Eps 8 Pedang Wucisan - Chin Yung
Baca online Pedang Wucisan - Chin Yung
Cersil Pedang Wucisan - Chin Yung.
"Aku hanya mempunyai seorang ayah angkat, Tapi tidak mempunyai ibu angkat,"
Berkata Su-to Yan singkat.
"Huh !"
Khong Bun mendengus.
"Su-to Yan, ketahuilah bahwa musuhmu itu berjumlah sangat besar! Tidak sedikit! Ie Han Eng sudah lenyap, In Hay Hong tidak mungkin bisa melepaskan begitu saja. Banyak jago-jago kelas satu hendak mengejar dirimu. Tahukah kau, betapa tenaga yang harus kau sediakan untuk menghadapi mereka? Kuatkah kau menghadapi mereka? Tanpa bantuan seseorang ?"
Su-to Yan menengadahkan kepala kelangit tinggi, sikapnya ini seperti orang yang sangat congkak, Tidak memandang mata kepada manusia yang bicara didepan dirinya.
Khong Bun sudah mulai berdiplomasi, ia berkata lagi.
"Su-to Yan, aku sendiri menyediakan tenaga untuk membela dirimu, inilah itikat baikku. Bersedia kau menerima uluran tanganku?"
"Terima kasih."
Berkata Su-to Yan singkat.
"Berpikirlah baik-baik."
Berkata lagi Khong Bun.
"Apa untungnya, dan apa ruginya berselisihan denganku, Bilamana kau bersedia menerima tawaranku, kukira tak mungkin ada orang yang berani mengganggu lagi. Tapi menolak tawaranku, berarti menambah satu musuh baru. Berpikirlah baik-baik."
"Musuhku terlalu banyak."
Berkata Su-to Yan.
"Hilang satu atau bertambah satu tidak menjadi soal bagiku."
Khong Bun berkata.
"Khie Tojin, orang yang menjadi guru dari ayah angkatmu itu adalah pamanku, ia menurunkan ilmu kepandaian kepada tiga orang, aku, In Hay Hong dan Sam kie Ju-Su In Hong. Dan dari ketiga orang ini, ilmu kepandaian yang diturunkan kepadakulah yang paling sedikit mana mungkin kubiarkan ilmu itu kubiarkan terjun di kedalam tanganmu, aku berhak menuntut kembali, sebagai kemenakannya yang syah, aku berhak menuntut kembali."
"Kukira kau sudah kehilangan hak ahli waris itu."
Berkata Su-to Yan.
"Segala tindak tandukmu melanggar kemanusiaan, melanggar tata tertib keduniaan."
Atas sikap kedatangannya Khong Bun, Su-to Yan membawakan sikapnya acuh tak acuh, ia sedang memikirkan, bagaimana harus menghadapi Tie It Ya, bagaimana harus menolong Ie Han Eng, dan bagaimana harus mengatasi kesulitan itu.
Untuk menempur jago-jago lihay yang hendak merebut hak milik pribadinya, Su-to Yan tidak perlu gentar, ilmunya telah cukup tinggi tidak mungkin bisa dikalahkan oleh mereka.
Ada atau tidaknya bantuan Khong Bun, tidak menjadi soal, pasti Su-to Yan bisa mengalahkan orang-orang itu.
Dikala Su-to Yan sedang melamun, tiba-tiba terdengar desiran tajam yang meluncur, inilah penyerangan gelap, secara diam-diam Khong Bun sudah mengeluarkan pedang, termasuk ke-arah pemuda itu.
Disini letak liciknya kejahatan Khong Bun, mengetahui tidak mungkin dapat mengalahkan pemuda itu secara berterus terang, ia hendak membokong, dan hendak merebut kembali kitab pelajaran peninggalan Kie Toojin.
Sungguh diluar dugaan, didalam posisi yang seperti ini, sesudah mengalami kekalahannya, Khong Bun masih berani mencoba-coba, dengan mengirim satu serangan bokongan ini berani mengungkit macan yang sedang tidur.
Su-to Yan bergerak cepat, maju kedepan dengan mengenakan pedang penyabet kearah serangan bokongan, Terdengar suara ngeberebet panjang, baju luar Su-to Yan koyak oleh serangan pedang Khong Bun.
Tapi Su Yan tidak menderita luka, ia sudah mengambil posisi baru, menghadapi Khong Bun, secara berhadap-hadapan, dengan sinar mata penuh kehinaan ia menatap wajah wanita itu.
Hati Khong Bun lebih kaget lagi, ia menduga pasti bahwa tusukan pedang gelapnya tadi bisa mematikan sipemuda, sedikit-dikitnya membuat luka terberat, tapi dengan hanya satu gebrakan saja Su-to Yan sudah lolos dari maut.
Disini letak kehebatan dan kepandaian ilmu Su-to Yan.
Bila seorang yang membokong seperti itu, dan tanpa hasil yang sempurna, orang ini pasti merasa malu, karena ia telah melakukan sesuatu yang tidak patut dilakukan, tapi Khong Bun sudah hilang rasa malunya.
Sesudah ia dikalahkan oleh Su-to Yan, dendam itu tidak bisa terbalas, ia bermaksud membunuh Su-to Yan tidak peduli secara terang atau secara menggelap, yang penting mengalahkannya.
Penyerangan gelap Khong Bun tidak mengenai sasarannya.
Su-to Yan menarik napas dalam dalam, ia membentak.
"Lekas kau pergi dari tempat ini, bilamana bersikap bandel, jangan katakan aku yang keterlaluan !"
Menghadapi ancaman yang seperti itu, Khong Bun tidak menjadi gentar, ia tahu tidak lama lagi, pasti bakal terjadi kekalutan, banyak jago-jago yang hendak merebut kitab ilmu pedang Maya Nada, banyak jago-jago yang hendak memusuhi Su to Yan, bilamana ia bertahan beberapa saat, menunggu sampai kedatangan jago jago itu, tidak mungkin Su-to Yan berani kepadanya, Kekuatan mereka sangat besar.
Kehadiran Khong Bun ditempat itu sangat menjengkelkan Su-to Yan, kemarahannya meluap luap, teringat kembali kematian Sang ayah angkat Sam kie Ju-su In Hong, itulah akibat racun perahan dari Khong Bun.
Teringat kematian Seng mo Leng Kho Tiok, itulah akibat dari pukulan Khong Bun.
Ujung pedang Su-to Yan diarahkan ketempat Khong Bun berdiri, segera sipemuda membentak.
"Lekas enyah dari tempat ini!"
Khong Bun masih memegang pedang, inilah senjatanya, ia pernah menderita kekalahan dari Su-to Yan.
Tapi bilamana ia berhati-hati, dan dilihat dari keadaan Su-to Yan, yang seperti itu mana mungkin menyerang dirinya?
Maka sikap Khong Bun sangat tenang.
Khong Bun tidak menghiraukan ancaman Su-to Yan.
Tiba-tiba Su-to Yan berteriak.
"Awas !"
Ujung pedang membuat suatu lingkaran kecil, dan semakin lama semakin besar, arah tujuannya Khong Bun.
Khong Bun mundur dua langkah, dan memainkan pedangnya, dengan maksud tujuan menangkis serangan Su-to Yan.
Terdengar suara gemerincing yang saling susul menyusul, Khong Bun tersentak mundur tiga langkah, Dikala ia memperhatikan pedang di tangannya tajam pedang itu sudah lenyap, hanya gagang pedang saja yang masih terpegang.
Terjadi hujan logam yang berkeping-keping, itulah pedang Khong Bun yang sudah hancur, dipukul pecah oleh tenaga dalam Su-to Yan.
Bagaikan gelas kristal yang mudah dihancurkan, pedang Khong Bun rontok berceceran.
Sedapat mungkin Su-to Yan mengendalikan kelihayannya, tapi itupun sudah cukup.
Dengan kejadian ini, ia memberi suatu bukti yaitu, bilamana ia ada maksud untuk membunuh wanita berbaju hijau itu, dengan mudah saja bisa dilakukan.
Tapi ia tidak mau, hanya bermaksud mengusir pergi dari tempat tersebut.
Sudah dua kali Khong Bun terjungkal di bawah Su-to Yan, kini ketangkasannya mulai lumer, ia memekik memanggil burung tunggangannya, si biru datang meluncur dan dengan satu kali lompatan, Khong Bun menunggangi burung itu meluncur pergi Meninggalkan puncak Kim teng di gunung Ngo-bie-san.
Su-to Yan mengeluarkan helaan napas dalam-dalam.
Biar bagaimana Khong Bun adalah ibu angkatnya, ia hampir terluka karena tipu muslihat Khong Bun yang memancing Cin Bwe pergi, maka ia jatuh dari jurang sihir.
Sesudah itu kematian Sam-kie Ju su In Hong disusul dengan kematian Seng-mo Leng Kho Tiok, semua ini adalah akibat dari keganasan Khong Bun.
Tapi dia tidak bisa membunuh wanita itu.
Akhirnya Su-to Yan berhasil mengusir Khong Bun pergi dari tempat tersebut.
Su-to Yan masih menunggu, dengan sabar ia menunggu.
Satu bayangan bergulung-gulung naik ke atas puncak, sangat cepat sekali dan gesit sekali, Su-to Yan segera menduga kepada Tie It Ya.
Dugaan Su-to Yan tidak salah, orang yang datang adalah Tie It Ya, murid bontot dari Manusia Super tanpa tandingan Thian Kho Cu, Tie It Ya sudah berada di atas puncak Kim-Teng, ia hanya seorang diri ia tidak membawa Ie Han Eng.
Kejadian ini sangat mendebar-debarkan Su-to Yun, tidak hadirnya Ie Han Eng di tempat itu adalah suata beban baginya.
Jauh di belakang bayangan Tie It Ya, bergulung-gulung pula satu bayangan hijau, kegesitannya tidak kalah Tie It Ya, dan secepat itu pula bayangan hijau sudah terpeta.
Jelas inilah jago ternama pulau Tong Hay, In Hay Hong!
Terlihat wajah kecut Tie It Ya yang mengkerut masam, memandang ke arah kedatangan In Hay Hong dan kini mereka berhadap-hadapan.
Sedianya Tie In Ya hendak tertawa gelak gelak, karena sangat puas atas kedatangan su-to Yan, tapi dia tidak membutuhkan In Hay Hong, memperhatikan orang itu beberapa saat, dengan suara yang sangat dingin ia berkata.
"Apa maksud kedatanganmu di sini?"
"Hoa ... hoa... ha... ha..."
In Hay Hong tertawa besar.
"Tutup mulutmu!"
Tie It Ya membentak keras.
"Tentunya kau inilah yang bernama In Hay Hong. Kukira hanya seorang yang berani berlaku sombong padaku." -ooo0dw0ooo-
Jilid 21
"BETUL."
Jawab In Hay Hong dengan satu anggukkan kepala.
"Tentunya kau ini yang bernama Tie It Ya. Hanya kau seorang yang berani berlaku sombong kepadaku."
"Manusia congkak!"
Memaki Tie It Ya.
"Manusia angkuh!"
Balas maka In Hay Hong.
"Rasakan pukulanku!"
Berkata Tie It Ya.
Betul-betul ia menerjang In Hay Hong.
In Hay Hong tidak mau kalah, dia juga bergebrak, terjadilah pertempuran antara Tie It Ya dan In Hay Hong.
Disaat ini Su-to Yan bertindak tiga langkah, dengan suara yang sangat keras seperti guntur ia membentak.
"Hentikan pertempuran ini!"
Suara itu bagaikan guntur membelah angkasa, mengejutkan kedua orang itu.
Akan tetapi tidak satu dari kedua orang itu yang mau berhenti.
Su-to Yan marah besar, dengan satu tangan saja, ia menyelak di tengah-tengah mereka.
Tangan kanan memukul Tie It Ya, tangan kiri memukul In Hay Hong.
Tie It Ya dan In Hay Hong tidak berani menangkis serangan Suto Yan ini, maka mereka pun terpisah.
Terjadi kedudukan segi tiga, di timur Su-to Yan, di barat daya Tie It Ya, dan di tenggara In Hay Hong.
Su-to Yan memandang ke arah Tie It Ya dan membentak.
"Hei, dimana kau sembunyikan Ie Han Eng?!"
"Ie Han Eng sudah hilang,"
Acuh tak acuh sikakek serba putih itu menjawab.
"Apa?"
Pandangan mata Su-to Yan dirasakan menjadi gelap.
"Ie Han Eng hilang?"
"Mana mungkin Ie Han Eng bisa lenyap."
"Diculik orang,"
Berkata Tie It Ya singkat.
Su-to Yan memperhatikan keadaan kakek tua serba putih itu, dari cahaya mukanya, kata-kata dan keterangan tadi pasti bukan isapan jempol, Tapi mungkinkah ia bisa percaya?
Masakan ada orang yang bisa menculik Ie Han Eng dari bawah tangan Tie It Ya ?
Bukan, Su-to Yan saja yang tidak percaya, In Hay Hong juga ragu-ragu, ia baru tahu Ie Han Eng telah diculik oleh Tie It Ya, Dan dari tangan Tie It Ya ada suatu golongan lain yang menculiknya pula.
Siapa yang menculik Ie Han Eng?
Mungkinkah ada orang yang bisa mengalahkan ilmu kepandaian Tie It Ya?
Tiba-tiba Su-to Yan memancarkan suara geramannya.
"Tie It Yan, percuma saja kau menjadi ahli waris seorang Manusia Super Tanpa Tandingan seperti Thian Kho Cu, Bisanya hanya menculik seseorang yang sangat lemah, kau tidak bisa menjamin keselamatannya, sehingga membiarkan orang menculiknya dari tanganmu, tidak tahu malu !"
Sinar mata Su-to Yan seperti sinar mata harimau yang mau menerkam, hati Tie It Ya bergidik, tanpa disadari olehnya, ia telah mundur setengah tapak. Su-to Yan menggeram lagi.
"Tidak kusangka, sebagai seorang locianpwe, kau mempunyai kebejatan moral yang seperti ini."
Wajah Tie It Ya juga berubah, ia membentak.
"Su-to Yan, berani kau berlaku kurang ajar kepadaku ?"
"Kau apa? Kau hanya seorang binatang yang berkulit manusia, kau hanya seorang cecunguk yang menjatuhkan pamor guru sendiri, Kau adalah seorang tua yang paling tidak tahu malu."
Kata-kata makian Su-to Yan seperti meriam yang nyerocos terus.
Tie It Ya juga menggeram marah, rambutnya berdiri tegak, seolah-olah landak putih, tubuhnya melejit dan kini menerkam ke arah Su-to Yan.
Kemarahan Su-to Yan tidak berada dibawah kemarahan Tie It Ya, tentu saja bisa dimaklumi bahwa seorang yang mengetahui kekasihnya diculik orang, dan orang yang menculik ini tidak bisa mempertahankan keselamatan kekasihnya, sehingga membiarkan lagi diculik oleh orang lain, dua kali penculikan ini adalah disebabkan oleh keisengan Tie It Ya.
Hal ini tentu saja semua kemarahan dijatuhkan kepada si kakek serba putih, pedangnya dilempar, dengan ilmu pedang terbang ia hendak melukai orang tua tersebut.
Kedua orang itu sama-sama dibawah kekuasaan kemarahan.
Angkara murka membakar hati masing-masing, disaat Tie It Ya menerkam, terlihat pedang itu berkelebat terlepas dari tangan Su-to Yan, mengincar dirinya.
Tie It Ya menggunakan sepasang telapak tangan kosong memukul Su-to Yan.
Dari sini tersembur sesuatu kekuatan tenaga dalam, membentur tajamnya pedang, Terdengar suara gemuruh yang keras, ternyata pedang yang dilempar oleh Su-to Yan juga digerakkan oleh tenaga dalam dan tenaga dalam Tie It Ya beradu.
Sikakek serba putih terhuyung kebelakang.
Su-to Yan memainkan Pedang Maya Nada, pedang itu terbang, dengan dikuasakan oleh tenaga dalam dari jarak jauh.
Saking hebatnya kekuatan tenaga dalam Su-to Yan, Tie It Ya terpukul mundur.
Tie It Ya juga seorang jago lihay, ia terpukul mundur, tapi tidak menderita cidera.
Sekali ia menggerakkan sepasang tangan memukul pedang.
Su-to Yan mengempos tenaga lwekangnya, masih tetap meluncur kedepan.
Terdengar lagi suara benturan kekuatan tenaga dalam Tie-It Ya membentur kekuatan tenaga pedang dan lagi-lagi sikakek serba putih mundur kebelakang.
Tapi ia tidak puas memukul lagi, terdesak kebelakang lagi, memukul lagi, dan terdesak kebelakang lagi.
Walaupun demikian Tie It Ya masih tidak puas, dia kebal senjata, kekuatan tenaga dalamnya hebat sekali, memukul pedang itu berkali-kali, dengan menjatuhkannya.
Sungguh sangat tidak masuk diakal sekali bila hal itu bisa terjadi.
Tapi kenyataan tidak bisa dielakkan.
Hanya sebatang pedang ditengah udara.
Dipukul terus menerus oleh It Ya, yang terpukul pergi bukan pedang itu, hanya tubuh Tie It Ya, yang terus terdesak kebelakang.
Disini telah terbukti betapa hebatnya tenaga dalam Su-to Yan.
Seorang jago tua berpakaian serba putih dan jenggot putih kontra sebatang pedang.
In Hay Hong bisa turut menyaksikan ilmu kepandaian seperti itu, menonton beberapa saat hatinya memuji atas kehebatan dan kemajuan ilmu pedang Su-to Yan.
Memuji akan kehebatan tenaga dalam Su-to Yan.
Pertandingan itu begitu hebat, sepasang tangan Tie It Ya silih berganti memukul sebatang pedang yang berterbangan di udara.
Tenaga dalam Su-to Yan terlalu kuat, Tie It Ya mulai kewalahan.
Tapi Tie It Ya bukan murid Manusia Super tanpa tandingan Thian Ko Cu, bila ia menyerah begitu saja, secepat kilat, sreet ia mengeluarkan pedang, dan dengan pedang ditangan, ketangkasannya bertambah.
Kini dengan pedang itu, ia membentur pedang Su-to Yan.
Bilamana tadi Tie It Ya menggunakan tenaga dalamnya membentur pedang, tanpa menyentuh senjata tersebut.
Kini ia tidak segan-segan lagi membuat kedua pedang itu beradu dan pedang Su-to Yan yang terdesak mundur.
Tentu saja, pedang Su-to Yan dikerahkan dari jarak jauh, dan pedang Tie It Ya digerakkan dari dekat, langsung berada dibawah genggaman tangan Tie It Ya.
Pedang yang dipegang tangan pasti lebih kuat dari pedang yang terlepas, pedang Su-to Yan digerakkan dari jarak jauh, hanya mengandalkan tenaga dalam, tentu kalah tenaga.
Berulang kali Su-to Yan mengempos tenaga, tapi tidak berhasil Perlahan demi perlahan, yang sudah pasti ialah pedang itu mundur ke-belakang.
Pedang terbangnya terdesak, perlahan-lahan sudah mendekati tangannya kembali.
Su-to Yan mengulurkan tangan, dan siap menyanggah pedang itu.
Kegarangan Tie It Ya bertambah, kedudukan yang sudah mundur jauh, dibalikkan lagi, terus menerus ia memukul mundur pedang Suto Yan.
Su-to Yan bisa mengambil putusan cepat dengan sekali gerak, ia berhasil menggenggam gagang pedang, dan secepat itu pula ia membuat lingkaran kecil, diperkeras dan semakin lama semakin besar, terdengar lelatu api yang berkencringan, dibarengi oleh suaranya gemerincingan benda-benda logam yang pecah, terjadi begitu saja, pedang Tie It Ya dipukul hancur menjadi berkeping keping, dan bagaikan hujan saja, rontok jatuh ditanah.
Hanya itulah kekuatan yang terakhir sesudah berhasil merontokkan pedang Tie It Ya, napas Su-to Yan sendiri menjadi sengal-sengal, Tie It Ya terdesak dan ia lompat mundur ke belakang.
Dua bayangan itu terpisah, Tie It Ya dan Su-to Yan saling pandang, Tapi terlebih-lebih kecewa lagi adalah Tie It Ya, karena ditangannya hanya tinggal gagang pedang.
Wajah Tie It Ya menjadi pucat, ia sebagai seorang ahli waris Thian Kho Cu, jatuh di bawah tangan Su-to Yan.
In Hay Hong juga membelalakkan mata, kekalahan Tie It Ya itu sungguh berada diluar dugaan, Lebih berada diluar dugaan lagi ialah kekecewaan itu adalah yang sangat mengenaskan sekali.
Betul-betul ilmu pedang Maya Nada terlalu hebat, walau berada didalam tangan Su-to Yan bisa saja menjatuhkan seorang murid Manusia Super tanpa tandingan.
Su-to Yan berhasil menenangkan gejolak hatinya, ia mengatur kembali peredaran jalan darahnya, dan disaat ini, segar bugar seperti sedia kala, bila ia mau dengan satu tusukan pedang, ia bisa membikin tamat riwayat hidup Tie It Ya.
Tetapi ia tidak mengambil langkah seperti itu, ia menyimpan kembali pedangnya, Apa gunanya membunuh Tie It Ya?
Tokh belum tentu Ie Han Eng bisa balik kembali.
Su-to Yan maju tiga langkah, mendekat Tie It Ya dan membentak.
"Lekas katakan, Ie Han Eng jatuh kedalam tangan siapa ?"
"Biarawati jaya "
Suara Tie It Ya sangat lemah.
Lagi-lagi buah karya Biarawati jaya !
Sudah berada didalam dugaan Su-to Yan hanya golongan cerdik pandai itulah yang bisa menculik seseorang dari bawah kekuasaannya Tie It Ya.
Kini urusan sudah tidak ada hubungan dengan Tie It Ya.
Su-to Yan membalikkan badan, dengan langkah yang sangat lesu ia turun gunung.
In Hay Hong telah menyaksikan betapa hebat ilmu pedang Maya Nada yang digerakkan oleh Su-to Yan, tidak mungkin ia bisa melawannya.
Karena itu, ia mengundurkan diri dari persengketaan.
Bercerita keadaan Su to Yan, setapak demi setapak, kakinya dirasakan sangat berat, dimana ia bisa mencari golongan Biarawati Jaya?
Sedangkan golongan tersebut sangat misterius sekali.
Su-to Yan bersedih atas nasib sengsara yang menimpa sang kekasih.
Angin utara bertiup keras, memukul-mukul baju Su-to Yan, Tapi tidak dirasakan, semua kejadian ini.
Si pemuda berada didalam kesusahan, pukulan bathin yang lebih hebat jauh berada diatas pukulan-pukulan angin itu.
Matahari ditimur meluncur keatas, dan akhirnya terbenam diarah barat.
Su-to Yan berjalan tanpa arah tertentu, maksudnya hendak kembali ketempat dimana ia menjadi tawanan golongan Biarawati Jaya tadi, tak mudah diketemukan golongan Biarawati Jaya adalah satu golongan yang sangat misterius sekali, hanya mereka yang bisa menemukan jejak orang, sulit untuk orang menemukan jejaknya Seseorang berlarian datang, dengan mengenakan pakaian warna belang seperti macan, itulah anak buah khong-kiok-kiong.
Untuk sesaat Su-to Yan menghentikan langkahnya dan memperhatikan kedatangan orang tersebut.
Orang yang datang adalah Sersan Lima dari istana Belang Khong-kiok-kiong namanya Tiang Sun Hoa.
Tiba dihadapan Su-to Yan, Tiang Sun Hoa memberi hormat seraya berkata kepada pemuda itu.
"Ketua kami ada urusan penting yang hendak dirundingkan denganmu, silahkan saudara Su-to Yan turut."
"Beritahu kepada ketuamu itu, bahwa aku ada urusan penting, Tidak bisa hadir,"
Berkata Su-to Yan, ia menolak undangan.
"Urusan sangat penting,"
Tiang Sun Hoa memberi keterangan.
"Sudah kukatakan,"
Berkata Su-to Yan tidak puas.
"Aku mempunyai urusan lain, tidak bisa hadir."
"Kedatanganmu membawa akibat besar, mati hidup nona Bun berada ditanganmu itu?"
Disaat terakhir Bun In Hian berpisah, gadis itu pernah memberikan janji, ia bersedia menolong Su-to Yan, bila si pemuda membutuhkan pertolongannya.
Mengingat janji itu, mengingat keadaan diri sendiri yang belum tahu letak markas besar golongan Biarawati Jaya, Su-to Yan timbul harapan lain.
Tiang Sun Hoa, berkata.
"Mari ikut."
Tanpa memberi tahu dimana letak sang ketua, Tiang Sun Hoa membalikkan badan, ia per gi melesat.
Su-to Yan belum tahu, dimana adanya Ie Han Eng, ia juga tidak tahu, dimana adanya Bun In Hian.
Karena itu lebih baik berkunjung kepada golongan istana Belang dulu, mengingat kekuatan Khong kiok-kiong yang cukup besar, masih ada harapan ia mendapat berita tentang dimana letak markas besar golongan Biarawati Jaya yang telah menculik Ie Han Eng.
Tiang Sun Hoa mengajak Su-to Yan, akhirnya mereka tiba didepan sebuah goa.
"Silahkan masuk."
Berkata Tiang Sun Hoa.
"Apa nona Bun In Hian berada didalam?"
Bertanya Su-to Yan.
"Betul."
Berkata Tiang Sun Hoa "Tapi kebebasannya telah terganggu."
"Apa?"
Su-to Yan membelalakan matanya.
"Silahkan kau masuk."
Berkata Tiang Sun Hoa.
"Maka kau segera tahu."
Su-to Yan menggerakkan langkah kakinya memasuki goa tersebut.
Keadaan ini berada diluar dugaan Su-to Yan, apa yang telah terjadi dengan Bun In Hian?
Mengapa ia mengundang dirinya?
Dalam goa tersebut, seseorang tua yang mempunyai potongan badan tinggi besar dengan mengenakan pakaian warna kuning sedang membelakangi Su-to Yan, langkah kaki sipemuda segera menarik perhatian orang tua tersebut, ia membalikan badan.
Berhadap hadapan dengan Su-to Yan.
Tiang Sun Hoa memberi hormat, segera sersan Lima itu mengundurkan diri.
Didalam goa, kecuali orang tua berbaju kuning ini, tidak ada orang lain.
Sesudah menunggu sampai Tiang Sun Hoa keluar meninggalkan goa, baru orang tua berbaju kuning itu berkata pada Su-to Yan.
"Maafkan aku, terpaksa menggunakan nama keponakanku mengundang dirimu."
Su-to Yan tertawa, ternyata orang tua ber baju kuning ini adalah paman Bun In Hian, tapi apa maksud undangannya? Baikkah? Buruk kah? "Aku pernah menerima budi nona Bun."
Berkata Su to Yan.
"Bagaimana keadaannya? Baik-baikkah?"
"Terima kasih, ia dalam keadaan sehat wal'afiat."
Berkata orang tua berbaju kuning itu.
"Apa maksud panggilan yang mengundang diriku?"
Bertanya Suto Yan. Orang tua berbaju kuning itu memandang Su-to Yan beberapa saat, kemudian dengan sepatah demi sepatah ia berkata.
"Seperti apa yang kau tahu, golongan kami sangat mengutamakan disiplin keras, peraturan-peraturan sangat streng, tidak boleh dilanggar."
Su-to Yan tertawa, tidak menjawab dan juga tidak menolak katakata itu, hendak diketahui apa maksud tujuan yang sebenarnya dari kata-kata orang tua berbaju kuning itu.
Orang tua itu segera berkata kepada Su-to Yan.
"Keponakanku telah menduduki ketua istana Belang Khong-kiokkiong, tugasnya berat, dia wajib menarik pulang kembali kitab ilmu pedang Maya Nada, Tapi kenyataannya tidak. ia telah mengikat tali persahabatan denganmu, dan mengabulkan tugas berat itu, ini tidak mengapa. Tapi kedudukannya sudah mulai goyah, bilamana ia tidak berhasil mengambil pulang kitab ilmu pedang Maya Nada, kukira ia bakal dicopot dari kedudukannya."
Lagi-lagi soal kitab ilmu pedang Maya Nada. Orang tua berbaju kuning itu meneruskan pembicaraannya.
"Sudah kuanjurkan kepada keponakanku itu, agar ia meminta kembali kitab ilmu pedang Maya Nada kepadamu. Tapi ia berkepala batu, dia kukuh, tidak mau melakukan tugas itu. Dia lebih suka meninggalkan kedudukannya, dari pada dipaksa bertempur dengan dirimu."
Su-to Yan bersyukur kepada kepribadian Bun In Hian, syukur atas kerelaan hati dari ketua Khong-kiok kiong itu, bilamana Bun In Hian bersikeras, menggerakkan orang-orangnya sudah tentu akan terjadi pertempuran pertempuran yang lebih hebat.
Kedalam tangan siapa terjatuhnya kitab ilmu pedang Maya Nada masih belum ditentukan, yang sudah pasti akan jatuh korbankorban, Tidak sedikit jatuh pengorbanan yang harus diserahkan.
Langkah Bun In Hian cukup bijaksana, dengan penolak pengembalian kitab ilmu pedang Maya Nada ia bisa mempertahankan jiwa beberapa orang-orangnya.
Tapi hal ini bisa membawa akibat lain, ia bisa dicopot dari kedudukannya sebagai ketua, Sesudah memberi keterangan yang panjang lebar, orang tua berbaju kuning itu memandang ke arah Su-to Yan, hendak melihat, bagaimana reaksi si pemuda.
Untuk beberapa waktu, Su-to Yan juga tidak menjawab, ia harus berpikir lama.
"Kami sangat membutuhkan kitab ilmu pedang itu,"
Berkata si orang tua berbaju kuning "Bisakah saudara Su-to menyerahkan kepada kami?"
"Kitab ilmu pedang Maya Nada sudah tidak ada."
Berkata Su-to Yan.
"Darimana saudara Su-to bisa meyakinkan permainan ilmu pedang Maya Nada?"
Orang tua berbaju kuning itu tidak percaya.
"Dari sebuah goa peninggalan Kong-Sun Put-hay."
Orang tua berbaju kuning berpikir lama, dan soal ini ia harus mengambil keputusan yang tepat.
"Bisakah saudara Su-to memberikan catatan ilmu pedang itu?"
"Aku masih mempunyai urusan,"
Berkata Su-to Yan.
"Dilain hari, mengingat muka terangnya nona Bun In Hian, dan kemungkinan aku bisa membuat satu catatan yang baru, dan diserahkan kepada kalian, Tapi bukan ini waktu "
Berkata Suto Yan.
"Baiklah"
Orang tua berbaju kuning itu akhirnya mengalah "Kami membutuhkan catatan catatan itu."
Setelah berkata, orang tua berbaju kuning segera memanggil keluar.
"Lekas antar tamu kita."
Segera muncul sersan Lima Tiang Sun Hoa menghormat kepada Su-to Yan dan berkata.
"Silahkan."
Mengikuti Tiang Sun Hoa, Su-to Yan meninggalkan goa itu.
Ia tidak berhasil menemukan Bun In Hoan tapi kesulitankesulitan itu belum selesai sampai disitu.
Su-to Yan melanjutkan perjalanan seorang diri.
Kemana ia hendak mengambil arah tujuan.
Mengingat keadaan golongan Biarawati jaya yang masih misterius itu?
Hari menjadi pagi kembali.
Setapak demi setapak, Su-to Tan melanjutkan perjalanan.
Angin utara masih bertiup kencang, seolah-olah marah kepada dunia yang tidak adil.
Seseorang berlari datang, dengan keadaan sempoyongan, menuju kearah Su-to Yan, dikala sipemuda mementangkan matanya besar-besar ia mengenali orang itu, itulah pendekar Rajawali Emas Kie Eng.
Cepat-cepat Su-to Yan menyongsong kedatangan Kie Eng, dan bertanya kepadanya.
"Cianpwee,kan mengapa ?"
Kie Eng sangat lelah sekali, dan ia berteriak girang.
"Kau Su-to Yan ?"
Su-to Yan menganggukkan kepala, Dengan girang Kie Eng berkata.
"Syukur akhirnya aku bisa menjumpai dirimu."
"Bagaimana cianpwee berada ditempat ini?"
Bertanya Su-to Yan.
"Kau menderita luka?"
Kie Eng menyedot napasnya dalam-dalam ia berkata.
"Aku sedang mencari dirimu."
"Ada urusan apa?"
Berkata Su-to Yan.
"Golongan Biarawati Jaya telah merusak tempat kediamanku. Golongan Biarawati jaya telah melukai Wie Biauw."
Lagi-lagi golongan Biarawati Jaya, Betul-betul golongan yang sangat istimewa.
"Aku juga selalu diganggu oleh mereka."
Berkata Su-to Yan.
"Bahkan, Ie Han Eng juga jatuh kedalam tangan mereka, Kini aku hendak mencari tahu, dimana letak sarang mereka itu."
"Aaaah... Ie Han Eng jatuh kedalam tangan mereka ?"
"Betul."
"Baik, Dalam hal ini, pertemuan kita sangat kebetulan. Hanya aku yang bisa memberitahukan, dimana letak sarang Biarawati jaya itu.
"Dimana?"
Berteriak Su-to Yan girang.
"Tapi kau harus berhati-hati."
Berkata Kie Eng.
"Tempat itu bukanlah tempat yang mudah didatangi. Kecuali Kong Sun Put-hay, belum pernah ada orang kedua yang bisa memasuki sarang Biarawati jaya tanpa jiwa kembali. Kau harus berhati-hati."
Ternyata Kong-Sun Put-hay pernah bentrok dengan golongan Biarawati Jaya, hal ini menggirangkan Su-to Yan, apalagi mengingat bahwa Kong-sun Put-hay itu tidak mati didalam markas besar golongan Biarawati Jaya.
Mengapa ia harus takut, sedangkan ilmu kepandaiannya tidak berada dibawah Kong-sun Put-hay.
"Lekas katakan, dimana letak sarang mereka itu,"
Berkata Su-to Yan.
"Dari sini kau berganti arah kearah barat."
Kie Eng memberi keterangan "Lima ratus lie kemudian disana terdapat sebuah gunung, sarang Biarawati jaya terletak dalam gunung itu.
Di-atas puncak gunung terdapat sebuah kelenteng, namanya kelenteng Biarawati Jaya.
inilah sarang mereka."
"Terima kasih. Aku harus segera pergi ke-tempat "itu."
Berkata Su-to Yan, ia hendak melejitkan diri meninggalkan Kie Eng.
"Tunggu dulu."
Berteriak Kie Eng.
"Ada apa lagi."
Bertanya Su-to Yan.
"Tempat ini hanya aku yang tahu, tapi bukan maksudku untuk menjerumuskan dirimu, pesanku sekali lagi ialah berhati-hatilah."
"Terima kasih."
Berkata Su-to Yan.
Dengan satu lejitan kaki, ia meluncur dan meninggalkan Kie Eng.
Apa lagi langkah yang harus dilakukan, kecuali mendatangi sarang Biarawati jaya itu?
Ie Han Eng telah menjadi tawanan orang-orang golongan Biarawati Jaya, Su-to Yan wajib memberi pertolongan dan pertolongan itu harus diberikan.
Segera, Tidak menunggu-nunggu lagi, Su-to Yan menuju kearah tempat yang sudah diberitahu oleh Kie Eng.
Su-to Yan berlari dengan mengikuti arah yang ditunjuk oleh Kie Eng.
Betul!
Ditempat itu terdapat sebuah gunung sangat tinggi sekali, puncaknya menjulang sehingga seperti mau menembus awan.
Su-to Yan berpikir, inilah puncak yang menjadi sarang besar markas Biarawati Jaya.
Untuk mengumpulkan semangat, Su-to Yan tidak segera menaiki tempat itu, ia duduk bersila, mengatur peredaran jalan darahnya, agar bertambah kuat bertambah sehat.
Su-to Yan harus membikin satu kekuatan tempur yang terberat, bukan suatu mustahil, bahwa golongan Biarawati jaya itu mengumpulkan jago-jago undangan untuk menghadapi dirinya.
Satu jam kemudian, Su-to Yan berhasil memulihkan tenagatenaga yang Susut itu, kini ia mulai menaiki puncak.
Su-to Yan sangat berhati-hati.
Bilamana golongan Biarawati jaya itu bisa memancing banyak jago-jago yang mau diadu domba dengan dirinya, tentu melepas banyak mata-mata, dan mata mata itu tersebar diseluruh pelosok, tidak terkecuali disekitar daerah mereka.
Tiba dilereng gunung, Su-to Yan menoleh kebelakang, Rasa terkejutnya tidak kepalang, satu bayangan putih meluncur datang, kecepatannya seperti awan, gesit sekali, dan didalam sekejap mata bayangan itu telah terpeta jelas, itulah sikakek serba putih Tie It Ya.
Tie It Ya sudah menyusul tiba, memandang kearah Su-to Yan sebentar kakek ini berkata.
"Eh, kupingmu cukup panjang juga, he? Baru saja aku mendapat berita tentang letak sarang markas besar Golongan Biarawati jaya ditempat ini, kau sudah tiba lebih dahulu dari-ku."
Su-to Yan terkejut, ternyata Tie It Ya juga hendak menyatroni Biarawati Jaya, Tapi karena adanya permusuhan ini, Tie It Ya memburu satu tujuan, mereka bisa menjadi kawan bukan lawan.
Jatuhnya Ie Han Eng kedalam golongan Biarawati Jaya, diambil alih dari tangan Tie It Ya.
Sedikit banyak, sikakek putih wajib bertanggung jawab.
Kehadiran Tie It Ya ditempat ini tentu hendak menolong Ie Han Eng.
Su-to Yan juga hendak menolong Ie Han Eng.
Karena itu mereka mempunyai Bermusuhan dengan Biarawati Jaya.
kedudukan yang sama.
"Darimana kau tahu, bahwa golongan Biarawati Jaya menempati gunung ini?"
Bertanya Su-to Yan.
"Inilah rahasia.", berkata Tie It Ya.
"Hei, lihat!"
Jari Su-to Yan menunjuk ke-arah bawah.
Disaat tadi, karena kedatangan Tie It Ya, Su-to Yan membelakangi puncak gunung, dan menghadapi bawah, disana meluncur lagi satu bayangan hijau, cepat sekali, arah tujuannya adalah tempat mereka berada.
Sebentar kemudian bayangan hijau itupun tiba.
Bukan lain ia adalah sijago Tong hay In Hay Hong.
Memandang kepada Su-to Yan dan Tie It Ya, dengan sikapnya yang sangat dingin In Hay Hong berkata.
"Eh, kalian juga sudah tiba ?"
Seperti apa yang kita tahu, In Hay Hong ini juga mempunyai sedikit hubungan dengan Ie Han Eng, Bila tidak hadirnya Su to Yan di tengah tengah mereka, besar kemungkinan bahwa ia telah memperistri gadis itu.
Karena ada ketetapan dari kakek moyang Ie Han Eng dan Su-to Yan yang menjodohkan mereka berdua.
Dan ditambah persepakatan dari Ie Han Eng dan Su-to Yan mereka tidak menolak perjodohan itu, In Hay Hong disisihkan.
Menolong Ie Han Eng.
Dimisalkan ia berhasil menolong Ie Han Eng, tanpa bantuan Suto Yan, siapa tahu, dikemudian hari gadis itu bisa berbalik, dan cinta lagi kepadanya.
Inilah harapan In Hay Hong, maka begitu ia mendapat berita tentang adanya puncak gunung dimana adanya Biarawati jaya bermukim segera ia datang tiba.
Kedatangan In Hay Hong hanya terlambat beberapa waktu dari kedatangan Su-to Yan dan Tie It Ya.
Hati Su-to Yan tercekat, dimisalkan betul informasi yang diberikan itu tidak salah, Golongan Biarawati jaya mengambil sarang besar diatas puncak ini, darimana Tie It Ya dan In Hay Hong tahu?
Mungkinkah suatu perangkap bagi mereka.
Disaat Su-to Yan Sedang berpikir, tiba-tiba datang suara pekikan burung, tepat diatas kepala mereka, dari sana berlompat turun seorang, dengan tertawa berkakakan orang tua itu berkata.
"Masih ada kau."
Munculnya orang penunggang kuda itu sangat menenangkan In Hay Hong, segera ia memberi hormat dan berkata.
"Mengapa suheng baru tiba?"
Ternyata orang yang baru datang adalah Hoa Tie, suheng In Hay Hong.
"Aku sedang membikin penyelidikan."
Berkata Hoa Tie "Keadaan seperti ini sangat sulit sekali, kemanakah kepergian mereka itu?"
"Suheng tahu pasti, bahwa mereka menempati puncak ini?"
Bertanya In Hay Hong.
"Pasti!"
Membenarkan Hoa Tie.
"Tidak salah lagi."
"Mari kita terjang saja,"
Mengajak In Hay Hong.
"Tunggu dulu."
Berkata Hoa Tie.
"Siapakah kedua orang ini."
"Orang tua ini adalah Tie It Ya."
Memperkenalkan In Hay Hong sambil menunjukkan kearah kakek serba putih.
"Dan inilah Su-to Yan pemuda gagah yang disohor sohorkan semua orang."
Ia menunjuk kearah jago kita.
"Hemm..."
Terdengar suara dengusan hidung Hoa Tie.
"Murid Manusia tanpa tandingan Thian Kho Cu."
"Betul,"
Jawab In Hay Hong. Atas sikap Hoa Tie yang seperti itu, Tie It Ya sangat tidak puas, ia berkata.
"Tidak kusangka, didalam waktu yang bersamaan, aku bisa menjumpai jago Tong-hay sekaligus."
Hati Su-to Yan sedang memikir-mikir, darimana berita tentang sarang markas besar Biarawati Jaya?
Mengapa Tie It Ya tahu?
Mengapa In Hay Hong tahu?
Mengapa Hoa Tie tahu?
Disini mereka telah berkumpul empat orang, semua terdiri dari jago kelas satu, maksud tujuan Su-to Yan ialah menolong Ie Han Eng, ia tidak boleh didahului oleh mereka.
Karena itu, menggunakan kesempatan diantara In Hay Hong, Hoa Tie dan Tie It Ya berbicara, sepasang kaki Su-to Yan meluncur ke-arah puncak gunung.
Terdengar suara Hoa Tie yang bergerak.
"Jangan lari !"
Kaki jago Tong-hay itupun melejit.
menyusul kearah Su-to Yan.
In Hay Hong dan Tie It Ya juga tidak tinggal diam, mereka menyusul dibelakang.
Su-to Yan, Hoa Tie, In Hay Hong dan Tie It Ya, susul menyusul menuju kearah puncak gunung Biarawati Jaya.
Puncak ini sangat tinggi sekali, kini mereka seperti berada diatas awan, semua dunia berada di bawah kaki mereka.
Keempat jago itu sedang berlomba-lomba mendahului lawan masing-masing, mereka hendak tiba lebih dahulu diatas tempat tersebut.
Ilmu silat empat orang tersebut memang setaraf, didalam saat yang hampir bersamaan, mereka tiba diatas puncak, disana terbangun dengan megah sebuah kelenteng dengan nama besar tertulis.
BIARAWATI JAYA.
Inilah kelenteng Biarawati Jaya.
Su-to Yan, Hoa Tie, In Hay Hong dan Tie It Ya berbaris, mereka memuji keindahan kelenteng Biarawati Jaya.
Sungguh menakjubkan, terlalu indah, empat orang itu sudah melupakan dendam masing-masing, dengan tujuan maksud menolong Ie Han Eng.
Dan mengagumi keindahan kelenteng Biarawati Jaya.
Su-to Yan masih berpikir, mengapa tidak ada orang yang membikin penyambutan?
Mungkinkah Biarawati jaya takut kepada mereka ?
Tidak mungkin !
Biarawati jaya tidak berkepandaian silat, tapi otak mereka lebih tajam dari pedang dan golok, siasat mereka lebih lihay, tidak sedikit dari jago-jago silat nomor satu dikalahkan olehnya.
Diantaranya para pecundangnya terdapat juga Su-to Yan dan Tie It Ya.
Kedatangan Su-to Yan, Tie It Ya, Hoa Tie dan In Hay Hong ketempat itu pasti tidak lepas dari penilaian Biarawati Jaya, mengapa tidak ada penyambutan?"
"Su-to Yan,"
Berteriak Hoa Tie.
"Berani kau tidak memandang mataku lagi? Mengapa kau lari begitu saja ?"
Su-to Yan tertawa tawar, ia berkata.
"Kata-katamu ini lebih baik diucapkan nanti saja, sesudah kita berhasil menolong Ie Han Eng."
"Betul."
In Hay Hong setuju.
"Yang penting kita menolong Ie Han Eng dulu, sesudah itu kita boleh bertanding lagi."
Tie It Ya juga setuju, ia berteriak girang.
"Aku setuju."
Su-to Yan berkata.
"Kelenteng Biarawati jaya ini bukan kelenteng biasa, kukira kita harus berhati-hati."
"Huh,"
Terik Hoa Tie.
"Kau takut? Biar aku yang maju lebih dahulu."
Betul-betul Hoa Tie menggerakkan kakinya meluncur kearah kelenteng itu, mendorong pintu dan ternyata pintupun tidak terkunci, segera membuka lebar-lebar, Hoa Tie sudah memasuki kelenteng tersebut.
Gerakan Hoa Tie disusul oleh gerakkan In Hay Hong.
Su-to Yan dan Tie It Ya juga tidak mau kalah, merekapun menyusul dibelakang kedua orang itu.
Didalam kelenteng, Hoa Tie berkata kepada tiga orang.
"Belum lama aku melihat bayangan orang, Tapi cepat, mereka sudah lenyap mendadak."
Karena adanya bayangan-bayangan misterius yang disebutkan oleh Hoa Tie tadi, keempat orang bergabung kembali Mereka tidak berani lancang-lancang bergerak, mengingat biarawati Jaya yang lihay.
Api penerangan terpasang disekitar kelenteng itu, dimeja sembahyang terdapat dua lilin besar, masih menyala, ini suatu tanda bahwa kelenteng terpelihara sangat bersih.
Ada penghuninya, Tapi keempat orang ini sudah memasuki kelenteng, tanpa ada penyambutan.
Tidak seorangpun yang menampilkan diri untuk menyambut keempat tamu itu.
Hoa Tie mengeluarkan suara dengusan, katanya.
"Ei, apa-apa ini, Biarawati Jaya? Mengapa tidak ada satu bayangan muncul."
Su-to Yan memeriksa tempat itu, didepan suatu patung yang besar ia menampak perobahan dengan mengeluarkan suara kaget ia berkata.
"Eh, mengapa ada lubang?"
Betul.
Dibawah patung besar itu, terdapat suatu celah lobang, Tidak terlalu besar.
Tapi cukup memberi bukti, bahwa patung itu bisa digeser, itulah pintu rahasia untuk memasuki ruangan dibawah tanah.
In Hay Hong, Hoa Tie dan Tie It Ya juga melihat adanya kecurigaan-kecurigaan itu, mereka mengemukakan pendapat.
"lnilah pintu untuk menuju keruangan di bawah tanah."
"Mereka telah melarikan diri."
"Tentunya melalui jalan ini."
"Belum tentu, Mungkin suatu tipu muslihat"
"Betul, Mungkin perangkap."
Biarawati jaya tidak berkepandaian silat, Mengapa harus takut kepadanya?"
"Betul!! Terjang saja!"
"Kita harus berhati-hati, kukira sengaja Biarawati jaya memasang perangkap ini. Mengatur kita memasukinya."
"Kau takut?"
"Siapa yang takut? Kau yang takut."
"Bagus, Kita empat orang, tidak ada yang takut, Mari masuk bersama."
"Betul Tidak mungkin mereka bisa lari jauh."
"Mari masuk bersama."
Mereka berdebat sekian lama, tanpa ada reaksi dari orang-orang yang mendiami kelenteng Biarawati Jaya.
"Mereka takut kepada kita."
Berkata Hoa Tie.
"Biar aku In Hay Hong yang masuk lebih dahulu."
Berkata jago Tong hay ini.
Ia menggeser patung, dan dimana terdapat sebuah lubang, langsung masuk kedalam.
Gerakan In Hay Hong disusul oleh gerakan Tie It Ya, ia juga sudah berjalan turun.
Di belakang mereka, Su-to Yan dari Hoa Tie juga turut serta.
Keempat jago istimewa kelas satu, mulai memasuki perangkap Biarawati Jaya.
Lubang di bawah patung adalah lubang rahasia disana terdapat undakan batu yang menurun, Hoa Tie, In Hay Hong, Su-to Yan, dan Tie Ie Ya saling susul menuruni tanggatangga itu, Tidak ada keistimewaan dari tangga-tangga tadi, tokh mereka sangat berhati-hati, berjalan terus seperti itu, semakin lama semakin menurun ke bawah.
Su-to Yan pernah merasakan kehebatan golongan Biarawati Jaya, golongan itu menawan dirinya tanpa pengontrolan orang, menempatkan seekor burung hantu sebagai penjaga, inilah keistimewaan golongan Biarawati Jaya.
Lebih istimewa lagi, cara mengundang ke empat tamu jago kelas satu ini datang.
Kelenteng Biarawati jaya kosong, tidak ada penyambutan.
Mereka telah memasuki ruangan rahasia di bawah tanah, tangga tangga yang menurun masih panjang, Tidak ada reaksi lain.
In Hay Hong hilang kesabaran ia berkata.
"Sampai dimanakah kita hendak dibawa ke tempat ini?"
Tie Ie Ya tertawa berkakakan, katanya.
"Berapa lihaypun kepandaian Biarawati jaya mungkinkah takut kepadaku, kita berempat adalah jago-jago tanpa tandingan, siapa yang bisa melawan tenaga gabungan kita?"
Tangga-tangga itu mulai menjadi serong, menurun sehingga empat puluh lima derajat.
In Hay Hong menoleh ke samping kanan dan kiri, ia mengerutkan alisnya.
Suasana di dalam terowongan di bawah tanah itu terasa agak panas, semakin lama semakin panas, keadaan ini sangat dirasakan sekali oleh keempat orang yang bersangkutan.
Tie Ie Ya mulai bergumam "Permainan apa yang hendak dilakukan oleh Biarawati jaya ini?"
In Hay Hong berkata.
"Biarawati jaya hendak menggunakan sesuatu, tentunya tipu muslihat lihay."
"Betul !"
Berkata Su-to Yan.
"Mereka tidak bergebrak, tapi gerakan mereka harus dihadiri dengan hati-hati sekali,"
Hoa Tie berkata.
"Aku tidak habis berpikir, dengan cara apa mereka hendak menghadapi kita?"
Su-to Yan berkata.
"Dimisalkan mereka menggunakan air menyergap kita di bawah terowongan tanah ini, bagaimana?"
Disaat ini hawa panas semakin merangsang sekali, terlihat cahaya kuning keemas-emasan berkilat-kilat menerjang mereka, hawa panas itu bergelombang datang.
Kulit-kulit keempat orang itu seperti terbakar, seolah-olah diterjang api.
Sebelum mereka paham apa yang terjadi, tiba-tiba segulung cairan yang mendidih menggulung-gulung datang, menerjang kearah mereka.
In Hay Hong adalah orang yang terbelakang, ia segera berteriak kaget.
"Emas murni yang sedang dicairkan!"
Kata-kata peringatan In Hay Hong itu betul!
Ternyata Biarawati jaya telah mengundang keempat jago kelas satu itu memasuki terowongan di bawah tanah, dari atas, mereka mencairkan emas murni, dan dituangkannya emas murni itu ke dalam terowongan di bawah tanah.
Hawa panas adalah akibat dari terjangan cairancairan emas murni itu.
Berjalannya cairan emas murni sangat lambat, tapi hawa panas itu telah merangsang lebih dahulu.
Su-to Yan berteriak.
"Mundur!"
Tempat di dalam yang begitu sempit, kemana mereka harus mengundurkan diri?
Bersama dengan itu, terdengar suara ngedubruk, jalan mundur keempat orang itu pun tertutup, sebuah besi besar telah jatuh menurun membuntukan jalan asal semula.
Mereka berada didalam keadaan terjepit.
Di depan telah mendapat pengecoran emas murni yang kuning keemas-emasan.
Di belakang telah diganjel besi berat.
Sreet, Su-to Yan mengeluarkan pedang, inilah reaksi reflek dari seseorang yang berkepandaian.
Dikala mereka hendak mundur, terdengar suara gemuruh yang menggelegar, lain benda di belakang besi hitam penutup jalan jatuh lagi lepas berlapis perangkap Biarawati jaya mulai bekerja.
Mereka telah masuk kedalam perangkap Biarawati Jaya, Ruang rahasia dibawah patung besar itu adalah satu jalan untuk melarikan diri, mengetahui bahwa keempat jago jago itu tidak mudah dihadapi Biarawati jaya mengosongkan kelenteng mereka.
Dengan cara-cara tertentu, mereka telah mengatur siasat, dilain lorong jalan rahasia itu telah tersedia cairan emas murni yang dipanaskan, jika cairan-cairan mas murni ini dituangkan kedalam jalan tersebut, berbarengan sesudah membuntukan jalan belakang Su-to Yan semua.
Su-to Yan telah mengeluarkan pedang, dan ketika lawannyapun sudah mengeluarkan senjata masing-masing.
Mereka bingung dan khawatir dengan cara bagaimana mereka menghindari terjangan cairan emas murni itu?
Hawa panas merangsang semakin hebat, hanya hawa panas itu sudah cukup untuk mematikan seseorang, bilamana mereka tidak memiliki ilmu tenaga dalam yang hebat.
Su-to Yan, In Hay Hong, Hoa Tie dan Tie Ie Ya empat orang telah masuk kedalam perangkap yang dipasang oleh Biarawati Jaya.
mereka memasuki ruangan rahasia dibawah tanah, dan dikala hendak menembus ke jalan keluar dari tempat itu, dari atas jalan keluar dicurahkan emas murni yang mencair, sedangkan jalan balik mereka sudah dibuntu oleh besi berat.
Cairan emas murni masih mengalir terus, sebagian dari mereka ada yang membeku, tapi masih menggelinding.
Hawa beku mas murni itu tidak mudah.
Maka diambil oleh golongan Biarawati jaya untuk menekan keempat musuh mereka.
Masing-masing keempat orang itu telah mengeluarkan pedang, Tapi jurusannya tidak sama-sama, Su-to Yan, In Hay Hong, dan Tie Ie Ya berusaha menekan datangnya mas murni, Hoa Tie menghadapi jalan kembali, membelakangi ketiga orang tadi.
Dikala cairan mas murni itu menggelinding turun, cairannya emas kekuning kuningan memercik gemilauan, hingga menyinari wajahwajah dari orang-orang ditempat itu.
Su-to Yan, Tie Ie Ya dan In Hay Hong berusaha menekan berat turunnya mas murni tersebut, semakin lama semakin memberat, inilah suatu tanda, bahwa diatas mereka mas murni masih dicairkan turun terus.
Yang beruntung bagi ketiga orang itu ialah beratnya mas murni agak berat, sangat lambat sekali, dan dikala hendak mendekati mereka, sebagian dari mas-mas itu sudah membeku lagi.
Sehingga tidak seperti cairan air panas, yang langsung bisa menerjang apa yang bisa ditempuh olehnya.
In Hay Hong mengeluh.
"Tidak kusangka, Biarawati jaya menggunakan cara-cara yang seperti ini."
Di belakang mereka, Hoa Tie berkata.
"Tidak kusangka, pasti golongan Biarawati jaya mempunyai caracara tersendiri."
Hoa Tie bertopang dagu, membiarkan ke-tiga orang itu menahan meluncur turunnya cairan emas murni.
Menyaksikan sikap Hoa Tie yang mau menang sendiri, Tie Ie Ya tidak puas, mereka berempat berada didepan ambang pintu kematian tapi hanya tiga orang yang berusaha.
Hoa Tie berpeluk tangan, tidak mau, Dengan mendengus ia berkata.
"Huh, percuma saja kau jadi murid Kie Toojin, ternyata begitu takut mati."
Hoa Tie berkata.
"Kita orang segera mati, Apa guna aku membantu kalian bertiga. Tidak guna bukan?"
Tie Ie Ya tidak bisa melakukan banyak perdebatan, tenaganya harus dicurahkan menjaga turunnya emas murni itu.
Hawa udara di tempat mereka sangat pekat, cairan mas murni itu membawa rangsangan yang lebih hebat, sehingga memanaskan kulit tubuh mereka seperti dipanggang di atas api.
Su-to Yan sedang mengerahkan semua tenaganya, bertahan untuk melawan datangnya cairan-cairan mas murni.
Mengikuti pembicaraan mereka, hatinya menjadi lesu, Apa yang diucapkan oleh Hoa Tie memang sangat beralasan, mereka segera mati, inilah kekecewaan.
Terbayang dihadapannya wajah yang sangat mengesankan Ie Han Eng yang lemah gemulai, Cin Bwee yang nakal berandalan.
Jie Ceng Peng, Bun In Hian, dan banyak lagi wajah-wajah yang tidak asing.
Adanya lamunan-lamunan yang mengekang pikiran Su-to Yan tadi, mengurangi tenaga si pemuda, tekanan cairan mas murni yang dituang dari atas masih membeku terus, turun hebat lebih keras.
Tie Ie Ya dan In Hay Hong juga tidak mempunyai pegangan yang kuat, melemahnya kekuatan ketiga pedang itu mengakibatkan lain kejadian, mas murni segera nganjlok, turun ke bawah dan hendak menggencet semua orang yang berada di tempat itu.
Su-to Yan, In Hay Hong dan Tie Ie Ya terkejut, reaksi mereka sangat cepat, lamunan dan rasa ketidak puasan disertai dengan keputus asaan itu dibuang segera, daya refleks mereka cukup cepat, tenaga yang memegang pedang ditambah, dan menekan turunnya cairan emas.
Mas murni berhasil ditekan naik, hanya sedikit, tapi cukup menambah pernapasan.
Ketiga orang itu saling pandang, wajah mereka begitu murung sekali, kekuatan hidup dari seorang manusia tetap ada, Mereka tidak mau memasrahkan diri kepada nasib, mereka tidak mau menyerah kepada takdir, mereka berusaha menahan datangnya maut yang ditunggangi oleh cairan-cairan mas murni.
Su-to Yan sakit hati kepada Hoa Tie, karena jago itu tidak mau membantu usaha mereka, segera ia berteriak.
"Hoa Tie, mengapa kau berpeluk tangan?"
"Maksudmu?"
Berkata Hoa Tie dingin.
"Didalam keadaan yang seperti ini, kita harus bersatu padu,"
Berkata Su-to Yan.
Mengikuti pembicaraan Su-to Yan dan Hoa Tie, hati Tie Ie Ya menjadi marah, atas sikap yang diperlihatkan oleh kawan seperjuangan itu, Tie Ie Ya memang tidak puas, disaat ini pedangnya ditarik pulang, Sreet mengancam Hoa Tie.
"Tidak takut mati? Nah terima seranganku ini"
Demikian Tie Ie Ya berkata sambil menyerang kearah Hoa Tie.
Bergantinya pedang Tie Ie Ya membawa akibat lain, mas murni bermuncratan, hampir saja mengenai beberapa orang.
Sebelum itu, tiga pedang bertahan menaikkan mas murni keatas, Dicabutnya pedang Tie Ie Ya berarti kehilangan satu kekuatan, hanya dengan kekuatan Su-to Yan dan In Hay Hong cukup untuk mempertahankan diri, bobot berat mas murni itu menekan turun beberapa senti.
Hoa Tie membuang diri kesamping, serangan Tie Ie Ya sungguhsungguh berada diluar dugaan.
Hampir saja ia terluka.
Beruntung gerakannya gesit, Hingga tidak mengalami cidera.
Maksud Hoa Tie yang berpeluh tangan adalah membiarkan ketiga orang itu bertahan sedapat mungkin, menunggu sampai mas murni itu membeku, maka ia masih mempunyai tenaga penuh dan itu waktu dengan menggunakan pedangnya, membobol mas murni, meninggalkan tempat itu.
Karena adanya pikiran yang serakah seperti ini, dengan demikian Hoa Tie tidak mau mengeluarkan tenaga.
Pengunduran diri Tie Ie Ya berakibat besar, segumpalan emas murni jatuh menekan Su-to Yan dan In Hay Hong menjadi kaget, masing-masing bertahan sedapat mungkin, mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Tie Ie Ya.
Dada Su-to Yan dirasakan sangat serak, sulit untuk bernapas, demikian juga In Hay Hong, hanya tenaga dua orang ini, mana mungkin bisa mempertahankan diri lagi?
Keadaan yang seperti itu tidak lepas dari penilaian Tie Ie Ya, ia menjadi kaget, In Hay Hong dan Su-to Yan bukanlah seorang kawan akrab, toh mereka bisa bekerja sama2 mempertahankan jiwa dan gencetan mas murni yang dicairkan itu.
Tie Ie Ya meninggalkan Hoa Tie mengayun pedang dan menahan turunnya cairan mas murni lagi, ia membantu Su-to Yan dan In Hay Hong mereka berada dalam keadaan terjepit.
Beban yang menekan Su-to Yan dan In Hay Hong menjadi agak ringan.
"Hoa Tie,"
Berkata Tie Ie Ya.
"Jangan kau mempunyai pikiran yang jahat, untuk menunggu bekunya cairan mas murni, harus memakan waktu dua belas jam. Didalam dua belas jam itu, besar kemungkinannya kami bertiga tidak bisa bertahan, kami bertiga kalah kekuatan. Kami bertiga mati, Dan sesudah kami mati boleh dibayangkan sendiri, siapa yang akan menahan turunnya cairan emas murni? Mungkinkah kau bisa hidup sendiri ?"
Hoa Tie memang mempunyai rencana lain, ia berkata.
"Tidak ada yang melarang kalian menahan turunnya cairan mas itu."
In Hay Hong tidak sependapat dengan pendirian sang suheng, tapi ia sulit untuk mendebatnya. sampai disini, ia tidak bisa lagi, tidak bicara, teriaknya.
"Suheng, lebih baik kau membantu usaha kami. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh"
Hoa Tie harus berpikir lama, seperti apa yang Tie Ie Ya sudah kemukakan, menunggu cairan mas murni itu harus memakan dua belas jam, mungkinkah mereka bertiga bisa bertahan selama itu ?
Bila tidak ada tiga orang yang menahan kekuatan dari atas, ia sendiripun terjepit mati.
Untuk meloloskan diri dari jepitan-jepitan ini, Hoa Tie mengayun pedang, tapi tidak membantu usaha dua orang itu yang menahan turunnya cairan emas, itu hendak kembali kejalan pertama, menuju kearah besi berat yang membuntukan jalan belakang.
Terdengar suara berdesis yang sangat panas, besi itu pun tidak mudah ditembus, Dan hawa panas menyerang dirinya, wajah Hoa Tie berubah, kini ia maklum apa yang rencana Biarawati jaya sudah gunakan.
Ternyata jalan mundur merekapun sudah dibekukan, tentunya ada cairan mas murni pula yang tertahan dibelakang besi berat itu.
Tidak mungkin Hoa Tie mencari jalan mundur.
Tie Ie Ya bisa menyaksikan apa yang diperbuat oleh Hoa Tie, maka ia berkata.
"Nah, bagaimana rencanamu?"
Pikiran Hoa Tie sudah mulai menjadi kusut, kini ia menusuk dua kali, tanpa hasil, mau tidak mau, ia membantu usaha ketiga orang itu, menahan turunnya cairan mas murni dari atas, In Hay Hong memberi bujukan halus.
"Suheng, mati hidupnya manusia berada di dalam takdir, tapi kita harus berusaha, sedapat mungkin kita berusaha, Dalam keadaan yang seperti ini, lebih baik kita bersatu."
Empat jago kelas satu menahan turunnya cairan mas murni yang dituangkan dari atas, inilah rencana Jahat dari Biarawati Jaya.
Dengan adanya tambahan tenaga ini, Su-to Yan, In Hay Hong dan Tie Ie Ya bisa meringankan beban, dengan tenaga empat orang, tentu saja lebih ringan, bila dibandingkan dengan tenaga tiga orang tadi.
Sayang sekali, su-to Yan bertiga sudah bertahan terlalu lama, tenaganya sudah mulai kurang, keringat mulai membasahi tubuhtubuh mereka itu.
Hoa Tie sudah memberi bantuan, maka tenaga mereka menjadi empat orang.
Tapi cairan mas murni yang dituang dari atas lubang itu masih mengilar terus, semakin lama semakin berat, hal ini dirasakan oleh empat orang yang bersangkutan.
Biarawati Jaya masih menuang terus cairan mas cairan mas yang dibawah mulai membekuk tapi yang diatas diruang terus dan mencairkan sebagian lagi mas murni yang membeku.
Bertambahnya cairan mas murni itu bisa dirasakan sekalian oleh keempat yang bersangkutan dan mereka bertahan lagi beberapa waktu, tidak ada tambahan berat baru, bobot berat itu sudah terbatas.
Mereka menjadi girang, tentunya Biarawati jaya diatas mereka telah kehabisan mas murni, dan hanya terbatas pada jumlah-jumlah tertentu.
Beban itu tidak bertambah lagi.
In Hay Hong dan Su-to mengeluarkan suara gembira.
Yan saling pandang, mereka Tie Ie Ya dan Hoa Tie juga bisa merasakan, bobot berat mas murni yang jatuh dari atas itu tidak bertambah lagi.
Dengan satu isyarat bersama, empat pedang mereka dijunjung keatas, dan itulah tenaga gabungan, maka gumpalan mas murni tertekan ke atas....
Tie Ie Ya berteriak girang "Bagus, Mari kita tekan terus keatas."
Su to Yan maklum, hal itu bukan saja pekerjaan yang mudah.
Tapi mereka harus berdaya, bersama-sama dengan segera menekan keatas lagi.
Keadaan seperti itu tidak ubah seperti pompa.
Sebelumnya bilamana cairan mas murni membutuhkan jalan lubang itu, menekan kebawah..
kini ditarik lagi keatas, maka hawa udarapun tersedot, menjadi tipis sekali.
Napas keempat orang itu dirasakan menjadi sesak, mereka kekurangan gas udara, udara yang sangat tipis itu tidak cukup untuk digunakan bernapas oleh empat orang, walau dengan tenagatenaga dalam yang luar biasa, toh mereka harus bernapas.
Dan napas ini sangat di butuhkan sekali.
Dengan terengah-engah Hoa Tie berkata.
"Mari kita dorong terus, sepuluh tombak lagi. Pasti kita berhasil."
Tie Ie Ya berkata.
"Mungkinkah kau bisa bertahan terus-menerus didalam hawa udara hampa yang seperti ini ? Keadaan ini memang sulit bagi mereka. membiarkan cairan mas murni itu jatuh kebawah, pasti mereka tergencet dan mati, mendorongnya keatas, hawa udara menjadi tipis, hingga mereka sulit bernapas Tapi ini hanya jalan satu-satunya, mau tidak mau, mereka harus menyingkirkan mas murni itu. Otot-otot Tie Ie Ya mulai berkembung keluar, menandakan betapa kuat tenaga yang di kerahkan olehnya. Napas Hoa Tie tersengal-sengal, diantara keempat orang itu Hoa Tielah yang mempunyai tenaga dalam terendah! Wajah In Hay Hong menjadi pucat pasi matang biru, terlalu banyak tenaga yang dikerahkan hampir ia sulit bernapas. Su-to Yan memperhatikan keadaan-keadaan dari ketiga rekannya, tenaga dalamnya berputar secara teratur, perlahan demi perlahan, napasnya agak memburu, tapi ia diantara keempat orang tadi, kedudukannyalah yang terbaik. Tenaga dan ilmu-ilmu dari apa yang dipelajari digunakan semua. Terbayang kembali pelajaran-pelajaran yang jarang digunakan, kini wajarlah rasanya untuk diperlihatkan ditempat itu, hati Su-to Yan tergerak tiba-tiba saja ia mengeluarkan pekikan panjang, pedangnya yang menekan cairan mas murni yang membeku itu digerakkan, berputar mengorek sedikit, semakin lama semakin besar, terjadi hujan emas, percikan-percikan lelatu api mas itu berterbangan kemana-mana, In Hay Hong, Hoa Tie, Tie Ie Ya menjadi kaget, mereka harus mengerahkan sebagian tenaga dalam menghindari percikan-percikan lelatu mas murni tadi. Semakin lama, Su-to Yan semakin segar, pedangnya bergerak, semakin cepat, ia membuat lubang, dan lubang itu telah mulai membesar, semakin lama semakin besar.
"Hai!"
Hoa Tie membentak.
"Apa yang kau lakukan?"
Tapi Tie Ie Ya sudah mengetahui apa yang harus dilakukan olehnya, mengikuti gerakan Su-to Yan, ia pun membuat lubang, cairan cairan mas murni yang membeku itu, dicongkelnya sedikit demi sedikit, berguguran jatuh kebelakang.
Hati In Hay Hong dan Hoa Tie juga mulai bergerak, kini mereka mendapat cara lain bagaimana untuk melenyapkan tekanan-tekanan dari cairan mas murni itu.
Empat pedang dari empat jago istimewa kelas satu, menggerakan senjata mereka, sedikit demi sedikit, tapi pasti sekali, mas-mas murni itu dikesampingkan tertumpuk dibelakang mereka.
Disentuhnya satu persatu, dan kini mereka hendak menembus mas murni itu membuat lobang jalan maut.
Tekanan mas murni dari atas sudah tidak ada, mungkin terjadi perobahan mungkin pula kehabisan bahan.
Karena itulah, dengan penuh kebebasan ke empat pedang tadi bergerak langsung maju ke-depan, mudah sekali, walau dengan baju berlubang, terkena percikan-percikan mas murni yang panas, merekapun menerobos terus.
Tress....
akhirnya Su-to Yan membuat toblosan terakhir, dan udara dingin dari atas mengalir masuk, ia berhasil menembus pertahanan mas murni yang terakhir diatas.
Adanya lubang yang kecil itu sudah cukup untuk menangkap suara-suara yang ada diatas, terdengar riuh rendah lolongan srigala, bagaikan menghadapi hutan yang penuh dengan binatang-binatang.
Pedang Su-to Yan, Hoa Tie, dan In Hay Hong dan Tie Ie Ya bekerja semakin hebat, dan akhirnya mereka berhasil membuat lubang, masing-masing mencelat keluar dan bawah lorong rahasia itu.
Suara lolongan-lolongan serigala masih terdengar jelas selalu Dan diantaranya terdengar jelas lolongan panjang yang nyaring dari seseorang.
Hati Su-to Yan sangat girang, itulah suara si Anak Srigala Lee Pin.
Betul saja, seseorang yang menunggang kuda maju kearah mereka, penunggangnya adalah Lee Pin.
Si Anak serigala Lee Pin menghampiri Su to Yan, merangkul keras tubuh kawan itu, dengan girang ia berteriak.
"Bagus, kau tidak menderita sesuatu apa."
Dengan penuh syukur dan terimakasih Su-to Yan berkata.
"Saudara Lee Pin, terima kasih kepada bantuanmu."
Kini Su-to Yan mengerti mengapa tekanan cairan mas murni, mengapa tidak memberat lagi, ternyata diatas mereka, Lee Pin telah datang dengan pasukan srigalanya, sehingga menghancurkan tipu jahat dari Biarawati Jaya.
Karena tidak adanya lemparan-lemparan cairan emas murni dari atas, maka Su-to Yan berempat bisa berhasil keluar dengan bebas, Mudah saja dibayangkan bilamana tidak ada Lee Pin ditempat itu, walau Su to Yan berhasil membuat lubang yang cukup untuk mereka keluar, mungkinkah bisa menerjang lemparan cairan mas murni yang panas.
Tentu saja tidak mungkin.
Cairan mas murni itu sangat panas sekali, daya bekunya rendah bagaimana mereka bisa mengelakan.
Lee Pin memandang kearah empat orang yang berada ditempat ini, ia berkata kepada Su-to Yan.
"Pendekar Rajawali Mas Kie Eng memberitahukan kepadaku, ia meminta bantuanku agar bisa menolongmu. Dan betul-betul aku berhasil menolongmu. Tapi mereka telah melarikan diri "
Yang diartikan mereka oleh si Anak serigala Lee Pin adalah orang-orang Biarawati Jaya. Memandang kepada Lee Pin, Su-to Yan mengajukan pertanyaan.
"Kau melihat Ie Han Eng?"
"Kukira telah dibawa oleh mereka."
Berkata Lee Pin.
"Biarawatibiarawati itu terlalu licin, serigala-serigalaku itu bisa dielakannya juga."
Disekitar tempat itu, masih terdengar lolongan-lolongan serigala yang panjang melengking-lengking, sangat tajam sekali, ganas sekali cukup membangkitkan bulu roma.
"Saudara Su-to Yan?"
Berkata Lee Pin.
"Legakan hatimu, pasukan Serigalaku telah mengurung sekitar tempat ini, hendak kucoba, bagaimana mereka bisa meloloskan diri."
Hoa Tie dan Hay Hong saling pandang, mereka menyerah karena membiarkan sibiru terbang kembali, bilamana ada bantuan Raja wali Sakti dari Tong Hay itu, tentu lebih mudah menguasai posisi disini.
Golongan Biarawati jaya telah memperhitungkan sesuatu, diluar dugaan mereka tidak bisa membentur kekuatan pasukan Serigala yang dibawa oleh Lee Pin.
Mereka ketemu batunya.
Disaat ini, tiba-tiba terdengar suara lolongan serigala yang lebih galak, lebih panjang.
Lee Pin berteriak girang, dia berkata kepada Su-to Yan.
"Ada berita, mari kita kesana, kukira Ie Han Eng berada di tempat itu."
Mengikuti datangnya arah suara lolongan serigala tadi, Lee Pin mengajak Su-to Yan ke tempat itu.
Lima jago silat kelas satu menggerakkan tubuh mereka, serigalaserigala yang berada disekitar itu menyingkirkan diri, mereka membawakan sikap yang hormat kepada Lee Pin, si Anak Serigala Lee Pin adalah pemimpin mereka.
Pemimpin manusia yang mempunyai kecerdikan otak melebihi binatang.
Akhirnya Lee Pin berhenti dibawah sebuah pohon besar, dibawah pohon ini terdapat seekor serigala yang sangat besar, terjadi saling sahut-sahutan didalam bahasa binatang, Lee Pin dan serigala besar itu melolong sekian saat dan mengertilah apa yang telah terjadi Lee Pin memandang ke arah Su-to Yan kemudian berkata.
"Ia mengatakan bahwa di atas pohon ini masih ada orang!"
Hati Su-to Yan berdebar-debar.
Mungkinkah Ie Han Eng?
Tapi belum tentu, Mungkin juga orang-orang dari golongan Biarawati Jaya?
Su-to Yan, Tie Ie Ya, In Hay Hong, Hoa Tie dan Lee Pin memperhatikan pohon besar di depan mereka.
"Lihat."
Tiba-tiba Tie Ie Ya berteriak. -ooo0dw0oo-
Jilid 22 Semua mata ditujukan ke tempat tangan Tie It Ya, disana terdapat sebuah lubang tertutup oleh akar-akar rumput, dan sekali lobang itu disingkap oleh mereka, cukup untuk memasuki tubuh seorang, Lima jago saling pandang, akhirnya Tie It Ya yang berteriak.
"Biar aku yang masuk"
Ia berkata.
"Jangan"
Berteriak Suto Yan.
"Biar aku saja."
Tap Lee Pin sudah menerobos masuk kedalam lobang itu.
Suto Yan tidak mau ketinggalan, iapun turut serta memasuki.
Didalam pohon ini cukup besar, ternyata isinya sudah dikorek, tidak ubahnya sebagai perlindungan yang sangat aman.
Ada sebuah tangga tali yang terjulur naik., Lee Pin sedang menaiki tangga tali itu menuju keatas, Suto Yan juga menyusul kawannya itu.
Karena keberanian Lee Pin dan Suto Yan, ketiga jago lainnya juga tidak mau kalah, Hoa Tie, In Hay Hong dan tie IT Ya menyusul masuk kedalam pohon,dan merambat naik melalui tangga tambang yang ada.
Gerakan mereka ceoat sekali dan kini masing-masing telah berada diatas pohon itu.
Cukup luas, disana terdapat satu bangunan, tidak ubahnya sebagai istana diatas pohon.
Suatu bangunan diatas pohon yang terpentang diatas mata kelima jago itu, seperti orang dayak, tapi lebih rapih dari orang dayak, semua perabot dan bentuk-bentuk bagunan rapi sekali, bagus sekali, necis sekali.
Ditengah-tengah bangunan itu duduk dua orang, satu adalah Ie Han Eng dan seorang lagi adalah seorang nikow tua, mereka mengatupkan mata mereka seolah-olah tidak tahu akan kedatangan lima orang tadi.
Suto Yan berteriak girang.
"Adik Eng"
Ie Han Eng tidak membuka matanya, seolah-olah tidak mendengar teriakn itu.
Reaksi nikow tua yang duduk di vsebelah Ie Han Eng segera terbit, sepasang mata nikow tua yang dikatupkan itu terpentang lebar-lebar memancar sinar kebencian, ditujukan kepada Suto Yan dan berkata.
"Mengapa kau berani naik ke tempat ini?"
Ia membentak.
Suto Yan tidak memperdulikannya, segera ia menubruk kea rah Ie Han Eng, diseretnya tubuh sang kekasih itu, menjauhi nikow tua tadi.
Lee Pin, Hoa Tie, Tie It Ya, dan In Hay Hong berbaris di belakang Suto Yan.
Mereka hendak melihat apa yang SutoYan lakukan di tempat itu.
Suto Yan telah berhasil merebut Ie Hsn Eng, tetapi tidak berhasil membangunkan gadis itu, menotok-notok beberapa tempat dan tidak berhasil sama sekali.
Kemarahan Suto Yan meluap-luap, memandang kearah si nikow tua, segera ia membentak.
"Kau apakan dia ?"
Nikow tua itu memperlihatkan senyumannya yang menantang, sombong sekali. Nikow tua itu membuka suara.
"Kuperingatkan kepada kalian semua lekas turun dari tempat ini."
Diantara kelima orang itu, adat Hoa Tie sangat keras, ia masih mendendam sakit hati atas tipu muslihat Biarawati jaya yang hendak membunuh mereka dengan menuangkan cairan-cairan emas murni kedasar goa itu.
Kini dibentak-bentak lagi, kemarahannya tidak bias tertahan, ia mengayun tangan dan memukul ke arah nikow tua itu.
Suto Yan kaget, sebelum Ie Han Eng bias ditolong, ia tidak mengijinkan orang mengganggu nikow tua itu, nikow tua adalah salah satu orang dari golongan Biarawati jaya yang terkemuka, bilamana sampai terjadi nikow tua itu mati, apa akibatnya?
Ie Han Eng pasti celaka.
Melihat gerakan Hoa Tie hendak memukul nikow tua itu, tangan Suto Yan direntangkan, menyambut serangan Hoa Tie.
Hoa Tie terdesak mundur dengan marah dia membentak.
"Suto Yan, kau berpihak padanya?"
Tiga kali pula Hoa Tie memukul terus menerus, tetap ditujukan kepada nikow tua itu. Tiga kali juga Suto Yan menerima pukulan Hoa Tie, segera pula ia membentak.
"Aku tidak mengijinkan orang luar turut serta dalam persengketaan ini, sebelum Ie Han Eng bebas dari kecelakaan."
"Dia adalah tokoh terkemuka dari Biarawati jaya"
Berkata Hoa Tie.
"bila tidak membunuhnya, siapa pula yang harus kita bunuh."
"Kau hendak membunuh nenek ini, berarti membunuh Ie Han Eng."
Berkata Suto Yan.
"Sudahkah terpikir olehmu?"
Hoa Tie telah membentur kekuatan Suto Yan, ia tahu sampai dimana ilmu kepandaian jago muda itu, tidak mungkin bisa memenangkan Suto Yan, karena itu dia harus mengalah.
Menengok kearah Tie It Ya, jago tua itu memancarkan sinar kebencian, masih menaruhsakit hati, inilah sebab ganjalan didalam ruang rahasia Biarawati jaya.
Apa boleh bua, Hoa Tie menyerah, ia mengundurkan diri dari persengketaan itu.
Suto Yan menghadapi nikow tua diatas bangunan diatas pohon besar itu, ia berkata.
"Bagaimana sebutan suthay yang mulia?"
"Huh"
Nikow tua itu mendengus.
"Tidak kenal kepadaku? Aku adalah ketua Biarawati jaya, namaku Put Lee Pat Lee."
"Haa..."
Mereka sedang berhadapan dengan ketua golongan Biarawati jaya.
Put Lee Pat Lee mengekang kesehatan Ie Han Eng, ia tidak berhasik melarikan diri dan menggunakan tempat persembunyian itu menyembunyikan Ie Han Eng.
Diluar dugaan, bantuan yang mensukseskan Suto Yan adalah pasukan serigala Lee Pin, daya cium serigala-serigala itu sangat luar biasa, mereka berhasil pula menemukannya.
Kejadian ini berada diluar dugaan Biarawati jaya.
Ie Hasn eng telah dibuat seperti orang yang lupa ingatan, Suto Yan sangat mengkhawatirkan keselamatan Ie Han Heng, ia berkata dingin.
"Apa yang suthay telah lakukan kepada nona ini? Mengapa ia tidak bicara?"
"Ia telah memakan obat dari Biarawati jaya"
Berkata Put Lee Put Lee.
"Bisakah suthay memberikan obat penawar untuknya?"
Suto Yan memohon dengan suara lemah. Put Lee Put Lee menganggukkan kepal, katanya.
"Bisa saja, Tapi kau harus mengikuti apa yang kuperintahkan,"
"Permintaanmu sulit diterima, Biarawati jaya mempunyai sikap yang bermusuhan, tentu mempunyai langkah-langkah yang tidak menguntungkan Suto Yan."
Si pemuda diam.
Orang-orang yang berada dibangunan diatas pohon itu berjumlah besar, kedudukan In Hay Hong mendekati tangga tali yang menurun, dikala Suto Yan berdebat dengan Put Lee Put Lee suthay, mengetahui bahwa dirinya tidak guna berdiam lama ditempat itu, In Hay Hong merosot turun, meninggalkan semua orang tanpa pamit kepada siapapun juga.
Kepergian In Hay Hong tidak diketahui smua orang, termasuk juga sang suheng Hoa Tie.
Hos Tie memusatkan perhatian kepada pembalasan dendam, ia sangaat sakit hati atas perbuatan-perbuatan Biarawati jaya, ingin sekali membunuh Put Lee Put Lee.
Tie It Ya jugs sakit hati kepada Put .ee Put Lee, tapi tidak sekeras apa yang Hoa Tie kandung.
Suto Yan Tidak ada niatan untuk membantu Put Lee Put Lee, tapi keselamatan Ie Hsn Eng berada ditangan ketua Biarawati jayaitu, mau tidak mau ia harus bias membawa diri.
Tie It Ya berteriak, ia memberi peringatan kepada SutoYan.
"Jangan masuk kedalam perangkap tipunya."
Pikiran Hoa Tie juga tergerak, segera ia berkata. Obat-obatan didaerahTong Hay terkenal nomor satu, bila kau bersedia membawa Ie Hsn Eng ke Tong Hay, juga tidak perlu meminta pertolongannya."
Hati Suto Yan tergerak, kata=kata Hoa Tie menyadarkan dirinya, ia juga maklum, aneka macam obat-obatan tersedia didaerah Tong Hay, obat apakah yang tidak ada di daerah itu?
Ie Han Eng menderita racun apa, bila ia bersedia mengajak kedaerah Tong Hay , tentu bias menyembuhkannya.
Tidak perlu meminta pertolongan Put Lee Put Lee yang belum tentu bias menghasilkan suatu kesuksesan.
Put Lee Put Lee mendelikkan mata, ia membentak kearah Hoa Tie.
"Apaka kau tah, racun apa yang sudah kutaburkan kepada Ie Han Eng?"
Hoa Tie kalah berdebat, tentu saja ia tidak tahu racun apa yang telah diberi makan kepada Ie Han Eng, dan sangat sulit untuknya memberi obat yang tepat, tapi ia tidak mau mengalah, dengan suara dengusan dari hidung ia berkata.
"Tidak peduli racun apa, obat-obat didaerah Tonghay sangat komplit, kita bisa mengurusnya."
"Obat yang cocok bias menyembuhkan penyakit, tapi salah memberi obat bias memperbesar penyakit itu. Dan ini diketahui oleh semua orang."
Kata-kata Hoa Tie seperti tadi tentu saja tidak bisa diterima oleh semua orang.
Mana boleh menjajal mengobati orang sakit dengan aneka macam obat-obatan, risiko terlalu besar.
Put Lee Put Lee juga mengerti, maka dibiarkannya saja ejekan Hoa Tie tadi, hendak dilihat bagaimana reaksi Suto Yan.
Suto Yan sedang membikin pertimbangan, bagaimana ia bias menyembuhkan penyakit Ie Han Eng.
Meminta Pertolongan kepada Put Lee Put Lee, berarti mengikat diri sendiri.
Meyerahkan Ie Han Eng kepada Hoa Tie juga belum tentu bias sembuh kembali.
Hanya ada dua jalan yang terpentang di depan Suto Yan, tapi kedua jalan itupun jalan yang sangat sempit, sulit dilakukan.
"Suthay"
Berkata Suto Yan.
"Bisakah kau memberi tahu, racun apa yang telah kau taburkan kepada Ie Han Eng?"
Put Lee Pui Lee berkata tawar.
"Dua macam racun yang bertentangan telah kuberi makan, satu adalah rumput Cian-wie-ciu, dan satunya lagi adalah akar Bian-ciu-hiang, bilamana tidak mendapat pengobatan yang tepat, hanya dalam belasan hari, kulit kekasihmu itu akan meleleh, mencair dan merusak diri sendiri."
Bulu tengkuk Suto Yan dirasa merinding mendengar keterangan Put Lee Put Lee yang seperti itu, Sesudah mengetahui racun yang ditaburkankepada Ie Han Eng, hati Hoa Tie menjadi girang, segera ia berteriak.
"Nah kau telah menyebutkan nama-nama racun itu, mungkinkah tidak ada obat yang bias menyembuhkannya?"
"Ada saja,"
Berkata Put Lee Put Lee "Obat yang bias menyembuhkan racun rumput Cian-wie-ciu adalah batu Tiat-tan-ciok dan obat yang bias menyembuhkan akar Bian-cu-hi-ing adalah rumput Ciok-hong-ci, Akan tetapi sifat-sifat batu Thiat-tan-ciok dan rumput Ciok-hong-ciu sangat bertentangan satu dingi dan satu lagi panas.
Aku tahu daerah Tong haymemiliki kedua obat ini, tapi bisakah kau meyembuhkannya?
Tanpa bias menggangu kesehatan orang yang bersangkutan?"
"Apa kau bisa?"
Bentak Hoa Tie.
"Tentu."
Berkata Put Lee Put Lee.
"Apa yang kau bias lakukan, pasti aku bisa juga."
Berkata Hos Tie.
"Baiklah,"
Berkata Put Lee Put Lee "Suto Yan, boleh kau serahkan saja Ie Han Eng kepadanya. Kukira ia lebih mempersulit keadaan Ie Han Eng daripada menyembuhkannya."
Suto Yan menjadi bingung, sangat ragu-ragu.
Sedari mereka menaiki tangga itu, si Anak Serigala Lee Pin belum pernah membuka mulut sampai saat ini, saking tidak sabar menantikan urusan-urusan mereka, Lee Pin berteriak.
"Put Lee Put Lee, jangan kau lupa, disini masih ada aku, si Anak Serigala Lee Pin yang tidak mengenal apa itu artinya perkemanusiaan."
Put Lee Put lee menoleh kea rah anak muda liar itu, sinar matanya penuh kebencian, kekalahan hari ini terjungkal karena kedatangan Lee Pin, pasukan serigal Lee Pin adalah pasukan yang terganas, Biarawati jaya tidak berhasil menaklukkan mereka tidak bias menggunakan siasat atau muslihat lain.
"Aku tidak bisa melupakanmu,"
Berkata Put Lee Put lee gemas. Suatu hari aku akan membikin tuntutan ini."
"Selalu aku siap menerima pembalasanmu"
Berkata Lee Pin.
"Kukira kau belum kenal kepadaku siapa adalah Lee Pin ini. Aku adalah manusia yang dibesarkan oleh serigala. Sedikit banyak sifatsifat serigalaku itu masih ada, jangan kau membuat aku marah lagi. Bilamana aku tidak senang kepaqdamu, apa akibatnya? Boleh kau bayangkan sendiri."
Tujuan kata=kata Lee Pin adalah memberi ancaman agar Put Lee Put Lee bisa lebih tahu diri dan bersedia memberi pertolongan kepada Ie han Eng.
Tapi Put Lee Put Lee bukan seorang ketua Biarawati jaya, bilamana ia tidak mempunyai keteguhan hati yang sempurna, semua ancaman itu tidak digubris, dengan tertawa ia berkata.
"Aku tidak melarang apa yang kau sukai. Kau hendak merusak diriku? Hendak menyakiti aku? Boleh. Tapi sudahkahterpikir olehmu, apa akibatnya dengan kedudukan Ie Han Engt? Mungkinkah gadis itu bias ditolong lagi? Mungkinkah Suto Yan mau berpeluk tangan saja, menyaksikan bahwa kekasihnya dilukai orang?"
"Tentu saja,"
Berkata Lee Pin.
"Aku tidak segera membunuh dirimu sebelum menyembuhkan penyakit Ie Han Eng."
"Hendak menyiksa aku?"
Put lee Put lee menantang.
"Kau kira aku takut?"
Bentak Lee Pin, ia sudah siap sedia.
"Tunggu dulu,"
Tiba-tiba Suto Yan menyela.
"Lebih baik kita bicara secara sabar."
Lalu SutoYan menghadapi Put lee Put lee, dan berkata kepada ketua golongan Biarawati jaya itu.
"Suthay, katakanlah apa yang kau mau?"
"Kau tidak mengharapkan Ie Han Eng menjadi sinting bukab?"
Bertanya Put lee Put lee. Suto Yan mengangukan kepala.
"Kau mengharapkan kembali seorang Ie Han Eng yang segar bugar bukan?"
Bertanya lagi Put lee Put lee. Selagi Suto Yan menganggukan kepala.
"Aku bersedia menyembuhkan Ie Han Eng dengan syarat dan janjimu. Kau harus bersedia melakukan perintahku."
"Perintah apakah itu? Aku bersedia melakukannya, bilamana bias kulakukan."
Berkata Suto Yan.
"Pasti kau bisa lakukan."
Berkata Put lee Put lee.
"Baik. Aku bersedia melulusi permintaanmu."
Berkata Suto Yan. Tiba-tiba terdengar seru geraman yang membentak.
"Tunggu dulu"
Orang yang mencegah persetujuan Suto Yan ini adalah Tie It.
Ya Tie It.
Ia maklum, ia mengerti, betapa jahatnya Biarawati jaya, maka segala sesuatu yang diambil oleh Put lee Put lee , pasti tidak menguntungkan mereka, karena itu cepat-cepat ia mencegah.
Menggagalkan persepakatan Put lee Put lee dan Suto Yan.
Tie It Ya menghadapi Put lee Put lee dsn berkata.
"Jangan kau kira orang-orang disini ini mudah dihina. Hanya sekali pencet jiwamu pasti melayang. Berpikirlah baik-baik."
"Tidak ada urusanmu."
Bentak Put lee Put lee.
"Aku sedang meminta persetujuan Suto Yan. Tidak perlu kau turut bicara,"
"Mengapa tidak memberi aku hak bicara? Hendak mengakali Suto Yan?"
Berkata Tie It Ya, Lalu dihadapinya Suto Yan dan berkata.
"Suto vYan, jangan kau mau ditipu olehnya. Dimisalkan ia memerintahkan sesuatu dan sesudah kau lakukan apa pula akibatnya bila ia menelan janji? Tipu muslihat Biarawati jaya terlalu banyak, kau bukan tandingannya, berpikirlah baik-baik,"
"Betul,"
Hoa Tie menyetujui pendapat Tie It Ya.
"Suto Yan, lebih baik kita kembali ke pulau Tong-hay, Disana pasti ada obat yang bisa menyembuhkan kekasihmu."
Tiba-tiba .... Seseorang melompat naik, gesit sekalim dsari tangga-tangga tali didalam pohon itu tanpa ada suara orang itu telah menampilkan dirim segera ia berkata.
"Suto Yan jangan ragu-ragu. Segera melakukan perjalanan ke Tong-hay. Aku telah menyediakan kapal, didalam sepuluh hari, kujamin berada di tempat tujuan."
Orang yang baru datang adalah seorang tua berbaju kuning, inilah paman ketua istana Belang Khong kiok kiong.
Musuh Biarawati jaya bertambah seorang lagi.
Dikurung oleh jago-jago kelas satu itu, Put lee Put lee tidak menjadi gentar, ia tidak berkepandaian silat, tapi otaknya melebihi mereka, tidak peduli siapa, tidak ada satu yang bisa menandingi kepintarannya, melihat kepada siorang tua berbaju kuning sebentar ia berkata.
"Kukira kau bernama Ban Ho Hian, bukan? Tokoh ternama dari istana Belang Khong kiok kiong? Orang berbaju kuning memang bernama Bun Ho Hian, ia menjadi paman dari Bun In Hian, kedudukannya didalam istana Belang sangat tinggi, boleh dikata bisa merendengi ketua golongan. Mendapat teguran dari Put lee Put lee, hati Bun Ho Hian menjadi terkejut, golongan Biarawati jaya tidak berkepandain silat, tapi tokoh-tokoh silat ternama tidak lepas diri penilaian merreka, sepintas lalu saja, Put lee Put lee juga bisa menyebut nama itu, tentu saja mengejutkan Bun Ho Hian. Bun Ho Hian segera menoleh kearah Suto Yan, ia berkata kepada si pemuda.
"Kukira daerah Tong-hay lengkap dengan segala macam obat-obatan, tidak perlu kau tunduk kepada kekuasaannya, Biarawati jaya tidak mempunyai maksud baik. Lebih baik kita mengajaknya ke Tong-hay, kujamin, hanya sepuluh hari kita bisa tiba ditempat itu. Dimisalkan tidak menemukan obat yang dimaksud, kita mencari jalan lagi."
Suto Yan menoleh dan memandang kearah Put lee Put lee, ia hendak mengetahui bagaimana sikap ketua Biarawati jaya ini.
Yang berada diluar dugaan, Put lee Put lee mengangguk kepala, ia menyetujui usul semua orang, pergi ke Tong-hay, katanya.
"Baik akan kulihat bagaimana kalau bisa membawa Ie Han Eng ke pulau Tong-hay. Mari kita bersama-sama pergi ke pulau Tong-hay. Suto Yan, kau boleh lulusi permintaan mereka."
Suto Yan berkata.
"Maksud tujuan utamaku ialah menyembuhkan Ie Han Eng. Pergi atau tidak pergi ke pulau Tong-hay, tidak menjadi soal."
Put lee Put lee berkata dingin.
"Dunia dimasa ini tidak sedikit yang berkepandaian silat, tapi siapakah diantara mereka yang bisa menggunakan otak? Hanya mengandalkan ilmu kepandaian silat untuk menandingi Biarawati jaya, inilah mengimpi. Hendak aku lihat, bagaimana kalian bisa membawa Ie Han Eng. Pergilah ke daerah Tong-hay. Akupun hendak menyertai kalian. Hendak kusaksikan siapa yang lebih unggul, Biarawati jaya? Golongan istana Belang Khong-kiok-kiong? Apa kau, Suto Yan atau jago-jago Tong-hay?"
"Bagus,"
Hoa Tie berteriak girang.
"Mari kita berangkat ke pulau Tong-hay."
Tentu saja Hoa Tie menjadi girang, karena pulau Tong-hay daerah kekuasaannya, itu waktu apa yang ia mau, Siapa yang bisa melawan?
Suto Yan tertegun sebentar, dia harus berpikir lama, tapi tidak ada jalan kedua, apa boleh buat, dengan menggendeong Ie Han Eng, ia melulusi permintaan semua orang, mereka harus semua pergi ke pulau Tong-hay.
Lee Pin bisa menyelami dasar tujuan Suto Yan, ia dilarang menggunakan kekerasan, menyiksa Put lee Put lee atau menyakiti ketua Biarawati jaya itu.
Dengan menghela napas panjang ia berkata.
"Suto toako, orang yang paling kupuja adalah dirimu. Kuharap kau tidak menjadi terganggu hanya karena seorang wanita, tapi apa boleh buat, baikbaiklah kau menjaga diri. Aku hendak berangkat lagi. Selamat berjumpa dilain waktu."
"Aku sangat berterimah kasih kepadamu, sampai berjumpa lagi,"
Berkata Suto Yan.
Ia tidak memaksa Lee Pin untuk turut serta ke pulau Tong-hay, mengingat banyaknya pasukan serigal yang dibawa olehnya.
Lee Pin merosot turun dengan melalui tangga tali, dengan kegesitannya yang luar biasa sebentar kemudian sang anak serigala telah lenyap.
Di bawah pohon besar itu terdengar lolongan lengkingan panjang, melengking jauh.
Disusul oleh suara jeritanjeritan serigala lainnya, mereka melolong memberi penyahutan dan secara teratur rapi, serigala-serigala itu dibawah pimpinan Lee Pin, lalu meninggalkan tempat itu.
Atas kesepakatan semua orang, karena Ban Ho hian telah meyediakan kapal dari istana Belang, merekapun meninggalkan bangunan di atas pohon besar itu.
Tie It Ya, Hoa Tie, Suto Yan dengan menggendong Ie Han Eng dan serta juga menggiring Put lee Put lee di depan mereka, bersama-sama menuju ke tepi pantai.
Disana telah tersedia perahu besar yang disediakan oleh Bun Ho Hian.
Perahu isata Belang itu cukup besar untuk menampung semua orang, pelayaran segera dilakukan menuju kea rah pulau Tong-hay.
Diantara rombongan orang-orang itu hanya tidak tertampak bayangan In Hay Hong si jago Tong-hay, setelah memisahkan diri dengan maksud tujuannya yang lain dari padayang lain.
Perahu besar berlayar dengan cepat.
Suto Yan menggendong Ie Han Eng.
Put lee Put lee dikurung oleh Tie It Ya, Hoa Tie dan Bun Hoa Kian.
Kesepian yang seperti itu membuat perjalanan yang terlalu lama, Put lee Put lee sudah menggunakan otaknya, ia membuka mulut.
"Suto Yan tahukah kau, apa yang menjadi maksud tujuanku ?"
Suto Yan masih berada dalam keadaan pusing memikirkan keselamatan Ie Han Eng yang belum sadarkan diri. Tanpa menoleh lagi ia berkata.
"Mana kutahu."
Put lee Put lee tertawa, ia bertanya lagi.
"tahukah kau apa yang menjadi maksud tujuan mereka ?"
"Kukira, aku tidak perlu tahu."
"Sala,"
Berkata Put lee Put lee.
"Salah besar bila kau tidak menyelidiki maksud tujuan dari lawan-lawanmu, suatu kesalahan yang terbesar bilamana kau mencari tahu apa yang berada disekitar daerahmu.
"Maksudmu ?"
Suto Yan memandang ketua Biarawati jaya itu.
"Kuberitahu kepadamu,"
Berkata Put lee Put lee.
Hendak mengambil kembali kitab pusaka peninggalan Kie toojin, Bun Hian hendak meminta kitab ilmu pedang Mayanada, Tie It Ya hendak mengambil pulang sepuluh pasang ilmu silat peninggalan jaman purbakala.
Maksud ketiga orang ini tidak sama, tapi arahnya sama, tujuan mereka adalah kau."
Bukan Suto Yan tidak tahu akan maksud-maksud tujuan dari ketiga orang itu, tapi ia tidak mau ambil pusing.
Satu persatu sudah pernah dikalahkan olehnya.
Mengapa ia harus takut atau gentar ?
Inilah perang adu domba, Put lee Put lee mulai memainkan lidah diplomasinya, ia berkata lagi.
"Suto Yan, seorang laki-laki sejati bisa bergerak lebih dahulu, sebelum musuh bergerak lebih cepat darimu."
Suto Yan masih membawa sikapnya yang bungkam, tidak meladeni kata-kata itu.
"Suto Yan,"
Berkata lagi Put lee Put lee.
"Tahukah kau, maksud tujuan Bun Ho Hian yang meyediakan perahu ini, ia rela mengantar kau sekalian pergi ke pulau Tong-hay ?"
Betul apa yang dikatakan oleh Put lee Put lee sangat masuk diakal.
Suto Yan belum tahu mengapa Bun Ho Hian bisa tiba disaat yang tepat ?
Dengan alas an apa jago istana Belang ini mengantarkan mereka ke pulau Tong-hay ?
Put lee Put lee tertawa, ia berkata lagi.
"Kau tidak tahu. Tapi aku sudah bisa menduga."
"Coba katakan."
"Tidak satu dari ilmu kepandaian silat mereka yang bisa menandingi dirimu, maka tidak satu yang berani bergebrak terlebih dahulu. Mereka bermaksud menggunakan Ie Han Eng untuk bisa menguasai dirimu. Tapi mati hidupnya Ie Han eng berada ditanganku, maka mereka harus menghadapi aku terlebih dahulu."
Suto Yan tertawa tawar, ia berkata.
"Tidak ada alasan sama sekali bukan ?"
Sesudah melepas kata-kata yang bersikap mengadu dombaan itu, Put lee Put lee mengatupkan sepasang matanya, ia duduk bersila dan bersemedi. Waktu berlalu. Put lee Put lee berkata.
"Suto Yan, bila aku bersedia mengobati Ie Han Eng, apa balas jasamu? Bersediakah kau menolongku dari tekanannya orang-orang ini ?"
Suto Yan sulit memberikan jawaban, dia menundukkan kepala dan harus berpikir lama sekali. Hatimya mulai goyah. Hoa Tie segera membentak.
"suto Yan, berani kau melindungi musuh."
Bun Ho hian juga berkata.
"Suto Yan, jangan mengambil langkah yang salah."
Memandang kepada orang-orang itu, Suto Yan berkata.
"Kalau tahu Ie Hasn Eng adalah kekasihku, siapa yang bisa menolong dirinya, aku akan mengabdi padanya."
Put lee Put lee girang.
Ternyata SutoYan telah masuk kedalam perangkapnya, pernyataan Suto Yan tadi akan menimbulkan akibat lain, tentunya ketiga jago itu marah kepada Suto Yan.
Betul-betul Hoa Tie menjsdi marah, ia berkata keras.
"Suto Yan, kita sedang menuju kearah Tiong-hay. Disana segera kau bisa menyaksikan bagaimana aku menyembuhkan Ie Han eng."
Put lee Put lee berkata dingin.
"Mengapa harus jauh-jauh pergi ke Tong-hay, disini ada aku yang bisa menyembuhkan Ie Han Eng, mengapa tidak meminta pertolonganku ?"
Tie It Yan tahu apa maksud tujuan Put lee Put lee yang sebenarnya, karena itu segera ia mengambil langkah praktis, tubuhnya bergerak, dengan tangannya mencengkram arah Put lee Put lee, tentu saja Put lee Put lee bukan seorang jago silat sehingga dengan mudah Tie It Ya berhasil menguasai ketua Biarawati jaya itu.
"Suto Yan,"
Berkata Tie It Ya.
"Jangan kau percaya kepada keterangannya. Dia sedang mengadu domba. Kita jangan masuk perangkapnya."
Gerakan Tie It Ya itu membuat Bun Ho Hian tidak puas. Segera ia membentak.
"Tie It Ya, didalam perahu ini, aku larang kau bergerak sesuka hatimu."
Tangannya bergerak dan memukul kearah Tie It Ya.
Tie It Ya sudah memperhitungkan akan adanya serangan itu, iapun menggunakan telapak tangannya bergerak dan memukul kearah Bun Ho Hian.
Didalam sekejap mata, mereka ttelah bergerak enam jurus.
Hoa Tie segera berteriak kepada kedua orang itu.
"Hentikan pertempuran. Sudah tahu bahwa orang sedang mengadu domba, mengapa kalian bertempur juga ?"
Sesudah melakukan gebrakan tadi, Tie It Ya dan Bun Ho Hian mengetahui masing-masing bahwa ilmu kepandaian mereka standing.
Tidak mudah untuk mengalahkan lawan, sehingga mendapat teguran dan peringatan Hoa Tie, masing-masing mundur kembali.
Put lee Put lee gagal mengadu domba, tapi ia tidak mengutarakan kekecewaannya, ia telah mempunyai rencana lain, dan kepada empat orang itu ia berkata.
"Lihat"
Suto Yan, Hoa Tie, Bun Ho Hian, dan Tie It Ya memandang kea rah tempat yang ditunjuk, apaun tidak terlihat oleh mereka. Didalam hati Suto Yan berpikir.
"Permainan apa lagi yang hendak dipertontonkan oleh ketua Biarawati jaya ini?"
Tie It Ya juga berkata dingin.
"Apa yang kau tunjuk ?"
"Perhatikan baik-baik,"
Berkata Put lee Put lee.
"Apa yang berada di dalam air itu, benda-benda yang sedang bergerak kemari ?"
Suto Yan memperhatikannya dengan lebih teliti, hatinya menjadi kaget, di dasar air terlihat ada yang bergerak cepat, itulah ikan-ikan cucut, tujuannya kapal mereka.
Tapi ia tidak mengerti, ada hubungan ikan cucut itu dengan perkembangan situasi?
Bukan Suto Yan saja yang belum mengerti, semua orang pun tidak mengerti.
Rombongan ikan cucut itu meluncur cepat dan creet, creet, diantaranya sudah ada yang menerjang kapal membuat lubanglubang.
Wajah Bun Ho Hian berubah, celakalah kapalnya, diterjangterjang oleh rombongan ikan cucut itu.
Bagaimana mereka bisa melanjutkan pelayaran ?
Rombongan ikan cucut itu sangat aneh, seolah-olah membawakan sikap yang bermusuhan terhadap kapal istana Belang, tidak henti-hentinya mereka menerjang, menerjang dan menerjang terus.
Suto Yan juga menjadi kaget, apalagi permainan oleh Biarawati jaya, bagaimana Put lee Put lee bisa menguasai rombongan ikan cucut itu untuk menerjang kapal yang merreka tumpangi.
Kekuatan ikan cucut memang cukup hebat, tidak sedikit lobang yang ditembus oleh tajamnya lancip mereka.
Terdengar suara hiruk pikuk dari anak buah istana Belang, kapal itu telah mulai bocor dibeberapa tempat.
Wajah Bun Ho Hian berubah, memandang kearah Put lee Put lee dan membentak.
"Hee apa yang sedang kau mainkan ?"
Put lee Put lee tertawa-tawa, ia berkata.
"Perahumu ini tidak ada gunanya lagi, bukan perahu saja, semua orang yang berada ditempat ini akan mati tenggelam, tidak mungkin ada yang menolong."
Suto Yan memperhatikan ikan cucut itu, yang berada diluar dugaan dan membuat ia betul tidak mengerti, bagaimana Put lee Put lee bisa menguasai rombongan binatang air tersebut?
Rombongan ikan cucut masih menerjang terus.
Tie It Ya memandang kearah Put lee Put lee dan berkata.
"Nikow tua, jangan kau lupa, bahwa kau juga masih berada didalam kapal ini. Tenggelamnya kapal akan menenggelamkan dirimu juga. Sudahkah terpikir olehmu, bagaimana rasanya menghadapi kematian itu ?"
"Ha, ha..."
Put lee Put lee tertawa besar.
Semua orang tidak mengerti atas sikap yang dibawakan oleh ketua Biarawati jaya itu.
Sebelum mereka sadar dari kebingungan itu, Tubuh Put lee Put lee bergerak melejit dan terjun ke permukaan air, terjun diantara rombongan ikan-ikan cucut itu.
Di sekeliling Put lee Put lee, berdiri jago-jago kelas satu, tapi mereka tidak menyangka-nyangka mungkin ada seorang yang berani menerjunkan diri kedalam rombongan ikan yang sangat buas ?
Apalagi moncong ikan-ikan cucut sangat tajam.
Besar kemungkinan bahwa tubuh Put lee Put lee menjadi berceceran didasar air diterjang oleh rombongan ikan cucut itu.
Suto Yan, Hoa Tie, Tie It Ya dan Bun Ho Hian melongok ke bawah hendak melihat bagaimana rombongan ikan cucut itu akan mengucar-ngacirkan Put lee Put lee.
Pemandangan apa yang yang dilihat oleh mereka sangat mengesalkan sekali, tubuh Put lee Put lee itu telah terjun kedasar laut.
Yang aneh ialah rombongan ikan cucut itu tidak mau menerjang dirinya, seolah-olah ketemu dengan hantu, mereka memisahkan diri dan meluncur pergi menjauhi Put lee Put lee.
Kepandaian renang Put lee Put lee sungguh luar biasa, seperti seekor iakan didalam air, ia timbul dan tenggelam cepat sekali, menjauhi kapal istana Belang yang mulai bocor.
Diatas geladak kapal, Tie It Ya menjadi marah, ia menggeram.
"Hendak kulihat, dapatkah kau melepaskan diri dari kejaranku ?"
Tubuh Tie It Ya lompat meluncur diatas permukaan air, ia mengejar kearah Put lee Put lee.
Berbeda sekali dengan keadaan Put lee Put lee, kedatangan Tie It Ya disambar oleh beberapa ekor ikan cucut, mereka menerjang kearah jago tua itu.
Sungguh mengherankan, bilamana Put lee Put lee dapat berenamg tanpa gangguan, dijauhi oleh rombongan ikan cucut, tapi kedatangan Tie It Ya berbeda sekali, dia menjadi incaran rombongan ikan cucut itu.
Tie It Ya tidak menjadi gentar, tangannya dipukul pulang pergi, menghantam kepala ikan-ikan cucut tersebut.
Tapi karena gangguan ini, tubuh Put lee Put lee sudah meluncur jauh lagi.
Tie It Ya putus asa, memukul lagi beberapa ikan cucut, tubuhnya melejit dan naik kembali ke atas geladak kapal istana Belang.
Diatas kapal, Suto Yan, Hoa Tie dan lain-lain bisa menyaksikan kejadian tadi.
Hati mereka berdebar-debar keras Lagi-lagi mereka ditipu eh ketua Biarawati jaya itu, entah dengan racun apa, Put lee Put lee bisa menghindari kejaran ikan cucut.
Entah dengan menggunakan obat apa, ikan-ikan cucut itu begitu senang kepada kapal istana Belang Khong-kiok-kiong.
Suto Yan mengeluh, bila ia mau, dengan ilmu pedang mayanada, dengan tipu ilmu pedang terbang, ia bisa melepas pedangnya dan membunuh Put lee Put lee.
Tapi membunuh Put lee Put lee sama artinya dengan membunuh Ie Han Eng.
Maka ia tidak melakukan pekerjaan itu.
Tie It Ya telah kembali ke atas geladak kapal, dengan uringuringan jago tua ini membentak-bentak.
Bun Ho Hian segera memberi perintah kepada orang-orangnya.
"Beri kecepatan maksimum, kejar nenek tua itu."
Perintah ini segera dijalankan anak buah istana Belang, memutar haluan, mengejar kearah larinya Put lee Put lee.
Kapal besar istana Belang Khong-kiok-kiong telah berlubang di beberapa tempat, tapi saking besarnya kapal tersebut, dalam beberapa saat tidak mungkin kapal tersebut tenggelam.
Kini dengan kecepatan penuh, mengejar ke arah larinya nenek tua itu.
Betapa lihay ilmu kepandaian air Put lee Put lee, tidak mungkin bisa menandingi kecepatan kapal, dalam sekejap mata, kapal istana Belang berhasil mengejarnya.
Hal ini juga sudah berada didalam perhitungan Put lee Put lee, ia menengadahkan kepala, menongolkan diatas permukaan air dan berteriak.
"Jangan kalian menjadi sombong, biar bagaimana, kalian akan mati. Kalian mati dibawah rencanaku"
Hoa tie berteriak.
"Tapi kau juga akan mati."
"Belum tentu,"
Berkata Put lee Put lee.
"Kapal istana Belang ini telah kupolesi dengan obat Thiat-cik-hian, maka semua ikan cucut senang kepada obat itu, tidak mungkin mereka bisa melepas kapal kalian."
Seperti apa yang Put lee Put lee katakan, ikan-ikan cucut masih mengejar kearah larinya kapal istana Belang, mereka mematukmatukkan lancipnya kearah kapal itu. Put lee Put lee berkata lagi.
"Semua ini adalah hasil karya rencanaku. Rencana pertama adalah menculik Ie Han Eng agar ilmu pedang Maya Nada tidak terjatuh ke tangan orang luar. Tidak berhasil, hal ini disebabkan oleh bocornya rahasia oleh Kie Eng tidak kusangka sebelum meninggalkan jiwa raganya, sebelum menghembuskan napasnya yang penghabisan sesudah kuberi makan obat beracun, Kie Eng masih berani membocorkan rahasia. Memberi tahu letak tempat sarang markas besar kami."
Hati Suto Yan tercekat, ternyata si pendekar Rajawali Mas Kie Eng telah memberi tahu letak sarang markas besar Biarawati jaya, dengan mengorbankan jiwanya, jago tua purbakala itu telah diberi makan obat beracun, dan dengan akibat pasti meninggal dunia.
Put lee Put lee berkata lagi.
"Hal ini sudah berada dalam perhitunganku, sengaja aku memancing kalian keatas puncak markas Biarawati jaya, dengan maksud agar kalian berempat bisa bertanding, dan menjatuhkan beberapa diantaranya. Tidak berhasil. Sudah kuduga kalian berempat bisa kekerja sama, dan memasuki kedalam lobang jebakan itu. Disini sudah kupasang perangkap lain, dengan cairan emas murni, aku bisa menghancurkan kalian. Bilamana tidak ada kedatangannya si anak serigala Lee Pin, nasib memang masih baik."
Put lee Put lee menyerocos terus, katanya.
"Disinilah rencanaku yang terakhir, sengaja kupancing kalian, dan pasti tidak lama lagi, kalian tenggelam menjadi setan laut yang ganas."
Sesudh mengucapkan kata-kata tadi, Put lee Put lee sudah tenggelam ke dasar air lagi.
Tie It Ya mengeluarkan suara dengusan, tangannya diputar, pedangnya dilepaskan mengancam kearah Put lee Put lee.
Tentu saja tidak berhasil, tubuh Put lee Put lee sudah tenggelam ke dasar laut.
Hoa Tie, Ban Ho Hian, Suto Yan dan Tie It ya marah-marah, mereka terjungkal dibawah kehebatannya Biarawati jaya.
Biarawati jaya tidak berkepandaian silat, Put lee Put lee tidak berkepandaian silat, tapi tipu-tipu muslihat mereka lebih hebat dari orang yang berkepandaian silat.
Sedikit demi sedikit kapal istana Belang itu mulai tenggelam.
Beberapa anak buah istana Belang menerjunkan diri kearah air, tapi nasib mereka lebih sengsara lagi, hanya beberapa cocokan, rombongan ikan cucut itu mengacip-ngacipkan tubuh mereka.
Hoa Tie memandang kearah langit jauh, ia berkata kepada Suto Yan.
"Suto Yan, kita akan segera bersama-sama mati ditempat ini. Tapi yang kukhawatirkan ialah dimana kitab peninggalan guruku ? Kitab itu telah diserahkan kepada Sam-kie ju-su in Hong, Sam Kie Ju-su adalah ayah angkatmu, sesudah ia meninggal dunia, tentu diserahkan kepadamu, bisahkah kau menyerahkan kepadaku ?"
"ayah angkatku tidak menyerahkan kitab tersebut,"
Berkata Suto Yan.
Hoa Tie tertegun, ia ragu-ragu atas keterangan Suto Yan.
Suto Yan menatap kearah Ie Han Eng, gadis ini sungguh sengsara.
Tidak lama lagimereka akan tenggelam ke dasar laut.
Perlahan-lahan tapi pasti, kapal besar itu tenggelam Bun Ho Hian repot dengan orang-orangnya, tidak satupun dari mereka yang berdaya.
Kapal besar istana Belang mulai tenggelam.
Beberapa orang lagi menerjunkan diri, mereka berusaha menghindari tajamnya mulut ikan cucut, tetapi tidak berhasil.
Jumlah rombongan ikan cucut itu terlalu besar.
Tidak satupun dari mereka yang terjun kepermukaan air bisa mengelakkan bahaya itu.
Put lee Put lee berada tidak jauh dari tempat mereka, ia telah menggunakan obat, maka tidak takut kepada rombongan ikan cucut.
Bahkan kebalikannya dari itu, rombongan ikan cucutlah yang harus mengelakkan diri menghindari kedatangannya.
Disaat rasa puasnya Put lee Put lee yang sangat bangga atas hasil kerja itu, tiba tiba wajah ketua Biarawati jaya ini berubah.
Dari jauh, meluncur datang sebuah kapal besar.
Put lee Put lee mengerutkan alisnya, sebelum kapal istana Belang tenggelam tidak mungkin ada kapal yang datang.
Kapal Biarawati jaya telah dipesan, agar mereka tidak terlalu cepat menampilkan diri.
Kini, kapal istana Belang hendak tenggelam.
Tapi belum tenggelam.
Dari jauh sudah mucul kapal lain, pasti bukan kapal Biarawati jaya.
Kapal siapakah itu ?
Cepat sekali kapal itu telah meluncur tiba.
Didepan kapal berdiri dua orang, satu adalah khong Bun, dan lainnya adalah In Hay Hong, itulah kapal bantuan dari Tong-hay.
Bersamaan dengan munculnya kapal itu, kapal istana Belang telah tenggelam.
Meluncur lompat beberapa orang, Suto Yan dengan menggendong Ie Han Eng, Hoa Tie, Tie It Ya, Bun Hoa hian, dan lain-lainnya, masing-masing telah melompat kearah datangnya kapal Tong-hay.
Kapal istana Belang tenggelam.
Dan kini muncul lain kapal lagi, inilah kapal yang diharapkan oleh Put lee Put lee, kapal Biarawati jaya.
Put lee Put lee meluncurkan diri dan menghampiri kea rah datangnya kapal Biarawati jaya, Suto Yan cs, sudah berada diatas kapal Tong-hay.
Diatas kapal ini menclok seekor rajawali biru, sangat besar dan gagah, inilah rajawali sakti dari Tong-hay.
Dengan menggendong tubuh Ie Han Eng, Suto Yan adalah orang pertama menginjakkan kakinya diatas kapal Tong-hay.
Satu serangan meluncur datang, itulah serangan Khong Bun.
Dengan tangan kiri menggendong Ie Han Eng, dengan hanya sebelah tangan kanannya, Suto Yan menerima pukulan Khong Bun.
Terdengar suara benturan keras, tubuh Khong Bun termundur ke belakang.
Dan ini waktu Tie It Ya, Hoa Tie, Bun Ho Hian beserta lain orang istana Belang telah tiba.
Khong Bun terpaksa, apa boleh buat ia menghentikan permusuhannya dengan Suto Yan.
In Hay Hong menghampiri Suto Yan, ia berkata perlahan.
"Serahkan Ie Han Eng kepadaku."
Suto Yan terkejut.
Ternyata ia masuk perangkap.
Lantas ia hendak menolak permintaan itu, memandang sinar mata In Hay Hong, tapi sepasang mata jago Tong-hay itu sangat tenang, tidak ada kemarahan, tidak ada kejelusan.
Untuk menghilangkan keragu-raguan orang, In Hay Hong berkata lagi.
"Aku telah membawa obat untuknya, lekas berikan kepadaku"
Suto Yan menjadi bingung.
Tapi ia sudah putus harapan.
Apapun hendak kucoba.
Apalagi mengetahui bahwa sepasang sinar mata In Hay Hong tidak mengandung kejahatan, ia menyerahkan Ie Han Eng kepada jago Tong-hay itu.
In Hay Hong menerima Ie Han Eng, ia memondongnya, dari dalam sakunya ia mengeluarkan sedikit obat, dijejalkannya kedalam mulut Ie Han Eng, setelah itu ia menyerahkan si gadis kepada Suto Yan.
"tolong kau menotok jalan darahnya,"
Demikian In Hay Hong berkata.
Suto Yan menerima kembali tubuh In Han Eng, dan sebagai seorang jago silat, ia tahu bagaimana harus menyadarkan seorang dari luka-luka yang seperti itu.
Menotok beberapa jalan darah untuk mengalirkan peredaran jalan darah Ie Han Eng.
Tidak lama kemudian, Ie Han Eng membuka sepasang matanya.
Suto Yan berlompat girang, ternyata obat pemberian In Hay Hong adalah obat yang sangat tepat.
"Adik Eng,"
Ia berkata kepada si gadis.
"kau sudah sadar ?"
Ie Han Eng tertawa, perlahan-lahan ia bangkit berdiri, ia menjadi kaget kembali manakala mengetahui bahwa dirinya dikelilingi oleh banyak orang, wajahnya menjadi bersemu merah sangat malu, ia tidak tahu, apa yang terjadi atas dirinya.
Sesudah mempernahkan Ie Han Eng, Suto Yan menghampiri In Hay Hong, memberi hormat kepada jago Tong-hay itu dan berkata.
"Terima kasih."
In Hay Hong tertawa sedih.
Ia hendak mengawini Ie Han Eng, Tetapi tidak berhasil, karena adanya perjodohan dari kakek moyang Ie Han Eng dan Suto Yan.
Walau demikian, ia tidak menjadi cemburu.
Kini ia telah melakukan sesuatu kebajikan dan menolong Ie Han Eng menyerahkan kepada Suto Yan.
Disaat ini, Khong Bun sudah maju lagi, ia membentak.
"Suto Yan, serahkan kitab ilmu silat golongan kami."
Suto Yan berkata.
"Sudah kukatakan, ayahku tidak menyerahkan kitab peninggalan."
"Kau kira aku mudah percaya ?"
Berkata Khong Bun dingin.
"Terserah,"
Berkata Suto Yan. Khong Bun melirik kearah Hoa Tie, kemudian melirik lagi kearah In Hay Hong, kepada dua saudara seperguruan itu ia berkata.
"Kitab yang berada didalam tangan bocah ini. Mari kita geledah."
Hoa Tie gergerak maju, ia mulai menjepit.
Tapi In Hay Hong tidak setuju dengan usul Khong Bun, ia menundukkan kepalanya rendah-rendah kebawah dan membiarkan kedua saudara seperguruan itu menghadapi Suto Yan.
Mengetahui tidak mendapat bantuan In Hay Hong, karena belum mempunyai pegangan teguh untuk mengalahkan Suto Yan, maka Khong Bun ingin mohon bantuan kepada Tie It Ya dan Bun Hoa Hian, kepada mereka ia berkata.
"Bersediakah kalian membantu usaha kami, meringkus bocah ini ?"
Tie It Ya dan Bun Ho Hian menganggukkan kepala, ia juga kurang percaya atas keterangan yang Suto Yan berikan. Suto Yan haarus menghadapi jago kelas satu, tapi ia tidak menjadi gentar.
"sreet"
Ia mengeluarkan pedangnya.
Dengan tangan kiri memayang Ie Han Eng, tangan kanan memegang pedang, ia sudah siap untuk menghadapi jago-jago itu.
Setelah mengalami kejadian dipuncak gunung markas Biarawati jaya, hati In Hay Hong telah berubah, ia tidak lagi memusuhi Suto Yan yang sangat tejepit, ia berteriak kepada pemuda itu.
"Suto Yan, serahkan Ie Han Eng kepadaku."
Suto Yan memandang kearah Ie Han Eng, ia mulai percaya atas keterangan In Hay Hong, memang adanya Ie Han Eng bisa mengganggu usaha untuk menempur empat jago kelas satu, ia mengharapkan agar Ie Han Eng mau berdiri didampingi oleh In Hay Hong, hanya untuk sementara waktu.
"Adik Eng,"
Berkata Suto Yan.
"Coba kau menyingkir sebentar, berdirilah disana. Aku akan menghadapi mereka."
Ie Han Eng bergoyang kepala, ia berkata.
"Aku tidak mau."
Suto Yan memandang kearah In Hay Hong, seolah-olah berkata.
"Lihat, ia tidak mau. Aku tidak berdaya."
In Hay Hong tertawa, ia berkata perlahan.
"Baiklah, jangan memaksa dia."
Khong Bun tidak puas atas sikap In Hay Hong.
Mengapa saudara seperguruannya tidak membantu usahanya ?
Dengan hanya sebelah tangan Suto Yan harus menghadapi empat jago kelas satu, ia tahu satu lawan satu, tidak mungkin dari keempat orang itu bisa menandingi dirinya.
Tapi kini, ia dikeroyok oleh empat orang, sulit untuk menentukan bagaimana ia harus memenangkan pertandingan.
Bukan itu saja, beban Ie Han Eng juga bisa memberatkan dirinya.
Si gadis tidak mau lepas diri, maka bagaimana Suto Yan bisa menempur bebas.
Situasi yang menguntungkan Suto Yan adalah tidak ikut sertanya In Hay Hong didalam pengeroyokan itu.
In Hay Hong sudah insyaf, cintanya kepada Ie Han Eng tidak dapat dipaksakan, mengingat si gadis tidak bisa membalas tepuk tangan yang datang dari sebelah pihak, tidak mungkin ia merebut gadis tersebut.
Cinta Ie Han Eng kepada Suto Yan adalah cinta abadi, tidak bisa menerima akan adanya orang ketiga, tidak bisa ada orang ketiga yang turut campur dalam persengketaan mereka.
Karena itu, mengetahui Biarawati jaya meracuni Ie Han Eng, teringat akan persediaan obat-obatan yang serba komplit, obatobatan Tong-hay yang serba istimewa, memperhitungkan kedatangan kapal Bun Ho Hian sekalian, daerah Tong-hay dengan bergerak cepat, Khong Bun, ia telah tiba lebih cepat mengambil obat khusus, mencari kapal balik.
ia bisa saja berangkat ke dengan meminta bantuan daripada rombongan itu dan membikin pelayaran Kedatangan kapal In Hay Hong tepat pada waktunya disaat yang amat kritis, ia berhasil menolong korban-korban Biarawati jaya, In Hay Hong telah menyerahkan obat yang dibawa, begitu cocok, ia berhasil menyembuhkan Ie Han Eng.
Adanya perdamaian sementara, dikarenakan bersitegang dengan Biarawati jaya.
Suto Yan, Tie It Ya, Bun Ho Hian dan Hoa Tie tidak saling tempur, karena butuhnya kekompakan untuk menghadapi Biarawati jaya.
Kini ancaman Biarawati jaya telah tiada, Put lee Put lee sudah dikuburkan, maka kekompakan mereka mulai meretak.
Masing-masing hendak menguasai Suto Yan, menguasai catatan ilmu silat yang berada didalam tubuh pemuda itu,.
Orang pertam yang gatal tangan adalah Khong Bun.
Maksud tujuan Khong Bun tidak jauh berbeda dengan maksud tujuan Hoa Tie atau In Hay Hong Rupanya, bilamana In Hay Hong sudah melepaskan diri atas permusuhannya dengan Suto Yan, Hoa Tie dan Khong Bun belum menerima kenyataan itu.
Mereka memusuhi Suto Yan lagi.
Khong Bun telah mendapat kode Hoa Tie, tangannya digerakkan menyerang Suto Yan.
Disaat yang sama, Hoa Tie juga membarengi gerakan Khong Bun, menghantam Suto Yan.
Dua jago Tong-hay menyerang Suto Yan.
Gerakan mana diikuti juga oleh Tie It Ya dan Bun HoHian, Suto Yan dikurung oleh empat jago kelas satu.
Satu lawan satu, tidak mungkin ada yang bisa menandingi Suto Yan.
Tapi digebrak oleh lima orang itu, dengan membagi pusat perhatiannya kepada keselamatan Ie Han Eng, Suto Yan agak terdesak.
Tiba-tiba In Hay Hong berteriak .
"Adik Eng."
Berkata Suto Yan.
"Lebih baik kau kesana dahulu."
"Tidak."
Ie Han eng menolak. In Hay Hong menghela napas, katanya perlahan.
"Baiklah, jangan memaksa dirinya."
Suto Yan menggunakan pedangnya, memukul Tie It Ya, Hoa Tie, Khong Bun dan Bun Ho Hian merangsek maju.
Keadaan Suto Yan semakin terdesak.
Dikapal Tong-hay persengketaan belum selesai.
Mereka menjadi lengah, ditempat jauh, kapal Biarawati jaya telah tiba, menolong Put lee Put lee.
Ketua Biarawati jaya ini tidak puas atas hasil rencananya, dendam sakit hatinya tidak bisa diputuskan, segera ia memberi komando perintah, menggunakan kapalnya meluncur kearah kapal Tong-hay, dengan maksud menerjang kapal musuh itu.
Kecepatan kapal Biarawati jaya tidak terlukiskan, laju sekali, kapal Tong-hay tidak siap sedia, dan disaat inilah terdengar satu suara menggelegar keras, dua kapal saling tubruk.
Kapal Tong-hay hampir terbelah menjadi dua, tapi hulu kapal Biarawati jaya juga mengalami kerusakan, hampir terjungkir.
Disaat itu Suto Yan dan lawan-lawannya sedang bertempur hebat.
Mereka masih bisa menyaksikan apa yang mengakibatkan pecahnya kapal besar ini.
Dari jauh, sebuah kapal lain menyusul datang.
Kapal itu adalah kapal bantuan, dimana berdiri Put in Taysu, Cia Ciu Nio dan Cin Bwee.
Kedatangan kapal ini terlalu jauh, belum ada yang tahu.
Suto Yan melirik kearah pinggir sisinya kapal Tong-hay yang telah diterjang oleh kapal Biarawati jaya.
Dengan kedua tangan ia menarik Ie Han Eng, mengeluarkan pekikan panjang, pedang digencarkan, menghantam kearah empat jago bergiliran, dan bgerganti posisi pindah ke kapal Biarawati jaya, kapal inipun mengalami kerusakan, tetapi tidak sehebat kapal Tong-hay.
Membarengi gerakan Suto Yan dan semua jagopun berpindahan, tetap masih mengurung Suto Yan dan berpindah ke kapal Biarawati jaya.
Kapal Tong-hay mulai tenggelam.
Kapal Biarawati jaya juga diam, tidak bergerak.
Kapal ini sudah mengalami kerusakan.
Disaat ini, pedang Suto Yan dilemparkan, inilah ilmu pedang dengan tipu-tipu silat yang terdapat didalam kitab ilmu pedang Maya Nada, ia menghujani serangan-serangan kearah empat orang itu.
Bagaikan seekor naga yang lincah, pedang Suto Yan menari-nari disekitar mereka, meloncat cepat sekali, berbalik dan menyerang orang lagi.
Hoa Tie, Tie It Ya, mereka telah menyaksikan ilmu pedang Maya Nada, dan disaat itu betul-betul terpesona.
Mereka takluk dan kagum kepada ilmu pedang Maya Nada itu.
Sesudah berhasil menekan keempat orang itu, Suto Yan menarik kembali pedangnya.
Hoa Tie, Tie It Ya, Khong Bun dan Bun Ho Hian tidak mengerti didalam saat yang hampir menerima kemenangan mengapa Suto Yan menarik pedang ?
Hanya In Hay Hong seorang yang bisa mengerti sikap Suto Yan, pemuda itu tidak mempunyai hawa pembunuhan, bila ia mau, tentu saja bisa membunuh lawan-lawannya.
Tapi ia tidak mau, pedang hanya digunakan kepada musuh-musuhnya yang jago-jago, bukan kepada orang yang tidak mempunyai banyak dosa, Karena itu pedang telah ditarik kembali.
Kini semua orang telah menaiki kapal Biarawati jaya.
Agaknya ketiga kekuatan yang pertama disebut lebih dahulu bersedia menggabungkan diri, bilamana harus menghadapi Biarawati jaya.
Sayang sekali, kapal Tong-hay sudah tenggelam.
Tapi kapal Biarawati jaya juga tidak mengalami nasib baik, bagian hulu kapal mereka telah pecah, dari sana mengalir air dan tidak lama lagi kapal itupun pasti tenggelam, semua orang menjadi bingung.
Suto Yan, Ie Han Eng, In Hay Hong, Hoa Tie, Khong Bun, Tie It Ya dan Bun Ho Hian telah menghadapi ketua Biarawati jaya.
Put lee Put lee membawakan sikap yang sangat tenang sekali, kepada orang-orang itu dia menatapnya perlahan-lahan, satu persatu ditelitinya sekali lagi, terakhir ia berkata.
"Kuanjurkan kepada kalian, tidak perlu menghadapiku lagi. Aku telah meminum racun, sebentar lagi akupun binasa. Tidak seorang dari kalian yang bisa memenangkan diriku, aku kalah karena rela, sudah waktunya aku mati, karena itu aku telah meminum racun bunuh diri."
Semua orang memperhatikan ketua Biarawati jaya itu. Terdengar lagi suara Put lee Put lee berbicara.
"Aku segera binasa, tapi kalianpun tidak luput dari kematian. Ditengah-tengah lautan samudera yang seperti ini, bisakah kalian menyelamatkan diri ? Satu persatu, kalian akan menyertaiku kealam baka, terbenam didasar laut. Tapi rasa puasnya Put lee Put lee tidak terlalu lama, terdengar suara In Hay Hong berteriak.
"Lihat sebuah kapal besar mendatangi kearah kita."
Semua mata ditujukan kearah datangnya kapal itu.
Betul saja kapal itu telah membesar dan disana berdiri Put in Taysu, Cis Cie Nio dan Cin Bwee, itulah kapal pertolongan.
Wajah Put lee Put lee berubah menjadi pucat, bilamana ia tadi garang dan galak, kini keadaannya berubah.
Sangat lesu sekali, usahanya untuk mati bersama-sama dengan orang-orang itu, mengalami kegagalan.
Put lee Put lee memandang kearah Suto Yan dan berkata kepada pemuda itu.
"Sungguhsungguh aku tidak mengerti, mengapa nasibmu baik selalu ?"
Untuk pertanyaan itu, Suto Yan tidak memberikan jawaban, diam saja. Put lee Put lee berpaling lagi kearah In Hay Hong dan membentak jago Tong-hay itu.
"Dan kau, mengapa kau mau membantu dirinya ? Kau dan Suto Yan adalah musuh, bukan kawan, seharusnya tidak bisa membela kepentingan dirinya. Tapi kau telah menolong musuh sendiri, kau mengobati Ie Han Eng, mendatangkan perahu pertolongan Tong-hay. Mengapa ? Mengapa kau melakukan perbuatan-perbuatan yang tolol itu ?"
Dan sesudah itu Put lee Put lee berkata lagi.
"Seperti Kie Eng, sesudah jago purbakala itu dipaksa menelan racun, betul-betul aku tidak mengerti, dia rela mengorbankan dirinya dan memberi tahu letak tempat Biarawati jaya. Mengapa ? Inilah betul-betul tidak dimengerti, suatu kejadian yang tidak mungkin terjadi."
In Hay Hong tertawa tawar, dengan sungguh-sungguh ia berkata.
"Kekalahanmu disebabkan oleh prasangka hati sendiri, kau menganggap manusia sebagai binatang. Makhluk yang tidak mempunyai perikemanusiaan, jiwa yang tidak mempunyai kebesaran hati hanya tahu dan melihat bagaimana kedengkiankedengkian, kau hanya bisa membedakan permusuhanpermusuhan, tapi kau tidak bisa menyaksikan persahabatan, kau telah melupakan persahabatan, kau telah melupakan perikemanusian, seorang yang bersedia berkorban dan cara-cara mengakurkan, inilah yang tidak bisa dipahami olehmu."
Put lee Put lee mempelototkan sepasang matanya, dengan penuh kebencian memandang In Hay Hong. In Hay Hong masih berkata.
"Kau hanya memperhitungkan permusuhan-permusuhan seseorang dengan seseorang, kau hanya menyelami dasar kejahatan seseorang. Tapi kau melupakan kerelaan seseorang, pengampunan seseorang, dan lagi, kau tidak tahu bahwa seseorang itu masih ada budi pekerti, budi pekerti kepribadian bisa mengubah sifat-sifat seorang yang jahat."
Put lee Put lee masih mempelototkan mata penuh ketidak puasan.
Disaat kapal Put in Taysu telah tiba, ia menggapaikan kepada semua orang,karena disaat ini kapal Biarawati jaya mulai tenggelam.
Satu persatu memindahkan kelasi mereka kearah kapal Put in Taysu.
Yang terang adalah Suto Yan, Ie han Eng dan In Hay Hong.
In Hay Hong memandang kearah Put lee Put lee dan hendak mengajak ketua Biarawati jaya itu pindah ke kapal penolong.
Tapi Put lee Put lee masih berada ditempatnya tanpa bergerak, In Hay Hong berkata pelahan.
"Ia sudah mati."
Keterangan si jago Tong-hay memang tepat.
Put lee Put lee telah memakan racun, ia bunuh diri, maksudnya agar semua orang bisa mati bersama di tengah-tengah laut itu dan kematiannya jadi yang paling senang, ia bunuh diri tanpa gangguan dan siksaan-siksaan lagi.
Dengan demikian, ia membiarkan semua orang tersiksa di tengah laut untuk beberapa waktu, hingga akhirnya akan binasa.
Tapi semua perhitungan-perhitungan Biarawati jaya ini mengalami kegagalan total.
Kapal Put in Taysu telah menolong semua orang, kecuali ketua Biarawati jaya, ia telah memakan racun dan bunuh diri, jiwanya tidak tertolong lagi.
Datangnya kapal Put in Taysu telah memberikan pertolongan yang cepat, jiwa semua orang tertolong.
Kapal Put in Taysu berlayar balik dengan memberi pertolongan kepada semua orang.
Cia Ciu Nio mendampingi Cin Bwee, ia takut murid itu mengalami godaan yang lebih hebat lagi.
Dengan mengajak Ie Han Eng, Suto Yan menghampiri kepada Supek mereka itu dan memgberi hormat.
Put in taysu serta Cia Ciu Nio membangunkan Suto Yan.
Dengan suara yang sangat datar sekali, Put in taysu berkata.
"Semua urusanmu telah aku tahu. Manusia itu tidak bisa dipaksa, kau bebas memilih hari depanmu."
Suto Yan juga bersedih, ia melirik kearah Cin Bwee, ia melihat bagaimana reaksi sumoay itu. Cin Bwee menyengir sedih, ia berkata.
"Suheng, telah kupikir baik-baik. Akulah yang salah. Dahulu aku masih terlalu kecil, belum berpengalaman. Kau tidak perlu kuatir. Aku bisa menjaga diri sendiri."
Air mata Cia Ciu Nio mengalir, ia tidak bisa meringankan beban penderitaan muridnya.
Apa mau dikata ?
Cin Bwee telah mengalami kegagalan cinta, dan yang berhak menerima cinta Suto Yan adalah Ie Han Eng.
TAMAT -ooo0dw0oo-
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 6
Baca Juga: Pendekar Sadis 11