ilmu pukulan jahat dan ganas.
Ia tidak berani menghadapi pukulan-pukulan keji ini, cepat menggunakan gin-kang dan kegesitan tubuhnya untuk mengelak ke sana ke mari mencari kesempatan membalas.
Ia maklum bahwa kalau tangannya sampai terbentur jari-jari itu, ia akan terluka oleh racun berbahaya.
Suma Boan menjadi makin penasaran dan melihat lawannya tampak takut menghadapi jari-jarinya, ia menjadi makin ganas.
Serangannya makin gencar dan ia mengejar terus ke manapun juga Liu Hwee mengelak.
Baik bagi Liu Hwee bahwa kaki Suma Boan terluka sehingga pemuda itu kehilangan kegesitannya.
Andaikata tidak demikian, agaknya tidak mudah bagi Liu Hwee untuk dapat menyelamatkan diri.
Pertandingan ini berjalan setengah jam lebih dan Suma Boan mulai tampak lelah.
Memang ia sudah lelah sekali, dan kakinya makin sakit.
Namun berkat ilmu pukulannya yang dahsyat dan keji, Liu Hwee belum sempat membalas dan selalu menyelamatkan diri.
Hal ini dimengerti oleh Suma Boan, maka sambil mengeluarkan suara gerengan seperti harimau ia mendesak terus, mengerahkan seluruh tenaganya dan tidak mempedulikan rasa sakit di kakinya.
Liu Hwee kaget sekali dan ia betul-betul terdesak ketika ia mengelak sambil main mundur.
Akhirnya ia terdesak sampai di ujung perahu dan agaknya tidak ada jalan keluar lagi baginya.
"Ha-ha-ha, bocah sombong. Ke mana lagi kau akan lari?"
Suma Boan mengejek, lalu menerjang maju dengan tusukan kedua jari tangan kanannya sambil memekik.
"Hiaaaaattttt"
Hebat bukan main serangan ini dan Liu Hwee sudah berada di pinggir perahu, kalau ia melompat ke belakang tentu ia akan jatuh ke dalam air.
Namun gadis yang tenang dan gesit gerakannya ini dapat melihat bahwa betapapun hebat dan berbahayanya serangan lawan ini, ia dapat melihat bahwa Suma Boan sudah kehilangan kecepatannya.
Maka dengan tenang dan tabah ia miringkan tubuh secepat kilat setelah ujung kedua jari berbahaya itu sudah mendekati dadanya.
Kedua ujung jari itu lewat hampir mengenai bajunya dan cepat Liu Hwee menggerakkan tangan kirinya mencengkeram pergelangan tangan kanan Suma Boan.
Sebelum Suma Boan hilang kagetnya menyaksikan gerakan nekat Liu Hwee ini, puteri Beng-kauw yang perkasa itu telah mengerahkan tenaga, serentak menarik dengan lwee-kang sepenuhnya sambil menggerakkan dan melepaskan lengan itu.
Suma Boan memang sudah lelah dan tenaganya banyak berkurang.
Apalagi ia tidak mengira sama sekali bahwa gadis yang sudah ia desak hebat itu akan melakukan perbuatan ini.
Maka begitu ia disentakkan secara tiba-tiba dan kuat, tubuhnya yang ketika menusukkan jari tadi memang sudah condong ke depan dan kaki kanannya juga terangkat ke depan, tak dapat ia pertahankan lagi, terlempar dan..
"byurrrrr"
Air sungai muncrat tinggi ketika tertimpa tubuh Suma Boan yang cukup berat.
Liu Hwee yang memang curiga bahwa putera bangsawan ini mengambil sesuatu dari Beng-kauw, cepat memasuki bilik perahu.
Akan tetapi bilik itu kosong, tidak tampak seorang pun manusia.
Ia memeriksa cepat dengan pandang matanya, namun tidak mendapatkan sesuatu yang penting.
Lalu ia melompat keluar lagi, juga tidak melihat Suma Boan.
Agaknya pemuda jahat itu sudah tenggelam ke dalam sungai.
Gadis ini lalu menggerakkan kedua kakinya melompat ke darat, lalu lari menuju pulang.
Ia pun merasa lelah sekali karena semalam suntuk ia melakukan pengejaran, sedangkan pertandingan tadi sudah memeras banyak tenaganya.
Tentu saja tidak benar dugaan Liu Hwee bahwa Suma Boan mati tenggelam di dasar sungai.
Pemuda bangsawan ini terlalu cerdik dan licin untuk dapat ditewaskan secara begitu mudah.
Karena maklum bahwa dalam keadaan terluka dan lelah seperti itu tak mungkin ia dapat melakukan perlawanan lagi, pula karena khawatir kalau-kalau Liu Hwee menanti di pinggir perahu dan siap menyerangnya dengan serangan maut apabila ia hendak kembali ke perahu, Suma Boan lalu menyelam dan bersembunyi di bawah perahu dengan hanya mengeluarkan hidung dan mulutnya di permukaan air.
Dari bawah ia melihat perahu itu bergoyang-goyang sedikit, tanda bahwa di atasnya terdapat orang bergin-kang tinggi sedang bergerak.
Tadinya ia mengharap Sian Eng membelanya dan menyerang Liu Hwee.
Akan tetapi, goyangan perahu hanya sebentar saja, lalu diam dan sama sekali tidak bergerak.
Maka Suma Boan lalu naik ke perahu, melalui tambang yang tergantung ke bawah.
Dengan hati-hati ia melompat naik ke atas perahu, takut kalau-kalau ada bahaya mengancam.
Terhadap Liu Hwee ia tidak begitu takut, akan tetapi ia ngeri memikirkan sepak terjang Sian Eng.
Namun di perahu itu sunyi saja, tidak terdapat seorang pun manusia.
Suma Boan berindap-indap memasuki kamar perahu, menjenguk hati-hati.
Kosong.
Hatinya serasa tertusuk, penuh kekecewaan, penasaran, dan kemarahan.
Tak perlu ia mencari lagi.
Terang bahwa dua buah kitab kuno yang dibawa Sian Eng dan kemudian ia rampas, ketika tadi jatuh dari dalam saku bajunya, telah diambil kembali oleh Sian Eng yang sekarang telah pergi entah ke mana.
"Perempuan laknat"
Suma Boan menyumpah-nyumpah sambil menanggalkan pakaiannya yang basah untuk diganti dengan yang kering.
Kemudian ia duduk di atas dipan dan termenung.
Sian Eng telah ia nodai dan ada dua akibat yang mungkin menjadi ekor peristiwa ini.
Pertama, gadis itu akan merasa menjadi isterinya walaupun tidak sah dan inilah yang ia harapkan ketika ia melakukan perbuatan terkutuk itu.
Apabila begini akibatnya, tentu Sian Eng kelak akan hilang marahnya dan akan datang menyerahkan diri dan kalau sudah begitu, boleh saja ia pura-pura mengawininya dengan sah agar kitab-kitab itu dan terutama ilmu aneh yang dimiliki Sian Eng dalam waktu dua pekan, terjatuh ke dalam tangannya.
Akan tetapi akibat ke dua mengerikan hatinya.
Mungkin sekali akibatnya sebaliknya sama sekali, dan gadis itu akan merasa sakit hati kepadanya lalu memelihara dendam kesumat yang tiada habisnya terhadap dirinya.
Memikirkan akibat ke dua ini, Suma Boan bergidik.
"Dua buah kitab itu telah kulihat sepintas lalu, yang sebuah adalah kitab ilmu silat dan yang sebuah lagi ilmu pedang. Akan tetapi Sian Eng telah memiliki tenaga kecepatan dan gerakan yang luar biasa anehnya yang tak mungkin ia pelajari dari dua buah kitab itu, apalagi hanya dalam waktu dua pekan. Agaknya banyak rahasia aneh di dalam gua itu. Aku harus memberi tahu suhu.. ah, tidak, kalau suhu yang menemukan semua itu, tentu takkan diberikan kepadaku.."
Demikianlah, Suma Boan melamun dan memeras pikirannya.
Akhirnya ia mengambil keputusan untuk mencari kesempatan baik dan kalau kesempatan ini terbuka, ia sendiri yang akan menyelidiki ke dalam gua.
Akan tetapi untuk itu ia harus membuat persiapan.
Sebelum melakukan tugas penting ini, lebih dulu ia harus menemui gurunya dan kebetulan gurunya akan membuat pertemuan di puncak Thai-san.
Maka berangkatlah Suma Boan ke arah Thai-san.
Adapun Sian Eng, setelah melempar keluar Suma Boan, sambil terisak-isak lalu menyambar dua buah kitab dan selagi Suma Boan bertanding melawan Liu Hwee, Ia mempergunakan kesempatan itu untuk melesat keluar dari jendela bilik perahu, terus melompat ke darat dan melarikan diri sambil menangis tersedu-sedu sepanjang jalan.
Akan tetapi, kadang-kadang ia tertawa dan memaki-maki diri sendiri.
Mulai saat itu, apabila teringat akan nasibnya, teringat kepada Suma Boan, keadaan Sian Eng menjadi berubah tidak normal lagi, suka menangis dan tertawa berganti-ganti.
Tujuan hatinya hendak mencari kakaknya, Suling Emas, untuk mengadukan semua hal ihwalnya ini, untuk mengadukan penasarannya dan mohon kepada kakak tirinya untuk membalaskan dendamnya.
Akan tetapi apabila ia dalam keadaan tenang, ia hanya menangis perlahan dan termenung-menung, akan tetapi sifat liar itu lenyap.
Dengan cepat Sian Eng yang pernah mendengar tentang niat Suling Emas mewakili ibunya ke Thai-san, juga menyusul ke Thai-san untuk bertemu dengan Suling Emas.
Demikianlah, setelah tiba di lereng Thai-san, secara kebetulan sekali ia yang berada di bawah jurang melihat orang jatuh meluncur dari atas.
Betapapun berubahnya watak Sian Eng, melihat orang terancam maut ini, tak dapat ia berpeluk tangan, timbul sifat satria keturunan ayahnya.
Ia lalu mempergunakan tenaga Ban-kin-pek-ko-chiu dan ternyata ia berhasil menolong Bok Liong.
Ketika melihat bahwa yang ia tolong adalah Lie Bok Liong, seketika timbul rasa malu di hatinya karena ia merasa bahwa ia telah menjadi seorang yang terhina, maka tanpa banyak cakap ia lari meninggalkan pemuda yang ditolongnya itu dan terus ia mendaki puncak dengan kecepatan luar biasa.
"Bagus, bagus sekali, Heh-heh-heh-heh"
Suara ini disusul ketawa bergelak yang mengumandang di lain bagian dari lereng Gunung Thai-san, keluar dari sebuah hutan yang penuh pohon pek.
Hutan kecil ini merupakan hutan yang paling kaya akan tumbuh-tumbuhan obat-obatan yang tumbuh liar di bawah pohon pek itu.
"Bagus, wah-wah-wah. Kalau kita pergi ke pasar dan kau main seperti ini, aku memukul tambur dan canang, tentu kita mendapat banyak uang, heh-heh-heh-heh"
Suara itu berteriak-teriak lagi kegirangan.
Ternyata suara ini keluar dari mulut seorang kakek yang pendek lucu, yang bukan lain adalah Gan-lopek.
Dia berdiri menari-nari kegirangan, mengangkat ibu jari menyatakan jempolnya sambil memandang ke arah Lin Lin yang sedang bermain-main di atas sebatang balok yang melintang diikatkan pada dua batang pohon di kanan kiri.
Tadinya Lin Lin berloncat-loncatan dan bersilat di atas balok yang tingginya dua meter lebih itu, bersilat dengan gesit dan dengan pengerahan gin-kang yang luar biasa.
Kini gadis itu dengan kedua kakinya dikaitkan pada balok melintang, tubuhnya berayun-ayun dan berputar-putar seperti baling-baling pesawat terbang.
Mendengar ucapan terakhir dari Gan-lopek, Lin Lin yang tadinya merasa bangga dan girang akan pujian-pujian itu, tiba-tiba tubuhnya melayang dan tahu-tahu ia berdiri di depan Gan-lopek sambil bertolak pinggang dan mulutnya cemberut.
"Apa kau bilang, Kek? Kau mau anggap aku seperti komedi monyet, ya? Terlalu sekali"
Tiba-tiba gadis ini memasang kuda-kuda yang aneh, kedua kakinya jinjit sambil berkata lagi.
"Hayo kau layani hasil latihanku, Kek"
Setelah berkata demikian, dengan gerak langkah perlahan Lin Lin bertindak maju dan kedua tangannya diangkat seperti orang memberi hormat, kemudian tiba-tiba didorongkan ke depan, mengarah dada Gan-lopek.
"Ehhh, jangan.."
Gan-lopek kaget setengah mati dan cepat ia membuang diri ke belakang dan bergulingan ketika mendengar desir angin yang dahsyat keluar dari pukulan gadis itu.
Hawa pukulan yang amat berbahaya itu menyambar terus ke depan dan..
"kraaakkkkk"
Patah dan tumbanglah batang pohon yang berdiri di belakang Gan-lopek tadi.
"Eh, ganas"
Eh, keji"
Gan-lopek melompat-lompat.
"Apakah kau hendak membunuhku, bocah liar?"
Sejenak Lin Lin sendiri tertegun menyaksikan hebatnya akibat pukulannya, akan tetapi kemudian ia menjadi girang sekali, menghampiri dan merangkul pundak si kakek sambil tertawa-tawa.
"Masa aku hendak membunuhmu, Kek? Andaikata aku mau, mana mampu? Jangan kau main-main"
"Heh-heh-heh-heh, kaulah yang main-main, Lin Lin, pukulan-pukulanmu hebat, jurus-jurusmu luar biasa dan kau sudah berhasil. Selamat, selamat.."
"Kek, banyak terima kasih. Kaulah yang memberi petunjuk caraku berlatih sehingga aku dapat menguasai tenaga sin-kang yang selalu mendesak di dalam diriku semenjak aku melatih ilmu-ilmu pukulan ini."
"Hemmm, entah iblis mana yang sudah menurunkan ilmu iblis ini kepadamu. Biarpun kau tidak memberi tahu dan aku pun tidak tertarik untuk mengetahui, namun jurus-jurus yang kau latih ini adalah jurus-jurus iblis yang hanya sejajar dengan ilmu-ilmu yang dimiliki Thian-te Liok-koai. Mengerikan"
Tiba-tiba empek ini meloncat dan memukul-mukul kepalanya sendiri.
"Wah-wah-wah, keenakan bersenang-senang dengan gadis cantik di hutan ini sampai lupa bahwa waktunya telah tiba. Hayo kita ke puncak, jangan-jangan kita akan terlambat menonton pertunjukkan yang terhebat di kolong langit"
Setelah berkata demikian, ia menggandeng tangan gadis itu dan diseretnya diajak lari cepat.
Akan tetapi sambil tertawa-tawa Lin Lin merenggut lepas tangannya dan berkata.
"Kakek Gan, hayo kita berlumba lari cepat ke puncak"
Maka berlari-larilah kakek dan gadis itu seperti dua orang iblis beterbangan, cepat bukan main, berloncat-loncatan sambil tertawa-tawa.