Eps 1 Pedang Wucisan - Chin Yung
Baca online Pedang Wucisan - Chin Yung
Cersil Pedang Wucisan - Chin Yung.
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com Pedang Wucisan Karya . Chin Yung d/h . Ilmu Pedang Maya Nada, Kitab wasiat Ebook oleh . Dewi KZ
http.//kangzusi.com/
http.//dewi-kz.info/
http.//kang-zusi.info/
Daftar Isi . Pedang Wucisan Daftar Isi .
Jilid 1
Jilid 2
Jilid 3
Jilid 4
Jilid 5
Jilid 6
Jilid 7
Jilid 8
Jilid 9
Jilid 10
Jilid 11
Jilid 12
Jilid 13
Jilid 14
Jilid 15
Jilid 16
Jilid 17
Jilid 18
Jilid 19
Jilid 20
Jilid 21
Jilid 22
Jilid 1 SEEKOR kuda berlari dengan kencang, debu mengulak naik, didalam keadaan malam gelap, pemandangan tidak terlihat jelas, hanya ketropakannya suara kaki kuda yang terdengar jelas.
Penunggang yang melakukan perjalanan malam adalah seorang anak muda, wajahnya putih dan cakap, ia mengenakan pakaian warna putih, pada pinggangnya tersoren pedang, dia adalah seorang akhli silat.
Kini, penunggang kuda berbaju putih itu mendekati kelenteng, telah terlalu lama ia melakukan perjalanan, sudah waktunya istirahat, ia lompat turun, mengikat tali kuda tunggangannya, dan berjalan masuk kedalam kelenteng tersebut.
Empat orang telah menantikan ditempat sudut dari ruangan itu, begitu melihat masuknya pemuda berbaju putih, empat pedang mereka bergerak, penusuk pemuda tersebut, luar biasa cepat, tiada ada tanda tanda yang memberi tahu akan datangnya seranganserangan itu.
itulah serangan gelap !
Wajah sipemuda berubah, desiran angin itu tidak lepas dari pendengarannya, tubuhnya melesat tinggi, menghindari serangan yang mengancam.
Hampir terjadi benturan diantara empat pedang tadi, beruntung para pemiliknya berkepandaian tinggi, cepat-cepat mereka menarik pulang tenaga yang dikerahkan, dengan demikian, terhindarlah bentrokkan diantara sesama orang sendiri.
Pemuda baju putih melayang turun dilain tempat, memandang keempat orang yang membokong dirinya, itulah orang orang berbaju hitam, dari ilmu pedang yang mereka gunakan, sipemuda dapat menduga asal usulnya.
"Tentunya anak murid golongan Thian-lam Lo-sat?"
Ia bergumam Keempat orang berbaju hitam melihat jelas pemuda baja putih yang diserang mereka tertegun.
"Kita telah salah mata."
Berkata seorang.
"Bukan dia."
Berkata seorang lagi.
"Kita tertipu."
Berkata orang ketiga.
"Aaaaa...."
"Kalian adalah anak murid golongan Thian lam Lo-sat?"
Berkata lagi pemuda itu.
Lebih terkejut lagi bagi keempat orang ini, setelah gumaman kata-kata sipemuda, gerakkan mereka adalah sangat dirahasiakan tidak di sangka bahwa ilmu pedang yang diperlihatkan untuk menyerang orang membocorkan rahasia.
Asal usulnya telah terbongkar.
Terdengar lagi suara sipemuda.
"Aku tidak mempunyai permusuhan dengan golongan kalian, juga tidak kenal pada kalian. mengapa mengadakan serangan gelap ?"
Ia diserang hebat, tapi tidak menunjukan kemarahan, pada wajahnya masih tersungging senyuman. Satu dari keempat orang berbaju hitam itu berdengus.
"Kau telah mengetahui asal usul kami, hal ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Kesalahan ini dikarenakan banyak usilnya mulutmu, jangan bersakit hati kepada kami."
"Kita masih banyak urusan."
Berkata seorang baju hitam lainnya.
"Bunuh saja beres."
Serentak, merekapun maju kembali.
Pemuda baju putih tidak takut, ia sudah siap, ketika pedang lawan datang, dengan seenaknya saja, ia berhasil menghindari diri dan serangan-serangan itu.
Melihat serangannya tidak berhasil, keempat orang itu mengulang lagi serangan-serangan lain, mereka mengepung dengan rapat, menyerang dengan gesit, mereka bersenjata pedang sedangkan lawan bertangan kosong, mungkinkah tidak berhasil melukai atau membunuhnya?
Mereka adalah golongan anak murid Thian-lam Lo-Sat yang terkenal!
Meskipun mereka ngotot menyerang, kenyataan tetap menjadi kenyataan, ilmu kepandaian sipemuda jauh berada diatas mereka, suatu saat, pemuda itu menjulurkan tangannya, mencengkeram bahu seorang berbaju hitam.
Untuk menghindari diri dari serangan ini memang tidak mungkin, sibaju hitam mengadakan tenaga perlawanan Pemuda itu menjatuhkan lawan tiba-tiba dirasakan bahu orang yang dipegang menjadi dingin, ia sangat terkejut, teringat akan peringatan gurunya, bahwa murid-murid Thian-lam Lo-sat pandai menggunakan racun, mungkinkah hal ini dapat terjadi?
Cepat-cepat ia melepaskan tangan yang menyentuh bahu orang itu.
Orang berbaju hitam yang dicengkeram tidak berkutik, seharusnya, dengan mudah dirinya dapat di lempar jauh-jauh, begitu merasakan lenyapnya tekanan yang ada, segera ia berjumpalitan pergi.
Sipemuda telah menghindari dari tiga tusukan pedang, kini pertempuran telah terpisah, memandang keempat lawannya, ia tersenyum.
Keempat orang berbaju hitam itu telah berkumpul, bila pada saat sebelumnya, mereka galak dan bengis, kini kegalakan dan kebengisan itu telah lenyap sama sekali.
Sebaliknya, nyali mereka telah diciutkan.
ilmu kepandaian lawan telah disaksikan, dan itu bukan tandingan mereka, dia lihay, tidak mungkin dapat memenangkan pertandingan.
Pemuda berbaju putih memandang kepada empat orang berbaju hitam itu, ia sedang melakukan tugas penting, tidak mau terlibat dengan anak murid golongan Thian-lam Lo-sat, Bila dirinya tidak diganggu, iapun tidak akan mengganggu orang.
Mengetahui bahwa bukan tandingan pemuda baju putih yang kosen, tanpa malu-malu lagi, satu-persatu, empat orang berbaju hitam itu ngeloyor pergi, mereka meninggalkan kelenteng.
Inilah yang diharapkan oleh pemuda itu, ia harus beristirahat, dibiarkan saja musuh-musuh tersebut meninggalkan dirinya, ia masih memikirkan kejadian-kejadian yang telah dialami, belum lama ia muncul didalam rimba persilatan, gangguan-gangguan dan halangan yang datang saling susul menimpa dirinya, ia sedang menunaikan misi tugas sang guru untuk membawa pedang In-liongkiam, menemui seorang gadis yang bernama Ie Han Eng, tujuannya adalah lembah Hui-in.
Manakala ia berdiri diam, telinganya dapat menangkap lain suara berkesiuran angin, Cepat-cepat ia membalikkan badan, menghadapi orang yang baru datang.
Seorang berbaju putih sedang mendatangi kearah dirinya, pemuda itupun mempunyai potongan badan yang agak mirip dengan dirinya, dilihat sepintas lalu, mereka adalah saudara kembar, perbedaannya ialah wajah pemuda yang baru datang agak lebih manis, kulitnya pun lebih halus.
Pemuda yang baru datang itu membuka suara.
"Maafkan, siauwtee yang terlambat datang sehingga merepotkanmu mengusir keempat orang tadi, perkenalkan siauwtee bernama Cin Bwee."
"Ooo, hanya perkara kecil."
Dan ia membalas hormat pemuda yang bernama Cin Bwee itu.
"Memang perkara kecil, dengan mudah keempat orang telah berhasil kau usir pergi!"
Berkata Cin Bwee sambil tersenyum.
"Sebenarnya, tujuan mereka adalah diri.
"siauwtee"
Mata mereka agak sedikit lamur maka mengganggu saudara dengan kesudahan seperti ular mencari penggebuk, mereka lari kucar-kacir, ha, ha, ha betul-betul lucu!"
Si pemuda tertegun ucapan Cin Bwee banyak berkesan, Matanya melirik kearah pakaian dan potongan badan pemuda itu, pada punggungnya pun terselip sebatang pedang, itulah cara dandanan dirinya, tidak dapat menyalahkan kepada empat orang berbaju hitam, didalam waktu yang terburu-buru, mereka dapat salah mata, dirinya dianggap sebagai pemuda Cin Bwee.
Melihat gerak-gerik dan lagu suaranya, Cin Bwee sangat mirip dan lebih mirip dari seorang wanita, daripada seorang pria.
Menyaksikan keadaan pemuda itu, Cin Bwee mengalami getaran, ia berpikir di dalam hati.
"Celaka! Mengapa aku tertarik kepadanya? Sudah kurencanakan baik-baik untuk menggunakan nama palsu, mengapa kuberitahu nama asli ? Dilihat dari sinar matanya, seolah-olah, ia telah mengetahui penyamaranku ? Mungkinkah..."
Segera ia memanggil.
"Hei, mengapa kau diam saja ? Siauwtee bernama Cin Bwee, dan bagaimana nama sebutanmu ? Mengapa tidak memberi tahu?"
Pemuda itu tersadar dari lamunannya, ia sadar bahwa tidak seharusnya memandang orang seperti apa yang telah dilakukannya tadi, beruntung orang tersebut sebagai seorang pemuda, bila berhadapan dengan seorang pemudi, bukankah sangat kurang ajar sekali ?
"Oh Maafkan...
Namaku Su-to Yan."
Demikian ia berkata gugup.
"Eh, namamu itu seperti nama perempuan,"
Pemuda yang bernama Su-to Yan tertegun, ia berpikir.
"Mungkinkah namamu itu mirip dengan nama laki-laki? Aku tidak mencela kepada kedua orang tuamu yang memberi nama bersifat perempuan, mengapa kau mencela nama orang?"
"Nama saudarapun tidak mirip dengan nama laki-laki,"
Berkata Su-to Yan. Wajah Cin Bwee berubah menjadi merah, beruntung keadaan gelap, hal ini tidak terlihat oleh Su-to Yan. Cepat-cepat Cin Bwee menundukkan kepala, kemudian ia berkata.
"Telah kusaksikan, bagaimana kau menyerang keempat orang tadi dengan gerakkan-gerakkan yang luar biasa, sangat indah, itulah tipu silat Siauw-lim-pay. Sayang Siauw-lim-pay melarang anak buahnya menampilkan diri, turut campur keduniawian kesempatanmu mendapat nama akan terkekang olehnya, bila tidak, dengan ilmu kepandaian yang kau dapati, kukira sukar mendapat tandingan."
"Saudara Cin, kau terlalu memuji ilmu kepandaianku, tapi kau keliru, aku bukan anak-murid Siauw lim pay."
Cin Bwee melengak, hal itu sungguh berada diluar dugaan.
"Benarkah, kau anak murid Siauw lim-pay?"
"Mana berani aku menghianati nama partai sendiri?"
"Dari partai manakah asal-usulmu?"
"Aku tidak berpartai."
"Hei, jangan kau berdusta."
"Selamanya, belum pernah aku berdusta kepada orang."
Cin Bwee memperlihatkan wajah cemberut, persis seperti gadis jelita yang kolokan, perubahan mana yang menimbulkan kecurigaan Su-to Yan, makin kuat dugaannya bahwa Cin Bwee ini adalah wanita yang menyamar pria.
Ketika Cin Bwee ingat akan keadaan dirinya, cepat-cepat membuang wajah cemberut itu, kini parasnya ramah lagi, seperti sediakala ia-berkata.
"Saudara Su-to, kemanakah kau hendak pergi ?"
Su-to Yan tidak dapat berdusta, ia menjawab pertanyaan itu secara terus terang.
"Aku sedang berada didalam perjalanan menuju kelembah Hui in."
"Lembah Hui in digunung Bu-san?"
"Betul"
"Hendak menemui nona Ie Han Eng, bukan?"
"Eh, bagaimana kau tahu?"
Su-to Yan sangat heran, bagaimana orang tahu bahwa dirinya ingin menemui nona dilembah Hui-in tersebut?
Matanya mengawasi Cin Bwee, ia hendak meminta keterangan yang lebih jelas.
Cin Bwee mengerti akan keheranan sipemuda, segera ia berkata.
"Ketahuilah, setiap orang yang menuju ke arah lembah Hui-in, pasti mencari Ie Han Eng, maka tidak mungkin aku salah duga."
Su-to Yan belum membuka mulut Cin Bwee telah meneruskan pembicaraannya.
"Setiap orang yang hendak menemui nona Ie Han Eng akan ditolak oleh si Pedang Selatan dan Pedang Utara, sepasang jago tanpa tandingan. Mungkinkah kau bersedia ditempur oleh kedua orang tersebut? tidak mudah untuk menjatuhkan salah satu dari kedua orang itu, tahu?"
Su-to Yan tertawa, dan ia berkata gagah.
"Aku sedang menjalankan perintah suhu, segala sesuatu yang akan kuhadapi pasti dapat kuatasi, aku harus berusaha membersihkan rintangan-rintangan itu."
Cin Bwee tercengang.
"Hei."
Katanya.
"perintah suhu? Kau tahu bahwa Pedang Selatan dan pedang Utara itu melarang orang memasuki lembah Hui-in, mereka melarang orang melihat kitab Maya Nada, ilmu pedang tersebut tidak boleh lepas dari tangan Ie Han Eng,"
"Mengapa?"
Bertanya Su-to Yan tidak mengerti "Mudah dimengerti. ilmu pedang tersebut sangat luar biasa, Siapa yang memilikinya pasti menjadi seorang jago yang tak terkalahkan dan ini tidak boleh."
"Aku masih belum mengerti."
Cin Bwee melengak, mengapa demikian?
Segera ia berkata.
pemuda itu mengatakan "Kau mendapat tugas kelembah Hui-in, tujuanmu menemukan Ie Han Eng, seharusnya kau tahu akan rahasia ilmu pedang Maya Nada, Nah, ceritakanlah sedikit tentang ilmu pedang itu."
"Maaf, sama sekali, aku tidak tahu akan adanya ilmu pedang itu."
"Jangan kau berbohong dihadapanku."
"Siapa yang bohong kepadamu?"
Cin Bwee menunjukkan wajahnya yang tidak puas, ia berkata.
"Ternyata kau tidak jujur Aku tidak suka kepadamu, Maka sampai disini sajalah perkenalan kita. Selamat tinggal."
Tanpa menoleh lagi, Cin Bwee meninggal kan Su-to Yan.
Su-to Yan tidak mencegah kepergian pemuda yang seperti gadis itu, ia menaruh curiga kepada musuh, tentunya Cin Bwee mengandung permusuhan dengan Ie Han Eng, dan ingin mengorek rahasia dari dirinya, sebenarnya ia tidak tahu sama sekali.
Setelah berdiri beberapa saat, Su-to Yan duduk bersila, ia harus istirahat dan melakukan perjalanan diesok hari.
Bagi seorang yang melatih ilmu silat, mengatur peredaran jalannya beberapa saatpun cukup, dengan harapan pada hari berikutnya ia dapat meneruskan perjalanan dengan badan sehat.
Su-to Yan ada maksud untuk istirahat lebih lama, sengaja ia memejamkan mata, dengan demikian, ia lebih cepat memulihkan tenaga.
Apa mau telinganya dapat merangkap satu suara derap kaki kuda, arah tujuannya adalah kelenteng dimana ia sedang menetap, tidak lama kemudian suara kuda itu sudah berada didepan kelenteng disini ia terhenti.
Ia berpikir.
"Tentu ada orang yang akan masuk ke-dalam kelenteng."
Ia membuka kedua matanya dan secepat itu pula, ia dapat melihat seorang berbaju kuning memasuki ruangan.
"Ada orangkah didalam?"
Demikian orang berbaju kuning itu bertanya, Segera matanya bertumbuk dengan mata Su-to Yan.
Su-to Yan memperhatikan orang itu, pada pinggangnya tergantung sebuah pedang, tentunya bukan pedang biasa.
Orang itu mendekati Su-to Yan dan berkata.
"0ooo....Saudara sudah berada ditempat ini? Sudah lamakah? Agak mengganggu."
Su-to Yan belum menjawab pertanyaan tersebut, dan orang itu sudah meneruskan pembicaraannya.
"Kebetulan aku lewat didepan kelenteng, berhubung hari sudah malam, maka aku hendak turut istirahat. Harap saudara tidak keberatan, perkenalkan, aku adalah Kong-Sun Giok."
Su-to Yan telah bangun berdiri, mendengar disebutnya nama Kong-sun Giok, hatinya tergetar, ternyata orang yang berada dihadapan dirinya adalah Pemimpin pada rimba persilatan untuk daerah Selatan si pedang selatan Kong-Sun Giok.
Salah satu dari tiga jago pedang di masa itu.
Mungkinkah Kong-sun Giok ingin menghalang-halangi perjalanannya menuju kelembah Hui-in?
Demikian ia bertanya kepada diri sendiri jika hal itu benar, agaknya tidak mudah untuk menghindari diri dari rongrongan jago pedang nomor satu ini, besar kemungkinanya tugas yang didapat dari sang guru akan terlantar.
Su-to Yan adalah seorang pemuda yang tidak mudah ditundukan begitu saja, sikapnya yang kalem dan tenang menunjukkan kepribadian dirinya, dari sinar matanya yang penuh kewibawaan bagaimanapun sulit rintangan yang di hadapi, tetap akan diterjang olehnya.
Demikian, mendengar Kong-sun Giok memperkenalkan diri, dengan sikap yang hormat, Su-to Yan memberi tanggapan.
"Sungguh beruntung, aku Su to Yan dapat berkenalan dengan saudara Kong-sun Giok yang termashur."
Kong-sun Giok sangat puas atas pujian yang diberikan kepada dirinya, dengan tertawa panjang ia-berkata.
"Saudara Su-to, pedangmu itu sangat bagus, bolehkah aku melihat sebentar. Harap Saudara tidak menolak permintaanku."
Su-to Yan adalah seorang pemuda jujur, seorang yang belum tahu betapa pahit getirnya kejahatan dan kelicikan dunia, tentu saja tidak mencurigai akan maksud orang yang mengatakan hendak meminjam pedang itu.
Diloloskannya pedang In-liong dan diserahkan kepada Sang bengcu rimba persilatan Kong Sun Giok menyambut pedang dengan sikap yang sangat ramah, ia tertawa riang.
Ditimbang-timbangnya berat pedang, rasa kagetnya tidak terkira, apa lagi setelah melihat huruf "In-liong"
Yang tercetak pada pedang tersebut. Mata beralih kepada sipemilik pedang dan berkata kepada lainnya.
"Saudara Su-to, siapakah gelar nama guru mu yang terhormat?"
Su-to Yan tertawa "Maaf, Guruku sudah tidak menginjakkan kaki didalam rimba persilatan maka tak dapat aku menyebut namanya,"
Demikian ia memberikan jawaban. Kong-sun Giok mengerutkan sepasang alisnya, tapi dirubahnya segera, dengan wajah ber seri seri, ia menanyakan Su-to Yan.
"Saudara Su-to tahukah kepada nama-nama akhli pedang dijaman ini?"
Dengan cepat, tanpa pikir lama-lama, Su-to Yan memberikan jawaban.
"Untuk daerah utara sungai Tiang-kang, si pedang utara Auwyang Ie menunduki urutan pertama, dan untuk daerah Selatan, kau si Pedang Selatan Kong-sun Giok, mengepalai semua jago rimba persilatan Kecuali dua akhli pedang ini, masih ada seorang yang tidak pernah menginjakkan kakinya didaerah Tionggoan, itulah Jago Pedang Bayangan Sie An."
Mendengar keterangan Su-to Yan, rasa mangkaknya Kong-sun Giok menjadi-jadi, dia adalah Bengcu atau pemimpin para jago rimba persilatan untuk daerah selatan, ilmu pedangnya belum pernah menemukan tandingan dan hal itu ternyata diketahui semua orang, Dengan hati bangga ia berkata.
"Saudara Su-to, sudah kau ketahui bahwa Kong-sun Giok yang kau sebut itu adalah aku sendiri, Sejak umur lima belas tahun aku berkecimpungan didalam rimba persilatan, hingga kini sepuluh tahun telah kulewatkan, ribuan macam pedang yang telah kulihat, tidak satupun yang dapat memadai pedangmu, namanya pedang Ing-liong-kiam. Aku sangat tertarik sekali, bila kau tidak keberatan, sudikah menghadiahkan pedang ini kepadaku."
Luar biasa, inilah cara perampasan secara halus, Bila Su-to Yan tidak mempunyai ilmu kepandaian yang berarti, bila Su-to Yan tidak mempunyai itu keberanian untuk memintanya kembali, atau setidak tidaknya merebut kembali dari tangan orang, pasti pedang In-liong menjadi korban, Su-to Yan bersenyum, Diam-diam ia berpikir didalam hati .
"Hm, Sejak tadi kau bicara ke barat ke timur, ternyata bermaksud tujuan kepada pedangku ? ingin memiliki pedang In-liong ? tidak mudah, kawan."
Ia hendak membuka mulut, tapi didahului oleh Kong-sun Giok.
"Saudara Su-to, jangan kau salah mengerti Aku ingin memiliki pedang Ing-liong bukan tiada syarat, pedang itu akan kutukar dengan pedangku yang pernah menguasai rimba persilatan didaerah Selatan, Dengan adanya pedang tersebut, bilamana kau berkelana didaerah kekuasaanku kau banyak menarik banyak keuntungan tiada seorangpun yang berani mengganggumu. Melihat pedang itu, mereka akan menaruh hormat dan tidak berani membikin susah."
"Tapi, saudara Kongsun,"
Jawab Su-to Yan.
"Harap jangan kau berkecil hati, aku tidak dapat meluluskan permintaanmu karena pedang itu bukankah milik pribadiku aku mendapat tugas dari guruku yang memberi perintah untuk menyerahkan pedang tersebut kepada seorang nona yang bernama Ie Han Eng, dengan tempat persemayamannya di lembah Hui-in, di gunung Bu-San."
Wajah Kong-Sun Giok berubah gusar, alis nya mengkerut tinggi, ia berpikir.
"Dugaanku tepat! Dengan pedang ini, ia ingin menukar ilmu pedang Maya Nada. Bila kubiarkan dia menuju kelembah Hui-in, setelah berhasil meyakinkan ilmu luar-biasa itu, derajatku akan tertekan olehnya, Didalam dunia bertambah seorang akhli pedang tanpa tandingan. Betul-betul tanpa tandingan ! Tiada seorang pun yang dapat mengalahkannya."
Tiba-tiba ia tertawa berkakakan, kemudian berkata .
"Saudara Su-to, lembah Hui-in di gunung Bu-san itu telah kujadikan sebagai daerah terlarang, Saudara ingin menuju ke tempat tersebut bukankah ingin melanggar pantanganku ? Apakah saudara hendak mencari permusuhan dengan Kong-sun Giok ? Aku tidak bermaksud jahat, sudah pasti bahwa pedang In-liong ini akan menjadi rebutan orang, daripada jatuh kepada tangan orang lain, ada baiknya kau serahkan Saja padaku, dengan hadiah pedang bengcu yang kupunyai untuk diserahkan kepadamu."
Su-to Yan tidak puas dengan kata-kata yang diucapkan oleh si Pedang Selatan, ia menjawab.
"Kau adalah bengcu untuk daerah Selatan, Dimisalkan pedang In-liong hilang dibawah kekuasaanmu tidakkah akan menurunkan pamor nama Kong-sun Giok yang arif bijaksana?"
"Hm Kau berada didaerah Selatan, daerah yang berada dibawah kekuasaanku, berani kau mengeluarkan kata-kata seperti tadi ? Bukankah secara blak-blakan, ingin bermusuhan dengan aku Kongsun Giok?"
Berkata si pedang Selatan dengan suara tidak senang. Su-to Yan mendongkol hatinya berpikir.
"Menurut keterangan suhu, si pedang Selatan ada lebih jujur dari Pedang Utara, tidak disangka bahwa orang yang bernama Kong-sun Giok inipun sangat tamak, tiada aturan sama sekali, Su-to Yan tidak tahu, betapa pentingnya pedang In-liong itu, maka ia mempunyai pikiran seperti apa yang telah kemukakan diatasi bila ia tahu, berapa nilai pedang In-liong di dalam rimba persilatan, tentunya berpikiran lain. Kong sun Giok telah membalikkan badan, ia meninggalkan pesan.
"Aku menetap di kota Kie-Shie. Bila kau ingin meminta kembali pedang ini. Datanglah dikota tersebut untuk menemuiku."
Dan si Pedang Selatan siap meninggalkan kelenteng. Cepat cepat Su-to Yan berteriak.
"Tunggu dulu !"
Kong-sun Giok menghentikan langkahnya, ia berbalik kembali, ditatapnya Su-to Yan dengan sinar mata tajam, selaput hawa pembunuhan telah mengarungi bengcu rimba persilatan daerah Selatan.
Su-to Yan tertawa-tawa, dengan tenang bertanya.
"Bagaimana dengan ditanganmu itu ?"
In-liong, milikku yang masih "Pedang ini akan kubawa pulang."
Tukas Kong-sun Giok. berada "Dengan nama Pedang Selatan Kong-Sun Giok yang ternama, agaknya tidak mungkin meminjam barang tanpa dikembalikan lagi."
Secara tidak langsung, Su-to Yan memberi peringatan kepada sang bengcu, belum lama dikatakan hendak meminjam pedang, bukanlah hendak memilikinya. Kong sun Giok berkata dengan tenang.
"Su-to Yan. kau harus mengerti harga dan pentingnya pedang Inliong, Bila tidak kuambil, tokh akhirnya akan diambil orang lain."
Su-to Yan tersenyum, ia berkata .
"Saudara Kong-sun, arah tujuanku ke Utara, menyebrangi sungai Tiang-kang, dari sini? masih berjarak ratusan lie, Kalau betul-betul hendak memiliki pedang InHong-kiam, kau boleh ambil dengan cara hormat. Rebutlah dari tanganmu, sebelum aku melintasi daerah kekuasaanmu."
"Bagus! Kau ingin menantang diriku ? Baiklah, Aku percaya kepadamu, Ambillah pedang ini."
Berkata Kong-Sun, Giok sambil melempar pedang In-liong. Tenaganya ditambah beberapa bagian, sengaja melempar dengan keras, didalam hati ia-berkata.
"akan kulihat, bagaimana kau menyanggah pedang yang kulempar kepadamu?"
Dengan gaya yang manis sekali, hanya-menggunakan tiga jarinya, Su-to Yan menangkap datangnya pedang, masak kedalam genggaman tangannya, tanpa goyang !
Perbuatan mana membuat Kong-sun Giok kaget, ia harus memuji kepandaian lawan.
tidak diketahui, gerangan cara apa yang digunakan orang menyambuti pedang ?
Sungguh luar biasa l Sebelum Su-to Yan membuka mulut, Kong-Sun Giok sudah berkata lagi.
"Saudara Su-to, jangan khawatir Aku Kong-sun Giok tidak segera mengambil pedangmu itu. Cuma saja aku peringatkan kepadamu bahwa perjalanan masih jauh, bahaya dan rintangan masih banyak bagimu, tidak sedikit dari pada pendekar ulung yang menghendaki pedang itu, harap saja kau dapat menjaga pedang tersebut, demikian sehingga aku dapat mengambilnya secara hormat."
Su-to Yan tersenyum, ia memasukkan kembali pedang In-liongkiam kedalam serangkanya, dan digantungkan lagi di pinggang.
Kong-sun Giok menyaksikan sikap Su-to Yan yang acuh tak acuh, hatinya sangat mendongkol ingin sekali ia menerjang pemuda itu, bila tidak takut ditertawakan oleh orang-orang bawahannya yang pasti akan mengetahui di kemudian hari.
Su-to Yan berdiri tanpa bergeming.
Kong-sun Giok melirik sebentar, hatinya berkata.
"Sungguh luar biasa, sayang ia memiliki pedang In-liong. Bila tidak, betapa baiknya kita bekerja sama."
Dengan pikiran seperti yang telah disebut diatas, Kong-sun Giok meninggalkan Su-to Yan.
Setelah bayangan Kong-sun Giok lenyap dari pandangan mata, Su-to Yan menggunakan pikirannya mengasah otak, Apakah yang menjadi keistimewaan pedang In-liong?
sehingga seorang bengcu yang tersohor tidak takut menurunkan martabat untuk mendapatkannya, ia tidak dapat memecahkan problem itu, karena sang guru tidak memberi tahu kegunaan dari pedang tersebut, pesannya terlalu singkat, ia harus menyerahkan pedang tersebut kepada seorang gadis yang bernama Ie Han Eng, dilembah Hui-in digunung Bu-san."
Maksudnya yang ingin istirahat didalam kelenteng itu hampir mengalami kegagalan, setelah diganggu dengan empat orang dari golongan Thian-lam Lo-sat, kemudian datang Cin Bwee, disusul lagi dengan munculnya Kong-sun Giok.
Sungguh sangat menjengkelkan.
Peristiwa gangguan Pedang Selatan, dengan ilmu kepandaian dirinya, mungkinkah dapat menandingi Kong-Sun Giok?
Karena sudah mengeluarkan kata-kata tantangan, apapun yang akan terjadi, harus dihadapinya dengan segala ketabahan yang ada.
Kekuasaan Kong-sun Giok tidak berada di bawah partai Siauwlim-pay atau Bu-tong-pay.
Ancaman bengcu itu harus mendapat tempat yang layak.
Sebentar kemudian, haripun telah menjadi terang, Su-to Yan melanjutkan perjalanan.
Hari itu, tidak terjadi sesuatu yang perlu dicatat, Menjelang sore harinya, Su-to Yan telah berada dibawah kota Leng-shia.
Mana kala ingin memasuki pintu gerbang, mata Su-to Yan yang lihay dapat menangkap sesuatu, itulah bayangan sipemuda Cin Bwee.
Su-to Yan menggebrak kudanya, mengejar kuda tunggangannya Cin Bwee.
Cin Bwee sedang tengak tengok diatas kuda, melihat orang yang datang mengejar, ia menjadi kaget, cepat-cepat menolehkan kepala, dan ia masih kenal kepada Su-to Yan.
"Hei, mengapa kau menyusul aku?"
Tegur Cin Bwee dengan cemberut.
"Ha, ha.... Saudara Cin, kau suka marah itu tidak baik. Seorang pemuda harus mempunyai gelora semangat yang menyala nyala.
"Cukup... Cukup..., Aku tidak Pergi...Pergi...Aku tidak suka padamu."
Sudi menemani.....
"Mengapa ?"
"Kau tidak jujur. Mana mungkin tidak tahu tentang ilmu pedang Maya Nada ?"
"Saudara Cin, kau telah salah paham. Sungguh aku tidak tahu adanya ilmu pedang Maya Nada."
"Cukup... Aku tidak mau tahu ."
Dua penunggang kuda lain telah menghadang perjalanan Su-to Yan Dan Cin Bwee, setelah memberi hormat mereka berkata.
"Majikan kami, pukulan Langit Goan Thong ada mengundang."
Dengan girang, Cin Bwee berteriak.
"Aaaaa... undangan dari si Pukulan Langit Goan Thong ?"
Ia sangat gembira, terlihat pada wajahnya yang segera bercahaya terang, Si Pukulan Langit Goan Thong adalah wakil bengcu daerah Selatan, kedudukannya hanya setingkat dibawah si Pedang Selatan Kong Sun Giok.
undangan itu di tujukan kepadanya, suatu tanda, betapa hormat orang rimba persilatan menjunjung dirinya.
Segera Cin Bwee menerima undangan itu, katanya.
"Bagus, pulanglah dahulu dan beri tahu kepada majikan kalian, bahwa aku Cin Tiong menerima undangan ini."
Ia menggunakan nama palsu Cin Tiong! Kedua orang itu merangkapkan kedua tangannya, memandang Su-to Yan dan meminta jawaban si pemuda.
"Aku tidak keberatan,"
Jawab Su to Yan. Cin Bwee mengajukan protes.
"Hei mengapa harus mengundang dia? Kami bukan satu golongan, Aku seorangpun sudah cukup untuk menghadiri undangan majikan kalian,"
Dua penunggang kuda itu tertegun.
"Majikan kami baru saja lewat, dan perintah beliau tidak berani kami bantah, undangan disampaikan kepada dirinya juga."
Cin Bwee melirik kearah Su-to Yan, dengan tidak puas ia memaki kepada pemuda itu.
"Huh, kalian orang dari Siauw-lim-pay di larang mencampurkan diri dari urusan rimba persilatan Hari ini, rejekimu bercahaya terang, karena turut bersama-sama denganku."
Su-to Yan memberikan senyumannya, ia tidak mengucapkan sepatah kata.
Setelah menerima undangan si Pukulan Langit Goan Thong, mereka segera menuju kerumah wakil bengcu itu.
Ditengah jalan, Cin Bwee bertanya kepada kawannya.
"Hai, tahukah kau, mengapa orang-orang Thian-lam Lo-sat ingin membunuh diriku?"
"tidak tahu."
Su-to Yan menggelengkan kepala. Cin Bwe tertawa puas, dan ia bertanya lagi.
"Tahukah, mengapa si Pukulan langit Goan Thong mengundang aku?"
Lagi-lagi Su-to Yan menggelengkan kepalanya. Cin Bwee lebih puas, ia berkata dengan suara bangga.
"Aku ada membawa pusaka seruling In-thian Cek-hong."
Su-to Yan membelalakan mata, ia memandang kawan itu dengan penuh kesangsian, betulkah bahwa Cin Bwee membawa pusaka tersebut? Cin Bwee meneruskan keterangannya.
"Guruku yang menghadiahkan kepadaku seruling In-thian Cekhong adalah pusaka Kun-lun-pay. Maksudnya agar aku dapat menerjang rimba persilatan dan mengangkat nama Kun-lun-pay."
Su-to Yan menganggukkan kepala mengerti, ternyata orang ini membawa pusaka Kun-lun-pay, ternyata mempunyai rencana untuk memamerkan ilmu kepandaiannya.
Cin Bwee semakin membusungkan dada, luar biasa bangga atas keadaan tersebut.
Kini mereka telah tiba disebuah gedung yang sangat mewah.
itulah rumah si Pukulan Langit Goan Thong, orang yang menduduki wakil bengcu rimba persilatan, jalan masuk ke dalam rumah dijaga oleh 40 orang berpakaian hitam, mereka berbaris dikanan dan kiri, setiap orang ada menyoren pedang, sangat gagah sekali, Su-to Yan dan Cin Bwee telah lompat turun dari kuda tunggangan mereka.
Dan sudah ada orang yang menyambut kuda-kuda itu, di tuntunnya keruang belakang.
Pintu besar segera dibuka lebar-lebar, itulah cara penyambutan yang sangat meriah.
Su-to Yan dan Cin Bwee adalah tamu-tamu yang mereka harapkan, kedua orang itu bertindak masuk kedalam.
Seorang pemuda berbaju hijau keluar menyambut kedua tamunya, dengan wajah tersungging senyuman, pemuda itu berkata.
"Silahkan masuk, Selamat datang dikota Leng-Shia, Siauwtee Goan Bun, atas perintah ayah menyambut kedatangan kalian berdua."
Ternyata, pemuda berbaju hijau itu bernama Goan Bun. putera si Pukulan Langit Goan Thong.
"Terima kasih."
Berkata Cin Bwee yang segera mengajak Su-to Yan masuk kedalam ruangan yang terang benderang.
Diruang besar telah duduk seorang tua dengan tubuh gagah, umurnya sudah hampir setengah abad, menyaksikan kedatangan kedua-tamunya, ia bangkit berdiri.
"Lohu Goan Thong"
Ia memperkenalkan diri.
"Entah bagaimana sebutan jiwi berdua?"
"Aku Cin Tiong dan dia..."
Menunjuk kearah Su-to Yan, Cin Bwee tidak meneruskan kata-katanya dengan harapan agar kawan tersebut memperkenalkan diri sendiri, Maksudnya sangat jelas, maukah Su-to Yan menggunakan nama palsu ?
Cepat Su-to Yan memperkenalkan dirinya.
"Aku Su-to Yan."
Su-to Yan tidak mau mempergunakan nama palsu.
Dan mereka telah dipersilahkan mengambil tempat duduk.
Setelah kedua tamunya duduk, tampak Goan Thong bersenyum, ia memandang Su-to Yan dan berkata kepada pemuda itu .
"Lohu mendapat perintah Kong-Sun bengcu untuk mengundang Saudara, tentunya saudara telah maklum dan tahu maksud tujuan kami, bukan?"
Tidak menunggu Su-to Yan membuka mulutnya, Cin Bwee sudah menyelak.
"Ternyata bukan diriku mengundang dirinya?"
Yang diundang ? Kalian hanya "Lohu tidak mengerti akan kata-kata saudara Cin."
Berkata si Pukulan Langit Goan Thong.
"Kalian bukan bermaksud tujuan kepada seruling In-thian Cekthong yang berada padaku?"
"Saudara Cin salah paham,"
Berkata tuan rumah, masih bersenyum ramah.
Cin Bwee merasa tidak enak, dugaan bahwa dirinya yang dijunjung orang telah dibuyar kan oleh kenyataan, dugaan itu meleset Karena tidak ada sangkut paut dengan dirinya, apa guna berdiam ditempat ini ?
Ada lebih baik segera meninggalkan Su-to Yan dan berlalu dari rumah itu, segera ia bangkit dan berdiri, siap pergi.
Su-to Yan menghadang kepergian kawan itu .
"Mengapa saudara Cin harus terburu-buru?"
"Orangpun tiada mengundangku mengapa harus menebalkan muka, duduk dijadikan patung?"
Su-to Yan ada niatan untuk berkawan dengan Cin Bwee, ia menarik tangan baju orang dan berkata perlahan.
"Saudara Cin, kita sudah terlanjur masuk kedalam rumah orang, meskipun kau tidak punya kepentingan rasanya tidak jahat untuk menemani aku disini, bukan ? Kukira aku sedang mengalami kesulitan, maukah kau membantu?"
"Sungguh?"
Su-to Yan menganggukan kepala dengan senyumannya yang sangat menarik.
Dipihak lain Goan Bun telah menarik tangan baju ayahnya, ia berkasak-kusuk sebentar dan menyingkir kesamping.
Si Pukulan Langit Goan Thong mengkerutkan alisnya.
So-to Yan telah berhasil menahan kepergian Cin Bwee, terlihat Goan Thong menghampiri dirinya, dengan tersenyum senyum orang tua itu berkata.
"Ooo, barusan ada pesan dari Kong-sun Bengcu, diharapkan agar saudara Su-to dapat menyerahkan pedang In-liong, Dikatakan bahwa pedang tersebut penting untuk mengakhiri persengketaan dengan Siauw-lim-pay.
"Cianpwee keliru, aku bukan anak murid Siauw-lim-pay."
Wajah Goak Thong berubah, mungkinkah sipemuda bukan murid Siauw-lim-pay?
Untuk membuktikan benar tidaknya ia harus menyaksikan bagaimana sipemuda itu bersilat, siapakah yang harus ditampilkan sebagai lawan tandingan?
Tiba-tiba ia melirik kearah anaknya, kemudian berkata kepada Su-to Yan.
"Tentunya saudara tidak puas untuk menyerahkan pedang tanpa dimeriahkan dengan suatu pertandingan bila saudara Su-to mempunyai minat keramaian, biarlah anakku yang bodoh melayani beberapa jurus."
Su-to Yan tertawa, Tapi sebelum ia membuka mulut, Cin Bwee sudah mendahuluinya.
"Untuk menandingi anaknya, tak perlu kau yang turun tangan, Biar aku yang mewakili mu, bagaimana?"
Su-to Yan menganggukkan kepala.
Dilain pihak, Goan Thong mengkerutkan alis, ia ingin Su-to Yan yang turun tangan maka dapat dilihat dari aliran manakah ilmu silat pemuda ini?
Apa mau Cin Bwee menyelak dan menalangi pemuda itu, ia tidak bisa menolak, ia diam.
Didalam hati memaki habis-habisan, orang ini terlalu usilan.
Sementara itu, Goan Bun telah siap di pusat ruangan, ia menantikan kedatangan lawan, tidak perduli Su-to Yan atau pemuda yang bernama Cin Tiong itu, akan tetap dilayani olehnya.
Harus diperlihatkan kepada ayahnya, bahwa ia melatih diri dengan tekun, akan dijatuhkan mereka, satu demi satu.
Siapa yang maju lebih dulu, sama saja baginya.
Cin Bwee telah menghampiri Goan Bun.
Sedangkan putera dari wakil bengcu itu menantikannya dengan senyum tenang.
"Hei, mana senjatamu?"
Bertanya Cin Bwee kepada sang lawan, dilihat Goan Bun bertangan kosong, seolah-olah ingin menghadapinya tanpa senjata.
"Aku kira ada lebih baik bermain dengan tangan kosong,"
Goan Bun memberikan jawaban.
Sebagai putera si Pukulan Langit, Goan Bun lebih pandai bersilat dengan tangan kosong.
Cin Bwee menyimpan kembali pedang yang telah dihunus keluar, iapun bersedia melawan pemuda itu dengan tangan kosong, demikian ia berkata.
"Sudah lama orang mencela ilmu kepandaian Kun-lun-pay. Hari ini akan kuberikan kenyataan dari ketidak benarannya desas desus ini itu, dengan ilmu kepandaian Kun-lun-pay yang paling khas, aku akan menundukkanmu."
Perkataan itu ditutup dengan satu serangan hebat, sehingga memaksa Goan Bun mundur ke belakang.
Hanya satu langkah, tangan kanan Goan Bun menepuk kearah sisi lawan, disertai dengan tenaga dalam, dengan cara cara ini, bukan saja menghindari rangsekan lawan, disaat yang sama, iapun sudah siap mengirim serangan balasan.
Serangan Cin Bwee mengandung dua unsur, unsur menyerang dan bertahan, dilihat orang itu menggunakan cara yang paling tepat, maka iapun turut bergeser, dengan satu jurus "Guntur berkilat"
Meneruskan rangsekannya. Goan Thong yang menyaksikan ilmu "Guntur berkilat"
Dimainkan oleh pemuda yang mengaku bernama Cin Tiong, hatinya sangat terkejut. Diketahui olehnya, itulah salah satu diantara jurus dari ilmu "Hoan-thian Pat-ciang", dan ilmu "Hoan-thian Pat-ciang"
Atau "Delapan pukulan mengembalikan dunia"
Adalah satu dari sepuluh macam ilmu purbakala yang sudah lenyap dari permukaan dunia.
Di jaman yang telah silam, sepuluh macam ilmu purbakala itu dimiliki oleh seorang yang bernama Thian Ku Cu, setelah Thian Ku Cu wafat, ilmu kepandaiannya diturunkan kepada sepuluh muridnya, disayangkan terjadi perang saudara, sepuluh murid Thian Ku Cu yang tidak dapat hidup bersatu bentrok, terjadilah perang saling gempur, sembilan diantaranya binasa, dan murid bontot Thian Ku Cu juga mati dibawah bisa racun yang tidak diketahui namanya.
Maka lenyap pula sepuluh macam ilmu silat purbakala itu, inilah akibat dari ketidak akuran diantara saudara-saudara sendiri.
Peringatan bagi mereka yang tidak dapat hidup bersatu, Dengan demikian, sepuluh macam ilmu silat purbakala itu tidak diturunkan kepada siapapun juga.
Mendadak sontak, bagaimana salah satu dari sepuluh macam ilmu silat purbakala tersebut dapat dimiliki oleh seorang muda dari golongan Kun-lun-pay.
Tentu saja si Pukulan Langit Goan Thong ketakutan, Sang anak bukan tandingan orang yang memiliki ilmu Hoan-thian Pat-ciang tersebut.
Goan Thong bingung sekali, bagaimana baiknya untuk menolong sang anak dari kesulitan ?
Bukan Goan Thong saja yang terkejut Su-to Yan yang juga turut tersentak bangun, tidak disangka bahwa Cin Bwee memiliki salah satu dari sepuluh macam ilmu silat mujijat dari jaman purbakala.
Terlebih Goan Bun, pemuda ini langsung berurusan dengan Cin Bwee, Diserang dengan ilmu luar-biasa, bagaimana ia tidak terdesak mundur ?
Tidaklah disangka lawan itu begitu liehay!
Cepat sekali ia menghindari serangan kearah kiri.
Cin Bwee tidak mengasih hati, dengan jurus Hui-in Hoan-ie menggantikan jurus yang pertama, jurus Hui-in Hoan ie berarti Guntur melintang hujan, juga salah satu jurus dari ilmu Hoan-thian Pat-ciang, setiap macam dari sepuluh ilmu silat mujijat dijaman purbakala cukup untuk menundukkan dunia, termasuk juga Hoan thian Pat-ciang, sangat luar biasa.
tidak mungkin Goan Bun sanggup menerima serangan tersebut, dengan mengeluarkan suara jeritan, putra wakil si bengcu sempoyongan, bahunya kena dihajar, mundur jauh kebelakang dan rubuh di lantai.
Dua orang berbaju hitam cepat-cepat membangunkan tuan muda mereka.
Goan Thong menyaksikan anaknya dirubuhkan, air mukanya berubah bengis.
Tapi tidak lama, perubahan itu sudah di ganti dengan tertawa yang tergelak-gelak.
"Ha, ha, ha... tidak kusangka, saudara Cin memiliki ilmu Hoanthian Pat-ciang, salah satu dari sepuluh ilmu silat mujijat dijaman purbakala yang sudah tiada, Kini giliranku meminta pelajaran, sudikah saudara Cin memberi beberapa petunjuk?"
"Mengapa tidak?"
Jawaban Cin Bwee lebih menjengkelkan lawannya.
Goan Thong meringkaskan bajunya, ia sudah siap turun kedalam gelanggang pertempuran.
Tiba-tiba...
Seorang lari masuk kedalam ruangan itu, dengan lantang ia memberi laporan.
"Hang-kang To-jin dari Oey-san-pay tiba!"
Goan Thong batal menempur Cin Bwee, kedatangan Han-kang To jin sangat menggirangkan hatinya, ilmu pedang tosu tersebut menduduki urutan nomor dua, setelah dibawah Kong-Sun Giok, kedatangan Sang kawan tepat pada waktunya.
Seorang tosu berjubah hijau memasuki ruangan, punggungnya tergembol pedang, itulah Han-kang To-jin !
pada Goan Thong menyambut kedatangan tosu tersebut, terlihat jelas, bagaimana wajah Siwakil bengcu menjadi bercahaya terang.
Kedua orang itu berbisik-bisik.
Han-kang To-jin memandang Cin Bwee dengan sikapnya yang angkuh berkata.
"Berani kau melukai kemenakanku ? Hm, Akan kusaksikan, berapa banyak seranganku yang dapat kau terima, Bersiaplah untuk bertempur."
Han-Kang To-jin langsung menghadapi Cin Bwee.
"Bagus!"
Cin Bwee tidak menolak tantangan.
"Telah kudengar namamu yang menduduki urutan nomor dua, tentunya mempunyai ilmu pedang yang luar biasa, pedangku inipun telah gatal tangan, tentunya sudah siap digunakan."
Cin Bwee mengeluarkan pedangnya.
"Sretttt !"
Itulah suara pedang Han-kang To-jin yang keluar dari kerangka, Tosu ini tidak sabar lagi, begitu cepat pedang berpindah ketangan, ia memendekkan tubuhnya, ujung pedang disodorkan kedepan, mengarah pinggang lawan.
Serangan ini cepat dan jitu!
Disertai dengan tenaga dalam penuh, desiran angin pedang terdengar jelas !
Su-to Yan terkejut ia khawatir atas kegesitan pedang Han-kang To-jin itu, tentunya Cin Bwee sulit memenangkan pertandingan.
Rasa khawatir ini bertambah lagi, setelah melihat Sang imam menyerang secara bertubi-tubi, sehingga tidak memberi kesempatan kepada Cin Bwee untuk melakukan penangkisan yang baik.
Pengalaman tempur Cin Bwee terlalu tipis sekali, diserang oleh seorang akhli pedang kawakan, ia menyingkirkan diri kesamping, dan memotong kearah pergelangan tangan musuh, Han-kang To-jin telah memegang kunci penyerangan, hal itu tidak mau diserahkan kepada lawan, pada gebrakan pertama, ia telah mengetahui bahwa lawannya kurang pengalaman beruntun lagi mencecer dengan serangan-serangan pedang.
Cin Bwee menangkis beberapa kali, dan tubuhnya dipaksa bergeser kearah kedudukan yang tidak menguntungkan.
Menyaksikan sang kawan terdesak, Su-to Yan tidak enak hati, Maksudnya ingin menggantikan kawan tersebut, belum dapat ia menemukan cara yang terbaik untuk menghentikan pertempuran itu.
Disaat ini terdengar teriakan seorang berbaju hitam yang lantang.
"Kong-Sun bengcu tiba!"
Han-kang To-jin menarik pulang serangannya, ia mengadukan pedang dan lompat keluar kalangan.
Cin Bwee melintangkan pedangnya, ia berdiri dipusat ruangan.
Goan Thong telah lari kearah luar, menyambut kedatangan sang bengcu.
Sebentar lagi terlihat Kong-sun Giok berjalan masuk kedalam ruangan itu, dibelakang bengcu tersebut berbaris 20 orang berbaju hitam, mereka adalah pengiring-pengiringnya.
Melihat ditempat itu ada Cin Bwee dan Su-to Yan, ia menganggukkan kepala kepada mereka, kemudian memandang Goan Thong dan berkata.
"Saudara Goan, bagaimana hasil peminjaman pedang dari saudara Su-to?"
Si pakaian langit tertawa meringis.
"Perintah bengcu telah kujalankan. Tapi, rupanya saudara Su-to tidak rela menyerahkan pedang tanpa diadakan pertempuran dahulu."
Demikian Goan Thong memberi jawaban.
Lebih jauh, Goan Thong menuturkan bagaimana ia meminta pedang, secara baik-baik mengadakan perundingan dengan Su-to Yan.
Kemudian terjadi pertempuran, dan anaknya dilukai oleh pukulan Cin Bwee yang menggunakan ilmu silat mujijat dari jaman purbakala, ilmu yang menghilang dari rimba persilatan.
Kong-sun Giok terkejut, air mukanya berubah.
Matanya menyapu keseluruh ruangan, mengawasi Su-to Yan Cin Bwee bergantian.
Dan sinar mata itu ditarik kembali, memandang Goan Thong, seraya ia berkata.
"Mengapa tidak kau sendiri yang turun tangan, Goan toako? Tiada halangan kau mencoba coba ilmu kepandaian orang muda, hal ini dapat menambah pengalaman, bukan?"
Sebelum Goan Thong memberi jawaban, Han-kang To-jin sudah membuka mulut, tosu itu berkata.
"Bengcu, mengapa Goan toako yang harus turun tangan? Biarkanlah pinto yang mencobanya dahulu, Akan pinto lihat, sampai dimana dan berapa gebrakan dia dapat menahan serangan ilmu pedang Oey-san-pai"
Cin Bwee tidak senang. Segera ia hendak membuka mulut, menantang tosu tinggi hati itu. Su-to Yan telah turun kedalam gelanggang dan menarik tangan Sang kawan, berkata kepadanya.
"Saudara Cin, kau telah banyak mengeluarkan tenaga, Biar aku yang saja melayaninya, akan kulihat, betapa hebatkah ilmu kepandaian imam jumawa ini?"
Cin Bwee agak jeri kepada ilmu pedang Han-kang Tojin yang lihay, dengan mudah ia dapat dibujuk, segera ia menerima baik kemauan kawan tersebut.
"Berhati hatilah dengan ujung pedangnya."
Ia berkata penuh perhatian. Su-to Yan memandang wajah kawan tersebut, Cin Bwee menjadi merah muka. Han-kang Tojin yang mengadakan tantangan. sudah berada didepan Su-to Yan.
"Memperhatikan pedang yang berada padamu, kukira kau seorang akhli pedang juga, Tapi kau akan kupaksa bertekuk lutut, sebelum jurus serangan yang kesepuluh selesai."
Atas kesombongan Han-kang Tojin itu, Su-to Yan tertawa.
"Belum tentu, Totiang."
Ia berkata sinis.
"tidak percaya, Cabutlah pedangmu dan akan kubuktikan kebenaran dari kata-kataku tadi."
Berkata Han-kang Tojin bernapsu.
"Aku tidak mengeluarkan pedang mengadakan perlawanan."
Berkata Su-to Yan tidak mau kalah suara, Keangkuhan Han-kang Tojin menimbulkan rasa anti patinya, maka iapun harus bersikap agung.
Kata-kata Su-to Yan menjadikan sedikit kegaduhan, siapakah yang berani menerima serangan Han-kang Tojin tanpa senjata?
Tosu tersebut adalah ahli pedang kedua, setelah berada dibelakang urutan Kong-sun Giok, belum pernah ada orang yang menandinginya.
Han-kang Tojin masih belum mengerti bahwa dirinya telah dipandang rendah, ia bertanya.
"Apa maksud tujuanmu tidak menggunakan pedang?"
"Sudah menjadi kebiasaanku, kalau bertanding tidak dengan pedang."
Berkata Su-to Yan. ia sangat puas dapat menekan sedikit kecongkakan lawan tersebut.
"Dengan senjata apa kau menghadapi seranganku?"
Bertanya lagi Han-kang Tojin.
"Dengan sepasang senjata ini."
Berkata Su-to Yan mengeluarkan tangannya.
Mata Han-kang Tojin terpentang lebar-lebar, ia melotot besar, itulah suatu penghinaan sebagai ahli pedang nomor dua didaerah Kang lam, mungkinkah harus dilayani dengan tangan kosong?
Sungguh keliwatan!
"Baiklah."
Akhirnya dengan menghela napas Han-kang Tojin berkata.
"Akupun menggunakan tangan kosong menempur dirimu."
"Ooo, itupun tidak usah. Totiang tidak dilarang untuk menggunakan pedang dan aku bertangan kosong mempertahankan diri dari sepuluh jurus serangan tadi, seperti apa yang totiang telah katakan, dapatkah aku dijatuhkan sebelum serangan kesepuluh selesai dimainkan?"
Han-kang Tojin menyeringai.
Dilain pihak, orang-orang yang mendengar percakapan itu semakin tobat kepada kata-kata yang Su-to Yan keluarkan Han-kang Tojin itu telah dikenal lebih dari dua-puluh tahun, tidak sedikit akhliakhli pedang yang jatuh di bawah tangannya.
Mana mungkin ada orang yang berani menghadapi serangan pedang sitosu tanpa senjata?
Apalagi mengingat umur Su-to Yan masih sangat muda, bukankah kata-kata untuk mengolok orang?
Kong-sun Giok tampil kedepan, dengan tertawa ia berkata.
"Saudara Su-to, bila kau dapat menggunakan tangan kosong mengalahkan Han-kang To-jin, untuk seterusnya, aku tidak mengganggumu pula, Aku Kong-sun Giok menyerah kalah, Di mana kau berada, aku akan menyingkirkan diri jauh-jauh."
So-to Yan telah menimbang-nimbang ilmu kepandaian sendiri, dibandingkan dengan ilmu kepandaian Hiun-kang Tojin, masih ada kesempatan baginya memenangkan pertandingan, dengan satu senyuman riang, ia berkata.
"Ingin sekali buktikan segera."
Han-kang Tojin telah menggoyangkan pedang, ia menantang.
"Su-to Yan, dimana kau mau menerima serangan? Ditempat ruangan ini atau dilapangan luar?"
Memandang keadaan ruangan itu, Su-to Yan menganggukan kepala.
"Disinipun boleh."
Han-kang Tojin menenteng-nenteng pedangnya, mengelilingi musuh kurang ajar itu.
Suatu ketika, ia menusuk kearah jalan darah Kie-bun Su-to Yan.
Su-to Yan menunjukan wajahnya yang bersungguh-sungguh, lima jari direntangkan dengan telapak tangan keatas bermaksud merebut gagang pedang Han-kang Totiang.
Itulah ilmu Pie-pa-cap-Sa-san-chiu !
Pie-pa-cap-sa-san-chiu berarti tiga belas jari menguasai alat Piepa, lebih banyak tiga jari dari manusia biasa, Mudah dibayangkan, betapa cepatnya cengkeraman yang diarah oleh jari jari yang melebihi manusia biasa itu.
Melihat ilmu tersebut, Kong-sun Giok dan Goan Thong terkejut, sebagai dua tokoh-tokoh terpandai, mereka dapat menyaksikan keistimewaan dari tipu Pie-pa cap-sa-san-chiu.
Ilmu inipun termasuk salah satu dari sepuluh macam ilmu silat jaman purbakala yang telah terpendam.
Terlebih bagi si Telapak Langit Goan Thong, pada seratus tahun berselang, dua macam ilmu silat purba kala itu telah menghilang tanpa bekas, tiada orang mewarisinya.
Dihari ini, disaat dan diwaktu jam tadi, didalam satu hari saja, ia menyaksikan dua dari kesepuluh ilmu silat purbakala itu muncul dihadapannya, Bagaimana ia tidak terkejut ?
Bercerita Han-kang To-jin yang menyerang Su-to Yan dengan ilmu pedang Oey San-pay, mempelintirkan tangannya, membuat satu lingkaran dan mengirim serangan yang berikutnya, didalam hati sitosu berkata.
"Betapa tingginya ilmu kepandaianmu bila bertangan kosong, jangan harap dapat menerima lima puluh jurus."
Lupalah kepada janji pertama yang menetapkan sepuluh jurus sebagai batas pertempuran.
Sebagai seorang akhli pedang, Hankang To-jin merangsek lawannya dengan hebat, sedangkan Su-to Yan bertangan kosong, ia harus menjaga tajamnya pedang, Tanpa ada rasa khawatir sama sekali Han-kang To jin bergerak leluasa.
Su-to Yan main mundur kebelakang.
Cin Bwee menyaksikan pertandingan itu, hatinya berdebar-debar, lebih khawatir lagi, setelah melihat bagaimana sang kawan tidak dapat memberi serangan balasan.
Diketahui bahwa Han-kang To-jin sangat pandai memainkan ilmu pedang, masakan dilawan dengan tangan kosong?
Sungguh tolol.
Lain penilaian Cin Bwee, dan lain lagi penilaian Su-to Yan.
-ooo0dw0ooo-
Jilid 2 SEBAGAI SEORANG ahli pedang, menyaksikan cara-cara Su-to Yan bertempur, sang bengcu segera mengetahui, bahwa Hankang Tojin akan mengalami kekalahan.
Meskipun Su-to Yan main mundur, setiap langkah pemuda itu mengambil kedudukan yang tepat, bukanlah keteter, tapi menunggu saat yang baik untuk mengadakan serangan balasan, ingin sekali ia memberi tahu kepada Han-kang Tojin agar berhati-hati, kekalahan Han-kang Tojin berarti kekalahannya.
Bagaimana ia dapat mengambil pedang In-liongkiam, jika Su to Yan memenangkan pertarungan tadi?
Pengalaman Cin Bwee tidak dapat disamakan dengan Kong-sun Giok, dilihat Han-kang To-jin merangsek dengan galak, di lihat bagaimana Su-to Yan main mundur semakin lama semakin terdesak, ia bingung, ia tidak menginginkan kekalahan berada difihaknya, dengan membanting kaki, ia berteriak.
"Ayo, lekas keluarkan pedangmu !"
Su-to Yan sedang mengadakan pancingan seolah-olah terdesak, maka lawan akan lengah itu waktu, ia dapat berebut pedang Hankang To-jin, inilah maksud tujuan utama dari jago kita.
Kini, Su-to Yan menyilangkan kedua tangan, menyingkirkan tekanan pedang Han-kang To-jin.
Han-kang To-jin menyeret pedang kesamping, dan diputar lagi kembali, bagaikan kecepatan angin, lagi-lagi menghujam Su-to Yan dengan tusukan-tusukan pedang.
Cin Bwee meremas-remas kedua tangannya, Kong-sun Giok dapat melihat keadaan itu, ia memancarkan sinar mata girang, timbul pikiran baru untuk memenangkan pertarungan, ia berpikir.
"Telah kujanjikan kepada Su-to Yan, bila ia dapat menggunakan tangan kosong menjatuhkan Han-kang To-jin, aku tidak boleh mengganggu dirinya lagi. Dilihat dari keadaan ini. Han-kang To-jin bukan tandingannya. Aku harus memaksa Su-to Yan menggunakan pedang, maka ia tidak memenuhi syarat-syarat yang kutentukan."
Didekatinya Cin Bwee, dengan tertawa berkata.
"Saudara Cin, kawanmu itu tidak mempunyai ketika untuk mengeluarkan pedang, Tapi, kau dapat menolongnya dari kesulitan, bila kau lempar pedangmu kearahnya, pasti ia dapat menyambuti."
Cin Bwee mendapat ketika untuk menolong sang kawan dari kesusahan, demikianlah ia salah mengerti, tidak diketahui akan maksud-maksud tertentu yang telah direncanakan oleh Su-to.
Sayang sekali!
Pikiran Cin Bwee terlalu cepat, tangannya telah mengeluarkan pedang, dilempar kearah Su-to Yan dan berteriak.
"Hei, terima pedang ini!"
Su-to Yan telah melihat titik-titik terang untuk merebut pedang Han-kang Tojin, tiba-tiba dilihat cara Cin Bwee yang mengambil langkah ceroboh, ia mengeluh.
Ludeslah semua rencananya, bila dibiarkan pedang itu melayang datang, tentu melukai dirinya.
tidak ada waktu bagi Su-to Yan banyak-pikir, pedang telah datang, serang Han-kang Tojin juga tidak mengendur.
Su-to Yan memelintirkan tubuhnya, berputar ditempat itu, dengan cara-cara yang tidak mungkin dibayangkan orang ia berhasil menghindari diri tusukan pedang Han-kang Tojin.
Itu waktu, Han-kang Tojin mendesak Su-to Yan sehingga kepinggir tembok, maksudnya, tusukan pedang tadi adalah tusukan yang terakhir, ia menduga pasti dapat memantek Sang lawan ditempat itu.
Tiba-tiba saja pandangan matanya menjadi kabur, tubuh Su-to Yan yang berputar itu lenyap dari depan dirinya.
Han-kang Tojin kaget sekali, segera diketakui bahwa posisi kedudukan dirinya berada didalam bahaya, untuk menghindari diri dari ancaman orang, jalan satu-satunya menubruk tembok didepan, itupun membawa akibat besar, kepalanya hanya dua kaki lagi dari tembok, ia akan menderita luka.
Kecepatan daya reflek segera bekerja, tubuh Han-kang Tojin melesat naik keatas setinggi mungkin ia menjauh semua bahaya bahaya itu.
Su-to Yan telah berputar, dan dengan gerakan yang tercepat, dirinya telah berada di belakang Han-kang To-jin, seharusnya, dengan satu kali uluran tangan, ia dapat merebut pedang tosu tersebut Tapi pedang yang Cin Bwe lemparkan itupun telah tiba, dengan demikian, pasti punggungnya ditembus oleh tajam pedang.
Apa boleh buat, Su~to Yan membatalkan niatnya yang dapat merebut pedang lawan itu tangan dibalikkan kebelakang, dengan jari-jari yang keras, ia mementil pedang.
Satu sinar putih menyusul larinya Han-kang To-jin, bagaikan seekor elang panjang, pedang tersebut memagut leher baju Sang tosu, dan memakunya ditembok, dim lagi, darah merah akan muncrat memenuhi ruangan itu.
Han-kang Tojin mengeluarkan keringat dingin, ia terpantek ditembok tanpa berani ber kutik, leher bajunya digantung oleh pedang Cin Bwee.
Pentilan dari Su-to Yan yang memantek Hon kang Tojin itu sangat luar biasa !
Kong-Sun Giok turut terkejut, bila bukan lemparan pedang Cin Bwee yang memaksa Su-to Yan menggunakan senjata mengalahkan lawannya, bukankah ia dipaksa melepas niatannya yang ingin memiliki pedang In-liong kiam ?
Su-to Yan sangat menyesalkan datangnya pedang Cin Bwee.
Tapi mengingat perbuatan Sang kawan yang bermaksud baik.
ia dapat memahami keadaan tersebut, Han-kan Tojin masih belum berani berkutik Su-to Yan maju menghampiri tosu tersebut, tangannya bergerak menarik pedang yang tertancap.
"Totiang boleh membalikkan badan."
Demikian ia berkata.
Sangat kasihan juga melihat si akhli pedang yang menembok rapat seperti itu.
Cin Bwee berlompat-lompatan gembira, pada tanggapan dirinya, tentu lemparan pedang tadi yang membantu usaha Sang kawan untuk mengalahkan Han-kang Tojin, Aku berjasa !
Cin Bwee sangat bangga !
Kong-Sun Giok bermuram durja, anak buah nomor satu yang paling diandalkan menderita kekalahan, bagaimana ia tidak merasa turut malu ?
Goan Thong lupa menutup kembali mulutnya yang terpentang lebar-lebar, mungkinkah hal itu betul-betul terjadi ?
ia masih kurang percaya kepada kenyataan yang terbentang di hadapan dirinya, Han-kang Tojin adalah akhli pedang nomor satu, hanya kalah setingkat di bawah Kong-sun Giok, bagaimana dapat kalah oleh seorang pemuda yang baru menampilkan dirinya didalam rimba persilatan ?
Su-to Yan memperhatikan keadaan disekeliling dirinya, didalam ruangan itu telah bertambah banyak orang, bagaimana bila mereka mengepung dirinya ?
Dapatkah mengajak Cin Bwee melarikan diri dari kepungan mereka ?
Kong-Sun Giok telah mendekati Su-to Yan, dengan wajah disungging senyuman, berkatalah Bengcu rimba persilatan itu.
"Bagus ! Kau telah mengalahkan Han-kang Tojin, tapi masih ada aku Kong-sun Giok, berapa jurus lagi kau dapat melayaniku?"
Su-to Yan tidak melayani tantangan Kong-Sun Giok, langsung menghampiri Cin Bwee, diserahkannya pedang kawan tersebut dan berkata kepadanya.
"Mari kita meninggalkan tempat ini!"
Cin Bwee maklum akan bahaya ditempat itu, ia mengikuti sang kawan, meninggalkan ruangan, dipintu telah menghadang dua puluh orang berbaju hitam.
Kong-sun Giok tersenyum ditempat dan memberi perintah kepada orang-orangnya.
"Tangkap mereka !"
Dua puluh orang itu bergerak, dengan senjata-senjata mereka yang telah siap, menyerang Su-to Yan dan Cin Bwee. Su-to Yan yang sangat mendongkol "Belum tentu kalian dapat menguasai kami berdua,"
Katanya didalam hati, Berbareng, ia telah mengeluarkan satu lengkingan panjang, sepuluh jari tangannya direntangkan dari sana berkembang dan bertaburan uap hijau.
Hampir bersamaan dengan gerakan sipemuda, delapan macam senjata telah berpindah ke-dalam tangan Su-to Yan.
Belum pernah ada orang yang melihat ilmu silat seperti itu, mereka berteriak dan mundur jauh-jauh.
Cin Bwee memandang sang kawan dengan kagum, itulah ilmu Thi-in-mo-nie-hun cauw.
Satu macam lainnya dari sepuluh ilmu silat mujijat jaman purbakala, Sungguh diluar dugaan, bahwa kawan ini memiliki dua macam ilmu purbakala yang sudah terpendam lama.
Su-to Yan berhasil memecahkan kurungan yang mengepung dirinya.
Kongsun Giok dan Goan Thong turut mengejar keluar Su-to Yan menggibaskan tangan, maka delapan macam senjata musuh yang baru saja direbut itu bertebaran diudara, Dengan satu tangan ia rangkul tubuh Cin Bwee, menggandeng tubuh itu, segera mementalkan kedua kakinya, melewati diatas kepala orang orang yang masih bengong, ia meninggalkan gedung si Telapak Langit Goan Thong.
Menyaksikan kecepatan tangan Su-to Yan, semua orang sudah bengong terlongong-longong, kini di saksikan lagi lain keakhliannya sipemuda didalam ilmu meringankan tubuh, semakin terpaku ditempat masing-masing.
Dilihat sepintas lalu, gerakan Su-to Yan itu tiada keistimewaannya, Gerakan tersebut harus dipikir lagi mendalam maka terasa betapa hebat gerakan tersebut.
Kong-sun Giok telah tiba dipelataran depan, disaksikan bagaimana Su-to Yan terbang diatas kepala orang-orangnya.
ia turut memuji kepandaian lawan.
Ilmu kepandaian Su-to Yan ingin mengimbangi dirinya pemuda itu pasti memegang peranan penting dikemudian hari.
Goan Thong memandang Sang bengcu dan berkata.
"Haruskah meneruskan pengejaran ?"
"Biarkanlah ia lari,"
Berkata Kong-sun Giok tenang, ia telah mempunyai rencana lain, rencana yang lebih bagus dan lebih masak.
Bagaikan ayam jago yang baru kalah bertempur, Han-kang Tojin tidak berani memandang bengcu tersebut, ia sedang berpikir, bagaimana hal barusan dapat terjadi, sedangkan pemuda yang menjadi lawannya belum ada pada daftar urutan orang-orang ternama?
Goan Thong bersyukur kepada nasib peruntungan yang baik, bila Han-kang To-jin datang lambat beberapa menit, dirinyalah yang menempur Su-to Yan, dan sesudah ia bertempur dengan Su-to Yan, bukankah menderita kekalahan yang sama?
Rasa malu dikalahkan oleh seorang pemuda yang baru muncul didalam dunia persilatan?
Dan kejadian tersebut disaksikan oleh puluhan orang-orangnya, bagaimana ia dapat memimpin mereka peraturan-peraturan yang keras ?
Kong-Sun Giok mengulapkan tangan, itu tanda agar semua orang berkumpul kembali ia harus memberitahu kepada mereka, bagaimana harus menghadapi musuh dikemudian hari.
Meninggalkan Kong-Sun Giok, Goan Thong, Han-kang To-jin dan orang-orang mereka.
Menyusul perjalanan Su-to Yan yang menggandeng Cin Bwee, setelah mereka melarikan diri dari gedung Goan Thong tanpa pengejaran, mereka dapat melakukan perjalanan dengan agak tenang, meletakkan tubuh sang kawan, dengan menggandeng tangan tersebut Su-to Yan berlari terus.
"Cin Bwee terus berlari iapun berulang kali menoleh kebelakang, tidak ada seorangpun yang mengadakan pengejaran, walaupun demikian, tangan Su-to Yan masih tidak lepas-lepas menggandengnya, ia mengirikkan tangan tersebut dan bersungutsungut.
"Hei, mengapa terus menerus memegang tangan orang? Kau kira aku masih kecil? Harus digendong dan digandeng?"
Su-to Yan cepat-cepat berkata.
"Maaf. Aku lupa melepaskan tanganmu yang halus."
Ia bergurau.
Su-to Yan mengucapkan kata kata tadi tanpa dipikir lebih dahulu, itulah kenyataan, dan Cin Bwee menyangka bahwa orang telah mengetahui penyamarannya, sengaja berlaku ceriwis, wajahnya menjadi merah, ia memonyongkan mulutnya seraya berkata.
"Genit."
Dikala Su-to Yan menggendong dan menggandeng tangan kawan itu, hidungnya mendapat serangan bau harum semerbak, bau yang seperti itu hanya dimiliki oleh kaum wanita, mendengar kata-kata teguran yang terakhir, semakin besar lagi kecurigaannya, ia menatap wajah yang cakap itu.
Ketika Cin Bwee mendongak, terlihat Su-to Yan memperhatikan wajahnya, sepasang mata beradu.
Untuk kedua kakinya, wajahnya Cin Bwee berubah.
Segera ia cemberut "Kau pemuda genit, Aku tidak mau bersamasama denganmu."
Setelah mengucapkan kata-kata yang seperti di atas, tanpa pamit lagi, tubuh Cin Bwee meleset, meninggalkan Su-to Yan, lenyap didalam semak-semak pohon, Sangat gesit sekali!
"Aaah...
Dia adalah seorang gadis yang menyamar."
Su-to Yan sadar akan kesalahan yang telah diperbuat itu waktu, Cin Bwee telah lari jauh.
Bila Su-to Yan tidak tahu keadaan asli kawan itu, tentu meluncur dan mengejarnya, dengan ilmu kepandaian yang dimiliki oleh si pemuda, tidak sulit untuk menyandak Cin Bwee.
Apa mau, penyamaran Cin Bwee telah terbongkar, dimisalkan ia berhasil menguber, apa yang dapat dikatakan oleh mulutnya yang tipis?
Su-to Yan sedang bimbang, ia serba salah.
Pikirnya, biarlah, dilain hari masih ada kesempatan berjumpa lagi dengan gadis itu, ia akan meminta maaf atas kelancangankelancangan yang telah dilakukan.
Hal itu tidak disengaja, bukan maksud dirinya yang hendak berlaku genit.
Lain lagi pikiran Cin Bwee, ia melarikan diri dari Su-to Yan untuk mengadakan ujian dengan harapan pemuda itu mengejar, maka angka yang akan diberikan kepada Su-to Yan mendapat tambahan istimewa, Diapun jatuh cinta, Beberapa kali ia melirik kebelakang, ingin sekali dapat melihat bayangan pemuda itu muncul dibalik semak-semak.
Kenyataan tidak demikian, ia agak kecewa, dihentikan langkah larinya, menunggu lagi beberapa lama, ia semakin putus harapan, hampir menangis di tempat itu.
ia merasa kesal, membanting-banting kaki, Sebagai seorang gadis yang baru pertama kali terpikat oleh lain jenis, penderitaan itu sangat luar biasa.
Cin Bwee meneruskan perjalanan dengan wajah sayu, langkah tidak bertenaga.
Kemanakah ia harus pergi ?
Pikirannya bekerja, kemanakah Su-to Yan pergi ?
ia pernah dengar pemuda itu mengatakan bahwa maksud tujuannya adalah lembah Hui-in digunung Bu-san, mendapat tugas sang guru untuk menemui nona Ie Han Eng, menyerahkan pedang In-liong-kiam.
Ie Han Eng mempunyai se
Jilid kitab ilmu pedang Maya Nada, dengan pedang In-liong-kiam, tentunya Su-to Yan dapat menerima kitab ilmu pedang itu, Cin Bwee tidak akan mengiri akan hal ini.
Cin Bwee berpikir lagi, adanya Ie Han Eng yang turut serta didalam hubungan mereka menimbulkan rasa dengkinya, Ie Han Eng adalah seorang nona yang terkenal cantik, seluruh rimba persilatan maklum hal ini.
Ia sangat cemburu, ia harus turut serta didalam pertikaian itu, ia harus menyusul kelembah Hui-in.
Cin Bwee berganti arah, langsung menuju kelembah Hui-in digunung Bu-san.
Dilain pihak, Su-to Yan melanjutkan perjalanan dengan otak dikeliling oleh bayangan-bayangan wajah Cin Bwee yang sangat berkesan, ternyata kawan itu bukan pria, masuk di akallah yang mempunyai gerakan-gerakan dan prilaku yang lain daripada lainnya.
Su-to Yan menggunakan tempo satu hari satu malam untuk sampai disungai Tiang-kang, melewati sungai yang menjadi perbatasan Utara dan Selatan, bebaslah kekangan Kong-sun Giok kepada dirinya.
Sipemuda masih berpikir, mengapa si Pedang Selatan belum mengadakan gerakan-gerakan ?
Disini Su-to Yan menemukan sedikit keanehan, Pada sebatang pohon terikat seorang yang bertubuh kurus kering, kepalanya terbelah oleh sebuah kampak tipis, darah masih mengalir keluar, kejadian itu belum lama.
Hati si pemuda tercekat.
Kampak tipis adalah senjata yang paling khas dari dua belas jago utama si Pedang Utara Auw-yang le, Ternyata tokoh akhli pedang itu mempunyai dua belas jago utama yang paling diandalkan, senjata mereka adalah kampak tipis, dimainkan dengan jurus tipu gerakan pedang, lebih praktis dari kampak biasa.
Su-to Yan mengerti, mengapa orang-orang Kong-sun Giok tidak bergerak, tentunya dua-belas jago utama akhli kampak tipis dari si Pedang Utaralah yang menggagalkan mereka!
Disini ada suatu bukti, seorang anak buah Kongsun Giok lagi mati dibawah kampak tipis.
Pernah, pada beberapa waktu berselang, Si Pedang Utara Auwyang le membawa dua belas jago utama ini menyebrangi sungai Tiang kang itu waktu, ia tidak berhasil, Walaupun Kong sun Giok menderita luka-luka, beberapa kampak tipis binasa ditangan Bengcu tersebut, Auw-yang Ie harus melatih lama, mencari pengganti pengganti baru.
Mulai dari saat itu, dua akhli pedang mendendam.
Masing-masing maklum akan kepandaian lawan, mereka tidak berani mencari urusan, sungai Tiang kang ditetapkan sebagai daerah demarkasi, sebelah utara sungai tersebut berada dibawah kekuasaan Auw-yang le, dan Kong-sun Giok berkuasa untuk daerah Selatan.
Kini, dua belas jago utama akhli kampak tipis telah menyebrangi sungai Tiang-kang, maksud mereka sangat jelas, tentunya bertujuan pedang In-liong.
Su-to Yan meninggalkan orang yang sudah mati, ia meneruskan perjalanan, Tibalah ia ditepi Sungai Tiang-kang.
Mata Su-to Yan celingukan mencari tukang perahu, lebar dan panjang sungai Tiang-kang tiada tara, perahu kecilpun takut ditenggelamkan oleh arus sungai itu, jarang sekali ada orang yang mau mengerjakan tugas tersebut.
Hanya perahu-perahu besar yang berani mengarungi sungai Tiang-kang.
Tiba-tiba, sebuah perahu besar mendatangi kearahnya, sangat cepat sekali, perahu itu sudah menurunkan layar, siap-siap mengadakan pendaratan.
Su-to Yan berpikir.
"Mungkinkah bertujuan kepadaku?"
Perahu itu telah dekat sekali, dari dalam muncul seseorang, langsung memandang Su-to Yan berteriak.
"Su to kongcukah disana? Bila kongcu membutuhkan perahu, aku Thung Kun Ie bersedia menyediakan tenaga?"
Su-to Yan tidak kenal kepada Thung Kun le, tapi dari pembicaraan orang, ia seperti tahu bahwa Thung Kun Ie itu adalah salah satu dari anak buah Kong-sun Giok. Sambil tertawa, Su-to Yan menjawab.
"Terima kasih, Dimanakah Kong-sun beng-cu berada ?"
Sebelum Thung Kun Ie memberikan jawaban, dari dalam perahu muncul lagi seseorang itulah Kong-sun Giok, dengan wajah tersungging senyuman, bengcu itu berkata kepada Su-to Yan.
"Kong-sun Giok ada ditempat ini. Saudara Su-to, naiklah, aku ingin berunding denganmu."
Su-to Yan tertawa, ia bernyali besar, dengan satu gerakan yang enteng, ia melayang dan menuju keperahu Kong-sun Giok, terakhir dengan gerakan Peng-san Kie-ya, meletakkan kedua kakinya dipapan perahu.
"Bagus!"
Kong-sun Giok memberikan pujian.
"ilmu meringankan tubuh saudara Su-to juga luar biasa."
"Terima kasih."
Su-to Yan memperhatikan keadaan perahu itu, cukup besar, tidak ada yang mencurigakan Disaat ini ....Dari hulu sungai mendatangi lain perahu sangat besar kecepatannya luar biasa.
Sangat pesat sekali, bilamana bila dari jauh perahu tadi terlihat kecil, kini sangat jelas, lebih besar dari perahu Kong-sun Giok, sebentar kemudian, sudah merendengi perahu Pedang Selatan itu.
Kong-sun Giok memperhatikan kedatangan Sang perahu, panji perahu berbendera kuning segi tiga, itulah bendera tanda si pedang utara Auw-yang Ie.
Apakah maksud kedatangan Auw-yang Ie?
Mungkinkah turut menghendaki pedang In-liong kiam ?
Sebelum Kong-sun Giok dapat memecahkan pertanyaan itu, tibatiba tampak seorang pemuda berwajah kuning berada di geladak depan dari perahu yang baru datang, itulah Auw-yang Ie.
-ooo0dw0oooSi pedang Utara Auw-yang Ie memunculkan diri !
Perlahan-lahan, Auw-yang Ie mengangkat kedua tangannya, ia memberi hormat berkata.
"Selamat bertemu Kong-sun bengcu."
"Orang she Auw-yang, kau telah mengingkari janji tempo hari?"
Kong-Sun Giok mengadakan teguran. Auw-yang Ie tertawa terbahak-bahak.
"Saudara Kong-Sun."
Ia berkata.
"dahulu kita mengadakan perjanjian untuk memisahkan daerah kekuasaan secara tegas. Sungai Tiang-kang adalah garis demarkasi, kau di Selatan dan aku menguasai daerah Utara. Hari ini, kita sama-sama berada diatas permukaan sungai Tiang kang, sama-sama didaerah demarkasi, aku tidak mengadakan teguran, bagaimana kau boleh menegur diriku? Apa yang kau maksudkan melanggar janji ? Ha, ha, ha, ha...."
Kong-sun Giok tidak dapat mendebatkan kali ini, ia kalah suara.
"Saudara Kong-sun,"
Berkata lagi Auw-yang le! "Hampir kau meninggalkan daerah ke kuasaanmu, tentunya ada urusan luar biasa, perkara apakah yang menyulitkan dirimu ?"
Kong-sun Giok segera menjawab pertanyaan.
"Aku hendak mengadakan perundingan dengan saudara Su-to Yan ini, perihal bagaimana harus meminjam pedang In-liong-kiam. Mungkinkah kau mempunyai maksud tujuan yang sama ?"
Si Pedang Utara Auw-yang Ie menganggukkan kepala, ia membenarkan dugaan orang, katanya.
"Cocok! Kau sangat pandai menduga isi hati orang."
"Oooo....silahkan naik ke atas perahuku,"
Berkata Kong-sun Giok.
"Kita mengadakan perundingan bersama."
"Baiklah."
Sementara itu, tubuh Auw yang Ie telah berpindah ke atas perahu Kongsun Giok.
Kong-sun Giok, Su-to Yan dan Auw-yang Ie masuk kedalam perahu.
Setelah masing-masing mengambil tempat duduk, Kong-sun Giok membuka suara.
"Saudara Su-to, bagaimana kita harus menyelesaikan persoalan pedang In-liong? Yang tahu rahasia itu hanya kita bertiga."
"Maksudmu bagaimana?"
Inilah suara pedang Utara Auw-yang Ie.
ia memandang rendah kepada kehadirannya Su-to Yan, langsung nyeletuk, memotong pembicaraan itu, pertanyaan diajukan kepada Kong-sun Giok.
Sipedang Selatan memberikan keterangan.
"Menurut janji yang diberikan oleh Ie Han Eng kepada rimba persilatan, pedang Ie-liong, dapat ditukar dengan ilmu pedang Maya Nada. Siapa yang memiliki pedang Ie-liong, dia berhak untuk menuntut ilmu pedang luar biasa itu. Nah, kini pedang telah berada diatas perahu, siapa diantara kita bertiga yang harus memilikinya?"
Mendengar keterangan Kong-Sun Giok, Su-to Yan mengerti akan duduk perkaranya.
Betapa pentingnya pedang In-liong, ternyata dapat ditukar dengan semacam ilmu pedang luar biasa, ilmu pedang yang bernama Maya Nada itu!
Dikala Su-to Yan mendapat tugas untuk membawa pedang Inliong-kiam kelembah Hui-an, gurunya tidak memberi tahu tentang adanya syarat seperti itu, maka si pemuda kurang berhati-hati, memperlihatkan pedang tersebut kepada Kong-Sun Giok.
Kini segala sesuatu telah jelas, ia harus berhati-hati menjaga keselamatan pedang.
Melihat sikap Su-to Yan yang diam, pedang Utara Auw-yang Ie memandang rendah pemuda itu, ia menduga kepada Sitolol yang mudah dihina, pemuda kemarin yang mudah dipermainkan.
Dan tanpa menganggap kehadiran Su-to Yan ditempat mereka, ia berkata kepada Kong-sun Giok.
"Tentunya kau bermaksud menentukan hak milik dengan kekerasan, bukan? Aku sangat Setuju. Sebagai pemimpin-pemimpin dari daerah Utara dan selatan, sekali lagi kita mengadakan adu keakhlian, siapa yang mempunyai ilmu pedang yang lebih tinggi, pasti dia keluar sebagai juara, Dan itulah orang yang berhak memiliki pedang In-liong Kiam."
"Bagaimana dengan Saudara Su-to?"
"Ha, ha, Dia pasti setuju, ia harus setuju kepada putusan kita."
"Saudara Auw-yang, kau keliru."
Berkata Kong-sun Giok.
"Saudara ini memiliki dua macam ilmu purbakala, Bagaimana kau dapat memandang rendah dirinya?"
Auw-yang Ie terkejut, ia melirik kearah Su-to Yan, dilihat pemuda itu masih anteng-anteng ditempat semula, seolah-olah tiada hubungan sama sekali, pemuda tolol seperti ini haruskah ditakuti?
Mungkinkah dapat memiliki ilmu silat jaman purbakala?
Bahkan lebih dari satu macam?
tidak mungkin Kong-sun Giok mengucapkan sesuatu yang tidak menjadi kenyataan, ilmu purbakala tidak boleh dipandang ringan, siapa yang memiliki satu macam dari 10 macam ilmu Silat mujijat tersebut, orang itu sudah digolongkan kedalam jago silat kelas satu, kini Su-to Yan memiliki dua macam ilmu luar biasa, tidak boleh dipandang ringan.
"Kalau begitu, bagaimana bila kita bersatu?"
Auw-yang Ie memandang Kong-sun Giok.
"Siapakah yang dapat mengalahkan tenaga gabungan, pedang Utara dan Pedang Selatan. Urusan diantara kita lebih mudah diselesaikan, bukan?"
"Tapi, aku lebih suka bekerja sama dengan saudara Su-to untuk mengalahkanmu."
Berkata si pedang Selatan Kong-sun Giok.
Auwyang Ie melengak.
Sungguhlah diluar dugaan, bila Kong-Sun Giok menolak tawaran itu, Bila si pedang selatan mau diajak bekerja sama, melenyapkan Su-to Yan, diantara kedua pedang itu akan bertempur menetapkan kekuatan, siapa yang menang, itulah yang berhak memiliki pedang In-liong.
Auw-yang Ie melirik kearah Su-to Yan, agaknya pemuda itu masih sangat tenang.
"Bagaimana pendapat saudara Su-to tentang tawaran saudara Kong-sun tadi?"
Ia ber tanya kepada pemuda itu. Su to Yan mengeluarkan pendapat.
"Ada baiknya, bila kalian berdua yang menetapkan persoalan tadi."
Auw-yang Ie melirik kearah Kong-sun Giok dan bertanya.
"Bagaimana?"
Kong-sun Giok menggeleng gelengkan kepala.
"Aku tidak bersedia bekerja sama denganmu."
"Baiklah."
Berkata Auw-yang Ie.
"Terpaksa aku harus mendahului gerakan rencanaku."
Tiba-tiba akhli pedang dari Utara itu mengeluarkan satu pekikan panjang, bergema hingga diseluruh permukaan air.
Berbareng, terdengar suara bergedebrukannya dari orang-orang yang roboh di lantai kapal Kong-sun Giok.
Diluar telah terjadi pertempuran.
Wajah si Pedang Selatan berubah.
"Auw-yang Ie,"
Ia membentak.
"Kau ada menyembunyikan orang orangmu didalam perahu ini?"
Auw-yang Ie tidak perlu memberikan jawabannya.
Disaat itu, pintu telah didobrak dari luar, disana muncul beberapa orang, masing-masing memegang sepasang kampak sangat tipis, itulah dua belas anak buah pilihan Auw-yang Ie dengan dua belas pasang kampak-kampak tipis mereka.
Kong-sun Giok sangat marah sekali, ia membentak.
"Auw-yang Ie, berani kau kurang ajar di atas kapal ku?"
"Ha, ha, ha, ha... ."
Pedang Utara tertawa.
"Manakah orangorangmu?"
"Agaknya kau telah menghilangkan semua rintangan, bukan?"
Kong-sun Giok tidak melihat adanya orang-orang yang telah dibawa, termasuk juga Thung Kun Ie. Auw-yang Ie memberi keterangan.
"Sebenarnya, aku ingin bekerja sama denganmu. Apa mau, kau tidak tahu diuntung, Menolak terlalu cepat, inilah hasil diri perbuatanmu sendiri."
Kong Sun Giok telah berhasil menguasai kemarahannya, melihat situasi yang tidak menguntungkan ia telah mempunyai rencana lain, dengan dingin berkata.
"Auw-yang Ie, kau telah berhasil menyingkirkan semua orangorangku, tentunya menganggap bahwa kemenangan telah berada dipihakmu, bukan?"
Auw-yang Ie tertawa nyengir, ia memandang ke arah orangorangnya, meminta laporan mereka.
"Kapal kita telah bocor."
Melapor seorang.
"Demikianpun dengan kapal ini."
Sambung Kong-sun Giok.
"Kau harus ingat, dimana kah kini kita berada? Diatas permukaan air, di tengah-tengah sungai Tiang-kang yang sedang mengalir deras, Semua jalan sungai sudah kututup, sedangkan pengemudi kapal ini, sebelum ia mati atau mengalami sesuatu, telah kuperintahkan untuk merusak papan, ia harus menenggelamkannya. Nah! pikirlah, apa kau juga dapat lolos dari kematian ?"
Auw-yang le terkejut. Tampak ia mengerutkan kedua alis, dan akhirnya iapun menjadi sangat gelisah.
"Cincang dua orang ini!"
Demikian sipedang Utara Auw-yang Ie memberi perintah kepada orang-orangnya.
Dua belas jago utara dari daerah utara dengan dua belas pasang kampak tipis mereka mengurung semakin rapat.
Kong-Sun Giok telah mengeluarkan pedang hanya beberapa tangkisan, ia berhasil menyingkirkan serangan orang-orang itu, ia berada di atas kapalnya sendiri, tentu lebih apal, tikung sana tikung sini, pada suatu ketika, ia berhasil lompat keluar.
Dua orang dengan empat kampak tipis mengancam Su-to Yan.
Jago kita tidak berpeluk tangan lagi, ia berkelit, kemudian mencabut pedang, hanya satu sentakan, ia membuat delapan kampak itu -terbang.
"Trang ... Trang ... Trang . , . Trang."
Empat kampak lagi diterbangkan, Orang-orang Auw-yang Ie menjadi gentar, mereka mundur jauh-jauh.
Su-to Yan berhasil keluar dari geladak kapal, Terlihat Kong-sun Giok sedang bertempur seru dengan Auw-yang Ie, ilmu kepandaian dua orang itu seimbang, tidak mudah menentukan kemenangan Melihat jago-jago utamanya tidak berhasil membendung pemilik pedang In-liong, Auw-yang Ie terkejut.
Kesempatan ini telah digunakan oleh Kong-Sun Giok, ia lari ke buritan kapal, melepaskan perahu kecil, laju sekali, perahu itu menjauhkan kapal besar yang sudah mulai tergenang dengan air.
Dengan satu loncatan, Kong-sun Giok nangkring diatas perahu itu.
Auw-yang Ie mengejar kearah Su to Yan.
Dari atas perahu kecilnya, Kong-sun Giok berteriak.
"Su-to Yan, datanglah kemari, kita belum selesai mengadakan pertempuran. Su-to Yan agak tertarik kepada Kong-sun Giok, bila dibandingkan dengan kepribadiannya Auw-yang Ie. Tentu saja, si pedang Selatan lebih pandai mengambil hati orang, tidaklah seperti si pedang Utara yang sangat kasar. Keadaan sudah sangat gawat, Su-to Yan menyimpan pedang, dipungutnya Sebingkai papan, dilempar kearah permukaan sungai, Begitu tubuhnya melayang, dengan tepat jatuh pada papan itu, dari sana, ia lompat lagi kearah perahu kecil Kong-sun Giok. Kong-sun Giok mengeluarkan pujian.
"Bagus. Aku Kong-sun Giok harus memberikan pujian kepada ilmumu ini."
Su-to Yan telah berada diperahu kecilnya, ia menganggukkan kepala.
"Terima kasih."
"Jangan terlalu cepat mengucapkan terima kasih, sebentar lagi, mungkin kau mengutuk dan memaki-makiku."
"Masih ingin meminjam pedang In-liong?"
"Betul, sekali lagi kuulang permintaanku. Walaupun berada ditempat ini, aku masih membutuhkan pedang tersebut. Serahkanlah pedang In-liong."
Su-to Yan tersenyum-senyum, ia memberi jawaban yang sama.
"Maaf, Aku belum dapat melulusi permintaan itu."
"Jawaban yang sudah kuduga."
Berkata Kong-sun Giok.
"Di misalkan berganti kedudukan. Aku yang memiliki pedang In-liong, dan kau yang meminta pedang itu, Akupun tidak akan menyerahkannya, Kecuali..."
"Maksud saudara Kong-sun...."
"Kecuali didalam keadaan-keadaan tertentu."
"Apakah yang kau maksud dengan keadaan-keadaan tertentu itu?"
"Kudengar Goan Thong bercerita, kau memiliki ilmu silat Siauwlim-pay. Tapi kau menyangkal dan mengatakan, kau bukan murid Siauw-lim-pay."
Su-to Yan terkejut, hatinya berkata.
"tidak kusangka, Kong-Sun Giok memang mempunyai keistimewaan. Penilaian sangat luar biasa."
Dan ia memberikan jawaban.
"Aku bukan anak murid Siauw-limpay."
"Betul. Kau bukan anak murid Siauw-lim pay, Tapi, dikala kau menempur Han-kang To-jin beberapa jurus tipu silat dapat kau gunakan baik."
"Tapi, aku bukan murid Siauw-lim-pay."
"Siapakah orang yang menjadi gurumu?"
Su-to Yan tidak mau menyebut gurunya.
"Kau adalah anak murid Ciok Pak Jiak, orang yang pernah menepuk mati In-khong Hum dari Siauw-lim sie"
Su-to-Yan kaget, sungguh diluar dugaan, bagaimana Khong-Sun Giok dapat menyebut nama gurunya? "Bagaimana kau tahu?"
Ia minta keterangan yang lebih jelas.
"Saudara Su-to, seluruh dunia persilatan telah kujelajahi penuh, Mengapa tidak tahu? Mana mungkin tidak dapat mengenali ilmu silat aliranmu?"
Su-to Yan diam tidak bicara.
"Saudara Su-to,"
Panggil lagi Kong-Sun Giok.
"Sekarang begini Saja, pedang In-liong kau serahkan kepadaku, ambillah pedang Selatanku, Didalam perjalananmu didalam dunia persilatan, walaupun kau orang baru, kutanggung tidak akan mendapat gangguan, bila kau mau menonjolkan pedang Selatan itu ."
Su-to Yan tertawa, ia memberikan jawaban.
"Kong-Sun bengcu, tidak kusangka, kau begitu mendesak, Ketahuilah bahwa pedang In-liong harus diserahkan kepada Ie Han Eng, bagaimana aku memberikan pertanggungan jawab ku, bila tiba dilembah Hui-in tanpa pedang tersebut? inilah pesan guruku sebelum beliau menghembuskan napasnya yang penghabisan."
"Kau salah paham. Aku hendak membantu ketenangan diperjalananmu. Tapi kelihatannya, kau salah menerima maksud baik orang."
"Aku selalu berterima kasih kepada setiap kebaikan-kebaikan yang orang berikan, Termasuk juga kebaikanmu. Tapi, kalau orang memaksa seperti kau ini, bagaimana aku mengerti ?"
"Bagus, Nanti, kalau sudah kusebarkan dan siarkan bahwa kau adalah muridnya Ciok Pok Jiak, entah berapa banyak orang yang akan memusuhi dirimu, menghalang-halangi perjalananmu, mengganggu kehidupanmu. Gurumu mempunyai banyak musuh, maklumlah akan hal ini?"
Su-to Yan belum menjawab, Kong-sun Giok sudah menyambung lagi.
"Ditambah dengan urusan pedang In liong, dengan adanya pedang itu padamu, bila tokoh-tokoh rimba persilatan mengetahui berapa banyaknya orang yang ingin merebutnya? Berapa banyakkah yang dapat kau halau? Sangat berbahaya, dapat kau menginsafi keadaan ini"
"Aku tidak perduli."
Jawab Su-to Yan singkat.
"Baik, Aku gagal dalam usaha melakukan jalan perdamaian, Apa boleh buat, aku harus mendapatkan pedang In liong dengan cara kekerasan."
"Boleh kau coba."
Su-to Yan menantang, ia tidak gentar.
Suasana semakin tegang, keadaan yang meruncing tidak dapat dielakan lagi, jalan pemecahan hanya satu, itulah pertempuran, pertarungan diatas permukaan air yang sangat berbahaya.
Perahu meluncur kearah hilir sungai.
"Bagus, Aku harus menempur anak murid Ciok Pak Jiak, orang yang pernah mendapat julukan iblis Sesat Nomor Satu."
Berkata Kong-Sun Giok.
"Aku bergembira dapat di tempur oleh ahli pedang nomor satu untuk daerah Kanglam."
Su-to Yan tidak mau kalah suara.
"Sret ..."
Pedang Kongsun Giok telah keluar dari sarungnya, wajahnya bersungguh-sungguh.
Melihat sikap yang dibawakan oleh lawannya, Su-to Yan maklum, ilmu pedang si Pedang Selatan jauh diatas ilmu pedang Han kang To jin.
Su-to Yan tidak berani lengah, ia melintangkan pedang didepan dada, itulah penjagaan terkuat.
Dengan sepasang mata menatap batang pedang lawan, selalu siap menerima serangan.
Kong-sun Giok belum pernah dikalahkan orang, bila pada saat sebelumnya, ia bersikap tenang dan memandang rendah ilmu kepandaian lawan, Kini sikap itu telah dibuang jauh-jauh.
Su-to Yan anak murid Ciok Pak Jiak, jago Sesat nomor satu yang pernah menggemparkan rimba persilatan.
Dan lain dari pada itu, diapun memiliki dua macam ilmu silat mujijat dijaman purbakala, tidak mudah untuk menjatuhkan jago muda ini.
Nama Kong-sun Giok terdaftar pada deretan pertama, Su-to Yan tidak ada niatan untuk mengalahkan ahli pedang itu, ia boleh merasa puas, bila dirinya tidak dijatuhkan lawan.
Dari posisi kedudukan yang diambil, ia memilih jalan perdamaian, jalan ini ditempuh dengan mempertahankan diri lebih kuat lagi.
Lama sekali keadaan itu berlangsung.
Kong Sun Giok menunggu kelemahan orang, dan ia tidak berhasil.
Dilihat bagaimana rapat penjagaan Su-to Yan, diam berdiri diburitan perahu, bila serangannya tertutup, tidak mudah ia membalikkan keadaan, maka ia harus berhati-hati.
Lain pikiran mengarungi benak Kong-sun Giok, Diketahui bahwa Ciok Pak Jiak mendapat nama karena sepasang telapak tangannya yang luar biasa, tidak ada keistimewaan untuk menguasai ilmu pedang, Su-to Yan adalah murid jago sesat itu, mungkinkah dapat melebihi gurunya?
Lain pikiran berkata kepada Kong-sun Giok, dirinya mendapat julukan si Pedang Selatan, mungkinkah harus takut kepada pemuda baju putih itu?
Kong-sun Giok menyedot tarikan napas yang panjang., kemudian melempangkan ujung pedang, disodorkan kedepan, perlahan sekali.
Serangan yang sangat biasa, Tapi penuh perubahan, serangan untuk menjajal, sampai dimana reaksi lawan.
Su-to Yan masih membiarkan pedangnya melintang didepan dada, dia tidak bergerak, seolah menutup mata dari serangan KongSun Giok.
Kong-Sun Giok tidak meneruskan serangan itu, pedang ditarik pulang, dari arah lain, ia mengadakan jajalan yang kedua.
Su-to Yan bergeser sedikit, walaupun begitu, pedang melintang melindungi dada, tidak merubah posisi melindungi diri.
Lagi-lagi Kong-sun Giok membatalkan serangan, berganti arah lain, mendorong maju pedang.
Seperti keadaan pertama, karena pedang Kong-Sun Giok di mainkan sangat perlahan.
Su-to Yan tidak menangkis serangan menggebraknya, ia tidak dapat diganggu.
itu, juga tidak Delapan kali Kong-sun Giok mengadakan gangguan, Delapan kali pula Su-to Yan berganti arah, didalam keadaan posisi kedudukan yang sama.
Kini Kong-sun Giok maju dua tapak, jarak mereka telah dipersingkat, ujung pedang mengarah jalan darah Keng-kie-hiat.
Su-to Yan harus memiringkan pedangnya, dengan mudah menyingkirkan serangan pedang lawan.
Kong-sun Giok tetawa, tubuhnya mundur.
Cepat, hal ini penting, mengingat serangan balasan yang musuh akan dilontarkan kepada dirinya.
Tapi Su-to Yan tidak mengejar Sipedang Selatan, lagi-lagi ia melintangkan pedang membuat penjagaan kepada diri sendiri.
Suatu tanda2 bahwa pengalaman tempur pemuda itu sangat cetek sekali.
Kong-sun Giok berhasil mengetahui kelemahan lawan, ia pun tahu dimana letak kekuatan lawan, kini maju kembali, pedang diputar kencang, mengirim beberapa serangan, sebentar dari atas, sebentar dari samping, dan sebentar lagi membabat sepasang kaki musuh itu.
Su-to Yan memiliki beberapa macam ilmu ampuh, sayang kurang pengalaman, belum lancar menggunakan ilmu-ilmu itu, sedang orang yang dijadikan lawan adalah bengcu daerah Kang-lam, terlalu berat.
Menangkis lagi dua kali, tusukan pedang Kong-sun Giok yang berikutnya tidak tertahankan ujung pedang menusuk beberapa senti di pundak kanannya.
Su-to Yan mengeluarkan suara gerengan, tangan yang memegang pedang yang menjadi lemas, hampir ia melepaskan pedang ln liong.
Sadar akan pentingnya pedang tersebut, dengan menahan rasa sakit, ia tidak mau melepaskannya.
Tangan kirinya masih mempunyai kebebasan, dengan satu jurus Han-In Ciok goat dari ilmu purbakala Pie-Pa-cap-Sa-san Chiu membacok tangan lawan.
Kong-sun Giok dipaksa mundur.
Betapa lihay ilmu tersebut, ia sangat maklum.
Su-to Yan harus mempertahankan pedang In-liong, tidak ada lain jalan, setelah berhasil mendesak lawan, seketika itu juga, ia lompat kedalam air.
Kong-sun Giok melengak, ia tidak tinggal diam, diketahui bahwa lawan telah menderita luka, mengetahui Su-to Yan telah berada diair, ia pun meluncurkan perahunya, mengejar.
Su-to Yan menggunakan air sebagai senjata, lagi-lagi ia mengalami kegagalan, pedang Kong-Sun Giok sangat cepat, pada suatu ketika, pedang itu melukai paha kiri.
Karena terlalu banyak mengeluarkan darah, Su-to Yan tidak dapat mempertahankan dirinya, tubuhnya tenggelam ke dasar sungai.
Kong-sun Giok kehilangan lawan tersebut.
Sebentar kemudian, terlihat air merah yang menuju kearah perahunya, itulah darah Su-to Yan.
Su-to Yan tenggelam sambil memegangi erat-etat pedang Inliong, biar bagaimana, ia harus mempertahankan pedang itu.
Terbawa arus sungai, ia diombang-ambingkan ombak.
bertahan beberapa saat, dan iapun pingsan, tidak sadakan diri lagi.
Air sungai Tiang kang mengalir.
Berapa lama ia tidak ingat orang, Su-to Yan tidak tahu.
Dikala ia membuka matanya, ia mendapatkan sudah berbaring di suatu tempat yang empuk, ternyata sudah ditolong orang.
Gerakan yang pertama adalah mencari pedang In-liong, dan pedang itupun telah tiada pada tangannya.
Ia kaget sekali, cepat-cepat lompat bangun.
Sekujur badannya dirasakan sakit, ia terjatuh kembali.
Su-to Yan berusaha memperhatikan keadaan itu, dirinya berada didalam sebuah perahu lain, cukup besar, perahu ini bukan perahu besar Kong-Sun Giok yang sudah tenggelam, juga bukan milik Ouw yang Ie yang sudah bocor.
Seorang gadis pelayan masak kedalam ruangan itu.
Melihat keadaan Su-to Yan yang sudah siuman, ia berteriak girang.
"Ooo... Kong cu sudah ingat orang?"
"Dimanakah pedangku ?"
Su-tu Yan tidak dapat melupakan pedang In-liong, segera ia bertanya kepada gadis pelayan itu. Sigadis tertawa, dengan senyum manis, ia berkata.
"Kau agak kurang tahu aturan, Bukannya bertanya kepada orang yang menolong dirimu, tapi soal pedang yang sangat diperhatikan."
"Tapi, nona..."
"Jangan panggil aku nona, panggil saja aku Siauw-In, itulah namaku."
"Nona Siauw In."
"Siauw ln saja cukup."
"Oh, Siauw In, kau telah menolong diriku? Terima kasih."
"Hi, hi, hi ....Bukan aku yang menolong, Tapi, nonaku yang telah berusaha menolong dirimu."
"Nonamu ? Dimanakah ia berada ?"
"Mau apa bertanya pedangmu itu ?"
Tentang dirinya? ingin menanyakan "Oh, oh ....Aku ingin mengucapkan terima kasihku."
"Nah, lihatlah, nonaku telah datang."
Berkata gadis pelayan yang bernama Siauw In itu. Seorang gadis berbaju hijau berjalan datang, sangat agung sekali, ia menghampiri tempat pembaringan. Su-to Yan menunjuk hormatnya, ia berkata.
"Terima kasih kepada budi nona yang telah menolongku dari kesulitan."
Gadis itu menganggukkan kepala, ia berkata.
"Keadaaamu masih belum baik betul, aku harus menambah obat untukmu, tunggulah sebentar."
Dan gadis itupun pergi lagi, meninggalkan ruangan yang ditempati Su-to Yan. Hanya Siauw In dan Su-to Yan masih belum lepas memandang kearah lenyapnya bayangan gadis berbaju hijau tadi.
"Su-to Yan,"
Siauw ln memanggil.
"jangan kau berpikir yang bukan-bukan kepada nonaku."
Su-to Yan terkejut, cepat-cepat ia mengalihkan pandangan.
"Eh,"
Tiba-tiba ia memandang Siauw In "Bagaimana kau tahu aku, bernama Su-to Yan."
Siauw In tertawa.
"Mengapa tidak ?"
Ia berkata.
"Siapakah yang berani menempur pedang Utara dan pedang Selatan sekaligus ? Bila bukan Su-to Yan yang ternama ?"
Su-to Yan menundukkan kepala, bagaimana ia dikatakan menempur Pedang Selatan dan Pedang Utara, jiwanyapun hampir direngut oleh maut.
"Aku sangat berterima kasih kepada kalian,"
Ia berkata perlahan.
"Terima kasih ? Huh, mengapa kau ingin merencanakan sesuatu kepada nonaku ?"
"Merencanakan sesuatu ?"
Su-to Yan tidak mengerti.
"Kau kira aku tidak tahu ? Setelah melihat wajah nonaku, matamu menjadi merah, kuning, hijau, sangat liar, seperti juga orang-orang lainnya, entah apa yang sedang kau rencanakan kepadanya ?"
Su-to Yan menyengir, ia dianggap sebagai pemuda ceriwis.
"Jangan kau menyangkal."
Berkata lagi Siauw In.
"Setiap lelaki yang bertemu dengan nona pasti memandang seperti itu. pengalamanku didalam hal ini tidak dapat dikelabui orang."
"Jangan kau sama ratakan semua orang."
Berkata Su-to Yan.
"Huh, bagaimana kau memandang nonaku tadi ? Kau kira aku tidak tahu ?"
Su-to Yan diam, ia tidak mau berdebat dengan gadis seperti Siauw In.
"Hh,"
Melihat pemuda itu diam, Siauw In gatal mulut.
"Apa yang sedang kau pikirkan."
"Sedang kupikirkan, kemanakah kalian ingin pergi?"
"Mengapa?"
"Aku sedang menjalankan tugas."
"Menjalankan tugas? Tugas yang bagai manakah yang sedang kau jalankan? Bolehkah kau beri tahu kepadaku?"
Bertanya Siauw In yang ternyata sangat usil sekali.
"Gunung Bu-San."
"Gunung Bu-san adalah di hulu sungai, dan perahu kita inipun sedang melakukan perjalanan kearah itu. jangan kau khawatir, tidak menelantarkan tugasmu."
"Mengganggu kalian."
Berkata Su-to Yan.."Eh, kau hendak kegunung Bu-san? Siapa kah yang hendak kau jumpai?"
"Aku harus menemukan seorang gadis yang bernama Ie Han Eng."
Berkata Su-to Yan secara jujur.
"le Han Eng?"
Siauw In membelalakan mata.
"Huh? Lagi-lagi Ie Han Eng. Dimanakah letak kebagusannya? Mungkinkah nonaku kalah cantik dari Ie Han Eng?"
Su-to Yan memandang gadis pelayan itu. Dengan sungguh-sungguh Siauw In berkata.
"Kuanjurkan kepadamu, ada lebih baik tidak menemui Ie Han Eng."
"Mengapa?"
Su-to Yan semakin bingung. Dengan berbisik-bisik, Siauw In berkata perlahan.
"Kuberitahu kepadamu, bahwa nona kami adalah musuh orang yang bernama Ie Han Eng itu."
"Eh, siapakah nama nona kalian?"
Siauw In ingin memberi jawaban, tapi dari luar sudah terdengar teriakan Sang nona majikan.
"Siauw In, jangan kau mengganggu Su-to kongcu, ia harus banyak istirahat."
Siauw In mencibirkan bibir, dan membalikkan tubuh, meninggalkan Su-to Yan, Su-to Yan masih mengunyah kembali keterangan-keterangan Siuw In, nona majikan Siauw In adalah musuh Ie Han Eng?
Mengapa setiap orang didunia ini memusuhi Ie Han Eng?
Teringat kepada Cin Bwee, gadis itupun tidak puas kepada Ie Han Eng, dimanakah letak ketidak puasan itu?
ia harus mengorek sedikit keterangan.
Pertanyaan yang tidak dijawab, tentu saja Su-to Yan tidak tahu, betapa cantik wajah gadis yang bernama Ie Han Eng, dia adalah gadis tercantik untuk masa itu, semua wanita mengiri kepadanya, semua gadis dengki kepadanya, dan inilah sebab penting, mengapa Cin Bwee dan Siauw In tidak puas kepada Ie Han Eng.
Seorang diri ditempat itu, Su-to Yan mengatur peredaran darahnya, menyembuhkan luka-luka yang diderita, ia mengeluarkan terlalu banyak darah, dan itu membutuhkan istirahat yang banyak.
Setengah jam kemudian, lapat-lapat terdengar suara pintu dibuka, dan seseorang memasuki kamar itu, berdiri didepannya beberapa saat, meletakkan sesuatu, dan pergi kembali.
Semua pusat perhatian Su-to Yan sedang dicurahkan untuk mempercepat peredaran darah nya, karena itu tidak boleh mendapat gangguan walaupun tahu akan kedatangan orang itu, ia tidak membuka mata.
Sata jam lagi berlalu, Su-to Yan berhasil mengalirkan semua peredaran jalan darah, ia menyedot hawa napas dalam-dalam, pandangan lebih terang, Terpikir akan kejadian tadi, ia mengucurkan keringat dingin.
Tentunya sigadis berbaju hijau yang datang, maka ia tidak mengganggu bukankah akan celaka?
Dugaan Su-to Yan tidak salah, setelah mengetahui bahwa pemuda itu telah selesai menekunkan dirinya, sigadis berbaju hijau masuk kembali, Dengan senyuman manis, ia berkata.
"Kudengar kau memiliki dua macam ilmu purbakala, tidak kusangka, kecuali itu, kau juga pandai menggunakan It bok Cengkhie."
Su-to Yan terkejut ia berpikir, lihay mata gadis ini, hanya sepintas lalu, latihan It-bok Ceng-khie telah diketahui.
Gadis tersebut mengambil obat yang belum lama diletakan dimeja, diserahkan kepada Su-to Yan dan berkata.
"Makanlah obat ini, maka kekurangan darahmu dapat bertambah cepat."
Su-to Yan menenggak obat tersebut. Sigadis berkata lagi.
"Kudengar kau hendak pergi kegunung Bu-san menemui Ie Hian Eng, entah alasan apakah yang belum diselesaikan dengan nona itu?"
Su-to Yan ragu-ragu. Keterangan Siauw In memberitahu kepadanya, Ie Han Eng bermusuhan dengan mereka, bagaimana ia harus membuka mulut? Gadis itu tertawa lagi, katanya.
"Jangan kau percaya keterangan Siauw In, ia mulutnya terlalu usil, pandai mengerang cerita yang tidak ada, Kami belum pernah mengikat tali permusuhan. Aku dan Ie Han Eng adalah sahabat baik. Kinipun sedang menuju ke gunung Bu-San untuk mencarinya,"
Su-to Yan memandang gadis tersebut dengan tajam.
Keterangan yang bertentangan dengan keterangan yang Siauw ln berikan.
Yang manakah yang harus dipercaya olehnya?
ia lupa menjawab pertanyaan itu, Melihat keragu-raguan orang, gadis berbaju hijau tidak memaksa ia berkata.
"Bila ada sesuatu yang harus dirahasiakan aku tidak mengharuskan kau menjawab pertanyaan tadi. Anggap saja aku tidak bertanya kepadamu." -oo0dw0oo-
Jilid 3 SU-TO YAN malu hati, Hutang budi kepada nona yang menolong dirinya dari kematian mungkinkah harus dibalas dengan air tuba? Segera ia berkata.
"Aku harus menemui Ie Han Eng untuk menyerahkan pedang Inliong."
"Oooo, ..."
Mata gadis tersebut memancakan keanehan.
"Pada sebelumnya, pernahkah kau kenal dengan Ie Han Eng?"
Su-to Yan menggeleng-gelengkan kepala.
"tidak kenal sama sekali?"
Gadis tersebut belum mendapat kepuasan.
"Hanya perintah guruku yang mengharuskan menyerahkan pedang In-liong kepadanya."
Berkata lagi Su-to Yan.
"Tapi le Han Eng tidak pandai silat, Mengapa harus menyerahkan pedang kepadanya?"
Su-to Yan tertegun, Ie Han Eng tidak pandai silat? Mengapa memiliki ilmu pedang Maya Nada? ilmu pedang yang dikenal sangat ampuh? ilmu pedang tanpa tandingan? Lama sekali mereka tidak bicara.
"Su-to Yan... ."
Panggil gadis tersebut menyadarkan lamunan si pemuda.
"Oh....Oh, ..."
Cepat-cepat Su-to Yan bangkit.
"Nona, aku berterima kasih kepadamu."
Berkata si pemuda.
"Pertolonganmu juga, telah mengangkat diriku dari maut tidak akan kulupakan."
"Perkara kecil, Kulihat kau berada didalam bahaya, maka segera aku menyuruh orang ku menolong dirimu."
"Bagaimana nona tahu, aku berada di dalam bahaya?"
"Dikala kau jatuh ke air dan dikejar oleh Kong-sun Giok, aku dapat melihat dari tempat jauh."
"Oooooh..."
"Segera kupercepat kapalku, dan tepat pada waktunya, dapat menghindari dirimu dari kematian."
"Eh, bagaimana kau tahu aku bernama Su-to Yan?"
"Kong-sun Giok memanggil-manggil nama mu itu. Maka aku dapat tahu."
"Bolehkah... .Aku mengetahui nama nona yang mulia?"
"Ng....Kau pernah berhadapan dengan 4 suhengku, seharusnya tahu namaku."
"Empat suheng nona?"
Su-to Yan tidak mengerti.
"Disebuah kelenteng yang tidak jauh dari gunung Oey-San, dikala menjelang malam gelap, tatkala kau memasuki kelenteng itu dan diserang oleh mereka... ."
"Oo ... Nona juga dari golongan Thian-lam Lo-sat ?"
Su-to Yan ingat kepada anak murid golongan Thian-lam Lo-sat.
"Betul, Namaku Jie Ceng Peng."
Berkata gadis itu.
"Oh, Pedang Emas Jie Ceng Peng."
Berteriak Su-to Yan terkejut.
"Demikianlah mereka memanggil diriku."
Jie Ceng Peng sangat ramah.
Su-to Yan mengucurkan keringat dingin, pernah didengar cerita tentang seorang gadis dari Thian-lam Lo-sat yang bernama Jie Ceng Peng, dengan gelar si pedang Emas yang ganas, setiap laki-laki yang jatuh kedalam tangannya, pasti mengalami kesulitan, lebih baik mati daripada hidup, Dan kini, dirinya telah ....Terdengar lagi suara gadis baju hijau yang bernama Jie Ceng Peng itu.
"Kudengar suheng suhengku itu bercerita, mereka bertemu dengan seorang pemuda berbaju putih dari Siau-lim-pay, sulit dikalahkan, maka aku segera menyusul datang."
Su-to Yan masih berpikir, apa maksud Jie Ceng Peng bercerita tentang kejadian-kejadian lama ? Jie Ceng Peng masih berkata.
"Aku kurang percaya kepada keterangan itu, tidak kulihat ilmu-ilmu kepandaianmu, tapi tadi, ilmu yang kau kerahkan adalah ilmu It-bok Ceng-khie pasti, tidak akan salah lagi."
"Su-to Yan harus memuji kelihayan mata gadis berbaju hijau ini, tentunya mempunyai ilmu kepandaian yang hebat, sungguh tidak mudah mengalahkannya."
"Bagaimanakah hubunganmu dengan Ciok Pak Jiak ?"
"Murid dan guru."
"Guru ?"
Mata Jie Ceng Peng terpentang lebar-lebar, ia kurang percaya, bahwa pemuda yang benda dihadapannya adalah murid Si tokoh sesat yang sudah lama tiada kabar cerita itu.
Ciok Pak Jiak terkenal pada 50 tahun berselang, dan 20 tahun kemudian karena terlalu banyak musuh, ia melenyapkan diri.
Pemuda ini baru berumur belasan tahun, mungkinkah Ciok Pak Jiak dapat sanggup bertahan sampai satu abad?
"Nona,"
Su-to Yan membuka Suara.
"bolehkah aku bertanya, dimana pedang In-liong yang kupegang sebelum jatuh pingsan ?"
"Pedang In liong berada padaku!"
Berkata si gadis.
"Bolehkah kau menyerahkan kembali pedang itu ?"
"Kau tentunya maklumi gurumu itu menanam banyak permusuhan bila mereka tahu, kau keluar dengan membawa-bawa pedang In-liong mungkinkah mereka tidak mengadakan gangguangangguan? Dapatkah kau mempertahankan pedang In-liong dari keroyokan banyak orang?"
"Atas peringatan nona, sebelumnya aku mengucapkan banyak terima kasih. Sebagai murid dari seorang guru, aku telah mewarisi semua kepandaian, tentu saja harus menanggung semua resikoresiko lama."
"Bagus, Aku ada sedikit ganjelan dengan perhitungan inipun jatuh padamu, bukan?"
Gurumu, dan "Tentu."
"Bila aku ingin mengadakan perhitungan denganmu, apa yang dapat kau berikan?"
"Mengadu silat ?"
"Cara yang paling biasa bagi kaum kita, bukan?"
"Aku tidak menolak setiap tantangan."
"Bukan menolak atau tidaknya, yang kuingin ketahui dapatkah kau bertanding segera, didalam keadaan masih terluka?"
Si gadis menatap wajah pemuda itu.
"Matipun akan kulayani tantanganmu."
Berkata Su-to Yan gagah.
"Bagus."
Berkata Jie Ceng Peng "Telah tiga hari tiga malam kau jatuh pingsan, Kong-sun Giok datang menyusul, ia ingin memeriksa perahu, Dan permintaan itu telah kutolak, Seperti inikah pembalasanmu?"
Su-to Yan memperhatikan wajah sigadis berbaju hijau sangat cantik, tapi masih muda belia, mungkinkah dapat menolak tuntutan yang Kong-sun Giok ajukan ?
sedangkan ketua Thian-lam Lo-sat saja belum tentu ditakuti oleh pedang Selatan, bagaimana hal ini dapat terjadi?
Dengan cara apa Jie Ceng Peng menghalau gangguan Kong-sun Giok?
Su-to Yan terpekur, Mulutnya menggerendeng.
"Ada ubi ada talas, ada budi harus dibalas."
"Untuk membalas budi, kini dapat kau lakukan dengan mudah."
Berkata Jie Cheng Peng.
"Apa yang harus kulakukan?"
Bertanya sipemuda.
"Bila kau bersedia menyerahkan pedang In-liong kepadaku, maka akupun akan berhutang budi, kita bersama melepas budi, Mudah kau kerjakan bukan?"
Berkata sigadis dengan satu kerlingan mata yang menantang.
Su-to Yan membisu, Bagaimana ia dapat menyerahkan pedang In-liong kepada orang yang tidak berhak untuk menerima pedang itu?
Dan bagaimana ia dapat membuka mulut untuk menuntut kembali pedang tersebut?
sedangkan nona ini berkepandaian tinggi, sedang dirinya masih berada didalam keadaan luka?
Terdengar lagi suara gadis yang bernama Jie Ceng Peng itu.
"Aku tahu, mengapa Kong-Sun Giok dan Auw-yang In selalu bertengkar. Mereka ada niatan untuk memiliki ilmu pedang Maya Nada. Karena itulah, mereka menutup daerah lembah Hui-In sebagai daerah terlarang, Ie Han Eng pernah berkata kepada dua orang tersebut, ilmu pedang Maya Nada harus ditukar dengan pedang In-liong, siapa yang dapat menyerahkan pedang In-liong. dialah yang berhak memiliki ilmu pedang Maya Nada, bahkan lebih dari pada itu, bukan saja dapat memiliki ilmu pedang yang sangat mujijat, nona tersebut masih bersedia menyerahkan dirinya, diperistri oleh salah satu dari mereka yang dapat menyerahkan pedang In-liong."
"Oooh..."
Su-to Yan dapat mengerti sedikit dari cerita ini. Jie Ceng Peng berkata lagi.
"Auw yang Ie Kong-Sun Giok semakin bernapsu untuk mendapatkan pedang In-liong, mereka tidak tahu, dimana pedang tersebut disimpan, untuk menghindari dari kerewelan dan untuk menghindari agar ilmu pedang Maya-Nada dan Ie Han Eng tidak terjatuh kedalam tangan orang lain, mereka menutup lembah tersebut walaupun demikian, karena menjunjung tinggi nama keluarga le, kakek Ie Hang Eng adalah seorang tokoh silat yang sangat dihormati orang, si Pedang Selatan dan Pedang Utara tidak berani mengadakan gangguan."
Jie Ceng Peng menghentikan ceritanya, sedang Su-to Yan mendapat berita baru tentang keluarga Ie itu.
"tidak sedikit cerita yang berlebih-lebihan."
Berkata Jie Ceng Pang.
"Untuk mendapatkan kepastian sebagai pemilik pedang Inliong-tentunya kau lebih jelas dariku, betulkah keadaan seperti apa yang kuuraikan diatas?"
Su-to Yan menyengir "Aku miliki pedang In-liong, kecuali itu, semua aku tidak tahu."
Berkata sipemuda dengan jujur. Sigadis menilai wajah pemuda tersebut sangat bersungguhsungguh, bukan keterangan palsu.
"Kau tahu bahwa Kong-sun Giok dan Auw-yang Ie sedang menantikan kedatanganmu di lembah Hui-in?"
Bertanya lagi Jie Ceng Peng.
"tidak."
"Mungkinkah kau dapat melawan gabungan kedua tenaga ahli pedang itu?"
"Segala sesuatu harus diusahakan "
"tidak mungkin, Kau bukan tandingan mereka, daripada menyerahkan pedang In-liong kepadamu dan kemudian diserahkan kepada salah satu dari kedua orang yang kusebut tadi, ada lebih baik kusimpan di tempat yang aman."
Berkata Jie Ceng Peng panjang lebar.
"Atas perhatian nona, aku mengucapkan terima kasih. walaupun demikian, karena nona bukan orang yang berhak memiliki pedang tersebut, aku harus meminta kembali."
Melihat kekukuhan si pemuda, Jie Ceng Peng tidak berdaya, ia berkata.
"Pedang In-liong tidak akan kukembalikan kepadamu, istirahatlah baik-baik. Kau harus menjaga diri, banyak istirahat Selamat tidur."
Tubuh gadis itu berbalik, meninggalkan Su-to Yan.
Su-to Yan mengetahui pasti bahwa pedang In-liong berada ditengah si Pedang Emas Jie Ceng Peng, Mengetahui bahwa gadis itu tidak ada niatan mengembalikan ia belum dapat menggunakan kekerasan, luka-luka yang diderita karena tusukan pedangnya KongSun Giok luar biasa, agak mengenai tulang.
Dan ia belum berhasil menyembuhkannya, harus menunggu waktu, Yang dapat menenangkan hati Su-to Yan ialah ilmu kepandaian Jie Ceng Peng cukup tinggi untuk sementara, pedang In-liong biar disimpan padanya, Tentu tidak ada orang yang berani merebut dari tangan gadis itu.
Suatu hari, setelah ia mempunyai kekuatan untuk mengalahkannya, Pasti ia minta kembali.
Siapakah Jie Ceng Peng ini?
Mengapa mempunyai pengaruh besar, sampai dapat menolak perintah penggeledahan Kong-sun Giok, jago pedang yang sangat liehay?
Berpikir tentang Kong-Sun Giok, ia sadar bahwa luka karena dua tusukan pedang si Pedang selatan harus segera disembuhkan, menggunakan ilmu It-bok Ceng khie, ia duduk bersila, mematung ditempat.
Perahu masih belajar Entah berapa lama kemudian, Su-to Yan berhasil menyelesaikan satu kwartal latihan ia membuka matanya.
Terdengar suara digeladak kapal yang berisik, berbareng, perahu besar itu bergoyang keras, seolah-olah hendak berlabuh.
Dimanakah mereka telah tiba?
Mengapa harus menepi?
Terlihat pintu didorong, Siauw In berjalan masuk, dengan tertawa ia menghampiri Su-to Yan dan berkata kepada pemuda itu.
"Kongcu ingin menonton keramaian? Segera akan terjadi pertempuran mari kupayang kau kegeladak kapal."
"Apa yang telah terjadi?"
Bertanya sipemuda.
"Tentunya kau belum melihat ilmu pedang Kun-lun-pay, lekaslah keluar. Kau akan puas menyaksikan pertempuran itu."
"ilmu Kun-lun-pay?"
"Betul, Orang itu mengenakan dandanan sepertimu, maka orangorang kami salah paham, Nona kami ingin meminta seruling pusaka In-Thian Cek-hong yang berada padanya."
Su-to Yan segera menduga kepada Cin Bwe, Dengan ilmu It-bok Ceng-khie, ia banyak mendapat kemajuan, segera turun dari tempat pembaringan, dan menuju keluar dari perahu besar.
Digeladak depan telah berdiri Jie Ceng Peng, diapit oleh empat orang berbaju hitam, itulah empat orang yang pernah membokong dirinya dikelenteng rusak, orang orang Thian-lam Lo-sat.
Satu bayangan putih lompat naik kearah kapal, sebelum menginjakkan kaki dipapan geladak, mulutnya sudah berteriak.
"Bangsat-bangsat dari golongan Thian-lam Lo-sat, hari ini, aku akan..."
Itulah Cin Bwee yang menyamar dengan pakaian prianya.
Segera dilihat Su-to Yan berdiri dipintu, Cin Bwee terbelalak, kakinya telah menginjak papan geladak, ia tidak meneruskan katakatanya, tertegun ditempat.
Matanya merah, hampir mengeluarkan air mata gembira.
"Saudara Cin,"
Su-to Yan memangginya.
"Kau..."
"Kau tidak mati?"
Cin Bwee memandang pemuda itu dengan wajah bingung. Kejadian itu dapat disaksikan oleh si pedang Emas Jie-Ceng peng, memandang dua orang dan berkata kepada Cin Bwee.
"Ternyata kau kenal kepada Su-to kongcu? Mengingat hubungan ini, Serahkanlah seruling In-thian Cek-hong."
Cin Bwee memandang Su-to Yan kemudian berkata kepada pemuda itu.
"Bagus. Ternyata kau berpura-pura mati, Enak-enak mengeram diri dikapal ini, he? Tidakkah kau tahu, betapa menderita aku karena mendengar berita kematianmu itu."
Su-to Yan menyengir dengan gugup berkata.
"Jangan salah paham, Nona Jie telah menolongku dari kematian. Cin Bwee memandang Jie Ceng Peng, dan kemudian menatap Su-to Yan kembali.
"Baiklah."
Ia berkata.
"Untuk kali ini, biar aku percaya kepada keteranganmu. Tapi, kau belum meminta maaf atas kelancanganmu tempo hari."
Setelah meninggalkan Su-to Yan, Cin Bwee berkeputusan untuk menyusul si pemuda, arah tujuannya adalah lembah Hui-In, langsung kearah Utara, Ditengah jalan, ia mendapat berita tentang kebinasaan Su-to Yan di Sungai Tiang-kang, ia sangat terkejut, hatinya bersedih, pudarlah harapannya untuk mendapatkan pemuda pujaannya itu.
Semua kemarahan ini dijatuhkan kepada Kong-Sun Giok, ia harus menuntut balas, Ditengah jalan bertemu dengan perahu besar golongan Thian-lam Lo-sat, dan kemarahan ini pun jatuh kepada anak buah Jie Ceng Peng.
Pertemuannya dengan Su-to Yan sangat berada diluar dugaan, ternyata si pemuda masih hidup, harapannya berkembang lagi, ia sangat girang, tapi cemburu, mengapa pemuda itu melakukan perjalanan dengan seorang gadis?
Su-to Yan mengucapkan kata-kata dengan suara perlahan.
"Aku ingin mengucapkan rasa penyesalan kepadamu, meminta maafmu, Tapi kau begitu cepat dan tergesa-gesa meninggalkanku dimana aku harus meminta maaf?"
Cin Bwee tertawa manis, Tapi dilihatnya rombongan orang-orang berbaju hitam, timbul rasa kemarahannya, segera ia berkata .
"Su-to Yan, mari kita meninggalkan tempat ini."
Su-to Yan ragu-ragu. Lukanya belum sembuh betul, bagaimana ia harus meninggalkan kapal? Jie Ceng Peng sudah memberi perintah.
"Para suheng, tangkap orang ini segera."
Empat orang berbaju hitam meluruk maju kearah Cin Bwee. Cin Bwee tidak takut kepada mereka, ia mengadakan tantangan.
"Hayo, siapa yang berani maju?"
Su-to Yan memandang Jie Ceng Peng dan berteriak.
"Nona Jie, dapatkah kau menghentikan pertempuran ini?"
Empat orang berbaju hitam sudah hampir bergebrak, tiba-tiba Jie Ceng Peng meneriaki mereka.
"Para suheng, dengannya."
Tahan, Su-to Kongcu masih ingin bicara Su-to Yan menggapaikan tangan ke arah Cin Bwee.
"Kemarilah. Ada suatu yang harus kuberi tahu kepadamu."
Cin Bwee menjebikan bibir.
"Dia lebih mendengar kata-katamu."
Ia menudingkan jari ke arah Jie Ceng Peng.
"Bicaralah kepadanya saja."
"Ada sesuatu yang harus kuberi tahu kepadamu."
Berkata Su-to Yan.
"Mengapa kan tidak datang kemari ?"
Berkata Cin Bwee jarak mereka agak jauh.
"Lukaku belum sembuh betul."
Berkata Su-to Yan. Cin Bwee mendekati pemuda itu.
"Katakanlah."
Ia cemberut keras. Dengan perlahan, Su-to Yan berkata.
"ilmu kepandaian Jie Ceng Peng sangat tinggi, pergilah kau lebih dahulu, Aku akan menyusul belakangan."
"Hah, agaknya kau masih tertarik kepada nya, bukan?"
Wajah Cin Bwee semakin masam.
"Betah tinggal didalam kapalnya?"
"Lukaku belum sembuh betul."
Su-to Yan memberi keterangan "Kedatanganku bermaksud menempur Thian-lam Lo-sat, tidak perduli Jie Ceng Peng atau bukan, mungkinkah ia dapat mengalahkan kita berdua ?"
"Jangan kau memandang rendah dirinya, ilmu silatnya tinggi, tahu ?"
"Huh, lagi-lagi memuji orang."
"Dengarlah dahulu, pergi kau berangkat meninggalkan kapal."
"Aku tidak mau."
Cin Bwee mengambek. Betapa lama ia merindukan si pemuda, tidak sedikit air mata yang dikucurkan karenanya. Kini telah bertemu, tapi diusir seperti itu.
"Kau bukan tandinganku."
"Sangat lihay sekali ?"
"Betul."
Su-to Yan menganggukan kepala.
"Tapi, ia sangat patuh kepada kata-katamu."
Berkata si gadis cemberut. Su-to Yan tidak berdaya.
"Baiklah,"
Ia harus mengalah "Mari kita pergi bersama, tapi bila tidak berhasil mengalahkannya, kau harus segera lari mengerti?"
Segala rintangan tidak menjadi soal, yang penting Su-to Yan bersedia pergi bersama dirinya, Cin Bwee berwajah terang.
"Baik."
Ia memberikan janji. Dilain pihak, Jie Ceng Peng kehabisan sabar, ia berteriak.
"Hei, belum selesaikan percakapan kalian"
Cin Bwee telah menarik tangan Su-to Yan dan berkata kepada si pemuda.
"Kau lompat ketepi, biar aku yang menghadang dirinya."
Tanpa menunggu reaksi orang, ia menuangkan pedang kearah Jie Ceng Peng, dan ber kata kepadanya.
"Keluarkanlah kemenangan."
Pedang emasmu, Mari kita menentukan Cin Bwee meletakan dirinya diantara Su-to Yan dan Jie Ceng Peng, Diantara kedua makhluk yang berlainan kelamin itu harus dipisahkan ia cemburu.
Su-to Yan mengerutkan kedua alisnya, ia berpikir kau tidak mau berangkat, bagaimana aku dapat meninggalkannya.
Aku...
membutuhkan bantuanmu, bila tidak, mungkin tulang-tulang yang luka itu akan pecah kembali.
Jie Ceng Peng menunjukan senyumnya, ia berkata.
"Moay-moay, luka Su-to kongcu belum sembuh betul. Bagaimana ia dapat melakukan perjalanan jauh?"
Ia memanggil dengan istilah moay moay yang berarti adik perempuan.
Jin Bwee menjadi jengah, ternyata penyamarannya telah diketahui orang.
Dan yang lebih menguatirkan ialah luka Su-to Yan yang masih belum sembuh, Haruskah membiarkan dia istirahat didalam kapal besar ini?
tidak mungkin.
Bagaimana dapat membiarkan pemuda nya didampingi oleh seorang gadis cantik lain?.
Jie Ceng Peng berkata lagi.
"Agaknya kau berat meninggalkan dia, bukan? Begini sajalah, kau boleh turut serta didalam kapalku, maka, kita akan melakukan perjalanan bersama, setuju?"
Wajah Cin Bwee menjadi merah padam, ia jengah mendengar kata-kata tadi, matanya dipelototkan semakin besar. Jie Ceng Peng semakin puas, ia berkata.
"Moay-moay, kau galak betul . Aku senang kepada orang yang sepertimu, Aku sangat mengharapkan kesedianmu untuk menetap bersama, kita samasama menemani suto kongcu, bagaimana?"
"tidak tahu malu."
Bentak Jin Bwee yang segera mengirim satu tusukan pedang.
"Wah, sungguh galak,"
Jie Ceng Peng meloloskan diri dari serangan tersebut.
Jie Bwee mengirim serangan lainnya, Jie Ceng Peng telah siap sedia, dengan jari-jari tangannya yang halus, ia melakukan gerakan yang seolah-olah sedang mengelus sesuatu itulah tipu Hun-hoa Hutliu.
Su-to Yan terkejut, itulah tipu Hun-hoa Hut-liu, salah satu jurus dari ilmu purbakala Pie-pa-cap-Sa-san-Jiu.
Bagaimana Jie Ceng Peng dapat memiliki ilmu mujijat dijaman purbakala?
ilmu silat yang sama dengan apa yang dimiliki olehnya?
Mengikuti jalan pertempuran, Jin Bwee juga tidak mudah di"makan"
Dengan mudah karena ia sudah berhasil meloloskan diri dari serangan luar biasa tadi.
Dengan jurus Cek-Hong Hoan-Jit, salah satu jurus dari ilmu purbakala Hoan-tian Pat-Ciang, ia mengirim serangan-serangan lainnya.
ilmu purbakala dilawan dengan ilmu purbakala!
"Bagus,"
Jie Ceng Peng mengeluarkan suara pujian, Tipunya diubah, dengan lima jari dimiringkan, ia mengirim satu serangan yang banyak mengandung unsur perubahan, itulah Khong -beng Ciang dari golongan Tian-lam-Lo-Sat.
Gerakan Cin Bwee juga mengandung banyak perubahan, mengetahui musuh berhasil meloloskan diri dari serangan itu, gerakannya berubah kelain arah, sangat cepat sekali.
Cin Bwee mempunyai gerakan yang sangat cepat, lawannya lebih cepat lagi dari gerakan gadis yang menyamar menjadi pria itu, lima jari Jie Ceng Peng berhasil menjambret siku orang.
"Jangan kau lari lagi."
Demikian Jie Ceng Peng berteriak.
Cin Bwee tidak mau cepat-cepat menyerah kalah, dengan gagang pedang, ia berusaha mengetuk jari Jie Ceng Peng yang berada di bagian jalan darah penting, demikian ia berhasil mengundurkan diri.
Hal tersebut berada diluar dugaan Jie Ceng Peng, maka musuh yang sudah hampir diringkus itu lolos kembali.
Hatinya menjadi panas, lalu merangsek dengan serangan-serangan yang lebih hebat.
Cin Bwee mendesak.
Manakala Jie Ceng Peng hampir melukai lawannya, tiba-tiba terdengar suara Su-to Yan yang berteriak kepadanya.
"Nona Jie, dapatkah kau menghentikan gerakanmu?"
Berbareng, tubuh Su-to Yan sudah menyelak diantara kedua gadis itu.
Takut Cin Bwee terluka, Su-to Yan menjulurkan tangan, dengan tipu Tay-gim Na-chiu dari golongan Siauw-lim-pay, ia hendak menangkap tangan kanan Jie Ceng Peng.
Jie Ceng Peng telah menghentikan gerakan, maka tangkapan tangan Su-to Yan mengenai tempat kosong.
"ilmu Tay-gim Na-chiu yang bagus."
Si gadis memberi pujian.
"ilmu nonapun luar biasa,"
Berkata Su-to Yan.
Cin Bwee hampir dicelakai lawan, Beruntung Su-to Yan mengadakan cegahan, maka Jie Ceng Peng menghentikan serangannya, hal itu sudah sangat menjengkelkan.
Yang lebih menjengkelkan lagi ialah majunya Su-to Yan yang menyelak datang, kemudian mereka saling puji, hatinya sangat mangkel sekali.
Dipandangnya Su-to Yan dan berkata kepada pemuda itu.
"Hei, kau betah tinggal ditempatnya?"
Su-to Yan menyeringai.
"Kau pergilah dahulu."
Ia menganjurkan maksudnya agar Cin Bwee meninggalkan perahu itu.
"Baik."
Cin Bwee melayang kearah darat.
"Akan kulihat, bagaimana kau dapat meninggalkan dirinya."
Su-to Yan sangat paham dengan sifat-sifat, Cin Bwee yang manja dan kolokan, segera ia berkata kepada Jie Ceng Peng.
"Nona Jie, tolong kau simpan pedang In-liong. Dan budi pertolonganmu akan kucatat didalam hati, biar lain kali kubalas budi tersebut. Tubuhnya juga melayang, meninggalkan perahu Jie Ceng Peng. Hampir diwaktu yang sama, Su-to Yan dan Cin Bwee menginjak tanah daratan, mereka-telah meninggalkan kapal Jie Ceng Peng. Empat orang berbaju hitam selalu siap, begitu melihat dua musuh itu lompat turun, mereka juga mempunyai gerakkan yang gesit, tanpa menunggu komando perintah, mereka melayang turun, dan kini tetap mengurung Su-to Yan dan Cin Bwee dipusat lingkaran. Di atas kapal, Jie Ceng Peng berkata.
"Bila kalian dapat melepaskan diri dari kurungan keempat suhengku itu, kalian boleh pergi bebas."
"Terima kasih."
Su-to Yan mengetahui bahwa Jie Ceng Peng ada niatan untuk melepas dirinya, maka mengucapkan kata kata seperti tadi.
Lima jari tangan kanan mengkait, itulah jurus Cengkeraman maut Thian-mo-nie hun-ciauw yang bernama Thian-mo-Cauw-hun.
Empat orang berbaju hitam memecah diri menjadi dua kelompok dua menyerang Su-to Yan dua lagi mengurung Cin Bwee.
Dua yang menghadapi Su-to Yan adalah bekas pecundang pemuda itu, mereka menghadapi musuh dengan sikap gentar, diserang oleh ilmu cengkeraman Tangan Langit yang luar biasa, cepat-cepat mereka mengundurkan diri, Cin Bwee telah berhasil mendesak dua lawannya kini ia menggabungkan diri dengan Su-to Yan.
Mereka bekerja sama, menentang empat musuh.
Seharusnya, mengingat keadaan Su-to Yan yang belum sembuh betul, ke empat orang berbaju hitam dari golongan Thian-lam Lo-sat dapat membendung kepergian Cin Bwee dan Su-to Yan.
Tapi mereka tidak tahu, sampai dimana kekurangan tenaga sipemuda, mengingat mereka pernah dikalahkan, rasa gentarnya tidak dapat hilang.
Cepat-cepat Su-to Yan mengajak Cin Bwee melarikan diri.
Kurungan empat orang berbaju hitam telah pecah, mereka tidak mengejar.
Maksud mereka membendung musuh untuk sementara, dan membiarkan Jie Ceng Peng yang turun tangan kini sigadis tidak mau meninggalkan kapal, tentu saja mereka tidak berdaya.
-ooo0dw0oooMengikuti perjalanan Su-to Yan dan Cin Bwee.
Luka Su-to Yan belum sembuh betul, belum lama menggunakan banyak tenaga, Luka yang baru merapat itu pecah kembali, setelah berlari beberapa saat, terasa semakin sakit.
Butiran keringat membasahi jiat pemuda itu.
Cin Bwee terkejut "Eh, kau mengapa?"
Cepat-cepat ia memayang si pemuda.
Su-to Yan menahan semua rasa sakitnya, semakin lama semakin hebat, suatu saat, ia tidak sanggup mempertahankan diri jatuh pingsan.
Cin Bwee menubruk dan merangkul pemuda itu, ia menangis sesenggukan kiranya pemuda itu telah mati.
Berapa saat kemudian, Su-to Yan sudah sadar kembali, Dilihatnya dirinya berada di dalam rangkulan gadis itu, butiranbutiran air mata Cin Bwee telah membasahi bajunya.
"Mengapa kau menangis?"
Setelah Su-to Yan jatuh pingsan, Cin Bwee menangis, ia menyangka pemuda itu telah mati, Beberapa saat ia memegang urat nadi orang, masih ada, maka diketahui hanya pingsan saja, tapi rasa sedihnya tidak kepalang, karena dirinyalah, Su-to Yan meninggalkan Jie Ceng Peng, sedangkan luka pemuda itu belum sembuh betul, terlalu menggunakan banyak tenaga, maka luka itu kambuh kembali, ia jatuh pingsan.
Kini Su-to Yan telah siuman, si gadis masih menangis sesenggukan sedih sekali, terharu kepada cinta si pemuda kepada dirinya, Su-to Yan memberi hiburan.
"Jangan menangis, aku tidak mengapa, sebentar lagi, akupun sembuh pula."
Cin Bwee membantu pemuda itu duduk bersila, mengatur peredaran jalan darahnya, inilah cara-cara yang paling lama untuk menyembuhkan segala macam luka, cara jago-jago silat menjaga diri mereka dari gangguan penyakit dan luka-luka.
Dua jam kemudian, hari mulai menjadi gelap.
Su-to Yan telah membuka kedua matanya, terlihat Cin Bwee duduk tidak jauh dari dirinya gadis itu sangat menyesal atas langkah-langkah yang memaksa Su-to Yan meninggalkan Jie CengPeng, hal itu dikerjakan rasa dengki, rasa cemburu yang tidak terhingga, maka sipemuda menderita.
Lama sekali mereka berdiam seperti itu.
Su-to Yan mulai memecahkan kesunyian, pemuda itu berkata.
"Menyusahkan dirimu."
Cin Bwee tertawa getir, dialah yang menyusahkan orang, Sudah wajib menjaga keselamatan pemuda itu, Kini telah berhasil, hatinya agak lega.
"Su-to toako."
Berkata gadis yang masih berpakaian pria itu.
"Aku menyesal, membuat kau jadi begini, jangan kau menaruh didalam hati, atas kesalahan-kesalahan yang telah kuperbuat."
Su-to Yan tersenyum.
"Kita telah bebas dari bahaya."
Ia puas dapat meninggalkan orang-orang dari golongan Thian-lam lo-sat.
"Masih bencikah kepadaku?"
Bertanya Cin Bwee "tidak kuketahui, lukamu masih berat sekali,"
"Adik Bwee, jangan kau mengucapkan seperti itu."
Cin Bwee puas, lebih senang lagi mendengar sebutan adik Bwee itu, sudah lama ia mengharapkan kasih sayang si pemuda, agaknya harapan itu segera kesampaian.
"Hari telah malam, dimana kita akan melewatkannya?"
Bertanya sigadis.
"Aku telah sembuh."
Berkata Su to Yan "Mari kita meneruskan perjalanan, tidak jauh disana, seperti ada sebuah kota."
Mereka menuju kearah itu, sebentar kemudian mereka telah tiba ditempat tujuan, itulah kota kecil, cukup bersih, memilih salah satu rumah makan, mereka memesan makanan.
"tidak lama, pelayan rumah makan datang kembali dengan makanan yang dipesan. Cin Bwee dan Su-to Yan menyelesaikan barang santapan mereka, tidak lupa, saling menceritakan pengalaman masing-masing. Dan haripun menjadi gelap betul. Tiba-tiba mereka dikejutkan datangnya seseorang, bentuk tubuh orang itu sangat pendek, gemuk terokmok, wajahnya selalu bersungging senyumnya, sangat ramah dan menarik perhatian. Orang pendek ini menggunakan matanya menyapu kearah seluruh isi ruangan, kemudian menatap Su-to Yan. Su-to Yan terkejut, dari sinar mata orang. ia dapat mengetahui bahwa manusia pendek itu berilmu silat tinggi, tajam sekali, ia curiga kepada anak buah Kong-Sun Giok. Keagungan Su-to Yan menarik perhatian orang itu, ia bergerak maju, memberi hormat dan berkata.
"Mungkinkah aku sedang berhadapan dengan saudara Kong-sun ?"
Su-to Yan, membalas hormat itu, dengan membungkukan setengah badan ia berkata.
"Tentunya, saudara telah salah melihat orang."
"Maaf."
Cepat-cepat sipendek termokmok itu mengundurkan diri. Cin Bwee segera berteriak.
"Tunggu dulu."
Si pendek gemuk membalikan badan, dan memandang Cin Bwee, Cin Bwee berkata.
"Tentunya kau ingin mencari Kong-Sun Giok, bukan?"
Orang itu menganggukkan kepala.
"Betul."
"Sudah kuduga, tentunya kau ingin mencari si pedang Selatan."
Berkata Cin Bwee puas.
"Dapatkah saudara memberi berpotongan badan pendek itu. petunjuk ?"
Berkata orang Sifat Cin Bwee agak berandalan, suka kepada keramaian, menyaksikan potongan dan bentuk tubuh orang itu yang agak lucu, ia bermaksud menggoda orang, maka dikala sipendek ingin pergi, ia memanggil kembali.
Kini ia ditanyakan tentang Kong-sun Giok, bagaimana dapat menjawab pertanyaan itu ?
Diam-diam Su-to Yan menarik tangan baju sang kawan.
Cin Bwee mendapat akal, segera ia menjebikan bibirnya, dengan singkat berkata.
"tidak tahu."
Dan tidak melayani orang gemuk pendek itu lagi.
Wajah si pendek berubah, ia tidak puas.
Gerakan Su-to Yan yang menarik lengan baju Cin Bwee tidak lepas dari matanya, segala kemarahan dijatuhkan kepada sipemuda, ia menyangka pemuda inilah yang melarang Cin Bwee menyebut dan memberi keterangan tentang Kong Sun Giok, ia tidak tahu, bahwa Cin Bwee pun tidak tahu, dimana hari itu Kong-sun Giok berada.
Ia menghampiri Su-to Yan, dengan sikapnya yang sangat beringas, seolah-olah menantang perang.
Su-to Yan berperangai halus, sangat sabar, walaupun dipetantang-petetengkan seperti itu, ia masih diam ditempatnya, duduk tenang-tenang.
Berbeda dengan sipemuda, Cin Bwee tidak mempunyai itu kesabaran, segera ia bangkit berdiri, menudingkan tangan kearah orang itu, seraya ia membentak.
"Manusia pendek, ingin mencari gara-gara?"
Orang itu mempunyai bentuk tubuh yang lain dari pada orang lain, ia pantang mendengar kata-kata sebutan pendek.
"gemuk"
Dan sebagainya, kata-kata cemohan Cin Bwee tepat mengenai pantangan, darahnya segera naik ke atas kepala, iapun marah.
"Kurang ajar!"
Ia membentak "Kau ingin mencari mati ?"
Tangannya bergerak, bagaikan kilat, ketika jarinya mengancam jalan darah Thian-tuk, Ang-ie dan Cek-heng.
Cin Bwee melesatkan diri, didalam hati si gadis sangat terkejut, pikirnya, orang pendek gemuk ini lihay juga.
Su-to Yan menyaksikan Sang kawan diserang, dan dilihat dari gelagat itu, Cin Bwee bukan tandingan lawan, segera ia menggerakkan sepasang sumpit disodorkan kedepan dan berkata.
"Saudara jangan cepat marah."
Ia menggagalkan serangan orang pendek gemuk yang terokmok itu.
Orang itupun kaget, terlihat sekali pada perubahan wajahnya yang penuh daging, dia adalah seorang jago kelas satu, biasanya bermukim didaerah Tiang-pek, belum pernah memasuki daerah Tionggoan, kini ada sesuatu urusan, baru saja menginjakkan kaki, ia sudah berhadapan dengan dua jago lihay, bagaimana tidak terkejut?
Pikirnya, daerah Tionggoan luar biasa ternyata bermukim banyak jago silat.
Menghindari jepitan sumpit Su-to Yan, ia lompat mengundurkan diri.
"Bagus."
Ia marah betul.
"tidak kusangka, kalianpun tokoh-tokoh silat kelas tinggi. Hayo, kita keluar, melanjutkan pertempuran dilapangan. Disana, kita leluasa bergerak, tanpa takut merusak barang-barang orang."
Ia takut merusak perabot rumah makan, maka menantang Su to Yan dan Cin Bwee untuk meneruskan pertandingan diluar pekarangan. Cin Bwee tertawa puas, ia geli atas kelakuan orang itu, mulutnya mengejek.
"Siapa yang takut kepadamu, gendut, Kau tunggu diluar, aku mau makan dahulu."
"Bagus."
Tubuh orang pendek itu melesat keluar, didengar lagi kata-kata yang terakhir dari sipemuda ceriwis, ia lebih marah, dirinya dikibuli. Maka balik kembali, mengirim satu serangan dan membentak.
"Kurang ajar, berani kau mempermainkan diriku ?"
Setelah mengucapkan kata-katanya, Cin Bwee betul-betul duduk kembali, Dilihat serangan datang, arah tujuannya mengancam alis mata, ia menundukkan kepala.
Sangat cepat sekali, orang itu telah mengirim serangan yang kedua, Cin Bwee dipaksa mengundurkan diri.
Su-to Yan bergerak, ia membalikkan telapak tangan, menggunakan jari-jarinya mencengkram kearah pundak lawan.
"Kawan ini harus dapat bersabar."
Demikian ia berkata sambil menyerang.
Orang pendek itu menyerang Cin Bwee dan lawannya telah mundur kebelakang, dengan sendirinya ia mengejar kedepan, membelakangi Su-to Yan.
Kini serangan datang tapi ia lihat, ia tahu, serangan macam apakah yang ditujukan kepada dirinya, mengegos kesamping dan mulut nya berkata.
"Bagus, ternyata anak murid dari golongan Siauw-lim-pay?"
Dari gerakan gerakan orang yang aneh, Su-to Yan terkejut, belum pernah ia melihat ilmu-ilmu silat seperti ini, manusia pendek ini bukan orang dari Tionggoan, maka Su-to Yan harus melayaninya dengan lebih hati-hati, tangannya ditarik cepat, maju kembali kedepan, dengan satu jurus "Kui ong Hui-San", menyerang kembali Mulutnya membentak.
"Nah, perhatikan betul-betul, ini juga ilmu silat dari Siauw-limpay?"
Kui-Ong Hui-san berarti Raja setan mengipas-ngipas, salah satu tipu dari ilmu mujijat dijaman purbakala Pie-pe-cap-sa-san-chiu tiga belas jari yang menguasai alat Pie-pa.
Orang itu melejit mundur, sangat jauh, memperhatikan potongan badan Su-to Yan dan mengajukan pertanyaan.
"Eh, bagaimana kau pandai menggunakan ilmu Tiga jari menguasai alat Pie-pa?"
Ia terkejut, karena Su-to Yan dapat menggunakan ilmu Pie-pacap-sa-san-ciu dengan baik sekali. Cin Bwee mengeluarkan suara dengusan, ia berkata dengan suara memandang rendah.
"Mungkinkah kau juga pandai menggunakan ilmu itu?"
Orang itu mengerdip-ngerdipkan matanya, tiba-tiba ia tertawa, segera bertanya.
"Kau kenal dengan seorang yang bernama Su-to Yan?"
Cin Bwee menjebikan bibir, menunjuk ke-arah Su-to Yan, gadis itu berkata.
"lnilah orang yang kau sebut, bagaimana tidak kenal kepada diri sendiri? Lucu!"
Orang pendek yang mempunyai banyak daging gemuk itu bertepuk tangan, ia girang katanya.
"Ha, Ternyata kau inilah yang berani menantang sipedang Selatan dan pedang Utara. Atas kekurang ajaranku tadi, harap kau dapat memberi maaf."
Cin Bwee tertawa cekikikan, Orang pendek itu mendelikkan matanya.
"Apa yang kau tertawakan?"
Ia membentak.
"Aku mentertawakan dirimu, gendut."
Mulut Cin Bwee menantang kesopanan Bila bukan memanggil orang dengan sebutan gendut, pasti ia menggunakan istilah pendek.
"Mengapa?"
Orang itu semakin tidak mengerti ia menyangka bahwa orang tidak memaafkan kesalahannya.
"Kau memang lucu, Masakan tidak kenal kepada Su-to Yan? Orang yang sudah berada didepanmu?"
Kata-kata Cin Bwee lebih tidak masuk di akal, Bagaimana setiap orang kenal kepada Su-to Yan, sedangkan pemuda itu baru saja mendapat nama ? Su-to Yan telah menghampiri orang itu, ia bertanya.
"Bagaimana dengan sebutan saudara yang mulia?"
"Namaku Sie An."
Demikian si gemuk pendek memperkenalkan diri.
"Baru saja tiba ditanah Tionggoan."
"Aaaa...."
Su-to Yan berteriak "Ternyata sipedang Sie An dari daerah Tiang-pek?"
Itulah salah satu dari tiga jago pedang yang ternama, kecuali sipedang Selatan Kong-sun Giok, si Pedang Utara Auw-yang le, si pedang Bayangan Sie An menduduki urutan ke-tiga.
Hal ini bukan berarti ilmu kepandaiannya berada dibawah kedua akhli pedang yang kita sebut lebih dulu, hal itu disebabkan karena nama Sie An lebih tidak dikenal orang, ia bermukim didaerah Tiangpek, jarang bergaul dengan tokoh-tokoh rimba persilatn didaerah Tionggoan.
Su-to Yun tidak pernah membayangkan akhli pedang dari daerah Tiang-pek, karena ia belum kenal dengan dirinya.
Demikian juga Cin Bwee, ia sangat terkejut, orang yang mempunyai potongan badan seperti inikah yang digelarkan sebagai jago akhli pedang nomor Satu?
Si Pedang bayangan Sie An tersenyum-senyum.
Su-to Yan lompat maju, menyekal tangan orang itu, dengan gembira ia menyambut salam perkenalannya.
Sie An berkata.
"Dikala aku memasuki daerah Tionggoan, kudengar nama saudara Su-to disebut-sebut orang. Anak buah si Pedang Selatan Kong-sun Giok sedang menggembar-gemborkan pemimpin mereka, dikatakan bengcu itu mengalahkan pedang utara, menenggelamkan Pedang Baru, tahu kan julukan Pedang Baru, itulah dirimu, didalam rimba persilatan telah tersebar luas tentang cerita si pedang Baru Su-to Yan, didalam kalangan akhli-akhli pedang, bertambah lagi seorang baru, kedudukanmu telah merendengi kita orang, Pedang Selatan, pedang Utara, Pedang Bayangan, Pedang Emas dan kau adalah Pedang Baru. Aku tidak puas, maksudku mencari Kong Sun Giok, akan kutempur Pedang Selatan itu, sampai dimanakah ilmu kepandaian yang sesungguhnya ?"
Su-to Yan berkata.
"Aku masih berada dalam keadaan badan kurang sehat, baru sembuh luka, maka tidak dapat melayani tantangan Saudara."
Sie An tertawa, katanya.
"Jangan kau tarik panjang urusan itu, Kini kita telah saling berkenalan, kita telah bersahabat, diantara sahabat baik, tidak bertempur bukan ?"
Cin Bwee telah menyilahkan orang itu duduk, mereka bertiga telah rujuk.
"Hei,"
Berkata gadis itu.
"Belum lama aku memanggil kau sebagai si pendek dan si gemuk, masih marahkah kepadaku ?"
Sie An memandang kearah Cin Bwee, dan menoleh kearah Su-to Yan.
"Kau memperkenalkan kawanmu."
Ia berkata. Su-to Yan memperkenalkan Cin Bwee kepada si Pedang Bayangan Sie An, katanya kepada orang itu.
"Perkenalkan, dia adalah kawanku yang bernama Cin Bwee."
Sie An tertawa berkakakan, katanya .
"Ternyata nona Cin, selamat bertemu."
"Bagaimana kau tahu bahwa ia seorang wanita?"
Bertanya Su-to Yan heran.
"Ha, ha, ha..."
Sie-An tertawa.
"Mataku belum lamur, mungkinkah tidak dapat membedakan pria atau wanita? Ha, ha, ha..."
Cin Bwee menjebikan bibir, ia ngedumel.
"Manusia pendek."
Si pedang Bayangan Sie An mendelikan mata. Cin Bwee tidak takut, ia senang kepada keramaian, senang kepada kecanggungan Sie An yang pendek itu, sekali lagi ia memaki.
"Manusia pendek!"
Sie An mengangkat tangan, seolah-olah ingin memukul orang, Cin Bwee tahu akan hal itu, sengaja mengedepankan dirinya.
"Pukullah, bila kau berani "
Ia menantang. Sie An menurunkan tangannya itu, ia berkata kepada Su-to Yan.
"Saudara Su-to. kawanmu ini tidak mudah dihadapi."
Su-to Yan tersenyum-senyum. Sekali lagi Cin Bwee memaki "Manusia pendek."
"Ha, ha, ha..."
Sie An tertawa.
Dan ketiga orang itupun tertawa semua, perjamuan perkenalan dimeriahkan dan ditutup dengan rasa persahabatan.
-ooo0dw0oooPada tanggal 15 bulan delapan.
Diluar kota Han-yang sangat ramai, tiga penunggang kuda mendatangi kota bersejarah itu, dua diantaranya laki-laki dan seorang lagi berambut panjang, Mereka adalah sipedang Bayangan Sie An, Sipedang baru Su-to Yan dan Cin BWee dengan pakaian aslinya.
Di sepanjang jalan, mereka bercakap-cakap dengan gembira, rasa persahabatan diantara ketiga orang itu telah dipertebal.
Cin Bwee yang telah bertukar pakaian wanita, kelihatan lebih cantik, lebih menarik.
Dengan menyoren pedang dipinggangnya, kelihatan seperti seorang pendekar wanita yang gagah perkasa, dia adalah jago Kun-lun-pay.
Setelah memasuki kota Han-Yang, Pedang Bayangan Sie An berkata kepada kedua kawannya.
"Kita telah memasuki kota Han-yang, kota yang penting dipesisir sungai Tiang-kang. Menurut hematku, ada baiknya kita berhati-hati, Disini banyak pencoleng yang sering memasuki gangguan, Apa lagi kau..."
Ia menunjuk kearah Cin Bwee dan meneruskan pembicaraannya.
Baca Juga: Pendekar Mata Keranjang 13
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 6