Ceritasilat Novel Online

Rajawali Lembah Huai 4

Eps 4 Rajawali Lembah Huai - Kho Ping Hoo

Baca online Rajawali Lembah Huai - Kho Ping Hoo

Cersil Rajawali Lembah Huai - Kho Ping Hoo.

Tangannya bergerak dan sebatang tusuk sanggul perak melayang ke arah gadis itu.

Yen Yens cepat menyambutnya dan mukanya berubah kemerahan.

Kiranya, tusuk sanggulnya telah dapat dicabut pemuda itu tanpa ia merasakannya!

Ini saja sudah merupakan bukti nyata bahwa ia telah kalah, karena kalau pemuda itu menghendaki tadi dia telah mencabut tusuk sanggul, melainkan mencabut nyawanya melalui cengkeraman pada kepalanya!

Akan tetapi Yen Yen adalah seorang gadis yang galak dan tidak mudah mau menerima kekalahan walaupun sesungguhnya ia tidak sombong.

Ia lincah dan agak binal, memandang rendah siapa saja sebelum ia yakin benar akan kemampuan orang itu.

Kini, setelah menancapkan lagi tusuk sanggulnya dan peristiwa itu tidak dilihat para anggota Hwa I Kaipang, kecuali kakeknya dan tiga orang ketua cabang, ia lalu menggerakkan tangannya dan di lain saat ia telah mancabut sebatang tongkat sebesar ibu jari kakinya yang tadi ia selipkan di punggung.

Ia memutar-mutar tongkat yang panjangnya satu meter itu di antara jari-jari tangan kirinya sehingga tongkat itu berputar cepat seperti kitiran.

"Orang She Cu, engkau boleh juga. Akan tetapi kalau engkau belum mengalahkan tongkatku, aku belum puas. Tongkat adalah senjata keramat para pengemis untuk menaklukkan setan dan iblis. Majulah dan keluarkan senjatamu!"

Tantangnya.

"Nona, aku hanya mempunyai sebatang pedang, akan tetapi pedang itu hanya akan kupergunakan untuk menghadapi musuh."

Dia teringat akan pedangnya, pedang yang pernah menembusi dada Lee Siang kekasihnya, pedang yang sejak saat itu selalu dibawanya dan tadi dia tinggalkan di dalam gua karena dia tidak ingin menghadapi tantangan nona itu dengan senjata di tangannya.

"Karena ini hanya merupakan pertandingan persahabatan, aku akan menghadapi tongkatmu dengan tangan kosong saja."

"Ihhh, berani engkau memandang rendah tongkat kami? Ingat, ilmu tongkat kami Hok-mo-tuung (Tongkat Penakluk Iblis) tak terkalahkan di dunia ini!"

Mendengar ini, kakeknya tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, Yen Yen, jangan tekebur seperti itu! Engkau memalukan kakekmu saja. Mana ada ilmu yang tak terkalahkan di dunia ini. Tidak ada!"

Yen Yen memandang kakeknya.

"Kek, kenapa kita harus merendahkan ilmu sendiri. Orang she Cu, kuperingatkan sekali lagi. Keluarkan senjatamu untuk menghadapi tongkatku!"

"Tidak nona, cukup dengan kedua tangan kakiku saja. Majulah, aku telah siap menghadapi tongkatmu!"

Marahlah Yen Yen. Ia menganggap pemuda itu yang telah berhasil mencabut tusuk sanggulnya, terlalu memandang rendah tongkatnya.

"Baik, engkau sendiri yang mencari penyakit. Nah, sambutlah tongkatku!"

Berkata demikian, ia menerjang dengan amat cepatnya.

Dengan sigap Siauw Cu mengelak ke samping, akan tetapi ujung tongkat itu terus mengejarnya secara aneh!

Dia menggerakkan tangan untuk menangkap ujung tongkat itu, untuk merampasnya, akan tetapi ujung tongkat tergetar dan lepas dari sambaran tangannya dan secara aneh telah meluncur dan menusuk ke arah antara kedua matanya!

"Ehh...!"

Siauw Cu terkejut dan cepat melangkah mundur, akan tetapi kembali ujung tongkat itu telah menotoh jalan darah di depan tubuhnya secara bertubi-tubi.

Dia mengelak ke sana-sini dan dalam waktu beberapa detik saja, ujung tongkat itu telah menyerang dengan totokan ke arah lima jalan darah di bagian tubuh depan.

Siauw Cu meloncat ke belakang dan agak terhuyung, dan tongkat itu sempat pula menotok pundaknya.

Untung dia masih miringkan pundak sehingga tongkat itu tidak tepat mengenai jalan darah, akan tetapi tetap saja sempat membuat dia tergetar dan terhuyung, dan bajunya di bagian pundak itupun berlubang!"

"Nah, baru engkau merasakan sedikit kelihaian tongkatku!"

Kata nona itu dengan suara mengandung kebanggaan.

"Tongkatmu hebat, nona, akan tetapi aku belum kalah,"

Kata Siauw Cu penasaran dan begitu gadis itu menggerakkan tongkatnya lagi, diapun cepat memainkan ilmu silat andalannya, yaitu Sin-tiauw Ciang-hwat! "Hemm...!"

Pek-mau Lo kai berseru kagum dan dia tidak berkedip mengikuti gerakan-gerakan Siauw Cu ketika menghadapi desakan tongkat itu dengan ilmunya yang aneh.

Dia melihat gerakan pemuda itu seperti seekor burung rajawali saja.

Tangkisan yang biasanya dilakukan, lengan menuju ke luar, kini sebaliknya tangkisan itu dari luar ke dalam, disusul cengkeraman.

Juga tubuh itu seringkali mencelat ke atas dan menukik seperti seekor burung rajawali menyambar.

Kakek itu merasa kagum dan heran.

Dia tak mengenal ilmu silat Siauw-lim-pai mengenai dasar gerakan ilmu silat itu yang kokoh kuat, akan tetapi ilmu silat yang dimainkan pemuda ini, walaupun memiliki dasar gerakan kaki tangan Siauw-lim-pai, namun amat aneh gerakan kembangannya, mirip burung rajawali.

Pernah dia melihat ilmu silat yang meniru gerakan burung rajawali, seperti yang terdapat pada aliran Kun-lun-pai, akan tetapi tauw-kun (silat rajawali) yang dimainkan pemuda ini berbeda sama sekali dan amat hebatnya.

Yen Yen sendiri menjadi bingung.

Kini tongkatnya tak pernah mampu mendekati lawan, bahkan terancam untuk dirampas.

Gerakan yang cepat, kadang mencelat ke atas itu amat membingungkannya.

Baru belasan jurus saja, dua kali tongkatnya hampir terampas.

Lawannya menangkis dari luar ke dalam diteruskan cengkeraman dan dua kali sudah tongkatnya kena dicengkeram lawan, akan tetapi dapat ia tarik lepas kembali.

Pek Mau Lokai maklum bahwa yang dua kali itu, kalau Siauw Cu menghendaki, tentu dia sudah dapat merampas tongkat, atau setidaknya mencengkeramnya patah-patah.

Akan tetapi, agaknya pemuda itu tidak mau merusak tongkat, dan hal ini membuat dia semakin senang dan kagum.

Memang ilmu silat tongkat cucunya belum sempurna benar.

Kalau dia yang memainkan tongkat itu, tentu dia akan mampu mengimbangi ilmu silat aneh dari Siauw Cu.

Tiba-tiba tongkat itu menyambar dan tertangkap lagi oleh Siauw Cu.

Sekali ini, Siauw Cu tidak merampas tongkat, tidak pula merusaknya, hanya menangkap dan menahan tongkat itu sehingga biarpun Yen Yen mengerahkan tenaga untuk menariknya kembali tongkat itu tidak dapat terlepas lagi.

Hal ini menjengkelkan hati Yen Yen.

Gerakan tongkatnya adalah gerakan seperti seekor ular.

Kalau tangan biasa saja jangan harap dapat menangkapnya, karena gerakannya dapat berputar dan licin seperti tubuh ular.

Akan tetapi, biarpun tadi dua kali Siauw Cu terpaksa melepaskan lagi, kini, dengan gerakan tangan seperti paruh rajawali mematuk, dia berhasil menangkap tongkat itu sehingga tidak dapat terlepas lagi!

Dalam geramnya, Yen Yen menggunakan tangan kirinya menghantam ke arah muka Siauw Cu.

Pemuda ini menggerakkan pula tangan kana, membentuk paruh rajawali dan tahu-tahu tangannya telah menangkap pergelangan tangan kiri gadis itu.

Gadis itu menarik-narik dan meronta-ronta, namun baik tangan kirinya maupun tongkatnya tidak dapat terlepas lagi dari kedua tangan Siauw Cu.

Mereka kini kelihatan saling tarik sehingga nampak lucu seperti dua orang kanak-kanak memperebutkan mainan!

"Lepaskan!"

Bentaknya, akan tetapi Siauw Cu tidak mau melepaskan, karena dia maklum bahwa begitu terlepas, gadis itu akan menyerangnya dari jarak dekat dan hal ini cukup berbahaya.

"Baik, kau menghendaki tongkatku! Nah, ambillah!"

Tiba-tiba dengan marah ia melepaskan tongkatnya, lalu tangan kanannya menotok ke arah tenggorokan Siauw Cu!

Siauw Cu sudah menduga akan hal ini, maka cepat diapun menggigit tongkat itu dan kini tangan kirinya menyambut, menangkap pula pergelangan tangan kanan itu sehingga kini kedua tangan gadis itu tertangkap olehnya.

Yen Yen semakin marah, menarik dan meronta, namun kedua tangan Siauw Ce seperti sepasang tangan baja yang amat kuat.

Dan tiba-tiba Yen Yen menangis!

Siauw Cu terkejut bukan main, cepat melepaskan kedua tangan itu dan meloncat ke belakang, lalu menyerahkan tongkat itu kembali.

"Maafkan aku, nona, terimalah kembali tongkatmu."

Akan tetapi gadis itu mendengus, membalikkan tubuhnya lalu berlari meninggalkan tempat itu, membuat Siauw Cu berdiri bengong dengan muka merah dan hati menyesal karena ia telah membikin marah cucu Pek Mau Lokai.

Akan tetapi, tepuk tangan memujinya dan para anggota Hwa I Kaipang bertepuk tangan memuji, sedangkan Pek Mau Lokai tahu-tahu sudah berada di depannya dan menerima tongkat cucunya itu.

"Ha-ha-ha, engkau telah dapat menaklukkan cucukuyang seperti naga betina itu, ha-ha!"

Kakek itu tertawa-tawa gembira. Tiga orang ketua cabang itu saling pandang, lalu mereka bertiga mengangkat kedua tangan depan dada dan berkata.

"Cu-sicu, kionghi (selamat)!"

"Ehh? Apa maksud paman bertiga?"

Tanya Siauw Cu heran mengapa tiga orang itu memberi selamat kepadanya.

Pada hal, kemenangan dalam ujian silat itu lama sekali tidak perlu diberi selamat, apa lagi melihat akibatnya membuat gadis itu merasa jengkel dan marah.

Pek Mau Lokai yang menjawab.

"Siauw Cu, engkau tidak tahu bahwa senjata tongkat bagi kami merupakan senjata andalan, juga merupakan tanda bahwa kami adalah anggota kaipang yang setia. Tongkat merupakan kawan dan senjata yang setia bagi kami dan tidak akan kami tinggalkan, apa lagi kami serahkan kepada orang lain. Kalau kami menyerahkan tongkat itu, berarti taluk, sama dengan menyerahkan hati, nyawa, dan badan. Dan kini cucuku yang selama ini menolak semua lamaran orang, menganggap tidak ada pria yang patut menjadi jodohnya, hari ini ia menyerahkan tongkatnya kepadamu! Ha-ha-ha, hal itu hanya mempunya satu arti, bahwa ia taluk kepadamu, dan ia menyerahkan hatinya kepadamu."

Dia tertawa, diikuti empat orang ketua cabang. Mendengar ini, Cu Goan Ciang terkejut bukan main.

"Ah, nona Tang menyerahkan tongkat karena tidak mampu merampasnya kembali dariku dan aku merasa menyesal sekali telah membuat ia marah. Bukan....bukan maksudku untuk...."

"Siauw Cu, mari kita bicara di dalam."

Mereka masuk kembali ke dalam gua basar dan duduk di lantai bertilamkan tikar tebal.

"Kuharap engkau jangan menyangka salah. Kami semua orang mengetahui bahwa dengan penyerahan tongkat tadi, Yen Yen telah menyatakan taluk padamu, dan ia kagum padamu, dan ia bahkan tentu akan merasa berbahagia sekali kalau dapat menjadi jodohmu. Akan tetapi, sama sekali bukan berarti bahwa ia akan memaksamu untuk menjadi jodohnya. Kami semua percaya akan cinta kasih kedua pihak dalam perjodohan. Jadi, kalau engkau tidak membalas perasaan hatinya, hal itupun tidak akan mendatangkan penyesalan apapun dan kami hanya akan menganggap bahwa kalian tidak berjodoh."

"Akan tetapi, kalau boleh saya mengemukakan pendapat saya, Cu-sicu. Bukanlah sikap yang bijaksana kalau ada seorang pemuda menolak cinta seorang gadis seperti Yen Yen. Ia cantik jelita, berbudi mulia, patriot sejati, berwatak pendekar, cerdik, dan memiliki ilmu silat tinggi. Para pemuda yang pernah mengenalnya, dari golongan kecil sampai golongan yang paling besar, semua kagum dan mengharapkan uluran kasihnya, namun semuanya ditolaknya. Dan kalau sekarang ia memilihmu, sicu, sungguh luar biasa sekali. Kalau engkau tidak menyambutnya...."

Kata Kauw Bok yang pendek gendut.

Tentu saja Siauw Cu merasa tidak enak sekali terhadap Pek Mau Lokai.

Dia menarik napas panjang dan teringatlah dia akan wajah Kim Lee Siang.

Dia tahu bahwa dia mencinta Lee Siang, dan baru saja dia ditinggal Lee Siang yang mati secara amat menyedihkan.

Bagaimana dalam waktu beberapa hari saja, dia dapat melupakan Lee Siang dan menyambut uluran cinta seorang gadis lain?

"Tadi aku mendengar bahwa Pangcu dan semua anggota Hwa I Kaipang percaya bahwa cinta kasih kedua pihak dalam perjodohan.

Kepercayaan ini sama dengan kepercayaanku.

Perjodohan memang harus diadakan dengan dasar cinta kasih kedua pihak.

Akan tetapi, bagaimana mungkin aku berani mengatakan bahwa aku mencinta nona Tang yang baru saja kutemui sekarang?

Aku akan bersikap palsu kalau aku mengaku cinta padanya sekarang, karena di dalam hatiku, sama sekali belum ada perasaan itu kepadanya kecuali perasaan kagum dan menyesal bahwa aku telah membikin dia marah.

Pula, kita menghadapi tugas yang mulia, dan besar, bagaimana mungkin memikirkan urusan perjodohan?

Oleh karena itu, kuharap agar Tang locianpwe, para pangcu dan seluruh anggota Hwa I Kaipang, terutama sekali nona Tang Hui Yen sendiri, suka memaafkan kalau aku belum dapat mengambil keputusan sekarang atau dalam waktu dekat mengenai perjodohan."

"Bagus sekali!"

Pek Mau Lokai berseru kagum.

"Begitulah seharusnya sikap seorang pahlawan! Mendahulukan kepentingan perjuangan dan mengesampingkan kepentigan pribadi. Aku dapat menerima pendapatmu itu Siauw Cu, dan percayalah, Yen Yen juga bukan seorang gadis yang berpemandangan sempit. Aku akan menyampaikan perasaan dan pendapatmu itu kepadanya. Sekarang, mari kita bicara, tentang keadaan kita dan perjuangan kita."

Mereka lalu berbincang-bincang, atau lebih tepat lagi, Cu Goan Ciang mendengarkan penjelasan mereka tentang keadaann Hwa I Kaipang dan perjuangan perkumpulan itu.

Hwa I Kaipang merupakan perkumpulan pengemis terbesar di seluruh wilayah Nan-kiang.

Akan tetapi karena kaipang ini jelas anti pemerintah Mongol, bahkan beberapa kali menyerang markas pasukan pemerinta dan membunuh banyak tentara dan perwira, tentu saja perkumpulan ini dinyatakan sebagai perkumpulan pemberontak oleh pemerintah.

Pasukan keamanan mengadakan pembersihan dari para anggota Hwa I Kaipang.

Penangkapan dilakukan terhadap para pengemis baju kembang.

Hwa I Kaipang melakukan perlawanan, akan tetapi pasukan keamanan terlampau kuat sehingga banyak di antara mereka yang gugur, termasuk ayah dan ibu Yen Yen yang tadinya menjadi tokoh terkemuka dari perkumpulan itu.

Karena dimusuhi pemerintah dan dicap sebagai pemberontak maka tentu saja perkumpulan itu tidak lagi berani mempunyai rumah perkumpulan yang terang.

Mereka tidak mempunyai markas tertentu, dan para anggotanya juga tidak lagi diharuskan memakai pakaian kembang kecuali kalau mereka mengadakan pertemuan rapat di suatu tempat yang ditentukan.

Mereka tinggal di kuil-kuil tua, di gubuk-gubuk dan pondok darurat yang mereka dirikan di dalam hutan-hutan, bahkan tinggal di gua-gua.

Akan tetapi, pemimpin besar mereka, Pek Mau Lokai Tang Ku It, walaupun usianya sudah enam puluh lima tahun, tidak pernah turun semangat.

Dia tetap memimpin para anggota Hwa I Kaipang, bahkan berusaha memperkenalkan perkumpulannya dan kadang-kadang masih memimpin anak buahnya untuk menentang para pembesar Mongol.

Karena dikejar-kejar dan tentu ditangkap kalau ketahuan oleh petugas ada pengemis yang memakai pakaian berkembang, maka para anggota tidak berani memakai pakaian seperti itu.

Yang masih tetap berani hanyalah para pemimpinnya saja, terutama Pek Mau Lokai sendiri, Tang Hui Yen atau Yen Yen, dan tiga orang ketua cabang.

Mereka memiliki ilmu kepandaian tinggi maka mereka berani menempuh bahaya itu.

"Berapakah jumlah anggota Hwa I Kaipang?"

Tanya Siauw Cu, hatinya tertarik sekali dan kagum mendengar bahwa para pengemis, justeru orang-orang yang paling miskin, memiliki semangat begitu besar dan keberanian yang luar biasa untuk menantang pemerintah penjajah yang amat kuat.

"Kalau dikumpulkan seluruhnya dari wilayah empat penjuru, anggota kita tidak kurang dari seribu orang,"

Kata Pek Mau Lokai. Siauw Cu terkejut.

"Ah, kalau begitu besar juga kekuatan Hwa I Kaipang. Apakah semua pengemis di wilayah ini menjadi anggotanya? Dan bagaimana dengan para pengemis yang mengeroyok kita di kuil itu?"

Pek Mau Lokai menghela napas panjang.

"Aihh, itulah yang merisaukan hati dan mendatangkan penasaran. Di wilayah Nan-king terdapat banyak kelompok pengemis yang mempunyai perkumpulan masing-masing. Hal ini tidak mengapa karena mereka adalah rekan-rekan sependeritaan kami. Akan tetapi yang paling menyebalkan adalah kenyataan bahwa ada perkumpulan pengemis yang cukup besar telah menjadi antek Mongol, bahkan mereka memusuhi kami. Kalau tadinya, di antara para kaipang terdapat persaingan biasa, akan tetapi yang dilakukan perkumpulan pengemis yang telah menjadi pengkhianat bangsa itu bukan persaingan, melainkan mereka diperalat oleh orang-orang Mongol untuk menumpas kami. Mereka adalah Hek I Kaipang (Pengemis Baju Hitam)."

Siauw Cu menggeleng-geleng kepalanya.

"Sungguh aku tidak mengerti bagaimana mungkin ada sekelompok pengemis yang mau menjadi antek Mongol? Bukankah mereka itu sampai hidup melarat karena akibat penindasan kaum penjajah? Sepatutnya mereka itu menentang penjajah, bukan menentang saudara sependeritaan, apa lagi sama-sama anggota kaipang."

Ketua Hwa I Kaipang tertawa.

"Di dunia ini, kekuasaan apa yang mampu menandingi kekuasaan emas dan perak? Sebagian besar manusia diperbudak oleh harta benda karena mereka mengira bahwa dengan harta benda merupakan syarat mutlak untuk memperoleh kesenangan. Mereka menganggap bahwa dengan harta benda, mereka dapat memenuhi semua keinginan mereka. Oleh karena itu, mereka silau oleh mengkilapnya emas dan perak dan mau melakukan apa saja demi memperoleh harta."

Siauw Cu terkenang akan kehidupan orang tuanya.

Mereka, ayah ibunya, dan banyak lagi penduduk desanya, bahkan kemudian dia tahu bahwa banyak lagi yang senasih di seluruh negara, mati karena sakit, karena kelaparan.

Kalau mereka memiliki harta benda, tentu tidak akan mati kelaparan!

"Maaf, lo-cian-pwe.

Bukankah manusia hidup ini memang tidak mungkin ditinggalkan harta benda?

Bahkan untuk makan saja, untuk mempertahankan hidup, untuk sandang dan untuk tempat tinggal, kita membutuhkan harta benda."

Kakek itu mengangguk-angguk.

"Hai itu memang benar dan tidak dapat disangkal pula. Akan tetapi kalau orang mengejar harta benda,maka pengejaran itu mempeerbudaknya, dan dia akan mengejar dengan cara apa saja untuk mendapatkannya.. Tidak dapat disangkal bahwa hidup ini membutuhkan harta benda, akan tetapi apakah hanya harta yang menjadi syarat utama untuk dapt hidup senang? Siauw Cu, coba bayangkan, engkau memiliki harta benda yang paling banyak di antara seluruh manusia di dunia ini, akan tetapi tubuhmu tidak sehat, engkau sakit dan tak dapat turun dari pembaringan, tak dapat menikmati apa saja karena tubuhmu menderita sakit dan setiap saat disiksa nyeri. Dalam keadaan seperti itu, apakah harta bendamu yang berlimpah itu dapat melenyapkan kesengsaraanmu?"

"Ah, tentu saja tidak, lo-cian-pwe. Akan tetapi, kalau kita memiliki harta benda, kita dapat mencari obat dan mengundang tabib yang paling mahal sekalipun. Sebaliknya, kalau kita melarat, lalu jatuh sakit, untuk membeli obatpun tidak mampu."

Siauw Cu membantah karena dia yang sejak kecil mengalami kemiskinan tahu benar akan kesengsaraan itu. Kakek itu mengangguk.

"Ada benarnya kata-katamu itu, walaupun belum tentu tabib itu pandai dan obat mahal dapat menyembuhkan seseorang, apa lagi menahan nyawanya di badan dan kalau memang sudah tiba saatnya nyawa itu harus kembali ke asalnya. Sekarang, katakanlah engkau kaya raya dan sehat badanmu, akan tetapi bagaimana kalau keluargamu yang sakit? Bagaimana pula kalau terjadi pertentangan dan percekcokan di dalam keluargamu? Bagaimana pula kalau terjadi pertentangan antara engkau dan tetanggamu, masyarakatmu? Bagaimana kalau harta bendamu dirampas orang, engkau terancam kehilangan harta bendamu? Bagaimana kalau usia tua menggerumutimu, dan kalau kematian datang menjemput?"

Siauw Cu tertegun.

"Aih, kalau diingat tentang banyaknya persoalan dan kesulitan yang kita dapat hadapi sewaktu-waktu dalam hidup, memang harta benda nampak tidak ada artinya, lo-cian-pwe. Apakah kalau begitu kita tidak perlu dengan harta?" (Lanjut ke

Jilid 09) Rajawali Lembah Huai (Cerita Lepas) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 09

"Ha-ha-ha, tentu saja kita memerlukan harta, Siauw Cu, karena harta merupakan satu di antara kepentingan kita untuk dapat hidup layak di dunia ini, bahkan untuk dapat hidup wajar dan menikmati hidup. Hanya satu di antaranya, bukan kepentingan tunggal. Ingat ini! Siapa yang hanya mementingkan harta, mengira bahwa harta merupakan satu-satunya kebutuhan kita dalam kehidupan ini, dia akan kecelik, bahkan menyesal. Hidup merupakan suatu keadaan yang memiliki banyak macam kebutuhan, di antaranya harta, kesehatan, kerukunan dalam keluarga, kerukunan dalam masyarakat, dan banyak lagi. Selama nafsu menguasai diri kita, maka kita akan selalu mengejar kesenangan, lupa akan kebutuhan yang lain sehingga terjadi pertentangan dalam batin sendiri karena banyaknya kebutuhan yang saling bertabrakan. Seperti halnya para pimpinan Hek I Kaipang, karena mereka hanya mementingkan harta, maka mereka lupa diri dan rela mengkhianati bangsa sendiri, menjadi penjilat penjajah Mongol dan mau memusuhi golongan dan bangsa sendiri."

Siauw Cu mengangguk, mengerti apa yang dimaksudkan kakek itu.

"Apakah yang menyeleweng dalam Hek I Kaipang hanya pimpinannya, lo-cian-pwe?"

Pek Mau Lokai menoleh kepada tiga orang muridnya dan berkata.

"Kalian beri gambaran yang jelas kepada Siauw Cu, tentang keadaan kita, tentang perjuangan kita, tentang keadaan pihak musuh. Aku ingin beristirahat,"

Katanya dan diapun memasuki gua itu ke bagian dalam di mana terdapat ruangan yang menjadi kamarnya.

Lee Ti, Pouw Sen, dan Kauw Bok, tiga orang ketua cabang itu, lalu memberi penjelasan kepada Siauw Cu yang didengarkan oleh pemuda itu dengan penuh perhatian.

Dahulu, Hek I Kaipang merupakan rekan seperjuangan dari Hwa I Kaipang.

Apalagi karena ketua Hek I Kaipang masih terhitung murid keponakan Pek Mau Lokai sendiri.

Akan tetapi dua tahun yang lalu, ketua Hek I Kaipang itu gugur ketika bertempur melawan pasukan pemerintah dan semenjak itu, ketuanya yang baru membawa Hek I Kaipang menyeleweng dan menjadi antek pemerinta penjajah Mongol.

"Ketua Hek I Kaipang semenjak dua tahun yang lalu bernama Coa Kun dan terkenal dengan julukan Twa-sin-to (Golok Besar Sakti). Dialah yang menguasai Hek I Kaipang dan sejak itu dia menjadi ketua dua tahun yang lalu, perkumpulan itu merajalela karena tidak dimusuhi pemerintah, bahkan menjadi sekutu atau anteknya. Ilmu kepandaian Coa-pangcu itu lihai, terutama sekali ilmu goloknya. Akan tetapi, selihai-lihainya, kami masih mampu menandinginya. Hanya ilmu kepandaian puterinya yang amat hebat. Bahkan Yen Yen sendiri pernah bentrok dengannya, dan Yen Yen nyaris celaka di tangan puteri Coa-pangcu yang bernama Coa Leng Si itu."

Tiga orang itu melanjutkan penjelasan mereka.

Sejak Hwa I Kaipang menjadi buronan pemerintah, tidak pernah ada lagi ada beberapa bentrokan langsung antara Hwa I Kaipang dan Hek I Kaipang, walaupun Hek I Kaipang selalu membantu pasukan pemerintah.

Seperti telah dialami sendiri oleh Siauw Cu, ketika dia dan Pek Mau Lokai dikeroyok pasukan pemerintah, beberapa orang anggota Hek I Kaipang ikut pula mengeroyok.

Karena menjadi antek pemerintah Mongol, tentu saja pimpinan Hek I Kaipang memiliki hubungan dekat dengan pejabat pemerintah, baik sipil maupun militer.

Demikianlah, Siauw Cu menerima penjelasan dari tiga orang ketua cabang sehingga dia tahu benar keadaan Hwa I Kaipang dan keadaan perjuangannya, juga keadaan kota Nan-king dan siapa-siapa yang dapat dianggap kawan seperjuangan, dan siapa lawan.

Setelah para pimpinan Hwa I Kaipang berkumpul makan malam dalam gua besar itu, mengelilingi meja rendah dan duduk di lantai, barulah Siauw Cu bertemu dengan Yen Yen.

Gadis itu bersikap biasa saja, tersenyum dan mengangguk kepadanya seolah-olah mereka sudah lama menjadi rekan dan tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.

Hanya kakeknya dan tiga orang ketua cabang itu yang diam-diam merasa geli karena mereka melihat perubahan besar pada diri gadis itu.

Biasanya, Yen Yen berpenampilan sederhana, akan tetapi malam ini, dara itu mengenakan pakaian baru, rambutnya disisir rapi, dan terutama sekali kalau tadinya dia lincah jenaka dan galak, periang, kini mendadak saja ia menjadi pendiam.

Tawanya yang bisana meledak bebas itu kini lenyap dan yang berbekas dari kelincahan dan kejenakaannya hanya tinggal senyumnya yang manis itu!

Mereka semua tahu bahwa perubahan ini tentu karena kehadiran Siauw Cu!

Setelah makan malam, mereka duduk bercakap-cakap, dan sekali ini dihadiri pula oleh Yen Yen.

Dalam percakapan inilah Siauw Cu mengemukakan pendapat dan usulnya.

"Kukira, cara perjuangan kita harus diubah."katanya.

"Penyerangan terhadap pasukan pemerintah merupakan perbuatan berbahaya yang akan menjatuhkan korban di pihak kita. Kita perlu menghimpun tenaga dan bersatu dengan rakyat. Tanpa bantuan rakyat, perjuangan kita takkan mungkin berhasil. Sebaiknya kalau kita mulai dari dusun-dusun. Kita baru menyergap kalau ada pasukan kecil yang terpencil sehingga kita yakin bahwa tidak akan ada anggota kita yang menjadi korban. Penyerangan ke kota harus dihentikan dan tunggu kalau sampai kekuatan kita lebih besar dari pada pasukan keamanan, baru kita melalukan penyerangan. Dan terutama sekali, kita harus bersatu dengan kelompok pejuang lainnya. Bahkan kalau mungkin, kita harus mendekati Hek I Kaipang dan membujuk agar mereka kembali ke jalan suci perjuangan menentang penjajah dan membebaskan rakyat dari penindasan."

Pek Mau Lokai mengangguk-angguk. Pouw Sen, ketua tinggi kurus muka putih yang memimpin cabang di timur berkata dengan nada memrotes.

"Akan tetapi, kalau kita menghentikan serbuan-serbuan kita, berarti perjuangan kita mundur. Kita harus selalu ganggu dan kacaukan kedamaian di kota agar pemerintah penjajah selalu terpukul karena hal ini akan melemahkan mereka dan akan mengingatkan mereka bahwa para pejuang takkan pernah berhenti menentang mereka!"

"Pouw-pangcu benar, akan tetapi perjuangan bukan berarti dengan nekat menyerang dan mati konyol, mengorbankan banyak teman. Apa hasilnya? Apa artinya membunuh beberapa orang perwira dan beberapa puluh atau ratus tentara penjajah? Mereka dapat memperoleh penggantinya dalam sehari, bahkan lebih banyak lagi. Kita harus bekerja dengan berencana, dengan siasat bagaimana agar dapat merugikan dan melemahkan musuh dengan korban sedikit mungkin di pihak kita,"

Kata Siauw Cu penuh semangat.

"Kita harus mengikutsertakan rakyat sebanyak mungkin. Barulah perjuangan kita ada artinya dan lebih banyak harapan untuk dapat berhasil."

"Aku setuju dengan pendapat Cu-sicu! Memang selama ini kita hanya mengandalkan keberanian saja tanpa menggunakan perhitungan. Buktinya, sudah banyak di andtara kita yang tewas, bahkan ayah ibuku sendiri tewas, akan tetapi apa hasilnya? Begini-begini saja, bahkan kita menjadi orang-orang buronan yang tidak berani tampil terang-terangan. Kalau tidak diubah siasat kita seperti yang diusulkan Cu-sicu, kita tidak akan mendapatkan kemajuan setapakpun, bahkan mundur,"

Kata Yen Yen penuh semangat pula, terang-terangan menyokong pendapat pemuda itu. Pek Mau Lokai tersenyum.

"Aihh, sekarang aku baru merasakan betapa aku sudah terlalu tua untuk perjuangan. Pendapat dan siasatku ketinggalan jaman! Memang benar pendapat Siauw Cu yang didukung oleh Yen Yen. Nah mulai hari ini, aku wakilkan kepemimpinanku kepada Yen Yen dan Siauw Cu yang menjadi pembantu dan pendampingnya. Aku hanya akan menjadi penasihat saja. Aku sudah terlalu tua dan kurang semangat, aku khawatir kalau kulanjutkan memimpin langsung, Hwa I Kaipang akan menjadi semakin lemah."

Tiga orang ketua cabang tidak menentang keputusan itu karena merasa tua sudah melihat kelihaian Siauw Cu.

Hanya diam-diam mereka meragukan kepemimpinan pemuda yang kurang pengalaman itu.

Bagaimana pemuda itu akan mengatur untuk mendapatkan biaya bagi seluruh anggotanya yang semua berjumlah seribu orang lebih itu?

Semua anggota yang berkumpul di tempat itu, yaitu mereka yang oleh kelompok kecil masing-masing diangkat sebagai wakil dan jumlahnya di tempat itu tidak kurang dari seratus orang, dikumpulkan dan malam itu juga, Pek Mau Lokai mengumumkan keputusannya, yaitu bahwa mulai malam itu, dia menunjuk cucunya, Tang Hui Yen mewakili dia sebagai ketua umum, sedangkan Cu Goan Ciang diangkat menjadi pembantu utama.

Tiga orang ketua cabang masih tetap menjadi ketua cabang masing-masing.

Bukit penuh gua itu akan segera ditinggalkan malam itu juga dan akan tetap menjadi tempat pertemuan berkala.

Masing-masing kelompok harus memberitahu tempat persembunyian masing-masing kepada ketua cabang yang berdekatan sehingga mudah mengadakan saling hubungan.

Juga ketua dan kedua wakilnya akan selalu mengadakan kontak dengan tiga ketua cabang agar mereka dapat saling berhubungan.

Ketika Pek Mau Lokai mengumumkan keputusannya, Cu Goan Ciang yang berdiri dekat Yen Yen membisiki gadis itu yang mengangguk-angguk.

Setelah kakeknya selesai dengan pengumumannya, ia lalu mengangkat kedua tangan minta perhatian.

"Ketiga paman, pangcu dari timur, barat, dan selatan, juga semua saudara yang mewakili kelompok masing-masing! Sebagai pimpinan yang ditunjuk dan mewakili ketua umum, kami membuat pengumuman dan peraturan pertama yang harus dilaksanakan oleh setiap orang anggota. Mulai sekarang, mengingat bahwa kita semua menjadi orang buronan, juga mengingat bahwa seringkali pihak musuh menyamar sebagai anggota kita dengan pakaian berkembang, maka kita semua harus meninggalkan kebiasaan mengenakan pakaian berkembang."

Terdengar suara protes di sana-sini, bahkan tiga orang ketua cabang itupun tidak setuju.

"Lalu apa artinya nama perkumpulan kita Hwa I Kaipang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang) kalau kita tidak boleh mengenakan pakaian berkembang?"

Terdengar Pouw Sen, ketua cabang dari timur dan semua anggota mendukung pertanyaan ini.

"Kita tetap anggota Hwa I Kaipang! Itu adalah nama perkumpulan kita. Bukankah sekarangpun banyak anggota kita terpaksa tidak mengenakan pakaian berkembang agar tidak dikejar-kejar petugas keamanan? Maksudku bukan untuk menghapus nama perkumpulan kita, melainkan sementara ini, demi keselamatan kita tanggalkan dulu pakaian berkembang itu. Siapa yang merasa sayang, boleh memakia pakaian berkembang sebelah dalam dan ditutup dengan pakaian biasa! Pula, yang penting bukan pakaiannya, melainkan semangatnya, bukan?"

"Akan tetapi, bagaimana kita dapat saling mengenal tanpa pakaian seperti itu?"

Bantah pula Kauw Bo ketua cabang selatan dan kembali semua anggota mendukung pertanyaan ini. Yen Yen mengangkat kedua tangan dan semua orang diam mendengarkan.

"Aku sudah memikirkan hal itu. Mulai sekarang, kita boleh mengenakan pakaian apa saja asal jangan tambal-tambalan dana berkembang seperti yang biasa kita pakai. Kita mengenakan pakaian biasa, polos akan tetapi harus ada sulaman setangkai bunga di baju kita, di bagian mana saja dari baju kita karena itu hanya merupakan tanda bagi sesama anggota. Atau boleh juga mengantungi setangkai bunga dan memperlihatkan bunga itu kepada sesama anggota sebagai tanda pengenal, ditambah lagi dengan cara penghormatan atau salam seperti ini."

Yen Yen memberi contoh, merangkap kedua tangan dikepal di depan dada seperti penghormatan biasa, akan tetapi begitu kedua tangan yang dikepal itu menempel di dada, tangan kiri yang tadinya mengepal tangan kanan itu dibuka atau dikembangkan jari-jarinya ke atas, lalu ditutup kembali.

"Nah, mengertikah kalian dan apakah masih ada keberatan lainnya?"

Tidak ada yang menyatakan keberatan lagi setelah mereka mengerti apa yang dimaksudkan Yen Yen.

Mereka semua tidak merasa asing kalau kini Yen Yen mewakili kakeknya, karena biasanya ia memang seringkali mewakili kakeknya dalam banyak hal, hanya biasanya belum diresmikan oleh ketua Hwa I Kaipang.

Pek Mau Lokai menyatakan pertemuan itu selesai karena semua laporan telah diterima sebelum Siauw Cu datang ke tempat itu, dan semua orang bubaran, meninggalkan tempat itu yang menjadi sepi.

Tinggal Pek Mau Lokai, Yen Yen dan Siauw Cu bertiga saja.

"Nah, sekarang akupun akan pergi. Yen Yen mulai sekarang tanggung jawabmu besar. Berhati-hatilah dan cepat engkau cari aku kalau menemui kesulitan. Jangan memusuhi Hek I Kaipang secara terbuka. Mereka berbahaya. Sebaiknya, setelah kini ada Siauw Cu yang membantumu, segala hal kaurundingkan dengan dia. Engkau tahu ke mana harus mencariku, bukan?"

"Baik, kek. Aku tahu dan jangan khawatir, aku akan selalu berhati-hati seperti yang selalu kakek ajarkan."

"Sukurlah, dan engkau masih kurang matang dalam ilmu Hok-mo tung-hoat (Silat Tongkat Penakluk Iblis) itu. Engkau dapat mematangkannya dengan berlatih melawan Siauw Cu. Nah, selamat tinggal. Siauw Cu, bantulah Yen Yen. Sampai jumpa."

Siauw Cu cepat mengangkat kedua tangan ke depan memberi hormat dan teringat akan pesan Yen Yen tadi, dia mengembangkan tangan kiri yang terkepal itu sebentar, lalu mengepalnya kembali.

Pek Mau Lokai tertawa.

"Ha-ha-ha, bagus, bagus! Tanda sebagai isarat antar anggota itu bagus sekali."

Sambil masih tertawa gembira kakek itu pergi dengan gerakan yang cepat sehingga sebentar saja dia sudah lenyap ditelan kegelapan malam.

Tinggal Yen Yen dan Siauw Cu yang masih berdiri berhadapan.

Satu-satunya penerangan di situ hanya dua buah lilin besar yang berada di dinding gua.

"Heran, mengapa kita harus begini tergesa-gesa, malam-malan meninggalkan tempat ini? Apa lagi kakekmu yang sudah tua, kasihan dia pergi malam-malam......"

"Begini, Cu-sicu...."

"Ahh, setelah kita menjadi rekan, perlukah engkau menyebut aku sicu (orang gagah) lagi, nona?"

"Hemm, dan engkau juga menyebutku nona!"

Siauw Cu menyadari kesalahannya.

"Aku lebih tua darimu, sebaiknya kusebut engkau Yen-moi (adik Yen)."

"Dan engkau kupanggil Cu-toako (kakak Cu). Nah, begini, toako, menurut laporan penyelidik kita, mungkin sekali malam ini mereka akan menyerbu tempat ini. Berbahaya sekali kalau kita tidak pergi sekarang!"

"Mereka? Kaumaksudkan...."

"Siapa lagi kalau bukan orang-orang Hek I Kaipang jahanam itu! Dan mereka tentu membawa majikan mereka, pasukan Mongol. Penyelidik kita sore tadi melihat bayangan orang berkelebat di bawah, mencurigakan sekali. Maka, kami lalu mengambil keputusan untuk cepat pergi agar jangan terkepung. Nah, mari kita pergi sekarang sebelum terlambat. Kita dapat bicara dalam perjalanan nanti."

Gadis itu memasuki gua dan mengambil sebuah buntalan pakaian.

Kiranya dara ini sudah siap.

Setelah meniup padam dua batang lilin, Yen Yen melangkah keluar dan Cu Goan Ciang mengikutinya.

Gadis itu lebih hafal jalan di situ.

Malam hanya diterangi bintang-bintang saja, kalau tidak hafal benar jalan di daerah itu, orang dapat saja tersesat atau bahkan tergelincir ke dalam jurang.

Baru setengah jam mereka menuruni lereng bukit yang berbatu-batu dan mempunyai banyak gua itu, tiba-tiba mereka mendengar suara gaduh dari depan.

Yen Yen dan Siauw Cu dapat menyelinap dan bersembunyi di balik semak belukar, mengintai keluar!

Nampak sinar obor dan bermunculan puluhan orang dari bawah, orang-orang yang memegang obor dan senjata tajam, jelas di bawah sinar api itu nampak orang-orang berpakaian perajurit dan mereka berpakaian tambal-tambalan serba hitam.

Tentara kerajaan Mongol dan orang-orang Hek I Kaipang!

Tiba-tiba Yen Yen mencengkeram lengan kiri Cu Goan Ciang.

Pemuda ini terkejut dan menoleh.

Dia melihat gadis itu tidak memandang kepadanya, melainkan ke depan agak kana.

Dia mengikuti pandang mata itu dan alisnya berkerut.

Jelas nampak seorang yang pakaiannya kembang-kembang!

Anggota pengemis baju kembang!

Dan agaknya Yen Yen mengenal orang itu.

Sepasang mata gadis itu mencorong mengeluarkan sinar dan mulutnya terkatup tanda bahwa ia menahan kemarahan.

Kemudian, tiba-tiba tangan kiri gadis ituu bergerak ketika si baju kembang lewat dalam jarak terdekat dari tempat persembunyian mereka.

Terdengar pekik, lalu gaduh, dan Yen Yen sudah menarik tangannya, diajak menyusup pergi meninggalkan tempat itu.

Mereka terus berlari menyusup-nyusup, makin jauh meninggalkan lereng bukit dan suara gaduh itu semakin tak terdengar, juga sinar obor itu di tangan banyak orang itu makin tak nampak.

Mereka berlari terus dan menjelang pagi, Yen Yen baru mengajak Siauw Cu berhenti di dalam sebuah gubuk di tepi sungai kecil.

Tempat itu sunyi sekali dan agaknya gubuk ini memang merupakan tempat yang sudah amat dikenalnya.

Gubuk itu nampak reyot dan tua, namun ketika mereka berdua masuk, ternyata rangkanya terbuat dari kayu yang kuat.

Jelas ini sengaja dibuat oleh orang-orang Hwa I Kaipang untuk tempat istirahat atau sembunyi atau bermalam kalau perlu.

Dalamnya kosong, akan tetapi di lantai terdapat banyak jerami yang bersih.

"Semalam kita tidak tidur. Kita harus tidur dulu melepas lelah dan mengumpulkan tenaga,"

Kata Yen Yen. Cu Goan Ciang memandang aneh.

"Ti....tidur...?"

Tanyanya sambil memandang ke arah tumpukan jerami.

Gadis itu tertawa, tawanya bebas mengingatkan Goan Ciang kepada kakek Pek Mau Lokai, akan tetapi wajah gadis itu kemerahan, hal yang diketahui oleh pemilik wajah itu sendiri karena terasa mukanya panas dan jantungnya berdebar.

"Hushhh, maksudku, tidak tidur bergantian. Aku tidur dulu engkau berjaga di luar, nanti setelah aku terbangun, engkau mendapat giliran tidur dan aku yang berjaga di luar. Nah, keluarlah, aku mau tidur."

Setelah berkata demikian, gadis itu lalu menjatuhkan diri, rebah miring di atas tumpukan jerami! Goan Ciang melangkah keluar.

"Yen-moi dari sini kita akan ke mana....!"

Dari luar dia bertanya.

"Bukan waktunya bicara. Aku mau tidur, perlu beristirahat. Besok setelah kita memulihkan tenaga kita bicara sepuasnya!"

Kata Yen Yen dan iapun tidak mengeluarkan kata-kata lagi.

Diam-diam Goan Ciang tersenyum.

Gadis ini luar biasa, pikirnya dan diapun teringat kepada Lee Siang.

Teringat akan gadis kekasihnya itu, wajahnya menjadi muram dan alisnya berkerut.

Akan tetapi, dia mengepal tinju.

Tidak!

Aku tidak boleh menjadi laki-laki cengeng!

Aku harus mengalahkan semua kelemahan i ni, pikirnya.

Dia bercita-cita besar, apa akan jadinya dengan cita-citanya kalau urusan kematian kekasih saja membuat dia terkulai lemas?

Dan apa gunanya disusahkan?

Dia harus berani menghadapi kenyataan.

Lee Siang sudah me ninggal dunia dan agaknya itulah yang terbaik bagi Lee Siang.

Kalau ia masih hiduppun, aib dan penghinaan itu akan menghantui kehidupan selanjutnya, akan selalu merasa hina, rendah, kotor.

Dia mengenal watak Lee Siang yang gagah dan keras.

Banyak persamaan Yen Yen dengan Lee Siang.

Hanya bedanya, Yen Yen benar-benar keras seperti baja, sedangkan Lee Siang masih memiliki kelemahan, yaitu amat setia dan penurut terhadap sucinya pada hal sucinya adalah seorang wanita yang amat kejam dan jahat.

Lega hatinya kalau mengingat betapa dia telah membuntungi sebelah lengan Liu Bi.

Setidaknya dia sudah dapat sedikit membalas kematian Lee Siang.

Akan tetapi, tidak perlu berpikir tentang urusan pribadi, demikian dia mencela diri sendiri.

Dia teringat akan percakapannya dengan Pek-mou Lo-kai.

Memang, kalau dia benar-benar hendak berjuang, dia harus mengesampingkan semua urusan pribadi, mementingkan urusan perjuangan.

Dan dia akan berjuang sekuat tenaga, demi....demi apa?

Mulutnya tentu akan mudah mengatakan demi tanah air dan bangsa, membebaskan mereka dari cengkeraman penjajah!

Akan tetapi ada bisikan di hatinya yang sesungguhnya amat dibencinya.

Bisikan lirih itu berkata bahwa dia berjuang demi mencapai puncak kekuasaan!

Dia akan menunjukkan kepada dunia bahwa dia, anak dusun yang yatim piatu dan miskin, gelandangan yang tidak mempunyai rumah, dia dapat menjadi orang yang paling hebat di dunia ini, paling berkuasa!

Dia berpegang kepada cita-cita ini, melekat dengan cita-cita ini sehingga dia dengan mudah dapat melupakan Lee Siang dan yang lain-lain.

Biarlah Lee Siang mati sebagai pupuk bagi tercapainya cita-cita!

Dan diapun duduk bersila di luar gubug itu, tidak berani tidur sama sekali, melainkan waspada menjaga kalau-kalau ada ancaman bahaya bagi mereka, yaitu dia dan Yen Yen.

Matahari mulai memuntahkan cahanya, menggugah ayam-ayam jantan dan burung-burung yang berkeruyuk dan berkicau dengan gembira menyambut datangnya fajar.

Sudah kurang lebih dua jam Yen Yen tidur dan mendengar keruyuk ayam jago, dara yang peka inipun terbangun.

Ia bangkit duduk, menggeliat, menguap, lalu meraih buntalan pakaian yang tadi ia pergunakan sebagai bantal, lalu bangkit berdiri dan melangkah keluar.

Mendengar langkah lembut itu, Goan Ciang menoleh dan melihat Yen Yen yang rambutnya masih awut-awutan, namun kebetulan ia berdiri menghadap ke timur sehingga cahaya kemerahan jatuh ke mukanya, membuat ia nampak cantik jelita seperti dewi pagi, Goan Ciang memandang terpesona.

Akan tetapi, cepat dia dapat menekan perasaannya dan bangkit berdiri.

"Kau sudah bangun?"

Yen Yen mengangguk, sebetulnya masih merasa sayang meninggalkan jerami empuk dan hangat itu, akan tetapi ia berkata.

"Sekarang giliranmu tidur, aku berjaga di luar."

"Tapi aku....."

"Sudahlah, cepat tidur, pulihkan tenagamu, mungkin kita memerlukannya nanti."

Goan Ciang tersenyum mendengar nada memerintah dalam ucapan itu dan seperti seekor anak domba penurut, diapun memasuki gubuk, diikuti pandang mata gadis itu yang tersenyum.

Ketika tiga jam kemudian gadis itu menggugahnya dengan panggilan dari luar, Goan Ciang terbangun.

"Cu-toako, bangun! Sudah siang, engkau sudah cukup tidur! Kita harus melanjutkan perjalanan kita!"

Agaknya sudah berkali-kali gadis itu memanggilnya sehingga dalam suara itu terkandung nada jengkel.

"Baik, aku sudah terbangun!"

Kata Goan Ciang, menggeliat dengan enaknya mengurisr semua rasa lelah dan pegal-pegal pada sendi-sendi tulangnya.

Dia menggosok-gosok kedua matanya dengan punggung tangan, lalu merapikan rambutnya dengan kedua tangan, bangkit berdiri dan melangkah keluar.

Begitu tiba di luar, dia terkejut bukan main.

Tidak nampak Yen Yen di situ, melainkan seorang pemuda remaja yang pakaiannya seperti pemuda petani desa, pakaian butut dan muka serta tangannya tidak bersih, kepalanya tertutup caping petani butut pula.

"Heiii! Siapa engkau dan di mana nona yang tadi duduk di sini?"

Bentak Cu Goan Ciang, siap untuk menyerang karena dalam keadaan seperti itu, kecurigaan telah mencengkeram hatinya.

Pemuda remaja yang seperti petani lugu itu nampak ketakutan, membungkuk-bungkuk dan berkata suara gemetar.

"Jangan marah, tuan...."

"Cepat katakan siapa engkau dan di mana nona tadi, atau....akan kuhajar engkau! Cepat jawab!!"

Melihat orang itu ketakutan, kecurigaan hati Goan Ciang menjadi-jadi sehingga dia menggertaknya agar cepat mengaku karena dia khawatir telah terjadi sesuatu dengan Yen Yen.

Pemuda itu menjadi semakin takut mendengar ancaman Goan Ciang.

Dia menjatuhkan diri berlutut.

"Ampun, kongcu, ampun tai-hiap....harap jangan pukul saya....ampun....."

"Tolol, cepat jawab, pertanyaanku tadi!"

Goan Ciang membentak dengan marah.

"Nona...nona tadi telah pergi dan meninggalkan pesan untuk saya katakan kepadamu..."

"Hayo katakan, apa pesan itu!"

Bentak pula Goan Ciang tak sabar lagi.

"Pesan nona adalah bahwa matahari telah naik tinggi akan tetapi kalau tidak dibangunkan, taihiap belum bangun itu tandanya taihiap malas, dan taihiap tidak mengenalnya, itu tandanya taihiap bodoh!"

"Hah....??"

Goan Ciang marah sekali dan maju hendak memukul, akan tetapi dengan gerakan kilat, pemuda dusun itu sudah menyerangnya lebih dahulu dengan sebatang tongkat!"

"Ehhh....??"

Goan Ciang cepat mengelak, akan tetapi tongkat itu menyerangnya bertubi-tubi dengan gerakan yang amat dahsyat, dan dia segera mengenal ilmu tongkat yang hebat itu.

Itulah ilmu tongkat yang kemarin dimainkan oleh Yen Yen untuk menyerangnya!

Diapun cepat memainkan Sin tiauw wu ciang hota untuk melindunginya, danbaru setelah dia memainkan ilmu ini, pemuda dusun itu terdesak dan akhirnya meloncat ke belakang, agak terhuyung.

"Kenapa engkau menyerangku? Siapa engkau?"

Tanyanya, mengira bahwa pemuda ini tentu seorang murid lain dari Pek Mau Lokai yang lihai sekali, tidak kalah lihai dibandingkan Yen Yen.

"Hemm, bukankah kakek memsan kepadaku agar mengajakmu berlatih untuk kemajuan ilmuku?"

Terdengar suara Yen Yen dan Goan Ciang kini terbelalak memandang pemuda remaja itu yang tertawa lepas di depannya, tawa khas Yen Yen!

"Yen-moi!

Kau...?

Ih, apa-apaan engkau ini?

Menyamar seperti ini dan mempermainkan aku...."

"Toako, aku telah dikenal banyak orang, kalau tidak menyamar tentu dalam waktu setengah hari saja memasuki sebuah dusun atau kota aku akan dikenal dan ditangkap. Dan aku tidak mempermainkanmu, hanya untuk menguji apakah penyamaranku cukup baik."

"Wah, baik sekali, Yen-moi. Sungguh mati, sedikitpun aku tidak pernah mengira bahwa engkaulah pemuda remaja dusun yang ketolol-tololan dan penakut ini! Engkau memang hebat!"

"Pemuda"

Yang nampak masih muda sekali itu tertawa.

"Sudah, simpan pujianmu itu dan cepat mandi. Di sana ada sumber air jernih dan ini aku membawakan pengganti pakaian untukmu."

Dari buntelan pakaiannya, Yen Yen mengeluarkan satu stel pakaian berwarna biru terbuat dari kain yang kuat dan bentuknya sederhana, seperti pakaian yang biasa dipakai orang dusun.

Akan tetapi pakaian itu bersih sekali.

Wajah Goan Ciang berubah kemerahan.

"Aih, aku menyusahkanmu saja, Yen-moi. Akan tetapi, di tempat sunyi ini, dari mana engkau bisa mendapatkan pengganti pakaian untukku?"

Dia mengamati wajah Yen Yen dan diam-diam merasa kagum dan geli. Setelah ini dia tahu bahwa "pemuda"

Itu adalah Yen Yen, maka dari muka yang nampak kotor itu, dia dapat mengenal wajah Yen Yen.

"Tentu saja tidak mungkin mendapatkan pakaian di sini! Aku memang sengaja membawanya, kumintakan dari seorang di antara anggota kita yang kebetulan membawa bekal pakaian dan yang bentuk tubuhnya sama denganmu. Sudahlah, cepat mandi dan berganti pakaian, kita harus melanjutkan perjalanan."

"Ke mana....."

"Nanti saja! Mandi dulu!"

Kata Yen Yen dengan sikap seorang ibu membentak anaknya yang banyak rewel.

Goan Ciang pergi ke sumber air yang memang airnya bening itu.

Dia segera menanggalkan pakaiannya dan mandi, menggosok-gosok bersih debu yang menempel di kulit tubuh bersama keringat.

Tangannya menggosok dengan batu halus, mulutnya bersiul dan matanya ber sinar-sinar, hatinya merasa gembira bukan main.

Tiba-tiba siulnya terhenti dan dia termenung.

Betapa mudahnya dia melupakan Lee Siang!

Akan tetapi, segera dia mengusir penyesalan ini.

Untuk apa berduka terus mengenangkan seorang yang sudah mati?

Tidak, masa depan yang harus dipandangnya, cita-citanya.

Masa lalu sudah mati dan lewat, tidak boleh mengganggu ketenteraman hatinya.

Kini bukan lagi Lee Siang yang harus dikenang, melainkan Yen Yen!

Gadis inipun hebat, seperti Lee Siang, bahkan lebih lagi.

Dengan Yen Yen di sampingnya, dia akan mampu berbuat banyak!

Diapun bersiul lagi dan melanjutkan mandinya sehingga dia merasa segar lahir batin dan setelah mencuci pakaiannya, dia kembali ke gubuk dengan pakaian bersih yang ukurannya pas dengan tubuhnya.

Yen Yen menyambutnya dengan perintah.

"Twako, duduklah di atas batu ini dan jangan bergerak-gerak."

Dengan heran Goan Ciang duduk dan melihat gadis itu menghampirinya dengan sebuah kotak kecil di tangan.

Ketika gadis itu berjongkok di depannya dan mengamati wajahnya dari jarak dekat sehingga dia dapat merasakan hembusan napas gadis itu mengusap pipinya, dia semakin heran.

"Hemm, apa lagi ini, Yen-moi?"

Akhinrnya saking tak tahan untuk mengetahui, dia bertanya.

"Aku sedang mempelajari bentuk mukamu, apa kiranya yang paling menonjol dan mudah diingat orang,"

Jawab Yen Yen. Goan Ciang tidak mengerti dan semakin heran, juga agak rikuh karena gadis itu mengamati wajahnya seperti orang mengamati dan menilai sebuah benda yang aneh! "Apa sih maksudmu?"

Tanyanya, alisnya berkerut.

"Alismu! Benar, alismu mempunyai bentuk istimewa, harus diubah!"

"Apa? Apa maksudmu?"

"Toako, semua orang akan mengenalmu. Bahkan gambarmu dipasang di mana-mana sebagai seorang buruan. Apakah engkau senang dengan keadaan ini? Kita tidak akan dapat bergerak dengan leluasa. Engkaupun seperti aku, harus menyamar."

"Hemm, itukah maksudmu! Kenapa tidak bilang sejak tadi? Akan tetapi, aku tidak pernah menyamar dan...."

"Serahkan saja kepadaku. Bukankah engkau tadi tidak mengenalku? Aku ahli menyamar, dan kalau aku sudah selesai dengan wajahmu, bahkan orang yang paling dekat denganmu tidak akan mengenalmu lagi."

"Kau hendak mencoreng moreng mukaku?"

"Tidak. Penyamaran dengan mencoreng moreng muka adalah penyamaran kasar dan bodoh, hanya dilakukan para pemain wayang di panggung, dengan bedak tebal, gincu dan sebagainya. Nah, duduklah diam. Aku akan mengubah sedikit bentuk alismu yang seperti bentuk golok itu."

Goan Ciang maklum akan kebenaran pendapat Yen Yen.

Memang dia akan dikenal orang di mana-mana karena pemerintah Mongol telah memasang gambarnya sebagai seorang buronan.

Dan dia tentu tidak akan leluasa bergerak.

Maka, diapun pasrah saja.

Akan tetapi, melihat wajah gadis itu demikian dekat dengan wajahnya, walaupun itu sudah seperti wajah seorang pemuda, membuat dia merasa canggung dan untuk mengatasi getaran jantungnya, diapun memejamkan matanya.

Dia tadi melihat gadis itu mengambil alis mata palsu, dengan bulu rambut alis yang aseli, menggunakan gunting dan merasa setelah dia memejamkan mata betapa gadis itu membongkar dan menambah rambut alisnya, menggunakan semacam getah sebagai alat penempel.

Bentuk alisnya diubah, mungkin dipertebal dan diperpanjang.

"Alis tambahan ini akan melekat terus, biar kau gosok dan cuci dengan airpun tidak akan dapat lepas, kecuali kalau kaucabuti. Itupun mungkin akan membuat kulinya terluka dan berdarah. Satu-satunya cara untuk melepas alis palsu itu adalah menggunakan semacam minyak jarak yang ada padaku. Nah, sekarang giliran alismu sudah berubah. Matamu juga harus diubah bentuknya."

Goan Ciang terkejut.

"Ihh! Apakah mataku akan kausayat-sayat pelupuknya?"

Gadis itu tertawa dan Goan Ciang memejamkan mata lagi untuk melihat kilatan gigi putih seperti mutiara berderet, ujung lidah yang merah dan rongga mulut yang lebih merah lagi.

"Tentu saja tidak! Matamu terlalu lebar, mudah diingat orang. Kalau ujungnya diberi sedikit goresan, akan nampak sipit seperti mata orang kebanyakan."

Gadis itu kini menggunakan pena bulu dengan semacam tinta hitam yang tidak dapat luntur, membuat garis di kedua tepi mata Goan Ciang.

Seperti seorang pelukis, ia membuat garis hitam, lalu mundur untuk melihat hasilnya, mencoret lagi sampai akhirnya ia menghela napas lega dan puas.

"Bagus, sekarang bentuk matamu sudah berubah. Garis hitam di tepi matamu inipun tidak akan hilang oleh air, akan tetapi jangan digosok terlalu kuat kalau engkau mandi atau mencuci muka, terutama jangan dengan air panas. Sekarang, coba kulihat apa lagi yang perlu diubah agar wajahmu benar-benar kehilangan jejak bentuk lamanya."

Sekarang Goan Ciang sudah menyerah benar-benar.

Jari-jari tangan yang terasa halus dan hangat itu meraba-raba mukanya, membuat dia memejamkan mata dan merasa nyaman sekali, membuatnya mengantuk lagi!

"Hemm, coba kulihat.

Telingamu tidak menyolok, seperti telinga orang biasa, akan tetapi dahimu terlalu lebar dan bentuknya mengandung wibawa, sebaiknya ditambah rambut di depan sehingga akan nampak lebih kecil.

Kemudian, kalau ada kumis dan jenggot, ditambah sedikit cambang, dan bentuk gelung rambutmu diubah, hemm, tak seorangpun akan mengenalmu lagi, toako!"

Gadis itu nampak gembira lalu mengerjakan semua rencananya itu.

Menempel sana menempel sini dan dalam waktu kurang dari sejam, kini Goan Ciang telah berkumis, berjenggot dan cambangnya memanjang sampai ke pipi, dahinya tidak selebar tadi, matanya sipit dan alisnya tebal panjang!

"Nah, coba kau periksa wajahmu sendiri, masih kurang apa untuk mengubahnya menjadi lain sama sekali."

Gadis itu mengeluarkan sebuah cermin kecil bundar dan menyerahkannya kepada Goan Ciang.

Ketika Goan Ciang melihat wajahnya sendiri dalam cermin, dia tertegun.

Mukanya berubah merah.

Dia seperti melihat seorang laki-laki lain, wajah yang tidak disukanya, dalam cermin itu!

Dengan cambang, kumis dan jenggot, matanya sipit dan alis tebal, apa lagi dahi sempit itu dia kelihatan kejam dan licik!

"Ihh!

Tampanku seperti seorang bandit!"

Serunya. Gadis itu tertawa senang. Makin kaget dan marah Goan Ciang, akan makin senanglah hatinya karena hal itu membuktikan bahwa pekerjaannya berhasil baik.

"Bagus, penyamaranmu sempurna, Hung-toako!"

Katanya seperti bersorak.

"Hung-toako? Apa lagi ini?"

"Toako, tentu saja namamu harus diganti. Mulai sekarang engkau bernama Hung Wu dan aku menyebutnya Hung-toako (kakak Hung), sedangkan engkau menyebut aku Yen-te (adik Yen). Nama Yen adalah nama umum, aku tidak perlu mengganti nama sama sekali, cukup dengan nama Siauw Yen (Yen kecil) saja. Lebih mudah bagimu, bukan?"

Diam-diam Goan Ciang kagum bukan main.

Gadis ini memikirkan segala hal.

Seorang gadis yang amat cerdik, dan sekarang dia tidak merasa heran mengapa seorang kakek bijaksana seperti Pek-mou Lo-kai menyerahkan kepemimpinan perkumpulan besar seperti Hwa I Kaipang kepada seorang gadis!

Kiranya gadis ini memang cerdik sekali.

"Baiklah, Yen-te. Sekarang, kita akan ke mana?"

"Memasuki kota Nan-king?"

Goan Ciang membelalakkan matanya, tidak menyadari betapa lucunya ketika dia terbelalak sehingga gadis yang berubah menjadi pemuda remaja itu tertawa terpingkal-pingkal sehingga kotak alat penyamaran yang dipegangnya terlepas, kotaknya terjatuh, tutupnya terbuka dan isinya berantakan.

Sambil mengambili isi kotak, Yen Yen masih tertawa terpingkal dan kadang memegangi perutnya.

"Siauw Yen! Apa sih yang kau tertawakan sampai setengah mati begitu?"

Tanya Goan Ciang.

"Toako, ingat, jangan sekali-kali engkau membelalakkan matamu seperti tadi. Aku pasti tidak dapat menahan untuk tidak tertawa terpingkal-pingkal. Kalau matamu yang berubah sipit itu kaubelalakkan, aduh, sungguh lucu sekali, mengingatkan aku akan seorang badut di panggung wayang yang pernah kutonton ketika aku berkunjung ke kota raja Peking."

"Hemm, engkau hendak mempermainkan dan mentertawakan aku?"

Kata Goan Ciang cemberut, marah karena dia dikatakan seperti badut.

"Maaf, toako. Maafkan adikmmu, ya? Sungguh mati, aku tidak bermaksud mentertawakanmu. Bahkan itu tandanya bahwa penyamaranmu amat baik. Nah, mari kita berangkat, toako, sekali lagi maafkan aku!"

Yen Yen memegang tangan pemuda itu dan menggandengnya. Lenyap seketika kemarahan dari hati Goan Ciang ketika mereka berjalan sambil bergandeng tangan.

"Yen-te, katakan, mau apa kita ke Nan-king? Bukankah tempat itu berbahaya sekali, penuh dengan pasukan keamanan dan mempunyai banyak perwira yang tangguh?"

"Kita harus menyelidiki para pengkhianat itu! Hek I Kaipang harus kita hancurkan! Merekalah yang mengkhianati kita. Para pengkhianat itu lebih berbahaya dari pada orang Mongol sendiri. Kalau orang Mongol, sudah jelas musuh kita. Akan tetapi para pengkhianat itu, merupakan musuh dalam selimut yang amat berbahaya. Aku lebih membenci mereka dari pada para penjajah itu sendiri."

"Hemm, itukah sebabnya engkau tadi membunuh anggotak Hwa I Kaipang yang agaknya mengkhianati kita dan melaporkan tentang pertemuan di bukit batu?"

Yen Yen mengangguk.

"Aku serang dia dengan pisau terbangku. Pengkhianat seperti dia tidak boleh diampuni. Kalau dia tidak terlambat, tentu malam tadi kita telah dikepung pasukan! Ini semua gara-gara Hek I Kaipang, dan para kaipang yang rela menjadi antek penjajah Mongol!"

"Akan tetapi, hanya kita berdua, apa yang dapat kita lakukan menghadapi mereka? Kakekmu sendiri sudah memperingatkan agar kita berhati-hati kalau berhadapan dengan para pemimpin Hek I Kaipang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Apa yang dapat kita lakukan? Menyerbu Hek I Kaipang dengan tenaga kita berdua saja?"

"Aih, toako, apakah engkau kira aku begitu bodoh? Tidak, aku belum ingin bunuh diri dan mati konyol. Kita menyelundup ke Nan-king dan kita mempelajari keadaan. Kita menyelidiki sampai di mana keakraban hubungan antara Hek I Kaipang dan para pembesar Mongol. Dengan penyamaran ini, kita dapat bergerak leluasa, menjadi dua orang pemuda yang datang dari dusun ke kota itu, untuk mencari pekerjaan, mencari pengalaman atau sekadar bertualang. Kita tidak akan dapat menyolok, tidak akan ada yang mencurigai kita."

Mereka melanjutkan perjalanan dan hati Goan Ciang merasa lega bahwa sejauh ini, Goan Ciang merasa lega bahwa sejauh ini, gadis yang luar biasa itu tidak pernah memperlihatkan dengan sikap, kata-kata maupun perbuatan tentang isi hatinya, yang oleh kakek Pek-mou Lo-kai dikatakan bahwa gadis itu telah memilih dia sebagai calon jodoh!

Kita tinggalkan dulu Cu Goan Ciang dan Tang Hui Yen yang menyamar sebagai kakak beradik dari desa yang pergi ke kota Nan-king, dan mari kita mengikuti perjalanan pemuda Shu Ta, sute dari Cu Goan Ciang.

Pemuda murid Lauw In Hwesio ini melakukan perjalanan seorang diri.

Shu Ta juga seperti Cu Goan Ciang, yatim piatu dan hidup sebatang kara di dunia ini.

Usianya sebaya dengan suhengnya, sekitar dua puluh tahun.

Akan tetapi pemuda yang tampan ini memiliki kecenderungan untuk brewok.

Kumis dan jenggot serta cambangnya tumbuh dengan subur memenuhi setengah wajahnya yang tampan.

Karena merasa belum pantas memelihara kumis jenggot, maka dia sering kali mencukurnya, akan tetapi baru dicukur beberapa hari saja sudah nampak rambut yang subur itu tumbuh lagi.

Berbeda dengan Goan Ciang yang agak pendiam, Shu Ta ini orangnya cerdik dan lincah, banyak akalnya.

Ketika dia berpisah dari suhengnya, selama beberapa jam melakukan perjalanan seorang diri, perasaan hatinya tertekan, seolah dia merasa kehilangan.

Sejak kecil, dia berada di kuil Siauw-lim-si, menjadi kacung kuil sampai dia bertemu dengan Goan Ciang, belajar silat bersama.

Kemudian mereka berdua meninggalkan kuil untuk mencari pengalaman, dan bersama-sama menundukkan keluar Ji dan keluarga Koa di dusun Cang-cin sehingga kedua keluarga yang tadinya menjadi penindas rakyat itu berbalik kini menjadi dermawan dan pelindung rakyat di dusun itu.

Kalau Cu Goan Ciang dari dusun itu pergi ke kota Wu-han, maka Shu Ta pergi menuju ke kota Nan-king.

Dia tidak menolak ketika hendak meninggalkan dusun itu dia diberi bekal oleh dua orang kakak beradik Koa.

Dia memang membutuhkan biaya dalam perjalanan, sebelum dia mendapatkan pekerjaan untuk membiayai kehidupannya sehari-hari.

Dan bekal yang diterimanya itu cukup untuk membiayainya melakukan perjalanan ke kota Nan-king.

Dahulu, ayah dan ibunya pernah tinggal di kota besar ini.

Di waktu dia berusia lima enam tahun, dia pernah tinggal di kota itu dan masih ingat akan kebesaran dan keindahannya, dan oleh karena itulah maka kini dia menuju ke Nan-king.

Seperti juga Cu Goan Ciang, di sepanjang perjalanan Shu Ta melihat kesengsaraan rakyat, terutama yang hidup di pedusunan dan dia merasa prihatin sekali.

Agaknya pemerintah penjajah sama sekali tidak mau memperdulikan nasib rakyat dari negara yang dijajahnya.

Para pejabat pemerintah penjajah hanya memikirkan kesenangan diri sendiri masing-masing, dari kaisarnya sampai pejabat paling kecil.

Bukan saja mereka tidak memperdulikan nasib rakyatnya, tidak mengulurkan tangan untuk menolong, sebaliknya mereka bahkan melakukan pemerasan di sana-sini, demi untuk memenuhi kantung mereka yang sudah penuh.

Pada suatu hari, tibalah dia di jalan yang melintasi sebuah bukit kecil, di sebelah utara kota Nan-king.

Dari tempat itu, ke Nan king masih sejauh tiga puluh li lagi.

Tengah hari itu amatlah teriknya.

Tubuh Shu Ta sudah basah oleh keringat, maka diapun berhenti di tepi jalan, duduk di bawah pohon besar yang rindang.

Jalan itu sepi sekali.

Dia menurunkan buntalan pakaiannya dan mengeluarkan sebuah guci yang terisi air jernih.

Pada saat itu, terdengar bunyi derap kaki kuda.

Dia memegang guci dan tidak jadi membuka tutupnya karena dua ekor kuda yang berlari congklang ke tempat itu menimbulkan debu.

Tidak sehat kalau dia minum pada saat itu, tentu banyak debu ikut memasuki mulutnya.

Dia mengangkat muka memandang.

Dua ekor kuda yang bagus, tinggi besar, jelas kuda-kuda pilihan yang mahal.

Juga pakaian kudanya menunjukkan bahwa penunggangnya adalah orang-orang kaya.

Dan memang benar.

Pemuda dan gadis yang menunggang kuda itu jelas orang kaya, bahkan tentu bangsawan karena pakaian mereka yang indah.

Dari model topi mereka, Shu Ta dapat menduga bahwa mereka yang berkedudukan tinggi dan kaya raya.

Yang mengherankan hatinya, kalau mereka itu putera dan puteri bangsawan tinggi Mongol, kenapa berkeliaran berdua saja tanpa pengawal?

Biasanya, para pembesar Mongol kalau keluar kota selalu dikawal ketat karena tentu saja ada kemungkinan mereka diserang oleh para pemberontak, yaitu patriot-patriot yang memusuhi penjajah Mongol.

Kedua orang itu tiba-tiba menahan kuda mereka dan memandang kepada Shu Ta.

Shu Ta yang tadi mengamati mereka, merasa canggung.

Pemuda Mongol itu tampan dan gagah, akan tetapi gadis itu lebih hebat lagi.

Begitu cantik jelita dan memiliki sepasang mata yang demikian tajam seperti sepasang bintang!

Dia menjadi gugup dan menuangkan air jernih dari guci mulutnya.

Dia mendengar suara wanita bicara kepada pemuda itu dan si pemuda bangsawan berseru.

"Heii, sobat, jangan dihabiskan air itu!"

Tentu saja dia terkejut dan heran, menunda minumnya dan menutupi lagi guci arinya dengan cepat agar tidak kemasukan debu yang masih mengepal.

Kini dua orang muda bangsawan itu sudah turun dari kuda, membiarkan kuda mereka makan rumput dan mereka melangkah menghampirinya.

Shu Ta tidak tahu harus berbuat apa, hanya memandang seperti orang kehilangan akal.

Dia merasa heran mengapa tidak timbul kebencian dalam hatinya terhadap mereka, seperti yang dibayangkannya dahulu ketika dia masih berada di kuil.

Kalau dia membayangkan orang Mongol, selalu timbul kebencian di hatinya karena mereka telah menjajah tanah air dan bangsanya.

Akan tetapi, kini berhadapan dengan seorang pemuda dan seorang gadis Mongol, entah mengapa, dia tidak merasakan kebenciannya itu!

Memang tidak mengherankan karena muda mudi itu sama sekali tidak mempunyai penampilan yang cukup untuk menimbulkan perasaan benci..

Mereka memiliki gerak-gerik yang lembut, sikap mereka halus dan pandang mata merekapun riang dan tidak mengandung kekerasan atau kesombongan seperti yang seringkali dia dengar.

"Maafkan kami, sobat. Tadi adikku melihat engkau minum dan kami memang sedang kehausan. Dalam keadaan hampir mati kehausan ini, tidak ada yang lebih nikmat dari pada air jernih. Kalau engkau tidak keberatan, sobat. Bolehkah kami minta sedikit air minum dari gucimu itu?"

Shu Ta memandang bengong.

Dua orang muda bangsawan Mongol yang begitu kaya raya kini minta air minum darinya di tengah jalan yang sunyi?

Dia sendiri tidak akan percaya kalau mendengar orang bercerita seperti itu.

Biasanya, demikian yang sering didengarnya, orang-orang Mongol menganggap orang pribumi seperti binatang saja, memandang remeh dan rendah.

Akan tetapi, pemuda bangsawan ini bersikap demikian ramah, sopan dan bersahabat.

Minta air minum dari gucinya!

Seperti dalam mimpi saja, tanpa mengeluarkan sepatahpun kata, dia menyodorkan guci air minumnya yang masih tiga perempat penuh kepada pemuda bangsawan itu.

Pemuda Mongol yang usianya sekitar dua puluh dua tahun itu menerima guci air dan menyerahkannya kepada gadis yang usianya paling banyak delapan belas tahun itu tanpa bicara pula.

Gadis itu menerima guci, menoleh dan memandang kepada Shu Ta dengan mata bintangnya, kemudian membuka tutup guci dan menengadahkan mukanya, lalu menuangkan air jernih dari guci itu ke dalam mulutnya yang dibuka sedikit.

Gerakannya luwes dan tidak tergesa-gesa, air yang dituangkannya pun mengalir kecil memasuki rongga mulutnya dan nampak lehernya bergerak-gerak lembut ketika ia minum dan menelan air itu.

Agaknya ia memang haus sekali, ia tersenyum memperlihatkan deretan gigi putih yang rapi dan memberikan guci kepada kakaknya.

Terdengar suaranya yang merdu dan sama sekali tidak terdengar asing, seolah ia seorang gadis Han aseli.

"Bukan main nikmat dan lezatnya air ini!"

Pemuda bangsawan itu tersenyum, lalu diapun minum beberapa teguk, kemudia menutup kembali guci itu dan menyerahkannya kepada Shu Ta yang masih tertegun.

"Enak sekali! Engkau tahu, adikku, apa yang membuat air jernih ini demikian enaknya?"

"Tentu saja aku tahu. Kehausan kita itulah yang menjadikan air apapun terasa enak, bukankah begitu?"

"Ha-ha, engkau pintar. Memang, tidak ada minuman yang enak melebihi enaknya air biasa bagi seorang yang kehausan, dan tidak ada makanan seenak makanan bagi seorang yang kelaparan!"

Shu Ta kagum. Dua orang kakak beradik bangsawan Mongol ini jelas bukan orang-orang sombong yang bodoh, mereka terpelajar.

"Banyak terima kasih atas kebaikanmu memberi minuman kepada kami, sobat. Kami juga ingin beristirahat di sini. Sekalian membiarkan kedua ekor kuda kami beristirahat. Hari amat panasnya. Kami tidak mengganggumu, bukan?"

Kata pemuda bangsawan itu.

Shu Ta tidak menjawab, seperti tadi, dia tidak mengeluarkan suara, hanya menggeleng kepala tanda bahwa dia tidak berkeberatan.

Pemuda dan gadis itupun duduk di atas batu.

Pemuda itu langsung duduk, akan tetapi gadis itu meniup untuk membersihkan debu dari batu sebelum ia mendudukinya.

Sejak tadi, Shu Ta memandang penuh perhatian karena dia benar-benar merasa heran bukan main.

Mereka itu jelas anak-anak bangsawan Mongol, kaya-raya, pakaian mereka indah.

Kuda mereka saja demikian hebat dan mahal harganya.

Orang biasa bekerja beberapa tahun lamanya belum tentu dapat membeli seekor kuda seperti itu!

Dan anehnya, mereka itu mau duduk-duduk di atas batu dengan dia, bahkan telah minum air jernih biasa dari guci airnya, minum tanpa cawan, dituang begitu saja ke mulut!

Orang-orang apakah mereka ini?

Dia memandang penuh perhatian.

Pemuda Mongol itu berusiah dua puluh dua tahun, tampan dan gagah sekali, juga wajahnya cerah dan mulutnya selalu dihiasi senyum.

Gerak-gerinya halus dan ketika bicara tadipun lembut dan kata-katanya menunjukkan bahwa dia seorang terpelajar.

Adapun gadis Mongol yang menjadi adiknya itu berusia delapan belas tahun, juga cantik jelita, terutama sekali matanya yang lebar dan tajam sinarnya itu dan mulutnya yang menggairahkan.

Pendeknya, banyak pemuda dan gadis tentu akan terpesona dan tergila-gila melihat mereka berdua!

Agaknya sikap mereka yang lembut dan sama sekali tidak membayangkan kecongkakan sikap para bangsawan pada umumnyalah yang membuat Shu Ta sama sekali tidak merasa marah atau benci kepada mereka.

Dia tahu bahwa andaikata kedua orang ini bersikap tinggi hati, pasti dia akan membenci mereka karena maklum bahwa mereka ini adalah orang-orang Mongol si penjajah!

Kakak beradik bangsawan Mongol itupun beberapa kali memandang kepada Shu Ta dan akhirnya gadis itu tertawa, suara tawanya merdu dan agak bebas, tidak seperti tawanya gadis Han yang biasanya menahan suara tawa mereka bahkan menutupi mulut dengan ujung lengan baju.

Gadis ini tertawa begitu saja tanpa menutupi mulutnya dan dia teringat kepada Ji Kui Hwa, puteri Hartawan Ji di dusun Cang-cin itu.

Kui Hwa juga suka tertawa bebas, akan tetapi masih menundukkan mukanya seperti hendak menyembunyikan mulutnya.

Gadis Mongol ini tidak menunuduk malah mengangkat muka memandang langit sehingga Shu Ta dapat melihat mulut yang agak terbuka itu dan sekilas dapat melihat rongga mulut yang merah dan deretan gigi yang putih mengkilap.

"Heh-heh-heh, koko (kakak), sobat ini melihat kita seperti orang yang selamanya belum pernah melihat orang-orang seperti kita. Dipandang seperti itu, aku mempunyai perasaan aneh, seolah-olah mataku tiga, atau ada tanduk di atas kepalaku!"

Pemuda itu tertawa pula dan memandang kepada Shu Ta.

"Moi-moi (adik), pemuda mana yang tidak akan memandangmu dengan terpesona? Engkau terlalu cantik jelita bagi mata setiap orang pemuda."

"Ihhh, koko! Jangan mengejekku. Engkaulah yang terlalu tampan sehingga banyak gadis tergila-gila kepadamu dan mengitarimu seperti sekelompok kupu-kupu menyerbu setangkai kembang."

"Wah, itu terbalik namanya, Mimi! Akulah kupu-kupu atau kumbangnya, dan merekalah kembang-kembangnya, ha-ha-ha!"

Pemuda itu tertawa dan dia kini menghadapi Shu Ta. Suaranya ramah bersahabat ketika dia bicara kepada Shu Ta.

"Sobat, agar menenangkan dan meyakinkan hati adikku yang manja ini, maukah engkau mengaku sejujurnya, kenapa engkau memandangi kami seperti itu? Seperti orang terpesona dan terheran-heran?"

Sejak tadi Shu Ta telah mampu menguasai perasaannya.

Dia melihat betapa kakak beradik ini bicara dalam bahasa pribumi yang amat fasih sehingga mudah diduga bahwa mereka memang sehari-hari mempergunakan bahasa pribumi, bukan bahasa Mongol.

Juga mereka saling menyebut koko dan moi-moi seperti kebiasaan orang pribumi, Sebuah kenyataan menambah kekaguman dan keheranannya, yaitu betapa kedua orang muda bangsawan ini berwatak jujur, terus terang dan suka pula bergurau.

"Terus terang saja, aku memang terpesona dan terheran-heran, akan tetapi bukan karena keindahan wajah kalian, walaupun kalian tampan dan cantik seperti dewa dan dewi."jawab Shu Ta yang memang pandai bicara sambil tersenyum, siap untuk menyerang keturunan penjajah ini secara halus.

"Ehh? Kalau begitu, apa yang kauherankan?"

Gadis itu bertanya, ingin tahu sekali.

"Jangan-jangan benar ada sesuatu yang aneh pada diriku! Apakah ada coreng moreng pada mukaku? Apakah ada pakaianku yang terbalik memakkainya, atau jangan-jangan tumbuh tanduk benar-benar di kepalaku!"

Ia meraba-raba kepalanya yang tertutup topi bulu yang indah.

Kakaknya tertawa mendengar kelakar adiknya dan Shu Ta juga tersenyum.

Bagaimana mungkin dia dapat menyinggung perasaan hati seorang gadis yang begini polos dan lucu?

Tapi ia seorang gadis Mongol, bantah pikirannya sendiri.

"Yang membuat aku heran adalah keadaan dan sikap kalian. Kalau kalian ini kakak beradik dari dusun, orang-orang miskin yang tidak mempunyai sepeserpun uang di saku, yang mempunyai kaki dengan sepatu butut yang melakukan perjalanan, dengan pakaian butut, yang setiapsaat disiksa rasa lapar dan haus tanpa mampu membeli makanan dan minuman, maka aku tentu tidak akan merasa heran melihat kalian minta air minum padaku dan duduk di sini bersamaku. Akan tetapi kalian adalah dua orang bangsawan muda yang kaya-raya, berlebih-lebihan dan berlimpahan, dua ekor kuda kalian saja akan mampu memberi makan kepada orang sedusun yang kelaparan kalau dijual. Dan kalian minta air minum padaku dan duduk di atas batu. Ini aneh sekali!"

Kakak beradik itu saling pandang dan tersenyum, akan tetapi senyum mereka senyum pahit. Pemuda itu menarik napas panjang.

"Aihh, sejak kami masih kecil, betapa seringnya kami mendengar keluhan dan protes, walaupun belum pernah ada yang bicara sedemikian terang-terangan dan tanpa takut seperti engkau, sobat! Kami kakak beradik sejak mulai dapat berpikir, telah melihat keadaan rakyat jelata yang dilanda kemiskinan, akan tetapi apa yang dilakukan oleh dua orang kakak beradik seperti kami? Eh, kalau boleh kami mengetahui, engkau ini siapakah? Jelas bukan pemuda dusun. Cara bicaramu teratur dan berisi. Apakah engkau seorang pendekar?"

Shu Ta menunduk, sikapnya acuh dan menggeleng kepala tanpa menjawab. Kembali kakak beradik itu saling pandang, kemudian si adik yang bicara.

"Sobat, kami tidak ingin memaksakan kehendak untuk berkenalan. Akan tetapi, engkau boleh tahu bahwa namaku Bouw Mi, biasa dipanggil Mimi, dan ini kakakku bernama Bouw Ku Cin dan kami berdua adalah putera dan puteri Menteri Bayan yang tinggal di kota raja Peking. Kami sedang melakukan perjalanan tamasya dengan tujuan terakhir kota Nan-king. Nah, kami sudah memperkenalkan diri. Apakah engkau masih terlalu tinggi untuk berkenalan dengan kami, dua orang muda bangsa Mongol yang merasa bahwa kami sama sekali bukan orang?"

Melihat Shu Ta masih bersikap acuh, walaupun di dalam hatinya Shu Ta terkejut setengah mati mendengar bahwa mereka ini putera Bayan, menteri yang amat berpengaruh dan besar kekuasaannya karena menjadi tangan kanan Kaisar Togan Timur, pemuda Mongol yang bernama Bouw Ku Cin itu menyambung kata-kata adiknya.

"Sobat, engkau sungguh tidak adil. Engkau menggambarkan kami berdua seolah-olah kami ini bukan manusia dan tidak sama dengan engkau atau dengan rakyat jelata. Pada hal, apa sih bedanya? Yang berbeda kan hanya pakaian kita saja. Coba engkau yang mengenakan pakaian ini dan aku mengenakan pakaianmu, apa bedanya? Takkan ada yang tahu bahwa engkau adalah engkau dan aku adalah aku, kalau kita bertukar pakaian."

Shu Ta tertegun.

Wah, pemuda ini bukan seorang pemuda bangsawan kaya raya yang berkepala kosong!

Juga gadis itu bicaranya sungguh lain, sedikitpun tidak mengandung sikap angkuh, bahkan begitu rendah hati untuk lebih dahulu memperkenalkan diri padanya.

Pada hal, dilihat dari pakaiannya, mereka tentu mengira dia seorang pemuda dusun biasa!

Sejak kecil Shu Ta tinggal di kuil dan selain ilmu silat, diapun dididik sastra dan tatasusila oleh para hwesio, maka melihat sikap kakak beradik itu, diappun merasa tidak enak.

Maka, diapun bangkit dan memberi hormat kepada kakak beradik itu yang agaknya terkejut dan cepat merekapun membalas penghormatan itu dengan sikap yang sama, mengangkat kedua tangan depan dada.

"Harap kalian memaafkan sikapku tadi. Sudah terlalu banyak aku mendapatkan gambaran para bangsawan yang hanya mementingkan diri sendiri, tidak memperdulikan nasib rakyat jelata, hidup bermewah-mewahan di atas tubuh rakyat jelata yang sekarat, dan biasanya berwatak sombong dan memandang rendah rakyat miskin. Aku tadinya tidak mengira bahwa kalian adalah dua orang muda yang terpelajar dan sopan, rendah hati dan tidak menghina rakyat kecil. Nah, namaku Shu Ta dan aku seorang yatim piatu yang hidup sebatang kara di dunia ini, melihat banyak ketimpangan hidup dan ketidak adilan. Kalian memang memiliki sikap yang baik, otak yang cerdas, tidak sombong, namun sayang, kalian tergolong bangsawan tinggi yang kaya raya, keluarga penindas dan penjajah yang menyengsarakan rakyat."

Dengan berani Shu Ta menentang pandang mata mereka. Dia berdiri dan siap menanti kemarahan (Lanjut ke

Jilid 10) Rajawali Lembah Huai (Cerita Lepas) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 10 kakak beradik itu.

Akan tetapi, kakak beradik itu tidak menjadi marah, hanya mereka saling pandang dan muka mereka berubah agak kemerahan.

Gadis itu sudah menjatuhkan diri duduk kembali ke atas batu, dan Bouw Ku Cin yang biasa dipanggil Bouw Kongcu (Tuan Muda Bouw) itu menghela napas, dan diapun duduk kembali.

"Memang apa yang kaukatakan semua itu ada benarnya, saudara Shu Ta. Akan tetapi, urusan penjajahan itu apa sangkut-pautnya dengan kami berdua? Mengapa bangsa Mongol, bangsa nenek moyang kam i, telah menyerbu Cina dan menundukkannya, kemudia menjajahnya. Akan tetapi hal itu telah terjadi hampir tujuh tahun yang lalu dan kami sama sekali tidak tahu akan isi hati mendiang Temucin, pemimpin besar bangsa Mongol yang kemudian menjadi Jenghis Khan. Kami baru dilahirkan kurang lebih dua puluh tahun yang lalu dan ketika kami terlahir, keadaan sudah begini, penjajahan sudah berlaku selama puluhan tahun. Kami tidak ikut melakukan penyerbuan, tidak ikut menjajah dan ahh...., aku tidak tahu lagi apa yang harus aku katakan. Hanya ini, kawan. Kalau ada nenek moyang kita melakukan kesalahan, apakah kita juga diharuskan mempertanggung jawabkan perbuatannya?"

Shu Ta kembali tertegun dan diapun duduk kembali di atas batu, termenung memikirkan kata-kata itu.

"Akan tetapi, kalian menikmati hasil penjajahan! Kalian hidup bermewah-mewahan sedangkan rakyat jelata hidup kelaparan. Apakah kalian tidak merasa malu, hidup senang di atas mayat rakyat jelata?"

Kini gadis itu mengerutkan alisnya dan pandang matanya mencorong menatap wajah Shu Ta.

"Saudara Shu, jangan engkau sembarangan saja bicara, seenaknya saja menuduh kami! Kami dilahirkan dalam keluarga ayah kami dan sejak kami lahir, ayah kami sudah menjadi menteri. Dengan sendirinya kami hidup di istana ayah dan menikmati semua yang ada. Salahkah itu? Apakah kami, anak-anak ayah, harus meninggalkan keluarga ini dan hidup menderita kemiskinan bersama rakyat? Begitukah kehendakmu?"

Kembali Shu Ta tertegun dan tidak mampu menjawab.

"Saudara Shu Ta, kami mengerti benar perasaanmu. Kami tidak menyalahkanmu kalau engkau membenci pemerintah karena pemerintah adalah pemerintah penjajah. Memang orang-orang Monglo menjajah rakyat pribumi Cina. Dan percayalah, semenjak kami mampu berpikir, kami berdua sudah tidak setuju dengan keadaan ini. Buktinya, sampai sekarang aku tidak pernah memegang jabatan apapun, selalu menolak desakan ayah. Dan kami bergaul dengan rakyat, kami tidak menghina, tidak menindas, tidak memusuhi rakyat. Bahkan di manapun, kapanpun, kami selalu siap membantu rakyat dengan segala kemampuan kami. Jangan dikira bahwa seluruh bangsa Mongol merupakan orang-orang yang suka menindas dan menjajah. Yang menjajah itu adalah pemerintahannya, kerajaannya, bukan rakyat Mongol. Hal ini patut kauketahui, sobat! Nah, sekarang, maukah engkau bersahabat dengan kami?"

Pemuda bangsawan itu mengulurkan tangan, mengajak bersalaman. Akan tetapi Shu Ta pura-pura tidak melihat tangan itu.

"Maafkan aku. Kalau aku bersahabat dengan putera puteri Menteri Mongol, tentu semua orang akan memandang rendah kepadaku dan menganggap aku pengkhianat bangsa!"

Mimi marah sekali mendengar ucapan itu dan menolak pemuda dusun itu menolak uluran tangan kakaknya.

Sungguh merupakan suatu penghinaan besar!

Ingin ia mendamprat, akan tetapi kakaknya berkedip kepadanya dan dengan suara sungguh-sungguh akan tetapi mulutnya tetap tersenyum dia berkata.

"Saudara Shu Ta, apakah kaukira kalau engkau sudah memusuhi semua orang Mongol lalu engkau menjadi pahlawan? Apa manfaatnya kalau engkau hanya membenci dan memusuhi semua orang Mongol, apa manfaatnya bagi rakyat yang menderita? Apakah kalau engkau memperlihatkan sikap bermusuhan dengan kami, bahkan andaikata engkau membunuh kami, hal itu dapat mengenyangkan perut rakyat yang lapar? Sobat, memusuhi dan membenci orang-orang Mongol, bukan satu-satunya cara untuk membela rakyat jelata. Lihat kami ini. Kami dimaki sebagai keturunan Mongol, dibenci oleh orang-orang yang berpikiran sempit sepertimu, akan tetapi kami dapat lebih bermanfaat bagi mereka. Sudah banyak rakyat yang kubantu, baik sandang maupun pangan, banyak yang kami selatkan dari ancaman para penjahat! Dan kau....apa yang telah kaulakukan untuk rakyat? Hanya membenci dan menghina orang Mongol. Itu saja?"

"Koko, mari kita pergi. Dia orang yang sombong dan dungu, tidak perlu banyak bicara, takkan dia mengerti!"

Kata gadis itu dan mereka berdua lalu melompat ke atas punggung kuda mereka.

Cara mereka melompat ke punggung kuda, mengejutkan hati Shu Ta.

Terutama gadis itu.

Bagaimana mungkin seorang gadis bangsawan dapat melompat ke atas kuda yang tinggi itu dengan gerakan demikian ringannya?

Tidak keliru lagi dugaannya, mereka itu tentulah dua orang muda yang pandai ilmu silat!

Shu Ta mengikuti mereka yang menjalankan kuda perlahan-lahan menuju ke selatan dengan pandang matanya.

Beberapa kali dia menghela napas panjang.

Ucapan pemuda itu tadi seperti telah menamparnya dan dia merasa malu kepada diri sendiri.

Kalau dipikir-pikir, dia sendiri tidak tahu apa yang telah dia lakukan untuk rakyat semenjak dia meninggalkan kuil.

Memang di dusun Cang-cin dia telah melakukan sesuatu untuk penduduk dusun itu, akan tetapi dia hanya membantu Cu Goan Ciang!

Dia sendiri memang belum melakukan sesuatu yang bermanfaat, kecuali memperlihatkan kebenciannya kepada penjajah Mongol, kalau perasaan kebencian itu dapat dianggap sesuatu yang bermanfaat bagi rakyat.

Dia bangkit berdiri, menyambar buntalannya dan berjalan di jalan raya itu, ke selatan pula karena dia bermaksud pergi ke kota Nan-king.

Belum lama dia berjalan, dia melihat suara gaduh di depan dan nampak debu mengebul.

Dia segera lari ke depan dan segera melihat belasan orang mengeroyok kakak beradik Mongol tadi!

Setelah dekat, Shu Ta berdiri bengong, tidak tahu harus berbuat apa.

Sebetulnya, dia merasa heran kepada diri sendiri.

Seharusnya dia mengeroyok pula dua orang Mongol itu, membantu belasan orang yang jelas merupakan orang-orang pribumi.

Kenapa dia termangu dan meragu?

Bukankah belasan orang itu adalah orang-orang pribumi, rakyat tertindas dan dua orang itu adalah bangsawan Mongol, sang penindas?

Entah kenapa, dia diam saja dan memandang kagum.

Tak salah dugaannya.

Kakak beradik itu pandai silat, bukan hanya pandai bahkan lihai sekali!

Mereka berdua sudah turun dari kuda mereka dan dengan pedang di tangan, mereka membela diri dan pengeroyokan enam belas orang yang memegang golok atau pedang, akan tetapi para pengeroyok itu sedikitpun tidak mampu mendesak kakak beradik itu!

Gerakan pedang kedua orang Mongol itu cepat, kuat dan juga indah, dan Shu Ta dapat melihat bahkan gerakan pedang mereka mempunyai dasar gerakan pedang mereka untuk balas menyerang, dan Shu Ta maklum bahwa kalau mereka berdua membalas dengan pedang, tentu sudah ada pengeroyok yang roboh dan terluka parah atau tewas.

Agaknya dua orang itu tidak mau melakukan pembunuhan!

"Keroyok terus!"

Teriak seorang yang bertubuh tinggi kurus.

"Bunuh penjajah itu!"

Teriak orang ke dua yang tinggi besar.

Mereka berdua agaknya merupakan pimpinan karena kini mereka setelah mengeluarkan seruan itu, cepat meloncat dan menghampiri dua ekor kuda tunggangan kakak beradik itu, lalu melompat ke atas punggung dua ekor kuda yang besar, tinggi, dan kuat itu.

"Jangan kau bawa kudaku!"

Teriak Bouw Mimi.

"Pencuri kuda berkedok pejuang!"

Bentak pula Bouw Kongcu atau Bouw Ku Cin dan kedua kakak beradik ini telah meloncat dan mengejar dua ekor kuda yang akan dilarikan kedua orang pimpinan kelompok itu.

Gerakan kakak beradik itu ternyata ringan dan cepat sekali.

Mereka seperti dua ekor burung terbang saja dan sudah berada di atas punggung dua orang yang menunggang kuda.

Sebelum dua orang itu dapat membela diri, kakak beradik itu telah menggerakkan tangan kiri mereka ke arah tengkuk dan dua orang perampas kuda itupun terpelanting roboh.

Kakak beradik itu segera menangkap kembali kuda dan menenangkan kuda mereka.

Ketika belasan orang itu melihat betapa dua orang pemimpin mereka dirobohkan, dan merekapun tadi sudah melihat betapa tangguhnya dua orang bangsawan Mongol itu, mereka lalu melarikan diri cerai berai, tidak memperdulikan lagi dua orang pemimpin mereka yang masih belum dapat bangun.

Sambil menuntun kuda mereka, kakak beradik itu menghampiri dua orang korban mereka.

Kini, si tinggi besar dan si tinggi kurasa sudah dapat merangkak bangkit duduk.

Melihat semua anak buahnya melarikan diri dan dua orang muda Mongol itu sudah berada di dekat mereka, keduanya menjadi ketakutan dan menggigil.

Mereka tahu bahwa orang yang berani melawan orang Mongol dan tertangkap tentu akan dihukum siksa sampai mati.

Saking takutnya, mereka lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Bouw Ku Cin dan Mimi.

"Ampun...ampunkan kami, kongcu.....siocia.....ampunkan kami....."

Mereka berdua meratap ketakutan. Kakak beradik itu saling pandang dan tersenyum. Mereka menyimpan kembali pedang mereka yang tidak bernoda darah.

"Hemmm, katakan yang jujur, kalian tadi menghadang kami untuk melakukan perampokan, ataukah kalian ini orang-orang yang mengaku pejuang dan hendak membunuh kami karena kami adalah orang-orang Mongol?"

"Mengaku yang jujur kalau kalian ingin hidup!"

Mimi membentak dengan nada mengancam.

"Ampun, kongcu dan siocia....kami....kami melihat dua ekor kuda ji-wi (kalian berdua) dan pakaian yang indah...kami....kami perampok...."

Bouw Ku Cin mengangguk-angguk.

"Hemm, sudah kami duga. Kalian hanyalah perampok-perampok kecil yang mengaku sebagai pejuang. Begitukah? Ataukah kalian ini pejuang-pejuang yang melakukan perampokan?"

"Kami...kami hanya perampok...."

"Dan mengaku pejuang?"

"Be...benar..."

"Manusia hina!"

Bentak Mimi.

"Orang macam kalian ini sebenarnya tidak pantas hidup. Kalian mengotorkan nama pejuang juga kalian mengacaukan keamanan dan mengganggu rakyat. Kalian hanya merugikan semua pihak."

"Ampun, siocia....ampun kongcu...."

Dua orang itu berlutut dan membentur-benturkan dahi ke atas tanah, ketakutan.

"Pergilah! Sekali lagi kami melihat engkau merampok dan mengaku pejuang, kami tidak akan mengampunimu lagi. Pergi!"

Dua orang perampok itu mengangguk-angguk, lalu bangkit berdiri dan melarikan diri dengan cepat meninggalkan tempat itu.

Akan tetapi, ketika mereka tiba di dekat semak belukar, nampak bayangan orang berkelebat dan sinar pedang berkilat menyambar.

Dua orang perampok itupun roboh dan tewas seketika.

Kakak beradik Mongol itu terkejut dan ketika mereka memandang penuh perhatian mereka mengenal Shu Ta yang sudah menyarungkan kembali pedangnya.

Mereka saling memandang dengan pemuda yang telah mereka kenal itu.

"Saudara Shu Ta, kami sudah mengampuni mereka berdua, kenapa engkau membunuh mereka?"

Tegur Mimi dengan alis berkerut.

"Orang-orang macamm mereka itu harus dibasmi. Mereka itulah yang mencemarkan nama baik para pejuang, membuat para pejuang dipandang rendah sebagai penjahat-penjahat rendah. Penjahat-penjahat seperti mereka mengganggu ketenteraman kehidupan rakyat, memaksakan kehendak mereka, merampok dan membunuh."kata Shu Ta. Bouw Kongcu dan Mimi tidak berkata-kata lagi, dan Bouw Kongcu lalu mengambil sebatang golok besar milik para perampok yang tercecer, kemudian mempergunakan golok besar itu untuk menggali tanah. Shu Ta memandang dengan heran. Ketika melihat Bouw Siocia juga mengambil sebatang golok dan membantu kakaknya tanpa bicara, Shu Ta merasa semakin heran.

"Eh, apa yang kalian lakukan?"

Tanyanya menghampiri. Bouw Kongcu menghentikan pekerjaannya, mengangkat muka memandang kepada Shu Ta lalu berkata.

"Menggali lubang untuk mengubur dua mayat itu, apa lagi kalau bukan untuk itu?"

"Tapi....tapi....mereka itu penjahat yang tadi hendak merampok dan membunuh kalian!"

Shu Ta berseru heran dan kaget.

"Kalau begitu, mengapa?"

Kata Bouw Siocia.

"Mereka memang jahat, selagi masih hidup tadi! Kini, mayat mereka tidak dapat kita anggap jahat, dan kalau dibiarkan membusuk tanpa dikubur, hanya akan mengotorkan tempat ini dan akan mengganggu orang-orang hidup yang kebetulan lewat di sini."

Kakak beradik itu sudah melanjutkan penggalian mereka.

Shu Ta merasa kagum bukan main.

Dalam keadaan biasa saja, mana ada dua orang muda bangsawan, putera dan puteri Menteri Besar Bayan, mau menggali lubang kuburan mempergunakan golok saja?

Apa lagi sekarang mereka menggali lubang untuk mengubur mayat dua orang perampok yang tadi menyerang mereka untuk merampok dan membunuh!

Diapun merasa malu kepada diri sendiri, dan tanpa banyak cakap lagi diapun mengambil sebatang golok dan ikut menggali membantu mereka!

Setelah lubang cukup besar dan mereka mengubur dua sosok mayat itu, ketiganya duduk melepas lelah.

Bouw Siocia atau Mimi menghapus keringat di lehernya dengan sehelai sapu tangan yang dibasahi ketika tadi ia dan kakaknya dan Shu Ta mencuci tangan di sumber air yang terdapat tak jauh dari situ.

Ketika tadi ikut menggali lubang, diam-diam Shu Ta berpikir bahwa apa yang diucapkan kakak beradik bangsawan Mongol tadi benar.

Perjuangan mempunyai lapangan yang luas sekali.

Bukan sekadar membenci orang Mongol, bukan sekadar memberontak dengan kasar, atau lebih-lebih lagi bukan dengan cara merampok seperti yang dilakukan para perampok itu.

Dia seorang diri saja, menggunakan tenaga dan kepandaiannya, bagaiman mungkin mampu berjuang, apa lagi kalau perjuangan itu bercita-cita mengusir penjajah dari tanah air?

Menghimpun tenagapun tidak merupakan hal yang mudah.

Setelah bertemu kakak beradik Mongol ini, timbul suatu gagasan yang dianggapnya baik dan merupakan satu cara untuk berjuang yang lebih banyak harapannya untuk berhasil.

Perjuangan yang dilakukan secara halus, yaitu menyusup ke dalam sarang musuh!

Dia dapat mencari kedudukan di pemerintahan Mongol sehingga banyak hal yang menguntungkan para pejuang akan dapat dilakukan.

Kalau dia bisa mendapatkan kedudukan yang baik di pemerintahan Mongol, yang sudah jelas dia dapat mengatur agar rakyat tidak terlalu ditindas oleh peraturan-peraturan yang mencekik dan memeras rakyat.

Selain itu, dia dapat mengetahui keadaan dan kekuatan pemerintah Mongol, dan kelak kalu terjadi penyerbuan para pejuang, dia dapat membantu dari dalam!

Tentu saja keadaan itu jauh lebih baik dari pada ka lau dia berada di luar dan hanya mampu melakukan gangguan-gangguan kecil.

Shu Ta memandang kepada mereka.

Justeru pada saat itu, pemuda dan gadis bangsawan itu sedang memandang kepadanya, sehingga pandang mata mereka saling bertemu.

"Sungguh aku merasa kagum kepada kalian berdua, Bouw Kongcu dan Bouw Siocia. Apa yang kalian lakukan tadi, mengubur dua jenazah itu, membuat aku sadar bahwa kalian, biarpun bangsawan-bangsawan muda Mongol, adalah orang-orang yang berbudi baik!"

"Saudara Shu Ta, sesungguhnya tidak ada yang dinamakan manusia baik atau buruk itu, yang ada hanyalah manusia hamba nafsu dan manusia yang menjadi majikan diri dari nafsunya sendiri. Kami kakak beradik selalu akan berusaha agar tidak menjadi hamba nafsu, sehingga perasaan prikemanusiaan tidak akan luntur dari hati kami. Hanya nafsu yang membeda-bedakan antara agama, agama, bangsawan atau tidak, martabat tinggi atau rendah."

"Ucapan-ucapan Bouw Kongcu seolah keluar dari mulut seorang pendeta saja, dan membuat aku merasa kagum. Sekarang agaknya sikap kalian mendatangkan perubahan dalam pandanganku. Aku tidak lagi berani memandang rendah manusia Mongol atau bangsawan apapun juga, karena pada hakekatnya manusianya sama. Maukan kalian membantuku mencarikan pekerjaan yang sesuai untukku di Nan-king? Tentu kalian mempunyai hubungan yang luas dan sekiranya dapat membantuku mencarikan pekerjaan, aku akan berterima kasih sekali."

Kakak beradik itu saling pandang dan Mimi bertanya sambil mengerutkan alisnya.

"Apa yang kudengar ini, saudara Shu Ta? Engkau yang tadinya membenci Mongol kini malah hendak mengabdikan diri kepada pemerintah Mongol, pemerintah penjajah yang tadinya kau kutuk?"

Wajah Shu Ta menjadi kemerahan tetapi dia mengangkat muka, menatap wajah kakak beradik itu dengan berani.

"Harap kalian tidak salah paham dan mengira bahwa aku tiba-tiba saja menjadi pengkhianat bangsaku. Baru saja aku membunuh dua orang perampok itu karena mereka adalah pengkhianat yang tidak segan merusak dan mencemarkan nama baik para pejuang. Tidak, Siocia, aku sama sekali bukan bermaksud mengkhianati para pejuang demi mencari kedudukan dan harta. Justeru niat ini timbul setelah aku menyadari kebenaran ucapan kalian tadi bahwa perjuangan bukan sekedar membenci pemerintah Mongol. Dengan menduduki jabatan di pemerintah penjajah, sedikit banyak aku akan dapat membantu agar rakyat tidak terlalu ditindas. Kalau dapat, aku ingin memperoleh kedudukan sebagai seorang perwira sehingga aku dapat mengawasi para pasukan Mongol agar tidak sewenang-wenang kepada rakyat jelata, dan akan kupergunakan kekuasaanku untuk menjaga ketenteraman dan membasmi para pengacau yang mengganggu rakyat."

Kakak beradik itu mengangguk-angguk.

"Hemm, keputusanmu ini bijaksana sekali, Saudara Shu Ta. Memang dengan jalan demikian, engkau dapat berbuat lebih banyak untuk rakyat dari pada sekadar membenci penjajah tanpa berbuat sesuatu. Akan tetapi, memasukkan engkau sebagai seorang pejabat pemerintah sama saja dengan memasukkan harimau ke dalam rumah kerajaan Goan (Mongol). Kalau sampai harimau itu membahayakan seisi rumah, bukankah berarti kami berdua yangbertanggungjawab?"

"Terserah penilaian Bouw-kongcu. Aku hanya minta bantuan, tentu saja kalau engkau percaya kepadaku. Aku hanya ingin berbuat sesuatu untuk rakyat. Kalau hanya tenagaku seorang diri saja, aku dapat berbuat apa terhadap kerajaan Goan? Akan tetapi kalau kalian khawatir, akupun tidak akan memaksa."

Kakak beradik itu saling pandang, kemudian Bouw Kongcu berkata.

"Saudara Shu Ta, engkau sudah minta bantuan kepada kami, hal itu saja menunjukkan bahwa engkau percaya kepada kami dan engkau beritikad baik. Kalau sebaliknya kami tidak percaya kepadamu, hal itu sungguh akan membuat kami merasa tidak enak sekali. Baiklah, kami akan mencoba membantumu, mencarikan pekerjaan untukmu. Akan tetapi, karena engkau menghendaki kedudukan sebagai perwira tentu saja kami harus melihat dulu kemampuanmu dalam ilmu silat."

"Maksudmu, Bouw Kongcu?"

"Tentu saja kami hendak mengujimu,"

Kata Bouw Kongcu tenang.

"Baiklah, mudah-mudahan aku tidak akan mengecewakan, karena aku melihat tadi bahwa kalian adalah murid-murid Butong-pai yang amat lihai."

"Bagus, nah, mari kita bertanding pedang sejenak agar aku dapat menilai apakah engkau cukup baik untuk menduduki jabatan perwira di Nan-king."

Berkata demikian, Bouw Kongcu sudah mencabut pedangnya.

Shu Ta juga mencabut pedangnya.

Dia tadi melihat betapa lihainya bangsawan muda ini, maka dia tidak berani memandang rendah dan setelah mencabut pedangnya, diapun sudah memasang kuda-kuda dengan teguh.

Melihat gerakan Shu Ta membuka pasangan kuda-kuda, Bouw Kongcu berseru kagum.

"Ah, kiranya engkau murid Siauw-lim-pai!"

Diam-diam Shu Ta semakin kagum.

Begitu melihat pasangan kuda-kudanya, pemuda Mongol itu mengenal ilmu silatnya.

Inipun membuktikan bahwa Bouw Kongcu telah memiliki pengetahuan yang cukup luas tentang ilmu silat.

"Aku sudah siap, mulailah, kongcu!"

Tantangnya.

Bouw Ku Cin mengeluarkan teriakan nyaring dan diapun sudah menggerakkan pedangnya menusuk dada.

Shu Ta mengelak ke samping sambil menangkis, lalu balas menyerang.

Bouw Kongcu juga dapat menangkis dengan baik dan keduanya segera saling menyerang dengan cepat dan kuat.

Ternyata setelah beberapa kali mengadu pedang, keduanya maklum bahwa dalam hal tenaga, mereka sama kuat.

Akan tetapi Shu Ta memiliki dasar yang lebih kuat dan matang.

Hal ini tidaklah mengherankan.

Shu Ta sejak kecil menjadi murid para pendeta Siauw-lim-pai dalam kuil, biasa hidup kekurangan dan diharuskan memiliki disiplin dan ketekunan yang luar biasa.

Sejak kecil dia tidak pernah berani melalaikan latihat silatnya, maka gerakannya lebih matang.

Berbeda dengan Bouw Kongcu, putera seorang menteri besar, seorang bangsawan yang kaya raya dan sejak kecil biasa dimanja.

Tentu saja seringkali dia malas berlatih dan guru-gurunya sendiri, para jagoan istana tidak ada yang berani bersikap keras kepadanya.

Maka tentu saja latihannya tidak setekun Shu Ta.

Setelah lewat dua puluh lima jurus, mulai nampaklah bahwa Shu Ta lebih tangguh.

Mulailah Bouw Kongcu terdesak oleh pedang Shu Ta yang makin lama makin kuat.

Melihat kakaknya terdesak, Mimi merasa kagum sekali dan timbul kegembiraannya.

Jarang ada pemuda yang mampu menandingi kakaknya dan ia sendiri memiliki kepandaian yang setingkat kakaknya.

Iapun mencabut pedangnya dan berseru gembira.

"Saudara Shu Ta, akupun ingin menguji kepandaianmu, menemani kakakku. Apakah engkau tidak keberatan?"

Mendengar ucapan dengan suara ramah itu, bukan suara orang marah, Shu Ta menjawab.

"Silahkan, nona!"

Mimi menerjang maju dan kini kakak beradik itu mengeroyok Shu Ta.

Setelah dikeroyok dua, terpaksa Shu Ta mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya karena dia mulai merasa betapa beratnya menandingi kakak beradik itu jika mereka maju berdua.

Sekarang, barulah pertandingan berjalan seimbang, namun kalau itu merupakan perkelahian sungguh-sungguh, agaknya Shu Ta tidak akan mampu menang menghadapi pengeroyokan kedua orang bangsawan itu.

Setelah lima puluh jurus lebih, Bouw Kongcu berseru.

"Sudah cukup!"

Dan diapun melompat ke belakang, diikuti adiknya.

Kini kakak beradik itu dengan pedang di tangan, tersenyum memandang kepada Shu Ta penuh kagum, sebaliknya Shu Ta juga merasa kagum kepada mereka dan cepat dia memberi hormat.

"Aku merasa kagum sekali dan mengaku kalah terhadap kalian!"

"Aihh, saudara Shu Ta sungguh merendahkan diri. Kami berdua maju mengeroyokpun tidak mampu mendesakmu!"

Kata Bouw Kongcu.

"Dengan kepandaian seperti yang kaumiliki itu, kami akan berani mintakan pekerjaan untukmu kepada komandan pasukan yang berada di Nan-king."

Mereka lalu berangkat memasuki kota Nan-king yang tidak jauh lagi, dan karena kakak beradik itu hanya memiliki dua ekor kida, maka Shu Ta mempersilahkan mereka untuk pergi lebih dahulu memasuki kota Nan-king.

"Harap kongcu suka lebih dahulu memintakan pekerjaan itu kepada komandan pasukan keamanan di Nan-king, aku akan menyusul belakangan dan kita bertemu nanti di sana."

Kakak beradik itu mengangguk, kemudian mereka menunggang kuda mereka mendahului berangkat ke kota itu.

Shu Ta juga segera menuju ke Nan-king, hatinya penuh kegembiraan dan harapan.

Dia harus dapat melakukan sesuatu untuk perjuangan mengusir penjajah Mongol dari tanah air, pikirnya.

Dan dia akan dapat melakukan hal yang lebih berarti kalau dia menyusup ke dalam, apa lagi kalau dia dapat memperoleh kedudukan dan kekuasaan.

Setelah Shu Ta memasuki kota Nan-king, seregu pasukan yang agaknya sudah menunggu di pintu gerbagn, menghadangnya dan pemimpin regu itu bertanya dengan hormat apakah dia yang bernama Shu Ta.

Tadinya, Shu Ta terkejut san meragu, takut kalau-kalau pasukan Mongol itu hendak menangkapnya.

Akan tetapi melihat sikap mereka yang hormat dan lembut, diapun bertanya kembali.

"Apakah maksud kalian menanyakan namaku?"

Komandan regu itu tersenyum.

"Kami diperintah oleh Bouw Kongcu untuk menjemput si-cu (orang gagah) di sini dan mengantar si-cu ke benteng di mana Bouw Kongcu dan Bouw Siocia telah menanti bersama komandan kami."

Shu Ta merasa girang dan diapun segera mengikuti regu itu menuju ke markas besar atau perbentengan pasukan keamanan yang bertugas di Nan-king.

Dan di kantor tempat markas itu, Bouw Kongcu dan Bouw Siocia telah menantinya, dan di situ terdapat pula dua orang panglima.

Yang menjadi panglima di benteng itu bernama Yatucin, akan tetapi dia mempergunakan nama pribumi menjadi Yauw Tu Cin atau lebih terkenal disebut Yauw-Ciangkun (Panglima Yauw).

Dia seorang Mongol asli, mukanya persegi penuh kejantanan, dengan brewok tebal dan matanya bersinar-sinar, hidungnyaa dan mulutnya besar dan bibirnya tebal.

Tubuhnya tinggi agak kurus, namun penuh dengan otot melingkar-lingkar, nampak kokoh kuat.

"Inilah saudara Shu Ta yang kami ceritakan tadi, Ciangkun,"

Kata Bouw Kongcu, lalu dia memperkenalkan dua orang panglima itu kepada Shu Ta.

"Saudara Shu Ta, Yauw-Ciangkun ini adalah panglima yang menjadi komandan benteng di Nan-king ini, dan yang ini adalah saudara misan kami, juga seorang panglima yang menjadi komandan di kota Wu-han dan sekarang sedang datang berkunjung ke sini, dia adalah Panglima Khabuli."

Shu Ta memberi hormat kepada dua orang panglima itu.

Orang yang diperkenalkan sebagai Yauw-Ciangkun yang menjadi komandan pasukan di Nan-king itu memang pantas menjadi seorang panglima, berwibawa dan pembawaannya memang sebagai seorang militer yang kokoh dan gagah perkasa, berusia kurang lebih lima puluh tahun.

Diam-diam Shu Ta kagum kepada panglima ini.

Seorang seperti ini, berbangsa apapun juga, tentu memiliki watak yang keras, kasar dan jujur, tegas dan pemberani.

Ketika dia memberi hormat dan memandang kepada panglima kedua yang diperkenalkan sebagai saudara misan dari kakak beradik itu, Shu Ta segera merasa kurang suka kepada panglima ini.

Panglima Khabuli berusia empat puluhan tahun, bertubuh tinggi besar seperti raksasa dengan kulit hitam tebal.

Dia memang nampak gagah dan menyeramkan, akan tetapi pembawaannya menunjukkan bahwa dia seorang tinggi hati, angkuh dan membanggakan kedudukan dan kekuasaannya.

Juga matanya yang sipit itu ketika memandang kepada Bouw Siocia, bersinar dan mulutnya tersenyum menyeringai ceriwis, membayangkan bahwa dia seorang laki-laki yang mata keranjang, juga sambaran kerling matanya membayangkan kelicikan.

Kalau Yauw-Ciangkun mengamati Shu Ta dengan penuh selidik, diam-diam merasa heran bahwa orang yang dipuji setinggi langit oleh kakak beradik itu, ternyata hanya seorang pemuda sederhana saja, dengan pakaian sederhana mendekati kasar, tubuhnya juga sedang saja, wajahnya tampan dan mulai tumbuh brewok di dagu dan pipinya, sebaliknya, Panglima Khabuli tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha, adik-adikku yang baik, bagaimana seorang pemuda dusun macam ini kalian usulkan agar menjadi seorang perwira? Ha-ha, jangan-jangan kalau dia melihat pertempuran, mukanya berubah pucat dan dia akan lari tunggang-langgang!"

Khabuli tertawa-tawa dan pandang matanya mengejek dan merendahkan sekali.

Dia bersikap berani karena Bouw Kongcu dan Bouw Siocia adalah adik-adik misannya.

Dia sendiri adalah keponakan Menteri Bayan, maka hubungan keluarga ini membuat dia berani bersikap kasar terhadap kakak beradik itu, berbeda dengan Yauw-Ciangkun yang bersikap hormat, bukan saja mengingat bahwa mereka ini putera puteri menteri yang paling berkuasa sesudah kaisar, juga karena dia tahu bahwa kakak beradik ini memiliki kepandaian yang cukup tinggi, tidak banyak selisihnya dengan tingkat kepandaiannya sendiri.

"Panglima Khabuli, harap jangan menertawakan!"

Tegur Yauw-Ciangkun.

"Bukankah Bouw Kongcu dan Bouw Siocia sendiri yang telah menguji kepandaian saudara Shu Ta ini?"

"Ha-ha-ha-ha!"

Kembali Khabuli tertawa bergelak.

Sebetulnya, dalam hal kedudukan atau pangkat, dia masih kalah tinggi dibandingkan Yauw-Ciangkun.

Akan tetapi karena mengandalkan pengaruh pamannya, yaitu Menteri Bayan, sudah terbiasa baginya untuk mengangkat diri sendiri dan bersikap angkuh.

Dan para panglima yang biarpun memiliki kedudukan lebih tinggi darinya seperti Yauw-Ciangkun, terpaksa mengalah, mengingat akan Menteri Bayan.

"Yauw-Ciangkun, apakah engkau mempercayai ujian yang diberikan kedua orang adikku itu? Ha ha, mereka masih amat muda, bagaimana mungkin akan mampu menilai tingkat kepandaian seseorang?"

Melihat sikap kakak misan itu, apa lagi sejak tadi pandang mata Khabuli seperti menggerayangi seluruh tubuhnya, Bouw Siocia sudah menjadi marah sekali.

"Kakak Khabuli, engkau terlalu memandang rendah orang!"

Bentaknya.

"Sekarang begini saja, Yauw-Ciangkun. Biar kakak Khabuli yang sombong itu menguji sendiri kepandaian Shu Ta! Kalau dia kalah, dia harus minta maaf kepada saudara Shu Ta! Tentu saja kalau dia berani, atau mungkin dia hanya pandai menghamburkan suara yang tidak ada gunanya saja!"

Wajah yang kulitnya hitam dari muka Khabuli, menjadi semakin hitam, dan sepasang matanya mengeluarkan sinar berkilat.

"Bagus! Dan bagaimana kalau pemuda dusun ini kalah olehku, Mimi yang manis? Mau engkau berjanji bahwa kalau dia kalah olehku, engkau harus menjamu makan minum padaku sampai mabok?"

Ucapan ini mengandung kekurang ajaran, karena menjamu makan minum sampai mabok merupakan hal yang sma sekali tidak mungkin, mengingat bahwa Mimi adalah seorang gadis.

Walaupun masih adik misannya sendiri.

Akan tetapi ia sudah tahu akan tingkat kepandaian Khabuli yang tidak berselisih banyak dengan tingkatnya sendiri, maka tentu saja ia merasa yakin bahwa Shu Ta pasti akan mampu mengalahkannya.

"Baik! Kita bertaruh. Kalau kau menang, akan kujamu makan minum, sebaliknya kalau kau kalah, jangan melanggar janji, engkau harus minta maaf kepada saudara Shu Ta karena kau telah memandang rendah kepadanya!"

Kata Mimi. Bouw Kongcu sebaliknya merasa tidak enak. Diapun tahu bahwa kakak misannya yang sombong itu pasti tidak akan menang melawan Shu Ta, maka diapun mendekat dan berkata.

"Kakak Khabuli, harap jangan lanjutkan adu kepandaian ini, karena aku yakin bahwa engkau tidak akan menang. Sudahlah, kita serahkan saja kebijaksanaan untuk menerima dan memberi pekerjaan kepada saudara Shu Ta ini kepada Yauw-Ciangkun saja."

Akan tetapi, ucapan Bouw Kongcu yang sebetulnya menyayangkan kalau sampai kakak misannya itu nanti kalah dan mendapat malu, bahkan membuat Khabuli semakin penasaran dan marah, menganggap bahwa adik misannya itu terlalu memandang rendah kepadanya.

"Adik Bouw Ku Cin, tanpa diuji, bagaimana kita dapat membuktikan kemampuan orang ini? Aku juga seorang panglima, sudah menjadi kewajibanku untuk ikut menguji agar pasukan kita tidak kemasukan orang yang tidak becus, agar Yauw-Ciangkun tidak menerima seseorang hanya karena orang itu kau usulkan untuk diterima. Nah, Shu Ta, majulah dan ingin kulihat kemampuanmu!"

Tentu saja Shu Ta merasa tidak enak sekali.

Orang ini masih kakak misan dari kakak beradik Bouw, dan seorang panglima.

Karena dia akan bekerja di bawah perintah Yauw-Ciangkun, maka tidak akan baik kalau dia melayani Khabuli ini tanpa persetujuan dari Yauw-Ciangkun, calon atasannya.

Maka, diapun menghadapi Yauw-Ciangkun dan berkata dengan sikap tenang.

"Saya mohon petunjuk Ciangkun, apa yang harus saya lakukan."

Yauw-Ciangkun mengangguk-angguk.

Dia sendiripun kurang senang kepada Khabuli yang biasa mempunyai watak angkuh itu.

Sekarang, kakak beradik Bouw sendiri yang mengusulkan agar Khabuli menguji kepandaian Shu Ta ini.

Dia percaya bahwa kakak beradik itu tidak akan sembarangan menyuruh orang yang mereka calonkan itu menandingi Khabuli kalau mereka tidak yakin akan kemampuan Shu Ta.

Maka, diapun mengangguk.

"Sebagai seorang calon perwira, engkau harus dapat membuktikan bahwa engkau memiliki ilmu kepandaian yang cukup tangguh, oleh karena itu, setelah kini Khabuli-Ciangkun hendak mengujimu, tandingilah dia, saudara Shu Ta."

Ruangan itu memang cukup luas dan dengan sikap tenang, setelah mendapatkan persetujuan Yauw-Ciangkun, Shu Ta lalu melangkah maju menghampiri Khabuli yang sudah berdiri di tengah ruangan dengan sikap bengis.

Pria itu memang menyeramkan, tinggi besar hitam dan nampak kokoh kuat seperti sebongkah batu karang, namun, Shu Ta melihat titik kelemahan, yaitu pada pandang matanya.

Pandang mata Khabuli jelas memperlihatkan ketinggian hati.

Orang seperti ini akan memandang rendah lawan dan itulah kelemahannya, karena sikap memandang rendah lawan menimbulkan kelengahan.

Kakak beradik Bouw tentu saja sudah yakin akan kemampuan Shu Ta, akan tetapi Yauw-Ciangkun memandang dengan khawatir.

Ketika dua orang yang akan bertanding itu berdiri saling berhadapan, memang nampak jelas sekali perbedaannya, yaitu dalam penampilannya, Shu Ta kalah segala-galanya.

Kalah tinggi besar, kalah kokoh dan agaknya sekali gebrakan saja pemuda sederhana itu akan roboh!

"Ciangkun, aku sudah siap,"

Kata Shu Ta.

Sebelum kalimat ini habis diucapkan, Khabuli sudah mengeluarkan bentakan nyaring dan tubuhnya yang tinggi besar itu sudah menerjang ke depan.

Karena diapun dapat menduga bahwa orang sederhana ini tentu memiliki sedikit kepandaian maka diusulkan menjadi perwira oleh kakak beradik Bouw, biarpun dia memandang rendah, namun begitu menyerang dia sudah mengerahkan tenaganya sehingga terjangannya itu cepat dan kuat bukan main.

Khabuli adalah seorang jagoan yang selain mempelajari ilmu silat, juga dia ahli ilmu gulat yang menjadi kebanggaan bangsa Mongol.

Karena itu, terjangannya itu selain mengandung pukulan kedua tangan yang dahsyat, juga jari-jari tangannya siap untuk menangkap anggota tubuh lawan.

Sekali bagian tubuh lawan dapat dicengkeram jari-jari tangan yang hitam panjang itu, akan celakalah lawan!

Namun, Shu Ta yang sudah waspada dan tidak pernah memandang rendah lawan, menghadapi terjangan itu dengan gerakan lincah mengelak ke kanan sehingga tubuh tinggi besar itu bagaikan seekor gajah menyuruk ke depan.

Shu Ta menggerakkan kakinya menendang ke arah tepi lutut kiri lawan, namun dalam keadaan tersaruk ke depan itu, Khabuli masih dapat mengangkat kaki mengelak dari tendangan.

Dia membalik dan menyerang lagi dengan lebih ganas dari pada tadi.

Serangannya bertubi-tubi, dan dia sama sekali tidak memberi kesempatan kepada Shu Ta untuk membalas.

Dia menampar dari samping, menonjok dari depan, mencengkeram dari atas, dan kedua kakinya yang panjang dan besar itupun tidak tinggal diam, melengkapi hujan serangannya dengan tendangan-tendangan!

Agaknya, Khabuli bernapsu besar untuk merobohkan lawan, maka dia sudah mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk menghujankan serangan.

Kakak beradik Bouw yang melihat kegarangan Khabuli ini, mau tidak mau merasa khawatir pula, apa lagi Yauw-Ciangkun yang maklum betapa besar bahayanya melawan seorang yang kokoh kuat seperti Khabuli.

Namun, Shu Ta masih bersikap tenang saja walaupun dia dihujani serangan.

Dengan elakan-elakan cepat, mempergunakan keringanan tubuhnya, juga kadang dia menangkis dari samping, dia dapat menghalau semua terjangan yang ganas itum dan sengaja dia mengeluarkan suara seperti orang menertawakan lawan.

Hal ini membuat Khabuli menjadi semakin marah dan penasaran.

Dia menyerang terus, terpancing kemarahannya dan tanpa memperhitungkan apa-apa lagi, diapun mengerahkan seluruh tenaga dan menyerang bertubi-tubi.

Pengerahan tenaga yang terus menerus ini, membuat dia sebentar saja, setelah lewat dua puluh lima jurus, menjadi terengah-engah dan tubuhnya sudah mandi keringat.

Namun, panglima raksasa ini memang seorang yang terlalu tinggi hati.

Dia tidak dapat melihat betapa lawannya amat lincah dan memiliki gerakan yang amat cepat, melainkan dia menganggap bahwa lawan yang sama sekali belum membalasnya itu terdesak dan gentar terhadap serangan-serangannya yang bertubi-tubi.

Setelah melihat lawan terengah-engah dan sambaran pukulan dan cengkeraman tangannya tidaklah seganas tadi, tanda bahwa tenaga lawan mulai berkurang, barulah Shu Ta mengirim serangan balasan.

Ketika melihat lengan kanan lawan yang besar panjang itu menyambar lewat, secepat kilat dia menggunakan jari-jari tangan terbuka menghantam dari samping ke arah belakang siku lawan.

"Dukk...!!"

Tangannya tepat sekali mengenai otot yang berada di dekat siku dan seketika lengan kanan Khabuli tergetar hebat dan seperti lumpuh.

Pada saat itu, kaki Shu Ta juga menyambar dan mengenai belakang lutut kiri lawan.

"Dukkk...!!"

Kembali Khabuli merasa betapa kakinya tergetar dan lumpuh, dan tak dapat pula dia menahan dirinya untuk jatuh berlutut dengan sebelah kakinya!

Kalau Shu Ta menghendaki, tentu dia dapat mengirim serangan susulan pada saat lawan berlutut itu.

Akan tetapi dia tidak melakukan hal itu, hanya menanti dengan berdiri tegak.

Terdengar tepuk tangan.

Yang bertepuk tangan adalah Mimi karena gadis ini merasa girang sekali melihat jagoannya menang.

"Kakak Khabuli, engkau sudah kalah!"teriaknya. Akan tetapi Khabuli yang merasa penasaran dan marah, tidak percaya bahwa dia dapat dibuat jatuh berlutut oleh lawan, menggunakan kesempatan itu untuk melompat dan sekali terkam, kedua lengannya yang panjang itu telah berhasil menerkam tubuh Shu Ta. Mimi mengeluarkan seruan kaget, juga Bouw Kongcu terbelalak, maklum betapa bahayanya kalau orang sudah dapat diterkam oleh Khabuli seperti itu. Jari-jari tangan yang terlatih dengan ilmu gulat itu tentu akan dapat mematahkan tulang, mencekik dan mengunci, membuat lawan tidak mampu melepaskan diri lagi. Khabuli mengeluarkan gerengan seperti seekor beruang yang berhasil menangkap mangsanya. Agaknya, rasa malu karena tadi dijatuhkan, membuat panglima raksasa ini lupa bahwa dia sedang menguji kepandaian seorang calon, bukan sedang berkelahi melawan musuh! Dia sudah mengerahkan tenaga dan siap mematahkan lengan atau tulang punggung lawan. Akan tetapi, sesungguhnya, Shu Ta bukan dapat diterkam karena lengah. Dia memang sengaja membiarkan dirinya diterkam untuk cepat menyudahi pertandingan itu. Maka, begitu kedua pundaknya dapat diterkamm sebelum lawan mampu mengerahkan tenaganya, secepat kilat kedua tangannya sudah melakukan totokan-totokan.

"Tuk! Tuk!"

Dua kali jari tangannya menotok dan seketika tubuh Khabuli menjadi lemas.

Walaupun kedua lengan Khabuli masih merangkul dan menerkamnya, namun sesungguhnya, raksasa itu sudah kehilangan tenaga karena berada dalam keadaan tertotok!

Shu Ta tidak ingin membikin malu lawan, maka diapun mengerahkan tenaga dan memanggul tubuh yang masih menerkamnya itu, membawanya ke meja dan mendudukkan tubuh Khabuli ke atas kursinya, kemudian, secepat kilat dia menggerakkan tangan memulihkan totokan lalu mundur, mendekati kursinya sendiri!

Bouw Kongcu dan Bouw Siocia bertepuk tangan dengan gembira.

"Kakak Khabuli, engkau sudah kalah, hayo cepat minta maaf kepada saudara Shu Ta!"

Kata Bouw Kongcu.

Sekali ini, Khabuli tidak dapat lagi menyangkal kekalahannya.

Dia maklum bahwa pemuda sederhana itu benar-benar amat lihai.

Juga dia tahu bahwa Shu Ta sengaja tidak ingin merobohkannya dan membikin malu, maka diapun tidak dapat berkata apa-apa lagi.

Wajahnya yang hitam menjadi semakin hitam.

"Kakak Khabuli, hayo kau mengaku kalah!"

Kata pula Mimi dengan gembira.

"Bouw Kongcu dan Bouw Siocia, sudahlah, sesungguhnya, Khabuli-Ciangkun telah bersikap mengalah. Dia memang hebat, memiliki tenaga yang kuat dan ilmu silat serta ilmu gulatnya lihat sekali,"

Kata Shu Ta yang tidak ingin menanam permusuhan dalam penyusupannya di pasukan Mongol.

"Saudara Shu Ta, melihat ilmu kepandaianmu, kami merasa gembira menerimamu sebagai seorang perwira dalam pasukan kami. Engkau kami beri tugas untuk mengajarkan ilmu silat kepada para perwira rendahan agar tingkat mereka bertambah."

Khabuli yang merasa malu dan juga tidak enak untuk terus berada di siu, bangkit berdiri.

"Ilmu totok dari saudara Shu Ta memang sungguh lihai sekali sehingga aku dapat dibuat tidak berdaya. Yauw-Ciangkun, aku masih mempunyai kepentingan lain di kota. Aku pergi dulu!"

Tanpa menanti jawaban, Khabuli sudah melangkah keluar dari ruangan itu dengan tergesa-gesa.

Demikianlah, mulai hari itu, Shu Ta diterima sebagai seorang perwira baru, dan dia mendapat tugas untuk melatih ilmu silat kepada para perwira lain.

Dia bekerja dengan baik, dan atas desakan kedua putera puteri Menteri Bayan itu, sebentar saja dia sudah mendapatkan kepercayaan dan kenaikan pangkat sehingga dia dipercaya untuk memimpin seregu pasukan.

Shu Ta memang cerdik sekali.

Setiap kali menerima tugas, selalu dia laksanakan dengan baik.

Kalau pasukannya menerima tugas untuk menjaga keamanan, dia bersungguh-sungguh menumpas gerombolan penjahat sehingga setelah dia menjadi perwira keamanan, daerah Nan-king menjadi aman.

Dan kalau dia menerima tugas untuk membasmi kelompok pemberontak, dia selalu berhasil memberi kabar kepada kelompok itu, sehingga pada saat dia dan pasukannya tiba, maka para pemberontak itu sudah kabur sehingga tidak terjadi pembasmian atau penangkapan.

Seperti yang telah dia perhitungkan dan harapkan ketika timbul pikirannya untuk menyusup menjadi seorang perwira kerajaan Mongol, Shu Ta dapat mulai mengumpulkan keterangan tentang keadaan kerajaan Mongol, tentang kekuatannya, dan tentang kemunduran-kemunduran yang sedang terjadi karena kaisarnya, yaitu Kaisar Togan Timur (1333-1368), bukan merupakan seorang kaisar yang bijaksana dan pandai seperti nenek moyangnya.

Seluruh kekuasaan dikendalikan oleh para menteri, terutama Menteri Bayan, dan para thai-kam (orang kebiri), yaitu mereka yang mempengaruhi kaisar dari sebelah dalam istana.

Korupsi merajalela, pemerintahan lemah sekali dan pengendalian atau pengontrolan terhadap para pejabat di daerah hampir tidak ada lagi.

Para pejabat di daerah dapat bertindak sesuka hati sendiri, dan kalaupun ada pemeriksa datang dari kota raja, pemeriksa itu tentu melaporkan yang baik-baik saja ke pusat karena dia sudah menerima suapan dari para pejabat daerah.

Dalam keadaan pemerintah lemah seperti itu, di daerah selalu timbul pergolakan, gerombolan-gerombolan pemberontak bermunculan, gerombolan-gerombolan penjahat juga saling memperebutkan kekuasaan.

Makin nampaklah oleh Shu Ta bahwa saatnya hampir masak untuk mengadakan pemberontakan besar-besaran yang pasti akan mampu menggulingkan pemerintah yang sedang dalam keadaan lemah itu.

Apa lagi pemerintahan penjajah yang memiliki pamong praja yang korup itu amat dibenci rakyat, karena para pejabat itu melakukan penekanan, penindasan dan penghisapan.

Pemerintah yang para pejabatnya korup, mementingkan kesenangan sendiri, di mana terjadi perebutan kekuasaan, pemerintah yang tidak disuka oleh rakyat jelata, condong untuk mudah berantakan dan roboh.

Hanya pemerintah yang dipimpin oleh mereka yang benar-benar mencinta negara dan bangsa, mereka yang adil dan jujur, tidak korup, yang memiliki pasukan yang kokoh kuat dan taat serta setia, yang didukung oleh rakyat jelata, pemerintah seperti itu yang akan berhasil memajukan kehidupan rakyat dan memperkuat negara ddan pemerintahannya.

Hubungan Shu Ta yang kini disebut Shu-Ciangkun (Panglima Shu) dan kakak beradik Bouw semakin baik dan biarpun mereka tinggal saling berpisah jauh, karena kakak beradik itu tinggal di Peking, namun mereka sering saling memberi kabar dan setiap kali ada kesempatan, mereka saling bertemu, terutama kalau kakak beradik itu pergi ke Nan-king.

Kita tinggalkan dulu Shu Ta yang kini telah menjadi seorang panglima muda yang dipercaya di Nan-king, yang mendiami sebuah gedung dan memiliki belasan orang pengawal dan pelayan walaupun dia masih hidup membujang.

Shu Ta sama sekali tidak tahu bahwa beberapa bulan kemudian setelah dia menjadi panglima di Nan-king, terjadi kegemparan dengan adanya berita tentang seorang pemberontak yang telah melakukan pembunuhan terhadap seorang perwira yang bertugas di Wu-han, bahkan gambarnya dipasang di mana-mana agar orang-orang mengetahui dan membantu pemerintah menangkap pembunuh itu.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia mengenal gambar itu sebagai suhengnya, Cu Goan Ciang!

Akan tetapi tentu saja dia pura-pura tidak tahu, hanya memesan kepada semua anak buahnya bahwa kalau mereka sampai dapat bertemu dengan "pembunuh"

Itu, agar jangan dibunuh akan tetapi ditangkap dan dibawa menghadap kepadanya.

Orang itu amat penting, harus ditangkap dan dibawa membuka rahasia para pemberontak, demikian katanya, maka tidak boleh dibunuh dan dihadapkan kepadanya hidup-hidup.

Tentu saja perintah ini dikeluarkan untuk melindungi Goan Ciang agar jangan sampai terbunuh.

Pada suatu pagi, seorang pemuda dusun yang nampak bodoh dan lugu, memasuki pintu gerbang kota Nan-king bersama seorang pemuda lain yang agak jangkung, juga seorang dusun yang kelihatan bodoh dan bermata sipit, jenggot dan kumisnya kacau tak terpelihara.

Tidak ada seorangpun yang akan mengenal mereka, karena wajah dan keadaan mereka sudah berubah sama sekali dari keadaan asli mereka.

Mereka adalah Cu Goan Ciang dan Tang Hui Yen yang melakukan penyamaran sebagai dua orang dusun yang bodoh dan sederhana seklai.

Siapa akan mengira bahwa pemuda jangkung yang mukanya buruk dan licik, juga nampak amat bodoh itu, adalah Cu Goan Ciang yang baru saja menggegerkan Wu-han karena dia telah membunuh seorang perwira tinggi dan beberapa orang prajurit?

Wajah aslinya tampan dan gagah, akan tetapi sekarang dia kelihatan seperti seorang pemuda dusun yang bodoh.

Adapun pemuda ke dua yang nampak muda dan juga bodoh itu, lebih mengagumkan lagi kalau orang melihat wajah aslinya.

Ia adalah seorang gadis yang cantik jelita, lincah jenakan, bahkan ia adalah wakil ketua umum dari Hwa I Kaipang yang terkenal!

Adapun Cu Goan Ciang diangkat menjadi pembantunya.

Dua orang pimpinan Hwa I Kaipang ini sengaja menyamar dan memasuki Nan-king untuk menyelidiki tentang Hek I Kaipang yang kini agaknya diperalat oleh pemerintah Mongol, menjadi antek Mongol.

Mereka ingin menyelidiki sampai berapa jauh hubungan atau persekongkolan antara Hek I Kaipang dengan para pembesar Mongol sehingga perkumpulan pengemis itu tega untuk mengkhiananti golongan sendiri, membantu para prajurit untuk menyerang Hwa I Kaipang.

Tidak sukar bagi kedua orang itu untuk membaur dengan banyak orang yang keadaannya mirip mereka.

Di kota Nan-king memang setiap hari berdatangan penduduk dusun untuk menjual hasil sawah ladang mereka.

Ratusan orang banyaknya, datang dari berbagai dusun di sekitar Nan-king.

Para penghuni dusun ini seperti keadaan mereka berabad-abad yang lalu, masih sama saja.

Rajin bekerja, sederhana, kurang akal sehingga hasil merekapun amat sederhana, namun agaknya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka yang sederhana pula.

Setiap hari atau beberapa hari sekali, setelah memetik hasil ladang mereka, para petani ini berangkat dari dusun pada pagi hari sekali, bahkan yang jaraknya agak jauh berangkat malam-malam, membawa obor di tangan, memikul barang dagangan berupa sayur mayur, buah-buahan dan sebagainya, untuk dibawa ke kota Nan-king dan tidak kesiangan tiba di pasar, di mana banyak orang berbelanja.

Setelah dagangan mereka habis, biasanya mendapatkan uang tidak berapa banyak untuk ukuran orang kota, mereka menghabiskan pula uang itu untuk berbelanja bermacam keperluan, baju baru, sepatu atau makanan yang tidak terdapat di dusun untuk anak mereka.

Mereka tidak tahu betapa hasil ladang mereka yang didapat dengan cucuran keringat ketika menanam, merawat, kemudian memtik dan memikulnya ke pasar, diharbai semurah-murahnya oleh orang kota, tidak tahu pula bahwa barang-barang yang mereka beli dari orang kota, dihargai amat mahal.

Orang bodoh selalu menjadi makanan orang pintar, pada hal, sepantasnya orang pintar menjadi guru orang bodoh, orang kaya menjadi penderma orang miskin, orang kuat menjadi pelindung orang lemah dan selanjutnya.

Sayang keadaan di dunia tidaklah demikian adanya.

Yang kuat menindas yang lemah, yang pintar menipu yang bodoh, yang kaya merendahkan yang miskin.

Cu Goan Ciang yang menggunakan nama baru Hung Wu bersama Tang Hui Yen yang memakai nama Siauw Yen, memasuki pasar di mana terdapat banyak orang dusun.

Mereka tadi telah membeli lima buah kue bakpouw untuk sarapan pagi.

Mereka, seperti orang-orang dusun itu, tidak malu untuk makan bakpouw di tepi jalan, mendorong makanan itu ke dalam perut dengan air teh yang mereka bawa sebagai bekal, seperti kebiasaan orang-orang dusun pula.

Hung Wu menghabiskan tiga buah bakpouw, masih menerima sepotong pula dari Siauw Yen karena gadis yang kini menjadi pemuda remaja itu hanya mampu menghabiskan satu setengah saja.

Mereka kini sengaja menghampiri sekelompok pengemis yang berkeliaran di dalam pasar, minta sedekah.

Mereka melihat bermacam pengemis, dari yang tua sampai yang muda dan kanak-kanak, akan tetapi mereka itu adalah pengemis biasa, yaitu mereka yang hidupnya terlantar dan tidak termasuk pengemis yang berorganisasi.

Tidak nampak seorangpun pengemis yang berpakaian hitam-hitam, yaitu anggota Hek I Kaipang (Perkumpulan Pengemis Baju Hitam).

Diam-diam mereka berdua merasa heran.

Mereka tahu bahwa Hek I Kaipang berpusat di Nan-king, dan merupakan perkumpulan pengemis yang berkuasa di Nan-king.

Akan tetapi kenapa di kota Nan-king sendiri tidak nampak seorangpun pengemis anggota Hek I Kaipang?

Tiba-tiba Siauw Yen menyentuh tangan Hung Wu dan berbisik.

"Hung-twako, kita ikuti dua orang anak itu."

Hung Wu memandang dan melihat dua orang anak jembel yang tadinya dia lihat menghitung-hitung uang receh berkeping-keping kini berjalan keluar melalui pintu belakang pasar.

Dia tidak tahu mengapa Siauw Yen mengajak dia mengikuti dua orang anak itu, akan tetapi dia tidak membantah dan dengan langkah santai agar tidak kentara mereka mengikuti dua orang anak-anak yang keluar dari dalam pasar melalui pintu belakang.

Dua orang anak laki-laki berusia antara dua belas sampai lima belas tahun itu keluar dari pintu menuju ke sebuah jembatan.

Di tebing dekat jembatan, bagian bawahnya, nampak seorang laki-laki setengah tua sedang duduk dan kini Hung Wu dan Siauw Yen memandang penuh perhatian karena laki-laki itu adalah seorang anggota Hek I Kaipang!

Dua orang anak laki-laki itu menghampiri pengemis baju hitam yang menyambut mereka dengan mata melotot dan sikap bengis.

"Paman, kalau boleh, hari ini setoranku kukurangi tiga keping, besok akan kutambahkan tiga keping. Adikku sakit dan aku ingin membelikan buah yang segar untuknya,"

Kata anak yang lebih kecil dengan suara memohon. Sedangkan anak yang lain sudah menyerahkan uang yang dihitung oleh pengemis itu, jumlahnya sepuluh keping.

"Apa?"

Si pengemis melotot dan membentak.

"Kalau ingin mendapatkan penghasilan lebih, bekerjalah lebih giat! Tidak boleh potong, kalau setoranmu kurang, jari tanganmu yang akan kupotong!"

Anak itu menjadi ketakutan dan biarpun dia cemberut, dia menyerahkan semua uangnya yang jumlahnya juga hanya sepuluh keping.

Setelah pengemis itu menerima uang mereka, kedua orang anak jembel itu pergi.

Kemudian berdatangan para pengemis yang tadi dilihat oleh Hung Wu dan Siauw Yen di pasar, dan mereka semua menyetorkan uang kepada anggota Hek I Kaipang itu.

Hung Wu dan Siauw Yen saling pandang.

Tanpa bicarapun mereka mengerti sekarang mengapa mereka tidak melihat seorangpum anggota Hek I Kaipang mengemis di kota Nan-king.

Kiranya mereka itu sekarang bukan lagi mengemis sendiri melainkan menjadi pemeras para pengemis.

Para pengemis yang melakukan pekerjaan mengemis, dan hasil pekerjaan itu harus disetorkan kepada mereka sebagai semacam "pajak"!

Dan orang-orang Hek I Kaipang pasti tidak akan berani melakukan pemerasan seperti itu kalau tidak mendapat restu dari penguasa setempat.

Agaknya inilah imbalan Hek I Kaipang membantu pasukan pemerintah untuk memusuhi golongannya sendiri.

Mereka mendapatkan kekuasaan tertentu, di antaranya memungut pajak dari para pengemis lain yang bukan anggota Hek I Kaipang.

Hung Wu dan Siauw Yen lalu meninggalkan jembatan itu dan sehari mereka berkeliaran di kota dan melakukan penyelidikan.

Akhirnya, mereka mengetahui bahwa benar seperti yang mereka duga, Hek I Kaipang kini benar-benar telah merupakan sebuah perkumpulan yang menjadi antek pemerintah Mongol, telah rela menjual golongan sendiri, bangsa sendiri, demi kemakmuran yang mereka peroleh dari pejabat setempat.

Hek I Kaipang yang telah bersekongkol dan menjadi antek Mongol, dan untuk balas jasa, para pejabat tinggi memberi hak kepada mereka untuk memungut pajak para pengemis lain, dan menguasai pula tempat-tempat hiburan, seperti rumah-rumah pelesir, rumah-rumah judi dan lain-lain.

Di tempat-tempat hiburan ini, merekapun memungut pajak besar dan tidak ada pengusaha rumah pelesir atau rumah judi yang berani menentang mereka karena di belakang para pengemis ini berdiri pembesar setempat.

Tentu saja, Hek I Kaipang memperoleh penghasilan besar, pemasukan uang secara mudah sekali.

Lewat tengah hari, Hung Wu dan Siauw Yen mengaso di sebuah taman di kota, duduk di bangku.

Mereka merasa lelah, juga marah, melihat betapa perkumpulan pengemis Hek I Kaipang kini jelas menjadi antek pemerintah dan kini mereka tahu mengapa Hek I Kaipang menyerang Pek Mau Lokai.

"Sungguh aneh,"

Kata Siauw Yen.

"Dahulu Hek I Kaipang merupakan rekan dari Hwa I Kaipang, bahkan para pimpinan Hek I Kaipang adalah sahabat-sahabat baik kakekku. Apa lagi setelah ketua Hek I Kaipang yang baru adalah murid keponakan kakek sendiri, hubungan di antara kedua perkumpulan amat baik, bahkan bekerja sama dalam menentang pemerintah penjajah Mongol. Akan tetapi, sejak Coa Kun itu menjadi ketuanya, terjadi perubahan. Dan sekarang, kita melihat sendiri betapa Hek I Kaipang benar-benar menjadi antek dan bahkan mendapatkan kekuasaan di Nan-king. Hal ini berbahaya sekali."

"Kurasa, jalan satu-satunya untuk melemahkan penjajah adalah menguasai Hek I Kaipang. Kurasa, para anggota Hek I Kaipang hanya terbawa oleh ketuanya, kalau kita mampu mengambil alih kepemimpinan atas para anggota Hek I Kaipang, kita dapat mengubah kemudi dan mengarahkan Hek I Kaipang kepada perjuangan."

Mendengar usul Hung Wu atau Cu Goan Ciang itu, Siauw Yen mengangguk-angguk dan berkata.

"Memang benar. Kakek pernah mengatakan pendapat seperti itu. Akan tetapi, bagaimana kita mampu mempengaruhi mereka atau mengambil alih kekuasaan? Dengan kekerasan, tentu akan terjadi pertempuran antara kedua kaipang, dan mengingat bahwa pasukan pemerintah tentu akan membantu Hek I Kaipang, sukar sekali bagi kita untuk mendapatkan kemenangan."

"Tentu saja tidak dengan kekerasan, karena maksud kita bukan membasmi perkumpulan itu dan memusuhi anggotanya, melainkan menundukkan para pimpinannya agar kita dapat mengembalikan Hek I Kaipang ke jalan perjuangan."

"Akan tetapi bagaimana caranya, toako? Hek I Kaipang memiliki pemimpin-pemimpin yang lihai. Ketuanya, Coa Kun itu lihai sekali terutama puterinya yang bernama Coa Leng Si, biarpun usianya baru delapan belas tahun, akan tetapi ia memiliki kepandaian yang melebihi ayahnya! Aku sendiri bahkan pernah bertanding dengannya dalam sebuah bentrokan baru-baru ini, dan harus kuakui bahwa ia amat lihai dan kalau dilanjutkan tentu aku akan roboh olehnya."

"Hemm, begitu hebatkah ia?"

"Masih ada para pembantu pimpinan yang juga lihai dan jangan dilupakan, setelah kini mereka membantu pemerintah, tentu mereka dekat dengan para jagoan Mongol yang berada di Nan-king. Tidak mudah menundukkan Hek I Kaipang sekarang ini, toako."

"Akan tetapi, kita harus mencari jalan, harus menundukkan mereka dan merenggut mereka lepas dari pengaruh pemerintah Mongol. Kalau tidak, bagaimana mungkin kita dapat bergerak bebas?"

"Ssttt... lihat di sana, toako,"

Tiba-tiba Siauw Yen berbisik dan matanya memandang ke arah jalan.

Hung Wu menengok dan diapun melihat apa yang menarik perhatian gadis yang menyamar sebagai pemuda itu.

Seorang laki-laki tinggi kurus, berusia kurang lebih tiga puluh tahun, berjalan di tepi jalan.

Yang menarik perhatian mereka berdua adalah bahwa laki-laki itu mengenakan pakaian berkembang dan tambal-tambalan, pakaian seorang anggota Hwa I Kaipang!

"Jelas dia seorang yang menyamar sebagai anggota Hwa I Kaipang,"

Kata Siauw Yen.

Hung Wu mengangguk.

Peraturan pertama yang mereka berikan kepada para anggota dan yang segera ditaati, kini sudah menghasilkan buah.

Dengan peraturan baru itu, kalau ada yang menyamar (Lanjut ke

Jilid 11) Rajawali Lembah Huai (Cerita Lepas) Karya. Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11 sebagai anggota Hwa I Kaipang, akan mudah dilihat dan segera dikenal.

Kalau orang tinggi kurus itu seorang anggota Hwa I Kaipang yang asli tentu dia sudah tahu akan peraturan baru itu dan tidak akan mengenakan pakaian menyolok itu!

Jelas, dia seorang mata-mata yang biasa menyelidiki Hwa I Kaipang.

Mungkin orangnya pemerintah, mungkin pula orangnya Hek I Kaipang.

"Mari kita membayanginya,"

Kata Siauw Yen.

Hung Wu mengangguk dan tersenyum, karena dia merasa semakin kagum kepada gadis ini.

Seorang gadis yang bukan saja berjiwa pahlawan, patriotik, akan tetapi juga cerdik dan pemberani!

"Dia bukan anggota kita?"

Dalam perjalanan membayangi pengemis itu, Hung Wu bertanya.

Siauw Yen menggeleng kepala dan Hung Wu merasa yakin karena tentu saja gadis yang mewakili kakeknya memimpin Hwa I Kaipang ini sudah hafal akan semua anggota perkumpulan itu.

Tepat seperti telah diduganya, Siauw Yen melihat orang itu memasuki pekarangan rumah besar yang menjadi pusat Hek I Kaipang.

Di depan rumah itu terdapat papan nama besar dengan tulisan Hek I Kaipang yang coretannya gagah dan di pekarangan itu terdapat sebuah gardu penjagaan di mana terdapat belasan orang anggota Hek I Kaipang berjaga.

Orang yang berpakaian pengemis baju kembang itu berhenti sebentar karena ditahan oleh para penjaga, akan tetapi setelah bicara sebentar, dia diperkenankan masuk.

Melihat ini, Siauw Yen berbisik kepada Hung Wu.

"Toako, jelaslah bahwa pihak Hek I Kaipang menyebar mata-mata yang menyamar seperti anggota kita. Akan tetapi, dengan adanya peraturan baru kita, maka kini kita semua akan mudah menangkap mata-mata mereka. Kiranya sudah banyak yang kita dapatkan dalam penyelidikan kita tadi, mari kita pulang, toako."

Hung Wu mengangguk, akan tetapi pada saat itu nampak sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda dipersiapkan orang di pekarangan rumah besar yang menjadi pusat Hek I Kaipang.

Siauw Yen memberi isarat kepada Hung Wu untuk menanti sebentar.

Mereka dapat melihat seorang laki-laki yang berusia lima puluhan tahun, bertubuh sedang dan mukanya gagah sekali, seperti muka harimau, keluar dari dalam rumah itu bersama seorang kakek dan nenek yang keduanya sudah tua renta dan berjalan dibantu tongkat.

Mereka bertiga naik ke dalam kereta dan Siauw Yen cepat memberi isarat kepada Hung Wu untuk segera pergi dari situ.

Siauw Yen mengajaknya menyelinap di tempat sepi dan berkata.

"Toako, engkau harus membayangi kereta itu jangan dilepaskan. Laki-laki tadi adalah ketua Hek I Kaipang, Coa Kun. Kebetulan sekali dia hendak keluar kota dan yang menemaninya hanya seorang kakek dan seorang nenek yang sudah sangata tua. Inilah kesempatan tepat bagi kita untuk turun tangan, membunuh pengkhianat bangsa itu. Kalau dia mati dan Hek I Kaipang dipegang orang lain mungkin sikap mereka akan menjadi lain. Kau bayangi saja, jangan turun tangan karena dia cukup lihai. Aku akan mencari bala bantuan."

Tanpa menanti Hung Wu menjawab, Siauw Yen sudah menyelinap dan lenyap.

Hung Wu tinggal seorang diri, termangu.

Namun, dia dapat melihat kebenaran dalam pendapat gadis itu.

Memang sayang sekali kalau Hek I Kaipang dibawa menyeleweng oleh ketuanya, menjadi antek Mongol.

Semua kekuatan yang ada pada rakyat yang terjajah harus dikerahkan, kalau hendak membebaskan diri dari belenggu penjajah.

Terutama semua perkumpulan, harus bersatu padu.

Kalau perkumpulan yang tidak mau bersatu, apa lagi yang bahkan berkhinat membantu penjajah, harus dibasmi, karena hal ini berarti merontokkan sebuah di antara gigi dan kuku penjajah.

Kereta itu mulai bergerak meninggalkan pekarangan.

Hung Wu segera mengikutinya dari jauh.

Untung baginya bahwa kereta itu oleh kusirnya, dijalankan lambat-lambat sehingga tidak sukar baginya untuk terus membayangi kereta itu.

Kereta itu ternyata menuju ke utara dan keluar dari pintu gerbang utara.

Hung Wu juga keluar dari pintu gerbang itu.

Matahari sudah mulai condong ke barat.

Hung Wu menduga-duga apakah Siauw Yen berhasil mendapatkan bala bantuan.

Ah, gadis itu terlalu berhati-hati, pikirnya.

Biarpun ketua Hek I Kaipang lihai, kalau dia, maju bersama Siauw Yen, tentu akan mampu mengalahkannya!

Bahkan dia sendiripun agaknya tidak takut menghadapinya.

Bukankah Siauw Yen pernah menyatakan bahwa gadis itu tidak gentar menghadapi ketua Hek I Kaipang, akan tetapi yang amat lihai adalah puteri ketua itu?

Dan sekarang yang berada di dalam kereta hanyalah Coa Kun, sang ketua, bersama seorang kakek dan seorang nenek yang sudah tua renta dan nampak loyo.

Juga kusirnya itu tentulah hanya anak buah biasa saja.

Pada waktu itu, karena tadi matahari amat teriknya, jalan yang keluar dari Nan-king ke utara itu nampak sunyi.

Hal ini juga memudahkan Hung Wu untuk membayangi kereta yang kini berjalan agak cepat sehingga dia harus berlari.

Bagaimana kalau Siauw Yen tidak berhasil mendapatkan bantuan?

Dan bagaimana pula kalau Siauw Yen tidak dapat menyusulnya, tidak tahu bahwa kereta menuju ke utara?

Apakah dia harus mengikuti terus sampai kelelahan?

Atau harus membiarkan saja ketua Hek I Kaipang itu pergi tanpa mengganggunya?

Akan tetapi, kalau dia turun tangan sendiri kemudian gagal, bukankah hal itu akan membuat Siauw Yen menjadi amat kecewa dan marah?

Sungguh serba salah, pikirnya.

Setelah kini kereta tiba di jalan menuji perbukitan yang sunyi dan kereta dilarikan semakin cepat, Hung Wu mengeluh.

Kalau begini terus, akhirnya sebelum mati tiba dia akan kehabisan tenaga dan semua usahanya membayangi akan sia-sia belaka.

Sudah hampir dua jam dia membayangi dan belum juga Siauw Yen muncul.

Sebaiknya, aku turun tangan sendiri, membunuh ketua Hek I Kaipang, pikirnya.

Andai kata gagalpun, dia masih dapat menyelamatkan diri dan diapun tidak akan malu kepada Siauw Yen akan kegagalannya, karena setidaknya dia telah berusaha!

Agaknya Siauw Yen tidak berhasil mendapatkan bantuan, atau gadis itu mengambil jalan yang keliru ketika mengejarnya, tidak tahu bahwa kereta menuju ke utara.

Hung Wu mempercepat larinya, mendahului kereta.

Setelah mendahului kereta dalam jarak tiga puluh meter, dia berhenti, membalik dan menghadang, mengangkat kedua tangan ke atas dan membentak kepada kusir agar menghentikan keretanya.

Kusir kereta yang duduk di depan atas, melihat seorang pemuda jangkung berpakaian seperti seorang petani menghadang di tengah jalan dan membentak agar kerta dihentikan, tentu saja menjadi marah sekali.

Dua ekor kudanya juga menjadi ketakutan ketika dihadang orang yang membentak-bentak.

Kusir menghentikan keretanya lalu menghardik.

"Siapakah engkau yang tak tahu diri dan kurang ajar berani menghentikan kereta? Tidak tahukah siapa yang menjadi penumpang kereta ini? Minggir, atau aku akan menerjangmu dan melindasmi!"

Tukang kereta menggerakkan cambuknya yang panjang untuk mengusir orang itu yang dianggapnya sinting atau kurang ajar.

Cambuknya yang panjang menyambar ke arah kepala Hung Wu.

Akan tetapi, pemuda ini menyambar ujung cambuk dan secara tiba-tiba seklai dia menarik cambuk itu sehingga kusinya yang memegang gagang cambuk terkejut dan terbawa jatuh dari atas keretanya!

"Heii, apa yang terjadi?"

Terdengar teriakan dari dalam kereta.

Pintu kereta terbuka, tirainya tersingkap dan keluarlah tiga orang dari dalam kereta itu.

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 21

Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 19

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert