Ceritasilat Novel Online

Pendekar Sakti Suling Pualam 16

Eps 16 Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung

Baca online Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung

Cersil Pendekar Sakti Suling Pualam - Chin Yung.

"Ha ha ha! Ha ha ha!"

Melayang turun seorang tua, yang tidak lain Si Pincang.

"Asyik! Ada pertandingan seru!"

"Pincang!"

Bentak Bu Ceng Sianli.

"Mau apa engkau ke mari?"

"Mau jadi penonton,"

Sahut orang tua pincang.

"Bukankah masih ada satu jurus lagi?"

"Hm!"

Dengus Bu Ceng Sianli.

"Maaf!"

Ucap Kim Ih Hoat Ong sambil memandang orang tua pincang.

"Bolehkah aku tahu siapa engkau?"

"Aku adalah Si Pincang."

Sahut orang tua pincang sambil tertawa.

"Engkau pasti Kim Ih Hoat Ong dari Manchuria. Ya, kan?"

"Betul."

Kim Ih Hoat Ong manggut-manggut.

"Lihay juga engkau, pendeta jelek,"

Ujar orang tua pincang.

"Engkau mampu mengalahkan ketiga ketua itu hanya dalam dua puluh lima jurus. Kalau aku mau, aku pun mampu mengalahkan mereka dalam jurus sekian pula."

"Oh?"

Kim Ih Hoat Ong tampak tersentak.

"Betul."

Orang tua pincang mengangguk.

"Tapi...."

"Kenapa?"

Kim Ih Hoat Ong menatapnya tajam.

"Walau kita berkepandaian tinggi, tapi masih bukan lawan seorang pendekar muda,"

Sahut orang tua pincang.

"Mungkin dalam lima puluh jurus dia mampu mengalahkanmu."

"Oh, ya?"

Kim Ih Hoat Ong tampak tidak percaya.

"Siapa pendekar muda itu?"

"Dia adalah Giok Siauw Sin Hiap-Tio Bun Yang."

Orang tua pincang memberitahukan.

"Dia?"

Kim Ih Hoat Ong mengerutkan kening.

"Aku pernah mendengar tentang dia, tapi bukankah dia sudah mati di dasar jurang?"

"Ha ha ha!"

Orang tua pincang tertawa.

"Dia tidak mati, mungkin tidak lama lagi dia akan muncul."

"Bagus, bagus!"

Kim Ih Hoat Ong manggut-manggut.

"Apabila dia muncul, aku pasti bertanding dengan dia."

"Pendeta jelek,"

Tanya Bu Ceng Sianli.

"Bagaimana? Perlukah kita melanjutkan pertandingan ini?"

"Bagaimana kalau kita lanjutkan lain kali saja?"

Kim Ih Hoat Ong balik bertanya.

"Boleh...."

Bu Ceng Sianli memandang Toan Beng Kiat dan lainnya.

"Tapi engkau harus membebaskan mereka!"

"Tidak bisa!"

Kim Ih Hoat Ong menggelengkan kepala.

"Sesuai dengan perjanjian, aku harus membawa mereka!"

"Kalau begitu...."

Wajah Bu Ceng Sianli tampak gusar sekali.

"Mari kita bertanding lagi!"

"Nona!"

Sela Pancha.

"Lebih baik lain kali saja. Jangan dilanjutkan sekarang. Kami tidak akan mengganggu para pengawal Lie Tsu Seng itu, hanya membawa Bokyong Sian Hoa dan lainnya ke tempat tinggal menteri Bun...."

"Diam!"

Bentak Bu Ceng Sianli.

"Nona...."

Pancha tampak kecewa sekali.

"Aku bermaksud baik."

"Sianli."

Bisik orang tua pincang.

"Biar mereka pergi, lebih baik kita berunding di markas Lie Tsu Seng."

"Pendeta jelek!"

Ujar Bu Ceng Sianli.

"Kalian boleh membawa mereka berempat ke rumah Menteri Bun, tapi apabila kalian berani mengganggu seujung ramput pun, Menteri Bun pasti kubantai dan kalian pasti kukejar sampai Manchuria!"

"Ha ha ha!"

Kim Ih Hoat Ong tertawa gelak.

"Bu Ceng Sianli dan engkau Si Pincang, sampai jumpa!"

"Hm!"

Dengus Bu Ceng Sianli.

"Nona!"

Pancha menatapnya dengan mata berbinar-binar.

"Kita pasti berjumpa kembali!"

"Huh!"

Sahut Bu Ceng Sianli.

"Siapa ingin berjumpa dengan pendeta jelek! Dasar tak tahu malu!"

"Nona...."

Pancha menghela nafas panjang, lalu melangkah pergi. Setelah mereka pergi, Bu Ceng Sianli melototi orang tua pincang seraya membentak.

"Kenapa engkau tadi omong besar di hadapan Kim Ih Hoat Ong?"

"Aku terpaksa omong besar, kalau tidak..."

Sahut orang tua pincang melanjutkan.

"Kita dan lainnya pasti celaka. Sebab kepandaian pendeta jelek, Pancha dan tiga belas orang itu sangat tinggi sekali. Kita tidak mampu melawan mereka, maka harus membiarkan mereka membawa Toan Beng Kiat dan lainnya."

"Pincang!"

Ujar Bu Ceng Sianli sinis.

"Engkau sangat pengecut!"

"Aku bukan pengecut, namun menggunakan otak,"

Sahut orang tua pincang.

"Bukankah kita masih bisa berunding tentang itu?"

Di saat mereka sedang berdebat, tampak Yo Suan Hiang, Tan Giok Lan dan lainnya mendekati mereka, lalu memberi hormat sambil berkata.

"Terimakasih atas pertolongan Sianli dan lo cianpwee! Tapi Toan Beng Kiat dan lainnya...."

"Percayalah! Mereka tidak akan membunuhnya,"

Sahut orang tua pincang.

"Sianli, lo cianpwee, mari ke markas Lie Tsu Seng!"

Ajak Yo Suan Hiang.

"Kita berunding di sana saja."

"Baik."

Bu Ceng Sianli manggut-manggut, kemudian mereka semua menuju ke markas Lie Tsu Seng.

Lie Tsu Seng dan lainnya duduk di dalam tenda.

Yo Suan Hiang, Bu Ceng Sianli, orang tua pincang dan lainnya sudah berada di dalam.

Wajah mereka tampak serius sekali, sedangkan Lie Tsu Seng terus mengerutkan kening.

Lie Tsu Seng menghela nafas panjang.

"Entah bagaimana nasib Toan Beng Kiat dan lainnya! Sungguh mencemaskan!"

"Aku yakin mereka tidak akan terjadi apa-apa,"

Ujar orang tua pincang dan menambahkan.

"Sebab Bokyong Sian Hoa berada di tengah-tengah mereka, tentunya gadis itu akan membela yang lain."

"Ngmm!"

Lie Tsu Seng manggut-manggut.

"Itu memang benar, sebab mereka tiada urusan dengan menteri Bun atau dengan pihak Manchuria. Tapi... kenapa Kim Ih Hoat Ong menangkap mereka? Mungkinkan ada suatu rencana busuk di balik itu?"

"Mungkin."

Bu Ceng Sianli mengangguk dan bertanya.

"Kenapa pihak Manchuria ke mari?"

"Mereka ingin menangkapku,"

Sahut Lie Tsu Seng.

"Kalau kalian tidak muncul, aku pasti sudah ditangkap."

"Hmm!"

Dengus Bu Ceng Sianli dingin.

"Lain kali aku harus membunuh pendeta jelek itu!"

"Sianli!"

Orang tua pincang menggeleng-gelengkan kepala.

"Belum tentu engkau mampu membunuhnya, sebab kepandaian Kim Ih Hoat Ong itu tinggi sekali, belum ditambah Pancha dan tiga belas orang itu."

"Benar."

Bu Ceng Sianli manggut-manggut.

"Kepandaian pendeta jelek itu memang tinggi sekali. Hian Goan Ci tidak dapat melukainya."

"Apa?"

Orang tua pincang terbelalak.

"Hian Goan Ci tidak dapat melukainya? Ilmu apa yang dimilikinya?"

"Tong Cu Sin Kang,"

Sahut Bu Ceng Sianli memberitahukan.

"Maka badannya kebal terhadap senjata tajam, racun dan ilmu pukulan apa pun."

"Bukan main!"

Orang tua pincang menggeleng-gelengkan kepala.

"Kalau begitu siapa yang sanggup melawannya?"

"Lho?"

Bu Ceng Sianli menatapnya heran.

"Bukankah engkau bilang tidak lama lagi Bun Yang akan muncul? Tadi aku kira engkau sudah bertemu dia."

"Aku...."

Orang tua pincang tersenyum.

"Aku membohongi pendeta jelek itu, agar dia merasa penasaran terhadap Bun Yang."

"Oooh!"

Bu Ceng Sianli manggut-manggut, kemudian tertawa seraya berkata.

"Hi hi hi! Engkau memang licik, namun ada baiknya juga membohongi pendeta jelek itu."

"Oh ya!"

Mendadak orang tua pincang menatap Bu Ceng Sianli dengan penuh perhatian.

"Eh?"

Bu Ceng Sianli melotot.

"Kenapa engkau memandangku seperti kucing melihat ikan?"

"Aku punya akal untuk membebaskan Toan Beng Kiat dan lainnya,"

Sahut orang tua pincang dengan wajah berseri.

"Akal apa?"

Tanya Bu Ceng Sianli.

"Apakah berkaitan dengan diriku?"

"Betul."

Orang tua pincang manggut-manggut.

"Hanya engkau yang dapat menolong mereka berempat, namun harus melalui seseorang."

"Maksudmu?"

Bu Ceng Sianli tidak mengerti.

"Beritahukanlah!"

"Pancha sudah jatuh cinta kepadamu, maka peralatlah dia untuk membebaskan Toan Beng Kiat dan lainnya!"

"Omong kosong!"

Bentak Bu Ceng Sianli.

"Dari pada berbuat itu, lebih aku bertanding mati-matian dengan pendeta jelek itu!"

"Tapi...."

"Diam!"

Bentak Bu Ceng Sianli. Seketika juga orang tua pincang itu diam, namun kemudian bergumam.

"Cuma berpura-pura mencintai Pancha, lalu memperalatnya membebaskan Toan Beng Kiat."

"Pincang!"

Bu Ceng Sianli melotot.

"Engkau kira mereka begitu bodoh? Hm! Dasar pincang dan tak punya otak!"

"Jangan berdebat!"

Ujar Lie Tsu Seng.

"Lebih baik kita lihat perkembangan selanjutnya, setelah itu barulah kita berunding kembali."

"Benar."

Orang tua pincang manggut-manggut.

"Aku khawatir Toan Beng Kiat dan lainnya dijadikan sandera " -oo0dw0oo-Bagian ke tujuh puluh delapan Curahan kerinduan dan cinta kasih Betulkah Tio Bun Yang sudah mati? Ia telah terjun ke jurang, tapi di dasar jurang itu tidak terdapat mayatnya. Apa yang telah terjadi atas dirinya setelah terjun ke jurang? Tentunya ia tidak akan hilang begitu saja. Ternyata Tio Bun Yang jatuh di telaga di dasar jurang itu. Luncuran badannya begitu cepat, maka begitu jatuh, langsung tenggelam. Sungguh di luar digaan, di dasar telaga itu terdapat pusaran air, yang membuat badan Tio Bun Yang berputarputar, akhirnya ia pun pingsan. Perlahan-lahan Tio Bun Yang membuka matanya, rupanya ia sudah siuman dari pingsannya. Tampak seorang gadis berdiri di hadapannya tengah memandangnya dengan mesra dan penuh cinta kasih, bahkan tersenyum lembut.

"Adik Goat Nio...."

Tio Bun Yang, seakan tidak percaya apa yang dilihatnya.

"Adik Goat Nio, ternyata kita bertemu di alam baka! Aku... aku gembira sekali."

"Kakak Bun Yang...."

Gadis itu ternyata Siang Koan Goat Nio. Ia menangis terisak-isak saking girangnya.

"Kakak Bun Yang...."

"Adik Goat Nio!"

Tio Bun Yang menggenggam tangannya.

"Kenapa engkau menangis? Kini kita sudah berkumpul di alam baka, sehalusnya engkau gembira."

"Aku... aku gembira sekali, maka menangis,"

Sahut Siang Koan Goat Nio, lalu mendekap dadanya.

"Adik Goat Nio...."

Tio Bun Yang membelainya.

"Tak disangka kita sudah jadi arwah, namun sungguh menggembirakan, karena kita bisa berkumpul kembali."

"Kakak Bun Yang!"

Siang Koan Goat Nio memberitahukan.

"Kita belum mati...."

"Apa?"

Tio Bun Yang tersentak.

"Kita belum mati?"

"Cobalah gigil jari tanganmu, terasa sakit atau tidak?"

Ujar Siang Koan Goat Nio.

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk, kemudian menggigit jari tangannya. Seketika juga ia menjerit kesakitan.

"Aduuuh! Sakit sekali!"

"Itu pertanda engkau belum mati, aku pun demikian,"

Ujar Siang Koan Goat Nio sambil tersenyum.

"Kakak Bun Yang, kita tidak akan berpisah lagi."

"Adik Goat Nio...."

Mendadak Tio Bun Yang terisak-isak sambil memeluknya erat-erat.

"Adik Goat Nio...."

"Kakak Bun Yang!"

Siang Koan Goat Nio membelainya seraya bertanya dengan lembut.

"Kenapa engkau menangis?"

"Aku menangis karena girang,"

Jawab Tio Bun Yang.

"Ternyata kita belum mati...."

"Aku yakin suatu hari engkau pasti ke mari, maka aku tetap tabah di sini,"

Ujar Siang Koan Goat Nio dan menambahkan.

"Aku terus menunggu, dan ternyata tidak sia-sia aku terus menunggu, karena hari ini engkau ke mari."

"Adik Goat Nio, tuturkanlah apa yang telah terjadi atas dirimu!"

"Aku tidak begitu ingat lagi,"

Ujar Siang Koan Goat Nio.

"Tapi aku masih ingat, ketua Kui Bin Pang adalah seorang pemuda bernama Kwee Teng An. Beberapa tahun lalu, engkau pernah memusnahkan ilmu silatnya."

"Dia yang memberitahukan kepadamu?"

"Ya."

Siang Koan Goat Nio mengangguk dan melanjutkan.

"Ketika sampai di Tebing Selaksa Bunga, dia... ingin berbuat kurang ajar terhadap diriku, maka aku meloncat mundur. Setelah itu, aku tidak ingat apa yang telah terjadi."

"Apakah engkau tidak tahu kalau di belakangmu terdapat jurang yang menganga lebar?"

Tanya Tio Bun Yang.

"Aku memang tidak tahu,"

Jawab Siang Koan Goat Nio dan melanjutkan.

"Ketika aku tersadar, aku sudah berada di sini."

"Oh?"

Tio Bun Yang segera memandang kc sana ke mari. ternyata ia berada di pinggir sebuah kolam alam, yang di sekitarnya tampak bunga liar beraneka warna.

"Adik Goat Nio, tempat apa ini?"

"Sebuah goa yang amat luas di dalam perut gunung."

Siang Koan Goat Nio memberitahukan.

"Aku terus menunggu di sini, akhirnya engkau muncul juga."

"Adik Goat Nio."."

Tio Bun Yang memeluknya lagi.

"Kita... kita sudah berkumpul kembali."

"Selama-lamanya tidak akan berpisah lagi,"

Ujar Siang Koan Goat Nio.

"Oh ya! Engkau juga terjatuh ke jurang?"

"...."

Tutur Tio Bun Yang dan menambahkan.

"Setelah itu, aku ke Tebing Selaksa Bunga bersama Bu Ceng Sianli dan orang tua pincang Aku... aku terjun ke jurang."

"Kakak Bun Yang...."

Siang Koan Goat Nio terisak-isak.

"Aku tidak menyangka, kalau engkau begitu setia terhadapku."

"Adik Goat Nio!"

Tio Bun Yang membelainya sambil tersenyum lembut.

"Hanya engkau yang kucintai, maka aku harus setia kepadamu."

"Engkau terjun ke jurang demi diriku, aku... aku terharu sekali,"

Ujar Siang Koan Goat Nio dengan air mata berderaiderai.

"Jangan menangis, Adik Goat Nio!"

Tio Bun Yang membelainya lagi.

"Mimpi buruk itu telah berlalu, mulai sekarang kita akan melewati hari-hari yang indah."

"Kakak Bun Yang,"

Ujar Siang Koan Nio dengan suara rendah.

"Kita hidup tenang dan bahagia di pulau Hong Hoang To, jangan mencampuri urusan rimba persilatan lagi."

"Baik."

Tio Bun Yang mengangguk, tapi kemudian keningnya berkerut.

"Ada apa, Kakak Bun Yang?"

Siang Koan Goat Nio menatapnya.

"Ada sesuatu yang ler-ganjel di dalam hatimu?"

"Adik Goat Nio!"

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Kita tidak mungkin bisa meninggalkan tempat ini."

"Ya."

Siang Koan Goat Nio manggut-manggut.

"Kita berada di dalam goa yang di dalam perut gunung, tidak mungkin kita bisa keluar dari goa ini. Tapi...."

"Kenapa?"

"Ada keganjilan pada kolam alam itu."

Siang Koan Goat Nio memberitahukan.

"Engkau muncul dari kolam itu, tentunya aku pun keluar dari situ."

"Tidak salah."

Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Di dasar telaga itu terdapat pusaran air maka kita terseret ke mari."

"Aku terus menunggu di sini, karena itu aku melihat keganjilan kolam itu."

Ujar Siang Koan Goat Nio.

"Pada waktu tertentu, air kolam itu muncrat ke atas bagaikan air mancur. Hari ini juga begitu, justru engkau muncul dari situ."

"Oh?"

Tio Bun Yang tampak tertarik.

"Kadang-kadang...."

Siang Koan Goat Nio memberitahukan.

"Air kolam itu berputar-putar ke dalam. Aku pernah melempar sesuatu ke kolam itu, lalu ikut berputar-putar ke dalam."

"Adik Goat Nio!"

Tio Bun Yang tampak girang sekali.

"Kita bisa meninggalkan tempat ini."

"Oh?"

Wajah Siang Koan Goat Nio berseri.

"Bagaimana caranya?"

"Kita harus menunggu air kolam itu berputar-putar ke dalam,"

Jawab Tio Bun Yang menjelaskan.

"Kita meloncat ke kolam itu agar terseret pusaran air sampai ke telaga."

"Betul."

Siang Koan Goat Nio manggut-manggut.

"Kakak Bun Yang, kita... kita bisa meninggalkan tempat ini."

"Adik Goat Nio, disaat meloncat ke kolam itu, engkau harus menahan nafas sambil menghimpun Giok Li Sin Kang!"

Pesan Tio Bun Yang.

"Ya."

Siang Koan Goat Nio mengangguk.

"Dan juga..."

Pesan Tio Bun Yang lagi.

"Kita pun harus berpegangan tangan agar tidak terpisah."

"Ya."

Siang Koan Goat Nio mengangguk lagi, kemudian menundukkan kepala seraya berbisik.

"Kakak Bun Yang, aku... aku ingin cepat-cepat menikah denganmu. Sungguh!"

"Adik Goat Nio."

Tio Bun Yang tersenyum lembut.

"Begitu sampai di Pulau Hong Hoang To, kita langsung menikah."

"Kakak Bun Yang,..."

Siang Koan Goat Nio mendekap d; dadanya dengan penuh rasa bahagia.

"Aku... aku bahagia dan gembira sekali."

Menteri Bun dan Kim Ih Hoat Ong terus tertawa gelak, Cap Sah Sin Eng duduk diam, sedangkan Pancha tampak melamun.

"Hoat Ong,"

Tanya menteri Bun heran.

"Kenapa Pancha terus melamun, apa gerangan yang telah teriadi atas dirir ya?"

"Dia..."

Kim Ih Hoat Ong tertawa lagi.

"Ha ha ha! Dia sedang jatuh cirta, maka terus melamun."

"Oh?"

Menteri Bun tertegun.

"Dia jatuh cinta pada gadis mana? Apakah gadis itu juga mencintainya?"

"Gadis itu memang cantik sekali, namun galak dan liar,"

Sahut Ki.n Ih Hoat Ong memberitahu kan.

"Gadis itu adalah Bu Ceng Sianli."

"Hah?"

Mulut menteri Bun ternganga iebar "Bu Ceng Sianli? Kepandaiannya...."

"Yaaah.".."

Kim Ih Hoat Ong menghembus nafas panjang "Kepandaian gadis itu sungguh tinggi sekali! Kalau aku fidak memiliki Tong Cu Siu Kang, aku past sudah mati"

"Hoat Ong tidak sanggup mengalahkannya?"

Tanya Menteri Bun mendadak.

"Mungkin aku sanggup mengalahkannya, tapi ratusan jurus."

Jawab Kim Ih Hoat Ong jujur dan menambahkan.

"AKU harus melukainya."

"Pokoknya Hoat Ong tidak boleh melukai nya!"

Sela Pancha mendadak dan melanjutkan.

"Apabila aku kawin dengan dia, tentu kekuatan kita bertambah Namun , dia kelihatan tidak menaruh perhatian kepadaku. Aaaah...!"

"Pancha!"

Kim Ih Hoat Ong menggeleng-gelengkan kepala.

"Sudahlah Jangan terus memikirkan Bu Cengg Sianli, kini dia. adalah musuhku."

"Hoat Ong ..."

Kening Pancha berkerut-kerut. ?Aku...."

"Sudahlah!"

Kim Ih Hoat Ong menggeleng-gelengkan kepala lagi.

"Kini kita telah berhasT menawan Toan Beng Kiat dan teman-temannya. Aku yakin Bu Ceng Sianli dan orang tua pincang itu tidak akan tinggal diam." 'Aaaah . !"

Menteri Bun menghela nafas panjang "Seharusnya kalian menangkap Lie Tsu Seng, bukan Toan Beng Kiat."

"Tapi aku punya suatu rencana,"

Ujar Kim Ih Hoat Ong sambil tertawa geiak.

"Karena itu, aku yakin Lie Tsu Seng pasti menyerahkan dirinya kepada kita! Ha ha ha...!"

"Rencana apa?"

Tanya Menteri Bun tertarik.

"Begini...."

Kim Ih Hoat Ong memberitahukan.

"Dirikan sebuah panggung yang agak jauh dari markas Lie Tsu Seng, kita ikat Toan Beng Kiat, Bokyong Sian Hoa, Yo Kiam Heng dan Lam Kiong Soat Lan di atas panggung itu. Setelah itu, kita mengutus seseorang untuk menemui Lie Tsu Seng, menyatakan bahwa dalam waktu tujuh hari Lie Tsu Seng harus menyerahkan diri kepada kita. Kalau tidak, kita akan membunuh mereka berempat, yang di atas panggung itu."

"Ha ha ha!"

Menteri Bun tertawa gembira.

"Sungguh merupakan ide yang jitu sekali! Tapi alangkah baiknya kalau kita mengutus seorang ke sana dulu, setelah itu barulah kita mendirikan panggung tersebut."

"Ngmm!"

Kim Ih Hoat Ong manggut-manggut.

"Usulmu kuterima dengan baik."

"Terimakasih!"

Ucap Menteri Bun dan bertanya.

"Kapan kita mengutus seseorang untuk menemui Lie Tsu Seng?"

"Besok,"

Sahut Kim Ih Hoat Ong.

"Bagus!"

Menteri Bun tertawa gembira.

"Setelah panggung itu kita dirikan, aku akan mengirim pasukan kerajaan ke sana untuk berjaga-jaga."

"Itu tidak perlu,"

Ujar Kim Ih Hoat Ong.

"Oh ya! Ada berapa banyak pengawal di sini?"

"Kurang lebih tiga ratus pengawal,"

Sahut Menteri Bun.

"Kalau begitu, aku cukup membutuhkan seratus pengawal saja untuk menyertai kami."

Kim Ih Hoat Ong memberitahukan, kemudian menambahkan pula.

"Pasukan kerajaan harus ditempatkan di sini, sebab aku khawatir pihak pemberontak akan menyerang ke mari."

"Ngmm!"

Menteri Bun manggut-manggut.

"Besok aku akan mengutus seseorang ke sana."

"Ingat! Harus bilang utusan dariku, jangan bilang utusan dari sini!"

Kim Ih Hoat Ong mengingatkan.

"Agar pihak pemberontak tidak menyerang ke mari, dan seolah-olah Menteri Bun tidak tersangkut dalam hal ini."

"Terimakasih, terimakasih!"

Ucap Menteri Bun.

"Mari kita bersulang lagi!"

"Mari!"

Kim Ih Hoat Ong tertawa gelak.

"Ha ha ha...!" -oo0dw0oo-Lie Tsu Seng, Bu Ceng Sianli, orang tua pincang, Yo Suan Hiang dan lainnya duduk dengan wajah serius. Kadang. kadang kening mereka berkerut-kerut, sepertinya sedang memikirkan sesuatu.

"Heran!"

Gumam Lie Tsu Seng.

"Kenapa pihak Kim Ih Hoat Ong dan Menteri Bun diam saja? Mungkinkah...."

Mendadak muncul seseorang, yang memberi hormat dan melapor.

"Utusan Kim Ih Hoat Ong ingin bertemu."

"Persilakan dia masuk!"

Sahut Lie Tsu Seng.

"Ya."

Orang itu segera pergi. Sedangkan Lie Tsu Seng dan lainnya saling memandang, berselang sesaat muncullah utusan Kim Ih Hoat Ong, yaitu salah seorang pengawal menteri Bun.

"Maaf!"

Ucap orang itu sambil memberi hormat.

"Kim Ih Hoat Ong mengutus aku ke mari."

"Silakan duduk!"

Sahut Lie Tsu Seng.

"Terimakasih!"

Ucap orang itu lalu duduk.

"Mau apa Kim Ih Hoat Ong mengutusmu ke mari?"

Tanya Lie Tsu Seng sambil menatap orang itu.

"Menyampaikan sesuatu kepada Tuan!"

"Oh?"

Lie Tsu Seng menatapnya tajam.

"Engkau boleh menyampaikannya?"

"Dalam tujuh hari, apabila Tuan tidak menyerahkan diri kepada Kim Ih Hoat Ong, maka Toan Beng Kiat dan lainnya pasti mati."

Orang itu memberitahukan.

"Apa?"

Lie Tsu Seng tertegun.

"Hm!"

Dengus Bu Ceng Sianli.

"Aku terpaksa membunuhmu!"

"Bu Ceng Sianli,"

Ujar orang itu.

"Aku hanya diutus ke mari. Kalau engkau membunuhku pertanda engkau pengecut."

"Apa?"

Bu-Ceng Sianli melotot.

"Engkau memang ingin cari mampus! Setelah aku membunuhmu, barulah aku pergi mencari Kim Ih Hoat Ong!"

"Sianli,"

Ujar Lie Tsu Seng.

"Jangan bertindak ceroboh, tenanglah!"

Sebetulnya Bu Ceng Sianli sudah mau bergerak, namun begitu mendengar teguran Lie Tsu Seng, wanita itu langsung diam di tempat.

"Baiklah."

Lie Tsu Seng manggut-manggut.

"Sekarang engkau boleh pulang, beritahukan pada Kim Ih Hoat Ong, bahwa kami akan mempertimbangkannya!"

"Ya!"

Orang itu memberi hormat, lalu meninggalkan tenda itu. Lie Tsu Seng dan lainnya saling memandang, lama sekali barulah Lie Tsu Seng membuka mulut.

"Apa boleh buat aku terpaksa menyerahkan diri kepada Kim Ih Hoal Ong."

"Tidak bisa!"

Bu Ceng Sianli menggelengkan kepala.

"Aku yakin mereka cuma mengancam."

"Tapi...."

Lie Tsu Seng menggeleng-gelengkan kepala.

"Toan Beng Kiat dan lainnya berada di tangan mereka."

"Mereka tidak mungkin membunuh Bokyong Sian Hoa,"

Ujar Bu Ceng Sianli dan menambahkan.

"Juga belum tentu berani membunuh Toan Beng Kiat, Yo Kiam Heng maupun Lam Kiong Soat Lan Itu cuma merupakan siasat licik, agar engkau menyerahkan diri"

"Aaaah. .!"

Lie Tsu Seng menggeleng geleng kan kepala.

"Aku tidak tahu harus baga.mana.'' "Begir;"

Ujar orang tua pincang.

"Masih ada tujuh hari kita ikuti saja permainan mereka " 'Maksudmu?"

Tanya Bu Ceng Sianli.

"Aku yakin itu adalah rencana Menteri Bun,"

Jawab orang tua pincang.

"Sebab tidak mungkin Kim Ih Hoat Ong menghendaki Lie Tsu Seng. Oleh karena itu, kita tunggu saja apa kemauan mereka."

"Ngmm!"

Bu Ceng Sianli manggut-manggut "Baiklah kita tunggu saja bagaimana perkembangannya."

Orang yang diutus pergi menemui Lie Tsu Seng, kini sudah kembali ke rumah Menter Bun, lalu melapor tentang itu "Ha ha ha!' Menteri Bun tertawa gelak.

"Aku yakin Lie Tsu Seng pasti akan menyerahkan dirinya! Ha ha ha...!"

"Itu belum tentu."

Kim Ih hoat Ong menggelengkan kepala.

"Sebab mereka bukan orang bodoh."

"Oh?"

Menteri Bun mengerutkan kening.

"Apakah mereka akan. mengorbankan Toan Beng K iat dan lainnya?"

"Tentu tidak. Tapi ..."

Kim Ih Hoal Ong melanjutkan.

"Mereka pasti tahu kita tidak akan membunuh Toat Beng Kiat dan lainnya."

"Kalau begitu kita bunuh saja mereka,"

Ujar Menteri Bun tanpa berpikir.

"Menteri Pun!"

Kim Ih Hoal Ong menatapnya seraya bertanya "Er.gkau berani menanggung resikonya?"

"Aku...."

Menteri Bun menghela nafas pan'ang.

"Sesuai dengan rencana semula, mulai besok panggung itu harus didirikan dan buatkan juga empat buah tiang untuk mengikat Toan Beng K;at dan lainnya!"

"Hoat Ong."

Tanya Pancha.

"Auakah Sian Hoa juga harus di kat di panggung itu?"

"Tentu."

Kim Ih Hoat Ong manggut-manggut. 'Agar Lie Tsu Seng lebih yakin bahwa kita akan membunuh mereka berempat."

"Tapi...."

Pancha menggeleng gelengkan kepala.

"Tindakan itu akan menjauhkan aku dengan Bu Ceng Sianli."

"Pancha!"

Kim Ih Hoat Ong mengerutkan kening.

"Masih banyak gadis lain yang cantik-cantik, tenang saia!"

Pancha menghela nafas paring.

"Aku tiak pernah jatuh cinta, baru kali ini. Hoat Ong, bagaimana kalau mereka berempat kita lepaskan agar aku bisa mengambil hati Bu Ceng Sianii?"

"Jangan!"

Kim Ih Hoat Ong menggelengkan kepala.

"Sebab tujuan kita adalah menangkap Lie Tsu Seng. Setekh periiinp.n pemberontak itu menyerahkan diri kepada kiti, barulah mereka berempat kita lepaskan."

"Hoat Ong ..."

"Sudahlah! Jangan memikirkan yang bukan bukan!"

Tandas Kim Ih Hoat Ong. 'Perlihatkanlah kegagahan bangsa ManchuWa, siapa tahu kelak k;ta akan berkuasa di sini."

"Aaaah ..!"

Pancha menghela nafas paniang, lalu berjalan menuju ruang batu.

Para pengawal langsung memberi hormat.

Pancha memberi syarat, salah seorang pengawal langsung membuka pintu ruang batu.

Fancha melangkah ke aalam.

tampak Bokyong Sian Hoa duduk bersandar pada dinding dengan tangan dan kaki terikat rantai.

"Adik Sian Hoa...."

Pancha mendekatinya.

"Pergi! Cepat pergi.'"

Bentak Bokyong Sian Hoa "Aku benci engkau! Kalau engkau berani membunuh Beng Kiat dan lainnya, aku past1 bersumpah mencincangmu!" 'Aaah ..!"

Pancha menghela nafas pai.jang.

"Ayoh' Cepat lepaskan kami!"

Bokyong Sian Hoa menatapnya dengan penuh krbemi.ui "kenapa engkau menyekapku di ruang balu ini, sedangkan Beng Kiat, Yo Kiam Heng dan Lam Kiong Soat Lan berada di ruang lain?"

"Sebab engkau adikku."

"Phui!"

Bokyang Sian Hoa meludah.

"Siapa adikmu? Aku tidak sudi menjadi adikmu!"

"Adik Sian Hoa...."

"Cepatlah tinggalkan ruang ini! Cepaaat!"

Bentak Bokyong Sian Hoa sambil melotot.

Pancha mengerutkan kening, kemudian meninggalkan ruang batu sambil menghela nafas panjang.

Sesungguhnya ia ingin menanyakan tentang Bu Ceng Sianli kepada Bokyong Sian Hoa.

namun gadis itu terus mencacinya dan mengusirnya, maka ia terpaksa harus meninggalkan ruang itu dengan perasaan kecewa.

-ooo0dw0oo-Bagian ke tujuh puluh sembilan Menundukkan Kim Ih Hoat Ong Berita tentang tertangkapnya Toan Beng Kiat, Bokyong Sian Hoa, Yo Kiam Heng dan Lam Kiong Soat Lan telah sampai di telinga pihak KayPang.

Betapa terkejutnya Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong ketika mendengar berita tersebut.

"Heran?"

Ujar Lim Peng Hang sambil mengerutkan kening.

"Kenapa pihak Manchuria menangkap mereka berempat?"

"Mungkinkah itu merupakan suatu siasat busuk?"

Tanya Gouw Han Tiong.

"Mungkin."

Lim Peng Hang manggut-manggut.

"Kemudian muncul Bu Ceng Sianli bertanding dengan Kim Ih Hoat Ong. Sungguh di luar dugaan kepandaian mereka seimbang. Setelah itu muncul pula Si Pincang, dan kini mereka berada di markas Lie Tsu Seng. Oh ya, sungguh sayang sekali Ling Cu sudah kembali ke markasnya."

"Kita harus bagaimana?"

Tanya Gouw Han Tiong mendadak.

"Toan Beng Kiat adalah cucumu,"

Sahut Lim Peng Hang.

"Maka kita harus pergi menolong mereka."

"Tapi...."

Gouw Han Tiong menggeleng-gelengkan kepala.

"Kepandaian kita berdua tidak mampu menandingi Kim Ih Hoat Ong itu."

"Memang."

Lim Peng Hang mengangguk.

"Tapi kita dan Si Pincang tentu dapat melawan Cap Sah Sin Eng. Secara tidak langsung kita telah membantu Bu Ceng Sianli."

"Aaaah.J"

Mendadak Gouw Han Tiong menghela nafas panjang.

"Hingga k;ni tiada berita tentang Bun Yang dan Goat Nio, entah bagaimana nasib mereka?"

"Seandainya Bun Yang berada di sini, aku yakin masalah itu dapat diatasi."

Ujar Lim Peng Hang.

"Tapi dia....".

"Sudah sekian lama dia dan Goat Nio tidak muncul di sini, berarti mereka telah mati. Aaah...!"

Gouw Han Tiong menggeleng-gelengkan kepala.

"Di saat kita masih dalam kedukaan, malah muncul urusan itu pula!"

"Aaaah...!"

Lim Peng Hang menghela nafas panjang.

"Bun Yang...."

Di saat bersamaan, berkelebat dua sosok bayangan ke hadapan mereka. Betapa terkejutnya Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong, dan Lim Peng Hang langsung membentak.

"Siapa?"

"Kakek! Kakek Gouw!"

Terdengar suara sahutan.

"Haaah...?"

Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong terbelalak, sehingga mulut mereka ternganga lebar, lama sekali baru bersuara.

"Bun Yang! Goat Nio!"

Ternyata yang muncul itu adalah Tio Bun Yang dan Siang Koan Goat Nio.

Bayangkan betapa gembiranya Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong.

Mereka berdua mengucek mata seakan tidak percaya apa yang dilihatnya.

"Kakek Lim! Kakek Gouw!"

Panggil Siang Koan Goat Nio.

"Kami sudah kembali"

"Bun Yang...."

Mata Lim Peng Hang berkaca-kaca.

"Kalian duduklah!"

"Ya, kakek."

Tio Bun Yang dan Siang Koan Goat Nio segera duduk.

"Bun Yang, Goat Nio!"

Gouw Han Tiong terus menatap mereka, kemudian berkata "Ternyata kalian berdua masih hidup, kenapa sekarang baru kembali"

"Bun Yang,"

Tanya Lim Peng Hang dengan wajih berseriseri.

"Kenapa kami tidak menemukan kalian di dasar juang itu? Sebetulnya kali in berdua berada di mana?"

"Kakek Lim,"

Jawab Siang Koan Goat Nio.

"Aku terjatuh ke dalam telaga yang di dasar jurang...."

Siang Koan Goat Nio menutur tentang apa yar.g dialaminya, Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong mendengarkan dengan penuh perhatian "Oooh!"

Lim Peng Hang manggut-manggut setelah mendengar penuturan itu.

"Tidak heran kalau kami tidak menemukan kalian, ternyata kalian berada di dalam goa itu. Kalau Bun Yang tidak terjun ke jurang, tentunya kalian tidak akan berjumpa kembali."

"Betul."

Tio Bun Yang mengangguk "Kami tidak bisa cepat-cepat meninggalkan goa itu...."

Tio Bun Yang membeiitahukan tentang air kolam yang di dalam goa tersebut, Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong manggut-manggut "Jadi kalian harus menunggu air kolam itu berputarputar ke dalam, barulah kalian meloncat ke kolam itu?".

"Ya."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Kami terseret pusaran air sampai di tengah telaga. Kemudian kami segera berenang ke tepi, dan naik ke atas. Kami melihat banyak tali di situ dan kami duga pasti kakek, ayah, ibu serta lainnya yang datang di tempat itu."

"Betul."

Lim Peng Hang tersenyum.

"Kami dan pihak Tayli turun ke dasar jurang itu Syukurlah kalian berdua masih hidup dan kini sudah kembali!"

"Kakek, kami harus segera pulang ke pulau Hong Hoang To,"

Ujar Tio Bun Yang dan menambahkan.

"Agar ayah, ibu dan lainnya tidak terus berduka."

"Ya. Tapi...."

Lim Peng Hang mengerutkan kening "Ada apa, Kakek?"

Tanya Tio Bun Yang.

"Apakah di sana telah terjadi sesuatu?" 'Bun Yang,"

Sahut Gouw Han Tiong, lalu menutur tentang Kim Ih Hoat Ong yang menangkap Toan Beng Kiat dan lainnya.

"Oleh karena itu, lebih baik kita pergi menyelamatkan mereka dulu."

"Tidak disangka pihak Manchuria mulai mengacau di Tonggoan!"

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Baiklah kita harus segera pergi menyelamatkan mereka. Kapan kita berangkat?"

"Menurut aku..."

Sela Gouw Han Tiong.

"Kita harus ke markas Lie Tsu Seng dulu, berunding dengan mereka. Setelah itu, barulah kita bertindak."

"Baiklah."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Bun Yang, engkau harus berhati-hati terhadap Kim Ih Hoat Ong, sebab kepandaiannya tinggi sekali!"

Pesan Lim Peng Hang.

"Ya."

Tio Bun Yang manggut-manggut dan bertanya.

"Kakek, kapan kita berangkat ke markas Lie Tsu Seng?"

"Besok pagi,"

Jawab Lim Peng Hang. Tio Bun Yang kelihatan tidak sabaran.

"Bagaimana kalau kita berangkat sekarang saja? Sebab aku khawatir...."

"Besok pagi saja,"

Ujar Lim Peng Hang sambil tersenyum.

"Karena sekarang kalian berdua harus beristirahat."

"Ya, Kakek."

Tio Bun Yang dan Siang Kon Goat Nio mengangguk.

"Oh ya!"

Lim Peng Hang teringat sesuatu dan langsung memberitahukan.

"Hari itu Kim Coa Long Kun ke mari menanyakan tentang dirimu, kemudian dia membantai seratus penjahat. Setelah itu, tiada kabar beritanya lagi."

"Oh?"

Tio Bun Yang tertegun.

"Kenapa dia membantai para penjahat itu?"

"Mungkin membalaskan dendammu,"

Sahut Gouw Han Tiong.

"Sebab engkau dicelakai penjahat, maka dia membunuh para penjahat itu."

"Aaaah...!". Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Dia...."

"Dia tidak berhati jahat, hanya tercekam rasa dendam saja,"

Ujar Gouw Han Tiong sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Pada hal dia sangat solider."

"Betul."

Tio Bun Yang mengangguk.

"Bahkan juga sangat setia kawan."

"Bun Yang, Goat Nio,"

Ujar Lim Peng Hang.

"Lebih baik kalian beristirahat, sebab besok pagi kita akan berangkat ke markas Lie Tsu Seng."

Tio Bun Yang dan Goat Nio mengangguk, lalu melangkah ke dalam. Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong manggutmanggut dengan wajah berseri, kemudian Lim Peng Hang berkata.

"Sungguh di luar dugaan, ternyata mereka belum mati! Ha ha ha...!"

"Syukurlah kini mereka sudah kembali! Cucuku dan lainnya pasti dapat diselamatkannya."

Ujar Gouw Han Tiong. -oo0dw0oo-Kening Lie Tsu Seng terus berkerut-kerut, begitu pula yang lainnya. Sejenak kemudian barulah pemimpin pemberontak itu berkata.

"Kini Toan Beng Kiat, Bokyong Sian Hoa, Yo Kiam Heng dan Lam Kiong Soat Lan telah di ikat pada tiang di panggung itu. Kalau aku tidak menyerahkan diri, mereka berempat pasti mati."

"Jangan terkena siasat mereka!"

Ujar Bu Ceng Sianli dan menambahkan.

"Hingga saat ini aku masih tidak percaya, kalau mereka berani membunuh Toan Beng Kiat dan lainnya."

"Kalau begitu, kita harus bagaimana?"

Lie Tsu Seng menghela nafas panjang.

"Apakah kita tinggal diam?"

"Tentu tidak,"

Sahut Bu Ceng Sianli.

"Besok adalah batas waktu tujuh hari, kita serbu mereka."

Orang tua pincang menggeleng-gelengkan kepala.

"Bagaimana mungkin kita dapat melawan mereka?"

"Kalau engkau takut mati, lebih baik pergi bersembunyi saja,"

Sahut Bu Ceng Sianli sambil melotot.

"Maksudku kita jangan bertindak gegabah, pikirkan dulu secara cermat."

Ujar orang tua pincang.

"Apabila kita bertindak gegabah, yang bakal celaka adalah Tuan Lie."

"Aaaah...!"

Keluh Bu Ceng Sianli.

"Seandainya Bun Yang berada di sini, aku yakin dia mampu mengatasi masalah ini. Tapi dia... Sudahlah, pokoknya besok pagi kita pergi menyerbu mereka sebab tiada jalan lain yang harus kita tempuh."

"Baik."

Yo.Suan Hiang mengangguk.

"Mari kita serbu mereka pagi!"

"Aku setuju."

Lie Tsu Seng manggut-manggut dan melanjutkan.

"Namun kita harus mengatur strategi, karena ada seratus lebih pengawal Menteri Bun di sana. Oleh karena itu, aku pun harus membawa sekitar dua ratus orang untuk mengepung tempat itu,"

"Baik."

Bu Ceng Sianli mengangguk.

"Aku melawan Kim Ih Hoat Ong, Si Pincang dan lainnya melawan Cap Sah Sin Eng. Pokoknya kita bertarung mati-matian dengan meraka."

"Ngmm!"

Lie Tsu Seng manggut-manggut.

"Jatuh bangun kita bergantung pada esok. Semoga kita berhasil menyelamatkan Toan Beng Kiat dan lainnya!" -oo0dw0oo-Keesokan harinya Bu Ceng Sianli dan lainnya berangkat ke tempat panggung itu, sedangkan Lie Tsu Seng memimpin dua ratus orang menyertai mereka. Tak seberapa lama kemudian, Bu Ceng Sianli dan lainnya sudah tiba di tempat tujuan, dan Lie Tsu Seng langsung mengepung tempat itu.

"Ha ha ha!"

Kim Ih Hoat Ong tertawa gelak.

"Sungguh tak disangka akhi nya kalian datang juga!"

"Pendeta jelek!"

Sahut Bu Ceng Sianli menyindir.

"Kami orang Han bukan pengecut, sebaliknya kalian orang Manchunci justru pengecut! Kalian cuma berani melakukan perbuatan yang tak terpuji!"

"Oh, ya?"

Kim Ih Hoat Ong tertawa lagi "Baiklah kalau begitu mari kita bertanding melanjutkan pertandingan kita tempo hari !

Kalau engkau kalah harus meninggalkan tempat ini, tidak boleh mencampui urusan kami!

Sebaliknya kalau aku yang Kalah, kami pasti membebaskan Toan Beng Kiat, Bokyong Sian Hoa, Yo Kiam Heng dan Kiam Kiong Soat Lan.

bahkan kami pun akan segera kembali ke Manchuria'"

"Baik!"

Bu Ceng Sianli manggut-manggut.

"Nona!"

Panggil Pancha menqadak.

"Hmm!"

Dengus Bu Ceng Sianli dingin.

"Engkau bukan pemuda gagah, sepab engkau tidak berani membebaskan mereka demi cintamu kepadaku! Engkau banci! bagaimana mungkin aku akan tertarik kepadamu?"

"Nona Sekarang juga aku akan membebaskan mereka!"

Ujar Pancha sungguh-sungguh.

"Percuma!"

Bu Cerrg Sianli merggelengkan kepala.

"Karena aku dan Hoai Ong sudah ada perjanjian, kami akan segera mulai bertanding!"

"Nona!"

Pancha tampak kecewa sekali. Ia mengakui bsnar apa yang dikatakan Bu Ceng Sianli, bahwa dirinya tidak berani berbuat begitu demi cintanya kepada Bu Ceng Sianli maka Ia pun merasa menyesal sekali.

"Sudahlah! Jangan banyak bicara!"

Tandas Bu Ceng Sianli, lalu memandang Kim Ih Hoat Ong seraya berkata.

"Ayoh, kita mula' bertandirg! Pokoknya hari ini harus ada yang kalah dan yang menang!" 'Baik!"

Kim Ih Hoat Ong manggut-manggut.

Bu Ceng Sianli mulai menghimpun Hian Goan Sin Kang, sedangkan Kim Ih Hoat Ong menghimpun Tong Cu Sin Kang.

Akan tetapi di saat bersamaan terdengarlah suara suling yang amat lembut menggetarkan kalbu.

Begitu mendengar suara suling itu, berserilah waiah Bu Ceng Sianli.

"Adik Bun Yarg' Adik Bun Yang...!"

Serunya dengan penuh kegembiraan Sebaliknya Kim ih Hoat Org.

Pancha dan Cap Sah Sin Eng tampak tersentak berselang sesaat, tampak empat sosok bayangan melayang turun di sisi Bu Ceng Sianli, yakni Iam Peng Hang, Gouw Han Tiong, Tio Bun Yang dan Siang Koang Goat Nio.

"Kakak Sho Cui!"

Seru T.o Bun Yang dan Siang Koan Goat Nio serentak dengan gembira sekali.

"Adik Bun Yang, Adik Goat Nio...!"

Bu Ceng Sianli memandang mereka dengan mata bersimbah air mata saking girangnya.

"Kalian... kalian telah berkumpul, ternyata kalian tidak mati! Aku... aku girang sekali!"

"Kakak Siao Cui!"

Tio Bun Yang tersenyum, lalu menutur tentang kejadian yang dialaminya secara ringkas. Bu Ceng Sianli manggut-manggut, kemudian memperkenalkan mereka.

"Pendeta jelek! Mereka adalah Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong ketua dan tetua Kay Pang! Pemuda itu adalah Giok Siauw Sin Hiap Tio Bun Yang dan gadis itu adalah Siang Koan Goat Nio calon isterinya!"

"Ha ha ha!"

Kim Ih Hoat Ong tertawa gelak.

"Sudah lama aku mendengar nama besar Giok Siauw Sin Hiap! Sungguh beruntung kita bertemu di sini hari ini!"

"Sama-sama!"

Sahut Tio Bun Yang sambil memandang ke arah panggung.

"Mereka berempat tidak bermusuhan dengan pihak Manchuria, kenapa kalian tangkap?"

"Karena ingin ditukarkan dengan Lie Tsu Seng!"

Sahut Kim Ih Hoat Ong.

"Aku tidak menyangka...."

Tio Bun Yang menggelenggelengkan kepala.

"Pihak Manchuria begitu licik dan pengecut! Pada hal Hoat Ong adalah guru istana Manchuria! Bukankah tindakan itu sangat mempermalukan Bangsa Manchuria?"

"Dalam siasat perang, tiada istilah licik!"

Sahut Kim Ih Hoat Ong sungguh-sungguh.

"Maka kami Bangsa Manchuria bukan pengecut, lagi pula aku dan Bu Ceng Sianli sudah ada suatu perjanjian, yaitu kami akan bertanding! Kalau dia kalah harus segera pergi dari sini, kalau aku kalah harus membebaskan mereka berempat , bahkan kami akan segera pulang ke Manchuria!"

Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Kalau begitu, aku akan mewakili Bu Ceng Sianli bertanding dengan Hoat Ong!"

"Ha ha ha!"

Kim Ih Hoat Ong tertawa gembira.

"Baik! Aku memang ingin mencoba kepandaianmu, sebab aku dengar kepandaianmu sangat tinggi sekali! Boleh dikatakan sebagai pendekar nomor satu di Tionggoan!"

"Hoat Ong!"

Tio Bun Yang menatapnya tajam seraya bertanya.

"Kita bertanding dengan tangan kosong atau dengan senjata?"

"Cukup dengan tangan kosong saja!"

Sahut Kim Ih Hoat Ong dan menambahkan.

"Tapi harus ada yang menang dan kalah, tidak ada istilah seri!"

"Baik!"

Tio Bun Yang mengangguk.

"Kita bertanding cukup tiga jurus saja! Kalah atau menang sudah bisa diketahui!"

"Cuma bertanding tiga jurus?"

Kim Ih Hoat Ong tertegun.

"Ya."

Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Itu sudah cukup!"

"He he he!"

Mendadak orang tua pincang tertawa terkekeh-kekeh.

"Pendeta jelek itu sudah ciut nyalinya! He he he...!"

"Hi hi hi!"

Bu Ceng Sianli tertawa cekikikan mengejek Kim Ih Hoat Ong.

"Jangan-jangan pendeta jelek itu sudah terkencing-kencing?"

Betapa gusarnya Kim Ih Hoat Ong diejek begitu, dan langsung membentak dengan suara mengguntur.

"Giok Siauw Sin Hiap! Mari kita mulai bertanding!"

Kim Ih Hoat Ong mulai mengerahkan Tong Cu Sin Kang, sedangkan Tio Bun Yang mengerahkan Pan Yok Hain Thian Sin Kang, kemudian ia pun menghimpun Kan Kun Taylo Im Yang Sin Kang, bersiap untuk menangkis serangan Kim Ih Hoat Ong.

"Jurus pertama!"

Teriak Kim Ih Hoat Onp sambil menyerang Tio Bun Yang dengan dahsyat sekali.

Ia menggunakan San Hai Ho Liu Gang Hoat dan mengeluarkan jurus Teng Tia Jun San (Tenang Tegar Bagaikan Gunung).

Kedua lengan jubahnya melembung mengarah kepada Tio Bun Yang.

Tio Bun Yang tahu akan kehebatan Kim Ih Hoat Ong, maka ia menangkis dengan jurus Kan Kun Taylo Bu Pien (Alam Semesta Tiada Balas).

Blam!

Terdengar suara benturan keras Tio Bun Yang termundur-mundur beberapa langkah dengan kening berkerut kerut, Kim Ih Hoat Ongpun termundur-mundur beberapa langkah dengan wajah pucat pias.

Betapa terkejutnya Kim Ih Hoat Ong, karena merasa Iweekangnya berbalik menyerang dirinya sendiri, karena itu ia pun penasaran sekali.

"Jurus kedua!"

Teriaknya sambil menyerang Tio Bun Yang dengan sepenuh tenaga.

Maksudnya ingin mengalahkan Tio Bun Yang dengan jurus ini, yakni jurus San Hai Ho Liu (Gunung Laut dan Arus Sungai), yang paling lihay dan dahsyat.

Tio Bun Yang sudah merasakan kelihayan dan kedahsyatan ilmu pukulan tersebut.

Ia pun mengerahkan Kan Kun Taylo Im Yang Sin Kang pada puncaknya, kemudian menangkis serangan itu dengan jurus Kan Kun Taylo Kwi Cong (Segala-galanya Kembali Ke Alam Semesta).

Daaar!

Blaaaam...!

Terdengar suara seperti ledakan.

Kim Ih Hoat Ong terpental beberapa depa, sedangkan Tio Bun Yang terhuyung-huyung ke belakang tujuh delapan langkah.

Setelah berdiri tegak, ia langsung melesat ke arah Kim Ih Hoat Ong yang telah terkapar dengan mulut mengeluarkan darah.

Ternyata ia telah terluka parah.

"Giok Siauw Sin Hiap, engkau... engkau memang hebat sekali. Aku... aku mengaku kalah."

"Hoat Ong...."

Tio Bun Yang menghela nafas panjang, kemudian menempelkan sepasang telapak tangannya pada punggung Kim Ih Hoat Ong, sekaligus menyalurkan Pan Yok Hian Thian Sin Kang ke dalam tubuhnya.

Berselang beberapa saat, wajah Kim Ih Hoat Ong mulai tampak segar.

Setelah Tio Bun Yang melepaskan sepasang telapak tangannya, Kim Ih Hoat Ong bangkit berdiri.

"Terimakasih, Giok Siauw Sin Hiap!"

Ucapnya.

"Kita tidak bermusuhan, kenapa harus saling membunuh?"

Sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum.

"Cap Sah Sin Ceng! Cepat bebaskan mereka berempat!"

Seru Kim Ih Hoat Ong. Cap Sah Sin Ceng segera membebaskan Toan Beng Kiat, Bokyong Sian Hoa, Yo Kiam Heng dan Lam Kiong Soat Lan.

"Kakak Bun Yang!"

Seru Bokyong Sian Hoa dan Lam Kiong Soat Lan serentak sambil menghampirinya.

"Kakak Bun Yang...."

"Adik Sian Hoa, Soat Lan!"

Sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum.

"Goat Nio!"

Seru kedua gadis itu.

"Sian Hoa, Soat Lan!"

Siang Koan Goat Nio memandang mereka sambil tersenyum lembut. Sementara Toan Beng Kiat dan Yo Kiam Heng mendekati Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong, lalu memberi hormat.

"Kakek! Kakek Lim!"

Panggil Toan Beng Kiat.

"Syukurlah -kalian telah selamat!"

Ujar Gouw Han Tiong sambil tertawa gembira.

"Kakek!"

Toan Beng Kiat tersenyum.

"Sungguh tak disangka, ternyata Bun Yang dan Goat Nio masih hidup!"

Gouw Han Tiong manggut-manggut. Toan Beng Kiat dan Yo Kiam Heng menghampiri Tio Bun Yang.

"Bun Yang!"

Panggil mereka.

"Beng Kiat! Kiam Heng!"

Sahut Tio Bun Yang dengan gembira sekali.

"Kalian selamat!"

"Terimakasih atas pertolonganmu. Bun Yang!"

Ucap Toan Beng Kiat dan Yo Kiam Heng.

"Sama-sama."

Tio Bun Yang tersenyum. Sementara itu, Pancha terus-menerus memandang Bu Ceng Sianli, kemudian memberanikan diri mendekatinya, lalu memberi hormat.

"Nona, kami akan segera kembali ke Manchuria, bolehkah aku tahu nama Nona yang indah dan harum?"

"Hi hi hi!"

Bu Ceng Sianli tertawa cekikikan.

"Namaku Tu Siao Cui. Engkau harus ingat baik-baik, jangan sampai lupa lho!"

"Ya, ya."

Pancha mengangguk.

"Seumur hidup aku tidak akan melupakan nama Nona."

"Hi hi hi!"

Bu Ceng Sianli tertawa geli.

"Nona!"

Pancha menatapnya dengan mata berbinarbinar.

"Kalau Nona sempat, aicu harap sudi berkunjung ke Manchuria!"

"3*ik."

Pu Ceng Sianli manggut-manggut.

"Tunggu, aku pasti ke sana!"

"Terrmakasih, Nona'"

Wajah Pancha berseri-ser;. Putra Mahkota tu tidak tahu kalau Bu Ceng Sianf-' sedang mempermainkannya.

"Tani...,"

Ujar Bu Ceng Sianli setengah berbisik.

"Fngkau sudah punya kekasih di Manchuria."

"Sumpah'"

Sahut Pancha cepat.

"Aku sama seka!i tidak punya kekasih"

"Bohong"

Sela Bokjong Sian Hoa mendadak.

"Kekasihnya banyak sekalii Kakak Siao Cun, jangan meladen.nya!"

"Adik Sian Hoa.. ."

Pancha menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa engkau begitu jahat terhadapku?"

"Engkau yang jahat! Merantaiku di ruang batu!"

Bokyong Sian Hoa memandang Tio Bun Yang seraya berkata.

"Kakak Bun yang, bunuhlah dia'"

"Dia putra pamanmu, bagaimana mungkin aku tega membunuhnya? Lagi pula kalau aku membunuhnya, Kakak Siao Cu pasti marah padaku."

"Betul "

Sahut orang tua pincang mendadak. '"Kelihatannya Bu Ceng Sianli sudah tertarik pada Putra Mahkota Manchuria itu! Ha ha ha...!"

Plak! Ploook! "Aduh!"

Jerit orang tua pincang kesakitan. Ternyata pipinya telah di tampar oleh Bu Ceng Sianli.

"Hmm!"

Dengus Bu Ceng Sianli dingin.

"Sekali lagi menggodaku, engkau past'i mampus!"

"Bun Yang yang duluan menggodamu, tidak engkau apaapakan. Begitu aku menggodamu, engkau langsung menamparku Sungguh tidak adil!"

Ujar orang tua pincang bersungut-sungut.

"Pincang!"

Bentak Bu Ceng Sianli.

"Engkau harus tahu, Bun Yang adalah adikku lho!"

"Adik?"

Orang tua pincang manggut-manggut sambil menyengir.

"Betul, dia adalah adikmu."

"Memang!"

Bu Ceng Sianli melotot. Ia tahu kalau orang tua pincang itu sedang menyindirnya.

"Saudara Bun Yang...."

Pancha segera mendekatinya sambil tertawa-tawa, kemudian berbisik.

"Tolong bujuk kakakmu agar mau datang dr Manchuria!"

"Baik"

Tio Bun Yang mengangguk.

"Aku pasti membantumu dalam hal ini."

"Terimakasih!"

Wajah Pancha berseri.

"Oh ya! Aku minta maaf kepadamu alas tindakan kami terhadap Toan Beng Kiat dan lainnya!"

Tio Bun Yang tersenyum "Itu telah berlalu, yang penting engkau harus mencegah ayahmu, agar tidak meminjamkan pasukannya kepada Menteri Bun!"

"Aku pasti membantu."

Ujar Pancha berjanji.

"Nah, kami harus kembali kerumah Menteri Bun. Sampai jumpa!"

"Sampai jumpa, Saudara Pancha!"

Sahut Tio Bun Yang.

"Giok Siaw Sin Hiap!"

Seru Kim Ih Hoat Ong.

"Kelak kita akan berjumpa lagi, aku tidak akan melupakan budi kebaikanmu!"

"Selamat jalan, Hoat Ong!"

Sahut Tio Bun Yang. Kim Ih Hoat Ong, Pancha dan Cap Sah Sin Eng segera meninggalkan tempat itu, diikuti oleh para pengawal Menteri Bun.

"Bun Yang, Bun Yang...!"

Yo Suan Hiang melesat ke arahnya.

"Engkau dan Goat Nio...."

"Kami masih hidup, Bibi!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Adik Bun Yang!"

Tan Giok Lan tertawa gembira.

"Kakak Bun Yang...."

Ma Giok Ceng menatapnya dengan air mata berlinang.

"Aku gembira sekali karena engkau sudah berkumpul kembali dengan Kakak Goat Nio."

"Terimakasih!"

Ucap Siang Koan Goat Nio sambil tersenyum, padahal sebetulnya ia tidak kenal gadis itu.

"Dia adalah Ma Giok Ceng,"

Tio Bun Yang memperkenalkan.

"Oooh!"

Siang Koan Goat Nio manggut-manggut.

"Ha ha ha!"

Lie Tsu Seng menghampiri mereka sambil tertawa gelak.

"Bun Yang, Goat Nio! Syukurlah kalian telah berkumpul kembali. Mulai sekarang kalian jangan berpisah lagi!"

"Ya, Paman."

Tio Bun Yang dan Siang Koan Goat Nio mengangguk.

"Ayoh!"

Ajak Lie Tsu Seng.

"Mari ke markasku!"

"Maaf!"

Ucap Tio Bun Yang.

"Kami harus segera kembali ke markas pusat Kay Pang, sebab kami harus akan pulang ke pulau Hong Hoang To!"

"Bun Yang...."

Lie Tsu Seng menghela nafas panjang.

"Baiklah, sampai jumpa kelak dan kuucapkan selamat bahagia kepada kalian berdua!"

"Terimakasih, paman!"

Sahut Tio Bun Yang.

"Sampai jumpa...." -ooo0dw0ooo-Bagian ke delapan puluh Penuh kegembiraan dan semarak suasana di Pulau Hong Hoang To Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong, Tio Bun Yang, Siang Koan Goat Nio dan lainnya telah tiba di markas pusat Kay Pang, tampak mereka sedang Hal 96-97 ga ada rah. Aaaah! Hati wanita memang sulit diselami. Untung aku tidak punya isteri, jadi tidak pusing tujuh keliling."

"Masih perjaka tuh!"

Bu Ceng Sianli balas menggodanya.

"Wuah! Bukan main!"

Seru orang tua pincang mendadak sambil tertawa.

"Ha ha ha! Engkau pun tahu kalau aku masih perjaka! Ha! Sungguh luar biasa!"

"Pincang!"

Bentak Bu Ceng Sianli.

"Ha ha ha...!"

Orang tua pincang terus tertawa. Bu Ceng Sianli diam saja dengan wajah merah padam, sedangkan Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong tersenyumsenyum.

"Bun Yang, kapan kalian akan pulang ke pulau Hong Hoang To?"

Tanya Lim Peng Hang.

"Besok pagi,"

Jawab Tio Bun Yang.

"Kakek ikut kan?"

"Kakek pasti ikut,"

Ujar Lim Peng Hang.

"Aku pun ikut,"

Sela orang tua pincang.

"Karena aku harus melamar Lie Ai Ling untuk muridku."

"Oh?"

Tio Bun Yang gembira sekali, kemudian bertanya kepada Gouw Han Tiong.

"Kakek Gouw juga ikut?"

"Tidak."

Gouw Han Tiong tersenyum.

"Aku akan pergi ke Tayli bersama Toan Beng Kiat dan lainnya untuk memberitahukan kabar gembira ini."

"Kakek mau ikut kami ke Tayli?"

Tanya Toan Beng Kiat dengan girang.

"Ng!"

Gouw Han Tiong mengangguk.

"Oh ya!"

Ujar Lim Peng Hang berpesan.

"Undang Wie Kie dan lainnya ke Pulau Hong Hoang To, Bun Yang dan Goat Nio akan melangsungkan pernikahan!"

"Baik."

Gouw Han Tiong manggut-manggut.

"Kakak mau ikut ke Pulau Hong Hoang To?"

Tanya Tio Bun Yang pada Bu Ceng Sianli. Bu Ceng Sianli tersenyum.

"Tidak, sebab aku akan segera mengasingkan diri di suatu tempat."

"Kakak...."

Tio Bun Yang tertegun.

"Baiklah."

Bu Ceng Sianli bangkit dari tempat duduknya.

"Sampai jumpa!"

Mendadak Bu Ceng Sianli melesat pergi. Seketika juga Tio Bun Yang berteriak-teriak memanggilnya.

"Kakak! Kakak! Kakak...!"

"Percuma engkau berteriak memanggilnya,"

Ujar orang tua pincang sambil menghela nafas panjang.

"Dia sudah jauh."

"Aaaah."

Keluh Tio Bun Yang.

"Alangkah baiknya kalau dia hidup tenang di Pulau Hong Hoang To!"

"Tapi sebaliknya Goat Nio pula yang tidak bisa tenang,"

Sahut orang tua pincang.

"Kenapa?"

Tanya Tio Bun Yang.

"Karena Bu Ceng Sianli sangat mencintaimu maka sudah barang tentu akan membuat Goat Nio tidak tenang."

Orang tua pincang memberitahukan.

"Oooh!"

Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Sesungguhnya...,"

Ujar Siang Koan Goat Nio dengan suara rendah.

"Aku tidak berkeberatan kalau Kakak Bun Yang juga memperisterinya."

"Omong kosong!"

Sahut Tio Bun Yang sambil memandangnya.

"Adik Goat Nio, kenapa hari ini engkau omong yang bukan-bukan?"

"Aku merasa kasihan dan simpati padanya,"

Jawab Siang Koan Goat Nio sambil menundukkan kepala.

"Adik Goat Nio...."

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Kalau aku berniat begitu, tentu aku tidak terjun ke jurang itu."

"Kakak Bun Yang, maafkan aku karena telah salah omong!"

Ucap Siang Koan Goat Nio.

"Tidak apa-apa."

Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku tidak bisa menduga kira-kira Bu Ceng Sianli akan pergi ke mana?"

Ujar orang tua pincang.

"Mungkinkah dia pergi menyusul Pancha?"

Tukas Tio Bun Yang.

"Tidak mungkin!"

Orang tua pincang menggelengkan kepala.

"Aku malah percaya dia akan hidup mengasingkan diri di suatu tempat."

"Aaah...!"

Tio Bun Yang menghela nafas panjang.

"Mudah-mudahan dia bertemu pemuda yang baik!" -oo0dw0oo-Betapa gembiranya pihak Pulau Hong Hoang To melihat kedatangan Lim Peng Hang, orang tua pincang, Tio Bun Yang dan Siang Koan Goat Nio. Kou Hun Bijin langsung memeluk putrinya, sedangkan Lim Ceng Im memeluk Tio Bun Yang erat-erat sekaligus membelainya dengan penuh kasih sayang.

"Nak, engkau...."

Lim Ceng Im terisak-isak saking gembiranya.

"Ibu, aku dan Goat Nio sudah pulang,"

Ujar Tio Bun Yang sambil tersenyum.

"Ibu jangan bersedih lagi!"

"Nah, Ibu girang sekali karena kalian masih hidup. Thian (Tuhan) memang Maha Adil!"

"Nak!"

Tio Cie Hiong tersenyum-senyum memandangnya.

"Syukurlah kalian berdua sudah pulang!"

"Ayah...."

Tio Bun Yang tertawa gembira.

"Apa yang Ayah katakan memang benar, menghadapi apa pun harus tabah dan tegar."

"Ha ha ha!"

Tio Cie Hiong tertawa gelak dengan penuh kegembiraan.

"Ha ha ha...!"

Sementara Sie Keng Hauw juga bersujud di hadapan orang tua pincang dan gurunya itu pun tertawa terbahakbahak.

"Ha ha ha! Kini semuanya telah beres, jadi aku pun sudah boleh bergurau di pulau ini!"

"Guru..."

Sie Keng Hauw bangkit berdiri sambil tersenyum, lalu berbisik-bisik.

"Bun Yang dan Goat Nio sudah pulang, kini sudah saatnya guru...."

"Guru tahu! Guru tahu!"

Orang tua pincang tertawa lagi.

"Kalau tidak, untuk apa aku ke mari?"

"Terimakasih, Guru!"

Ucap Sie Keng Hauw.

"Nah!"

Seru Tio Tay Seng mendadak dengan nada gembira.

"Semuanya silakan duduk!"

Mereka yang berdiri segera duduk, setelah itu Tio Tay Seng berseru lagi.

"Bun Yang! Tuturkanlah apa yang telah terjadi di dasar jurang itu!"

"Aku jatuh di telaga yang di dasar jurang itu...."

Tutur Tio Bun Yang sejelas-jelasnya. Tio Tay Seng dan lainnya mendengarkan dengan mulut ternganga lebar, kemudian seusai Tio Bun Yang menutur, Tio Tay Seng berkata.

"Kalau kami menyelam di telaga itu, tentunya akan bertemu kalian."

"Belum tentu,"

Ujar Tio Bun Yang menjelaskan.

"Sebab telaga itu sangat dalam, lagi pula belum tentu akan terjadi pusaran air di dasar telaga."

"Oooh!"

Tio Tay Seng inanggul manggut.

"Kenapa Gouw Han Tiong tidak ikut ke situ?"

"Dia pergi ke Tayli bersama Toan Beng Kiat dan lainnya,"

Sahut Lim Peng Hang dan kemudian menutur tentang kejadian itu.

"Pihak Manchuria sudah meninggalkan Tionggoan."

"Begitu tinggi kepandaian Kim Ih Hoat Ong?,'"

Tanya Kou Hun Bijin kurang percaya.

"Betul."

Tio Bun Yang mengangguk.

"kalau aku tidak memiliki Pan Yok Hian Thian Sin Kang. tentu terluka oleh pukulannya."

"Syukurlah kini urusan itu telah beres. Hanya saja...."

Lim Ceng Im menggeleng-gelengkan kepala.

"Bu Ceng Sianli tidak ikut ke mari."

"Lebih baik dia tidak ke mari."

Ujar orang tua pincang.

"Sebab dia sangat mencintai Bun Yang. Kalau dia berada di sini, aku justru khawatir akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan."

"Itu tidak mungkin,"

Sahut Tio Bun Yang.

"Bun Yang!"

Orang tua pincang menatapnya.

"Cinta bisa membuat orang jadi buta dan nekad lho!"

Ujarnya.

"Paman tua!"

Tio Bun Yang tersenyum.

"Aku tetap mempercayai Bu Ceng Sianli tidak akan begitu, sebab aku sudah tahu bagaimana sifatnya."

"Betul."

Siang Koan Goat Nio manggut-manggut.

"Bu Ceng Sianli berhati mulia, dia tidak akan begitu."

"Kalian berdua...."

Orang tua pincang menggelenggelengkan kapala.

"Memang berhati polos."

"Ha ha ha! Kepolosan mereka justru menuntun mereka ke jalan yang benar dan penuh kebahagiaan!"

Terdengar suara sahutan, kemudian melayang turun seorang padri tua.

"Omitohud...."

"Tayli Lo Ceng!"

Seru Tio Tay Seng dengan gembira.

"Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.

"Lo Ceng, angin apa yang meniupmu ke mari?"

"Omitohud!"

Sahut Tayli Lo Ceng.

"Aku ke mari karena ingin minum arak kebahagiaan."

"Kepala gundul!"

Kou Hun Bijin menatapnya.

"Di saat kami dilanda duka, engkau sama sekali tidak muncul! Kini dalam suasana gembira dan semarak, engkau malah ke mari! Dasar kepala gundul!"

"Ha ha ha! Kalau aku muncul di saat kalian di landa duka, tentu kalian akan bertambah duka. Kini aku ke mari, sudah pasti kalian akan bertambah gembira. Begitu pula aku. Ya, kan? Omitohud!"

"Sudahlah! Cepat duduk!"

Sahut Kou Hun Bijin.

"Oh ya!"

Tayli Lo Ceng memandang Si Pincang sambil duduk.

"Bukankah engkau ingin melamar Lie Ai Ling untuk muridmu? Kenapa malah diam saja?"

"Eh?"

Orang tua pincang terbelalak.

"Lo Ceng kok tahu?"

"Dia peramal yang tak laku,"

Sahut Kou Hun Bijin dan menambahkan.

"Tapi kepandaiannya tinggi sekali."

"Oh, ya?"

Tiba-tiba orang tua pincang teringat sesuatu.

"Lo Ceng adalah Tayli Sin Ceng?"

"Omitohud!"

Ucap Tayli Lo Ceng sambil mengangguk.

"Ayahmu yang memberitahukan?"

"Ya."

Orang tua pincang segera memberi hormat.

"Lo Ceng, terimalah hormatku!"

"Omitohud!"

Tayli Lo Ceng tersenyum.

"Cepatlah ajukan lamaranmu kepada Lie Man Chiu!"

"Ya, Lo Ceng."

Orang tua pincang mengangguk.

"Man Chiu, aku melamar putrimu untuk Sie Keng Hauw muridku."

"Ha ha ha."

Tio Tay Seng tertawa gelak.

"Engkau tidak melamar pun mereka akan kami nikahkan!"

"Terimakasih, Tio Tocu!"

Orang tua pincang tertawa gembira.

"Ha ha ha!"

Tayli Lo Ceng memandang Tio Bun Yang dan Siang Koan Goat Nio seraya bertanya.

"Kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?"

"Setelah pihak Tayli ke mari,"

Jawab Tio Bun Yang.

"Ngmm!"

Tayli Lo Ceng manggut-manggut, Di saat itulah mendadak Lu Hui San bersuara.

"Lo Ceng sudah bertemu Khong Sim Ni Kouw?"

"Omitohud!"

Sahut Tayli Lo Ceng.

"Kami sudah bertemu."

"Lo Ceng, bagaimana keadaannya?"

Tanya Lu Hui San.

"Dia lebih bahagia dari pada kita,"

Jawab Tayli Lo Ceng.

"Sebab kini dia telah berada di surga."

"Apa?"

Wajah Lu hui San langsung berubah murung.

"Khong Sim Ni Kouw sudah meninggal?"

"Ya."

Tayli Lo Ceng mengangguk.

"Omitohud...."

Di saat mereka sedang bercakapcakap, mendadak muncul Ngo Tok Kauwcu Phang Ling Cu.

"Kakak Ling Cu!"

Seru Tio Bun Yang girang.

"Kakak Ling Cu...."

"Adik Bun Yang,"

Sahut Ngo Tok Kauwcu sambil tersenyum,.

"Engkau dan Goat Nio...."

"Mereka berdua tidak jadi mati,"

Ujar orang tua pincang, yang bermulut usil seperti Sam Gan Sin Kay.

"Sebab mereka berdua harus melangsungkan pernikahan."

"Pincang!"

Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.

"Aku tidak menyangka kalau engkau pun begitu usil. Hati-hati terhadap Kou Hun Bijin, karena dia akan menamparmu."

"Ha ha ha!"

Orang tua pincang tertawa.

"Sudah dua kali aku di tampar oleh Bu Ceng Sianli. Kalau sekarang ditampar Kou Hun Bijin, sudah tidak jadi masalah."

"Pengemis bau!"

Kou Hun Bijin melotot.

"Engkau berani menyindirku?"

"Aku tidak menyindir."

Sam Gan Sin Kay tersenyum.

"Bukankah engkau pernah menamparku?"

"Kalau engkau banyak omong lagi. gigimu pasti rontok!"

Ujar Kou Hun Bijin sengit "Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa terbahak-bahak.

"Gigiku tidak bakal rontok, karena aku sudah ompong!"

"Dasar pengemis bau!"

Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.

"Sama,"

Ujar orang tua pincang rnendadak.

"Persis seperti Bu Ceng Sianli yang suka tertawa cekikikan! Ha ha ha...!"

"Jangan-jangan mereka berdua kakak beradik!"

Sam Gan Sin Kay menyengir.

"Sayang sekali dia tidak ke mari!"

Kou Hun Bijin menghela nafas panjang dan menambahkan "Aku akan mengangkat saudara dengan dia."

Sementara Tio Bun Yang memperkenalkan mereka kepada Ngo Tok Kauwcu. Segeralah Ngo Tok Kauwcu memberi hormat. Setelah itu, Tio Bun Yang pun bertanya.

"Kenapa kakak Ling Cu ke mari? Apakah sudah tahu tentang aku dan Goat Nio?"

"Ya."

Ngo Tok Kauwcu mengangguk.

"Bu Ceng Sianli yang memberitahukan kepadaku."

"Dia?"

Tio Bun Yang tertegun.

"Dia ke markasmu memberitahukan padamu?"

"Ng!"

Ngo Tok Kauwcu mengangguk lagi.

"Maka aku segera ke mari."

"Kakak Ling Cu tahu dia pergi ke mana?"

Tanya Tio Bun Yang mendadak. Ngo Tok Kauwcu menggelengkan kapala.

"Setelah memberitahukan, dia langsung melesat pergi tanpa pamit."

Ngo Tok Kauwcu menghela nafas panjang.

"Aaaah...!"

Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala. Ngo Tok Kauwcu memandang Tio Bun Yang seraya bertanya.

"Kapan engkau dan Goat Nio akan melangsungkan pernikahan?"

"Setelah pihak Tayli ke mari,"

Jawab Tio Bun Yang dengan wajah agak kemerah-merahan.

"Oooh!"

Ngo Tok Kauwcu manggut-manggut.

"Kakak Ling Cu, silakan duduk!"

Ucap Tio Bun Yang.

"Terimakasih!"

Ngo Tok Kauwcu duduk, kemudian bercakap-cakap dengan Siang Koan Goat Nio.

-oo0dw0oo-Tujuh hari kemudian pihak Tayli tiba di Pulau Hong Hoang To.

Betapa gembiranya mereka ketika melihat Tayli Lo Ceng, dan mereka bersujud di hadapan padri tua itu.

"Omitohud!"

Ucap Tayli Lo Ceng sambil tersenyum lembut.

"Bangunlah kalian!"

Mereka bangkit berdiri, lalu memberi hormat kepada tingkatan tua pihak Pulau Hong Hoang To.

"Ha ha ha"

Tio Tay Seng tertawa gembiia.

"Terimakasih atas kedatangan kalian!"

"Cie Hiong!"

Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong menghampirinya sambil tersenyum.

"Kami ucapkan selamat padamu!"

"Terimakasih, terimakasih!"

Sahut Tio Cie Hiong.

"Kini kita sudah tenang,"

Ujar Toan Wie Kie.

"Sungguh tak disangka, kemunculan Bun Yang dan Goat Nio justru menyelamatkan putraku dan lainnya!"

"Kita semua harus bersyukur kepada Thian (Tuhan) Yang Maha Adil, Bijaksana dan Pengasih,"

Ucap Tio Cie Hiong. Sementara itu, Gouw Han Tiong, Lim Peng Hang dan lainnya juga sedang bercakap-cakap dengan serius sekali.

"Kami mendengar suatu berita yang sangat mengejutkan di Tionggoan,"

Ujar Gouw Han Tiong.

"Berita tentang apa?"

Tanya Lim Peng Hang tegang.

"Menteri Bun telah tewas."

Gouw Han Tiong memberitahukan. Lim Peng Hang terbelalak.

"Siapa yang membunuhnya?"

"Salah seorang menteri yang menaruh dendam kepadanya."

Gouw Han Tiong menggeleng-gelengkan kepala.

"Menteri itu memfitnahnya telah bersekongkol dengan Lie Tsu Seng, maka kaisar menurunkan perintah menghukum mati padanya."

"Aaaah...!"

Lim Peng Hang menghela nafas panjang.

"Kini pasti menteri itu yang berkuasa!"

Tukasnya.

"Betul."

Gouw Han Tiong manggut-manggut dan menambahkan.

"Karena menteri itu adalah kawan baik jenderal Gouw Sam Kui."

"Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.

"Gouw Sam Kui pasti familimu, karena kalian bermarga Gouw."

"Sudahlah."

Sela Kou Hun Bijin.

"Jangan terus membicarakan itu, lebih baik membicarakan pernikahan putriku dengan Bun Yang. Kapan mereka berdua akan dinikahkan?"

"Bijin, kenapa engkau yang kalut?"

Sahut Sam Gan Sin Kay.

"Tentu. Sebab Goat Nio adalah putri kami satu-satunya,"

Ujar Kou Hun Bijin.

"Sama,"

Sahut Sam Gan Sin Kay.

"Bun Yang juga anak tunggal. Oleh karena itu, mereka berdua harus menikah besok."

"Setuju."

Kou Hun Bijin tertawa gembira.

"Hi hi hi! Putri kami akan menikah besok! Hi hi hi...!"

"Kalau begitu muridku juga harus menikah dengan Lie Ai Ling besok."

Sela orang tua pincang.

"Setuju. Memang sudah waktunya putriku menikah dengan Sie Keng Hauw."

Sahut Lie Man Chiu.

"Ha ha ha!"

Sam Gan Sin Kay tertawa terbahak-bahak.

"Pokoknya pesta harus berlangsung tiga hari tiga malam!"

"Omitohud!"

Ucap Tayli Lo Ceng sambil tersenyum.

"Setelah Bun Yang menikah dengan Goat Nio dan Sie Keng Hauw menikah dengan Lie Ai Ling, maka kalian semua harus berangkat ke Tayli. Karena Toan Beng Kiat akan menikah dengan Bokyong Sian Hoa dan Yo Kiam Heng akan menikah dengan Lam Kiong Soat Lan."

"Baik."

Sahut Tio Tay Seng.

"Kami semua pasti ke sana."

"Aku punya usul,"

Ujar Tio Cie Hiong mendadak sambil tersenyum serius.

"Usul apa?"

Kou Hun Bijin tercengang.

"Kam Hay Thian dan Lu Hui San juga harus menikah besok,"

Sahut Tio Cie Hiong.

"Setuju!"

Seru yang lain sambil tertawa gembira.

Tio Bun Yang dan Siang Koan Goat Nio saling memandang, kemudian tersenyum bahagia.

Begitu pula Sie Keng Hauw, Lie Ai Ling, Kam Hay Thian dan Lu Hui San, mereka pun tampak tersenyum bahagia.

TAMAT

Baca Juga: Jaka Lola 9

Baca Juga: Rajawali Hitam 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert