Ceritasilat Novel Online

Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 8

Eps 8 Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung

Baca online Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung

Cersil Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung.

"Seorang laki2 kalau bisa begini barulah tidak percuma hidup di dunia ini. Semua orang sedang riang gembira, mana aku tega memberitahukan mereka tentang wafatnya Ang-lo-cianpwe?"

Sementara itu ia dengar si pengemis tua tadi telah berkata lagi .

"Tiga hari yang lalu, di Liong-ki-ce aku telah bertemu dengan Ang-lopangcu..."

Luar biasa kejut Nyo Ko oleh kata2 orang.

"Ang-lopangcu sudah lama meninggal cara bagaimana ia bisa bertemu dengan beliau tiga hari yang lalu?"

Demikian Nyo Ko tidak habis mengerti Dalam pada itu pengemis tua itu telah meneruskan.

"Waktu beliau tahu Ui-pangcu hendak menyerahkan jabatannya kepada Loh-pangcu, ia bilang keputusan ini sangat baik dan sangat cocok dengan maksudnya..."

Sampai di sini mendadak Loh Yu-ka berlutut ke hadapan pengemis itu sambil berkata dengan suara gemetar.

"Tecu pasti akan lakukan sepenuh tenaga untuk membalas budi kebaikan Lopangcu, asal pekerjaan itu berpaedah bagi perkumpulan kita, sekalipun mati tak gentar."

Pengemis tua itu sudah tentu tingkatannya lebih rendah daripada Loh Yu-ka, Pangcu yang baru ini, tetapi ia membawa Hiolo milik Ang Chit-kong, maka Loh Yu-ka berlutut terhadap Hiolo yang menjadi simbolnya Chit-kong dan bukan berlutut kepada pengemis itu.

"Ang-lopangcu bilang,"

Demikian pengemis tua itu melanjutkan lagi.

"dalam keadaan negara kacau balau ini, bangsa Mongol lambat laun mulai menjajah ke selatan hendak caplok negeri Song-raya kita, maka diharap semua anggota perkumpulan kita hendaklah berhati setia dan bernyali berani, harus bersumpah akan membunuh musuh dan melawan penjajah dari luar."

Serentak anggota2 Kay-pang itu berteriak lagi menyatakan akur, semangat mereka sangat tinggi dan sikap mereka berani.

"Pemerintah dalam keadaan kacau, pembesar dorna berkuasa, kalau kita cuma percaya para pembesar busuk itu akan melindungi rakyat, itu sekali-kali tak bisa terlaksana,"

Demikian pengemis tua itu bicara lagi.

"Kini negara dalam bahaya, setiap orang hendaklah berjiwa patriot, sedia korban untuk nusa dan bangsa, Sayang Lopangcu lagi ada sesuatu keperluan ke daerah Utara dan tak bisa datang ke pertemuan ini, maka aku disuruh menganjurkan kalian hendaklah ingat baik2 dua huruf, yakni Tiong Gi" . Seketika para pengemis bergemuruh menyambut anjuran itu, be-ramai2 mereka berteriak.

"Kami bersumpah menerima petunjuk Ang-lopangcu itu !"

Sejak kecil Nyo Ko tak mendapatkan pendidikan, maka ia tak tahu apa arti "Tiong Gi"

Atau setia dan berbakti itu betapa besar hubungannya dengan negara, tetapi bila dilihatnya anggota2 Kay-pang itu bersikap gagah berani, tanpa terasa iapun merasakan sesuatu, ia menjadi menyesal tempo hari telah permainkan beberapa anak murid Kay-pang.

Mengenai kematian Ang Chit-kong dengan mata kepala sendiri ia saksikan betul2 terjadi malahan dia sendiri yang mengubur jenazah orang, kenapa pengemis tua ini bisa bilang tiga hari yang lalu pernah bertemu dengan dia?

jika perintah itu palsu, tetapi perintah ini justru mengenai tugas yang mulia?

Begitulah Nyo Ko menjadi curiga dan tak mengerti ia pikir hal ini terpaksa dibicarakan pada Ui Yong nanti.

Sehabis itu, lantas diteruskan dengan urusan2 Kay-pang tentang kenaikan pangkat dan lain2 bagi para anggota, dan karena tiada sangkut pautnya dengan orang luar, para tetamu lantas pada undurkan diri.

Malamnya, luar maupun dalam Liok-keh-ceng telah dihias dengan lampu2 lampion yang indah seperti orang punya hajat saja, meja2 perjamuan memenuhi seluruh ruangan gedung dari depan sampai belakang, seluruhnya lebih 200 meja, semua kesatria dan orang gagah dari seluruh jagat tampaknya ada separah yang hadir.

Hendaklah diketahui bahwa Eng-hiong-yan atau perjamuan kaum kesatria ini dalam beberapa puluh tahun sukar diketemukan barang sekali saja, kalau bukan tuan rumahnya luas bergaul, tidak nanti bisa mengundang tetamu yang begini banyak.

Sampai saatnya, Kwe Cing dan Ui Yong keluar mengawani tetamu utama mereka yang berada di ruangan tengah.

Tempat Nyo Ko sudah diatur oleh Ui Yong dan duduk di samping mejanya, sebaliknya Kwe Hu dan Bu-si Hengte malah sangat jauh tempat duduknya.

Semula Kwe Hu rada heran, ia pikir orang toh tak bisa ilmu silat, untuk apa dia hadiri Eng-hiong-yan ini?

Tetapi bila terpikir lagi olehnya, seketika hatinya terkesiap.

"Haya, celaka, bukanlah ayah bilang mau menjodohkan aku padanya, jangan2 ibu sudah setuju lengan maksud ayah?"

Demikian ia membatin.

Sebab itu, makin dipikir Kwe Hu semakin takut, apalagi teringat olehnya betapa hangatnya hubungan mereka ketika ibunya menggandeng tangan Nyo Ko.

selamanya ayah-bundanya saling hormat menghormati dan harga-menghargai, kalau ayahnya berkeras dengan maksudnya, pasti ibunya tak bisa memgelak.

Karena itu, berulang kali ia melirik si Nyo Ko dengan sorot mata yang penuh marah.

KebetuIan waktu itu Bu Siu-Bun bertanya padanya.

"Hu-moay, lihat itu bocah she Nyo juga duduk di situ, ia terhitung Enghiong darimana sih?"

"Entah,"

Sahut Kwe Hu mendongkol "Jika kau mampu, boleh kau mengusirnya !"

Tadinya Bu-si Hetigte hanya pandang rendah pada Nyo Ko, tetapi sesudah mendengar Kwe Cing bilang hendak jodohkan puterinya padanya, tanpa terasa dalam hati mereka timbul rasa permusuhan hal ini memang bisa terjadi antara saingan rebut pacar, maka tak bisa mengalahkan mereka.

Kini mendengar kata2 Kwe Hu tadi, segera Siu-bun berpikir.

"Kenapa aku tidak bikin malu dia di hadapan orang banyak ini? Subo adalah seorang yang suka unggul, kalau bocah she Nyo terjungkal di bawah tanganku, pasti ia tak akan mau terima dia sebagai menantunya."

Setelah ambil keputusan itu, dengan It-yang-ti yang baru saja ia pelajari dari paman gurunya itu kebetulan bisa digunakan Nyo Ko sebagai kelinci percobaan. Maka segera berkatalah Siu-bun.

"la mengaku Enghiong, mengusirnya rasanya susah, adalah lebih baik naikkan dia sekalian supaya dia bisa dikenal orang banyak."

Habis berkata, ia menuang dua cawan arak dan segera didekatinya Nyo Ko.

"Nyo-toako, marilah kusuguh kau secawan,"

Demikian ia berkata.

Kecerdasan Nyo Ko jauh sekali di atasnya Bu-si Hengte, waktu dilihatnya orang mendekati dirinya dengan mata memandang Kwe Hu, sedang air mukanya mengunjuk rasa senang yang aneh, ia menduga orang pasti akan pakai akal licik ia pikir "Tentu dia tidak bermaksud baik dengan menyuguh arak padaku ini, Tetapi taruh racun di dalam arak rasanya iapun tidak berani."

Maka suguhan orang tak ditolaknya, ia berdiri dan terima pemberian itu terus diminum.

Siapa duga, pada saat itu juga mendadak Siu-bun ulur jarinya dan menutuk ke pinggangnya, Siu-bun sengaja tutupi pandangan orang lain dengan tubuhnya, ia pikir asal sekali tutuk kena "Jiau-yao-hiat"

Tentu Nyo Ko akan ber-teriak2 dan ter-tawa2 tak keruan di hadapan orang banyak.

Namun waktu ia mendekati lebih dulu Nyo Ko sudah memperhatikan gerak-geriknya, jangankan Nyo Ko sudah ber-jaga2, sekalipun mendadak musuh membokong, dalam tingkat kepandaian Nyo Ko sekarang juga sukar hendak merobohkannya, jika turuti watak Nyo Ko yang tak mau kalah sedikitpun dengan orang lain, pasti kontan dia batas hantam orang, kalau tidak bikin Siu-bun tersungkur, tentu pula "Jiau-yao-hiat"

Ia tutuk balik.

Cuma sesudah percakapannya dengan Ui Yong itu, hatinya sedang gembira, maka ia menddak tak enak merobohkan orang di hadapan orang banyak, ia pikir jeIek2 Bu-si Hengte adalah anak murid paman dan bibinya.

Sebab itu, diam2 ia hanya jalankan darahnya secara terbalik menurut ilmu ajaran Auwyang Hong.

Betul saja, ketika jari Siu-bun ditutukkan, meski Hiat-to yang diarah sangat jitu, tetapi Nyo to anggap seperti tak terjadi apa2 saja.

Sekali kena, bukannya Nyo Ko roboh atau tertawa seperti yang diharapkan, bahkan pemuda ini hanya tersenyum terus duduk kembali ke tempatnya tadi.

Keruan saja Bu Siu bun ter-heran2.

terpaksa iapun kembali kemejanya.

"Koko, kenapa ilmu ajaran Supek tidak manjur?"

Demikian ia tanya saudaranya dengan suara tertahan.

"Apa? Tak manjur?"

Sahut Bu Tun-si bingung Lalu Siu-bun menceritakan pengalamannya tadi "Ah, tentu jarimu tak benar atau Hiat-to yang kau arah menceng,"

Ujar Tun-si.

"Menceng? Mana bisa, lihat nih,"

Bantah Siu-bun.

Berbareng ia angkat jarinya terus bergaya menutuk ke pinggang sang kakak, baik gayanya mau pun tenaganya, semuanya tepat dan jitu, sedikitpun tidak salah seperti apa yang diajarkan Supek mereka.

"Ha, tadinya aku kira It-yang-ci tentu permainan yang amat lihay, huh agaknya juga tak berguna,"

Terdengar Kwe Hu mencemoohkan dengan mulut menjengkit. Karena sindiran ini. Tun-si merasa penasaran mendadak ia berdiri dan menuang dua cawan arak, iapun mendekati Nyo Ko.

"Nyo-toako, sudah lama kita tak bertemu kini bersua kembali, sungguh harus dibuat girang, maka siaute juga ingin suguh kau secawan,"

Demikian ia kata.

Diam2 Nyo Ko tertawa geli, adiknya sudah ke bentur batu, apa sang kakak juga ingin ketumbuk tembok?

Maka iapun tak menolak, dengan sumpit jepit dulu sepotong daging dan tangan yang lain ia sambut arak suguhan orang sambil ucapkan terima kasih.

Tun-si lebih kasar lagi dari pada sang adik, tanpa tedeng aling2 lagi mendadak ia ulur tangan kanan dan secepat kilat menjojoh ke pinggang Nyo Ko.

Sekali ini Nyo Ko tak perlu jalankan darahnya secara terbalik lagi, dengan tenang saja ia luruskan tangannya yang memegang sumpit itu, ia gunakan potongan daging sampi yang dia cepit tadi sebagai tameng di pinggangnya yang diarah.

Saking cepatnya Nyo Ko bertindak, maka sama sekali Tun-si tak berasa, ketika jarinya kena menjojoh, dengan tepat menembus potongan daging sampi itu.

"Minum arak dengan jojoh daging sampi paling enak,"

Kata Nyo Ko tertawa sambil meletakkan sumpitnya.

Waktu Tun-si angkat tangannya, ia lihat daging sampi itu masih mencantol di jarinya dengan air kuwah masih menetes, ia menjadi serba salah, dibuang sayang, tak dibuang bikin malu saja, ia pelototi Nyo Ko dengan gemas, lalu cepat2 kembali ke mejanya.

Melihat jari orang bertambah sepotong daging, Kwe Hu menjadi heran.

"Apakah itu?"

Demikian ia tanya.

Tentu saja Tun-si merah jengah tak bisa menjawab.

Begitulah selagi pemuda ini serba salah kehilangan muka, tiba2 terlihat seorang pengemis tua telah angkat cawan arak sambil berdiri.

Nyata pengemis tua ini bukan lain adalah Loh Yu-ka, pangcu baru Kay-pang.

"Seperti saudara2 sudah mendengar tadi, Ang-lopangcu telah mengirim perintah bahwa bangsa Mongol semakin nyata akan menjajah ke selatan, maka para saudara diminta berjuang mati2an untuk melawan musuh,"

Demikian ia angkat bicara sesudah ajak minum para kesatria.

"Kini para kesatria dari seluruh jagat hampir semua berkumpul di sini semua orang berhati setia negara, maka kita harus merundingkan suatu daya-upaya untuk mencegah penjajah bangsa asing itu, dan supaya peristiwa Ong-Khong (maksudnya kedua raja Song yang ditawan negeri Kim) tak terulang lagi."

Karena beberapa patah kata ini, keadaan hadirin seketika ramai lagi dan sama menyatakan akur. Dalam pada itu terlihat seorang tua dengan jenggot putih perak telah berdiri juga.

"Kata pribahasa, ular tanpa kepala tak bisa berjalan, percuma saja kalau kita hanya ber-cita2 tinggi, tetapi tiada seorang pemimpin yang bijaksana, tentu pekerjaan kita akan sia2,"

Demikian ia kata, suaranya lantang bagai genta.

"Kini para kesatria berkumpul di sini, harus kita angkat seorang yang bernama tinggi, seorang gagah yang dihormati semua orang untuk menjadi pemimpin dan kita semua akan mendengar perintahnya."

Seketika suara sorak-sorai riuh gemuruh lagi, segera pula ada yang berteriak.

"Baiklah, engkau orang tua saja yang menjadi pemimpinnya !"

"Ya, tak perlu lagi angkat yang lain !"

Sambung yang lain. Tetapi orang tua itu bergelak tertawa.

"Haha, aku si tua bangka ini terhitung manusia macam apa?" ,demikian katanya.

"Selama ini di kalangan Kangouw mengakui ilmu silat lima tokoh . Tang-sia, Se-tok, Lam-te, Pak-kay, Tiong-sin-thong adalah yang paling tinggi Tiong-sin-thong Ong Tiong-yang sudah lama meninggal Tang-sia dan Se-tok bukan orang golongan kita, sedang Lam-te jauh di negeri Tay-li, dengan sendirinya ketua serikat ini kecuali Pak-kay Ang-locianpwe tiada yang lebih sesuai lagi."

Memang Ang Chit-kong adalah jago utara yang tertinggi dan betul2 memenuhi harapan semua orang, maka tepuk tangan segera gemuruh lagi tanpa ada yang berlainan pendapat.

"Ya, Ang-locianpwe sudah pasti cocok untuk menjadi Ketua serikat para kesatria ini, kecuali dia, siapa lagi yang bisa taklukkan semua orang dengan ilmu silatnya dan melebihi orang Iain dengan budi pekertinya?"

Demikian tiba2 di antara orang banyak itu ada seorang lagi yang berteriak, meski suaranya sangat keras, tetapi waktu pandangan orang diarahkan ke tempat datangnya suara, orangnya ternyata tidak kelihatan.

Kitanya orang itu adalah seorang cebol yang sangat pendek hingga tertutup oleh orang di sekitarnya.

"Siapakah itu yang bicara ?"

Segera ada yang bertanya.

Dengan cepat si cebol itu melompat ke atas meja, maka tertampaklah perawakannya yang tingginya tiada satu meter, umurnya dekat setengah abad, sebaliknya wajahnya bercahaya penuh semangat.

Sebenarnya banyak yang hendak tertawai si cebol ini, tetapi demi nampak sinar matanya yang tajam, suara tertawa mereka telah tertelan kembali mentah2.

"Cuma tindak-tanduk Ang-lopangcu sangat aneh, dalam sepuluh tahun sukar untuk ketemu dia sekali kalau dia orang tua tak di tempat, lalu jabatan Ketua serikat ini harus dipegang siapa?"

Demikian si cebol itu berkata pula. Betul juga pikir semua orang.

"Scgala apa yang kita perbuat kini seluruhnya adalah untuk membela tanah air, sedikitpun kita tak punya kepentingan pribadi, maka kita harus angkat seorang Ketua muda, supaya kalau Ang-lopangcu tidak ada, kita lantas tunduk pada wakilnya ini."

"Bagus, bagus !"

Demikian terdengar sorak-sorai lagi dengan ramai. Lalu banyak lagi yang ber-teriak2 mengemukakan calonnya.

"Kwe Cing, Kwe-tayhiap saja!"

"Paling baik Loh-pangcu !"

"Liok-cengcu, tuan rumah ini saja!"

"Tidak, sebaiknya Ma-kaucu dari Coan-cin-kau!"

"Atau Pangcu dari Thi-cio-pang saja!"

Begitulah terdengar seruan yang simpang-siur, Selagi suasana rada kacau, tiba2 dari luar ruangan kelihatan bayangan orang berkelebat, empat tojin telah lari masuk dengan cepat, ternyata mereka adalah Hek Tay-thong, Sun Put-ti, Thio Ci-keng dan In Ci-peng berempat.

Melihat mereka sudah pergi dan mendadak kembali lagi, Nyo Ko menjadi heran, sebaliknya Kwe Cing dan Liok Khoan-eng girang luar biasa.

Lekas2 mereka meninggalkan meja dan menyambutnya.

"Ada musuh hendak mengacau ke sini, kami sengaja datang memberi kabar, hendaklah kalian berlaku waspada dan ber-jaga2,"

Demikian Hek Tay-thong bisiki Kwe Cing.

Kong-ling-cu Hek Tay-thong dalam Coan-cin kau terhitung jagoan kelas terkemuka, di kalangan Kangouw orang yang berilmu silat lebih tinggi dari dia bisa dihitung dengan jari, kini cara mengucapkan berita itu kedengarannya rada gemetar dan kuatir, maka Kwe Cing pikir tentu yang akan datang ini pasti musuh tangguh adanya.

"Apa Auwyang Hong?"

Demikian Kwe Cing tanya dengan suara rendah.

"Bukan, tetapi orang Mongol yang aku sendiri pernah jatuh ditangannya itu,"

Sahut Hek Tay-thong.

"Pangeran Hotu?"

Kata Kwe Cing dengan hati lega.

Dan sebelum Hek Tay-thong buka suara lagi, mendadak di luar terdengar suara tiupan tanduk yang ber-talu2, menyusul mana diselingi pula oleh suara genta yang ter-putus2 nyaring.

"Sambut tetamu agung!"

Segera Liok Khoan-eng berteriak.

Baru saja berhenti suaranya, tahu2 di depan ruangan pendopo itu sudah berdiri beberapa puluh orang yang beraneka macam lagaknya, ada yang tinggi besar, ada yang pendek kecil.

Para kesatria yang hadir ini sebenarnya lagi sorak-sorai dalam pesta pora yang ria, kini mendadak nampak munculnya orang begitu banyak, mereka rada heran, tetapi mereka sangka orang juga hendak menghadiri Eng-hiong-yan ini, setelah melihat tiada kenalan di antara orang2 itu, kemudianpun tak diperhatikan lebih jauh.

Berlainan dengan Kwe Cing yang sudah tinggi ilmu silatnya dan tajam penglihatannya, segera ia tahu gelagat tidak sewajarnya.

"Jang datang ini terlalu keras, mereka tidak mengandung maksud baik,"

Demikian ia bisiki sang isteri Ui Yong.

Habis itu iapun berbangkit suami isteri mereka bersama Liok Khoan-eng lantas menyambut keluar.

Kwe Cing mengenali orang yang bermuka cakap berdandan sebagai putera bangsawan itu adalah Pengeran Hotu dari Mongol, sedang padri yang berjubah merah dan berkopiah emas, mukanya kurus, adalah Ciangkau atau ketua Bit-cong dari Tibet, Darba namanya.

Kedua orang ini dahulu sudah pernah dijumpainya di Tiong-yang-kiong di Cong-lam-san, meski mereka terhitung jago kelas satu, tetapi ilmu silatnya masih lebih rendah dari pada dirinya, maka tak perlu ditakuti.

Cuma di tengah2 kedua orang ini masih berdiri lagi seorang padri Tibet yang juga tinggi kurus dan berjubah merah pula, kepalanya gundul licin berminyak, ubun2 atau mercu kepala tampak dekuk ke dalam.

Melihat macamnya orang, Kwe Cing dan Ui Yong telah saling pandang, pernah mereka dengar dari Ui Yok-su yang berbicara tentang ilmu silat aneh kaum Lama sekte Bit-cong di Tibet bahwa kalau sudah terlatih sampai tingkatan yang sangat tinggi, mercu kepala bisa sedikit dekuk ke dalam, kini melihat ubun2 orang ini begitu dalam dekuk-nya, apa mungkin ilmu silatnya sudah sampai tingkatan yang sukar diukur?

Tetapi di kalangan Kang-ouw kenapa selama ini hanya terdengar Tang-sia, Se-tok, Lam-te, Pak-kay dan Tiong-sin-thong, sebaliknya tak pernah dengar bahwa di Tibet terdapat seorang jago seperti dia ini?

Karena itulah, mereka berdua diam2 berlaku waspada, lalu mereka membungkuk memberi hormat sambil mengucapkan selamat datang dan menyilakan duduk.

Segera Liok Khoan-eng memberi tanda perintah, para centeng segera sibuk menyediakan meja baru dan daharan2.

Bu-si Hengte sudah biasa membantu bapak dan ibu guru mereka mengurusi pekerjaan rumah tangga, Iebih2 Bu Siu-bun yang serba cepat dan giat, maka kedua saudara Bu segera pimpin para centeng itu mengatur tempat dan sediakan beberapa meja yang terhormat buat tamu agung, mereka pun minta maaf pada tetamu yang duluan supaya suka menggeser sedikit tempat luang.

Dalam pada itu, melihat Nyo Ko ikut2 hadir dalam perjamuan ini, dalam pandangan Kwe Hu rasanya kurang senang.

"Hm, kau terhitung Eng-hiong macam apa? Meski Enghiong seluruh jagat mati ludas juga tidak bergilir pada dirimu?"

Demikian ia membatin. Habis ini ia kedipi Bu Siu-bun sambil mulutnya merot2 ke jurusan Nyo Ko. Maka tahulah Siu-bun maksud si gadis, segera Nyo Ko didekatinya.

"Nyo-toako, tempat ini hendaklah digeser sedikit,"

Demikian ia kata.

Habis ini, tanpa menunggu apa Nyo Ko bilang boleh atau tidak, segera ia suruh centeng memindahkan mangkok sumpit si Nyo Ko ke suatu tempat di pojok.

Tentu saja hati Nyo Ko terbakar, tetapi iapun tidak bicara, melainkan diam2 ia tertawa dingin.

Sementara itu terdengar Pengeran Hotu telah buka suara.

"Suhu, ini kuperkenalkan engkau kepada dua Enghiong dari Tionggoan yang namanya gilang-gemilang..."

Kwe Cing terkejut, pikirnya.

"Oh, kiranya paderi Tibet tinggi kurus ini adalah gurunya."

Dalam pada itu dilihatnya paderi Tibet itu sedang manggut2, kedua matanya melek tidak meram tidak, pangeran Hotu lantas menyambung lagi.

"dan yang ini adalah Kwe Cing, Kwe-tayhiap yang pernah menjadi Ceng-se-goanswe di negeri Mongol kita, Dan yang ini lagi adalah Ui-pangcu."

Ketika mendengar Hotu menyebut "Ceng-se-goanswe"

Mendadak paderi itu pentang kedua matanya hingga menyorotkan sinar tajam, ia pandang beberapa saat pada Kwe Cing, habis itu kelopak matanya menurun pula setengah menutup, sebaliknya terhadap Pangcu dari Kay-pang ternyata sama sekali tak diperhatikannya.

"lni adalah guruku, orang Tibet menyebutnya Kim-lun Hoat-ong dan oleh Hong-thayhou (ibusuri) negeri MongoI sekarang diangkat dengan gelar Houkok Taysu,"

Demikian Pangeran Hotu berkata lagi dengan suara lantang, (Houkok Taysu = imam besar pelindung negara) Karena kerasnya suara, seluruh hadirin dengan jelas dapat mendengarnya hingga semua orang merasa heran dan saling pandang, kata mereka dalam hati.

"Baru saja kita berunding untuk melawan penjajahan Mongol ke selatan, kenapa mendadak lantas datang seorang Koksu (iman negara) dari Mongol?"

Kwe Cing sendiri karena memang kurang cerdas, maka seketika ia menjadi bingung cara bagaimana harus melayani tetamu yang tak diundang ini, tiada jalan lain ia hanya menuang arak dan mengajak minum pada mereka seorang demi seorang sambil mengucapkan selamat datang dan kata2 kagum.

Setelah tiga keliling menyuguh arak, tiba2 Pangeran Hotu berdiri, waktu kipas lempitnya ia pentang, tertampaklah pada kipasnya terlukiskan setangkai bunga Bo-tan yang indah sekali.

"Kedatangan kami guru dan murid hari ini untuk menghadiri Eng-hiong-yan ini walaupun dilakukan dengan muka tebal karena tidak diundang, tetapi mengingat bisa berkumpul dengan para kesatria begini banyak, terpaksa kamipun tak pikirkan lagi malu atau tidak,"

Demikian ia bicara.

"Perjamuan demikian ini memang susah diadakan, waktunya pun susah dicari, kini kebetulan kesatria dari seluruh jagat berkumpul di sini, menurut pendapatku harus diangkat seorang Beng-cu (ketua serikat) dari para kesatria untuk memimpin Bu-Iim dan menjadi kepala para orang gagah di bumi ini, entah bagaimana pikiran kalian dengan pendapatku ini?"

"Usulmu memang tepat,"

Seru si cebol tadi.

"Tadi kami baru saja angkat Ang-lopangcu sebagai Beng-cu dan kini sedang pilih wakil ketuanya, bagaimana pendapat saudara tentang soal ini?"

"Ang Chit-kong sudah lama mati, kini pilih setan sebagai Beng-cu, apa kau anggap kami ini setan juga?"

Sela Darba tiba2 sambil berdiri Karena kata2nya ini, seketika para kesatria itu menjadi gempar, lebih2 para anggota Kay-pang luar biasa gusarnya, mereka pada ber-teriak2.

"Baikiah, jika Ang Chit-kong belum mati, sekarang juga silakan dia tampil ke muka untuk bertemu,"

Kata Darba pula. Loh Yu-ka tak bisa kuasai dirinya lagi, sambil angkat tinggi2 tongkat bambu "Pak-kau-pang", segera ia berdiri.

"Selamanya Ang-pangcu berkelana dengan tiada tentu kediamannya, kau bilang mau bertemu dengan dia, apa kau anggap gampang permintaan mu ini?"

Demikian debatnya.

"Hm,"

Tiba2 Darba menjengek "Jangankan mati-hidupnya Ang Chit-kong sekarang sukar diketahui, sekalipun dia berada di sini sekarang juga dengan ilmu silatnya maupun namanya, apa bisa dia memadai Suhuku Kim-Iun Hoat-ong?"

Hendaklah dengarkan para kesatria yang hadir ini, Beng-cu pilihan Eng-hiong-yan hari ini, kecuali Kim-lun Hoat-ong tiada orang lain lagi yang bisa menjabatnya.

Sampai di sini, para kesatria menjadi tahulah maksud tujuan kedatangan orang2 ini, terang mereka mendapat tahu bahwa Eng-hiong-yan ini bakal mengambil keputusan yang tidak menguntungkan pihak Mongol, maka mereka sengaja datang mengacau dan ikut berebut kedudukan Beng-cu, jika dengan ilmu silatnya Kim-lun Hoat-ong berhasil merebut kedudukan Beng-cu, meski para orang gagah perkasa dari Tionggoan tak takluk pada perintahnya, namun sedikitnya sudah melemahkan kekuatan bangsa Han, dalam perlawanannya terhadap Mongol.

Dalam keadaan demikian, seketika mereka sama memandang Ui Yong, mereka kenal kepandaian Ui Yong yang banyak tipu akalnya, mereka pikir walaupun tetamu berpuluh orang ini setinggi langit ilmu silatnya, tetapi menghadapi lawan ribuan orang yang hadir ini, tak peduli satu lawan satu ataupun secara keroyokan, pasti pihak kita tak ikan terkalahkan Maka biarlah dengarkan saja perintah Ui-pangcu serta menurut petunjuknya.

Melihat gelagatnya, Ui Yong sendiri sudah tahu utusan ini sukar diselesaikan tanpa menggunakan kekerasan, maka segera iapun mulai bicara.

"Para kesatria yang hadir di sini memang sudah angkat Ang-lopangcu sebagai Beng-cu, sebaiknya Taysu (maksudnya Darba) ini mendukung Kim-lun Hoat-ong sebagai calonnya, Kalau Ang-lopangcu ada di sini, sebenarnya bisa saksikan beliau mengukur tenaga dengan Kim-lun Hoat-ong! tetapi beliau justru pergi-datang tiada ketentuan tempatnya, pula tak menyangka bahwa hari ini bakal kedatangan tamu agung hingga tak bisa menunggu di sini sebelumnya, kelak kalau beliau tahu akan kejadian ini, pasti dia akan menyesal tak terhingga. Baiknya di antara Ang-lopangcu maupun Kim-lun Hoat-ong masing2, sudah menurunkan anak murid. Nah, sekarang biarlah murid kedua belah pihak saja yang mewakilkan guru mereka untuk bertanding?"

Sebagian besar para kesatria dari Tionggoan ini cukup kenal kepandaiannya Kwe Cing yang maha tinggi, pula umurnya sedang kuat2nya, jago2 tertinggi pada jaman ini agaknya tiada lagi yang bisa menangkan dia, sekalipun Ang Chit-kong sendiri yang datang juga belum pasti bisa lebih kuat dari pada Kwe Cing, kini kalau bertanding dengan murid Kim-lun Hoat-ong, maka kemenangan sudah pasti dalam genggaman sendiri, tidak nanti bakal kalah, maka seketika mereka sama berseru akur, hingga genteng rumah tergetar oleh suara sorak gemuruh mereka.

Tetamu yang duduk di ruangan belakang ketika mendapat kabar itu, ber-duyun2 membanjir keluar juga hingga seluruh ruangan pendopo sampai keluar pintu penuh orang.

Karena pihaknya kalah suara, maka Kim-lun Hoat-ong menjadi terdesak oleh suasana itu.

Pangeran Hotu sendiri sudah pernah saling gebrak dengan Kwe Cing di Tiong-yang-kiong dahulu, ia insaf kepandaiannya masih dibawah orang.

Begitu pula silat Suhengnya, Darba, juga sebaya dengan dirinya, tidak peduli siapa diantara mereka yang maju pasti akan dikalahkan Tetapi bila menolak usul Ui Yong itu, kedudukan Beng-cu terang tak bisa lagi direbut.

Karena itu, ia menjadi bingung tak berdaya.

"Baik, Hotu, kau boleh maju coba bertanding dengan murid Ang Chit-kong,"

Tiba2 Kim-Iun Hoat-ong berkata.

Ternyata paderi yang jauh tinggal di Tibet ini menyangka muridnya, Pangeran Hotu pasti jarang ada tandingannya, paling banyak hanya kalah terhadap Tang-sia, Se-tok dan lain jago angkatan tua saja, sama sekali tak diketahuinya bahwa muridnya itu justru pernah terjungkal di bawah tangannya Kwe Cing.

Karena perintah sang guru itu, mau-tak-mau pangeran Hotu mengiakan, namun ia toh belum berdiri.

"Suhu,"

Demikian ia berbisik.

"murid Ang Chit-kong itu terlalu hebat, Tecu mungkin sukar mengalahkan dia, jangan2 akan bikin malu nama baik Suhu saja."

Karena penuturan ini, Kim-lun Hoat-ong rada kurang senang.

"Hm, masakah murid orang itu kau tak bisa mengalahkannya?"

Demikian jengeknya.

"Lekas maju sana !"

Hotu betul2 serba salah, ia jadi menyesal juga, tadinya tidak bilang terus terang pada sang guru tentang pengalamannya dahulu, ia menyangka dengan kepandaian gurunya yang tiada tandingannya di kolong langit, menghadiri perjamuan Eng-hiong-yan, kedudukan Beng-cu pasti akan direbutnya dengan mudah saja, siapa tahu ia sendiri justru disuruh maju melawan Kwe Cing.

Begitulah, sedang ia ragu2, tiba2 seorang laki2 gemuk dengan pakaian bangsa Mongol telah mendekatinya dan bisik2 beberapa kata di telinganya, Karena kisikan ini, seketika Hotu menjadi girang, tiba2 ia berdiri, ia pentang kipasnya dan meng-kipas-kipas.

"Selama ini kudengar Kay-pang memiliki semacam kepandaian pusaka yang disebut Pak-kau-pang-hoat, bahwa ilmu itu adalah kepandaian paling lihay yang menjadi kebanggaan Ang-Iopangcu,"

Demikian ia berkata dengan lantang.

"Kini Siau-ong (pangeran yang rendah) yang tak becus ini ingin gunakan sebuah kipas untuk mematahkannya. Kalau aku bisa patahkan ilmu pusakanya itu, suatu tanda kemahiran Ang Chit-kong tidak lebih hanya sebegitu saja !"

Waktu orang itu kisiki Hotu mula2 Ui Yong, tak memperhatikan, tetapi mendadak orang menyinggung tentang Pak-kau-pang-hoat dan hanya beberapa patah kata saja, Kwe Cing yang ilmu silatnya paling kuat di pihak sendiri segera dikesampingkan, ia menjadi heran siapa yang kemukakan tipu-daya itu.

Waktu ia menegas, maka tahulah dia, kiranya laki2 gemuk itu bukan lain adalah Peng-tianglo, satu diantara empat Tianglo atau tertua, dalam Kay-pang.

Kini Peng-tianglo memihak Mongol hingga sudah tukar dandanan bangsa Mongol puIa, hanya dia ini saja yang tahu bahwa Pa kau-pang-hoat tidak pernah diturunkan kepada orang Iain kecuali Pangcu dari Kay-pang sendiri, sedangkan Kwe Cing meski tinggi kepandaiannya, Pak-kau-pang-hoat ini ia justru tak paham.

Kini Hotu singgung2 Pak-kau-pang-hoat, terang ia menantang terhadap dirinya yang menjadi pangcu lama dan Loh Yu-ka yang menjadi Pangcu baru, Loh Yu-ka belum lengkap mempelajari ilmu permainan pentung itu dan belum dapat dipergunakan menghadapi musuh, dengan sendirinya ia sendirilah yang harus maju.

Kwe Cing cukup tahu Pak-kau-pang-hoat sang isteri tiadatandingannya di kolong langit ini, menduga dan yakin pasti bisa kalahkan Hotu, cuma beberapa bulan paling akhir ini semangat sang isteri selalu lesu dan tenaga kurang, kandungannya baru tumbuh, Se-kali2 tak-boleh bergebrak dengan orang.

Karena itu, segera ia melangkah maju ke tengah.

"Pak-kau-pang-hoat Ang-lopangcu selamanya tak sembarangan digunakan, baiknya kau belajar kenal saja dengan Hang-liong-sip-pat-ciang ajaran beliau ini,"

Segera ia menantang. Melihat langkah Kwe Cing kuat bertenaga, diam2 Kim-Iun Hoat-ong terkejut, meski matanya kelihatan meram tidak melek tidak "Orang ini memang nyata bukan lawan lemah,"

Demikian ia membatin. Sementara itu Hotu telah bergelak ketawa.

"Haha, di Cong lam-san dahulu Siau-ong sudah pernah berjumpa sekali denganmu, tatkala itu kau mengaku anak murid Ma Giok dan Khu Ju-It, kenapa sekarang memalsukan diri sebagai muridnya Ang Chit-kong lagi?"

Tegurnya pada Kwe Cing. Dan sebelum orang menjawab, Hotu mendahului menyambung lagi.

"Ya, satu orang angkat beberapa guru juga lumrah Cuma hari ini adalah gilran Kim-lun Hoat-ong bertanding dengan Ang Chit-kong, meski tinggi ilmu silatmu, tapi kau dapat dari beberapa perguruan, rasanya sukar memperlihatkan ilmu kepandaian sejati dari Ang-lopangcu."

Demikian debatnya panjang lebar dan beralasan juga, dasar Kwe Cing memang tak pandai bicara, ia menjadi Iebih tergagap tak bisa menjawab, sebaliknya para kesatria lain seketika menjadi ramai sambil ber-teriak2.

"Kalau berani, hayo, bertanding saja dengan Kwe-tayhiap! Kalau tak berani boleh lekas kempit ekor dan enyah dari sini!"

"Kwe-tayhiap adalah anak murid lurus Ang-lopangcu, kalau dia tak bisa mewakilkan gurunya siapa lagi yang cocok mewakili ?"

"Kau boleh coba rasakan enak tidaknya Hangliong-sip-pat-ciang, habis itu baru kau cicipi lagi Pak-kau-pang-hoat juga belum terlambat!"

Begitulah teriakan mereka yang simpang-siur. Namun pangeran Mongol itu tiba2 tertawa mengadah, waktu ia tertawa diam2 ia kerahkan tenaga dalamnya hingga suara "hahaha"

Yang kera2 lantang bikin genting rumah se-akan2 tergetar dan suara ribut para kesatria itu sama terdesak tenggelam.

Tentu saja semut orang sangat terkejut sungguh mereka tidak nyana dengan umur semuda orang dan berdandan sebagai bangsawan, ternyata memiliki Lwekang begini lihay.

Karena itu seketika mereka bungkam dan tenang kembali.

"Suhu, agaknya kita telah kecewaan orang."

Kata Hotu tiba2 pada Kim-lun Hoat-ong.

"Tadinya "

Kita menyangka hari ini benar2 diadakan Eng-hiong-yan, maka tanpa kenal capek datang dari jauh untuk ikut serta, siapa tahu yang ada di sini tidak lebih hanya manusia2 yang tamak hidup dan takut mati.

Lebih baik kita lekas pergi saja, kalau sial sampai menjadi Beng-cu manusia ini kelak diketahui oleh orang2 gagah di seluruh jagad dan mentertawai kau sudi menjadi pemimpin kawanan "kantong nasi"

Ini, bukankah cuma bikin noda nama baik engkau saja?"

Semua orang tahu Hotu sengaja memancing agar Ui Yong mau tampil ke muka sendiri, cuma kata2nya yang terlalu menghina itu membikin semua orang sangat marah.

Tanpa pikir lagi, sekali geraki pentungnya, segera Loh Yu-ka melangkah maju.

"Cayhe adalah Pangcu bara dari Kay-pang, Loh Yu-ka,"

Demikian ia perkenalkan diri.

"Pak-kau-pang-hoat belum ada 1/10 bagian yang kupahami maka sesungguhnya belum mampu untuk di pergunakan Tetapi kau berkeras ingin cicipi rasanya pentung, baiklah, biar kupentung kau beberapa kali."

Sebenarnya ilmu silat Loh Yu-ka sangat bagus, tetapi Pak-kau-pang-hoat atau ilmu pentung pemukul anjing biar lengkap dipelajarinya, namun tidaknya sudah menambah tidak sedikit kekuatannya.

Kini dilihatnya umur Hotu baru 30-an tahun, ia menduga orang sekalipun mendapatkan ajaran guru kosen, belum tentu latihannya sudah cukup ulet, ditambah iapun tahu kesehatan Ui Yong terganggu, tidak peduli kalah atau menang, tidak nanti Ui Yong disuruh maju untuk menghadapi bahaya itu.

Di lain pihak Hotu hanya berharap tidak bergebrak dengan Kwe Cing, orang lain boleh dikatakan tiada yang dia takuti karena itu, segera ia sambut baik majunya Loh Yu-ka.

"Selamat, selamat, Loh-pangcu,"

Demikian ia pun memberi hormat.

Sementara itu centeng Liok-keh-ceng sudah menyingkirkan meja2 hingga merupakan suatu kalangan pertandingan di tengah, mereka menambahi lilin pula hingga keadaan terang benderang bagai siang hari.

"Silakanlah !"

Seru Hotu segera.

Berbareng itu tiba2 kipasnya mengebas, seketika angin kipasnya menyamber ke muka Loh Yu-ka, di antara angin kipasnya ternyata, membawa bau wangi.

Kuatir kalau angin itu membawa hawa beracun, lekas2 Loh Yu-ka mengegos.

Namun Hotu cepat luar biasa, mendadak kipasnya dilempit kembali hingga berwujud sebatang potlot peranti Tiam-hiat yang panjangnya 7-8 dim, terus ditutukannya ke iga lawan.

Tetapi tutukan ini ternyata tak dihiraukan Loh Yu-ka, sebaliknya ia angkat pentung bambunya terus menyabet kaki orang.

Pak-kau-pang-hoat ini memang bagus luar biasa, arah yang dituju juga sama sekali tak bisa diduga orang, maka ketika pangeran Hotu melompat enteng hendak berkelit, tak terduga pentung bambu itu mendadak memutar balik secepat kilat hingga betisnya kena tersabet, ia ter-huyung2 dan lekas2 melompat mundur, dengan begitu baru ia bisa berdiri tegak lagi.

Senang sekali para kesatria melihat Loh Yu-ka berhasil hajar orang.

"Ha, anjingnya kena gebuk, tuh !"

"Nah, biar kau rasakan enaknya Pak-kau-pang-hoat !"

Begitulah mereka bersorak memberi semangat pada Loh Yu-ka.

Di lain pihak Hotu menjadi merah jengah karena kekalahan itu, ketika dengan enteng ia membalik tubuh, cepat sekali ia balas hantam orang dengan tangan kirinya.

Namun tahu2 Loh Yu-ka telah menendang habis itu pentungnya menyamber kian kemari dengan perubahan2 yang sukar ditangkap.

"Nyata Pak-kau-pang-hoat memang bukan omong kosong belaka !"

Diam2 Hotu terperanjat oleh ilmu permainan pentung itu.

Maka tak berani lagi ia pandang rendah lawannya, ia kumpulkan seluruh semangat dan tempur orang sungguh2.

Betapapun juga memang belum masak betul Loh Yu-ka mempelajari ilmu permainan pentung itu, beberapa kali dengan gampang saja sebenarnya ia bisa jungkalkan lawan, tetapi karena kalah ulat hingga serangannva gagal di tengah jalan.

Menyaksikan itu, diam2 Ui Yong dan Kwe Cing meraba sayang, Sesudah belasan jurus lagi, lambat laun kelemahan Loh Yu-ka menjadi tertampak lebih terang, Meski Nyo Ko duduk di pojok ruangan itu, tapi setiap gerak tipu orang dapat dilihatnya semua.

Kini nampak keadaan toh Yu-ka itu, diam2 ia ikut kuatir, Untung pangeran Hotu kena dihajat betisnya pada permulaan ia menjadi jeri terhadap, Pak-kau-pang-hoat yang aneh ini, maka tak berani ia terlalu mendesak kalau tidak, sejak tadi Loh Yu-ka tentu sudah dirobohkan.

Melihat gelagatnya makin jelek, Ui Yong menjadi kuatir, selagi ia hendak teriaki Loh Yu-ka undurkan diri mendadak Loh Yu-ka menggunakan suatu tipu yang disebut "sia-ta-kau-pwe"

"atau menggebuk punggung anjing dari samping, begitu pentung bambu berkelebat, dengan sengit ia hantam dan tepat kena pipi kiri Hotu. Tentu saja pangeran Mongol itu malu tercampur sakit, tanpa pikir ia pegang pentung orang, menyusul mana sebelah tangannya terus menghantam, maka terdengarlah suara "

Bluk"

Yang keras, tepat dada Loh Yu-ka kena dipukul sekali.

Habis itu, sebelah kaki Hotu menyerampang pula, segera terdengar lagi suara "krak" , nyata tulang kaki Loh-Yu-ka telah patah, darah segar menyembur pula dari mulutnya, orangnya terus terguling roboh.

Dua anak murid Kay-pang berkantong delapan lekas2 menubruk maju untuk membangunkan Pangcu mereka.

Melihat cara turun tangan Hotu begitu keji, semua orang merasa gusar sekali.

Sementara itu dengan memegang pentung bambu hijau mengkilap yang baru dapat merampas itu, Pangeran Hotu tampak ber-seri2 saking senangnya.

"Ha, Pak-kau-pang-hoat yang menjadi pusaka kebanggaan Kay-pang ternyata tidak lebih hanya begini saja,"

Demikian ia menyindir.

Karena maksudnya ingin hina perkumpulan kaum jembel pembela keadilan ini, segera ia pegang kedua ujung tongkat bambu itu, segera penting bambu itu hendak ditekuk patah di hadapan orang banyak Tak ia duga, se-konyong2 pandangannya menjadi silau, tahu2 seorang wanita muda lemah lembut telah berdiri di hadapannya.

"Nanti dulu !"

Terdengar wanita itu berseru. Nyata, ia bukan lain daripada Ui Yong adanya. Nampak gerak tubuh orang begitu cepat. Hotu kaget.

"Kau..."

Demikian baru ia buka mulut mendadak Ui Yong ulur tangannya dan kedua matanya hendak dicoloknya.

Lekas Hotu menangkis, karena itu dengan enteng pentung bambu itu telah berpindah tangan direbut kembali Ui Yong.

Tipu gerakan yang dipakai Ui Yong ini disebut "Kau-go-toat-theng"

Atau merebut tongkat dari mulut anjing, termasuk satu di antara tipu Pak-kau-pang-hoat yang paling lihay, tipu ini bisa berubah tanpa bisa diraba sebelumnya hingga betapa hebat lawannya pasti tak dapat hindarkan diri.

Begitulah, diiringi suara sorak sorai para kesatria, kemudian Ui Yong kembali ke tempatnya semula dan taruh tongkat bambu di sampingnya, Hotu yang ditinggalkan sendirian terpaku di tengah kalangan dengan rasa kikuk dan serba salah.

Sungguh, meski ilmu silatnya sudah terhitung-tingkat tertinggi, tetapi dengan cara bagaimana sebenarnya Ui Yong dapat merebut pentung bambu dari tangannya, hal ini bikin dia tetap bingung, ia pikir apakah wanita ini bisa ilmu sihir.

Dalam pada itu suara orang menyindir mencemoohkan yang riuh ramai, wajah gurunya lama kelamaan pun bersungut, sungguh gusar Hotu sukar dikatakan.

Tetapi iapun seorang sangat cerdik, dengan suara keras segera ia berseru.

"Ui-pangcu, tongkat-mu itu sudah kukembalikan, sekarang silakan maju lagi buat coba-coba."

Dengan kata2nya ini, betul saja ada orang menyangka tadi bukannya Ui Yong yang merebut, tetapi Hotu yang kembalikan tongkat bambu itu untuk minta bertanding secara teratur.

Hanya beberapa orang yang sangat tinggi kepandaiannya yang dapat melihat sebenarnya Ui Yong telah merebut pentung itu dengan ilmu silat yang maha tinggi.

------------Gambar --------------Sementara Kwe Cing dan lain2 berunding jago2 mana yang akan mereka ajukan dalam pertandingan tiga babak, di sana Bu-si Hengte sudah lolos pedang melabrak pangeran Hotu.

------------------------------------Di samping sana Kwe Hu menjadi dongkol mendengar kata2 Hotu itu, selamanya belum pernah gadis ini melihat seorang berani berlaku kurangajar terhadap ibunya, maka tanpa pikir, dengan cepat pedangnya telah dilolosnya.

"Hu-moay, biar aku gantikan kau maju,"

Kata Siu-bun tiba-tiba. Tun-si juga berpikir sama, tanpa janji kedua saudara Bu itu telah melompat ke tengah berbareng.

"lbu guruku adalah orang terhormat,"

Demikian kata yang satu, lalu yang lain menyambung.

"mana sudi dia bergebrak dengan manusia liar seperti kau ini ?"

Dan yang duluan segera sambung lagi.

"Kau boleh coba dulu ilmu kepandaian Siauya (tuan muda) ini!"

Melihat umur kedua saudara Bu ini meski muda, tetapi gerak-geriknya tangkas dan kuat, tampaknya pernah mendapat ajaran guru pandai, diam-diam Hotu berpikir.

"Kedatangan kami hari ini memang bertujuan pamer kepandaian untuk jatuhkan nama jago silat bangsa Han, kalau bisa bertarung beberapa babak adalah lebih baik. Cuma mereka berjumlah lebih banyak, kalau terjadi keroyokan pasti sukar untuk menang."

Karena pikiran itu, segera iapun berkatalah.

"Para Enghiong yang hadir, kedua anak bawang ini ingin bertanding dengan aku, jika Siau-ong terima tantangannya, mungkin orang akan bilang aku orang tua akali anak kecil, tetapi bila tak bertanding, rasanya seperti jeri terhadap dua bocah saja, baiknya begini saja, kita janji dulu bertanding tiga babak, pihak mana bisa menangkan dua babak, itu berarti menang dan memperoleh kedudukan Beng-cu. pertandingan Siau-ong tadi dengan Loh-pangcu boleh tak usah dihitung, sekarang juga kita mulai pertandingan yang baru, bagaimana pendapat kalian dengan usulku ini ?"

Beberapa kata2 itu diucapkan dengan mengagulkan kedudukannya dan menonjolkan pihaknya yang suka mengalah.

Maka Kwe Cing dan Ui Yong lantas bisik2 berunding dengan para tetamunya, mereka mengusulkan Kwe Cing, Hek Tay-thong dan si Su-seng, sastrawan murid It-teng Taysu itu sebagai tiga jago mereka, si Su-seng maju dalam babak pertama melawan Hotu, Hek Tay-thong babak kedua menempur Darba dan Kwe Cing terakhir menandingi Kim-lun Hoat-ong.

Dengan barisan jago mereka ini apa pasti menang atau tidak, sesungguhnya merekapun belum yakin, jika ilmu silat Kim-lun Hoat-ong benar2 tinggi luar biasa hingga Kwe Cing tak mampu menandingi boleh jadi tiga babak akan kalah semua, hal ini benar2 suatu kekalahan yang mengenaskan.

Karena itu semua orang menjadi ragu2 tak berani ambil keputusan.

"Aku ada suatu akal dan pasti akan menang."

Tiba2 Ui Yong berkata.

Girang sekali Kwe Cing, selagi ia mau tanya, tiba2 didengarnya angin senjata sudah samber menyamber, ia lihat Bu-si Hengte dengan pedang mereka sudah mulai menempur Hotu dengan serunya.

Kwe Cing, Ui Yong dan si Su-seng murid It-teng Taysu merasa kuatir atas keselamatan murid mereka, mau-tak-mau mereka mengikuti pertandingan seru itu dengan penuh perhatian.

Kiranya setelah mendengar Hotu menghina mereka sebagai bocah vang masih ingusan, Bn-si Hengte menjadi tidak kepalang murkanya, lebih2 karena kata2 itu diucapkan di hadapan "si dia", bukankah hal itu membikin mereka sangat malu?

Maka tanpa pikir lagi segera mereka lolos pedang terus merangsang maju.

Nyata mereka sangka ilmu silat Hotu tidak seberapa lihaynya, buktinya dengan gampang saja ibu gurunya telah dapat merebut tongkat bambu dari tangannya, mereka pikir meski Loh Yu-ka kena dikalahkan olehnya, hal ini mungkin ilmu silat Loh Yu-ka yang tak berguna, mereka juga mengunggulkan sudah mendapatkan pelajaran silat dari Kwe Cing, seorang diri mungkin bukan tandingannya, tetapi kalau dua orang maju bersama, se-kali2 tidak terkalahkan.

Siapa tahu, baru beberapa jurus saja, kedua pedang mereka sudah terkurung oleh kipasnya Hotu hingga tak bisa berkutik Hotu sengaja pamerkan kepandaiannya di depan orang banyak ia tunggu waktu Bu Siu-bun menusuk, tiba2 jari telunjuk kirinya menahan batang pedang orang ke atas, berbareng itu kipasnya mendadak diayun dari samping dan menghantam pedang orang, maka terdengarlah suara nyaring sekali, tahu2 pedang panjang itu patah menjadi dua.

Kaget sekali Bu-si Hengte, lekas2 Siu-bun melompat pergi, sebaliknya Tun-si kuatir adiknya di lukai, dari belakang segera ia tusuk punggung orang untuk memaksa musuh tak sempat mengejar Diluar dugaannya, tipu serangannya ini sudah diperhitungkan Motu sebelumnya, tanpa berpaling sedikitpun, kipas lempitnya tahu2 diputar ke belakang, dengan tepat sekali pedang Tun-si kena terkacip, berbareng itupun Hotu puntir dengan jarinya.

Kalau Tun-si memutar mengikuti puntiran kipas Hotu maka tulang pundaknya sudah pasti akan keseleo, Karena itu terpaksa ia lepaskan pedang dan melompat ke belakang, Maka tertampak-lah pedangnya mencelat ke udara sembari mengeluarkan sinar yang gemilapan untuk kemudian baru jatuh kembali.

Terkejut sekali Bu-si Hengte tercampur gusar, Tun-si siapkan telapak tangan kiri di depan dan pasang kuda2 gaya Hang-liong-sip ciang, sebaliknya Siu-bun meluruskan tangan kanan ke bawah dengan jari telunjuk menjengkit sedikit, ia menunggu bila musuh berani merangsang maju segera akan dilayaninya dengan It-yang-ci.

Melihat kuda2 kedua pemuda yang kukuh, agaknya Hotu tak berani juga memandang ringan ia pikir kemenangannya sudah cukup, lebih baik disudahi saja untuk menjaga segala kemungkinan.

Hendaklah diketahui bahwa Hang-liong-sip-pat-ciang (18 jurus ilmu pukulan penakluk naga) ajaran Ang Chit-kong dan It-yang-ci (ilmu jari betara surya) ajaran It-teng Taysu yang berjuluk Lam-tie atau raja dari selatan itu, kedua ilmu itu terhitung ilmu kelas wahid dalam dunia silat, meski latihan Bu-si Hengte masih cetek, tetapi kuda2 yang mereka pasang sudah begitu kuat untuk orang biasa mungkin tak mengetahui di mana letak kelihayannya, tetapi bagi Hotu tergolong ahli, diinsafinya tidak mudah untuk mengalahkannya.

"Hahaha,"

Demikian ia bergelak ketawa.

"kalian berdua silakan kembali saja, kita hanya tentukan unggul dan asor sampai di sini, tetapi tidak perlu adu jiwa !"

Nyata lagu suaranya sudah banyak lebih halus daripada tadi.

Bu-si Hengte juga insaf bila menempur orang dengan tangan kosong, kekalahan mereka pasti akan lebih menyedihkan, maka dengan muka merah terpaksa mereka undurkan diri dengan lesu, mereka menyingkir ke samping, tetapi tidak berdiri di se-keliling Kwe Hu lagi.

"Bu-keh Koko, mari kita bertiga tempur dia lagi,"

Mendadak Kwe Hu berteriak sambil mendekat mereka. Semua orang jadi ketarik oleh teriakan si gadis, sedang Kwe Hu dengan cepat sudah lolos pedangnya.

"Hu-ji, jangan sembrono !"

Lekas2 Kwe Cing membentak.

Memang Kwe Hu paling takut pada sang ayah, terpaksa ia mundur kembali sambil pelototi Hotu dengan marah.

Melihat rupa si gadis yang cantik molek, dengan tersenyum Hotu memanggut.

Tetapi sekali lagi Kwe Hu pelototi orang, habis ini ia berpaling dan tak menggubrismu.

Tadinya Bu-si Hengte kuatir ditertawai Kwe Hu karena kekalahan mereka, kini melihat si gadis membela mereka dengan sesungguh hati, suatu tanda hati si gadis menaruh simpatik juga pada mereka, tentu saja mereka sangat terhibur.

"Pertandingan tadi dengan sendirinya tak terhitung juga,"

Sementara Hotu membuka suara lagi sambil pentang kipasnya.

"Kwe-tayhiap, pihak kami adalah guruku, suhengku dan Cayhe sendiri bertiga ilmu silatku paling rendah, maka babak pertama juga aku yang maju dahulu, dari pihakmu siapakah yang sudi turun kalangan memberi petunjuk sedikit padaku? Cuma harus diingat, siapa yang bakal menang atau kalah, sekarang bukan main2 lagi."

Karena tadi mendengar Ui Yong bilang "ada akal"

Yang pasti akan menang, Kwe Cing yakin sang isteri yang pintar cerdik dan banyak akal, walau pun benar, diketahui apa tipu daya yang hendak di aturnya, namun dalam hati ia sudah tak takluk.

"Baik,"

Segera iapun menjawab tantangan-orang.

"kita lantas tentukan unggul dan asor dalam tiga babak, pihak mana yang kalah, selanjutnya harus tunduk pada perintah Beng-cu, se-kali2 tak boleh menolak."

Hotu tahu ilmu silat yang paling tinggi di pihak lawan adalah Kwe Cing, tetapi gurunya yakin bisa menangkannya.

Ada lagi Ui Yong, mesl tadi gunakan tipu aneh merebut tongkat dari tangannya, tetapi melihat gaya orang yang lemah lembut, kalau betul2 saling gebrak, belum tentu akan begitu lihay, sedang yang lain2 sama sekali tak terpikir olehnya.

"Baiklah, apa para hadirin yang lam ada usul pula, silakan berkata lekas,"

Begitulah ia menanya sembari matanya memandang sekeliling ruangan "Dan nanti kalau unggul atau asor sudah diputuskan, hendaklah kalian juga tunduk pada perintah Beng-cu."

Sebenarnya banyak kesatria2 yang hendak menjawab tantangannya, tetapi menyaksikan Loh Yu-ka dan Bu-si Hengte dikalahkan dia secara gampang saja, agaknya kepandaiannya juga belum dikeluarkan semua hingga tak diketahui masih berapa banyak ilmu silatnya yang tersimpan, maka seorangpun segan buka mulut, mereka hanya memandang Kwe Cing dan Ui Yong dan pasrah saja kepada suami isteri ini.

"Kau bilang mau maju pada bahak pertama, lalu suhengmu babak kedua dan akhirnya gurumu babak ketiga, apakah acara ini sudah pasti dan tak digeser lagi bukan?"

Tiba2 Ui Yong menanya.

"Ya, betul."

Sahut Hotu.

"Kemenangan pasti berada pada kita sudah,"

Kata Ui Yong, tetapi bukan kepada Hotu melainkan membisiki orang2 yang berada disampingnya.

"Tipu akal apakah yang kau atur?"

Tanya Kwe Cing bingung.

"Jangan kuatir,"

Sahut Ui Yong pelahan.

"Kita pasang kuda rendahan untuk menandingi kuda bagus mereka..."

Berkata sampai disini, tiba2 Ui Yong pandang si Su-seng dari Tay-li, karena itu, dengan tersenyum Su-seng itu menyambung dengan pelahan.

"dengan kuda bagus kita menandingi kuda tengahannya dan dengan kuda tengahan kita menandingi kuda jeleknya. jika tiga babak berakhir maka tanpa susah2 Dian Ki-mendapatkan hadiah seribu emas dari raja."

Kwe Cing tak pandai dalam hal kesusastraan, ia menjadi bingung entah apa yang mereka maksudkan. Melihat sang suami masih belum paham, segera Ui Yong membisikinya.

"Cing-koko, kau pandai dalam ilmu militer, kenapa kau melupakan tipu akal bagus dari kakek-moyang ilmu militer Sun-cu?"

Karena peringatan ini barulah Kwe Cing ingat pada kitab militer yang dahulu pernah dibacanya, dimana Ui Yong pernah ceritakan suatu kisah padanya bahwa di jaman Cian-kok, panglima dari negeri Ce, Dian Ki, berlomba kuda dengan raja Ce sendiri dengan taruhan seribu tail emas.

Untuk ini Sun-cu telah ajarkan suatu akal yang pasti menang pada Dian Ki, yakni gunakan kuda paling jelek buat lawan kuda terpilih raja Ce, sebaliknya gunakan kuda pilihan sendiri untuk melawan kuda terjelek lawan dan kuda cukupan buat menandingi kuda jelek sang raja, dengan demikian hasilnya yalah menang 2 kalah l, maka hadiah 1000 tahil emas telah digondol Dian Ki.

Kini maksud Ui Yong juga mencontoh siasat Sun-cu itu.

"Cu-suheng, dengan ilmu kepandaianmu It-yang-ci, untuk mengalahkan pangeran Mongol ini tentunya tidak sulit,"

Demikian kata Ui Yong.

Su-seng dari negeri Tay-li itu she Cu bernama Cu-liu, dahulu ilmu sastranya menjagoi negerinya dan terpilih sebagai Conggoan (suatu gelar kebesaran dlm ujian kestssasteraan tertinggi di hadapan raja dan pernah juga menjabat sebagai Caysiang (perdana menteri negeri Tayli daerah Hunlam), dengan sendirinya kepintarannya dan kecerdasannya melebihi orang biasa.

Waktu mula2 ia masuk perguruan It-teng Taysu (yang tadinya adalah Sri Bagindanya), diantara empat saudara seperguruan ber-turut2 Direbut "Hi-Jiau-Keng-Tok"

Atau si Nelayan, si Tukang Kayu, si Petani dan si Sastrawam jadi ilmu silatnya terhitung paling rendah.

Akan tetapi sepuluh tahun kemudian ia sudah menanjak sebagai orang kedua diantara empat saudara perguruan itu, Dan kini, ilmu silatnya malah sudah jauh di atas sesama saudara seperguruan yang lain.

Lebih2 ilmu It-yang-ci boleh dikatakan sudah mewariskan seluruh kemahiran It-teng Taysu, Diambil secara rata2 ilmu silatnya meski belum setingkat dengan Kwe Cing, tetapi sudah jauh melebihi jago segolongan Ong Ju-it, Hek Tay-thong, Loh Yu-ka dan lain2.

Begitulah, maka demi mendengar kata2 sang isteri, Kwe Cing yang selamanya berpikir sederhana dan bicara terus terang, segera ia menyambung ucapan Ui Yong tadi.

"Ya, Cu-suheng pasti bisa menangkan orang Mongol ini, akupun dapat mengalahkan padri Tibet Darba itu, tetapi Hek-susiok yang harus melawan Kim-lun Hoat-ong, inilah yang terlalu berbahaya, meski kalah-menang tidak banyak hubungannya lagi dengan keadaan seluruhnya, tetapi dikuatirkan musuh terlalu keji hingga Hek-susiok sukar melawannya."

Namun Hek Tay-thung adalah seorang berjiwa besar, ia tahu pertandingan ini berhubungan dengan soal nasib negara, berbeda sama sekali dari pada perebutan nama dan keuntungan diri sendiri seperiti umumnya terjadi di kalangan Bu-lim, kalau pertandingan ini sampai dimenangkan imam negara MongoI, hal ini bukan saja dunia persilatan bangsa Han kehilangan muka, bahkan susah juga untuk bersatu padu buat melawan musuh dan membela nasib negara.

Karena itu, dengan keras segera iapun berkata.

"Soal diriku tak perlu dikuatirkan, asal bermanfaat bagi negara. sekalipun aku harus mati di tangan musuh tidaklah menjadikan pikiranku."

"Soal itu jangan kuatir,"

Kata Ui Yong.

"Bila dalam pertandingan tiga babak kita sudah menangkan dua babak, maka babak ketiga dengan sendirinya tak perlu dilangsungkan lagi."

Kwe Cing menjadi girang oleh penjelasan ini, berulang kali ia menyatakan benar.

"Jika begitu tugas Cayhe nyata tidak ringan kalau tidak bisa menangkan pangeran Mongol itu tentu bakal dicaci maki oleh kesatria seluruh jagat buat selamanya,"

Kata Cu Cu-liu dengan tertawa.

"Jangan kau merendah diri, silakan majulah,"

Ujar Ui Yong. Lalu Cu Cu-liu majulah ke tengah, ia kiong-chiu memberi salam kepada Hotu lebih dulu.

"Babak pertama, biarlah aku yang belajar kenal dengan Tianhe (Putera Pengeran)"

Demikian ia berkata.

"Aku she Cu bernama Cu-iiu. asal orang Kimbeng, Hunlam, murid It-teng Taysu, hidupku paling suka bersyair dan membaca, maka soal ilmu silat banyak yang-terlantar, hal ini hendaklah Tianhe suka banyak memberi petunjuk."

Habis berkata, ia membungkuk memberi hormat pula, lalu dari bajunya ia keluarkan sebatang pit, ia menggores2 beberapa kali di udara, lagaknya tepat sekali sebagai seorang terpelajar.

"Semakin aneh orangnya, semakin tinggi kepandaiannya. agaknya tidak boleh pandang enteng padanya,"

Demikian pikir Hotu. Karena itu, iapun balas memberi hormat dan membuka suara.

"Siau-ong minta belajar sedikit pada Cianpwe, silakan keluarkan senjata saja !"

"Mongol adalah negeri yang masih biadab dan belum mendapat ajaran Nabi, kalau Tiante minta belajar, sudah tentu akan kuberi petunjuk seperlunya,"

Sahut Cu-liu. Mendongkol sekali hati Hotu oleh kata2 orang yang menghina negerinya.

"Baiklah, dan ini adalah senjataku, kau memakai golok atau pedang ?"

Tantangnya segera sembari kebas-kebas kipasnya. Cu-liu tidak lantas menjawab, ia angkat dulu pit-nya dan menulis di udara satu huruf "pit", lalu dengan tertawa ia menyahut.

"Selama hidupku selalu berdampingan dengan batang pit, senjata apa yang bisa kugunakan?"

Waktu Hotu menegasi, ia lihat alat tulis orang memang benar2 sebatang pit yang terbuat dari garan bambu dengan ujung bulu kambing, pada bagian ujung bulu masih berlepotan tinta bak pula, sama sekali berlainan dengan Boan-koan-pit atau potlot jaksa yang terbikin dari baja yang biasa digunakan untuk Tiam-hiat oleh jago silat Dan karena merasa heran, selagi ia hendak menanya, mendadak matanya terbeliak, tahu2 dan depan dilihatnya berjalan masuk seorang gadis berbaju putih.

Setelah masuk gadis itu berdiri di depan pintu, sinar matanya mengerling pelahan pada setiap orang, agaknya ada seseorang yang sedang di-carinya.

Waktu itu sebenarnya pandangan semua orang lagi dicurahkan pada Cu-liu dan Hotu yang hampir saling gebrak itu, tetapi begitu si gadis baju putih itu masuk, tanpa tertahan sinar mata semua orang beralih kepadanya, wajah gadis itu kelihatan putih lesi seperti orang habis sakit, dibawah sinar lilir yang terang benderang, wajahnya sedikitpun tiada warna darah, namun hal ini semakin menunjukkan kehalusan si gadis yang lain dari pada yang lain, wajahnya pun cantik luar biasa.

Biasanya orang suka menggunakan kata2

"secantik bidadari"

Sebagai bahasa hiasan untuk wanita cantik tetapi betapa cantiknya bidadari sebenarnya, siapapun tiada yang tahu.

Kini demi nampak si gadis, tanpa terasa dalam hati semua orang lantas timbul kesan seperti apa yang dikatakan ""secantik bidadari"

Itu.

Dalam pada itu, demi nampak si gadis baju putih itu, girang Nyo Ko bukan buatan, dadanya se-akan2 mendadak dipukul sekali dengan palu, bagaikan orang gila saja ia melompat keluar dari pojok ruangan itu terus merangkul erat2 gadis itu.

"Kokoh! Kokoh! O! Kokoh!"

Demikian ia berteriak-teriak.

Kiranya gadis ini memang betul Siao-Iiong-li adanya.

Setelah meninggalkan Nyo Ko di gunung Cong-lam-san, seorang diri ia telah kembali ke kamar batu dalam kuburan kuno itu dengan selulup lagi melalui lorong di bawah sungai itu.

Dahulu waktu ia masih tinggal dalam kuburan itu bersama Sun-popoh, hatinya waktu itu boleh dikatakan setenang air berhenti, sedikitpun tak berbuat tetapi sejak bertemu Nyo Ko dan sesudah mengalami banyak rintangan, hendak kembali lagi kepada ketentraman batinnya yang dulu itu ternyata sudah tidak mungkin lagi Asai dia berlatih di atas ranjang batu pualam, segera ia ingat Nyo Ko pernah tidur juga diatas ranjang itu, bila ia sedang makan menyanding meja, segera ia ingat pula si Nyo Ko selalu mendampinginya makan.

Karena itulah, ia menjadi uring2an sendiri, tidak seberapa lama ia berlatih, segera ia merasa hatinya menjadi gelisah dan sukar melatih diri lagi.

Keadaan begitu dapat dilewatkan sebulan, akhirnya ia tak tahan lagi, ia ambil keputusan buat pergi mencari Nyo Ko, kalau ketemu, cara bagaimana ia akan hadapi pemuda itu, hal ini ia sendiripun tidak tahu.

Setelah turun gunung, ia melihat segalanya serba baru baginya, sudah tentu ia tak kenal jalan pula, apalagi ke mana harus mencari si Nyo Ko?

Dan karena kurang pergaulan, iapun tidak kenal tata-krama segala, siapa yang dia ketemukan segera ia tanya.

"Kau melihat Nyo Ko tidak?"

Bila perutnya lapar, ia ambil saja milik orang dan dimakan, ia tidak kenal apa harus membayar atau tidak.

karena itu tidak sedikit keonaran dan lelucon yang terjadi sepanjang perjaIanannya.

Baiknya semua orang melihat rupanya begitu cantik molek, siapa saja suka mengalah padanya dan tidak menarik panjang persoalannya.

Suatu hari, tanpa sengaja di dalam hoteI ia mendengar percakapan dua lelaki bahwa para kesatria dari seluruh jagat hendak pergi menghadiri Eng-hiong-yan di Liok-keh-ceng, ia menduga boleh jadi Nyo Ko berada di sana juga, maka sesudah menanya arah jalannya iapun berangkatlah menuju Liok-keh-ceng.

Diantara para kesatria yang hadir itu, kecuali Hek Tay-thong, In Ci-peng dan Thio Ci-keng bertiga, tiada orang lain lagi yang mengetahui dari mana asal usulnya Slao liong-li, cuma melihat kecantikannya sungguh luar biasa, dalam hati mereka timbul kesan yang aneh.

Dalam pada itu demi kenali Siao-liong-li, muka In Ci-peng mendadak menjadi pucat bagai mayat, tubuhnya pun gemetar, sebaliknya Ci-keng me-lirik2 sang Sute sambil tertawa dingin.

Kwe Cing dan Ui Yong juga rada heran.

"Ko-ji, nyata kau memang berada di sini, sungguh susah payah aku mencari kau,"

Demikian kata Siao-liong-li. Saking terharunya, Nyo Ko mengalirkan air mata.

"Kau... kau tak akan meninggalkan aku lagi bukan?"

Tanyanya dengan terguguk-guguk.

"ltulah aku tak tahu,"

Sahut Siao-liong-li sambil geleng kepala.

"Kemana kau pergi, ke sana juga aku ikut kau,"

Kata Nyo Ko pasti.

Begitulah, meski dalam ruangan pendopo itu ber-jubel2 dengan tetamu yang ribuan jumlahnya, tetapi kedua muda-mudi itu se-akan2 berada berduaan saja dan ber-cakap2 dengan seenaknya.

Siao-liong-li memegangi tangan Nyo Ko, hatinya entah lagi suka atau duka waktu itu.

Melihat Siao-liong-ii yang menggiurkan, meski Hotu terguncang juga hatinya, tetapi ia tidak tahu gadis ini bukan lain adalah orang yang dahulu pernah dilamarnya ke Cong-lam-san itu, ia lihat pakaian Nyo Ko compang-camping berbau busuk, tetapi sikapnya begitu kasih sayang pada si gadis, tanpa terasa timbul rasa cemburunya dan dongkoI pula.

"Hai, kami hendak adu kepandaian, kalian hendaklah menyingkir dahulu,"

Demikian ia lantas berseru.

Tak sempat lagi Nyo Ko menjawab, iapun tidak banyak cingcong, ia gandeng tangan Siao-liong-li dan diajaknya duduk di samping kalangan untuk menceritakan pengalaman masing2 sesudah berpisah selama ini.

Nampak orang sudah minggir, lalu Hotu berpaling dan berkata lagi pada Cu Cu-liu.

"Baiklah, jika kau tak pakai senjata, boleh juga kita bertanding dengan tangan kosong."

"Bukan begitu maksudku,"

Sahut Cu-liu se-akan2 sedang bersanjak.

"Negeri Tionghoa kami adalah negeri bermartabat tinggi dan berlainan dengan negeri Mongol yang masih liar, laki2 sejati hanya bicara secara halus, pertemuan antara sobat cukup dengan pakai pit, kini milikku hanya pit saja, buat apa harus pakai senjata?"

"Kalau begitu, awas, serangan!"

Kata Hotu mendadak, kipasnya terpentang, segera ia menyabet ke depan.

Lekas2 Cu-liu melangkah ke samping sambil geleng2 kepala, sedang tangan kiri mendadak meraba ke depan dengan tangan kanan yang memegang pit terus mencoret ke muka Pangeran Hotu.

Melihat gerak-gerik orang enteng gesit, tipu serangannya aneh, Hotu tak berani main merangsang, ia ingin pahami dulu cara bersilat orang barulah mengambil siasat perlawanannya.

"Awas, Tianhe, pit-ku ini biasanya menjapu bersih beribu perajurit!"

Kata Cu-liu tertawa, berbareng itu ujung pit-nya lantas menutul lagi ke depan.

Ilmu silat Hotu meski dipelajari di daerah Tibet, tetapi gurunya, yaitu Kim-lun Hoat-ong luas sekali pengalamannya, setiap cabang, setiap aliran persilatan di daerah Tionggoan tiada yang tak dipahaminya, dan karena mulai belajar Hotu sudah ber-cita2 mau tonjolkan nama besarnya ke daerah Tionggoan, maka Kim-lun Hoat-ong pernah memberikan perincian semua tipu2 serangan lihay dari berbagai cabang dan aliran silat pada muridnya ini.

Tak terduga Cu-liu pakai senjata aneh, tipu serangannya juga lain dari yang lain, gerak-geriknya bebas, ujung pit-nya menggores ke sana dan mencoret ke sini di udara, tampaknya seperti lagi menulis saja, tetapi tempat dimana ujung pit-nya mengarah justru adalah Hiat-to atau jalan darah berbahaya di tubuh lawan.

Kiranya Cu Cu-liu ini adalah ahli seni-tulis (disamping seni-lukis, di Tiongkok dikenal juga seni-tulis, yakni mengutamakan tulisan bagus dengan gaya tersendiri yang indah dan bertenaga, ada yang disebut "Cau-su", yakni tulisan yang mendekati "coretan"

Secara bebas dan ada lagi yang disebut "thay-su"

Yang ditulis secara lugu dan orisinil) di daerah selatan, meski ia belajar silat, tetapi ilmu sastranya tak pernah dikesampingkan semakin tinggi ilmu silatnya.

akhirnya ia malah menciptakan sendiri semacam kepandaian yang dia lebur antara It-yang-ci dengan seni-tulisnya.

Karena itu, kalau lawannya tidak cukup punya dasar ilmu sastra, sungguh susah hendak melawan ilmu silatnya yang aneh ini.

Baiknya Pengeran Hotu suka berlagak terpelajar sejak kecil iapun pernah bersekolah dengan guru sastra bangsa Han, karena itu ia masih bisa menahan serangan Cu-liu, ia lihat diantara gaya tulisan orang terseling pula gaya menutuk dan di antara menutuk bergaya pula menuIis, sehingga diantara kegagahannya tercampur juga gaya lembutnya orang terpelajar.

Kwe Cing tidak paham ilmu sastra, dengan sendirinya ia ter-heran2 oleh permainan silat itu.

sebaliknya Ui Yong keturunan keluarga cendekia-wan, baik silat maupun surat lengkap dipelajari semua, kini dilihatnya ilmu silat Cu-liu yang aneh tetapi hebat ini, ia menjadi kagum tak terhingga.

Dalam pada itu, Kwe Hu yang ikut saksikan pertarungan itu agaknya merasa bingung, ia mendekati sang ibu dan menanya.

"Mak, ia corat-coret dengan pit-nya kian-kemari, permainan apakah ini?"

Karena seluruh perhatiannya lagi dicurahkan ke kalangan pertempuran, maka sekenanya Ui Yong menjawab .

"Pang-hian-ling-pi."

"Pang-hian-ling-pi apakah itu?"

Tanya lagi Kwe liu semakin bingung. Tetapi Ui Yong lagi terpesona oleh pertarungan itu maka tak dijawabnya pertanyaan Kwe Hu. Kiranya "Pang-hian-ling-pi"

Adalah suatu judul karangan yang ditulis pada suatu pilar oleh pembesar ahala Tong yang bernama di Sui-liong, tulisan itu dilakukan dengan gaya "Khay-su"

Yang amat bagusnya. Dan sekarang Cu-liu telah mencemooh karangan itu dengan menulisnya pakai "It-yang-su"

Atau tulisan dengan It-yang-ci, ia gunakan ujung pit sebagai gantinya jari, maka setiap coretan, setiap goresan, dilakukan dengan menurut aturan dan mirip sekali seperti lagi menitis secara "Khay-su".

Meski Hotu tak kenal lihaynya It-yang-ci, tetapi sedikitnya ia masih paham setiap huruf dalam karangan "Pang-hian-ling-pi" , maka sebelum alat tulis orang bergerak, ia sudah bisa menduga ke mana goresan dan coretan hendak dilakukan, dengan begitu ia bisa menjaga diri secara rapat dan belum tertampak tanda2 bakal kalah.

"Bagus!"

Seru Cu-liu demi nampak kepandaian Hotu memang tinggi "Dan sekarang datanglah "Chau-su", awas sedikit!"

Habis ini mendadak ia copot kopiahnya terus dilempar ke lantai, lalu iapun berlari cepat ke sana kemari hingga lengan bajunya yang besar lebat ikut beterbangan, tipu2 serangan yang dilontarkan juga secara bebas di luar aturan.

Karena itu, tampaknya ia menjadi seperti orang linglung, seperti orang mabuk dan bagai orang keranjingan padahal pit-nya menggores terus sambung menyambung tak berhenti bagai ular laga yang me-lingkar2.

"Mak, apa dia sudah gendeng?"

Tiba2 Kwe Hu menanya lagi.

"Ehm,"

Jawab Ui Yong acuh tak acuh.

"Kalau tambahi minum arak tiga cawan, tentu gaya tulisannya akan lebih bagus."

Habis berkata, ia angkat poci arak terus menuangi penuh2 secawan "Cu-toako,"

Teriak Ui Yong.

""silakan minum tiga cawan buat menambah semangatmu."

Berbareng itu, tangan kirinya memegang cawan, dengan jari kanan mendadak ia menyentil cawan itu, maka tertampaklah cawan arak itu terbang ke depan dengan antengnya, itu adalah ilmu tenaga jari sakti ajaran ayah Ui Yong yang tak ada bandingannya.

Mendadak Cu-liu tutul sekali pit-nya hingga Hotu terdesak mundur, pada saat itu pula cawan arak itu disambernya terus ditenggak habis, menyusui mana Ui Yong sudah menyentilkan cawan kedua dan ketiga be-runtun2.

Alangkah gusarnya Pangeran Hotu melihat kedua orang itu main suguhkan arak dalam keadaan bertempur, sama sekali tak pandang sebelah mata atas dirinya, segera ia bermaksud sampuk jatuh cawan arak orang, tetapi diwaktu Ui Yong menyentilkan cawannya tadi, selalu ia iringi gaya coretan pit-nya Cu-liu dan selalu menerobos di tempat luang, maka sama sekali Hotu tak mampu menyampuknya.

"Banyak terima kasih,"

Seru Cu-liu sesudah keringkan tiga cawan arak "Sungguh tenaga jari sakti yang hebat!"

"Kau juga. Sweih-tiap yang tajam sekali!"

Balas Ui Yong memuji dengan tertawa.

Cu-liu tertawa senang, dalam hati iapun kagum sekali terhadap kepintaran Ui Yong, hanya sekali lihat saja sudah dapat mengetahui ilmu silat ciptaannya yang terlatih selama belasan tahun ini.

Di lain pihak sejak tadi Kim-lun Hoat-ong mengikuti juga pertarungan itu dengan cermat, melihat muridnya lambat laun mulai terdesak di bawah angin, mendadak ia berseru.

"Akuskintel mimoasten, cilcialci!" --------gambar ------------Cu Cu-liu kembangkan gaya seni-tulis yang dikombinasikan It-yang-ci menggoda dan mempermainkan Hotu. ------------------------------Semua orang menjadi bingung, tiada yang paham apa arti bahasa Tibet yang diucapkan itu. sebaliknya Pangeran Hotu tahu bahwa gurunya sedang memperingatkan agar jangan mau bertahan saja, tetapi harus main serobot ikut menyerang dan keras lawan keras dengan ilmu "Hong-hong siok-lui-kang"

Atau ilmu badai menderu dan petir menyamber.

Karena peringatan itu, Hotu bersuit panjang, diantara suaranya itu se-akan2 membawa suara topan dan guntur yang gemuruh, berbareng kipasnya menyabet dan lengan baju mengebas hingga menerbitkan samberan angin keras, secepat kilat ia tubruk Cu Cu-liu.

Begitu keras tenaga pukulan dan samberan angin yang dikeluarkan serangan Hotu hingga semua orang yang menonton lambat-laun terdesak minggir sedang mulut Hotu masih tiada hentinya mem-bentak2 dengan gelegar untuk menambah semangat.

Kiranya ilmu yang disebut "Hong-liong-siok-lui-kang"

Ini memang mengutamakan bentakan2 dan gertakan2 keras sebagai salah satu cara mengalahkan musuh yang lihay.

Namun Cu-liu gesit luar basa, ia melompat kian kemari dengan bebas dan tak gentar, kekuatan mereka ternyata sembabat.

Begitulah, setelah ratusan jurus lewat, mendadak Cu-liu ubah lagi gaya menulisnya, tiba2 gerak tangannya menjadi lamban, coretan pit-nya seperti menjadi sempit dan kaku.

Sebaliknya Hotu masih terus gunakan ilmu Hong-hong-siok-lui-kang"

Untuk melawan, cuma tenaga lawannya makin bertambah kuat, terpaksa iapun kerahkan seluruh tenaga pada kipasnya, suara bentakan2 dan geramannya juga semakin hebat.

Karena itu, penonton2 yang sedikit rendah, ilmu silatnya menjadi tak tahan berdiri terlalu dekat, setindak demi setindak mereka terpaksa mundur terus ke belakang.

Sementara itu, ketika Ui Yong berpaling, ia lihat Nyo Ko sedang duduk berendeng dengan Siao-liong-li di samping sebuah tiang ruangan rumah itu, Meski jarak mereka tidak lebih setombak dari kalangan pertempuran, namun mereka masih tetap ber-cakap2 dengan asyiknya, terhadap pertarungan sengit di samping ternyata tak diperhatikannya sama sekali, bahkan angin pukulan yang diterbitkan oleh Hotu juga sedikitpun tak mengganggu mereka, hanya ujung baju Siao-liong-li saja yang kelihatan rada ber-goyang2 tertiup angin, tetapi gadis ini tetap seperti anggap sepele saja, dengan wajah penuh rasa cinta asmara ia sedang memandang Nyo Ko dengan mesra.

Makin dilihat, Ui Yong menjadi semakin heran, sampai akhirnya ia menjadi lebih banyak memandang si Nyo Ko dan Siao-liong-li berdua dari pada memperhatikan pertarungan antara Hotu dan Cu-liu.

"Tampaknya anak dara ini memiliki ilmu silat yang maha tinggi, sedang Ko-ji begitu rapat hubungannya dengan dia, entah dia anak murid siapakah ?"

Demikian ia membatin.

Begitulah, Siao-liong-li dalam pandangan Ui Yong masih dianggap anak dara saja, padahal waktu itu umur Siao-liong-li sudah lebih 20 tahun, cuma karena sejak kecil ia dibesarkan di dalam kuburan kuno yang tak tertembus sinar matahari, maka kulit badannya menjadi halus luar biasa.

Lwekangnya juga tinggi, maka tampaknya menjadi sepandan nona yang berumur 17-18 tahun.

Sebenarnya kalau Siao-liong-li tidak ketemukan Nyo Ko dan turut ajaran gurunya melatih diri tanpa sesuatu gangguan perasaan, bukan saja umur 100 tahun pasti bisa dicapainya, bahkan kalau sudah berumur seabad, badan dan wajahnya serupa saja dengan orang yang berumur 50-an.

Oleh sebab itulah, dalam pandangan Ui Yong tampaknya Siao-liong-li malah lebih muda daripada Nyo Ko, sedang gerak-geriknya, wajahnya yang polos dan masih ke-kanak2an malahan lebih nyata kelihatan dibanding Kwe Hu, pantas kalau Siao-liong-li disangkanya masih anak dara cilik.

Dalam pada itu, goresan pit Cu-liu makin lama makin lambat, tetapi bertambah kuat, diam2 Hotu terkejut dan mulai kewalahan.

"Mamipami, kushis !"

Tiba2 Kim-lun Hoat-ong membentak.

Meski apa yang dikatakan itu tiada yang paham, namun suara bentakannya itu terlalu keras hingga memekak telinga.

Mendengar Kim-lun Hoat-ong berulang kali memberi petunjuk pada muridnya, akhirnya Cu-liu menjadi gopoh juga, ia pikir kalau orang berganti permainannya lagi, pertandingan ini harus berlangsung sampai kapan?

Se-konyong2 ia mendahului ganti corat-coret tulisannya, kini gayanya tidak seperti orang menulis lagi melainkan seperti orang sedang menatah sesuatu di atas batu.

Gaya ini agaknya sekarang dapat dipahami Kwe Hu.

"Mak, apakah Cu-pepek lagi mengukir tulisan ?"

Demikian ia tanya sang ibu lagi.

"Ha, agaknya anakku toh tidak terlalu bo-doh,"

Sahut Ui Yong tertawa.

"Permainan Cu-pepek ini memang tulisan tatah "

Ciok-ko-bun " (tulisan batu), ini adalah tulisan di atas batu di jaman Chunchiu. Coba kau perhatikan, kenal tidak huruf apa yang sedang ditatah Cu-pepe?"

Waktu Kwe Hu memperhatikan menurut gaya goresan pit-nya Cu-Iiu, ia lihat setiap huruf kelihatan melingkar dan lebih mirip sebuah gambar, satu huruf saja tak dikenalnya.

"Ya, ini adalah tulisan gambar dari jaman purbakala, jangankan kau, aku sendiripun tak kenal,"

Kata Ui Yong kemudian dengan tertawa.

"Haha, apalagi si tolol orang Mongol itu, sudah tentu ia lebih2 tak paham,"

Sorak Kwe Hu sembari bertepuk tangan.

"Mak, lihatlah, bukankah dia sudah mandi keringat dan kerupukan tak keruan."

Nyata, memang terhadap tulisan gambar jaman kuno ini, Hotu hanya paham satu-dua huruf saja, Dan karena tak mengetahui huruf apa yang bakal ditulis Cu-liu, dengan sendirinya Hotu tak bisa ber-jaga2 lebih dahulu, keruan saja seketika ia terdesak.

Sebaliknya makin lama gaya tulisan Cu-liu semakin beraksi dan bertambah kuat terutama daya tekanan It-yang-ci yang dikombinasikan itu.

Suatu ketika Hotu mengibas kipasnya ke depan dan sedikit terlambat menarik kembali, tahu2 Cu-liu sudah menutulkan pit-nya, seketika di atas kipasnya telah bertambah dengan satu huruf besar.

Ketika Hotu memeriksa tulisan itu, ia menjadi bingung.

"Apakah ini huruf "Bong"?"

Tanyanya tak paham.

"Bukan,"

Sahut Cu-liu tertawa.

"lni adalah huruf "ni" !"

Menyusul mana pit-nya menggores lagi, kembali kipas orang kena ditulis pula satu huruf.

"Dan ini huruf "goat"

Tentunya?"

Kata Hotu.

"Salah,"

Ujar Cu-liu menggoyang kepala.

"ltu adalah huruf "goan" !"

Hotu menjadi lesu dan kewalahan, ia goyangi kipasnya dengan maksud menghindari ujung pit orang supaya jangan menulis lagi, siapa tahu justru Cu-liu mendadak memukul dengan tangan kirinya yang kosong, dan ketika Hotu menangkis, pada kesempatan itu Cu-liu telah ulur pit-nya lagi dan Kembali tambahi dua huruf di atas kipasnya.

Sekali ini benar2 Hotu kenal kedua huruf itu.

"Eh ini adalah "ban-ih"

Bukan!"

Serunya tiba-tiba.

"Haha, memang betul "ni-goar-ban-ih" !"

Sahut Cu-liu dengan gelak tertawa.

Memangnya para kesatria yang hadir ini semuanya benci pada penjajahan bangsa Mongol yang secara kejam membunuh rakyat tak berdosa, kini mendengar Cu-liu memaki Hotu "ni-goan-ban-ih"

Atau "kau adalah bangsa biadab", keruan suara sorak sorai bergemuruh seketika.

Hotu memang sudah kewalahan melayani daya serangan orang dengan ilmu "lt-yang-su-ci" , kini mendengar lagi sorak sorai para kesatria itu, tentut saja semangatnya semakin kacau, selagi ia pikir paling selamat angkat kaki saja, se-konyong2, lututnya terasa kesemutan kaku, kiranya sudah kena ditutuk Cu-liu dengan gagang pit-nya.

Betapapun juga Hotu adalah anak murid tokoh terkemuka, ketika terasa lututnya lemas dan segera bakal berlutut ke hadapan orang, ia pikir jika sampai berlutut pamornya pasti akan lenyap, maka sekuatnya ia coba tarik napas panjang2 menembus Hiat-to lututnya itu, habis ini ia bermaksud melompat pergi dan mengaku kalah, siapa tahu, gerakan pit Cu-liu ternyata secepat kilat, menyusul ia sudah menutuk lagi, ia gunakan pit sebagai jari dan pakai gagang pit untuk menyerang secara berantai dengan ilmu It-yang-ci, maka tak mungkin lagi Hotu bisa menangkisnya, akhirnya iapun jadi berlutut hingga saking malunya mukanya merah padam.

Karena itu, gemuruh lagi suara sorak sorai para kesatria.

"Akalmu telah berhasil,"

Kata Kwe Cing pada sang isteri, Ui Yong tersenyum gembira.

Disamping sana, melihat Susiok mereka begitu hebat dengan ilmu It-yang-cinya, Bu-si Hengte juga kagum luar biasa, meski ilmu jari sakti itu sudah mereka pelajari juga, namun kekuatannya terang berbeda seperti langit dan bumi dibanding sang paman guru, Saking kagumnya segera mereka hendak berseru memuji, tapi mendadak terdengar suara jeritan ngeri Cu Cu-liu, dengan cepat Bu-si Hengte menoleh, tiba2 Susiok mereka sudah menggeletak di lantai dengan kedua kakinya berkelejetan.

Perubahan yang luar biasa dan cepat ini bikin semua orang ikut kaget.

Kiranya tadi sesudah Hotu dikalahkan, Cu-liu yang baik budi bermaksud memunahkan tutukan-nya atas Hotu, sebab tutukan It-yang-ci ajaran It-teng Taysu itu berlainan dengan ilmu Tiam-hiat biasa dan orang lain sukar menolongnya, maka ia telah memijat beberapa kali bagian iga Hotu untuk menjalankan darahnya.

Siapa tahu justru hatinya yang berbudi ini mengakibatkan marabahaya bagi dirinya sendiri, ketika Hiat-tonya lancar kembali, se-konyong2 timbul maksud jahat Hotu, ia pura2 merintih sakit, sesudah berdin, mendadak ia tekan alat rahasia pada kipasnya hingga empat buah paku berbisa menyambar keluar dan menancap semua di atas badan Cu-liu.

Sebenarnya pertandingan diantara jago silat, kalau salah satu pihak sudah terkalahkan tentunya tak boleh turun tangan lagi, apalagi di bawah pandangan orang begitu banyak, siapa yang menduga Hotu mendadak akan membokong ?

Jika Am-gi atau senjata rahasia itu dilepaskan Hotu waktu bertanding, sekalipun paku berbisa itu tersembunyi diantara ruji2 kipasnya, dapat dipastikan tidak nanti Cu-liu bisa dicelakainya.

Tetapi kini Cu-liu lagi memunahkan Hiat-to yang ditutuknya, jaraknya tidak lebih dari satu kaki, dalam keadaan demikian sungguhpun kepandaian Cu-liu setinggi langit juga sukar menghindarkan pcmbokongan Hotu itu.

Hebatnya keempat paku berbisa itu adalah rendaman dengan lendir beracun semacam ular jahat yang hidup di daerah Tibet, lihay luar biasa kerjanya racun itu.

Begitu terkena paku itu, seketika Cu-liu merasakan seluruh badannya sakit dan gatal luar biasa, saking tak tahan ia ber-gulung2 di lantai Tentu saja gusar sekali para kesatria tercampur terkejut, be-ramai2 mereka menuding Hotu sambil mencaci maki atas perbuatannya yang keji dan tak kenal malu itu.

Namun Hotu tidak kurang alasan.

"Siau-ong dari kalah menjadikannya kemenangan kenapa harus malu?"

Demikian katanya dengan ketawa.

"Toh sebelum bertanding kita tidak berjanji tak boleh menggunakan Am-gi. jika tadi Cu-heng ini menggunakan Am-gi dan merobohkan Siau-ong dulu, tentu juga aku akan terima kalah dan pasrah nasib."

Meski merasa alasan Hotu ini terlalu di-cari2 saja, tetapi seketika semua orang juga tiada jalan buat mendebatnya.

Dalam pada itu cepat sekali Kwe Cing telah maju membangunkan Cu-Iiu, ia lihat empat buah paku kecil lembut itu menancap empat segi di atas dadanya, wajah Cu-liu seperti tertawa, tetapi bukan tertawa, Kwe Cing tahu racun paku itu sangat aneh, maka lekas2 ia tutuk dulu tiga tempat Hiat-to orang sebagai pertolongan pertama untuk melambatkan jalannya darah dan menutup nadinya agar hawa racun tidak merembes ke dalam.

"Bagaimana baiknya, Yong-ji?"

Tanyanya kepada sang isteri.

Ui Yong tak menjawab, ia mengkerut kening, ia tahu kalau hendak memunahkan racun paku ini harus minta obat pada Hotu atau Kim-lun Hoat-ong, tetapi cara begaimana merebut obat pemunahnya, inilah yang seketika membikin dia tak berdaya.

Di samping lain, demi nampak sang Sute terluka oleh racun jahat, si Nelayan menjadi kuatir dan murka, tanpa pikir lagi ia kencangkan bajunya terus hendak melompat maju buat melabrak Hotu.

Syukur sebelum ia bertindak keburu dicegah Ui Yong yang bisa berpikir panjang, ia pertimbangkan kedudukan pihak sendiri dan pihak lawan secara keseluruhannya, ia pikir pihak lawan sudah menang sebabak, kalau si Hi-jin (nelayan) Suheng ini maju melawan Darba, soal menang atau kalah sungguh sukar diduga, karena itulah ia minta si Nelayan suka bersabar.

"Kenapa?"

Tanya si Nelayan.

Namun Ui Yong tidak menjawab, sungguhpun ia adalah wanita yang pintar luar biasa dengan tipu akalnya yang beraneka macamnya, tetapi sesudah mengalami kekalahan dalam babak pertama, untuk kedua babak selanjutnya betapapun juga telah membikin dia serba sulit.

Di lain pihak setelah merobohkan Cu-liu dengan akal licik, Hotu ber-seri2 berdiri di tengah kalangan sambil matanya menjalang ke sana ke mari dengan lagak yang mentang2 sudah menang.

Tiba2 dilihatnya Siao-liong-li dan Nyo Ko sedang pasang omong dengan asyiknya sambil tangan bergandeng tangan seperti sama sekali tak pandang sebelah mata padanya, keruan hati Hotu menjadi panas.

"Binatang cilik, berdiri!"

Bentaknya mendadak sambil menuding Nyo Ko dengan kipasnya.

Akan tetapi tatkala itu seluruh perhatian Nyo Ko lagi tercurahkan pada Siao-liong-li seorang, ia merasa dunia ini meski luas, namun tiada sesuatu urusan lain yang bisa membagi pikirannya waktu itu, Oleh karenanya, meski pertarungan Hotu lawan Cu-liu tadi begitu seru dan gempar, namun semua itu seperti tak dilihat dan tak didengar olehnya.

Selama beberapa tahun Nyo Ko tinggal di dalam kuburan kuno itu dengan Siao-liong-li, sesungguhnya ia tak tahu bahwa dirinya sudah begitu mendalam mencintai si gadis dan mengikat sehidup semati, Hari itu waktu Siao-liong-li bertanya apa mau memperisterikan dia atau tidak, karena pertanyaan itu diajukan secara mendadak dan hal mana selamanya belum pernah terbayang dalam benaknya, maka ia menjadi bingung tak bisa menjawab.

Belakangan sesudah Siao-liong-li menghilang, ia menjadi menyesal tak kepalang, pada saat itulah dalam hati beratus kali ia berkata.

"Mau, tentu saja aku mau. sekalipun aku harus mati, pasti aku inginkan Kokoh menjadi isteriku."

Cinta asmara antara Nyo Ko dan Siao-Iiong-li timbulnya memang dalam keadaan tak terasa antara kedua muda-mudi itu, setelah saling berpisah barulah perasaan itu membakar dan sukar ditahan, Iebih2 Siao-liong-li yang sejak kecil telah mengekang diri dalam hal perasaan dan napsu, tidak punya pikiran senang juga tak pernah marah, tetapi perasaan cinta yang berasal dari pembawaan itu siapapun sukar menghindarinya, maka ketika mendadak jatuh cinta pada Nyo Ko, perasaan itu menjadi lebih hangat berpuluh kali daripada orang biasa.

Nyo Ko sendiri tak pernah kenal takut, sedang Siao-liong-li sedikitpun tak kenal segala macam tatakrama umum, ia pikir kalau aku jatuh cinta, aku boleh main cinta, mau senang boleh senang, ada sangkut paut apa dengan orang lain?

Begitulah cara berpikir kedua muda-mudi itu, yang satu tak peduli, yang lain tak mau mengerti, meski berada di tengah2 ribuan orang yang sedang asyik menyaksikan pertarungan sengit itu, mereka pasang omong sendiri dengan mesra.

Bentakan Hotu tadi oleh si Nyo Ko masih tetap tak didengarnya, Keruan saja Hotu semakin murka, segera ia hendak mendamperat lagi ketika tiba2 terdengar Kim-iun Hoat-ong berseru pula dalam bahasa Tibet dengan maksud bahwa pihak sendiri sudah menangkan satu babak, maka babak kedua boleh diteruskan saja.

Sebab itu, Hotu melotot sekali pada Nyo Ko, habis ini iapun undurkan diri ke mejanya sambil berteriak.

"Pihak kami sudah menang satu babak, untuk babak kedua ini yang maju adalah suhengku Darba, dan pihak kalian siapa yang akan maju?"

Dalam pada itu segerapun Darba melangkah ke tengah, dari kasa (jubah padri) merahnya ia mengeluarkan semacam senjata.

Nampak senjata Darba yang hebat ini, diam2 semua orang terperanjat.

Kiranya senjata yang dia pakai adalah sebatang gada besar yang disebut "Kim-kong-hang-mo-cu" (penggada penakluk iblis) yang biasa dikenal sebagai senjata Hou-hoat Cuncia dalam agama Budha.

Hang-mo-cu senjata Darba ini panjangnya kira-kira empat kaki, pangkal gada itu sebesar mulut mangkok, batang gadanya mengkilap seperti terbikin dari emas murni, maka dapat dibayangkan bobot senjata ini pasti jauh lebih berat dari pada terbikin dari besi baja.

Sesudah berada di tengah kalangan, Darba merangkap tangannya menjalankan penghormatan pada semua orang, lalu gadanya dia lemparkan ke atas, maka terdengarlah suara gedombrangan yang keras, jatuhnya gada itu telah bikin beberapa ubin -besar ruangan pendopo itu pecah berantakan bahkan batang gada itu ambles hampir separuh ke dalam tanah.

Dengan mengunjuk gertakan ini, dapat diketahui betapa hebat berat gada itu, sungguh tidak nyana bahwa seorang Hwesio yang kurus kering seperti Darba ternyata kuat menggunakan senjata seberat itu, maka dapat dibayangkan betapa hebat tenaga pukulannya.

"Cing-koko sudah tentu bisa taklukkan Hwesio kasar ini, cuma babak ketiga nanti kalau Hoat-ong turun tangan sendiri dan pihak kita tiada yang sanggup melawannya, maka pertandingan ini pasti kalah."

Demikian Ui Yong berpikir "Tetapi, biarlah aku tempur Hwesio ini dengan akal saja."

Habis ini, begitu angkat tongkat bambunya Pak-kau-pang, pentung pemukul anjing, segera ia bermaksud maju.

"Jangan... jangan,"

Lekas2 Kwe Cing mencegah "Kesehatanmu terganggu, mana bisa kau bergebrak dengan orang?"

Sebenarnya Ui Yong sendiri juga tidak yakin pasti akan menang, jika sampai babak kedua ini kalah lagi, maka babak ketiga tidak perlu diteruskan pula, karena itu ia menjadi ragu-ragu.

"Ui-pangcu, biar aku melayani padri jahat ini,"

Tiba2 Tiam-jong Hi-un atau si Nelayan Pertapa murid pertama It-teng Taysu, telah menyelak maju.

Nyata sejak sutenya terkena jarum berbisa musuh hingga mengenaskan sekali penderitaannya, si Nelayan ini sudah tak sabar lagi dan ingin bisa membalas dendam itu.

Sesungguhnya Ui Yong juga sedang kerupukan tak berdaya, ia pikir tiada jalan lain lagi kecuali adu kekuatan sebisanya, kalau si Nelayan mi bisa menangkan padri Tibet, nanti Cing-koko masih bisa keras lawan keras untuk menentukan rrenang dan kalah dengan Kim-lun Hoat-ong.

"Baiklah, kalau begitu Suheng hendaklah hati2,"

Demikian katanya kemudian.

Dalam pada itu Bu-si Hengte sudah siapkan kedua batang penggayu baja yang merupakan senjata Supek mereka, ketika dengar Ui Yong pertahankan orang maju, dengan cepat sepasang penggayu itu lantas diangsurkan kepada Tiam-gong Ki-un.

Dengan mengempit penggayu itu, majulah nian atau si Nelayan Pertana ini, tetapi ia tidak lantas menyerang, dengan muka yang merah menyala ia kelilingi Darba sekali putaran.

Keruan Darba menjadi bingung, ia tidak tahu apa2an maksud orang ini, ia lihat si Nelayan mengitar, maka iapun ikut memutar Mendadak si Nelayan menggertak sekali, kedua penggayunya diputar terus mengepruk ke atas kepala musuh.

Namun cepat sekali gerak tubuh Darba, sekali angkat tangannya, gada emas telah dia tangkiskan, Maka terdengarlah suara nyaring keras beradunya senjata gada dan penggayu, begitu hebat suaranya hingga anak telinga semua orang se-akan2 pekak.

Seketika tangan kedua belah pihak sama2 terasa pedas karena beradunya senjata itu, mereka pun sama2 tahu telah ketemukan lawan yang bertenaga raksasa, karena itu mereka sama2 melompat mundur.

Tiba2 Darba berkata sekali dalam bahasa tibet, karena tak paham apa yang diucapkan, si nelayan balas memaki orang dengan bahasa daerah Tay-li, kedua orang sama2 tak mengerti kata2 pihak lawan, Mendadak mereka saling menubruk maju lagi, senjata masing2 bergerak dan kembali suara nyaring keras terdengar.

Pertarungan seru sekali ini berlainan lagi dengan cara pertandingan Cu-liu melawan Hotu tadi yang dilakukan secara "halus" , Kini boleh dikatakan keras lawan keras, masing2 sama ketemukan tandingan dan saling labrak dengan Gwakang yang lihay, saking serunya pertarungan ini hingga membikin penonton lain sama ber-debar2 dan pada terkejut.

Sebagai anak murid It-teng Taysu yang kerjanya se-hari2 hanya menggayu perahu hilir mudik melawan arus air hingga kedua lengannya terlatih kuat dengan otot2 kelihatan menonjol.

Dan karena wataknya yang polos sederhana, maka biasanya si Nelayan sangat disukai It-teng Taysu, cuma bakatnya kurang baik.

Lwekangnya tidak gampang terlatih seperti Cu Cu-liu yang cerdas, namun soal Gwakang sebaliknya lihay luar biasa.

Kini ia tempur Darba dengan gunakan Gwakang untuk saling labrak, hal ini kebetulan cocok dengan kemahirannya, maka tertampaklah sepasang penggayunya terputar dan merangsak terus secara hebat.

kedua penggayu itu setiap batang beratnya lebih 50 kati, tetapi ia bisa mengangkatnya seperti barang enteng saja bagai orang biasa menggunakan senjata ringan.

Sebenarnya Darba sangat mengagulkan tenaga raksasanya yang tiada bandingan, siapa duga kini ia justru ketemukan seorang "raksasa"

Juga, bukan saja tenaga lawannya besar, malahan tipu serangannya juga aneh dan hebat.

Karena itu iapun tak berani ayal, ia putar Kim-kong-cu atau gada emasnya untuk menandingi penggayu orang, kedua orang sama2 banyak me-rangsak daripada menjaga diri saja.

Tadi waktu Cu-liu melawan Hotu, para kesatria yang menyaksikan pertandingan itu sudah banyak yang menyingkir mundur karena samberan angin yang terlalu kuat, kini lebih2 lagi, tiga senjata berat saling beradu, jangankan tak tahan akan angin pukulannya, sekalipun suara benturan gada dan penggayu yang nyaring menusuk itupun terasa sukar ditahan.

Karena itu banyak diantaranya tekap kuping mereka dengan tangan untuk menyaksikan pertandingan itu.

Manusia yang bertenaga begitu besar seperti Tiam-jong Hi-un ini sesungguhnya jarang diketemukan apalagi orang yang memiliki tenaga besar yang seimbang diantara kedua tangannya serta seimbang pula dengan ilmu silat yang dipahami lalu bertempur dengan mati2an, hal ini lebih2 susah diketemukan.

Saking serunya pertempuran itu, sampai Kwe Ceng dan Ui Yong juga ikut berkeringat.

"Yong-ji, bagaimana, apa kita ada harapan menang?"

Tanya Kwe Cing.

"Sekarang masih belum kelihatan,"

Sahut Ui Yong.

Padahal Kwe Cing bukannya tidak tahu saat ini masih sukar membeda2kan kalah dan menang, tetapi ia akan merasa lega dan terhibur apabila bisa mendengar jawaban sang isteri yang menyatakan si Nelayan bakal menang.

Ketika berpuluh jurus sudah lewat, tenaga kedua orang itu ternyata sedikitpun tak berkurang sebaliknya semangat mereka bertambah menyala2, setiap kali Tiam-jong Hi-un menghantam dengan penggayunya, selalu diikuti dengan bentakan dan teriakan untuk menambah daya serangannya.

"Kau bilang apa?"

Tiba-tiba Darba menanya. Ia berkata dengan basa Tibet, sudah tentu Hi-un tidak paham, karena itu iapun balas menanya.

"Kau berkata apa?"

Dengan sendirinya Darba juga tak menyaru ucapan orang, maka terjadilah cacimaki tak keruan diantara kedua orang itu sambil senjata mereka beterbangan menyamber hingga meja kursi pecah berantakan tak peduli barang apa saja, asal terkena hantaman gada atau penggayu, maka dapat dipastikan barang itu akan hancur luluh, malahan banyak yang kuatir kalau2 senjata mereka akan menghantam tiang rumah hingga gedung itu akan ambruk karenanya.

Di lain pihak Kim-lun Hoat-ong dan pangeran Hotu tidak urung juga terperanjat diam2.

tampaknya kalau pertarungan sengit itu diteruskan sekalipun Darba nanti bisa menang, namun sedikitpun tidak terhindar dari luka parah.

Tetapi dalam keadaan pertarungan seru itu, seketika sukar hendak memberhentikannya!

Pertarungan mati2an itu makin lama semakin hebat, kedua orang sama meloncat ke sini dan melompat ke sana sambil menghantam dibarengi dengan suara bentakan.

Mendadak terdengar suara menggelegar keras, kedua orang sama2 membentak.

lalu ke-dua2nya sama2 melompat mundur.

Kiranya penggayu si Nelayan yang kanan telah membentur keras dengan gada emas orang karena keduanya sama2 memakai tenaga penuh, batang penggayu itu juga sedikit lebih kecil dan tidak sekukuh gada, maka penggayu itu telah patah menjadi dua.

Kutungan penggayu itu mencelat terbang dan terjatuh di hadapan Siao-liong-li hingga mengeluarkan suara nyaring.

Tatkala itu Siao-liong-li sedang bicara dengan Nyo Ko dengan asyiknya, sedikitpun ia tidak perhatikan bahwa ada sepotong besi penggayu jatuh di depannya, ketika kepingan besi itu menindih jari kakinya, dalam kagetnya ia menjerit terus meloncat bangun.

Oleh karena jeritan Siao-liong-li ini barulah Nyo Ko ikut tersadar.

"Apa kau terluka?"

Tanyanya cepat dan kuatir.

Siao-liong-li tak menjawab, ia hanya meraba jari kakinya sembari mengunjuk rasa sakit.

Tentu saja Nyo Ko menjadi gusar, segera ia membalik tubuh hendak mencari siapa gerangan berani bikin sakit jari kaki Siao-liong-li tetapi begitu ia berpaling, ia lihat Tiam-jong Hi-tm dengan memegang penggayu patah sedang bertengkar dengan Darba dan masih ingin melanjutkan pertempuran itu dengan sebuah penggayu saja.

Naman Darba terus meng-geleng2 kepala, ia tak mau teruskan pertandingan itu lagi nyata ia tahu tenaga raksasa musuh dengan dirinya adalah setali-tiga-wang alias sama kuat, kalau bertanding terus dirinya sukar memperoleh kemenangan kini dalam hal senjata ia sudah lebih unggul, maka pertandingan ini boleh dihitung atas kemenangannya.

"Nah, dalam tiga bahak pertandingan pihak kami sudah menang dua babak, maka Bu-lim Beng-cu (ketua serikat dunia persilatan) ini dengan sendirinya jatuh atas diri guruku,"

Demikian dengan suara lantang segera Hotu berdiri dan bicara lagi.

"Maka para...."

Tetapi belum habis ia berkata, mendadak Nyo Ko menyela dan menegur si Nelayan .

"Hai, kenapa kau pukul Kokoh-ku dengan penggayumu?"

"Aku... aku ti..."

Demikian si Nelayan itu menjadi tergagap.

"Kau telan menyakiti kakinya lekas kau minta maaf padanya,"

Kata Nyo Ko lagi.

Nampak orang hanya seorang bocah, si Nelayan anggap Nyo Ko hanya mengoceh semaunya saja, maka tidak digubrisnya.

Tak terduga, mendadak Nyo Ko ulur tangannya dan tahu2 penggayu patah itu sudah kena di-rebutnya.

"lekas kau minta maaf pada Kokoh-kui"

Seru Nyo Ko pula. Dalam pada itu bukan buatan rasa mendongkolnya Hotu oleh karena pembicaraannya tadi di-bikin terputus oleh Nyo Ko.

"Binntang cilik, lekas minggir !"

Demikian ia membentak.

"Binatang cilik memaki siapa?"

Sahut Nyo Ko tiba2 sembari ayun penggayu patah itu dan menghantam. Mendengar Nyo Ko balas tanya "binatang cilik memaki siapa", tanpa pikir Hotu terus menjawab .

"Binatang cilik memaki kau !"

Nyata ia telah terjebak, ia tidak tahu bahwa anak2 di daerah selatan suka menggunakan jeratan kata2 itu untuk mengadu mulut, kalau lengah sedikit, dengan sendirinya lantas tertipu.

Karena itu, maka tertawalah Nyo Ko terbahak-bahak.

"Hahaha, betul, betul, binatang cilik yang memaki aku,"

Demikian katanya geli.

Suasana di ruangan pendopo itu sebenarnya sedang tegang, tetapi karena dikacau oleh majunya Nyo Ko ini, seketika para kesatria itu ikut ketawa.

Tentu saja Hotu bertambah gusar, begitu kipas lempitnya dipentang, segera ia sabet ke atas kepala Nyo Ko.

Para kesatria yang hadir di situ semuanya berhati mulia, tadi mereka sudah menyaksikan ilmu silat Hotu yang sangat lihay, maka dapat diduga bila kipasnya ini betul2 berkenalan dengan kepala Nyo Ko, kalau tidak mampus sedikitnya pemuda ini akan terluka parah, Karena itulah be-ramai2 mereka telah ber-teriak2 .

"Jangan berkelahi dengan anak kecil, tak tahu malu, besar melawan kecil !"

Di samping sana secepat terbang Kwe Cing juga sudah melompat maju, selagi tangannya benak merebut kipasnya Hotu, tahu2 Nyo Ko telah unduk kepala dan dengan gampang saja menerobos di bawah tangan Hotu, malahan ketika penggayu patah itu ia tarik, dengan gaya "sian"

Atau menyerempet, suatu gaya istimewa dari Pak-kau-pang-hoat, tiba2 ia menjegal kaki Hotu dengan penggayu patah itu.

Karena tak men-duga2, dengan tepat Hote kesandung, ia ter-huyung2 dan hampir2 terguling jatuh, untung ilmu silatnya memang tinggi luar biasa, tubuh yang sudah kehilangan itnbangan itu secara paksa ia enjot sekuatnya ke atas untuk kemudian turun ke bawah lagi dengan tegak "Bagaimana, Ko-ji."

"tanya Kwe Cing kuatir dan tercengang atas kejadian itu.

"Tak apa2", sahut Nyo Ko tertawa.

"la pandang rendah Ang Chit kong punya Pak-kau-pang-hoat, maka aku lantas banting dia dengan gerak tipu Pak-kau-pang-hoat, biar dia kapok."

Heran sekali Kwe Cing mendengar jawaban itu.

"Aneh, darimana kau bisa Pak-kau-pang hoat?"

Tanyanya.

"Tadi waktu Loh-pangcu berkelahi dengan dia, begitu lihat aku lantas berhasil mempelajarinya,"

Demikian Nyo Ko membohong.

Kwe Cing sendiri bakatnya terlalu puntul, tetapi ia percaya tidak sedikit orang pandai di jagat ini, maka terhadap kata2 si Nyo Ko ia hanya setengah percaya setengah sangsi2.

Di lain pihak Hotu yang kena disandung sekali oleh Nyo Ko ia kira dirinya sendiri yang kurang hati2 hingga kejegal sama sekali tak dipikirnya bahwa pemuda yang usianya belum ada 20 tahun bisa memiliki ilmu silat begitu tinggi, ia pikir urusan paling penting sekarang yalah merebut Beng-cu, setelah soal ini selesai barulah bocah ini akan dibereskannya pula.

Maka dengan langkah lebar segera ia mendekati Kwe Cing.

"Kwe-tayhiap,"

Demikian katanya lantang.

"pertandingan, hari ini sudah terang dimenangkan pihak kami, maka guruku Kim-lun Hoat-ong sejak kini adalah Beng-cu dunia persilatan apakah masih ada yang belum mau menyerah?"

Sebelum selesai ia bicara, diam2 Nyo Ko mendatangi belakangnya, tiba2 pengayu ia sodokkan pula, ia keluarkan salah satu tipu Pak-kau-pang-hoat dan mendadak jojoh bohong orang.

Tetapi betapa hebat kepandaian Hotu, masakah ia kena dibokong orang dari belakang?

Cuma ilmu pentung pemukul anjing itu memang bagus tiada bandingannya, sungguhpun ia tahu dibokong, tetapi hendak berkelit ternyata sama sekali tak dapat, maka terdengarlah suara "blek", dengan tepat pantatnya kena disodok oleh pengayunya Nyo Ko.

sekalipun Lwekangnya sudah sangat tinggi, tapi pantat adalah tempat yang banyak dagingnya tidak urung ia kesakitan juga, ditambah kejadian itu tak ter-sangka2, sebab ia kira pasti bisa menghindarinya.

tapi justru kena disodok, maka tanpa terasa ia berteriak.

"Hm, manusia macam apa kau? Aku justru tidak menyerah !"

Demikian terdengar Nyo Ko menjengek Karena kejadian itu, para kesatria itu ter heran2 dan merasa geli pula, mereka pikir pemuda ini bukan saja nakal, orangnya pun pemberani.

Pangeran Mongol ini ternyata dua kali kena di-kibuli.

Sampai di sini Hotu tak bisa tinggal diam lagi, tetapi ia masih belum anggap Nyo Ko sebagai lawan, hanya tangannya mendadak menampar ke belakang dengan maksud hendak tempeleng bocah ini untuk lampiaskan rasa mendongkolnya.

Tetapi waktu itu Kwe Cing berdiri di samping-nya, sudah tentu ia tidak biarkan Nyo Ko dihantam.

mendadak ia angkat tangannya terus cekal telapak tangan Hotu sambil berkata.

"Kenapa kau main2 dengan anak muda?"

Seketika Hotu rasakan separah badannya kaku kesemutan, dalam gusarnya iapun sangat terkejut.

Dalam pada itu Nyo Ko tidak sia2kan kesempatan itu, ia ayun penggayunya lagi terus gebuk pula pantat orang sambil ber-teriak2.

"Binatang cilik tak dengar kata, biar bapak hajar pantatmu !"

"Ko-ji lekas undurkan diri, jangan main gila lagi,"

Cepat Kwe Cing bentak si Nyo Ko. Para kesatria kembaii ter-pingkal2 karena ke-lakuan Nyo Ko itu. sebaliknya para begundal dari Mongol be-ramai2 pada berteriak2.

"Apa? Dua keroyok satu maunya?"

"Hm, tak malu !"

"Apa minta pertandingan diulang kembali, bukan?"

Begitulah mereka mengejek riuh rendah, karena itu Kwe Cing tertegun, lalu iapun lepaskan tangan Hotu.

Sementara itu mata Ui Yong memang sangat jeli itu, ketika dilihatnya Nyo Ko menyandung orang dan menjojoh lagi sekali, gaya serangannya memang betul2 tipu bagus dari Pak-kau-pang-hoat, keruan saja ia curiga.

"Darimanakah ia dapat mencuri belajar Pak-kau-pang-hoat? Apakah mungkin ia telah mengintip waktu aku mengajarkan pada Loh Yu-ka? Tetapi setiap kali sebelumnya pasti kuperiksa dulu sekitar tempat itu, mana bisa ia mengelabuhi mataku?"

Demikian Ui Yong tidak habis mengarti. Tetapi segera iapun berseru .

"Cing-koko, coba kau ke sini!"

Kwe Cing menurut, ia kembali ke samping sang isteri, tapi kuatir akan keselamatannya Nyo Ko, maka pandangannya tidak pernah meninggalkan diri pemuda itu dan Hotu, ia lihat pangeran Mongol itu telah merangsang maju lagi dan menyerang Nyo Ko dengan hebat.

Tetapi Nyo Ko benar2 jahil, sembari berkelit ia masih terus berteriak .

"Hantam pantatmu, hantam pantatmu !"

Dan betul juga, selalu ia ayun penggayunya menggebuk pantat orang, cuma waktu itu Hotu sudah keluarkan kepandaiannya, dengan sendirinya tak bisa lagi kena sasarannya, setiap pukulannya selalu mengenai tempat kosong.

Kalau Hotu ingin pukul kepala Nyo Ko dengan kipasnya, sebaliknya Nyo Ko ayun penggayunya hendak gebuk pantat Hotu, kedua orang lalu uber2-an di tengah ruangan pendopo itu siapapun tiada yang bisa pukul yang lain.

Mula2 semua orang merasa heran dan anggap lucu, tetapi sesudah menyaksikan kedua orang uber2an beberapa lingkaran, akhirnya semuanya terkejut ternyata Nyo Ko yang bajunya compang camping, usianya pun masih muda, tetapi langkahnya sangat enteng, gerak-geriknya gesit, hakikatnya tidak kalah cepat daripada Hotu, Beberapa kali Hotu mengejar maju hendak pukul, tetapi dengan sigap dan bagus selalu dapat dihindarkan Nyo Ko.

Tiam-jong Hi-un dan Darba sebenarnya masih saling melotot dengan senjata terhunus.

yang siap menerjang maju lagi buat bertanding dan yang lain siap sedia dengan penuh perhatian untuk menjaga serbuan musuh yang mendadak, tetapi nampak Hotu tak bisa berkutik melawan seorang anak muda yang tak terkenal semuanya menjadi heran, yang satu tertawa lebar dan yang lain mengomel terus dalam bahasa Tibet yang tak dimengerti.

Sesudah Nyo Ko dan Hotu ubek2an beberapa kali lagi, lambat laun dapat juga Hotu mengetahui Ginkang atau ilmu entengkan tubuhnya Nyo Ko sangat hebat, kalau terus main hadapan lari boleh jadi akhirnya ia sendiri akan terjungkal.

Karena itu mendadak ia terus putar balik dengan tangan kiri ia pegang penggayu orang dan kipas ditangan-yang lain segera menutuk kaki Nyo Ko pada tempat "goan-riau-hiat".

Dengan serangan ini, caranya bukan lagi sekedar hajaran pada anak nakal saja, tetapi tipu serangan antara jagoan sungguh2.

Namun Nyo Ko tidak gampang diarah, meski usianya kecil, tapi nyalinya cukup besar, ia lihat lawannya mengeluarkan ilmu silat yang hebat, ia tak mau lawan orang berhadapan ia berkelit hindarkan tutukan tadi, menyusul dengan ayun penggayunya ia masih terus ber-teriak2 .

"Bapak pukul pantatmu !"

Dengan caranya Nyo Ko mempermainkan lawannya ini, sebenarnya kepandaiannya harus berlipat ganda lebih tinggi dari orang barulah "sip" , meski Nyo Ko tidak sedikit pelajari ilmu silat yang paIing bagus dan tinggi, tetapi soal keuletan ia masih belum bisa menimpali Hotu, dengan caranya menggoda orang itu sebenarnya bisa berabe.

Tetapi karena kelakuannya yang jenaka itu, semua orang yang menonton sama bergelak ketawa, dan karena tertawa orang banyak inilah Hotu malah dibikin bingung hingga pikirannya tak tenang, ia betul2 kuatir pantatnya kena digebuk lagi di hadapan para kesatria itu, hal ini berarti akan menghilangkan pamornya, maka seluruh perhatiannya dicurahkan untuk menghindarkan diri hingga lupa untuk memutarkan serangan balasan, dengan demikian barulah Nyo Ko tidak mengalami bahaya.

Sampai disini Ui Vong sudah dapat melihat bahwa Nyo Ko pasti pernah mendapat ajaran dari orang kosen, pengalamannya pasti lain dari pada yang lain, ilmu silatnya tentu susah diukur.

Ia pikir biarkan bocah ini kacaukan pihak musuh, mungkin untuk sementara masih bisa pertahankan kedudukan sendiri yang sudah kalah dua babak tadi.

Maka dengan suara keras ia lantas berseru .

"Ko-ji, coba kau bertanding secara baik2 dengan toako ini, kulihat se-kali2 dia bukan tandinganmu !"

Karena seruan itu, segera Nyo Ko berhenti "Hayo, berani kau?"

Katanya segera sambil me lelet2 lidah mengejek serta tuding hidung Hotu.

Namun Hotu sangat licin, ia pikir pihaknya sudah menang dua babak be-runtun2, kedudukan Beng-cu sudah terang dapat direbutnya, kenapa perlu cari gara2 lain ?

Maka ia lantas menjawab .

"Binatang cilik kau begini nakal, pasti akan kuhajar kau, cuma tak perlu buru2, kita minta Bu-lim Beng-cu Kim-lun Hoat-ong memberi petua dan kita semua akan menurut segala perintahnya."

Tetapi dengan riuh para kesatria sama membangkang hingga suaranya sangat berisik.

"Kita tadi sudah berjanji siapa yang menangkan dua babak dialah yang mendapatkan sebutan Beng-cu, nah, janji tadi dianggap kata2 manasi atau bukan ?"

Dengan suara keras segera Hotu berteriak.

Seketika para kesatria menjadi bungkam, meski kemenangan musuh yang pertama tadi dilakukan dengan cara licik dan babak kedua baru sampai pada senjata patah, tapi kalau menyangkal kekalahan itu, sebagai kesatria rasanya juga sungkan, maka mereka-terpaksa tak bisa menjawab.

"Kenapa Hwesio tua ini bisa menjadi Bu-lim Beng-cu, kulihat dia tidak cocok"

Kata Nyo Ko tiba-tiba.

"Siapa guru bocah ini, lekas dipanggil dan diberi hajaran, kalau masih terus mengacau disini, jangan sesalkan aku tidak bermurah hati padanya !"

Teriak Hotu dengan gusar.

"Haha, justru guruku barulah cocok untuk di-angkat menjadi Bu-lim Beng-cu, gurumu sih punya kepandaian apa?"

Kata Nyo Ko lagi dengan tertawa.

"Siapa gurumu, silakan maju buat belajar kenal"

Sahut Hotu. Nyata ia sudah kenal kepandaian Nyo Ko tidak rendah, ia pikir guru orang pasti seorang tokoh besar, maka dia gunakan kata2

"silakan"

Tetapi Nyo Ko tidak menjawab, sebaliknya ia tanya lagi.

"Perebutan Bu-lim Beng-cu hari ini, bukankah setiap murid boleh mewakilkan sang guru?"

"Ya", sahut Hotu.

"Maka tadi kami sudah menangkan dua babak dari tiga babak, dengan sendirinya guruku adalah Beng-cu."

"Baiklah, anggap benar kau telah menangkan mereka, tetapi apa gunanya ? Murid guruku toh belum pernah kau kalahkan,"

Kata Nyo Ko.

"Siapa dia murid gurumu?"

Tanya Hotu.

"Goblok."

Sahut Nyo Ko ter-kakah2.

"Murid guruku dengan sendirinya ialah aku ini!"

Mendengar banyolan ini, para kesatria kembali bergelak ketawa lagi.

"Nah, sekarang kita juga bertanding dalam tiga babak, kalau kalian menang dua babak lagi, barulah aku mau ngaku Hwesio tua itu sebagai Beng-cu,"

Dengan tertawa Nyo Ko berkata pula.

Tetapi kalau aku yang menang dua babak, maaf, sebutan Bu-lim Beng-cu itu tidak bisa lain kecuali guruku yang mendudukinya.

Mendengar kata2 Nyo Ko ini, semua orang pikir jangan2 gurunya memang betul seorang tokoh ternama dan sengaja datang buat merebut gelar Bu-lim Beng-cu dengan Ang Chit-kong dan Kim-lun Hoat-ong, tetapi peduli siapa gurunya, se-tidak2nya toh bangsa Han daripada Beng-cu kena direbut oleh imam negara bangsa Mongol.

Karena itu, segera semua orang berseru menyokongnya.

"Ya, ya, betul! Coba kau menangkan dua babak lagi!"

"Memang tepat apa yang dikatakan engkoh cilik ini!"

"Jagoan Tionggoan memangnya sangat banyak, secara beruntung kau menang dua babak, apanya yang perlu dibuat heran ?"

Diam2 Hotu memikirkan akal, ia menduga dua jago tertinggi pihak musuh sudah dikalahkan kalau maju dua lagi juga tak perlu takut, kuatirnya kalau orang main giliran, dua kalah segera maju lagi dua.

Sebab itu, lantas ia jawab.

"Gurumu hendak berebut kedudukan Beng-cu ini, memangnya boleh juga, cuma orang gagah di jagat ini entah berapa ribu banyaknya, kalau harus bertanding sebabak dan sebabak lagi, lalu harus bertanding sampai ka-pan?"

"Kalau orang lain yang menjadi Beng-cu, pasti guruku tak ambil pusing, soalnya asal dia lihat gurumu itu, hatinya lantas gemas"

Sahut Nyo Ko.

"Siapakah gurumu, apa dia,ada disini?"

Tanya Hotu.

"Dia orang tua sekarang juga btrada di depan matamu,"

Sahut Nyo Ko tertawa, Lalu ia menoleh pada Siao-liong-Ii.

"Hai, Kokoh, dia menanyakanmu!"

Siao-liong-li menyahut sekali, iapun angguk2 kepada Hotu.

MuIa2 para kesatria tercengang, tetapi segera mereka ter-bahak2 lagi, sebab wajah Siao-Iiong-li yang cantik molek, usianya tampaknya malah lebih muda daripada Nyo ko, mana bisa menjadi guru-nya?

jelas Nyo Ko sengaja bergurau untuk goda Hotu.

Hanya Hek Tay-thong, Sun Put-ji, Thio Ci-keng dan In Ci-peng yang tahu bahwa apa yang dikatakan Nyo Ko itu memang betul Ui Yong sendiri meski menduga ilmu silat Nyo Ko pernah dapat ajaran dari orang kosen, tetapi apun tak percaya bahwa gadis lemah lembut sebaik Sieo-liong-Ii ini bisa menjadi gurunya ?

Dan dengan sendirinya Hotu lebih2 tak percaya, ia menjadi gusar.

"Siau-wan-tong (anak kecil nakal) ngaco-belo"

Demikian bentaknya.

"Hari ini para kesatria berkumpul semua di sini, masih banyak urusan2 besar yang akan diselesaikan mana boleh kau mengacau terus di sini? Lekas kau enyah pergi!"

Tetapi Nyo Ko tak gubris orang, ia berkata lagi.

"Ha, gurumu hitam lagi jelek, kalau bicara lurak-kelurak tak ada orang tahu, Coba kau lihat guruku cantik, begini manis, kalau dia yang menjadi Bu-lim Beng-cu, bukankah jauh lebih baik daripada gurumu si Hwesio hitam pelontos itu?"

Terhadap urusan keduniawian sama sekali Siao-liong-li tak pahami tapi demi mendengar Nyo Ko memuji kecantikannya tiba2 hatinya menjadi senang dan bersenyum, betul saja ia bertambah cantik bagai bunga mawar yang baru saja mekar.

Melihat cara Nyo Ko mempermainkan musuh semakin berani semua orang pada merasa senang dan bersyukur, tetapi ada juga yang diam2 berkuatir kalau2 mendadak Hotu turun tangan keji Betul saja, digoda sedemikian rupa, Hotu tak tahan lagi.

"Dengarlah para Enghiong seluruh jagat, kalau Siau-ong bunuh anak nakal ini, itu adalah salah dia sendiri dan jangan salahkan Siau-ong !"

Demikian ia berteriak.

Habis ini, kipasnya mengebas segera kepala Nyo Ko hendak dihantamnya.

Tak terduga mendadak Nyo Ko juga berlaga seperti Iawan, ia busungkan dada dan pelembungkan perut terus berteriak juga.

"Dengarlah para Enghiong seluruh jagat, kalau Siau-wan-tong (anak nakal) bunuh pangeran ini, itu adalah salah dia sendiri dan jangan salahkan Siau-wan-tong!"

Dan di bawah suara tertawaan orang yang gemuruh, mendadak iapun ayun penggayunya terus menyabet ke pantat Hotu.

Lekas2 Hotu mengegos, lalu kipasnya menutuk pula dari samping, sebelah tangannya dengan cepat juga menghantam batok kepala Iawan, serangan kipas hanya pancingan, tetapi hantaman telapak tangannya yang hebat, pukulan ini digunakan sepenuh tenaganya, niatnya memang ingin hancurkan batok kepala Nyo Ko.

Namun si Nyo Ko cukup sigap, sekali berkelit sekalian ia tarik sebuah meja terus didorong ke depan, maka terdengarlah suara "blang"

Yang keras, pukulan Hotu itu mengenai meja hingga remukan kayu berceceran, meja itu sempal separuh Melihat betapa hebat tenaga pukulannya, para ksatria mau-tak-mau sama melelet lidah.

Sementara itu Hotu telah tendang pergi meja tadi, menyusul ia berangsang maju lagi.

Nampak hantaman orang tadi begitu lihay, Nyo Ko juga tak berani pandang enteng pula, ia ayun penggayu patah dan keluarkan Pak-kau-pang-toat buat tempur orang.

Tipu2 Pak-kau-pang-hoat itu sudah dipelajari Nyo Ko seluruhnya dan Ang Chit-kong, cara perubahannya dan inti rahasianya telah diperolehnya pula dari Ui Yong sewaktu orang mengajar Loh Yu-ka, dasar Nyo Ko cerdas dan pintar, begitu kedua hajaran itu digabung, ternyata ilmu permainan tentung dapat digunakannya dengan leluasa dan teratur.

Cuma sayang penggayu itu sedikit berat, pula patah sebagian, pemakaiannya kurang leluasa, maka sesudah belasan jurus ia kena dikurung diantara kipas dan telapak tangan Hotu.

Melihat tipu permainan Nyo Ko memang benar-benar ajaran asli Pak-kau-pang-hoat meski cara memainkannya belum masak dan tipu serangannya kurang tajam, tetapi gerak-geriknya sedikitpun tak salah maka tahulah Ui Yong tentu senjata yang orang cocok, segera ia maju ke tengah, ia ulur pentung bambunya menyela di tengah2 kedua orang.

"Ko-ji, kalau pukul anjing harus gunakan pentung pemukul anjing, nah, biar pentungku ini kupinjamkan, kalau selesai kau hajar anjing galak ini harus segera kau kembalikan,"

Demikian kata Ui Yong.

Pak-kau-pang atau pentung pemukul anjing adalah senjata pusaka Kay-pang yang tak dapat di gunakan orang lain kecuali Pang-cu sendiri, maka lebih dulu Ui Yong kemukakan syaratnya hanya memberi pinjam saja.

Tentu saja Nyo Ko sangat girang, cepat ia sambut pentung bambu itu.

"Paksa dia keluarkan obat pemunah,"

Tiba Ui Yong bisiki telinganya.

Nyo Ko tidak perhatikan pertarungan antar Hotu melawan Cu Cu-liu, tadi maka ia tak mengerti obat penawar apa itu, selagi ia hendak tanya atau dengan cepat, Hotu sudah memukul pula dari depan.

Namun Pak-kau-pang atau pentung pemukul anjing telah Nyo Ko angkat ke atas terus menutuk ke perut orang.

Pentung bambu itu sangat keras lagi ulet dengan Pak-kau-pang untuk main Pak-kau-pang hoat, dengan sendirinya sangat cocok dan leluasa tentu saja daya tekanan Nyo Ko bertambah lipat.

Sebenarnya Hotu sedang hantam kepala orang tetapi demi nampak pentung orang menjojoh perutnya di tempat "koan-goan-hiat"

Di bawah pusar, tempat ini adalah urat nadi yang mematikan, bocah semuda ini ternyata begitu jitu mengarah Hiat-to, mau-tak mau Hotu menjadi kaget.

Sudah beberapa kali ia bergebrak dengan Nyo Ko sejak tadi tetapi karena marahnya ia tidak pandang berat bocah ini, kini nampak caranya menutuk begitu jitu barulah ia pandang orang betul2 lawan yang tangguh, ia tak berani ayal lagi, segera ia tarik tangan melindungi perut dan baliki kipas buat menutupi dadanya.

Tidak sedikit tokoh silat terkemuka yang ikut menonton di samping, demi melihat Hotu keluar kan gerak tipu itu untuk melindungi diri dan terang mulai jeri terhadap Nyo Ko, semuanya semakin menjadi heran.

"Nanti duIu,"

"tiba2 Nyo Ko berhentikan serangannya.

"Siau-wan-tong tidak mau bergebrak percuma dengan orang, kita harus pakai taruhan."

"Baik,"

Sahut Hotu.

"Kalau kau kalah, kau harus menjura tiga kali padaku dan memanggil Yaya (engkong) tiga kali" .."Panggil apa?"

Tanya Nyo Ko tiba2 pura2 tak dengar.

Nyata ia keluarkan jebakan lagi -yang biasa di-gunakan anak nakal di daerah Kanglam, jebakan semacam ini dikeluarkan secara mendadak, bagi orang yang tak tahu sangat gampang tertipu.

Hotu sendiri dibesarkan di daerah Mongol dan Tibet yang biasa bergaul dengan orang2 yang polos dan sederhana, dengan sendirinya ia tak kenal cara kenakalan anak2-daerah Kanglam, maka seenaknya saja ia lantas menjawab .

"Panggil Yaya !"

"Em, cucu baik, coba panggil lagi sekali!" , tiba2 Nyo Ko menyahut. Karena itu Hotu menjadi merah mukanya, ia insaf telah "tertipu lagi, dengan murka kipas dan telapak tangannya segera menyerang pula dengan hebat.

"Kalau kau kalah, kau harus berikan obat penawar padaku,"

Demikian kata si Nyo Ko sembari tangkis setiap serangan orang.

"Aku"

Kalah padamu?"

Teriak Hotu gusar.

"Hm, jangan kau mimpi, binatang cilik !"

"Binatang cilik memaki siapa?"

Mendadak Nyo Ko membentak sambil angkat pentungnya.

"Binatang cilik memaki..."

Untung Hotu sempat mengerem, kata2

"kau"

Belum sampai tercetus dari mulutnya mendadak ia ingat dan kata2 terakhir itu ditelannya kembali mentah2.

"Haha, sekarang kau sudah pintar, ya !"

Ejek Nyo Ko tertawa.

Meski kata2nya masih terus membanyol, tetapi tangkisannya makin lama semakin berat dan sulit.

Maklumlah pangeran Hotu adalah murid kesayangan Kim-lun Hoat-ong dan mendapat pelajaran ilmu silat kaum Lama dari Tibet, kalau dia bisa bergebrak be-ratus2 jurus dengan murid It-teng Tay-su yang paling kuat, Cu Cu-liu, maka betapa tinggi keuletannya sudah tentu Nyo Ko tak bisa menimpaIinya.

Kalau mula2 Nyo Ko bisa permainkan orang itu karena Hotu dibikin naik darah dengan akal liciknya yang nakal, tetapi kini bergebrak dengan sungguh2, hanya beberapa puluh jurus saja lantas kelihatan Nyo Ko terdesak di bawah angin.

Sungguhpun begitu, melihat bocah semuda ini bisa bertahan begitu lama melawan Hotu, para kesatria sangat kagum dan sama memujinya setinggi langit mereka pada bertanya anak murid siapakah pemuda itu?

Dalam pada itu melihat lawannya sudah mulai terdesak, pukulan2 Hotu semakin diperkuat Menurut aturan, dengan Pak-kau-pang-hoat lihay yang Nyo Ko mainkan itu, seharusnya ia bisa menangkan musuh, tetapi ilmu permainan tongkat itu ia dapatkan cara2nya dari Ang Chit-kong, sedang mengenai inti permainannya baru saja ia dengar dari Ui Yong, kini ia gabungkan ajaran kedua orang itu untuk melawan musuh dengan baik, tapi kalau mendadak hendak keluarkan daya tekanan yang tiada tandingan dari Pang-hoat itu, dengan sendirinya masih belum dapat Maka tak lama lagi, akhirnya Nyo Ko mulai kewalahan.

Sejak tadi Kwe Hu dan Bu-si Hengte ikut menyaksikan pertarungan itu, mula2 mereka tidak menduga bahwa Nyo Ko berani tampil ke muka, Bu-si Hengte angap Nyo Ko tolol dan berani mati, pasti akan tahu rasa oleh hajaran musuh, tetapi Kwe Hu justru membantah mereka dan bilang Nyo Ko seorang pemberani serta cerdik.

Tentu saja kedua saudara Bu itu merasa cemburu.

MuIa2 mereka merasa lega ketika melihat datangnya Siao-liong-li yang begitu rapat dan hangat dengan Nyo Ko, tetapi belakangan Nyo Ko panggil Siao-liong-li sebagai "Suhu", walaupun belum tahu benar atau tidak, namun perasaan kedua pemuda ini menjadi berat lagi.

Kini melihat Nyo Ko kena didesak Hotu hingga kalang ,kabut, merekah tahu tidak seharusnya bergirang, tetapi aneh, dalam hati mereka justru mengharap Nyo Ko bisa dihajar orang sekeras-kerasnya.

Begitulah perasaan Bu-si Hengte yang kusut, sebentar senang lain saat muram, dalam sekejap saja sudah beberapa kali berubah perasaan.

Kwe Hu sendiri meski tak tertarik oleh Nyo Ko, tetapi iapun tidak membenci, ia anggap orang tak perlu dipikirkan meski ayahnya bilang dirinya hendak dijodohkan pada pemuda itu, tetapi ia percaya akhirnya urusan ini pasti tak jadi, demi dilihatnya ilmu silat Nyo Ko bukan main hebatnya, hal ini juga membuatnya ter-heran2, ketika dilihatnya Nyo Ko akan kalah, ia ikut berkuatir atas diri pemuda ini.

Dalam pada itu Nyo Ko juga sadar dalam sepuluh jurus lagi pasti dirinya akan terjungkal dihantam musuh.

Selagi berbahaya, tiba2 dilihatnya Siao-liong-li sedang memperhatikan dirinya sembari bersandar pada tiang rumah, tampaknya setiap saat juga gadis ini akan turun tangan buat membantu.

Nyo Ko tergerak pikirannya, mendadak pentungnya menyabet, habis ini tubuhnya terus mencelat pergi, ia melompat lewat di atas kaki Siao-liong-li yang duduk bersandarkan tiang itu.

"Lari ke mana?"

Bentak Hotu sambil mengudak. Tak terduga sedikit Siao-liong-li angkat kedua kakinya, Kaki kanan menendang "kun-lun-hiat"

Di mata kaki kanan Hotu, sedang ujung kaki kiri mengarah pula "Yong-coan-hiat"

Di kakinya yang kiri.

Memangnya ilmu silat Hotu memang sangat hebat, batu sedikit kala Siao-liong-li menjengkit, sebelum orang tak memperhatikan atau dia sudah tahu orang hendak serang dirinya dengan tipu yang sangat lihay.

Dalam sibuknya itu ia sempat gunakan gerakan "

Wan-yan-Iian-goan-tui atau tendangan berantai yang mengapung di udara, dengan demikian barulah serangan Siao-liong-Ii yang tak kelihatan itu dapat dihindarkannya.

Nyo Ko sendiri sewaktu melompat lewat kaki Siao-lioag-li sudah menduga bakal terjadi peristiwa itu, maka tidak menunggu musuhnya turun, pentung bambunya terus menyodok lagi.

Tetapi dengan kipasnya Hotu tahan ujung pentung orang terus melompat ke samping, ia berdiri jauh dari Siao-liong-li dan memandang beberapa kali pada gadis ini, pikirnya.

"Daerah Tionggoan nyata memang banyak orang pandai, hanya kedua muda-mudi ini saja, kenapa ilmu silatnya begini hebat?"

Dalam pada itu dengan menggunakan keuntungan kejadian itu, segera Nyo Ko melontarkan tipu2 serangan Pak-kau-pang-hoat, beruntun ia keluarkan tiga serangan yang mematikan hingga Hotu kececar kalang kabut dan terpaksa bertahan sekuatnya, siapa tahu serangan keempat Nyo Ko tak bisa lagi menggunakan kebagusan Pang-hoat itu hingga sedikit terlambat gerakannya, kesempatan ini digunakan Hotu untuk melakukan serangan balasan, maka kembali Nyo Ko terdesak di pihak asor lagi.

Bagi orang yang tak kenal Pak-kau-patig-hoat tak menjadi soal, tetapi Ui Yong merasa sayang akan kelambatan Nyo Ko itu, segera ia menembang.

"Putar pentung cepat pakai gerakan bagus, hantam anjing galak dari samping tanpa menoleh"

Apa yang diuraikan Ui Yong ini adalah istilah Pak-kau-pang-hoat yang sangat dalam artinya, Nyo Ko belum pernah mendapatkan petunjuk2 dari orang pandai, ia tak tahu cara bagaimana dan kapan tipu serangan itu harus dilontarkan tetapi demi mendengar uraian Ui Yong, betul saja pentungnya segera menyamber dan menyodok dengan cepat.

Gerak serangannya sangat aneh, namun Nyo Ko sendiri belum tahu bagaimana hasilnya, siapa tahu, dengan tepat pentungnya justru memapaki kipas Hotu yang waktu itu lagi mengebas hingga terpaksa Hotu Iekas2 meloncat pergi menghindarkan diri.

"Bagaimana cara pukul anjing kelabakan yang meloncati dinding? Hantam pantat anjing dan gebuk ekornya!"

Kembali Ui Yong menembang pula.

Harus diketahui Pang-hoat turun temurun dari Kay-pang ini, diantara kaum pengemis dengan sendirian tiada cendekia, atau terpelajar maka kata2nya sudah tentu biasa saja, orang lain2 mengira setelah Ui Yong itu digunakan memaki musuh sebagai anjing, tak tahunya justru Nyo Ko lagi diberi petunjuk.

"Pak-kau-pang-hoat itu meski dibilang tak "

Diturunkan pada orang luar kecuali Pangcu, tetapi pertama Nyo Ko mahir sendiri, kedua, pertandingan ini besar hubungannya dengan nasib negara dan harus dimenangkan maka Ui Yong tidak pikirkan batas peraturan Kay-pang lagi, ia masih terus mengutarakan istiiah2 Pang-hoat untuk memberi petunjuk pada Nyo Ko disesuaikan dengan keadaan masing2 yang lagi saling labrak itu.

Dan karena setiap uraiannya adalah intisari yang tepat, ditambah Nyo Ko memang cerdik, beberapa kali berhasil, maka iapun tidak sangsi lagi, begitu dengar kata Ui Yong, segera dilontarkan tipu serangannya.

Daya kekuatan Pak-kau-pang-hoat ini memang nyata luar biasa hebatnya, percuma saja Hotu memiliki ilmu silat tinggi, ia terdesak hingga main putar terus oleh ancaman pentung bambunya Nyo Ko tanpa bisa membalas.

Karena itu, tampaknya dua-tiga gebrak lagi pasti Hotu akan jatuh kalah, dengan mata terpentang lebar2 para kesatria itu menjadi girang luar biasa tercampur kagum.

"Nanti du!u!"

Teriak Hotu mendadak sambil desak Nyo Ko mundur setindak.

"Ada apa? Sudah ngaku kalah?"

Kata Nyo Ko tertawa.

"Kau bilang berebut Beng-cu untuk gurumu kenapa yang kau pakai adalah ilmu silatnya Ang Chit-kong?"

Sahut Hotu dingin, mukanya muram gelap.

Dan kalau bilang berebut Beng-cu untuk Ang Chit-kong, bukankah tadi sudah terjadi bertanding dua babak sebenarnya kau sengaja main kelit dan ngawur atau ada maksud lain?

Betul juga pikir Ui Yong, kata2 orang memang susah didebat, selagi hendak main pokrol2an untuk membantah orang, mendadak Nyo Ko membuka suara.

"Ya, apa-yang kau katakan sekali ini masih terhitung masuk akal"

Demikian sahut Nyo Ko.

"Pang-hoat ini memang ajaran Suhuku, sekalipun mengalahkan kau agaknya kaupun belum mau takluk. Kalau kau mau berkenalan dengan ilmu silat perguruanku, hal inipun tidak susah. Kalau aku tadi pinjam ilmu silat aliran lain sebab aku takut kau akan lebih celaka jika aku keluarkan kepandaian perguruanku sendiri."

Kiranya demi mendengar teguran Hotu, segera Nyo Ko ingat kalau menangkan orang dengan Pak-kau-pang-hoat, kepandaian Kokoh mana bisa dikenal orang?

Dan bukankah Kokoh akan mengomeli aku lupa pada kebaikannya?

Padahal pikiran Siao-liong-li polos, dalam hatinya penuh rasa hangat dan manis madu terhadap Nyo Ko, asal bisa pandang si pemuda rasanya sudah puas dan tidak terpikir lagi segala urusan lain, baik Nyo Ko menang atau kalah juga boleh, segalanya tak dianggap penting olehnya, apalagi soal ilmu silat yang digunakan itu, apakah itu diberi petunjuk Ui Yong atau tidak, hal ini lebih2 tak di-perhatikannya.

Dan karena jawaban Nyo Ko tadi, diam2 Hotu membatin.

"Bagus, kalau kau tak menggunakan Pak-kau-pang-hoat, dalam sepuluh jurus juga aku nanti cabut njawamu."

Maka dengan tertawa dingin iapun berkatalah.

"Baiklah kalau begitu, aku ingin belajar kenal dengan ilmu silat perguruanmu yang hebat"

Ilmu kepandaian yang paling apal dan paling bagus yang dilatih Nyo Ko dalam kuburan kuno itu adalah Kiam-hoat, dengan sendirinya ia lawan orang dengan kemahirannya ini.

"Diantara Tuan2 siapa yang sudi memberi pinjam sebatang pedang ?"

Demikian segera ia berkata terhadap para kesatria.

Antara hadirin sebanyak ribuan orang itu sedikitnya ada dua ratusan yang membawa pedang, maka be-ramai2 mereka sama menyahut dan ingin memberi pinjam.

"Kau pakai pedang ini saja!"

Kata Sun Put-ji tiba2 sambil melompat maju dan angsurkan pedangnya yang bersinar mengkilap tajam.

Nyata meski Hek Tay-thong dan Sun Put-ji sangat marah terhadap khianatnya Nyo Ko pada Coan-cin-kau mereka, tetapi kini melihat si pemuda melawan musuh sepenuh tenaga dan membela nama negara, seketika juga mereka kesamping-kan urusan pribadi itu dan Sun Put-ji lantas angsurkan pedang pusakanya pemberian mendiang gu-runya, Ong Tiong-yang.

Melihat pedang itu begitu bagus, Nyo Ko menduga pasti pedang wasiat yang bisa potong emas dan rajang batu, kalau dipakai melawan Hotu tentu tidak sedikit keuntungannya, Tetapi ketika dilihatnya jubah imam yang dipakai Sun Put-ji, seketika teringat olehnya hinaan dan penderitaan yang pernah dia rasakan di Tiong-yang-kiong dulu dan terbayang juga kematian Sun-popoh di bawah tangan Hek Tay-thong, mendadak matanya mendelik pedang itu tak diterimanya, sebaliknya dari tangan seorang murid Kay-pang ia ambil sebatang pedang tua hitam karatan.

"Biarlah kupinjam pedang Toako ini,"

Demikian ia berkata.

Tentu saja Sun Put-ji serba salah hingga terpaku di tempatnya.

sungguh tidak kepalang amarahnya, dengan maksud baik ia pinjamkan pedangnya tetapi orang berbalik begitu kurangajar, baiknya ia bisa kuasai dirinya, ia merasa tidak enak cekcok sendiri selagi musuh luar berada di depan mata, maka dengan menahan amarahnya ia kembali lagi ke tempatnya tadi.

Sikap Nyo Ko tadi juga terlalu keras, terlalu menyolok ia unjukkan perasaannya.

sebenarnya kesempatan itu dapat dipergunakannya untuk memperbaiki hubungannya dengan Coan-cin-kau, tetapi lantaran tindakannya itu, hubungan mereka semakin menjadi renggang.

Di lain pihak ketika melihat Nyo Ko tidak terima Pokiam, sebaliknya ambil pedang bejat yang sudah karatan, hati Hotu terkesiap dan bertambah jeri, sebab seorang yang ilmu silatnya sudah sampai puncaknya, setiap gerakan, setiap tindakan sudah cukup untuk melukai orang dan tak perlu lagidengan senjata tajam, maka ia pikir apa orang betul2 begitu temberang, cukup menggunakan sebatang pedang karatan saja?..

Segera iapun pantang kipas lempitnya, ia-kebas2 beberapa kali dan segera hendak membuka suara menantang.

Tiba2 dengan ujung pedang Nyo Ko menuding empat huruf di atas kipasnya yang ditulis Cu Cu-liu itu.

"Haha, kau adalah bangsa biadab, semua orang sudah tahu, tak perlu kau pamer."

Demikian ejek Nyo Ko tertawa. Muka Hotu menjadi merah.

"cret" , mendadak kipasnya ia lempit kembali hingga berwujud sebuah pentung pendek, terus saja ia tutuk pelahan ke "koh-cing-hiat"

Di pundak Nyo Ko, berbareng telapak tangan kiripun memukul dengan tenaga penuh.

Selama beberapa tahun Nyo-Ko giat berlatih dalam kuburan kuno, semua inti pokok dari ilmu silat aliran Ko-bong-pay itu telan dipelajarinya.

ilmu silat Giok-li-sim-keng ciptaan Lim Tiao-eng yang dilatihnya sendirian dalam kuburan kuno, sampai Ong Tiong-yang, itu jago silat yang diakui nomor satu di seluruh jagat juga kalah padanya, baru kemudian sesudah Ong Tiong-yang mendapatkan "Kiu-im-cin-keng", Lim Tiao-eng dapat dikalahkannya lagi.

Setelah Lim Tiao-eng ciptakan ilmu silatnya itu iapun tidak pernah keluar lagi dari kuburan, belakangan hanya diturunkan pada dayang kepercayaannya dan dayangnya itu menurunkannya pada Siao-liong-Ii, ketiga perempuan ini bukan saja tak pernah berpijak di kalangan Bu-lim, bahkan Cong lam-san pun tak pernah turun selangkahpun.

Meski Li Bok-chiu adalah Suci atau kakak seperguruan Siao-liong-li, tetapi gurunya sudah keburu tahu jiwanya yang busuk, maka ilmu silat yang paling tinggi belum diturunkan padanya.

Kini Nyo Ko keluarkan ilmu silat Ko-bong-pay yang tiada tandingannya itu, diantara para hadirin yang berkumpul dari segala golongan dan segala aliran itu, kecuali Siao-liong-li sendiri ternyata tiada seorangpun yang kenal Kiam-hoat apa yang dimainkan Nyo Ko itu.

Pencipta ilmu silat yang hebat ini asalnya seorang wanita, pula dua keturunan muridnya juga wanita semua, mau-tak-mau gayanya menjadi lemah-lembut dan kurang ganas.

Begitu juga ketika Siao-liong-li ajarkan gerak tipunya pada Nyo Ko, gerak-geriknya membawa gaya perempuan yang lemah gemulai Tetapi setelah Nyo Ko dapat memahami seluruhnya, ia telah ubah semua gaya wanita itu hingga lebih gesit dan lebih cekatan.

Dasar Ginkang dari Ko-bong-pay memang tiada taranya, maka tertampaklah Nyo Ko lari mengitari ruapgan dengan cepat, belum selesai tipu yang satu, serangan kedua sudah menyusul lagi ke sana pedangnya mengarah, tahu2 orangnya pun sudah sampai, baru belasan jurus dari Kiam-hoat--nya yang hebat itu dilontarkan, para kesatria itu tiada satupun yang tak kagum.

Sebenarnya ilmu silat kipas pangeran Hotu terhitung juga satu keistimewaan dalam dunia silat, cara2 menyerangnya juga mengutamakan kelemasan dan kegesitan, tetapi kini kebentur Ginkang dari Ko-bong-pay yang hebat, nyatalah sedikitpun ia tak bisa berkutik ditambah lagi kipasnya kena ditulis empat huruf oleh Cu Cu-liu dan tadi telah di-olok2 Nyo Ko, maka tak berani lagi dipentang, hingga karena itu ilmu silat kipasnya kena dikorting lagi.

Di sebelah sana, setelah tahu ilmu silat Nyo Ko ternyata begitu lihay, Bu-si Hengte menjadi mati kutu, bersama Kwe Hu, enam mata terpentang lebar2 dan tak bisa bicara lagi.

Diantara para penonton itu, orang yang paling girang rasanya tiada lain daripada Kwe Cing, sungguh tak diduganya bahwa putera adik angkatnya yang sudah almarhum itu bisa melatih silat sebegitu tinggi sampai ia sendiri tak mengetahui dari aliran mana, bila teringat hubungan keluarga Nyo Ko dan Kwe, tanpa terasa, ia menjadi terharu bercampur girang.

Waktu Ui Yong melirik sang suami dan melihat matanya rada merah, sedang ujung mulutnya tersungging senyuman, ia tahu akan pikiran sang suami, maka tangan Kwe Cing digenggamnya erat2.

Merasa tak ungkulan, Hotu menjadi gelisah sekali, ia pikir kalau hari ini terjungkal di tangan bocah ini, maka namanya boleh dikatakan terhanyut seluruhnya, jangan lagi hendak menjagoi Bu-lim?

Dalam pada itu dilihatnya Nyo Ko telah menyerang pula, sekali tusuk mengarah tiga tempat bagian atas, kalau dia melompat berkelit itu berarti jatuh di bawah angin, maka tak dihiraukan lagi akan oIok2 orang, segera kipasnya dipentang untuk tangkis tiga tusukan orang, berbareng itu ia meng-gertak2, iapun balas menyerang dengan "Hong hong-siok-lui-kang" (ilmu angin badai dan petir kilat), ia kebas lengan baju dari kiri dan kipas dari kanan menerbitkan angin santar, sedang mulutnya terus meng-gertak2 keras seorang jagoan Bu-lim menandingi pemuda tak terkenal ternyata terpaksa harus keluarkan ilmu kepandaian terakhirnya untuk membela diri, seumpama akhirinya menang pasti juga akan kehilangan pamor, Akan tetapi asal tak kalah saja Hotu sudah terima, mana bisa dipikir yang Iain-lain.

Maka sembari mem-bentak2, serangan2nya juga semakin ganas, sebaliknya Nyo Ko berlaku tenang saja dengan sikapnya yang gagah menarik, memangnya ilmu pedang "Bi-li-kiam-hoat"

Atau ilmu pedang si gadis ayu mengutamakan gaya manis, kini dibentak2 Hotu tentu saja semakin menambah kehalusan dan keindahannya.

Tetapi karena Nyo Ko hanya mengutamakan gaya serangannya yang indah, dalam hal daya tekanan menjadi sukar dilontarkan seluruhnya, sebaliknya Hotu sudah nekat, makin tempur makin kalap dan tidak sayang buat adu jiwa, karenanya lambat laun Nyo Ko jadi payah sendiri.

Melihat cara pertarungan itu, Kwe Cing dan Ui Yong yang ilmu silatnya sangat tinggi lantas tahu Nyo Ko bakal kecundang, maka alis mereka terkerut semakin rapat, lebih2 ketika dilihatnya angin pukulan Hotu semakin keras dan tambah cepat, diam2 mereka kuatir.

Tak terduga mendadak Nyo Ko ayun pedang-nya, lalu terdengar ia berseru .

"Awas, aku akan melepas Am-gi!"

Tadi Hotu telah robohkan Gu-liu dengan pakunya yang berbisa, kini demi mendengar peringatan Nyo Ko, ia sangka pedang orang juga sama seperti kipas lempitnya yang di dalamnya tersembunyi Am-gi atau senjata rahasia, kalau tadi ia menang dengan cara yang licik, maka kini tidak bisa salahkan lawan kalau cara itu ditiru, Karena itu, ketika dilihatnya Nyo Ko ayun pedangnya, lekas ia melompat ke kiri.

Siapa tahu gerak tangan Nyo Ko hanya palsu belaka, sebaliknya pedangnya terus menusuk, mana ada bayangan senjata rahasia yang dikatakannya ?

Tahu tertipu, Hotu menjadi gusar, ia mendamperat.

"Binatang cilik !"

"Binatang cilik memaki siapa ?"

Tanya Nyo Ko. Tetapi Hotu sudah pintar sekarang ia tidak menjawab, hanya serangannya bertambah gencar.

"Awas senjata rahasia !"

Kembali Nyo Ko berseru sembari ayun tangan kirinya.

Dengan cepat Hotu melompat ke kanan, di sangkarnya sekali ini benar2 orang menghamburkan Am-gi, siapa tahu pedang Nyo Ko justru menusuk dari kanan secepat kilat, lekas2 ia membungkuk dan mengkeret tubuh, ujung pedang orang tahu2 menyamber lewat di bahunya jaraknya tidak lebih hanya satu-dua senti saja.

Tusukan itu sangat berbahaya dan cukup keji, tetapi karena tak kena sasarannya, para kesatria itu sama berteriak .

"Sayang !"

Sebaliknya para Bu su atau jago silat Mongol pada bersyukur. Meski Hotu bisa lolos dari "lubang jarum", namun tidak urung keringat dingin sudah membasahi tubuhnya.

"Awas Am-gi !"

Lagi2 ia dengar Nyo Ko berseru dengan tertawa sembari ayun tangan kiri.

Sekali ini tak digubrisnya, Hotu terus ayun tangan memapaki orang, betul juga kembali lawannya mengapusi belaka.

Karena gagal tipunya, mendadak Nyo Ko menubruk maju, untuk kesekian kalinya ia ayun tangan lagi dan memperingatkan pula dengan tertawa .

"Awas Am-gi!"

"Bin..."

Belum sampai suku kata pertama ini diucapkan atau mendadak pandangan Hotu menjadi silau, tahu2 sinar perak gemerdep menyamber dari depan.

Sekali ini jaraknya sudah terlalu dekat, lagi pula ia sama sekali tak ber-jaga2 sesudah beberapa kali kena diapusi, maka tiada jalan lain kecuali melompat ke atas, tetapi tahu2 kakinya terasa sakit tertusuk, beberapa benda kecil lembut sudah menancap di kakinya.

Tertipunya ini persis mirip dengan caranya melukai Cu-liu dengan akal licik tadi, tetapi dipikirnya-senjata orang hanya lembut kecil, meski kena tentunya tidak besar alangannja, dalam gusarnya Hotu menjadi kalap, kipasnya menutul dan tangannya memukul hebat dengan tujuan mematikan Nyo Ko seketika.

Tahu serangannya sudah berhasil, mana mau Nyo Ko terlibat dalam pertarungan lagi, ia putar pedangnya menjaga diri dengan rapat.

"Hahaha, sayang dengan ilmu silatmu setinggi ini, kini harus terbinasa di sini, sungguh sayang, sayang sekali!"

Demikian Nyo Ko tertawa terbahak-bahak.

Sedang Hotu hendak merangsang maju, se-konyong2 pahanya terasa kaku dan gatal seperti kena digigit nyamuk besar saja, ia coba menahan rasa gatal itu buat tetap melontarkan serangannya, siapa tahu tempat yang kaku gatal itu cepat sekali bertambah hebat.

"Celaka, Am-gi binatang cilik ini berbisa"

Seketika ia terkejut Baru terpikir demikian atau rasa gatal pahanya sudah tak bisa ditahan lagi, saking tak tahan tanpa menghiraukan ada musuh besar berada di depan mata, kipas ia lempar dan tangan diulur untuk meng-garuk2 tempat yang gatal itu.

"Kalau tak digatuk masih mendingan, sekali digaruk, celaka tigabelas, rasa gatal-geli seketika meresap sampai tuIang-sungsum."

Saking tak tahan ia ber-teriak2 dan ber-kaok2 sembari bergulingan di ruangan pendopo. Hendaklah diketahui bahwa racun Giok-hong"

Atau atau jarum tawon putih yang sakti dari Ko bong-pay itu jarang dilihat dan didengar di jagat ini, terkena sebuah saja tak tahan, apa lagi kini terkena beberapa buah?

Saking lembutnya Giok-hong-tiam itu, waktu Nyo Ko menyerang, sebagian besar para kesatria itu tak tahu, hanya mendadak terlihat Hotu jatuh ber-guling2 hingga tak mengerti kepandaian apa yang digunakan Nyo Ko untuk merobohkan lawannya.

Sementara paderi Tibet si Darba telah lari maju, ia angkat sang Sute dan diserahkan pada gurunya, habis ini ia putar balik dan berkata pada Nyo Ko.

"Anak kecil mari aku coba2 kau !" -sambil berkata gada emas segerapun menyerampang ke pinggang Nyo Ko. Gada itu sangat berat dan begitu menyamber lantas menerbitkan sinar emas, maka betapa besar tenaga dan betapa cepat gerak tangan Darba dapat dikira-kirakan. Namun Nyo Ko tidak berkelit ia berdiri tegak, hanya pinggangnya mendadak menekuk ke dalam dan dengan tepat gada orang menyamber lewat di depan perutnya. Siapa tahu Darba memang hebat gerak tangan-nya, begitu gada tak kena sasaran, mendadak senjata itu ia tahan di tengah jalan, dari menyerampang tadi tiba2 berubah menyodok ke depan, ke perut Nyo Ko. Perubahan serangan ini sama sekali di luar dugaan semua orang, Nyo Ko sendiri juga terkejut lekas2 ia tahan pedangnya ke atas gada orang dan tubuhnya lantas mencelat ke atas dengan meminjam tenaga lawan. Sekali sodok tak kena, tanpa menunggu turunnya Nyo Ko, dengan kencang Darba sudah menghantam lagi, tetapi lagi2 Nyo Ko menahan ke atas padanya dan untuk kedua kalinya mencelat ke atas.

"Lari ke mana ?"

Bentak Darba sengit Menyusul gada emasnya mengemplang pula.

Dengan tubuh terapung di udara, dengan sendirinya Nyo Ko tak leluasa buat bergerak, nampak keadaan sangat berbahaya, terpaksa ia keluarkan gerakan untung2an, mendadak ia tangkap ujung gada orang, berbareng itu pedangnya terus memotong lurus ke bawah mengikuti batang gada itu.

Dengan cara ini, kalau tenaganya tak banyak selisih dengan Darba, tiada jalan lain bagi Darba kecuali lepaskan gadanya.

Tetapi kini tenaga Darba berkali lipat lebih kuat dari pada Nyo Ko, ketika sekuatnya ia menarik, dengan cepat Darba melompat mundur.

Melihat Ginkang Nyo Ko begitu tinggi, gerak-geriknva gesit, tiba2 Darba menanya.

"Tidak jelek kepandaian anak kecil, siapakah yang mengajarkan kau?"

Ia berkata dalam bahasa Tibet, sudah tentu sepatah kata saja Nyo Ko tak paham, ia menyangka orang lagi memaki dirinya, maka iapun menirukan suara orang, iapun ucapkan apa yang dikatakan Darba.

Dasar pembawaan Nyo Ko memang pintar, beberapa kata2 Tibet itu diucapkannya dengan fasih sekali susunannya juga tiada yang terbalik sedikitpun, maka dalam pendengaran Darba kata2 Nyo Ko itu menjadi.

"Tidak jelek kepandaian anak kecil, siapakah yang mengajarkan kau?"

Oleh karena itu, tanpa pikir Darba menjawab.

"Suhuku ialah Kim-lun Hoat-ong. Aku bukan anak kecil, kau harus panggil aku Hwesio besar."

Dengan sendirinya Nyo Ko tak mengerti pula. tapi sedikitpun ia tak mau diakal, ia pikir.

"Pendeknya tak peduli kau mencaci maki aku dengan kata2 yang paling keji, asal aku kembali mangkok penuh, maka tidaklah kalah dalam cacimaki Meski kau gunakan bahasa asing memaki aku anjing babi, binatang, kontan bulat akupun maki kau ahjing, babi binatang."

Maka ia dengarkan kata2 orang dengan cermat, begitu orang selesai bicara, dengan lagu suara yang sama dalam bahasa Tibet iapun berkata.

"Suhuku ialah Kim-lun Hoat-ong. Aku bukan anak kecil, kau harus panggil aku Hwesio besar."

Keruan saja Darba ter-heran2, dengan kepala miring2 ia mengamat-amati orang dari kanan ke kiri dan dari kiri ke kanan, ia pikir, aneh, terang kau ini anak kecil, kenapa bilang Hwesio besar!

Dan kenapa bilang gurumu juga Kim-lun Hoat-ong?

Segera ia berkata lagi.

"Aku adalah murid angkatan pertama Hoat-ong, dan kau angkatan berapa ?" ----------gambar ------------Betapa hebat tenaga Darba, gada emas yang berat itu terayun enteng mengepruk kepala Nyo Ko. Kedua kaki Nyo Ko tidak bergerak, dia mendak miring berbareng pedang besi ditekan ke atas gada, , meminjam tenaga badannya terbang ke atas --------------------------------Kontan Nyo Ko juga menjawab .

"Aku adalah murid angkatan pertama Hoat-ong, dan kau angkatan ke berapa ?"

Supaya diketahui bahwa dalam ajaran agama Lama di Tibet, biasanya terdapat apa yang disebut "reinkarnasi"

Atau penjelmaan kembali.

Tatkala itu Dalai dan Pancen Lama belum ada, tetapi kepercayaan tentang menitis kembali biasanya sangat dipuja oleh setiap pemeluk agama Lama.

Kebetulan waktu mudanya Kim-lun Hoat-ong pernah menerima seorang murid, murid ini mati sebelum umur 20 tahun, Darba dan Hotu belum pernah kenal Suheng itu, hal ini cuma sekadar diketahui saja.

Kini mendengar apa yang dikatakan Nyo Ko tadi, Darba mengira Nyo Ko betul2 reinkarnasi Suhengnya, ia pikir kalau orang bukan anak sakti yang menitis dengan membawa kepandaian, mana mungkin pemuda seperti ini memiliki ilmu silat begini tinggi ?

Lagipula dia adalah pemuda Han, kenapa fasih bicara bahasa Tibet?

Karena itulah, ia terus ngira2 mengamat-amati orang sambil kepala miring2, makin dilihat makin sama dan semakin percaya, sampai akhirnya mendadak ia lemparkan gada emasnya terus berlutut menyembah2 pada Nyo Ko.

Kelakuan Darba ini sungguh membikin Nyo Ko ter-heran2, ia pikir apa Hwesio ini tak ungkulan cacimaki dan kini terima tunduk mengaku kalah padaku?

Dan bagi penonton yang banyak itu keruan saja terlebih heran luar biasa.

Lucunya semua tak paham dan tidak diketahui tanya jawab dalam bahasa "Mikuluk -kikiluluk"

Antara Nyo Ko dengan Darba tadi Dalam pada itu yang paling terang duduknya perkara rasanya hanya Kim-lun Hoat-ong, ia-tahu Darba terlalu polos hingga kena ditipu Nyo Ko.

"Darba,"

Segera ia buka suara.

"ia bukan titisan Suhengmu, lekas bangun dan bertanding dengan dia,"

"Suhu,"

Seru Darba sambil meloncat bangun terkejut.

"aku lihat ia pasti Toa-suheng, kalau tidak, umur semuda ini mana bisa mempunyai kepandaian seperti ini?"

"Toa-suhengmu jauh lebih kuat ilmu silatnya dari pada kau, sebaliknya bocah ini se-kali2 dibawahmu,"

Kata Kim-lun Hoat-ong.

Tetapi Darba geleng2 kepala, tetap tak mau percaya.

Kim-lun Hoat-ong kenal watak muridnya ini teramat lurus, untuk memberi penjelasan seketika juga tak bisa terang, maka ia katakan pula.

"Jika kau tak percaya, kau jajal dia tentu lantas tahu."

Terhadap apa yang dikatakan sang Suhu biasanya Darba percaya bagai malaikat dewata, kalau dia bilang Nyo Ko-bukan inkarnasi Toa-suheng tentunya memang bukan, Tetapi umur semuda ini memiliki ilmu silat begitu hebat, hal ini membikin Darba tak bisa tidak percaya, tetapi ia turut juga perintah sang guru dan bertanding pula untuk menjajal kepandaian asli orang, ia ingin lihat siapa yang menang dan siapa kalah dengan begitu soalnya lantas bisa diputus.

Maka lebih dulu ia angkat tangan dan berkata pada Nyo Ko.

"Baiklah, biar kucoba ilmu silatmu tulen atau palsu, kita tentukan berdasarkan menang dan kalah ini,"

Melihat Darba berdiri lalu "kilakiluk"

Entah berkata apa lagi, hanya sikapnya sangat menghormat Nyo Ko sangka orang telah ucapkan beberapa patah kata yang sopan, maka tanpa merubah sedikitpun ia tirukan lagu suara orang dan mengulangi mengucapkan sekali lagi Tentu saja dalam pendengaran Darba menjadi "Baiklah, biar kucoba ilmu silatmu, tulen atau palsu, kita tentukan berdasarkan menang atau kalah ini" -Maka Darba juga lantas menjawab-"Harap kau berlaku murah hati."

Segera Nyo Ko tiru dan menyahut.

"Harap kau berlaku murah hati,"

Melihat kedua orang itu mengoceh terus dalam bahasa Tibet, Kwe Hu jadi heran, ia mendekati Ui Yong dan tanya sang ibu.

"Mak, apa yang mereka percakapkan?"

Sejak tadi Ui Yong sudah mengetahui Nyo Ko hanya menirukan lagu suara orang secara komplit dan untuk main2 saja sebagai orang muda umum-nya, kenapa mendadak Darba sembah2 padanya hal inipun membikin dia bingung tak habis mengerti.

Maka ketika ditanya puterinya, ia menjawab singkat saja.

"O, Nyo-koko hanya berkelakar saja dengan dia."

Belum habis ia berkata, mendadak dilihatnya Darba angkat gada terus mengemplang ke arah Nyo Ko.

Darba anggap sebelumnya sudah dikatakan hendak menjajal tentunya lawan sudah siap sedia, sebaliknya melihat sikap orang tadi ramah dan menghormat Nyo Ko tidak menduga orang akan mendadak melakukan serangan, maka pukulan itu hampir2 saja kena kepalanya, untung sempat ia melompat ke belakang.

Tetapi segera ia merangsang maju lagi terus menusuk tiga kali susul menyusul.

Darba sendiri sudah punya rasa jeri, ia kuatir Nyo Ko sudah lama, ikut gurunya, ilmu silatnya tentu lain daripada yang lain, maka ia berjaga rapat tanpa berani ayal.

Sesudah beberapa jurus lagi, Nyo Ko tahu lawan hanya menjaga diri saja tanpa menyerang, meski tak mengerti maksud tujuan orang, tapi kebetulan baginya untuk melancarkan serangan2, tanpa sungkan2 lagi ia tusuk sini dan bacok sana, ilmu pedang "si gadis ayu"

Menjadi lebih indah gayanya dan menarik. Akhirnya Kim-lun Hoat-ong menjadi tak sabar, ia membentak.

"Darba, lekas kau balas hantam, ia bukan Toa-suhengmu !"

Sebenarnya kepandaian Darba masih di atas Nyo Ko, cuma merasa takut, ilmu silatnya lantas surut separoh, sebaliknya Nyo Ko bisa keluarkan seluruh kemahirannya, jadi yang satu makin menyerang makin hebat dan jitu, sebaliknya yang lain makin takut dan makin mengkeret.

"Balas serang segera !"

Bentak Hoat-ong mendadak, ia telah gusar.

Bentakannya begitu keras hingga telinga semua orang se-akan2 pekak.

Begitu juga Darba menjadi jeri, ia tak berani membantah lagi, begitu Kim-kong-cu atau gada emas diputar, segera ia balas menghujam serangan.

Dengan hantaman balasan ini betul juga Nyo Ko terdesak hingga berkelit terus, lubang kelemahannya pe-lahan2 mulai kentara.

Ketika melihat gerak pedang Nyo Ko sedikit lengah, cepat sekali Darba mengemplang, karena tak sempat hindarkan diri, terpaksa Nyo Ko menangkis dan terjadi benturan keras kedua senjata.

Sebenarnya beradunya senjata kedua pihak diwaktu bertanding adalah soal biasa saja, tetapi gada Darba terlalu antap, maka selalu Nyo Ko putar pedangnya tak berani membentur senjata orang, kini mendadak kesamplok, terasalah segera suatu tenaga yang maha besar menindihnya hingga lengannya sakit linu.

"krak", mendadak pedangnya patah menjadi dua.

"Aku yang menang!"

Teriak Darba segera sembari undurkan diri.

"Aku yang menang!"

Mendadak Nyo Ko tirukan orang dalam basa Tibet, Berbareng itu separuh pedang patah itu ditimpukkan sekalian pada Darba. Keruan Darba tertegun, pikirnya.

"Kenapa dia yang menang? Apa tipunya tadi hanya pancingan belaka ?"

Sementara itu dengan tangan, kosong Nyo Ko merangsak maju lagi, maka Darba tak berani ayal ia putar gadanya rapat melindungi tubuhnya.

Dahulu waktu ikut Siao liong li belajar ilmu pukulan dengan tangan kosong di dalam kuburan kuno itu, sampai tingkat terakhir ia diharuskan pentang kedua telapak tangan buat tahan terbangnya 9X9 81 ekor burung gereja hingga tiada seekor pun yang lolos.

Ilmu pukulan itu adalah ciptaan Lim Tiao-eng dan selamanya belum pernah dikenal di dunia ramai, kini Nyo Ko telah mainkan di hadapan umum, nyata daya tekanannya memang luar biasa.

Meski bertangan kosong, tetapi jauh lebih kuat daripada tadi ia memakai pedang.

Kalau Darba putar gadanya begitu hebat hingga membawa samberan angin tinggi menerobos kian kemari di antara ruangan.

Sebaliknya Nyo Ko gunakan Ginkang yang sangat tinggi menerobos kian kemari diantara ruangan senjata orang, walaupun tampaknya sangat berbahaya tetapi gada emas orang tetap tak mampu menyenggolnya seujung rambutpun sebaliknya ia bisa mencengkeram, menarik, membeset dan macam2 gerak serangan lain bercampurkan "tang-hok-mi-cin atau ilmu pukulan halus penahan burung gereja, ia terus menyerang dengan cepat.

Tak lama lagi, tenaga raksasa Darba semakin tambah, sebaliknya lari Nyo Ko juga semakin cepat dan enteng, Nyatalah sekarang, paedah yang dia peroleh daripada kegunaannya berlatih di atas ranjang-batu pualam di dalam kuburan kuno itu kini telah kentara semua.

Di sebelah sana sejak tadi Siao-liong li duduk bersandarkan tiang menyaksikan pertarungan kedua orang itu dengan tersenyum-simpul, demi nampak sudah lama Nyo Ko masih belum menang, tiba2 dari bajunya ia keluarkan sepasang kaos tangan putih yang tipis dan lemas.

"Ko-ji, sambut ini."

Serunya pada Nyo Ko,"

Berbareng itu ia lemparkan kaos tangan itu ke tengah kalangan Kaos tangan Siao-liong-li ini adalah rajutan benang emas putih yang sangat halus dan ulet, meski lemas dan tipis, tapi tidak mempan segala macam senjata, Melihat berkelebatnya kaos tangan itu di udara, air muka Hek Tay-thong mendadak berubah.

Seperti diketahui, ketika saling gebrak di Tiohg-yang-kiong dulu, dengan kaos tangan ini pernah Siao-liong-li patahkan pedang Hek Tay-thong hingga ia terdesak dan hampir saja gorok leher sendiri, sebab itu demi nampak kaos tangan seketika kejadian dulu terbayang lagi olehnya.

Dalam pada itu dengan cepat kaos tangan itu sudah disambut Nyo Ko, ia mundur selangkah dan cepat pakai kaos tangan itu, ketika kemudian ia mengegol pinggang bagai wanita, maka dimainkan-lah "Bi-Ii-kun-hoat"

Atau ilmu pukulan si gadis ayu yang paling hebat dan paling indah gayanya dari Ko-bong-pay itu.

Setiap gerak-gerik ilmu pukulan ini meniru kan gaya seorang wanita ayu dari jaman purbakala, bila dilakukan kaum lelaki, sebenarnya kurang pantas, tetapi waktu dilatih Nyo Ko, setiap gayanya sudah diubahnya, meski nama2 tipu gerakan masih tetap, namun gerak-geriknya dari lemah gemulai sudah berubah menjadi gagah luwes.

Dengan demikian, para penonton menjadi lebih tidak mengerti, tiba2 dilihatnya Nyo Ko berlari cepat, kadang2 berdiri tegak, sekejap saja sikapnya berubah lagi.

Harus diketahui bahwa jiwa kaum wanita memang banyak ragamnya dan cepat pula berobahnya, lebih2 wanita ternama, tertawanya, di waktu suka atau duka, semuanya lebih2 sukar di-duga.

Karena itu, sekali digunakan tipu "Hong giok-kik-koh" (Ang Hong-giok memukul genderang), kedua tangan Nyo Ko cepat menghantam, dengan sendirinya Darba angkat gadanya menangkis tetapi cepat sekali Nyo Ko sudah ganti tipu "Hong-hut-ya-ping" (Hong-hut minggat malam2), di luar dugaan orang ia terus menubruk maju.

Ketika Darba menyabet gadanya dari samping, mendadak Nyo Ko gunakan gaya "Lok-cu-tui-lau" (Lok-tu jatuh dari loteng), tahu2 ia menubruk bagian bawah musuh.

Darba terkejut, ia tidak mengerti tipu serangan orang mengapa begini aneh perubahannya dan susah diraba ?

Maka lekas2 ia melompat buat hindarkan hantaman tangan orang yang telah memotong dari kiri lagi.

Tak terduga Nyo Ko lantas menepuk tangan beberapa kali dan susul-menyusul menggablok kedepan, kiranya ini adalah gaya Bun-gwe-kui-han atau Bun-gwe kembali ke negeri Han yang berirama musik Ohka, seluruhnya meliputi 18 kali tepukan.

Setiap gerakan Nyo Ko semuanya ada asal-usulnya sejarah, Darba adalah paderi Tibet, sudah tentu ia tat paham kisah kuno negeri Tionggoan, ia diserang ke atas dan ke bawah, tiba2 dari timur, tahu2 dari barat hingga ia kelabakan.

Tangan Nyo Ko memakai kaos benang emas, maka bila ada kesempatan segera ia menubruk maju hendak rebut gada Darba, paderi ini terdesak hingga ber-kaok2 dan kalang kabut.

Dengan sendirinya para pahlawan lain sangat girang, mereka pada berseru memberi semangat pada Nyo Ko.

Kim-lun Hoat-ong tahu ilmu silat muridnya berada di atas pemuda ini, cuma berhati jeri, maka selalu kena didahului lawan dan terdesak di bawah angin.

"Gunakan Bu-siang-tay-lik-cu-hoat!"

Bentaknya tiba2.

"Baik,"

Sahut Darba menurut.

Mendadak gadanya ia pegang dengan kedua tangan terus diayun cepat.

Waktu gada diputar dengan sebelah tangan saja sudah hebat sekali tenaga raksasanya, kini di-tambah tenaga kedua tangan sekaligus, keruan suara samberan angin sampai men-deru2.

"Bu-siang-tay-lik-cu-hoat"

Atau ilmu gada bertenaga raksasa ini, tipu serangannya sangat sederhana, hanya menyerampang"

Delapan jurus dan menghantam delapan kali, seluruhnya hanya 2 X 8 -16 jurus, tetapi 16 jurus ini bisa boIak-balik di-ulangi, maka Nyo Ko terdesak menyingkir jauh2, jangankan menghadapi secara keras lawan keras, untuk menahan angin gada saja susah.

Di sebelah sana, sejak penggayu besinya patah tadi, Tiam jong Hi-un, masih terus merasa penasaran tapi kini setelah menyaksikan "Bu-siang-tay-lik-cu-hoat".

orang yang luar biasa ini ia pikir ilmu permainan penggayu sendiri sesungguhnya tiada tipu2 serangan Yang begini keras dan begini kuat.

maka mau-tak-mau ia kagum juga.

Setelah berlangsung lama pertarungan itu, lilin yang menyala di ruangan pendopo itu sudah ada 7-8 batang yang sirap tersamber angin gada.

Nyo Ko hanya andalkan Ginkang untuk melompat kian kemari asalkan bisa hindarkan diri harapannya asal tak kena dihantam gada orang, mana sempat lagi ia balas menyerang ?

Karena itu, para pahlawan Tionggoan menjadi bungkam, sebaliknya berganti para jago Mongol yang sorak-sorai.

Melihat ilmu pukulan "Bi-li-kun-hoat"

Sukar memperoleh kemenangan, sedang musuh mendesak terlalu kencang, terpaksa Nyo Ko main mundur terus hingga akhirnya terdesak sampai ujung ruangan, ia hendak ganti tipu gerakan, namun tak bebas lagi gerak-geriknya di tempat sempit itu.

ilmu permainan gada Darba ini memangnya beberapa bagian bersifat kalap, setelah Darba mengamuk, ia lupa apakah orang di depannya ini mungkin reinkamasi suhengnya atau bukan, waktu melihat Nyo Ko terdesak di pojok ruangan hingga tiga jurusan sudah terkurung, mendadak ia membentak .

"Mampus kau !"

Berbareng itu gada-nya menyabet dari samping, maka terdengarlah suara gemuruh dan debu pasir berhamburan, kiranya dinding ruangan itu kena dihantam hingga berlubang besar..

Pada saat berbahaya, syukur Nyo Ko masih sempat melompat lewat di atas kepala orang, dalam seribu kerepotannya iru, ia tak lupa pula membalas kata2.

"Mampus kau!"

Dalam bahasa Tibet.

Gerak lompatannya ini adalah ilmu kepandaian dari "Kiu-im-cin-keng" , sejak huruf ukiran di langit ruangan kuburan tatoo itu dilihatnya bila senggang Nyo Ko lantas melatihnya baik2, hanya tiada orang yang memberi petunjuk tambahan, maka apa yang dilatihnya tidak tahu apa betul atau salah.

Kini menghadapi musuh tangguh, sudah tentu tak berani sembarangan digunakan.

Siapa tahu saat terancam elmaut itu, dengan sendirinya ia menggunakan ilmu sakti itu hingga jiwanya tertolong.

Semua orang menyangka hantaman Darba tadi pasti berhasil, maka sebelum serangan orang dilontarkan seluruhnya, secepat kilat Kwe Cing melompat maju hendak hantam punggung orang, mendadak jubah merah berkelebat di depannya, tahu-tahu Kim-lun Hoat-ong memukulnya juga.

Kwe Cing terkejut oleh serangan orang yang aneh dan cepat ini lekas2 ia gunakan tipu "Maa-liong-cay-dian"

Atau melihat naga di sawah, ia tangkis dulu serangan Kim-lun Hoat-ong.

Keduanya memang tokoh terkemuka dunia persilatan, maka begitu kedua tangan beradu, ternyata sedikit suara saja tak ada, hanya tubuh masing2 bergoncang semua, Kwe Cing mundur tiga tindak, sebaliknya Kim-lun Hoat-ong tetap berdiri tegak di tempatnya.

Kiranya tenaga Kim-lun Hoat-ong jauh lebih besar dari pada Kwe Cing, latihannya juga lebih dalam, cuma ilmu pukulannya sebaliknya kalah bagus.

Kwe Cing melangkah mundur buat mengelak tenaga hantaman lawan supaya tidak terluka, sebaliknya Hoat-ong sambut tenaga orang sekuatnya dengan menahan rasa sakit di dada, maka masih tetap berdiri tegak di tempatnya.

Melulu soal gebrakan ini saja Kwe Cing boleh dikatakan sudah kalah, tetapi kalau pertarungan dilanjutkan, siapa unggul atau asor masih belum tahu.

Tapi demi nampak Nyo Ko sudah bisa patahkan serangan Darba tadi, kedua orang ini terhenyak, yang satu girang lega, yang lain menyesal dan merasa sayang, lalu merekapun mundur kembali Tokoh2 seperti Kwe Cing dan Kim-lun Hoat-ong juga menyangka Nyo Ko pasti akan celaka maka yang satu hendak menolong dan yang lain hendak mencegah, siapa tahu Nyo Ko ternyata punya tipu aneh, dari tempat luang yang sempit bisa meloloskan diri.

Dan sekali hantam tak kena, Darba tidak memutar lagi, sekalian gadanya terus mengayun ke belakang sekuatnya.

Melihat serangan orang cepat luar biasa, otomatis Nyo Ko lantas meloncat ke atas, maka melayang lewatlah gada Darba beberapa senti di bawah kakinya.

Kembali gerak tipunya ini adalah ilmu silat dari "Kiu-im-cin-keng"

Keruan Ui Yong ter-heran2 menyaksikan kepandaian Nyo Ko ini.

"Engkoh Cing, kenapa Ko-ji mahir Kiu-im-cin-keng juga? Apa kau yang ajarkan dia?"

Demikian ia tanya sang suami.

Nyata, ia sangka Kwe Cing mengingat kebaikan persaudaraan dengan ayah Nyo Ko, maka pada waktu antar bocah itu ke Cong-lam-san, ilmu sakti dari kitab pusaka itu telah diturunkan padanya.

"Tidak, kalau diajarkan padanya, tentu kuberitahukan kau,"

Sahut Kwe Cing.

Ui Yong cukup kenal jiwa sang suami yang setia dan jujur, kepada orang lain saja bilang satu tetap satu, terhadap isteri sendiri sudah tentu lebih lebih jujur, Tetapi dilihatnya Nyo Ko selalu melompat kian kemari buat berkelit, setiap kali ketemu bahaya, selalu gunakan ilmu kepandaian Cin-keng untuk melindungi diri.

Cuma terang ilmu itu belum terlatih baik, maka tidak bisa gunakan ilmu silat Cin-keng itu untuk balas menyerang dan menangkan orang, meski sementara jiwanya bisa selamat, namun tampaknya pasti kalah akhirnya.

Diam2 Ui Yong menghela napas gegetun, pikirnya .

"Bakat Ko-ji sungguh luar biasa, kalau dia bisa ikut setahun atau setengah tahun padaku dan bisa mempelajari Pak-kau-pang-hoat dan ilmu silat dalam Cin-keng secara lengkap, mana bisa paderi Tibet ini menandinginya?"

Begitulah, selagi ia masgul, sekilas tiba2 dilihatnya Peng-tianglo, itu anggota pimpinan Kay-pang yang murtad, dengan pakaian bangsa Mongol mencampurkan diri di antara jago2 Mongol dan wajahnya kelihatan ber-seri2.

Tiba2 tergerak kecerdasan Ui Yong, segera serunya.

"Koji Di-hun-tay-hoat! Ih-hun-tay-hoat!"

Kiranya dalam Kiu-im-cin-keng ada semacam ilmu yang disebut "lh-hun-tay-hoat" , yakni menggunakan tenaga pikiran untuk atasi musuh dan mendapatkan kemenangan, dasarnya tiada ubahnya seperti ilmu hipnotis pada jaman sekarang ini.

Dahulu Ui Yong pernah gunakan ilmu ini untuk taklukkan Peng-tianglo pada waktu ia berebut jabatan Pangcu, maka begitu nampak orang, segera ia ingat akan ilmu mujijat itu.

Nyo Ko masih ingat cara melatih "Ih-hun-tay hoat"

Itu, cuma ia tak percaya melulu meng-gunakan pandangan mata saja bisa menundukkan musuh, makanya tak pernah ia melatihnya dengan baik2, tetapi ia sangat kagum terhadap kepintaran Ui Yong, pikirnya.

--"Jika Kwe-pekbo berkata demi-kian, tentu ada alasannya, Toh aku sudah pasti kalah, biarlah aku mencobanya."

Karena itu, ia masih terus lompat ke sana ke mari untuk berkelit tetapi batinnya terpisah dari segala perasaan, pikirannya terpusat menjadi satu, ia turut apa yang pernah dibacanya dalam kitab Kiu-im-cin-keng itu.

Dalam keadaan demikian ia hanya menangkis dengan sendirinya dan berkelit turut datangnya suara, sebaliknya sinar matanya terus menatap musuh secara tajam.

Setelah beberapa jurus, Darba mulai merasakan pihak lawan rada aneh, tanpa kuasa ia pandang orang sekejap, berbareng itu gadanya menghantam juga.

Tadi sedikit Nyo Ko mengegol pinggul dengan gaya "Ban-yo-sian-sian"

Atau pinggang si Ban ramping, sedikit ia goyang pinggul hantaman Darba sudah dihindarinya dengan tepat, dan karena ia, sudah gunakan "lh-hun-tay-hoat" , jiwa-raganya sudah menjadi satu, setiap gerak-geriknya yang dia unjuk, pada mimik wajahnya lantas bersikap sama pula.

Maka ketika Darba melihat wajah si Nyo Ko, tiba2 mengunjuk gaya genit, ia tak tahu bahwa orang sedang tirukan gaya menarik Siao Ban, seorang selir ayu penyait Pek Lok-thian dari ahala Tong yang terkenal, tanpa terasa ia tertegun sejenak tetapi segera gadanya mengemplang lagi ke atas kepala Nyo Ko.

Lekas2 Nyo Ko, mengegos, menyusul ia pentang lima jarinya terus menyisir rambutnya sendiri, sedang lima jari lainnya mencakar ke depan diselingi dengan senyuman manis, itulah tipu gerakan "Le-hwa-se-cong"

Atau Thio Le-hwa menyisir rambut.

Dan karena tersenyumnya Nyo Ko itu, memangnya Darba sudah terpengaruh oleh sinar matanya yang tajam, tanpa terasa iapun ikut bersenyum, Cuma bedanya Nyo Ko cakap ganteng, tersenyumnya sudah tentu menambah bagusnya, sebaliknya tulang pelipis Darba menonjol tinggi, pipinya kempot, senyumnya yang menirukan Nyo Ko membikin wajahnya semakin seram, sampai penonton ikut mengkirik.

Melihat lawannya sudah dlbawah pengaruhnya, segera Nyo Ko jojoh ke depan dengan jarinya dengan tipu "Peng-ki-ciam-sin"

Atau Peng Ki pintar menjahit.

Lekas2 Darba berkelit, tetapi air mukanya menirukan lagak orang seperti lagi tekun menjahit.

Melihat Nyo Ko bisa memahami maksudnya dan ternyata sanggup atasi musuh dengan ilmu "lh-hun-tay-hoat", sungguh Ui Yong girang tidak kepalang.

"Penemuan Ko-ji sungguh luar biasa,"

Demikian ia membisiki sang suami "Dahulu, semasa usiamu sebaya dia sekarang belum sebagus dia ilmu silatmu." . Kwe Cing juga lagi girang, maka ia anggukan Harus diketahui bahwa ilmu "lh-hun-tay-hoat"

Ini melulu menggunakan pengaruh tenaga kejiwaan, kalau perasaan tak lawan tenang dan tetap, seringkali ilmu ini tidak berhasil, kalau tenaga dalam lawan lebih tinggi hingga sampai terpukul kembali.

"pasti orang gunakan ilmu ini akan terpengaruh sendiri. Tapi Darba sudah bingung oleh ocehan Nyo Ko dalam basa Tibet tadi, ia ragu2 orang adalah re-inkarnasi Suhengnya, maka dalam hatinya sudah timbul rasa jeri, dengan sendirinya pengaruh ilmu "

Ih-hun-tay-hoat"

Juga lebih cepat hingga sekali coba Nyo Ko telah berhasil.

Begitulah karena melihat Nya Ko mainkan Bi-li-kun-hoat yang lemah gemulai menirukan gerak-gerik wanita ayu, tahu2 ditirukan oleh Darba secara lucu, semua orang yang menyaksikan terheran-2 Kwe -Hu tak tahan, ia ketawa ter-pingkal2

"Mak,"

Katanya pada sang ibu.

"Nyo-koko punya kepandaian ini bagus sekali, kenapa tak kau ajarkan padaku?"

"Jika kau bisa Ih-hun-tay-hoat, tentu kau akan bikin geger dan akhirnya kau sendiri bisa celaka,"

Sahut Ui Yong. Lalu ia tarik tangan sang puteri dan berkata pula sungguh2.

"Tapi jangan kau anggap lucu, Nyo-koko justru lagi bertarung mati2an dengan musuh, caranya ini jauh lebih berbahaya dari pada memakai senjata !"

Kwe Hu melelet lidah oleh penuturan itu, ia pandang pula si Nyo Ko dan rasanya semakin ketarik, ia lihat bila Nyo Ko tertawa, si Darba ikut tertawa, kalau Nyo Ko gusar, Darba idem dito.

Karena itu iapun ikut2 menirukan mimik orang.

Siapa tahu "lh-hun-tay-hoat"

Ini memang lihay luar biasa, baru saja ia menirukan orang dua kali, segera perasaannya menjadi remang2 dan semangatnya kabur, tanpa kuasa setindak demi setindak Kwe Hu melangkah ke tengah.

Kaget sekali Ui Yong melihat kelakuan puteri-nya, lekas2 ia jambret Kwe Hu erat2.

Tatkala itu jiwa Kwe Hu sudah dibawah pengaruh Nyo Ko, ia coba meronta melepaskan diri dari pegangan sang ibu, baiknya ilmu silat Ui Yong sangat tinggi, pula tahu akan bahaya apa bila sampai Kwe Hu maju lebih dekat lagi, waktu sudah terlalu mendesak, tanpa ayal ia baliki tangan terus pencet urat nadi tangan Kwe Hu dan diseretnya kembali mentah2 agar tidak nampak gerak-gerik Nyo Ko.

Kwe Hu masih meronta2 beberapa kali, tapi pergelangan tangannya telah digenggam kencang hingga tak berkutik, pikirannya menjadi kabur dan akhirnya ia mendekam dalam pelukan sang ibu dan pulas.

Di pihak Darba waktu itu sudah dipengaruhi Nyo Ko seluruhnya, apa yang Nyo Ko Iakukan, ditirukannya pula tanpa tawar, Melihat saatnya sudah tiba, mendadak Nyo Ko gunakan tipu gerakan "Co-Leng-kwa-pi"

Atau Co Leng mengiris hidung, mendadak ia pukul batang hidungnya sendiri-susul-menyusul dengan dua tangan bergantian.

Kiranya jaman dahulu isteri seorang bernama Co Leng, ketika sang suami meninggal lantas mengiris batang hidung sebagai tanda setia tak mau kawin lagi.

Kini Nyo Ko gunakan gerak tipu itu buat hantam hidungnya sendiri dengan pelahan, sudah tentu Darba tak tahu, mendadak iapun tirukan orang menghantam hidung sendiri se-keras2nya.

Dasar tenaganya luar biasa, setiap pukulannya bertenaga ratusan kati, maka habis belasan kali ia gebuk batang hidung sendiri, akhirnya-ia tak tahan hingga roboh pingsan.

Sungguh girang tidak kepalang para ksatria, mereka bersorak-sorai.

"Hura, kita telah menangkan babak kedua !" -"Nah, Bu-lim-Bencu sudah pasti di pihak kita !" --"Bangsa Mongol lekas enyah dari bumi Tiongkok dan jangan bikin malu disini!"

Dalam pada itu dua Bu-su bangsa MongoI telah melompat ke tengah dan menggotong mundur si Darba.

Melihat kedua muridnya terjungkal semua di bawah tangan pemuda ini, bahkan cara kalahnya sukar dimengerti, luar biasa mendongkol dan gusar Kim-Iun Hoat-ong, cuma wajahnya tiada mengunjuk sesuatu tanda.

"Hai, anak muda, siapa suhumu ?"

Segera ia membentak dari tempat duduknya. Kim-lun Hoat-ong ini seorang cendekia, ilmu silatnya tinggi, bakatnya baik dan luas pengetahuannya, ternyata fasih bicara basa Han.

"Suhuku ialah dia ini,"

Sahut Nyo Ko tertawa sambil menunjuk Siao-liong-li "Nah, lekas kau menyembah pada Bu-lim Bengcu !"

Melihat Siao-liong-Ii cantik molek, bahkan usianya, seperti lebih muda daripada Nyo Ko, tidak nanti Kim-lun Hoat-ong mau percaya dialah guru-nya, pikirnya.

"Ah, bangsa Han banyak tipu muslihatnya, jangan aku tertipu !"

Mendadak iapun berdiri, ketika terdengar suara gemerincing riuh, tahu2 dari bajunya ia keluarkan sebuah roda emas.

Roda emas ini terbuat dari emas murni dan di dalamnya terdapat 9 goteri, maka begitu tergoncang, segera keluar suara gemerincing yang membisingkan.

"Hm, kau adalah Bulim-Bengcu juga baik, asal kau sanggup terima sepuluh jurus roda emasku ini,"

Aku lantas akui kau sebagai Bu-lim Bengcu !"

Demikian kata Kim-lun Hoat-ong kemudian sambil tuding Siao-liong-li "Hi aneh katamu ini, aku sudah menang dua babak, menang dua dari tiga babak, kau sendiri sudah berjanji, kenapa sekarang pungkir janji?"

Kata Nyo Ko tertawa.

"Aku hanya ingin jajal ilmu silatnya dan ingin tahu apa dia sesuai dengan jabatannya tidak,"

Sahut Kim-lun Hoat-ong dengan suara tertahan.

Siao-liong li masih terlalu hijau, ia tak tahu ilmu silat Kim-Iun Hoat-ong beraliran tersendiri dan sudah terlatih sampai tingkatan yang sangat mengejutkan, iapun tak tahu apa itu "Bu-lim Bengcu"

Segala, lebih2 tak pernah terpikir olehnya apa dirinya harus terima jabatan itu atau tidak, kini mendengar orang mau jajal ilmu kepandaiannya dan ingin tahu sanggup tidak terima 10 jurus roda emas orang, tanpa pikir segera iapun berdiri.

"Jika begitu, segera aku mencobanya,"

Demikian sahutnya tak arak "Tapi kalau kau tak mampu sambut 10 jurus -senjataku ini, lalu bagaimana?"

Tanya Kim-lun-Hoat-ong.

"Kalau tak mampu ya sudah, ada apa lagi?"

Sahut Siao-Iiong-li.

Sejak kecil Siao-liong-li sudah melatih diri sedemikian rupa sehingga apa yang menjadi perasaannya, suka atau duka, sama sekali tidak kentara.

Segala hal selalu dianggapnya sepele, kini meski katanya rada Nyo Ko, naraui tidak mendapatkan perhatian-nya.

Para ksatria dan para Bu-su Mongol tak tahu bahwa itu adalah tabiat pembawaannya, tetapi melihat ia acuh tak acuh dan tidak pandang sebelah mata pada Kim-lun Hoat-ong, mereka malah menyangka ilmu silat Siao-liong-li benar2 tinggi tak terkirakan.

Bahkan setelah menyaksikan Nyo Ko kalahkan Darba dengan "lh-hun-tay-hoat" , ada orang yang menyangka Siao-liong-li bisa ilmu hitam dan mungkin pula siluman, maka suasana seketika menjadi berisik.

Kim-lun Hoat-ong sendiri kuatir juga bila Siao-liong-li benar2 bisa gunakan ilmu sihir, maka mulutnya segera komat-kamit membaca mantera penolak sihir dalam basa Tibet.

Nyo Ko dapat mendengar jelas di samping, ia sangka Hwesio gundul ini lagi maki sang guru dalam basa Tibet, maka ia ingat baik2 setiap kata yang diucapkan orang.

Ketika Kim-lun Hoat-ong selesai membacakan mantera, begitu Kim-lun atau roda emas bergerak, kembali terbitlah suara gemerincing yang riuh nyaring.

"Hai, orang muda, lekas minggir, segera aku akan turun tangan,"

Bentaknya pada Nyo Ko. Kata-kata ini diucapkannya dalam basa Han.

"Nanti dulu, nanti dulu,"

Kata Nyo Ko tiba2.

Lalu sekata demi sekata iapun mengucapkan mantera orang tadi.

Kebetulan waktu itu Darba mulai siuman, ia lihat sang Suhu memegang Kim-lun lagi, akan bergebrak dengan orang, sebaliknya didengarnya Nyo Ko lagi membaca mantera dalam basa Tibet.

mantera itu adalah ilmu rahasia perguruannya dan tidak nanti diturunkan pada orang luar, kalau Nyo Ko bukan reinkarnasi Toa suheng-nya, darimana ia mahir mantera itu ?

"Karena pikiran itu, cepat sekali ia melompat bangun terus berlutut ke hadapan gurunya dan berseru.

"Suhu, ia betul2 jelmaan Toasuheng, sudilah engkau menerimanya kembali!"

"Ngaco-belo, kau tertipu olehnya masih belum tahu,"

Bentak Kim-lun Hoat-ong gusar.

"Tapi betul Suhu, hal ini betul tak salah lagi?"

Sahut Darba!.

Melihat Darba masih ngotot, Hoat-ong menjadi sengit dicekal saja punggung sang murid terus diIempar pergi tubuh Darba yang beratnya ratusan kati itu dilemparkan dengan enteng saja.

Semua orang menyaksikan Darba bertarung melawan Tiam-jong Hi-un dan Nyo Ko dengan tenaga raksasanya tapi lemparan Hoat-ong ini nyata kepandaian yang berpuluh kali lebih kuat tampaknya Siao-liong-li yang gayanya lemah gemulai ini, jangankan bergebrak sepuluh jurus, mungkin kena dikebut sekali saja bisa mencelat roboh.

Karena itu semua orang ikut berkuatir atas diri si gadis.

Tidak sedikit jago2 Mongol yang sudah pernah saksikan ilmu sakti Kim-lun Hoat-ong yang boleh dikatakan tenaganya melebihi 9 ekor kerbau.

Meski Siao-liong-li adalah musuh mereka, tapi melihat parasnya yang jelita, sudah menjadi pembawaan manusia suka akan rupa cantik, maka semua orang sama2 mengharap Hoat-ong jangan turun tangan.

Dalam pada itu, habis Nyo Ko bacakan mantera, dengan pelahan ia bisiki Siao-liong-li.

"Kokoh, hati-hati terhadap Hwesio ini."

Di lain pihak demi mendengar Nyo Ko bisa membaca mantera tanpa salah sekatapun, Kim-lun Hoat-ong amat kagum sekali "Orang muda, hebat kau,"

Ia memuji.

"Ya, Hwesio, kau juga hebat,"

Sahut Nyo Ko.

"Hebat apa?"

Kim-lun Hoat-ong melotot.

"Hebat karena kau cukup besar nyali untuk bergebrak dengan guruku,"

Kata Nyo Ko.

"la adalah reinkarnasi Budha, punya kesaktian setinggi langit mahir ilmu taklukkan naga dan tundukkan harimau, maka sebaiknya kau ber-hati2 !"

Kiranya Nyo Ko sangat licin, ia tahu musuh terlalu lihay, ia sengaja membual agar orang rada selempang hingga tak berani turun tangan habis2-an, dengan demikian gurunya lantas Iebih gampang melawannya..

Siapa tahu Kim-lun Hoat-ong adalah seorang gagah perkasa yang jarang diketemukan dari Tibet, baik sastra maupun silat lengkap dipelajarinya, mana bisa ia tertipu begitu saja.

"Awas, serangan pertama, lekas kau lolos senjata !"

Segera ia berseru.

Nyo Ko telah copot sarung tangan dari benang emas halus itu dan masukkan sekalian pada tangan Siao-liong-li, lalu ia mundur ke belakang.

Siao-liong-li segera keluarkan sehelai selendang sutera putih terus diayun ke udara, pada ujung selendang sutera terikat sebuah bola emas kecil dan didalamnya berisi gotri, ketika selendan itu bergerak, bola itu lantas berbunyi kelinting2 bagai keleningan.

-------------gambar -----------"Kelinting"

Tiba -tiba bola kecil di ujung selendang Siao-liong-li menukik turun laksana-kepala ular menutuk ke Hap-kok-hiat di tengah2 antara jari jempol dan telunjuk ----------------------------------Melihat senjata kedua orang sama2 aneh, semua penonton menjadi tertarik, kalau senjata yang satu sangat panjang, adalah senjata yang laki sangat pendek, yang satu sangat keras, yang lain sangat lemas dan kebetulan kedua senjata masing2 sama-sama bersuara gemerincing pula.

Roda emas yang digunakan sebagai senjata Kim-lun Hoat-ong itu adalah senjata aneh yang belum pernah dilihat para jago silat Tionggoan, tak peduli golok tumbak, pedang, toya atau lain2, asal kebentur Kim-lun atau roda emas sama sekali tak berdaya, asal Kim-lun Hoat-ong mencakup sekali dengan rodanya terus ditarik, maka senjata lawan pasti akan terlepas dari cekalan, maka orang yang bertempur dengan dia lewat satu jurus saja pasti segera kehilangan senjata.

ia bilang agar Siao-liong-li sambut sepuluh jurus serangannya, sebenarnya sama sekali bukan omong besar,,kalau bukan melihat ilmu silat Nyo Ko memang hebat, tidak nanti ia bilang 10 jurus.

Hendaklah diketahui sejak ia keluar Tibet belum pernah ada seorang jago yang mampu terima tiga kali serangan roda emasnya.

Dalam pada itu Siao-liong-li telah ayun selendang suteranya, ia mendahului membuka serangan.

"Barang apakah ini?"

Ujar Hoat-ong melihat senjata lawannya itu.

Segera dengan tangan kiri ia hendak tarik selendang itu, ia lihat kain selendang itu lemas dan hidup, ia tahu pasti banyak perubahannya, tapi ia sudah siap sedia, dengan tarikannya itu ia sudah jaga2 dari berbagai jurusan, tak perduli ke mana kain selendang berkelebat tidak nanti terlepas dari genggamannya.

Tak ia duga bola kecil di ujung selendang itu tiba2

"kelinting"

Berbunyi sekali terus mendal ke atas hendak ketok "tiong-cu-hiat"

Pada balik telapak tangannya.

Tapi cepat sekali Klm-lun Hoat-ong ganti gerak tangannya, ia baliki telapak tangan terus hendak tangkap pula bola kecil itu.

Kembali sedikit Siao-Iiong-li sendal tangannya, bola kecil itu memutar pula dari bawah ke atas hendak ketok "Hap-kok-hiat"

Di-tengah2 antara jari jempol dan telunjuk.

Tapi lagi2 Hoat-ong baliki tangannya, sekali ini ia gunakan kedua jarinya itu hendak jepit bola emas itu.

Namun Siao-liong-li juga sangat jeli, setiap perubahan musuh dapat dilihatnya jelas, sedikit ia ulur selendangnya, bola kecil itu malah menyelonong ke depan buat tutuk "kiok-tik-hiat"

Di sikut lawan.

Beberapa gebrakan itu betul2 dilakukan dalam sekejap saja dan hanya terbatas diantara telapak tangan Kim-lun Hoat-ong yang bolak-balik, tiap kali Kim-lun Hoat-ong membaliki telapak tangan dan tiga kali Siao-liong-li sendal selendangnya, tapi masing2 sudah saling gebrak lima jurus.

Nyo Ko cukup terang menyaksikan pertarungan itu, maka dengan suara keras ia menghitung.

"Satu-dua-tiga-empat-lima.."

Nah, sudah lima jurus, tinggal lima jurus lagi !"

Padahal Kim-lun Hoat-ong bilang agar orang sambut 10 jurus maksudnya ialah menyambut 10 jurus serangannya, tapi Nyo Ko main licik, ia hitung-serang-menyerang kedua belah pihak dan dihitung semua.

Meski Hoat-ong tahu bocah ini licik, tapi ia adalah seorang cakal bakal satu aliran tersendiri mana ia sudi tawar menawar soal itu dengan orang ?

Segera ia sedikit geser sikutnya hingga bola Siao-liong-li tadi luput mengenai jalan darahnya, sebaliknya roda emasnya terus saja menyerang ke depan.

Siao-liong-li mendengar suara gemerincing riuh dan sinar emas berkelebat dari depan, tahu2

"roda emas"

Orang cepat luar biasa sudah berada di depan mukanya.

Kejadian ini sungguh tak ter-duga2, jangan kata hendak menangkis, untuk berkelit saja sudah telat, dalam keadaan bahaya, otomatis ia sendal kain selendangnya hingga melingkar dari samping, bola emasnya terus ketok "Hong-ti-hiat"

Di belakang kepala musuh, Tempat ini adalah urat nadi mematikan di tubuh manusia, betapapun tinggil ilmu silatnya asal kena dihantam pasti tak terjamin jiwanya, serangan ini sesungguhnya dilakukan terpaksa oleh Siao-liong-li, yakni dengan resiko gugur bersama untuk memaksa lawannya tarik kembali serangannya.

Betul saja Kim-lun Hoat-ong tak mau adu jiwa dengan orang, ia menunduk berkelit, karena menunduknya ini roda yang dia hantamkan ke depan menjadi sedikit lambat, kesempatan ini telah digunakan Siao-liong-li buat tarik kembali selendang-nya, terdengarlah klinting2 yang riuh, bola emas pada ujung selendangnya telah saling bentur dengan roda emas hingga tipu serangan Kim-lun Hoat-ong itu kena dielakkan.

Hanya sekejap itu saja keselamatan Siao-liong-li sudah bergulir dari hidup menuju jalan kematian dan dari mati kembali hidup, lekas2 ia gunakan Ginkang atau ilmu entengi tubuhnya melompat ke samping, saking gentarnya hingga wajahnya yang memang pucat itu terlebih pucat pula.

Padahal Kim lun Hoat-ong baru menyerang sekali namun di samping Nyo Ko lantas berteriak-teriak.

"...enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh. Nah, sudah cukup, guruku sudah bisa sambut sepuluh jurus, apalagi yang bisa kau katakan?"

Hanya beberapa gebrakan itu, Kim-lun Hoat-ong lantas tahu meski ilmu silat Siao-liong-li tinggi, tapi masih jauh belum bisa imbangi dirinya, kalau bertanding benar2, dalam 10 jurus pasti ia bisa kalahkan si gadis, yang paling menjemukan yalah Nyo Ko terus mengacau di samping hingga pikirannya dibikin tak tenteram.

ia pikir.

"Biarkan pemuda ini ngaco-belo, asal aku perkencang seranganku dan kalahkan dulu anak perempuan ini, segala nya akan menjadi beres sendirinya."

Tapi lagi2 Nyo Ko ber-teriak2 .

"Tak malu, sudah bilang 10 jurus, sekarang menyerang lagi. Sebelas, duabelas, tigabelas, empatbelas..."

Ia tak perduli berapa banyak kedua belah pihak sudah saling labrak tapi mulutnya mencerocos menghitung semaunya seperti mitralyur Siao-liong-li sendiri menjadi ketakutan sesudah sambut, sejurus serangan musuh, betapapun ia tak berani lagi tahan serangan orang yang kedua dari depan, lekas2 keluarkan ilmu entengi tubuh yang dari Ko-bong-pay terus berlari cepat mengitari ruangan sambil selendang suteranya ikut bergulat dan bola emas berbunyi riuh hingga berwujut sesosok kabut putih diseling sinar emas.

Bunyi kelintang-kelinting dari bola emasnya itu kadang2 cepat dan tempo pelahan, mendadak lirih, tahu2 keras, ternyata tersusun., menjadi suatu irama lagu.

Diantara penonton itu ada yang paham seni suara, segera ada yang berteriak "He, ini adalah "Uh-ltat-ling-kiok"

Ciptaan Tong-beng-hong !"

Waktu yang lain memperhatikan, betul saja, sedikitpun tak meleset, malahan segera ada yang ikut2an tepuk2 tangan dan goyang2 kaki menuruti irama musik keleningan itu.

Kiranya Siao-liong-li wataknya suka seni musik, diwaktu iseng dalam kuburan kuno itu ia suka tabuh rebab menurut lagu tinggalan Cosu-popoh Lim Tiau-eng dan banyak mendapat kemajuan dalam jurusan ini.

Belakangan waktu ia melatih bola emas dengan selendang sutera, ia dengar bola itu menerbitkan suara kelinting2 yang mendekati irama musik, dasar hati anak muda, di antara ilmu silatnya itu ia kombinasikan dengan irama musik!

Dari karena paduan ilmu silat dan musik ini, waktu dimainkan menjadi lebih luwes dan teratur.

Kini Siao-liong-Ii tahu lawan terlalu lihay, ia tak berani melawan dari depan, ia putar selendang suteranya cepat dan berlari kian kemari untuk menghindar!

Ginkang ajaran Ko-bong-pay adalah suatu di antara ilmu tertinggi dari Bu-lim yang tak bisa dicapai aliran silat lain, Meski ilmu silat Kim-lun Hoat-ong jauh di atas Siao-liong-li, tapi selama hidup gadis ini-dilakukan dalam kuburan kuno dan melatih diri di tempat sempit, kini ia terus lari ke sana jemari sambil melompat dan berlari, ternyata sedikitpun Hoat-ong tak berdaya, ia dengar suara ting2 keleningan orang se-akan2 tersusun sifat lagu, tanpa tertahan hatinya tergerak ia pusatkan pikiran buat menyerang menuruti irama musik orang, lekas2 ia goyang roda emasnya hingga terbitkan suara gemerincing yang riuh.

Maka seketika dalam ruangan itu timbul paduan dua macam suara, kadang2 pelahan dan tiba2 keras, tempo2 tinggi nadanya, tahu2 rendah lagi, nyata mereka menjadi bertanding dalam irama musik jika suara keleningan Siao-liong-li nyaring merdu, kedengarannya membikin semangat menjadi segar, sebaliknya suara roda emas gemerantang keras bagai besi dipukul dan seperti golok dikikir, seperti babi disembelih dan mirip anjing dipentung, aneh luar biasa suara itu dan tak enak didengar.

Yang satu ulem, yang lain berisik kedua pihak ternyata sama kuatnya.

Dalam pada itu Nyo Ko masih terus mencerocos menghitung, kini sudah dihitungnya sampai.

"1005, 1006, 1007 ..."

Tapi karena Siao liong-li tak berani bergebrak berhadapan dengan musuh, maka hakikatnya 10 jurus bagi Kim-lun Hoat-ong saja belum genap.

Lama2 Kim-lun Hoat-ong tidak sabar lagi, ia merasa dengan kedudukannya sebagai tokoh besar suatu aliran tersendiri sampai lama sekali masih belum bisa menangkan satu gadis jelita, kalau sampai ber-Iarut2 terus, sekalipun akhirnya menang, pasti tidak gemilang juga bagi kemenangannya, maka mendadak tangan kiri ia ulur ke samping, sedang roda emas tiba2 menghantam dari bawah ke atas.

Dalam keadaan bahaya, se-konyong2 Siao-liong-li ayun selendang suteranya hingga menerbitkan bayangan putih, tubuhnya cepat pula melompat.

Tapi roda emas Kim-lun Hoat-ong mendadak.

berputar balik terus menggubet kain selendangnya Kalau senjata biasa pasti segera akan terebut olehnya, justru kain sutera ini lemas serta licin, maka dengan enteng tahu2 meluncur keluar lagi dari lubang rodanya.

"ltulah serangan kedua, dan kini yang ketiga !"

Bentak Hoat-ong tiba2 berbareng ia melangkah maju, roda emas mendadak terlepas dari tangannya terus menyamber ke arah Siao-liong-li.

Serangan luar biasa ini sama sekali diluar dugaan, maka terdengarlah suara mendenging yang memekak telinga, roda itu menyamber ke arah Siao-liong-li.

Terkejut sekali gadis ini, lekas2 ia mendekam ke bawah sambil melompat mundur, tahu2 sinar emas menyamber lewat depan mukanya membawa suara mendenging nyaring, begitu keras angin samberannya hingga kulit mukanya ikut terasa pedas.

Di bawah seruan kaget semua orang, tiba2 Hoat-ong turun tangan dan tepi roda itu didorong dengan telapak tangannya, seperti benda hidup saja tahu2 roda itu memutar balik terus menyusul ke arah Siao-liong-li.

Insaf kalau gaya putaran roda emas ini sangat keras, Siao-liong-li tak berani coba membelit dengan kain selendangnya, terpaksa ia berkelit kesamping.

"Ginkang bagus !"

Seru Hoat-ong setelah dua kali serangan tak berhasil cepat sekali ia menyerobot maju terus memotong pula tepi rodanya, habis itu beberapa kali pukulannya mencegat di depan Siao-liong-li pula, sebaliknya roda emas ini lantas putar kembali menghantam belakang kepala karena gaya potongan Hoat-ong tadi.

Meski terbangnya Kim-lun itu tak begitu cepat, tapi membawa suara gemerincing, maka tampaknya menjadi hebat luar biasa, pula sebelumnya Hoat-ong sudah menduga ke mana Siao-liong-Ii hendak berkelit, maka roda itu menjadi seperti tumbuh mata saja, setelah berputar sekali di udara, segera memburu sasarannya dari belakang.

Tahu akan bahaya mengancam, sekali meloncat dan berkelit Siao-liong-li keluarkan seluruh kemahirannya, siapa tahu mendadak Kim-lun Hoat-ong pentang tangan menghadang di depannya pula.

Melihat keadaan itu ditambah telinga se-akan2 pekak oleh suara mendengung roda emas, para ksatria itu sama terperanjat dan ikut ber-debar2.

Nampak sang Kokoh terancam maut, tentu saja Nyo Ko tak tinggal diam, mendadak ia samber gada yang ditinggalkan Darba di lantai itu terus meloncat ke atas sekuatnya, ia angkat gada itu dan-roda emas yang menyamber datang itu disodoknya, maka terdengarlah suara gemerantang yang keras, persis gada itu telah memasuki lubang roda itu, cuma tenaga roda itu terlalu besar hingga kedua tangan Nyo Ko tergetar lecet dan alirkan darah, orangnya berikut gada dan roda emas itupun terbanting semua ke lantai.

Sekilas Siao-liong-li melihat roda emas itu terpukul jatuh oleh Nyo Ko, ancaman dari belakang sudah tak ada lagi, tapi waktu ia lagi meloncat mana bisa musuh di bagian depan itu dihindarinya?

Orang yang terancam bahaya seringkali timbul akal mendadak, tiba2 selendang suteranya ia sabet ke depan dan melilit satu tiang di sebelah barat terus ditariknya kuat2, dengan tenaga ayunan itu tubuhnya lantas melayang ke tiang rumah itu, dan dengan tepat sekali ia lolos dari lubang jarum tenaga pukulan Kim-lun Hoat-ong yang maha hebat.

Sudah terang2an hampir berhasil serangannya siapa tahu kena dikacau lagi oleh Nyo Ko, bukan saja musuh bisa menyelamatkan diri, bahka senjatanya yang malang melintang tanpa tandingan malah kena dipukul jatuh mentah2 ke lantai sungguh suatu pengalaman pahit yang selamanya tak pernah dialami Kim-lun Hoat-ong.

Biasanya ia bisa berlaku tenang dan sabar, bisa berpikir biasanya.

Tapi kini sama sekali sudah lupa daratan, tidak tunggu sampai Nyo Ko berbangkit, cepat sekali ia hantam pemuda ini dari jauh.

Meski pukulan ini dilakukan dari tempat sejauh setombak lebih, tapi angin pukulannya mengurung dari segala penjuru, sudah pasti sasarannya susah berkelit.

03 Menurut aturan, Hoat-ong adalah satu guru besar suatu aliran tersendiri lawannya angkatan lebih muda, pula sedang terbanting di lantai dan belum bangun, dengan serangannya ini sesungguhnya tidak sesuai dengan wataknya yang tinggi hati, tapi dalam keadaan murka, tanpa terpikir lagi oleh nya kesemua itu.

Syukur, sejak tadi pandangan Kwe Cing tak pernah meninggalkan diri orang, begitu dilihatnya orang melototi Nyo Ko dan sedikit angkat tangannya, segera ia tahu orang akan turun tangan keji, diam2 ia ber-siap2, tetapi biarpun ia menyerobot maju dan sekalipun dapat menangkis pukulan orang, namun tetap Nyo Ko akan terluka.

Karena waktu sudah mendesak tanpa pikir lagi segera dengan tipu "hui-liong-cay-thian"

Atau naga terbang ke langit, ia meloncat ke atas dan hantam batok kepala Kim-lun Hoat-ong.

Dalam keadaan begitu, kalau Hoat-ong tidak tarik kembali pukulannya, meski ia bisa binasakan Nyo Ko, tapi ia sendiripun akan melayang jiwanya dibawah Hang-liong-sip-pat-ciang orang yang maha lihay itu.

Karena itu terpaksa ia tarik kembali tenaga pukulannya tadi, sambil membentak ia alihkan telapak tangannya menyambut gablokan Kwe Cing itu.

Inilah untuk kedua kalinya saling gebrak di antara dua guru besar ilmu silat itu.

Kwe Cing sendiri terapung di udara, tiada tempat yang bisa digunakan sandaran, tiada jalan lain ia pinjam tenaga pukulan orang terus berjumpalitan dan turun kembali ke belakang.

sebaliknya Kim-lun Hoat-ong masih terus berdiri di tempatnya, tubuh tak bergoyang, kaki tak menggeser seperti tak terjadi sesuatu saja.

Ilmu silat Kwe Cing yang hebat cukup dikenal Hek Tay thong, Sun Put-ji dan Tiam-jong Hi-un, maka demi nampak gebrakan itu, sungguh mereka menjadi terperanjat sekali, betapa tinggi kepandaian Kim-lun Hoat-ong sesungguhnya tak bisa mereka ukur.

Padahal melompat mundurnya Kwe Cing itu otomatis telah mengelakkan tenaga pukulan orang, cara itu adalah cara yang betul dalam ilmu silat, sebaliknya Kim-lun Hoat-ong kena dikacau Nyo Ko tadi hingga kehilangan muka, ia paksakan diri hendak pulihkan malunya itu, maka benar2 ia telah sambut tenaga pukulan Kwe Cing, hal ini berarti banyak melemahkan tenaga dalamnya, meski luarnya kelihatan unggul, sebenarnya dalamnya mendapat rugi.

Kedua tokoh itu berlainan ilmu kepandaian dan sama2 gagah tiada bandingannya, kalau hanya beberapa gebrakan saja susah menentukan asor dan unggul, namun karena adu tenaga pukulan tadi, dada Kim-lun Hoat-ong rada sakit, baiknya pihak lawan mementingkan menolong orang dan tidak melanjutkan serangannya maka dengan cepat ia bisa tutup mulut rapat2 mengumpulkan tenaga untuk melancarkan dadanya yang sesak.

Di sebelah sana Nyo Ko telah terhindar dari elmaut, begitu merangkak bangun segera ia lari ke samping Siao-liong-li dan saling menanya keadaan masing2, setelah tahu tida apa2, wajah mereka unjuk senyuman, tangan mereka saling genggam penuh gembira.

"Wahai, dengarkanlah para jago Mongol,"

Seru -Nyo Ko tiba2 sambil menyanggah roda emas rampasannya di atas gada milik Darba itu.

Senjata imam negara kalian sudah dapat kurampas, apa kalian masih berani berkata lagi tentang Bu-lim Bengcu segala ?

Baiknya kalian lekas enyah saja darisini.Tapi para Bu-su Mongol itu belum mau terima, sudah terang mereka saksikan Kim-lun Hoat-ong menangkan Siao-liong-li, tapi pihak lawan maju lagi seorang Nyo Ko, bahkan maju pula seorang Kwe Cing, Karena itu mereka pada ber-teriak2 mengejek.

"Hm, pihakmu main tiga lawan satu, tak kenal malu!" .

"Hoat-ong sendiri yang melemparkan roda emasnya, mana mungkin kau bocah ini bisa merebutnya?"

"Satu lawan satu, hayo kalau berani bertanding lagi, jangan pakai keroyokan"

"Betul.! Coba bertanding lagi kalau berani !"

Begitulah riuh ramai mereka ber-teriak2, tapi semuanya dalam bahasa Mongol, maka para ksatria Tionggoan tak satupun yang paham.

Sudah tentu diantaranya yang bisa berpikir tahu juga kalau soal ilmu silat sesungguhnya Kim-lun Hoat-ong masih di atas Siao-liong-Ii, tetapi sebutan Bu-lim Bengcu ini betapapun juga tidak boleh direbut seorang imam negara Mongol, hal ini bukan saja bikin malu kalangan Bu-lim daerah Tionggoan, pula berarti melemahkan perbawa sendiri di saat menghimpun kekuatan buat melawan musuh.

Maka diantara ksatria2 yang berdarah muda demi dengar jago2 Mongol ber-teriak2, merekapun balas mencacimaki dan pada lolos senjata, keadaan menjadi kacau panas dan tampaknya bakal bertempur ramai-ramai.

"Bagaimana, kau tetap tak ngaku kalah ?"

Seru Nyo Ko pada Kim-lun Hoat-ong sambil angkat gadanya tinggi-tinggi dengan roda emas di pucuk gada itu.

Senjatamu saja sudah berada di tanganku, masih cukup tebal kulit mukamu untuk berlagak disini?

Apa ada di jagat ini senjata seorang Bu-lim Bengcu kena dirampas orang ?"

Waktu itu Kiin-lun Hoat-ong lagi menjalankan tenaga dalamnya, apa yang dikatakan Nyo Ko cukup jelas didengarnya cuma ia tak berani membuka suara untuk menjawab.

Melihat keadaan lawan, Nyo Ko dapat meraba beberapa bagian, segera ia berteriak lagi.

"Wahai para ksatria, dengarlah sekarang akan kutanyi dia lagi tiga kali, kalau Hoat-ong tidak menjawab, itu berarti mengaku kalah secara diam-diam."

Nyata si Nyo Ko sangat cerdik ia kuatir sebentar lagi Hoat-ong selesai menjalankan napasnya, maka tanpa berhenti ia menanya pula cepat.

"Nah, bagaimana, kau ngaku kalah bukan? Bu-lim Bengcu bukan bagianmu lagi bukan? Kau bungkam terus berarti mengaku secara diam2 bukan?"

Pada saat itu kebetulan Hoat-ong sudah selesai menghilangkan rasa sesak dadanya, selagi ia hendak jawab orang, begitu melihat bibirnya bergerak cepat Nyo-Ko mendahului buka suara lagi Baiklah, jika kau sudah mengaku kalah, kamipun tak mau bikin susah kau, kalian ber-ramai2 boleh lekas enyah saja.

Habis itu, ia angkat tinggi2 gada dan roda emas rampasannya itu dan diserahkan pada Kwe Ceng, ia pikir kalau serahkan Suhu, kuatirnya Kim-lun Hoat-ong akan menjadi murka dan merebutnya, suhu tentu tak sanggup melawannya.

Di lain pihak alangkah gusarnya Kim-lun Hoat-ong hingga mukanya.

merah padam, tapi ia gentar juga terhadap ilmu silat Kwe Cing yang lihay, roda emas sudah jatuh di tangannya, kalau hendak merebutnya kembali rasanya belum tentu berhasil pula jumlah lawan terlalu banyak, kalau terjadi pertempuran besar, pihak Mongol pasti akan kalah habis2an.

Agar tidak terima hinaan, terpaksa mundur teratur, kelak cari jalan lagi buat membalas.

Karena itu, dengan suara keras Hoat-ong lantas berkata.

"Bangsa Han banyak tipu muslihat, menang dengan jumlah banyak, se-ka!i2 bukan "

Cara ksatria sejati, marilah ikut aku pergi saja."

Habis berkata, ia memberi tanda dan para jago Mongol itupun mundur keluar rumah. Dari jauh Hoat-ong masih memberi hormat pada Kwe Cing dan berkata.

"Kwe-tayhiap, Ui-pangcu, tadi aku sudah belajar kenal ilmu kepandaian kalian yang hebat, Gunung selalu hijau, air sungai senantiasa mengalir, biarlah kita bersua pula kelak,"

Kwe Cing orangnya jujur dan berbudi, maka sambil membungkuk membalas hormat iapun menjawab .

"Ilmu silat Taysu sungguh hebat sekali, Cayhe kagum luar biasa. Senjata kalian bolehlah diambil kembali saja."

Sembari berkata, roda emas dan gada emas itupun hendak disodorkannya. Tapi Nyo Ko lantas menyelak.

"Kim-lun Hoat-ong, apa mukamu cukup tebal untuk menerimanya kembali ?"

Lekas2 Kwe Cing membentak, tapi Kim-lun Hoat-ong sudah kebas lengan bajunya terus jalan pergi tanpa berpaling lagi. Tiba2 Nyo Ko ingat sesuatu.

"Hai, muridmu Hotu terkena racun senjata rahasiaku, lekas kau serahkan obat penawar untuk tukar obatku,"

Ia berteriak.

Tetapi Hoat-ong yakin kepandaiannya cukup memahami ilmu pertabiban, segala racun apa saja, dapat disembuhkannya, ia benci terhadap kelicikan Nyo Ko, maka kata2 orang tak digubrisnya terus melangkah pergi.

Sementara Ui Yong melihat Cu-liu pejamkan mata dan pula bertidur, ia pikir di sini tidak sedikit terdapat ahli2 pemakai Am-gi berbisa, pasti ada diantaranya yang dapat menyembuhkan lukanya ini, maka melihat Kim-lun Hoat-ong tak mau terima ajakan Nyo Ko untuk tukar obat penawar, ia pun tidak pikirkan lebih jauh, Tatkala itu seluruh Liok-keh ceng telah terbenam dilain suasana sorak sorai yang riuh rendah, semua memuji Nyo Ko dan Siao-Iiong-li yang telah mengalahkan Kim-lun Hoat-ong dengan gemilang itu.

Kedua muda-mudi ini dirubung beratus orang yang berisik mempersoalkan pertarungan tadi, ada yang bilang-cara Nyo Komengalahkan Hotu betuI2 gunakan cara "senjata makan tuannya" , ada yang berkata Ginkang Siao-liong-Ii tiada taranya hingga dapat hindarkan diri dari udakan Kim-lun Hoat-ong yang hendak menghantamnya tadi, cuma mengenai "Ih-hun-tay-hoat"

Yang digunakan Nyo Ko menangkan Darba hingga paderi Tibet itu dengan dan hantam dirinya sendiri, 9 dari 10 diantara mereka tiada satupun yang paham.

Kemudian perjamuan lantas diperbaharui, selama hidup Nyo Ko selalu menderita hinaan, baru hari ini ia betul2 melampiaskan deritanya itu dan unjuk keperkasaannya mendirikan pahala bagi dunia persilatan Tionggoan, maka tiada seorangpun yang tak menghormat padanya, dengan sendirinya amat girang hatinya.

Siao-liong-li suci bersih batinnya tak kenal sedikitpun tata pergaulan, ia lihat Nyo Ko gembira, maka iapun ikut bergirang.

Terhadap "gadis"

Ini Ui Yong juga sangat suka, ia tarik tangan orang dan menanya ini dan itu, ia minta Siao-liong-li duduk semeja di sampingnya.

Ketika melihat Nyo Ko duduk diantara Tiam jong Hi-un dan Kwe Cing, jaraknya terlalu jauh dari tempatnya, segera Siao-liong-li menggapai dan memanggil.

"Ko-ji, kemari duduk di sampingku sini!"

Namun Nyo Ko sedikit banyak paham perbedaan antara laki2 dan perempuan, tadi waktu bertemu sesaat ia lupa daratan dan unjuk perasaan hatinya yang murni, tapi kini di bawah pandangan orang begitu banyak, jika masih unjuk perasaan mesra, rasanya rada kurang pantas, maka demi mendengar panggilan orang, tanpa tahan wajahnya sedikit merah, ia bersenyum tapi tak mendekati.

"Ko-ji, hayo, kenapa kau tak kemari?"

Kembali Siao-liong-li mendesak.

"Biarlah aku duduk di sini saja, Kwe-pepek lagi bicara dengan aku,"

Sahut Nyo Ko. Tiba2 alis Siao-liong-li terkerut.

"Aku ingin kau duduk ke sini,"

Katanya pula.

Tampak sikap orang yang kurang senang, hati Nyo Ko terguncang hebat, ia merasa wajah orang yang rada marah itu betul2 menggiurkan, sekalipun harus hancur lebur untuknya juga rela, Dahulu karena sifat Liok Bu-siang diwaktu marah rada mirip Siao-liong-li dan Nyo Ko rela membela si gadis itu dari musuh ganas, bahkan melindunginya sejauh ribuan li, kini orang sesungguhnya sudah di depan mata, mana bisa ia membangkang lagi?

Maka iapun berdirilah dan mendekati meja Siao-liong-li.

Melihat sikap kedua muda-mudi ini, diam2 Ui Yong rada curiga, namun iapun perintahkan atur tempat duduknya Nyo Ko.

"Ko-ji, ilmu silatmu yang hebat ini kau dapat belajar dari siapa?"

Kemudian Ui Yong tanya Nyo Ko.

"Dia inilah guruku, kenapa Kwe-pekbo tak percaya"

Sahut Nyp Ko sambil tunjuk Siao-liong-li.

Tapi Ui Yong sudah kenal kelicinan pemuda ini, bila dilihatnya wajah Siao-liong-li yang polos jujur, ia yakin orang tak nanti membohong, maka diapun berpaling dan tanya.

"Moaymoay, betulkah ilmu silatnya dipelajarinya dari kau?"

Siao liong li sangat senang atas pertanyaan orang.

"Ya, memang, bagaimana, baik tidak ajaranku?"

Sahutnya segera.

"Baik, baik sekali."

Kata Ui Yong.

"Moaymoay, Siapakah gurumu?"

"Guruku sudah meninggal lama,"

Sahut Siao-liong-li. Dan matanya tiba2 pula basah, hatinya berduka.

"Tolong tanya siapakah nama dan she gurumu yang terhormat itu ?"

Kembali Ui Yong menanya.

"Entah, Suhu ya Suhu,"

Sahut Siao-liong-li sambil geleng2 kepala.

Ui Yong sangka orang tak mau mengaku, memang adalah biasa kalau orang Bu-Iim pantang bicara soal perguruan sendiri Padahal guru Siao-liong-li adalah budak pelayan pribadi Lim Tiao-eng, selamanya hanya dikenal nama kecil sebagai pelayan, she dan nama asli memangnya ia tak tahu.

Dalam pada itu para kesatria dari berbagai aliran itu be-runtun2 telah menyuguh arak pada Kwe Ceng, Ui Yong, Siao-liong-li dan Nyo Ko sebagai penghormatan dan ucapan selamat karena telah mengalahkan musuh tangguh seperti Kim-lun Hoat-ong itu.

Biasanya Kwe Hu sangat dihormati orang berkat orang tuanya, tapi dibandingkan kini, keadaannya menjadi guram, kecuali Bu-si Hengte yang masih me-nyanjung2 padanya, tiada seorang lain yang perhatikan dia, Tentu saja gadis ini menjadi kesal "Toa-Bu-Koko, Siao-Bu Koko, jangan minum arak lagi, marilah kita jalan2 keluar saja,"

Ajaknya kemudian pada kedua saudara Bu itu.

Bu Tun-si dan Bu Siu-bun menyahut berbareng, lalu mereka bertigapun berbangkit Dan selagi mereka hendak keluar, tiba2 di dengarnya Kwe Cing sedang memanggil.

"Hu-ji, mari sini!"

Waktu Kwe Hu menoleh, ia lihat sang ayah sudah pindah semeja dengan ibunya-dan lagi menggapai padanya dengan ber-seri2.

Karena itu iapun mendekati kedua orang tuanya dan memanggil manja sambil bersandar di tubuh Ui Yong.

"Nah, dulu kau kuatir Ko-ji kurang baik kelakuannya dan bilang ilmu silatnya kurang tinggi hingga tak sesuai bagi Hu-ji, kini kau tidak bisa mencela lagi bukan?"

Demikian dengan tertawa Kwe Cing berkata pada sang isteri.

"la telah berjasa besar untuk para Enghiong dari Tionggoan sekarang, jangan kata tidak punya kesalahan, sekali pun ada apa2 yang tak baik jasanya tadi jauh lebih besar untuk menutup kesalahannya itu."

"Ya, sekali ini memang salah penglihatanku"

Sahut Ui Yong angguk2 tertawa.

"baik ilmu silat maupun sifat Ko-Ji memang bagus semua, aku sendiripun amat suka padanya."

Mendengar jawaban sang isteri yang merupakan kesanggupan perjodohan puterinya, Kwe Cing sangat senang.

"Liong kohnio."

Katanya pada Siao liong li, mendiang ayah muridmu adalah saudara angkatku, Kedua keluarga Nyo dan Kwe turun temurun berhubungan baik, Cayhe melulu punya satu anak perempuan, soal wajah dan ilmu silat masih boleh juga...

Begitulah dasar watak Kwe Cing memang terus terang, apa yang hendak dikatakan lantas diucapkannya begitu saja.

"Hm coba, anak sendiri dipuji-puji, apa tak takut ditertawai adik Liong ?"

Sela Ui Yong tertawa. Kwe Cing ikut terbahak, lalu iapun menyambung lagi.

"Maka maksud Cayhe, hendak jodohkan puteriku ini pada muridmu, ayah-bundanya sudah wafat semua, urusan ini dengan sendirinya perlu minta keputusan Liong-kohnio, Dan kebetulan para ksatria berkumpul di sini, kita bisa minta dua Eng-hiong terkemuka sebagai comblang untuk menetapkan perjodohan ini, bagaimana ?"

Hendaklah diketahui pada jaman dulu soal perjodohan umumnya tergantung perintah orang tua dan berdasarkan perantara comblang, pihak muda-mudi yang bersangkutan malahan tak berkuasa ambil keputusan.

Begitulah habis berkata, dengan ketawa2 Kwe Cing memandang Nyo Ko dan puteri sendiri, ia duga pasti Siao-liong-li akan terima perjodohan bagus itu.

Tentu saja muka Kwe Hu merah jengah.

Ia sembunyikan mukanya ke pangkuan sang ibu.

Sebaliknya air muka Siao-liong-li rada berubah mendengar kata2 Kwe Cing tadi belum ia menjawab tiba2 Nyo Ko sudah berdiri ia menjura dalam2 pada Kwe Cing dan Ui Yong, lalu berkata.

"Budi Kwe pepek dan Kwe-pekbo yang membesarkan aku dulu serta rasa sayang padaku ini, sekalipun hancur lebur tubuhku juga sukar membalasnya. Tetapi keluargaku miskin, kepandaianku tak berarti sekali-kali tak berani memikirkan puteri bijaksana."

Seketika Kwe Cing tercengang, sungguh tak pernah diduganya bahwa dengan nama suami-isterinya yang tersohor di kolong langit, wajah dan silat puterinya juga tergolong kelas satu, apalagi ia sendiri yang buka mulut hendak menjodohkan-nya, siapa tahu orang malah menolak mentah2.

Tapi ia lantas ingat tentu usia Nyo Ko masih muda dan merasa malu, maka pura2 menolaknya.

Maka ia tertawa pula dan berkata.

"Ko-ji kita bukan orang luar, urusan ini bersangkutan dengan seumur hidupmu tak perlu kau malu-malu."

Tapi lagi-lagi Nyo Ko menjura dan menjawab.

"Kwe-pepek jika engkau ada perintah, ke lautan api atau masuk air mendidih, sedikitpun aku tak menolak, namun urusan perjodohan ini, betapapun tak berani ku menurut,"

Melihat pemuda ini bersikap sungguh2, alangkah herannya Kwe Cing, ia pandang sang isteri dan berharap ikut menjelaskan persoalannya.

Ui Yong sesalkan sang suami terlalu lurus, tidak selidiki dulu lantas berkata terang2an dalam perjamuan terbuka hingga kebentur tembok sendiri.

Sudah dilihatnya sikap antara Nyo Ko dan Siao liong-li yang sedang saling cinta, tapi mereka mengaku sebagai guru dan murid, apakah mungkin kedua orang ini telah tersesat dan berzinah?

Tentang ini sesungguhnya ia tak berani percaya, ia pikir Nyo Ko belum pasti seorang jantan sejati, tapi juga tak nanti melakukan perbuatan terkutuk dan rendah itu.

Harus diketahui orang pada ahala Song sangat pentingkan tata susila, tingkatan antara guru dan murid dipandang seperti raja dan hambanya, seperti ayah dan anak yang se-kali2 tak boleh berbuat sembarangan.

Walaupun Ui Yong bercuriga, namun urusan ini terlalu besar artinya, seketika iapun tak berani percaya, maka ia tanya Nyo Ko.

"Ko-ji, benarkah Liong-kohnio gurumu ?"

"Ya,"

Sahut Nyo Ko pasti.

"Apakah kau angkat guru padanya dengan menjura dan menyembah?"

Tanya "Ui Yong lagi "Ya,"

Jawab Nyo Ko tegas, Mulutnya menjawab Ui Yong, tapi matanya memandang Siap-liong-li dengan penuh rasa kasih mesra, jangankan Ui Yong cerdik melebihi orang biasa, sekalipun orang lain juga dapat melihat bahwa antara kedua muda-mudi ini tentu mempunyai hubungan yang lain dari yang lain.

Namun Kwe Ceng belum juga paham maksud tujuan sang isteri ia pikir.

"Bukankah sejak tadi ia bilang murid Liong-kohnio, ilmu silat mereka berdua terang juga sama, mana bisa dipalsukan lagi? Aku persoalkan perjodohan, kenapa adik Yong tanyakan perguruan dan alirannya? Em, ya, lebih dulu bocah ini masuk Coan-cin-pay, kemudian ganti angkat guru lain, meski hal ini tak baik, tapi urusannya gampang juga diselesaikan."

Dalam pada itu melihat sikap Nyo Ko terhadap Siao-liong-li, diam2 Ui Yong terperanjat sekali, lekas2 ia kedipi sang suami dan berkata.

"Sudahlah, umur Hu-ji masih kecil, soal perjodohannya kenapa harus ter-buru2? Hari ini para ksatria berkumpul disini, paling betul berunding dulu masalah negara yang besar, urusan pribadi sementara boleh kesampingkan dulu."

Kwe Cing pikir betul juga, maka jawabnja.

"Ya, betuI, hampir saja aku pentingkan urusan pribadi dan melupakan soal besar. Liong-kohnio, urusan perjodohan Ko-ji dan puteriku ini biarlah kita bicarakan lagi kelak."

Siapa duga mendadak Siao-liong-Ii geleng2 kepala.

"Tidak, aku yang akan menjadi isteri Ko-ji, tak nanti ia menikahi anakmu,"

Sahutnya tiba2.

Kata2 itu diucapkan cukup keras dan terang, maka ada ratusan hadirin di situ mendengarnya, keruan Kwe Cing terperanjat, seketika ia berbangkit sungguh ia tak percaya pada telinga sendiri, namun bila dilihatnya Siao-liong-li memegangi tangan Nyo Ko dengan sikap begitu hangat dan mesra, hal ini tak bisa pula tak mempercayainya.

"Ap.... apa katamu? Di... dia mu... muridmu bukan?"

Tanyanya cepat tak lancar.

"Ya,"

Sahut Siao-liong-li dengan tersenyum simpul "Dahulu aku mengajarkan ilmu silat padanya, tapi kepandaiannya kini sudah sama kuatnya dengan aku, ia sangat suka padaku dan akupun suka padanya, Dulu...."

Sampai di sini tiba2 ia pelahankan suaranya, meski gadis ini masih polos, namun sifat malu2 anak perempuan adalah pembawaan, maka dengan lirih ia sambung.

"...dulu, dulu kukira dia tak suka padaku dan tak mau aku menjadi isterinya, ak... aku menjadi sedih sekali, aku ingin mati saja lebih baik Tapi ha... hari ini barulah aku tahu ia cinta padaku sesungguh hati, ak... aku..."

Luar biasa penuturan Siao-liong-li yang keluar dari jiwa murninya ini hingga seketika beratus hadirin itu sama sunyi senyap mendengarkan kata2 si gadis.

Umumnya, sekalipun seorang gadis yang sedang terbakar api asmara, namun tak nanti mengumumkannya terang2an di hadapan orang banyak.

Apalagi menutur pada orang luar yang bukan sanak keluarga sendiri Tapi Siao-liong-li terlalu bersih, ia tak kenal urusan umum, apa itu tata krama atau kebiasaan manusia, segalanya tak dipahaminya, apa dirasakan perlu dikatakannya segerapun dikatakan.

Sebaliknya Nyo Ko sangat terharu melihat perasaan si gadis yang murni itu, tapi bila dilihatnya wajah orang lain nada unjuk rasa terkejut dan heran, ia menjadi kikuk dan tak bisa membenarkan pula, ia tahu Siao-liong-li terlalu hijau, sepantasnya tidak membicarakan urusan ini di tempat orang banyak, maka tangan orang lantas ditariknya, dengan suara halus iapun mengajak.

"Marilah, Ko-koh, kita pergi saja !"

"Baik,"

Sahut Siao-liong-li.

Lalu kedua muda-mudi inipun bertindak keluar berendeng.

Tatkala itu meski seluruh ruangan penuh berjubel dengan orang, namun dalam pandangan Siao liong-li se-akan2 Nyo Ko seorang saja yang dilihatnya.

Kwe Cing saling pandang bingung dengan Ui Yong, tidak sedikit peristiwa aneh dan berbahaya yang pernah mereka alami selama hidup, tapi kejadian di depan mata sekarang ini sungguh tak pernah mereka duga, seketika merekapun tidak tahu bagaimana harus bertindak.

Pada waktu Siao-liong-li dan Nyo Ko sudah hampir melangkah keluar ruangan pendopo itu, mendadak Ui Yong meneriakinya.

"Liong-kohnio, kau adalah Bu-lim Bengcu yang dihormat dan dipandang sebagai suri teladan semua orang, maka urusan ini hendaklah kau pikirkan lebih masak."

Tiba2 Siao-liong-li menoleh sambil tersenyum manis, sahutnya.

"Aku tak sanggup menjadi Bu-lim Bengcu segala, kalau cici suka bolehlah kau ambil saja jabatan itu."

"Tidak, bila kau mau menolak, maka serahkan "saja pada ksatria angkatan tua Ang-lopangcu,"

Kata Ui Yong. Bu-lim Bengcu adalah gelar kehormatan yang amat agungnya, dalam dunia persilatan, tapi sedikitpun tak terpikir oleh Siao-liong-li, ia menjawab pula sekenanya.

"Terserahlah kau, pendeknya aku tidak kepingin."

Habis itu tangan Nyo Ko ditariknya hendak berjalan keluar lagi.

Se-konyong2 sesosok bayangan berkelebat, dari tengah orang banyak tahu2 melompat keluar se-orang berjubah pertapaan dan tangan menghunus pedang, ia bukan lain dari pada imam Coan-cin-kau, Thio Ci-keng adanya.

"Nyo Ko,"

Bentak Ci-keng mendadak dengan pedang melintang dan menghadang di ambang pinta "

Kau durhaka dan mengkhianati perguruan, hal ini saja tak dibesarkan orang, kini kau berbuat lagi serendah binatang, apa kau masih punya muka untuk hidup di dunia ini?

Asal aku Thio Ci-keng masih bisa bernapas, tidak nanti kubiarkan kau."

Nyo Ko tak suka ribut2 dengan Ci-keng di depan orang banyak, maka dengan suara tertahan ia membentak "Menyingkir!"

"In-sute,"

Teriak Ci-keng pula.

"coba kau maju, katakanlah malam itu di Cong-lam-san dengan mata kepala kita sendiri menyaksikan kedua orang ini telanjang bulat lagi berbuat apa?"

PeIahan2 Ci-peng berdiri dengan sedikit gemetar waktu ia angkat tangan kirinya, maka terlihatlah jari2 kecil dan manis tangannya telah kutung semua, meski semua orang tak tahu maksud-nya mengunjuk tangan cacat ini, namun melihat tubuh Ci-peng yang gemetar dan bersikap aneh, orangpun dapat menduga pasti di dalamnya tersangkut sesuatu yang ganjil.

Seperti diketahui, malam itu Siao-liong-li dan Nyo Ko sedang melatih Giok-li-sim-keng dalam semak2 bunga dan dipergoki Ci-keng dan Ci-peng tanpa sengaja, tatkala mana Nyo Ko telah paksa Ci-peng bersumpah agar tak bercerita pada orang kelima, siapa tahu hari ini orang telah menistanya di hadapan orang banyak, tentu saja luar biasa gusarnya Nyo Ko.

"Kau telah bersumpah tak akan ceritakan pada orang kelima, apa kau lupa?"

Bentak Nyo Ko segera. Ci Keng ter-bahak2 oleh teguran ini "Ya. memang aku bersumpah tidak akan bercerita pada orang kelima."

Sahutnya keras.

"tapi kini disini ada orang keenam, ketujuh, bahkan beratus dan beribu orang, dengan sendirinya sumpahku itu sudah batal. Kalian berdua berani berbuat, sudah tentu aku pun boleh mengomongnya bukan?"

Peristiwa itu memangnya sangat kebetulan saja, ketika tengah malam Ci-keng melihat kedua muda-mudi itu telanjang bulat berada bersama dalam semak2, ia sangka orang telah berbuat kotor, siapa tahu sesungguhnya orang lagi melatih ilmu yang tiada bandingannya itu.

Dalam gusarnya kini peristiwa itu disiarkannya, sebenarnya bukan maksudnya sengaja hendak memfitnah.

Baca Juga: Pedang Wucisan 5

Baca Juga: Rajawali Lembah Huai 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert