Eps 9 Suling Emas Dan Naga Siluman - Kho Ping Hoo
Baca online Suling Emas Dan Naga Siluman - Kho Ping Hoo
Cersil Suling Emas Dan Naga Siluman - Kho Ping Hoo.
Akan tetapi para tamu nampak tenang saja dan sampai jauh malam masih terdengar mereka bersendau-gurau di pondok-pondok penginapan mereka.
Memang tidak ada di antara mereka yang tahu akan apa yang terjadi di taman tadi, karena Ouw Yan Hui memberi peringatan keras kepada semua penjaga agar tidak mengabarkan hal itu keluar sehingga tidak akan menimbulkan panik di antara para tamu yang banyak itu.
Ketegangan itu terasa oleh Ouw Yan Hui, Syanti Dewi, Souw Kee An dan para penjaga dan pengawal, dan mereka melakukan penjagaan yang ketat malam itu.
Bahkan Syanti Dewi sendiri yang mengkhawatirkan keselamatan Pangeran, apalagi setelah dia mendengar bahwa selama dalam perjalanannya ke pulau itu Sang Pangeran telah mengalami beberapa kali serangan, bahkan telah pernah diculik, dia pun menjadi tegang dan dia sendiri ikut melakukan perondaan!
Pangeran Kian Liong memang seorang pemuda yang luar biasa sekali.
Semenjak kecil dia sudah mempunyai kepribadian yang menonjol, maka tidaklah mengherankan kalau kelak dia dikenal dalam sejarah sebagai seorang kaisar yang cakap dan pandai serta bijaksana.
Dalam usia dua puluh tahun itu saja dia telah memiliki kepribadian luar biasa, ketabahannya mengagumkan hati para pendekar dan ketenangannya menghadapi segala membuat dia selalu waspada dan dapat mengambil keputusan yang tepat karena tidak pernah dilanda kegugupan.
Malam itu, hanya Sang Pangeranlah, orang yang justeru menjadi sasaran penyerangan gelap itu, yang tenang-tenang saja.
Dia membaca kitab yang dipinjamnya dari Syanti Dewi, yaitu kitab tentang keagamaan Lama di Tibet.
Tidak sembarangan orang dapat membaca kitab ini karena mempergunakan bahasa kuno, campuran antara bahasa daerah dan bahasa Sansekerta.
Akan tetapi, Pangeran itu mampu membacanya!
Satu-satunya orang yang dapat membaca kitab itu di Kim-coa-to hanya Syanti Dewi, dan hal ini tidak aneh karena sejak kecil di istana ayahnya, Syanti Dewi mendapatkan pendidikan membaca kitab-kitab kuno dan dia pun paham sekali bahasa itu.
Baru setelah jauh malam, menjelang tengah malam, Sang Pangeran merasa lelah dan mengantuk.
Diletakkannya kitab itu di atas meja dan dia pun merebah-kan diri di atas pembaringan yang berkasur lunak tebal dan berbau harum itu.
Belum lama Sang Pangeran rebah dan baru saja dia mau tidur, tiba-tiba dia melihat bayangan berkelebat.
Sang Pangeran membuka kedua matanya dan ternyata di dalam kamar itu telah berdiri seorang laki-laki!
Sang Pangeran terkejut, akan tetapi dia tetap tenang dan tidak kehilangan kewaspadaannya.
Begitu memperhatikan, hatinya lega kembali karena dia mengenal pria itu yang bukan lain adalah jembel muda yang pernah menolongnya ketika dia diserbu penjahat di dalam hutan!
Makin yakinlah hatinya bahwa orang yang tadi dikeroyok di dalam taman tentu jembel itu pula, dan dia pun dapat menduga bahwa tentu jembel ini pula yang menyambit jatuh cawan araknya yang terisi minuman anggur mengandung obat beracun!
Dan tentu jembel ini melawan enam atau lima orang yang mengeroyok itu dalam usahanya menyelamatkan dia pula!
Maka dengan tenang dia pun bangkit duduk.
Betapapun juga, Sang Pangeran merasa kagum dan juga terheran-heran bagaimana orang ini dapat memasuki kamarnya begitu saja, seperti setan.
Bukankah kamarnya dijaga ketat, bahkan Souw-ciangkun sendiri berjaga di depan pintu kamar!
Orang ini benar-benar memiliki ilmu kepandaian seperti setan, pikirnya.Memang benar, orang yang berpakaian tambal-tambalan dan mukanya penuh kumis, jenggot dan cambang lebat itu bukan lain adalah Si Jari Maut Wan Tek Hoat!
Seperti kita ketahui, pendekar yang rusak hatinya karena asmara ini melakukan perjalanan siang malam menuju ke Kim-coa-to dan di tengah hutan itu, ketika melihat Sang Pangeran terancam bahaya, dia cepat memberi pertolongan.
Akan tetapi dia enggan untuk memperkenalkan diri, maka begitu dia berhasil menyelamatkan Pangeran itu, Dia pun pergi berlayar ke Pulau Kim-coa-to menggunakan sebuah perahu nelayan yang ditumpanginya.
Dapat dibayangkan betapa tegang rasa hatinya ketika dia tiba di pulau ini.
Di pulau inilah kekasihnya berada!
Dengan cara bersembunyi dia memasuki pulau itu dan pada saat itu dia melihat Syanti Dewi ketika puteri ini menyambut Sang Pangeran dan para tamu lainnya, hampir saja Tek Hoat jatuh pingsan!
Syanti Dewi tidak berobah sama sekali!
Masih seperti dulu saja, bahkan makin cantik!
Dia telah bersembunyi sehari semalam di batu-batu karang yang terpencil di ujung pulau dan baru sekarang dia berani mendekat, yaitu setelah para tamu mulai berdatangan.
Dia melihat betapa Sang Pangeran disambut dengan manis oleh Syanti Dewi dan dia melihat pula betapa pantas Syanti Dewi berdamping dengan Pangeran itu.
Kedua matanya menjadi basah.
Memang, sepatutnyalah kalau Syanti Dewi berdampingan dengan seorang pangeran mahkota, menjadi calon permaisuri!
Sudah pantas sekali.
Dia menunduk dan melihat pakaiannya, dan Tek Hoat menarik napas.
Dia tidak merasa cemburu, tidak merasa iri, bahkan merasa heran mengapa seorang wanita seperti Syanti Dewi pernah mencinta seorang laki-laki macam dia!
Melihat wajah yang cantik itu berseri dan tersenyum-senyum ramah dengan sepasang mata yang bersinar-sinar ketika menyambut Sang Pangeran, diam-diam Tek Hoat merasa ikut bergembira dan bersyukur.
Biarlah dia berbahagia, pikirnya.
Dia telah mendengar bahwa pesta ulang tahun Syanti Dewi akan diikuti dengan pemilihan calon jodoh.
Dan kini melihat sikap Syanti Dewi terhadap Sang Pangeran, dia merasa lega dan bersyukur.
Dia mau melihat kenyataan dan dia mau menerimanya kalau bekas tunangannya itu menjadi calon isteri pangeran mahkota yang telah banyak didengarnya sebagai seorang pangeran yang amat bijaksana itu.
Dan karena agaknya di situ akan terjadi banyak saingan bagi Pangeran, dia akan menjaga agar Sang Pangeran dapat menang.
Kemudian dia mendengar bahwa setelah terlepas dari bahaya dalam hutan berkat pertolongannya, kembali pangeran diserbu, bahkan diculik para penjahat.
Hal ini didengarnya dari percakapan di antara para tamu yang dapat ditangkapnya di tempat persembunyiannya.
Kalau demikian, keadaan Sang Pangeran itu belum tentu aman.
Di tempat ini pun perlu dijaga keselamatannya.
Apalagi kini Sang Pangeran itu berobah keadaannya dalam pandang mata Tek Hoat.
Sebagai calon suami Syanti Dewi, dia harus selalu melindungi Sang Pangeran dari ancaman bahaya!
Inilah sebabnya mengapa Tek Hoat dapat mencegah ketika Pangeran berada di dalam taman bersama Syanti Dewi kemudian terjadi penyerbuan itu.
Dia hanya merasa terkejut sekali ketika mendapat kenyataan betapa orang-orang yang mengeroyoknya itu rata-rata memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat!
Dia maklum bahwa belum tentu dia akan dapat lolos dari maut dalam pengeroyokan itu kalau saja para pengeroyok itu tidak cepat meninggalkan dia karena khawatir penyerbuan pengawal setelah melihat Pangeran dapat lolos dari pondok di taman.
Diam-diam dia lalu membayangi mereka dan ternyata orang-orang itu menyelinap ke dalam pondok-pondok para tamu.
Jelaslah bahwa para penyerang itu adalah orang-orang yang datang menyelinap di antara para tamu, sehingga sukar untuk diketahui siapa mereka, apalagi mereka semua mempergunakan kedok.
Hati Tek Hoat merasa tidak enak sekali.
Jelas bahwa ada orang ingin mencelakai pangeran, entah dengan cara bagaimana.
Mungkin tidak ingin membunuh Pangeran, karena kalau hal itu dikehendaki mereka, agaknya sukarlah menyelamatkan nyawa Pangeran.
Bukankah Pangeran itu pernah diculik dan tidak dibunuh?
Entah apa permainan mereka, akan tetapi yang jelas, Pangeran terancam keselamatannya dan dia harus melindungi Pangeran itu.
Semata-mata demi Syanti Dewi!
Tek Hoat melihat betapa penjagaan keamanan Pangeran diperketat.
Akan tetapi apa artinya para penjaga dan pengawal itu menghadapi orang-orang yang dia tahu memiliki ilmu kepandaian amat lihai itu?
Cara satu-satunya yang terbaik baginya, adalah melindungi Pangeran itu secara langsung!
Maka dia pun bersembunyi di wuwungan karena dia tahu bahwa penjahat-penjahat lihai itu kalau benar malam ini datang menyerang, tentu mengambil jalan dari atas wuwungan.
Dugaannya ternyata tepat.
Menjelang tengah malam, dia melihat berkelebatan bayangan di wuwungan depan.
Cepat sekali gerakan itu dan dalam sekejap mata saja sudah lenyap lagi ditelan kegelapan malam.
Tek Hoat merasa tegang dan khawatir.
Bagaimana sebaiknya untuk melindungi Pangeran, pikirnya.
Lalu dia mengambil keputusan, dengan gerakan ringan dan cepat, dia membuka genteng dan tanpa mengeluarkan suara, dia memasuki kamar Pangeran itu.
Dia tadinya mengira bahwa Pangeran telah pulas, maka terkejutlah dia melihat Pangeran itu bangkit duduk.
Tek Hoat menaruh telunjuk di depan bibir dan dia pun menghampiri Pangeran yang sudah menyingkap kelambu.
"Sssttt...., Pangeran, harap cepat meninggalkan kamar ini, ada orang jahat hendak datang.... biar hamba yang menyamar menggantikan Pangeran...."
Bisik Tek Hoat.
Pangeran Kian Long yang bijaksana dan cerdik itu segera dapat mengerti keadaan, dan dia berbisik kembali sambil turun dari atas pembaringan.
"Baik, cepat kau gantikan aku dan aku...."
Dia lalu cepat menyusup ke bawah kolong pembaringan itu! "Ah, kenapa Paduka....?"
"Ssssttt...., aku mau nonton!"
Bisik Pangeran itu yang sudah bersembunyi di kolong pembaringan!
Tek Hoat membelalakkan mata, lalu mengangkat pundak dan menggeleng kepala.
Pangeran ini memang luar biasa, pikirnya.
Menghadapi ancaman maut bukannya cepat menyingkirkan diri, malah ingin menjadi penonton, dan bersembunyi di kolong pembaringan!
Bukan main!
Akan tetapi tidak ada waktu lagi baginya untuk berbantahan, maka cepat dia pun sudah memasuki pembaringan di bawah kelambu, dan menyusup di bawah selimut bulu yang hangat itu.
Dengan jantung berdebar dia menanti.
Juga Sang Pangeran yang bersembunyi di kolong pembaringan itu menanti dengan jantung berdebar penuh ketegangan, juga kegembiraan karena Pangeran itu biarpun bukan seorang ahli silat tinggi namun satu di antara kegemarannya adalah menyaksikan orang-orang kalangan atas mengadu ilmu silat dan dia tahu bahwa tentu akan terjadi pertarungan yang seru di dalam kamar itu kalau ada penjahat berani masuk!
Tiba-tiba terdengar angin menyambar dan bagaikan daun kering yang besar, dari atas melayang turun tubuh seorang yang langsing kecil.
Orang ini pun memakai kedok, bahkan kedoknya menyelubungi seluruh kepala, hanya nampak dua lubang dari mana ada sepasang mata mencorong dan memandang ke sekeliling!
Kedua kaki orang itu yang kecil, sama sekali tidak mengeluarkan suara ketika tubuhnya melayang ke dalam kamar.
Dari balik kelambu, Tek Hoat yang memejamkan mata itu memandang dari balik bulu matanya, dan dia terkejut karena menduga bahwa tentu orang yang datang ini seorang wanita!
Akan tetapi dia pun maklum bahwa wanita ini memiliki kepandaian yang tinggi, maka dia, sudah siap siaga.
Sedangkan Sang Pangeran yang berada di kolong pembaringan, hanya melihat kaki sampai ke paha yang tertutup celana hitam, kaki yang kecil.
Dari tempat dia sembunyi, Pangeran itu dengan hati geli membayangkan apa akan jadinya kalau dia mengulur tangan menangkap kaki itu dan menariknya!
Tentu orang itu akan terkejut sekali, dia membayangkan.
Tiba-tiba orang berkedok itu menggerakkan tubuhnya, melesat ke arah pembaringan dan tangan kanannya bergerak menghantam ke arah kedua kaki Tek Hoat.
Terdengar suara mencicit ketika jari-jari tangan yang lentik kecil itu menyambar.
Tek Hoat terkejut bukan main.
Itulah pukulan yang amat berbahaya!
Maka dia pun cepat meloncat dan menarik kakinya, kemudian menendangkan kaki kirinya ke arah pusar lawan sedangkan tangannya dengan gerakan cepat sekali, dengan jari-jari terbuka, menusuk ke arah leher lawan.
itulah pukulan, jari telanjang yang membuat nama Si Jari Maut terkenal di seluruh dunia kang-ouw.
"Wuuuttt.... cettt....!"
Tek Hoat meloncat ke samping, tusukannya kena ditangkis dan ketika dia meloncat tadi, pukulan Si Wanita Berkedok mengenai kasur dan kasur itu pun robek tanpa tersentuh jari-jarinya!
itulah pukulan Kiam-ci atau Jari Pedang, ilmu pukulan yang amat dahsyat mengerikan dari Ji-ok, orang ke dua dari Im-kan Ngo-ok!
Telunjuk tangannya seperti mengeluarkan kilat kalau dia menggunakan pukulan ini dan dari telunjuk itu menyambar hawa yang luar biasa lihainya, yang berhawa dingin dan dapat membunuh lawan seketika!
Akan tetapi, bukan Tek Hoat saja yang terkejut, bahkan Ji-ok juga kaget setengah mati!
Dia tadinya mengira bahwa tugasnya akan dapat dilaksanakan dengan mudah, yaitu merusak kaki Sang Pangeran!
Setelah semua daya upaya Im-kan Ngo-ok gagal, maka kini Ji-ok yang menerima tugas langsung dari Toa-ok yang memimpin gerakan atas perintah Sam-thai-houw itu untuk memasuki kamar Pangeran dan merusak kedua kaki Pangeran.
Ji-ok mengira bahwa dengan sekali gerakan Kiam-ci saja tentu dia akan mampu membuat kedua kaki Pangeran itu lumpuh untuk selamanya.
Apa artinya Pangeran Mahkota yang lumpuh kedua kakinya?
Tak mungkin bisa diangkat menjadi kaisar!
Itulah rencana keji mereka.
Maka ketika tiba-tiba "Pangeran"
Itu mampu mengelak, meloncat bahkan melakukan serangan sehebat itu, tentu saja Ji-ok terkejut.
Lebih lagi melihat betapa serangan tusukan jari tangan orang itu ternyata ampuh bukan main, terbukti dari anginnya yang menyambar dahsyat.
Tahulah dia bahwa dia terjebak dan hal ini dibuktikan ketika dia melihat bahwa yang menyerangnya itu sama sekali bukan Pangeran Mahkota, melainkan seorang pria berpakaian jembel!
"Huh!"
Ji-ok dalam kecewa dan penasarannya menerjang Tek Hoat, dan sebaliknya Tek Hoat yang juga marah sekali melihat kekejaman wanita ini, sudah menyerangnya dengan menggunakan pukulan-pukulan jari terbuka yang sama ampuhnya.
Pertempuran sengit terjadi di dalam kamar itu, ditonton oleh Sang Pangeran yang menjadi gembira sekali sampai berseri-seri wajahnya.
Tek Hoat menjadi semakin heran dan kaget karena dia memperoleh kenyataan bahwa lawannya benar-benar hebat!
Betapa pun dia berusaha menangkap atau merobohkannya, namun usaha ini sama sekali tak berhasil, bahkan dia sendiri terdesak oleh serangan-serangan telunjuk tangan yang amat berbahaya itu.
Akan tetapi, keributan itu memancing perhatian para penjaga.
Pintu kamar digedor oleh Souw Kee An sampai terbuka, akan tetapi ketika komandan ini dan para pengawal menyerbu, dua orang yang sedang bertanding itu meloncat ke atas dan lenyap!
Souw Kee An menjadi bingung karena tidak melihat Pangeran di atas pembaringan.
"Kejar mereka! Cari Sang Pangeran!"
Teriak Souw Ke An dengan wajah pucat karena dia mengira bahwa Pangeran telah terculik lagi.
Tiba-tiba sebuah kepala nongol dari bawah tempat tidur dan Souw Kee An sampai meloncat ke belakang saking kagetnya, akan tetapi dia pun membelalakkan kedua matanya dan berseru girang ketika mengenal kepala itu.
"Paduka Pangeran...."
Pangeran Kian Liong merangkak keluar dari kolong tempat tidur sambil tersenyum.
"Tenanglah, Souw-ciangkun, aku tidak apa-apa."
Ouw Yan Hui dan Syanti Dewi juga berkelebat masuk dan ternyata dua orang wanita itu membawa sebatang pedang, wajah mereka agak pucat dan memegang tangan Sang Pangeran.
"Paduka selamat, Pangeran? Aihh, terima kasih kepada Thian bahwa Paduka selamat. Tadi saya melihat dua bayangan berkelebat demikian cepatnya di atas wuwungan sehingga ketika saya dan Enci Hui mengejar, dua bayangan itu telah lenyap. Apa yang telah terjadi dalam kamar ini, Pangeran?"
Pangeran itu berkata kepada Souw Kee An.
"Souw-ciangkun, suruh anak buahmu keluar semua dan berjaga dengan tenang saja, jangan membikin ribut."
Kemudian setelah Souw Kee An memberi perintah dan mengatur semua anak buahnya dan kembali ke dalam kamar itu, Sang Pangeran bercerita kepada Souw Ke An, Ouw Yan Hui, Syanti Dewi.
"Kalau tidak ada penolong lama itu, entah apa jadinya dengan diriku. Pengemis sakti itu muncul tiba-tiba dan mengatakan bahwa ada penjahat hendak menyerang, maka dia menggantikan aku di tempat tidur, dan minta agar aku menyingkir dari kamar. Akan tetapi aku lebih suka nonton, dan aku bersembunyi di kolong tempat tidur. Kemudian muncul seorang wanita berkedok, lihai bukan main dia, menyerang ke arah pembaringan dan terjadilah perkelahian yang hebat dalam kamar. Tapi para pengawal datang dan mereka lalu pergi. Ouw Yan Hui mengepal tinju tangannya. Kurang ajar sekali, ada penjahat berani menyerang pangeran di tempat ini, sedikit pun tidak memandang kepada penghuni Pulau Kim-coa-to.
"Kalau hamba dapat menemukan penjahat itu, Pangeran, tentu akan hamba jadikan dia makanan ular-ular Kim-coa!"
"Pangeran, sebaiknya kalau Enci Hui dan saya malam ini menjaga di sini, agar Paduka benar-benar terlindung."
Kata Syanti Dewi.
"Ahh, apa akan kata orang nanti, Enci Syanti? Tidak, tidak baik kalau kalian menjaga dalam kamar ini."
"Biarkan hamba saja yang menjaga dalam kamar Pangeran."
Kata Souw Kee An.
Akhirnya usul ini diterima dan dua orang wanita itu kembali ke kamar masing-masing, akan tetapi jelas bahwa malam itu mereka tidak mampu tidur, selalu siap untuk meloncat keluar apabila terdengar suara mencurigakan.
Souw Kee An duduk di atas kursi dalam kamar Pangeran yang sebentar saja sudah tidur pulas seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu dan tidak ada apa-apa yang mengancam keselamatannya.
Akan tetapi para pengawal ini kini menjaga ketat, bukan hanya di sekeliling kamar itu, bahkan di atas wuwungan atap kini penuh dengan penjaga.
Jangankan manusia.
Biar seekor tikus pun agaknya tidak akan mampu masuk kamar itu tanpa diketahui pengawal!
Menurut hasil penyelidikan para mata-mata yang disebar oleh Ouw Yan Hui, wanita ini mendapat kepastian bahwa yang patut dijadikan calon jodoh Syanti Dewi hanya ada lima orang saja di antara begitu banyak tamu, yaitu yang menurut syarat-syarat yang ditentukannya, di samping keistimewaan masing-masing.
Orang pertama, menurut penyelidikan para mata-mata itu, tentu saja adalah Pangeran Kian Liong!
Oran ke dua bernama Thio Seng Ki, seorang muda hartawan besar dari Cin-an di Propinsi Shan-tung.
Orang ke tiga bernama Yu Cian, seorang pemuda sastrawan terkenal dari Pao-teng yang pernah menggondol juara pertama ketika diadakan ujian siucai tahun lalu di kota raja, juara yang diraihnya karena kepintarannya dalam hal kesusastraan, sama sekali tidak mempergunakan harta untuk menyogok para pembesar yang berwenang dalam ujian negara itu.
Orang ke empat bernama Lie Siang Sun, usianya lebih tua daripada para calon lainnya, karena dia sudah berusia tiga puluh tahun lebih, terkenal sebagai seorang pendekar muda yang gagah perkasa di selatan dan selain terkenal alim dan belum menikah, juga di kalangan kang-ouw dia dikenal dengan julukan Pendekar Budiman, karena sepak terjangnya yang berbudi.
Kemudian calon ke lima adalah seorang seniman terkemuka pula, seorang ahli lukis dan ahli musik yang pernah mengadakan pertunjukan di istana Kaisar.
Kelima orang calon yang terpilih ini rata-rata memiliki wajah yang tampan, bahkan kalau dibuat perbandingan, yang empat orang itu lebih tampan dan gagah daripada Pangeran Kian Liong!
Maka diam-diam Ouw Yan Hui lalu memberitahukan kepada Syanti Dewi tentang pilihan itu, dan minta kepada Syanti Dewi untuk menentukan pilihannya.
"Adikku, kalau Sang Pangeran tidak mungkin dimasukkan sebagai calon, maka pilihan kita hanya ada empat orang yang patut menjadi calon jodohmu. Aku sudah melihat sendiri mereka itu dan di antara tamu, dan memang hasil penyelidikan orang-orang kita itu cukup tepat. Mereka adalah pria-pria pilihan, Adikku."
Syanti Dewi tersenyum pahit.
"Tentu saja Pangeran Kian Liong boleh juga disebut calon, mengapa tidak?"
Jawaban ini tentu saja berani dikemukakan setelah dia bercakap-cakap dengan Sang Pangeran malam tadi di taman, sebelum terjadi penyerbuan.
Biarpun dia belum melihat empat orang yang dicalonkan itu, namun hatinya sudah merasa yakin bahwa tidak mungkin dia dapat memilih seorang di antara mereka, maka dia sudah mengambil keputusan untuk "memilih"
Pangeran Kian Liong saja, agar dia dapat keluar dari pulau ini tanpa menyakitkan hati Ouw Yan Hui.
Mendengar ini, Ouw Yan Hui memandang dengan wajah berseri.
"Yakin benarkah engkau bahwa beliau boleh dimasukkan sebagai calon?"
"Mengapa tidak, Enci? Dia juga seorang pria dan dia suka kepadaku bukan?"
Tentu saja hati Bu-eng-kwi Ouw Yan Hui girang sekali.
Memang itulah yang diharapkan.
Kalau saja Syanti Dewi dapat menjadi isteri Pangeran Mahkota, menjadi calon permaisuri!
Pada keesokan harinya, setelah matahari mulai menyinarkan cahayanya menembus celah-celah daun di pohon-pohon, para tamu dipersilakan datang ke ruangan luas di depan, di mana telah dipersiapkan ruangan pesta dan diatur meja-meja yang dikelilingi bangku-bangku untuk tempat makan minum.
Berbondong-bondong para tamu mendatangi ruangan itu dan suasana meriah sekali karena selain tempat itu dihias dengan kertas-kertas berwarna dan bunga-bunga, juga diramaikan dengan musik yang dimainkan oleh wanita-wanita muda.
Setelah semua tamu duduk, jumlah mereka tidak kurang dari seratus lima puluh orang dari bermacam golongan, Segera dihidangkan teh wangi berikut kwaci dan beberapa macam kuih kering.
Kemudian, seorang wanita muda cantik yang memiliki suara bening dan terang juga lantang, yang bertugas sebagai pengatur acara, memberitahukan bahwa sebelum pesta dilanjutkan dengan hidangan, akan dilakukan pembukaan barang-barang hadiah di depan para tamu.
Suasana menjadi gembira ketika beberapa orang wanita pembantu mulai membuka barang-barang hadiah yang bertumpuk di atas meja besar itu.
Setiap bungkusan yang dibuka, diteriakkan nama penyumbangnya oleh seorang wanita dan benda sumbangan itu diangkat ke atas dengan kedua tangan oleh seorang wanita lain yang berdiri di tempat tinggi sehingga dapat kelihatan oleh semua tamu benda yang disebutkan nama penyumbangnya itu.
Para tamu kadang-kadang mengeluarkan seruan kagum apabila ada bungkusan yang terisi barang sumbangan yang amat indah dan yang luar biasa mahalnya, merupakan benda yang sukar ditemukan.
Agaknya para penyumbang itu hendak berlumba untuk memikat hati sang juita melalui barang-barang sumbangan itu.
Akan tetapi bungkusan terakhir dari barang-barang hadiah itu membuat semua tamu menahan napas dan memang hal ini disengaja oleh Ouw Yan Hui, yaitu membuka benda hadiah sumbangan dari pemuda hartawan Thio Seng Ki yang ternyata merupakan seuntai kalung bermata berlian sebesar biji-biji lengkeng, berlian yang berkeredepan mengeluarkan cahaya berkilauan dan ruangan itu seolah-olah memperoleh tambahan sinar yang terang.
Setelah menahan napas, kini terdengar seruan-seruan kagum dan jelas bahwa seruan-seruan ini melebihi kekaguman mereka terhadap benda-benda berharga yang telah diperlihatkan tadi.
"Sumbangan ini datang dari Tuan Muda Thio Seng Ki dari kota Cin-an!"
Demikian terdengar suara wanita yang membuat laporan.
Terdengar tepuk tangan dan suara ini disusul oleh tepuk tangan para tamu-tamu lain tanda bahwa mereka semua mengenal barang indah dan mahal.
Tanpa dinyatakan sekalipun semua tamu dapat merasakan bahwa dalam hal hebatnya sumbangan, orang muda she Thio itu jelas menduduki tingkat paling atas dan hal ini saja sudah menguntungkan dia dalam penilaian Puteri Syanti Dewi.
Semua mata kini melirik ke arah puteri itu dan memang sejak mereka semua berkumpul di tempat itu, Syanti Dewi merupakan sesuatu yang memiliki daya tarik seperti besi semberani, membuat para tamu sukar untuk tidak melirik ke arahnya.
Syanti Dewi mengenakan pakaian Puteri Bhutan, dengan sutera hijau tipis membalut tubuhnya dari kepala, ke leher terus ke bawah, seolah-olah hanya dibelitkan saja akan tetapi dengan cara yang demikian luwes dan menarik.
Di balik sutera hijau yang tipis menerawang ini nampaklah lapisan pakaian dalam, dari pinggang ke bawah berwarna merah muda dan dari pinggang ke atas berwarna kuning.
Ikat pinggangnya berwarna biru, sepatunya berwarna coklat.
Rambutnya yang hitam itu nampak membayang di balik kerudung sutera hijau itu, dan nampak hiasan rambut dari emas bertaburan intan dan mutu manikam.
Betapa pun indahnya semua pakaian dan perhiasan yang menempel di tubuh puteri ini, semua itu nampaknya menyuram apabila dibandingkan dengan wajah itu sendiri.
Tanpa wajah yang gemilang dan berseri, cantik jelita dan mengandung kemanisan yang kadang-kadang menyejukan hati kadang-kadang menggairahkan berahi itu, kiranya semua pakaian dan perhiasan itu tidak akan ada artinya.
Setiap gerakgeriknya begitu luwes dan pantas, membuat para pria yang memang sejak lama tergila-gila kepadanya kini menelan ludah dengan pandang mata yang sukar dialihkan.
Di samping kiri Sang Puteri itu duduk Bu-eng-kwi Ouw Yan Hui yang juga nampak cantik dan anggun, sungguhpun kalah jauh kalau dibandingkan dengan Syanti Dewi.
Dan di sebelah kanan Sang Puteri itu duduklah dengan amat tenangnya Pangeran Kian Liong.
Pangeran ini adalah seorang yang bijaksana dan pandai, maka biarpun dia hanya memandang dari jauh, dia dapat mengetahui dengan pasti bahwa benda yang diperlihatkan tadi, Seuntai kalung tadi, berharga jauh lebih mahal daripada semua barang sumbangan tadi dijadikan satu!
Seuntai kalung itu saja sudah dapat dijadikan modal membuka sebuah toko yang besar!
Sungguh merupakan benda yang amat langka dan amat mahal, maka diam-diam dia kagum kepada pemberinya.
Hanya orang yang sungguh-sungguh serius sajalah yang mau menyum-bangkan benda semahal itu.
Kalau Syanti Dewi menjadi isteri penyumbang ini, jelas bahwa dia akan menjadi isteri seorang yang kaya-raya.
Apalagi penyumbang itu sendiri, yang bernama Tuan Muda Thio Seng Ki, ternyata adalah seorang pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun yang cukup ganteng, seperti yang dapat dilihatnya dari tempat duduknya ketika benda itu diumumkan dan Syanti Dewi kelihatan mengangguk ke arah pemuda penyumbang itu!
Itulah calon pertama, pikir Sang Pangeran.
Kemudian hadiah-hadiah berupa lukis-an, tulisan-tulisan lian, yaitu sajak-sajak berpa-sangan, dan sajak-sajak serta tulisan-tulisan indah juga dipamerkan satu demi satu, dan diumumkan nama para penyumbangnya.
Ketika nama pemuda Yu Cian disebut dengan sumbangannya berupa sajak, semua orang segera menaruh perhatian, terutama sekali di kalangan mereka yang memperhatikan tentang sastra.
Bahkan Sang Pangeran sendiri tertarik, karena dia pun sudah mendengar akan nama pemuda yang menggondol juara pertama ini, yang kabarnya amat menonjol keahliannya membuat sajak dan tulisan.
Memang tulisan itu amat indah gayanya, akan tetapi tidak mungkin dapat terbaca oleh para tamu yang duduk agak jauh, maka terdengarlah Sang Pangeran berkata.
"Harap sajak-sajak dari Yu Cian Siucai itu dibacakan!"
Mendengar anjuran Pangeran ini, beberapa orang berteriak mendukung dan akhirnya sebagian besar dari para tamu mendukungnya.
Syanti Dewi mendengar Sang Pangeran berkata kepadanya di antara suara bising itu.
"Enci, sudah sepatutnya kalau engkau minta penulis sajak untuk membaca-nya sendiri."
Syanti Dewi tidak tahu mengapa Sang Pangeran berkata demikian, akan tetapi karena dia pun mengenal baik Yu Cian yang merupakan seorang kenalan yang selalu bersikap sopan terhadap dia, maka dia pun tanpa ragu-ragu lagi lalu bangkit berdiri.
Begitu wanita ini bangkit berdiri, semua suara pun sirep dan keadaan menjadi hening, maka terdengarlah dengan jelas suara Syanti Dewi yang bening dan halus.
"Memenuhi permintaan para saudara, maka kami mohon sukalah Yu Cian Siucai membacakan sendiri sajak yang ditulisnya!"
Ucapan ini disambut dengan sorak-sorai yang riuh rendah dan dengan muka yang berobah merah sekali terpaksa Yu Cian bangkit berdiri dari tempat duduknya, dan dengan langkah-langkah tenang dia menuju ke tempat para pembantu wanita yang membuka barang-barang hadiah sumbangan itu.
Setelah menerima gulungan kain tulisannya, dia lalu menjura dengan hormat ke arah Pangeran, Syanti Dewi dan Ouw Yan Hui, dan semua tamu memandang kepada pemuda ini dengan kagum.
Seorang pemuda yang tampan dan memang patutlah kalau dia menjadi siucai tauladan yang lulus sebagai juara di kota raja.
Suasana menjadi hening sekali sehingga kini, suara pemuda itu membacakan sajaknya terdengar satu-satu dengan jelas.."Cantik Indah bagai bunga anggrek harum semerbak bagaikan bunga mawar merdu merayu bagaikan sumber air,Gilang gemilang seperti fajar menyingsing redup syahdu seperti sang senjakala duhai Bunga Pulau Ular Emas!
Tiada sesuatu mampu kupersembahkan kecuali seuntai sajak bisikan kalbu disertai hati yang subur basah tempat Sang Bunga mekar berseri."
Cara pemuda pelajar itu membaca sajaknya sungguh amat mengesankan.
Suaranya halus bening dan mengandung getaran karena pembacaan itu dilakukan sepenuhnya perasaannya sehingga seolah-olah dia sedang memuji-muji kecantikan Syanti Dewi secara terbuka, demikian terasa oleh semua orang sehingga suasana menjadi mengharukan.
Bahkan setelah pemuda itu selesai membaca sajak, suasana masih menjadi hening sekali.
Baru setelah pemuda itu menyerahkan kembali gulungan sajak, kemudian memberi hormat kepada Syanti Dewi dan Pangeran, meledaklah tepuk tangan dan sorak-sorai memuji.
Pangeran Kian Liong sendiri bertepuk tangan memuji dan memang dia merasa kagum sekali kepada pemuda itu.
Sajak itu sepenuhnya mengandung pujian hati seorang pria yang sedang dilanda asmara!
Syanti Dewi diumpamakan bunga anggrek, ratu segala bunga yang seolah-olah tidak pernah layu dibandingkan dengan semua di dunia ini, kemudian harum seperti bunga mawar bunga yang keharumannya tidak pernah lenyap biarpun bunganya sendiri telah lama layu!
Dan suara apakah yang melebihi kemerduan suara gemericik air sumber yang tidak pernah berhenti, mengandung dendang asmara yang kekal?
Kemudian dalam pemujaannya, Syanti Dewi dinyatakan gilang-gemilang seperti fajar menyingsing dan redup syahdu seperti sang senjakala.
Memang tiada keindahan yang begitu menggetarkan hati yang peka melebihi keindahan fajar menyingsing di kala matahari mulai timbul sebagai bola besar kemerahan yang berseri-seri, dan keredupan senjakala di waktu matahari tenggelam yang menciptakan warna-warna dan bentuk-bentuk awan yang luar biasa indahnya di langit barat.
Kemudian, yang amat mengharukan, pemuda itu tidak mampu mempersembahkan apa-apa ke-cuali sajak yang disertai sebuah hati yang akan selalu menghidupkan sang Bunga dengan luapan cinta kasih yang diumpamakan keadaan hati yang subur dan basah selalu!
Pemberian seperti inilah yang dinantikan oleh setiap orang wanita, yaitu kasih sayang pria dalam arti kata yang sedalam-dalamnya, bukan segala macam benda berharga kalau diberikan dengan hati yang kering dan tandus!
Dengan muka kemerahan, pemuda sastrawan itu kembali ke tempat duduknya semula.
Kini Sang Pangeran menjadi bimbang.
Dua orang itu, Thio Seng Ki yang tampan dan kaya raya, dan Yu Cian yang tampan dan ahli sastra, merupakan dua orang calon yang kuat sekali.
Menjadi isteri Thio Seng Ki, Syanti Dewi akan berenang dalam lautan harta, sebaliknya menjadi isteri Yu Cian, dara itu akan berenang dalam lautan kemesraan!
Diam-diam Ouw Yan Hui merasa girang betapa dia telah berhasil "memperkenalkan"
Dua di antara calon-calon itu secara tidak langsung kepada semua orang.
Kini hidangan mulai dikeluarkan dan pelapor acara memberitahu bahwa akan dimainkan tari-tarian untuk menghibur para tamu.
Mulailah pesta yang meriah itu.
Para tamu makan minum hidangan-hidangan yang istimewa, musik dibunyikan keras-keras dan nampaklah penari-penari yang muda-muda dan cantik-cantik menari dengan lemah-gemulai di panggung yang agak tinggi itu.
Para tamu makan minum sambil menikmati tontonan yang amat menarik itu.
Karena ada hidangan dan tontonan tarian, maka baru sekaranglah para tamu agak "melupakan"
Syanti Dewi sehinga hanya beberapa orang saja yang dapat melihat ketika wanita itu meninggalkan tempat duduknya menuju ke dalam.
Setelah beberapa macam tarian disajikan, tiba-tiba Ouw Yan Hui bangkit berdiri dan dengan suaranya yang nyaring dia mengumumkan.
"Mohon perhatian Cu-wi yang mulia! Dengan penuh rasa terima kasih atas perhatian Cu-wi yang budiman, maka sekarang adik kami, Syanti Dewi, akan menghibur Cu-wi dengan sebuah tarian istimewa dari Bhutan!"
Musik berbunyi lagi, dan kini terdengar lagu yang asing, yaitu lagu Bhutan dan dari dalam muncullah Syanti Dewi.
Semua orang menahan napas penuh kagum melihat betapa puteri itu dengan pakaian yang serba mewah meriah, memakai selendang kuning muda yang panjang, berlari-lari seperti terbang saja, seperti bidadari terbang dalam dongeng, dari dalam dan menuju ke panggung.
Meledaklah suara tepuk sorak menyabutnya.
Demikian gemuruh sorak-sorai ini sehingga menenggelamkan suara musik.
Baru setelah sorak-sorai itu berhenti, Syanti Dewi yang kini sudah berjongkok dengan sikap manis sambil menyembah, mulai bangkit dan diikuti irama tetabuhan yang merdu mulailah dia menari!
Memang indah sekali tarian itu.
Syanti Dewi bukan saja cantik jelita, akan tetapi juga memiliki keluwesan dan dia memang merupakan seorang ahli dalam tari-tarian Bhutan yang dipelajarinya ketika dia masih kecil.
Maka ketika dia menari semua orang terpesona dan sesaat mereka bengong sehingga suasana di antara penonton menjadi hening.
Tari-tarian asing yang (Lanjut ke
Jilid 27) Suling Emas & Naga Siluman (Seri ke 11 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 27 belum pernah ditonton memang selalu mempesonakan orang.
Kalau orang sudah terbiasa, pesona itu semakin berkurang.
Akan tetapi, memang harus diakui bahwa gerakan menari dari Syanti Dewi amat indah, sehingga Pangeran Kian Liong sendiri yang sudah sering menyaksikan tari-tarian halus, merasa amat kagum.
Kalau para tamu itu terpesona dan penuh kagum, dapat dibayangkan bagaimana hebatnya pengaruh tarian itu pada hati Wan Tek Hoat!
Pendekar ini juga ikut menonton dari tempat sembunyiannya, dan dia tidak pernah berkedip mengikuti gerak-gerik Syanti Dewi dengan pandang matanya.
Melihat kekasihnya secantik itu, menari seindah itu, terkenanglah dia akan segala keada-annya bersama kekasihnya itu, dan tak dapat ditahannya lagi matanya menjadi basah dan air mata perlahan-lahan menitik turun di atas pipinya yang tertutup cambang.
"Syanti.... Syanti.... kekasihku...."
Demikian hatinya merintih-rintih penuh kerinduan dan rasa nyeri, karena kini semakin nampaklah olehnya betapa wanita itu sungguh tidak pantas menjadi kekasihnya, apalagi kalau dia mengingat betapa dia telah berkali-kali melakukan hal yang amat menyakitkan hati puteri itu.
Dan kini, melihat keadaan Sang Puteri yang begitu dipuja ratusan orang pria-pria pilihan, bahkan telah menjadi akrab dengan Sang Putera Mahkota, Pangeran yang amat tinggi kedudukannya dari kota raja, kemudian menengok kepada keadaan dirinya sendiri, seorang jembel miskin yang tidak punya apa-apa, bahkan namanya pun telah dilupakan orang, dia melihat perbedaan yang amat mencolok dan semakin terasalah dia betapa dia adalah seorang yang kurang terima, orang yang tidak menengok keadaan diri sendiri dan telah bersikap keterlaluan kepada puteri itu!
Dan Syanti Dewi begitu setia, begitu suci murni, sehingga sampai sekarang pun belum melayani pria lain!
Dan puteri sesuci itu pernah dia fitnah, dia tuduh telah berjina dengan orang lain, telah menjadi pemberontak dan mengkhianati Raja Bhutan, ayahnya sendiri (baca cerita JODOH RAJAWALI )!
Mengingat akan hal ini, kembali dua titik air mata menetes turun.
Sorak-sorai dan tepuk tangan meledak ketika Syanti Dewi mengakhiri tariannya.
Dengan langkah-langkah yang seolah-olah tidak menyentuh lantai Sang Puteri kembali ke dalam gedung itu, diikuti sorak-sorai memuji-mujinya dari segenap tamu, termasuk juga Sang Pangeran.
Ouw Yan Hui telah memberi isyarat kepada wanita pengatur acara, dan wanita ini lalu bangkit berdiri dan mengangkat kedua tangan, minta kepada semua tamu agar tenang kembali.
Kemudian terdengar suaranya yang nyaring.
"Atas permintaan dari Ouwyang-toanio sebagai nyonya rumah, kami mohon kepada Tuan Muda Kui Lun Eng untuk tampil ke depan dan membantu pesta agar meriah dengan permainan musiknya!"
Mendengar disebutnya nama ini, banyak di antara tamu yang mengenalnya menyambut dengan tepuk tangan.
Nama Kui Lun Eng ini amat terkenal, bahkan Pangeran Mahkoka juga mengenal nama ini sebagai seorang ahli musik dan pelukis yang memiliki kepandaian luar biasa.
Dari rombongan tamu bangkitlah seorang pemuda jangkung yang kemudian melangkah dengan tenang ke arah panggung, memberi hormat kepada Pangeran dan Ouw Yan Hui, kemudian berkata.
"Saya akan menanti sampai kembalinya Nona Syanti Dewi."
Kemudian, diiringi suara ketawa para tamu yang maklum akan maksud kata-kata itu, yakni bahwa ahli musik itu hanya ingin main musik kalau didengarkan oleh Syanti Dewi, pemuda yang usianya kurang lebih tiga puluh tahun melangkah ke arah rombongan pemain musik, yaitu para wanita muda yang duduk di sudut.
Dengan enak, karena agaknya sudah biasa dengan alat-alat musik, dia mencoba-coba suara beberapa buah yang-kim, dipilihnya sebuah dan diletakkan di depannya sedangkan dia duduk bersila di panggung pemain musik itu.
Kemudian, dia mengeluarkan sebatang suling bambu dari saku bajunya yang sebelah dalam.
Tiba-tiba terdengar tepuk tangan riuh rendah ketika Syanti Dewi muncul kembali, kini dengan pakaian serba hijau dan duduk di tempat semula setelah mengangguk sebagai pernyataan terima kasih atas sambutan para tamu.
Melihat munculnya nona itu, Kui Lun Eng lalu mulai dengan permainan yang-kimnya.
Mula-mula hanya terdengar beberapa nada berkentringan saling kejar, lambat-lambat dan lirih-lirih saja, akan tetapi makin lama kejar-kejaran nada itu semakin cepat dan semakin keras dan mulailah terdengar lagu yang dinyanyikan yang-kim itu dengan amat indahnya.
Makin keraslah suara yang-kim itu dan kini semua orang yang mengenal lagu itu tahu bahwa itu adalah lagu perang, sedangkan yang tidak mengenal lagu itu pun dapat menduga bahwa itu tentulah lagu perang karena mereka seperti mendengar derap kaki ribuan kuda di dalamnya, lalu pekik-pekik kemenangan, rintihan-rintihan orang terluka, suaranya senjata berdencing dan saling beradu, Semua itu tercakup ke dalam suara nada-nada yang naik turun itu.
Bukan main!
Sang Pangeran sendiri sampai terpesona.
Belum pernah dia mendengar orang bermain yang-kim seindah itu.
Begitu hidup suara itu, bukan sekedar nada-nada kosong belaka, melainkan setiap rangkaian nada seperti menceritakan sesuatu sehingga terbayanglah cerita dari nada-nada itu.
Bahkan dia seperti melihat darah mengalir dan debu mengepul tinggi!
Ketika suara yang-kim itu mencapai puncaknya dalam kecepatan lalu diakhiri dengan suara seperti sorak kemenangan, suara itu berhenti tiba-tiba dan para pendengar yang tadinya seperti terpukau, seolah-olah mereka merasakan terseret dalam suasana perang yang mengerikan, tiba-tiba seperti baru sadar dan kembali ke dalam nyata.
Maka meledaklah sorak-sorai dan tepuk tangan mereka.
Dengan tenang Kui Lun Eng mengangguk ke arah mereka dan kini dia mulai meniup sulingnya, bukan dengan dua tangan, melainkan hanya dengan tangan kanan saja dan tangan kirinya mulai menggerayangi yang-kim kembali.
Dan kini terdengarlah paduan suara yang-kim dan suling dimainkan oleh dua tangan itu dan kembali semua orang tenggelam ke dalam pesona suara yang amat luar biasa.
Paduan suara itu demikian serasinya, mengalunkan lagu percintaan yang syahdu, menghayutkan perasaan ke suasana yang amat mesra, kadang-kadang menjadi halus merdu dan mengandung duka dan patah hati.
Memang hebat sekali permainan musik orang ini.
Hal ini dapat dilihat dari pengaruh suara musik itu pada wajah para pendengarnya.
Wajah-wajah itu, biarpun di antaranya terdapat banyak wajah yang biasa dengan kekerasan, kadang-kadang tak dapat menguasai lagi keharuan hati sehingga menjadi layu, bahkan ada yang menitikkan air mata!
Syanti Dewi sendiri tak dapat bertahan ketika lagu itu tiba di bagian yang sedih, seperti hati yang meratap-ratap dan menjerit-jerit.
Puteri ini teringat akan keadaan dirinya sendiri yang menjadi korban cinta, maka dia pun tidak kuasa menahan air matanya dan beberapa kali menyapu air mata dari pipi dengan saputangannya.
Semua ini dapat dilihat oleh Tek Hoat dan pendekar ini pun ikut menangis dengan diam-diam!
Dia merasa jantungnya perih.
Bukan air mata lagi yang mengalir dari matanya, akan tetapi seolah-olah jantungnya mengalir air mata darah.
Ketika akhirnya suara musik itu terhenti, Sang Pangeran sendiri bangkit bertepuk tangan memuji, diikuti semua tamu yang benar-benar merasa kagum.
Kui Lun Eng bangkit berdiri dan menjura ke arah Syanti Dewi dan Pangeran, wajahnya agak pucat karena permainan tadi dilakukan dengan sepenuh perasaannya sehingga selain makan banyak tenaga batin, juga menyeretnya ke dalam keharuan.
Kemudian dengan masih diiringi tepuk sorak, dia kembali ke tempat duduknya semula.
Diam-diam Sang Pangeran melihat adanya calon yang baik pada diri pemuda ahli musik ini.
Patut pula menjadi calon suami Syanti Dewi, pikirnya.
Sudah ada tiga orang muda yang pantas menjadi calon, yaitu Thio Seng Ki Si Hartawan, Yu Cian Si Sastrawan, dan Kui Lun Eng Si Seniman.
Akan tetapi sayang, ketiganya adalah orang-orang yang lemah, tidak memiliki kepandaian silat, pikir Sang Pangeran.
Padahal, dia tahu betul bahwa Syanti Dewi adalah seorang wanita yang lihai ilmu silatnya.
Bahkan dia sudah melihat sendiri betapa wanita itu memiliki gin-kang yang amat luar biasa, membuat dia dapat berlari seperti terbang dan bergerak dengan amat cepatnya!
Mungkinkah seorang wanita gagah dan lihai ini berjodoh dengan seorang pria yang tidak mengenal ilmu silat?
Kini Ouw Yan Hui bangkit berdiri lagi.
Hatinya senang karena tanpa terlalu kentara, dia telah menonjolkan tiga orang calon jodoh Syanti Dewi.
Kini tinggal memperkenalkan calon keempat dan untuk itu pun dia tidak kekurangan akal.
Dari para penyelidiknya dia sudah mendengar bahwa Si Pendekar Budiman Lie Siang Sun adalah orang yang tepat pula menjadi calon, dibandingkan dengan ahli-ahli silat, juga Lie Siang Sun ini terkenal sebagai pendekar yang budiman, tak pernah tercela namanya dan masih belum menikah pula.
Dengan suara lantang Ouw Yan Hui lalu berkata.
"Adik kami yang ulang tahunnya dirayakan adalah orang yang suka sekali melihat pertunjukan ilmu silat. Oleh karena itu, pesta ini tidak akan lengkap kalau tidak diadakan pertunjukan ilmu silat. Kami tahu bahwa di antara para tamu terdapat banyak sekali ahli silat. Dan setelah memeriksa daftar nama para tamu, kami minta dengan hormat kepada Pendekar Budiman Lie Siang Sun, sudilah kiranya memeriahkan pesta ini dengan pertunjukan ilmu silatnya."
Kembali banyak di antara para tamu yang bertepuk tangan karena selain nama Pendekar Budiman sudah terkenal dan banyak orang menaruh kagum kepadanya, juga mereka yang merasa memiliki kepandaian silat merasa lega ada orang lain yang disuruh maju lebih dulu.
Tentu saja untuk maju sebagai orang pertama mendatangkan perasaan sungkan dan malu-malu.
Seorang pria yang usianya tiga puluh tiga tahun, bangkit berdiri dan nampak betapa tubuhnya itu tinggi tegap dan gagah perkasa, sikapnya sederhana seperti juga pakaiannya.
Di punggungnya nampak tergantung sebatang pedang dan dengan langkah yang lebar tegap namun tenang, orang ini berjalan menuju panggung.
Dengan sopan dia memberi hormat ke arah Syanti Dewi, Ouw Yan Hui dan Pangeran Kian Liong, sambil berkata.
"Sebutan Pendekar Budiman dan ahli silat bagi saya sungguh terlalu dilebihkan, akan tetapi karena saya hanya bisa menyumbangkan sedikit ilmu silat yang pernah saya pelajari untuk memeriahkan pesta ini, maka harap Pangeran, Nona dan Toanio, juga Cu-wi yang hadir di sini suka memaafkan jika pertunjukan ini kurang berharga."
Setelah mengangguk ke empat penjuru, mulailah Pendekar Budiman Lie Siang Sun menggerakkan kaki tangannya.
Mula-mula ia bersilat dengan lambat, akan tetapi semakin lama semakin cepat dan gerakan-gerakannya gesit pukulan-pukulannya mantap dan kadang-kadang kedua kakinya yang berloncatan itu tidak menimbulkan suara sedikit pun seperti langkah-langkah seekor kucing, akan tetapi adakalanya geseran-geseran kedua kakinya mendatangkan getaran dan membuat panggung berderak-derak!
Memang harus diakui bahwa ilmu silat tangan kosong yang dimainkan oleh pendekqr ini cukup hebat dan juga indah dan bersih, ciri khas dari cabang ilmu persilatan para pendekar yang mengutamakan keindahan dan ketangguhan, bersih dari cara-cara yang curang.
Tek Hoat juga menonton secara sepintas lalu saja karena sebagaian besar perhatiannya selalu tertuju kepada Syanti Dewi, mengerti bahwa pemuda ini memiliki ilmu silat Siauw-lim-pailim-pai dan juga Bu-tong-pai, dan memiliki tingkat yang cukup tinggi, maka patutlah kalau dia disebut pendekar.
Setelah mainkan ilmu silat tangan kosong sebanyak tiga puluh enam jurus, tiba-tiba Lie Siang Sun mengeluarkan bentakan nyaring dan nampaklah sinar berkelebat yang segera bergulung-gulung dan ternyata dia telah mencabut dan mainkan pedangnya.
Gerakannya sedemikian cepatnya sehingga kebanyakan dari para tamu tidak melihat kapan pedang itu dicabutnya dan kini pun pedang itu tidak nampak karena telah berobah menjadi gulungan sinar saking cepatnya dimainkan!
Tepuk sorak menyambut permainan pedang ini dan memang Bu-tong Kiam-sut terkenal dengan keindahan gerakannya.
Banyak para tamu yang terdiri dari tokoh-tokoh kang-ouw mengangguk-anggukkan kepala, dan memuji ketangkasan pendekar itu.
Pangeran Kian Liong tidak mempelajari praktek ilmu silat secara mendalam, namun pengetahuannya tentang ilmu silat cukup banyak sehingga dia pun mengenal keindahan dan ketangguhan ilmu pedang ini, maka dia merasa kagum sekali.
Dia pun diam-diam merasa setuju kalau pendekar muda ini dijadikan calon pula karena memang cukup pantaslah pemuda ini menjadi pelindung atau suami Syanti Dewi.
Setelah Lie Siang Sun selesai bersilat pedang dan sudah menyimpan kembali pedangnya lalu memberi hormat ke arah deretan Pangeran, para tamu menyambutnya dengan tepuk tangan memuji.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Ouw Yang Hui yang tadi telah memperoleh bisikan dari Pangeran Kian Liong yang cerdik itu.
"Cu-wi, seperti yang mungkin Cu-wi telah dengar dari kabar-kabar angin, pada kesempatan merayakan ulang tahun adik kami Syanti Dewi ini, kami telah memilih calon-calon untuk dipilih sebagai jodoh adik kami Syanti Dewi."
Para tamu menyambut pengumuman ini dengan sorak-sorai dan Syanti Dewi menundukkan mukanya yang berobah pucat.
Biarpun dia sudah tahu akan hal ini, akan tetapi begitu tiba saatnya diumumkan, dia merasa jantungnya seperti ditusuk!
Dia tidak tahu bahwa tak jauh dari situ, di tempat persembunyiannya, Tek Hoat juga memejamkan matanya karena merasa hatinya seperti diremas-remas mendengar betapa di situ telah dipilih calon-calon jodoh untuk Syanti Dewi.
Setelah sorak-sorai berhenti, Ouw Yan Hui melanjutkan kata-katanya.
"Pertama-tama kami mengumumkan pemilihan kami, yaitu Thio Seng Ki. Ke dua adalah Yu Cian, ke tiga Kui Lun Eng, dan ke empat adalah Lie Siang Sun! Cu-wi telah menyaksikan sendiri kecakapan mereka dalam ilmu kepandaian masing-masing, sedangkan Thio-kongcu telah memberi sumbangan yang sedemikian besar nilainya."
Kembali terdengar sorakan menyambut, akan tetapi tidak sehebat tadi karena kini banyak yang merasa kecewa karena nama mereka tidak disebut.
Banyak yang mulai digoda rasa iri hati terhadap empat orang yang dipilih sebagai calon itu!
Tiba-tiba terdengar suara nyaring di antara penonton.
"Bagaimana menentukan pemenang di antara calon-calon yang kepandaiannya berbeda-beda itu? Kalau berdasarkan kekayaan, tentu orang she Thio yang menang, kalau berdasarkan ilmu silat, tentu orang she Lie yang menang!"
Orang-orang tidak memperhatikan lagi siapa yang bicara, akan tetapi semua tamu merasa setuju dengan ini dan keadaan menjadi bising.
Ouw Yan Hui mengangkat kedua tangan ke atas dan baru dia mengakui bahwa akal yang dibisikkan oleh Pangeran kepadanya tadi memang baik sekali, karena kalau tidak, dia sendiri tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan orang itu.
"Harap Cu-wi mendengarkan dengan tenang!"
Kata Ouw Yan Hui dan karena dia mengeluarkan kata-kata ini disertai khi-kang, maka suaranya mengatasi semua kegaduhan dan para tamu lalu diam.
"Cu-wi yang mulia! Biarpun ada terdapat calon-calon yang telah kami pilih, akan tetapi penentuannya siapa yang akan terpilih tentu saja sepenuhnya berada di tangan adik kami. Oleh karena itu, mereka berempat itu akan diuji. Siapa di antara mereka yang dapat menangkap Adik Syanti Dewi selama terbakarnya setengah bagian dupa, maka dialah yang dianggap memenuhi syarat dan menang, dan berhak untuk membicarakan tentang jodoh dengan adik kami!"
Kembal para tamu menjadi, berisik ketika mendengar pengumuman ini dan semua orang merasa bahwa aturan ini berat sebelah.
Tentu saja yang akan menang adalah Si Pendekar Budiman, karena tiga orang calon-calonnya lainnya hanya orang-orang yang lemah, mana mungkin dapat menangkap Syanti Dewi yang terkenal lihai itu?
Akan tetapi, empat orang calon itu adalah orang-orang yang cerdas, maka mereka pun mengerti maksud-nya pengumuman ini.
Itu adalah suatu cara halus untuk memberi kesempatan kepada Sang Puteri untuk menentukan pilihan tanpa mengeluarkan kata-kata, hanya dengan membiarkan dirinya tertangkap oleh calon yang dipilihnya.
Dan memang benarlah pendapat mereka ini karena tadi Sang Pangeran berbisik kepada Ouw Yang Hui, bertanya apakah Si Pendekar Budiman itu akan mampu menangkap Syanti Dewi selama setengah batang hio terbakar habis, dan dijawab dengan pasti oleh Ouw Yan Hui bahwa hal itu tidak mungkin dapat terjadi kalau Syanti Dewi tidak menghendakinya, karena gin-kang yang dikuasai oleh Syanti Dewi sudah setingkat dengan dia sendiri.
Jawaban inilah yang meyakinkan hati Sang Pangeran untuk mempergunakan akal untuk membiarkan Syanti Dewi memilih dan disetujui pula oleh Ouw Yan Hui.
Sementara itu, wajah Syanti Dewi menjadi merah sekali mendengar pengumuman itu dan dia menoleh dan memandang ke arah Sang Pangeran karena dia dapat menduga bahwa tentu Ouw Yan Hui mengeluarkan pengumuman itu setelah berdamai dengan Sang Pangeran Kian Liong juga memandang kepadanya, tersenyum mengangguk sambil berbisik lirih.
"Nah, pemilihannya sepenuhnya berada kepadamu, Enci Syanti!"
Maka mengertilah Syanti Dewi bahwa memang hal itu sengaja diumumkan agar dia dapat menentukan pilihannya di antara empat orang calon itu.
Wan Tek Hoat yang sejak tadi mengintai dengan hati yang perih, mengerti pula akan maksud dari ujian menangkap Syanti Dewi itu dan diam-diam dia pun, setuju karena hal itu berarti memberi kesempatan kepada Syanti Dewi sendiri untuk menentukan pilihannya.
Diam-diam dia pun ikut membanding-bandingkan antara empat orang itu dan dia melihat bahwa mereka itu memang merupakan orang-orang yang pilihan dan pantas menjadi jodoh Syanti Dewi, jauh lebih pantas dibandingkan dengan dia.
Akan tetapi dia ikut mengharapkan agar Syanti Dewi tidak memilih Pendekar Budiman, karena mempunyai suami seorang pendekar berarti menjadi isteri orang yang banyak dimusuhi orang lain.
Sementara itu, melihat betapa Syanti Dewi hanya duduk dengan kepala ditundukkan dan muka merah, Ouw Yan Hui lalu berbisik.
"Hayo, majulah Adikku, tentukan pilihanmu!"
Syanti Dewi mengangkat mukanya, lalu bangkit berdiri dan di bawah tepuk tangan riuh dia lalu melangkah ke tengah panggung, berdiri menghadap ke arah tamu sambil tersenyum dengan muka merah.
"Dipersilakan calon pertama, Thio Seng Ki untuk maju!"
Ouw Yan Hui berseru dan kembali orang-orang bersorak ketika melihat pemuda hartawan itu bangkit dan melangkah maju menghampiri Syanti Dewi dengan muka merah dan sikap malu-malu pula.
Seorang pembantu lalu menyalakan hio yang sudah dipotong setengahnya, lalu menancapkan hio sepotong itu di atas meja yang sudah dipersiapkan.
Pembantu ini segera mundur dan Syanti Dewi yang sudah mengenal pemuda she Thio itu lalu menjura dan berkata.
"Silakan mulai, Thio-kongcu."
"Maafkan saya...."
Thio Seng Ki lalu mulai bergerak hendak menangkap atau memegang lengan tangan Syanti Dewi, akan tetapi wanita ini melangkah mundur dan mengelak.
Thio Seng Ki melangkah maju dan terus mengejar, akan tetapi dia seperti mengejar bayangan saja.
Tangan yang kecil halus itu kelihatan begitu dekat, akan tetapi begitu sukar ditangkap bahkan untuk menjamahnya sedikit pun amatlah sukarnya.
Hanya keharuman yang keluar dari rambut dan pakaian puteri itu saja yang dapat ditangkap oleh hidungnya.
Makin lama, makin penasaran dan khawatirlah hati pemuda hartawan itu.
Dengan hartanya yang bertumpuk-tumpuk, dengan kemudaan dan ketampanannya, juga nama baiknya, dia mengira bahwa dia akan pasti dapat memperoleh dara manapun juga yang dikehendaki atau diinginkannya.
Akan tetapi mengapa Syanti Dewi selalu mengelak.
Karena penasaran, juga karena dia ingln sekali menang dalam pemilihan jodoh ini, dia mengejar terus dan biarpun dia tidak pandai ilmu silat, dia mengejar dengan secepatnya sampai kadang-kadang terhuyung-huyung apabila tangkapannya dielakkan tiba-tiba oleh Syanti Dewi.
Pertunjukan ini amat menegangkan, lucu dan menarik sehingga mulailah terdengar suara ketawa dan teriakan-teriakan mengejek apabila tubrukan atau tangkapan dari pemuda hartawan itu luput.
Akhirnya hio yang setengahnya itu habis terbakar.
"Waktunya habis, calon pertama telah gagal!"
Demikian peng-umuman pembantu wanita dan terpaksa Thio Seng Ki menghentikan usahanya.
Wajah dan lehernya basah oleh keringat dan Syanti Dewi lalu menjura dan memberi hormat.
"Harap Kongcu suka memaafkan saya."
Thio Seng Ki menarik napas panjang, kecewa sekali, akan tetapi dia membalas penghormatan itu sambil berkata.
"Sudahlah, saya yang tidak mampu dan tidak beruntung, Nona."
Dia pun mengundurkan diri, duduk di kursinya kembali, disambut sorakan para tamu, terutama mereka yang tadi merasa iri karena tidak memperoleh kesempatan.
"Dipersilakan calon ke dua, Yu Cian untuk maju!"
Kembali Ouw Yan Hui berseru.
Sastrawan muda itu tersenyum, bangkit berdiri dan melangkah maju menghampiri Syanti Dewi.
Juga sastrawan ini disambut oleh suara ketawa karena semua orang maklum bahwa kalau wanita itu tidak menghendaki, biar sampai selama hidup pun sastrawan lemah ini tak mungkin akan dapat menyentuh Syanti Dewi.
Akan tetapi Yu Cian kelihatan tenang menanti sampai sebatang hio yang sudah dipatahkan menjadi dua itu terbakar.
"Silakan, Yu-siucai."
Kata Syanti Dewi yang menyebut siucai kepada sastrawan yang telah lama dikenalnya ini.
Yu Cian mengangguk dan dia lalu melangkah maju, tangannya digerakkan dengan sikap sopan untuk menyentuh tangan Syanti Dewi.
Wanita itu menarik tangannya.
Yu Cian melangkah lagi, diulanginya hendak menyentuh tangan Syanti Dewi yang kembali menarik tangannya sehingga tidak dapat disentuh.
Setelah mengulangi sampai lima kali, Yu Cian lalu menjura ke arah Syanti Dewi, mukanya berobah agak pucat, suaranya mengandung kesedihan dan kekecewaan.
"Saya menyerah karena merasa tidak mampu. Maafkanlah atas kelancangan saya selama ini."
Dan sastrawan itu pun lalu mundur.
Semua tamu yang melihat ini menjadi diam, dan sastrawan itu tidak diejek ketika kembali ke bangkunya dengan sikap masih tenang, bibir tersenyum dan muka agak pucat.
Syanti Dewi merasa kasihan sekali dan dia hanya dapat menjura ke arah pemuda itu.
"Harap maafkan saya...."
Katanya perlahan. Ketika Kui Lun Eng maju dan berhadapan dengan Syanti Dewi, seniman ini tersenyum lebar berkata.
"Nona, kita adalah kenalan lama, tidak perlu saling sungkan lagi. Saya tahu bahwa sampai matipun saya tidak mungkin akan dapat menangkap Nona yang memiliki ilmu silat tinggi. Maka, biarlah saya menerima keputusan melalui jawaban Nona saja, dan untuk memudahkan, biar Nona menjawab dengan gelengan atau anggukan. Kalau Nona berkenan memilih saya, Nona mengangguk dan kalau tidak, Nona menggeleng. Nah, apa jawaban Nona?"
Semua tamu mendengarkan dengan hati tertarik dan tegang.
Seniman ini ternyata bersikap jujur dan terus terang, sungguhpun dengan kejujurannya itu dia membuat Syanti Dewi merasa terdesak.
Akhirnya, dengan halus Syanti Dewi menggeleng kepala lirih.
"Harap maafkan saya...."
Kui Lun Eng tertawa dan menengadah.
"Aih, sudah kudapatkan lagi suatu segi kebaikan pada diri Nona di samping semua keindahan itu, yaitu kebijaksanaan dan kejujuran. Terima kasih, Nona, biarlah kita tinggal menjadi kenalan yang baik saja."
Dan dia pun mengundurkan diri, kembali ke tempat duduknya dan menuangkan arak, ke dalam mulutnya!
Kini tinggal seorang lagi dan semua tamu hampir dapat memastikan bahwa tentu Pendekar Budiman inilah yang menang, sebagai calon terakhir dan di samping itu juga sebagai seorang pendekar berilmu tinggi yang agaknya dapat menangkap wanita cantik jelita itu.
Ketika dia dipersilakan maju, Lie Siang Sun melangkah dengan tegap tanpa ragu-ragu menghadapi Syanti Dewi dan menjura dengan hormat.
"Ingin saya mencontoh perbuatan Saudara Kui Lun Eng, akan tetapi karena pihak nyonya rumah sudah mengadakan peraturan, saya tidak berani melanggar."
Ketika hio sudah dinyalakan, Lie Siang Sun lalu mulai bergerak begitu Syanti Dewi mempersilakan.
Dan terjadilah kejar-kejaran yang amat menarik hati.
Kini, Lie Siang Sun berusaha menangkap lengan atau ujung baju nona itu, dengan gerakan silat yang amat indah, dengan geseran-geseran kaki yang tegap dan cepat sekali, namun Syanti Dewi juga bergerak, sedemikian cepatnya sehingga tubuh yang ramping itu mula-mula nampak seperti menjadi banyak, dan kemudian, ketika Pendekar Budiman mengejar semakin cepat, tubuh Syanti Dewi lenyap dan yang nampak hanya bayangannya saja yang berkelebatan ke sana kemari.
Memang menarik sekali pertunjukan ini sehingga semua orang memandang dengan ternganga dan kadang-kadang terdengar seruan-seruan kagum kalau kedua orang itu mempergunakan gerakan yang indah, seperti meloncat dan berjungkir balik ke atas dan sebagainya.
Namun, dalam pandang mata Tek Hoat, juga beberapa orang tokoh yang memiliki tingkat kepandaian yang tinggi, Maklumlah mereka ini bahwa Sang Pendekar Budiman itu ternyata tidak benar-benar hendak menangkap Syanti Dewi, bahkan selalu menjaga agar jangan sampai mereka bersentuhan, sungguhpun hal ini bukan berarti bahwa Syanti Dewi akan dapat tertangkap kalau dia menghendaki.
Tidak, wanita itu memiliki gin-kang yang jauh lebih tinggi daripada Pendekar Budiman, sehingga andaikata Lie Siang Sun mengejar dengan sungguh-sungguh sekalipun, dia tetap saja tidak akan mampu berhasil.
Betapapun juga, melihat betapa Lie Siang Sun tidak benar-benar berusaha untuk menangkap Syanti Dewi, mereka yang dapat mengikuti gerakan mereka itu, juga Wan Tek Hoat, merasa kagum.
Akan tetapi Ouw Yan Hui mengerutkan alisnya dan hatinya terasa kesal bukan main.
Tahulah dia bahwa Syanti Dewi jelas menolak semua calon itu!
"Ah, dia akan gagal pula...., Pangeran sungguh hamba tidak mengerti sikap Adik Syanti...."
Keluhnya.
Sang Pangeran mengerti dan dia tersenyum.
Dia tahu bahwa Syanti Dewi memang tidak suka dijodohkan dengan siapa pun.
Wanita itu terlalu setia kepada pria yang masih dicintanya sampai saat itu.
Karena melihat kenyataan bahwa benar-benar Syanti Dewi tidak mau memilih seorang pun di antara empat calon yang baik itu, terpaksa dia harus turun tangan seperti yang telah dijanjikan kepada Syanti Dewi.
"Kalau begitu, biarlah aku menjadi calon ke lima, Ouw-toanio."
Seketika wajah itu berseri dan Sang Pangeran melihat betapa masih cantik jelitanya wanita ini dan dia merasa kagum.
Ouw Yan Hui memandang Sang Pangeran dengan wajah berseri-seri!
Kalau Pangeran itu mau menjadi calon, tentu Syanti Dewi tidak akan berani menolak!
Wajahnya menjadi berseri-seri dan dia memandang dengan senyum di bibirnya, hal yang jarang terjadi, ke arah Syanti Dewi yang masih bergerak cepat dikejar oleh Lie Siang Sun.Setelah pembantu mengumumkan bahwa dupa yang menyala itu telah habis, Lie Siang Sun menghentikan gerakannya, menjura kepada Syanti Dewi dan berkata.
"Ginkang dari Nona sungguh amat mengagumkan sekali. Aku Lie Siang Sun mengaku kalah dan maaf."
"Harap maafkan aku, Lie Siang Sun Enghiong!"
Kata Syanti Dewi dengan suara mengandung penyesalan karena betapa pun juga, dia mengerti bahwa pendekar ini tadi tidak berusaha sungguh-sungguh untuk menyentuhnya.
Kalau saja hatinya mau mendekati pria lain, agaknya pendekar inilah yang patut untuk menjadi jodohnya.
Tiba-tiba terdengar suara Ouw Yan Hui yang sudah bangkit berdiri dan suara itu kini terdengar amat nyaring dan mengandung kegembiraan, tidak seperti tadi.
"Pengumuman penting! Harap Cu-wi Yang Mulia ketahui bahwa calon jodoh untuk adik kami Syanti Dewi ditambah dengan seorang lagi, yaitu bukan lain adalah Yang Mulia Pangeran Kian Liong sendiri!"
Para tamu tadinya sudah merasa gembira sekali melihat betapa empat orang calon itu gagal dan tidak ada yang terpilih.
Hal itu berarti membuka kesempatan baru bagi mereka, karena tentu akan diadakan pemilihan calon baru lagi.
Akan tetapi, mendengar bahwa kini Sang Pangeran Mahkota maju sebagai calon, tentu saja semangat mereka mengempis dan mengendur, tubuh menjadi lemas karena mana mungkin mereka dapat bersaing dengan putera mahkota, Pangeran yang merupakan orang yang amat besar kedudukan dan kekuasaannya?
"Dan sekarang dipersilakan kepada Yang Mulia Pangeran untuk maju dan mencoba untuk menangkap Syanti Dewi"
Demikian Ouw Yan Hui mengumumkan pula.
Pembantu wanita sudah pula menyalakan dupa, akan tetapi sesungguhnya hal ini sama sekali tidak perlu.
Syanti Dewi memandang kepada Pangeran itu yang telah bangkit dan melangkah tenang menghampirinya, dengan pandang mata berterima kasih karena dia tahu bahwa perbuatan pangeran ini hanya untuk menolongnya, sesuai dengan percakapan mereka malam tadi.
"Sudah siapkah engkau?"
Sang Pangeran bertanya. Syanti Dewi mengangguk.
"Silakan, Pangeran."
Pangeran Kian Liong tersenyum dan melangkah maju menangkap lengan Syanti Dewi.
Wanita itu mengelak dengan langkah mundur sambil tersenyum pula.
Sang Pangeran terus mengejar dan setelah berusaha menangkap sampal lima kali, barulah dia berhasil memegang pergelangan tangan Syanti Dewi.
Melihat ini, Ouw Yan Hui girang bukan main.
Sungguh tak pernah disangkanya bahwa Syanti Dewi akan membiarkan dirinya tertangkap oleh Pangeran itu.
Saking girangnya, wanita pemilik Pulau Kim-coa-to ini sampai bangkit berdiri.
Dan terdengarlah sorak-sorai para tamu melihat betapa Sang Pangeran berhasil menangkap pergelangan tangan Syanti Dewi dengan demikian mudahnya.
Jelaslah bagi semua orang bahwa memang Sang Puteri itu sengaja membiarkan lengannya ditangkap, kalau tidak demikian, kiranya tidak mungkin Sang Pangeran akan mampu menangkapnya.
Sang Pangeran berdiri sambil menggandeng tangan Syanti Dewi, wajahnya berseri, sedangkan wajah Syanti Dewi menjadi kemerahan, mukanya menunduk.
Wan Tek Hoat juga mengikuti semua peristiwa ini dan melihat gerak-gerik Syanti Dewi, dia pun tahulah bahwa kekasihnya itu, sengaja membiarkan lengannya ditangkap Pangeran, atau lebih jelas lagi, Syanti Dewi telah memilih Sang Pangeran untuk menjadi calon jodohnya!
Pilihan yang tepat, pikirnya dengan hati perih.
Pemuda manakah yang lebih hebat daripada seorang Pangeran Mahkota, apalagi Pangeran Kian Liong yang terkenal akan kebijaksanaannya itu?
Hanya sedikit saja hal yang membuat hatinya tidak enak dengan pilihan itu, ialah melihat kenyataan bahwa Pangeran itu masih muda sekali, tentu kurang lebih baru dua puluh tahun usianya.
Padahal, dia tahu benar bahwa usia Syanti Dewi tentu antara tiga puluh enam tahun, sungguhpun wanita itu tidak nampak lebih tua daripada Sang Pangeran.
Sudah, habislah riwayatnya dengan Syanti Dewi, pikirnya dengan lesu.
Dia harus pergi cepat-cepat dari tempat itu, jangan sampai mengganggu kebahagiaan Syanti Dewi.
Baru sekarang dia tahu bahwa pada dasar hatinya, dia ingin melihat Syanti Dewi berbahagia dan kini melihat betapa Syanti Dewi bergandeng tangan dengan wajah kemerahan dengan Sang Pangeran, dia tidak mau mengganggu kebahagiaan mereka dan ingin pergi secepatnya tanpa ada yang melihatnya.
Akan tetapi tiba-tiba dia melihat berkelebatnya bayangan, juga semua tamu melihat ini dan tahu-tahu di atas panggung di tengah ruangan itu telah berdiri seorang laki-laki tinggi besar yang mukanya penuh keriput dan pucat sekali, kepalanya botak dan sikapnya garang.
"Sungguh tidak adil sekali!"
Laki-laki yang usianya tentu sudah sedikitnya enam puluh lima tahun itu berseru, suaranya lantang dan penuh wibawa, kakinya yang bersepatu baja itu dibanting keras dan lantai panggung itu pun melesak sampai beberapa senti meter dalamnya!
Melihat ada orang yang berani mengacau, Ouw Yan Hui yang masih berdiri itu berseru.
"Siapa berani lantang menentang keputusan? Apanya yang tidak adil?"
Kakek itu tertawa, suara ketawanya, bergema di seluruh ruangan.
"Ha-ha-ha, mana bisa dibilang adil kalau kemenangan ini disengaja dan dibuat?"
"Adik kami Syanti Dewi berhak memilih siapapun juga menjadi jodohnya!"
Kembali Ouw Yan Hui berseru sambil memandang wajah pucat itu dengan penuh perhatian karena dia tidak mengenal siapa adanya kakek ini.
"Ha-ha-ha! Kalau memang hendak memilih Pangeran, mengapa pakai mengadakan sayembara segala macam? Sayembara menangkap Nona ini berarti menguji ketangkasan dan ilmu kepandaian, akan tetapi ternyata Nona ini sengaja menyerahkan diri kepada Pangeran. Bukankah itu berarti menghina orang-orang yang menghargai ilmu silat? Urusan mengadu kepandaian adalah urusan dunia kang-ouw, mengapa sekarang Pangeran yang berkedudukan tinggi, seorang Pangeran Mahkota malah hendak mencampuri dan memperlihatkan kekuasaan menangkan seorang dara? Bukankah hal itu berarti Pangeran tidak memandang mata dan menghina para orang kang-ouw pada umumnya? Apakah orang-orang kang-ouw hendak dijadikan semacam pelawak-pelawak belaka? Hayo, hendak kucoba sampai di mana kesigapan Puteri Syanti Dewi ini, boleh nyalakan dupa dan aku akan menangkapnya!"
Semua orang kang-ouw terkejut sekali.
Bagaimana ada orang yang berani bersikap begini kasar terhadap Pangeran Mahkota?
Mereka sudah melihat betapa para pasukan pengawal sudah maju mengepung tempat itu untuk melindungi Sang Pangeran.
Syanti Dewi maklum bahwa ada orang yang hendak mengacau, maka dia pun lalu menarik Sang Pangeran untuk mundur dan mengajak Sang Pangeran duduk kembali di tempatnya agar lebih mudah dilindungi oleh para pasukan pengawal apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Dia sendiri sudah memandang kepada kakek tinggi besar itu dengan pandang mata marah.
Demikian pula Ouw Yan Hui sudah marah sekali.
Akan tetapi sebelum kedua orang wanita ini sempat mengeluarkan kata-kata atau melakukan sesuatu, tiba-tiba nampak bayangan orang berkelebat dan Pendekar Budiman telah berada di atas panggung berhadapan dengan kakek raksasa itu.
Pendekar Budiman menjura dengan hormat, diam-diam merasa heran mengapa dia tidak mengenal kakek ini, padahal jarang ada tokoh kang-ouw yang tidak dikenalnya.
"Sobat, harap engkau sudi memandang mukaku dan tidak menimbulkan keributan di tempat ini. Puteri Syanti Dewi telah memilih Pangeran Yang Mulia sebagai jodohnya, bukankah hal itu harus disambut dengan gembira oleh kita semua?"
"Ha-ha-ha, engkau percuma saja berjuluk Pendekar Budiman, sebaiknya diganti saja dengan julukan Pendekar Pengecut! Engkau memasuki sayembara sebagai calon, akan tetapi engkau tidak sungguh-sungguh ketika mengejar Sang Puteri tadi."
Pendekar Budiman Lie Siang Kun diam-diam terkejut. Orang ini dapat mengetahui hal itu menanda-kan bahwa kepandaiannya tinggi dan matanya, awas benar.
"Sobat hal itu merupakan urusan pribadiku sendiri yang tiada sangkut-pautnya dengan orang lain. Sudahlah, harap engkau suka memandang kepadaku, dan mengingat bahwa tidak baik bagimu untuk membikin kacau di tempat ini, di mana hadir pula Paduka Yang Mulia Pangeran Mahkota."
"Tidak, bagaimanapun juga, Syanti Dewi harus maju dan akan coba kutangkap selama setengah dupa bernyala-nyala. Ini adalah pertemuan orang-orang gagah, bukan pertemuan badut-badut!"
"Orang tua, ini adalah tempatku dan aku tidak pernah mengundangmu datang! Apakah engkau sengaja hendak mengajak berkelahi?"
Tiba-tiba Ouw Yan Hui berseru dari tempat duduknya.
"Ha-ha-ha, orang-orang kang-ouw kalau sudah berkumpul, tentu mengadakan pertandingan ilmu silat. Ini baru menggembirakan dan gagah, bukan membiarkan kita menjadi badut-badut yang dipermainkan oleh Sang Pangeran hanya untuk menjilat. Pangeran tidak menghargai kita, bahkan memandang rendah dan menghina, hal ini tidak boleh dibiarkan saja. Kita orang-orang kang-ouw mempunyai harga diri. Hayo, kalau Sang Puteri tidak mau memenuhi syarat yang diajukan tadi, mari kita mengadakan pertandingan silat, siapa pun boleh maju melawanku!"
"Sobat engkau sungguh terlalu!"
Pendekar Budiman berseru.
"Sikapmu sama sekali tidak patut menjadi pendekar kang-ouw, melainkan lebih tepat sebagai seorang pengacau jahat. Nah, kalau engkau ingin berkelahi, akulah lawanmu."
"Bagus! Aku sudah lama mendengar nama Pendekar Budiman, majulah!"
Tantang kakek itu dengan sikap memandang rendah sekali.
"Lihat seranganku!"
Pendekar Budiman sudah menerjang dengan sungguh-sungguh karena dia tahu bahwa kakek ini sengaja hendak mengacau dan menentang Pangeran.
Dia sudah mendengar akan usaha-usaha jahat mereka yang telah menculik Pangeran sebelum Pangeran itu tiba di Pulau Kim-coa-to, maka dia merasa berkewajiban untuk melindungi Pangeran, juga untuk membela Syanti Dewi yang terancam oleh kekerasan dan pengacauan orang tua tak terkenal ini.
Akan tetapi ketika Pendekar Budiman sudah menerjang maju, dia terkejut bukan main.
Kakek itu sama sekali tidak mengelak, dan baru setelah tamparan pendekar itu datang dekat, kakek ini menggerakkan tangan menangkis dan akibatnya tubuh pendekar itu terpelanting!
Bukan main kuatnya tenaga sin-kang yang terkandung dalam tangkisan lengan itu.
Lie Siang Sun sudah meloncat bangun dan dia memandang tajam.
Orang ini bukan orang sembarangan, melainkan seorang sakti, akan tetapi mengapa menentang Pangeran Mahkota?
Dia mengingat-ingat para tokoh kaum sesat, akan tetapi tetap saja tidak mengenal wajah yang pucat itu.
Karena dia harus melindungi Pangeran dan juga harus membela Syanti Dewi, maka dia lalu menerjang lagi, kini mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya.
Akan tetapi segera dia mendapatkan kenyataan bahwa kepandaiannya masih jauh di bawah tingkat kakek yang luar biasa ini sehingga belum, sampai tiga puluh jurus dia sudah kena ditendang terpelanting sampai beberapa meter jauhnya!
Melihat ini, beberapa orang tokoh kang-ouw yang berada di situ dan merasa penasaran, sudah maju berturut-turut, namun empat lima orang yang maju itu satu demi satu dirobohkan dengan mudah oleh kakek pucat itu.
Sambil tertawa-tawa kakek itu memenantang.
"Ha-ha-ha, siapa lagi yang hendak mencoba kepandai-an?"
Semua orang menjadi gentar dan melihat betapa kakek itu dengan mudah menjatuhkan para lawan itu, tanpa membunuhnya, tidak ada yang lebih dari dua puluh jurus, tahulah mereka bahwa kakek ini sungguh merupakan seorang yang lihai sekali.
Melihat ini Ouw Yan Hui sebagai nyonya rumah merasa malu dan terhina sekali.
Dia mengeluarkan bentakan nyaring dan sekali berkelebat, tahu-tahu tubuhnya telah berada di depan kakek itu.
"Ha-ha-ha, tidak bohonglah berita yang mengatakan bahwa Bu-eng-kwi Ouw Yan Hui, penghuni Pulau Kim-coa-to, memiliki gin-kang yang amat hebat. Nah, ini namanya baru lawan yang boleh ditandingi. Majulah, Bu-eng-kwi, hendak kulihat sampai di mana kehebatanmu!"
"Pengacau jahat, menggelindinglah!"
Bentak Ouw Yan Hui dan wanita ini sudah menerjang dengan amat cepatnya.
Gerakannya memang luar biasa cepatnya dan tahu-tahu jari tangan kirinya sudah mencengkeram ke arah ubun-ubun lawan yang botak itu, sedangkan dua jari tangan kanan sudah menusuk ke arah kedua mata lawan!
Hebat sekali serangan ini, dan kakek itu pun mengeluarkan suara kaget dan cepat melempar tubuh ke belakang.
"Hebat, gin-kang yang hebat!"
Kakek itu memuji, akan tetapi Ouw Yan Hui sudah menyerang lagi dengan lebih cepat dan lebih ganas karena dia merasa penasaran.
Namun, kakek itu dapat menangkis dan balas menyerang.
Terjadilah serang-menyerang, pertandingan yang amat seru, jauh lebih seru dibandingkan dengan yang sudah-sudah tadi.
Wanita itu memang memiliki gin-kang yang hebat, sukar dicari bandingnya di dunia kang-ouw.
Tubuhnya seperti seekor burung saja yang beterbangan dan berkelebatan ketika mengelak atau balas menyerang.
Akan tetapi, ternyata lawannya itu memiliki ilmu silat yang amat hebat, dan lebih lagi, dalam hal tenaga sin-kang, Ouw Yan Hui kalah jauh maka biarpun dia sudah mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, tetap saja setelah lewat tiga puluh jurus, dia kena ditampar pundaknya sampai terlempar dan terguling-gullng.
Melihat ini, Syanti Dewi marah sekali dan sambil mengeluarkan lengking panjang dia telah meloncat dari tempat duduknya seperti terbang saja dan tahu-tahu dari atas dia sudah menyambar dengan pukulan tangan terbuka ke arah kepala kakek itu.
"Plakk!"
Pukulan itu kena ditangkis dan tubuh Syanti Dewi terlempar!
Untung dia dapat berjungkir balik dengan cepat sehingga tidak jatuh terbanting.
Pangeran sudah memberi isyarat kepada para pengawal untuk maju membantu Syanti Dewi, akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan nyaring.
"Sam-ok, engkau sungguh keterlaluan!"
Nampaklah kini seorang pengemis berpakaian tambal-tambalan dan bermuka penuh cambang dan kumis meloncat ke tengah panggung berhadapan dengan kakek tinggi besar.
Semua orang memandang, juga Syanti Dewi.
Akan tetapi begitu Syanti Dewi memandang wajah tertutup brewok itu, seketika wajahnya menjadi pucat sekali, kedua matanya terbelalak, dan tiba-tiba dia mengulurkan kedua tangan ke arah pengemis itu, mulutnya mengeluarkan jerit melengking dan tubuhnya roboh terguling!
Ketika Ouw Yan Hui cepat merangkulnya, ternyata Sang Puteri itu telah jatuh pingsan!
Sejenak Tek Hoat memandang ke arah Syanti Dewi, dan ketika melihat betapa Syanti Dewi dipondong masuk oleh Ouw Yan Hui, dia pun lalu menghadapi lagi kakek raksasa itu.
"Sam-ok, tidak perlu engkau menyembunyikan lagi mukamu di belakang kedok, karena aku telah mengenalmu! Para tamu sekalian, ketahuilah bahwa kakek yang menutupi mukanya dengan kedok kulit tipis ini bukan lain adalah, Sam-ok, orang ke tiga dari Im-kan Ngo-ok, atau juga Ban Hwa Sengjin, bekas koksu dari Negara Nepal! Dia mempunyai niat tidak baik terhadap Sang Pangeran, bahkan inilah orangnya yang mengatur segala pencegatan dan penculikan terhadap Pangeran!"
Setelah berkata demikian, dengan cepat Tek Hoat sudah menyerang dengan pukulan maut ke arah leher Sam-ok.
Kakek itu yang merasa bahwa tidak perlu menyembunyikan dirinya lagi, tertawa dan sekali renggut saja kedok kulit tipis yang menutupi mukanya terbuka dan nampaklah wajah aselinya.
Dia masih sempat tertawa-tawa, akan tetapi segera dia harus mencurahkan perhatiannya karena sekali ini dia menghadapi Si Jari Maut, seorang yang amat lihai, sama sekali tidak boleh dibandingkan dengan lawan-lawannya yang tadi.
Maka dia pun mengelak, menangkis dan balas menyerang dengan hebatnya.
Sementara itu, ketika para tamu mendengar bahwa kakek itu adalah Sam-ok atau bekas Koksu Nepal yang hendak mencelakai Pangeran Mahkota, mereka menjadi marah.
"Tangkap musuh negara!"
"Bunuh penjahat itu!"
Bukan hanya orang-orang kang-ouw, juga kini Souw Kee An telah menggerakkan pasukannya untuk mengepung dan mulai bergerak, sedangkan para anak buah Kim-coa-to juga digerakkan oleh Ouw Yan Hui yang merasa terkejut bukan main mendengar bahwa kakek itu adalah orang ke tiga dari Im-kan Ngo-ok!
Dan pada saat itu muncullah berturut-turut empat orang yang amat mengejutkan semua orang.
Mereka itu bukan lain adalah Toa-ok Su Lo Ti, kakek bermuka gorila, Ji-ok Kui-bin Nio-nio, nenek yang berkedok tengkorak, Su-ok Siauw-siang-cu, hwesio cebol dan Ngo-ok Toat-beng Sian-su, tosu yang tingginya dua setengah meter itu.
Kini lengkaplah sudah Im-kan Ngo-ok muncul di situ setelah Tek Hoat membuka kedok Sam-ok tadi!
Melihat ini, para tamu, tentu saja mereka yang mempunyai kepandaian, sudah menerjang ke depan, membantu para pasukan pengawal dan para anak buah Kim-coa-to, mengeroyok lima orang datuk kaum sesat itu.
Akan tetapi, lima datuk itu bukanlah orang-orang sembarangan sehingga dalam waktu singkat saja sudah banyak perajurit pengawal, anak buah Kim-coa-to dan orang-orang kang-ouw yang roboh terjungkal.
Hanya Wan Tek Hoat dan Souw Kee An, dibantu oleh para perajurit pengawal, yang masih terus melawan.
Tek Hoat masih bertanding dengan amat hebatnya melawan Sam-ok, keduanya tidak mau mengalah dan mengeluarkan seluruh kepandaian mereka sehingga bayangan mereka seolah-olah telah menjadi satu.
Akan tetapi setelah Ji-ok membiarkan tiga orang saudaranya menghadapi pengeroyokan para pengawal dan dia sendiri membantu Sam-ok, Tek Hoat menjadi terdesak hebat.
Memang hebat sekali sepak terjang Tek Hoat.
Biarpun dia menghadapi orang ke dua dan ke tiga dari Im-kan Ngo-ok, dia masih mampu melindungi dirinya, bahkan membalas dengan tamparan-tamparannya yang amat dahsyat.
Akan tetapi ketika Toa-ok maju pula dengan pukulan yang mendatangkan angin amat kuatnya, Tek Hoat menjadi repot sekali dan akhirnya sebuah pukulan yang amat keras dari tangan kiri Sam-ok mengenai punggungnya.
"Ughhh....!"
Tek Hoat muntahkan darah segar, akan tetapi dia masih sigap dan cepat melompat ke belakang, kemudian mengamuk lagi tanpa mempedulikan keadaan dirinya yang telah terluka di sebelah dalam oleh hantaman telapak tangan Sam-ok tadi.
Kegagahannya ini membuat para lawannya menjadi kagum juga.
"Jari Maut, jangan khawatir, kami datang membantumu!"
Tiba-tiba terdengar suara halus namun mendatangkan getaran amat kuatnya, dan nampaklah berkelebatnya bayangan dua orang ke tempat itu.
Tek Hoat girang sekali.
"Naga Sakti Gurun Pasir! Bagus engkau datang! Dan Ceng Ceng! Bagus, kau bantulah saudaramu yang sudah kepayahan ini!"
Yang datang itu adalah seorang laki-laki yang perkasa yang buntung lengan kirinya, berusia kurang lebih empat puluh lima tahun, berpakaian sederhana dan memiliki sepasang mata yang mencorong seperti mata naga, bersama seorang wanita cantik sekali biarpun usianya sudah hampir empat puluh tahun, dan masih lincah sekali.
Mereka ini adalah Si Naga Sakti Gurun Pasir Kao Kok Cu dan isteri yang menjadi penghuni Istana Gurun Pasir, ayah bunda dari Jenderal Muda Kao Cin Liong yang gagah perkasa itu!
"Huh, baru dikeroyok oleh lima si-luman kecil itu saja engkau sudah kerepotan, Tek Hoat!"
Nyonya itu mengejek pengemis yang sedang repot didesak tiga orang lawannya itu.
"Dan engkau kini telah menjadi jembel, ganti saja julukanmu menjadi Jembel Maut! Hi-hi-hik!"
"Wah, engkau masih cerewet seperti dulu juga, Ceng Ceng. Bantulah, mengapa cerewet?"
Tek Hoat mencela.
Memang dua orang ini sejak dulu suka ribut saja kalau jumpa, sungguhpun di dalam hati mereka terdapat kasih sayang yang besar karena mereka itu adalah saudara seayah berlainan ibu, bernasib sama pula karena mereka dilahirkan sebagai anak-anak haram, ibu mereka telah menjadi korban perkosaan ayah mereka (baca cerita KISAH SEPASANG RAJAWALI).
Bahkan di waktu muda, keduanya hampir saling jatuh cinta ketika mereka belum mengetahui bahwa mereka itu sesungguhnya seayah.
Ceng Ceng masih mengejek, akan tetapi sambil mengejek dia sudah menerjang Ji-ok, sedangkan suaminya, Si Naga Gurun Pasir yang pendiam, telah menerjang Toa-ok.
Sekali terjang saja, Toa-ok yang mencoba menangkis itu telah terjengkang!
Bukan main kagetnya hati Im-kan Ngo-ok ketika melihat munculnya pria berlengan satu yang amat sakti ini.
Mereka mengenal siapa adanya Naga Sakti Gurun Pasir bersama isterinya, maka mereka kini tahu bahwa kini keadaan menjadi berbalik dan mereka terancam bahaya.
Maka, setelah melawan beberapa lamanya dan mereka terdesak hebat, Sam-ok yang merupakan otak mereka biarpun dia itu orang ke tiga, bersuit nyaring dan lima orang itu lalu berlompatan jauh dan melarikan diri.
Tek Hoat terhuyung-huyung dan terguling, pingsan.
Pukulan yang diterimanya dari Sam-ok tadi amat hebat.
Melihat ini Ceng Ceng cepat menubruknya dan memeriksa.
Suaminya juga mendekati dan tidak mengejar lima orang datuk sesat itu yang segera melarikan diri ke perahu mereka dan cepat berlayar pergi meninggalkan pulau yang kini terlalu berbahaya bagi mereka itu.
"Bagaimana dia?"
Kao Kok Cu, Si Nsga Sakti bertanya kepada isterinya sambil memeriksa.
"Agaknya dia mengalami luka di dalam tubuhnya. Lihat ini punggungnya."
Kata Wan Ceng.
Punggung yang telah dibuka bajunya itu nampak kebiruan.
Kao Kok Cu lalu menempelkan telapak tangannya untuk mengobati Tek Hoat.
Sementara itu, Pangeran Mahkota yang sejak tadi tenang-tenang saja menonton pertempuran, kini menghampiri dengan wajah girang.
"Wah, untung ada Paman Kao dan Bibi yang datang!"
Katanya.
Melihat Pangeran yang mereka kenal baik ini, Kao Kok Cu dan Wan Ceng menjura dan Kao Kok Cu lalu melanjutkan pengobatannya.
Sementara itu, Wan Ceng bercerita kepada Pangeran.
"Kami bertemu dengan Cin Liong. Dia masih sibuk setelah membuat pembersihan di barat dan dia mengatakan bahwa Paduka berada dalam bahaya, dan dia minta kepada kami untuk menyusul ke Pulau Kim-coa-to ini. Kami terlambat, akan tetapi untung ada saudara hamba Si Jari Maut ini yang menghadapi Im-kan Ngo-ok yang berbahaya."
"Hemm, jadi Paman pengemis itu adalah saudara Bibi, ya? Dan dia itu Si Jari Maut? Pantas demikian lihainya. Dia pernah menyelamatkan aku dari para perampok pula. Ah, tak kusangka bahwa dialah orangnya.... pantas Enci Syanti Dewi pingsan seketika setelah tadi melihatnya."
"Syanti Dewi? Di mana dia sekarang?"
Tanya Wan Ceng dengan girang.
Memang dia sudah mendengar bahwa Syanti Dewi berada di pulau itu, maka dia bersama suaminya yang menyusul Sang Pangeran itu sekalian hendak menjenguk Puteri Bhutan itu yang menjadi saudara angkatnya.
"Dia tadi pingsan ketika melihat Si Jari Maut dan digotong ke dalam oleh Ouw-toanio."
Mendengar ini, Wan Ceng lalu bangkit berdiri dan setelah melihat bahwa Tek Hoat tidak berbahaya keadaannya, dia lalu lari memasuki gedung untuk mencari Syanti Dewi.
Ternyata Syanti Dewi telah mengalami kejutan yang menggoncangkan batinnya.
Melihat munculnya Tek Hoat dalam keadaan seperti jembel, dia terkejut, terheran, dan terharu sehingga dia jatuh pingsan.
Melihat Ceng Ceng memasuki kamar itu, Ouw Yan Hui mengerutkan alisnya.
Akan tetapi Ceng Ceng berkata dengan suara berwibawa.
"Minggirlah, biar kuperiksa Enci Syanti."
Akan tetapi Ouw Yan Hui masih memandang dengan curiga.
"Aku adalah Candra Dewi, saudara angkatnya."
Ceng Ceng memperkenalkan diri.
Mendengar ini, barulah Ouw Yan Hui bangkit.
Kiranya inilah orang yang sering dibicarakan Syanti Dewi, wanita yang bernama Wan Ceng atau Candra Dewi, isteri dari Pendekar Naga Sakti dari Gurun Pasir itu!
Ceng Ceng lalu memeriksa keadaan Syanti Dewi.
Tahulah dia bahwa saudara angkatnya itu mengalami pukulan batin yang mengguncangkan jantungnya dan perlu beristirahat.
"Dia tidak berbahaya akan tetapi perlu beristirahat, biarlah saya menjaganya di sini."
Katanya lagi kepada Ouw Yan Hui.
Ouw Yan Hui mengangguk, lalu dia keluar.
Sebagai nyonya rumah, tentu saja dia harus mengatur keadaan di luar yang tadi menjadi kacau oleh Im-kan Ngo-ok.
Di ruangan itu dia melihat Pangeran bersama Naga Sakti Gurun Pasir berlutut di dekat tubuh Si Jari Maut yang masih pingsan, sedangkan Souw-ciangkun repot mengurus anak buahnya yang luka-luka.
Ouw Yan Hui lalu mengepalai anak buahnya untuk membersihkan tempat, mengangkuti yang luka ke belakang dan mempersilakan para tamu untuk duduk kembali dan memerintahkan para pembantunya menyuguhkan minuman baru.
Sementara itu, Tek Hoat siuman dari pingsannya.
Begitu membuka mata, dia cepat bangkit duduk dan melihat di situ terdapat Kao Kok Cu dan Pangeran, pandang matanya liar mencari-cari ke kanan kiri.
"Mana dia....? Ke mana dia....?"
"Engkau mencari siapa?"
Kao Kok Cu bertanya karena ketika pendekar ini tadi datang bersama isterinya, dia tidak melihat Syanti Dewi.
Akan tetapi Pangeran Kian Liong mengerti.
Setelah dia mendengar bahwa pendekar yang seperti pengemis ini adalah Si Jari Maut Wan Tek Hoat, maka tahulah dia mengapa Syanti Dewi pingsan ketika melihatnya.
Dia tahu bahwa inilah pria yang diceritakan oleh Syanti Dewi kepadanya, satu-satunya pria di dunia yang pernah dicinta dan masih dicinta oleh Sang Puteri itu.
Maka Pangeran pun tersenyum.
"Paman, engkau mencari Syanti Dewi? Dia berada di dalam gedung, engkau susullah dia ke sana"
Dia menuding ke arah gedung.
"Akan tetapi, keadaanmu seperti ini, Paman. Sebaiknya kalau engkau berganti pakaian lebih dulu...., tidak baik engkau bertemu dengannya dalam pakaian seperti ini...."
Wan Tek Hoat bangkit berdiri dan menggeleng kepadanya, memandang kepada Pangeran itu dengan sinar mata berterima kasih.
"Biarlah, Pangeran. Biar hamba menemuinya seperti ini, biar dia melihat keadaan hamba yang sebenarnya. Setelah berkata demikian, dia pun berjalan cepat memasuki gedung. Melihat itu, Kao Kok Cu menggeleng kepala dan berkata, tidak langsung ditu-jukan kepada Sang Pangeran, seperti bicara kepada diri sendiri.
"Sungguh dia itu menyiksa diri sendiri sampai sedemikian rupa...."
"Akan tetapi dia tidak menderita seorang diri, juga Enci Syanti Dewi menderita batin hebat sekali karena dia. Cinta asmara antara dua orang itu memang Sungguh amat luar biasa sekali."
Kata Sang Pangeran.
Pendekar berlengan satu itu memandang kepada Sang Pangeran dan tersenyum, sinar matanya yang mencorong itu menatap kagum.
Pangeran ini masih begini muda, akan tetapi nampaknya me-miliki kebijaksanaan yang besar dan pandangannya amat mendalam.
"Jadi Paduka telah mengetahui apa yang terjadi di antara mereka berdua?"
Pangeran itu mengangguk.
"Enci Syanti telah bercerita kepadaku dan karena Si Jari Maut itulah maka sampai sekarang Enci Syanti tidak mau menyerahkan hatinya kepada pria lain sehingga tadi terpaksa aku turun tangan untuk membantunya."
Dengan singkat Sang Pangeran lalu bercerita tentang sayembara "menangkap"
Syanti Dewi tadi dan dia maju untuk membantu Sang Dewi keluar dari pulau itu tanpa menyinggung perasaan Ouw Yan Hui yang sudah menanam banyak sekali budi terhadap Syanti Dewi.
Mendengar penuturan Pangeran itu, Kao Kok Cu menarik napas panjang.
Dia termenung sebentar, kemudian berkata lirih.
"Mereka itu saling mencinta dan patut dipuji kesetiaan mereka. Mudah-mudahan saja pertemuan sekali ini akan membuat mereka bersatu dan takkan terpisah kembali."
Mereka berhenti bicara ketika Ouw Yan Hui datang menghampiri. Wanita ini menjura kepada Kao Kok Cu dan berkata.
"Harap maafkan bahwa baru sekarang saya mengetahui bahwa Taihiap adalah Naga Sakti Gurun Pasir yang namanya amat terkenal itu. Dan saya menghaturkan terima kasih atas bantuan Taihiap dan isteri Taihiap yang telah mengusir Im-kan Ngo-ok yang datang mengacau di sini. Adik saya, Syanti Dewi sudah banyak bercerita tentang keluarga Taihiap, terutama tentang isteri Taihiap."
Melihat sikap yang ramah ini, Kao Kok Cu balas menjura dan berkata.
"Memang, Enci Syanti Dewi adalah kakak angkat dari isteri saya."
Mereka lalu dipersilakan duduk di tempat kehormatan dan pesta yang tadi terganggu itu dilanjutkan, biarpun kini para tamu saling bicara sendiri, membicarakan peristiwa yang baru terjadi.
Kemunculan Im-kan Ngo-ok itu saja sudah mengejutkan dan mengherankan semua orang karena sebagian besar dari mereka baru sekali itu berkesempatan melihat datuk-datuk kaum sesat yang namanya sudah sering mereka dengar itu.
Apalagi kemudian muncul Naga Sakti Gurun Pasir yang namanya seperti dongeng, sebagai penghuni Istana Gurun Pasir yang tidak kalah terkenalnya dengan nama-nama seperti Istana Pulau Es!
Dan menyaksikan betapa Naga Sakti Gurun Pasir bersama isterinya tadi menghadapi Im-kan Ngo-ok, bersama Si Jari Maut yang juga telah mereka dengar namanya membuat para tokoh kang-ouw itu kagum bukan main.
Tak mereka sangka bahwa di Pulau Kim-coa-to itu mereka akan menyaksikan perkelahian tingkat atas yang demikian hebatnya.
Sementara itu, dengan jantung berdebar dan kedua kaki gemetar, Tek Hoat memasuki ruangan di mana Syanti Dewi masih rebah ditunggu oleh Wan Ceng.
Dia ingin berjumpa dengan Syanti Dewi, sebentar saja, untuk minta ampun atas semua dosa dan kesalahannya.
Dia tidak ingin mengganggu Syanti Dewi, ingin membiarkan wanita itu berbahagia bersama Pangeran, Bahkan tadinya dia sudah hendak meninggalkan tempat itu tanpa diketahui seorang pun.
Akan tetapi, melihat Syanti Dewi terancam bahaya, tentu saja tidak mungkin mendiamkan begitu saja dan ketika dia muncul dan melihat wanita itu roboh pingsan, hatinya seperti diremas-remas rasanya.
Kini tak mungkin dia pergi tanpa menengok dulu bagaimana keadaan wanita itu, dan minta ampun.
Kalau Syanti Dewi sudah mengampuni, barulah dia akan hidup dengan hati bebas daripada penyesalan.
Pengampunan dari Syanti Dewi akan merupakan dorongan hidup baru baginya, dan kebahagiaan Syanti Dewi, biarpun di samping pria lain, akan membuat dia rela untuk menghabiskan sisa hidupnya dalam keadaan bebas dan dia tentu akan merasa seperti hidup kembali, tidak seperti sekarang seolah-olah terbelenggu oleh rasa penyesalan dan kedukaan!
"Syanti....!"
Dia memanggil lirih ketika melihat wanita itu masih rebah telentang di atas pembaringan dengan muka pucat dan tidak bergerak seperti telah mati, sedangkan Ceng Ceng duduk di atas bangku dekat pembaringan.
"Ssttt....!"
Wan Ceng menengok dan menyentuh bibirnya.
"Biarkan dia beristirahat, dia mengalami guncangan batin yang cukup parah."
"Syanti....!"
Tek Hoat mengeluh dan dia pun lalu menjatuhkan diri berlutut di dekat pembaringan, menatap wajah itu dengan penuh kerinduan, penuh keharuan dan penuh penyesalan mengapa dia sampai menyiksa hati seorang dara seperti ini!
Dua titik air mata membasahi bulu matanya dan melihat ini, Wan Ceng menjadi terharu.
Dipegangnya tangan saudara tirinya itu.
"Tek Hoat, mengapa engkau sampai menjadi begini? Bukankah dahulu engkau dan Syanti Dewi berada di Bhutan, engkau malah menjadi panglima dan kalian akan kawin....?"
Tek Hoat menggeleng kepala dan menarik napas panjang.
"Ceng Ceng, aku memang bodoh, aku seorang laki-laki yang tidak berharga sama sekali, apalagi untuk menjadi suaminya, bahkan men-dekatinya pun aku terlalu kotor. Akan tetapi.... aku tak mungkin kuat untuk hidup lebih lama lagi sebelum mendapat pengampunannya.... maka aku datang untuk minta ampun kepadanya...."
Wan Ceng menatap wajah pengemis itu dan tak dapat menahan runtuhnya air matanya. Dia merasa kasihan sekali kepada saudaranya ini.
"Tek Hoat...., Tek Hoat, mengapa engkau menyiksa hatimu sampai begini? Mengapa engkau begini sengsara, Saudaraku....?"
Dia memegang lengan yang tegap kuat itu. Tek Hoat menunduk.
"Entahlah, mungkin darah yang jahat dari Ayah kita lebih banyak mengalir dalam tubuhku. Biarlah, Ceng Ceng, biarlah aku yang menanggung semua dosa Ayah kita.... kudoakan saja engkau berbahagia.... biarlah aku seorang yang menanggungnya...."
"Tek Hoat....!"
Wan Ceng sejenak merangkul pundak itu, kemudian dia bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan itu.
Dia tahu bahwa dalam keadaan seperti itu, sebaiknya membiarkan dua orang itu bertemu dan bicara berdua saja, setelah Syanti Dewi sadar.
Akan tetapi Tek Hoat tidak bangkit dari berlututnya.
Dia mengambil keputusan untuk terus berlutut sampai menerima pengampunan dari mulut Syanti Dewi!
Dia memperhatikan pernapasan Syanti Dewi dan merasa lega bahwa keadaan wanita itu memang tidak lagi mengkhawatirkan, dan agaknya Syanti Dewi da-lam keadaan tidur.
Satu jam lebih Tek Hoat berlutut di depan pembaringan dan akhirnya Syanti Dewi bergerak, membuka mata dan mulutnya berbisik.
"Tek Hoat...., Tek Hoat...."
Tek Hoat merasa jantungnya seperti ditusuk-tusuk. Syanti Dewi memanggil-manggil dia! (Lanjut ke
Jilid 28) Suling Emas & Naga Siluman (Seri ke 11 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 28
"Aku.... aku di sini...."
Katanya dengan suara gemetar dan muka menunduk, tidak berani memandang wanita itu.
Syanti Dewi bangkit duduk, matanya terbelalak dan ketika dia melihat pengemis yang berlutut di depan pembaringan itu, dia mengeluh.
"Tek Hoat....!"
Isaknya membuat dia sesenggukan dan tidak kuasa mengeluarkan suara lagi.
Setiap dia memandang keadaan pria itu, dia mengguguk menangis, menutupi muka dengan kedua tangannya dan air matanya mengalir turun melalui celah-celah jari-jari tangannya.
"Syanti.... Syanti Dewi.... ampunkanlah aku.... aku datang hanya untuk minta ampun kepadamu, kau ampunkanlah aku, Syanti.... agar aku dapat melanjutkan hidup ini...."
"Tek Hoat...."
Sejak tadi Syanti Dewi hanya mampu menyebut nama ini, nama yang sudah terlalu sering disebutnya dalam mimpi, bahkan yang selalu bergema di dalam hatinya semenjak dahulu sampai sekarang.
"Syanti.... aku tidak ingin mengganggumu, sungguh mati.... biar aku dikutuk Tuhan jika aku berniat buruk kepadamu.... tidak, lebih baik aku mati daripada mengganggumu, Syanti. Aku tadinya sudah hendak pergi diam-diam, tapi.... tapi Im-kan Ngo-ok muncul dan kau terancam.... sekarang, kau katakanlah bahwa engkau sudi mengampuniku.... biar kucium ujung sepatumu, Syanti, kau ampunkanlah aku.... biarkan aku berani untuk melanjutkan hidup yang tak berapa lama lagi ini...."
"Tek Hoat.... duhai, Tek Hoat.... mengapa engkau sampai menjadi begini....?"
Syanti Dewi berkata, terengah-engah dan tersedu-sedu, dan kini tangan dengan jari-jari halus itu meraba kepala Tek Hoat, meraba muka yang penuh brewok itu, meraba baju yang penuh tambalan, jari-jari tangan yang gemetar.
"Mengapa.... mengapa engkau menjadi begini....?"
"Sudah sepatutnya aku menerima hukuman, Syanti, memang sudah sepatutnya aku manusia rendah ini hidup dalam keadaan yang serendah-rendahnya. Tapi aku belum merasa puas kalau belum mendapat ampun darimu, Syanti...., kau ampunkanlah aku.... kau ampunkanlah aku...."
Dan pria itu lalu menunduk, hendak mencium ujung sepatu Syanti Dewi.
"Tek Hoat, jangan....!"
Dan kini Syanti Dewi juga merosot turun dari atas pembaringan, ikut berlutut di depan Tek Hoat dan merangkulnya!
Tek Hoat terkejut, dan undur dan terbelalak.
"Jangan begitu, Syanti. Jangan kau mengotorkan dirimu. Sungguh, aku tidak ingin mengganggumu. Engkau.... engkau sudah sepatutnya, sungguh pantas menjadi isteri Pangeran Mahkota, kelak menjadi permaisuri.... wahai Syanti Dewi, sungguh mati aku ikut merasa bahagia melihat kebahagiaanmu...."
Kini Syanti Dewi yang memandang dengan mata terbelalak.
"Apa katamu? Engkau.... engkau akan merasa girang kalau aku menjadi isteri orang lain? Kau.... kau rela....?"
"Tentu saja, Syanti Dewi, aku merelakan apa pun, bahkan nyawaku, demi kebahagiaanmu...."
"Kalau begitu, engkau.... engkau sudah tidak cinta lagi kepadaku?"
"Ehhh....? Mengapa engkau bertanya demikian? Syanti Dewi.... aku..... cintaku.... ah, orang macam aku ini mana ada harganya bicara tentang cinta? Kau ampunkan aku, Syanti...."
"Tidak! Kalau engkau merelakan aku menjadi isteri orang lain, sampai mati pun aku tidak akan mengampunimu. Tek Hoat...., Tek Hoat.... sampai usia kita sudah tua begini, apakah engkau masih belum dewasa? Bertahun-tahun aku menantimu di sini, sampai hampir mati rasanya aku menantimu, dan kini.... begitu engkau muncul.... engkau hanya mau menyatakan bahwa engkau rela kalau aku menjadi isteri orang lain! Ya Tuhan, tidak akan ada hentinyakah engkau merusakhancurkan hati dan perasaanku, Tek Hoat?"
Syanti Dewi lalu menangis lagi sesenggukan.
Tek Hoat yang masih berlutut itu memandang bengong seperti orang kehilangan ingatan, atau seperti orang yang tolol.
Semua ucapan dan sikap Syanti Dewi sungguh, tak pernah terbayangkan olehnya sehingga dia terkejut dan kesima.
Akhirnya dia dapat juga berkata-kata, karena dia harus mengatakan sesuatu melihat Syanti Dewi menangis mengguguk seperti itu.
"Tapi.... tapi, Syanti.... aku melihat sendiri, mendengar sendiri betapa engkau telah memilih Pangeran Mahkota menjadi jodohmu.... malah aku bersyukur...."
Dia tidak melanjutkan kata-katanya karena Syanti Dewi sudah menurunkan kedua tangan dan melalui air matanya memandang kepadanya seperti orang merasa penasaran dan marah.
"Tentu saja engkau tidak tahu! Yang kau ketahui hanya dirimu sendiri saja, kesusahanku sendiri saja! Pangeran sengaja melakukan itu untuk menolongku, mengertikah engkau? Aku tidak mungkin dapat menjadi isteri orang lain dan sudah kukatakan ini kepada Pangeran yang menjadi sahabatku terbaik, maka dialah yang akan memban-tuku keluar dari sini tanpa menyinggung perasaan Enci Ouw Yan Hui. Aahhh, perlukah aku menjelaskan semuanya lagi? Tidak cukupkah kalau aku katakan bahwa aku tidak dapat menikah dengan orang lain kecuali dengan engkau? Bahwa hanya engkaulah satu-satunya pria yang pernah kucinta, yang masih kucinta, dan yang selamanya akan kucinta? Atau haruskah aku bersumpah kepadamu?"
Dua mata Tek Hoat menjadi basah dan air matanya menggelinding turun satu-satu.
Dia bangkit berdiri, memandang wantta itu, sinar harapan baru muncul dalam pandang matanya.
"Syanti.... Syanti Dewi...., be...., benarkah itu? Benarkah itu....?"
"Bodoh! Engkau laki-laki canggung yang bodoh! Ahh, betapa gemas hatiku....! Mari, mari kubuktikan....!"
Kini Syanti Dewi bangkit berdiri dan menyambar tangan kiri Tek Hoat, digandengnya tangan kiri pria itu dengan tangan kanannya, Lalu diseretnya Tek Hoat keluar sehingga keduanya setengah berlari menuju ke ruangan itu.
Di situ nampak Ouw Yan Hui dan Pangeran Kian Liong sedang bercakap-cakap dengan Ceng Ceng dan Kao Kok Cu, sedangkan para tamu sedang bercakap-cakap sendiri dengan asyiknya.
Ketika Syanti Dewi muncul menggandeng tangan pengemis itu, semua orang menengok dan hanya Pangeran, Ceng Ceng dan Kao Kok Cu sajalah yang memandang dengan muka berseri karena tiga orang ini mengerti apa artinya itu.
Ouw Yan Hui juga sudah dapat menduga, akan tetapi alisnya berkerut karena dia amat mengharapkan Syanti Dewi menjadi isteri Pangeran Mahkota Kian Liong.
Para tamu terbelalak kaget dan terheran-heran, apa lagi ketika Syanti Dewi yang mukanya masih basah air mata itu kini berkata dengan suara lantang sekali.
"Cu-wi yang mulia, saya hendak membuat pengumuman, harap Cu-wi sekalian menjadi saksi bahwa saya telah memilih dan menetapkan jodoh saya, yaitu Wan Tek Hoat yang saya gandeng ini!"
Mata para tamu itu makin lebar terbelalak dan memandang tidak percaya.
Syanti Dewi, wanita cantik seperti bidadari itu memilih pengemis ini menjadi jodohnya?
Akan tetapi, terdengarlah tepuk tangan dan ternyata yang bertepuk tangan itu adalah Wan Ceng, dan Pangeran Kian Liong sendiri, dan ketika para tamu melihat siapa yang bertepuk tangan, mereka pun beramai-ramai bertepuk tangan, sungguhpun di dalam hati mereka itu terdapat rasa penasaran sekali.
Mereka tidak tahu akan riwayat percintaan antara kedua orang itu, dan yang mereka ketahui sekarang hanya bahwa Syanti Dewi adalah seorang wanita secantik bidadari sedangkan pria itu adalah seorang laki-laki yang nampak jauh lebih tua dan seperti jembel pula.
Tentu saja mereka merasa penasaran.
Sementara itu, melihat betapa Sang Pangeran sendiri menyambut pengumuman ini dengan tepuk tangan dan wajah berseri gembira, Ouw Yan Hui merasa terheran-heran.
Akan tetapi pada saat itu Pangeran Kian Liong mendekatinya dan berkata.
"Ouw-toanio sendiri tentu sudah tahu akan riwayat mereka, maka sekarang mereka telah saling bertemu, alangkah baiknya kalau peresmian perjodohan mereka dilaksanakan di sini juga, dengan disaksikan oleh para tamu. Ouw Yan Hui memandang dengan muka agak pucat.
"Tapi.... tapi.... bukankah Pangeran...."
"Sssttt, Ouw-toanio. Enci Syanti Dewi pantas menjadi bibiku, sekarang bertemu dengan Paman Wan Tek Hoat yang sejak dahulu dicintainya, hanya untuk menghilangkan rasa tidak enak dan malu saja setelah dia menolak semua calon."
Kemudian dengan suara mendesak Pangeran itu minta kepada Ouw Yan Hui agar usulnya itu diumumkan.
Ouw Yan Hui merasa lemas, akan tetapi tidak berani menentang.
Dia menarik napas panjang dan bangkit dengan tubuh lesu, lalu berkata dengan suara lantang.
"Cu-wi yang mulia, Cu-wi telah melihat sendiri bahwa Adik Syanti Dewi telah memilih jodohnya. Maka, selagi Cu-wi masih berada di sini, kami akan meresmikan perjodohan mereka pada besok pagi. Silakan Cu-wi beristirahat di dalam pondok tamu sementara kami akan membuat persiapan untuk pesta besok pagi."
Para tamu menyambut dengan gembira dan mereka kembali saling bicara sehingga suasana menjadi bising.
Ceng Ceng menggandeng tangan Tek Hoat sambil berkata.
"Hayo kau ikut aku! Calon pengantin masa seperti ini? Engkau harus cukur dan mandi tujuh kali, berganti pakaian...."
Tiba-tiba nyonya ini menjadi bingung.
"Wah, pakaian yang mana....?"
Dia menoleh kepada suaminya.
Dalam perjalanan itu, suaminya ada membawa pengganti pakaian, akan tetapi pakaian biasa dan tentu saja kurang pantas kalau dipakai pengantin.
Pangeran Kian Liong tersenyum lebar.
"Jangan khawatir, Bibi. Kebetulan bentuk tubuh Paman Wan Tek Hoat hampir sama dengan tubuhku, dan aku ada membawa beberapa potong pakaian yang akan cukup pantas kalau dipakai olehnya."
Wan Ceng tersenyum girang.
"Sungguh, Paduka selalu bisa mendapatkan akal dan jalan keluar, terima kasih!"
Memang ada hubungan yang akrab antara Pangeran Mahkota dengan suami isteri pendekar itu karena putera mereka, yaitu Kao Cin Liong, merupakan seorang sahabat baik sekali dari Pangeran Kian Liong.
Bahkan Sang Pangeran ini pernah pula mengunjungi Istana Gurun Pasir, bersama sahabatnya yang kini menjadi seorang jenderal muda itu.
Syanti Dewi hanya tersenyum me-nyaksikan Tek Hoat ditarik-tarik oleh Wan Ceng ke dalam gedung, dan dia sendiri lalu mendekati Ouw Yan Hui dan memegang tangan enci atau juga gurunya itu.
Dia dapat melihat wajah yang mu-ram dari Ouw Yan Hui, maka dia berbisik.
"Maafkan aku, Enci Hui, engkau tahu, dia itu tunanganku dan.... dialah satu-satunya pria yang kucinta. Kami akan kembali ke Bhutan...., Ayah telah tua sekali dan terlalu lama aku meninggalkan keluargaku di sana...."
Ouw Yan Hui memandang wajah adik atau juga muridnya ini.
Melihat wajah cantik itu memandang kepadanya dengan penuh permohonan, dan penyesalan, dia merasa terharu juga.
Dia amat sayang kepada Syanti Dewi, seperti adiknya atau seperti anaknya sendiri maka dirangkulnya Syanti Dewi.
Mereka berpelukan dan tidak mengeluarkan suara, akan tetapi pada mata Ouw Yan Hui yang biasanya amat tabah dan berhati dingin itu nampak air mata berlinang.
Lalu mereka pun memasuki gedung untuk membuat persiapan.
Pesta pernikahan itu dilakukan secara sederhana sekali, apalagi hanya dihadiri dan disaksikan oleh para tamu kurang lebih dua ratus orang banyaknya, mereka yang tadinya datang ke pulau itu untuk menghadiri perayaan ulang tahun Syanti Dewi.
Memang tadinya Ouw Yan Hui mengusulkan untuk mengundur hari pernikahan agar dia dapat mengirim undangan sebanyaknya, akan tetapi Tek Hoat dan Syanti Dewi tidak setuju.
Biarlah perjodohan mereka disahkan secara sederhana, sudah disaksikan oleh Pangeran Kian Liong dan fihak keluarga diwakili oleh Wan Ceng dan suaminya.
"Kami akan kembali ke Bhutan dan di sanalah nanti diadakan pesta yang meriah,"
Kata Syanti Dewi.
Biarpun acara pernikahan itu amat sederhana, namun cukup meriah karena di situ hadir pula Sang Pangeran.
Ouw Yan Hui menangis tersedu-sedu, hal yang amat luar biasa baginya, ketika sepasang pengantin itu memberi hormat kepadanya.
Juga Wan Ceng menangis dan merangkul kakak tirinya dengan hati terharu, lalu mencium Syanti Dewi yang masih terhitung kakak angkatnya pula.
Suasana menjadi mengharukan sekali, akan tetapi Pangeran Kian Liong lalu maju memberi selamat kepada sepasang mempelai dengan mengangkat cawan arak sehingga semua tamu juga mengangkat cawan arak dan suasana menjadi gembira kembali.
Setelah Tek Hoat dicukur, membersihkan diri dan berganti pakaian pangeran yang indah, Berubahlah jembel yang terlantar itu menjadi seorang laki-laki yang amat gagah dan tampan, yang wajahnya berseri-seri dan sepasang matanya mencorong tajam.
Betapapun juga, dia adalah seorang pria yang usianya sudah mendekati empat puluh tahun dan kelihatan juga setengah tua, sebaliknya, Syanti Dewi biarpun usianya juga sepantar dia, namun masih nampak seperti seorang dara berusia dua puluh tahun saja!
Pertemuan dua hati dan dua badan yang saling mencinta ini tentu saja terasa nikmat di hati dan kebahagiaan yang amat mendalam membuat mereka merasa terharu.
Tiada habisnya mereka bercakap-cakap menceritakan semua pengalaman mereka semenjak mereka saling berpisah, dan di dalam penuturan ini terungkaplah semua peristiwa dan kesalah pengertian di antara mereka, juga terungkaplah bukti-bukti betapa mereka itu sesungguhnya saling mencinta.
Dan akhir dari semua itu membuat mereka merasa saling dekat, dan di dalam hati mereka bersumpah untuk tidak saling berpisah lagi selama-lamanya.
Mereka merasa berbahagia sekali.
Benarkah mereka berbahagia?
Apakah bahagia itu?
Bagaimanakah kita dapat berbahagia?
Kebahagiaan!
Sebuah kata ini kiranya dikenal oleh setiap orang manusia di dunia ini, dikenal dan dirindukan, dicari dan dikejar-kejar selama kita hidup.
Betapa kita semua, masing-masing dari kita, selalu mendambakan kebahagiaan dalam kehidupan kita.
Kata "kebahagiaan"
Sudah menjadi kabur, bahkan seringkali, hampir selalu malah, tempatnya diduduki oleh sesuatu yang sesungguhnya bukan lain adalah kesenangan atau kepuasan belaka.
Kalau kita memperoleh sesuatu yang kita harap-harapkan, maka kita mengira bahwa kita berbahagia!
Benarkah itu?
Ataukah yang terasa nyaman di hati itu hanyalah kesenangan yang timbul karena kepuasan belaka, karena terpenuhinya sesuatu yang kita harap-harapkan, atau inginkan?
Dan kepuasan hanya merupakan wajah yang lain dari kekecewaan belaka.
Kepuasan hanya selewat, dan sebentar kemudian rasa nikmat dan nyaman karena kepuasan ini pun akan lewat dan lenyap, mungkin terganti oleh kekecewaan yang selalu bergandeng tangan dengan kebalikannya itu.
Kepuasan dan kekecewaan, seperti juga kesenangan dan kesusahan saling isi mengisi, saling bergandeng tangan dan selalu bergandengan karena memang merupakan si kembar yang mungkin berbeda rupa.
Di mana ada kepuasan, tentu ada kekecewaan.
Di mana ada kesenangan, tentu ada kesusahan.
Orang yang mengejar kesenangan, tak dapat tiada akan bersua dengan kesusahan, siapa mengejar kepuasan, tak dapat tiada akan bertemu dengan kekecewaan.
Kebahagiaan berada di atas, jauh di atas jangkauan atau pengaruh senang dan susah, puas dan kecewa.
Kebahagiaan tak mungkin dijangkau atau dikejar, kebahagiaan tak mungkin digambarkan.
Senang dan susah adalah permainan pikiran, terikat oleh waktu dan bersumber kepada Si Aku.
Si Aku ini sudah tentu terombang-ambing antara senang dan susah karena Si Aku itu, selalu penuh dengan keinginan dan sudah barang tentu tidak mungkin segala keinginan yang tiada habisnya itu selalu terpenuhi, maka terjadilah puas dan kecewa.
Bahkan kalau keinginan sudah terpenuhi sekalipun, menimbulkan hal-hal lain.
Yaitu menimbulkan kekhawatiran kalau-kalau kita kehilangan sesuatu yang sudah kita miliki itu, dan menimbulkan pengikatan diri kepada sesuatu yang menyenangkan itu sehingga kalau kita kehilangan, timbullah duka.
Kebahagiaan tidak mungkin dapat dimiliki, tidak dapat diperoleh dengan usaha dan daya upaya, tidak mungkin dapat ditimbun.
Kebahagiaan tidak ada hubungannya dengan pikiran yang selalu mengejar kesenangan!
Kebahagiaan tidak mungkin ada selama masih ada Si Aku yang ingin senang!
Kebahagiaan baru ada di mana ada cinta kasih.
Kita selalu penuh oleh Si Aku yang selalu mengejar kesenangan dan yang selalu hendak menjauhi kesusahan.
Sedikit saja kita dijauhi kesenangan, kita lalu mengeluh dan merasa sengsara.
Kebahagiaan bukan hal yang dapat dikhayalkan.
Kita selalu mencari-cari yang tidak ada sehingga mana mungkin kita menikmati yang ada?
Mana mungkin kita dapat melihat keindahan SINI kalau mata kita selalu mencari-cari dan memandang SANA saja?
Pernahkah kita menikmati kesehatan?
Pernahkah dalam keadaan badan sehat kita pergi keluar kamar menghirup udara sejuk dan memandang awan berarak di angkasa?
Tidak, kita selalu sibuk dengan sesuatu, pikiran selalu penuh dengan persoalan.
Kita selalu ingin ini ingin itu sehingga mata kita seperti buta terhadap segala keindahan yang terbentang luas di sekeliling kita.
Pernahkah kita pada waktu subuh pergi berjalan-jalan, melihat suasana ketika matahari mulai timbul?
Pernahkah di waktu senja kita melihat suasana ketika matahari tenggelam, betapa indahnya angkasa?
Pernahkah kita menerawang bintang-bintang di malam hari yang cerah?
Tidak pernah!
Pikiran kita, siang-malam, sibuk mencari uang, mencari kesenangan, mencari ini dan itu, tanpa ada hentinya.
Kita tidak pernah menikmati kesehatan, akan tetapi kita selalu mengeluh kalau tidak sehat!
Kita tidak pernah "merasakan"
Keadaan yang berbahagia.
Kita bahkan tidak sadar lagi di waktu kita sehat, tidak dapat merasakan betapa nikmatnya kesehatan, akan tetapi kita amat memperhatikan di waktu kita tidak sehat, mengeluh dan mengaduh.
Dalam keadaan menderita sakit, kita mengeluh dan membayangkan betapa akan bahagianya kalau kita sembuh, kalau kita sehat.
Akan tetapi bagaimana kalau kita sudah sehat?
Pikiran penuh dengan keinginan laln dan "ingin sehat"
Tadi pun sudah terlupa.
"bahagia karena sehat"
Pun sudah terlupa dan kita tidak lagi menikmati keadaan sehat itu!
Demikianlah selalu.
Pikiran menjauhkan kebahagiaan.
Pikiran selalu mengeluh setiap saat, merasa tidak berbahagia, atau kalau tiada sesuatu yang dikeluhkan, pikiran mencari-cari sesuatu yang DIANGGAP lebih menyenangkan, lebih enak.
Tentu saja kita tidak pernah dapat menikmati bahagia kalau pikiran selalu mengejar kesenangan yang berada di masa depan.
Bahagia adalah saat demi saat, bahagia adalah sekarang ini, tapi pikiran selalu penuh dengan kesenangan lalu, penuh dengan harapan-harapan dan keinginan-keinginan masa depan.
Pernahkah Anda berdiri di dalam cahaya matahari pagi, di tempat terbuka yang cerah, yang berhawa hangat nyaman?
Memandang ke sekeliling tanpa ada Si Aku yang ingin senang?
Cobalah sekali-kali.
Waspada membuat kita tidak mengeluh, melainkan bertindak tepat menghadapi segala hal yang terjadi.
Pikiran atau Si Aku selalu membentuk iba diri dan keluhan.
Syanti Dewi dan Wan Tek Hoat tentu saja merasa senang karena idam-idaman hati mereka tercapai.
Kerinduan hati mereka terpenuhi.
Akan tetapi kehidupan bukan hanya sampai di situ saja.
Hari-hari dan peristiwa-peristiwa, seribu satu macam, masih membentang luas di depan dan yang terpaksa harus mereka hadapi.
Selama mereka terikat kepada kesenangan sudah pasti kebahagiaan karena pertemuan itu pun hanya akan menjadi suatu kesenangan sepintas lalu saja!
Ah, mengapa kita tidak pernah mau membuka mata melihat kenyataan bahwa segala macam bentuk KESENANGAN itu selalu akan menimbulkan KEBOSANAN?
Dapatkah kita hidup tidak menjadi hamba nafsu kita sendiri yang selalu mengejar-ngejar kesenangan?
Dapatkah?
Kita sendiri yang harus menyelidiki drin menjawab pertanyaan kita ini kepada diri sendiri, dengan PENGHAYATAN dalam kehidupan, bukan teori-teori usang.
Setiap hal dapat saja merupakan berkah, tapi dapat juga menjadi kutukan, setiap hal yang menimpa kita bisa saja menjadi sesuatu yang menyenangkan atau menyusahkan, akan tetapi penilaian itu hanya-lah pekerjaan pikiran atau Si Aku!
Kebahagiaan berada di atas dari semua itu, tak dapat terjangkau oleh pikiran, seperti juga cinta kasih!
Beberapa hari kemudian, berangkatlah rombongan itu meninggalkan Pulau Kim-coa-to.
Mereka adalah si pengantin baru Wan Tek Hoat dan Syanti Dewi, Wan Ceng dan Kao Kok Cu, dan Pangeran Kian Liong, dikawal Souw-ciangkun dan sisa anak buahnya, karena banyak di antara mereka yang terpaksa ditinggalkan dalam perawatan karena luka-luka mereka.
Sepasang pengantin itu diajak ke kota raja oleh Sang Pangeran, kemudian baru dari kota raja mereka akan melanjutkan perjalanan ke Bhutan, dengan pengawalan khusus, dengan sepucuk surat dari Sang Pangeran sendiri untuk Raja Bhutan.
Sedangkan Wan Ceng dan suaminya pergi ke kota raja, selain untuk mengawal Sang Pangeran, juga ingin bertemu dengan putera mereka yang tentu telah kembali dari tugas di barat.
Dan di dalam perjalanan inilah, di dalam kereta yang membawa mereka, Pangeran Kian Liong teringat akan janjinya kepada Bu-taihiap, yaitu pendekar sakti Bu Seng Kin yang pernah menolonnya, maka dia pun lalu membicarakan hal itu kepada Si Naga Sakti dan isterinya.
Suami isteri itu mengerutkan alis mereka dan saling pandang.
"Bu-taihiap? Siapakah dia itu?"
Wan Ceng bertanya, bukan kepada pangeran, melainkan kepada suaminya. Si Naga Sakti Gurun Pasir mengangguk.
"Aku belum pernah bertemu dengan dia, akan tetapi aku pernah mendengar namanya. Dia bernama Bu Seng Kin. Namanya pernah menggetarkan dunia sebelah barat dan kabarnya dia memang memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali."
"Dia memang hebat!"
Kata Sang Pangeran.
"Aku melihat sendiri betapa dia dan isteri-isterinya menghadapi Si Jangkung dan Si Pendek, dua orang dari Im-kan Ngo-ok itu. Bahkan Pendekar Bu itu dikeroyok dua, dan mengalahkan dua lawan itu dengan mudah. Dia memang lihai sekali, Paman Kao."
Kao Kok Cu dan isterinya mengangguk-angguk.
Kalau seorang diri dapat mengalahkan Su-ok dan Ngo-ok, berarti memang telah memiliki tingkat kepandaian yang tinggi.
Akan tetapi Wan Ceng yang memperhatikan ucapan Pangeran itu, kini bertanya.
"Paduka katakan tadi isteri-isterinya? Berapakah banyaknya isteri-isterinya?"
Sang Pangeran tertawa.
"Dalam hal itu agaknya dia memang agak istimewa. Yang ikut bersama dia pada waktu itu ada tiga orang."
"Tiga orang isteri? Ikut bersama?"
Wan Ceng terbelalak.
"Benar, dan ketiga orang isterinya itupun rata-rata amat lihai!"
"Dan anaknya itu.... anak dari isteri ke berapakah?"
Tanya pula Wan Ceng. Kembali Sang Pangeran tertawa. Kecerewetan seorang wanita dalam hal-hal seperti itu tidak mengherankan dia.
"Aku tidak tahu, Bibi dan kami tidak sempat bicara tentang hal itu. Akan tetapi pada waktu itu, puterinya juga ikut dan kulihat dia seorang gadis yang cantik dan memiliki sifat gagah seperti seorang pendekar wanita. Dan menurut Bu-taihiap, antara puterinya dan Cin Liong terdapat hubungan persahabatan yang akrab. Karena itulah maka dia ingin berjumpa dengan kalian untuk membicarakan pertalian jodoh antara mereka dan mereka minta kepadaku untuk dapat menjadi perantara."
"Hemm, seakan-akan orang she Bu itu sudah memastikan bahwa kami tentu setuju!"
Wan Ceng berkata tak senang.
"Isteriku, urusan jodoh merupakan urusan dua orang yang bersangkutan. Kita orang-orang tua hanya berdiri di belakang dan mengamati saja agar segala hal terlaksana dengan baik dan benar, maka hal ini pun baru bisa dibicarakan kalau kita sudah bicara dengan anak kita. Bagi kita, tidak bisa menerima atau menolak sebelum mendengar suara Cin Liong."
"Sayang bahwa aku sendiri tidak tahu benar akan keadaan keluarga Bu-taihiap itu, akan tetapi kurasa Cin Liong telah berkenalan dengan keluarga itu ketika dia memimpin pasukan ke barat. Sebaiknya memang kalau kita, eh, maksudku Paman dan Bibi berdua menanyakan"
Demikianlah, di dalam perjalanan menuju ke kota raja itu, ada bahan pemikiran yang amat serius bagi suami isteri pendekar ini, karena yang disampaikan oleh Pangeran itu menyangkut perjodohan dan masa depan putera tunggal mereka.
Sementara itu, di dalam kereta lain yang sengaja disediakan oleh Pangeran, sepasang suami isteri, Wan Tek Hoat dan Syanti Dewi, masih tenggelam dalam kemanisan bulan madu dan tidak mempedulikan segala keadaan lainnya seolah-olah di dunia ini hanya ada mereka berdua!
Sebelum kita melanjutkan dengan mengikuti rombongan yang menuju ke kota raja ini, sebaiknya kalau kita lebih dulu menjenguk keadaan Kaisar dan keluarganya, dan apa yang sesungguhnya terjadi di dalam istana kaisar itu.
Memang telah terjadi perubahan amat besar pada diri Kaisar.
Kaisar Yung Ceng mungkin merupakan satu-satunya kaisar di jaman Pemerintahan Mancu yang pandai ilmu silat.
Memang ilmu silatnya hebat, bahkan boleh dibilang dia seorang yang ahli dan lihai sekali karena di waktu mudanya, Ketika dia masih menjadi seorang pangeran, dia suka sekali mempelajari ilmu silat dan bergaul di tengah-tengah kaum tukang pukul yang suka menjilat-jilatnya.
Dia disanjung sebagai seorang "pendekar", maka di waktu mudanya Pangeran ini suka sekali berkelahi, menantang siapa saja yang dianggapnya memiliki ilmu silat.
Tentu saja, orang yang ditantangnya kalau tahu bahwa penantangnya adalah Pangeran, mengalah dan akibatnya orang itu dipukul babak-belur dan Sang Pangeran lalu dipuji-puji oleh para tukang pukul sebagai seorang ahli silat yang menang pi-bu!
Pangeran yang masih muda ketika itu, baru berusia tujuh belas tahun, merasa menjadi seorang pendekar dan entah sudah berapa banyak guru-guru silat, orang-orang baik, yang dikalahkannya, sebagian ada yang memang kalah, akan tetapi banyak yang memang mengalah.
Akan tetapi, pada suatu hari, dia membentur batu karang!
Dia bertemu dengan seorang pemuda, dan melihat pemuda ini pandai silat, dia menantangnya dan memaksa pemuda itu untuk "pi-bu", dan akibatnya, Sang Pangeran yang kini dihajar babak-belur karena pemuda itu adalah seorang jago murid Siauw-lim-pai!
Pangeran Yung Ceng terkenal memiliki watak yang keras dan tidak mau kalah.
Menghadapi kekalahan dari seorang murid Siauw-lim-pai ini membuat dia penasaran sekali dan dia lalu menyamar ebagai seorang pemuda biasa dan pergilah dia ke kuil Siauw-lim-si untuk belajar ilmu silat dari para hwesio Siauw-lim-pai yang terkenal ahli.
Akan tetapi pada waktu itu, Siauw-lim-si hanya menerima anak-anak saja sebagai murid, maka permintaan Pangeran muda itu ditolak oleh para pimpinan Siauw-lim-si.
Pangeran ini memang memiliki kemauan yang amat keras.
Penolakan para pimpinan Siauw-lim-si tidak mematahkan semangatnya dan dia tetap berlutut di depan kuil siang malam dan tidak mau pergi sebelum permohonannya untuk menjadi murid Siauw-lim-pai diterima!
Melihat kemauan yang luar biasa ini, para pimpinan Siauw-lim-pai tertarik.
Ketika mereka membiarkan Pangeran yang mereka kira pemuda biasa itu berlutut di situ selama tiga hari tiga malam, mereka lalu menerima Sang Pangeran yang menggunakan nama biasa, yaitu Ai Seng Kiauw.
Diterimalah Ai Seng Kiauw sebagai seorang murid tanpa mengharuskan pemuda ini menggunduli kepala menjadi hwesio.
Dan mulailah Pangeran itu dilatih ilmu silat Siauw-lim-pai yang terkenal hebat itu.
Memang Pangeran itu memiliki bakat yang amat baik untuk ilmu silat, hanya sayang bahwa dia memiliki hati yang keras sekali, sungguh tidak sesuai dengan seorang pendekar yang seharusnya memiliki keteguhan hati yang tidak mungkin tergoyahkan oleh nafsuamarah.
Ai Seng Kiauw atau pangeran ini tekun berlatih.
Bahkan untuk mengejar ilmu silat, dia rela membiarkan dirinya diuji oleh para pimpinan Siauw-lim-pai yang mengharuskan dia mencari kayu bakar dan mengangsu air, yang harus dipikulnya naik turun bukit ke dalam kuil.
Pekerjaan ini amet berat dan selama berbulan-bulan dia melakukan pekerjaan itu sampai pundaknya lecet-lecet dan kakinya lelah sekali.
Akan tetapi setelah lewat setengah tahun, dia dapat memlkul kayu atau dua gentong air sambil berlari-larian menaiki bukit!
Tenaganya menjadi kuat sekali, tenaga sinkangnya bertambah dengan cepat.
Para murid Siauw-lim-pai adalah para hwesio yang mempelajari ilmu silat sebagai mata pelajaran yang diharuskan, dan dimaksudkan untuk menggembleng tubuh mereka agar kuat, tahan uji, dan sehat.
Maka mereka itu kebanyakan hanya mempelajari ilmu silat sekedarnya saja.
Tidak demikian dengan Sang Pangeran.
Dia belajar dengan tekun sekali, bahkan diam-diam, kadang-kadang secara mencuri-curi, dia memasuki ruangan perpustakaan di waktu malam dan membaca kitab-kitab pelajaran ilmu silat Siauw-lim-pai di dalam ruangan itu, kadang-kadang sampai pagi!
Dan dia pun berlatih siang malam tak mengenal lelah sehingga pelajaran-pelajaran yang akan dikuasai oleh lain murid selama empat lima tahun, telah dapat diraihnya selama satu tahun saja!
Akan tetapi, ternyata para pimpinan Siauw-lim-pai itu akhirnya dapat mengetahui bahwa murid yang bernama Ai Seng Kiauw itu bukan lain adalah pangeran putera kaisar!
Tentu saja mereka menjadi terkejut sekali dan beramai-ramai menghadap pangeran dan memberi hormat mereka, minta maaf bahwa karena tidak tahu, mereka telah memperlakukan Sang Pangeran sebagai murid biasa.
Ai Seng Kiauw atau Pangeran Yung Ceng merasa kecewa sekali.
Setelah dia diketahui kini dia tidak diperlakukan sebagai murid, dan dalam hal mengajarkan ilmu, para pimpinan itu tidak sungguh-sungguh hati lagi.
Dan kini, orang-orangnya atau saudara-saudaranya dapat mengunjungi dia dengan bebas, juga dia boleh keluar masuk dengan bebas dari kuil itu.
Hal ini membuat dia merasa bosan dan karena melihat bahwa para tokoh Siauw-lim-pai hanya setengah hati saja mengajarnya setelah mengetahui bahwa dia adalah seorang Pangeran Mancu, maka Pangeran Yung Ceng lalu meninggalkan kuil di mana dia belajar selama hampir tiga tahun lamanya.
Kini ilmu silatnya menjadi lihai sekali karena betapapun juga, dia telah digembleng oleh para pimpinan Siauw-lim-pai dan telah menguasai ilmu-ilmu silat Siauw-lim-pai yang amat tangguh.
Sewaktu dia masih menjadi "murid"
Siauw-lim-pai, yaitu sebelum dia dikenal sebagai pangeran, Yung Ceng ini bersikap ramah dan bersahabat terhadap para murid Siauw-lim-pai sehingga dia amat disuka.
Bahkan setelah dia diketahui sebagai seorang pangeran, para anak murid Siauw-lim-pai masih menganggapnya sebagai sahabat atau saudara seperguruan.
Ketika itu, Kaisar Kang Hsi sudah tua dan sakit-sakitan selalu.
Seperti biasa terjadi dalam keluarga kaisar, terutama sekali setelah kaisar menjadi tua dan sakit-sakitan.
Di antara para pangeran, diam-diam terjadi perebutan kekuasaan untuk menjadi putera mahkota atau calon pengganti kaisar kalau kaisar sudah meninggal dunia.
Dan tentu saja, di belakang para pangeran ini berdiri orang-orang ambisius yang mengatur segala-galanya.
Menurut perkiraan para menteri yang setia, pilihan Kaisar tentu akan terjatuh kepada pangeran yang ke empat, yaitu Pangeran Yung Lok, yang merupakan pangeran tersayang dan juga seorang pangeran yang bijaksana dan disuka oleh para menteri setia.
Selain itu, juga Yung Lok merupakan putera selir ke dua, sedangkan permaisuri tidak mempunyai putera.
Maka sudah sepatutnyalah kalau Pangeran Yung Lok menjadi putera mahkota.
Hal ini pun diketahui pula oleh Pangeran Yung Ceng yang memiliki ambisi besar untuk menjadi kaisar.
Dengan amat cerdiknya Yung Ceng lalu mendekati selir yang ke tiga dari ayahnya, seorang selir yang paling dicinta dan dimanja oleh Kaisar dan yang lebih sering berada di dalam kamar kaisar daripada selir-selir lainnya.
Selir ke tiga ini tidak mempunyai anak dan selain amat cantik juga pandai mengambil hati pria, maka Kaisar yang tua itu paling senang kalau ditemani selir ke tiga ini.
Terjadilah persekutuan antara Pangeran Yung Ceng dan selir ke tiga ini.
Pada suatu malam, Sang Selir ke tiga ini menemui Yung Ceng dan mengabarkan bahwa kaisar yang sudah agak payah sakitnya itu sore tadi telah membuat surat wasiat yang ditulis oleh seorang pembantu kaisar.
"Dalam surat wasiat itu dijelaskan bahwa yang menggantikan kedudukan Beliau adalah Pangeran ke empat."
Demikian selir itu memberi tahu. Pangeran Yung Ceng terkejut sekali dan merasa gelisah.
"Ibu harus dapat membantuku dalam hal ini."
"Jangan khawatir,"
Kata selir ke tiga itu.
"Mari kita rundingkan ini dengan Lan-thaikam."
Thaikam adalah pembesar kebiri yang bertugas di dalam keraton kaisar.
Segera mereka berdua menemui Lan-thaikam dan pembesar kebiri yang perutnya gendut yang mencari siasat.
"Surat wasiat itu harus dapat kita pinjam untuk sebentar, agar kita dapat melakukan perubahan-perubahan di dalamnya."
Akhirnya dia mengemukakan siasatnya.
Untuk tugas ini, tentu saja selir ke tiga yang paling mudah untuk melakukannya.
Pada malam berikutnya, ketika Kaisar tidur nyenyak setelah dilayani dan dipijati oleh selirnya yang ke tiga, selir itu lalu mengambil kunci dari ikat pinggang Kaisar, membuka peti kecil hitam yang berada di dekat pembaringan dan mengambil gulungan surat wasiat itu.
Cepat-cepat dia keluar dari kamar, me-nutupkan pintunya dan berlari kecil menuju ke sebuah kamar di mana telah menanti Pangeran Yung Ceng dan Lan-thaikam.
Sang Pangeran membuka surat wasiat itu dan mukanya menjadi merah, kedua tangannya dikepal ketika dia membaca sendiri surat wasiat itu di mana dengan jelas disebutkan bahwa yang berhak menggantikan kedudukan Kaisar adalah "Pangeran ke empat!"
Dia sendiri adalah Pangeran ke empat belas, sebagai putera dari selir ke delapan, kedudukan yang tiada artinya dalam urutan pangeran.
"Harap Paduka jangan khawatir, hamba telah menemukan siasat yang amat bagus sekali."
Kata Lan-thaikam, lalu dia membeber surat itu di atas meja, dan mengambil alat tulis.
Dengan hati-hati dia lalu membubuhi huruf angka sepuluh di depan empat, sehingga kini kalimat "Pangeran ke empat"
Berbunyi Pangeran ke empat belas!
Wajah pangeran itu berseri, sepasang matanya mengeluarkan sinar berkilat saking girangnya dan dia merangkul pundak pembesar itu.
"Bagus, Paman, engkau sungguh hebat sekali. Aku pasti tidak akan melupakan kalian berdua. Kelak kalau aku sudah menjadi kaisar, kalian akan kuberi kedudukan dan kekuasaan tinggi!"
"Hanya satu hal yang meragukan."
Kata selir itu.
"Huruf-huruf tulisan dari Coa-sianseng ini amat indah dan sukar dipalsukan, maka apakah penambahan huruf dari Lan-thaikam ini cukup dapat dipertanggungjawabkan? Orang lain mungkin tidak dapat melihat perbedaannya, akan tetapi Coa-sianseng sendiri yang menulisnya...."
"Hemm, Jangan kuatir. Dia seorang yang lemah, aku akan dapat menggertaknya! kata Lan-thaikam.
"Kalau dia tidak mau bekerja sama, biar kita habiskan saja."
"Serahkan hal ini kepadaku, Paman"
Kata Pangeran itu.
"Pada hari dia membacakan surat wasiat itu, aku akan mengambil nyawanya untuk menutup mulutnya, melalui tangan lain."
Lalu dia menceritakan siasatnya dan dua orang itu menjadi girang dan memuji siasat Sang Pangeran yang amat cerdik itu.
Selir ke tiga cepat-cepat mengembalikan surat wasiat yang sudah dirobah isinya itu, memasukkan kembali ke dalam peti kecil, menguncinya dan mengembalikan kuncinya di ikat pinggang Kaisar.
Hal ini tidak ada yang mengetahui kecuali tiga orang itu.
Dan dalam bulan itu juga, Kaisar Kaang Hsi meninggal dunia!
Tentu saja seluruh isi istana berkabung dan pada hari yang ditentukan, peti wasiat itu dibawa ke balairung di mana terdapat singgasana Kaisar yang kosong.
Suasana di ruangan itu sunyi dan diliputi suasana berkabung.
Semua pembesar berkumpul dan pada wajah mereka terbayang kedukaan, sungguhpun tidak ada yang tahu pasti berapa orang di antara mereka itu yang benar-benar merasa berduka dengan kematian Sang Kaisar!
Yang sudah pasti, terdapat ketegangan-ketegangan, karena mereka menduga-duga siapa yang akan menjadi pengganti Kaisar, dan hal ini tentu saja amat penting bagi mereka karena penggantian itu mempunyai dua kemungkinan hebat dalam kehidupan mereka.
Kalau kaisar baru itu pilihan mereka, tentu keadaan mereka terjamin, akan tetapi kalau bukan, besar kemungkinan kedudukan mereka akan dirampas.
Dan hampir semua orang menduga bahwa yang akan diangkat sebagai pengganti sudah pasti Pangeran ke empat.
Ketegangan hebat itu terutama sekali terasa oleh mereka yang berkepentingan, yaitu oleh para pangeran yang telah berkumpul di tempat, itu dengan pakaian seragam, pakaian berkabung.
Keluarga mendiang Kaisar Kang Hsi kumpul semua di tempat itu, terutama para pembesar dalam istana.Ketika Coa-taijin, yaitu sastrawan yang menjadi pembantu Kaisar dalam hal tulis-menulis, yang dipercaya oleh mendiang Kaisar Khang Hsi, memasuki ruangan diikuti oleh dua orang thaikam yang membawa sebuah peti kecil hitam, semua orang memandang dengan hati berdebar penuh ketegangan.
Mereka semua tahu apa isinya peti kecil hitam itu, ialah surat wasiat peninggalan Kaisar yang akan dibacakan oleh Coa-taijin sendiri sebagai penulis surat wasiat yang telah dibubuhi cap kebesaran dan tanda tangan Kaisar itu.
Suasana menjadi sunyi dan seluruh perhatian dari semua yagg hadir tertuju kepada pembesar she Coa itu sehingga tidak ada seorang pun yang tahu bahwa terdapat gerakan aneh dan tidak wajar di belakang mereka, di atas balok-balok melintang di bawah atap ruangan itu.
Semua mata para pembesar yang hadir mengikuti semua gerak-gerik itu, seolah-olah dengan menahan napas, dari saat ketika Coa-taijin membuka tutup peti yang dikunci, kemudian mengeluarkan segulung kertas kuning.
Dengan kedua tangan memegang kertas kuning itu di-luruskan ke depan, mulailah Coa-taijin membaca surat wasiat itu dengan suara tenang dan terdengar jelas sekali karena suasana di ruangan itu sunyi sekali, bahkan kalau ada jarum jatuh ke atas lantai pun agaknya akan dapat terdengar suaranya.
"Dengan ini kami meninggalkan pesan terakhir kami, bahwa setelah kami meninggal dunia, kami mewariskan tahta kerajaan dan kedudukan sebagai kaisar baru kepada putera kami, Pangeran ke.... empat.... ehh.... empat belas....?"
Coa-taijin terbelalak, mukanya pucat, pucat sekali, kedua tangannya menggigil, dan dia seperti tidak percaya kepada pandang matanya sendiri sehingga bagian terakhir itu diulangnya beberapa kali.
Dialah penulis surat wasiat itu, maka tentu saja dia tahu bahwa surat wasiat itu telah dirobah orang.
Dia memandang ke arah Pangeran Yung Ceng dengan mata terbelalak dan telunjuk kanannya menuding ke arah Pangeran itu, akan tetapi sebelum dia mampu berkata-kata, tiba-tiba nampak sinar berkelebat dan tahu-tahu sebatang pisau telah menancap ke dada Coa-taijin, disusul oleh pisau ke dua yang menancap ke lehernya!
Coa-taijin terhuyung, gulungan surat wasiat terlepas dari tangannya, dan sebelum dia roboh, dia masih menuding ke arah Pangeran Yung Ceng dengan mata melotot, lalu dia terguling roboh dan berkelojotan.
Semua orang menjadi panik dan gempar, dan tiba-tiba Pangeran Yung Ceng sudah berteriak keras.
"Itu dia pembunuhnya....!"
Dan dia menuding ke atas.
Semua orang memandang dan benar saja, di atas sebatang balok melintang nampak seorang laki-laki tinggi besar bersembunyi dan hendak melarikan diri.
Beberapa orang komandan pengawal bergerak dengan sigap, berloncatan ke atas dan menyerang Si Pembunuh yang terpaksa meloncat lagi ke bawah, ke dalam ruangan itu.
Dia seorang laki-laki tinggi besar yang mukanya memakai kedok hitam.
Gerakannya gesit dan ringan ketika dia meloncat turun, akan tetapi dia segera disambut oleh saorang panglima yang berkepandaian tinggi.
Terjadilah perkelahian yang tidak memakan waktu terlalu lama karena pembunuh itu dikeroyok oleh banyak panglima dan komandan pengawal yang rata-rata berilmu silat tinggi dan yang pada waktu itu memang sedang berkumpul di ruangan itu.
Pembunuh itu roboh oleh sebuah tendangan dan sebelum dia sempat meloncat bangun, dia telah diringkus!
Seorang panglima merenggut kedoknya terlepas dan terkejutlah semua orang ketika mengenal orang itu sebagai seorang di antara pengawal-pengawal dalam istana!
Seorang perwira pengawal yang biasanya bertugas mengawal di dalam harem Kaisar, tentu saja di bagian luar karena di bagian dalam hanya mempunyai penjaga-penjaga para thaikam (laki-laki kebiri).
"Plak! Plakk!"
Pangeran Yung Ceng sudah meloncat ke depan dan menampari muka orang ini yang masih diringkus oleh dua orang panglima.
"Hayo katakan, siapa yang menyuruhmu melakukan pembunuhan ini?"
Pertanyaan Sang Pangeran ini nyaring sekali, terdengar oleh semua orang dan kini keadaan menjadi sunyi karena semua orang juga ingin mendengar jawaban dari mulut penjahat itu.
Pembunuh itu memandang dengan muka pucat, kemudian dia menuding ke arah Pangecan Yung Lok, yaitu Pangeran ke empat sambil berkata, suaranya menggigil.
"Dia.... dialah yang menyuruhku.... Pangeran Ke Empat...."
"Bohong kau! Keparat busuk, berani kau memfitnah?"
Pangeran Yung Lok berteriak dengan nada marah sekali.
"Pembunuh busuk!"
Teriakan ini terdengar dari mulut Yung Ceng dan sebelum ada yang tahu atau dapat mencegah, pangeran ini telah mencabut pedangnya, dan memasukkan pedangnya itu ke dada Si Pembunuh sampai tembus ke punggungnya!
Tentu saja dua orang panglima yang meringkusnya itu melepaskan dan tubuh Si Pembunuh itu terpelanting, dan sambil mendekap dada dengan tangan kiri, dia menudingkan tangan kanan ke arah Pangeran Yung Ceng, lalu tangan itu membentuk cengkeraman seolah-olah dia hendak mencengkeram Pangeran itu.
Akan tetapi tenaganya habis dan dia pun terkulai lemas karena pedang yang ditusukkan tadi telah menembus jantungnya!
"Seorang pengacau dan pembunuh harus dibasmi!"
Kata Pangeran Yung Ceng dengan suara lantang, seolah-olah hendak membela diri dengan perbuatannya itu.
"Dan pembacaan surat wasiat tidak boleh ditunda lagi!"
Lan-thaikan, sebagai kepala di istana, lalu membuka gulungan kertas wasiat yang tadi telah diselamatkannya ketika kertas itu terlepas dari tangan pembesar Coa, kemudian membacanya dengan suara lantang.."Dengan ini kami meninggalkan pesan terakhir kami, bahwa setelah kami meninggal dunia, kami mewariskan tahta kerajaan dan kedudukan sebagai kaisar baru kepada putera kami, Pangeran Ke Empat Belas, dan agar penobatan segera dilakukan sehingga singgasana tidak terlalu lama dibiarkan kosong.
Tertanda.
Kaisar Kang Hsi.
Begitu mendengar isi surat wasiat ini terdengar habis, semua orang, seperti diberi komando oleh suara yang hanya terdengar oleh mereka, menjatuhkan diri berlutut dan semua orang berseru.
"Ban-swe, ban-banswe"
Yang artinya sama dengan "Hidup", sebagai penghormatan kepada Pangeran yang diangkat menjadi Kaisar baru dan menjadi junjungan mereka yang baru itu.
Demikianlah, Pangeran Yung Ceng dengan resmi diangkat menjadi kaisar dan perintahnya yang pertama kali adalah agar Pangeran Ke Empat yaitu Pangeran Yung Lok, ditangkap dan dihukum mati!
Akan tetapi, para panglima yang terkejut mendengar ini, maju berlutut dan mintakan ampun.
Dengan sikap bijaksana untuk menimbulkan kesan, Sang Kaisar baru berkata bahwa mengingat akan kesetiaan para panglima itu, dia mau mengampuni Pangeran Yung Lok dan membuang Pangeran itu ke selatan.
Demikianlah sedikit riwayatnya Kaisar Yung Ceng yang ketika masih muda memang dia seorang yang memiliki kekerasan dan kemauan hati yang amat kuat, akan tetapi sayang sekali, Kekerasan ini pula yang masih mendorongnya ketika dia mulai melakukan penyelewengan-penyelewengan dalam hidup, sama kuatnya dengan ketika dia mengejar-ngejar ilmu di Siauw-lim-si.
Setelah Pangeran ini menjadi kaisar, dia semakin haus akan kekuasaan, bahkan sering kali dia bertindak sewenang-wenang hanya untuk memperlihatkan kekuasannya.
Lebih parah lagi, dia mulai tergelincir ke dalam lembah nafsu berahi sehingga dia seperti tiada puasnya mendapatkan wanita-wanita yang di kehendakinya.
Dia tidak segan-segan untuk mengganggu isteri-isteri para pejabat, para pembesar di istana.
Tentu saja di antara para pembesar itu banyak terdapat penjilat-penjilat yang memang sengaja mempergunakan isterinya yang cantik untuk mencari jasa sehingga mereka boleh mengharapkan anugerah dari Kaisar berupa kenaikan pangkat dan sebagainya.
Mula-mula para murid Siauw-lim-pai masih menganggap Kaisar ini sebagai seorang saudara seperguruan mereka sehingga ada pula yang datang berkunjung ke istana.
Dan mereka ini selalu diterima oleh Kaisar Yung Ceng dengan ramah, diperlakukan sebagai tamu agung dan sebagai saudara seperguruan sendiri.
Akan tetapi, mulailah para anak murid Siauw-lim-pai geger ketika pada suatu hari, ketika seorang murid wanita Siauw-lim-pai yang terhitung sumoi (adik seperguruan) dari Kaisar sendiri datang berkunjung, Kaisar Yung Ceng yang memandang gadis pendekar itu dengan sinar mata lain, telah memaksa sumoinya itu untuk menuruti kemauannya!
Gadis Siauw-lim-pai itu dirayu dan digauli dengan setengah paksa.
Gadis itu kemudian membunuh diri dan Kaisar lalu menyuruh oramg-orangnya untuk mengubur jenazahnya dan merahasiakan peristiwa itu.
Akan tetapi, tetap saja rahasia itu bocor dan akhirnya secara selentingan terdengar oleh para anak murid Siauw-lim-pai betapa murid wanita Siauw-lim-pai itu digauli oleh Kaisar dan membunuh diri!
Karena tidak ada bukti, maka Siauw-lim-pai tidak dapat berbuat sesuatu, hanya mulai memandang kepada Kaisar dengan curiga.
Akan tetapi, rasa permusuhan dari Siauw-lim-pai terhadap Kaisar ini baru terasa ketika pada suatu hari datang seorang suheng dari Kaisar sendiri bersama isterinya.
Suheng ini adalah seorang sahabat baik ketika Sang Kaisar masih tekun belajar di Siauw-lim-si, merupakan sahabat dan saudara terbaik.
Akan tetapi, celakanya adalah bahwa suheng ini datang bersama isterinya dan lebih celaka lagi isterinya itu adalah seorang wanita muda yang cantik manis.
Seketika tergiurlah hati Kaisar muda itu dan karena Kaisar tahu bahwa suhengnya itu adalah orang yang suka sekali main catur, maka dia lalu memanggil seorang thaikam yang pandai main catur.
Suhengnya segera tenggelam di meja catur semalam suntuk dengan thaikam itu dan kesempatan ini, kesempatan yang memang sengaja diadakannya, dipergunakan oleh Kaisar untuk memasuki kamar suhengnya yang asyik bertanding catur di ruangan tamu itu, dan diganggulah isteri suhengnya!
Diperkosanya wanita itu dengan paksa, dan karena wanita itu tidak berani melawan, maka dia hanya menangis saja, menyerah karena tidak berdaya.
Pada keesokan paginya, ketika Sang Suheng kembali ke kamarnya, dia mendapatkan isterinya telah mati menggantung diri!
Peristiwa inilah yang membuat Siauw-lim-pai mengambil keputusan untuk secara resmi mengeluarkan Sang Kaisar dari Siauw-lim-pai, tidak diakuinya lagi sebagai anak murid Siauw-lim-pai!
Betapapun juga, Sang Suheng itu dapat menduga apa yang telah terjadi, mengapa isterinya itu secara tiba-tiba tanpa sebab telah membunuh diri.
Tindakan para pemimpin Siauw-lim-pai itu sungguh terlalu benar!
Mengeluarkan Kaisar yang sedang berkuasa dari Siauw-lim-pai!
Menganggapnya sebagai seorang murid murtad!
Tentu saja hal ini amat menyakitkan hati Kaisar Yung Ceng yang mulai saat itu menganggap Siauw-lim-pai sebagai musuh, bukan lagi sebagai perguruan silat atau partai persilatan yang dibanggakannya sebagai tempat di mana dia pernah digembleng.
Akan tetapi Kaisar Yung Ceng juga tahu bahwa amatlah tidak menguntungkan kalau dia menuruti perasaan dendam pribadi dan menggempur Siauw-lim-pai dengan pasukan, karena betapapun juga partai persilatan itu amat kuat dan merupakan hal yang merugikanlah kalau pemerintah menghadapinya sebagai musuh.
Betapapun juga, orang-orang Siauw-lim-pai masih dapat banyak diandalkan kalau negara menghadapi musuh dari luar.
Maka sakit hati itu pun disimpannya di dalam hati dan menimbulkan dendam dan tidak suka saja.
Demikianlah riwayat dan keadaan Kaisar Yung Ceng.
Putera Kaisar itu, yaitu Pangeran Kian Liong merasa sangat berduka kalau dia memikirkan semua perbuatan ayahnya.
Sampai kini pun ayahnya itu mudah sekali tergila-gila kepada wanita cantik.
Dan Pangeran yang bijaksana ini pun tahu bahwa ayahnya yang kini terjatuh ke dalam pelukan dan cengkeraman selir ke tiga yang pandai merayu dan yang bersekutu dengan Sam-thaihouw, yaitu Ibu Suri Ke Tiga yang agaknya amat disegani dan dihormati oleh ayahnya.
Dia tidak tahu bahwa memang ayahnya yang kini menjadi kaisar amat tunduk kepada Ibu Suri Ke Tiga karena ibu suri ini amat berjasa kepada ayahnya.
Dia tidak tahu bahwa memang ada persekutuan antara ayahnya, Sam-thaihouw, dan Lan-thaikam merupakan kepala istana yang menguasai semua pejabat dan pembantu yang bekerja di dalam istana, dan bahwa Kaisar amat percaya kepada orang kebiri tua ini.
Hal yang amat menggelisahkan hati Pangeran Kian Liong adalah peristiwa yang terjadi bulan lalu.
Ketika itu Jendecal Kao Cin Liong memimpin pasukan untuk menggempur pergolakan di barat, di perbatasan Himalaya, untuk membantu Tibet yang diserang oleh Nepal.
Dan pada waktu itu, di kota raja dikabarkan banyak terdapat mata-mata musuh.
Mungkin karena memang ada mata-mata yang menyelundup ke dalam kuil, atau memang hanya dipergunakan sebagai alasan saja oleh Kaisar yang memang sudah membenci Siauw-lim-pai, Kaisar memerintahkan untuk menyerbu kuil Siauw-lim-si yang merupakan cabang dari pusat Siauw-lim-pai, sebuah kuil yang cukup besar di kota raja, di mana para hwesio Siauw-lim-pai lebih banyak mengurus soal pelajaran agama daripada ilmu silat.
Serbuan itu merupakan gerakan pertama dari Yung Ceng yang memusuhi Siauw-lim-pai semenjak dia dipecat dari keanggautaannya.
Kuil itu dibakar, semua pendetanya diusir, bahkan dalam bentrokan itu ada beberapa orang pendeta yang tewas.
Akan tetapi karena alasan penyerbuan itu adalah mencari dan membasmi mata-mata yang dikabarkan bersembunyi di kuil, maka pihak Siauw-lim-pai tidak dapat berbuat apa-apa, hanya memesan kepada semua muridnya agar berhati-hati karena jelas bahwa Kaisar membenci Siauw-lim-pai.
Hal ini pun membuat Pangeran Kian Liong merasa berduka dan prihatin sekali, karena dia tahu bahwa semenjak dahulu, Siauw-lim-pai merupakan partai besar yang berdasarkan agama, yang tugasnya menyebar-kan keagamaan di samping memberi pelajaran ilmu silat tinggi dan rata-rata orang-orang budiman dan pendekar-pendekar gagah perkasa yang tidak pernah memberontak terhadap negara.
Ketika rombongan Pangeran Kian Liong yang disertai oleh Kao Kok Cu dan Wan Ceng, Wan Tek Hoat dan Syanti Dewi, pada malam hari itu memasuki kota raja, di istana terjadi kegemparan besar.
Untunglah bahwa Pangeran Kian Liong berkeras untuk mengajak dua pasang suami isteri itu langsung pergi ke istana dan menjadi tamu-tamunya.
"Kita telah melakukan perjalanan jauh, sebaiknya kalau kalian berempat langsung saja ke istana dan mengaso. Besok baru kita akan menghadap Ayahanda Kaisar."
Akan tetapi, ternyata bahwa ketika mereka tiba di istana, di situ terjadi hal yang amat hebat.
Kiranya malam hari itu, istana diserbu oleh seorang dara perkasa dan tujuh orang pendeta Siauw-lim-pai yang menyamar sebagai pengawal-pengawal istana!
Ketika itu, Kaisar baru saja memasuki kamarnya dan selir ke tiga telah datang untuk melayaninya ketika tiba-tiba di luar kamar itu terjadi keributan dan tiba-tiba terdengar teriakan nyaring.
"Ada penjahat....!"
Kaisar Yung Ceng adalah seorang kaisar yang memiliki ilmu silat Siauw-lim-pai yang cukup tinggi, bukan seorang kaisar yang lemah, maka mendengar seruan ini, dia bukan lari berlindung, sebaliknya malah meloncat keluar dari dalam kamar, sedikit pun tidak merasa takut.
Dan begitu dia keluar, dia sudah diserang oleh seorang dara yang berpakaian ringkas berwarna putih dan dibantu seorang hwesio yang menyamar dalam pakaian pengawal istana, akan tetapi yang kini telah membuang penutup kepala sehingga nampak kepalanya yang gundul.
Selain dua orang ini yang mengeroyok Kaisar, masih ada enam orang hwesio lain yang semua menyamar dalam pakaian pengawal sedang bertempur dikepung oleh banyak pengawal istana.
"Ai Seng Kiauw manusia keji, bersiaplah engkau untuk mampus!"
Gadis itu membentak marah dan sudah menyerang dengan dahsyatnya, menggunakan sebatang pedang yang tadi disembunyikan di balik jubahnya.
Hwesio tinggi besar yang membantunya juga sudah menyerang Kaisar dengan sebatang golok, namun Kaisar Yung Ceng dengan sigapnya sudah meloncat lagi ke dalam kamar, menyambar sebatang pedang yang tergantung di kamarnya dan melawan dengan gagah.
Melihat gerakan dua orang yang menyerangnya itu, tahulah Kaisar Yung Ceng bahwa dia diserang oleh murid-murid Siauw-lim-pai, maka dia pun marah bukan main.
Pedangnya diputar cepat untuk melindungi tubuhnya dan dia membentak.
"Pemberontak-pemberontak Siauw-lim-pai!"
Akan tetapi dua orang penyerangnya tidak banyak cakap lagi melainkan memperhebat desakan mereka sehingga Sang Kaisar pun harus mempercepat gerakannya.
Selirnya dan para dayangnya menjerit dan menyembunyikan diri di sudut kamar sambil berangkulan dengan, tubuh menggigil ketakutan.
Sementara itu, enam orang hwesio yang berada di luar kamar masih mengamuk, dikeroyok banyak pengawal yang berdatangan.
Pada saat itulah Pangeran Kian Liong datang bersama Wan Tek Hoat, Syanti Dewi, Kao Kok Cu, dan Wan Ceng.
Tentu saja, tanpa diminta lagi, dua pasang suami isteri perkasa itu segera turun tangan.
"Kalian bantu para pengawal dan aku akan melindungi Kaisar!"
Kata Kao Kok Cu yang segera menerjang masuk ke dalam kamar Kaisar yang pintunya terbuka dan darimana dia dapat melihat Kaisar sedang dikeroyok oleh dua orang.
"Li Hwa, kau larilah!"
Hwesio tinggi besar itu berseru dan biarpun dia sedang menghadapi Kaisar, dia masih mampu menggunakan tangan kirinya untuk mendorong tubuh gadis itu yang terhuyung ke arah jendela.
Gadis itu maklum bahwa keadaan amat berbahaya maka dia pun sekali loncat telah lenyap melalui jendela kamar.
Sementara itu Wan Tek Hoat, Syanti Dewi, dan Wan Ceng menerjang dengan tangan kosong, akan tetapi begitu mereka membantu para pengawal, enam orang hwesio Siauw-lim-pai itu terkejut bukan main.
Sambaran tangan Tek Hoat mengeluarkan bunyi seperti menyambar pedang pusaka, juga pukulan-pukulan Wan Ceng mendatangkan angin dahsyat sekali, dan gerakan Syanti Dewi seperti seekor burung beterbangan dan tamparan-tamparannya juga seperti kilat menyambar-nyambar.
Biarpun enam orang hwesio itu masih berusaha untuk melawan mati-matian, namun dalam waktu belasan jurus saja mereka telah roboh terpelanting oleh pukulan-pukulan tiga orang yang baru datang ini, tak mampu bangkit kembali karena telah menderita luka parah, apalagi yang roboh membawa bekas pukulan tangan Wan Tek Hoat dan Wan Ceng, karena mereka itu tewas tak lama kemudian, dan hanya seorang di antara mereka, yang roboh oleh pukulan dan tamparan Syanti Dewi, yang masih hidup, biarpun dia juga tidak mungkin mampu melawan lagi.
Hwesio tinggi besar yang memimpin penyerbuan itu, yang tadi bersama gadis itu menyerang Kaisar, juga sudah roboh oleh Si Naga Sakti.
Tulang pundaknya patah-patah terkena sentuhan jari tangan Kao Kok Cu dan kini dia memaki-maki Kaisar.
"Ai Seng Kiauw murid murtad, engkau membikin kotor nama Siauw-lim-pai! Engkau tidak segan-segan untuk memperkosa murid Siauw-lim-pai dan isteri suhengnya sendiri, dan biarpun engkau kini telah bersembunyi di dalam pakaian kaisar, namun kami murid-murid Siauw-limpai sejati enggan hidup bersama orang durhaka macammu ini di atas bumi!"
Setelah berkata demikian, hwesio itu menggerakkan pedang dengan tangan kirinya, menggorok leher sendiri!
Kaisar Yung Ceng terluka pundaknya dan sedang diperiksa oleh Kao Kok Cu.
Akan tetapi ternyata luka itu tidak parah dan Kaisar marah sekali mendengar ucapan itu.
Dia kini mengenal wajah para hwesio itu yang ternyata adalah suheng-suhengnya sendiri ketika dia belajar ilmu silat di Kuil Siauw-lim-si dahulu.
Melihat bahwa masih ada seorang hwesio yang belum mati, Kaisar lalu menghampiri dan membentak.
"Pemberontak laknat, hayo katakan siapa yang menyuruh kalian melakukan penyerbuan ini!"
Akan tetapi hwesio yang terluka oleh pukulan Syanti Dewi itu memandangnya dengan mata mendelik dan tidak menjawab.
Dia hendak membunuh diri dengan membenturkan kepala di lantai, akan tetapi Kaisar telah mendahuluinya, menotok lehernya sehingga dia tidak mampu bergerak lagi.
"Hayo mengaku kalau engkau tidak ingin disiksa!"
Kaisar membentak lagi, wajahnya berobah merah saking marahnya.
"Ha-ha-ha-ha!"
Tiba-tiba hwesio itu tertawa dengan mata terbelalak, dan tiba-tiba dia menutup mulutnya dan melihat ini, Wan Tek Hoat cepat bergerak maju memegang dagunya dan memaksanya membuka mulut.
Namun terlambat!
Ketika mulut itu terbuka, mulut itu penuh darah dan lidahnya sudah putus oleh gigitannya sendiri!
Sungguh mengerikan sekali melihat mulut terbuka itu penuh darah dan potongan lidahnya jatuh keluar.
Syanti Dewi sendiri sampai mem-buang muka melihat pemandangan yang mengerikan itu.
Kaisar semakin marah.
Hwesio ini sudah putus lidahnya, berarti tidak akan mau bicara dan tentu akan mati.
"Cari gadis itu! Cari sampai dapat dan tangkap hidup-hidup!"
Teriaknya kepada para pengawal yang segera lari cerai-berai untuk memenuhi perintah Kaisar itu.
Setelah para pengawal berserabutan lari untuk mengejar dan mencari gadis itu, baru Kaisar mempunyai kesempatan untuk memperhatikan empat orang penolongnya.
Tentu saja dia mengenal Kao Kok Cu dan Wan Ceng, ayah dan ibu seorang panglimanya yang paling diandalkan, jaitu Jenderal Muda Kao Cin Liong.
"Untung sekali kalian datang."
Kata Kaisar ketika melihat dua orang suami isteri perkasa ini memberi hormat kepadanya.
Kemudian dia mengangkat muka memandang kepada Wan Tek Hoat, kemudian kepada Syanti Dewi dan wajahnya berubah, matanya mengeluarkan sinar berseri ketika dia memandang puteri itu dan agaknya pandang matanya enggan meninggalkan wajah yang luar biasa cantiknya itu.
"Dan siapakah orang gagah ini dan wanita cantik seperti bidadari ini?"
Tanyanya tanpa mengenal sungkan lagi.
Syanti Dewi menunduk dan memberi hormat dengan sikap sederhana, akan tetapi diam-diam alisnya berkerut karena dia melihat pandang mata yang penuh nafsu di mata Kaisar itu yang ditujukan kepadanya.
Juga Wan Tek Hoat melihat ini, akan tetapi dia pun menundukkan muka dengan sikap hormat.
Kao Kok Cu dan Wan Ceng tentu saja melihat pula sikap Kaisar, maka cepat-cepat Wan Ceng memberi keterangan.
"Sri Baginda, dia ini adalah Kakak angkat hamba, yaitu puteri Bhutan bernama Syanti Dewi, bersama suaminya."
Kaisar nampak tercengang dan mengangguk-angguk.
"Ah, kiranya puteri Bhutan yang pernah membikin geger di istana belasan tahun yang lalu itu? Sungguh amat cantik luar biasa, dan memiliki kepandaian tinggi pula, pantas saja pernah membikin geger."
Kao Kok Cu yang merasa tidak enak melihat betapa Kaisar yang mata keranjang ini agaknya tertarik sekali kepada Syanti Dewi, lalu maju dan berkata.
"Sebaiknya kalau Paduka beristirahat lebih dulu, biarlah hamba semua ikut membantu pengejaran terhadap gadis itu. Siapa tahu mereka itu masih mempunyai teman-teman yang tersebar di dalam istana, sehingga keselamatan Paduka masih terancam."
Mendengar ucapan ini barulah Kaisar sadar akan keadaannya dan dia merasa betapa sikapnya tadi memang kurang sedap dipandang, apalagi mengingat bahwa wanita cantik ini disertai suaminya, bahkan suami isteri ini telah menyelamatkan dari ancaman bahaya maut.
Kaisar lalu menarik napas panjang dan berkata dengan sikap ramah (Lanjut ke
Jilid 29) Suling Emas & Naga Siluman (Seri ke 11 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 29 sekali.
"Baiklah, akan tetapi kami minta kepada kalian berempat untuk bersama kami makan pagi sehingga terdapat banyak kesempatan bagi kita untuk bercakap-cakap. Nah, sampai jumpa besok pagi."
Kaisar lalu diantar oleh selir dan para dayang, berikut pengawal pribadi untuk menuju ke sebuah kamar lain karena kamar itu telah dikotori oleh banyak darah.Empat orang gagah itu lalu meninggalkan ruangan itu pula untuk membantu para pengawal mencari gadis yang buron tadi, juga mereka itu diam-diam merasa heran akan lenyapnya Pangeran Kian Liong yang tadinya datang bersama mereka akan tetapi yang kini tidak lagi nampak lagi batang hidungnya!
Ke manakah perginya Pangeran Kian Liong?
Memang tadi dia datang bersama dua pasang suami isteri itu.
Akan tetapi ketika dia melihat gadis yang menyerang Kaisar itu melarikan diri melalul jendela kamar ayahnya, Pangeran ini lalu menyelinap dan melakukan pengejaran.
Dia tahu bahwa para penyerang ayahnya itu adalah orang-orang Siauw-lim-pai, maka diam-diam dia merasa menyesal sekali karena dia sudah dapat menduga pula apa yang menyebabkan orang-orang Siauw-lim-pai itu menyerbu istana dan menyerang ayahnya.
Dan biarpun Pangeran ini tidak pandai ilmu silat, akan tetapi dia mengenal semua lorong dan jalan rahasia di dalam istana, maka dia dapat mengejar dan membayangi gadis yang melarikan diri itu.
Gadis itu sendiri merasa bingung.
Memang ketika dia dan para susioknya (paman gurunya) menyelundup ke dalam istana, dia dan para susioknya itu menyamar sebagai pasukan pengawal.
Akan tetapi dalam keadaan melarikan diri ini, tentu saja tidak mudah baginya untuk keluar dari lingkungan istana.
Di mana-mana terdapat penjaga dan bahkan kini di atas genteng pun nampak para penjaga!
Maka dia lalu menyelinap dan memasuki lorong-lorong dan makin dalam dia masuk, makin bingunglah dia, tidak tahu mana jalan keluar lagi.
Beberapa kali dia terpaksa mengambil jalan lain dan menyelinap sembunyi ketika hampir kepergok para penjaga.
Ketika dia tiba di lorong yang lebar, sepasukan penjaga melihatnya.
Mereka berteriak mengejar dan terpaksa gadis itu lari lagi mengambil jalan lain.
Selagi dia kebingungan karena dari mana-mana muncul penjaga, tiba-tiba sebuah pintu di sebelah kirinya terbuka dan muncul seorang pemuda yang memberi isyarat kepadanya dengan tangan agar dia masuk ke pintu itu.
Dia merasa heran dan curiga.
"Sssttt.... ke sinilah, Nona...."
Kata pemuda itu berbisik.
Gadis itu masih meragu, akan tetapi kini terdengar derap langkah para penjaga dan pengawal yang sedang mencari-carinya, maka dia lalu menghampiri pemuda itu.
Seorang pemuda yang berwajah tenang dan tersenyum ramah.
"Masuklah dan engkau akan selamat dari pengejaran mereka"
Pemuda itu berkata.
Karena tidak melihat jalan lain, gadis itu lalu memasuki pintu yang dibuka oleh pemuda itu, pedangnya masih tergenggam erat-erat di tangan kanannya.
Untung dia bergerak cepat karena baru saja dia masuk, muncullah pasukan pengawal yang mengejarnya, tiba di depan pintu itu.
Si Pemuda masih berdiri di depan pintu dan kini menutupkan pintunya sedikit sehingga gadis itu tidak nampak dari luar.
Gadis itu mengintai, pedangnya siap menusuk pemuda itu kalau Si Pemuda ternyata mengkhianatinya dan melapor kepada pasukan.
Akan tetapi, dia terheran-heran melihat betapa semua pasukan, dipimpin oleh komandan mereka, memberi hormat kepada pemuda itu dan minta maaf kalau mereka itu mengganggu.
"Kalian ini mengapa ribut-ribut di sini dan sedang mencari apa?"
Tegur pemuda itu dengan lantang. Komandan pasukan pengawal itu menjawab dengan suara penuh hormat.
"Harap maafkan kalau hamba sekalian mengganggu Paduka Pangeran. Hamba sedang mencari seorang buronan, yaitu seorang gadis yang merupakan satu di antara para penyerbu yang mengacau di istana."
"Hemm, aku sudah mendengar akan hal itu. Apakah belum tertangkap semua? Seorang gadis katamu? Sejak tadi aku berada di dalam taman dan tidak melihat seorang asing, apalagi seorang gadis. Pergilah kalian cari ke tempat lain."
Pasukan itu memberi hormat dan pergi dari tempat itu.
Derap kaki mereka makin menjauh dan akhirnya lenyap.
Gadis itu memandang ke belakangnya.
Kiranya pintu itu menembus ke sebuah taman yang indah, yang cuacanya cukup terang dengan adanya lampu-lampu gantung beraneka warna menghias pohon-pohon di tempat indah itu.
Sunyi sekali di situ.
Akan tetapi dia pun merasa terheran-heran ketika mendengar betapa pasukan tadi menyebut pemuda ini pangeran!
Kecurigaannya timbul kembali.
Seorang pangeran, putera Ai Seng Kiauw, putera Kaisar yang menjadi musuh besarnya!
Dia menggenggam pedang itu erat-erat ketika pemuda itu menutupkan daun pintu yang menembus ke taman itu.
Mereka berdiri berhadapan dan saling pandang.
Pangeran Kian Liong tersenyum melihat dara yang masih amat muda itu memandangnya penuh curiga dengan pedang siap menyerang!
"Untuk sementara ini engkau aman, Nona."
Pegangan pada gagang pedang itu mengendur, akan tetapi suaranya masih gugup ketika bertanya.
"Paduka.... Paduka seorang pangeran....?"
Pangeran Kian Liong mengangguk.
"Benar, dan namaku adalah Kian Liong."
"Ah....!"
Gadis itu nampak terkejut dan memandang wajah Pangeran, itu dengan bengong.
Pangeran Kian Liong tersenyum.
Ada sesuatu pada wajah dan terutama pada pandang mata gadis ini yang luar biasa baginya.
"Mari kita bicara di taman yang sunyi itu, Nona dan ceritakan siapakah Nona dan mengapa Nona yang masih begini muda tersangkut dalam urusan percobaan membunuh Sri Baginda, hal yang amat berbahaya sekali."
Sikap dan suara Pangeran Kian Liong yang halus dan penuh ketenangan itu mendatangkan ketenangan pula dalam hati gadis itu dan dia pun menurut saja ketika diajak ke dalam taman, bahkan kini dia telah menyimpan kembali pedangnya di dalam sarung pedang yang disembunyikan di bawah mantelnya.
Mereka duduk berhadapan di atas bangku-bangku teruklir indah di tengah-tengah taman, menghadapi sebuah kolam ikan di mana banyak terdapat ikan-ikan emas beraneka warna dan bentuk yang berenang-renang di sekeliling bunga-bunga teratai merah dan putih.
"Nama hamba Souw Li Hwa, Pangeran dan hamba.... hamba sama sekali tidak memusuhi Sri Baginda Kaisar, hamba bukan seorang pemberontak, melainkan seorang murid yang hendak membalaskan dendam Guru hamba yang hidup sengsara karena perbuatan murid Siauw-lim-pai murtad Ai Seng Kiauw!"
Gadis itu mulai menceritakan keadaan dirinya. Pangeran Kian Liong mengangguk maklum.
"Aku pun mengerti dan dapat menduga, Nona, akan tetapi betapapun juga orang yang bernama Ai Seng Kiauw dan dahulu menjadi murid Siauw-lim-pai itu sekarang adalah Kaisar! Nah, ceritakanlah semuanya, apa yang telah terjadi sehingga engkau malam ini dengan nekat bersama beberapa orang hwesio Siauw-lim-pai menyerbu istana dan mencoba membunuh Kaisar."
Souw Li Hwa lalu bercerita.
Dia seorang anak yattm piatu yang kedua orang tuanya tewas ketika dusunnya diserbu perampok.
Dia masih kecil, baru berusia lima tahun ketika hal itu terjadi dan dia sendiri diselamatkan oleh pendekar Siauw-lim-pai yang kemudian mengangkatnya sebagai murid dan merawatnya seperti anak sendiri.
Li Hwa diberi pelajaran ilmu silat dan ketika dia berusia empat belas tahun, penolongnya yang juga merupakan gurunya dan pengganti orang tuanya itu menikah dengan seorang gadis cantik dan dia masih terus ikut gurunya, Sebagai murid dan juga sebagai pembantu isteri gurunya yang juga amat sayang kepadanya.
Karena suami isteri itu tidak mempunyai anak biarpun mereka sudah menikah selama tiga tahun, maka mereka makin sayang kepada Li Hwa yang mereka anggap sebagai anak sendiri.
Kemudian terjadilah malapetaka itu!
Guru itu dan isterinya yang masih muda, belum tiga puluh tahun usianya dan yang memang memiliki wajah cantik itu, pergi mengunjungi Kaisar di istana.
Kaisar adalah murid Siauw-lim-pai dan terhitung sute dari guru Li Hwa, maka kedatangan suami isteri itu diterima dengan amat ramah oleh Kaisar.
Akan tetapi, watak mata keranjang Kaisar itu menimbulkan malapetaka hebat menimpa keluarga yang tadinya hidup dengan rukun, dan bahagia itu.
"Ketika Suhu sedang asyik main catur bersama seorang thaikam, dan hal ini agaknya sengaja dilakukan oleh Ai Seng Kiauw, maka isteri Suhu yang berada di dalam kamar seorang diri itu didatangi oleh Ai Seng Kiauw dan diperkosa. Memang tidak ada saksi atau bukti, akan tetapi apalagi yang menyebabkan isteri Suhu itu tiba-tiba menggantung diri dalam kamar itu? Suhu tidak berani menuduh Kaisar karena tidak ada bukti, akan tetapi peristiwa itu membuat Suhu menjadi sakit-sakitan dan bahkan akhir-akhir ini Suhu menderita tekanan batin yang membuat dia seperti orang yang tidak waras lagi...."
Sampai di sini, gadis itu mengusap beberapa butir air mata yang membasahi pipinya.
Pangeran Kian Liong menarik napas panjang.
Cerita ini tidak aneh baginya, karena memang dia pernah mendengar persitlwa yang terjadi kurang lebih setahun yang lalu itu.
Li Hwa lalu melanjutkan ceritanya.
Kiranya selagi mudanya dan menjadi murid Siauw-lim-pai, Ai Seng Kiauw bersama delapan orang lainnya yang juga menjadi murid-murid terpandai di Siauw-lim-pai merupakan sekelompok sahabat-sahabat akrab yang terkenal sebagai Sembilan Pendekar Siauw-lim-pai, demikianlah nama julukan yang mereka pilih dan mereka yang sembilan orang ini pernah bersumpah untuk saling setia.
Di antara delapan orang ini termasuk pula guru Li Hwa, sedangkan tujuh orang lainnya adalah hwesio-hwesio Siauw-lim-si, hanya Ai Seng Kiauw dan guru Li Hwa sajalah yang tidak menjadi pendeta.
"Karena menganggap semua perbuatan Ai Seng Kiauw sebagai hal yang keterlaluan, murtad dan mengotori nama baik Siauw-lim-pai, apalagi karena mengingat betapa Ai Seng Kiauw telah berbuat laknat terhadap Guru hamba dan berarti melanggar sumpah setianya sendiri, maka tujuh Susiok itu lalu mendukung niat hamba untuk membalas dendam. Akan tetapi...."
Kembali gadis itu mengusap air matanya.
"Ternyata kami gagal...., dan entah bagaimana nasib tujuh orang Susiok yang malang itu...."
Pangeran Kian Liong memandang tajam.
Biarpun dia masih muda dan tidak merupakan seorang ahli silat yang pandai, namun pergaulan Pangeran ini amat luas dan dia sudah mengenal banyak sekali orang-orang pandai dan sakti.
Dia melihat bahwa dara ini sebetulnya bukan merupakan seorang kang-ouw yang keras hati, melainkan seorang nona yang halus perasaannya.
Dan entah mengapa, baru pertama kali ini Pangeran Kian Liong merasa tertarik kepada seorang gadis.
Terutama sepasang mata dari dara inilah yang membuat dia terpesona, sepasang mata yang membayangkan penderitaan batin yang amat mendalam dan menimbulkan rasa iba dalam hatinya.
Dia dapat membayangkan betapa dukanya hati nona ini.
"Nona, menyerbu istana merupakan perbuatan bodoh, sama dengan bunuh diri. Akan tetapi, mengapa engkau meninggalkan tujuh orang Susiokmu yang terkepung itu?"
Ditanya begini, dara itu nampak terkejut dan mukanya berobah pucat, lalu menjadi merah sekali, suaranya terisak ketika dia menjawab.
"Itu bukan kehendak hamba! Akan tetapi, Toa-susiok me-maksa hamba.... dan.... dan hamba pikir.... kalau kami semua harus tewas, lalu siapa yang kelak akan membalas dendam? Usaha kami ini kali tidak berhasil, mungkin semua Susiok gugur, akan tetapi hamba masih hidup dan hamba akan...."
Tiba-tiba dia teringat bahwa dia berhadapan dengan seorang pangeran, putera dari Kaisar yang hendak dibunuhnya dan dia memandang dengan mata terbelalak!
Dia menjadi bingung!
Pemuda ini adalah putera Kaisar, putera musuh yang akan dibunuhnya, tetapi juga penolongnya, bahkan sampai saat itu keselamatannya mungkin berada di tangan Pangeran ini!
"Nona, mengapa Nona membiarkan diri terperosok ke dalam lembah dendam ini?"
"Betapa tidak? Hamba kehilangan orang tua, guru, sahabat.... hamba kehilangan satu-satunya orang yang selama ini mengasihi hamba.... dan sekarang, hamba seolah-olah ditinggal sendiri.... dan melihat penderitaan Suhu.... ah, apa yang dapat hamba lakukan kecuali berbakti dan membalas dendam kepada musuhnya?"
Pangeran Kian Liong menggeleng kepalanya sambil tersenyum penuh kesabaran.
"Ah, engkau masih terlalu muda, engkau tidak tahu dan hanya menurutkan perasaan saja, Nona. Apakah sebabnya engkau mendendam kepada Kaisar?"
"Hamba tidak mendendam kepada Kaisar, melainkan kepada Ai...."
"Ya, katakanlah mendendam kepada Ai Seng Kiauw. Mengapa?"
Gadis itu memandang dengan sepasang mata yang bersinar-sinar penuh kemarahan.
"Karena dia membuat Suhu menjadi gila! Karena dia membunuh isteri Suhu!"
Pangeran itu menggeleng kepalanya.
"Benarkah itu? Suhumu itu menjadi sakit dan gila, menurut hematku, karena kelemahannya sendiri, Nona."
"Tidak, Suhu menjadi sakit karena kematian isterinya. Dan isterinya membunuh diri karena diperkosa...."
"Hemm, kalau dipikir secara demikian, memang segala ini ada sebab-sebabnya tentu. Misalnya, mungkin sikap isteri Suhumu terlalu manis, atau dia itu terlalu cantik, dan harus diingat lagi bahwa sebab terjadinya peristiwa itu adalah karena Suhumu datang mengunjungi Ai Seng Kiauw, dan malah membawa isterinya lagi! Coba bayangkan, andaikata dia tidak datang ke istana, dan andaikata dia tidak membawa isterinya, dan andaikata isterinya itu tidak cantik, dan andaikata dia itu tidak tergila-gila main catur.... dan masih banyak andaikata lagi yang menjadi sebab-sebab terjadinya suatu peristiwa. Oleh karena itu, mengapa Nona menyeret diri ke dalam dendam? Ingatlah bahwa Ai Seng Kiauw itu adalah kaisar, dan berusaha membunuh Kaisar, dengan dalih apapun juga, merupakan pemberontakan!"
Gadis itu kelihatan semakin gelisah dan bingung mendengar ucapan pemuda itu.
"Tapi.... tapi.... kalau hamba diam saja.... berarti hamba menjadi seorang murid yang tidak berbakti....!"
Pangeran itu tersenyum lebar.
"Ingat, Nona, tentu engkau tahu bukan siapakah aku ini? Aku adalah seorang pangeran, aku putera Kaisar, berarti aku putera seorang yang kau kenal sebagai Ai Seng Kiauw itu. Aku adalah putera musuh besar yang hendak kau bunuh! Dan apa yang kulakukan? Alangkah mudahnya kalau aku mau mencontohmu untuk berbakti! Sekali berteriak engkau akan tewas dikeroyok pengawal. Akan tetapi aku tidak mau berbakti seperti itu, berbakti dengan membunuh orang! Nona, tidak dapatkan engkau berbuat seperti aku, menghapuskan segala macam dendam sehingga tidak akan ada permusuhan di antara kita?"
Gadis itu kelihatan semakin bingung.
Belum pernah dia bertemu, bahkan mendengar pun belum, akan adanya seorang putera yang tidak memusuhi orang yang hendak membunuh ayahnya seperti Pangeran ini!
Malah Pangeran ini menolongnya, biarpun sudah tahu bahwa dia datang untuk membunuh ayah Pangeran itu!
"Aku....
aku tidak tahu...."
"Apakah Nona menghendaki kalau Nona bermusuhan dengan Ayahku, kemudian aku pun memusuhimu? Tidak akan ada habisnyakah dendam-mendendam ini?"
"Tapi.... tapi Ayahmu.... dia jahat...."
Pangeran itu menarik napas panjang, dan menggeleng kepala.
"Ayahku dahulu juga seorang pendekar, seorang gagah. Dan harus diakui bahwa dia seorang kaisar yang amat baik. Hanya dia mempunyai kelemahan, atau katakanlah dia sedang dalam sakit.... dan benarkah kalau kita harus membunuh orang yang sedang sakit? Ataukah tidak lebih tepat kalau kita berusaha mengobatinya?"
Tiba-tiba terdengar derap kaki banyak orang berlarian, makin lama makin dekat.
"Hemm, agaknya pasukan pengawal akan mencarimu ke tempat ini, Nona."
Dara itu meloncat bangun dan mencabut pedangnya, akan tetapi Pangeran Kian Liong berkata.
"Jangan, Nona. Percuma saja engkau melawan mereka."
"Habis, apakah aku harus menyerahkan diri begitu saja?"
"Aku ada akal. Cepat Nona menyelam di dalam kolam ikan, dan sembunyikan kepala dibawah dan di antara daun-daun teratai. Cepat!"
Karena dia sendiri memang sedang bingung dan panik, Li Hwa tidak melihat akal lain dan dia pun lalu masuk ke dalam kolam ikan!
Air kolam itu setinggi dadanya dan dia pun menekuk lututnya sehingga terbenam sampai ke bawah mulut dan dia menyembunyikan sisa kepalanya di antara daun-daun teratai, di bagian yang gelap dari kolam itu.
Ketika pasukan pengawal memasuki taman dan tiba di dekat kolam ikan itu, Pangeran Kian Liong sedang melempar-lemparkan batu-batu kecil ke tengah kolam, membuat air kolam itu tergerak-gerak dan agak berombak.
"Maaf, Pangeran"
Kata seorang perwira pengawal setelah mereka semua memberi hormat.
"Akan tetapi sebaiknya kalau Paduka masuk ke istana karena ada penjahat berkeliaran di sini. Tujuh orang sudah tewas, akan tetapi seorang dari mereka masih belum tertangkap."
Pangeran Kian Liong mengerutkan alisnya.
"Tidak perlu kalian mengurus aku! Pergilah dan carilah dia sampai dapat. Dia tidak berada di sini. Hayo pergi dan jangan ganggu, aku lagi!"
Komandan itu dan pasukannya menjadi ketakutan melihat Sang Pangeran bicara dengan sikap marah itu.
Dengan hormat mereka lalu mengundurkan diri dan baru setelah tidak terdengar lagi langkah-langkah kaki mereka, Pangeran memberi isyarat kepada Li Hwa untuk keluar dari dalam air.
Gadis itu keluar dan Pangeran Kian Liong memandang dengan terpesona.
Karena basah maka pakaian gadis itu melekat pada tubuhnya dan seperti mencetak bentuk tubuh yang padat langsing itu.
"Terima kasih, Paduka telah menyelamatkan hamba, Pangeran."
Baru Sang Pangeran sadar ketika mendengar ucapan itu dan timbul rasa kasihan melihat seluruh tubuh gadis itu basah kuyup.
"Ah, engkau basah kuyup, Nona. Engkau bisa sakit nanti. Mari ikut denganku, engkau harus bertukar pakaian dan baru nanti kuantar engkau keluar dari dalam istana."
Tanpa banyak cakap lagi Li Hwa lalu diajak pergi dari taman, memasuki kamar Sang Pangeran.
Beberapa orang pelayan memandang heran, juga beberapa orang thaikam yang bertugas menjaga malam itu.
Akan tetapi Sang Pangeran menaruh telunjuk pada mulutnya dan mereka itu berlutut dan tidak berani mengangkat muka, maklum bahwa Sang Pangeran minta agar mereka menutup mulut.
Mereka hanya merasa heran bukan main.
Melihat Pangeran itu datang bersama seorang gadis cantik, tentu saja hal seperti itu tidak mendatangkan keheranan sungguhpun Pangeran Kian Liong bukan seorang pengejar wanita cantik.
Akan tetapi datang bersama seorang gadis yang seluruh tubuhnya basah kuyup, sungguh merupakan hal yang luar biasa sekali.
Pangeran Kian Liong mengajak Li Hwa memasuki kamarnya dan menutupkan pintu kamar itu.
Kemudian dia mengambil stel pakaiannya dan memberikannya kepada Li Hwa.
"Nah, kau boleh berganti pakaian kering ini, Nona. Dengan pakaianku ini engkau akan menjadi seorang pemuda dan akan mudah untuk kuantar keluar dari istana tanpa mendatangkan kecurigaan. Pakailah, engkau dapat berganti pakaian di balik tirai itu."
Li Hwa menerima pakaian itu dengan muka berobah merah, lalu dia pergi ke balik tirai hijau yang tergantung di sudut kamar, menanggalkan pakaiannya yang basah, lalu mengenakan pakaian Pangeran itu yang tentu saja agak terlalu besar untuknya.
Ketika dia telah selesai dan keluar dari balik tirai sambil membawa pakaiannya yang basah dan sudah digulungnya, Pangeran itu meman-dang dengan wajah berseri dan kagum.
"Ah, engkau telah berobah menjadi seorang, kongcu yang tampan sekali!"
Li Hwa menunduk dan mukanya menjadi merah.
Makin lama, dia merasa makin tertarik kepada Pangeran ini sebagai seorang yang amat bijaksana dan dapat menghargai orang kang-ouw, juga amat adil dan berpemandangan luas.
Sekarang dia bertemu dengan Pangeran ini dan menyaksikan sendiri tindak-tanduk Pangeran ini yang memang amat bijaksana.
"Sekarang, bagaimana selanjutnya, Pangeran?"
Tanya Li Hwa sambil mengangkat muka memandang pangeran itu.
Kembali Pangeran Kian Liong terpesona.
Sekarang mereka berada di dalam kamarnya yang terang dan dia melihat dengan jelas wajah itu, sepasang mata itu dan dia benar-benar merasa kagum sekali sehingga pertanyaan itu seperti tidak terdengar olehnya.
Melihat betapa Pangeran itu memandang bengong kepadanya, Li Hwa kembali menunduk dan barulah Sang Pangeran sadar.
"Ohh.... sekarang.... hemm, biarlah sekarang aku akan mengantarmu sendiri sampai keluar dari istana. Takkan ada yang berani menyentuh selembar rambutmu, Nona. Kemudian, setelah tiba di luar istana, engkau boleh keluar dari kota raja dan kau pakailah cincinku ini. Dengan cincin ini dan sepucuk suratku ini, engkau akan dapat pergi ke manapun juga tanpa ada yang berani mengganggumu."
Pangeran itu meloloskan sebuah cincin bermata merah yang ada ukiran huruf-huruf namanya, berikut sampul surat yang ditulisnya ketika Li Hwa bertukar pakaian tadi.
Li Hwa menerima cincin dan sampul itu, lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Sang Pangeran.
"Pangeran telah menyelamatkan hamba, hamba telah hutang nyawa kepada Paduka. Hamba tak mungkin dapat membalasnya dan...."
"Li Hwa, bangkitlah."
Sang Pangeran memegang kedua pundaknya dan menariknya berdiri.
Mereka berdiri berhadapan dekat sekali dan kedua tangan Pangeran itu masih berada di atas pundak Li Hwa.
"Engkau tak perlu membalas, tak perlu berterima kasih. Aku akan merasa girang sekali kalau engkau mau membuang jauh-jauh dendam dari hatimu itu."
Dara itu menunduk, dan mengangguk, kemudian mengangkat muka memandang. Sepasang matanya bersinar lembut dan bisikannya menggetar.
"Demi Paduka, mengingat akan kebijaksanaan Paduka, hamba berjanji akan membuang dendam itu, Pangeran. Kini hamba melihat bahwa memang tiada gunanya semua itu, bahkan Paduka sendiri yang semestinya yang menghukum hamba, bersikap begini mulia."
"Bagus! Aku girang sekali, Li Hwa. Dan ingatlah, kelak.... kalau aku telah menjadi kaisar...."
"Ya....?"
Li Hwa mendesak, melihat pemuda bangsawan itu nampak malu-malu untuk melanjutkan ucapannya.
".... dan kalau engkau masih bebas.... engkau boleh datang ke sini mengembalikan cincin ini...., dan engkau selamanya boleh tinggal bersamaku di dalam istana.... di sampingku...."
Jantung Li Hwa berguncang keras, jalan darahnya menjadi cepat dan dia menundukkan muka sampai dagunya menempel di dada.
Sungguh tak disangka-sangkanya sama sekali ucapan Pangeran ini!
Dia sudah merasa berhutang budi, putera Kaisar yang sepatutnya menyerahkannya kepada pengawal, yang sepatutnya menghukumnya sebagai seorang pemberontak yang berusaha membunuh Kaisar, Bukan hanya malah menyelamatkannya, menolongnya, bahkan kini secara tidak langsung mengaku cinta kepadanya dan minta dia untuk kelak mendampinginya atau menjadi isterinya!
Rasa haru yang amat mendalam membuat Li Hwa memejamkan matanya, hampir tidak percaya akan kata-kata yang didengarnya tadi.
Kalau Pangeran ini bersikap kasar atau merayunya, mencoba untuk memperkosanya, hal itu tidak akan mengherankan hatinya, bahkan tadi dia sudah mempunyai dugaan seperti itu dan diam-diam dia sudah mengambil keputusan bahwa kalau Pangeran itu mencoba untuk memperkosanya atau bersikap kurang ajar kepadanya, dia akan membunuh Pangeran itu lalu mengamuk sampai titik darah terakhir.
Akan tetapi, sama sekali tidak terjadi hal seperti itu!
Pangeran itu bukan saja menyelamatkannya, bahkan bersikap amat sopan dan baik sekali kepadanya, bahkan kini menyatakan cintanya dengan cara tidak langsung, malah "meminangnya"
Secara tidak langsung pula!
Dia merasa terharu sekali, dan merasa terpukul betapa tadi dia merasa curiga dan mengira bahwa Pangeran itu akan memperkosanya.
Karena sampai lama gadis itu tidak menjawab dan hanya menunduk, Sang Pangeran lalu melepaskan tangan kirinya yang berada di pundak kanan gadis itu, lalu dengan hati-hati menggunakan jari-jari tangan kiri memegang dagu gadis itu dan mengangkat muka itu perlahan-lahan menghadapinya.
Muka yang agak pucat, kedua matanya terpejam dan beberapa butir air mata menitik turun dari mata itu ke atas kedua pipinya.
"Li Hwa.... jawablah, maukah engkau....?"
Li Hwa membuka mata dan sejenak mereka saling berpandangan, kemudian gadis itu mengangguk dan menggenggam cincin itu.
"Hamba.... akan menyimpan cincin ini.... sampai akhir hayat...."
"Tok-tok-tokk!"
Keduanya terkejut dan otomatis Li Hwa melangkah mundur, membalikkan tubuh memandang ke arah daun pintu itu.
"Siapa....?"
Pangeran Kian Liong membentak dengan suara keren.
"Saya, Pangeran. Harap buka pintu!"
Terdengar suara wanita dari luar pintu.
Mendengar suara ini, Sang Pangeran mengerutkan alisnya dan tahulah dia bahwa dia menghadapi ancaman!
Akan tetapi, dia bersikap tenang dan pura-pura tidak mengenal suara itu, lalu bertanya.
"Saya siapa?"
"Saya Ibumu ke tiga, Pangeran."
"Ah, harap Ibu tidak mengganggu, saya ingin tidur."
"Bukalah, Pangeran dan tidak perlu lagi berpura-pura. Ibumu sudah tahu bahwa engkau menyembunyikan wanita pemberontak itu di dalam kamar!"
"Singgg....!"
Li Hwa mencabut pedangnya, akan tetapi Pangeran Kian Liong memberi isyarat agar wanita itu bersikap tenang, bahkan dia lalu memegang dan menggandeng tangan kiri Li Hwa dan berbisik menyuruh gadis itu menyarungkan pedangnya.
Kemudian dia berkata, menghadapi pintu.
"Tunggu, saya hendak keluar dengan teman saya."
Dan Pangeran itu lalu menggandeng tangan Li Hwa, diajaknya menghampiri pintu, membuka daun pintu dan melangkah keluar sambil menggandeng tangan gadis yang kini memakai pakaian pria yang agak kedodoran itu!
Diam-diam Li Hwa merasa gelisah sekali, jantungnya berdebar tegang dan dia sudah siap untuk melawan kalau-kalau dia hendak diserang atau ditangkap.
Melihat Pangeran Mahkota itu melangkah dengan amat gagah menggandeng seorang "pemuda"
Yang pakaiannya kebesaran, Sam-thaihouw, yaitu Ibu Suri Ke Tiga itu terbelalak dan tahulah dia bahwa "pemuda"
Itu tentu wanita pemberontak yang dikejar-kejar.
Tadi dia menerima laporan mata-matanya, yaitu seorang di antara para pelayan thaikam yang melihat Pangeran itu masuk kamar bersama wanita yang pakaiannya basah kuyup.
"Pangeran, tunggu! Engkau tidak boleh...."
"Apa?"
Pangeran itu berhenti, membalik dan menghadapi wanita tua itu, lalu memandang kepada para pengawal yang datang bersama ibu suri itu, pandang matanya penuh tantangan.
"Siapa berani menghalangi aku keluar dari sini? Siapa? Ingin aku melihat orangnya yang berani menghalangiku!"
Sikapnya amat gagah dan menantang, sehingga semua pengawal menundukkan muka, tidak berani menentang pandang mata Pangeran itu.
Melihat ini, Pangeran Kian Liong tersenyum dan dia pun lalu menggandeng tangan Li Hwa dan terus diajak berjalan keluar.
Sejenak Sam-thaihouw tertegun menyaksikan keberanian Pangeran itu dan kemudian dia pun sadar bahwa bagaimanapun juga, tidak akan ada pengawal yang berani menghalangi Pangeran Mahkota itu.
Kalau dia mengerahkan pengawal pribadinya, tentu pengawalnya akan berani, akan tetapi dia tahu bahwa hal itu amat tidak baik baginya.
Betapapun juga, Pangeran itu adalah Pangeran Mahkota, putera terkasih dari Kaisar, maka dia harus bersikap hati-hati.
Maka, dengan marah dan mendongkol sekali dia berkata.
"Pangeran, tunggu saja nanti apa kata Sri Baginda kalau mendengar bahwa Pangeran telah meloloskan seorang pemberontak dan pembunuh Kaisar!"
Akan tetapi Kian Liong pura-pura tidak mendengarnya, terus mengajak Li Hwa keluar dari istana itu.
Setiap pengawal dan penjaga yang masih sibuk mencari-cari "pemberontak"
Wanita itu, begitu melihat Pangeran itu bergandengan tangan dengan seorang "pemuda"
Yang mereka tentu saja kenal sebagai gadis pemberontak yang mereka kejar-kejar itu, berdiri tertegun, bengong dan tidak tahu harus berbuat apa, kemudian begitu bertemu dengan pandang mata Pangeran yang menantang, mereka memberi hormat dan menundukkan muka!
Li Hwa merasa betapa tubuhnya panas dingin saking tegangnya ketika dia digandeng oleh Pangeran itu keluar dari istana, melalui lorong-lorong dan ruangan-ruangan luas yang penuh dengan penjaga-penjaga.
Diam-diam dia merasa semakin terharu.
Pangeran ini ternyata sungguh-sungguh menolongnya dan dia tahu bahwa untuk ini, Pangeran itu mengorbankan diri terancam oleh kema-rahan Kaisar!
Dia tidak dapat membayangkan bagaimana akan marahnya Kaisar kalau mendengar bahwa puteranya sendiri yang meloloskan orang yang hendak membunuhnya!
Akan tetapi, tidak ada seorang pun berani menegur, apalagi menghalangi Pangeran yang menggandeng tangan gadis yang menyamar pria itu sampai mereka keluar dari pintu gerbang istana!
Pangeran Kian Liong melewati penjaga terakhir di pintu gerbang dan terus mengajak Li Hwa berjalan keluar tembok istana dan berhenti di tempat yang gelap oleh bayangan tembok pagar dan pohon.
"Nah, dari sini engkau dapat melanjutkan perjalanan keluar dari pintu gerbang kota raja sebelah selatan, Li Hwa. Ingat, perlihatkan cincin dan suratku, dan kutanggung takkan ada seorang pun yang berani mengganggumu."
Li Hwa menjatuhkan diri berlutut.
"Pangeran telah menunjukkan budi kebaikan dan cinta kasih yang amat besar untuk itu hamba Souw Li Hwa tidak akan melupakan selama hidup hamba...."
Pangeran Kian Liong membungkuk dan memegang kedua pundak gadis itu, menariknya bangun berdiri dan biarpun cuaca cukup gelap di tempat ini, terlindung bayangan tembok dan pohon, akan tetapi karena mereka berdiri berhadapan dekat sekali, mereka dapat saling melihat garis muka masing-masing.
"Li Hwa, kalau benar engkau tidak akan melupakan, kelak engkau tentu akan memenuhi janji datang kepadaku dan hidup bersamaku."
Li Hwa merasa demikian terharu dan juga berbahagia sehingga dia agak terisak ketika dia berbisik.
"Hamba bersumpah...."
Akan tetapi dia tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena bibir pangeran itu telah menutup mulutnya dalam sebuah ciuman yang mesra dan penuh kasih sayang.
Dalam dorongan gairah asmara yang bergelora, dibangkitkan oleh rasa terima kasih, gadis itu hanya merintih dan membalas ciuman itu dan merangkulkan kedua lengannya pada leher Sang Pangeran.
"Pemberontak, kalian hendaklari. ke mana?"
Bentakan ini tentu saja membuat mereka terkejut, melepaskan ciuman dan rangkulan masing-masing dan Li Hwa sudah mencabut pedangnya.
Sesosok bayangan orang yang tinggi besar telah berada di situ, berdiri bertolak pinggang dengan sikap mengejek.
Pangeran Kian Liong yang mengira bahwa orang itu tentu seorang di antara para penjaga pintu gerbang istana, menjadi marah.
"Hemm, manusia lancang. Tidak tahukah engkau dengan siapa engkau berhadapan?"
Akan tetapi, sikap dan jawaban orang itu sungguh mengejutkan hati Sang Pangeran. Orang itu tertawa bergelak.
"Hoa-ha-ha-ha-ha, tentu saja aku tahu. Engkau adalah Pangeran yang mengkhianati Kaisar, membantu pembunuh melarikan diri!"
"Eh, siapa engkau? Dan mau apa kau?"
Pangeran membentak, wajahnya berobah agak pucat karena dia maklum bahwa ada terjadi sesuatu yang luar biasa dan yang mengancam keselamatan-nya, terutama sekali keselamatan Li Hwa.
"Aku? Ha-ha, aku adalah orang yang hendak menangkap kalian, mati atau hidup!"
Setelah berkata demikian, dengan langkah lebar orang tinggi besar ini bergerak maju.
Melihat ini, Li Hwa yang sudah memegang pedang di tangan kanannya itu cepat menerjang, mendahului orang yang mengancam keselamatan Pangeran Kian Liong.
Gerakannya cepat dan ganas sekali karena dara ini sudah menjadi marah dan nekat.
Kalau orang ini hendak mencelakai Sang Pangeran, biarlah dia mengadu nyawa!
Maka, seluruh kekuatan dan kepandaiannya dikerahkan dalam serangan-serangannya tanpa mempedulikan bagian pertahanan lagi.
Akan tetapi, orang tinggi besar itu hanya tertawa dan dengan lengan dan tangan kosong dia menangkis pedang nona itu.
"Trakkk!"
Baca Juga: Bu Kek Siansu 9
Baca Juga: Istana Pulau Es 1