Ceritasilat Novel Online

Rajawali Hitam 4

Eps 4 Rajawali Hitam - Kho Ping Hoo

Baca online Rajawali Hitam - Kho Ping Hoo

Cersil Rajawali Hitam - Kho Ping Hoo.

"Ahh, belum tiba saatnya untuk memberontak. Kerajaan Ceng terlampau kuat. Akan tetapi aku percaya bahwa orang-orang kang-ouw yang masih mempunyai perasaan mencinta tanah air, tidak akan sudi menjadi antek pemerintah penjajah. Yang dapat mereka tarik tentu hanya tokoh-tokoh kang-ouw yang sesat saja. Aku tidak dapat membayangkan bahwa para kaipang akan menjadi antek penjajah. Mungkin mereka pura-pura tunduk karena takut, akan tetapi jarang di antara mereka yang mau memusuhi para pendekar. Tentu saja ada kecualinya, yaitu kai-pang yang memang sudah menjadi golongan sesat."

"Aku juga prihatin memikirkan keadaan panglima Song Thian Lee dan isterinya, enci Tang Cin Lan. Kalau pemerintah merangkul golongan sesat memusuhi para pendekar patriot, berarti Panglima Song harus bekerja sama dengan golongan sesat dan memusuhi kaum pendekar."

"Ha-ha, apakah engkau belum mendengar, nona Souw? Song Thian Lee telah mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai panglima dan dia bersama isteri dan puteranya telah meninggalkan kota raja dan tinggal di Tung-sin-bun."

"Ah, benarkah, lo-cian-pwe? Ah, aku ikut gembira mendengar ini!"

"Akan tetapi, baru saja aku pergi ke sana untuk mengunjungi mereka dan mendengar bahwa mereka sekeluarga terpaksa melarikan diri setelah rumah mereka diserbu serombongan orang jahat. Menurut para tetangganya, mereka dituduh pemberontak dan didatangi pasukan untuk menangkap mereka. Song Thian Lee dan anak isterinya telah melarikan diri meninggalkan Tung-sinbun dan aku tidak tahu ke mana mereka pergi."

Pek I Lo-kai menghela napas panjang.

"Sebetulnya, aku sudah merasa rindu kepada muridku Cin Lan. Kasihan sekali mereka, begitu Song Thian Lee mengundurkan diri sebagai panglima muda, langsung saja dia dicap pemberontak dan dikejar-kejar."

Lee Cin mengepal tinjunya.

"Jahanam benar penjajah Mancu! Siapa yang tidak mau menjadi antek mereka, langsung saja disebut pemberontak! Kita harus hancurkan penjajah, lo-cian-pwe.� "Ho-ho, tidak begitu mudah, nona muda! Pemerintah memiliki pasukan yang besar dan kuat. Mempunyai panglima-panglima yang lihai, apa lagi dibantu oleh para tokoh sesat yang berilmu tinggi. Apa yang dapat kita lakukan? Sekarang belum tiba saatnya untuk memberontak. Kita harus bersatu padu menyusun kekuatan, terutama menggerakkan seluruh lapisan rakyat, baru kita mempunyai kekuatan dan kesempatan untuk menumbangkan kekuasaan penjajah. Sekarang, untuk sementara ini, kita hanya dapat bertindak sebagai golongan pendekar, menegakkan kebenaran dan keadilan, membela si lemah yang tertindas dan menentang si kuat yang menindas."

"Akan tetapi, penindasnya adalah para pembesar penjajah, lo-cian-pwe." �Pembesar bangsa Mancu atau bangsa Han, kalau dia menindas rakyat harus kita tentang, kita kaum pendekar berkewajiban untuk menentang si jahat siapapun dan dari golongan atau bangsa apapun mereka itu. Dan kita semua harus bersiap-siap untuk mendukung kalau waktunya tiba untuk mengadakan perjuangan melawan penjajah."

"Lo-cian-pwe benar,"

Kata Lee Cin yang kemudian teringat bahwa kakek ini agaknya mengerti akan apa yang terjadi di seluruh tanah air, lalu bertanya.

"Bagaimana pendapat lo-cian-pwe dengan para patriot seperti Keluarga Cia di kaki bukit Lo-sian itu? Atau lo-cianpwe tidak pernah mendengar tentang mereka?"

"Keluarga Cia? Ah, tentu saja aku pernah mendengar tentang mereka. Mereka adalah keluarga patriot, akan tetapi mereka itu melakukan perjuangan secara membuta, mau bersekutu dengan golongan sesat untuk memusuhi penjajah. Gerakan seperti itu adalah keliru, dan gerakan mereka yang bersekutu dengan pasukan pemberontak, golongan sesat dan para bajak laut Jepang telah menderita kegagalan dan kehancuran. Perjuangan seperti itu tidak akan dilakukan oleh para pat riot sejati. Patriot sejati tidak akan mengotori perjuangan dengan hubungan persahabatan dengan para golongan sesat. Betapa banyaknya sekarang ini muncul perkumpulan-perkumpuIan pejuang seperti itu. Mereka merangkul tokoh-tokoh sesat yang lihai untuk memperkuat diri mereka. Mereka memang mengganggu pasukan pemerintah, akan tetapi mereka juga merampok dan melakukan kejahatan lain lagi. Mereka hanya mencemarkan perjuangan yang suci."

"Siapakah mereka, Lo-cian-pwe?"

"Yang aku ketahui hanya tiga yang terbesar, yaitu Thianli-pang, Pek-lianpang dan Pat-kwa-pang. Karena sepak terjang mereka yang tidak pantang melakukan kejahatan, para pendekar juga menentang mereka. Mereka menutupi kejahatan mereka dengan kata perjuangan, mereka minta derma dengan paksa atas nama perjuangan. Pek-lian-pang bergerak di wilayah barat, Thian-lianpang bergerak di wilayah Utara dan Pat-kwa-pang bergerak di wilayah selatan. Perkumpulan-perkumpulan seperti itu berjuang melawan pemerintah penjajah dengan tujuan mencari kemuliaan dan kedudukan untuk diri sendiri. Sedangkan para patriot sejati berjuang dengan satu tujuan, yaitu membebaskan tanah air dan bangsa dari belenggu penjajahan, tanpa pamrih apapun untuk diri sendiri. Itulah bedanya."

Mendengar ucapan ini, Lee Cin teringat akan Cia Tin Han.

Betapa sama pendapat Pek I Lo-kai ini dengan pendapat pemuda yang dicintanya itu.

Tin Han adalah seorang patriot sejati!

Jantungnya terasa pedih begitu ia teringat akan pemuda itu.

"Tahukah lo-cian-pwe di mana adanya Keluarga Cia sekarang?"

Tentu saja yang dimaksudkan Lee Cin adalah untuk mencari tahu di mana adanya Tin Han. sekarang.

"Aku tidak tahu, nona. Aku hanya mendengar setelah mereka yang bersekongkol dengan pasukan yang memberontak di timur digagalkan oleh Song Thian Lee, mereka menghilang dan tidak terdengar lagi beritanya. Dan sekarang, engkau hendak pergi ke manakah, Nona Souw?"

"Aku hendak melanjutkan perjalananku merantau, locian-pwe. Dan lo-cianpwe hendak ke manakah?"

"Aku akan mencari di mana adanya Song Thian Lee dan Tang Cin Lan."

"Kalau begitu, selamat jalan dan selamat berpisah, locian-pwe. Kalau bertemu dengan Lee-ko dan enci Cin Lan, sampaikan salamku kepada mereka."

"Selamat berpisah, nona Souw. Aku senang sekali dapat bertemu denganmu."

Mereka lalu berpisah dan Lee Cin kembali ke kota Liokbun.

Malam itu ia bermalam di rumah penginapan Hoktiam dan dapat tidur pulas karena ia merasa lelah sekali.

-ooOoo-Pada keesokan harinya, pagi-pagi Lee Cin sudah meninggalkan rumah penginapan Hok-tiam di kota Liok-bun dan ia melanjutkan perjalanannya ke timur.

Pada suatu hari, di luar sebuah dusun di lereng Bukit Awan, selagi Lee Cin berjalan seorang diri seenaknya di tempat yang sunyi itu, tiba-tiba dari belakang terdengar derap kaki kuda.

Seorang penunggang kuda membalap di sebelahnya dan tiba-tiba penunggang kuda itu menahan kudanya dan dia menoleh, memandang kepada Lee Cin dengan pandang mata tajam penuh selidik.

Lee Cin balas memandang dengan penuh perhatian akan ia merasa tidak mengenal laki-laki itu.

Dia seorang laki-laki yang berusia kurang lebih tigapuluh tahun, mengenakan pakaian berwarna serba hijau, bertubuh sedang dan berwajah tampan.

Rambutnya yang di kuncir panjang melibat lehernya, membuat dia tampak lebih gagah lagi.

Di punggungnya terselip sebatang tongkat bambu kuning.

Lee Cin tidak mengenal laki-laki ini dan ia mengerutkan alisnya ketika orang itu mengamatinya seperti itu.

Sebelum ia menegur marah, laki-laki itu telah meloncat turun dari atas kudanya dan bertanya, suaranya lembut dan so-pan.

"Maaf, nona. Apakah nona She Souw ?"

"Benar, siapa engkau dan mengapa engkau bertanya demikian?"

Wajah laki-laki itu berubah berseri.

"Kalau begitu, nona tentu bernama Souw Hiang, bukan ? "

"Bukan, namaku Souw Lee Cin. Engkau siapakah?"

"Ah, maafkan aku kalau begitu aku salah sangka, nona. Wajah nona mirip nona Souw Hiang, maka aku bertanya padamu. Aku Yauw Seng Kim, tentu tidak nona kenal. Sekali lagi maafkan kekeliruanku, nona."

Laki-laki itu meloncat ke atas kudanya lagi dan membalapkan kudanya ke depan.

Lee Cin tersenyum geli.

Mengapa begitu kebetulan?

Wajahnya mirip dan she-nya sama pula.

Ia tahu bahwa banyak terdapat orang she Souw maka hal itu dianggapnya biasa saja dan ia sudah melupakan lagi laki-laki itu setelah kuda dan penunggangnya lenyap di sebuah tikungan.

Sama sekali ia tidak tahu bahwa baru saja ia bertemu dengan seorang musuh besar yang mengancam keselamatannya.

Pemuda tadi adalah Yauw Seng Kun, pemuda yang ingin membalas dendam atas kematian gurunya, yaitu mendiang Jeng ciangkwi yang tewas di tangan Lee Cin.

Ketika melewati Lee Cin, dia teringat bahwa gadis itulah Lee Cin yang dicarinya maka dia menggunakan akal menanyakan she gadis itu.

Begitu mengetahui bahwa gadis itu benar musuh besarnya, maka dia lalu bersiasat, pura-pura mencari gadis she Souw yang lain lagi namanya, akan tetapi dalam hatinya dia mencatat bahwa gadis ini yang dicarinya.

Karena pernah mendengar betapa lihainya musuh besarnya itu, dia tidak mau sembrono dan langsung menyerangnya, maka dia segera meninggalkan gadis itu dan membalapkan kudanya.

Setelah hari mulai condong ke barat Lee Cin tiba di lereng bukit yang berhutan.

Dari lereng itu ia dapat melihat ke kaki bukit dan melihat genteng-genteng rumah penduduk dusun di bawah.

Ia lalu mempercepat jalannya agar dapat tiba di dusun itu sebelum senja.

Tiba-tiba ia mendengar jerit wanita.

"Tolooongg..... !"

Mendengar ini, Lee Cin berhenti berlari dan menoleh ke arah kiri.. Dari hutan itulah suara tadi datang.

"Tolonggg.... lepaskan aku, ahh...... lepaskan...... toloooong..... !"

Mendengar ini, Lee Cin cepat melompat ke dalam hutan dan lari ke arah datangnya suara itu.

Tak lama kemudian ia melihat seorang laki-laki sedang bergumul dengan seorang wanita.

Wanita itulah yang menjerit-jerit tadi.

Melihat laki-laki itu hendak memperkosa wanita naiklah darah Lee Cin.

Ia melihat bahwa laki-laki itu adalah si penunggang kuda yang berpakaian serba hijau tadi.

Tanpa banyak cakap lagi ia segera melompat dekat dan tangannya men cengkeram leher baju orang itu dan menariknya keras-keras.

Laki-laki itu terkejut dan setelah leher bajunya dilepaskan, dia langsung menyerang Lee Cin dengan pukulan tangan kanannya.

Pukulan itu kuat sekali dan ilmu silatnya juga hebat.

Lee Cin mengelak dan mereka segera saling serang dengan serunya.

Ilmu silat orang itu berdasarkan pat-kwa (segi delapan) dengan perubahan-perubahan yang membingungkan, akan tetapi ketika Lee Cin menggunakan it-yang-ci, terbalik orang baju hijau itulah yang terkejut dan berulang kali terpaksa menjauhkan diri agar jangan sampai terkena totokan yang amat lihai itu.

Laki-laki itu bukan lain adalah Yauw Seng Kun!

Setelah mengerahkan tenaga dan ilmu silatnya untuk menyerang Lee Cin tanpa hasil, bahkan setelah lewat limapuluh jurus dia terdesak, Seng Kun lalu mencabut tongkat bambu kuning dari punggungnya dan menyerang Lee Cin dengan senjatanya yang ampuh.

Lee Cin mengelak ke sana sini dan maklum bahwa lawannya memang tangguh.

Maka iapun cepat melolos pedang Ang-coa-kiam dan kini balas menyerang dengan ganas.

Terjadilah pertandingan mati-matian karena Seng Kun berniat sungguh-sungguh untuk membunuh musuh besarnya.

Akan tetapi ternyata benar yang dikhawatirkan tadi, ilmu kepandaian Lee Cin amat hebat dan sama sekali dia tidak mampu mendesak bahkan lewat puluhan jurus dia mulai terkurung sinar pedang yang putih berkilauan itu.

Maklum bahwa dia tidak akan mampu menang, Seng Kun melompat ke kiri di mana kudanya berada dan langsung dia membalapkan kudanya meninggalkan tempat itu.

Lee Cin tidak mengejar dan mendengar isak tangis, ia lalu cepat menghampiri wanita tadi.

Ia seorang wanita yang usianya kurang lebih duapuluh lima tahun, cantik manis dan pakaiannya mewah.

Ia menangis terisak-isak dan airmatanya membasahi kedua pipinya.

"Diamlah, enci. Penjahat itu telah pergi. Engkau siapakah enci, dan tinggal di mana? Bagaimana engkau bisa berada di sini dan diserang orang tadi?"

"Aku..... aku Siu Lan.... seorang janda yang tinggal di dusun sana itu. .....� Wanita itu berkata sambil terisak-isak dan ketika ia mencoba melangkah, tubuhnya terguling. Tubuh itu tentu akan terpelanting kalau saja Lee Cin tidak cepat-cepat merangkulnya.

"Hati-hati, enci....."

Tiba-tiba wanita itu mengeluarkan sehelai saputangan merah dan mengebutkan saputangan itu ke muka Lee Cin.

Karena sedang merangkul dan sama sekali tidak menduga akan serangan itu, Lee Cin tidak sempat mengelak lagi.

Ia mencium bau keras yang menyengat hidungnya.

Ia cepat meloncat ke belakang, akan tetapi pandang matanya menjadi gelap dan iapun roboh pingsan karena menyedot bau racun pembius yang amat ampuh Tubuh Lee Cin memang sudah kebal racun, akan tetapi racun yang masuk ke tubuh melalui mulut atau melalui luka, ia tidak kebal.

Bahkan ibunya sendiripun tidak kebal terhadap racun yang masuk melalui penciuman ini....

Muncullah Yang Seng Kun dari balik semak belukar.

Kiranya pemuda ini tadi hanya berpura-pura saja melarikan kudanya, padahal dia berhenti lagi dan kembali dengan berlari dan mengintai apa yang terjadi.

Kini dia muncul dan berseru.

"Bagus sekali Mo-li (Wanita Iblis), sandiwaramu bagus sekali sehingga kita berhasil!"

Wanita yang mengaku bernama Sui Lan itu menoleh dan tertawa.

"Hi-hik, engkau juga pandai bermain sandiwara menjadi tukang perkosa, agaknya engkau memang sudah biasa memperkosa wanita!"

Ia menggoda.

"Serahkan ia kepadaku, Mo-li "

Wanita itu memang bernama Teng Sui Lan, akan tetapi lebih terkenal dengan julukan Ban-tok Mo-li (Wanita Iblis Selaksa Racun).

Ban-tok Mo-li Teng Siu Lan adalah seorang tokoh baru dalam kalangan sesat di dunia kangouw.

Ia datang dari selatan dan sejak lama ia telah menjadi sahabat baik Yauw Seng Kun.

Karena sama-sama dari satu golongan, mereka segera menjadi akrab, bukan hanya sebagai teman melainkan juga sebagai kekasih.

Sen Kun segera membawanya ke Pulau Naga untuk bergabung dengan beng-cu Ouw Kwan Lok.

Kemudian mereka berdua mendapat tugas untuk membujuk orang-orang kang-ouw agar mau bergabung dengan beng-cu Ouw Kwan Lok di Pulau Naga.

Pada siang hari itu, Seng Kun melakukan perjalanan untuk menyusul kekasihnya yang berada di dusun bawah bukit itu.

Secara kebetulan dia bertemu dengan Lee Cin di tengah perjalanan dan setelah yakin bahwa gadis itu Souw Lee Cin musuh besar yang dicari-carinya, dia lalu membalapkan kudanya menuju ke dusun.

Setelah bertemu dengan Bantok Mo-li, dia segera mengatur siasat untuk menjebak Lee Cin.

Tadinya dia yang berpura-pura menjadi pemerkosa itu menguji kepandaian Lee Cin, akan tetapi kemudian dia tahu bahwa gadis itu benar-benar amat lihai dan tak dapat dikalahkannya.

Karena itu dia melarikan diri, kemudian kembali dengan, berlari untuk membantu Ban-tok Mo-li kalau-kalau wanita iblis itu gagal membius Lee Cin.

Akan tetapi ternyata Ban tok Mo-li berhasil baik dan dengan girang Seng Kun lalu muncul dan memuji kekasihnya itu.

"Serahkan kepadamu untuk kauperkosa?"

Ban-tok Mo-li bertanya dengan alis berkerut.

"Kau hendak mengkhianati cintaku? "

Wajah Seng Kun berubah merah. 'Tidak, aku akan menyiksanya dulu lalu membunuhnya!"

Katanya dengan geram, teringat akan gurunya yang tewas di tangan Lee Cin.

Dia mendekati tubuh Lee Cin, lalu menotoknya untuk membuat gadis itu tidak dapat menggerakkan kedua tangannya kalau sadar nanti kemudian dia masih mengeluarkan tali yang kuat untuk membelenggu kedua tangan Lee Cin ke belakang tubuhnya.

Pada saat itu Lee Cin membuka matanya.

Tubuhnya yang kuat itu hanya sebentar saja terpengaruh bius.

Akan tetapi setelah ia sadar dan hendak bangkit, ia tidak dapat menggerakkan kedua tangannya dan selain lumpuh tertotok, juga terbelenggu.

Dengan susah payah ia dapat bangkit dan bangun berdiri karena ia masih mampu menggerakkan kedua kakinya.

Ia memandang kepada laki-laki dan wanita itu.

"Seng Kun, aku tidak sudi melihat engkau memperkosanya dan akupun tidak ingin engkau membunuhnya."

Le Cin yang berdiri dengan kedua tangan terbelenggu memandang mereka dan mendengarkan percakapan itu.

"Hemm, ia musuh besarku, mengapa aku tidak boleh membunuhnya, Mo-li?"

"Seng Kun, lupakah engkau akan pesan Beng-cu? Dia berpesan kepada kita untuk mencari tiga orang, yaitu Song Thian Lee, Tang Cin Lan, dan Souw Lee Cin. Sekarang kita sudah mendapatkan seorang di antara mereka, tidak boleh membunuhnya, harus dihadapkan kepada Beng-cu. Kalau Beng-cu tahu bahwa engkau membunuhnya, apa yang akan dilakukannya terhadapmu, terhadap kita? Tidak, engkau tidak boleh membunuhnya!"

"Akan tetapi ia musuh besarku yang telah membunuh guruku!"

Bantah Seng Kun.

"Oleh Beng-cu ia akan dibunuh juga, atau engkau nanti boleh minta kepada Beng-cu agar engkau yang membunuhnya. Bukankah itu sama juga? Pendeknya, aku tidak mau engkau membunuhnya sekarang dan kita harus membawanya menghadap Beng-cu. Ingat, akulah yang menangkapnya, bukan engkau!"

Lee Cin yang mendengarkan percakapan itu lalu tersenyum mengejek.

"Hemm, kalian sungguh orang-orang pengecut yang tidak tahu malu. Kalau memang kalian memiliki kegagahan, mengapa menjebakku dengan cara yang demikian curangnya? Kalau berani, lepaskan aku dan kalian boleh mengeroyokku, kita bertanding sampai seorang di antara kita menggeletak tak bernyawa lagi!"

"Hemm, perempuan sombong! Engkau sudah terjatuh ke tangan kami, nyawamu berada di telapak tangan kami dan engkau masih berani bersikap sombong?"

Bentak Ban-tok Mo-li dengan muka merah.

Baru sekarang ada orang berani menghinanya seperti itu, mengatakan ia pengecut dan curang, tanpa ia dapat berbuat sesuatu karena ia tahu bahwa kalau dilepaskan, Lee Cin merupakan lawan yang amat berbahaya dan ia sangsi apakah ia dan Seng Kim berdua akan mampu mengalahkannya.

"Kau perempuan tak tahu malu!"

Bentak Lee Cin marah sekali mengingat betapa wanita ini yang menjatuhkannya dengan cara yang amat curang.

"Plakk!"

Ban-tok menampar pipi Lee Cin, keras sekali, akan tetapi Lee Cin menerima tamparan itu tanpa berkedip dan memandang dengan mata bernyala penuh kemarahan.

"Manusia tidak tahu diri! Aku dapat menyiksamu sampai mati!"

"Hemm, apa artinya menyiksa orang yang tidak mampu melawan? Itu hanya dilakukan orang-orang yang berwatak rendah dan pengecut. Setidaknya, katakan kenapa kalian menangkap aku!"

Yauw Seng Kun menyeringai di depan Lee Cin.

"Engkau mau tahu mengapa aku menangkapmu? Ingatkah engkau akan kematian suhu Jeng-ciang-kwi?"

"Hemm, kiranya engkau ini murid Jeng-ciang-kwi? Pantas engkau tidak pantang melakukan kecurangan yang memalukan ini. Engkau hendak membalas kematian Jengciang-kwi? Memang dia mampus di tanganku. Kalau engkau hendak membalas kematiannya, bunuhlah aku, aku tidak takut mati!"

Seng Kun yang masih memegang bambu kuningnya,menggerakkan bambu itu untuk menyerang Lee Cin yang sudah tidak berdaya. �Plakk!"

Dari samping Ban-tok Mo-li menangkis tongkat bambu kuning itu.

"Tidak boleh, Seng Kun! Gadis ini harus dihadapkan kepada Beng-cu!"

Bentak wanita itu dan Seng Kun hanya dapat cemberut.

Kalau menurut hatinya, dia ingin mempermainkan Lee Cin, memperkosanya sampai puas, menghinanya lain membunuhnya.

Baru akan puas kalau sudah membalas secara begitu.

Akan tetapi dia tidak berani melakukan hal itu karena ancaman Ban tok Mo-li.

Dia tidak ingin wanita itu marah dan menjauhkan diri darinya.

Apalagi kalau sampai Ban-tok Mo-li melapor kepada Ouw Beng-cu, dia bisa celaka.

Dia tidak berani menentang beng-cu yang memiliki ilmu kepandaian amat tinggi itu.

Terpaksa dia harus menahan diri dan bersabar.

"Souw Lee Cin, engkau sudah berada di tangan kami dan kami hendak membawamu ke Pulau Naga. Kalau engkau mau ikut dengan baik, kamipun tidak akan mengganggumu, akan tetapi kalau engkau tidak menurut, terpaksa kami akan menggunakan kekerasan menyeretmu ke Pulau Naga."

Lee Cin tersenyum.

Ia mengerti.

Tentu ia akan dihadapkan kepada bengcu baru Ouw Kwan Lok itu.

Dan dari orang macam Ouw Kwan Lok ia tidak dapat mengharapkan yang baik.

Orang itu pernah menjebaknya dan nyaris memperkosanya karena ia dianggap musuh besar, di samping Song Thian Lee dan Tang Cin Lan.

Kalau ia terjatuh ke tangan Ouw Kwan Lok, keadaan dirinya tidak akan menjadi lebih baik.

Akan tetapi perjalanan menuju ke Pulau Naga masih jauh dan selama dalam perjalanan ia diperlakukan dengan baik, masih ada harapan baginya untuk meloloskan diri dari tangan dua orang jahat ini.

Kalau ia tidak menurut dan berusaha memberontak, dan mereka menggunakan kekerasan, akan lebih buruk keadaannya.

"Seng Kun, cepat cari seekor kuda lagi untukku. Biar ia berboncengan dengan aku sehingga setiap saat aku dapat menjaga agar ia tidak sempat meloloskan diri,"

Kata Ban-tok Mo-li.

Seng Kun mengangguk dan pergi, menunggang kuda yang ditinggalkan agak jauh kemudian dia pergi membeli seekor kuda di dusun bawah lereng.

Tak lama kemudian dia sudah kembali menunggang kuda dan menuntun seekor kuda lain.

Ban-tok Mo-li memeriksa ikatan pada kedua tangan Lee Cin lalu berkata kepada tawanannya itu.

"Naiklah ke atas kuda itu!"

Lee Cin tidak membantah.

Masih mending diajak menunggang kuda berboncengan dengan wanita iblis itu, dari pada diseret atau disuruh menunggang kuda bersama Seng Kun.

Nasibnya masih baik karena wanita iblis yang cantik itu agaknya cemburu kepadanya dan tidak mau membiarkan Seng Kun memboncengkannya.

Demikianlah, tiga orang itu melakukan perjalanan.

Kalau berhenti di sebuah kota, Ban-tok Mo-li menotok dulu tubuh Lee Cin sehingga gadis ini tidak dapat menggerakkan kedua tangannya, lalu melepaskan ikatan kedua tangan Lee Cin dan menggandeng tangan gadis itu memasuki rumah penginapan.

Juga mereka memesan makanan dalam kamar sehingga tidak melihat betapa mereka menawan seorang gadis yang tentu oleh orang luar dianggap sebagai kawan juga.

Setelah berada dalam kamar, mereka mengikat kedua tangan Lee Ciri kembali dan membebaskan totokan.

KaIau tiba waktunya makan, mereka mengikat kedua tangan Lee Cin di depan tubuhnya sehingga dengan kedua tangan terikat itu ia dapat makan sendiri.

-ooOoo-Sudah sepekan Lee Cin menjadi tawanan dua orang itu.

Ia sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk dapat meloloskan diri.

Kalau tidak tertotok, kedua tangannya tentu dibelenggu dan ia tidak mendapat kesempatan untukmelepaskan ikatan kedua tangannya karena dijaga ketat dan terus diawasi penuh perhatian.

Bahkan di waktu malam, dua orang itu bergiliran menjaganya, pedang Ang-coa-kiam telah dirampasnya dan kini melingkar di pinggang Ban-tok Mo-li.

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali Seng Kun dan Ban-tok Mo-li sudah meninggalkan sebuah rumah penginapan di kota Hui-an.

Seperti biasa, kalau hendak membawa Lee Cin di tempat umum, mereka menotok jalan darah di tubuh Lee Cin sehingga gadis ini tidak mampu menggerakkan kedua tangannya.

Ikatan kedua tangan itu dibuka dan Lee Cin digandeng oleh Ban-tok Mo-li keluar dari rumah penginapan.

Akan tetapi ketika mereka tiba di pintu depan rumah penginapan itu mereka berpapasan dengan seorang pemuda.

Hampir saja Lee Cin menjerit ketika ia mengenal pemuda itu yang bukan lain dari Cia Tin Han!

Pemuda itu juga memandang wajah Lee Cin dan sedetik dua pandang mata itu saling tatap.

Tin Han terheran-heran dan Lee Cin mengedipkan sebelah matanya.

Isyarat itu cukup bagi Tin Han.

Dia melihat betapa Lee Cin bergerak dengan kaki di bagian tubuh atasnya, dan di pergelangan kedua tangannya terdapat tanda merah bekas ikatan.

Dia memperhatikan dua orang itu.

Dia memandang kepada Ban-tok Mo-li dan tidak mengenalnya, akan tetapi ketika dia memandang kepada Yauw Seng Kun, dia terkejut!

Dia mengenal pemuda itu sebagai pemuda yang pernah menculik The Kiok Hwa.

Akan tetapi sebaliknya Seng Kun tidak mengenal Tin Han.

Sama sekali dia tidak tahu bahwa pemuda itu adalah Hek tiauw Eng-hiong, Si Kedok Hitam yang pernah menyerangnya dan membebaskan Kiok Hwa dari cengkeramannya.

Jantung Lee Cin berdebar-debar dan wajahnya berubah kemerahan dan berseri-seri.

Hatinya berbahagia sekali melihat Tin Han.

Pemuda yang dicintanya itu tidak mati!

Tin Han masih hidup dan baru saja ia melihatnya!

Ia merasa gembira luar biasa.

Ingin ia bersorak dan bernyanyi, dan iapun yakin bahwa tentu Tin Han akan membebaskannya.

Ban-tok Mo-li melihat perubahan pada wajah Lee Cin dan ia menjadi curiga.

Diperiksanya totokannya pada diri Lee Cin.

Gadis itu masih tidak mampu menggerakkan kedua tangannya!

Akan tetapi kenapa tersenyum-senyum dan wajahnya berseri kemerahan seperti seorang yang berbahagia sekali?

"Kenapa engkau tersenyum-senyum?"

Tanya Ban-tok Moli kepada Lee Cin setelah mereka menunggang kuda dan keluar dari kota Hui-an. Lee Cin tersenyum.

"Aku sedang membayangkan dan memikirkan apa yang akan kulakukan terhadap kalian setelah aku terbebas dari tangan kalian."

"Hemm, engkau tidak akan dapat bebas dari tangan kami sebelum tiba di Pulau Naga. Di, sana kami akan menyerahkan engkau kepada Ouw Beng-cu dan dia boleh melakukan apa saja atas dirimu. Akan tetapi mengingat betapa engkau adalah salah seorang musuh besarnya, aku yakin engkau akan dibunuhnya!"

"Yang jelas aku tidak akan membunuh kalian. Kalian tidak membunuhku dan di sepanjang jalan bersikap baik ke padaku, untuk itu, aku hanya akan menghajar kalian, tidak akan membunuh kalian. Aku masih mengharapkan agar kalian bertaubat dan kembali ke jalan benar!"

Mereka sudah tiba di luar kota dan Ban-tok Mo-li menghentikan kudanya, diturut oleh Yauw Seng Kun.

Wanita Iblis itu lalu mengikat kedua tangan Lee Cin ke belakang tubuhnya, dan melanjutkan perjalannya.

Lee Cin menunggu dengan sabar.

Ia yakin bahwa Tin Han tentu akan membebaskannya.

Ia hanya menunggu waktu.

Di depan ada segerombol hutan, mungkin di tempat itu Tin Han akan turun tangan.

Ia percaya bahwa sekarang Tin Han tentu telah mendahului mereka dan menghadang di jalan.

Perkiraannya memang tepat sekali.

Setelah mereka memasuki hutan yang sunyi itu, sebuah batu kerikil menyambar cepat dan mengenai pundak Lee Cin.

Seketika Lee Cin merasa betapa totokannya terbuka dan ia sudah dapat menggerakkan kedua tangannya.

Akan tetapi ia berada di atas kuda, di depan Ban-tok Mo-li sehingga kalau ia mengerahkan tenaga untuk membikin putus tali yang mengikat kedua tangannya, tentu akan ketahuan dan wanita iblis itu akan turun tangan lebih dulu.

Karena itu ia tinggal diam saja menanti kesempatan baik.

Tiba-tiba tampak bayangan hitam berkelebat dan di depan dua ekor kuda itu telah berdiri Si Kedok Hitam!

Lee Cin tersenyum.

Engkau tidak perlu berpura-pura terhadapku lagi, Cia Tin Han.

Aku tahu bahwa engkaulah Si Kedok Hitam, Lee Cin bersorak dalam hatinya.

Sementara itu, Ban-tok Mo-li dan Seng Kun terkejut bukan main ketika melihat Si Kedok Hitam tiba-tiba berdiri di depan mereka.

Terutama sekali Seng Kun amat terkejut ketika mengenal orang yang dulu pernah membebaskan Kiok Hwa dan dia sudah merasakan betapa lihatnya Hek-tiauw Eng-hiong ini!

Akan tetapi, mengingat bahwa di situ terdapat Ban-tok Mo-li, dia tidak takut dan cepat melompat turun dari atas kudanya.

�Mo-li, dia ini musuhku, mari kita bunuh dia!"

Ban-tok Mo-li juga melompat turun dari atas kudanya meninggalkan Lee Cin. Gadis itu tertotok dan terbelenggu, tentu tidak akan mampu melakukan sesuatu, pikirnya.

"Jahanam, siapa engkau? Kenapa engkau menghadang kami?"

Bentak Ban tok Mo-li sambil mencabut pedangnya. Tampak sinar pedang kehijauan karena pedang itu beracun.

"Hemm, kalian hendak mengetahui siapa aku? Sobat ini sudah mengenalku!"

Dia menuding ke arah Seng Kun.

"Sebut saja aku Hek-tiauw Eng-hiong!"

"Kenapa engkau menghadang kami?"

"Kalian menangkap seorang gadis yang tidak bersalah. Aku minta kalian membebaskannya!"

"Serang..... ...!� Seng Kun sudah membentak dan dia sudah menyerang dengan tongkat bambu kuningnya. Melihat ini, Ban-tok Mo-li juga menggerakkan pedangnya menyerang. Menghadapi dua, serangan yang dahsyat itu, Hektiauw Eng-hiong mencelat ke belakang sambil mencabut pedangnya. Tampak sinar putih berkilauan ketika dia mencabut Pek-kong-kiam. Ban-tok Mo-li menerjang lagi. Sekali ini Si Rajawali Hitam menggerakkan pedangnya menangkis.

"Tranggg..... !"

Kedua pedang bertemu di udara dan bunga api berpijar menyilaukan mata.

Ban-tok Mo-li terkejut dan melangkah ke belakang.

Ia merasa betapa lengan kanannya tergetar hebat seolah-olah pedangnya bertemu dengan dinding baja yang keras dan kuat.

Maklumlah ia bahwa Rajawali Hitam ini memang lihai sekali maka iapun membantu Seng Kun yang sudah menghujankan serangannya.

Yauw Seng Kun bernafsu sekali untuk mengalahkan Rajawali Hitam, untuk menebus kekalahannya ketika pendekar itu membebaskan Kiok Hwa.

Dia mainkan Patkwa-sin-kun dengan tongkat bambu kuningnya.

Bambu kuning itu menyambar-nyambar dengan dahsyatnya, merupakan gulungan sinar kuning melingkar-lingkar.

Semua serangan yang dahsyat ini ditambah lagi oleh serangan pedang beracun di tangan Ban-tok Mo-li, maka dapat dibayangkan betapa hebat dan berbahayanya serangan kedua orang itu.

Akan tetapi Hek-tiauw Eng-hiong bersikap tenang, pedangnya diputar merupakan perisai putih berkilauan yang tidak dapat ditembus tongkat bambu dan pedang beracun.

"Hyaaattttt ...... !"

Seng Kun membentak dan tongkatnya meluncur dengan tusukan ke arah tenggorokan Tin Han.

"Syatttt ..... !"

Pedang beracun membarengi gerakan tongkat itu menusuk ke arah perut Tin Han.

Pemuda itu bersikap waspada, maklum akan hebatnya dua serangan yang dilakukan dalam saat yang bersamaan itu.

Dia miringkan tubuh untuk mengelak dari sambaran tongkat yang meluncur ke arah lehernya, lalu memutar pedang untuk menangkis pedang yang menusuk perutnya.

"Trangggg......!"

Kembali bunga api berpijar dan Tin Han menggerakkan kakinya menendang kepada Ban-tok Mo-li, menggunakan kesempatan selagi wanita itu melangkah mundur ketika kedua pedang bertemu.

"Wuuuuuttt..... ..... Ban-tok Mo-li terpaksa melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik, baru ia terbebas dari tendangan yang mengancam perutnya itu. Karena tongkatnya dielakkan, Seng Kun menjadi penasaran dan kembali tongkatnya menusuk-nusuk dengan cepat mengarah jalan darah di bagian depan tubuh Tin Han. Pemuda ini terpaksa memutar pedangnya melindungi tubuhnya Saat itu kembali pedang Ban-tok Mo-li menyambar, sekali ini membabat ke arah lehernya. Tin Han yang masih memutar pedang melindungi tubuh bagian bawah, merendahkan tubuh sehingga babatan pedang Ban-tok Mo-li meluncur lewat di atas kepalanya. Dengan memutar tubuh Tin Han menusukkan pedangnya ke dada wanita itu dan kakinya mencuat menyambar ke arah Seng Kun. Dengan tergopoh-gopoh kedua orang itu, mengelak dari serangan yang cepat dan berbahaya itu. Kembali mereka saling serang dan kedua orang itu mengurung ketat, namun gerakan pedang Tin Han tetap melindungi tubuhnya dan sukar pertahanannya ditembus. Sementara itu, Lee Cin yang sudah dapat menggerakkan kedua tangannya, mulai menghimpun tenaganya. Ia mengerahkan seluruh tenaga sin-kangnya ke arah kedua lengannya, kemudian menggerakkan kedua tangannya dan putuslah tali pengikat kedua pergelangan tangannya. Setelah bebas dari belenggu, Lee Cin melompat turun dari punggung kuda. Melihat betapa Tin Han dikeroyok oleh dua orang itu, ia cepat masuk ke dalam gelanggang perkelahian dan dengan menggunakan Ang-tok-ciang ia menyerang ke arah dada Ban-tok Mo-li. Pukulan yang dilakukan Lee Cin ini dahsyat bukan main, mengejutkan Ban-tok Mo-li. Ia mengelak dan mencoba untuk balas menyerang dengan pedangnya, akan tetapi Lee Cin tidak memberi kesempatan kepadanya untuk menyerangnya. Lee Cin sudah menghujani lawan dengan totokan It-yang-ci yang amat lihai. Ban-tok Mo-li mengeluarkan seruan kaget dan terpaksa ia mengelak ke sana sini sambil membabatkan pedangnya, mencoba untuk membutungi kedua tangan Lee Cin yang melakukan totokan. Kini Seng Kun terpaksa menghadapi Tin Han seorang diri, dan tentu saja be gitu ditinggalkan Ban-tok Mo-li segera terdesak hebat oleh sinar pedang di tangan Tin Han. Si Kedok Hitam atau Si Rajawali Hitam ini mendesaknya dan ketika Seng Kun sudah mundur-mundur kewalahan, sebuah tendangan menyambar dan mengenai tangan Seng Kun yang memegang tongkat bambu kuning. Tongkat itu terlepas dari tangannya dan terlempar jauh. Dengan tangan kirinya, Tin Han dapat menotok pundak Seng Kun dan pemuda itupun terguling dan tidak mampu bergerak lagi. Melihat Seng Kun sudah roboh. Ban-tok Mo-li menjadi panik. Gerakannya makin kacau dan karena ia suduh terdesak oleh serangan It-yang-ci, akhirnya ia tidak dapat mengelak dari sebuah totokan jari tangan kiri Lee Cin dan iapun roboh dengan lemas tak dapat menggerakkan kedua tangannya lagi. Melihat lawannya sudah roboh, cepat Lee Cin meraih ke arah pinggang Ban-tok Mo-li, merenggut lepas pedang Angcoa-kiam dan memasangnya sebagai sabuk di pinggangnya sendiri. Setelah itu ia memutar tubuhnya, menghadapi Rajawali Hitam dan memandang dengan sinar mata berseri penuh kegembiraan. Tin Han tidak tahu bahwa Lee Cin sudah mengetahui rahasianya, bahwa gadis itu sudah tahu akan penyamarannya sebagai Kedok Hitam, maka dia tidak berkata apa-apa dan menghampiri Seng kun sambil menodongkan pedangnya ke arah dada orang itu.

"Jangan ...... ! Jangan bunuh mereka. Betapapun juga, mereka tidak membunuhku. Sekali ini biarlah mereka bebas sebagai balasanku bahwa mereka tidak membunuh atau menggangguku!' Setelah ia berkata demikian, Lee Cin menotok ke arah tubuh Ban-tok Mo-li untuk mengembalikan jalan darahnya. Melihat ini, Tin Han juga membebaskan totokannya atas diri Seng Kun. Setelah kedua orang itu bangkit dan menggeliat, Lee Cin berkata kepada mereka dengan lantang.

"Yauw Seng Kun dan Ban-tok MoIi, kalian tidak membunuhku dan telah memperlakukan aku dengan baik, maka sekali ini aku maafkan kalian. Kalian boleh pergi. Akan tetapi kacau lain kali aku bertemu dengan kalian dan kalian masih melakukan kejahatan, aku tidak akan mengampuni kalian lagi. Pergilah!"

Seng Kun mengambil tongkat bambu kuningnya dan Ban-tok Mo-li juga memungut pedangnya, kemudian kedua orang ini berlari pergi tanpa sepatahpun kata.

Mereka merasa amat penasaran dan juga marah dan kecewa.

Terutama sekali Seng Kun.

Kalau tahu akan begini kesudahannya, tentu sudah kemarin-kemarin dia membunuh Lee Cin!

Kini Lee Cin dan Rajawali Hitam berdiri saling berhadapan.

Rasa haru mencengkeram hati Lee Cin.

Ia berhadapan lagi dengan Cia Tin Han !

"Han-ko, aku gembira sekali bahwa engkau ternyata tidak mati di jurang itu!"

Katanya dengan suara gemetar.

"Nona Souw, aku...... bukan..... � "Aih, Han-ko. Apakah engkau masih bersembunyi dariku? Aku melihat ketika kedokmu terbuka oleh Nenek Cia dan melihat engkau tertendang jatuh ke dalam jurang! Tidak perlu berpura-pura lagi, Han-ko. Aku tahu bahwa engkaulah Si Kedok Hitam!"

"Ah,..... engkau sudah tahu..."

Lee Cin mengangguk dan berkata dengan terharu.

"Aku mengira engkau telah mati, Han-ko. Aku sudah hampir putus asa...... mencarimu ke mana-mana ...... akan tetapi engkau tetap menghilang....."

Lee Cin tidak dapat menahan keharuan dan juga kebahagiaan hatinya, dan beberapa tetes air mata membasahi pipinya. Tin Han melangkah maju dan memegang kedua tangan Lee Cin.

"Cin-moi, engkau...... engkau menyedihi kematianku. ..... ?"

"Aku....... rasanya aku kepingin mati saja, Han-ko. Aku mencarimu di dasar jurang, aku kehilangan engkau, aku menangisi kematianmu akan tetapi aku tetap penasaran karena tidak melihat jenazahmu. Harapanku hanya untuk melihatmu kalau engkau masih hidup, dan kalau engkau sudah mati, aku ingin melihat kuburanmu. Akan tetapi..... engkau kini masih hidup, di sini.....!� "Cin-moi, apakah ini berarti bahwa engkau...... juga membalas cintaku kepadamu?"

Lee Cin menengadah dan pandang matanya bertemu dengan pandang mata yang mencorong dari balik kedok. Ia tersenyum dengan mata basah lalu mengangguk.

"Ahhhhh, Cin-moi..... !"

Tin Han mendekap kepala itu ke dadanya dengan kuat, seolah hendak membenamkan kepala itu ke dalam dadanya dan menyimpannya di hatinya agar jangan sampai terpisah lagi.

"Han-ko..... !� Lee Cin balas merangkul, lalu dengan lembut tangan kiri Lee Cin merenggutkan penutup muka Tin Han sehingga tampaklah Tin Han yang tampan. Wajah itu tersenyum dan kedua matanya juga basah saking terharunya mengetahui bahwa gadis yang amat dicintanya itu juga membalas cintanya.

"Cin-moi..... !"

Dia menunduk dan mencium pipi, hidung dan bibir Lee Cin dengan sepenuh perasaannya.

"Han-ko, tadinya aku bingung. Aku mencinta Cia Tin Han, akan tetapi aku kagum kepada Si Kedok Hitam, apa lagi ketika Si Kedok Hitam menyatakan cintanya kepadaku, seperti juga Cia Tin Han mengaku cinta kepadaku. Aku bingung harus memilih yang mana. Sampai aku melihat Nanek Cia menyingkap kedokmu. Aku berbahagia melihat bahwa engkaulah Si Kedok Hitam, akan tetapi kebahagiaan itu segera terganti hancurnya hatiku melihat engkau terjungkal ke dalam jurang itu! Seperti gila aku menuruni jurang dan mencarimu, Han-ko. Kukira engkau sudah mati, akan tetapi ada juga kesangsianku karena aku tidak dapat menemukan jenazahmu. Ternyata engkau masih hidup seperti yang kusangka, bahkan engkau telah membebaskan aku dari cengkeraman kedua orang itu"

Lee Cin memperkuat rangkulannya di pinggang pemuda itu.

"Engkau harus menceritakan apa yang kaualami ketika terjatuh ke jurang itu, Han-ko!"

Tin Han melepaskan rangkulannya dan tersenyum.

"Banyak yang harus kuceritakan, banyak pula yang dapat kauceritakan, Cin-moi. Biar aku menukar dulu pakaianku."

Pemuda itu melepaskan pakaian hitamnya dan di sebelah dalam dia sudah mengenakan pakaian biasa.

Dia menggulung pakaian hitam dan topeng itu, menyimpannya dalam buntalan pakaiannya dan dia mengajak Lee Cin duduk di atas batu.

Mereka duduk sambil saling berpegang tangan, dan Tin Han berkata.

"Sekarang, kauceritakan lebih dulu apa saja yang kaualami dan bagaimana engkau dapat terjatuh ke tangan dua orang jahat tadi."

Dengan kedua pipi kemerahan karena dicumbu oleh pemuda yang ia cinta tadi, dengan sepasang mata yang bersinar-sinar menunjukkan kebahagiaan hatinya, Lee Cin lalu bicara, kedua tangannya masih dipegang oleh Tin Han dan kedua matanya menatap wajah pemuda itu dengan penuh kasih sayang.

"Han-ko, banyak sudah kualami sejak kita berpisah, sejak engkau membebaskan aku dari tangan keluargamu itu."

Lee Cin lalu menceritakan pengalamannya, betapa ketika ia mencari-cari Tin Han di dasar jurang, ia bertemu dengan Ouw Kwan Lok dan berhasil membuntungi lengan kiri pemuda jahat itu.

"Ah, dia tentu akan lebih mendendam kepadamu, Cinmoi."

"Tentu saja, akan tetapi biarlah, aku tidak takut walaupun kemudian aku menerima kenyataan bahwa kini dia telah menjadi seorang yang berilmu tinggi dan lihai bukan main."

Lee Cin melanjutkan kisahnya, betapa ia kembali ke Hong-san dan melihat ibu kandungnya telah bersatu kembali dengan ayahnya dan mereka hidup berbahagia di Hongsan.

Kemudian ia menceritakan tentang pengunduran diri ayahnya sebagai Beng-cu.

Dalam pemilihan heng-cu baru inilah Ouw Kwan Lok muncul bersama Siang Koan Bhok, datuk dari timur yang menjadi pemilik Pulau Naga itu.

Dan dalam pemilihan itu diadakan pertandingan.

Akhirnya Ouw Kwan Lok menangkan semua pertandingan.

Orang itu kini berubah lihai bukan main setelah menjadi murid Siang Koan Bhok dan dialah yang terpaksa dipilih sebagai Beng-cu baru karena memang tidak ada yang dapat mengalahkannya.

Tadinya aku hendak maju menentangnya, akan tetapi ayahku melarangku, agaknya memang aku belum tentu dapat menandingirya.

Dia benar-benar lihai, Han-ko."

"Hemm, kalau yang menjadi beng-cu seorang yang jahat, akan dibawa ke manakah dunia kang-ouw?"

Kata Tin Han sambil mengerutkan alisnya yang hitam tebal.

"Benar, dan sekarang yang menjadi pimpinan dunia kang-ouw adalah para datuk sesat belaka. Ketuanya Ouw Kwan Lok dan pembantu pertamanya Siang Koan Bhok sedangkan pembantu kedua adalah Thian-te Mo-ong."

"Lalu bagaimana kelanjutan ceritamu, Cin-moi? Setelah engkau tinggal di Hong-san bersama ayah ibumu, mengapa engkau berada di sini dan menjadi tawanan kedua orang jahat tadi?"

"Aku tidak betah tinggal di Hong-san, koko. Aku ingin merantau, ingin mencarimu sampai dapat bertemu denganmu atau dengan kuburanmu. Ketika tiba di sebuah hutan di lereng bukit yang sunyi, aku mendengar jerit tangis seorang wanita. Aku segera memasuki hutan itu dan melihat orang tadi, Yauw Seng Kun, sedang hendak memperkosa seorang wanita. Tentu saja aku segera menolongnya dan menyerang Yauw Seng Kun. Kami berkelahi dan dia melarikan diri. Ketika aku menolong wanita yang hendak dipermainkan tadi, merangkulnya karena ia terhuyung, tiba-tiba saja wanita itu mengebutkan saputangan yang mengandung obat bius. Aku jatuh pingsan dan ketika tersadar, aku berada di tangan mereka. Mereka menotokku dan mengikat kedua tanganku. Ternyata mereka tadi hanya bersandiwara sehingga aku terjebak."

"Akan tetapi, engkau ditawan dan diajak sampai ke sini, hendak dibawa ke manakah?"

"Ke mana lagi kalau tidak ke Pulau Naga. Ternyata mereka itu menjadi anak buah Ouw Kwan Lok yang menjadi beng-cu dan tinggal di Pulau Naga."

"Hemm, aku tahu bahwa beng-cu baru Ouw Kwan Lok itu mengumpulkan para tokoh kang-ouw golongan sesat untuk bergabung dengannya,"

Kata Tin Han.

"Mereka berada itu sengaja tidak membunuhku. Tadinya Seng Kun hendak membunuhku, akan tetapi dia dilarang oleh Ban-tok Mo-li. Mereka tahu bahwa Ouw Kwan Lok menganggap aku, Song Thian Lee, dan Tang Cin Lan sebagai musuh besarnya. Kami bertiga memang pernah bertentangan dengan guru-gurunya, yaitu mendiang Pakthian-ong dan Thian-te Mo-ong. Ban-tok Mo-li berkeras untuk menyerahkan aku sebagai tawanan kepada Ouw Kwan Lok, maka ia dan Seng Kun memaksa aku mengikuti mereka menuju ke Pulau Naga. Kalau memasuki tempat ramai, mereka membuka ikatan tanganku, akan tetapi aku ditotoknya sehingga aku tidak dapat memberontak. Untung sekali engkau datang, Han-ko. Kedatanganmu membawa berkah bagiku, bukan saja membuatku berbahagia melihat engkau masih hidup, akan tetapi juga sekaligus menolongku dari ancaman bahaya."

"Mereka jahat sekali, Cin-moi. Kenapa engkau melarangku membunuh mereka?"

"Ada dua hal yang membuat aku ingin membebaskan mereka, Han-ko. Pertama karena mereka tidak membunuhku dan memperlakukan aku dengan baik dan tidak menggangguku sepanjang perjalanan dalam beberapa hari ini. Dan ke dua, kuanggap merekalah yang telah berjasa mempertemukan aku denganmu! Kebahagiaanku bertemu denganmu tidak boleh dikotori dengan pembunuhan dan saking girangnya hatiku, maka aku membebaskan mereka berdua. Aku berterima kasih sekali kepada Thian yang telah mempertemukan kita berdua!"

Tin Han meraih kepalanya dan mencium dahinya. Lee Cin gemetar dan memejamkan matanya. Ia merasa betapa mesranya ciuman pemuda yang dikasihinya itu.

"Sekarang giliranmu, koko. Ceritakanlah pengalamanmu sejak engkau terjatuh ke dalam jurang Bagaimana engkau dapat terbebas dari kematian setelah terjatuh dari tempat yang demikian tingginya? Rasanya sukar dapat dipercaya bahwa orang yang terjatuh ke dalam jurang sedalam itu masih dapat lolos dengan selamat."

"Memang, Cin-moi, peristiwa yang kualami betapa Maha Kuasanya Tuhan, betapa tepatnya pendapat bahwa apabila Tuhan menghendaki sesuatu, pasti akan terjadi betapa tidak mungkinpun menurut pendapat manusia. Siapapun di dalam dunia ini pasti akan berpendapat sama, yaitu bahwa orang yang terjatuh dari tempat yang demikian tinggi tidak mungkin dapat lobos dengan selamat. Akan tetapi terjadilah suatu kemujijatan ketika aku melayang jatuh itu, Cin-moi. Ketika tubuhku melayang-layang tanpa aku dapat menguasai diriku lagi, tiba-tiba ada seekor burung rajawali hitam yang besar sekali mencengkeram leher bajuku dan membawaku terbang turun dengan selamat."

"Burung rajawali hitam yang besar? Betapa anehnya..... !"

Lee Cin berseru heran sambil memandang kepada wajah Tin Han. Kalau bukan pemuda yang dicintanya ini yang bercerita, sukarlah mempercaya keterangan itu.

"Ya, nama sebutannya Hek-tiauwko dan dia ternyata adalah burung peliharaan seorang kakek sakti bernama Thai Kek Cin-jin. Ketika aku dibawa oleh Hek-tiauw-ko menghadap Thai Kek Cin-jin, aku bertemu dengan guruku, Bu Beng Lo-jin."

"Ah, jadi sebelum itu engkau telah memiliki seorang guru, Han-ko? Pantas ilmu kepandaianmu sudah begitu hebat mengatasi kepandaian keluargamu."

"Benar, Cin-moi. Aku berguru kepada Bu Beng Lo-jin yang tidak mau disebut namanya dihadapan keluargaku maka aku belajar ilmu secara rahasia kepadanya. Dan karena itu pula aku terpaksa harus menyamar sebagai Si Kedok Hitam untuk menyembunyikan kepandaianku dari keluargaku."

"Aih, engkau nakal, Han-ko. Dengan penyamaranmu itu, engkau membuat aku pusing tujuh keliling, harus memilih antara Cia Tin Han dan Si Kedok Hitam yang kedua-duanya menyatakan cinta kepadaku! Kiranya orangnya sama!"

"Aku memang sejak pertemuan pertama telah mencintamu, Cin-moi. Maka ketika bertemu denganmu sebagai Si Kedok Hitam, aku tidak tahan untuk tidak mengakui cintaku."

"Lalu bagaimana ceritamu, Han-ko?"

"Aku sempat mendapat kebahagiaan dilatih ilmu oleh Thai Kek Cin-jin selama beberapa bulan. Biarpun hanya tiga bulan, namun petunjuk beliau telah memberi kemajuan pesat kepadaku. Dua ilmu yang dia turunkan adalah Hektiauw kun dan Khong-sim Sin-kang."

"Hebat sekali! Ilmu kepandaian telah demikian hebat, apa lagi setelah mendapat petunjuk seorang sakti. Aku kagum sekali dan semakin mencinta padamu!"

Kata Lee Cin sambil menyandarkan kepalanya di dada kekasihnya itu. Tin Han memeluknya dengan penuh perasaan bahagia.

"Aku juga melihat betapa hebatnya ilmu totok yang kaupergunakan tadi, Cin-moi. Dari siapakah engkau mempelajari ilmu totok seperti itu?"

"Itu adalah ilmu totok It-yang-ci...."

"Apa? Apakah ilmu totok dari ketua Siauw-lim-pai itu?"

"Benar, In-kong Thai-su telah melatih ilmu totok It-yangci kepadaku, Han-ko."

"Ah, pantas engkau demikian lihai, kiranya engkau adalah murid kakek sakti dari Siauw-lim-pai itu."

"Lalu bagaimana kelanjutan ceritamu, Han-ko?"

"Setelah berpisah dari suhu Thai Kek Cin-jin, aku lalu merantau. Mencari keluargaku yang ternyata telah pergi dari Hui-cu setelah persekutuan itu dihancurkan Panglima Song Thian Lee. Aku juga berusaha mencarimu di Hongsan, akan tetapi aku merasa ngeri dan khawatir membayangkan penyambutan ayahmu terhadapku yang pernah menyerangnya dahulu. Dalam perjalanan itu, kalau aku bertindak terhadap orang jahat, aku selalu menggunakan kedok dan pakaian hitam dan aku mengaku berjuluk Hektiauw Eng-hiong."

"Aha, engkau menggunakan nama Rajawali Hitam itu untuk penyamaranmu? Bagus sekali, Han-ko!"

"Hal ini kulakukan agar aku tidak dikejar-kejar oleh pasukan pemerintah Mancu. Dalam perjalanan aku bertemu dengan orang yang bernama Yauw Seng Kun tadi. Dia menculik seorang gadis dan aku mengejarnya lalu membebaskan gadis itu setelah Yauw Seng Kun melarikan diri dan mengenalku sebagai Hektiauw Eng-hiong. Dia menculik gadis karena ia mirip sekali denganmu, Cin-moi. Aku sendiri tadinya juga mengira bahwa gadis itu adalah engkau. Akan tetapi aku segera mengenalnya. Ternyata bukan engkau."

"Mana lebih cantik, gadis itu atau aku, Cin-ko?"

Tanya Lee Cin dan ia merasa rikuh sendiri.

Kenapa ia mendadak menjadi begini manja?

"Tentu saja engkau berlipat kali lebih cantik, Cin-moi.

Nah, setelah itu, aku menuju ke Hong-san.

Di dalam perjalanan itu aku bertemu dengan serombongan perajurit kerajaan.

Aku menjadi tertarik dan membayangi mereka.

Ternyata mereka mengadakan pertemuan di sebuah hutan lembah Huang-ho, dan tahukah engkau siapa yang ditemui perwira yang memimpin serombongan perajurit itu?

Ternyata perwira itu mengadakan pertemuan dengan Thian-te Moong."

"Ah, wakil ke dua dari Beng-cu? Aneh sekali, kenapa panglima kerajaan mengadakan pertemuan dengannya yang dahulu membantu pemberontakan?"

"Memang aneh sekali, tadinya akupun berpendapat begitu. Akan tetapi setelah mendengarkan percakapan mereka, mengertilah aku bahwa memang mereka itu utusan dari Ouw-bengcu untuk berhubungan dengan pihak pasukan pemerintah. Ternyata Ouw-bengcu hendak membawa semua orang kang-ouw untuk menjadi antek penjajah Mancu!"

Kata Tin Han dan nada suaranya menunjukkan bahwa dia menyesal dan marah sekali "Pihak Mancu agaknya mengubah politiknya, hendak mendekati kaum kang-ouw terutama golongan sesat untuk memperkuat kedudukannya, untuk menentang para pendekar dan patriot."

"Hemm, rencana yang licik dan jahat!"

Kata Lee Cin.

"Lalu bagaimana selanjutnya, koko?"

"Dari percakapan mereka itu aku mendengar bahwa mereka hendak mencari Song Thian Lee untuk dibunuh."

"Ehhh? Song Thian Lee adalah panglima mereka sendiri!"

"Ternyata tidak, moi-moi. Song Thian Lee telah mengundurkan diri dari jabatannya dan mungkin dia dianggap orang berbahaya bagi pemerintah, maka komplotan itu berusaha hendak membunuhnya. Juga mereka hendak membunuh dan membasmi Keluarga Cia yang mereka anggap juga berbahaya bagi pemerintah!"

Lee Cin terkejut.

"Jahat sekali mereka! Lalu bagaimana?"

"Karena mereka menyatakan hendak menuju ke tempat tinggal Song Thian Lee dan menyerbu, aku lalu mengikuti mereka. Ternyata Song Thian Lee yang telah meninggalkan kota raja bertempat tinggal di kota Tung-sin-bun. Rombongan itu menuju ke sana dan mereka semua yang jumlahnya banyak, termasuk pula Yauw Seng Kun tadi, dan Hek-bin Mo-ko dan Sin-ciang Mo kai, segera mengeroyok Song Thian Lee dan isterinya yang menggendong seorang anak kecil berusia kira-kira tiga tahun. Kedua suami isteri yang perkasa itu mengamuk dan aku kagum sekali kepada mereka. Keduanya bukan main lihainya, akan tapi karena pengeroyok itu berjumlah sembilanbelas orang, aku khawatir mereka sampai terluka, apa lagi isteri Song Thian Lee yang menggendong anak kecil. Aku lalu melompat dan membantu mereka!"

"Bagus! Aku girang sekali engkau melakukan hal itu, koko. Isteri Song Thian Lee itu adalah seorang sahabat baikku, namanya Tang Cin Lan. Ia memang lihai..... lalu bagaimana?"

"Kami bertiga mengamuk dan agaknya gerombolan itu tidak dapat bertahan dan melarikan diri. Aku menasihatkan Song Thian Lee untuk segera meninggalkan tempat kediamannya itu-karena pasukan itu tentu akan mendatangkan bala bantuan dan kalau pasukan besar menyerbu, bagaimana mereka akan dapat membela diri? Aku lalu pergi dan dari percakapan mereka yang kudengar tadi, aku mendapat tahu bahwa keluargaku telah menyembunyikan diri di puncak Bukit Cemara. Aku lalu mendahului mereka pergi ke sana. Akan tetapi aku merasa sungkan sekali untuk bertemu mereka, karena mereka tentu menganggap aku sebagai pembantu musuh. Aku menanti sampai beberapa hari tanpa berani menemui mereka. ....."

"Kasihan engkau, Han-ko. Karena engkau menolongku, maka engkau bentrok dan dibenci oleh keluargamu. Maaf kan aku, Han-ko,"

Kata Lee Cin dengan nada suara berduka. Tin Han merangkulnya.

"Jangan bersedih, Cin-moi, karena semua berakhir dengan baik. Ketika aku sedang menanti, datang rombongan Thian-te Mo-ong yang kinidiperkuat oleh Siang Koan Bhok. Mereka itu membujuk nenekku untuk bergabung dengan mereka membantu pemerintah Mancu. Tentu saja nenek menolak keras dan terjadilah pertandingan satu lawan satu. Nenek maju bertanding melawan Siang Koan Bhok dan nenek kalah, bahkan terluka parah. Aku maju tanpa topeng, sebagai Cia Tin Han aku maju membela nenek sekeluarga. Thian-te Moong dan dia dapat kukalahkan. Lalu Siang Koan Bhok yang maju bertanding denganku dan akhirnya, setelah melalui pertandingan yang sengit, aku dapat pula mengalahkan dia. Agaknya Thian-te Mo-ong putus asa setelah kekalahan Siang Koan Bhok dan mereka lalu pergi."

"Bagus, engkau dapat mengalahkan Siang Koan Bhok, itu berarti bahwa kepandaianmu telah maju pesat, koko. Jarang ada orang mampu mengalahkan dia, datuk besar dari timur itu.

"Ah, kepandaian manusia itu terbatas dan tentu ada yang melampauinya, Cin-moi. Kita sama sekali tidak boleh berbangga dan sombong karena kepandatan kita, melainkan harus dengan rendah hati siap dan waspada, karena setinggi-tingginya kepandaian orang, tentu ada yang menandingi dan melebihinya."

"Engkau lihai dan rendah hati, itulah yang membuat aku kagum kepadamu koko. Kemudian bagaimana?"

"Menyedihkan, Cin-moi. Nenek meninggal dunia karena luka dalam yang parah akibat pukulan Siang Koan Bhok."

"Ah, kasihan sekali. Nenek Cia pernah bersikap baik sekali kepadaku. Engkau tentu mendendam kepada Siang koan Bhok"

"Tidak, moi-moi. Pertandingan itu adil dan kekalahan nenek memang sewajarnya. ilmu kepandaian Siang Koan Bhok lebih tinggi dari pada ilmu kepandaiannya. Kematiannya wajar dan memang sudah di takdirkan begitu. Aku membenci Siang Koan Bhok bukan karena dendam atas kematian nenek itu, melainkan karena..... sekarang menjadi antek penjajah Mancu untuk memusuhi para pendekar dan patriot."

"Lalu bagaimana, selanjutnya, koko?"

"Sebelum nenek meninggal dunia, kami masih sempat bercakap-cakap dahulu dan nenek dengan gagah dan jujur mengakui akan kesalahannya bahwa ia pernah bersekutu dengan golongan sesat, dengan pasukan pemberontak dan bahkan dengan orang Jepang. Ia mengakui bahwa pendapatku yang benar, bahwa kita berjuang harus secara murni, tidak bersekutu dengan golongan sesat, kecuali hanya dengan rakyat jelata untuk menumbangkan kekuasaan penjajah Mancu. Bahkan nenek selanjutnya berpesan kepada semua keluarganya untuk tidak mengulangi kesalahan itu."

"Lalu bagaimana?"

"Aku mengusulkan kepada keluargaku untuk berpencar karena kami menjadi buruan pemerintah. Ayah pergi bersama ibu, kedua orang paman pergi bersama, kakak Tin Siong pergi seorang diri dan aku juga pergi seorang diri, melaksanakan tugas sebagai pendekar dan patriot. Nah, dalam perjalanan terakhir ini, ketika aku hendak melanjutkan perjalanan ke Hong-san untuk mencarimu, aku bertemu dengan engkau yang menjadi tawanan dua orang jahat tadi."

"Agaknya Thian sendiri yang membimbingmu ke sini sehingga dapat bertemu dan menolongku, Han-ko. Dan sekarang, kita mau ke mana?"

"Engkau sendiri tadinya hendak ke mana, Cin-moi?"

"Sudah kukatakan kepadamu tadi bahwa aku merantau untuk mencarimu."

"Demikian pula tadinya aku hendak ke Hong-san, juga untuk mencarimu. Dan kita sudah bertemu di sini sekarang."

"Aku tidak ingin berpisah lagi dari mu, Han-ko."

"Demikian pula aku, Cin-moi. Kita tidak akan pernah berpisah lagi sekarang. Suka-duka harus kita pikul bersama. Maka, marilah kita lanjutkan perjalanan kita ke Hong-san. Aku ingin menghadap orang tuamu, bukan saja untuk membicarakan urusan kita berdua, akan tetapi juga untuk minta ma�af atas penyeranganku tempo hari."

"Han-ko, perlukah hal itu kauceritakan? Ayahku tidak mengenalmu, hanya tahu bahwa yang menyerangnya adalah Si Kedok Hitam. Apakah tidak sebaiknya kalau hal itu didiamkan saja agar tidak menimbulkan persoalan baru?"

Tin Han memandang kekasihnya dengan sinar mata tegas.

"Tidak, Cin-moi. Di dalam kehidupan kita, kita harus bersikap jujur. Aku akan selamanya merasa bersalah kalau aku berdiam saja terhadap ayahmu, aku merasa telah berlaku curang kepada calon mertuaku sendiri. Aku harus mengaku terus terang, mengapa aku menyerangnya ketika itu. Aku memang bersalah. Kuanggap tadinya bahwa ayahmu diangkat menjadi beng-cu atas restu dan pilihan pemerintah penjajah, maka aku tidak senang dan ingin sekedar memberi peringatan."

Lee Cin mengerutkan alisnya.

"Akan tetapi, Han-ko. Aku khawatir sekali, apa lagi mengingat bahwa ibu kini berada di sana. Mungkin ayah dapat memaafkanmu, akan tetapi ibu berhati amat keras. Bagaimana kalau ia menjadi marah?"

"Apapun akibatnya harus kutanggung, Cin-moi. Seorang pencdekar harus berani mempertanggung-jawabkan semua perbuatannya, bukan? Biar apapun akibatnya akan kuterima dengan lapang dada."

"Ah, Han-ko..... !"

Lee Cin merangkul dan menempelkan mukanya ke dada pemuda itu. Tubuhnya agak gemetar.

"Aku takut, aku khawatir sekali, Han-ko."

"Percayalah, aku akan sanggup menerima segala akibatnya. Harap engkau tidak khawatir, apapun akibatnya, aku akan tetap mencintamu, sampai mati sekalipun."

"Han-ko, jangan sebut-sebut tentang kematian. Engkau bagiku pernah mati sekali, jangan ulangi lagi hal itu."

Tin Han merangkul dan menghibur.

"Sudahlah, tabahkan hatimu dan mari kita berdua menghadapi kenyataan yang tidak dapat diubah lagi. Mari kita berangkat , Cin-moi."

Dengan bergandeng tangan, dua orang yang sedang dimabok asmara itu lalu meninggalkan hutan itu dan melakukan perjalanan berdua.

Biarpun dibayangi kekhawatiran besar, Lee Cin tetap merasa berbahagia bahwa sekarang Ia telah melakukan perjalanan di samping orang yang di kasihinya dan yang telah membuat ia menderita kesedihan dan kerinduan selama berbulan-bulan itu.

Entah bagaimana, mendadak saja segala sesuatu yang dilihatnya tampak indah sekali.

Pohon-pohon, rumput-rumputan, daun dan bunga, bahkan sawah ladang yang jauh itu tampak demikian indahnya bagi Lee Cin dan juga bagi Tin Han.

Memang demikianlah pengaruh cinta asmara antara kedua insan yang sedang dimabok asmara.

Hidup rasanya indah bukan main, cerah dan menggembirakan hati.

Dunia ini serasa mereka berdua saja yang punya.

Semua ingatan terlupakan, yang ada hanya diri mereka masing-masing.

Kalau cinta sudah bertemu cinta, hidup ini serba indah berbunga-bunga.

-ooOoo-Souw Tek Bun dan isterinya, Ang-tok Mo-li Bu Siang, sedang duduk berdua di beranda depan.

Bekas beng-cu dan isterinya ini hidup tenang dan damai dan menikmati kehidupan di hari tua yang tenteram.

Bu Siang sudah sama sekali mencuci tangan tidak lagi mau mencampuri urusan dunia kang-ouw, sedangkan Bun Tek juga tidak ingin pergi merantau sebagai seorang pendekar lagi.

Mereka berdua menganggap bahwa kehidupan di dunia persilatan penuh dengan kekerasan dan permusuhan.

Mereka tidak ingin tengganggu ketenangan hidup yang mereka nikmati itu dengan kekerasan dan permusuhan lagi.

Lega hati Souw Tek Bun bahwa dia sudah mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai beng-cu.

Sekarang tidak akan ada lagi orang kang-ouw yang mencarinya.

Tiba-tiba mereka melihat dua sosok bayangan orang datang menuju ke pondok tempat tinggal mereka.

Setelah melihat dua sosok bayangan itu semakin dekat, Ang-tok Moli berseru gembira.

"Itu Lee Cin!"

Mereka bangkit dan Souw Tek Bun tersenyum ketika melihat bahwa yang datang itu betul Lee Cin bersama seorang pemuda tampan yang kelihatan lembut.

Jantung kedua orang tua ini berdegup tegang melihat ini.

Siapakah pemuda itu?

Apakah pemuda itu pilihan hati Lee Cin?

Mereka merasa tegang dengan harapan dan kegembiraan.

"Ayah!..... ..... !"

Kata Lee Cin gembira dan ia segera merangkul ibunya. Tin Han memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan dan membungkukkan tubuhnya di depan suami isteri itu.

"Paman dan bibi berdua, terimalah hormat saya."

"Eh, Lee Cin, siapakah orang muda ini?"

Tanya Ang-tok Mo-li Bu Sian sambil menatap wajah yang tampan dan lembut itu.

Ini adalah koko Cia Tin Han, ibu dan ayah.

Dia sahabat baikku yang sudah berulang kali menolong dan menyelamatkan aku dari bahaya maut."

Mendengar keterangan ini, suami isteri itu dapat menduga bahwa pemuda yang nampak halus ini tentu memiliki ilmu kepandaian tinggi dan ini mengingatkan Angtok Mo-li akan sesuatu.

"She Cia, ya? Apakah ada hubungannya dengan Keluarga Cia di Hui-cu?"

"Benar sekali, ibu! Kak Tin Han adalah cucu kedua dari Nenek Cia Hui-cu!"

"Hemm, bagus. Jadi ini cucu Nyonya Cia? Aku pernah bertanding mengadu ilmu dengan Nyonya Cia, dan keadaan kami seimbang. Ingin aku sekali lagi mengadu ilmu dengannya!"

"Akan tetapi Nenek Cia telah meninggal dunia, ibu. Ia terluka akibat bertanding melawan Siang Koan Bhok."

"Hemm, kalau begitu, boleh juga aku mencoba ilmu kepandaian yang ia turunkan kepada cucunya ini." �Ibu jangan begitu! Kak Tin Han adalah sahabat baikku yang telah berulang kali menyelamatkan nyawaku."

"Sudahlah, isteriku, untuk apa mencari keributan lagi? Cucu Nyonya Cia ini tidak tahu apa-apa, jangan libatkan dia dalam pertandinganmu melawan Nyonya Cia. Mari, silakan masuk. Kita bicara di dalam saja."

Mereka lalu masuk ke dalam dan duduk di ruangan depan yang cukup luas.

"Lee Cin, inikah pemuda yang kauceritakan dahulu itu? Yang kausangka mati masuk ke dalam jurang?"

Lee Cin mengangguk dan kedua. pipinya berubah kemerahan. Agaknya ayahnya tahu apa yang terasa olehnya.

"Benar, ayah. Ternyata dia tidak terjatuh dan mati, melainkan tertolong oleh seorang sakti yang memiliki burung rajawali hitam."

"Rajawali Hitam kau bilang? Hem, aku pernah mendengar tentang seorang manusia setengah dewa yang memiliki burung seperti itu. Kalau tidak salah nama julukannya adalah Thai Kek Cin-jin, akan tetapi nama itu hanya seperti nama tokoh dalam dongeng."

"Memang dialah orangnya, ayah! Malah dia menurunkan ilmu-ilmu silat kepada Han-ko!"

Kata Lee Cin gembira.

"Hemm, begitukah?"

Souw Tek Bun mengangguk-angguk dan memandang kepada pemuda itu dengan penuh perhatian dan kagum.

"Paman Souw Tek Bun, saya sengaja ikut dengan Cin-moi datang menghadap paman dan bibi berdua untuk menyampaikan dua hal penting. Akan tetapi sebelumnya saya mohon maaf terlebih dahulu."

Ang-tok Mo-li masih memandang dengan penasaran, akan tetapi Souw Tek Bun menjawab sambil tersenyum.

"Katakanlah, Tin Han, apa yang ingin kau sampaikan kepada kami?"

"Pertama-tama, saya mohon maaf bahwa dahulu saya pernah menyerang paman, bahkan melukai paman dalam penyamaran saya sebagai Kedok Hitam. Sayalah orangnya, paman dan saya merasa menyesal sekali."

"Ah, itukah? Lee Cin sudah menceritakan kepada kami dan aku sudah melupakan peristiwa itu. Apalagi engkau sudah berulang kali menyelamatkan nyawa Lee Cin, maka perhitungan antara kita sudah impas. Lebih lagi kalau diingat bahwa dalam pertandingan itu akupun telah melukai lenganmu dengan pedangku. Hanya ada satu hal yang masih belum kuketahui benar. Mengapa engkau menantang dan menyerangku ketika itu, Tin Han?"

"Ampun, paman. Ketika itu, saya masih hijau dan semangat saya menggebu-gebu. Saya membenci semua orang yang bekerja untuk pemerintah penjajah dan karena paman diangkat sebagai beng-cu atas pilihan dan restu pemerintah, maka saya menganggap paman juga seorang..... antek pemerintah penjajah. Itulah sebabnya saya menyerang paman."

"Ha-ha-ha, sudah kuduga begitu! Tahukah engkau, orang muda. Penyeranganmu atas diriku itulah yang menyadarkan aku bahwa kedudukanku sebagai beng-cu tidak akan mengangkat derajat dan kehormatanku sebagai seorang pendekar. Karena itu aku mengundurkan diri dari kedudukan beng-cu. Seperti kaukatakan tadi, aku memaafkanmu dan bahkan sudah melupakan peristiwa itu. Sebelum menjadi murid Thai Kek Cin-jin engkau sudah begitu lihai, apa lagi setelah menjadi murid manusia setengah dewa itu, tentu kepandaianmu telah meningkat tinggi sekali, Tin Han." �Ah, biasa-biasa saja, paman."

"Dia memang lihai sekali, ayah. Bahkan Siang Koan Bhok pernah dikalahkannya dalam pertandingan,"

Kata Lee Cin yang sudah mendengar tentang pertandingan itu dari mulut Tin Han. Souw Tek Bun membelalakkan matanya.

"Begitukah? Ah, hebat sekali kalau begitu. Pada waktu sekarang ini sukarlah dicari orang yang akan mampu menandingi Siang Koan Bhok kecuali mungkin hanya Panglima...... eh, mak sudku mantan Panglima Song Thian Lee. Lalu, hal apakah yang kedua, yang ingin kausampaikan kepada kami?"

Tin Han memandang kepada Lee Cin seperti ingin minta kekuatan dari gadis itu. Lee Cin balas memandang dan tersenyum menenangkan. Tin Han lalu mengumpulkan keberanian hatinya dan berkata.

"Paman Souw dan bibi, terus terang saja bahwa di antara adik Lee Cin dan saya telah ada persetujuan untuk hidup bersama, untuk menjadi suami isteri. Oleh karena itu, sekarang saya mohon persetujuan paman berdua. Kalau sudah begitu, saya akan minta kepada orang tua saya untuk mengajukan pinangan."

Souw Tek Bun terbelalak kaget dan heran mendengar pernyataan yang demikian terus terang dan terbuka, akan tetapi mulutnya tersenyum karena diam-diam dia menyetujui kalau Lee Cin berjodoh dengan pemuda yang lihai ini.

Akan tetapi sebelum dia dapat memberi jawaban, isterinya sudah cepat bangkit berdiri dan berkata dengan suara ketus.

"Tidak bisa! Aku pernah bermusuhan dengan Nyonya Cia, dan engkau sendiri pernah menyerang suamiku. Bagaimana mungkin aku dapat menerimanya sebagai mantu? Tidak, aku tidak setuju sama sekali!"

"Ibu..... !"

Lee Cin berseru kaget.

"Lee Cin, aku adalah ibumu. Aku lebih tahu dari pada engkau. Pendeknya engkau tidak boleh berjodoh dengan pemuda ini. Hei, Cia Tin Han, engkau sudah mendengar penolakanku? Jangan suruh ayah bundamu ke sini untuk meminang Lee Cin karena aku tentu akan menolaknya dan kalau mereta berani datang, kuanggap mereka tidak tahu diri dan mungkin akan kusambut dengan tantangan!"

Lee Cin dan ayahnya terkejut sekali mendengar kata-kata yang keras dan ketus dari Ang-tok Mo-li itu. Tin Han sendiri menggigit bibirnya dan mukanya berubah pucat.

"Siang-moi! Jangan berkata demikian. ......"

Kata Souw Tek Bun kepada isterinya.

"Pendeknya aku tidak setuju kalau Lee Cin berjodoh dengan pemuda ini, habis perkara!"

Kata pula Ang-tok Mo-li dengan marah. Tin Han bangkit dengan perlahan, memandang kepada Lee Cin dengan wajah pucat lalu menjadi merah, dan dengan lirih dia berkata.

"Cin-moi..... aku mohon diri, engkau sudah mendengar sendiri kata-kata ibumu."

"Tidak, Han-ko!"

"Lee Cin, apakah engkau hendak menentang pendapat ibumu sendiri? Lupakah engkau bahwa sejak kecil engkau kubesarkan kudidik dan kugembleng, hanya untuk menentangku sesudah engkau dewasa? Hei, Cia Tin Han, apakah engkau tidak tahu malu? Sudah kutolak masih juga belum pergi dari sini?"

Tin Han membalikkan tubuhnya memandang kepada wanita yang marah itu, wajahnya kini berubah kemerahan dan diapun berkata.

"Paman Souw dan bibi, aku mohon diri. Cin-moi selamat tinggal!"

Tin Han lalu berkelebat lenyap dari situ, sudah keluar dari pondok itu dengan cepat sekali.

"Han-ko !"

Lee Cin mengejar, akan tetapi ketika tiba di luar rumah ia sudah tidak melihat lagi bayangan pemuda itu dan ia tidak tahu kearah mana Tin Han pergi.

Kemudian ia mengejar ke arah selatan, akan tetapi sampai belasan li ia berlari, tidak juga dapat menyusul Tin Han yang mungkin lari ke lain jurusam.

Air mata Lee Ci bercucuran dan ia masih menangis ketika memasuki rumahnya.

"Ibu, kau keterlaluan, ibu! Kena ibu menolak bahkan mengusir Han-ko? Apa salahnya?"

Ia menuntut kepada ibunya yang masih duduk di ruangan depan bersama ayahnya.

"Aku bertindak demi kebaikanmu, Lee Cin. Aku tidak setuju kalau engkau menjadi isteri keturunan keluarga Cia!"

"Akan tetapi mengapa, ibu? Apa alasanmu?"

Lee Cin mendesak. Souw Tek Bun juga berkata kepada isterinya.

"Engkau harus menerangkan alasanmu yang kaukatakan kepadaku tadi agar anak kita dapat mengerti, isteriku."

"Kau mau tahu? Duduklah, Lee Cin,"

Kata Ang-tok Mo-li kepada puterinya.

"Ketahuilah, Keluarga Cia itu adalah manusia-manusia yang tidak baik. Mereka mengaku sebagai patriot pembela tanah air dan hendak berjuang untuk mengusir penjajah dari tanah air."

"Memang benar mereka patriot!"

Jawab Lee Cin.

"Apa salahnya dengan itu? Jangan ibu katakan bahwa ibu membela Kerajaan Mancu penjajah!"

"Huh, siapa yang membela penjajah? Aku hendak mengatakan bahwa Keluarga ia itu adalah patriot-patriot palsu. Mereka telah bersekutu dengan orang-orang jahat, bersekutu dengan orang Jepang para bajak dan bersekutu dengan pasukan pemerintah yang memberontak. Mereka menjadi patriot dan pejuang hanya untuk kedok saja. Sebetulnya mereka adalah orang-orang yang jahat. Ingat saja. Cia Tin Han itu nyaris membunuh ayahmu dengan memakai kedok pula, bukankah itu perbuatan pengecut dan jahat ? Dan engkau akan menjadi isterinya? Menjadi mantu Keluarga Cia yang brengsek itu ?"

"Ibu salah sangka! Han-ko tidak bersekutu dengan orangorang jahat! Dia bahkan menentang orang-orang jahat, dan ketika Keluarga Cia bersekutu dengan tokoh-tokoh sesat, diam-diam dia bahkan menentangnya. Akan tetapi sekarang KeIuarga Cia sudah sadar akan kesalahan mereka dan mereka menjadi pendekar dan patriot sejati."

"Engkau membela karena engkau sudah kegilaan kepada pemuda itu! Pendeknya, kami tidak setuju kalau engkau berjodoh dengannya!"

"Ibu...... !"

Akan tetapi Ang-tok Mo-li membalikkan tubuhnya tidak mau memandang kepada puterinya.

"Ayah...... !!"

Lee Cin menoleh kepada ayahnya.

Akan tetapi orang tua ini pun hanya menarik napas panjang dan menggerakkan kedua pundak seperti orang yang tidak berdaya.

Lee Cin terisak lalu lari ke dalam kamarnya, melempar diri ke atas pembaringan dan menangis sesenggukan Ia merasa hatinya hancur lebur, kebahagiaan yang dirasakannya ketika melakukan perjalanan bersama Tin Han lenyap seperti asap ditiup angin dan hatinya merasa perih, merasa dan bingung.

Ingin ia lari menyusul Tin Han, akan tetapi ke mana?

Pemuda itu tentu sakit hati dan marah sekali karena telah ditolak, diusir dan dihina dan kalau Tin Han sengaja tidak mau menemuinya lagi, biar ia mencari keliling dunia juga tidak akan dapat berjumpa.

"Han-ko..... !"

Ia merintih dan tangisnya semakin mengguguk, sampai bantalnya basah semua dan akhirnya ia jatuh pulas setengah pingsan, tidak ingat apa-apa lagi.

Malam itu Lee Cin masih rebah di dalam kamarnya.

Ketika ibunya datang mengajaknya makan, ia tidak menjawab dan pura-pura tidur.

Ayahnya juga datang dan meraba dahinya, akan tetapi ia pura-pura tidur juga sehingga kedua orang tua itu meninggalkan kamar dan menutup daun pintu kamarnya.

Malam telah larut, dan Lee Cin kini sadar sepenuhnya.

Ia tidak tahu apakah ia tadi tidur atau pingsan.

Karena tubuhnya lemas akibat dari kesedihannya yang amat sangat sehingga melukai perasaannya, Lee Cin segera bangkit duduk dan bersila di atas pembaringannya.

Ia harus menjaga kesehatannya karena ia sudah mengambil keputusan untuk besok pergi meninggalkan rumah orang tuanya untuk mencari Tin Han!

Dalam keadaan seperti itu, panca indera Lee Cin menjadi peka bukan main.

Oleh karena itu ia dapat mendengar suara yang tidak wajar di atas genteng rumah itu.

Seperti suara orang berjalan dengan ringannya di atas genting!

Jantungnya berdebar penuh harap ketegangan.

Mungkin Tin Han yang datang!

"Han-ko.....

....!� Bibirnya berbisik dan iapun cepat keluar dari kamarnya dan melompat keluar rumah melayang naik ke atas genteng.

Akan tetapi mendengar suara gedebukan di bawah sperti orang berkelahi disusul jeritan ibunya.

Ketika ia melayang turun kembali ke ruangan dalam ia melihat berkelebatnya bayangan hitam.

Cia Tin Han yang menyamar menjadi Hek-tiauw Eng tong, pikirnya.

Akan tetapi karena khawatir mendengar jerit ibunya tadi, ia pun tentu saja masuk ke ruangan belakang dari mana suara tadi terdengar.

"Ibu...... !"

Lee Cin berseru. Ia melihat ibunya yang berwajah pucat dipapah oleh ayahnya.

"Kau kenapa?"

Souw Tek Bun bersikap tenang.

"Ia terluka oleh pukulan..... orang itu!"

Lee Cin cepat memeriksa keadaan ibunya yang sudah direbahkan di atas pembaringan.

Ternyata di pundak ibunya terdapat tanda telapak tangan hitam sepert i yang pernah diderita ayahnya.

Pukulan dari Cia Tin Han!

Lee Cin menahan mulutnya yang sudah penuh pertanyaan itu.

Lebih dulu harus menolong ibunya.

Dengan ilmu totok It-yang-ci Lee Cin merawat ibunya, menotok beberapa jalan darah untuk menyembuhkan luka mengandung hawa beracun itu.

Itulah pukulan Hek-tokciang yang dimiliki oleh Keluarga Cia, pikirnya.

Untung tubuh ibunya kuat, maka luka itu tidak sampai membahayakan nyawanya.

Setelah mengusir hawa beracun itu dari tubuh ibunya dan melihat ibunya tidak menderita lagi bahkan dapat tidur pulas, barulah Lee Cin bertanya kepada ayahnya.

"Ayah, apakah yang telah terjadi?"

Tanyanya. Ayahnya menggeleng kepala dan menghela napas panjang.

"Sungguh aku tidak menyangka sama sekali bahwa dia akan berbuat seperti ini!"

"Ayah, apa maksudmu?"

"Dia..... dia datang kembali menyerang kami. Dia lihai sehingga ibumu terpukul pundaknya, lalu dia melarikan diri."

"Dia siapa, ayah?"

Tanya Lee Cin dengan hati berdebar keras karena ia sudah menduga siapa orangnya.

"Aku menyesal sekali harus bicara terus terang padamu, Lee Cin. Yang menyerang kami tadi adalah seorang yang memakai pakaian dan topeng hitam, persis seperti yang kualami dahulu itu. Dialah yang telah melukai ibumu."

"Cia Tin Han?"

Lee Cin mendesak.

Souw Tek Bun menghela napas.

Kurasa dia orangnya, siapa lagi yang begitu lihai dapat melukai ibumu walau pun kami maju berdua?

Dan lukanya sama benar dengan luka yang kuderita dahulu, bukan?"

Lee Cin mengangguk dan suaranya terdengar seperti berbisik.

"Hek-tok-ci-ang..... � "Ternyata dia merasa sakit hati kepada ibumu karena siang tadi dia ditolak dan diusir, maka dia melukai ibumu. Ah, aku tidak mengira dia dapat melakukan hal seperti ini."

"Aku juga tidak percaya bahwa Han-ko dapat melakukan hal itu!"

Kata Lee Cin cepat.

"Akan tetapi buktinya ......, Lee Cin. Tidak dapat disangkal lagi bahwa tentu dia. yang melakukan hal ini.� "Ah...... aku...... aku akan mencari dia, ayah. Kalau benar dia telah menyerang ibu dan melukainya, aku akan mengadu nyawa dengannya!"

Setelah berkata demikian, Lee Cin meninggalkan kamar ibunya dan kembali ke kamarnya sendiri.

Kembali dara ini menangis sedih, akan tetapi sebab tangisnya kini berbeda dari tadi.

Di dalam hatinya terjadi perang antara rindu dan benci.

Kenapa Tin Han melakukan hal itu kepada ibunya?

Karena sakit hati ditolak dan diusir tadi?

Akan tetapi, kalau ia perhatikan tingkah laku Tin Han selama ini, demikian gembira, demikian tenang dan demikian gagah, rasanya tidak mungkin Tin Han melakukan itu.

Akan tetapi siapa tahu hati orang?

Dahulupun Tin Han pernah menyerang dan melukai ayahnya dengan pukulan yang sama.

"Awas kau...... awas kau.....! Aku akan membalas perbuatanmu ini!"

Kembali Lee Cin menangis setelah mengucapkan ancaman itu.

Dan pada keesokan harinya, setelah menengok ibunya dan melihat bahwa ibunya tidak lagi terancam bahaya dan kesehatannya sudah hampir pulih kembali, ia berkata kepada ibunya.

"Tenangkanlah hatimu, ibu. Aku akan pergi mencari orang yang telah melukaimu dan akan membalaskan sakit hati ini!"

Ibunya memandang dengan sinar mata menyelidik.

"Kau tahu siapa orangnya?"

"Siapa lagi kalau bukan dia ibu?"

Ibunya mengangguk.

"Sudah kuduga dia bukan orang baik-baik. Keluarga Cia memang bukan keluarga yang baik. Akan tetapi engkau harus berhati-hati sekali, anakku. Dia itu lihai bukan main. Aku dan ayahmu juga tidak dapat menandinginya."

Dengan hati yang perih sekali Lee Cin menjawab.

"Aku tahu, ibu. Bagaimanapun lihainya, aku tidak takut dan dia harus membayar hutangnya malam tadi. Souw Tek Bun mencoba untuk mencegah Lee Cin pergi.

"Lee Cin, tenangkan dulu hatimu dan jangan tergesa-gesa. Siapa tahu kalau pelaku penyerangan tadi malam bukan Cia Tin Han. Bagaimanapun juga, kita belum mempunyai bukti bahwa dia yang menyerang dan melukai ibumu."

"Siapa lagi kalau bukan dia, ayah? Tidak perlu bukti nyata, semuanya sudah dapat diduga. Tentu dia merasa kecewa, menyesal dan sakit hati karena kemarin ibu telah menolaknya, bahkan mengusirnya. Aku sendiri tadinya juga merasa kecewa dan menyesal sekali atas perbuatan ibu. Akan tetapi sekarang aku harus membenarkan ibu. Dia itu bukan seorang manusia baik-baik, seperti juga keluarganya. Aku harus menemukannya dan membalas dendam sakit hati ini. Bukan hanya karena dia telah melukai ibuku, melainkan karena dia telah mengecewakan dan menghancurkan kepercayaan dan kebahagiaan hidupku!"

Souw Tek Bun tidak dapat lagi menahan Lee Cin, maka dia hanya berpesan kepada puterinya itu.

"Bagaimanapun juga, aku harap engkau tidak mengambil keputusan yang gegabah. Selidiki lebih dulu sebelum engkau bertindak sesuatu terhadap dirinya."

Berangkatlah Lee Cin meninggalkan rumahnya.

Sekali ini hatinya tidak berduka karena kehilangan Tin Han, melainkan berduka karena dianggapnya Tin Han telah merusak kebahagiaan hidupnya.

-ooOoo-Kuil Siauw-lim-pai yang berada di tepi atau Lembah Sungai Huang-ho pada hari itu tampak sunyi.

Para hwe-sio sudah melakukan pekerjaan masing-masing.

juga tidak tampak orang yang datang untuk bersembahyang.

Karena itu, maka In Tiong Hwe-sio, ketuanya yang berusia enampuluh dua tahun, dengan santai berjalan-jalan di ruangan kuil yang luas.

Beberapa orang hwe-sio bekerja di pekarangan kuil.

Ada yang merawat tumbuh-tumbuhan bunga di situ, ada yang menyapu dan ada yang membersihkan dinding dan pintu serta jendela.

Melihat ini,In Tiong Hwe-sio lalu keluar ke pekarangan dan berjalan-jalan di situ.

Lima orang hwe-sio yang bekerja di sekitar tempat itu menyambut dengan membungkuk hormat kepada ketua mereka yang dibalas oleh In Tiong Hwe-sio dengan meletakkan tangan kiri di depan dadanya.

Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan di pekarangan ini telah berdiri seorang yang mengenakan pakaian hitam dan menutupi mukanya.

Orang bertopeng ini segera mcnghampiri In Tiong Hwe-sio dan suaranya lantang ketika dia bertanya.

"Apakah engkau yang bernama In Tiong Hwesio ketua kuil Siauw-lim-pai ini?"

In Tiong Hwe-sio memandang dengan penuh perhatian.

"Omitohud, siapakah si-cu? Pin-ceng memang benar In Tiong Hwe-sio ketua Siauw-lim-pai (Kuil Siauw lim-si) ini."

"Ketahuilah, aku adalah Hek-tiauw Eng-hiong dan aku sengaja datang mencarimu untuk menantangmu bertanding."

"Hemm, Hek-tiauw Eng-hiong. Pinceng tidak pernah mengenalmu dan tidak ada urusan denganmu. Kenapa engkau menantang pin-ceng?"

"Aku menantangmu karena engkau adalah antek penjajah Mancu, karena itu mau atau tidak mau engkau harus menerima tantanganku, atau aku akan membunuhmu begitu saja walau engkau tidak menerima tantanganku. Nah, bersiaplah engkau, In Tiong Hwe-sio!"

Lima orang hwe-sio yang berada di pekarangan itu mendengar suara orang bertopeng itu dan mereka menjadi marah.

"Hei, dari mana datangnya orang gila yang menantang-nantang tidak karuan?"

Bentak seorang di antara mereka dan mereka berlima sudah datang mengepung si orang bertopeng.

"Pergilah dari sini atau terpaksa kami akan menggunakan kekerasan menyerangmu!"

Hek-tiau Eng-hiong tertawa bergelak "Ha-ha-ha, kalian ini anjing-anjing gundul kecil berani menggonggong!"

Tentu saja lima orang hwe-sio itu menjadi marah sekali karena dimaki anjing gundul kecil.

Tanpa banyak cakap lagi mereka lalu menubruk hendak menangkap orang bertopeng itu dan menyeretnya keluar dari halaman kuil.

Akan tetapi orang bertopeng yang mengaku bernama Hek-tiauw Enghiong itu, tiba-tiba memutar tubuh dan kedua tangannya menyambar-nyambar dan robohlah lima orang itu terkena tamparan pada kepala mereka dan tidak dapat bangun kembali!

"Omitohud......

In Tiong Hwe-sio memeriksa tubuh lima orang hwe-sio itu ternyata telah tewas dan di bagian kepala yang ditampar itu tampak tanda telapak tangan hitam!

"Omitohud, engkau telah melakukan pembunuhan terhadap lima orang yang tidak berdosa!"

Katanya dengan marah.

"Akupun akan mengirimmu menyusul ke sana!"

Kata si topeng hitam.

Pada saat itu, dua orang hwe-sio lain muncul dan mereka terkejut melihat lima orang rekan mereka roboh tewas.

Merekamenonton sambil bersem-bunyi di balik tembok, mendengarkandan juga menonton guru mereka menghadapi orang bertopeng itu.

"Omitohud, orang seperti engkau ini harus dibasmi dari permukaan bumi karena hanya membikin kotor saja!"

Setelah berkata demikian, In Tiong Hwe-sio menyerang orang bertopeng itu dengan kedua ujung bajunya..

Baju itu longgar dan panjang, dan lengan bajunya juga lebih panjang dari lengannya.

Biarpun hanya terbuat dari kain, begintu digerakkan oleh In Tiong Hwe-sio, ujung lengan baju itu menyambar seperti terbuat dari benda keras.

"Wuuuut, wuuuuuttt !!"

Sambaran ujung lengan baju itu mendatangkan angin yang kuat, akan tetapi Hek-tiauw Enghiong mengelak dengan ringan dan cepat pula.

Kemudian dia membalas dengan pukulan-pukulannya yang ampuh.

In Tiong Hwe-sio terkejut dan maklum bahwa tamparan yang sekaligus membunuh lima orang muridnya itu tidak boleh dipandang ringan.

Itu adalah pukulan yang mengandunghawa beracun, maka diapun mengelak beberapa kali lalu mengibaskan ujung lengan bajunya untuk menangkis.

Dua kali lengan baju kanan kiri itu menangkis tamparan yang bertubi tubi datangnya.

"Brett-bretttl"

Kedua ujung lengan baju itu pecah dan robek ketika bertemu dengan tangan orang bertopeng itu.

Tentu saja In Tiong Hwe-sio menjadi semakin kaget dan terpaksa dia melawan dengan kedua tangannya.

Hwe-sio ini merupakan seorang ketua cabang, dan dia adalah satu dari In Kong Thai-su ketua Siauw-lim-pai di Kwi-cu, maka ilmu kepandaiannya sebetulnya sudah mencapai tingkat tinggi.

Akan tetapi, kini menghadapi orang bertopeng yang mengaku sebagai Hek-tiauw Eng-hiong, dia kewalahan!

Orang bertopeng itu ternyata lihai bukan main dan setelah mempertahankan diri selama limapuluh jurus lebih, akhirnya dada In Tiong Hwe-sio terkena pukulan tangan kanan orang bertopeng itu.

Tubuhnya terdorong mundur sampai beberapa meter dan hwe-sio itu terjengkang roboh dan tidak bergerak lagi.

Di baju bagian dadanya terdapat tanda telapak tangan hitam yang menghanguskan baju itu dan menembus sampai ke kulit dadanya.

Setelah merobohkan In Tiong Hwesio, orang bertopeng itu lalu memasuki kuil dan begitu bertemu dengan hwe-sio dia menyerang dan merobohkannya sehingga tidak kurang dari duabelas orang hwe-sio kuil itu roboh dan tewas.

Jumlah mereka yang tewas bersama In Tiong Hwe-sio ada delapan belas orang!

Setelah si topeng hitam itu pergi, barulah para hwe-sio yang tadi bersembunyi berani dan mereka semua dengan berduka sekali mengurus delapan belas jenazah itu.

Beberapa orang hwe-sio segera melaporkan peristiwa hebat itu ke kuil Siauw-lim-si di Kwi-cu, dan ada pula yang langsung pergi ke pusat Siauw-limpai yang berada di kaki Gunung Sung-san di Propinsi Honan di mana yang menjadi ketuanya adalah Sang Thian Hwe-sio yang usianya sudah delapanpuluh tahun dan hwe-sio tua ini merupakan susiok dari In Kong Thai-su dan juga In Tiong hwe-sio yang baru saja terbunuh.

Gegerlah Siauw-lim-pai dengan adanya peristiwa ini.

Sang Thian Hwe-sio lalu memerintahkan seluruh murid Siauw lim-pai untuk mencari tahu siapa si topeng hitam berjuluk Hek-tiauw Eng-hiong dan mencarinya untuk membuat perhitungan.

Juga ketua Siauw-lim-pai ini mengajak para muridnya untuk berunding, dan menyelidiki apa yang menjadi sebab pembunuhan itu.

"Menurut keterangan murid yang menyaksikan semua itu sambil bersembunyi dikatakan bahwa si topeng hitam memaki sute In Tiong Hwe-sio sebagai antek penjajah Mancu. Jelas bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh seorang patriot yang membenci pemerintah. Seorang patriot yang fanatik biasanya menganggap semua orang yang tidak mendukung gerakannya sebagai antek Mancu."

Sang Thian Hwe-sio menghela napas panjang.

"Omitohud, kalau benar seperti keterangan itu. berarti bahwa patriot memusuhi kita yang dianggap membantu pemerintah Mancu. Pada hal, kita ini adalah orang-orang beribadat yang hanya mengurus perkembangan agama, bagaimana kita dapat ikut-ikutan memberontak terhadap pemerintah Mancu seperti patriot itu?"

"Susiok, di antara para patriot banyak yang melakukan penyelewengan. Mereka memberontak terhadap pemerintah Mancu dan tidak segan untuk bergandengan tangan dengan tokoh-tokoh sesat dan bahkan dengan bajak-bajak Jepang. Pin-ceng rasa orang-orang seperti itulah yang telah membunuhi para murid Siauw-lim-pai."

"Bagaimanapun juga, kita harus menyelidiki dan mencari Hek-tiauw Enghiong itu. Apa yang telah dia lakukan terhadap para murid kita sudah keterlaluan. Engkau sendiri harus turun tangan karena orang itu memiliki ilmu silat yang tinggi, dan menurut pemeriksaan pin-ceng, para murid tewas karena pukulan semacam ilmu pukulan seperti Hektok-ciang."

"Susiok, tee-cu ingat bahwa yang terkenal dengan ilmu Hek-tok-ciang adalah Keluarga Cia yang dahulu tinggal di Hui-cu. Keluarga Cia memang terkenal sebagai patriot-patriot yang membenci pemerintah Mancu, bahkan membenci semua orang yang tidak mau memusuhi pemerintah penjajah. Besar kemungkinan seorang di antara mereka yang telah membunuh sute In Tiong Hwe-sio."

"Apakah ilmu kepandaian Keluarga Cia itu sedemikian tinggi?"

"Sepanjang pengetahuan tee-cu, yang paling lihai di antara mereka adalah Nyonya Cia atau Nenek Cia, akan tetapi siapa tahu bahwa di antara mereka kini ada yang memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi. Atau mungkin Nenek Cia sendiri yang memakai topeng hitam melakukan pembunuhan ini."

"Bagaimanapun juga, engkau harus melakukan penyelidikan."

"Baik, susiok, tee-cu akan menyebar murid-murid untuk melakukan penyelidikan dan tee-cu sendiri akan turun tangan.� kata In Kong Thai-su yang juga merasa penasaran sekali. Siauw-lim-pai adalah sebuah partai persilatan yang bersih. Sekarang delapanbelas orang murid Siauw-lim-pai dibunuh begitu saja dengan tuduhan sebagai antek Mancu. Siapa yang tidak merasa penasaran? Delapanbelas jenazah itu lalu diperabukan dan diadakan upacara sembahyang besar. Banyak tokoh kang-ouw yang berdekatan dan mendengar akan berita ini datang melayat. Pada keesokan harinya setelah upacara perabuan itu selesai, kuil Siauw lim-pai itu kedatangan serombongan pasukan pemerintah sebanyak dua losin prajurit. Rombongan pasukan ini dipimpin sendiri oleh Panglima Coa Kun, wakil Panglima Tua Bouw Kin Sek. In Kong Thai-su yang masih berada di situ dan memimpin upacara perabuan segera keluar menyambut.

"Omitohud, kepentingan apakah yang membuat ciangkun datang berkunjung ke kuil kami?"

Tanya In Kong Thaisu setelah mempersilakan Coa-ciang kun mengambil tempat duduk di sebelah dalam kuil.

"Kami mendengar tentang malapetaka yang menimpa kuil ini, lo-suhu. Sebetulnya, apakah yang terjadi sehingga kami mendengar ada banyak hwe-sio terbunuh? Siapa pembunuh mereka dan mengapa pula mereka dibunuh?"

"Kami sendiri tidak mengenal pembunuh itu, ciangkun, karena dia memakai topeng hitam. Dia hanya mengatakan bahwa kami adalah antek pemerintah dan dia lalu mengamuk dan melakukan pembunuhan terhadap delapan belas anggauta kami."

"Hemm, kalau begitu mudah sekali diduga. Pembunuh itu tentulah seorang pemberontak yang menentang pemerintah yang sah. Apakah ada ciri-ciri tertentu pada diri pembunuh itu? Kami merasa bertanggung-jawab untuk menyelidki dan menangkap pelakunya, Lo-suhu."

"Dia mengenakan pakaian dan kedok hitam, bertubuh sedang dan dari suaranya dia mungkin seorang muda. Tidak ada ciri-cirinya kecuali bahwa dia membunuh dengan memakai ilmu Hek-tok ciang atau semacam itu yang membuat korban tewas oleh pukulan beracun yang meninggalkan bekas tapak tangan hitam."

"Hemm, Hek-tok-ciang? Petunjuk itupun cukup. Kami akan rnengerahkan banyak mata-mata untuk menyelidiki di kalangan kang-ouw, siapa yang memiliki pukulan seperti itu. Kami merasa yakin bahwa dia seorang pemberontak yang membenci kalian karena Siauw-lim-pai bukan pemberontak. Mari kita bekerja sama untuk menangkap pemberontak itu, lo-suhu."

Di dalam hatinya In Kong Thai-su sama sekali tidak suka kalau diharuskan bekerja sama dengan pemerintah Mancu, akan tetapi untuk menolak secara terang-terangan dia merasa tidak enak.

Apalagi perwira itu mengulurkan tangan untuk bantu menyelidiki dan menangkap pembunuh itu.

Maka dia lalu merangkap kedua tangan depan dada dan berkata.

"Omitohud, terima kasih sekali atas maksud ciangkun yang hendak membantu kami menyelidiki dan menangkap pembunuh itu. Akan tetapi kami sendiri sudah mengambil keputusan untuk melakukan penyelidikan sendiri."

"Baik kalau begitu, lo-suhu. Kalau kami mendapatkan jejak, akan kami beritahukan kepada kalian, akan tetapi sebaliknya kalau kalian menemukan jejak, harus memberitahu kami agar kami dapat bertindak menangkap pembunuh itu."

"Omitohud, baik, ciangkun,"

Jawab In Kong Thai-su, namun dalam hatinya dia mengambil keputusan untuk tidak melibatkan pemerintah dalam urusan Siauw-lim-pai dengan pembunuh itu.

Bahkan Iri Kong Thai-su tidak memberitahukan kepada Coa-ciangkun bahwa pembunuh itu meninggalkan nama, yaitu Hek-tiauw Eng-hiong.

Tidak sampai sebulan kemudian, terjadi hal yang menghebohkan di Kunlun-pai.

Para tosu Kun-lun-pai mendengar pula akan pembunuhan sadis yang dilakukan seorang bertopeng hitam terhadap orang-orang Siauw-limpai di Lembah Huang-ho.

Mereka bahkan mengirim utusan untuk menyampaikan bela sungkawa.

Pada hari itu, Im Yang Seng-cu, ketua Kun-lun pai sendiri, melakukan penelitian terhadap latihan para murid Kun-lun pai.

Tentu saja bukan dia sendiri yang melatih karena Im Yang Seng-cu sudah berusia tujuhpuluh tahun lebih.

Yang para murid itu adalah dua orang sutenya yang bernama Thian Hwat To-su dan Te Hwat To-su.

Biarpun tingkat kepandaian kedua orang tosu ini masih setingkat di bawah ilmu kepandaiaii Im Yang Seng-cu, namun mereka berdua sudah memiliki kepandaian yang tinggi.

lm Yang Seng-cu pagi itu duduk di atas bangku dan melihat para murid sedang berlatih di bawah bimbingan kedua orang sutenya itu.

Mereka berlatih di luar asrama, di dalam sebuah taman yang hawanya nyaman sekali.

Para murid itu terdiri dari laki-laki semua, dan mereka melepaskah baju bagian atas.

Kini dada dan punggung mereka berkilat tertimpa sinar matahari karena mereka telah mandi keringat berlatih di bawah sinar matahari pagi itu.

Ada tigapuluh orang murid yang berlatih dan Im Yang Sengcu mengangguk-angguk puas melihat hasil latihan para murid Tiba-tiba terdengar suara orang.

"Hah, begini saja ilmu silat dari Kun-run pai ? Tidak sehebat nama besarnya!"

Tentu saja semua murid berhenti latihan dan semua orang, termasuk Im Yang Seng-cu memandang ke arah datangnya suara itu.

Dan di sana, entah kapan dan dari mana datangnya, telah berdiri seorang yang perawakannya sedang.

Orang itu memakai pakaian serba hitam, bahkan mukanya ditutup sehelai kain hitam.

Tentu saja semua orang terkejut.

Berita tentang kematian orang-orang Siauwlim-pai oleh seorang bertopeng hitam masih hangat dalam ingatan mereka dan kini muncul orang bertopeng hitam di situ!

Karena orang itu mencela ilmu silat K un-lun-pai, tentu saja para murid, Kun-lun-pai menjadi marah..

Mereka mengambil sikap menyerang, akan tetapi Thian Hwat To-su mengangkat tangan menahan para muridnya dia bersama Te Hwat To-su menghampiri orang bertopeng itu.

"Sobat, siapakah engkau dan ada keperluan apa engkau datang ke tempat kami ini ?"

Si Kedok Hitam itu tertawa_ "Sebut saja aku Hek-tiauw Eng-hiong!

Aku kebetulan lewat dan melihat kalian berlatih Untuk apa susah payah berlatih silat kalau tidak dipergunakan sebagai mana mestinya?

Apa kah kalian berlatih silat hanya untuk pamer dan menakut-nakuti orang saja ?"

"Sobat, apa maksudmu? Sejak dulu Kun lun pai memang mengajarkan silat kepada semua murid untuk menjaga kesehatan badan dan juga untuk membela diri, membela kebenaran dan keadilan."

"Membela kebenaran dan keadilan? Ha-ha-ha, kalau begitu, mengapa kalian tidak menentang pemerintah penjajah Mancu? Seharusnya sebagai pendekar-pendekar kalian harus menentang penjajah. Akan tetapi tidak, kalian bahkan menjadi antek bangsa Mancu!"

"Tutup mulutmu!"

Bentak Te Hwat To-su.

"Kami tidak pernah menjadi antek Mancu!"

"Ha-ha-ha, orang yang tidak mau menentang penjajah Mancu berarti menjadi antek Mancu. Akan tetapi, dengan ilmu silat kalian yang rendah itu memang tentu saja kalian takut terhadap penjajah Mancu."

"Kata-katamu agaknya menghina dan mencari perkara, sobat,"

Kata Thian Hwat To-su.

"Timbul pertanyaan kami apakah engkau orangnya yang telah menyerang Siauw-limpaidan membunuh belasan orang anggauta Siauw-limpai?"

"Ha-ha-ha..... bukan lain adalah antek Mancu dan aku paling benci terhadap antek Mancu seperti kalian. Apakah kalian menjadi marah dan semua muridmu akan mau mengeroyokku? Silakan, aku tidak takut terhadap pengeroyokan orang-orang pengecut macam kalian!"

Dua orang to-su itu tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Akan tetapi pada saat itu lm Yang Seng-cu berkata dengan suara berwibawa.

"Siancai! Tahan dulu dan bersikaplah tenang, sute. Sobat muda, katakanlah terus terang apa yang engkau kehendaki maka engkau berkunjung ke sini? Apakah engkau datang hanya untuk menghina kami tanpa sebab?"

"Aku datang untuk menantang Kun lun-pai karena Kunlun-pai menjadi antek Mancu. Siapa yang memiliki ilmu silat akan tetapi tidak menentang penjajah Mancu kuanggap sebagai antek Mancu yang patut dibasmi. Engkau orang tua tentulah lm Yang Seng-cu ketua Kun-lun-pai. Nah, aku tantang engkau untuk mengadu ilmu! Kalau kalian mau mengeroyokku, akupun tidak takut!"

"Siancai....."

I m Yang Seng-cu berseru, kaget dan heran. Thian Hwa To-su segera berkata kepada ketua Kun-Iun-pai itu.

"Suheng, biarkan kami yang melawan orang kurang ajar ini!"

Im Yang Sang-cu mengangguk.

"Akan tetapi majulah satu satu, jangan menggunakan pengeroyokan, itu tidak sesuai dengan watak murid Kun-lun-pai!"

Te Hwat To-su sudah meloncat maju dan menantang si Kedok Hitam.

"Hek-tiauw Eng-hiong, pintolah lawanmu!"

Tantangnya.

"Wah, engkau tidak akan mampu menandingi aku. Biarlah Im Yang Sengcu sendiri yang maju,"

Orang berkedok itu mengejek.

"Jangan banyak cakap lagi, kalau memang berani majulah!"

Te Hwa To-su yang sudah marah sekali berkata dengan lantang.

"Siapa takut padamu? Lihat seranganku!"

Si Kedok Hitam menyerang dan Te Hwat To-su terkejut melihat tangan yang berubah menjadi hitam dan mengeluarkan asap hitam itu.

Dia mengelak dan balas menyerang dan mereka segera saling serang dengan sengit.

Namun agaknya Te Hwat To-su memang bukan lawan Hek-tiauw Eng-hiong.

Baru tigapuluh jurus mereka saling serang dan ketika Hek-tiauw Eng-hiong membentak dan memukul, tamparan tangan kirinya sudah mengenai dada to-su itu.

"Bukk...... !"

Te Hwa To-su terpental dan roboh tak berkutik lagi.

Bajunya bagian dada robek dan tamparan itu mengenai dada meninggalkan bekas tapak tangan hitam!

Thian Hwa To-su marah sekali.

Sekali pandang saja tahulah dia bahwa sutenya telah tewas.

Dengan pedang di tangan dia melompat ke depan dan membentak.

"Manusia keji, keluarkan senjatamu!"

"Ha-ha-ha, untuk melawanmu aku tidak perlu menggunakan senjata. Pakailah pedangmu untuk menyerang aku!"

Si Kedok Hitam menantang. Mendengar tantangan ini Thian Hwa To-su tidak dapat menahan kemarahannya lagi.

"Lihat pedang!"

Dia berseru dan secepat kilat pedangnya sudah menyambar ke arah leher Si Kedok Hitam.

Akan tetapi dengan gerakan yang ringan dan gesit sekali, Si Kedok Hitam sudah dapat mengelak mundur dan begitu pedang menyambar luput, dia sudah melangkah maju lagi dan merigirim pukulan dengan tapak tangan terbuka ke arah dada Thian Hwa To-su.

Maklum betapa ampuhnya pukulan itu, pukulan yang telah menewaskan sutenya, Thian Hwa To-su mengelak sambil membahat ke arah tangan yang memukul itu.

Akan tetapi Hek-tiauw eng hiong menarik kembali tangannya dan setelah sabatan pedang lewat, dia memukul lagi sampai tiga kali secara beruntun.

Thian Hwa To-su terdesak dan memutar pedangnya melindungi dirinya, akan tetapi sebuah tendangan dari samping mengenai pinggangnya dan 'Thian Hwa To-su terhuyung-huyung.

Melihat lawan sudah terhuyung, Si Kedok Hitam menyusulkan pukulan.

Thian Hwa To-Su menangkis dengan pedangnya, akan tetapi tangan yang memukul itu menyambut dan menjepit pedang!

Pedang itu terjepit jari-jari tangan Si Kedok Hitam, tidak mampu ditarik kembali dan tiba-tiba tangan kanan Si Kedok Hitam menyambar dengan tamparannya yang mengenai pelipis Thian Hwa To-su.

"Plakk!"

Thian Hwa To-su terpelanting dan roboh tak dapat bergerak lagi.

"Siancai..... !"

Im Yang Seng-cu berseru dan tubuhnya melayang maju.

Maksudnya hendak menolong Thian Hwa To-Su akan tetapi dia sudah terlambat.

Melihat tosu tua itu melayang datang, Si Kedok Hitam menyambutnya dengan pukulan Hek-tok-ciang yang ampuh itu.

Im.

Yang Seng-cu menyambut dengan dorongan tangan kanannya pula.

"Wuuutitittt ...... plakk!!"

Dua telapak tangan bertumbuk di udara dan akibatnya, kedua orang itu lama-sama terpental sampai dua meter lebih.

Im Yang Seng-cu menahan napas dan merasa dadanya nyeri.

Akan tetapi dia menahan dirinya sehingga tidak tampak terpengaruh pukulan.

Sebaliknya, Si Kedok Hitam juga merasa betapa dadanya nyeri, tanda bahwa dia sudah terluka dalam.

Melihat lawannya kelihatan tidak apa-apa, hatinya menjadi kecut dan tanpa banyak cakap sekali berkelebat Si Kedok Hitam lenyap dari tempat itu.

Setelah Si Kedok Hitam pergi, barulah Im Yang Seng-cu terhuyung.

Beberapa orang muridnya melompat maju dan memapahnya memasuki kuil dan merebahkannya di dalam kamarnya.

Im Yang Seng-cu telah menderita luka dalam yang cukup parah, akan tetapi untung nyawanya masih dapat tertolong dengan minum obat luka dalam yang ampuh dari Kun-lun-pai.

Berita tentang serangan Hek-tiauw Eng-hiong ke Kunlun-pai ini segera tersiar luas.

Dunia kang-ouw mengetahui bahwa seorang pendekar muda yang baru, berjuluk Hektiauw Eng-hiong dan selalu mengenakan topeng hitam, memusuhi partai-partai persilatan besar, bahkan melakukan pembunuhan di kuil Siauw-lim-si dan juga di Kun-lun-pai.

Gegerlah dunia kang-ouw dan para pendekar yang merasa marah atas perbuatan Hek-t iauw Eng-hiong, ikut pula melakukan penyelidikan untuk mencari Pendekar Rajawali Hitam itu.

Karena dalam penyerangan terhadap Siauw-lim-pai maupun Kun-lun-pai itu Si Kedok Hitam menggunakan pukulan yang meninggalkan bekas tapak tangan hitam, semua orang kang-ouw menduga bahwa Si Kedok Hitam itu tentulah anggauta Keluarga Cia yang terkenal mempunyai ilmu Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam)!

-ooOoo-Tin Han yang meninggalkan Hongsan berlari cepat meninggalkan gunung itu.

Hatinya terasa nyeri dan pedih.

Bukan saja lamarannya ditolak, bahkan dia diusir dan dihina oleh ibu kandung Lee Cin!

Kalau saja tidak teringat kepada gadis yang dicintanya itu, tentu dia sudah menantang Ang-tok Mo-li untuk mengadu kepandaian.

Dengan wajah sebentar merah sebentar pucat dia lari ke arah timur Akhirnya dia berhenti di bawah sebatan pohon besar.

Karena merasa hatinya terganggu dan semangatnya lemah, dia lalu duduk bersila di bawah pohon itu untuk menghimpun hawa murni menenangkan hatinya.

Dia kini dapat berpikir dengan tenang dan tampaklah kenyataan olehnya bahwa tuduhan Ang-tok Mo-li itu tidak terlalu salah.

Wanita itu pernah bentrok dengan neneknya agaknya masih mendendam karena bentrokan itu dan menganggap Keluarga Cia sebagai musuhnya.

Tentu saja ia tidak membiarkan puterinya menikah dengan anggauta keluarga yang menjadi musuhnya.

Apalagi kalau diingat betapa neneknya selama ini bertindak salah bersekutu dengan para tokoh sesat.

Dia menghela napas panjang.

Dia merasa kasihan kepada Lee Cin.

Bagaimana dengan gadis itu?

Dia tahu bahwa Lee Cin amat mencintanya seperti juga dia mencinta gadis itu.

Akan tetapi kalau ibunya, menentang keras perjodohan mereka, apa yang dapat mereka lakukan?

Dia membayangkan betapa sedihnya hati Lee Cin.

Dia juga menyesali perbuatanuya sendiri bahwa dahulu pernah dia menyerang dan melukai Souw Tek Bun, ayah gadis itu.

Biarpun pendekar itu tidak mengandung sakit hati dan telah memaafkannya, akan tetapi isterinya tidak mau memaafkannya dan bahkan membencinya.

"Cin-moi,..... kasihan..... engkau...... Dia bangkit berdiri dan menghela napas panjang kembali. Akan tetapi dia percaya bahwa jodoh, seperti kelahiran dan kematian, berada dalam Tangan Tuhan. Kalau memang dia berjodoh dengan Lee Cin, tentu terbuka jalan bagi dia dan Lee Cin untuk menjadi suami isteri. Akan tetapi kalau Tuhan menghendaki lain, apa dayanya? Dia hanya menyerah atas kehendak Tuhan. Kepercayaan dan penyerahan ini menenangkan batinnya Dan dia mulai melihat cerahnya sinar matahari lagi. Tidak perlu membenamkan diri dalam kedukaan. Berlarut-larut dalam kedukaan hanya akan melemahkan batinnya, memadamkan semangatnya. Dia harus berani menghadapi segala kenyataan, betapapun pahit..... dan tidak enaknya kenyataan itu.

"Tin Han, engkau bukan seorang anak yang cengeng!"

Demikian dia mencela dirinya sendiri dan mulailah wajahnya bersinar dan berseri kembali, pandang matanya tidak muram seperti tadi.

Sinar harapan memancar lagi dari pandang matanya.

Tidak, dia tidak boleh putus harapan.

Bagaimanapun juga, yang penting dia dan Lee Cin saling mencinta dan tidak ada apapun juga di dunia ini yang dapat mengubahnya.

Dengan sikap begini, Tin Han dapat melanjutkan perjalanannya merantau dan di manapun dia berada, selalu dia mengulurkan tangan untuk membela orang-orang yang tertindas dan menentang orang-orang jahat.

Dua bulan telah lewat dan pada suatu hari, tibalah dia menjelang senja sebuah dusun.

Ketika dia memasuki dusun itu, terdengar suara ribut-ribut orang berseru minta tolong dan ada yang mengaduh-aduh.

Mendengar ini, Tin Han cepat melepaskan pakaian luarnya dan sebagai Hek-tiauw Eng-hiong dia lalu berlari cepat memasuki dusun itu.

Setibanya di tengah dusun, kemarahan hatinya melihat belasan orang laki-laki yang bertampang serem sedang melakukan perampokan, pemukulan dan ada pula dua orang yang sedang menyeret seorang gadis manis sambil tertawa-tawa.

Perampokan!

Tin Han marah sekali.

Betapa jahatnya orang-orang itu, merampok penduduk dusun!

Dengan hati panas dia melompat ke arah dua orang yang menyeret gadis itu, tangannya bergerak dua kali dan dua orang itu terpelanting roboh.

Dua kali tendangan menyusul membuat mereka berdua tidak mampu bangkit berdiri lagi, hanya mengaduh-aduh kesakitan.

Para perampok yang melihat kejadian ini, tentu saja menjadi marah sekali.

Dengan golok di tangan mereka menyerbu menyerang Hek-tiauw Eng-hiong, dipimpin oleh seorang yang bertubuh tinggi besar dan mukanya penuh brewok.

Hek-tiauw Eng-hiong tahu bahwa tentu si tinggi besar brewokan ini yang menjadi kepala perampok itu, maka melihat kepala rampok itu mengayunkan golok besar ke arahnya, dia menyambut dengan tamparan tangan kiri yang mengenai pundak kanan kepala perampok itu.

"Krekk!"

Tulang pundak itu patah dan golok besar itupun terlepas dari tangan.

Sebuah tendangan memmembuat tubuh kepala perampok itu terjengkang dan terbanting jatuh.

Anak buah perampok yang belasan oran jumlahnya lalu mengeroyok Hek-tiau Eng-hiong akan tetapi Pendekar Rajawali Hitam itu mengamuk, tamparan dan tendangannya tentu mengenai seorarang lawan dan membuatnya roboh.

Dalam waktu yang singkat saja, belasan orang perampok itu sudah roboh semua.

Melihat betapa para perampok sudah roboh tak berdaya, mengamuklah para penduduk dusun.

Dengan senjata seadanya mereka menghujani para perampok dengan pukulan dan tusukan.

Para perampok tdak mampu melawan lagi dan banyak di antara mereka tewas oleh amukan penduduk dusun itu.

Terdengar derap kaki kuda.

Lima orang laki-laki memasuki dusun itu dan melihat penduduk dusun mengamuk, mereka berseru.

"Hentikan! Apa yang telah terjadi di sini?"

Mereka adalah lima orang yang berpakaian ringkas sebagai pendekar, derigan pedang di punggung mereka dan tampak gagah perkasa. Usia mereka antara tigapuluh sampai empatpuluh tahun.

"Mereka adalah perampok-perampok dan beruntung kami ditolong oleh Enghiong (pendekar) ini!"

Kata penduduk imbil mending ke arah Hek-tiauw Eng-hiong.

"Hek-tiauw Eng-hiong!"

Lima orang itu berseru ketika mereka melihat Pendekar Rajawali Hitam dan segera mereka berlompatan turun dari atas kuda mereka.

Seorang di antara mereka menambatkan kuda-kuda mereka itu di batang pohon, sedangkan yang empat orang sudah menghampiri Tin Han.

Tin Han tidak mengenal mereka dan dia merasa heran bahwa lima orang itu mengenal nama julukannya.

Mungkin juga, pikirnya.

Di mana-mana dia telah meninggalkan nama julukan itu kalau memperkenalkan diri dan karena dia berpakaian dan bertopeng hitam sehingga mudah di kenal oleh lima orang ini.

"Engkau Hek-tiauw Eng-hiong!"

Berkata seorang di antara mereka yang bertubuh jangkung dan matanya tajam. Pendekar Rajawali Hitam mengangkat kedua tangan depan dada dan berkata.

"Benar, saya Hek-tiauw Eng-hiong. Saya melihat belasan orang perampok ini sedang menyerang penduduk, maka saya lalu turun tangan membantu para penduduk."

Akan tetapi, jawaban Hek-tiauw Eng-hiong ini disambut dengan pencabutan pedang oleh lima orang itu.

"Hek-tiauw Eng-hiong!"

Bentak orang kurus itu sambil menudingkan pedangnya ke arah muka Tin Han.

"Sudah lama kami mencarimu untuk membuat perhitungan atas perbuatanmu! Bersiaplah tintuk melawan kami!"

Tin Han tertegun, heran dan terkejut mendengar tantangan itu.

"Eh, apa artinya ini? Mengapa cu-wi (anda sekalian) menantangku?"

"Hek-tiauw Eng-hiong, seorang laki-laki harus berani mempertanggung-jawabkan perbuatannya!"

"Nanti dulu, sobat. Perbuatanku yang mana harus kupertanggung-jawabkan?"

"Masih berpura-pura? Engkau telah membunuh dua orang paman guru kami dan masih pura-pura tidak tahu akan dosamu? Hayo para sute, serang dan bunuh keparat ini!"

Teriak si jangkung marah dan iapun sudah menggerakkan pedangnya untuk menyerang, diikuti oleh empat orang sutenya dan lima orang itu menghujankan serangan pedang mereka kepada Tin Han.

Tin Han terkejut sekali mendengar tuduhan itu.

"Tahan dulu, aku tidak melakukan pembunuhan itu!"

Katanya sambil mengelak, akan tetapi lima orang pengeroyoknya tidak memperdulikan seruannya dan menyerang semakin hebat.

Lima orang itu adalah murid-murid Kun-lun-pai tingkat atas, maka ilmu pedang mereka sudah lihai sekali.

Tin Han menggunakan kecepatan gerakan tubuhnya untuk mengelak dan meloncat ke sana sini.

Dia tidak mau membalas karena maklum bahwa mereka itu adalah pendekar-pendekar Kun-lun-pai yang entah bagai mana, menuduhnya sebagai pembunuh dua orang paman guru mereka.

Karena mereka tidak mau mendengar kata-kata punyangkalannya, diapun bergerak cepat, melompat jauh dan berkelebat lenyap dari depan mereka.

Lima orang itu bersiap mengejarnya, akan tetapi bayangannya telah berkelebat cepat sekali.

"Mari kita kejar!"

Teriak si jangkung dan mereka lalu berlompatan ke atas punggung kuda mereka dan membalapkan kuda melakukan pengejaran ke arah lenyapnya bayangan hitam tadi.

Namun, Hek-tiauw Enghiong tidak dapat mereka kejar karena sudah lenyap entah kemana.

Sementara itu, orang-orang dusun menjadi bengong terheran-heran melihat penolong mereka tadi di keroyok oleh lima orang pendekar itu.

Mereka tidak berani mencampuri dan setelah mereka semua pergi, para penduduk lalu mengurus mayat-mayat perampok yang mereka keroyok.

Ada tujuh orang perampok yang tewas dan sisanya melarikan diri cerai berai.

Biarpun tadi mereka melihat betapa Hek-tiauw Eng-hiong dikeroyok para pendekar yang menuduhnya melakukan pembunuhan, namun orang-orang dusun itu tetap menjunjung nama Hektiauw Eng-hiong sebagai tuan penolong mereka.

Tin Han cepat mengenakan pakaian luarnya yang menutupi pakaian hitam itu dan melanjutkan perjalanan.

Dia melihat lima orang murid Kun-lun-pai tadi membalapkan kuda mereka melewatinya, namun mereka tidak mengenalnya.

Maka mengertilah Tin Han bahwa yang mereka musuhi dan sangka sebagai pembunuh dua orang paman guru mereka di Kun-lun-pai adalah Hek-tiauw Eng-hiong dan bukan Cia Tin Han.

Ini tentu fitnah, pikirnya.

Dia tidak merasa pernah membunuh dua orang tokoh Kun-lun-pai!

Baik sebagai Tin Han maupun sebagai Hek-tiauw Eng-hiong.

Kalau benar seperti tuduhan lima orang pendekar Kun-lun-pai tadi bahwa Hek-tiauw Eng-hiong membunuh dua orang tokoh Kun-lun-pai, maka yang melakukannya itu jelas orang lain yang mengaku sebagai Hek-tiauw Enghiong!

Ada orang yang memalsukannya!

Dia harus menyelidiki hal ini sampai tuntas.

Dia harus membuktikan bahwa bukan Hek-tiauw Eng-hiong yang melakukan pembunuhan itu melainkan orang yang menyamar sebagai Hek-tiauw Eng-hiong.

Namanya sedang dibikin buruk orang.

Dan tidak sukar baginya untuk menebak siapa orang yang telah memalsukan namanya melakukan pembunuhan.

Tentu seorang di antara mereka yang pernah bentrok dengan Hek-tiuw Eng-hiong.

Siapakah mereka itu?

Tin Han mengingat-ingat.

Banyak tokoh sesat yang pernah berurusan dengan Hek-tiauw Enghiong.

Paling akhir dia membebaskan Lee Cin dari tangan Yauw Seng Kun dan Ban-tok Mo-li sebagai Hek-tiauw Eng-hiong.

Dua orang itu tentu sakit hati terhadap Pendekar Rajawali Hitam.

Siapa lagi yang pernah ditentang Si Rajawali Hitam?

Dia mengingat-ingat.

Thian Te Mo-ong dan kawan-kawannya seperti Hek-bin Mo-ko dan Sin-ciang Mo-kai yang pernah membantu pemberontakan dan menawan Song Thian Lee dan Lee Cin, kemudian juga gerombolan kaum sesat itu dia tentang ketika dia membantu Song Thian Lee dan isterinya yang diserbu mereka.

Jelaslah, tentu se orang di antara golongan sesat itu yang kini membikin pembalasan secara licik dan curang, yaitu dengan menyamar sebagai Hek-tiauw Eng-hiong melakukan pembunuhan terhadap dua orang tokoh Kun-lun-pai.

Apa maksud mereka?

Tentu untuk mengadu domba!

Biar Hek-tiauw Eng-hiong dimusuhi para pendekar!

"Jahat, curang dan keji sekali mereka!"

Gerutu Tin Han sambil mengepal tinju.

Akan tetapi dia yang menyamar sebagai Hek-tiauw Eng-hiong tentulah orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Siapakah di antara mereka yang memiliki ilmu yang tinggi?

Ilmu kepandaian Yauw Seng Kun, Ban-tok Mo-li, Thian-te Mo-ong, Hek-bin Mo-ko, Sinciang Mo-kai dan lain-lainnya itu biarpun sudah cukup tinggi, namun kiranya belum cukup untuk berani membunuh dua orang tokoh Kun-lun-pai.

Agaknya hanya Siang Koan Bhok yang mungkin berani melakukan hal itu.

Akan tetapi Siang Koan Bhok adalah seorang datuk besar.

Maukah dia merendahkan diri sampai sedemikiati rupa, menggunakan cara yang licik dan curang untuk menjatuhkan nama Hek-tiauw Eng-hiong?

Pula, Siang Koan Bhok pernah bertempur dengannya dan dia kalahkan.

Akan tetapi ketika itu dia mengalahkannya sebagai Cia Tin Han, bukan sebagai Pende kar Rajawali Hitam.

Tin Han melamun sambil melanjutkan perjalanannya menuju ke timur.

Dia memasuki propinsi Ho-nan dan ketika dia tiba di kaki pegunungan Sung-san, tiba-tiba dari belakangnya terdengar derap kaki banyak kuda.

Makin lama suara itu semakin gemuruh dan ternyata yang lewat adalah pasukan yang jumlahnya tidak kurang dari duaratus orang!

Dia minggir dan mengintai dari balik batang pohon.

Pasukan itu di pimpin oleh seorang panglima dan yang menunggang kuda paling depan, dekat sang panglima adalah orang-orang berpakaian biasa, orang-orang kang-ouw yang wajahnya bengis dan kasar.

Dari lagak dan pakaiannya saja Tin Han dapat menduga bahwa belasan orang itu adalah orang-orang kang-ouw dan bukan golongan pendekar, melainkan lebih mirip golongan sesat!

Bagaimana pula ini?

Orang-orang golongan sesat pergi bersama pasukan pemerintah?

Dia lalu teringat akan gerakan yang dilakukan panglima kerajaan yang mengadakan pertemuan rahasia dengan Thian-te Moong dan kawan-kawannya.

Benar, kini orang-orang kangouw golongan sesat sudah bekerja sama, atau dipergunakan oleh pasukan pemerintah Mancu untuk memusuhi para pendekar dan patriot!

Ke manakah rombongan ini hendak pergi?

Tin Han tertarik sekali dan diam-diam dia mengikuti rombongan berkuda itu.

Mereka mendaki bukit kecil di kaki pegunungan Sung-san dan memasuki sebuah hutan.

Agaknya para tokoh kang-ouw itu menjadi petunjuk jalan karena mereka yang kini berjalan di depan.

Tak lama kemudian, tibalah mereka di sebuah perkampungan baru dan segera terjadi pertempuran ketika dari perkampungan itu muncul puluhan orang yang segera menyerang begitu melihat rombongan pasukan pemerintah.

"Hancurkan anjing-anjing Mancu!"

Teriak mereka.

"Basmi penjajah Iaknat!"

Tin Han melihat betapa beberapa orang dari para penyerang itu memakai baju yang ada gambarnya sebatang teratai putih, maka tahulah dia bahwa mereka itu adalah para anggauta Peklian-pai (Perkumpulan Teratai Putih) yang terkenal sebagai sebuah di antara perkumpulan yang anti pemerintah Mancu.

Tin Han hanya tinggal diam saja.

Dia tidak ingin terlibat.

Kalau dulu, tentu mendiang neneknya akan membantu pihak Pek-lian-pai karena bagi neneknya itu, sebelum sadar menganggap bahwa siapa yang menentang pemerintah penjajah Mancu adalah sekutunya, sebaliknya siapa yang menentang penjajah adalah musuhnya.

Akan tetapi dia menentang pendirian itu.

Peklian-pai memang terkenal sebagai pemberontak yang gigih, akan tetapi merekapun terkenal sebagai golongan sesat yang tidak segan-segan mengganggu rakyat jelata.

Perjuangan mereka berpamrih demi kesenangan diri pribadi, merebut kekuasaan untuk berganti menjadi penguasa, bukan sekedar membebaskan rakyat jelata dari penindasan kaum penjajah.

Karena ini, melihat pertempuran itu, Tin Han tinggal diam saja, hanya menonton dari jauh.

Dia naik ke atas pohon yang tinggi dan dari situ dia dapat melihat pertempuran itu.

Pihak Pek-lian-pai ternyata hanya berjumlah kurang dari seratus orang, maka menghadapi pasukan pemerintah yang duaratus orang jumlahnya itu, mereka kewalahan.

Apa lagi di pihak pemerintah terdapat orang-orang kangouw yang lihai.

Dalam waktu satu jam saja mereka sudah lari kalang kabut, meninggalkan teman yang mati atau terluka.

Dan Tin Han menyaksikan pembantaian yang kejam.

Pasukan pemerintah itu seperti berpesta pora membacoki tubuh-tubuh para pemberontak itu sehingga mereka yang terluka tewas pula dalam keadaan mengerikan.

Kemudian pasukan itu merampok semua barang berharga yang ditinggalkan pemberontak, lalu membakar perkampungan baru yang menjadi sarang Pek-lian-pai itu.

Bau sangit menusuk hidung ketika pasukan itu melempar-lemparkan semua mayat itu ke dalam api yang sedang berkobar melahap rumah-rumah kayu itu.

Setelah semua rumah bernyala, pasukan itu meninggalkan sarang Pek-lian-pai sambil bersorak gembira karena kemenangan.

Kemenangan selalu membuat pasukan bergembira, lupa akan kawan-kawan yang tewas dalam pertempuran.

Tin Han menyaksikan ini semua dan dia menghela napas.

Perang memang kejam.

Manusia saling memburruh tanpa sebab pribadi.

Mereka itu tidak saling kenal, akan tetapi saling membunuh dengan kejamnya.

Dan dia maklum bahwa pemberontakan-pemberontakan itu tidak akan berhasil karena mereka tidak didukung rakyat.

Pemberontakan harus didukung seluruh rakyat, baru ada harapan akan berhasil baik.

Kalau hanya pemberontakan kecil-kecilan itu, bagaimana akan mampu menandingi kekuatan pasukkan Mancu yang besar ?

Setelah pasukan Pancu yang lewat di bawah pohon besar di mana dia bersembunyi dan menonton pertempuran itu pergi jauh, Tin Han turun dari pohon.

Dia lalu menuruni bukit itu.

Dari jauh api yang membakar perkampungan itu masih tampak asapnya dan dia menghela napas, teringat akan keadaan dirinya.

Dia baru saja mengalami himpitan batin karena terpaksa harus berpisah dari Lee Cin yang dicintanya, bahkan terpaksa harus meninggalkan gadis itu dengan hati terluka, ditolak dan diusir oleh ibu gadis itu.

Belum juga luka di hatinya itu berkurang nyerinya, tiba-tiba saja dia dikeroyok lima orang pendekar Kun-lun-pai yang menuduhnya telah membunuh dua orang tokoh Kun-lun-pai sebagai Hek-tiauw Eng-hiong!

Di mana letak kesalahan ini?

Jelaslah -bahwa ada orang menyaru sebagai Hek-tiauw Enghiong melakukan pembunuhan itu untuk menjatuhkan nama Hek-tianw Enghiong, agar pihak Kun-lun-pai memusuhinya.

Tiba-tiba dia teringat.

Dia berada di daerah pegunungan Sung-san.

Bukankah pusat Siauw-lim-pai berada di kaki Gunung ini?

Dia tahu bahwa Siauw-lim-pai merupakan pusat yang melahirkan banyak pendekar yang kenamaan dan para pendekar Siauw-lim-pai tidak ada yang pernah menjadi antek Mancu.

Mungkin para tokoh Siauw-lim-pai dapat memberi penjelasan kepadanya tentang Hek-tiau Enghiong yang dituduh membunuh dua orang tokoh Kun-lunpai dan menceritakan apa sebetulnya yang terjadi.

Setelah mengambil keputusan demikian, Tin Han melanjutkan langkahnya untuk mencari sebuah dusun di mana dia dapat bertanya di mana adanya kuil Siauw-limi yang tersohor itu.

-ooOoo-Pemuda itu tampan dan gagah, tubuhnya sedang dan gerak geriknya lembut, pakaiannya juga indah seperti seorang kong-cu (tuan muda), di pinggangrya terselip sebatang suling perak.

Pemuda itu adalah Cia Tin Siong.

Seperti diketahui, setelah keluarga Cia berpencar, Tin Siong melakukan perjalanan seorang diri.

Dalam perjalanannya itu dia selalu bertindak seperti seorang pendekar yang menolong mereka yang tertindas dan menentang kejahatan dengan gagah perkasa.

Pada suatu hari, ketika, dia melakukan perjalanan melalui sebuah lereng bukit, dia melihat seorang laki-laki berusia limapuluhan tahun dan seorang gadis cantik berusia delapanbelas tahun sedang dikeroyok oleh belasan orang perampok yang ganas.

Para perampok itu semua menggunakan golok besar dan laki-laki dan gadis yang dikeroyok itu menggunakan sebatang pedang.

Biarpun laki-laki setengah tua dan gadis itu memiliki ilmu pedang yang baik, yang menurut penglihatan Tin Siong adalah ilmu pedang dari Bu-tong-pai, namun pengeroyokan belasan orang perampok itu membuat mereka terdesak hebat.

Para perampok itu memiliki ilmu golok yang cukup baik dan karena jumlah mereka jauh lebih besar maka kini mereka mengepung dengan ketat dan agaknya dua orang itu tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi.

Melihat ini, mudah saja bagi Tin Siong untuk membantu pihak yang mana.

Laki-laki dan gadis itu adalah murid-murid Bu-tong-pai, tentu mereka.

tergolong pendekar dan melihat sikap para pengeroyok itu, mudah diduga bahwa mereka adalah golongan sesat yang melakukan pengeroyokan dengan kasar dan curang.

Tin Siong tidak merasa ragu lagi untuk membantu pihak mana.

Dia mencabut suling peraknya dan segera melompat dan terjun ke dalam pertempuran itu, menggunakan suling peraknya untuk menyerang para pengeroyok.

Dua orang pengeroyok roboh oleh totokan sulingnya dan seorang lagi roboh oleh tamparan tangan kirinya yang menggunakan Hektok-ciang.

Masuknya pemuda ini dalam pertempuran dan dalam waktu singkat telah merobohkan tiga orang, para perampok menjadi gentar dan kacau sehingga pria dan gadis itu juga dapat merobohkan masing-masing dua orang.

Kembali Tin Siong menampar dan seorang perampok roboh terkena hantaman di bagian dadanya.

Melihat ini, sisa para perampok lalu kabur melarikan diri cerai berai.

Pria itu tidak mengejar para perampok, melainkan menghadapi Tin Siong dan mengangkat kedua tangan memberi hormat lalu berkata.

"Si-cu, saya Kwe Ciang dan anak saya Kwe Li Hwa menghaturkan terima kasih atas bantuan. Bagaimana si-cu dapat mengetahui bahwa kami ayah dan anak diserang segerombolan orang jahat dan datang membantu?"

"Tidak perlu berterima kasih dan bersikap sungkan, paman. Tadi ketika saya kebetulan lewat dan melihat kalian berdua dikeroyok, memang saya merasa bimbang untuk berpihak yang mana karena kesemuanya tidak saya kenal. Akan tetapi saya mengenal ilmu pedang paman dan adik ini sebagai ilmu pedang Bu-tong-pai, maka saya tidak ragu lagi siapa-yang hares saya bantu."

"Bagus, ternyata pandangan sicu jauh dan bijaksana. Sicu yang begini lihai dan berilmu tinggi, siapakah nama sicu dan dari perguruan manakah?"

"Nama saya Cia Tin Siong, paman, dan saya mempelajari ilmu silat dari keluarga saya sendiri."

Pria itu tampak terkejut dan memandang kepada Tin Siong dengan penuh perhatian.

"Keluarga Cia di Hui-cu?' Setelah bertanya demikian, pria yang bernama Kwe Ciang itu memandang ke arah dua orang perampok yang roboh dan tewas terkena tamparan tangan kiri Tin Siong. Dia melihat tanda tapak tangan hitam di dada dan leher dua orang perampok itu dan dia lalu meloncat mundur sambil menarik tangan puterinya untuk mundur menjauhi Tin Siong.

"Jadi engkau ini Hek-tiuw Enghiong yang telah membunuh banyak pendeta Siauw-lim-pai dan dua orang tosu Kun-lun-pai?"

Kwe Ciang dan puterinya mundur dan dia memegang tangan puterinya lalu berkata.

"Li Hwa, mari kita cepat pergi dari sini!"

Dia lain menarik tangan anaknya diajak berlari cepat meninggalkan Tin Siong.

"Paman, tunggu...... !"

Tin Siong yang terheran-heran memanggil, akan tetapi mendengar panggilan ini Kwe Ciang dan puterinya berlari semakin cepat.

Tin Siong memandang ke arah mayat para perampok, lalu memandang dua orang yang sudah berlari jauh itu, dan mengangkat kedua pundaknya.

"Heran, watak orang-orang kang-ouw memang aneh sekali."

Akan tetapi dia pergi dari situ dengan alis berkerut dan memutar otaknya.

Hek-tiauw Eng-hiong.

Bukankah itu julukan yang di pakai adiknya Cia Tin Han?

Akan tetapi orang she Kwe tadi mengatakan bahwa Hek-tiauw Eng-hiong telah membunuhi banyak pendeta Siauw-lim-pai dan orang tosu Kun-lun-pai ?

Apa artinya ini ?

Dia harus selidiki hal ini.

Rasanya tidak mungkin kalau Tin Han membunuhi orang Siauw-lim-pai dan Kun-lunpai.

Kebetulan sekali dia berada tidak jauh dari pusat Siauwlim-pai.

Pegunungan Sung-san tampak di depan, maka dia segera menuju ke Gunung Sung-san.

Dia harus mendatangi sendiri Siauw-lim-pai dan bertanya tentang berita itu.

Dia harus membela nama baik adiknya, dan juga nama baik Keluarga Cia.

Akan tetapi yang mengherankan hatinya, bagai mana Kwe Ciang tadi tahu bahwa Hek tiauw Eng-hiong adalah keluarga Cia, apakah mungkin karena pukulan Hektok ciang itu?

Tin Siong adalah seorang pemuda yang cerdik, maka dia dapat mengambil kesimpulan yang tepat.

Namun ada kekecewaan besar di dalam hatinya.

Dia telah melihat Kwe Li Hwa tadi dan hatinya terpikat.

Gadis itu dalam pandang matanya demikian cantik jelita dan serba menawan.

Sayang ayah gadis itu menuduhnya yang bukan-bukan sehingga dia tidak mempunyai kesempatan untuk berkenalan dengan Li Hwa.

Sebetulnya, dia tidak dapat melupakan Lee Cin.

Akan tetapi Tin Siong dapat menduga bahwa gadis itu mempunyai hubungan cinta dengan Tin Han dan dia tidak ingin mengganggu hubungan itu.

Kini, melihat gadis lain yang dalam pandangannya tidak kalah cantik menarik diapun jatuh hati.

Tin Siong melakukan perjalanan cepat ke Gunung Sungsan.

Akan tetapi ketika dia tiba di sebuah lapangan rumput yang luas di kaki pegunungan itu, tiba-tiba dia melihat lima orang dengan cepat sekali beriari-lari dari depan.

Ketika mereka sudah tidak dekat, dengan girang dia mengenal bahwa dua dari lima orang itu adalah Kwe Ciang dan Kwe Li Hwa!

Sedangkan yang tiga orang lagi adalah hwesio-hwesio tua yang berkepala gundul dan memakai jubah longgar berwarna kuning.

Tiga orang hwe-sio tua itu semuanya melangkah seenaknya namun gerakan mereka sedemikian cepat dan ringannya sehingga Tin Siong mengerti bahwa mereka adalah orang-orang yang berilmu tinggi.

Dia melihat betapa Kwe Ciang menuding-nudingkan telunjuknya ke arahnya dan lima orang itu berlari menghampirinya.

Tin Siong berhenti melangkah dan menanti mereka tiba dekat di depannya.

"Inilah, lo-suhu! Dia inilah Hek-tiauw Eng-hiong dari Keluarga Cia!"

Kata Kwe Ciang.

Tin Siong mengamati tiga orang hwe-sio itu.

Dia tidak tahu bahwa tiga orang hwe-sio itu adalah tokoh-tokoh Siauw-lim-pai yang terkenal.

Mereka itu bukan lain adalah In Kong Thai su yang bertubuh tinggi kurus, berusia enampuluh lima tahun dan menjadi ketua Siauw-lim-pai cabang Kwi-cu.

0rang kedua yang bertubuh gendut adalah Hui San H we-sio, wakil ketua atau pembantu dari Seng Thian Hwe-sio yang menjadi ketua pusat.

"Omitohud...... ...!� Kata In Kong Thai-su sambil memandang kepada Tin Siong dengan penuh perhatian.

"Orang muda, engkaukah Hek-tiauw Eng-hiong? Dan engkau seorang she Cia?"

Dengan tenang Tin Siong menjawab.

"Benar, lo-suhu. Saya bernama Cia Tin Siong, akan tetapi sama sekali saya bukan Hek-tiauw Eng-hiong!"

"Omitohud..... Hek-tiauw Eng-hiong pasti dari keluarga Cia dan andai kata bukan engkau orangnya, tentu engkau tahu siapa dia. Dia telah membunuh banyak rekan pin-ceng menggunakan ilmu pukulan Hek-tok-Ciang,"

Lagi In Kong Thai-su mendesak.

"Memang ada adik saya menggunakan nama julukan Hek-tiauw Eng-hiong, akan tetapi tidak mungkin dia membunuhi para hwei-sio Siauw-lim-pai. Adik saya seorang pendekar patriot sejati, tidak mungkin memusuhi sesama pendekar.

"Bukti sudah cukup jelas. Pembunuh para rekan pinceng adalah Hek-tiaw Eng-hiong dan melihat pukulannya Hek tok-ciang jelas pula bahwa dia adala anggauta keluarga Cia,"

Kata Hui Sia Hwe-sio sambil tersenyum.

"Kalau dia itu adikmu, engkaupun harus bertanggung jawab, orang muda!"

Tin Siong mengerutkan alisnya.

"Saya sengaja mencari para lo-suhu untuk menjelaskan persoalan, akan tetapi samwi lo-suhu malah tetap menuduh adik saya yang melakukan pembunuhan, bahkan minta kepada saya untuk bertangung jawab. Tidak ada alasannya sama sekali bagi adik saya untuk membunuh para hwe-sio Siauw-lim-pai!"

"Omitohud..... !"

In Kong Thai-su menggerakkan lengan baju kirinya.

"Siapa yang tidak mengenal Keluarga Cia. Yang pernah bersekutu dengan pemberontak pasukan pemerintah di timur dan bersekutu pula dengan kaum sesat di dunia kang-ouw, bahkan dengan para bajak Jepang? Keluarga Cia paling benci kepada mereka yang tidak mau ikut memberontak dan menganggap mereka musuhnya! Maka ada anehnya kalau Hek-tiauw Eng-hiong membunuhi para hwe-sio di Siauw-lim-pai?"

"Terserah kalau sam-wi lo-suhu tidak percaya. Sekarang, apa yang hendak sam-wi lakukan terhadap diri saya?"

"Omitohud, kami bukan orang-orang suka sewenang-wenang. Akan tetapi karena engkau adalah kakak dari Hektiauw Eng-hiong, terpaksa engkau akan kami tawan agar Hek-tiauw Eng-hiong sendiri mau datang mempertanggung-jawabkan perbuatannya."

"Saya tidak merasa bersalah, karena itu saya tidak mau dijadikan tawanan!"

"Omitohud, sudah pin-ceng sangka. Sicu tentu akan melakukan perlawanan terhadap kami? Bagus, pin-ceng hendak mencoba ilmu Hek-tok-ciang darimu!"

Setelah berkata demikian, In Kong Thai-su menggerakkan lengan bajunya dan tubuhnya sudah melompat ke depan Tin Siong.

"Orang muda she Cia, coba tunjukkan ilmumu yang telah membunuh para rekan pin-ceng itu. Pergunakan Hek-tok ciang untuk membunuh pin-ceng!"

"Saya tidak bermaksud untuk berkelahi. Akan tetapi kalau lo-suhu memaksa, silakan maju!"

Tantang Tin Siong yang sudah marah sekali. Dia merasa betapa para hwe-sio ini terlalu mendesaknya.

"Bagus, lihat serangan pin-ceng, orang muda!"

In Kong Thai-su menggerakkan tangannya dan dia sudah menyerang dengan gerakan yang tampaknya, lambat namun sebenarnya cepat sekali dan mendatangkan angin yang kuat.

Tin Siong cepat mengelak dan balas menyerang.

Tin Siong membela diri dengan memainkan ilmu silat Keluarga Cia yang khas dan In Kong Thai-su diam-diam kagum karena ilmu silat pemuda itu sungguh termasuk ilmu silat tinggi.

Juga dari sambaran angin pukulan pemuda itu dia maklum bahwa Tin Siong memiliki sin-kang yang cukup baik.

In Kong Thai-su bermaksud memaksa pemuda itu mengeluarkan Hek-tokciang maka tiba-tiba dia mengubah serangannya.

Kini dia menggunakan It-yang-ci!

Tentu saja Tin Siong menjadi repot sekali menghindarkan diri dari serangan totokan yang ampuh itu.

Ketika ia sudah kepepet sekali, ketika sebuah totokan meluncur ke arah pundaknya, dia cepat menggunakan tangan kanannya menyambut dengan pukulan telapak tangan Hek-tok-ciang.

Hanya itu yang dapat dia lakukan untuk menyelamatkan diri!

"Wuuuuutt.....

tukk!"

Jari tunggal In Kong Thai-su bertemu dengan telapak tangan menghitam itu dan akibatnya tubuh pendeta itu tergetar akan tetapi Tin Siong terpelanting roboh.

Pada saat itu tampak berkelebatan bayangan hitam dan di situ sudah berdiri Hek-tiauw Eng-hiong!

"Sam-wi lo-suhu, mengapa memaksa orang yang tidak bersalah sama sekali?

Ketahuilah bahwa Hek-tiauw Enghiong adalah, saya dan saya tidak pernah membunuhi para hwe-sio Siauw-lim-pai!

Keluarga Cia sekarang telah menjadi pejuang-pejuang patriot sejati, tidak mungkin melakukan hal tercela itu!"

"Omitohud! Hek-tiauw Eng-hiong berani muncul sendiri, ini menunjukkan kegagahannya. Akan tetapi kalau dia mengingkari perbuatannya, itu merupakan tindakan pengecut!"

Kata In Kong Thaisu. Hek-tiauw Eng-hiong membantu Tin Siong bangun lalu berkata lirih kepadanya.

"Mundurlah, koko, biarkan aku yang menyelesaikan urusan ini."

"In Kong Thai-su, sudah lama saya mendengar bahwa losuhu adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai yang bijaksana dan berbudi mulia. Akan tetapi apa yang lo-suhu tuduhkan ini hanya menunjukkan bahwa para hwe-sio Siauw-lim-pai kurang cermat mengadakan penilaian. Saya percaya bahwa yang muncul di Siauw-lim-pai dan membunuh para hwe sio mungkin memakai pakaian dan kedok seperti saya, mengaku pula sebagai Hek-tiauw Eng-hiong, akan tetapi apakah hal itu sudah dapat dijadikan kepastian bahwa saya yang melakukannya? Bagaimana kalau ada orang lain yang menyamar sebagai saya dengan maksud untuk mengadu domba antara Siauw-lim-pai dan Keluarga Cia? Sekali lagi saya berani bersumpah bahwa saya tidak melakukan pembunuhan itu."

"Hemm, Hek-tiauw Eng-hiong, bagaimana pula dapat dibuktikan bahwa bukan engkau yang melakukan pembunuhan itu?"

Tanya Hui San Hwe-sio sambil tersenyum mengejek.

"Kalau sam-wi lo-suhu tidak percaya, terserahlah. Lalu apa yang hendak sam-wi lakukan?"

"Omitohud! Hek-tiauw Eng-hiong, kami bukan orang-orang yang suka main hakim sendiri. Selain membunuh belasan orang anak murid Siauw-lim-pai, engkau juga telah membunuh dua orang to-su Kun-lun-pai. Karena itu, kami harus menangkapmu dan membawamu ke persidangan pengadilan di depan Ketua kami dan Ketua Kun-lun-pai."

"Hemm, lo-suhu. Tentu saja saya tidak mau ditangkap karena tidak merasa bersalah. Saya menawarkan tindakan lain kalau lo-suhu setuju,"

Kata Hek-tiauw Eng-hiong.

"Tindakan apa yang kautawarkan?"

Tanya In Kong Thaisu.

"Karena saya merasa betapa nama baik saya dicemarkan, maka saya berjanji akan membantu para lo-suhu untuk mencari sampai dapat orang yang membunuhi para hwe-sio Siauw-lim-pai dan para to-su Kun lun-pai dengan menyamar sebagai saya. Berilah waktu dua bulan untuk mencarinya, lo-suhu."

"Tidak! Jangan biarkan dia pergi, suheng. Kalau sekali kita biarkan dia pergi, akan sukarlah untuk mencarinya kembali,"

Kata Hui Sian Hwe-sio kepada In Kong Thai-su.

"Omitohud! Kami tidak dapat menerima usulmu itu, Hektiauw Eng-hiong. Kesalahanmu sudah jelas. Engkaulah, yang telah melakukan pembunuhan-pembunuhan keji dengan Hek-tok-ciang itu. Sekarang menyerahlah untuk menjadi tawanan kami."

"Terpaksa saya menolak untuk ditangkap, lo-suhu."

"Bagus, sudah pin-ceng duga bahwa engkau tentu akan menolak. Mari kita putuskan dengan sebuah pertandingan."

"Terserah kepada lo-suhu."

In Kong Thai-su lain memasang kuda-kuda dan berseru.

"Awas terhadap serangan pin-ceng, Hek-tiauw Eng-hiong,"

"Silakan, lo-suhu!"

In Kong Thai-su lalu menerjang maju, mengirim pukulan dengan ujung lengan bajunya.

Tin Han tidak mengelak melainkan menggerakkan jari-jari tangannya untuk menyentil ujung baju yang menyambar ke arah dadanya itu.

Wuuuttt ......

pratt !"

Ujung Iengan baju ini terpental kembali dan dari rangkisan ini saja tahulah In Kong Thai-su bahwa lawannya yang masih muda itu memiliki sin-kang yang amat kuat.

Diapun bersilat dengan mantap dan kedua buah jari telunjuknya menyerang secara bertubi dengan ilmu totok ltyang-ci!

Hebat sekali serangan ini dan Tin Han yang maklum akan ampuhnya ilmu ini, segera mempergunakan kecepatan gerakan tubuhnya untuk berkelebat ke sana sini, kadang menangkis dan juga membalas dengan serangan tamparan yang mendatangkan angin kuat.

Tin Han harus mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua ilmunya untuk menandingi ketua Siauw-lim-pai cabang Kwi-cu ini dan setelah pertandingan berlangsung limapuluh jurus lebih, perlahan namun tentu Tin Han mulai mendesak In Kong Thai-su.

Bagai manapun juga, dalam keadaan tingkat kepandaian yang seimbang, akhirnya usia yang menentukan.

Tin Han adalah seorang pemuda yang sedang kuat-kuatnya sedangkan In Kong Thaisu adalah seorang yang sudah mulai tua.

Daya tahannya sudah berkurang dimakan usia.

Tiba-tiba In Kong Thai-su yang merasa kalah dalam hal kecepatan dan daya tahan, mengirim serangan dengan kedua tangannya menotok ke arah dua jalan darah Tin Han.

Cepat datangnya serangan itu sehingga tidak ada kesempaan lagi bagi Tin Han untuk mengelak.

Dia terpaksa mengerahkan seluruh tenaga di kedua tangan lalu menyambut totokan itu dengan pukulan tapak tangan yang terisi penuh tenaga Khong-sim Sin kang.

"Winmuuttt ..... dess!"

Kedua orang itu terpental ke belakang, hanya bedanya kalau Tin Han dapat berjungkir balik ke belakang dan turun dengan lunak ke atas tanah, sebaliknya In Kong Thai-su terhuyung-huyung ke belakang.

Dia menghela napas panjang tiga kali dan keadaannya sudah pulih kembali.

"Hek-tiauw Eng-hiong, pin-ceng masih belum kalah. Mari kita lanjutkan!"

Kata In Kong Thai-su yang sudah melompat ke depan sambil menghadapi Tin Han.

Pemuda inipun sudah siap dan mereka segera bergebrak kembali, saling serang dengan hebatnya karena keduanya maklum akan kelihaian lawan maka setiap serangan dilakukan dengan pengerahan sekuatnya.

Pada saat itu terdengar seruan.

"Tahan, hentikan pertandingan ini!"

Sesosok bayangan berkelebat dan menerjang di antara kedua orang itu yang terpaksa melompat mundur ke belakang.

Baik Tin Han maupun In Kong Thai-su segera mengenal laki-laki muda perkasa yang telah melerai mereka.

Pria muda tampan tegap dan gagah dengan pakaian sederhana ini bukan lain adalah Song Thian Lee!

Bagaimana Thian Lee dapat muncul di situ?

Song Thian Lee dan isterinya Tang Cin Lan membawa putera mereka, Song Hong San, pergi meninggalkan kota Tung-sin-bun karena mereka sudah menjadi orang buronan pemerintah.

Dia melarikan diri ke gunung-gunung dan akhirnya memilih untuk tinggal di lereng Bukit Hoa-san.

Pada suatu hari, suami isteri pendekar ini mendengar pula berita tentang Hek-tiauw Eng-hiong yang telah membunuhi belasan orang hwe-sio Siauw-lim-pai dan membunuh dua orang to-su Kun.lun-pai.

Mendengar berita Thian Lee terkejut bukan main.

"Bagaimana mungkin ini?"

Katanya kepada isterinya.

"Aku mengenal betul orang berkedok itu! Dia menolong dan menyelamatkan aku dan adik Lee Cin. Dia seorang pendekar yang menentang komplotan kaum sesat dan bajak Jepang yang membantu pasukan memberontak di timur itu. Bagaimana mungkin orang seperti dia itu melakukan pembunuhan terhadap para hwe-sio dan to-su? Rasanya tidak masuk akal!"

"Akan tetapi kukira ada asap tentu ada apinya. Ada berita tentu ada pula kenyataannya."

"Aku tetap tidak percaya. Kebetulan sekali Sung-san tidak berapa jauh dari sini. Isteriku, kau tinggal di rumah dengan anak kita, aku akan meluangkan waktu beberapa hari untuk pergi ke kuil Siauw-lim-pai di Sung-san dan mencari keterangan yang sejelasnya tentang hal itu."

Demikianlah, Thian Lee meninggalkan isteri dan anaknya, melakukan perjalanan cepat menuju Sung-san.

Dan dalam perjalanannya ke Sung-san itulah di tengah perjalanan dia melihat pertandingan yang amat seru antara seorang yang berkedok dan berpakaian hitam melawan In Kong Thai-su.

Dia melihat gerakan yang berkedok itu hebat sekali dan teringatlah dia akan Si Kedok Hitam yang pernah menolongnya.

Maka cepat dia melerai karena pertandingan antara kedua orang lihai itu sudah mencapai puncak yang berbahaya sekali di mana keduanya melakukan serangan yang ampuh dan bertenaga.

Ketika In Kong Thai-su mengenal Thian Lee, dia mengerutkan alisnya dan berkata.

"Omitohud! Kiranya Panglima Song Thian Lee dari kota raja yang datang melerai!"

"Lo-suhu, telah beberapa bulan ini saya sudah mengundurkan diri, tidak lagi menjadi panglima, melainkan menjadi rakyat biasa."

"Omitohud, tindakan yang tepat dan baik sekali itu. Akan tetapi mengapa engkau datang melerai pertandingan kami?"

Thian Lee menoleh ke arah Si Kedok Hitam dan tersenyum berkata.

"Senang sekali dapat bertemu lagi denganmu di sini."

Si Kedok Hitam memberi hormat.

"Song-ciangkun......!"

"Aku tidak lagi menjadi perwira, harap jangan sebut aku ciangkun."

"Maaf, Song-taihiap,"

Si Kedok Hitam berkata lagi.

"Saya juga senang dapat bertemu dengan tai-hiap di sini, akan tetapi mengapa tai-hiap tadi melerai pertandingan kami?"

"Suhu In Kong Thai-su dan engkau, Si Kedok Hitam....."

"Sebut saja saya Hek-tiauw Enghi ong, tai-hiap."

"Hek-tia uw Eng-hiong dan lo-suhu, keduanya saya kenal saya kenal sebagai pendekar-pendekar yang gagah dan budiman, mengapa sekarang tahu-tahu bertanding sendiri. Kita semua adalah segolongan, maka kalau ada urusan sebaiknya dirundingkan secara baik-baik."

Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 10

Baca Juga: Si Bangau Merah 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert