Ceritasilat Novel Online

Pedang Wucisan 5

Eps 5 Pedang Wucisan - Chin Yung

Baca online Pedang Wucisan - Chin Yung

Cersil Pedang Wucisan - Chin Yung.

Su-to Yan mengajukan pertanyaan.

Sie An mematung ditempat, seolah-olah terkena ilmu sihir.

Su-to Yan menoleh kearah Cin Bwee, keadaan gadis inipun seperti keadaan Sie An, matanya memancarkan cahaya kosong, hampa tidak berisi.

Su-to Yan menggoyang-goyangkan tubuh kedua orang ini.

"Hei, mengapa?"

Dia berteriak.

Tidak ada jawaban, kedua orang memandang tongkat hijau dengan batu merah di ujungnya itu.

Su-to Yan menduga sesuatu yang luar biasa melekat pada tongkat itu, hati kedua lengan dibalikkan, memukul kearah benda tersebut.

"Plaakkk..."

Tongkat itu pecah dan hancur, dari dalam bumbung mencelat suatu benda itulah ular kecil.

Ular kecil dari tongkat itu menjalar keluar, berputar disekitar rumah makan hal, ini menimbulkan panik, para tamu lain dan menyingkirkan diri, Kemudian ular itu menghadapi Su-to Yan.

Su-to Yan mengeluarkan suara dari hidung, tenaga dalamnya dikerahkan, dengan ilmu Uap hijau It bok Cin-keng yang dicampur dengan cengkeraman Maut dia menjulurkan jari-jarinya, krekek, dia meremas hancur ular itu.

Bangkai ular dilempar, Baru dia memeriksa keadaan kedua kawannya.

Sie An dan Cin Bwe mengeluarkan keluhan napas lega.

"Bagaimana perasaan kalian?"

Su to Yan bertanya kepada dua orang itu.

"Hampir aku diperdayainya."

Seru Sie An.

"Aduh, kepalaku masih terasa sakit."

Berkata Cin Bwee.

"Sudah kubereskan tongkat sihir tadi,"

Berkata Su-to Yan.

"Beruntung kau tidak kena tenungan mereka."

Berkata Sie An.

"Bila tidak, celakalah kita bertiga."

"Mari kita melanjutkan perjalanan,"

Berkata Su-to Yan.

Mengajak kedua kawannya, dia meninggalkan rumah makan itu.

Mereka menuju ke luar kota, tiba-tiba dari samping pintu muncul seorang tosu berpakaian merah.

Memandang Su-to Yan bertiga, tosu itu berkata.

"Siapa diantara kalian yang bernama Su-to Yan?"

"Aku."

Su-to Yan menampilkan diri.

"Tidak seharusnya kau merusak tongkat tenung kami."

Berkata tosu itu penuh penyesalan. Cin Bwee berteriak.

"Tosu bangsat! Ternyata kau yang mempermainkan kami!"

Tangannya terayun, memukul kearah tosu berjubah merah itu.

"Ha, ha..."

Tosu itu tertawa, Dia sudah siap sedia, tangannya menaburkan sesuatu, membalikkan badan dan melarikan diri.

Gagallah serangan Cin Bwee tadi.

Disaat yang sama, benda yang ditabur oleh sitosu berkembang biak, warnanya hitam pekat, bertaburan kearah tiga orang.

Su-to Yan bergeram, mengeluarkan bentakan, tangannya didorong kedepan, hut, hut hut, dengan gerakan iblis Sakti Menahan Gelombang Pasang dia menyampingkan benda bubuk hitam itu.

Asap hitam menubruk pohon.

Cesss.

Pohon yang berdaun hijau segera menjadi layu, tangkainya menunduk kebawah, daun-daunnya berguguran jatuh, berubah menjadi kuning?

Rusak terkena racun jahat Tidak lama kemudian, pohon itupun tumbang, roboh dengan suara yang menggelegar.

Su-to Yan, Sie An dan Cin Bwee lari menghindari diri.

Tosu berbaju merah melesat jauh.

Terdengar suara tertawanya yang mengejek ketiga jago kita.

Su-to Yan membentak keras.

"Jangan lari !"

Dia mengejar cepat, Diikuti oleh Sie An dan Cin Bwee. Cin Bwee tertinggal di belakang, dia berteriak.

"Su-to Yan..."

Si pemuda menghentikan pengejarannya bersama-sama dengan Sie An, mereka menghampiri sigadis.

"Kita sedang berhadapan dengan tukang-tukang sihir."

Berkata Cin Bwee.

"Kita harus berhati-hati."

Sie An dan Su-to Yun menyetujui pendapat itu, sudah selayaknya bagi mereka untuk berhati-hati.

Entah golongan sesat dari mana yang sedang sirik kepada ilmu kepandaian Su-to Yan.

Mereka melakukan perjalanan sambil bercakap-cakap, dengan bertiga, tentu mereka lebih mudah untuk menghadapi musuh kuat.

Menjelang sore harinya, mereka berada disuatu tempat yang agak sepi.

Tiba-tiba muncul seorang anak kecil berbaju merah memberi hormat kepada Su-to Yan bertiga seraya berkata kepada mereka.

"Paman Tenung kami mengundang tuan Su-to Yan."

Su-to Yan memperhatikan anak kecil itu, dia bertanya.

"Siapakah paman Tenung kalian?"

"Tuan bersedia menerima undangannya?"

Anak kecil berbaju merah pandai bicara, suaranya empuk dan merdu.

"Baik."

Berkata Su-to Yan.

"Segera ajak kita bertiga,"

Anak kecil itu membuka jalan, mengajak ketiga tamunya, Dia memasuki jalan yang berliku-liku, semakin lama semakin sepi. Cin Bwee menaruh curiga, dia berteriak.

"Tunggu dulu !"

Anak kecil berbaju merah itu tidak menghentikan larinya, dia menggoyang pantat semakin cepat lari ngiprit.

Su-to Yan dan Sie An mengejar maju.

Mereka kehilangan jejak anak kecil itu, Timbul halimun biru, menutupi pemandangan mata, terjadi sedikit keganjilan yang membingungkan semua orang.

"Su-to Yan, Sie An dan Cin Bwee terpisah?"

Tiba-tiba terdengarlah satu suara perlahan yang memanggil-manggilnya.

"Su-to Yan...., ..Su-to Yan..."

Suara itu begitu menarik, seolah-olah hendak membetot sukma si pemuda, Su-to Yan berusaha mempertahankan imannya, dia berkutet, melawan suara panggilan tadi.

"Su-to Yan..."

Panggil lagi suara itu.

"Mengapa kau tidak mau datang?"

Suaranya semakin menarik, penuh gairah panggilan tersebut.

Su-to Yan masih berusaha mempertahankan dirinya, Dia menekan kemauan yang hendak mengikuti panggilan suara itu, semakin lama, gejolak hati itu semakin keras, dia harus memberi tambahan tenaga, baru dapat menekannya.

"Ha, ha ... Su-to Yan pengecut."

Berkata suara itu.

"Mengapa tidak berani datang ketempatku ?"

Su-to Yan menggeser kakinya, dan perasaan itu segera dapat ditekan, dia menarik pulang langkah yang sudah digerakkan itu.

"Su-to Yan ... Su-to Yan ..."

Suara itu semakin gencar memanggil.

Betapa kuatpun tenaga panggilan suara orang itu, dia tidak dapat menggugurkan hati Su-to Yan.

Sipemuda dapat mempertahankan dirinya dari godaan.

Terjadi perang adu iman kekuatan!

Kini muncul bayangan khayalan, dengan wajah-wajah yang menyeramkan mencoba menerkam Su-to Yan.

Hati sipemuda tergerak, cepat-cepat dia mengerahkan ilmu Uap Hijau It-bok Cin-khie, sekujur badannya dilindungi oleh kekuatan itu, matanya bersinar terang.

Lenyaplah semua bayangan-bayangan tadi, kabut yang meluluhkan suasanapun turut sirna.

Keadaan dapat dijernihkan.

Dikala Su-to Yan memandang dan memperhatikan kedudukan dirinya.

Dia terkejut sekali hampir dia terjun kedasar jurang yang curam.

Dia menoleh kesamping, lagi lagi dikejutkan oleh pemandangan lain.

Sie An dan Cin Bwee berdiri kaku, mata mereka memandang lurus kedepan, Dan dihadapan kedua orang itu, duduk seorang kakek kecil berpakaian merah.

Su-to Yan membentak, tubuhnya meleset dan menyerang orang tua kecil berpakaian meraih.

"Ha, ha, ha ..."

Orang tua kecil itu tertawa, Tubuhnya melejit, menyingkirkan diri dari serangan Su-to Yan.

Su-to Yan mempergencar serangannya, langsung mengejar orang tua kecil itu.

Semakin lama, pertempuran itu semakin hebat, orang tua berbaju merah membuka mulutnya, dan menyemburkan tawa tajam yang berbentuk pedang, meluncur kearah Su-to Yan.

Ting.,., Su-to Yan menangkis serangan itu, Dia terkejut, orang tua kecil berbaju merah pandai ilmu Pedang Terbang, semacam hawa tenaga dalam yang sangat ampuh.

Bagi orang yang tidak kenal ilmu ini tentunya menyebut ilmu gaib, ilmu pedang terbang yang keluar dari mulut dan tenggorokan.

Sebenarnya, kekuatan itu ada, yang tidak ada ialah pedang terbangnya, Dia merupakan kekuatan yang hebat saja.

Orang itu mengundurkan diri.

Su-to Yan menghampiri kedua kawannya Cin Bwee dan Sie An yang masih mematung, tentunya mereka mendapat totokan jalan darah.

Berusaha menghidupkan jalan darah yang ditotok mati itu, Su-to Yan tidak berhasil membangunkan kedua kawannya.

"Ha. ha..."

Orang tua kecil yang berbaju merah tertawa.

"Percuma kau mencapekan diri, Mereka telah kena ilmu Tahanan Bathinku."

Setelah berusaha lagi beberapa waktu, Su-to Yan masih tidak berhasil menyadarkan kedua kawannya.

Betul-betul Sie An dan Cin Bwee terkena Tahanan Bathin.

Keadaannya seperti patung membatu.

Su-to Yan menghadapi musuhnya.

"Siapa kau?"

Dia membentak "Mengapa mengekang kebebasan kedua kawanku ?"

"Aku bernama Hui In Khek."

Berkata orang tua itu.

"Bergelar Paman Tenung."

"Aaaa... Kau yang bernama paman Tenung Hui In Khek ?"

"He, he, he..."

"Lekas bebaskan kedua kawanku!"

Bentak Su-to Yan.

"Akan kubebaskan mereka, setelah mendapat janji persekutuanmu."

Berkata orang tua kecil berbaju merah Hui In Khek.

"Bebaskan segera."

"Tunggu dulu."

"Apa lagi..."

"Aku harus mendapat janji taklukmu."

"Ha, ha, ha..."

Su-to Yan tertawa.

"Kau kira, aku ini manusia apa?"

"Bila kubebaskan kedua kawanmu, dengan mudah, kalian dapat melarikan diri..."

"Jangan kau terlalu memandang rendah pada Su-to Yan."

Berkata Sipemuda.

"Aku tidak melarikan diri."

"Baik,"

Paman Tenung Hui In Khek ber kemak-kemik beberapa saat, tiba-tiba dia memekik panjang. Enam gadis berpakaian putih dan enam gadis berpakaian merah menampilkan diri, mereka mengurung Su-to Yan.

"Aku segera membebaskan kedua kawanmu. menyingkir."

Berkata Paman Tenung Hui In Khek.

Lekas kau Dengan digiring oleh enam pasang muda-mudi itu, Su-to Yan meninggalkan Cin Bwee dan Sie An.

Paman Tenung Hui In Khek mendekati kedua korbannya, dengan kode-kode tertentu dia membebaskan kedua orang itu.

Cin Bwee dan Sie An menggerak-gerakkan kedua tangan dan kedua kaki mereka, Ada sesuatu yang tidak beres mengganggu kebebasannya.

Mendapat kesempatan bergerak, melihat adanya seorang kakek berbaju merah di tempat itu, segera mereka menduga itu adalah musuhnya, Hut!

Sie An memukul Hui In Khek.

"Ha, ha...."

Paman Tenung Hui In Khek mengundurkan diri, dia bertahan dari jauh. Mulutnya dibuka dan "wing"

Menyemburkan tenaga tidak terlihat, itulah ilmu Pedang Terbang Kie-kiam. juga termasuk salah satu dari sepuluh macam ilmu silat peninggalan jaman purbakala.

"Kalian bukan tandinganku"

Berkata Hui In Khek. Hampir Sie An terjengkang. Dari jauh Su-to Yan berteriak.

"Saudara Sie An, Cin Bwee, lekas kalian pergi dari tempat itu."

Hui In Khek juga berkata.

"Lekas menyingkir Su-to Yan hendak menggempur barisan tin Napsu Dan Birahi. Kalian tidak akan sanggup mempertahankan diri dari permainan ini, pergilah ketempat jauh."

Sie An dan Cin Bwee saling pandang, melongok kearah Su-to Yan, mereka masih bingung, apa yang harus dikerjakan ? Su-to Yan mengempos tenaga dan berkata kepada mereka.

"Kalian boleh menunggu aku dibawah gunung, Setelah menyelesaikan persengketaan dengannya, Aku akan kesana."

Cin Bwee dan Sie An berjalan pergi, menjauhi tempat itu. Enam pasang muda-mudi mengurung Su-to Yan. berpakaian putih dan merah Paman Tenung Hun ln Khek membuka suara.

"Su-to Yan, mereka adalah kekuatan Napsu Dan Birahi, Nah, gunakanlah imanmu baik-baik!"

"Lekaslah mulai,"

Su-to Yan menantang, Hut In Khek memberi komando, menggerakkan permainan tin Napsu Dan Birahi.

Enam pasang muda-mudi itu mengeluarkan alat milik mereka, mengalun lagu-lagu asmara yang melemaskan otot-otot manusia, mendengungkan irama-irama yang dapat membangkitkan birahi.

Su-to Yan mendapat ujian terberat.

Dia duduk bersila.

menggunakan ilmu Uap Hijau It bok Cin khie, mengembangkan ketekunan imannya, Betapa ricuhpun suara-suara lagu itu, tidak sehelaipun yang masuk kedalam telinganya.

Paman Tenung Hui In Khek membentak dua kali, itulah perintah untuk menambah kekuatannya, masih saja tidak berhasil.

Seribu pasukanpun yang menyerang pemuda itu, didalam keadaan duduk kuat, tidak mungkin mereka dapat menggerakkan iman Su-to Yan.

Hui In Khek menghela napas, tiba-tiba dia bertepuk tangan, Disana bertambah enam orang berkerudung, langsung menerjunkan dirinya kepusat lapangan.

Lagu irama tidur berubah cepat, kini membawakan irama pertempuran-pertempuran, disertai oleh enam tenaga baru itu, mereka mempermainkan Su-to Yan.

Enam orang berkerudung yang menerjunkan diri itu membawa pedang, dengan senjata tajam, mereka menghujam tusukantusukan kepada lawannya.

Su-to Yan memiliki tenaga It bok Cin khie, dia dapat mempertahankan dirinya dengan baik sekali.

Satu jam kemudian, Su-to Yan kehabisan tenaga, terus menerus menggunakan ilmu It bok Cin khie, ilmu ini sangat memberatkan dirinya.

Kini dia mengeluarkan seruling Tong-hay, membawakan lagu Han san Lok bwe.

Dengan lagu ini, dia dapat mempertahan diri.

Delapan belas orang mengurung Su-to Yan, mereka dikoordinator oleh Paman Tenung Hui In Khek.

Marilah kita melihat keadaan Cin Bwe dibawah gunung, Bersamasama Sie An, dia menunggu kedatangan Su-to Yan.

Su-to Yan masih mempertahan diri diatas gunung, hal ini menimbulkan kegelisahan sigadis, berjalan bolak-balik dengan hati kesal.

Hari menjadi malam.

Masih juga belum melihat munculnya kekasih itu.

Cin Bwee hendak mendaki gunung lagi, keburu dicegat oleh Sie An.

"Kita harus bersabar,"

Katanya.

"Tidak guna melibatkan diri dengan mereka, Bukan tadi, tidak dapat menolong saudara Su-to Yan, jiwa kitapun dapat terancam. Cin Bwee dapat menerima, Mereka menunggu lagi. Tiba-tiba, seekor burung raksasa terbang melayang diatas kepala mereka, meluncur ke-arah puncak gunung. Cin Bwee dan Sie An tidak berita memperhatikan adanya burung raksasa itu. Sebentar kemudian, burung itu balik lagi "wing", melewati kedua orang, hampir menjatuhkannya. Sie An menjadi marah, dia menyahut Pedang, dan ditusukkan ke arah burung. Koek,...Koek.... Burung itu terbang pergi, pedang Sie An dijatuhkan. Seolah-olah mengejek, mentertawakan ketidak gunanya orang kate itu. Sie An naik darah, masa dia diejek oleh seekor burung hina? Tubuhnya melesat hendak menangkap. Burung itu lebih bertingkah lagi, memekik beberapa kali, baru dia berkaok-kaok lagi. Terbangnya begitu rendah, seolah olah berkata dapatkah kau menangkap diriku. Larinya begitu lambat, seolah-olah mengejek kelemahan lawannya. Sie An semakin uring-uringan, menubruk beberapa kali, dia tidak berhasil, menusuk dengan pedang, semakin gatal, Betapa cepat gerakan Sie An, tetapi burung itu mempunyai gerakan yang lebih cepat. Demikianlah, si Pendekar Bayangan dipermainkan oleh burung raksasa itu. Semakin lama semakin jauh, meninggalkan Cin Bwee seorang diri. Hati Cin Bwee terhibur oleh adanya atraksi itu. Hampir dia tertawa, bila bukan mengingat keadaan Su-to Yan yang belum bebas dari jurang bahaya. Tiba-tiba ada pikiran mengekang dirinya, burung itu begitu besar, sangat mengerti syarat orang, tentunya bukan burung biasa, siapakah yang memeliharanya? Mengapa memancing Sie An meninggalkan tempat itu. Seorang wanita berpakaian menghampiri Cin Bwee. hijau berjalan datang, dia Si gadis terkejut, mementangkan kedua matanya, Cin Bwee memperhatikan warna berbaju hijau itu.

"Kau bernama Cin Bwee?"

Wanita berbaju hijau mengajukan pertanyaan.

"Betul."

Cin Bwee menganggukkan kepala.

"Bagaimana panggilan cianpwee yang mulia?"

"Aku bernama Khang Bun."

Berkata wanita itu.

"Kau belum kenal?"

Hati Cin Bwee tergerak, segera dia mengajukan pertanyaan.

"Belum lama ada seekor burung raksasa terbang ditempat ini, adakah cianpwee melihatnya ?"

"Itulah burungku, namanya si Besi,"

Berkata wanita berbaju hijau Khong Bun.

"Sengaja kuperintahkan dia untuk memancing pergi kawanmu itu, ada beberapa patah kata penting yang hendak kuutarakan kepadamu, kau tidak marah kepadaku?"

Cin Bwee menggeleng-gelengkan kepalanya, wanita ini begitu cantik, sangat menawan, kata-katanya juga halus, menawan hati, siapakah yang bisa marah kepadanya? Khong Bun berkata lagi.

"Diatas gunung, kulihat seorang anak muda sedang menempur delapan belas orang si Tukang Tenung Hui In Khek, dia hebat sekali sehingga ilmu NapSu dan Berahi Hui In Khek tidak dapat berbuat sesuatu apapun, kukira kau kenal kepada pemuda itu, bukan?"

"Dia adalah kawanku."

Berkata Cin Bwee "Namanya Su-to Yan."

"Dia lihay sekali."

Khong Bun memberikan pujian.

"Dapat cianpwee menolongnya dari kesulitan?"

Memohon Cin Bwee. Si gadis belum tahu, apa maksud tujuan wanita ini, dia mudah masuk perangkap.

"Barisan tin Napsu dan Birahi sulit dipecahkan."

Berkata Khong Bun.

"Tapi kau yang turun tangan, kukira mudah melepaskan kurungan itu."

"Aaaa..."

Cin Bwee berteriak girang.

"Bagaimanakah caranya untuk menolong, Su-to Yan?"

Wanita baju hijau Khong Bun berkata.

"Orang yang terkurung didalam barisan tim Napsu dan Birahi harus mempunyai iman yang teguh dan kuat, Dilarang keras memikirkan urusan lain. Agaknya, kawanmu itu melupakan adanya unsur penting ini. Ada sesuatu yang dipikirkannya, tentunya keselamatanmu dia ragu tentang keadaan dirimu, dia takut kau menderita suatu hal, karena itu, pikirannya agak terganggu kurang memusatkan kepada pertarungan lagu dan iman. Untuk menolongnya keluar dari daerah berbahaya adalah sangat mudah, Kau segera menampilkan dirimu, maka dia akan berhati besar, lenyaplah semua rasa kuatirnya, dengan demikian, tenaganya dapat bertambah. Delapan belas orang Hui In Khek itu bukan tandingannya."

Cin Bwee masih ragu-ragu.

"Dia yang menyuruh aku meninggalkannya."

Sigadis memberikan keterangan balik "kukira dia tidak menguatirkan keselamatanku."

"Kau salah."

Berkata Khong Bun.

"Dia membikin perhitungan yang meleset. Dia hanya dapat mengalahkan musuh dengan kenyataannya tidaklah demikian, Dia bertempur terlalu lama. Dia takut kau menderita cidera lain, karena itu, pikirannya tidak dapat dipusatkan."

Cin Bwee belum dapat mengambil menyangkut mati hidupnya sang kekasih. putusan, urusan itu Wanita berbaju hijau yang mengaku bernama Khong Bun berkata lagi.

"lnilah nasihat yang dapat kuberikan, Aku masih ada urusan, Sampai disini dahulu pertemuan kita. Selamat tinggal."

Tubuhnya meleset, dan lenyap didalam keadaan malam gelap.

Cin Bwee menunggu beberapa waktu lagi, gejolak hatinya berkecamuk, pikirannya sangat kalut.

Dia hendak menolong Su-to Yan dan dia belum dapat menemukan cara yang lebih baik kecuali mengikuti petunjuk yang wanita hijau tadi berikan.

Cin Bwee mengempos tenaga, tubuhnya melesat, menuju kearah gunung.

Tekadnya untuk menolong Su-to Yan sangat bulat, Gerakannya begitu cepat, Sebentar kemudian, dia sudah berada di depan arena pertempuran lagi.

Suara pertama yang memasuki telinga Cin Bwee adalah irama peperangan besar, kian lama kian mengecil, akhirnya seperti peperangan di tempat tidur, matanya terbelalak, 6 pasang muda mudi yang berdendang dengan lagu-lagu Napsu Dan Birahi itu mengelilingi Su-to Yan, mata Cin Bwee sudah dikaburkan.

Seolah-olah menonton pesta dansa gila, kedua belas muda-mudi itu melepaskan pakaian-pakaian mereka.

Tentu saja bukan didalam arti yang sebenarnya, ini terjadi didalam khayalan pikiran gadis kita, Cin Bwee telah masuk kedalam perangkap wanita berbaju hijau Khong Bun.

"Aaaa...."

Cin Bwee mengeluarkan jeritan tertahan.

Enam orang berpakaian hitam yang mengenakan kerudung itu bergerak, dengan pedang mereka, sedang mengadakan siksaansiksaan yang luar biasa, inipun hanya khayalan Cin Bwee juga.

Sigadis menjerit semakin keras, Su-to Yan sedang menekunkan diri, tiba-tiba terdengar suara jeritan seorang gadis, itulah suara yang tidak asing lagi, suara Cin Bwee yang dikenal baik.

Hatinya tergerak, dia membuka mata, hendak melihat apa yang telah terjadi ?

Sret, sret,....Enam batang pedang membobolkan pertahanan Itbok Cin-khie, memasuki daerah kulit Su-to Yan.

Su-to Yan melintangkan serulingnya, trang trang trang....

Dia hanya dapat menyingkirkan lima pedang, dan pedang keenam tidak dapat dielakkan, ceesss.,.

mencelakai pundak kanannya.

"Aaaa..."

Tubuhnya melejit tinggi, dia berusaha menghindari serangan berikutnya. Dan "Aaaa.."

Lagi, tubuh Su-to Yan tak dapat menemukan pegangan, langsung terjun kedasar jurang.

"Aaaa..."

Cin Bwee berteriak keras, dia sadar dari bayangan khayalannya.

Hui In Khek menghentikan gerakannya.

Dia berhasil menjatuhkan Su-to Yan.

Cin Bwee melongok kearah jurang, sangat dalam, begitu gelap, begitu curam, mana mungkin kekasihnya dapat memperpanjang hidup jiwanya?

Mengapa hal ini dapat terjadi ?

Siapa wanita berbaju hijau yang mengaku bernama Khong Bun itu?

Dia tidak pernah menjumpainya, juga tak kenal.Tidak ada alasan untuk mencelakai orang, inilah yang membingungkan Cin Bwee.

Wanita baju hijau adalah jago wanita dari pulau Tong-hay.

Dia adalah istri ayah angkat Su-to Yan.

Diantara Sam-kie Ju-su In Hang dan Khong Bun terjadi perselisihan karena itu timbul drama tadi.

Paman Tenung Hui ln Khek hendak menangkap Su-to Yan, kini dia tidak berhasil, menunggu lagi beberapa waktu, mengingat dalamnya jurang itu, dengan mengajak semua anak buahnya, dia meninggalkan tempat itu.

Dipuncak itu hanya Cin Bwee seorang, Tiba-tiba mata sigadis tertumbuk pada sebuah seruling, inilah seruling yang Su-to Yan pergunakan.

Su-to Yan menggunakan seruling Tong hay untuk menambah kekuatan imannya.

Munculnya Cin Bwee mengganggu jalan keteguhan, seruling itu jatuh tertinggal Cin Bwee memungut seruling itu, dia heran seruling ini adalah barang kembarnya seruling In-thian Cek-hong, sangat mirip sekali.

Bila bukan karena jatuhnya Su-to Yan kedasar jurang, tentu Cin Bwee tertarik, Disaat itu, keselamatan Su-to Yan berada diatas segala-galanya, dia mengitari puncak, dan mencari jenasah si pemuda.

Melihat Su-to Yan terjatuh dari atas tebing ?

Mari kita mengikuti pengalaman Su-to Yan.

Dia terjatuh dengan keadaan pingsan, beberapa lama kemudian, baru dia dapat membuka kedua matanya, dirinya berada didalam pangkuan seorang pemuda berpakaian hijau, orang ini sedang membawa jago kita memasuki sebuah gua, meletakkannya diatas pembaringan.

Pemuda berbaju hijau memandang Su-to Yan.

"Kau sudah bangun?"

Dia bertanya.

"Dimana aku berada?"

Su-to Yan masih bingung. Bagaimana dia tidak mati ? "Aku adalah suheng Hui In Khek."

Berkata orang itu, dia menghela napas.

"Aaaa...."

Su-to Yan mengeluarkan jeritan tertahan.

"Jangan takut, aku tidak sependapat dengan suteku."

Berkata pemuda itu.

Su-to Yan mengerutkan alis, Hui In Khek adalah seorang tua yang berumur diatas empat puluhan, sedangkan orang ini begitu muda, di duga belum cukup tiga puluh tahun, bagaimana menyebut dirinya sebagai suheng si Paman Tenung?

Pemuda berbaju hijau dapat menduga isi hati Su-to Yan, dengan tertawa dia berkata.

"Jangan kau tidak percaya, Hui In Khek itu besar didalam pangkuanku. Dia betul-betul Suteku,"

Mengetahui bahwa dirinya ditolong oleh orang ini, Su-to Yan bangkit berdiri memberi hormat dan mengucapkan terima kasihnya.

"Terima kasih atas pertolongan cianpwee "

"Tidak kusangka."

Berkata pemuda berbaju hijau itu.

"Pertandingan tadi telah kusaksikan dengan baik, seharusnya kau tidak kalah, Maka kutahui, kau dapat dikalahkan oleh Hui In Khek."

Su-to Yan memperhatikan wajahnya pemuda ini, begitu muda, betulkah keterangan-keterangan itu?

Dia ragu-ragu.

Pemuda yang mengaku menjadi suheng Hui ln Khek tertawa, tiba-tiba saja dia menekukkan diri, terjadi perubahan yang menyolok mata, kulit-kulitnya berkeriput dan peot semua, Berdiri dihadapan adalah seorang tua berbaju hijau, umurnya diperkirakan delapan puluh tahun.

Betul-betul turunan keluarga tenung, suheng Hui In Khek inipun begitu liehay menyusutkan umurnya sehingga sampai puluhan tahun, Kakek jelmaan pemuda berbaju hijau itu tertawa lagi.

"Kini kau tidak ragu-ragu lagi. Namaku Thio Sek Bun."

Perubahan wajah adalah karena berhasil meyakinkan semacam ilmu muda, Dan aku berhasil seperti apa yang kau sudah saksikan, umurku delapan puluh satu tahun, tapi tidak ada orang yang percaya, mereka menyebut ku sebagai Pemuda Tenung."

Su-to Yan menyaksikan suatu keajaiban dunia, si Kakek Tenung Thio Sek Bun memang bukan manusia biasa.

Begitu pandai mengubah dirinya tanpa disadari oleh orang ?

Thio Sek Bun sudah mengembalikan wajahnya, kewajah seorang anak muda.

Dia berkata lagi.

"Hut ln Khek kubesarkan sehingga saat ini, dia telah melanggar peraturan. Bila aku yang menangkapnya, menghukum mati, inilah yang memberatkanku."

Su-to Yan bungkam. Dia sedang memikirkan keselamatan Cin Bwee diatas puncak. Kakek Tenung Thio Sek Bun mengajukan pertanyaan.

"Aku heran, bagaimana kau bisa dikalahkan oleh Hui In Khek?"

"Aku menguatirkan keselamatan seorang kawanku, secara tibatiba saja, dia muncul di tempat itu."

"Kudengar kau adalah anak angkat Sam-kie Ju-su Ie Hong dari Tong hay. Apakah ini benar?"

Bertanya si pemuda Tenung Thio Sek Bun. Su-to Yan menganggukkan kepalanya.

"Ada hubungan apa dengan ayah angkatku itu?"

Dia bertanya.

"Hubungan yang sangat erat"

Berkata Thio Sek Bun.

"Sebelum kau jatuh dari tebing, kulihat Khong Bun menunggang rajawali besinya kearah sana, inilah yang menjadi biang kekacauan."

"Khong Bun?"

Su-to Yan belum pernah dengar nama ini.

"Kau tidak kenal kepada Khong Bun?"

Bertanya Thio Sek Bun heran.

"Dia adalah istri ayah angkatmu. Dengan sendirinya, kau harus memanggil ibu."

"Ibu angkatku yang hendak mencelakai aku?"

"Apakah Sam-kie Ju-Su In Hong belum bercerita ? Dia sudah bentrok keras dengan sang istri, Maka panggilan ibu itu belum tentu terlaksana."

Terlaksana atau tidaknya memanggil Khong Bun sebagai ibu, hal itu tidak memusingkan Su-to Yan.

"Hm, kudengar kau adalah cucu dari Kiat-hay Kiam-khek Su-to Pek Eng?"

Bertanya lagi Thio Sek Hun.

"Betul, Boanpwe adalah cucu dari beliau."

"Haaa, sudah tahukah bahwa ilmu pedang Maya Nada kakekmu itu sudah jatuh ke-dalam tangan istana Khong-kiok-kiong?"

"Jatuh ke dalam tangan Khong -kiok kiong?"

Su to Yan mengkerutkan keningnya.

Kini dia mengerti mengapa kitab Maya Nada yang didapat dari Ie Han Eng adalah kitab kosong.

Ternyata kitab yang asli sudah terjatuh kedalam tangan istana Khong-kiokkiong.

"Belum tahu?"

Bertanya Thio Sek Bun.

"Bilakah kejadian itu terjadi?"

Bertanya Su-to Yan.

"Kakekmu tidak pernah bercerita?"

"Belum."

"Haaa, kakekmu mendapat kitab Maya Nada dari seorang asing yang berpakaian belang, Dia pelarian Istana Khong-kiok-kiong."

Terakhir diketahui oleh mereka, tentu saja kakekmu tidak sanggup mempertahankan diri, entah dengan cara bagaimana, kitab itu lenyap mendadak, maka kakek dan ayahnya mengejar sampai di istana belang Khong-kiok-kiong."

"Kemudian?"

"Mana kutahu, Diceritakan orang, bahwa kakek dan ayahmu itu mati disana."

"Aku hendak menuntut balas."

"Betul."

Bertepuk Thio Sie Bun.

"Sudah menjadi suatu kewajiban untuk menuntut balas dendam orang tua. Tapi ilmu kepandaianmu belum cukup kuat untuk menandingi mereka. Kau harus berlatih diri lagi."

"Melatih diri?"

"Tentu saja. Aku bersedia membantu usahamu, Ada beberapa macam ilmu kepandaian yang dapat kuberikan kepadamu, Maukah kau menerima hadiah perkenalanku ini?"

"Atas kebaikan hati Cianpwee, dengan ini Su-to Yan mengucapkan banyak terima kasih."

Sipemuda menolak pemberian hadiah tanpa syarat dari si Kakek Muda Tukang Tenung Thio Sek Bun.

"Ha, ha, ha. , . ."

Thio Sek Bun tertawa.

"Kau memang bukan pemuda biasa, tidak mau sembarangan menerima rejeki nomplok yang di jatuhkan orang, Tapi ketahuilah Hadiahku itu bukan hadiah percuma, aku hendak meminta bantuanmu. Sebagai tanda terima kasih. Baru kuberikan hadiah ilmu silat itu."

"Persoalan apakah yang cianpwee serahkan?"

Bertanya Su-to Yan.

"Tentang suteeku Hui In Khek,"

Berkata Thio Sek Bun.

"Aku meminta bantuanmu untuk menangkapnya."

"Boanpwee kira, belum tentu boanpwee dapat menunaikan tugas itu."

Berkata Su-to Yan.

"Kau tahu, hadiah ilmu silat apa yang hendak kuberikan kepadamu?"

Su-to Yan memandang kakek tua yang masih berwajah muda.

"ilmu pedang Maya Nada dan sembilan ilmu silat peninggalan jaman purbakala."

Berkata Thio Sek Bun.

"Aaaaa..."

"Pernah dengar tentang sepuluh macam ilmu silat dari jaman purbakala?"

Su-to Yan menganggukkan kepalanya, dia pun memiliki beberapa macam dari ilmu-ilmu silat itu.

"ilmu Pedang Maya Nada adalah pertama dari kesepuluh macam ilmu silat itu,"

Kakek Muda Tukang Sihir Thio Sek Bun memberi penjelasan.

"Sudah boanpwee katakan, bahwa boanpwee belum tentu dapat mengalahkan sutee cianpwee."

Berkata Su-to Yan.

"Maka mungkin hadiah itu tidak dapat boanpwee terima."

"Dengar keteranganku,"

Berkata si Kakek Muda Tukang Tenung Thio Sek Bun.

"Tentang Manusia Super Tanpa tandingan Thian Kho Cu, dia mempunyai sepuluh anak murid, hidupnya tidak akur, karena itu sering terjadi bentrokan-bentrokan yang besar. Mereka mati semua. Lenyaplah sepuluh ilmu silat dari jaman purbakala itu, Kau hanya dapat mempelajari sedikit, tapi cukup untuk malang melintang didalam rimba persilatan, tahukah kau, bahwa sepuluh macam ilmu silat itu berada padaku?"

"Aaaaa...."

"Sebelum pertandingan yang terakhir dilakukan murid pertama Thio Kho Cu yang bernama Hoay Hoay Cu berkunjung ke tempat tinggalku, dia tidak mempunyai pegangan kuat untuk memenangkan pertandingan-pertandingan maka meninggalkan ilmunya kepadaku Keesokan harinya, murid bontot Thian Kho Cu yang bernama KongSun Put-hay juga mengunjungi aku, kukatakan tentang adanya peninggalan ilmu silat dari toa Suhengnya, dia mesem-mesem, tidak memberi komentar, kemudian melukis sepuluh macam ilmu silat purbakala itu, dengan tertawa puas, dia meninggalkan tempat kediamanku."

Su-to Yan memasang kuping dengan lebar2, matanya terbelalak, Suatu kejadian yang sulit di bayangkan betulkah Thio Sek Bun mempunyai hubungan-hubungan baik dengan murid-murid Thian Kho Cu?

berapakah umurnya anak muda yang berumur tua ini?

Akhirnya Thio Sek Bun menghela napas, dia berkata.

"Ilmu-ilmu silat jaman purbakala yang tersebar berceceran dirimba persilatan akhir-akhir ini hanya percikan dari ilmu-ilmu komplit itu. ilmu-ilmu inilah yang hendak kuhadiahkan kepadamu."

"Sekali lagi, boanpwee mengucapkan banyak terima kasih."

Berkata Su-to Yan.

"Hei, tahukah tempat kediamanku?"

Bertanya lagi Thio Sek Bun.

Su-to Yan memeriksa keadaan kelilingnya, dia tidak tahu.

Mulutnya bungkam, matanya menatap mata Kakek muda Tukang Tenung itu.

Dia hendak meminta keterangan yang lebih lengkap.

"Kau berada digunung Ngo-bie-San."

Berkata Thio Sek Bun tertawa.

"Ngo-bie-san?"

Su-to Yan bingung.

"Begitu jauh?"

"Kau telah pingsan tiga hari tiga malam."

Berkata Thio Sek Bun.

"Aaaaa...."

"Mari kuajak kau ketempat penyimpanan ilmu-ilmu silat itu."

Berkata lagi Thio Sek Bun, Badannya bergerak, meninggalkan guanya. Su-to Yan mengintil dibelakangnya. Ditengah jalan, Thio Sek Bun berkata.

"Kau tahu, hari segera menjadi malam, harus cepat sedikit."

Betul-betul dia menambah kecepatannya, melalui jalan-jalan yang sulit dilewati, mereka berpantul-pantulan disekitar gunung Ngo-bie-san.

Setengah jam kemudian, mereka tiba di suatu tempat.

Thio Sek Bun menghentikan langkahnya, dia berkata kepada Suto Yan.

"Nah, sampai disini saja aku mengantarmu, disana ada sebuah gua, didalam guha itu kau dapat meyakinkan ilmu silat yang kau hendaki."

Su-to Yan tidak menduga kalau Thio Sek Bun menyuruh dia pergi seorang diri.

Dikala dia menengok kearah orang itu, si Kakek muda tukang tenung sudah berjalan pergi.

Apa boleh buat, Su-to Yan meneruskan perjalanan seorang diri, memasuki lembah yang sudah ditunjuk.

Semakin lama, jalan ini semakin sempit, undak-undakan batu yang licin memberi petunjuk terakhir lembah itu menjadi buntu, sebuah gua berada disana.

Su-to Yan mendongakkan kepala dan memperhatikan gua itu.

Tepat diatas gua terdapat tulisan yang berbunyi.

"Liok Sian Tong."

Liok Sian Tong berarti gua tempat tinggal dewa hijau.

Su-to Yan belum mengerti, siapakah yang diartikan dengan dewa hijau?

Menurut keterangan si Kakek muda tukang tenung Thia Sek Bun, tempat ini adalah tempat tinggalnya, ditempat ini para murid Manusia tanpa tandingan Thian Kho Cu meninggalkan sepuluh macam ilmu silat dari jamannya.

Apakah benar kejadian seperti itu?

Thio Sek Ban kah yang menamakan dirinya sendiri sebagai Dewa Hijau?

Su-to Yan sudah memasuki guha Liok Sian Tong.

Keadaan guha agak gelap semakin lama, dia masuk, semakin dalam, keadaannya sudah biasa, tidak segelap tadi.

Dari dalam terlihat cahaya terang, maka banyak membantu usahanya untuk memasuki dan menyelidiki isi guha.

Semakin dalam, guha itu semakin indah banyak ruangan-ruangan yang terpisah.

Disalah satu ruangan yang besar, Su-to Yan dapat menyaksikan banyaknya meja dan kursi, semua terbuat daripada batu kumala, begitu mewah, disertai dengan ukiran-ukiran yang menarik, inilah barang-barang antik.

Diam-diam Su-to Yan merasa kagum kepada Thio Sek Bun.

karena Kakek muda tukang ramal itu memiliki tempat kediaman yang dapat memberi kesan baik.

Keadaan didalam guha Liok Sian Tong benar-benar menarik sekali.

Di sebelah kiri dari ruangan besar itu ada sebuah pintu setinggi manusia, menghampiri pintu, Su-to Yan memasuki lain bagian dari gua Liok Sian Tong.

Cahaya yang gemilau mencorong keluar dari ruangan ini.

Astaga !

Mata Sipemuda terbelalak, didalam ruangan ini berserakkan aneka macam batu permata, benda-benda berharga, seperti berlian, mutiara dan lain-lainnya.

-ooo0dw0ooo-

Jilid 13 RUPANYA, sinar terang yang menerangi seluruh isi guha berpusat dari ruangan ini.

Su-to Yan bukan seorang anak muda yang gila harta kekayaan, barang-barang itu tidak dapat menggugah hatinya untuk menjadi seorang.

Thio Sek Bun berkata, bahwa ditempat inilah Hoay Hoay Cu dan Kong-Sun Put-hai meninggalkan catatan ilmu silat dari jaman purbakala, dia hendak menyaksikannya.

Su-to Yan hendak memeriksa ruangan-ruangan lain.

Tiba-tiba...

Terdengar suara gemerunduk yang keras, seolah-olah gunung ambruk, berbarengan dengan terdengarnya suara itu, pintu sudah tertutup, di belakang Su-to Yan bertambah seorang berwajah hijau, berkulit hijau dan berambut hijau.

Dengan sinar matanya yang memancarkan warna kehijauhijauan, orang itu memandang sipemuda, Su-to Yan menetes keringat dingin, belum pernah dia menemukan orang seperti apa yang kini dihadapinya, serba hijau, menakutkan, menyeramkan dan membuat suatu kesan bahwa dirinya berada dilain dunia, sedang berhadapan dengan makhluk halus yang berada didalam liang kubur.

Orang tua serba hijau menatap Su-to Yan, begitu tajam, terus menerus, tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya.

Su-to Yan sedang berpikir-pikir, siapakah orang serba hijau ini?

Mengapa Thio Sek Bun tidak menceritakannya.

"Hm "

Orang serba hijau itu mengeluarkan suara dari hidung.

Seluruh bangsal-bangsal peredaran darah Su-to Yan dirasakan hampir membeku, dia menyedot napasnya dalam-dalam, kemudian dengan memberanikan diri membentak.

"Siapa kau?"

Orang tua serba hijau tak menjawab pertanyaan Su-to Yan, dia mengangkat tangannya yang kurus dan berwarna hijau itu, berjulur ke arah sipemuda.

Su-to Yan mundur kaget, itulah ilmu cengkeraman Maut Thianmo Nie-hun-ciauw.

Salah dari sepuluh macam ilmu silat peninggalan jaman purba kala.

Ilmu cengkeraman maut yang dilontarkan oleh orang tua serba hijau itu, lebih hebat dari pada apa yang Su-to Yan miliki, hampir sipemuda menjadi korban keganasan, Untung Su-to Yan gesit, dia lolos dari sela-sela kekosongan cengkeraman luar biasa tadi.

Orang tua hijau mengirim cengkeramannya yang kedua.

Su-to Yan menancap kuat sepasang kakinya, dengan ilmu Kabut Hijau It-bok Cin-khie, dia menutup semua pertahanan dirinya, dengan ilmu iblis Bersilat, dia menahan datangnya serangan itu.

Ces...Sret....Jari jemari orang tua serba hijau itu menembus pertahanan basis It-bok Cin-khie, menyingkirkan serangan iblis Bersilat, merobek baju Su-to Yan.

"Siuuut.."

Su-to Yan mencelat tinggi, dia mengeluarkan keringat dingin, ilmu cengkeraman Mautnya tidak mungkin menandingi lawan yang hebat itu.

ilmu It-bok Cin-khie tidak dapat membendung serangannya, ilmu iblis Bersilat tidak dapat menahan kemajuannya, apa lagi yang harus digunakan olehnya?

Sret...

Dia mengeluarkan pedang di punggung, tanpa banyak pikir, mengayun pedang tadi, dengan jurus Ouw-in Hian-jit, menutup serangan si orang tua serba hijau itu.

Cahaya sinar pedang yang berkilauan berhasil menahan kemauannya orang tua serba hijau didalam goa Liok Sian Tong, Hanya beberapa kali kedipan mata, orang tua itu sudah dapat cara untuk menghadapi pedang Su-to Yan, berulang kali lagi menyerang dengan gencar.

Su-to Yan terdesak mundur.

Orang tua serba hijau mendesak semakin hebat, kini kakinya bergerak aneh sekali, dari jarak yang sangat tidak mungkin, dari posisi yang sulit, dia memasuki basis pertahanan Su-to Yan, hek, mengenai iga si pemuda.

Su-to Yan terjengkang, ilmu Kaki Kepiting Mo-liong-tui orang tua aneh itu jauh berbeda dari Kaki Kepiting si Tosu tukang Sado Giok Hie.

Menurut perhitungannya, tendangan tadi dapat mematahkan tulang iganya, kenyataan tidak, hanya gejolak darahnya yang berkecamuk hebat, tentunya orang tua serba hijau itu sedang menderita luka, maka tenaganya tidak dapat dikerahkan penuh.

Orang tua serba hijau bernama Gang-lam-hong, kedudukannya dapat mengimbangi sepuluh murid Thian Kho Cu, Dia berhasil menendang anak muda itu, tapi dari gelagat yang disaksikan, Su-to Yan tidak menderita luka hebat, inilah yang mengherankan dirinya, Darimana pula datangnya musuh yang sekuat itu?

Su-to Yan berhasil membenarkan posisi kedudukannya, tidak urung, dia memuntahkan darah segar.

Untuk mengimbangi luka dalam itu, dia diam tidak bergerak dengan pedang tetap ditangan, dia mengatur peredaran darahnya.

Orang tua serba hijau Gang Lam Hong hendak menjatuhkan Suto Yan, dia siap bergerak lagi.

Disaat ini, tiba-tiba terdengar suara dengungan suara yang seperti tawon.

"Gang Lam Hong . , , Gang Lam Hong.... Gang Lam Hong ..."

Itulah ilmu panggilan Sukma, atau diberi nama juga Tahanan Bathin dari para tukang tenung.

Gang Lam Hong membelalakkan matanya yang hijau, cepat-cepat duduk bersila, dia harus melawan adanya kekuatan gaib yang hendak di tekankan ke dada dirinya.

Su-to Yan tidak tahu, apa yang telah menimpa orang tua serba hijau itu.

Yang jelas, dia pernah merasakan Tahanan Bathin dan serangan Lagu Asmara Birahi dari si Paman Tenung Hui In Khek, cara-cara itu sangat hapal sekali.

Dari keadaan yang dia saksikan, orang tua serba hijau sedang mengadakan perlawanan untuk ilmu tenung itu.

Gang Lam Hong dapat mendengar dengungan suara yang memanggil-manggil dirinya, bila imannya kurang kuat, tentu tersedot pergi, itu semacam ilmu gaib.

Dia menyesalkan diri sendiri, adanya orang diluar gua tidak diketahui sama sekali, inilah kelengahannya.

Orang tua serba hijau Gang Lam Hong berkutet dengan ilmu tenung, dia tidak berhasil menekan panggilan suara itu, semakin keras, tekanannya semakin berat, kini badan Gang-Lam hong gemetaran, mukanya pucat laksana mayat, lengkaplah semua warna hijau itu, mulutnya menggigil dingin, gemerutuk keras, dari cela cela bibirnya mulai mengeluarkan darah.

Su-to Yan menjadi tidak tega, dia hendak mengeluarkan Tong-hay, dengan lagu Hansan Liok-Bwee, tentu lebih membantu usaha menenangkan pikiran orang tua itu, tapi Tong hay sudah jatuh didekat gunung Bu san, dia tidak mengeluarkannya.

seruling mudah seruling berhasil Keadaan Gang Lam Hong semakin lemah, ilmu tenung hanya dapat dilawan dengan kekuatan bathin, kelengahan orang tua serba hijau itu yang memusatkan pikirannya kepada Su-to Yan memberi kesempatan baik kepada musuh, maka untuk mengimbangi dan membalikkan keadaan yang buruk itu, tenaga dan kekuatan yang dikerahkan terlalu berat.

Su-to Yan selesai menamatkan perputaran darahnya, cepat cepat maju memegang Gang Lam Hong.

Gang Lam Hong membuka mata, satu aliran kuat menjamin jantungnya, karena itu, imannya kokoh kembali, mulutnya dibuka dan mengeluarkan suara pekikan panjang.

Inilah perlawan untuk menghadapi ilmu tenung.

Blegurr ...

Satu suara gemuruh menggoyangkan seluruh isi gua Liok Sian Tong, Gang Lam Hong melepaskan diri dari bantuan Su-to Yan.

Si pemuda hendak menerjang keluar, tapi orang tua itu berkata.

"Tidak perlu dilihat, jalan keluar guha Liok Sian Tong sudah ditutup mati, Thio Sek Bun tentu menderita luka hebat. Dan.... Kau juga terkurung didalam guha ini. Tidak bisa ke luar lagi."

Su-to Yan berkerut alis, siapakah yang menempati gua Liok Sian Tong? Mungkinkah bukan tempat tinggal si Kakek muda tukang tenung Thio Sek Bun? Orang tua serba hijau Gang Lam Hong bertanya.

"Bocah, apa maksudmu datang ke gua ini?"

Su-to Yan belum berhasil memecahkan duduk persoalan yang lebih terang, dia lupa memberikan jawaban itu.

Sifat Gang Lam Hong sangat aneh, sebelum sipemuda mendapat kesempatan untuk menjawab pertanyaannya, dia sudah menyambung dengan lain urusan, katanya.

"Kau tentu bermaksud hendak memiliki barang-barang pusaka didalam guha ini, bukan?"

Su-to Yan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia masih belum membuka mulut. Gang Lam Hong bertanya terus.

"Lalu, apa maksudmu?"

"Terlebih dahulu, boanpwee ingin tahu, siapakah menempati guha ini?"

Bertanya Su-to Yan lantang. yang Orang tua itu membelalakkan matanya.

"Seperti apa yang kau sudah lihat"

Dia membentak "Siapakah yang tinggal disini?"

Su-to Yan mementang mulutnya lebar-lebar.

"Kau tidak percaya?"

Gang Lam Hong menunjukkan giginya, juga berwarna hijau, dimasa muda Gang Lam Hong, dia pernah memakan buah hijau maka sekujur tubuhnya, dari rambut, kulit sehingga gigi dan kuku, semua berwarna hijau tua, sungguh menakutkan sekali.

Sudah menjadi kenyataan bahkan Su-to Yan tidak takut kepada orang tua serba hijau itu, si pemuda berkata.

"Bukan tidak percaya, Tapi Thia Sek Bun mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan kenyataan."

"Inilah."

Berkata orang tua serba hijau Gang Lam Hang.

"Kau terlalu percaya kepada orang."

"Boleh Boanpwee mengetahui nama cianpwee yang mulia?"

Bertanya Su-to Yan.

"Namaku Gang Lam Hong"

Berkata orang tua serba hijau didalam guha Liok Siun Tong.

"Pernah dengar tentang namaku?"

Su-to Yan-mengangkat pundak.

"Tentu saja kau tidak tahu,"

Berkata Gang Lam Hong.

"Umurku genap seratus satu tahun, Tiga atau empat generasi lebih tinggi dari darimu."

Su-to Yan bungkam, dia harus percaya keterangan Gang Lam Hong.

"Aku heran,"

Berkata lagi Gang Lam Hong.

"Disaat-saat yang sama penting, kau mau menolong diriku, mengapa?"

"Tidak ada alasan untuk menjerumuskan orang kejurang kematian,"

Berkata Su-to Yan tertawa.

"Kukira kau hendak mencuri sesuatu di dalam guhaku"

Berkata orang tua serba hijau Gang Lam Hong.

"Cianpwee terlalu banyak curiga."

Berkata Su-to Yan tawar, Keadaan sipemuda seperti ikan didalam tempurung, tidak ada jalan untuk membebaskan dirinya dari gua Liok San Tong.

"Sudah wajib mencurigai seseorang."

Berkata Gang Lam Hong.

"Kau belum tahu, selama hidupku, beberapa kali ditipu oleh orang orang yang kupercayakan. Bagaimana boleh tidak bersiap siaga kepada penipuan-penipuan gaya baru?"

"Boanpwee dicurigai?"

Bertanya Su-to Yan.

"Mengapa tidak?"

Berkata Gang Lam Hong terus terang.

"Cianpwee telah menutup mati pintu guha Liok Sian Tong, boanpwee tidak mempunyai jalan lain untuk keluar dari tempat ini, apa lagi yang cianpwee curigakan?"

Gang Lang Hong tertawa berkakakan.

"Ha, ha., Kau tidak takut mati?"

"Setiap orang akan mati."

Berkata Su-to Yan gagah.

"Boanpwee pun tidak dapat mengelakkan takdir ini. Cepat lambatnya kematian tergantung dikemudian hari, Bilamana betul-betul pintu gua sudah ditutup, boanpwee mempasrahkan diri."

"Pintu guha Liok Sian Tong sudah kututup mati, kecuali menggerakan sepuluh batalion tentara kerajaan untuk mengadakan pembongkaran, mungkin kita dapat tertolong, bila tidak jangan harap mengimpikan untuk melihat matahari."

"Boanpwee harapkan kerelaan cianpwee untuk melenyapkan jurang kecurigaan."

Berkata Su-to Yan.

"Ha, ha..."

Gang Lam Hong tertawa.

"Apa maksud kedatanganmu ditempat ini, kukira ada baiknya berterus terang."

Su-to Yan menceritakan pengalamannya, bagaimana dia dijatuhkan oleh si paman Tenung Hut In Khek.

bagaimana dia bertemu dengan Kakek Muda tukang tenung Thio Sok Bun, bagaimana manusia itu ngelindur tentang sesuatu yang bukanbukan, dengan terakhir dia terpancing memasuki guha Liok Sian Tong.

"Ha, ha, ha, ha..."

Gang Lam Hong tertawa lagi.

"Begitu pandai Thio Sek Bun mengarang cerita! Dikatakan dia kenal kepada Ho Hay Cu? Berapakah umurnya tukang tenung itu? Semua cerita yang ditaburkan kepadamu bukan isapan jempol, bedanya, lakon yang memegang peranan bukan dia, Thio Sek Bun, itulah pengalaman pengalaman yang ku alami. Dimasa Ho Hay Cu dan Kong-sun Puthay jaya, Thio Sek Bun belum dilahirkan dari rahim kandungannya. Semua pengalaman-pengalamanku telah diceritakan olehnya. Aku yang di jadikan roh penting olehnya."

Ternyata guha Liok Sian Tong adalah guha si Dewa Hijau Gang Lam Hong, dikala terjadi perang saudara diantara murid-murid Super Manusia Thian Kho Cu, ilmu silat mereka pernah digariskan didalam guha ini, Thio Sek Bun mengincar lama, takut kepada Gang Lam Hong.

Beberapa kali bertempur, demikianlah muslihat, hendak memperalat Su-to Yan.

menggunakan tipu Dimisalkan Su-to Yan bersifat jahat, mengeroyok Thio Sek Bun dari dalam dan luar guha, tentu orang tua serba hijau itu dapat celaka.

Kenyataan tidak demikian, dikala Gang Lam Hong mendapat tekanan berat dari Thio Sek Bun, Su-to Yan membantu orang tua serba hijau itu.

"Kau tertarik oleh bujuk rayunya Thio Sek Bun?"

Membentak Gang Lam Hong galak, Cara bicaranya orang tua serba hijau ini tidak menyenangkan Su-to Yan, berhubung generasi Si Dewa Hijau masih berada diatas dirinya, Su-to Yan menelan segala itu.

Sedapat mungkin, dia mempertahankan kehormatannya sebagai seorang dari tingkatan yang lebih muda.

Wajib menghormati kepada seseorang yang lebih tua dan kaum wanita pepatah ini tidak dapat dilupakan.

Cara sopan santun yang diperlihat oleh Su-to Yan menyenangkan Gang Lam Hong, seperti apa yang telah kita gambarkan.

Wajah, rambut, kulit dan gigi Gang Lam Hong mempunyai warna lain dan apa yang seharusnya, warna hijau, tentu sangat menakutkan.

Ditambah dua buah caling kecilnya, manakala dia membuka mulut dan membentak-bentak, tentu saja lebih menakutkan.

Semua orang takut kepadanya, maka dia menetap didalam guha Liok Siun Tong membikin pengasingan, hanya Su-to Yan seorang yang tidak takut, ini menyenangkannya.

"Hei,"

Gang Lam Hong berkata.

"Belum pernah aku gembira seperti hari ini. Mengapa kau memperlihatkan wajah asam? Hayo, ketawa, Kau seorang pemuda yang tidak takut mati, bukan? Mengapa harus banyak pikiran? Hayo, kau ketawa, Ha, ha, ha, ha "

Tiba-tiba Gang Lam Hong terbatuk, wajah hijaunya berubah menjadi putih sangat pucat. Cepat-cepat Su-to Yan berkata.

"Luka Cianpwee masih berat, Tidak boleh banyak menggunakan tenaga besar, juga tidak baik tertawa seperti ini."

Si Dewa Hijau peninggalan jaman purbakala Gang Lam Hong menghela napas, dia berkata lemah.

"Dengan ilmu Air mata Burung Rajawali mengalun diudara, aku berhasil mengalahkan Thio Sek Bun, Tapi ilmu Tahanan bathin si tukang tenung memang hebat, aku juga menderita luka, adanya luka lama memberatkan luka ini."

Gang Lam Hong duduk lemah. Sekali lagi dia menarik napas. Su-to Yan membiarkan orang tua itu memelihara diri, dia tidak mengganggu.

"Bocah,"

Berkata lagi Gang Lam Hong.

"Kau telah diperalat oleh Thio Sek Bun. Dia sendiri tak berani menempur aku, maka menggunakan dirimu, kau berkepandaian tinggi, tak mudah mengalahkan mu. Disaat itu dia menggunakan ilmu Tahanan Bathin, hampir saja aku celaka, Kini dia bebas, luka yang diderita dapat disembuhkannya mudah. Tapi kita berdua. Akh, kita berdua akan mati di tempat ini."

"Mungkinkah tak ada jalan keluar?"

Bertanya Su-to Yan.

"Sudah kukatakan,"

Berkata Gang Lam Hong.

"Pintu keluar sudah tertutup, kecuali di bongkar oleh sepuluh batalyon pasukan tentara kerajaan yang bertenaga kuat, mungkinkah hal ini dapat terjadi?"

"Thio Sek Bun hendak memiliki ilmu pedang Maya Nada dan sembilan macam ilmu peninggalan jaman purbakala lainnya."

Su to Yan memberi keterangan "Dia pasti kembali."

"Kita tak dapat mempertahankan diri sampai selama itu."

Berkata Gang Lam Hong.

"Akan kita usahakan."

Berkata Su-to Yan penuh pegangan hidup. Gang Lam Hong menggeleng-gelengkan kepala.

"Eh,"

Dia berkata.

"Ada baiknya kau mempelajari ilmu-ilmu yang ada di dalam gua ini. Sekali lagi aku bermain dengan api, mempertaruhkan diri, biar bagaimana harus kuberi kesempatan menguji kejujuran hatimu, pergilah kau mempelajari ilmu-ilmu yang ada."

Su-to Yan menggelengkan kepala.

"Tujuan boanpwee hendak membikin perhitungan dengan istana Belang Khong-kiok-kiong. Golongan inilah yang mencuri ilmu pedang Maya Nada, orang-orang inilah yang membunuh kakek dan ayah boanpwee."

Dia ceritakan tentang apa yang dia dengar dari pendekar Rajawali Mas Kie Eng tentang cerita istana Khong-kiok-kiong, ayah dan kakeknya. Gang Lam Hong tersenyum.

"Kitab Maya Nada yang pernah jatuh ke dalam tangan kakekmu itu adalah kitab palsu."

Su-to Yan membelalakkan mata, Keterangan ini agak sulit untuk diterima olehnya, Seperti apa yang telah kita ketahui, kitab Maya Nada pemberian Ie Han Eng adalah kitab kosong, hanya kitab duplikat dari kitab Maya Nada yang asli, Dan dikatakan oleh Kie Eng, kitab Maya Nada yang asli jatuh ke-dalam tangan istana Belang Khong-kiok-kiong, dalih apalagi yang digunakan oleh Gang Lam Hong, maka ia berani mengatakan bahwa kitab yang jatuh ke dalam tangan istana Belang Khong-kiok-kiong itu juga se

Jilid kitab yang palsu? Dewa hijau Gang Lam Hong dapat melihat keadaan wajah sipemuda yang tidak mempercayai keterangannya, dia memberi penjelasan yang lebih terperinci katanya.

"Hubunganku dengan Kong sun Put-hay bukan hubungan biasa, Maka aku tahu kitab Maya nada yang berada didalam sakunya itu adalah kitab palsu, Kitab itu untuk mengelabui mata orang, pelajaran ilmu pedang maya nada yang asli adalah ukiran-ukiran yang tergores di dalam guhaku ini. Nanti-nanti, setelah kau menyaksikan goresan pedang yang Kong-sun Put-hay tinggalkan didalam guha-guha ini, maka kau dapat melihat benar tidaknya dari ceritera ku tadi."

Inilah rahasia baru, Su-to Yan masih bingung, Dimisalkan kitab maya nada yang didapat Sang kakek berupa kitab palsu, mengapa istana Khong-kiok-kiong tidak tahu?

Mengapa Sang kakek dan Sang ayah mengejar ke istana belang itu?

Jawabannya hanya satu, kakek dan ayah-nya, beserta juga dengan istana Khong Kiok-kiong, semua orang tidak tahu akan adanya pemalsuan kitab itu.

Mungkinkah hal ini dapat terjadi?

Dewa hijau Gang Lam Hong berkata lagi.

"Liok Sian Tong adalah panggilan untuk guha guha yang dibangun olehku, sebagian dari guha-guha ini memang sudah ada, guha alam namanya, setelah kuperbaiki dengan tenaga penuh, guha ini aman untuk tempat kediamanku, hanya Thiam Kho Cu dan sepuluh muridnya yang tahu, Merekapun jarang mengunjungi tempat ini, Entah bagaimana Thio Sek Bun dapat tahu tentang adanya goresan ilmu pedang Kong Sun Put-hay, tapi kukira, dia tidak tahu, bahwa disini, terdapat sepuluh guha ilmu silat masingmasing tercatat sepuluh macam ilmu peninggalan jaman purbakala, ilmu pedang maya nada adalah salah satu diantaranya."

Orang tua serba hijau itu menceritakan tentang pengalaman pengalaman hidupnya.

Tentang hubungannya dengan Super Manusia Tanpa Tandingan Thian Kho Cu, dan tentang adanya peninggalan sepuluh macam ilmu purbakala didalam sepuluh gua silatnya.

Su-to Yan merasa tertarik, dia juga menceritakan pengalamannya.

Mereka adalah senasib bila tidak ada bantuan dari luar, tentu mati terkubur ditempat itu.

Kekuatiran ancaman maut ini dapat dielakkan, bilamana Su-to Yan dapat menyembuhkan luka atau menambah kekuatan Gang Lam Hong.

Atau Gang Lam Hong dapat memberi kekuatannya kepada si pemuda.

Suatu saat Su-to Yan mengajukan pertanyaan.

"Cianpwee, boleh boanpwee mengajukan pertanyaan?"

"Coba kau, katakan."

"Dimisalkan pintu guha tidak tertutup mati, bagaimana perlakuan cianpwee atas kelancangan yang boanpwee telah dilakukan?"

"Itu waktu, mungkin aku membunuh orang."

"Kemudian, bagaimana dengan si tukang tenung Thio Sek Bun?"

"Sudah berulang kali kuberi pengampunan, tapi dia bandel keras kepala, untuk menghadapi manusia sebangsa Thio Sek Bun, cara yang terbaik adalah membunuhnya."

"Dengan ilmu kepandaian yang cianpwee miliki, tidak mungkinkah untuk memberi tekanan kepada dirinya? Memaksa dia mengubah ketamakannya kepada benda pusaka?"

"Sifat seseorang itu sudah dilahirkan sedari kecil, Mana mungkin dirubah?"

"Juga tidak dapat ditekan?"

Gang Lam Hong menyengir dia berkata.

"Penipuan-penipuan yang mereka jatuhkan kepadaku terlalu banyak, Aku tidak percaya kepada orang lagi ?"

"Termasuk boanpwee?"

Bertanya Su-to Yan tertawa.

"lnilah pertaruhanku yang terakhir,"

Berkata Gang Lam Hong.

"Coba kau datang ke dekatku,"

Su-to Yan menghampiri orang tua serba hijau itu.

"Kau tidak takut kubunuh mati?"

"Seseorang yang hendak menggunakan cara licik menipu orang mempunyai ciri-ciri tersendiri sebenarnya tidak sulit untuk mengelakkan adanya penipuan itu, seperti Thio Sek Bun yang pernah bercerita tentang adanya peninggalan sepuluh macam ilmu peninggalan jaman purbakala, bila boanpwee menggunakan sedikit otak tentu tidak sampai terjadi kejadian ini."

Gang Lam Hong berkata lagi, suaranya mulai menjadi lemah.

"Jangan lupa, di dalam gua ini terdapat sepuluh gua kecil, disanalah goresan-goresan ilmu peninggalan jaman purbakala itu ditinggalkan, baik-baiklah pelajari ilmu-ilmu itu, itulah catatancatatan yang Thio Sek Bun hendak miliki, Thio Sek Bun datang beberapa kali, dia kerja percuma. Tentu saja harapan si Tukang Tenung jahat itu menjadi pendek, Ha ha ha...."

Gang Lam Hong sangat puas, dia tertawa lama, dia mentertawakan Thio Sek Bun yang salah set. Dan betapapun, ilmu itu tidak dihadiahkan kepada si Kakek Muda Tukang Tenung Thio Sek Bun.

"Cianpwee..."

Tiba-tiba... Suara Gang Lam Hong terhenti, begitupun napasnya, karena sayap jantung yang sudah berhenti bekerja, semua gerak orang tua serba hijau itu tidak bekerja lagi. Membarengi suara Ik"

Yang tersendat keras, wajah hijaunya lenyap

Jilid 13 halaman 31 s/d 34 hilang -yang berhasil meyakinkannya,"

Dibawah catatan-catatan itu tertanda tangan Kong-sun Put-Hay.

Su-to Yan telah mempelajari sembilan macam pelajaran ilmu purbakala, kini mempelajari yang ke sepuluhnya, dia tidak dapat memahami semua ilmu kepandaian itu, dia hanya menelannya mentah-mentah, hanya sebagian yang dapat dipelajari.

Terlebihlebih ilmu Pedang Maya-Nada, bagaimanapun dia tidak mengerti.

Disebelah goresan kata-kata peninggalan Kong-suu Put Hay terlihat gambar-gambar orang, wajah orang-orang itu sangat mirip sekali, diperkirakan diantara empat puluhan, berbaju panjang dan tampaknya sangat angkuh sekali, dengan kerlingan mata yang didongakkan keatas, gambar orang ini memandang rendah segala galanya, begitu hidup sekali gambar itu.

Tentunya gambar Kong-sun Put Hay.

Gambar gambar itu berjumlah 9 macam gerakkan pedang.

Su-to Yan mulai menyaksikan ilmu pedang Maya Nada.

Tentu saja, tidak mudah memahami ilmu pedang hebat itu.

ilmu pedang Maya Nada adalah ilmu pedang kelas berat, Sampaipun tokoh-tokoh berilmu tinggi belum tentu dapat memainkan ilmu itu, apalagi Su-to Yan, seorang anak muda yang belum lama menerjunkan diri kedalam rimba persilatan.

Kecerdasan otak Su-to Yan melebihi manusia biasa, toh tidak mungkin ia dapat mempelajari ilmu pedang itu secepat mungkin.

Berulang kali dimainkan olehnya, berulang kali pula ia mencocokan dengan apa yang ada, masih juga belum dapat menjatuhkan atau memainkannya dengan sempurna.

Disini letak keistimewaan pedang Maya Nada, seolah-olah terdiri dari beberapa jurus yang terputus-putus, dan ilmu pedang itu harus dijadikan satu, sambung menyambung dan mempunyai hubungan yang berantai.

Su-to Yan pening kepala, dia masih berusaha menyambung rangkaian ilmu pedang itu.

Dia tidak berhasil.

Pemuda kita duduk bersila, menenangkan pikirannya, mencari ilham untuk memecahkan selubung yang sedang dihadapi.

Ia berusaha, berusaha mendapatkan apa yang sudah berada didepan mata.

Tiba-tiba Su-to Yan lompat bangun, tangannya menari-nari mengikuti gerakan itu, sejurus demi sejurus, perlahan demi perlahan, ia memainkannya kembali.

Dari jurus pertama sehingga jurus-jurus yang terakhir.

Mulai terdengar auman desiran pedang Su-to Yan berhasil menemukan cara untuk memainkan ilmu pedang Maya Nada, itu waktu seluruh ruangan terdengar dengungan-dengungan santer sekali, itulah kehebatan ilmu Pedang Maya Nada.

Beberapa kali si pemuda mengulang kembali permainannya.

Memang hebat, dengungan-dengungan itu seperti badai selatan, bagai ombak Laut disamudra, seperti gunung yang memuntahkan lahar berapinya.

Beberapa lama kemudian, Su to Yan puas pada hasil yang telah dicapai, ia menarik tangan dan menyelesaikan pelahan itu.

Letih badan merangsang seluruh sendi-sendi tulang Su-to Yan, ia menenangkan pikiran, apapun tak dipikirkan kembali, maka tidak lama, ia tertidur dalam guha catatan ilmu pedang Maya Nada itu.

Ilmu pedang maya nada, ilmu pedang peninggalan Manusia super Tanpa tandingan Thian Kho Cu telah didapatkan oleh Su-to Yan.

Segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Tuhan, ada Su-to Yan memasuki goa Liok Sian Tong itu adalah hasil buah tipu muslihat Sikakek muda tukang tenung Thio Sek Bun.

Kini ia berhasil mendapatkan ilmu yang tiada tandingannya.

Ilmu pedang maya nada, ilmu yang dibuat rebutan dari dahulu oleh tokoh-tokoh silat kelas satu yang hendak mendapatkan ilmu pedang itu.

Hari demi hari, minggu demi minggu, tiga bulan telah dilewatkan begitu saja.

Berada didalam guha Liok-Sian-tong sangat gelap, tidak ada sinar matahari yang menembus.

Su-to Yan tidak tahu, bahwa dirinya telah menjadi seorang tokoh terkuat didalam persilatan, ia juga tidak tahu, bahwa ia telah melewatkan waktu tiga bulan didalam guha itu, Umur Su-to Yan masih muda, dia berhak menuntut penghidupan yang lebih panjang.

Dalam hari hari itu, ia berusaha meninggalkan gua Liok Sian-tong.

mencari jalan keluar, Gua Liok sian-tong, adalah rangkaian dari guha-guha alam yang dikombinasikan dengan guha-guha ciptaan si Kakek serba hijau Gang Lam Hong, kecuali meyakinkan ilmu-ilmu yang ada ditempat itu, Su-to Yan masih berusaha mencari jalan keluar.

Dia kurang yakin, bahwa guha itu tidak ada jalan keluar.

Su-to Yan mengetuk-ngetuk batu yang ada pada gua itu, dia hendak memberi satu keyakinan bahwa salah satu dari gua itu mempunyai dinding yang lebih tipis, dengan harapan menjebol dinding itu dan kembali kedunia yang ramai.

Satu hari usahanya tidak sia-sia, dari suara ketukan batu yang dapat dibedakan olehnya dia menemukan sesuatu tempat yang agak tipis dari pada lain-lainnya, dengan tenaga dalam yang dimiliki, kiranya dia harus berusaha menjebolkan batu itu.

Sekali lagi Su-to Yan mengulang pelajaran pelajaran yang ada, kemudian ia menyembah dan sembahyang didepan kuburan Gang Lam Hong.

Hingga penghormatannya yang terakhir, ia harus meninggalkan tanah yang mengebumikan kakek serba hijau itu.

Su-to Yan menuju ketempat dinding batu yang dianggapnya sangat lemah, seluruh tenaganya dikerahkan, sehingga kekk..., dia memukul hancur batu dinding guha itu, maka terdengar menggema suara gemuruh yang luar biasa.

Gua Liok-san-tong pun roboh, rata dengan tanah, tubuh Su-to Yan meleset keluar dan berhasil meninggalkan tempat itu.

Su-to Yan berhasil keluar dari gua Liok sian-tong, ketika ia melongok kebawah seluruh guha itu sudah rata dengan tanah.

Suara gemuruh dari runtuhan batu masih terdengar kadangkadang perlahan, kadang-kadang keras, dan musnahlah semua catatan peninggalan Manusia Super tanpa tandingan Thian Kho Cu.

Sinar matahari menyilaukan mata Su-to Yan.

untuk beberapa saat si pemuda memeramkan matanya, perlahan-lahan membukanya kembali, dia mendapatkan dirinya berada disebuah lereng gunung yang banyak ditumbuhi pohon-pohonan.

Su-to Yan meninggalkan guha Liok-sian-tong yang sudah hancur, dia meneruskan perjalanannya.

Tiada jalan yang tiada gangguan, tiada usaha yang tiada rintangan.

Belum berapa lama Su-to Yan berjalan, seseorang telah meluncur datang kearahnya, orang ini bukan orang asing, dia adalah murid pertama dari Pek-ie Kauwcu Bong Bong-Cu, si pelajar Tua Kong-yat Ciu-jit.

Su-to Yan berhadap-hadapan dengan Kong yat Ciu-jit.

Kong-yat Ciu-jit langsung memandang pemuda kita, setelah memperhatikannya sekian saat, iapun tertawa.

"Ha ha ... ."

Suara Kong-yat Ciu-jit menggema suasana.

"Kau telah menghilang tiga bulan, kami semua telah menyangka bahwa kau sudah tiada lagi, tidak disangka disini kita berjumpa kembali."

Demikian sapa pelajar tua itu!

Su-to Yan mengerutkan alisnya, dia berada didalam guha Lioksia-tong meyakinkan ilmu silat, dan ia tidak tahu bahwa jumlah hari hari yang telah dilewatkan olehnya telah memakan waktu berbulanbulan.

Terdengar suara Kong-yat Ciu-jit yang menegur pemuda kita.

"Hei, kau Su-to Yan, bukan?"

Su-to Yan menganggukkan kepala.

"Betul. Aku masih hidup."

Suaranya sangat dalam sekali.

"He ..."

Kong-yat Ciu-jit berdengus.

"Diluar dugaan kalian bukan?"

Su-to Yan tertawa sinis. Sepatah demi sepatah, Kong yat Ciu-jit berkata.

"Su-to Yan, tidak tahukah kan, bahwa orang-orang dari istana belang Kong-kiok-kiong telah memasuki Tionggoan, maksud mereka adalah menemukan dirimu?"

Su-to Yan mengangkat pundak.

Reaksinya sangat tawar sekali, sudah berada didalam perhitungannya bahwa ia akan bentrok dengan orang-orang dari istana belang itu, lambat atau cepat, tidak mungkin dapat dielakan lagi, maka apa yang dikatakan oleh si pelajar tua yang sangat cerdik itu tidak mengejutkan.

Dua orang saling pandang lagi, dan Su-to Yan tertawa-tawa, berkatalah ia kepada murid pertama Bong Bong Cu itu.

"Dan bagaimana dengan urusanmu?"

Kong-yat Ciu-jit menengadah kepala, tertawa dua kali kemudian dia memberikan jawaban.

"Kukira kau terluka, selama tiga bulan ini tentunya kau sudah istirahat disatu tempat yang tersembunyi? Dan tadi Sam Kie Ju-Su In Hong ubek-ubekan mencarimu hal ini yang tidak kau ketahui."

Sam-kie Ju-Su In Hong adalah ayah angkat Su-to Yan yang berasal dan menjadi jago pulau Tong hay...

Sedari Su-to Yan jatuh dari tebing tinggi berhasil diselamatkan oleh si Tukang Tenung Hui In Khek, semua orang tidak pernah mendengar ceritanya lagi, tentu saja dianggap sudah mati.

Bukan suatu yang mustahil, bila mana ayah angkatnya mencaricari dia.

Su-to Yan memandang Kong-yat Ciu-jit, melihat pelajar tua itu memancarkan sinar matanya yang pasti, seolah-olah hendak menembus diri pemuda kita.

Su-to Yan memberi hormat, dengan sungguh-sungguh ia berkata.

"Atas berita-berita yang kau sampaikan kepadaku, disini aku Suto Yan mengucapkan banyak terima kasih."

Mata Khong-yat Ciu-jit berkilat-kilat, ia berkata.

"Su-to Yan, tahukah kau, bahwa ilmu pedang Maya Nada yang ada padamu itu adalah ilmu pedang palsu, Siau-lim-pay tidak mau ambil tahu lagi, kau boleh legakan hatimu."

Pikiran Su-to Yan sedang menimbang-nimbang, dengan sifatnya Kong-yat Ciu-jit yang jarang membuka mulut, hari ini telah banyak memberi tahu apa yang belum diketahui olehnya, apa maksud yang sebenarnya?

Adakah udang dibalik batu?

Su-to Yan belum menemukan jawaban.

Kong-yat Ciu-jit tersenyum kecil, katanya lagi.

"Hari ini pertemuan kita adalah suatu jodoh, dengan ilmu kepandaianmu aku tidak percaya, bahwa aku tidak dapat memenangkanmu, Beruntung kau tidak mati jatuh dari tebing jurang itu, kita masih mempunyai kesempatan untuk bertanding lagi, bagaimana penilaianmu?"

Su-to Yan menganggukkan kepala, Tawaran bertanding dari sang lawan tepat mengenai lubuk hari pemuda kita.

Inilah suatu kesempatan untuk memperaktekkan ilmu-ilmu yang didapat dari dalam guna Liok-sian-tong, ilmu yang diyakinkannya selama tiga bulan itu, khususnya ilmu pedang Maya Nada.

"Baiklah"

Berkata kepandaian."

Su-to Yan gagah.

"Mari kita menjajal Si pelajar tua Kong-yat Ciu-jit telah mengeluarkan pedang, lebih pendek dari pedang biasa, tapi cukup hebat untuk menandingi pedang apapun juga. itulah pedang pemberian Pek ie Kauwcu Bong Bong Cu, sang guru yang mempunyai kehebatan luar biasa, tokoh kuat dari salah satu dari empat jago silat purbakala yang. mempunyai kekuatan luar biasa. Mendahului gerakkannya sang lawan, Kong yat Ciu-jit menyerang iga kanan Su-to Yan. Su-to Yan bergerak cepat, dia menyingkir kesamping. Dalam waktu yang sama Kong-yat Ciu-jit juga tertawa.

"Hebat juga ilmu Hui-eng-cap pa san dari Tong-hay biarpun sangat hebat, tapi ilmu kepandaian ini hanya dapat bertahan, bukan menyerang, Rasakanlah seranganku."

Betul-betul Kong-yat Ciu-jit menyerang lagi.

Ilmu Hui-eng-cap-pa-san dari Tong-hay adalah ilmu yang dahulu Su-to Yan gunakan untuk mengalahkan Kong-yat Cui-jit, ilmu itu didapat dari ayah angkat sipemuda yang bernama Sam kie Ju-su In Hong.

Sebagai murid pertama dari seorang tokoh jaman purbakala, Kong-yat Ciu-jit pandai meneliti kesalahan sendiri dan kesalahan lawan, maka selama ini dia menekankan diri untuk memecahkan problem dari ilmu Hui eng-cap-pa-san itu, akhirnya ia berhasil, dan kini dengan ilmunya yang diduga dapat menekan ilmu Hui-eng cap pa-San, ia menempur Su-to Yan.

Kong-yat Ciu jit sudah memperdalam ilmunya, ia menyangka sudah dapat menaklukan Su to Yan.

Dan disamping itu Su-to Yan juga mendapatkan kemajuan besar, ilmu-ilmu yang didapat dalam gua Liok sian tong cukup menandingi guru si pelajar tua Kong yat Cin-jit, yang bernama Bong Bong Cu.

Dan betul-betul hal ini sudah segera terjadi.

Su-to Yan mendapat serangan, badannya bergoyang bergeser, dengan kaki kanan dimiringkan kesamping, tepat sekali menginjak posisi kematian Kong-yat Ciu jit.

Kong-yat Ciu-jit terkejut, kecepatan dan kegesitan serta ilmu yang Su-to Yan perlihatkan sungguh-sungguh diluar dugaan, posisi kedudukannya sudah disudutkan, inilah kematian, ia tidak ada jalan lain, kecuali menyerah begitu saja.

Bergerak berarti mati konyol terpukul dibawah pukulan Su-to Yan.

Jago muda kita tidak berniat untuk membunuh orang, sebenarnya, dengan mudah ia dapat mematikan si Pelajar Tua Kong-yat Ciu-jit, tapi ia tidak mau, gerakannya ditahan ditengah jalan dan menyudutkan orang itu begitu saja.

Demikian orang itu mematung.

Si Pelajar Tua Kong-yat Ciu-jit mati kutu tidak bisa bergeser, dengan demikian ia sudah menyerahkan takdirnya kepada alam.

Su-to Yan memperlihatkan senyumannya yang ramah, bajunya berkibar-kibar sesaat kemudian dia berkata.

"Dengan ilmu kepandaianmu yang seperti ini, kuanjurkan agar kau tidak banyak bertingkah."

Kong-yat Ciu-jit bungkam. Perlahan-lahan Su-to Yan menarik kembali kakinya, dan kemudian ia berkata.

"Bukan saja kau, saudara-saudara seperguruanmu dan juga gurumu, didalam keadaan seperti sekarang, kuanjurkan agar kalian jangan banyak menonjolkan diri, kalian bukan lagi tandinganku !"

Baru saja Su-to Yan berdiri tenang, telinga nya yang tajam dapat menangkap desiran-desiran angin yang datang, berbareng disaat itu terdengar suatu suara mendengung.

"Benarkah ilmu tendangan kepitingmu mendapat kemajuan yang luar biasa !"

Su-to Yan melirik kearah datangnya suara disana berdiri empat orang, yang paling depan yalah Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu, dibelakang jago purbakala itu masing-masing berdiri Hweeshio Tukang Pacul Bwee Goat dan si Tosu tukang Sado Giok Hie.

Munculnya Bong Bong Cu guru dan murid ditempat itu sangat menggirangkan Kong yat Ciu-jit dan sedia memberi hormat kepada sang guru, dan meninggalkan Su-to Yan.

Kini Su-to Yan berhadapan dengan Bong Bong Cu dan tiga muridnya.

Ia tertawa sebentar dan berkata kepada jago tua itu.

"Tidak disangka cianpwee juga sudah tiba ditempat ini !"

Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu mengibas-ngibaskan jubahnya, tertawa sebentar dan berkata.

"Aku sedang melakukan perjalanan kearah gunung Tay-soan-san, tidak kusangka disini menjumpai dirimu. Hanya tiga bulan kita berpisahan, ilmu kepandaianmu telah mencapai klimak tingkat tertinggi."

"Hanya suata kebetulan."

Su-to Yan merendah diri. Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu berkata lagi.

"Kau berhasil memenangkan murid-muridku karena itu kecongkakanmu menjadi lebih tinggi lagi, begitu tekebur kau telah mengatakan kami berempat bukan lawanmu ?"

Su-to Yan memeriksa perobahan wajah jago purbakala itu, tidak ada tanda-tanda kemarahan, untuk sementara dia masih belum mengerti apa yang masih dipikirkan oleh Bong Bong Cu, untuk membikin persiapan yang lebih sempurna, ia menyedot napasnya sedalam-dalam mungkin.

Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu mengalih matanya kesamping, memandang Giok Hie.

dan berkata kepada sang murid.

"ilmu kepandaian Kaki Kepiting Su-to Yan jauh lebih diatasmu, mengapa kau tidak meminta pelajaran darinya?"

Itulah satu perintah agar sang murid menandingi Su-to Yan. Tosu Tukang Sado Giok Hie membungkukan badan, menerima perintah-perintah itu, maju kedepan dan berkata.

"Baik!"

Ia meninggalkan gurunya dan menghadapi Su-to Yan.

Sebelum Su-to Yan memasuki guha Liok sian-tong, selisih ilmu kepandaiannya dengan Giok Hie miliki, bisa diukur dengan tangan, ilmu kekuatan Giok Hie masih cukup kuat untuk mengimbangi kekuatan pemuda kita, itulah kekuatan kita, itulah kejadian lama.

Kini, Su-to Yan sudah meninggalkan gua Liok-sian-tong, ilmu kepandaian dari si Manusia Super Tanpa Tandingan Thian Kho Cu telah diwarisi semua.

Dan karena itulah ia tidak perlu berlaku segan atau takut kepada si Tosu Tukang Sado.

Demikian pikiran Giok Hie, demikian pula ia kini merasa pasti, bahwa dirinya cukup kuat untuk menandingi Su-to Yan, karena itu tidak segan-segan ia langsung menyerang kepada si pemuda.

Su-to Yan sudah tahu apa yang dimaksud oleh lawannya itu, dengan manis ia membuat satu egosan badan meluncur kesamping sehingga menyelewengkan serangan Giok Hie ketempat kosong.

Giok Hie marah, Balik lagi dan kembali menyerang bahu Su-to Yan.

Kali ini tidak bergerak, ia mengulurkan kedua tangannya, sambil menyambuti serangan itu dengan maksud keras lawan kekerasan pula.

Akibat dari beradunya kedua kekuatan itu Giok Hie terpental kebelakang, Su-to Yan hanya bergoyang sedikit, tetapi masih berada di tempat posisi kedudukan semula.

Si Tosu tukang Sado Giok Hie membelalakan matanya, sungguh diluar dugaan bahwa apa yang dialami itu benar-benar bukan suatu impian.

Tapi ia segera sadar, maka maju lagi, kali ini melesat tinggi dari udara, menyerang kearah Su-to Yan.

Inilah gerakan yang ditunggu oleh pemuda kita, Tangannya diulurkan ke samping miring sedikit, dengan lima jari yang kuat dan kokoh ia menangkap tendangan kaki Giok Hie dari atas itu.

Hanya tiga gebrakan, Giok Hie terjungkal dibawah kekuatan Suto Yan.

Itu waktu Su-to Yan memiringkan badannya, tangannya yang menangkap kaki Giok Hie dikerahkan kuat-kuat, begitu keras sekali, dengan ilmu tipu Tay-gim-na-chiu dari Siauw-lim-pay, ia menangkap dan melempar sehingga membuat Giok Hie terjatuh ditanah.

Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu tertawa berkakakkan.

"Hahaha, ilmu kepandaianmu memang luar biasa."

Su-to Yan belum pernah mempunyai rasa takut, demikian kepada si pelajar tua Kong-yat Ciu jit, kepada Hweesio Tukang Pacul Bwee Goat, kepada Tosu tukang Sado Giok Hie dan juga guru mereka Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu.

Itu waktu Bong Bong Cu tidak mempunyai niatan untuk bertempur, sifatnya ramah sekali, penilaian ini tidak lepas dari mata Su-to Yan, dia menghadapi dengan sabar.

Secara diam-diam Bong Bong Cu sudah menimbang kembali ilmu kepandaiannya hanya didalam tiga bulan ini, ilmu kepandaian Su-to Yan sudah mencapai tingkatan yang sangat tinggi, belum tentu dia dapat mengalahkannya dengan mudah, karena itu, sebagai seorang generasi yang lebih tua, dia akan menderita malu, bilamana tidak berhasil menjatuhkan pemuda itu.

Dari pada rasa malu itu diperlihatkan di depan ketiga muridnya, ada lebih baik ia menggunakan akal lain, Dan kini ia memulai memegang peranan.

Pertama-tama, Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu tertawa gelakgelak, kemudian berkata.

"Su-to Yan, aku hendak pergi kegunung Tay-soat-san. Rencanaku ini sudah lama terkandung, tentunya kau sudah tahu, bukan?"

Su-to Yan menggoyangkan kepala, ia bersikap adem, tetapi selalu siap sedia. Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu berkata lagi.

"Aku hanya mengajak ketiga muridku ini dengan maksud meminta keadilan dari istana belang Khong-kiong-kiong."

"Kuharap saja cianpwee berhasil."

Berkata Su-to Yau acuh tak acuh. Pek Ie Kiauw Bong Bong Cu memuji kepada sikap Su-to Yan yang sangat tenang, Lebih baik menggunakan tenaga Su-to Yan daripada memusuhi jago muda itu, maka ia berkata.

"Su-to Yan, maukah kau membantu usahaku ?"

Jawaban yang didapat berada diluar dugaan Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu, setelah melihat si pemuda tertawa sinis itu, entah karena tidak tahan menahan perasaan gelinya, dia tertawa terbahak-bahak, lalu berkata.

"Pek-ie Kauwcu,", katanya.

"Seumur hidup ku belum pernah diperintah orang, mana mau aku menjadi pembantumu."

"Tapi, kau juga bermusuhan dengan golongan istana belang Khong-kiok-kiong."

Membujuk lagi Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu. Suto Yan menganggukkan kepala.

"Betul,"

Katanya.

"Tapi itu diluar garis dengan urusanmu."

Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu memperlihatkan senyumnya yang sinis, kemudian berkata.

"Mungkinkah kau tidak tahu, bahwa ilmu pedang Maya Nada yang asli telah jatuh ke dalam istana belang Khong-kiok-kiong?"

"Aku tahu."

Jawaban Su-to Yan sangat singkat.

Ternyata, adanya kitab palsu tentang ilmu pedang Maya Nada ditangan Ie Han Eng bukan suatu rahasia lagi, Kitab ilmu pedang Maya Nada yang asli sudah keluar dari lembah Hui-in.

Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu tidak berhasil menarik tenaga Su-to Yan.

"Baik,"

Ia berkata.

"Bantuanmu dapat mempercepat usahaku, tapi tidak begitu penting sekali, siapakah yang dapat menandingi ilmu kepandaianku dewasa ini ?"

Setelah itu, dengan mengajak ketiga muridnya Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu meninggalkan Su-to Yan.

Su-to Yan tertawa geli, ia tidak takut kepada Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu, ini berarti dia sudah mempunyai rencana untuk dapat mengalahkan jago purbakala itu.

Pek-ie Kauwcu Bong Bongcu adalah salah satu dari empat jago purbakala yang masih hidup sehingga masa kini.

Seperti apa yang kita ketahui empat jago silat purbakala adalah si Pendekar Rajawali EmaS Kie Eng.

Ahli waris Gua Kematian Pek Tong Hie, si Tabuh Maut Wie Biauw, dan terakhir Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu.

Sebagai seorang jago muda yang tidak ingin menonjolkan atau mempamerkan kepandaiannya Su-to Yan tidak senang kepada kancah peperangan atau pertempuran, dia membiarkan Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu mengajak ketiga muridnya pergi begitu saja.

Su-to Yan melakukan perjalanan seorang diri, pikirannya terkenang kepada dua gadis yang paling dekat dengannya, itulah Ie Han Eng dan Cin Bwee.

Entah bagaimana dengan Ie Han Eng ?

Dan bagaimana dengan Cin Bwee?

Didaerah yang seperti itu, telinga Su-to Yan yang tajam dapat menangkap suara yang sangat dingin.

"Ie Han Eng lenyap tanpa bekas, Cin Bwee sudah kembali ke gunung Kun-lun."

Itulah jawaban apa yang dipikirkan oleh jago muda kita.

Reaksinya sangat cepat sekali, Su-to Yan segera balik, mengambil sikap bersiap-siap untuk menghadapi orang itu, entah siapa orang yang mengetahui pikiran didalam benak hatinya ?

Seseorang sedang berdiri tenang bersender pada pohon besar, dengan sinar matanya yang kejam menatap Su-to Yan, itulah si Kakek muda tukang tenung Thio Sek Bun.

Mengenali adanya musuh itu, sepasang mata Su-to Yan memancarkan api, teringat kembali kematian si Kakek serba hijau Gang Lam Hong, semua itu disebabkan permainan tangan Thio Sek Bun.

Lima jari kanan Su-to Yan memegang pedang, siap melakukan untuk membunuh orang itu.

Letak posisi Thio Sek Bun cukup jauh, dengan sepasang sihir matanya yang ditatapkan seperti itu, ia tidak perlu takut kepada Suto Yan, walau sipemuda memandang dirinya seperti hanya dengan sedikit guna-guna, ia sudah cukup merobohkannya.

Su-to Yan juga enggan kepada ilmu gaib si Kakek muda tukang tenung itu, dia belum menemukan cara bagaimana untuk menghadapinya.

Selalu ia bersiap siaga.

-ooo0dw0ooo-

Jilid 14 DEMIKIAN kedua orang itu saling pandang, seorang ahli pedang dunia Kang-ouw, seorang dari golongan yang pandai ilmu hitam.

Tangan Su-to Yan yang memegang pedang mengeluarkan keringat, ia semakin tak berani lengah.

Thio Sek Bun juga tak mempunyai pegangan kuat, sedikit banyak dia harus takut kepada Su-to Yan, bilamana ia tidak berhasil menekan bathin pemuda itu, kematian tentu berada di pihaknya.

Bilamana Thio Sek Bun dapat menduga isi hati Su-to Yan yang sedang memikirkan Cin Bwee dan Ie Han Eng, hal itu disebabkan dari lamunan-lamunan sipemuda dan jalan-jalan si pemuda yang tak seimbang, Kini lengan tangan Su-to Yan yang memegang pedang, ia tak mengetahui hal-hal yang hendak dilakukan oleh pemuda itu.

Su-to Yan tidak tahu, apa yang sedang dipikirkan oleh Thio Sek Bun pada saat itu.

Apa yang sedang pikirkan oleh Thio Sek Bun ?

Thio Sek Bun sedang berpikir Mengapa Su-to Yan dapat meninggalkan guha Liok-sian-tong dengan aman?

Kemana Gang Lam Hong?

sudah berhasilkah Su-to Yan menemukan catatancatatan ilmu purbakala peninggalan si Manusia super tanpa tandingan Thian Kho Cu?

Jawaban ini penting bagi Thio Sek Bun.

Bila mana Su-to Yan sudah berhasil menemukan ilmu-ilmu itu, dia bukan tandingannya lagi, maka harus secepat mungkin meninggalkannya.

Su-to Yan tidak menyerang, sebelum dia diserang, karena itu jaraknya dengan Thio Sek Bun tetap seperti semula.

Pikiran Thio Sek Bun lebih cepat, begitu kakinya bergeser, secepat itu juga ia telah lari meninggalkan Su-to Yan.

Su-to Yan termenung ditempat itu, Dia mengeluarkan keluhan napas lega, manakala menyaksikan bayangan Thio Sek Bun sudah lenyap, tak terlihat lagi.

Tapi tidak lama kemudian, diapun mentertawakan dirinya sendiri, mengapa begitu bodoh dan lemah, membiarkan Thio Sek Bun pergi tanpa ditantang ?

Mungkinkah takut kepada Thio Sek Bun ?

Mungkinkah lupa menuntut batas untuk kematian Gang Lam Hong ?

Semua pertanyaan-pertanyaan diatas tidak terjawab, Dengan hati yang kesal, Su-to Yan menuju kearah barat.

Melintasi dua puncak gunung, Su to Yan melangkahkan kakinya kearah sebuah kota, Kota itu tidak terlalu besar, tapi cukup ramai, dimana ia mencari sebuah penginapan, mengganti baju dan mengisi perut.

Dikala itu ia keluar untuk mencari tahu perkembangan situasi dalam dunia Kang-Ouw Se lama tiga bulan terakhir ini, dimana ia tersekap dibawah guha Li ok-sian-tong, keadaan sudah berubah, cuaca saat itu sudah mulai gelap, dan kini turun salju.

Ia mempercepat langkahnya untuk kembali ketempat rumah penginapan.

Seorang yang mengenakan pakaian belang seperti kulit macan menghampirinya, menjura dan memberi hormat kepada Su-to Yan, kemudian berkata.

"Su-to Kongcu, bukan ?"

Su-to Yan memperhatikan orang ini, dan asing baginya, pada punggung orang tersebut menggembol pedang, dia tidak tahu, bagaimana orang ini dapat kenal padanya ?

Mungkinkah ada berita yang begitu cepat, ada yang memberitahukan bahwa ia akan tiba dikota ini?

Su-to Yan menaruh curiga, toh dia menjawab pertanyaan orang itu dengan sejujurnya.

"Betul, Aku Su-to Yan."

Orang tersebut berkata lagi.

"Majikan kami mengundang tuan, silahkan tuan turun kesana."

Tanpa menunggu reaksi Su-to Yan, orang itu sudah membalikan badan dan berlalu pergi. Su-to Yan tercengang, cepat-cepat ia meneriakinya orang itu.

"Hei, tunggu dulu, siapa majikanmu?"

"Segera tuan tahu,"

Berkata orang itu tanpa menghiraukan teriakan Su-to Yan, ia berjalan pergi terus.

Su-to Yan tidak pernah takut kepada siapa pun juga, kakinya melejit, ciutt.,, ia meluncur kebelakang orang tersebut.

Ilmu meringankan tubuh orang itu hanya dapat digolongkan kedalam kelas nomor tiga, bilamana Su-to Yan mau dengan mudah ia dapat melewatinya, tapi pemuda kita berjalan saja dengan tenang, tidak diketahui kemana dirinya hendak dibawa?

Demikian dua orang itu meninggalkan kota, melalui perjalanan berliku-liku, akhirnya tiba di sebuah kelenteng.

Orang itu berdiri didepan kelenteng!

membuat satu isyarat tangan dan berkata.

"Majikan kami menunggu tuan didalam, silahkan masuk."

Su-to Yan menganggukkan kepala, dengan tegap ia memasuki pintu kelenteng, langsung menuju kepusat ruangan.

Ditengah ruangan dari kelenteng itu berkumpul beberapa orang, duduk diatas kursi kebesaran seorang tinggi besar, dengan pakaiannya yang seperti macan belang, menatap kearah Su-to Yan, kelihatannya gagah sekali.

Su-to Yan langsung menghadapi kearah orang tersebut.

Hanya berjarak delapan tombak lagi dan ia berdiri tegak.

Orang itu masih melihat kedatangan Su-to Yan, tapi berdiripun tidak, dia masih duduk di kursi kebesarannya, sikapnya sangat dingin sekali.

Su-to Yan hilang sabar, maka ia membuka suara.

"Tuan mengundang aku datang ketempat ini?"

Orang tersebut menganggukkan kepalanya.

"Betul"

Suaranya sangat dingin.

"Dikalangan Kang-Ouw sudah tersiar berita yang menyatakan bahwa kau sudah meninggal dunia, tidak kuduga hari ini kita dapat berjumpa, maka betul-betul membuat aku tidak percaya."

"Maksudmu bagaimana?"

Bertanya Su-to Yan gagah. Orang itu berkata.

"Su-to Yan, perhatikanlah baik-baik keadaan kami? sudahkah kau tahu, kepada siapa kau sedang berhadapan?"

Su-to Yan memperhatikan orang orang yang berada didalam kelenteng itu, rata-rata memakai pakaian yang bercorak seperti kulit macan, loreng-loreng dan belang, hatinya tergerak.

"Istana belang Khong-kiok-kiong!"

Ia berseru. Orang yang duduk diatas kursi kebesaran menganggukan kepala, Membenarkan dugaan Su-to Yan, setelah itu ia berkata.

"Betul kau sedang berhadapan dengan kami, anak murid golongan istana bilang Khong-kiok-kiong, Aku adalah Sersan Lima Tiang-Sun Hoa."

Untuk pertama kalinya Su-to Yan berhadapan dengan anak murid golongan istana belang Khong kiok-kiong, karena ia belum mengerti apa maksud tujuan manusia-manusia itu, dengan suaranya yang sinis sekali ia mengajukan pertanyaan.

"Apa maksud kalian?"

Sersan Lima dari istana Khong-kiok-kiong Tiang Sun Hoa menekuk wajahnya, dengan sungguh-sungguh ia memberi keterangan.

"Kami mendapat tugas untuk menghadapi Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu beserta ketiga muridnya, tidak kami sangka, musuh utama belum kami temukan, disini kami bersua dengan kau."

Perselisihan Su-to Yan dengan istana belang Khong-kiok-kiong disebabkan oleh kitab ilmu pedang Maya Nada, kitab tersebut seharusnya menjadi milik kakeknya, tapi entah bagaimana, kemudian dikabarkan telah jatuh kedalam tangan orang-orang istana belang Khong-kiok kiong dalam hal ini ia belum mengerti jelas, karena itu, wajiblah kiranya mencari keterangan yang lebih terperinci.

Hanya orang-orang ini berhadapan muka dengannya, adalah disebabkan kebetulan, dengan mudah ia dapat mengajukan tuntutan tersebut, agar tidak jauh-jauh menghampiri istana belang mereka.

Su-to Yan berhadapan dengan Sersan lima Tiang Sun Hoa dari istana belang Khong-kiok kiong, menatap orang itu sebentar dan berkata.

"Tuan Tiang Sun Hoa, bolehkah aku mengajukan sedikit pertanyaan?"

"Silahkan."

Berkata Tiang Sun Hoa ketus. Su-to Yan berkata.

"Yang hendak diketahui ialah tentang sebuah kitab yang berjudul ilmu pedang Maya Nada, tahukah tuan Tiang Sun Hoa pada kitab tersebut?."

Sersan Lima Tiang Sun Hoa berkata.

"Sebelum menjawab pertanyaanmu aku hendak mengajukan beberapa pertanyaan."

"Silahkan!"

Su-to Yan tidak gentar kepada mereka.

"Namamu, Su-to Yan bukan?"

Bertanya Tiang Sun Hoa.

"Betul jawab Su-to Yan.

"Putra Su-to Hiap?"

Suara Tiang Sun Hoa lebih keras.

"Tidak Salah."

Berkata Su-to Yan.

"Cucu Su-to Pek Eng?"

Suara Tiang Sun Hoa semakin keras lagi.

"Sangat tepat."

Jawab Su-to Yan tidak mau kalah suara.

"Anak angkat dari Sau-kie Ju-Su In Hong dari pulau Tong-hay?"

Ternyata kuping Tiang Sun Hoa sangat panjang sekali.

"Ha, ha, ha, ha..."

Tiang Sun Hoa tertawa besar.

"Mengapa kau tertawa?"

Bentak Su-to Yan keras.

"Lucu... lucu."

Berkata Tiang Sun Hoa.

"Apa yang lucu?"

Bertanya Su-to Yan.

"Bagaimana tidak kukatakan lucu? Keluarga Su-to Yan memang cukup aneh, keluarga Su-to Yan adalah keluarga yang sangat luar biasa, Kitab ilmu pedang yang palsu telah jatuh ke tangan istana Khong-kiok-kiong, Tetapi mereka mengejar-ngejar terus, sehingga tiba di istana kami. Demikianlah karena itu, kami tidak menduga bahwa itu kitab imitasi. Dengan adanya sikap kakek dan ayahmu yang bersungguh-sungguh itu, seolah-olah kami telah berhasil menemukan kitab yang asli. Tapi, kenyataan tidaklah demikian, Kitab ilmu Pedang Maya Nada yang kami dapat adalah kitab tiruan, Maka, karena itulah selama empat puluh tahun belakangan ini, ketua istana kami hampir masuk Api."

Masuk api adalah Suatu istilah untuk dalam bahasa silat, dapat diartikan sebagai berikut seseorang yang salah, dan manakala peredaran-peredaran jalan darah itu buntu, atau mengalami gangguan sesuatu, maka orang itu menjadi cacad atau kejadiankejadian lain yang diluar dugaan sama sekali, inilah yang diartikan sebagai masuk Api.

Dari cerita si kakek Hijau Gang Lam Hong, Su-to Yan mulai mengerti duduk persoalan yang sebenarnya.

Kitab ilmu Pedang Maya Nada berasal dari tangan Kong-sun Put-hay.

Kong-Sun Puthay adalah murid si Manusia Super Tanpa Tandingan Thian Kho Cu, memang sungguh luar biasa sifat-sifatnya Kong-Sun Put-hay, sehingga berhasil membuat sebuah kitab ilmu Pedang Maya Nada yang palsu, demikian dapat terhindar dari kejaran-kejaran para jago rimba persilatan.

Bila Kitab ilmu Pedang Maya Nada yang jatah ke dalam tangan kakek Su-to Yan, kemudian jatuh kedalam tangan istana Belang Khong kiok kiong itu adalah sebuah kitab palsu, kitab ilmu pedang yang berada didalam tangan Ie Han Eng lebih-lebih lagi, kitab itu hanya se

Jilid kitab kosong putih. Dengan tajam, mata Tiang San Hoa memandang Su-to Yan.

"Tiang Sun Hoa."

Berkata Su-to Yan, dia membuat pembelaan atas fitnah yang dijatuhkan kepada kakeknya.

"Dikatakan bahwa kitab palsu itu adalah kitab yang sengaja disandiwarakan oleh ayah dan kakekku, ini tidak mungkin, Bilamana mereka tahu bahwa kitab itu adalah sejenis kitab palsu, tidak adalah untuk mengejar-ngejar kalian dan hendak merampas pulang kitab pusaka tersebut, inilah suatu kenyataan. Kini, yang hendak kuketahui, ialah dimana dan bagaimana keadaan kakek serta ayahku itu?"

Tiang Sun Boa berkata.

"Kukira, mereka sudah tiada."

Mata Su-to Yan menjadi beringasan. Hanya sebentar, masih beruntung pemuda kita dapat mengendalikan hawa amarahnya.

"Tiang Sun Hoa,"

Panggil lagi Su to Yan.

"Golongan Khong kiok kiong begitu berani memusuhi keluarga Su-to, aku Su-to Yan sebagai salah satu dari cucu keluarga itu, wajib menerima tantangan kalian, Aku bersedia melayani pertandinganpertandingan. Aku bersedia memberi pengorbanan sehingga pada tetesan darah yang penghabisan."

"Ha, ha..."

Tiang Sun Hoa tertawa besar.

"ilmu kepandaian apa yang kau miliki, sehingga berani menuntut ganti rugi kepada kami? Sampai dimanakah ilmu kepandaian, sehingga menantang golongan Khong kiok kiong ?"

Mendapat hinaan yang seperti itu, hati Su to Yan panas, Srett ....ia mengeluarkan pedangnya, dibulang-balingkannya sebentar, kemudian berkata.

"lnilah senjata yang akan melayani kalian siapa yang hendak maju lebih dahulu ?"

Su-to Yan mengirim tantangan perang.

Perlahan-lahan, Tiang Sun Hoa bangkit dari tempat duduknya, langsung menghampiri Su-to Yan, dilihat gelagat ia sudah siap menempur jago kita.

Sersan Lima dari golongan istana Belang itu tidak bersenjata, maka Su-to Yan juga menyimpan kembali pedangnya.

Ruangan didalam kelenteng itu sangat besar untuk dipakai dan dipergunakan sebagai arena pertempuran, tentu saja tidak banyak mengganggu usaha mereka.

Orang-orang Khong-kiok-kiong sudah membuat satu lingkaran, membiarkan jago mereka dan jago kita yang sudah siap bertempur.

Su-to Yan menudingkan pedangnya orang yang dituju adalah Sersan Lima dari istana Belang Khong-kiok-kiong Tiang Sun Hoa.

"Tiang Sun Hoa", katanya menantang.

"Kau yang akan melayani diriku ?"

"Tepat."

Jawab Tiang Sun Hoa sangat singkat.

"Mari, mari kita mulai."

Berkata Su-to Yan menggeser kaki kirinya setengah langkah kearah samping.

Tiang Sun Hoa tidak berhasil mengendalikan hawa amarahnya, ia mengeluarkan telapak tangan, tampak kelima jarinya yang memerah,didorong kedepan perlahan, disertai senyuman menyindir menyerang Su-to Yan.

Ilmu ini bernama ilmu Telapak Tanda Setan, sangat terkenal diantara golongan Khong-kiok-kiong, dan sebagai Sersan Lima dari golongan itu, tentu mempunyai latihan yang cukup lumayan.

Disaat itu, serangan telapak tangan Tiang Sun Hoa tiba.

Su-to Yan membuka kedua tangannya, dibarengi disodorkan kedepan, memapaki datangnya serangan Tiang Sun Hoa.

Telapak tangan dari kedua jago itu tidak segera membentur, telapak tangan Tiang Sun Hoa seperti membawa suatu angin pusaran, menyedot dan menghanyutkan lawannya.

Hal inilah sangat mengejutkan jago muda kita.

Cepat-cepat Su-to Yan melakukan satu tendangan kaki, inilah satu tendangan kepiting, salah satu dari sepuluh macam ilmu peninggalan jaman purbakala yang luar biasa hebatnya.

Tiang Sun Hoa memperdengarkan suaranya, sangat kuat, serangan telapak tangannya sudah menyusul tiba, demikian saling susul, telapak tangan itu silih berganti menyerang Su-to Yan.

Untuk satu ketika, Su-to Yan berada didalam keadaan terdesak.

Kecepatan Tiang Sun Hoa memang luar biasa, ia melakukan serangan berganti2 sehingga sampai sepuluh kali, tapi lawannya cukup kuat, Su-to Yan tidak berhasil dijatuhkan begitu saja.

Su-to Yan terdesak mundur sedikit, tiba-tiba badannya dibalikan sedemikian rupa, dua kali dia berjumpalitan ditengah udara, kepalanya ditongolkan kedepan, langsung memasuki posisi kurungan sang lawan, sangat berbahaya, tapi suatu tipu muslihat yang tidak mudah dimainkan oleh sembarangan orang, inilah ilmu iblis Sakti Menongolkan Kepala.

Posisi penyerangan balasan Su-to Yan seperti itu berada diluar dugaan Tiang Sun Hoa, dia bingung sebentar, tidak berani berlaku gegabah, karena itu ia lengah sedikit, Su-to Yan berhasil mengekang kegarangan Tian Sun Hoa, kedua tangannya diangsurkan dan turut maju kedepan.

Tiang Sun Hoa menyedot peredaran jalan napas dia mundur cepat, jauh kearah belakang, Su-to Yan kaget.

Tiang Sun Hoa membuat perhitungan yang cermat, Karena itu, dia memekik panjang dengan ilmu tipu iblis sakti mengejar setan, dia meneruskan serangan.

Tiang Sun Hoa mulai terdesak, sepasang tangan Su-to Yan, masing-masing dari kanan dan kiri, satu memotong dan lainnya menepuk, dua serangan itu menyerang jalan darah Tian Sun Sun Hoa.

Tiang Sun Hoa memasangkan tangannya kesamping sedikit, berulang kali menutul dengan maksud menghindari serangan Su-to Yan itu.

Su-to Yan merangkapkan kedua tangannya, kini benturan tidak dapat dielakkan lagi terdengar suara .

...debur, ...

lantai kelenteng itu pecah berlubang, debu menyebar hingga membuat pandangan mata orang-orang yang ada di tempat itu hampir kabur kerenanya.

Bayangan kedua jago itupun terpisah.

"Su-to Yan"

Berkata Tiang Sun Hoa "ilmu kepandaianmu jauh lebih tinggi dari apa yang mereka siarkan didalam rimba persilatan, tetapi jangan lupa, dipihak kami bukan aku seorang, aku memang berkepandaian rendah, tapi disamping itu masih banyak jago-jago lainnya yang mempunyai ilmu kepandaian diatasku, mereka tidak mau mengerti padamu."

Su-to Yan tidak bisa digertak, berita lenyapnya Sang kakek dan ayah didalam istana Belang Khong-kiok-kiong belum mendapat kepastian, karena itu dia harus megorek keterangannya yang lebih jelas.

"Tiang Sun Hoa,"

Katanya.

"Bilamana kau memberi sedikit keterangan, aku dapat memberi kebebasan kepadamu."

"Hmm..."

Tiang Sun Hoa mengeluarkan dengusan.

Su-to Yan siap membikin penyerangan selanjutnya.

Disaat itu Tiang Sun Hoa menurunkan tangan, secara serentak orang-orang berbaju harimau belang itu meluruk dan mengurung jago muda kita inilah pengeroyokan dengan tenaga gabungan mereka, tentu saja tidak mudah dilayani.

Su-to Yan harus berpikir kembali.

"Su-to Yan,"

Berkata lagi Sersan Lima Tiang Sun Hoa.

"Kakek dan sepasang orang tuamu menempur ketua istana lama kami, dan pertempuran itu berlangsung demikian hebatnya, tidak satu dari mereka yang luput dari bahaya kematian, betul kakek dan kedua orang tuamu itu sudah tidak ada, tapi ketua lama kami pun mengorbankan jiwanya, lebih baik permusuhan ini dihabiskan begitu saja, Berpikirlah baik-baik."

Keraguan-keraguan Su-to Yan itu digunakan dengan baik, dengan satu aba-aba dari golongan istana Khong-kiok-kiong, Tiang Sun-Hoa mengajak orang-orangnya meninggalkan kelenteng itu.

Gerakan mereka demikian rapi dan gesit, didalam sekejap mata, tanpa banyak suara tanpa banyak bertanya, mereka sudah berlari pergi, sebentar kemudian hanya tinggal Su-to Yan seorang...

Memikirkan kejadian lama dari kakek dan kedua orang tuanya, Su-to Yan ngelamun di tempat itu.

Dikala ia sadar kembali, Tiang Sun Hoa dan orang-orangnya sudah tidak terlihat, Su-to-Yan berpikir.

"Betul aku lemah sekali!"

Su-to Yan mengeluarkan keluhan napas panjang, Sersan Lima dari istana Belang Khong-kiok kiong telah memberi sedikit keterangan tentang kakek dan kedua ayah bundanya, si pendekar Rajawali Emas Kie Eng juga memberi penjelasan tentang hal yang sama, tapi masih belum begitu jelas sekali.

Su-to Yan terus mencari keterangan dengan bukti-bukti yang nyata, karena itu dia harus mendatangi istana Belang Khong-kiokkiong.

Inilah putusannya.

Itu waktu, hujan salju turun dengan derasnya.

Su-to Yan batal mengadakan pengejaran terhadap orang dari istana Belang Khong kiok-kiong, ia duduk bersila didalam kelenteng itu sambil menenangkan pikirannya, dia mendapat waktu untuk istirahat.

Tidak lama, satu bayangan yang tidak terlalu asing memasuki kelenteng itu, pendengaran dan panca indera Su-to Yan sangat lihay, cepat ia bangun dan kini jelaslah siapa orang yang baru datang itu, dia adalah musuh lama, si kakek Tukang Tenung ThioSek Bun.

Pada siang harinya Su-to Yan dan Thio Sek Bun pernah berjumpa, dan hanya setengah hari saja, mereka berjumpa kembali untuk kedua kalinya.

Betul-betul dunia ini dirasakan sangat sempit sekali.

Su-to Yan bangkit berdiri.

Thio Sek Bun memasuki kelenteng itu, karena tidak tahan dihujani oleh salju yang turun terus menerus.

Dia berhasil menemukan tempat meneduh, itulah kelenteng yang sudah ada penghuninya, dan orang itu adalah musuh dan jago muda kita Su-to Yan.

Dia menghentikan langkah kakinya dan melihat jarak ketentuan dari jago muda kita, Su-to Yan memandang orang itu.

Thio Sek Bun menghela napas perlahan-lahan ia berkata.

"Segala rencanaku belum pernah mengalami kegagalan, tidak kusangka, aku terjungkal di bawah tanganmu."

Su-to Yan mengeluarkan suara dengusan.

"Thio Sek Bun, tahukah kau, bahwa aku berjanji untuk menuntut balas kematian Gang Lam Hong?"

Pertanyaan ini sudah berada didalam pikiran Thio Sek Bun, dan dia sudah dapat mempunyai rencana, bagaimana untuk menghadapi Su-to Yan.

Secara tiba-tiba saja, Thio Sek Bun, menudingkan jarinya, jeritnya keras sekali.

"Lihat apa dibelakangmu itu?"

Su-to Yan menoleh kebelakang, badannya bergidik keras, pada tembok dinding kelenteng itu, tiba-tiba saja mereka, perlahan-lahan bergeser kedua beluh, dan disana muncul bayangan seseorang, itulah seorang gadis yang muda belia siapa lagi kalau bukan si Cin Bwee?

"Kau..."

Su-to Yan berteriak kaget. Thia Sek Bun mundur kebelakang, dan lagi-lagi dia berteriak.

"Su-to Yan...."

Dari samping Cin Bwee, tiba-tiba muncul gulungan api membara, besarnya api itu sebesar, tempat pembuangan sampah, langsung menyerang kearah jago muda kita, Ciut.

..Su-to Yan mengeluarkan pedang, membacok kearah bola api itu.

"Thio Sek Bun."

Berkata Su to Yan dengan cemoohannya.

"Tak guna kau menggunakan ilmu ini."

Membarengi sabetan pedang Su-to Yan, bola api pecah menjadi dua bagian, Dan yang aneh, lenyaplah semua cahaya-cahaya, tadi, kini ia menjadi terkejut, aduh!.,, seperti juga tembok, dinding kelenteng itu, tiba-tiba saja tubuh Cin Bwee merekah tepat dibagian tengah dari kepala bergerak kebadan dan terus sehingga kaki, garis pemecah itu berwarna merah, dan makin lama semakin membesar, Cin Bwee menjadi dua belahan yang tidak sama, satu kekanan satu kekiri.

Mata Su-to Yan terbelalak Dia tidak mengenali dia kaget sekali.

Disaat itu, lagi-lagi terdengar Thio Sek Bun.

"Su to Yan... Su-to Yan....gunakanlah pedangmu untuk bunuh diri, Apa guna kan hidup di dalam dunia ? Karena kau sudah membunuh kekasihmu sendiri,.,bunuhlah dirimu, bunuhlah dirimu sendiri."

Su-to Yan menoleh kearah datangnya menemukan bayangan Thio Sek Bun. suara dia tidak "Su-to Yan.,., Su-to Yan...."

Inilah suara Thio Sek Bun.

"Hayo bunuh diri sajalah kau harus bunuh diri"

Tidak diketahui dari mana datangnya suara itu.

Su-to Yan mengeluarkan suara pekikan panjang, pedangnya disabetkan berulang kali maka pilar pilar dari kelenteng itu berguguran inilah ilmu pedang Maya Nada.

Suara-suara Thio Sek Bun dan suara dengungan pedang berhamburan menjadi satu.

Beruntung Su-to Yan telah meyakinkan ilmu-ilmu didalam guha Liok-sian-tong, karena itu, kekuatan bathinnya semakin dipertebal, tidak mudah dikuasai oleh Thio Sek Bun, walau sedikit banyak agak terganggu, dengan bantuan ilmu pedang Maya Nada, ia sudah melayani kekuatan gaib dari si Kakek muda tukang tenung itu.

Lagi lagi terjadi pemandangan yang aneh, ribuan pasang mata bermunculan ditempat itu, dengan sorotan sinar yang menyeramkan memandang Su-to Yan ditengah-tengah kelenteng.

Su-to Yan menggunakan ilmu keras melawan ilmu sihir Thio Sek Bun ilmu kepandaian asli untuk menandingi ilmu tenung kakek muda itu, tidak berhasil, semakin lama semakin banyaklah mata terbang, ada yang warnanya hijau sekali.

Keadaan Su-to Yan begitu terjepit, ia menyesal, karena kurang waspada, maka segera terkena sinar mata Thio Sek Bun, tidak mudahlah untuk keluar kembali dari tahanan bathin si Kakek muda tukang tenung itu.

Su-to Yan memutar pedangnya sedemikian rupa, sehingga badannya terbungkus oleh sinar pedang itu, semua kata-kata dan semua mata bayangan itu tidak berhasil menembus dirinya.

Kadang-kadang masih terdengar suara gaib yang menyelusup ke dalam telinga Su-to Yan, tapi itu tidak banyak guna, dengan hati yang tabah kokoh dia mempertahankan diri.

Beberapa saat kemudian, terdengar satu jeritan, seperti ada seseorang yang terkena goresan senjata tajam.

Tekanan yang mengganggu pikiran Su-to Yan buyar berceceran, disaat itu juga pikiran jernih Su to Yan pulih kembali Ternyata jeritan tadi keluar dari mulut Thio Sek Bun, salah satu dari sabetan pedang Su-to Yan telah mengenai pundaknya, memapas putus sebagian tangan kanan Kakek Muda tukang tenung itu.

Su-to Yan menghentikan permainan pedang, matanya memandang kearah datangnya suara jeritan, disana terlihat wajah siKakek muda tukang tenung Thio Sek Ban, wajahnya pucat pasi, mulutnya meringis ringis, dia sudah kehilangan sebelah tangan kirinya.

"Hebat.... kau memang hebat."

Berkata Thio Sek Bun menahan sakit."

Ternyata kau sudah berhasil meyakinkan ilmu Pedang Maya Nada. Bagus.... Bagus..."

Di lantai kelenteng itu, masih menggeletak sebatang tangan dengan jari jemarinya yang bergoyangan, itu tangan Thio Sek Bun.

Menyaksikan pemandangan yang seperti itu, tentu saja mengejutkan Su-to Yan, ia tidak segera membunuh musuhnya tapi dalam keadaan demikian apa yang dapat dilakukan olehnya?

Dia diam.

Thio Sek Bun membalikkan badan, tanpa menghiraukan hujan salju yang belum berhenti itu, dia lari meninggalkan Su-to Yan.

"Bagus.. Su-to Yan... aku tidak akan melupakan.,..."

Demikian lapat lapat masih terdengar suara rintihan si Kakek muda tukang tenung Thio Sek Bun.

"Su-to Yan,... jagalah pembalasanku... Kau berhasil meyakinkan ilmu pedang Maya Nada., . tapi aku akan lebih giat menekunkan ilmu pelajaran ilmu gaibku... Satu hari kita pasti akan berjumpa kembali."

Disebuah kelenteng yang kurang perawatan berdiri seorang anak muda, dia melamun, matanya memandang lurus kedepan pintu tanpa berkedip sama sekali.

Tidak jauh dari kelenteng itu, terdapat potongan tangan manusia yang ditinggalkan begitu saja, itulah peninggalan tangan si Kakek muda tukang tenung Thio Sek Bun, sedangkan pemuda yang melamun itu adalah jago kita yang bernama Su-to-Yan.

Salju mulai mereda, akhirnyapun terhenti.

Dengan satu keluhan napas panjang, Su to Yan menghembuskan semua kekesalannya.

Su-to Yan mulai menggeser kakinya, mantap dan perlahan, tapi pasti ia meninggalkan kelenteng tersebut.

Lima hari kemudian, setelah menempuh perjalanan yang terus menerus, akhirnya Su-to Yan tiba dikota Seng-to.

Tidak mudah mengalahkan siKakek Muda tukang tenung Thio Sek Bun, pikiran dan tenaganya banyak berkurang, karena itu Su-to Yan merasa lelah, dia mencari rumah penginapan dan istirahat disana.

Setelah tidur siang, sebelum matahari terbenam, ia meninggalkan rumah penginapan itu, dia berjalan keluar kota, menyaksikan pemandangan yang menakjubkan sinar mata, matahari merah berada diufuk barat, bercahaya seperti dunia terbakar.

Disana ia menyedot napasnya dalam-dalam, dan berpikir kembali, kemana dia harus pergi ?

Mencari Cin Bwee?

Dimana?

Haruskah ia menuju kearah gunung Kun-lun Segera?

Mungkinkah Cin Bwee tidak meninggalkan gunung Kun-lun lagi?

ini membingungkan dirinya.

Terbayang kembali wajah cantik Ie Han Eng, bidadari dari lembah Hui-in itu.

memang cukup memikat hatinya, dia dijodohkan dengannya, tanpa sepengetahuan dirinya.

Karena itulah hubungannya dengan Cin Bwee begitu rapat sekali, perlu diketahui kembali bahwa Ie Han Eng itu adalah calon istrinya yang ditetapkan oleh orang tua mereka, haruskah dia menerima takdir yang seperti itu?

Su to Yan tidak dapat mengambil keputusan...

Tiba-tiba...

Sek..sek..sek...Sek.

Inilah suara derapan orang yang berjalan kaki, sangat perlahan sekali, tapi telinga Su-to Yan cukup tajam, dia tahu, bahwa di belakangnya sedang berjalan seseorang, siapakah orang itu?

Cepat-cepat pemuda kita menoleh dirinya, Disana, didepan dia berdiri seseorang, tak asing lagi, dia adalah salah satu dari sepasang manusia jibaku Seng-mo Leng Kho Tiok dari gunung Tay-soat-san.

Long Go Tiok mendekati Su-to Yan, dengan memperlihatkan kedua baris giginya dia berkata.

"Sudah lama kita tidak bertemu, bukanya"

"Kukira, pertemuan kita ini bukan suatu kebetulan."

Berkata Suto Yan. Seng-mo Leng Go Tiok tidak menggubris ejekan itu, ia berkata.

"Baru saja aku mendapat berita yang mewartakan bahwa ilmu Pedang Maya Nada berada didalam tubuhmu betulkah ada kejadian yang seperti ini ?"

Su-to Yan melentikkan alisnya keatas, setelah itu berkata.

"Dahulu, pernah mau meminta keterangan ini. hampir aku binasa ditanganmu! Tapi tidak berhasil, belum puaskah kau kepada hasilhasil yang seperti dahulu itu ?"

Leng Go Tiok menggoyang-goyangkan kipasnya, setelah itu berkata.

"Bilamana betul bahwa berita apa yang didapat itu menjadi kenyataan bahwa kitab ilmu pedang Maya Nada berada didalam tubuhmu maka sudah pasti kau berhasil mempelajari ilmu tersebut, dan besar kemungkinannya bahwa ilmu kepandaianmu telah setaraf dengan apa yang kini kumiliki, tapi jangan kau menjadi besar kepala, hampir aku membinasakan dirimu dahulu itu, diantara kita belum terjadi persahabatan lain lagi kejadiannya bilamana kau bersedia menjadi kawanku, diantara kawan sendiri tidak boleh terjadi percekcokan bukan? Maka itu, kuharap saja uluran tanganmu, maukah kau menjadi kawanku?"

Su-to Yan harus menimbang-nimbang kembali, apa dibalik katakata Seng-mo Leng Go Tiok tadi, betulkah dia bersedia diajak bersahabat ? "Aku tidak mengerti maksud tujuan dari kata-katamu,"

Berkata Su-to Yan. Leng Go Tiok memandang Su-to Yan sebentar, matanya berputar, kemudian berkata.

"Disaat ini hanya ada dua kekuatan yang berada diatasku, kekuatan itu adalah kekuatan Pek-ie kauwcu Bong Bong Cu beserta ketiga muridnya dan lain kekuatan adalah kekuatan dari istana Belang Khong-kiok-kiong. Kedua kekuatan itu memusuhimu, mungkinkah kau dapat menandingi mereka, bilamana tidak mendapat bantuan dariku? Berpikirlah baik baik, aku bersedia membantumu, maka bersahabatlah kita berdua."

Su-to Yan tertawa geli, maka itu dia berkata lagi.

"Masih ada lain kekuatan ketiga yang tidak kau ketahui!"

"Kekuatan siapakah itu?"

Bertanya Seng-mo Leng Go Tiok.

"ilmu silat kepandaian kekuatan ketiga ini tidak hebat, tapi ilmu sihirnya, sungguh luar biasa, itulah kekuatan si Kakek Muda Tukang Tenung Thio Sek Bun dan si Paman Tenung Hui In Khek."

"Tidak perlu kau takuti kekuatan itu, dan bersediakah kau mendapat bantuanku ?"

Su-to Yan belum mau memberikan kepastiannya, Dia diam, bungkam. Leng Go Tiok berkata.

"Masihkah kau mendendam sakit hati lama kita ?"

Su-to Yan tertawa kemudian berkata.

"Sedang kupikirkan. secara mendalam, betulkah maksud persahabatanmu yang seperti ini? Bilamana betul, tentu saja aku menjadi senang sekali, bantuan tenaga penting darimu sangat kubutuhkan, dengan menemukannya kau sebagai sahabat, berani mengurangi satu musuh kuat. Karena itu selisih ini menjadi dua kekuatan yang luar biasa."

Leng Go Tiok tertawa besar.

"Ha, ha, ha ... apa yang kau uraikan demikian juga menjadi pikiranku, bilamana kita bermusuhan, maka kekuatan kita berpisah, bila mana kita menjadi satu, maka kekuatan kita menjadi lebih ampuh."

Su-to Yan belum percaya seratus persen karena itu dia memperhatikan perobahan wajah Seng-mo Leng Go Tiok.

Tiba-tiba terdengar lagi suara gesekan kaki orang, perlahan, tapi tidak lepas dari pendengaran Su-to Yan, cepat-cepat ia menoleh kearah itu, kemudian membentaknya "Siapa ?"

Disana muncul empat manusia, seorang yang berjalan paling depan adalah seorang tua berpakaian serba putih, inilah Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu.

Dibelakang Pek-ie Kauwcu berdiri tiga orang, masing-masing adalah si Hweeshio Tukang Pacul Bwee Goat, siTosu Tukang Sado Giok Hie dan si pelajar tua Kong-yat Chiu-jit.

Su-to Yan menduga kepada bantuan Seng-Leng Co Tiok, maka ia semakin curiga kepada kedatangan salah satu dari manusia jibaku itu.

Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu memandang, ke arah Su-to Yan, ia tertawa besar sekali setelah itu berkata.

"Su-to Yan hampir aku melepaskan dirimu!"

"Apa maksudmu?"

Bentak Su-to Yan. Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu berkata.

"Betul-betul aku lupa, bahwa kitab ilmu pedang Maya Nada yang asli itu berada didalam kantongmu."

Lagi-lagi persoalan kitab ilmu pedang Maya Nada. Su-to Yan menjadi benci sekali. Tidak menunggu Su-to Yan sampai memberikan jawaban, Pek-ie Kauwcu Bong Bong, Cu berkata lagi.

"Sebetulnya, aku tidak percaya bahwa kitab ilmu pedang itu berada didalam kantongmu, Dan kini aku mengetahui pasti bahwa kitab itu berada didalam tanganmu, Soal ini sudah dipastikan, mengingat adanya golongan istana Belang Khong-kiok-kiong yang mencari cari dirimu, ternyata golongan istana Belang itu tidak mendapatkan kitab ilmu Pedang Maya Nada yang asli, adanya mereka mencari kau, tentu hendak merebut kembali kitab itu."

"Ha, ha, ha ..."

Su-to Yan tertawa besar.

"Kalian berlima hendak mengeroyok aku ?"

Su-to Yan membuat suatu lingkaran musuh yang disertai dengan Seng-mo Leng Go Tiok.

Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu dan Seng-mo Leng Go Tiok saling pandang, Mereka sama-sama bingung, tidak mengerti, apa yang dimaksudkan oleh Su-to Yan ?

Beberapa saat kemudian, Seng-mo Leng Go Tiok dapat menangkap apa yang diartikan oleh Su-to Yan, maka ia menjelaskan pendiriannya.

"Su-to Yan, jangan kau menjadi salah paham, kita bukan satu rombongan, kedatangan mereka adalah suatu kebetulan. Aku adalah bukan musuhmu, aku bersedia menjadi Sahabatmu."

Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu kernyitkan alisnya, ia sudah melihat ada Seng-mo Leng Go Tiok ditempat itu, tapi seolah-olah tidak melihat kehadirannya orang tersebut, dengan tawar dia berkata kepada ketiga muridnya.

"Kong-yat Chiu-jit, pergi kau usir kepada orang yang tidak mempunyai sangkut paut dengan kita!"

Kong-yat Chiu-jit menjalankan perintah itu, tubuhnya melejit, pedang pendeknya keluar dari kerangka, sebelum tubuh itu menginjak tanah.

dia sudah menudingkan senjata tadi kearah alis Seng-mo Leng Go Tiok.

Seng-mo Leng Go Tiok juga seorang jago mandraguna, kedudukannya hanya dibawah setingkat dari kedudukan empat jago silat purbakala yang seperti Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu itu, karena itu, dia tidak takut kepada mereka apa lagi hanya Kong-yat Chiu-jit seorang, tidak perlu dia menjadi gentar.

Disaat itu, Kong-yat Ciu-jit sudah mulai menyerang, Seng-mo Leng Go Tiok memicingkan matanya, disaat ujung pedang hampir tepat mengenai sasaran.

tapi dia tak bergeming sama sekali, hendak melihat, bagaimana si Pelajar tua meneruskan serangan itu.

Pelajar tua Kong-yat Ciu-jit, hanya memainkan ilmu tipu itu sebagai suatu hiasan yang sangat sempurna, hendak diketahui, bagaimana sang lawan mengelak atau menyingkirkan serangan tadi.

Adanya Seng-mo Leng Go Tiok yang tidak bergerak dari kedudukannya semula sangat membingungkan sang lawan, pedang Kong-yat Ciu-jit diam ditempat itu, dia harus berlaku lebih hatihati,bilamana dia menyerang tanpa membikin perhitungan diserang orang, itulah berbahaya sekali.

Betul-betul Seng-mo Leng Go Tiok membikin serangan balasan, terlihat kipasnya terangkat naik, wing...

menyerang kearah pergelangan tangan Pelajar tua Kong-yat Ciu-jit.

Kong-yat Ciu-jit merendahkan tangan kemudian disentil naik, menyerang orang.

Kipas Seng-mo Leng Go Tiok begitu sejuk, berputar, dari arah yang tidak terduga2 sama sekali, tetap mengikuti sasarannya.

Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu menyaksikan pertandingan yang seperti itu, maka diketahuilah, bahwa sang murid bukan tandingan lawan itu, cepat-cepat ia berkata.

"Kong-yat Ciu-jit, mundur !"

Kemudian dihadapinya Seng-mo Leng Go Tiok dan berkata.

"Hebat! Betul-betul satu ilmu kepandaian yang hebat!"

Seng-mo Leng Go Tiok membawa sikap yang lebih dingin lagi, ia tidak menjawab, dan juga mempelengoskan muka, seolah-olah memandang rendah sekali lawan itu.

Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu menghadapi dua lawan berat, Suto Yan tidak mudah dihadapi, kini Seng-mo Leng Go Tiok lebih tidak mudah lagi.

Karena itu ia harus memikir dua kali.

Putusannya ialah meninggalkan Seng-mo Leng Go Tiok dan menghadapi Su-tO Yan kembali, kitab ilmu pedang Maya Nada berada didalam tubuh Su-to Yan, karena itu dia hendak merebut kitab tersebut.

"Su to Yan."

Berkata Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu "Kitab ilmu pedang Maya Nada yang berada pada mu.

Hendaknya kau serahkan begitu saja, maka persahabatan masih berlangsung tanpa perkelahian bila tidak, haruskah kurebut dengan tanganku sendiri?"

Su-to Yan bukan seorang yang getol kepada pertempuran, tapi dia tidak gentar menghadapi pertempuran.

Termasuk juga berdua dengan Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu, karena itu mendengar tantangan si jago purbakala, dia berkata dengan gagah.

"Su-to Yan bersedia melayani segala kehendak hati kauwcu."

Pek-ie Kauw cu Bong-Bong Cu tertawa, dari dalam sakunya ia mengeluarkan biji-biji catur, dan berkatalah kepada Su-to Yan.

"Sudah lama aku tidak menggunakan dan memainkan alat-alat ini, marilah kau menerimanya beberapa biji saja?"

Su-to Yan menganggukkan kepalanya.

"Silahkan,"

Berkata pemuda kita, Dia menerima segala macam tantangan.

Pek ie Kauwcu Bong-Bong cu menyentilkan salah satu biji caturnya, wing mengancam ulu hati Su to Yan.

Inilah serangan pertama.

Su-to Yan menggerakkan tangan, maksudnya hendak menangkap biji yang melayang datang itu, tapi dia membatalkannya segera, manakala diketahui bahwa biji catur Pek-ie-Kauwcu Bong-Bong Cu pernah menggetarkan rimba persilatan diabad yang lalu.

Dengan menekuk jarinya, Su-to Yan mengenai biji catur itu.

ia berhasil mengenyampingkannya, rasa terkejutnya tidak kepalang, karena jari itu terasa sangit sakit, inilah hasil buah karya Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu yang disalurkan melewati biji catur tadi.

Rasa kaget Bong Bong Cu tidak berada dibawah Su-to Yan, biji catur tadi dipentil pergi, maka dengan beruntun lagi beberapa kali, dia menyerang dengan tiga biji catur, dengan arah atas, tengah, dan bawah.

"Sungguh hebat! memang hebat! Su-to Yan, kau memang hebat! Terima lagi seranganku."

Su to Yan memainkan telapak tangan, dibalikannya dan dibalikannya kembali, dia menanti datangnya dua biji catur, setelah itu, dia mundur sedikit, dengan tenaga dalam yang keras dia memikul pergi dua biji catur itu.

Satu biji catur yang terakhir kembali datang tiba, maka Su-to Yan memendekkan kepala, membiarkan biji catur itu lewat pergi dengan desingannya yang keras sekali.

Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu mengerutkan alis, ilmu tipu yang Su-to Yan perlihatkan didepan dirinya adalah ilmu tipu Tiga Belas jari memainkan alat Pie-pa, kehebatannya sangat luar biasa, tentu saja berhasil menekan biji catur tadi.

"Terima lagi serangan yang terakhir."

Berkata Pek ie Kauwcu Bong Bong Cu dengan melempar seluruh biji catur yang ada ditelapak tangannya.

Terdengar desingan yang memekakkan telinga, dua belas biji catur dengan satu garis yang sebaris, disertai dengan suara dengungan hebat luar biasa mengarah Su-to Yan.

Su-to Yan melirik kearah datangnya serangan yang seperti itu, tidak ada ubahnya sebagai sebatang pedang, dan dari dua belas biji catur yang diarah kepada dirinya, masing-masing mengandung kekuatan yang tidak sama, Bila ia salah menerima, pasti dia celaka.

Cepat dia menarik keluar pedangnya, dengan tangan kiri tetap memainkan tipu Tiga Belas jari Memainkan Alat Pie-Pa, dengan tangan kanan memainkan ilmu pedang Maya Nada, dia menghadapi serangan-serangan biji catur Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu.

"Ting, ting, ting, ting...."

Empat biji catur dijatuhkan olehnya, delapan biji catur lainnya kini berpecah, dari atas tiga, dari kanan dua dan dari kiri dua, meluruk kearah jago muda kita.

Tiga belas jari Memainkan alat Alat pie-pa bekerja keras, dengan gesit dan lincah Su-to Yan berhasil menyampok dan menghindari serangan-serangan itu.

Dengan alat alat permainan biji catur, Pek ie Kauwcu Bong Bong Cu tidak berhasil menekan Su-to Yan, karena itu timbul niatan jahatnya sepasang tangan didorongkan kedepan, dengan membawa uap yang berwarna keputih-putihan didorong kearah Su-to Yan.

Su-to Yan sudah berhasil menghindari serangan-serangan biji-biji catur, dan terdengar lagi suara serangan yang baru, karena itu dia menyimpan pedang, dengan kedua tangannya, memapaki datangnya serangan itu.

Terdengar suara yang seperti guntur membelah bumi, dan masing-masing terdorong mundur.

Seng-mo Leng Go Tiok turut menyaksikan kejadian-kejadian tadi, hatinya menjadi berdebar-debar, apa lagi melihat ilmu Pek-ie Sin kang yang Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu perlihatkan, itulah ilmu hebat dari jaman purbakala, ilmu yang belum pernah menemukan tandingannya.

Dan akibat daripada benturan tadi, masing masing terpisah lagi, rasa terkejutnya Seng-mo Leng Go Tiok lebih-lebih lagi, tidak disangka, bahwa Su-to Yan dapat mengimbangi kekuatan seorang jago yang sudah hidup selama seratus tahun.

Pek ie Kauwcu Bong Bong Cu membuat satu lompatan katak, langsung maju jauh kedepan, dan begitu cepat sekali, dia sudah ditempat beberapa cun dari musuhnya tangan jago itu didorong, dengan uap-uap putih yang sangat luar biasa itu, maksudnya menjatuhkan jago muda kita.

Su-to Yan membalikkan tangan, maka didorongnya segera, dan dua pasang tangan itu terbentur.

Sepasang tangan Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu yang mengeluarkan uap putih ditahan oleh segumpalan uap hijau yang perlahan-lahan semakin menebal, inilah ilmu kabut Hijau dari tenaga Su-to Yan.

Dari dua macam uap yang tidak sama itu semakin lama semakin menebal, pertandingan terjadi begitu hebat sekali.

Kekuatan Su-to Yan perlahan-lahan mengendor, tapi dia berusaha mempertahankan dirinya, sepasang telapak kaki dipantek keras-keras, tanah yang terpijak olehnya tidak tahan, tertekan dan amblas dua dim dan akhirnya memendam sampai tiga dim.

Dikala dua orang bertempur masing-masing memejamkan mata mempertahankan tenaga sekuat mungkin, dan Pek ie Kauwcu Bong Bong Cu dapat merasakan kekuatan yang pertama, kekuatan lawan begitu lemah sekali, kini dia membuka mata, terlihat keadaan Su to Yan yang mulai terdesak, kini ia memperlihat senyumannya ia puas sekali.

Uap putih semakin tebal, uap hijau menipis.

Leng Go Tiok juga seorang jago yang lihay, hanya sepintas lalu, ia dapat mengetahui bahwa kedudukan Su-to Yan tidak menguntungkan.

Maka kaki Su-to Yan sudah berada dalam tanah, tidak kuat membuat pertahanan.

Senyuman diatas bibir Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu semakin panjang.

Tiba-tiba...terdengar satu suara tertawa yang bergelombang, dan suara berdengung disekitar mereka.

Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu terkejut, ia kaget sekali, karena itu sisa tenaganya terlepas sebagian, kesempatan ini dipergunakan baik-baik oleh Su-to Yan, ia menjatuhkan dirinya kebelakang, demikian, gegernya hampir menyamai tanah, dan sret, tangan kanannya mengeluarkan pedang, dengan satu gerak tipu Thian-sankiam-hoat dari Thian-san-pay, dia menyerang lawannya.

Disaat-saat Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu hampir berhasil menjatuhkan Su-to Yan, datang apa suara itu sangat tidak menguntungkan sekali, dan lengahlah dia, sehingga membuat pemuda kita dapat mengeluarkan pedang tetapi dia tidak takut, segera menggunakannya kembali.

Tangan kanan Su-to Yan berhasil memainkan ilmu pedang ThianSan-kiam hoat, dengan tangan kirinya membantu usaha melepaskan diri itu.

dan kini dia berdiri tegak lagi, kakinya tercabut dari keadaan yang buruk, kini dia berada dalam posisi yang sangat menguntungkan.

Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu begitu hafal dengan ilmu pedang Maya Nada, maka dia berhasil menekan Su-to Yan.

Ilmu pedang yang sipemuda gerakkan adalah ilmu pedang ThianSan-pay, dia bingung sekali, karena itu belum menemukan cara baik untuk menundukkan jago muda kita.

Pertandingan berjalan seimbang Sekali lagi Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu menggunakan Pek-ie Sin-kang, uap-uap putih menebal keatas.

Su-to Yan memainkan ilmu pedang Thian-san-kiam-hoat, kadangkadang diselip juga ilmu pedang Maya Nada, maka tangan kirinya membantu dengan tiga belas jari luar biasa, kadang-kadang bercampur juga dengan iblis sakti bersilat dan melihat uap putih yang tebal itu, dia tidak mau menekankan pertempuran semakin lama, tubuhnya melejit kebelakang, mengundurkan diri, melewati pohon dan membuat satu posisi baru lagi, yang letaknya jauh dengan Pek-ie Kauw Cu Bong Bong Cu.

Disaat ini suara tertawa orang yang baru datang sudah sirap, disana bertambah seorang tua, berbaju hitam dan berwajah hitam, itulah Hoan-thiam Mo-kun Thiat Kiam Seng, orang yang menjadi tandingan setimpal dari ketua lembah Cui-goat-kok, si Kiu han Sinkun Ko Ciu.

Wajah Pek ie Kauwcu Bong Bong Cu berubah, dia meninggalkan maksudnya yang hendak mengajar Su-to Yan, dia harus berhadapan dengan jago hitam ini.

"Tidak kusangka, saudara Hoan-thian Mo kun Thiat Kiam Seng juga sudah tiba ditempat."

Sapanya tertawa.

Disebutnya nama Hoan-thian Mo-kun Thian Kiam Seng sangat mengejutkan Su-to Yan, dia menoleh kebelakang, dan betul-betul dia melihat tampilnya jago hitam tersebut.

Hoan-thian Mo-kun Thiat Kiam Seng tertawa sebentar memandang kearah Pek ie Kauw cu Bong Bong Cu, menoleh kepada jago pedang kita Su-to Yan, dan kedatangan ini bermaksud mencari padanya.

Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu berkata lagi.

"Apa maksud kedatangan saudara Thiat Kiam Seng?"

"Kedatanganku ada hubungannya dengan pemuda ini,"

Berkata Hoan thian Mo-kun Thiat Kim Seng sambil membujuk Su-to Yan.

"Dia?"

Berkata Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu.

"Betul Dikabarkan bahwa dia sudah meninggal dunia. Tapi entah bagaimana, ada juga yang memberitahu kepadaku bahwa Su-to Yan belum mati, karena hubunganku dengannya di lembah Cui-goat-kok, aku hendak mengecek kebenaran dari berita-berita tersebut, akhirnya aku berhasil juga."

"Hem...."

Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu mengeluarkan suara dari hidung, Keterangan saudara Thian Kiam Seng ini belum tentu keterangan yang sejujurnya, mungkinkah ada sangkut pautnya dengan kitab ilmu pedang Maya Nada?"

Hoan thian Mo-kun Thiat Kiam Seng tertawa perlahan, dia tidak menyangkal itulah maksud tujuan utamanya, demikian dia berkata.

"Urusan ilmu Pedang Maya Nada, kurang begitu penting, yang hendak kuketahui jelas ialah, bagaimana hubungannya dengan tiga jago dari pulau Tong-hay. itu betul-betul membuat aku mengerti."

"Lalu, urusannya bagaimana?"

Tanya Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu, hatinya menjadi agak lega, karena mengetahui bahwa kedatangan Thiat Kiam Seng tidak mengutamakan urusan kitab ilmu Pedang. Hoat-thian Mo-kun Thiat Kiam Seng berkata.

"Kau tidak tahu urusannya, urusan dimulai dari lembah Cui-goat kok, itu waktu ketika aku dengan Kiu-han Sin-mo Ko Cio bersenangsenang mengadu ilmu tenaga dalam, secara tiba-tiba saja dia menyelak ditengah-tengah kami, maka kami menggunakan tubuhnya sebagai transformator, apa mau dalam dirinya terdapat tenaga mengeram pelekat dari daerah Tong-hay, sehingga tenagaku dan tenaga Kiu-han Sin-mo Ko Cio tersedot terisap olehnya, Tidak bisa di tarik kembali, melekat dan mengeram terus di dalam tubuhnya, karena ini, aku datang untuk menagih kembali tenagaku yang terisap itu."

"Thiat Kiam Seng"

Tukas Pek-ie Kauw-cu Bong Bong Cu tertawa gelak-gelak.

"Kau hendak menagih tenagamu yang sudah dihisap olehnya, tapi kau belum berpikir tentang apa akibatnya, dia mempunyai hubungan baik dengan tiga jago dari daerah Tong-hay, mungkinkah mereka berpeluk tangan, bila salah seorang rekannya yang terdekat dihina olehmu ?"

Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu membakar dan memanasmanaskan hati orang. Hoan-thian Mo-kun Thiat-kiam Seng berkata.

"Aku tidak takut !"

"Tentu saja kau tidak takut,"

Berkata Pek ie Kauwcu Bong Bong Cu.

"Tapi, sudahkah terpikir olehmu, betapa pesat kemajuannya bocah ini? Dia sudah memiliki ilmu pedang Maya Nada, kukira belum tentu dapat ditandingi olehmu."

Hoan-thian Mo-kun Thiat Kiam Seng kaget, tetapi ia tidak memperlihatkan rasa terkejutnya itu, dikekangnya saja didalam hati, dan ia tertawa untuk menghilangkan rasa kaget tersebut, baru dia berkata.

"Justru karena dia memiliki ilmu pedang Maya Nada, beratlah tekadku untuk meminta kembali tenagaku yang dihisap olehnya itu, dengan adanya ilmu pedang Maya Nada dimiliki olehnya, aku bisa memperlihatkan ilmu-ilmu yang hebat lagi."

Lebih telah yang lebih Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu tertawa Su-to Yan mengira bahwa kedatangan Hoan thian Mo-kun tidak mendapat kesesuaian dengan Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu, akibatnya tentu menimbulkan sedikit pertempuran, tapi kenyataan tidak.

Saat ini Seng-mo Leng Go Tiok sedang memperhatikan gerakgerik murid-murid Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu.

Su-to Yan menoleh kearah Seng-mo Leng Go Tiok, hendak mengetahui bagaimana reaksi jago silat ini.

Dan, ia tidak dapat menduga bagaimana pendirian Seng mo Leng Go Tiok.

Perdebatan adu suara antara Pek-ie Kauw cu Bong Bong Cu dan Hoan-thian Mo-kun Thiat Kiam Seng belum selesai, terdengar lagi suara Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu.

"Kau hanya meminta kembali tenagamu saja bukan?"

"Tentu."

Berkata Hoan thian Mo-kun Thiat Kiam Seng.

"Bagus."

Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu berteriak girang.

"Mudah saja diselesaikan. Bagaimana bila aku memberi usul, agar kitab ilmu pedang diserahkan kepadaku dan si bocah kuserahkan kepadamu?"

Hoan thian Mo-kun Thian Kiam Seng berpikir sebentar, baru dia berkata.

"Kudengar cerita tentang bagaimana Kong Sun Put-hay menciptakan ilmu pedang Maya Nada, dengan ilmu ini dia berhasil menjatuhkan saudara-saudara seperguruannya, Nah betapa ilmu pedang Maya Nada, kukira akupun tertarik Boleh saja bila melihat sebentar, bukan?"

Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu meninggikan sepasang alisnya, tahulah dia, bahwa Thiat.Kiam Seng juga ada niatan untuk memilikinya ilmu Pedang Maya Nada, inilah sikap yang bertentangan dengan dirinya, kini dia menantang.

"ilmu kepandaian kita berimbang. Bila sampai terjadi bentrokan, Kukira tidak ada faedahnya."

"Tentu saja."

Berkata Thiat Kiam Seng "Lebih baik kita tidak bertempur. Kau sudah lama tiba ditempat ini bukan? Nah giliran aku yang disini, mengapa kau belum mau pergi juga?"

Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu tertawa berkakakan, katanya.

"Ha, ha, Thiat Kiam Seng, enak saja kau bicara, Betul bahwa ilmu kepandaian Hoan thian-sin-hwee-ciang yang kau miliki cukup hebat, tapi ilmu kepandaian Kui-hie Sin-kang yang telah lama kupelajari adalah ilmu yang khusus dapat menjatuhkan ilmumu itu, belum kah kau tahu akan hal ini ?"

"Huuuuuuaaa ....hua , ... haa ... haaaa . ."

Suara Thiat Kiam Seng menggema.

"Betul-betul hendak kucoba lebih dahulu, disini kita coba ?"

Sepasang mata Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu berkilat-kilat, bila hanya Thiat Kiam Seng seorang, tentu dia tidak takuti tapi ditempat ini masih ada jago-jago hebat lainnya, seperti Su-to Yan dan Sengmo Leng Go Tiok, apa akibatnya bilamana dia digencet oleh ketiga kekuatan tadi ?"

Akibatnya itu tidak akan menguntungkan dirinya, Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu harus berpikir lama, apalagi kedatangan Kiu-hoan sin-kun Ko Cio juga tidak lama, itupun musuhnya pula.

Dari tempat yang jauh, meluncur satu gumpalan awan putih, cepat sekali, bayangan putih ini sudah tiba ditempat itu, inilah seorang tua.

Serba putih, jenggot putih, pakaian putih, dan sepatu putih, siapa lagi kalau bukan ketua Cui-goat-kok, Kiu-hoan Sin kun Ko Ciu.

Hoan Thian Mo-kun Thiat Kiam Seng tertawa, kepada orang yang baru tiba dia berkata.

"Saudara Ko Cio kau juga datang ?"

"Kita bisa bekerja sama."

Berkata sang ketua lembah Cui-goatkok.

"Kukira kau sedang menghadapi lawan kuat, kedatanganku adalah menguntungkanmu."

"Betul ... betul ... selalu kita bekerja sama, bukan ?"

Berkata Hoan-thian Mo-kun Thiat Kiam Seng girang. Thiat Kiam Seng memandang kearah Pek ie Kaucu Bong Bong Cu dan berkata.

"Bagaimana ?"

Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu memperhatikan situasi ditempat itu, dan akhirnya sinar matanya terarah kepada Su-to Yan, timbul niatan baru, dia tertawa sebentar, dan menarik pedang panjang dilemparkannya ke arah Su-to Yan lalu berkata.

Tangan Su-to Yan bergerak menyambuti pedang yang melayang datang dengan cepat dan tepat.

Baru Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu berkata lagi.

"Su-to Yan, mereka hendak mengangkut harta bendamu."

Su-to Yan menganggukkan kepala dengan singkat berkata.

"Aku tahu."

"Relakah diserahkan kepada mereka?"

Berkata Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu.

"Apa aku hendak dijadikan boneka, sembarang dipungut dan ditenteng-tenteng orang?"

Berkata Su-to Yan menantang.

"Ha.... ha.... ha.,."

Pek-ie Kauwcu Bong-Bong-cu tertawa. -ooo0dw0ooo-

Jilid 15 DAN dihadapinya lagi kedua kakek hitam dan putih itu, seraya berkata kepada mereka.

"Kalian sudah dengar? Dia tidak mau turut kepadamu berdua."

Hoan thian Mo-kun Thian Kiam Seng dan Kiu-hoan Sin-kun Ko Cio saling pandang, mereka tersenyum seraya menganggukkan kepala, inilah persepakatan.

"Su-to Yan,"

Berkata kedua jago tua itu.

"Jangan kau kukuh kepala."

Disaat yang sama Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu juga berkata.

"Su-to Yan, dua manusia Srigala ini hendak bersepakat menyatronimu, dimisalkan dengan tenagamu seorang diri, kukira tidak mungkin. Pedang sudah dikembalikan kukira dengan tenaga kita berdua dapat mengenyahkan mereka."

Su-to Yan berpikir sebentar, akhirnya dia menggoyangkan kepala, katanya.

"Berterima kasih atas perhatianmu. Dimisalkan kita berhasil mengusir mereka, diantara kita berdua, secara pribadi pasti terjadi lagi pertarungan Betulkah?"

Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu menjawab pertanyaan itu sambil tertawa.

"Kekuatan kita seimbang, bertempur denganku, bukan seperti kekalahan untukmu. Kesempatan hidup masih terlalu banyak bagimu, Tapi, berpikirlah baik-baik, bila sampai terjadi mereka bekerja sama, mengeroyok dirimu sanggupkah kau bertahan?"

Su-to Yan diam, dia bungkam. Pek-ie Kaucu berkata lagi.

"Disini terdapat banyak jago-jago rimba persilatan, Hoan Thian Mo kun Thian Kiam Seng dan Khiu hoan Sin Ko Cio bergabung menghadapimu, aku dan murid-muridku memusuhimu. masih ada seorang lagi Seng-mo Leng Ko Ciok, dapatkah kau bertahan terhadap keroyokan demikian banyak orang?"

Apa yang diutarakan oleh Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu memang sangat beralasan, seharusnya Su-to Yan bekerja sana dengannya beserta ketiga murid jago purbakala itu, maka dia masih mempunyai kans kesempatan hidup.

Hanya kesempatan hidup samentara, tidak ada artinya.

Su-to Yan bertekad tidak mau bekerja sama.

Karena itulah dia diam dalam seribu bahasa.

Tidak menjawab tawaran jasa baik Pekie Kaucu Bong Bong Cu.

Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu berkata lagi.

"Su-to Yan, bagaimana putusanmu? Bekerja sama dengan kami mengusir mereka, atau me musuhi semua orang yang ada ditempat ini."

Su-to Yan masih diam.

"Su-to Yan,"

Panggil lagi Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu.

"Berikan jawaban, bekerja sama atau menolak kerja sama?"

Didesak terus menerus, tidak mungkin Su-to Yan diam lagi, dia mengambil keputusan dan berkata.

"Aku bersedia bekerja sama, Tapi tidak bekerja sama denganmu, Menyesal sekali, Aku tidak bisa bekerja sama denganmu,"

Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu tertegun, ia menduga bahwa Su-to Yan hendak bekerja sama dengan orang lain, untuk menghadapi dirinya, karena itu cepat-cepat ia berkata.

"Bekerja sama dengan merekapun tidak ada gunanya, berpikirlah baik-baik."

Hampir berbareng, Kiu-hoan Sin-kun Ko Cio, dan Hoan-thian Mokun Thian Kiam Seng berkata.

"Betul, Lebih baik kita bekerja sama mengusir dia."

Dengan menggabungkan diri, mereka mudah untuk mengusir pergi Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu.

Giliran kedudukan Pek-ie Kaucu yang terjepit.

Tetapi jawaban Su-to Yan sungguh berada diluar dugaan semua orang, terdengar suara sipemuda berkata.

"Bukan maksudku bekerja sama dengan kalian."

Dia juga menolak jasa baik Hoan-thian Mo-kun-hiat Kiam Seng dan Kia-hoan Sin-kun Ko Cio.

Secara bergiliran, Su-to Yan menuju ke-arah Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu, Kiu-hoan Sin-kun Ko Cio dan Hoan-thian Mo-kun Thian Kiam Seng, kepada ketiga orang itu dia berkata.

"Kau ....kau ....dan kau janganlah mencari jalan lain untuk mendekati diriku, Aku tidak bisa bekerja sama dengan kalian. siapapun tidak dapat kusenangi, aku tidak mempunyai minat untuk bekerja sama dengan orang."

Ketiga jago tua yang ditunjuk oleh Su-to Yan tertegun. Disamping mereka, Seng-mo Leng Kho Tiok tertawa berkakakan.

"Betul... betul ... betul ... tidak satu dari mereka yang mempunyai maksud baik, tentu saja tidak guna bekerja sama dengan orang yang tidak mempunyai maksud baik. Satu langkah yang tepat, Langkah yang betul."

Pek-ie Kaucu membentak. Bong Bong Cu mendelikkan matanya, dia "Mungkinkah bekerja sama denganmu ?"

Kata-kata ini ditujukan kepada Seng-mo Leng Kho Tiok.

"Salah."

Berkata Seng-mo Leng Kho Tiok.

"Aku tidak perlu mengajaknya bekerja sama. jangan salah paham."

Hoan-Thian Mo-kun Thiat Kiam Seng berkata dingin.

"Apa maksudmu dengan kata-kata yang seperti tadi?"

Kiu hoan Sin kun Ko Cio juga berkata.

"Kau berdiri dipihak siapa ?"

Dengan gagah Seng-mo Leng Kho Tiok berkata.

"Aku berdiri diatas sepasang kakiku, Aku berdiri diatas diriku sendiri."

Han-thian Mo kun Thiat Kiam Seng memandang kearah Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu dan berkata.

"Bagaimana denganmu ?"

"Aku tetap menantang kalian."

Berkata Pik ie Kaucu Bong Bong Cu tegas.

"Saudara Ko Cio,"

Berkata Thian Kiam Seng.

"Sudah kau dengar? Kita harus mengenyahkannya lebih dahulu."

"Baik."

Berkata Pek ie Kaucu Bong Bong Cu menantang.

"Aku tidak takut kepada kalian berdua, walau hanya dengan tenaga seorang diri saja."

Dari jauh, terdengar suara seorang sayup-sayup berkumandang.

"Kau bukan seorang diri, masih ada aku."

Mendengar suara ini rasa girangnya Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu tidak kepalang, segera ia meneriaki orang yang berkata tadi.

"Apa Cit Su Hiat kun yang berada ditempat itu? Bagus! Aku sedang membutuhkan bantuanmu."

Dari mana arah datangnya suara tadi, meluncur datang satu bayangan merah, inilah jago silat kura-kura yang bernama Cit su Hiat kun, kawan baik Pek ie Kaucu Bong Bong Cu.

Pek ie Kaucu Bong Bong Cu sedang memikirkan jalan, bagaimana dapat mengenyahkan Hoat thian Mo kun Thiat Kiam Seng dan Kiu hoan Sin kun Ko Cio, kedatangan Cit Su-hiat kun, tepat pada saatnya, dengan girang sekali memandang kepada dua musuhnya dan berkata.

"Bagaimana? Keadaan tenaga kita sudah seimbang, sudah boleh kiranya untuk bertanding."

Disaat ini, Cit-Su-hiat kun sudah merendengi Pok-ie Kaucu Bong Bong Cu. Han thian Mo-kun Thiat Kiam Seng berkata.

"Kau seorangpun boleh, berduapun tidak mengapa, Tidak ada orang yang melarang kau bicara keras."

Tubuh Cit-Su Hiat-kun bergerak, dengan membawa desiran bajunya yang berwarna merah, ia menjulurkan tangan kanannya memukul kearah Hoan-thian Mo-kun thiat-kiam-seng seraya membentak.

"Aku tidak seperti Bong Bong Cu bisa membiarkan kalian pentang bacot lama-lama, terima serangan."

Hoan thian Mo-kun thiat Kiam Seng melentikkan alisnya, membalikan tangan dan memukul kearah datangnya serangan, dari situ terjulur keluar satu arus yang bertenaga panas.

Cit-su Hiat-kun memiliki ilmu pukulan tangan busuk luar biasa, tapi diapun tidak berani membiarkan tangannya dibentur oleh tenaga panas Hoan thian Mo-kun Thiat Kiam Seng.

Tubuhnya bergerak, dengan menghindari diri dari bentrokan yang kontras, dia menyerang dari lain bagian.

Baca Juga: Dara Baju Merah 8

Baca Juga: Raja Pedang 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert