Ceritasilat Novel Online

Suling Emas Dan Naga Siluman 10

Eps 10 Suling Emas Dan Naga Siluman - Kho Ping Hoo

Baca online Suling Emas Dan Naga Siluman - Kho Ping Hoo

Cersil Suling Emas Dan Naga Siluman - Kho Ping Hoo.

Sekali tangkis, pedang di tangan gadis itu patah menjadi dua seperti bertemu dengan benda yang luar biasa kerasnya!

Li Hwa terkejut bukan main, akan tetapi dia tidak mundur sama sekali.

"Keparat, jangan kau berani mengganggu Pangeran!"

Bentaknya dan dengan pedang buntung itu dia menerjang lagi, pedang buntungnya membacok dan tangan kirinya mengirim pukulan ke arah pusar lawan, gerakannya amat ganas.

"Bresss....!"

Orang tinggi besar itu memapaki dengan tendangan tanpa mempedulikan serangan gadis itu yang ketika bertemu dengan tubuhnya yang kebal seperti menyerang orang-orangan dari karet yang amat kuat saja sedangkan tendangan itu membuat tubuh Li Hwa terjengkang dan terbanting sampai berguling-gulingan.

"Li Hwa....!"

Pangeran Kian Liong lari menghampiri dan berlutut, merangkul dara itu.

"Hamba tidak apa-apa, Pangeran. Paduka menyingkirlah, biar hamba mengadu nyawa dengan keparat ini!"

Li Hwa bangkit lagi akan tetapi dia dirangkul oleh Pangeran Kian Liong. Melihat ini, orang tinggi besar itu tertawa.

"Biarlah kami menyerah, engkau boleh menangkap kami dan kami tidak akan melawan"

Kata Pangeran itu yang merasa khawatir kalau-kalau gadis yang dicintanya itu akan terluka atau tewas di tangan orang yang lihai itu.

"Ha-ha-ha, sungguh lucu! Pangeran Mahkota berpacaran dengan perempuan pemberontak, yang berusaha membunuh Kaisar, ayahnya sendiri. Ha-ha, sayang sekali, Pangeran, perintah yang kuterima adalah menangkap kalian dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Bersiaplah kalian untuk mati bersama, mati yang mesra, ha-ha-ha!"

Orang tinggi besar itu menerjang maju.

Pangeran Kian Liong dan Li Hwa yang maklum akan kesaktian orang itu, hanya menanti datangnya pukulan maut tanpa mampu membela diri lagi.

"Desss....!"

Tubuh orang tinggi besar itu terhuyung ke belakang dan dia terbelalak mencoba menembus kegelapan malam dalam pandang matanya ketika dia melihat seorang laki-laki yang berlengan satu sudah berdiri di situ dan laki-laki itulah yang tadi menangkisnya!

"Pendekar Naga Sakti Gurun Pasir...."

Orang tinggi besar itu tergagap.

"Hemm, Sam-ok, keberanianmu melewati batas!"

Kata orang berlengan satu itu yang bukan lain adalah Kao Kok Cu.

Kiranya orang tinggi besar yang lihai itu adalah Sam-ok Ban Hwa Sengjin maka pantas saja Li Hwa sama sekali tidak berdaya menghadapi datuk kaum sesat yang sakti ini.

Karena usahanya digagalkan, biarpun dia tahu akan kesaktian Si Naga Sakti, Sam-ok menjadi nekat dan rasa penasaran membuat dia lupa diri!

Tubuhnya sudah membuat gerakan berpusing cepat dan dia sudah mainkan ilmunya yang amat diandalkan, yaitu ilmu Silat Thian-te Hong-i (Badai Mengamuk Langit Bumi), dan sambil berpusing, tubuhnya yang lenyap menjadi bayangan berpusing cepat itu telah meluncur ke arah Si Naga Sakti.

Kao Kok Cu adalah seorang yang memiliki tingkat kepandaian tinggi sekali, maka melihat gerakan lawan ini dia bersikap tenang-tenang saja dan hanya berloncatan ke kanan kiri untuk menghindar setiap kali dari bayangan berpusing itu mencuat sinar yang merupakan serangan-serangan tangan atau kaki yang amat berbahaya dari Sam-ok.

Sementara itu, melihat munculnya pendekar sakti itu yang menolongnya, hati Pangeran Kian Liong menjadi lega dan dia lalu rnendekap Li Hwa, menciumnya satu kali dan berkata.

"Li Hwa, cepat kau pergilah dari sini. Ingat, pergunakan cincin dan surat!"

Li Hwa terisak.

"Pangeran.... selamat tinggal...."

"Jangan lupa pesanku, Li Hwa."

Gadis itu lalu meloncat dan melarikan diri kedalam kegelapan malam, menuju ke pintu gerbang kota raja sebelah selatan dengan cincin dan surat itu, Tentu saja dia akan dengan mudah keluar dari kota raja, karena di dalam surat itu Sang Pangeran memerintahkan agar gadis itu dilindungi dan siapa yang berani membangkang terhadap perintah gadis itu berarti membangkang terhadap perintahnya dan si pembangkan akan dihukum berat!

Sungguh terjadi perobahan besar sekali atas batin Li Hwa.

Kalau tadi ketika dia memasuki istana dia merupakan seorang gadis yang penuh semangat permusuhan, penuh kebencian dan dendam terhadap Kaisar, kini dia meninggalkan kota raja dengan hati seperti tertinggal di istana penuh keharuan, kekaguman dan juga cinta kasih terhadap Pangeran Kian Liong, juga kedukaan bahwa dia harus berpisah dari Pangeran yang amat dikaguminya itu.

Dia masih merasa putus asa untuk dapat berjumpa kembali dengan Pangeran yang dicintanya itu, sama sekali dia tidak pernah mengira bahwa kelak dialah yang menjadi selir paling terkasih di antara para selir Pangeran Kian Liong setelah Pangeran itu menjadi Kaisar yang amat berkuasa kelak!

Sementara itu pertandingan antara Kao Kok Cu melawan Sam-ok tidak berjalan lama.

Baru belasan jurus saja sudah dua kali tubuh Sam-ok terpental sampai jauh dan biarpun dia tidak mengalami luka parah, namun dadanya terasa sesak setiap kali dia bertemu tangan dengan pendekar sakti itu dan akhirnya Sam-ok lalu melompat dan melarikan diri karena kalau sampai datang pasukan pengawal, tentu dia akan celaka.

Kao Kok Cu tidak mengejar, melainkan berkata kepada Pangeran Kian Liong dengan tenang.

"Sebaiknya Paduka kembali ke dalam istana."

"Kembali engkau telah menyelamatkan aku, Paman."

Jawab Pangeran Kian Liong yang lalu menambahkan.

"Harap Paman menyimpan rahasia tentang apa yang Paman lihat pada malam hari ini."

Kao Kok Cu mengangguk, mengerti bahwa yang dimaksudkan tentulah rahasia Pangeran itu yang mengenal diri gadis Siauw-lim-pai itu.

Dia lalu mengawal Sang Pangeran kembali ke istana, disambut oleh Wan Ceng, Wan Tek Hoat, dan Syanti Dewi.

Lima orang ini bercakap-cakap dan Wan Tek Hoat yang pernah mengintai keadaan Im-kan Ngo-ok, menceritakan bahwa Im-kan Ngo-ok adalah tokoh-tokoh yang diperalat oleh Sam-thaihouw, demikian pula murid-murid Im-kan Ngo-ok, yaitu Su-bi Mo-li.

Pangeran Kian Liong yang sudah menduga akan hal ini, diam-diam marah sekali dan mengambil keputusan untuk tidak mendiamkan saja sepak terjang Sam-thaihouw yang amat membahayakan ayahnya itu.

Pada keesokan harinya, setelah matahari naik tinggi, setelah menanti sampai lama, dua pasang suami isteri pendekar itu dipersilakan memasuki ruangan makan pagi seperti yang dikehendaki oleh Kaisar, yaitu mereka diundang untuk makan pagi bersama Kaisar untuk bercakap-cakap.

Dalam pertemuan ini hadir pula Pangeran Kian Liong yang sekalian membuat laporan kepada Kaisar tentang perjalanan ke Pulau Kim-coa-to.

Akan tetapi, Kaisar agaknya hanya setengah hati mendengarkan laporan puteranya dan pandang matanya lebih banyak ditujukan kepada Syanti Dewi yang lebih sering menundukkan mukanya.

Wan Tek Hoat, Wan Ceng dan Kao Kok Cu, juga Sang Pangeran sendiri, dengan mudah dapat menduga bahwa Kaisar yang terkenal mata keranjang itu mulai tertarik oleh kecantikan Syanti Dewi yang memang luar biasa itu.

"Kami mendengar bahwa Anda memiliki ilmu silat amat lihai,"

Dalam suatu kesempatan Kaisar berkata, ditujukan kepada Syanti Dewi.

"Timbul keinginan hati kami untuk menyaksikan, bagaimana seorang puteri yang demikian halus dan cantik, lemah lembut seperti Anda pandai main silat. Maka, hendaknya Anda suka memperlihatkan ilmu pedang Anda antuk membuka mata kami yang selalu haus untuk mengagumi ilmu silat yang baik."

Semua orang diam-diam terkejut mendengar ini.

Ini namanya sudah keterlaluan.

Biarpun dia seorang kaisar, akan tetapi yang diperintahnya adalah tamu, dan seorang wanita yang baru saja menikah pula.

Mana mungkin Kaisar memerintah orang yang bukan menjadi pengawal atau anak buahnya begitu saja, apalagi kalau orang itu seorang wanita seperti Syanti Dewi dan perintahnya untuk bermain silat lagi?

Syanti Dewi dengan sikap tenang lalu menjura.

"Harap Paduka sudi mengampunkan hamba. Hamba hanya belajar sedikit, mana berani hamba memperlihatkan kejelekan di hadapan Paduka?"

"Aih, Anda terlalu merendahkan diri. Kami sendiri telah mendengar desas-desus, bahwa dewi dari Kim-coa-to selain cantik jelita seperti bidadari juga memiliki ilmu silat yang amat tinggi, yang sukar dicari bandingannya. Kecantikan seperti bidadari itu telah kami buktikan dan malah melebihi desas-desus itu kenyataannya, hanya ilmu silat itu belum kami saksikan. Harap Anda jangan menolak, demi untuk menggembirakan suasana pagi ini."

Kaisar mendesak sambil tersenyum dengan sikap ceriwis, tanpa sungkan sedikitpun juga sungguhpun di situ hadir suami puteri itu, hadir pula puteranya dan suami isteri pendekar yang selama ini amat dikaguminya.

Syanti Dewi melirik ke arah suaminya, akan tetapi Tek Hoat duduk dengan tenang-tenang saja, jelas bahwa suaminya tidak hendak mencampuri dan menyerahkan Si Isteri untuk mengambil keputusan sendiri bagaimana cara menghadapi permintaan Kaisar itu.

Akan tetapi pada saat itu, terdengar pemberitahuan dari pengawal yang berseru dengan suara lantang.

"Yang Mulia Sam-thaihouw berkenan menghadap Sri Baginda Kaisar!"

Kaisar menoleh dan mengerutkan alisnya karena merasa terganggu, akan tetapi sebelum dia membantah, dan kiranya belum tentu Kaisar berani membantah kalau ibu suri ke tiga itu muncul, Sang Ibu Suri sudah memasuki ruangan itu dari pintu.

Seorang nenek yang masih nampak jelas bekas-bekas kecantikannya, dengan muka yang dirias tebal, rambut yang ditambah dengan cemara tebal dan hitam digelung rapi, pakaian yang mewah sekali dan begitu dia muncul tercium bau semerbak wangi yang amat mencolok hidung.

Tentu ada setengah botol minyak wangi yang dihamburkan di atas pakaian dan tubuhnya.

Setelah menghampiri meja itu, Sam-thaihouw menjura ke arah Kaisar dan untuk menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang tahu aturan, Kaisar juga bangkit berdiri dan membalas penghormatan orang yang menjadi Ibu tirinya itu.

"Semoga Thian memberkahi Sri Baginda!"

Kata Sam-thaihouw.

"Semoga Ibu selalu dalam keadaan sehat."

Balas Sri Baginda Kaisar.

Sam-thaihouw lalu memutar tubuhnya dan menghadapi Pangeran Kian Liong yang masih tetap duduk di atas bangkunya, bersikap tidak mengacuhkan ketika wanita ini masuk.

Kemudian dengan gerakan lambat seperti gerakan teratur seorang pemain wayang.

Sam-thaihouw mengangkat lengan kirinya, mengeluarkan tangannya yang tersembunyi di dalam lengan baju yang panjang, telunjuk kirinya menuding ke arah muka Pangeran itu dan mulutnya mengeluarkan kata-kata lantang.

"Sri Baginda telah makan pagi bersama dengan seorang pengkhianat."

Tentu saja Kaisar merasa terkejut sekali dan dengan alis berkerut dia memandang kepada ibu tirinya itu dan akhirnya bertanya.

"Apa yang Ibunda maksudkan?"

"Tentu Sri Baginda sudah memaklumi bahwa seorang di antara gerombolan pemberontak yang semalam menyerang Paduka, yaitu seorang penjahat wanita, telah berhasil lolos. Tahukah Paduka apa yang terjadi semalam? Saya telah melihat sendiri di mana adanya gadis pemberontak itu semalam!"

Dia berhenti lagi, untuk menambah ketegangan dan memperbesar keinginan tahu kaisar.

"Di mana?"

Kaisar mendesak dan memang Kaisar merasa terkejut, heran dan ingin tahu sekali.

"Di dalam kamar Pangeran Kian Liong!"

"Ahhh...."

Kaisar terkejut sekali dan menoleh, memandang kepada puteranya.

"Bukan itu saja, Sri Baginda. Bahkan Pangeran Kian Liong telah membantu pemberontak itu, membawanya sendiri sampai keluar dari dalam istana, menyelamatkan perempuan jahat itu dari tangan para pasukan pengawal. Itulah sebabnya maka saya berani mengatakan bahwa Pangeran Kian Liong adalah seorang pengkhianat!"

Wajah Kaisar berobah merah dan sinar matanya jelas membayangkan kemarahan besar ketika kini dia memandang kepada Pangeran Kian Liong.

Dua pasang suami-isteri pendekar itu memandang kepada Pangeran dengan hati gelisah, akan tetapi juga mereka kagum bukan main ketika melihat betapa Pangeran itu kelihatan tenang-tenang saja, bahkan ada senyum bersembunyi di balik sinar matanya.

"Pangeran, apa jawabanmu sekarang? Benarkah apa yang dikatakan oleh Sam-thaihauw?"

Karena di situ terdapat orang-orang lain sebagai tamu, maka sikap Kaisar terhadap puteranya itu kaku dan penuh aturan.

Pangeran Kian Liong mengangguk!

"Harap Paduka dengarkan dengan sabar penjelasan hamba tentang gadis itu.

Gadis itu datang bersama orang-orang Siauw-lim-pai yang tentu Paduka kenal, dan gadis itu datang bukan sebagai pemberontak melainkan ada kujungan dengan urusan pribadi, yaitu antara Suhunya dan Paduka.

Jadi urusan semalam adalah urusan dalam keluarga perguruan Siauw-lim-pai, tidak ada hubungannya dengan pemberontak dan Kaisar.

Memang hamba telah menyuruh Nona itu pergi setelah hamba berhasil menyadarkannya akan kekeliruan tindakan murid-murid Siauw-lim-pai.

Hamba juga menyuruh dia menyadarkan para murid Siauw-lim-pai bahwa menganggap Paduka sebagai murid Siauw-lim-pai adalah keliru, dan hamba ingatkan Paduka adalah Kaisar dan siapa pun yang menentang Paduka, dengan dalih apa pun, berarti memberontak.

Hamba mengampuni dan menyelamatkannya demi untuk menghentikan rasa permusuhan dari para murid Siauw-lim-pai terhadap Paduka.

Kalau Paduka menganggap hamba bersalah, hamba hanya menyerahkannya kepada kebijaksanaan Paduka Ayahanda Kaisar!"

Mendegar jawaban yang terus terang ini, Kaisar mengangguk-angguk.

Tentu saja dia mengerti apa yang telah terjadi.

Dia pun mengenal tujuh orang suheng-suhengnya dari Siauw-lim-pai yang telah tewas semua itu dan dia dapat menduga bahwa gadis itu tentu murid dari suhengnya yang datang bersama isterinya yang cantik beberapa bulan, bahkan sudah setahun yang lalu itu.

Agaknya puteranya itu pun tahu akan hal itu dan betapa bijaksana puteranya yang tidak membuka rahasia itu.

Biarpun dia kurang puas karena seorang di antara calon-calon pembunuhnya itu lolos, bahkan diselamatkan oleh puteranya sendiri, namun betapapun juga puteranya berusaha untuk menghentikan permusuhan dalam hati para murid Siauw-lim-pai terhadap dirinya.

Melihat Kaisar mengangguk-angguk, diam-diam Sam-thaihouw merasa tidak puas sama sekali.

Dia melihat kesempatan baik sekali untuk menjatuhkan Sang Pangeran yang dibencinya, untuk menjauhkan Pangeran ini dari ayahnya, untuk membangkitkan kebencian atau setidaknya kemarahan di hati Kaisar terhadap Pangeran Mahkota, akan tetapi melihat Kaisar itu mengangguk-angguk mendengar jawaban Pangeran Kian Liong, dia kecewa sekali.

"Sungguh keterangan yang bohong!"

Teriaknya. sambil menudingkan telunjuknya kepada Pangeran Muda itu.

"Pangeran telah jatuh cinta kepada gadis itu! Kedua mataku belum lamur, aku melihat sendiri betapa gadis itu memakai pakaian Pangeran! Dan betapa Pangeran menggandeng tangan gadis itu amat mesranya! Dan kalau pangeran sudah bersekongkol, bercinta dengan seorang musuh yang baru saja hendak membunuh Paduka, sungguh hal itu merupakan bahaya besar bagi Sri Baginda, seolah-olah mempunyai musuh di dalam selimut! Karena itu, sudah sepantasnya kalau Paduka mengeluarkan perintah menangkap pemberontak ini, pengkhianat ini dan menyelidikinya dengan cermat berapa jauh hubungannya dengan para pemberontak. Siapa tahu dia pula yang memungkinkan para pemberontak malam tadi itu memasuki istana...."

Pangeran Kian Liong bangkit berdiri, sikapnya masih tenang saja, akan tetapi suaranya lantang ketika dia memotong kata-kata nenek tirinya itu.

"Tidakkah akan lebih lengkap lagi bagi Sri Baginda untuk mendengar cerita Sam-thaihouw tentang Im-kan Ngo-ok, lima orang datuk kaum sesat itu yang kini menjadi kaki tangan Sam-thaihouw, termasuk juga Su-bi Mo-li, empat orang siluman betina itu?"

Sam-thaihouw terkejut mendengar itu, akan tetapi dia cepat menegakkan lehernya dan berkata dengan suara mengandung wibawa yang keluar dari keangkuhannya dan keyakinan akan kekuasaannya.

"Apa salahnya aku mempergunakan tokoh-tokoh kang-ouw dari golongan mana pun juga? Dari golongan mana pun, mereka adalah rakyat yang setia kepada kerajaan, dan aku menggunakan mereka demi untuk menyelamatkan negara, bukan sebaliknya untuk mengkhianati negara bahkan Kaisar sendiri!"

Sam-thaihouw menyerang dan memang nenek ini pandai berdebat.

Mendengar perdebatan mereka, Kaisar menjadi bingung dan dia hanya menoleh kepada dua orang itu berganti-ganti mengikuti perdebatan itu dan nampaknya tertarik.

Pangeran Kian Liong tersenyum.

Pangeran ini biarpun masih muda namun sesungguhnya dia amat cerdik dan memang tadi dia hanya memancing saja.

Begitu mendengar pembelaan diri Sam-thaihouw, dia tersenyum dan merasa pancingannya berhasil dan merasa yakin akan kemenangannya.

Memang jawaban inilah yang ditunggu-tunggunya.

"Sam-thaihouw menuduh saya bersekutu dengan pemberontak, padahal sudah jelas bahwa orang-orang Siauw-lim-pai itu bukan pemberontak dan saya berusaha melenyapkan sikap bermusuhan mereka terhadap Kaisar. Akan tetapi Sam-thai-houw agaknya sengaja hendak menutup mata akan kenyataan siapa adanya Im-kan Ngo-ok! Sam-thaihouw kiranya dapat menceritakan kepada Sri Baginda, siapa adanya orang ke tiga dari Im-kan Ngook? Siapakah adanya Sam-ok Ban Hwa Sengjin itu? Yang sudah berkali-kali hendak menculik saya ketika saya pergi ke Kim-coa-to?"

Wajah Sam-thaihouw menjadi agak pucat dan dia mulai bingung dan gelisah, memandang kepada wajah Kaisar, kemudian kepada wajah Pangeran itu dan mulutnya bergerak-gerak, akan tetapi tidak mengeluarkan suara apa-apa.

"Kenapa Sam-thaihouw tidak mau berterus-terang saja? Sam-ok Ban Hwa Sengjin yang kini menjadi orang yang paling dipercaya di antara Im-kan Ngo-ok oleh Sam-thaihouw, bukan lain adalah bekas koksu dari Nepal yang pernah mengatur pemberontakan dan penyerangan terhadap tanah air kita."

Kaisar terkejut sekali mendengar ini.

Tak disangkanya sama sekali ibu tirinya itu, yang sejak dahulu kelihatan amat setia kepadanya, ternyata diam-diam dia telah mengumpulkan tenaga-tenaga dari pihak musuh!

Dia cepat menoleh dan memandang kepada nenek itu dan melihat betapa wajah yang tertutup bedak tebal itu menjadi pucat sekali, matanya terbelalak ketakutan dan kedua kaki yang tertutup pakaian panjang itu menggigil, membuat tubuhnya bergoyang-goyang!

"Harap Ibunda menjelaskan apa artinya semua ini!"

Terdengar suara Kaisar yang kini kelihatan marah terhadap nenek itu.

"Saya...., saya.... tidak tahu akan hal itu."

"Sam-thaihouw tidak tahu? Hemm, berbeda sekali dengan semua yang telah saya alami. Im-kan Ngo-ok berusaha untuk menculik saya ketika saya pergi Kim-coa-to, berusaha untuk merusak nama saya dan semua itu adalah atas perintah Sam-thaihouw. Bahkan nyaris mereka itu berani untuk membunuh saya dan hal itu tentu sudah terlaksana kalau saya tidak dilindungi oleh orang-orang gagah, temasuk orang-orang Siauw-lim-pai! Dan empat orang iblis betina Subi Mo-li itu pun pernah menculik putera kembar Paman Gak Bun Beng dan mereka pun mengaku bahwa perbuatan itu adalah atas perintah Sam-thaihouw! Usaha Sam-thaihouw dengan mempergunakan tenaga-tenaga macam bekas Koksu Nepal semua itu bukankah semata-mata untuk menyingkirkan saya agar kelak yang menggantikan kedudukan kaisar adalah pilihan Sam-thaihouw di mana Sam-thaihouw akan dapat memegang kekuasaan tertinggi?"

Serangan ucapan Pangeran Kian Liong memang sudah diperhitungkan baik-baik dan wajah nenek itu nampak semakin ketakutan.

Kaisar sejak tadi mendengarkan ucapan puteranya sambil menatap wajah Sam-thaihouw.

Tanpa diketahui oleh nenek itu, Kaisar sesungguhnya amat mencinta dan sayang, juga kagum kepada puteranya itu, maka segala usaha nenek itu untuk memisahkan putera mahkota ini dari ayahnya sungguh merupakan usaha sia-sia bahkan memukul diri sendiri!

Baru sekaranglah Sam-thaihouw menyadari akan hal ini dia merasa menyesal sekali atas kebodohannya sendiri.

Menyesal, bingung dan juga ketakutan.

"Benarkah semua itu, Ibunda? Kalau tidak benar, harap Ibunda suka menyangkal dengan bukti-bukti!"

Sam-thaihouw sudah terpojok dan tidak mampu bicara lagi, akhirnya menundukkan mukanya.

Kaisar menjadi marah.

Akan tetapi mengingat bahwa nenek, itu memiliki kekuasaan yang cukup besar dan mengingat akan jasa-jasanya di masa lampau, maka dia pun tidak memerintah pengawal untuk menangkapnya, melainkan hanya menudingkan telunjuk ke arah pintu sambil berkata.

"Pergilah, Sam-thaihouw!"

Nenek itu lalu melangkah ke arah pintu, agak terhuyung dan dia seolah-olah dalam waktu beberapa menit saja telah berobah menjadi seorang nenek yang sudah amat tua dan lemah.

Setelah tiba di luar pintu, dia dikawal oleh pasukan pengawal pribadinya meninggalkan tempat itu, akan tetapi sebelum tiba di kamarnya sendiri, dia roboh dan terpaksa digotong oleh para pengawalnya.

Akan tetapi, tak lama kemudian, sebelum dia tiba di kamarnya, nenek ini telah menghembuskan napas terakhir.

Kiranya dia tewas karena serangan jantungnya yang memang kurang begitu kuat sejak beberapa tahun akhir-akhir ini.

Rasa penyesalan, kekagetan dan rasa takut dan bingung membuat jantung yang lemah itu terserang dan mengakibatkan dia tewas seketika!

Kematian Sam-thaihouw ini secara tidak langsung telah menyelamatkan Syanti Dewi!

Atau setidaknya menghindarkan wanita cantik ini dari hal-hal yang amat tidak enak baginya.

Sudah terasa olehnya, bahkan diketahui pula oleh suaminya dan oleh suami isteri Pendekar Naga Sakti bahwa Kaisar yang berwatak mata keranjang itu telah tergila-gila kepada Syanti Dewi.

Bahkan setelah minum arak agak banyak di pagi hari itu, kata-katanya mulai berani ditujukan kepada Syanti Dewi, membayangkan kehendaknya agar Wan Tek Hoat dan Syanti Dewi untuk sementara tinggal di istana sebagai tamu agungnya!

Akan tetapi, selagi mereka berenam masih melanjutkan percakapan setelah makan pagi, tiba-tiba datang laporan bahwa Sam-thaihouw telah meninggal dunia secara mendadak.

Hal ini tentu saja mengejutkan juga kepada Kaisar dan pertemuan itu segera diakhiri.

Peristiwa kematian Sam-thaihouw mendatangkan beberapa kesibukan dan kesempatan ini dipergunakan oleh Tek Hoat dan Syanti Dewi, dibantu oleh Pangeran Kian Liong, untuk meninggalkan istana dan pulang ke Bhutan tanpa menemui lagi Kaisar, cukup berpamit kepada Pangeran Kian Liong saja.

Bahkan mereka tidak mau dikawal pasukan, hanya menerima sebuah kereta kecil dengan dua ekor kuda dan hanya membawa surat dari Pangeran Kian Liong untuk Raja Bhutan, ayah Syanti Dewi.

Demikianlah, bagaikan sepasang burung baru terlepas dari sangkar emas yang mengancam akan mengurung mereka dan menghadapkan mereka kepada hal-hal yang amat tidak enak, bahkan mungkin sekali berbahaya, Wan Tek Hoat dan Syanti Dewi lolos dari kota raja, melakukan perjalanan yang amat jauh namun amat penuh dengan kebahagiaan mereka berdua, bagaikan sepasang pengantin baru melakukan tamasya di tempat-tempat sunyi nan indah, Mereka menuju ke Bhutan, naik kereta berdua dan kadang-kadang berhenti untuk mengaso atau untuk bercumbuan!

Dunia penuh dengan keindahan terbentang luas di depan mereka, seolah-olah menjadi hadiah dari mereka berdua yang sudah bertahun-tahun lamanya menderita kerinduan dan kesunyian yang mendatangkan kedukaan.

Biarpun Kaisar telah mengetahui rahasia Sam-thaihouw dan diam-diam telah menyuruh tangkap semua kaki tangan nenek itu yang tidak keburu melarikan diri dan melempar mereka ke dalam tahanan, namun demi menjaga nama baik keluar istana, kematian Sam-thaihouw menjadi peristiwa perkabungan resmi.

Bahkan Kaisar melakukan upacara sembahyang seperti lajimnya, dan menerima ucapan belasungkawa dari negara-negara tetangga.

Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong muncul bersama guru mereka, yaitu sastrawan Pouw Taen, dan dua orang pemuda putera Milana yang masih mempunyai hubungan darah dengan keluarga-keluarga Kaisar ini lalu diantar oleh Pangeran Kian Liong untuk pergi menghadap Kaisar.

Dua orang pemuda ini lalu mengulang semua pengalamannya, ketika beberapa tahun yang lalu mereka ditangkap oleh Su-bi Mo-li, mengulang semua yang telah diceritakan oleh Sang Pangeran kepada Kaisar.

Mendengar penuturan ini, Kaisar menjadi semakin sadar bahwa selama ini dia telah berdekatan dengan orang-orang yang pada hakekatnya ingin menyeretnya ke dalam kekuasaan mereka.

Dengan terbongkarnya kebusukan Sam-thaihouw ini, maka terbongkarlah pula kepalsuan Lan-thaikam, orang kebiri yang dahulu pernah membantu Kaisar melakukan kecurangan dalam memperebutkan kekuasaan menggantikan kedudukan Kaisar Kiang Hsi.

Setelah diselidiki, ternyata Lan-thaikam ini menyimpan harta kekayaan yang luar biasa banyaknya, yang menyaingi isi gudang kekayaan Kaisar sendiri.

Ribuan tail emas berada di dalam gudang rahasianya, belum lagi tanah yang tak terbatas luasnya!

Karena maklum bahwa antara Lan-thaikam dan mendiang Sam-thaihouw terdapat hubungan yang amat erat, dan bahwa terbongkarnya rahasia Sam-thaihouw itu akan membuat Lan-thaikam menjadi berhati-hati dan berbahaya, maka dengan rahasia Kaisar lalu membunuh thaikam ini dengan jalan menyuruh orang meracuninya!

Maka, tak (Lanjut ke

Jilid 30) Suling Emas & Naga Siluman (Seri ke 11 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 30 lama kemudian, hanya beberapa hari setelah Sam-thaihouw meninggal, tewas pulalah thaikam tua itu yang dianggap sebagai kematian wajar karena usia tua sehingga tidak menimbulkan keributan.

Setelah upacara pemakaman Sam-thaihouw selesai, datang pula Kao Cin Liong dari barat.

Jenderal Kao Cin Liong yang muda belia dan gagah perkasa ini telah berhasil menumpas pergolakan di barat.

Jenderal muda ini disambut dengan upacara kebesaran ketika menghadap Kaisar dan menceritakan atau melaporkan semua pelaksanaan tugasnya kepada Kaisar yang mendengarkan dengan girang.

Kaisar menghujani jenderal muda dengan hadiah dan pujian, akan tetapi di dalam pertemuan yang dihadiri pula oleh suami isteri Pendekar Naga Sakti dan Pangeran Kian Liong, Kaisar menyatakan rasa penasaran dan tidak puasnya dengan hilangnya pusaka istana Koai-liong Pokiam yang lenyap dicuri orang itu.

Pasukan yang dikirim dari istana untuk menyelidiki hilangnya pedang pusaka ini ternyata telah mengalami kegagalan.

"Kiranya tidak ada orang lain kecuali Kao-goanswe (Jenderal Kao) yang akan dapat menemukan kembali pedang pusaka itu."

Kata Kaisar antara lain, kemudian melanjutkan.

"Pedang itu sendiri tidaklah sangat penting dan istana masih mempunyai banyak pedang pusaka yang lebih baik lagi. Akan tetapi, hal ini menyangkut kehormatan istana. Sungguh memalukan sekali kalau sampai pemerintah tidak berdaya menghadapi seorang pencuri saja dan tidak dapat merampas kembali pedang yang dicuri. Lalu bagaimana akan kata dunia kang-ouw terhadap kebesaran istana sehingga para pengawal dan ponggawanya tidak mampu menangkap seorang maling saja?"

Jenderal Muda Kao Cin Liong menyatakan kesanggupannya dan baru setelah mereka semua kembali ke rumah gedung tempat tinggal jenderal muda itu, Pangeran Kian Liong yang ikut pula berkunjung ke situ mengajak mereka semua berunding.

Dari Wan Tek Hoat, Pangeran ini telah mendengar tentang pedang Koai-liong-kiam.

Didepan Kaisar, Pangeran itu memang tidak mengatakan sesuatu, karena tentu Kaisar akan marah sekali dan mungkin akan mengirim pasukan ke Lembah Suling Emas untuk merampas kembali pedang itu.

Maka dia diam saja dan baru sekarang, dia menceritakan tentang pedang yang diperebutkan oleh orang-orang kang-ouw itu, menceritakan kepada Cin Liong dan ayah bundanya, seperti yang didengarnya dari Tek Hoat.

"Menurut ceritanya itu, jelaslah bahwa pedang Koai-liong-kiam yang telah menjadi pusaka istana itu dahulunya adalah milik keluarga Cu di Lembah Suling Emas."

Kata Kao Cin Liong.

"Betapapun juga, perintah Kaisar harus ditaati, dan pula, memang sudah belasan tahun pedang itu menjadi pusaka istana, maka kita pun berhak untuk menuntutnya dan untuk itu, tidak perlu mempergunakan pasukan. Pangeran, hamba akan berangkat sendiri tanpa pasukan, karena menghadapi keluarga yang menurut cerita Paman Wan Tek Hoat kepada Paduka itu adalah keluarga sakti yang menyembunyikan diri, sebaiknya diambil jalan menurut kebiasaan kang-ouw, bukan dengan serbuan pasukan tentara."

Sang Pangeran mengerutkan alisnya.

"Akan tetapi, apakah tidak akan terlalu berbahaya? Perjalanan ke tempat itu, yang berada di Pegunungan Himalaya, amatiah jauhnya dan sukar sekali, pula, menurut Paman Wan Tek Hoat, ilmu kepandaian keluarga Cu itu sungguh amat hebat, bahkan katanya jauh lebih hebat daripada tingkat kepandaian Paman Wan Tek Hoat sendiri."

"Memang berbahaya, akan tetapi itulah pekerjaan seorang pendekar, Pangeran."

Kata Kao Kok Cu dengan tenang.

"Dan kami berdua akan menemani Liong ji (Anak Liong) untuk mencari pedang itu dan membawanya kembali ke istana."

Mendengar ucapan itu, bukan main girangnya hati Pangeran itu.

Terasa lapang dadanya, karena kalau pendekar itu bersama isterinya ikut, maka dia yakin bahwa pedang pusaka itu akan dapat didapatkan kembali dan dia tidak usah mengkhawatirkan keselamatsn jenderal muda yang menjadi sahabat baiknya itu.

Dia tertawa dan bangkit berdiri.

"Kalau begitu, saya tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa lagi."

Pangeran itu lalu kembali ke istana di mana telah menanti dua orang muda kembar yang masih ada hubungan keluarga dengan dia, yaitu Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong.

Sementara itu, setelah Sang Pangeran kembali ke istana dikawal oleh pengawal-pengawalnya, Barulah Kao Kok Cu dan isterinya mempunyai kesempatan untuk bicara secara bebas dengan putera mereka.

Suami isteri ini merasa bangga sekali melihat betapa putera mereka kembali dari tugas ke barat dan mendapatkan sambutan yang meriah dari Kaisar.

Mereka bertiga kini pesta sendiri dengan suasana sentai dan bebas di ruangan gedung jenderal muda itu.

Dan dalam kesempatan inilah suami isteri pendekar itu lalu bertanya kepada Cin Liong tentang Bu Siok Lan, gadis keluarga Bu itu.

Tentu saja Kao Cin Liong terkejut den merasa heran bagaimana tiba-tiba orang tuanya bertanya tentang gadis itu.

Dan melihat betapa ayah bundanya memandang kepadanya dengan sinar mata penuh selidik, tahulah dia bahwa mereka itu serius dan tentu telah terjadi sesuatu yang ada hubungannya dengan gadis itu, maka dia pun menjawabnya dengan terus terang.

"Ah, Bu Siok Lan? Dia adalah puteri musuh, akan tetapi telah berjasa besar dalam usaha menyelamatkan pasukan yang terkepung di barat itu. Dan ibunya memang hebat, seorang Panglima Nepal yang tangguh sekali!"

Ayah bundanya mendengarkan dengan mata terbelalak heran ketika Cin Liong menceritakan tentang usaha menyelamatkan pasukan yang terkepung itu dan betapa dia berhasil menyelundup ke markas musuh dan bahkan memperoleh kepercayaan dari Panglima Nandini, dan menjadi sahabat baik dari Bu Siok Lan, puteri panglima itu, sampai bagaimana akhirnya dia berhasil menyelamatkan pasukan dan mengalahkan musuh, menghancurkan siasat Panglima Nandini yang pandai itu.

"Nah, demiklanlah ceritanya."

Dia menutup kata-katanya.

"Dan bagaimana Ayah dan Ibu dapat mengenal nama Bu Siok Lan? Apakah yang telah terjadi?"

Kini dialah yang ingin sekali mendengar dari mereka tentang Siok Lan yang tak pernah dijumpainya semenjak mereka berpisah sebagai musuh.

"Jadi dia itu puteri Panglima Nepal? Sialan!"

Wan Ceng mengepal tinjunya dan nampak marah sekali.

"Ini penghinaan namanya!"

"Tenanglah, isteriku. Ingat bahwa ayahnya adalah Bu-taihiap, seorang pendekar besar yang pernah menyelamatkan Pangeran...."

"Tidak peduli ayahnya pendekar atau dewa sekalipun, ibunya adalah seorang Panglima Nepal, panglima musuh. Bagaimana mereka itu berani menemui kita dan bicara tentang perjodohan?"

Nyonya itu berkata lagi dengan marah.

"Ayah, Ibu, apa yang sesungguhnya telah terjadi? Siapakah mereka yang datang menemui Ayah Ibu dan bicara tentang perjodohan?"

Cin Liong ingin sekali mendengar keterangan mereka.

Karena melihat isterinya marah-marah, Kao Kok Cu mewakili isterinya, memandang kepada puteranya dan bertanya, suaranya sungguh-sungguh.

"Cin Liong, katakanlah, apakah ada hubungan cinta antara engkau dan Nona Bu Siok Lan itu?"

"Apa.... apa maksud Ayah....?"

Cin Liong bertanya dengan heran.

"Mendengarkan penuturanmu tadi, jelaslah bahwa antara engkau dan dia terdapat hubungan persahabatan, sungguhpun hubungan di pihakmu itu terjadi sebagai siasatmu untuk menyelamatkan pasukanmu yang terkepung. Akan tetapi di samping itu, apakah engkau jatuh cinta kepada gadis itu?"

Cin Liong mengerutkan alisnya dan membayangkan keadaan yang lalu ketika ia masih menjadi sahabat Siok Lan dan juga Ci Sian.

Cintakah dia kepada Siok Lan?

Terbayang wajah Ci Sian dah dia lalu menjawab tenang.

"Tidak, Ayah! Aku memang suka padanya karena dia seorang gadis yang amat baik, akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa aku cinta padanya."

"Nah, apa kataku? Mereka itu tidak tahu malu!"

Wan Ceng berkata lagi.

"Mengapakah mereka, Ibu?"

Cin Liong bertanya.

"Keluarga yang tak tahu malu itu pernah bertemu dengan Pangeran Kian Liong dan hanya karena mereka kebetulan menyelamatkan Sang Pangeran maka mereka itu telah minta kepada Pangeran untuk menjadi perantara bagi mereka untuk memberitahukan kami bahwa mereka itu secara tak tahu malu sekali hendak mengikatkan perjodohan antara anak perempuan mereka itu denganmu!"

"Ahh....!"

Cin Liong terkejut juga mendengar berita ini.

Tak disangkanya bahwa Panglima Nandini, yang telah dikalahkannya, yang tentu malah mendendam kepadanya, kini malah hendak menjodohkan puterinnya yang tunggal itu dengan dia!

"Kita harus menghadapi urusan ini dengan kepala dingin."

Kao Kok Cu berkata, sambil memandang kepada isterinya yang masih cemberut.

"Jadi sudah jelas bahwa antara engkau dan gadis itu tidak ada hubungan cinta, Cin Liong?"

"Tidak, Ayah."

"Dan bagaimanakah pendapatmu tentang uluran tangan mengadakan ikatan jodoh ini? Ingat, urusan perjodohan adalah urusanmu sendiri, Cin Liong, maka engkaulah yang berhak untuk memutuskan sendiri. Apalagi dalam hal ini, kami sebagai Ayah Bundamu belum pernah melihat gadis itu dan tidak tahu bagaimana watak-wataknya, sebaliknya engkau malah sudah bersahabat dengan dia sehingga engkau tentu mengerti pula bagaimana keadaan dan wataknya. Nah, bagaimana pendapatmu?"

Pemuda yang sudah menjadi, jenderal dan sudah terbiasa dengan hal-hal yang hebat-hebat, bahaya yang besar-besar, namun sekali ini, ditanya tentang perjodohan, dia tidak mampu menyembunyikan rasa malunya dan wajahnya menjadi merah sekali.

"Ayah.... Ibu.... terus terang saja, aku belum mempunyai pikiran tentang perjodohan...."

"Jadi, berarti engkau menolaknya?"

"Ya, begitulah. Bukan menolak karena Siok Lan bukan seorang gadis yang baik, melainkan karena aku belum mempunyai pikiran untuk menikah, Ayah."

"Baiklah, kalau begitu, kami dapat memberi jawaban yang tegas kalau sampai keluarga itu datang menemui kami."

Urusan itu tidak diusik lagi dan keluarga ini lalu melanjutkan makan siang, kemudian Kao Kok Cu dan isterinya beristirahat, demikian pula Cin Liong yang baru saja pulang dan masih merasa lelah.

Mereka mengambil keputusan untuk pergi atau berangkat melakukan tugas baru mencari pedang pusaka itu tiga hari kemudian.

Akan tetapi pada keesokan harinya, lewat pagi menjelang siang, serombongan tamu datang mengunjungi rumah Jenderal Kao Cin Liong.

Cin Liong keluar menyambut dan terkejutlah dia ketika melihat Siok Lan yang datang bersama laki-laki setengah tua yang gagah perkasa, dan tiga orang wanita cantik, seorang di antaranya dikenalnya sebagai Panglima Nandini!

Dia sudah diceritakan oleh ibunya yang mendengarnya dari Pangeran Kian Liong bahwa ayah Bu Siok Lan yang terkenal dengan julukan Bu-taihiap itu memiliki banyak isteri, dan Panglima Nandini, ibu Siok Lan adalah seorang di antara isteri-isterinya, entah isteri yang keberapa!

Baru saja Cin Liong keluar, dia sudah disusul oleh ibunya dan ayahnya.

Melihat Puteri Nandini dan Siok Lan yang sudah dikenalnya, Cin Liong segera maju memberi hormat dan bersikap biasa sebagai kenalan, seolah-olah puteri atau panglima itu bukan merupakan bekas panglima musuhnya.

"Ah, kiranya Bibi dan Adik Siok Lan yang datang berkunjung. Selamat datang, dan siapakah Paman dan para Bibi yang lain ini?"

Sejak tadi, dengan sepasang mata yang mencorong tajam itu Bu-taihiap sudah memandang kepeda pihak tuan rumah dan dia kagum bukan main melihat pemuda yang gagah perkasa itu, juga dia agak terkejut kemudian kagum memandang pria berlengan satu itu.

Tak perlu diperkenalkan iagi, dia dapat menduga siapa adanya pria berlengan satu itu.

"Ah, kalau mataku yang sudah mulai tua ini tidak salah lihat, agaknya kami sekeluarga berhadapan dengan pendekar sakti yang namanya menjulang tinggi di langit, Si Naga Sakti Gurun Pasir Kao Kok Cu, benarkah dugaan saya?"

Kata Bu-taihiap sambil menjura dengan sikap hormat namun terbuka dan sederhana.

Melihat sikap dan mendengar ucapan ini saja, Kao Kok Cu sudah merasa tertarik sekali.

Dia dapat mengenal orang yang sikapnya terbuka dan membayangkan pemandangan yang luas dan tajam.

Dia pun cepat membalas penghormatan orang dan menjawab.

"Dan saudara yang perkasa tentulah pendekar yang dikenal dengan Bu-taihiap, bukan?"

"Ha-ha-ha, orang macam saya ini mana pantas disebut pendekar oleh Si Naga Sakti Gurun Pasir?"

"Silakan, silakan masuk, biarlah kami mewakili putera kami untuk mempersilakan tamu masuk ke ruangan dalam untuk bicara."

Kata Kao Kok Cu, merasa tidak enak melihat betapa isterinya menerima kedatangan rombongan tamu itu dengan sikap cemberut dan muram.

"Terima kasih, akan tetapi biarlah saya memperkenalkan dulu keluarga kami. Memang benar bahwa saya adalah Bu Seng Kin, ayah Bu Siok Lan puteri kami yang telah dikenal oleh putera Taihiap. Dan dia adalah Puteri Nandini Ibu dari Siok Lan, yang ini adalah Tang Cun Ciu, dan dia itu adalah Gu Cui Bi. Mereka bertiga adalah isteri-isteri saya."

Tanpa sungkan-sungkan atau malu-malu, pendekar she Bu itu memperkenalkan isteri-isterinya yang cantik.

Terpaksa Wan Ceng membalas penghormatan mereka, akan tetapi dia tetap mengerutkan alisnya dan cemberut.

Akan, tetapi karena suaminya telah mempersilakan mereka, maka terpaksa Wan Ceng mendahului mereka menuju ke ruang tamu di mana para tamu itu dipersilakan duduk.

Setelah mereka semua duduk di ruangan yang cukup luas itu, Kao Kok Cu yang maklum bahwa pertemuan ini tidak akan membawa kegembiraan bagi kedua pihak, tidak mau membuang banyak waktu lagi dan segera dia membuka kata-kata dengan suara tenang dan halus.

"Kami sekeluarga mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada keluarga Bu yang telah datang mengunjungi kami. Mengingat bahwa hubungan antara kedua pihak hanya pernah dilakukan oleh putera kami Kao Cin Liong dengan puteri Cu-wi dan ibunya, maka apakah kunjungan ini hanya karena perkenalan itu ataukah ada keperluan lain?"

Bu Seng Kin tersenyum dan memandang kagum.

Begitu bertemu, dia pun merasa suka dan kagum kepada pendekar berlengan satu itu, yang dilihatnya sebagai seorang yang benar-benar gagah, tidak berliku-liku dan bersikap jantan tanpa sungkan-sungkan.

Dia menarik napas panjang.

"Kao-taihiap, maafkanlah kedatangan kami kalau kami mengganggu. Akan tetapi sebelum saya mewakili keluarga mengemukakan apa yang menjadi keperluan kunjungan kami, terlebih dahulu saya ingin bertanya apakah Taihiap sekalian telah mendengar sesuatu tentang keluarga kami dari Pangeran Mahkota Kian Liong?"

Si Naga Gurun Pasir mengangguk.

"Benar, kami telah bertemu dengan Pangeran Mahkota dan beliau telah menyampaikan keinginan Bu-taihiap sekeluarga untuk mengadakan ikatan jodoh antara anak-anak kita."

Mendengar ini, Bu Siok Lan mengerling ke arah Cin Liong, akan tetapi pemuda itu menundukkan kepalanya dengan alis berkerut.

Dapat dibayangkan betapa tidak enak rasa hati pemuda ini.

Dia akan lebih suka dihadapkan dengan musuh-musuh yang ganas daripada sekarang ini, di mana dia menghadapi hal yang tidak amat enak.

Dia dapat menduga bahwa Siok Lan jatuh cinta kepadanya, dan agaknya keluarga Siok Lan telah mengambil keputusan untuk mengikatkan perjodohan antara dia dan Siok Lan.

Kalau pihak wanita sudah mengemukakan keinginan seperti itu, dan pihak pria menolaknya, dan hal itu terpaksa harus dilakukannya karena dia tidak jatuh cinta kepada Siok Lan, maka tentu akan menimbulkan perasaan ditolak dan hal ini dapat mengakibatkan rasa terhina di pihak si wanita.

"Ah, Kao-taihiap telah bersikap terus terang dan terbuka, sungguh melegakan hati kami. Memang benarlah demikian, Taihiap. Saya sendiri baru sekarang berkesempatan melihat putera Taihiap yang gagah perkasa, akan tetapi Siok Lan dan Ibunya telah memperoleh kehormatan untuk bertemu dan berkenalan dengan putera Taihiap untuk mengikatkan perjodohan antara puteri kami Siok Lan dan putera Taihiap. Dan untuk membicarakan keinginan kami itulah maka sekarang kami sekeluarga datang bertemu dengan Taihiap sekeluarga."

Bagi Kao Kok Cu, tugas menjadi wakil pembicara keluarganya ini pun tidaklah ringan.

Dia juga merasakan, seperti juga puteranya, betapa tidak enaknya suasana saat itu.

Akan tetapi sebelumnya dia sudah membicarakan urusan itu dengan isterinya dan puteranya, maka kini tanpa ragu-ragu lagi dia lalu menjawab dengan suara tenang namun tegas.

"Harap Bu-taihiap sekeluarga suka memaafkan kami kalau kami terpaksa memberi jawaban yang tidak sesuai dengan harapan Cu-wi (Anda Sekalian). Setelah kami mendengar dari Pangeran Mahkota, kami bertiga telah membicarakan hal itu dan kami telah mengambil keputusan bahwa pada waktu ini, putera kami Kao Cin Liong belum mempunyai keinginan untuk mengikatkan diri dalam perjodohan dengan siapapun juga."

Jawaban itu sungguh mengejutkan keluarga Bu dan kini Bu Seng Kin dan dua orang isterinya yang lain semua memandang kepada Nandini dan puterinya, Siok Lan.

Bukankah Nandini dan Siok Lan telah mengatakan, bahwa "ada apa-apa"

Antara jenderal muda itu dan Siok Lan.

Bukankah pinangan atau usul perjodohan ini sudah pasti, akan diterima?

Maka, penolakan halus ini sungguh di luar dugaan mereka dan amat mengejutkan.

Apalagi Bu-taihiap yang merasa terpukul sekali, wajahnya menjadi pucat ketika dia menoleh kepada isterinya, Nandini.

Siok Lan sendiri mengangkat muka dengan kaget dan memandang kepada Cin Liong, akan tetapi pemuda itu bersikap tenang saja.

Puteri Nandini yang merasa terpukul, terhina dan malu, bangkit berdiri dan menegur Cin Liong.

"Kao Cin Liong apakah engkau hendak mempermainkan Anakku?"

Mendengar kata-kata keras ini dan melihat sikap Nandini yang bangkit berdiri, Wan Ceng tidak dapat menahan kesabarannya lagi dan dia pun bangkit berdiri.

"Beginikah sikap seorang tamu yang baik? Ataukah tamu kami ini hanya seorang yang tidak tahu aturan dan liar?"

Dua orang wanita itu saling pandang dengan sinar mata berapi.

Nandini lalu berkata lagi, ditujukan kepada Wan Ceng, dan karena memang dia itu seorang yang biasa memimpin pasukan dan tidak biasa bersikap sopan-santun, dia berkata dengan lantang dan sejujurnya.

"Puteramu telah saling mencinta dengan puteriku, akan tetapi sekarang dia menolak puteriku dengan dalih belum ingin mengikatkan diri dalam perjodohan, bukankah itu berarti puteramu hendak mempermainkan puteriku?"

"Siapa mencinta puterimu?"

Wan Ceng semakin marah.

"Kalau anakku bersikap baik kepada kalian, apakah itu berarti dia mencinta puterimu?"

"Siok Lan!"

Nandini yang sudah marah itu membentak puterinya.

"Apa artinya ini? Kau bilang bahwa kalian sudah saling mencinta!"

Dapat dibayangkan betapa perihnya hati seorang gadis dalam keadaan seperti itu.

Akan tetapi, dengan muka pucat dia memandang kepada Cin Liong dan menjawab.

"Aku memang cinta kepadanya, Ibu, dan.... aku yakin dia pun cinta padaku...."

"Cin Liong, aku percaya engkau cukup gagah untuk berkata sejujurnya dan memberi penjeiasan tentang hal ini."

Terdengar Kao Kok Cu berkata kepada puteranya, suaranya tegas penuh wibawa.

"Aku tidak pernah mencintanya dan tidak pernah menyatakan cinta kepada Adik Siok Lan!"

Kata Jenderai Muda itu, suaranya juga tegas dan lantang sambil matanya memandang ke arah gadis itu, sehingga tidak dapat disangsikan lagi kebenarannya.

Dengan suara gemetar Nandini berseru.

"Siok Lan....?"

Gadis itu menundukkan mukanya dan beberapa butir air mata menuruni pipinya.

Dapat dibayangkan betapa hancur hati seorang dara menghadapi semua itu, di mana seorang pemuda yang dicintanya terang-terangan menyatakan bahwa tidak mencinta dirinya!

Padahal tadinya dia sudah begitu yakin!

"Dia memang tidak pernah menyatakan cinta, akan tetapi....

suaranya, pandang matanya, senyumnya.....

ah, Ibu, bunuh saja aku....!"

Dan dia pun menangis! Wan Ceng sekarang merasa menang dan dia pun menjadi penasaran sekali.

"Hemm, sungguh tidak tahu diri! Mana mungkin puteraku jatuh cinta kepada anak seorang panglima pasukan musuh? Dan bagaimanapun juga, aku tidak sudi menjadi besan seorang Panglima Pasukan Nepal!"

"Jaga mulutmu!"

Nandini membentak.

"Jangan mencampurkan urusan jodoh dengan kedudukan!"

"Huh, kau mau apa? Kau kira aku takut kepadamu?"

Wan Ceng menantang.

Dua orang wanita itu sudah saling pandang seperti dua ekor singa betina yang memperebutkan anak mereka, akan tetapi pada saat itu, Kao Kok Cu sudah memegang lengan isterinya dan berbisik.

"Tenanglah, mereka adalah tamu-tamu yang harus dihormati."

Sementara itu, Bu-taihiap juga melerai dan berkata kepada isterinya.

"Hushhh, diamlah, kita adalah tamu-tamu dan pula penolakan pinangan adalah hal wajar mengapa ribut-ribut?"

Kemudian, pendekar ini dengan muka merah sekali menghadapi Kao Kok Cu, memberi hormat dan berkata.

"Harap Kao-taihiap suka memaafkan kami yang tidak tahu diri. Memang tadinya kami sudah berpendapat bahwa tidak mungkin orang seperti Naga Sakti Gurun Pasir mau berbesan dengan kami yang bodoh. Maafkanlah dan kami mohon diri."

Kao Kok Cu merasa tidak enak sekali. Dia pun balas memberi hormat dan berkata.

"Harap Bu-taihiap tidak terlalu merendahkan diri. Taihiap juga tahu bahwa urusan jodoh adalah urusan anak-anak, dan kalau mereka tidak mau, tidak mungkin dipaksakan."

"Kami mengerti, selamat tinggal."

"Selamat jalan!"

Bu-taihiap bersama tiga orang isterinya dan Siok Lan yang ditarik oleh ibunya, pergi dari rumah itu dengan muka merah dan diam-diam Kao Kok Cu yang mengantar sampai ke depan itu maklum bahwa tanpa dapat dicegah lagi, tentu timbul semacam dendam antara keluarga Bu dan keluarga Kao, sungguhpun hal itu bukan karena kesalahan pihak keluarga Kao.

Betapapun juga, keluarga Bu tentu merasa terhina oleh peristiwa ini.

Dua hari kemudian, Kao Kok Cu, Wan Ceng, dan putera mereka, Jenderal Kao Cin Liong, berangkat meninggalkan kota raja untuk melakukan tugas yang diperintahkan oleh Kaisar, yaitu mencari dan merampas kembali Koai-liong Pokiam (Pedang Pusaka Naga Siluman) yang telah lenyap dicuri orang dari gudang pusaka istana beberapa tahun yang lalu.

"Bu-koko, sebaiknya kalau engkau menanti dulu di sini, biarlah aku yang lebih dulu masuk menemui kakek. Setelah aku bicara dengannya, barulah aku akan memanggilmu. Hal ini untuk melancarkan pembicaraan antara kakek dan aku."

Mendengar kata kata Yu Hwi ini, Cu Kang Bu mengangguk dan dia menyentuh lengan kekasihnya.

"Mudah-mudahan segalanya akan berjalan baik, Hwi-moi."

Dia tahu bahwa Yu Hwi menghadapi persoalan yang cukup menegangkan dan tidak enak bagi gadis itu yang terpaksa harus membicarakan tentang keputusan untuk membatalkan ikatan jodoh antara dia dan Kam Hong, yang berarti tentu saja menentang keputusan yang telah diambil oleh kakeknya, yaitu Sai-cu Kai-ong.

Matahari telah naik tinggi dan pemandangan di Puncak Bukit Nelayan itu indah sekali.

Akan tetapi, rumah besar yang seperti istana kuno itu nampak sunyi sekali, sesunyi puncak-puncak lain di Pegunungan Tai-hang-san itu.

Berdebar rasa jantung Yu Hwi ketika dia membuka pintu gerbang yang tidak terkunci itu.

Tempat yang terlalu besar untuk kakeknya yang agaknya kini hanya dapat menyendiri saja di tempat ini, apalagi kalau tempat itu nampak kosong seperti itu, menjadi amat menyeramkan, seperti rumah kediaman para iblis dan siluman.

Tiba-tiba terdengar suara halus yang terdengar dari jauh di dalam gelap itu, akan tetapi terdengar jelas oleh Yu Hwi.

"Siapa di luar....? Harap jangan mengganggu aku seorang tua yang sudah tidak ingin berurusan dengan siapapun....!"

Mendengar suara ini, Yu Hwi berseru girang.

"Kong-kong...., ini aku, Yu Hwi, yang datang...."

Hening sejenak, seolah-olah suara Yu Hwi itu mengejutkan pendengarannya, sampai lenyap gema suara gadis itu.

Yu Hwi berdiri di ruangan depan yang luas, menanti sejenak dan dari dalam nampaklah seorang kakek yang pakaiannya sederhana, tubuh itu masih tinggi tegap dan gagah akan tetapi mukanya kelihatan amat tua dan tidak bersemangat, muka dari Sai-cu Kai-ong Yu Kong Tek!

Mereka berhadapan dan saling pandang, kemudian Yu Hwi menjatuhkan diri berlutut.

"Kong-kong....!"

"Yu Hwi.... engkaukah....? Benarkah engkau yang datang?"

Kakek itu mengejapngejapkan kedua matanya memandang wajah yang menengadah itu.

Selama bertahun-tahun dia mengharap-harap kedatangan cucunya ini, bahkan kemudian pergi merantau bertahun-tahun mencarinya, sampai membawanya ke Pegunungan Himalaya, namun semua usahanya sia-sia belaka dan akhirnya, semua harapan itu memudar dan setelah dia merasa bahwa tubuhnya telah terlalu tua dan sahabatnya, yaitu Sinsiauw Seng-jin yang pada tahun-tahun terakhir bertapa di sebuah puncak berdekatan dengan puncak Nelayan di mana dia berada itu meninggal dunia, kakek ini tidak lagi pergi mencari Yu Hwi, bahkan tidak lagi mengharapkan kedatangannya.

Dia mengira bahwa cucunya itu telah tiada lagi di dunia ini, dan harapannya melihat cucunya berjodoh dengan keturunan Suling Emas sudah membuyar.

Akan tetapi, pagi hari ini dia mendengar suara Yu Hwi dan bahkan kini dia berhadapan dengan cucunya itu!

Dia masih mengenal wajah cantik itu dan keharuan yang amat sangat membuat kakek ini memejamkan mata dan menahan dua butir air mata yang hendak runtuh.

Betapapun juga, dia adalah bekas Raja Pengemis, seorang tokoh besar di dunia kang-ouw yang gagah perkasa, dan semenjak dia muda, menangis merupakan pantangan baginya.

Namun, perjum-paan ini seolah-olah perjumpaan dengan seorang yang baru bangkit dari kematian, maka dia terkejut, heran, terharu dan girang sekali.

"Cucuku....!"

Dia maju dan menyentuh kepala gadis itu.

"Kong-kong...., ampunkanlah bahwa baru sekarang saya datang menghadap....!"

Yu Hwi berkata dengan suara mengandung isak karena gadis ini pun merasa terharu sekali.

Sejak kecil dia telah diculik dan dibawa pergi oleh orang yang kemudian menjadi gurunya yang tercinta, yaitu Hek-sin Touw-ong Si Raja Maling dan sejak kecil dia terpisah dari kakeknya.

Kemudian, setelah mereka saling bertemu kembali, dia melarikan diri ketika mendengar bahwa dia dijodohkan sejak kecil dengan Kam Hong!

Dan semenjak itu, kembali dia berpisah dari kakeknya dan baru sekarang mereka saling bertemu kembali.

"Yu Hwi.... Yu Hwi, ke mana sajakah engkau selama ini pergi? Betapa dengan susah payah aku mencari-carimu Yu Hwi...."

"Maaf, Kong-kong, saya hanya mendatangkan banyak pusing dan susah saja kepada Kong-kong selama ini."

Kakek itu mengangguk-angguk.

"Hemm.... dan kedatanganmu ini pun hanya akan menimbulkan kecewa padaku, bukan?"

"Maaf.... agaknya demikianlah.... Kedatangan saya, ini hanya untuk meresmikan putusnya pertalian jodoh yang Kong-kong adakan dahulu antara saya dengan Kam Hong."

Akan tetapi ucapan itu sudah tidak lagi mendatangkan kekecewaan dalam hati kakek itu yang memang sudah tidak mengharapkan lagi dapat dilanjutkannya ikatan jodoh itu.

Dia menarik napas panjang.

"Sin-siauw Seng-jin juga sudah meninggal dunia...., dia kiranya dapat memaafkan aku. Akan tetapi, pemutusan ikatan itu tidak mungkin dapat dilakukan sepihak saja, Yu Hwi, maka harus dibicarakan dengan yang bersangkutan, yaitu Kam Hong...."

"Hal itu sudah beres, Kong-kong. Saya telah berjumpa dengan Kam Hong dan kami berdua sudah membicarakan tentang itu. Adalah Kam Hong yang menasihatkan agar saya datang kepadamu dan memberitahukan akan pemutusan ikatan itu agar resmi."

Kakek itu mengangguk-angguk. Agaknya, kini sudah kehilangan kesungguhan hatinya tentang hal itu.

"Sesukamulah.... sesukamulah...., akan tetapi, kalau boleh aku mengetahui, kalau engkau masih, menganggap aku sebagai Kakekmu, apakah sebabnya maka engkau memutuskan ikatan itu? Apakah tidak ada kecocokan antara engkau dengan Kam Hong...."

"Sesungguhnya karena saya.... saya telah menemukan calon suami saya sendiri, Kong-kong."

"Hemmm...."

"Bahkan dia pun mengantar saya menghadap Kong-kong, akan tetapi saya suruh menanti di luar agar tidak mengejutkan hati Kong-kong. Kalau Kong-kong memperkenankan, saya akan memanggil dia masuk...."

Yu Hwi memandang kepada kong-kongnya dengan ragu-ragu, lalu bangkit berdiri.

Untuk beberapa lamanya kakek itu memandang, wajah cucunya.

Harus diakui bahwa cucunya itu telah jauh lebih matang sekarang dan dia pun tahu bahwa bagi seorang wanita, cucunya itu telah lewat batas usia kepantasan untuk menikah dan diam-diam dia menaruh hati iba kepada cucunya ini.

"Cukup, tahukah engkau berapa usiamu sekarang?"

Yu Hwi tecsenyum.

"Tentu saja, Kong-kong. Antara dua puluh tujuh dan dua puluh delapan tahun."

Sai-cu Kai-ong. menarik napas panjang.

"Dan baru sekarang engkau menemukan calon suamimu? Berapa usia calon suamimu itu?"

"Dia sudah berusia tiga puluh tahun, Kong-kong...."

Jawab Yu Hwi. Wajah kakek itu agak berseri mendengar ini. Setidaknya, cucunya memperoleh seorang calon suami yang sepadan usianya.

"Tentu saja aku ingin sekali berkenalan dengan calon cucu mantuku. Suruh dia masuk, Yu Hwi."

Yu Hwi lalu membalikkan tubuhnya dan mengeluarkan kata-kata seperti sedang bicara dengan orang yang berdiri di depannya saja, perlahan-lahan dan biasa saja.

"Bu-koko, Kong-kong telah memperkenankan engkau masuk. Masuklah, Koko!"

Biarpun ucapan itu lirih saja, namun Sai-cu Kai-ong terkejut bukan main.

Suaranya tadi mengandung getaran yang tinggi dan dengan getaran seperti itu, suara itu akan dapat dikirim sampai jauh.

Itulah semacam Ilmu Coan-im-jip-bit (Mengirim Suara Dari Jauh) yang mengandalkan khi-kang yang amat kuat.

Dia sendiri pun belum tentu sekuat itu!

Dan dari luar masuklah sesosok tubuh seorang pria yang membuat kakek itu kagum.

Tubuh seorang pria yang tinggi besar seperti tokoh Kwan Kong dalam dongeng Sam Kok dan setelah pria muda itu tiba di depannya dan memberi hormat dengan sikap yang amat gagah, Sai-cu Kai-ong diam-diam merasa girang sekali.

Keadaan pria ini sungguh merupa-kan obat yang mujarab untuk menghapus sama sekali sisa-sisa kekecewaan atas terputusnya tali perjodohan antara cucunya dengan Kam Hong.

Pria ini sungguh tidak mengecewakan, bahkan mengagumkan.

Begitu gagah perkasa dan Jantan!

Akan tetapi, di samping rasa puas ini pun dia merasa terkejut karena dia merasa seakan-akan pernah dia bertemu dengan pemuda tinggi besar dan gagah perkasa ini.

"Eh.... rasanya.... aku pernah berjumpa dengan Sicu yang gagah ini...."

Katanya sambil memandang wajah itu penuh selidik. Pemuda perkasa itu menujura.

"Tidak salah apa yang Locianpwe katakan. Kami sekeluarga di Lembah Suling Emas pernah menerima kehormatan dengan kunjungan Locianpwe beberapa tahun yang lalu."

"Ah, sekarang aku ingat....! Sicu adalah seorang di antara tiga saudara Cu yang sakti itu!"

Kembali Cu Kang Bu menjura.

"Saya adalah Cu Kang Bu, saudara termuda dari Cu."

Tentu saja Sai-cu Kai-ong menjadi terkejut, terheran dan juga diam-diam merasa girang sekali.

Dia pernah menyaksikan kehebatan ilmu silat pemuda tinggi besar ini yang tidak kalah lihainya ketika melawan Ji-ok, orang ke dua dari Im-kan Ngo-ok!

Pemuda seperti ini mungkin tidak kalah dalam ilmu silatnya dibandingkan dengan keturunan Suling Emas, Kam Hong sekalipun!

Gagal mempunyai cucu mantu seperti Kam Hong akan tetapi mendapatkan pengganti seperti ini tidaklah terlalu mengecewakan!

"Dan Cu-taihiap yang menjadi calon suami cucuku yang bodoh?"

Kang Bu adalah seorang pemuda yang jujur dan sederhana, maka disebut Taihiap itu dia cepat berkata.

"Harap Lo-cianpwe tidak menyebut Taihiap kepada saya karena keluarga kami sejak dahulu tidak pernah menonjolkan diri di dunia kang-ouw. Tidak salah bahwa Hwi-moi dan saya telah bersepakat untuk menjadi suami isteri dan mohon doa restu dan ijin dari Locianpwe."

Sai-cu Kai-ong tertawa gembira.

"Ah, tentu saja! Sejak dahulu, bukankah Yu Hwi telah menentukan pilihannya sendiri? Yu Hwi, anak nakal, bagaimana engkau dapat bertemu dan bersahabat, akhirnya berjodoh dengan Cu Kang Bu?"

"Kong-kong, sesungguhnya Kang Bu Koko ini masih Susiok saya sendiri.!"

"Susiokmu? Engkau menjadi murid siapakah?"

"Cui-beng Sian-li Tan Cun Ciu adalah Subo saya...."

"Apa? Orang yang mengambil pedang pusaka dari istana itu?"

Sai-cu Kai-ong menggeleng-gelengkan kepalanya pantas saja cucunya menjadi demikian lihainya, kiranya menjadi murid wanita yang telah menggegerkan dunia kang-ouw ketika mencuri pedang pusaka dari gudang pusaka istana tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya.

"Sungguh luar biasa sekali nasibmu, Cucuku. Sejak kecil sekali, telah menjadi murid seorang seperti Hek-sin Touw-ong, kemudian menjadi murid Cui-beng Sian-li, dan kini malah menjadi jodoh seorang seperti Cu Kang Bu!"

Yu Hwi lalu menceritakan kepada kong-kongnya segala hal yang telah dialaminya semenjak dia meninggalkan kakeknya itu dan juga tentang pertemuannya dengan Kam Hong.

Setelah mendengarkan semua penuturan Yu Hwi, kakek itu mengangguk-angguk dan beberapa kali dia menarik napas panjang walaupun wajahnya masih memperlihatkan tanda bahwa dia merasa girang juga, kalau dia teringat betapa hubungan antara keluarga Kam dan keluarga Yu terjalin semenjak ratusan tahun yang lalu, dan kini, pada keturunan terakhir, dia gagal untuk mengikatkan perjodohan antara dua keluarga itu, hatinya terasa amat berduka.

"Kong-kong, setelah kami berdua datang menghadap Kong-kong, dan Kong-kong dapat menyetujui ikatan jodoh antara kami, kami mohon agar Kong-kong sudi bersama kami ke Lembah Suling Emas di mana kami akan meresmikan pernikahan kami dan agar Kong-kong dapat memberi doa restu kepada kami!"

Kini kakek itu mengerutkan alisnya dan menjawab.

"Sayang sekali, hal itu tidak mungkun aku lakukan, Yu Hwi. Tentu saja aku tidak keberatan kalau engkau berjodoh dengan Cu Kang Bu, akan tetapi aku sendiri tidak mungkin menghadiri pernikahan...."

"Kenapa, Kong-kong?"

"Aku telah bersumpah untuk mengikatkan keluarga Kam dan keluarga kita Yu dalam ikatan perjodohan, namun aku telah gagal. Aku telah mengecewakan leluhur kita, bagaimana mungkin aku dapat menghadiri pernikahanmu dengan keluarga lain? Aku sudah tua dan aku akan tinggal di sini, mengasingkan diri sampai mati. Aku tidak akan keluar meninggalkan tempat ini, apa pun yang akan terjadi di luar. Nah, kalian kembalilah ke barat dan jadilah suami isteri yang baik, tentu saja doa restuku menyertai kalian berdua."

Jawaban ini menyedihkan hati Yu Hwi akan tetapi karena semenjak kecil dia tidak bersama kakeknya, maka dia pun dapat menguasai hatinya.

Maka untuk terakhir kalinya dia lalu berlutut di depan kakek itu untuk berpamit, diikuti pula oleh Cu Kang Bu karena kakek itu adalah calon kong-kongnya juga.

Melihat betapa dua orang itu berlutut di depannya, Sai-cu Kai-ong merasa tarharu juga.

"Semoga Thian selalu malindungimu, Cucu-cucuku, Dan kalau kebetulan kalian bertemu dengan Kam Hong, katakanlah kepadanya bahwa sebelum aku mati aku ingin berjumpa dengannya, minta agar dia suka datang ke sini mengunjungiku."

Demikianlah, setelah mendapat doa restu kakek itu, Yu Hwi dan Cu Kang Bu lalu meninggalkan Puncak Bukit Nelayan itu dan menuruni Pegunungan Tai-hang-san untuk kembali ke Lembah Suling Emas atau yang kini telah berubah namanya menjadi Lembah Naga Siluman.

Mereka, juga Yu Hwi, tidak merasa bersedih, bahkan sebaliknya, mereka merasa gembira sekali karena mereka kini menuju pulang untuk segera melangsungkan pernikahan mereka!

Mereka sudah mendapat persetujuan dan doa restu Sai-cu Kai-ong, bahwa bahwa ikatan jodah antara Yu Hwi dengan Kam Hong telah putus secara resmi.

Tidak ada lagi yang menjadi penghalang atau ganjalan di antara mereka untuk dapat menikah dengan resmi.

Senang dan susah mirip ombak dalam samudera kehidupan, susul-menyusul dan datang silih berganti.

Tangis dan tawa merupakan bumbu-bumbu kehidupan seperti masam dan manis dalam masakan.

Selagi terbuai dalam kesenangan, kita tidak tahu bahwa kesusahan sudah berada di ambang pintu untuk mendapat giliran menguasai kita, menggantikan kesenangan yang terbang lalu tanpa meninggalkan bekas lagi.

Yu Hwi dan Kang Bu melakukan perjalanan menuju ke Lembah Naga Siluman dengan hati girang, bermesraan disepanjang perjalanan, sama sekali tidak tahu bahwa pada saat mereka melakukan perjalanan itu, terjadi sesuatu yang hebat di lembah itu.

Apakah yang terjadi?

Mari kita menengok keadaan lembah itu dan meninggalkan sepasang calon suami isteri, sepasang kekasih yang penuh kemesraan dan kebahagiaan itu.

Pada pagi yang cerah itu, Cu Pek In, gadis berusia delapan belas tahun yang berpakaian pria, dengan rambut digelung ke atas dan ditutup sebuah topi pelajar itu, sedang berjalan pulang ke lembah dengan wajah riang.

Dia baru saja kembali dari guha rahasia di mana Sim Hong Bu masih tekun "bertapa"

Sambil menyempurnakan Ilmu Pedang Koai-liong Kiam-sut.

Tidak ada orang yang mengetahui tempat rahasia itu kecuali keluarga Cu, bahkan selama Hong Bu bertapa di situ memperdalam ilmu pedang pusaka itu, tidak ada orang lain yang boleh masuk kecuali Pek In.

Gadis inilah yang dalam waktu beberapa hari sekali datang menjenguk sambil membawakan bahan makanan untuk Hong Bu.

Pada pagi hari itu Pek In baru saja kembali dari kunjungannya kepada Hong Bu, pemuda yang dicintanya itu, dan karena sikap Hong Bu kepadanya cukup manis, maka hatinya gembira sekali pada pagi hari itu.

Dia berjalan sambil kadang-kadang berloncatan dan bernyanyi-nyanyi gembira, lupa bahwa suara nyanyiannya ini sepenuhnya suara wanita, jauh berbeda dengan pakaiannya.

Kalau dia tidak mengeluarkan suara, tentu dia akan disangka seorang pemuda yang amat tampan sekali.

Sebagai seorang gadis, kecantikan Pek In biasa saja, tidak terlalu menonjol.

Akan tetapi kalau dia dianggap pria karena pakaiannya, maka dia adalah seorang pria yang amat ganteng, dengan muka yang putih dan mata yang jeli dan menarik.

Sebagai puterti tunggal Cu Han Bu orang pertama dari keluarga Cu, tentu saja dara ini memiliki kepandaian yang cukup tinggi.

Namun, kini dia tidak tahu bahwa ada tiga pasang mata yang mengikuti gerak-geriknya dari jarak dekat!

Hal ini saja sudah membuktikan bahwa tingkat kepandaian tiga orang yang membayanginya itu jauh lebih tinggi lagi dibandingkan dengan dia.

Tiga orang ini baru melihatnya setelah dia, berada di dekat lembah, dan memang sudah sejak kemarin tiga orang ini mengintai di lembah itu.

Tiga orang ini bukan lain adalah Si Naga Sakti Gurun Pasir bersama isteri dan puteranya.

Mereka sudah tiba di pegunungan ini dan tahu bahwa Lembah Suling Emas yang dimaksudkan sebagai tempat tinggal keluarga Cu itu tentu di sekitar tempat ini.

Akan tetapi mereka belum juga menemukan tempat itu, maka mereka lalu menyembunyikan diri dan mengintai karena mereka merasa yakin bahwa pada suatu waktu tentu ada penghuni lembah yang keluar untuk suatu keperluan.

Sudah sehari semalam tiga orang sakti ini menanti dan akhirnya usaha mereka berhasil.

Mereka melihat Cu Pek In berjalan seorang diri dengan sikap gembira sekali.

Keluarga Naga Sakti Gurun Pasir tentu saja dengan sekali pandang sudah tahu bahwa "pemuda"

Yang berjalan seorang diri itu adalah seorang gadis.

Mereka lalu membayangi dengan hati-hati.

Mereka melihat bahwa dara yang berpakaian pria itu menuju ke tepi sebuah jurang yang amat lebar dan amat dalam, jurang yang pernah mereka datangi.

Ketika tiba di tepi jurang, seperti biasa Pek In menoleh ke kanan kiri dan belakang, setelah merasa yakin bahwa di tempat itu tidak terdapat orang lain, dia lalu mengeluarkan suling emasnya dari balik bajunya dan meniup sulingnya.

Terdengar suara melengking nyaring yang mengejutkan hati tiga orang pengintai itu.

Mereka maklum bahwa tiupan suling itu bukanlah tiupan biasa melainkan tiupan seorang yang memiliki khi-kang yang kuat.

Tiga orang yang melakukan pengintaian itu memandang dengan mata terbelalak penuh keheranan dan juga kekaguman ketika mereka melihat betapa dari dasar jurang itu kini nampak sehelai tambang yang cukup besar dan kuat, perlahan-lahan naik ke atas dan akhirnya melintang menyeberang jurang.

Mengertilah mereka bahwa dara itu tadi menggunakan suara suling untuk memberi tanda kepada orang-orang di seberang jurang yang tidak nampak, dan orang-orang itu telah menarik tambang yang merupakan jembatan dan jembatan tambang itu tadinya menjulur kendur ke bawah, tersembunyi kabut.

Memang benar dugaan mereka, karena kini dengan gerakan ringan sekali, dara berpakaian pria itu meloncat ke atas tambang itu dan berjalan di atas tali dengan gerakan yang lincah.

"Cepat, aku akan mendahuluinya dan kalian di belakangnya. Dia akan membawa kita ke seberang sana!"

Bisik Si Naga Sakti Gurun Pasir kepada isteri dan puteranya.

Wan Ceng dan Cin liong mengerti apa yang dimaksudkan oleh pendekar sakti itu, maka mereka mengangguk dan begitu pendekar itu berkelebat cepat meloncat ke depan, Wan Ceng dan Cin Liong juga meloncat dengan kecepatan kilat menuju ke tepi jurang.

Bagaikan seekor burung saja, tubuh pendekar berlengan satu itu telah berada di atas tambang, dan gerakannya sedemikian ringannya sehingga Pek In yang berjalan di depan itu sama sekali tidak tahu bahwa di belakangnya ada orang yang mengikutinya.

"Nona, perlahan dulu!"

Ucapan itu mengejutkan Pek In dan dia menoleh sambil menunda langkahnya.

Akan tetapi pada saat itu, orang yang tiba di belakangnya telah meloncat ke atas, melewati kepalanya dan tahu-tahu seorang laki-laki yang bertubuh tegap dan berlengan satu telah berdiri di atas tambang di depannya!.

Pek In memandang dengan mata terbelalak.

Hampir dia tidak percaya bahwa ada orang yang berani melakukan perbuatan yang amat berbahaya seperti itu, ialah meloncati atas kepalanya dan turun lagi ke atas tambang di depannya.

Hanya seekor burung saja yang agaknya akan mampu melakukan hal itu!

Akan tetapi, dia tidak sempat terheran-heran terlalu lama, karena tambang itu bergoyang di belakangnya dan ketika dia menengok, ternyata di belakangnya terdapat dua orang lain yang sudah berjalan di atas jembatan tambang itu.

Dia telah dikepung dari depan dan belakang!

"Siapa kalian?

Mau apa kalian?"

Bentaknya, maklum bahwa dia tidak berdaya, dan bahwa para penjaga yang bertugas menarik dan mengendurkan tambang itu pun tidak berdaya karena kalau mereka itu mengendurkan tambang, bukan hanya tiga orang asing, itu yang akan terjerumus ke dalam jurang, akan tetapi dia juga karena dia berada di tengah-tengah antara mereka!

"Maaf, Nona.

Kami hanya ingin agar Nona membawa kita ke seberang.

Kami ingin bertemu dengan para penghuni Lembah Suling Emas!"

Kata Kao Kok Cu dan dia pun segera melangkah ke depan, mendahului gadis itu menyeberang.

Pek In tidak membantah karena tahu bahwa percuma saja membantah.

Dia pun lalu melangkah ke depan, akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan di belakangnya.

"Tunggu dulu. Biarkan kami jalan lebih dulu!"

Dan Pek In menghentikan langkahnya, menoleh.

Pada saat itu, nampak dua sosok tubuh melayang lewat dan seperti orang pertama dua orang itu pun melayang seperti burung terbang saja ke depannya melalui atas kepala dan kini mereka bertiga bersicepat mendahuluinya menyeberang!

Tentu saja Pek In terkejut bukan main.

Lembah itu telah didatangi oleh tiga orang yang amat tinggi kepandaiannya!

Maka dia pun cepat menyeberang.

Setelah dia menyeberang, dia memberi isyarat dengan tangannya dan para penjaga tambang lalu menurunkan lagi tambang itu sampai tidak nampak tertutup kabut yang bergantung di dalam jurang.

"Siapa kalian dan mau apa kalian memasuki tempat kami dengan paksa?"

Pek In membentak setelah dia berhadapan dengan tiga orang itu.

Dia memperhatikan mereka dan mendapat kenyataan bahwa selain orang pertama, yang buntung lengannya dan bersikap gagah tadi, juga wanita setengah tua dan pemuda yang berdiri di depannya itu membayangkan kegagahan yang mengagumkan.

"Nona, benarkah di sini yang dinamakan Lembah Suling Emas? Kami tidak sangsi lagi bahwa di sinilah Lembah itu, maka kami minta kepada Nona sukalah membawa kami bertemu dengan para penghuni lembah, yaitu keluarga Cu. Kami mempunyai keperluan yang penting untuk kami bicarakan dengan mereka."

Sampai beberapa lamanya dara itu memandang kepada mereka dengan penuh selidik, kemudian tiba-tiba dia berkata sambil bertepuk tangan.

"Aih, bukankah aku berhadapan dengan Si Naga Sakti Gurun Pasir?"

Kao Kok Cu dan anak isterinya tertegun.

Tak mereka sangka bahwa dara berpakaian pria ini memiliki pemandangan yang demikian tajamnya, dan sekali bertemu telah dapat mengenal mereka.

Dan memang Pek In dapat menduga siapa adanya mereka karena dara itu melanjutkan.

"Dan kalau Paman ini Naga Sakti Gurun Pasir, tentu Bibi ini adalah Isteri Paman dan dia ini tentulah Jenderal Kao Cin Liong, putera Paman!"

"Hemm, siapakah engkau, Nona? Dan bagaimana engkau dapat mengenal kami?"

Wan Ceng bertanya, sinar matanya tajam penuh selidik ditujukan kepada wajah dara itu.

Cu Pek In tersenyum bangga.

Memang dia memiliki pengetahuan yang amat luas tentang orang-orang kang-ouw yang belum pernah dilihatnya.

Dia mendengar banyak keterangan dari ayah dan para pamannya, dan juga dari bibinya, Tang Cun Ciu.

Dia pernah mendengar tentang Naga Gurun Pasir, dan cacad pada lengan yang buntung sebelah, maka ketika dia menyaksikan kehebatan kepandaian pria berlengan buntung itu, kemudian menyaksikan kelihaian wanita dan pemuda itu, tidak sukarlah baginya untuk menebak siapa adanya mereka.

Apalagi dia pun sudah mendengar banyak tentang diri Jenderal Kao Cin Liong yang telah memperoleh kemenangan gemilang atas pasukan Nepal baru-baru ini.

"Namaku Cu Pek In dan kalau kalian hendak menjumpai Ayahku, marilah!"

Setelah berkata demikian, gadis yang lincah ini lalu berlari ke depan, meloncat dan menggunakan seluruh kepandaian ginkangnya untuk berlari secepat mungkin.

Tentu saja maksudnya untuk menguji kepandaian tiga orang ini.

Dia memang memiliki gin-kang yang hebat, maka larinya seperti terbang saja.

Setelah lari cepat beberapa lamanya, dia menoleh dan dapat dibayangkan betapa kaget rasa hatinya melihat bahwa tiga orang yang ditinggalkannya itu kini berada tepat di belakangnya, kelihatan berjalan seenaknya saja namun tak pernah tertinggal sedikit pun olehnya!

Maka tahulah dia bahwa nama besar Naga Sakti Gurun Pasir sekeluarganya bukan nama kosong belaka dan diam-diam dia malah merasa khawatir sekali karena dia belum tahu apa maksud kedatangan mereka, maksud bersahabat ataukah maksud bermusuh.

Dan pada saat itu, yang berada di dalam lembah hanyalah ayahnya dan Pamannya, Cu Seng Bu, sedangkan pamannya yang lain, Cu Kang Bu sedang pergi bersama Yu Hwi, juga Sim Hong Bu yang boleh diandalkan itu masih berada di dalam guha.

Betapapun juga, Pek In menenteramkan hatinya dengan penuh kepercayaan bahwa bagaimana saktinya pihak tamu, kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan, dia percaya bahwa ayahnya dan pamannya yang kedua akan mampu menanggulanginya.

Lembah ini memang telah dilengkapi dengan alat-alat rahasia sehingga ketika Pek In membawa tiga orang tamunya itu sampai ke depan rumah besar keluarga Cu, maka dua orang gagah itu, Cu Han Bu dan Cu Seng Bu, telah berada di situ menanti kedatangan mereka!

Kiranya para penjaga yang tadi melihat kedatangan tiga orang yang setengah memaksa Pek In, diam-diam telah mengirim berita melalui alat rahasia sehingga sebelum gadis itu tiba bersama para tamu itu, Cu Han Bu dan Cu Seng Bu telah mengetahui dan kini mereka telah menanti kedatangan Pek In di depan rumah.

Pek In mengerti bahwa tentu ayahnya telah mendengar dari para penjaga bahwa ada tamu yang amat lihai datang dengan cara memaksa Pek In, maka kini dia ingin mencoba ayah dan pamannya, dengan ucapan gembira.

"Ayah, Paman tahukah Ayah siapa yang datang sekali ini?"

Sejak tadi Cu Han Bu dan Cu Seng Bu memang telah mencurahkan perhatian mereka kepada Kao Kok Cu dan diam-diam mereka terkejut sekali!

Kalau ada pendekar yang amat tinggi kepandaiannya dan dia itu hanya berlengan satu, dengan isterinya yang cantik dan gagah penuh semangat, dan puteranya yang juga gagah perkasa dan memiliki mata seperti ayahnya, mata yang mencorong seperti mata naga, siapa lagi pendekar itu kalau bukan Si Naga Sakti Gurun Pasir yang hanya pernah mereka dengar namanya seperti dalam dongeng itu?

Maka Cu Han Bu lalu menjura, diikuti oleh Cu Seng Bu yang juga sudah dapat menduga seperti kakaknya.

"Maaf, kalau dugaan kami keliru. Akan tetapi benarkah bahwa lembah kami yang buruk ini memperoleh kehormatan besar dengan kunjungan pendekar besar Si Naga Sakti Gurun Pasir beserta isteri dan puteranya?"

Kembali keluarga itu terkejut.

Orang-orang lembah ini sungguh lihai.

Naga Sakti Gurun Pasir boleh jadi amat terkenal di dunia kang-ouw, akan tetapi tidak pernah keluar sehingga jarang ada yang mengenalnya, akan tetapi keluarga lembah ini sekali lihat telah dapat menebaknya dengan tepat.

Kao Kok Cu lalu balas menghormat dan berkata tenang.

"Tidak salah dugaan itu, kami adalah keluarga Kao dan kami datang untuk bicara dengan majikan lembah."

"Kami adalah keluarga Cu, pemilik lembah ini. Saya bernama Cu Han Bu dan dia adalah adik saya bernama Cu Seng Bu, dan dia itu adalah Cu Pek In, anak tunggal saya. Keluarga kami kebetulan hanya kami bertiga inilah yang saat ini berada di sini, oleh karena itu, Kao-taihiap sekeluarga silakan masuk dan mari kita bicara di ruangan tamu."

"Terima kasih."

"Silakan!"

Cu Han Bu mendahului para tamunya masuk, dan setelah tiga orang tamu itu mengikutinya, Cu Seng Bu dan Pek In lalu mengikuti pula dari belakang.

Yang disebut ruang tamu itu adalah sebuah ruangan yang amat luas dan di sinilah mereka dipersilakan duduk oleh pihak tuan rumah.

Mereka berenam duduk mengelilingi sebuah meja besar.

Setelah memandang wajah Naga Sakti Gurun Pasir sejenak, akhirnya Cu Han Bu berkata, suaranya datar dan tegas, na-mun penuh hormat.

"Kao-taihiap, setelah Taihiap sekeluarga berhadapan dengan kami, nah, silakan memberitahu keperluan apakah yang membawa Taihiap bertiga datang mengunjungi kami."

Kao Kok Cu menarik napas panjang.

Tugas yang dipikulnya bersama isteri dan puteranya itu sungguh bukan merupakan tugas yang enak di hati.

Sudah menjadi peraturan umum yang tak tertulis di dunia kang-ouw bahwa orang yang telah dapat menguasai sebuah benda dengan mengandalkan ilmu kepandaiannya, maka dia pun berhak menjadi pemilik benda itu.

Akan tetapi, betapapun juga, dia dan isterinya hanya membela puteranya yang mengabdi kepada Kaisar.

"Cu-taihiap, tiada lain kedatangan kami ini adalah untuk bicara dengan keluarga Cu tentang pedang Koai-liong-pokiam!"

Pada wajah Cun Han Bu dan Cu Seng Bu tidak nampak perobahan sesuatu, hanya Cu Pek In yang memandang dengan alis berkerut tanda bahwa hati dara ini merasa tidak senang.

Cu Han Bu memandang tajam dan berkata.

"Apakah Naga Sakti Gurun Pasir termasuk orang-orang yang hendak memperebutkan pedang pusaka itu seperti dilakukan oleh sekelompok orang kang-ouw beberapa tahun yang lalu?"

Pertanyaan ini merupakan serangan atau ejekan yang membuat Kao Kok Cu merasa agak bingung.

Akan tetapi dia ditolong oleh puteranya.

Dengan suara lantang dan tegas Kao Cin Liong berkata.

"Hendaknya Cu-lo-enghiong ketahui bahwa kami datang bukan atas nama pribadi, melainkan atas perintah Sri Baginda Kaisar. Saya adalah seorang panglima yang diutus oleh Kaisar untuk menemukan kembali pedang Koai Liong-pokiam yang telah lenyap dicuri orang dari gedung pusaka istana beberapa tahun yang lalu. Dan Ayah Bunda saya hanya menemani saya dalam tugas ini."

Ucapan itu tegas dan jelas.

Dua orang saudara Cu itu saling pandang, dan sejenak mereka tidak dapat menjawab.

Menghadapi orang-orang kang-ouw, mereka memang tidak usah merasa malu dan sungkan akan kenyataannya bahwa pedang itu dicuri oleh keluarga mereka, akan tetapi menghadapi utusan Kaisar lain lagi soalnya!

Mereka bukan hanya dapat dituduh pencuri hina, akan tetapi bahkan juga sebagai pemberontak!

Kalau jenderal muda ini datang bersama pasukan besar, tentu mereka tidak dapat melawan dan terpaksa melarikan diri.

Akan tetapi jenderal muda itu datang tanpa pasukan, hanya ditemani ayah bundanya, hal ini berarti bahwa mereka datang sebagai orang-orang gagah yang mengandalkan kepandaian sendiri, walaupun sebagai orang-orang gagah yang mengandalkan kepandaian sendiri, walaupun sebagai utusan Kaisar.

Dari kedatangan orang gagah yang hendak merampas kembali pedang pusaka harus dihadapi dengan kegagahan pula, dengan kepandaian!

Agaknya hal ini sudah diperhitungkan oleh jenderal muda itu, dan oleh karena itulah dia datang bersama ayah dan ibunya yang sakti.

Cu Han Bu mengangguk-angguk lalu berkata.

"Tidak kami sangkal lagi bahwa pencuri pedang dari dalam gudang pusaka adalah seorang di antara keluarga kami. Akan tetapi hal itu hendaknya tidak dianggap sebagai pencurian, melainkan sebagai hak kami untuk mengambil kembali pedang pusaka keluarga kami yang hilang. Pedang itu adalah buatan nenek moyang kami dan kami yang berhak atas pedang itu! Jadi, kami tidak merasa mencuri dari istana"

"Hemm, kami tidak tahu dari mana asal pedang itu. Yang kami ketahui hanyalah bahwa pedang Koai-liong-pokiam itu berada di dalam gudang pusaka istana sebagai satu di antara benda-benda pusaka kerajaan. Tentang asal mulanya, seperti juga asal mula semua benda pusaka di istana, kami tidak tahu. Kenyataannya adalah bahwa pedang itu dicuri dari dalam gudang pusaka, dan untuk itulah kami datang, sebagai utusan Kaisar untuk mengambil kembali pedang itu. Kami harap keluarga Cu sadar akan hal ini dan suka mengembalikan pedang itu kepada kami, agar memudahkan tugas kami sebagai utusan Kaisar."

Jelaslah bahwa Cin Liong selalu mempergunakan nama Kaisar sebagai kesan bahwa dia sama sekali tidak berniat mencampuri urusan pedang pusaka dan hanya bertindak sebagai utusan, bukan mencampuri permusuhan atas nama pribadi.

Dan ayahnya setuju dengan sikap puteranya, walaupun ibunya, Wan Ceng, bersungut-sungut dan menganggap puteranya itu terlalu merandahkan diri!

"Pedang itu kini tidak ada pada kami lagi."

Kata Cu Han Bu dengan suara tenang.

Cin Liong memandang tajam penuh selidik dan panghuni lembah itu harus mengakui bahwa sinar mata pemuda itu membuat bulu tengkuknya meremang karena sepasang mata itu amat tajam dan mencorong.

"Cu-lo-enghiong, banyak tokoh kang-ouw menjadi saksi bahwa keluarga Cu mendapatkan pedang itu dari Yeti dan bahwa pencurinya dari istana adalah Cui-beng Sian-li yang menjadi keluarga di sini. Kalau pedang itu kini tidak ada pada keluarga Cu, lalu berada di mana?"

Cu Han Bu bangkit berdiri, alisnya berkerut.

"Orang muda, engkau terlalu mendesak!"

Cin Liong juga bangkit berdiri, sikapnya gagah.

"Lo-enghiong, saya adalah utusan Kaisar, harap engkau orang tua tidak menyembunyikan di mana pedang itu kini."

"Kalau aku tidak mau memberi tahu?"

"Kami akan menganggap bahwa engkau yang menyembunyikan pedang itu!"

"Hemm, pedang itu didapat dengan mengandalkan kepandaian dan karena pedang itu adalah milik keluarga kami, maka bagaimanapun juga harus kami pertahankan. Tapi, kami tidak ingin memberontak terhadap pemerintah. Nah, keluarga Kao, kami hanya mau memberitahukan di mana pedang itu sekarang berada...." (Lanjut ke

Jilid 31) Suling Emas & Naga Siluman (Seri ke 11 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 31

"Ayah....!"

Pek In berseru akan tetapi ayahnya memberi isyarat dengan tangan agar puterinya itu duduk kembali yang segera ditaati oleh Pek In, akan tetapi dengan wajah penuh kekhawatiran.

"Untuk mendapatkan keterangan dari kami, Sam-wi harus dapat mengalahkan dulu keluarga Cu!"

"Bagus! Kenapa tidak dari tadi bicara begitu? Berliku-liku bukan sikap orang gagah!"

Bentak Wan Ceng yang sudah bangkit berdiri.

Akan tetapi Kao Kok Cu bersikap tenang dan menyentuh lengan isterinya untuk menyabarkannya.

Kemudian dia menghadapi Cu Han Bu dan suaranya terdengar tenang, sedikit pun tidak dipengaruhi amarah, namun terdengar penuh wibawa.

"Saudara Cu Han Bu telah menyatakan kehendaknya. Kita bukan anak-anak kecil, juga bukan orang-orang yang suka mencari permusuhan. Kami datang untuk menemukan kembali pedang pusaka istana, dan Saudara Cu agaknya hendak mempertahankan pedang itu atau segan memberitahu di mana adanya pedang itu tanpa lebih dulu ditebus dengan adu ilmu. Nah, bagaimana syarat yang diajukan oleh kalian sebagai pihak tuan rumah?"

Cu Han Bu bersikap hati-hati sekali.

Ketenangan Naga Sakti Gurun Pasir itu sedikit banyak mendatangkan rasa jerih di dalam hatinya, karena dia maklum bahwa seperti itulah sikap seorang pendekar sejati yang tidak ragu-ragu lagi akan kekuatan diri sendiri dan selalu bersikap tenang dalam menghadapi apa pun juga, tidak lagi dapat dipengaruhi oleh rasa marah, rasa takut atau lain perasaan lagi, kokoh kuat seperti batu karang, di tengah laut.

"Di pihak keluarga kami pada saat ini hanya ada saya dan Adik Cu Seng Bu kami berdua, akan maju mewakili keluarga kami untuk menghadapi pihak utusan Kaisar."

Kata Cu Han Bu, sengaja menggunakan sebutan utusan "Kaisar"

Untuk menekankan bahwa mereka tidak menganggap keluarga Naga Sakti Gurun Pasir sebagai musuh-musuh pribadi.

"Hemm, dua lawan dua, itu sudah adil."

Kata Cin Liong.

"Saya dan Ayah akan maju menghadapi kalian. Akan tetapi bagaimana kalau di antara dua orang yang seorang kalah dan seorang lagi menang?"

"Yang menang akan saling berhadapan, sampai ada yang kalah."

Sambung Cu Han Bu, tenang.

"Bagaimana kalau kami kalah?"

Tanya lagi Cin Liong. Cu Han Bu tersenyum.

"Kami tidak terlalu mengharapkan itu. Akan tetapi kalau pihak kami menang, kalian harus pergi dari sini dan bersumpah tidak akan mengganggu kami lagi dalam urusan pedang."

"Tapi itu berarti mengabaikan perintah Kaisar!"

Cin Liong berseru.

"Terserah! Tapi itulah perjanjian dalam adu ilmu ini, tentu saja kalau pihak kalian tidak keberatan."

Cin Liong mengepal tinju. Kata "keberatan"

Itu sama dengan "takut"! "Baik."

Jawabnya.

"Kalau kami kalah, kami akan pergi dan kami bersumpah tidak akan mengganggu kalian dalam urusan pedang, dan aku akan mengundurkan diri dari kedudukanku di istana karena berarti tidak mampu melaksanakan perintah Kaisar!"

"Cin Liong....!"

Wan Ceng berseru kaget, akan tetapi suaminya kembali menyentuh lengannya.

"Ucapan Liong-ji cukup tepat sebagai seorang gagah."

Katanya tenang.

"Dan bagaimana kalau kalian yang kalah?"

Cin Liong kini balas mendesak. Cu Han Bu tidak tersenyum, melainkan memandang tajam.

"Kalau kami yang kalah, kami akan memberitahukan di mana adanya pedang itu dan di samping itu, kami berdua akan menggunduli kepala dan menghabiskan sisa hidup sebagai hwesio dan mengasingkan diri."

"Ayah....!"

Pek In berseru kaget, mukanya pucat.

"Pek In, seorang laki-laki harus mempunyai harga diri. Jenderal Muda Kao telah mempertaruhkan kedudukannya yang tinggi, maka keputusan itu patut dihormati dan diimbangi dengan keputusan kami mempertaruhkan keputusan kami pula. Dan, kalah dalam tangan keluarga Naga Sakti Gurun Pasir merupakan kekalahan terhormat. Keputusanku tidak dapat dirubah pula."

"Aku setuju dengan keputusan yang diambil Bu-twako."

Sambung Cu Seng Bu yang memang sebelum mereka menghadapi keluarga Naga Sakti Gurun Pasir itu telah berunding dengan kakaknya dan keduanya mengambil keputusan ini.

"Baik sekali. Nah, kita boleh mulai"

Kata Kao Kok Cu dengan tenang dan dia pun bangkit berdiri, siap untuk bertanding. Akan tetapi Cin Liong sudah maju ke depan ayahnya.

"Tidak, Ayah. Biarkan aku maju lebih dulu."

Melihat ini, Kao Kok Cu tersenyum dan duduk kembali.

Dia percaya penuh kepada puteranya yang telah mewarisi sebagian besar dari ilmu-ilmunya dan dia tahu bahwa biarpun masih muda, Namun Cin Liong bukan orang yang sembrono, bahkan sudah banyak pengalamannya dalam menghadapi lawan yang pandai ketika menjalankan tugas-tugas sebagai seorang panglima perang.

Kao Cin Liong sudah melangkah maju ke tengah ruangan di mana telah menanti Cu Seng Bu yang maju lebih dulu mewakili keluarga Cu.

Cu Seng Bu berdiri tegak dan menatap calon lawannya itu dengan penuh perhatian pemuda itu masih muda sekali, paling banyak sembilan belas tahun atau dua puluh tahun usianya, dia berpikir.

Biarpun pemuda itu putera tunggal Naga Sakti Gurun Pasir, akan tetapi dalam usia semuda itu, mana mungkin memiliki ilmu kepandaian yang sangat tinggi?

Rasanya mustahil kalau dia sampai kalah oleh seorang yang baru saja dewasa.

Akan tetapi dia tidak berani memandang rendah.

Sim Hong Bu, muridnya dan murid kakaknya juga sebaya dengan pemuda ini, dan dia tahu bahwa tingkat kepandaian Sim Hong Bu, akan melampaui dia kalau pemuda itu sudah dapet menguasai Koat-liong Kiam-sut secara sempurna.

Cu Seng Bu berjuluk Bu-eng-sian (Dewa Tanpa Bayangan).

Julukan ini saja sudah menunjukkan bahwa dia tentu seoteng ahli gin-kang yang hebat, sehingga saking cepatnya dia bergerak, saking ringan tubuhnya, maka dia mendapat julukan itu, karena seolah-olah dia dapat berkelebat tanpa nampak bayangannya saking cepatnya.

Oleh karena itu, dia menanti datangnya Cin Liong tanpa mencabut pedangnya, karena dia percaya bahwa dengan kecepatan gerakannya, dia akan mampu mengalahkan pemuda itu.

Kini mereka sudah berdiri, saling berhadapan dengan sinar mata saling pandang, saling menilai dan menyelidik.

"Kao-goanswe, kau majulah!"

Cu Seng Bu menantang.

"Engkau adalah tamu, maka silakan mulai lebih dahulu!"

Cin Liong tersenyum. Dia tahu bahwa dalam ilmu silat yang sudah tinggi tingkatnya, siapa maju menyerang lebih dulu berada di pihak yang lebih lemah.

"Cu-lo-enghiong, pihakmulah yang menantang, maka silakan mulai leblh dulu, aku menanti,"

Katanya.

"Hemm, pemuda ini cukup tenang, sikap yang mengkhawatirkan dan berbahaya."

Dia pun tidak mau membuang waktu lagi, diam-diam dia mengerahkan semua tenaganya dan berseru nyaring.

"Jaga seranganku!"

Belum juga habis ucapan itu keluar dari mulutnya, Tubuhnya telah melesat ke depan dengan kecepatan yang mengejutkan dan tahu-tahu tangan kanannya yang membentuk paruh garuda yang runCing melengkung itu telah mematuk ke arah leher Cin Liong.

Kecepatan itu amat mengejutkan, dan tenaga yang terkandung dalam serangan itu pun dahsyat bukan main.

Akan tetapi Cin Liong memiliki ketenangan ayahnya dan ketabahan ibunya.

Dia menghadapi serangan dahsyat itu dengan mata tanpa berkedip dan cepat namun tenang sekali dia sudah menggeser kaki ke kiri, mengelak dan mencari lubang pada lawan.

Akan tetapi, sungguh hebat lawannya itu karena begitu melihat serangannya gagal, tanpa memberi kesempatan kepada lawan untuk membalas serangan, Cu Seng Bu sudah merobah serangannya, kini dari samping dia menubruk lagi, Tangan kiri mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala, sedangkan tangan kanan tetap merupakan paruh garuda menotok ke arah pusar!

Gerakannya mirip dengan seekor burung garuda yang mencakar dan mematuk, akan tetapi berbeda dengan ilmu silat garuda yang lajim, terutama sekali gerakan kakinya yang berbeda, sedangkan tubuhnya meliuk seperti tubuh ular atau seperti leher bangau.

Dan yang amat berbahaya adalah kecepatannya itulah.

Dari serangan gagal tadi dia dapat melanjutkan serangan ke samping, ini menunjukkan bahwa orang itu selain ahli ginkang juga sudah menguasai setiap gerakannya dengan sempurna.

Namun Cin Liong tidak mau didesak.

Dia mengelak ke bawah untuk menghindarkan cengkeraman pada ubun-ubun kepala dan dengan tangan kiri dia menangkis totokan pada pusarnya, sedangkan tangan kanannya pada saat itu juga, Selagi tubuhnya merendah, sudah menghantam ke arah lutut kaki kiri lawan dengan tangan miring ini tidak kalah dahsyatnya dibandingkan kalau dia menggunakan golok membacok kaki itu, dan kalau mengenai sasaran, tentu sedikitnya sambungan lutut itu akan terlepas kalau tidak tulangnya remuk sama sekali.

Akan tetapi, Cu Seng Bu sungguh memiliki gerakan yang cepat bukan main karena tiba-tiba saja tubuhnya sudah melesat ke atas seperti burung terbang saja.

Akan tetapi sungguh tidak diduganya bahwa pemuda itu pun memiliki kecepatan yang hebat karena melihat lawannya mencelat ke atas, Cin Liong juga meloncat mengejar dan mengirim pukulan dengan dahsyat dengan tangan terbuka.

Pada saat itu, Cu Seng Bu juga menyambut lawan dengan tendangan tumit kakinya.

Tak dapat dihindarkan lagi, tangan dan kaki itu saling bertemu selagi tubuh mereka masih di udara.

"Dess....!"

Keduanya terpental dan keduanya dapat turun ke atas lantai dengan baiknya. Dan masing-masing merasakan getaran yang cukup hebat akibat benturan itu.

"Haiiittt....!"

Cu seng Bu sudah menyerang lagi, gerakannya indah, tangan kirinya terbuka melingkar ke depan merupakan serangan gertakan, akan tetapi yang sungguh-sungguh menyerang adalah tangan kanannya yang mencuat dari bawah lengan kiri itu dan langsung menghantam ke arah dada lawan dari bawah dengan kecepatan luar biasa dan tenaga dahsyat.

Itulah jurus yang disebut Hio-te-hoan-hwa (Mencari Bunga di Bawah Daun).

Cin Liong maklum bahwa jurus itu mempunyai banyak sekali perobahan, maka dia pun mengelak dengan menggeser kaki kiri ke belakang.

Benar saja dugaannya, lawannya telah merobah gerakan, tubuhnya merendah dan dari bawah kedua tangan itu menyambar bergantian ke atas, menyerang pusar dan perut, kemudian disambung dengan tendangan sambil bangkit berdiri, tendangan yang amat kuat mengarah dagunya!

Itulah jurus Hai-ti-lauw-goat (Menyelam Laut Mencari Bulan)!

Cin Liong lalu menangkis sambil berloncatan dan selanjutnya dia pun membalas dengan jurus-jurus dari Ilmu Silat Sin-liong Ciang-hoat, ilmu silat istimewa dari ayahnya.

Tubuhnya meliuk-liuk seperti seekor naga beterbangan di angkasa, dan kedua tangannya membentuk cakar-cakar naga, serangannya datang dari atas dan bawah secara tidak terduga-duga karena tubuhnya yang naik turun dengan cepat dan lincah sekali.

Melihat betapa pemuda itu menguasai kelincahan seperti dia, Cu Seng Bu menjadi penasaran dan ketika dia melihat pemuda itu memukulnya dengan lengan kanan membuat gerakan melengkung dari samping mengarah pelipisnya, dia pun mengerahkan tangannya dan menangkis sambil membentak keras.

"Dukkk!"

Dua lengan bertemu dan keduanya telah mengerahkan sin-kang masing-masing.

Kuda-kuda kaki Cin Liong tergeser dan dia mundur dua langkah, akan tetapi tubuh Cu Seng Bu terhuyung-huyung!

Dari kenyataan ini saja terbukti bahwa dalam hal tenaga, ternyata Cu Seng Bu masih kalah setingkat!

Akan tetapi, Cu Seng Bu masih penasaran dan berkali-kali mereka saling tangkis, tidak mengelak lagi, menggunakan kekerasan.

Terdengar suara "dak-duk"

Menggetarkan kalau lengan mereka saling bertemu dan berkali-kali tubuh mereka tergetar dan terdorong atau, terhuyung.

P erkelahian itu telah berlangsung sampai seratus jurus dan belum juga ada yang kalah atau menang, sungguhpun sudah beberapa kali Cu Seng Bu nampak terhuyung dan beberapa kali dia menyeringai seperti menahan sakit.

Memang dalam benturan-benturan tenaga sinkang, dia kalah kuat dan dia mengalami guncangan hebat yang ditahan-tahannya.Sayang bahwa keluarga Cu biasanya memandang diri sendiri terlalu tinggi, dan sikap seperti ini menimbulkan sifat tidak mau kalah atau sukar menerima kenyataan bahwa dirinya kalah kuat.

Setiap kekalahan mendatangkan rasa penasaran dan Cu Seng Bu menjadi semakin nekat.

Tiba-tiba dia mengeluarkan bentakan nyaring dan dengan dahsyatnya dia menubruk maju, kedua tangannya didorongkan dengan pengerahan tenaga sekuatnya.

Melihat ini, Cu Han Bu sampai menggerakkan kedua tangan ke depan, seolah-olah hendak mencegah adiknya.

Sementara itu, melihat hebatnya serangan yang dia tahu seperti hendak mengadu nyawa ini, Cin Liong maklum bahwa dia harus berani mengambil keputusan.

Maka dia pun mengeluarkan suara melengking nyaring dan tubuhnya pun tiba-tiba meluncur ke depan dalam kedudukan seperti menelungkup, seperti seekor naga yang sedang terbang!

Itulah ilmu Sin-liong-hok-te (Naga Sakti Mendekam di Tanah) dan biarpun ilmu itu untuk seorang yang berlengan aatu, namun Kao Kok Cu mengajarkan juga kepada Cin Liong.

Tentu saja gerakannya menjadi kaku dan pemuda ini tidak sepenuhnya dapat menguasai ilmu ini, akan tetapi tenaga yang timbul karena ilmu ini amat dahsyatnya, terpusat kepada lengan yang menjulur ke depan.

"Bress....!"

Hebat sekali pertemuan antara dua orang yang berilmu tinggi ini di udara.

Seolah-olah ada dua bintang bertubrukan dan tubuh Cu Seng Bu terlempar ke belakang seperti layang-layang putus talinya, kemudian terbanting ke atas lantai.

Dia mengeluarkan keluhan lirih dan merangkak bangun, dari ujung mulutnya menitik darah segar.

Dapat juga dia bangkit berdiri dan meraba gagang pedangnya, sebatang pedang lemas.

Akan tetapi, melihat keadaan adiknya, dan melihat betapa pemuda perkasa itu masih berdiri tegak dalam keadaan segar.

Cu Han Bu maklum bahwa adiknya telah kalah dan kalau dibiarkan maju lagi dengan berpedang, hal itu amat memalukan karena merupakan suatu kenekatan yang terdorong oleh sikap tidak tahu diri dan tidak mau kalah.

"Cukup, Adik Seng Bu. Engkau sudah kalah dan biarkan aku yang maju sekarang!"

Kata Cu Han Bu sambil memegang lengan adiknya dan menariknya mundur dengan lembut.

Cu Seng Bu tidak membantah, melepaskan lagi gagang pedangnya dan dia menarik napas panjang berkali-kali, kelihatan menyesal sekali.

"Adikmu ini tiada guna, Twako"

Katanya dan tiba-tiba dia muntahkan darah segar.

"Mengasolah, Adikku."

Kata kakaknya.

Cu Seng Bu menolak tangan Cu Pek In yang hendak memapahnya, dan dia pun lalu kembali ke tempat duduknya, duduk dengan kedua kaki dinaikkan, bersila dan mengatur pernapasan untuk mengobati luka di sebelah dalam dadanya akibat benturan hebat dengan lawan yang amat tangguh tadi.

Dia diam-diam menyesal mengapa tidak sejak semula dia menghadapi lawan itu dengan pedangnya.

Kalau dia menggunakan pedang dan pemuda itu pun bersenjata, belum tentu dia kalah dan andaikata dia kalah pun, lebih banyak kemungkinan dia mati, tidak seperti sekarang ini, menderita luka dan tidak tewas sehingga harus menghadapi kekalahannya dan menderita rasa malu.

Melihat Cu Han Bu maju dan menoleh kepadanya, Cu Pek In lalu berseru.

"Sambutlah, Ayah!"

Dan begitu tangan kanannya bergerak nampak sinar emas berkelebat menuju ke arah ayahnya itu yang mengangkat tangan kanan menyambutnya.

Ternyata yang dilontarkan oleh dara itu adalah sebatang suling emas!

Cu Han Bu memegang suling emas, memandangnya sebentar, menarik napas panjang lalu menggeleng kepala.

"Tidak, Pek In!. Aku adalah penghuni Lembah Naga Siluman, bukan lagi Lembah Suling Emas!"

Dia tersenyum pahit mengenangkan kekalahannya terhadap Kam Hong yang lebih tepat berjuluk Suling Emas dan semenjak kekalahannya itu, Dia tidak ingin lagi mengingat tentang suling emas, apalagi mempergunakan suling emas sebagai senjata karena hal itu hanya mengingatkan akan kekalahannya dan seperti ejekan saja.

Dia lalu melontarkan kembali suling itu kepada putrinya yang menyambutnya dengan alis berkerut, penuh kekhawatiran karena dara ini maklum bahwa di antara semua senjata, bahkan dibandingkan dengan sabuk emas yang dipakai ayahnya, suling itu merupakan senjata yang paling ampuh bagi ayahnya.

Cu Han Bu sudah melolos sabuk emasnya dan berdiri tegak memandang kepada Kao Kok Cu, sinar mata yang mempersilakan pendekar itu maju melawannya.

Melihat ini, Kao Kok Cu juga sudah bangkit dari tempat duduknya.

Akan tetapi Cin Liong yang masih berdiri tegak dan belum kembali ke tempat duduknya, berkata.

"Ayah, akulah yang wajib melaksanakan perintah Sri Baginda. Ayah hanya membantu saja kalau aku gagal. Oleh karena itu, sebelum aku kalah, harap Ayah jangan turun tangan lebih dulu. Marilah, to-enghiong, mari kita tentukan hasil adu kepandaian ini. Ayah hanya akan maju kalau aku sudah kalah"

Cun Han Bu memandang kagum.

Kalau saja keadaan tidak memaksa mereka itu saling berhadapan sebagai musuh, dia akan merasa bangga dan senang sekali memiliki sahabat seperti keluarga Kao, yang gagah perkasa ini.

Maka dia pun menghampiri pemuda itu dengan sabuk emas dipegang gagangnya oleh tangan kanan sedangkan ujungnya yang lain dipegang oleh tangan kiri.

Sikapnya keren ketika dia berkata.

"Kao-goanswe, engkau sungguh hebat dan Adikku sudah kalah olehmu. Kalau sekarang aku pun kalah olehmu, maka berarti pihak kami mengaku kalah. Nah, silakan engkau mengeluarkan senjatamu!"

Kao Cin Liong telah mempelajari ilmu-ilmu kesaktian dari ayahnya dan dia telah digembleng sehingga kedua tangan dan kakinya seolah-olah telah menjadi pengganti senjata.

Seperti ayahnya, dia tidak pernah memegang senjata, kecuali kalau berpakaian dinas sebagai jenderal.

Pedang yang tergantung di pinggangnya kalau dia berpakaian hanya merupakan tanda pangkat belaka.

Maka pada saat itu pun dia tidak membawa senjata.

Melihat ini, Wan Ceng lalu melolos pedangnya dan memandang kepada suaminya untuk minta persetujuan suaminya.

Kao Kok Cu mengangguk dan Isterinya lalu melontarkan pedang itu ke atas.

"Cin Liong, terimalah pedang ini!"

Serunya dan pedang itu meluncur ke atas, kemudian seperti mempunyai mata saja, pedang itu berputaran di udara lalu meluncur turun ke arah Cin Liong yang menerimanya dengan manis.

Itulah pedang Ban-tok-kiam dan pedang yang amat berbahaya ini karena mengandung racun-racun yang amat hebat, nampak kehitaman seperti penuh karat, nampak menyeramkan sekali.

Jangankan sampai tertusuk bagian tubuh yang penting, baru tergores saja sudah dapat membawa maut!

Biarpun dia telah memiliki ilmu-ilmu silat tangan kosong yang lihai, namun jangan disangka bahwa Cin Liong asing dengan senjata.

Sama sekali tidak, dia pandai mainkan delapan belas macam senjata, terutama ilmu pedang!

Melihat pemuda itu sudah memegang senjata, Cu Han Bu yang tidak mau bersikap sungkan-sungkan lagi lalu menggerakkan sabuk emasnya di atas kepala, diputar-putar makin lama makin cepat, lalu berkata.

"Orang muda, lihat seranganku!"

Dan tiba-tiba dari gulungan sinar emas itu mencuat sinar berkeredepan yang menyambar ke arah kepala Cin Liong, dibarengi dengan tangan kiri yang mencengkeram ke arah dada.

Sungguh merupakan serangan yang amat dahsyat, sekaligus menyerang dengan sabuk emas dan tangan kiri.

Entah mana di antara keduanya itu yang lebih berbahaya, karena harus diakui bahwa hawa pukulan tangan kiri yang mencengkeram itu tidak kalah kuatnya dibandingkan dengan hawa pukulan sabuk emas yang menandakan bahwa tangan itu tidak kalah kuatnya dibandingkan dengan senjata itu.

Cin Liong bersikap waspada.

Dia maklum bahwa lawannya ini lebih lihai daripada Cu Seng Bu tadi.

Sedangkan terhadap Cu Seng Bu dia pun hanya memperoleh kemenangan tipis, maka dia tahu bahwa sekali ini dia menghadapi lawan yang amat tangguh dan dia harus berhati-hati.

Melihat serangan itu, dia pun menangkis dengan pedangnya ke atas, dan mendorongkan tangannya ke depan untuk menyambut cengkeraman tangan kiri lawan.

"Tringgg.... Plakkk!"

Keduanya terdorong mundur oleh pertemuan senjata dan tangan itu, dan Cin Liong dapat merasakan betapa tenaga orang ini amat kuat, lebih kuat daripada tenaga Cu Seng Bu dan dia merasa betapa tubuhnya tergetar oleh dua adu tenaga tadi.

Akan tetapi, Cin Liong tidak sempat berpikir lebih banyak lagi karena kini terdengar suara berdesing-desing dan pandang matanya menjadi silau melihat gulungan sinar keemasan yang menyambar-nyambar dengan, amat dahsyatnya.

Gulungan itu membungkus diri Cu Han Bu, dan suara berdesing-desing itu makin lama makin nyaring, Sinar-sinar yang mencuat dari gulungan emas yang merupakan tembok benteng itu makin gencar menyerangnya sehingga, pemuda ini terpaksa harus memutar pedangnya, untuk melindungi tubuhnya.

Dia merasakan desakan yang amat kuat dari gulungan sinar keemasan itu dan setiap kali pedangnya menangkis, terdengar suara nyaring dan dia merasa telapak tangannya perih sekali!

Memang hebat sekali ilmu kepandaian Cu Han Bu itu.

Untuk selama kurang lebih tiga puluh jurus sabuk emasnya merupakan gulungan sinar yang menghujankan serangan kepada Cin Liong, membuat pemuda itu sibuk sekali menangkis dan hampir tidak ada kesempatan untuk membalas serangan lawan.

Kemudian secera tiba-tiba gulungan sinar keemasan itu lenyap dan kini Cu Han Bu melakukan serangan satu-satu dengan gerakan lambat.

Akan tetapi, setiap kali sabuk emas itu menyambar terdengar suara angin dahsyat menghembus dan begitu Cin Liong menangkisnya, Pemuda ini berseru kaget karena tenaga yang terbawa oleh sabuk itu sedemikian kuatnya sehingga kuda-kuda kakinya tergeser dan hampir dia terhuyung, dan selain tenaga yang amat kuat ini, juga dia merasa betapa ada hawa panas menjalar ke seluruh lengannya!

Tahulah dia bahwa lawannya kini benar-benar telah mengerahkan seluruh tenaga simpanannya!

Dia pun berusaha untuk balas menyerang, bahkan kini dia, berusaha sedapat mungkin untuk menghindarkan pertemuan senjata secara langsung karena dia maklum bahwa tenaga sin-kangnya masih kalah kuat dibandingkan dengan orang ini.

Akan tetapi, gerakan Cu Han Bu yang lambat itu ternyata amat aneh dan di sekitar tubuhnya seolah-olah ada gulungan tenaga yang tidak nampak sehingga setiap kali pedang Ban-tok-kiam di tangan Cin Liong balas menyerang, ujung pedang itu menyeleweng seperti ditangkis oleh hawa yang amat kuat.

Sementara itu, sabuk emas setiap kali menyerang, tidak dapat dielakkan lagi karena biarpun gerakan sabuk itu lambat, namun seolah-olah dapat mengikuti ke mana pun Cin Liong mengelak!

Oleh karena ini, pemuda itu terpaksa menangkis dan menangkis lagi dan makin lama tangkisannya menjadi semakin lemah karena memang berat rasanya menangkis sabuk itu sehingga lewat beberapa lama kemudian, setiap kali menangkis dia tentu terhuyung ke belakang!

Patut diketahui bahwa ketika dia melawan Cu Seng Bu tadi, keadaannya dengan lawan itu seimbang, sehingga Cin Liong terpaksa harus mengerahkan seluruh tenaganya.

Oleh karena itu, setelah kini dia berhadapan dengan Cu Han Bu, yang memiliki kepandaian lebih tinggi dan juga tenaga lebih kuat dibandingkan dengan adiknya, tentu saja Cin Liong menjadi lelah dan semakin lama tenaganya menjadi semakin lemah.

Betapapun juga, dengan Ban-tok-kiam di tangannya, pedang yang juga ditakuti oleh Cu Han Bu yang mengenal pedang beracun yang amat berbahaya dia masih mampu bertahan sampai seratus jurus dia belum juga kalah, walaupun sudah berkali-kali dia terhuyung ke belakang.

Tentu saja Wan Ceng memandang dengan penuh khawatir, alisnya berkerut dan beberapa kali dia mengepal tinju tangannya.

Hanya Kao Kok Cu yang masih tetap tenang saja karena biarpun dia juga maklum bahwa puteranya itu akan kalah, namun dia percaya bahwa Cin Liong mampu menjaga diri sehingga tidak sampai terancam keselamatannya.

Cu Han Bu memang telah mengeluarkan semua kepandaiannya.

Baginya, perkelahian itu adalah soal hidup atau mati, karena kalau dia kalah, biarpun andaikata dia masih hidup, Namun dia dan adiknya seperti telah mati saja, akan mengundurkan diri dan menjadi pendeta dengan mencukur gundul kepala mereka.

Inilah sebabnya dia menyerang dengan ganas tanpa mempedulikan lagi apakah serangannya akan menewaskan lawannya.

Melihat betapa lawannya makin kuat dan makin ganas, tiba-tiba Cin Liong mengeluarkan pekik melengking nyaring dan tubuhnya sudah meluncur ke depan, dia sudah mengeluarkan Ilmu Sin-liong Hok-te dengan menggunakan pedang Ban-tok-kiam.

Tubuhnya meluncur ke depan, disambung oleh pedangnya, menerjang ke arah lawan dengan kekuatan yang amat dahsyat.

Melihat ini Cu Han Bu terkejut.

Dia maklum bahwa ilmu ini luar biasa sekali dan tadi adiknya juga kalah oleh ilmu ini.

Maka dia pun meloncat ke depan menyambut, sambil memutar sabuk emasnya.

"Trannggg.... plakkkk....!"

Kini nampak pedang Cin Liong terlempar ke atas dan pemuda itu sendiri terguling!

Akan tetapi dia sudah dapat meloncat lagi ke atas dan manyambar pedangnya, siap untuk menyerang lagi.

Pada saat itu, Kao Kok Cu mencelat ke depan dari atas kursinya.

"Cukup, Cin Liong. Engkau telah kalah!"

Katanya dan pemuda itupun tidak membantah karena harus diakuinya bahwa dia telah kehilangan pedang tadi, dan juga pundaknya telah beradu dengan ujung sabuk emas dan biarpun tulang pundaknya tidak patah, Namun lengan kirinya itu menjadi setengah lumpuh dan kalau digerakkan menjadi nyeri sekali pada pundaknya.

Jelaslah behwa kalau dia maju melawan lagi sama artinya dengan membunuh diri, maka dia pun menjura ke arah Cu Han Bu dan kembali ke tempat duduknya, disambut oleh Ibunya yang segera memeriksa pundaknya.

Pundak itu matang biru!

Wan Ceng cepat mengeiuarkan koyo hitam, melumerkan koyo itu dengan hawa panas dari telapak tangannya dan menempelkan koyo itu di pundak puteranya, dan menyuruh puteranya menelan dua butir pel hitam.

Kemudian keduanya duduk menonton pertandingan antara Kao Kok Cu dan Cu Han Bu dengan penuh perhatian setelah Wan Ceng menyimpan kembali pedang Ban-tok-kiam.

Sementara itu, tadi Kao Kok Cu telah menghadapi Cu Han Bu dan berkata.

"Saudara Cu, kini keadaan kita satu-satu. Marilah kita menentukan siapa yang akan keluar sebagai pemenang."

"Silakan kau mengeluarkan senjata, Kao-taihiap,"

Kata Cu Han Bu dengan sikap masih menghormat.

"Aku tidak pernah mempergunakan sanjata. Majulah!"

Tantang Naga Sakti Gurun Pasir.

Cu Han Bu percaya akan kata-kata ini dan tidak menganggap pendekar itu memandang rendah kepadanya.

Maka dia pun tidak sungkan-sungkan lagi dan sudah memutar sabuk emasnya dan menyerang dengan gerakannya yang lambat namun mantap dan amat kuat itu.

Tadi ketika Cu Han Bu bertanding melawan Cin Liong, Kao Kok Cu sudah menyaksikan gerakan-gerakannya dan sebagai seorang ahli silat tinggi yang sudah matang, sekali lihat saja dia sudah tahu akan sifat-sifat ilmu silat lawan ini.

Memang harus diakuinya bahwa jarang dia melihat orang memiliki ilmu silat sehebat keluarga Cu ini.

Ilmu silat mereka adalah ilmu silat asli, ilmu silat keluarga yang telah dilatih secara sempurna sekali dan pada waktu itu, kiranya jarang menjumpai orang-orang dengan ilmu setinggi yang dimiliki keluarga Cu ini.

Karena dia sudah tahu akan sifat ilmu silat lawan, maka kini dia tahu bagaimana harus menghadapinya.

Tadi dia memperhatikan gerakan Cu Han Bu.

Orang ini ketika menghadapi Cin Liong, kadangkadang mempergunakan kecepatan yang luar biasa selama beberapa puluh jurus, Menghujankan serangan tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk balas menyerang, kemudian dia mengubah gerakannya menjadi lambat-lambat sekali.

Akan tetapi Kao Kok Cu maklum bahwa justeru kalau bergerak lambat-lambat inilah maka orang ini amat berbahaya karena di sini letak seluruh kekuatannya!

Kalau Cu Han Bu bergerak perlahan-lahan dan lambat-lambat itu maka dia amat kuat dan seolah-olah tubuhnya dikelilingi oleh benteng yang tidak nampak dan kekuatan dalam yang dahsyat.

Oleh karena itu, ketika Cu Han Bu mulai menyerang dengan gerakan lambat-lambat itu, Kao Kok Cu tidak mau membalas serangan, bahkan dia hanya mengelak saja selalu menanti lawan menyerang untuk dielakkan dengan amat mudah tentunya, karena memang serangan-serangan Cu Han Bu itu biarpun amat mantap dan kuat, Namun lambat-lambat datangnya.

Karena tidak melihat lawan dapat dipancing dengan gerakan lambat, Cu Han Bu menjadi tidak sabar lagi.

Dia mengeluarkan suara lengkingan tinggi yang menggetarkan jantung karena dia telah mengerahkan khikangnya yang dihimpun ketika dia berlatih suling, dia mulai menyerang dengan cepat!

Diam-diam Kao Kok Cu merasa girang.

Akan tetapi dia masih tetap mengelak ke sana-sini dan sekali-kali dia menangkis dengan tangan kanannya dan hanya membalas serangan lawan dengan sembarangan saja, dengan tamparan-tamparan tangan kanan yang mengandung angin bersuitan.

Melihat betapa lawannya bersikap tenang dan seperti tidak sungguh-sungguh.

Cu Han Bu mulai marah!

Dia mulai mengira bahwa Si Naga Sakti Gurun Pasir ini memandang ringan kepadanya!

Gerakannya dipercepat sehingga makin lama gulungan sinar keemasan itu menjadi semakin lebar, dan tubuhnya lenyap sama sekali dalam bungkusan gulungan sinar!

Kao Kok Cu menanti sampai gerakan itu tiba pada kecepatan puncak, kemudian tiba-tiba dia membentak dan tubuhnya sudah meluncur ke depan, seperti sebatang anak panah, atau seperti seekor naga terbang, menyerang ke depan, lengan baju kirinya yang "kosong"

Itu bergerak-gerak dan seperti hidup!

Melihat ini, Cu Han Bu cepat menusukkan sabuk emasnya.

Akan tetapi sabuk itu dapat ditangkap dan dilibat oleh lengan baju kiri itu yang hidup seperti seekor ular yang membelit, tidak mungkin dapat ditarlk kembali dan otomatis gerakan sabuk itupun terhenti.

Cu Han Bu terkejut dan menjadi nekat, menghantamkan tangan kirinya.

Akan tetapi inilah kekeliruannya, karena pada saat itu Naga Sakti Gurun Pasir sedang mempergunakan Ilmu Sin-liong-hok-te dan kekuatan mujijat memasuki tubuhnya, maka begitu pendekar ini menangkis dengan tangan kanannya, dua tangan bertemu di udara dan akibatnya, tubuh Cu Han Bu terlempar sampai beberapa meter jauhnya dan sabuk emas itu patah menjadi dua, yang sepotong masih dipegang dan yang sepotong lagi berada dalam libatan lengan baju Naga Sakti Gurun Pasir!

Cn Han Bu bangkit berdiri, mukanya pucat sekali, napasnya terengah-engah dan jelaslah bahwa dia menderita luka dalam yang hebat.

Sejenak dia terbelalak memandang kepada Kao Nok Cu, kemudian mengerakkan tangannya hendak memukulkan sepotong sabuk emas itu ke arah kepalanya sendiri!

"Wuuuut....

tranggg....!"

Sepotong sabuk emas itu terpental dan terlepas dari pegangan, disambar potongan sabuk emas yang meluncur dari lengan baju Kao Kok Cu yang menyambitkannya ketika melihat bekas lawan itu hendak membunuh diri.

"Hanya pengecut sajalah yang tidak berani menghadapi kekalahan dalam hidup!"

Terdangar suara Kao Kok Cu berkata, suara yang menggetar dan mengandung kekuatan sedemikian dahsyatnya sehingga seluruh benda di sekitar tempat itupun ikut tergetar.

Cu Han Bu terkejut, memandang ke bekas lawannya dan menarik napas panjang, lalu jatuh terduduk, bersila dan memejamkan matanya.

Kao Kok Cu membiarkan saja dia demikian itu seketika lamanya karena dia maklum bahwa kalau tidak cepat-cepat majikan lembah itu mengumpulkan hawa murni, dia tentu takkan dapat tertolong lagi.

Cu Pek In lari menghampiri ayahnya, akan tetapi sebelum dia menyentuh ayahnya dia dicegah oleh Cu Seng Bu yang memegang lengan gadis itu.

Cu Pek In memandang ayahnya dengan air mata menetes di kedua pipinya dan suasana amat menyedihkan dan mengharukan hati keluarga Kao Kok Cu.

Mereka ini tahu bahwa dengan berhasilnya mereka melaksanakan perintah kaisar, mereka pun berarti menghancurkan kebahagiaan keluarga Cu ini!

Mereka merasa menyesal sekali, akan tetapi apa yang sudah terjadi tidak dapat diperbaiki kembali.

Mereka bertiga memandang ke arah Cu Han Bu, seperti yang dilakukan oleh Cu Seng Bu dan Pek In, dan mereka menanti.

Tak lama kemudian, pernapasan yang tadinya, memburu itu menjadi semakin tenang dan akhirnya terdengar Cu Han Bu menarik napas paajang, lalu membuka matanya dan pertama kali dia menggerakkan mata, dia memandang ke arah Kao Kok Cu.

"Terima kasih, Naga Sakti Gurun Pasir, bukan karena engkau telah menyelamatkan aku, melainkan karena engkau telah ingatkan aku yang hampir menjadi pengecut. Engkau benar, dan aku tidak akan takut menghadapi kegagalan. Kami telah kalah. Nah, dengarlah. Pedang itu berada pada muridku yang bernama Sim Hong Bu. Dialah yang berhak mewarisi pedang itu bersama ilmunya dan sekarang, dialah yang berhak atas pedang itu, bukan kami."

Kao Cin Liong merasa kecewa karena tadinya dia mengharapkan bahwa kemenangan itu akan membuat keluarga ini menyerahkan pedang pusaka itu kembali.

"Dan, di mana adanya Sim Hong Bu itu, Lo-enghiong?"

Cu Han Bu tersenyum pahit.

"Goan-swe engkau boleh menangkapku, menbunuhku, akan tetapi jangan harap akan dapat memaksa kami menjadi pengkhianat-pengkhianat yang mengkhianati dia yang menjadi muridku dan pewaris pedang pusaka kami!"

Cu Seng Bu dan Cu Pek In juga menentang pandang matanya dengan sikap menantang.

Kao Kok Cu maklum bahwa tiada gunanya memaksa karena orang-orang gagah seperti ini tentu akan lebih suka menyerahkan nyawa daripada harus mengkhianati orang sendiri.

"Satu pertanyaan lagi, Saudara Cu Han Bu. Perlukah aku menggeledah di lembah ini untuk mencari Sim Hong Bu?"

Cu Han Bu memandang dengan sinar mata tajam.

"Percuma, dia tidak berada di sini."

"Biar aku akan mencarinya di sini, Ayah,"

Kata Cin Liong akan tetapi ayahnya mencegah.

"Tidak perlu, Cin Liong. Saudara Cu Han Bu sudah mengatakan bahwa dia tidak ada di lembah ini. Dia sudah mengatakan sejujurnya dan aku yakin dia mempunyai cukup kehormatan untuk tidak membohongi kita. Mari kita pergi, kita akan mencari sendiri Sim Hong Bu!"

Setelah berkata demikian, Kao Kok Cu menjura ke arah mereka dan berkata.

"Perkenankan kami pergi dari sini, Saudara Cu dan maafkan semua perbuatan kami."

Kao Kok Cu bersama anak isterinya hendak membalikkan tubuh, akan tetapi Cu Han Bu bangkit dan berkata dengan suara parau.

"Kao Kok Cu!"

Pendekar itu bersama isteri dan puteranya berhenti dan membalikkan tubuh, memandang dengan alis berkerut.

"Dengarlah! Hari ini kami keluarga Cu kalah olehmu, akan tetapi ingat, murid kami Sim Hong Bu yang kelak akan membuktikan bahwa kami tidak kalah olehmu, dan pedang Koai-liong Po-kiam, pedang pusaka kami itu yang akan mengalahkanmu! Nah, mulai sekarang, aku dan Adikku akan mengasingkan diri sesuai dengan janji, menjadi hwesio dan bertapa di tempat sunyi. Biarlah murid kami itu yang kelak membalaskan kami. Pek In, antarkan tamu sampai menyeberang!"

Dengan muka pucat dan mata basah air mata, Cu Pek In memandang dengan mata penuh kebencian kepada keluarga Kao, lalu berkata.

"Mari!"

Dia pun lalu berjalan dengan tubuh ditegakkan, menuju ke arah jurang penyeberangan.

Kao Kok Cu dan anak isterinya mengikutinya karena mereka maklum bahwa kalau fihak tuan rumah menghendaki, sukar bagi mereka untuk dapat keluar dari lembah itu tanpa bahaya.

Andaikata dirusak saja jembatan tambang itu, berarti mereka tidak tahu bagaimana harus keluar dari lembah yang terasing dari dunia luar dan hanya dihubungkan dengan dunia luar melalui jembatan tambang itu saja.

Tanpa mengeluarkan kata-kata, Pek In memberi isyarat kepada para penjaga.

Jembatan tambang diangkat naik, gadis itupun meloncat ke atas jembatan tambang itu diikuti oleh tiga orang tamunya.

Setelah mereka semua tiba di seberang, gadis itu lalu berkata dengan sikap kaku.

"Selamat jalan!"

Kao Cin Liong merasa kasihan.

"Selamat tinggal, Nona dan maafkan kami."

Akan tetapi gadis itu telah meloncat kembali ke atas jembatan tambang dan berlari cepat menuju kembali ke lembah. Kao Kok Cu menarik napas panjang.

"Sungguh sayang, Cin Liong, kita telah menanam bibit kebencian dalam hati keluarga yang demikian gagahnya."

"Kita berada dalam tugas, Ayah, bukan urusan pribadi,"

Kata Cin Liong tenang.

"Benar! Kalau mereka itu benar-benar orang gagah tentu menyadari hal itu. Urusan ini urusan tugas pemerintah, bukan urusan pribadi, akan tetapi kalau mereka menganggap sebagai permusuhan, perorangan dan mendendam kepada kita, adalah karena ketololan mereka sendiri!"

Kata Wan Ceng yang wataknya masih belum berobah, yaitu keras dan berani.

Kao Kok Cu menarik napas panjang.

Dia tidak dapat menyangkal kebenaran ucapan isterinya dan puteranya, betapapun juga, dia tahu bahwa bagi sebuah keluarga yang hebat seperti keluarga Cu itu, nama merupakan hal yang amat penting dan sekarang mereka itu kehi-langan nama, oleh karena itu sudah pasti mereka merasa sakit hati.

Pendekar ini masih mendengar ancaman Cu Han Bu dan dia sudah menganggap nama Sim Hong Bu sebagai nama yang mungkin kelak akan menimbulkan kesukaran baginya dan keturunannya.

Agaknya Wan Ceng dapat membaca kekhawatirannya di wajah suaminya, maka nyonya ini berkata dengan gagah.

"Bekerja tidak boleh kepalang tanggung! Kita telah mengalahkan keluarga itu, dan sekarang, bagaimanapun juga kita harus bisa mendapatkan orang yang bernama Sim Hong Bun itu dan merampas pedang pusaka istana sebelum urusan menjadi berlarut-larut."

Kao Cin Liong mengangguk.

"Ucapan Ibu benar sekali, dan saya kira murid mereka itu tentu tidak berada jauh dari lembah ini!"

Demikianlah, tiga orang itu lalu mulai mencari jejak Sim Hong Bu, akan tetapi karena mereka belum pernah melihat wajah pemuda yang bernama Sim Hong Bu itu, tentu saja tidak mudah bagi mereka, apalagi, seperti kita ketahui, pemuda itu menyembunyikan diri dalam sebuah guha rahasia untuk melatih ilmu Pedang Koai-liong Kiam-sut sampai sempurna.

Dan karena mereka selama beberapa hari menyelidiki tempat-tempat sekitar lembah itu, maka mereka melihat munculnya Yu Hwi dan Cu Kang Bu yang baru kembali dari perjalanan mereka mengunjungi Sai-cu Kai-ong.

Tiga orang itu bersembunyi dan membayangi Yu Hwi dan Cu Kang Bu.

"Dia.... bukankah dia itu Ang-siocia, murid dari Hek-sin Touw-ong....?"

Ceng Ceng atau Wan Ceng berbisik kepada suaminya.

Kao Kok Cu mengangguk.

Kini dia pun teringat, Itulah gadis yang dulu pernah membantu mendiang ayahnya, yaitu Jenderal Kao Liang ketika ayahnya itu ditawan Pangeran Nepal di sebuah benteng yang amat kuat (baca KISAH JODOH RAJAWALI).

Gadis liar yang banyak akalnya dan yang pada dasarnya mempunyai watak yang gagah perkasa dan baik, seperti yang telah dibuktikannya ketika membantu ayahnya itu.

"Dan pria itu.... mungkinkah dia Sim Hong Bu?"

Bisik Cin Liong dengan jantung berdebar penuh harapan.

Pria itu nampak gagah perkasa, tinggi besar seperti raksasa dan memang pantaslah kalau menjadi murid keluarga Cu yang berilmu tinggi, walaupun raksasa ini agaknya sudah terlalu tua untuk menjadi murid mereka.

"Hemm, mungkin saja. Lihat, mereka menuju ke jurang pemisah lembah"

Bisik Kao Kok Cu.

"Sebaiknya kita tanya secara terus terang saja. Heiii, tunggu dulu....!"

Wan Ceng berseru dan meloncat keluar, diikuti suaminya dan puteranya.

Yu Hwi dan Cu Kang Bu yang sedang berjalan dengan asyik dan mesranya, sambil bergandengan tangan dan bercakap-cakap diseling senyum mesra, terkejut sekali dan cepat mereka saling melepaskan tangan dan membalikkan tubuh memandang kepada tiga orang yang muncul secara tiba-tiba itu.

Seorang pendekar seperti Si Naga Gurun Pasir tentu saja sukar dapat dilupakan orang, terutama sekali karena lengannya tinggal sebelah itu.

Demikian pula dengan Yu Hwi, begitu melihat pendekar ini, dia terkejut sekali dan teringat, apalagi setelah dia melihat Wan Ceng, maka dengan gagap saking kaget dan juga gembiranya dia berseru.

"Bukankah.... bukankah saya berhadapan dengan Naga Sakti Gurun Pasir, Kao Kok Cu Taihiap bersama isteri?"

Ucapan kekasihnya ini membuat Cu Kang Bu juga terkejut bukan main.

Pernah dia mendengar nama besar seperti nama tokoh dalam dongeng ini, dan pernah pula kekasihnya bercerita tentang pertemuan kekasihnya dengan pendekar sakti dan isterinya ini ketika kekasihnya membantu mendiang Jenderal Kok Liang, ayah dari pendekar sakti ini.

"Ingatanmu kuat sekali, Nona. Benar, aku adalah Kao Kok Cu dan ini adalah isteri dan putera kami."

"Hemm, engkau tentu Ang-siocia, bukan?"

Wan Ceng berkata sambil memandang wajah gadis itu, akan tetapi lalu dia memandang wajah Cu Kang Bu sambil bertanya penuh curiga.

"Dan siapakah dia ini?"

Ang-siocia atau Yu Hwi tertawa mendengar disebut nama julukannya yang sudah lama sekali tak pernah didengarnya yang hampir dilupakannya itu.

"Ah, Bibi yang gagah perkasa, saya tidak berjuluk Ang-siocia lagi. Lihat, pakaian saya tidak merah, bukan? Dan dia ini adalah...."

Wajahnya berobah dan dia tidak melanjutkan kata "tunangan"

Itu.

".... bernama Cu Kang Bu."

"Ah....!"

Cin Liong berseru, kecewa.

"Apakah masih saudara dengan sahabat-sahabat Cu Han Bu dan Cu Seng Bu?"

Tanya Kao Kok Cu. Cu Kang Bu yang sudah lama mengagumi nama besar Naga Sakti Gurun Pasir sudah cepat menjura dengan hormat dan menjawab.

"Mereka itu adalah kakak-kakak saya dan saya merasa terhormat sekali dapat bertemu dengan Kao-taihiap yang nama besarnya sudah lama saya dengar dari..... tunangan saya ini."

Mendengar bahwa laki-laki gagah perkasa bertubuh raksasa ini adalah adik dari keluarga Cu yang merahasiakan di mana adanya Sim Hong Bu yang mem-bawa pedang pusaka itu, Wan Ceng yang cerdik cepat bertanya.

"Saudara Cu Kang Bu, dapatkan engkau memberitahu kami di mana adanya Sim Hong Bu....?"

"Sim Hong Bu....?"

Kang Bu dan Yu Hwi berkata heran, tidak tahu bagaimana harus menjawab.

Mereka tidak tahu mengapa keluarga ini bertanya tentang murid itu, dan mereka meragu apakah mereka boleh memberitahukan kepada orang lain karena pemuda itu sedang menyembunyikan dirinya untuk menggembleng diri dan melatih ilmu pedang sampai sempurna.

Bukankah Sim Hong Bu mempunyai tugas yang amat berat, yaitu kelak dialah yang harus mengangkat kembali nama keluarga lembah dan menandingi kalau mungkin mengalahkan Suling Emas?

Selagi mereka meragu, terdengar suara nyaring di belakang mereka.

"Paman, jangan beritahukan! Ayah dan Paman Seng Bu telah terluka oleh mereka dan sedang menanti kedatangan Paman!"

Kiranya yang bicara itu adalah Cu Pek In yang memandang ke arah keluarga Kao itu dan dengan sinar mata penuh kebencian.

"Mereka ingin merampas pedang pusaka kita, dan kalau mereka tahu di mana adanya dia, tentu akan diram-pasnya pedang itu!"

Cu Kang Bu memandang dengan mata terbelalak, sedangkan Yu Hwi memandang pendekar sakti den isterinya itu dengan wajah terheran-heran.

"Bagaimana Ji-wi dapat melakukan hal seperti itu? Aku.... aku tidak peccaya...."

Kao Kok Cu menarik napas panjang.

"Kami adalah utusan Kaisar yang ingin agar pedang pusaka yang dicuri dari gudang pusaka istana itu dikembalikan."

Mengertilah kini Yu Hwi dan dia menjadi serba salah. Akan tetapi Kang Bu sudah menarik tangannya.

"Mari, Hwi-moi, kita menengok kedua kakak kita yang terluka."

Dan mereka bertiga lalu lari ke arah jurang, menyeberangi jurang melalui jembatan tambang, meninggalkan tiga orang keluarga Kao yang hanya dapat meman-dang saja.

"Agaknya tak mungkin dapat diharapkan dapat menemukan Sim Hong Bu itu melalui mereka, dan harus dicari lebih jauh lagi! kata pendekar itu yang mengajak anak isterinya untuk meninggalkan lembah. Akan tetapi mereka mencari terlalu jauh. Tak lama sesudah Cu Kang Bu dan Yu Hwi kembali ke lembah, dengan hati-hati sekali Cu Kang Bu lalu meninggalkan lembah untuk pergi ke guha tempat persembunyian Sim Hong Bu dan dia mengajak pemuda itu untuk pergi ke lembah. Keluarga Cu berduka cita, bukan hanya karena Cu Han Bu dan Cu Seng Bu kalah bertanding dan terluka parah, akan tetapi juga karena keputusan dua orang tokoh itu untuk selanjutnya mencukur gundul kepala mereka dan hidup sebagai pertapa yang mengasingkan diri! "Sebelum kami berdua mencukur rambut dan meninggalkan tempat ini untuk mengasingkan diri sebagai pendeta, aku ingin lebih dulu menunaikan kewajibanku meresmikan pernikahan kalian, Kang Bu dan Yu Hwi. Keadaan kita sedang prihatin, oleh karena itu maafkanlah saudara tuamu ini bahwa terpaksa pernikahan kalian tidak diramaikan, cukup disaksikan oleh para pembantu murid kita di lembah dan dilakukan upacara sembahyang kepada leluhur kita. Sesudah itu, kalian berdualah yang kami serahi untuk mengurus lembah ini, akan tetapi kalau kalian menghendaki untuk tinggal di tempat lain, terserah, asalkan semua anak buah dibubarkan lebih dulu dan jembatan yang menghubungkan lembah ini keluar dimusnahkan. Dan aku titip Pek In kepada kalian."

Cu Han Bu berhenti sebentar dan menarik napas panjang untuk menekan hatinya yang terharu melihat Pek In menangis terisak-isak.

"Dan engkau, Sim Hong Bu. Engkau adalah murid kami, juga pewaris pedang pusaka keluarga Cu. Bahkan engkau satu-satunya pewaris Ilmu Pedang Koa-liong Kiam-sut. Engkau menjadi buronan pemerintah, karena kaisar telah mengirim utusan untuk merampas pedang pusaka. Bersumpahlah bahwa engkau akan mempertahankan pedang pusaka kami itu, demi menjunjung nama keluarga kami!"

"Teecu bersumpah, Suhu."

Kata Hong Bu dengan suara tegas.

"Teecu akan mempertahankan pedang ini dengan taruhan nyawa teecu!"

"Bagus, hatiku lega mendengar itu. Dan engkau mempunyai tugas yang amat berat, Hong Bu. Selain mempertahankan pedang, juga untuk membela nama baik keluarga Cu dan Lembah Suling Emas yang terpaksa kita robah menjadi Lembah Naga Siluman ini, kelak engkau harus membuktikan bahwa Koai-liong kiam (Pedang Naga Siluman) tidak kalah terhadap Kim-siauw (Suling Emas). Carilah Kam Hong dan ajaklah dia bertanding untuk membuktikan siapa yang lebih unggul antara kalian, dengan demikian harapan kami selama ini tidak akan siasia."

Tentu saja Hong Bu sudah pernah mendengar akan hal ini, hal yang sungguh membuat hatinya tidak enak.

Dia amat kagum dan suka kepada Kam Hong, dan kenyataan bahwa dia kelak harus berhada-pan dengan pendekar itu sebagai musuh, sungguh membuat hatinya tidak enak, apalagi kalau dia teringat kepada Ci Sian yang menjadi sumoi dari pendekar besar itu!

Akan tetapi, dia maklum, bahwa dia tidak dapat menolak permintaan suhunya ini.

"Baik, Suhu. Pesan Suhu ini pasti akan teecu penuhi."

"Masih ada lagi, muridku. Engkau melihat sendiri betapa Suhu-suhumu telah terluka dan terpaksa menjadi hwesio karena dikalahkan oleh keluarga Naga Sakti Gurun Pasir. Aku yakin bahwa kalau engkau sudah menyempurnakan latihan-latihanmu, engkau akan mampu mengalahkan dia. Maka aku menghendaki agar kelak engkau mencari Naga Sakti Gurun Pasir dan atas nama kami membalas kekalahan kami untuk mempertahankan kehormatan nama keluarga Cu!"

Sebenarnya, di lubuk hatinya, Sim Hong Bu tidak setuju dengan sikap suhunya.

Suhu dan susioknya ini kalah oleh Naga Sakti Gurun Pasir bukan karena urusan pribadi seperti yang mereka ceritakan kepadanya tadi.

Keluarga Kao itu datang sebagai utusan Kaisar dan kalau dalam pertandingan perebutan pedang itu keluarga Cu kalah, Hal itu sudah wajar karena dalam setiap pertandingan tentu ada yang kalah dan ada yang menang.

Pula, apa jeleknya kalah oleh Naga Sakti Gurun Pasir yang namanya dipuja-puja seperti tokoh dewa dalam dongeng?

Akan tetapi suhu dan keluarga suhunya memang dia tahu amat keras kepala, tidak dapat menerima kekalahan karena terlalu lama terbiasa dengan anggapan bahwa keluarga mereka adalah keluarga yang tak pernah terkalahkan, keluarga yang menyimpan rahasia ilmu-ilmu dahsyat, nenek moyang mereka yang menciptakan benda-benda, pusaka seperti Suling Emas dan Pedang Naga Siluman.

Cu Han Bu melihat keraguan muridnya dan diam-diam dia merasa agak malu juga.

Dia agaknya dapat membaca apa yang menjadi keraguan hati muridnya, maka dia berkata lagi.

"Hong Bu, ketahuilah bahwa kami tidak mempunyai dendam sakit hati pribadi terhadap Naga Sakti Gurun Pasir. Pertentangan antara mereka dan kami hanya kebetulan saja karena puteranya menjadi jenderal dan utusan Kaisar. Akan tetapi, kalau engkau sebagai murid dan pewaris keluarga kami tidak memperli-hatkan bahwa kita tidak kalah oleh mereka, tentu dunia kang-ouw akan menganggap bahwa nama keluarga Cu adalah nama kosong belaka."

"Baiklah, teecu mengerti apa yang Suhu maksudkan."

Akhirnya Hong Bu menjawab dan diam-diam dia mengeluh dalam hatinya karena selain dia kini karena pedang itu telah menjadi buronan pemerintah, juga dia sudah berjanji akan menghadapi dua orang pendekar yang paling sakti di dunia ini!

"Ada satu hal lagi, muridku.

Yaitu mengenai diri Sumoimu, Pek In.

Telah kupikirkan dalam-dalam hal ini untuk waktu lama sekali.

Aku akan merasa berbahagia sekali kalau kelak Pek In dapat menjadi isterimu, Hong Bu."

Tentu saja Pek In menjadi malu dan menundukkan mukanya yang berobah merah sekali dan jantungnya berdebar-debar tegang.

Sebaliknya, wajah Hong Bu menjadi pucat, kemudian merah.

Tak disangkanya gurunya akan membicarakan hal itu secara terbuka.

Dia tahu betul bahwa sumoinya jatuh cinta kepadanya, dan dia pun sudah dapat menduga dari sikap suhunya bahwa suhunya juga setuju untuk mengambil mantu dia.

Akan tetapi dia sendiri menyayang Pek In hanya sebagai murid.

Tanpa disengajanya, tiba-tiba saja wajah Ci Sian terbayang di depan matanya.

"Suhu.... tentang ini.... teecu.... teecu sama sekali masih belum berpikir soal perjodohan...."

Cu Han Bu menarik napas panjang.

"Hong Bu, kukatakan tadi bahwa aku akan merasa berbahagia kalau kelak engkau dapat berjodoh dengan Pek In. Tentu saja aku sama sekali tidak memaksamu, urusan perjodohan adalah urusan dua orang dan terserah kepada kalian, aku hanya mengatakan akan berbahagia kalau kalian berjodoh...."

Sampai di sini, Cu Han Bu memberi isarat membubarkan pertemuan itu karena kesehatannya belum pulih benar dan terlalu banyak bicara mendatangkan rasa nyeri di dadanya.

Demikianlah, pernikahan antara Yu Hwi dan Cu Kang Bu dilangsungkan dengan sederhana sekali, dengan pesta antara keluarga dan anak buah lembah itu sendiri tanpa dihadiri oleh seorang pun dari luar lembah, dan disaksikan arwah nenek moyang mereka yang mereka sembahyangi.

Dan pada keesokan harinya, Sim Hong Bu harus meninggalkan lembah, membawa bekal emas dan perak secukupnya dan menyembunyikan pedang pusaka itu di balik jubahnya.

Dua orang gurunya, Cu Han Bu dan Cu Seng Bu sendiri yang mengantarnya sampai ke luar dari lembah.

Kemudian, beberapa hari sesudah itu, Cu Han Bu dan Cu Seng Bu pergi menuju ke sebuah Kuil yang berada di puncak sebuah bukit dekat lembah, lalu disaksikan oleh para hwesio mereka menggunduli rambut, menjadi hwesio lalu melakukan perjalanan untuk mengasingkan diri mereka, Sesuai dengan janji mereka terhadap Si Naga Sakti Gurun Pasir!

Yu Hwi dan Cu Kang Bu kini menjadi majikan lembah.

Akan tetapi baru sebulan setelah mereka menikah, mereka sudah ditimpa suatu peristiwa yang membingungkan hati mereka, yaitu lenyapnya Cu Pek In dari lembah!

Di dalam kamar gadis itu mereka menemukan sehelai surat yang memberitahukan mereka bahwa gadis itu hendak pergi menyusul dan mencari Sim Hong Bu dan minta agar paman dan bibinya tidak mencarinya!

Cu Kang Bu menjadi bingung sekali.

Dia yang diserahi untuk mengurus Pek In oleh kakaknya, akan tetapi bagaimana dia dapat memaksa gadis itu untuk kembali?

Setelah berunding dengan isterinya, akhirnya dia mengambil keputusan untuk tinggal diam saja sambil manyimpan surat itu.

"Pek In jatuh cinta dan merasa ditinggalkan Hong Bu, maka dicari pun tidak akan ada gunanya."

Demikian Yu Hwi berkata.

"Dia sudah dewasa dan memiliki ilmu kepandaian cukup, maka perlu apa khawatir? Biarlah dia merantau memperluas pengetahuannya. Keputusan hati seorang gadis yang jatuh cinta tidak mungkin dirobah lagi dan percuma saja kalau kau cari dia juga."

Demikianlah, Cu Kang Bu tidak pergi mencari Pek In karena dia dapat mengerti akan kebenaran kata-kata isterinya.

Andaikata dicari dan dapat dia temukan, apakah dia akan menggunakan kekerasan memaksa Pek In tinggal di lembah?

Tidak mungkin!

Dia tahu bahwa keponakannya itu bukan hanya suka memakai pakaian pria, akan tetapi juga mempunyai kekerasan hati, kadang-kadang melebihi pria.

"Suhu...."

Kakek itu membuka matanya dan memandang dengan sinar mata sayu.

Kakek itu kurus sekali dan mukanya pucat, tanda bahwa selain jarang makan, juga kakek ini kurang memperoleh sinar matahari.

Dan memang sudah lama Sai-cu Kai-ong, kakek yang pernah menjadi Raja Pengemis dan menjadi tokoh kang-ouw yang disegani ini, mengasingkan diri di sebuah kamar di gedung besar seperti istana kuno itu, di Puncak Bukit Nelayan, seorang diri saja.

Hidupnya terasa hampa setelah dia bertemu dengan cucunya, Yu Hwi yang telah memllih suami lain.

Dia tidak ingin apa-apa lagi selain menanti kematian.

Hidup ini baginya banyak dukanya daripada sukanya, banyak kecewanya daripada puasnya.

Kekecewaannya yang paling besar adalah karena dia merasa bahwa dia adalah seorang yang tidak berbakti, seorang yang tidak dapat memenuhi kehendak mendiang ayahnya, mendiang nenek moyangnya.

Dia telah gagal menjodohkan keturunan Yu dengan keturunan Kam, dan ini baginya merupakan puKuian berat, merasa dirinya put-hauw (tidak berbakti), seorang yang murtad.

Kata kebaktian masih selalu didengungkan orang, bahkan dianggap sebagai suatu sila kehidupan manusia beradab yang amat penting.

Kebaktian dianggap sebagai ukuran kebudayaan, kesusilaan, bahkan kebaikan seseorang.

Bagi kebanyakan orang tua, kata "hauw"

Atau bakti dijadikan semacam pegangan atau senjata untuk menyerang anak-anaknya kalau anak-anak itu tidak menyenangkan hatinya, dan anak-anak itu, karena takut dianggap tidak berbakti atau murtad, Maka mereka itu memaksa diri untuk melakukan apa-apa yang dianggap hauw (bakti) terhadap orang tua!

Berbakti adalah suatu sikap dipaksakan!

Betapa tidak?

Di balik kebaktian ini jelas terkandung pamrih!

Kalau orang ingin berbakti, jelas bahwa dia berpamrih untuk menjadi anak baik dan tentu karena anak yang berbakti itu mendapat berkah, banyak rejekinya, terhormat, terpandang dan sebagainya.

Apakah artinya sikap berbakti kalau di dalam hati nuraninya tidak ada cinta kasih?

Kalau kita mempunyai sinar cinta kasih dalam batin kita, terhadap orang lain pun kita berhati penuh kasih, penuh iba, apalagi terhadap ayah bunda sendiri!

Di mana ada kasih, maka kata berbakti itu tidak ada lagi karena dalam setiap perbuatannya terhadap orang tua, tentu penuh dengan kasih sayang yang tanpa pamrih!

Berbakti karena tahu bahwa berbakti itu baik dan sebagainya hanya melahirkan sikap yang palsu dan dibuat-buat, melahirkan perbuatan dan ucapan yang tidak sama dengan isi hatinya.

Hanya karena ingin berbakti, maka terjadilah kenyataan betapa mulut tersenyum berkata-kata halus sungguhpun di dalam hati memaki-maki, pada lahirnya memberi ini itu padahal di dalam hatinya tidak rela!

Hal ini dapat kita lihat pada diri kita sendiri, pada kanan kiri kita, melihat kehidupan seperti apa-adanya, menelanjanginya dan tidak tertipu oleh Kuiitnya belaka.

Akan tetapi, kalau batin kita penuh cinta kasih, maka tidak akan ada caci maki di dalam hati, tidak ada rela atau tidak rela.

Yang ada hanyalah kasih sayang saja!

Betapa kita manusia di dunia ini sudah kehilangan api cinta kasih!

Kita mengorek-orek abunya dan mengejar-ngejar asapnya belaka.

Kita rindu akan cinta kasih, ingin semua manusia di dunia ini, ingin seluruh isi mayapada ini, ingin para dewata, malaikat dan Tuhan, mencinta kita!

Kita haus akan cinta kasih karena di dalam diri kita kehilangan cinta kasih itu!

Kita mencari-cari dan mengejar-ngejar melalui kebaktian, kewajiban, menjadi orang baik, memuja-muja dan sebagainya lagi.

Akan tetapi yang kita kejar-kejar itu hanyalah asapnya.

Cinta kasih tak mungkin dikejar-kejar, tak mungkin dapat diusahakan supaya ada, tak mungkin dapat dikuasai dan diikat, tak mungkin dapat dilatih seperti pengetahuan mati!

Cinta kasih datang dengan sendirinya kalau batin kita terbuka, peka dan kosong, dalam arti kata bersih dari pada segala keinginan dan perasaan si-aku, yaitu keinginan untuk senang dan perasaan-perasaan iri, benci, marah, takut dan sebagainya.

Kita tidak mungkin memiliki batin yang peka dan "terbuka"

Kalau masih ada kotoran-kotoran dari si-aku, yaitu pikiran yang selalu menjangkau, mencari, mengejar dan menginginkan segala sesuatu untuk menyenangkan diri sendiri, lahir maupun batin.

Barulah kalau batin kita sudah penuh dengan sinar cinta kasih, segala perbuatan kita adalah benar, tidak pura-pura, tidak palsu, tanpa pamrih, wajar dan bersih seperti keadaan anak kecil yang belum dikuasai oleh akunya.

Ada yang berkata "tidak mungkin itu!"

Nah, siapakah yang berkata demikian itu?

Mari kita lihat baik-baik.

Bukankah yang berkata itu adalah sang aku yang ingin baik, ingin dipenuhi cinta kasih, kemudian melihat bahwa dia tidak mungkin hidup tanpa segalanya yang dianggapnya menyenangkan itu?

Kita dapat mengamati ulah tingkah si-aku ini setiap saat dalam diri kita sendiri, dan ini merupakan langkah pertama ke arah kebijaksanaan.

"Suhu....!"

Kam Hong berkata lagi ketika melihat betapa kakek itu memandangnya seperti orang sedang mimpi, seolah-olah tidak mengenalnya lagi.

"Suhu, teecu adalah Kam Hong"

"Kam Hong....? Engkau Siauw Hong....?"

"Benar, Suhu, teecu adalah Siauw Hong."

Kata Kam Hong dengan hati terharu.

Tak disangkanya bahwa suhunya yang biasanya bertubuh tegap dan bersikap gagah penuh semangat itu, yang menghadapi dunia dengan hati ringan, kini kelihatan demikian tua dan lemah seperti orang kehilangan semangat.

"Dan Nona ini siapa...." (Lanjut ke

Jilid 32) Suling Emas & Naga Siluman (Seri ke 11 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 32

"Teecu adalah Bu Ci Sian, Locianpwe."

Jawab Ci Sian yang tadi masuk bersama Kam Hong.

Mendengar suara dara yang demikian nyaring dan bersih, Sai-cu Kai-ong membuka matanya lebih lebar.

Kalau saja Yu Hwi yang berlutut di samping Kam Hong itu, pikirnya!

"Suhu, dia ini adalah Sumoi teecu, sama-sama mempelajari ilmu sejati dari Suling Emas."

Kata Kam Hong. Sai-cu Kai-ong terbelalak.

"Apa? Apa maksudmu? Apakah itu ilmu sejati dari Suling Emas? Bukankah engkau keturunan langsung dari Suling Emas, keluarga Kam?"

Dengan sabar Kam Hong lalu menceritakan semua pengalamannya di Pegunungan Himalaya, betapa dia bertemu dengan Ci Sian dan mereka berdua tanpa disengaja telah bertemu dengan jenazah kuno dari tokoh yang membuat suling emas, dan betapa dari jenazah itu mereka berdua menemukan ilmu sejati dari pencipta suling emas sehingga mereka menjadi kakak beradik seperguruan.

Kemudian, dengan hati-hati sekali Kam Hong lalu bercerita tentang pertemuannya dengan Yu Hwi di Lembah Suling Emas.

Kakek Itu menarik napas panjang.

"Aku sudah tahu, Siauw Hong. Yu Hwi telah datang ke sini bersama tunangannya...."

"Cu Kang Bu....?"

"Benar, dan memang harus diakui bahwa pilihannya itu tidak keliru, akan tetapi tetap saja hatiku penuh kekecewaan bahwa ikatan perjodohan itu putus...."

"Harap Suhu suka tenangkan dari. Urusan jodoh tidak dapat dipaksakan, Suhu. Dan bukankah kata orang bahwa jodoh berada di tangan Tuhan? Anggap saja bahwa tidak ada jodoh antara teecu dan Yu Hwi dan hal itu tidak perlu dijadikan penyesalan benar."

Sai-cu Kai-ong tersenyum pahit.

"Ah, engkau tidak tahu betapa hal itu menjadi idaman nenek moyang kami sejak dahulu...., akan tetapi sudahlah. Yang sudah terjadi tidak mungkin dirobah lagi. Siauw Hong, sekarang, ke mana engkau hendak pergi? Ketahuilah bahwa Sin-siauw Seng-jin telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, di tempat pertapaannya, di puncak tak jauh dari sini. Aku sendiri yang telah mengurus pemakamannya, di puncak itu juga."

Kam Hong menarik napas panjang.

Berita ini tidak mengejutkan hatinya karena memang kakek itu sudah tua sekali.

Akan tetapi sedikit banyak dia pun merasa terharu.

Kakek itu bersusah payah merahasiakan keturunan Kam, kemudian mendidiknya sebagai guru kedua sesudah Sai-cu Kai-ong, dengan penuh kasih sayang.

"Teecu akan bersembahyang ke makam beliau, kemudian teecu berdua Sumoi akan pergi ke daerah Sin-kiang...."

"Hemm, engkau baru saja tiba dari Pegunungan Himalaya dan kini hendak pergi ke daerah Sin-kiang? Ada keperluan apakah di tempat liar itu?"

"Teecu hendak mengantar Sumoi mencari sarang gerombolan Hek-i-mo...."

"Ahh....?"

Bekas Raja Pengemis itu nampak terkejut bukan main. Hek-i-mo....? Sungguh berbahaya sekali.

"Mau apa kalian hendak ke sana?"

"Locianpwe, Ibu teecu tewas karena penyakit yang diderita setelah Ibu bertentangan dengan Hek-i-mo."

Jawab Ci Sian.

"Hemm, jadi urusan balas dendam, ya?"

Kakek itu bertanya, nada suaranya seperti orang kesal dan memang sesungguhnya dia merasa bosan karena sebagian besar daripada hidupnya dia hanya menghadapi soal balas dendam saja di dalam dunia kang-ouw dan dia merasa muak dengan hal itu.

"Bukan itu saja yang terutama, Locianpwe. Teecu berpendapat bahwa kalau gerombolan liar dan jahat macam Hek-i-mo tidak dibasmi, maka lebih banyak orang lagi orang-orang tidak berdosa akan menjadi korban mereka. Dahulu Ibu pernah gagal, biarlah sekarang teecu sebagai anaknya melanjutkan usaha yang mulia itu, membersihkan dunia dari gerombolan jahat. Dan Kam-suheng sudah sanggup untuk membantu teecu."

Sai-cu Kai-ong menarik napas panjang.

"Yah, kalian masih muda dan bersemangat besar. Akan tetapi, Siauw Hong, yakin benarkah engkau dan Sumoimu ini bahwa kalian akan mampu menghadapi Hek-i-mo? Ingat, entah sudah berapa banyaknya pendekar-pendekar yang tewas di tangan mereka sehingga sampai kini pun tidak ada lagi yang berani mencoba-coba menentangnya."

"Tentu saja sebelum melihat kekuatan mereka, teecu tidak yakin, Suhu. Betapapun juga, untuk menentang kejahatan dan membantu Sumoi, teecu sanggup dan berani."

"Ci Sian, kalau mendiang Ibumu pernah berani menentang Hek-i-mo, tentu engkau keturunan keluarga yang hebat. Siapakah nama Ayahmu?"

Ditanya ayahnya, Ci Sian cemberut dan hatinya tidak senang.

Siapa akan merasa senang mengaku Bu Seng Kin sebagai ayahnya kalau orang itu demikian gila wanita dan mempunyai isteri yang tidak kepalang banyaknya?

Dia malu berayah Bu Seng Kin!

Melihat keraguan sumoinya, Kam Hong lalu mewakilinya menjawab.

"Sumoi adalah puteri dari Bu Taihiap yang bernama Bu Seng Kin...."

"Ah, pantas kalau begitu!"

Sai-cu Kai-ong berseru girang.

"Kiranya Ayahmu adalah pendekar besar itu!"

Akan tetapi Ci Sian sama sekali tidak kelihatan girang atau bangga dan hal ini dianggap oleh kakek itu sebagai sikap rendah hati yang amat baik.

Setelah bercakap-cakap selama setengah hari dan dalam kesempatan mana Ci Sian memasakkan yang enak-enak untuk Sai-cu Kai-ong yang seolah-olah memperoleh kembali kegembiraannya dalam pertemuan ini, mereka lalu mohon diri.

Setelah mendapat keterangan di mana letak makam Sin-siauw Seng-jin, Kam Hong bersama Ci Sian meninggalkan puncak Bukit Nelayan itu, diantar oleh Sai-cu Kai-ong sampai ke depan pintu dan kakek ini memandang ke arah dua orang muda itu sampai mereka lenyap dari pandangan mata.

Dia menarik napas panjang dan berkata lirih.

"Jelas bahwa dia mencinta dara itu. Puteri Bu Taihiap! Dan Yu Hwi berjodoh dengan penghuni Lembah Suling Emas! Memang sayang sekali ikatan jodoh mereka itu putus, akan tetapi keduanya memperoleh pengganti yang sama sekali tidak mengecewakan. Semoga Yu Hwi hidup bahagia dengan suaminya dan Siauw Hong hidup bahagia dengan gadis she Bu itu."

Kam Hong melakukan upacara sembahyang sederhana di depan makam Sin-siauw Seng-jin, diikuti juga oleh Ci Sian yang sudah mendengar penuturan suhengnya itu tentang diri kakek yang luar biasa itu.

Mereka bermalam di makam itu semalam, dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka menuruni puncak dan mulailah mereka dengan perjalanan mereka menuju ke Sin-kiang, daerah barat yang liar itu, untuk mencari Hek-i-mo, gerombolan penjahat yang dikabarkan ganas dan lihai seperti segerombolan siluman.

Perjalanan yang jauh, sukar dan berbahaya!

Kita tinggalkan dulu perjalanan dua orang muda itu dan mari kita menengok dan berkenalan dengan yang dinamakan gerombolan Hek-i-mo itu.

Gerombolan ini bersarang di Lereng Pegunungan Ci-lian-san yang terletak di perbatasan antara propinsi Sin-kiang dan Cing-hai.

Di kedua propinsi ini, nama Hek-i-mo (Iblis Baju Hitam) amat terkenal dan boleh dibilang merekalah yang menjadi pemerintah gadungan yang menguasai semua jalan-jalan raya yang menghubungkan kedua daerah itu.

Tidak ada perampok atau bajak sungai yang tidak tunduk kepada mereka, dan juga semua perusahaan pengawal dari kedua proplnsi itu semua mengenal dan bersahabat dengan Hek-i-mo.

Mereka semua itu dengan sikap hormat menyeyerahkan sejumlah "pajak"

Atau "hadiah"

Kepada perkumpulan ini agar terjamin lancar pekerjaan mereka.

Bukan hanya mereka yan berkepentingan lewat di daerah tapal batas kedua propinsi ini saja yang bersahabat dengan Hek-i-mo, bahkan juga para pembesar di Sin-kiang boleh dibilang sudah dikuasai oleh perkumpulan lni.

Pembesar yang bersahabat dengan Hek-i-mo tentu akan dilindungi.

Oleh karena itu, bukan merupakan pemandangan aneh kalau orang melihat satu dua orang anggauta Hek-i-mo yang dikenal dari pakaian mereka yang serba hitam, Berkeliaran di kota-kota di daerah Sin-kiang atau Cing-hai sekalipun, dan menerima "sumbangan"

Dari toko-toko yang besar.

Belasan tahun lamanya pengaruh Hek-i-mo merajalela tanpa ada yang barani menentangnya.

Memang dahulu banyak juga pendekar-pendekar yang berusaha menentang kakuasaan hitam ini, namun satu demi satu para pendekar penentang itu roboh, tewas atau terluka parah.

Tidak ada seorsng pun dapat menandingi Hek-i-mo dan akhirnya tidak ada lagi pendekar yang begitu bodoh untuk menyerahkan nyawa begitu saja.

Karena daerah ini terlalu jauh dari kota raja, dan juga karena Hek-i-mo tidak pernah terdengar memberontak, juga tidak melakukan kejahatan dengan mencolok, bahkan tidak pernah merampok karena mereka ini tidak pernah kekurangan "penghasilan", maka Hek-i-mo dapat bertahan sampai belasan tahun tanpa terganggu.

Di manakah letak kekuatan Hek-i-mo dan bagaimana kuatnya?

Hek-i-mo dipimpin oleh seorang kakek yang kini usianya sudah sekitar enam puluh lima tahun dan selama belasan tahun ini dia hanya dikenal dengan nama julukannya, yaitu Hek-i Mo-ong (Raja Iblis Baju Hitam) karena dia selalu memakai baju hitam-hitam dan tubuhnya yang seperti raksasa itu memang menyeramkan.

Kulit tubuhnya putih dan berbulu, karena memang dia mempunyai darah Han bercampur Kozak, ayahnya seorang Rusia Kozak dan ibunya seorang wanita Han.

Wajahnya dapat dikatakan tampan dan gagah, akan tetapi sepasang matanya yang kebiruan itu amat tajam seperti mata setan, dan senyumnya selalu sinis, mengandung ejekan yang memandang rendah siapapun juga.

Raksasa ini rambutnya sudah putih semua, dan memang rambutnya itu agak keputihan, dan dalam usia lima puluh tahun, Lima belas tahun yang lalu ketika dia pertama kali muncul di barat, rambutnya pun sudah putih.

Dahulu, sebelum dia dikenal sebagai Hek-i Mo-ong, namanya adalah Phang Kui, dan dia menggunakan she Phang yang menjadi she Ibunya.

Hek-I Mo-ong ini memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat!

Selain ilmu silatnya yang tinggi, tenaganya yang amat besar, juga dia memiliki ilmu hitam atau ilmu sihir yang dipelajarinya dari Tibet.

Ilmu sihir atau ilmu hitamnya inilah yang amat ditakuti orang, dan mula-mula memang dia selalu mempergunakan ilmu hitam ini untuk mencari pengaruh dan menundukkan orang-orang.

Phang Kui ini memang cerdik.

Begitu muncul, kurang lebih delapan belas tahun yang lalu, dia tidak mau mengganggu orang baik-baik atau orang-orang pemerintah, melainkan merajalela di antara orang-orang jahat.

Ditundukkannya semua perampok, bajak sungai, maling-maling dan semua orang jahat, ditundukkan semua perkumpulan yang menggerakkan tempat-tempat perjudian atau pelacuran, semua ketua mereka satu demi satu dikalahkannya.

Namanya mulai dikenal dan ditakuti dan kalau orang sudah ditakuti oleh golongan sesat, tentu saja penduduk juga menjadi takut!

Phang Kui menjadi "rajanya"

Orang jahat dan dia dijuluki Hek-i Mo-ong!

Dan mulailah orang-orang jahat mendekatinya dan menyanjungnya.

Namun, Phang Kui tidak mau sembarangan memilih orang.

Dia akhirnya berhasil mengumpulkan orang-orang dari golongan hitam, bukan orang-orang biasa, melainkan orang-orang yang dipilihnya, yang memiliki kepandaian atau bakat ilmu silat, memiliki tubuh yang kuat.

Dia mengumpulkan lima puluh orang yang digemblengnya sehingga mereka menjadi pasukan yang amat kuat, karena masing-masing anggauta merupakan seorang ahli silat yang tangguh di samping mempelajari satu dua macam ilmu hitam.

Semenjak itulah, perkumpulan Hek-i-mo berdiri, beranggautakan lima puluh orang yang tangguh sekali.

Kemudian, Hek-i Mo-ong mengumpulkan delapan orang murid yang terdiri dari orang-orang yang tadinya sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi, di antara tokoh-tokoh hitam yang yang ditundukkannya.

Mereka ini dianggap sebagai murid-murid kepala dan beberapa tahun kemudian, terkenal pulalah nama Hek-I Pat-mo (Delapan Iblis Baju Hitam) yang merupakan murid-murid dan wakil Hek-i Mo-ong.

Delapan orang murid inilah yang mengurus segala urusan, juga mengepalai dan menggembleng anggauta-anggauta Hek-i-mo.

Sedangkan Hek-i-mo sendiri lebih banyak mendekam di dalam sarangnya, yaitu sebuah gedung yang.

cukup indah di lereng Pegunungan Ci-lian-san.

Pekerjaannya hanyalah bersamadhi, makan enak, pesta-pesta, dan kadang-kadang memberi petunjuk kepada delapan orang murid-muridnya, baik dalam hal ilmu silat atau ilmu hitam.

Hanya kalau ada urusan-urusan penting sekali sajalah maka Hek-i Mo-ong keluar sendiri.

Akan tetapi segala urusan harian yang tidak begitu penting, cukup diselesaikan oleh Hek-i Pat-mo saja.

Akan tetapi, sampai usia enam puluh lima tahun itu, Hek-i Mo-ong tidak pernah menikah, walaupun di bagian belakang gedungnya terdapat bagian luas di mana hidup belasan orang wanita muda dan cantik yang merupakan sekumpulan wanita-wanita peliharaan atau selir-salirnya!

Dia, bukan seorang yang mata keranjang dan pengejar wanita, akan tetapi wanita-wanita muda cantik itu adalah "hadiah-hadiah"

Dari kepala perampok, pimpinan piauw-kiok dan juga pembesar!

Dia tidak menolaknya dan mengumpulkan wanita-wanita muda itu, akan tetapi hanya jarang dia menggauli mereka, juga Hek-i Pat-mo yang menjadi murid-murid kepala itu tidak ada yang beristeri sungguhpun usia mereka sudah antara empat puluh sampai lima puluh tahun.

Hal ini bukan berarti mereka tidak mau berdekatan dengan wanita, akan tetapi mereka tidak mau terikat dengan wanita seperti guru mereka, dan wanita itu bagi mereka hanyalah alat bersenang-senang, tiada lain!

Dan agaknya apabila mereka menghendaki seorang wanita cantik, Maka wanita itu sudah pasti akan terjatuh oleh mereka, baik melalui ancaman, maupun ilmu silat atau ilmu sihir.

Betapapun juga, suhu mereka sudah memperingatkan dengan keras para murid tidak mengganggu wanita-wanita keluarga pembesar atau keluarga golongan "sahabat-sahabat"

Mereka, dan hanya membatasi pada wanita-wanita dusun dan wanita-wanita gunung saja.

Malam itu adalah malam bulan purnama.

Dan seperti biasa, pada malam-malam seperti itu, Hek-i Mo-ong tentu mengajak delapan orang muridnya untuk berlatih samadhi di tempat terbuka, untuk menampung sinar bulan purnama yang mempunyai hikmat mennperkuat ilmu hitam mereka.

Akan tetapi, tidak seperti biasanya, malam itu merupakan malam istimewa bagi Hek-i Mo-ong karena ada urusan penting yang harus ditanganinya sendiri, Yaitu dengan ditawannya tiga orang musuh yang berani datang menentang Hak-i-mo!

Biarpun yang manghadapi musuh-musuh ini adalah murid-muridnya, bahkan yang menawan juga murid-muridnya, akan tetapi untuk memutuskan hukuman apa yang harus diberikan kepada mereka harus dia sendiri yang menentukan.

Malam itu bulan amat terang, tidak ada awan hitam menghalang.

Cahaya bulan yang misterius memandikan permukaan bumi dan terutama sekali di tanah datar tertutup rumput di belakang rumah gedung yang menjadi sarang Hek-i-mo itu cahaya bulan nampak aneh dan mendatangkan hawa dingin yang mendirikan bulu roma.

Sunyi sekali suasana di tempat itu, sebuah padang rumput yang luas di belakang gedung.

Sejak tadi, para anak buah Hek-i-mo sudah berkumpul.

Mereka memang disuruh berkumpul di tempat itu untuk menyaksikan "pengadilan"

Yang akan disidangkan untuk men-jatuhkan hukuman kepada tiga orang tawanan.

Karena sebagian dari mereka bertugas menjaga keamanan seperti biasa, maka yang berkumpul hanya sekitar tiga puluh orang, yang membentuk lingkaran lebar sakali di lapangan rumput itu, seperti pagar manusia yang aneh karena mereka semua berdiri dengan kedua kaki terpentang dan kedua lengan di belakang, tidak bergerak seolah-olah tiga puluhan orang itu telah berobah menjadi arca.

Pakaian mereka yang hitam membuat keadaan mereka itu lebih menyeramkan lagi.

Hanya karena sinar bulan yang terang saja mereka dapat nampak, karena di malam hari tanpa bulan, mereka tidak akan kelihatan sama sekali.

Pakaian mereka, sampai sepatu mereka, semua berwarna hitam.

Kemudian di sebelah dalam lingkaran luas yang dibuat oleh tiga puluh orang itu, nampak sebuah lingkaran lain, sebuah lingkaran yang garis tengahnya kurang lebih empat lima meter, dan lingkaran itu pun merupakan lingkaran segi delapan yang dibentuk oleh delapan orang yang duduk teratur seperti Pat-kwa (Segi Delapan).

Delapan orang ini berusia sekitar empat puluh sampai lima puluh tahun, rata-rata bertubuh tinggi besar dan nampak kuat, dengan sepasang mata yang berkilau tajam dan sikap mereka juga seperti arca, tanpa bergerak, duduk mereka bersila dan kedua lengan terletak di atas paha.

Di tengah-tengah lingkaran mereka itu terdapat sebuah bantal bundar ber-warna merah, dan tak jauh dari situ nampak tubuh tiga orang yang terbelenggu kaki tangannya.

Delapan orang itu adalah Hek-i Pat-mo, juga mereka semua mengenakan pakaian dan sepatu hitam, hanya lengan kanan mereka memakai sebuah gelang berwarna kemerahan.

Kepala mereka memakai penutup kepala kain hitam pula sehingga mereka nampak lebih menyeramkan daripada para anak buah yang tidak memakai penutup kepala, melainkan menggelung rambut mereka ke atas seperti kebiasaan pendeta tosu.

Tak lama kemudian, tiga puluh lebih anggauta Hek-i-mo yang berdiri dengan kedua kaki terpentang itu, tiba-tiba menggerakkan kaki mereka dan kini kedua kaki itu merapat dan mereka berdiri tegak, memandang ke arah belakang gedung dengan sikap seperti pasukan memberi hormat kepada komandan mereka.

Juga delapan orang Hek-i Pat-mo itu memandang ke arah pintu belakang gedung yang terbuka dari dalam dan dari pintu itu muncullah seorang laki-laki tinggi besar dengan langkah tenang.

Memang Ketua Hek-i-mo ini menyeramkan.

Muncul di terang bulan seperti itu, pakaiannya yang serba hitam itu membuat wajahnya makin nampak putih, demikian pula rambutnya seperti benang-benang perak saja, berkilauan tertimpa cahaya bulan.

Kepalanya tidak ditutupi, dan rambutnya yang panjang itu dibiarkan awut-awutan di atas kedua pundaknya.

Bertemu dengan orang ini di tempat gelap yang sunyi seakan cukup membuat yang bertemu itu lari ketakutan, mengira bertemu dengan iblis.

Setelah memasuki lingkaran itu, Hek-i Mo-ong lalu duduk bersila di atas bantal bundar merah yang telah tersedia di situ, dan delapan orang muridnya mengangkat kedua tangan ke depan hidung, dengan tangan dirangkapkan seperti orang menyembah.

Itulah penghormatan mereka sebagai murid kepada ketua mereka atau juga guru mereka.

Di bawah sinar bulan purnama, lingkaran itu cukup terang dan Hek-i Mo-ong memandang ke arah tiga tawanan yang terbelenggu kaki tangan mereka dan rebah miring itu.

Tiga orang tawanan itu adalah tiga orang yang berpakaian ringkas seperti biasa dipakai oleh para kang-ouw.

Seorang kakek berusia kurang lebih empat puluh tahun, seorang pemuda yang berusia antara dua puluh lima tahun dan seorang gadis berusia kurang lebih dua puluh tahun.

Mereka itu jelas tidak berdaya, sudah terbelenggu kaki tangan mereka, bahkan ada luka-luka berdarah di beberapa bagian tubuh mereka, namun sikap mereka masih gagah dan sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut, bahkan ketika Hek-i Mo-ong muncul, mereka memandang kepadanya dengan sinar mata penuh kebencian.

"Siapakah dia?"

Hek-i Mo-ong bertanya sambil menuding ke arah kakek itu.

Seorang di antara murid-muridnya, yang bersila berhadapan dengannya dan yang kumisnya amat lebat menutupi mulutnya.

"Namanya Cia Khun, adik dari Ciau-piauwsu dari kota Sin-ning."

Hek-i Mo-ong mengangguk-angguk.

"Balas dendam, ya? Cia-piauwsu tewas karena berani menentang Hek-i-mo, apa anehnya dengan itu? Tidak ada penasaran karena salahnya sendiri. Dan orang seperti kalian ini, dengan kepandaian rendah, berani mencoba untuk menentang kami? Sekarang kau sudah tertawan, mau bilang apa lagi?"

"Hanya hendak mengatakan bahwa engkau adalah seorang manusia iblis terkutuk!"

Kakek, yang bernama Cia Kun itu membentak. Hek-i Mo-ong tersenyum lebar.

"Dan pemuda itu?"

Tanyanya tak acuh.

"Putera dari mendiang Cia-piauwsu."

Jawab muridnya yang berkumis tebal.

"Gadis itu?"

"Puterinya."

"Keduanya belum menikah?"

"Belum."

"Sayang, sayang....! Nah, kalian bertiga orang-orang tiada guna ini, boleh pilih. Mati atau menebus nyawamu bertiga dengan seribu tail perak!"

"Iblis!"

Kakek itu memaki.

"Jangankan kami tidak punya uang sebanyak itu, andaikata punya sekali pun, tidak sudi kami memberikan kepada iblis macammu! Lebih baik kami mati!"

Hek-i Mo-ong tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, masih hendak berlagak gagah-gagahan? Orang she Cia, kalau sekarang aku membunuhmu, siapa yang dapat me-larang?"

"Bunuhlah! Siapa takut mampus?"

Kakek itu membentak dengan mata melotot, dan dua orang keponakannya hanya memandang dengan wajah agak pucat karena betapapun juga, ngeri hati mereka melihat Ketua Hek-i-mo ini.

Mereka bertiga dengan nekat datang untuk membalaskan kematian Cian-piauwsu, yaitu ketua perusahaan pengawalan yang tewas di tangan Hek-i-mo.

Mereka disambut oleh delapan orang murid kepala Hek-i-mo dan dalam perkelahian satu lawan satu, mereka bertiga kalah semua, luka-luka dan tertawan.

Baru ilmu kepandaian muridnya saja sudah sehebat itu, apalagi kepandaian gurunya ini.

Hek-i Mo-ong mengeluarkan suara ketawa sekali lagi, lalu memberi perintah kepada seorang di antara delapan muridnya untuk mengambilkan lilin-lilin dari dalam rumah.

Seorang murid yang duduk di arah belakang, menyanggupi lalu meloncat bangun dengan cepat, tahu-tahu sudah lenyap dari situ dan memasuki rumah dari pintu belakang.

Demikian cepat gerakan orang ini, apalagi karena pakaiannya hitam maka dia seolah-olah dapat menghilang saja, persis seperti lblis!

Tak lama kemudian dia sudah datang lagi, membawa sebungkus lilin.

Bungkusan dibuka dan keluarlah lilin yang cukup banyak.

Hek-i Mo-ong mengambil sebatang lilin, lalu membuat gerakan aneh dan....

lilin yang sebatang itu menyala!

Dia menaruh lilin di depannya, dan sungguh mengherankan, biarpun malam itu ada angin lembut bertiup, namun lilin yang bernyala itu sama sekali tidak terganggu.

Nyala api lilin itu tetap anteng dan tidak bergerak.

Sambil tersenyum-senyum aneh Raja Iblis Hitam itu lalu mengepal-ngepal lilin-lilin tadi dengan kedua tangannya yang besar.

Seperti terkena hawa panas, lilin-lilin itu menjadi lunak dan kakek raksasa ini lalu membentuk lilin-lilin putlh menjadi boneka-boneka, tiga buah boneka yang mirip dengan tiga orang tawanan itu.

Seorang kakek, seorang pemuda dan seorang gadis!

Tiga tawanan itu memandang dengan mata terbelalak, tidak tahu apa yang akan dilakukan manusia Iblis itu.

Membuat boneka?

Sudah gila agaknya orang itu, seperti anak kecil saja, membuat boneka di saat menyeramkan seperti itu.

Akan tetapi delapan orang muridnya hanya memandang penuh perhatian, seperti murid-murid yang sedang mempelajari sesuatu, sedangkan barisan anggauta Hek-i-mo yang kini sudah ikut duduk bersila, tetap dalam keadaan mengepung atau membuat lingkaran, memandang dengan takjub dan penuh hormat, sedikit pun tidak berbuat sesuatu atau mengeluarkan suara, bahkan hampir tidak berani bergerak.

Setelah selesai membuat boneka-boneka itu, Hek-i Mo-ong lalu mendirikan tiga buah boneka dari lilin putih itu di depannya sambil menyeringai girang.

Tiba-tiba dia menggerakkan tangan kirinya ke arah para tawanan.

Angin dahsyat menyambar dari tangannya, membuat rambut kepala tiga orang tawanan itu berkibar dan....

beberapa helai rambut mereka itu beterbangan ke arah kakek yang luar biasa ini.

Hek-i Mo-ong telah mengambil masing-masing tiga helai rambut dari kepala tiga orang tawanan secara luar biasa sekali!

Dan tiga helai rambut itu lalu dia pasangkan pada kepala boneka masing-masing.

Sungguh aneh sekali semua ini, dan tiga orang tawanan itu mulai merasa serem karena mereka sudah mendengar bahwa kepala gerombolan ini adalah seorang ahli ilmu hitam seperti iblis sendiri.

Setelah tersenyum-senyum melihat hasil karyanya, kakek itu lalu memandang lagi ke arah tiga orang tawanannya.

"Lepaskan belenggu mereka!"

Perintahnya.

"Tapi, Suhu, mereka itu sudah nekat, tentu akan mengamuk dan merepotkan!"

Kata Si Kumis Tebal.

"Ha-ha-ha, tidak. Mereka tidak akan mampu bergerak sebelum kuperintah!"

Jawab kakek ini, lalu dia menggunakan jari telunjuk untuk menotok kepada tiga buah boneka itu dan benar saja, ketiga orang tawanan itu dibebaskan dari belenggu, mereka tidak mampu menggerakkan kaki tangan, biarpun mereka tidak merasakan nyeri dan sebenarnya jalan darah mereka berjalan normal.

Mereka masih rebah dan hanya memandang kepada boneka-boneka di depan kakek yang menyeramkan itu.

"Ha-ha-ha, murid-muridku, kalian lihatlah baik-baik. Biarpun aku bukan seorang ahli pembuat boneka, akan tetapi kalian dapat melihat dengan jelas bahwa tiga buah boneka ini adalah mereka bertiga, bukan? Kekurang-sempurnaan pembuatan boneka ini disempurnakan dengan pemasangan rambut aseli mereka di kepala boneka masing-masing, inilah yang dinamakan ilmu Memindahkan Semangat Dalam Boneka. Kalian sudah kuajari caranya dan manteranya. Nah, dengarlah baik-baik, dan lihatiah."

Kakek itu lalu mengembangkan kedua tangannya dengan jari-jari tangan gemetar ke atas boneka-boneka itu, makin lama kedua tangannya gemetar makin hebat dan mulutnya mengucapkan mantera-mantera dalam bahasa Tibet kuno.

Delapan orang muridnya, Hek-i Pat-mo, memandang dengan penuh perhatian, dengan mata yang hampir tidak pernah berkedip.

Dan terjadilah keanehan yang menyeramkan.

Tiga buah boneka yang rebah telentang di depan kakek itu mulai bergerak-gerak!

Mula-mula hanya tiga helai rambut di kepala boneka-boneka itu yang bergerak-gerak seperti tertiup angin, dan agaknya gerakan rambut ini menjalar ke dalam boneka-boneka itu dan mulailah boneka-boneka itu bergerak-gerak seperti kemasukan roh.

Dan tiga orang tawanan tu, kini tidak terbelenggu lagi, ikut pula bergerak-gerak dan gerakan tubuh mereka persis dengan gerakan boneka-boneta itu, atau mungkin sebaliknya, yaitu bagaimanapun mereka bergerak, boneka-boneka itu ikut pula bergerak.

"Lihat baik-baik, muridku, lihat baik-baik. Selama ini, ilmu yang kalian pelajari hanya teorinya saja, dan kita sekarang memperoleh kesempatan untuk mempraktekkannya dengan tawanan-tawanan bandel ini. Nah, aku mulai dengan laki-laki yang tua itu."

Dia mengambil sebuah di antara boneka-boneka itu, memegangnya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya lalu mengeluarkan sebatang jarum.

Kembali dia mengucapkan mantera, dan tiba-tiba dia memasukkan jarum itu ke tengah-tengah telapak tangan boneka.Terdengar suara mengaduh dari kakek tawanan dan kakek itu menggunakan tangan kanan untuk memegangi tangan kirinya yang tiba-tiba saja sudah berdarah, seperti juga tangan boneka tertusuk jarum itu yang mengeluarkan sedikit darah.

Hek-i Mo-ong terkekeh senang sekali dan sepasang matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri ketika dia melihat darah, seperti seekor harimau kelaparan mencium bau darah.

Dia menancapkan jarum itu ke tengah-tengah telapak tangan kanan boneka dan kembali kakek itu mengeluh dan telapak tangan kanannya mengucurkan darah seperti baru saja ditusuk pedang yang amat runcing dan tajam.

Kedua tangannya kini telah terluka berdarah, akan tetapi biarpun begitu, dia masih memandang kepada Hek-i Mo-ong dengan sepasang mata terbelalak penuh kebencian.

Hek-i Mo-ong bukan tidak tahu akan kekerasan hati tawanannya, dan agaknya hal ini menambah keganasannya.

Dia menusukkan jarum itu bertubi-tubi ke semua bagian tubuh mereka.

Mula-mula ke arah kedua kakinya, kemudian lengannya, kedua pipinya, pundaknya.

Mula-mula ke bagian tubuh yang tidak mematikan dan seluruh tubuh kakek itu mengeluarkan darah?

Di bagian tubuh boneka yang tertusuk nampak bintik-bintik darah, akan tetapi di tubuh kakek itu darah mulai bercucuran membasahi seluruh pakaianya.

Akan tetapi kakek itu tidak mengeluh lagi, bahkan lalu mengatupkan bibirnya menahan semua rasa nyeri.

Sungguh merupakan pemandangan yang amat mengerikan melihat betapa kakek itu berkelojotan tanpa mengeluarkan suara, dan pandang matanya masih ditujukan kepada penyiksanya dengan penuh kebencian.

Ada keinginan hatinya untuk nekat dan menyerang kakek iblis itu, akan tetapi setiap kali dia hendak menggerakkan kaki tangannya, dia terguling lagi dan karena kini seluruh tubuhnya penuh luka-luka dan darahnya banyak yang terbuang, maka dia menjadi semakin lemas dan akhirnya hanya rebah dan menanti datangnya maut saja.

Hek-i Mo-ong agaknya sudah merasa bosan menyiksa lawannya, maka kini dia menusukkan jarumnya ke dada boneka sampai tembus.

Kakek tawanan mengeluarkan jerit tertahan satu kali, tubuhnya berkelojotan dan dari dada dan punggungnya mengucur darah, tidak banyak lagi dan tubuhnya pun terkulai lemas dan tak bernyawa lagi.

Sejak tadi, dua orang keponakannya hanya dapat menonton dengan mata terbelalak penuh kengerian dan jantung berdebar tegang.

Mereka berdua pun tidak mampu menggerakkan kaki tangan, seolah-olah ada tali yang tidak nampak masih membelenggu mereka.

Kini, melihat paman mereka itu sudah tidak bergerak lagi, mereka merasa sedih dan marah sekali, akan tetapi bercampur juga dengan perasaan lega karena paman mereka itu tidak akan menderita lagi.

Maka mereka lalu menujukan pandang mata mereka kepada Hek-i Mo-ong dengan penuh kebencian, sedikit pun mereka tidak merasa takut walaupun mereka berdua maklum bahwa nyawa mereka berada di tangan kakek iblis ini.

"Ha-ha-ha, kalian yang masih muda-muda, apakah tidak sayang akan hidup kalian? Sediakan seribu tail perak dan aku akan membebaskan kalian dari kematian."

Hek-i Mo-ong masih mencoba untuk membujuk dua orang muda itu.

Baginya, tentu saja uang sebanyak itu jauh lebih penting daripada nyawa dua orang yang tidak ada artinya itu.

Akan tetapi, dua orang muda itu sudah marah sekali.

Selain mereka tidak mempunyai uang sebanyak itu, juga mereka tidak sudi takluk terhadap kakek iblis itu.

"Hek-i Mo-ong iblis tua bangka, siapa takut akan ancamanmu?"

Pemuda itu berteriak marah dan berusaha untuk memperoleh kembali tenaganya agar dia dapat mengamuk dan menyerang kakek itu.

Akan tetapi usahanya sia-sia saja karena setiap kali kaki dan tangannya dapat bergerak, segera ada tenaga lain yang membuatnya lumpuh kembali.

"Bagus, kau mau main gagah-gagahan? Nah, rasakanlah ini!"

Kakek itu lalu menggunakan jarumnya yang telah menewaskan kakek tawanan tadi, untuk menusuk-nusuk kepala boneka pemuda itu, tusukannya tidak terlalu dalam akan tetapi cukup untuk mendatangkan rasa nyeri yang luar biasa pada pemuda itu.

Tiba-tiba saja pemuda itu dapat ber-gerak, mencengkeram dengan kedua tangannya kepada kepalanya, menjambak-jambak rambutnya karena dia merasakan kenyerian yang tak tertahankan lagi.

Dan dari balik rambut-rambut kepalanya itu mulai bercucuran darah yang menetes-netes di leher dan mukanya.

Mengerikan sekali.

Hek-i Mo-ong adalah seorang ahli totok, maka tusukan-tusukannya ditujukan kepada jalan-jalan darah dan kini pemuda itu menggunakan sepuluh jari tangannya mencakar sana-sini, seluruh tubuhnya yang terasa sakit-sakit.

dan gatal-gatal, bergulingan dan mengeluarkan suara seperti gerengan seekor binatang buas.

Seluruh tubuhnya kini mengeluarkan darah seperti halnya pamannya tadi, akan tetapi dia lebih tersiksa daripada pamannya.

Kemudian sambil tertawa bergelak Hek-i Mo-ong lalu memegang kedua kaki boneka yang sudah berbintik-bintik merah, dan menaruh boneka itu di atas api lilin yang bernyala di depannya.

Terdengar jeritan melengking yang amat mengerikan keluar dari mulut pemuda itu dan....

semua mata, terutama mata gadis itu, memandang terbelalak kepada tubuh pemuda itu.

Kini tubuh pemuda itu, terutama di bagian mukanya, mulai berkeriput, mengering seperti terkena api, dan makin lama jeritannya makin lemah dan tubuhnya mulai meleleh, seperti lilin dibakar, berbareng dengan melelehnya boneka lilin yang terkena api itu.

Bau sangit menusuk hidung.

Bukan hanya gadis itu yang terbelalak dengan muka pucat menyaksikan peristiwa ini, bahkan para anggauta Hek-i-mo juga memandang dengan mata terbelalak dan wajah pucat.

Mereka itu ketakutan, membayangkan betapa akan mengerikan kalau sampai mereka terhukum oleh ketua mereka seperti itu.

Hanya wajah Hek-I Pat-mo sajalah yang tidak berobah, bahkan sinar mata mereka berapi dan penuh kegembiraan dengan demonstrasi kekuatan ilmu hitam yang mengerikan itu.

Akhirnya Hek-i Mo-ong melemparkan sisa boneka pemuda yang telah terbakar itu, dan di situ nampak bekas tubuh pemuda itu yang telah menjadi seonggok daging terbakar yang mengeluarkan bau keras.

"He-he-he-he, bagaimana, Nona? Apa-kah engkau masih hendak berkeras kepala? Kalau engkau mau berusaha mengeluarkan uang tebusan itu, mungkin engkau akan dapat hidup!"

"Siluman keparat! Untuk apa aku hidup lagi setelah engkau membunuh Paman dan Kakakku sekejam itu? Kaukira aku takut melihat siksaan itu? Siksalah aku, bunuhlah, akan tetapi jangan harap aku akan tunduk kepadamu, Iblis berwajah manusia!"

Kakek itu tidak marah, hanya terkekeh.

"Murid-muridku, lihat baik-baik, boneka-boneka yang telah mengandung satu semangat dengan orang-orangnya itu bukan hanya dapat dipergunakan untuk mempengaruhi tubuh mereka, melainkan juga piklran mereka. Lihatlah, aku akan membikin percobaan dengan gadis ini."

Mendengar ini, gadis itu dengan mata terbelalak memandang ke arah boneka lilin yang memakai sehelai rambutnya itu, mukanya pucat dan jelas ada kengerian hebat di dalam pandang matanya, namun ia tetap tidak sudi untuk menaluk.

Kakek itu mengambil guci arak yang terletak di sampingnya, kemudian menempelkan guci ke bibirnya dan dituangkan sedikit arak ke dalam mulutnya.

Dia memejamkan mata sebentar, lalu disemburkan arak itu ke arah boneka yang dipegangnya, dan dengan sepasang mata yang tajam seperti mata setan itu dia menatap ke arah wajah boneka, mulutnya berkemak-kemik.

Dan nampaklah boneka itu mengeluarkan uap tipis!

Berbareng dengan itu, terdengar keluhan dari mulut gadis itu.

Hek-i Pat-mo memandang kepada gadis itu untuk menyaksikan akibat dari ilmu hitam guru mereka.

Gadis itu mengeluh perlahan, kedua matanya terpejam, kemudian ia mengerang dan kedua tangannyaa bergerak, mula-mula ke arah dadanya, lalu ke arah kepalanya dan tubuhnya mulai bergulingan, mulutnya terengah-engah dan sikapnya seperti orang kepanasan.

Makin lama, rintihannya makin sering dan keras, dan bangkitlah ia, matanya masih terpejam dan kini, seperti orang kegerahan yang berada di dalam kamar seorang diri, gadis itu mulai menanggalkan pakaiannya satu demi satu sampai tidak ada lagi yang menutupi tubuhnya.

la lalu bangkit berdiri, meliuk-liukkan tubuhnya seperti orang masih kegerahan, lalu membuka matanya.

Bukan lagi mata yang bersinar keras hati dan penuh kebencian dari gadis tadi, melainkan sepasang mata yang penuh gairah!

Dan, seperti tertarik oleh besi semberani, gadis yang bertelanjang bulat itu menghampiri Hek-i Mo-ong, lalu menjatuhkan diri berlutut dan dengan erangan-erangan dan belaian kedua tangan, mulailah ia membelai dan merayu Hek-i Mo-ong!

Gadis itu seolah-olah telah berubah menjadi gila, atau seorang yang kehausan karena nafsu berahi.

"Ha-ha-ha!"

Hek-i Mo-ong mendorongnya sampai terjengkang, kemudian kakek itu menggunakan tangan kiri mengambil beberapa ekor semut-semut merah yang berada di situ, memijit sedikit semut-semut itu dan ditempelkannya semut-semut yang kesakitan itu pada boneka lilin.

Semut-semut yang kesakitan itu tentu saja lalu menggigit tubuh boneka itu dan gadis itu menjerit-jerit lirih, tubuhnya terasa gatal-gatal dan sakit dan ia menggaruk sana-sini dan tentu saja tubuhnya yang telanjang bulat itu menggeliat-geliat, berkelojotan.

Melihat ini, kalau Hek-i Mo-ong hanya tersenyum saja dengan dingin, delapan muridnya sudah memandang dengan mata melotot dan mulut berliur, mereka mulai terserang gairah nafsu menggelora.

Melihat keadaan murid-muridnya ini, Hek-i Mo-ong malah tertawa.

"Heh-heh-heh, kalau kalian mau, bawalah ia. Akan tetapi sesudahnya, ia harus mati agar kelak tidak mendatangkan marabahaya bagi kita."

Seperti delapan ekor serigala dilepas dari kurungan, delapan orang murid kepala itu nampak gembira sekali.

Seorang di antara mereka, yang merupakan murid tertua atau pimpinan dari Hek-i Pat-mo, lalu meloncat dan menyambar tubuh telanjang gadis itu, dipanggulnya dan setelah menjura kepada Hek-i Mo-ong, dia lalu meloncat pergi diikuti oleh tujuh orang adik-adik seperguruannya.

Terdengar suara ketawa mereka, biarpun bayangan mereka sudah tidak nampak lagi dan pandang mata para anggauta Hek-i-mo mengikuti bayangan mereka tadi dengan pandang mata penuh iri!

Akan tetapi, ketua mereka lalu menyuruh mereka membersihkan tempat itu dan menyingkirkan dua mayat itu.

Kemudian, dengan langkah gontai seolah-olah sedang berjalan-jalan dan tidak pernah terjadi sesuatu, Hek-i Mo-ong meninggalkan tempat itu untuk kembali ke gedungnya.

Dia sudah menghukum tiga orang musuh yang berani melawannya, juga telah mendemonstrasikan kepandaian ilmu hitamnya, pertama untuk melatih dan memberi petunjuk kepada Hek-i Pat-mo, kedua untuk membuat para anggautanya semakin tunduk dan takut.

Dia tahu bahwa gadis itu tentu akan tewas karena tidak mungkin dapat bertahan hidup setelah dikuasai oleh delapan orang murid kepala yang telah dikuasai oleh nafsu berahi yang menggelora itu.

Dan dia tersenyum.

Sekali-kali perlu juga semangat delapan orang muridnya itu dibangkitkan agar gairah hidupnya makin besar dan kesetiannya kepadanya semakin menebal.

Demikianlah keadaan Hek-i-mo yang dipimpin oleh Hek-i Mo-ong Phang Kui.

Kakek ini bukan hanya lihai sekali ilmu sihirnya yang berdasarkan ilmu hitam, akan tetapi kabarnya juga amat lihai ilmu silatnya.

Bahkan Hek-i Pat-mo yang menjadi murid-murid kepala itupun hampir tidak pernah menemui tandingan.

Entah sudah berapa puluh atau ratus kali kaum pendekar atau mereka yang memiliki ilmu silat dan mencoba untuk menentang Hek-i-mo, harus mengalami kekalahan terhadap delapan orang murid kepala ini.

Sebagian besar di antara para pendekar yang berani menentang mereka, mengalami kematian menyedihkan, dan hanya sedikit yang dapat lolos dengan menderita luka yang cukup hebat.

Pada suatu malam bulan purnama yang sunyi.

Angkasa bersih sekali sehingga nampak bulan purnama sepenuhnya, besar bulat dan terang tidak dihalangi sedikit pun awan tipis sehingga bulan nampak anteng tidak pernah bergerak dengan latar belakang langit yang hitam pekat di mana nampak bintang-bintang yang sinarnya menjadi lemah dan layu oleh sinar bulan.

Tidak ada angin bersilir di padang rumput itu.

Hek-i Mo-ong duduk di atas setumpukan tengkorak manusia yang disusun menjadi tumpukan piramida yang menuding ke atas.

Hek-i Mo-ong duduk di puncak tumpukan itu, di atas tengkorak paling atas.

Sungguh mengherankan betapa dia dapat duduk bersila di atas sebuah tengkorak saja dan tumpukan itu tidak sampai runtuh didudukinya.

Untuk dapat meloncat dan duduk tak bergerak di atas tumpukan tengkorak seperti itu membutuhkan gin-kang atau ilmu meringankan tubuh yang amat tinggi.

Di sekeliling kakek ini, di atas tumpukan tengkorak-tengkorak lain, akan tetapi tumpukan ini jauh lebih kecil dan rendah, duduklah Hek-i Pat-mo, bersila seperti suhu mereka pula, dan mereka itu duduk mengelilingi suhu mereka dalam bentuk segi delapan.

Kiranya Hek-i Mo-ong Phang Kui sedang melatih diri bersama murid-muridnya, Untuk bersamadhi dan menerima dan mengumpulkan kekuatan yang terkandung dalam sinar bulan purnama untuk memperkuat kekuatan sihir mereka!

Kalau mereka sedang berlatih seperti ini, tidak ada seorang pun anggauta Hek-i-mo yang boleh mendekat.

Mereka itu hanya diwajibkan untuk menjaga di luar pekarangan itu.

Dan kalau mereka sedang berlatih seperti itu, suasananya menjadi amat menyeramkan, seolah-olah di sekitar daerah itu terasa adanya hawa yang penuh dengan kekuatan hitam yang mengerikan.

Tidak ada sehelai daun pun yang bergerak seolah-olah alam berhenti dan mati.

Yang menguasai alam di tempat itu adalah kesunyian yang tidak wajar.

Akan tetapi, kalau Hek-i Pat-mo bersila dengan tekun dan tenggelam dalam keheningan samadhi yang mereka buat, sebaliknya Hek-i Mo-ong mengerutkan alisnya.

Tingkat kepandaian delapan orang muridnya itu belum mencapai tingkat setinggi yang dimilikinya sehingga kalau dia dapat merasakan datangnya getaran yang tidak wajar, murid-muridnya itu tidak mengetahuinya.

Hek-i Mo-ong sudah sejak tadi sadar dari samadhinya dan dia memandang lurus ke depan, tidak bergerak-gerak karena dia sedang memperhatikan sekitar tempat itu, bukan dengan matanya melainkan dengan telinga dan perasaannya yang amat peka di saat itu.

Dia tahu bahwa ada dua orang datang mendekati tempat itu, dua orang yang dia tahu bukan orang sembarangan karena getarannya terasa amat kuatnya oleh kepekaannya.

Dia tahu bahwa dua orang yang dapat tiba di tempat itu, menembus penjagaan para anggauta Hek-i-mo tanpa diketahui sama sekali, tentulah orang-orang yang berilmu tinggi.

Akan tetapi, betapa heran hatinya ketika tiba-tiba muncul dua bayangan orang yang memang telah diduganya, karena tidak seperti yang disangkanya, dua orang yang muncul itu bukanlah orang-orang tua yang sepatutnya memiliki ilmu kepandaian tinggi, melainkan dua orang muda, yaitu seorang pemuda dan seorang gadis remaja!

Dia terkejut dan mengerahkan kekuatannya untuk menambah peka perasaannya, akan tetapi perasaannya itu tidak membohonginya.

Getaran yang amat hebat itu memang datang dari dua orang muda yang telah berada di tempat itu!

Hek-i Mo-ong masih diam saja.

Dia ingin melihat apa yang hendak dilakukan oleh dua orang muda itu.

Yang dia herankan adalah betapa delapan orang murid kepala yang masih bersamadhi itu sama sekali belum juga sadar.

Hal ini saja sudah menjadi tanda betapa lihainya dua orang muda ini, gerakannya sedemikian ringannya, jejak kaki mereka tidak mengeluarkan sedikit pun bunyi sehingga delapan orang muridnya yang amat lihai itupun tidak dapat mendengar atau mengetahui apa-apa.

Tanpa menoleh, hanya mengikuti mereka dengan pendengarannya, Hek-i Mo-ong diam saja dan terus memperhatikan.

Dua orang itu nampak saling pandang, lalu keduanya mengangguk dan tiba-tiba saja mereka berdua melakukan gerakan meloncat tinggi, melampaui delapan orang yang duduk mengelilingi guru mereka dalam bentuk segi delapan itu dan ketika mereka berdua turun, di depan Hek-i Mo-ong, hanya dalam jarak empat meter, kaki mereka sama sekali tidak mengeluarkan suara!

Dan bahkan setelah kedua orang itu berada di dalam lingkaran delapan orang Hek-i Pat-mo itu, tetap saja Hek-i Pat-mo belum juga sadar!

Melihat ini, diam-diam Hek-i Mo-ong menjadi marah kepada delapan muridnya.

Dia mengerahkan tenaga dan dengan tenaga batinnya dia membentak murid-muridnya itu yang tersentak kaget dan sadar dari samadhi mereka.

Tentu saja mereka terbelalak memandang kepada pemuda dan gadis yang telah berdiri di situ, di dalam lingkaran mereka.

Sungguh hal ini amat mengejutkan hati mereka.

Sejak kapan dua orang itu memasuki lingkaran mereka tanpa mereka ketahui?

Tentu guru mereka yang melakukan ini, pikir mereka.

Akan tetapi, tiba-tiba saja mereka itu mendengar bisikan suara guru mereka di dekat telinga masing-masing.

"Mereka adalah lawan-lawan lihai, hadapi mereka dengan kekuatan sihir untuk mencoba mereka!"

Barulah delapan orang itu terkejut bukan main.

Maka mereka segera mengerahkan kekuatan batin, mereka dan sekali mereka mengerahkan tenaga, tubuh mereka sudah melayang turun dan mereka sudah berdiri mengepung dua orang muda itu dengan kedudukan segi delapan.Akan tetapi mereka tidak turun tangan menyerang, melainkan bersedakap dan mulut mereka berkemak-kemik membaca mantera.

Pemuda dan gadis itu memandang mereka dengan penuh kewaspadaan.

Akan tetapi, alangkah kaget hati gadis remaja itu melihat betapa delapan orang yang mengepung itu, tiba-tiba saja mengeluarkan uap hitam dan tubuh mereka segera diselubungi uap hitam yang tentu saja membuat tubuh mereka hilang dan tidak nampak.

Di dalam malam bulan purnama ini, peristiwa itu amat menyeramkan, seolah-olah delapan orang itu sedang menghilang atau berubah menjadi asap hitam, seperti yang terjadi pada setan-setan di dalam dongeng kuno.

Dua orang muda itu adalah Kam Hong dan Ci Sian.

Seperti kita ketahui, mereka memang pergi ke barat mencari Hek-i-mo, musuh besar Ci Sian yang merasa sakit hati karena ibunya telah meninggal akibat penyerbuannya kepada Hek-i-mo dan terluka oleh gerombolan iblis itu.

Dan di sepanjang perjalanan, dengan amat tekunnya Ci Sian melatih diri dengan ilmu yang mereka dapatkan dari catatan pada mayat Pangeran Cu Keng Ong itu.

Selain Ci Sian memang berbakat, juga Kam Hong mengajar dan membimbingnya dengan penuh kesungguhan hati, sehingga Ci Sian yang memang telah memiliki dasar dan bakat yang amat baik itu mulai dapat menguasai ilmu silat dan ilmu meniup suling berdasarkan pelajaran rahasia itu.

Untuk keperluan ini, Kam Hong telah menyuruh buat sebuah suling yang bentuknya sama benar dengan suling emas di tangannya, juga suling ini terbuat daripada emas, dibuat oleh seorang tukang pandai emas yang berpengalaman.

Hanya bentuk suling itu lebih kecil, untuk disesuaikan dengan tenaga Ci Sian karena suling emas itu amat berat, lebih berat daripada pedang pusaka.

Ketika malam itu mereka mendatangi sarang Hek-i-mo, kebetulan sekali mereka melihat kakek iblis itu bersama delapan orang murid kepala sedang berlatih ilmu hitam, maka dengan hati-hati sekali Kam Hong mengajak Ci Sian untuk menemui kakek itu.

Kini, melihat Ci Sian agak gentar menghadapi ilmu hitam dari delapan orang Hek-i Pat-mo, Kam Hong segera mengerahkan khikangnya dan tanpa mengeluarkan suara, dia telah mengirim suaranya kepada Ci Sian.

"Sumoi, jangan takut. itu hanya ilmu hitam, hadapi dengan tiupan sulingmu."

Mendengar bisikan suara suhengnya ini, ketabahan hati Ci Sian timbul kembali.

Ia lalu mencabut suling emas dari ikat pinggangnya, dengan tenang ia menempelkan bibirnya yang merah tipis itu ke lubang suling, jari-jari kedua tangannya siap di lubang-lubang suling dan begitu ia meniup, terdengar suara lembut.

Suara ini bukan seperti suara suling, melainkan seperti suara desir angin semilir yang menggerakkan daun-daun pohon dan menghidupkan suasana yang mati dan menyeramkan.

Akan tetapi, suara lembut seperti desir angin ini mengandung kekuatan yang amat dahsyat, yang mengejutkan hati Pat-mo (Delapan Iblis) itu dan membuyarkan kekuatan slhir mereka sehingga uap hitam yang menyelubungi tubuh mereka pun perlahan-lahan lenyap seperti asap yang tertiup angin!

Nampaklah kembali tubuh mereka yang masih berdiri dan bersedakap itu.

Mereka merasa marah sekali, akan tetapi juga penasaran.

Bagaimana seorang dara remaja dengan suara sulingnya mampu memecahkan pengaruh kekuatan sihir mereka?

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 9

Baca Juga: Bu Kek Siansu 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert