Eps 10 Rajawali Emas - Kho Ping Hoo
Baca online Rajawali Emas - Kho Ping Hoo
Cersil Rajawali Emas - Kho Ping Hoo.
"Kau kepala batu! Dulu kau tidak pernah begini cerewet!"
Sin Lee juga meloncat berdiri dan menghadapi ibunya dengan tegak.
"Sudah sepatutnya anak menanyakan Ayahnya. Ibu yang terlalu jual mahal, kenapa menyimpan rahasia?"
Dua orang itu berdiri berhadapan, ibu dan anak yang sama keras hatinya, dua pasang mata yang sama saling tentang.
Akhirnya Kwa Hong mengeluarkan suara ketawa aneh, lalu memeluk puteranya dan menarik tangannya diajak duduk kembali.
"Kau memang bandel seperti... seperti dia! Baiklah kau mendengar kalau hendak mengetahui. Tan Beng San itu memang Ayahmu, tapi dia bukan Suamiku."
"Bagaimana pula ini? Dia Ayahku tapi bukan Suami ibu?"
"Karena dia itu tidak mau mengawiniku, dan meninggalkan aku untuk kawin dengan wanita lain anak Song-Bun-Kwi si iblis tua itu."
Sin Lee adalah seorang yang cerdik, akan tetapi belum dapat ia menghubungkan cerita yang disingkat-singkat ini.
"Kau maksudkan Ayah tidak mau mengawini ibu, pergi menikah dengan lain wanita? Kenapa begitu? Apakah Ayah tidak suka kepada Ibu?"
Merah wajah Kwa Hong, matanya memancarkan sakit hati, ia menggelleng kepala.
"Dia tidak cinta padaku, hanya suka seperti seorang kakak terhadap adiknya."
"Tapi... tapi Ibu cinta kepadanya?"
Kwa Hong mengangkat tangan hendak menampar, tapi ditahannya.
"Kau lancang mulut. Sudahlah. Pendeknya dia itu meninggalkan kau dalam kandunganku dan tidak mau peduli lagi, menikah dengan Kwee Bi Goat, malah ketika Bi Goat mati dia menikah dengan Isterinya yang sekarang itu. padaku ia sama sekali tidak mau peduli."
Sin Lee berpikir keras.
"Jadi... dia telah melakukah perhubungan dengan ibu, kemudian Ibu mengandung aku dan... dan Ibu ditinggalkan begitu saja?"
Wajah Sin Lee sebentar pucat sebentar merah ketika melihat ibunya mengangguk dan dua titik air mata keluar dari sepasang mata ibunya.
"Si keparat... kalau begitu dia memang jahat..."
Kata Sin Lee dengan suara mendesis dan dengan hati penuh dendam.
"Kwa Hong, kau tidak adil! Kenapa tidak kau ceritakan, tentang racun yang memabokkan kita ketika itu?"
Tiba-tiba muncul Beng San, begitu tiba-tiba sehingga Sin Lee dan Kwa Hong terkejut sekali.
Wanita ini semenjak dahulu amat gentar menghadapi ilmu kepandaian Beng San, biarpun sekarang di situ ada puteranya, namun ia masih ragu-ragu apakah mereka berdua akan dapat menang menghadapi Beng San yang amat hebat kepandaiannya.
Namun, karena niatnya membalas dendam sudah ditahan-tahan semenjak bertahun-tahun, ia menjadi nekat dan cepat mencabut senjatanya, diturut oleh Sin Lee yang memandang Beng San dengan mata berapi-api.
"Hemmm, kau mengejar kami?"
Tegurnya, penuh selidik. Beng San tersenyum pahit.
"Kwa Hong, semenjak dahulu kau selalu menyembunyikan diri, menyembunyikan anak kita, kiranya kau jejali dia dengan kebencian dan dendam terhadap diriku. Sekarang aku sudah datang, seorang diri, coba katakan, kau hendak berbuat apakah terhadap diriku?"
"Aku... aku hendak membunuhmu!"
"Kau kira begitu mudah? Hong-moi, kau tahu bahwa kau takkan mampu melakukan hal itu kepadaku."
"Akan kucoba, bersama anakku. Kami akan mengadu nyawa! Sin Lee, hayo kita bunuh keparat jahanam ini, musuh besar kita!"
Sin Lee sudah menggerakkan pedangnya. Beng San bertanya.
"Hong-moi, sebelum kau dan anak kita bergerak, maukah kau pergi dengan tenang dan tidak mengganggu pendirian Thai-San-Pai kalau nanti kalian berdua kukalahkan?"
"Tak sudi! Aku akan bunuh kau, akan kubuka semua rahasia busuk, hendak kulihat apakah kau ada muka menjadi ketua Thai-San-Pai!"
Kwa Hong berteriak-teriak dan mencak-mencak. Beng San mengerutkan keningnya.
"Kwa Hong, dangarlah baik-baik! Sejak dulu aku sudah merasa menyesal dengan peristiwa yang terjadi antara kita. Kalau kau hendak menyalahkan aku, biarlah kuterima. Bahkan dulupun aku siap untuk menerima kematian di tanganmu. Akan tetapi, kau tahu, nama lebih berharga daripada nyawa bagi seorang gagah! Pendirian Thai-San-Pai amat penting dan siapapun juga, juga kau sendiri, tidak boleh menghalanginya!"
"Kalau aku tetap hendak menggangunya, kau mau apa?"
"Kwa Hong, kesabaran manusia ada batasnya, Aku sudah cukup mengalah, dan aku berjanji, kalau kau pergi sekarang dengan baik-baik, aku akan datang ke Lu-Liang-San setelah selesai pendirian Thai-San-Pai dan aku akan menurut apa kehendakmu kelak, biar kau bunuh sekali pun."
"Aku tidak sudi."
"Hemm.. hemm, tak ada jalan lain bagiku kecuali menggunakan kekerasan, mengalahkan dan menawan kalian sampai selesai upacara pendirian Thai-San-Pai."
Sambil berkata demikian, tangan Beng San bergerak dan tahu-tahu sebatang pedang yang berkilauan telah berada di tangannya.
Itulah Liong-Cu-Kiam yang amat ampuh!
"Beng San, jangan kau kira aku takut.
Sin Lee, hayo serang!"
Ibu dan anak itu lalu menggerakkan senjata mereka, serentak mereka menyerang Beng San dengan hebat.
Mula-mula Sin Lee masih ragu-ragu, merasa betapa ibunya agak keterlaluan tak mau mendengar janji orang yang sebenarnya Ayahnya ini, Akan tetapi begitu pedangnya terbentur pedang Beng San, tangannya kesemutan dan tahulah ia bahwa Ketua Thai-San-Pai ini benar-benar lihai bukan main, maka iapun tidak ragu-ragu lagi dan mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk mengeroyok.
Namun, dengan rasa heran dan kagum, juga rasa penasaran memenuhi hatinya, Sin Lee merasa seakan-akan semua serangannya itu lenyap tak berbekas, seperti menyerang bayangan atau menyerang angin belaka.
Jurus-jurus serangannya tertelan habis oleh gelombang permainan pedang Beng San, sama sekali tidak ada artinya.
Juga Kwa Hong yang mainkan pedang dan cambuknya, merasa betapa akan sia-sia saja ia dan puteranya mengeroyok orang ini, kebenciannya makin memuncak namun kekagumannya juga meningkat.
"Kwa Hong kau benar-benar kejam sekali, menyuruh anakku sendiri memusuhi aku. Kwa Hong, kau berdua takkan menang, lebih baik pulanglah. Kelak aku akan datang kepadamu, menerima hukuman..."
Berkali-kali Beng San membujuk sambil menangkis sambaran anak panah hijau yang mengarah bagian tubuh yang berbahaya.
Diam-diam Beng San gelisah juga kalau ingat bahwa tempat ini adalah tempat di luar dari jalan rahasia, sehingga setiap saat dapat saja datang tamu-tamu yang mengandung maksud jahat.
Ia maklum bahwa di antara para tamunya, tentu tidak sedikit terdapat bekas-bekas musuhnya yang sengaja datang untuk mengacau atau untuk membalas dendam.
Oleh karena itu, ia membujuk agar Kwa Hong suka mengalah dan segera pertempuran itu selesai, Kalau ia mau, sudah tentu saja dengan mudah ia dapat merobohkan Kwa Hong dan Sin Lee, akan tetapi ia tidak menghendaki hal ini terjadi, karena selain ia harus melukai mereka, juga hal itu pastl akan menambah sakit hati Kwa Hong.
Merobohkan dua orang lawan selihai mereka tanpa melukai, merupakan hal yang amat sukar, biar oleh dia sekalipun.
Tiba-tiba terdengar suara tiupan suling yang aneh, disusul suara orang tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, ini namanya sekali tepuk mendapat dua lalat ditambah seekor lalat cilik!"
Terdengar suara orang.
Mendengar suara suling ini Beng San kaget sekali, ia menahan serangan dua orang ibu dan anak itu, akan tetapi ketika ia melompat mundur, Kwa Hong dan Sin Lee yang sudah penasaran sekali terus saja menyerang.
Terpaksa Beng San memutar pedangnya untuk melindungi tubuhnya dan sementara itu ia memperhatikan orang-orang yang baru datang dan yang sekarang sudah berada di hutan itu.
Beng San menekan debar jantungnya ketika ia mengenal beberapa orang tokoh luar biasa yang ia tahu takkan mengandung maksud hati baik terhadapnya.
Pertama-tama adalah Hek-Hwa Kui-Bo, nenek yang semenjak dahulu memusuhinya itu.
Orang ke dua adalah Siauw-Ong-Kwi yang sudah nampak tua namun sepasang matanya masih bergerak-gerak liar membayangkan kenakalan dan kejahatannya.
Kalau Hek-Hwa Kui-Bo merupakan tokoh nomor satu dari Selatan, adalah Siauw-Ong-Kwi ini merupakan tokoh nomor wahid dari utara, keduanya merupakan iblis-iblis di samping tokoh besar seperti Song-Bun-Kwi.
Di samping dua orang ini ia mengenal tokoh yang tak kalah jahatnya, yaitu Toat-Beng Yok-Mo dan Tok Kak Hwesio, seorang perampok tunggal yang setelah tua menjadi Hwesio dan yang telah ia ketahui pula macamnya.
Empat orang ini saja sudah merupakan lawan yang berbahaya, di samping Kwa Hong dan Sin Lee, apalagi di situ masih kelihatan seorang Tosu tua sekali yang memakai kopyah seperti anak kecil, Memegang tongkat berwarna merah dan kelihatannya lemah sekali, seakan-akan kalau ada angin besar bertiup, kakek ini tentu akan roboh terjengkang.
Namun, kakek yang belum pernah dikenal Beng San ini malah yang menimbulkan kekuatiran hatinya.
Di samping ini, masih terdengar suara tiupan suling aneh itu, akan tetapi peniupnya tidak kelihatan.
Tiupan suling itu mengingatkan Beng San akan seorang tokoh yang sering kali mendatangkan ular-ular dengan sulingnya, tokoh yang sudah belasan tahun tak pernah ia dengar, yang kabarnya sudah mati, yaitu murid Siauw-Ong-Kwi yang malah lebih jahat dari gurunya, bukan lain adalah Siauw-Coa-Ong Giam Kin!
Akhirnya Kwa Hong tertarik pula perhatiannya oleh rombongan ini dan ketika ia menengok, wajahnya berubah.
Cepat ia menarik tangan puteranya dan berseru.
"Mundur dulu!"
Setelah Sin Lee melompat mundur di samping Ibunya, wanita ini berkata sambil tertawa.
"Kau lihat saja, Hi-hik-hik, hari ini keparat Beng San akan menerima hukumannya!"
Sin Lee tidak mengerti akan maksud kata-kata ibunya, ia hanya memandang dengan kening berkerut dan pedang tetap terpegang di tangan kanan.
Tadinya agak lega hati Beng San melihat Kwa Hong dan Sin Lee menghentikan serangan mereka, akan tetapi mendengar ucapan Kwa Hong itu, ia tersenyum perih.
Terpaksa ia lalu menyimpan pedangnya dan membalikkan tubuh menghadapi rombongan itu.
"Cu-wi Lo-Cianpwe jauh-jauh datang mengunjungi Thai-San, harap maafkan Siauwte tak dapat melakukan penyambutan sebagaimana mestinya. Akan tetapi, hari pendirian Thai-San-Pai masih dua malam dua hari lagi, harap Cu-wi sekalian sudi bersabar dan menanti di tempat peristirahatan yang sederhana dan yang telah kami sediakan."
Siauw-Ong-Kwi tertawa terkekeh-kekeh, juga Toat-Beng Yok-Mo dan Tok Kak Hwesio tertawa, kemudian orang-orang tua ini menggerakkan tubuh mengambil sikap mengurung.
Jelas bahwa mereka ini berusaha memotong jalan keluar dari Beng San.
Adapun kakek yang tua renta bertongkat merah itu lalu melangkah maju, langkahnya gontai, ketika sampai di depan Beng San dalam jarak dua meter ia berkata, suaranya lirih agak menggigil separti suara kakek yang sudah tua sekali.
"Inikah Raja Pedang pengganti Cia Hui Gan? Masih muda sekali... masih muda sudah menjagoi, selayaknya Pinto (aku) memberi hormat!"
Kakek ini mengempit tongkat merahnya lalu mengangkat kedua tangan ke depan dada sambil membungkuk dengan sikap menjura.
Sambaran hawa pukulan yang menimbulkan angin halus mengejutkan Beng San.
Ia tidak terkejut karena diserang secara demikian karena hal seperti ini sudah biasa terjadi di kalangan ahli-ahli silat tinggi.
Yang mengejutkannya adalah angin halus sekali yang menyambar ke arahnya, karena makin halus angin yang ditimbulkan oleh hawa pukulan, berarti makin hebatlah tenaga Lweekangnya.
Cepat ia mengerahkan hawa murni di tubuhnya, balas menjura sambil berkata.
"Siauwte yang muda mana berani menerima penghormatan Lo-Cianpwe?"
Biarpun kelihatannya ia menjura dengan hormat, namun diam-diam Beng San menangkis pukulan tak kelihatan itu dan sebagai seorang calon ketua, tentu saja ia tidak mau memperlihatkan kelemahannya dan sengaja ia menerima serangan gelap itu dengan keras lawan keras.
Dua pasang tangan diangkat ke depan dada, dua tangan tak kelihatan bertemu di udara dan biarpun kedua kaki Beng San masih tetap dalam kuda-kuda, namun ternyata ia telah tergeser mundur tiga jengkal!
Juga kakek itu bergoyang-goyang tubuhnya, lalu cepat ia menggunakan tongkat yang tadi dikempitnya untuk menunjang tubuh sehingga ia tidak jadi terhuyung ke belakang.
Sejenak mata yang tua itu terbelalak kagum, lalu katanya.
"Hebat... hebat... patut dipuji!"
"Ah, Lo-Cianpwe terlalu merendah. Bolehkah Siauwte yang bodoh mengetahui nama besar Lo-Cianpwe?"
Tanya Beng San, diam-diam ia mengeluh karena kakek tua ini benar-benar merupakan lawan yang paling berat yang pernah ia jumpai selama ia berkecimpung di dalam dunia persilatan.
Kakek itu tertawa sehingga kelihatan gusi mulutnya yang sudah tak bergigi lagi.
"Ha-ha-ha Pinto orang gunung mana. ada nama? Di Utara sana, Pinto disebut Pak-Thian Locu. (Nabi Locu dari utara), tentu saja Sicu tidak pernah memdengarnya."
Memang nama ini tak pernah dikenal Beng San, Siauw-Ong-Kwi segera berkata sambil mendengus.
"Thai-San cukup tinggi sehingga kadang-kadang membuat orang lupa bahwa di atas masih ada langit! Calon ketua Thai-San-Pai sampai tidak mengenal Twa-Suhengku (kakak seperguruan tua), benar-benar sudah merasa diri paling tinggi."
Beng-San terkejut. Kiranya kakek ini Twa-Suheng dari Siauw-Ong-Kwi. Pantas saja demikian hebat.
"Ah, maafkan... maafkan... ini hanya menunjukkan bahwa Siauwte kurang pengalaman."
"Tan Beng San, selama bertahun-tahun ini telah banyak kau menghina kami, dan secara pengecut kau menyembunyikan diri di balik jalan-jalan rahasia. Sekarang dengan sombong kau hendak mengumumkan pendirian Thai-San-Pai, heran, apakah kau sudah merasa dirimu menjadi guru besar?"
Kata Toat-Beng Yok-Mo sambil melangkah maju dan menggerakkan tongkatnya yang hitam.
"Hutangmu kepadaku belum kau bayar lunas!"
Pekik Hek-Hwa Kui-Bo sambil mengerling ke arah Kwa Hong dan Sin Lee.
"Kalian anjing cilik tunggulah giliranmu,"
Nenek yang mengerikan ini sudah mencabut pedang dan selampai yang beraneka warna.
Melihat betapa lima orang itu mengurungnya dan telah siap mengeroyoknya.
Beng San tersenyum lalu berkata dengan nada mengejek.
"Aku tahu isi hati kalian! Dua hari lagi, di atas panggung, disaksikan semua tokoh kang-ouw, sudah pasti kalian takkan dapat maju mengeroyok, melainkan seorang lawan seorang. Hari ini sengaja kalian menggerebek di sini dengan dalih membalas dendam sehingga kalian mendapat kesempatan mengeroyokku, bagus!"
Akan tetapi Hek-Hwa Kui-Bo sudah menyerbu dengan pedang dan selampainya, menyerang dari kiri dan dibarengi oleh Siauw-Ong-Kwi yang menyerang dari kanan.
Seperti biasanya, Siauw-Ong-Kwi ini mempergunakan sepasang lengan bajunya yang menerjang untuk melakukan totokan dengan ujung baju mengarah jalan darah, serangan ini tak kalah bahayanya dibandingkan dengan penyerangan Hek-Hwa Kui-Bo.
Toat-Beng Yok-Mo dan Tok Kak Hwesio sambil tertawa juga menyerang cepat.
Yok-Mo menggunakan tongkat hitamnya sedangkan Tok Kak Hwesio mempergunakan kepandaiannya yang diandalkan, yaitu cengkeraman monyet.
Empat orang ini menyerang dari empat penjuru, mengurung diri Beng San.
Sedangkan kakek tua renta tanpa menggeser kedua kakinya, dari tempat ia berdiri, ia mengirim pukulan-pukulan jarak jauh ke arah Beng San.
Beng San mengeluarkan seruan keras sekali dan mukanya berubah merah lalu kehitaman.
Ini menandakan bahwa kemarahan mengganggu hatinya.
Cara bertempur tokoh-tokoh hitam ini benar-benar licik dan curang sekali, menggunakan jumlah banyak untuk mengeroyok.
Padahal mereka itu, satu demi satu, merupakan tokoh-tokoh yang amat terkenal dan tidak sepatutnya mengeroyok musuh, apalagi dengan begitu banyak melawan seorang lawan!
Pedangnya digerakkan, berubah menjadi segulung sinar berkeredepan yang mengeluarkan bunyi mengaung.
Hujan serangan kelima orang lawannya itu semuanya tertangkis oleh sinar pedangnya, malah tangan kirinya yang bergerak-gerak mengeluarkan hawa pukulan dahsyat, selain menangkis serangan-serangan jarak jauh dari Pak-Thian Locu, juga sekaligus menanggulangi serangan-serangan Siauw-Ong-Kwi dan Tok Kak Hwesio.
Kwa Hong dan Sin Lee berdiri bengong, penuh kekaguman melihat betapa Beng San mengeluarkan kepandaiannya menghadapi lima orang tokoh besar yang kesemuanya memiliki kepandaian tinggi itu.
Terasa oleh ibu dan anak ini betapa kalau tadi Beng San betul-betul mengeluarkan kepandaian, mereka tentu sudah roboh olehnya.
Beng San maklum bahwa kalau ia membiarkan dirinya terkurung menghadapi sekaligus lima orang pengeroyoknya, sukar baginya memperoleh kemenangan.
Maka sambil mainkan ilmu pedangnya Im-Yang Sin Kiam-Sut yang hebat, yang sekaligus dapat ia pergunakan untuk melayani serangan-serangan lawan yang dasarnya berbeda, baik serangan mengandalkan tenaga Yangkang maupun tenaga Imkang, ia mempergunakan kegesitannya melompat ke sana ke mari, menerjang dari seorang lawan kepada lawan lain sehingga ia terbebas dari pengurungan yang ketat.
Namun cara ini tidak dapat digunakan daya serangnya karena hanya sejurus saja lalu menghadapi lain lawan, sedangkan semua lawannya adalah orang-orang yang tidak mungkin dapat dirobohkan hannya dengan satu dua jurus serangan saja.
Apalagi pukulan-pukulan jarak jauh dari Pak-Thian Locu benar-benar hebat sekali, mendatangkan angin berdesir yang hanya dapat ia tolak dengan pukulan tangan kiri yang mengeluarkan uap putih.
Dengan pukulan yang setingkat dengan Pek-In Hoat-Sut (Ilmu Gaib Awan Putih) inilah ia mampu membuat setiap pukulan kakek tua renta itu membalik, sehingga berkali-kali kakek ini mengeluarkan seruan memuji.
Pertandingan yang tak seimbang ini berjalan makin seru dan hebat.
Beng San harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, barulah ia dapat mengimbangi pengeroyokan itu.
Makin lama seruannya makin nyaring, hawa pukulan yang menyambar dari sinar pedangnya makin kuat sehingga beberapa kali Hek-Hwa Kui-Bo dan Toat-Beng Yok-Mo terpaksa meloncat jauh untuk menghindarkan diri dari hawa maut yang menyambar dari sinar pedang Beng San.
Juga Tok Kak Hwesio sudah dua kali terhuyung hampir jatuh karena tangkisan Ilmu Pukulan Pek-In Hoat-Sut yang hebat, malah Siauw-Ong-Kwi pernah terpaksa menggulingkan tubuhnya ke atas tanah ketika kedua ujung lengan bajunya membalik dan memukul dirinya sendiri karena tangkisan pendekar yang sakti itu!
Kwa Hong makin kagum, akan tetapi kekagumannya itu kalah oleh dendam di hatinya kepada orang yang paling dicintanya ini.
Melihat betapa pengeroyokan lima orang itu ternyata belum cukup kuat untuk merobohkan Beng San, ia lalu berseru kepada Sin Lee.
"Anakku, kesempatan baik tiba, hayo kita serbu dia!"
Ia sendiripun lalu menerjang maju dengan pedang dan cambuknya.
"Ibu..."
Sin Lee meragu, tetap tidak bergerak dari tempat ia berdiri.
Memang ia ikut pula membenci Beng San karena pengaruh ibunya, akan tetapi wataknya yang menjunjung tinggi kegagahan itu tidak mengijinkan ia lalu melakukan pengeroyokan semacam itu.
Untuk membela ibunya, ia akan sanggup menghadapi Beng San dan mengadu nyawa dengan Ayahnya yang telah menyakiti hati ibunya, ia rela mempertaruhkan nyawanya, Akan tetapi mengeroyok seperti ini?
Ia tak sanggup melakukannya.
Karena itu ia diam saja, tidak mau turun tangan biarpun Kwa Hong sudah menerjang hebat ke arah Beng San.
Beng San sama sekali tidak menduga bahwa Kwa Hong akan menyerangnya sehebat itu dari belakang selagi ia tidak bersiap, tahu-tahu ujung pedang Kwa Hong yang sudah menyambar ke arah leher dan sebuah anak panah di ujung cambuk menghantamkan dadanya.
Secepat kilat ia miringkan kepala, membiarkan pedang melewat didekat kulit lehernya sementara tangan kirinya menangkis anak panah yang tak mungkin dapat ia elakkan pula, juga tak mungkin ditangkis karena pedangnya pada detik itu sedang menangkis tongkat Yok-Mo dan pedang Hek-Hwa Kui-Bo.
"Krakkk!"
Kwa Hong menjerit dan anak panah di ujung cambuknya patah-patah, telapak tangannya terasa sakit sekali dan hanya dengan melompat mundur ia dapat menguasai anak panah lain yang membalik tidak karuan.
Akan tetapi lengan Beng San luka membiru dan baju pada lengannya itu robek.
Kalau lain orang yang terkena ujung, anak panah hijau ini tentu akan terluka hebat yang akan mendatangkan kematian karena ujung anak panah ini mengandung racun hijau.
Namun di tubuh Beng San penuh dengan hawa Im juga, maka tangkisan itu tidak melukai kulitnya, hanya membuat kulit lengannya membiru dan terasa agak linu.
Hal ini tidak mengecilkan hatinya, malah menimbulkan semangat perlawanan lebih hebat lagi, teriakan dan seruannya menggema di udara dan gerakan pedangnya makin hebat.
Kwa Hong melanjutkan pengeroyokanya, marah karena anak panahnya rusak sebuah.
Akan tetapi ia lebih hati-hati lagi, menjaga agar jangan sampai senjatanya dirusak pula.
Pada saat itu, terdengar suara orang tertawa mengerikan disusul ucapan nyaring.
"Beng San kau lihat, siapa ini? Menyerahlah, kalau tidak anakmu akan kuhancurkan didepan matamu!"
Beng San melirik dan seketika wajah yang merah menghitam itu berubah pucat dan hijau.
Ia melihat seorang manusia yang mengerikan sekali, seorang laki-laki berpakaian kuning yang mukanya seperti setan.
Mata kiri orang ini hanya tinggal lubangnya saja seperti mata tengkorak, tinggal mata kanannya yang liar merah, mulutnya robek melebar kelihatan giginya sebelah kiri, telinga kirinya juga buntung tinggal kulit sedikit di dekat lubang, tangan kirinya kaku dan jari-jari tangan ini seperti cakar Burung, bukan tangan manusia lagi.
Meremang bulu tengkuk Beng San melihat orang ini akan tetapi berbareng hatinya terkejut bukan main karena orang yang sekarang ia kenal sebagai Giam Kin ini tangan kanannya menangkap Cui Bi yang agaknya pingsan, tubuh gadis ini lemas menggelantung pada lengan kanan Giam Kin!
"Giam Kin iblis laknat lepaskan anakku!,"
Dengan gelisah Beng San melompat kearah Giam Kin, namun ia dihujani senjata oleh para pengeroyoknya sehingga terpaksa ia menangkis dan tak dapat mendekati Giam Kin. Hatinya gelisah bukan main.
"Giam Kin pengecut, jangan ganggu anakku!"
"Ha-ha-ha-he-heh, baru sekarang kau ketakutan, ya? Kalau tidak ingin melihat anak gadismu yang cantik molek ini celaka, kau harus menyerah!"
Jawab Giam Kin dengan suaranya yang sekarang menjadi tidak karuan karena mulutnya sudah robek.
Lemas seluruh tubuh Beng San.
Bagaimana ia dapat mengorbankan puterinya yang tercinta itu?
Ia melompat mundur dan berkata lemah.
"Aku menyerah. Tetapi jangan ganggu puteriku..."
Akan tetapi gerakannya yang menarik kembali pedang dan melompat mundur ini dipergunakan oleh musuh-musuhnya untuk mendesak.
"Dukk!"
Sebatang anak panah hijau di tangan Kwa Hong menghantam dadanya, membuat Beng San terhuyung-huyung ke belakang.
Ia masih sempat melindungi leher dan kepalanya dari cengkeraman Tok Kak Hwesio dan hantaman ujung lengan baju Siauw-Ong-Kwi, namun dalam keadaan terhuyung-huyung itu, ia tidak mampu mengelak dari hantaman ujung selampai Hek-Hwa Kui-Bo yang mengenai pundak dekat leher, menotok jalan darah.
Beng San mengerahkan tenaga melawan totokan ini, namun karena hantaman pada dadanya oleh anak panah Kwa Hong tadi melumpuhkan sebagian tenaganya, maka totokan ini masih membawa pengaruh hebat, ia menjadi pening dan muntahkan darah segar.
Pada saat yang amat berbahaya itu, datang lagi dorongan pukulan Pak-Thian Locu yang mengakibatkan angin pukulan mendorong dadanya.
Beng San tak dapat menahan dan roboh telentang.
Baiknya tubuhnya memang kuat sekali maka ketika terjengkang ini ia menahan napas dan menyalurkan hawa murni dalam tubuh untuk melawan pengaruh tiga pukulan hebat itu, pada dada, pundak dekat leher dan ulu hati.
Sekali lagi ia muntahkan darah segar, wajahnya menjadi pucat dan ia melompat sambil memutar pedangnya sekaligus menangkis hujan senjata.
"Curang...!"
Serunya, kini kemarahan membuat uap putih mengebul keluar dari ubun-ubun kepalanya.
Kemarahan membuat gerakannya seperti seekor Naga terbang, ia menerjang maju dan terdengar Hek-Hwa Kui-Bo menjerit sambil melompat rnundur, selampainya putus terbabat pedang dan lengannya masih tergores ujung pedang sehingga mengeluarkan darah.
Juga para pengeroyok lain terpaksa melangkah mundur setindak saking hebatnya daya serang Beng San ini.
Beng San hendak melompat ke arah Giam Kin lagi, akan tetapi para pengeroyoknya sudah menghalanginya pula.
"Giam Kin, lepaskan anakku! Lepaskan dan aku akan menyerah!"
Bentak Beng San suaranya menggeledek.
"Ha-ha-ha, jangan lepaskan, orang ini harus dibikin mampus bersama anaknya!"
Tiba-tiba terdengar suara keras dan tahu-tahu Song-Bun-Kwi telah muncul di situ bersama Kong Bu.
Datang-datang kakek ini menerjang sambil menggerakkan pedangnya yang mengaung hebat, menggunakan Ilmu Silat Pedang Yang-Sin Kiam-Sut yang ganas.
Melihat datangnya Song-Bun-Kwi, para pengeroyok timbul kembali semangat mereka dan pengeroyokan makin hebat.
"Hi-hik, dasar dosamu sudah bertumpuk-tumpuk, Beng San!"
Kwa Hong bersorak dan kembali ia menganjurkan puteranya.
"Sin Lee, hayo kau ambil bagian dalam pesta ini!"
Akan tetapi Sin Lee berdiri tegak dengan wajah pucat, mata membelalak dan tubuh gemetar.
Muak ia melihat pengeroyokan itu dan makin lama makin bangga dan kagumlah ia menyaksikan sepak terjang orang yang menjadi Ayahnya ini.
Adapun Kong Bu ketika sampai di tempat itu, juga berdiri mematung dengan mata seakan-akan mengeluarkan api.
Ia tidak peduli mellhat kakeknya sudah menyerang mati-matian dan melihat jalannya pertempuran dengan hati tidak karuan.
Sedih ia melihat orang yang menjadi Ayahnya itu dikeroyok sedemikian rupa, mau membela, ia segan kepada kakeknya.
Biarpun telah terluka di tiga tempat dan pengeroyoknya bertambah seorang sehebat Song-Bun-Kwi, namun permainan pedang Im-Yang Sin Kiam-Sut dari Beng San benar-benar hebat sekali sehingga ia dapat melindungi tubuhnya dari hujan senjata itu.
Akan tetapi, kembali terdengar suara Giam Kin tertawa.
"Ha-ha-ha, Beng San, lihatlah Kau masih mau melawan terus? Lihat ini anakmu!"
Setelah berkata demikian, tangan kirinya yang berupa cakar mengerikan itu bergerak dan "Brettt"
Baju luar yang dipakai Cui Bi terobek lebar, memperlihatkan baju dalamnya yang berwarna merah muda. Gelap rasanya mata Beng San.
"Giam Kin keparat...! Lepaskan anakku..."
Karena perasaannya tertusuk, gerakannya agak terlambat dan pedang Song-Bun-Kwi yang tadinya menusuk pusarnya itu kurang cepat ia elakkan sehingga pahanya tertusuk pedang.
Beng San menggulingkan tubuhnya ke belakang, Sinar pedangnya berkelebat menjaga diri dan ketika ia melompat bangun lagi darah bercucuran dari paha kanannya.
Ia terpincang-pincang, darah mengucur banyak sekali, namun pedangnya masih dimainkan rapi menghalau setiap senjata yang hendak merenggut nyawanya.
Tapi ia tidak mampu balas menyerang karena perhatiannya terbagi untuk mengawasi keadaan Cui Bi yang sama sekali tidak berdaya dalam tangan manusia iblis itu.
"Ha-ha-ha, Beng San, kau takkan dapat melepaskan dirimu. Kau boleh mati dengan mata melek karena anakmu ini takkan dapat bebas pula. Ha-ha-ha!"
Suara ketawa Giam Kin bergema di hutan itu ketika ia memanggul tubuh Cui Bi dan lari pergi dari situ.
"Lepaskan anakku!"
Beng San menjerit, tangan kirinya menyambar sebuah batu kecil dan dilemparkannya ke arah Giam Kin.
Hebat lemparan ini, karena tubuh Giam Kin segera terguling, akan tetapi sambil tertawa-tawa manusia iblis itu bangun lagi dan lari terus memanggul tubuh Cui Bi.
"Kau mau bawa ke mana anakku?"
Beng San memekik lagi, akan tetapi tiba-tiba sebuah pukulan ujung lengan baju Siauw-Ong-Kwi tepat mengenai kaki kirinya, membuat ia terguling roboh, ia berusaha bangun akan tetapi tidak mampu karena uratnya di dekat lutut terpukul hebat.
Terpaksa Beng San sambil duduk karena kakinya lumpuh, menahan datangnya semua senjata dengan cara memutar pedangnya secara luar biasa sekali.
Namun, dalam keadaan seperti itu tentu saja ia tidak mampu melawan tujuh orang lihai itu yang seakan-akan berlumba hendak berdulu-duluan mencabut nyawanya.
Pundaknya tertusuk pedang lagi dan lengan kirinya juga dihantam tongkat hitam Yok-Mo, membuat lengan kirinya juga lumpuh.
Pada saat itu, terdengar teriakan menyeramkan, sesosok bayangan menyerbu ke dalam pengeroyokan itu dan tahu-tahu tubuh Beng San sudah dipondong orang yang memutar-mutar pedangnya menghadapi para pengeroyok.
Orang ini bukan lain adalah Kong Bu!
Beng San yang dipondong juga masih mainkan pedangnya untuk menangkis hujan senjata.
"Anakku... anak Bi Goat... akhirnya kau... menolongku...?"
Terengah-engah Beng San berkata, air mata menitik turun dari matanya.
"Kong-bu, gilakah kau?"
Seru Song-Bun-Kwi dan cepat kakek ini menggerakkan pedang menangkis tongkat hitam Yok-Mo yang hampir mengenai kepala cucunya.
"Kakek, biarlah aku mati membela Ayahku yang jauh lebih gagah daripada kamu sekalian!"
Teriak Kong Bu, matanya mengeluarkan cahaya berapi, pipinya basah oleh beberapa butir air mata yang menitik turun. (Lanjut ke
Jilid 27) Rajawali Emas (Seri ke 02 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 27
"Ha-ha-ha, Song-Bun-Kwi tua bangka gila, cucumu sendiri mengkhianati kau!"
Yok-Mo mengejek dan bersama yang lain-lain mereka lalu menerjang Kong Bu.
Sekali lagi terdengar teriakan melengking yang tinggi dan nyaring, dan Sin Lee sekarang memutar pedang membantu Kong Bu!
"Sin Lee, mundurlah kau!"
Kwa Hong menjerit.
"Tidak, Ibu. Aku tidak suka melihat ini semua! Ayah seorang gagah perkasa, patut kubela dengan taruhan nyawa! Majulah, kalau perlu aku akan melawan kau sendiri!"
Kwa Hong menjerit dan menangis, menarik kembali senjatanya.
Pada saat itu, Yok-Mo, Tok Kak Hwesio, Siauw-Ong-Kwi, Hek-Hwa Kui-Bo dan Pak-Thian Locu yang menjadi marah sekali lalu menerjang dua orang muda yang dengan semangat tinggi melindungi Beng San, orang yang menjadi Ayah mereka tapi yang harus mereka benci dan musuhi itu.
"Sin Lee... terima kasih... ah, Thian Yang Maha Adil... aku rela mati sekarang..."
Kata Beng San, akan tetapi tubuhnya menjadi lemas dan ia menjadi pingsan dalam pondongan Kong Bu.
Betapapun lihainya Kong Bu dan Sin Lee menghadapi pengeroyokan lima orang tokoh besar itu mereka menjadi repot sekali.
Apalagi Kong Bu yang harus memondong tubuh Ayahnya sehingga pada saat itu ketika ia menangkis sambaran pedang Hek-Hwa Kui-Bo yang membuat lengannya terasa kesemutan, ia tidak dapat menghindar lagi dari pukulan mendorong yang dilakukan oleh kakek tua renta, Pak-Thian Locu.
"Berani kau menyerang cucuku?"
Tiba-tiba Song-Bun-Kwi meloncat maju dan menangkis pukulan ini.
"Dukkk!!"
Hebat sekali pertemuan dua lengan orang sakti ini, akan tetapi akibatnya Song-Bun-Kwi terdorong mundur tiga langkah sedangkan kakek tua itu hanya bergoyang-goyang saja tubuhnya.
Kaget bukan main Song-Bun-Kwi, sedangkan Siauw-Ong-Kwi tertawa-tawa.
"Ha-ha-ha, Song-Bun-Kwi manusia iblis! Baru sekarang kau bertemu tanding, perkenalkan dia adalah Twa-Suhengku Pak-Thian Locu,"
"Aih-aihh, kiranya setan tua bangkotan dari Utara. Jangan takabur aku Song-Bun-Kwi selamanya tidak pernah takut, baik kepadamu atau kepada Twa-Suheng mu yang mau mampus ini!"
Serentak Song-Bun-Kwi menerjang kakek itu dengan pedangnya dan terjadilah pertandingan hebat.
Sementara itu, melihat betapa Sin Lee kerepotan dikeroyok Yok-Mo, Tok Kak Hwesio dan sekarang Hek-Hwa Kui bo juga menerjang Sin Lee karena Song-Bun-Kwi sudah dihadapi Pak-Thian Locu sedangkan Kong Bu diserang Siauw-Ong-Kwi, Kwa Hong mengeluarkan suara melengking dengan marah sekali ia menyerbu untuk menolong puteranya!
Makin hebatlah pertempuran itu.
Akan tetapi, Song-Bun-Kwi perlahan-lahan terdesak oleh Pak-Thian Locu yang luar biasa.
Kong Bu yang memondong tubuh Beng San juga repot menghadapi Siauw-Ong-Kwi, sedangkan Sin Lee biarpun dibantu ibunya, tetap saja terkurung hebat oleh Toat-Beng Yok-Mo, Tok Kak Hwesio, dan Hek-Hwa Kui-Bo.
Song-Bun-Kwi mulai sibuk, apalagi melihat Kong Bu terdesak hebat oleh Siauw-Ong-Kwi.
Memang di antara mereka, yang paling payah adalah Kong Bu.
Selain harus menggendong Beng San yang tidak ingat atau pingsan, juga hati pemuda ini gelisah sekali memikirkan nasib adik tirinya, Cui Bi yang tadi dibawa lari oleh manusia bermuka iblis itu.
Harus diakui bahwa di dalam hatinya, Kong Bu amat sayang kepada adik tirinya itu, dan tadi ia bermaksud menolong, siapa tahu keadaan lawan amat tangguh dan Ayahnya sudah pingsan tak dapat melawan lagi.
Hatinya gelisah, ditambah lawannya Siauw-Ong-Kwi, adalah tokoh utama dan Utara yang kepandaiannya setingkat dengan kakeknya!
"Bagus, kau pemuda jahat harus membalas kematian muridku!"
Berkali-kali Hek-Hwa Kui-Bo berteriak keras sambil mendesak Sin Lee dengan pedangnya.
Kwa Hong yang hendak membantu puteranya, ditahan oleh Toat-Beng Yok-Mo dan Tok Kak Hwesio, dua orang tokoh yang memiliki kepandaian tinggi.
Permainan pedang Hek-Hwa Kui-Bo adalah ilmu pedang Thai-Yang, hebat bukan main dan memiliki daya serang yang mengandung tenaga Imkang, Sin Lee juga amat kuat ilmu pedangnya gerakkan kakinya, sangat membingungkan dan serangan-serangannya ganas sekali, namun menghadapi nenek ini, ia kalah pengalaman, kalah tenaga, dan kalah segala-galanya.
Biarpun ia telah mengerahkan kepandaiannya, tetap saja ia terkurung oleh sinar pedang Hek-Hwa Kui-Bo, bahkan terancam hebat.
Pada saat yang amat berbahaya itu, terdengar bentakan-bentakan nyaring dan seorang wanita yang bergerak seperti seekor Naga betina menerjang dengan pedang yang menyambar laksana kilat.
Siauw-Ong-Kwi yang diserang oleh wanita ini kaget dan menangkis dengan lengan baju.
Pedang wanita itu tertangkis, menyeleweng ke samping akan tetapi ujung lengan baju Siauw-Ong-Kwi robek!
"Orang-orang tua pengecut!"
Wanita itu berteriak dan ia berseru kaget melihat keadaan Beng San dalam pondongan Kong Bu.
Wanita ini bukan lain adalah Cia Li Cu.
Melihat Suaminya mandi darah dan dengan muka pucat pingsan dalam pondongan Kong Bu, ia menjerit dan cepat menubruk.
Kong Bu memberikan tubuh Beng San kepada ibu tirinya ini dan sekarang dengan penuh semangat ia memutar pedangnya menghadapi Siauw-Ong-Kwi.
"Jangan kuatir, kami bantu!"
Terdengar suara wanita lain dan muncullah Li Eng dan Hui Cu, Li Eng langsung membantu Kong Bu dan Hui Cu segera membantu Sin Lee.
Hal ini terjadi karena dorongan hati masing-masing melihat laki-laki perampas hati mereka itu terdesak oleh lawan.
Di belakang dua orang gadis ini muncul puluhan orang anggauta Thai-San-Pai yang semua telah mencabut pedang.
Melihat ini Hek-Hwa Kui-Bo berseru keras.
"Cukup kita main-main! Biar besok pada pembukaan Thai-San-Pai dilanjutkan, ha-ha-ha-ha!"
Nenek ini melompat ke belakang, diturut oleh yang lain-lain karena mereka melihat keadaan tidak menguntungkan pihak mereka.
Apalagi setelah Beng San terluka hebat, besok lusa mudah saja bagi mereka untuk menantang dan menggagalkan pendirian Thai-San-Pai, membalas dendam dan merusak nama Thai-San-Pai dan ketuanya di muka semua orang kang-ouw!
Sementara itu, Li Cu yang melihat keadaan Suaminya parah sekali, tak sempat mencari tahu lagi, juga tidak bertanya kepada Song-Bun-Kwi maupun Kwa Hong yang tadi ia lihat sekelebatan berkelahi di pihak Suaminya.
Sambil mengeluh penuh kegelisahan nyonya ini memondong tubuh Suaminya dan dibawa lari menuju puncak.
"He, Kong Bu, kau hendak kemana?"
Song-Bun-Kwi berteriak melihat cucunya dengan pedang di tangan berlari cepat.
"Harus kutolong adik Cui Bi dari tangan manusia bermuka iblis!"
Jawab Kong Bu tanpa menengok.
"Aku ikut!"
Sin Lee juga berseru dan tubuhnya melompat jauh mengejar Kong Bu dengan pedang di tangan.
Kong Bu menoleh sambil lari, Sin Lee memandang.
Dua orang pemuda ini berpandangan dan biarpun mulut mereka tidak berkata apa-apa namun sinar mata mereka seakan-akan telah saling dapat menemukan isi hati masing-masing, tanpa sekecappun kata-kata dua orang muda seayah ini telah bersekutu!
Li Eng dan Hui Cu saling pandang dan Hui Cu berkata kaget.
"Eh, Adik Eng, mana Paman Hong?"
Li Eng menengok ke sana ke mari, berkata kuatir juga.
"Tadi kulihat dia berlari di belakang kita... ah, jangan-jangan dia ketinggalan jauh. Mari kita susul Bibi, keadaan Paman Beng San kulihat tadi amat menguatirkan."
Dua orang gadis ini lalu berlari menyusul Li Cu, hendak membantu bibi itu dan juga hendak mencari Kun Hong yang tadi datang bersama mereka.
Para anggauta Thai-San-Pai juga berbondong-bondong sudah mengikuti nyonya ketua mereka kembali ke puncak.
Setelah keadaan di situ sunyi, Kwa Hong dan Song-Bun-Kwi hanya bisa saling pandang dengan muka kecewa.
Keduanya merasa kecewa dan tertusuk hatinya karena sikap cucu dan putera mereka.
Lebih-lebih Kwa Hong.
Sama sekali ia tidak menyangka bahwa Sin Lee akan membalik dan memberontak, membela Ayahnya dan menentangnya.
"Sin Lee...!"
Akhirnya ia memekik nyaring dan tubuhnya melesat ke satu jurusan, agaknya hendak mengejar puteranya. Song-Bun-Kwi menampari kepalanya sendiri, bicara seperti orang gendeng.
"Goblok kau, tua bangka goblok! Mana bisa memisahkan anak dari Ayahnya? Goblok kau hendak mencelakakan cucumu sendiri, tolol!"
Dan iapun pergi dari situ dengan langkah gontai, wajahnya nampak makin tua dan sinar mata yang semula liar itu menjadi lunak dan muram.
Bagaimanakah Cui Bi, gadis yang memiliki ilmu kepandaian tinggi itu, bisa terjatuh ke dalam tangan Giam Kin?
Pagi hari itu, Cui Bi yang tidak melihat Ayahnya berada di puncak mencari ke mana-mana tidak ada dan ibunya sendiripun tidak tahu ke mana perginya Ayahnya, menjadi kuatir, maklum bahwa pertemuan antara Ayahnya dengan dua orang puteranya itu amat mengganggu hati dan pikiran Ayahnya apalagi dua orang putera itu telah dididik orang untuk memusuhinya.
Ia maklum bahwa Ayahnya amat berduka dan gelisah, maka pada hari itu, ketika tidak melihat Ayahnya, Cui Bi berkuatir dan timbul dugaannya bahwa Ayahnya tentu keluar dari puncak untuk pergi mencari kedua orang puteranya itu, Maka iapun lalu diam-diam keluar dari terowongan, turun dari puncak mencari Ayahnya.
Baru saja ia menyeberangi rawa, ia mendengar suara suling yang amat aneh dan merdu dari arah kiri.
Cepat ia membelok ke arah ini dan dalam sebuah hutan kecil ia melihat seorang laki-laki yang mukanya membuat Cui Bi terasa serem dan ngeri.
Laki-laki ini mukanya seperti iblis yang mengerikan dengan mata kirinya yang bolong kosong, mulutnya yang robek lebar, telinga kiri buntung, tangan kirinya yang kaku seperti cakar setan.
Akan tetapi sebagai puteri pendekar sakti yang sudah banyak bertemu dengan tokoh-tokoh aneh di dunia kang-ouw, Hanya sebentar saja Cui Bi dapat menguasai perasannya dan ia mulai tertarik oleh perbuatan laki-laki bermuka iblis itu.
Laki-laki itu dengan tangan kanannya yang normal sedang meniup suling.
Bukan main aneh dan indahnya suara suling itu dan yang lebih menarik hati Cui Bi lagi, di depan laki-laki yang duduk bersila di bawah pohon itu, kelihatan lima ekor ular besar tengah "Berdiri"
Di atas ekornya dan menari-nari, melenggak-lenggok amat lemasnya!
Cui Bi memang sudah beberapa kali pernah melihat ahli-ahli ular meniup suling membuat ularnya menari-nari, akan tetapi baru kali ini ia melihat lima ekor ular sekaligus menari dan dapat "Berdiri"
Setinggi itu. Benar-benar hebat dan lucu. Tak tertatankan gadis itu tertawa dan datang mcnghampiri lakj-laki itu, ikut duduk dekatnya dan berkata.
"Bagus dan lucu sekaLi...!"
Laki-laki itu tidak menoleh, terus melanjutkan tiupannya akan tetapi mata kanannya itu melirik ke arah Cui Bi lalu mengeluarkan sinar yang aneh.
Sekali ini Cui Bi mengenakan pakaian wanita yang ringkas hingga ia kelihatan sebagai seorang gadis muda remaja yang cantik dan manis.
Pedang tergantung di punggung dan dari senjata inilah orang akan dapat menduga bahwa dia adalah seorang gadis kang-ouw.
Melihat gadis cantik itu memandang kepada ular-ular itu dengan mata bersinar-sinar dan wajah berseri, laki-laki itu tanpa menunda tiupan suiingnya bertanya.
"Kau siapa, Nona? Apakah tidak takut ular?"
Cui Bi menoleh dan bukan main herannya.
"Kau hebat sekali, Lopek (Uwa). Sekaligus menyuling dan bicara. Bukan main! Kau tentu seorang di antara para tamu Thai-San-Pai, bukan? Apakah Kau sudah kenal baik dengan Ayah? Ayah belum pernah bercerita kepadaku tentang seorang temannya yang pandai meniup suling menjinakkan ular."
"He-he, jadi kau puteri Ketua Thai-San-Pai? Pantas saja tidak takut ular, akan tetapi coba kau lihat ular-ularku, entah takut tidak?"
Ia lalu bangkit berdiri dan tiupan sulingnya berubah nyaring dan lebih aneh lagi.
Cui Bi tadinya tersenyum-senyum saja karena mana dia takut segala macam ular?
Sekali gerakkan pedang ia sanggup membunuh lima ekor ular besar itu!
Akan tetapi tiba-tiba wajahaya berubah sedikit ketika ia mendengar suara berisik, suara mendesis-desis yang datang dari segala penjuru dan sebentar kemudian, puluhan, malah ratusan ekor ular merayap datang dari segala jurusan, malah ada yang datang dari atas pohon, merayap-rayap turun dengan cepatnya seperti memenuhi panggilan suara suling itu!
Dalam beberapa menit saja mereka berdua sudah dikurung oleh ratusan ekor ular besar kecil, di antaranya banyak terdapat ular-ular berbisa.
Mau tak mau Cui Bi menjadi pucat juga dan jijik.
Ia merasa bulu di tubuhnya meremang dan cepat ia mencabut pedangnya untuk menjaga kalau-kalau ada ular hendak menyerangnya.
"Jangan kuatir, selama ada aku di sini, mereka takkan berani mengganggumu, Nona. Aku hanya ingin memperlihatkan mereka padamu, bagus dan menarik mereka itu, bukan? Apa kau mau melihat mereka itu semua menari-nari?"
Cui Bi menggeleng kepala, menahan napas, bau yang amat amis memuakkan perutnya, bukan main bau itu, amis dan menyengat.
"Cukup... aku tidak ingin melihat mereka, Lo-pek, suruhlah mereka pergi..."
Laki-laki itu yang bukan lain adalah Giam Kin mengangguk-angguk dan meniup sulingnya, kini berlagu amat merdu dan...
ular-ular itu merayap pergi semua, berlenggang-lenggok menggelikan dan sebentar saja sudah lenyap semua, tak seekorpun berada di situ.
Cui Bi menarik napas lega dan menyimpan kembali pedangnya.
Mata Giam Kin berkilat ketika ia melihat cara gadis itu tadi menarik keluar pedang dan cara menyimpannya lagi.
Matanya yang tinggal sebelah itu dapat melihat bahwa gadis ini bukanlah orang sembarangan, melainkan seorang ahli pedang yang lihai sekali.
"Wah, celaka.,.."
Tiba-tiba Giam Kin berseru, nampak gugup dan bingung sekali, matanya yang tinggal sebelah menatap wajah Cui Bi.
"Aku... aku kesalahan terhadap Ayahmu, Nona. Ah, Tan Beng San Taihiap tentu akan marah kepadaku."
"Kenapa, Lo-pek? Kau tidak bersalah apa-apa."
"Celaka, Nona yang baik. Kau... kau telah terkena racun ular berbisa yang amat berbahaya!"
Giam Kin membanting-banting kakinya.
"Ayahmu tentu akan marah kepadaku. Coba kau menarik napas dalam-dalam, bukankah tercium bau yang amis? Apakah kau tidak merasa jantungmu berdebar-debar?"
Dengan muka berubah Cui Bi menarik napas dalam dan memang, bau amis yang tadi masih teringat olehnya sehingga seakan-akan ia mencium bau amis itu makin jelas terasa daripada tadi, ia merasa jantungnya berdebar.
Ia mengangguk gelisah.
"Nah, itu tanda kau racunan. Cepat, kau pakai obat ini. Aku sendiri tidak terpengaruh racun karena membawa bunga ajaib ini. Kau cium dan sedot wangi bunga ini pasti sekaligus lenyap pengaruhnya racun itu."
Cui Bi menerima setangkai bunga yang tadinya entah berwarna apa karena bunga itu sudah melayu dan tinggal berwarna kuning gelap, warna daun mulai mengering. Ia masih ragu-ragu.
"Tapi... tapi... bagaimana aku bisa keracunan kalau tidak ada seekor ularpun menyentuhku tadi?"
"Ah, kau tidak tahu, Nona. Di antara ular-ular tadi banyak ular beracun yang amat berbahaya. Sudah jamak melihat kita, ular-ular beracun tadi berniat menggigit dan mengeluarkan racunnya, akan tetapi mereka itu tertahan dan tidak berani oleh suara sulingku. Racun mereka yang keluar dari mulut mereka berceceran di atas tanah dan hawa pagi ini banyak keluar dari dalam tanah, membubung ke atas. Racun ular yang sudah berada di tanah itu hawanya terbawa oleh hawa tanah, memasuki hidung kita dan kau yang tidak berdekatan bunga penawar racun ini tentu saja keracunan, Sudahlah, kau cepat-cepat cium obat penawar ini, kalau tidak... akan terlambat nanti dan kau akan celaka. Lekas..."
Laki-laki itu nampak gugup dan bingung sekali.
Cui Bi memang seorang gadis muda yang berkepandaian tinggi, sudah banyak merantau dan pengetahuannya luas.
Namun dalam hal tipu muslihat, berhadapan dengan Giam Kin dia hanya seorang bocah yang masih hijau.
Melihat sikap Giam Kin dan mendengar keterangannya itu, ia percaya betul dan tanpa ragu-ragu lagi sekarang gadis itu mendekatkan bunga ke depan hidungnya dan menyedotnya.
Ia mencium bau yang amat harum dan enak memasuki hidung terus ke kerongkongan lenyap dan ia menyedot makin keras.
Tiba-tiba ia merasa kepalanya pening, pandang matanya berkunang.
"Celaka..."
Serunya sambil melempar kembang itu dan berusaha mencabut pedangnya.
"Ha-ha-ha-ha"
Giam Kin tertawa.
sulingnya bergerak menotok leher Cui Bi yang tak mampu bergerak lagi dan gadis ini roboh terguling, pingsan!
Sudah tentu saja semua ocehan Giam Kin tentang racun tadi bohong belaka.
Karena pandainya ia bicara disesuaikan dengan suasana dan keadaan, tentu saja Cui Bi masih merasa mencium bau amis dari ular-ular tadi dan karena pemberitahuan Giam Kin itu mengejutkannya, sudah semestinya kalau jantungnya berdebar pula.
Demikianlah, dalam keadaan pingsan dan tidak berdaya karena sudah ditotok jalan darahnya, gadis ini dipanggul pergi oleh Giam Kin, kemudian seperti telah diceritakan di bagian depan, Giam Kin yang licik ini dapat mempermainkan gadis yang ditawannya itu untuk mengacaukan pertahanan Beng San sehingga pendekar ini terluka dalam pengeroyokan.
Setalah melihat Beng San terluka dan tak mungkin dapat menang menghadapi pengeroyokan Suhunya, Supeknya dan tokoh-tokoh lain, Giam Kin lalu membawa pergi Cui Bi, kuatir kalau-kalau keluarga pendekar itu muncul.
Giam Kin sekarang berbeda dengan Giam Kin belasan tahun yang lalu.
Tidak hanya berbeda dalam ilmu kepandaian yang makin meningkat karena selama ini ia tekun memperdalam ilmunya, juga wataknya berubah banyak.
Dahulu ia adalah seorang laki-laki mata keranjang.
Sekarang watak ini lenyap berbareng dengan lenyapnya kqtampanan wajahnya.
Sekarang ia berubah menjadi manusia iblis yang haus darah, yang haus akan balas dendam terhadap musuh-musuhnya.
Mukanya rusak oleh Burung Rajawali Emas dan Kwa Hong, karenanya,tentu saja ia amat mendendam kepada Kwa Hong.
Akan tetapi dia sekarang menjadi cerdik luar biasa, maka tadi bertemu dengan Kwa Hong ia tidak bertindak apa-apa karena ia sedang memerlukan Kwa Hong dalam pengeroyokan terhadap Beng San.
Sekarang ia hendak melampiaskan dendamnya kepada Beng San, kepada keluarganya.
Maka setelah puteri Beng San terjatuh ke dalam tangannya, tidak lain nafsu dalam dadanya kecuali menyiksa dan membunuh gadis anak musuhnya ini.
Ia membawa lari Cui Bi ke dalam hutan lain di sebelah Timur, di lereng Gunung Thai-San, jauh dari tempat berkumpulnya para tamu.
Wajahnya yang buruk itu tertawa-tawa, agaknya ia gembira sekali membayangkan siksa yang akan ia lakukan atas diri anak musuhnya ini.
Tubuh gadis itu ia lemparkan di atas tanah yang kering tak berumput, lalu ia mengambil sehelal kain Sutera, Mengikat kaki tangan gadis itu, membalikkan tubuh gadis itu telentang, kemudian ia membebaskan totokan pada tubuh gadis itu.
Cui Bi yang merasa betapa jalan darahnya pulih kembali, berusaha meronta, akan tetapi ternyata tali itu kuat sekali.
Ketika ia hendak membuka mulut untuk mengelurkan pekik pemberitahuan kepada Ayah Bundanya, ia kaget karena tak dapat ia mengeluarkan sedikitpun suara.
Kiranya iblis yang cerdik itu telah menotok jalan darah dari urat gagunya, membuat ia tak dapat mengeluarkan suara.
Terpaksa Cui Bi hanya telentang dengan mata melotot marah, memandang kepada wajah manusia iblis yang duduk bersila di atas tanah.
Ngeri juga kalau ia memperhatikan wajah manusia ini, sudah tak patut disebut manusia lagi baik bentuk mukanya maupun gerak-geriknya.
Mata kanan yang kemerahan itu seperti mata orang gila, sedangkan mata kiri yang kosong menghitam itu seperti mata tengkorak, mata iblis.
Mulut yang robek dan terbuka memperhatikan deretan gigi yang masih rapi itu terlalu menyeringai dan menyeramkan karena gusi-gusi kemerahan tampak di atas gigi pinggir yang runcing seperti gigi setan.
Dan diam-diam gadis ini di samping kengeriannya juga menduga-duga siapa adanya tokoh buruk rupa yang aneh ini dan mengapa pula memusuhi Ayahnya.
Ia dapat menduga bahwa tentu orang ini musuh Ayahnya yang sekarang menjatuhkan dendam kepadanya, puteri tunggal Ayahnya.
Akan tetapi sepanjang ingatannya, belum pernah Ayahnya bercerita tentang tokoh seperti iblis ini yang anggapannya malah jauh lebih mengerikan daripada tokoh-tokoh manusia iblis yang pernah ia dengar dari Ayahnya.
"Heh-heh-heh, matamu seperti Ayahmu benar!"
Giam Kin tertawa gembira.
"Matamu penuh pertanyaan mengapa aku melakukan hal ini kepadamu dan siapa adanya aku, bukan? Nah, dengarlah, bocah. Dengarlah baik-baik agar kau tidak mati penasaran. Aku adalah Siauw-Coa-Ong (Raja Ular Kecil) Giam Kin, sahabat baik Ayahmu, heh-heh-heh!"
Ia tertawa terpingkal-pingkal, tubuhnya berguncang-guncang dan pandangan Cui Bi tertuju kepada tangan kiri yang kaku mati seperti cakar setan itu, dan gadis ini kelihatan heran.
"Heh-heh, kau kelihatan terheran-heran. Gadis cilik, dahulunya aku seorang laki-laki yang tampan. Hemm, dibandingkan dengan Ayahmu, aku jauh lebih tampan. Celaka, Siluman betina Kwa Hong itu dengan Rajawali Emasnya mengubah aku menjadi begini. Heh-heh, disangkanya aku sudah mati. Hah, awas kau Kwa Hong iblis betina, akan datang pembalasanku..."
"Aku bertanding melawan Kwa Hong dan menjadi begini karena gara-gara Lee Giok, karena itu aku bersumpah, selain untuk membalas kepada Ayahmu sekeluarga, juga kepada Kwa Hong dan Lee Giok. Sayang sampai sekarang belum kudapatkan kesempatan itu, ha-ha-ha, saat ini aku akan dapat memuaskan hatiku membalas kepada Beng San. Aku mendengar bahwa puteri dari Lee Giok berada di Thai-San sebagai tamu, aku cepat mencari akal untuk menangkapnya, untuk membalas kepada anaknya, menyiksanya seperti juga ibunya telah menyebabkan aku begini. Eh, kiranya bukan dia yang muncul melainkan kau, anak Beng San! Heh-heh-heh, jerat yang kupasang tidak berhasil menjerat kelinci seperti yang kuharapkan, malah lebih dari itu, ternyata telah menjerat seekor anak kijang. Heh-heh-heh, senang hatiku. Nah, kau sudah mendengar semua dan siap menerima siksa dariku? Heh-heh-heh-heh!"
Mengertilah sekarang Cui Bi mengapa muka penjahat bernama Giam Kin yang pernah ia dengar diceritakan Ayahnya itu sekarang menjadi seperti iblis begini.
Kiranya gara-gara Kwa Hong lagi.
Ia mencoba untuk mengerahkan tenaga Lweekangnya membuka totokan pada lehernya, namun sia-sia belaka dan ini membuktikan bahwa orang ini memiliki kepandaian yang tinggi.
Andaikata dia berhasil mengeluarkan pekik keras, tentu orang ini akan segera turun tangan pula.
Cui Bi tidak takut mati, akan tetapi ngeri juga ia mendengar bahwa ia akan mengalami siksaan.
Orang yang sudah bukan manusia lagi ini tentu mempunyai cara-cara yang amat keji untuk menyiksa, dan membunuh musuhnya.
Giam Kin tertawa-tawa lagi lalu mengeluarkan sulingnya.
Ketika suling itu mulai ditiup, tahulah Cui Bi, atau setidaknya dapatlah ia menduga siksaan apa yang akan ia hadapi.
Dan dugaannya itu ternyata benar karena tak lama kemudian ia mendengar suara berisik, mendesis-desis dan menggelesernya tubuh banyak ular menuju ke tempat itu.
Tak lama kemudian ia mencium bau amat amis dan kiranya ular-ular itu sudah dekat sekali.
Giam Kin menghentikan tiupannya, mengeluarkan setangkai bunga berwarna kuning dan ular-ular itu berhenti bergerak, seakan-akan ketakutan melihat kembang kuning itu!
"Heh-heh-heh, bocah anak Beng San.
Ular-ular itu akan menuruti segala perintahku.
Sekali kuperintah, mereka akan menyerbu dan menggerogoti kulitmu yang halus dan dagingmu yang lunak sampai tinggal tulang-tulangmu saja.
Heh-heh-heh, dalam waktu kurang dari satu jam, wajahmu yang cantik akan menjadi buruk, lebih buruk dari wajahku, rambutmu yang hitam panjang ini akan copot dari kepala, matamu yang bagus-bagus itu akan masuk ke perut ular.
Hanya tulangmu yang tinggal, kau akan berubah menjadi kerangka dan Ayah ibumu takkan mengenalmu lagi.
Heh-heh-heh!
Aku akan menikmati pertunjukan ini, melihat kau menggeliat-geliat kesakitan, melihat kau berkelahi dengan maut, melihat betapa.
hidungmu yang bagus itu akan digigit ular, kulitmu yang halus akan dibeset, dagingmu diperebutkan.
Heh-heh-heh!"
Cui Bi sudah tak mendengarkan ini semua.
Ia tahu sejak ular-ular itu datang bahwa nyawanya takkan dapat tertolong lagi.
Ia tidak takut menghadapi kematian, tidak pula takut menghadapi siksaan akan tetapi pada saat ia berada ditepi jurang kematian itu, terbayanglah wajah tiga orang, yaitu wajah ibunya, wajah Ayahnya dan wajah Kun Hong!
Tak tertahankan lagi naik, sedu-sedan di kerongkongannya dan beberapa titik air mata mengalir ke atas pipinya.
"Heh-heh-heh, kau menangis? Heh-heh-heh-heh, bagus, menangislah. Aahhh, alangkah senangnya kalau aku bisa memperlihatkan ini kepada jahanam Beng San! Heh-heh, dia sendiri sekarang mungkin sudah mampus atau terluka hebat. Aahh, alangkah manisnya pembalasan dendam!"
Giam Kin berdiri, mundur dan kemudian duduk bersila di bawah pohon tak jauh dari situ.
Ia menyimpan kembali kembang kuning itu dan mulai meniup sulingnya, matanya yang tinggal sebelah ltu bersinar-sinar memandang pertunjukan di depannya yang akan segera di mulai.
Suling ditiup, suaranya melengking tinggi mengalun sedih seperti ratap tangis yang keluar dari neraka, dan ular-ular itu mulai merayap maju, berlenggang-lenggok menggeliat-geliat merayap ke arah Cui Bi yang masih menggeletak telentang.
"Mati Bukan soal, tapi melawan sebisanya adalah wajib,"
Pikir gadis ini.
Ia mengerahkan seluruh tenaga Lweekang yang ada dalam tubuhnya, lalu tiba-tiba tubuhnya itu menggeliat dan melompat ke atas.
Dengan meliukkan pinggangnya ia berhasil turun dalam keadaan berdiri.
Badannya bergoyang-goyang, memang sukar untuk dapat melakukan hal itu dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya dan diam-diam Giam Kin kagum sekali.
Ginkang yang diperlihatkan gadis itu betul-betul Ginkang tingkat tinggi.
Melihat ular-ular itu sudah mengurungnya dan jumlah mereka amat banyak sehingga sekelilingnya dalam jarak lima enam meter adalah ular belaka, Cui Bi maklum bahwa tak mungkin ia dapat melompati jarak itu keluar dari lingkaran barisan ular.
Setelah ular-ular makin dekat dan siap menerjang kakinya, ia menggerakkan kedua tumit kakinya dan tubuhnya meloncat ke atas, lalu dengan mengerahkan Lweekangnya ia turun lagi tepat mengarah kepala seekor ular besar.
"Krakkk!"
Kepala ular itu hancur lebur oleh injakan kaki Cui Bi yang secepatnya telah meloncat lagi ke atas dan turun menginjakkan kedua kakinya pada kepala seekor ular besar lainnya.
Demikianlah, gadis yang luar biasa ini berkali-kali meloncat dan tiap kali turun tentu seekor ular mati dengan kepala remuk.
Makin lama makin gembiralah Cui Bi karena biarpun ia maklum bahwa akhirnya ia akan roboh dan tewas, namun ia telah berhasil membunuh banyak calon-calon pembunuhnya.
Gembira sekali hati Giam Kin.
Ia melihat betapa gadis itu makin lama makin menjadi lemah.
Tiap kali meloncat dan tiap kali menginjak remuk kepala seekor ular, gadis itu mengerahkan Lweekang yang tidak kecil makan tenaganya sehingga setelah dua puluh ekor lebih ular yahg diinjaknya mati, gadis itu mulai mandi peluh dan gerakannya lambat.
Akhirnya seekor ular berhasii membelit kakinya sehingga ketika Cui Bi melompat, ular itu terbawa naik.
Gadis itu maklum bahwa sekali ular yang belang-belang kulitnya ini menggigit, akan robohlah dia terkena racun.
Cepat ia menggerakkan kedua kakinya selagi meloncat itu, gerakannya cepat dan mengandung tenaga sehingga lilitan tubuh ular itu pada kakinya telepas dan ular itu terlempar sampai sepuluh meter lebih jauhnya!
"Hebat..."
Giam Kin memuji dan sulingnya makin meninggi lengkingnya dan hal ini agaknya membuat ular-ular itu makin ganas saja.
Cui Bi kehabisan tenaga dan maklum bahwa belum tentu ia kuat meloncat lima kali lagi.
Dan setelah ia tidak kuat meloncat, tentu ular-ular itu akan membelit kakinya merayap ke atas, menggigiti kakinya sampai ia roboh untuk dikeroyok dan diperlakukan seperti yang telah dibayangkan oleh Giam Kin tadi.
Tapi baru saja meloncat tiga kali, ia sudah kehabisan tenaga dan injakannya tidak mematikan seekor ular.
Ia sudah tidak kuat meloncat lagi dan sudah meramkan mata untuk menerima kematian yang amat mengerikan.
"Heh-heh-heh, ha-ha-ha, kini pertunjukan mulai..."
Giam Kin tertawa terkekeh-kekeh, akan tetapi tiba-tiba suara ketawanya berhenti dan yang terdengar oleh telinga Cui Bi adalah teriakan orang, nyaring sekali.
"Bi-moi... lekas kau berloncatan lagi...! Loncat, pertahankan!"
Suara ini seakan-akan aliran listrik yang memberi kekuatan baru kepada Cui Bi, menyendal kembali harapannya untuk hidup yang tadi sudah terbang ke awang-awang.
Sekuat tenaga ia meloncat ke atas sebelum kakinya terbelit ular, sambil meloncat ia membuka kedua mata memandang.
"Hong-Ko...!"
Di dalam dadanya bergema teriakan hatinya ini karena ia masih belum dapat mengeluarkan suara sama sekali.
Dilihatnya betapa pemuda itu dengan memegang dua batang obor kayu, menggunakan api obor itu untuk mengamuk dan menyerang barisan ular, menyerbu ke arah tempatnya.
Tak terasa lagi air mata bercucuran di kedua mata Cui Bi, saking girang dan terharunya.
Namun, kekuatiran besar memenuhi hatinya kalau ia melihat Giam Kin masih duduk bersila di tempat tadi sambil memandang ke arah Kun Hong dengan mata mengandung kemarahan, akan tetapi mulut mengejek.
Seperti binatang buas apa saja, ularpun amat takut terhadap api.
Mereka yang kurang cepat menyingkir, sudah berkelojotan terkena serangan Kun Hong, ada pula yang mencoba menyerang pemuda itu, akan tetapi begitu tubuhnya tercium api, lalu berkelojotan, menggigit bagian badan sendiri yang termakan api saking panas dan sakitnya, Yang lain-lain menyingkir ketakutan sehingga terbukalah jalan bagi Kun Hong untuk berlari ke arah Cui Bi.
"Kau pegang ini sebuah, Bi-moi!"
Teriak pula Kun Hong sambil menyerahkan obor yang tadi dipegang oleh tangan kanannya.
Dengan penuh semangat Cui Bi mengacung-acungkan sepasang lengannya yang terbelenggu untuk memberi tahu bahwa tak mungkin ia melakukan apa yang diminta itu.
Melihat ini Kun Hong cepat meletakkan sebuah obor ke bawah, mencabut Ang-Hong-Kiam dan membabat belenggu kaki dan tangan gadis itu.
Ang-Hong-Kiam tajam bukan main dan tenaga dalam dari Kun Hong juga hebat, maka sekali babat saja putuslah semua belenggu dan terbebaslah Cui Bi.
Setelah itu, dengan pedang dikempit untuk membebaskan tangan kanannya, Kun Hong yang maklum bahwa gadis ini tentu telah tertotok urat gagunya, menotok belakang leher dan menepuk punggung dua kali.
"Hong-Ko...!"
Kali ini suara itu keluar dari mulut Cui Bi, disusul isak tangis saking girang dan terharunya.
Tiba-tiba Cui Bi merampas pedang dari tangan Kun Hong, matanya liar ketika membalikkan tubuh memandang ke arah Giam Kin.
Akan tetapi alangkah heran, terkejut dan marahnya ketika ia tidak melihat manusia iblis itu berada di tempat tadi, sudah tidak kelihatan bayangannya lagi.
"Ke mana dia...??"
"Kau mencari siapa, Adik Bi?"
Tanya Kun Hong.
"Manusia iblis itu, Giam Kin si keparat, hendak kucincang hancur tubuhnya!"
"Ah, kau maksudkan pengemis buta sebelah yang meniup suling tadi? Aku sudah terheran-heran tadi mengapa ia bisa bermain suling sedangkan di depannya terjadi penyerangan ular-ular itu kepadamu, kenapa ia tidak turun tangan menolongmu."
"Menolongku? Ah, Hong-Ko dialah yang menyuruh ular-ular itu mengeroyokku. Dia itulah si iblis bernama Giam Kin memusuhi Ayah dan karenanya ia hendak membalas dendamnya melalui aku, dia sengaja mendatangkan ular-ular itu setelah menawanku secara licik dan curang, dia hendak melihat ular-ular itu merobohkan aku, menggerogoti kulit dan dagingku, melihat aku berkelojotan melawan maut, melihat aku berubah menjadi rangka, tinggal tulang-tulang saja, ahh... Hong-Ko..."
Gadis itu menubruk, merangkul pundak Kun Hong dan menangis tersedu-sedu.
Kun Hong bergidik dan membiarkan gadis itu memuaskan perasaannya, membiarkan dia menangis sesenggukan.
Memang inilah obat terbaik untuk menenangkan kembali perasaannya yang tertindih dan tercekam hebat oleh pengalaman yang demikian mengerikan.
Baru saja gadis ini lolos dari lubang jarum, lolos dari cengkeraman maut yang sudah begitu pasti, dan diam-diam Kun Hong berterima kasih kepada Tuhan bahwa ia tidak tertambat datang.
Terlambat beberapa menit lagi saja, bayangan ngeri dan seram seperti dikatakan gadis ini tadi pasti akan terjadi.
"Hong-Ko... kau telah menolong nyawaku, Hong-Ko..."
"Sudahlah, jangan besar-besarkan hal itu, Bi-moi,"
Jawab Kun Hong merendah, padahal hatinya merasa bahagia bukan main.
"Girang sekali hatiku kaulah yang berhasil menolongku, Hong-Ko. Akhirnya kaulah orangnya yang berhasil merenggut aku dari cengkeraman maut maka sudah sepatutnya pula kalau aku menghambakan diri kepadamu selama hidupku."
Tak terasa lagi, mendengar kesanggupan gadis ini, Kun Hong memeluk dan mendekap kepala orang yang disayang dan dicintanya itu rapat-rapat ke dadanya?
"Bi-moi...
Bi-moi...
semoga Tuhan memberkahi kita dan mengabulkan apa yang kita cita-citakan ini...
ah, mari kita lekas menyusul ke tempat Ayahmu.
Tadi kulihat dia dikeroyok banyak orang jahat, dan ibumu serta Li Eng dan Hui Cu juga sudan menyusul ke sana.
Aku melihat kau ditawan orang dan dibawa lari, maka cepat aku mengejar.
Sama sekali tidak kusangka bahwa orang itu adalah pengemis buta sebelah tadi, dan sama sekali tidak kuduga dia itulah yang bernama Giam Kin.
Pernah aku mendengar dari Ayahku, tentang orang itu..."
"Baiklah, Hong-Ko, mari kita susul Ayah. Tapi aku tidak kuatir Ayah akan kalah oleh keroyokan orang jahat."
Cui Bi merasa yakin sekali akan kepandaian Ayahnya, maka mendengar bahwa Ayahnya dikeroyok orang, ia tidak menjadi gelisah.
Apalagi setelah ia mendengar bahwa ibunya telah pula datang ke tempat itu, apa yang harus ditakuti dan dikuatirkan lagi?
Masih ada lagi Hui Cu cukup lihai dan terutama Li Eng yang berkepandaian tinggi.
Baru saja mereka keluar dari hutan itu, tampak dua orang muda berlari cepat mendatangi dari depan.
Mereka ini bukan lain adalah Kong Bu dan Sin Lee.
"Adik Cui Bi, kau tidak apa-apa?"
Teriak Kong Bu dari jauh, girang melihat Cui Bi sudah berjalan di samping Kun Hong dalam keadaan sehat selamat, hanya mukanya agak pucat.
Cui Bi juga girang melihat Kong Bu akan tetapi ketika mengingat akan peristiwa di depan jalan terowongan dan ketika melihat Sin Lee juga berada di situ, ia meragu.
Betapapun juga melihat sikap yang begitu memperhatikan, ia segera bertanya.
"Bu-Ko hendak ke manakah kau? Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku terancam bahaya? Dan dia ini...?"
Ia mengerling ke arah Sin Lee yang berdiri tegak. Kong Bu tersenyum lalu memegang kedua tangan adik tirinya.
"Ah, adikku, jangan kau curiga. Aku tadi melihat kau dibawa lari oleh manusia iblis, lalu aku sengaja mengejarnya. Dia ini juga membantuku ikut mengejar untuk menolong adik tirinya. Bukankah begitu?"
Pertanyaan terakhir ini diucapkan Kong Bu sambil memandang Sin Lee.
Sin Lee mengangguk, tanpa mengeluarkan kata-kata karena perasaannya masih penuh keharuan, juga kebingungan karena baginya, urusan antara ibu dan Ayahnya itu membuat ia ragu-ragu dan serba salah.
Cui Bi terharu sekali, menghampiri Sin Lee dan memegang tangan pemuda ini, menatap wajah Sin Lee dengan pandang mata tajam penuh selidik.
"Kau juga kakakku, kakak tiri putera Ayah. Sin Lee Koko, apakah kau masih hendak memusuhi Ayah, memusuhi Ibu, memusuhi aku?"
Sinar mata yang bening indah itu menatap wajah Sin Lee seakan-akan hendak menembus hatinya. Sin Lee tertegun, tak dapat menjawab.
"Adik Cui Bi, tentu saja tidak. Tadi Ayah telah dikeroyok banyak tokoh lihai, terluka dan hampir celaka. Aku dan dia ini turun tangan membantu Ayah, agaknya hati kami tidak dapat mengijinkan orang-orang membunuh Ayah kami di depan mata kami begitu saja. Ayah telah menderita luka-luka hebat dan sekarang telah dibawa pulang oleh ibumu."
Wajah Cui Bi menjadi pucat seketika.
"Ayah terluka...? Ah, hayo kita pulang, menengok Ayah!"
Ia lalu melompat dan berlari cepat menuju ke puncak.
Kong Bu dan Sin Lee saling pandang, bersepakat dalam pandang mata masing-masing, lalu ikut pula berlari.
Cui Bi tiba-tiba berhenti dan memandang Kun Hong.
"Ah, aku lupa... maaf, Hong-Ko. Marilah kita bersama ke puncak. Bu-Ko dan Lee-ko, terpaksa kita berlari jangan terlalu cepat agar Hong-Ko tidak ketinggalan."
Kun Hong tersenyum.
"Larilah Bi-moi, dan aku akan mencoba mengikutimu dari belakang."
Demikianlah, empat orang muda itu melanjutkan perjalanan melalui jalan rahasia yang terdekat, dipimpin oleh Cui Bi sebagai penunjuk jalan, tidak terlalu cepat karena mereka kuatir kalau-kalau Kun Hong tidak dapat mengimbangi kecepatan mereka.
Di sepanjang jalan dua orang putera Beng San itu mendengar penuturan Cui Bi tentang perbuatan biadab Giam Kin dan tentang pertolongan Kun Hong.
Biarpun Kun Hong menjawab secara merendahkan diri namun diam-diam dua orang pemuda itu menduga bahwa Kun Hong putera Ketua Hoa-San-Pai itu tentulah memiliki kepandaian yang luar biasa sehingga dapat mengejar Giam Kin dan dapat memberi pertolongan kepada Cui Bi.
Kedatangan mereka disambut anak murid Thai-San-Pai dengan gembira, terutama sekali Hui Ci dan Li Eng yang tidak saja gembira melihat bahwa paman mereka selamat, juga lebih-lebih melihat Sin Lee dan Kong Bu ikut pula datang ke puncak.
"Paman Beng San terluka hebat, sekarang sedang dirawat oleh Bibi,"
Kata Li Eng dan cepat-cepat dengan wajah penuh kegelisahan Cui Bi memasuki rumah diikuti oleh Sin Lee, Kong Bu, Hui Cu, Li Eng, dan Kun Hong.
Mereka memasuki kamar dengan hati-hati dan alangkah kagetnya dan sedih hati Cui Bi ketika melihat Ayahnya duduk bersila dengan wajah sepucat mayat, sedangkan ibunya duduk di belakang Ayahnya, menempelkan telapak kedua tangannya pada punggung Ayahnya.
Keduanya meramkan mata, napas Beng San terengah-engah dan berat, sedangkan Li Cu yang sedang memberi saluran hawa murni ke tubuh Suaminya untuk membantu Suaminya memulihkah tenaga dan mengobati luka di dalam, kelihatan pucat dan keringatnya membasahi leher dan muka.
Orang-orang muda itu yang tahu akan ilmu silat tinggi, maklum apa yang sedang dilakukan dua orang tua di atas pembaringan itu, maka mereka tidak berani mengganggu.
Tiba-tiba Kun Hong melangkah maju dan berkata halus.
"Bibi, harap kau suka mengaso, amat berbahaya bagi kesehatan Bibi sendiri, biarlah aku yang bodoh mencoba-coba mengobati Paman Beng San."
Semua orang terkejut dan merasa lancang ucapan Kun Hong ini. Li Cu dan Beng San yang ada mendengar ada suara orang, segera membuka mata, memandang kepada mereka.
"Ayah, Ibu, Kakak Kong Bu dan Kakak Sin Lee datang..."
Kata Cui Bi, menahan isak tangisnya melihat keadaan Ayahnya.
Memang hebat sekali penderitaan Beng San.
Luka-lukanya adalah luka pukulan Lweekang dan senjata yang mengandung racun mematikan, keadaannya amat berbahaya, cahaya matanya sudah menghilang dan pandang matanya sayu.
Akan tetapi begitu melihat Kong Bu dan Sin Lee berdiri di situ, ia tersenyum, mengangguk-angguk dan matanya yang pudar itu mengeluarkan cahaya bahagia.
Li Cu yang maklum bahwa Suaminya sedang berjuang melawan maut, tanpa melepaskan tangannya berkata.
"Anak-anak, harap jangan mengganggu kami, tunggulah di luar."
Akan tetapi Beng San memandang Kun Hong, melihat pemuda aneh ini tunduk dan sinar mata pemuda itu berkilat-kilat menjelajahi seluruh tubuhnya, berkata lemah.
"Biarlah... biarlah dia... mengobatiku... kau beristirahatlah... dia betul... berbahaya bagi kandunganmu..."
Setelah berkata demikian, tubuhnya menjadi lemas dan ia tidak kuat bersila lagi, roboh terguling dan dari mulutnya menyembur darah segar.
Li Cu kaget sekali, cepat menerima tubuh Suaminya dan menidurkannya telentang menahan isaknya ketika turun dari pembaringan.
Nyonya ini kelihatan lelah sekali, ia sudah terlalu banyak mengeluarkan tenaga untuk membantu Suaminya dengan mengerahkan tenaga Lweekang yang berlebihan.
Mukanya pucat kehijauan, napasnya terengah-engah.
"Bi-moi, tolong ambilkan kertas dan alat tulis. Ibumu harus cepat diberi obat,"
Kata Kun Hong setelah memandang sejenak ke arah Li Cu, Cui Bi terheran-heran tidak mengira bahwa orang yang dikasihinya ini pandai ilmu pengobatan maka cepat-cepat ia mengambilkan barang yang dimintanya.
Kun Hong lalu duduk di kursi, menuliskan huruf-huruf yang indah dan cepat sekali ke atas kertas dan memberikan kertas itu kepada Cui Bi.
"Carilah obat ini, campur air tiga mangkok, masak sampai tinggal semangkok lalu beri minum kepada ibumu."
Lalu ia menoleh ke arah Li Cu yang sedang membersihkan darah yang dimuntahkan Suaminya tadi dengan sehelai saputangan.
"Bibi, harap kau suka mengaso untuk menjaga kesehatanmu."
"Tidak, aku harus menjaga dia"."
Mendengar suara yang penuh cinta kasih dan kesetiaan ini, Kun Hong terharu sekali.
Ia dapat melihat bahwa keadaan nyonya ini amat berbahaya, karena dalam keadaan mengandung telah menyalurkan tenaga dalam dan hawa murni, hal ini benar-benar amat berbahaya, tidak saja bagi kandungannya, juga bagi kesehatan tubuhnya.
"Bibi, percayalah kepadaku apabila Tuhan menghendaki, Paman Beng San akan sembuh. Bi-moi, kau ajaklah Ibumu beristirahat dan cepat kau menyuruh orang mencarikan obat dari resep itu."
Melihat sikap kekasihnya yang begitu meyakinkan, Cui Bi tidak ragu-ragu lagi.
Memang ia selalu mempunyai dugaan bahwa kekasihnya ini bukanlah orang sembarangan, melainkan seorang yang menyembunyikan kepandaiannya.
Kiranya kepandaiannya adalah sebagai ahli pengobatan.
Ia memeluk Ibunya dan berkata.
"Ibu, kau percayalah kepada Hong-Ko, mari mengaso dan minum obat."
Li Cu memandang kepada Kun Hong dengan mata penuh perasaan, bahkan perlahan-lahan air mata berlinang keluar dari mata itu.
"Kun Hong, kau putera Kwa Tin Siong Lo-Enghiong, tentu saja aku percaya kepadamu. Semoga kau betul-betul dapat menyembuhkannya"."
Lalu ia menahan isak ketika memandang lagi kepada Suaminya yang sudah pingsan terengah-engah itu kemudian keluar dari kamar dituntun puterinya.
"Kuharap kalian berempat suka pula keluar dan menunggu di luar. Terlalu banyak orang di dalam kamar amatlah tidak baik bagi si sakit. Li Eng tolong kau minta kepada Cui Bi supaya memberiku jarum-jarum perak dan sepanci air panas mendidih."
Tanpa berkata apa-apa lagi Sin Lee, Kong Bu, Hui Cu dan Li Eng meninggalkan kamar, akan tetapi tidak meninggalkan ruangan di luar kamar itu.
Dari pintu kamar yang tetap terbuka mereka dapat melihat ke dalam, melihat apa yang akan dilakukan oleh Kun Hong untuk mengobati Beng San yang sudah amat payah keadaannya itu.
Adapun Li Eng cepat-cepat pergi mencari Cui Bi untuk minta barang-barang yang dipesan oleh Kun Hong tadi, Setelah semua orang pergi, Kun Hong lalu memulai memeriksa luka-luka di tubuh Beng San.
Kening pemuda itu berkerut, dahinya berkeriput ketika ia mengerahkan segenap kekuatan ingatannya untuk mencari hal-hal tentang pengobatan yang sudah dihafalnya dari kitab-kitab Yok-Mo.
Ia memeriksa jalannya darah pada nadi, ketukan jantung pada dada kiri, memeriksa jalan-jalan darah pada jalan darah terpenting.
Ia mendapat kenyataan bahwa Beng San menderita luka dalam yang hebat pada tiga tempat, dan darahnya terserang racun berbahaya dari luka-lukanya di luar pula.
Benar-benar amat parah.
Dengan gerakan perlahan tapi tepat dan tidak ragu-ragu, Kun Hong menotok beberapa pusat jalan darah di tubuh Beng San, mengurut bagian leher dan dada untuk mencegah menjalarnya racun dan mencegah darah keluar dari mulut, kemudian ia membantu daya tahan ditubuh Beng San dengan pengerahan Lweekang pada telapak tangannya yang ia tempelkan pada ulu hati.
Usahanya berhasil baik karena pernapasan yang sakit itu tidak seberat tadi.
Ketika Li Eng dating memasuki kamar membawa air panas sepanci dan sebungkus jarum-jarum perak, Kun Hong melepaskan tangannya dari si sakit, lalu memberi isyarat kepada Li Eng untuk keluar kamar dan menutupkan pintunya.
Li Eng memenuhi permintaan ini dan sekarang empat orang muda itu berdiri di luar kamar, tidak dapat lagi melihat apa yang dilakukan oleh Kun Hong di dalam kamar itu, saling pandang penuh keheranan dan menduga-duga.
"Hebat pamanmu itu,"
Kata Kong Bu akhirnya kepada Li Eng.
"Apakah kau sebagai keponakannya tidak tahu bahwa dia pandai ilmu pengobatan?"
Tanya Sin Lee kepada Hui Cu.
Pertanyaan-pertanyaan ini dilakukan berbisik dan secara otomatis empat orang muda itu terbagi menjadi dua rombongan.
Kong Bu berdekatan dengan Li Eng sedangkan Sin Lee berdekatan dengan Hui Cu.
"Memang dia orang aneh, mengaku tidak bisa apa-apa akan tetapi agaknya menyembunyikan kepandaian luar biasa."
Jawab Li Eng kepada Kong Bu.
"Aku sendiri tidak tahu bahwa dia pandai ilmu pengobatan, dia tidak pernah bicara tentang kepandaiannya, kecuali kepandaian membaca kitab."
Bisik Hui Cu sebagai jawaban kepada Sin Lee.
Pelayan datang mengantarkan minuman kepada empat orang muda itu.
Mereka berpencar lagi, Kong Bu dengan Sin Lee duduk menghadapi meja kecil di sebelah kiri pintu kamar, adapun dua orang gadis itu duduk menghadapi meja di sebelah kanan pintu kamar.
Tak lama kemudian muncullah Cui Bi di ruangan itu.
"Ibu sudah minum obat dan sekarang tidur nyenyak. Aku harus membantu Hong-Ko."
Tanpa memberi kesempatan kepada empat orang muda itu untuk mencegahnya, ia terus saja membuka pintu kamar itu masuk dan menutup pintu dari dalam.
Empat orang itu saling pandang dan tersenyum maklum.
Li Eng dan Kong Bu, juga Sin Lee, berseri wajahnya.
Hui Cu menunduk, kelihatan malu dan jengah.
Kun Hong menoleh.
ketika mendengar ada orang memasuki kamar.
Ketika melihat bahwa yang masuk adalah Cui Bi, ia memandang dengan mata bertanya dan alis berkerut.
"Jangan marah, Hong-Ko. Aku harus membantumu. Ibu sudah minum obat dan tidur. Kebetulan obat-obat yang kau tulis itu tersedia di kamar obat kami."
Kun Hong tidak tega menolak permintaan kekasihnya. Ia hanya mengangguk dan memasukkan belasan batang jarum ke dalam mangkok yang sudah ia isi dengan air mendidih.
"Kalau begitu, tolong kau buka baju Ayahmu."
Dengan sigap Cui Bi melakukan perintah ini, gelisah sekali melihat luka-luka di tubuh Ayahnya, terutama sekali luka dalam yang hanya tampak membiru dan kemerahan di tempat-tempat berbahaya seperti lambung, dada, dan leher.
Dengan hati-hati ia membuka baju Ayahnya yang terkena noda darah yang dimuntahkan, lalu menyingkirkan baju itu ke sudut kamar.
Adapun Kun Hong melanjutkan pekerjaannya memasukkan jarum-jarum ke dalam air panas tadi.
Dengan isyarat tangan ia lalu minta bantuan Cui Bi untuk mengangkat tubuh Beng San yang masih tak sadarkan diri dan membaringkan tubuh itu telungkup.
"Bi-moi, jangan dekat, kau mundurlah dan jangan mengeluarkan suara."
Mendengar suara yang penuh wibawa ini, meremang bulu tengkuk Cui Bi.
Bukan main laki-laki ini, kadang-kadang kelihatan bodoh dan halus lemah-lembut, akan tetapi pada saat ini kelihatan amat berpengaruh, penuh wibawa dan suaranya mengandung kekuatan dan kekuasaan yang hebat.
Ia cepat melangkah mundur dan berdiri di sudut kamar, memandang penuh perhatian, penuh harapan, dan penuh kekaguman.
Kun Hong mengeluarkan sembilan batang jarum perak dari dalam air panas, memegang jarum-jarum itu pada tangan kiri, mengambil sebatang dengan tangan kanan, dijepit di antara ibu jari dan telunjuk, lalu ia melangkah mundur tiga tindak dari pembaringan.
Jarak antara dia dan tubuh Beng San ada satu setengah meter, matanya memandang tajam, semangat dikumpulkan, napas ditahan, tenaga Lweekang digerakkan dan tiba-tiba ia menubruk ke depan, jarum pertama telah ia tusukkan tepat pada jalan darah Tiong-Cu-Hiat yang letaknya dibelakang leher.
Secepat cara ia menusuk ke depan, ia telah melompat ke belakang pula, lalu mengambil jarum kedua dan ditusukkan pada jalan darah Kin-Ceng-Hiat di pundak kanan, lalu jalan darah Hong-Hu-Hiat di belakang kedua pundak, di punggung bawah kanan kiri, jalan darah Sin-Teng-Hiat di kedua pergelangan tangan sampai sembilan batang jarum itu habis ditusukkan semua, menancap di pelbagai jalan darah yang penting.
Kun Hong lalu berdiri tegak dengan mata meram, kedua tangan disilangkan, menarik napas panjang memulihkan tenaga dalam yang banyak dikeluarkan untuk melakukan penusukan-penusukan jarum itu.
Beberapa menit kemudian ia bergerak lagi, kini melakukan totokan-totokan dengan jari telunjuk, menotok dari belakang kepala terus menurun sampai di lutut.
Caranya menotok juga aneh karena ia mempelajari dari kitab pengobatan ajaib Toat-Beng Yok-Mo.
Seperti tadi, ia menotok dari jarak jauh, melompat dan menotok seperti orang menyerang lawan, akan tetapi totokannya selalu tepat mengenai sasaran!
Melihat semua gerakan Kun Hong ini, Cui Bi melongo saking herannya.
Ia tidak mengenal ilmu tusuk jarum itu, akan tetapi ilmu menotok tentu saja ia kenal baik.
Yang membuat ia kagum adalah cara menotok dengan sebuah jari ini.
Belum pernah ia melihat cara menotok seperti itu dan ia hanya mendengar saja cerita Ayahnya bahwa di jaman dahulu ada semacam ilmu menotok yang disebut It-Ci-San, akan tetapi Tiam-Hiat-Hoat (Ilmu Menotok Jalan Darah) ini sekarang hanya tinggal dongengan saja dan belum pernah Ayahnya sendiri melihat tokoh silat mempergunakan dalam pertandingan.
Akan tetapi sekarang ia melihat Kun Hong menggunakan ilmu itu, hanya bukan untuk bertanding, melainkan untuk mengobati secara hebat sekali.
Kali ini, setelah menotok semua jalan darah yang penting, Kun Hong nampak lelah sekali, Ia segera bersila di atas lantai untuk mengatur pernapasan dan memulihkan tenaga sampai sepuluh menit lebih.
Baru ia bangun dan memeriksa detik nadi tangan Beng San.
Wajahnya nampak berseri karena tepat seperti petunjuk di dalam kitab pengobatan, cara pengobatan pada babak pertama ini berhasil apabila detik nadi menjadi cepat luar biasa, dan detik nadi yang dipegangnya itupun cepat sekali.
Dengan tenang tapi cepat ia mencabuti jarum-jarum itu dan memasukkahnya kembali ke dalam mangkok lain yang sudah diisi air panas.
Air di mangkok itu segera berubah menjadi kehitaman!
"Bi-moi, mari bantu aku."
Ia memerintah dan Cui Bi cepat melangkah maju, penuh kekaguman.
Namun Kun Hong sama sekali tidak memperhatikan nona ini dan ia bersama Cui Bi mengangkat tubuh Beng San untuk ditelentangkan kembali.
Alangkah lega hati Cui Bi ketika melihat betapa wajah Ayahnya yang tadinya pucat seperti mayat sekarang merah kembali, malah terlalu merah dan ketika ia membantu tadi, tubuh Ayahnya dirasakan panas seperti api.
Kun Hong memberi isyarat supaya gadis itu mundur lagi, lalu ia mulai lagi dengan pengobatan, babak ke dua, yaitu dengan cara menusuk-nusukkan sembilan batang jarum perak ke pelbagai jalan darah di tubuh bagian depan, Kemudian setelah mengaso sebentar lalu melakukan totokan-totokan seperti tadi.
Kali ini seluruh tubuh Kun Hong mengeluarkan peluh dan terpaksa ia beristirahat lebih lama dari tadi.
Cui Bi mendekat dan melihat wajah dan pernapasan Ayahnya, girang bukan main hatinya.
Ia memandang pemuda yang bersila di lantai itu penuh kekaguman, penuh cinta kasih dan ingin rasa untuk memeluknya.
Ia berterima kasih sekali dan memandang dengan mesra.
Cepat ia menuangkan arak yang tersedia di kamar itu dalam sebuah cawan, lalu ikut duduk bersila di dekat Kun Hong, cawan arak di tangan, menanti sampai pemuda itu menyudahi samadhinya.
Tercenganglah Kun Hong ketika ia membuka mata, ia melihat Cui Bi duduk mendeprok di depannya, memandang mesra dan mengangsurkan secawan arak.
"Kau minumlah dulu..."
Suaranya merdu sekali, bisikan yang membuat wajah Kun Hong seketika menjadi merah dan jantungnya berdebar keras. Cepat ia menindas perasaan ini, sambil tersenyum menerima cawa itu dan meminumnya.
"Terima kasih, memang perlu bagiku..."
Jawabnya sambil mengembalikan cawan yang telah kosong.
Kemudian ia mencabuti jarum-jarum itu dan terdengarlah Beng San mengeluh.
Pendekar sakti itu batuk-batuk tiga kali dan membuka matanya.
Dengan gerakan ringan ia mengangkat kedua tangannya, lalu seperti orang kaget dan heran ia bangun duduk.
"Ayah, kau sembuh...!"
Teriak Cui Bi.
"Ah... Orang muda, kau benar-benar luar biasa..."
Kata Beng San.
"Harap Paman jangan bergerak lebih dulu, perlu mengembalikan tenaga dalam, maaf, akan saya bantu, harap Paman mengerahkan tenaga pusar ke dalam rongga dada, terutama di sebelah kiri untuk memperkuat jantung. Bi-moi, kau hangatkan arak untuk Ayahmu nanti."
Sambil berjingkrak-jingkak menari-nari kegirangan Cui Bi membuka pintu keluar dari kamar itu.
Empat orang muda yang menanti di luar kaget, akan tetapi mereka girang sekali ketika dengan wajah berseri-seri dan mata bersinar-sinar gadis itu berkata.
"Ayah sembuh... ohh, Ayah sembuh... Hong-Ko hebat...!"
Ia lalu lari untuk menghangatkan arak dan menyampaikan berita girang ini kepada ibunya.
Mendengar ucapan ini, empat orang itu segera melongok melalui pintu kamar yang sudah terbuka oleh Cui Bi tadi.
Dengan penuh kekaguman dan juga keheranan mereka melihat Beng San sudah duduk bersila tanpa baju, wajahnya tampak merah dan bibirnya tersenyum, matanya meram.
Di belakangnya duduk Kun Hong bersila pula sambil menempelkan tangan kiri di belakang leher dan tangan kanan di belakang punggung Beng San.
Juga pemuda ini memeramkan matanya.
Terdengar tindak kaki tergesa-gesa dan ketika mereka menengok, ternyata Li Cu yang berlari-lari datang, matanya berlinang air mata.
Seakan-akan tidak melihat adanya empat orang muda di depan pintu itu, ia terus langsung memasuki kamar, terhenti di ambang pintu, menahan napas, matanya memandang ke arah Suaminya, lalu ia terisak-isak ditahan dan menjatuhkan diri berlutut di depan pembaringan, menangis perlahan.
Kong Bu dan Sin Lee yang melihat ini semua tiba-tiba mendengar isak di belakang mereka dan ternyata ketika mereka menengok, Hui Cu dan Li Eng juga sedang terisak menangis!
"Eh, mengapa menangis?"
Sin Lee berbisik kepada Hui Cu.
"Karena girang!"
Jawab Li Eng dan ternyata ketika menurunkan tangan, wajah gadis ini berseri-seri.
"Girang tapi menangis?."
Kong Bu menyela.
"Aneh, kalau girang menangis, habis kalau berduka bagaimana?"
"Tentu saja menangis juga,"
Sekarang Hui Cu yang menjawab, dan baru kali ini terdengar gadis pendiam ini bergurau, agaknya saking gembira hatinya melihat pamannya betul-betul dapat menyembuhkan Ketua Thai-San-Pai itu.
Agaknya Beng San mendengar juga isak tertahan itu, ia membuka matanya memandang kepada Li Cu yang berlutut di pinggir pembaringan, lalu tersenyum.
"Kwa-Hiante, cukuplah, aku sudah yakin sekarang bahwa aku akan sembuh. Kau turunlah."
Mendengar ini, Kun Hong melepaskan kedua tangannya dan mukanya agak pucat, tapi wajahnya berseri.
Ia segera turun dari pembaringan ketika Isteri Beng San berlutut di situ, Beng San memandang dengan wajah berseri.
"Tak kusangka bahwa hari ini nyawaku tertolong oleh putera Kwa Tin Siong Lo-Enghiong. Hiante, tak perlu aku mengucapkan terima kasih, cukup kalau kunyatakan bahwa aku berhutang nyawa kepadamu. Hiante, kalau aku boleh bertanya, dari siapakah kau mendapat ilmu pengobatan yang luar biasa ini?"
Kun Hong sudah berdiri di tengah kamar, tunduk kemalu-maluan dan di belakangnya berdiri empat orang muda yang tadi menanti di luar kamar, sedangkan Li Cu kinipun sudah duduk di pinggir pembaringan.
Dengan malu-malu dan merendah Kun Hong menjawab.
"Paman sakit, aku berusaha merawat, hal seperti ini harap Paman jangan besar-besarkan. Andaikata saya yang menderita sakit, saya yakin Paman juga tentu akan merawat saya. Tentang ilmu pengobatan, saya membaca dari kitab-kitab pengobatan Toat-Beng Yok-Mo."
Beng San dan Isterinya saling pandang penuh keheranan.
Toat-Beng Yok-Mo adalah seorang tokoh jahat, seorang manusia berhati iblis yang selalu membunuh setiap orang yang berobat kepadanya.
Bagaimana putera Ketua Hoa-San-Pai ini dapat membaca kitab-kitab pengobatannya?"
Kalau sekali membaca terus ingat hal ini tidak aneh bagi Beng San karena dia sendiripun seorang yang amat cerdas dan sanggup sekali membaca terus ingat.
Akan tetapi, hanya membaca saja, bagaimana sanggup melakukan pengobatan-pengobatan yang membutuhkan tenaga Lweekang?
"Hiante, keteranganmu itu cukup, memang Yok-Mo adalah seorang ahli pengobatan yang tiada keduanya di dunia ini.
Akan tetapi caramu mengerahkan Lweekang membantu penyaluran tenaga dalam padaku, hemmm, apakah itu kau pelajari pula dari kitab-kitab Yok-Mo?
Aku tahu betul Lweekang Hoa-San-Pai tidak begitu, malah Lweekang yang kau salurkan tadi sejalan atau sesumber dengan Lweekang Thai-San-Pai.
Sukakah kau memberi keterangan?"
Kun Hong menjadi bingung, tidak tahu harus menjawab bagaimana.
Ia tidak suka berbohong, akan tetapi juga tidak berani membuka rahasia gurunya yang sudah tidak ada dan yang tak pernah dilihatnya itu.
Karena itu ia hanya menundukkan muka tak dapat menjawab.
Melihat ini, Li Cu memandang Suaminya, berkedip yang hanya diketahui oleh mereka berdua, lalu berkata.
"Hal itu kukira tidaklah aneh betul. Aku mendengar bahwa kepandaian Yok-Mo sebetulnya adalah warisan yang terjatuh di tangannya, yaitu warisan dari Yok-ong (Raja Obat), adapun Lweekang dari Yok-(Lanjut ke
Jilid 28) Rajawali Emas (Seri ke 02 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 28 ong ini kabarnya sesumber dengan Lweekang dari Pendekar Sakti, nenek moyang perguruan kita."
Beng San mengangguk-angguk dan tidak bertanya lebih lanjut. Pada saat itu Cui Bi berlari masuk membawa arak hangat.
"Hong-Ko, ini araknya!"
Katanya penuh kegembiraan dan memandang kepada pemuda itu dengan sinar mata mesra.
Akan tetapi ketika melihat semua orang berada di situ dan semua orang termasuk ibu dan Ayahnya, memandangnya, ia menjadi sadar dan dengan malu-malu ia meletakkan mangkok arak di atas meja, lalu menghampiri Ayahnya.
"Ayah, kau sudah sembuh betul?"
Ia memeluk Ayahnya.
"Bi-ji, Ayahmu sudah selamat, hanya tinggal memulihkan tenaga saja berkat pertolongan Kwa Kun Hong Hiante. Dan kau sendiri, ah... Cui Bi, karena melihat kau dalam cengkeraman manusia iblis Giam Kin itulah yang membuat Ayahmu ini sampai menderita luka-luka. Bagaimana kau bisa selamat, anakku? Apakah kedua orang kakakmu itu yang menolongmu?"
"Ayah belum tahukah kau, Ayah? Yang menolongku adalah Hong-Ko ini juga! Kalau tidak lekas-lekas dia datang, sekarang aku sudah menjadi rangka, tinggal tulang-tulang saja, daging dan kulitku tentu sudah habis..."
Sampai di sini Cui Bi menangis, ngeri mengingat semua pengalamannya.
Kun Hong merasa makin tidak enak, ia memang pemalu dan tidak suka menghadapi pujian-pujian.
Ia cepat mengambil arak hangat dan diangsurkan kepada Beng San, katanya.
"Arak hangat ini baik sekali untuk Paman, harap suka minum dan selanjutnya, untuk waktu tiga hari sebaiknya minum obat yang akan saya buat resepnya. Maafkan, Paman, saya hendak membuat resep di luar dan mengaso."
Saking herannya mendengar keterangan Cui Bi tadi, Beng San menerima mangkok arak hangat sambil memandang dengan bengong.
Tak disangkanya sama sekali bahwa pemuda yang lemah-lembut itu, biarpun ia sudah dapat menduga dari sinar matanya bahwa pemuda itu bukan orang sembarangan, dapat menolong puterinya dari tangan Giam Kin manusia iblis Si Raja Ular Kecil!
Ia lalu minum araknya, dan memberi tanda kepada Kong Bu dan Sin Lee sambil berkata.
"Anak-anakku, kalian mendekatlah..."
Kong Bu dan Sin Lee dengan terharu lalu melangkah maju dan berlutut pula dekat Cui Bi di depan tempat tidur.
Melihat betapa orang tua, dan anak-anaknya itu berkumpul di situ diam-diam Hui Cu dan Li Eng saling mengangguk dan cepat keluar dari kamar itu, mencari Kun Hong yang ternyata sedang berjalan-jalan di dalam taman menghirup hawa udara segar.
Dua orang gadis ini menggandeng tangan Kun Hong di kanan kiri dan keduanya tiada hentinya memuji-muji dengan bangga sampai akhirnya Kun Hong membentak mereka disuruh diam.
Adapun di dalam kamar itu tampak pemandangan yang amat mengharukan.
Bergantian Beng San memeluk dan membelai kepala puteranya, kemudian mereka semua mendengarkan penuturan Cui Bi tentang pertolongan Kun Hong.
Mendengar cara Kun Hong menolong Cui Bi, kembali mereka semua tertegun dan ragu-ragu.
Kalau melihat cara mengusir ular-ular itu mempergunakan api, adalah cara orang biasa, bukan cara seorang ahli silat tinggi.
"Aneh sekali anak itu,"
Beng San berkata.
"sepak terjangnya penuh keberanian, memiliki kepandaian ilmu pengobatan yang luar biasa pula, akan tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia pandai ilmu silat"
Pernahkah kalian melihat dia memperlihatkan tanda-tanda bahwa dia adalah seorang ahli silat kelas tinggi?"
Cui Bi menceritakan pengalamannya ketika bertemu dengan lawan berat dan betapa Kun Hong secara aneh sekali berani menantang dan mempermainkan Kang Houw yang secara aneh memukuli batu sampai seratus kali, kemudian bagaimana pemuda itu menantang dan dikeroyok oleh Tok Kak Hwesio dan Toat-Beng Yok-Mo akan tetapi akhirnya dua orang tokoh itu saling gebuk sendiri.
Mendengar ini Beng San mengerutkan kening, menggeleng-geleng kepala seperti tidak percaya akan semua penuturan aneh itu.
Demikianlah, kalau di luar kamar dalam taman dua orang gadis Hoa-San-Pai memuji-muji paman mereka, adalah di dalam kamar itu Beng San yang baru saja bebas dari ancaman maut, bergembira ria, bercakap-cakap dengan anak-anaknya dan mendengarkan penuturan mereka seorang demi seorang.
Pada hari yang ditentukan, hari ke lima belas bulan itu, pagi-pagi sekali Beng San telah menampakkan diri.
Mukanya masih agak pucat, tubuhnya masih agak lemah karena biarpun sudah sehat kembali namun tenaganya belum pulih seluruhnya.
Namun ia kelihatan gagah tenang seperti biasa.
Keluarnya pendekar ini diiringkan para anak muridnya yang mengangkat panji-panji dan benda-benda pusaka yang akan dijadikan lambang dari Partai baru ini.
Beng San berpakaian sederhana, pedangnya tergantung di punggung, hanya kelihatan gagangnya saja yang menojol di atas pundak.
Sikapnya tenang dan keren, tidak merendah dan malu-malu seperti di waktu mudanya.
Langkahnya tegap dan pribadinya membayangkan wibawa besar.
Di sebelah kirinya berjalan Li Cu.
Nyonya ini biarpun sudah mengandung tiga bulan, tidak kelihatan kegendutan perutnya, pakaiannya ringkas, mukanya tetap cantik jelita biarpun usianya sudah hampir empat puluh tahun.
Sinar matanya tajam menyapu ke kanan kiri, ke arah para tamu.
Gagang pedang yang sama dengan pedang Beng San tampak di belakang pundaknya.
Nyonya ini membayangkan sifat yang berani, keras hati namun lemah lembut.
Yang menarik perhatian semua orang, terutama para tamu muda, adalah tiga orang gadis yang berjalan di belakang nyonya Ketua Thai-San-Pai ini.
Mereka ini adalah Cui Bi, Li Eng, dan Hui Cu.
Tiga orang gadis remaja ini kelihatan cantik-cantik manis, masing-masing mempunyai kelebihan sendiri, akan tetapi ketiganya nampak gagah dan bersemangat, jelas membayangkan kepandaian ilmu silat tinggi.
Di belakang Beng San berjalan dua orang muda yang tampan gagah, yang berjalan sambil membusungkan dada, mengangkat dada tinggi-tinggi dan kepala tegak dengan mata memandang lurus ke depan, dua orang muda yang membayangkan kekuatan hebat.
Mereka ini adalah Kong Bu dan Sin Lee.
Di belakang dua orang muda ini, kelihatan Kun Hong yang kelihatan lemah lembut dan semua orang tentu mengira dia seorang pemuda pelajar yang lemah.
Pedang Ang-Hong-Kiam dia simpan di balik jubahnya sehingga tidak kelihatan dari luar, langkahnya lambat dan lebar, bibirnya tersenyum akan tetapi pandang matanya serius, seperti pandang mata orang-orang yang sudah tergembleng oleh pengalaman dan derita hidup.
Memang Kun Hong merasa agak kuatir, juga Li Cu.
Kun Hong mengusulkan tadi agar hari pendirian ini ditunda dan diundurkan.
Kesehatan pamannya itu biarpun sudah tidak menguatirkan lagi, namun tenaga dalamnya belum pulih sama sekali sehingga kalau menghadapi orang pandai, bisa-bisa akan celaka.
Dan Kun Hong sudah dapat meramalkan bahwa dalam pertemuan itu sudah pasti orang-orang jahat akan maju mempergunakan kesempatan ini untuk mengacau.
Mendengar ini, Li Cu juga membujuk Suaminya supaya menunda dan mengundurkan hari itu.
Akan tetapi dengan bersikeras Beng San menolak.
"Pendirian sebuah Partai tidak boleh dibuat main-main. Kita sudah mengumumkan dan orang-orang gagah dari semua penjuru membanjir datang, bagaimana dapat ditunda lagi? Apalagi kalau alasannya hanya karena aku kurang sehat. Hemm, pendirian ini lebih penting daripada keselamatanku. Biarlah mereka yang bermaksud buruk maju, aku masih ada kekuatan untuk melawannya."
"Tidak usah Ayah maju, aku sendiripun sanggup mewakilinya memberi hajaran kepada manusia-manusia iblis!"
Seru Cui Bi dengan muka gemas karena ia teringat kepada Giam Kin dan ingin sekali berhadapan dengan manusia licik itu.
"Ibu tidak usah kuatir, aku Kong Bu tidak percuma berada di samping Ayah,"
Kata Kong Bu penuh semangat.
"Akupun tidak akan membiarkan orang menghina Ayah!"
Kata Sin Lee.
"Paman dan Bibi, kalau membolehkan kami berdua juga sanggup untuk mewakili Paman menghadapi orang-orang yang hendak mengacau,"
Kata Li Eng dan Hui Cu mengangguk membenarkan. Mendengar ucapan orang-orang muda yang penuh semanget ini, Beng San tertawa gembira.
"Nah, ke mana semangatmu yang dulu-dulu?"
Ia menegur Isterinya.
"Sikap mereka ini mengingatkan aku akan semangatmu dahulu. Dahulupun kau bersemangat seperti bocah-bocah ini."
Mereka tertawa dan Li Cu hilang kekuatirannya.
Ia cukup maklum akan kelihaian dua orang anak tirinya, juga maklum bahwa selain Cui Bi, Li Eng cukup boleh diandalkan.
Apalagi di situ ada dia sendiri, takut apalagi?
Juga tidak semua tamu memusuhi mereka, banyak juga teman-teman baik yang tentu takkan membiarkan Thai-San-Pai dikacau orang jahat.
Akan tetapi ada sesuatu yang mengganjal hatinya dan hal ini tidak mau ia sembunyikan.
"Bukannya aku hilang semangat,"
Katanya kemudian.
"Akan tetapi yang agak berat dilawan adalah Tosu itu. Entah siapa dia? Gerakan tangannya menunjukkan tenaga Lweekang yang hebat sekali."
Beng San mengerutkan kening.
"Ah, kau maksudkan Suheng dari Siauw-Ong-Kwi yang bernama Pak-Thian Locu itu? Memang dia hebat. Hemm, tak usah kuatir, aku sanggup menghadapinya."
Padahal diam-diam Beng San harus mengakui bahwa dalam keadaan seperti sekarang ini, tak mungkin ia dapat memandang rendah kepada kakek itu.
Ia boleh mengandalkan ilmu pedangnya, akan tetapi dalam hal tenaga, ia kalah jauh.
Kalau di waktu sehat saja ia sudah kalah lihai dalam tenaga dalam, apalagi sekarang.
Tenaganya belum ada enam puluh prosen kembali.
Tapi kekuatiran ini ia tekan saja di dalam hatinya dan tidak diperlihatkan keluar.
Setelah rombongan tuan rumah ini tiba di tempat yang sudah disediakan, yaitu di belakang panggung, Beng San memberi isyarat kepada anak muridnya.
Dengan rapi dan teratur anak murid Thai-San-Pai berbaris mendekati panggung.
Beberapa orang naik ke panggung dengan gaya loncatan khas Thai-San-Pai, ringan dan gesit tapi tanpa kelihatan mengerahkan tenaga.
Beberapa orang ini mengatur meja sembahyang yang sejak tadi memang sudah dipasang di sudut panggung.
Dengan hormat mereka menyalakan lilin, mengatur meja sembahyang lalu berdiri di kanan kiri merupakan barisan penghormatan.
Beng San melangkah maju, terus tubuhnya melayang ke atas panggung seperti seekor Burung terbang, menghampiri meja, memasang hio dan melakukan sembahyang dengan khidmat.
Dengan suara lantang pendekar ini mengucapkan sumpah dan mohon berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa agar supaya Thai-San-Pai dapat berdiri kokoh kuat dan para murid tidak menyeleweng dari peraturan-peraturan yang disumpahkan itu.
Setelah Beng San selesai bersembahyang, sebagai sumpah anggauta, Li Cu dan Cui Bi meloncat ke atas panggung.
Ibu dan anak ini gerakannya ringan seperti bulu terbawa angin saja, kemudian mereka lalu bersembahyang.
Kemudian datanglah giliran para anggauta yang jumlahnya tiga puluh tujuh orang itu melakukan sembahyang dan selesailah sudah upacara sembahyangan ini.
Kini tiba giliran para tamu untuk memberi selamat kepada Thai-San-Pai dan menyampaikan bingkisan-bingkisan sebagai tanda mata.
Bukan main gembiranya suasana di saat itu.
Apalagi ketika berbondong-bondong datang rombongan sahabat-sahabat Ketua Thai-San-Pai, terjadilah gelak tawa, wajah berseri-seri dan berisiklah orang bercakap-cakap.
Betapa takkan girang hati Beng San menerima sahabat-sahabat lama dari Partai-Partai persilatan besar Go-Bi-Pai, Kong-Thong-Pai, Siauw-Lim-Pai dan bahkan yang membuat ia bergembira sekali adalah hadirnya Ketua Kun-Lun-Pai sahabat lamanya yang bernama Bun Lim Kwi bersama puteranya, Bun Wan.
Tentu saja sahabat dan calon besan ini mendapat penyambutan hangat sekali dan Suami Isteri Thai-San-Pai ini diam-diam merasa makin gembira melihat calon mantu mereka, Bun Wan.
Pemuda itu ternyata gagah sekali, dengan tubuh tinggi besar dan tegap, alisnya hitam berbentuk golok, matanya penuh kejujuran dan kesetiaan, gerak-geriknya membayangkan bahwa dia adalah seorang pemuda yang tinggi ilmu silatnya, patut menjadi putera ketua Kun-Lun-Pai, dan calon mantu Ketua Thai-San-Pai.
Akan tetapi, ketika mendengar bahwa pemuda itu adalah tunangannya, Cui Bi membuang muka dan bersembunyi di belakang para anak murid Thai-San-Pai.
Ia diam-diam harus mengakui bahwa tunangannya itu cukup tampan dan gagah, akan tetapi karena hatinya telah terampas oleh pemuda Hoa-San-Pai yang sederhana itu, mana ia mau memandangnya?
Ketika ibunya menarik tangannya depan, terpaksa ia memberi hormat "calon Ayah mertuanya"
Tanpa sepatah kata-kata pun, lalu dan bersembunyi lagi.
Di pihak Bun Lim Kwi yang sekarang sudah kelihatan setengah tua dan masih gagah, ia tertawa terbahak-bahak menyaksikan sikap calon menantunya yang malu-malu itu.
Sikap demikian adalah wajar maka ia tidak merasa tersinggung malah tertawa bergelak.
Adapun Bun Wan yang mengerling ketika gadis itu tadi memberi hormat kepada Ayahnya, merasa jantungnya berdebar...
Bukan main tunangannya itu!
Cantik jelita seperti bidadari, melampaui segala yang pernah ia impikan.
Diam-diam ia memberi selamat kepada diri sendiri atas kemujuran ini.
Cui Bi diam-diam gelisah sekali melihat betapa akrab pergaulan antara orang tuanya dan Ketua Kun-Lun-Pai itu dan ia tetap bersembunyi sampai tamu-tamu yang disambut hangat ini sudah dipersilakan duduk kembali ke daerah kursi kehormatan.
Hidangan berupa arak dan daging mulailah dikeluarkan dan keadaan menjadi makin meriah.
Dengan amat singkat Beng San membuka pertemuan itu sambil berdiri di atas panggung dan suaranya lantang terdengar jelas karena semua orang menghentikan percakapan mereka untuk mendengarkan.
"Cuwi sekalian yang terhormat. Saya selaku Ketua Thai-San-Pai, menghaturkan banyak terima kasih dan selamat datang atas kunjungan dan perhatian saudara sekalian sebagai saksi dari pendirian Partai baru yang kami dirikan, yaitu Thai-San-Pai. Terima kasih pula kami ucapkan atas pemberian selamat dan bingkisan-bingkisan, semoga hal ini akan mempererat persaudaraan antara kita dan semoga Thian yang akan membalas segala kebaikan saudara sekalian. Kepada para saudara yang datang dengan kandungan hati yang tulus ikhlas kami persilakan menikmati hidangan sekedarnya. Adapun mereka yang mengandung maksud lain, segala rasa penasaran yang terpendam, sekaranglah kiranya terbuka kesempatan bagi mereka itu untuk mengeluarkannya agar disaksikan oleh semua tamu yang terhormat."
Setelah berpidato singkat ini, Beng San kembali ke tempat duduknya.
Kata-katanya terakhir itu singkat saja, namun langsung menikam mereka yang memang datang bukan mengandung niat baik, terbukti dari adanya orang yang membunuh anak murid Thai-San-Pai, mereka yang berusaha mati-matian untuk memecahkan jalan rahasia, dan mereka yang telah menculik Cui Bi dan mengeroyoknya.
Ia terpaksa mengeluarkan pernyataan ini karena dari atas panggung tadi ia masih belum melihat tokoh-tokoh yang mengeroyoknya dua hari yang lalu, juga tidak kelihatan adanya Giam Kin.
Dari tempat ia duduk, sepasang mata Beng San yang amat tajam itu menyapu para tamu dan terlihatlah jelas olehnya kini betapa di antara para tamu itu terdapat bekas-bekas lawan dan orang-orang yang selama ini menganggapnya sebagai musuh.
Diam-diam pendekar ini menggolongkan para tamunya menjadi tiga golongan.
Pertama-tama tentu saja golongan sahabat baik yang datang khusus untuk memberi selamat dan ikut bergembira dengan pendirian Thai-San-Pai, mereka ini antara lain adalah Kun-Lun-Pai, Hoa-San-Pai, tokoh-tokoh Pek-Lian-Pai dan beberapa tokoh kang-ouw yang dikenalnya baik.
Golongan ke dua adalah golongan yang selama ini memusuhinya dan di antara golongan ini ia mengenal beberapa Tosu Ngo-Lian-Kauw, orang-orang Bu-Eng-Pai yang dipimpin oleh seorang wanita tua yang ia kenal, yaitu Ang Kim Nio.
Juga ia melihat adanya tokoh-tokoh Bajak sungai dari Huang Ho yang tentu tidak senang hati mereka semenjak Ho-Hai Sam-Ong terbunuh oleh Li Cu.
Ada pula Koai-Sin-Kiam Oh Tojin yang dulu membantu kakak kandungnya yang jahat, Tan Beng Kui, dan masih banyak lagi orang-orang dari golongan jahat.
Ia menduga bahwa tokoh-tokoh besar yang mengeroyok kemarin dulu, tentu bersembunyi dan nanti juga akan muncul kalau sudah tiba saatnya.
Orang-orang itu memang termasuk tokoh-tokoh aneh, tidak seperti kebanyakan.
Adapun golongan ke tiga adalah yang tidak mudah diraba bagaimana nanti sikapnya.
Dalam golongan ini termasuk para wakil Siauw-Lim-Si, dan sungguhpun Siauw-Lim-Pai tidak langsung memusuhinya, namun ia melihat dua orang di antara mereka adalah Hek Tung Hwesio dan Pek Tung Hwesio yang dahulunya dianggap telah melarikan diri dari Siauw-Lim-Pai dan menjadi musuh mendiang Cia Hui Gan.
Malah pernah dua orang ini dikalahkah oleh Li Cu (baca Raja Pedang).
Juga guru silat Kota Raja Lai Tang si pongah itu, sukar dijajaki isi hatinya, dan masih banyak orang-orang aneh dari Selatan yang tidak dikenalnya namun yang jelas memiliki kepandaian tinggi.
Suasana makin menegang ketika para tamu sudah minum arak dan minuman keras ini agaknya membuat mereka mulai terlepas bicaranya dan keadaan makin berisik.
Namun keadaan tuan rumah dan orang-orang muda yang menemaninya itu tetap tenang-tenang saja, seakan-akan tidak tahu akan perbuatan ini.
Beng San maklum bahwa perkumpulan yang baru didirikannya itu hanya mempunyai tiga puluh lebih orang anggauta, tak boleh dibilang kuat menghadapi bahaya.
Akan tetapi ia percaya kepada diri sendiri, apalagi di situ ada Isterinya yang lihai dan terutama sekali karena sekarang ada Cui Bi yang ia tahu lebih lihai dari ibunya, terdapat pula anaknya yang baru tiba, Sin Lee, Kong Bu.
Ia maklum bahwa dua orang puteranya ini adalah bocah-bocah gemblengan, malah ia boleh mengandalkan tenaga murid-murid Hoa-San-Pai terutama Li Eng.
Hui Cu belum begitu tinggi ilmunya sedang Kun Hong tetap merupakan tokoh penuh rahasia bagi Beng San, Pemuda ini sama sekali tidak pernah.
mau mengaku bahwa ia memiliki kepandaian tinggi, dan karena Beng San merasa berhutang nyawa, maka pendekar ini tidak berani untuk mencoba-coba.
Biarpun masih amat muda, sikap Kun Hong seperti seorang yang sudah tua, membuat orang tidak berani main-main kepadanya.
Di samping kekuatan keluarga sendiri yang cukup membesarkan hati ini, di situ masih banyak sahabat-sahabat yang kiranya takkan berpeluk tangan kalau melihat Thai-San-Pai diganggu penjahat.
Terutama sekali tentu saja, calon besan dan calon mantunya Bun Lim Kwi dan Bun Wan.
Cuma seorang saja yang kadang-kadang membuat Beng San berdebar, yaitu Pak-Thian Locu.
Kalau kakek itu nanti muncul, tidak ada orang lain yang boleh diandalkan untuk menghadapinya kecuali dia sendiri.
Kakek itu terlampau lihai, dan tingkatnya sudah tinggi sekali sehingga dia sendiripun masih ragu-ragu apakah akan dapat mengatasinya.
Beberapa orang tamu sudah mulai mabuk dan tiba-tiba Lai Teng guru silat pongah yang tinggi besar itu berdiri dari bangkunya.
Agaknya teman-temannya semeja berhasil menghasutnya dan kini ia berdiri dengan kaki terpentang dan ia bertepuk tangan beberapa kali untuk menarik perhatian.
Setelah semua orang memandangnya, ia berkata dengan suara nyaring.
"Heiii! Thai-San-Pai ini Partai macam apa sih? Perkumpulan para pengejar huruf, pengejar konde, ataukah perkumpulan orang-orang gagah? Kalau ketuanya seorang ahli silat tinggi, seorang Raja Pedang, kenapa perayaan ini begini adem? Membosankan!"
Ucapan ini terang merupakan penghinaan yang sengaja dikeluarkan untuk memancing keributan.
Akan tetapi Beng San dan keluarganya hanya memandangnya dengan sikap tenang-tenang saja.
Terdengar pekik sorak di sana-sini, terutama dari mereka yang memang ingin segera menyaksikan keributan terjadi di tempat itu.
Ada suara dari sudut berseru.
"Lai-Kauwsu, kau berjuluk Si Cakar Naga, di Kota Raja siapa yang tidak pernah mendengar nama besarmu? Tapi di sini, jangan kau main-main. Apa kau berani memperlihatkan kepandaianmu di panggung? Jangan-jangan kau akan diketawai Thai-San-Pai!"
Semua orang menengok untuk melihat Si Pembicara, akan tetapi tidak ada yang tahu betul siapa yang menguacapkan suara tadi.
Hanya orang-orang pandai di antara tamu dan tentu saja pihak tuan rumah yang tahu bahwa suara ini dikeluarkan oleh seorang pandai yang mempunyai ilmu khikang tinggi sehingga dapat memindahkan arah suaranya.
Orang yang pandai dengan ilmu ini, biarpun ia berdiri di sebelah barat, suaranya dapat terdengar seperti datang di sebelah Timur.
Beng San maklum bahwa orang yang memusuhinya mulai "membakar"
Suasana.
Namun ia tenang saja dan memang sudah siap menghadapi segala kericuhan yang disengaja oleh para lawannya.
Sebagai sebuah Partai baru, Thai-San pai harus memperlihatkan keangkerannya, harus dapat menjaga nama dan keadaan yang sekarang ia hadapi ini merupakan ujian berat namun baik sekali.
Lai Tang Si Cakar Naga menengok juga akan tetapi karena tidak dapat melihat orang yang mengeluarkan kata-kata itu, ia segera melihat ke arah panggung dan kemarahannya sudah meluap.
"Siapa takut diketawai dan siapa berani menertawai aku?"
Tubuhnya melayang dan ia sudah naik ke atas panggung yang memang disediakan itu.
Ketika melayang ke atas papan panggung itu, tubuhnya seperti daun kering saja, amat ringan dan sedikitpun tidak mengeluarkan suara.
Menyaksikan Ginkang yang cukup hebat ini, para tamu yang muda dan yang tidak begitu tinggi tingkat ilmunya, segera bertepuk tangan riuh-rendah memuj.
Lai Tang yang, disoraki ini "mendapat hati."
Sambil petantang-petenteng ia berkata ke arah rombongan tuan rumah.
"Tidak ada Partai baru didirikan tanpu diuji. Thai-San-Pai adalah Partai baru, tapi siapa pernah mendengar tentang ilmu silat Thai-San-Pai? Dalam perayaan semacam ini, sudah sepatutnya Thai-San-Pai memperlihatkan isinya. Biarlah aku menjadi orang pertama untuk belajar kenal dengan kelihaian ilmu siiat Thai-San-Pai!"
Kong Bu bergerak dari bangkunya, juga Sin Lee mengepal tinju, akan tetapi Beng San.
memberi isyarat kepada dua orang puteranya itu untuk menahan diri dan bersikap sabar, Kemudian ia menggapai kepada Oei Sun, murid kepala yang berdiri di rombongan para murid Thai-San-Pai.
Isyarat ini cukup dapat dimengerti oleh Oei Sun yang dengan langkah tenang lalu menghampiri panggung, kemudian setelah menjura ke depan Beng San dan Li Cu, murid kepala ini lalu melompat ke atas panggung, menghadapi Lai Tang sambil tersenyum dan memberi hormat.
"Lai-Kauwsu, atas perkenan ketua kami, saya diwajibkan melayani Kauwsu yang datang sebagai tamu dan kami Thai-San-Pai sebagai tuan rumah wajib melayani semua kehendak tamu. Harap Kauwsu ketahui bahwa Thai-San-Pai di dirikan bukan sekali-kali bermaksud untuk menjagoi, terlebih-lebih pula sama sekali bukan didirikan dengan maksud mencari permusuhan dengan orang atau pihak manapun juga."
"Ha-ha-ha!"
Lai Tang tertawa bergelak.
"Kalau begitu, apakah Thai-San-Pai merupakan sebuah perkumpulan yang mengajar seni tari, ataukah kebatinan, apakah perkumpulan bermain judi? Apakah Thai-San-Pai bukan perkumpulan silat?"
Merah muka Oei Sun mendengar ejekan ini, namun mulutnya masih tersenyum ramah dan tenang.
"Lai-Kauwsu, sudah tentu saja guru kami mendirikan sebuah perkumpulan silat dan Thai-San-Pai adalah perkumpulan silat karena ketua seorang ahli silat yang sudah dikenal oleh seluruh dunia. Akan sama sekali bukan perkumpulan silat yang mendidik murid-muridnya menjadi pongah dan sombong, dan semua anak murid Thai-San-Pai mempelajari ilmu silat hanya untuk memenuhi kehendak guru dan memenuhi sumpah Thai-San-Pai, yaitu mempergunakan kepandaian ilmu silat untuk memberantas kejahatan dan kelaliman, menegakkan kebenaran dan keadilan, mengabdi kebajikan, bukan untuk menjadi jagoan yang berlagak tengik!"
Lai Tang merasa disindir dan matanya melotot.
"Bagus sekali! Kalau begitu ingin sekali aku menguji ilmu silat Thai-San-Pai, apakah sudah cukup tinggi untuk membuat anak muridnya menjadi pendekar. Silahkan ketuanya maju, biar aku Lai Tang mohon sedikit pelajaran."
Oei Sun juga sudah marah.
"Lai-Kauwsu, aku Oei Sun adalah murid Thai-San-Pai dan Suhu sudah memerintahkan aku untuk melayanimu. Kalau kau sebagai tamu menghendaki pertandingan untuk menguji ilmu silat, silakan, aku bisa melayanimu."
"Ah, begitukah? Nah, kau terimalah seranganku ini!"
Lai Tang serta-merta menerjang dengan serangannya dan agaknya guru silat ini hendak mencapai kemenangan dalam waktu singkat karena begitu menerjang ia telah mainkan ilmu silatnya yang paling diandalkan dan yang membuat ia dijuluki Si Cakar Naga, yaitu ilmu silat yang ia namakan Liong-Jiaw-Kang (Ilmu Cakar Naga).
Ilmu silat ini dimainkan dengan kedua tangan terbuka, dan jari-jari tangan dipergunakan untuk mencengkeram sedangkan pukulan ditekukan oleh pangkal tangan.
Disertai tenaga Lweekang yang kuat, Ilmu Liong-Jiaw-Kang ini memang berbahaya sekali karena selain memukul, kedua tangan itu dapat mencengkeram atau menangkap, Pada hakekatnya ilmu Liong-Jiaw-Kang ini tiada bedanya dengan Ilmu Eng-Jiaw-Kang, Akan tetapi dasar Lai Tang orangnya sombong, ia mengadakan perubahan pada ilmu Silat Eng-Jiaw-Kang ini dan menganggap bahwa ilmu silat ini adalah ciptaannya, malah ia memakai julukan Si Cakar Naga segala!
Oei Sun adalah murid pertama dari Beng San.
Biarpun bakatnya tidak amat baik, namun karena ketekunannya mempelajari ilmu silat selama belasan tahun, bahkan selama dua puluh tahunan ini, tentu saja ilmu silatnya sudah cukup tinggi.
Beng San dan Li Cu memang tidak melihat bakat baik pada dirinya, namun Oei Sun memiliki kejujuran, kesetiaan dan keteguhan hati, dan Suami Isteri ini menemukan Oei Sun ketika pemuda ini di suatu dusun untuk menbela penduduk di situ, mengamuk menghadapi pengeroyokan belasan orang perampok, padahal ia sama sekali tidak tahu ilmu silat.
Sifat gagah dan jiwa ksatria inilah yang menarik hati Beng San dan Oei Sun tidak mempunyai sanak keluarga, lalu diajak ke Thai-San dan diberi pelajaran ilmu silat.
Oei Sun amat setia dan ia malah sampai sekarang tidak pernah berIsteri.
Tentu saja Beng San tidak menurunkan ilmu-ilmu seperti Im-Yang Sin-Hoat atau ilmu silat Isterinya Sian-Li Kun-Hoat kepada Oei Sun, hanya puteri mereka saja yang mewarisi kedua ilmu ini, namun Beng San mengajarnya Thai-San Kun hoat yang ia ciptakan bersama Isterinya.
Dalam Ilmu Silat Thai-San Kun-Hoat ini terkandung beberapa pukulan-pukulan penting dari kedua ilmu silat di atas.
Melihat datangnya penyerangan Lai Tang yang cepat dan bertubi itu, Oei Sun dengan tenang menggeser kaki ke belakang dan beberapa kali ia mengelak dengan cepat sambil memperhatikan gaya permainan lawan.
Memang beginilah sikap anak murid Thai-San-Pai, kalau diserang lawan, tidak buru-buru membalas melainkan menangkis atau mengelak beberapa kali sambil memperhatikan gaya lawan untuk mencari kelemahannya.
Pada hakekatnya, dasar ilmu silat Lai Tang tidaklah hebat, maka setelah mengelak lima kali saja Oei Sun sudah dapat mengetahui kelemahan lawan.
Cengkeraman yang merupakan pokok penyerangan itu dilakukan dengan tangan bergerak dari depan dada sehingga siku lengan itu menjulur ke depan dan inilah kelemahah Lai Tang.
Setelah mengelak dan menangkis beberapa belas jurus lamanya, Oei Sun mencari kesempatan.
Pada saat ia mengelak dari cengkeraman tangan kanan, tangan kiri Lai Tang sudah siap, lengannya ditekuk dengan tangan kedepan dada.
Saat itu Oei Sun cepat memukul ke depan, tepat pada siku kiri Lai Tang, mengarah jalan darah pada sambungan siku.
"Aduh...!"
Lai Tang terhuyung mundur, mukanya pucat dan tangan kanannya memegangi siku kiri yang terlepas sambungannya oleh pukulan tadi! Oei Sun menjura sambil tersenyum.
"Terima kasih bahwa Lai-Kauwsu sudah suka mengalah kepadaku."
"Keparat jangan sombong, aku belum kalah!"
Teriak guru silat kasar Ini dan tangan kanannya tahu-tahu telah mencabut sebatang golok dari pinggangnya.
Biarpun lengan kirinya sudah lumpuh karena sambungan sikunya terlepas ia masih dapat bergerak cepat dan goloknya menyambar ke arah leher Oei Sun.
Semua orang terkejut melihat gerakan golok yang amat cepat datangnya, namun Beng San yang menonton dari kursinya hanya tersenyum tenang saja.
Muridnya itu biarpun kurang berbakat, namun cukup teliti dan terlatih sehingga kalau hanya menghadapi seorang lawan kasar macam Lai Tang saja pasti takkan memalukan.
"Eh, Lai-Kauwsu hendak main-main dengan senjata?"
Seru Oei Sun sambil menundukkan kepala dan menggeser ke kiri, tangan kanannya bergerak dan tercabutlah sebatang pedang dari pinggangnya.
Ketika golok lawannya menyambar lagi dari samping, ia menangkis sambil menyelinap maju dan tahu-tahu pedangnya sudah melanjutkan tenaga tangkisan atau benturan itu merupakan tusukan ke arah lambung.
Lai Tang dapat menangkis pula dan bertandinglah dua orang ini dengan seru.
Harus dipuji juga keuletan Lai Tang.
Lengan kiri yang lumpuh itu menghambat gerakan-gerakannya tak mau menyerah mentah-mentah dan goloknya yang digerakan dengan tenaga besar menyambar-nyambar ganas.
Namun menghadapi ilmu pedang Oei Sun, jelas bahwa ia kalah setingkat.
Ilmu pedang Thai-San-Pai yang dimainkan Oei Sun adalah pecahan dari Im-Yang Kiam-Hoat dan Sian-Li Kiam-Hoat, hebatnya bukan kepalang, juga amat indah ditonton.
Belum sampai dua puluh jurus pandang mata Lai Tang menjadi kabur, kepalanya pening dan melihat lawan seakan-akan sudah berubah menjadi banyak sekali.
Baiknya Oei Sun sebagai murid Beng San, bukanlah seorang kejam.
Ketika mendapat kesempatan baik, ia berhasil menggurat pergelangan tangan kanan Lai Tang sehingga guru silat pongah ini sambil berteriak melepaskan goloknya dan darah bercucuran dari luka di pergelangan tangan, luka yang tidak berbahaya tapi cukup mengeluarkan banyak darah.
Oei Sun sudah menyimpan pedangnya membungkuk untuk memungut goiok lalu menyerahkannya kepada Lai Tang sambil berkata.
"Terima kasih bahwa Lai-Kauwsu sudah mengalah dua kali kepadaku."
Lai Tang menerima goloknya memandang dengan mata mendelik, mendengus sekali lalu meloncat turun dari panggung, diiringi sorak sorai tamu yang memuji-muji Oei Sun.
Di tengah sorak sorai itu, sebelum Oei Sun meloncat turun kelihatan bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu seorang Tosu tua sudah berdiri di atas panggung menghadapi Oei Sun.
Pendeta ini berjubah kuning ringkas, dan di punggungnya tampak gagang sebuah pedang.
Sambil tersenyum ia menjura dan berkata.
"Kepandaian Sicu hebat, tidak kecewa menjadi murid Thai-San-Pai. Lebih-lebih ilmu pedang tadi, amat indah dilihat sungguhpun kegunaannya belum tentu sehebat keindahannya! Sicu, maukah kau memperlihatkan ilmu pedang Thai-San-Pai kepada Pinto (aku)?"
Melihat Tosu ini, Beng San mengerutkan alisnya.
Ia mengenal Tosu itu yang bukan lain adalah Koai-Sin-Kiam Oh Tojin, dahulupun pernah membantu Tan Beng Kui, kakaknya.
Dari julukannya saja, Koai-Sin-Kiam (Pedang Sakti Aneh), dapat diduga bahwa Tosu ini adalah seorang ahli pedang dan seingat Beng San muridnya itu takkan menang menghadapi Tosu ini yang lebih tinggi tingkatnya.
Akan tetapi, melihat bahwa muridnya itu tidak menolak tantangan Tosu itu, sudah tentu saja ia tidak dapat menyuruh muridnya mundur sebelum mereka bergerak.
Ia hanya memandang dengan alis berkerut.
Adapun Oei Sun, sebetulnya dia adalah seorang yang cukup mempunyai kesabaran.
Andaikata dia yang dihina orang kiranya ia takkan mudah menjadi marah.
Akan tetapi ucapan Tosu itu tadi merupakan penghinaan bagi Thai-San-Pai, merupakan ucapan memandang rendah ilmu pedang Thai-San-Pai, maka ia menjadi penasaran dan mengambil keputusan untuk menjaga nama baik Suhunya dan Partainya.
Iapun balas memberi hormat dan berkata.
"Tentu saja sebagai tamu Totiang berhak meminta sesuatu dan sudah menjadi kewajiban tuan rumah untuk melayanimu. Akan tetapi, siapakah Totiang ini, hendaknya sudi memberi nama yang benar agar aku, Oei Sun murid Thai-San-Pai, dapat terbuka mata dan mengenalnya."
"Ha-ha-ha-ha, kau orang muda yang pandai merendah, Oei-Sicu. Bagus, karena sikapmu inilah kau akan selamat dari tanganku. Ketahuilah, Pinto adalah Oh Tojin, bergelar Koai-Sin-Kiam. Seperti kau ketahui, dari julukan Pinto itu sudah sepatutnya Pinto tertarik akan ilmu pedang. Nah, pergunakanlah pedangmu untuk menyerang, agar Pinto dapat merasai kelihaian ilmu pedang Thai-San-Pai!"
Tanpa banyak cakar lagi Oei Sun mencabut pedangnya.
"Harap Totiang suka mengeluarkan pedang Totiang"
"Ha-ha-ha!"
Tosu itu tertawa dengan sikap jumawa sekali.
"Sudah kukatakan tadi, sikapmu menolongmu. Pinto tidak perlu menggunakan pedang karena sekali menggunakan pedang, tentu kau celaka. Jangan ragu-ragu, kau pergunakanlah pedangmu."
Oei Sun mendongkol sekali.
"Totiang sendiri yang minta, harap jangan menyesal. Lihat pedang!"
Pedangnya berkelebat menyambar dan Tosu itu dengan gerakan yang baik dan cepat sekali telah berhasil menghindarkan diri.
Oei Sun menyerang terus dengan hati-hati, namun benar-benar Tosu di depannya ini tidak dapat dipersamakan dengan Lai Tang yang sombong tadi.
Gerakan Tosu ini ringan sekali dan berdasarkan ilmu silat yang tinggi.
Geseran-geseran kakinya teratur dan biarpun bertangan kosong, belum pernah pedang Oei Sun dapat menyentuh bajunya.
"Hemmm, Oei Sun terlalu sungkan, kalau ia bersungguh melakukan serangan maut, Tosu badut itu tentu akan repot,"
Kata Li Cu yang duduk di sebelah kiri Suaminya. Beng San mengangguk.
"Memang, mendengar bahwa Tosu itu tidak akan mencelakakannya, cukup membuat Oei Sun sungkan, melukainya juga. Kesalahan besar, terhadap orang yang begitu tinggi hati harus memberi hajaran. Betapapun juga, Oei Sun bukanlah lawannya."
Tosu itu benar-benar mempermainkan lawannya. Sambil mengelak dan meloncat ke sana ke mari, mulutnya terus mengoceh.
"Ah, jurus ini seperti jurus Hoa-San-Pai. Orang muda, sudah banyak ku ketahui tentang ilmu pedang, banyak yang kelihatannya indah dan bagus tapi tidak berisi, seperti misalnya ilmu pedang Hoa-San-Pai itu. Memang bagus dipandang, tapi kalau dipergunakan dalam pertempuran, tidak ada gunanya."
Ia mengelak ke kiri dan menyambung.
"Seperti jurusmu.. ini, apa gunanya. Lihat inilah gerakan istimewa yang disebut Udang Sakti Mencapit Ikan!"
Pada saat itu, pedang Oei Sun menyambar dari atas ke bawah membacok pundaknya.
Oh Tojin miringkan tubuh dan pada saat pedang itu menyambar di dekat tubuhnya, tangan kanannya bergerak dan tahu-tahu punggung pedang benar-benar telah di "capit"
Oleh dua buah jari tangannya yang telah ditekuk.
Hebatnya, betapapun Oei Sun berusaha membetot kembali pedangnya, ia tidak, berhasil karena capitan atau jepitan kedua jari tangan yang ditekuk itu benar-benar amat kuat seperti jepitan baja!
"Ha-ha-ha, inilah jurus saktiku, Oei-Sicu.
Tangan kirimu masih bebas, apakah kau hendak memukul?
Bisa, tapi jagalah capit saktiku,"
Kata Tosu itu sambli tertawa-tawa.
Oei Sun tentu saja tidak mau mengalah secara demikian.
Biarpun pedangnya sudah dijepit dan tak dapat ia tarik kembali, namun ia belum boleh dibilang kalah.
Mendengar tantangan ini, ia lalu menggerakkan tangan kirinya memukul bukan ke arah tubuh Tosu itu melainkan ke arah tangan yang menjepit pedangnya.
Usaha ini ia lakukan agar tangan itu suka melepaskan jepitannya dan pedangnya dapat terlepas.
Akan tetapi sekarang Tosu itu menggerakkan tangan kirinya pula dan...
"capp"
Lengan tangan Oei Sun pada pergelangannya kena dijepit pula sehingga sekarang Oei Sun tak dapat menggerakkan kedua lengannya sama sekali!
Jepitan pada pergelangan itu mengakibatkan rasa nyeri yang menusuk jantung.
"Ha-ha, Oei-Sicu, apakah kau belum menerima kalah?"
Oei Sun adalah murid seorang pendekar sakti, mana bisa dia menyerah kalah sebelum roboh?
Ia menggeleng kepala, lalu kaki kanannya bekerja, menendang keras ke depan.
Tapi tiba-tiba tubuhnya terdorong ke belakang dan karena kakinya sedang menendang, otomatis ia terjengkang dan roboh, pedangnya masih dalam jepitan tangan Tosu lihai itu yang tertawa-tawa bergelak.
Sekali tangan kanannya bergerak, pedang yang dijepit itu sudah menancap ke atas papan panggung sampai setengahnya!
Oei Sun merayap bangun, berdiri dan menjura kepada Tosu itu.
"Aku Oei Sun mengaku kalah, tingkat Totiang lebih tinggi daripadaku."
Setelah berkata demikian, Oei Sun mengerahkan tenaga mencabut pedangnya dan meloncat turun, memberi hormat kepada Suhunya dengan wajah muram. Beng San hanya menegurnya singkat.
"Lain kali jangan terlalu sungkan berhadapan dengan lawan, Oei Sun!"
Murid itu mengangguk dan berdiri di pinggiran. Pada saat itu, Li Eng sudah di depan Beng San dan berkata.
"Paman, aku akan menghadapi Si Sombong itu!"
Anehnya, ia berlari-lari menghampiri panggung berdua dengan Hui Cu.
Beng San tidak keberatan, namun terheran-heran dan ingin mencegah dua orang gadis itu naik bersama.
Apa maksud Li Eng?
Apakah hendak mengeroyok?
Adanya Beng San memberi persetujuan, karena ia maklum akan isi hati gadis itu.
Tadi Oh Tojin menyebut-nyebut dan memburuk-burukkan nama Hoa-San-Pai, sudah sepatutnya kalau gadis itu membela nama baik perguruannya dan ia maklum bahwa dengan kepandaiannya itu, Li Eng sudah pasti akan dapat mengatasi Oh Tojin.
Akan tetapi, kalau gadis itu hendak maju berdua mengeroyok Oh Tojin, ah, hal itu amat memalukan Hoa-San-Pai!
Sebelum ia sempat mencegah, dua orang gadis itu sudah melompat ke atas panggung dengan gerakan ringan dan cepat, khas gerakan Hoa-San-Pai.
Pada saat itu, para tamu sedang bersorak dan bertepuk tangan memuji Oh Tojin.
Tosu ini setelah mendengar Pujian orang, menjadi girang sekali dan lagaknya dibuat-buat.
Ia menjura ke empat penjuru dan berkata nyaring.
"Tidak ada harganya untuk dipuji! Pinto belum memperlihatkan kepandaian karena menghadapi seorang lemah, mana ada kesempatan memperlihatkan kepandaian aseli?"
Akan tetapi tepuk tangan makin bergemuruh dan ia mengira bahwa orang-orang itu memuji-muji dia, tidak tahunya yang disoraki adalah gerakan dua orang gadis muda yang cantik-cantik dan yang gerakannya benar-benar mengagumkan itu.
Ia cepat menoleh, memandang dan senyumnya melebar.
"Aha, kiranya Thai-San-Pai mempunyai pula murid-murid wanita yang cantik dan pandai! Tentunya kalian lebih pandai daripada Oei Sun tadi. Akan tetapi kalian maju berdua, ini bagus sekali. Memang sepatutnya... bagus sekali kalian maju berdua jadi berimbang dan agar jangan dikatakan bahwa aku orang tua mau menang sendiri. Ha-ha-ha!"
Li Eng tertawa-tawa dan Hui Cu yang pendiam hanya berdiri tegak.
Tadi memang Li Eng yang membisikkan akalnya untuk menggoda Tosu ini.
Sebenarnya ia tidak setuju, akan tetapi karena ia maklum akan kenakalan Li Eng dan pula memang ia mendongkol mendengar betapa Tosu ini menghina Hoa-San-Pai, di samping kepercayaannya akan kelihaian Li Eng, maka ia menuruti kehendak adiknya itu.
"Eh, Tosu tua yang bernama Oh Tojin berjuluk Koai-Sin-Kiam! Kami berdua ini juga menjadi tamu-tamu Thai-San-Pai dan kami naik ke sini karena kau tadi menyingung nama Hoa-San-Pai, perguruan kami!"
"Ha-ha-ha, anak murid Hoa-San-Pai, ya? Aha, kalian naik mau apakah? Jangan main-main, biarpun ilmu pedang Thai-San-Pai yang diperlihatkan bocah tadi tidak berapa hebat, akan tetapi kalau ditandingi dengan ilmu pedang Hoa-San-Pai saja kiraku belum tentu kalian akan dapat mengalahkan."
Tosu itu memotong ucapan Li Eng.
"Bukan begitu, Totiang. Kami berdua tadi mendengar ocehanmu tentang keburukan ilmu pedang Hoa-San-Pai yang hanya indah dilihat tetapi tidak ada gunanya. Apakah betul begitu anggapanmu?"
Oh Tojin gelagapan mendengar pertanyaan ini.
Sebetulnya ia berani mencela Hoa-San-Pai, karena ia tidak melihat adanya tokoh-tokoh Hoa-San-Pai di tempat itu.
Sekarang muncul dua orang gadis muda ini yang mengaku sebagai murid Hoa-San-Pai, sedangkan ia sudah terlanjur mengeluar kata-kata mencela ilmu pedang Hoa-San-Pai, terpaksa ia tidak dapat mundur lagi.
"Kalau betul begitu, kalian mau apakah? Apakah kalian bisa membuktikan bahwa ucapanku tadi tidak benar?"
Tantangnya sambil pringas-pringis. Li Eng tersenyum, bukan main manisnya kalau dia tersenyum sambil mainkan kedua matanya itu.
"Totiang, tentang keburukan ilmu pedang Hoa-San-Pai, kami sendiri tidak akan menyombong dan aku yang muda tidak berani membantah. Akan tetapi gerakanmu tadi ketika menjepit pedang Oei-Enghiong agaknya tidak menang hebatnya dengan jurus Hoa-San-Pai yang bernama Kepiting Sakti Mencapit Ikan!"
Tosu itu melengak.
"Tidak bisa jadi! Ilmu mencapit dengan dua buah jari itu adalah ciptaanku, mana bisa Hoa-San-Pai memiliki ilmu seperti itu? Dan bukan kepiting melainkan udang sakti. Jangan kau main-main!"
"Hi-hik, siapa main-main? Kau mau bukti? Lihatlah! Eh, Enci Hui Cu, kau cabut pedangmu dan bacok aku seperti yang dilakukan Oei-Enghiong tadi!"
Kata Li Eng kepada Hui Cu.
Mau tidak mau Hui Cu menahan ketawanya sehingga ia tersenyum-senyum lalu mencabut pedangnya dan dengan gerakan perlahan dan lambat sekali ia membacok ke arah Li Eng.
Dengan lagak dibuat-buat seperti lagak Tosu tadi, Li Eng mengelak dan ketika pedang itu begitu lambat menurun di dekatnya ia lalu mencapit pedang itu dengan kedua jari tangannya yang ditekuk.
Gerakannya begitu persis dengan gerakan Tosu tadi, akan tetapi karena baik bacokan maupun jepitan dilakukan perlahan dan lambat sekali, terang bahwa dua orang gadis cantik itu mempermainkan Si Tosu.
Meledaklah suara ketawa para tamu, bahkan para tokoh-tokoh besar yang melihat pertunjukan ini tidak dapat menahan ketawa mereka.
Benar-benar seorang bocah yang nakal sekali, pikir mereka.
Li Cu tak dapat menahan ketawanya, menutupi mulut dengan saputangannya, sedangkan Beng San tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Cui Bi terkekeh-kekeh memegangi perut, juga Sin Lee dan Kong Bu terbahak-bahak.
Hanya Kun Hong yang menggeleng-geleng kepala sambil menggerutu.
"Kurang ajar sekali dia... kurang ajar sekali..."
Sementara itu, Oh Tojin tak dapat menahan kemarahannya lagi.
"Anak setan, apakah kau sengaja hendak menghina Pinto?"
"Aih-aih, siapa menghina, keledai tua? Siapa yang tadi mengatakan bahwa Hoa-San-Pai memiliki ilmu pedang yang tiada gunanya? Kau yang menghina perguruan kami, sekarang kau berbalik Bilang kami yang menghina. Hemm, sungguh tak tahu malu, Tosu bau hidung kerbau!"
Memang Li Eng nakal dan pintar bicara, hal ini sudah pernah dialami oleh Kong Bu yang pada saat itu hampir terpelanting dari kursinya saking tertawa bergelak-gelak melihat lagak kekasihnya mempermainkan Tosu sombong itu.
"Perempuan sombong, bocah setan apakah kau berani menghadapi pedangku?"
Sambil berkata demikian Oh Tojin mencabut pedangnya dan menggerak-gerakkan pedangnya supaya cahayanya berkilau tertimpa sinar matahari. Li Eng memperlihatkan sikap ketakutan.
"Wah-wah, Enci Hui Cu, lebih baik kau lekas turun panggung, jangan-jangan keserempet pedang. Pedang tajam di tangan orang mabuk yang tidak mampu main pedang, benar-benar lebih berbahaya daripada di tangan seorang yang baru belajar."
Sambil tersenyum-senyum saking gelinya Hui Cu melayang turun dari atas panggung lalu menghampiri kembali tempat duduknya, disambut tertawa lebar, semua orang yang duduk di pihak Thai-San-Pai.
Juga para tamu tadi terpingkal-pingkal menyaksikan ini, sehingga tempat itu benar-benar menjadi meriah seakan-akan di situ terdapat pertunjukan lawak-lawak yang pandai mengocok perut.
Kemarahan Oh Tojin tak dapat ditahannya lagi.
"Bocah setan, kau bersiaplah menghadapi pedangku. Hemm, kalau aku tidak bisa memberi hajaran kepadamu, jangan sebut aku Koai-Sin-Kiam lagi!"
"Eh, betulkah? Nah, biarlah kau berkenalan dengan ilmu pedang Hoa-San-Pai yang kelihatan indah tapi tak berguna ini. Awas pedang!"
Tosu itu tercengang, juga para tamu karena gadis itu mengancam "Awas pedang"
Akan tetapi belum kelihatan memegang pedang.
Tiba-tiba, belum juga hilang keheranan Oh Tojin, tahu-tahu di depan mukanya berkelebat sinar seperti kilat diikuti hawa pedang yang dingin menyambat hidungnya!
"Ayaaa..."
Ia berseru kaget dan cepat ia mencelat ke belakang sambil menyabet-nyabetkan pedangnya ke depan untuk menjaga diri.
Ia masih berjumpalitan sambil menyabet-nyabetkan pedang dan baru berani turun ketika ia tidak merasa adanya desakan.
Ketika ia berdiri kembali, ia mendengar suara tertawa ramai.
Kiranya gadis itu masih berdiri ditempatnya yang tadi hanya sekarang tangan kanannya sudah memegang sebatang pedang yang berkilauan.
Hebat, pikirnya dengan hati kecut.
Jurus apa yang diperlihatkan gadis ini tadi?
Ia berlaku hati-hati dan tanpa menyombong lagi ia berkata.
"Majulah, aku telah siap menghadapi pedangmu."
Li Eng tersenyum mengejek. Tiba-tiba terdengar seruan orang.
"Tahan dulu."
Dua orang itu memandang, juga semua tamu.
Kiranya Kun Hong yang berseru itu dan pemuda ini menaiki anak tangga yang menuju ke panggung dengan tergesa-gesa.
Dari tempat duduknya tadi, Kun Hong sudah menyaksikan kepandaian Oh Tojin dan maklum bahwa menghadapi Li Eng, Tosu itu takkan menang.
Ia cukup mengenal pula watak Li Eng yang selain jenaka dan nakal, juga keras hati.
Mendengar bahwa Hoa-San-Pai dihina orang, ia kuatir kalau Li Eng mendendam dan menjatuhkan tangan besi kepada Tosu itu, maka tanpa dipikir panjang ia lalu berseru menahan pertempuran dan naik ke panggung, tidak dengan cara meloncat seperti yang lain, melainkan lari melalui anak tangga.
"Eng-ji, kau hendak bermain pedang dengan totiang ini, hati-hati jangan kau membunuhnya. Kau tahu aku tidak suka kau membunuh orang!"
Li Eng tertawa.
"Jangan kuatir, Paman Hong. Aku tidak akan membunuh orang ini."
"Juga tidak melukai secara hebat."
"Tidak, aku hanya ingin membuat dia kapok supaya tidak menghina Hoa-San-Pai lagi."
Sementara itu, semua orang yang mendengarkan percakapan ini menjadi bengong dan terheran-heran sejenak, lalu meledaklah suara ketawa mereka.
Sikap Kun Hong seakan-akan seorang nenek bawel yang memberi nasehat cucunya, justeru sikap kedua orang ini menimbulkan kesan bahwa mereka amat memandang rendah kepada Oh Tojin.
Kalau sampai pemuda halus itu melarang gadis keponakannya membunuh atau melukai berat kepada Tosu itu, bukankah itu hanya boleh diartikan bahwa Si Pemuda ini sudah yakin akan kemenangan keponakannya?
Inilah yang lucu dan tentu saja Oh Tojin menjadi marah dan mendongkol sekali.
Dari tempat duduknya, Beng San berbisik kepada Li Cu.
"Kulihat Kun Hong ini benar-benar seorang pemuda yang luar biasa wataknya, dan halus budi pekertinya."
Li Cu tersenyum.
"Dia seperti bayanganmu di waktu kau masih muda."
Kedua Suami Isteri itu saling pandang lalu tersenyum. Sementara itu, Kun Hong lega hatinya dan kembali ia menuruni anak tangga meninggalkan panggung, Oh Tojin membanting-banting kakinya.
"Orang-orang Hoa-San-Pai memang benar-benar sombong sekali! Kau tidak boleh membunuhku, tidak boleh melukai aku? Lihat, sebaliknya Pintolah yang akan merobohkanmu dalam beberapa jurus saja. Lihat pedangku!"
Pedangnya berkelebat menyambar ke arah Li Eng dengan gerakan yang penuh kemarahan.
Tapi ia tertegun karena selain pedangnya mengenai angin belaka, juga gadis di depannya itu telah lenyap dari depan matanya.
Selagi ia bingung, ia mendengar suara ketawa lirih di belakangnya.
Cepat ia membalik sambil mengayun pedang menyerang lagi.
Tapi kembali ia kehilangan lawannya yang ternyata dengan Ginkang yang luar biasa telah lenyap dan sudah berada di belakangnya.
Berkali-kali ia menyerang tapi hasilnya sama dan tak pernah ia dapat melihat lawannya yang cepat sekali gerakannya, seperti setan.
Suara ketawa dan seruan kagum terdengar di sana sini ketika para tamu menyaksikan gerakan tubuh gadis itu yang memang luar biasa cepatnya, melebihi cepatnya gerakan pedang lawan.
Tosu itu mulai marah, tapi diam-diam hatinya mengecil.
"Hai, bocah setan. Jangan hanya melarikan diri, bertandinglah secara berdepan kalau kau memang laki-laki!"
"Hi-hik, Tosu bau, apakah kau sudah gila? Aku memang seorang wanita, bukan seorang laki-laki!"
Suara ketawa makin riuh-rendah menyambut kelakar ini dan wajah Oh Tojin makin merah.
Kini ia melihat gadis itu berdiri tegak di depannya dan ketika ia menyerang lagi, Li Eng sengaja tidak mau mengelak melainkan menggunakan pedangnya untuk menangkis dan balas menyerang.
Ia sengaja mengeluarkan kepandaiannya, pedangnya berkelebat cepat seperti kilat menyambar-nyambar sehingga dalam belasan jurus saja Oh Tojin terdesak hebat, mengelak dan menangkis ke sana ke mari tanpa dapat membalas sedikitpun juga.
"Tosu bau, kau bilang ilmu pedang Hoa-San-Pai tiada gunanya? Nah, rasakanlah ilmu pedang yang kumainkan ini inilah Hoa-San Kiam-Hoat!"
Oh Tojin memang pernah menyaksikan ilmu pedang Hoa-San-Pai, akan tetapi selama hidupnya tak pernah ia mengira bahwa Hoa-San Kiam-Hoat dapat dimainkan seperti ini hebatnya.
Diam-diam ia terkejut dan menyesal sekali.
Wajah yang tadinya merah sekarang menjadi pucat, napasnya terengah-engah dan makin sibuklah ia menangkis hujan ujung pedang yang tak terhitung banyaknya itu.
"Koai-Sin-Kiam Oh Tojin, jagalah serangan ilmu pedang Hoa-San-Pai ini!"
Gadis itu berseru keras dan pedangnya makin hebat menekan.
Oh Tojin berteriak kaget, jenggotnya terbabat putus dan beterbangan ke bawah dan pada detik berikutnya ia memekik kesakitan, tangannya berdarah dan pedangnya terlepas dari pegangan!
Sambil mengerang kesakitan Tosu ini melompat turun dari panggung dan terus melarikan diri tanpa menoleh lagi.
Terdengar sorak-sorai riuh-rendah, sebagian menyoraki Tosu yang lari itu, sebagian lagi bersorak karena melihat Li Eng memperlihatkan pertunjukan hebat, yaitu pedangnya sudah dapat menyambar pedang Tosu itu dan pedang lawan itu sekarang terputar-putar seperti kitiran di ujung pedangnya!
Melihat lawannya lari tunggang-langgang, Li Eng berseru.
"Oh Tojin, ini pedangmu, terimalah kembali...!"
Sekali ia mengerakkan pedang di tangannya, maka pedang lawan yang tadinya berputar cepat seperti kitiran itu terlempar melayang ke arah Oh Tojin yang sedang berlari.
Hebat sekali bidikan Li Eng karena dengan tepat gagang pedang itu menimpa kepala orang dan jatuh ke bawah.
Sejenak Oh Tojin pucat saking kagetnya akan tetapi setelah mendapat kenyataan bahwa kepalanya tidak bocor, ia cepat memungut pedangnya dan terus melarikan diri meninggalkan tempat itu diikuti gelak tawa para penonton.
Gelak tawa para penonton sirap kembali ketika mereka melihat seorang Tosu tua telah meloncat ke atas panggung.
Tosu inipun berpakaian kuning dan rambutnya panjang digelung ke atas.
Biarpun pakaiannya kuning sederhana sebagai Tosu, namun rambutnya dihias dengan lima bunga teratai dan pada bajunya terdapat tanda-tanda jasa dari Istana.
Inilah Thian It Tosu, seorang di antara tujuh orang pengawal Pangeran Mahkota Kian Bun Ti, juga seorang tokoh Ngo-Lian-Kauw dan pernah menjadi tangan kanan Kim-Thouw Thian-Li.
Melihat naiknya Tosu ini, Kun Hong yang mengenalnya menjadi tidak enak hatinya, lalu berkata perlahan tapi cukup keras untuk didengar oleh Beng San.
"Heran betul, dia itu seorang di antara pengawal-pengawal Istana Pangeran Mahkota, mau apa ke sini?"
Kagetlah Beng San mendengar ucapan Kun Hong ini dan ia memandang penuh perhatian.
Ia maklum dari tanda bunga teratai itu bahwa Tosu ini adalah seorang Tosu Ngo-Lian-Kauw, akan tetapi apakah munculnya ini sebagai tokoh Ngo-Lian-Kauw, ataukah sebagai pengawal Istana Pangeran?
Tosu itu telah menjura kearah tuan rumah dan berkata, suaranya rendah parau membayangkan Lweekang tinggi.
"Pinto Thian It Tosu ingin sekali berkenalan dengan ilmu silat Thai-San-Pai. Syukur kalau Ketua Thai-San-Pai sendiri berkenan memberi petunjuk karena Pinto sudah lama mendengar nama besarnya"
Sin Lee segera menghadap Ayah.
"Ayah, biarlah saya menghadapi Tosu ini."
Beng San mengangguk. Iapun ingin memperkenalkan putera-puteranya kepada para tokoh kang-ouw yang datang dari pelbagai tempat itu.
"Boleh, kau hati-hatilah, dia itu seorang Ngo-Lian-Kauw, pandai menggunakan senjata rahasia dan pandai ilmu sihir, biasanya curang, maka kau yang waspada. Juga karena dia orang Istana, jangan sampai membunuh."
Sin Lee mengangguk dan ketika kakinya mengenjot tanah, tubuhnya dari tempat itu langsung melayang ke atas panggung dengan kedua lengan tangan dikembangkan.
Sorak-Sorai menyambut kehadirannya dan Thian It Tosu kaget sekali menyaksikan cara melompat yang seperti Burung raksasa ini.
Ia memandang pemuda tanpan gagah itu penuh selidik, lalu menegur.
"Orang muda, caramu meloncat tadi tidak sama dengan gaya loncatan para anak murid Thai-San-Pai tadi. Siapakah kau dan Pinto menantang Thai-San-Pai atau ketuanya, kenapa kau yang maju?"
"Thian-It Tosu, memang betul wawasanmu aku bukan anak murid Thai-San-Pai, akan tetapi Ketua Thai-San-Pai adalah Ayahku dan karena kau tadi menantang Ayahku, sudah sepatutnya kalau aku mewakilinya untuk menghadapimu. Thian-It Tosu, kau sendiri sekarang ini berdiri di sini mewakili siapakah? Kalau kau sebagai tokoh Ngo-Lian-Kauw datang menantang, bukanlah hal aneh dan akan kulayani. Akan tetapi karena aku mendengar bahwa kau telah menjadi seorang pengawal Istana Pangeran Mahkota, maka kedatanganmu ini sebagai pangawal Istana, harap kau turun lagi saja. Kami orang-orang dunia persilatan tidak mempunyai urusan dengan kaki tangan Kota Raja."
Terdengar sorakan gembira menyambut ucapan ini, tanda bahwa sebagian besar orang kang-ouw memang tidak melibatkan diri dengan orang-orang pemerintah.
Wajah Thian It Tosu menjadi merah karena sekaligus pemuda ini membuka kedoknya.
Pada saat itu terdengar lengking tinggi dan di atas panggung berkelebat bayangan orang, tahu-tahu di situ telah berdiri seorang yang tua sekali.
Alangkah kaget gentarnya semua tamu ketika mengenal nenek ini sebagai tokoh yang dianggap manusia iblis, bukan lain adalah Hek-Hwa Kui-Bo!
"Berikan dia padaku!
Dia pembunuh muridku!"
Teriaknya dengan suara parau.
Akan tetapi, kembali orang-orang tercengang karena tanpa mereka lihat datangnya, tahu-tahu Ketua Thai-San-pai sudah berdiri di situ pula menghadapi Hek-Hwa Kui-Bo.
Beng San berdiri tegak dengan sepasang mata berkilat-kilat, lalu berkata kepada Hek-Hwa Kui-Bo.
"Kui-bo, pertemuan ini kuadakan dengan peraturan dan kesopanan. Kalau kau mempunyai penasaran tunggulah giliranmu, harap jangan mengacau. Mundurlah!"
Sinar mata Beng San berkilat seperti halilintar menyambar sehingga Hek-Hwa Kui-Bo gentar juga menghadapi sikap musuh lamanya ini.
Ia meragu.
Ia tahu betul bahwa orang ini telah terluka hebat dalam pengeroyokan kemarin dulu, akan tetapi mengapa sekarang masih dapat meloncat seperti terbang saja cepatnya?
Untuk menutupi kegugupannya, ia tertawa.
"Hi-hik, Beng San, betul juga katamu. Baiklah aku menanti giliranku."
Sambil tertawa-tawa ia lalu melayang turun dan sekejap mata saja ia sudah lenyap entah ke mana.
Juga Beng San dengan tenang meloncat turun dan kembali ke tempat duduknya.
Semua tamu menahan napas, terhadap tokoh seperti Hek-Hwa Kui-Bo tentu saja tak seorangpun berani mentertawai.
Keadaan makin tegang setelah mereka ketahui bahwa ternyata tempat itu dihadiri pula oleh tamu-tamu tak kelihatan sehebat Hek-Hwa Kui-Bo.
Siapa tahu masih banyak lagi tokoh-tokoh aneh seperti ini.
Karena nenek itu tidak kelihatan lagi, maka perhatian para tamu dialihkan kembali ke ataa panggung, kepada Tosu Ngo-Lian-Kauw dan pemuda yang mengaku putera Ketua Thai-San-Pai itu.
Tosu itu memandang rendah kepada Sin Lee, lalu berkata.
"Menjawab pertanyaanmu tadi, orang muda, Pinto datang ini boleh dibilang atas nama pribadi, juga boleh disebut mewakili Ngo-Lian-Kauw, apalagi mendengar tadi bahwa ketua kami tewas di tanganmu. Sebagai pengawal Istana akupun mempunyai urusan, yaitu mengejar larinya tiga orang buronan dari Kota Raja!"
Tosu itu dengan mata tajam memandang ke arah tiga anak murid Hoa-San-Pai yang duduk di rombongan tuan rumah.
"Kalau yang kau maksud dengan ketuamu itu adalah Kim-Thouw Thian-Li, aku Tan Sin Lee tak merasa telah membunuhnya. Akan tetapi kalau toh ia mampus oleh pukulanku, hal itupun aku tidak menyesal karena itu berarti bahwa aku telah melenyapkan seorang jahat, Tentang kau mengejar buronan bukanlah urusanku. Nah, kalau memang kau hendak membalas sakit hati ketuamu, kau majulah!"
Thian It Tosu memang sudah mendengar bahwa Ketua Ngo-Lian-Kauw tewas dalam tangan beberapa orang muda akan tetapi ia tidak tahu siapakah pembunuhnya.
Tadi Hek-Hwa Kui-Bo muncul dan menerangkan bahwa pemuda ini adalah pembunuh ketuanya, maka tentu saja ia menjadi marah dan ingin membalas dendam.
Ia tidak berani memandang rendah lagi karena kalau pemuda ini mampu merobohkan Kim-Thouw Thian-Li berarti dia tentu lihai sekali.
Apalagi kalau diingat bahwa pemuda ini adalah putera Ketua Thai-San-Pai.
Tosu ini lalu melolos keluar sebatang pedang dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya mencabut hiasan rambutnya yang berupa lima bunga teratai itu.
Hiasan rambut ini terbuat dari benda berwarna putih, merupakan lima buah kembang yang atasnya tertutup rapi berbentuk runcing, dan sekarang gagangnya dipegang oleh tangan kiri Tosu itu.
Mengingat akan nasehat Ayahnya tadi, Sin Lee bersikap waspada dan tidak berani memandang remeh kepada hiasan rambut ini yang melihat ukuran dan bentuknya, bukanlah merupakan senjata yang baik.
Sambil mengeluarkan teriakan keras Tosu itu menyerangnya dengan pedang, namun Sin Lee cepat mengelak sedangkan pedangnya sendiri lalu menukik dari atas kiri menusuk pundak lawan.
Thian It Tosu terkejut dan maklum bahwa lawannya ini biarpun masih muda ternyata memiliki gerakan cepat dan ilmu pedang yang aneh namun berbahaya sekali.
Iapun segera bertempur seru, makin lama makin cepat.
Baru belasan jurus saja Thian It Tosu maklum bahwa ilmu pedang pemuda itu benar-benar luar biasa dan ia sudah terdesak hebat.
Tiba-tiba tangan kirinya telah menjepit sebuah kembang buatan itu dan melesatlah jarum-jarum halus ke arah lawannya.
Sin Lee mengeluarkan suara melengking tinggi dan tubuhnya mendadak mencelat ke atas, demikian cepat gerakannya seperti gerakan seekor Burung (Lanjut ke
Jilid 29) Rajawali Emas (Seri ke 02 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 29 dan semua senjata rahasia halus yang tak dapat dilihat mata itu lewat di bawah kakinya.
Dari atas Sin Lee membalas pedangnya meluncur turun menyerang kepala Tosu itu.
Hal ini benar-benar tak pernah diduga oleh Thian It Tosu yang tadinya mengharapkan penyerangannya akan berhasil, siapa duga bahwa orang yang diserang secara mendadak itu malah menyerang dari atas.
Terpaksa untuk menyelamatkan dirinya karena menangkis sudah tidak ada waktu lagi, Tosu ini membanting tubuh ke belakang dan bergulingan menjauhi kejaran pedang lawan.
Ia meloncat bangun dan kini ibu jari dan telunjuknya menjepit bunga teratai kedua.
Terdengar suara ledakan kecil dan dari tangan kirinya itu menyambar asap hitam ke arah muka Sin Lee.
Pemuda ini tidak kurang waspada, cepat ia melompat ke samping, cukup jauh agar tidak terkena pengaruh asap beracun itu, sambil menahan napas lalu meniup ke arah asap itu sehingga buyar!
"Tosu curang!"
Sin Lee berseru keras dan pedangnya kini berkelebatan seperti kilat mencari korban.
Ia sedikitpun tidak memberi kesempatan kepada Tosu itu untuk mempergunakan senjata rahasianya lagi, malah ia mengincar tangan kiri yang memegang bunga-bungaan itu, yang dianggapnya lebih berbahaya daripada pedang di tangan kanan.
Thian It Tosu berusaha melawan, namun akhirnya ia berteriak keras ketika ujung pedang Sin Lee mengancam pergelangan tangan atau jari-jari tangan kirinya.
Terpaksa ia menarik tangannya, tapi terdengar suara "crakk!"
Dan hiasan rambut itu kini tinggal gagangnya saja yang berada di tangannya. Sin Lee mengeluarkan suara menghina dan kakinya menendang bunga-bungaan itu ke bawah panggung.
"Nah, marilah kita bertanding pedang secara laki-laki, tidak main curang!"
Seru Sin Lee, perlahan-lahan maju menghampiri Tosu yang berdiri dengan muka pucat itu.
Akan tetapi Thian It Tosu tidak segera menggerakkan pedangnya.
Ia hanya berdiri tegak, mukanya pucat, matanya terbelalak memandang lawan, bibirnya komat-kamit.
"Hayo, majulah, apakah kau takut?"
Sin Lee mengejek sambil menggerak-gerakkan pedangnya, siap menanti penyerangan lawannya.
Akan tetapi Tosu itu tetap tidak bergerak, dan mulutnya tetap bergerak-gerak.
Orang lain tidak ada yang mendengar suaranya, namun tiba-tiba Sin Lee mendengar suara yang seakan-akan datang dari dasar bumi suara yang penuh kekuasaan, penuh pengaruh, yang berbisik-bisik dan mendesis-desis.
"Sin Lee, pandang baik-baik Pinto siapa! Pinto adalah pendeta, kau takkan menang melawan Pinto, baru melihat saja kau sudah pening, tenagamu lemah, pikiranmu kacau..."
Ucapan ini diulang-ulang.
Mula-mula Sin Lee hendak mentertawakannya, akan tetapi ia mulai bingung dan gugup karena tiba-tiba ia merasa kepalanya pening.
Pada saat itu Thian It Tosu sudah menyerangnya dan ia cepat menangkis, akan tetapi benar-benar ia makin gelisah karena tenaganya serasa amat lemah kepalanya makin pening dan pikirannya menjadi kacau-balau, malah mulai agak ketakutan!
Samar-samar Sin Lee teringat akan nasihat Ayahnya bahwa Tosu ini adalah seorang ahli sihir, ia mengerahkan semangat hendak melawan, namun ternyata ia telah masuk dalam perangkap dan telah terpengaruh sehingga usahanya sia-sia belaka karena pikirannya sudah kacau.
Para penonton terheran-heran betapa sekarang Tosu itu melakukan penyerangan dengan pedangnya sedangkan Sin Lee hanya menangkis dengan terhuyung-huyung seperti orang mabuk.
Beng San duduk menegang di kursinya, dahinya berkerut, alisnya bergerak-gerak, sinar matanya berkilat.
Ia dapat menduga apa yang terjadi dan siap untuk menolong puteranya jika terancam bahaya maut.
Pada saat itu Kun Hong berlari-lari ke bawah panggung, setelah dekat panggung ia menggunakan tangannya menggebrak-gebrak panggung sambil berkata nyaring.
"He, Pendeta murtad! Pendeta penuh dosa, Pendeta nyeleweng!"
Orang-orang mulai tertawa menyaksikan sikap pemuda ini dan Thian It Tosu yang sudah mulai gembira melihat hasil ilmu hitamnya, kini terpecah perhatiannya dan marah sekali.
Ketika mendapat kesempatan, Selagi Sin Lee terhuyung-huyung, ia menyambar ke pinggir panggung dan menggunakan pedangnya membacok tangan Kun Hong yang mengebrak-gebrak papan.
Tentu saja Kun Hong menarik tangannya akan tetapi ia berpura-pura menjerit.
"Aduh-aduh, Pendeta kejam kau!"
Dan pada saat pandang mata Thian It Tojin yang penuh kemarahan itu sedetik bertemu dengan pandang matanya Kun Hong mengerahkan ilmu sihirnya dan ia berkata.
"Kau Pendeta murtad, tak patut menggunakan segala ilmu hitam. Kau patut dihukum pukul kepala sepuluh kali"
Setelah berkata demikian Kun Hong lari kembali ke tempat duduknya.
Tiba-tiba semua tamu terbelalak memandang kejadian yang amat aneh di panggung.
Setelah Tosu itu menghentikan serangan-serangannya, Sin Lee masih terhuyung-huyung dan Tosu itu kini berteriak-teriak.
"Benar sekali, Pinto patut dihukum pukul kepala sepuluh kali"
Dan tangan kirinya segera bekerja menampar muka, dan kepalanya sendiri dengan keras. Terdengar suara "Plak-plak-plak"
Berkali-kali dan muka itu menjadi bengkak-bengkak!
Sin Lee agaknya sudah sadar kembali.
Pemuda ini cepat berdiri tegak dan untuk sejenak ia mengumpulkan hawa murni di tubuhnya sehingga pikirannya jernih kembali, tenaganya pulih dan kini ia memandang terheran-heran kepada lawannya yang sedang penuh semangat menghantami kepalanya sendiri itu.
Tiba-tiba berkelebat bayangan dan Hek-Hwa Kui-Bo sudah berdiri di atas panggung.
"Memalukan saja, pergi!"
Tangannya bergerak dan tubuh Thian It Tosu terlempar ke bawah panggung.
Tosu itu roboh dan berbareng dengan jatuhnya itu agaknya iapun sadar kembali.
Dengan bingung ia bangkit berdiri, memandang bingung ke kanan kiri lalu...
angkat kaki lari dari tempat itu.
Beberapa orang tamu yang masih melongo lalu membuat tanda dengan telunjuk dimiringkan ke depan kening, yaitu tanda orang yang miring otaknya.
Meraka ini mengira bahwa Tosu itu tentu seorang yang berotak miring!
Akan tetapi karena peristiwa itu sudah lewat dan di atas panggung berdiri seorang tokoh yang ditakuti, yaitu Hek-Hwa Kui-Bo, para tamu yang Sekarang menjadi penonton memandang dengan penuh ketegangan.
Semua orang tahu bahwa tentu sekarang akan terjadi pertandingan yang luar biasa hebatnya.
Hek-Hwa Kui-Bo dengan muka yang merah dan mata mendelik sudah menghadapi Sin Lee, pedang berkilauan di tangan kanan sedangkan tangan kirinya memegang sehelai sabuk beraneka warna.
"Orang muda, kau telah menewaskan muridku. Akan tetapi kau mengatakan bahwa kau adalah anak dari Tan Beng San. Hemmm, jangan kau mencoba mengunakan nama Ketua Thai-San-Pai untuk menggertak orang. Aku tahu benar bahwa Cia Li Cu Isteri Tan Beng San hanya mempunyai seorang anak perempuan, bagaimana kau bisa mengaku dia sebagai Ayahmu? Siapakah ibumu?"
Beng San di tempat duduknya meremas jari-jari tangannya sendiri, hatinya mengharap agar Sin Lee tidak usah menjawab pertanyaan ini. Akan tetapi dengan sikap gagah Sin Lee menjawab, suaranya nyaring.
"Hek-Hwa Kui-Bo, kau kira aku tidak tahu akan isi hatimu. Kau sendiri sudah tahu siapa ibuku, akan tetapi kau sengaja mengajukan pertanyaan ini di tempat umum, tentu dengan maksud keji di hatimu yang memang tidak bersih itu. Akan tetapi aku Tan Sin Lee sebagai seorang laki-laki sejati tidak akan menyembunyikan dan tidak akan malu mengaku bahwa Ayahku adalah Tan Beng San Ketua Thai-San-Pai sedangkan ibuku adalah Kwa Hong anak murid Hoa-San-Pai! Nah, aku sudah mengaku, kau mau bilang apa?"
Suara pemuda itu nyaring dan pada saat itu wajah Beng San sebentar pucat sebentar merah. Ia merasa terpukul, menoleh kepada Isterinya dan berbisik.
"Dia lebih jantan daripadaku... dia lebih jantan dan gagah..."
Hek-Hwa Kui-Bo tertawa terkekeh-kekeh, wajahnya yang tua dan biasanya masih berbekas kecantikannya itu setelah terkekeh-kekeh kelihatan buruknya, mulutnya yang tak bergigi lagi kelihatan kehitaman dan matanya berputar-putar liar.
"He-he-he-he, kiranya kau anak haram. Ha-hah-heh-heh, memang sejak dulu Tan Beng San bukanlah orang baik-baik. Kapankah ia menikah dengan Kwa Hong? Kapankah ia menjadi Ayahmu? Tentu melalui hubungan gelap. Coba sekalian yang hadir pikir yang baik-baik, orang yang mempunyai anak haram mana patut menjadi ketua sebuah perkumpulan silat?"
Sin Lee tak dapat menahan kemarahannya lagi, mukanya pucat matanya seperti mengeluarkan api.
Biarpun ia dengan gagah berani mengakui kenyataan dirinya, akan tetapi kalau mendengar hinaan yang diucapkan di depan umum secara demikian merendahkan dan disertai kata-kata kotor, tentu saja ia tidak tahan mendengarnya.
"Iblis betina lihat pedangku!"
Ia sudah menerjang dengan nafsu meluap. Hek-Hwa Kui-Bo terkekeh-kekeh tapi cepat menangkis serbuan pemuda ini, lalu sambil melayani serangan Sin Lee yang bernafsu, ia masih sempat berkata.
"Kau bocah haram harus kubikin mampus dulu, baru kemudian tiba giliran ibumu yang tak tahu malu dan Ayahmu yang hina!"
Makin naik darah Sin Lee dan ia mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk menikam mati orang yang dibencinya ini.
Dan inilah kesalahannya.
Sebagai seorang muda, tentu saja ia berdarah panas dan tidak tahu akan siasat lawan yang jauh berpengalaman dan yang terkenal sebagai seorang tokoh besar penuh tipu muslihat.
Di samping sengaja menghina tuan rumah, memang Hek-Hwa Kui-Bo sengaja pula membakar hati orang muda ini sehingga sekarang Sin Lee lupa akan kewaspadaan dan menerjang dengan nekat.
Bagi seorang ahli silat tingkat tinggi, mengumbar nafsu amarah merupakan pantangan besar.
Dalam bersilat, apalagi kalau menghadapi lawan berat, sekali-kali tidak boleh dihinggapi kemarahan, karena nafsu ini akan menyesakkan dada dan mengurangi ketelitian dan ketenangan.
Apabila bermain silat dengan diamuk kemarahan, permainannya tidak tenang dan karenanya daya permainannya kurang kuat.
Hek-Hwa Kui-Bo adalah seorang tokoh kawakan yang sebelum mendapatkan Ilmu Pedang Thai-Yang sudah merupakan tokoh jarang tandingun, Apalagi setelah ia mendapatkan Ilmu Pedang Thai-Yang, kepandaiannya menjadi hebat sekali dan orang-orang yang dapat menandinginya hanyalah tokoh-tokoh besar seperti Song-Bun-Kwi.
Biarpun Sin Lee juga merupakan seorang pemuda gemblengan, namun menghadapi Hek-Hwa Kui-Bo ia kalah setingkat, kalah akal dan kalah pengalaman.
Dalam dorongan nafsunya, memang kelihatannya Sin Lee mendesak Hek-Hwa Kui-Bo dengan penyerangan bertubi-tubi.
Ia menggunakan ilmu silatnya yang aneh malah tangan kirinya beberapa kali ia putar-putar untuk melakukan pukulan Jing-Tok-Ciang.
Namun pukulan-pukulan ini dapat dibikin buyar oleh tangkisan Hek-Hwa Kui-Bo yang mempergunakan ilmu pukulan beracun Hwa-Tok-Ciang yang dilakukan dengan tangan kiri sekalian untuk mengebutkan sabuknya yang dapat menjadi alat menotok jalan darah yang ampuh itu.
Nenek ini sengaja main mundur karena ia sengaja memancing agar pemuda lawannya ini makin bernafsu sehingga akan terbuka kesempatan baginya untuk merobohkannya sekaligus tanpa meleset lagi.
Beng San memegangi tangan kursinya dengan erat, mukanya agak pucat, Celaka dia, pikirnya gelisah.
Sebagai seorang gagah yang memegang aturan kang-ouw, tentu saja tak dapat ia melompat ke depan untuk menolong puteranya itu dan ia tahu betul betapa Sin Lee terancam maut.
Hanya Beng San seorang yang tahu akan hal ini, adapun orang-orang lain, bahkan juga Cui Bi, Li Eng dan Kong Bu yang berkepandaian tinggi, tidak dapat menduga akan hal ini.
Mereka ini memperlihatkan muka gembira.
Hanya Kun Hong yang muram wajahnya karena ia juga mengerti seperti Beng San, melainkan pemuda itu merasa sedih sekali karena sekali lagi ia harus menjadi saksi dari pertempuran-pertempuran maut yang pasti akan membawa korban.
Pengertian Beng San akan hal ini adalah karena ia sudah menyelami keadaan kepandaian Hek-Hwa Kui-Bo, maka ia dapat mengerti bahwa nenek itu sedang mengintai kesempatan seperti maut mengintai korban.
Betapapun juga, ia bersiap sedia menolong puteranya itu apabila nyawanya terancam.
Ia tidak akan mengeroyok, hanya akan menyelamatkan Sin Lee.
Ketika kesempatan itu tiba, pada saat pedang Sin Lee menusuknya, Hek-Hwa Kui-Bo melihat pergelangan tangan pemuda itu tak terjaga.
Cepat sabuknya yang beraneka warna itu menyambar dari samping sedangkan pedangnya menangkis.
Tentu saja Sin Lee hanya mengira bahwa serangannya ini akan dihindarkan lawan dengan tangkisan ini, tidak tahunya tangkisan ini hanya untuk memancing perhatiannya dan yang penting bagi nenek itu adalah sabuknya yang kini telah menyambar pergelangan tangan Sin Lee dan seperti seekor ular hidup telah melibat-libat pergelangan tangan berikut jari-jari yang memegang pedang!
Sin Lee kaget sekali, berusaha membetot tangannya, namun sabuk itu ternyata terbuat dari bahan aneh yang selain kuat dan ulet, juga dapat mulur maka tak dapat ia menarik putus.
Dan pada saat itu, pedang Hek-Hwa Kui-Bo sudah berkelebat menyambar di atas kepalanya diiringi suara ketawa aneh nenek itu.
Pemuda itu tak dapat mengelak, tak dapat melompat pergi karena lengan kanannya telah terbelit sabuk, jalan satu-satunya baginya hanya menangkis bacokan itu dengan tangan kiri karena untuk menggunakan tangan kiri memukul, sudah tidak keburu lagi.
Pada saat yang amat berbahaya itu, terdengar lengking tinggi nyaring dan berkelebatlah bayangan orang didahului sinar kehijauan.
"Trangggg!"
Pedang yang akan membacok Sin Lee tertangkis oleh sebatang anak panah hijau dan kemudian lima batang anak panah yang terikat pada ujung cambuk yang berujung lima, menyambar-nyambar dan menyerang Hek-Hwa Kui-Bo.
"Jangan menghina orang muda, Hek-Hwa Kui-Bo Siluman tua bangka, akulah lawanmu, lepaskan anakku!"
Hek-Hwa Kui-Bo cepat melepaskan sabuk yang membelit lengan Sin Lee dan melompat mundur sambil memutar pedang menangkis.
Sementara itu orang yang baru datang ini yang bukan lain adalah Kwa Hong sendiri, mendorong pundak Sin Lee dan berkata.
"Pergilah kau kepada Ayahmu, Siluman ini akulah lawannya."
Dorongan ini kuat sekali, tak dapat ditahan oleh Sin Lee yang terpaksa melompat turun dari panggung, menduduki lagi tempat duduknya dengan wajah pucat memandang ke atas panggung.
Melihat betapa Kwa Hong menggantikan putranya menghadapi Hek-Hwa Kui-Bo, wajah Beng San dan semua keluarganya menegang, Beng San diam-diam merasa terharu sekali.
Ia maklum bahwa di balik kebencian Kwa Hong kepadanya, masih terdapat kasih terpendam dan akhirnya melalui putera mereka Sin Lee, agaknya Kwa Hong menyingkirkan sakit hati dan dendamnya sehingga di depan umum Kwa Hong sekarang berhadapan dengan Hek-Hwa Kui-Bo yang sudah jelas datang dengan maksud buruk terhadap Thai-San-Pai.
Memang mendongkol sekali hati Hek-Hwa Kui-Bo melihat Kwa Hong maju melawannya.
Tentu saja ia tidak takut, akan tetapi ia marah bukan main, lalu memaki.
"Aha, inilah perempuan tidak tahu malu yang melahirkan pemuda tadi dari perbuatan hina! He-he-heh, kau murid Hoa-San-Pai murtad, wanita iblis sombong, memang orang macam kau ini kalau tak dibikin mampus hanya akan mengotorkan dunia persilatan saja!"
Kwa Hong tidak menjawab, melainkan melengking keras dan tahu-tahu ia telah melakukan serangan serentak dengan lima buah anak panah di ujung cambuk dan dengan pedang di tangan kanannya.
Hebat sekali serangan ini karena Hek-Hwa Kui-Bo sendiri yang merupakan tokoh hebat dari Selatan sampai berseru kaget dan cepat melompat mundur, ia merasa seakan-akan sekaligus diserang oleh lima enam orang lawan!
Nenek ini maklum bahwa kepandaian Kwa Hong tak boleh dipandang ringan, maka ia tidak mau bicara lagi, cepat kedua tangannya bergerak, pedang dan sabuknya sudah menyambar-nyambar mengimbangi permainan lawan.
Hebat sekali pertempuran kali ini.
Keduanya memiliki ilmu silat yang ganas dan tak mengenal kasihan.
Baca Juga: Petualang Asmara 7
Baca Juga: Pusaka Pulau Es 3