Ceritasilat Novel Online

Pedang Wucisan 7

Eps 7 Pedang Wucisan - Chin Yung

Baca online Pedang Wucisan - Chin Yung

Cersil Pedang Wucisan - Chin Yung.

Hubungan kalian berdua, hendak melihat reaksi, bagaimana hubungan kalian, Kini, ketua kami sudah tahu pasti, maka dia masih mengharapkan kalian berdua, terlebihlebih Ie Han Eng, kekasihmu ini sudah siap untuk dinobatkan menjadi calon ketua partai Biarawati Jaya."

"Aku tidak mau."

Ie Han Eng berteriak.

"Semua kemauan Biarawati jaya belum pernah bisa ditolak,"

Berkata Siang-tin Suthay tegas.

"Lebih baik kau terima saja usul ini."

"Aku tidak bisa terima,"

Berkata Ie Han Eng.

"Aku juga tidak bisa menerima."

Su-to Yan memperkuat kedudukan kekasihnya.

"Terpaksa, apa boleh buat, Biarawati jaya harus menggunakan kekerasan. Memaksa kalian kembali kepada kami."

Su-to Yan bengong dengan kata-kata Siang-Tin Suthay ini, Dengan kekuatan apakah golongan Biarawati jaya hendak memaksa dirinya?

Siang-tin Suthay seperti bisa menduga isi hati orang, ia tertawa sebentar dan berkata.

"Kau sudah bertemu dengan Pek Tong Hie, bukan ?"

Su-to Yan terkejut.

Siang-Tin Suthay mengetahui bahwa dirinya telah dipukul oleh Pek Tong Hie?

Wah, dari sini terbukti bahwa mata-mata golongan Biarawati jaya memang hebat sekali.

Mereka dapat mengetahui segala sesuatu yang sudah terjadi, mungkinkah termasuk salah satu rencana dari golongan Biarawati jaya ?

Siang-tin Suthay berkata lagi.

"Pek Tong Hie memukul jatuh dirimu, inilah instruksi ketua kami."

"Instruksi?"

Bertanya Su-to Yan heran.

"Betul, Pek Tong Hie telah mendapat perintah dari ketua kami, dia ditugaskan menghadang dirimu."

"Haaa ha....,"

Su to Yan tertawa.

"Tapi di sini tidak ada Pek Tong Hie kukira belum tentu dia bisa melukaiku lagi."

"Kau jangan terlalu percaya, ketahuilah puteri Pek Tong Hie itu telah berada dalam tangan kami, demikianpun dengan barang kesayangannya yang bernama simerah itu, belum lama telah dapat kami tangkap, dengan adanya jaminan itu, kami dapat menangkap puteri Pek Tong Hie, Dengan adanya jaminan puteri Pek Tong Hie kami bisa memaksa tokoh silat itu melakukan sesuatu yang berada diluar keinginannya, bila kami mau, kami bisa memaksa Pek Tong Hie memukul kau lagi."

"Silahkan "

Su-to Yan menantang.

"Panggillah Pek Tong Hia, panggillah tokoh silat itu, biarlah ia melukai lagi."

"Tapi kukira tidak perlu,"

Berkata Siang-tin Suthay.

"Kami telah mempunyai rencana lain yang lebih baik, kami bisa memaksa kalian berdua turut serta kedalam markas besar golongan Biarawati Jaya, tanpa adanya Pek Tong Hie lagi!"

"Biar bagaimanapun aku tidak bersedia mengikutimu."

"Tapi Ie Han Eng akan turut serta."

"Tidak,"

Secara berbareng dan serentak Ie Han Eng dan Su-to Yan berteriak. Dengan suara yang sangat tenang, Siang-tin Suthay berkata.

"Ie Han Eng telah menderita keracunan, itulah racun yang kami tebarkan, Racun itu khusus tersedia bagi golongan kami, hanya Biarawati Jayalah yang bisa mengobatinya, Hanya obat Biarawati jaya yang bisa memunahkan racun tersebut."

Su-to Yan menoleh kearah Ie Han Eng betul-betul sudah terjadi perobahan, wajah gadis itu sudah mulai membiru, walaupun hanya sedikit, tetapi sudah kentara sekali, bahwa Ie Han Eng sudah menderita keracunan.

Inilah yang mengejutkan Su-to Yan, dengan cara bagaimana, Siang tin Suthay bisa menyebar racunnya, dengan cara bagaimana Ie Han Eng bisa keracunan seperti itu.

Siang tin Suthay mengeluarkan tertawa dingin, katanya.

"Lekas beri jawaban, Bilamana bertambah lama, aku tidak bertanggung jawab. Didalam satu jam lagi, bilamana tidak ada pengobatan-pengobatan yang sempurna, racun itu akan menjalar cepat, sulit untuk diohati."

Seperti apa yang Siang Tin Suthay sudah katakan, racun yang ditaburkan ke arah Ie Han Eng, sangat jahat tiba-tiba saja, gadis itu terbelalak, tubuhnyapun jatuh, itulah tanda dari racun yang mulai bekerja.

Cepat sekali Su-to Yan menangkap tubuh gadis itu, dipepayang agar tidak jatuh, walaupun demikian, Ie Han Eng sudah tidak sadarkan diri ia jatuh pingsan.

Siang-Tin Suthay berkata lagi.

"Kepintaran dan kecerdikan Ie Han Eng lebih cocok untuk dinobatkan menjadi anggota Biarawati Jaya. Karena itu, ketua kami tertarik kepadanya, Dia dicalonkan untuk diangkat jadi wakil ketua golongan mengapa kau menolak?"

"Sudah kukatakan aku menolak! Pergi!"

Berkata Su-to Yan tegas.

"Baik, kuberi waktu satu jam. Bilamana kau tidak memberi jawaban yang memuaskan, jiwa Ie Han Eng sudah diantar oleh maut."

Hati Su-to Yan dirasakan menjadi begitu dingin.

Setiap langkah dari Biarawati jaya sudah diperhitungkan masak-masak.

Hebat sekali, Kejadian sekali.

Tidak ada kesempatan baginya untuk menangkis.

Ie Han Eng diracun orang?

Secepat itu pula, tangan Su-to Yan Sudah menarik pedang, sreet, ujung senjata sudah berada dibagian ulu hati Siang-tin Suthay, Dengan memberi ancaman yang keras, Su-to Yan berkata.

Siang-tin Suthay sudah memperhitungkan akan adanya langkah balasan yang seperti ini.

Ia tidak terkejut, ia tertawa berkakakan.

"Haaa, ha.... tidak berguna, kau tidak bisa menolong dirinya dengan ancaman pedang."

Su-to Yan berkata dingin.

"Kau telah meracuni Ie Han Eng? Baik...-aku akan membunuhmu terlebih dahulu, baru meminta obat penawar racun itu."

"Kukira sudah terlambat,"

Berkata Siang-tin Suthay "Aku mati tetapi Ie Han Engpun segera mati, berpikirlah baik-baik."

"Kau tidak akan mati, bilamana kau rela mengeluarkan obat penawar racun itu."

Berkata Su-to Yan.

"Tidak mungkin."

Siang Tin Suthay tertawa ringan.

"Ujung pedang akan menembus dadamu."

Su-to Yan memberi ancaman lagi.

"Ketua kami sudah memperhitungkan akan adanya ancaman balasanmu ini."

Berkata Siang tin Suthay.

"Tapi ingatlah baik-baik, relakah kau mengorbankan jiwa Ie Han Eng, hanya ditukar dengan jiwaku yang tiada harga?"

Su-to Yan terkejut, Alisnya dikerutkan ia berkata.

"Kau berani mempertaruhkan jiwamu, mengeluarkan obat penawar racun itu.?"

Hanya tidak mau Siang tin Suthay berkata.

"Anggota Biarawati Jaya telah mengangkat sumpah, memandang hidup ini sebagai suatu impian ringan, ketahuilah tidak guna kau membunuh diriku, Aku boleh mati, tapi akan segera disusul oleh kematian Ie Han Eng, Dia keracunan hebat sekali."

"Dimana ketua partaimu itu?"

Bentak Su-to Yan.

Siang-tin Suthay tertawa puas, kegarangan si pemuda, katanya.

ia berhasil menundukkan "Mana boleh kuberitahukan kediaman ketua partai kami?

Tenangkan hatimu bilamana Ie Han Eng bersedia diangkat menjadi anggota Biarawati Jaya, mendapat perhatian khusus dari ketua kami, Dari itu turutlah permintaanku."

Darah panas Su-to Yan menjadi mencair kembali ia mengetahui bahwa Siang-tin Suthay itu tidak berkepandaian, tidak guna menekannya terlalu keras, pedang ditarik kembali dan disimpan.

ia berpikir keras, Bagaimana harus mengatasi kesulitan ini.

Siang-tin Suthay membuka suara.

"Kukira kau tidak rela bukan? Bilamana sampai terjadi Ie Han Eng mati didepan matamu ?"

Su to Yan belum bisa membuat jawaban, Siang-tin Suthay masih mendesak.

"Lekas kau mengambil keputusan, jiwanya tidak bertahan lama."

Sebelum Su-to Yan memberi jawaban yang pasti, melulusi atau menolak permintaan Siang tin Suthay yang hendak menjadikan Ie Han Eng sebagai calon ketua golongannya, dari balik sebuah batu melejit keluar bayangan seseorang, dengan suara yang dingin, menalangi memberi jawaban.

"Bagaimana bila aku yang memberi keputusan."

Siang-tin Suthay terkejut, Sengaja ia memancing Su-to Yan dan anak buahnya telah diberi perintah untuk menggagalkan setiap orang yang hendak merusak rencana mereka, karena itu dia percaya, tidak ada orang lain ditempat itu, kecuali mereka yang bersangkutan.

Dengan tiba-tiba saja munculnya orang ini didalam keadaan yang sangat tegang, tentu saja membingungkannya, orang yang datang adalah seorang wanita ia adalah sipedang emas Jie Ceng Peng.

Tampilnya Jie Ceng-Peng ditempat itu juga sangat mengejutkan Su-to Yan.

Langsung Jie Ceng Peng menghadapi Siang-Tin Su-thay dan berkata.

"Bolehkah aku turut serta ?"

Siang-tin Suthay memperhatikan gadis golongan Thian-lam Lo sat itu, ia tidak berkepandaian silat, tapi semua tokoh-tokoh silat tidak lepas dari penilaiannya, ia bisa mengenali siapa adanya tokoh silat itu, katanya.

"Kukira nona ini adalah tokoh Thian-lam Lo-sat yang ternama, si Pedang Mas Jie Ceng Peng, bukan ?"

"Tepat."

Berkata Jie Ceng Peng.

"Kalian mempunyai penilaian yang tepat."

Sebelum golongan Biarawati Jaya mengerjai seseorang, mereka sudah memperhitungkan segala akibat dari tugas-tugas itu, mereka menyelidiki lebih dahulu, siapa yang menjadi musuh-musuhnya dan siapa yang menjadi kawan-kawan dari orang yang bersangkutan.

Semua kawan-kawan dan lawan Su-to Yan dan Ie Han Eng, tidak lepas dari penilaian Biarawati Jaya, termasuk juga Jie Ceng Peng.

"Jie Ceng Peng"

Berkata Siang-tin Suthay "Hubunganmu dengan Su-to Yan bukan hubungan biasa, bukan kawan juga bukan lawan inilah hubungan aneh.

Tapi Seperti apa yang kutahu, hubunganmu dengan Ie Han Eng kurang begitu cocok, Kau juga pernah mengadu biru tentang hubungan Ie Han Eng dengan Su to Yan, hampir saja pertunangan mereka itu retak karena kesalahanmu, Kukira mereka tidak ingin turut sertanya kau ditempat ini.

Dikala Su-to Yan belum tahu bahwa dirinya pernah ditunangkan dengan Ie Han Eng, si pemuda pernah mempunyai hubungan baik dengan Cin Bwe, juga mempunyai hubungan yang tidak buruk dengan Jie Ceng Peng.

Terakhir, terbukalah rahasia hubungan Su-to Yan dan Ie Han Eng, tentu saja muncul rasa cemburu Cin Bwee dan Jie Ce -Peng.

Cin Bwee bersifat makan dalam, dia merana dan makan hati diri sendiri.

Berbeda dengan Cin Bwee, sifat Jie Ceng Peng bersifat keras, dia mengadu biru dan hampir saja menggagalkan pertunangan Su-to Yan dengan Ie Han Eng.

Ini adalah sedikit ganjalan yang ada pada Su-to Yan dan Ie Han Eng.

Sengaja Siang-Tin Suthay mengungkapkan hal tersebut agar kehadirannya Jie Ceng Peng dapat ditolak oleh Su to Yan.

Tapi Su-to Yan masih bingung atas racun yang bersarang dalam tubuh Ie Han Eng.

Jie Ceng Peng tertawa kecil, ia berkata.

"Kalian membikin penyelidikan yang sangat cermat sekali, hee ?"

"Kukira, kau tidak ada niatan untuk membantu Su-to Yan."

Berkata Siang-tin Suthay.

"Karena aku tahu, kau sudah kehilangannya untuk menguasai Su-to Yan, tidak mungkin dapat merebut sipemuda dari tangan Ie Han Eng."

"Dilembah Cui goat kiok, Su-to Yan pernah menolong dirinya, Tapi waktu itu hubungannya dengan Ie Han Eng tidak bisa disamakan dengan hubungannya sekarang, Mereka lengket menjadi satu. Berpikirlah baik baik."

Dengan tertawa tawa Jie Ceng Peng berkata.

"Kau hanya mengetahui yang satu itu, tapi tidak tahu soal lainnya, ketahuilah dia menolong aku satu kali, tapi aku menolongnya sehingga beberapa kali."

"Kau bertekad untuk mengikut sertakan diri dalam persengketaan ini?"

Bertanya Siang tin Suthay. Jie Ceng Peng menganggukan kepala.

"Sudahkah kau tahu, dengan golongan mana kau sedang berhadapan?"

Siang tin Suthay mulai menggunakan tekanan.

"Aku tahu, Menurut penuturanmu, kalian adalah golongan dari anggota Biarawati Jaya."

"Nah bilamana kau sudah tahu, itu lebih baik pula. Ketahuilah, bahwa golongan Biarawati jaya tidak mudah dihadapi."

"Golongan Biarawati jaya beliau tentu berani menempur Thiam lam lo-sat."

Berkata Jie Ceng Peng.

"Hayo serahkan obat penawar racun itu."

Mata Siang tin Suthay bergerak-gerak, ia menghadapi dua gencetan musuh, tekanan dari Su-to Yan yang keras, dan tekanan baru dari Jie Ceng Peng.

"Dimisalkan aku tidak mengeluarkan obat penawar racun itu, bagaimana?"

Ia menentang.

Jie Ceng Peng tertawa, badannya bergerak cepat sekali, dan entah dengan cara bagaimana, dia sudah berhasil menelikung kedua tangan Siang Tin Suthay, ditangan kanan Jie Ceng peng telah menggenggam sebutir obat, dengan lain tangan dia merentangkan mulut Siang tin Suthay, dijejalnya obat tersebut kedalam mulut biarawati itu, blek, mulut Siang Tin suthay dikatupkan kembali, cegluk, obat itu melalui tenggorokkan, masuk kedalam perut Siang tin Suthay sampai disini, berhasillah gerakkan-gerakkan Jie Ceng Peng, ia melepas kembali tokoh wanita cerdik pandai tersebut, berdiri dengan senyumannya yang sangat puas.

Siang tin Suthay hendak mengadakan perlawanan tapi apa daya, kekuatannya tidak bisa disamakan dengan kekuatan Jie Ceng Peng obat itu sudah berada didalam perutnya, wajahnya berubah segera.

Jie Ceng Peng berkata.

"Sudah lama kunantikan kedatanganmu ditempat ini, semua Percakapan-percakapan tadi sudah masuk kedalam telingaku tapi aku percaya, tidak ada seorangpun yang tidak takut mati, belum lama, aku telah memberi hadiah sebutir racun Go hoa sinhoat, Racun ini bekerja lebih cepat dari racun yang kau berikan kepada Ie Han Eng, sebelum Ie Han Eng mati kukira kau kelojotan lebih dahulu."

Wajah Siang-tin Suthay semakin menjadi pucat.

"Nah,"

Berkata Jie Ceng Peng "Kau bisa merasakan, bagaimana rasanya seorang yang sudah ditekan dan diberi racun seperti Ie Han Eng, kau bisa merasakan, bagaimana rasanya orang yang sedang mau mati."

Kejadian itu juga menegunkan Su-to Yan, ia tidak menyangka, tindakan si gadis Thian-lam Lo Sat lebih hebat, hanya beberapa gerakan, ia berhasil menekan kegarangan Siang-Tin Suthay.

Jie Ceng Peng masih bersitegang dengan Siang-Tin Suthay.

"Jangan kau samakan aku dengan Su-to Yan, aku adalah orang luar, mati hidupnya Ie Han Eng bukan tanggung jawabku, aku tidak membutuhkan dirinya, Tapi mati hidupmu tergantung didalam tanganmu sendiri, Bila kau bersedia memberi obat penawar racun itu, akupun bersedia menolong dirimu. Tapi bila kau tidak bersedia menghidupkan jiwa Ie Han Eng, aku pun berpeluk tangan, hendak kita saksikan, bagaimana kau bisa mati terlebih dahulu "

Siang tin Suthay harus berpikir keras, sama saja dengan caracara yang tadi Su-to Yan berpikir bagaimana harus mengatasi kesulitan ini. Jie Ceng Peng berkata lagi.

"Bagaimana sudah terpikir olehmu? Lekas serahkan obat penawar racun itu, Kukira tidak ada jalan lain bagimu. Ketahuilah, dimisalkan kau tidak mau menurut perintahku sesudah kau mati, kukira ketua golongan Biarawati Jaya segera muncul ditempat ini. Mereka mengharapkan kerelaan Ie Han Eng untuk menerima jabatan warisan, bukan menghendaki Ie Han Eng yang sudah mati, ia menghendaki Ie Han Eng yang segar bugar. Pasti ia memberi pertolongan yang secukupnya, Kau mati tidak menjadi soal baginya, Tetapi Ie Han Eng mati akan mengecewakan dirinya, Karena itu kukira dia bisa menolong Ie Han Eng, sesudah kau mati penasaran"

Posisi kedudukan Siang tin Suthay menjadi begitu lemah, berkata dengan nada sedih.

"Jie Ceng Peng, dengan alasan apa kau mencampurkan diri dengan persengketaan ini? Betul-betul aku tidak mengerti."

Jie Ceng Peng berkata.

"Kiramu, hanya golongan Biarawati jaya yang cerdik? Hanya golongan Biarawati yang pandai? Hanya golongan Biarawati jaya saja yang bisa memberi tekanan kepada orang? Di-sinilah letak kesalahanmu."

Siang tin Suthay menghela napas, ia berkata.

"Kehadiranmu berada diluar dugaan ketua golongan kami, inilah kesalahan Biarawati Jaya, Tapi kesalahan yang tidak disengaja, kesalahan yang mendadak diluar perhitungan."

"Lekas."

Bentak Jie Ceng Peng.

"Lekas serahkan obat pemunah racunmu, belumkah terasa olehmu bahwa ada satu aliran panas yang mulai naik, merangsang kearah ulu hati ?"

Disertainya ancaman Jie Ceng peng itu betul-betul membuat Siang tin Suthay bergidik seolah-olah ada satu hawa sangat merangsang ulu hatinya, mungkin juga racunnya mulai bekerja.

"Baiklah."

Berkata Siang tin Suthay lemah.

"Aku bersedia menukar obat penawar racun."

"Disini letak kepintaranmu."

Berkata Jie Ceng Peng.

"Aku bersedia menerima obat penawaranmu lebih dahulu."

Sinar mata Siang tin Suthay memperlihatkan wajah yang ketakutan ia berkata gemetaran "Bila aku sudah mengeluarkan obat penawar racun, menolong Ie Han Eng, dimisalkan kau tidak menepati janji, tidak menyerahkan obat penawarmu bukankah aku yang dirugikan olehmu ?"

"Kukira tidak mungkin terjadi, Ketahuilah dengan ilmu kepandaianku, dimisalkan sama-sama bertukar obat penawar racun. Sesudah mengobati Ie Han Eng dan berhasil, dengan mudah aku dapat membekuk batang lehermu kembali. Dengan mudah aku bisa menjejal kembali racun yang lebih hebat. Kukira, kau bisa maklum hal ini, yang kukuatirkan ialah obat penawar racunmu yang palsu, berani kau main kayu? Berarti menentang penderitaan yang lebih hebat. Karena itu, lebih baik kau Serahkan."

Lagi-lagi Siang-tin Suthay terkena pukulan Knock Out, tidak bicara. Jie Ceng Peng membentak.

"Lekas."

Siang-tin Suthay merogoh-rogoh beberapa waktu dan mengeluarkan obat penawar racun, obat yang tersedia untuk menolong Ie Han Eng diserahkannya kepada Jie Ceng Peng dan berkata.

"Baiklah. Betul-betul kami jatuh dibawah tanganmu."

Jie Ceng Peng tertawa, menyambuti obat penawar racun itu dan membikin pemeriksaan.

Sebagai jago dari Thian-lam Lo sat yang ahli menggunakan racun, ia mengerti, inilah obat penawar racun yang asli, diserahkan kepada Su-to Yan sambil menganggukkan kepala, ia berkata.

"Obat betul! Lekas beri makan kepada Ie Han Eng."

Su-to Yan menerima pemberian obat itu dengan rasa terima kasih, dia berkata.

"Aku tidak bisa melupakan budimu."

Cepat-cepat ia memasukkan obat tersebut kedalam mulut Ie Han Eng.

Tidak lama sudah terjadi perubahan diwajah Ie Han Eng siuman kembali, sehat seperti biasa.

Jie Ceng Peng menghadapi Siang-tin Suthay lagi, katanya kepada Biarawati tersebut.

"Nah, kau boleh meninggalkan tempat ini."

Wajah Siang-tin Suthay berobah, dengan tubuh gemetar dia berkata.

"Kau..,.kau. ."

Jie Ceng Peng tertawa berkakakan, ia tertawa geli.

"Lekaslah kau pergi, dan beritahu kepada ketua partaimu itu, tidak ada semacam obat racun yang bernama Ngo-hoa-sin-hun. Yang kuberikan padamu tadi, hanya butiran tanah biasa, bukan racun. Legakan hatimu, Lekas pergi !"

Siang-tin Suthay tertegun Sebentar, memandang kearah Jie Ceng Peng beberapa waktu, memperhatikan keadaan dirinya, dan ini waktu betul betul tiada tanda-tanda bahwa dia telah kena keracunan, ia telah kena tipu, dipermainkan mentah-mentah.

Dia merasa malu kepada diri sendiri dikala mendapat tekanan dan ancaman hebat seperti itu, ia tidak menguasai diri sendiri dan terjungkal dibawah ketololannya, terlalu terburu nafsu ia kalah dibawah kelicinan Jie Ceng Peng.

Dengan mengeluarkan helaan napas panjang, keluh kesah yang mengandung kekecewaan.

Siang-tin Suthay membalikan badan, ia mengeloyor pergi.

Untuk menempur dengan kekuatan, keras lawan keras, ia bukan tandingan Jie Ceng Peng.

Untuk mengadu otak, mengadu kepintaran, diapun masih kalah setingkat.

Hanya menggunakan beberapa gertakan, hanya memperlihatkan sedikit kegesitannya, hanya menggunakan ancaman yang kosong saja, Jie Ceng Peng berhasil menekan Siang-tin Su-thay, si Pedang Emas berhasil, meminta kembali obat penawar racun, ia berhasil menolong jiwa Ie Han Eng.

Seharusnya, Jie Ceng Peng boleh menjadi bangga atas hasil yang gemilang ini.

Tapi kenyataan tidak, matanya menjadi begitu suram memandang kearah Su-to Yan dan Ie Han Eng, hampir dia mengucurkan air mata.

Didalam soal berebutan Su-to Yan, ia tidak berhasil memenangkan Ie Han Eng, Yang berhasil dimenangkan hanya Cin Bwee seorang.

Didalam urutan tiga gadis, ia menduduki tempat kedua, inipun sudah cukup.

Memandang kepada mereka beberapa saat, dan Jie Ceng Peng berkata.

"Kuucapkan selamat kepada kalian, Aku Pergi."

Tubuhnya melesat, dan didalam sekejap mata sudah lenyap tanpa bekas.

Jie Ceng Peng pergi dengan hati penuh kekesalan, tapi dia boleh puas dengan hasil yang sudah dicapai olehnya itu, ia berhasil memberi pertolongan kepada orang yang dicintai olehnya.

Tapi, belum tentu bisa menarik hati Su to Yan.

Rasa terimakasih Su-to Yan, Ie Han Eng tidak bisa dilukiskan.

mereka bersyukur kepada pertolongan Jie Ceng Peng, tapi sebelum mereka sempat memberi ucapan terima kasih, pada orang yang bersangkutan si Pedang Emas sudah pergi jauh.

Hawa udara dipantai selatan begitu panas deburan ombak bergerak keras.

Su-to Yan, Ie Han Eng berada dipantai laut selatan, memandang ke permukaan air laut yang jauh, Su-to Yan melayangkan pikirannya, apa yang dibuat, setelah dia tiba dipulau tonghay.

Gulungan-gulungan ombak datang terus sambung menyambung tanpa istirahat.

Tidak ada perahu dan tidak ada kapal, mereka tidak bisa berlayar tanpa kendaraan laut itu.

Adanya ombak air yang pasang, mengingatkan Su-to Yan kepada ilmu sihir Thio Sek bun.

Beberapa kali, Su-to Yan bertempur kepada Thio Sek Bun dengan kesusahan, hampir saja dia jatuh dibawah kekejamannya, Thio-Sek Bun adalah seorang tukang sihir dan sering kali bisa membuat tokoh silat yang seperti Su to Yan itu terjungkal.

Memandang kearah laut yang jauh, didalam hati Su-to Yan berkata.

"Kuharapkan saja, jangan bertemu kembali dengan Thio Sek Bun."

Dari balik Su-to Yan, dari balik sebuah batu yang sangat besar muncul bayangan seseorang, tangannya buntung, dengan pakaiannya yang berwarna hijau berindap-indap maju menghampiri Su-to Yan.

Deburan ombak itu cukup keras, tapi telinga Su-to Yan yang lihay tidak bisa dibiarkan begitu saja, ia sudah dapat menangkap derap kaki dibelakang dirinya.

Cepat sekali, ia membalikkan badan dan ah...dia terkejut, itulah Thio Sek Bun.

Hati Su-to Yan menjadi kebat kebit, lagi lagi dia harus berurusan dengan Thio Sek Bun.

Thio Sek Bun memandangi Su-to Yan, langkahnya begitu cepat, sinar matanya lurus kedepan hendak menguasai kesejahteraan Suto Yan.

"Su-to Yan,"

Panggil Thio Sek Bun perlahan.

"Kukira tidak ada Seng-mo Leng Kho Tiok lagi yang menyertai dirimu. Siapa yang berani menantang aku."

Menyaksikan kedatangan orang bertangan buntung itu, Ie Han Eng juga terkejut, dari logat dan lagu suara orang bersangkutan ia tahu bahwa orang inipun termasuk salah satu musuh Su to Yan.

Tapi Ie Han Eng tidak berdaya sekali, ia melepaskan dirinya kedalam rangkulan Su-to Yan.

Thio Sek Bun mendekati lagi, sinar matanya masih lurus, mencari dan hendak menemukan sinar mata Su-to Yan, dengan suara yang mantap ia berkata.

"Su-to Yan, kau masih berada dalam keadaan terluka, jangan kira aku tidak tahu. Kini aku hendak menuntut balas. Meminta kembali sebelah tanganku yang sudah terpapas olehmu."

Su-to Yan menyedot napasnya dalam-dalam dia harus lebih berhati-hati lagi, Bila ia menghadapi Pek Ie Kaucu Bong Bong Cu dan Pek Tong Hie sekalian dengan kekerasan, dengan ilmu pedangnya ia masih bisa membikin perlawanan.

Lain lagi bila berhadapan dengan partay Biarawati Jaya, ia harus melawan dengan kepintarannya, kini dia harus menghadapi Thio Sek Bun, bukan dengan ilmu silat, juga bukan dengan siasat kepintaran akal.

Tapi harus disertai ketekunan iman.

Mendorong Ie Han Eng kearah Samping, Su-to Yan berkata.

"Pergi kau kesana, Berdiri dipinggiran."

Ie Han Eng menganggukkan kepala, melepaskan diri dari rangkulan Su-to Yan dan berdiri disatu posisi yang agak baik. Thio Sek Bun dan Su-to Yan sudah berhadapan.

"Ha, ha, ha...."

Thio Sek Bun tertawa besar.

"Akan kulihat, bagaimanakah bisa lepas dari tanganku."

"Sreet..."

Su-to Yan mengeluarkan pedang, Disaat ini Thio Sek Bun sedang tertawa tangannya digapaikan, dan entah bagaimana didalam tangan itu, sudah bertambah sebuah tongkat.

Tongkat itu agak aneh, ujungnya terdapat sebuah intan yang bercahaya, sangat terang sekali, memancarkan sinarnya yang menyilaukan pandangan.

Sesudah mengalami ketegangan yang seperti itu haripun sudah menjadi gelap, dan didalam keadaan gelap, sinar gilang gemilang, sinar yang menyilaukan mata dan tongkat aneh Thio Sek Bun semakin bercahaya.

Su-to Yan menyabetkan pedangnya kearah Thio Sek Bun, tapi tiba-tiba saja lenyaplah orang tersebut.

Suara tertawa terdengar sudah berada dibelakang Su-to Yan.

Cepat su-to Yan membalikkan badan, kini dia menghadapi laut, Keadaan sudah menjadi gelap, Hanya terlihat putih intan permata diatas tongkat aneh Thio Sek Bun.

Hati Su-to Yan dirasakan semakin tegang, debaran jantungnya begitu keras sekali.

Thio Sek Bun menudingkan tongkatnya.

Dia mengeluarkan suara bentakan keras.

"Lihat."

"Bluumm..."

Ombak memecah, tinggi sekali, terjadi satu pusaran air yang meletus, dan air ini berubah menjadi gunung, Diatas puncak gunung air tersebut berdiri seorang, itulah Cin Bwee.

Hati Su-to Yan menjadi kaget, cepat-cepat ia menenangkan peredaran darahnya, ia tahu, ini hanyalah sebuah khayalan, ilmu sihir yang diciptakan oleh THo Sek Bun.

ia harus bisa bersikap tenang, Berusaha sedapat mungkin agar tidak terjebak kedalam perangkap musuh.

Dan betul saja, bayangan Cin Bwee itu pun sudah lenyap kembali.

Hanya terdengar alunan dan deburan ombak dipantai laut.

Agak sulit juga bertempur dengan seorang ahli sihir seperti Thio Sek Bun, dikala Su-to Yan membuka mata, tidak berhasil menemukan jejak kakek buntung itu.

Tiba-tiba dari jauh terdengar suara orang yang menyebut nama budha, suara itu tidak asing bagi Su-to Yan, itulah suara sipadri saleh Put-in Taysu.

Kedatangan Put-in Taysu ditempat itu tentu sangat menguntungkan Su-to Yan.

Semua bayangan lenyap, Gununggunung air itupun lenyap.

Dan semua tersirap.

Terpeta kembali wajah Thio Sek Bun, dan terpeta kembali tubuh Thio Sek Bun, Tongkat ajaibnya sudah lenyap dari tangan si kakek tukang tenung itu.

"Hari ini aku tidak berhasil menekanmu lagi."

Berkata Thio Sek Bun.

Tubuhnya dibalikkan, dan berjalan pergi.

Su-to Yan menghembuskan napas lega, dia menengok kesamping, Ie Han Eng masih berada disana, Gadis tersebut memandang dirinya dengan penuh perhatian.

Su-to Yan menengok lagi kelain arah, dari sinilah datangnya suara pujian nama Budha itu, tentunya Put-in Taysu segera akan tiba.

Betul Put-in Taysu tiba mendadak, muncul bagaikan bayangan asap lewat, Disebelah Put-in taysu, juga terdapat lain orang, inilah seorang wanita, dia guru Cin Bwee yang bernama Cia Ciu Nio.

Munculnya Put in taysu dan Cia Ciu Nio begitu mengherankan sekali, pertama-tama, melepas asap kecil, semakin lama semakin banyak dan baru berpeta bayangan Put in taysu dan bayangan Cia Ciu Nio.

Sayang, Su-to Yan terlalu meremehkan ilmu sihir Thio Sek Bun.

Dan dia percaya bahwa bayangan kedua orang ini adalah tokoh silat, yang betul-betul terjadi, tokoh silat yang hendak menolong dirinya.

Su-to Yan menghampiri mereka dan memberi hormat.

"Supek, sukow?"

Put in taysu tertawa-tawa, dia diam. Cia Ciu Nio mengeluarkan suara dengusan dari hidung, dengan sikap yang tidak puas ia berkata.

"Mengapa kau tidak datang kegunung Kun-lun, menjenguk Cin Bwee ?"

Su-to Yan menundukkan kepala, ia telah mempunyai seorang istri, itulah Ie Han Eng.

Bagaimana bisa memperistri Cin Bwee lagi?

inilah yang menyulitkan dirinya.

Karena itu dia tidak berani kegunung Kun-lun, dia tidak berani menemui Cin Bwee.

Put-in Taysu berkata.

"Mengapa kau bisa berada ditempat ini?"

Su-to Yan menundukkan kepala ia berkata perlahan.

"Kami hendak berlayar ke pulau Tong-hay."

Wajah Cia Ciu Nio berobah, segera dia membentak.

"Orang yang sudah lupa diri, tidak tahukah kau, betapa sengsara Cin Bwee yang menunggu kehadiranmu? Mengapa kau tidak pergi ke gunung Kun-lun? Cin Bwee tidak bisa makan, tidak mau makan, ia sangat kurus sekali, kukira tidak lama lagi, bila tidak mendapat perhatianmu dia bisa mati."

Su-to Yan menundukkan kepala semakin rendah, apa yang bisa diperbuat olehnya? Cia Ciu Nio masih mengeluarkan suara bentakkan.

"Su-to Yan,kan tega membiarkan Ciu Bwee mereres makan hati? Pikirlah baik-baik.!"

Su-to Yan, semakin bimbang, bagaimana dia harus mengatasi keadaan ini?

Dia berpikir dan terus berpikir.

Mendadak, terdengar suara pekikannya seseorang, Su-to Yan tersentak kaget, ia sadar dari lamunannya, dan sebelum ini, terasa air yang merendam kaki, merendam lutut dan akhirnya merendam perut.

Dikala dia membuka kedua matanya bayangan Put in taysu dan bayangan Cia Ciu Nio itupun sudah lenyap, Ternyata kejadian tadi hanya berupa hayalan belaka.

Didalam keadaan tidak sadar, Su-to Yan sudah hampir bunuh diri, dia terjun kedalam laut, beruntung tidak sampai tenggelam.

Cepat-cepat Su-to Yan berjumpalitan dan ia merayap naik lagi, Meninggalkan air laut yang hendak menelan dirinya.

Semua kejadian ini berlangsung dalam waktu yang sangat singkat.

Suara teriakan dan bentakan itulah membangunkan Su-to Yan..

Su to Yan memandang kearah datangnya suara, disana terdapat dua orang yang bergumul keras, cepat ia melesatkan diri, itulah sikakek buntung Thio Sek Ban, dia sudah terjatuh melompat lagi hendak melarikan diri, jatuh lagi, berlari lagi dan jatuh lagi, demikian seterusnya sehingga sikakek tukang tenung lenyap dari pandangan mata.

Lawan dari Thio Sek Bun tidak asing, ialah Seng mo Leng Kho Tiok.

Seng-mo Leng Kho Tiok tidak menderita luka, ia duduk bersila dan mengatur jalan pernapasannya.

Kejadian ini mengejutkan Su-to Yan, cepat cepat dia lari menghampiri tokoh silat tersebut.

Dikala dekat dengan Seng mo Leng Kho Tiok, jago itupun membuka kedua matanya.

"Su-to Yan,"

Berkata Seng mo Leng Kho Tiok perlahan.

"Bagaimana keadaanmu ?"

"Lagi-lagi kau yang memberikan pertolongan"

Berkata Su-to Yan penuh rasa terima kasih.

"Imanmu masih kurang kuat."

Berkata Seng mo Leng Kho Tiok.

Lalu ia bangkit bangun berdiri, waktu itu keadaan kondisi badannya sangat lemah, ia telah menjalankan pertarungannya yang sangat serius, tidak mudah untuk mengusir Thio Sek Bun.

Su-to Yan menerima kritik tersebut, jiwanya memang agak lemah, telah mudah ditipu dan diakali oleh Thio Sek Bun, ilmu sihir Thio Sek Bun hanya berhasil kepada mereka yang beriman lemah, tapi tidak mungkin berhasil kepada mereka yang beriman kuat.

Su-to Yan beriman lemah, maka dia mudah terjerembab kedalam perangkapnya tapi Seng-mo Leng Kho Tiok juga cukup kuat, hingga tidak mempan oleh ilmu sihirnya.

Disaat Su-to Yan menderita sihiran-sihiran Thio Sek Bun, Ie Han Eng memandang dengan penuh rasa bingung, bagaimana pemuda itu berkali-kali berlompatan disana sini, tanpa keruan juntrungannya, inilah membingungkan dia dan disaat itu muncul Seng mo Leng Kho Tiok, langsung menempur Thio Sek Bun, terjadi pertempuran yang sengit, perhatian Ie Han Eng tertarik kearah pertempuran itu, dan Su-to Yan lompat terjun kedasar laut, hampir saja dia bunuh diri.

Semua kejadian-kejadian itu sudah berlalu, kini pertempuranpun sudah selesai, Ie Han Eng maju menghampiri Seng mo Leng Kho Tiok dan Su-to Yan.

Su-to Yan berkata kepada sigadis.

"Inilah Seng mo Leng Kho Tiok cianpwe lekas ucapkan terima kasih kepadanya."

Ie Han Eng memberi hormat dan mengucapkan terima kasih atas pertolongan Seng-mo Leng Kho Tiok, Seng mo Leng Kho Tiok menganggukkan kepala, memandang Ie Han Eng beberapa waktu dan berkata.

"Cukup cantik, memang cantik."

Menoleh kearah Su-to Yan dan mengajukan pertanyaan.

"Dimana saja kau, selama beberapa hari ini."

Su-to Yan berkata.

"Kami diganggu oleh sesuatu golongan yang menamakan dirinya sebagai partai Biarawati Jaya, maka itu perjalanan kita ke Tong hay terganggu."

"Oh..."

Seng mo Leng Kho Tiok menganggukkan kepala. Su-to Yan berkata.

"Dan bagaimana keadaan cianpwee?"

Seng mo Leng Kho Tiok berkata.

"Selalu aku mengikuti dirimu, Tapi entah bagaimana, secara tibatiba saja, aku kehilangan jejakmu, Menyerap nyerap kabar beberapa waktu, tidak berhasil, dan terakhir aku mencium jejakmu yang menuju ke tempat ini, Maka aku menyusul."

Su-to Yan tertawa, diceritakan pertarungan-pertarungan kepintarannya dengan golongan Biarawati Jaya, dan bagaimana akhirnya mereka bisa berada ditempat ini.

Tiba-tiba, napas Seng mo Leng Kho Tiok memburu cepat, ia mengatupkan mata dan membenarkan peredaran jalan darahnya.

Su-to Yan terkejut, cepat-cepat ia bertanya.

"Cianpwee mengapa ?"

Seng-mo Leng Kho Tiok bergoyang kepala, dia berkata perlahan, suaranya sangat lemah.

"Aku menderita luka, Luka sangat berat."

"Cianpwe istirahatlah !"

Dan betul-betul Seng mo Leng Kho Tiok menyusun kembali peredaran jalan darahnya yang sudah kacau itu.

Pertempurannya dengan Thio Sek Bun cukup lama, sehingga banyak makan tenaga.

Malam itu bisa dilewatkan dengan aman, sehingga sampai hari kedua.

Menyaksikan munculnya matahari pagi dipinggir laut adalah suatu kehidupan yang sangat menarik hati, pertama-tama wajah dunia memerah seperti api, dunia seperti marah, dan dari sana menongollah sebuah kepala yang perlahan-lahan menggelusur keatas, itulah sang batara surya.

Su-to Yan, Ie Han Eng dan Seng-mo Leng Kho Tiok sudah bangun, mereka bisa turut menyaksikan keindahan alam tersebut.

Mendadak Su to Yan berteriak kaget, dia memandang jauh kelangit yang biru, disana terdapat satu bintik hitam, semakin lama semakin besar dan akhirnya tiba diatas kepala mereka, itulah burung rajawali dari Tong-hay yang besar.

Su-to Yan mengeluarkan suara kaget, karena dia bisa mengenali itulah burung tunggangan ibu angkatnya Khong Bung.

Karena itu cepat-cepat dia berkata.

"Lekas menyembunyikan diri."

Tapi kedatangan burung itu cepat sekali, dari atas sudah meluncur satu bayangan, inilah Khong Bun, secepat itu pula dia sudah berada didepan ketiga orang dan mengeluarkan suara bentakan.

"Tidak perlu sembunyi lagi."

Memandang kearah Su to Yan, Khong Bun membentak keras.

"Hei, mengapa kau tidak memberi hormat atas kedatangan ibu angkatmu? Mengapa kau hendak menyembunyikan diri?"

"Huh,"

Su-to Yan mengeluarkan suara dari hidung.

"Siapa yang menjadi ibu angkatku?"

"Kurang ajar,"

Khong Bun membentak keras.

"Anak durhaka, kau mengangkat Sam-kie Ju-Su In Hong sebagai ayah angkat, aku adalah istri dari Sam-kie Ju-su In Hong, Mengapa tidak mengakui ibu?"

"Ha.ha..."

Su-to Yan tertawa.

"Betul ! Sam-kie Ju-Su In Hong adalah ayah angkatku, tapi suatu kenyataan tidak dapat disangkal bahwa kau adalah istri yang meracuni ayah angkatku? Siapa yang memberi racun Cek-sin-co kepada ayah angkatku?"

Wajah wanita berbaju hijau itu berubah, ternyata rahasianya sudah terbongkar.

"Seperti inikah kelakuan seorang istri?"

Bentak Su-to Yan gagah.

"Tutup mulut,"

Berkata Khong Bun.

"Kedatanganku kemari adalah untuk meminta kembali kitab ilmu silat peninggalan pamanku ini."

Sebelum Sam-kie Ju-su In Hong meninggal dunia, ia pernah bercerita tentang adanya kitab wasiat peninggalan Kie Tojin.

Tapi kitab tersebut tidak diserahkan kepada Su-to Yan, Karena itu Su-to Yan tidak tahu.

Dimisalkan Su-to Yan tahu, juga ia tidak mau menyerahkan kepada Khong Bun yang jahat.

"Dimana adanya kitab ilmu pedang tersebut?"

Berkata Su-to Yan.

"Tentu berada padamu."

"Tidak."

"Aku tidak percaya."

"Terserah, Kie Tojin adalah pamanmu sendiri, mengapa dia tidak menyerahkan kitab ilmu silatnya kepada keponakan, tetapi kepada lain orang?"

Mendapat pertanyaan yang seperti ini, Khong Bun kalah berdebat Tentu saja, ia tidak bisa menjawab, ia tidak bisa memberi alasan yang cukup untuk mengatakan, mengapa sang paman tidak menyerahkan kitab silat itu kepadanya, tapi menyerahkan kepada orang luar, Sam-kie Ju-su In Hong itu sudah diterima sebagai murid, tokh hubungannya tidak begitu rapat, seharusnya ia menyerahkan kepada sang kemenakan, bilamana Khong Bun mempunyai hati yang cukup baik.

"Su-to Yan,"

Bentak Khong Bun.

"Tidak mau kau menyerahkan kitab peninggalan itu?"

"Sudah kukatakan kitab tersebut tidak berada padaku."

"Baik, Kukira kau tidak mau bicara sebelum aku melakukan kekerasan."

Sampai disini, Seng-mo Leng Kho Tiok juga turut bicara.

"Hemm menggunakan kekerasan? Baik.. kami akan melawanmu."

Menengok ke arah jago tersebut, Khong Bun tertawa berkakakan, ia berkata.

"Hendak menempur aku? kalian bertiga belum merupakan tandingan."

"Tapi kami tidak bisa menerima hinaan."

Jawab Su to Yan.

Khong Bun adalah salah satu dari jago Tong hay, ilmu kepandaiannya hanya setingkat dibawah Sam-kie Ju-Su In Hong.

Karena itu, ia mempunyai kekuatan untuk mengalahkan tiga kekuatan dihadapannya.

Kini dia berkata.

"Aku tidak akan menghina kalian, Begini sajalah kuatur. Aku membiarkan si Biru menukik kelangit sehingga tiga kali, dan bila mana sebelum dia terbang pulang pergi sampai tiga kali ini, kalian bertiga bisa melarikan diri, aku tidak akan mengganggu lagi, Tapi bila mana kalian bertiga tidak melarikan diri, satu persatu akan mati ditanganku."

Sibiru adalah nama barang rajawali sakti dari Tong hay itu.

Inilah kata-kata yang terkebur sekali, dimisalkan Seng-mo Leng Kho tiok dan Su-to Yan tidak berada dalam keadaan luka, tentu saja mereka bisa menempurnya dengan bebas, tidak perlu melarikan diri, tidak mungkin Khong Bun bisa membikin pengejaran.

Tapi keadaan lain, Su-to Yan terluka, Seng-mo Leng Kho Tiok juga belum sembuh betul, Ie Han Eng tidak berkepandaian silat, mana mungkin mereka bisa melarikan diri?

Tidak seorangpun dari mereka yang memberi jawaban.

Khong Bun berkata lagi.

"Bagaimana? Kukira kalian tentunya tidak puas, boleh saja kalian mengundang jago undangan, siapapun boleh. Aku memberi kesempatan waktu sibiru menukik keatas pulang pergi tiga kali, dan aku berpeluk tenang tetap ditempat ini, membiarkan kalian pergi lari, atau membiarkan kalian mengundang datang jago lain."

Khong Bun terlalu percaya akan kecepatan terbang burung rajawali saktinya.

Su to Yan dan Seng-mo Leng Kho Tiok masih berpikir pikir, mungkinkah mereka bisa menghindari kejaran Khong Bun?

Mengingat adanya burung rajawali sakti yang hebat itu?

Mereka diam, Tidak bicara.

Khong Bun segera melaksanakan apa yang sudah dikatakan tadi, dia mengulurkan tangan dan memberi perintah kepada Sang rajawali sakti terbang keatas.

Rajawali sakti dari Tong-hay itu sangat indah, juga mengerti tanda aba-aba yang diberikan kepadanya...wing...ia terbang langsung ke-langit yang tinggi.

Semakin lama, bayangan burung rajawali itu sangat kecil, dan akhirnya menjadi satu titik hitam yang jauh diujung angkasa.

Hingga sampai batas diujung langit itu, dia menukik kembali dan turun kearah permukaan tanah.

Seng-mo Leng Kho Tiok menowel tangan Su-to Yan dan berkata.

"Lekas lari? Apa lagi yang ditunggu?"

Maka ketiga orang itupun lari, Ie Han Eng tidak berkepandaian silat, dengan sekali saup, Su-to Yan merangkul tubuh gadis tersebut dan dibawanya lari.

Merendengi dirinya adalah Seng-mo Leng Kho Tiok.

Jago wanita dari daerah Tong-hay Khong Bun tertawa dingin, dibiarkan saja ketiga orang muda itu melarikan diri.

Dia menyaksikan dari jarak jauh, sampai dimanakah mereka bisa melepaskan diri dari kekangannya?

Su-to Yan bertiga sudah mencapai puluhan tombak.

Tapi, rajawali dari Tong-hay itu gesit sekali, dia sudah mematok tanah, berbangkit kembali dan sudah menjadi titik yang kedua kalinya, menerjang awan tinggi dan lenyap diawang-awang.

Wanita berbaju hijau Khong Bun mengeluarkan tertawa dingin.

Siburung sudah menukik kembali, mematok tanah yang kedua kalinya.

Disaat ini Su-to Yan menengok kebelakang, menyaksikan gerakan sang burung, hatinya tergerak itulah salah satu jurus yang terdapat di dalam sari ilmu pedang Maya Nada !

Akh, Pemuda kita mengeluarkan teriakan tertahan.

Rajawali Sakti sudah menerjang awan, inilah terjangan yang ketiga kali.

Benak pikiran Su-to Yan berkilat cepat, ternyata, ilmu pedang Maya Nada adalah sari-sari dari satu macam ilmu silat peninggalan jaman purbakala, Kunci set berada didalam, Bagaimana merangkaikan ilmu-ilmu yang tidak sama itu, bagaimana menyambung gerakan dari ilmu yang tidak mempunyai hubungan itu.

Beginikah tidak ada hubungan sama sekali?

Betulkah tidak ada rangkaian yang menjadi satukan ilmu-silat itu ?

Secara tidak disengaja, Su-to Yan menemukan kunci set tersebut, gerakan si Biru dari Tongthay itu mengilhamkan dirinya, bagaimana harus merangkaikan ilmu silat yang tidak sama.

Ternyata, semua ilmu silat itu ditujukan untuk menyerang orang, menjaga diri sedikit banyak tentu terdapat persamaan ?

Bakat2 orang tidak sama, kesukaan orang pun tidak sama, karena itu terjadi perbedaan dari aliran-aliran tokoh silat.

Sepuluh macam ilmu silat peninggalan purbakala tidak terkecuali perbedaannya, ilmu-ilmu telah diyakinkan oleh seseorang Ilmu pedang Maya Nada Sudah diberi kombinasi yang lebih sempurna juga terdiri dari satu aliran.

Sedikit banyak, masih ada keselarasan.

Dari gerakan lukisan burung rajawali Sakti Tong-hay, Su-to Yan mendapat ilham, ia berhasil menemukan kunci Set, bagaimana harus mengkombinasikan ilmu-ilmu itu.

Satu persatu, semua gerakan dari sepuluh macam ilmu peninggalan jaman purbakala memain dihadapannya.

Su-to Yan berusaha menyatukan ilmu ini.

Bukan ilmu biasa, dalam waktu yang singkat mana mungkin bisa berhasil cepat ?

Kejadian ini membingungkan Seng-mo Leng Kho Tiok, segera membentak.

"Hei, apa yang kau pikirkan ?"

Su to Yan tersentak bangun dari lamunan nya, ia menengok lagi keatas, disana sudah tiada jejak burung rajawali sakti itu, sang burung sudah menukik lagi, sedang menutuk tanah.

Inilah gerakan ketiga kalinya.

Menoleh kearah samping, dimana terdapat sebuah gua batu, sangat kecil tapi cukup kiranya untuk menyembunyikan tiga orang.

Su-to Yan melesatkan diri, masuk ke dalam goa tersebut.

Seng-mo Leng Kho Tiok juga membayangi Su to Yan.

ia menguatirkan keselamatan Su-to Yan dan Ie Han Eng.

Bagaimana ketiga orang itu mengelakkan bahaya ancaman Khong Bun ?

Dibawah ancaman Khong Bun.

mau tidak mau, Su-to Yan, Ie Han Eng dan Seng-mo Leng Kho Tiok bertiga harus melarikan diri.

Mereka mempertahankan diri memasuki sebuah goa yang sangat kecil.

Rajawali sakti dari Tong hay sudah berhasil pulang pergi tiga rit, kini ia terjun kembali dan mematuk tanah.

Khong Bun sangat percaya kepada kecepatan Sang burung piaraannya, maka ia berjanji, sebelum burung rajawalinya dapat menukik sehingga tiga kali, ia tidak akan turun tangan, dan membiarkan Su-to Yan bertiga melarikan diri atau mengundang jago lainnya, membela Su-to Yan dan menempurnya.

Kegesitan Rajawali Sakti dari Tong-hay betul-betul tidak mengecewakan disaat itu dia sudah berhasil menempuh batasan yang ditentukan.

Khong Bun melejitkan kakinya, menyusul kearah Su to Yan bertiga ini waktu, Su-to Yan bertiga sudah lenyap dibalik goa, tapi goa itu terlalu kecil, tidak berguna sama sekali.

Didepan goa tersebut Khong Bun berteriak.

"Su-to Yan, apa guna kau menyembunyikan diri didalam goa ini?"

Seng-mo Leng Kho Tiok mengucurkan keringat dingin, menengok kearah Su-to Yan.

Si pemuda acuh tak acuh.

Seolah-olah tidak mendengarkan kata kata Khong Bun.

Diluar goa masih terdengar suara Khong Bun, jago wanita dari daerah Tong Hay ini segera melengkingkan suaranya.

"Su-to Yan, mungkinkah hendak memaksa aku menyeret kalian keluar?"

Ie Han Eng menggoyang goyangkan Su-to Yan, dengan maksud agar sipemuda bisa memberikan jawaban.

Seng-mo Leng Kho Tiok bisa memahami, apa yang sedang dipikirkan oleh Su-to Yan, karena itu ia segera memberi isyarat, Ie Han Eng tidak mengganggu ketenangan sipemuda.

Seperti apa yang kita ketahui, Su-to Yan sudah merangkaikan sepuluh macam ilmu-ilmu peninggalan jaman purbakala, dengan intisari ilmu pedang Maya Nada, disatukannya dan dirangkaikannya semua ilmu-ilmu itu.

Maka ia menekunkan diri memisahkan keadaan dengan dunia luar.

Khong Bun diluar goa hilang sabar, berteriak-teriak berkali-kali tanpa ada hasilnya, ia mulai menampilkan diri, hendak memasuki goa.

melongokkan kepalanya kedalam.

Dikala kepala jago wanita dari Tong-hay itu menampilkan diri, Seng-mo Leng Kho Tiok mengayun tangan, disana telah bertambah sebuah kipas, dengan kipas ini dia menotok ke-arah hidung Khong Bun.

Semua persiapan tempur telah disiapkan, Khong Bun bukan seorang yang sangat lemah, ia berani berlaku nekad karena mengunggulkan ilmu kepandaiannya yang cukup tinggi, melihat datangnya serangan kipas Seng-mo Leng Kho Tiok, dengan menggunakan tiga jari menangkap ujung kipas itu.

Gerakkan Seng-mo Leng Kho Tiok lebih cepat, tapi gerakkan Khong Bun lebih cepat lagi, Sebelum Seng-mo Leng Kho Tiok berhasil merobah cara, atau menarik kembali kipasnya, ujung kipas itu telah berhasil ditekan oleh tiga jari Khong Bun, dan secepat itu pula, kipas ditangannya berhasil direbut oleh jago Tong-hay itu.

Seng-mo Leng Kho menyerang tiga kali.

Tiok dipaksa menggunakan tangan, Tiga kali pula Khong Bun menerima serangan serangan itu.

Wajah Seng-mo Leng Kho Tiok menjadi pucat, cepat-cepat ia mundurkan diri, memasuki goa lagi.

Sayang, sekali goa itu telah terlalu sempit, tidak bisa mundur kebelakang jauh, ia terjepit diujung tembok.

Khong Bun merasa terhina, bila mana ia sampai harus menerjang orang memasuki goa yang seperti tikus, ia tidak mendesak lagi, dan mengundurkan diri, menantikan ketiga mangsanya dimulut goa.

Kejadian ini melegakan hati Seng mo Leng Kho Thiok, Untuk sementara mereka bisa terhindar dari bahaya.

Terdengar suara Khong Bun diluar goa.

"Seng mo Leng Kho Tiok, berani kau bertempur diluar goa ?"

Seng mo Leng kho Tiok malu untuk mengucapkan tidak berani, seharusnya ia menerima tantangan itu.

Tapi keadaannya akan lebih buruk lagi, pasti ia akan celaka, besar juga kemungkinannya, mati ditangan si jago wanita Tong-hay itu.

Walau jiwanya tertekan, walau mereka terhina, apa boleh buat, Seng mo Leng Kho Tiok mengumpat didalam goa.

Sekali lagi Khong Bun bertindak memasuki goa itu.

Seng-mo Leng Kho Tiok, tidak menjadi lengah karena mundurnya Khong Bun, ia lebih mengenal baik seluk beluk keadaan manusia, mengundurkan diri, bila hendak mencapai kesuksesan.

Seng mo Leng Kho Tiok tidak berani berpikir ketempat lain, benak otaknya dipusatkan bagaimana harus menghadapi Khong Bun.

Disaat bayangan Khong Bun terpeta untuk kedua kalinya, dengan mengerahkan penuh semua tenaga yang ada, Seng-mo Leng-kho Thiok mendorong kedua tangannya keluar goa, hendak memukul sijago wanita dari Tong-hay.

Khong Bun juga pandai bersiasat, ia selalu siap sedia, bukan masuk sembarang masuk, dikala tangan Seng-mo Leng kho-thiok dijulurkan ke-depan, Khong Bun menjadi girang, inilah yang dikehendaki olehnya.

Dengan melentikkan sepasang alis, ia memapaki datangnya serangan itu.

Berbeda dengan serangan Seng-mo Leng Kho-thiok yang bersifat keras, juluran tangan Khong Bun sangat perlahan sekali, tenaga itu terlalu lunak.

Hal ini menggirangkan Seng mo Leng kho thiok, dalam hati ia berpikir.

"Sungguh kebetulan, Apa yang kau bisa lakukan atas tenaga penuhmu ini ?"

Seng-mo Leng-Kho Tiok memperkeras mempercepat gerakan pukulan tadi.

tenaganya, dan Disaat itu, telapak tangan keduanya membentur menjadi satu, tiba-tiba saja wajah Seng-mo Leng kho-thiok menjadi berobah sepasang telapak tangannya lengket ditempat tangan tidak ada hasilnya seperti memukul karet busa atau kapas yang empuk, terpendam begitu saja.

Seng-mo Leng-kho-thiok lebih terkejut lagi, manakala dan tangan Khong Bun terdapat bawa sedotan yang sangat besar, kini ia terhisap ke-luar, posisinya bergoyang.

Disini letak kepintaran Khong Bun, untuk memukul secara keras sangat mudah, bisa saja tapi akibatnya lain lagi, dari pada melakukan tenaga keras lawan keras, ia menggunakan sedikit tipu muslihat, menyedot sehingga Seng-mo Leng Kho Thiok meninggalkan goa persembunyian.

Seng mo Leng kho Thiok berusaha mempertahankan kuda-kudanya, sepasang kaki ditancap keras.

Tapi tidak berhasil, sedotan Khong Bun itu terlalu hebat, tubuhnya mencelat, meninggalkan tempat semula sehingga keluar dari dalam goa.

Didalam waktu yang bersamaan, Su-to Yan sudah berhasil meyakinkan dan merangkaikan ilmu ilmu yang sudah dipelajari olehnya, ia membuka sepasang mata, dan kini ia kehilangan jejak Seng mo Leng Kho Thiok, disitu hanya Ie Han Eng.

Sigadis menjerit kaget, karena tersedotnya Seng mo Leng kho thiok keluar goa.

Bayangan sepasang kaki Seng mo Leng kho Thiok yang tersedot keluar dari goa tempat itu masih terpeta.

Tidak ada kesempatan banyak untuk Su-to Yan berpikir tangan kanannya mengeluarkan pedang, dengan tangan kiri ia mengempit pinggang Ie Han Eng, pedang diputarkan demikian rupa, dengan desiran yang luar biasa, memapas semua dinding-dinding goa tersebut dan tubuhnya melejit keluar.

Terdengar suara reruntuhan batu yang saling susul, goa dimana yang menjadi tempat sembunyi sementara Su-to Yan sekalian itu lelah lenyap begitu saja, beratap langit, itulah akibat dari serangan pedang Su-to Yan tadi.

-ooo0dw0oo-

Jilid 19 SU-TO YAN sudah menyusul keluar, sinar matanya masih bisa melihat, bagaimana Seng-mo Leng Kho Tiok terdesak terus menerus, sehingga sampai dibawah sebuah pohon yang sangat besar, numprah duduk dengan menderita luka hebat.

Cepat-cepat Su-to Yan melepaskan tubuh Ie Han Eng, sepasang kakinya meluncur kearah Khong Bun.

Disaat itu, Khong Bun baru saja berhasil menyedot Seng-mo Leng Kho Tiok, dan hawa sedotan itu diubah menjadi satu tekanan mendesak dan terus mendesak.

Disaat baru saja ia berhasil, terasa sesuatu ancaman dari pihak lawan, itulah ancaman dari pihak Su-to Yan.

Kaki kanannya digeser, dan tubuhnyapun berputar, ia harus cepat menghadapi Su-to Yan, apalagi mengingat bahwa keadaan Su-to Yan itu berada dalam keadaan luka, mana mungkin bisa menandingi dirinya ?

Hawa pedang yang dingin dari serangan Su-to Yan membawa desiran-desiran mengancam kearah Khong Bun.

Tenaga kekuatan Khong Bun meluncur dan membentur kekuatan itu.

Terdengar suatu pusaran gemuruh yang luar biasa, Su-to Yan dan Khong Bun terpisah tanpa beradu terlebih dahulu, tenagatenaga mereka telah mementalkan balik tubuh kedua orang itu.

Su-to Yan berdiri dengan mata beringas.

Khong Bun terpaku dengan rambut kusut awut-awutan, sungguh di luar dugaan, tenaga Su-to Yan saat itu terlalu cepat, betul-betul berada diluar dugaannya.

Terdengar lagi geraman Su-to Yan, pedangnya diluruskan, bersama-sama dengan tubuhnya melayang kearah Khong Bun.

Khong Bun adalah jago wanita dari Tong hay yang terkenal, ia menggerakkan tangan dengan hanya mengeraskan kekuatan memukul pedang Su-to Yan, Terdengar suara jeritan kaget, Khong Bun terpelanting, hampir terjatuh rubuh ditempat itu, bila tidak cepat-cepat memperbaiki posisi kedudukkannya, Tokh ia sudah terluka.

Dengan ilmu Pedang Maya Nada yang disertai dengan perobahan sepuluh macam ilmu Peninggalan jaman purbakala, Su-to Yan mengalahkan Khong Bun.

Dengan pedang ditangan, Su-to Yan memandang dengan sinar matanya, tapi ia tidak membunuh wanita itu, biar bagaimana Khong Bun adalah ibu angkatnya.

Sang ayah angkat Su In Sing tahu, bagaimana Khong Bun meracuninya, tokh Su In Seng tidak membunuh istri jahat itu.

Terlebih Su-to Yan, apa yang sang ayah angkat tidak mau lakukan, tentu tidak mau dilakukan pula olehnya, Dibiarkannya saja Khong Bun berdiri dengan keadaan lesu.

Khong Bun menggapaikan tangan, si Biru meluncur datang.

Dengan langkah yang berat, dengan hati gundah gulana, Khong Bun lompat naik keatas burung tunggangan itu meluncur balik kearah pulau Tong-hay.

Su-to Yan mendapat hasil yang sangat gemilang, itu waktu, Seng-mo Leng Kho Tiok sudah tidak bisa mempertahankan diri lagi, lukanya terlalu hebat, sesudah menyaksikan bagaimana Su-to Yan bisa mengusir Khong Bun, saking girangnya, ia jatuh menggeleser.

Terdengar jeritan lengkingan panjang Ie Han Eng.

Su-to Yan berpaling, dan rasa terkejutnya tidak kepalang, ia melejit cepat-cepat menghampiri Seng mo Leng Kho Tiok.

"Toako, kau mengapa?"

Dengan berat, Seng-mo Leng Kho Tiok membuka matanya, napasnya sudah memburu, ia berkata lemah.

"Aku sudah tidak berguna, Aku memohon kepadamu, agar dapat ditolong menyempurnakan diriku."

"Tidak,"

Berteriak Su-to Yan,"

Kau tidak boleh mati."

"Takdir tidak bisa ditawar."

Berkata Seng mo Leng Kho Tiok lemah.

"Kekuatan Khong Bun bukan kekuatan biasa, tidak ada seorang yang bisa menerima serangannya, Kecuali kau! Aku bangga, jika bisa berkawan dengan seorang jago muda yang seperti dirimu, tidak kusangka kemajuan ilmu silatmu sungguh berada diluar dugaan."

Su-to Yan juga seorang ahli silat, dengan sepintas lalu, ia mengetahui, betapa beratnya luka yang diderita oleh Seng mo Leng Kho Tiok, tidak mungkin dapat memberi pertolongan.

Seng-mo Leng Kho Tiok masih berkata.

"Tahukah kau, bahwa akupun bukan seorang baik. Tapi mengapa selalu membela dirimu? itulah takdir, aku bertaruh kepada orang. Dan akhirnya aku bisa memenangkan pertarungan itu."

Su-to Yan tertegun, ia tidak mengerti maksud dari kata-kata Seng-mo Leng Ko Tiok tadi. Seng-mo Leng Ko Tiok menyengir, ia berkata lagi.

"Ingat kepada lawanku Si hitam Su-mo Min Kho Siong? Aku bertaruh kepadanya, aku memegang dirimu bahwa kau bisa memenangkan keroyokan-keroyokan banyak orang, tapi Su-mo Min Kho Siong tidak percaya. Dikatakan olehnya bahwa kau pasti kalah lambat atau cepat kau pasti kalah. Aku membantah! Tidak mungkin! Su-to Yan tidak mungkin kalah. Demikian-berulang kali aku menolong kesulitan-kesulitanmu. Agar kau tidak kalah, Betul-betul kau tidak mengecewakan jerih payahku. Kau sudah mengalahkan Khong Bun. Maka kau bisa mengalahkan jago yang manapun juga, Kau tidak mengecewakan diriku... Kau tidak mengecewakan diriku..."

Semakin lama, suara Seng-mo Leng Kho Tiok semakin lemah, akhirnya kepala sijago tua menjadi teklok, dengan senyuman dikulum, karena merasa sangat puas atas hasil gemilang yang dicapai oleh Su-to Yan, Seng-mo Leng Kho Tiok menghembuskan napasnya yang penghabisan.

Rokhnya sijago tua telah melayang, diiringi oleh suara ketawanya yang sangat puas.

Seng-mo Leng Kho Tiok menemukan kematiannya membela seorang kawan.

untuk Su-to Yan menetes air matanya, ia bersedih atas kerelaan hati Seng-mo Leng Kho Tiok yang membela dirinya, ia bersedih karena ia tidak berdaya menghindari maut yang mengancam kawan tersebut.

Ie Han Eng juga menangis, ia turut bersedih, seakan-akan menangisi kepada orang tuanya sendiri.

Kiranya, walau mereka berkumpul tidak lama kelihatan, Kelihatan Ie Han Eng sangat suka kepada Seng-mo Leng Kho Tiok, mereka berdua begitu akrab, dan bila ia melepaskan cinta kasihnya kepada Su-to Yan sebagai cinta kasih seorang bakal suami, ia mendapatkan cinta kasihnya kepada Seng-mo Leng Kho Tiok, sebagai seorang yang lebih tua seorang kawan yang sangat memperhatikan dirinya.

Kematian Seng-mo Leng Kho Tiok hanya untuk membela kepentingan mereka, bagaimana ia tidak bersedih?

Untuk beberapa waktu, mereka mengucurkan air mata kesedihan, mengenangkan jasa Seng-mo Leng Kho Thiok yang telah dicurahkan ke pada umatnya.

"Adik Eng,"

Akhirnya Su-to Yan yang membuka suara lebih dahulu.

"Sudahlah, jangan kau menangis lagi, Menangis terus menerus akan memilukan hati sendiri. Seng-mo Leng Kho Tiok toako terluka berat, dimisalkan ia tidak mati, juga sulit untuk menyembuhkannya, suatu waktu malah bisa tersiksa."

Didalam hati Su-to Yan bertanya-tanya, siapakah mereka itu ?

Diam-diam sipemuda merasa cemas, teringat akan dirinya yang penuh godaan-godaan dunia, jago-jago rimba persilatan mengeroyok dirinya karena sebuah kitab yang tiada arti.

Ie Han Eng memandang kearah Su-to Yan dan mengajukan pertanyaan.

"Engkoh Yan ada apa lagi ?"

"Lihat."

Berkata Su-to Yan sambil menudingkan jarinya kearah perahu.

"Mungkinkah musuh yang datang?"

Bertanya Ie Han Eng.

"Lebih banyak musuh, dari pada kawan."

Berkata Su-to Yan.

Su-to Yan sedang berpikir pikir, didalam tempat yang sangat sunyi yang sepi seperti yang kini ia berdiri, mana mungkin ada perahu yang berlabuh?

Perahu itu meluncur cepat sekali, dan datangnya kearahnya, tentu perahu yang mengandung maksud buruk, Mungkinkah mencari kerewelan-kerewelan lagi ?

Dikala Su-to Yan masih memikir-mikir, dari atas perahu telah muncul seorang langsung, lompat turun dan menghampiri Su-to Yan.

Orang ini tidak terlalu asing, itulah Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu.

Sesudah turunnya Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu, tampil lagi seorang, juga tidak asing, orang ini ialah Cit-su Hiat-kun.

Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu memperlihatkan senyumannya, ia berkata lebar.

"Betul-betul kau berada ditempat ini. Tidak mungkin kita menubruk tempat kosong, Betul, Betul, tidak mungkin kita menubruk tempat kosong."

Su-to Yan segera menduga kepada hasil buah ciptaan golongan Biarawati Jaya, Hanya Biarawati jaya yang pandai menggunakan siasat, hanya Biarawati jaya yang pandai memperalat orang, memukul-mukul dengan tenaga orang lain.

Bagaimana Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu dan Cit-su Hiat kun tahu?

Bahwa dirinya berada ditempat ini.

Bilamana bukan berita itu dari Biarawati Jaya?

Pasti.

tidak salah lagi, kedatangan Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu dan Cit-Su Hiat-kun terpancing oleh siasat Biarawati Jaya.

Disatu pihak, Pek-ie Kaucu dan Cit-su Hiat-kun, dilain pihak, Suto Yan dan Ie Han Eng, kedua belah pihak ini sudah berhadapan.

"Pek-ie Kaucu, apa maksudmu, selalu mencari urusan denganku?"

Demikian Su-to Yan menegur dengan suara tidak senang, Pek-ie Kaucu tertawa, katanya.

"Bah, apa perlu aku harus mengulang kata-kataku."

Su-to Yan betul-betul tidak mengerti. apa maksud tujuan Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu yang terus menerus mencari dirinya? Mungkinkah bertujuan kitab ilmu pedang Maya Nada ? "Pek-ie Kaucu,"

Berkata lagi Su-to Yan.

"Beranikah kau menjawab pertanyaanku secara terus terang ?"

"Apa yang hendak kau tanya akan. Lekas ucapkan."

"Pek-ie Kaucu. apakah sudah kau perhitungkan dengan hanya mengandalkan tenaga kalian berdua dengan hanya didampingi oleh Cit-su Hiat-kun, kau sudah pasti? Mempunyai pegangan kuat untuk memenangkan diriku ?"

Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu melengak, tidak menduga sama sekali, bahwa Su-to Yan berani mengucapkan kata-kata begitu temberang.

Meskipun ia tahu kepandaian sianak muda cukup tinggi, tapi belum tentu bisa menandingi keroyokannya ia dan Cit-Su Hiat-kun.

Dengan dalih apa, Su-to Yan mengucapkan kata-kata seperti tadi ?

Cit-Su Hiat kun juga merasa mendongkol ia turut bicara.

"Bocah, jangan sombong! Dengan ilmu kepandaianmu ini, minta dikeroyok oleh dua orang? Phui tidak tahu malu."

"Bagus."

Berkata Su-to Yan.

"Kalian hendak bertanding satu persatu? Boleh juga."

"Bong Bong Cu,"

Berkata Cit-su Hiat-kun.

"Sudah kau dengar, lekas serbu, biar aku nanti yang kirim jiwanya menemui Giam loong. Kau hajarlah lebih dahulu."

Giam lo-ong adalah nama dari Raja Akherat dialam baka.

"Tunggu dulu."

Berkata Su-to Yan.

"Aku minta kepastian, bahwa inilah pertarungan kita yang terakhir. Aku tidak mau diganggu terus menerus, bilamana aku kalah, aku menyerah, apa yang menjadi kehendakmu terserah! Tapi sebaliknya bilamana aku yang berhasil memenangkan pertandingan ini, aku meminta kepastian kalian aku meminta kalian tidak lagi mengganggu diriku. Sanggup? Bersediakah kalian dengan janji itu?"

"Haaaa, haaa, haaa...."

Pek-ie Kauwcu Bong Bong Bu tertawa.

"Lucu."

Berkata Cit-su Hiat-kun.

"Permintaan yang lucu. Tentu saja kita berjanji bila mana kalah, tidak nanti mengganggu dirimu lagi."

Su to Yan sudah bersedia menerima tantangan dari salah satu dari dua orang itu.

Tapi disaat inilah, terjadi lain perobahan, dari jauh terdengar suara tertawa dua orang, dua bayangan muncul ditempat itu, masing-masing adalah Kiu-han Sin-kun Ko Cio dan Hoan thian Mo-kun Thiat-kiam Seng.

Adanya Hoan thian Mo-kun Thiat-kiam Seng, dan ketua lembah Cui goat kok ditempat itu juga buah hasil karya Biarawati Jaya.

Golongan Biarawati jaya kurang begitu yakin, bilamana Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu bisa membikin penyergapan karena itu mereka hanya dengan sedikit tipu muslihat, berhasil mengadu domba dan menghasut Kiu-han Sin kun Ko Cio dan Hoan thian Mo kun Thiat Kiam Seng, masing-masing ditugaskan untuk menempur Su-to Yan.

Wajah Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu menjadi asam kecut.

Cit su Hiat kun memalingkan wajahnya kearah kedatangan kedua orang itu, dengan dingin ia berkata.

"Selalu tidak kebetulan, setiap kali kita bisa menjumpai saudara Hoan-thian Mo kun Thiat Kiam Seng dan Kiu-han Sin-kun Ko Cio."

"Memang tidak kebetulan."

Berkata Hoan-thian Mo-kun Thiat Kiam Seng.

"Selalu kita bertemu menjadi satu, selalu kita membawa persengketaan hanya karena Su-to Yan, Kita mendapat berita bahwa Su-to Yan berada ditempat ini, secepat itu pula, kami datang menyusul. Tapi masih terlambat, telinga kalian lebih panjang lagi, kalian lebih dahulu tiba dari pada kita."

Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu menuju ke-arah Su to Yan dan bertanya kepada sipemuda.

"Bagaimana dengan urusan kita ?"

"Terserah!"

Berkata Su-to Yan. Kiu-hoan Sin-kun ko-cio dengan suara dingin berkata.

"Su-to Yan, disini kau menghadapi empat musuh tangguh, aku percaya, kau tidak bisa mendatangkan ketua Cian-San pay Su-in Seng, juga tidak mungkin bisa meminta bantuan Put-in Taysu lagi, karena mereka itu berada jauh dari tempat itu."

Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu memandang kepada dua orang yang baru datang dan berkata.

"Kukira kalian harus bersabar, sudah terjadi persepakatan, Aku hendak menempur Su-to Yan terlebih dahulu, Satu Persatu, Ya! Kita harus bergilir, bukan? Yang datang lebih dahulu harus bertempur lebih dahulu, dan yang belakangan harus menunggu giliran."

"Aku tidak setuju."

Berteriak Hoan-thian Mo kun Thiat Kiam Seng.

"Betul"

Turut bicara Kiu hoan Sin kun Ko-Cio.

"Kami mendapat berita lebih dahulu seharusnya kami yang mendapat prioritas pertama."

"Tidak mungkin, Terbukti bahwa kami datang lebih dahulu dari kalian."

Berkata Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu.

"Hendak bertempur dahulu?"

Hati Cit-su Hiat-kun panas sekali.

"Terserah."

Hoan thian Mo-kun Thiat Kiam Seng menantang. Belum tentu kalian bisa menang."

Berkata juga Kiu-han Sin kun Ko Cio.

"Sabar. Tunggu dulu!"

Berkata Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu menengahi.

"Pertaruhan diantara sesama orde sendiri akan menguntungkan kepada fihak lawan, disini aku mempunyai satu cara yang terbaik untuk memecahkan kesulitan-kesulitan, tanpa menggunakan kekerasan, juga tidak merusak persahabatan, Entah bagaimana dengan kalian, setujukan dengan usulku ?"

"Usul apa itu?"

Bertanya Hoan thian Mo kun Thiat kiam seng.

"Betul"

Turut bicara Kiu-hoan Sin-kun Ko Cio.

"Katakan dahulu."

Su-to Yan sedang mengharap harapkan bila mana keempat orang ini saling gempur, yang untung pasti adalah dirinya.

Tapi Pek ie Kauwcu Bong Bong Cu ada-ada saja, entah dengan usul apa pula, ia hendak meredakan ketegangan disini ?

Tampak Pek ie Kaucu Bong Bong Cu merogoh saku, dan dikeluarkan lagi, tertawa kepada semua orang.

Sesudah mengepalkan tangannya, Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu berkata.

"Didalam genggaman tanganku terdapat biji catur, mungkin putih, mungkin juga hitam, coba kau duga, hitam atau putih? Bila mana dugaanmu itu tepat, Aku dan Cit-su Hiat Kun akan mengalah. Kami mengundurkan diri, bila dugaan itu salah, maka kalian berdua harus mengalah, mengundurkan diri. Setuju ?"

Hoan thian Mo kun Thiat Kiam Seng dan Kiu hoan Sin-kun Ko Cio saling pandang, akhirnya orang yang tersebut duluan menudingkan diri sendiri, dan orang yang tersebut belakangan menganggukkan kepala.

Setuju !

Kiu hoan Sin kun Ko Cio setuju bilamana Hoan Thian Mo kun Thian Kiam Seng yang menebak biji catur didalam tangan Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu.

Hoan thian Mo-kun Thian Kiam Seng menganggukkan kepala, ia berkata.

"Baik, Sangat setuju !"

Pek-ie Kauwcu Bong Bong Cu tertawa dan berkata.

"Nah, boleh dimulai. Hitam atau putih? Katakan !"

Hoan Thian Mo kun Thian kiam Seng berpaling kearah Kiu hoan Sinkan Ko Cio dan berkata perlahan.

"Kukira hitam !"

Kiu hoan Sin kun Ko Cio mempentang suara, katanya.

"Hitam !"

Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu membuka genggaman tangan, disana terdapat sebuah biji catur, warnanya putih.

"Salah!"

Ia berkata girang.

Kiu hoan Sin kun Ko Cio dari Hoan thian Mo kun menghela napas, mereka harus mengakui keunggulan lawan itu,dengan apa boleh buat, mereka membalikkan badan, dan ngeloyor pergi.

Sesudah Kiu-hoan Sinkan Ko Cio dan Hoan thian Mo kun Thian kiam Seng meninggalkan tempat itu, Pek ie Kaucu Bong Bong Cu berhadapan dengan Su-to Yan lagi.

"Nah, kin kita boleh bertanding secara bebas."

"Silahkan,"

Su-to Yan pantang mundur. Pek-ie Kaucu tertawa berkakakan, katanya.

"Hendak kulihat, sampai dimana ilmu kepandaianmu dahulu itu."

Su-to Yan sudah membikin persiapan, tapi Ie Han Eng masih berada tidak jauh dari dirinya, karena itu ia berkata kepada sigadis.

"Adik Eng, pergilah menyingkir dibawah pohon itu, Agar kita bisa bertempur dengan bebas. Tanpa takut mengganggu dirimu, Kau bisa menonton, bagaimana akan kuberi hajaran kepada kakek-kakek berengsek."

Ie Han Eng sangat jinak sekali, segala perintah Su-to Yan dilakukannya semua, ia berkata.

"Baik. Aku hendak menonton pertandingan ini."

Tubuh Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu mulai bergerak, dengan ilmu tipu Kui-hie Sin-kang ia menyerang Su-to Yan.

Kedua telapak tangannya digosok-gosok sebentar dan langsung mengeluarkan asap putih.

Sekali ia merangkapkan kedua telapak tangan itu lagi, asap putih yang mengandung tenaga ajaib itu langsung menyerang Su-to Yan.

Sangat hebat sekali.

Su-to Yan bertahan sedapat mungkin.

Asap putih dari Pek Ie Kaucu Bong Bong Cu menggulung-gulung membungkus tubuh Su-to Yan.

Dengan pedang Lay-hong ditangan Su-to Yan membikin pembelaan, Memutarkan pedangnya, ia melindungi diri, dan mulai timbullah sinar kehijau-hijauan, menekan kekuatan asap putih Pekie Kaucu Bong Bong Cu.

Semakin lama, cahaya hijau semakin keras, semakin bersinar.

Semakin lama asap putih semakin menipis, akhirnya pudar.

Adu silat secara tenaga dalam itu telah dimenangkan oleh Su-to Yan.

Tiba-tiba...

Su-to Yan melempar pandangan, dan senjata itu bergulung gulung meluncur kearah sang lawan, tujuannya tepat dan gesit.

Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu menggunakan akal, memukul pedang Su to Yan itu.

Pedang Lay-hong terpukul kesamping, tapi meluncur balik lagi, tetap mengancam Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu, inilah ilmu Pedang Maya Nada yang pernah dimahirkan, dapat dikuasai tanpa dipegang oleh tangan, ilmu Pedang yang terhebat.

Menyaksikan keadaan itu.

Cit-Su Hiat-kun juga terkejut.

Ternyata Su-to Yan bisa menguasai ilmu pedang tanpa dipegang, memainkan permainan pedang dari jarak jauh, inilah ilmu pedang terbang yang hanya didalam cerita kuno saja.

Tapi mereka harus berhadapan dengan kenyataan dengan adanya ilmu pedang terbang tadi, tidak mungkin Pek-ie Kaucu bisa mempertahankan diri, Cit-su Hiat-kun segera turun tangan, dengan sepasang telapak tangannya yang merah mengandung bau amis, menyerang Su-to Yan.

Tentu saja Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu dan Cit-su Hiat-kun tidak tahu, bahwa ilmu pedang yang digunakan oleh Su-to Yan adalah ilmu pedang Maya Nada.

Terdengar suara geraman tertahan, dibarengi oleh mundurnya tubuh Pek ie Kaucu Bong Bong Cu, terhuyung-huyung orang tua itu lari ke belakang, dengan bibir mulut berdarah, ternyata ia telah menderita luka yang cukup parah.

Keadaan Cit Su Hiat-kun juga tidak lebih baik dari pada keadaan Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu, tertekan oleh hawa sinar pedang, terpental mundur sehingga lima tombak.

Su-to Yan menarik pulang pedang Lay-hong, ia begitu girang, ternyata ia sudah berhasil meyakinkan ilmu pedang Maya Nada yang terhebat.

Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu telah menderita luka, dengan perasaan bingung dan tidak mengerti, menatap Su-to Yun, Siapa ini Su-to Yan?

Dia cukup tahu, Su In Seng tidak mungkin mempunyai kepandaian yang begitu tinggi, Sam kie Ju su In Kong juga tidak mungkin, Siapa lagi?

Mengapa bisa melainkan ilmu pedang terbang ?

Tentu saja, ilmu pedang Maya Nada yang telah dimahirkan oleh Su-to Yan melebihi ilmu pedang yang telah diyakinkan oleh KhongSun Put-hay almarhum dahulu.

Pek ie Kaucu Bong Bong Cu tidak percaya, Cit-su Hiat-kun juga hampir tidak percaya.

Mereka telah kalah dibawah kehebatan ilmu pedang Maya Nada.

Su-to Yan sudah berhasil mengalahkan Cit-su Hiat-kun dan Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu.

inilah hasil kerjanya yang paling gemilang!

Dengan menenteng pedang ditangan, Su-to Yan menghampiri kedua orang itu.

Hati Pek-ie kaucu Bong Bong Cu dan Cit Su Hiat lun menjadi kebat-kebit, keadaan mereka telah tidak mengijinkan untuk meneruskan pertempuran.

Besar kemungkinannya mereka bisa mati dihajar ketajaman pedang Su-to Yan.

Di saat inilah terdengar satu suara yang merdu memanggil "Engkoh Yan."

Itulah suara Ie Han Eng, ia memanggil kekasihnya. Su-to Yan menoleh, mengetahui bahwa Sang kekasih memanggil ia menyimpan kembali pedangnya.

"Engkoh Yan."

Panggil lagi Ie Han Eng.

"Kau kemari."

Meninggalkan Pek-ie kaucu Bong Bong Cu dan Cit-Su Hian-kun, Su-to Yan menghampiri Ie Han Eng.

"Adik Eng,"

Katanya.

"Ada apa? Kau memanggilku?"

"Engkoh Yan,"

Berkata Sigadis.

"Kau sudah memenangkan pertandingan ini, kulihat mereka sangat ketakutan, jangan dibunuh mereka itu sungguh kasihan. Betul-betul sangat kasihan."

Su-to Yan menganggukan kepalanya, ia bisa meneruskan anjuran sang kekasih. Disaat ini, tiba-tiba terdengar suara tertawa berkakakan.

"Ha, ha, ha,...Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu yang ternama telah dikalahkan oleh seorang muda!"

Entah kapan Kiu-hoan Sin kun Ko Cio dan Hoan Thian Mo kun Thian kiam-Seng sudah balik kembali, Ternyata Kiu hoan Sin kun Ko Cio dan Hoan thian Mo kun Thian kiam Seng masih penasaran, mereka kurang rela meninggalkan Suto Yan begitu saja.

Beberapa saat kemudian, mereka balik kembali Mereka balik kembali.

Sesudah Su-to Yan mengalah kedua jago toa itu, Kiu-hoa Sin kun Kho-cio dan Hoan-thian Mo kun Thian kiam-Seng tidak tahu, dengan cara bagaimana sipemuda menjatuhkan lawan-lawannya, tapi mereka tahu bahwa keadaan Pek ie kaucu Bong Bong Cu dan Cit-su Hian kun telah menderita satu cidera, dan kejadian ini bisa dipastikan dari wajah kedua jago tua itu yang sudah menjadi sangat pucat sekali.

Su-to Yan mengerutkan keningnya.

Sungguh tidak mudah menjadi seorang manusia.

Terlalu banyak sekali racun-racun dunia.

Tidak sedikit godaan-godaan sengsara.

Memandang kepada Ie Han Eng, Su-to Yan berkata.

"Adik Eng, coba kau minggir lagi, Dua kakek brengsek ini juga hendak mengenal kelihaian, biar kuberi hajar dahulu."

Lagi-lagi Ie Han Eng dipaksa menjauhi si pemuda. Su-to Yan menghadapi Kiu hoan Sin kun Ko Cio dan Hoan thian Mo kun Thia-kiam Seng.

"Dua kakek berengsek,"

Katanya.

"Mengapa kalian balik kembali ?"

"Kami tidak balik kembali, bilamana kau sudah terjatuh kedalam tangannya."

Berkata Kiu han Sin kun Ko Cio.

"Lain lagi halnya, bilamana kau berhasil memenangkan pertandingan ini. Dilihat sepintas selalu, kau telah memenangkan pertandingan tadi, Mari mari, kita bertanding."

"Silahkan. Silahkan."

Berkata Su-to Yan.

"Siapa yang hendak bertanding denganku, silahkan maju. Silahkan maju. Satu, dua, atau berapa orang sajapun boleh maju."

Menduga sampai dimana kehebatan Su-to Yan.

Kiu-hoa Sin-kun Ko Cio dan Hoan thian Mo kun Thian kiam song maju berbareng, menyerang dari kiri dan kanan, tidak memberi kesempatan untuk Sipemuda mengeluarkan pedang.

Diserang seperti itu, Su to Yan tidak menjadi takut.

Dengan ilmu pedang, walaupun tangan kosong, tetap ia akan unggul, ilmu kepandaiannya bukan terjadi dari satu macam.

Aneka cara telah dimahirkan olehnya, walau khusus istimewa didalam permainan ilmu pedang Maya Nada, tokh ilmu lain cukup hebat, ia tidak perlu gentar.

Pergumulan terjadi, bilamana disaat pertama-tama, hak inisiatif penyerangan berada di tangan Kin-hoan Sin-kun Ko Cio dan Hoanthian Mo Kun thiat Kim Seng, kini perobahan telah terjadi, perlahanlahan, tapi pasti, inisiatif penyerangan telah diambil alih oleh Su-to Yan.

Kiu Hoan sin kun Kho Cio dan Hoan thian Mo kun Thiat Kiam Seng mulai terdesak mundur.

Dikala Su-to Yan hampir menyelesaikan pertandingan itu, tibatiba terdengar satu suara bentakan yang keras.

"Su-to Yan, jangan kau bergerak."

Inilah suara Ci Su Hiat kun.

Su-to Yan menoleh ke arah datangnya Suara, dadanya dirasakan hampir meledak, ternyata entah kapan Cit Su Hiat kun telah mendekati Ie Han Eng, dengan memberi ancaman kepada sang gadis, Cit Su Hiat kun hendak menjadikan sebagai seorang sandera, ia membentak dan hendak menggunakan keselamatan jiwa Ie Han Eng memaksa Su-to Yan bertekuk lutut.

Wajah Su-to Yan sudah berubah begitu ganaS, ia membentak.

"Cit su Hiat kun, mempunyai rasa malukah kau?"

"Haaa, haaa.,.,"

Cit Su Hiat kun tertawa.

"Apa artinya rasa malu? kita menang, kita tidak perlu malu. Tapi bila mana kita kalah, rasa malu itu sulit dihapuskan kini kedudukan sangat menguntungkan. Berani kau melakukan sesuatu, gadismu ini akan mati terlebih dahulu, ingat baik-baik, dengar segala perintah kami."

"Apa maumu?"

Bertanya Su-to Yan.

"Kitab ilmu pedang Maya Nada."

Ternyata, disaat Su-to Yan menempur Hoan thian Mo kun Thiat Kiam Seng dan Kiu han Sin kun Ko Cio, pikiran Cit-su Hiat-kun terputar, ilmu pedang yang seperti apakah yang di pergunakan oleh Su-to Yan, mengapa bisa terbang?

Mengapa bisa dilepaskan dan ditarik kembali menurut kemauan hatinya?

Begitu cepat sekali, jawabannyapun mudah diterka, itulah ilmu Pedang Maya Nada!

Maka dengan secara diam2, menghampiri Ie Han Eng.

Su-to Yan sedang menempur dua jago lihay, tidak sadar akan kejadian itu, terakhir ia mengetahui sesudah Ie Han Eng jatuh kedalam tangan Cit-su Hiat kun.

Ini waktu, Kiu hoan Sin kun Ko Cio dan Hoan thian Mo kun Thiat kiam Seng juga mengundurkan diri.

Kiu hoan Sin kun Ko Cio memandang ke arah Cit Su Hiat kun dan berteriak.

"Cit-Su Hiat kun jangan lupa bagi warisan kitab ilmu pedang Maya Nada itu."

Ia meminta bagian. Tapi tuntutan ini segera ditolak oleh Cit-su Hiat-kun, katanya.

"Tidak mungkin, Kitab ilmu pedang Maya Nada hanya berada didalam tangan kami, kalian tidak berhak sama sekali."

"Mengapa tak ada hak ? Bilamana bukan kami yang bergebrak dengan Su-to Yan, mungkinkah kau bisa berhasil?"

"Menurut perjanjian, kalian berdua mengundurkan diri."

Berkata Cit-su Hiat-kun. sudah seharusnya "Kami sudah mengundurkan diri,"

Berkata Kiu-hoan Sin kun Ko Cio."

Tapi kalian tidak berhasil. Karena itu kami balik kembali."

"Siapa yang tidak berhasil?"

Bertanya Pek ie Kaucu Bong Bong Cu.

"Kau ... .dan kau ...!"

Berkata Hoan-ih-an Mo kun Tiat Kiam Seng, Sambil menudingkan jarinya kearah Pek ie Kaucu Bong Bong Cu dan Cit su Hiat kun.

"Tidak tahu malu,"

Berkata Cit su Hiat-kun.

"la sudah mengerti siapa yang tidak berhasil."

Dengan dingin, Kiu hoan Sin kun Ko Cio berkata.

"Cit Su Hiat kun, dengan menggunakan Ie Han Eng sebagai sandera, kalian hendak menekuk lutut Su-to Yan? Kukira belum tentu bisa."

"Betul"

Berteriak juga Hoan thian Mo-kun Thiat kiam Seng.

"Su-to Yan bukan seorang pemuda yang mudah digencet seperti itu."

Betul betul Su-to Yan menjadi marah, ia membentak Cit su Hiat kun, katanya.

"Cit su Hiat kun, lekas lepaskan Ie Han Eng."

"Aku segera melepaskannya, sesudah kau menyerahkan kitab ilmu pedang Maya Nada."

Berkata Cit su Hiat kun.

"Bila tidak mau kuserahkan?"

Berkata Su-to Yan.

"Tidak menjadi soal. Aku tidak memaksa."

Berkata Cit Su Hiat kun.

"Hanya kasihan saja tunanganmu ini, kukira belum tentu ia bisa memperpanjang jiwanya."

Su-to Yan bertindak dua langkah, hendak mendekati Cit su Hiat kun lebih cepat, segera membentak.

"Berhenti! Kau berani melangkah lagi, Ie Han Eng segera menjadi korban."

Tapi Si-to Yan tidak mendengar perintah -itu, ia maju lagi satu tapak.

Dengan menenteng Ie Han Eng, Cit su Hiat kun mundur satu tapak.

Su-to Yan menggerakkan kakinya maju tiga langkah.

Dengan tetap masih mengekang kebebasan Ie Han Eng, dengan memaksakan tubuh gadis tersebut, Cit su niat Kun juga mundur tiga langkah.

Semakin lama Su-to Yan maju semakin cepat, semakin lama Cit su Hiat kun mundur semakin jauh.

"Lepaskan!"

Su-to Yan membentak.

Entah segan kepada kewibawaan Su-to Yan, entah takut kepada kegagahan Su-to Yan, entah sesuatu sebab lainnya, Cit-su Hiat kun melepaskan pegangannya yang mengekang kebebasannya Ie Han Eng.

Ie Han Eng lari kedepan, dengan menangis menubruk kearah Suto Yan.

Su-to Yan mengeluarkan helahan napas panjang.

Belum lama, ia sedang mempertaruhkan jiwanya, bilamana Cit su Hiat kun betul-betul membunuh Ie Han Eng, pasti ia mencincang orang itu, kemudian ia akan membunuh diri.

Beruntung sekali kejadian ini tidak sampai terjadi.

Dengan keringat membanjiri seluruh tubuhnya, Su-to Yan mengelus-elus rambut Ie Han Eng.

Pek ie Kaucu Bong Bong Cu menjadi panas sekali, ia membanting banting kaki.

Menyesalkan perbuatan Cit su Hiat kun, mengapa mau melepaskan orang yang sudah menjadi sandera?

Lain pikiran Pek le Kaucu Bong Bong Cu, lain pula pikiran Cit su Hiat kun, ia maklum, betapa hebat ilmu kepandaian Su-to Yan, bila mana ia membunuh Ie Han Eng, apa yang didapat olehnya?

Tentu saja, Su-to Yan yang akan menjadi kalap, bagaimana bila Su-to Yan menyiksanya, mati tidak, hiduppun tidak?

Karena itu ia melepaskan pegangan Ie Han Eng.

Su-to Yan dikelilingi oleh empat jago kelas satu, tapi ia tidak gentar kepada keempat orang itu.

Dengan menggandeng tubuh Ie Han Eng, ia meninggalkan mereka.

Seorang manusia lemah akan dihina terus menerus.

Demikianlah, sehingga selamanya mesti tersiksa.

Tapi bagi mereka yang kuat, tidak mungkin ada yang berani menghina.

Demikianpun keadaan Su-to Yan, dengan penuh kewibawaan ia merampas hak kebebasan diri sendiri.

Tidak satupun dari keempat orang yang berada ditempat itu, berani menghadang dirinya.

Su-to Yan juga mempunyai pikiran yang seperti ini, ilmunya telah menjadi begitu tinggi, siapakah yang bisa menandingi dirinya lagi ?

Kedatangan Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu sekalian dengan maksud tujuan merebut kitab ilmu pedang Maya Nada, kini angan-angan itu tidak mungkin terlaksana.

Musuh terlalu tangguh, bagaimana mereka bisa merebutnya ?

Mengetahui bahwa Su-to Yan juga tidak ada niatan untuk membunuh mereka, satu persatu ngeloyor pergi, meninggalkan tempat itu.

Dengan berpeluk-pelukan dengan Ie Han Eng, Su-to Yan memberikan hiburan kekasihnya.

"Adik Eng, kini kita sudah bebas dari bahaya, Ditempat ini hanya kita berdua saja."

Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu, Cit-su Hiat-kun.

Kiu-han Sin-kun Ko Cio dan Hoan Thian Mo-kun Thiat Kiam Seng telah meninggalkan tempat itu.

Tentu saja mereka tidak tahu, apa yang diucapkan oleh pemuda itu.

Disaat Su-to Yan mengajak Ie Han Eng dengan maksud ke arah pulau Tong-hay, datang lagi lain bayangan, bayangan ini sangat gesit, tidak lain dia adalah jago nomor satu dari daerah Tong-hay!

In Hay Hong !

In Hay Hong ada niatan untuk memperistri Ie Han Eng, tapi ia ditolak, dan Ie Han Eng lebih suka kepada Su-to Yan, inilah perjodohan yang sudah dijodohkan oleh kakek-kakek mereka.

Memandang kearah Ie Han Eng, Su-to Yan berkata.

"Kita tidak bisa pergi lagi."

"Tentu."

Menyambung In Hay Hong.

"Ku dengar Sam kie Ju-su In Hong telah meninggal dunia dan ilmu kepandaiannya diserahkan kepadamu, bukan ?"

Su-to Yan menyedot napasnya dalam-dalam, ia berkata.

"Dari mana kau dapat berita yang seperti ini ?"

"Jangan kau menyangkal."

Berkata In Hay Hong.

"Kitab peninggalan guruku, juga telah jatuh kedalam tanganmu. Sudah pasti, Ie Han Eng juga akan jatuh kedalam tanganmu, Sudah pasti. Kukira, tidak boleh kau terlalu serakah, hanya boleh memilih satu diantaranya, memiliki kitab peninggalan pulau Tong hay, atau memiliki Ie Han Eng, satu saja. Lebih baik kau ambil kitab intisari pulau Tong hay, dan serahkan Ie Han Eng kepadaku, Bersediakah?"

"Jangan sembarangan menghina orang."

Berkata Su to Yan.

"Ie Han Eng bukan benda, mana boleh dijual, diserah-serahkan seperti itu? Tak mungkin diserahkan kepadamu ?"

In Hay Hong tertawa jumawa, ia berkata.

"Kau percaya bisa memenangkan diriku?"

Mengetahui bahwa dirinya ditantang, Su-to Yan menganggukan kepala.

"Baik,"

Ia menerima tawaran orang itu.

Tentu saja, bilamana Su-to Yan belum berhasil meyakinkan ilmu pedang Maya Nada dengan sempurna, ia bukan tandingan In Hay Hong.

Tapi, lain dulu lain sekarang, Su-to Yan dihari ini bukanlah Su-to Yan yang kemarin lagi, Siapa saja berani ditempur olehnya.

In Hay Hong mengkerutkan alisnya.

"Betul-betul kau berani bertempur dengan aku?"

Tanda terima dan kesanggupan Su-to Yan itu sangat mengejutkan Su-to Yan. ia minta ketegasan yang lebih pasti.

"Mengapa tidak?"

Su-to Yan balik bertanya, dengan satu senyuman yang tidak memandang mata.

"Bagus. Sekarang begini saja, kau boleh menggunakan senjata pedang, atau senjata lain, Aku dengan tangan kosong. Kita bertempur. Bilamana ilmu pedangmu betul-betul hebat, bisa mengalahkan sepasang tangan kosongku, aku In Hay Hong berjanji, tidak akan merongrongmu lagi, bagaimana? Setuju ?"

Su-to Yan agak terhina karena kata-kata In Hay Hong yang seperti ini, akan tetapi ia juga tahu, sampai dimana tingginya ilmu kepandaian In Hay Hong, sangat tinggi sekali, maka dengan senjata pedang, ia bisa menarik keuntungan.

Karena itu dia menyanggupinya.

"Baiklah."

Jawabnya dengan suatu anggukkan kepala.

Disaat Su-to Yan Sudah mengeluarkan pedang, In Hay Hong tertawa memandang rendah, ia telah memasang kuda-kudanya sangat kuat, inilah persiapan tempur yang hebat.

Hati Ie Han Eng menjadi gelisah, berdiri dengan keadaan tidak tenang.

Sigadis berpikir, apakah kekasihnya dapat mengalahkan In Hay Hong yang sudah kesohor namanya diseluruh jagat?

Tapi kenyataan sudah berada diambang mata, ia tak dapat berkata apa-apa lagi, kecuali memohon kepada yang berkuasa, agar bisa melindungi kekasihnya dari godaan-godaan manusia-manusia tertentu.

In Hay Hong mengirim satu tantangan, katanya.

"Hayo, lekas mulai menyerang"

Su-to Yan berkata.

"Aku menggunakan pedang, kau bertangan kosong, seharusnya kau lebih dahulu, membikin penyerangan."

"Baiklah."

Berkata In Hay Hong.

Rupanya ia tidak sungkan-sungkan lagi, maka tangannya bergerak, mengirim satu serangan pertama.

Kekuatan In Hay Hong sungguh luar biasa, angin pukulan itu bergemuruh, seperti datangnya angin puyuh, seolah-olah menggulung sesuatu yang berada didepannya menerbitkan gelombang sehingga merontokkan daun-daun pohon yang berada disekitar tempat itu.

Sungguh hebat, Didalam hati Su-to Yan berpikir.

Tapi si pemuda sudah begitu percaya, kepada ilmu kepandaiannya, tenaga dalamnya juga telah berlipat ganda, ia tidak takut.

Bila dibandingkan ilmu kepandaian In Hay Hong, hanya berada diatas Pek-ie Kaucu Bong Bong Cu, Cit-Su Hiat kun, Kiu hoan sin kun Ko Cio dan Hoan thian Mo kun Thiat Kiam seng, sedangkan keempat tokoh silat itu bisa dikalahkan olehnya, mengapa tidak bisa mengalahkan In Hay Hong?

Su-to Yan memutarkan pedang ditangan menggulung dirinya didalam selaput uap hijau yang berlapis tipis.

Pertempuran terjadi cepat sekali, diam-diam Su-to Yan mengagumi kekuatan musuh, didepannya ini, ilmu kepandaian In Hay Hong betul-betul sangat tinggi, sukar ditandingi kalau saja belum memiliki kepandaian baru yang diandalkan, terang dalam segebrakan saja, ia akan terjungkal jatuh dibawah tangan jago dari Tong hay itu.

Dilain pihak, In Hay Hong juga terkejut, menyaksikan kemajuan ilmu silat Su-to Yan yang begitu pesat ia terheran-heran, tidak menduga sama sekali, mana mungkin ada seorang pemuda yang bisa meyakinkan ilmu kepandaian seperti apa yang Su-to Yan pertontonkan dihadapan dirinya?

Kini Su-to Yan hanya melakukan pertahanan, tapi sebentar lagi pasti akan mengubah melakukan penyerangan Mungkinkah In Hay Hong dapat menyambutnya ?

Berpikir seperti itu, hati In Hay Hong semakin tidak tentram.

In Hay Hong menyesal karena telah membuka mulut besar, menyilahkan Su-to Yan menggunakan pedang, dan akan dilawan olehnya dengan tangan kosong.

Coba kalau ia menggunakan pedang, melawan Su-to Yan, meskipun belum bisa dikatakan pasti menang, setidak-tidaknya kedudukan dapat berobah lebih baik.

Oleh karena tadi ia sudah omong besar dan berani melawan Suto Yan dengan tangan kosong, walau kini ia mengeluarkan pedangnya, berarti ia mengingkari janji.

Hal ini tidak mau terjadi Semakin lama, terasa semakin berat untuk melayani Su-to Yan.

Tiba-tiba saja, dengan satu kesempatan yang baik, In Hay Hong lompat mundur kebelakang mulutnya berteriak.

"Tahan !"

Su-to Yan menutup satu serangan pedang berdiri dengan tenang, memandang ke-arah lawan itu dan bertanya.

"Apa lagi ?"

"Kau sudah berhasil meyakinkan ilmu pedang Maya Nada?"

Bertanya In Hay Hong.

"Tepat!"

Berkata Su to Yan.

"Pantas kau berani begitu sombong."

"Yang sombong Kukira bukan aku,"

Berkata Su-to Yan.

"Kau berani omong besar dengan tangan kosong hendak melawan ilmu pedangku? Kini rasakanlah, apa akibat dari pembicaraan yang muluk muluk ini."

Dari arah sungai, meluncur datang pula sebuah perahu besar, menyaksikan kedatangan perahu itu, In Hay Hong tertawa, ia berkata kepada Su-to Yan.

"Su-to Yan, kukira sudah waktunya aku menyerahkan pertempuran ini kepada orang ke tiga, dia sudah datang, tentu hendak menemuimu."

Su-to Yan melirik kearah datangnya perahu baru datang itu, itulah perahu dari golongan istana Belang Khong kiok kiong.

Golongan Khong kiok kiong tidak mau ketinggalan, ternyata membikin gangguan pula kepada Su-to Yan.

Sebentar kemudian, perahu itu sudah menepi, dimana telah tampil beberapa orang, dibawah pimpinannya ketua maka Khong kiok kiong Bun In Hian.

Sigadis ini begitu gagah, cukup berwibawa untuk mengepalai sesuatu rombongan besar.

Bun In Hian langsung menghadapi In Hay Hong dan berkatalah kepada sijago Tong hay itu.

"Kukira aku sedang berhadapan dengan In Hay Hong, jago dari Tong hay yang ternama?"

"Betul."

Membenarkan In Hay Hong.

"Nona inikah yang menjadi ketua muda dari golongan istana Belang Khong kiok kiong?"

"Namaku Bun In Hian."

Berkata sigadis.

"Lebih tepat bila memanggil diriku dengan sebutan nona Bun saja."

"Nona Bun, ada urusankah dengan diriku?"

"Tentu."

Berkata Bun In Hian.

"Mungkinkah disebabkan perselisihan lama? karena aku telah melukai orang-orangmu?"

Berkata In Hay Hong.

"Tepat!"

Berkata Bun In Hian.

In Hay Hong tidak segan untuk berhadapan dengan golongan istana Belang Khong kiok kiong, tapi didalam keadaan yang seperti ini, di dalam keadaan yang terjepit sekali, tentu saja tidak menguntungkan dirinya.

Terdengar suara Bun In Hian yang sudah berteriak kepada orang-orangnya.

"Bawa kemari pedangku !"

Sersan Lima Tiang Sun Hoa sudah cepat berlari, ia menyerahkan pedang Bun In Hian.

Tiang Sun Hoa sudah menyerahkan pedang yang diminta.

Berbeda dengan golongan Biarawati jaya golongan istana Belang Khong kiok kiong memang terlalu banyak pernik, sampai mengantar pedang saja harus diserahkan kepada seorang yang mempunyai kedudukan cukup tinggi.

Ketua istana Belang Khong kiok kiong Bun In Hian telah menerima pedang, ia menghadapi In Hay Hong.

Terdengar suara tertawanya Hay Hong yang galak, katanya.

"Hendak kulihat, bagaimana anak-anak kemarin seperti kalian ini mempermainkan ilmu pedang."

In Hay Hong belum melihat, bagaimana Su-to Yan menggunakan pedangnya, memainkan ilmu pedang Maya Nada yang sudah dikombinasikan dengan sembilan macam kepandaian ilmu silat purbakala lainnya, bila saja ia sudah menyaksikan permainan pedang itu, kata-kata yang seperti tertera diatas, tidak mungkin berani diucapkan olehnya!

Kini In Hay Hong sedang berhadapan dengan Bun In Hian.

Sebagai seorang gadis, Bun In Hian cukup penasaran, segera ia mengeluarkan bentakan.

"Lihat pedang !"

Itulah tanda-tanda penyerangan disertai dengan satu tusukan yang langsung menuju ke arah ulu hati.

In Hay Hong adalah jago nomor satu dari daerah Tong hay, ia meremehkan semua orang, belum pernah ia menemukan tandingan, walau diserang seperti itu, dengan sikapnya yang acuh tak acuh, ia tertawa berkakakan.

Tubuhnya melejit keatas, dan seperti terbang mumbul tinggi, Betapa cepatnyapun ilmu pedang Bun In Hian, tidak mungkin menelikung sembilan puluh derajat, karena In Hay Hong sudah berada ditengah udara, tusukan tadi menubruk tempat kosong.

Bun In hian juga bukan seorang yang lemah, pedang tadi sudah ditarik kembali, dan kini ditujukan keatas, Tetap mengincar In Hay hong.

In Hay hong masih meluncur kearah tinggi.

Ternyata Bun In Hian juga melejitkan kakinya, turut terbang keatas, menyusul kearah larinya In Hay Hong.

Pertandingan ini cukup mempersonakan semua orang, tidak terkecuali juga Su-to Yan, di dalam hati sipemuda bergidik, pantas saja In Hay Hong berani mengucapkan kata-kata sembarangan, memang betul bahwa jago Tong hay itu memiliki ilmu silat yang luar biasa.

Bun In Hian juga bukan seorang yang lemah, pantas saja nama istana Belang begitu tenar, terbukti dari seorang gadis yang sangat lemah gemulai seperti Bun In Hian, mempunyai kekuatan dan kehebatan seperti itu.

Didalam sekejap mata, kedua orang tersebut telah terbang diatas dua puluh tombak.

Ilmu meringankan tubuh Bun In Hian jauh berbeda diluar dugaan In Hay Hong, betul-betul tidak ia sangka, bahwa gadis ini juga mengejarnya.

Karena itu ia menjadi bingung, bagaimana bisa mengelakan kejarannya?

Kejar mengejar ditengah udara itu sungguh menarik, belum pernah ada pertandingan yang seperti itu, pandangan semua orang diarahkan tubuh-tubuh In Hay Hong dan Bun In Hian, kadangkadang mereka menukik, tapi hanya satu kali kibasan baju, kedua tubuh itupun mumbul kembali.

Kejar mengejar masih diteruskan, Su-to Yan menarik tangan Ie Han Eng dan membisikinya.

"Mari kita meninggalkan tempat ini."

Ie Han Eng menganggukan kepala dengan dituntun oleh Su-to Yan, secara berindap-indap, mereka meninggalkan semua orang.

Jago-jago dari golongan istana Belang tidak ada perintah Sang ketua, mereka tidak berani menahan kepergian Su-to Yan dan Ie Han Eng.

Ada juga yang bermaksud menahan, tapi pusat perhatian mereka sedang diarahkan keatas udara, orang-orang ini tidak melihat kepergian Su-tO Yan.

Begitu juga dengan In Hay Hong dan Bun In Hian, begitu asyiknya mereka kejar mengejar di tengah udara, karena Bun In Hian menggunakan pedang, karena In Hay Hong bersilat dengan tangan kosong, maka In Hay Hong lebih banyak menyingkirkan diri, Bun In Hian lebih banyak menyerang daripada bertahan.

Dilihat sepintas lalu, In Hay Hong seperti terdesak, Di kejar terus menerus, tapi kenyataan bukanlah demikian, ilmu kepandaian In Hay Hong masih berada diatas ketua golongan istana Belang Khong kiok kiong itu.

Meninggalkan pertandingan Bun In Hian dan In Hay Hong mengikuti perjalanan Su to Yan dan Ie Han Eng.

Dengan cepat mereka telah menghilang dari semua orang, kini mereka memasuki kearah kota.

Sudah terlalu lama tidak menangsal perut mereka, mengajak Ie Han Eng, Su-to Yan masuk kedalam sebuah rumah makan.

Tergesa-gesa sekali mereka memesan makanan, dan tergesagesa pula mereka melahap pesanan barang-barang itu.

Su-to Yan segera membikin perhitungan rekening, mereka siap melanjutkan perjalanan.

Tiba-tiba...

Berkelebat satu bayangan, disana telah bertambah seorang kakek tua, berpakaian putih, tentu saja mengejutkan sepasang muda mudi kita.

"Betul Aku Su-to Yan, Apa maksud kedatanganmu?"

"Huaa, ha....ha..."

Kakek serba putih itu tertawa "Namaku Tie It Ya, pernah kau dengar ?"

"Siapakah kakek tua berbaju putih ini?"

Tidak henti-hentinya Suto Yan berpikir. Si Kakek tua berdiri dihadapan Su-to Yan dan Ie Han Eng, memperhatikan kedua orang muda-mudi itu. Su-to Yan hilang sabar, segera ia membentak.

"Siapa kau?"

Kakek tua serba putih itu tertawa, katanya.

"Tidak kenal kepadaku? Haa, ha.tentu saja, pasti kau tidak kenal kepadaku, Tapi aku kenal kepadamu, kukira kau adalah Su-to Yan yang sedang menjadi bahan pembicaraan semua orang rimba persilatan. Betulkah?"

Lagi-lagi ada orang yang hendak mengganggu dirinya, kini Su-to Yan tertawa dan berkata.

"Betul, Aku Su to Yan. Apa maksud kedatanganmu?"

"Huaa, haa, ha ...."

Kakek serba putih itu tertawa.

"Namaku Tie It Ya, pernah dengar, bukan? Aku hendak berurusan denganmu."

Hati Su-to Yan tercekat Tie It Ya?

Tie It Ya adalah murid terakhir dari si Manusia Super Tanpa tandingan Thian Kho Cu.

Tie It Ya adalah adik seperguruan dari Kongsun Put-hay, apa maksud kedatangan Tie It Ya ditempat ini?

Dari ilmu kepandaian Kongsun Put-hay yang bisa menyempurnakan ilmu pedang Maya Nada, tentu saja sudah diduga, ilmu kepandaian Tie It Ya juga sangat luar biasa.

Su-to Yan memandang ke arah Ie Han Eng, kini ia sangat menguatirkan keselamatan diri kekasihnya.

Tampak Tie It Ya menggapaikan tangan, seraya berkata.

"Mari, ada sesuatu urusan yang hendak kurundingkan denganmu, mari kau ikut kepadaku."

Su-to Yan masih berpikir-pikir, apa maksud tujuan Tie It Ya ?

Baikkah ?

Jahatkah?

Mengetahui bahwa Su to Yan disaat itu berada didalam keadaan bimbang, Tie It Ya sudah melesatkan tubuhnya dan jauh berada diluar.

Su to Yan tidak segera mendengar perintah kakek tua serba putih itu.

Mengetahui bahwa Su-to Yan tidak berkumandang .

"Hei, takut kepadaku ? Mengapa tidak berani turut?"

Su-to Yan memberikan jawaban.

"Ada urusan apa?"

Apa boleh buat Tie It Yan itu balik kembali memandangi Su-to Yan dan berkata.

"Kau pernah dengar nama Tie It Ya bukan?"

Su-to Yan menganggukkan kepala.

"Aku adalah murid terakhir dari Thian Kho Cu almarhum"

Tie It Ya memperkenalkan diri.

"Aku tahu,"

Jawab Su-to Yan singkat.

"Menurut cerita orang, kau telah mendapatkan sepuluh macam ilmu silat penjaga jaman purbakala, itulah ilmu silat suheng-suhengku. Termasuk juga ilmu pedang Maya Nada yang sudah dikombinasikan oleh Kong-Sun Put-hay. Betulkah ada kejadian yang seperti ini?"

Su-to Yan semakin terkejut, begitu cepatkan tersiar kabar tentang pengombinasian ilmu pedang Maya Nada?

Ilmu Pedang Maya Nada dimahirkan belum terlalu lama, hanya beberapa gelintir orang saja yang mengetahui, bagaimana bisa dikatakan oleh Tie It Ya, sudah ada orang yang bercerita kepadanya ?

Oh, pasti golongan Biarawati jaya.

Pasti permainan golongan Biarawati jaya ?

Su-to Yan menjerit, ia menganggukan kepala pelahan dan berkata.

"Betul."

Tidak perlu dan tidak guna baginya untuk menyangkal.

"Hua. hah, ha, ha.,.,."

Tie It Ya tertawa berkakakan.

"Cukup jujur, cukup jujur, Tapi kau tahu bukan? Bahwa aku Tie It Ya adalah murid Thian Kho Cu almarhum yang syah. Kongsun Put hay itu belum tentu diakui oleh suhuku, ilmu ilmu pedang yang kau dapat darinya, wajib kau serahkan kepadaku."

"Mengapa?"

Bertanya Su-to Yan.

"Mengapa? Huh! Kembalikan saja semua ilmu ilmu itu kepadaku, Beres bukan?" -ooo0dw0ooo-

Jilid 20 SU-TO YAN mengerutkan sepasang alisnya. Tie It Ya menatapnya tajam-tajam, seraya berkata.

"Kau kira aku tidak mempunyai hak?"

"Hak apa ?"

Su-to Yan marah.

"Hak untuk menuntut ilmu pedang Maya Nada. Untuk menarik kembali sepuluh macam ilmu peninggalan jaman purbakala."

Kerut didahi Su to Yan semakin dalam, bila betul bahwa kakek serba putih ini adalah Tie It Ya, tentunya telah berumur diatas seratus tahun, tapi sepintas lalu, seperti tidak mungkin bisakah dipalsukan oleh seseorang ?

Tidak mungkin !

Siapa yang berani melakukan pemalsuan kurang ajar seperti ini.

Terdengar sikakek serba putih Tie It Ya berkata lagi.

"Anak muda, hayo kita selesaikan persengketaan ini di luar."

"Maaf !"

Su-to Yan menolak.

"Untuk sementara tidak bisa kuterima tawaranmu."

Tie It Ya menoleh kearah In Han Eng sebentar maka ia mengetahui bahwa gadis ini tidak berkepandaian silat, dengan suaranya yang dingin ia berkata.

"Kau takut ia diculik orang ? Atau takut tidak bisa menandingiku ?"

"Bukan urusanmu."

Bentak Su-to Yan.

"Bagus! Bagus! Seorang pemuda yang mempunyai ambekan, Tapi aku bukanlah seorang biasa, mau tak mau, kau harus mengikuti perintahku, tahu ?"

"Sudah kukatakan, hari ini permintaanmu."

Berkata Su-to Yan. aku tidak bisa memenuhi "Bagus, Aku lebih tertarik lagi kepadamu."

Berkata Tie It Ya.

"Untuk sementara aku belum ada niatan untuk membunuhmu. Legakan hatimu, Tapi biar bagaimana aku tidak bisa membiarkan ilmu-ilmu seperguruan terjatuh kedalam tanganmu, sebentar malam, pasti aku balik kembali."

Su-to Yan terkejut, ilmu meringankan tubuh In Hay Hong sudah sangat tinggi, ilmu meringankan tubuh Bun In Hiong cukup istimewa tapi ilmu kepandaian orang kakek tua serba putih ini lebih tinggi lagi dari kedua orang yang disebut terdahulu, inilah yang dinamakan sepandai-pandainya katak didalam tempurung, masih ada lagi yang masih tinggi.

Kepergian Tie It Ya itu bisa melegakan hati Suto Yan, tapi ia harus berpikir, sebentar malam, ia akan datang lagi, bagaimanakah harus menghadapinya ?

Tiba-tiba...

Terdengar suatu suara gemuruh yang hebat dibarengi oleh meluncurnya benda merah keatas langit tinggi.

Su-to Yan terkejut, tubuhnya melejit dan hendak menyaksikan, apakah yang sudah terjadi ?

Dikala ia tiba diluar, hanya tampak buntut roket merah yang meluncur dan asapnya lenyap dilangit lepas.

Tidak ada sesuatu yang terjadi.

Entah permainan apa lagi yang berada di tempat itu ?

Su-to Yan menggoyang-goyangkan kepalanya, sungguh banyak sekali kejadian-kejadian yang melewatkan dirinya, Mengetahui tidak ada sesuatu yang perlu dilihat, Su-to Yan balik kembali dengan maksud menjemput Ie Han Eng.

Mereka hendak meninggalkan tempat itu.

Hati Su-to Yan dirasakan copot, manakala ia menengok ke belakang, disana sudah tidak terlihat bayangan Ie Han Eng.

Gadis itu lenyap tanpa bekas.

Su-to Yan berusaha menguasai gejolak hatinya, dikala itu tertumbuk oleh secarik kertas, demikian bunyi tulisan diatas kertas tersebut.

"Belum pernah kupercaya kepada orang. Sebentar malam, belum tentu kau datang. Cara-cara yang terbaik adalah membawa Ie Han Eng, kuberi waktu tiga hari, kita akan berjumpa kembali dipuncak gunung Ngo-bie-san."

Tertanda tangan TIE IE YA Su-to Yan mematung beberapa waktu, tubuhnya melejit, menyusul kearah lenyapnya bayangan Tie Ie Ya tadi.

Tenaganya dikerahkan penuh semaksimum apa yang ia bisa Dengan harapan, dapat menyusul Tie Ie Ya.

Mengingat keadaan Tie Ie Ya yang belum bisa lari cepat karena menenteng-nenteng Ie Han Eng yang cukup berat.

Su-to Yan hendak menyusul Tie Ie Ya.

Su-to Yan hendak menolong Ie Han Eng dalam cengkramannya kakek tua serba putih itu.

Berlari dan berlari terus ...

Hari mulai menjadi malam, Pikiran Su-to Yan disaat itu sangat kosong, putih bersih, hanya satu tujuan, itulah menolong Ie Han Eng, menolong sigadis, Ie Han Eng wajib kembali kedalam pelukannya.

Tiba-tiba....Satu bayangan hitam bergulung-gulung datang, seolah-olah burung sakti yang gesit sekali, arahnya adalah Su-to Yan.

Tidak perduli siapa, Su-to Yan harus merintangi maksud tujuannya, Kedua tangannya didorong kedepan, memukul datangnya bayangan tadi.

Bayangan tadi juga bukan manusia biasa, disaat yang sama, mendorong kedua tangannya memapaki serangan Su to Yan.

Terdengar suara jelegur hebat, pukulan-pukulan tenaga itu terbentur menjadi satu.

Dan akibatnya berbeda, tubuh masingmasing terpisah dan ditengah-tengah ditempat bekas pukulanpukulan itu terdapat suatu lubang, debu dan abu disertai tanahtanah terpisah berterbangan.

Su-to Yan dipaksa mundur kebelakang, ia sangat bingung sekali, marah sekali, tapi tidak berdaya, ilmu kepandaian tenaga lawannya betul-betul sangat hebat.

Kini ia hendak mengetahui merintangi dirinya didepan itu?

siapa orangnya yang berani Disana berdiri seseorang, tubuhnya sangat langsing, wajahnya sangat cantik, dengan rambut hitam yang panjang, inilah ketua istana Belang Khong kiok kiong, Bun In Hian.

Su-to Yan terkejut, Bun In Hian memiliki ilmu meringankan tubuh yang hebat, ini tidak heran, mengingat sigadis telah meyakinkannya dengan hebat sekali.

Yang mengejutkan Su-to Yan adalah tenaga dalam Bun In Hian juga luar biasa, tidak kalah dari seorang pria.

Su to Yan kaget, Bun In Hian juga kaget, Tenaga Su-to Yan betul-betul berada diluar dugaan, bilamana sebelumnya ia mengagulkan diri tanpa tandingan, kini pikirannya itu sudah menjadi goyah, sampai dimana ilmu kepandaian Su-to Yan, ia belum tahu.

Tapi yang jelas, bahwa pemuda ini bukanlah satu pemuda yang tidak mudah dihadapi.

Su-to Yan dan Bun In Hian saling pandang, dua pasang mata itu bertumbuk menjadi satu, akhirnya Su-to Yan harus mengalah, ia merendahkan pandangannya ketanah, dengan menghela napas perlahan ia berkata.

"Bisakah kau memberi jalan kepadaku? Aku ada urusan penting, kuminta jangan diganggu. Semua urusan ditangguhkan sehingga lain kali."

Bun In Hian memperlihatkan jempolnya.

"ilmu kepandaianmu hebat sekali!"

Ia memuji.

"Tolong beri aku jalan,"

Su-to Yan memohon.

"Jangan terburu-buru,"

Berkata Bun In Hian.

"Mengapa ?"

"Urusan kita belum selesai."

"Bisakah diselesaikan lain waktu?"

"Tidak bisa !"

Su-to Yan menjadi marah, ia membentak.

"Urusan apakah menggangu diriku?"

Yang begitu mendesak, sehingga harus Bun In Hian tertawa tawar, katanya.

"Mengapa harus bertanya tentang ini, maksud tujuan kami, golongan Khong kiok kiong adalah berpokok pangkal pada ilmu pedang Maya nada, kau sudah tahu pasti. Kukira tidak perlu tanya lagi."

Su-to Yan berkata.

"Tentang ilmu pedang Maya nada, telah kuceritakan kepada Sersan Lima Tiang Sun Hoa. Kau boleh tanya saja kepadanya."

"Aku tahu pasti bahwa kau telah memiliki kitab ilmu pedang Maya nada, Karena kau bisa menggunakan ilmu tersebut dengan mahir. Mengapa harus mencari orang tidak mencari dirimu."

Su-to Yan maklum, betapa hebatnya ilmu kepandaian ketua golongan istana Belang ini.

Bila sampai terjadi pertempuran, tidak mungkin bisa diselesaikan cepat.

Karena ia harus mengalah, dengan setengah memohon ia berkata.

"Sekali lagi kuminta kepadamu, agar urusan kita diselesaikan lain waktu saja, beri aku jalan. Aku mempunyai urusan penting."

"Tentu saja aku beri jalan, sesudah menyerahkan kitab ilmu pedang Maya nada,"

Berkata Bun In Hian.

Su-to Yan tidak tahu, mulut usil siapa lagi yang bercerita kepada Bun In Hian, bahwa kitab ilmu pedang itu berada didalam tubuhnya tapi kini ia mempunyai urusan yang mendesak, karena itu harus menyingkir dari gangguan Bun In Hian.

"Ku ulangi sekali lagi permintaanku,"

Berkata Su-to Yan.

"Minggir !"

"Bila kau mempunyai itu kemampuan untuk meminggirkan diriku, silahkan!"

Berkata Bun In Hian tenang.

Su-to Yan tidak bicara, tangannya bergerak mengeluarkan pedang, digoyangkan cepat, dengan ilmu pedang Maya Nada yang sudah dimahirkan ia menerjang ketua istana Belang Khong-kiokkiong itu.

Bun In Hian juga merasa sakit hati karena dirinya diperlakukan seperti itu, ia juga mengeluarkan pedang, inilah pedang yang telah mengejar-ngejar jago Tong-hay untuk beberapa waktu, kini dihadapi untuk menghadapi Su-to Yan.

Gerakan dua bilah pedang itu begitu cepat, terdengar suara tang, tang, ting yang riuh sangat cepat, dibarengi oleh muncratnya lelatu api, puluhan kali telah saling bentur dan membentur-bentur lagi.

Dikala kekuatan kedua orang itu hampir mereda, masing-masing mundur kebelakang, memeriksa pedang milik mereka, tidak gompal,juga tidak lecet, pedang-pedang itu adalah pedang-pedang istimewa, tenaga dalam mereka cukup sempurna, seimbang, karena itu tidak terjadi sesuatu.

Bun In Hian memang sengaja hendak melintang di jalan, sikapnya sangat tenang selalu.

Berbeda dengan keadaan Bun In Hian, hati Su-to Yan semakin gelisah.

Bagaimana ia bisa mengejar Tie It Ya, bila diganggu terusmenerus seperti ini?

Terdengar si pemuda mengeluarkan suatu lengkingan panjang, lagi-lagi menggerakkan ilmu Pedang Maya Nada, menyerang dari menerjang.

Terjadi hujan bayangan pedang, dengan target sasaran Bun In Hian.

Bisa saja Bun In Hian menyerang diri Hay Hong, tanpa takut diserang, tapi kali ini ia tidak berani membentur lagi, tenaga Su-to Yan terlalu kuat, terlalu hebat, betul-betul ilmu pedang Maya Nada yang luar biasa!

Karena itu untuk menghindari dirinya menderita luka Bun In Hian memutar pedang sedemikian rupa, dengan mengenjot tubuhnya, ia melejit tinggi, menghindari gempuran dan tekanan yang lebih hebat.

Inilah yang dikehendaki Su-to Yan, ia tidak mengejar lagi.

Tubuhnya melejit, dan mengejar Tie It Ya yang melarikan Ie Han Eng.

Bun In Hian berteriak marah, dia merasa diperdayai, tubuhnya melejit dan menyusul Hanya salah set, ini sudah cukup untuk membuat Su-to Yan berlari cepat, jarak mereka itu sudah cukup, tidak perduli, bagaimana Bun In Hian berteriak-teriak dibelakang, Su-to Yan meluncur terus.

Bagaikan anak panah meluncur dari busurnya kecepatan itu sukar dilukiskan.

Dibelakang Su-to Yan tidak perduli kejaran orang itu, yang penting adalah menyandak Tie Ie Ya, menolong Ie Han Eng.

Berlari beberapa jenak, tiba-tiba lain bayangan memotong, disertai dengan suara tertawanya gelak-gelak, bayangan ini berkata.

"Su-to Yan, kau melarikan diri dari siapa ?"

Terjadi saling gempuran, kekuatan kedua tenaga ini seimbang Su-to Yan tertekan ke belakang.

Disana telah berdiri seorang berbaju hijau, inilah jago utama Tong-hay, In Hay Hong.

Munculnya In Hay Hong ditempat ini, menggagalkan usaha Su-to Yan.

Didepan ada In Hay Hong, dan dibelakang ada Bun In Hian.

Bagaimana ia bisa meneruskan pengejarannya pada Tie It Ya ?

Tidak perlu ia berpikir panjang, ilmu pedang Maya Nada lagi-lagi dikerahkan, kini tujuannya bukan Bun In Hian.

tapi In Hay Hong yang berani melintang dijalan, menerjang keras dan cepat.

Sikap Su to Yan yang terburu napsu ini, mengakibatkan perubahan yang lain sekali.

Keadaan In Hay Hong begitu tenang, kelengahan Su-to Yan bisa dipergunakannya dengan baik, ia sudah mengeluarkan pedang dan mentrapkan permainannya, memapaki serangan Su-to Yan.

Pedang Su-to Yan telah membentur pedang In Hay Hong.

Yang aneh ialah seperti terpendam, tidak ada serangan balik, Seolah-olah menubruk tempat kosong.

Hampir Su-to Yan sempoyongan ngusruk kedepan.

Cepat sipemuda menarik kembali tenaganya, dan waktu inilah serangan balikan In Hay Hong menyusul, menampilkan kekuatannya.

Su-to Yan terkejut, mengapa hari ini ia begitu tolol?

Dikerahkan tenaganya lagi, dan tenaga In Hay Hong punah.

Sungguh betulbetul mengherankan sekali.

Permainan ilmu Pedang ln Hay Hong ada suatu permainan yang betul-betul luar biasa, belum pernah Su-to Yan menemukan ilmu pedang yang seperti ini, ditekan dia hilang, dan ditarik, dia menyerang.

Dikala Su to Yan hendak menarik kembali serangannya, kekuatan In Hay Hong pun menyusul datang.

Keringat dingin mulai membasahi tubuh Su to Yan, dia mengulang penyerangannya, dan secara bergelombang dan teratur In Hay Hong menyedot tenaga-tenaga itu.

Sembilan digagalkan.

kali Su-to Yan menyerang, sembilan kali pula Bilamana In Hay Hong menggerakkan lagi tenaganya, pasti Su-to Yan tidak bisa menerima karena itulah, Su-to Yan segera melepaskan pedang, dengan tubuh melejit kebelakang.

ia menggunakan ilmu pedang terbang, menguasai pedang Lay-hong dari jarak jauh.

Berhasil juga Su-to Yan menekan keajaiban permainan pedang In Hay Hong, toh ia menderita luka dalam, dari sela-sela bibirnya meleleh darah merah.

In Hay Hong tertawa jumawa, ia berkata.

"Sudah kau rasakan kelihayan ilmu pedang Tong-hay ?"

Su-to Yan mempertahankan napasnya, ia mengetahui bahwa dirinya telah menderita luka yang agak berat, bila tidak berhati-hati, luka dalam itu segara terpecah menjadi luka yang berat, sulit ditolong.

Dengan senyuman yang menghina, In Hay Hong mengajukan pertanyaan.

"Dimana Ie Han Eng ?"

Seperti apa yang kita ketahui, In Hay Hong tergila-gila kepada Ie Han Eng, sedangkan Ie Han Eng menyerahkan diri kepada Su-to Yan, inilah keputusan kakek-kakek moyang sepasang anak muda itu.

Tentu saja ln Hay Hong menganggap ganjelan kepada Su-to Yan, yang dianggap telah merebut gadis yang telah dicintainya.

Su-to Yan mengatupkan mulutnya rapat-rapat, ia sedang mencari jalan, bagaimana bisa meloloskan diri dari kesulitan-kesulitan ini.

In Hay Hong mendongakkan kepala, dengan menengadah keatas langit, ia mengeluarkan suara dengusan terlebih dahulu, baru berkata.

"Su-to Yan, bilamana aku mau, dengan satu kali tusukan, aku bisa membikin tamat riwayat hidupmu."

Ancaman In Hay Hong ini bukan ancaman kosong, didalam keadaan yang seperti itu, tidak mungkin Su-to Yan bisa mempertahankan diri dari tusukan si jago Tong hay.

Tapi suara tadi disambung oleh satu suara yang sangat nyaring dan merdu, itulah suara Bun In Hian, katanya.

"Jangan terlalu membuat penilaian yang terlalu rendah, disini masih ada aku."

Su-to Yan masih mengenali suara Bun In Hian, ia berpikir-pikir, dengan alasan apa Bun In Hian mengejarnya terus menerus, ada hubungan apa perkara ini dengan golongan istana Belang ?

Bun In Hian menyusul tiba ditempat itu.

Terjadi pertarungan hebat, diantara In Hay Hong dan Su-to Yan, menyaksikannya sebentar, ia karena dua orang yang sedang mengadu pedang memusatkan perhatian mereka kepada lawan masing-masing, mereka tidak sadar bahwa masih ada jago lain lagi yang berdiri disamping sisi itu.

Kini sudah waktunya Bun In Hian menampilkan diri, maka ia membuka mulut dan mengucapkan kata-kata yang seperti tadi.

Maksud tujuan mengejar Su-to Yan adalah hendak meminta ilmu kitab ilmu pedang Maya Nada, dia dihasut oleh golongan Biarawati Jaya, dikatakan bahwa kitab ilmu pedang Maya Nada ada masih berada dalam kantong saku baju Su-to Yan, dikatakan bahwa Su-to Yan sedang menuju ketempat itu, dengan cepat Bun In Hian berhasil menyusul tiba.

Tapi Su-to Yan menderita luka dalam karena kekuatan istimewa dari In Hay Hong, rasa simpatiknya timbul mendadak, kini ia memihak dibelakang Su-to Yan.

Kedatangan Bun In Hian berada diluar dugaan, In Hay Hong mengetahui bahwa ilmu meringankan tubuh dan ilmu pedang gadis tersebut sangat luar biasa, inilah bukan lawan ringan, tapi ia tidak bisa mengembalikannya begitu saja, dengan mengeluarkan dengusan dari hidung, In Hay Hong terkata.

"Hendak menolong dirinya? Kukira kau belum tentu mempunyai itu kemampuan."

Bun In Hian mesem-mesem, melirik kearah Su-to Yan sebentar, karena menderita tenaga pedang In Hay Hong yang luar biasa, Su-to Yan belum bisa bangkit, entah bagaimana keadaan luka sipemuda itu, Su-to Yan tahu bahaya, Bun In Hian lihay, tapi In Hay Hong lebih lihay, cepat-cepat ia mengalirkan peredaran darahnya, membenarkan keadaan luka-luka yang diderita.

Bun In Hian telah berdiri ditengah-tengah In Hay Hong dan Su-to Yan, bilamana pemuda itu mengalami tekanan-tekanan In Hay Hong yang lebih kuat.

"Hei,"

Berteriak In Hay Hong kepada Bun In Hian.

"Bersediakah kau bertempur ilmu pedang denganku?"

In Hay Hong bukan tandingan Bun ini Hian bilamana melawan pedang sigadis dengan pukulan tangan kosong, dengan susah payah dan dengan setengah mati, baru ia berhasil meloloskan diri dari kejaran tusukan pedang gadis itu.

Tapi keadaan bisa terbalik, bilamana In Hay Hong diberi kesempatan untuk menggunakan ilmu pedang juga, ilmu pedang dari golongan Tong hay adalah ilmu pedang yang sangat luar biasa.

"ln Hay Hong,"

Berkata Bun In Hiang.

"Kau adalah bekas pecundangku, biasanya lari ngiprit pergi. Urusan kita disambung kembali, apa lagi mengingat Su-to Yan juga menjadi buronan orang istana Belang kami. Kami melarang kau mengganggu atau melukai dirinya."

"Huh,"

In Hay Hong mendengus.

"Kau kira aku takut kepadamu? Kau memang gadis yang tidak tahu diuntung, Gadis yang tidak tahu bahwa kau adalah dijunjung orang, aku mengalah kepadamu, aku bertangan kosong melawan ilmu pedangmu, karena itu aku tidak berhasil menundukkan dirimu, ini bukan berarti aku kalah, inilah suatu penghormatan lain. Tapi kau salah terima, Baik! Kita boleh bertanding lagi. Sama-sama menggunakan pedang. Hendak kulihat, ilmu pedang siapa yang lebih lihay?"

Bun In-Hian menyedot napasnya dalam-dalam, ia mengeluarkan pedang dan melintangkan didepan dada.

Mata In Hay Hong berkilat-kilat, adanya Bun Hian ditempat ini bisa mengganggu urusan dengan Su-to Yan yang sedang membenarkan peredaran jalan darahnya.

Tidak lama lagi, bilamana sipemuda sudah berhasil memulihkan kesehatannya, ia bisa dikeroyok oleh dua orang, itu waktu lebih berbahaya lagi.

Putusan In Hay Hong adalah harus cepat-cepat menjatuhkan Bun In Hian.

Baru saja Bun In Hian membikin persiapan, pedang In Hay Hong sudah meluncur datang.

Bun In Hian terkejut, badannya disentak, membuat sepuluh macam jurus ilmu pedang, itulah perobahan-perobahan yang siap menyelinap ke dalam kekosongan lawan.

In Hay Hong tertawa panjang, pedangnya seperti air mancur, menekan Bun In Hian.

Bun In Hian menggentak keatas, dan kini sepasang pedang itupun telah beradu, lengket menjadi satu.

Ilmu pedang lengket dari golongan Tong-hay adalah ilmu terakhir dari golongan yang bersangkutan.

Belum pernah menampilkan dirinya didalam rimba persilatan, apalagi rimba persilatan Tionggoan.

Su-to Yan adalah orang pertama yang merasakan kehebatannya ilmu pedang lengket dari Tong hay itu.

Bun In Hian adalah orang kedua yang dipaksa berhubungan dengan getah lengketnya lima pedang Tong hay itu.

Seperti juga keadaan Su-to Yan tadi, pedang Bun In Hian seperti mati tenggelam, bilamana ia menggerakan tenaga, Tapi mau tidak mau, tenaga itu tidak bisa ditarik kembali, tekanan balik dari kekuatan In Hay Hong akan menyerang segera, bilamana ia melalaikan kekuatannya.

Bun In Hian turut menyaksikan pertandingan pedang tadi, kini ia mengerti, mengapa Su-to Yan kalah, mengapa Su-to Yan menderita luka.

Inilah yang menjadi sebab musabab, ilmu pedang lengket dari Tong-hay memang hebat luar biasa !

Secepat itu pula Bun In Hian telah menemukan cara untuk menghadapi ilmu pedang lengket dari daerah Tong-hay, ia tidak mengerahkan tenaganya lagi, mempasrahkan diri, bilamana gelombang pertama dari tekanan In Hay Hong datang, ia mengikutinya mundur kebelakang.

Dan disusul oleh gelombang kedua tenaga In Hay Hong, ia mundur lagi empat langkah, Demikian main mundur terus menerus empat langkah, lima langkah, dan seterusnya.

Berapa hebat ln Hay Hong merangsek, secepat itu pula Bun In Hian mundur kebelakang, ia tidak mau menerima tekanan itu, tapi menyertainya selalu.

Cara-cara yang digunakan Bun In Hian adalah cara-cara yang terbaik untuk menghadapi ilmu pedang lengket dari Tong-hay, In Hay Hong harus memuji kecerdikan otak gadis Khong-kiok kiong itu, Hanya cara inilah yang bisa memberi perlawanan atas dirinya.

Terlambat beberapa detik saja, pasti Bun In Hian celaka, bila sampai terjadi persatu paduan yang melekat, untuk mengikuti arus itupun sudah tidak mungkin lagi.

Masih beruntung Bun In Hian bergerak cepat, sebelum mengerahkan tenaga lengket In Hay Hong, ia telah menunggangi situasi itu.

In Hay Hong pertandingan itu.

menarik pulang pedangnya mengakhiri Disini letak kepintaran In Hay Hong, ia maklum, sampai keujung langitpun didesak, pasti tidak mungkin terjadi kelengketan, Bun In Hian tidak mau menerima tenaganya.

Ia maju sepuluh langkah, Bun In Hian mundur sepuluh langkah, ia maju seribu kali, Bun In Hian mundur seribu kali, ia maju keujung langit, Bun In Hianpun akan mundur keujung langit.

Pertempuran yang seperti itu tidak beda dengan pertempuran tadi.

Bilamana tadi In Hay Hong yang dikejar kejar oleh ilmu pedang Bun In Hian, kini perobahan lain sekali, Kini Bun In Hian yang harus mengelakkan kekuatan lengket dari In Hay Hong.

Melihat In Hay Hong menarik pedangnya demikian juga menyudahi pertempuran itu, ia sangat puas atas hasil hasil tadi.

Tapi In Hay tiang bukan jago dari Tong hay bilamana ia sudahi sampai disitu.

Secepat itu pula menggerakkan pedang, kali ini tidak ditujukan kepada Bun In Hian, karena mengetahui kecerdikannya gadis ini, kali ini ujung pedang diarahkan kearah Su-to Yan yang masih duduk bersila.

Tentu saja Su-to Yan tidak tahu akan adanya bahaya itu, ia masih diam ditempat.

Terdengar jeritan kaget Bun In Hian, bilamana ia membiarkan kejadian itu berlangsung, pasti Su-to Yan celaka, Membarengi jeritan tadi, tubuhnya melejit, dan menangkis ilmu pedang In Hay Hong.

In Hay Hong tertawa berkakakan, membarengi suara trang dari beradunya kedua pedang, terjadi kelengketan, Bun In Hian masuk perangkap.

Kini ia dipaksa mengerahkan kekerasan, dan kekerasan itu telah di tempel oleh In Hay Hong kekuatan lengket dari ilmu pedang yang seperti getah nangka itu, melekat keras sekali.

Bun In Hian hendak menarik kembali pedangnya, tapi tidak berhasil, kini ia tertekan terus menerus.

Keringat dingin mulai membasahi tubuh gadis itu.

Apa boleh buat, Bun In Hian mengerahkan tenaga.

Tapi betapa kuatpun tenaga yang dikerahkan, terpendam lenyap sama sekali.

In Hay Hang tertawa berkakakan, pedangnya dipentilkan, ia hendak membikin serangan yang terakhir.

Terdengar satu suara pekikan panjang dibarengi oleh berkelebatnya sinar pedang, itulah pedang dari luar pertandingan, pedang ketiga yang menyelak masuk.

Pedang yang baru datang adalah pedang Su-to Yan.

Pedang Su-to Yan dan pedang Bu In Hian menekan kekuatan pedang In Hay Hong.

Rasa terkejutnya In Hay Hong tidak kepalang, sungguh diluar dugaan Su-to Yan bisa sembuh begitu cepat, sedapat mungkin ia menekan rangsakannya dua pedang itu.

"Traaaaang !"

Tiga pedang terpisah, terhuyung-huyung Su to Yan lompat ke belakang, dengan wajah yang pucat pasi, tidak berdarah.

In Hay Hong berdiri tanpa membuka mulut, memandang kedua lawannya yang berada di depan itu.

Bun In Hiat luput dari bahaya luka dalam, tapi wajahnya sudah menjadi putih kebiru-biruan, dikejutkan oleh kejadian tadi, juga sudah cukup membuat tidak lupa untuk seumur hidupnya.

Ternyata Su-to Yan begitu memperhatikan dirinya, mengetahui bahwa ia dalam keadaan bahaya.

Tanpa memperhitungkan keadaan lukanya yang belum sembuh betul, menempur In Hay Hong segera, Dan kini Su to Yan sudah terkena kekuatan balik In Hay Hong, lagilagi menderita luka.

Bun In Hian tidak berani memikir panjang, akibat itu sungguh berbahaya sekali, segera ia melejitkan diri, menangkap sebelah tangan Su-to Yan, dan bagaikan seekor alap-alap yang menenteng anak ayam, menjinjing si pemuda pergi meninggalkan tempat itu, gerakannya cepat sekali.

Menunggu bayangan Su-to Yan dan Bun In Hian lenyap dari tempat itu, baru In Hay Hong berani membuka mulutnya, hoooaaak, dari sana terhambur keluar butiran darah mati.

Ternyata In Hay Hongpun sudah menderita luka, tapi dia menekan semua luka-luka itu di perlihatkan kegagahannya dan berhasil menipu Su-to Yan dan Bun In Hian.

Bun In Hian menyangka bahwa In Hay Hong akan mengambil tindakan lain, maka cepatcepat melarikan diri.

Bilamana Bun In Hian tahu bahwa In Hay Hong juga sudah menderita luka, pasti si gadis tidak mau meninggalkan tempat itu.

Mengingat keadaan gadis itu masih sehat walafiat In Hay Hong terpekur, memandang keatas langit tinggi, kecongkakannya lenyap mendadak.

Kini mengetahui bahwa didalam dunia ini bukan hanya ia seorang diri yang menjadi jago.

Ternyata masih banyak jago-jago lainnya yang bisa menandingi dirinya.

Kesombongannya telah lenyap.

Menyusul larinya Bun In Hian yang menenteng Su-to Yan, Dalam keadaan malam gelap mereka berlarian untuk beberapa waktu.

Mengetahui betul bahwa In Hay Hong tidak membikin pengejaran sehingga jarak mereka sudah cukup jauh, Bun In Hian mengendorkan langkahnya dan akhirnya berhenti di tepi sebuah sungai kecil.

Mendudukkan dan membiarkan Su-to Yan mengatur peredaran jalan darahnya, Bun In Hian memandang air sungai yang jernih itu, pikirannya melayang-layang jauh.

Dikala fajar menyingsing, perlahan-lahan Su-to Yan menarik kulit penutup mata, bangkit berdiri, dan mulai memikirkan apa yang telah terjadi.

Suara desiran itu mengejutkan Bun In Hian, cepat-cepat ia menoleh ke belakang, tampak olehnya, Su-to Yan telah segar bugar seperti sedia kala, Si gadis terkejut, ternyata pemuda itu telah berhasil meyakinkan ilmu kepandaian yang tertinggi, bisa menyembuhkan luka-luka dalam secepat itu.

Teringat kejadian-kejadian yang belum lama berlangsung, Su-to Yan terluka di bawah tangan In Hay Hong, dan In Hay Hong menggempur Bun In Hian, keadaan gadis tersebut terdesak, dengan melupakan keadaan dirinya yang belum pulih betul, Su-to Yan menerjang datang, dengan kekuatan bersama, akhirnya berhasil mengalahkan In Hay Hong.

Di depan Su to Yan berdiri Bun In Hian maka mengetahuilah ia ketua golongan istana Belang Khong kiok-kiong inilah yang menolong.

"Mengapa kau menolong diriku?"

Bertanya si pemuda.

Sepasang sinar mata Bun In Hian tertatap di atas wajah Su-to Yan, iapun tidak mengerti apa alasannya sehingga menyebabkan ia mau turun tangan membantu Su-to Yan.

seharusnya kejadian ini tidak perlu terjadi.

Tujuannya hanya meminta kitab ilmu pedang Maya Nada, bukan menjadi pengawal pribadi si pemuda kosen itu, terasa olehnya ada sesuatu yang sulit dikatakan, perasaan ini adalah perasaan luar biasa dari seorang gadis remaja.

Mungkinkah cinta?

Sedapat mungkin Bu In Hian menahan gejolak hatinya yang seperti itu, dengan berusaha membiasakan diri ia berkata.

"Diantara sesama manusia, sudah wajib tolong menolong. Mengapa tidak boleh menolong dirimu?"

"Terima kasih."

Secara jujur dan terus terang, Su-to Yan sangat bersyukur sekali.

"Kukira kau tidak perlu mengucapkan terima kasih,"

Berkata Bun In Hian.

"Akulah yang harus mengucapkan terima kasih kepada mu, karena adanya bantuanmu. Aku bisa mengalahkan In Hay Hong. Kau begitu baik, bersedia mengorbankan diri dalam keadaan belum pulih betul, karena itu kau menderita lagi."

"Sekali lagi kuucapkan terima kasih."

Berkata Su-to Yan.

"Tapi aku masih ada urusan, aku hendak minta diri."

Tiba-tiba saja wajah Bun In Hian menjadi murung, nampak sekali sangat berduka, dengan menundukkan kepala ke bawah, memandang tanah, ia berkata perlahan.

"Mungkinkah karena urusan gadis itu?"

Tentu saja Ie Han Eng yang dimaksudkan olehnya.

Su-to Yan menganggukkan kepala, tidak bicara lagi.

Bun In Hian seperti hendak mencari sesuatu yang tidak mungkin bisa berhasil, sedapat mungkin ia berdaya upaya, apa guna lagi?

Maka ia berkata.

"Isterimu?"

Su-to Yan bergoyang kepala.

"Belum."

Ia berkata. Menyaksikan keadaan Su-to Yan yang malu-malu, seperti seorang pemuda pingitan, Bun In Hian menjadi geli, dengan tertawa ia berkata.

"Pergilah. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Kudoakan kau agar bisa berhasil. Kuucapkan selamat bahagia kepada kalian berdua. Di-misalkan ada sesuatu yang hendak memerlukan bantuan tenaga, dengan suka rela aku akan menggerakkan kekuatan istana Belang-belang, membantu usahamu."

Inilah perobahan yang sangat mendadak dari seorang musuh menjadi seorang kawan, tentu saja itu tidak mudah.

Dengan adanya bantuan Istana Belang Khong kiok kiong, mana mungkin Su-to Yan tidak berhasil ?

"Atas janjimu pada hari ini, sebelum dan sesudahnya aku mengucapkan banyak terimakasih."

Su-to Yan memberi hormat. Merangkapkan kedua tangannya dan berkata.

"Selamat berjumpa dilain waktu."

Tubuh si pemuda melejit dan masih berusaha menyusul ke arah larinya Tie Ie Ya.

Adanya Su-to Yan di depan Bun In Hian membuat ia sangat bergairah, dan bayangan itu sudah lenyap mendadak, seolah-olah kehilangan suatu benda kesayangannya, murung!

Si gadis istana Belang juga ngelamun, seolah-olah ia hidup kembali, Hidup sunyi dan sepi, tidak ada kawan, dan tidak ada bantuan, ia berjalan dengan menundukkan kepala, keadaannya begitu bingung.

Su-to Yan mengambil arah barat, sesudah terjadinya gangguan ini, tentu saja tidak mungkin bisa menyelidik Tie It Ya, sedangkan ilmu kepandaian kakek serba putih itu begitu hebat sekali, tanpa adanya gangguanpun belum tentu ia bisa menyandak, apa lagi sudah terlantar sekian waktu, inilah harapan kosong.

Tapi Su-to Yan masih mencoba, mencoba dan mencoba terus.

Satu hari penuh Su-to Yan melakukan perjalanan yang seperti itu, akhirnya ia tiba di gunung Ngo-bie san.

Tempat yang dijanjikan oleh Tie It Ya untuk bertemu kembali, Tie It Ya pernah meninggalkan pesan, agar Su-to Yan menunggu di puncak Kim-teng dari gunung Ngo-bie san.

Tapi waktu janji itu, ditetapkan tiga hari kemudian.

Dan kini Su-to Yan tiba lebih cepat dari waktu yang dijanjikan hatinya berpikir.

"Entah apa maksud dan tujuan kakek serba putih itu? Mungkinkah membawa Ie Han Eng turut serta?"

Su-to Yan menuju ke arah puncak Kim-teng.

Di puncak ini pun belum ada orang, Su-to Yan sangat kecewa, Sampai ini waktu baru ia merasa lelah, perlahan-lahan dia duduk mengatur peredaran jalan darahnya, menenangkan gejolak hati yang tak karuan.

Su-to Yan duduk seorang diri, dadanya di rasakan sesak sekali, sulit untuk dia bisa mempertahankan ketenangannya, Disebabkan pikiran-pikiran yang banyak menggoda.

Tidak henti-hentinya bayangan Tie It Ya dan bayangan Ie Han Eng muncul ditempat itu.

Tapi Semua itu hanya khayalan belaka, belum menjadi suatu kenyataan.

Di dalam keadaan samar-samar, tiba-tiba tampak sesuatu bayangan meluncur datang.

Hati Su-to Yan tergerak, tidak perduli siapa orang itu, karena Tie It Ya yang menjanjikannya menunggu dipuncak ini, pasti mempunyai hubungan dengan sikakek serba putih.

Karena mempunyai hubungan dengan sikakek serba putih pasti ada sedikit sangkut paut dengan Ie Han Eng, Orang ini tentu adalah orang Tie It Yan.

Tapi, segera sipemuda menjadi kecewa, ia maklum, yang datang bukannya Tie It Ya !

Su-to Yan tidak menduga pada Tie It Ya, karena gerakan orang ini jauh berbeda dibawah sikakek serba putih itu.

Waktu tiga hari yang dijanjikan sudah hampir tiba, walau belum tepat waktunya, Tokh sama sama saja.

Semakin lama, bayangan ini semakin mendekat, Su-to Yan mementangkan sepasang matanya lebar-lebar, ia terbelalak, orang itu adalah orang yang tidak asing baginya, kekasih pertama yang memasuki lubuk hatinya, itulah Cin Bwee !

Eh, bagaimana Cin Bwee bisa datang ke tempat ini ?

Betul-betul Su-to Yan tidak mengerti Apa lagi yang disandiwarakan oleh orang ?

Mana mungkin Cin Bwee bisa turut serta dalam persengketaan ini!

Cin Bwee telah mendekati Su-to Yan, gerakannya seperti sangat berat, sepasang air matanya berlinang turun, membasahi pipinya yang sudah tidak botoh lagi, ia menghampiri pemuda itu.

Su-to Yan jadi masih bingung, sesudah ia tahu bahwa kakek moyangnya menunangkan dirinya dengan Ie Han Eng, perasaan kepada Cin Bwee itu harus ditekan, tidak mungkin ia merangkul dua gadis sekaligus.

Sedapat mungkin Cin Bwee menahan rasa cintanya, tapi tidak berhasil jarak dengan sipemuda itu terlalu dekat, dengan satu kali tubruk ia menangis sedih didalam dekapan sipemuda.

"Engkoh Yan,"

Berkata Cin Bwee sesenggukan.

"Tidak kusangka, aku masih mempunyai waktu untuk bertemu denganmu lagi,"

Cin Bwee menangis semakin sedih. Su to Yan mengusap-usap pundak gadis itu, ia berkata perlahan.

"Adik Bwee, kau kurus sekali."

"Karena memikirkan dirimu."

Berkata Cin Bwee.

"Jangan terlalu memakan hati, segala sesuatu tidak bisa dipaksakan."

Cin Bwee menangis lagi.

"Eh,"

Berkata Su-to Yan terkejut.

"Mengapa kau menangis melulu?"

Cin Bwee menyusut air matanya, ia berkata.

"Aku senang karena bisa bertemu denganmu lagi."

"Simpanlah air matamu itu. Ubahlah dengan senyum yang riang dan ramai."

Berkata Su-to Yan.

Cin Bwee memaksakan untuk tertawa, tapi sangat pahit sekali, tertawa itu lebih-lebih cepat dikatakan tertawa kesedihan, boleh juga di katakan tertawa meringis.

Cin Bwee masih tetap bersedih.

"Aku juga senang bisa berjumpa denganmu."

Berkata Su-to Yan.

"Kini hubungan kita sudah bukan hubungan biasa lagi, tahukah kau, bahwa ayah angkatku dan suhumu itu adalah dua saudara seperguruan, maka kitapun saudara seperguruan, aku adalah Suhengmu, untuk selanjutnya aku memanggilmu sumoay saja."

Cin Bwee berkata.

"Aku memanggilmu suheng ?"

"Tentu."

"Aku bergembira sepertimu."

Bisa mempunyai seorang suheng yang "Eh, dimana supek dan sukow?"

Yang diartikan supek oleh Su-to Yan adalah Put-in Taysu dan yang diartikan Sukow adalah guru Cin Bwee, si jago wanita dari gunung Kun-lun. Cin Bwee menjawab pertanyaan itu, katanya.

"Aku tidak tahu, Aku melakukan perjalanan seorang diri, Aku meninggalkan gunung Kun-lun secara diam-diam. Tidak memberi tahu kepada mereka."

Hati Su-to Yan tercekat, apa maksud tujuan Cin Bwee meninggalkan gunung Kun lun seorang diri, tentu hendak mencari dirinya mengapa harus mencari dirinya?

Karena Cin Bwee masih cinta.

Lenyaplah wajah terang Su-to Yan, Tidak mudah untuk mengatasi persoalan yang seperti ini.

Teringat kepada Ie Han Eng, dimanakah Ie Han Eng itu berada?

Mengapa Tie It Ya menculiknya ?

Terdiam beberapa saat Cin Bwee berkata lagi.

"Disepanjang jalan, aku mendapat berita bahwa kau menuju ke tempat ini, maka cepat-cepat aku menyusul. Kudengar kau baik sekali dengan Ie Han Eng, betulkah ada kejadian yang seperti itu ?"

Lagi-lagi Su to Yan menganggukkan kepala, ia tidak membuka mulut.

Semua gerak-gerik Su-to Yan itu tidak lepas dari penilaian Cin Bwee, rasa sigadis semakin sedih.

Air matanya sudah membendul dikelopak kembali.

Mulutnya bergerak-gerak, berat mengucapkan kata-kata, akhirnya tercetus juga suaranya.

sekali "Kau sudah bosan kepadaku ?"

Suara Cin Bwee sangat serak. Dengan rasa penuh penyesalan, Su-to Yan menggenggam tangan Cin Bwee, ia berkata perlahan.

"Siapa yang bosan kepadamu? Kita adalah suheng dan sumoay, bukan ?"

Cin Bwee melempar pegangan tangan Su-to Yan, dengan menahan air matanya ia berkata.

"Kau pernah berjanji kepadaku untuk tidak menerima hati gadis lain lagi, kini mengapa kau melanggar janji sendiri?"

Su-to Yan menundukkan kepalanya, dengan lemah ia berkata.

"Terlalu banyak kejadian-kejadian yang berada di luar dugaan. itu waktu, aku tidak tahu bahwa aku telah ditunangkan pada Ie Han Eng, Dan selama terjadi hubungan kami, Ie Han Eng juga cinta kepadaku, aku cinta kepadanya."

"Hanya aku yang tidak cinta?"

Berkata Cin Bwee.

"Aku juga cinta kepadamu. Cinta seorang suheng kepada seorang sumoay."

Rasa kecewanya Cin Bwee tidak kepalang, dia membelakangi Suto Yan, dan bertindak pergi, gerakannya lembut sekali. Cepat-cepat Su-to Yan menyusulnya, memegang pundaknya dan berkata perlahan.

"Marah kepadaku?"

"Siapa yang berani marah kepadamu?"

Berkata Cin Bwee. Hatinya seperti diiris-iris, pedih sekali. Tiba-tiba saja, Cin Bwee mengenjot tubuhnya, melemparkan pegangan Su-to Yan dan pergi begitu saja.

"Sumoay!"

Berteriak Su-to Yan.

Tapi Cin Bwee tidak menjawab pertanyaan itu, bayangan sigadis telah lenyap dibawah gunung.

Su-to Yan berdiri dipuncak gunung Kim-teng seorang diri.

Maksudnya hendak mengejar Cin Bwee, tapi bila ia meninggalkan tempat itu, lenyap harapannya untuk bisa bertemu dengan Tie It Ya dan tanpa bertemu dengan Tie It Ya, bagaimana ia bisa menemukan Ie Han Eng?

Cin Bwee lenyap dari pandangan mata si pemuda, ia tidak memperdulikan betapa kerasnya Su-to Yan memanggil, ia sudah putus harapan, ia pergi begitu saja.

Atas nasib Cin Bwee yang dialami itu, Su-to Yan juga merasa kasihan, tapi apa daya, tidak ada lain jalan.

Su-to Yan tertegun ditempat itu, malam berlarut-larut lalu duduk terus menantikan kedatangan Tie It Ya Orang yang diharap-harapkan itu belum juga kunjung datang, kini fajar mulai menyingsing.

Matahari pagi membentangkan sinarnya yang gilang gemilang, menyilau seluruh jagat.

Itu suatu pemandangan yang sangat indah, tapi hati Su-to Yan risau, tidak ada minat untuk merasakan dan menikmati keindahan alam yang permai ini.

Jauh diujung jalan, meluncur sebuah titik hitam, datang cepat sekali, dan dibarengi oleh terdengarnya suara pekikan burung, itulah sibiru, burung rajawali dari daerah Tong hay.

Su-to Yan cukup kenal dengan pekikan suara burung itu, ia terkejut, lagi-lagi Khong Bun hendak mencari dirinya, Urusan apa lagi?

Rajawali biru dari daerah Tong-hay menukik turun, dari sana tampil sijago wanita.

Keadaan Khong Bun ini sama seperti sediakala, Cukup gagah, sedang dikucilkan oleh Su-to Yan, seharusnya ia kembali kedaerah Tong hay, tapi tidak tahan hasutan, dan kini balik kembali.

Su-to Yan tidak niat memberi hormat, ibu angkat ini sudah meracuni ayah angkatnya, itulah kesalahan yang terbesar, tapi Samkie Ju-su In Hong tidak berpesan kepadanya, tidak meminta ia mengadakan penuntutan balas itu, maka ia menyerahkan kepada kodrat alam, Bagai mana takdir memberi hukuman kepada Khong Bun.

Khong Bun sudah menghadapi Su-to Yan, dengan dingin ia berkata.

"Su to Yan, mungkinkah kau menganggap musuhmu masih kurang banyak? Menyebar-nyebarkan berita tentang pertandinganmu dengan Tie It Ya dipuncak gunung ini? Apa maksud tujuan utama dari hatimu itu? Sungguh aku tidak mengerti."

Su-to Yan tertegun, janjinya dengan murid bontot Manusia Super tanpa tandingan Thian Kho Cu hanya diketahui oleh orang-orang yang bersangkutan, bagaimana ia menyebar-nyebarkan berita?

Tentu saja, didalam hal ini, terdapat pihak ketiga.

Siapa yang bisa mengetahui jelas keadaan dirinya?

Hanya golongan Biarawati jaya yang selalu mengintil dan membayangi dirinya, hanya golongan lemah tanpa ilmu kepandaian itulah yang mengetahui seluk beluk keadaan dirinya.

Pasti, pasti sekali, sangat pasti bahwa berita yang dikatakan oleh Khong Bun adalah bersumber dari golongan Biarawati jaya !

Su-to Yan diam, Tidak bicara.

Khong Bun menggendong sepasang tangannya, memperhatikan keadaan itu, sebentar, baru ia berkata lagi.

"Su-to Yan, biar bagaimana aku adalah ibu angkatmu. Dahulu, kau pernah berlaku kurang ajar, menghajar diriku, pikirlah baik-baik, patutkan seorang anak angkat memukul ibu angkat sendiri?"

Baca Juga: Jodoh Rajawali 19

Baca Juga: Rajawali Emas 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert