Ceritasilat Novel Online

Pedang Wucisan 6

Eps 6 Pedang Wucisan - Chin Yung

Baca online Pedang Wucisan - Chin Yung

Cersil Pedang Wucisan - Chin Yung.

Hoan thian Mo-kun Thiat Kiam Seng berdengus, kini dia menggunakan kedua tangannya, membikin pembalasan dan juga menyerang, gulungan-gulungan hawa panas mengelilingi dirinya dan juga menyerang kearah Cit-Su Hoat-kun.

Cit-su Hiat kun tidak mau kalah, tubuhnya berlompat-lompatan diapun menggunakan sepasang tangan, itulah ilmu pukulan Busuk, mencari kekosongan lawannya.

Demikian dua orang itu mulai bertempur Kiu-hoan Sin kun Ko Cio langsung berhadapan dengan Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu, tantangnya .

"Bagaimana? Sudah waktunya giliran kita bertempur bukan?"

Pek-ie Kaucu Bong Bong Ca tertawa berkakakan, dia tidak segera menerima tantangan itu dan katanya.

"Jangan kita terburu nafsu, bentrokan senjata diantara orang sendiri menguntungkan musuh maka Su-to Yan dapat menggunakan kesempatan ini, mungkin dia melarikan diri, mungkin pula dia menyerang dari belakang, Kita akan celaka sama-sama celaka."

Kiu-hoan Sin kun Ko CiO dapat dibikin mengerti, dia sadar kepada kesalahannya, karena itulah bertanya.

"Maksudmu bagaimana ?"

"Aku tidak bisa memberi komentar,"

Berkaca Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu.

"Tapi ketahuilah bahwa ilmu kepandaian Su-to Yan itu hebat sekali, kukira belum tentu kau dapat menandinginya."

"Aku tidak percaya."

Berkata Kiu-hoan Sin-kun Ko Ciu.

"Tapi aku percaya."

Berkata Pek ie Kauwcu Bong Bong Cu.

"Hmm..!"

Kiu hoan Sin kun Ko Cio mengeluarkan suara dari hidung.

"Hei, hei..."

Pek ie Kaucu Bong Bong Cu mengeluarkan suara yang memandang rendah.

Tubuh Kiu hoan Sin Kun Ko Cio bergerak, ia meluncur kearah Su to Yan, lima jarinya direntangkan dan mencengkeram sipemuda, Disaat yang sama mulutnya berteriak.

"Nah, boleh kau saksikan, bagaimana aku menghadapinya."

Pek ie Kaucu Bong Bong Cu tertawa lagi, dia berhasil membakarbakar dan membuat panas hati orang, karena itulah dia berhasil melepaskan diri dan menghadiri pertempuran tadi, kini yang harus dilakukan pembelaan diri adalah sipemuda kita Su-to Yan.

Su to Yan dapat serangan Kiu-hoan Sin-kun Ko Ciu, pedang ditangan dilibatkan dan membuat beberapa lingkaran, hendak memapas putus jari jari ketua lembah Cui goat kok itu.

Huuuh, Kiu hoan Sin kun Ko Cio menarik kembali tangannya, dia berlompat kebelakang, dijulurkannya lagi, tidak berhasil, serangan pertahanan pedang Su-to Yan juga berada ditempat itu, apa boleh buat ia melejit tinggi, dari atas ia mencengkeram sepasang tangannya.

Su-to Yan mempercepat proses ilmu pedang, sangat hebat, dia mengancam setiap jari-jari yang menyerang dirinya.

Kiu hoan Sin kun Ko Ciu segera mengenali ilmu pedang Yang po kiam hoat, ilmu pedang Yang po kiam hoat pernah dimainkan oleh sipemuda srigala Lee Pin, tapi bilamana dibandingkan dengan permainan Su-to Yan permainan Lee Pin jauh dibawahnya.

Kiu hoat Sin kun Ko Cio mengerahkan tenaganya, dari situ meluncur tenaga hawa dingin yang meresap tulang, dan menyerang kearah Su-to Yan, maka udara disekitar situpun mulai membeku, terjadi hujan salju, bunga-bunga salju itu bertaburan disekitar tubuh pemuda kita.

Su-to Yan menyedot napas dalam-dalam, ia pertahankan diri dari godaan-godaan hawa dingin itu, dengan mempercepat gerakangerakannya, dengan adanya kekuatan tenaga dalam yang luar biasa, serangan hawa dingin tidak dapat mengganggunya.

Wajah Kiu-hoan Sin-kun berubah, dia bermaksud untuk menyerang lagi, tapi segera terpikir olehnya, bahwa tenaga dalam Su-to Yan sudah begitu mahir sekali, jika tidak melalui ratusan atau ribuan jurus, bila sampai terjadi, hal itupun sudah terlambat, sampai saat itu tenaganyapun sudah hampir habis, celakalah jika Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu menyerang dari belakang.

Pikiran Kiu-han Sin-kim Ko Cio bekerja cepat, tubuhnya melejit balik, dan mengakhiri pertempuran.

Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu tertawa, katanya mencemooh.

"Bagaimana? Apa yang kukatakan tidak salah, bukan?"

Kiu-hoan Sin-kun Ko Cio mengeluarkan suara dengusan dari hidung, dia tidak bicara.

Lawan-lawan yang berada ditempat itu adalah lawan lawan yang terkuat, jika bentrok dengan salah satu dari mereka.

berarti melemahkan kekuatan diri sendiri.

Terdengar suara Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu berteriak lagi.

"Seharusnya kita bekerja sama untuk menghadapinya."

Kiu-hoan Sin-kun Ko Cio bungkam.

Mengetahui bahwa rencananya sudah berhasil Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu berteriak kepada dua orang yang sedang bertempur "Saudara Cit-su Hiat-kun.

saudara Hoan thian Mo-kun Thiat Kiam Seng, hentikan pertempuran kalian."

Cit-su Hiat kun dengan ilmu pukulan Busuknya tidak berhasil menjatuhkan lawan, mendengar teriakan sang kawan dia melejit kebelakang, mengakhiri pertempuran.

Hoan-thian Mo-kun Thian Kiam Seng juga berdiri ditempat pertempuran itupun terhenti Kiu-hoan Sin-kun Ko Cio mendekati Thian Kiam Seng, kepada orang itu dia berkata.

"Su-to Yan telah mendapatkan ilmu hebat, kukira tidak mudah dihadapi"

Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu berteriak "Aku mempunyai rencana untuk menghadapinya."

"Rencana apa?"

Berkata Hoan-thian Mo-kun Thiat Kiam Seng.

Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu mengedip-ngedipkan matanya, tanpa mengeluarkan sekejap matapun, dia sudah bisa mengutarakan apa maksud yang sebenarnya.

Hoan-thian Mokun Thiat Kiam Seng mengerti dia berkata.

"Maksudmu, dengan kekuatan kita berempat menghadapi dia seorang ?"

Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu tidak membenarkan dugaan itu, juga tidak menyalahkannya, dia melirik kearah Su-to Yan sebentar, dengan perlahan-lahan dia berkata.

"Siapa diantara kita berempat yang harus menyerangnya lebih dahulu ?"

Hoan thian Mo-kun Thiat Kiam Seng dan Kiu-hoan Sin-kun Ko Cio tidak segera bergerak, mereka tahu, sampai dimana ilmu kepandaian Su to Yan, lebih baik diam, daripada dijadikan pelopor pertempuran baru.

Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu berkata lagi.

"Aku ada rencana baik, bagaimana bila kita berempat bekerja sama? Boleh juga dijadikan taruhan, siapa yang berhasil melukainya, dialah yang menang, Sibocah Su-to Yan menjadi hak miliknya, setuju ?"

Su-to Yan hendak dijadikan alat taruhan judi, siapa yang mendapatkannya lebih dahulu, dialah yang berhak atas hidup matinya sipemuda.

Hoan thian Mo-kun Thiat Kiam Seng dan Kiu hoan Sin kun Ko Cio berpikir sebentar, mereka berpandangan dan masing-masing menganggukkan kepala.

Mereka setuju atas usul Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu berikan tadi.

Cit-Su Hiat-kun juga bertepuk tangan, dengan suara girang dia berteriak.

"Usul bagus..."

Mengetahui bahwa ketiga jago luar biasa itu setuju, Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu berkata.

"Nah, kita boleh mulai."

Seng-mo Leng kho Tiok mendekati Su-to Yan, dan berkata kepada sipemuda.

"Perlu bantuan ?"

Su-to Yan tersenyum, ia menganggukkan kepala berarti tanda terima kasihnya, baru dia berkata.

"Empat tokoh luar biasa hendak menjadikan aku sebagai barang pertaruhan, minggirlah ke samping. Lihat bagaimana mereka bisa berbuat kepadaku."

Leng Kho Tiok menganggukkan kepala, katanya.

"Baiklah, Berhati-hatilah kepada mereka, Tetapi aku lebih percaya kepadamu, ilmu kepandaian keempat orang ini sungguh luar biasa, tapi pikiran dan hati mereka tidak sama, masing-masing mementingkan dirinya sendiri. Masing-masing tidak mau mengerahkan tenaga penuh, Legakanlah hatimu."

Betul-betul Seng-mo Leng Kho Tiok mengundurkan diri dari persengketaan itu, membiarkan Su-to Yan menghadapi empat jago luar biasa.

Su-to Yan sudah lama siap, menantikan datangnya serangan dari empat jago luar biasa itu.

Baik Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu, baik si pukulan Tangan Busuk Cit su Hiat kun, baik Hoan thian Mo kian Thiat Kiam Seng, atau juga Kiu Hoan Sin kun Ko Cio, tidak satupun seperti apa yang dikatakan oleh Seng-mo Leng kho Tiok, tidak satupun dari mereka yang mempunyai pikiran sama, masing-masing menyimpan tenaga sendiri, tidak mau mulai bergerak lebih dahulu.

Ketegangan tetap menjadi ketegangan Beberapa waktu telah dilewatkan, suasana masih tetap seperti sedia kala, Disaat ketegangan itu belum reda, ditempat jauh.

diujung langit terlihat gumpalan awan merah bergulung-gulung, mengepul, itulah asap merah.

Si Tosu Tukang Sado Giok Hie lebih memperhatikan situasi sekitarnya, segera dia mengeluarkan teriakan kaget.

"Suhu."

Jarinya menuding kearah tempat dimana terdapat asap merah itu.

Pek-ie Kaucu Bong Bong Ciu kaget, dia menoleh kesana, rasa terkejutnya lebih menjadi lagi.

Bukan Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu saja yang kaget, semua orang yang berada ditempat itupun kaget, itulah kejadian yang tidak normal, belum pernah mereka menyaksikan ada awan yang merah membara seperti itu.

Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu mengeluarkan suara elahan napas panjang, dia berkata.

"Su In Seng segera tiba."

Su In Sing adalah sipedang Berapi yang terkenal dengan awan merahnya, dia menduduki ketua partai Cian san-pay.

Kedudukkannya juga sangat tinggi.

Cit-Su Hiat-kun mengeluarkan suara dingin, dengan menghina dia berkata.

"Su In Seng itu memang pandai berlagak dia senang sekali dengan asap merahnya."

Percakapan mereka itu tidak lebih dari beberapa suku kata, awan dan asap merah bergulung datang, sebentar saja, disana sudah bertambah seseorang, inilah ketua partai Cian san-pay si Pedang Berapi Su In Seng.

Su in Seng memandang tokoh-tokoh silat yang berada ditempat itu, dia menganggukkan kepala berulang kali dan berkata.

"Sungguh diluar dugaan, ditempat ini bisa berkumpul sekian banyak orang-orang yang menjadi tokoh silat ternama sekali."

Orang yang terdekat dengannya adalah Kiu hoan Sin kun Ko Cio, maka segera orang ini bertanya.

"Saudara Su In Seng, apa maksud kedatanganmu? Mungkinkah hendak turut serta memperebutkan Su to Yan ?"

"Haaaa, haaa... kalian sedang memperebutkan Su-to Yan?"

Berkata Su In Seng tertawa.

"Apa yang menjadi maksud tujuanku hanya dua soal, yang pertama adalah membalas budi, yang kedua adalah menuntut balas."

Kiu-hoan Sin kun Ko Cio berkata.

"Bagaimana maksud kedatanganmu ditempat ini? Membalas budi atau menuntut balas?"

Pek ie Kaucu Bong Bong Cu juga belum tahu bagaimana maksud tujuan Su-In Seng karena itu dia diam. Cit Su Hiat kan berkata.

"Apa kau juga hendak memiliki kitab ilmu pedang Maya Nada ?"

Su In Seng bergoyang kepala, katanya.

"Aku tidak membutuhkan ilmu pedang Maya Nada, karena itulah aku tidak membutuhkan kitabnya."

Mendengar keterangan ini, Pek ie Kaucu Bong Bong Cu sedikit kecewa, ternyata Su In-Seng tidak akan turut serta dalam memperebutkan kitab ilmu pedang Maya Nada, besar kemungkinannya jago ini berdiri dipihak lawan.

"Su In Seng,"

Katanya.

"Semua orang yang berada ditempat ini sedang memperbuatkan kitab ilmu Maya Nada, tapi kau tidak mempunyai urusan dengan kitab ilmu pedang tersebut, ada baiknya kau menyingkir lebih dahulu."

"Huh,"

Berkata Su In Seng "Apa kau menjadi kepala ditempat ini?"

Pek ie Kaucu Bong Bong Cu berkata.

"Su In Seng, katakanlah sejujurnya, apa maksud kedatanganmu ?"

Su In Seng melirik kearah Su to Yan dan dia menjawab pertanyaan itu.

"Kedatanganku adalah mendapat tugas dari seorang yang pernah berlaku baik kepadaku katakan olehnya bahwa aku harus membawa Su-to Yan kepadanya menghadapkan Su-to Yan kepadanya."

"Siapakah orang itu?"

Bertanya Pek ie Kau-cu Bong Bong Cu.

Bukan Pek ie Kaucu Bong Bong Cu saja yang hendak mengetahui orang dibelakang Su In Seng, semua orang yang ada disitupun hendak mengetahui siapa orangnya yang dapat memberi perintah kepada seorang jago rimba persilatan yang seperti si pedang berapi Su In Seng.

Demikian pula musuh-musuh Su-to Yan, demikian pula pikiran sipemuda, dia tidak tahu siapa orang yang hendak bertemu dengannya?

Mengapa memberi perintah kepada Su In Seng untuk memangginya ditempat ini.

Su In Seng membuka suara.

"Sam-kie Ju-su In Hong."

Ternyata orang yang hendak bertemu dengan Su-to Yan adalah Sam kie Ju-su In Hong, ayah angkat sipemuda.

Tapi dengan alasan apa Sam-kie Ju-su In-Hong tidak mencarinya sendiri, mengapa harus mengutus si pedang Berapi Su In Seng?

Mengingat kedudukan ketua partai Ciam San-pay itu, kata-kata suruh adalah kurang tepat, kedudukannya dapat merendengi kedudukan Sam-kie Ju su In Hong, tentu telah terjadi sesuatu apa atas diri jago Tong-hay itu.

Hati Su-to Yan berdebar-debar.

"Dimanakah ayah angkatku?"

Dia bertanya.

"Mari ikut kepadaku."

Berkata sipedang Berapi Su In Seng.

"Di manakah ayah angkatku itu? Mari kita pergi,"

Berkaca Su-to Yan. Si pedang berapi Su In Seng berkata.

"Ayah angkatmu itu telah menderita luka, tidak jauh dari tempat ini, lukanya berat sekali, maka dia memberi pesan padaku agar mengajak kau kesana."

Hati Su-to Yan tercekat, ternyata ayah angkatnya menderita luka, pantas saja berpesan kepada Su In Seng agar dapat mengajak dirinya pergi bertemu dengan jago Tong-hay tersebut.

"Apa dia sampai tidak bisa bergerak?"

Berkata Su-to Yan.

"Demikianlah kira-kira, dan kau harus lekas pergi, dia menantikan dirimu."

Su In Seng sudah siap untuk mengajak Su-to Yan pergi.

Si Tosu tukang Sado Giok He tanpa menunggu perintah, tubuhnya meleset menubruk kearah belakang Su In Seng.

Su In Seng tertawa berkakakan, begitu cepat pula ia membalikkan badan, sreet, dengan pedangnya yang luar biasa memancarkan sinar cahaya merah menangkis serangan bokongan Giok Hie.

Pek-ie Kaucu Bong Bong cu kaget, sampai dimana ilmu kepandaian muridnya?

ia paham betul, tidak mungkin ilmu kepandaian Bambu Bung Kan-tiok-kang Giok Gie dapat menandingi pedang Su In Seng, karena itulah dia menarik nafas, juga menubruk kearah sana, dengan maksud memberi bantuan kepada muridnya.

Itu waktu pedang Su In Seng sudah keluar dari rangkanya., Sret, wing, dan terdengarlah suara dengungan yang panjang, tiga bayangan itupun terpisah, Su In Seng diutara Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu di selatan, si Hweeshio tukang Sado Giok Hie dibarat.

Pedang Su In Seng masih berdengung pelan, bergoyang-goyang.

Pek ie Kaucu Bong Bong Cu tertegun di tempatnya, dengan wajah yang tegang sekali menantikan perkembangan Si Tosu Tukang Sado GiOk Hie tidak bisa berdiri mantap, sebentar kemudian, diapun jatuh dari mulutnya menyemburkan darah, dia tidak dapat bicara lagi, dia sudah terluka dibawah ketajaman pedang Su In Seng.

Hanya didalam satu gebrakan, Su In Seng berhasil mendorong mundur Pek ie Kaucu Bong Bong Cu, melukai murid jago purbakala itu.

Su-to Yan mendekati kearah Su In Seng dan sang ketua Ciam San pay berkata kepada pemuda kita.

"Lekas kau menjumpai ayah angkatmu Tentang urusan disini, serahkan saja kepadaku, Dan disepanjang jalan ada anak murid Ciam San-pay yang memberi petunjuk kepadamu. Lekas !"

Su In Seng melindungi Su-to Yan dari kepungan empat jago-jago kelas satu istimewa.

Su-to Yan bukan seorang penakut, diapun mempunyai jiwa kesatria, mana boleh mementingkan diri sendiri, pergi begitu saja tanpa menghiraukan mati hidupnya Su In Seng ?

Demikian Su-to Yan mendekati Su In Seng, lalu berkata.

"Mengapa kita tidak bekerja-sama mengenyahkan mereka?"

Su In Seng maklum, betapa hebat ilmu kepandaian Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu sekalian, mereka hanya berdua, agak sulit untuk mengalahkan empat jago istimewa itu, maksudnya ialah membiarkan Su-to Yan pergi menemui Sam-kie Ju-su Im Hong, ia sendiri hendak membela mati-matian, berusaha mencegah pengejaran.

Dari dari sikap yang diperlihatkan oleh Su-to Yan, Su In Seng dapat mengerti kesulitan sipemuda, bilamana dia kukuh kepada pendiriannya, tentu Su-to Yan tidak mau pergi dari tempat ini.

Su In Seng segera memberi putusan cepat, dia berkata.

"Mari kita menerjang bersama."

Su-to Yan setuju, dia menoleh ke arah Seng-mo Leng Kho Tiok, dan hendak mengetahui bagaimana pendirian jago tersebut. Seng-mo Leng Kho Tiok tertawa kearah sipemuda diapun berkata.

"Jangan pikirkan aku, kupujikan kau selamat. Pergilah."

Dari kata-kata ini menandakan bahwa Seng-mo Leng Kho Tiok tidak menemani Suto Yan.

Su-to Yan berterima kasih, bersama-sama dengan Su In Seng dia siap menerjang.

Hoan-thian Mo-kun Thiat Kiam Seng, Kiu hoa Sin-kun Ko Cio, si Pukulan Busuk Cit-su Hiat-kun.

Pek-ie Kaucu beserta muridmuridnya mengurung Su-to Yan dan Su In Seng.

Saat ini Seng-mo Leng Kho meninggalkan tempat tersebut.

Tok berjalan kearah lain, Jago-jago yang berada ditempat itu hanya mempunyai maksud tujuan merebut kitab ilmu pedang Maya Nada yang berada pada Suto Yan, tujuannya adalah Su-to Yan, karena itu Seng-mo Leng Kho Tiok tidak dipentingkan sama sekali, tidak seorangpun yang mencegahnya kepergiannya.

Su-to Yan tidak dapat mengerti dan juga tidak bisa menyelami pikiran Seng mo Leng Kho Tiok, jago tersebut tidak mau mengeroyok dirinya, seolah-olah didalam dunia itu hanya ada dia seorang.

Disaat inilah Su In Seng sudah memberi tanda kepada Su-to Yan dan berkata.

"Mari kita berangkat."

Dia melesatkan diri, menuju kearah timur.

Menutup kata-kata Su In Seng tadi, terdengar suara geraman Citsu Hiat-kun, tubuh jago tersebut sudah meluncur cepat, dengan sepasang tangannya yang berbau busuk memukul kearah dua jago kita.

"Belum waktunya kalian pergi dari tempat ini."

Su In Seng tertawa berkakakan, dan pedangnya digoyangkan, memukul sepasang tangan Cit-Su Hiat-kun.

Serangan Su In Seng yang tidak gentar kepada ilmu tangan busuk Cit-su Hiat-kun memaksa orang yang bersangkutan menarik kembali serangannya tersebut, penyerangan gagal!

Hoan-thian Mo-kun Thiat Kiam Seng dan Kiu-hoan Sin-kun Ko Cio juga sudah bergerak, satu dari kanan dan satu dari kiri, dengan arus tenaga pukulan yang dingin dan panas, menyerang Su in Seng dan Su-to Yan.

Su-to Yan Su In Seng melepaskan ilmu pedang mereka, bebas bergerak kearah dua musuh itu.

Membarengi berkelebatnya sinar pedang dan tenaga halus dan panas, angin inipun pecah buyar, bergulung-gulung pergi ke arah samping.

Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu tertawa besar, dan giliran dia yang menyerang, Cit-su Hiat-kun juga mengirim serangan berikutnya.

Hati Su-to Yan tercekat, bila sampai terjadi terkurung oleh empat jago istimewa luar biasa itu, tidak mungkin ada kemenangan bagi pihaknya.

Karena itulah dia harus menerobos secepat mungkin, bergeram perlahan, dengan di sertai tusukan pedang, berulang kali meluncur ke arah luar.

Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu berteriak.

"Awas! jangan biarkan mereka lari!"

Kiu-hoan Sin-kun Ko Cio dan Hoan-thian Mo-kun Thiat Kiam Seng sudah berganti posisi, dan mereka menyerang kearah Su-to Yan.

Memaksa pemuda itu balik kembali ketempat kedudukannya yang semula.

Jalan Su-to Yan telah dibuat buntu, gerakan Hoan-thian Mo kun Thiat Kiam Seng dan Kiu-hoan Sin-kun Ko Cio cepat sekali, Berulang kali sipemuda menerobos, tidak berhasil memecahkan pertahanan panas dan dingin mereka.

Si pedang Berapi Su In Seng hendak memberi bantuan, tapi tidak berhasil, Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu dan Cit-su Hiat-kun menyerangnya dengan gencar dan hebat, hingga tidak bisa dia menggabungkan diri dengan Su-to Yan.

Pertempuran yang seperti itu terjadi di dua tempat, masingmasing satu lawan satu, Dengan semua tenaga dan ilmu silat yang ada, Su-to Yan melayani Kiu-hoan Sin-kun Ko Ciu dan Hoan-thian Mo-kun Thian Kiam Seng.

Su In Seng berusaha menerjang Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu dan Cit-su Hiat-kun.

Mereka adalah jago-jago istimewa, didalam sekejap mata seratus jurus telah dilewatkan, Su-to Yan tidak bisa dirubuhkan oleh kedua lawannya, tapi dia juga tidak bisa menerjang pertahanan kedua jago istimewa tersebut.

Demikian Su-to Yan, demikian pula Su In Seng, kedudukan si ketua partai Cian-san-pay jauh lebih berbahaya dari kedudukan Suto Yan, dia digencar terus-menerus, hampir saja mengalami kedudukan yang menjepit.

Kadang-kadang Su-to Yan melirik kepada Su In Seng, disaat ini sudah terjadi perobahan, tenaganya Su In Seng mulai mengendor, wajahnya sebentar putih sebentar biru, ternyata si Pedang Berapi telah menderita luka didalam.

Su-to Yan mengeluarkan geraman keras, pedangnya perlahan lahan diangkat tinggi, dari sana mencecar kedua jago tersebut, inilah ilmu yang tercatat dalam ilmu Pedang Maya Nada, namanya Cek-seng-kiam jit yang berarti Bintang-bintang Dilangit Mengelilingi Matahari.

Hoan-Thian Mo-kun Thian Kiam Seng, Kiu hoan Sin-kun Ko Cio lompat mundur.

Su-to Yan melintangi pedang di dada, langsung memasuki pertahanan lain, menggabungkan dirinya dengan Su In Seng dan menghadapi Pek ie Kaucu Bong Bong Cu beserta Cit-su Hiat kun.

Bila tadi masing-masing dua lawan satu, didua gelanggang pertempuran.

kini keadaan itu telah berubah, empat lawan dua terjadi di dalam satu gelanggang pertempuran.

Napas Su In Seng berdebar keras, terengah-engah tidak teratur, dia berkata dengan perlahan.

"Berangkatlah kau lebih dahulu, biar aku yang menahan mereka."

Su-to Yan menggoyangkan kepala, ia menolak usul tersebut.

"Kita akan berusaha melawan mereka."

Demikian berkata sipemuda.

Hoan Thian Mo-kun Thiat Kiam Seng dan Kiu-hoan Sin-kun Ko Cio merasa ditipu mentah-mentah, mereka mengganti posisi baru, dan disertai juga dengan gerakan Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu beserta Cit-su Hiat-kun.

Umur Su-to Yan yang meningkat dewasa, betapapun tingginya kekuatan tenaga dalam si pemuda, tidak mungkin dapat menandingi empat jago kelas istimewa.

Terdengar satu benturan keras yang bergemuruh, Su-to Yan terpental pergi, dengan membawa dengungan yang berdesing keras, pedang tersebut nancap disebatang pohon besar.

Su-to Yan terdorong mundur, dari mulutnya mengeluarkan semburan darah.

Su In Seng kaget, pedang berapinya disentakkan, beruntun tiga kali menyerang kearah tiga orang.

Hanya Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu yang tidak terserang, ia mengundurkan diri, Dia lebih pintar dari pada ketiga kawankawannya.

Su In Seng mendekati Su-to Yan dan bertanya.

"Bagaimana keadaanmu?"

Su-to Yan menggoyangkan kepala.

"Tidak apa apa."

Setelah menyemburkan darah yang tersumbat ditenggorokan, rasa segar dan nyaman terasa sekali, badan Su-to Yan dirasakan sangat ringan, dia heran mengapa tidak terluka ?

Hanya dirasakan sangat lelah sekali, mengantuk sekali.

Su-to Yan segera menduga akibat dari dua macam tenaganya yang berada didalam tubuh nya sendiri.

Pek ie Kaucu Bong Bong Cu memberi ancaman.

"Su In Seng, hayo kau enyah dari tempat ini. Kami hanya menghendaki ilmu pedang Maya Nada yang berada didalam tangan Su-to Yan. Su In Seng melirik kearah Su-to Yan, hanya sebentar, setelah itu dia tertawa kepada keempat musuhnya.

"Dikala aku tersesat di kepulauan Tong-hay, ayah angkatnya telah memberi pertolongan yang lebih diri cukup, aku wajib membalas budi ini. Aku tidak mau pergi."

Pok-ie Kaucu Bong Bong Cu tertawa berkakakan, memandang kepada ketiga komplotannya, mereka sudah hendak menerjang lagi.

Tiba tiba....

Satu suara tiupan seruling yang melengking tinggi melayanglayang, semakin lama semakin dekat, semakin lama semakin keras.

Sepasang alis Su-to Yan berkerut, suara seruling ini tidak asing baginya, dia sedang berpikir-pikir, siapakah yang membawakan irama tersebut?

Dikala Su-to Yan sedang memikir-mikir, dua bayangan sudah meluncur datang, menyaksikan kedatangan dua orang itu, Su-to Yan menjadi tertegun.

Dua orang yang datang adalah guru Cin-Bwee, si seruling Kumala dari gunung Kun lun-san Cia Ciu Nio, dan seorang lagi adalah padri setengah umur, wajahnya bersih putih.

Ditangan Cia Ciu Nio masih memegang seruling pemberian Sam kie Ju su Hong, ternyata Cia Ciu Nio lah yang membawakan irama lagu tadi.

Begitu kedua orang tadi datang, langsung memasuki gelanggang dan berdiri dihadapan Su-to Yan beserta Su In Seng, mereka adalah pembela-pembela kebenaran dan keadilan.

Cia Ciu Nio segera berkata kepada Su-to Yan.

"Ayah angkatmu menderita luka parah, lekas kau pergi."

Su-to Yan berpikir sebentar, dan dengan melejitkan tubuhnya dia lompat kearah pedangnya yang tertancap di pohon, mengambilnya, dia hendak pergi bertemu dengan ayah angkatnya.

Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu merintangi dijalan, dengan suara besar dia berkata.

"Hanya karena kedatangan dua orang biasa saja, kau sudah hendak pergi lagi?"

Tapi gerakan Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu tertahan, ini waktu, padri yang berwajah putih bersih yang menyertai Cia Ciu Nio itu bergeram mengeluarkan suara dengusan, tubuhnya dilengkungkan, dengan tangan kiri yang ter sebar, dia mencengkeram kearah Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu.

"Jangan sembarangan membentak. menyindir orang!"

Demikian ia Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu membalikkan tangan, dengan ilmu tipu Kuil she Sin-kang dia menepuk dan memukul cengkeraman padri yang berwajah putih bersih tadi.

Sang padri berdehem, tangannya direndahkan sedikit, maka dari telapak tangan tersebut meluncur cahaya kuning keemas-emasan, dessss, Kui-hie Sin-kang Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu punah pudar.

Wajah Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu berubah, didalam dunia, hanya Padri utama Tan-sim Taysu dengan ilmu kepandaiannya Thian-tiok-thie-kang yang dapat membobolkan ilmu kepandaian Kuihie Sin-kang kecuali orang ini, tidak akan ada orang yang kedua.

Tan-Sim Taysu sudah mengundurkan diri, mengapa muncul kembali padri yang berwajah putih bersih ini?

Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu pernah dikalahkan oleh Tan-sim Taysu, ia dipaksa mengundurkan diri dari rimba persilatan, karena tidak ada kabar berita lagi dari Tan-sim Taysu, baru Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu berani tampilkan diri dirimba persilatan kembali, Kini dia menderita kekalahan yang sama seperti pada masa silamnya.

Karena itu Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu membentak.

"Siapa kau?"

Padri bermuka putih bersih tersebut bersabda.

"Omitohud, aku adalah murid pertama dari Tan-sim Taysu, namaku Put-in Taysu."

Wajah Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu berubah, betul-betul dia tidak percaya bahwa dua kali dia dijatuhkan oleh Tan-sim Taysu guru dan murid.

Dahulu ia dikalahkan oleh Tan-sim Taysu.

Kini ia dikalahkan lagi oleh Put-in Taysu, murid dari Tan-sim Taysu.

Cerita-cerita berjalan terlalu lambat sekali, sebetulnya bersamaan dengan kejadian kejadian tadi, ketiga jago komplotan Pek-ie kaucu Bong Bong Cu juga sudah turut bergerak, bahwa kawan tersebut sudah tertekan oleh sipadri berwajah putih bersih, Cit-su Hiat-kun, Hoan-thian Mo-kun Thiat Kiam Seng dan Kiu han Sin kun Ko Cio maju berbareng, dengan geram, tiga orang tersebut menubruk Putin Taysu.

Disaat ini Pek-ie Kaucu Bong Cu sudah mengundurkan diri, ilmunya Kui-hie Sin-kang sudah dipunahkan, karena itulah dengan mengajak muridnya dia meninggalkan tempat.

Menggunakan serulingnya, Cia Ciu Nio menangkis kearah Cit su Hiat kun.

Dan ini waktu sipadri berwajah putih bersih Put-in Taysu juga sudah menyingkirkan Cit su Hiat kun.

Su In Seng mendorong Su-to Yan dan berkata.

"Lekas kau pergi menemui ayah angkatmu, kukira dia tidak lama lagi."

Hanya melirik sebentar, Su-to Yan sudah sudah mengetahui sampai dimana ilmu kepandaian Put In Taysu, dengan dibantu oleh Cia Cio Nio dan Su In Seng, karena sudah tidak ada lagi Pek ie Kaucu Bong Bong Cu, tidak mungkin dapat dikalahkan.

Tubuh sipemuda meluncur cepat, menuju kearah yang sudah ditunjuk oleh Su In Seng, ditempat itulah Sim kie Ju Su In Hong.

terluka dia harus segera pergi.

Meluncur belasan lie, dua bocah berbaju merah sudah menyongsong datang, mereka memberi hormat kepada Su-to Yan.

"Ciangbun causu kami memberi perintah, agar kami menantikan kedatangan kongcu."

Demikian dua bocah berbaju merah tadi berkata, mereka adalah Cucu-cucu murid dari si pedang, berapi Su In Seng. Su-to Yan menganggukkan kepala, dia bertanya.

"Dimana ayah angkatku? Lekas ajak aku pergi."

Dua bocah berbaju merah tadi mengajak Su-to Yan, kini mereka pergi kearah utara.

Su-to Yan diajak menuju kearah gunung Kiong lay.

Berjalan lagi beberapa waktu, Su-to Yan sudah dapat merasakan sesuatu yang tidak beres, dia seperti dapat mengetahui bahwa dibelakangnya ada yang mengintil.

Yang penting adalah segera bertemu dengan ayah angkatnya, karena itu dia tidak mencari tahu, siapa orang yang mengintil dibelakangnya.

Perjalanan dilakukan satu malam penuh, pada pagi harinya mereka sudah memasuki daerah pegunungan Kiong lay.

Orang yang mengikuti dibelakang Su-to Yan dan dua bocah berbaju merah itu sudah bertambah, bukan saja seorang, dari derap-derap langkah kaki mereka, jumlah itu tidak sedikit.

Su-to Yan tidak takut kepada penguntit-penguntit itu, ia mengikuti dua bocah berbaju merah meneruskan perjalanannya.

Dua tikungan lagi dilewatkan tiba-tiba saja terdengar suara pekikan dari belakangnya, dibarengi dari depannya, diempat penjuru Su-to telah berkumandang suara pekikan-pekikan itu.

Dirinya terkurung.

Dua bocah berbaju merah sangat kaget mereka memandang kearah sekeliling tempat itu, tentu saja dengan hati berdebar debar, masing masing mengeluarkan pedang untuk membuat.

Betul-betul Su-to Yan sudah terkurung dari empat penjuru, muncul belasan orang, pakaian mereka belang-belang, terbuat dari kulit macan, itulah anggota dari istana belang Khong kiok kiong.

Mata Su-to Yan berkilat kilat mengetahui bahwa musuh yang datang dari Khong kiok-kiong, dia menyedot napasnya dalam-dalam.

Sudah suatu kewajiban untuk membikin persiapan tempur.

Dari sekian banyak orang orang istana belang itu muncul dua pemimpin mereka, yang seorang tidak asing lagi, inilah sersan empat Tiang Sun Hoa.

Orang yang didampingi oleh Tiang Sun Hoa berwajah merah, sikapnya lebih gagah dari Tiang Sun Hoa, dari kedudukan kedua orang tersebut, orang yang didampingi Tiang Sun Hoa ini tentu mempunyai kedudukan yang lebih tinggi.

Dua bocah berbaju merah dari Cian san-pai membentak pada orang-orang tersebut.

"Hei, kalian manusia-manusia aneh dari mana? Mengapa berani mengganggu perjalanan kami? kami adalah anak murid Cian-sanpay."

Dengan perlahan Su-to Yan menghardik ke dua bocah tersebut.

"Jangan membuka suara, mereka adalah orang dari istana Belang Khong kiok kiong, dengan maksud tujuan diriku. Biar aku yang menghadapi mereka."

Dua bocah berbaju merah itu mengapit Su-to Yan ditengah, masing-masing dikanan dan kiri, inilah tindakan sebagai pengawal, seraya mereka berkata.

"Cousu telah menyerahkanmu kepada kami, kami tidak bisa membiarkan kau menderita atau terganggu."

Su-to Yan tertawa, dan ia berkata kepada kedua bocah tersebut.

"Biarlah aku yang menghadapi musuh-musuh ini, Bilamana betul betul aku tidak berhasil mengenyahkan mereka, boleh saja kalian membantuku."

Kedua bocah berbaju merah ragu-ragu, tapi akhirnyapun menganggukan kepala setuju juga. Disaat inilah sersan empat Tiang Sun Hoa sudah membuka suara.

"Su-to Yan, Kita berjumpa lagi, Mari ku perkenalkan, inilah jago nomor dua dari istana Belang kami, namanya Bin Hwee Wee dengan gelar si Rajawali Merah."

Ternyata jago nomor dua dari golongan istana Belang Khong kiok kiong, kedudukan si Rajawali merah Bin Hwee Wee betul-betul berada diatas Tiang Sun Hoa.

Su-to Yan tidak memberikan reaksi spontan pada penghadangan orang orang dari istana Belang itu, dia berbisik kepada dua bocah berbaju merah.

"Masih jauhkah letak ayah angkatku itu?"

Dua bocah berbaju merah dari Cian-San pay berkata.

"Harus melewati belasan puncak lagi "

Tiang Sun Hoa menganggukan kepala, ia mengerti, bagaimana harus menghadapi situasi yang seperti ini. Disebelah sana Tiang Sun Hoa sudah berkata lagi.

"Su-to Yan, menyerahlah. Rajawali merah dari istana belang belum pernah menemui tandingan, ilmu kepandaiannya jauh diatasku, jangan kau mencoba melarikan diri lagi, Lebih baik kau serahkan kitab ilmu pedang tersebut, agar kita dapat menjaga ketertiban dunia."

Su-to Yan menggelengkan kepala.

"Kitab ilmu pedang tidak bisa kuserahkan kepada kalian,"

Demikian dia memberikan jawaban ketus.

Orang tua berwajah merah Bin Hwee-wee itu menjulurkan tangan, maksud hendak menangkap pergelangan tangan Su-to Yan.

Su-to Yan bergeser kearah kiri, sreet ia mengeluarkan pedang, memapas tangan tersebut.

Si Rajawali Merah Cin Hwee-wee membalikkan tangannya, tetap mengancam Su-to Yan, kini dengan maksud merebut pedang lawan.

Su-to Yan menjadi kaget, tebasannya tadi mengandung jurus tipu yang biasa, hanya dibalikkan begitu saja, dia tidak berhasil meneruskan tipuan-tipuannya.

Dilihat sepintas lalu, ilmu kepandaian Rajawali Merah ini betul-betul hebat sekali.

Lima belas kali lagi Su to Yan menggerakkan pedangnya, jurusjurus itu cepat sekali.

Si Rajawali Merah Bin Hwee wee juga terkejut, ternyata dia bertemu dengan tandingannya, gerakannya gesit dan cepat, semua tipu-tipu pedang Su-to Yan dapat dielakkan.

"Kau memang hebat!"

Demikian ia mengeluarkan pujian.

Lama juga orang-orang istana Belang Khong kiok-kiong sudah mengikuti Su-to Yan, mengetahui bahwa mereka bukan tandingan si jago muda, mereka mengundang Tian Sun Hoa.

Sersan empat Tiang Sun Hoa juga segan kepada Su-to Yan, karena itu dia tidak berani bergerak, hanya mengintil dibelakangnya.

Akhirnya dia berhasil bertemu dengan si Rajawali Merah Bin Hwee wee, dan disinilah dia membikin pencegatan.

Bin Hwee wee adalah jago nomor dua di Istana Belang, kedudukannya sangat tinggi sekali ilmu kepandaiannya hebat juga, tokh tidak berhasil menekan Su-to Yan.

Mengetahui bahwa kawannya membutuhkan bantuan, Sersan Empat Tiang Sun Hoa maju bergerak, dari kiri dan kanan, bersama sama Bin Hwee Wee ia mengepung Su-to Yan, Su-to Yan tahu bahaya, dia melejitkan kaki dan berkata kepada dua bocah berbaju merah.

"Mari kita pergi."

Tapi gerakan Bin Hwee wee juga tidak kalah cepatnya, dia sudah membayangi gerakan sipemuda, tetap dengan ancamannya yang luar biasa.

"Jangan lari, demikian dia mengancam."

Su to Yan lari terus.

Seorang anggota Istana Belang mengeluarkan pedang, dan ditusukkannya kearah Su-to-Yan.

Su-to Yan hendak melepaskan kepungan itu, sebetulnya dengan mudah dia dapat menghindari atau mengelakkan tusukan pedang anggota Istana Belang ini, tapi dengan demikian karena kehebatan Bin Hwee Wee dan Tiang Sun-Hoa, ia dapat terkepung kembali, itulah berbahaya tidak mudah lagi untuk melepaskan diri.

Terdengar suara bentakan keras, Su-to Yan dengan ilmu kabut hijau It bok Cin khie yang dikerahkan ditangan kiri, ia memukul anggota istana belang yang menyerang diri itu, dan pedang ditangan kanan tetap ditusukkan kepadanya.

Kedudukan orang ini jauh berada dibawah Bin Hwee wee atau juga Tiang Sun Hoa, pukulan Su-to Yan itu begitu hebat, tidak dapat dielakkan lagi, Bleguuur, dia hancur jatuh..

Su-to Yan menjadi kesima, tidak disangka dia dapat menghancurkan orang seperti ini, remuk rendam sudah tidak berbentuk manusia lagi, daging itu mengenaskan sekali, inilah pertama kalinya Su-to Yan membunuh orang, pembunuhan yang terlalu kejam!

Kesempatan ini digunakan baik oleh Tiang Sun Hoa dan Bin Hwee Wee, terdengar dua desiran angin yang keras, mereka memukul ke arah Su-to Yan.

Su-to Yan tidak berani berlaku lambat, ayal-ayalan berarti kematian, Begitu pedang di tangan kanan dikibaskan, memukul kebelakang dan tubuhnya melejit kedepan.

Kecepatan ini sudah cukup hebat.

Tapi terdengar bret..,.

bajunya dibelakang sudah tersobek orang, dan punggungnya terasa panas.

Su-to Yan terkurung lagi.

Disaat ini Tiang Sun Hoa, Bin Hwee Wee dan anggota-anggota istana belang Khong kiok kiong pun sudah tiba lagi.

Mereka mengurungnya ditengah, pada tangan Bin Hwee Wee masih terdapat sobekan baju belakang sipemuda kita.

Wajah Tiang Sun Hoa begitu tegang, dia menghadapi Su-to Yan.

Rajawali merah Bin Hwee Wee mengeremeskan tangannya, dia berkata.

"Kau kejam."

Su-to Yan tidak bicara Tiang Sun Hoa memandang Su-to Yan dan berkata.

"Su-to Yan, mengapa kau menurunkan tangan kejam, membunuh salah satu anggota kami seperti ini?"

Su-to Yan tertawa sedih, apa yang hendak dikatakan olehnya?

Dia kejam, karena dia harus mengelakkan pengejaran pengejar itu.

Karena itulah dia telah melakukan kekejaman, dengan membunuh seseorang anggota istana belang sehingga hancur remuk.

Rajawali merah Bin Hwee Wee berkata kepada kawannya.

"Tidak perlu berdebat lagi."

Kata kata Bin Hwee Wee disertai dengan gerakan tangannya terjulur dan lagi lagi hendak mencengkeram Su-to Yan.

Su-to Yan masih memainkan pedang, dengan tipu Hiat kong cit hin, dia hendak mendesak lawannya.

Terdengar suara dengusan Bin Hwee Wee dia berkata.

"Inilah tipu Hiat kong cit hian dari Tong hay, tipu bagus ! Tapi dimainkan olehmu tidak bedanya dimainkan oleh anak kecil !"

Tangan kanannya diputar dan ditepuk beruntun sampai lima kali, menutup semua jalan-jalan pedang Su-to Yan.

Tangan Su-to Yan yang memegang pedang tergetar, dia menjadi kaget sekali.

Disaat inilah Tiang Sun Hoa juga menerjang maju, bersama-sama dengan Bin Hwee Wee, mereka mengeroyok Su-to Yan.

Su-to Yan terkejut, ia mengeluarkan gerakan rendah, pedangnya yang panjang terpental keatas terus menerus melakukan penyerangan dan dari situ meluncur keluar serangan pedang membuat satu barisan yang kuat.

Inilah jurus tipu dari ilmu pedang Maya Nada yang dinamakan Kit tu seng San atau berarti Mengumpulkan Tanah Menjadi Bukit.

Serangan-serangan dari Bin Hwee Wee dan Tiang Sun Hoa terbentur oleh serangan pedang Su-to Yan, dan masing-masing terpisah.

Baru Saja Su-to Yan hendak membuat posisi baru, maksudnya hendak meneruskan penyerangan, kini dia mengerti bahwa ilmu kepandaian Bin Hwee Wee betul-betul tinggi, tapi toch belum dapat menandingi Pek-ie Kaucu Bong-Bong cu sekalian, karena itu hatinya menjadi besar.

Entah bagaimana, tiba-tiba saja otak belakangnya dirasakan menjadi tergetar, itulah serangan jari, pikirannya bergoyang-goyang semakin lama semakin suram, dan satu pukulan lagi mengenai pundaknya, hawa anyir terasa ditenggorokan, segera dia bergoyang-goyang dan jatuh, Su-to Yan pingsan !

Su-to Yan dibokong.

karena itu dia jatuh pingsan.

Orang yang membokong Su-to Yan adalah Tiang Sun Hoa, dengan totokan yang lihay sekali, berhasil menjatuhkan jago kita, Entah berapa lama kemudian, Su-to Yan baru sadar dari ingatannya, dikala dia siuman kembali, dadanya dirasakan sangat sesak, sulit bernapas, dia membuka matanya dan darah mengambang disekujur tubuhnya.

Su-to Yan menghela napas, dia kini sudah jatuh kedalam kekuasaan tangan musuh, bagaimana bisa berusaha untuk membebaskan diri ?

bagaimana keadaan ayah angkatnya itu?

Mungkinkah dapat bertemu lagi ?

"Bocah."

Bentak Bin Hwee Wee keras.

"Lekas katakan dimana kau simpan kitab ilmu pedang itu ?"

Su to Yan memeriksa sekelilingnya, dia tidak menemukan dua bocah berbaju merah dan Cian san pay yang mengantar dirinya, karena itulah dia bertanya.

"Dimana kedua bocah tadi ?"

"Dua bocah ?"

Bin Hwee Wee mengerutkan kening.

"Betul, Dua bocah berbaju merah yang mengantarkan diriku."

Tiang Sun Hoa berkata.

"Sudah kami bebaskan,"

"Betul ?"

Su-to Yan kurang percaya.

"Legakan hatimu,"

Berkata Tiang Sun Hoa "kami juga tidak bisa sembarang melakukan pembunuhan, apalagi pembunuhan kejam seperti apa yang telah kau lakukan kepada anggota kami itu, Dua bocah tadi telah bebas, Mereka telah pergi."

Disaat ini Bin Hwee membentak lagi.

"Katakan, dimana kau simpan kitab ilmu Pedang Maya Nada."

Su-to Yan merapatkan matanya, ia bungkam. Tiang Sun Hoa membentak.

"Hai, kau sudah tidak ingin hidup lagi?"

Maksud tujuan Su-to Yan yang memeramkan kedua belah matanya adalah untuk mengatur peredaran jalan darahnya, dia hendak membobolkan totokan-totokan yang menekan dirinya.

Bin Hwee Wee dapat mengetahui maksud tujuan sipemuda, karena itu dia berkata.

"Jangan coba berusaha hendak membebaskan luka-lukamu, atau akan kurusak dahulu semua kepandaian yang ada padamu."

Su-to Yan kaget, maka dibukanya lagi sepasang matanya, dengan tawar berkata.

"Bila aku tidak bisa mengeluarkan kitab catatan ilmu pedang, bagaimana ?"

"Apakah sudah bosan hidup?"

Kembali bertanya Tiang Sun Hoa. Bin Hwee Wee juga berkata.

"Apa lebih baik, bila kau bersedia mengatakan, dimana kau simpan kitab catatan ilmu pedang tersebut."

Su-to Yan tidak meladeni kedua orang itu, matanya menyapu kearah empat penjuru, dia sudah berpikir, kemana pula perginya kedua bocah berbaju merah?

Dapatkah mereka meminta bala bantuan ?

Tiba-tiba...telinganya Su-to Yan yang tajam dapat menangkap satu suara, dia menoleh kearah tempat datangnya suara tadi.

Tiang Sun Hoa dan Bin Hwee Wee juga menoleh kearah yang sama.

"Siapa yang datang ?"

Disana, ditempat yang diarahkan oleh ketiga jago itu sedang berjalan seorang, orang ini mengenakan pakaian warna hijau, inilah Ing-hay Hong, salah satu dari tiga jago Tong Hay yang ternama, jago silat yang merendengi kedudukan Sam-kie Ju-su In Hong.

In Hay Hong menghendaki kesucian Ie Han Eng, tapi siputri dari lembah Hui-in itu sudah dijodohkan dengan Su-to Yan, karena itulah antara In Hay Hong dan Su-to Yan terjadi sedikit ganjelan.

Bin Hwee Wie memandang In Hay Hong, seraya dia membentak.

"Siapa kau ?"

In Hay Hong tertawa gelak, inilah jawabannya, ia sangat tidak memandang mata kepada orang-orang dari istana Belang.

Melihat orang itu tidak menjawab pertanyaan seraya mengejeknya dengan tertawanya yang gelak-gelak tadi.

Bin Hwee Wee menjadi naik darah.

Tiang Sun Hoa ada maksud untuk mencegah terjadinya lain keonaran, maksudnya memberi peringatan kepada Bin Hwee Wee agar tidak mengganggu kedatangan orang yang baru datang itu, tapi dia sudah terlambat.

Gerakan Bin Hwe Wee lebih cepat, dan disaat ini sudah terjadi bentrokan senjata.

Dengan tipu gerakan tangan Lima iblis Mencari Roh.

Bin Bwee Wee menyerang dan mencengkeram kearah In Hay Hong.

-ooo0dw0ooo-

Jilid 16 IN HAY Hong berhasil mengelakkan diri dari serangan tadi, seraya dia membuka mulutnya.

"Kuanjurkan kepada kalian, lebih baik segera meninggalkan Su-to Yan. Dan katakan kepada ketua kalian, bahwa aku yang mengganggu usaha ini."

Sebetulnya Tiang San Hoa hendak diam, tapi lawan ini terlalu menghina sekali, karena itu dia berkata.

"Tuan ini siapa? Mengapa begitu sombong? Ketahuilah bahwa orang-orang dari istana belang Khong kiok kiong, bukanlah orang yang mudah dihina."

"Ha..,. ha.... ha...."

"Diam! Kau belum dikenali jangan banyak tingkah."

"Belum kenal?"

Mengejek In Hay Hong "Hendak belajar kenal? Boleh... boleh.... gunakanlah semua pelajaran ilmu silatmu, bertempur dengan aku, maka segera kalian tahu, siapa aku."

Hati Tiang Sun Hoapun menjadi panas, dengan tidak banyak rewel lagi, dia menyerang kearah In Hay Hong.

Benar-benar In Hay Hong lihay, hanya sekedar memiringkan badannya, dia membiarkan pukulan itu lewat begitu saja.

Tiang Sun Hoa blingsatan, dia menyerang sekali lagi, kali ini dengan terjangan yang sangat hebat.

Dan Bin Hwee Wee juga tidak tinggal diam, membarengi penyerangan kawannya, dia mengeroyok, dengan pukulan-pukulan yang ampuh dan luar biasa, dia membantu usaha Tiang Sun Hoa.

In Hay Hong melayani kedua jago tersebut, dia berlompatlompatan, begitu ringan sekali, begitu cepat sekali, tidak satu juruspun atau satu pukulanpun dari kedua jago istana belang tersebut yang bisa mengenainya.

Ternyata In Hay Hong mempunyai keistimewaan dalam ilmu meringankan badan, kegesitannya belum ada yang dapat menandingi.

Kini In Hay Hong puas mempermainkan kedua lawannya, dia mulai membikin inisiatif penyerangan, menyengkelit sekali dan badannya berkelebat, dari sana dia sudah berada dibelakang Tiang Sun Hoa, tangan kanannya dijulurkan dan menotok jalan darah Leng tay hiat.

Seketika itu juga, Sersan empat dari istana Belang Khong kiok kiong jatuh meloyor dengan menimbulkan suara keras kedubrak dia terlena ditanah.

Bin Hwee Wee kaget bukan main, ternyata lawan ini lebih lihay dari Su-to Yan, dia lompat mundur.

In Hay Hong tidak membikin pengejaran, ia berkata.

"Nah, inilah buktinya. Dia tidak percaya, dia tidak kenal siapa aku, kini tentunya sudah tahu, siapa diriku?"

Bin Hwee bergoyang kepala. In Hay Hong memberi keterangan.

"Aku adalah seorang perantauan dari daerah Tong-hay, namaku In Hay Hong, ingat betul-betul."

"Aaaah..."

Bin Hwee Wee berteriak kaget.

"Nah, pergilah."

Berkata In Hay Hong.

"Beritahu kepada ketua kalian bahwa aku In Hay Hong yang telah menggagalkan rencananya."

Mengingat ilmu kepandaian In Hay Hong umumnya, ilmu meringankan tubuh jago Tong hay tersebut khususnya, Bin Hwee Wee harus menyudahi perkara tadi.

Dengan apa boleh buat, Bin Hwee Wee harus menelan hinaan, katanya.

"Baiklah, aku menyerah kalah, Akan kuberi tahu kepada ketua kami tentang turut campurnya tanganmu urusan kami."

"Boleh saja, setiap waktu akan kutunggu pembalasan dari istana belang."

Berkata In Hay Hong tertawa.

Bin Hwee Wee memberi isyarat mundur, maka belasan orang dari istana belang itu menggabungkan diri, dan dengan menggendong tubuh Tiang Sun Hoa yang terluka, mereka meninggalkan tempat kejadian itu.

Didalam hal ini In Hay Hong telah memberikan bantuannya.

Su-to Yan sangat bersyukur sekali.

Sebelum Su-to Yan sempat mengucapkan ucapan terima kasihnya, tubuh In Hay Hong bergerak ringan, meninggalkan sipemuda.

Atas sikap In Hay Hong yang seperti itu, tentu saja membuat Suto Yan menjadi heran.

Rasa herannya tidak berlangsung lama, mengingat kedudukan Ie Han Eng ditengah mereka, tentu saja Su-to Yan maklum, betapa bencinya In Hay Hong itu.

Yang membuat Su-to Yan heran mengapa In Hay-hong pergi begitu saja?

Tanpa mengucapkan sepatah dua patah kata lagi?

Apa lagi mengingat kedudukan Sam kie Ju Su In Hong yang sedang berada didalam keadaan luka kritis, In Hong dan In Hay Hong adalah dua jago ternama dari daerah Tong-hay, mereka berasal dari satu daerah, mengapa seperti tidak akur?"

Tengah Su-to Yan melayang-layangkan pikirannya, tiba-tiba diapun dibuat kaget dengan kembalinya In Hay-hong..

Ternyata tubuh In Hay Hong yang sudah pergi itu balik kembali, Langsung menghampiri Su-to Yan dan sekarang dia membuka mulut bicara kepada pemuda kita.

"Suto Yan, tahukah kau, apa sebabnya aku mau menolong ?"

Dimulut In Hay Hong berkata seperti itu, matanya memandang beringas dan bengis, sehingga membuat Su-to Yang sangat kaget. Su-to Yan mengangkat pundak.

"Tidak tahu !"

Dia menjawab terus terang, In Hay Hong berkata lagi.

"Urusan ini menyangkut persoalan In Han Eng."

"Ie Han Eng?"

Su-to Yan berteriak kaget "Betul. Katakanlah, dimana kini dia berada ?"

"Aaaah !"

Su to Yan semakin kaget.

"Dimanakah dia ?"

"Aku bertanya kepadamu !"

Berkata lagi In Hay Hong bengis.

"Aku tidak tahu."

Berkata Su-to Yan.

"Ie Han Eng telah lenyap diculik orang."

In Hay Hong memberi keterangan.

"Diculik orang ?"

Su-to Yan kurang percaya. Siapa yang menculik Ie Hay Eng ? Menculik dari bawah pengawasan In Hay Hong ? In Hay Hong berkata.

"Aku tahu, penculikan itu bukan dilakukan olehmu, tapi sedikit banyak kau harus bertanggung jawab, pasti mempunyai hubungan erat dengan dirinya, sejak kecil, dia belum pernah keluar dari lembah Hui-in, tidak mungkin mempunyai musuh. Hanya kaulah yang mempunyai banyak musuh, hanya karena hubungan kalianlah, maka Ie Han Eng turut terbawa-bawa, kini dia diculik orang, tentu diculik oleh musuh, pasti musuh yang tidak dapat mengalahkan mu, hendak mengalihkan persoalan, menculiknya, dan mungkin akan digunakan sebagai sandera. Kau pasti dipaksa untuk mengeluarkan catatan ilmu pedang Maya Nada untuk menebus dirinya, Untuk mengetahui dimana In Han Eng itu berada, kukira tidak terlalu sulit, pasti suatu hari orang itu akan mencarimu, dan baru kita dapat mengetahui siapa orang yang menculiknya."

Baru Su-to Yan mengerti, mengapa In Hay Hong menolong dirinya, ternyata dengan membebaskan dia dari kekuasaan istana Belang Khong kiok kiong, mereka dapat bersama-sama membikin penyelidikan tentang lenyapnya Ie Han Eng.

Sedari tadi, Su-to Yan berusaha membebaskan totokan Tiang Sun Hoa yang menekan dirinya, dia hanya berhasil sebagian, sampai saat ini dia masih belum dapat membebaskan dirinya.

Terdengar suara In Hay Hong bertanya.

"Sekarang, kau hendak kemana ?"

"Aku hendak menemui ayah angkatku In Hong, dia mendapat luka parah."

Jawab Su-to Yan.

Tidak ada perubahan sama sekali, In Hay Hong diam bungkam.

Su-to Yan memeramkan matanya, dia memusatkan kekuatan untuk menjebol totokan-totokan yang menekan dirinya, dengan ilmu kabut hijau It-bok cin khie, dia hendak mengembalikan tenaganya yang sudah hampir sirna.

Tentu saja, bilamana Su-to Yan mau membuka mulut, meminta bantuan tenaga In Hay Hong, dengan cepat sekali Tong Hay tersebut dapat membebaskan dirinya dari segala kekangankekangan totokan yang telah dijatuhkan oleh Tiang Sun Hoa.

Tapi Su-to Yan memang berkepala batu, sikapnya sangat angkuh sekali, dia tidak akan meminta bantuan orang.

Apa lagi orang yang pernah menjadi satu, memperebutkan Ie Han Eng.

Menyaksikan Suto Yan menyembuhkan luka-lukanya dan berusaha membebaskan totokan-totokan yang mengekang dirinya, In Hay Hong tertawa didalam hati, ia berkata perlahan.

"Kau sudah terluka, mana bisa pergi."

Su-to Yan tidak dapat mendengar kata-kata tadi, dia masih menekunkan dengan sungguhsungguh, In Hay-hong berdiri didepan si pemuda dengan mata didongakkan keatas, dia membiarkannya Su-to Yan begitu, hendak dilihat, berhasilkah Su-to Yan membebaskan kekangan-kekangan totokan luar biasa dari Istana belang ?

Su-to Yan berhasil!

Perlahan demi perlahan, uap hijau It-bok Cinkhie mengelilingi dirinya, hal ini mengejutkan In Hay-hong, maka dia tahulah bahwa ilmu kepandaian Su-to Yan tidak serendah apa yang diduga.

Dengan adanya latihan It bok Cin khie yang seperti ini, tentu saja tidak membutuhkan bantuannya.

In Hay-hong menganggukkan kepala, kini dia mengerti, mengapa Su-to Yan tidak meminta bantuannya untuk membebaskan totokan.

Dan tubuhnya melesat, dia pergi meninggalkan Su-to Yan.

Su-to Yan tidak tahu bahwa In Hay Hong sudah meninggalkan dirinya, dia sedang menekunkan dengan luar biasa.

Bayangan seseorang meluncur datang, inilah bayangan seorang wanita, wanita yang mempunyai wajah yang sangat cantik sekali, inilah wanita berbaju hijau Khong Bun.

isteri dari Sam kie Ju-Su In Hong.

Khong Bun diperhatikannya kekuatannya.

berdiri didepan sipemuda, bagaimana pemuda itu sekian lama, mengembalikan Diatas puncak Gunung Sihir, dikala terjadi pertempuran Su-to Yan dengan si Paman Tukang Tenung Hut In Khek, wanita berbaju hijau Khong Bun ini pernah menampilkan diri, itu waktu ia menunggang seekor rajawali dan menemui Cin Bwee, dengan sedikit akal bulus, dia berhasil menipu Cin Bwee sehingga memecahkan dan mengusutkan pikiran Su-to Yan, karena pikirannya yang bercabang itulah, membuat Su-to Yan terjatuh dari Tebing Sihir.

Akhirnya bertemu dengan si Pemuda Kakek Tenung Thio Sek Bun, dan rentetan-rentetan cerita ini masih jelas tercatat pada buku ilmu pedang Maya Nada

Jilid 4. Cin Bwee tentu kenal siapa wanita berbaju hijau Khong Bun ini. Tapi Su-to Yan tidak kenal kepada ibu angkatnya sendiri. Terdengar suara Khong Bun yang menarik hati.

"Kau sudah pulih ?"

Su-to Yan memperhatikan wanita tersebut, dia bertanya.

"Siapa cianpwe?"

Khong Bun berkata.

"Aku adalah ibu angkatmu. Khong Bun. Kau di angkat sebagai anak oleh Sam-kie Ju-Su In Hong bukan? Dia adalah Suaminya."

"Aaau...."

Su-to Yan berteriak kaget. Ternyata dia sedang berhadapan dengan iba angkatnya. Karena itu cepat-cepat dia memberi hormat. Khong Bun membangunkan Su-to Yan dan berkata.

"Kau baru berkenalan denganku, Bangunlah."

Su-to Yan menengok kekanan dan kekiri, jago Tong-hay tersebut sudah pergi.

"Kudengar bahwa ayah angkatmu itu telah menderita luka parah, dimanakah kini dia berada ?"

Suaranya diwanita cantik berbaju hijau Khong Bun sangat lemah lembut, ramah tamah seperti juga terhadap anaknya sendiri, karena itulah hati Su-to Yan menjadi terharu.

Su-to Yan membayangkan dirinya sendiri yang sudah menjadi seorang anak yatim piatu, dia masih membutuhkan kasih sayang orang tua, seumur hidupnya belum pernah merasakan kesayangan itu, dan adanya sedikit perhatian yang diperlihatkan oleh Khong Bun sudah berkesan sekali.

Kata-kata lemah lembut Khong Bun adalah orang kedua yang memperlihatkan dirinya, kecuali Sang guru, si jago Sesat Nomor Satu Ciok Pek Jiak.

Betapa girangnya, bilamana masih bisa men cicipi hidup dengan kecintaan dari kedua orang tua angkat itu.

Memikir kejadian-kejadian tadi, Su-to Yan bengong terlongonglongong.

Teringat pula bahwa dia harus segera menemui sang ayah angkat Sam-kie Ju-su In Hong, keadaannya berada didalam luka parah sekali, karena itulah dia berkata.

"Mari kita mencari ayah."

Demikian Khong Bun bersama-sama dengan Su-to Yan mencari jejak Sam-kie Ju-su In Hong.

Menurut cerita dua bocah berbaju merah dari Cian san-pay, Samkie Ju-su In Hong sedang berada dalam keadaan luka parah, hanya beberapa puncak gunung lagi dari tempat tadi.

Karena itulah, tanpa disadari oleh sipemuda dia mengajak untuk mencarinya.

Perselisihan apa yang telah terjadi antara Sim-kie Ju-su In Hong dan Khong Bun suami istri?

Su-to Yan tidak tahu, karena itu dia tak sadar bahwa dirinya telah diperalat.

Khong Bun adalah seorang jago wanita yang lihay, lidahnya pintar sekali.

karena itulah dia berhasil menipu Cin Bwee, dengan menggunakan sedikit akal bulus hampir saja Su-to Yan mati terjatuh dari atas puncak Gunung Sihir.

Kini dia berhasil menipu lagi Su-to Yan.

Mereka telah melewati tiga puncak gunung, belum juga berhasil menemukan jejak Sam kie Ju-su In Hong.

Satu puncak gunung lagi dilewati, dan Khong Bun bertanya kepada sipemuda.

"Anak Yan, hayo beritahu, dimana adanya ayah angkatmu itu."

Su-to Yan menengok kepada wanita cantik berbaju hijau tersebut, wajah Khong Bun begitu menakutkan dia menjadi tercekat.

Kata-kata yang seperti di atas tadi tidak patut dikeluarkan oleh seorang isteri.

Su-to Yan mulai menaruh curiga, apa lagi melihat perubahan air muka Khong Bun, seperti seorang yang sangat cemas sekali, rasa curiga Su-to Yan itu timbul karena pengalaman-pengalamannya, bukan satu dua kali, ditipu orang, dan berada disampingnya adalah seorang lain yang hendak menipunya pula.

"Kukira dibalik puncak yang satu ini,"

Berkata Su-to Yan. Satu puncak lagi dilewatkan, timbul satu putusan untuk mendustai wanita itu, karena itu lah Su-to Yan berkata.

"Seharusnya beliau berada di tempat ini."

Khong Bun memeriksa tempat tersebut, tidak ada tanda-tanda yang menyatakan bahwa Sam kie Ju Su In Hong berada ditempat itu.

"Apa iya?"

Berkata Khong Bun.

"Kukira tidak salah."

Berkata Su-to Yan.

"la sedang menderita luka yang sangat hebat sekali, dikatakan bila terlambat, dia tidak dapat menunggu kita lagi."

Su-to Yan sangat menyesal, karena dia sudah mengeluarkan kata-kata yang seperti itu, tidak ada maksud sama sekali untuk menyumpahi ayah angkat tersebut mati, untuk menjelajahi hati wanita berbaju hijau yang mengaku sebagai ibu angkatnya ini, terpaksa dia berkata demikian, karena itulah matanya menjadi merah, seolah-olah hendak mengucurkan air mata.

Khong Bun memperlihatkan senyuman iblisnya.

Melihat senyuman seperti, itu diam-diam Su-to Yan membenarkan dugaannya, bahwa wanita berbaju hijau itu mengandung maksud yang tidak baik.

Bukan seorang istri sejati, bilamana ia mendengar berita kesusahan suaminya, dan dapat memperlihatkan senyuman yang seperti itu, Kini Khong Bun berkata.

"Kalau benar-benar ayah angkatmu sudah meninggal dunia, akupun hendak melihat kuburannya. Sayang ditempat ini tidak ada kuburannya."

"Bagaimana kalau mengajukan usul. kita berpisah mencarinya?"

Su-to Yan "Boleh juga."

Khong Bun menganggukkan kepala. Dia setuju.

"Bilamana ada sesuatu kabar, beritahulah kepadaku, aku menetap di pulau Tong-hay."

"Baik."

Demikian mereka berpisahan, Su-to Yan meneruskan usahanya yang hendak menemui Sam-kie Ju-su In Hong.

Khong Bun kembali kepulau Tong-hay, Betulkah Sam-kie Ju-su In Hong tidak berada ditempat itu?

Sam kie Ju-su In Hong masih berada ditempat tersebut, dia mengetahui kedatangannya Khong Bun, mereka suami istri telah terjadi perselisihan besar.

Karena itulah ia tidak mau menampilkan dirinya, diikutinya percakapan diantara Su-to Yan dan Khong Bun, dia menganggukkan kepala.

Mengetahui bahwa Khong Bun sudah pergi dari tempat tersebut, Sam kie Ju Su In Hong menampilkan dirinya.

Su-to Yan berteriak girang.

"Ayah..."

Dia segera menghampiri dan bertekuk lutut, memberi hormat kepada ayah angkat. Sam kie Ju-su In Hong mengelus-elus kepala Su-to Yan, dengan sabar ia berkata.

"Aku sudah mengikuti langkahmu benar! Tepat!"

Pembicaraan kalian aku mengerti, Diajaknya Su-to Yan kesuatu tempat, itulah sebuah goa, mulut goa lebarnya setinggi manusia, ternyata Sam kie Ju Su In Hong menyembunyikan diri didalam goa ini.

Mereka duduk dalam goa itu.

"Ayah, kau tidak terluka?"

Bertanya Su-to Yan.

"Duduklah, Biar kuceritakan panjang lebar"

Berkata Sam kie Ju su In Hong.

"Ayah, mengapa kau tidak mau menemuinya?"

Bertanya Su-to Yan. Orang yang dimaksudkan adalah istri Sam kie Ju su In Hong, wanita berbaju hijau yang bernama Khong Bun tadi.

"Kau harus bersabar, jiwaku sudah dekat menemui ajalnya, maka sedikit lagi tempo untuk berkumpul denganmu, Dari itu dengarlah apa yang hendak kuceritakan, tentang riwayat hidup ayah angkatmu ini."

Sam kie Ju su In Hong mulai bercerita.

"Dahulu kala, rimba persilatan berada di bawah kekuasaannya tiga tokoh jago silat, tokoh pertama adalah Thian Kho Cu, tokoh kedua Tan-sim Taysu, dan tokoh ketiga adalah jago dari daerah Tong-hay Kie Toojin."

Su-to Yan memasang kuping panjang-panjang, tentang Thian Kho Cu, sudah lama dia kenal, nama itu seringkali disebut orang, ilmu pedang Maya Nada adalah salah Satu warisan yang sangat istimewa, Tentang Tan-sim Taysu, dia juga pernah dengar nama tersebut, si padri berwajah putih halus yang bernama Put-in Taysu, orang yang pernah mendorong pergi Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu itu, adalah murid tertua dari Tan sim-taysu, Su-to Yan juga pernah dengar cerita tentangnya.

Tokoh ketiga yang dikatakan oleh Sam-kie Ju-Su In Hong, tokoh silat dari daerah Tong-hay yang bernama Kie Toojin itulah yang ia belum pernah dengar.

Sam-kie Ju-Su In Hong meneruskan ceritanya.

"Aku adalah anak murid Kun-lun-pay, orang yang bernama Put-in Taysu itu adalah Suhengku, dan Cia Ciu Nio adalah sumoayku."

"Aaaa...."

Su-to Yan hampir berteriak kaget, Hubungan mereka begitu dekat sekali, ternyata diantara Sam-kie Ju-su In Hong, Put-in Taysu dan Cia Ciu Nio adalah tiga saudara seperguruan.

Sam-kie Ju-su In Hong meneruskan lagi ceritanya.

"Aku dan Put-in bersama-sama mencintai Sumoay kami Cia Ciu Nio."

Lagi-lagi cerita yang mengejutkan Su-to Yan, dia mendongakkan kepala memandang sang ayah angkat. Sam-kie Ju-Su In HOng menghela napas, dia berkata perlahan.

"Itu waktu, hubungan diantara saudara-saudara perguruan kami itu sangat baik sekali, terjadinya cinta kasih segi tiga telah menimbulkan sedikit kericuhan, karena itulah aku pergi meninggalkan mereka menuju ke Tong-hay, maksudku membiarkan mereka menjadi suami isteri."

Sam kie Ju su In Hong berpikir sebentar dan meneruskan kembali ceritanya.

"Aku menuju kearah pulau Tong-hay, di sana menderita cidera, aku ditolong oleh tokoh silat ternama Kie Toojin, Kie Toojin itu adalah paman dari isteriku, Kie Toojin adalah paman Khong Bun. itu waktu Khong Bun melayaniku dengan baik sekali, dan setiap hari kami bergaul bersama, dibawah persetujuan Kie Tojin, kami menikah menjadi suami isteri. Kie Toojin pernah memberitahu kepadaku, bahwa kemenakannya itu mempunyai maksud tujuan yang tidak baik, betul-betul kini kudapat buktikan, belakangan kuketahui dengan pasti bahwa dia memiliki hasrat yang besar sekali, setiap maksud tujuannya yang tidak tercapai, pasti diganggu, Maksudnya menikah dengan aku adalah mengandung maksud tertentu."

Su-to Yan menganggukkan kepala, kini betul-betul ia mengerti, hampir saja dia ketipu oleh Khong Bun.

Sudah jelas maksud Khong Bun tidak baik, Entah apa yang hendak dicari oleh wanita berbaju hijau itu.

Dari cerita berikutnya, Su-to Yan tahu mengapa Put-in mencukur rambut dan menjadi padri.

Karena ditinggalkan begitu saja oleh Sam-kie Ju-Su In Hong, Cia Ciu Nio patah hati, diantara mereka bertiga, Put-in cinta kepada Cia Ciu Nio, Cia Ciu Nio cinta kepada Sam-kie Ju su In Hong, dan Samkie Ju Su In Hong hendak menjodohkan Sumoay dan suhengnya itu, karena itulah dia pergi ketempat jauh, menuju kepulau Tong-hay.

Maksud baiknya Sam-kie Ju-Su In Hong tidak menemukan tempat, Put-in juga sudah menyucikan diri menjadi seorang padri.

Dipulau Tong-hay, Sam-kie Ju Su In Hong sangat disayang oleh gurunya, semua ilmu kepandaian Kie Toojin telah diserahkan padanya, Karena inilah menimbulkan iri dan dengki hati Khong Bun, sebagai kemenakan dari Kie Tojin, dia tidak mendapatkan sebanyak apa yang Sam kie Ju su In Hong dapatkan.

Khong Bun mengharapkan sesudah menikah dengan Sam kie Ju su In Hong, diapun ingin memiliki semua ilmu kepandaiannya itu.

Bukan Khong Bun saja yang hendak memiliki ilmu kepandaian Sam-kie Ju-Su In Hong, disamping dirinya masih ada dua orang lagi, mereka adalah In Hay-hong dan Hoa Tie.

In Hay-hong dan Hoa Tie juga murid-murid dari Kie Toojin lebih suka kepada Sam-kie Ju Su In Hong, dia tidak begitu tertarik oleh sifat-sifat In Hay-hong dan Hoa Tie.

Lebih-lebih lagi tidak tertarik oleh sifat-sifat Khong Bun, karena itulah semua ilmu kepandaian dicurahkan kepada Sam-kie Ju-Su In Hong.

Menurut urutan, Hoa Tie adalah murid tertua, tapi dari sekian banyak tokoh-tokoh itu ilmu kepandaian Hoa Tie lah yang terendah.

Ilmu catatan Kie Toojin tercatat dan disembunyikan disuatu tempat tertentu, sebelum meninggal dunia, Kie Toojin berpesan kepada Sam kie Ju-Su In Hong, bahwa catatan ilmu itu terlalu ampuh sekali, dia, Sam-kie Ju su In Hongpun belum tentu dapat memahaminya, dan terlebih lebih lagi kedua murid lainnya, dan Sang kemenakannya juga, dia berpesan agar tidak menyebut letak nama tempat dari tempat penyimpanan catatan ilmu kepandaiannya kepada Hoa Tie, kepada In Hay-hong, dan juga kepada Khong Bun.

Sesudah Kie Toojin menutup mata, Betul-betul Sam kie Ju-su Hong merahasiakan hal tersebut.

Kejadian ini bersangkutan menimbulkan iri hati ke tiga orang yang Atas ajakannya Khong Bun, Hoa Tie dan In Hay-hong menggabung menjadi satu, mereka bertiga bersekongkol untuk menghadapi Sam-kie Ju-Su In Hong.

Selama beberapa tahun, terjadi perang dingin.

Hoa Tie dan Khong Bun telah begitu akrab sekali, dengan adanya Khong Bun yang menjadi istri Sam-kie Ju-su In Hong, mereka telah meracuninya, Sam kie Ju su In Hong di beri makan Cek-Sio-co, itulah rumput yang mengandung racun lambat, bekerjanya sangat perlahan sekali, bila tidak dirasakan oleh yang bersangkutan, tidak mudah diketahui.

Sedikit demi sedikit, Sam kie Ju Su In Hong diberi makan Ceksin-co, karena itulah isi dalamnya telah menjadi rusak perlahan demi perlahan, Sam kie Jusu In Hong tidak berhasil meyakinkan ilmu kepandaian yang lebih tinggi.

Mengetahui bahwa dirinya telah diperlakukan jahat oleh sang istri, Sam kie Ju su In Hong meninggalkan pulau Tong hay, menuju kearah Tionggoan.

Dia berusaha mencari obat, tapi tidak berhasil.

Khong Bun masih tidak puas, iapun menyusul.

Demikian singkatnya cerita Sam kie Ju su In Hong.

"Sepuluh tahun aku berkutet dengan racun-racun jahat yang bekerjanya perlahan didalam tubuhku, sepuluh tahun aku berusaha hendak menemukan bibit baru dalam rimba persilatan, akhirnya aku berhasil, aku berhasil menemukanmu, bakat-bakatmu baik, hatimu jujur, aku telah mewariskan sebagian ilmu kepandaian kepadamu, Maksudku adalah tidak melenyapkan ilmu kepandaian."

Demikian Sam-kie Ju su In Hong mengakhiri ceritanya, Dia terbatuk-batuk. Su to Yan kaget, cepat-cepat dia berkata.

"Oh, Sudahlah. jangan banyak cerita lagi, tunggu sesudah penyakit ayah sembuh!"

Sam-kie Ju su In Hong menggoyangkan kepala, dia berkata.

"Aku tahu, penyakit yang seperti ini tidak mungkin baik-baik, mereka terus mengintil dibelakangku, Mereka hendak memaksa aku menyebutkan dimana tempat disembunyikannya catatan ilmu silat Kie Toojin."

Setelah berkata Sam kie Ju-su menatap Su-to Yan.

"Aku hendak mewariskan ilmu kepandaian yang terakhir. Lihat baik-baik."

Sam kie Ju Su In Hong segera memperlihatkan tiga tipu jurus ilmu pedang.

Mata Su-to Yan terbelalak, tipu-tipu ini agak mirip dengan tipu Hiat kong cit hian dari Hui-eng-cap-pa-san, tapi arahnya bertentangan juruspun berlawanan.

Sesudah mendengar cerita pendekar rajawali emas Kie Eng, Suto Yan mengerti, bagaimana harus menggunakan ilmu-ilmu menyingkirkan diri tapi dia tidak menyangka bahwa pedang yang ditangan kanan dapat digunakan juga ditangan kiri, dengan tipu yang sama, bahkan bisa mengandung siasat yang lebih sempurna.

Sam-kie Ju-su In Hong selesai memperlihatkan tipu-tipu itu dan berkata.

"Nah, baik-baiklah kau pahami tipuan tadi,"

Dia melempar pedang dan bersila, memeramkan kedua matanya. Su-to Yan kaget, wajah ayah angkat itu sudah menjadi pucat pasi, segera dia berkata.

"Bagaimana?"

Sam-kie Ju su In Hong bergoyang kepala dan berkata.

"Aku terlalu banyak mengeluarkan tenaga."

Disaat ini telinga Su-to Yan yang tajam dapat menangkap suara derapan kaki orang diluar goa, segera ia membentak.

"Siapa ?"

Pada mulut goa terpeta bayangan seorang itulah bayangan seorang padri dengan wajahnya yang cakap dan halus, berdiri mendatangi ke arah mereka.

inilah suheng Sam-kie Ju-su In Bong yang bernama Put in Taysu.

Sam kie Ju SU In Hong juga menoleh ke-arah mulut goa, menyaksikan keadaan sang suheng segera ia berusaha hendak bangkit dari tempat duduknya.

Secepat itu pula Put in Taysu segera berkata.

"Sute, jangan banyak peradatan, duduklah."

Su-to Yan bertekuk lutut dan berkata.

"Su-to Yan memberi hormat kepada supek."

Put in Taysu mengangguk-anggukan kepala, membangunkan Suto Yan. Kini ia duduk disebelah Sam kie Ju-su In Hong dan berkata dengan perlahan.

"Sutee, tidak kusangka kau berada ditempat ini, aku bersyukur bahwa kita masih dapat bertemu kembali, bagaimana keadaan selama perpisahan kita ini? Baik-baik sajakah? Sumoay juga mengharapkan bertemu muka denganmu."

"Terima kasih, Aku baik saja,"

Sam kie Ju-su In Hong berkata.

"lnilah nasib peruntungan yang buruk, betul-betul jiwa manusia berada ditangan yang kuasa, kukira inilah pertemuan kita yang penghabisan kali."

Ia berkata dengan wajah yang sangat sedih, dan kedua matanya dipejamkan duduk seperti sedia kala. Pat in Taysu menganggukkan kepala, lalu berkata.

"Aku dapat memahami kesulitanmu, aku juga tahu maksud tujuanmu, Legakanlah hatimu, aku bisa baik-baik menjaga Su-to Yan."

Sam-kie Ju su In Hong masih tetap duduk ditempatnya, dengan kedua mata tetap dipejamkan.

Put in Taysu lama sekali memandang keadaan Sang sutee, dan lama juga dia berdiam seperti itu, akhirnya in menundukan kepala rendah, dan berkata dengan nada suara yang sangat sedih.

"Ayah angkatmu telah berangkat kealam baka !"

Su-to Yan kaget, tidak disangka bahwa apa yang Put-in Taysu katakan itu betul-betul terjadi, sang ayah angkat meninggal dunia di hadapannya.

Semua kejadian-kejadian terbayang kembali Su-to Yan mengucurkan air mata, Dihadapan jenazah sang ayah angkat itu, ia menyembah sehingga empat kali.

Put-in Taysu juga menyebut nama Budha.

"Omitohud, ayah angkatmu hidup secara jujur kesatria, belum pernah dia meminta pertolongan orang juga belum pernah melakukan kejahatan, kau harus banyak mengikuti pelajaranpelajaran darinya."

Dengan air mata bercucuran Su-to Yan menerima petuah-petuah itu. Put-in Taysu berkata lagi.

"Jiwa raga jenazah ayah angkatnya dan rajawalinya akan kubawa ke gunung Kun-lun, bila ada waktu kau juga turutlah kegunung itu."

Su-to Yan memberikan janjinya.

Dan betul-betul Put-in Taysu membawa jenazah Sam-kie Ju-Su In Hong, keluar meninggalkan goa, gerakkannya begitu cepat sekali, hanya beberapa enjotan, dia sudah lenyap dari pandangan mata Suto Yan.

Lama sekali Su-to Yan berada ditempat itu.

Benak pikiran Su-to Yan masih mengenangkan kejadian-kejadian tadi, ia dapat melihat bagaimana Sam-kie Ju-su In Hong memejamkan mata meram, meram, meram, terus meram.

Pemuda itu melanjutkan perjalanannya, pikirannya sangat kusut sekali.

Su-to Yan berjalan pikirannya masih kusut.

disepanjang tepi sungai Tiang-kang, Apa yang harus dilakukan olehnya?

Ayah angkatnya mati dibawah kekejaman dan komplotan Hoa Tie dan Khong Bun, Su-to Yan wajib menuntut balas ini.

Dikala dia sudah hendak mengambil putusan tepat, tiba-tiba seorang menghadang didepan dirinya, orang ini adalah Seng-mo Leng Kho Tiok.

Dengan tertawa berkakakan Seng-mo Leng Kho Tiok berkata.

"Ha, ha... senang sekali bertemu denganmu."

Su-to Yan mengerutkan alis, lagi-lagi dia bertemu dengan orang aneh ini.

Tindak-tanduk Seng-mo Leng Kho Tiok susah sekali diduga atau diterka.

Sambil menepuk dadanya sendiri Seng-mo Leng Kho Tiok berkata.

"Mengapa wajahmu begitu aneh? Kau jangan takut kepadaku, aku Leng Kho Tiok memang kukoay, tapi aku bersedia mengorbankan jiwaku untuk sahabat baik yang sepertimu ini."

Mendengar kata-kata Leng Kho Tiok tadi, Su-to Yan tertegun, Dia tidak menyangka sama sekali kalau bekas musuh ini mempunyai hati sangat setia, sehingga diam-diam ia merasa malu kepada dirinya sendiri.

Segera Su-to Yan berkata.

"Maafkan aku."

Seng-mo Leng Kho Tiok tersenyum.

"Kau hendak kemana?"

Suaranya penuh perhatian.

"Ke pulau Tong-hay."

Berkata Su-to Yan, Seng-mo Leng Kho Tiok berkata.

"Keadaan dirimu belum begitu mengijinkan lebih baik kau memelihara kesehatanmu dahulu."

Su-to Yan tidak menjawab perkataan itu.

Leng Kho Tiok tidak perduli atas sikap yang Su to Yan perlihatkan kepada dirinya, ia bertepuk-tepuk tangan sebentar, maka didalam rimba muncul kacung-kacung dengan membawa dua ekor kuda, kuda itu kuda jempolan langsung menghampiri mereka.

Dengan tertawa berkakakan Seng-mo Leng Kho Tiok berkata.

"Sudah kuketahui bahwa kau menderita luka, maka sengaja kusediakan dua ekor kuda ini agar kita bisa melakukan perjalananku."

Lagi-lagi Su-to Yan terkejut, ia semakin tidak mengerti, mengapa Seng-mo Leng Kho Tiok bisa berbuat baik kepadanya?

Mungkinkah mengandung sesuatu maksud tujuan?

Apa maksud tujuan itu?

Dia harus berhati-hati.

"Hei, tidak bersediakah kau melakukan perjalanan denganku?"

Berkata Seng-mo Leng Kho Tiok. Su-to Yan menatap orang tersebut, hanya beberapa saat akhirnya diapun berkata.

"Baik."

Dan mereka berdua mulai melakukan perjalanan.

Malampun tiba, setengah hari kedua orang itu berjalan bersamasama, tanpa pembicaraan lagi, masing-masing menutup mulut.

Menyusuri sungai Tiang-kang, akhirnya mereka sudah mendekati pantai, Menengok ke-arah air laut yang bergelombang tenang itu.

Seng mo Leng Kho Tiok berkata.

"Hari sudah menjadi malam, Lebih baik kita istirahat ditempat ini. Menunggu sehingga esok pagi, kita meneruskan perjalanan diatas air."

Su-to Yah menganggukkan kepala setuju.

Mereka lompat turun dari kuda masing masing, dan memandang kearah air laut yang jauh.

Seng-mo Leng Kho-tiok tidak bicara lagi, Su-to Yan sedang berpikir, apa yang terkandung didalam hati Seng-mo Leng kho-tiok mengapa dia tidak bertanya sebab musababnya?"

Kedua orang itu beristirahat ditepi pantai.

Malam makin larut, tiba-tiba telinga Su to Yan dapat menangkap satu suara terompet kiong yang ditiup, semakin lama semakin kencang dan akhirnya begitu menderu-deru.

Su-to Yan memeriksa kearah sekelilingnya, apapun tidak terlihat.

Kedatangan suara terompet kiong itu membuat ia heran sekali, aneh sekali.

Menengok kearah Seng-mo Leng Kho Tiok.

jago tersebut masih diam ditempatnya.

Disana Su-to Yan hendak beristirahat lagi, dia dapat melihat satu bintik merah diatas permukaan air.

Dia terbelalak, bintik merah itu semakin lama semakin besar, dan terjadi kebakaran !

Kebakaran itu mulai mengelilingi dirinya, Su-to Yan menoleh kearah Seng-mo Leng Kho Tiok, jago tersebut sudah lenyap secara mendadak.

Maka kini api itu membesar dan mengurung Su-to Yan.

Hati Su-to Yan tergerak, dia segera teringat kepada ilmu silat Thio Sek Bun.

Apa yang terjadi dihadapannya?"

Itulah ilmu sihir Thio Sek Bun!

Dia masih hendak menyelakakan Su-to Yan.

Karena kelengahan sipemuda, maka dia seolah-olah merasa dirinya telah berada dikurung oleh lautan api.

Terbayang lagi didepan mata Su-to Yan, wajah-wajah Sam-kie Ju-Su In Hong, direndengi oleh Cin Bwee, dan dibelakang mereka juga ada Ie Han Eng, terlalu banyak sekali orang didepan mata Suto Yan.

Tanpa disadari sama sekali, Su-to Yan bergerak maju.

Tiba-tiba terdengar suara yang membentak keras.

"Tetap diam ditempatmu yang semula!"

Su-to Yan sadar, begitu dia membuka mata, Seng-mo Leng Kho Tiok sudah berdiri didepan mata, Baju Seng-mo Leng Kho Tiok penuh dengan darah, kiranya habis melakukan pertempuran hebat.

Orang yang menghardik dan menyadarkan Su-to Yan dari impian tadi adalah Seng-mo Leng Kho Tiok.

Su-to Yan memandang kearah jago tersebut, dia hendak meminta keterangan, apa yang telah terjadi?

Dengan dingin Seng-mo Leng Kho Tiok berkata.

"Kau telah disihir oleh sikakek tukang tenung Thio Sek Bun, beruntung ada aku yang kulihat kau sudah mendekati air laut, dalam keadaan tidak sadar diri lagi, Hampir kau terjun membunuh dirimu sendiri."

Hati Su-to Yan mengkirik dingin, dia heran, mengapa kejadian itu terjadi begitu cepat sekali ? Terdengar suara Su-to Yan bergumam.

"Dia datang kesini ?"

Yang diartikan dengan dia adalah sikakek tua Thio Sek Bun.

"Betul."

Berkata Seng mo Leng Kho-tiok.

"Belum lama aku telah bertempur dengannya sengit sekali."

"Bertempur sengit sekali?"

Bertanya Su-to Yan, dia hanya merasakan kejadian itu berlangsung cepat.

"Tentu. Kau, kira belum lama? bukan main hebatnya."

Berkata Seng-mo Leng Kho-tiok.

Ternyata, dikala Su-to Yan mendengar suara terompet kiong itu berbunyi, Seng-mo Leng Kho Tiok juga dapat menangkap adanya suara orang ditempat tersebut, Dia menghampiri kesana, dan tampak olehnya seorang yang bertangan satu dengan rambut diriap-riapkan keatas dengan mulut berkemak-kemik membaca mantera, entah apa yang dilakukan orang itu.

Maka segera Seng mo Leng Kho Tiok membentak.

"Siapa kau ?"

Orang dengan bertangan satu, rambut riap-riapan kusut dan mulut terkumat-kamit itu adalah si kakek tukang tenung Thia Sek Bun, ia pedang membacakan menteranya, untuk menjatuhkan Su-to Yan.

Dibentak oleh Su-mo Leng Kho Thiok, Thio Sek Bun agak terkejut, dia menggunakan sihir lainnya, hendak menenung jago tua ini.

Seng mo Leng Kho Tiok tidak mempan diguna-guna, segera dia membentak.

"Manusia keparat, berani kau mencelakakanku?"

Dan pada saat itulah sukma Su-to Yan sudah mulai dapat diterbangkan, setapak demi setapak menuju kearah permukaan laut. Seng mo Leng Kho Tiok membentak lagi.

"Jahat kau, mengapa hendak mencelakakan kawanku?"

Dan dia meneriaki Su-to Yan, tapi pemuda itu tidak dapat mendengar teriakannya. Munculnya Seng mo Leng Kho Tiok mengejutkan Thio Sek Bun, segera kakek tukang tenung ini berkata.

"Sebetulnya aku tidak bermusuhan dengan kau, bagaimana kau hendak mencari setori denganku?"

"Hm mencari setori, enyahlah. Kau hendak mencelakakan Su-to Yan, dia sudah menjadi kawanku."

Membarengi kata-katanya, Seng mo Leng Kho Tiok menyerang kearah Thio Sek Bun. Dan terjadilah pertarungan yang sengit.

"Orang lain boleh takut kepada ilmu sihirmu, tapi aku, hmm... Seng mo Leng Kho Tiok dapat melayani dengan hebat."

Thio Sek Bun berkata.

"Kau dijuluki Setan Kehidupan, itu hanya untuk menakut-nakuti anak kecil saja, tetapi terhadap aku, hmm..."

Tapi Thio Sek Bun tidak dapat memberikan perlawan yang lebih lama, dia terdesak terus menerus, akhirnya tidak berhasil menekan kekuatan Seng mo Leng Kho Tiok, karena itu dia melarikan diri.

"Awas pembalasanku, Thio Sek Bun belum pernah melupakan dendam."

Sebelum lari, sikakek meninggalkan ancamannya.

Seng mo Leng Kho Tiok menghampiri Su-to Yan dan membentak, itulah serentetan kejadian-kejadian yang sudah lalu.

Demikian singkatnya cerita bagaimana Seng mo Leng Kho Tiok mengusir Thio Sek Bun.

Su-to Yan berterima kasih kepada Seng-mo Leng Kho Tiok, adanya kawannya berhasil menghindarkan banyak kerewelan sikakek muda tukang tenung Thio Sek Bun, hampir saja dia terjungkal lagi.

Ternyata Thio Sek Bun sakit hati atas terpapasnya sebelah tangan.

Dia hendak menuntut balas, dan inipun tidak berhasil.

Seng mo Leng Kho Thiok memeramkan matanya, dia mengambil waktu untuk beristirahat.

Tiba-tiba...

Mata Seng mo Leng Kho Thiok yang dimeramkan itu terbelalak lebar, kupingnya dipanjangkan, dia seperti dapat mendengar ada suara berkeresek yang datang.

"Ada orang."

Dia memperingati Su-to Yan.

Su-to Yan juga dapat menangkap adanya suara itu, ia menganggukkan kepala.

Tampak Seng mo Leng Kho Tiok menaikkan sepasang alisnya, badannya ditelungkupkan sedikit, seperti seekor harimau yang hendak menerkam, dan siuut, dia melejit kearah datangnya suara berkeresek tadi.

Betul-betul disana ada orang, gerakannya Seng mo Leng Kho Tiok cepat dan gerakan kedua orang itupun cepat pula, berbareng dari kiri dan kanan menyerang Seng mo Leng Kho Tiok.

Seng mo Leng Kho Tiok mendorong tangannya, masing-masing dengan tangan kiri dan kanan menerima serangan kedua orang itu.

Terdengar geramnya yang keras, tubuh Seng mo Leng Kho Tiok terpental balik.

Ternyata, pertarungannya dengan Thio Sek Bun telah membuang banyak tenaga, dan itulah sebabnya mengapa dia tidak sanggup menjatuhkan kedua lawan itu.

Membarengi gerakan Seng-mo Leng Kho Tiok, Su-to Yan pun sudah menyusul, adanya kejadian tersebut mengejutkan sipemuda, dua orang yang berhasil menjatuhkan Seng mo Leng Kho Tiok adalah dua orang berbaju loreng, itulah jago-jago dari istana belang Khong kiok kiong.

Munculnya Su-to Yan yang hendak membantu Seng mo Leng Kho Tiok, dibarengi dengan munculnya beberapa orang, mereka berpakaian belang, inilah orang-orang dari golongan Khong kiok kiong.

Yang menjadi pemimpin rombongan ini adalah si Rajawali Merah Bin Hwee Wee dan Sersan Lima Tiang Sun Hoa.

Terdengar Bin Hwee Wee memberi perintah kepada orangnya.

"Tangkap kedua orang ini. Mereka sudah terluka."

Apa yang dikatakan oleh Bin Hwee Wee sangat tepat Keadaan Su-to Yan dan Seng-mo Leng Kho Tiok tidak mengizinkan mereka bertempur pula, mereka masih berada dalam keadaan terluka.

Orang-orang dari istana belang mulai mengurung maka dengan gelagat seperti itu, agak sulit juga bagi Su-to Yan.

Disaat inilah muncul satu bayangan berwarna kuning mas, dengan suaranya yang garing dan merdu bayangan ini membentak.

"Tunggu dulu."

Orang-orang dari istana Belang, termasuk juga Bin Hwee Wee dan Tiang Sun Hoa, tidak satupun yang tidak terkejut, mereka menoleh dan segera memberi hormat kepada orang baru datang itu.

"Kiongcu."

Merekapun menyembah.

Disana telah bertambah seorang gadis berpakaian kuning emas, inilah yang dipanggil Kiongcu, inilah orang yang menjadi pemimpin istana Belang Khongkiok-kiong.

Kiongcu berarti tuan putri, Ternyata, istana Belang Khong-kiok-kiong berada dibawah pimpinan seorang gadis yang masih muda belia.

Gadis itu mengulapkan tangan, maka semua orang-orangnya bangkit kembali.

Su-to Yan memperhatikan gadis berbaju kuning emas itu, potongannya sedang, wajahnya cantik dan manis, sepasang sinar matanya memancarkan cahaya, agak mirip dengan Ie Han Eng, tapi memiliki keagungannya masih berada diatas Ie Han Eng.

Langsung gadis tersebut menghadapi Su-to Yan, kini ia membuka suara.

"Kau yang bernama Su-to Yan ?"

Su-to Yan menganggukkan kepala, dia membenarkan pertanyaan tersebut.

"Betul."

Gadis itu berkata lagi.

"Kudengar kau tidak bersedia menyerahkan kitab ilmu pedang Maya Nada, bukan ?"

"Kukira demikian."

Berkata Su-to Yan.

"Bisakah kau memberitahukan ilmu itu kepadaku?"

Bertanya lagi sigadis.

"Aku bersedia memberitahu padamu, tapi dengan syarat."

Berkata Su-to Yan.

"Syarat apakah itu ?"

"Aku hendak mendapat sedikit berita tentang kakek dan kedua ayah bundaku."

Si nona tertegun, kemudian melirik kepada Tiang Sun Hoa dan Bin Hwee Wee, kepada kedua orang inilah dia mengajukan pertanyaan.

"Apa kau tidak memberitahukan kepadanya?"

Bin Hwee Wee dan Tiang Sun Hoa berkata dengan tersipu-sipu.

"Sudah kami beritahu. Tapi dia tidak percaya."

Maka gadis itu menghadapi Su-to Yan lagi, dia berkata kepada sipemuda.

"Kakek dan kedua orang tuamu itu telah tiada."

Sepasang sinar mata Su-to Yan memancarkan sinar buas, tapi tidak lama, sinar mata itu redup kembali. Gadis yang menjadi pimpinan golongan istana Belang Khongkiok-kiong berkata.

"Giliranmu yang harus memberi tahu, dimana adanya catatan ilmu pedang Maya Nada itu ?"

Dengan tawar Suto Yan berkata.

"Kitab ilmu pedang telah direbut oleh kalian."

Gadis istana Belang itu menjadi marah, segera dia membentak.

"Tidak mau kau berterus terang ?"

"Sudah kukatakan, bahwa kitab ilmu pedang Maya Nada telah direbut oleh kalian."

Berkata Su-to Yan.

"Hm.,."

Gadis itu mengeluarkan dengusan dari hidung, memandang kearah rombongan orang-orangnya memberi perintah.

"Tangkap mereka !"

Tiang Sun Hoa, Bin Hwee Wee dan lain-lain jago istana belang, mengurung Su-to Yan dan Seng-mo Leng Kho Tiok, maka puluhan tangan itu mulai menyerang mereka.

Su-to Yan mendelikkan mata, semula ia hendak melawan, tidak berhasil, sudah lama mereka menderita luka dalam, Su-to Yan menjadi agak lelah, satu kelengahan, dan ia telah tertotok orang, Disaat itu juga ia jatuh pingsan.

Su-to Yan dan Seng-mo Leng Kho Tiok jatuh kedalam tangan orang-orang istana Belang.

Beberapa lama kemudian, dikala Su-to Yan sadar dari pingsannya, dia mendapatkan dirinya telah berada dalam sebuah kamar yang bergoyang, inilah sebuah perahu besar, dia sudah dibawa berlayar entah hendak dibawa kemana?

Su-to Yan mendongakkan kepala, tidak jauh dari mana dia terbaring, berdiri seorang gadis berpakaian belang, inilah pemimpin dari golongan Khong kiok-kiong, kini ia telah mengenakan pakaian seragamnya.

Gadis Khong-kiok kiong itu memperlihatkan senyuman yang menggiurkan, tanpa terasa, Su-to Yan menjadi tertarik.

Su-to Yaa seperti terbawa oleh arus kecantikan dari si tuan putri istana Khong-kiok-kiong, maka dia tidak dapat membuka mulut, beberapa saat menatapnya sedang dibanding-bandingkan, bagaimana perbedaannya dengan Ie Han Eng, Cin Bwee, dan gadis ini.

Si gadis bernama Bun In Hiang, dia sudah mewarisi dan menjadi penguasa penuh dari istana Belang Khong kiok-kiong, karena menurunkan kedudukan ayahnya.

Setelah berpandangan lagi beberapa lama Bun In Hiang berkata.

"Kau menatap wajahku saja, apa yang sedang kau pikirkan?"

Su-to Yan gelagapan.

"Oh, Oh..."

Dia menjadi gugup.

"Oh apa?"

Bertanya Bun In Hiang.

"Aku sedang membandingkan wajahmu dengan seseorang."

"Dengan siapa?"

Su-to Yan menundukkan kepala.

"Mengapa kau tidak bicara?"

Bertanya Bun In Hiang.

"Aku belum tahu,"

Berkata Su-to Yan dengan suara rendah.

"Apa yang menjadi maksud tujuanmu?"

"Kitab ilmu Pedang."

Jawab Bun In Hiang singkat.

"Lagi-lagi urusan itu yang kau besar-besarkan."

"Su-to Yan."

Berkata Bun In Hiang sungguh-sungguh.

"Sebenarnya, aku hendak merusak ilmu kepandaian silatmu, mengingatkan kau ini sudah menjadi yatim piatu aku tidak tega. Aku hanya menginginkan kitab ilmu pedang Maya Nada itu. Kalau kau bersedia menyerahkan kepadaku kitab itu, segera kuberikan kebebasan."

Su-to Yan menggeleng-gelengkan kepala, dia berkata.

"Sebenarnya, kitab ilmu pedang Maya Nada sudah jatuh kedalam tangan kalian, bukan?"

Bun In Hiang memperlihatkan sikapnya yang tidak puas, dengan marah ia berkata.

"Kitab yang didapat oleh anak murid Istana Khong-kiok-kiong dahulu itu, telah direbut oleh kakekmu Su to Pek Eng, dihadiahkannya kepada Ie Siauw Hu, dan dengan susah payah kami berhasil merebut kembali, kakekmu datang menyusul keistana kami, dikatakan olehnya, bahwa kitab tersebut dapat mengganggu ketenangan daerah Tionggoan, dia hendak meminta kembali, kakekku bersedia menyerahkan kitab tersebut dengan janji, bilamana dia berhasil mengalahkannya, dan terjadilah pertarungan."

"Kemudian?"

"Dua puluh tahun kemudian, ayah dan ibumupun menyusul tiba, kakekku sangat percaya bahwa kitab itu adalah kitab yang asli, karena salah melatih diri, dia Masuk Api. Dan bersama-sama dengan kakekmu, kedua orang tuamu, mereka meninggal dunia."

Su-to Yan berdiam sebentar, kemudian berkata.

"Yang kumaksudkan ialah kitab ilmu pedang yang berada pada Kong-Sun Put-hay."

Sigadis Bun In Hiang menjadi marah, bentaknya.

"Mungkinkah ada kitab ilmu pedang Maya Nada yang keluar?"

"Hmmm,.."

"Su-to Yan mengeluarkan suara dari hidung.

"Kitab yang kalian dapatkan itu adalah palsu, kitab yang berada dalam tangan Kong-sun Put-hay juga kitab palsu."

"Dari mana kau dapatkan ilmu pedang Maya Nada?"

Bertanya Bun In Hiang.

"Kepandaian ini kudapat dari sebuah goa kuno, disana Kong Sun Put-hay meninggalkan catatan-catatannya, Dan juga sembilan macam ilmu silat jaman purbakala pula."

Sigadis berpikir lama dan akhirnya ia dapat mempercayai keterangan sipemuda, karena itu ia berkata.

"Apa yang kau terangkan tadi masih bisa kuterima, Baiklah, Aku percaya."

Dengan tertawa Su-to Yan berkata.

"Tentu saja kau harus percaya."

Gadis itu membenamkan pikirannya kearah yang lebih dalam. Su-to Yan menghela napas, perlahan-lahan dia berkata.

"Goa dimana Kong-sun Put-hay meninggalkan catatan ilmu pedangnya, terdapat juga sembilan ilmu silat peninggalan jaman purbakala, itulah ilmu peninggalan dari Manusia Super Tanpa Tanding Thian Kho Cu semua terdapat disana."

"Aku percaya keteranganmu."

Berkata lagi gadis itu. Setelah berkata demikian, dia menoleh kebelakang dan berteriak.

"Ayo, sediakan perahu."

Itulah perintah kepada orang-orangnya. Kini dihadapinya lagi Suto Yan dan berkata.

"Kudengar kau masih mempunyai hubungan erat dengan golongan Tong-hay, dan salah satu jago dari golongan itu yang bernama In Hay Hong, begitu berani, dia menantang golongan Khong Kiok kiong? suatu hari, aku hendak menempurnya, untuk urusan ini lebih baik kau tidak melibatkan diri."

Su-to Yan termangu-mangu ditempat ini.

Waku terlihat sersan lima Tiang Sun Ho memasuki geledak perahu besar, dengan sepasang tangannya yang diluruskan kebawah dia menunggu perintah.

Maka sigadis berkata.

"Antar Su-to Kongcu kedaratan."

Tiang Sun Hoa bingung hampir dia tidak percaya, bahwa perintah pemimpin itu adalah untuk mengantarkan Su-to Yan, dengan susah payah mereka menangkapnya setelah berhasil, tanpa berkompromi lagi, harus diantar pulang kembali?

Setelah memberi perintah tadi.

Bun In Hiang membalik badan dan memasuki kamar dalam, dia meninggalkan Tiang Su-Hoa, dan juga meninggalkan Su-to Yan.

Tiang Sun Hoa harus menjalankan kewajiban, maka dia memberi hormat kepada Su-to Yan dan berkata.

"Silahkan Su-to Kongcu turut kami, Kiongcu memberi perintah untuk mengantarmu."

Dengan diantar oleh Tiang Sun Hoa, Su-to Yan meninggalkan perahu besar itu, menggunakan sebuah perahu yang kecil, meluncur kearah tepi.

Didalam sekejap mata, Tiang Sun Koa sudah mengayuh perahu kecil itu sehingga jauh sekali, mereka menepi.

Su-to Yan memberi hormat dan berkata.

"Terima kasih."

Tubuhnya melejit dan meninggalkan si Sersan Lima dari Istana Khong kiok kiong, Tiang Sun Hoa juga kembali, dia menyusul rombongannya.

Bercerita tentang Su-to Yan.

Kini dia baru sadar, kemana perginya Seng mo Leng Kho Tiok?

Mengingat tindak tanduk golongan istana belang Khong Kiok kiok yang tidak begitu kejam, tidak mungkin membunuh jago tua itu, Karena inilah dia dapat mengeluarkan napas lega, melanjutkan perjalanannya.

Su-to Yan melangkah kakinya kearah timur.

Didepan sipemuda meluncur satu bayangan.

cepat sekali sudah berada didepannya, inilah seorang wanita muda yang memanjangkan rambutnya, ia adalah padri wanita, memberi hormat pada Su-to Yan dan berkata.

"Numpang tanya, apakah Siecu yang bernama Su-to Yan?"

Su-to Yan terkejut, bagaimana orang ini dapat menyebut namanya? Tanpa dia mengetahui asal usul orang yang bersangkutan? "Ya,"

Su-to Yan membenarkan pertanyaan itu.

"Aku bernama Bu Hian."

Wanita itu memperkenalkan dirinya "Mendapat tugas dari guru kami mengundang dirimu."

Su-to Yan berpikir, tidak ada faedahnya untuk melayani orang yang tidak dikenal, lebih baik dia melanjutkan perjalanannya, mencari jejak Ie Han Eng yang dikatakan sudah lenyap tanpa bekas.

Karena itu, dia berkata.

"Terima kasih atas undangan gurumu, tapi menyesal sekali, aku tidak dapat pergi, aku harus melanjutkan perjalananku." -ooo0dw0ooo-

Jilid 17 PADRI wanita yang bernama Bu Hian itu tertawa, dia berkata.

"Siecu, kalau kau tidak ada waktu untuk menemui ketua kami, mungkin kau tidak dapat menemui nona Ie Han Eng."

"Apa?"

Su-to Yan membelalakan matanya.

"Ie Han Eng?"

Menyaksikan keadaan Su-to Yan yang seperti kaget terpagut ular, hati Bu Hian Nikouw menjadi geli.

"Kami mempunyai banyak urusan? Hendak meneruskan perjalanan lagi? demikian dia berkata.

"Baiklah biar kusampaikan kesukaran kesukaranmu kepada suhuku, akan kukatakan kepada beliau, bahwa kau tidak mempunyai tempo. Aku hendak kembali."

Serta merta dia membalikkan badan, seolah-olah hendak meninggalkan Su-to Yan. Su-to Yan menjadi gugup "Hei,"

Dia berteriak.

"tunggu dulu,"

Cepat-cepat ia menyusul. Bu Hian Nikouw membalikkan kepala.

"Ada apalagi?"

Kini dia jual mahal.

"Kudengar kau menyebut nama Ie Han Eng, dimanakah nona itu berada?"

"Nona Ie Han Eng berada ditempat kami."

Demikian Bu Hian Nikouw memberi keterangan.

"Kalau kau hendak bertemu dengannya, ikut aku"

Baru kini Su-to Yan tahu, ternyata Ie Han Eng yang dikatakan lenyap tanpa bekas itu telah diculik oleh orang-orang itu.

Bu Hian Nikouw?

Mengapa dia belum pernah mendengar nama ini?

Golongan dari manakah yang bisa menculik Ie Han Eng dari tangan Ie Hay Hong ?

Itu waktu betul-betul Bu Hian Nikouw sudah berjalan pergi.

Karena telah diajak terlebih dahulu.

Su-to Yan mengintil dibelakangnya.

Disepanjang jalan, tidak henti-hentinya Su-to Yan berpikir.

"Dengan susah payah. aku hendak menyelidiki jejak Ie Han Eng. Kini tanpa disengaja ada orang yang hendak memberitahukan kepada ku. Entah betul? Entah tidak."

Terbayang wajah Ie Han Eng yang cantik molek, lemah gemulai jarang sekali ada gadis yang dapat menandingi kecantikan gadis ini.

Muncul bayangan lain, inilah bayangan Jie Ceng Peng, bayangan Cin Bwee, dan bayangan sigadis pemimpin dari istana Khong kiokkiong Bun In Hiang.

Kiranya tidak satupun yang dapat menandingi kelemahan dan kecantikan Ie Han Eng.

Suto Yan tidak bisa berpikir lama, Nikouw itu sudah mengajaknya ke sebuah kuil, inilah kuil kawanan kepala gundul wanita.

Demikian hati sipemuda berpikir.

Su-to Yan diajak memasuki kelenteng Cee-in-am itu, cukup besar dan juga sangat luas, didalam kelenteng Cee-in-am pemandangannya sangat menarik hati, banyak ditanami pohonpohon dan bunga-bunga, Kurang lebih berjalan lima puluh langkah, Bu Hian Nikouw menghentikan kakinya dan sambil menoleh kearah Su-to Yan ia berkata.

"Bagaimana, apa kongcu hendak langsung bertemu dengan guruku, atau bertemu dengan nona Ie Han Eng lebih dahulu ?"

Su-to Yan berpikir sebentar dan menjawab pertanyaan itu.

"Aku hendak bertemu dengan nona Ie Han Eng."

"Baik. ikut aku."

Berkata Bu Hian Nikouw, seraya bertindak membelok kearah kiri.

Tidak jauh lagi, mereka telah menemukan sebuah pintu yang terbuat dari batu merah, disitu terdapat sebuah bangunan lain sambil menunjuk kearah pintu tersebut, Bu Hian Nikouw berkata.

"Nona Ie Han Eng berada didalam kamar, masuk sajalah, disana kau dapat menemuinya. Aku tidak bisa mengawani kau lebih lama lagi, aku harus segera memberi tahu tentang kedatanganmu."

Tanpa menunggu jawaban Su-to Yan, tubuh Bu Hian Nikouw dibalikkan dan berjalan pergi, lenyap dibalik pohon itu.

Hati Su to Yan menjadi ragu-ragu, haruskah dia memasuki bangunan ini ?

Bukan satu dua kali Su-to Yan ditipu orang, karena itulah ia berhati-hati.

Terbayang kembali wajah In Han Eng.

dan wajah itu mempunyai daya magnit yang luar biasa, memaksa dia mendorong pintu tersebut.

Dengan hati-hati, Su-to Yan berjalan masuk, matanya celingukan, siap waspada.

Didalam kamar itu duduk seorang gadis berbaju hitam, dengan membelakangi pintu, masuknya Su-to Yan tidak diketahuinya sama sekali.

Derap langkah Su-to Yan telah mengejutkan gadis tersebut, cepat dia membalikkan tubuhnya, dan itulah sigadis dari lembah "Awan Terbang"

Ie Han Eng.

"Adik Ie."

Terdengar suara Su-to Yan hampir tidak terdengar.

Ie Han Eng seperti berada didalam impian, ia masih belum begitu percaya kepada pandangan matanya bahwa ia kini sedang berhadapan dengan Su-to Yan.

Oleh seorang Nikouw tua yang menyapa dengan suaranya yang lemah lembut, dia berkata.

"aku yang bernama Ie Han Eng? Kubenarkan jawaban itu, Lantas ia mendekati aku, entah bagaimana, aku sudah tidak sadarkan lagi, Aku juga tidak tahu, bagaimana dia berhasil melewati penjagaan In Hay-hong dan ketika aku sadar, aku berada ditempat ini."

Ternyata Ie Han Eng telah diculik oleh orang yang mendiami kelenteng ini. Entah, dari golongan mana mereka? Su-to Yan bertanya lagi.

"Apa maksud mereka menculik dirimu?"

"Menurut katanya, aku hendak dijadikan sandera, sehingga kau tiba ditempat ini. Dan kini kau telah berhasil datang. Tentunya aku akan mendapat kebebasan kembali."

Dikala mereka hendak mengutarakan kesan masing-masing, biarawati yang bernama Bu Hian Nikouw itu memasuki ruangan, dia berkata kepada Su-to Yan.

"Su-to Siecu, guruku mengundang."

Su-to Yan menganggukkan kepala, memandang kepada Ie Han Eng dan ia berkata.

"Aku hendak menemuinya dahulu, sebentar aku balik kembali."

Mulut Ie Han Eng terbuka sedikit, seperti hendak mengucapkan kata-kata, tapi dibatalkannya segera, dikatupkannya kembali dia gagal mengatakan sesuatu.

Bu Hian Nikouw sudah membalikkan tubuh, dan mengajak Su-to Yan untuk bertemu dengan gurunya.

Su-to Yan dibawa memasuki keruangan besar, disana kelihatan seorang nikouw tua, dia duduk bersemedi diatas satu buntalan bantal.

Melihat kedatangan Su-to Yan, Nikouw tua itu bangkit berdiri, memberi hormat sedikit dan berkata.

"Lonie bernama Siang Tin, sengaja mengundang Su-to Siecu datang ketempat ini, hendak menyelesaikan satu urusan yang sangat penting, silahkan duduk."

Nikouw tua ini memperkenalkan dirinya sebagai Siang Tin Suthay, Su-to Yan membungkukan badan, dan membalas hormat tersebut, ia berkata.

"Su-to Yan memberi hormat kepada suthay."

Kini dia memperhatikan wajah Siang Tin-Suthay, rambutnya sudah putih semua, alisnya panjang menurun kebawah, jidatnya menonjol keluar.

matanya bercahaya sekali, inilah menandakan kepintarannya, tapi pelipisnya biasa saja, dilihat sepintas lalu, tidak mungkin ia mempunyai ilmu kepandaian.

Su to Yan mengerutkan alis, inikah orang yang menculik Ie Han Eng?

Tampaknya ia tidak pernah melatih diri, bagaimana mempunyai kepintaran dan kepandaian untuk membawa gadis ketempat ini ?

Su-to Yan mengambil tempat duduk didepan Siang-tin-Suthay, Mereka berpandangan beberapa lama, dan berkatalah Siang-tinSuthay.

"Su-to Siecu, tahukah kau, apa maksud tujuan kami yang mengundangmu ketempat ini ?"

Suto Yan menggoyangkan kepala, dengan terus terang dia berkata.

"Tidak tahu."

Siang Tin suthay berkata.

"Tidak mudah untuk mengundang dirimu, karena itu aku mengundang Ie Han Eng lebih dahulu."

Tanpa terasa, hati Su-to Yan jadi bergidik, nikouw tua yang bernama Siang Tin Suthay ini adalah lawan yang hebat, bilamana ia tidak berhati-hati, besar kemungkinan jatuh terjungkal.

Meskipun belum diketahui dengan cara bagaimana Siang Tin Suthay membawa Ie Han Eng, keluar dan meninggalkan lembah Hui-in.

Tapi itulah kenyataan, suatu bukti bahwa Siang Tin Suthay bukan manusia biasa.

Siang Tin Suthay sebetulnya dapat melihat perubahan hati si pemuda, dengan tertawa berkatalah Nikouw tua ini.

"Jangan takut, Aku tidak bermaksud jahat."

Su-to Yan menatap wajah Nikouw tua tersebut dia selalu siap sedia.

"Katakanlah,"

Mengundang."

Berkata Su-to Yan.

"Apa maksud Suthay Terjadi lagi perobahan suasana yang tegang, ternyata Su-to Yan tidak mudah digertak, Dari sikap yang seperti ini, Siang Tin Suthay tahu, bahwa jago kita ini adalah lawannya yang terkuat. Tapi dia sangat percaya kepada kepintaran dan kecerdikan diri sendiri, dengan perlahan-lahan dan sepatah demi sepatah dia berkata.

"Terus terang kukatakan kepadamu, bahwa maksud tujuan kami adalah kitab ilmu pedang Maya Nada."

Su to Yan tertawa.

"Hampir setiap orang yang mengejar diriku berpokok pangkal kepada kitab ilmu pedang tersebut."

Suara si pemuda mengandung cemoohan. Cepat-cepat Siang Tin Suthay menggoyangkan tangan, ia berkata.

"Salah ... Salah.... orang lain tidak tahu, bahwa kitab peninggalan Kong-sun Put-hay itu adalah sebuah kitab palsu, Tapi aku sudah tahu, aku tidak menghendaki kitab palsu itu."

Su-to Yan tertegun. Dan dia bertanya lagi.

"Kitab ilmu pedang yang mana yang Suthay maksudkan ?"

"Kitab ilmu pedang yang mana? Ha, ha, ha, ...". Siang Tin Suthay tertawa. Setelah Siang Tin Suthay puas tertawa, ia berkata lagi.

"Tahukah kau, bagaimana hubungan ilmu pedang tersebut dengan golongan kami?"

"Belum tahu,"

Berkata Su-to Yan terus terang.

"Ilmu pedang Maya Nada berasal dari Sucouw golongan kami yang bernama Liu Ang Ciauw."

Siang Tin Suthay memberi keterangan "Turun temurun hingga pada suatu hari lenyap mendadak, digubah oleh Thian Kho Cu, diperbaiki oleh Kong-sun Put-hay.

Sebagai anak-anak murid kelenteng ini kami patut meminta kembali kitab tersebut."

"Tapi kitab itu kitab palsu."

Berkata Su-to Yan.

"Kitab palsupun hendak kami tarik kembali dari permukaan rimba persilatan. Kau harus maklum, partai kami berpantangan melatih ilmu silat, juga tidak dibenarkan, membiarkan ilmu kepandaian kami disebar luaskan secara meluas. Karena itu, kami wajib menarik kembali semua pelajaran-pelajaran yang ada."

Su-to Yan berkata.

"Partai aliran dari manakah yang dianut oleh Su-thay ?"

"Partai Biarawati Jaya."

Siang Tin suthay memberi keterangan.

Biarawati jaya ?

inilah partai baru, Su-to-Yan belum pernah mendengar nama partai itu, juga belum pernah mendengar tentang berdirinya partay yang bersangkutan.

Partay Biarawati jaya didirikan oleh Liu Ang Ciauw setelah Liu Ang Ciauw Patah hati, atas cinta kasihnya kepada Liu Cu Kok yang tidak tersampai, dia lari kedaerah Tong-hay, disana mendirikan satu komplotan kemudian menyerang kearah Tionggoan, usahanya tidak berhasil.

Dan dia lari kembali.

Setelah menekunkan dirinya sekian lama, putusan Liu-Ang Ciauw berbeda, ilmu silat belum tentu dapat menguasai rimba persilatan tanpa disertai dengan kecerdikan otak yang luar biasa, karena itulah dia mendirikan Partai Biarawati Jaya, semua anggotanya terdiri dari wanita, semua wanita pilihan wanita yang memiliki kecerdasan otak luar biasa.

Tanpa ilmu silat, mereka dapat mengatasi segala kesulitan, hanya mengandalkan tipu muslihat dengan disenjatai oleh pikiran yang cerdik pandai.

Su-to Yan masih menjublak.

Menyaksikan keadaan Su-to Yan seperti orang linglung, Siang Tin suthay berkata.

"Hei, tahukah kau, maksud tujuan kami menculik Ie Han Eng ?"

Tanpa banyak pikir, Su-to Yan menjawab pertanyaan tadi.

"Memaksa aku untuk menyerahkan kitab yang bersangkutan."

"Hanya benar sebagian."

Berkata Siang Tinsuthay.

"Kami mempunyai maksud tujuan lain, tahukah kau maksud tujuan kedua itu ?"

Su-to Yan menggelengkan kepala. Dengan tertawa puas, Siang Tin suthay berkata.

"Kami menculik Ie Han Eng, karena gadis ini memiliki sifat-sifat yang cerdas, Ketua kami sangat tertarik atas ketekunan yang diperlihatkannya, juga tertarik dengan kecerdikan otaknya. Ketua kami berniat untuk menjadikannya sebagai calon tunggal, untuk jabatan ketua partai Biarawati Jaya. Sayang sekali, Ie Han Eng menolak dengan getas, betul-betul membuat kami kecewa."

Siang Tin suthay menghentikan pembicaraannya sejenak, mengawasi sipemuda yang duduk dengan lesu, dan kini dia berkata lagi.

"Ketahuilah, para anggota partai dari golongan Biarawati jaya bekerja tidak sembarang bekerja, belum pernah kami memaksa seseorang yang tidak mau melakukan sesuatu, Kami mengharapkan kerelaan, demikianpun dalam urusan perkara Ie Han Eng, kami mengharapkan kerelaan dirinya untuk dinobatkan menjadi calon ketua partai kami. Dia membantah, kami tahu bahwa hubungan kalian cukup baik, dengan harapan kau dapat membujuknya, untuk menerima tawaran baik ini."

"Mengapa suthay bicara seperti itu?"

Su-to Yan tidak sepaham.

"Masih ada urusan yang kau belum ketahui, dahulu Ie Han Eng memutuskan pertunangannya denganmu, hanya disebabkan menuruti cemburunya yang besar, dia tahu, bagaimana hubunganmu dengan Cin Bwee, karena itulah dia bersedia melepaskan dirimu, dengan harapan..."

"Kukira tidak perlu membicarakan soal ini,"

Memotong Su to Yan.

"Salah... kau salah, ketahuilah pertunangan kalian telah ditetapkan oleh kedua belah pihak oleh keluarga masing-masing, inilah resmi! Wajib! Apa lagi kecantikannya Ie Han Eng yang yang luar biasa, sikapnyapun lemah lembut, hatinya jujur sekali, siapakah yang tidak beruntung mendapatkan dirinya sebagai isteri?"

Su-to Yan tidak menjawab, pikirnya mengapa nikouw tua ini menjadi melantur kedalam urusan rumah tangga orang?

Su-to Yan sedang merencanakan suatu pikiran lain, dia sedang mencari jalan, bagaimana harus menolong Ie Han Eng, keluar dari lembah kekangan anak buah golongan partai Biarawati jaya itu.

Siang Tin Suthay diam2 dengan sepasang sinar matanya yang tajam, dia memperhatikan segala gerak gerik Su-to Yan.

Dia segera dapat menebak, jalan pikiran sianak muda, dengan tertawa ia berkata.

"Lebih baik kau jangan mempunyai pikiran yang menyeleweng terhadap golongan kami, ketahuilah Partai biarawati jaya bukan partai biasa, pikiran manusia itu seperti terletak diatas kertas putih, jangan coba-coba untuk menodainya. Kami tahu apa yang sedang kau pikirkan, hendak kabur dari sini? percuma saja. Kami telah membuat persiapan yang cukup, Apalagi kau masih berada dalam keadaan terluka, kukira, kau harus membutuhkan berapa hari untuk menghilangkan semua luka-luka dalam pada dirimu itu. Lebih baik, jangankan kau bentrok pada golongan kami."

Betul-betul hebat!

Sesudah sadar kalau rencananya sudah diketahui lebih dahulu, Su-to Yan harus mencari jalan lain, persiapan untuk membendung dirinya melarikan diri, tentu akan menghadapi banyak kesulitan.

Ada lebih baik dia memilih jalan kompromi.

Kini dia menunggu, apa yang dikehendaki betul betul oleh golongan Biarawati Jaya ini?

itu waktu Siang Tin-suthay seperti hendak mengatakan sesuatu, tiba-tiba, dari luar berlari masuk seorang biarawati kecil langsung menghampiri Siang Tin Suthay dan membisiki sesuatu.

Wajah Siang Tin suthay berubah, tapi secepat itupun ia dapat menenangkan pikirannya, dengan senyuman sinis ia berkata.

"Tetap jalankan rencana yang sudah kita gariskan."

Biarawati kecil itu memberi hormat dan meninggalkan ruangan. Kini Siang Tin suthay menghadapi Su-to Yan, serta dia berkata kepada sipemuda.

"Kau kenal dengan jago wanita Tong-hay yang bernama Khong Bun ?"

"Aaaah..."

Lagi-lagi Khong Bun, Su-to Yan memperlihatkan rasa keterkejutannya "Dengan menunggang seekor burung raksasa, Khong Bun berada diatas kita."

Siang Tin Suthay memberi keterangan.

Hati Su-to Yan tercekat, mungkinkah mencari dirinya?

Atau mencari jejak Ie Han Eng?

Atau atas permintaan In Hay Hong untuk mencari Ie Han Eng ?

"Burung peliharaan Khong Bun tidak mau pergi dari atas kita, Terus menerus mengadakan pengintaian yang seksama."

Siang Tin Suthay menyambung pembicaraannya. Disaat ini, tiga biarawati memasuki ruangan, seolah-olah menunggu perintah Siang Tin-Suthay. Kepada ketiga orang itu Siang Tin Suthay berkata.

"Jalankanlah rencana ketua partay kita.."

Ketiga biarawati itupun meninggalkan ruangan kembali.

Didalam hati Su-to Yan masih berpikir-pikir.

Kecerdikan dan kepintarannya Siang Tin-suthay ini sudah demikian hebat, ternyata diapun belum dapat menduduki jabatan ketua partay golongan Biarawati Jaya?

Urusan ini dihubungkan kembali dengan Ie Han Eng, Mengapa ketua partay golongan Biarawati jaya hendak mewariskan kedudukan itu kepada si gadis ?

Datangnya gangguan dari pihak Tong-hay memberi ilham lain kepada Su-to Yan, karena itulah ia berkata.

"Suthay, ada lebih baik kalian menyerahkan Ie Han Eng kepadaku agar tidak diganggu oleh golongan Tong-hay lagi."

"Hei ... hei. ."

Siang Tin suthay tertawa menghina.

"Ketua kami sudah memperhitungkan gangguan dari pihak Tong-hay, maka dia berani menculik Ie Han Eng dari bawah pengawasannya In Hay Hong, hanya Khong Bun seorang dengan binatangnya, tidak perlu dikhawatirkan. Untuk memancing mereka pergi dari tempat ini, terlalu mudah sekali."

Su to Yan pernah berkenalan dengan Khong Bun, ibu angkat itu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, dan dia hendak melihat, bagaimana pihak Biarawati jaya hendak menghadapi gangguannya.

Siang Tin suthay berkata.

"Kukira Khong Bun mengikuti jejakmu, dia dapat melihat, bagaimana kau masuk kedalam kelenteng ini, Dia hendak menunggu, bagai mana pula kau keluar dari kelenteng ini."

Su-to Yan belum mengerti, apa yang dimaksudkan oleh Siang Tin suthay.

Dia memperhatikan biarawati tua itu.

Siang Tin suthay seperti dapat menduga apa yang sedang dipikirkan oleh lawannya, dia membuka mulut.

"Mau tahu mudah saja. Khong Bun mengincar dirimu. Sudah kubuat seseorang yang memalsukan dirimu. Maka orang ini akan mengubah dirinya menjadi Su-to Yan, dia keluar meninggalkan kelenteng, tentu saja Khong Bun mengikuti Su-to Yan, tapi itulah Su-to Yan palsu, Ha...ha... Su-to Yan. kau masih berada ditempat kami."

"Tapi aku bisa berteriak,"

Berkata Su-tu Yan.

"Berteriaklah."

Berkata Siang Tin suthay.

"Ini akan membawa akibat yang lebih buruk lagi bagi pihakmu."

Hebat!

Sungguh luar biasa !

Semua jalan yang terbentang dihadapan mata Su-to Yan adalah jalan-jalan yang sudah ditetapkan oleh golongan partai Biarawati jaya itu.

Agaknya sulit juga untuk mengatasi kesulitan-kesulitannya.

Su-to Yan diam, Mencari jalan lain, Untuk menjamin keselamatan mereka.

Setelah beberapa lama mengobrol kebarat dan ketimur, Siang Tin Suthay berkata.

"Kelenteng Cee-in-am adalah kelenteng pinjaman, bukan tempat kami, mari kita berangkat."

Siang Tin Suthay mengajak Su-to Yan meninggalkan kelenteng tersebut.

"Kemana?"

Bertanya sipemuda.

"Turutlah kepada kami."

Berkata Siang Tin suthay.

"Bagaimana dengan Ie Han Eng?"

"Ie Han Eng sudah diberangkatkan lebih dahulu, mungkinkah kau tidak mau pergi?"

"Kalian kira aku Su-to Yan mudah ditenteng kesana kesini?"

"Terserah, bila kau mau mengikuti Ie Han Eng, kau boleh turut serta, Tapi bila mana kau sudah tidak butuh dengan tunanganmu itu, kau bebas bergerak, Kau bebas kemana kau hendak pergi."

Tanpa menunggu reaksi Su-to Yan, Siang Tin suthay sudah mengajak orang-orangnya meninggalkan kelenteng tersebut persiapan ini sudah berjalan, hanya empat orang saja yang menyertainya.

Su-to Yan boh-hoat, dia tertegun untuk beberapa waktu, apa yang direncanakan dan dijalankan oleh golongan Biarawati jaya ini Sungguh hebat.

Begitu rapi sekali, begitu cermat sekali.

Tidak ada tawar menawar untuknya kecuali mengikuti mereka, dibawa kesuatu tempat yang ia belum tahu sama sekali.

Mengikuti Siang Tin Suthay sekalian, Su-to Yan meninggalkan Tie-in-koan.

Diluar kelenteng itu sudah tidak tampak seorang pun, diatas kelenteng juga sudah tidak terlihat burung Khong Bun, jago wanita dari Tong-hay itu sudah pergi, mungkin telah dapat dipancing pergi oleh anak murid dari golongan Biarawati Jaya.

Jauh didepan Su-to Yan, Siang Tin suthay tersenyum tawar, dia dapat mengetahui bahwa si pemuda mengikuti dibelakang mereka, inilah maksud tujuannya, menekan Su-to Yan, dan membujuk Ie Han Eng.

Mereka menuju kearah utara.

Berjalan dan berjalan terus, akhirnya merekapun tiba disebuah kelenteng lain, kelenteng ini tidak berbeda jauh keadaannya dari kelenteng Cee-in am.

Sangat sepi dan sunyi sekali, Siang Tin suthay beserta keempat orangnya memasuki kelenteng itu Su-to Yan juga mengikuti masuk kedalam kelenteng tersebut.

Baru sekarang Siang Tin suthay berkata lagi.

"Tahukah kau, bagaimana kami hendak menghadapi kau dan Ie Han Eng?"

Su-to Yan melentikkan alisnya tinggi-tinggi, dengan tertawa tawar dia berkata.

"Kalian anggota partai dari golongan Biarawati jaya memang pintar, memang pandai, memang hebat, dan sungguh-sungguh luar biasa. Tapi kukira kalian sudah lupa, bahwa kalian belum berhasil menangkapnya. Aku datang ke-tempat ini dengan kemauanku sendiri."

Atas reaksi Su-to Yan yang tidak gentar itu, hati Siang Tin suthay juga terkejut. Dia berpikir.

"Bocah ini memang hebat, dia berani mengadu kecerdikan."

Dengan tersenyum pertanyaan. kecil Siang Tin Suthay mengajukan "Dimisalkan, kita mengganti kedudukan, kau menjadi aku, dan aku menjadi dirimu, apa yang hendak kau lakukan ?"

"Karena aku berkepandaian, kau tidak berkepandaian Kukira langkah-langkah kita tidak dapat disamakan."

Berkata Su-to Yan gagah. Siang Tin Suthay berkata.

"Partai Biarawati jaya hendak menggunakan sedikit tekanan kepadamu, mau tidak mau, harus memaksa Ie Han Eng menjadi ahli waris ketua partai kami."

Su-to Yan tersenyum mengejek, katanya.

"Kukira Ie Han Eng tidak mungkin mau dipaksa."

"Kami tidak memaksa Ie Han Eng, kami memaksamu."

"Lebih baik aku bunuh diri, maka gagallah semua rencana busuk kalian itu."

Hati Siang Tin suthay semakin terkejut, inilah cara-cara perhitungan yang paling terburuk, bila menghadapi cara seperti ini, buyarlah semua rencananya.

"Apa yang kau katakan ini sudah berada dibawah perhitungan ketua partai kami, Kuanjurkan, agar kau tidak mengambil langkah yang buruk itu."

"Tentu."

Berkata Su-to Yan.

"Bilamana kau tidak memaksa aku melakukan sesuatu yang tidak menjadi kehendak hatiku."

Kini, mereka telah memasuki kelenteng tersebut, menuju kearah ruangan besar.

Seorang biarawati memapaki Siang Tin Suthay, berbisik-bisik sebentar, dan mereka pun berpisah kembali.

Siang Tin suthay menganggukkan kepala.

Suatu tanda bahwa dia telah mengerti apa yang diintruksikan kepadanya, dengan mengajak Su-to Yan, dia menuju kelain ruangan.

Ruangan ini berupa sebuah kamar yang cukup besar, setelah mengajak ketempat itu, Siang Tin suthay berkata.

"Baik-baiklah kau beristirahat ditempat ini. Berpikirlah lebih seksama lagi, Kuberi kau waktu dua jam. Nanti aku balik kembali, untuk mendengar keputusanmu."

Seolah-olah Siang Tin suthay telah mempenjarakan Su-to Yan ditempat tersebut.

Siang Tin Suthay meninggalkan Su-to Yan tapi ia tidak mengunci pintu ruangan itu, dibiar kan saja terbuka.

Inilah cara yang sangat istimewa dari partai Biarawati Jaya, bagaimana mereka mempenjarakan seseorang tawanannya.

Su-to Yan ditinggal seorang dia, pikirannya bekerja keras, bagaimana dia harus menghadapi partai Biarawati Jaya itu.

Tidak perlu takut, ia berkepandaian tinggi, walau berada dalam keadaan terluka parah, dengan sekali enjot atau dua kali lompatan, tidak mungkin anggota-anggota dari Biarawati Jaya itu dapat menahan dirinya, toh mereka tidak berkepandaian silat.

Yang memberatkan Su-to Yan dan memaksa dia terkekang ditempat itu adalah keselamatan Ie Han Eng.

Kini Su-to Yan mulai memperhatikan ruangan yang mengekang dirinya itu, Tidak ada penjaga, juga tidak terkunci Partay Biarawati jaya adalah partay yang lain dari pada partay yang lain.

Partay istimewa yang khusus menerima seluruh anggotanya yang terdiri dari wanita-wanita.

Seringkali, kecerdikan wanita itu melebihi kecerdikan kaum pria, dan Biarawati jaya adalah pilihan dari wanita-wanita cerdik pandai tersebut, karena itulah tokoh-tokoh mereka seperti Siang Tin suthay dan lain-lainnya memiliki kecerdikan-kecerdikan dan kecerdasan otak yang luar biasa.

Su-to Yan tidak mau membiarkan dirinya terkekang seperti itu.

Dia berpikir.

"Mereka mengurung Ie Han Eng, tentunya pada tempat ini juga, Bila aku berhasil mengajaknya melarikan diri, apa yang dapat dibuat oleh golongan Biarawati Biarawati tadi ?"

Untuk memulai tugas kerjanya, Su-to Yan memeriksa seluruh isi ruangan tersebut, Betul-betul tidak ada orang.

Su-to Yan kurang percaya, dia menelungkupkan telinga ditanah, kemudian digeser kedinding, tidak terkenal deburan-deburan atau gesekan suara, itulah suatu tanda bahwa dirinya tidak berada didalam pengawasan siapa pun juga.

Betulkah Su-to pengawasan ?

Yan dikurung didalam kamar itu tanpa Salah !

Suatu kesalahan yang terbesar, bilamana menganggap bahwa partai Biarawati Jaya itu adalah suatu partai yang terlemah.

Mereka tidak berkepandaian silat, tetapi benak pikirannya melebihi tokohtokoh tempur kelas satu.

Mereka berani mengajak Su-to Yan ketempat itu, mereka berani meninggalkan Su-to Yan dalam satu ruangan yang bebas bergerak, tanpa pengawasan seorang manusiapun.

Tapi mereka meletakan seekor burung hantu ditempat yang tidak jauh dari Su-to Yan dikurung.

Su-to Yan memperhatikan keseluruh ruangan, dan akhirnya dia berhasil menemukan adanya burung hantu itu.

Untuk beberapa saat, Su-to Yan tertegun hatinya berpikir keras.

"Partai Biarawati Jaya ini betul-betul hebat. Hanya menggunakan seekor burung hantu, hendak mengekang kebebasanku ?"

Hanya menggunakan sedikit kepintarannya.

Su-to Yan bisa menduga, apa kegunaan dari burung hantu yang dipasang tidak jauh dari ruangan yang mengekang dirinya itu.

Disinilah letak keistimewaan partai Biarawati Jaya.

Belum pernah ada orang yang terpikir, bagaimana menjaga seorang tawanan penting, tanpa pengawasan manusia.

Tapi Siang Tin Suthay sekalian, sudah bisa memanfaatkan seekor burung, mereka meletakkan burung hantu itu disangkar kayu yang tidak jauh diri jendela, maka bilamana Su-to Yan melakukan sesuatu gerakkan yang tidak menguntungkan, burung hantu yang sudah terlatih itu akan berteriak, dan merekapun sadar bahwa Su-to Yan hendak melarikan diri.

Dimisalkan Su-to Yan melarikan diri, bagaimana mereka bisa mencegahnya?

Mengingat para anggota partai Biarawati jaya itu tidak berkepandaian silat ?

Inilah keistimewaan yang lebih istimewa dari golongan Biarawati Jaya, untuk jelasnya kita tuturkan secara terperinci.

Bercerita tentang Su-to Yan, setelah dia mengetahui bahwa dirinya dijaga seekor burung, dia menjadi tertawa dingin.

Ilmu kepandaian silat Su-to Yan telah mencapai ketaraf yang sempurna, dia sudah bisa menemukan jalan, bagaimana untuk menghilangkan pengawasan burung ini.

Su-to Yan menggerakan tangannya, maka dia berhasil memungut pecahan kayu, diputar-putarkannya pecahan kayu itu hingga berkeping keping, dengan menggunakan bidikannya yang sangat tepat, dilemparkan kearah burung hantu itu.

Sinar mata burung hantu itu hebat sekali, gerakan tangan Su-to Yan tentu tidak menguntungkan dirinya, dia hendak berteriak, memekik atau melengking, tapi sudah terlambat !

Gerakan Su-to Yan terlalu cepat dilukiskan begitu tangannya bergerak, disaat itu pula tenggorokan dan isi perut si burung hantu itu tertembus, tanpa bisa mengeluarkan pekikan sama sekali, ia mati pada saat itu juga.

Su-to Yan sudah siap sedia, dia menyusul dengan gerakan tangannya, maka jatuhlah burung hantu itu.

Tidak terdengar suara sama sekali, Su-to Yan sudah menghabiskan riwayat hidup binatang yang membikin pengawasan itu.

Su-to Yan mengadakan pemeriksaan lain, tidak ada orang kedua, juga tidak ada burung hantu kedua, ia bebas.

Rencana Su-to Yan yang pertama berakhir sukses, maka dia harus dengan rencana rencana berikutnya.

Betul mengetahui bahwa dia tidak berada didalam pengawasan orang, dengan sekali mengenjot diri, Su-to Yan meninggalkan ruangan itu.

dan kini dia sudah berada diatas wuwungan rumah.

Su-to Yan hendak mencari dan menemukan Ie Han Eng.

Su-to Yan berlari-larian diatas genteng, kini dia memeriksa, ruangan demi ruangan, dia hendak menemukan Ie Han Eng.

Beberapa ruangan digunakan oleh para Biarawati itu, waktu sudah menjadi malam, inilah waktu tidur dan istirahat.

Mereka itu terlena dan terpulas diatas tempat tidur.

Tidak tahu bahwa orang tawanannya sudah siap-siap untuk melarikan diri.

Seperti apa yang Siang Tin Suthay sudah katakan, anggota dari partai Biarawati jaya itu tidak mempunyai kepandaian, Mereka hanya mementingkan kecerdasan dan kecerdikan otak mengilmiah segala sesuatu dan bagaimana harus menghadapinya.

Adanya Su-to Yan yang berada ditempat itu tidak dapat membangunkan seorangpun juga, tidak lama kemudian, Su-to Yan berhasil menemukan Ie Han Eng, Sang bidadari dari lembah Hui-in, sedang tertidur, dia terkurung dilain ruangan yang lebih kecil.

Berbeda dengan keadaan dirinya, tidak ada burung hantu yang menjaga keselamatan Ie Han Eng.

Tapi Su-to Yan tidak lemah, maka ia dapat melihat seorang biarawati muda yang tertidur tidak jauh dari pintu, biarawati muda ini adalah yang ditugaskan untuk menjaga Ie Han Eng.

Dengan satu kali loncatan, Su-to Yan memasuki ruangan itu.

Biarawati muda yang sudah hampir tertidur, yang menjaga Ie Han Eng itu terkejut dia membelalakan matanya menatap tubuh Suto Yan.

Gerakan Su-to Yan terlalu cepat, dengan hanya dua kali totokan berhasil mengekang kebebasan biarawati muda tersebut, serta merta dia membentak.

"Jangan banyak bicara !"

Adanya suara bisik itu juga mengejutkan Ie Han Eng dia tersentak bangun dari tidurnya dan menampak kedatangan Su-to Yan, diapun menjadi girang.

Su-to Yan menggapaikan tangan kearah Ie Han Eng, dan sigadis sudah menubrukkan tubuhnya kedalam rangkulan Su-to Yan.

Mereka sudah siap-siap hendak meninggalkan kelenteng tersebut.

Disaat inilah, secara tiba-tiba saja, terdengar suara kaki orang banyak disertai dengan obor-obor yang dinyalakan terang para biarawati-biarawati sudah bangun dari tidur mereka, dan menuju kearah tempat ruangan yang mengurung Ie Han Eng.

Dikala Su-to Yan dan Ie Han Eng hendak meninggalkan ruangan tersebut, para biarawati biarawati yang dipimpin oleh Siang Tin Suthay sudah menghadangnya.

Rasa terkejutnya Su-to Yan tidak kepalang, entah dengan cara bagaimana, para anggota partai Biarawati jaya ini dapat mengikuti jejaknya?

Dengan sepasang sinar matanya yang sangat dingin dan kejam, Siang Tin suthay mengeluarkan suara dengusan.

"Sudah kuperhitungkan, akan adanya rencana larimu ini."

Su-to Yan berkata tawar.

"Tapi kau salah perhitungan, aku lari disaat ini juga."

"Kau hendak mengajak Ie Han Eng meninggalkan kami?"

Bertanya Siang Tin suthay.

"Tentu,"

Jawaban Su-to Yan sangat singkat sekali.

"Baiklah,"

Siang Tin suthay menganggukkan kepala.

"Ajaklah tunanganmu itu, ajaklah kemana kau suka, kau perhatikan baik dan bersiap-siaplah untuk menghadapi penghadangan kami."

Su-to Yan sudah siap mengeluarkan pedangnya, dengan pedang ditangan dia hendak menghadapi anggota-anggota partai Biarawati jaya itu.

Hendak disaksikan, bagaimana musuh tidak berkepandaian silat itu menghadang dirinya?

Yang berada diluar dugaan, Siang Tin suthay tidak hendak menempur.

Tidak memberi perintah kepada orang orangnya untuk mengurung, dibiarkan saja Su to Yan dan Ie Han Eng seperti itu.

Dengan menggandeng tangan Ie Han Eng, Su-to Yan berjalan pergi.

Tidak seorangpun yang keberangkatan mereka.

menghadang atau menghalangi Siang Tin Suthay beserta anak buahnya hanya diam ditempat inilah keistimewaan dari partai Biarawati Jaya.

Mengikuti perjalanan Su-to Yan dan Ie Han Eng, cepat sekali mereka sudah meninggalkan kelenteng itu, memasuki semaksemak, dan menjauhi musuh-musuh mereka.

Latihan Ie Han Eng tidak disamakan dengan latihan Su-to Yan, tidak lama kemudian napasnya sudah terengah-engah, dan napas itu memburu keras.

Menggandeng tangan sigadis, yang diajak duduk disebuah pohon besar Su-to Yan berkata.

Mereka tidak membikin pengejaran, mari kita istirahat sebentar.

Ie Han Eng sangat setuju, dia mengikuti segala kemauan sipemuda, Dan duduk dibawah pohon besar itu.

Sesudah kira-kira cukup istirahat, Su-to Yan dan Ie Han Eng melanjutkan perjalanan mereka.

Betul tidak ada pengejaran dari musuh, anak buah dari partai Biarawati jaya yang tidak berkepandaian senjata mereka adalah kecerdikan dan kepintaran otak, tentu saja tidak bisa menandingi Su-to Yan.

Demikian sampai pagi hari, Su-to Yan dan Ie Han Eng sudah berjalan jauh.

Tiba tiba satu bayangan putih meluncur cepat, Dikala Su-to Yan melihat, bayangan itu hanya berupa satu bintik putih saja, tapi dalam tiga kedipan mata bayangan putih itu sudah membesar, dan kini sudah berdiri didepan Su-to Yan dan Ie Han Eng, itulah seorang tua dengan jenggot panjang berbaju putih, inilah Pek Tong Hie, salah satu dari empat jago silat peninggalan jaman purbakala.

Memandang kearah Su-to Yan, sambil menyodorkan tangannya Pek Tong Hie membentak.

"Su-to Yan, lekas serahkan kitab ilmu pedang."

Su-to Yan menjadi bingung, Pek Tong Hie juga mengingini kitab ilmu pedang ? Betul-betul membingungkan dirinya."

Menurut perkiraan Su-to Yan tidak seharusnya Pek Tong Hie melakukan gerakkan minta seperti ini.

Tapi itulah kenyataan, sekali lagi Pek Tong Hie membentak.

Dari sepasang sinar mata Pek Tong Hie yang begitu beringas, pertempuran tidak mungkin dielakkan lagi, mengetahui bahwa Ie Han Eng tidak berkepandaian silat, Su-to Yan mendorong gadis itu serta berkata kepadanya.

"Kau pergilah lebih dulu, Jauhi tempat ini."

Ie Han Eng terdorong mundur ia menjauhi Su-to Yan. Disaat ini Pek Tong Hie membentak.

"Kau juga jangan pergi,"

Dan jago tua peninggalan purbakala itu sudah menghadang didepan Ie Han Eng.

Su-to Yan terkejut, cepat-cepat dia merendengi kekasihnya.

Dia sudah membikin persiapan untuk menempuh jago tua tersebut.

Pek Tong Hie mengeluarkan suara dengusan dari hidung, dia berkata.

"Su-to Yan, jangan kau menjadi sombong, anggapanmu dengan adanya kitab ilmu pedang Maya Nada itu kau bisa meremehkan semua orang, hee? Hmm....Aku Pek Tong Hie tidak bisa digertak oleh kecongkakanmu seperti ini. Sebelum meninggalkan kitab ilmu pedang itu, jangan harap kau bisa pergi hidup-hidup."

Su-to Yan memandang jago tua itu dan ia berkata menantang.

"Hendak bertempur ?"

"Haaa, haaa...haa..."

Pek Tong Hie tertawa berkakakan "Kau kira aku tidak tahu ilmu kepandaianmu sudah surat beberapa bagian, kau masih berada dalam keadaan luka, hendak menempur aku? Haa...ha...ha..."

"Jangan banyak bacot!"

Bentak Su-to Yan.

Tangannya direntangkan ke depan, dia hendak mendorong Pek Tong Hie.

Pek Tong Hie mengeluarkan suara dengusan dari hidung, ia segera mengerahkan ilmu Thiat-tan Kie-kang, begitu tangannya didorong kedepan satu uap putih yang datangnya seperti embun itu menyerang Su-to Yan.

Su-to Yan kaget, dia menarik kembali serangannya, tadi, sret,dia mengeluarkan pedang dan tubuhnya melejit keatas, berjumpalitan dua kali.

Siiiing ...

pedang Su-to Yan meluncur ke arah kepala Pek Tong Hie.

Giliran Pek Tong Hie yang terkejut, dia tidak menyangka, bahwa Su-to Yan yang masih dalam keadaan terluka itu, didalam waktu yang sangat singkat sekali, dapat mengelak dan menyerang dirinya, itulah ilmu pedang yang sangat hebat.

Pek Tong Hie mundur sedikit kesamping dan ke belakang, dengan mengeluarkan suara geraman, dia menghindari serangan Su-to Yan.

Kini Pek Tong Hie mendorong kedua tangannya, membawa suara bunyi, pletak pletok dan mengurung Su-to Yan.

Inilah ilmu Thiat-tan Kie-kang yang terlihay, dengan jurus tipu yang bernama Seng-pok gie-hui atau berarti Bintang Bintang Berpecahan.

ilmu tipu Pek Tong Hie ini, khusus digunakan untuk menghadapi Pek ie Kaucu Bong Bong Cu, tapi didalam keadaan yang terdesak, ia lupa bahwa Su-to Yan itu masih berada didalam keadaan terluka, bahwa musuh yang sedang dihadapinya adalah anak muda yang baru saja menongolkan kepala didalam rimba persilatan, tidak seharusnya dia menggunakan tenaga kejam tersebut.

Betul-betul Pek Tong Hie berhasil, tenaga Su-to Yan seperti terpelintir, pedangnya terlempar jauh, dan masih beruntung sipemuda memiliki ilmu It-bok-cin kie, cepat-cepat mengundurkan diri, sehingga tidak sampai mengalami kerugian yang lebih hebat.

Ilmu Thiat-tian Kie-kang Pek Tong Kie, tidak hanya sampai disitu, berulang kali dia menyerang lagi.

Duk...

satu pukulan mengenai dada Su-to Yan tubuh sipemuda itu terlempar jauh dan jatuh, ditanah.

Buk....tidak bangun lagi.

Su-to Yan jatuh dalam keadaan pingsan, Dia tidak sadarkan diri.

Terdengar suara lengkingan Ie Han Eng yang berteriak nyaring, dia menubruk sipemuda itu, dan bagaikan menubruk bangkai, dia berteriak sedih.

Tubuh Su-to Yan seperti ikan mati, terlena begitu saja, dari hidung dan mulutnya mengucurkan darah, begitupun dari telinganya.

Ie Han Eng menangis diatas tubuh Su-to Yan, dikiranya bahwa sang kekasih sudah mati.

Su-to Yan terpukul jatuh, terlena dan pingsan ditanah, tak berkutik lagi.

Pek Tong Hie menatap dari jarak jauh, memperhatikan drama yang sudah diperbuat olehnya.

Ie Han Eng menangis untuk beberapa waktu, kemudian seperti orang yang kesetanan, ia bangun berdiri, meninggalkan Su-to Yan, menghadapi Pek Tong Hie.

Dengan menudingkan tangan, ia membentak.

"Manusia telengas, kau kejam! Hanya berani kepada anak kecil, hanya berani menghina orang yang sudah terluka, Tapi, belum tentu kau berani menantang tokoh-tokoh silat yang sederajat dan setingkat dengan golonganmu, takut kepada mereka, gemetaran. Sungguh tidak tahu malu."

Pek Tong Hie marah karena dimaki oleh Ie Han Eng, dicemoohkan seperti itu.

Tapi kemarahannya ini tidak beralasan, Terpikir olehnya, bagaimana ia bisa terperosok oleh tipu orang, karena itu, hawa amarahnya mereda.

"Baringkan dia."

Pek Tong Hie memberi perintah.

"Kemudian, Sedotlah jalan pernapasannya. Dia masih mempunyai kesempatan hidup."

"Huh! Mukamu begitu bengis. Kau kira aku Ie Han Eng takut kepadamu? Percuma saja aku menjadi cucu le Siauw Hu. Hm, ., jangan kau banyak lagu, kalau kau seorang lelaki sejati. bunuhlah aku, jangan kau menganiaya kekasih-ku."

Mata Ie Han Eng mendelik dan jelalatan, seolah-olah benar-benar kemasukan setan, katanya lagi.

"Kau tidak tahu malu, bagaimana kau bisa menemukan engkoh Su-to Yan dialam baka? perbuatanmu yang menganiaya Cucunya? Arwah Su-to Pek Eng akan membayangimu selalu."

Betul-betul Pek Tong Hie malu kepada diri sendiri, teringat akan perbuatan Su-to Pek Eng-yang luhur, pernah juga ia menerima budinya, Dan budi ini belum terbalas.

Tidak layak baginya melakukan sesuatu yang berlebihan kepada cucu orang yang bersangkutan.

Sebagai seorang pendekar Su-to Pek Eng sering melakukan kebajikan, salah satu kebajikan itu adalah memberi pertolongan kepada Pek Tong Hie.

Kini, Pek Tong Hie membalas air susu dengan air tuba, tentu saja ia merasa jengah.

"Kakek jahat,"

Maki lagi Ie Han Eng.

"Tidak bisa kau melepas tanggung jawab mu dihari ini."

"Dengar dulu."

Berkata Pek Tong Hie.

"Kekasihmu hanya mengalami sedikit cedera, bila kau bersedia menyedot jalan pernapasannya, pasti ia segar kembali. Hanya ini yang bisa kuberi tahu kepadamu. Selamat tinggal."

Tubuh Pek Tong Hie melesat, meninggalkan Ie Han Eng dan Suto Yan.

Ie Han Eng menangis lagi, merangkul tubuh kekasihnya yang sudah disangka mati, Membalikkan pipi sipemuda, kekanan dan kekiri, diusap usap olehnya, memanggil-manggil nama Su-to Yan.

Tetapi Su-to Yan tidak mau sadarkan diri.

Ie Han Eng menjadi gelisah.

Tiba-tiba ....Teringat akan kata-kata peninggalan Pek Tong Hie, sebelum jago purbakala meninggalkan tempat itu, ia harus membantu peredaran jalan Su-to Yan yang buntu.

Pikirnya, apa betul perkataan orang tua tadi?

Seketika itu, ia mengurut-urut badan Su-to Yan, juga tidak berhasil.

Dengan menggigit bibir, Ie Han Eng menempelkan bibirnya kearah mulut Su-to Yan disedotnya keras-keras, terdengar suara krokok krokok yang mengejutkan, jalan tenggorokan Su-to Yan yang buntu telah mengalir kembali, darah menyembur keluar dari tempat itu, masuk kedalam mulut Ie Han Eng.

Tentu saja dikala itu, dua mulut menjadi satu, hal itu tidak dielakkan.

Su-to Yan mengeliat, dikala ia sadar, ia merasakan sesuatu yang menindih dirinya, ia merasakan sesuatu yang hangat menempel dibibirnya.

Jilid 17 Halaman 57/58 Hilang Su-to Yan tersenyum getir, katanya.

"ilmu Thiat-tan Sin kang betul-betul menakjubkan, pukulan itu yang membuat aku muntah darah dan pingsan, Tapi, adik Eng, bagaimana kau membuat aku siuman?"

"Engkoh Yan, dengar dulu ceritaku, segera kau mengerti duduk perkara."

"Ya, ia.. Aku dengar ceritamu."

"Itu waktu, ketika aku tangisi kau, lantas teringat akan pesan kata-katanya tua bangka itu, katanya, dengan menyedot peredaran napasmu, kau bisa bangkit kembali, segera kucoba dan kuusahakan. Berhasil, Dan...."

Sinona tidak meneruskan cerita itu, ia menatap wajah sipemuda.

"Dan aku menjadi sadar, bukan?"

"Sesudah kau menyemburkan darah, kau sadarkan diri. Masih kau berpura-pura?"

Berkata Ie Han Eng seraya mencubit tangan pemuda itu.

"Eh, mengapa kau mencubit?"

Bertanya Su-to Yan sambil mengusap-usap kulit yang terjewer itu.

"Kau nakal."

"Heran,"

Berkata sipemuda.

"Matamu bisa memancarkan cahaya seperti itu. Dikala pertemuan kita pertama kali, seolah-olah pernah bertemu, dimana? Aku tidak tahu. Seperti impian saja."

"Hidup manusia hanya berupa impian dunia."

"Tentu aku tidak bisa mengimpi lagi bila pukulan Pek Tong Hie tadi diperkeras beberapa kali."

"Legakan hatimu, Pek Tong Hie sudah pergi."

Su-to Yan memandang wajah kekasih itu, keterangan Ie Han Eng tidak perlu disangsikan, Tapi, betulkah Pek Tong Hie itu sudah pergi, Menurut apa yang ia tahu, tokoh silat purbakala tersebut tidak memiliki sifat seperti itu.

Su-to Yan berpikir dan berpikir, benak pikirannya tergeser kearah partay Biarawati Jaya.

Mungkinkah hasil buah tangan golongan Biarawati Jaya?

Salah satu dari rencana golongan tanpa kekerasan itu ?

Menyaksikan keadaan Su-to Yan yang seperti orang bingung, Ie Han Eng mengajukan pertanyaan.

"Apa yang sedang kau pikirkan?"

"Oooohh...."

Su-to Yan tersadar dari lamunannya.

"Mari kita berangkat."

Dengan bergandengan tangan, sepasang muda melanjutkan perjalanan, Ie Han Eng mengajukan usul. mudi itu "Lebih baik kita mencari tempat sepi untuk istirahat."

Su-to Yan setuju, Mereka menemukan sebuah tempat yang agak sunyi, berdampingan dengan sebuah sungai yang berair jernih, air sungai itu mengalir dengan tenang, tersorot sinar matahari sore, bercahaya terang.

Langit biru berubah seperti kemerah merahan itulah tanda matahari terbenam.

"Suatu tempat yang baik."

Ie Han Eng mengeluarkan kata-kata pujian.

"Mana bisa menandingi tempat tinggalmu "

Berkata Su-to Yan.

"Aku lebih tertarik dengan lembah Hui in."

Ie Han Eng mendongakkan kepala, memandang langit jauh, tidak bicara lagi.

Su-to Yan menarik tangan gadis itu, dimana mereka duduk bersama, menikmati pemandangan senja yang indah.

Tidak lama hari menjadi gelap, Dua orang yang sudah menjadi sangat letih itu, tertidur bersama.

Kejadian ini tidak disadari oleh kedua insan yang bersangkutan.

Dihari kedua, pagi-pagi sekali, Su-to Yan sudah terbangun.

Dia menjadi malu kepada diri sendiri, sebagai seorang yang melatih silat, mengapa ia tidur begitu lelap?

Ie Han Eng juga sudah bangun, menuju kearah sungai dan membersihkan diri.

Sesudah itu, mereka melanjutkan perjalanan.

Tidak ada gangguan, sepanjang jalan ini, mereka bergerak.

Su-to Yan masih berpikir-pikir, mungkinkah golongan Biarawati jaya melepaskan mereka?

Dia lebih mengenal sifat-sifat Siang Tin Suthay, kiranya, tidak mungkin golongan wanita pandai itu menyudahi perkara.

Bahaya Biarawati jaya tidak terlalu ditakuti mengingat ilmu kepandaian Su-to Yan yang cukup tinggi.

Berjalan lagi beberapa waktu, mereka sudah mendekati tepi laut, Memilih tempat yang agak tinggi, Su to Yan bisa memperhatikan kalau-kalau ada perahu atau kapal yang mendekati tepi.

Dia hendak berlayar kearah pulau Tong-hay, bersama-Sama dengan Ie Han Eng.

Hal ini sudah diajukan kepada sigadis, disaat inilah.

mata Su-to Yan terbelalak Tidak jauh disana, berdiri seseorang itulah Siang Tin Su-thay.

Dengan gayanya yang khas, perlahan-lahan Siang Tin Suthay berjalan maju mendekati muda mudi itu.

Menyaksikan kedatangan Siang Tin Suthay, Ie Han Eng juga terkejut, apalagi yang dikehendaki oleh biarawati ini?

Sesudah berjalan dekat, Siang Tin Suthay merangkapkan kedua tangannya memberi hormat.

dia berkata.

"Bagaimana keadaan kalian? Apa lagi masih baik baik saja?"

"Terima kasih,"

Berkata Su-to Yan.

"Apa maksud kunjungan Siang Suthay?"

Siang Tin Suthay berkata.

"Su-to Yan, kau benar-benar menjadi manusia kurang terima."

Su-to Yan melengak.

"Apa maksud perkataan Suthay?"

Tegurnya. -oo0dw0ooo-

Jilid 18

"KEDATANGANKU ditempat ini menantikan kalian atas perintah ketua kami, kedatangan kalian masih sangat diharapkan."

"Haaa, ha, ha.,."

Su-to Yan tertawa besar.

"Hendak menangkap kami? Haaa, ha, ha..."

Siang Tin suthay tidak merasa terhina, ia menganggukkan kepala dan berkata.

"Betul! Ketua kami hendak memaksa membikin undangan keras. Akulah yang mendapat tugas. Kedatangan kalian sangat diharapkan."

"Sudah lupakan kebebasan?"

Suthay bahwa kami berhasil mencari "Kau kira, kebebasan kalian itu hasil buah tangan atas ilmu pedangmu?

Salah, Kami membebaskan dirimu, hal itu disebabkan oleh perintah ketua kami.

Kalian telah ditunangkan sedari kecil, tapi belum pernah menjadi satu.

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 16

Baca Juga: Raja Pedang 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert