Eps 2 Rajawali Hitam - Kho Ping Hoo
Baca online Rajawali Hitam - Kho Ping Hoo
Cersil Rajawali Hitam - Kho Ping Hoo.
"Engkau membikin kami gelisah setengah mati! Ke mana saja engkau pergi?"
Tanya ayah yang merasa girang bukan main melihat anaknya yang kedua ini dalam keadaan selamat.
"Aku bermain-main di puncak, lalu tersesat dan tidak dapat turun sampai dua hari dua malam,"
Kata Tin Han. Nenek Cia menghampiri Tin Han dan memegang lengannya untuk merasakan denyut nadinya. Nenek itu mengerutkan alisnya dan memandang heran.
"Akan tetapi engkau tidak kelaparan! Apa saya, yang kau makan?"
Tanyanya sambil memandang dengan tajam penuh selidik. Tin Han maklum akan kelihaian nenek yang tentu tidak dapat dibohongi bahwa dia tidak makan apa-apa, maka diapun lalu berkata.
"Aku kelaparan dan aku memetik daun-daun muda untuk kumakan, nek. Dan minum air jernih. Untung tadi aku menemukan jalah turun."
Nenek Cia percaya dan dengan gembira keluarga itu membawa Tin Han pulang.
Demikianlah, mulai malam itu, Tin Han diam-diam meninggalkan rumahnya, lalu pergi keluar pintu gerbang utara, di mama Bu Beng Lo-jin sudah menunggu dan dia dibawa ke sebuah kuil tua yang sudah tidak dipakai lagi di luar hutan dan' mulai mengajarkan ilmu silat kepadanya.
Sungguh aneh.
Setelah diberi petunjuk oleh kakek itu, timbul keinginan Tin Han untuk belajar dengan sungguh-sungguh.
Pengalamannya tersesat di puncak itu agaknya telah menyadarkannya bahwa ilmu silat amat berguna untuk membela diri dari bahaya.
Untuk menghilangkan kecurigaan keluarganya, terutama nenek Cia, mulai hari itu Tin Han mau juga dilatih ilmu silat oleh ayahnya.
Dia mulai mengenal ilmu silat keluarga Cia, akan tetapi dibandingkan dengan kakaknya, Cia Tin Siong, dia ketinggalan jauh dalam ilmu silat keluarga mereka itu.
Semua ilmu yang dipelajarinya dari Bu Berg Lo-jin dirahasiakan dan tidak pernah diperlihatkan kepada siapapun juga.
Setelah mempelajari ilmu silat selama sepuluh tahun, dalam usia duapuluh tahun, Tin Han ditinggalkan Bu Beng Lo jin.
"Engkau sudah maju pesat sungguhpun belum mencapai kesempurnaan dalam ilmu silatmu. Dengan ilmu silatmu sekarang, agaknya sudah sukar dicari orang yang dapat mengalahkanmu. Sudah tiba waktunya kita berpisah, Tin Han. Ingat, Jangan sekali-kali menceritakan tentang diriku kepada siapapun juga."
Bu Beng Lo-jin meninggalkan Tin Han.
Pemuda ini dalam pandangan keluarganya tetap sebagai seorang pemuda yang lebih pandai ilmu sastra ketimbang !mu silat.
Mereka menganggap bahwa ilmu silat yang dikuasai Tin Han tidak terlalu tinggi, tidak seperti yang dikuasai Cia Tin Siong.
Dan selalu Tin Han juga bersikap seperti seorang pemuda yang lemah lembut.
Akan tetapi pemuda ini mewaris watak patriot dari keluarganya.
Ia pun membenci pemerintah penjajah Manchu.
Dia tidak dapat tinggal diam saja meliha betapa penjajah Mancu menguasai tanah airnya.
Berbeda dengan keluarganya yang menentang penjajah secara terang-terangan, Tin Han menentang secara diam-diam Bahkan setiap kali dia melakukan sesuatu untuk menentang para penjajah, dia selalu mengenakan pakaian hitam dan juga topeng hitam sehingga dia hanya dikenal sebagai Si Kedok Hitam.
Hanya ada perbedaan antara sikap Tin Han dan sikap keluarga Cia.
Keluarga.
Cia membenci semua orang yang memegang kedudukan sebagai pembesar Mancu dan memusuhi mereka.
Bahkan keluarga Cia tidak segan-segan untuk bersekutu dengan orang-orang golongan hitam untuk memberontak.
Akan tetapi Tin Han tidak demikian.
Dia seorang patriot sejati yang tidak sudi bersekutu dengan perjahat, bahkan dia bersikap sebagai seorang pendekar yang menentang kejahatan walaupun hal ini dilakukan dengan diam-diam pula.
Setelah ditinggalkan gurunya, banyak yang sudah dikerjakan Tin Han secara diam-diam.
Bahkan ketika dia mendengar betapa Beng-cu, yaitu pemimpin dunia kangouw, direstui oleh pemerintah Mancu, dia menjadi penasaran dan menganggap Beng-cu itu sebagai antek Mancu.
Diam-diam dia lalu mendatangi Beng-cu Souw Tek Bun di Hong-san dan menantangnya.
Dalam pertandingan yang seru, dia terluka sedikit lengannya oleh pedang yang lihai dan Souw Tek Bun, akan tetapi sebaliknya, dia berhasil memberi pukulan yang dahsyat kepada Beng-cu itu sehingga Souw Tek Bun menderita luka lalam yang cukup parah.
Perbuatan inilah yang membuat Souw Lee Cin mendendam kepada Si Kedok Hitam!
Ia mendengar dari ayahnya bahwa penyerangnya adalah seorang pemuda berkedok hitam dan Lee Cin berangkat pergi untuk mencari Si Kedok Hitam untuk membalas dendam.
Dalam kisah Dewi Ular sudah diceritakan dengan jelas tentang pertemuan Lee Cin dengan Si Kedok Hitam.
Akan tetapi berulang kali Si Kedok Hitam menyelamatkan Lee Cin sehingga membuat gadis ini menjadi bingung.
Di satu pihak dia mendendam kepada Si Kedok Hitam, yang sudah melukai ayahnya akan tetapi di lain pihak berulang kali dia diselamatkan oleh Si Kedok Hitam.
Paling akhir, kembali Lee Cin yang dikeroyok keluarga Cia diselamatka oleh Si Kedok Hitam.
Gadis ini lari bersembunyi dan mengintai bagaimana Si Kedok Hitam dikeroyok oleh keluargga Cia.
Ia melihat pula ketika Nenek Cia menggunakan tongkatnya untuk merenggut lepas topeng hitam sehingga ia melihat bahwa Si Kedok Hitam itu bukan lain adalah Cia Tin Han!
Akan tetapi ketika itu, Nenek Cia yang marah sekali melihat bahwa orang yang selama ini menentangnya adalah cucunya sendiri, mengiri tendangan yang membuat Tin Han terlempar dan jatuh ke dalam jurang yang teramat dalam!
Akan tetapi ketika gadis itu mencari jenazah pemuda yang terjatu dari tempat yang demikian tinggi, ia tidak dapat menemukan jenazah itu!
Tin Han telah lenyap seperti ditelan bumi.
Apakah yang telah terjadi dengan Tin Han?
Benarkah dia mati ketika terjatuh ke dalam jurang yang demikian dalamnya?
Tuhan Yang Maha Kuasa agaknya belum menghendaki kematian pemuda ini!
Ketika dirinya tertendang dan terlempar jatuh ke dalam jurang, Tin Han masih sadar.
Dia merasakan tubuhnya melayang, makin lama semakin cepat dan dia tidak dapat berdaya.
Kepalanya menjadi pening dan matanya menjadi gelap.
Dia tidak dapat berdaya untuk menolong diri sendiri, maka diapun sudah pasrah saja, memejamkan matanya dan menghadapi kematian.
Namun tiba-tiba sekali sesosok bayangan hitam menyambar dari atas dan Tin Han merasa tubuhnya tertahan dari kejatuhannya.
Punggung bajunya terkait sesuatu, akan tetapi tubuhnya tidak berhenti melainkan melayang terus ke depan, tidak jatuh ke bawah!
Diapun mendengar kelepak sayap burung.
Ketika dia berdongak dan memandang ke atas, matanya terbelalak dan dia terkejut setengah mati karena mendapatkan dirinya dicengkeram oleh seekor burung rajawali hitam yang sangat besar!
Cengkeraman kaki burung itulah yang mengait punggung bajunya dan kini burung itu membawanya terbang ke arah depan, dengan kecepatan yang membuat dia pening!
Tin Han menggoyang kepalanya untuk mengusir kepeningannya dan mulai berpikir.
Apa yang harus dilakukannya?
Kalau dia meronta dan memegang kaki burung lalu menghantamnya, tentu dia akan celaka.
Kalau burung itu melepaskan cengkeram kakinya, tentu dia akan terjatuh ke bawah!
Akan tetapi kalau membiarkan dirinya, dia hendak dibawa ke manakah?
Mungkin ke sarang burung itu, di mana dia, akan dimangsa bersama anak-anaknya.
Akan tetapi kemungkinan kedua ini lebih baik.
Kalau dia sudah dilepaskan oleh burung itu, dimana saja, baru dia akan melawan burung itu dan mengusirnya.
Maka, diapun diam saja dan diam-diam mengumpulkan hawa murni untuk menghimpun kekuatan agar nanti dapat dipergunakan untuk melawan burung rajawali hitam yang amat besar ini.
Dari atas dia melihat bahwa rajawali hitam itu membawanya terbang ke arah sebuah bukit, bukan lagi bukit Lo-sian, melainkan sebuah bukit yang berdekatan dengan Lo-sian-san.
Dia teringat bahwa bukit itu disebut Bukit Hitam karena dari jauh hutan-hutannya yang lebat membuat bukit itu tampak menghitam.
Hutan-hutannya amat besar dan liar, dan kabarnya tidak pernah ada orang berani memasuki hutan itu.
Dan kini rajawali hitam itu membawanya ke bukit yang menakutkan itu!
Setelah tiba di atas bukit itu, rajawali mulai turun lalu terbang berputaran di atas puncak bukit.
Tak lama lagi aku tentu akan diturunkan di sarangnya, pikir Tin Han dan dia sudah bersiap-siap untuk menyerang begitu diturunkan.
Kini rajawali hitam itu terbang berputaran di atas sebuah pondok yang terdapat di puncak itu!
Sebuah pondok!
Tempat tinggal manusia, bukan sarang burung.
Beberapa kali burung itu mengeluarkan teriakan yang melengking, memekakkan telinga Tin Han.
Dia melihat dua orang keluar dari pintu pondok itu dan mereka berdongak ke atas, lalu menuding-nuding ke arah burung.
Seorang di antara mereka lalu berseru dengan suara nyaring.
"Hek-tiauw ko (Rajawali Hitam), turunkan pemuda itu di sini perlahan-lahan!"
Burung itu seperti mengerti ucapan orang itu, lalu menyambar turun dan setelah dekat dengan tanah, dia melepaskan cengkeramannya.
Tin Han melompat turun dan dapat hinggap di atas tanah dengan selamat.
Burung itupun turun tak jauh dari situ, lalu membersihkan bulu-bulunya dengan paruhnya.
Tin Han merasa kecelik.
Burung itu tidak hendak menjadikan dia sebagai mangsanya, melainkan menyerahkan kepada majikannya.
Dia cepat memutar tubuh menghadapi kedua orang itu dan dia terbelalak, lalu cepat menjatuhkan dirinya berlutut.
"Suhu.......... !!!"
Dia berseru girang sekali. Kiranya seorang di antara kedua orang itu adalah Bu Beng Lo-jin, gurunya ang sudah hampir dua tahun meninggalkannya.
"Tin Han, tidak kami sangka engkau orangnya yang dibawa Hek-tiauw-ko ke sini. Bagaimana asal mulanya engkau dapat dibawa burung itu ke sini?"
"Suhu, kalau tidak ada burung rajawali itu yang menolong teecu, sekarang teecu tentu sudah mati. Teecu terjatuh dari tebing gunung yang amat curam, lalu disambar oleh burung rajawali ini."
"Ha-ha-ha, sungguh kebetulan sekali. Memang burung itu dilatih untuk itu. Dan engkau harus menghaturkan terima kasihmu kepada sahabatku ini. Karena Thay Kek Cinjin inilah yang menjadi majikan Hek-tiauw-ko!"
Bu Beng Lojin menunjuk kepada seorang kakek lain yang sejak tadi berdiri di sebelahnya.
Tin Han memandang kakek itu dan terkejut melihat sinar mata kakek itu yang ketika memandangnya dia merasa seperti ada kilat menyambar.
Begitu penuh wibawa sinar mata itu.
Tin Han lalu berlutut di depan kakek itu dan berkata.
"Teecu Cia Ti Han menghaturkan terima kasih kepada locian-pwe."
Kakek itupun berjenggot panjang dan dia mengelus jenggotnya sambil berseru.
"Sungguh kalau sudah jodoh tak dapat dihalangi lagi. Hek-tiauw-ko sudah menyelamatkanmu, itu berarti sudah jodoh. Dan pinto (saya) tidak dapat menentang takdir. Bu Beng Lo-jin, kebetulan sekali yang berjodoh itu muridmu sendiri sehingga pinto tidak akan meragukan lagi wataknya!"
"Ha-ha-ha! Tin Han, mengertikah engkau? Cepat haturkan terima kasih karena baru saja They Kek Cin-jin ini menerima engkau menjadi muridnya! Peruntunganmu sungguh baik sekali. Terlepas dari cengkeraman maut bahkan bertemu dengan seorang manusia dewa yang sukar dicari keduanya di dunia ini, ha-ha ha!"
Tin Han terkejut dan girang sekali. Kiranya kakek tadi bicara soal jodoh antara guru dan murid. Tentu saja dia girang dan cepat dia memberi hormat sambil berlutut, lalu menyebut.
"Suhu, teecu siap melaksanakan semua petunjuk suhu."
Kakek yang disebut sebagai Thay sek Cin-jin itu mengangguk-angguk dan berkata.
"Tin Han, jangan lupa mengucapkan terima kasih kepada Hek-tiauw-ko atau dia akan menganggap engkau seorang manusia yang tidak mengenal budi."
Tin Han lalu bangkit berdiri dan menghampiri burung itu.
Burung itu besar sekali, tingginya lebih dari Tin Han.
Tin Han lalu mengangkat kedua tangan ke depan dada, memberi hormat kepada burung itu dan berkata.
"Hek-tiauw-ko, aku mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu yang sudah menyelamatkan nyawaku."
Burung itu mengangkat muka ke atas dan mengeluarkan bunyi nyaring tiga kali, kemudian mengebut-ngebutkan sayapnya dan terbang melayang berputaran di atas pondok itu.
Dua orang kakek itu tertawa dan Thay Kek Cin-jin berkata.
"Hek-tiauw-ko tidak mengenal terima kasih dan sikap Tin Han hanya membuat dia malu."
Diam-diam Tin Han kagum bukar main kepada burung itu. Bu Beng Lo-jin lalu menghampirinya dan berkata.
"Nah, Tin Han. Engkau berdiamlah di sini dan jadilah murid yang baik dari Thay Kek Cin-jin."
"Ha-ha-ha, Bu Beng Lo-jin. Pinto tidak dapat lama-lama berdiam di sini. Paling lama pinto hanya dapat mengajarkan ilmu selama tiga bulan saja kepada Tin Han,"
Kata Thay Kek Cin-jin. Bu Beng Lo-jin lalu berkata lagi kepada Tin Han.
"Tin Han, kalau dia mau mengajarmu selama tiga bulan, itu sama saja dengan kalau engkau belajar selama sepuluh tahun dariku. Cepat haturkan terima kasih!"
Tin Han terkejut dan girang, lalu menghaturkan terima kasih kepada gurunya yang baru.
"Thay Kek Cin-jin, sekarang terpaksa aku harus meninggalkan tempat ini. Sudah tiga hari tiga malam aku tinggal sini, sudah cukup lama. Selamat berpisah kawan, dan engkau rajin-rajinlah mempelajari ilmu di sini, Tin Han!"
"Sian-cai ...... engkau selalu melakukan perjalanan. Kapankah perjalananmu itu akan berhenti, sobat?"
Kata Thay Kek Cin-jin.
"Bukankah hidup ini suatu perjalanan? Aku menurutkan hati dan kakiku, Cin-jin dan selama ini hati dan kakiku tak pernah mengecewakan aku. Nah, selamat tinggal!"
Setelah berkata demikian, Bu Beng Lo-jin berkelebat dan lenyap dari situ.
"Nah, Tin Han. Pinto hanya dapat memberi bimbingan kepadamu selama tiga bulan saja. Karena itu pinto harus melihat dulu sampai di mana tingkat kepandaianmu. Hektiauw-ko yang akan menjadi teman berlatih untukmu."
Kakek itu lalu mengeluarkan suara melengking pendek dan burung rajawali hitam itu lalu menyambar turun dan hinggap di atas tanah depan Thay Kek Cin-jin.
"Hek-tiauw-ko, engkau harus melayani Tin Han ini berlatih setiap kali dikehendakinya. Sekarang, ujilah kepandaiannya, akan tetapi jangan melukainya!"
Burung itu seperti mengerti ucapan orang dan dia lalu berloncatan menghadapi Tin Han, lain mengeluarkan suara pendek tiga kali seperti menantang bertanding!
"Bersiaplah, Tin Han.
Jangan pandang ringan Hek-tiauwko atau engkau akan dirobohkan dalam beberapa gebrakan saja!
Mulailah, engkau boleh menyerangnya lebih dulu!"
Tin Han menaati perintah ini. Dia lain menerjang ke depan untuk menghantam ke arah dada burung rajawali itu.
"Wuuuutt ..... plakk!"
Tin Han terkejut sekali ketika sayap burung itu menangkis pukulannya dan hampir saja dia terpelanting.
Demikian kuatnya sayap itu.
Hal ini membuatnya lebih berhati-hati dan dia lalu menerjang lagi, menampar ke arah kepala burung sambil melompat ke atas.
Akan tetapi kembali sayap burung menangkis dan Tin Han menarik kembali tamparannya lalu kakinya menendang ke arah perut burung.
Hek-tiauw-ko kembali dapat mengelak dan mereka lalu bertanding dengan serunya.
Tin Han membatasi pukulannya karena dia tidak mau melukai burung yang telah menyelamatkan nyawanya.
Burung itupun menyerang dengan patukan paruhnya dan sabetan sayapnya.
Akan tetapi Tin Han yang maklum akan besarnya tenaga burung itu, mempergunakan kelincahannya untuk mengelak dan balas menyerang.
Akan tetapi sampai limapuluh jurus, belum juga dia dapat mengalahkan Hektiauw-ko, bahkan ketika burung itu membuka kedua sayapnya dan menyerang dengan kedua sayap bergantian, dia menjadi terdesak dan terhuyung.
"Cukup!"
Kata Thay Kek Cin-jin dan burung itupun menghentikan gerakannya dan melompat ke belakang. Juga Tin Han menghentikan gerakannya, lalu menghadap gurunya.
"Bagus, ternyata tidak sia-sia Bu Beng Lo-jin memimpinmu selama sepuluh tahun, Tin Han. Ilmu kepandaianmu sudah cukup bagus dan kalau engkau tidak membatasi tenagamu, belum tentu Hek-tiauw-ko akan mampu mempertahankan diri terhadap serangamu. Dalam waktu tiga bulan ini, pinto akan mengajarkan cara menghimpun sin-kang untuk memper kuat sin-kang dalam tubuhmu dan semacam ilmu silat tangan kosong yang pinto ambil dari gerakan-gerakan Hek-tiauw-ko. Ilmu silat ini boleh kau namakan Hektiauw-kun (Silat Rajawali Hati Kosong). Disebut demikian karena untuk dapat menghimpunnya, engkau harus dapat mengosongkan semua hati akal pikiranmu, dan kalau engkau sudah dapat melatih sampai ke puncaknya, kiranya akan sukar ada orang dapat menandingi sin-kangmu itu. Nah, kini perhatikan Hektiauwkun yang harus kaupelajari baik-baik."
Kakek itu lalu bersilat dan banyak gerakannya mirip dengan gerakan burung rajawali, kedua lengan menjadi seperti sayap dan kedua kaki menjadi cakar.
Bahkan kepala dapat dipergunakan untuk menyerang seperti seekor burung rajawali menyerang dengan paruhnya.
Mulai hari itu, Tin Han belajar ilmu silat dengan tekun sekali.
Selain mempelajari ilmu silat, diapun melayani suhunya dengan baik.
Mencarikan sayur-sayuran yang disukai gurunya, memasakkan masakan dan mencarikan air minum.
Semua dilakukan dengan tekun dan penuh perhatian sehingga hati Thay Kek Cin-jin menjadi semakin suka kepada pemuda itu.
Baru sebulan belajar, Hektiauw-ko sudah tidak mampu melawannya.
Dalam belasan jurus saja dia sudah mampu merobohkan burung itu sehingga terpelanting dan akhirnya burung itu tidak mau lagi diajak berlatih!
Waktu berlalu dengan amat cepatnya dan tahu-tahu tiga bulan telah lewat!
Akan tetapi, Tin Han sudah mampu menguasai dua ilmu itu dalam waktu tiga bulan!
Hal ini bukan karena ilmunya yang mudah dipelajari, akan tetapi karena dia telah memiliki dasar yang kuat yang diberikan oleh Bu Beng Lo-jin dan terutama sekali karena ketekunannya.
Setiap hari dia berlatih sampai jauh malam!
Setelah lewat tiga bulan, pada suatu hari Thay Kek Cinjin memanggilnya.
Tin Han yang telah tahu bahwa waktunya tiba, segera menghadap kakek itu dan dia berlutut di depan kakinya.
"Tin Han, engkau tentu telah mengetahui bahwa waktu tiga bulan yang kuberikan kepadamu telah tiba. Hari ini engkau harus berpisah dari pin-to. Pinto sendiri akan pergi meninggalkan tempat ini dan entah kapan akan kembali. Pesan pin-to yang terakhir, jangan meniru perbuatan keluarga Cia yang demi perjuangan tidak segan untuk bersekutu dengan orang jahat dan orang Jepang seperti yang telah kauceritakan kepada pin-to. Pendapatmu sudah benar. Perjuangan mengusir penjajah Mancu baru akan dapat terlaksana kalau semua orang gagah semua penjuru bersatu menghimpun tenaga rakyat, karena hanya rakyat dengan pimpinan pendekar patriot sejati saja yang akan mampu mengusir penjajah Mancu yang saat ini sangat kuat. Sebelum mendapat kesempatan ke arah itu, engkau bertindaklah sebagai seorang pendekar yang memperjuangkan kebenaran dan keadilan, menolong yang lemah tertindas dan menentang yang kuat sewenang-wenang. Ingat, banyak pejabat Mancu yang terdiri dari orang-orang Han yang gagah perkasa dan mereka itu sedikit banyak mengurangi penindasan yang dilakukan pemerintah terhadap rakyat. Kebiasaan yang dahulu dengan menyembunyikan diri di balik kedok adalah suatu hal yang baik dan menguntungkan. Membantu dan menolong orang tidak perlu menonjolkan diri dan tidak perlu dikenal, selain itu engkau tidak mudah dicari oleh orang-orang Mancu yang mungkin akan mengejar ngejarmu sebagai seorang penjahat yang menentang pemerintah. Mengertikah engkau, Tin Han?"
"Teecu mengerti, suhu. Ada satu hal yang. Teecu mengharapkan akan mendapat persetujuan suhu."
"Hemm, katakanlah. Apa itu?"
"Kalau teecu menyembunyikan diri di balik kedok, teecu harus menyembunyikan juga nama aseli teecu. Karena itu, kalau suhu menyetujui, teecu akan memakai nama Hektiauw-ko sebagai nama samaran karena biasanya teecu memang suka mempergunakan pakaian serba hitam."
"Ha-ha-ha, bagus sekali! Pin-to setuju! Engkau boleh memakai nama Hektiauw Eng-hiong (Pendekar Rajawali Hitam), akan tetapi ingat, jangan mencemarkan nama baik Hek-tiauw-ko yang pernah menyelamatkan nyawamu."
"Teecu akan menaati semua pesan suhu."
"Nah, sekarang pin-to akan pergi!"
Kakek itu lalu mengeluarkan pekik melengking pendek dan tak lama kemudian Hek-tiauw-ko terbang menyambar ke bawah. Tin Han cepat menghampiri burung itu dan merangkul lehernya.
"Hektiauw-ko, kita akan berpisah. Yang baik-baik menjaga suhu dan dirimu sendiri."
Hati Tin Han terharu juga karena burung raksasa itu telah menjadi sahabat baiknya, bahkan menjadi teman berlatihnya.
Thay Kek Cin-jin lalu melompat dan dengan ringan tubuhnya melayang naik ke atas punggung burung itu.
"Hek tiauw-ko mari kita pergi!"
Katanya dan sekali kakinya menendang, burung itu mengembangkan sayapnya dan terbang ke atas dengan cepatnya.
Tin Han mengikuti dengan pandang mata kagum.
Dia sendiri selama beberapa bulan di situ, sudah pernah beberapa kali menunggang Hek-tiauw-ko dan dibawa terbang sampai ke awan di langit.
Setelah berputar beberapa kali, burung itu mengeluarkan pekik nyaring beberapa kali seolah memberi salam kepada Tin Han, lalu dia melayang jauh.
Tin Han memandang sampai titik hitam itu lenyap dari pandang matanya.
Kemudian diapun meninggalkan tempat itu sambil menikmati pemandangan alam yang tampak dari puncak itu.
Jalan menuruni bukit penuh dengan hutan belukar, akan tetapi dengan hati ringan dia memasuki hutan.
Halangan jurang kalau tidak terlalu lebar dia lompati dengan mudah.
Setelah dia melatih diri dengan Khong-sim Sin-kang, tubuhnya terasa ringan dan lompatannya juga amat jauh.
Dia merasa berkewajiban untuk mencari keluarganya, setidaknya mencari ayah ibunya.
Betapapun marahnya ayah ibunya, dia yakin kalau melihat dia yakin kalau melihat dia selamat mereka tentu akan merasa senang sekali.
Kalau neneknya masih marah kepadanya, dia akan minta ampun kepada neneknya yang amat galak itu.
Dia lalu menggunakan ilmu berlari cepat menuruni lereng bukit itu.
-ooOoo-Pegunungan Hong-san tampak indah berseri karena musim bunga telah tiba.
Di mana-mana pada permukaan pegunungan itu tampak kehijauan dihias warna-warni bunga beraneka ragam.
Indah sekali di pegunungan kalau musim semi atau musim bunga tiba.
Dan suasana yang indah itu menjadi meriah dan indah sekali dengan beterbangannya ratusan ekor kupu-kupu yang juga berwarna-warni.
Burung-burung berkicau di pohon-pohon dengan suara riang gembira.
Souw Lee Cin ikut merasakan suasana yang cerah dan riang gembira itu.
Hatinya juga gembira karena ia akan bertemu dengan ayahnya.
Telah lama ia meninggalkan ayahnya dan merasa rindu.
Juga dengan penuh harapan ia mendaki bukit Hong-san itu, harapan untuk melihat ibunya berada di puncak menemani ayahnya!
Setelah tiba di pondok yang berada di puncak gunung Hong-san, harapan Lee Cin terpenuhi.
Dengan girang sekali ia melihat ayahnya keluar dari pondok menyambutnya, dengan Ang-tok Mo-li Bu Siang di sisinya!
Dan ibunya juga tampak cantik dan bersih, sinar matanya cemerlang dan tidak ada lagi sinar kejam yang dahulu tampak dari pandang mata ibunya.
Dari pandang mata dan senyum di bibir ibunya, ia dapat mengetahui bahwa ibunya merasa berbahagia!
"Ayah.........
Ibu.........
Lee Cin berlari menghampiri dan di lain saat ia telah berangkulan dengan ibunya.
Dan Lee Cin tidak dapat menahan lagi air matanya!
Air mata bahagia dan sekaligus air mata kedukaan!
Melihat ibunya kini berbahagia dengan ayahnya tentu saja ia merasa senang, akan tetapi juga mengingatkan ia kepada Cia Tin Han yang membuatnya terharu dan bersedih.
"Eh? Kenapa engkau menangis, anakku?"
Bu Siang bertanya heran sekali.
Sepanjang pengetahuannya, ketika Lee Cin masih hidup bersamanya, gadis itu berhati keras dan pantang menangis.
Kini, pertemuan begitu saja membuatnya menangis!
Hal ini jelas menunjukkan bahwa perangai anaknya itu telah menjadi halus.
"Aku menangis karena bahagia melihat engkau telah berada di samping ayah, ibu!"
Kemudian iapun melepaskan rangkulannya dan memberi hormat kepada, ayahnya.
"Mari, mari kita masuk dan bicara di dalam, Lee Cin."
"Nah, sekarang ceritakan tentang hal yang paling penting. Tentang ibumu tidak usah kauceritakan karena aku telah mendengar semuanya dari ibumu."
"Lalu apa yang harus kuceritakan lebih dulu, ayah?"
"Tentang urusanku hendak mengundurkan diri dari jabatan Beng-cu. Apakah engkau sudah menyampaikan kepada Hui Sian Hwe-sio atau Im Yang Sengcu tentang keputusanku itu?"
"Aku sudah menghadap Hui Sian Hwe-sio dan suhu In Kong Thai-su dan menyampaikan keinginan ayah kepada mereka. Dua orang tua itu lalu mengatakan bahwa pengunduran diri ayah itu sebaiknya disampaikan dalam rapat pertemuan yang akan diadakan di sini dalam bulan ini juga. Dalam rapat itupun akan dibicarakan tentang orang-orang kang-ouw yang terbujuk oleh para bajak laut Jepang untuk melakukan pemberontakan. Karena itu, kita harus bersiap menerima banyak orang kang-ouw yang akan berdatangan ke sini atas undangan Hui Sian Hwe-sio dan suhu In Kong Thai-su."
Souw Tek Bun mengangguk-angguk.
"Memang sebaiknya begitu. Akan lebih sah lagi kalau pengunduran diriku diputuskan dalam rapat pertemuan itu. Sekarang ceritakan bagaimana dengan hasil penyelidikanmu tentang Si Kedok Hitam."
Wajah Lee Cin berubah muram mendengar pertanyaan ini karena ia segera teringat akan Cia Tin Han yang terjatuh ke dalam jurang yang teramat dalam itu.
Bu Siang adalah seorang wanita yang berpengalaman.
Melihat perubahan pada wajah anaknya, ia lalu bertanya.
"Eh, apa yang telah terjadi, Lee Cin? Pertanyaan ayahmu tentang Si Kedok Hitam agaknya mendatangkan duka di hatimu."
Lee Cin terkejut. Ia tidak mengira bahwa ibunya telah dapat membaca isi hatinya. Maka iapun mengambil keputusan untuk berterus terang.
"Ayah, aku sudah temukan Si Kedok Hitam. Akan tetapi ternyata dia bukan seorang jahat. Bahkan tiga empat kali dia menyelamatkan nyawaku dari ancaman bahaya yang mengancam diriku. Aku sudah bertanya kepadanya tentang penyerangannya kepada ayah dan dia menjawab sejujurnya bahwa memang benar dia yang melakukannya. Akan tetapi dia katakan bahwa hal itu dilakukan hanya untuk memperingatkan ayah. Dia menganggap bahwa ayah adalah seorang beng-cu dukungan pemerintah Mancu. Dia seorang patriot sejati, ayah, maka dia tidak senang kalau ada orang Han membantu pemerintah penjajah Mancu. Diapun bilang bahwa dia juga terluka lengannya oleh pedang ayah. Bagaimana aku dapat mendendam kepadanya, ayah? Dia menyerang ayah dengan alasan kuat dan sebaliknya dia telah berulang kali menyelamatkan nyawaku. Pantaskah kalau aku memaksanya mengadu ilmu dan nyawa?"
Souw Tek Bun menghela napas.
"Sudah kuduga demikian. Dia memang tidak bermaksud membunuhku karena kalau hal itu dilakukan, tentu sekarang aku sudah tidak berada di dunia ini. Dan alasannya memang kuat. Sebetulnya itulah sebabnya mengapa aku hendak mengundurkan diri. Pengangkatanku sebagai beng-cu disaksikan dan direstui oleh orang-orang pemerintah Mancu. Hal ini membuat aku merasa tidak enak, seolah-olah aku diangkat oleh pemerintah Mancu. Padahal, di sudut hatiku sendiri aku tidak suka kepada pemerintah Mancu yang menjajah tanah air kita. Sudahlah, Lee Cin, urusanku dengan Si Kedok Hitam sudah kuanggap selesai dan tidak perlu lagi kita mencarinya, tidak perlu kami saling mendendam. Mungkin dia yang berada di pihak yang benar."
Mendengar ini, wajah Lee Cin semakin muram. Apa artinya menghabiskan permusuhan itu kalau Si Kedok Hitam telah tewas? "Kenapa engkau masih merasa berduka, Lee Cin?"
Tanya ibunya.
"Aku teringat kepada Si Kedok Hitam, ibu. Sudah kukatakan tadi betapa sudah beberapa kali dia menyelamatkan diriku dari ancaman bahaya. Dan yang terakhir kalinya, ketika dia menolong dan membelaku, dia terkena tendangan yang membuat dia terlempar dan jatuh ke dalam jurang yang teramat dalam. Aku......... aku sudah mencari jenazahnya, akan tetapi tidak berhasil. Ia mati dalam keadaan mengerikan, bahkan jenazahnya tidak dapat kutemukan."
Lee Cin tidak dapat menahan kesedihannya dan cepat menggunakan ujung lengan bajunya untuk menyusut beberapa titik air mata yang membasahi pipinya.
Bu Siang dan Souw Tek Bun saling pandang.
Mereka sudah cukup tua untuk dapat menduga apa yang bergolak dalam Kati puteri mereka.
"Lee Cin, kau..... kau cinta padanya?"
Tanya Bu Siang.
Lee Cin memandang kepada ibunya, tidak dapat menjawab dan tiba-tiba ia menubruk dan merangkul ibunya sambil menangis!
Ulahnya ini sudah merupakan jawaban yang jelas sekali bagi suami isteri itu.
Mereka juga ikut berduka bahwa puteri mereka jatuh cinta kepada seorang yang telah mati!
"Lee Cin, tenangkan hatimu,"
Kata Souw Tek Bun dengan suara menghibur.
"Kaukatakan sendiri bahwa engkau tidak berhasil menemukan jenazahnya! Hal itu berarti bahwa sangat boleh jadi dia belum mati."
Lee Cin melepaskan rangkulan pada ibunya, menyusut air matanya dan memandang kepada ayahnya dengan mata basah.
"Bagaimana mungkin itu, ayah? Tinggi tebing dari mana dia terjatuh itu ribuan kaki. Ketika dari atas tebing aku menjenguk ke bawah, dasarnya tidak nampak, yang tampak hanya kabut. Tidak mungkin seseorang yang terjatuh ke dalam jurang yang demikian dalamnya masih dapat selamat."
"Akan tetapi buktinya, ketika engkau menuruni tebing itu, engkau tidak dapat menemukan jenazahnya, bukan? Tidak mungkin jenazah hilang begitu saja. Banyak peristiwa aneh terjadi di dunia anakku. Siapa tahu Si Kedok Hitam itu dapat tertolong ketika dia melayang jatuh dari atas tebing itu."
Mendengar ucapan ayahnya, wajah yang muram itu mendapatkan sinar kembali. Sinar harapan yang memenuhi hatinya dan terpancar keluar dari pandang matanya.
"Lee Cin,"
Kata ibunya.
"Engkau hanya menyebut dia Si Kedok Hitam. Sebetulnya siapakah dia? Siapa namanya? "Namanya Cia Tin Han, ibu."
"Di mana dia tinggal?"
"Tadinya keluarganya tinggal di Hui-cu."
"Ahhh! Apakah dia mempunyai hubungan dengan keluarga Cia, keluarga pendekar yang tinggal di Hui-cu itu?"
"Benar, ibu. Dia putera kedua."
"Lalu siapa yang menendangnya sampai dia terjatuh ke dalam jurang itu?"
"Yang menendangnya adalah Nenek Cia, neneknya sendiri."
"Ehhhh? Ini membingungkan!"
"Lee Cin, lebih baik engkau ceritakan semua dengan jelas tentang engkau dan Cia Tin Han itu, dan tentang Keluarga Cia di Hui-cu."
Karena sudah menceritakan tentang perasaan hatinya terhadap Cia Tin Han, mau tidak mau Lee Cin harus menceritakan semuanya.
"Keluarga Cia di Hui-cu adalah keluarga pendekar patriot yang membenci pemerintah Mancu, bahkan membenci semua orang Han yang bekerja kepada pemerintah penjajah. Akan tetapi mereka telah bersekutu dengan Phoa-ciangkun yang memberontak, dan bersekutu pula dengan orang-orang Jepang."
"Aih, sungguh sayang. Banyak patriot yang berpemandangan sempit, mau saja diperalat oleh pengkhianat dan orang asing,"
Kata Souw Tek Bun.
"Karena di Hui-cu muncul Si Kedok Hitam yang mendatangi para pembesar Han, aku menjadi curiga kepada keluarga itu. Tadinya kusangka bahwa yang menjadi Si Kedok Hitam yang telah melukai ayah adalah Cia Tin Siong, cucu pertama Nenek Cia, sehingga aku ingin menantangnya. Akan tetapi, setelah beberapa kali aku terancam bahaya maut dan Si Kedok Hitam muncul menolongku, aku menjadi sangsi. Cucu Nenek Cia yang kedua, adalah Cia Tin Han akan tetapi pemuda itu merupakan pemuda yang paling lemah di antara keluarga Cia. Agaknya dia tidak mempelajari ilmu silat secara mendalam dan lebih suka mempelajari sastra. Dan diapun tidak setuju melihat keluarganya bersekutu dengan orang-orang Jepang. Cia Tin Han seorang patriot sejati yang lebih mengandalkan kekuatan rakyat untuk mengusir penjajah. Karena sikap keluarganya itu, aku jadi bentrok dengan mereka. Apa lagi setelah aku bertemu dengan kakak Song Thian Lee yang sebagai panglima muda menyamar dan melakukan penyelidikan ke timur. Aku bekerja sama dengan kakak Song akan tetapi kami tertawan oleh Keluarga Cia yang dipimpin oleh Nenek Cia, kami dikeroyok oleh para pemberontak dan orang-orang Jepang. Dan ketika kami ditawan, kami dibebaskan oleh Si Kedok Hitam. Kakak Song Thian Lee lalu memimpin pasukan menyerbu Keluarga Cia yang melarikan diri. Ketika aku bertemu mereka, kembali aku tertawan. Ketika aku terancam, muncul Si Kedok Hitam yang menolongku dan menyuruh aku melarikan diri. Aku berlari dan mengintai ketika Si Kedok Hitam menahan serangan semua keluarga Cia. Aku melihat tongkat Nenek Cia merenggut kedok hitam dan tampaklah siapa Si Kedok Hitam! Ternyata orang yang lihai sekali ini bukan lain adalah Cia Tin Han yang dalam keadaan biasa tampak lemah. Dan Nenek Cia menjadi marah karena dikhianati cucunya, lalu dia menendang dan Cia Tin Han terlempar lalu jatuh ke dalam jurang yang teramat dalam itu."
Lee Cin berhenti bercerita dan mengerutkan alisnya. Ibunya segera merangkulnya.
"Sekarang aku mengerti mengapa engkau mencinta Si Kedok Hitam atau Cia Tin Han itu. Akan tetapi jangan putus asa, anakku. Apa yang dikatakan ayahmu tadi benar. Belum tentu dia tewas. Boleh jadi sekali dia tertolong, entah oleh apa dan siapa."
"Benar sekali, Lee Cin. Nanti setelah selesai pertemuan rapat dan menyerahkan kembali kedudukan Beng-cu kepada mereka, ibumu dan aku ingin merantau dan biarlah kami berdua membantumu untuk mencarinya,"
Kata Souw Tek Bun. Lee Cin mengangguk.
"Kuharap dia masih hidup seperti yang kaukatakan, ayah. Aku sendiri setelah pertemuan rapat nanti akan pergi juga untuk mencarinya. Selama hidup aku akan merasa penasaran kalau tidak mengetahui bagaimana nasibnya. Ayah dan......... aku....... aku cinta padanya dan sebagai Si Kedok Hitam diapun pernah menyatakan cinta kepadaku,"
Kata Lee Cin sambil mengusap setetes air mata. Bu Siang terharu, merangkul dan mencium puterinya.
"Jangan khawatir, anakku. Kami akan membantumu menemukan dia kembali."
Lee Cin merasa terhibur dan berterima kasih sekali kepada orang tuanya.
Mereka lalu bersiap-siap untuk menyambut orang-orang kang-ouw yang akan berdatangan ke Hong-san.
-ooOoo-Tamu pertama yang datang ke Hong-san adalah Thio Hui San yang datang bersama Ceng Ceng.
Begitu berhadapan dengan Lee Cin, Ceng Ceng memandang penuh perhatian seperti teringat akan sesuatu.
Akan tetapi Lee Cin sudah menghampirinya dan memegang lengan Ceng Ceng dan berkata dengan girang.
"Enci, aku mengenalmu! Bukankah engkau gadis yang menggunakan kebutan dan pedang menyerang Siang Koan Tek untuk menolongku? Bukankah engkau murid Thian Tok?"
Kini Ceng Ceng teringat. Gadis ini yang dulu ditolong oleh ia dan gurunya akan tetapi dibawa lari oleh seorang berkedok hitam.
"Aih, sekarang aku teringat. Engkau yang dulu dilarikan oleh orang berkedok hitam itu, bukan?"
Thio Hui San tersenyum dan memperkenalkan kedua orang gadis itu.
"Ceng moi, inilah nona Souw Lee Cin, puteri beng-cu Souw Tek Bun yang pernah kuceritakan kepadamu. Cin-moi ini adalah nona Liu Ceng, seorang ...... sahabat baikku."
Dua orang gadis itu saling pegang tangan dan sebentar saja mereka menjadi akrab.
"Ayah, pemuda ini adalah Thio Hui San, murid dari suhu In Kong Thai-su, jadi masih terhitung suhengku sendiri."
Lee Cin memperkenalkan Hui San kepada ayah ibunya.
Diam-diam ia merasa girang melihat hubungan antara Hui San dan Ceng Ceng tampak mesra.
Hal ini dapat ia ketahui dari sinar mata mereka ketika saling pandang.
Ia merasa kasihan kepada Hui San yang pernah menyatakan cinta kepadanya namun ditolaknya.
Dan agaknya kini Hui San telah memperoleh gantinya dan Ceng Ceng juga seorang gadis yang baik dan perkasa.
"Paman Souw, sayalah yang diutus oleh susiok Hui San Hwe-sio untuk mengundang para tokoh kang-ouw agar datang mengadakan rapat pertemuan di sini. Waktu yang ditentukan adalah nanti tanggal limabelas bulan ini, kurang lima hari lagi. Suhu pasti akan datang, demikian pula locian-pwe Im Yang Seng-cu ketua Kun-lun-pai juga akan datang. Mereka berdualah yang akan memimpin rapat pertemuan karena mereka yang mengundang. Dan di dalam rapat pertemuan itu, permintaan paman untuk mengundurkan diri akan dibicarakan."
"Ah, begitukah? Saya telah membuat kedua lo-cian-pwe banyak repot dan juga membuat engkau bersusah payah mengundang orang-orang kang-ouw."
"Ayah, suheng Thio Hui San ini malah senang melakukan tugas itu karena memberi kesempatan kepadanya untuk merantau. Apa lagi dalam perjalanan itu dia ditemani enci Ceng Ceng!"
Lee Cin menggoda sambil memandang kepada dua orang itu. Wajah Ceng Ceng ber ubah kemerahan, akan tetapi sambil tersenyum ia berkata kepada Lee Cin.
"Ah, secara kebetulan saja kami saling berjumpa. Dan tahukah engkau, adik Lee Cin? Perjumpaan kami adalah pada waktu aku dan suhu membantumu menghadapi Siangkoan Tek dan ayahnya itulah! Setelah engkau dilarikan oleh orang berkedok hitam, aku kewalahan menghadapi Siangkoan Tek. Akan tetapi untunglah, San-ko ini datang membantu sehingga kami dapat mengusir orang jahat dan ayahnya yang lihai itu."
"Dan sejak itu kalian melakukan perjalanan bersama, bukan?"
Kembali Ceng Ceng tersipu malu.
"Benar, pertama aku ingin meluaskan pengalaman mengunjungi para tokoh kangouw, dan kedua kalinya karena aku ingin bertemu dengan suhu yang juga akan datang ke sini menghadiri rapat pertemuan."
Thio Hui San membantu kekasihnya yang menjadi tersipu atas pertanyaan Lee Cin , lalu berkata kepada Lee Cin.
"Cin-moi, terus terang saja, Ceng-moi dan aku telah bersepakat untuk hidup bersama."
Lee Cin sudah menduga bahwa antara kedua orang muda itu tentu ada hubungan yang baik, maka mendengar ini ia segera memegang lengan Ceng Ceng dan berkata girang.
"Ah, kalau begitu aku mengucapkan kionghi (selamat) kepada kalian! Jangan lupa mengirimkan kartu merahnya kalau saatnya tiba."
"Tentu saja!"
Kata Ceng Ceng yang merasa lega bahwa tunangannya telah berterus terang sehingga ia tidak perlu malu-malu lagi.
Lee Cin segera dapat akrab dengan Ceng Ceng dan sepasang prang muda itu diberi kamar di dalam rumah Souw Tek Bun, bukan dianggap sebagai tamu bahkan sebagai keluarga sendiri.
Tanggal limabelas tiba dan sejak pagi-pagi sekali, berbondong orang mendaki puncak Hong-san untuk menghadapi rapat pertemuan.
Karena Souw Tek Bun memang tidak mempunyat prabot seperti meja kursi untuk menyambut para pendatang, dia menyambut dan mempersilakan mereka pergi ke lapangan rumput tak jauh dari pondoknya.
Lapangan rumput itu luas sekali dan dapat menampung ratusan orang.
Bermunculan tokoh-tokoh dunia persilatan, terutama sekali para wakil partai persilatan yang besar seperti Siauwlim-pai, Bu-tong-pai, Kun-lun-pai, Kong-thong-pai, bahkan dari Gobi-pai yang jauh juga mengirim dua orang tokoh wanita untuk menghadiri rapat pertemuan itu.
Akan tetapi sekali ini, Hui Sian Hwesio tidak mengundang wakil dari pemerintah untuk menghindarkan bentrokan dari mereka yang pro dan anti pemerintah.
Para tokoh yang telah disebut datuk besar juga berdatangan.
Thiah-te Mo-ong Koan Ek, Raja iblis Selatan, juga hadir dan dia datang seorang diri saja.
Kemudian Siangkoan Bhok datang bersama muridnya yang telah mempelajari simpanannya, yaitu Ouw Kwan Lok yang lengan kirinya buntung.
Setelah itu muncul pula Thian-tok Gu Kiat Seng yang disambut dengan penuh kegembiraan oleh Ceng Ceng.
Lee Cin memandang dengan alis berkerut ketika ia melihat Ouw Kwan Lok datang bersama Siang Koan Bhok.
Pemuda itu buntung lengan kirinya oleh pedangnya.
Kemudian Lee Cin terkejut juga ketika melihat Nenek Cia datang pula bersama Cian Kun dan Cia Tin Siong!
Akan tetapi ia menyambut mereka semua dengan sikap tenang saja, karena mereka semua itu datang untuk membicarakan urusan dunia kang-ouw, terutama untuk membicarakan pengunduran diri ayahnya.
Namun diam-diam hatinya berdebar tegang juga.
Hadirnya orang-orang ini tentu akan menimbulkan guncangan.
Di antara banyak orang tokoh lain, tampak pula Pek I Lokai, yaitu guru dari Tang Cin Lan isteri panglima muda Song Thian Lee.
Kini yang mewakili Siauw-lim-pai selain Hui Sian Hwesio, datang pula In Kong Thaisu yang menjadi ketua Siauw-lim-pai di Kwi-cu.
Setelah matahari naik tinggi, semua tamu sudah berkumpul di lapangan rumput di tengah mana didirikan sebuah panggung terbuka, Souw Tek Bun sebagai tuan rumah lalu naik ke atas panggung.
Begitu dia naik ke atas panggung dan memberi hormat ke empat penjuru, keadaan menjadi hening dan orang-orang yang hadir menghentikan percakapan mereka yang membuat suasana menjadi gaduh.
"Cu-wi (Saudara sekalian) yang mulia. Sebagai tuan rumah di Hong-san ini, saya menghaturkan selamat datang kepada cu-wi dan terima kasih bahwa ini hari cu-wi melelahkan diri mendatangi tempat ini, sesuai undangan yang diberikan oleh pihak Siauw-lim-pai. Oleh karena pengundangnya adalah Siauw-lim-pai, maka saya menyerahkan agar pimpinan selanjutnya dipegang oleh wakil dari Siauwlim-pai demi kelancaran rapat pertemuan ini."
Dia lalu memberi hormat sambil membungkuk ke arah Hui Sian Hwesio yang dalam pemilihan dahulu menjadi wakil ketua Bengcu bersama lm Yang Sengcu ketua Kunlunpai.
"Silakan, lo-cian-pwe."
Hui Sian Hwesio tersenyum lebar dan diapun naik ke atas panggung itu.
Seperti yang dilakukan Souw Tek Bun yang kini sudah turun dari panggung, diapun memberi hormat ke empat penjuru dan suaranya terdengar lembut namun lantang ketika dia bicara.
"Saudara sekalian yang terhormat, dari pihak kami terpaksa mengadakan rapat pertemuan ini karena terjadi hal-hal yang teramat penting yang patut untuk kita perbincangkan bersama. Pertama-tama adalah keinginan Bengcu kami untuk mengundurkan diri dari kedudukannya sebagai bengcu."
Segera terdengar seruan-seruan yang tidak setuju, riuh rendah mereka bicara untuk menyatakan ketidak-setujuan mereka sehingga suasana menjadi gaduh kembali.
Hui Sian Hwesio lalu mengangkat tangannya untuk minta kepada semua yang hadir agar tenang.
Setelah suasana menjadi tenang kembali diapun berkata.
"Cuwi, hendaknya mengetahui bahwa bengcu Souw Tek Bun mengundurkan diri karena alasan pribadi dan tentu saja dia berhak menentukan hal itu. Agar lebih jelas, kami persilakan bengcu Souw Tek Bun untuk mengemukakan alasannya mengapa dia mengundurkan diri dari jabatan bengcu. Kami persilakan!"
Souw Tek Bun kembali naik ke panggung dan berkatalah dia dengan suara lantang.
"Saudara sekalian, saya mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari kedudukan bengcu karena dua hal. Pertama, karena saya merasa tidak tepat dan bahwa tingkat kepandaian saya belum cukup untuk saya menjadi bengcu. Masih banyak saudara lain yang jauh lebih pandai dari pada saya untuk menjadi bengcu, lebih tepat dan lebih pantas. Kedua, karena saya ingin hidup tenang dengan keluarga saya, maka saya mengambil keputusan untuk berhenti menjadi bencu!"
Kembali orang-orang saling bicara sendiri sehingga suasana menjadi gaduh.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring mengatasi semua suara itu dan ternyata yang bicara itu adalah nenek Cia.
Ia menggerak-gerakkan tongkat naganya ke atas kepala dan berteriak.
"Dengarlah aku bicara!"
Semua orang kini diam dan semua mata ditujukan kepadanya.
"Aku setuju sekali kalau Souw Tek Bun berhenti menjadi bengcu. Kami seluruh keluarga Cia memang tidak sertuju dia menjadi bengcu. Dia hanya bengcu yang di pilih oleh pemerintah Mancu dan siapa tahu kalau dia menjadi antek Mangcu!"
Mendengar ini, suasana menjadi gaduh dan Im Yang Seng-cu segera naik ke atas panggung. Dia mengangkat kedua tangannya ke atas minta kepada semua orang untuk diam, lalu dia berkata.
"Kalau Souw-enghiong hendak mengundurkan diri dari kedudukan bengcu, hal itu adalah haknya dan kita semua tidak mungkin bisa memaksa orang menjadi bengcu di luar kehendaknya. Akan tetapi pinto sungguh tidak senang mendengar dia disangka menjadi antek Mancu. Pinto sendiri menjadi wakil ketua dan tidak pernah melihat ketua kita menjadi antek Mancu. Ucapan keluarga Cia tadi hanya fitnah belaka! Pinto dan sahabat Hui Sian Hwesio adalah wakil-wakil ketua bengcu dan kami berdua menyatakan bahwa Souw-enghiong selama menjadi bengcu tidak pernah menjadi antek penjajah Mancu!"
Setelah lm Yang Seng-cu turun dari atas panggung, tiba-tiba seorang melompat naik ke atas panggung dan gerakannya demikian ringan seolah dia terbang saja.
Semua orang memandang dan sebagian besar dari mereka mengenal siapa adanya kakek itu.
Kakek yang usianya mendekati enampuluh tahun ini bertubuh tinggi besar dan bermuka merah.
Juga dia memegang sebatang dayung baja yang besar.
Dia adalah Siang Koan Bhok dan berjuluk Tung-haiong (Raja Laut Ti mur), seorang datuk yang nama besarnya sudah terkenal di dunia kang-ouw.
Munculnya datuk ini tentu saja menarik perhatian orang dan semua orang memperhatikan dan ingin mendengar apa yang dikatakannya.
"Kami dari Pulau Naga setuju sepenuhnya dengan ucapan Keluarga Cia tadi. Kita semua mengenal Keluarga Cia sebagai Keluarga patriot yang selalu berusaha untuk menentang pemerintah penjajah Mancu. Akan tetapi apa yang dilakukan oleh Souw-bengcu selama dia menjadi bengcu? Dia tidak pernah menggerakkan kita untuk menentang pemerintah penjajah! Seorang beng-cu harus memimpin kita semua untuk menentang penjajah, menggulingkan penjajah dan melepaskan rakyat dari belenggu penjajahan!"
Tepuk sorak menyambut ucapan yang bernada gagah dan patriotik ini.
Akan tetapi Siang Koan Bhok kembali mengangkat kedua tangan ke atas untuk minta agar semua orang diam.
Setelah suasananya menjadi hening, dia berkata lagi dengan suaranya yang dalam dan lantang.
"Saudara sekalian! Selama ini, di Timur sudah banyak orang gagah yang bangkit untuk menentang pemerintah, namun sayang mereka diserbu oleh kekuatan pasukan pemerintah yang besar sehingga gerakan mereka gagal. Kalau saja Beng-cu dan para Wakilnya membantu gerakan itu dan mengerahkan seluruh kekuatan dunia kang-ouw, tentu usaha itu akan berhasil baik. Akan tetapi beng-cu dan para wakilnya diam saja, maka sudah tepatlah kalau Souwbeng cu mengundurkan diri. Sekarang kita perlu melakukan pemilihan Beng-cu baru yang pantas untuk memimpin kita berjuang melawan penjajah. Kami sudah bicara, kemudian terserah saudara sekalian"
Siang Koan Bhok turun dari panggung disambut tepuk sorak ramai yang mendukungnya.
Kini Hui Sian Hwe-sio yang berada di panggung.
Setelah semua orang diam, hwe-sio tokoh Siauw-lim-pai inipun berkata dengan suara lembut namun cukup lantang.
"Apa yang diucapkan oleh saudara Bhok itu tidak sepenuhnya benar. Biarpun kami tidak pernah melakukan perlawanan yang sifatnya memberontak terhadap pemerintah, itu bukan berarti bahwa kami pro-pemerintah penjajah, apa lagi menjadi anteknya. Kami hanya melihat bahwa waktunya belum tiba dan kekuatan pasukan pemerintah amat kuat. Kami orang-orang yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, diam-diam adalah berjiwa patriot juga. Justeru gerakan-gerakan yang sudah memberontak terhadap pemerintah itulah yang kita hendak bicarakan setelah urusan pengunduran diri Souw-bengcu selesai. Kami melihat banyak orang kang-ouw yang bersekutu dengan orang-orang asing untuk melakukan pemberontakan dan hal ini kami sama sekali tidak setuju. Apa lagi kalau bersekutu dengan para gerombolan penjahat yang menggunakan perjuangan sebagai kedok untuk menutupi kejahatan mereka mengacau rakyat jelata. Kami adalah patriot-patriot sejati yang tidak sudi bersekutu dengan mereka. Kami adalah pembela-pembela rakyat, bukan penindas rakyat. Hal ini tentu cu-wi telah mengetahuinya dengan baik untuk membedakan mana pejuangan sejati dan mana yang palsu."
"Kami protes!"
Tiba-tiba Nenek Cia melompat ke atas panggung. Melihat ini, terpaksa Hui Sian Hwe-sio turun untuk memberi kesempatan kepada nenek itu untuk bicara.
"Kami protes atas ucapan Siauw-li pai tadi!"
Nenek Cia berkata lantang "Kami sendiri mengakui bahwa baru-baru ini kami berjuang melawan penjajah dan kami bekerja sama dengan pasukan pemberontak dan dengan orang-orang Jepang!
Walaupun kami telah gagal, akan tetapi kami anggap apa yang kami lakukan itu sudah benar!
Pada saat seperti sekarang ini, perjuangan menentang penjajahan harus dilakukan oleh semua pihak.
Tidak perduli golongan putih atau Imam, harus bersatu padu untuk mengusir penjajah.
Tidak perduli kita bersekutu dengan orang asing, yang penting penjajah Mancu harus digulingkan.
Kita perlu bertindak, sekarang juga, dengan mempersatukan segala pihak berjuang, bertindak sekarang juga, bukan hanya dengan omong kosong!"
Setelah berkata demikian, Nenek Cia lalu melompat turun dari atas panggung dan kata-katanya yang bersemangat itu mendapat sambutan meriah.
Suasana terasa panas menegangkan karena ada dua pihak yang berbicara dan saling bertentangan.
Tiba-tiba terdengar suara tawa yang nyaring mengatasi semua kegaduhanan sesosok tubuh yang pendek gendut melayang naik ke atas panggung.
Dia dalah seorang kakek berusia limapuluh empat tahun yang bertubuh pendek gendut serba bulat, pakaian jubah pertapa dan tangannya memegang sebatang kebutan bulu putih.
Dia adalah Thian Tok (Racun Langit) Gu Kiat Seng.
Dia mengangkat tangan kiri dan kebutannya ke atas sehingga suasana menjadi tenang.
Lalu terdengar suaranya yang melengking tinggi.
"Saudara sekalian! Saya melihat jalannya rapat tidak beres dan terjadi perbantahan. Kalau dilanjutkan begini bisa berakhir dengan perkelahian di antara kita sendiri. Sekarang harap diputuskan dulu acara pertama, yaitu tentang pengunduran diri Souw-bengcu dari kedudukannya sebagai beng-cu. Apakah hal ini dapat disetujui? Jawablah yang keras!"
Semua orang memang tidak melihat perlunya kedudukan beng-cu bagi Souw Tek Bun dipertahanankan karena orangnya sudah memberi asalan pengunduran diri, maka serempak mereka menjawab.
"Setujuuuu. ..... !!"
"Bagus, bagus!"
Thian Tok berseru.
"Berarti acara pertama sudah beres. Kini, sebelum kita meningkat ke acara kedua sebaiknya kalau diadakan pemilihan beng-cu baru lebih Kalau sudah begitu, maka beng-cu baru yang akan memimpin rapat membicarakan tentang perjuangan. Bagaimana, saudara sekalian, apakah usul saya ini disetujui?"
"Setujuuu.......... !"
Kembali orang-orang berseru nyaring. Hui Sian Hwe-sio naik ke panggung dan dia mengangguk-angguk lalu memberi hormat kepada Thian Tok.
"Saudara Gu, terima kasih atas usul saudara yang tepat ini."
Thian Tok tersenyum dan melompat turun kembali, meninggalkan Hui Sian Hwe-sio seorang diri.
"Cu-wi, apa yang diusulkan oleh saudara Thian-tok Gu Kiat Seng, tadi memang tepat sekali. Sekarang Souw-sicu sudah bukan beng-cu lagi dan kedudukan beng-cu menjadi kosong. Kami sebagai pengundang berkewajiban untuk mengadakan pemilihan beng-cu baru. Nah, saudara-saudara boleh mengajukan wakil-wakil calon beng-cu."
Nenek Cia melompat ke atas panggung dan berkata.
"Kami harap saudara sekalian tidak salah pilih. Karena perlu orang yang bersamangat muda sebagai pemimpin, sebaiknya kalau kita memilih calon-calon muda! Kami sendiri mengajukan cucu kami, Cia Tin Siong sebagai calon bengcu!"
Setelah berkata demikian, Nenek Cia melompat turun lagi. Hui Sian Hwe-sio berkata.
"Siapa lagi yang akan rpengajukan calonnya, harap naik ke panggung!"
Siang Koan Bhok melompat ke atas panggung.
"Saya setuju sekali dengan pendapat nyonya Cia. Sebaiknya kaum muda yang diserahi tugas memimpin orang-orang gagah sedunia. Saya mengajukan calon yaitu muridku sendiri bernama Ouw Kwan Lok!"
Banyak orang gagah golongan bersih memilih In Kong Thai-su ketua Siauw-lim-pai di Kwi-cu yang juga hadir. Kakek ini lalu naik ke panggung dan sambil tersenyum berkata.
"Pin-ceng sudah tua, maka pin-ceng wakilkan sebagai calon ketua kepada murid pin-ceng yang bernama Thio Hui San!"
Ada pula golongan yang memilih Im Yang Seng-cu ketua Kun-lun-pai, ada yang memilih Thian Tok Gu Kiat Seng. Akan tetapi kakek gendut pendek ini berkata lantang.
"Saya adalah seorang yang bebas, tidak bersedia menjadi calon beng-cu yang akan mengikat kaki tangan dan membuat aku tidak bebas lagi!"
Akhirnya diputuskan bahwa calon beng-cu adalah Cia Tin Siong, Ouw Kwan Lok, Thio Hui San, dan Im Yang Sengcu.
Tentu saja tiga orang muda itu didukung oleh guru masing-masing yang siap mempertahankan calonnya.
"Dipersilakan keempat calon naik ke panggung untuk diperkenalkan kepada hadirin!"
Kata pula Hui Sian Hwe-sio.
Berturut-turut Cia Tin Siong, Ouw Kwan Lok, dan Thio Hui Sari naik ke atas panggung disambut tepuk sorak dan segera orang-orang melakukan pemilihan masing-masing.
Dengan sendirinya, golongan yang condong kepada golongan sesat memilih Ouw Kwan Lok yang dijagokan oleh Siang Koan Bhok, golongan yang merasa dirinya pejuang dan patriot memilih Cia Tin Siong yang dijagokan oleh Nenek Cia yang mereka kenal sebagai seorang patriot yang gigih.
Dan golongan pendekar bersih tentu saja condong untuk memilih Thio Hui San yang dijagokan oleh Ketua Siauw-lim-pai.
Akhirnya Im Yang Seng-cu yang duduk di bawah panggung, terpaksa naik juga karena diapun dijadikan calon.
Sebagai wakil ketua beng-cu dia tentu saja dapat menolak dan setelah berada di atas panggung dia berkata.
"Sian-cai ! Tiga Calon beng-cu yang muda-muda dan gagah telah dipilih, mengapa masih juga mengajukan pin-to untuk menjadi calon? Pinto sudah tua dan mengurus Kun-lun-pai saja sudah merepotkan, mana mungkin pinto dapat menjadi bengcu?"
Akan tetapi orang-orang golongan bersih yang masih ragu untuk memilih Thia Hui San, ragu akan kemampuan orang muda itu, tetap memilih Im Yang Seng-cu.
"Saudara sekalian!"
Kata Hui San Hwe-sio dari atas panggung.
"Sekarang terdapat empat orang beng-cu. Lalu bagaimanakah kita akan memilih siapa yang paling tepat di antara mereka?"
Siang Koan Bhok yang berada di bawah panggung berseru dengan suara lantang sehingga mengatasi semua kegaduhan.
"Menjadi seorang beng-cu haruslah dia yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Karena itu, seperti sudah sepatutnya memilih ketua, sebaiknya diadakan pi-bu (bertanding silat) antara empat calon itu!"
Mereka semua yang hadir di situ adalah orang-orang dunia persilatan, maka mendengar usul ini tidak ada yang tidak setuju.
Dengan suara bulat mereka menyatakan persetujuan mereka karena mereka ingin sekali melihat pertandingan silat antara para jagoan itu.
Suara riuh rendah menyatakan persetujuan itu disambut oleh Hui San Hwe-sio sambil mengangkat kedua tangan mereka semua diam, kemudian dia berkata.
"Kami tanyakan kepada mereka yang tadi mengajukan calon beng-cu, apakah kalian setuju dengan diadakannya pi-bu ini? Pertama kepada Nyonya Cia kami tanyakan, apakah setuju dengan diadakannya pi-bu?"
"Kami setuju, kalau perlu pendukungnya dapat maju untuk mewakili calonnya!"
Nenek itu menggerakkan tongkat naganya dengan garang.
"Bagai mana dengan saudara Siang Koan Bhok?"
"Aku setuju muridku diadu dengan calon lain, dan juga setuju kalau perlu para pendukungnya maju satu demi satu"
"Bagaimana dengan pendukung Im Yang Seng-cu?"
Serempak para pendekar yang memilih ketua Kun-lunpai ini menjawab setuju. Kalau diadakan pi-bu, mereka yakin bahwa ketua Kun-lun-pai ini yang akan keluar sebagai pemenang melawan orang-orang muda itu.
"Kalau Im Yang Seng-cu yang maju, maka akulah yang akan menggantikan cucuku,� teriak Nenek Cia penasaran.
"Omitohud, bagaimana mungkin ini? Calon harus bertanding melawa calon, dan pendukung melawan pendukung. Kami sendiri setuju diadakan pertandingan antara calon. Sekarang sebaiknya diundi antara keempat calon, siapa lawan siapa yang akan maju."
Hui Sian Hwe-sio lalu memegang empat buah hio-swa (dupa biting), dua panjang dan dua pendek.
Dia menggenggam empat batang hio-swa itu di bagian atasnya sehingga tidak tampak mana yang panjang dan mana yang pendek.
Lain dia mempersilakan keempat calon mencabut sebatang hio.
Hasilnya, Thio Hui San dan Im Yang Seng-cu mencabut hio panjang sedangkan Ouw K wan Lok dan Cia Tin Siong mencabut hio pendek.
Ini berarti bahwa Thio Hui San akan bertanding melawan Im Yang Seng-cu dan Ouw Kwan Lok akan bertanding melawan Cia Tin Siong.
Lee Cin sejak tadi mengikuti semua yang terjadi di situ.
Hatinya kadang terasa panas kalau melihat Nenek Cia.
Nenek itu yang telah membunuh Cia Tin Han, pikirnya.
Akan tetapi ia menahan kesabarannya karena amat tidak baik membuat keributan di saat itu.
Melihat bahwa Ouw Kwan Lok harus bertanding melawan Cia Tin Siong, dara ini berbisik kepada ayah dan ibunya yang berdiri di dekatnya.
"Tingkat kepandaian Ouw Kwan Lok itu lebih tinggi, akan tetapi dengan buntungnya lengan kirinya, tentu keadaan menjadi ramai. Cuma kasihan saudara Thio Hui San harus bertanding melawan Im Yang Seng-cu. Bagaimana dia dapat menandingi ketua Kun-lun-pai itu walau pun aku tahu kepandaian Thio-twako juga amat tinggi?"
"Tenangkan hatimu. Kita lihat saja bagaimana kesudahannya. Aku khawatir ini akan menjadi besar dengan majunya para pendukung. Im Yang Seng-cu tentu akan mengalah terhadap Thio Hui San. Kita lihat sajalah,"
Kata Souw Tek Bun.
"Yang penting, mereka tidak akan memaksa ayahmu,"
Kata Ang-tok Mo-li Bu Siang.
"Kalau ada yang mengganggunya, aku yang akan menghadapi orang itu.� Souw Tek Bun memandang kepada isterinya sambil tersenyum. Biarpun isterinya telah banyak berubah, namun kadang masih tampak juga kekerasan hatinya sebagai seorang datuk kang-ouw! "Menurut hasil Thio Hui San harus bertanding melawan Im Yang Seng-cu, kemudian baru Ouw Kwan Lok melawan Cia Tin Siong. Yang lain harap turun dari panggung, kecuali kedua orang yang hendak bertanding, yaitu Thio Hui San dan Im Yang Seng-cu,"
Kata Hui Sian Hwe-sio.
Dia sendiri lalu turun dari panggung diikuti yang lain.
sehingga kini yang berada di atas panggung hanya Thio Hui San dan Im Yang Seng-cu.
Thio Hui San memberi hormat kepada Im Yang Seng dan sambil tersenyum dia berkata.
"Apa yang dapat saya pergunakan untuk menandingi to-tiang? Harap to-tiang jangan mempergunakan tangan yang terlalu keras untuk mengalahkan saya."
Im Yang Seng-cu tertawa sambil mengelus jenggotnya.
"Ha-ha-ha, sicu Thio Hui San jauh lebih tepat untuk menjadi ketua dari pada pin-to yang sudah tua. Biarlah pin-to mengaku kalah sebelum bertanding dan pin-to mengundurkan diri dari calon beng-cu!"
Ucapannya itu terdengar lantang terdengar oleh semua orang.
Tentu saja para pendukungnya merasa tidak puas, akan tetapi karena Im Yang Seng-cu mengalah terhadap Thio Hui San, murid Siauw-lim pai, mereka tidak terlalu kecewa.
Mereka juga sudah maklum akan kehebatan Siauw-lim-pai.
Hui Sian Hwe-sio naik ke atas panggung ketika Im Yang Seng-cu turun dan dia berkata dengan lantang.
"Karena Im Yang Seng-cu sudah mengalah, maka Thio Hui San dianggap sebagai pemenang dalam pi-bu ini dan dia harus menghadapi pemenang dari pertandingan kedua."
Dia lalu mengajak Hui San turun. Ceng Ceng menyambut pemuda itu dengan muka berseri.
"Aih, San-ko, hatiku sudah gelisah sekali melihat engkau tadi berhadapan dengan Im Yang Seng-cu. Untung bagimu dia mengalah dan mengundurkan diri."
"Akan tetapi aku harus menghadapi pemenang dari pertandingan ke dua, dan kurasa mereka bukan orang lemah."
"San-ko, mengapa engkau mau dijadikan calon beng-cu? Apakah engkau ingin sekali menjadi beng-cu?"
Gadis itu bertanya sambil menatap tajam wajah tunangannya. Hui San menghela napas panjang.
"Sama sekali aku tidak ingin, Ceng-moi. Akan tetapi bagaimana lagi kalau suhu minta aku mewakilinya. Tentu saja aku tidak berani menolak."
"Berhati-hatilah, San-ko. Aku ikut mendoakan semoga engkau keluar sebagai pemenang."
Sementara itu, Hui Sian Hwe-sio sudah memanggil dua orang calon lain untuk naik ke panggung dan kini Cia Tin Siong sudah berhadapan dengan Ouw Kwan Lok.
Hampir semua orang, kecuali Siang Koan Bhok, memandang rendah kepada murid datuk ini.
Pemuda yang lengan kirinya buntung, mana dapat menjadi seorang jagoan yang lihai ?
Akan tetapi Cia Tin Siong tidak berani memandang rendah.
Dia pernah bertemu dengan Ouw Kwan Lok yang ketika itu bersama Siang Koan Tek membantu gerakan pemberontak di Timur.
Walaupun dia belum tahu sampai di mana kelihaiannya, akan tetapi pemuda ini sudah diaku sebagai murid Siang Koan Bhok, tentu kakek itu sudah menurunkan ilmu-ilmunya yang tinggi.
Karena tidak memandang rendah, begitu maju Tin Siong telah mencabut suling peraknya dan menghadapi Ouw Kwan Lok.
"Sobat, keluarkan senjatamu!"
Tantangnya. Ouw Kwan Lok tersenyum.
"Saudara Cia Tin Siong, benar-benarkah engkau mau melawan aku? Apakah engkau sanggup untuk menjadi seorang beng-cu yang memimpin dunia kang-ouw? Sebaiknya engkau mencontoh tindakan Im Yang Seng-cu tadi, mengalah saja kepadaku agar aku tidak perlu merobohkan seorang yang pernah menjadi sahabatku."
"Tin Siong, majulah dan jangan banyak bicara lagi. Kalau engkau sampai kalah, biar aku yang maju!"
Terdengar teriak Nenek Cia yang membuat para penonton menjadi tegang.
Nenek itu agaknya hendak berkeras mendapatkan kedudukan beng-cu bagi cucunya, kalau perlu ia sendiri yang akan maju menandingi siapa saja yang tidak menyetujui cucunya menjadi beng-cu!
Mendengar seruan neneknya, Cia Tin Siong berkata kepada Ouw Kwan Lok.
"Sobat she Ouw, majulah dan mari kita bertanding untuk menentukan siapa di antara kita yang lebih patut menjadi beng-cu."
Ouw Kwan Lok kembali tersenyum lebar.
"Baiklah kalau engkau memaksa, akan tetapi jangan menyesal kalau terpaksa aku merobohkanmu di depan banyak orang. Nah, maju dan seranglah!"
"Tidak, keluarkan dulu senjatamu. Aku tidak mau menyerang lawan yang tidak bersenjata, apa lagi........"
Dia tidak melanjut kan kata-katanya, hanya memandang lengan baju kiri yang kosong itu.
Ouw Kwan Lok mengerutkan alisnya lalu dia memutar lengan kiri yang tinggal sepanjang siku itu sehingga lebihan lengan baju itu berputar.
"Inilah senjataku!"
Melihat ini, Tin Siong tidak ragu lagi.
"Lihat seranganku!"
Bentaknya sulingnya menyambar dengan tusukan yang cepat dan kuat ke arah lehe Kwan Lok.
Akan tetapi dengan gerakan lincah sekali Ouw Kwan Lok mengelak dari tusukan lain lengan kirinya menyambar dan lengan baju yang kosong itu berubah tegang menotok ke arah dada Tin Siong!
Tin Siong terkejut sekali dan mengelak, lalu membalas dengan serangan gencar.
Demikian cepat gerakan sulingnya sehingga suling mengeluarkan suar mengaung-ngaung seperti ditiup.
Akan tetapi Kwan Lok dapat mengimbangi kecepatan gerakan Tin Siong dan dia mengelak ke sana sini dan kadang menangkis dengan lengan bajunya.
Terjadilah pertandingan yang menarik dan seru.
Dan Ouw Kwan Lok tetap saja tidak mau mencabut pedangnya yang tergantung di punggung.
Dia menghadapi lawannya dengan tangan kosong saja.
Mula-mula dia menggunakan ilmu silat Iek-wan-kun (Silat Lutung Hitam) yang gesit bukan main dan beberapa kali dia hampir dapat merampas suling perak lawan.
Kemudian dia mengubah ilmu silatnya dan menggunakan Pek-swat ok-ciang (Tangan Beracun Salju Putih) yang dahulu dipelajarinya dari Thian-te Mo-ong.
Pukulannya mengandung hawa dingin yang mengejutkan hati Tin Siong.
Akan tetapi pemuda ini telah mempelajari ilmu silat keluarga Cia dengan baik.
Dia memutar sulingnya sehingga bentuk sulingnya lenyap dan berubah menjadi sinar perak yang bergulung-gulung.
Pukulan-pukulan berhawa dingin dari Ouw Kwan Lok dapat dibendung dan bahkan dia dapat membalas dengan totokan-totokan suling peraknya.
Akan tetapi kembali Kwan Lok mengubah ilmu silatnya.
Kini dia mainkan Kui-Song-kun (Silat Naga Iblis) yang dipelajarinya dari Siang Koan Bhok.
Ilmu silat ini hebat sekali karena mengandung tenaga sin-kang yang amat kuat sehingga setiap kali ditangkis tangan, sulingnya terpental dan hampir terlepas dari pegangan Tin Siong.
Agaknya Kwan Lok memang sengaja hendak memamerkan ilmu-ilmunya, maka dia mengubah-ubah ilmu silatnya walaupun dia mampu merobohkan Tin Siong dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Berkat gemblengan Siang Koan Bhok yang hendak menggunakan muridnya untuk membalas dendam kepada musuh-musuhnya, kini Ouw Kwan Lok telah maju demikian pesat sehingga dia tidak kalah lihainya dibandingkan dengan Siang Koan Bhok sendiri.
Dia telah menguasai ilmu-ilmu dari tiga orang datuk.
Pertama dari Pak-thian-ong datuk utara, kedua dari Thian-te Mo-ong datuk selatan, kemudian ke tiga dari Siang Koan Bhok datuk timur!
Setelah memamerkan Kui-long-kun tiba-tiba dia merubah lagi ilmu silatnya dan inilah Ban-tok-ciang (Tangan Selaksa Racun).
Sambaran hawa dari tangan kanan Kwan Lok membuat Tin Siong menjadi pening dan tiba-tiba saja ujung lengan baju tangan kiri yang berubah menjadi kaku telah menotok lehernya dan Tin Siong roboh terguling di atas panggung, sulingnya terlepas dari tangannya!
Dia tidak mampu bergerak lagi karena sudah tertotok jalan darahnya yang membuat dia lemas.
Akan tetapi Kwan Lok yang maklum bahwa keluarga Cia dapat ditarik menjadi sekutu, cepat menyambar tubuh itu dan sekali tangan kanannya bergerak dia telah membebaskan totokan sehingga Tin Siong mampu bergerak kembali dan dia sudah mengambilkan suling perak yang tadi terlepas lalu menyerahkan kepada Tin Siong.
Pada saat itu, terdengar suara melengking dan Nenek Cia sudah melayang naik ke atas panggung.
Akan tetapi, Tin Siong menyambut neneknya dan ber kata.
"Nek, saya telah kalah. Saudara Ouw Kwan Lok sudah sepatutnya menjadi beng-cu."
Melihat cucunya sama sekali tidak terluka, Nenek Cia tidak dapat berbuat apa-apa, apalagi pada saat itu Hui Sian Hwe-sio sudah naik ke atas panggung.
Dengan sikap hormat Hui Sian Hwe sio mempersilakan nenek itu turun dari atas panggung.
"Nyonya Cia, silahkan turun dari panggung karena segera akan diadakan pertandingan berikutnya. Si-cu Cia Tin Siong jelas telah mengalami kekalahan dalam pertandingan tadi."
Dengan muka.
cemberut nenek itu segera menggandeng tangan Tin Siong dan diajak melompat turun dari atas panggung.
Mereka yang berpihak kepada Ouw Kwan Lok, yaitu para golongan hitam, bersorak riuh menyambut kemenangan jagoan mereka itu.
Hui Sian Hwe-sio lalu mengangkat tangan ke atas dan berseru.
"Saudara sekalian, pertandingan kedua dimenangkan oleh si-cu Ouw Kwan Lok, maka sekarang akan diadakan pertandingan antara pemenang pertandingan pertama dengan pemenang pertandingan kedua. Thio Hui San, engkau naiklah ke panggung menghadapi si-cu Ouw Kwan Lok!"
Hui Sian Hwe-sio sendiri tidak khawatir.
Dia cukup tahu akan kepandaian murid keponakannya.
Thio Hui San telah menguasai ilmu-ilmu silat Siauw-limpai dengan matang, bahkan dia mempunyai ilmu andalan yang jarang dimiliki orang lain, yaitu ilmu totok It-yang-ci.
Akan tetapi In Kong Thai-su, guru Thio Hui San, mengerutkan alisnya dan dia merasa khawatir.
Melihat ilmu kepandaian Ouw Kwan Lok tadi, dia menyangsikan apakah Thio Hui San akan mampu keluar sebagai pemenang.
Dia hanya menghela napas saja karena tidak dapat berbuat sesuatu.
"San-ko, hati-hatilah menghadapi dia,"
Bisik Ceng Ceng kepada Hui San yang mengangguk dan pemuda itu melompat naik ke atas panggung menghadapi Ouw Kwan Lok.
Lee Cin juga merasa khawatir juga melihat betapa Ouw Kwan Lok yang lengan kirinya sudah buntung itu bahkan lebih tangguh dari pada sebelum lengannya buntung!
Bahkan ibunya yang berdiri di sampingnya berkata lirih.
"Wah, kepandaian pemuda buntung itu hebat sekali! Heran aku bagaimana engkau dapat membuntungi lengan kirinya, Lee Cin."
"Ketika dia berkelahi melawan aku, ilmu kepandaiannya tidak sehebat itu, ibu. Aku sendiri juga heran mengapa sekarang dia demikian lihai."
Kata Lee Cin. Souw Tek Bun menghela napas panjang.
"Tidak perlu diherankan. Tadinya, pemuda itu memang sudah lihai, walaupun masih kalah olehmu, Lee Cin. Akan tetapi sekarang dia menjadi murid Siang Koan Bhok dan agaknya datuk itu telah menurunkan ilmu-ilmunya yang paling hebat kepadanya."
Mereka bertiga berdiam dan dengan hati tegang memandang ke atas panggung di mana dua orang pemuda itu sudah berdiri saling berhadapan.
Hui San tampak gagah dengan bajunya yang serba biru, tubuhnya yang jangkung tegap dan wajahnya yang tampan dan jantan.
Sabaliknya Ouw Kwan Lok tampak seperti seorang pemuda yang lemah lembut, berpakaian serba putih, apa lagi lengan kirinya buntung.
Hanya matanya yang mencorong tajam itu menunjukkan bahwa dia adalah seorang pemuda yang lihai.
Melihat Thio Hui San sudah berhadapan dengannya, Ouw Kwan Lok tersenyum mengejek.
Biarpun dia tahu bahwa pemuda berpakaian biru itu seorang murid Siauwlim-pai yang lihai, namun dia memandang ringan dan bertanya dengan tersenyum.
"Orang she Thio, engkau hendak mempergunakan senjata apa? Keluarkanlah senjatamu!"
Wajah Kwan Lok menjadi merah. Dia menekan kemarahannya dan tersenyum mengejek.
"Aku sudah mendengar bahwa In Kong Thai-su terkenal dengan ilmu totok It-yang-ci, maka engkau tentu akan mengandalkan ilmu itu. Justeru aku ingin menguji sampai dimana kehehatan It-yang-ci!"
Hui San diam-diam terkejut. Pemuda lengan buntung ini benar-benar sombong sekali. Tidak aneh kalau dia mengetahui tentang It-yang-ci karena memang In Kong Thaisu, gurunya, terkenal dengan ilmu itu.
"Kalau begitu, mulailah, aku sudah siap!"
Kata Hui San sambil memasang kuda-kuda yang kokoh kuat. Melihat kuda-kuda ini, Kwan Lo kembali tersenyum mengejek.
"Sambutlah seranganku!"
Begitu menyerang, dia sudah menggunakan ilmu pukulannya yang paling ampuh, yaitu Ban-tok-ciang.
Ilmu pukulan ini mengandung racun yang berbahaya sekali dan orang yang terkena serangan ini, tentu darahnya akan keracunan.
Hui San mengenal pukulan ampuh maka diapun cepat menggunakan kecepatan gerakannya untuk mengelak dan membalas, langsung saja menggunakan It-yang-ci!
Hebat bukan main pertandingan ini.
Pukulan mereka sama-sama mengeluarkan tenaga sin-kang yang hebat dan dahsyat, terdengar bersiutan.
Akan tetapi mereka dapat mengelak atau menangkis dan balas menyerang.
Walaupun tangannya hanya tinggal sebuah, namun Kwan Lok dapat menggunakan lengan baju kirinya yang kosong untuk menangkis, bahkan dapat pula lengan baju kiri dipergunakan untuk menyerang dengan totokan yang berbahaya pula.
Mereka saling serang silih berganti sampai enam puluh jurus lebih.
Akan tetapi, lambat laun Hui San mulai terdesak karena lawannya mengubah-ubah ilmu silatnya sehingga sukar sekali bagi Hui San untuk dapat mengikuti gerak geriknya.
Tiba-tiba Kwan Lok mengeluarkan teriakan melengking nyaring dan tubuhnya mencelat ke atas lalu menyerang dengan pukulan tangan kanannya ke arah kepala Hui San!
Serangan yang menerkam dari atas ini berbahaya sekali.
Tidak mungkin dapat dielakkan lagi oleh Hui San dan terpaksa Hui San menyambut dengan tangkisan yang sekuat-kuatnya.
Tangan kirinya mendorong ke atas menyambut tangan kanan itu sedangkan tangan kanannya juga menangkis serangan lengan baju yang menusuk ke arah matanya.
"Wuuuuuttttt......... dessss......... !!!"......... tubuh Kwan Lok terpental sehingga dia berjungkir balik tiga kali baru turun ke atas panggung. Akan tetapi tubuh Hui San terdorong mundur terhuyung-huyung dan pemuda ini muntahkan darah segar dari mulutnya! Sesosok tubuh melayang ke atas panggung dan menyambar tubuh Hui San, dibawa turun. Yang melakukan hal itu adalah In Kong Thaisu sendiri. Melihat muridnya sudah terluka parah, dia lalu menolong untuk segera mengobatinya dengan It-yang-ci. Souw Tek Bun cepat menghampiri mereka.
"Mari, silakan membawanya masuk ke rumah kami, Thai-suhu."
In Kong Thai-su tidak sungkan lagi, lalu membawa tubuh Hui San ke dalam rumah di mana dia segera melakukan pengobatan dengan ilmu It-yang-ci.
Ceng Ceng mengikuti dengan muka pucat dan hati cemas sekali.
Sementara itu, melihat kemenangan muridnya, Siang Koan Bhok lalu berseru keras dari tempat dia berdiri.
"Muridku sudah menang. Berarti dialah yang menjadi bengcu baru!"
Hui Sian Hwe-sio, walaupun dengan hati cemas, naik ke atas panggung dan berkata kepada semua yang hadir, setelah minta mereka yang menyambut kemenangan itu dengan sorak sorai diam.
"Setelah diadakan pertandingan yang jujur dan adil, ternyata yang keluar sebagai pemenangnya adalah si-cu Ouw Kwan Lok. Dialah yang menjadi beng-cu baru, kalau tidak ada orang lain yang menolaknya."
Sengaja dia mengeluarkan kata-kata ini dengan harapan kalau-kalau ada yang menentang pengangkatan beng-cu baru itu.
"Kalau Im Yang Seng-cu ikut bertanding, tentu dia yang menang!"
Terdengar suara beberapa orang yang tadi mendukung ketua Kun-lun-pai itu. Tiba-tiba terdengar seruan melengking.
"Tunggu. !"
Dan Nenek Cia tampak melayang ke atas panggung.
Ouw Kwan Lok mengerutkan alisnya.
Apakah nenek yang terkenal galak ini tidak mau menerima kekalahan cucunya?
"Nenek Cia!
Engkau tidak ikut menjadi calon beng-cu, mengapa naik ke panggung?
Apa maumu?
Engkau boleh bertanding melawan aku!"
Terdengar Siang Koan Bhok berseru.
"Aku bukan ingin merebut kedudukan beng-cu. Aku mengakui bahwa pemuda ini telah menang dan dia pantas diangkat menjadi beng-cu. Akan tetapi aku ingin mengukur sampai di mana kepandaiannya agar hatiku puas mengakui dia sebagai beng-cu!"
"Akulah musuhmu!"
Bentak Siang Koan Bhok marah. Akan tetapi dari atas panggung, Kwan Lok berkata kepada gurunya.
"Su-hu, biarlah Nenek Cia ini menguji kemampuanku, agar dia tidak lagi berani meremehkan suhu!"
Siang Koan Bhok tertawa bergelak. Dia tahu bahwa tingkat kepandaian muridnya itu sudah melampaui dirinya maka memang lebih kuat Kwan Lok yang maju dari pada dia.
"Bocah she Ouw, kalau engkau mampu bertahan tigapuluh jurus menghadapi tongkatku ini, baru aku mengakui bahwa engkau memang pantas menjadi beng-cu!"
Kata Nenek Cia sambil memalangkan tongkat naganya.
"Jangankan tigapuluh jurus, biar limapuluh jurus atau lebih aku sanggup melayanimu, nek!"
Jawaban ini memerahkan telinga Nenek Cia. Dia memutar tongkatnya dan membentak.
"Bocah sombong, rasakan tongkatku!"
Dan iapun sudah menyerang dengan dahsyatnya.
Melihat serangan ini, Kwan Lok maklum bahwa nenek itu lihai sekali maka dia tidak berani main-main.
Cepat dia mengelak lalu menggerakkan lengan baju kirinya untuk menotok dan tangan kanannya menyambar ke arah tongkat untuk merampasnya.
Akan tetapi nenek itupun sudah menarik kembali tongkatnya dan menggunakan untuk menyerampang kedua kaki Kwan Lok.
Pemuda ini meloncat ke atas dan terjadilah saling serang dengan seru sekali.
Melihat gerakan nenek itu, Lee Cin diam-diam terkejut.
Kini baru ia tahu bahwa kalau dulu ia pernah menang atas diri nenek ini, adalah karena nenek ini mengalah.
Kalau nenek Cia bersungguh-sungguh, belum tentu ia akan dapat menang dengan mudah.
Akan tetapi yang membuat ia tertegun dan terkejut adalah melihat betapa lincahnya gerakan Kwan Lok, betapa pemuda itu menghadapi tongkat nenek itu tanpa sedikitpun terdesak walaupun dia bertangan kosong.
Setelah lewat duapuluh jurus, tiba-tiba nampak sinar berkelebat dan tahu-tahu Kwan Lok telah mencabut pedangnya.
Begitu dia memutar pedang balas menyerang, Nenek Cia terkejut karena ilmu pedang yang dimainkan pemuda itu amat dahsyat.
Segera ia terdesak mundur dan hanya mampu memutar tongkatnya untuk melindungi diri.
Kwan Lok terus menyerang dengan desakan yang kuat sehingga kembali duapuluh jurus telah lewat.
Sudah empat puluh jurus mereka bertanding dan Kwan Lok bukan saja mampu menandingi nenek itu, bahkan dia mampu mendesak!
"Haiiiiitttt.........
Tiba-tiba Kwan Lok mengeluarkan teriakan nyaring dan pedangnya menyambar seperti kilat. Nenek Cia menggerakkan gagang tongkatnya menangkis.
"Tranggg......... !"
Nenek itu terhuyung mundur dan bukan main kagetnya ketika ia melihat sebagian dari hiasan naga tongkatnya telah terbabat buntung!
Kwan Lok sudah menyimpan kembali pedangnya dan tersenyum mengejek kepada nenek itu sambil berkata.
"Bagaimana, nek? Sudah puaskah engkau menguji aku? Sebetulnya di antara kita tidak pernah saling menyerang. Kita dapat bekerja sama untuk menggulingkan pemerintah Mancu. Kita sahabat, bukan musuh, kawan dan bukan lawan."
Nenek Cia harus mengaku kalah. merasa malu kalau terus berkeras, maka iapun mundur tanpa malu lagi, bahkan berkata.
"Engkau memang pantas untuk beng-cu."
Nenek yang keras hati itu lalu melompat turun dari atas panggung. Siang Koan Bhok merasa senang dan bangga sekali atas kemenangan muridnya itu, maka dari bawah panggung dia berteriak.
"Masih adakah orang yang tidak menyetujui muridku Ouw Kwan Lok menjadi beng-cu? Kalau masih ada, silakan maju dan mengujinya!"
Ouw Kwan Lok sendiri menjadi mabok kemenangan dan dia merasa bangga sekali. Sambil tersenyum dia memandang ke empat penjuru dan berkata lantang.
"Benar sekali apa yang diucapkan suhu. Kalau ada yang masih merasa penasaran, silakan naik dan bertanding dengan aku. Bagaimana kalau bekas beng-cu Souw maju mengujiku? Atau barangkali isterinya atau anaknya perempuan yang terkenal pandai ?"
Mendengar tantangan ini, Souw Tek Bun diam saja dan biarpun Lee Cin merasa tangannya gatal, iapun tidak berani mendahului ayahnya.
Akan tetapi Ang-tok Mo-li Bu Siang tidak dapat menahan kemarahannya.
Sekali berkelebat tubuhnya melayang naik ke panggung dan langsung saja ia menyerang Ouw Kwan Lok dengan pukulan Ang-tok-ciang (Tangan Racun Merah) sambil berseru.
"Bocah sombong, rasakan pukulanku!"
Melihat wanita itu menyerangnya dari udara, Ouw Kwan Lok bersikap waspada.
Dia sudah mendengar betapa lihainya datuk wanita ini, maka begitu melihat pukulan tangan kanan yang berubah kemerahan itu, diapun mengerahkan sin-kangnya dan menyambut dengan dorongan tangan kirinya.
"Plakkk.......... !!"
Akibatnya, Ang-tok Mo-li terpental ke belakang akan tetapi dengan berjungkir balik ia dapat turun ke atas panggung, sedangkan Ouw Kwan Lok hanya mundur dua langkah!
Tiba-tiba Souw Tek Bun sudah meloncat naik ke atas panggung.
Ouw Kwan Lok mengira bahwa bekas beng-cu itu hendak mengeroyoknya, akan tetapi ternyata tidak.
Souw Tek Bun memegang tangan isterinya dan menariknya mundur.
"Sudahlah, kita tidak mempunyai urusan sedikitpun dengan pengangkatan beng-cu ini. Siapapun yang akan diangkat, tidak ada urusannya dengan kita!"
Setelah berkata demikian, dia mengajak isterinya melompat turun. Makin besarlah kepala Ouw Kwan Lok. Dia tersenyum memandang kepada Im Yang beng-cu dan berkata lantang.
"Tadi ada yang menyesalkan mengapa Im Yang Seng-cu ketua Kun-lun-pai tidak ikut bertanding. Sekarang setelah aku keluar sebagai pemenang, kalau masih penasaran, silakan Im Yang Seng cu naik ke panggung untuk mengujiku!"
Dengan lagak sopan dan ramah Ouw Kwan Lok menantang! Ini hebat sekali. Menantang ketua Kun-lun-pai, pada hal semua orang tahu betapa lihainya Im Yang Sengcu. Banyak orang berseru.
"Im Yang Seng-cu naik ke panggung!" .dan mereka ingin sekali melihat pemuda sombong itu dikalahkan. Tadinya Im Yang Seng-cu yang sudah tua itu tidak mau melayani tantangan Ouw Kwan Lok, akan tetapi karena banyak suara mengharapkannya, terpaksa dia bangkit dan naik ke panggung. Ouw Kwan Lok menyambut dan memberi hormat.
"Terima kasih kalau to-tiang sudi memberi petunjuk kepadaku!"
Sikapnya kelihatan sopan dan kata-katanya merendah, akan tetapi senyum dan pandang matanya penuh ejekan.
"Sian-cai ...... ! Ouw-sicu sungguh mengagumkan, masih muda sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi. Tung-hai-ong boleh merasa bangga mempunyai seorang murid seperti engkau, Pin-to sudah tua, tidak ingin bertanding, hanya ingin menguji tenaga sin-kangmu."
"Silakan, to-tiang!"
Kata Ouw Kwan Lok.
"Sambutlah seranganku ini, orang muda!"
Im Yang Sengcu lain mengajukan kaki kanannya dan tangan kanannya mendorong dengan telapak tangan terbuka ke arah dada Ouw Kwan Lok.
Pemuda ini cepat mengerahkan tenaga dan diapun mengajukan kaki kanan ke depan dan tangan kanannya yang terbuka di dorongkan ke depan menyambut dorongan tangan kanan kakek itu.
"Desss......... !"
Dua tenaga sakti yang amat kuat bertemu di udara dan akibatnya, Im Yang Seng-cu mundur tiga langkah, akan tetapi Ouw Kwan Lok juga mundur tiga langkah.
Hanya bedanya, kalau pernapasan kakek itu agak memburu, sebaliknya pernapasan Ouw Kwan Lok biasa dan tenang-tenang saja!
Hal ini saja membutktikan bahwa Ouw Kwan Lok masih menang sedikit dan kemenangan ini adalah karena dia jauh lebih muda dari pada lawannya yang sudah berusia tujuhpuluh tiga tahun!
"Sian-cai .....
Ilmu kepandaian Ouw sicu memang hebat dan kalau diukur dengan tingkat kepandaian, memang sudah pantas menjadi beng-cu.
Pin-to tidak ingin mencampuri urusan pemilihan beng cu baru, terserah kepada hadirin sekalian!"
Setelah berkata demikian, Im Yang Seng-cu melompat turun dari atas panggung. Ouw Kwan Lok memandang ke empat penjuru dengan wajah berseri. Dia merasa seolah menjadi orang terpandai di dunia ini.
"Saudara sekalian! Kalau sudah tidak ada lagi yang penasaran, berarti saudara sekalian menerima saya menjadi beng-cu baru, bukan?"
Sorak sorai menyambut ucapan ini, yaitu mereka yang memang mendukung pemuda itu sejak awal.
Sedangkan yang lain, biarpun dalam hati merasa tidak senang, hanya diam saja tidak berani memperlihatkan perasaan mereka.
"Nah, sekarang saudara sekalian. Sebagai beng-cu baru saya ingin melanjutkan rapat pertemuan ini, yaitu membicarakan tentang perjuangan kita menentang pemerintah penjajah Mancu! Saya mempersilakan Hui Sian Hwe-sio sebagai pengundang rapat pertemuan ini untuk menjelaskan apa yang hendak dibicarakan tentang perjuangan ini."
Hui Sian Hwe-sio bicara dari tempat ia berdiri.
"Omitohud.......... Tadinya kami sama sekali tidak hendak membicarakan tentang perjuangan menentang pemerintah penjajah, melainkan membicarakan betapa banyak di antara orang kang-ouw yang bekerja sama dengan orang asing seperti yang baru-baru ini terjadi di pantai timur. Orang-orang kang-ouw dapat diperalat oleh pasukan yang memberontak, dan juga bersekutu dengan orang-orang Jepang. Hal ini amat tidak baik, mencemarkan nama baik dunia kang-ouw dan orang-orang gagah pada umumnya.
"Hui Sian Hwe-sio telah bicara tentang orang-orang yang menentang pemerintah akan tetapi bersekutu dengan pasukan pemberontak dan orang Jepang. Siapa yang akan menanggapi pernyataan itu?"
Kata Ouw Kwan Lok, bersikap sebagai seorang pemimpin.
"Aku akan menjawabnya!"
Tiba-tiba terdengar suara melengking seorang wanita dan ternyata yang bicara itu adalah Nenek Cia! "Silakan bicara!"
Kata Ouw Kwan Lok.
"Kami keluarga Cia sejak dahulu adalah patriot-patriot sejati yang selalu menentang kekuasaan panjajah Mancu. Menurut pandangan kami, orang berjuang menentang penjajah Mancu boleh melakukan segala. cara. Apa salahnya bekerjasama dengan para pemberontak dan orang-orang Jepang? Kami akui bahwa memang kami bekerja sama dengan mereka. Akan tetapi tujuannya adalah menentang penjajah Mancu. Justeru demi berhasilnya perjuangan kita harus merangkul siapa saja untuk memperkuat diri. Heran sekali mengapa ada orang ribut-ribut tentang hal itu, akan tetapi tinggal peluk tangan saja melihat betapa penjajah menindas rakyat jelata?"
"Apa yang dikatakan Nenek Cia tepat sekali. Apakah ada yang akan menanggapi? Dan apakah wakil Siauw-limpai dan Kun-lun-pai yang tadinya menjadi wakil beng-cu lama akan memberikan jawaban?"
"Sian-cai......... !"
Terdengar Im Yang Seng-cu berkata lantang.
"Ucapan Nyonya Cia itu berarti demi mencapai tujuan menghalalkan segala cara! Bukan begitulah sikap seorang pendekar. Betapa. sucipun tujuannya, kalau cara mencapainya kotor, tujuan itu akan tercemar pula. Orang-orang Jepang itu adalah bajak-bajak laut yang sudah banyak mengacaukan kehidupan rakyat di pantai. Seorang pendekar semestinya menentang mereka, bukan malah diajak bersekutu. Seorang pendekar patriot akan berjuang dengan bersih, patriot sejati hanya akan berjuang dengan dukungan rakyat jelata, bukan didukung oleh para penjahat yang hanya akan mengail di air keruh."
"To-tiang, kalau menurut pendapat to-tiang seperti itu, lalu bagaimanakah kalian akan berjuang menentang penjajahan? Dan kapan to-tiang akan mulai berjuang? Selama ini yang namanya orang-orang gagah hanya tunduk dan menurut saja apa yang dikehendaki pemerintah penjajah. Bahkan pemilihan beng-cu yang lalu didukung oleh pemerintah Mancu. Itukah yang dinamakan sikap seorang patriot? Kami lebih condong mendukung pendapat Nenek Cia!"
Kata Ouw Kwan Lok yang disambut sorak sorai golongan hitam yang hadir di situ. Mendengar ini, Im Yang Seng-cu lalu mengibaskan lengan bajunya dan berkata.
"Kalau demikian peristiwa Bengcu, sudahlah. Kami dari Kun-lun-pai tidak akan mencampuri urusan kalian yang menentang pemerintah sambil bersekutu dengan para penjahat! Mari kita pergi meninggalkan tempat ini!"
Mendengar ini, In Kong Thai-su juga mengajak saudara-saudaranya untuk meninggalkan tempat itu. Akan tetapi melihat ini, Ouw Kwan Lok berkata dengan lantang.
"Saudara sekalian harap jangan pergi dulu, kami hendak membuat pengumuman kami yang pertama sebagai beng-cu baru adalah bahwa kedudukan beng-cu berada di Pulau Naga dan kalau ada urusan dengan beng-cu harap datang ke Pulau Naga!"
Para utusan Kun-lun-pai, Siauw-limpai, Kong-thong-pai, Bu-tong-pai, dan Go-bi-pai menghadap Souw Tek Bun yang menjadi tuan rumah untuk berpamit, lalu mereka pergi meninggalkan tempat itu.
Satu demi satu para tamu meninggalkan Hong-san.
Yang paling akhir adalah Ouw Kwan Lok gurunya, Siang Koan Bhok.
Lee Cin tersenyum mengejek.
"Habis, engkau mau apa? Salahmu sendiri sampai lenganmu buntung!"
Mereka saling pandang.
Ouw Kwan Lok merasa sakit hati, bukan hanya karena lengannya dibuntungi gadis itu, akan tetapi juga untuk membalaskan sakit hati para gurunya, mendiang Pak-thian-ong dan Thian-te Mo-ong.
Akan tetapi kini dia menghadapi Lee Cin, Souw Tek Bun dan Ang-tok Mo-li.
Mereka bertiga itu dengan tegak berdiri dan siap untuk melawan.
Biarpun Ouw Kwan Lok bersama Siang Koan Bhok, namun dia tidak berani main-main menghadapi tiga orang itu.
Akhirnya dia tersenyum dan kembali menjura kepada Lee Cin.
"Nona Souw, biarlah lain kali saja aku membalas kebaikanmu itu,"
Katanya lalu pergi bersama gurunya meninggalkan tempat itu. Keadaan menjadi sunyi setelah semua orang pergi. Lee Cin mengepal tinjunya.
"Mengapa ayah melarangku ketika aku hendak menentang dan melawan bangsat itu?"
Katanya dengan kesal.
"Engkau tentu tahu bahwa saat itu sedang diadakan pemilihan beng-cu baru sehingga tidak ada alasannya kalau engkau hendak menyerangnya. Selain itu, kulihat ilmu kepandaian pemuda itu sungguh luar biasa sekali. Bahkan Im Yang Seng-cu tidak dapat mengatasinya, dan Nenek Cia juga kalah olehnya. Sungguh berbahaya kalau engkau hendak melawan dia, Lee Cin."
"Aku tidak takut, ayah. Biarpun aku juga mengerti bahwa ilmu kepandaiannya sudah maju dengan pesatnya dan mungkin saja aku tidak akan mampu menandinginya."
"Aku juga penasaran. Aku ingin mencoba kelihaiannya, akan tetapi engkau menghalangi aku!"
Kata pula Ang-tok Mo-li kepada suaminya. Souw Tek Bun tersenyum.
"Aku hanya menjaga agar jangan sampai engkau dikalahkannya di depan begitu banyak orang. Lain waktu masih banyak kesempatan bagi kita untuk menentangnya kalau dia melakukan kejahatan."
"Celaka! Dia menjadi beng-cu, akan dibawa kemanakah dunia persilatan? Aku tahu, dia adalah seorang pemuda yang herhati palsu dan amat jahat, ayah,"
Kata Lee Cin khawatir.
"Biarpun dia beng-cu, kalau tindakannya tiilak benar, kurasa para orang gagah tak akan menuruti kemauannya. Paling-paling golongan sesat yang akan taat kepadanya,"
Ayahnya menghibur. Sementara itu Ouw Kwan Lok yang melakukan perjalanan dengan Siang Koan Bhok, telah tiba di kaki gunung Hong-san.
"Kwan Lok, kalau gadis puteri Souw Tek Bun itu yang membuntungi lengan kirimu, kenapa tadi engkau tidak membunuhnya saja?"
Siang Koan Bhok menegur muridnya.
"Ia dan ayah ibunya merupakan lawan yang tidak ringan, suhu. Aku khawatir kalau gagal tadi. Kalau aku sudah turun tangan, haruslah berhasil. Biarlah, lain waktu aku pasti akan membalas dendam kepadanya, tidak cukup dengan membunuhnya atau membuntungi lengannya. Sekarang, yang paling penting bagiku adalah menyusun kekuatan. Apa artinya menjadi beng-cu kalau tidak mempunyai anak buah?"
"Anak buah kita di Pulau Naga cukup banyak."
"Akan tetapi mereka hanya anak buah biasa saja, suhu. Yang kumaksudkan, kita harus dapat mengundang orang-orang berkepandaian tinggi untuk menjadi anggautaku di sana. Aku harus dapat membuat seluruh dunia persilatan tunduk kepadaku, dan kalau ada yang tidak mau taat, akan kuberi hajaran. Tentu saja aku harus mempunyai anak buah yang pandai dan banyak."
Siang Koan Bhok mengangguk. Dia kagum kepada murid barunya ini, dan menganggap dia sebagai pengganti Siang Koan Tek, puteranya.
"Jangan lupa untuk membalaskan dendamku kepada Song Thian Lee, Kwan Lok."
"Jangan khawatir, suhu. Tak lama lagi tentu aku akan mampu menghadiahkan kepada Song Thian Lee kepada suhu. Juga isterinya harus mati di tanganku. Mereka bertiga itu, Song Thian Lee, Tang Cin Lan, dan Souw Lee Cin, adalah musuh-musuh utamaku."
Legalah hati Siang Koan Bhok dan dia percaya muridnya ini tidak hanya membual saja.
Dia percaya bahwa dengan tingkat kepandaiannya yang sekarang, Kwan Lok akan mampu menandingi dan mengalahkan Song Thian Lee.
Tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan dan di depan mereka telah berdiri seorang kakek tinggi kurus yang berusia hampir enampuluh tahun.
Kwan Lok dan Siang Koan Bhok segera mengenal kakek ini yang bukan lain adalah Thian to Mo-ong Koan Ek.
�Eh, kiranya suhu Thian-te Mo-ong!"
Tegur Kwan Lok dengan gembira.
"Kwan Lok, lupakah engkau akan pesanku ketika kita berpisah? Engkau tidak memenuhi pesanku, bahkan engkau ikut Tung-hai-ong dan merebut kedudukan beng-cu! Mulai saat ini engkau hatus ikut aku dan membalas dendam kepada musuh-musuhku!"
"Hemm, suhu Thian-te Mo-ong. Aku sama sekali tidak lupa akan pesanmu. Tahukah engkau bahwa aku sampai kehilangan lengan kiri karena memenuhi pesanmu? Sekarang aku tidak perlu memenuhi pesanmu ini karena tiga orang yang suhu musuhi itu juga merupakan musuhku. Musuh kita bersama."
"Heh, Thian-te Mo-ong, apa maumu menghadang perjalanan kami di sini?"
Siang Koan Bhok berseru tidak senang.
"Siang Koan Bhok, engkau mencuri muridku!"
Thian-te Mo-ong membalas dengan marah.
"Tidak, suhu Thian-te Mo-ong. Suhu Siang Koan Bhok tidak mencuriku. Aku yang minta menjadi muridnya dan sekarang kebetulan sekali. Aku sedang mencari-cari orang-orang seperti suhu ini untuk menjadi pengikut dan pembantuku. Marilah suhu, engkau ikut denganku ke Pulau Naga dan kita membangun kekuatan bersama. Kalau kita sudah kuat, apa sih sukarnya membasmi musuh-musuh kita itu?"
"Hemm, engkau berlagak. Aku menjadi pembantumu? Apakah engkau mimpi? Biarpun engkau sudah menjadi beng-cu, engkau tetap muridku. Bagaimana aku sebagai gurumu kini menjadi anak buahmu?"
"Suhu, biarpun aku muridmu, akan tetapi sekarang aku lebih lihai daripada mu. Sekarang begini saja. Kalau suhu dapat mengalahkan aku, baiklah, aku akan ikut dengan suhu dan menaati semua perintah suhu. Akan tetapi sebaliknya kalau suhu kalah olehku, suhu harus ikut ke Pulau Naga dan membantuku. Bagaimana ?"
"Engkau menantangku? Hemm, setelah menjadi murid Siang Koan Bhok, engkau berani menantangku, ya?"
"Tidak, aku tidak akan menggunakan ilmu yang kupelajari dari suhu Siang Koan Bhok. Aku akan melawan suhu dengan ilmu yang kupelajari dari suhu sendiri, dengan demikian barulah adil"
Thian-te Mo-ong tersenyum mengejek.
Dia tadi sudah melihat betapa lihainya Ouw Kwan Lok.
Akan tetapi kalau pemuda itu tidak mempergunakan ilmu silat lain, melainkan menggunakan ilmu silat yang diajarkannya dulu, bagai mana mungkin Kwan Lok mampu menandinginya?
"Baik, bersiaplah.
Siang Koan Bhok menjadi saksinya!"
"Ha-ha-ha, akan kusaksikan betapa Thian-te Mo-ong kalah oleh muridnya!"
Siang Koan Bhok tertawa.
"Awas, lihat seranganku.� Thian-te Mo-ong berteriak ganas dan dia sudah menerjang maju dan menyerang dengan ilmu silat Pek-swat Tok-ciat (Tangan Beracun Salju Putih). Ouw Kwan Lok cepat mengelak lalu balas menyerang dengan ilmu yang sama! Tentu saja Kwan Lok kurang leluasa memainkan ilmu silat itu karena hanya dengan sebeah tangan, akan tetapi dia memiliki gerakan yang lebih cepat dari gurunya itu sehingga dia tidak sampai terdesak.
"Haiiiiittttt ..... !"
Thian-te Mo-ong nengirim pukulan keras sekali dengan tangan kanannya, mengarah kepala muridnya, akan tetapi Kwan Lok membuat gerakan yang sama dengan tangan kanannya, menangkis pukulan itu sambil mengerahkan tenaga sin-kangnya.
"Wuuuttt......... desss.........
Akibat benturan kedua lengan itu, tubuh Thian te Mo-ong terhuyung ke belakang. Ternyata dia kalah kuat! "Nah, suhu telah kalah,"
Kata Kwan Lok sambil tersenyum.
"Baiklah, dalam pertandingan tangan kosong aku mengaku kalah kuat, akan tetapi coba tahan pedangku kalau engkau mampu!"
Kata Thian-te Mo-ong sambil mencabut sepasang pedangnya dan menyilangkan sepasang pedang itu di depan dadanya.
"Baiklah, akan kulayani kehendakmu, suhu!"
Diapun meloloskan pedangnya dari punggung dan keduanya segera bertanding dengan pedang.
Kwan Lok tetap memainkan ilmu pedang yang dipelajarinya dari gurunya.
Akan tetapi karena memang dia menang cepat dan menang kuat, dia segera dapat mendesak Thian-te Mo-ong.
Dia sudah hafal akan gerakan serangan gurunya, maka dia selalu dapat mengelak dan menangkis.
Dan setiap kali menangkis, pedang suhunya terpental.
Kwan Lok mempercepat gerakannya dan sekali membentak nyaring, sambil memutar pedangnya, dia berhasil membuat sepasang pedang itu terpental dan lepas dari tangan Thian-te Mo-ong.
"Bagaimana, suhu, maukah suhu menjadi pembantuku di Pulau Naga?"
Tanya Kwan Lok sambil menyarungkan pedangnya kembali.
Thian-te Mo-ong hampir tidak percaya.
Muridnya ini benar-benar telah mampu mengalahkannya dalam permaianan silat yang pernah diajarkannya!
"Ha-ha-ha, Thian-te Mo-ong, engkau harus mengakui sudah tua dan kalah oleh murid sendiri!"
Siang Koan Bhok menertawainya.
"Dan bagaimana dengan engkau, Siang Koan Bhok? Apakah engkau mampu mengalahkannya?"
Siang Koan Bhok menggeleng kepalanya.
"Aku belum mencobanya dan tidak akan mencobanya. Aku siap menjadi pembantu utama dari Ouw Kwan Lok.
"Bagus, suhu Siang Koan Bhok menjadi pembantu pertama dan suhu Thiante Mo-ong menjadi pembantu kedua. Akan kuat sekali keadaan kita di Pulau Naga."
Thian-te Mo-ong menghela napas dan mengambil sepasang pedangnya.
"Baiklah, aku suka menjadi pembantumu yang ke dua."
Tiga orang itu lalu melanjutkan perjalanan mereka menuju ke Pulau Naga.
-ooOoo-Kaisar Kian Liong memang merupakan seorang kaisar yang baik dan pandai, akan tetapi tiada manusia di dunia ini yang tanpa cacat.
Kaisar Kian Liong suka sekali akan wanita cantik.
Kalau sudah melihat wanita cantik, biarpun wanita itu sudah bersuami, akan diusahakan agar wanita itu dapat menjadi miliknya.
Selir dan dayangnya ratusan orang banyaknya, namun agaknya Kaisar Kian Liong masih memalingkan mukanya kepada wanita lain yang bukan miliknya.
Akan tetapi segala bentuk kesenangan kalau terlalu di turuti, akhirnya membuat orang menjadi bosan juga.
Demikian juga dengan Kaisar Kian Liong.
Akhirnya dia merasa bosan juga bermain-main dengan wanita cantik.
Pada suatu hari, ketika dia duduk dalam tandu, dia melihat wajah seorang di antara para pemikul tandu.
Wajah pemuda itu sedemikian menarik hatinya, membuat Kian Liong teringat akan wajah seorang selir ayahnya yang pernah dicintanya akan tetapi dahulu tak pernah dia dapat memiliki selir ayahnya itu.
Setelah duduk di bagian dalam istana, dia menyuruh panggil pemuda pemikul tandu Setelah pemuda yang berusia delapanbelas tahun itu datang berlutut di depannya, Kaisar Kian Liong semakin tertarik.
Seorang pemuda yang tampan sekali, demikian tampan dan halus bersih kulitnya seperti seorang wanita saja.
Dia lalu mengangkat pemuda itu menjadi pelayannya.
Pemuda itu bernama Ho Shen.
Ketika pada suatu malam Kaisar Kian Long memanggilnya kemudian mengajaknya tidur, pemuda itu diam-diam merasa terkejut dan menganggap kaisarnya telah menjadi gila.
Akan tetapi kemudian dia mengetahui bahwa kaisarnya benar-benar tergila-gila kepadanya dan menjadikan dia sebagai kekasihnya!
MuIai saat itu, Ho Shen yang cerdik itu tidak menyia-nyiakan waktunya.
Dia diangkat menjadi kepala pelayan.
Kalau semua pelayan pria adalah kasim (orang kebiri) maka dia sendiri tidak dan bahkan diangkat menjadi kepala!
Tahun-tahun terlewat dan Ho Shen dapat merayu sang kaisar sedemikian rupa sehingga akhirnya dia diberi kedudukan tinggi sebagai perdana menteri!
Untuk menutupi kecurigaan orang, Kaisar Kian Liong menyuruh Ho Shen menikah.
Peristiwa ini merupakan rahasia, akan tetapi sebaikbaiknya barang busuk ditutupi, baunya tercium juga.
Hanya, orang tidak berani membicarakan secara terbuka dan diam-diam saja, pura-pura tidak tahu.
Mereka bahkan merasa iri kepada Ho Shen yang dapat menumpuk kekayaan dari kedudukannya.
Peristiwa ini akhirnya terdengar pula oleh Panglima muda Song Thian Lee.
Panglima muda ini memang sudah mengambil keputusan untuk mengundurkan diri.
Ketika mendengar berita itu, dia merasa muak dan mendorongnya untuk cepat mengundurkan diri.
Pada suatu hari, dia mohon menghadap Kaisar dan membawa sesampul surat permohonan berhenti dari jabatannya.
Kaisar Kian Liong mengerutkan alisnya setelah membaca surat permohonan itu dan menatap wajah panglima muda Song Thian Lee yang menunduk.
"Song Ciang-kun, apa sebabnya engkau tiba-tiba hendak mengundurkan diri dari jabatanmu? Apakah jabatanmu yang sekarang kurang tinggi?"
"Tidak sama sekali, Yang Mulia. Jabatan sekarang ini sudah cukup tinggi dan terhormat bagi hamba."
"Kalau begitu, apakah penghasilanmu kurang? Gajimu tidak mencukupi?"
"Juga tidak, Yang Mulia. Penghasilan hamba sudah lebih dari cukup, gaji hamba cukup besar."
"Kalau begitu, mengapa engkau hendak mengundurkan diri, Song Ciangkun? Selama ini engkau menjadi panglima muda yang cakap dan setia, bahkan baru-baru ini engkau sudah berhasil memadamkan pemberontakan di pantai timur. Lalu mengapa mendadak engkau ingin berhenti?"
"Terus terang saja, Yang Mulia. hamba ingin hidup dalam suasana tenang dan damai bersama anak isteri hamba."
"Apakah selama menjadi panglima di sini hidupmu tidak tenang dan tidak damai?"
Song Thian Lee memberi hormat.
"Memang tidak, Yang Mulia. Terutama sekali kalau hamba melaksanakan tugas, beberapa kali hamba harus berhadapan dan melawan para pendekar yang ikut memberontak. Hamba merasa bersalah dan gelisah."
"Hemm, akan tetapi mereka adalah pemberontak yang hanya mendatangkan kekacauan dalam kehidupan negara dan rakyat!"
"Memang benar, Yang Mulia. Akan tetapi merekapun merupakan segolongan pendekar."
"Kalau......... engkau memihak kepada mereka yang memberontak, Song-ciangkun?"
"Sama sekali tidak, Yang Mulia. Biarpun mereka itu pendekar, kalau mereka bersekutu dengan orang-orang asing dan pemberontak seperti di pantai timur itu, hamba akan tetap menentang."
"Song-ciangkun, apakah sudah engkau pikir baik-baik keputusanmu ini? Kami akan merasa kehilangan sekali kalau engkau mengundurkan diri. Bukankah selama ini kita bersahabat dan kami bersikap balk kepadamu?"
"Ampun, Yang Mulia. Memang Yang Mulia telah memberi anugerah dan kebaikan kepada hamba. Akan tetapi hamba sudah memikirkan dengan matang. Hamba tidak ingin menjadi seorang panglima yang diam-diam membenci pekerjaannya sendiri. Lebih baik hamba berterus terang dan minta berhenti dengan hormat."
"Baiklah, Song-ciangkun. Kami dapat menghargai kejujuranmu. Akan tetapi karena pengunduran dirimu merupakan urusan besar dan menyangkut penataan pasukan, kami akan membicarakan dengan Panglima Tua Bouw dan Panglima Coa agar dapat diatur bagaimana baiknya dan siapa yang akan menggantikan jabatanmu. Sesudah itu, baru kami akan memberi surat pelepasan kepadamu."
Setelah memberi hormat dan mengucapkan terima kasih, Song Thian Lee mengundurkan diri keluar dari istana.
Tak lama setelah Song Thian Lee pergi, Kaisar Kian Liong memanggil Panglima Tua Bouw Kin Sek dan wakilnya, yaitu Panglima Coa Kun.
Setelah kedua orang panglima itti menghadap, Kaisar Kian Liong lalu memberitahu kepada mereka.
"Baru saja Song-ciangkun menghadap kami dan mengutarakan niatnya untuk mengundurkan diri sebagai panglima. Apakah kalian berdua mengetahui apa sebabnya?"
Dua orang panglima itu saling Pandang dan Bouwciangkun segera menjawab.
"Sepanjang yang hamba ketahui, tidak ada sebab-sebab yang menyebabkan dia mengundurkan diri, Yang Mulia."
"Hemm, akan tetapi dia mengatakan bahwa hatinya tidak merasa nyaman karena dalam pemberantasan pemberontak, seringkali dia harus berhadapan dengan para pendekar. Apakah kalian mengetahui apa artinya itu?"
Coa Ciang-kun yang tinggi kurus dan bermuka pucat itu lalu memberi hormat.
"Ampun, Yang Mulia. Kalau hamba tidak salah duga, hamba mengetahui sebab-sebabnya."
"Coba ceritakan, Coa-ciangkun,"
Kata kaisar.
"Ketika Song-ciangkun memadamkan pemberontakan di timur, dia tidak mau mempergunakan pasukan untuk membasmi sebuah keluarga yang sangat benci kepada kerajaan. Keluarga itu adalah Keluarga Cia dan mungkin keluarga Cia yang telah membunuhi pembesar-pembesar yang setia kepada paduka. Akan tetapi panglima Song tidak inelanjutkan pengejaran dan membiarkan mereka itu lolos!"
"Wah, itu merupakan kesalahan besar! Membasmi pemberontak haruslah sampai ke akar-akarnya! Kalau keluarga itu tidak dibasmi, tentu mereka lain kali akan mengadakan pemberontakan lagi."
"Ampun, Yang Mulia,"
Kata Panglima Tua Bouw Kin Sek yang memang mencari kesempatan.
"Kalau begitu, mundurnya Panglima Song tentu ada kaitannya dengan itu. Jangan-jangan dia mundur untuk menyusun kekuatan untuk memberontak bersama Keluarga Cia itu!"
"Hamba juga mendengar berita yang mencurigakan, Yang Mulia. Baru baru ini para kang-ouw mengadaka pertemuan di Hong-san untuk memilih ketua baru. Akan tetapi tidak seperti biasanya, mereka tidak mengundang perwira setempat sehingga pemilihan itu gelap bagi kita. Jangan-jangan ini ada hubungannya pula dengan berhentinya Songciangkun. Mereka hendak menyusun kekuatan!"
Kata pula Coa-ciangkun. Wajah Kaisar Kian Liong menjadi merah dan alisnya berkerut, lalu tangannya mengepal tinju.
"Sangat boleh jadi dugaan kalian itu! Kalau begitu kalian harus turun tangan. Setelah dia berhent nanti, kalian harus mengutus orang-orang pandai dan mengamati gerak-geriknya dan kalau benar dia mengadakan perhubungan dengan para pemberontak, jangan ragu-ragu lagi, tangkap dan binasakan Songciangkun!"
"Baik, Yang Mulia. Hamba akan mengaturnya!"
Jawab Bouw-ciangkun yang merasa girang karena diam-diam panglima ini membenci Song Thian Lee yang mendapat kepercayaan besar dari Kaisar.
Dia merasa iri dan benci.
Akan tetapi, orang yang baik dan benar selalu dilindungi oleh Kekuasaan yang tidak tampak.
Percakapan antara dua panglima dan kaisar ini didengar oleh seorang thai-kam (kasim) yang bertugas di situ.
Thia-kam ini amat mengagumi Song Thian Lee, dan mendengar itu, diam-diam dia lalu mengirim surat kepada Thian Lee, memberitahu bahwa pendekar itu teramcam dan harus berhati-hati karena tindak-tanduknya akan diamati dengan ancaman mati.
Song Thian Lee bercakap-cakap dengan, isterinya tentang permintaannya mundur dari jabatannya.
"Apa yang kau lakukan itu aku setuju sekali, Lee-ko. Kalau aku teringat akan orang-orang tua kita yang tewas oleh pasukan pemerintah, sungguh aneh sekali kalau sekarang engkau malah nenjadi panglima pemerintah. Aku sendiri puteri angkat seorang pangeran, maka akupun tidak dapat berkata apa-apa ketika engkau diangkat menjadi panglima. Namun di sudut hatiku, aku merasa tidak enak sekali."
"Benar kata-katamu. Bukan hanya mengingat akan orang tua kita, akan tetapi juga mengingat akan saudara-saudara Para pendekar di dunia kang-ouw, mereka tentu tidak senang mendengar aku menjadi panglima kerajaan. Ayahku dulu adalah seorang tokoh Kun-lun-pai yang patriotik yang gagah, akan tetapi anaknya sekarang menjadi panglima kerajaan penjajah. Kalau aku melakukan tugas membasmi pemberontak, aku sering bertemu dengan orang-orang kangouw yang ikut memberontak. Nah, di situ hatiku menjadi tidak senang sekali karena pekerjaanku ini berlawanan dengan batinku."
"Lalu, kalau engkau sudah mengundurkan diri, apakah kita juga akan tetap tinggal di kota raja, Lee-ko?"
"Tidak, Lan-moi. Kota raja bukan tempat yang tepat untuk kita hidup secara aman dan tenteram. Aku akan tinggal di kampung halamanku, yaitu di dusun Tung-sinbun yang tidak jauh dari kota raja. Aku akan menjauhkan diri dari semua pemberontakan-pemberontakan kecil sambil menanti datangnya saat di mana rakyat yang akan memberontak terhadap penjajah. Aku juga akan menjauhkan diri dari dunia kang-ouw. Aku ingin tinggal di dusun di mana dahulu ayahku tinggal dan hidup sebagai seorang petani."
"Akan tetapi kalau sekali waktu aku merasa rindu kepada ibu, bolehkah aku pergi menengoknya di istana ayah?"
"Tentu saja boleh."
Beberapa hari kemudian, surat keputusan dari Kaisar tiba, yaitu yang menyetujui bahwa Thian Lee mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai panglima.
Karena setelah tidak lagi menjali panglima muda dia harus meninggalkan gedung yang sekarang menjadi tempat tinggalnya, maka setelah menerima surat keputusan itu, Thian Lee segera memboyong keluarganya pindah ke dusun Tung-sin-bun.
Pangeran Tang Gi Su, ayah tiri Cin Lan, terkejut sekali mendengar akan mundurnya Thian Lee dari jabatannya.
Dia segera mengunjungi Thian Lee dan bertanya tentang hal itu.
Akan tetapi setelah menerima penjelasan Thian Lee, pangeran yang bijaksana itupun dapat mengerti.
Mantunya adalah seorang pendekar besar, tentu saja merasa tidak enak kalau harus bermusuhan dengan sesama pendekar yang mendukung pemberontakan terhadap pemerintah Mancu.
Dia hanya menghela napas dan memesan kepada mantunya itu agar jangan melibatkan diri dengan pemberontakan karena dia akan merasa berduka sekali kalau mantunya menjadi musuh kerajaan.
Ci Tung-sin-bun, Thian Lee membeli rumah ayahnya yang dulu, membangunnya kembali dan membeli beberapa petak sawah ladang dan selanjutnya dia hidup sebagai petani.
Sama sekali dia tidak tahu dan tidak mengira bahwa segala gerak geriknya diawasi dengan tajam oleh orang-orang yang disebar oleh Bouw-ciangkun dan Coa-ciangkun.
Dia hidup sebagai seorang petani, mempergunakan tenaga buruh tani untuk menggarap sawah ladangnya, juga dia berusaha untuk memperdagangkan hasil bumi.
Thian Lee hidup dengan tenang dan sederhana bersama Tang Cin Lan dan Song Han San, putera mereka yang kini sudah berusia tiga tahun.
-ooOoo-Kota Cin-an, amat ramainya..
Kota besar ini menjadi penting karena berada di dekat Sungai Huang-ho yang menghubungkannya sampai ke lautan di Teluk Pohai, dan menghubungkan kota Cin-an dengan barat.
Lalu lintas perdagangan melalui Sungai Huang-ho menjadi kota Cin-an makin ramai dikunjungi banyak pedagang dari lain daerah.
Untuk menampung dan melayani para pengunjung yang banyak jumlahnya, maka di Cin-an didirikan banyak rumah penginapan yang merangkap sebagai rumah makan.
Pada suatu hari, seorang pemuda yang menumpang pada perahu besar yang membawa banyak penumpang yang datang dari barat, turun mendarat lalu melakukan perjalanan menuju kota Cin-an.
Pemuda ini berusia duapuluh satu tahun, berpakaian sebagai seorang pelajar miskin karena pakaiannya terbuat dari kain kasar.
Pemuda ini berwajah tampan dan gerak geriknya lembut seperti biasa gerakan seorang pelajar atau sastrawan.
Mulutnya yang selalu mengandung senyum ramah dan sabar itu membuat wajahnya selalu tampan cerah gembira dan matanya yang bersinar-sinar menandakan bahwa dia memandang kehidupan ini sebagai sesuatu yang patut disyukuri dan menggembirakan.
Pemuda itu bukan lain adalah Cia Tin Han.
Seperti kita ketahui, Tin Han adalah putera Cia Kun dan cucu Nenek Cia yang galak.
Tidak seperti kakaknya, Cia Tin Siong yang sejak kecil tampa mempelajari ilmu silat dengan tekun Tin Han lebih kelihatan sebagai seorang sastrawan yang suka akan pelajaran sastra.
Akan tetapi di luar tahu semua keluarganya, diam-diam Tin Han digembleng oleh seorang pertapa aneh berjuluk Bu Beng Lo-jin sehingga tanpa ada yang mengetahui dia memiliki tingkat ilmu silat yang bahkan lebih tinggi dari pada kakaknya, bahkan tingkatnya hampir menandingi tingkat kepandaian silat neneknya.
Akan tetapi, kalau neneknya dan seluruh keluarganya berwatak patriot dan mati-matian membenci Kerajaan Mancu dan berusaha dengan segala daya untuk menentang pemerintahan, sebaliknya Tin Han tidak menyetujui sikap neneknya yang tidak segan bersekutu dengan orang-orang Jepang dan orang-orang sesat.
Tin Han memiliki jiwa patriot sejati yang tidak mau dikotori oleh hubungan dengan orang-orang dari dunia sesat, apa lagi dengan orang-orang Jepang yang sesungguhnya hanya bajak-bajak laut itu.
Dia berjiwa pendekar yang menegakkan kebenaran dan keadilan.
Kalau keluarganya memusuhi semua pembesar walaupun ada di antara mereka yang baik dan bijaksana, Tin Han tidak memusuhi pembesar yang bijaksana, hanya menentang pembesar yang menindas rakyat, pembesar korup yang hanya memperkaya diri sendiri tanpa memperdulikan kesengsaraan rakyat.
Terhadap pembesar yang bijaksana, Tin Han hanya memperingatkan agar mereka tidak menjadi antek Mancu menindas rakyat.
Ketika keluarganya bersekutu dengan orang-orang Jepang dan para tokoh sesat, membantu pemberontakan yang dilakukan Phoa-ciangkun di pantai timur, Tin Han tidak ikut, bahkan beberapa kali dia menghalangi keluarganya yang menangkap Lee Cin dan juga Thian Lee yang menyamar sebagai orang biasa dalam penyelidikannya.
Dalam melakukan hal ini Tin Han mengenakan pakaian dan topeng hitam sehingga dia dikenal sebagai Si Kedok Hitam.
Akan tetapi akhirnya dia ketahuan oleh keluarganya dan dalam pertempuran sebagai Kedok Hitam menentang keluarganya dan membebaskan Lee Cin, dia terkena tendangan neneknya dan terjatuh ke dalam jurang yang amat dalam.
Baru pada saat itu keluarganya tahu bahwa Si Kedok Hitam adalah Tin Han.
Telah diceritakan di bagian depan, betapa Tin Han yang terjatuh ke dalam jurang tertolong oleh Hek-tiauw-ko, burung rajawali hitam yang besar itu dan bertemu dengan gurunya, Bu Beng Lojin dan Thai Kek Cin-jin kakek pertapa pemilik burung rajawali yang berilmu tinggi.
Selanjutnya, Tin Han menjadi murid Thai Kek Cin-jin.
Walaupun dia diajar ilmu oleh kakek sakti itu selama tiga bulan saja, namun tingkat kepandaiannya telah maju dengan pesat sekali dan kini Tin Han sama sekali berbeda dengan Tin Han sebelum dia terjatuh ke dalam jurang!
Dia telah menguasai dua macam ilmu yang diajarkan Thaikek Cin-jin, yaitu pertama Ilmu Silat Hek-tiau-kun (Silat Rajawali Hitam), dan cara menghimpun tenaga sin-kang yang disebut Khong-sim Sinkang yang membuat dia dapat bergerak cepat sekali dan tenaganya menjadi amat kuat.
Setelah berpisah dari Thai Kek Cin-jin, Tin Han lalu mulai melakukan perjalanan merantau.
Pertama-tama dia pergi ke kota Hiu-cu di kaki bukit Lo-sian-san untuk mencari tahu perihal keluarganya.
Akan tetapi di tempat ini dia hanya melihat bekas tempat tinggal keluarganya saja dan tidak ada seorangpun mengetahui di mana adanya keluarga Cia sekarang.
Dari situ dia lalu melakukan perjalanan merantau, memenuhi pesan gurunya bahwa dia harus bertindak sebagai seorang pendekar pembela kebenaran dan keadilan.
Pada suatu hari, dia tertarik untuk menumpang perahu dan setelah perahu tiba di dekat Cin-an, dia mendarat karena hatinya tertarik untuk pergi ke Cin-an, kota yang ramai itu.
Perjalanan dari tepi Huang-ho ke Cin-an memakan waktu sehari.
Dari tepi sungai itu telah dibangun jalan yang cukup lebar dan para pedagang yang datang berkunjung, biasanya melakukan perjalanan bersama-sama agar lebih aman.
Bahkan di Cin-an maupun di tepi sungai itu, banyak piauwsu (pengawal bekerja untuk mengawal) mereka agar selamat dalam perjalanan.
Jarang ada yang berani melakukan perjalanan seorang diri karena dia dapat menjadi korban orang-orang jahat yang suka merampok.
Dengan berkelompok mereka dapat menyewa beberapa orang piauwsu untuk mengawal mereka, apa lagi mereka yang membawa barang dagangan dan menggunakan gerobak-gerobak untuk mengangkut barang-barang dagangan mereka itu.
Di antara para piauw-su dan para penjahat itu sudah ada kerja sama yang baik.
Para piauw-su itu suka memberi uang jalan kepada para penjahat dan mereka tidak akan mengalami gangguan.
Akan tetapi Tin Han yang ingin menikmati perjalanan itu, melakukan perjalanan seorang diri saja.
Dia melangkah santai sambil menggendong buntalan pakaian di punggungnya, menikmati keindahan pemandangan alam di sepanjang perjalanan.
Lembah Sungai Huang-ho di waktu tidak sedang meluap karena banyak turun hujan, merupakan lembah yang subur sehingga pemandangan indah sekali.
Ketika Tin Han sedang berjalan seenaknya, terdengar seruan-seruan dari belakang.
Dia cepat menengok dan berjalan minggir.
Ternyata serombongan pedagang membawa dua gerobak barang dagangan sedang melakukan perjalanan cepat.
Mereka dikawal oleh sepuluh orang piauw-su yang membawa golok telanjang di tangan.
Tin Han berhenti dan memandang mereka itu.
Kenapa orang-orang ini membawa pengawal, pikirnya.
Tentu perjalanan di sini kurang aman.
Baru saja dia berpikir demikian, dia melihat di depan muncul belasan orang yang menghadang di jalan.
Tin Han yang ingin tahu segera mendekat dan menonton dari kejauhan.
Dia melihat betapa para piauw-su itu menghampiri mereka yang menghadang di tengah jaIan dan mereka bercakap-cakap, lalu para piauw-su itu menyerahkan barang entah apa kepada mereka.
Mereka bercakap sambil tertawa-tawa dan setelah itu, belasan orang itu berloncatan menghilang ke balik semak-semak.
Rombongan itu lalu melanjutkan perjalanan mereka.
Tin Han mengangguk-angguk.
Biarpun dia tidak tahu apa yang dibicarakan oleh para piauw-su dan para pedagang tadi, dia dapat menduga.
Tentu para piauw-su itu telah memberi "uang jaIan"
Kepada para perampok itu sehingga rombongan itu dibiarkan lewat dengan aman.
Ini merupakan semacam pemerasan pikirnya.
Perampok-perampok itu menerima suapan dari para piauw-su dan ini merupakan kerja sama mereka.
Tentu para piauw-su itu minta ganti dari para pedagang.
Lalu ke mana perginya para petugas keamanan?
Di mana-mana dia melihat terjadinya perampokan-perampokan tanpa adanya petugas keamanan untuk membasmi para penjahat itu.
Ini hanya menunjukkan bahwa mereka yang bertugas menjadi komandan pasukan keamanan daerah itu tidak bekerja dengan benar.
Kalau mereka itu bijaksana, tentu sudah mendengar akan adanya gangguan ini dan mudah saja bagi mereka untuk membasmi para perampok itu.
Sungguh kasihan rakyat, seolah tidak ada yang melindungi, dan terpaksa harus menyuap para perampok.
Yang paling menderita tentulah para pembeli barang dagangan itu karena dengan adanya biaya yang banyak dalam perjalanan, tentu barang dagangannya akan dinaikkan harganya.
Akhirnya yang menderita adalah rakyat yang membutuhkan barang-barang itu.
Tin Han melanjutkan perjalanannya.
Ketika dia tiba di tempat di mana para penghadang tadi muncul, dia melihat dua orang tiba-tiba muncul dari balik semak-semak.
Dia tidak menjadi heran atau kaget karena dia sudah tahu bahwa mereka tentulah perampok yang sengaja akan "memungut pajak"
Kepada setiap orang yang lewat di situ.
"Berhenti !"
Bentak seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi besar dan berwajah seram.
"Ada apakah kalian menyuruhku berhenti?"
Tanya Tin Han sambil tersenyum ramah.
"Kalau kalian hendak menanyakan jalan, aku sendiri orang yang baru datang di sini dan tidak mengenal jalan."
"Hayo bayar dulu pajak jalanan kepada kami!"
Bentak pula si tinggi besar sambil mengamangkan goloknya yang telanjang.
"Pajak jalanan apa yang kau maksud kan? Aku tidak mengerti,"
Kata Tin Han, pura-pura.
"Yang lewat di sini harus membayar pajak jalanan kalau ingin selamat sampai di Cin-an!"
"Akan tetapi aku tidak mempunyai uang,"
Katanya.
"Kalau tidak punya uang, tinggalkan buntalan yang kaugendong itu dan kami akan menggeledah kantung-kantung pakaianmu!"
"Wah, jangan begitu, sobat. Buntalan ini adalah pakaianku untuk berganti pakaian, dan uangku hanya tinggal dua tail."
Tin Han mengeluarkan uangnya yang memang hanya tinggal dua tail, lalu menyodorkan kepada mereka.
"Untuk apa uang dua tail ? Hayo lepaskan buntalan itu!"
Perampok ke dua yang bertumbuh pendek gendut merenggutkan buntalan pakaian itu dari pundak Tin Han.
Kemudian, yang tinggi besar menggeledah saku pakaian Tin Han akan tetapi dia tidak menemukan apapun yang berharga.
Dia lalu mengantungi uang yang dua tail perak dan mengambil pula buntalan pakaian Tin Han.
"Nah, tinggalkan buntalan ini dan kau boleh melanjutkan perjalananmu. Cepat!"
Si tinggi besar mengamangkan goloknya.
Tin Han cepat melanjutkan perjalanannya.
Ketika dia tiba di sebuah tikungan jalan, Tin Han melompat ke dalam hutan di sebelah kanan jalan dan di balik sebatang pohon besar dia menanggalkan pakaian luarnya.
Kini dia memakai pakaian dalam yang serba hitam, mengambil pula kain hitam yang tadinya dilibatkan di pinggang dan memasang kain hitam itu di depan mukanya.
Yang tampak kini hanya sepasang matanya.
Setelah menanggalkan pakaian luarnya dan mengenakan pakaian hitam yang memang sudah dipakainya di sebelah dalam, gerakan Tin Han berubah.
Dengan gesit sekali dia lalu melompat dan berlari ke tempat tadi.
Dia tidak melalui jalan raya, melainkan menyusup-nyusup dalam hutan itu mencari-cari.
Akhirnya dia menemukan gerombolan perampok itu.
Ternyata gerombolan itu mempunyai sebuah pondok besar di tengah hutan dan mereka sedang minum minum, bahkan ada yang mabok dan tertawa-tawa.
"Ha-ha-ha, hasil kita hari ini cukup memuaskan!"
Kata seorang di antara mereka.
"Wah, lama-lama kita bisa menjadi malas, mendapatkan hasil besar tanpa bekerja sedikitpun."
"A-sam! Kenapa sastrawan miskin itu tidak kau biarkan lewat saja? Sialan besar, uangnya hanya dua tail dan buntalan itu hanya terisi pakaian butut!"
"Tidak ada seorangpun yang boleh kita biarkan lewat tanpa membayarkan sesuatu. Terlalu enak bagi sastrawan itu kalau dia lewat tanpa membayarkan apa-apa. Biar dia tahu rasa, datang ke Cin-an tanpa sekepingpun uang di sakunya dan tanpa pakaian pengganti sepotongpun, ha-haha!"
Semua orang tertawa geli membayangkan sastrawan miskin itu kebingungan di Cin-an!
Tin Han mengerutkan alisnya dan dia segera melompat turun dari atas pohon, tiba di depan pondok.
Semua perampok itu terkejut bukan main ketika tiba-tiba ada seorang berpakaian hitam dan bertopeng hitam pula berada di situ.
Kepala gerombolan itu seorang tinggi kurus yang wajahnya kekuning-kuningan.
Melihat orang bertopeng, dia menjadi marah dan segera maju dan membentak.
"Siapa kau dan mau apa datang ke sini?"
Sementara itu teman-temannya sudah mengambil posisi mengepung Tin Han.
"Tidak penting siapa aku! Yang penting, lekas kalian kumpulkan semua barang dan uang hasil rampokan kalian dan serahkan kepadaku!"
Bentak Tin Han.
Kepala gerombolan itu tentu saja menjadi marah bukan main.
Mereka adalah perampok-perampok ganas, bagaimana kini ada orang yang berani merampok mereka?
"Jahanam busuk, tidak tahukah engkau dengan siapa engkau berhadapan?
Aku adalah Toat-beng Ui-houw (Harimau Kuning Pencabut Nyawa) yang sudah terkenal di wilayah ini.
Hayo katakan siapa engkau dan cepat berlutut kalau engkau tidak ingin nyawamu kucabut!"
Sambil berkata demikian, kepala gerombolan yang nama julukannya Harimau Kuning Pencabut Nyawa itu telah melolos sebatang golok besar yang tampaknya berat dan tajam sekali.
Tin Han tersenyum di balik topengnya.
"Engkau yang jahanam busuk! Kalau tidak cepat kalian berikan semua hasil rampasan dan sogokan dari para piauw-su itu, jangan salahkan aku kalau engkau menjadi Bu-thow Ui-houw (Harimau Kuning Tanpa Kepala)!"
Dimaki dengan ejekan seperti itu, kepala perampok menjadi marah bukan main.
"Bunuh jahanam ini!"
Perintahnya dan limabelas orang anak buahnya sudah menerjang maju sambil menghujankan golok mereka. Mereka mengira bahwa orang bertopeng itu akan roboh dengan tubuh hancur lebur. Akan tetapi.
"trang trang-trang!"
Golok mereka sating beradu dan si kedok hitam sudah tidak berada di tengah-tengah mereka.
Mereka memutar tubuh dan melihat betapa si kedok hitam sudah berdiri di sana sambil tertawa-tawa.
Dengan marah mereka menerjang lagi.
Akan tetapi sekali Tin Han tidak mengelak dan begitu dia menggerakkan kaki tangannya, golok-golok berpelantingan disusul para pengeroyok itu roboh satu demi satu.
Melihat ini, Toat-beng Hui-houw menjadi marah sekali dan sambil mengeluarkan bentaka panjang nyaring diapun lari menghampiri dan menyerang Tin Han dengan goloknya.
Serangan yang cukup dahsyat itu tampaknya tidak diperdulikan oleh Tin Han.
Akan tetapi setelah golok itu mendekat kepalanya, tiba-tiba tangan kirinya menyambar dan menyambut.
Dengan tangan telanjang Tin Han menangkap golok itu dan tangan kirinya membabat lengan kanan kepala gerombolan.
"Trakk......... ......... aduhhh.....!"
Kepala gerombolan menjerit kesakitan karena lengan kanannya patah tulangnya ketika bertemu dengan tangan Tin Ham.
Sebelum dia dapat berbuat selanjutnya, sebuah tendangan Tin Han membuat tubuhnya terlempar ke belakang sampai lima meter dan jatuh berdebuk di atas tanah.
Para anak buah perampok itu menjadi penasaran dan semakin marah.
Mereka menyerang lagi, akan tetapi kini tubuh Tin Han berlompatan ke sana sini membagi-bagi tamparan dan tendangan sehingga dalam waktu singkat limabelas orang anak buah gerombolan itu sudah jatuh tersungkur semua!
Bukan main kagetnya Toat-beng Ui houw.
Diapun menjadi ketakutan dan maklum bahwa dia bertemu dengan seorang sakti!
Maka, tanpa malu-malu la gi dia lalu berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalanya ke arah Tin Han sambil berkata.
"Tai-hiap (Pendekar Besar), ampunkan kami semua........."
Dia meratap dan melihat ini, limabelas orang anak buahnya juga segera berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Tin Han bertolak pinggang.
"Hayo cepat lakukan perintahku. Keluarkan semua uang dan barang rampasan dan suapan yang kalian terima dari para piauw-su itu!"
Kepala perampok itu memberi isyarat dan lima orang anak buahnya setengah berlari ke dalam pondok dan mereka keluar lagi sambil membawa banyak barang dan uang, ditumpuk di depan Tin Han.
Tin Han mengambil tumpukan uang yang banyaknya tidak kurang dari limapuluh tail perak.
Dia mengambil pula buntalan pakaianya, memasukkan uang itu ke dalam buntalannya lalu menggendong lagi buntalan itu di punggungnya.
"Aku hanya mengambil uang dan buntalan ini, barang selebihnya boleh kalian miliki. Akan tetapi, mulai saat ini kalian tidak boleh lagi melakukan penghadangan dan perampokan di sini. Kalau kalian masih melakukannya, aku akan datang kembali dan tidak akan memberi ampun kepada kalian semua. Akan kubunuh kalian satu demi satu!"
Tin Han membalikkan tubuhnya dan hendak pergi dari situ.
"Ampun, tai-hiap. Kami akan menaati perintah tai-hiap, akan tetapi harap tai-hiap memberitahu siapa sebetulnya tai-hiap,"
Kata kepala gerombolan dengan takut-takut.
"Hemm, sebut saja aku Hek-tiauw Eng-hiong (Pendekar Rajawali Hitam )!"
Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Tin Han sudah lenyap dari depan mata mereka.
Tin Han kembali ke tempat di mana dia meninggalkan pakaiannya dan dengan cepat dia mengenakan lagi pakaian biasa di sebelah luar itu dan sambil menggendong buntalannya dia melanjutkan perjalanannya menuju Cin-an.
Dia tersenyum senang.
Uangnya tinggal dua tail dan uang limapuluh tail yang dia rampas dari para perampok itu amat berguna baginya.
Untuk biaya perjalanannya.
Melakukan perjalanan merantau membutuhkan uang untuk biaya dan dari mana dia dapat memperoleh uang itu?
Kalau perlu dia harus mencuri atau mengambil dari tangan para penjahat!
-ooOoo-Di kota Cin-an, Tin Han bermalam di sebuah rumah penginapan yang juga merupakan sebuah rumah makan yang besar.
Setelah mendapatkan kamar, dia pergi ke depan, bagian rumah makan dan mengambil tempat duduk di meja yang berada di sudut belakang.
Selagi dia menanti datangnya pesanan makanan, dia melihat-lihat ke bagian lain dari ruangan rumah makan itu.
Dia tertarik ketika melihat seorang laki-laki berusia kurang lebih tigapuluh tahun duduk seorang diri menghadapi meja.
Laki-laki ini bertubuh sedang dan wajahnya cukup tampan, pakaiannya sederhana berwarna serba hijau.
Yang menarik perhatian Tin Han adalah sebuah tongkat bambu kuning yang terselip di punggungnya.
Aneh sekali orang itu, pikirnya.
Agaknya karena tidak berani membawa senjata yang dilarang oleh pemerintah, dia membawa tongkat bambu kuning sebagai pengganti pedang.
Rambutnya dikuncir panjang dan berada di belakang punggung lewat pundaknya.
Sepasang matanya bersinar tajam dan diam-diam Tin Han dapat menduga bahwa orang itu tentu memiliki ilmu silat yang tangguh.
Dari sinar matanya saja dia dapat menduga bahwa dia seorang ahli lweekeh (Tenaga dalam) yang kuat.
Ketika orang itu mengangkat muka dan mereka bertemu pandang, Tin Han mengalihkan pandang matanya dan tidak memperhatikan lagi orang itu, yang mulai makan karena hidangan yang dipesannya sudah diantar oleh seorang pelayan.
Pada saat itu, ruangan tamu di rumah makan itu sudah terisi separuhnya.
Tiba-tiba masuk dua orang yang membuat Tin Han terkejut sekali karena dia menyangka bahwa seorang di antara mereka adalah Souw Lee Cin!
Gadis itu mirip benar dengan Lee Cin.
Akan tetapi debar jantungnya menjadi tenang kembali setelah dia mendapat kenyataan bahwa gadis itu bukan Lee Cin, melainkan seorang gadis yang mirip dengan Lee Cin.
Setelah diperhatikan, biarpun gadis itu juga cantik, akan tetapi tidaklah secantik Lee Cin.
Teman gadis itu juga seorang pemuda yang usianya sekitar duapuluh lima tahun dan tampak gagah dan tampan.
Mereka lalu mengambil tempat duduk di meja yang kosong dan memesan makanan.
Pada saat itu, orang berbaju hijau itupun mengangkat muka memandang kepada dua orang muda yang baru masuk karena mereka kebetulan duduk di bagian depannya.
Dan Tin Han melihat sesuatu yang membuatnya terkejut.
Dari sinar mata orang berbaju hijau itu tampak kebencian dan kemarahan yang amat hebat!
Akan tetapi agaknya orang itu menahannya dan tetap melanjutkan makannya.
Tin Han juga tidak memperhatikannya lagi.
Pertemuannya dengan gadis yang mirip Lee Cin ini membuat Tin Han teringat kepada gadis yang dicintanya itu.
Dia mencinta.
Lee Cin dan perasaan hatinya ini telah dibisikkannya kepada gadis itu ketika dia menolongnya lari dari tangan keluarganya.
Dia sudah mengaku bahwa dia mencinta Lee Cin, sebagai Si Kedok Hitam!
Di manakah adanya Lee Cin sekarang?
Dan apakah gadis itu melihat dia terjatuh ke dalam jurang?
Kalau melihatnya demikian, tentu Lee Cin akan menganggap bahwa dia.
telah mati!
Tin Han termenung dan teringat bahwa Lee Cin adalah puteri Bengcu Souw Tek Bun di Hong-san.
Sekali waktu dia akan mencari Lee Cin di sana.
Tentu saja dia tidak dapat mencarinya sebagai Si Kedok Hiram karena Si Kedok Hitam pernah melukai Souw Tek Bun yang tentu akan menganggapnya sebagai musuh.
Dia akan mencarinya, sebagai Tin Han!
Lee Cin tentu belum mengetahui bahwa dialah Si Kedok Hitam, dan sebagai Tin Han dia dapat menemui gadis itu dengan aman, tidak terganggu oleh ayah gadis itu.
Berdebar jantungnya teringat akan Lee Cin.
Bagaimana gadis itu akan menyambutnya kalau bertemu dengannya sebagai Tin Han?
Sepanjang ingatannya, Lee Cin bersikap baik kepadanya sebagai Tin Han, sikap bersahabat.
Entah bagaimana penerimaan gadis itu terhadap dirinya sekarang, apa lagi kalau dia menyatakan cintanya!
Lamunannya terganggu dengan datangnya pelayan yang membawa makanan pesanannya.
Dia lalu mulai makan dan kembali dia mengerling ke arah pemuda baju hijau.
Pemuda baju hijau itu telah selesai makan sekarang, akan tetapi dia masih minum-minum sambil terkadang melirik ke arah muda-mudi yang makan di meja yang berada di depannya.
Tin Han merasa curiga.
Sinar mata pemuda baju hijau itu selalu ditujukan kepada si gadis, tidak pernah memandang si pemuda kawan gadis itu.
Tin Han teringat akan sesuatu dan terkejut.
Dia pernah mendengar akan adanya penjahat yang disebut jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) yang kerjanya menculik gadis-gadis cantik untuk diperkosa.
Jangan-jangan pemuda baju hijau itu sebangsa jai-hwa-cat!
Ja i-hwa -cat atau bukan, pemuda baju hijau itu bersikap mencurigakan dan dia harus waspada.
Biarpun gadis dan pemuda itu juga kelihatan sebagai orang-orang yang tidak lemah, namun kalau perlu mereka harus dilindungi, apalagi gadis itu yang mirip Lee Cin.
Tak lama kemudian, ketika pesanan makanan gadis dan pemuda itu diantar oleh pelayan, pemuda baju hijau bangkit berdiri, membayar makanan dan hendak pergi keluar.
Dia melewati meja gadis dan pemuda itu,.
berhenti dan tiba-tiba bertanya kepada gadis itu.
"Maafkan saya, bukankah nona ini she Souw?"
"Bukan!"
Jawab gadis itu tak senang karena ada orang laki-laki yang berani mengajaknya bicara.
"Ah, maaf,"
Kata pemuda baju hijau dan diapun pergi dari situ.
Tin Han yang mendengar pertanyaan itu berdebar-debar.
She Souw?
Kalau begitu, agaknya pemuda baju hijau itupun mengira bahwa gadis itu adalah Souw Lee Cin!
Apa hubungannya dengan Lee Cin?
Akan tetapi, jelas bahwa hubungan itu tidak akrab.
Buktinya pemuda itu mengira gadis itu Lee Cin.
Kalau sudah berhubungan akrab, tentu dapat mengetahui bahwa ia bukan Lee Cin.
Tin Han sengaja memperlambat makannya karena dia ingin menanti sampai gadis dan pemuda itu selesai makan.
Dia harus membayangi mereka secara diam-diam, untuk melindungi mereka karena dia semakin curiga kepada pemuda baju hijau itu.
Setelah dua orang itu selesai makan dan membayar kepada pelayan lalu keluar.
dari rumah makan, Tin Han juga ke luar sambil masih menggendong buntalan pakaiannya.
Dia tidak meninggalkan buntalan itu di kamarnya karena ada uang limapuluh tail perak dalam buntalan.
Diam-diam dia membayangi kedua orang itu yang segera keluar di jalan besar.
Belum jauh gadis dan pemuda itu pergi, Tin Han melihat pemuda baju hijau yang tadi keluar dari tikungan jalan dan membayangi mereka berdua.
Diam-diam dia tersenyum geli.
Orang berbaju hijau itu membayangi pemuda dan gadis sedangkan dia membayangi si pemuda baju hijau!
Siapakah pemuda baju hijau yang mencurigakan itu?
Seperti telah diduga oleh Tin Han, pemuda itu bukan orang biasa, melainkan seorang jagoan yang tinggi ilmu silatnya.
Dia bernama Yauw Seng Kun dan dia adalah murid dari mendiang Jeng-ciang-kwi Chi Sam Ti!
Seperti kita ketahui, Jeng-ciang-kwi yang bermusuhan dengan Ang-tok Mo-li Bu Siang, ketika sedang merayakan hari ulang tahunnya, diserbu oleh Ang-tok Mo-li dan Lee Cin.
Ibu dan anak ini mengamuk.
Ang-tok Mo-li mengamuk dan merobohkan banyak anak buah Jeng ciang-kwi, sedangkan datuk dari Guha Tengkorak itu sendiri dihadapi Lee Cin.
Dalam pertandingan satu lawan satu yang amat seru, akhirnya Jeng-ciang-kwi dapat terbunuh oleh Lee Cin.
Pada saat itu, Yauw Seng Kun juga berada di antara mereka Akan tetapi melihat betapa gurunya tewas, diapun seperti yang lain-lain menyerah dan tidak melawan lagi.
Akan tetapi diam-diam dia mendendam kepada Lee Cin.
Setelah Lee Cin dan ibunya pergi, Yauw Seng Kun rajin melatih diri dengan ilmu silat yang dia pelajari dari gurunya.
Demikian tekun dia melatih diri sehingga dia memperoleh banyak sekali kemajuan.
Setelah merasa dirinya kuat, dia mulai pergi untuk mencari musuh besarnya.
Akan tetapi, sebelum dia pergi mencari Lee Cin yang dia tahu bersama Ang-tok Mo-li berada di Bukit Ular.
Dia kedatangan tamu.
Tamu itu adalah utusan Thian-te Mo-ong yang mencari Jeng-ciang-kwi.
Oleh Thian-te Mo-ong Jengciang-kwi ditawari kedudukan yang baik kalau mau bekerja sama dan mau datang ke Pulau Naga di mana Beng-cu yang baru berada.
Utusan Thian-te Mo-ong dengan jelas memberitahu kepada Yauw Seng Kun bahwa kini kedudukan Beng-cu yang baru amat kuat, mendapat dukungan dari Siang Koan Bhok dan Thian-te Mo-ong.
Beng-cu bermaksud untuk mengumpulkan para datuk, diajak bekerja sama untuk menentang pemerintah Mancu dan mengambil alih kekuasaan.
Kelak kalau perjuangan mereka berhasil, mereka semua tentu akan memperoleh kedudukan yang tinggi dan mulia.
"Sayang, guruku telah tewas terbunuh oleh musuh,"
Kata Yauw Seng Kim.
"Aku sedang hendak mencari musuh besar itu untuk membalas dendam atas kematian suhu."
Utusan itu bertanya, siapakah musuh besar yang telah membunuh Jeng ciang-kwi?� "Dia adalah Souw Lee Cin dan ibu nya, Ang-tok mo Li.� "Ah, mereka adalah orang-orang yang lihai sekali!"
Kata utusan itu.
"Kalau engkau suka bersekutu dengan kami, tentu akan lebih mudah untuk membalas kematian gurumu."
Utusan itu adalah seorang tokoh dunia sesat yang ditugaskan untuk membujuk tokoh-tokoh kangouw lainnya.
Dia bernama Ma Huan dan mempunyai pergaulan yang luas di dunia golongan sesat.
Maka, begitu mendengar bahwa Jeng-ciang-kwi telah meninggal dunia, dia membujuk Yauw Seng Kun untuk bergabung dengan Pulau Naga.
Dia tahu bahwa sebagai murid Jeng-ciang-kwi, tentu Yauw Seng Kun berkepandaian tinggi pula, apa lagi majikan baru dari Cuba Tengkorak ini juga memiliki anak buah yang hampir limapuluh orang banyaknya.
Yauw Seng Kim tertarik sekali.
"Baiklah, aku akan berkunjung dulu ke Pulau Naga dan melihat keadaan. Kalau nanti aku merasa tertarik untuk bergabung, aku akan membawa semua anak buahku ke sana."
Demikianlah, Yauw Seng Kun lalu mengadakan perjalanan menuju ke Pulau Naga dan kebetulan pada hari itu dia tiba di Cm-an dan bertemu dengan seorang gadis yang mirip sekali dengan Lee Cin.
Dia baru satu kali melihat Lee Cin, yaitu ketika gadis itu bertanding melawan gurunya, karena itu melihat gadis yang mirip sekali dengan Lee Cin, dia mengira bahwa gadis itu benar-benar musuh besarnya.
Biarpun setelah bertanya apakah gadis itu she Souw dan mendapat jawaban bukan, hatinya masih penasaran dan diam-diam dia menanti di luar rumah makan lalu membayangi gadis dan pemuda itu.
Seng Kun sama sekali tidak tahu bahwa.
ada orang lain yang membayangi dia!
Siapakah gadis yang mirip Lee Cin dan siapa pula pemuda yang melakukan perjalanan bersamanya?
Pemuda itu bernama The Siang In, seorang pemuda yang tinggal bersama orang tuanya di Ho-ciu.
Adapun gadis yang mirip Lee Cin itu bernama The Kiok Hwa, adik kandungnya.
Kakak beradik ini baru saja meninggalkan perguruan mereka di Kun lun-pai dan mereka hendak pulang ke Ho-ciu.
Ka.rena perjalanan itu amat jauh, setibanya di Cin-an mereka kehabisan uang.
Sebagai pendekar-pendekar Kunlun, mereka pantang melakukan hal tercela untuk mencari uang, maka setelah menghabiskan sisa uang untuk membeli makanan di rumah makan, mereka lalu keluar untuk mencari tempat ramai dengan maksud untuk mencari dana dengan memainkan ilmu silat di depan umum.
Setelah kakak beradik ini tiba di sebuah taman umum yang ramai, keduanya lalu berniat untuk memamerkan ilmu silat mereka di tempat itu dan minta bantuan uang dari para penonton.
Sesungguhnya mereka berdua masih malu-malu karena belum pernah mereka melakukan hal ini, akan tetapi karena bekal uang yang sedikit sudah habis dan mereka membutuhkan uang untuk pembeli makanan dan penyewa kamar, mereka memberanikan diri.
The Siang In dengan muka kemerahan berdiri dan bertepuk tangan memancing perhatian banyak orang.
"Saudara-saudara sekalian yang budiman!"
Teriaknya dan orangpun mulai berdatangan dan membentuk lingkaran menonton apa yang hendak diperbuat pemuda dan gadis cantik itu.
"Saudara-saudara yang budiman. Kami kakak beradik she The yang berasal dari Ho-ciu, karena di tengah perjalanan kehabisan uang, kami hendak mempertontonkan ilmu silat dengan harapan saudara sekalian sudi memberi imbalan sekedarnya untuk kami pakai sebagai bekal perjalanan kami yang masih jauh."
Setelah berkata demikian, diapun mengangguk kepada Kiok Hwa. Gadis inipun bangkit berdiri, memberi hormat ke empat penjuru sambil berkata.
"Harap cu-wi (saudara sekalian) tidak menertawakan ilmu silat yang masih dangkal!"
Setelah berkata demikian, mulailah gadis itu bersilat.
Mula-mula gerakannya lambat, makin lama semakin cepat sehingga akhirnya orang hanya melihat bayangannya berkelebat ke sana sini.
Baca Juga: Asmara Berdarah 9
Baca Juga: Pedang Kayu Harum 5