Eps 12 Cinta Bernoda Darah - Kho Ping Hoo
Baca online Cinta Bernoda Darah - Kho Ping Hoo
Cersil Cinta Bernoda Darah - Kho Ping Hoo.
Diam-diam kakek ini kagum bukan main, mulailah ia meragu apakah pilihan muridnya ini tepat, karena ia melihat sifat-sifat liar dan tak mau ditundukkan dalam diri Lin Lin, sedangkan muridnya, Lie Bok Liong, adalah seorang pemuda yang sabar dan tidak berandalan.
Sementara itu, dalam benak Lin Lin timbul pikiran lain daripada yang dipikirkan Gan-lopek.
Gadis ini memikirkan Suling Emas.
Selama ini memang ia selalu memikirkan Suling Emas dengan hati mengandung bermacam-macam perasaan.
Ia marah dan penasaran karena Suling Emas meninggalkannya dan seperti marah-marah kepadanya padahal ia memukul roboh seorang perempuan yang menjadi musuh besar Suling Emas.
Mengapa Suling Emas marah-marah kepadanya?
Mengapa Suling Emas menolong perempuan yang hampir mampus terkena pukulan saktinya itu?
Bukankah perempuan itu bersumpah hendak membunuhi isteri dan anak-anak Suling Emas?
Bukankah perempuan yang keji itu di depan kuburan ayahnya menyatakan cintanya kepada Suling Emas?
Perempuan macam itu harus dibunuh.
Berani mencinta Suling Emas.
Dan berani bersumpah hendak membunuh isteri Suling Emas.
Padahal isteri Suling Emas, kalau kelak ada tentu..
dirinya.
Berpikir sampai di sini, merahlah kedua pipi Lin Lin dan ia menarik napas panjang, pandang matanya mesra teringat akan peristiwa di gedung perpustakaan kaisar ketika ia dipeluk dan diciumi Suling Emas.
Akan tetapi wajahnya menjadi muram karena seketika ia teringat bahwa perbuatan itu dilakukan Suling Emas karena salah duga, mengira dia orang lain.
Panaslah perutnya memikirkan hal ini.
Selain marah dan penasaran terhadap pendekar yang dipujanya itu, ia pun merasa khawatir dan gelisah.
Oleh karena itu, ingin sekali ia lekas-lekas bertemu dengan Suling Emas.
Maka setelah Gan-lopek mengajaknya ke puncak, ia seakan-akan hendak terbang agar dapat cepat cepat sampai ke puncak dan bertemu dengan pujaan hatinya.
Sama sekali ia tidak peduli akan pertandingan antara Thian-te Liok-koai yang oleh Gan-lopek disebut sebagai pertunjukkan terhebat di kolong langit itu.
Baik kita tinggalkan dulu Lin Lin dan Gan-lopek yang berlari-larian cepat menuju puncak itu untuk sejenak menengok keadaan Suling Emas yang sudah lama kita tinggalkan.
Ketika Suling Emas menyaksikan dan mendengar sumpah yang diucapkan oleh Bu-eng-sin-kiam Tan Lian di depan kuburan mendiang Hui-kiam-eng Tan Hui, ia sampai pucat saking tergetarnya perasaannya.
Benar-benar hidupnya telah menimbulkan banyak hal-hal yang merupakan malapetaka besar.
Persoalan antara ayah gadis itu dan ibunya, sudah dibentangkan oleh Bu Kek Siansu dan merupakan persoalan antara mereka sendiri yang sebenarnya tidak ada sangkut-pautnya dengan Tan Lian dan dia.
Akan tetapi agaknya kini timbul lagi hal lain yang mencelakakan, yaitu kenyataan pahit bahwa gadia baju hijau, ahli pedang itu, ternyata jatuh cinta kepadanya "Celaka dua belas"
Dan Tan Lian bersumpah di depan kuburan ayahnya untuk membunuh isteri dan anak-anaknya.
Dapat dibayangkan betapa hancur hati Suling Emas, betapa duka dan menyesalnya.
Akan tetapi percobaan yang menimpa hatinya ini menjadi lebih hebat ketika Lin Lin tiba-tiba muncul dan menyerang Tan Lian tanpa ia mampu mencegahnya.
Pukulan yang dahsyat itu tak bisa lain adalah hasil mempelajari ilmu pukulan peninggalan Pat-jiu Sin-ong, hebatnya bukan kepalang dan sekali memeriksa saja tahulah Suling Emas bahwa ia tidak mampu menolong keselamatan nyawa Tan Lian.
Tak seorang pun di dunia ini akan mampu, kecuali tentu saja si Raja Obat di lereng Thai-san.
Maka tanpa banyak cakap lagi ia lalu memondong tubuh Tan Lian dan setelah menegur Lin Lin, ia melesat pergi meninggalkan Lin Lin.
Ada tiga hal yang membuat ia sengaja meninggalkan Lin Lin sambil memondong tubuh Tan Lian yang terluka hebat, yaitu pertama-tama untuk pergi mencari Yok-ong (Raja Obat) di lereng Thai-san, ke dua untuk mewakili mendiang ibunya bertemu dan menguji ilmu dengan para anggauta Thian-te Liok-koai.
Dan hal yang ke tiga adalah karena ia sengaja hendak menjauhi Lin Lin.
Ia merasa betapa besar bahayanya kalau ia terus melakukan perjalanan bersama gadis itu.
Gadis remaja itu secara jelas sekali membayangkan kasih sayang kepadanya, membayangkan cinta berahi dan agaknya mempunyai keyakinan bahwa ia pun membalas cinta kasih Lin Lin.
Dan inilah yang amat ia khawatirkan.
Dekat dengan Lin Lin sama dengan dekat dengan setangkai bunga yang indah jelita, yang semerbak mengharum, yang mendatangkan rasa suka di hati, mendatangkan rasa gembira.
Beratlah rasanya untuk mempertahankan hati.
Lebih berat daripada menghadapi seratus orang lawan tangguh.
Ia maklum bahwa lambat-laun ia akan jatuh pula, tak mungkin seorang laki-laki yang normal takkan runtuh hatinya menghadapi seorang gadis yang begitu cantik jelita, dengan muka yang mirip dengan muka bekas kekasihnya, Suma Ceng, dengan watak yang demikian jenaka, gembira, lincah dan dengan hati yang putih bersih tak ternoda sedikit pun kekotoran duniawi.
Kalau dilanjutkan pergaulannya dengan Lin Lin, akhirnya sifat egonya (mementingkan diri sendiri) akan mengalahkannya, dan kalau sudah terjadi demikian, mau tak mau ia akan mengisi kekosongan hatinya dengan Lin Lin, sebagai pengganti Suma Ceng.
Akan tetapi, bukanlah demikian dasar perasaan Suling Emas.
Ia tidak ingin merusak hidup Lin Lin.
Gadis itu masih seorang remaja, sedangkan dia sudah cukup dewasa, terlalu tua untuk Lin Lin.
Hatinya telah terlalu kering untuk bermain cinta.
Apalagi setelah timbul peristiwa semacam sumpah Tan Lian, ia tidak ingin menyeret orang lain, apalagi Lin Lin yang ia sayang, ke dalam rantai dendam yang mengerikan itu.
Demikianlah, dengan batin menderita Suling Emas berlari cepat membawa Tan Lian ke Thai-san.
Harus ia akui bahwa perjalanan beberapa hari bersama Lin Lin cukup membuat ia kini merasa rindu, merasa kehilangan sehingga ia maklum betapa besar bahayanya kalau perjalanan bersama itu dilakukan lebih lama lagi.
Suling Emas yang berpandangan luas, tidak marah kepada Lin Lin karena gadis itu memukul Tan Lian secara demikian ganas.
Sebagai seorang yang berpengalaman ia dapat mengerti mengapa Lin Lin melakukan hal itu dan hal ini menambah keyakinannya bahwa tidak salah, Lin Lin mencintanya.
Inilah yang membuat Lin Lin memukul Tan Lian.
Bukankah Lin Lin ikut pula mendengar sumpah itu?
Sumpah yang menjelaskan bahwa Tan Lian mencinta Suling Emas dan akan membunuh isteri dan anak-anaknya?
Inilah sebabnya mengapa Lin Lin memukul Tan Lian, karena hendak membelanya, karena..
cemburu pula.
Ketika berhenti sebentar di pinggir sebuah sungai kecil di luar hutan, untuk sekedar menyegarkan tubuh dan minum, Tan Lian mengerang perlahan dan membuka matanya.
Gadis itu dibaringkan oleh Suling Emas di atas rumput hijau, Suling Emas segera menghampiri.
".. kau..?"
Tan Lian terbelalak memandang, kemudian menggosok-gosok kedua matanya dengan tangan, seakan-akan meragukan pandang matanya, serasa dalam mimpi.
Suling Emas menggerakkan tangannya, mencegah gadis itu bangkit.
Akan tetapi sebetulnya tak perlu ia lakukan ini karena begitu bergerak, Tan Lian menyeringai kesakitan dan tidak kuat bangun.
"Kau terluka hebat, harap jangan bergerak. Aku sedang membawamu ke Thai-san, untuk minta pertolongan Kim-sim Yok-ong (Raja Obat Berhati Emas). Kau tenanglah. Tan-siocia (Nona Tan), kurasa Yok-ong akan mampu menyembuhkanmu."
Tan Lian nampak gelisah.
"Kau.. kau mendengar semua..?"
Suling Emas dapat menduga apa yang digelisahkan gadis ini. Ia menarik napas panjang, mengangguk dan berkata halus.
"Aku mendengar semua, akan tetapi sekarang juga sudah lupa lagi apa yang kudengar."
Jawabannya ini berarti bahwa hal-hal yang ia dengar diucapkan gadis itu tidak dipikirkannya dan ia menjamin takkan ia ceritakan kepada orang lain.
Biarpun Tan Lian maklum akan arti jawaban ini, namun tak dapat dicegah lagi ia merasa berduka dan malu.
Air matanya mengucur keluar dan ia menangis terisak-isak.
Suling Emas menarik napas panjang lagi.
Ia tahu apa yang menyebabkan gadis ini menangis, maka ia tak dapat bicara banyak.
Diam-diam ia merasa kasihan sekali kepada gadis baju hijau yang gagah perkasa ini.
Ia maklum bahwa Tan Lian adalah seorang pendekar wanita yang tinggi ilmu silatnya, jauh lebih tinggi daripada Lin Lin.
Kalau saja Lin Lin tidak mempergunakan ilmunya yang ia dapat dalam tongkat pusaka Beng-kauw, tak mungkin Lin Lin mampu merobohkan Tan Lian, apalagi hanya dengan sekali pukul.
Ilmu yang dimiliki Lin Lin itu benar-benar hebat dan berbahaya sekali, lagi ganas dan dahsyat.
Jangankan Tan Lian, dia sendiri kalau ilmu itu sudah terlatih baik oleh Lin Lin, tidak akan mudah dapat mengalahkannya.
Pat-jiu Sin-ong tidak percuma terkenal sebagai tokoh besar puluhan tahun yang lalu, dan ilmu yang ia ciptakan itu merupakan inti sari daripada semua kepandaian yang menjadi ilmu pusaka Beng-kauw.
"Tenanglah, Nona. Memang nasib kita yang buruk, terseret oleh gelombang yang disebabkan oleh orang-orang tua kita, terikat oleh karma yang buruk. Akan tetapi, baik ayahmu maupun ibuku sudah meninggal dunia, mengapa kita tidak mengubur riwayat mereka bersama jenazah mereka? Mengapa kita harus mengikatkan nasib kita dengan riwayat dan urusan mereka? Ah, Nona Tan, kuharap kau tidak berpemandangan sesempit itu.."
Tan Lian menghentikan tangisnya, memandang dengan mata merah dan ia menahan isak ketika berkata.
"Berpemandangan sempit? Kau.. kau tidak merasakan, tentu saja pandai mencela. Di dunia aku hanya hidup berdua dengan ayah. Kematian ayah karena dibunuh ibumu membuat aku sebatangkara. Kau salahkan aku kalau aku bersumpah mendendam dan hendak membalas kematian ayah? Akan tetapi Thian tidak menaruh kasihan kepadaku. Aku terlambat"
Suaranya terisak.
"Aku terlambat setelah aku berlatih dengan susah payah selama bertahun-tahun, setelah aku rela tinggal seorang diri.., tidak mau menikah.. menjadi perawan tua.. semua ini hanya untuk satu tujuan, yaitu membalas sakit hati. Setelah aku merasa sudah cukup kuat dan hendak mencari ibumu, aku mendengar berita tentang kematiannya dan tentang keturunannya, yaitu engkau. Apa yang dapat kulakukan lagi selain menimpakan dendam kepadamu? Tapi.. aku tidak becus.. aku.. aku tidak mampu mengalahkanmu.."
Sampai di sini Tan Lian menangis lagi.
Suling Emas mengerutkan keningnya.
Ia dapat membayangkan penderitaan batin yang selama ini menimpa diri Tan Lian.
Memang benar hebat dan berat sekali dan diam-diam ia memuji kebaktian Tan Lian yang demi untuk berbakti kepada ayahnya sampai berkorban sedemikian rupa, menyia-nyiakan kebahagiaan hidupnya sendiri, rela menjadi seorang gadis yang sudah agak terlambat usianya, kurang lebih tiga puluh tahun, padahal gadis ini cantik dan gagah, tentu dalam usia tujuh belas atau delapan belas sudah menjadi isteri orang kalau saja ayahnya tidak meninggal, terbunuh oleh ibunya.
"Tan-siocia harap kau jangan berduka tentang kekalahan. Ilmu kepandaian tak dapat diukur sampai di mana puncaknya, dan siapa yang mengejar kepandaian untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi, ia akan gagal karena pasti akan menemui yang lebih tinggi lagi. Andaikata ibuku masih hidup, agaknya kau pun takkan mampu menandinginya, karena biarpun kau telah menggembleng dirimu belasan tahun lamanya, ibuku pun terus memperdalam ilmunya selama puluhan tahun"
"Lebih baik kalau aku tewas dalam usahaku membalas ibumu, daripada seperti sekarang ini.."
Ia terisak.
".. tidak saja aku tak mampu mengalahkanmu, juga kau.. kau tidak membunuhku, malah menolongku. Aku tidak kuat menanggung penghinaan ini, lebih baik kau bunuh aku"
"Nona, di antara kita tidak ada permusuhan pribadi, mengapa aku harus membunuhmu? Tidak, aku, tidak akan berpemandangan begitu picik. Dan kuharap kau pun dapat sadar akan hal ini, bahwa di antara kita tidak ada urusan pribadi yang membuat kita saling benci dan saling bermusuhan."
"Akan tetapi.., aku sudah bersumpah.. untuk membunuh isterimu.."
"Jangan khawatir, aku tidak beristeri,"
Kata Suling Emas, tersenyum.
"Tapi wanita yang memukulku itu? Ah, dia tentu tunanganmu"
Suling Emas kembali menggelengkan kepalanya, tapi kini keningnya berkerut.
"Tapi, jelas dia mencintamu"
Suling Emas kaget bukan main mendengar pernyataan ini. Bagaimana gadis ini bisa tahu bahwa Lin Lin mencintanya? "Hemmm, mengapa kau berkata demikian?"
Katanya, suaranya tenang saja, padahal jantungnya berdebar keras.
"Dia cemburu kepadaku.. eh, kumaksudkan.."
Tan Lian menjadi gugup sekali karena tanpa ia sengaja atau sadari, ia sendiri sudah membuka rahasia hatinya.
"Tak mungkin, Nona. Dia adalah adik tiriku"
Tan Lian tercengang dan entah mengapa, tiba-tiba wajahnya berseri gembira.
Akan tetapi hanya sebentar, karena ia lalu menghela napas dan berkata dengan lirih dan berat.
"Aku sudah bersumpah memusuhimu, tak perlu kau berlaku baik kepadaku, tiada gunanya. Lebih baik aku mati saja, tak perlu kau carikan orang pandai untuk berobat."
"Hemmm, mengapa kau begini putus harapan, Nona? Kau masih muda, kau berhak hidup.."
"Muda, katamu? Seorang wanita sudah berusia.. seperti aku, kau bilang masih muda? Aku adalah perawan tua. Tiada harapan lagi. Untuk apa hidup hanya menjadi bahan ejekan? Sebatangkara, tiada keluarga, tugas pun terbengkalai tak terpenuhi, apa artinya hidup? Aku sudah tua"
Kembali air matanya mengalir turun.
"Kau masih muda, Nona Tan. Muda dan cantik jelita lagi gagah perkasa. Kurasa, dia yang merasa dirinya pandai dan tampan, satria-satria di dunia kang-ouw, akan berebutan untuk mendapatkan perhatianmu, dan akan merasa bahagia sekali kalau menjadi pilihanmu."
Sepasang pipi gadis itu tiba-tiba menjadi merah, matanya memandang lebar-lebar ke arah Suling Emas seakan-akan hendak menyelidiki apakah ucapan itu keluar dari hati yang jujur.
Melihat sepasang mata Suling Emas memandang sungguh-sungguh dan membayangkan kejujuran, Tan Lian menjadi begitu girang sehingga ia tergagap.
"Be.. betulkah..?"
Suling Emas lega hatinya. Ia mengangguk meyakinkan, lalu membungkuk dan memondong tubuh Tan Lian lagi sambil berkata.
"Mari kita lanjutkan perjalanan agar kita segera sampai di Thai-san. Tak baik bagi kesehatanmu terlalu banyak bicara seperti ini."
Di dalam pondongan pemuda itu, Tan Lian termenung-menung.
Dia masih belum beristeri, usianya sudah lanjut pula, tentu lebih tua beberapa tahun daripada dia sendiri.
Permusuhan antara orang tua tentu saja akan hapus kalau mereka menjadi suami isteri.
Dia begitu baik, begini gagah perkasa, dan bukankah dia tadi memuji-muji bahwa aku cantik jelita dan gagah?
Bukankah pujian yang keluar dari mulut seorang laki-laki, pujian yang bukan hanya kosong, yang keluar dari hati sejujurnya, menjadi bayangan daripada cinta kasih?
Makin muluk-muluk lamunan Tan Lian sehingga akhirnya ia tertidur nyenyak di dalam pondongan Suling Emas.
Di lereng Thai-san yang agak tersembunyi, di bagian yang paling sunyi karena hanya penuh dengan hutan-hutan belukar, terdapat sebuah pondok sederhana dan bersih, mempunyai banyak jendela sehingga di dalam pondok itu hawanya sejuk segar.
Inilah tempat tinggal Kim-sim Yok-ong, seorang kakek yang rambut dan jenggotnya sudah putih semua akan tetapi wajahnya tetap segar berseri dan kemerahan seperti wajah seorang pemuda remaja, sepasang matanya bersinar-sinar dan bentuknya indah seperti mata wanita cantik.
Jari-jari tangannya halus dan runcing seperti tangan seorang terpelajar, gerak-geriknya halus, tutur sapanya ramah dan sopan, pakaiannya sederhana dan dari kain murah, akan tetapi bersih sekali, sebersih kuku-kukunya dan rambutnya.
Inilah dia Kim-sim Yok-ong yang namanya terkenal di seluruh jagat, yaitu nama sebutannya, bukan nama aselinya karena nama aselinya tidak ada yang tahu.
Ia dijuluki Kim-sim (Hati Emas) karena kakek ini menolong kepada siapa saja yang perlu ditolong, tidak pilih kasih, tidak pandang bulu, tanpa pamrih, tanpa syarat seolah-olah hatinya terbuat daripada emas yang amat berharga penuh dengan cinta kasih akan sesamanya.
Di samping ini ia disebut Yok-ong (Raja Obat) karena ilmu pengobatan yang ia miliki benar-benar luar biasa sekali sehingga banyak orang bilang bahwa tidak ada penyakit di dunia ini yang tidak bisa diobati dan disembuhkan oleh Kim-sim Yok-ong.
Karena kebaikan hatinya yang tidak pandang bulu dan tidak pilih kasih inilah agaknya maka semua orang di dunia ini, termasuk mereka yang memiliki watak kasar dan buruk, semua segan-segan dan tidak berani mengganggunya.
Bukan tidak berani terhadap Kim-sim Yok-ong sendiri yang tak pernah dilihat orang bermain silat, akan tetapi tidak berani karena sekali dia mengganggu Kim-sim Yok-ong, tentu ia akan berhadapan dengan seluruh tokoh di dunia kang-ouw, baik tokoh kanan maupun kiri, tokoh putih maupun hitam, para pendekar maupun penjahat.
Agaknya Kim-sim Yok-ong sudah menjadi "milik"
Semua orang yang akan membelanya mati-matian.
Akan tetapi, tidaklah sering raja obat ini dikunjungi orang yang hendak berobat.
Pertama, karena tempat tinggalnya sering kali berpindah-pindah dan selalu ia memilih lereng-lereng gunung yang tinggi dan yang mempunyai tetumbuhan yang mengandung obat.
Ke dua, kepandaiannya yang istimewa adalah khusus untuk mengobati orang-orang terluka oleh pukulan-pukulan, oleh senjata-senjata rahasia atau oleh racun-racun.
Dalam hal inilah ia memang memiliki kepandaian istimewa.
Adapun kepandaiannya mengobati orang-orang sakit biasa, tidaklah istimewa, sama dengan tabib-tabib yang banyak terdapat di kota-kota.
Oleh karena itu pula maka hanya para anggauta dunia kang-ouw saja yang selalu mencari dan minta tolong kepada Kim-sim Yok-ong.
Dan justeru ini pula yang membuat namanya terkenal di antara para tokoh kang-ouw.
Bahkan tak boleh disangkal lagi, enam iblis Thian-te Liok-kai yang kini tinggal lima orang saja itu, sengaja memilih puncak Thai-san sebagai tempat mengadu ilmu karena pada waktu itu Kim-sim Yok-ong berada di gunung itulah.
Hal ini penting sekali karena mereka maklum bahwa pertandingan adu ilmu di antara mereka tentu sedikitnya akan mengakibatkan luka-luka yang parah dan mengerikan, dan hanya Kim-sim Yok-ong saja yang akan mampu mengobati.
Pada pagi hari itu, selagi Kim-sim Yok-ong mengatur akar-akar obat di atas genteng depan rumah untuk dijemur, datanglah Suling Emas yang memondong tubuh Tan Lian.
Sudah dua hari dua malam gadis itu berada dalam keadaan pingsan maka Suling Emas tidak pernah berhenti, berlari cepat siang malam sehingga ketika ia tiba di situ, keadaan pendekar ini lesu dan lemah, tubuhnya lelah sekali, tangannya kaku-kaku dan kakinya gemetar.
"Ayaaaaa.."
Kiranya Kim-siauw-eng (Pendekar Suling Emas) yang datang.
Ah, lagi-lagi kau melupakan kesehatan sendiri, sedikitnya dua hari dua malam tak pernah berhenti berlari untuk menolong seseorang.
Kim-siauw-eng, orang seperti engkau ini amat diperlukan dunia, dan berbahagialah engkau karena hidupmu telah kauisi dengan kemanfaatan bagi dunia.
Bawalah dia masuk, sebentar aku menyusul"
Suling Emas mengangguk.
"Terima kasih, Locianpwe."
Lalu ia melangkah memasuki pondok dan merebahkan tubuh Tan Lian di atas sebuah pembaringan di sudut ruangan.
Sedikit gelisah juga hati Suling Emas menyaksikan keadaan Tan Lian yang sudah pucat sekali mukanya, tubuhnya dingin dan kaku seakan-akan sudah mati.
Hanya napasnya yang lemah saja yang membuktikan bahwa gadis itu masih hidup.
Diam-diam Suling Emas berdoa semoga gadis itu tidak mati oleh pukulan maut Lin Lin, karena kalau hal ini terjadi, ia akan merasa berdosa dan makin menyesal mengingat bahwa semua ini adalah akibat daripada perbuatan ibu kandungnya yang lalu.
Tak lama kemudian Raja Obat itu memasuki pondok dengan langkah perlahan dan tenang sekali.
Suling Emas sudah mengenal watak Raja Obat ini, maka ia pun diam saja dan menanti sampai orang tua itu melakukan pemeriksaan.
Kim-sim Yok-ong menghampiri sebuah tempayan air di sudut luar, mencuci kedua tangannya, kemudian menyusutnya dengan kain bersih.
Barulah ia menghampiri Tan Lian tanpa menoleh ke arah Suling Emas yang masih berdiri di dekat pembaringan.
Tabib sakti itu membungkuk, memandangi Tan Lian dengan kening berkerut, mengulur tangan kiri menekan nadi tangan gadis itu dan tangan kanannya meraba-raba pundak dan leher.
"Uhhhhh.."
Katanya, agak tercengang.
"Aku mendengar berita bahwa Pat-jiu Sin-ong sudah meninggal dunia. Bagaimana nona ini bisa terkena pukulannya beberapa hari yang lalu?"
Suling Emas tidak merasa heran mendengar ini, sungguhpun ia menjadi makin kagum saja.
Tidak ada akibat pukulan yang bagaimana hebat pun di dunia ini yang tidak dikenal oleh Kim-sim Yok-ong.
"Bukan, Locianpwe. Pat-jiu Sin-ong memang sudah meninggal dunia dan tidak melakukan pukulan terhadap nona ini."
Kakek itu memandang dan tahulah ia bahwa Suling Emas tidak ingin bicara tentang pemukul nona ini. Ia menarik napas panjang dan berkata.
"Siapapun juga pemukulnya, sudah pasti bukan Beng-kauwcu Liu Mo, juga bukan Kauw Bian Cinjin. Kalau bukan Pat-jiu Sin-ong, entah siapa yang mampu melakukan pukulan ini. Hemmm, siapapun juga, dia menggunakan pukulan Beng-kauw dan aneh sekali bahwa kau yang membawanya ke sini untuk kuobati."
Ucapan ini tidak langsung, namun diam-diam Suling Emas mengerti bahwa kakek itu sudah tahu segalanya, sudah mendengar bahwa dia adalah putera Tok-siauw-kui dan cucu Pat-jiu Sin-ong.
Alangkah cepatnya berita tersiar, tidak heran bahwa tokoh-tokoh kang-ouw mencari dan hendak mengeroyoknya.
Apalagi kalau diingat bahwa banyak tokoh kang-ouw mengunjungi kakek ini untuk minta obat.
"Kau keluarlah dulu, Kim-siauw-eng, biar kucoba untuk mengobati nona ini."
Suling Emas lalu mengangguk, melangkah keluar dan duduk di atas sebuah batu hitam yang terdapat di depan pondok itu.
Memang di depan pondok terdapat sekumpulan batu-batu besar yang beraneka warna.
Inilah sebuah di antara kesukaan Kim-sim Yok-ong, yaitu mengumpulkan batu-batu yang licin halus dan aneh-aneh macam serta warnanya.
Lebih dua jam Suling Emas menanti, belum juga ada berita dari dalam.
Ia melamun dan bermacam pikiran menggodanya, terutama sekali pikiran tentang diri Lin Lin.
Ia merasa amat sayang dan kasihan kepada gadis remaja itu, malah hampir ia jatuh cinta.
Berulang kali Suling Emas menarik napas panjang, bukan sekali-kali menyesali nasibnya, melainkan menyesal mengapa setelah ibunya menjadi sebab kegegeran dunia, kini di amenjadi sebab pula kegegeran hati gadis-gadis cantik.
Tiba-tiba terdengar suara ketawa seperti suara katak di musim hujan.
Suling Emas cepat mengangkat muka dan kaget serta herannya bukan main ketika ia melihat dua orang kakek sudah berdiri dalam jarak lima meter di depannya, masing-masing kakek itu memegang leher baju seorang penduduk gunung.
Yang membuat Suling Emas kaget dan heran adalah betapa kedua orang kakek itu dapat datang tanpa ia ketahui sama sekali, tahu-tahu sudah berada di situ.
Terlalu dalamkah ia tadi tenggelam dalam lamunannya sehingga ia tidak mendengar kedatangan mereka, ataukah mungkin mereka itu luar biasa saktinya?
Akan tetapi sepanjang ingatannya, hanya Bu Kek Siansu saja yang pandai datang dan pergi tanpa ia ketahui.
Ia memandang penuh perhatian.
Seorang di antara dua kakek itu rambut dan jenggotnya panjang berwarna putih seperti perak, bahkan alis matanya juga putih, jubahnya panjang dan putih pula.
Pendeknya, tidak ada warna lain terdapat pada diri kakek ini, malah kulitnya kalau diperhatikan juga luar biasa putihnya, seakan-akan tidak ada darah di bawah kulit itu.
Diam-diam Suling Emas kaget.
Orang ini membayangkan tenaga sin-kang yang mujijat, akan tetapi bagaimana seorang dengan kepandaian sehebat ini belum pernah ia jumpai dan tidak ia kenal sama sekali?
Kemudian perhatiannya teralih kepada orang ke dua.
Dia ini juga seorang kakek tua, rambutnya awut-awutan, kumis dan jenggotnya tebal panjang.
Akan tetapi berbeda dengan kakek pertama yang rambutnya serba putih, kakek ini rambut dan jenggotnya kemerah-merahan, juga pakaiannya serba merah, sepatu rumputnya merah, kulit badannya juga kemerahan seakan-akan setiap hari dibakar matahari.
Yang membuat Suling Emas diam-diam terkesiap hatinya adalah ketika ia melihat mata kedua orang kakek itu.
Kakek pertama matanya putih hampir tidak kelihatan bagian hitamnya, akan tetapi kakek ke dua matanya merah dan hampir tidak tampak bagian putihnya.
Benar-benar dua orang kakek yang luar biasa sekali.
Jangankan bertemu mereka, mendengar tentang mereka pun belum pernah.
Kedua orang kakek itu masih tertawa-tawa, dan kedua orang penduduk gunung yang dicengkeram leher bajunya itu kelihatan ketakutan sekali.
"Hah, biruang busuk, benar inikah rumah Kim-sim Yok-ong?"
Tiba-tiba si kakek putih bertanya kepada orang yang dicengkeramnya.
Orang itu mengangguk-angguk, dengan tubuh gemetar dan biarpun mulutnya bergerak-gerak, namun tidak ada suara yang keluar dari bibirnya.
"Huah-hah-hah, si tabib memelihara anjing untuk menjaga pondok agaknya"
Kata si kakek merah sambil menudingkan telunjuk ke arah Suling Emas.
"Biar kuusir dulu anjing itu, menyebalkan benar"
Setelah berkata demikian, kakek merah ini tiba-tiba menggerakkan tangan kanannya seperti orang mendorong ke arah Suling Emas yang masih duduk di atas batu hitam.
Terdengar suara bercuitan menyambar ke arah Suling Emas.
Pendekar ini kaget dan kagum juga menyaksikan pukulan jarak jauh yang demikian dahsyat, akan tetapi ia tidak menjadi gentar.
Dengan tenang Suling Emas yang biasa menghormat kaum tua, sengaja tidak mau menangkis, melainkan ia dalam keadaan masih bersila tubuhnya, melayang ke atas mengelak pukulan dan seperti seekor burung, tubuhnya yang masih duduk bersila itu hinggap pada batu lain di sebelah kiri.
Pukulan jarak jauh itu tidak mengenai dirinya, akan tetapi terdengar suara keras dan..
batu hitam tempat duduk Suling Emas tadi pecah-pecah dan di antara muncratnya batu itu tampak cahaya berapi yang panas luar biasa.
"Anjing penjaga yang baik.."
Seru kakek putih dan dengan mulut menyeringai memperlihatkan deretan giginya yang putih berkilauan, kakek ini pun menggerakkan tangan kanannya mendorong ke arah Suling Emas.
Pendekar ini masih belum hilang kagetnya menyaksikan akibat pukulan jarak jauh si kakek merah yang benar-benar dahsyat itu, pukulan yang mengandung tenaga raksasa penuh hawa panas membakar yang sekali mengenai tubuh manusia akan membuat tubuh itu tidak hanya remuk akan tetapi juga terbakar.
Kini melihat datangnya pukulan jarak jauh yang sama sekali tidak bersuara namun membuat rumput-rumput di atas tanah yang dilalui seketika menjadi layu, ia cepat-cepat menggerakkan tubuhnya melompat tinggi dan kemudian turun berdiri dengan keadaan siap siaga.
Ia melihat betapa batu yang didudukinya bergoyang-goyang sedikit, akan tetapi tidak pecah seperti tadi, malah tampaknya tidak apa-apa.
Tadinya ia mengira bahwa kepandaian kakek putih itu kalah jauh oleh kakek merah, akan tetapi tiba-tiba si kakek merah berseru.
"Wah-wah, agaknya kau berusaha keras mengalahkan aku. Huah-hah-hah"
Suling Emas kaget dan melihat lagi.
Matanya terbelalak kelika ia melihat batu besar yang disangkanya tidak apa-apa itu, kini mulai bergerak-gerak tak lama kemudian runtuh dan kiranya sudah hancur menjadi debu.
Diam-diam ia kaget sekali.
Dua orang kakek ini benar-benar merupakan orang-orang yang paling sakti yang pernah ia jumpai atau dengar, kecuali tentu saja Bu Kek Siansu, akan tetapi kakek itu memang boleh disejajarkan dengan manusia biasa.
Cepat ia menjura penuh penghormatan sambil berkata.
"Mohon maaf sebesarnya bahwa karena teecu tidak mengenal siapa adanya Ji-wi Locianpwe, maka terlambat untuk mengadakan penyambutan. Teecu juga hanya seorang tamu dari tuan rumah Kim-sim Yok-ong yang kini sedang sibuk mengobati orang sakit. Harap Ji-wi sudi menunggu, biarlah teecu menyingkir kalau kehadiran teecu tidak menyenangkan hati Ji-wi."
Biarpun maklum bahwa dua orang kakek itu sakti luar biasa, akan tetapi tentu saja Suling Emas tidak merasa takut.
Ucapannya yang sopan dan mengalah bukanlah bayangan daripada rasa takut, melainkan bayangan daripada sikapnya yang menghormat orang asing yang lebih tua, dan juga karena ia sedang menghadapi tugas penting mewakili ibunya menghadapi anggauta-anggauta Thian-te Liok-koai, maka dia tidak mau mencari perkara lain yang akan mengacaukan tugasnya.
"Huah-hah-hah, orang muda ini boleh juga. Heh, orang muda, kami datang karena mendengar nama besar Kim-sim Yok-ong yang menjulang tinggi sampai ke langit. Akan tetapi kami tidak percaya kalau tidak membuktikan sendiri sampai di mana kepandaiannya. Kata orang, tabib sombong ini dapat menghidupkan lagi orang mati terkena racun"
Diam-diam Suling Emas mendongkol. Dua orang kakek ini boleh jadi sakti, akan tetapi sikap mereka berandalan.
"Saya rasa berita itu tidak benar, Locianpwe. Sepandai-pandainya orang, bagaimana bisa menghidupkan orang yang sudah mati? Akan tetapi memang benar bahwa Kim-sim Yok-ong pandai sekali mengobati korban-korban segala macam pukulan dan senjata beracun yang bagaimana parah sekalipun"
"Huh, huh"
Si kakek putih, berbeda dengan si kakek merah yang selalu tertawa mengejek, kalau bicara selalu bersungut-sungut.
"Siapa mau percaya? Coba dia sembuhkan akibat pukulanku ini"
Setelah berkata demikian kakek putih ini melemparkan tawanannya ke atas tanah dan tangan kirinya bergerak.
Terdengar jerit mengerikan dan tubuh orang gunung itu tidak berkutik lagi, kaku kejang seperti sebatang balok.
"Huah-hah-hah, bagus. Memang tanpa diuji mana mau percaya? Andaikata dia bisa menyembuhkan dia itu, tak mungkin dia bisa menyembuhkan orang ini"
Ia pun mendorong tawanannya ke depan dan memukul.
Kembali terdengar jerit keras dan orang gunung ke dua ini berkelojotan di atas tanah.
Suling Emas kaget dan marah, akan tetapi dua orang kakek itu sudah berkelebat dan lenyap dari situ.
Hanya gema suara ketawa kakek merah yang masih terdengar.
Ingin Suling Emas mengejar dan menegur kakek itu, bahkan ia pun siap untuk mengadu kepandaian dengan dua orang kakek yang kejam itu.
Akan tetapi karena kedua orang penduduk gunung yang tak berdosa itu berada dalam keadaan luka hebat dan maut mengancam nyawa mereka, Suling Emas membatalkan niatnya mengejar, kemudian cepat ia menghampiri dua orang korban untuk memeriksa keadaannya.
Tercenganglah Suling Emas ketika menyaksikan keadaan dua orang itu.
Mereka sama sekali tidak terluka, akan tetapi keadaan mereka sungguh mengerikan.
Korban kakek putih masih tetap kaku kejang, seluruh tubuhnya mulai berubah warna menjadi keputih-putihan dan biarpun masih bernapas, namun ketika diraba terasa dingin seperti salju"
Sebaliknya, korban kakek merah berkelojotan, tubuhnya mulai kemerahan-merahan, bahkan dari lubang-lubang tubuhnya mulai keluar asap tipis dan kalau diraba darahnya panas seperti api.
Melihat keadaan mereka ini, cepat-cepat Suling Emas lari memasuki pondok untuk memanggil Kim-sim Yok-ong.
Ia maklum bahwa kakek itu sedang mengobati Tan Lian dan biasanya ia pun tidak berani mendesak atau mengganggu si raja obat.
Namun karena keadaan memaksa, terdorong rasa kasihan terhadap dua orang penduduk gunung yang tak berdosa ini, Suling Emas segera berseru dari pintu.
"Locianpwe, harap lekas keluar, di sini ada dua orang korban yang membutuhkan pertolongan Locianpwe"
Akan tetapi sebetulnya tidak perlu dia berteriak-teriak karena pada saat itu kebetulan sekali Kim-sim Yok-ong keluar dari dalam ruangan pengobatan sambil tersenyum.
Begitu melihat kakek ini, teringatlah Suling Emas akan keadaan Tan Lian maka cepat ia bertanya.
"Bagaimana dengan keadaan nona itu, Locianpwe?"
Lega hati Suling Emas. Setelah mendengar bahwa Tan Lian tertolong, ia teringat kembali kepada dua orang korban di luar.
"Locianpwe, di luar ada dua orang korban yang keadaannya amat berbahaya, harap Locianpwe sudi monolong orang-orang yang tak berdosa itu."
Tanpa banyak cakap lagi Kim-sim Yok-ong lalu melangkah cepat keluar pondok.
Melihat dua orang menggeletak di pekarangan rumahnya, yang seorang berkelojotan dan yang kedua diam tak bergerak kaku, ia cepat menghampiri dan memeriksa.
Keningnya berkerut-kerut dan ia menggeleng-gelengkan kepala, kadang-kadang mulutnya mengeluarkan seruan-seruan heran dan kaget.
"Kim-siauw-eng, apakah yang terjadi di sini tadi?"
Tanyanya tanpa menoleh kepada Suling Emas sambil memeriksa tubuh korban kakek putih yang makin lama makin dingin tubuhnya itu.
Dengan singkat Suling Emas menuturkan tentang dua orang kakek aneh yang tadi datang.
Mendengar ini, tabib sakti itu mengeluarkan seruan aneh, bangkit berdiri dan memandang Suling Emas dengan mata terbelalak.
"Agaknya mereka itu bukan manusia"
Serunya kaget.
"Kalau mereka manusia, tokoh dari golongan manapun juga, tentu pernah kulihat atau setidaknya kudengar nama dan keadaannya. Akan tetapi selama puluhan tahun aku hidup, belum pernah mendengar tentang seorang kakek putih dan seorang kakek merah. Lebih hebat lagi, aku tidak mengenal pula pukulan-pukulannya terhadap dua orang ini"
Ia menarik napas panjang.
"Gunung Thai-san ini boleh dibilang tinggi, namun puncaknya masih kalah tinggi oleh awan. Sungguh segala sesuatu di dunia ini tak dapat diukur batasnya. Mereka itu agaknya sengaja menantangku dan hendak menguji. Hemmm, orang-orang sesat, nyawa manusia dibuat main-main. Butakah mereka sehingga tidak melihat bahwa mati hidupnya seseorang bukan sekali-kali tergantung daripada kepandaianku mengobati, melainkan tergantung sepenuhnya pada kehendak Thian? Kim-siauw-eng, bawalah masuk mereka, akan kucoba menolong, sungguhpun aku merasa ragu-ragu untuk dapat menyelamatkan mereka."
Suling Emas cepat mengempit dua orang itu dan membawanya masuk ke dalam pondok dan atas permintaan tabib sakti itu.
Ia membaringkan mereka di atas bangku-bangku kayu yang berada di ruangan belakang.
Kemudian seperti yang diminta oleh Kim-sim Yok-ong.
Suling Emas menanggalkan pakaian kedua orang itu, pakaian bagian atas sehingga tubuh mereka bagian atas telanjang.
Ngeri sekali keadaan mereka.
Tubuh mereka itu kini yang seorang sudah berubah putih, yang kedua menjadi merah, persis warna kulit ke dua orang kakek aneh itu.
Sementara itu, Kim-sim Yok-ong sibuk membakar ujung jarum-jarum perak dan emas di atas api lilin.
Kemudian ia menghampiri korban kakek putih yang tubuhnya kaku dan berwarna putih itu.
Dengan gerakan hati-hati sekali namun tidak ragu-ragu, ia menancapkan jarum-jarum emas pada jalan-jalan darah tertentu di dada, leher dan pusar.
Kemudian ia menggunakan jarum-jarum perak untuk menusuk jalan-jalan darah pada tubuh orang kedua yang menjadi korban kakek merah.
Setelah pada masing-masing tubuh kedua orang korban itu tertancap tujuh batang jarum, Kim-sim Yok-ong mengeluarkan sebatang pisau yang tajam lalu melukai kedua telapak tangan mereka dengan ujung pisau.
"Aneh"
Dari luka di telapak tangan korban kakek putih segera mengucur keluar darah yang keputih-putihan sedangkan dari luka di telapak tangan korban kakek merah mengucur darah yang kehitaman.
Lambat laun, berubahlah warna pada wajah kedua orang itu, kembali menjadi normal dan napas mereka pun mulai tenang.
Akhirnya mereka bergerak-gerak mengeluh panjang.
Kim-sim Yok-ong menarik napas panjang, kelihatan lega hatinya.
Akan tetapi agaknya ia tadi telah mengerahkan tenaga dan mencurahkan seluruh perhatiannya, sehingga ia tampak lelah dan sambil menghapus keringatnya, ia mulai mencabuti jarum-jarum yang menancap di tubuh kedua orang itu.
"Siapapun kedua iblis itu, dia tidak mungkin dapat mengalahkan kekuasaan Thian,"
Kata Kim-sim Yok-ong perlahan.
"Inilah buktinya"
Karena agaknya Thian belum menghendaki kedua orang tak bersalah ini tewas, kebetulan sekali aku dapat menyembuhkan luka-luka mereka yang hebat, akibat pukulan aneh yang belum pernah kusaksikan sebelumnya.
Betapapun juga, pukulan kakek merah itu mengandung, unsur panas sedangkan pukulan kakek putih mengandung pukulan dingin.
Di dunia ini, hanya terdapat dua macam unsur tenaga, Im dan Yang, sungguhpun berbeda ragam dan caranya, namun bersumber sama.
Suling Emas menyaksikan dan mendengarkan dengan hati penuh kekaguman.
Akan tetapi pada saat itu terdengar suara ketawa yang sudah amat dikenalnya.
"Huah-hah-hah, Kim-sim Yok-ong, Jangan bergembira dulu dan merasa senang. Cobalah kau punahkan akibat pukulan-pukulan kami ini"
Bagaikan kilat menyambar, Suling Emas sudah berkelebat keluar pondok, siap untuk menghadapi dua orang iblis asing yang hendak menguji kepandaian Kim-sim Yok-ong dengan cara buas, yaitu melukai orang-orang tak bersalah itu, main-main dengan nyawa orang seakan-akan mereka itu hanya binatang-binatang kelinci saja.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tiba di pekarangan depan, ia tidak melihat dua orang kakek itu melainkan empat orang dusun lain yang sudah menggeletak tak bergerak di atas tanah.
"Celaka, Keji benar mereka"
Serunya sambil membungkuk untuk memeriksa.
"Jangan pegang mereka. Biarkan aku memeriksa lebih dulu"
Seru Kim-sim Yok-ong sambil berlari-lari keluar.
Hebat sekali keadaan empat orang itu.
Mereka adalah korban baru.
Ada yang tulangnya patah-patah sampai menjadi puluhan potong.
Ada yang tulangnya remuk-remuk.
Ada yang seluruh tubuhnya keluar bintik-bintik merah dan orang ke empat mengeluarkan darah dari semua lubang di tubuhnya"
"Kejam.."
Seru Yok-ong.
"Kim-siauw-eng, bantulah aku. Mereka harus cepat-cepat ditolong"
Maka bekerjalah Suling Emas mengangkat orang-orang itu ke dalam pondok dan ia girang melihat dua orang dusun pertama sudah dapat bangun.
Segera Yok-ong menyuruh mereka pulang sambil membawa obat-obat minum kepada kedua orang itu.
Akan tetapi selanjutnya ia sibuk mengobati empat orang yang menderita luka-luka hebat sekali.
Suling Emas hanya membantu, memasakkan obat, mengambilkan daun ini dan akar itu, sambil mengagumi cara tabib sakti itu menolong para korban.
Cekatan dan terampil, hati-hati dan tepat sehingga kembali empat orang itu dapat diselamatkan nyawanya.
Akan tetapi, secara berturut-turut pekarangan depan pondok itu kebanjiran para korban dua orang kakek iblis yang aneh itu, yang selalu meninggalkan korban mereka di pekarangan pondok sehingga dalam waktu setengah hari saja di situ berkumpul tiga puluh orang lebih yang terancam nyawanya dengan pelbagai macam luka-luka hebat, dari racun-racun yang paling ganas sampai pukulan-pukulan yang paling keji yang selamanya belum pernah terbayangkan oleh Suling Emas, bahkan yang banyak di antaranya membuat si tabib sakti agak bingung.
Akhirnya si tabib sakti terpaksa mengakui kehebatan dua orang kakek itu karena menjelang senja, sudah ada empat orang yang tewas, karena (Lanjut ke
Jilid 28) Cinta Bernoda Darah (Seri ke 03
"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 28 tak mampu ia menyembuhkannya.
Hebatnya, malam itu masih bertambah lagi jumlah korban sehingga seluruhnya menjadi lima puluh orang korban tangan maut kakek merah dan kakek putih yang luar biasa ini.
Suling Emas memuncak kemarahannya, namun ia tidak dapat melakukan pencegahan atau pun pengejaran karena tenaganya amat dibutuhkan untuk membantu Kim-sim Yok-ong.
Baiknya Tan Lian siuman menjelang malam dan keadaannya sedemikian baiknya sehingga gadis ini mampu bangkit duduk dan memandang ke kanan kiri dengan keheran-heranan karena ia melihat seorang kakek tua dibantu oleh Suling Emas sibuk mengurus dan mengobati puluhan orang.
Biarpun yang sembuh telah disuruh pulang oleh tabib sakti itu, namun di dalam rumah masih terkumpul tiga puluh orang dan enam orang mayat.
"Ahhh.. apa yagg terjadi? Di mana aku..?"
Gadis itu bertanya, penuh kengerian hati.
Suling Emas segera menghampiri dan giranglah hatinya melihat gadis itu sudah sembuh sama sekali, tempak dari wajahnya yang segar.
"Syukur kau telah tertolong, Nona. Akan tetapi kau harus beristirahat di sini barang tiga hari menurut pesan Yok-ong Locianpwe. Akan tetapi celaka, hari ini terjadi hal hebat. Dua orang iblis yang tidak terkenal mengamuk dan melukai banyak orang, hanya untuk menguji kepandaian Kim-sim Yok-ong."
Secara singkat Suling Emas menceritakan keadaan itu, sedangkan Yok-ok sama sekali tidak ambil peduli dan tetap sibuk mengurusi mereka yang luka.
Tan Lian menjedi heran dan terharu menyaksikan kebaikan hati tabib itu.
"Apa? Aku harus beristirahat saja melihat begini banyaknya orang yang perku ditolong? Tidak, Locianpwe, aku siap membantumu"
Ia meloncat turun dari pembaringan dan biarpun kepalanya masih agak pening, namun gadis ini dengan cekatan lalu mulai membantu dengan masak air dan lain-lain.
Kim-sim Yok-ong mengangguk-angguk dan memandang sebentar.
"Boleh kau boleh membantu. Yang tak boleh kau lakukan hanya pengerahan tenaga dalam. Bagus hari ini aku bersusah-payah menolongmu bukah tiada gunanya. Nona kau ambilkan bungkusan dari atas lemari itu, kemudian kau bakar ujung semua jarum ini sampai terasa panasnya pada ujung gagangnya."
Demikianlah, tiga orang itu semalam suntuk sibuk menolong orang dan baiknya dua orang iblis tua itu agaknya sudah cukup "menguji kepandaian"
Kim-sim Yok-ong, buktinya tidak ada lagi orang terluka mereka antarkan.
Pada keesokan harinya menjelang tengah hari, barulah selesai pekerjaan itu.
Sebanyak empat puluh lebih orang telah sembuh dan boleh pulang, akan tetapi ada delapan orang yang tak dapat tertolong dan kini rebah menjadi mayat di dalam pondok.
Kim-sim Yok-ong tampak lelah sekali, jauh lebih lelah dari Tan Lian yang juga bekerja keras dalam keadaan belum pulih tenaganya.
Kakek ini tampak duduk di atas bangku, bersila dan wajahnya keruh, keningnya berkerut-kerut dan agak pucat.
Ia berkali-kali menarik napas panjang dan memandangi mayat-mayat yang berjajar di situ.
"Locianpwe, harap Locianpwe tidak merasa berduka. Sudah cukup hebat kepandaian Locianpwe dan delapan orang korban ini agaknya memang sudah dikehendaki Thian untuk mati. Apakah yang harus disesalkan? Biarlah saya mengubur mayat-mayat ini"
Kim-sim Yok-ong menggeleng-geleng kepalanya dan menarik napas panjang.
"Bukan itu yang menyusahkan hatiku, orang muda. Kau tidak mengerti, apa kehendak dua orang aneh itu dengan perbuatan mereka?"
"Apalagi kalau tidak hendak menguji kepandaian Locianpwe? Kalau memang mereka itu orang-orang yang mempunyai sedikit saja perikemanusiaan, tentu mereka akan menyesali perbuatan mereka dan akan mengakui keunggulan Locianpwe dalam hal melawan dan memunahkan akibat pukulan-pukulan beracun mereka"
"Bukan.., bukan demikian. Ketahuilah, Kim-siauw-eng, mereka itu sengaja melakukan bermacam-macam pukulan dengan penggunaan racun yang berbahaya, tak lain hendak mempelajari caraku memberi obat. Mereka memaksaku mengeluarkan ilmu pengobatan dan agaknya mereka memang sengaja hendak mempelajarinya. Ilmu pengobatan memang amat baik dan boleh saja diketahui semua orang, akan tetapi kurasa bukan dengan niat baik kedua orang itu mempelajarinya, buktinya cara mereka mempelajari sudah cukup ganas dan keji. Aku khawatir sekali.."
"Siapakah iblis-iblis itu?"
Tan Lian berseru.
"Kalau sudah pulih kembali kesehatanku, akan kucari mereka dan kuajak mereka bertanding. Membasmi mereka atau mati di tangan mereka merupakan tugas seorang yang menjunjung kegagahan"
Suling Emas memandang kagum dan kakek itu menghela napas.
"Nona, bukan sekali-kali aku memandang rendah kepadamu. Akan tetapi kepandaian dua orang itu, biapun Thian-te Liok-koai sendiri belum tentu dapat menandinginya"
Suling Emas kaget.
Ia harus percaya omongan tabib dewa ini yang tentu dapat menilai kepandaian orang melihat akibat pukulan-pukulannya.
Diam-diam ia bergidik dan makin kuat niatnya untuk menggempur dua orang kakek itu.
"Biarlah saya mengubur mayat-mayat ini dan setelah itu, aku akan mencari mereka berdua untuk minta pertanggungan jawab mereka"
Dengan dibantu oleh Tan Lian, Suling Emas mengubur delapan mayat itu, disaksikan oleh Kim-sim Yok-ong yang merasa prihatin sekali.
Baru kali ini selama ia memdapat julukan Raja Obat, ia gagal menyembuhkan delapan orang yang meninggal dunia di depan matanya.
Ia merasa terhina sekali.
Setelah delapan buah mayat itu dimasukkan lubang di tanah dan mereka mulai menguruk dengan tanah, tiba-tiba terdengar suara ketawa dari arah barat, suara ketawa kakek merah bersama suara ejekan kakek putih yang sudah dikenal baik oleh Suling Emas.
"Huah-hah-hah, kiranya hanya begini saja kepandaian si Raja Obat"
Terdengar suara kakek merah.
"Kau tidak patut dan tidak berhak menggunakan sebutan Yok-ong (Raja Obat) lagi"
Seru suara kakek putih.
"Locianpwe, biarkan saya memberi hajaran kepada mereka"
Suling Emas berseru marah, dan hendak lari ke barat dari mana suara-suara itu datang.
Akan tetapi tiba-tiba tangannya dipegang orang.
Ia menoleh dan ternyata Tan Lian yang memegang tangannya, wajah gadis itu pucat dan memandang dengan penuh kekhawatiran.
"Ada apa, Nona Tan?"
Tanya Suling Emas merasa terganggu. Merah wajah Tan Lian dan gadis ini segera melepaskan pegangannya.
"Tidak apa-apa, hanya.. mereka itu benar-benar sakti, mari kubantu engkau.."
"Terima kasih. Tidak perlu, karena kau sendiri masih belum boleh mengeluarkan tenaga, harus beristirahat sampai sembuh."
Suling Emas lalu berkelebat dan lari untuk mencari dua orang kakek iblis itu.
"Kau.. berhati-hatilah.."
Seru Tan Lian dan sampai lama gadis ini berdiri bengong memandang ke arah barat, ke arah perginya pendekar yang sudah menundukkan hatinya itu.
Sampai lama ia berdiri seperti patung, tidak tahu bahwa pekerjaan menguruk kuburan masih menanti dan juga bahwa si kakek tabib memandanginya dengan tarikan napas panjang.
"Anak yang baik, mayat-mayat itu menunggu untuk diuruk selekasnya"
Tiba-tiba tabib itu berkata.
Sadarlah Tan Lian daripada lamunannya dan segera ia mengerjakan tanah galian untuk menguruk lubang-lubang kuburan itu bersama Kim-sim Yok-ong.
Kemudian tabib itu mengajak Tan Lian ke pondok dan mereka membersihkan pondok dari darah yang berceceran.
Kim-sim Yok-ong menyiram-nyiramkan obat pemunah hawa beracun dan membakar akar wangi, kemudian ia memanggil gadis itu untuk duduk di depannya.
"Tak usah kau merasa khawatir. Biarpun kedua orang iblis itu lihai sekali, namun Suling Emas biarpun masih muda adalah seorang pendekar yang sakti dan waspada. Kurasa tidak akan mudah mencelakakan Suling Emas,"
Kata kakek itu dengan suara menghibur.
"Mudah-mudahan begitulah, Locianpwe,"
Jawab Tan Lian yang kemudian menjatuhkan dirinya berlutut di depan kakek itu.
"Saya berhutang nyawa kepada Locianpwe, apabila dalam hidup ini saya tidak mampu membalas, biarlah dalam penjelmaan lain saya akan menjadi binatang peliharaan Locianpwe untuk membalas budi."
Dan tiba-tiba dengan sedih nona ini menangis. Kim-sim Yok-ong tertawa, mengelus-elus jenggotnya dan membangunkan gadis itu.
"Jangan begitu, kau duduklah. Jangan kau ikat aku dengan belenggu karma. Semua yang kulakukan bukanlah untuk menanam budi, juga bukan bermaksud menolong, melainkan karena sudah menjadi kewajibanku. Anak yang baik, kalau orang sudah setua aku ini, seharusnya melakukan segala sesuatu tanpa pamrih, hanya berdasarkan kewajiban dan sebagai pujaan kepada kebesaran Thian. Nona, kau telah terpukul oleh seorang yang memiliki pukulan dasar dari ilmu silat Beng-kauw, pukulan yang dahsyat dan yang tadinya kuanggap hanya mampu dilakukan oleh Pat-jiu Sin-ong seorang. Siapakah yang memukulmu dan mengapa? Bagaimana pula Suling Emas yang membawamu ke sini? Kalau kau tidak keberatan, harap kau ceritakan kepadaku karena aku merasa kasihan kepadamu dan ingin memberi sekedar nasihat."
Makin sedih tangis Tan Lian mendengar pertanyaan ini.
Ia hidup sebatangkara, selama ini tidak ada orang lain yang memperhatikan nasibnya kecuali, tentu saja, Thio San.
Thio San adalah seorang pemuda, tunangannya sejak kecil.
Akan tetapi ia telah menyia-nyiakan pertunangannya dengan Thio San dan selalu menghindari pemuda itu karena besarnya tekad dan cita-citanya selama ini untuk membalas dendam.
Selain ini, di lubuk hatinya, ia pun tidak puas dengan tunangan ini, tunangan yang dipilih ayahnya semenjak ia masih kecil karena Thio San adalah putera sahabat baik ayahnya.
Ia tidak puas karena Thio San, sungguhpun merupakan seorang pemuda yang tampan dan baik, dan yang ternyata amat setia dan amat mencintanya pula, hanya seorang pemuda terpelajar yang lebih tekun mempelajari kesusastraan sehingga dalam pandangannya Thio San adalah seorang pemuda lemah yang tidak mengerti ilmu silat.
Tidak sesuai dengan keadaannya sendiri sebagai puteri mendiang Hui-kiam-eng Tan Hui yang terkenal sebagai seorang pendekar besar.
"Locianpwe, banyak terima kasih atas perhatian Locianpwe terhadap diri saya yang bernasib malang ini. Sesungguhnya secara terus terang saya mengakui bahwa yang memukul saya adalah adik tiri Suling Emas, sedangkan Suling Emas adalah.. adalah musuh besar saya."
"Apa? Musuh besarmu? Akan tetapi dengan susah payah dia membawamu ke sini"
"Itulah yang memberatkan hati saya, Locianpwe, dan saya mohon petunjuk. Sebetulnya bukan dia musuh saya, melainkan ibunya, Tok-siauw-kui yang sudah membunuh ayah saya."
"Siapakah ayahmu?"
"Mendiang ayah adalah Hui-kiam-eng Tan Hui.."
"Ahhh.., Tentu saja aku kenal dia. Lalu bagaimana? Teruskanlah dan jangan ragu-ragu, mendiang ayahmu dahulu adalah sahabat baikku, dia seorang pendekar besar."
Mendengar ini, makin deras air mata mengucur keluar dari sepasang mata gadis itu. Setelah dapat meredakan tangisnya ia menyambung ceritanya.
"Kematian ayah membuat saya menjadi seorang yang hidup sebatangkara, tidak ada cita-cita lain di hati kecuali mencari Tok-siauw-kui dan membalas dendam. Akan tetapi karena Tok-siauw-kui amat lihai sehingga ayah sendiri kalah olehnya, saya melewatkan waktu sampai belasan tahun untuk memperdalam ilmu silat. Akan tetapi, Locianpwe, alangkah malang nasib saya. Begitu saya merasa bahwa sudah tiba saatnya saya pergi mencari Tok-siauw-kui yang kabarnya berada di Nan-cao, bersembunyi di sana dan saya segera berangkat, di tengah jalan saya mendengar berita bahwa Tok-siauw-kui baru saja tewas. Ah, hancur hati saya karena saya tidak berhasil membalas dendam. Akan tetapi, kemudian saya mendengar dari It-gan Kai-ong bahwa Tok-siauw-kwi adalah ibu dari Suling Emas. Tentu saja saya ikut bersama tokoh-tokoh kang-ouw lain untuk membalaskan sakit hati itu kepada putera musuh besar saya. Kembali saya kecewa, Locianpwe, karena.. karena.. saya tidak mampu mengalahkan Suling Emas, malah.. malah.. ketika saya bersumpah di depan makam ayah untuk membalaskan dendam itu kepada isteri dan anak-anak Suling Emas, saya dipukul roboh oleh adik tirinya dan.. dia malah menolong saya.."
Gadis itu kembali menangis sedih.
"Hemmm.. hemmm.. tidak hanya kau kalah oleh Suling Emas, malah hatimu pun roboh oleh asmara. Kau mencinta Suling Emas?"
Seketika berhenti tangis Tan Lian dan ia melonjak kaget, memandang kakek itu dengan muka pucat dan mata terbelalak. Kakek itu tetap tersenyum sabar.
"Bagaimana.. bagaimana.. Locianpwe bisa tahu..?"
Akhirnya Tan Lian bertanya dengan suara gagap. Senyum kakek itu melebar.
"Aku pernah muda, anak baik, dan sudah banyak kusaksikan di dunia ini. Sudah banyak dongeng dan peristiwa terjadi karena cinta. Kalau tidak karena cinta, agaknya tidak akan terjadi urusanmu dengan Suling Emas, tidak akan terjadi permusuhan yang terpendam di hatimu. Ayahmu pun menjadi korban cinta. Karena itu, kau percayalah kepadaku, anak baik, buang jauh-jauh perasaan itu karena kulihat bahwa kau berbakat untuk menjadi muridku. Tadinya aku tidak ada niat memiliki murid, akan tetapi setelah dua iblis itu mengakaliku dan mencuri banyak pengetahuanku, aku harus menurunkan kepandaianku. Kaulah yang cocok untuk menjadi muridku, tidak saja kau berbakat, akan tetapi kau pun anak sahabatku."
Tan Lian menjatuhkan diri lagi berlutut di depan kakek itu.
"Ohhh, Locianpwe saya merasa seakan-akan bertemu dengan ayah saya. Locianpwe, tolonglah saya. Saya sudah bersumpah hendak membunuh isteri dan anak-anak Suling Emas, akan tetapi.. dia tidak punya isteri dan.. dan memang betul saya jatuh cinta kepadanpa. Locianpwe, sudilah Locianpwe menolong saya, mewakili orang tua saya yang sudah tiada, harap suka usahakan perjodohan saya dengan Suling Emas. Kalau hal ini tidak terjadi, saya merasa sia-sia hidup di dunia, dendam ayah tak terbalas, hasrat hati hendak memunahkan dendam dengan ikatan jodoh tak tercapai.."
Kakek itu termenung sejenak.
"Suling Emas termasuk seorang di antara tokoh-tokoh aneh di dunia ini. Aku khawatir kalau-kalau maksud hatimu akan gagal, Nak. Mengapa tidak kau batalkan saja dan hidup mencapai kebahagiaan penuh damai daripada kesunyian seperti aku? Aku tanggung bahwa kebahagiaan itu akan jauh lebih sempurna daripada kebahagiaan itu akan jauh lebih sempurna daripada kebahagiaan duniawi."
"Cobalah dulu, Locianpwe. Belum tentu dia tidak setuju, agaknya.. agaknya dia pun bukan tak suka kepada saya.."
Akhirnya kakek itu mengangguk-angguk dan menghela napas.
"Baiklah.. baiklah, akan tetapi jangan kau lalu membunuh diri kalau dia menolak. Berjanjilah dulu, tanpa janjimu aku takkan mau menerima permintaanmu."
"Saya berjanji takkan membunuh diri kalau.. dia menolak."
"Dan akan suka menjadi muridku,"
Sambung kakek itu.
".. dan akan suka menjadi murid Locianpwe.."
"Bagus"
Kakek itu tampak girang.
"Nah, kau beristirahatlah, kita menanti sampai dia kembali."
Akan tetapi pada saat itu, di luar pondok terdengar langkah kaki orang.
Tergopoh-gopoh Tan Lian berlari keluar, hatinya sudah tak sabar lagi untuk menyambut kedatangan Suling Emas.
Ia harus cepat melihat dengan mata sendiri bahwa pendekar itu kembali dalam keadaan selamat.
Ketika ia melangkah keluar dari pintu pondok, tiba-tiba ia tercengang dan berdiri seperti patung, memandang laki-laki muda yang berdiri di pekarangan rumah itu dengan mata terbelalak.
Pemuda itu, yang berpakaian sederhana seperti seorang pelajar, kelihatan lelah sekali, berwajah tampan dan keningnya lebar, juga memandang kepadanya, mata yang sayu kelelahan itu bersinar-sinar, wajahnya berseri-seri.
"Lian-moi.."
Akhirnya ia berseru dan tersaruk-saruk ia melangkah maju.
"Kau..? Kenapa kau datang ke sini?"
"Kenapa? Lian-moi, tentu saja hendak mencarimu, menyusulmu"
Lian-moi, hampir gila aku mencarimu, mengikuti jejakmu. Lian-moi, mengapa kau di sini dan dengan siapakah kau.."
Orang muda yang bukan lain adalah Thio San itu tiba-tiba berhenti karena melihat munculnya seorang kakek yang bersikap tenang dan bermata tajam muncul di pintu, di belakang tunangannya.
"Thio San, Sudah berapa kali kujelaskan kepadamu bahwa di antara kita sudah tidak ada ikatan dan tidak ada urusan apa-apa lagi. Kenapa kau begini tak tahu malu dan masih berani menyusulku dan mengikutiku selalu? Pergilah"
"Tapi.."
"Pergilah, sebelum aku habis sabar dan terpaksa bertindak kasar"
"Tapi, Lian-moi, kita bertunangan.."
"Hemmm, kalau tidak ingat akan hubungan itu, sudah dulu-dulu aku mengenyahkanmu dengan kekerasan. Thio San, sejak dua belas tahun yang lalu, di depan engkau dan orang tuamu, bukankah aku sudah menyatakan pembatalan ikatan itu? Bukankah sudah kujelaskan secara terang-terangan apa yang menjadi sebabnya? Thio San, antara kita sudah tidak ada apa-apa lagi. Nah, cukup, kau pergilah"
Karena hampir tidak kuat menahan air matanya, Tan Lian lalu membalikkan tubuhnya dan lari memasuki pondok.
Pemuda itu berdiri dengan muka pucat, sinar matanya menjadi makin sayu, wajahnya makin muram, tubuhnya bergoyang-goyang seperti sebatang pohon terlanda angin, agaknya ia mengerahkan seluruh tenaganya agar tidak roboh.
"Orang muda,"
Kim-sim Yok-ong berkata, suaranya halus menghibur.
"Aku tidak berhak mencampuri urusanmu, akan tetapi biarlah kuperingatkan kau bahwa perjodohan yang dipaksakan oleh sepihak takkan membentuk rumah tangga yang berbahagia. Syarat utama perjodohan adalah kesediaan, kerelaan dan cinta kasih kedua pihak. Karena itu, seorang laki-laki harus dapat menguatkan hati dan rela berkorban perasaan demi mencegah dirinya sendiri terperosok ke dalam neraka rumah tangga yang tidak bahagia."
Suara orang lain yang memasuki telinganya menyadarkan pemuda itu dari keadaan yang memelas itu.
Ia mengangkat dadanya dan menegakkan kepalanya, memandang tajam kepada kakek itu ketika menjawab.
"Orang tua, aku tidak mengenal siapakah engkau, akan tetapi karena ucapanmu bermaksud baik, aku berterima kasih sekali kepadamu. Namun, kalau aku harus membenarkan pendapatmu itu, lalu ke mana nanti perginya kesetiaan dan kebaktian? Jodoh yang sudah dipilihkan orang tua semenjak kecil, harus diterima dengan rela, itu bakti namanya. Satu kali orang bertunangan, harus ditunggu sampai mati, itu setia namanya. Betapapun juga, kau betul, orang tua. Dia tidak suka kepadaku dan aku tidak dapat memaksanya. Dia seorang ahli silat yang lihai, hatinya penuh dendam yang belum terbalaskan, hidupnya bagaikan seekor naga yang melayang-layang di angkasa dengan bebas beterbangan di antara awan dan petir. Sedangkan aku.. aku.."
"Dan kau seorang muda yang penuh filsafat, yang mabuk akan ujar-ujar kuno, yang hidup menurunkan garis-garis dalam kitab, yang buta akan kenyataan bahwa betapapun mengecewakannya, manusia yang belum mau melepaskan diri daripada kehidupan ramai, berarti belum mungkin terlepas daripada nafsu-nafsu duniawi. Kau tidak mau mengerti bahwa orang seperti Tan Lian hanya tunduk kepada nafsu yang menguasai hatinya, sebaliknya kau hanya tunduk kepada peraturan tanpa mau menjenguk keadaan orang lain. Orang muda, aku kasihan kepadamu. Kau seorang yang baik, berbakti dan setia, akan tetapi kau lemah. Bukan lemah jasmani saja, juga lemah batinmu karena kau malu akan kenyataan bahwa juga engkau telah dikuasai nafsu yang mendorong cinta nafsumu terhadap Tan Lian, akan tetapi kau tidak berterus terang, malah kau hendak menutupi cintamu dengan dalih setia dan berbakti. Sayang.."
Tiba-tiba dua titik air mata membasahi pipi pemuda itu yang menundukkan mukanya dan berkata.
"Orang tua, kau betul. Aku cinta padanya, tapi dia menolakku. Namun, aku akan menanti dengan sabar, seperti yang sudah kulakukan belasan tahun lamanya, karena kulihat dia masih sendiri. Kalau dia sudah bersuamikan orang lain, barulah aku akan mundur. Maafkan aku, orang tua,"
Setelah berkata demikian, pemuda itu menjura dan membalikan tubuh, lalu berjalan dengan langkah-langkah gontai meninggalkan pondok.
Sampai lama Kim-sim Yok-ong berdiri memandang dari depan pintu pondoknya sambil menggoyang-goyang kepala dan menghela napas.
"Sampai sekarang, entah sudah berapa juta orang muda menjadi korban penyakit asmara ini. Sungguh memalukan, aku yang berjuluk Yok-ong belum juga dapat menemukan obatnya"
Sambil menggeleng-geleng kepala ia memasuki pondoknya dan melihat Tan Lian menangis terisak-isak sambil menutupi muka dengan kedua tangan, kakek ini tidak mau bertanya-tanya lagi.
Ia maklum bahwa gadis ini tentu merasa menyesal, berduka, dan malu karena urusan pribadinya telah terdengar orang lain.
"Locianpwe.., aku.. aku malu sekali. Ah, Locianpwe tentu akan memandang rendah kepadaku.. seorang gadis yang sudah ditunangkan sejak kecil akan tetapi berani minta tolong kepada Locianpwe untuk menguruskam perjodohan dengan pria lain.., Kalau Locianpwe merasa bahwa aku terlalu hina dan rendah, biarlah aku pergi dari sini dan tidak berani mengganggumu lagi.."
"Hemmm, aku tahu keadaan hatimu, Nak, dan tidak biasanya aku mencampuri urusan pribadi orang lain. Aku tidak memandang rendah dan aku tetap akan memegang janjiku."
Mendengar ucapan ini, Tan Lian berlutut dan merangkul kaki Yok-ong sambil menangis.
Dengan gerakan yang cepat sekali, bagaikan terbang saja terlihat dari jauh, pendekar sakti Suling Emas lari mendaki puncak Thai-san.
Ia sengaja mencari tempat-tempat tinggi, bahkan kadang-kadang ia meloncat naik ke atas pohon untuk melihat keadaan sekitar pegunungan itu dalam usahanya mencari jejak dua orang iblis tua yang telah mengacau pondok Kim-sim Yok-ong.
Namun sudah sehari semalam ia mencari, hasilnya sia-sia belaka.
Pada hari ke dua, pagi-pagi sekali ia sudah tiba di puncak paling tinggi dan selagi ia meneliti keadaan sekelilingnya, tiba-tiba ia mendengar tetabuhan khim yang nyaring, merdu dan halus.
Sejenak kagetlah Suling Emas karena ingatannya melayang-layang, mengira bahwa Bu Kek Siansu berada di tempat ini.
Akan tetapi ketika ia memperhatikan, ia segera mengerutkan keningnya.
Suara alat musik yang-khim yang ditabuh ini, sungguhpun cukup nyaring dan merdu, namun memiliki gaya yang liar dan iramanya merangsang.
Betapapun juga, harus ia akui bahwa tenaga yang keluar dari suara khim ini cukup hebat, menimbulkan rangsang yang mendebarkan jantung dan bagi orang yang kurang kuat tenaga batinnya, tentu akan roboh di bawah pengaruh suara itu.
Kemudian Suling Emas tersenyum dan teringatlah ia akan Siang-mou Sin-ni, seorang di antara Thian-te Liok-koai, yang dapat mainkan yang-khim seganas ini?
Ia ingat bahwa dahulu wanita iblis ini telah merampas alat musik yang-khim dari tangan Bu Kek Siansu dan agaknya ia telah mempelajari alat musik itu, Disesuaikan dengan ilmu untuk menyerang orang, baik melalui suara yang-khim maupun dengan cara mempergunakan alat musik itu sebagai senjata.
Diam-diam Suling Emas menghitung-hitung dan memang hari itu sudah tiba saatnya perjanjian para anggauta Thian-te Liok-koai mengadakan pertemuan untuk mengadu ilmu di puncak Thai-san.
Karena suara yang-khim dari Siang-mou Sin-ni itu merupakan panggilan atau tantangan, untuk sementara Suling Emas menunda urusannya mencari dua orang asing dan kini ia mencabut sulingnya, meniup dan melagukannya sambil melangkah lebar ke arah datangnya suara.
Sungguh ajaib suara yang terdengar di hutan-hutan Gunung Thai-san pada saat itu.
Kalau ada orang mendengar suara ini tentu akan mengira bahwa suara itu bukan sewajarnya, mungkin para iblis hutan sedang berpesta.
Suara suling mengalun, bergelombang turun naik mengelus perasaan, menyegarkan akan tetapi juga memabukkan karena memiliki daya seret yang menghanyutkan.
Suara ini mengiringi atau diiringi suara berkencringnya yang-khim yang diseling dengan "melody"
Yang jelas satu-satu dan nyaring, namun bukan main hebatnya suara ini karena setiap bunyi "ting"
Dari sehelai kawat yang disentil jari, cukup kuat daya serangnya untuk membuat jantung lawan putus"
Perpaduan suara musik yang aneh dan bergema di seluruh hutan, menari-nari di puncak pohon, bahkan menembus dasar jurang yang paling dalam.
Pertandingan jarak jauh yang dilakukan dengan "suara"
Itu benar-benar amat menarik.
Kini Suling Emas tidak melangkah lagi, melainkan berhenti dan berdiri tegak.
Mukanya agak merah dan dari belakang kepalanya tampak uap putih tipis.
Ini menandakan bahwa Siang-mou Sin-ni sudah memperoleh kemajuan pesat sehingga untuk menghadapi suara yang-khim itu, Suling Emas tak boleh bersikap sembarangan dan harus pula mencurahkan perhatian dan mengerahkan tenaga sin-kang.
Akan tetapi, begitu pendekar sakti ini memusatkan tenaganya, suara yang-khim makin menjadi lemah seakan-akan terdesak suara suling yang makin melengking tinggi itu.
Anehnya, daun-daun pohon yang masih hijau segar, yang tumbuh di atas kepala dan di dekat Suling Emas meniup sulingnya, tiba-tiba rontok satu demi satu, melayang-layang ke bawah dengan gerakan aneh dan lucu seakan-akan daun-daun itu menari-nari mengikuti bunyi irama suling.
Akhirnya suara yang-khim itu berhenti dan terdengar keluhan, lalu disusul suara Siang-mou Sin-ni dari jauh.
Suara itu terdengar lamat-lamat akan tetapi cukup jelas.
"Suling Emas, saat mengadu kepandaian adalah malam nanti kalau bulan sudah muncul. Aku hanya main-main, kenapa kau sungguh-sungguh?"
Suling Emas juga menghentikan tiupan sulingnya dan ia menarik napas panjang lalu tersenyum.
Kata-kata itu tak perlu dia menjawabnya.
Ia tahu bahwa untuk menghadapi malam pertemuan bulan lima tanggal lima belas, yaitu malam nanti di mana akan diadakan pertandingan untuk menentukan tingkat masing-masing, Siang-mou Sin-ni berusaha untuk "mengukur keadaannya"
Dengan suara yang-khim tadi.
Dan menurut pendapatnya bahwa biarpun ia tidak kalah oleh Siang-mou Sin-ni dalam penggunaan sin-kang di dalam suara, namun kemajuan wanita iblis itu tak boleh dipandang ringan begitu saja dan malam nanti akan merupakan lawan yang tangguh.
Setelah Siang-mou Sin-ni pergi, Suling Emas teringat kembali akan dua orang kakek yang dicarinya.
Ia lalu melanjutkan usahanya mencari jejak kedua orang itu.
"Dua Locianpwe yang muncul di pondok Kim-sim Yok-ong, silahkan keluar, saya mau bicara"
Demikianlah berkali-kali ia berteriak dengan pengerahan khi-kangnya sehingga suaranya bergema sampai jauh.
Namun hasilnya sia-sia, tidak ada jawaban kecuali gema suaranya sendiri.
Ia melangkah terus dan tiba di sebuah puncak lain.
Di sini ia pun berdiri dan meneriakkan panggilannya seperti tadi.
Oleh karena suaranya memang keras, apalagi dengan pengerahan khi-kang, suara itu bergema dan burung-burung yang tadinya enak-enak hinggap dan mengaso di atas cabang-cabang pohon, Berlindung dari panasnya matahari di antara daun-daun, menjadi kaget dan beterbangan sambil bercuwit-cuwit, sekelompok burung yang kebetulan berada di pohon dekat Suling Emas berdiri, kaget dan kelepak sayapnya terdengar gaduh.
Suling Emas mengangkat muka memandang sambil tertawa.
Akan tetapi suara ketawanya terhenti ketika ia melihat sinar hitam seperti asap menyambar ke atas dan burung-burung itu yang jumlahnya belasan ekor runtuh ke bawah dan berjatuhan di depan kaki Suling Emas.
Ketika ia memandang teliti, ternyata burung itu semua telah mati dan kulit mereka berubah menjadi hitam sedangkan bulu-bulunya rontok.
Tahulah ia bahwa bukan hanya Siang-mou Sin-ni saja yang sudah hadir di Thai-san, dan agaknya para anggauta Thian-te Liok-koai mulai mendemonstrasikan kelihaiannya.
"Hek-giam-lo iblis keji. Tak perlu kau memperlihatkan kekejamanmu di hadapanku, kalau kau mau mulai bertanding, keluarlah"
Tidak ada jawaban kecuali suara dengus mengejek yang disusul oleh sambaran sinar hitam yang cepat bagaikan kilat gerakannya.
Diam-diam Suling Emas kagum dan mengerti bahwa kepandaian Hek-giam-lo dalam hal melepas senjata rahasia Hek-in-tok-ciam (Jarum Beracun Awan Hitam) telah maju dan jauh lebih berbahaya daripada dahulu dalam pertandingan di puncak Thai-san ini.
Karena ini Suling Emas tidak mau memandang rendah.
Cepat tangannya sudah mencabut keluar kipas birunya dan dengan gerakan yang diisi lwee-kang sepenuhnya ia mengibas ke depan.
Runtuhlah jarum-jarum hitam itu, semua lenyap ke dalam tanah.
Akan tetapi sinar hitam ke dua menyusul, malah lebih besar dan lebih kuat.
Ketika Suling Emas mengibaskan kipasnya lagi, sinar itu membalik, tapi hanya kurang lebih dua meter, lalu terdorong maju lagi, mendesak terus, bahkan kini mulai berpencar menjadi tiga bagian yang menerjang tubuh Suling Emas dari atas, tengah, dan bawah.
Suling Emas terkejut karena pada saat itu, di belakang sinar hitam yang sudah pecah menjadi tiga bagian, tampak belasan sinar berkilauan menyambar pula ke depan.
Itulah barisan hui-to (golok terbang), senjata rahasia dari Hek-giam-lo yang ampuh sekali di samping senjata rahasia jarum-jarum beracunnya.
Dengan cara luar biasa sekali, iblis hitam itu dapat menyambitkan tiga belas batang golok kecil (belati) sekaligus dan tiga belas batang pisau terbang itu secara tepat mengancam tiga belas bagian tubuh yang kesemuanya mematikan.
"Hek-giam-lo, terlalu kau"
Seru Suling Emas dengan marah.
Tangan kanannya sudah mencabut sulingnya dan bagaikan terbang tubuhnya sudah mencelat ke atas.
Ketika sinar-sinar hitam itu mengejar, ia mengibaskan kipasnya dan berbareng ia memutar sulingnya merupakan lingkaran besar di depan tubuhnya.
Ketika belasan pisau terbang itu tiba, pisau-pisau itu "tertangkap"
Oleh lingkaran sinar suling, terus ikut berputar-putar merupakan bundaran sinar berkilauan yang indah sekali.
"Terimalah kembali"
Bentak Suling Emas yang sudah turun ke bawah.
Sulingnya digerakkan seperti mendorong dan tiga betas batang pisau terbang yang tadinya beterbangan memutar-mutar di depan Suling Emas, kini seperti belasan ekor burung terbang kembali ke sarangnya"
Seperti juga Siang-mou Sin-ni, tahu-tahu terdengar suara Hek-giam-lo dari jauh.
"Malam nanti kita bertanding"
Suling Emas mendongkol sekali akan tetapi ia tidak mau mengejar karena memang saat yang dijanjikan adalah malam nanti kalau bulan purnama sudah muncul menyinari bumi.
Ia berjalan terus mencari dua orang kakek sakti yang aneh dan kejam.
Diam-diam ia merasa khawatir juga.
Dari peristiwa tadi ia mendapat kenyataan bahwa Siang-mou Sin-ni dan Hek-giam-lo sudah memperoleh kemajuan pesat dan jauh lebih berbahaya daripada dahulu.
Tentu iblis-iblis yang lain, It-gan Kai-ong dan kakak beradik Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong juga telah memperdalam ilmu-ilmu mereka.
Dia tidak gentar menghadapi mereka, akan tetapi siapa tahu, kalau dua orang kakek asing yang baru muncul mengacau di pondok Kim-sim Yok-ong itu membantu para iblis, sukarlah untuk mencapai kemenangan.
"Aku harus menghadapi dua orang kakek itu lebih dulu sebelum bertanding dengan Thian-te Liok-koai,"
Pikirnya dan kembali ia melanjutkan usahanya mencari.
Hari telah menjelang senja ketika ia makin mendekati puncak di mana pertandingan antara Thian-te Liok-koai akan diadakan.
Makin tinggi orang mendaki gunung, makin dinginlah hawa udara.
Suling Emas juga sudah mulai merasa dingin, apalagi menjelang senja itu, puncak Thai-san diliputi kabut yang cukup tebal.
Ketika ia memasuki sebuah hutan pohon cemara tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk dan banyak pohon tumbang, malah ia lalu terpaksa berloncatan ke sana ke mari untuk menghindarkan dirinya tertimpa batang-batang pohon yang beterbangan ke arahnya.
Suling Emas cepat menyelinap sambil meloncat ke sana-sini, kemudian tahulah ia bahwa yang "main-main"
Dengan batang-batang pohon adalah Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong.
Agaknya mereka berdua juga melihatnya, karena kini mereka tertawa-tawa dan semua batang pohon dan batu-batu besar yang mereka permainkan itu kini menimpa ke arah Suling Emas.
Pendekar ini memperlihatkan ketangkasan dan kegesitannya.
Biarpun ada "hujan"
Pohon dan batu-batu besar, bagaikan seekor kera ia menyelinap dan mengelak ke sana-sini.
Demikian cepat dan ringan gerakannya sehingga bajunya saja tak pernah tergores cabang pohon yang menimpanya bertubi-tubi.
"Dua iblis liar, beginikah cara kalian menandingiku?"
Suling Emas membentak dan sudah siap untuk balas menyerang.
Akan tetapi sambil tertawa-tawa dua orang iblis itu melarikan diri, dan Suling Emas tidak mau mengejar mereka.
Ia melanjutkan perjalanannya, sementara itu cuaca mulai menjadi remang-remang dan hawa udara makin dingin.
Puncak tertinggi sudah tampak menjulang tinggi di depan matanya.
Ia sudah mulai putus asa untuk bisa mendapatkan dua orang kakek aneh itu, karena ia sudah tidak ada waktu lagi untuk mencari mereka.
Ia harus pergi ke puncak untuk menemui dan menandingi iblis-iblis yang berkumpul, untuk mewakili ibu kandungnya yang dulu ditantang oleh It-gan Kai-ong.
Akan tetapi tiba-tiba ketika ia membelok, ia melihat pemandangan aneh sekali di pinggir anak sungai yang mengalir deras dari sumbernya.
Dua orang kakek yang dicari-carinya selama sehari semalam itu ternyata, tanpa diduga-duga kini berada di depannya.
Si kakek putih duduk bersila di tengah sungai, tenggelam sampai sebatas lehernya.
Bukan main.
Hawa udara begitu dinginnya menyusup tulang, dan air sungai itu pun dinginnya melebihi salju, akan tetapi kakek ini duduk bersila merendam diri, kelihatannya enak-enak tidur ataukah sedang samadhi dengan tenangnya.
Akan tetapi bukan, ia bukan sedang tidur atau bersamadhi karena mulutnya mengomel panjang pendek.
"Wah, panasnya, tak enak, sialan benar"
Hawa udara begitu dingin, berendam di air gunung lagi, masih mengeluh kepanasan.
Adapun kakek merah tidak kalah anehnya.
Kakek ini duduk di pinggir sungai, bersila di atas tanah, dikelilingi api unggun yang menyala besar.
Jarak antara tubuh kakek itu dengan api yang mengelilinginya kurang dari satu meter, seluruh tubuhnya yang sudah merah itu menjadi makin merah.
Di depannya terdapat sebuah periuk terisi air yang digodok di atas api, air yang mendidih.
Dapat dibayangkan betapa panasnya dikurung api besar sedekat itu, akan tetapi kakek ini malah menggigil kedinginan dan kedua tangannya berganti-ganti ia masukkan ke dalam periuk penuh air mendidih itu, lalu menyiram-nyiramkan air panas itu ke mukanya.
"Waduh dinginnya, tak tertahankan, hu-hu-huuu.. dingin.."
Alangkah sombongnya mereka ini, pikir Suling Emas.
Ia maklum bahwa kedua orang kakek ini memang sengaja berdemonstrasi seperti itu untuk memamerkan kepandaian mereka.
Memang harus diakui bahwa demonstrasi ini jelas membuktikan kehebatan sin-kang mereka yang dapat membuat tubuh menjadi kebal akan rasa panas maupun dingin.
Perbuatan seperti ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kesaktian, yang tenaga sin-kangnya sudah mencapai tingkat tinggi.
Akan tetapi sungguh suatu cara menyombongkan kepandaian yang amat menggelikan kalau kepandaian seperti ini dibuat pamer, apalagi terhadap dia.
Karena merasa yakin bahwa dua orang ini sengaja memamerkan kepandaian kepadanya maka terpaksa Suling Emas harus melayani mereka.
Ia mendekati kakek putih yang berendam di dalam air sebatas leher itu.
"Ah, Locianpwe, memang kau benar, hawanya amat panas, membuat orang ingin mandi terus. Akan tetapi aku tidak ada kesempatan mandi, biar kurendam saja kepalaku"
Setelah berkata demikian, Suling Emas lalu membenamkan kepalanya ke dalam air dan tidak dikeluarkannya dari dalam air sampai lama sekali.
Biarpun perbuatan ini hanya demonstrasi atau main-main, akan tetapi jelas menang setingkat kalau dibandingkan dengan kakek putih yang biarpun tubuhnya terendam air, akan tetapi hanya sebatas leher, kepalanya tidak.
Dan merendamkan kepala ke dalam air sedingin itu, apalagi sampai lama sekali, tentu lebih sukar daripada merendam tubuh saja.
Ketika mendengar air itu berguncang cepat Suling Emas mengangkat kepalanya.
Ia maklum bahwa pukulan dari dalam air dapat membuat air bergelombang dan kepalanya akan terancam bahaya luka di dalam kalau tergencet hawa pukulan melalui gelombang itu.
Kiranya kakek putih sudah berdiri dalam air yang tingginya hanya sebatas pahanya, bajunya yang serba putih basah kuyup dan kakek itu memandang dengan mata marah.
Akan tetapi Suling Emas tidak mempedulikannya, melainkan segera menghapus muka dan kepalanya yang basah sambil menghampiri kakek merah yang duduk dikurung api unggun dan main-main air mendidih.
"Kau kedinginan, Locianpwe? Memang hawanya dingin bukan main. Untung kau membuat api unggun"
Sambil berkata demikian, Suling Emas menghampiri api dan memasukkan kedua tangannya ke dalam api yang bernyala-nyala, bahkan membiarkan api itu bernyala menjilat leher dan mukanya"
"Bocah sombong. Berani kau memamerkan kepandaian kepada kami?"
Kakek putih membentak marah dari dalam sungai.
"Huah-hah-hah, orang muda, bukankah kau anjing penjaga Kim-sim Yok-ong? Apakah kau menantang kami?"
"Ji-wi Locianpwe, aku hanya mengimbangi cara kalian. Sama sekali bukan bermaksud pamer. Aku bukan penjaga, melainkan sahabat baik Kim-sim Yok-ong yang kalian ganggu dengan cara keji melukai banyak orang."
"Huah-hah-hah, ada delapan orang yang mampus, kan? Mengapa dia tidak mampu menghidupkan mereka?"
Kata lagi kakek merah sambil berdiri di tengah-tengah api unggun.
"Kalian dua orang tua benar-benar terlalu. Ji-wi ini siapakah dan mengapa melakukan pembunuhan keji hanya untuk menguji kepandaian Kim-sim Yok-ong? Apakah dosanya orang-orang itu dan apa pula kesalahan Yok-ong yang selalu menolong orang tanpa pandang bulu? Tidak ada orang di dunia kang-ouw ini yang tidak menaruh sayang dan hormat kepada Yok-ong yang berhati emas, akan tetapi kalian ini telah mempermainkannya."
"Heh, bocah lancang. Siapakah kau berani bicara seperti ini kepada kami?"
Bentak si kakek putih.
"Ha-hah, apa peduliku dengan orang-orang kang-ouw cacing-cacing tiada guna itu?"
Kata pula kakek merah.
"Kau siapa, bocah lancang?"
"Orang mengenalku dengan sebutan Kim-siauw-eng, Si Suling Emas"
"Suling Emas, agaknya kau merasa menjadi pendekar muda. Usiamu paling banyak tiga puluh tahun, masih bocah. Mana kau mengenal kami? Yang tua-tua pun belum tentu mengenal kami. Akan tetapi kalau kau mau tahu, aku adalah Lam-kek Sian-ong (Dewa Kutub Selatan) dan dia si putih itu adalah Pak-kek Sian-ong (Dewa Kutub Utara). Nah, kau sudah mengenal kami sekarang, dan kau harus mampus"
Si kakek merah ini tiba-tiba menggerakkan tangannya ke arah api dan..
bagaikan bintang-bintang beterbangan, lidah-lidah api itu menyambar ke arah tubuh Suling Emas.
Suling Emas kaget sekali.
Baru ia tahu bahwa demonstrasi yang dilakukan kakek ini tadi hanyalah demonstrasi kecil saja, mungkin dilakukan karena memandang rendah kepadanya.
Akan tetapi serangan yang dilakukannya kali ini, benar-benar hebat luar biasa, merupakan "pukulan berapi"
Yang luar biasa, mengandung sifat panas melebihi api sendiri.
Ia maklum bahwa inti tenaga Yang ini amat kuat, ia takkan mampu menandinginya kalau melawan dengan kekerasan, maka cepat Suling Emas menggunakan kipasnya mengebut sambil meloncat ke sana ke mari.
Api menyala-nyala yang menyambar itu merupakan api yang didorong oleh tenaga pukulan jarak jauh, begitu terkena dikebut, menyeleweng arahnya dan karena kakek itu terus melakukan pukulan sedangkan Suling Emas terus mengibas sambil mengelak tampaklah pemandangan yang indah.
Api-api itu beterbangan, merah menyala dan padam apabila runtuh menyentuh tanah, seperti kembang api yang dinyalakan orang untuk menyambut datangnya musim semi.
"Serahkan dia padaku"
Seru si muka putih dan tiba-tiba dari arah sungai melayang sinar-sinar putih berkeredepan dan setelah dekat, Suling Emas merasa hawa dingin yang menembus kulit menyelinap ke tulang-tulang.
Kagetlah ia dan maklum bahwa juga kakek putih ini benar-benar sakti.
Inti tenaga Im yang dimiliki kakek itu sudah sedemikian hebatnya sehingga ia mampu membuat air sungai dikepal menjadi salju atau es dan dilontarkan merupakan peluru-peluru yang mengandung hawa pukulan dingin mematikan.
Seperti juga serangan api tadi, kini serangan es yang dingin tak mampu ia menghadapinya dengan perlawanan tenaga, maka ia pun cepat mengelak ke sana ke mari sambil menyelewengkan hujan es itu.
Sebentar saja Suling Emas menjadi sibuk sekali, kipasnya mengibas hujan api dari kanan, sulingnya menangkis hujan peluru es dari kiri.
Adapun kedua orang kakek itu agaknya begitu penasaran sehingga mereka tidak mau menggunakan cara lain untuk menyerang.
Berkali-kali terdengar mereka berseru kaget dan kagum.
"Aneh, dia dapat bertahan"
Disusul seruan-seruan tak percaya.
"Masa semua tidak mengenai sasaran?"
Agaknya karena penasaran inilah mereka terus melontarkan pukulan seperti tadi dan Suling Emas terus-menerus menangkis dan meloncat ke sana ke mari menyelamatkan diri tanpa mampu balas menyerang.
Namun gin-kangnya memang sudah hebat dan gerakan kaki tangannya sudah sempurna, maka biarpun dihujani api dan es dari kanan kiri, pendekar ini tetap dapat mempertahankan diri.
Sementara itu, senja sudah mulai terganti malam dan bulan mulai menampakkan dirinya.
Bulan bundar dan penuh, kebetulan tidak ada awan menghalang, halimun pun sudah pergi, maka keadaan menjadi terang benderang.
"Suling Emas.., Mengapa kau tidak muncul? Takutkah engkau?"
Terdengar teriakan yang bergema, datangnya dari arah puncak.
Suling Emas sibuk sekali.
Dua orang kakek ini lihai bukan main, tak mungkin ia dapat meninggalkan mereka.
Ia pun tahu akan kelihaian dan kejahatan iblis-iblis yang berada di puncak.
Kalau mereka tahu bahwa ada dua orang kakek asing yang amat sakti memusuhinya, tentu mereka akan mempergunakan kesempatan baik ini untuk memukul roboh padanya.
Maka ia pun diam saja.
"Huah-hah-hah, agaknya bocah ini banyak musuhnya. Pek-bin-twako (Kakak Muka Putih), biar kita beri kesempatan padanya untuk menghadapi musuhnya, baru nanti kita turun tangan, takkan terlambat."
"Baiklah, Ang-bin-siauwte (Adik Muka Merah) kita nonton, sampai di mana kepandaian tokoh-tokoh jaman sekarang"
Seketika hujan api dan hujan es itu terhenti dan ketika Suling Emas memandang, kedua orang kakek itu sudah lenyap dari tempat itu.
Ia menarik napas panjang, menyusut peluhnya dan berkata seorang diri.
"Berbahaya.., Mereka benar lihai. Apa maksud kedatangan mereka di dunia ramai? Nama mereka tidak dikenal di dunia kang-ouw, tanda bahwa mereka adalah pertapa-pertapa yang puluhan tahun menyembunyikan diri, mengapa sekarang tiba-tiba mereka muncul dan mengganggu Kim-sim Yok-ong?"
Suling Emas mengerutkan keningnya dan diam-diam ia ingin melihat gerakan ilmu silat mereka untuk mencoba-coba menerka, dari golongan manakah kakek merah dan kakek putih itu.
Tingkat tenaga inti dari Im dan Yang sedemikian tingginya, kiranya hanya dicapai oleh para guru besar dari partai-partai persilatan besar pula, hasil latihan matang selama puluhan tahun.
"Suling Emas, Apakah kau tidak berani muncul?"
Kembali terdengar seruan suara parau yang menggunakan khi-kang.
Suling Emas mengenal suara ini, suara It-gan Kai-ong, maka ia lalu mengerahkan khi-kangnya, berseru keras.
"Aku Kim-siauw-eng datang"
Tubuhnya berkelebat cepat bagaikan terbang menuju ke puncak itu.
Bulan purnama bersinar terang, dan Suling Emas memang sudah sering kali mendaki pegunungan ini sehingga ia hafal akan jalannya, maka di bawah penerangan bulan purnama, sebentar saja ia sudah sampai di puncak.
Ternyata mereka sudah hadir lengkap di puncak yang merupakan tanah terbuka ditumbuhi rumput hijau.
Lengkap hadir para anggauta Thian-te Liok-koai yang kini hanya tinggal lima orang itu.
It-gan Kai-ong, Siang-mou Sin-ni, Hek-giam-lo, Toat-beng Koai-jin, dan adiknya, Tok-sim Lo-tong.
Mereka sudah tidak sabar lagi menanti, dan mengomel panjang pendek ketika akhirnya Suling Emas muncul.
"Anggauta Thian-te Liok-koai selalu berlumba untuk lebih dulu hadir dalam pertemuan mengadu kepandaian, membuktikan bahwa ia berani. Dia ini main lambat-lambatan, anggauta macam apa ini"
Toat-beng Koai-jin mendengus dan marah-marah.
"Memang dia tidak patut menjadi anggauta Thian-te Liok-koai, Cuhhh"
It-gan Kai-ong meludah dengan sikap menghina sekali.
"Sudah menjadi pendirian Thian-te Liok-koai bahwa anggauta-anggautanya terdiri daripada orang-orang gagah yang suka melakukan perbuatan berani dan gagah. Akan tetapi dia ini tidak gagah berani, melainkan lemah dan pengecut, buktinya dia selalu memperlihatkan watak lemahnya dengan menolong orang-orang"
Mendengar ucapan Hek-giam-lo ini semua orang mengangguk-angguk membenarkan.
Diam-diam Suling Emas mengeluh di dalam hatinya.
Memang, baik dan jahat, gagah dan pengecut, semua hanya sebutan manusia, dan karenanya baik atau pun bucuk, gagah ataupun pengecut, sepenuhnya tergantung daripada orang yang mengatakannya, yaitu berdasarkan pandangannya.
Iblis-iblis berupa manusia ini memang wataknya berlainan dengan manusia biasa, akan tetapi mereka tidak sengaja bersikap demikian, karena memang menurut pendapat mereka, pandangan mereka itu pun benar pula.
Dari jaman dahulu sampai kini banyak terdapat orang-orang seperti ini, yang hatinya sudah tertutup dan kotor sehingga pandangannya pun kotor dan nyeleweng tanpa mereka sadari.
Perbuatan ugal-ugalan, mengganggu orang, menindas, mengandalkan kekuasaan dan kekuatan, mengganggu wanita baik-baik, menonjolkan kekurangajaran, semua perbuatan ini mereka anggap sebagai perbuatan gagah berani, atau setidaknya sebagai bukti bahwa mereka ini gagah berani dan mereka bahkan menjadi bangga karena perbuatan-perbuatan itu.
Sebaliknya, orang-orang yang menghindari perbuatan-perbuatan semacam ini, yang selalu berusaha mengasihi sesamanya, mengulurkan tangan menolong sesamanya, dianggap sebagai tanda dari watak penakut dan pengecut.
"Hi-hi-hik"
Siang-mou Sin-ni tertawa terkekeh dan memasang muka semanis-manisnya ketika ia mendekati Suling Emas, memandang wajah yang tampan itu, lalu berkata.
"Betapapun juga, kepandaiannya cukup lumayan untuk membuat ia patut menjadi anggauta Thian-te Liok-koai. Tentang sifat-sifat gagah berani itu, biarlah kelak aku sendiri yang akan membimbingnya. Aku akan membuat hatinya lebih kuat daripada hati kalian, aku akan mengajarnya menjadi seorang yang paling gagah dan paling berani di dunia ini"
Kembali iblis betina itu terkekeh dan dari rambutnya semerbak bau wangi. Tentu saja yang dimaksudkan dengan "hati kuat"
Adalah hati yang kejam dan ganas, sedangkan "gagah berani"
Adalah suka melakukan perbuatan yang paling jahat mengerikan.
Ketika Siang-mou Sin-ni mengulurkan tangan hendak menggandengnya, Suling Emas melangkah mundur sambil mengelak.
"Eh, Suling Emas, mengapa kau mundur? Bukankah tadi kita sudah main-main dan permainan bersama kita menghasilkan perpaduan yang sedap didengar? Percayalah, kalau kau dan aku bersatu, kelak kita akan mempunyai seorang putera yang akan menjadi raja yang menguasai seluruh jagad"
Suling Emas melangkah maju dan berkata, suaranya keren.
"Dengarlah kalian berlima"
Aku datang bukan dengan maksud hendak menjadi anggauta Thian-te Liok-koai, oleh karena itu tidak perlu kalian menilai diriku apakah aku patut atau tidak menjadi rekan kalian.
Aku datang mewakili mendiang ibuku yang ditantang oleh It-gan Kai-ong untuk ikut dalam adu ilmu di antara Thian-te Liok-koai, dan di samping itu, aku hendak minta kembali tongkat pusaka Beng-kauw dari tangan Hek-giam-lo juga sekalian aku memang mempunyai perhitungan dengan kalian semua.
It-gan Kai-ong harus mengembalikan kitab yang dirampasnya dari tangan Locianpwe Bu Kek Siansu, juga Hek-giam-lo, sedangkan Siang-mou Sin-ni harus mengembalikan yang-khim.
Adapun Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong yang kena dibujuk It-gan Kai-ong untuk menjadi kaki tangan Suma Boan, sebaiknya kembali saja ke tempat asal kalian di pulau-pulau kosong"
"Wah-wah, dia cukup berani. Memaki-maki kita, mengusir kami berdua. Biarkan dia ikut dalam adu kepandaian"
Kata Toat-beng Koai-jin.
Memang tokoh-tokoh hitam ini paling suka melihat orang yang berani, apalagi yang kejam, karena watak ini cocok dengan selera mereka.
"Baiklah, kita mulai dan kali ini kita harus bersungguh-sungguh untuk dapat menentukan urutan tingkat dalam Thian-te Liok-koai, siapa yang paling pandai disebut twako (kakak tertua), yang ke dua ji-ko (kakak ke dua) dan seterusnya. Yang mampus dalam adu ilmu ini takkan dikubur, bangkainya akan menjadi makanan binatang buas dan burung gagak, tulang-tulangnya akan diperebutkan anjing-anjing hutan"
Kata It-gan Kai-ong sambil meludah-ludah.
"Bagus, kita mulai"
Teriak Siang-mou Sin-ni dan Hek-giam-lo berbareng.
Lima orang itu serentak meloncat mundur, masing-masing melompat mundur kira-kira dua tombak jauhnya dan kini mereka memasang kuda-kuda, mata mereka melirik-lirik mencari korban.
Karena maklum bahwa mereka ini adalah orang-orang sakti yang aneh, Suling Emas juga tidak mau menjadi sasaran di tengah-tengah dan ia pun melompat mundur.
Kini enam orang itu merupakan lingkaran yang menghadap ke dalam, menanti saat untuk merobohkan lawan dalam pertandingan campuran itu, di mana tidak ada kawan, semua adalah lawan yang harus dikalahkan, kalau perlu dibunuh.
"Siapa berani menyerangku?"
It-gan Kai-ong mengejek.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Tok-sim Lo-tong yang menerjangnya dari samping kiri sambil mengeluarkan senjatanya yang berupa seekor ular hidup.
Terjangan ini dibarengi pekik nyaring yang tidak menyerupai pekik manusia lagi, melainkan lebih pantas keluar dan mulut seekor binatang buas atau agaknya begitulah suara iblis.
Memang aneh sekali watak orang-orang ini.
Tok-sim Lo-tong bersama kakaknya, Toat-beng Koai-jin tadinya dapat diperalat It-gan Kai-ong dan bekerja sama dengan raja pengemis itu.
Akan tetapi dalam pertemuan di puncak Thai-san ini, di mana mereka hendak memperebutkan kedudukan sebagai saudara tua yang paling lihai di antara mereka, lenyaplah segala persahabatan, segala hubungan, satu-satunya nafsu yang menguasai mereka adalah menang sendiri dan menjadi jagoan nomor satu.
Serangan Tok-sim Lo-tong ini hebat sekali, tangan kirinya yang mencengkeram ke depan mengeluarkan sambaran angin pukulan yang mengeluarkan bunyi seperti suara tikus, bercicitan, sedangkan ular yang ia pegang dengan tangan kanan itu meluncur ke depan menggigit dan mengeluarkan racun dari semburan mulutnya.
Jangan dipandang rendah racun ular itu karena binatang yang dijadikan senjata ini adalah ular beracun yang amat berbahaya, yang mempunyai bisa disebut "racun api"
Karena racun itu dapat membakar hangus apa saja yang disentuhnya.
Juga cengkeraman tangan kiri Bocah Tua Hati Racun (Tok-sim Lo-tong) ini mengandung tenaga dalam yang penuh dengan racun dingin, merupakan racun yang berlawanan dengan ular di tangan kanannya, namun tidak kalah hebatnya karena sekali saja pukulan tangan kirinya mengenai sasaran, dapat membikin beku jantung dan darah.
Namun Tok-sim Lo-tong boleh jadi berbahaya bagi lawan manusia biasa, menghadapi It-gan Kai-ong ia menemukan tanding.
Dengan suara ketawa terbahak, raja pengemis ini menyambut serangan Tok-sim Lo-tong dengan sama dahsyatnya.
Kakek mata satu ini mengangkat tongkat bututnya, ditusukkan ke arah mulut ular sedangkan dia sendiri meludah tiga kali berturut-turut yang ditujukan ke arah tiga jalan darah di sepanjang lengan kiri lawan yang menyerangnya.
Jadi, serangan Tok-sim Lo-tong itu dibalas serangan pula oleh It-gan Kai-ong.
"Uh-uh"
Lo-tong menjerit marah dan tentu saja ia mengerahkan kedua lengannya, yang kanan untuk menghindarkan ularnya dari tusukan maut sedangkan yang kiri untuk menghindari sambaran air ludah yang lebih berbahaya daripada senjata rahasia beracun.
Kemudian ia mendesak lagi dengan memutar ularnya seperti kitiran angin cepatnya, sedangkan tangan kirinya tetap melakukan pukulan sebagai selingan.
"Heh-heh-heh"
It-gan Kai-ong tertawa mengejek dan ia pun memutar tongkatnya mengimbangi lawan dan di lain saat keduanya sudah berhantam dengan seru.
Biarpun tongkat di tangan It-gan Kai-ong itu hanya tongkat butut, namun kalau sudah ia mainkan seperti itu, dapat melawan senjata baja yang bagaimana keras dan tajam pun.
Sebaliknya, senjata hidup di tangan Tok-sim Lo-tong juga demikian, kecuali bagian lemah yang terletak di mulut dan mata ular itu, tubuh ular telah dilindungi kulit yang kebal dan tahan bacokan senjata tajam.
Pertandingan antara dua orang tokoh iblis dunia ini hebat sekali, angin yang berputar-putar seperti angin puyuh membuat pohon-pohon di sekitar tempat itu bergoyang-goyang dan daun-daun pohon banyak yang rontok.
Sementara itu, Hek-giam-lo, orang ke dua yang sama licik dan curangnya dengan It-gan Kai-ong, segera menggerakkan senjata sabitnya yang mengerikan dan tajam seperti pisau cukur itu, tanpa peringatan lagi ia menerjang Toat-beng Koai-jin yang berdiri di sebelah kirinya.
Mengapa ia memilih lawan Toat-beng Koai-jin?
Inilah kecerdikan setan hitam itu.
Menurut perhitungannya, dibandingkan dengan Siang-mou Sin-ni, apalagi dengan Suling Emas, Toat-beng Koai-jin ini adalah lawan yang lebih empuk, maka ia tidak menyia-nyiakan waktu terus saja meniilih Toat-beng Koai-jin sebagai lawannya yang ia yakin akan dapat ia jatuhkan dalam waktu singkat.
Toat-beng Koai-jin si manusia liar yang gendut berpunuk seperti kerbau itu, bertelanjang baju, menggereng seperti binatang biruang luka, kemudian kedua tangannya mencakar-cakar dengan kuku-kukunya yang panjang runcing.
Di lain saat sudah ada tiga buah batu besar dan dua batang pohon menyambar ke arah Hek-giam-lo.
Iblis Hitam ini tentu saja dapat mengelak cepat, akan tetapi ketika ia menerjang lagi, si punuk liar itu sudah memegang sebatang pohon besar, dipergunakan sebagai senjata, mengamuk dan menerjang Hek-giam-lo.
Repot juga Hek-giam-lo diterjang dengan senjata pohon yang penuh cabang ranting dan daun-daun itu.
Ia membabat dengan sabitnya dan beterbanganlah daun-daun dan ranting pohon itu bagaikan hujan.
Sebentar saja pohon di tangan Toat-beng Koai-jin sudah tinggal batangnya saja yang dipergunakan oleh Toat-beng Koai-jin sebagai senjata tongkat besar, tongkatnya yang sebesar balok bergaris tengah tiga puluh senti itu ia putar-putar di atas kepala sehingga sinar bayangannya menyelimuti seluruh tubuhnya.
Segera kedua orang iblis ini sudah saling terjang dan terlibat dalam pertandingan yang tidak kalah serunya dengan pertandingan antara It-gan Kai-ong dan Tok-sim Lo-tong.
Hanya bedanya, pertandingan ini mengakibatkan batu-batu kecil beterbangan ke atas dan tanah menjadi debu bergulung-gulung menyuramkan pandangan mata yang hanya diterangi sinar bulan purnama.
Suling Emas sudah siap siaga ketika ia melihat orang terakhir, Siang-mou Sin-ni melangkah dan menghampirinya dengan langkah seperti harimau lapar, dengan pinggul digoyang-goyang, lenggang dibuat-buat, disertai senyum manis dan sepasang mata ini berkilat-kilat memantulkan sinar bulan.
Deretan gigi putih berkilauan mengintai dari balik bibir mengulum senyum, Suling Emas bersikap makin waspada dan siap, karena ia cukup mengenal iblis betina ini.
Makin manis sikapnya, makin berbahayalah iblis ini.
Diam-diam ia harus akui kecantikan Siang-mou Sin-ni.
Seorang wanita yang sudah masak, yang sukar dicari cacatnya dari rambut yang halus hitam panjang berbau harum itu sampai kepada wajah cantik jelita dan bentuk tubuh yang ramping padat dan sepasang kaki tangan yang kecil menarik.
Patut disayangkan seorang wanita yang berdarah bangsawan Kerajaan Hou-han ini tersesat menjadi seorang manusia iblis yang keji.
Kalau Suling Emas teringat akan perbuatan-perbuatan jahat Siang-mou Sin-ni, lenyaplah rasa sayang dan kasihannya.
Entah berapa banyak manusia dan kanak-kanak tidak berdosa tewas di tangan iblis wanita ini, dihisap darahnya hidup-hidup untuk dijadikan obat kuat.
Mengingat akan kekejaman ini, ia bergidik dan timbul niatnya untuk membasmi wanita iblis ini agar lenyap sebuah ancaman bagi keselamatan manusia.
Akan tetapi wanita itu tidak segera menyerangnya seperti yang disangka oleh Suling Emas, bahkan mendekatinya sambil tersenyum-senyum dan matanya mengerling tajam.
"Suling Emas, biarkan si goblok itu saling gempur sendiri. Kita tidak begitu goblok untuk bunuh-membunuh di malam seindah ini, bukan? Lihat, betapa indahnya bulan, betapa cemerlang dan sejuknya hawa udara. Suling Emas, kita biarkan mereka itu saling gebuk dan saling bunuh, nanti dengan mudah kita bereskan mereka semua anjing-anjing busuk itu, Sekarang mari kita menonton mereka sambil mengobrol di bawah sinar bulan purnama, asyik dan nikmatkan? Aku merindukan dirimu semenjak pertama kita di sini dahulu. Marilah, sayang"
Sambil berkata demikian, dengan bibir tersenyum dan mata setengah terkatup wanita itu mengembangkan kedua lengannya seperti hendak memeluk Suling Emas.
Suling Emas melangkah mundur, mengibaskan lengan bajunya dengan marah.
"Siang-mou Sin-ni, simpanlah bujuk rayumu untuk orang lain. Aku bukanlah laki-laki seperti yang kau kehendaki. Lebih baik kau insyaflah, tebus dosa-dosamu dengan bertapa dan membersihkan batin. Kalau tidak mungkin aku sendiri yang akan mengantar kau kembali ke alam asalmu"
Tiba-tiba sepasang mata yang tadi setengah terkatup bersinar mesra itu terbuka lebar dan sinarnya kini penuh kekejian.
Mulut itu masih tersenyum, akan tetapi matanya membayangkan kebencian yang memuncak.
Kemudian, tiba-tiba wanita itu menjerit dan menubruk maju, didahului rambutnya yang panjang menyambar hendak menangkap Suling Emas.
Wanita yang tadinya seperti seorang puteri jatuh cinta, yang gerakannya lemah gemulai dan penuh bujuk rayu itu, kini tiba-tiba berubah menjadi siluman betina yang haus darah"
"Kalau begitu, mampuslah kau"
Teriaknya mengikuti serbuannya.
Suling Emas cepat menggerakkan kipasnya mengebut pergi rambut itu dan sulingnya berkelebat menjadi sinar keemasan menotok ke arah leher Siang-mou Sin-ni.
Akan tetapi wanita sakti ini dapat mengelak dan melanjutkan serangannya dengan dahsyat dan penuh kebencian.
Kini tangan kirinya memegang sebuah yang-khim sebagai senjata dan bertempurlah mereka berdua dengan seru dan mati-matian.
Tempat yang indah dan romantis, puncak Thai-san yang biasanya sunyi hening dan yang tentu akan menarik perhatian kaum pertapa sebagat tempat suci itu kini menjadi medan pertandingan mati-(Lanjut ke
Jilid 29) Cinta Bernoda Darah (Seri ke 03
"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 29 matian yang mengerikan.
Enam orang yang sedang bertempur itu kesemuanya memiliki kesaktian yang tinggi.
Angin pukulan mereka membuat daun-daun rontok, semua batu-batu pecah berhamburan dan debu mengebul tinggi.
Suara angin pukulan mereka berciutan mengerikan dan dalam jarak belasan meter batang-batang pohon yang terlanda angin pukulan berguncang-guncang seperti didorong oleh tenaga raksasa.
Dasar lima orang manusia iblis itu berwatak aneh dan liar, maka dalam melakukan pertandingan untuk menentukan siapa yang paling unggul, sama sekali tidak dipergunakan aturan sehingga pertempuran itu dari kacau-balau dan penuh nafsu membunuh.
Dan memang masing-masing memiliki keistimewaan sendiri maka tidaklah mudah bagi yang seorang untuk mengalahkan yang lain.
Betapapun juga, menghadapi It-gan Kai-ong yang luar biasa dan yang telah memiliki sebagian daripada kitab rampasan dari Bu Kek Siansu, lambat-laun Tok-sim Lo-tong terdesak hebat.
Karena merasa penasaran bahwa Tok-sim Lo-tong selalu dapat menahan serangannya sungguhpun ia sudah mengerahkan seluruh tenaga, akhirnya It-gan Kai-ong memekik keras dan mulailah ia menggerakkan tongkatnya menurut ilmu barunya yang ia pelajari daripada kitab rampasannya yang hanya setengahnya itu.
Namun hasilnya sudah hebat sekali.
Serangkum angin pukulan berpusing menyerbu ke arah Tok-sim Lo-tong.
Iblis ini mengeluarkan seruan kaget, cepat ia memutar pula ularnya.
"Prakkk"
Ujung tongkat It-gan Kai-ong tepat sekali menghantam kepala ular sehingga kepala ular itu pecah berantakan.
Tok-sim Lo-tong menjerit marah dan ia menyambitkan bangkai ular ke arah lawannya.
Namun sekali menangkis, bangkai ular itu terlempar ke samping, ke arah gerombolan pepohonan di sebelah kiri.
Terdengar jerit mengerikan dan tubuh seseorang yang tak dikenal terguling-guling roboh, sebagian dari tubuh ular itu masuk ke dalam dadanya.
Demikian hebatnya sambitan itu.
Kiranya orang yang terkena sambitan itu adalah seorang tosu yang tadinya menonton sambil bersembunyi.
Pada saat berikutnya, terdengar Siang-mou Sin-ni terkekeh genit, rambutnya menyambar ke kanan dan di saat berikutnya rambutnya telah "menangkap"
Seorang hwesio yang tak mampu melepaskan diri, biarpun sudah meronta-ronta sekuat tenaga.
Siang-mou Sin-ni menggerakkan kepalanya dan tubuh hwesio itu terangkat lalu diputar-putar seperti kitiran, dijadikan senjata melawan Suling Emas.
"Iblis keji, Lepaskan dia"
Seru Suling Emas yang terpaksa mengelak ke sana sini karena tidak mau menangkis yang akibatnya tentu menewaskan hwesio penonton yang tak bersalah itu.
Akan tetapi Siang-mou Sin-ni hanya terkekeh dan terus menerjang makin hebat.
Dengan menggunakan gin-kangnya, Suling Emas mendahului meloncat ke atas dan dari atas sulingnya bergerak menghantam rambut yang mengikat hwesio itu, sedangkan tangan kirinya merampas tubuh si hwesio.
Hwesio itu dapat terampas dan terlepas, akan tetapi alangkah kaget hati Suling Emas melihat bahwa hwesio itu sudah tewas, lehernya hampir putus oleh jiratan rambut tadi.
Ia melemparkan mayat itu ke samping lalu menerjang maju penuh kemarahan.
Wamta iblis itu menyambutnya sambil terkekeh mengejek.
Agaknya sudah banyak berkumpul tokoh-tokoh kang-ouw yang cukup tabah untuk menonton pertandingan hebat ini, yang memang sudah tersiar luas di dunia kang-ouw.
Celakanya, ketabahan harus dibayar mahal sekali sehingga dalam waktu beberapa detik saja, dua orang sudah menjadi korban.
Lebih hebat lagi, agaknya hal ini menimbulkan kegembiraan hati yang buas dan liar itu, karena terdengar It-gan Kai-ong tertawa-tawa, untuk sementara mengurangi desakannya pada Tok-sim Lo-tong dan ia meludah sejadi-jadinya ke kanan kiri.
Terdengar teriakan-teriakan dan beberapa orang sudah terluka oleh ludah-ludah itu.
Sibuklah kini di balik pepohonan itu karena orang-orang yang tadinya menonton mulai jerih, beramai-ramai mengundurkan diri sambil membawa teman-teman yang tewas atau terluka.
Akan tetapi tampak sinar terang berkelebat dan dua orang di antara mereka terjungkal tanpa kepala lagi.
Kiranya Hek-giam-lo tidak mau ketinggalan dan berpesta dengan senjata sabitnya.
Hal ini ditambah dengan hujan batu besar dan pohon-pohon yang dilontarkan oleh Toat-beng Koai-jin dan Tok-sim Lo-tong.
Setelah para penonton yang tak diundang itu kalang-kabut pergi menjauhi tempat maut itu, pertandingan dilanjutkan, lebih gembira dan lebih dahsyat daripada tadi.
Tok-sim Lo-tong kini sudah meniru kakaknya, menggunakan sebatang pohon untuk menghadapi It-gan Kai-ong.
Akan tetapi karena keistimewaannya adalah senjata ular hidup, ia tidaklah begitu cekatan seperti kakaknya dan beberapa belas jurus kemudian, tongkat It-gan Kai-ong yang gerakannya berpusing aneh itu berhasil mengetuk tangannya sehingga sambil berterik kesakitan Tok-sim Lo-tong terpaksa melepaskan senjatanya sambil bergulingan ke kiri dikejar It-gan Kai-ong yang tertawa-tawa.
Ketika Tok-sim Lo-tong terguling di dekat Hek-gia-lom, mendadak iblis hitam ini meninggalkan Toat-beng Koai-jin dan mengayun sabitnya membacok ke arah kepala Tok-sim Lo-tong.
Iblis gundul kurus kering ini cepat mengelak sambil meloncat berdiri sehingga sabit itu luput makan lehernya dan amblas ke dalam tanah sambil mengeluarkan api ketika terbentur batu-batu yang terbabat seperti agar-agar saja.
Terdengar teriakan keras dan pohon besar di tangan Toat-beng Koai-jin menyambar ke arah Tok-sim Lo-tong yang baru saja terbebas dari maut di tangan Hek-giam-lo.
Tok-sim Lo-tong meloncat tinggi menghindari serangan kakaknya sendiri, akan tetapi ia terhuyung-huyung oleh sambaran angin pukulan dengan batang pohon ini.
Hebatnya, Siang-mou Sin-ni agaknya melupakan Suling Emas dan kini wanita itu pun menerjang Tok-sim Lo-tong yang sudah terhuyung-huyung, menggunakan rambutnya yang panjang mengirim serangan maut.
Suling Emas berdiri bengong.
Lima orang itu memang patut dijuluki iblis.
Mereka begitu licik dan curang sehingga dalam pertandingan menentukan kedudukan ini, mereka tidak segan-segan untuk mengeroyok Tok-sim Lo-tong yang terdesak hebat, menggunakan serangan-serangan maut.
Bahkan Toat-beng Koai-jin, kakak Tok-sim Lo-tong sendiri, ikut pula mengeroyok, seakan-akan lupa bahwa yang dikeroyok itu adalah adiknya sendiri.
Adakah manusia yang lebih ganas daripada mereka ini?
Namun, boleh dipuji kepandaian Tok-sim Lo-tong.
Biarpun ia tadi terhuyung-huyung, namun menghadapi serangan Siang-mou Sin-ni, ia masih dapat menggerakkan kedua tangan mengirim pukulan-pukulan dengan sin-kang sehingga gumpalan rambut yang menyambar ke arahnya itu dapat tertahan oleh hawa pukulannya, malah kini tangannya membentuk cakar setan untuk mencengkeram rambut itu.
Pada saat itu, tampak berkelebatnya sabit Hek-giam-lo yang membabat ke arah tangannya sehingga terpaksa Tok-sim Lo-tong menarik kembali tangannya.
Tongkat It-gan Kai-ong menyambutnya dari belakang dan batang pohon di tangan Toat-beng Koai-jin juga sudah menyambar pula dari depan.
Tok-sim Lo-tong sibuk mengelak dan menggunakan ilmunya menggelinding seperti bola ke sana ke mari, gesit dan cepat sekali.
Namun empat orang pengeroyoknya tidak memberi ampun dan pada saat ia meloncat bangun menghindarkan bacokan Hek-giam-lo, pundaknya keserempet tongkat It-gan Kai-ong.
Si gundul kurus kering ini memekik kesakitan dan membalikkan tubuh hendak mengamuk.
Namun cabang-cabang pada batang pohon yang menyambarnya telah menyapu kakinya sehingga ia roboh terguling.
"Tranggggg"
Sinar kuning emas menangkis sabit yang membacok kepala Tok-sim Lo-tong dan menangkis pula tongkat It-gan Kai-ong, bahkan kipasnya mengebut rambut-rambut Siang-mou Sin-ni.
Kiranya Suling Emas yang menolong Tok-sim Lo-tong.
P endekar ini tak dapat tinggal diam saja menyaksikan pertandingan yang berat sebelah dan tidak adil.
Mana ada aturan mengeroyok orang yang sudah terdesak?
Benar-benar mereka itu tidak mengenal watak gagah tidak mau peduli akan norma-norma yang berlaku pada tokoh-tokoh kang-ouw.
Biasanya, sungguhpun golongan hitam yang terdiri daripada penjahat, masih enggan melakukan perbuatan yang memalukan dan bersifat pengecut.
Akan tetapi iblis-iblis ini benar-benar tak tahu malu dan terpaksa Suling Emas turun tangan membantu Tok-sim Lo-tong yang dikeroyok oleh empat orang rekan-rekannya para anggauta Thian-te Liok-koai termasuk kakaknya sendiri Toat-beng Koai-jin.
Campur tangan Suling Emas membuat pertandingan menjadi kacau-balau dan secara otomatis mereka itu masing-masing memilih lawan terdekat dan di lain saat It-gan Kai-ong sudah bergebrak melawan Hek-giam-lo, Siang-mou Sin-ni bertanding dengan Toat-beng Koai-jin, Sedangkan Tok-sim Lo-tong yang kini sudah menyambar sebatang pohon itu kini menyerang mati-matian kepada Suling Emas yang baru saja membebaskannya daripada ancaman maut.
Semua keadaan yang tidak tahu aturan, tidak mengenal budi, dan liar ganas seenaknya sendiri ini berjalan tanpa kata-kata.
Diam-diam Suling Emas menjadi bingung juga.
Ia tidak mau terlalu mendesak Tok-sim Lo-tong karena ia tahu bahwa begitu si gundul kurus kering ini ia desak, tentu yang lain-lain akan turun tangan mengeroyok Tok-sim Lo-tong.
Oleh karena inliah maka ia hanya mempertahankan diri sambil memperhatikan jalannya pertandingan antara pasangan-pasangan lain.
Juga ia sempat melihat bahwa banyak juga tokoh kang-ouw yang masih bersembunyi menonton, akan tetapi mereka kini tidak berani terlalu mendekati tempat itu, melainkan nooton dalam jarak yang cukup aman.
Mendadak terdengar suara "cring-cring-cring"
Yang amat nyaring dan menggetarkan jantung.
Suling Emas kaget sekali, mengenal suara itu yang ternyata keluar dari alat musik yang-khim di tangan Siang-mou Sin-ni"
Betul saja Toat-beng Koai-jin yang terserang suara ini karena ia bertanding melawan Siang-mou Sin-ni, tidak kuat melawan pengaruh suara yang mengikat semangat ini, ilmu yang dicuri oleh Siang-mou Sin-ni menggunakan yang-khim milik Bu Kek Siansu.
Kakek berpunuk yang liar itu tiba-tiba menjadi pucat dan terhuyung-huyung ke belakang.
Tahu-tahu kedua kakinya sudah terkena sambaran rambut Siang-mou Sin-ni yang menariknya sehingga kakek liar itu terjengkang ke belakang.
Seperti tadi ketika Tok-sim Lo-tong terdesak, kini mereka berempat, Hek-giam-lo, It-gan Kai-ong, dan Tok-sim Lo-tong bersama Siang-mou Sin-ni serentak menyerang Toat-beng Koai-jin yang sudah roboh.
"Pengecut, tahan"
Seru Suling Emas melompat untuk membantu Toat-beng Koai-jin.
Namun terlambat karena ketika ia tiba di dekat kakek itu, sabit di tangan Hek-giam-lo telah membacok kepala, sedangkan tongkat It-gan Kai-ong sudah menusuk dada dalam detik hampir berbareng, sedangkan rambut Siang-mou Sin-ni yang terbagi menjadi dua merobek tubuh kakek itu dengan menarik kedua kaki ke kanan kiri disusul oleh hantaman balok pohon oleh Tok-sim Lo-tong.
Betapapun saktinya Toat-beng Koai-jin, tubuhnya seketika menjadi remuk dan terobek-robek, hancur.
"Kejam, Kalian iblis-iblis ganas"
Bentak Suling Emas yang segera mengamuk dengan sulingnya.
Saking hebatnya gerakan Suling Emas, Tok-sim Lo-tong tak dapat menghindarkan dirinya dan sekali dadanya terkena totokan suling, kakek ini pun roboh dengan nyawa putus, rohnya melayang menyusul kakaknya.
"Heh-heh-heh, Toat-beng Koai-jin menjadi anggauta ke enam karena dia mampus lebih dulu. Tok-sim Lo-tong menjadi anggauta ke lima, setingkat lebih tinggi daripada kakaknya. Lucu"
Kata It-gan Kai-ong tertawa-tawa.
Hek-giam-lo hanya mendengus dan Siang-mou Sin-ni cekikikan.
Kini tinggal empat orang yang masih hidup dan otomatis mereka berdiri di empat sudut, memasang kuda untuk memperebutkan kemenangan.
"Kalian iblis-iblis ganas, malam ini aku Suling Emas bersumpah hendak membasmi kalian bertiga"
Seru Suling Emas.
Setelah berkata demikian, tubuhnya bergerak cepat sekali dan dia sekaligus sudah membagi-bagi serangan kepada tiga orang lawannya secara beruntun.
Karena maklum bahwa tiga orang lawannya ini merupakan orang-orang terlihai dari Thian-te Liok-koai, maka dalam serangannya ini Suling Emas mengeluarkan ilmunya berdasarkan Hong-in-bun-hoat yang dahulu ia terima dari Bu Kek Siansu.
Tidak saja gerakannya berdasarkan ilmu silat huruf yang hebat ini, juga ia mengerahkan tenaga Kim-kong Sin-im sehingga ketika bergerak, sulingnya mengeluarkan bunyi yang dahsyat dan menggetarkan isi dada ketiga orang lawannya.
Hebat sekali gerakan Suling Emas ini, sulingnya berubah seperti halilintar menyambar, sinarnya menyilaukan mata para lawannya, apalagi dibarengi suara melengking tinggi itu, benar-benar mengejutkan lawan yang sambil memekik mereka melompat mundur dengan gerakan mempertahankan diri.
Mereka selamat dari penyerangan pertama ini, namun tidak urung mereka merasa gentar juga dan jantung mereka berdebar-debar.
Tiga orang iblis ini adalah orang-orang yang cerdik dan licik.
Maklumlah mereka bahwa pendekar muda ini benar-benar tak boleh dibuat main-main, kepandaiannya meningkat hebat semenjak pertemuan terakhir.
Oleh karena itu, kini pendirian mereka pun berubah.
Mereka tidak mau saling serang antara kawan sendiri dan bermaksud menggabungkan tenaga tiga orang untuk menghadapi Suling Emas.
Tanpa kata-kata, tiga orang iblis ini sudah bersepakat dalam hal ini, maka otomatis mereka melakukan gerakan menyudut dan mengurung Suling Emas dari sudut segi tiga.
Rambut yang hitam halus dan panjang dari Siang-mou Sin-ni melebar tegak lurus seperti duri landak, penuh tenaga dan siap dipergunakan, sedangkan alat musik khim yang berada di tangan kanannya diangkat ke atas kepala, digerak-gerakkan perlahan untuk mengubah-ubah posisi, mencari kesempatan yang baik, wanita yang cantik ini sekarang kelihatan mengerikan dan agaknya pantas kalau mulutnya yang menyeringai itu diberi tambahan caling di kanan kiri, seperti gambar siluman betina yang haus akan darah manusia.
Hek-giam-lo juga berdiri dengan siap, kedua kakinya terpentang lebar, kokoh kuat, mukanya yang berkedok tengkorak amat mengerikan karena dari lubang di bagian matanya berjelalatan, sabit yang tajam berkilau diangkat tinggi ke atas, terkena sinar bulan berkeredepan menyilaukan, sedangkan tangan kirinya dengan jari-jari terbuka didorong lurus ke depan, seperti tangan setan hendak mencengkeram korbannya.
Yang paling menjijikkan adalah It-gan Kai-ong.
Kakek raja pengemis ini berdiri agak terbongkok, kedua kakinya ditekuk rendah bagian lututnya, tongkat bututnya melintang di depan dada, matanya yang tinggal sebelah itu merah terbelalak tak pernah berkedip, mulutnya agak terbuka dan air liurnya menetes-netes dari ujung kanan.
Suling Emas yang terkurung di tengah-tengah tampak tenang-tenang saja.
Lenyap sudah kerut merut kemarahan dari mukanya.
Memang pendekar sakti ini sudah berhasil menghalau nafsu marah di hatinya dan inilah syarat utama bagi seorang pendekar silat, yaitu tidak boleh sekali-kali dipengaruhi nafsu perasaan di hatinya.
Ia berdiri dengan kuda-kuda biasa, kaki kiri diangkat ke atas dengan lutut ditekuk, kaki kanan berdiri di ujung jari kaki, suling di tangan kanan melintang di depan kening, tangan kiri memegang kipas biru yang bergerak-gerak, tertutup terbuka, perlahan-lahan tanpa mengeluarkan bunyi, Sepasang matanya tidak memandang ke mana-mana, seakan-akan memandang ujung hidungnya sendiri seperti keadaan seorang dalam samadhi, namun seluruh urat syarafnya telah "dipasang"
Dan panca inderanya mengikuti gerak-gerik tiga orang lawannya.
Sunyi hening di saat itu.
Empat orang itu seperti patung-patung mati, bahkan pernapasan mereka pun tidak terdengar.
Jengkerik dan walang yang biasanya ramai berdendang menghias kesunyian puncak, kini berhenti seakan-akan mereka ikut nonton dengan penuh ketegangan dan kecemasan, seperti para tokoh kang-ouw yang sembunyi sambil menonton di sekeliling tempat itu.
Tiba-tiba empat "patung"
Itu bergerak dengan kecepatan yang sukar diikuti pandang mata biasa, disertai suara-suara mengejutkan.
"Hiaaaaattttt"
Sabit di tangan Hek-giam-lo menyambar cepat sekali, seperti kilat dan hanya tampak cahayanya saja.
"Siuuuttttt"
Hanya satu sentimeter saja selisihnya dari leher Suling Emas yang dengan mudah miringkan tubuh membiarkan sabit menyambar di dekatnya.
"Huah-ha-ha-ha.. wuuuuttttt"
Tongkat It-gan Kai-ong melakukan serangan tusukan maut dari samping selagi Suling Emas miringkan tubuh, disusul pada detik berikutnya oleh sambaran yang-khim di tangan Siang-mou Sin-ni yang menghantam pusar dengan gerakan kuat-kuat sehingga yang-khim mengeluarkan bunyi "singgggg".
Namun dengan amat cekatan, seakan-akan berubah menjadi segulung asap.
Suling Emas sudah bergerak menyelinap di antara gulungan sinar senjata lawan dan tak sebuah pun di antara hujan senjata lawan dan tak sebuah pun di antara lembaran rambut Siang-mou Sin-ni yang mengirim serangan susulan, dapat menyentuhnya.
Namun Hek-giam-lo sudah menerjang lagi, sabitnya menyambar-nyambar laksana burung hantu dari udara, sedangkan tongkat It-gan Kai-ong juga bergerak-gerak seperti ular hitam menotok pelbagai jalan darah mematikan, dibantu oleh hantaman-hantaman yang-khim dan sambaran-sambaran rambut yang mengeluarkan suara berciutan.
Suling Emas memperlihatkan ketangkasan dan kegesitannya.
Ia meloncat, mendekam, memutar tubuh, berjungkir-balik dan setelah lewat lima menit mereka berempat bergerak-gerak sedemikian cepatnya sehingga bayangan mereka campur aduk menjadi satu, Tampak Suling Emas meloncat tinggi sekali dan tahu-tahu sudah berdiri sejauh empat meter di depan tiga orang lawannya.
Kembali seperti tadi, mereka berempat tak bergerak, saling pandang penuh rasa benci dan penasaran.
Kini Suling Emas tidak terkurung lagi, melainkan menghadapi mereka bertiga yang berada di depannya.
Perlahan-lahan tiga orang itu melangkah maju dan otomatis membentuk barisan segi tiga.
Namun Suling Emas tidak mau terkurung lagi.
Ia ingin membalas, tidak mau dijadikan umpan serangan mereka tanpa mendapat kesempatan membalas sama sekali.
Ia maklum bahwa kecepatan mereka itu amat hebat dan kalau ia sudah terkurung seperti tadi, serangan mereka bertubi-tubi tak pernah berhenti dan keadaan demikian itu tentu saja amat berbahaya dan tidak menguntungkan.
Ia tersenyum mengejek, lalu berkata.
"Bagus, tokoh-tokoh Thian-te Liok-koai. Menghadapi aku saja dengan tiga lawan satu, kalian gentar. Apalagi mau menghadapi mendiang Ibuku, Eh, apakah kalian takut? Kalau takut.."
"Sssrrr.. srrr.. srrrrr.."
"Cuiiiiittttt.."
"Sing.. sing.. singgg"
Suling Emas tentu saja sudah waspada.
Malah ini yang ia kehendaki, maka ia tadi sengaja mengejek untuk memanaskan hati mereka.
Pancingannya berhasil karena secara beruntun mereka melepas senjata rahasia.
Pertama-tama Siang-mou Sin-ni yang melontarkan jarum-jarum beracun dari arah kiri, sebanyak tujuh belas yang kesemuanya menuju ke jalan-jalan darah utama.
Kemudian disusul oleh senjata rahasia It-gan Kai-ong yang menjijikkan namun tak kalah jahatnya, yaitu air ludahnya, menyerang dari arah kanan dan paling akhir Hek-giam-lo telah menggunakan pisau-pisau terbangnya menyerang dari depan langsung dengan kecepatan luar biasa.
Biarpun orang sesakti Suling Emas, andaikata ia lengah, tentu akan sukar melepaskan diri daripada ancaman bahaya maut dari tiga penjuru ini.
Baiknya ia memang sudah waspada dan sudah menduga lebih dulu, maka begitu tampak sinar melayang dari tiga jurusan, ia telah mendahului mereka, Tubuhnya mendadak mumbul ke atas seperti terbang, lebih cepat daripada sambaran senjata-senjata rahasia itu, dan kini dia melayang di atas senjata-senjata rahasia itu, langsung ia menerjang tiga orang lawannya dari atas dengan serangan sulingnya dalam jurus-jurus rahasia dari Hong-in-bun-hoat.
Kini giliran tiga orang iblis itulah yang kaget setengah mati ketika tiba-tiba ada suara mendengung-dengung dan melengking di atas kepala mereka, disusul oleh sinar keemasan yang menyilaukan mata.
Mereka sama sekali tidak menduga akan terjangan Suling Emas sehebat itu.
Karena tiga orang iblis itu memang sakti dan berilmu tinggi, biarpun terkejut dan terdesak hebat oleh serangan Suling Emas dari atas yang dahsyatnya bagaikan sambaran halilintar di musim hujan itu, namun mereka bertiga dapat juga menyelamatkan diri.
It-gan Kai-ong berhasil menjatuhkan diri ke belakang sambil memutar-mutar tongkatnya melindungi dirinya, sehingga ia berhasil memecahkan sinar bergulung-gulung yang menyambarnya dan hanya pakaiannya saja yang sebagian besar robek oleh sambaran sinar suling lawannya.
Hek-giam-lo juga berhasil melompat ke belakang sambil berteriak nyaring dan menangkis dengan sabitnya.
Terdengar suara keras dan ujung senjatanya itu patah, akan tetapi ia selamat tidak terluka.
Hanya Siang-mou Sin-ni yang kurang beruntung karena ketika dalam kagetnya ia menggerakkan rambutnya menangkis, rambutnya itu terbabat sinar kuning emas dan putuslah rambutnya yang hitam panjang sehingga tinggal sampai ke pundaknya saja.
Wanita ini menjerit ngeri dan menangis.
Akan tetapi tidak hanya sampai di situ Suling Emas menyerang.
Kini tubuhnya sudah berada di atas tanah dan tanpa membuang waktu lagi ia melanjutkan serangannya, bertubi-tubi ia menyerang tiga orang lawannya sambil tetap mainkan Ilmu Silat Hong-in-bun-hoat yang amat luar biasa itu.
It-gan Kai-ong dan Hek-giam-lo terdesak, mereka maklum akan kelihaian ilmu ini maka mereka main mundur menjauhkan diri.
Tidak demikian dengan Siang-mou Sin-ni yang menjadi marah sekali karena rambut yang menjadi kebanggaan dan menjadi senjata ampuhnya itu telah "berondol".
Dengan nekat wanita ini menyambut serangan Suling Emas dengan kekerasan.
Ia mainkan yang-khim di tangannya dan menyambut pukulan dengan pukulan pula.
Betapapun juga, Siang-mou Sin-ni terpaksa mengakui kehebatan Hong-in-bun-hoat karena belum sampai sepuluh jurus, ia sudah terdesak dan terancam hebat.
Dengan gerakan nekat tanpa mempedulikan keselamatan dirinya, Siang-mou Sin-ni menjerit dan menghantamkan yang-khim pada saat suling lawannya bergulung-gulung mengitari dirinya.
Suling Emas kaget sekali, tidak menyangka lawannya akan berlaku nekat mengadu nyawa.
Tiada waktu lagi untuk mengelak, maka ia menggerakkan kipasnya yang sudah tertutup untuk menangkis.
"Brakkkkk"
Keras sekali suara ini terdengar dan yang-khim di tangan Siang-mou Sin-ni pecah menjadi empat potong, tetapi kipas biru di tangan Suling juga patah menjadi dua.
Detik amat berbahaya itu dipergunakan Suling Emas dengan baiknya karena sulingnya sudah meluncur ke depan dan tiga kali sulingnya berhasil menotok tiga jalan darah yang berbahaya dari Siang-mou Sin-ni.
"Aihhhh.."
Siang-mou Sin-ni menjerit, yang-khim yang sisanya berada di tangannya ia lemparkan ke bawah, berbareng dengan kipas Suling Emas yang juga dibuang ke bawah, kemudian tiba-tiba wanita itu tertawa nyaring dan..
sinar merah menyambar dari mulutnya ke arah muka Suling Emas.
Pendekar sakti ini kaget sekali, maklum apa artinya sinar merah yang mengeluarkan bau busuk memabukkan itu.
Wanita iblis itu telah mempergunakan ilmunya yang terakhir, yaitu Tok-hiat-hoat-lek, ilmu menyemburkan darah beracun yang amat berbahaya.
Kipasnya sudah tidak ada padanya, padahal kipas itulah yang paling tepat untuk menghadapi serangan dahsyat mengerikan ini.
Terpaksa ia lalu melempar tubuhnya ke belakang.
Namun, biarpun ia tidak terkena semburan darah beracun, hawa beracun dari darah yang mengeluarkan bau busuk melebihi mayat busuk ini telah mempengaruhinya dan mendatangkan pusing pada kepalanya dan pandang matanya berkunang-kunang.
Ia cepat mengerahkan sin-kang dan setelah tubuhnya terlempar ke belakang, segera ia berjungkir-balik dan melompat jauh ke kanan.
Baiknya ia seorang yang hati-hati dan gesit, karena benar seperti yang ia khawatirkan, semburan darah itu tadi mengejarnya dan kalau saja ia tidak cepat-cepat berjungkir-balik dan melompat tentu ia akan menjadi korban.
Kini ia melihat wanita iblis itu terhuyung-huyung dan tertawa-tawa.
Hal ini membuat Suling Emas diam-diam mengagumi Siang-mou Sin-ni.
Totokannya tiga kali tadi hebat sekali dan kesemuanya mendatangkan maut.
Seorang yang bagaimana pandai dan kuatnya tentu akan roboh dan tewas seketika.
Akan tetapi Siang-mou Sin-ni masih mampu mengeluarkan ilmunya yarig terakhir, mampu tertawa-tawa dan hanya terhuyung-huyung.
Hebat.
Wanita itu sambil tertawa memuntahkan darah yang beracun, lalu berlari-larian seperti orang gila dan akhirnya terdengar jeritnya melengking ketika tubuhnya terjungkal ke dalam jurang tak jauh dari situ.
Agaknya ia seperti gila dan buta oleh luka-lukanya dan lari tanpa melihat lagi sehingga terjungkal memasuki jurang yang ratusan kaki dalamnya.
Tiba-tiba Suling Emas berteriak keras dan tubuhnya melesat ke kanan kiri sambil memutar sulingnya.
Secara serentak ia diserang hebat oleh It-gan Kai-ong dan Hek-giam-lo.
Karena pandang matanya masih berkunang-kunang dan kepalanya masih pening, ia hanya dapat mengelak sambil menjaga diri dengan suling.
Agaknya keadaannya ini diketahui pula oleh dua orang manusia iblis itu, yang terus mendesaknya dengan serangan-serangan kilat.
Setelah dua orang iblis ini mengeroyok berdua saja, mereka mendapat kenyataan yang mengagumkan, yaitu bahwa ilmu silat yang mereka mainkan untuk mengeroyok Suling Emas kini menjadi berlipat ganda ampuhnya.
Ilmu silat mereka itu saling mengisi kekosongan yang ada dan dimainkan bersama-sama dapat menjadi semacam daya serang yang luar biasa.
Insyaflah mereka akan hal ini, karena memang sesungguhnya ilmu silat baru mereka itu adalah bagian-bagian daripada sebuah ilmu yang kitabnya mereka ranpas dari tangan Bu Kek Siansu.
It-gan Kai-ong dalam perebutan berhasil mendapatkan kitab bagian depan sedangkan Hek-giam-lo bagian belakang.
Suling Emas juga kaget karena terasa olehnya betapa hebat desakan kedua orang ini.
Ia berusaha menghalau hawa beracun yang mendesak di dadanya dan ke otaknya, akan tetapi kedua orang lawannya tidak memberi kesempatan kepadanya, terpaksa ia harus mengandalkan sulingnya untuk melindungi tubuh sehingga suling itu berubah menjadi gulungan sinar kuning emas yang menyelimuti dirinya, tak memungkinkan sabit dan tongkat menyentuhnya.
Mereka seakan-akan hanya mengadu tenaga dan keuletan.
Akan tetapi berapa lama ia akan dapat bertahan?
Betapapin juga, dalam ilmu silat, menyerang lebih menguntungkan daripada mempertahankan, kecuali kalau pertahanan itu dapat diubah cepat menjadi penyerangan balasan.
Dalam hal ini, Suling Emas sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk membalas.
Hal ini adalah karena ia masih berada dalam pengaruh hawa beracun Tok-hiat-hoat-lek dari Siang-mou Sin-ni tadi, dan ke dua karena penggabungan ilmu silat kedua orang iblis itu benar-benar memperlipat ganda kehebatan daya serang mereka.
It-gan Kai-ong dan Hek-giam-lo adalah tokoh-tokoh kawakan yang sudah matang ilmunya, maka tentu saja dalam hal ilmu silat mereka merupakan orang-orang yang banyak pengalaman dan cerdik sekali.
Setelah mainkan bagian ilmu rampasan kitab Bu Kek Siansu bersama-sama, segera mereka menarik kesimpulan baliwa apabila kedua ilmu mereka itu digabungkan, maka akan merupakan ilmu yang hebat sekali.
"Kiri buka, atas tekan"
Tiba-tiba It-gan Kai-ong berseru. Hek-giam-lo mendengus dan berteriak.
"Kanan tutup, bawah dorong"
Kiranya yang diucapkan It-gan Kai-ong adalah merupakan sebagian daripada ilmu pukulan yang paling hebat, akan tetapi karena hanya ia dapatkan setengahnya, maka selama ini merupakan rahasia baginya dan tak dapat ia pergunakan.
Adapun ucapan Hek-giam-lo sebagai imbangannya adalah lanjutan daripada jurus itu, maka keduanya segera bergerak.
It-gan Kai-ong lebih dulu lari disambung oleh Hek-giam-lo.
Bukan main dahsyatnya terjangan ini, sebuah jurus rahasia yang kini dimainkan secara bersambung oleh dua orang.
Begitu otomatis gerakan mereka, ganti-berganti sehingga merupakan serangkaian serangan yang serba sulit dihadapi.
Suling Emas kaget sekali.
Hampir saja ia terkena bacokan sabit setelah ia berhasil menghindarkan tusukan maut tongkat It-gan Kai-ong.
Akan tetapi begitu sabit itu lewat sedikit di atas pundaknya, secara aneh sekali tongkat kakek raja pengemis sudah menyambar, ujungnya tergetar menjadi lima dan menyerang ke arah lima bagian tubuhnya dari sebelah atas, disambung dengan sambaran sabit bertubi-tubi dari bawah.
Suling Emas sudah berusaha menyelamatkan diri dengan memutar sulingnya, namun karena ia masih pusing dan sulingnya hanya merupakan senjata pendek yang sukar menghadapi senjata-senjata panjang yang menyerang dari atas dan bawah secara aneh dan bertubi-tubi, ketika tubuhnya melompat miring, pundaknya terkena hantaman tongkat It-gan Kai-ong.
"Brukkk"
Hantaman ini keras sekali.
Batu karang juga akan hancur terlanda pukulan ini.
Suling Emas sudah mengerahkan lwee-kangnya ke arah pundak, namun tetap saja ia terbanting dan bergulingan di atas tanah.
"Heh-heh-heh"
It-gan Kai-ong tertawa gembira dan mukanya beringas ketika ia mengejar dengan tongkat terangkat, siap memberi tusukan terakhir.
"Mampus kau"
Hek-giam-lo mendengus dan berlumba dengan kakek pengemis itu untuk berusaha mendahuluinya membacokkan sabitnya ke arah tubuh Suling Emas yang bergulingan dan kelihatannya tak berdaya lagi itu.
Hampir berbareng, tongkat dan sabit itu menyambar ke arah tubuh Suling Emas.
Tiba-tiba terdengar suara melengking tinggi yang getarannya seakan-akan mencopot jantung It-gan Kai-ong dan Hek-giam-lo.
Suara ini adalah suara yang ditiup Suling Emas dalam keadaan bahaya itu.
Sejenak Hek-giam-lo dan It-gan Kai-ong tertegun dan gerakan mereka terhenti beberapa detik.
Namun beberapa detik ini cukuplah bagi pendekar sakti seperti Suling Emas yang sudah melompat bangun dan menggerakkan sulingnya.
"Trang-trang.. duk.. duk.."
Tubuh It-gan Kai-ong dan Hek-giam-lo terlempar dan melayang bagaikan layang-layang putus talinya, sedangkan sabit dan tongkat mereka patah-patah.
Kemudian robohlah dua orang iblis sakti itu, mengeluh dan dari mulut mereka muntah darah segar.
Mereka telah terluka hebat.
Akan tetapi di lain pihak, Suling Emas berdiri dengan terhuyung-huyung.
Ia berusaha mengusir kepeningan kepalanya akibat hawa beracun Siang-mou Sin-ni tadi, karena luka di pundaknya akibat gebukan tongkat It-gan Kai-ong tidaklah amat parah baginya kalau dibandingkan dengan hawa beracun itu.
"Huah-hah-hah, anjing muda boleh juga"
"Semua sudah roboh, tinggal dia yang harus roboh"
Sambung suara ke dua dan muncullah kakek putih dan kakek merah.
Keduanya menggerakkan tangan, kakek merah dari depan Suling Emas sedangkan kakek putih dari belakangnya karena munculnya kedua orang kakek itu berpencar.
Suling Emas yang sudah berkurang tenaganya karena pusing, juga karena luka di pundaknya, cepat miringkan tubuh dan mementangkan kedua lengannya, didorong ke arah kanan kiri untuk menghadapi serangan dua orang kakek itu.
Ia kaget sekali ketika menerima dorongan tenaga sakti yang berlawanan, dari kanan tenaga kakek merah panas seperti api, sedangkan dari kiri tenaga kakek putih dingin seperti salju.
Inilah hebat, pikirnya.
Tak mungkin ia mengerahkan dua macam tenaga untuk menghadapi serangan maut ini, akan tetapi Suling Emas bukanlah seorang sakti yang sudah kenyang akan gemblengan hebat kalau ia menjadi panik atau gentar.
Ia mengerahkan seluruh tenaganya, semua hawa murni ia kerahkan untuk menahan gelombang serangan itu, sepasang matanya meram, dari balik kain kepalanya mengepul uap putih.
Gelombang tenaga makin dahsyat dari kanan kiri, tubuh Suling Emas sudah gemetar, hampir tak kuat lagi.
"Orang-orang tak tahu malu, pengecut. Mengeroyok kakakku yang sudah terluka"
Tiba-tiba seorang pemuda meloncat ke depan.
Dia ini bukan lain adalah Bu Sin.
Pemuda ini mencabut pedangnya.
Sesosok bayangan lain berkelebat dan cepat menarik tangannya.
"Bu Sin, jangan"
Tiarap.."
Dengan sentakan keras bayangan yang ternyata adalah seorang nikouw (pendeta wanita Buddha) ini berhasil membuat Bu Sin roboh terguling.
Akan tetapi ia berhasil menyelamatkan Bu Sin saja karena sekali kakek merah mengibaskan tangan kirinya ke arahnya, nikouw yang bukan lain adalah Kui Lan Nikouw, bibi guru Bu Sin ini, roboh terguling sambil mengeluh.
Pada saat itu, Hek-giam-lo dan It-gan Kai-ong sudah merangkak bangun.
Terdengar It-gan Kai-ong terkekeh biarpun napasnya terengah-engah dan mulutnya mengeluarkan darah, sedangkan Hek-giam-lo mendengus aneh, juga napasnya terengah-engah.
Kedua orang kakek ini lalu dengan langkah terhuyung-huyung menghampiri Suling Emas yang berdiri dengan kedua lengan terpentang kaku, tangan mereka memegang sisa senjata yang sudah patah lebih setengahnya.
Jelas bahwa mereka hendak menurunkan tangan maut terhadap Suling Emas yang sama sekali sudah tidak berdaya itu.
Mereka ini sudah terluka berat di sebelah dalam tubuhnya akibat totokan suling, akan tetapi nafsu mereka masih besar untuk membunuh Suling Emas yang sudah berada dalam keadaan "terjepit"
Antara dua tenaga raksasa yang amat dahsyat.
Biarpun keadaan dua orang iblis itu sudah terluka dan lemah namun karena mereka adalah orang-orang sakti, tentu saja tanpa perlawanan Suling Emas, sekali pukul dengan senjata-senjata sepotong itu sudah akan cukup untuk membunuh perdekar ini.
Mereka kini sudah berada dekat sekali dan sabit serta tongkat sudah diangkat, siap untuk dipukulkan.
"Plakk"
Dua sosok bayangan manusia berkelebat cepat, sebatang pedang bersinar kuning menangkis sabit membuat sabit itu kini terpotong tinggal gagangnya saja, sedangkan sebuah tangan yang kecil halus menangkis tongkat sehingga tongkat itu terpental.
Kiranya yang muncul adalah dua orang gadis, Lin Lin dan Sian Eng yang muncul di saat yang bersamaan dari dua jurusan.
Hek-giam-lo dan It-gan Kai-ong terkejut dan terhuyung mundur.
Lin Lin sambil berseru keras mengayun pedangnya menyerang Hek-giam-lo.
Iblis hitam ini tentu saja tidak takut menghadapi Lin Lin, akan tetapi oleh karena ia telah terluka hebat dan senjatanya yang ampuh sudah musnah, ditambah lagi karena dalam tangkisan tadi ia mendapat bukti bahwa Lin Lin telah memiliki ilmu dan tenaga mujijat, Hek-giam-lo mendengus marah lalu melompat jauh, menghilang di tempat gelap.
Juga It-gan Kai-ong yang sudah terluka parah ketika menerima tangkisan lengan Sian Eng, kaget setengah mati karena tangannya terasa panas dan gatal-gatal.
Ia maklum bahwa keadaannya yang sudah terluka itu tidak menguntungkan dirinya, maka ia pun lalu melompat dan lenyap di tempat gelap.
Lin Lin dan Sian Eng saling pandang gembira.
"Enci Sian Eng.."
Serunya gembira.
Akan tetapi Sian Eng tidak menjawab dan Lin Lin melihat betapa wajah encinya yang tersinar cahaya bulan itu aneh sekali.
Sian Eng seakan-akan tidak mempedulikannya, malah kini Sian Eng dengan tangan kosong menerjang kakek putih yang berjuluk Pek-kek Sian-ong, dari mulutnya terdengar lengking yang amat aneh, yang membuat bulu tengkuk Lin Lin serasa berdiri karena ia teringat akan lengking yang keluar dari si mayat hidup Cui-beng-kwi.
Akan tetapi ia pun segera sadar bahwa Suling Emas terancam bahaya, maka dengan pedang terhunus ia lari menghampiri Lam-ek Sian-ong kakek muka merah, lalu menerjang dengan ilmu pedangnya berdasarkan ilmu silat yang ia pelajari dari dalam tongkat pusaka Beng-kauw.
Melihat dua orang gadis yang gerakan-gerakannya ganas sekali menerjang, baik Lam-kek Sian-ong maupun Pak-kek Sian-ong terkejut sekali dan sama sekali mereka tidak menduga-duga terjadinya hal ini.
Tadi, melihat betapa dua orang gadis muda remaja itu sekali tangkis dapat membuat It-gan Kai-ong dan Hek-giam-lo yang sudah mereka saksikan kelihaiannya lari tunggang-langgang saja sudah membuat mereka terheran-heran.
Maka mereka berbareng lalu mengerahkan tenaga mendesak Suling Emas.
Karena memang sudah payah keadaannya, di "jepit"
Seperti itu Suling Emas tak dapat menahan lagi, ia mengeluh panjang dan roboh terguling, dalam keadaan pingsan dan mukanya pucat sekali seperti sudah mati.
Sian Eng dan Lin Lin memuncak kemarahannya.
Lin Lin memutar pedangnya dan menyerang kalang-kabut sambil memaki-maki.
"Kakek tua bangka mau mampus, Kau berani mencelakai dia? Kucukur jenggotmu kutabas hidungmu kupenggal lehermu"
Ia memaki-maki sambil menyerang.
Serangannya hebat bukan main karena dalam keadaan marah itu ia mengeluarkan jurus-jurus paling hebat dari ilmu silat barunya yang sudah ia latih lagi atas petunjuk Gan-lopek.
Adapun Sian Eng yang juga menyaksikan keadaan Suling Emas, kini memaki-maki dan melengking-lengking secara aneh, namun gerakan-gerakan kedua tangannya ketika menerjang kakek muka putih dahsyat bukan main, mengeluarkan angin yang mengeluarkan bunyi bersuitan.
Lin Lin dan Sian Eng yang marah melihat Suling Emas roboh dan menyerang kedua orang kakek itu, tidak melihat betapa sesosok bayangan berkelebat cepat sekali, menyambar tubuh Suling Emas dan dibawa lari dengan kecepatan seperti terbang.
"Eh, siapa kau dan hendak kau bawa ke mana kakakku? Berhenti"
Bu Sin yang tadinya bingung berlutut di dekat tubuh bibi gurunya yang terluka, kini meloncat ketika melihat seorang wanita cantik baju hijau melarikan Suling Emas yang masih pingsan.
"Bodoh, Kubawa dia ke pondok Kim-sim Yok-ong agar diobati"
Wanita itu membentak Bu Sin sambil terus lari.
Bu Sin yang mengejarnya sebentar saja kehilangan bayangan wanita itu yang bukan lain adalah Tan Lian, gadis yang memiliki gin-kang luar biasa itu dan yang tentu saja tak dapat dikejar oleh Bu Sin.
Karena mengkhawatirkan keadaan bibi gurunya dan kedua orang adiknya, apalagi karena mendengar bahwa wanita tadi hendak mengobatkan Suling Emas, terpaksa Bu Sin kembali ke tempat pertandingan.
Memang harus diakui bahwa di luar kesadaran, bahkan diluar kehendak mereka atau tidak disengaja, baik Lin Lin maupun Sian Eng telah mewarisi ilmu-ilmu yang hebat luar biasa, yang secara mujijat telah mendatangkan tenaga sin-kang yang amat kuat, Namun ilmu itu baru saja mereka dapatkan dan belum mereka latih masak-masak.
Kini mereka menghadapi tokoh-tokoh seperti dua orang kakek sakti yang aneh itu, sudah tentu saja bukan lawan mereka.
Tadi pun ketika menghadapi Hek-giam-lo dan It-gan Kai-ong, mereka dapat dan kuat menangkis hanya karena kedua orang iblis itu sudah menderita luka dan kehabisan tenaga.
Kalau dua orang iblis itu dalam keadaan sehat dan segar, tentu saja Lin Lin dan Sian Eng tentu takkan mampu menandingi mereka.
Sepasang kakek yang aneh itu, Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong, juga hanya sebentar saja merasa heran dan kaget, akan tetapi setelah menghadapi Lin Lin dan Sian Eng, maklumlah orang-orang sakti ini bahwa dua orang gadis itu sungguhpun mewarisi ilmu mujijat, namun ternyata masih "mentah".
Segera terdengar mereka tertawa-tawa dan begitu kedua orang kakek ini menggerakkan kedua tangan mereka, tubuh Lin Lin dan Sian Eng "tersedot"
Dan "hanyut"
Dalam arus hawa pukulan yang berputaran seperti angin puyuh.
Lin Lin dan Sian Eng berusaha mempertahankan diri, namun sia-sia, mereka terputar-putar seperti kitiran angin oleh dua orang kakek sakti.
Bu Sin bingung sekali.
Bibi gurunya masih pingsan dengan muka pucat.
Melihat kedua orang adiknya terputar-putar seperti itu, hatinya ingin menolong, akan tetapi ia pun maklum bahwa tenaga dan kepandaiannya jauh dari yang diharapkan untuk bisa menolong adik-adiknya.
Betapapun juga, pemuda ini sudah siap menerjang kedua orang kakek itu.
Dengan gerakan nekat, ia meloncat dan membentak.
"Dua orang kakek siluman lepaskan adik-adikku"
Akan tetapi begitu meloncat, segera ia terbanting roboh ke belakang dekat bibi gurunya, terdorong oleh sebuah tenaga ajaib yang datang tiba-tiba.
Tahu-tahu di situ sudah berdiri seorang kakek lain, kakek tua yang berjenggot panjang, yang berdiri tersenyum memandang kepadanya, akan tetapi yang cukup membuat Bu Sin terhenyak kaget ketika mengenal kakek itu sebagai kakek sakti yang pernah menolongnya dan melatihnya di bawah pancuran air.
"Mereka bukan lawanmu,"
Terdengar kakek itu berkata lirih.
"Locianpwe, tolonglah adik-adikku.."
Akan tetapi kakek itu yang bukan lain adalah Bu Kek Siansu, sudah melangkah maju dan berkata, suaranya lirih namun suara ini menembus seluruh udara, mendatangkan gema yang nyaring berpengaruh.