Eps 3 Rajawali Hitam - Kho Ping Hoo
Baca online Rajawali Hitam - Kho Ping Hoo
Cersil Rajawali Hitam - Kho Ping Hoo.
Ilmu silat Kun-lun-pai memang cepat dan indah sehingga semua orang yang menonton menjadi tertarik sekali dan ramailah orang bertepuk tangan.
Keramaian ini menarik perhatian lebih banyak orang lagi sehingga tempat itu penuh dengan penonton.
Orang-orang bertepuk tangan ketika Kiok Hwa menghentikan gerakan silatnya dengan sikap manis, lalu memberi hormat ke empat penjuru.
"Sekarang tiba giliran saya untuk memperlihatkan sedikit ilmu silat, ha rap cu-wi tidak menertawakannya,"
Kata Siang In dan diapun melolos sabuk dari pinggangnya yang berwarna biru.
Setelah memberi hormat ke empat penjuru, diapun lalu bersilat mempergunakan sabuk biru yang panjangnya dua meter itu.
Memang indah sekali gerakan pemuda ini.
Sabuk yang lembek itu kadang berubah tegak lurus ketika dia memainkannya dan dari putaran sabuk itu terdengar angin menderu seolah yang diputar itu adalah tongkat dari baja saja.
Sementara Siang In memperlihatkan kebolehannya, Kiok Hwa berjalan berkeliling sambil mengembangkan ujung bajunya ke mana orang-orang melemparkan uang.
Sebentar saja ujung baju yang dikembangkan itu telah penuh dengan uang dan Kiok Hwa menuangkannya ke atas tanah, kemudian berkeliling lagi dengan baju yang kosong dikembangkan seperti tadi.
Ketika ia tiba di sebelah kiri, tiba-tiba saja ia berhadapan dengan seorang pemuda baju hijau yang dikenalnya sebagai pemuda yang tadi menegurnya ketika berada di rumah makan.
Kiok Hwa berhenti melangkah dan pemuda baju hijau itu berkata dengan suara lantang.
"Nona, aku suka menyumbang sebanyak sepuluh tail perak kalau engkau dapat bertahan melawanku selama duapuluh jurus!'' Mendengar ini, semua orang berdiam dan memandang ke arah Yauw Seng Kun. Bahkan The Siang In yang sedang bersilat lalu menghentikan gerakannya dan diapun menghampiri adiknya, dan memandang kepada pemuda baju hijau. Dia juga teringat bahwa pemuda itu adalah pemuda yang tadi bertanya kepada adiknya apakah adiknya she Souw. Dia memandang penuh perhatian. Seorang pemuda yang usianya sekitar tigapuluh tahun, pakaiannya serba hijau dan wajahnya juga tampan bertubuh sedang. Rambutnya yang juga dikuncir panjang itu amat tebal dan tergantung di belakang pundak. Di punggungnya terdapat sebatang tongkat bambu kuning. Siang In segera memberi hormat kepada orang itu dan berkata dengan lembut.
"Sobat, kami berdua hanya mencari tambahan bekal uang di jalan dengan mempertontonkan sedikit ilmu silat kami yang tidak ada artinya. Adikku tidak akan bertanding dan bertaruh dengan siapapun juga."
"Sobat, apakah engkau takut kalau aku akan melukai atau mencelakakan adikmu ini? Sama sekali tidak, sobat. Aku hanya tertarik melihat ilmu silatnya dan ingin mencobanya. Untuk itu, aku akan memberi bantuan sebanyak duapuluh tail perak. Baik ia kalah atau menang, ia akan kuberi duapuluh tail perak!"
"Terima kasih atas kebaikanmu, sobat. Bagaimana kalau aku saja yang mewakili adikku, berlatih sebentar denganmu?"
"Tidak bisa, aku tertarik akan permainan silat nona ini, bukan permainan sabukmu tadi. Nah, bagaimana pendapat para saudara yang menonton? Apakah tawaranku tadi tidak patut? Aku ingin bermain-main ilmu silat sebentar dengan nona ini, sukur kalau dapat bertahan sampai duapuluh jurus dengan janji tidak akan melukai dan akan kusumbangkan duapuluh tail perak!"
Semua orang bersorak setuju.
Tentu saja selain mereka ingin melihat gadis itu menerima duapuluh tail perak, juga mereka ingin menyaksikan pertandingan ilmu silat.
Ilmu silat gadis itu cukup tangguh, maka orang berbaju hijau ini tentu memiliki kepandaian sehingga dia berani menawarkan uang duapuluh tail perak.
Melihat semua penonton menyetujui, dan pemuda itu berjanji tidak akan mencelakai atau melukai adiknya, Siang in terpaksa tidak dapat menolak lagi.
"Baiklah, biar adikku melayanimu selama duapuluh jurus!"
Katanya dan kepada adiknya dia berkata.
"Hwa-moi, berhati-hatilah kau."
Kiok Hwa mengangguk dan orang berpakaian hijau itu lalu mengambil uang dari sakunya sebanyak duapuluh tail perak.
Dengan gerakan sembarangan dia melemparkan duapuluh potong kecil perak itu ke atas tumpukan uang yang tadi telah dikumpulkan Kiok Hwa dan potongan perak kecil-kecil itu jatuh tepat di atas tumpukan uang dengan rapih membentuk lingkaran seperti ditata dengan tangan saja!
Kiok Hwa segera memasang kuda-kuda di depan Seng Kun dan berkata.
"Aku telah bersiap!"
"Eh, nona. Aku menjadi malu sekali kalau harus menyerang terlebih dulu. Engkau adalah seorang wanita, maka biarlah engkau yang lebih dulu menyerangku,"
Kata Seng Kun dengan sikap sembarangan, tidak memasang kuda-kuda seperti Kiok Hwa.
"Lihat seranganku!"
Gadis itu membentak dan sudah membuka serangan dengan cepat dan kuat.
Namun, gerakan gadis ini bagi Yauw Seng Kun tampak lemah dan lamban sehingga dengan mudah saja dia mengelak.
Dia sengaja membiarkan gadis itu menyerangnya sampai sepuluh jurus dan semua serangan itu dapat dielakkannya.
Yauw Seng Kun merasa kecewa sekali.
Tadi dia sengaja memancing dan menantang untuk membuktikan sendiri siapa sebetulnya gadis yang disangkanya Souw Lee Cin itu.
Dari seranganserangan gadis itu ia dapat menilai ilmu kepandaiannya dan setelah gadis itu menyerang selama sepuluh jurus dia yakin bahwa gadis ini bukan Souw Lee Cin seperti disangkanya.
Kalau gadis itu Lee Cin, tentu serangan-serangannya jauh lebih hebat dari pada ini.
Akan tetapi selain dia tadinya mengira bahwa gadis ini Souw Lee Cin, dia juga tertarik akan kecantikan gadis ini dan kini setelah dia tahu bahwa gadis ini bukan musuh besarnya, dia berkeinginan untuk mempermainkan gadis yang menggiurkan hatinya itu.
Ketika Kiok Hwa memukul lagi dengan kepalan tangan kanan, Seng Kim dengan sengaja menerima pukulan itu dengan dadanya yang terbuka.
"Dukkk. ..... !"
Kiok Hwa terkejut bukan main karena ia merasa seperti memukul bantal yang empuk saja yang membuat tenaganya amblas dan lenyap.
Sebelum ia dapat menarik kembali tangannya dalam kagetnya, tahu-tahu pergelangan tangan kanannya itu telah ditangkap oleh tangan kiri Seng Kun!
Ia meronta dan menarik-narik tangannya, namun tidak berhasil.
Dengan penasaran dan marah ia menggunakan tangan kiri untuk menyerang, menusukkan jari tangannya ke arah mata pemuda itu.
Akan tetapi kembali Seng Kun menggerakkan tangan kanannya dan menangkap pergelangan tangan kiri Kiok Hwa!
Kedua pergelangan tangan gadis itu telah di tertangkap dan Kiok Hwa tidak mampu menggerakkan kedua tangannya lagi.
Diperlakukan begini Kiok Hwa men jadi malu dan marah, hampir ia menangis.
"Lepaskan tanganku...... !"
Katanya sambil meronta-ronta dengan sia sia. Seng Kim tersenyum.
"Akan kulepaskan kalau engkau sudah mengakui bahwa engkau kalah dalam pertandingan ini, nona The!"
Kiok meronta lagi, sia-sia. Akhirnya The Siang In yang maju dan memberi hormat kepada Seng Kum "Sobat, adikku sudah kalah, harap lepaskan ia."
"Tidak, ia harus mengakui dulu kekalahannya."
Seng Kim berkata dan berkeras tidak mau melepaskan kedua tangan yang sudah dipegangnya itu.
Dia senang sekali melihat gadis itu menjadi kemerahan mukanya dan bersitegang untuk meronta-ronta hendak melepaskan diri dari pegangan namun sia-sia.
"Aku.... aku mengaku. ...... kalah....!"
Akhirnya Kiok Hwa berkata.
Ia tidak mau menyerang lagi dengan tendangan karena kini ia maklum bahwa lawannya adalah seorang yang amat lihai dan ia khawatir kalau terus menyerang dengan tendangan, keadaannya akan lebih parah lagi.
Seng Kim melepaskan kedua tangan itu sambil mendorongkan dan Kiok Hwa terhuyung ke belakang.
Pemuda itu tersenyum dan berkata.
"Ilmu silat nona tidak jelek!"
Dia lalu memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan kakak beradik itu.
Mereka menghentikan pertunjukan mereka dan orang orangpun bubar meninggalkan tempat itu.
Tin Han juga ikut menonton dan dia menyaksikan semua ini.
Diam-diam dia terkejut juga.
Pemuda berbaju hijau itu benar-benar seorang yang memiliki ilmu silat tinggi dan akan merupakan lawan tangguh baginya.
Akan tetapi karena pemuda itu tidak mengganggu kakak beradik she The itu, diapun diam saja.
Akan tetapi diam-diam dia masih khawatir.
Pandang mata pemuda berbaju hijau terhadap gadis itu, seperti pandang mata seekor harimau kelaparan memandang seekor domba muda yang gemuk!
Dia seolah dapat melihat air liur menetes dari mulut pemuda baju hijau itu.
Setelah The Siang In dan The Kiok Hwa meninggalkan taman umum itu sambil membawa uang dari hasil sumbangan penonton dan pemberian Yauw Seng Kun, diamdiam Tin Han tetap membayanginya.
Hari telah menjelang senja dan kedua kakak beradik itu menuju ke rumah penginapan di mana Tin Han menyewa sebuah kamar.
Sungguh suatu hal yang kebetulan sekali.
Tak disangkanya bahwa kakak beradik itupun bermalam di situ.
Hal ini membuat hatinya menjadi lega.
Dengan demikian dia tidak akan bersusah payah untuk menjaga kedua orang itu.
Kalau malam ini tidak terjadi sesuatu, berarti kedua kakak beradik itu terlepas dari bahaya.
Kalau si baju hijau itu benar seorang jai-hwa cat seperti yang diduganya, tentu dia akan turun tangan malam ini juga untuk menculik gadis cantik yang mempunyai wajah mirip Lee Cin itu.
Akan tetapi dua buah kamar yang disewa kakak beradik itu terletak di Ujung belakang, agak jauh dari kamar yang disewanya.
Malam itu juga, dia merebahkan diri dengan tetap waspada, mendengarkan kalau-kalau terdengar suara yang mencurigakan.
Menjelang tengah malam, lapat-lapat Tin Han mendengar suara langkah orang di atas atap rumah penginapan itu.
Dia cepat turun dari pembaringannya dan membuka jendela kamarnya, keluar dari kamar melalui jendela dengan hati hati, kemudian setelah tiba di luar, dia meloncat ke atas genteng.
Dia memandang ke arah dua kamar kakak beradik itu, dan benar saja, seperti yang telah dikhawatirkannya, ada sesosok bayangan manusia di atas atap itu.
Tin Han cepat turun kembali melepaskan pakaian luarnya dan hanya mengenakan pakaian serba hitam yang memang sudah dipakainya di balik pakaian luarnya, menggunakan sabuk kain hitam untuk menutupi mukanya sebagai topeng dan kembali dia meloncat keluar dari jendela dan terus melayang ke atas genteng.
Ketika dia memandang, ternyata di atas genteng itu sudah terjadi perkelahian!
Tin Han mendekati dan bersembunyi di batik wuwungan rumah.
Dilihatnya bahwa si baju hijau sedang bertanding melawan kakak beradik itu!
Kiranya dua orang kakak beradik itu agaknya sudah curiga kepada si baju hijau dan sudah menanti sehingga begitu si baju hijau tiba di atas genteng kamar mereka, keduanya sudah keluar menyambut sehingga terjadi perkelahian.
The Siang In, pemuda itu menggunakan senjata sa buk birunya sedangkan The Kiok Hwa menggunakan sebuah pisau panjang.
Kakak beradik itu menyerang dengan ganas, akan tetapi Yauw Seng Kun yang telah mencabut tongkat bambu kuningnya dapat menandingi mereka dengan seenaknya.
Jelas bahwa dua orang kakak beradik itu sama sekali bukan lawannya.
Tiba-tiba tongkat bambu kuningnya bergerak cepat dan kedua orang kakak beradik itu secara beruntun roboh di atas genteng dalam keadaan tertotok!
Seng Kun cepat menyambar tubuh Kiok Hwa dan dibawanya lari secepatnya meninggalkan tempat itu.
Tin Han tadinya tidak mengira mereka berdua itu akan kalah sedemikian cepatnya.
Dia lalu melompat ke arah Siang In, sekali menggerakkan jari tangannya dia membebaskan Sian In dari totokannya, kemudian diapun berkelebat pergi untuk mengejar Seng Kun yang sudah berlari jauh.
Siang In yang sudah mampu bergerak lagi, menjadi bingung.
Dia melihat betapa adiknya dilarikan si baju hijau, akan tetapi mereka sudah tidak tampak dan dia tidak tahu harus mengejar ke arah mana.
Akhirnya dia hanya mengejar dengan ngawur saja dan mencari-cari orang yang telah menculik adiknya.
Sementara itu, Yauw Seng Kun yang sudah berhasil menculik Kiok Hwa yang ditotoknya sehingga tidak mampu bergerak atau bersuara, membawa lari gadis itu sampai tiba di luar kota.
Dengan kepandaiannya yang sudah tinggi tingkatnya, dia melompati pagar tembok kota Cin-an dan kini tiba di luar kota, di jalan yang sepi.
Tiba-tiba dia merasa ada yang mencolek pundaknya dari belakang.
Dia terkejut sekali, berhenti berlari dan memutar tubuh.
Ketika dia melihat seorang berpakaian hitam yang bertopeng kain hitam, dia makin kaget.
"Siapakah engkau? Mau apa engkau mengejar aku?"
Tanyanya untuk menghilangkan rasa heran dan kagetnya bahwa ada orang yang mampu mengejarnya, bahkan mencolek pundaknya tanpa dia mendengar sama sekali kedatangannya!
"Siapa aku tidak penting......
Aku mengejarmu karena engkau telah menculik seorang gadis!"
Yauw Seng Kun menduga bahwa orang ini tentu tokoh kang-ouw yang tinggal di daerah Cin-an, maka dia sengaja memperkenalkan diri agar orang itu menjadi gentar.
"Apa perdulimu. Ketahuilah, aku adalah Yauw Seng Kun, majikan dari Guha Tengkorak di Lembah Iblis, Kwi-san. Harap engkau jangan mencampuri urusanku!"
Mendengar orang itu memperkenalkan diri, Tin Han tertawa di balik topengnya.
"Aku Hek-tiauw Eng-hiong, tidak perduli engkau datang dari Guha Tengkorak atau Guha Setan dan tentu saja aku akan mencampuri urusanmu selama engkau berbuat kejahatan. Sudah jadi tugasku untuk menentang setiap perbuatan jahat , dan menculik seorang gadis merupakan kejahatan yang besar sekali!"
Yauw Seng Kun sudah biasa memandang rendah orang lain dan sangat tinggi hati, mengangkat diri sendiri setinggi mungkin.
Juga dia amat membanggakan ilmu kepandaiannya dan mengira bahwa di dunia ini jarang terdapat orang yang mampu menandinginya.
Maka, mendengar orang bertopeng hitam yang mengaku sebagai Pendekar Rajawali Hitam itu hendak menentangnya, tentu saja dia menjadi marah sekali.
"Kau berani mencampuri urusanku dan hendak menentang aku, jahanam busuk? Apakah engkau sudah bosan hidup?"
"Ha-ha-ha, justeru karena masih ingin hidup aku harus menentang orang-orang macam engkau ini. Hayo cepat lepaskan gadis itu atau engkau akan menyesal nanti!"
Yauw Seng Kun menjadi semakin marah.
Karena kalau dia masih memondong gadis itu gerakannya tentu tidak leluasa, maka dia menurunkan Kiok Hwa di atas tanah.
Gadis itu rebah tak berdaya, tidak mampu menggerakkan kaki tangannya dan kini Yauw Seng Kun menghadapi orang bertopeng itu.
Karena menduga bahwa orang bertopeng itu tentu memiliki ilmu kepandaian yang b�rarti, dia lalu mencabut tongkat bambu kuning dari punggungnya dan memutar tongkat itu sehingga berubah menjadi segulungan sinar hitam di malam yang remang-remang itu.
Bulan sudah condong ke barat, akan tetapi sinarnya masih cukup terang bagi dua orang yang sudah berhadapan dan siap untuk bertanding itu.
"Malam ini engkau akan mampus di tanganku!"
Bentak Yauw Seng Kun dan segera dia menyerang dengan tongkat bambu kuningnya.
Serangannya itu mengeluarkan bunyi mencicit ketika tongkatnya meluncur ke arah tenggorokan Tin Han.
Namun dengan mudahnya Tin Han mengelak ke samping dan tongkat itu mengejarnya dengan sabetan ke arah kepala.
Bukan main cepatnya gerakan tongkat itu, namun Tin Han lebih cepat lagi mengelak, lalu membalas dengan tamparan tangannya.
Tamparannya mendatangkan angin pukulan yang mengejutkan hati Yauw Seng Kim.
Makin yakinlah kini dia bahwa dia berhadapan dengan lawan tangguh, maka diapun mengerahkan tenaganya dan menyerang semakin gencar.
Kiok Hwa yang rebah telentang dan tidak mampu bergerak itu hanya dapat menonton dengan jantung berdebar tegang.
Ia sudah tahu akan kelihaian pe muda yang menculiknya dan ia khawatir kalau si topeng hitam yang menolongnya itu akan kalah.
Biarpun yang menjadi senjata Yauw Seng Kun hanya sebatang tongkat bambu kuning, namun di tangan pemuda itu, senjata sederhana itu dapat menjadi senjata yang amat ampuh.
Bambu kuning itu dapat dipergunakan sebagai pedang untuk menusuk dan menabas, juga sebagai tongkat untuk menotok jalan darah.
Namun Tin Han dapat mengimbanginya dan ketika beberapa kali Tin Han menangkis serangan itu dengan tangannya, Yauw Seng Kun merasa betapa panas dan tergetar tangannya yang memegang bambu kuning.
Hal ini menunjukkan bahwa tenaga sin-kang lawannya amat kuat.
Dengan penasaran karena setelah menyerang bertubi-tubi sampai puluhan jurus tongkatnya tidak pernah menemui sasaran, Yauw Seng Kun menubruk dengan hantaman tongkatnya ke arah kepala lawan.
Tin Han menggerakkan tangan kanan, memutarnya dari kiri ke kanan untuk menangkis.
"Plakkkkk!"
Tangannya berhasil menangkis dan memegang tongkat lawan dan cepat dia mengerahkan untuk merampas tongkat itu! Akan tetapi Yauw Seng Kun mempertahankan. Dua tenaga sin-kang yang kuat bersitegang.
"Takk!"
Tongkat itu patah menjadi dua potong!
Yauw Seng Kun terkejut bukan main dan dia melompat ke belakang, lalu membalik dan melontarkan sepotong tongkat itu ke arah lawannya.
Sepotong tongkat itu meluncur seperti anak panah menyerang dada Tin Han.
Akan tetapi pemuda ini sudah siap dan dia menggunakan potongan tongkat yang berada di tangannya untuk menangkis sehingga tongkat yang meluncur itu dapat terpukul runtuh.
Akan tetapi ketika Tin Han mengangkat muka, ternyata lawannya telah lenyap dalam kemuraman malam, meninggalkan gadis yang masih menggeletak di atas tanah.
Menggunakan sepotong tongkat rampasan itu, Tin Han lalu menotok kedua pundak Kiok Hwa gadis itupun dapat bergerak kembali.
Begitu dapat bergerak dan bersuara, Kiok Hwa menjatuhkan dirinya berlutut di depan Tin Han.
"In-kong (tuan penolong), saya The Kiok Hwa menghaturkan banyak terima kasih atas budi pertolongan in-kong. Kalau tidak ada in-kong yang menolong, entah apa jadinya dengan diri saya."
Tin Han menyentuh pundak gadis itu dengan tangannya, menyuruhnya bangkit lagi.
"Berdirilah, nona dan jangan banyak sungkan. Sudah menjadi tugas kewajiban untuk menentang kejahatan. Lebih baik nona cepat kembali ke Cinan karena kakakmu tentu sedang mencarimu dengan hati gelisah"
Kiok Hwa bangkit berdiri, mencoba untuk menatap tajam sepasang mata di batik topeng itu.
"Baik, in-kong. Akan tetapi selama hidupku saya tidak akan melupakan budi kebaikan in-kong. BoIehkah saya mengetahui nama in-kong dan bolehkah saya mengenal wajah inkong?"
"Nona, kalau engkau boleh melihat wajahku, untuk apa aku menggunakan topeng? Kalau mau mengenal namaku, sebut saja Hek-tiauw Eng-hiong. Sekarang, cepat nona kembali ke Cin-an,' aku membayangi dari jauh."
"Baik, in-kong,"
Kata Kiok Hwa dan iapun memutar tubuhnya lalu berlari cepat keluar dari tempat itu menuju kembali ke kota Cin-an.
Tin Han membayanginya karena khawatir kalau-kalau penculik tadi akan mengganggunya kembali.
Kiok Hwa memasuki kota Cin-an dengan melompati pagar tembok seperti ketika ia dibawa keluar oleh penculik tadi dan langsung saja kembali ke rumah penginapan.
Ia mendapatkan kakaknya sedang duduk termenung dengan gelisah.
The Siang In terkejut ketika melihat adiknya membuka pintu dan masuk ke kamarnya.
"Hwa-moi, engkau sudah kembali? Bagaimana engkau dapat kembali?"
Dia meloncat bangun sambil memegang tangan adiknya. Kiok Hwa berkata.
"Aku hampir celaka di tangan penculik itu, koko. Aku dibawa sampai keluar kota Cin-an. Untung datang seorang Bintang penolong. Seorang laki-laki bertopeng menolongku. Orang bertopeng itu lihai bukan main. Setelah bertanding dengan penculik jahanam itu, dia dapat mengalahkannya dan penculik itupun melarikan diri. Aku lalu dibebaskan dari totokan dan in-kong itu minta kepada agar segera kembali ke sini."
"Ah, terima kasih kepada Tuhan yang masih melindungimu, moi-moi! Siapakah namanya in-kong itu?"
"ltulah yang mengecewakan hatiku, koko. Dia memakai topeng hitam dan ketika kutanya namanya, mengaku bernama Hek-tiauw Eng-hiong. Dia tidak mau memperkenalkan mukanya. Ah, aku berhutang nyawa kepadanya, koko. Kalau tidak ada dia, tentu aku mati, andaikata tidak dibunuh penculik laknat itu tentu aku akan membunuh diri." �Sudahlah, Hwa-moi. Bagaimanapun juga; Tuhan masih melindungimu. Kita tidak pernah melakukan kejahatan, maka bagaimanapun tentu ada saja yang menolong kita. Penculik itu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, kalau penolongmu itu dapat mengalahkannya, tentu dia seorang sakti."
"Wah, kepandaian in-kong itu hebat sekali, koko. Bayangkan saja, dia menghadapi penculik jahanam itu yang meng gunakan tongkatnya, dengan tangan kosong saja! Dan akhirnya dia dapat mematahkan tongkat itu sehingga penculik menjadi ketakutan dan kabur. Aku berhutang nyawa kepadanya, entah bagaimana dapat membalasnya."
"Kita dapat membalas budinya dengan bersembahyang kepada Tuhan semoga in-kong itu mendapat berkah yang berlimpahan dari Tuhan, sesuai dengan budi kebaikannya, moi-moi."
Kakak beradik itu membicarakan Hek-tiauw Enghiong tiada habisnya, sama sekali mereka tidak mengira bahwa orang yang mereka bicarakan itu hanya beberapa meter saja dari kamar mereka, di sebuah kamar lain di rumah penginapan itu.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi benar Tin Han berangkat meninggalkan rumah penginapan.
Baru saja dia membayar sewa kamarnya.
muncul Siang In dan Kiok Hwa yang juga hendak membayar sewa kamar dan meninggalkan rumah penginapan itu pagi-pagi benar.
Mereka hanya bertukar pandang dan Tin Han cepat mengalihkan pandang matanya ketika pandang matanya bertemu dengan sinar mata Kiok Hwa yang memandangnya.
Akan tetapi gadis itu tidak mengenalnya, sungguhpun sejenak ada keraguan di hati gadis ini yang merasa pernah bertemu dengan Tin Han akan tetapi ia lupa lagi bilamana dan di mana.
-ooOoo-Tin Han meninggalkan kota Cin-an.
Dia bermaksud pergi ke Hong-san untuk mencari Lee Cin.
Di dalam hatinya dia merasa tegang kalau membayangkan pertemuannya dengan Lee Cin dan juga dengan Souw Tek Bun.
Bagaimanapun juga, dia pernah melukai Souw Tek Bun walaupun ketika dia melakukan itu dia berpakaian sebagai Si Kedok Hitam.
Bagaimana sambutan Lee Cin kalau dia muncul di sana?
Dan apakah kedua orang tua gadis yang dicintanya itu akan suka menerimanya sebagai mantu?
Dia menjadi tegang, karena dia belum yakin benar bahwa Lee Cin akan membalas cintanya, dan membayangkan dia ditolak pula oleh ayah-ibu Lee Cin membuat jantungnya berdebar.
Mengapa takut akan bayangan, pikirnya.
Yang penting dia harus menemui Lee Cin dan bagaimana nanti sajalah akibatnya!
Dia sudah merasa rindu sekali kepada Lee Cin.
Kalau dia terkenang saat perjumpaannya dengan Lee Cin, pada saat terakhir.
Dia sebagai Tin Han dan dia sebagai Si Kedok Hitam sudah menyatakan cintanya kepada Lee Cin!
Dan ketika dia sebagai Tin Han menyatakan cintanya terhadap gadis itu, Lee Cin tidak menolaknya, walaupun juga tidak mengatakn bahwa gadis itu membalas cintanya!.
Sekarang, kalau dia bertemu lagi dengan Lee Cin, dia akan berterus terang meminangnya sebagai calon isterinya.
Keputusan ini sudah tetap di hatinya.
Dia harus berani, berani meminang dan berani ditolak.
Lee Cin pernah menyatakan sayang bahwa dia tidak pandai silat.
Kalau kemudian gadis itu mengetahui bahwa dia pandai silat, bagaimana?
Akan tetapi tentu Lee Cin akan tahu bahwa dialah Si Kedok Hitam!
Serba salah jadinya.
Sebaiknya kalau dia menyembunyikan kepandaiannya dari gadis itu.
Tin Han berjalan seenaknya keluar dari kota Cin-an.
Ketika dia sedang berjalan melenggang seenaknya, tiba-tiba dari belakangnya terdengar seruan nyaring.
"Minggir! Minggir!"
Dan terdengar derap.
kaki kuda.
Tin Han cepat minggir dan memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang membalapkan kuda di pagi hari itu.
Ternyata dia seorang yang berpakaian perwira tinggi bersama duabelas orang pengawalnya.
Tin Han jadi tertarik.
Dia memang merasa tidak senang kepada perwira penjajah Mancu yang suka bertindak sewenang-wenang.
Karena hatinya tertarik maka dia lalu membayangi mereka dengan menggunakan ilmu berjalan cepat.
Di sepanjang jalan itu masih sepi, akan tetapi karena dia tidak ingin dilihat orang berjalan cepat sekali, dia mengambil jalan dalam hutan di sebelah jalan.
Dari jauh dia melihat betapa tigabelas orang berkuda itu kini menyeberangi Sungai Huang-ho dengan menggunakan perahu besar.
Mereka menyeberang bersama kuda-kuda mereka.
Tin Han jadi semakin tertarik dan diapun segera menyewa perahu kecil dan minta kepada tukang perahu agar menyeberangkannya.
Setelah tiba di seberang, para penunggang kuda itu melanjutkan perjalanan mereka.
Tin Han juga mendarat lalu melakukan pengejaran dengan mempergunakan ilmu berlari cepat.
Akhirnya dia dapat menyusul rombongan berkuda itu yang ternyata memasuki sebuah hutan di Lembah Sungai Huang-ho.
Tin Han terus mengikuti pasukan selosin pengawal yang dipimpin oleh seorang perwira yang bertubuh tinggi kurus dan bermuka pucat itu.
Pasukan itu adalah pasukan pengawal Kerajaan Mancu yang dipimpin oleh Panglima Coa Kun, yaitu wakil dari Panglima Tua Bouw Kin.
Setelah berloncatan turun dari atas kuda, Coa-ciangkun lalu menghampiri pondok dan muncullah seorang kakek tinggi kurus yang berpakaian hitam putih dan ada gambar lm-yang di dadanya.
Usianya mendekati enampuluh tahun dan kakek ini bukan lain ada lah Thian-te Mo-ong.
Melihat kakek ini, Coa-ciangkun memberi hormat yang dibalas oleh Thian-te Mo-ong.
"Kebetulan sekali Coa-ciangkun sudah datang,"
Kata Thian-te Mo-ong.
�Kami sedang mengadakan pertemuan di sini.� Coa-ciangkun dipersilakan lalu masuk dan di ruangan belakang yang cukup luas telah duduk Hek-bin Mo-ko, Sinciang Yauw Seng Kun, Ma Huan dan beberapa orang lain lagi.
Hek bin Mo-ko adalah seorang tokoh sesat yang bertubuh tinggi besar dan semua anggauta tubuhnya tampak besar dan bundar, perutnya gendut dan kulitnya hitam.
Hek-bin Mo-ko (Iblis Muka Hitam) ini bersenjatakan sebatang ruyung berduri yang besar dan berat.
Orang kedua yang bernama Sin-ciang Mo-kai (Pengemis Iblis Tangan Sakti) adalah seorang tokoh kang-ouw golongan sesat pula yang bertubuh tinggi kurus dan mukanya kekuningan seperti orang berpenyakitan, matanya sipit sekali.
Seusia dengan Hek-bin Mo-ko, kurang lebih limapuluh tahun dan Pengemis Iblis ini bersenjatakan sebatang tongkat yang beracun.
Yauw Seng Kun telah kita kenal, yaitu pemuda dari Guha Tengkorak di Lembah Iblis murid mendiang Jengciang-kwi, dan Ma Huan yang berusia empatpuluh tahun adalah seorang utusan dari Pulau Naga, nembantu Siang Koan Bhok dan Ouw Kwan Lok.
Empat orang lain yang duduk di situ kesemuanya adalah tokoh-tokoh sesat yang sudah dihubungi oleh Thian-te Mo-ong dan mau diajak bersekutu.
Bagaimana Thian-te Mo-ong dapat mengadakan pertemuan rahasia dengan Panglima Coa di tempat itu?
Bukankah Thian-te Mo-ong pernah membantu pemberontakan dan pernah dihukum buang, bahkan kemudian menjadi pelarian yang diburu pemerintah Kerajaan Mancu?
Ternyata setelah Song Thian Lee mengundurkan diri dan semua kekuasaan atas pasukan berada sepenuhnya di tangan Panglima Tua Bouw Kin Sek, maka panglima ini telah mengubah siasatnya.
Dia menyebar orang-orangnya, termasuk Panglima Coa untuk menghubungi orang-orang kang-ouw golongan sesat dan membujuk mereka untuk bekerja sama dengan pasukan pemerintah memusuhi kaum pendekar dan patriot!
Karena Panglima Bouw bukan hanya menjanjikan, melainkan juga dengan royal membagi-bagi hadiah, maka golongan sesat menjadi terpikat.
Karena inilah maka Thian-te Mo-ong seperti telah diampuni oleh kerajaan, asalkan dia mau membantu pemerintah untuk membasmi kaum pendekar dan patriot.
Kebijaksanaan baru ini lebih menguntungkan, baik bagi pemerintah maupun bagi golongan sesat, maka banyaklah tokoh kang-ouw yang termasuk golongan sesat dapat terpikat, termasuk Thian-te Mo-ong tentu saja karena diampuni dan tidak lagi menjadi orang buruan pemerintah.
Bahkan Thian-te Mo-ong berjanji kepada Panglima Coa untuk menghubungkannya dengan Beng-cu baru, yaitu Ouw Kwan Lok yang tinggal di Pulau Naga.
Panglima Coa masuk ke pondok dan dipersilakan duduk di ruangan belakang di mana telah berkumpul teman-teman Thian-te Mo-ong.
"Silakan duduk, ciangkun. Saudara-saudara sekalian, perkenalkan inilah Panglima Coa dari kota raja yang menjadi wakil dari Panglima Tua yang menguasai seluruh pasukan pemerintah."
Thian-te Mo-ong memperkenalkan panglima itu kepada rekan-rekannya.
Dia lalu memperkenalkan pula tujuh orang tokoh kangouw yang sudah hadir di situ.
Panglima Coa saling memberi hormat dengan mereka semua dan dia lalu duduk berhadapan dengan mereka.
"Mo-ong, sekarang ceritakan lebih dulu tentang pengangkatan Beng-cu baru itu, siapa dia dan bagaimana kedudukannya,"
Kata Panglima Coa.
"Beng-cu Souw Tek Bun telah mengundurkan diri dari jabatan beng-cu, ciangkun, dan ini kebetulan sekali karena diapun berhaluan menentang pemerintah. Penggantinya adalah seorang pemuda yang gagah perkasa, dan terhitung muridku juga, bernama Ouw Kwan Lok. Dia menangkan pertandingan pemilihan beng-cu dan sekarang tinggal di Pulau Naga, bersama Siang Koan Bhok yang juga menjadi gurunya."
"Dan bagaimana pendapatnya tentang ajakan kami untuk bekerja sama menentang golongan pendekar yang bermaksud menentang pemerintah Kerajaan Ceng?"
"Aku sudah menyampaikan ke padanya, dan dia menjawab bahwa hal itu akan dipertimbangkan melihat kesungguhan pemerintah yang mengajak bekerja sama. Dan juga beng-cu kami itu mengatakan bahwa setelah diadakan kerja-sama, biarlah beng-cu tetap bersikap mendekati para pendekar dan pemberontak, dengan demikian dia akan tahu siapa yang harus ditentang."
"Ha-ha-ha, dia ingin melihat kesungguhan hati kami? Tunggu sebentar!"
Panglima Coa lalu bangkit dan memanggil pengawalnya yang masih berada di luar.
Seorang pengawal datang dan membawa sebuah kantung sebesar kepala manusia, dan dia menyerahkan kantung kepada Coaciangkun.
"Nah, inilah hadiah pertama untuk disampaikan kepada beng-cu. Kalau kerja sama sudah menghasilkan, akan lebih banyak pula hadiah dikirimkan kepadanya."
Coa-ciangkun membuka kantung itu dan memperlihatkan isinya kepada semua yang hadir.
Tampak emas permata berkilauan dalam kantung itu.
Sungguh merupakan hadiah yang berharga sekali!
"Baik, kami menerimanya, ciangkun.
Akan tetapi kamipun ingin mendengar penjelasan dari ciangkun mengapa sekarang, pihak pimpinan pasukan mengajak kami bekerja sama?
Apa yang mendorong para pimpinan ciangkun melakukan kerja sama ini?
Kami harus mengetahui latar belakang perubahan sikap ini agar kami tidak ragu-ragu lagi.
"Hemm, kalian ingin mengetahui sebabnya? Dahulu, di waktu Song Thian Lee masih menjadi panglima muda dan dipercaya oleh kaisar, dia selalu menentang orang-orang kang-ouw sehingga banyak orang kang-ouw memberontak atau menentang pemerintah kerajaan. Kami menganggap sikap itu keliru sama sekali. Seharusnya orang kang-ouw didekati dan diajak bekerja sama sehingga tidak timbul pemberontakan, kecuali dari pihak para pendekar yang menganggap diri mereka patriot. Nah, dengan bekerja sama dengan orang-orang kang-ouw, kita tentu akan lebih mudah untuk membasmi para pendekar itu. Setelah kini Song Thian Lee mengundurkan diri dan tidak menjadi panglima lagi, semua kekuasaan terjatuh ke tangan Panglima Tua Bouw Kin Sek maka perubahan sikap kami ini dapat dilaksanakan. Mengertikah kalian?"
Tujuh orang itu mengangguk-angguk.
"Sekarang, untuk membuktikan bahwa kalian memang sungguh hati berniat untuk bekerja sama, kami minta kalian membantu kami untuk menangkap atau membunuh bekas panglima Song Thian Lee dan isterinya. Sanggupkah kalian?"
Tujuh orang kang-ouw itu saling pandang dan Yauw Seng Kun yang belum mengenal orang macam apa adanya Song Thian Lee, sudah menyanggupi.
"Tentu saja kami dapat membantu ciangkun!"
"Akan tetapi, Song Thian Lee dan isterinya itu merupakan lawan yang tangguh,"
Kata Thian-te Mo-ong, agak ragu.
"Hemm, biarpun dia tangguh, kalau menghadapi kita semua, dia akan mampu berbuat apakah? Aku membawa surat perintah Kaisar untuk menangkapnya dengan tuduhan bahwa dia sengaja membantu pemberontak Keluarga Cia, dan aku membawa selosin pengawal pilihan. Ditambah lagi dengan kalian bertujuh, apa dia akan mampu melawan?"
Thian-te Mo-ong mengangguk-angguk.
"Kalau kita semua maju, aku merasa yakin kita akan mampu menangkap atau membunuh mereka berdua. Baik, kapan kita akan berangkat dan di mana mereka tinggal ?"
"Mereka tinggal di dusun Tung-sinbun tak jauh dari kotaraja dan kita berangkat sekarang juga. Kami akan menyediakan tujuh ekor kuda untuk kalian. Selain itu, apakah engkau tahu di mana adanya Keluarga Cia, Mo-ong?"
"Tentu saja aku tahu di mana mereka bersembunyi. Ketika Beng-cu menawarkan kepada mereka untuk tinggal di Pulau Naga, mereka menolak dan mereka untuk sementara tinggal di Bukit Cemara."
"Bagus! Tugas kalian, setelah kita menyerbu rumah Song Thian Lee, adalah untuk membasmi Keluarga Cia itu. Mereka adalah orang-orang yang amat membenci pemerintah Kerajaan, merupakan orang-orang berbahaya. Bagaimana, sanggupkah kalian bertujuh untuk membasmi Keluarga Cia?"
Thian-te Mo-ong tertawa.
"Ha-ha-ha, membasmi mereka adalah urusan mudah, ciangkun. Yang paling lihai di antara mereka adalah Nenek Cia, dan nenek itu pernah dikalahkan oleh Bengcu yang baru. Kalau kami melaporkan permintaan ciangkun ini kepada Beng-cu, tentu akan mudah membasmi mereka."
"Baiklah, kami percaya kepada kalian. Sekarang, mari kita berangkat. Para pengawalku akan menyediakan kuda untuk kalian."
Tak seorangpun di antara mereka mengetahui bahwa semua percakapan mereka itu didengar dengan jelas oleh Tin Han!
Ketika mendengar bahwa mereka hendak menyerbu rumah bekas panglima Song Thian Lee, dia mendengarkan dan kurang tertarik.
Akan tetapi alangkah terkejut hatinya ketika dia mendengar bahwa mereka hendak menyerbu dan membasmi Keluarga Cia!
Tidak, dia tidak dapat tinggal diam saja.
Juga dia harus melindungi keluarga Song Thian Lee yang pernah didengarnya sebagai seorang panglima muda yang bijaksana.
Dari percakapan itu tahulah dia bahwa pemerintah Kerajaan Mancu telah mengubah taktiknya.
Kini mereka hendak menyuap kepada para tokoh kang-ouw dari golongan sesat untuk membantu pemerintah menghancurkan para pendekar dan patriot.
Hatinya menjadi panas mendengar ini dan dia bermaksud untuk menghalangi tindakan mereka yang akan membunuh bekas panglima Song Thian Lee dan juga hendak membasmi keluarganya, Keluarga Cia!
Karena sudah mendengar bahwa mereka akan pergi ke dusun Tung-sinbun dekat kota raja dan mereka semua hendak menunggang kuda, Tin Han lalu mendahului mereka melakukan perjalanan ke arah kota raja.
Ketika hari menjadi malam dan dia bermalam di rumah penginapan yang sama!
Tin Han mendapatkan pikiran yang dianggapnya bagus.
Malam itu, diam-diam dia menyelinap ke kandang kuda dari penginapan itu dan mencari seekor kuda yang dipilihnya paling baik dari semua kuda yang ada.
Pada keesokan harinya, tentu saja keadaan menjadi geger ketika Coa-ciang kun mengetahui akan lenyapnya seekor kuda yang terbaik, yaitu kuda yang menjadi tunggangannya.
Dia memaki-maki para petugas rumah penginapan akan tetapi tidak ada seorangpun tahu ke mana perginya kuda yang hilang itu.
Tin Han pura-pura ikut resah seperti para tamu lain dan dengan hati geli dia melihat perwira tinggi itu menyuruh anak buahnya mencari dan membeli seekor kuda lain yang baik.
Setelah mendapatkan seekor kuda, berangkatlah mereka.
Tin Han juga meninggalkan rumah penginapan itu dan melepaskan kuda curiannya yang diikat pada sebuah pohon di luar kota Kan-lok, lalu membayangi rombongan itu dengan berkuda.
Akhirnya, rombongan itu tiba di dusun Tung-sin-bun.
Ketika itu, senja telah tiba dan agaknya rombongan itu tidak mau berhenti dulu, langsung saja menuju ke rumah Song Thian Lee, setelah mendapat keterangan di mana rumah bekas panglima itu.
Pada sore hari itu, Song Thian Lee sedang duduk dengan isterinya di serambi depan.
Tang Cin Lan sedang bermain-main dengan puteranya yang baru berusia tiga tahun.
Ketika mendengar bunyi kaki kuda mendatangi rumah mereka, suami isteri ini tidak mengira bahwa merekalah yang kedatangan tamu.
Baru setelah belasan orang berkuda itu memasuki halaman rumahnya, mereka tahu bahwa rombongan orang itu datang untuk berurusan dengan mereka.
Yang membuat Thian Lee terheran-heran adalah ketika dia melihar Panglima Coa dan Thian Lee masih mengenal Thian-te Mo-ong yang di tangkapnya ketika datuk ini membantu pemberontakan beberapa tahun yang lain, kemudian Thian-te Mo-ong berhasil meloloskan diri ketika dikirim ke tempat pembuangan.
Heran dia mengapa Panglima Coa dapat datang bersama Thian-te Mo-ong yang menjadi orang buruan pemerintah?
Namun dia menekan keheranannya dan segera bangkit bersama isterinya yang menggendong Hong San.
"Kiranya Coa-ciangkun yang datang berkunjung! Entah kepentingan apa yang membawa ciangkun datang berkunjung ke rumah kami?"
Akan tetapi Coa-ciangkun tidak turun dari atas kudanya, bahkan tidak membalas penghormatan Thian Lee, sebaliknya dia mengambil surat perintah Kaisar dan berkata lantang.
"Song Thian Lee, atas perintah Kaisar kami datang untuk menangkap engkau dan seluruh keluargamu! Karena itu menyerahlah sebelum kami mempergunakan kekerasan!"
Thian Lee dan Cin Lan terkejut bukan main mendengar ucapan itu.
"Coa-ciangkun! Kesalahan apakah yang kami perbuat maka Kaisar memerintahkan untuk menangkap kami?"
"Ketika engkau melakukan pembersihan di timur, engkau sengaja memberi kebebasan kepada para pemberontak Keluarga Cia. Karena itu engkau dianggap pemberontak!"
"Bohong semua itu! Suamiku ketika memegang jabatan panglima, sudah berjasa besar menumpas pemberontak-pemberontak dan orang-orang jahat! Dia bukan pemberontak dan tahukah engkau siapa aku? Aku adalah puteri Pangeran Tang Gi Su. Beranikah kalian berkurang ajar untuk menangkap aku?"
"Ini perintah Kaisar. Kami hanya menjalankan tugas. Hayo kalian cepat berlutut menyerah daripada kami harus menggunakan kekerasan!"
Bentak lagi Coa-ciangkun.
Thian Lee menjadi marah sekali.
Dia dapat menduga bahwa semua ini bukan keluar dari lubuk hati Kaisar.
Tentu Kaisar telah dihasut dan mungkin yang menghasut adalah Panglima Coa dan Panglima Bouw yang dia tahu memang merasa iri dan tidak suka kepadanya.
"Coa-ciangkun! Engkau tahu bahwa kini aku bukan lagi seorang pejabat pemerintah yang harus tunduk atas semua perintah Kaisar. Aku tidak merasa bersalah dan aku tidak mau menyerah!"
"Engkau hendak melawan Kaisar?"
"Bukan Kaisar yang kulawan, melainkan kalian! Engkau membawa pula pemberontak Thian-te Mo-ong, padahal dia orang buruan pemerintah! Engkaulah yang berbuat jahat, Coa-ciangkun!"
"Serbu!"
Bentak Coa-ciangkun kepada anak buahnya.
Duabelas orang pengawal itu lalu mencabut golok mereka dan berlompatan turun dari atas kuda.
Demikian pula tujuh orang tokoh kangouw itu berlompatan turun dari kuda.
Hekbin Mo-ko sudah mengayun ruyungnya yang berduri, besar dan berat, sedangkan Sin-ciang Mo-kai juga mempergunakan tongkatnya yang beracun untuk menyerang Thian Lee.
Thian-te Mo-ong tidak mau ketinggalan.
Song Thian Lee adalah musuh besarnya, maka diapun su dah mengeluarkan sepasang pedangnya dan menyerang dengan dahsyat.
Thian Lee menyambar Jit-gwat-kiam (Pedang Matahari dan Bulan) yang berada di atas meja dan diapun menyambut penyerangan banyak orang itu.
Sementara itu, Yauw Seng Kun yang melihat betapa cantiknya Tang Cin Lan, sudah menggunakan tongkat bambu kuningnya untuk menyerang wanita itu, dengan maksud untuk menangkapnya hidup-hidup.
Serangannya ini dibantu pula oleh Ma Huan dan empat orang tokoh kang-ouw lainnya.
Cin Lan tidak menjadi gentar.
Dia sudah menggendong Hong San di punggungnya dan memutar sebatang tongkat, memainkan ilmu tongkat Hok-mo-tang (Tongkat Penaluk Iblis) dan mengamuk.
Thian Lee dan Cin Lan adalah suami isteri yang lihai ilmu silatnya.
Cin Lan adalah murid Pek I Lo-kai dan tubuhnya kebal racun karena pernah digigit ular merah dan ular putih yang racunnya berlawanan.
Ilmu tongkatnya Hok-mo-tang amat dahsyat, dan iapun seorang yang pemberani dan tabah berkat pengalamannya ketika ia masih gadis dan suka merantau mencari pengalaman.
Terutama sekali Thian Lee.
Ilmunya lebih tinggi dibandingkan isterinya.
Pendekar ini pernah menjadi murid Liok-te Lo-mo, kemudian pernah pula menjadi murid Jeng-ciang-kwi, kemudian menjadi murid Kim Sim Yok-sian si Dewa Obat dan murid Tan Jeng Kun.
seorang pertapa sakti yang mengasingkan diri dari dunia ramai.
Semua itu masih ditambah lagi ketika dia menemukan pedang Jitgoat-kiam dan dua kitab, yaitu Thian-te Sin-kang dan Jit-goat Kiam-sut.
Ilmu kepandaiannya pada masa itu jarang menemukan tandingan.
Akan tetapi dia sekali ini menghadapi pengeroyokan banyak orang pandai, dan dia tidak dapat memusatkan perhariannya karena perhatiannya terbagi kepada isteri dan anaknya yang juga dikeroyok banyak orang pandai.
Hanya dengan ilmu pedangnya yang luar biasa, dia dapat mencegah desakan para pengeroyoknya dan selalu berusaha mendekat isterinya untuk melindunginya.
Tin Han menyaksikan ini semua dan dia terbelalak kagum.
Suami isteri itu sungguh hebat, pikirnya.
Apa lagi ilmu pedang Song Thian Lee.
Dia hanya melihat sinar pedang bergulung-gulung menyelimuti suami isteri itu sehingga tidak ada senjata lawan yang mampu menembusnya.
Akan tetapi, suami isteri itu kini hanya dapat bertahan saja dan kalau dilanjutkan perkelahian seperti itu, akhirnya mereka akan terancam bahaya.
Cepat dia melepaskan pakaian luarnya dan menutupi mukanya dengan kain hitam, lalu mengambil sebatang pedangnya yang selalu disimpan dalam buntalan.
Itulah pedang Pekkong-kiam (Pedang Sinar Putih) pemberian Bu Beng Lo-jin, gurunya yang pertama.
Setelah menyembunyikan buntalan dan pakaiannya, dia lalu melompat memasuki gelanggang pertempuran dan tanpa banyak cakap lagi dia lalu membantu suami isteri itu menghadapi pengeroyokan belasan orang yang rata-rata memiliki ilmu silat yang tangguh.
Pedang di tangan Thian Lee sudah merobohkan empat orang pengawal, sedangkan tongkat di tangan Cin Lan juga sudah merobohkan tiga orang pengawal.
Biarpun para jagoannya belum ada yang roboh, sedikitnya robohnya tujuh orang pengawal itu membuat para pengawal lainnya menjadi jerih dan menambah semangat mereka.
Ketika mereka melihat seorang berkedok hitam memasuki gelanggang perkelahian dan membantu mereka, Thian Lee segera mengenal Si Kedok Hitam yang pernah menolongnya ketika dia dan Lee Cin ditawan oleh Keluarga Cia.
(Baca Kisah Si Dewi Ular) .
"Terima kasih, sobat. Engkau kembali menolongku!"
Kata Thian Lee kepada Si Kedok Hitam yang begitu masuk sudah merobohkan dua orang pengawal.
Tiga orang pengawal lain lalu mundur dan tidak berani lagi maju mengeroyok.
Kini Thian Lee menghadapi Thian-te Mo-ong, Hek-bin Mo-ko dan Sin-ciang.
Yauw Seng Kun berhadapan dengan Cin Lan dan dia dibantu oleh Ma Huan dan empat orang tokoh kang-ouw lainnya.
Kalau Thian Lee dapat mengimbangi pengeroyokan tiga orang lawan itu, sebaliknya Cin Lan mulai terdesak hebat.
Hal ini adalah karena para pengeroyoknya mulai bermain curang, yaitu serangan mereka ditujukan kepada anak yang berada dalam gendongan di punggungnya.
Melihat nyonya muda itu terdesak dan anaknya terancam bahaya, Tin Han segera menyerang Yauw Seng Kim yang dia lihat paling berbahaya di antara para pengeroyok Cin Lan.
Begitu diserang oleh pedang di tangan Tin Han, Yauw Seng Kun menangkis dengan tongkatnya.
Dia sudah merasa jerih menghadapi Si Kedok Hitam yang pernah bertanding dengannya ketika Si Kedok Hitam itu menolong Kiok Hwa terlepas dari tangannya.
"Trangggg..... !"
Tongkat bambu kuning di tangan Seng Kun putus tinggal sepotong.
Hal ini membuatnya amat terkejut dan Ma Huan segera menolong dan membacokkan goloknya kepada Si Kedok Hitam.
Akan tetapi goloknya terpental ketika bertemu dengan Pek-kongkiam dan sebuah tendangan dari Tin Han membuat Yauw Seng Kun terhuyung ke belakang.
Melihat bantuan yang amat kuat itu, Cin Lan mengamuk dan tongkatnya menotok roboh dua orang tokoh kang-ouw yang bantu mengeroyok!
Melihat kini Cin Lan tidak terancam bahaya, Tin Han menubruk dengan pedangnya menyerang Thian-te Mo-ong.
"Sing..... ..... tranggg..... !"
Sepasang pedang Thian-te Moong dipergunakan untuk menangkis sinar putih pedang di tangan Tin Han dan akibatnya, Thian-te Mo-ong harus melompat mundur karena kedua tangannya tergetar hebat.
Agaknya Coa-ciangkun dapat melihat gelagat buruk.
Dia lalu melompat ke atas kudanya, melarikan diri untuk mencari bala bantuan.
Melihat ini, Thian-te Mo-ong kehilangan nyalinya.
Diapun berseru kepada semua rekannya.
"Kita mundur!"
Karena memang kini sudah terdesak, para pengeroyok itu lalu berloncatan ke belakang, melompat pula ke atas punggung kuda mereka dan mereka melarikan diri tunggang langgang.
Thian Lee dan Cin Lan tidak melakukan pengejaran.
Thian Lee menjura kepada Tin Han dan berkata.
"Sobat, kembali engkau menyelamatkan kami. Terima kasih atas budimu."
"Tidak perlu berterima kasih, Song taihiap. Sudah menjadi kewajiban kita untuk saling menolong dari ancaman antek-antek Mancu itu. Yang penting sekarang sebaiknya engkau dan isterimu cepat pergi meninggalkan dusun ini karena kalau mereka datang lagi membawa bala bantuan pasukan besar, bagaimana kalian akan dapat melawan mereka?"
"Kata-katamu benar, sobat. Setidaknya, beri kami tahu siapa namamu agar kami mengetahui siapa yang menolong kami."
"Sebut saja Hek-tiauw Eng-hiong. Nah, selamat berpisah!"
Tin Han segera melarikan diri dari tempat itu dan kembali mengenakan pakaiannya, dan menunggang kudanya.
Thian Lee sekeluarga telah selamat dan sekarang dia harus menyelamatkan keluarganya sendiri yang juga terancam oleh antek-antek Mancu.
Thian Lee bersama isterinya bergegas mengumpulkan pakaian dan uang, lalu keduanya pergi meninggalkan dusun Tung-sin-bun, memberi pesangon kepada para pembantu mereka dan menyuruh mereka cepat pergi pula karena dikhawatirkan mereka akan tersangkut urusan mereka.
Benar saja seperti yang di khawatirkan Tin Han, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali duaratus orang pasukan memasuki dusun Tung-sin-bun dan mereka menyerbu rumah Thian Lee.
Akan tetapi mereka tidak menemukan siapapun juga di rumah itu, maka isi rumah lalu dirampas oleh mereka dan dalam hal mengamankan barang-barang milik Thian Lee ini, ulah mereka tiada ubahnya seperti segerombolan perampok!
-ooOoo-Tin Han dapat menemukan tempat persembunyian keluarganya.
Ternyata keluarganya membuat tiga buah pondok kayu di puncak Bukit Cemara dan tempat itu terkurung hutan yang lebat dan mengandung banyak pohon cemara di samping pohon-pohon liar.
Akan tetapi dia tidak berani menghadap keluarganya.
Dia sudah ketahuan bahwa dialah Si Kedok Hitam yang selalu menentang mereka ketika mereka hendak membunuh Lee Cin dan Thian Lee.
Bahkan neneknya sendiri telah menendangnya masuk ke dalam jurang.
kalau kini dia menghadap, bagaimana penerimaan mereka?
Tentu dia dianggap sebagai pengkhianat.
Hatinya merasa rindu sekali kepada ayah dan ibunya, juga kepada kakaknya, kedua pamannya dan neneknya.
Dia rindu untuk bertemu dan bercakap-cakap dengan mereka semua.
Akan tetapi dia merasa ngeri membayangkan mereka akan menerimanya sebagai seorang musuh!
Dia tidak akan dapat mencari alasan mengapa dia membela Lee Cin dan Thian Lee.
Keluarganya membenci penjajah Mancu dan membeci semua orang yang bekerja kepada pemerintah Mancu.
Bahkan untuk melakukan pemberontakan, keluarganya tidak segan-segan untuk bersekutu dengan perwira yang memberontak, dan lebih lagi malah, bersekutu dengan golongan sesat dan dengan orang Jepang!
Pendirian seperti itu berbeda jauh dengan pendiriannya, bahkan bertentangan.
Bagai mana mungkin dia menyadarkan keluarganya, terutama sekali neneknya bahkan melakukan perjuangan bersekutu dengan golongan sesat dan dengan orang asing adalah keliru sama sekali?
Dia mengenal neneknya sebagai seorang yang keras hati, yang membenci penjajah sampai ke tulang sumsumnya, melebihi kebenciannya kepada golongan sesat.
Sampai sepekan lamanya dia hanya berkeliaran saja di daerah pegunungan Cemara itu, tidak berani Iangsung menemui keluarganya.
Dia mencari kesempatan kalau-kalau dapat melihat ibunya seorang diri meninggalkan puncak.
Hanya kepada ibunya saja dia akan mampu berhadapan.
Ibunya amat mencintanya dan tentu dapat memaafkannya.
Akan tetapi ditunggu sampai sepekan, tidak tampak ibunya menuruni puncak atau keluar dari pondok.
Selagi Tin Han kesal menunggu, tiba-tiba pada saat pagi dia melihat serombongan orang menunggang kuda mendaki bukit itu.
Ada orang-orang yang datang, jumlahnya ada enam orang.
Cepat Tin Han bersembunyi dan mengintai, untuk melihat siapa yang datang mendaki bukit Cemara.
Setelah mereka tiba dekat, dia mengenal beberapa orang di antara mereka, yaitu orang-orang yang baru-baru ini menyerbu rumah Song Thian Lee.
Mereka adalah Thian-te Mo-ong, Hek-bin Mo-ko, Sin-ciang Mo-kai, Yauw Seng Kun, Ma Huan dan ditambah seorang kakek lagi yang tidak dikenalnya.
Kakek ini tampak gagah perkasa, tinggi besar bermuka merah dan dia memegang sebatang dayung baja.
Melihat wajah dan senjata itu, teringatlah Tin Han akan cerita neneknya.
Neneknya seringkali bercerita kepadanya tentang para datuk persilatan di dunia kang-ouw dan melihat wajah dan perawakan kakek itu, juga melihat senjatanya, dia menduga bahwa tentu kakek ini yang berjuluk Tung-hai-ong (Raja Lautan Timur), datuk wilayah timur yang bernama Siang Koan Bhok dan menjadi majikan Pulau Naga!
Dia pernah mendengar neneknya bercerita bahwa di antara Empat Datuk Besar di empat penjuru, kepandaian Siang Koan Bhok inilah yang paling tinggi.
Jantung Tin Han berdebar tegang.
Tidak salah lagi, mereka ini tentu akan melaksanakan rencana mereka untuk membasmi Keluarga Cia seperti yang diperintahkan oleh panglima yang bersekongkol dengan Thian-te Mo-ong itu.
Keparat, pikirnya.
Kalian tidak akan dapat membasmi Keluarga Cia selama aku masih hidup!
Akan tetapi dia menahan kesabarannya dan hendak melihat dulu apa yang akan terjadi.
Dia lalu tersembunyi di balik semak belukar dan mengintai.
Enam orang itu telah tiba di depan tiga pondok yang berdiri berjajar.
Mereka turun dari atas kuda mereka dan mengikatkan kuda-kuda itu di batang pohon, lalu Thian-te Mo-ong dengan suara lantang berteriak.
"Haiiii, Keluarga Cia, keluarlah kami hendak bicara!"
"Thian-te Mo-ong, mau apa engkau di sini?"
Terdengar bentakan dari dalam pondok di tengah dan muncullah Nenek Cia yang memegang tongkat kepala naganya.
Ia memandang kepada Thian-te Mo-ong dengan alis berkerut ketika melihat bahwa Thian-te Mo-ong datang bersama banyak orang.
Mendengar teriakan Thian-te Mo-ong tadi, kini bermunculanlah Cia Kim dan isterinya, Cia Tin Siong dan kedua saudara Cia Hok dan Cia Bhok.
Lengkaplah Keluarga Cia kini berada di depan pondok menyambut kedatangan enam orang itu.
Jumlah pihak tuan rumah juga ada enam orang dan agaknya hal ini sudah diperhitungkan oleh Thian-te Mo-ong maka diapun datang berenam untuk mengimbangi pihak keluarga Cia.
"Nenek Cia, kebetulan sekali keluargamu lengkap, atau masih kurang seorang lagi? Ah, cucumu yang seorang lagi itu tidak masuk hitungan, bukan?"
"Katakan apa keperluanmu datang berkunjung ke tempat tinggal kami?"
Kata pula Nenek Cia dengan ketus.
Ia tahu orang macam apa adanya Thian-te Mo-ong, maka baru bertemu saja ia sudah merasa tidak senang, akan tetapi diam-diam ia juga terkejut melihat Siang Koan Bhok datang bersama Thian te Mo-ong.
"Keluarga Cia sejak dahulu terkenal sebagai orang-orang yang membenci pemerintah Kerajaan Ceng. Akan tetapi kalian lihat sendiri betapa bodohnya memusuhi Kerajaan yang amat kuat. Kini ternyata Kerajaan Ceng mengulurkan tangan persahabatan kepada kalian, maukah kalian menerimanya?"
"Apa? Jadi engkau sekarang sudah menjadi anjing peliharaan Mancu, Thia te Mo-ong? Engkau membujuk kami untuk bersahabat dengan penjajah Mancu? Tidak sudi! Katakan kepada majikanmu di kota raja bahwa selama kami masih bernapas, kami akan selalu menentang dan memusuhi penjajah Mancu!"
"Ha-ha-ha, sudah kuduga engkau nenek kepala batu akan menjawab begitu. Apa engkau tidak takut terhadap kekuatan kami? Kami diberi wewenang untuk membasmi keluarga Cia kalau kalian membangkang!"
"Jahanam busuk! Kalian akan mengerahkan tenaga pasukan Mancu. Biar ada seribu orang dari mereka, kami tidak takut dan tidak akan mundur!"
"Nenek sombong! Kami tidak perlu menggunakan tenaga pasukan untuk membasmi kalian. Kita boleh bertanding dengan adil dan jujur, satu lawan satu! Siapa di antara kalian yang menjadi jagoan pertama, silakan maju, akan kami lawan dengan seorang di antara kami."
Cia Tin Siong, Cia Hok dan Cia Bhok melangkah maju, akan tetapi Nenek Cia membentak.
"Mundur kalian! Aku sendiri yang akan maju lebih dulu!"
Nenek Cia melompat ke depan dan memalangkan tongkat nya di depan dada, lalu menghardik kepada Thian-te Mo-ong.
"Nah, aku yang maju. Kalian maju satu demi satu atau semua, aku tidak akan mundur!"
"Nenek sombong! Akulah lawanmu dan dayungku akan melumatkan kepalamu yang keras itu!"
Siang Koan Bhok membentak dan diapun melompat maju sambil memutar dayungnya.
Hal ini memang sudah diatur oleh Thian-te Moong yang sudah mengetahui tingkat kepandaian Keluarga Cia.
Yang paling lihai adalah Nenek Cia maka sebelumnya dia sudah mengatur agar Siang Koan Bhok yang menghadapi nenek tangguh itu.
"Bagus, Siang Koan Bhok, aku tidak takut kepadamu!"
Bentak Nenek Cia dan tubuhnya sudah menerjang ke depan, tongkat naganya diputar cepat dan dia menyerang dengan dahsyatnya.
"Trangg! Trakk!"
Dayung menangkis bertemu dengan tongkat naga dan nenek itu terhuyung ke belakang sedangkan Siang Koan Bhok hanya mundur dua langkah.
Dari akibat pertemuan dua senjata ini saja sudah dapat dilihat bahwa dalam hal tenaga sin-kang, Siang Koan Bhok masih menang setingkat.
Namun nenek itu memang seorang yang amat berani.
Walaupun ia tahu pula bahwa tenaganya kalah kuat, namun ia menyerang lagi dengan hebatnya.
Tongkatnya menyambar-nyambar ganas mengeluarkan angin pukulan yang mengeluarkan bunyi berciutan.
Akan tetapi Siang Koan Bhok yang tidak berani memandang rendah kepada nenek itu dan diapun mengimbangi dengan permainan keras, mengandalkan tenaga sin-kangnya yang memang lebih kuat.
Pertandingan itu berlangsung seru dan dahsyat sekali.
Angin pukulan tongkat dan dayung baja itu terasa oleh semua yang hadir di situ, terasa menyambarnyambar.
Tin Han yang menonton dari tempat sembunyinya, mengerutkan alisnya.
Dia tahu bahwa neneknya kalah tenaga dan mulailah neneknya itu terdesak.
Gerakan tongkatnya tidak setangkas tadi.
Setelah bertandingan selama seratus jurus lebih, neneknya yang seringkali tergetar ketika senjatanya bertemu dengan senjata lawan itu mulai kehabisan tenaga.
Kekhawatiran Tin Han segera terbukti.
Ketika itu, Nenek Cia mengerahkan seluruh tenaganya menghantamkan tongkat naganya, agaknya dengan nekat hendak mengadu tenaga.
Tongkatnya menyambar seperti seekor naga yang menyerang dan melihat ini, Siang Koan Bhok juga mengerahkan tenaga pada dayung bajanya, menyambut hantaman itu dengan tangkisan yang amat kuat.
Tak dapat dicegah lagi, adu tenaga melalui senjata itupun terjadilah.
Dua senjata panjang itu bertemu di udara.
"Darrr... .!!!"
Terdengar seperti ledakan ketika dua buah senjata itu bertemu di udara.
Siang Koan Bhok terdorong mundur tiga langkah, akan tetapi Nenek Cia terhuyung-huyung dan tongkatnya hampir terlepas dari pegangannya.
Pada saat ia kehilangan tenaga dan keseimbangannya itu, mulutnya juga mengeluarkan darah segar tanda bahwa nenek ini telah menderita luka dalam yang parah, Siang Koan Bhok masih mengayun dayung bajanya, mengirim hantaman ke arah kepala Nenek Cia.
Agaknya dia hendak memenuhi ancamannya tadi hendak melumatkan kepala nenek itu dengan dayung bajanya.
Pada saat itu tampak sesosok bayangan menyambar dan dayung baja yang sudah menyambar itu tertahan di udara.
Siang Koan Bhok terkejut sekali dan menarik kembali dayungnya.
Pada saat itu, Tin Han sudah menyambar tubuh neneknya yang terhuyung sehingga tidak sampai terjatuh.
"Nek, bagaimana keadaanmu nek?"
Tanya Tin Han dan segera dia memegang nadi tangan neneknya.
Nadinya berdenyut lemah sekali dan Nenek Cia hanya menggeleng kepalanya, lalu melepaskan diri dari rangkulan Tin Han, duduk bersila mengatur pernapasan.
Thian-te Mo-ong segera melangkah maju dan dengan gembira dia berkata lantang.
"Nah, Keluarga Cia, pihakmu telah kalah. Apakah ada lagi yang berani mencoba-coba untuk maju?"
Sebelum lain orang menjawab, Tin Han sudah melompat berdiri dan dia yang menghadapi Thian-te Mo-ong sambil berkata.
"Akulah yang maju mewakili Keluarga Cia!"
Melihat pemuda itu, Thian-te Moong berkata.
"Siapakah engkau, orang muda?"
"Aku bernama Tin Han, cucu dari Nenek Cia."
Melihat Tin Han yang mereka kira telah tewas itu maju, Cia Kun cepat berkata.
"Tin Han, jangan sembrono. Biarkan aku yang maju!"
Bentaknya. Tin Han menghibur ayahnya.
"Ayah, kalau Nenek saja kalah, apakah ayah kira mampu menandingi Siang Koan Bhok? Biarkan aku yang maju untuk mencoba-coba, hitunghitung aku menebus dosa dan kalau aku kalah olehnya, barulah ayah yang maju sendiri,"
Kata-kata Tin Han ini terdengar demikian meyakinkan.
Diam-diam Cia.
Kun, ayahnya berpikir.
Mereka semua telah tahu bahwa Tin Han ternyata Si Kedok Hitam yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Siapa tahu pemuda itu benar-benar akan dapat menandingi Siang Koan Bhok!
Maka dia mengangguk lalu mundur.
Ketika Cia Tin Siong hendak maju melarang adiknya, Cia Kun memberi isyarat agar Tin Siong membiarkan Tin Han main lebih dulu.
Akan tetapi Thian-te Mo-ong tertawa bergelak.
Kini dia tahu bahwa Tin Han adalah seorang cucu lain dari Nenek Cia yang dikabarkan tidak memiliki ilmu silat, melainkan hanya pandai sastra, maka dia mengambil keuntungan ini dan berkata.
"Saudara Siang Koan Bhok telah menangkan pertandingan, harap beristirahat dulu. Biarkan aku sendiri yang akan menghadapi pemuda ini!"
Berkata demikian, Thian-te Mo-ong melangkah maju menghadapi Tin Han tanpa mencabut sepasang pedangnya. Jelas bahwa dia memandang ringan lawannya.
"Cia Tin Han, engkau boleh maju menyerangku!"
Tantangnya.
Tin Han juga bertangan kosong.
Dia masih menyimpan pedang Pek-kongkiam di buntalannya.
Buntalan pakaian itu kini dia gantungkan pada sebatang cabang pohon yang tumbuh di situ, lalu dengan tangan kosong dia menghadapi lawannya.
Ibunya, Nyonya Cia Kun, memandang dengan penuh kekhawatiran dan tiba-tiba is berkata.
"Tin Han, pergunakanlah pedangku ini!"
Akan tetapi Tin Han menoleh kepadanya dan berkata.
"Tidak usah, ibu. melawan kakek tua ini tidak perlu aku menggunakan pedang. Kedua tangan dan kakiku juga sudah cukup!"
Ibunya mengerutkan alisnya mendengar ini dan menganggap ucapan puteranya yang kedua itu sebagai gertak sambal belaka dan ia menjadi amat khawatir.
Ia tahu bahwa ilmu kepandaian Thian-te Mo-ong amat tinggi, mungkin setingkat dengan kepandaian suaminya.
Bagaimana kini puteranya yang biasanya lembut dan tidak pandai berkelahi itu berani memandang rendah kepada kakek itu?
Akan tetapi karena Tin Han menolak dipinjami pedang, iapun tidak dapat memaksa, hanya menonton dengan hati terguncang dan tegang.
Thian-te Mo-ong yang juga mendengar kata-kata Tin Han itu menjadi merah mukanya.
Pemuda itu berani memandang rendah kepadanya!
Kalau tadinya dia hanya ingin mengalahkan Tin Han, kini timbul keinginannya untuk membunuh pemuda sombong itu.
"Cia Tin Han, jangan banyak bicara. Cepat serang aku!"
Tantangnya.
"Baik, aku akan menyerangmu dengan pukulan tangan kanan lalu dilanjutkan tamparan tangan kiri. Awas serangan!"
Mana ada orang hendak menyerang memberitahu lebih dulu dengan serangan bagaimana dia akan melakukannya?
Dan benar saja, tangan kanannya menyambar dan memukul ke arah dada Thian-te Mo-ong dan ketika kakek itu mengelak, disusul tamparan tangan kirinya menyambar ke arah muka Thian-te Mo-ong.
Dan gerakan tangan kiri yang menampar itu sedemikian cepatnya sehingga tidak dapat dielakkan lagi oleh kakek itu yang terpaksa menangkis dengan tangan kanannya.
"Dukk...... Tangkisan itu dilakukan dengan kuatnya akan tetapi akibatnya, Thian-te Mo-ong terhuyung ke belakang! Bukan main kagetnya kakek ini karena dari pertemuan tangan itu dia mendapat kenyataan bahwa pemuda itu memiliki tenaga sin-kang yang amat kuatnya. Thian-te Mo-ong menjadi marah sekali dan dia segera mengerahkan tenaga sin-kangnya dan menyerang dengan ilmu Pek-swat Tok-ciang (Tangan Beracun Salju Putih) yang amat ampuh itu. Pukulan ini selain mendatangkan hawa dingin yang amat kuat, juga mengandung racun dan siapa terkena pukulan ini tentu akan keracunan dan darahnya dapat menjadi beku karena kedinginan! �Wuuuttt.. .....!� Pukulan itu menyambar ke arah dada Tin Han, akan tetapi dengan mudahnya Tin Han mengelak. Thian-te Mo-ong yang merasa penasaran sekali sudah menyusulkan serangan pukulan yang bertubi-tubi. Hawa dingin menyambar ke arah Tin Han. Pemuda ini mengandalkan kecepatan gerakannya untuk mengelak dan ketika dia menangkis dengan tangannya, kembali dua tenaga saling bertemu dan kembali Thian-te Mo-ong terhuyung dan merasa betapa lengannya nyeri dan tulang lengannya seperti bertemu dengan tongkat baja saja. Dia terhuyung ke belakang dan meringis kesakitan dan dalam beberapa gebrakan itu saja maklumlah dia bahwa pemuda itu bukan hanya menggertak sambal atau membual, akan tetapi benar-benar memiliki ilmu kepandaian tinggi. Sementara itu, Keluarga Cia yang menonton pertandingan itu, termasuk Nenek Cia yang masih duduk bersila, menjadi kaget, heran dan kagum bukan main. Dalam beberapa gebrakan saja Tin Han mampu membuat kakek itu terhuyung dua kali! Hal ini sama sekali tidak diduga oleh mereka. Ketika mereka tahu bahwa Tin Han adalah Si Kedok Hitam, merekapun hanya menduga bahwa Tin Han telah mempelajari ilmu silat, namun pemuda itu masih kalah oleh neneknya. Akan tetapi kini Tin Han mampu membuat seorang datuk seperti Thian-te Mo-ong terhuyung dua kali hanya dalam beberapa gebrakan saja! Thian-te Mo-ong maklum bahwa dia terancam kekalahan. Dia menjadi marah sekali dan ketika kedua tangannya bergerak, dia telah melolos sepasang pedangnya. Sambil melintangkan sepa sang pedangnya di depan dada, dia berkata dengan lantang.
"Setan cilik, sekali ini engkau akan mampus di ujung pedangku. Hayo cepat keluarkan senjatamu!"
"Tin Han, pakailah pedang ini!"
Kembali ibunya berseru. Tin Han menoleh kepada ibunya dan tersenyum.
"Belum, Belum perlu menggunakan pedang. Biarlah kakek ini menggunakan sepasang pedang pemotong leher ayam itu, aku masih sanggup menghadapinya dengan tangan kosong!"
Semua orang terbelalak!
Thian-te Mo-ong adalah seorang datuk dari selatan, ilmu silatnya tinggi, apalagi kalau dia sudah mengeluarkan sepasang pedangnya, dia menjadi lihai bukan main.
Nenek Cia sendiri tentu tidak berani menghadapi sepasang pedang Thian to Mo-ong hanya dengan tangan kosong saja!
Keluarga Cia menjadi kaget, akan tetapi sekarang mereka menjadi khawatir sekali.
"Hei, Thian-te Mo-ong! Tidak malukah engkau, seorang datuk besar, melawan seorang pemuda bertangan kosong menggunakan sepasang pedangmu? Anak kecilpun akan menertawakanmu dan menganggapmu seorang pengecut, apalagi dunia kang-ouw!"
Teriak Cia Kun yang merasa khawatir sekali akan keadaan puteranya.
"Aku menggunakan pedang, siapapun juga boleh maju melawanku. Kalau bocah setan ini tidak mau menggunakan senjata, itu adalah salahnya sendiri. Anak setan, keluarkan senjatamu atau engkau akan menjadi setan penasaran tanpa kepala!"
Tin Han bukan seorang yang sombong.
Kalau dia tidak mau menggunakan senjata menghadapi sepasang pedang Thian-te Mo-ong, hal itu bukan karena kesombongannya, melainkan dia sudah memperhitungkannya dengan baik bahwa tanpa senjatapun dia akan mampu menandingi kakek itu.
"Thian-te Mo-ong, majulah dan pergunakan pedangmu, aku cukup dengan sepasang kaki dan sepasang tanganku saja!"
Thian-te Mo-ong menjadi merah mukanya saking marahnya. Kemarahan membuat dia kehilangan rasa malunya dan cepat dia memutar kedua pedangnya dan membentak.
"Lihat pedangku!"
Akan tetapi Tin Han memperlihatkan siapa dia yang sesungguhnya.
Gerakannya menjadi luar biasanya cepatnya, tubuhnya berkelebatan di antara dua sinar pedang lawan yang bergulunggulung.
Gerakan yang lebih cepat dari pada pedang di tangan lawan ini membuat dia leluasa mengelak dan kadang dengan kaki atau tangannya dia menangkis ke arah perge langan tangan lawan.
Thian-te Mo-ong hampir tidak percaya kepada matanya sendiri.
Pemuda itu lenyap begitu saja ketika pedangnya membacok atau menusuk dan muncul di samping atau di belakangnya.
Dia menyerang dengan membuta dan limapuluh jurus telah lewat tanpa dia mampu menyentuh ujung baju pemuda itu dengan sepasang pedangnya.
Tin Han menggunakan gerakan seperti seekor burung rajawali.
Ketika sepasang pedang membacok dengan cara bersilang seperti mengguntingnya, tiba-tiba tubuhnya melayang ke atas dan ketika turun, kedua tangannya sudah menyambar ke arah kepala Thian-te Mo-ong.
Kakek ini terkejut sekali melihat pemuda itu menukik dan mencengkeram ke arah kepalanya.
Dia melempar diri ke samping dan sepasang pedangnya membacok.
Akan tetapi tubuh Tin Han sudah berjungkir balik dengan cepat sekali dan tahu-tahu pemuda itu telah berada di belakang tubuh Thian-te Moong dan sekali tangannya menampar, pundak kanan kakek itu terkena tamparan sehingga terasa lumpuh dan pedang yang dipegang tangan kanannya, terlepas dan terlempar jauh.
Kakek itu terkejut dan membalikkan tubuhnya, pedang kirinya menyambar, menusuk ke arah dada Tin Han.
Pemuda itu menggunakan kedua tangan menangkap dan menjepit pedang itu, mengerahkan tenaganya dan terdengar bunyi "krekk!"
Pedang itupun patah menjadi dua potong!
Sebelum kakek itu hilang kagetnya, kaki Thian Han telah mencuat dan menendang, mengenai perut Thian-te Moong dan terjengkanglah kakek itu, lalu tubuhnya terbanting keras ke atas tanah!
Kemenangan itu tidak saja membuat pihak Siang Koan Bhok menjadi terkejut bukan main, akan tetapi juga semua Ke luarga Cia menjadi terkejut, heran dan juga kagum!
Yang amat bergembira adalah Nenek Cia.
Nenek ini saking gembiranya sampai melupakan bahwa ia menderita luka dalam yang parah.
Ia bangkit berdiri dan berteriak riang.
"Siang Koan Bhok, pihakmu sekarang kalah. Keadaan kita sama, satu menang dan satu kalah. Apakah pihakmu ada yang hendak maju lagi?"
Tantangnya. Akan tetapi begitu dia mengeluarkan suara keras ini, tubuhnya limbung dan terhuyung hampir jatuh. Untung Tin Han cepat merangkulnya dan memapahnya ke bawah pohon.
"Bagus, Tin Han. Engkau tidak percuma menjadi anggauta Keluarga Cia! Lepaskan aku, biarkan aku menonton pertandingan berikutnya,"
Katanya sambil terengah-engah dan duduk bersila kembali.
Tin Han membantunya duduk lalu dia bangkit berdiri pula.
Siang Koan Bhok menjadi marah bukan main.
Dia maklum bahwa di antara kawannya, tidak ada yang akan dapat menandingi pemuda itu, maka diapun melompat ke depan dan menggoyang dayung bajanya.
"Sekarang aku sendiri yang maju! Hayo, siapa berani menghadapiku, majulah!"
Tentu saja di pihak Keluarga Cia tidak ada yang berani maju.
Nenek Cia saja kalah oleh Siang Koan Bhok ini, siapa lagi yang akan mampu menandingi?
Tin Han menghampiri buntalan pakaian yang digantungkan di cabang pohon, lalu mengambil pedang Pek-kong-kiam dan dihunusnya pedang itu.
"Akulah yang akan menandingimu, Siang Koan Bhok!"
Katanya dan dia melintangkan pedang Pek-kong-kiam di depan dadanya.
"Bagus. Aku memang mengharapkan engkau yang akan menandingiku agar aku dapat membalaskan kekalahan Thian-te Mo-ong! Cia Tin Han, lihat senjataku!"
Siang Koan Bhok lalu menggerakkan dayung bajanya untuk menyerang dan menghantamkannya ke arah kepala Tin Han.
Pemuda ini cepat mengelak dan diapun membalas dengan tikaman pedangnya.
Siang Koan Bhok menggerakkan dayungnya menangkis sambil mengerahkan seluruh tenaga sinkangnya dengan maksud untuk memukul runtuh pedang itu.
"Trangg..... !"
Tampak bunga api berpijar ketika pedang bertemu dayung baja.
Kedua senjata itu terpental dan keduanya merasa betapa tangan yang memegang senjata tergetar hebat, tanda bahwa tenaga mereka berdua seimbang!
Hal ini mengejutkan Siang Koan Bhok.
Kalau ada orang, apalagi masih begitu muda, dapat menandingi tenaganya.
maka itu adalah hebat sekali.
Hampir dia tidak dapat percaya.
Dia tidak tahu bahwa pemuda itu telah menguasai Khong-sim Sin-kang (Tenaga Sakti Hati Kosong) yang amat dahsyat.
Pertandingan itu berlangsung paling seru.
Siang Koan Bhok adalah Datuk Timur yang berilmu tinggi, tingkatnya melebihi para datuk lainnya.
Ditambah lagi dengan senjata dayungnya yang dahsyat, dia merupakan lawan yang amat tangguh dan sukar dikalahkan.
Akan tetapi, sekali ini dia bertemu dengan Cia Tin Han yang telah menguasai ilmu silat Hek-tiauw-kun (Silat Rajawali Hitam) dan ilmu tenaga dalam Khong-sim Sin-kang yang dahsyat.
Pertandingan itu menjadi hebat, saling serang dan saling berusaha mengalahkan lawan.
Kalau tenaga sin-kang mereka seimbang, tidak demikian dengan ginkang (ilmu meringankan tubuh) mereka.
Tin Han yang jauh lebih muda itu memiliki gerakan yang lebih cepat dan inilah keuntungannya.
Biarpun senjata lawan lebih panjang, namun dengan kecepatan gerakannya, dia dapat mulai mendesak lawan dalam perkelahian jarak dekat.
Tin Han bertindak cerdik.
Kalau perkelahian itu dilakukan dalam jarak renggang, dialah yang akan mengalami kerugian karena senjata lawan dapat menjangkaunya sedangkan pedangnya sukar menyentuh lawan.
Akan tetapi dengan kemenangan gin-kangnya, dia mendesak dalam pertandingan jarak dekat.
Pedangnya dapat bergerak leluasa, sebaliknya dayung lawan terlalu panjang untuk pertandingan jarak dekat.
Kalau Siang Koan Bhok meloncat mundur untuk mengambil jarak jauh, dengan kecepatan gerakannya Tin Han sudah mendekatinya lagi dan memaksanya untuk bertanding dalam jarak dekat!
Setelah lewat seratus jurus mereka bertanding, mulailah Siang Koan Bhok terdesak hebat oleh pedang yang sinarnya putih menyilaukan mata itu.
Biarpun pertahanan Siang Koan Bhok luar biasa kuatnya, namun dengan senjata panjangnya harus melakukan perkelahian jarak dekat, gerakannya tidak leluasa dan beberapa kali hampir saja tubuhnya tersentuh pedang.
"Haiiiitttt..... !"
Tin Han mengeluarkan bentakan lantang dan pedangnya menyambar dari atas ke bawah membacok ke arah kepala.
Siang Koan Bhok.
Cepat gerakan pedang yang menyerang itu sehingga tidak ada lain jalan bagi Siang Koan Bhok untuk menghindarkan diri selain memalangkan dayungnya di atas kepala untuk melindungi kepalanya dari bacokan pedang.
"Hyaattt!!"
Kesempatan yang sedetik itu cukup bagi Tin Han untuk menggunakan tangan kirinya dengan jari-jari tangan terbuka melancarkan pukulan dorongan ke arah dada Siang Koan Bhok yang terbuka karena kedua tangannya memegang dayung yang dilintangkan di atas kepalanya.
"Dukk!"
Tubuh Siang Koan Bhok yang terkena pukulan dengan tenaga Khong-sim Sin-kang itu seperti layang-layang putus talinya, terhuyung-huyung ke belakang kemudian dia roboh miring di atas tanah, dari mulutnya keluar darah segar.
Dia telah terluka parah oleh pukulan tangan kiri Tin Han tadi.
Tentu saja Keluarga Cia merasa gembira bukan main.
Dengan kemenangan Tin Han itu berarti kemenangan mereka semua terhadap rombongan Thian-te Mo-ong yang datang menyerbu itu.
Sementara itu, melihat kekalahan Siang Koan Bhok, Thian-te Mo-ong menjadi putus harapan dan sambil memapah Siang Koan Bhok, diapun mengajak teman-temannya meninggalkan tempat itu tanpa sepatahpun kata dan mereka semua pergi dengan kepala ditundukkan.
"Bagus, engkau...... engkau telah menyelamatkan nama baik keluarga kita! kata nenek Cia terengah-engah.
"Mari kita bicara di dalam saja,"
Kata Cia Kun dan diapun membantu ibunya untuk bangkit berdiri dan memapahnya memasuki pondok besar di tengah.
Tin Han juga ikut masuk dan ketika dia memeriksa keadaan neneknya lagi, dia mengerutkan alisnya, Neneknya telah terluka dalam yang amat parah.
Nenek itu dengan muka pucat rebah terlentang di pembaringannya, napasnya terengah-engah.
Biarpun Cia Kun telah meminumkan obat luka dalam, akan tetapi keadaannya masih tetap parah.
"Tin Han. ...... , sebelum mati, aku ingin mendengar ..... dari mu...... bagaimana engkau...... dapat memiliki ...... semua kepandaian itu...... dan bagaimana ketika terjatuh ke jurang itu engkau tidak sampai mati....."
Nenek Cia berkata dengan susah payah karena napasnya tersendat-sendat. Maklum bahwa keadaannya neneknya sudah parah, Tin Han lalu cepat menceritakan keadaan dirinya.
"Harap nenek, ayah ibu dan para paman memaafkan aku,"
Katanya.
"Aku telah bertemu dengan suhu Bu Beng Lo-jin yang mengajarkan ilmu silat sejak aku kecil, akan tetapi beliau tidak mau namanya disebut. Oleh karena itu aku tidak memberitahu kepada siapapun juga. Untuk mempergunakan ilmu yang kupelajari, terpaksa aku mengenakan pakaian dan topeng hitam agar tidak diketahui orang. Ketika aku terkena tendangan nenek dan terjatuh ke dalam jurang. Aku tertolong oleh suhu Thai Kek Cai-jin dengan burung rajawali hitamnya. Selama beberapa bulan aku dilatih oleh suhu Thai Kek Cai-jin mempelajari dua macam ilmu. Sesudah itu, aku lalu kembali ke dunia ramai. Di tengah perjalanan aku bertemu dengan seorang panglima Kerajaan Mancu yang ternyata bersekongkol dengan Thian-te Mo-ong. Kerajaan Manchu telah berhasil menarik orang-orang kangouw golongan sesat untuk membantu Kerajaan Mancu menghancurkan para pendekar yang berjiwa patriot. Kemudian aku membayangi rombongan Thian-te Mo-ong yang melakukan serangan terhadap Panglima atau lebih tepat bekas panglima Song Thian Lee. Suami isteri itu dikeroyok dan aku membantu mereka sehingga gerombolan itu dapat diusir. Karena aku mendengar dari percakapan antara panglima itu dan Thian-te Moong bahwa mereka akan membasmi Keluarga Cia kalau keluarga kita, tidak mau menjadi antek Mancu, aku lalu membayangi gerombolan itu yang kini diperkuat oleh Siang Koan Bhok. Dan setelah melihat nenek dikalahkan Siang Koan Bhok, aku tidak tahan lagi dan segera keluar untuk menandingi mereka."
"Penjajah Mancu keparat! Jadi mereka mempergunakan golongan sesat untuk membasmi para pendekar patriot!"
Seru Nenek Cia marah.
"Itulah, nek. Golongan sesat adalah orang-orang jahat. Mereka mau mengerjakan apa saja demi uang, mereka tidak segan untuk mengkhianati bangsa dan tanah air sendiri. Seperti kukatakan dahulu, kita keliru kalau bergabung dengan mereka, apa lagi dengan orang-orang Jepang dan para pemberontak Mancu sendiri. Perjuangan kita haruslah suci dan bersih, mengandalkan kekuatan rakyat jelata untuk menentang dan mengusir penjajah Mancu. Sekarang yang menjadi beng-cu kabarnya adalah seorang bernama Ouw Kwan Lok murid Siang Koan Bhok dan berpusat di Pulau Naga. Mungkin sekali mereka akan mempengaruhi atau mencoba mempengaruhi seluruh dunia kang-ouw agar suka menjadi kaki tangan penguasa Mancu. Setidaknya mereka tentu akan menarik semua tokoh sesat melalui Beng-cu yang baru, dan hal ini merupakan bahaya besar karena kekuatan mereka tentu besar sekali. Dan mereka akan mencoba untuk membasmi para pendekar yang tidak mau bekerja sama."
"Aihh.... selama ini..... aku..... telah bodoh...... seperti mimpi buruk. Aku hanya berpendapat bahwa perjuangan harus dilakukan dengan menghimpun semua tenaga. Tidak tahu bahwa para tokoh kang-ouw yang sesat itu mudah saja berkhianat seperti itu. Aku..... aku menyesal sekali..... apa lagi kalau kuingat bahwa aku nyaris telah membunuh cucu sendiri yang ternyata memiliki pendirian yang lebih luhur dan bersih......"
Nenek itu terbatuk-batuk dan darah keluar dari mulutnya. Keadaannya sudah parah sekali. Ia lalu menggapai puteranya, Cia Kun, untuk mendekat, juga menggapai Cia Hok dan Cia Bhok.
"Dengarkan kalian bertiga. ...... mulai saat ini..... kalian harus berubah sikap..... jangan lagi bekerja sama dengan kaum sesat atau orang asing. Tin Han benar, ikutilah petunjuknya..... berjuanglah dengan jalan bersih...... mengandalkan kekuatan para pendekar dan rakyat jelata.. Kuserahkan kepada Tin Han untuk memimpin kalian......"
Nenek itu bicara dengan suara lirih dan napas satu-satu, kemudian setelah habis bicara, ia terkulai.
Tiga orang puteranya menggoyang-goyang tubuhnya, akan retapi nenek itu sudah tidak dapat sadar kembali.
Ia meninggal dunia dalam keadaan terluka parah, meninggal dalam rubungan keluarga.
Semua orang menangisi kematiannya.
Seorang nenek yang berhati sekeras baja, yang tetap membenci penjajah Mancu sampai ke tulang sumsumnya.
Setelah selesai mengubur jenazah Nenek Cia sebagaimana mestinya, keluarga itu berkumpul dan bercakap-cakap.
"Ayah, dan ibu dan kedua paman. Kalau menurut pendapatku sebaiknya kalau kita meninggalkan tempat ini. Tempat ini sudah diketahui musuh, dan sewaktu-waktu mereka tentu akan datang dan menggempur kita. Kalau mereka membawa pasukan besar, kita tentu tidak akan mampu melawan dan tidak sempat lari menyelamatkan diri. Karena pemerintah sudah menganggap kita sebagai pemberontak-pemberontak yang harus dibasmi, maka mulai sekarang kita menjadi buruan pemerintah. Dan kukira amat tidak menguntungkan kalau kita melakukan perjalanan bersama. Akan lebih mudah di ketahui musuh. Sebaiknya kita berpencaran dan melakukan tugas kita seperti sebagaimana mestinya, sebagaimana pendekar yang menentang kejahatan dan penindasan. Kita musuhi orang-orang jahat, kita menentang pembesar yang sewenang-wenang sambil menunggu saatnya yang baik untuk membantu gerakan rakyat yang hendak menumbangkan kekuasaan pemerintah penjajah Mancu."
Para orang tua itu mengangguk setuju.
"Engkau benar, Tin Han,"
Kata Cia Kun sambil memandang kepada puteranya yang kedua itu dengan kagum.
"Memang ebaiknya kita berpencar sehingga lebih leluasa kita bergerak dan tidak mudah didapatkan orang-orangnya pemerintah. Aku akan pergi berdua dengan ibumu. Tin Siong sebaiknya pergi seorang diri untuk menambah pengalaman. Adik Cia Hok dan Cia Bhok boleh memilih jalannya sendiri-sendiri atau pergi berdua. Dan engkau juga mengambil jalanmu sendiri."
"Akan tetapi, bagaimana kita akan dapat bertemu kembali?"
Kata Tin Siong kepada ayahnya.
"Kita jadikan kota Hiu-cu di kaki bukit Lo-sian, tempat tinggal kita dahulu, menjadi tempat pertemuan. Setiap tahun, di waktu Sin-cia (Tabun Baru Im lek) kita datang ke sana dan berkumpul."
"Itu baik sekali,"
Kata Tin Han gembira.
"Dengan demikian setiap tahun kita dapat saling bertemu dan berkumpul di sana. Selain itu, harap ayah, ibu, para paman dan kakak Tin Siong ketahui bahwa saya biasanya melakukan tugas pendekar dengan bertopeng dan berpakaian hitam, dan saya memakai nama Hek-tiauw Enghiong. Kalau ada yang mendengar nama itu di suatu tempat, boleh menjumpaiku."
"Baik, Tin Han. Dan sekarang sebaiknya kita pergi dengan cepat sebelum tempat ini diserbu lagi."
Mereka saling mengucapkan selamat berpisah dan menuruni Bukit Cemara dengan mengambil jalan masing-masing.
-ooOoo-Lee Cin meninggalkan Hong-san.
Kepada orang tuanya ia hanya mengatakan bahwa ia ingin merantau untuk meluaskan pengalaman dan untuk melaksanakan tugasnya sebagai pendekar wanita yang menegakkan kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan.
Tentu saja Souw Tek Bun dan Ang-tok Mo-li Bu Siang dapat memaklumi keinginan Lee Cin ini dan merekapun tidak menahannya.
Lee Cin meninggalkan ayah ibunya dengan hati tenang dan lega.
Ayahnya telah berkumpul kembali dengan ibunya dan ia merasa berbahagia sekali.
Ia maklum bahwa ibunya dahulu hidup sebagai seorang datuk sesat, akan tetapi ia percaya bahwa di bawah bimbingan ayahnya, ibunya akan kembali ke jalan benar.
Ia sendiri juga telah menyadari bahwa hidupnya dahulu ketika ia masih berada di bawah bimbingan ibunya, terisi penuh keganasan dan keliaran.
Akan tetapi setelah ia hidup dengan ayah kandungnya, ia tahu mana jalan yang benar dan mana yang tidak.
Apa lagi setelah ia bertemu dan bergaul dengan Thian Lee, ia mendapatkan contoh yang lebih baik lagi dan kini ia sama sekali telah meninggalkan wataknya yang keras dan ganas dan bersikap sebagai seorang pendekar wanita pembela kebenaran dan keadilan.
Lee Cin mengadakan perjalanan menuruni bukit Hongsan yang tinggi.
Ia berjalan seenaknya seorang diri, tampak sebagai seorang dara yang lincah dan berwajah cantik jelita dan riang.
Pakaiannya berkembang, biarpun potongannya sederhana namun bersih dan pantas sekali ia memakainya.
Mukanya yang bulat telur itu tampak berseri, mulutnya yang kecil mungil dan berbibir merah membasah tampak tersenyum.
Hidungnya yang mancung menjungat ke atas, tampak lucu sekali, apa lagi di kanan kiri pipinya terhias lesung pipit yang menambah manisnya wajah.
Sepasang matanya tajam mencorong, memandang dunia dengan penuh semangat hidup.
Pedang Ang-coa-kiam yang tipis itu melingkari pinggangnya, dipergunakan sebagai sabuk dan suling ularnya terselip di pinggangnya.
Setelah hari menjelang sore, tibalah ia di sebuah dusun yang berada di kaki bukit Hong-san.
Ketika ia melewati dusun yang cukup besar itu, ia mendengar suara tangis.
Sayup-sayup terdengar tangis itu dan ketika ia memperhatikan, tangis itu terdengar dari sebuah rumah yang dirias dengan kertas-kertas dan kain berwarna, seperti biasanya kalau orang dusun mengadakan perayaan untuk suatu keperluan.
Tentu saja ia merasa heran.
Orang yang mengadakan perayaan, biasanya bergembira, akan tetapi mengapa dari rumah yang sedang mengadakan perayaan itu terdengar tangis yang demikian menyedihkan?
Ia merasa curiga dan cepat ia melompat naik ke atas wuwungan rumah dari mana terdengar tangis itu.
Ia mengintai ke dalam sebuah kamar dan di kamar itulah melihat seorang gadis sedang menangis tersedu-sedu dan seorang wanita setengah tua yang berusaha menghiburnya.
"Siok Hwa, sudahlah jangan menangis. Apa yang kautangisi? Engkau akan menjadi isteri kepala dusun, walaupun hanya isteri ke tiga. Suamimu kaya raya, berpengaruh dan besar kekuasaannya. Kalau engkau sudah menjadi isterinya, apa saja yang kauinginkan akan dapat terlaksana."
Dengan terisak-isak, gadis yang bernama Siok Hwa itu merintih dan mengeluh.
"Ibu, aku tidak suka menjadi isterinya. Aku tidak sudi..... !� "Hushh, apa engkau hendak membikin celaka ayah ibumu? Ayahmu mempunyai hutang yang tak terhitung besarnya dari Lurah Kwa, dan sudah menerima banyak hadiah darinya. Siapa lagi yang akan mampu membalas kebaikannya kalau bukan engkau anak kami? Apa engkau ingin melihat ayahmu mati dipukuli oleh para tukang pukul Lurah Kwa?"
Gadis itu menangis semakin sedih dan mendengar ini, tergeraklah hati Lee Cin.
Ia meloncat turun dan membuka jendela kamar itu dari luar, lalu melompat masuk.
Tentu saja ibu dan anak itu terkejut bukan main melihat ada seorang gadis melompat masuk ke dalam kamar mereka.
"Jangan kaget, bibi. Aku datang untuk menolong kalian!"
Ibu itu seorang wanita berusia empatpuluh tahunan dan ia memandang kepada Lee Cin dengan alis berkerut.
Bagaimana seorang gadis akan dapat menolong mereka?
"Nona, siapakah engkau dan bagaimana engkau akan dapat menolong kami?"
"Aku akan menolong kalian, akan tetapi ceritakan dulu apa yang menyebabkan adik ini menangis demikian sedihnya. Adik yang baik, maukah engkau menceritakan kepadaku mengapa engkau menangis?"
Gadis yang usianya sekitar delapan belas tahun itu menghentikan isaknya dan ia memandang kepada Lee Cin dengan penuh harapan.
"Enci yang baik, aku menangis sedih karena hendak dipaksa harus menikah dengan kepala dusun."
"Kenapa menangis? Bukankah menikah merupakan peristiwa yang membahagiakan?"
"Bagaimana aku dapat berbahagia? Aku tidak suka menjadi isteri kepala dusun itu. Aku tidak sudi menjadi isterinya yang ke tiga."
"Bibi, kalau anakmu tidak mau dikawinkan, mengapa engkau memaksanya" ? "Aduh, apa yang dapat kami lakukan, nona? Kami semua terpaksa dan tidak dapat menolak. Bagaimana kami dapat menolaknya? Hutang kami kepada kepala dusun sudah bertumpuk-tumpuk. Ketika musim kemarau panjang, ketika terjadi banjir dan ketika kami kematian seorang anak laki-laki kami, terpaksa kami terlibat hutang yang besar kepada kepala dusun. Hutang itu setelah bebeberapa tahun menjadi berlipat ganda dengan bunga-bunganya dan kami sama sekali tidak mungkin dapat membayarnya kembali. Kemudian kepala dusun menawarkan jasa baiknya. Dia akan membebaskan semua hutang kami bahkan memberi hadiah berupa sawah kalau kami menyetujui permintaannya, yaitu mengangkat anak kami Siok Hwa ini menjadi isterinya yang ke tiga. Kami tidak mungkin dapat menolak pinangannya itu, nona. Bagaimana nona dapat menolong kami dalam hal ini?"
"Jangan khawatir, bibi. Aku akan menolong kalian. Sekarang panggil dulu ke sini suamimu, aku ingin bicara dengannya."
Melihat sikap Lee Cin yang demikian tegas, wanita itu terkesan juga dan ia segera keluar dari dalam kamar untuk memanggil suaminya.
Lee Cin duduk di kursi depan tempat tidur di mana Siok Hwa duduk dan ia berkata menghibur.
"Tenanglah dan percayalah, engkau tidak akan dipaksa menjadi isteri ke tiga kepala dusun."
"Akan tetapi, bagaimana....... ?"
"Serahkan saja kepadaku. Biarkan aku bicara dulu dengan ayahmu,"
Kata Lee Cin sambil memandang wajah calon pengantin yang manis itu.
Pintu kamar terbuka dari luar dan masuklah seorang laki-laki setengah tua bersama wanita tadi.
Laki-laki itu mengerutkan alisnya ketika melihat Lee Cin dan segera dia bertanya dengan suara tidak yakin.
"Siapakah engkau, nona dan apa maumu masuk ke rumah kami?"
"Siapa aku tidak penting diketahui paman. Yang penting aku tertarik oleh suara tangis anakmu dan ingin menolong kalian. Sebetulnya bagaimana urusanmu dengan kepala dusun sehingga engkau terpaksa hendak menyerahkan anakmu kepadanya?"
Laki-laki itu menghela napas.
"Nasib kami buruk sekali. Malapetaka karena musim kering, lalu banjir dan kematian anak kami membuat kami berhutang uang banyak sekali kepada kepala dusun Kwa. Sekarang hutang itu telah bertumpuk dan ketika dia meminang anak perempuan kami, bagaimana kami dapat menolaknya? Utang kami akan dibebaskan dan di samping itu, kami mendapatkan hadiah uang dan tanah. Dan selain itu, sebagai isteri ke tiga kepala dusun, anak kami tentu akan hidup serba terhormat dan kecukupan. Mengapa mesti ditolak?"
"Akan tetapi anakmu tidak suka di peristeri kepala dusun itu. Ia yang akan menjalani, maka tidak boleh kalian hendak memaksanya."
"Nona, engkau tidak tahu. Kalau kami menerimanya, keadaan kami semua selamat. Sebaliknya kalau kami menolak, hutang kami akan ditagihnya dan kalau kami tidak dapat membayarnya, para tukang pukul kepala dusun tentu akan memukuli aku sampai mati. Apa yang dapat kulakukan?"
"Tenangkan hatimu, paman. Aku akan menolongmu. Kapan adik Siok Hwa ini akan di kirimkan kepada kepala dusun ?"
"Sore ini juga kami harus mengantarnya dengan joli ke rumah kepala dusun. Kami sedang membujuk-bujuknya untuk suka berdandan sebagai seorang mempelai wanita." �Sekarang begini saja, paman. Suruh adik ini bersembunyi dan aku akan menggantikannya duduk dalam joli. Biar mereka membawa aku ke rumah kepala dusun!"
Suami isteri itu terbelalak, hampir tidak percaya akan kata-kata Lee Cin. Gadis itu demikian cantik jelita, jauh lebih cantik dari pada anak perempuan mereka.
"Apakah engkau ingin menjadi isteri ke tiga kepala dusun, nona?"
Tanya ayah Siok Hwa.
"Hemm, siapa sudi ? Akan tetapi aku akan menggantikan tempat adik ini dan aku yang akan memaksa kepala dusun untuk mengurungkan niatnya."
"Akan tetapi, kalau diurungkan tentu dia akan menggunakan kekerasan untuk menagih hutang-hutang kami"
"Jangan khawatir. Dia tidak akan berani lagi menagih hutangmu. Sekarang, mana pakaian pengantinnya ? Biar kupakai di luar pakaianku agar lebih mudah aku menyamar sebagai adik Siok Hwa."
Suami isteri itu masih khawatir, akan tetapi mereka menurut segera pakaian pengantin dikenakan pada Lee Cin, di pakai diluar pakaiannya sendiri dan juga kepalanya ditutup kerudung yang menyembunyikan wajahnya.
Setelah itu, joli dan pengiring yang dikirim kepala dusun datang.
Pengantin wanita lalu dituntun keluar dan masuk ke dalam joli.
Musik dipukul dan dimainkan di sepanjang jalan sehingga iring-iringan pengantin itu menarik perhatian banyak orang.
Bahkan banyak anak-anak mengikuti rombongan itu yang menuju ke rumah kepala dusun Kwa.
Di rumah kepala dusun ini juga telah diadakan persiapan untuk menyambut mempelai wanita.
Rumah kepala dusun dirias dengan meriah dan para tamu sudah memenuhi ruangan depan di mana terdapat meja-meja dan kursi.
Ketika rombongan pengantin wanita tiba, pengantin wanita dituntun keluar dari joli dan dibawa duduk ke kursi pengantin yang sudah tersedia.
Kepala dusun Kwa sebagai pengantin pria juga sudah menyambut dan duduk di samping pengantin wanita yang menundukkan mukanya yang berkerudung.
Pesta dimulai dan pengantin wanita lalu dibimbing masuk ke dalam sebuah kamar pengantin yang berbau semerbak harum karena sejak tadi sudah diberi asap hio yang harum.
Pengantin pria menemani para tamu makan minum di luar.
Akhirnya saat yang dinanti-nanti Lee Cin tiba.
Para tamu bubaran dan meninggalkan rumah itu.
Kepala dusun Kwa, pengantin pria itu segera memasuki kamar dan mengunci pintunya dari dalam.
"Nah, sekarang kita berdua saja, manis, heh-heh-heh!"
Lurah Kwa lalu menghampiri pengantin wanita yang duduk di tepi pembaringan.
Dijulurkan tangannya untuk membuka kerudung muka pengantin wanita sambil tersenyum lebar.
Penutup muka itu dibuka, kepala dusun Kwa memandang wajah mempelai dan dia terbelalak kaget.
Ini bukan Siok Hwa walaupun wajahnya bahkan lebih cantik dari Siok Kwa!
"Kau .......
siapakah?"
Tanya kepala dusun Kwa, akan tetapi hatinya tidak kecewa bahkan tegang gembira mendapat kenyataan betapa cantik jelitanya pengantin wanita itu.
Lee Cin bangkit dan sekali tangannya menampar, pipi kanan Lurah Kwa sudah terkena tamparannya.
"Plakk!"
Tubuh Lurah Kwa terpelanting dan terputar saking kerasnya tamparan itu.
"Aduh........ ahhhh....... !"
Akan tetapi sebelum dia sempat berteriak, Lee Cin sudah menyusulkan totokan jari tangannya yang membuat lurah Kwa tidak mampu mengeluarkan suara lagi.
Akan tetapi dia yang biasa memerintah dan memperlakukan orang sesuka hatinya, masih merasa penasaran.
Dia bangkit berdiri dan biarpun dia sudah tidak mampu bersuara, dia masih dapat menggerakkan kaki tangannya dan dia mencoba memukul wanita yang berani memukulnya itu.
Akan tetapi sebelum pukulannya mengenai Lee Cin, gadis itu sudah memapakinya dengan sebuah tendangan yang mengenai perut yang agak gendut itu dan kembali tubuh lurah Kwa terjengkang dan terbanting keras ke atas lantai.
Darah bercucuran dari bibirnya yang pecah-pecah dan dia meringis karena merasa perutnya mendadak menjadi mulas setelah terkena tendangan tadi.
Setelah mendapatkan hajaran keras, Lalu Lurah Kwa tahu bahwa wanita ini bukan orang sembarangan.
Apa lagi ketika Lee Cin menyambar sebatang pedang milik Lurah Kwa yang tergantung di dinding lalu menempelkan pedang itu di lehernya.
Wajah Lurah Kwa menjadi pucat sekali dan dia menjatuhkan dirinya berlutut!
Karena dia masih belum dapat mengeluarkan suara, dia hanya membentur-benturkan kepalanya di lantai dan mulutnya mengeluarkan suara ah-eh-uh-uh seperti seorang gagu.
"Lurah Kwa pemeras keparat! Aku akan memenggal kepalamu di sini juga!"
Kata Lee Cin sambil membebaskan totokannya dengan jari tangan kiri. Lurah itu dapat mengeluarkan suara lagi dan dia segera meratap sambil berlutut.
"Ampunkan saya, lihiap. Ampunkan nyawa saya........ apakah yang lihiap kehendaki dari saya?"
"Sebetulnya aku menghendaki nyawamu untuk menebus semua perbuatanmu yang kotor! Engkau mempergunakan kekuasaan dan kekayaanmu untuk menindas rakyat di dusun ini. Engkau tidak menggunakan kekayaanmu untuk menolong sesama manusia, sebaliknya menggunakan uangmu untuk menipu mereka, memberi pinjaman dengan bunga besar dan kalau mereka tidak mampu membayar lagi, engkau minta mereka menyerahkan anak gadisnya atau mungkin juga sawah ladang mereka! Engkau juga memelihara banyak tukang pukul untuk memaksakan kehendakmu kepada rakyat. Orang macam engkau ini tidak pantas menjadi kepala dusun dan sepantasnya dihukum mati!"
"Ah, ampunkan saya, lihiap. Saya tidak berani lagi....."
Lurah Kwa meratap ketakutan karena pedang itu menempel ketat di lehernya dan dia sudah merasa ngeri membayangkan kepalanya akan terlepas dari tubuhnya.
"Engkau harus membebaskan Siok Hwa dan tidak menuntut kembalinya hutang orang tuanya kepadamu! Awas, kalau engkau masih melanjutkan penekananmu kepada mereka, aku akan datang untuk mengambil kepalamu!"
"Baik, lihiap...... Saya..... tidak..... akan mengganggu mereka lagi."
"Dan tidak mengganggu para penduduk lainnya. Mulai sekarang, bubarkan semua tukang pukulmu dan jadilah kepala dusun yang baik, yang memperhatikan kepentingan pendudukmu. Mengerti?"
"Baik,. lihiap."
"Nah, sekarang kumaafkan engkau dan kepada semua penduduk katakanlah bahwa engkau tidak jadi menikah dengan Siok Hwa."
"Baik, lihiap...."
Lee Cin lalu membuka daun pintu kamar itu lalu melangkah keluar.
Akan tetapi baru saja ia melangkah, tempat itu telah penuh dengan belasan orang laki-laki.
Mereka adalah tukang-tukang pukul Lurah Kwa yang merasa curiga ketika mendengar suara-suara yang tidak wajar dari dalam kamar pengantin.
Ketika mereka melihat seorang wanita keluar membawa pedang, mereka lalu cepat mengepungnya dan seorang di antara mereka membentak.
"Siapakah engkau ?"
Lurah Kwa muncul di pintu dan melihat betapa Lee Cin sudah dikepung para jagoannya, cepat berseru.
"Tangkap wanita pengacau itu!"
Para tukang pukul itu mendengar seruan Lurah Kwa lain menggerakkan golok mereka mengancam Lee Cin.
"Menyerah kau sebelum kami mengambil tindakan kekerasan!"
Lee Cin tersenyum mengejek.
"Anjing-anjing macam kalian ini bisanya hanya menggonggong dan menggigit orang-orang yang lemah tak berdaya. Majulah kalau hendak menangkap aku!"
Dua orang tukang pukul yang memandang randah gadis cantik itu menubruk dari belakang untuk menangkap kedua lengan Lee Cin.
Akan tetapi Lee Cin mendengar gerakan mereka dari belakang dan sekali memutar tubuhnya, kakinya telah mencuat dan menyambar ke arah mereka.
Dua orang tukang pukul itu berteriak dan tubuh mereka terjengkang dan terbanting ke belakang.
Terkejutlah para tukang pukul itu dan mereka menggunakan golok mereka untuk menyerang Lee Cin.
Akan tetapi Lee Cin memutar pedang rampasannya tadi dan terdengar suara berdentang-dentang ketika pedangnya menangkis semua golok itu dan banyak golok terlepas dari pegangan para pengeroyok dan terlempar ke kanan kiri ketika ditangkis pedang.
Tenaga sinkang yang terkandung dalam pedang di tangan Lee Cin terlampau kuat bagi mereka.
Lee Cin tidak berhenti sampai di situ saja, tangan kirinya dan kedua kakinya silih berganti bergerak membagi tamparan dan tendangan.
Dalam waktu singkat saja belasan orang pengeroyok itu jatuh malang melintang dan mengaduh-aduh tidak dapat melanjutkan pengeroyokan mereka.
Melihat betapa cepatnya belasan orang anak buahnya roboh, Lurah Kwa menjadi ketakutan dan dia segera melarikan diri.
Akan tetapi Lee Cin menggerakkan pedangnya dan pedang itu meluncur ke arah kaki Lurah Kwa.
"Singggg..... ..... capp..... .!� Lurah Kwa terguling roboh dengan paha kiri tertusuk pedang sampai tembus.
"Aduh ..... ampun, lihiap....!"
Dia merintih ketakutan melihat Lee Cin menghampirinya. Gadis itu mencabut pedang yang menancap di paha Lurah Kwa.
"Jahanam kau! Baru saja berjanji akan mengubah kelakuanmu, engkau malah mengerahkan anjing-anjingmu untuk mengeroyokku. Engkau memang layak mampus!"
Lee Cin mengelebatkan di depan mata Lurah "A mpun. ..... , ampun, lihiap... saya.... saya.... tidak berani lagi...."
Lurah Kwa menangis dan melihat keadaan Lurah Kwa kedua orang isterinya dan anak-anaknya yang sudah bermunculan mendengar suara ribut-ribut, ikut pula berlutut mintakan ampun suami dan ayah mereka.
"Hemm, melihat keluargamu, aku masih suka mengampunimu. Akan terapi kalau lain waktu engkau masih bermain gila mengandalkan kekuasaan dan uangmu, aku tentu akan datang menabas kepalamu! Sekarang sebagai pelajaran, rasakan ini!"
Pedang itu berkelebat dan Lurah Kwa menjerit kesakitan sambil mendekap telinga kirinya.
Daun telinganya yang kiri telah buntung terbabat pedang itu.
Lee Cin lalu melempar pedang itu yang menancap sampai setengahnya di daun pintu.
"Ingat, kata-kataku, mulai besok bubarkan semua anjing peliharaanmu ini dan mulailah memimpin rakyat dusun ini dengan baik dan tidak menggunakan kekerasan!"
Setelah berkata demi kian Lee Cin lain meninggalkan dusun itu dan kembali ke rumah Siok Hwa.
Siok Hwa dan kedua orang tuanya yang menanti dengan jantung berdebar tegang dan khawatir, begitu melihat Lee Cin kembali seorang diri segera menghujani dengan pertanyaan.
Lee Cin tersenyum.
"Beres, mulai sekarang kalian hiduplah dengan tenang dan jangan takut kepada Lurah Kwa. Dia sekarang menjadi seorang Lurah yang baik. Hutangmu telah bebas dan kalian boleh bekerja lagi dengan sebaiknya. Hanya kuanjurkan kepadamu, sebaiknya kalian segera kawinkan anak perempuan kalian ini dengan pemuda yang disukainya, agar di belakang hari tidak ada lagi orang yang mengganggunya."
Suami isteri petani itu dan Siok Hwa segera menjatuhkan diri berlutut di depan Lee Cin. Lee Cin membangunkan mereka.
"Tidak perlu begitu. Aku hanya melakukan tugasku dan sebaliknya aku minta tolong kepada kalian agar malam ini aku diperbolehkan bermalam di sini."
Tentu saja keluarga petani itu setuju bahkan merasa girang sekali.
Akan tetapi Lee Cin tidak ingin merepotkan mereka dan minta tidur sekamar dengan Siok Hwa.
Setelah berdua saja di dalam kamar, Lee Cin bercakap-cakap lebih dulu dengan Siok Hwa sebelum tidur.
"Adik Siok Hwa, kenapa engkau tidak mau dijadikan isteri ke tiga Lurah Kwa? Kalau aku tidak salah, banyak gadis yang ingin dijadikan isteri kepala seorang kepala dusun yang kaya dan berkuasa. Mengapa engkau tidak mau?"
"Enci Lee Cin, bagaimana aku dapat menjadi seorang isteri dari yang tidak kusuka? Menjadi isterinya berarti bahwa selama hidupku aku harus hidup bersamanya. Bagaimana mungkin selama hidupku aku dapat hidup di samping seorang yang aku tidak suka?"
"Jadi engkau hanya mau dijodohkan dengan seorang pria yang kau sukai?"
Wajah Siok Hwa yang manis itu menjadi kemerahan.
"Tentu saja, enci Lee Cin. Apakah engkau tidak berpikir demikian juga? Setelah menikah, aku harus berpisah dari ayah ibuku yang selalu mencintaku, dan hidup di samping seorang laki-laki lain yang sama sekali asing bagiku. Kalau aku tidak menyukai laki-laki itu, bagaimana aku dapat bertahan hidup sampai bertahun-tahun di sampingnya?"
Lee Cin tersenyum dan tidak banyak bertanya lagi.
Akan tetapi jawaban Siok Hwa itu sama dengan suara hatinya.
Ia sendiri tidak akan sudi diperisteri seorang pria yang tidak disukanya, tidak dicintanya.
Ingatan ini langsung saja mengingatkan ia akan pria yang dicintanya, yaitu Tin Han dan hatinya seperti ditusuk rasanya.
Tin Han telah lenyap, bagaikan ditelan bumi, entah masih hidup ataukah sudah mati.
"Han-ko,"
Pikirnya.
"kalau engkau masih hidup, betapa inginku untuk berjumpa denganmu, sebaliknya kalau engkau sudah mati, akupun ingin melihat kuburmu. Betapa rindu hatiku kepadamu."
Ia mengeluh dalam hatinya dan malam itu ia hampir tidak dapat tidur pulas, penuh dengan mimpi buruk tentang Tin Han.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Lee Cin sudah terbangun dan ia lalu berpamit dari Siok Hwa dan ayah ibunya.
Mereka ingin menahannya karena takut kepada Lurah Kwa, akan tetapi Lee Cin meyakinkan hati mereka bahwa Lurah Kwa tidak mungkin akan mengganggunya lagi.
"Aku yakin bahwa mulai malam tadi, Lurah Kwa sudah bertaubat atas semua kelakuannya yang lalu dan kini dia menjadi seorang kepala dusun yang baik. Percayalah kepadaku,"
Demikian Lee Cin menghibur mereka dan ia lalu melanjutkan perjalanannya meninggalkan dusun itu.
-ooOoo-Lee Cin tiba di kota Liok-bun yang cukup ramai.
Ia bermaksud untuk pergi ke Bukit Lo-sian, untuk mencari kabar tentang Tin Han.
Siapa tahu pemuda itu masih hidup dan sudah pulang ke tempat yang dulu menjadi tempat tinggal keluarga Cia itu, yalah di kota Hiu-cu di kaki bukit Lo-sian.
Dalam perjalanannya menuju ke bukit Lo-sian, ia melewati kota Liok-bun dan mengambil keputusan untuk melihat-lihat kota itu dan bermalam selama satu dua malam di tempat itu.
Ia menyewa sebuah kamar di rumah penginapan merangkap rumah makan "Hok-tiam"
Dan setelah menaruh buntalan pakaiannya di dalam kamar, ia lalu keluar dan memasuki rumah makan yang merupakan bagian depan dari rumah penginapan itu.
Selagi ia duduk menanti masakan yang dipesannya, ia melihat dua orang berpakaian pengemis serba hitam memasuki rumah makan itu.
Seorang pelayan segera menyambutnya dengan wajah tidak senang.
"Hei, kalian berdua! Kalau hendak minta sedekah jangan memasuki rumah makan, tunggu saja di luar nanti kumintakan kepada juragan kami. Jangan masuk rumah makan, kalian hanya menimbulkan jijik kepada para tamu kami! Harap keluar!"
Lee Cin memperhatikan dua orang pengemis itu.
Pakaian mereka serba hitam penuh tambalan, namun tampak bersih.
Usia mereka sekitar limapuluh tahun dan di punggung masing-masing, mereka menggendong tiga buntalan yang entah berisi apa.
Ketika pelayan itu mendorong-dorong mereka menyuruh mereka keluar, dua orang pengemis itu kelihatan tenang saja dan seorang di antara mereka berkata kepada pelayan rumah makan itu.
"Kami hendak bertemu dengan juragan kalian, beritahukan bahwa kami datang dengan urusan penting."
"Tidak bisa, juragan kami tidak ada waktu untuk bertemu dengan para pengemis. Kalau untuk memberi sumbangan, cukup kami yang melakukannya. Keluarlah atau terpaksa aku akan menyeret kalian keluar!"
Kata pula pelayan yang bertubuh tinggi besar dan tampak kuat itu.
"Hemm, kalau belum bertemu dengan pemilik rumah makan ini, kami tidak mau keluar,"
Kata pengemis yang tubuhnya tinggi kurus, suaranya tenang sekali.
"Apa! Kalian mau nekat?"
Berkata demikian, pelayan rumah makan itu menangkap lengan dua orang pengemis itu, akan tetapi tiba-tiba saja dia terbelalak dan tidak dapat menggerakkan kaki tangannya lagi.
Pelayan itu berdiri seperti sebuah patung, tidak mampu bergerak dan tidak mampu bersuara.
Lee Cin yang memperhatikan mereka, melihat betapa pengemis yang bertubuh pendek berkulit hitam tadi menggerakkan jari tangannya menotok sehingga pelayan itu tidak mampu bergerak lagi.
Cara menotok pengemis itu cukup lihai dan teringatlah ia akan berita yang pernah didengarnya bahwa di dunia kang-ouw terdapat sebuah perkumpulan pengemis yang terkenal, yaitu Hek I Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Hitam).
Menurut apa yang pernah didengarnya, Hek I Kai-pang dipimpin oleh tokoh-tokoh pengemis yang lihai ilmu silatnya.
Perkumpulan pengemis itu dipimpin oleh ketuanya yang dikenal sebagai Hek I Kai-pang (Ketua Perkum pulan Pengemis Baju Hitam) dan ketua ini mempunyai beberapa orang pembantu yang dapat diketahui tingkatnya melihat banyaknya buntalan yang digendongnya.
Dua orang pengemis itu menggendong tiga buntalan, berarti mereka adalah tokoh-tokoh Hek I Kaipang bertingkat tiga.
Lee Cin tertarik sekali.
Melihat cara pengemis itu menotok, ia dapat mengetahui bahwa pengemis itu memiliki ilmu silat yang cukup tinggi.
Kalau mereka yang bertingkat tiga saja seperti itu, dapat dibayangkan betapa lihainya mereka yang bertingkat satu atau lebih lagi ketuanya!
Pengemis tinggi kurus menepuk pundak pelayan itu sambil berkata.
"Sobat, harap laporkan kepada majikanmu bahwa kami datang untuk bertemu dan bicara."
Tepukan pada pundak itu membebaskan totokan tadi dan sekarang si pelayan yang telah merasakan totokan tadi, dengan cepat membungkuk dan mengangguk lalu pergi masuk ke dalam untuk melapor kepada majikannya.
Lee Cin terus mengikuti semua itu dengan pandang matanya.
Demikian cepat gerakan menotok dan membebaskan tadi sehingga kejadian itu tidak tampak oleh tamu lain.
Tak lama kemudian, pemilik rumah makan muncul dan melihat dua orang pengemis itu, dia lalu memberi isyarat agar mereka berdua memasuki kantornya di depan.
Agaknya majikan ini sudah tahu dengan siapa dia berhadapan dan melayaninya dengan baik.
Lee Cin cepat memakan hidangannya yang telah disediakan.
Ia cepat menyelesaikan makannya dan ketika melihat dua orang pengemis tadi keluar lagi sambil membawa buntalan kain kuning, ia segera membayar harga makanan dan diam-diam membayangi mereka.
Ia menjadi tertarik sekali dan ingin mengetahui apa yang akan dilakukan dua orang tokoh Hek I Kai-pang itu.
Dua orang pengemis itu agaknya mengumpulkan sumbangan dari para pemilik toko dan rumah penginapan serta rumah makan dan sumbangan-sumbangan itu telah mereka simpan di dalam tiga buntalan yang mereka gendong.
Melihat dua orang pengemis itu ke luar dari kota Liokbun, Lee Cin terus mengikuti mereka.
Mereka menuju ke sebuah bukit dan segera memasuki hutan di bukit itu.
Lee Cin merasa heran, akan tetapi membayangi terus.
Akhirnya dua orang pengemis itu tiba di tengah hutan dan di situ berdiri banyak pondok-pondok sederhana.
Di depan pondok-pondok itu terdapat sebuah lapangan rumput yang luas dan di situ telah berkumpul banyak pengemis.
Mereka itu terdiri dari bermacam tingkat, ada yang menggendong lima buntalan di punggung, ada yang empat, tiga, dua dan satu.
Hanya ada tiga orang pengemis yang menggendong dua buntalan dan yang menggendong satu buntalan saja hanya ada seorang.
Orang ini merupakan seorang kakek yang usianya sudah enam puluh lebih, tubuhnya juga tinggi kurus dan rambutnya sudah hampir putih semua, akan tetapi wajah dan sikapnya masih tampak segar dan gesit.
Pengemis ini duduk di atas sebuah bangku bambu sedangkan di depannya dan sekitarnya berkumpul hampir limapuluh orang pengemis berpakaian serba hitam.
Dengan hati-hati Lee Cin menyusup dan menyelinap di antara batang pohon dan semak belukar dan mengintai dari jarak yang tidak terlalu jauh sehingga bukan saja ia dapat menonton apa yang akan terjadi di lapangan rumput itu, namun juga terdengar apa yang akan dibicarakan orang.
Dua orang pengemis tingkat tiga tadi lalu datang menghadap pengemis bertingkat satu dan melaporkan bahwa mereka telah berhasil mengumpulkan sumbangan dan mereka mengeluarkan buntalan-buntalan kecil dari gendongan mereka, lalu menyerahkan kepada pengemis tingkat satu.
"Bagus, kini sudah terkumpul cukup dana untuk mengadakan pesta menyambutan para tamu yang hendak mengunjungi kita,"
Terdengar pengemis tingkat satu berkata.
"Pang-cu (Ketua) kita tentu akan girang melihat hasilnya. Akan tetapi sekali lagi kutanyakan kepada kalian seperti yang juga kutanyakan kepada para pengumpul sumbangan yang lain. Dalam mengumpulkan sumbangan ini kalian tidak mempergunakan paksaan dan kekerasan, bukan?"
"Kami tidak berani melanggar perintah pang-cu,"
Kata dua orang itu dan pengemis tingkat satu itu mengangguk-angguk dengan senang.
Tidak, lama kemudian muncul seorang pengemis baju hitam yang memegang sebatang tongkat hitam pula.
Pengemis ini berusia enampuluh lima tahun dan dia tidak menggendong apa-apa di punggungnya.
Ketika dia muncul, semua pengemis dari semua tingkatan bangkit berdiri dan membungkuk dengan hormat kepadanya.
Melihat ini, maklumlah Lee Cin bahwa tentu pengemis bertongkat yang tubuhnya juga tinggi kurus ini ketua mereka atau Hek I Pang-cu sendiri.
Maka ia memandang dengan penuh perhatian dan ingin tahu apa yang akan terjadi.
Hek I Pang-cu itu bersikap sederhana saja.
Setelah semua pengemis memberi hormat dan pengemis tingkat satu menyerahkan bangku kepada ketuanya, dia lalu duduk di atas bangku itu dan mengangkat kedua tangannya ke atas.
Ini merupakan tanda bahwa dia ingin bicara dan semua pengemis yang berada di situ segera duduk di atas tanah berumput sehingga sang ketua yang duduk di bangku tampak nyata, karena tempat duduknya paling tinggi.
"Apakah semua masakan yang akan dihidangkan kepada para tamu telah siap? Sebentar lagi para tamu datang dan pelayanan harus dilakukan sebaiknya agar tidak mengecewakan dan membikin malu nama perkumpulan kita."
Beberapa orang yang bertugas mempersiapkan masakan menjawab.
"Sudah siap tinggal menghidangkan!"
"Bagus. Sekarang para murid tingkat pertama, kedua dan ke tiga agar berdiri di depan untuk menyambut para tamu. Bangku-bangku agar dipersiapkan sebagai tempat duduk para ketua perkumpulan. Ingat, hanya para ketuanya saja yang dipersilakan duduk di bangku, sedangkan yang Iainnya biar duduk di atas rumput."
Pengemis tingkat pertama yang hanya ada seorang bangkit berdiri dan ke luar, diikuti tiga orang tingkat dua dan lima orang tingkat tiga.
Mereka bertugas menyambut tamu di luar pekarangan yang luas itu.
Lee Cin yang masih mengintai tahu bahwa para pengemis Hek I Kai-pang ini sedang mengadakan pesta dan akan dihadiri oleh para tamunya.
Ia ingin melihat apa yang akan terjadi dan siapa tamu-tamu mereka.
Kalau perlu iapun dapat menyelinap di antara para tamu dan menjadi seorang tamu pula.
Tak lama kemudian rombongan tamu mulai berdatangan.
Akan tetapi Lee Cin melihat bahwa mereka yang datang itu adalah rombongan tamu dari perkumpulan pengemis yang lain.
Ada pengemis-pengemis yang pakaiannya bermacam-macam akan tetapi semua memakai sabuk merah.
Ketika tiba, belasan orang itu berhenti di luar pekarangan dan seorang di antara mereka berseru.
"Mereka dari Ang-kin Kaipang (Perkumpulan Pengemis Sabuk Merah) datang berkunjung!"
Para tamu itu lalu dipersilakan memasuki lapangan rumput, dan ketuanya yang bertubuh gemuk pendek dipersilakan duduk di atas bangku, sedangkan para anggautanya dipersilakan duduk di atas tanah berrumput.
Berbondong-bondong berdatangan para tamu dan Lee Cin melihat bahwa semua tamu terdiri dari para pengemis melulu.
Ada rombongan pengemis berbaju kembang dari Hwa I Kai-pang (Pengemis Berbaju Kembang), rombongan pengemis berbaju Biru, dan ada pula rombongan pengemis yang membawa tongkat ular, yaitu tongkat dari kayu yang dibentuk seperti ular dan mereka menggunakan nama Coatung Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Ular).
Mereka semua dipersilakan duduk dan masing-masing perkumpulan berjumlah belasan orang sehingga tempat itu menjadi ramai.
Tentu saja Lee Cin t idak dapat menyelinap sebagai tamu karena semua tamu adalah pengemis belaka.
Setelah semua orang berkumpul, Hek I Kai-pang bangkit berdiri dari bangkunya dan berkata dengan suara lantang.
"Selamat datang, kawan-kawan dari berkumpulan masing-masing. Kami mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada kawan-kawan yang sudah datang untuk merayakan hari jadi perkumpulan kami Hek I Kai-pang. Hari jadi kami yang ke duapuluh lima. Terima kasih pula atas ucapan selamat dan pemberian sumbangan dari kawan-kawan sekalian. Dan marilah kita menikmati hidangan sekedarnya dari kami!"
Hidangan lalu di keluarkan dan ditaruh di atas tanah berumput dan pesta makan minum itu dimulai.
Karena mereka adalah para pengemis yang biasanya hanya makan makanan sederhana saja, maka sekarang begitu menghadapi hidangan masakan yang mengepul panas dan bermacam-macam, maka merekapun makan dengan lahapnya.
Tiba-tiba dari luar terdengar seruan.
"Sin-ciang Mo-kai dan rombongannya datang berkunjung!"
Mendengar ini, Hek I Kai-pang bergegas bangkit berdiri dan keluar menyambut.
Yang muncul adalah seorang pengemis berusia limapuluh tahun, bertubuh tinggi kurus dan mukanya kuning seperti berpenyakitan, matanya sipit dan dia memegang sebatang tongkat yang ujungnya bersinar kehijauan.
Pakaiannya tambal-tambalan pula, akan tetapi terbuat dari kain yang baru dan agaknya sengaja ditambal-tambal.
Inilah Sin-ciang Mo-kai (Pengemis Iblis Tangan Sakti) yang terkenal sebagai seorang tokoh sesat.
Yang mengikutinya ada sepuluh orang dan para pengikutnya ini tidak ada yang berpakaian pengemis, melainkan berpakaian biasa bahkan seorang di antara mereka mengenakan pakaian perwira kerajaan!
Melihat sikap Hek I Kaipangcu yang demikian hormat terhadap Sin-ciang Mo-kai dapat diduga bahwa ketua ini tentu sudah mengenalnya dengan baik.
Memang demikianlah.
Beberapa hari sebelum Hek I Kaipang mengadakan pesta ulang tahun atau hari jadinya ini, ketua Hek I Kai-pang sudah mengadakan pertemuan dengan Sin-ciang Mo-kai dan Pengemis Iblis ini telah membujuknya untuk bersatu dengan mereka yang membantu pemerintah untuk memusuhi para pendekar dan para patriot.
Mula-mula Hek I Kai-pangcu menolak.
"Kami adalah pengemis-pengemis yang kerjanya hanya minta sedekah dan sumbangan dari orang, kami tidak ingin bermusuhan dengan siapapun juga,"
Demikian dia menjawab. Sin-ciang Mo-kai mengerutkan alis nya.
"Apakah kalian tidak menginginkan kehidupan yang lebih baik dari pada menjadi pengemis? Kalau kalian membantu pemerintah, pemerintah tentu tidak akan melupakan kalian. Siapa tahu kalian kelak akan diangkat menjadi perajurit dan engkau sebagai ketuanya diangkat menjadi seorang perwira? Sebaliknya kalau kalian tidak mau membantu, bisa saja kalian dianggap sebagai pemberontak yang membantu para patriot dan kalian akan dibasmi!"
Sin-ciang Mo-kai membujuk dan menggertak dan ketika ketua Hek I Kai pang berkeras tidak mau, mereka lalu berkelahi dan akibatnya, dengan mudah Sin-ciang Mo-kai mengalahkannya.
Ketua Hek I Kai-pang mengaku kalah dan menaluk, bahkan dia menyetujui untuk bekerja sama dengan pemerintah.
Sin-ciang Mo-kai inilah yang mengusulkan agar Hek I Kai-pang mengadakan pesta mengundang para pimpinan perkumpulan pengemis lainnya.
Ini adalah siasat dari Beng-cu Ouw K wan Lok yang berusaha menarik sebanyak mungkin anggauta dari berbagai perkumpulan untuk bekerja sama membantu pemerintah Mancu.
Dia tahu bahwa terdapat banyak sekali perkumpulan pengemis dan bahwa para pimpinannya terdiri dari orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi.
Kalau para pengemis ini mau diajak bekerja sama, mereka merupakan kekuatan yang besar.
Karena itulah, dia mengutus Sin-ciang Mo-kai untuk membujuk para pimpinan pengemis untuk bekerja sama.
Setelah para tamu dari berbagai perkumpulan pengemis itu tiba dan pesta dimulai, muncullah Sin-ciang Mokai dan rombongannya.
Rombongannya ini terdiri dari orang-orang kang-ouw golongan sesat dan ada seorang perwira kerajaan yang ikut pula.
Untuk Sin-ciang Mo-kai dan rombongannya disediakan bangku-bangku oleh Ketua Hek I Kai-pang dan hal ini membuat banyak pengemis mengerutkan alisnya karena mereka, kecuali sang ketua, hanya disuruh duduk di atas tanah berumput.
Hek I Kai-pangcu bangkit dan dengan hormat mempersilakan Sin-ciang Mo-kai beserta semua rombongannya untuk duduk di bangku dan diapun berkata lantang kepada semua tamu.
"Kawan-kawan sekalian. Kepada yang belum mengenalnya kami perkenalkan bahwa yang baru tiba adalah Sin-ciang Mo-kai yang terhormat bersama rombongannya. Tentu semua kawan pernah mendengar nama besarnya yang amat terkenal di dunia kang-ouw. Setelah pesta nanti, Sin-ciang Mo-kai berkenan akan memberi petunjuk yang amat penting bagi kita semua. Sekarang, silakan melanjutkan makan minum sepuasnya!"
Pesta dilanjutkan dan mereka makan minum sampai banyak di antara mereka yang mabuk.
Setelah hidangan mereka sikat habis dan mereka kini hanya minum-minum arak sambil bercakap-cakap, Hek I Kai-pang, kembali bangkit dan berseru lantang.
"Kawan-kawan sekalian, sekarang tiba saatnya bagi Sin-ciang Mo-kai untuk bicara memberi petunjuk kepada kita sekalian."
Semua orang berhenti bicara dan suasana menjadi tenang. Sin-ciang Mokai lalu bangkit berdiri dan berkata dengan suara yang tinggi melengking karena mengandung khi-kang yang kuat.
"Saudara-saudara kaum kai-pang yang baik! Saya datang sebagai utusan Bengcu kita yang baru untuk mengajak saudara sekalian bekerja sama membantu pemerintah!"
Baru saja sampai di situ dia bicara, keadaan menjadi riuh kembali berbagai tanggapan dilontarkan oleh para pengemis.
Sin-ciang Mo-kao mengangkat tangan kanan ke atas memberi isyarat agar semua orang diam.
Setelah keadaan menjadi tenang kembali, dia melanjutkan katakatanya.
"Harap jangan memberikan tanggapan dan dengarkan dulu kata-kataku sampai habis! Saudara-saudara sekalian hidup sebagai pengemis, dipandang rendah dan dihina oleh banyak orang, dan kadang dikejar-kejar seperti penjahat. Mengapa saudara sekalian tidak mau mengubah keadaan itu? Kini tiba saatnya untuk mengubah keadaan seperti itu. Kalau saudara mau bekerja sama dengan pemerintah, saudara akan dilindungi. Para pejabat akan berbaik hati terhadap saudara dan tidak ada orang berani memandang rendah kaum pengemis! Semua itu diberikan kepada saudara sehingga kalau saudara meminta sumbangan, tidak ada lagi yang berani menghina atau menolak. Dan apakah yang saudara-saudara harus lakukan? Bersama pemerintah membasmi para pemberontak! Saudara tinggal pilih. Tidak mau bekerja sama dengan pemerintah berarti mendukung pemberontak dan dimusuhi oleh pemerintah, atau mendukung pemerintah membasmi pemberontak yang hanya mendatangkan kekacauan. Apa lagi sebagai orang-orang kang-ouw, saudara patut tunduk kepada Beng-cu kita, dan Beng-cu kita yang minta kepada saudara sekalian untuk membantu pemerintah dan menentang kaum pendekar dan patriot yang memberontak terhadap pemerintah yang sah!"
Semua orang terdiam mendengarkan ucapan itu.
Mereka membayangkan betapa akan susahnya hidup mereka kalau dimusuhi pemerintah.
Pasukan pemerintah akan menangkapi dan mengejar mereka sebagai anggauta pemberontak!
Sebaliknya, kalau mereka diakui oleh para pejabat sebagai sekutu, tentu mereka tidak akan dimusuhi, bahkan dilindungi dan siapa yang berani menentang mereka?
Akan tetapi, di antara mereka, terutama para ketuanya, banyak yang ragu-ragu.
Bagaimana mereka harus memusuhi para pendekar?
Terutama para ketua yang berpendirian bersih, yang pantang melakukan kejahatan, mereka sangsi apakah benar kalau mereka membantu pemerintah membasmi para pendekar!"
"Saudara sekalian! Akupun seorang pengemis! Maka, aku hendak mempergunakan kesempatan selagi kita berkumpul ini untuk mengangkat diriku sebagai pimpinan para pengemis! Biarlah aku yang bertanggung jawab dan aku yang membimbing kalian untuk bekerja sama dengan pemerintah."
Lee Cin yang mendengarkan ucapan Sin-ciang Mo-kai menjadi terkejut sekali.
Kiranya Ouw Kwan Lok yang telah merebut kedudukan Beng-cu kini bekerja sama dengan pemerintah Mancu.
Dan Ouw Kwan Lok agaknya hendak mengumpulkan semua tenaga di dunia kang-ouw, baik dari golongan bersih maupun kotor, untuk bersama-sama menjadi sekutu pemerintah.
Hal ini amat berbahaya bagi para pendekar dan patriot kalau usaha itu berhasil.
Ia sendiri tahu betapa besarnya kekuatan para perkumpulan pengemis itu kalau dikumpulkan dan dapat dipersatukan.
Tentu akan menjadi kekuatan yang dahsyat yang terdapat di mana-mana.
Agaknya pemerintah Mancu telah berhasil membujuk Beng-cu Ouw Kwan Lok untuk menjadi antek mereka dan tentu sudah banyak tokoh sesat di kang-ouw yang menjadi anak buahnya.
Ayahnya sendiri ketika menjadi beng-cu, berdiri bebas, tidak menjadi antek Mancu, juga tidak menggerakkan dunia kang-ouw untuk memberontak terhadap pemerintah.
Sekarang ketahuanlah mengapa Ouw Kwan Lok bersikeras untuk mengambil kedudukan beng-cu.
Sekarang, kaum sesat, telah berbalik pendirian.
Kalau dulu bersekongkol dengan pemberontak, kini sebaliknya malah menjadi antek pemerintah Mancu.
Ia harus memberitahu kepada Song Thian Lee akan hal ini.
Kalau kaum sesat bekerja sama dengan pemerintah, sama saja dengan menarik Song Thian Lee menjadi sekutu pula.
Lee Cin mengerutkan alisnya.
Merupakan ganjalan dalam hatinya melihat kenyataan bahwa Thian Lee menjadi panglima.
Sungguh suatu kedudukan yang sama sekali tidak cocok dengan watak dan pendirian Thian Lee.
Ia mengenal Thian Lee sebagai seorang pendekar, akan tetapi kedudukannya sebagai panglima menaruh dia di tempat yang lain bahkan yang berlawanan.
Seperti keadaannya sekarang ini, kalau Thian Lee tetap menjadi panglima, berarti dia harus bekerja sama dengan golongan sesat dan harus memusuhi para pendekar dan patriot!
Tidak, ini tidak benar dan ia harus memberitahu kepada Thian Lee tentang pertemuan para pengemis ini.
Ucapan Sin-ciang Mo-kai yang mengangkat diri sendiri menjadi pimpinan kaum pengemis ini mendapat tanggapan bermacam-macam.
Akan tetapi para ketua kai-pang banyak yang tidak setuju.
Ketua Hwa I Kai-pang yang berpakaian berkembang-kembang itu segera berdiri dari bangkunya dan berkata dengan suara lantang.
"Kami dari Hwa I Kai-pang selamanya bekerja bebas dan tidak mengakui pimpinan orang lain kecuali ketuanya. Kami seluruh kaipang pernah mengakui Pek I Lo-kai sebagai sesepuh, akan tetapi setelah bertahun-tahun dia tidak pernah muncul, kami tidak mempunyai sesepuh lagi dan tidak ingin mengangkat sesepuh baru."
"Hemm, aku ingin bertanya. Mengapa dulu kalian mau mengangkat Pek I Lo-kai sebagai sesepuh?"
"Karena ilmu kepandaiannya yang tinggi dan dia patut menjadi pemimpin dan sesepuh kami seluruh kai-pang!"
Jawab Hwa I Kai-pangcu.
"Apakah kalian tidak percaya akan ilmu kepandaian kami? Kalau ada yang meragukan kepandaianku, silakan maju dan kita main-main sebentar!"
Mendengar ucapan yang nadanya menantang itu, Hwa I Kai-pangcu lain melompat ke depan sambil membawa tongkatnya yang terbuat dari pada bambu.
"Biarlah kucoba-coba sebentar!"
Katanya, tidak berani berlagak, hanya sebagai jawaban atas tantangan itu karena diapun sudah mendengar akan nama besar Sin-ciang Mo-kai sebagai seorang tokoh pengemis tunggal yang amat lihai.
"Baik! Akupun sudah mendengar bahwa ilmu tongkat ketua Hwa I Kai-pang sudah mencapai tingkat tinggi!"
Kata Sin-ciang Mo-kai sambil melintangkan tongkatnya yang beracun itu di depan, dada.
"Silakan mulai, Hwa I Kaipangcu!� Ketua Hwa I Kai-pang juga tidak berlaku sungkan lagi, segera menggerakkan bambunya dan menotok ke arah dada dan perut lawan. Sin-ciang Mo-kai cepat menangkis dengan tongkatnya dan ketika dua tongkat bertemu, keduanya merasa tangannya gemetar. Sin-ciang Mo-kai menerjang ke depan dan selagi tongkatnya menyambar ke arah kepala lawan, tangan kirinya juga menyambar dan menghantam ke arah dada. Hwa I Kai-pangcu cepat mengelak dan melintangkan tongkatnya ke depan dada untuk menangkis pukulan ke arah dadanya itu. Sin-ciang Mo-kai cepat menarik kembali tangan kirinya dan kini dialah yang diserang oleh totokan tongkat bambu. Kembali dia menangkis dan mereka sudah saling serang dengan hebat. Ilmu tongkat ketua Hwa I Kai-pang cukup hebat, gerakannya cepat dan tenaganya juga besar. Namun dia bertanding dengan Sin-ciang Mo-kai yang bukan saja lihai ilmu tongkatnya, akan tetapi juga memiliki pukulan tangan yang ampuh sehingga dia dijuluki "Sin-ciang (Tangan Sakti). Setelah pertandingan berlangsung limapuluh jurus, mulailah ketua Hwa I Kai-pang terdesak karena lawannya selalu menyusul serangan pukulan tangan kiri setiap kali tongkat mereka bertemu.
"Haittt..... ...!� Tongkat Hwa I Kai-pang menyambar lagi, kini menghantam ke arah kepala Sin-ciang Mo-kai. Pengemis berbaju kembang-kembang mewah ini menangkis dengan tongkatnya dan kembali tangan kirinya memukul dengan dorongan kuat. Ketua Hwa I Kai-pang menangkis dengan dorongan tangan kanan untuk mengadu tenaga.
"Dess. .... !"
Ketika dua tangan bertemu tubuh ketua Hwa I Kai-pang terpental ke belakang dan jatuh terjengkang.
Dia bangkit duduk dengan napas terengah-engah, lalu dipapah oleh anak buahnya sehingga dia mampu berdiri lagi.
Dia memandang kepada Sin-ciang Mo-kai dengan mata mengandung penasaran.
"Nah, bagaimana, Hwa I Kai-pangcu? Apakah engkau menganggap aku cukup lihai untuk menjadi sesepuh semua kai-pang ? "
"Kepandaianmu memang tinggi, Sin ciang Mo-kai, akan tetapi..... � ""Akan tetapi apa? Apakah masih ada yang menyangsikan kemampuanku sebagai pimpinan kalian ? Kalau masih ada, silakan maju!"
Tiba-tiba terdengar suara orang.
"Sungguh menggelikan. Sin-ciang Mo-kai bicara besar untuk mempengaruhi para kai-pangcu!"
Tiba-tiba dari luar masuklah seorang pengemis yang usianya tentu sudah mendekati tujuhpuluh tahun.
Kakek yang bertubuh tinggi kurus, rambutnya sudah putih semua dan bajunya penuh tambalan dari kain putih seperti orang berkabung dan tangannya memegang sebatang tongkat bambu butut.
Melihat kakek pengemis berpakaian putih itu, ketua Hwa I Kai-pang berseru girang.
"Lo-cian-pwe Pek I Lo-kai!"
Katanya dan segera dia menjatuhkan diri berlutut.
Juga para ketua kai-pang yang lain cepat memberi hormat kepada Pek I Lokai (Pengemis Tua Berbaju Putih) karena kakek itu dahulu dianggap sebagai sesepuh kaum kai-pang!
Lee Cin mengintai dari tempat sembunyinya.
Iapun pernah mendengar akan nama julukan Pek I Lo-kai itu sebagai tokoh besar kaum pengemis yang tergolong bersih.
Pasti akan terjadi bentrokan yang seru, pikirnya, mengingat betapa kedatangan Sin-ciang Mo-kai bermaksud mengajak para pengemis untuk menjadi antek pemerintah penjajah.
Sementara itu, ketika Sin-ciang Mo kai mendengar ucapan Pek I Lo-kai, dia mengerutkan alisnya dan melangkah maju menyambut Pek I Lo-kai yang memasuki lapangan.
"Hemm, kiranya engkau yang berjuluk Pek I Lo-kai? Aku memang sedang membujuk para kai-pangcu untuk bekerja sama dengan pemerintah menentang kaum pemberontak. Apakah ini kau anggap keliru?"
"Sin-ciang Mo-kai, sejak kapan engkau menjadi antek pemerintah penjajah? Kalau engkau menjadi antek penjajah, itu hakmu, akan tetapi jangan membujuk para kai-pangcu untuk mengikuti jejakmu. Para kai-pang adalah perkumpulan pengemis yang kerjanya hanya minta sedekah dari orang-orang budiman, dan di samping itu menentang kejahatan. Demikian aku selalu menganjurkan. Sebagai sesepuh kai-pang aku tidak setuju kalau mereka hendak menjadi antek penjajah Mancu."
"Pek I Lo-kai, kalau begitu engkau juga berjiwa pemberontak!"
Seru Sinciang Mo-kai marah.
"Aku bukan pemberontak, akan tetapi itu tidak berarti bahwa aku membantu pemerintah penjajah."
Dua orang yang berpakaian perwira kerajaan melompat ke depan menghadapi Pek I Lo-kai dan seorang di antara mereka menuding dengan telunjuknya.
"Orang tua, kalau engkau melarang orang untuk membantu pemerintah, itu menunjukkan bahwa engkau seorang yang berjiwa pemberontak! Kami sebagai perwira perwira kerajaan berkewajiban untuk menangkap orang sepertimu. Dua orang perwira itu sudah mencabut pedangnya dengan sikap mengancam.
"Hemm, kalian dapat saja menuduh aku pemberontak, akan tetapi mana buktinya? Aku tidak melakukan sesuatu yang sifatnya memberontak, aku hanya tidak ingin melihat para kai-pang dibujuk untuk memusuhi para pendekar."
"Itu artinya sudah memberontak! Hayo menyerah menjadi tawanan kami atau terpaksa kami mempergunakan kekerasan untuk menangkapmu!"
"Aku tidak bersalah apa-apa, tidak sudi aku menyerah, dan silakan menangkap aku kalau kalian mampu!"
Tantang Pek I Lo-kai sambil tersenyum.
Para ketua kai-pang tidak ada yang berani mencampuri.
Bagaimanapun juga, dua orang itu adalah perwira kerajaan, kalau mereka memihak Pek I Lo-kai, tentu mereka akan dianggap pemberontak dan dimusuhi oleh pemerintah.
Kalau sudah dimusuhi pemerintah, tentu mereka akan celaka dan tidak mempunyai tempat untuk berpijak lagi, ke mana-mana akan dikejar-kejar pasukan pemerintah.
Maka, biarpun di dalam hati mereka herpihak kepada Pek I Lo-kai, mereka tidak berani menyatakan dengan terang terangan, dan hanya menonton saja.
"Bagus, kalau begitu terpaksa kami harus membunuhmu, pemberontak!"
Dua orang perwira itu menggerakkan pedang mereka dan menyerang dengan ganas.
Ternyata mereka adalah orang-orang yang pandai memainkan pedang dan serangan mereka cukup dahsyat.
Akan tetapi, dengan gerakan cepat dan tenang, Pek I Lokai sudah dapat mengelak dari serangan mereka.
Dua orang perwira itu menjadi semakin penasaran dan mereka berdua mendesak maju, mengirim serangan beruntun dengan pedang mereka.
Pek I Lo-kai meloncat ke belakang dan ketika dua orang itu mengejar dengan serangan pedang berikutnya, dia mulai menggerakkan tongkat bambunya untuk menangkis.
"Trang-trangg.....
Dua batang pedang itu tertangkis tongkat dan akibatnya, dua orang perwira itu terhuyung ke belakang.
Melihat ini, Sin-ciang Mokai melompat ke depan setelah memberi isyarat kepada rombongan dan menggerakkan tongkatnya mengeroyok Pek I Lo-kai.
Delapan orang anggauta rombongannya juga sudah bangkit berdiri dan meloloskan senjata masing-masing.
Mereka adalah para tokoh sesat di dunia kang-ouw yang sudah dapat terbujuk untuk membantu gerakan Ouw-bengcu yang mengumpulkan mereka untuk membantu pemerintah Mancu.
Pek I Lo-kai yang sudah mulai mendesak dua orang perwira itu, kini dikeroyok oleh sebelas orang yang masing-masing memiliki ilmu kepandaian silat yang cukup tangguh.
Para ketua kai-pang hanya menonton saja dengan muka berubah pucat.
Biarpun dalam hati mereka condong memihak Pek I Lo kai, namun mereka tidak ada keberanian untuk menentang mereka yang berpihak pemerintah, khawatir kalau mereka akan dianggap pemberontak dan dimusuhi pemerintah.
Melihat betapa Pek I Lo-kai dikeroyok sebelas orang, Lee Cin tentu saja tidak membiarkan saja hal itu terjadi tanpa turun tangan.
Ia merasa penasaran sekali melihat para ketua kai-pang yang tinggal diam sambil menonton sesepuh mereka dikeroyok.
Dengan gemas Lee Cin lalu meloncat ke depan dan berseru dengan suara lantang.
"Hei para kai-pangcu! Apakah kalian telah menjadi begitu pengecut membiarkan yang jahat mengeroyok sesepuh kalian?"
"Kami.,.... kami tidak ingin dianggap sebagai pemberontak!"
Kata ketua Hwa I Kai-pang dengan muka berubah merah. Para ketua lain juga mengangguk membenarkan ucapan ketua. Hwa I Kai-pang.
"Kami tidak ingin terlibat.....� kata ketua Hwa I Kai-pang dan mereka semua segera menjauhkan diri, tidak ingin terlibat dalam perkelahian itu. Lee Cin menjadi semakin gemas. Ia mencabut pedang Ang-coa-kiam dari lilitan di pinggangnya dan melompat ke dalam pertempuran sambil berseru.
"Lo cian-pwe Pek I Lokai, aku datang membantumu!"
Dan pedangnya lalu menerjang Sin-ciang Mo-kai yang merupakan pengeroyok paling berbahaya bagi Pek I Lo-kai.
Melihat sinar pedang putih yang menyilaukan mata menyambar ke arahnya, Sin-ciang Mo-kai menjadi terkejut sekali dan cepat dia membuang dirinya ke belakang sambil memutar tongkatnya melindungi tubuhnya.
Pedang itu menyambar bagaikan kilat saja.
Ketika Sin-ciang Mo-kai yang baru saja lolos dari serangan hebat itu bangkit berdiri, pedang itu sudah menyambar lagi dan cepat Sinciang Mo-kai menangkis dengan tongkatnya.
"Trangg..... !"
Tongkat itu hampir terlepas dari pegangan tangan Sin-ciang Mo-kai.
Dia menjadi semakin terkejut dan maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang gadis yang amat lihai dan ketika dia memperhatikan teringatlah dia bahwa gadis ini adalah gadis lihai yang dulu bersama Song Thian Lee pernah dia keroyok bersama rekan-rekannya di timur.
Maka dia tahu bahwa dia bukan lawan gadis itu dan dia segera berseru kepada kawan-kawannya untuk membantunya.
Para pengeroyok Pek I Lo-kai terkejut dan sebagian dari mereka meninggalkan kakek pengemis baju putih itu untuk mengeroyok Lee Cin.
"Nona yang baik, jangan sembarangan membunuh orang!"
Pek I Lo-kai berseru kepada Lee Cin ketika melihat betapa ganasnya pedang Lee Cin menyambar-nyambar.
Lee Cin cemberut.
Kakek itu dikeroyok orang-orang secara curang dan kini malah melarangnya membunuh para pengeroyok!
Sama seperti pendirian ayahnya yang tidak memperbolehkan ia mudah membunuh orang!
Maka iapun mengubah gerakan pedangnya dan kini ia hanya ingin merobohkan mereka tanpa membunuh.
Sementara itu, sebenarnya Pek I Lo-kai tidak membutuhkan bantuan Lee Cin.
Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi kakek itu akan mampu mengalahkan semua pengeroyoknya.
Kini, setelah sebagian pengeroyoknya meninggalkannya, lebih mudah baginya untuk mengalahkan para pengeroyok yang hanya tinggal lima orang itu.
Berturut-turut mereka itu roboh berpelantingan terkena tendangan atau hantaman tongkat bambu Pek I Lo-kai.
Demikian pula Lee Cin, dengan ilmu pedangnya yang hebat, ia telah membuntungi senjata-senjata para pengeroyoknya, bahkan ia berhasil menendang Sin-ciang Mo-kai sehingga roboh terguling-guling.
Namun Sin-ciang Mo-kai tidak terluka parah dan setelah melompat berdiri, dia lalu berseru kepada kawan-kawannya untuk lari meninggalkan gelanggang perkelahian.
Sebelas orang itu lalu melarikan diri, ada yang terpincang-pincang dan ada yang saling papah.
Pek I Lo-kai dan Lee Cin tidak melakukan pengejaran.
"Ha-ha-ha, nona yang lihai! Engkau mengingatkan aku akan muridku Tang Cin Lan!"
Lee Cin terbelalak. Jadi inikah guru Cin Lan? "Lo-cianpwe, kebetulan sekali aku mengenal baik enci Tang Cin Lan. Ia kini telah menjadi isteri Panglima Song Thian Lee."
"Bagus, siapakah namamu, nona?"
"Namaku Souw Lee Cin, lo-cianpwe."
"She Souw? Masih adakah hubunganmu dengan Beng-cu Souw Tek Bun?"
"Dia adalah ayahku, lo-cian-pwe, akan tetapi sekarang dia bukan beng-cu lagi."
"Aku sudah mendengar bahwa ayahmu telah mengundurkan diri. Sayang ketika itu aku tidak sempat datang ke Hong-san."
"Lo-cian-pwe, para ketua kai-pang ini sungguh menjemukan. Melihat lo-cian pwe dikeroyok, mereka hanya menjadi penonton saja. Bukankah lo-cian-pwe menjadi sesepuh mereka?"
Pek I Lo-kai menghela napas panjang dan memandang kepada para pengemis yang menjauhkan diri karena tidak mau terlibat.
"Jangan salahkan mereka. Mereka tentu takut melawan orang-orangnya pemerintah. Kalau pemerintah sudah memusuhi para pengemis, akan celakalah mereka, di mana-mana mereka akan ditangkap dan dikejar. Mereka tidak seharusnya membantu pemerintah, akan tetapi juga tidak perlu memusuhi pemerintah. Mereka harus berdiri bebas dan bekerja mengumpulkan sumbangan sehari-hari untuk keperluan hidup mereka."
Pada saat itu, para ketua kai-pang berdatangan memberi hormat kepada Pek I Lo-kai. Mereka merasa bersalah dan malu.
"Mohon pengertian dan maaf lo-cian pwe bahwa kami para ketua kai-pang tidak berani membantu melihat lo-cian pwe dikeroyok mereka,"
Kata ketua Hek I Kai-pang. Pek I Lo-kai tersenyum dan mengangguk-angguk.
"Aku sudah mengerti. Memang tidak perlu kalian dianggap musuh oleh pemerintah, akan tetapi kuperingatkan kalian semua, jangan sekali-kali mau diperalat pemerintah untuk memusuhi para pendekar dan patriot."
"Kami mengerti, lo-cian-pwe."
"Sudahlah, sekarang kalian boleh pergi, pulang ke tempat masing-masing dan bekerjalah seperti biasa. Kami berduapun harus pergi dari sini. Mari, Nona Souw, kita bicara di tempat lain!"
Kakek itu lalu meloncat dan pergi dari situ.
Melihat kakek itu mempergunakan gin-kangnya, Lee Cin juga berkelebat lenyap dari situ, mengagumkan para ketua kai-pang yang kemudian memimpin anak buah masing-masing untuk meninggalkan hutan itu.
Setelah mengerahkan ilmunya berlari cepat, barulah Lee Cin dapat menyusul kakek itu.
Pek I Lo-kai memang sengaja hendak menguji kepandaian gadis itu dan melihat betapa gadis itu mampu menyusulnya, dia tertawa kagum dan berhenti berlari.
Lee Cin juga berhenti.
"Hebat, ilmu kepandaian hebat, nona. Apakah engkau mendapatkan semua ilmu ini dari ayahmu Sin-kiam Hok-mo (Pedang Sakti Penaluk Iblis) Souw Tek Bun?"
"Dari ayahku, juga dari ibuku dan dari In Kong Thai-su."
"In Kong Thai-su ketua Siauw-limpai? Hebat sekali kalau engkau dapat mempelajari It-yang-ci darinya."
"Memang It-yang-ci yang telah diajarkan kepadaku, locian-pwe."
"Hebat! Dan siapa ibumu?"
"Ibuku pernah berjuluk Ang-tok Mo li,"
Kata Lee Cin agak ragu karena maklum bahwa nama julukan ibunya itu tidak terlalu harum, melainkan julukan seorang datuk sesat!
"Aha!
Jadi Ang-tok Mo-li itu isteri Souw Tek Bun?
Betapa anehnya dunia kang-ouw."
"Akan tetapi sekarang ayah dan ibuku telah hidup bersama di Hong-san. Lo-cian-pwe, sekarang kaum pendekar dan patriot terancam bahaya besar. Agaknya beng-cu yang sekarang, Ouw Kwan Lok itu, telah menjadi antek pemerintah Mancu dan melakukan gerakan baru. Mereka hendak menarik orang-orang kang-ouw untuk membantu pemerintah Mancu dan memusuhi para pendekar dan patriot! Sin-ciang Mo-kai tadipun merupakan orangnya Ouwbengcu. Kalau sampai semua kai-pang terpengaruh dan memusuhi para pendekar dan patriot, sungguh berbahaya, lo-cian-pwe."
Kakek itu mengelus jenggotnya dan menggeleng kepalanya.
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 10
Baca Juga: Pendekar Mata Keranjang 2