Eps 9 Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung
Baca online Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung
Cersil Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung.
Akibat kejadian malam itu, Siao-liong-li sampai muntah darah saking gusar dan hampir2 jiwanya melayang, kini mendengar Ci-keng berdebat model pokrol bambu.
ia tak tahan lagi, cepat sekali ia ulur tangan dan menekan pelahan ke dada Ci-keng seraya berkata.
"Baiknya kau jangan ngaco-belo ya !"
Sementara ini Giok-li-sim-keng yang dilatihnya sudah jadi, gerak tangannya ini dilakukan tanpa suara dan tak kelihatan, kebetulan juga Giok-li-sim-keng itu diciptakan sebagai lawan ilmu silat Coan-cin-pay ketika Ci-keng hendak menangkis.
tak tahunya tangan Siao-liong-li telah memutar lagi dan tetap meraba ke dadanya.
Sekali tangkis tak kena, luar biasa kejut Ci-keng, namun begitu dadanya teraba tangan orang pun lantas ditarik kembali dan tiada sesuatu perasaan apa2, maka iapun tidak ambil perhatian dengan tertawa dingin ia coba meng-olok2 lagi.
"Ada apa kau meraba tubuhku ? Aku toh bukan gend..."
Belum kata2
"gendakmu"
Selesai diucapkan, mendadak kedua matanya melotot kaku, seketika orangnya terkulai ke depan, nyata ia sudah terluka dalam yang amat parah.
Melihat sang Sutit terluka, lekas2 Sun Put-ji dan Hek Tay-thong memburu maju buat membangunkan, dilihatnya napas Ci-keng memburu dan wajahnya merah padam bagai orang mabuk "Bagus, kau Ko-bong-pay benar2 hendak memusuhi Coan-cin-kau kami,"
Teriak Sun Put-ji, segera pedangpun dilolosnya lantas hendak melabrak Siao-liong-li. Lekas2 Kwe Cing melompat maju dan menyela di tengah kedua pihak "Sudahlah, orang sendiri jangan cekcok,"
Ia coba memisah. Lalu ia berkata juga pada Nyo Ko.
"Ko-ji, kedua pihak sama2 terhitung gurumu. Harap kau minta mereka kembali ke tempat duduk masing2, ada apa2 biarlah kita pertimbangkan sebenarnya siapa yang salah."
Akan tetapi Sino-liong-li sudah jemu dan benci pada segala kepalsuan manusia dengan pengalaman2 sejak ia turun gunung, maka tangan Nyo Ko digandengnya dan mengajaknya lagi "Marilah kita pergi saja, Ko-ji, selamanya jangan kita ketemu orang2 ini pula !"
Nyo Ko ikut bertindak pergi, tapi mendadak pedang Sun Put-ji berkelebat ia menghadang pula dan membentak.
"Hm, enak saja, sudah melukai orang lantas hendak merat begitu saja?"
Melihat kedua pihak akan saling gebrak lagi lekas2 Kwe Cing berkata pula dengan sungguh2 -"
Ko-ji, segalanya hendaklah kau pikir masak2 dan jadilah orang baik2, jangan bikin susah diri sendiri dan membikin busuk nama baikmu. Namamu Ko adalah aku yang memberi, apa kau paham maksud huruf "Ko"
Itu?"
Tergetar Nyo Ko oleh teguran itu, mendadak terbayang olehnya banyak kejadian di masa kecil, teringat olehnya segala hinaan yang pernah ia rasakan, pikirnya.
"Aneh, mengapa namaku ini adalah pemberian Kwe-pepek?"
"lbumu dulu tentu pernah ceritakan padamu kau bernama "Ko"
Dan alias apa?"
Tegur Kwe Cing pula bengis. Maka ingatlah Nyo Ko pernah dengat dari ibunya, cuma dulu usianya masih kecil, maka selamanya tiada orang memanggil nama aliasnya hingga ia sendiri hampir lupa.
"Nama aliasku "Kay-ci"
Sahutnya kemudian.
"Benar,"
Kata Kwe Cing.
"Dan apa maksudnya itu?"
"Kwe-pepek maksudkan bila aku ada kesalahan (Ko) supaya bisa memperbaikinya (Kay-ci),"
Sahut Nyo Ko. Karena itu lagu suara Kwe Cing berubah sedikit halus.
"Ko-ji,"
Katanya pula.
"manusia mana yang tak pernah salah (Ko), tapi salah berani memperbaiki hal ini harus dipuji, ini adalah petua Nabi. Kini kau tak menghormati guru, ini adalah kesalahan maha besar, hendaklah kau bisa pikirkan secara baik-baik."
"Kalau aku ada salah sudah tentu akan kuperbaiki,"
Sahut Nyo Ko."
Tetapi dia... dia..."
Ia tuding Ci-keng dan melanjutkan.
"dia pukul aku, dia menghina aku, menipu aku dan benci padaku, mana mau aku mengakui dia sebagai guru? Aku dan "
Liong-kokok suci bersih, Thian menjadi saksi, aku menghormati dia, kucinta padanya, apakah ini suatu kesalahan?
Nyo Ko mencerocos dengan lancar dan bersemangat oleh rasa benarnya, kecerdasan dan bicaranya Kwe Cing tak ungkuli pemuda ini, sudah tentu ia menjadi gelagapan, Cuma perbuatan orang dirasakannya salah, hanya seketika ia tak bisa menjelaskannya.
"Ko-ji,"
Sementara Ui Yong sudah maju juga.
"Kwe-pepek ingin kau berbuat baik, hal ini hendaklah kau mengerti"
Suaranya halus. Karena itu perasaan Nyo Ko terguncang, iapun lirihkan suara dan menyahut.
"Ya, selamanya Kwe-pepek sangat baik padaku, hal ini aku cukup tahu."
Karena terharunya, matanya merah dan hampir2 meneteskan air mata.
"Maksudnya hanya berusaha menginsafkan kau, sekali-kali jangan kau salah paham,"
Kata Ui Yong lagi.
"Tetapi aku justru tak paham, aku tak mengerti kesalahan apakah yang kulakukan?"
Kata Nyo Ko pula. Tiba2 Ui Yong menarik muka.
"Apa kau benar2 tak mengerti atau kau sengaja main gila dengan kami ?"
Tanyanya. Nyo Ko menjadi penasaran, ia pikir.
"Jika kalian baik2 terhadapku dengan sendirinya aku pun balas dengan baik, tetapi kalian ingin aku berbuat bagaimanakah ?"
Karena itu, ia gigit bibir dan tak menjawab.
"Baiklah, bila kau ingin aku bicara terus terang, rasanya akupun tak perlu main teka-teki dengan kau,"
Kata Ui Yong.
"Liong-kokoh adalah Suhumu, itu berarti orang tua yang harus kau hormati, maka tak boleh ada hubungan pribadi antara laki2-perempuan."
Peraturan demikian itu bukannya Nyo Ko tak paham sama sekali seperti diri Siao-liong-li, cuma ia tak mengerti, sebab apa hanya lantaran Kokoh pernah mengajarkan ilmu silat padanya lantas tak boleh menjadi isterinya ?
Kenapa hubungannya dengan Liong-kokoh yang suci bersih, Kwe-pepek saja tak mau percaya?
Berpikir sampai disini, tak tahan lagi iapun naik darah.
Dasar Nyo Ko seorang yang tak gentar terhadap segala apa dan pantang kekerasan, sekali ia merasa penasaran, ia menjadi lebih tak mau mengerti Segera, dengan suara keras ia berkata lagi.
"Dan perbuatan apa yang kulakukan yang membikin susah kalian? Siapa yang pernah kucelakai? Liong-kokoh pernah mengajarkan ilmu silat padaku, aku justru ingin dia menjadi isteriku, kau boleh bacok aku, boleh cincang aku, namun aku tetap ingin dia menjadi isteriku."
Kata2nya ini betul2 membikin seluruh hadirin terperanjat.
Pada jaman Song orang sangat kukuh pada tata adat, mana ada logika yang menyimpang 180 derajat dari peraturan itu?
Selama hidup Kwe Cing sendiri paling menghormat pada guru, maka ia gusar tidak kepalang oleh jawaban Nyo Ko itu, cepat sekali ia melangkah maju, segera ia jamberet dada Nyo Ko.
Siao-liong-li terkejut segera ia menangkis, Namun ilmu silat Kwe Cing masih jauh di atasnya, apalagi dalam keadaan gusar, seluruh tenaganya telah dikeluarkan semua, ketika sekali tarik terus dilemparkan, tahu2 Siao-liong-li terlempar pergi setombak lebih dan turun kembali di luar pintu menyusul mana sebelah tangan Kwe Cing pegang dada Nyo Ko tempat "Thian-tut-hiat"
Dan tangan lain diangkatnya tinggi2 sambil membentak.
"Binatang cilik, kenapa kau berani keluarkan kata2 durhaka semacam itu?"
Seluruh tenaga Nyo Ko lenyap seketika oleh karena cekalan Kwe Cing itu, namun dalam hati sedikitpun ia tak takut "Kokoh cinta padaku sepenuh hatinya, begitu pula aku terhadapnya,"
Katanya lantang.
"Kwe-pepek, kau mau bunuh aku boleh bunuhlah, tapi keputusanku ini tak akan berubah selamanya."
"Aku anggap kau seperti anakku sendiri, tidak boleh kudiamkan kesalahanmu dan tak memperbaikinya,"
Kata Kwe Cing.
"Aku tak salah, aku tidak melakukan sesuatu yang buruk, aku tak pernah mencelakai orang lain!"
Jawab Nyo Ko tegas, Tiga kalimat itu diucapkannya dengan begitu kuat dan pasti.
Seketika hati para ksatria ikut terkesiap, mereka merasa kata2 Nyo Ko ada bagian2 yang masuk di akal, umpama saja kalau kedua muda-mudi ini tidak bilang2 pada orang lain, lalu hidup menyendiri di dunia lain atau menjadi suami isteri di pulau terpencil misalnya, bukankah tidak merugikan siapapun juga.
Tapi kalau berbuat se-mena2 sesukanya tanpa menghiraukan pedapat umum, ini pun tak bisa dibenarkan dan merupakan sampah masyarakat persilatan.
Tapi berlainan pendapat Kwe Cing daripada Nyo Ko, ketika telapak tangannya sudah diangkat, ia berkata dengan pedih .
"Ko-ji, betapa sayangku padamu, apakah kau mengerti? Aku lebih suka kau mati daripada kau berbuat hal2 tak baik, pahamkah kau?"
Karena kata2 Kwe Cing ini, Nyo Ko tahu bila tidak ganti lagu suara, sekali gablok pasti dirinya akan terpukul mati, kadangkala pemuda ini licin dengan macam 2 tipu akalnya, tapi kini ia justru keras kepala, maka dengan tegas ia menjawab.
"Aku yakin aku tidak bersalah, kalau Pepek tak percaya biarlah kau pukul mati aku saja."
Telapak tangan kiri Kwe Cing sudah diangkat tinggi2, asal sekali gablok ke atas batok kepala Nyo Ko, mana bisa bernyawa pula?
Karena itu seketika para ksatria sunyi senyap tiada yang bersuara, semuanya menatap tangan Kwe Cing apakah jadi digablokkan atau tidak.
Sejurus telapak tangan Kwe Cing tinggal terangkat tinggi2, kembali ia pandang Nyo Ko sekejap, ia lihat bocah ini gigit kencang bibirnya dan alis terkerut rapat, parasnya begitu mirip dengan mendiang ayahnya, Nyo Khong.
Mendadak Kwe Cing menghela napas panjang, ia lepaskan jambretannya dan berkata.
"Sudahlah, harap kau berpikir lebih masak."
Habis itu iapun kembali ke tempat duduknya tadi, sekejap saja ia tidak pandang Nyo Ko pula, tampaknya ia begitu putus asa dan habis harapan.
"Ko-ji, orang2 ini begini kasar, jangan kau peduli mereka, marilah kita pergi saja,"
Tiba2 Siao-liong-li menggapai Nyo Ko.
Nyata sama sekali ia tidak tahu bahwa jiwa Nyo Ko tadi sudah dalam saat yang menentukan.
Dengan langkah lebar segera Nyo Ko keluar ruangan pendopo itu sambil bergandeng tangan Siao-liong-li, mereka mendapatkan kuda mereka yang kurus itu dan segera menuntunnya berlalu.
Dengan mata terpentang Iebar2 para ksatria mengikuti kepergian kedua muda-rnudi itu, ada yang memandang rendah, ada yang kagum, ada yang gusar dan ada yang simpatik dan macam2 perasaan yang tak sama.
Begitulah berendeng Nyo Ko bikin perjalanan dengan Siao-liong-li, meski hari sudah jauh malam, tapi mata kedua orang ini cukup terlatih, jalan di malam gelap mereka anggap seperti siang hari saja.
Sudah lama berpisah dan kini kedua muda-mudi ini berdua kembali, betapa senang perasaan mereka tak perlu dilukiskan lagi, segala apa yang terjadi tadi, pertempuran mati2an, perdebatan dan caci maki, semuanya sudah mereka lupakan.
Mereka berjalan terus tanpa bicam, akhirnya sampai di bawah suatu pohon Yang-liu yang rindang, tanpa berjanji keduanya mendekati dan duduk bersandarkan dahan pohon, lambat laun merekapun merasa letih dan kemudian terpulas sendirinya.
Kuda kurus itu makan rumput hijau di kejauhan dengan bebasnya, hanya kadang2 terdengar suara meringkiknya yang pelahan.
Setelah mendusin, hari sudah terang benderang, kedua muda-mudi itu saling pandang dan tertawa.
"Ke mana kita sekarang, Kokoh?"
Tanya Nyo Ko.
"Lebih baik kembali Ko-bong (kuburan kuno) saja,"
Sahut Siao-liong-li sesudah merenung sejenak.
Nyata sejak ia turun gunung, ia merasa meski dunia ramai ini sangat indah, tapi tetap tidak lebih merdeka daripada hidup dalam kuburan kuno itu.
Nyo Ko juga tahu jiwa Siao-liong-li terlalu polos dan tidak cocok untuk bergaul dengan orang, ia pikir kalau selama hidup ini bisa berdampingan dengan gadis ini, selebihnya tiada yang dia inginkan lagi, dahulu ia suka kenangkan dunia luar yang ramai dan berharap bisa keluar kuburan, tetapi sesudah berkelana sekian lama, kembali ia rindu pada kehidupan yang aman tenteram dalam Ko-bong itu.
Begitulah kedua orang itupun balik ke utara, sepanjang jalan mereka bicara dan menempuh jalan pe-lahan2.
Yang satu tetap panggil "Ko-ji"
Dan yang lain sebut "Kokoh", mereka merasa sebutan itu adalah paling cocok dan wajar. Sampai lohor, pembicaraan mereka sampai pada ilmu silat Kim-lun Hoat-ong dan murid2nya yang lihay luar biasa.
"Ko-ji, pada bab terakhir dari Giok-li-sim-keng selamanya belum pernah kita latih, apa kau masih ingat?"
Tiba2 Siao-liong-li berkata.
"lngat, cuma berulang kali kita sudah pernah coba memecahkannya dan selalu gagal, agaknya pasti ada yang salah,"
Sahut Nyo Ko.
"Sebenarnya akupun tak paham,"
Ujar Siao-liong-li.
"tetapi kemarin melihat imam wanita tua itu menggeraki pedangnya, waktu itulah mengingat kan padaku akan sesuatu."
Seketika Nyo Ko paham juga bila teringat tipu gerakan pedang yang digunakan Sun Put-ji kemarin.
"Ya, ya,"
Segera ia berteriak.
"harus digunakan berbareng antara Giok-li-sim-keng dan ilmu silat Coan-cin-pay, pantas kita sudah melatih kesana kemari masih belum berhasil."
Kiranya dahulu cikal-bakal Ko-bong-pay, Lim Tiao-eng, sangat ter-gila2 pada Ong Tiong-yang, waktu tinggal sendiri dalam kuburan kuno ia ciptakan ilmu silat Giok-li-sim-keng, namun terhadap Ong Tiong-yang masih tetap tidak pernah lupa, maka sampai bab terakhir dari Giok-li-sim-keng yang dia tulis, timbul khayalannya pada suatu hari kelak pasti bisa sejajar dengan jantung hatinya menggempur musuh.
Oleh karena itu, ajaran ilmu pada bab terakhir itu melukiskan seorang menggunakan ilmu dari Giok-li-sim-keng dan yang lain memakai ilmu silat Coan-cin-pay untuk saling bahu-membahu menggempur musuh.
Begitulah dari segala isi hati yang pernah tumbuh dalam lubuk hati Lim Tiao-eng dahulu terhadap Ong Tiong-yang semuanya telah disalurkan melalui bab tarakhir dari ilmu silat ciptaannya itu.
Waktu Siao-liong-li dan Nyo Ko melatihnya mula2, karena rasa cinta mereka belum bersemi maka tak mungkin mereka paham jerih payah maksud hati Cosu-popoh mereka, lebih2 tidak bisa dimengerti bahwa di antara mereka yang satu harus pakai ilmu silat perguruan sendiri dan yang lain harus gunakan ilmu silat Coan-cin-pay yang sama sekali berlawanan itu.
Kini sesudah sadar, segera kedua muda-mudi itu jemput sebatang kayu dan sejurus demi sejurus merekapun mulai memecahkan pelajaran yang sudah lama belum berhasil itu.
Dengan pelahan Siao-liong-li mainkan Giok-li-sim-keng dan Nyo Ko sebaliknya keluarkan Kiam-hoat Coan-cin-pay.
Tetapi baru beberapa jurus mereka pecahkan, kembali mereka menghadapi jalan buntu karena satu dan lain tak cocok lagi Hendaklah tahu bahwa dahulu waktu Lim Tiao-eng menciptakan ilmu pedang ini, dalam khayalannya ia berdiri sejajar dengan Ong Tiong-yang menggempur musuh, maka setiap tipu gerakan selalu bekerja sama dengan rapat, kini Nyo Ko dan Siao-liong-li saling latih dengan tangkai kayu mereka anggap masing2 sebagai pihak lawan, waktu dimainkan dengan sendirinya menyimpang dan tak cocok, meski mereka mengulanginya ber-kali2 tetap tidak betul.
"Apa mungkin kita sudah lupa, coba kita kembali Ko-bong dulu baru nanti melatihnya lagi."
Ujar Siao-liong-li Selagi Nyo Ko hendak menjawab, tiba2 didengarnya di kejauhan ada suara derapan kuda, seorang penunggang secepat terbang telah mendatangi.
Kuda itu seluruhnya berbulu merah, penunggangnya juga baju merah, hanya sekejap saja, orang dan tunggangannya bagai segumpal awan merah sudah lewat di samping mereka, nyata itu adalah kuda "si merah"
Tunggangan Ui Yong.
Nyo Ko tak ingin bertemu dengan keluarga Kwe Cing yang hanya menimbulkan rasa kesal saja, maka ia ajak Siao-liong-li pilih jalan kecil saja agar tidak kepergok dengan orang di depan sana.
Meski Siao-liong-li adalah Suhu, tapi kecuali ilmu silat, urusan2 lain sama sekali ia tak paham, kalau Nyo Ko bilang pilih jalanan kecil, dengan sendirinya iapun menurut.
Malamnya kedua orang menginap di suatu hotel kecil, Nyo Ko tidur di atas ranjang dan Siao-liong-li masih tetap tidur di atas tali yang digantung diantara dua belah dinding.
Dalam hati kedua orang pasti hendak bersuami isteri tetapi karena beberapa tahun didalam kuburan kuno selalu tidur seperti demikian ini, sesudah bersua kembali mereka masih tetap tidur cara lama dan melatih diri seperti dulu2, yang mereka pikir ialah buah hati sudah berdampingan dan selanjutnya tak akan berpisah lagi, dalam hati mereka sama2 merasa girang dan terhibur tak terhingga.
Besok siangnya, tibalah mereka sampai di suatu kota besar, kota itu penuh sesak dengan lalu lintas kereta kuda dan orang jalan hingga suasana sangat ramai.
Nyo Ko ajak Siao-Iiong-li dahar ke suatu restoran, tapi baru saja mereka naik ke atas loteng.
seketika Nyo Ko tercengang, ia lihat Ui Yong dan Bu-si Hengte juga sedang bersantap di situ.
Karena sudah telanjur bertemu, Nyo Ko pikir tak enak menyingkir maka ia maju memberi hormat dan menyapa.
"Kau melihat puteriku tidak?"
Demikian Ui Yong bertanya dengan alis terkerut rapat dan muka muram sedih.
"Tidak, apa Hu-moay tidak bersama dengan kau?"
Jawab Nyo Ko.
Belum lagi Ui Yong menjawab atau terdengar tangga loteng riuh ramai, beberapa orang telah naik ke atas, seorang yang jalan paling depan berperawakan tinggi besar, siapa lagi dia kalau bukan Kim-Iun Hoat-ong?
Nyo Ko cukup jeli, ia tak bicara lagi dengan Ui Yong, tapi cepat kembali ke samping Siao-Iiong-li dan membisikinya.
"Berpaling ke sana, jangan pandang mereka."
Tapi betapa tajam sinar mata Kim-lun Hoat ong, begitu naik ke atas, seketika semua orang di atas loteng sudah masuk dalam pandangannya, maka terdengarlah ia tertawa-tawa dingin, dengan bebasnya ia duduk menyanding suatu meja.
sebenarnya Nyo Ko sudah berpaling ke arah lain, mendadak ia dengar Ui Yong berseru.
"Hu-ji!"
Ia terkesiap, tanpa terasa ia menoIeh, maka terlihatlah Kwe Hu duduk semeja dengan Kim-lun Hoat-ong dengan mata terbuka lebar lagi pandang sang ibu, cuma tak berani menyeberang ke sini.
Kiranya sehabis Kim-lun Hoat-ong dikalahkan ia masih penasaran dan memikirkan daya upaya untuk tebus kekalahannya itu, di samping itu Pengeran Hotu terkena jarum berbisa dan racunnya bekerja hebat, segala obat penawar sudah digunakannya tanpa berhasil, karena itu lebih2 menambah hasratnya hendak rebut obat, maka ia tak pergi jauh melainkan menunggu kesempatan baik di sekitar Liok-keh-ceng.
Agaknya memang nasib Kwe Hu yang bakal ketimpa malang, pagi2 ia sudah jalan2 dengan kuda merahnya dan kebetulan kepergok Kim-lun Hoat-ong hingga diseret turun dari kudanya.
Beruntung kuda merah itu sangat cerdik, secepat terbang binatang itu lari pulang dan mendengking pilu di hadapan sang majikan.
Kwe Cing tahu sang puteri ketemukan bahaya, keruan terkejut, segera mereka memencar mencari-nya.
Meski Ui Yong sedang mengandung, tapi kasih sayangnya pada sang puteri iapun naik kuda merahnya ikut mencarinya dan hari ini lebih dulu bertemu dengan Bu-si Hengte di kota ini lalu berjumpa pula dengan Nyo Ko berdua, siapa tahu secara sangat kebetulan, kemudian Kim-lun Hoat-ong juga mendatangi restoran ini dengan tawanannya.
Kwe Hu.
Nampak puterinya itu, terkejut tercampur girang Ui Yong, tapi sungguhpun ia banyak tipu akal, kini anak gadisnya jatuh dibawah cengkeraman musuh, ia hanya memanggil sekali habis itu iapun tak bicara lagi sepasang sumpit yang dia pegang itu menggores kian kemari di atas meja sembari memikirkan tipu daya untuk menolong puterinya.
Sedang ia memikir, tiba2 terdengar Kim-lun Hoat-ong berkata.
"Ui-panglu, ini puteri kesayanganmu bukan? Tempo hari kulihat ia menggelendot di pangkuanmu dengan manjanya, tampaknya sangat menarik sekali."
Ui Yong menjengek, ia tidak menjawab. sebaliknya Bu Siu-bun lantas berdiri.
"Hm, percuma kau sebagai ketua suatu aliran tersendiri, bertanding kalah, kini menganiaya anak gadis orang yang masih muda, sungguh tak kenal malu?"
Bentak pemuda itu. Namun Kim-lun Hoat-ong anggap kata2 orang bagai angin lalu saja dan tak menggubrisnya, kembali ia berkata pada Ui Yong.
"Ui-pangcu, kau suruh orangmu antarkan dulu obat penawar racun jarum berbisa itu, kemudian kita boleh bertanding pula se-adil2nya untuk menentukan Bu-lim Beng-cu sebenarnya menjadi bagian siapa."
Ui Yong menjengek lagi, ia tetap tak menjawab Dan kembali Bu Siu-bun berdiri lagi sambil ber-teriak2 .
"Kau bebaskan dulu nona Kwe dan kami lantas berikan obat, soal bertanding boleh dirundingkan nanti."
Ui Yong coba melirik Nyo Ko dan Siao-liong-li, dalam hati ia pikir.
"Obat penawar ada pada kedua orang ini, tapi Siu-ji seenaknya saja menjanjikan pada lawan, siapa tahu orang mau memberi atau tidak."
Sementara itu terdengar Kim-lun Hoat-ong berkata lagi.
"Am-gi beracun di jagat ini apakah hanya kalian yang punya? Kalian melukai muridku dengan jarum berbisa, akupun gunakan paku berbisa melukai puterimu. Kalian berikan obat penawarnya, kamipun obati lukanya, Tapi soal bebaskan orang, inilah tak mudah."
Melihat keadaan puterinya biasa saja, tampaknya tidak terluka, namun kasih sayang ibu, betapa pun Ui Yong bingung juga, Dan karena bingung, menjadikan kecerdasannya hilang hingga seketika sama sekali tak berdaya.
Sementara itu tiada hentinya pelayan mengantarkan daharan ke meja Kim-lun Hoat-ong, mereka makan minum se-puas2nya sambil bicara dan bergurau dalam basa Tibet.
Kwe Hu duduk terpaku memandang sang ibu, mana ada napsu makan barang sesumpit saja?
Hati Ui Yong bagai di-sayat2, siapa tahu, nasib malang memang biasanya tak menyendiri tiba2 perutnya terasa melilit sakit.
Habis makan, kemudian Kim-lun Hoat-ong berbangkit dulu, tiba2 ia berkata pula.
"Ui-pang-cu, marilah ikut pergi sekalian dengan kami,"
Ui Yong terkejut tapi segera iapun insaf, nyata orang bukan saja tak mau bebaskan puterinya, bahkan ia sendiripun hendak "dibawa"
Pergi sekalian, Kini ia hanya sendirian tanpa didampingi sang suami, Kwe Cing, hanya ada Bu-si Hengte yang terang bukan tandingan orang, terpikir akan ini, tak tertahan air mukanya berubah hebat "Ui-pangcu,"
Kata lagi Kim-lun Hoat-ong.
"jangan takut kau adalah tokoh terkemuka Bu-lim daerah Tionggoan, sudah tentu akan kami ladeni dengan hormat. Asal kedudukan Bu-lim Beng-cu sudah selesai dirunding, seketika juga kami antarkan kembali ke selatan dengan baik-baik,"
Kiranya begitu Kim-lun Hoat-ong lihat air muka Ui Yong, segera ia bergirang dapat kesempatan bagus, asal bisa menawan orang, tiada jalan lain, semua jago Tiooggoan pasti akan menyerah, hal ini terang beratus kali lebih berharga daripada menawan Kwe Hu saja.
Di lain pihak demi nampak ibu guru mereka dihina, meski tahu bukan tandingan orang, namun Bu-si Hengte tak bisa diam begitu saja, begitu pedang dilolos, segera mereka menghadang di depan ibu guru.
"Lekas loncat jendela melarikan diri, beritahu Suhu agar datang menoIong."
Ui Yong bisiki kedua saudara Bu itu. Tapi Bu-si Hengte pandang sekejap dulu padanya, lalu pandang pula ke arah Kwe Hu, habis ini barulah lari ke jendela.
"Kenapa ragu2?"
Diam2 Ui Yong omeli kedua anak muda itu.
Betul saja, sedikit terlambat itu menjadi tak keburu lagi Mendadak Kim-lun Hoat-ong ulur tangan ke depan, satu tangan satu punggung mereka dijamberet bagai elang mencengkeram kelinci Dalam keadaan begitu Bu-si Hengte masih putar pedang menusuk musuh, namun sama sekali Kim-lun Hoat-ong tak berkelit ia hanya guncang sedikit tangannya hingga serangan kedua saudara Bu itu salah arah semua, pedang Bu Tun-si menusuk Siu-bun dan pedang Siu-bun menusuk Tun-si.
Kaget sekali kedua Bu cilik itu, lekas2 mereka lepas pedang hingga menerbitkan suara nyaring, dua pedang jatuh ke lantai dan barulah selamat tak melukai mereka sendiri, ketika Kim-lun Hoat-ong angkat tangannya, kedua pemuda itu dilemparkannya sejauh setombak lebih.
"Hm, lebih baik ikut pergi Hud-ya (tuan Budha) saja,"
Kata Hoat-ong tertawa dingin, lalu ia berpaling pada Nyo Ko dan Siao-liong-li, katanya pula.
"Kalian berdua tidak sejalan dengan Ui-pangcu, bolehlah pergilah ke arah sendiri dan selanjutnya jangan ganggu urusan Hud-ya lagi."
Sebenarnya bukan Hoat-ong memberi "service istimewa"
Pada mereka berdua, sebaliknya inilah kelicikannya.
Ia tahu Ui Yong, Siao-liong-li dan Nyo Ko sangat lihay, meski satu lawan satu tiada yang bisa menandingi dirinya, tapi kalau mereka bergotong-royong menempurnya, itulah bisa berabe baginya, sekalipun pihaknya akhirnya menang juga belum tentu akan bisa menawan Ui Yong.
Sebab itulah ia sengaja memecah belah mereka dulu agar satu sama Iain tidak saling bantu.
"Ko-ji, marilah kita pergi,"
Kata Siao-liong-li pada Nyo Ko.
"Hwcsio tua ini sangat lihay, tak perlu kita cari gara2 bertempur padanya."
Nyo Ko menyahut baik, iapun bereskan rekening makanan mereka dan berdiri menuju ke tangga loteng, ia pikir dengan kembalinya ini ke kuburan kuno, boleh jadi untuk selamanya tak akan berjumpa pula dengan Ui Yong, karena itu tanpa tertahan ia menoleh memandang sekejap pada sang bibi.
Tapi karena menolehnya ini, ia lihat paras Ui Yong pucat muram, sebelah tangannya memegang perut, jelas kelihatan lagi menahan sakit.
Meski tindak-tanduk Nyo Ko suka turuti wataknya yang jahil, namun jiwanya justru dilahirkan berbudi dan setiakawan, ia pikir Kwe-pepek dan Kwe-pekbo melarang aku bergaul dengan Kokoh, hal ini memang agak terlalu, tapi sebenarnya mereka tiada maksud jahat padaku, hari ini Kwe-pekbo ada kesukaran, kenapa kutinggal pergi begini saja?
Cuma musuh sungguh terlalu kuat, meski diriku dan Kokoh maju berbareng juga belum pasti bisa melawan paderi Tibet ini, kalau sudah terang tak bisa menolong Kwe-pekbo lagi, untuk apa jiwa ku sendiri dan jiwa Kokoh ikut dikorbankan percuma?
tidakkah lebih baik lekas pergi memberi tahu Kwe-pepek agar lekas datang menolong saja."
Berpikir begitu, Nyo Ko lantas kedipi Ui Yong.
Maka tahulah Ui Yong pemuda ini hendak kirim kabar minta pertolongan hatinya menjadi agak lega, pelahan sekali ia mengangguk Lalu dengan gandeng tangan Siao-liong-li lantas Nyo Ko hendak melangkah turun tangga loteng, tapi mendadak dilihatnya seorang Busu Mongol mendekati Ui Yong dan membentaknya dengan kasar.
"Hayo, jalan, tunggu apa lagi?"
Segera pun tangan Ui Yong hendak ditariknya, Nyata sang bibi dianggapnya seperti pesakitan saja.
Sudah behsan tahun Ui Yong menjabat pangcu Kay-pang, betapa tinggi dan terhormat kedudukannya dalam Bu-lim.
Meski kini berhalangan, tidak nanti ia mau terima dihina sembarang orang, Ketika dilihatnya tangan jago Mongol yang kasar hitam berbulu itu mengulur tiba, mendadak lengan bajunya mengebas ke atas, ia tutupi lengannya dengan kain baju itu, menyusul mana ia cekal sekalian tangan orang terus disengkelit ke samping, maka terdengarlah suara gedebukan keras, tubuh jago Mongol yang gede itu telah "terbang"
Keluar melalui jendela dan terbanting ke tengah jalan umum hingga setengah mampus.
Kiranya pembawaan Ui Yong suka kebersihan ia tak sudi tangannya yang putih bersih itu tersentuh tangan orang yang kasar hitam, maka dengan lengan baju ia bungkus dulu lengan sendiri baru banting orang ke bawah loteng.
Para tamu restoran itu tadinya mendengarkan percakapan mereka yang berlangsung sopan beraturan, maka tiada yang ambil perhatian, siapa tahu mendadak lantas saling labrak, keruan seketika suasana kacau baIau.
"Ha, sungguh hebat kepandaian Ui -pangcu !"
Jengek Kim-lun Hoat-ong.
Habis ini ia tirukan jago Mongol tadi, dengan langkah lebar iapun maju hendak tarik tangan Ui Yong.
Ui Yong tahu orang sengaja hendak pamer kepandaian, meski suatu gerakan yang sama, namun hendak membantingnya seperti Busu Mongol tadi tidaklah mungkin lagi, terpaksa ia mundur setindak.
Waktu itu Nyo Ko sudah melangkah turun beberapa tingkat tangga loteng, ketika mendadak nampak kedua pihak terjadi perkelahian dan segera Ui Yong akan dihina, terbangkitlah jiwa ksatrianva yang murni, tak terpikir lagi mati-hidup atau selamat secepat terbang ia melompat kembali ia samber pedang Bu Tun-si yang terjatuh tadi terus dengan tipu "oh-liong-jut-hiat"
Atau naga hitam keluar dari gua, secepat kilat ia tusuk punggung Kim-lun Hoat-ong sambil membentak.
"Ui-pangcu lagi kurang sehat, tapi kalian justru ambil kesempatan ini buat mendesaknya, kau kenal malu tidak ?"
Ilmu silat Kim-lun Hoat-ong memang nyata setingkat lebih tinggi daripada orang lain, ketika mendengar dari belakang menyamber angin tajam, sama sekali ia tak menoleh, melainkan putar tangan ke belakang dan menyentil batang pedang orang, Maka terdengarlah suara "cring"
Yang keras Nyo Ko merasakan tangan se-akan2 kaku dan ujung pedang lantas menusuk ke bawah, ia kuatir musuh susulkan serangan lain, maka cepat melompat ke samping.
"Anak muda,"
Kata Kim-lun Hoat-ong.
"lekas kau pergi saja ! ilmu silatmu hebat, hari depanmu pasti jauh melebihi aku, tapi kini kau masih bukan tandinganku, buat apa kau paksakan diri ikut campur dan antar njawa percuma di bawah roda emasku ?"
Dengan kata2nya sekaligus ia telah umpak Nyo Ko setinggi langit dan kemudian dibanting pula dengan ancaman, Padahal roda emasnya pernah dihantam jatuh oleh Nyo Ko dan Siao-liong-Ii hingga jabatan Bu-lim Bengcu yang tinggal diduduki itu menjadi gagal, dengan sendirinya tiada taranya rasa gemasnya pada kedua muda-mudi ini.
Cuma kini ia harus pilih jalan paling menguntungkan ia ingin tawan Ui Yong sebagai tujuan pertama dan tidak ingin banyak mengikat permusuhan, ia mengharap Nyo Ko dan Siao-liong-li angkat tangan dari percecokan ini dan jangan ikut campur, tapi di kemudian hari ia masih bisa bikin perhitungan dengan kedua anak muda ini.
Harus diketahui bahwa Kim-lun Hoat-ong adalah seorang ketua dari suatu aliran yang agung, ia bisa berpikir panjang di samping ilmu silatnya yang luar biasa itu.
Dengan umpakannya tadi, bukanlah dia merendah dan juga tidak gertak sambel belaka, betapapun Nyo Ko memang masih berwatak ia dengar orang bilang kelak dirinya akan melebihinya, sudah tentu amat girang hatinya.
"Ah, Hwesio tua tak terlalu rendah diri,"
Demikian ia kata dengan tertawa.
"untuk melatih setingkat kau sesungguhnya tidak gampang, Ui-pangcu ini telah pelihara aku dari kecil hingga besar, maka sukalah jangan kau persukar dia, Kalau bukan kesehatannya terganggu kini, belum tentu ilmu silatmu bisa menangkan dia, kalau kau tak percaya, kelak bila badannya sudah sehat boleh coba kau bertanding dengan dia?"
Nyo Ko sangka Kim-lun Hoat-ong sangat angkuh, deruan kata2 pancingannya ini boleh jadi lantas lepaskan Ui Yong.
Siapa tahu Kim-lun Hoat-ong justru kuatir kalau Ui Yong, Siao-liong-li dan Nyo Ko bertiga mengeroyok padanya, karena itu tadi ia berlaku sungkan pada Nyo Ko, kini mendengar Ui Yong lagi sakit, ia pikir kebetulan, kalau melulu kalian berdua muda-muui ini, kenapa aku Kim-lun Hoat-ong harus takut?
Ketika ia amat-amati Ui Yong sejenak, betul juga ia lihat wajah orang pucat Iesu, terang sakitnya tidak ringan, maka sekali tertawa dingin, cepat ia mendahului berdiri ke mulut tangga loteng.
"Baiklah, kalau begitu kaupun tinggal sekalian !"
Katanya segera.
Waktu itu Siao-liong-Ii lagi berdiri di tengah tengah tangga, karena dialing-alingi Kim-lun Hoat-ong yang memisahkan dia dan Nyo Ko, ia menjadi tak sabar "He, menyingkir kau, Hwesio, biarkan dia turun !"
Katanya. Mendadak alis Kim-lun Hoat-ong menegak, dengan gerak tipu ."tan-ciang-khay-pi"
Atau sebelah tangan membelah pilar, cepat sekali ia memotong ke bawah.
Memangnya tenaganya amat besar, pula dari atas ke bawah, tentu saja serangan ini keras luar biasa.
Tak berani Siao-liong-li sambut pukulan itu, iapun kuatirkan Nyo Ko yang terpisah di atas Ioteng, mendadak ia tutul kedua kakinya, bukannya melompat ke bawah, sebaliknya ia mencelat ke atas menyelusup lewat di samping musuh untuk kemudian berdiri sejajar dengan Nyo Ko.
Waktu orang menyelusup lewat, cepat juga Kim-lun Hoat-ong menyikut ke belakang, tapi luput, mau-tak-mau iapun kagum pada kegesitan dan kecepatan Siao-Iiong-li.
Sementara itu Nyo Ko sudah jemput lagi pedang Bu Siu-bun yang terjatuh tadi dan diberikan pada Siao-liong-li.
"Hwesio ini kurangajar, mari, Kokoh, kita hajar,"
Ajaknya segera.
Di pihak lain Kim-lun Hoat-ong sudah keluarkan juga sebuah roda yang bersuara gemerenceng, roda ini sama besarnya dengan roda emas yang dirampas Nyo Ko itu, hanya warnanya hitam mulus seperti terbuat dari baja.
Kiranya senjata Kim-lun Hoat-ong seluruhnya ada lima roda, masing2 terbikin dari emas, perak, perunggu, timah dan besi, Bila ketemukan musuh kuat, sekaligus lima roda bisa digunakan berbareng, tapi selamanya ia hanya pakai Kim-lun atau roda emas dan entah sudah berapa banyak musuh kuat yang dia robohkan, sebab itulah ia memperoleh julukan "Kim-lun Hoat-ong"
Atau Raja agama Roda emas, sedang roda2 perak, perunggu, timah dan besi selamanya malah belum pernah terpakai.
"Ui-pangcu, apa kau juga akan maju sekalian ?"
Demikian kata Hoat-ong kemudian sambil melirik Ui Yong. Harus diketahui meski dilihatnya Ui Yong berwajah sakit, tapi tetap ia gentar atas ilmu silat orang, sebutan "Ui-pangcu"
Itu maksudnya mengingatkan Ui Yong adalah ketua suatu perkumpulan besar, kalau maju mengeroyok tentu akan merosot kan kedudukannya sebagai Pangcu.
"Ui-pangcu akan pulang saja, ia tiada tempo buat main2 dengan kau,"
Seru Nyo Ko tiba2. Habis ini iapun berpaling pada Ui Yong.
"Kwe-pekbo, kau bawa Hu-moay pergi saja." ----------ket. gbr --------Nyo Ko berdampingan dengan Siao-liong-li melabrak Kim-lun Hoat-ong, nyata Giok-li-sim-king yang mereka latih bersama ini menjadi semakin lancar, serasi dan bersatu-padu. ------------------------------Nyata pemuda ini sudah tmemperhitungkan baik2, ia sendiri dan Siao-liong-li meski belum pasti bisa menang mengeroyok Kim-lun Hoat-ong, tetapi kalau bertahan sekuat tenaga untuk kemudian berdaya melarikan diri, hal ini besar harapan bisa dilakukan. Baiknya kini bukan bertanding silat, asal bisa melepaskan diri, peduli siapa soal kalah segala, Maka begitu pedang bergerak, segera ia menusuk lebih duIu. Melihat Nyo Ko gunakan ilmu dari Giok-li-sim-keng, menyusul segera Siao-liong-li ikut menyerang juga dari samping, dalam hati gadis ini sebaliknya tiada sesuatu perhitungan ia melihat Nyo Ko bergebrak dengan Hwesio ini, segera iapun turun tangan membantu. Namun sekali ayun rodanya, dua pedang sekaligus sudah ditangkis Kim-lun Hoat-ong, meja kursi di atas loteng restoran itu terlalu banyak hingga merintangi kebebasannya, maka sambil putar rodanya sembari Kim-lun Hoat-ong tendang meja kursi yang meng-halang2inya.
"Kalau tenaga lawan tenaga, pasti kami kalah, tapi bila gunakan akal, untuk sementara masih bisa bertahan,"
Demikian pikir Nyo Ko.
Maka waktu nampak meja kursi ditendang orang, sengaja ia tendang kembali alat prabot itu ke tengah untuk merintangi musuh.
Dasar Ginkang Nyo Ko dan Siao-liong-li sudah tinggi sekali, mereka menyelusup ke sana ke mari dan tidak memapak musuh dari depan, kadang2 mereka timpuk orang dengan poci arak dan tempo2 sampar mangkok piring ke muka orang.
Keruan seluruh loteng restoran itu menjadi kacau balau dan hancur berantakan Dan karena ribut2 itu, kesempatan mana digunakan Ui Yong untuk menarik Kwe Hu ke sebelahnya.
Darba yang terkena "lh-hun-tay-hoat"
Nyo Ko sementara itu masih setengah sadar, pangeran Ho-tu terluka parah oleh racun jarum tawon putih, sedang ilmu silat jago2 Busu Mongol lain terlalu rendah, mana mereka bisa menahan Ui Yong.
"Kwe-pekbo, lekas kalian pergi saja,"
Teriak Nyo Ko.
Tapi Ui Yong saksikan daya serangan Kim-Iun Koat-ong lihay tiada taranya dan tampaknya Nyo Ko dan Siao-Iiong-li sukar bertahan meski sudah keluarkan tenaga penuh, bila sedikit lengah hingga musuh turun tangan keji, pasti jiwa kedua muda-mudi ini tak terjamin pula.
Karena itu Ui Yong tak tega tinggal pergi, ia pikir orang mati2an berusaha menolong dirinya, sebaliknya dirinya sendiri malah tinggal pergi, ini sesungguhnya tak patut, Maka ia tetap berdiri di tempatnya menyaksikan pertarungan itu, hanya Bu-si Hengte berulang kali mendesak sang ibu guru.
"Marilah, Sunio (ibu guru), kita berangkat dulu, badanmu kurang sehat, haruslah jaga diri baik2,"
Demikian kata kedua saudara Bu. Mula2 Ui Yong tak gubris desakan mereka, tapi ketika didesak lagi, akhirnya ia gusar.
"Hm, jadi manusia tidak kenal budi, apa gunanya berlatih silat ?"
Demikian ia mendamperat.
"Dan kau apa manfaatnya pula hidup di dunia ini? Orang she Nyo ini beratus kali lebih hebat dari kalian, Hm, sebaiknya kalian berdua menggunakan pikiran lebih banyak."
Maksud baik kedua saudara Bu itu ternyata disambut dengan damperatan oleh sang ibu guru, keruan mereka menjadi kikuk dan malu "Bu-keh Koko, hayolah, kita maju bersama !"
Seru Kwe Hu tiba2 sambil samber sepotong kaki meja patah. Tapi cepat sekali Ui Yong menarik sang puteri "Hm, dengan sedikit kepandaianmu ini apa kau hendak antarkan kematian?"
Katanya.
Kwe Hu tak yakin atas omelan ibunya, mulutnya menjengkit kurang percaya, ia lihat ilmu silat Nyo Ko dan Siao-liong-li biasa saja tiada sesuatu yang hebat, meski gayanya bagus, tapi gerak senjatanya lambat.
Nyata ia tak tahu bahwa ilmu silat kedua orang itu memang jauh di atasnya dan saat itu lagi gunakan Giok-li-kiam-hoat dari Ko-bong-pay yang hebat untuk menempur musuh.
Beberapa kali Kim-lun Hoat-ong merangsang maju dan setiap kali kena dirintangi meja kursi yang jungkir balik di lantai, sedang Nvo Ko dan Siao-iiong-li bisa bergerak cepat enteng ke sana kemari main kucing2an.
Tiba2 hatinya tergerak ia gunakan tenaga kakinya, maka terdengarlah suara "kraak, peletak"
Ber-ulang2, perabot apa saja yang merintangi diinjaknya remuk, Sedang roda besi diputar cepat menghantam terus sambil kaki keluarkan tenaga raksasa, ke mana menginjak, di sana juga meja kursi lantas hancur ber-keping2, Hanya sekejap saja di atas loteng sudah penuh ter-timbun kayu hancur dan ketiga orang masih terus saling labrak di atas tumpukan kayu tanpa ada meja kursi yang merintangi lagi.
Kini Kim-Iun Hoat-ong bisa melangkah lebar sesukanya dan rodanya berputar kencang hingga menerbitkan suara gemerantang riuh, ia lakukan serangan cepat pada dua lawannya, sebaliknya karena kehilangan tameng meja kursi, terpaksa Nyo Ko dan Siao-liong-Ii harus lawan orang dengan ilmu kepandaian sejati.
Tiga kali Kim-lun Hoat-ong menghantam tangan Nyo Ko sampai sakit tergetar oleh tenaga orang yang kuat sementara itu serangan keempat Kim-lun Hoat-ong menghantam pula dari atas, belum tiba rodanya angin tajam sudah menyamber, dulu, betapa lihaynya sungguh sangat mengejutkan.
Lekas2 Nyo Ko dan Siao-liong-li menangkis berbareng dengan ujung pedang menahan roda orang, gabungan tenaga kedua orang barulah mampu tangkis serangan Hoat-ong itu, namun senjati merekapun sudah tertindih hampir2 bengkok.
Ketika tangan mereka menyendal, roda besi lawan digentak pergi, menyusul mana cepat Nyo Ko menusuk bagian atas orang dan Siao-liong-li membabat kaki kiri lawan.
Mendadak Kim-lun Hoat-ong malah angkat kaki terus menutul pergelangan tangan Siao-Iiong li, sedang rodanya menghantam ke samping mengarah tengkuk Nyo Ko.
Tadinya Nyo Ko sangka lawan pasti akan hindarkan serangannya dahulu baru kemudian balas menyerang, siapa tahu orang anggap tusukannya bagai tiada terjadi sesuatu, ia menjadi heran apa orang melatih ilmu sebangsa Kim-ciong-tok dan Tiat-poh-san yang lihay dan tebal ?
Namun dalam saat berbahaya, tak sempat lagi buat selidiki kekebalan lawan itu sungguh2 atau palsu, terpaksa ia harus tolong diri sendiri duIu, maka iapun menunduk dan berjongkok untuk hindarkan ketokan roda besi lawan.
Tak terduga perubahan aneh lantas terjadi tiba2 Kim-lun Hoat-ong timpukkan roda besinya ke kepala Nyo Ko, sedang kedua tangan kosong lantas menjambret Siao-liong-li.
serangan aneh oan cepat, ternyata sekaligus Kim-lun Hoat-ong telah serang kedua musuhnya dari arah yang sukar diduga.
Pada detik luar biasa itulah Ui Yong berteriak kaget dan segera bermaksud menyerobot maju menolong, namun tiba2 dilihatnya Nyo Ko mencelat ke samping dan belum tancap kaki ke bawah, tahu2 pedangnya lantas tusuk punggung Kim-lun Hoat-ong dengan cepat.
Tipu serangan Nyo Ko inipun sekaligus "dwi-guna" , pertama hindarkan bahaya diri sendiri, berbareng paksa Kim-lun Hoat-ong tarik kemba'i serangannya pada Siao-liong-li.
Tipu serangan ini di sebut "gan-hing-sif -kik.
atau burung belibis terbang menggempur dari samping, inilah Kiam-hoat dari Coan-cin-pay.
Kim-lun Hoat-ong bersuara heran oleh serangan balasan Nyo Ko yang hebat ini, lekas2 ia angkat kakinya memotong ke pinggiran roda besinya yang waktu itu masih belum jatuh ke tanah hingga roda itu kena dibikin mencelat menyamber kepala Nyo Ko lagi sambil bersuara nyaring.
Pada saat berbahaya Nyo Ko tadi berhasil keluarkan tipu Kiam-hoat Coan-cin-pay, lekas ia ke luarkan pula tipu gerakan Coan-cin yang disebut "pek-hong-"keng-thian"
Atau pelangi putih menghiasi langit, dengan batang pedang ia sampuk roda orang.
Sebenarnya sampukan ini percuma saja karena pedang enteng dan roda berat, siapa tahu karena sedikit menyenggoI roda itu, mendadak membawa efek arah roda terus menyamber ke arah Kim-lun Hoat-ong sendiri.
Roda besi itu adalah benda mati, sudah tentu ia tidak kenal siapa majikan dan siapa musuh, keruan terus menyelonong cepat luar biasa, Saking bagusnya kejadian itu hingga Kwe Hu bertepuk tangan bersorak Kim-lun Hoat-ong berani lepaskan senjata untuk menimpuk orang, sebabnya ia menduga tak nanti musuh sanggup merampas rodanya, bila senjata lawan kebentur, betapapun berat senjata itu pasti akan terpental dari cckalan, Siapa duga Nyo Ko ternvata punya kepandaian menyampuk roda yang hebat hingga senjata menyamber ke arah dirinya sendiri.
Dalam gusarnya roda yang membalik itu terus ditangkapnya, diam2 ia gunakan gaya me-mutar, kembali ia timpukkan roda itu pula, Kini ia tambahi tenaga hingga putaran roda itu makin cepat hingga gotri dalam roda tidak menerbitkan suara, padahal Nyo Ko berhasil sengkelit balik roda orang tadi sebenarnya secara tidak sengaja telak keluarkan ilmu Kiu-im-cin-keng, kini ia coba mengulangi lagi maka terdengarlah suara "trang"
Yang keras, tahu2 pedang tergetar jatuh, berbareng dengan tenaga raksasa Kim-lun Hoat-ong telah memukul juga kearah Nyo Ko.
Kiranya Kiu-im-cin-keng yang Nyo Ko latih masih belum sempurna, maka tenaga yang dipergunakan sekali ini tidak tepat Nampak Nyo-Ko menghadapi bahaya, sedikit mengegos pinggang, cepat sekali pedang Siao-Iiong-li lantas menusuk, tipu serangan ini bukan saja amat lihay, bahkan gayanya manis menarik, nyata ia telah gunakan kepandaian Giok-li-sim-keng ajaran bab terakhir.
Saking bagus dan tepat serangan itu hingga Ui Yong dan Kwe Hu berseru memuji berbareng.
Lekas2 Kim-lun Hoat-ong melompat untuk tangkap kembali rodanya buat tangkis pedang orang, kesempatan inipun digunakan Nyo Ko menyamber kembali senjatanya yang terpental ke udara tadi.
Sungguh gebrakan barusan ini hebat sekali dan berbahaya Setiap orang kalau kepepet timbulnya akal juga lebih tajam, mendadak Nyo Ko berpikir.
"Kalau aku dan Kokoh gunakan Giok-li-kiam-hoat, saat berbahaya lantas berubah menjadi selamat Apakah bab terakhir dari Giok-li-sim-keng itu memang mengajarkan cara bersilat kombinasi demikian?"
Karena pikiran itu, segera iapun berteriak.
"Kokoh, pergi-datang kita tak berhasil melatihnya, tapi kini sudah betul lihat ini tipu "
Iong-jik-thian-khe" (jejak meratai jagat) !"
Sembari berkata pedangnya menusuk juga dari samping. Tidak sempat Siao-liong-li banyak berpikr, maka iapun menurut dan gunakan tipu "long-jik-thian-khe"
Menurut apa yang tercatat dalam Sim-keng, ia memotong dari depan, Tipu serangan Nyo Ko adalah Coan-cin-kiam-hoat yang lihay dan Siao-liong-li gunakan Giok-Ii-kiam-hoat yang tak kenal ampun, paduan serangan pedang ini ternyata luar biasa daya tekanannya.
Karena belum sempat berjaga-jaga, lekas-lekas Kim-lun Hoat-ong melompat mundur, namun terdengar juga suara "bret-bret"
Dua kali, kedua pedang orang telah mengenai tubuhnya semua, baju bawah bahu Hoat-ong tertusuk tembus oleh serangan itu.
Sekalipun ilmu kepandaian Kim-lun Hoat-ong sudah mencapai luar dalam yang hebat, kalau senjata guru silat biasa saja tak nanti bisa melukainya namun Lwekang Nyo Ko dan Siao-liong-li sudah terlatih tinggi, kalau sampai kena ditusuk, sukar dibayangkan bagaimana jadinya.
Maka bajunya terlubang sudah cukup bikin dia berkeringat dingin.
"Hoa-cian-gwat-he (bunga mekar di bawah sinar bulan) !"
Terdengar Nyo Ko berteriak lagi.
Berbareng itu ia membacok ke bawah cepat, sedang Siao-liong-li lantas membabat ke kanan dan ke kiri.
Mau-tak-mau Kim-lun Hoat-ong dibikin kacau oleh serangan kedua orang yang bersimpang siur itu, ia tak tahu pasti dari arah mana sebenarnya serangan orang, terpaksa ia melompat mundur lagi buat menghindar.
"Jing-im-siao-yok (minum sekedar dan jamuan sederhana) !"
Lagi-Iagi Nyo Ko berseru.
Berbareng ujung pedangnya mendoyong ke bawah seperti orang angkat poci lagi menuang arak, sebaliknya Siao-liong-li angkat ujung pedang ke atas menuding mulut sendiri seperti angkat cawan sedang minum.
Nampak serangan kedua orang makin lama makin aneh dan bisa kerja sama dan bantu-membantu dengan bagus, dimana ada kelemahan segera dibantu yang lain, setiap kelemahan lantas berubah menjadi tipu serangan yang lihay.
Makin dipikir Kim-lun Hoat-ong semakin terkejut.
ia pikir.
"Betapa besarnya jagat ini ternyata tidak sedikit orang2 kosen, Kiam-hoat hebat seperti ini tak pernah kubayangkan di Tibet, Ai, aku benar2 seperti katak di dalam tempurung dan berani pandang rendah Enghiong seluruh jagat ini."
Karena pikiran yang mengkeret ini, keruan ia semakin terdesak, Padahal dengan ilmu kepandaian Kim-lun Hoat-ong yang hebat sebenarnya sudah jarang ada tandingannya bagi ksatria2 di daerah Tionggoan.
Meski secara mujur Nyo Ko dan Siao-liong-li berhasil mempelajari berbagai ilmu silat yang bagus, tapi keuIetannya kini kalau dibanding Kim-lun Hoat-ong masih selisih sangat jauh, tapi mereka justru telah pecahkan Kiam-hoat ciptaan Lim Tiao-eng yang luar biasa itu dan mendadak dikeluarkan seketika Hoat-ong jadi kelabakan dan terdesak.
Setiap tipu gerakan dari Kiam-hoat baru ini harus dimainkan bersama laki dan perempuan, setiap gerak serangan mengandung maksud sesuatu cerita romantis, seperti "Kim-pit-siang-ho"
Atau dua sejoli hidup rukun.
"siong-he-tui-ek"
Atau main catur di bawah pohong siong.
"so-swan-heng-teh"
Atau menyapu salju menyeduh teh, dan "ti-pian-tiau ho"-atau memainkan burung Ho di tepi kolam, semuanya itu adalah hidup yang romantis.
Kiranya Lim Tiao-eng patah hati dalam soal cinta hingga melewatkan hari tuanya di dalam kuburan kuno, dengan bakatnya yang tinggi mempelajari macam2 kepandaian, akhirnya ia salurkan semuanya ke dalam ilmu silat ciptaannya ini.
Siapa duga beberapa puluh tahun kemudian ternyata ada sepasang muda-mudi yang dapat menggunakan ilmu pedangnya yang hebat ini untuk menempur musuh tangguh.
Kalau mula2 Nyo Ko dan Siao-Iiong-li memainkan ilmu pedang itu dengan rada kaku, tapi makin lama semakin lancar dan biasa, semangat merekapun bertambah kuat Semakin mereka bersatu padu, semakin Kim-lun Hoat-ong susah menahannya hingga ia menyesal tadi telah injak hancur semua perabot meja kursi, kalau masih ada rintangan perabot itu, tentunya daya serangan kedua lawan ini tak akan begini gencar dan Iihay, selanjutnya besar kemungkinan ia tak sanggup melawan lagi, terpaksa Hoat-ong mundur selangkah ke tangga loteng dan turun setingkat demi setingkat.
Tentu saja tekanan Nyo Ko dan Siao-Jiong-li semakin kuat dari atas ke bawah, tampaknya segera saja Kim-Iun Hoat-ong akan bisa diusir pergi, riba2 terdengar Ui Yong berseru.
"Membasmi penjahat harus sampai akar2nya, Ko-ji, jangan lepaskan dia !"
Kiranya Ui Yong dapat melihat sebabnya Nyo Ko dan Siao-liong-li bisa menangkan Kim-hm Hoat-ong karena andalkan jurus Kiam-hoat yang bagus, sesungguhnya boleh dikatakan karena kebetulan kalau hari ini musuh dilepaskan, ilmu silat paderi asing ini sangat tinggi, bila ia pulang dan mempelajari lebih mendalam hingga mendapatkan cara mematahkan Kiam-hoat baru ini, hal ini berarti bibit penyakit kelak hendak membasminya tentu beribu kali lebih sulit, maka Ui Yong berteriak agar kedua muda-mudi itu gunakan kesempatan sekarang buat membasminya saja.
Nyo Ko menyahut sekali, segera ia lontarkan tipu2 berbahaya seperti "siau-wan-ge-kiok" (pesiar taman menikmati bunga kiok).
"cian-ciok-ya-wa"" (menyanding lilin bercakap sepanjang malam).
"se-jong-lian-ki" (main pantun di tepi jendela).
"tiok-liam-lim-ti" (kerai bambu di tepi kolam) dan lain2 serangan mematikan hingga hampir2 Kim-Iun Hoat-ong tak mampu menangkis jangankan hendak balas menyerang. Begitulah sebenarnya Nyo Ko hendak turut pesan Ui Yong untuk membunuh musuh tangguh ini, siapa tahu dahulu waktu Lim Tiao-eng ciptakan "Giok-li-kiam-hoat" , dalam hatinya penuh rasa kasih mesra, meski lihay setiap tipu serangannya, namun tiada satupun yang merupakan tipu mengarah jiwa musuh, Karena itu meski Nyo Ko berdua mendesak Kim-lun Hoat-ong hingga paderi ini kelabakan dan serba susah, tapi untuk cabut nyawanya juga tidak gampang. Tentu saja yang paling cemas rasanya yalah Ui Yong yang menonton disamping. Kim-lun Hoat-ong tak mengerti darimana asal-usuI Kiam-hoat orang, ia sangka masih ada tipu serangan lihay yang belum dilontarkan Nyo Ko berdua, asal tipu2 lihay itu keluar, boleh jadi jiwanya akan melayang. Dalam keadaan kepepet tiba2 ia mendapat akal, ia melangkah mundur dan gunakan tenaga berat pada kakinya hingga tiap2 kali ia melangkah mundur, setiap papan imdak.2an tangga itu patah diinjaknya. Karena perawakan Kim-lun Hoat-ong tinggi besar, Nyo Ko berdua tak berdaya mencegat ke belakangnya ketika undak2an tangga ketiga patah, senjata Nyo Ko dan Siao-liong-li sudah tak dapat mencapai diri orang lagi.
"Nah, har ini barulah aku kenal ilmu silat Tionggoan dan amat kagum,"
Kata Kim-lun Hoat-ong sambil angkat rodanya.
"Apa namanya ilmu pedangmu ini?"
"Masakah kau tak tahu?"
Sahut Nyo Ko tertawa.
"llmu silat Tionggoan yang terkemuka yalah Pak-kau-pang-hoat dan Ji-lo-kiam-sut, Kiam-hoat kami tadi yalah Ji-lo-kiam-hoat-sut itu."
"Ji-lo-kiam-sut?"
Kim-lun Hoat-ong tercengang ia mengulangi nama itu.
"Ya,"
Kata Nyo Ko tertawa.
"Ji-lo-kiam-sut, ilmu pedang penusuk keledai."
Karena penegasan ini barulah Kim-lun Hoat-ong sadar orang sengaja putar kayun untuk memaki padanya (biasanya kaum Hwesio dimaki sebagai keledai gunduI), keruan saja ia gusar.
"Anak kurangajar, pada suatu hari pasti kau akan kenal lihaynya Hoat-ong,"
Bentaknya sengit, Habis ini, diiringi suara gemerenceng rodanya, dengan langkah lebar iapun tinggal pergi.
Begitu cepat perginya Kim-lun Hoat-ong, hanya sekejap saja orangnya sudah menghilang di ujung jalan sana, Nyo Ko menaksir tak bisa menyandak orang, ia berpaling dan nampak Darba memayang Pengeran Hotu yang mukanya pucat lesi lagi berdiri di belakangnya.
"Toa-suheng, kau bunuh aku tidak?"
Demikian kata si Darba yang masih sangka Nyo Ko jelmaan Suhengnya.
Sungguhpun Nyo Ko orangnya nakal dan jahil, tapi wataknya tidak kejam, ia lihat keadaan dua orang itu cukup ngenas, ia pandang Ui Yong dan menanya.
"Kwe-pekbo, bolehkah kita lepaskan mereka pergi ?"
Ui Yong mengangguk tanda setuju, Nyo Ko lihat semangat Hotu lesu lemas, ia keluarkan sebotol kecil madu tawon putih, ia tuding2 Hotu dan unjuk lagak orang minum obat, lalu madu tawon itu diberikannya pada Darba.
Tentu saja Darba amat girang, ia bicara dengan Hotu dan Hotu lantas keluarkan sebungkus obat bubuk untuk Nyo Ko.
"Cianpwe yang bersenjata Pit terkena racun paku-ku, inilah obat penawarnya,"
Katanya.
Habis itu, Darba memberi hormat sekali pada Nyo Ko, lalu Hotu diangkatnya, memangnya ia ber-tenaga raksasa, bobot seorang dianggapnya sepele saja, ia melayang turun pelahan ke bawah loteng, bersama para jago Mongol merekapun pergi semua.
"Kwe-pekbo,"
Kata Nyo Ko sambil memberi hormat dan serahkan obat penawar pada Ui Yong.
"biarlah Siautit mohon diri juga, harap Pekbo dan Pepek jaga diri baik2."
Dasar Nyo Ko berperasaan halus dan gampang tergoncang, ketika terpikir olehnya kelak tak bakal bertemu lagi, hatinya menjadi berduka.
"Kau hendak kemanakah?"
Tanya Ui Yong.
"Aku dan Kokoh akan mengasingkan diri ke tempat terpencil dan tidak ingin bertemu dengan khalayak ramai lagi, supaya tidak mencemarkan nama baik Kwe-pepek,"
Sahut Nyo Ko. Hati Ui Yong tergerak, pikirnya.
"Hari ini ia tolong aku dan Hu-ji mati2an, kini ia tersesat dan berdurhaka mana boleh aku peluk tangan tak menolongnya?"
Karena itu, segera ia bilang.
"Hendak pergi juga tak perlu terburu dalam sehari dua hari ini, semuanya tentu sudah letih, marilah kita mencari penginapan untuk mengaso semalam duIu, besok barulah kita berpisah."
Nampak orang begitu manis budi, tak enak Nyo Ko hendak menoIak, ia terima baik permintaan itu.
Lalu Ui Yong bereskan semua rekening dan ganti rugi semua kerusakan pemilik restoran, mereka mencari hotel untuk menginap, Malamnya sesudah dahar, Ui Yong suruh Kwe Hu pergi mengobrol dengan Bu-si Hengte, sebaliknya ia panggil Siao-liong-li ke kamarnya.
"Moaycu (adik), ada suatu barang ingin kuberikan padamu,"
Katanya.
"Beri apa?"
Tanya Siao-liong-li Ui Yong tak lantas menjawab, ia tarik si nona lebih dekat, ia keluarkan sisir dan menyisir rambut orang pelahan2, ia lihat rambut Siao-liong-li hitam gombyok mengkilap sangat menarik, ia gulung hati-hati rambut Siao-liong-li dan tanggalkan sebuah gelang emas penjepit rambut dari sanggulnya sendiri "Moaymoay, aku berikan gelang ini,"
Demikian katanya kemudian.
Gelang jepit rambut emas itu adalah pilihan dari benda mestika yang banyak dikumpulkan ayahnya, Ui Yok-su, di Tho-hoa-to, maka dapat diba yangkan betapa indah dan tinggi nilainya batang itu.
Tapi selamanya Siao-liong-li tak pakai perhiasan, sebagai pengikal rambut hanya sebuah tusuk kondai biasa saja, maka ia tidak menjadi senang oleh hadiah Ui Yong itu, namun ia ucapkan terima kasih juga.
Begitulah sambil mengenakan gelang di atas rambut orang sembari Ui Yong ajak ngobrol padanya.
Sesudah berlangsung percakapan, Ui Yong merasa Siao-liong-li terlalu polos bersih, urusan keduniawian sedikitpun tak paham, ia lihat wajahnya cantik molek, ayu tapi sederhana, kalau bukannya ada hubungan guru dan murid antara Nyo Ko dengan Siao-liong-li, sesungguhnya mereka memang suatu pasangan yang setimpal.
Karena itu, ia menanya lagi.
"Moaycu, hatimu sangat menyukai Ko-ji, bukan ?"
Siao-liong-li ,bersenyum manis.
"Ya, memang tapi kalian kenapa melarang dia membaiki aku?"
Sahutnya.
Ui Yong tercengang oleh jawaban itu, teringat olehnya masa remaja diri sendiri, pernah juga ayah tak boleh dirinya mendapatkan jodoh Kwe Cing, bahkan guru Kwe Cing juga mencela dirinya, tapi sesudah mengalami berbagai macam aral melintang, akhirnya dapat juga mengikat sehidup semati dengan Kwe Cing.
Dan kini Nyo Ko dan Siao-liong-li saling cinta mencintai dengan hati murni, kenapa ia sendiri justru hendak merintanginya ?
Tetapi mereka telah dibatasi sebagai guru dan murid, kalau terjadi hubungan laki-perempuan di luar garis, cara bagaimana mereka harus menghadapi ksatria2 di seluruh jagat?
Sebab pikiran itu, ia menghela napas dan berkata lagi.
"Moaycu, ada banyak urusan2 di dunia ini yang kau tak panam, jika kau dan Ko-ji menjadi suami-isteri, selama hidupmu akan dipandang hina oleh orang lain."
"Orang pandang hina padaku, peduli apa?"
Sahut Siao-liong-li tersenyum. Kembali Ui Yong tercengang, sungguh jawaban ini rada mendekati watak ayahnya, yaitu Ui Yok-su yang paling benci pada segala ikatan adat.
"Tapi Ko-ji bagaimana, iapun akan dipandang hina orang selamanya,"
Katanya kemudian bila ingat betapa kasih sayang sang suami pada Nyo Ko.
"la selama hidup akan tinggal dalam kuburan kuno bersama aku, kami hidup senang bahagia, peduli apa orang lain?"
Sahut Siao-liong-li lagi. Ui Yong tertegun sejurus, lalu ia tanya lagi.
"Kalian berdua tinggal dalam kuburan kuno selama hidup? selamanya takkan keluar lagi?"
Siao-liong-li tampaknya sangat gembira.
"Ya, buat apa keluar?"
Katanya sambil jalan mondar-mandir dalam kamar.
"Orang di luar semuanya jahat,"
"Tapi sejak kecil Ko-ji sudah ter-lunta2 ke sana ke mari selama hidup terkurung dalam kuburan kuno, apakah ia tidak kesal?"
Kata Ui Yong lagi.
"Bukankah ada aku menemani dia, kenapa kesal ?"
Jawab Siao-liong-li tertawa.
"Setahun, dua tahun, mungkin tidak kesal,"
Demikian kata Ui Yong pula sambil menghela napas.
"Tetapi lewat beberapa tahun, ia lantas pikirkan dunia fana di luar, kalau dia tidak bisa keluat, itulah akan lebih kesal rasanya."
Sebenarnya hati Siao-liong-li sangat gembira, mendengar kata2 Ui Yong ini seketika hatinya menjadi tertekan "Coba akan kutanyai Ko-ji, aku tak mau bicara lagi dengan kau,"
Demikian katanya terus keluar kamar.
Melihat wajah orang yang cantik tiba2 seperti berubah muram, Ui Yong rada menyesal terhadap apa yang dikatakannya tadi, tapi bila terpikir lagi apa yang dikatakannya meski tak enak didengar, namun sesungguhnya demi kebaikan mereka, ia pikir, biarlah aku intip apa yang dikatakan pada Ko-ji Lalu ia mendekati jendela kamarnya Nyo Ko dan mendengarkan percakapan kedua muda-mudi itu.
"Ko-ji,"
Terdengar Siao-liong-li lagi berkata.
"selama hidupmu berada bersama dengan aku. kau akan kesal tidak? Dan akan bosan atau tidak?"
"Kenapa kau tanya begitu, Kokoh?"
Sahut Nyo Ko.
"Bukankah kau sudah tahu betapa girang-ku yang tiada taranya, Kita berdua akan hidup terus sampai tua, sampai rambut ubanan, gigi ompong semua, tapi masih terus senang dan bahagia, tidak akan berpisah."
Kata2 Nyo Ko itu diucapkan dengan rasa sungguh2 dan timbul dari lubuk hatinya yang murni, Siao-liong-li terharu sekali hingga seketika ia ter-mangu2.
"Ya, akupun begitu"
Katanya kemudian lewat sejenak. Lalu ia keluarkan seutas tali dan digantung di tengah ruangan kamar dan berkata lagi.
"Sudahlah, kita tidur saja !"
"Kata Kwe-pekbo, malam ini kau tidur bersama dia dan puterinya, aku tidur sekamar dengan Bu-si Hengte,"
Kata Nyo Ko tiba2.
"Tidak."
Sahut Siao-liong-li.
"kenapa harus kedua lelaki itu yang menemani kau? Aku ingin tidur bersama dengan kau."
Sembari bicara, ketika tangannya mengebas pelita minyak telah disirapkannya. Luar biasa terperanjatnya Ui Yong mendengar percakapan terakhir itu diluar jendela.
"Ternyata mereka guru dan murid berdua sudah melakukan perbuatan yang melanggar tata susila, apa yang dikatakan imam tua Thio Ci-keng itu nyata tidak dusta, lantas bagaimana baiknya ini?"
"demikian pikirnya bingung. Ia pikir tidak enak mengintip kedua muda-mudi yang tidur seranjang dan tentu ada "
Main"
Itu, maka niatnya hendak pergi kalau tidak mendadak dilihatnya sekilas sinar putih berkelebat di dalam kamar, tahu2 seorang merebah melintang terapung di udara ruangan kamar, hanya bergoncang beberapa kali tubuh orang itu, lalu tak bergerak lagi.
Heran luar biasa Ui Yong oleh kejadian itu, waktu ia mengamati melalui sinar bulan yang menyorot masuk, kiranya yang tidur terapung itu ialah Siao-Iiong-Ii dengan menggunakan seutas tali sebaliknya Nyo Ko malah tidur di pembaringan sendirian, meski kedua orang bersatu kamar, tapi mereka berlaku sopan menurut batas2 susila.
Ui Yong tertegun di luar, ia merasa kedua orang ini sungguh luar biasa, benar atau salah sungguh sukar dikatakan.
Selagi ia hendak kembali ke kamarnya sendiri, tiba2 didengarnya suara tindakan orang yang ramai, Kwe Hu dan Bu-si Heng-te sudah kembali dari luar.
"Tun-ji, Siu-ji, kalian berdua pergi tidur satu kamar dan tak perlu sekamar lagi dengan Nyo-keh Koko,"
Kata Ui Yong. Bu-si Hengte mengiakan, sebaliknya Kwe Hu lantas tanya.
"Sebab apa, mak?"
"Jangan urus,"
Sahut Ui Yong singkat.
"Aku justru tahu sebabnya,"
Kata Siu-Bun tertawa tiba2.
"Mereka berdua itu guru bukan guru, murid tidak murid, seperti binatang saja tidur sekamar." -----------gambar -----------Waktu Ui Yong memgintip ke dalam kamar, dilihatnya bayangan putih berkelebat, seseorang rebah miring terapung di udara hanya bergeming sebentar lantas tak bergerak Meminjam sinar rembulan Ui Yong mengawasi lebih seksama, kiranya Siao-liong-li tidur diatas seutas tambang, --------------------------------"Siu-ji, kau bilang apa?"
Bentak Ui Yong sambil menarik muka.
"Kau juga terlalu lemah, Sunio, manusia rendah semacam itu buat apa mengurusnya?"
Sela Tun-si.
"Aku sudah pasti tidak akan bicara dengan dia."
"Tapi hari ini mereka telah menolong kita, inilah budi yang harus diingat,"
Kata Kwe Hu.
"Hm, aku lebih suka dibunuh Kim-lun Hoat-ong daripada menerima budi binatang semacam dia itu,"
Kata Siau-Bu pula. Ui Yong kurang senang oleh kata2 kedua saudara Bu itu.
"Sudahlah, jangan banyak omong lagi, pergi tidur saja,"
Kata akhirnya.
Percakapan itu sudah tentu didengar semua oleh Nyo Ko dan Siao-liong-li, sejak kecil Nyo Ko tidak akur dengan Bu-si Hengte, maka kata2 orang diganda tertawa saja tanpa pusing, sebaliknya Siao-liong-li yang me-mikir2 sendiri.
"Aneh, kenapa karena Ko-ji membaiki aku, lantas dia dikatakan binatang, manusia rendah segala?"
Ia pikir terus pergi-datang dan tetap tak mengerti, tengah malam tiba2 ia bangunkan Nyo Ko dan bertanya.
"Ko-ji, ada suatu soal kau harus menjawab sungguh2. Bila kau tinggal dalam kuburan kuno bersama aku sampai beberapa tahun lamanya, apakah kau takkan rindu pada dunia ramai di luar?"
Nyo Ko tercengang hingga tak bisa menjawab.
"Dan bila kau tak keluar, apa kau takkan kesal?"
Tanya Siao-liong-li pula.
"Meski cintamu padaku tak akan berubah selamanya, tapi sesudah lama tinggal dalam kuburan, apa kau takkan masgul?"
Pertanyaan ini membikin Nyo Ko sulit juga menjawabnya, Saat ini sudah tentu ia merasa senang dan bahagia bisa hidup berdampingan dengan Siao-liong-Ii, tapi tinggal di kuburan kuno yang sunyi dan gelap itu sekalipun tak terasa bosan selama sepuluh tahan atau dua puluh tahun umpamanya, tapi bagaimana kalau sampai 30 tahun?
Apalagi 40 tahun?
Sebenarnya untuk menjawab asal menjawab saja tidak sukar bagi Nyo Ko, tapi begitu suci bersih cintanya terhadap Siao-liong-li, dengan sendirinya ia tidak mau jawab sembarangan.
"Kokoh,"
Katanya sesudah memikir.
"kalau kita sampai masgul dan bosan, tidaklah kita bisa keluar bersama saja!"
Siao-liong-li menyahut pelahan sekali, lalu tak bicara lagi, hanya dalam hati ia pikir.
"Apa yang dikatakan Kwe-hujin (nyonya Kwe) ternyata tidak dusta. Kelak kalau dia sudah bosan dan kesal hingga keluar dari kuburan, ia akan dipandang hina oleh setiap orang, lalu apa senangnya orang hidup begitu ? ia baik padaku, entah mengapa orang lain lantas pandang rendah dan hina padanya, apakah aku sendiri seorang tak membawa alamat baik? Aku suka dia dan mencintai dia, jiwaku boleh melayang, tapi kalau menjadikan dia tak bahagia, lebih baik dia tak menikahi aku saja. Kalau begitu, malam itu di Cong-lam-san dia tak mau berjanji akan peristerikan diriku, agaknya disebabkan inilah."
Sementara didengarnya Nyo Ko menggeros nyenyak maka pelahan ia melompat turun, ia dekati pembaringan dan pandang wajah orang yang cakap, hatinya cemas dan pedih, tak tertahan air matanya ber-linang2.
Besok paginya ketika Nyo Ko mendusin, terasa olehnya pundaknya rada basah, ia merasa aneh sekali, ia lihat Siao-liong-li sudah tiada di kamar, ia bangun duduk, tapi lantas tertampak di atas meja terukir delapan huruf yang halus dengan jarum yang bunyinya.
"Selamat tinggal, janganlah pikirkan diriku."
Kaget luar biasa Nyo Ko, seketika ia ter-mangu2 bingung, ia lihat di atas meja masih kelihatan ada bekas air mata yang belum kering, dapat diduga rasa basah di pundaknya tentu juga karena air mata Siao-liong li, Maka dapatlah di bayangkan berapa remuk redam perasaannya tatkala ia menulis ke delapan huruf ini.
Dalam keadaan cemas Nyo Ko merasa seakan disamber petir mendadak ia dorong daun jendela terus meloncat keluar sambil ber-teriak2.
"Kokoh, Kokoh !"
Nyo Ko insaf sedetik saja tak boleh di-sia2kan, kalau hari ini Siao-liong-Ii tak bisa diketemukannya, kelak mungkin sukar bersua lagi, maka cepat ia lari ke kandang kuda, ia keluarkan kudanya yang kurus itu terus dicemplaknya pergi.
Kebetulan waktu itu Kwe Hu lagi keluar dari kamarnya.
ia menjadi heran melihat kelakuan pemuda ini, ia ber-teriak2 memanggil .
"Nyo-koko, hendak ke mana kau?"
Tapi Nyo Ko membudek, ia larikan kudanya cepat ke utara, sekejap saja belasan li sudah dilaluinya, sepanjang jalan ia terus ber-teriak2.
"Kokoh, Kokoh!"
Tapi mana ada bayangan Siao-liong-li.
Setelah berjalan tak lama, tiba2 dilihatnya rombongan Kim-lun Hoat-ong sedang menuju ke barat, ketika mendadak mereka nampak Nyo Ko seorang diri dan satu tunggangan, merekapun ter-heran2, Segera Kim-lun Hoat-ong belokan kudanya memapak datangnya Nyo Ko.
Sama sekali Nyo Ko tak bersenjata, tiba2 menghadapi musuh besar, sudah tentu sangat berbahaya.
Tapi ia sedang kuatirkan keadaan Siao liong-li, apa yang dipikirkan kini tiada lain kecuali jejak Siao-liong-Ii, keselamatan diri sendiri sudah tak terpikir olehnya, maka demi nampak Kim-lun Hoat-ong mendatangi, ia malah tarik tali kuda dan memapakinya dan bertanya.
"Hai, apa kau melihat guruku?"
Melihat orang tidak melarikan diri. sudah tentu Kim-lun Hoat-ong heran, kini mendengar pertanyaan itu, keruan tambah tercengang.
"Tidak."
Sahutnya kemudian.
"Apa dia tidak bersama kau!?"
Kedua orang ini sama2 cerdik luar biasa, setelah terjadi tanya jawab ini, sesaat itu keduanya sudah timbul pikiran, Nyo Ko berada sendirian tentu bukan tandingan Kim-lun Hoat-ong, maka setelah sinar mata kedua orang kebentrok, cepat Nyo Ko keprak kuda dan di lain pihak Kim-lun Hoat-ong sudah ulur tangan hendak menjambret nya, Namun kuda kurus itu tangkas luar biasa, bagai angin cepatnya sudah membedal lewat, lekas2 Kim-lun Hoat-ong keprak kuda mengejar, tapi Nyo Ko sudah berada sejauh satu li lebih dan sukar disusul lagi.
Tiba2 pikiran Hoat-ong tergerak pula, ia tahan kuda tak mengejar lebih jauh, ia pikir.
"Kalau mereka guru dan murid terpencar, apalagi yang aku takutkan sekarang? Kalau Ui-pangcu itu masih belum pergi jauh, ha-ha..."
Begitulah, segera ia bawa rombongannya balik ke tempat darimana mereka datang tadi.
Sementara itu Nyo Ko masih belum melihat bayangan Siao-liong-li, sekalipun sudah beberapa puluh li ia tempuh, ia merasa darahnya bergolak hingga rasanya gelap pandangan, hampir2 saja ia pingsan di atas kudanya, Sungguh luar biasa rasa sedih dan pilunya.
"Sebab apakah Kokoh mendadak tinggalkan aku? Di manakah aku pernah mencederai dia? Sewaktu ia hendak tinggalkan aku tidak sedikit air mata yang dia alirkan, tentunya itu bukan karena marah padaku,"
Demikianlah ia pikir. Lalu terpikir pula tiba2 olehnya.
"Ah, tahukah aku sekarang, tentunya karena aku bilang tinggal di dalam kuburan kuno akan merasa bosan, maka ia kira aku tak mau hidup berdampingan selamanya dengan dia."
Berpikir sampai disini, tiba2 ia melihat setitik sinar harapan.
"Ah, tentu dia telah kembali ke kuburan kuno, biarlah aku pergi ke sana mendampingi dia,"
Demikian pikirnya terakhir.
Tadi dalam bingungnya ia larikan kudanya secara ngawur tanpa bedakan arah, kini ia bisa pilih jalan, ia kembali ke utara menuju Cong-lam-san.
sepanjang jalan ia berpikir terus, makin pikir makin terasa benar keputusannya itu, karena itu rasa duka dan rindunya menjadi hilang beberapa bagian, bahkan kemudian iapun ber-dendang2 sendiri di atas kudanya.
Waktu lohor ia mampir di suatu kedai nasi untuk tangsal perut, habis makan semangkok bakmi waktu mau bayar, tiba2 ia melongo, Kiranya waktu berangkat terlalu buru2 hingga satu mata uang saja tak membawanya, Tapi Nyo Ko tak kurang akal, ia incar ketika pengurus kedai meleng, cepat saja ia cemplak kudanya terus lari pergi, ia dengar pemilik kedai mencaci maki kalang kabut di belakang, diam2 pemuda ini tertawa geli sendiri.
Petangnya, tibalah dia di sebuah hutan lebat.
Se-konyong2 didengarnya sayup2 ada suara bentakan dan makian di dalam hutan diseling dengan suara nyaring beradunya senjata, terkejut Nyo Ko, ia coba dengarkan lebih jelas, ia kenali kemudian itulah suaranya Kim-lun Hoat-ong dan Kwe Hu.
Nyo Ko tahu pasti terjadi sesuatu, lekas2 ia melompat turun dari kudanya, ia lambat kudanya sedikit jauh, ia sendiri menyelinap masuk hutan dengan kepandaian "tah-poh-bu-seng"
Atau melangkah tanpa bersuara, semacam ilmu entengkan tubuh yang tinggi, ia mencari tempat dimana datangnya suara.
Setelah belasan tombak jauhnya, ia lihat di tengah hutan lebat itu Ui Yong dan puterinya beserta Bu-si Hengte lagi melawan rombongan Kim-lun Hoat-ong se-bisa2nya di suatu gundukan batu.
Ia lihat keadaan Bu-si Hengte sangat mengenaskan mukanya, bajunya, semua berlepotan darah.
Ui Yong sendiri rambutnya serawutan, tampaknya kalau bukan Kim-lun Hoat-ong sengaja ingin menawan lawannya hidup2, mungkin mereka berempat sudah sejak tadi binasa di bawah roda besinya.
Setelah menyaksikan beberapa jurus lagi, diam2 Nyo Ko memikir.
"Kokoh tidak di sini, kalau aku maju membantu sendiri, tentu antar jiwa percuma, lantas bagaimana baiknya ini?"
Selagi ia hendak cari akal, tiba2 dilihatnya roda Kim-lun Hoat-ong sedang menghantam, Ui Yong kelihatan tak kuat menangkis, mendadak ia mengkeret masuk ke belakang segundukan batu.
Lalu Kim lun Hoat-ong terpancing masuk ke tengah gundukan batu ini dan berputar kian kemari, namun tak mampu mendekati Ui Yong lagi.
Heran sekali Nyo Ko oleh kejadian itu, dilihatnya Kwe Hu dan Bu-si Hengte juga berkelit dan berputar mengandalkan gundukan batu, bila ada bahaya.
asal sembunyi di belakang batu, seketika Darba ketinggalan dan terpaksa ber-putar2 kesana kemari baru bisa menyusulnya, namun sementara itu Kwe Hu sudah sempat bernapas untuk melawan musuh lagi.
Makin melihat makin heran Nyo Ko, sungguh tak bisa dimengertinya beberapa gundukan batu dalam hutan ini ternyata begitu mukjijat.
Tapi meski keselamatan Ui Yong cs, tak menjadi soal lagi, tapi hendak lari keluar barisan gundukan batu, rasanya juga susah.
Setelah lama tak bisa bobolkan pertahanan musuh, meski Bu-si Hengte dapat dilukai, tapi tak parah, sebaliknya pihak Kim-lun Hoat-ong sendiri ada seorang tertusuk mati oleh Kwee Hu.
Hoat-ong tahu gundukan batu itulah letak penyakitnya yang harus dipecahkan baru bisa menangkap musuh.
Hoat-ong seorang yang cerdas dan tinggi hati, ia pikir beberapa orang ini sudah seperti kura2 dalam tempurung tak nanti bisa lolos dari cengkeramannya, ia pikir bila sebentar lagi perputaran barisan gundukan batu dapat dipahami segera ia menerjang masuk dengan cepat dan sekali pukul lantas berhasil, barulah hal ini bisa perbaikan kepintarannya.
Maka mendadak ia memberi tanda rombongannva mundur, ia sendiripun mundur lebih setombak jauhnya sambil memperhatikan susunan gundukan batu yang ruwet itu.
Ia pikir berapa hebat siasat vang diatur maupun barisan yang dikerahkan pasti tidak terlepas dari perhitungan Thay-kek dan Liang-gi dan meluas menjadi Ngo-heng dan Pat-kwa.
Kim-lun Hoat-ong sendiri mahir macam2 ilmu aneh itu, ia pikir meski barisan gundukan batu itu rada aneh, ia yakin pasti tidak terlepas dari dasar perhitungan tersebut diatas.
Siapa tahu sudah lama ia pandang dan perhatikan, baru saja sedikit lubang dapat dilihatnya, ketika hendak dipecahkan lebih jauh, tiba2 salah lagi, sebelah kiri betul, sayap kanan sudah berubah, dapat dipecahkan bagian depan, lalu sebelah belakang sukar dipahami pula.
ia ter-menung2 di tempatnya, terkejut dan kagum luar biasa atas kepandaian Ui Yong.
Tapi Kim-lun Hoat-ong adalah seorang genius, baik silat maupun surat, meski menghadapi soal sulit, ia justru ingin gunakan kecerdasan sendiri untuk memecahkannya.
Nyo Ko lihat paderi ini mencurahkan perhatian penuh atas gundukan2 batu, mendadak matanya terbeliak seperti paham di mana letak mujizat barisan batu itu dan orangnya terus melompat masuk cepat luar biasa, ketika ia ulur tangan, tahu2 Kwe Hu kena dijambret, habis ini iapun mundur lagi keluar barisan batu.
Perubahan diluar dugaan ini membikin Ui Yong terkejut hingga seketika tak berdaya, kalau keluar barisan buat menolong, terang mereka sendiri yang bakal menghadapi bahaya.
Kiranya tadi Kwe Hu melihat musuh berdiam diri, ia menjadi gegabah, tak diturut lagi pesan ibundanya agar berdiri tetap di tempatnya, tapi ia keluar garis pertahanan barisan batu dan betapa lihaynya Kim-lun Hoat-ong, begitu ada kesempatan segera ia turun tangan menawannya terus menutuk Hiat-to iganya dan diletakkan di tanah.
Sengaja Hoat-ong tak menutuk urat nadi gagu si gadis agar bisa bersuara minta tolong ibundanya untuk memancing Ui Yong keluar dari barisan batu itu.
Seketika Kwe Hu merasa seluruh badan kaku gatal luar biasa, tapi anggota badan tak bisa bergerak tiada jalan lain kecuali merintih pelahan.
Sudah tentu Ui Yong tahu akal licik musuh, tapi kasih ibu adalah pembawaan setiap manusia, ia menjadi kuatir luar biasa, tapi bibir digigitnya kencang2, sedapat mungkin menahan perasaannya Kesemua itu disaksikan Nyo Ko dengan jelas di tempat sembunyinya, tiba2 dilihatnya Ui Yong gerakkan tongkat bambu lalu hendak terjang keluar barisan batu untuk menolong puteri kesayanganmya, tanpa pikir lagi se-konyong2 Nyo Ko melompat keluar, Kwe Hu disambernya terus melompat masuk kembali ke barisan gundukan batu itu.
Cepat juga Kim-lun Hoat-ong timpuk roda besinya menghantam punggung si Nyo Ko yang masih terapung di udara hingga sukar berkelit.
Tapi mendadak Kwe Hu didorongnya ke arah Ui Yong, berbareng Nyo Ko sendiri gunakan gerakan "jian-km-tui" , tubuhnya menurun cepat ke bawah dan terdengarlah suara "bluk" , antap sekali tubuh Nyo Ko terbanting di atas gundukan batu itu, sementara terdengar suara gemerenceng yang nyaring, roda besi musuh tepat menyamber lewat di atas kepalanya.
Di lain pihak Ui Yong sudah merangkul puteri kesayangannya dengan perasaan girang dan duka, ia lihat Nyo Ko telah merangkak bangun dari gundukan batu, mukanya babak belur karena jatuhnya yang berat tadi, lekas2 ia tunjukkan jalan masuk ke barisan batu dengan tongkat bambunya yang panjang itu.
Melihat serangannya yang tak berhasil dan kembali gara2 si Nyo Ko, Kim-lun Hoat-ong tidak gusar, ia malah bergirang, katanya dengan tersenyum dingin.
"Bagus, kau sendiri yang masuk jaring, aku dapat hemat tenaga dan tak perlu cari kau lagi kelak"
Dengan mati2an Nyo Ko menolong orang, timbulnya secara spontan, tapi sesudah masuk barisan batu itu dan teringat ikut campurnya ini berarti antarkan nyawa sendiri dan selanjutnya sukar bersua lagi dengan Siao-liong-li, diam2 ia merasa menyesal.
"Ko-ji, buat apa kau lakukan ini?"
Kata Ui Yong kemudian menghela napas.
"Kwe-pekbo,"
Sahut Nyo Ko tertawa getir.
"secara ketolol2 an, asal darahku panas, lantas aku tak pikirkan diri sendiri lagi."
"O, anak baik, hatimu yang baik ini dibanding ayahmu..."
Belum habis Ui Yong berkata, mendadak ia berhenti.
"Kwe-pekbo, ayahku seorang jahat bukan?"
Tanya Nyo Ko gemetar.
"Buat apa kau tanya ini?"
Kata Ui Yong menunduk. Habis ini mendadak ia berseru.
"Awas, ke sini ikut aku!"
Lalu ia tarik orang melintasi dua gunduk batu menghindari pembokongan Kim-lun Hoat-ong. Kagum luar biasa setelah Nyo Ko meneliti sekitar gundukan batu itu.
"Kwe-pekbo, kepandaianmu yang hebat ini di jagat ini tiada keduanya lagi,"
Katanya kemudian. Ui Yong tak menjawab, ia hanya tersenyum dan sibuk mengurut Kwe Hu yang habis ditutuk musuh tadi.
"Kau tahu apa?"
Sela Kwe Hu tiba2.
"Kepandaian ibu adalah ajaran Gwa-kong (engkong luar), Engkong-ku itulah baru benar2 lihay."
Nyo Ko sendiri sudah saksikan kepintaran Ui Yok-su dengan tanaman2 yang teratur di Tho-hoa-to, cuma waktu itu umurnya masih kecil, maki tidak dapat dipahaminya kebagusannya, kini mendengar kata2 Kwe Hu, berulang kali ia mengangguk dan merasa kagum tak terhingga.
"Ya, entah kapan berjumpa dengan beliau barulah rasanya hidupku ini tak ter-sia2,"
Demikian katanya.
Dalam pada itu mendadak Kim-lun Hoat-ong menerjang masuk lagi, sudah dua gunduk batu dilintasinya, Nyo Ko tak bersenjata sama sekali, lekas2 tongkat bambu Ui Yong yang masih menggeletak di tanah itu disambarnya terus mendahului maju menahan musuh, beruntun2 tongkat bambu menyabet dua kali, apa yang dimainkan adalah Pak-kau-pang-hoat.
Melihat Pang-hoat orang terlalu bagus, Kim-lun Hoat-ong tak berani ayal, ia layani Nyo Ko penuh perhatian, setelah beberapa jurus, mendadak keduanya sama2 kesandung batu dan sampai hampir jatuh.
Kuatir terjebak, lekas2 Hoat-ong melompat keluar dari gundukan batu, sedang Ui Yong menunjukkan jalan masuk bagi Nvo Ko.
Bu-si Hengte dan puterinya disuruh pindahkan batu2 itu untuk merubah barisan pertahanannya.
"Darimanakah kau dapat belajar Pa-kau-pang-hoat ini sebenarnya?"
Tanya Ui Yong kemudian pada Nyo Ko.
Maka terus teranglah Nyo Ko ceritakan pertemuannya yang aneh dengan Ang Chit-kong dulu di atas Hoa-san dan bagaimana Pak-kay dan Se-tok telah bertanding di sana hingga turunkan ilmu tongkat pemukul anjing itu padanya, cuma kuatir kalau Ui Yong terkejut, maka tentang tewasnya Ang Chit-kong tak diceritakannya sama sekali.
"Penemuanmu yang aneh itu sungguh jarang terjadi,"
Ujar Ui Yong kemudian, Tiba2 tergerak hatinya, ia berkata pula .
"Ko-ji, kau sangat pintar, cobalah kau carikan suatu akal buat lepaskan diri dari kesukaran sekarang ini."
Melihat sikap Ui Yong segera Nyo Ko tahu orang telah mendapatkan akalnya, maka iapun pura-pura tak tahu dan menanya.
"Jika engkau sehat kuat, kita keroyok Hoat-ong pasti akan menang, atau bila dapat mendatangkan guruku, tentu segalanya akan beres,"
"Kesehatanku ini seketika mana bisa baik?"
Sahut Ui Yong.
"Kokohmu juga tak diketahui ke mana perginya, Aku ada suatu akal dan harus menggunakan beberapa gundukan batu ini, barisan batu ini adalah ajaran ayahku, perubahan2 di dalamnya tiada habis2nya, sebenarnya belum ada dua bagian yang kugunakan sekarang ini."
Terkejut sekali Nyo Ko oleh keterangan itu, ia pikir ilmu pengetahuan Ui Yok-su sungguh tinggi bagai dewata, tidak kepalang rasa kagumnya.
"Pak-kau-pang-hoat ajaran guruku padamu itu hanya melulu cara memainkan saja, sedang apa yang kau dengar di atas pohon, yaitu apa yang kuuraikan adalah garis besar dari kunci2nya,"
Kata Ui Yong lagi "Dan kini biar aku turunkan gerak perubahan yang bagus sampai sekecilnya padamu semuanya."
Tentu saja girang Nyo Ko, tapi ia pura2 menolak.
"Ah, agaknya tak boleh jadi,"
Demikian katanya.
"Pak-kau-pang-hoat kecuali Pangcu dari Kay-pang tidak sembarangan diturunkan pada orang luar selamanya."
"Di hadapanku jangan kau pakai akal tengik?"
Kata Ui Yong sambil melototinya.
"Pang-hoat ini Suhuku sudah turunkan padamu tiga bagian, kau sendiripun sudah mencuri dengar dua bagian, kini aku turunkan lagi dua bagian padamu, sisanya 3 bagian tergantung kecerdasanmu untuk mempelajarinya sendiri dan orang lain se-kali2 tak bisa mengajarkan kau, Soalnya kini terpaksa, pertama bukan orang mengajarkan Pang-hoat ini padamu kedua disebabkan kepepet, tiada jalan lain."
Segera saja Nyo Ko berlutut dan menjura beberapa kali.
"Kwe-pekbo,"
Katanya tertawa.
"Dahulu waktu aku kecil pernah kau berjanji akan turunkan ilmu silat padaku, sampai hari ini barulah kau benar2 Kwe-pekbo yang baik."
"Ya, selama ini kau terus dendam padaku, bukan?"
Sahut Ui Yong tersenyum.
"Mana aku berani?"
Kata Nyo Ko.
Habis itu, dengan bisik2 Ui Yong lantas uraikan intisari Pak-kau-pang-hoat, semuanya ia beritahukan pada Nyo Ko.
Di luar gundukan batu2 sana Kim-lun Hoat-ong melihat Nyo Ko tiba2 menjura pada Ui Yong, kedua orang ini bicara sambil ter-tawa2, lalu bisik2 entah apa yang sedang dikerjakan, tampaknya seperti tak gentar dan sama sekali tak pandang sebelah mata pada dirinya.
Meski mendongkol juga Kim-lun Hoat-ong, tapi biasanya ia sangat tenang dan hati2, ia yakin nanti setelah memecahkan letak penyakit barisan batu2 itu baru akan ambil tindakan.
Karena penundaan serangannya ini, Ui Yong dan Nyo Ko tak perlu melayani musuh, maka tiada setengah jam, semua kunci intisari sudah hampir selesai diuraikannya.
Kepintaran Nyo Ko boleh dikata ratusan kali lebih tinggi dari pada Loh Yu-ka, ditambah Pak-kau-pang-Iioat ini memang sudah lama dipelajarinya, meski banyak yang belum dia pahami dan belum bisa dipecahkan, tapi setelah diberi petunjuk oleh Ui Yong, tentu saja segalanya lantas terang dengan sendirinya.
Dari jauh Kim-lun Hoat-ong melihat wajah Ui Yong tenang tapi sungguh2 sambil bibirnya bergerak komat-kamit, sebaliknya Nyo Ko kelihatan garuk2 kepala dan cakar2 kuping seperti girang tak terhingga, ia menjadi bingung apa yang dilakukan kedua orang itu, urusannya tentu tidak menguntungkan dirinya, hal ini dapat dipastikannya.
Dan sesudah Nyo Ko selesai mendengarkan uraian istilah itu disusul beberapa pertanyaannya yang rada sulit, semuanya Ui Yong menjelaskannya dengan baik, lalu katanya.
"Sudahlah cukup, kau bisa bertanya beberapa persoalan ini menandakan banyak yang telah kau pahami. Tindakan selanjutnya ialah kita akan pancing Hoat-ong masuk barisan dan menawannya."
"Apa?"
Tanya Nyo Ko terkejut "Menawan nya?"
"Ya, apa susahnya?"
Kata Ui Yong.
"Kini kita berdua dapat bersatu padu, soal tipu sudah menantikan dia, kekuatan pun di atasnya, Kini biar ku terangkan di mana letak kebagusan Loan-ciok-tin (barisan gundukan batu) ini seketika tentunya kaupun tak bisa paham, tapi asal kau ingat secara baik2 36 perubahannya kukira sudah cukup."
Lalu iapun menjelaskan cara bagaimana berubah dari suatu pintu ke pintu lainnya dan barisan batu-batu itu.
Kiranya Loan-ciok-tin ini adalah perubahan dari Pak-tin-toh ciptaan Khong Beng di jaman Sam-kok, dahulu Khong Beng menggunakan batu2 menjadi barisan pertahanan di tepi sungai untuk menjebak pihak musuh binasa sukar meloloskan diri, kini apa yang diatur Ui Yong juga serupa tujuan Khong Beng pula, cuma karena terlalu buru2 hingga barisan batu2 itu belum rampung diaturnya.
Namun begitu Kim-lun Hoat-ong sudah dibikin bingung dengan mata terbuka lebar ia pandang lima lawannya di depan sana tanpa berani turun tangan secara sembarangan.
Ke-36 perubahan dari Loan-ciok-tin itu sesungguhnya ruwet dan bagus sekali, sekalipun Nvo Ko pintar luar biasa, seketika iapun tak bisa paham semua, sudah dua kali Ui Yong ulangi uraiannya dan Nyo Ko baru bisa paham lebih 20 macam perubahan itu, sementara itu cuaca sudah remang2 sedang Kim-lun Hoat-ong kelihatan ber-gegas2 hendak bergerak pula.
"Cukup likuran kali perubahan ini saja sudah bisa kurung dia di dalam,"
Kata Ui Yong kemudian.
"Sekarang juga aku keluar memancing dia masuk barisan, sekali aku ubah baris pertahanan, segera ia akan terkurung."
Keruan girang sekali si Nyo-Ko.
"Kwe-pekbo,""
Katanya. Kelak kalau aku datang ke Tho-hoa-to lagi, apakah engkau bersedia mengajarkan semua ilmu pengetahuan ini padaku? "Jika kau sudi datang, kenapa aku tak sudi mengajarkan kau?"
Sahut Ui Yong tertawa.
"Mati-matian kau telah tolong aku dan Hu-ji dua kali, masakah aku masih melayani kau seperti dahulu?"
Mendengar itu, senang sekali rasa hati Nyo Ko, dalam keadaan demikian seumpama Ui Yong suruh dia kerjakan apa, dapat dipastikan tanpa tawar lagi akan dilakukannya, Maka tak pikir lagi segera ia samber tongkat pemukul anjing terus lari keluar barisan,batu-batu itu.
"Hayo, Hoat-ong, bila kau berani, marilah kita bertempur 300 jurus !"
Demikian Nyo Ko lantas menantang, Memangnya Kim-lun Hoat-ong lagi kuatir mereka main gila di dalam barisan batu2 itu untuk membokong dirinya, kini melihat Nyo Ko keluar menantang, keruan kebetulan baginya, Segera ia angkat roda besinya terus menghantam.
ia kuatir Nyo Ko lari masuk lagi ke dalam gundukan batu maka setelah dua gebrakan, segera ia cegat jalan mundur si Nyo Ko dengan tujuan memaksa pemuda ini jauh meninggalkan barisan batu itu.
Tak ia duga baru saja Nyo Ko mempelajari Pak-kau-pang-hoat dan sekarang juga lantas dipraktekkan, nyata ilmu tongkat pemukul anjing ini memang heibat luar biasa dengan segala gaya memukul, menjojoh, menyandung, menyabet dan macam2 lagi, karena gegabah hingga sedikit meleng, segera paha Kim-lun Hoat-ong kena ditoyor sekali oleh tongkat bambu Nyo Ko, meski ilmu silatnya sangat tinggi dan cepat bisa tutup jalan darahnya hingga tidak terluka, namun terasa juga sakit sekali.
Karena kecundang ini, ia tak berani ayal lagi, roda besinya berputar cepat, ia lawan Nyo Ko sepenuh perhatian, meski lawannya kini hanya pemuda belasan tahun, tapi ia justru seperti menghadapi musuh tangguh, se-akan2 melawan seorang tokoh silat maha lihay.
Dan karena orang bertempur sungguh2, Nyo Ko segera kewalahan, sekalipun hebat Pak-kau pang-hoat, tapi baru dipelajari lantas digunakan, betapapun juga belum leluasa dimainkannya, lekas2 ia gunakan gaya "hong"
Atau menutup untuk menahan serangan roda orang, berbareng ia geser langkah menerobos ke sini ke sana.
Melihat pemuda ini hendak menerjang keluar, Kim-lun Hoat-ong pikir kebetulan baginya, maka ber-ulang2 iapun mundur hendak pancing Nyo Ko jauh meninggalkan barisan batu, Siapa tahu baru belasan tindak ia mundur, mendadak ia kesandung sebuah batu besar, ternyata tanpa terasa ia sendiri malah terpancing masuk ke dalam Loan-ciok-tin.
Harus diketahui bahwa setiap langkah Nyo Ko selalu turut ajaran Ui Yong tadi, ia bertindak menurut duduk Pat-kwa yang aneh, hanya beberapa kali ia menggeser dan arahnya sudah berganti, semakin ia menerjang maju, semakin masuk ke dalam barisan batu, Dan karena asyik menempur orang, seketika Kim-lun Hoat-ong, kena diselomoti,waktu ia sadar, namun sudah terjeblos di dalam Loan-ciok-tin itu.
Ia pikir bisa celaka, ia dengar Ui Yong berulang kali lagi berseru.
"Cu-jiok pindah Jing-liong, Soan-wi berubah Li-wi, It-bok ganti Kui-cui,"
Apa yang disebut ini adalah nama tempat kedudukan yang harus dituju Nyo Ko dalam barisan batu itu.
Berbareng itu, Bu-si Hengte dan Kwe Hu serentak memindahkan batu2 besar dan mengurung rapat musuh di tengah2.
Terkejut sekali Kim-lun Hoat-ong karena perubahan hebat itu, pikirnya hendak berhenti buat periksa keadaan sekitarnya, tapi tongkat bambu Nyo Ko justru selalu mengganggu, Pak-kau-pang-hoat ini belum cukup kuat buat menempurnya secara berhadapan, tapi untuk mengacaukan pikirannya justru sangat tepat.
Sementara itu Kim-lun Hoat-ong beberapa kali kesandung batu lagi hingga berdirinya tak mantap, ia tahu barisan batu2 itu sangat lihay, asal kejeblos terlalu lama, makin putar makin kacau jadinya.
Dalam keadaan bahaya, mendadak Kim-lun Hoat-ong menggertak sekali, ia keluarkan Ginkang dan melompat ke atas gundukan batu, Dengan berada di atas gundukan batu seharusnya tidak terkurung lagi oleh barisan itu, tapi anehnya barisan batu itu justru bisa mengacaukan arah, bila lari ke timur dan menyangka bisa keluar, tahu2 dari timur sampai barat dan dari selatan ke utara tetap ber-putar2 dan akhirnya hanya putar kayun terus di suatu lingkaran kecil hingga tenaga habis, akhirnya menyerah tak berdaya.
Dalam pada itu dilihatnya Nyo Ko telah ayun tongkatnya memukul betisnya, terpaksa Kim-lun Hoat-ong melompat turun ke tanah datar lagi, ia putar rodanya balas menghantam.
Setelah belasan jurus lagi, cuaca sudah mulai gelap hingga makin menambah seramnya barisan batu itu, dalam keadaan demikian sekalipun Kim-lun Hoat-ong memiliki kepandaian setinggi langit mau-tak-mau iapun berkuatir.
Mendadak menjadi nekat, ketika kedua kakinya menyapu kuat, lebih dulu sebuah batu besar lebih 20 kati kena didepak ke udara, menyusul sebuah batu besar lain terbang lagi ke angkasa, ia bergerak cepat, kedua kakinya pun bergantian menendang hingga barisan batu itu seketika pecah berantakan.
Terkejut luar biasa Ui Yong berlima, Iekas2 mereka berkelit akan timpaan batu2 terbang dari atas itu.
Kini kalau Kim-lun Hoat-ong mau lari keluar barisan sebenarnya tidak susah, tapi dari terserang ia segera balas menyerang, sekali tangan mengulur, kontan Ui Yong hendak ditangkapnya.
Cepat Nyo Ko jojoh punggung orang dengan tongkatnya, ketika Hoat-ong ayun roda besinya menangkis ke belakang, sementara telapak tangannya juga sudah sampai di atas pundak Ui Yong.
Kalau mau sebenarnya Ui Yong bisa hindarkan diri dengan sedikit mundur, tapi didengarnya di belakang samberan angin yang keras, dari udara sebuah batu besar lagi menimpa ke arah punggungnya, terpaksa ia keluarkan Kim-na-jiu-hoat, ilmu menangkap dan melawan, ia papaki tangan Hoat-ong terus memegangnya kencang malah.
"Bagus !"
Seru Hoat-ong, ia biarkan tangannya dipegang Ui Yong, ketika orang hendak membetot mendadak ia barengi menarik dengan tenaga raksasanya.
Kalau dalam keadaan biasa, tidak susah bagi Ui Yong untuk melepaskan diri, tapi kini ia tak bisa keluarkan tenaga, maka terdengarlah ia menjerit orangnya lantas jatuh juga.
Terperanjat sekali Nyo Ko, tak dihiraukan lagi mati hidup sendiri, ia menubruk maju terus merangkul kedua kaki Kim-lun Hoat-ong hingga keduanya sama2 terbanting roboh.
Betapapun juga Kim-lun Hoat-ong memang jauh lebih tinggi ilmu silatnya, belum tubuhnya menggeletak telapak tangan kanan dengan tipu pukulan berat telah hantam kena dada Nyo Koi hingga pemuda ini terpental bagai bola.
Tapi pada saat itu juga, sebuah batu besar terakhir yang terbang ke udara oleh tendangan Hoat-ong tadi justru menimpa turun juga, maka terdengarlah suara "bluk"
Yang keras, dengan tepat punggung Hoat-ong sendiri kena tertimpa.
Betapa hebat tenaga tumbukan batu itu, sungguhpun Lwekang Hoat-ong amat tingginya juga tak tahan, meski ia masih bisa keluarkan tenaga untuk menendang pergi batu itu, tapi setelah sempoyongan beberapa kali, akhirnya ia roboh ke depan.
Begitulah, hanya sekejap saja batu bertebaran dan barisan berantakan Ui Yong, Nyo Ko dan Kim-lun Hoat-ong bertiga sama2 roboh terluka.
Di luar barisan batu si Darba dan para jagoan Mongol serta Kwe Hu dan Busi Hengte di dalam barisan sama2 terkejut, segera yang diluar lari masuk hendak menolong.
Tenaga Darba besar luar biasa, pula diantara jagoan Mongol itu ada beberapa orang yang kuat, sudah tentu Kwe Hu dan kedua Bu cilik tak bisa melawannya.
Mendadak tertampak Kim-lun Hoat-ong berdiri sambil sempoyongan, ketika rodanya bergerak hingga menerbitkan suara nyaring, wajahnya putih pucat, tiba2 ia menengadah dan bergelak tertawa, suaranya seram membikin orang mengkirik.
"Selama hidupku belum pernah aku menderita luka sedikitpun menghadapi musuh siapa saja, tak nyana hari ini aku melukai diriku sendiri,"
Kata Hoat-ong, suaranya serak berat.
Habis ini, kembali tangannya mengulur hendak mencengkeram Ui Yong lagi.
Meski Nyo Ko kena dipukul sekali di dadanya dan cukup parah, tapi demi nampak Ui Yong terancam bahaya, sambil merangkak segera ia ayun pula tongkatnya menangkis tangan musuh, dan karena sedikit keluar tenaga ini, tak tahan lagi darah menyembur keluar dari mulutnya.
"Sudahlah, Ko-ji, kita akui kalah saja, tak perlu adu jiwa lagi, kau jaga dirimu saja baik2,"
Ujar Ui Yong sedih. Sementara dengan pedang terhunus Kwe Hu menjaga di samping ibunya.
"Kau lekas lari dulu, Hu-moay, paling penting beritahukan ayahmu saja,"
Bisik Nyo Ko pelahan.
Tapi pikiran Kwe Hu sudah kusut, sekalipun tahu kepandaian diri sendiri terlalu rendah, tapi mana tega ia tinggalkan sang ibu?
Dalam pada itu sedikit ayun roda besinya, tahu2 pedang Kwe Hu terpental terbentur roda Kim-lun Hoat-ong, terlihatlah sinar putih terbang mendadak dan masuk ke dalam hutan.
Selagi Kim-lun Hoat-ong hendak dorong pergi Kwe Hu buat tangkap Ui Yong, tiba2 didengarnya suara seruan seorang perempuan.
"Tahan dulu !"
Menyusul mana sesosok bayangan hijau tahu2 melompat keluar dari dalam hutan terus samber pedang Kwe Hu yang sedang me-layang2 itu, beberapa kali loncatan lagi, cepat sekali orangnya sudah sampai di antara gundukan batu itu.
Melihat wajah orang seram luar biasa, tiga bagian seperti manusia, tujuh bagian mirip setan, selama hidupnya belum pernah melihat wajah orang begitu aneh dan jelek, seketika Kim-lun Hoat-ong tercengang.
"Siapa kau?"
Iapun membentak. Orang perempuan itu tidak menjawab, ia berjongkok terus mendorong satu batu besar hingga melintang di tengah2 Hoat-ong dan Ui Yong, kemudian buka suara .
"Apakah kau ini Kim-lun Hoat-ong dari Tilbet yang tersohor itu?" -Meski wajahnya jelek, tapi suaranya ternyata amat merdunya.
"Ya, betul dan kau siapa?"
Sahut Hoat-ong.
"Aku hanya seorang anak dara tak bernama, sudah tentu kau tak kenal aku,"
Sahut gadis itu. Sembari berkata, kembali ia geser satu batu lainnya ke samping. Sementara itu dalam hutan rimba gelap gulita, tiiba2 tergerak pikiran Hoat-ong, ia membentak cepat.
"Apa yang kau lakukan?"
Selagi hendak merintangi orang memindahkan batu, ia dengar gadis itu telah berseru.
"Kak-bok-kau berubah menjadi Hang-kim-liong !"
Seketika Kwe Hu dan kedua saudara Bu tercengang, pikir mereka.
"Aneh, darimana iapun tahu cara perubahan barisan batu ini?"
Karena suaranya membawa perbawa, seketika mereka turut perintah dan memindahkan batu yang tadinya sudah kacau berantakan segera berubah lain lagi.
Terkejut dan gusar Kim-lun Hoat-ong, tiba2 ia membentak .
"Kau anak perempuan inipun berani mengacau di sini?"
Tapi lagi2 gadis itu berseru beberapa istilah tentang perubahan2 barisan batu yang semuanya cocok dengan apa yang diajarkan Ui Yong pada Nyo Ko tadi.
Mendengar orang bisa berteriak dengan betul dan teratur tiada ubahnya seperti pimpinan Ui Yong sendiri, Kwe Hu dan kedua Bu menjadi girang, dengan bersemangat mereka geser batu dan tampaknya segera Kim-lun Hoat-ong akan terkurung lagi di dalam.
Punggung Hoat-ong sudah ketimpa batu tadi, ia coba tahan lukanya itu dengan Lwekangnya yang tinggi, meski seketika belum berbahaya, tapi tidak kecil penderitaannya, maka tak sanggup lagi ia menendangi batu pula, Betapapun ia memang seorang tokoh terkemuka, ia tidak menjadi bingung dalam keadaan bahaya, ia tahu bila telat sebentar lagi hingga terjeblos pula dalam barisan batu, bukan saja Ui Yong tak jadi ditangkapnya, bahkan ia sendiri bisa2 tertangkap malah.
Walau kelihatan Ui Yong menggeletak di tanah tak berkutik, asal melangkah maju beberapa tindak segera dapat menawannya, tapi keselamatan diri sendiri jauh lebih penting, maka cepat ia putar rodanya, tiba2 ia pura2 menghantam ke atas kepala Bu Siu-bun.
Dalam keadaan terluka parah sebenarnya Kim-lun Hoat-ong tak punya tenaga lagi, asal Siu-bun berani menangkis mungkin roda besinya akan terlepas dari tangan, namun Bu Siu-bun sudah jeri, mana berani ia tangkis serangan itu, lekas2 ia buang batu yang hendak dipindahnya terus menyelinap masuk barisan batu.
Sesaat Kim-lun Hoat-ong terbingung di tempatnya, pikirnya bergolak.
"Kalau kesempatan ini di-sia2kan, mungkin kelak sukar lagi diketemukan. Apa memang Thian melindungi Tay Song (ahala Song Raya) dan tugasku harus gagal begini? Tampaknya banyak sekali bibit2 muda di kalangan Bu-lim di daerah Tionggoan, melulu beberapa muda-mudi ini saja sudah pandai dalam segala hal dan tak boleh dipandang enteng, agaknya ksatria2 dari Mongol dan Tibet masih jauh kalau dibandingkan mereka!"
Karena itu ia menghela napas dan sesal diri, tiba2 ia putar tubuh terus melangkah pergi.
Tapi baru belasan tindak, mendadak terdengar suara gemerenceng riuh, roda besinya terjatuh, tubuhnya pun ter-huyung2.
Terkejut sekali si Darba.
"Suhu!"
Teriaknya cepat sambil memlburu maju memayangnya dan menanya pula .
"Kenapa kau, Suhu?"
Kim-lun Hoat-ong mengerut kening tak menjawab, ia gunakan tangan menahan di atas pundak Darba, habis ini barulah bersuara pelahan.
"Sayang, sungguh sayang, marilah kita pergi!"
Sementara seorang jagoan Mongol telah membawakan kuda Hoat-ong, namun karena lukanya yang parah hampir2 tiada tenaga buat naik ke atas kuda kalau tidak Darba menaikkan sang guru ke atas kudanya, kemudian rombongan merekapun kabur ke arah timur.
Setelah tolong semua orang, si gadis baju hijau tadi pe-lahan2 keluar dari gundukan batu, ketika berlalu di samping Nyo Ko yang menggeletak di tanah itu, tiba2 ia berhenti, ia ragu2 apa harus periksa luka orang tidak, ia berpikir sejenak, akhirnya ia berjongkok juga untuk memeriksa lukanya karena pukulan Kim-lun Hoat-ong tadi.
Tatkala itu hari sudah gelap, untuk bisa melihat wajah orang dengan jelas terpaksa ia menunduk dekat, ia lihat kedua mata Nyo Ko terpentang lebar, pandangannya kabur tak bersemangat pipinya merah dan napasnya memburu, tampaknya tidak ringan lukanya itu.
Dalam keadaan remang2 tak sadar tiba2 Nyo Ko melihat sepasang mata bersinar halus berada di dekat mukanya, mirip seperti sinar mata Siao-liong-li bila lagi pandang padanya, begitu halus hangat dan begitu kasih sayang, tanpa tertahan ia pentang tangan mendadak terus peluk tubuh orang sambil berteriak .
"Kokoh, O, Kokoh, Ko-ji terluka, janganlah kau tinggalkan aku begitu saja!"
Sungguh tak pernah diduga si gadis baju hijau itu bahwa orang akan merangkulnya, keruan ia malu dan gugup, ia sedikit merontak, karena itu dada Nyo Ko yang terluka menjadi sakit, ia berteriak merintih.
Si gadis tak meronta lagi, dengan suara pelahan ia berkata.
"Aku bukan Kokohmu, lekas lepaskan aku!"
Tapi dengan mata tak berkedip Nyo Ko masih pandang sepasang mata bola si gadis.
"Kokoh, O, Kokoh, jangan kau tinggalkan aku, ak... aku adalah kau punya Ko-ji!"
Tiba2 ia memohon. Hati si gadis menjadi luluh, tapi tetap dijawabnya dengan halus .
"Aku bukan Kokoh-mu."
Karena hari sudah gelap, maka wajah si gadis yang jelek seram itu tenggelam ditelan kegelapan, hanya sepasang matabolanya yang kelip2 bersinar Nyo Ko masih terus tarik tangannya dan memohon lagi.
"Ya, ya, kaulah Kokoh!"
Karena dipeluk tiba2 oleh seorang pemuda dan tangannya digenggam kencang pula, gadis itu malu tidak kepalang hingga seluruh tubuhnya panas dingin, ia bingung cara bagaimana harus dilakukannya.
Tak lama kemudian mendadak Nyo Ko jernih kembali pikirannya, ketika diketahui di hadapannya bukan Siao-liong-li, ia menjadi kecewa, pikirannya pepet lagi dan akhirnya jatuh pingsan.
Gadis itu terkejut, ia lihat Kwe Hu dan kedua saudara Bu lagi sibuk mengerumuni Ui Yong dan tiada yang mau gubris Nyo Ko, ia pikir luka pemuda ini sangat parah, kalau tidak dicekoki "Kiu-hoa-giok-loh-wan" (pil sari sembilan warna bunga), mungkin jiwanya tak tertolong lagi, Keadaan terpaksa, iapun tak hiraukan adat istiadat lagi, lekas2 ia angkat pinggang Nyo Ko, dengan setengah tarik dan setengah seret ia bawa Nyo Ko keluar dari barisan batu itu.
Hendaklah diketahui bahwa bukanlah Kwe Hu terlalu kejam dan tak berbudi, soalnya ibunya terluka parah karena tenaga goncangan Kim-lun Hoat-ong tadi dan menggeletak tak bisa bangun, cinta antara anak dan ibu sudah tentu Nyo Ko harus dikesampingkan dahulu, Sedang kedua saudara Bu jelas tak mau urus Nyo Ko.
Gadis itu memayang Nyo Ko keluar hutan Iebat itu, kuda kurus milik Nyo Ko memang cerdik dan kenal majikan, cepat ia mendekati mereka.
Setelah Nyo Ko dinaikkan kudanya, mengingat diri sendiri masih gadis, si nona tak mau bersatu tunggangan, maka tali kendali kuda dituntunnya dan ia berjalan kaki sendiri.
Keadaan Nyo Ko tempo2 sadar, kadang2 remang2 lagi, tempo2 ia merasa gadis di sampingnya ini adalah Siao-liong-li hingga berteriak girang, tapi kadang2 tahu juga orang bukan Kokoh yang dirindukannya itu hingga ia menjadi sedih, tubuhnya menggigil kedinginan.
Entah berapa lamanya sudah, ketika tiba2 terasa olehnya bau harum segar menembus luka di dadanya melalui kerongkongannya dan rasanya menjadi nyaman luar biasa, pe-lahan2 iapun pentang matanya, ia menjadi heran dan terkejut, ternyata dirinya sudah rebah di atas sebuah ranjang, tubuhnya berlapiskan selimut pula, ia hendak bangun duduk, mendadak tulang dadanya kesakitan, nyata ia masih belum boleh bergerak ia lihat di depan jendela satu gadis benbaju hijau dengan tangan kiri menahan kertas di atas meja dan tangan kanan memegang pit lagi menulis sesuatu dengan tenang.
Gadis itu duduk mungkur hingga tak kelihatan mukanya, tapi melihat potongan tubuhnya yang langsing, pinggangnya ramping, tentu orangnya juga amat cantiknya.
Tempat beradanya sekarang ternyata ruangan dari sebuah rumah gubuk beratap aIang2, tapi cara mengaturnya ternyata sangat rajin dan necis, di dinding sebelah timur tergantung sebuah lukisan wanita cantik sedang bersolek dan beberapa lukisan pemandangan sedang dinding barat dihiasi se-perangkap lukisan tulisan.
Dalam herannya Nyo Ko tak sempat menikmati benda2 seni itu, ia lihat asap dupa mengepul dari sebuah anglo di suatu meja kecil, ia tak tahu kamar orang kosen siapa atau pujangga yang mana?
Teringat olehnya pertarungan di barisan batu di hutan lebat dengan Kim-lun Hoat-ong dan terluka, kenapa sekarang bisa berada disini, seketika ia menjadi bingung tak mengarti, ia coba meng-ingat2, lapat2 dapat diiingat dirinya waktu itu ber-tiarap di atas kuda dan ada orang menuntun kuda itu, orang itupun seorang perempuan ia lihat gadis di depannya ini lagi menulis penuh perhatian, ia merebah di atas ranjang, dengan sendirinya tak tahu apa yang sedang ditulisnya, tapi melihat gaya tangannya yang ber-gerak2 dengan manisnya dan bagus luar biasa.
Keadaan kamar itu sunyi senyap, dibanding pertarungan sengit di barisan batu itu kini se-akan2 berada di suatu dunia lain.
Meski Nyo Ko sudah mendusin, tapi tak berani bersuara mengganggu si gadis itu, maka ia terus rebah diam-diam.
Sekonyong-konyong pikiran Nyo Ko tergerak lagi, ia kenali si gadis baju hijau di hadapannya ini bukan lain adalah gadis yang beberapa kali mengirim berita peringatan padanya dalam perjalanan tempo hari dan belakangan ber-sama2 menolong Liok Bu-siang itu, ia menjadi heran, bukan sanak bukan kadang, kenapa gadis ini begitu baik terhadapku ?
Terpikir akan itu, tak tahan lagi tiba2 ia berseru.
"Eh, cici, kiranya kau lagi2 yang menolong jiwaku."
Gadis itu berhenti menulis, tapi tak menoleh, hanya dengan suara halus ia menjawab.
"Tak dapat dikatakan menolong jiwamu, aku hanya kebetulan lewat di situ dan melihat Hwesio Tibet itu berbuat se-wenang2, pula kau terluka..." -sampai disini kepalanya me-nunduk2 malu.
"Cici,"
Kata Nyo Ko lagi, aku... aku... -tapi karena tergoncangnya perasaan, seketika tenggorokannya serasa tersumbat hingga tak sanggup meneruskan lagi.
"Hatimu baik, tak pikirkan jiwa sendiri dan menolong orang lain, aku hanya kebetulan saja bisa membantu sedikit padamu, ini terhitung apa?"
Demikian kata gadis itu.
"Kwe-pekbo berbudi karena pernah membesarkan aku, dia ada kesulitan, sudah semestinya aku membantu, tapi aku dan cici..."
"Aku bukan maksudkan Kwe-pekbomu, tapi aku maksudkan Liok Bu-siang, adik dari keluarga Liok itu,"
Potong si gadis. Sudah lama nama Liok Bu-siang tak pernah terpikir lagi oleh Nyo Ko, kini mendengar orang menyebutnya, cepat iapun menanya.
"Eh, ya, apakah nona Liok baik2 saja? Lukanya sudah sembuh bukan?"
"Terima kasih atas perhatianmu,"
Sahut gadis itu.
"lukanya sudah lama sembuh, nyata kau masih belum lupa padanya."
Mendengar lagu suara orang seperti sangat rapat hubungannya dengan Liok Bu-siang, maka Nyo Ko bertanya lagi.
"Entah hubungan apakah antara cici dan nona Liok ?"
Tapi gadis itu tak penjawab, ia tersenyum dan berkata.
"Tak perlu kau panggil aku cici terus, umurku belum setua kau."
Ia merandek sejenak, lalu dengan tertawa disambungnya.
"Ha, entah sudah berapa kali memanggil "Kokoh", kini hendak merubahnya mungkin agak terlambat."
Muka Nyo Ko menjadi merah, ia menduga waktu dirinya terluka dan dalam keadaan tak sadar tentu telah salah anggap orang sebagai Siao-liong-Ii dan terus2an memanggil "Kokoh"
Padanya, boleh jadi ada pula perkataan2 diluar batas, makin pikir makin tak enak perasaannya.
"Kau... kau tidak marah bukan?"
Tanyanya kemudian.
"Sudah tentu aku tak marah, bolehlah kau rawat lukamu tenang2 di sini,"
Sahut si gadis tertawa.
"Nanti bila lukamu sudah sembuh, boleh segera kau pergi mencari kokoh-mu."
Beberapa kata2 itu diucapkannya dengan begitu halus dan ramah, sama sekali berbeda dengan gadis2 lain yang dikenal Nyo Ko, kedengarannya begitu nyaman dan segar, rasanya bila gadis ini berada di sampingnya, segalanya menjadi aman dan damai, ia tidak lincah dan nakal seperti Liok Bu-siang, juga tidak secantik tapi tinggi hati seperti Kvve Hu.
Pula tidak sama dengan Yali Yen yang gagah terus terang atau Wanyan Peng yang lemah dan harus dikasihani Apalagi watak Siao-liong-li lebih2 lain daripada yang lain, mula2 ia bisa sedingin es, tapi akhirnya karena pengaruh cinta asmara iapun tidak segan2 ikat janji sehidup semati, wataknya itu sesungguhnya terlalu aneh dan extrim.
Hanya si gadis baju hijau inilah ternyata sangat ramah tamah dan prihatin, pintar meladeni orang, setiap kata2nya selalu memikirkan kepentingan Nyo Ko, ia tahu pemuda ini merindukan "Kokoh" , lantas ia menghiburnya agar rawat lukanya baik2 dan supaya lekas sembuh dan segera pergi men-carinya.
Begitulah sesudah ia ucapkan kata2 tadi, kembali ia angkat pit dan menulis lagi.
"Cici, siapakah she-mu yang mulia?"
Tanya Nyo Ko.
"Ada apa kau tanya ini itu, lekas kau rebah yang tenang dan jangan berpikir yang tidak2 lagi,"
Sahut si gadis.
"Baiklah,"
Kata Nyo Ko.
"memangnya akupun tahu percuma bertanya, wajahmu saja tak mau perlihatkan padaku, jangankan namamu."
"Parasku sangat jelek, toh bukannya kau tak pernah melihatnya,"
Sahut gadis itu menghela napas.
"Tidak, tidak, hal itu disebabkan kau memakai kedok kulit,"
Ujar Nyo Ko.
"Kalau wajahku secantik Kokohmu, buat apa aku memakai kedok ?"
Kata si gadis. Mendengar orang puji kecantikan Siao-liong-Ii, senang sekali Nyo Ko.
"Darimana kau tahu kokoh ku cantik? Apa kau pernah melihat dia?"
Tanyanya.
"Tak pernah aku melihatnya,"
Kata gadis itu.
"Tapi begitu kau rindu padanya, dapat dibayangkan pasti dia wanita cantik nomor satu di jagat ini."
"Jika kau pernah melihat dia, pasti kau akan lebih memuji kecantikannya,"
Ujar Nyo Ko gegetun. Kata2 Nyo Ko ini kalau didengar Kwe Hu atau Liok Bu-siang pasti akan dibalas dengan sindiran dan olok2, tapi gadis ini ternyata sangat jujur, ia malah berkata.
"Ya, hal itu tak perlu di-sangsikan lagi." -Habis berkata kembali ia menunduk menulis pula. Nyo Ko ter-mangu2 sejenak memandangi langit kelambunya, tak tahan lagi ia berpaling dan memandang potongan tubuh orang yang ramping itu dari belakang.
"Cici, apa yang kau tulis? Apa sangat penting?"
Tanyanya pula.
"Aku lagi melatih tulisan,"
Sahut si gadis.
"Kau memakai tulisan gaya apa?"
Tanya Nyo Ko.
"Ah, tulisanku terlalu jelek, mana bisa dibilang gaya apa segala?"
Kata si gadis.
"Kau suka merendah diri saja, aku menduga pasti tulisanmu sangat indah,"
Kata Nyo Ko.
"Aneh, darimana kau bisa menduganya?"
Sahut gadis itu tertawa.
"Gadis sepintar kau ini, pasti gaya tulisanmu pun lain dari pada yang lain,"
Ujar Nyo Ko.
"Cici, bolehkah tulisanmu itu diperlihatkan padaku."
Gadis itu tertawa lagi.
"Ah, tulisanku se-kali2 tak bisa dilihat orang, nanti bila lukamu sudah sembuh, aku masih harus minta petunjukmu,"
Demikian katanya.
Diam2 Nyo Ko malu diri, karena itu juga ia sangat berterima kasih pada Ui Yong yang telah mengajarnya membaca dan menulis di Tho-hoa-to dulu, kalau waktu itu ia tidak giat belajar, jangan kata membedakan tulisan bagus atau jelek, mungkin sampai kini ia akan tetap buta huruf.
Setelah ter-menung2 sebentar, ia merasa dadanya rada sakit, lekas2 ia jalankan Lwekangnya hingga darah jalan lancar, pe-lahan2 ia merasa segar kembali dan akhirnya iapun tertidur.
Waktu ia mendusin, hari sudah gelap, gadis itu telah taruh nasi dan lauk pauk di atas meja teh yang terletak ditepi ranjangnya agar si Nyo Ko dahar sendiri.
Lauk-pauk itu hanya sebangsa sayur mayur, tahu, telur dan beberapa potong ikan, tapi cara mengolahnya ternyata sangat lezat sekaligus Nyo ko habiskan tiga mangkok penuh nasi ke dalam perutnya tanpa berhenti, habis itu barulah ia memuji ber-ulang2.
Meski muka gadis itu memakai kedok kulit hingga tak kelihatan sesuatu perubahan emosinya, tapi dari sinar matanya tertampak juga, menyorot cahaya yang senang.
Besok paginya keadaan luka Nyo Ko tambah baikan, gadis itu ambil sebuah kursi dan duduk di depan ranjang untuk menambal bajunya yang compang-camping tak terurus, semuanya ia tambal dengan baik.
"Orang secakap kau kenapa sengaja pakai baju serombeng ini?"
Kata si gadis kemudian.
Sembari berkata iapun berjalan keluar, waktu kembali, ia membawakan satu blok kain hijau, ia ukur menurut baju Nyo Ko yang sobek itu dan di-potongnya untuk membuatkan baju baru.
Dari lagu suara nona ini dan perawakan serta tingkah lakunya, umurnya tentu tidak lebih 18 -19 tahun saja, tapi terhadap Nyo Ko bukan saja mirip kakak terhadap adik, bahkan penuh kasih seorang ibu kepada anaknya.
Sudah lama Nyo Ko ditinggalkan ibundanya, kini ia menjadi terbayang masa anak2nya dahulu, ia sangat berterima kasih dan heran juga.
"Cici,"
Tanyanya.
"kenapa kau begini baik padaku, sungguh aku tak berani menerimanya."
"Hanya membikinkan sepotong baju, apanya yang baik?"
Sahut si gadis.
"Kau mati2an menolong jiwa orang tanpa pikirkan diri sendiri, itu baru pantas dibilang baik budi."
Pagi hari itu berlalu dengan tenang, lewat lohor kembali si gadis menghadapi meja dan melatih tulis pula, pingin sekali Nyo Ko hendak melihat apakah sesungguhnya yang ditulisnya, tapi beberapa kali ia memohon selalu ditolak si gadis.
Kira2 ada sejam gadis itu tekun menulis, habis selembar ditulisnya, lalu ia ter-menung2, ia robek kertasnya dan kembali menulis lagi, tapi tetap seperti tak memuaskan tulisannya, maka habis tulis lantas dirobek pula, sampai akhirnya terdengar ia menghela napas, lalu tak menulis lebih lanjut.
"Kau pingin makan apa, biar kubuatkan,"
Tanyanya kemudian pada Nyo Ko. Tergerak pikiran Nyo Ko tiba2.
"Terima kasih, hanya membikin repot kau saja,"
Sahutnya.
"Apakah, coba bilang,"
Kata si gadis.
"Aku sungguh ingin makan bakcang,"
Ujar Nyo Ko. Gadis itu rada tertegun, tapi segera iapun berkata.
"Repot apa, hanya membungkus beberapa kue bakcang saja! Aku sendiri memang juga pingin makan, Kau suka yang manis atau yang asin?"
"Boleh seadanya, asal ada makan aku sudal puas, mana berani pilih2 lagi?"
Sahut Nyo Ko.
Betul juga, malam itu si gadis telah membuatkan beberapa buah kue bakcang pada Nyo Ko, yang manis berisi kacang ijo gula putih, yang asin pakai daging samcan bercampur ham, rasanya lezat tiada bandingan.
Keruan saja beruntung sekali mulut si Nyo Ko, sembari makan iapun tiada hentinya memuji-muji.
"Kau sungguh pintar, akhirnya dapat kau menerka asal usul diriku,"
Kata gadis itu kemudian sambil menghela napas. Nyo Ko menjadi heran, ia tidak sengaja menerka, kenapa bilang asal-usul orang kena diterkanya? Namun begitu, ia toh berkata.
"Kenapa kau bisa tahu?"
"Ya, kampung halamanku Ohciu tersohor karena makanan kue bakcang, kau tidak minta yang lain tapi justru ingin makan bakcang,"
Sahut si gadis.
Tergerak pikiran Nyo Ko.
Teringat olehnya beberapa tahun yang lalu di Ohciu telah dijumpai Kwe Cing dan Ui Yong, pertemuannya dengan Auwyang Hong dan perkelahiannya melawan Li Bok-chiu, tapi siapakah gerangan si gadis di depan mata ini tetap tak dapat mengingatnya.
Mengenai permintaannya ingin makan bak-cang adalah karena dia mempunyai tujuan lain, pada waktu hampir selesai makan, ketika gadis itu sedikit meleng, mendadak ia lekatkan sepotong bakcang di telapak tangannya dan sedang si gadis bebenah mangkok sumpit ke dapur, cepat sekali ia ambil seutas benang yang ketinggalan ketika gadis itu menjahit baju untuknya tadi, ujung benang ia ikat bakcang yang ia sisakan tadi terus disambitkan ke meja, sepotong kertas robekan telah melekat oleh kue bakcang itu, lalu ia tarik benang-nya dan membacanya, tapi ia menjadi melongo, kiranya di atas kertas itu tertulis 8 huruf yang maksudnya terang sekali berbunyi.
"Jika sudah kutemukan dikau, betapa aku tidak senang?"
Lekas2 Nyo Ko sembunyikan kertas itu, ia lemparkan ujung benang dan memancing pula selembar kertas, ia lihat tetap di atasnya tertulis 8 huruf tadi, cuma ada satu huruf yang ikut tersobek.
Hati Nyo Ko memukul keras, be-runtun2 ia sambitkan bakcang itu dan belasan lembar kertas robekan itu kena dipancingnya, tapi apa yang tertulis di atasnya bolak-b Alik tetap 8 huruf itu2 juga, ia coba selami maksud apa yang terkandung dalam tulisan itu, tanpa terasa ia ter-mangu2 sendiri.
Tiba2 didengarnya suara tindakan orang, gadis tadi telah masuk kamar lagi.
Lekas2 Nyo Ko selusupkan kertas2 itu ke dalam selimutnya.
sementara si gadis kumpulkan sisa2 kertas robekan tadi dan dibakarnya keluar kamar.
"Kata2
"dikau"
Yang ditulisnya itu jangan2 maksudkan aku?"
Demikian diam2 Nyo Ko berpikir sendiri.
"Tapi bercakap saja belum ada beberapa patah kata aku dengan dia, apanya yang menyenangkan dia akan diriku ini? Bila bukan maksudkan diriku, toh di sini tiada orang lain."
Sedang ia ter-menung2, gadis itu telah masuk kamar lagi, setelah berdiri sejenak di pinggir jendela, kemudian api lilin disirapnya. Sinar rembulan remang2 menyorot masuk melalui jendela.
"Cici,"
Nyo Ko memanggil pelahan.
Tapi gadis itu tak menjawabnya, sebaliknya ia berjalan keluar, Selang tak lama, terdengar di luar ada suara seruling yang ulem, sebuah lagu merdu gayup2 berkumandang.
Pernah Nyo Ko rnelihat gadis itu memakai seruIing sebagai senjata menempur Li Bok-chiu, ilmu silatnya tidaklah lemah, siapa duga seruling yang ditiupnya ternyata juga begini enak didengar.
Dulu waktu tinggal di kuburan kuno, di kala iseng ia sering mendengarkan Siao-liong-li mena-buh khim, (kecapi) dan pernah belajar juga beberapa waktu padanya, maka boleh dikatakan iapun sedikit paham seni suara.
Waktu ia mendengarkan terus dengan cermat, akhirnya dapat diketahuinya orang lagi melagukan suatu bagian dari isi kitab "Si-keng"
Yang terdiri dari lima bait yang memuji seorang laki2 cakap, laki2 ini dikatakan ramah tamah dan suci bersih bagai batu jade yang telah diukir dan halus bagai gading yang sudah dikerik.
Setelah mendengarkan lagi, tak tahan Nyo Ko getol juga oleh lagu itu, ia lihat di tepi ranjang sana ada sebuah kecapi tujuh senar terletak di atas meja, pe-lahan2 ia berduduk dan mengambil kecapi itu, ia menyetel senarnya lalu ditabuhnya mengiringi suara seruling si gadis.
Kecuali lima bait dalam "Si-keng"
Itu sebenarnya masih ada beberapa kalimat lanjutannya yang bilang laki2 sejati yang gagah berani itu sesungguhnya sukar dilupakan orang.
Selagi ia hendak menyambung kalimat2 itu, mendadak suara seruling berhenti.
Nyo Ko tertegun, tapi lapat2 ia paham juga akan maksud orang.
"Ah, maksudnya meniup seruling mula2 hanya untuk menghibur diri saja, sesudah diiringi suara kecapiku ia tahu perasaannya telah dapat dipecahkan olehku, Tapi karena terputusnya suara seruling yang mendadak ini apa bukan lebih menandakan akan maksud isi hatinya itu?"
Besok paginya, ketika gadis itu mengantarkan sarapan pagi, ia lihat Nyo Ko telah memakai kedok kulit, ia menjadi heran.
"He, kenapa kaupun pakai barang ini?"
Tanyanya tertawa.
"Bukankah ini pemberianmu ?"
Sahut Nyo Ko.
"Kau tak mau perlihatkan muka aslimu, biarlah akupun memakai topeng saja."
Tahulah si gadis bahwa orang sengaja hendak pancing dirinya membuka kedoknya, tapi bila ingat kalau kedoknya ditanggalkan, apa yang terpikir dalam hatinya dengan sendirinya akan tertampak di-wajahnya, hal ini berarti menambah banyak susah baginya, maka kemudian ia menjawab dingin.
"Boleh juga bila kau ingin memakainya."
Habis berkata itu, ia letakkan barang sarapan terus keluar lagi, Sehari itu iapun tidak bicara lagi dengan Nyo Ko.
Tentu saja pemuda ini rada tak enak, ia kuatir telah membikin marah padanya, hendak minta maaf pikirnya, tapi tidak pernah lagi gadis itu tinggal sejenak di dalam kamar.
Sampai malamnya, ketika gadis itu bebanah mangkok piring dan hendak keluar lagi, tiba2 Nyo Ko memanggilnya.
"Cici, tiupan serulingmu itu sangat merdu, sukalah kau meniupnya satu lagu lagi?"
Gadis itu termenung sejurus.
"Baiklah,"
Katanya kemudian. Lalu iapun pergi mengambil serulingnya, ia duduk didepan ranjang si Nyo Ko dan meniupnya pelahan, Lagu yang ditiupnya sekali ini adalah "Geng-sian-khek"
Atau menyambut tamu dewata lagunya ramah dan hangat seperti tuan rumah yang lagi menjamu tetamunya dengan gembira.
"Kiranya di waktu meniup seruling kaupun memakai kedok dan sama sekali tak ingin kelihatan perasaan hatimu,"
Demikian Nyo Ko membatin.
Tapi sebelum habis selagu ditiup, ketika sinai bulan pe-lahan2 menyorot naik ke dinding, mendadak gadis itu letakkan serulingnya dan menjerit sambil berdiri, suaranya terdengar begitu kaget dan kuatir.
Melihat perubahan orang yang hebat dan aneh ini, seketika Nyo Ko ikut terkejut, waktu ia pandang menurut arah sinar mata orang, ia lihat di atas dinding terang kelihatan ada tiga buah cap tangan merah, Ketiga cap tangan ini sangat tinggi, harus melompat baru bisa mencapnya, karena warnanya merah berdarah, di bawah sorotan sinai bulan tampaknya menjadi tambah seram.
"Cici, permainan apakah dan perbuatan siapa kah itu?"
Tanya Nyo Ko tak mengerti akan maksud tiga cap tangan itu.
"Kau tak tahu?"
Menegas si gadis.
"Jik-lian sian-cu !"
"Li Bok-chiu maksudmu?"
Tanya Nyo Ko.
"Bilakah ia tinggalkan cap tangan ini?"
"Tentunya pada waktu kau tidur semalam,"
Kata gadis itu.
"Di sini memangnya ada tiga orang."
"Tiga orang?"
Nyo Ko menegas dan tidak paham.
"Ya,"
Kata si gadis.
"la tinggalkan tiga cap tangan, maksudnya ialah memberi peringatan akan membunuh tiga orang penghuni rumah ini"
"Kecuali kau dan aku, siapakah gerangan orang ketiga itu?"
Tanya Nyo Ko.
"Aku,"
Sambung suara seorang tiba2 dari luar.
Ketika pintu terpentang, dari luar masuk seorang gadis berbaju kuning muda, perawakannya langsing, raut mukanya potongan daun sirih, siapa lagi dia kalau bukan Liok Bu-siang yang jiwanya pernah beberapa kali ditolong oleh Nyo Ko.
"Haha, Tolol, sekali ini giliranmu terluka, ya?"
Demikian Bu-siang menyapa dengan tertawa.
"Bini..."
Mendadak Nyo Ko berhenti, sebenarnya ia hendak panggil orang "bini cilik" , tapi baru setengah ucapan tiba2 teringat olehnya masih ada gadis berbaju hijau yang ramah itu berdiri disamping, maka iapun tak berani bergurau lagi.
"Piauci, begitu aku terima beritamu, segera juga aku datang ke sini,"
Kata Bu-siang lagi.
"He, Tolol, siapakah yang melukai kau?"
Belum Nyo Ko menjawab, tiba2 si gadis baju hijau menuding cap tangan di dinding itu.
Seketika Liok Bu-siang berseru kaget, air mukanya berubah hebat bagai melihat momok, pemandangan waktu kecil di kampung halamannya Ling-oh-tin di Ohciu, di mana Li Bok-chiu meninggalkan cap tangan dan membunuh seluruh isi keluarganya tak tertinggal sejiwapun, seketika terbayang olehnya.
Begitulah dalam berdukanya air matanya ber-kilau2 hendak menetes, mendadak ia ulur kedua tangannya dan sekaligus menarik kedua kedok dari muka Nyo Ko dan si gadis baju hijau sambil berkata.
"Lekasan kita berdaya menghadapi iblis jahat ini, buat apa kalian berdua masih memakai barang tak genah ini."
Karena ditanggalkannya kedok, seketika mata Nyo Ko terbeliak, ia lihat gadis itu berkulit putih bersih bagai salju, parasnya bundar telur dan pipinya terdapat dekik kecil yang manis, meski tak secantik Siao-liong-li yang tiada taranya, tapi terhitung juga satu nona yang amat ayu.
Kiranya gadis ini memang Piauci atau kakak misan Liok Bu-siang, ialah Thia Eng, si gadis cilik pemetik ubi teratai yang kita kenal pada permulaan cerita ini.
Seperti diketahui dahulu ia tertawan Li Bok-chiu dan hampir teraniaya oleh tangan kejinya.
Kebetulan Tho-hoa Tocu (pemilik pulau Tho-hoa) Ui Yok-su lewat disitu dan menolong jiwanya.
Sejak puterinya (Ui Yong) menikah, Ui Yok-su lantas mengembara ke mana saja, meski jiwanya sangat sederhana dan terbuka, tapi seorang tua hidup sebatangkara mau-tak-mau terasa kesepian juga.
Tatkala itu Thia Eng yang lemah tiada sandaran telah menimbulkan rasa kasihannya, ia sembuhkan racun luka Thia Eng dan karena gadis cilik ini pintar meladeninya melebihi Ui Yong, maka dari kasihan timbullah rasa sayang hingga akhirnya Ui Yok-su menerimanya sebagai murid secara resmi.
Meski kepintaran dan kecerdasan Thia Eng tidak menimpali Ui Yong, tapi ia bisa berlaku sangat hati2 dan giat belajar, maka berhasil juga dilatih nya tidak sedikit kepandaian kebanggaan Ui Yok su.
Tahun ini baru saja ia tamat belajar ilmu silat permulaannya, ia minta ijin sang guru dan kembali ke utara mencari Piaumoay, kebetulan di tengah jalan diketemukannya Nyo Ko dan Liok Bu-siang yang sedang di-uber2 Li Bok-chiu, lantas ia bantu memberi peringatan dan tengah malam menolongnya pula.
Habis pertempuran di restoran dan mendadak Nyo Ko tinggal pergi tanpa pamit, lalu Thia Eng membawa Liok Bu-siang ke tanah pegunungan sunyi ini dan mendirikan gubuk untuk merawat lukanya, Beberapa hari yang lalu setelah luka Liok Bu-siang sembuh sama sekali, gadis ini pesiar keluar dengan seorang kawannya, siapa tahu di tengah jajan dipergokinya Ui Yong lagi bertahan melawan Kim-lun Hoat-ong dengan memasang "Loan-ciok-tin"
Tentang ilmu pengetahuan yang aneh2 itu pernah juga Thia Eng belajar dari Ui Yok-su, meski tak banyak yang dipahaminya, tapi sedikit yang dipelajarinya itu secara kebetulan Nyo Ko dapat ditolongnya.
Kini tiga muda-mudi berkumpul ketika membicarakan Li Bok-chiu barulah mereka tahu di waktu kecilnya pernah bertemu di 0hciu.
Sebelah mata Li Bok-chiu buta justru karena dipatuk burung merahnya Nyo Ko.
Tatkala itu Li Bok-chiu kena diatasi Ui Yok-su hingga pernah ditempeleng empat kali oleh Thia Eng.
Paling akhir ini Liok Bu-siang telah menggondol lari kitab pusakanya.
"Panca-bisa" , tentu saja gadis ini lebih2 ingin dibekuknya. Kalau dibicarakan, maka ketiga muda-mudi ini semua adalah musuh besar Jik-lian-sian-cu, kini mendadak ia datang lagi, ia tak mau binasakan Nyo Ko secara diam2 selagi orang terluka, tetapi malah tinggalkan tanda peringatan tiga cap tangan, suatu tanda ia sudah yakin tiga sasarannya ini tidak nanti bisa loIos. Nyo Ko sendiri terluka dan tak bisa berkutik, kalau melulu andalkan Thia Eng dan Liok Bu-siang sesungguhnya susah melawannya, setelah ketiga orang berunding, merekapun merasa tak berdaya.
"Aku masih ingat tempo dulu iblis ini mendatangi rumah Piaumoay waktu hari hampir terang tanah,"
Demikian kata Thia Eng.
"kini kalau dia datang juga sebelum fajar tiba, sementara ini kita masih ada waktu beberapa jam, kuda tunggangan Nyo-heng sangat bagus, biarlah sekarang juga kita lari, belum tentu iblis itu bisa menyandak kita."
"Ya, bagaimana Tolol, kau terluka, sanggup naik kuda tidak?"
Tanya Bu-siang.
"Terpaksa harus dicoba juga,"
Sahut Nyo Ko.
"Daripada mati konyol di tangan iblis ini."
"Piauci", kata Bu-siang pula.
"kau kawani si Tolol lari ke barat, aku nanti pancing dia kejar ke timur."
"Tidak, kau saja yang temani Nyo-heng,"
Sahut Thia Eng rada jengah.
"Diantara kita bertiga permusuhanku dengan dia paling ringan, sekalipun aku tertangkap belum pasti dia membunuh aku, sebaliknya bila kau yang terpegang, dapat dipastikan kau bakal celaka,"
"Tujuan kedatangannya ini adalah diriku, kalau ia dapatkan aku bersama dengan si Tolol ini, bukankah akan bikin susah dia?"
Ujar Bu-siang.
Terharu sekali Nyo Ko mendengar pembicaraan mereka, ia pikir kedua nona ini ternyata berbudi luhur semua, dalam keadaan berbahaya dengan sukarela bersedia menolong jiwanya, kalau aku sampai ketangkap dan tewas oleh iblis itu, hidupku ini rasanya pun tidak sia-sia.
"He, Tolol, coba katakan, kau suka lari diiringi Piauci atau dikawani aku?"
Tiba2 didengar-Bu-siang bertanya. Belum Nyo Ko menjawab, Thia Eng telah menyela.
"Kenapa kau terus memanggilnya Tolol, apa kau tak takut Nyo-heng menjadi marah?"
Bu-siang melelet lidah jenaka, lalu dengan tertawa ia bilang.
"Coba begitu ramah kau terhadapnya, tentu saja engkoh Tolol ini pilih diiring kau."
Dari sebutan "Tolol"
Sekarang ia ganti dengan memanggil engkoh Tolol, hal ini boleh dikatakan Bu-siang telah menaikkan harga si Nyo Ko. Keruan saja Thia Eng merah jengah.
"Eh, bukankah orang juga panggil kau/bini cilik? Dan sebagai bini cilik tak mengurusnya, lalu kiramu siapa yang akan urus dia?"
Demikian batasnya menggoda Dengan begitu giliran Liok Bu-siang kini yang merah jengah, ia ulur tangan lantas akan meng-kili2 Thia Eng dan terjadilah udak2an.
Suasana dalam kamar seketika menjadi berubah, mereka bertiga tidak ketakutan lagi seperti mula2 tadi.
"Kalau nona Thia yang iringi aku lari, tentu bini cilik berbahaya jiwanya, sebaliknya bila bini cilik yang kawani aku, nona Thia juga amat ber-bahaya,"
Demikian Nyo Ko berpikir.
Karena itu, begini baik padaku, sungguh aku berterima kasih sekali.
Maka kupikir paling baik kalian berdua lekas menyingkir dari sini, biar aku tinggal sendiri melayani iblis itu.
Guruku dan dia adalah saudara seperguruan, rasanya ia akan ingat pada hubungan perguruan, pula ia takut pada guruku, agaknya tidak sampai berbuat apa2 padaku "Tidak, tidak,"
Sela Bu-siang sebelum Nyo Ko selesai. Nyo Ko menduga kedua nona itu tidak nanti mau melarikan diri meninggalkan dirinya, maka dengan suara lantang ia bilang lagi.
"Kalau begitu biarlah kita bertiga menempuh jalan bersama, kalau benar2 terkejar oleh iblis itu, kita bertiga lawan saja mati2an, hidup atau mati biarlah terserah takdir."
"Baiklah, begini paling baik,"
Sahut Bu-siang setuju.
"Datang dan perginya iblis itu sangat cepat, kalau kita berjalan bersama pasti akan disusul olehnya" , ujar Thia Eng sesudah merenung sejenak "Daripada bergebrak dengan dia di tengah jalan, adalah lebih baik di sini saja kita tunggu dia?"
"Ya, betul,"
Kata Nyo Ko.
"Cici mahir ilmu pengetahuan yang aneh2 sampai Kim-lun Hoat-ong juga kena kau kurung, tentu Jik-lian-sian-cu juga belum bisa membobolnya."
Karena kata2 Nyo Ko ini, pada ketiga orang ini lantas timbul sinar harapan.
"Barisan batu2 itu adalah Kwe-hujin yang reka, aku hanya ikut merubahnya saja, kalau aku sendiri harus memasangnya, inilah belum cukup kepandaianku. Tapi biarlah, kita usahakan sebisanya menurut nasib,"
Demikian kata Thia Eng.
"Piaumoay, marilah kau membantu aku."
Lalu kedua saudara misan itu membawa alat2 cangkul dan sekop keluar rumah, mereka menggali tanah dan menumpuk batu.
Setelah sibuk lebih satu jam, sajup2 terdengar ayam berkokok di kejauhan, sementara itu Thia Eng sudah mandi keringat karena kerja keras itu.
Waktu dipandangnya gundukan tanah yang dia tumpuk dan atur itu, kalau dibanding barisan batu yang dipasang Ui Yong, sesungguhnya daya-gunanya masih selisih jauh, diam2 Thia Eng bersedih.
"Kepintaran Kwe-hujin sungguh beratus kali lebih tinggi dariku. Ai, dengan gundukan tanah yang kasar jelek ini rasanya sulit hendak merintangi Jik-lian-sian-cu itu" , demikian ia mengeluh. Tapi karena kuatir Piaumoay dan Nyo Ko ikut ber-sedih, maka pikirannya ini tak diutarakannya. Setelah sibuk "kerja-bakti" , di bawah sinar bulan remang2 Bu-siang melihat wajah sang Piauci agak berlainan, ia tahu pasti orang tak yakin bisa menahan musuh. Tiba2 ia keluarkan se
Jilid kitab-dari bajunya, ia masuk rumah dan diangsurkan pada Nyo Ko.
"ToloI, inilah kitab "panca-bisa"
Guruku itu,"
Katanya. Melihat kulit kitab itu merah bagai darah. Nyo Ko rada terkesiap.
"Aku telah membohongi Suhu bahwa kitab itu telah direbut Kay-pang, maka kuatir bila sebentar lagi aku tertangkap olehnya bisa digeledahnya,"
Kata Bu-siang.
"Maka bolehlah kau membacanya sekali, setelah kau apalkan lalu bakar saja sekalian."
Biasanya kalau bicara dengan Nyo Ko selamanya Bu-siang suka olok2 dan main bengis, tapi disaat jiwa terancam, ia tidak sempat berkelakar Iagi.
Melihat sikap si gadis muram durja, Nyo Ko mengangguk dan terima kitab itu.
Lalu Bu-siang keluarkan lagi sepotong sapu tangan sulaman, dengan suara lirih ia bilang lagi.
"Jika tak beruntung kaupun jatuh di tangan iblis itu dan dia hendak celakai jiwamu, hendaklah kau lantas unjukkan sapu tangan ini padanya."
Nyo Ko lihat sapu tangan itu yang sebelah jelas kelihatan bekas sobek, bunga merah sulam juga tersobek separoh, ia tak tahu maksud Bu-siang, maka ia bingung tak menerima.
"Apakah ini?"
Tanyanya.
"Aku minta kau sampaikan ini padanya, maukah kau?"
Sahut Bu-siang.
Nyo Ko angguk2, lalu terima dan ditaroh samping bantalnya.
Tapi tiba2 Bu-siang mendekatinya dan ambil saputangan itu terus dimasukkan ke baju Nyo Ko, mendadak diciumnya bau khas orang laki2 teringat olehnya pengalaman tempo hari pernah bajunya dilepas pemuda ini dan menyambung tulangnya, malahan pernah tidur bersama seranjang, terguncanglah hatinya, ia pandang Nyo Ko sekejap, lalu keluar kamar.
Melihat kerlingan mata si gadis sebelum pergi ini penuh arti, hati Nyo Ko ikut terguncang keras.
Selang tak lama barulah ia membalik halaman2 kitab "panca-bisa" , ia lihat kitab itu sudah berubah kuning saking tuanya, apa yang tertulis ialah sebangsa pelajaran cara2 menangkap makluk berbisa,merendam senjata rahasia dengan racun serta cara-cara pengobatannya.
Dari awal sampai akhir Nyo Ko baca kitab "Panca-bisa"
Itu sampai beberapa kali dan mengingatnya baik2.
ibunya tewas karena pagutan ular berbisa, peristiwa ini meninggalkan luka yang dalam di hati sanuharinya, maka demi dilihatnya kitab itu tercatat begitu banyak dan jelas tentang cara2 membuat racun serta cara mengobatinya, tanpa terasa ia berpikir.
"Ah, jika dulu2 aku paham begini banyak cara menyembuhkan racun yang bagus ini, tentulah aku dapat menolong jiwa ibuku, Dan ia pasti akan kasih-saysng padaku dan tidak sampai ter-lunta2 menjadi yatim-piatu seperti sekarang ini."
Teringat akan itu, tak tahan lagi air matanya me-netes2 ke atas kitab itu.
Tiba2 didengarnya suara pintu didorong, ketika ia memandang, ia lihat Thia Eng dengan kedua pipi merah jengah lagi mendekati pembaringan-nya, pada jidat gadis ini masih penuh butir2 keringat "Nyo-heng, aku telah pasang barisan gundukan tanah di luar pintu, tapi paling banyak hanya sekadar merintangi saja, untuk menahan iblis terkutuk itu terang sukar,"
Demikian kata Thia Eng perlahan sambil keluarkan sepotong saputangan sutra dari bajunya dan diangsurkan pada Nyo Ko.
"Maka bila sampai iblis itu menerjang masuk, serahkanlah saputangan ini padanya."
Nyo Ko lihat saputangan ini hanya separuh juga, kainnya dan kembangnya serupa dengan potongan saputangan yang diterimanya dari Bu-siang tadi, ia menjadi heran sekali.
Waktu ia angkat kepala, tiiba2 sinar matanya kebentrok dengan sinar mata -si gadis, di bawah sorot lampu dilihatnya airmata mengaca di kelopak matanya dengan wajah malu2 girang, selagi Nyo Ko hendak tanya, tiba2 muka Thia Eng merah dan berkata pula lirih.
"Se-kali2 jangan diketahui Piaumoayku."
Habis ini iapun jalan keluar.
Nyo Ko keluarkan setengah saputangan yang diterimanya dari Liok Bu-siang tadi dan digabung menjadi satu, nyata kedua belah saputangan itu persis berwujud selembar, cuma saputangan itu sudah terlalu tua sutera putih sudah berubah kuning, hanya bunga merah sulaman itu kelihatan masih segar.
Nyo Ko tahu saputangan ini pasti mengandung arti yang dalam, cuma kedua gadis itu mengapa masing2 menyerahkannya separoh?
Dan kenapa ingin serahkan pada Li Bok-chiu dan mengapa tidak diketahui masing2 pihak?
Sedang diwaktu memberikan saputangan wajah kedua gadis itu mengunjuk rasa malu2!
Nyata karena hati Nyo Ko sudah tertambat atas diri Siao-liong-li, terhadap Liok Bu-siang dan Thia Eng hanya anggap sebagai sahabat baik saja, sungguh tak pernah terpikir olehnya bahwa kedua gadis itu sebenarnya sangat mendalam mencintai-nya, sudah terang saputangan itu akan merindukan Li Bok-chiu pada kisah asmaranya dulu dan akan mengampuni jiwa mereka, tapi mereka justru memberikan itu padanya.
Begitulah Nyo Ko ter-mangu2 duduk di atas ranjangnya, tiba2 didengarnya suara ayam berkokok lagi di kejauhan, menyusul mana terdengar juga suara suling yang merdu, kiranya Thia Eng telah meniup serulingnya, agaknya sesudah atur barisan gundukan tanah dan merasa lega, maka ditiupnya sebuah lagu "liu-po" , suara sulingnya halus tenang tak berduka, suatu tanda orang lagi merasa senang tanpa kuatir sesuatu.
Setelah dengar sejurus, tiba2 Nyo Ko ambil kecapi dan mengiringi seruling orang, suara kecapi itu nyaring hingga merupakan paduan suara yang sangat serasi dengan suara seruling.
Bu-siang duduk di belakang gundukan tanah, ia terpesona mendengarkan sang Piauci meniup seruling mengiringi suara kecapi Nyo Ko, sementara itu ufuk timur sudah remang2, fajar telah mendatang, tak tahan lagi ia berpikir.
"Ah, sekejap lagi Suhu bakal datang, jiwaku tak nanti bisa tertolong dalam sejam ini. Harap saja Suhu melihat sapu-tangan itu dan mengampuni jiwa Piauci dan dia, mereka berdua..."
Sebenarnya watak Bu-siang nakal dan licin, biasanya Thia Eng suka mengalah padanya sejak kecil.
Tapi dalam keadaan bahaya sekarang, dalam hati Bu-siang justru berharap Nyo Ko bisa selamat, cintanya ternyata sudah mendalam dan diam2 berdo'a agar pemuda itu terhindar dari malapetaka.
Selagi ter-mangu2, ketika mendadak ia angkat kepalanya, tiba2 dilihatnya di luar gundukan tanah sana sudah berdiri seorang To-koh (imam wanita) berjubah putih, tangan kanan membawa kebut, siapa lagi kalau bukan Suhunya, Li Bok-chiu.
Bu-siang berseru tertahan, cepat ia lolos pedang dan berdiri, sementara itu Nyo Ko lagi tabuh khim dan sampai pada saat yang tegang, Thia Eng juga lagi asyik meniup serulingnya, perhatian mereka penuh dicurahkan pada alat musik mereka meski Bu-siang menjerit tertahan, namun ternyata tak digubrisnya.
Tapi aneh juga, Li Bok-chiu hanya berdiri tegak tak bergerak, ia malah pasang kuping mendengarkan dengan cermat.
Kiranya suara paduan khim dan siau (seruling) itu mengingatkannya pada masa mudanya waktu sama2 main musik dengan kekasihnya, Liok Tian-goan, malahan lagu "liu-po"
Yang dibawakan orang sekarang ini adalah lagu yang sering dibawa-kannya dahulu.
Kejadian itu sudah lalu berpuluh tahun, tapi kenangan itu sukar dilupakan, maka diam2 ia berdiri di luar sana mendengarkan suara kecapi dan seruling yang sahut menyahut dengan mesranya, tiba2 ia berduka, se-konyong2 ia menangis ter-gerung2 keras.
Tangisannya yang amat sedihnya ini membikin Liok Bu-siang tak mengerti, biasanya gurunya terkenal kejam, mana pernah mengunjuk hati lemah?
Kini terang2an ia datang hendak membunuh orang, kenapa malah menangis di luar pintu?
Dan bila didengarnya tangisan Li Bok-chiu begitu sedih memilukan, tak tahan iapun menangis.
Dan karena menangisnya Li Bok-chiu itu, segera Nyo Ko dan Thia Eng mengetahuinya juga, suara khim dan siau mereka rada terpengaruh hingga sedikit kacau iramanya.
Tergerak pikiran Li Bok-chiu, mendadak dari menangis ia berubah menyanyi keras dengan suaranya yang memilukan.
Sebenarnya suara khim dan siau tadi penuh membawa perasaan gembira, tapi karena nyanyian Li Bok-chiu yang bukan saja syairnya sangat sedih, nadanya pun amat memilukan, bahkan iramanya berlainan sama sekali dengan lagu Nyo Ko berdua, baru saja Li Bok-chiu mulai menyanyi, suara seruling Thia Eng segera hampir2 mengikuti iramanya.
Keruan Nyo Ko terkejut, lekas2 ia tambahi suara kecapinya lebih keras dan menarik kembali suara seruling Thia Eng.
Makin lama suara nyanyian Li Bok-chiu makin kecil, tapi makin kecil makin melengking tinggi juga nadanya, Rada kacau Nyo Ko terpengaruh oleh suara tangisnya, satu saat iapun tertarik menuruti irama orang tanpa sadar, Thia Eng memangnya lebih cetek lagi keuletannya, lebih2 ia tak bisa menguasai diri.
Diam2 Li Bok-chiu sangat girang, ia pikir tanpa turun tangan, cukup dengan suara nyanyianku saja sudah bisa bikin kalian hilang semangat dan menyerah.
Siapa tahu sedikit ia bergirang, suara nyanyiannya segerapun timbul reaksi dan ikut menunjuk rasa girang juga.
Kesempatan ini digunakan Nyo Ko dengan baik untuk membelok kembali iramanya, menyusul Thia Eng pun bisa menguasai diri kembali ke lagu mereka tadi.
Melihat usahanya gagal, tidak kepalang gusarnya Li Bok-chiu, suara nyanyiannya bertambah tinggi dan beberapa kalimat lanjutannya dinyatakan secara lebih pilu tapi bengis mengadung rasa marah, tapi Nyo Ko dapat melawannya dengan kuat.
Di antara empat orang ilmu silat Liok Bu siang adalah paling rendah, mula2 ia heran mengapa gurunya mendadak menarik suara dan menyanyi, baru kemudian ia paham bahwa hakikatnya kedua pihak sedang saling gebrak, cuma bukan gebrak dengan kaki tangan, melainkan adu pengaruh batin, termasuk Lwekang.
ia lihat paduan suara musik Nyo Ko dan Thia Eng masih tak sanggup menahan gempuran suara nyanyi gurunya, ia tahu gurunya tak berani sembarang menyerbu masuk karena dirintangi barisan gundukan tanah di luar rumah itu, maka dengan suara nyanyian hendak bikin kacau dulu semangat mereka bertiga, habis itu tanpa banyak buang tenaga barisan gundukan tanah akan dibobolnya.
Sejenak kemudian didengarnya suara kecapi dan seruling mulai kisruh, ia tahu Nyo Ko dan Thia Eng sudah repot melawan musuh, cuma sayang ia tak berdaya buat membantunya, tiada jalan lain kecuali berkuatir saja diam-diam.
Suatu saat, tiba-tiba Li Bok-chiu meninggikan iramanya hingga lebih sedih dan seram kedengarannya, Sukar Nyo Ko dan Thia Eng hendak melawannya, ketika nada suara kecapi makin lama makin tinggi juga, akhirnya terdengarlah suara "creng", senar pertama kecapi itu telah putus.
Thia Eng terkejut, suara serulingnya rada kacau, kembali senar kedua kecapi Nyo Ko putus pula.
Ketika Li Bok-chiu tarik suaranya lebih tinggi segera senar ketiga lagi2 gugur.
Dengan demikian suara seruling Thia Eng tak bisa lagi berpaduan dengan suara kecapi yang telah pincang itu.
Tadi waktu Li Bok-chiu mendatangi rumah gubuk itu, dari jauh sudah dilihatnya barisan gundukan tanah yang kelihatan tertumpuk serabutan itu, tapi di dalamnya sebenarnya penuh perubahan2 menurut lukisan Pat-kwa, cuma belum sempurna.
Sebenarnya pada waktu senar kecapi Nyo Ko putus dan suaranya rada kacau, segera ia bisa menyerbu rnasuk, tapi ia masih jeri terhadap barisan gundukan tanah itu.
Tiba2 tergerak pikirannya, cepat ia memutar ke sebelah kiri itu, dibarengi suara nyanyianrya yang bernada tinggi, ia melompati segundukan tanah terus membobol dinding rumah dan menyerbu ke dalam.
Kiranya barisan gundukan tanah yang dipasang Thia Eng itu melulu mengutamakan menjaga pintu depan dan tidak memikirkan bahwa dinding rumah reyot yang kurang kokoh.
Kini Li Bok-chiu secara cerdik hindarkan pintu depan dan main pintu belakang, ketika kedua telapak tangannva memukul keras, dinding gubuk itu kena dirobohkannya dan diterjang masuk.
Terkejut sekali Liok Bu-siang dan Thia Eng, ke-dua2nya berlari masuk ke dalam dengan pedang siap di tangan.
Melihat Li Bok-chiu masuk dengan membobol dinding Nyo Ko pun terkejut.
Tapi bila ingat ia sendiri terluka dan tak mampu melawan, segera ia menjadi nekad, mati hidup tak dipikirnya lagi, ia ganti nada kecapinya dan tukar sebuah lagu "tho-yao"
Yang menyanyikan pasangan muda-mudi pada hari penganten baru dengan penuh rasa bahagia.
Melihat si Nyo Ko begitu tenang, musuh di depan mata masih unjuk senyuman, diam2 Li Bok-chiu kagum akan nyali orang, tapi demi mendengat suara kecapinya yang mesra menarik itu, tak tahan harinya terguncang.
"Mana kitabnya? sebenarnya direbut orang Kay-pang atau tidak?"
Tanya Li Bok-chiu tiba2 pada Liok Bu-siang. Bu-siang tak menjawab. sebaliknya Nyo Ko gunakan tangan kiri buat memetik kecapi dan tangan kanan melemparkan kitab "panca-bisa"
Itu kepadanya.
"Ui-pangcu dari Kay-pang adalah seorang berbudi luhur dan punya harga diri, mana ia sudi melihat kitabmu yang kotor ini? Malah dia telah memberi perintah pada anak murid Kay-pang agar tidak membalik barang sehalaman bukumu ini,"
Demikian kata Nyo Ko.
Melihat kitab pusakanya masih baik2 tak kurang suatu apapun, girang sekali Li Bok-chiu, iapun kenal kelakuan orang Kay-pang yang biasanya sangat terpuji, peraturan merekapun sangat keras, mungkin juga belum pernah ada yang membuka kitabnya dan membacanya, Karena girangnya itu pengaruh suara sedihnya tadi lantas berkurang beberapa bagian.
Kemudian Nyo Ko keluarkan lagi dua potong belahan saputangan bersulam dan dibentang di atas meja.
"Saputangan inipun kau ambil saja sekalian."
Katanya pula.
Air muka Li Bok-chiu berubah hebat melihat saputangan itu, begitu kebutnya menyamber, kedua potong saputangan itu sudah terbelit dan sampai di tangannya, ia terkesima memandangi saputangan itu, seketika perasaannya timbul tenggelam bagai ombak mendampar.
Di lain pihak Thia Eng dan Liok Bu-siang telah saling pandang sekejap, paras merekapun merah jengah, sungguh tak terduga masing2 telah memberikan saputangan sendiri2 pada Nyo Ko, sedang pemuda ini justru unjukkan saputangan itu di hadapan mereka.
Kedua saudara misan ini siulan sama tahu masing2 jatuh hati pada Nyo Ko, tapi sifat anak gadis dengan sendirinya sukar diucapkannya terus terang.
Mendadak Li Bok-chiu merobek kedua potong saputangan itu menjadi empat potong.
"Kejadian sudah lalu buat apa disesalkan pula?"
Katanya tiba-tiba. Dan ketika tangannya menyobek lagi terus-dilempar ke udara, tahu2 sobekan saputangan tadi berhamburan bagai bunga rontok. Nyo Ko terkejut.
"creng", kembali terdengar suara nyaring, seutas senar kecapi yang lain kembali putus.
"Kalau kini kubunuh kau, gampang bagai membalik tanganku sendiri,"
Bentak Li Bok-chiu.
"Tapi kau terluka, bila kubunuh kau mungkin kan pun tidak rela, Cis, putus lagi seutas !"
Betul saja senar kecapi kelima kembali putus menyusul suara ejekannya itu.
Kini kecapi yang tadinya bersenar tujuh itu tinggal dua senar saja, betapa pandai Nyo Ko memainkan kecapi sukar lagi membentuk irama pula.
"Hayo lekas petik beberapa suara sedih saja biar kalian menangis, dunia fana ini selalu membikin orang menderita, apa senangnya orang hidup?"
Demikian tiba2 Li Bok-chiu membentak. Tapi watak si Nyo Ko sangat bandel, ia justru pelik kedua senar kecapinya keras2 dan tetap dengan nada nyanyian gembira kemanten baru tadi.
"Baik, biar aku bunuh seorang dulu, coba kau bakal sedih dan pilu tidak?"
Kata Bok-chiu pula.
Karena kata2nya ini, kembali seutas senar kecapi gugur lagi.
Habis itu Bok-chiu angkat kebutnya terus hendak disabetkan ke kepala Liok Bu-siang, namun Thia Eng segera angkat pedang siap adu jiwa dengan musuh.
Insaf tak bisa menghindarkan ancaman musuh lagi, tiba2 Nyo Ko malah tertawa.
"Hari ini kami bertiga bisa mati bersama di suatu tempat dan saat yang sama senang dan bahagia, sungguh jauh lebih enak daripada kau hidup sebatangkara di dunia ini dengan hati kosong,"
Demikian ia ejek musuh.
"Hayo, Eng-moay, Siang-moay, marilah kalian ke sini!"
Segera Thia Eng dan Bu-siang mendekati Nyo Ko sebuah tangan pemuda ini memegang Thia Eng dan tangan lain pegang Bu-siang, lalu dengan tertawa ia berkata.
"Biarlah kita mati bersama, di tengah jalan menuju alam baka kita masih dapat bicara sambil bergurau, bukankah jauh lebih baik daripada perempuan jahat dan keji ini?"
"Ya, ya, Tolol, sedikitpun tak salah katamu,"
Sahut Bu-siang tertawa, karena itu Thia Eng ikut tersenyum hangat.
Karena tangan kedua saudara misan ini dipegang Nyo Ko, seketika keberanian merekapun bertambah lipat ganda, perasaan mereka amat senangnya.
"Apa yang dikatakan bocah ini tidak salah juga, kalau mereka mati secara demikian, betul juga jauh lebih enak daripada hidupku,"
Diam2 Bok-chiu membatin dengan wajah sedingin es. Tapi hatinya yang kejam itu segera berpikir lagi.
"Ah, mana boleh begitu enak bagi mereka? Aku justru ingin membikin kalian mati dengan menderita lebih dulu."
Habis ini ia geraki kebutnya pelahan terus mulai menyanyi lagi, lagunya masih tetap seperti tadi, cuma nadanya bertambah sedih bagai keluhan janda terbuang, seperti tangisan setan gentayangan di malam sunyi.
Tangan Nyo Ko bertiga masih saling genggam hangat, setelah mendengarkan tak lama, tiba2 timbul rasa pilu mereka yang tak tertahankan lwekang Nyo Ko lebih tinggi ia coba kumpulkan semangat agar tak terpengaruh dengan pertahankan senyumannya.
Hati Bu-siang juga lebih keras dan tidak gampang terguncang, tapi Thia Eng agaknya tak tahan, air matanya meleleh.
Suara nyanyian Li Bok-chiu makin lama makin rendah, sampai akhirnya menjadi begitu lirih seperti terputus, lalu menyambung lagi Kelopak mata Nyo Ko mulai merah, hidungnya mulai basah ingusan.
Jik-lian-sian-cu sedang menunggu, asal ketiga orang mengalirkan air mata berbareng, begitu kebutnya menyabet, segera mereka akan dibinasakannya.
Tapi pada saat nyanyiannya bertambah sedih luar biasa itu, mendadak didengarnya di luar rumah ada orang datang dengan bergelak tertawa, sambil bertepuk tangan dan bendendang.
Suara nyanyian itu suara kaum wanita, kedengaran usia yang menyanyi pasti tidak muda lagi, tapi lagu yang dibawakannya justeru lagu kanak-kanak yang riang gembira, karena itu nada suara Li Bok-chiu yang sedih itu menjadi kacau balau.
Suara nyanyian itu makin mendekat, sejenak kemudian masuklah seorang perempuan setengah umur dengan rambut semrawut, kedua matanya besar bulat dan tertawa ketolol-tololan, sebelah tangannya membawa sebatang garpu besar yang biasa dipakai tukang api.
Li Bok-chiu terkejut heran perempuan itu dapat masuk ke rumah ini dengan mengitari barisan gundukan tanah yang diatur oleh Thia Eng itu, jika perempuan sinting ini bukan sekomplotan dengan Thia Eng bertiga, tentu dia mahir ilmu perhitungan bintang yang mujizat itu.
Lantaran pikirnya terganggu oleh pikiran lain, seketika pengaruh nyanyiannya yang bernada sedih itupun surut, tidak selihay tadi.
Thia Eng sangat girang melihat datangnya perempuan setengah umur itu, segera ia berseru.
"Suci, orang ini hendak mencelakai diriku, lekas engkau membantu adikmu ini."
Kiranya perempuan ini, adalah murid Ui Yok-su, namanya Sah Koh (si nona tolol).
ia tidak menjawab seruan Thia Eng itu, tapi melanjutkan bernyanyi sambil tertawa.
Lagunya tetap lagu kanak2 yang bersuka ria sehingga tidak terpengaruh oleh nada nyanyian Li Bok-chiu yang sangat sedih itu.
Lama-lama Li Bok-chiu menjadi murka, ia pikir perempuan sinting ini harus dibereskan lebih dulu, Maka sebelum berhenti suara nyanyiannya, serentak kebutnya menyabet ke arah kepala Sah Koh.
Sungguh aneh, sama sekali Sah Koh tidak ambil pusing akan serangan Li Bok-chiu itu, sebaliknya ia angkat garpunya terus menusuk ke dada lawan.
Melihat serangan lawan sangat kuat, kembali Li Bok-chiu terkejut ia tidak paham mengapa perempuan sinting ini memiliki kekuatan sedemikian hebat.
Cepat ia menggeser ke samping, menyusul kebutnya menyabet pula ke leher orang.
Tapi Sah Koh tetap tidak pedulikan serangan musuh, kembali garpunya menusuk lurus ke depan, Waktu Li Bok-chiu memutar kebutnya untuk membelit ujung garpu, namun Sah Koh anggap tidak tahu saja, ujung garpu tetap menusuk ke depan.
Kiranya Sah Koh ini aslinya adalah anak murid Ui Yok-su yang bernama Ki Leng-hong.
Watak Ui Yok-su terkenal aneh, eksentrik, Leng-hong telah menjadi korban wataknya yang luar biasa itu, Karena menyesal Ui Yok-su telah pungut anak perempuan Ki Leng-hong, yaitu Sah Koh dan berjanji pada diri sendiri akan mendidik Sah Koh dengan segenap kepandaian yang dimilikinya.
Cuma sayang, lantaran syaraf nya terganggu ketika menyaksikan ayahnya tewas, maka otaknya menjadi miring, terbatas oleh bakatnya ini maka sia-sia saja jerih payah Ui Yok-su yang berusaha menurunkan segenap kepandaiannya kepada nona itu, walaupun begitu, selama belasan tahun ini dapat pula dilatihnya suatu permainan ciang-hoat (pukulan dengan telapak tangan) dan permainan Jeh-hoat (permainan garpu).
Apa yang disebut suatu permainan sebenarnya cuma terdiri dari tiga jurus saja setiap macamnya, soalnya Ui Yok-su memaklumi bakat Sah Koh yang kurang itu, kalau diajari perubahan yang aneh dan rumit tentu malah tak dapat diingatnya, Maka ia sengaja menciptakan tiga jurus ilmu pukulan dan tiga jurus serangan garpu, keenam jurus ini sangat berbahaya, tiada sesuatu perubahan sampingan dan tiada gerakan yang aneh, begitu2 melulu, letak kelihaiannya hanya soal keteguhan pikiran dan kemantapan hati saja, latih terus keenam jurus itu sekuatnya, lain tidak.
Karena itulah keenam jurus Sah Koh itu tak dapat dipandang enteng, malah ketika ujung kebut Li Bok-chiu melilit ujung garpu si Sah Koh, ternyata lawan tak ambil pusing, garpunya juga tidak berhenti, tapi tetap lurus menusuk ke depan, sekejap saja ujung garpu sudah sampai di depan dadanya.
Syukur Li Bok-chiu memang seorang tokoh maha sakti, pada detik garpu musuh sudah hampir melubangi buah dadanya itulah, mendadak ia berjumpalitan ke belakang, dengan demikian terhindarlah dia dari renggutan maut, walaupun begitu keringat dinginpun telah membasahi tubuhnya.
Setelah berjumpalitan ke belakang, malahan ia tidak berhenti, segera ia melompat maju, kebutnya menyabet pula dari atas.
Tapi lagi-lagi Sah Koh tidak pedulikan serangan lawan, kembali garpunya menusuk lurus ke depan.
Karena sekali ini Li Bok-chiu sedang melompat, maka garpu itu jadinya mengarah ke perutnya.
Melihat ancaman bahaya itu, terpaksa Li Bok-chiu tarik kebutnya untuk menangkis garpu orang, berbareng itu melompat ke samping.
ia pandang Sah Koh dengan tidak habis mengerti apa sebabnya setiap tusukan garpu lawan yang sederhana itu seketika dapat mematahkan sabetan kebutnya yang beraneka ragam perubahannya, padahal selama ini tokoh silat manapun tidak berani meremehkan serangan kebutnya itu.
jelas perempuan sinting ini memiliki ilmu kepandaian yang sukar diukur, jaIan paling selamat rasanya tiada pilihan Iain kecuali angkat langkah seribu saja.
Tapi baru saja Li Bok-chiu hendak kabur melalui lubang dinding yang dibobolnya tadi, tiba2 terlihat di tepi bobolan dinding itu sudah berduduk seorang berjubah hijau dan berjenggot panjang siapa lagi dia kalau bukan Tho-hoa-tocu Ui Yok su adanya.
Ui Yok-su berduduk menghadap sebuah bangku pendek, di atas bangku terletak kecapi Nyo Ko tadi, Padahal Li Bok-chiu maha cerdik, biarpun sedang bertempur juga panca inderanya selalu waspada terhadap segala gerak-gerik di sekitarnya, Tapi kini Ui Yok-su masuk rumah, mengambil kecapi dan berduduk di situ di luar tahunya sama sekali, bilamana Ui Yok-su mau menyergapnya, maka jiwanya tentu sudah melayang sejak tadi.
Sembari bertempur melawan Sah Koh tadi, kuatir kalau Thia Eng bertiga ikut mengerubutnya, maka Li Bok chiu tidak pernah menghentikan nyanyinya untuk mengganggu pemusatan pikiran Thia Eng bertiga.
Kini mendadak nampak Ui Yok-su berduduk di situ sambil memetik kecapi, saking kagetnya seketika iapun lupa menyanyi lagi.
Mendadak Ui Yok-su memetik senar kecapi hingga menimbulkan suara "creng"
Yang nyaring, lalu dia mulai bemyanyi, yang dibawakan ternyata adalah lagu yang dinyanyikan Li Bok-chiu tadi, padahal senar kecapi itu tinggal satu saja, tapi Ui Yok-su adalah seorang mahaguru ilmu silat, dari sebuah senar itu dapatlah dipetiknya menjadi berbagai irama yg diinginkannya, malahan nada duka suara kecapinya ini jauh, melebihi suara nyanyian Li Bok-chiu tadi.
Karena lagu ini sudah apal bagi Li Bok-chiu, sekali nadanya dikerahkan, seketika reaksi yang timbul dalam perasaannya menjadi berlipat ganda terlebih hebat daripada Nyo Ko bertiga.
Ui Yok-su tahu kejahatan yang diperbuat Li Bok-chiu, kesempatan ini akan digunakan untuk menumpasnya.
Asalkan lagu yang dipetiknya itu selesai, andaikan tidak mampus juga Li Bok-chiu akan menjadi gila.
Di luar dugaan, ketika mendadak si Sah Koh melihat Nyo Ko, di bawah cahaya lilin yang remang, ia lihat wajah Nyo Ko mirip benar dengan mendiang ayah Nyo Ko, yaitu Nyo Khong.
Biasanya Sah Koh sangat takut pada setan iblis, dahulu ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri ketika Nyo Khong mati keracunan, apa yang dilihatnya itu sukar terlupakan baginya, Kini dilihatnya Nyo Ko duduk termangu di sana, disangkanya arwah Nyo Khong hendak menggodanya, keruan ia kaget dan ketakutan, ia tuding Nyo Ko dan berseru.
"He, kau... kau....saudara Nyo,jangan...jangan kau membikin... membikin susah aku... bukan aku yang mencelakai kau... pergilah kau men... mencari orang lain saja!"
Sebenarnya saat itu Ui Yok-su sudah mulai meninggikan nada kecapinya dan sejenak lagi Li Bok-chiu pasti akan celaka, tapi mendadak terganggu oleh jeritan Sah Koh dan senar kecapi yang terakhir segerapun putus.
Sah Koh sembunyi di belakang sang guru sambil berteriak.
"Setan... ada setan, Suhu ! Setan saudara Nyo !"
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Li Bok-chiu, dengan kaburnya ia padamkan api lilin, cepat ia menerobos keluar melalui bobolan dinding itu.
Karena gagal membinasakan iblis itu dengan suara kecapi, untuk menjaga harga diri.
Ui Yok-su tidak ingin mengejarnya lagi -----------gambar ------------Ui Yok-su menyanyikan lagu yang dibawakan Li Bok-chiu tadi dengan iringan petikan kecapi yang tinggal seutas senar saja.
Perasaan Li Bok-chiu terguncang hebat berlipat ganda dari Nyo Ko bertiga.
---------------------------------Dalam kegelapan Sah Koh menjadi lebih takut, teriakannya bertambah keras.
"Ada setan, Suhu !"
Thia Eng menyalakan pula lilin itu, lalu memberi hormat kepada sang guru serta menguraikan asal-usul Liok Bu-siang dan Nyo Ko secara singkat.
Lebih dulu Ui Yok-su membentak Sah Koh agar diam, lalu berkata kepada Nyo Ko dengan tertawa.
"Dia kenal ayahmu, kau memang sangat mirip dengan ayahmu."
Nyo Ko memberi hormat di atas pembaringan dan berkata.
"Maaf, karena Tecu terluka, maka tidak dapat memberi sembah kepada locianpwe !"
Dengan ramah Ui Yok-su berkata.
"Dengan mati-matian kau telah menolong puteriku, kau sungguh anak yang baik."
Kiranya Ui Yok-su sudah bertemu dengan Ui Yong dan mengetahui duduknya perkara, mendengar Thia Eng telah menolong pergi si Nyo Ko, segera ia membawa Sah Koh mencarinya ke sini.
Begitulah Ui Yok-su lantas mengeluarkan obat luar dalam untuk Nyo Ko, lalu menggunakan Lwe-kangnya yang tinggi untuk mengurut urat nadi Nyo Ko, di mana teraba oleh tangan orang tua itu.
Ketika mendadak merasakan kulit daging pemuda itu bergetar dan merasakan Lwekangnya cukup kuat, segera Ui Yok-su menambahkan tenaganya.
Selang tak lama, sekujur badan Nyo Ko, terasakan nyaman sekali dan akhirnya ia terpulas.
Besoknya, begitu mendusin segera Nyo Ko melihat Ui Yok-su berduduk di tepi pembaringannya.
Cepat ia bangkit berduduk dan memberi hormat.
"Apakah kau tahu julukanku di kalangan Kangouw?"
Tanya Ui Yok-su.
"Engkau adalah Tho-hoa-tocu,"
Jawab Nyo Ko.
"Apalagi?"
Tanya Ui Yok-su pula.
"Semula Nyo Ko merasa sebutan "
Tang Sia " (si eksentrik dari timur) kurang sedap untuk diucapkan Tapi segera terpikir olehnya, kalau orang tua ini berjuluk "
Sia"
Atau eksentrik, maka wataknya tentu juga aneh dan lain daripada yang lain. Karena itu, dengan tabah ia menjawab pula .
"Engkau adalah Tang Sia !"
Ui Yok-su terbahak-bahak,"
Katanya.
"Benar, Akupun pernah mendengar orang berkata bahwa ilmu silatmu tidak rendah, hatimu baik, tapi tindak-tandukmu juga sangat eksentrik, Kabarnya kau hendak ambil gurumu sebagai isteri, apa betul ?"
"Betul,"
Jawab Nyo Ko.
"Locianpwe, setiap orang menganggap tidak pantas aku beristerikan guruku, tapi matipun aku ingin menikahinya."
Mendengar ucapan pemuda yang tegas dan pasti itu, Ui Yok-su memandangnya kesima sejenak, mendadak ia menengadah dan bergelak tertawa, begitu keras suara tertawanya hingga dinding rumah gubug itu bergetar.
"Apanya yang lucu?"
Kata Nyo Ko dengan gusar.
"Kau berjuluk Tang Sia, kukira kau pasti lain daripada yang lain, siapa tahu kaupun sama buruknya dengan manusia umumnya itu."
"Bagus, bagus, bagus !"
Seru Ui Yok-su, habisi itu ia terus keluar rumah.
Nyo Ko duduk termenung sendirian, ia pikir apa yang diucapkannya barangkali telah membikin marah Locianpwe itu, tapi tampaknya air muka orang tua itu mengunjuk rasa senang.
Kiranya watak Ui Yok-su itu memang aneh, selama hidupnya malang melintang di dunia Kang-ouw, dia jemu dan benci pada adat istiadat yang berlaku pada jaman itu, tindak-tanduknya selalu berlawanan dengan adat umum, malahan suka menuruti keinginan hati sendiri, sebab itulah dia mendapatkan julukan "Sia"
Lantaran wataknya yang eksentrik itu, selamai hidup itu hampir boleh dikatakan tidak mempunyai sahabat karib, sekalipun anak perempuan dan menantu sendiri juga tidak seluruhnya cocok dengan pikirannya.
Siapa duga kini, dikala usianya sudah tua, tiba2 ia bertemu dengan Nyo Ko yang juga bertabiat aneh, Sudah lama ia mendengar cerita tentang Nyo Ko memberontak pada perguruannya sendiri, yaitu Coan-cin-kau, menghajar gurunya sendiri serta macam-macam perbuatan yang khianat, kini dia sempai berbicara berhadapan dengan pemuda itu dan satu dan lain ternyata sangat cocok dengan seleranya.
Begitulah petangnya kembali Ui Yok-su mendatangi kamar Nyo Ko, katanya kepada pemuda itu "Nyo Ko, bagaimana jika kau memberontak lagi pada Ko-bong-pay dan berguru saja padaku."
Sejenak Nyo Ko termangu, lalu bertanya.
"Mengapa begitu?"
"Lebih dulu kau tidak mengakui Siao-liong-li sebagai gurumu, habis itu baru mengambilnya sebagai isteri, dengan begitu semuanya kan menjadi lebih pantas?"
Nyo Ko pikir usul orang memang cukup bagus, tapi bahwasanya antara guru dan murid tindak boleh terikat menjadi suami-isteri, siapakah yang menetapkan peraturan ini.
Karena pikiran yang aneh itu, dengan tegas ia menjawab.
"Tidak, aku justeru ingin memanggil dia sebagai guru dan juga mengambil dia sebagai isteriku."
"Hahaha ! Bagus, bagus ! Jalan pikiranmu ini ternyata jauh lebih tinggi satu tingkat daripada jalan pikiranku !"
Puji Ui Yok-su sambil bergelak tertawa, lalu ia memijati tubuh Nyo Ko pula untuk menyembuhkan Iukanya. Katanya pula dengan gegetun.
"Sebenarnya aku ingin kau menjadi ahliwarisku agar dunia mengetahui bahwa sehabis Ui-losia (si eksentrik tua she Ui) ada lagi seorang Nyo siausia (eksentrik kecil she Nyo), Tapi kau menolak menjadi muridku, ya, apa boleh buat ?!"
Kini Nyo Ko benar2 memahami watak Ui Yok-Su, semakin aneh dari apa yang dikatakan dilakukan, semakin mencocoki pula selera orang tua itu, Karena itu ia lantas berkata lagi.
"Antara kitapun tidak perIu harus menjadi guru dan murid untuk bisa dijadikan ahliwarisnya, jika engkau anggap usiaku terlalu muda dan kepandaianku masih rendah, maka kita boleh bersahabat atau mengangkat saudara saja."
Tapi Ui Yok-su menjadi marah, ujarnya.
"Kau ini sungguh berani aku bukanlah si Lo-wan tong Ciu Pek-thong, mana boleh bergaul secara sembarangan dengan kau?"
"Siapa Lo-wan-tong Ciu Pek-thong itu?"
Tanya Nyo Ko.
Maka Ui Yok-su lantas menguraikan sekadarnya kisah Ciu Pek-thong yang berjuluk Lo-wan-tong (si anak nakal tua) itu, lalu menceritakan pula cara bagaimana Ciu Pek-thong mengangkat saudara dengan Kwe Cing, padahal usia antara kedua orang itu selisih sangat jauh.
Omong punya omong, ternyata keduanya menjadi sangat cocok, Dasar Nyo Ko memang pintar bicara, ditambah lagi wataknya sangat mendekati watak Ui Yok-su yang aneh itu.
Setiap kata pemuda itu selalu membuat Ui Yok-su manggut2 dan merasa benar-benar menemukan sahabat sejati, saking cocoknya, malamnya ia suruh Thia Eng menyiapkan sebuah tempat tidur lagi di kamar Nyo Ko itu agar kedua orang dapat bicara sepanjang malam.
Beberapa hari kemudian, luka Nyo Ko sudah mulai sembuh, hubungannya dengan Ui Yok-su juga bertambah akrab, begitu erat seakan-akan sukar dipisahkan.
sebenarnya Ui Yok-su akan membawa Sah Koh ke daerah Kanglam, tapi sekarang sama sekali tak dipikirkan lagi keberangkatannya.
Melihat kedua orang itu, yang satu tua dan yang lain muda.
siang malam senantiasa bicara dan ngobrol dengan asyiknya, diam-diam Thian Eng dan Liok Bu-siang menjadi geli dan heran pula.
Mereka anggap yang tua tidak jaga diri dan yang muda jugf teramat sembrono.
Bicara tentang ilmu pengetahuan dan pengalaman sebenarnya Nyo Ko tiada dapat dibandingkan dengan Ui Yok-su, cuma pemuda itu memang punya mulut manis, apa saja yang dikatakan Ui Yok-su, selalu ia menyatakan akur dan setuju, malahan terkadang ia menambahkan sedikit bumbu dan dirasakan Ui Yok-su menjadi lebih cocok lagi, maka tidak heran Ui Yok-su benar-benar menganggap Nyo Ko sebagai sahabat paling karib selama hidupnya ini.
Selama itu dengan sendirinya Ui Yok-su mengajarkan segenap kepandaiannya kepada Nyo Ko.
Meski kedua orang resminya bukan guru dan murid, tapi cara Ui Yok-su mengajar Nyo Ko ternyata lebih sungguh2 daripada dia mengajar muridnya.
Selain belajar silat dan mengobrol bersama Ui Yok-su, yang selalu terpikir oleh Nyo Ko adalah apa yang diucapkan Sah Koh yang bersangkutan dengan mendiang ayahnya itu.
Dari ucapan Sah Koh itu jelas dia mengetahui sebab musabab kematian ayahnya serta siapa yang membunuhnya, ia pikir dari orang sinting ini mungkin akan dapat dipancing keterangan yang lebih jelas.
Suatu hari lewat lohor, di luar rumah Nyo Ko bertemu dengan sah Koh sendirian, segera ia memanggilnya.
"Sini, Sah Koh aku ingin bicara dengan kau..."
Sah Koh merasa Nyo Ko teramat mirip dengan Nyo Khong dan takut, maka ia menggeleng kepala dan menjawab .
"Aku tak mau bermain dengan kau,"
"Aku bisa main sulap, kau mau lihat tidak?"
Bujuk Nyo Ko.
"Tidak, kau bohong,"
Jawab Sah Koh sambit menggeleng.
Tiba-tiba Njo Ko mendapat akal, cepat ia berjungkir dengan kepala di bawah dan kaki di atas, ia gunakan ilmu ajaran Auyang Hong, ia berjalan dengan kepala dan melompat-Iompat ke sana.
Sah Koh menjadi ketarik, tanpa pikir ia bersorak gembira dan ikut menuju ke suatu tempat yang lebat dengan pepohonan dan cukup jauh dari gubuk Thia Eng itu.
Di situ Nyo Ko lantas berhenti dan berkata.
"Sah Koh, marilah kita bermain sembunyi, kita taruhan."
Sifat Sah Koh memang kekanak-kanakan, suka bermain.
Tapi selama ini lebih sering ikut Ui Yok-su ke sana sini, maka hampir tidak pernah ada kawan bermain.
Kini Nyo Ko mengajak dolanan dengan dia, tentu saja dia sangat senang, serentak ia bertepuk tangan menyatakan setuju, rasa takutnya tadi sudah terlupakan seluruhnya.
"Baik sekali saudara cilik, coba katakan cara bagaimana kita bermain?"
Jawab Sah Koh dengan gembira, Dia sebut ayah Nyo Ko sebagai saudara, kini ia pun sebut Nyo Ko sebagai saudara. Nyo Ko mengeluarkan saputangan untuk menutup kedua mata Sah Koh, lalu berkata.
"Boleh kau tangkap diriku. jika berhasil apa saja yang kau tanya tentu akan kujawab dan tidak boleh berdusta sedikitpun sebaliknya kalau kau tidak mampu menangkap aku, nanti akupun menanyai kau dan kaupun harus menjawab apa yang kutanyakan."
"Bagus, bagus!"
Seru Sah Koh.
"Nah, mulai! Aku di sini, hayo coba tangkap!"
Seru Nyo Ko sambil melompat mundur.
Segera Sah Koh pentang kedua tangannya dan mengejar ke depan mengikuti suara.
Ginkang yang dipelajari Nyo Ko adalah Ginkang khas dari Ko-bong-pay, jangankan mata Sah Koh ditutup dengan sapu tangan, sekalipun mata dapat memandang juga belum tentu mampu menyusulnya.
Maka setelah menguber kian kemari, bukannya Nyo Ko yang ditangkapnya, berbalik batok kepalanya benjut kebentur batang pohon yang kena dirangkulnya, keruan ia berteriak kesakitan Kuatir Sah Koh menjadi kapok dan tidak mau bermain lagi, Nyo Ko sengaja perlambat langkahnya di depan orang diserta suara berdehem, mendengar suara itu, segera Sah Koh, melompat maju dan berhasil mencengkeram punggung si Nyo Ko jambil berseru.
"Aha, tertangkap sekarang!" -berbareng ia menanggalkan saputangan yang menutupi kedua matanya itu dengan wajah ber-seri2.
"Baiklah, aku kalah,"
Ujar Nyo Ko.
"Sekarang boleh kau mengajukan pertanyaan padaku !" .. Hal ini ternyata merupakan soal sulit bagi Sah Koh, iamemandang Nyo Ko dengan melenggong bingung, ia tidak tahu apa yang harus ditanyakan. Selang agak lama barulah ia membuka uara.
"Saudara cilik, kau sudah makan belum ?"
Sungguh tidak kepalang rasa geli Nyo Ko, berpikir sekian lama, yang ditanyakan ternyata adalah hal sepele ini. Tapi iapun menjawab dengan sikap sungguh-sungguh.
"Sudah, aku sudah makan."
Sah Koh mengangguk lalu tidak bertanya pula.
"Kau ingin tanya apa lagi?"
Kata Nyo Ko. Tapi Sah Koh menggeleng, katanya.
"Tidak ada, marilah kita bermain lagi."
"Baik, lekas kau tangkap diriku !"
Seru Nyo Ko sambil mundur.
"Sekali ini giliranmu menangkap diriku!"
Ujar Sah Koh sambil meraba keningnya yang merah benjut itu.
Bahwa Sah Koh mendadak tidak bodoh lagi hal ini sungguh di luar dugaan Nyo Ko.
Tapi ia pun tidak menolak, segera ia menutup mata sendiri dengan saputangan dan berlagak mengejar.
Meski bodoh dan sinting, tapi Ginkang Sah Koh ternyata sangat hebat, dalam keadaan mata tertutup sukar juga bagi Nyo Ko untuk menangkapnya.
ia mendapat akal, ia pura-pura memburu ke sana sini, diam-diam ia robek sedikit saputangan itu, maka dapat dilihatnya Sah Koh bersembunyi di balik pohon besar, ia pura-pura meraba ke sana sambil berseru.
"Di mana kau sembunyi?"
Sejenak kemudian mendadak ia melompat balik dan berhasil memegang tangan Sah Koh, cepat ia melepaskan saputangan dan dimasukkan saku agar kecurangannya tidak diketahui orang, Lalu dengan tertawa berkata.
"Sekali ini aku yang harus bertanya padamu."
Belum sampai pertanyaan orang diajukan, lebih dulu Sah Koh sudah menjawab dengan rasa kagum.
"Aku sudah makan !"
Nyo Ko tertawa, katanya .
"Aku tidak tanya urusan itu, Aku ingin tanya padamu, kau kenal ayahku, bukan?"
"Ayahmu?"
Sah Koh menegas.
"Ya, Seorang yang sangat mirip dengan diriku, siapakah dia?"
Kata Nyo Ko.
"O, itulah saudara Nyo."
Jawab Sah Koh.
"Kau menyaksikan saudara Nyo itu dicelakai orang, bukan?"
Tanya Nyo Ko pula.
"Benar, tengah malam di kelenteng itu, banyak sekali burung gagak, aok, aok, aok!"
Sah Koh menirukan suara burung gagak, suasana di tempat itu memangnya sunyi senyap dan rindang, suara gagak yang ditirukan Sah Koh itu menjadi seram rasanya.
Tubuh Nyo Ko rada bergetar, ia coba mengorek lagi.
"Cara bagaimana saudara Nyo itu tewas?"
"Kokoh (bibi) suruh aku bicara, tapi saudara Nyo melarang aku, lalu saudara Nyo memukul Kokoh sekali, lalu dia tertawa, haha... haha....haha !"
Sedapatnya Sah Koh ingin menirukan suara tertawa Nyo Khong menjelang ajalnya, maka makin meniru makin tidak keruan sehingga akhirnya ia sendiri merasa mengkirik.
Nyo Ko bingung oleh uraian Sah Koh itu, ia coba tanya pula.
"Siapakah Kokoh yang kau maksudkan?"
"Kokoh ya Kokoh, siapa lagi?"
Jawab Sah Koh.
Darah di rongga dada serasa bergolak karena Nyo Ko tahu rahasia kematian ayahnya segera akan dapat dibongkarnya, Selagi dia hendak tanya lebih Ipijut, tiba-tiba terdengar seorang berkata di belakangnya.
"Kalian berdua sedang bermain apa?"
Ternyata suaranya Ui Yok-su.
"Saudara Nyo sedang bermain sembunyi2-an dengan aku,"
Jawab Sah Koh.
Ui Yok-su tersenyum sambil memandang Nyo Ko sekejap dengan penuh mengandung arti seakan akan sudah dapat menerka apa kehendak Nyo Ko itu.
Hati Nyo Ko berdebar, sedianya dia hendak berkata untuk menutupi maksud tujuannya itu, tiba2 terdengar suara orang berlari mendatangi Thia Eng dan Liok Bu-siang tampak muncul dan melapor kepada Ui Yok-su.
"Dugaan Suhu ternyata tidak keliru, dia memang masih berada di sana!" -Sembari berkata Thia Eng menuding ke balik gunung di sebelah barat sana.
"Siapa maksudmu?"
Tanya Nyo Ko.
"Li Bhok chiu !"
Jawab Thia Eng.
Nyo Ko sangat heran mendengar Li Bok-chiu, masih berada di balik gunung sana, ia pikir mengapa iblis itu begitu berani ia coba memandang Ui Yok-su dengan harapan agar orang tua itu suka memberi penjelasan.
Tapi Ui Yok-su hanya tertawa saja dan berkata.
"Marilah kita melongok ke sana !"
Berada bersama orang tua itu, dengan sendirinya Nyo Ko dan lain-Iainnya tidak perlu takut terhadap Li Bok-chiu.
Maka beramai-ramai mereka lantas menuju ke balik gunung di sebelah barat sana.
Thia Eng tahu rasa sangsi Nyo Ko, maka dengan suara pelahan ia berkata padanya.
"Maksud Suhu, Li Bok-chiu yakin Suhu pasti menjaga harga diri sekali gagal membunuhnya di gubuk itu, tentu malu untuk bertindak kedua kalinya."
"Oh, makanya dia berani bercokol di sini untuk mencari kesempatan lagi buat membunuh kita bertiga,"
Kata Nyo Ko.
Tidak Iama kemudian mereka berlima sudah sampai di balik bukit, tertampak di samping sebatang pohon besar ada sebuah gubuk yang sudah bobrok, pintu gubuk tertutup rapat, di daun pintu terpaku sehelai kertas yang tertulis.
"Tho-hoa-tocu mempunyai anak murid banyak, dengan lima lawan satu, sungguh mentertawakan!"
Ui Yok-su tertawa melihat tulisan olok-olok itu, ia jemput dua potong batu kecil dan diselentikkan.
"plak-plok" , kedua batu kecil itu menghantam kedua sayap daun pintu dari jarak belasan langkah, kontan daun pintu terpentang, sungguh luar biasa tenaga jari sakti Tho-hoa-tocu yang termashur itu. Tertampaklah di mana pintu terpentang, Li Bok-chiu berduduk semadi di atas tikar dengan tangan memegang kebut, sikapnya agung, wajahnya kereng, seharusnya dia seorang alim yang beribadat tinggi kalau saja tidak tahu akan perbuatan yang pernah dilakukannya, siapapun pasti tidak percaya bahwa dia adalah seorang iblis yang maha jahat. Melihat Li Bok-chiu, serentak Liok Bu-siang teringat kepada ayah bundanya yang terbunuh, segera ia melolos pedang dan berseru.
"ToIol, piauci, tidak perlu Tocu turun tangan, marilah kita bertiga melabrak dia saja."
"Dan masih ada aku..."
Sambung Sah Koh sambil menyingsing lengan baju dan menggosok kepalan.
Li Bok-chiu membuka mata dan memandang sekejap kepada kelima orang itu, lalu memejamkan matanya lagi, sedikitpun ia tidak mengacuhkan lawan tangguh yang berada di depan mata ini.
Thia Eng memandang sang guru untuk menantikan perintahnya.
Tapi Ut Yok-su berkata sambiT menghela napas.
"Sudahlah, memang Ui-losia"
Mempunyai anak murid banyak, andaikata salah seorang muridku diantara Tan, Bwe, Ki dan Tiok berada di sini, mana kau mampu lolos dari tangannya, Ialu ia memberi tanda dan berkata pula .
"Hayolah, pergi!"
Tentu saja Thia Eng berempat tidak paham maksudnya dan terpaksa ikut kembali ke gubuknya.
Tertampak Ui Yok-su muram durja, makan malam pun tidak dihabiskan lantas pergi tidur.
Meski Thia Eng adalah murid Ui Yok-su, tapi dia sama sekali tidak mengetahui kejadian di masa lampau tentang Ui Yok-su pernah menganiaya dan mengusir anak muridnya dari Tho-hoa-to, ia mengira sang guru mendongkol karena diolok-olok oleh tulisan Li Bok-chiu itu, ia tidak tahu bahwa sebenarnya Ui Yok-su bersedih dan menyesalkan tindakan sendiri di masa lampau, kini anak muridnya itu sudah meninggal dan cacat, kalau tidak dirinya pasti takkan diolok-olok oleh manusia macam Li.Bok-chiu.
Nyo Ko yang tidur menyebelah dengan Ui Yok-su juga sedang mengingat kembali apa yang dikatakan Sah Koh siang tadi, iapun memikirkan olok-olok Li Bok-chiu itu, ia pikir kini lukaku sudah sembuh, rasanya aku cukup kuat untuk melawannya, lebik baik diam-diam aku menempur sendiri, selain dapat menuntut balas penghinaannya terhadap Kokoh, sekaligus dapat menghilangkan rasa dongkol Ui-tocu.
Setelah ambil keputusan itu, segera ia bangun dengan pelahan, ia menyadari Li Bok-chiu adalah lawan tangguh, sedikit lengah tentu jiwa sendiri bisa melayang.
Karena itu diperlukan persiapan yang baik, Segera ia duduk bersemadi di atas pembaringan sendiri untuk mengumpulkan tenaga dan nanti akan menempur Li Bok-chiu dengan mati-matian.
Bersemadi sekian lamanya, mendadak pandangannya terbeliak, di depan seperti cahaya yang terang benderang, segenap anggota badannya serasa penuh tenaga, tanpa terasa dari mulut mengeluarkan suara raungan yang keras dan berkumandang jauh, Kiranya Lwekang seorang kalau sudah mencapai tingkatan sempurna, tanpa terasa akan dapat mengeluarkan suara aneh.
Ui Yok-su sudah mengetahui gerak-gerak Nyo Ko ketika pemuda itu bangun, sungguh tak terduga olehnya bahwa Lwekang pemuda itu ternyata sudah mencapai setinggi ini, tentu saja ia terkejut dan bergirang pula..
Suara Nyo Ko yang kuat itu terus bertahan hingga lama dan pelahan mulai berhenti Ui Yok-su sangat heran akan tingkatan yang dicapai Nyo Ko itu, padahal ia sendiri baru mencapai tingkat setinggi itu setelah menginjak pertengahan umur, kini usia Nyo Ko masih muda belia, tapi sudah sehebat ini, sungguh suatu bakat yang sukar ada bandingannya, entah pengalaman dan penemuan mukjijat apa yang pernah dialami pemuda itu.
Sesudah Nyo Ko selesai berlatih, kemudian Ui Yok-su bertanya padanya .
"Nyo Ko, coba katakan, apakah ilmu kepandaian Li Bok-chiu yang paling lihay?"
Nyo Ko tidak merasakan suara raungan sendiri, cuma dari pertanyaan Ui Yok-su itu, ia tahu maksud hatinya sendiri tentu sudah diketahui orang tua itu, maka iapun menjawab.
"Jelas adalah Ngo-tok-sin-ciang dan permainan kebutnya"
"Benar,"
Kata di Yok-su.
"Dengan dasar Lwekangmu sekarang, rasanya tidaklah sulit jika ingin mematahkan ilmu kepandaiannya itu."
Girang sekali Nyo Ko, cepat ia menyembah, sebenarnya watak Nyo Ko sangat angkuh, meski ia mengakui Ui Yok-su sebagai kaum cianpwe dan tahu kepandaian orang yang serba mahir itu, tapi lahirnya dia tak mau tunduk padanya, Kini didengarnya kepandaian Li Bok-chiu yang maha lihay itu akan dapat dipatahkan dengan mudah, kesan ia menjadi kagum dan tunduk.
Ui Yok-su lantas mengajarkan ilmu "jari sakti"
Padanya, ilmu ini dapat mengatasi Ngo-tok-sin-kang, lalu diajarkan pula ilmu pedang yang diubah dari permainan seruling untuk menghadapi permainan kebut musuh.
Setelah mendapatkan petunjuk dan kunci ilmu kepandaian itu, kemudian Nyo Ko menimang, untuk bisa menggunakan kepandaian itu dengan baik, maka diperlukan latihan satu tahun dan jika pasti menang atas Li Bok-chiu, rasanya perlu dilatih tiga tahun.
Karena itu ia coba bertanya.
"Ui-tocu, bila ingin segera mengalahkan dia, agaknya tiada harapam lagi"..
"Waktu tiga tahun dalam sekejap saja berlalu" , ujar Ui Yok-su sambil menghela napas, kini usiamu baru 22 tahun dan sudah berhasil mencapai setingkatan ini, memangnya kau merasa belum cukup? Dengan kikuk Nyo Ko menjawab.
"Maksudku bukan... bukan untuk diriku."
Ui Yok-su menepuk bahunya dan berkata "
Asal kau dapat membunuhnya tiga tahun yang akan datang, untuk itu aku sudah puas dan berterima kasih padamu.
Dahulu aku telah menghancurkan anak muridku sendiri, jika sekarang aku mendapatkan sedikit ganjaran atas perbuatan sendiri juga pantas.
Tanpa pikir Nyo Ko lantas berlutut dan menyembah kepada Ui Yok-su sambil memanggil "Suhu!"
Kiranya keduanya sama-sama orang yang maha cerdik dan saling memahami pikiran masing2.
Nyo Ko tahu tujuan Ui Yok-su mengajarkan ilmu padanya adalah ingin dia membalaskan penghinaan Li Bok-chiu, yang telah mengolok-oloknya dengan tulisan itu, untuk mana antara Nyo Ko dan Ui Yok-su harus ada ikatan guru dan murid secara resmi.
Sebaliknya Ui Yok-su tahu keakraban hubungan Nyo Ko dengan Ko-bong-pay, betapapun pemuda ini pasti tidak mau berguru lagi pada pihak lain.
Karena itu Ui Yok-su lantas Nyo Ko dan berkata padanya.
"Selanjutnya begini saja, apa bila kau bertempur dengan akan ilmu ajaranku, pada saat itulah kau muridku, di luar itu kau tetap adalah kau. Nah, adik Nyo Ko, mengerti tidak ?"
"Baiklah, kakak Yok-su, sungguh beruntung mendapatkan sahabat baik seperti engkau,"
Jawab Nyo Ko dengan tertawa.
"Akupun merasa berbahagia dapat bertemu dengan kau!"
Ujar Ui Yoksu.
Lalu kedua orang saling berjabat tangan dan bergelak tertawa gembira.
Ui Yok-su lantas menuturkan lebih jauh.
semua kunci rahasia kedua ilmu kepandaian yang di-ajarkannya tadi.
Melihat cara mengajar Ui Yok-su yang begitu jelas dan lengkap Nyo Ko tahu orang tua itu tentu akan segera pergi meninggalkan dia.
Dengan murung ia lantas berkata.
"Kakak Yok-su, kapan kita baru dapat berjumpa pula?"
"Jauh di mata dekat di hati, asal hati kita tetap bersatu, biarpun berpisah jauh kita tetap seperti berhadapan selalu."
Ujar Ui Yok-su dengan tertawa.
"Kelak bila kutahu ada orang hendak merintangi perkawinanmu, biarpun jauh berada di ujung langit sana juga aku pasti memburu ke sini untuk membantu kau." .. Nyo Ko sangat terhibur oleh dukungan moril Ui Yok-su itu, dengan tertawa ia berkata.
"Tapi orang pertama yang akan merincangi maksudku itu mungkin ialah puteri kesayanganmu sendiri."
"Dia sendiri dahulu juga kepala batu ketika mendapatkan kekasih pilihan sendiri, masakah sekarang dia tidak memikirkan penderitaan rindu dendam orang lain?"
Ujar Ui Yok su. setelah memikir sejenak, dalam kegelapan ia lantas mengambil bungkusan alat tulis dan menuliskan sepucuk surat, lalu diserahkan kepada Nyo Ko dan berkata.
"Jika puteriku itu merintangi lagi kehendakmu, maka boleh kau perlihatkan suratku ini." .-Habis berpesan ia lantas melangkah pergi dengan bergelak tertawa, hanya sekejap saja suara tertawanya sudah berada jauh, sejenak pula orang dan suara tertawanya telah ditelan kegelapan malam. Untuk sesaat Nyo Ko duduk termenung, mengingat kembali keadaan yang baru dipelajarinya tadi. Tidak lama fajarpun menyingsing, tertampak di atas meja tertaruh keranjang jahitan Thia Eng. ia coba mengambil gunting di dalam keranjang rotan itu dan dibuat memain sejenak, kemudian tiba2 pintu terdorong dan masuklah Thia Eng dengan bersenyum dan membawa sepotong baju warna hijau.
"Silakan coba baju ini, apakah cocok tidak?"
Kata Thia Eng dengan tersenyum.
Alangkah rasa terima kasih Nyo Ko, waktu menerima baju baru-itu, tanganpun sedikit gemetar.
Ketika dia beradu pandang sekejap dengan si nona, tertampak sorot matanya yang lembut penuh arti, ia coba memakai baju baru itu dan terasa pas.
"Sungguh aku sangat ber... berterima kasih padamu,"
Kata Nyo Ko. Kembali Thia Eng tersenyum, tapi di antara sorot matanya lantas mengunjuk rasa sedih, katanya.
"Dengan kepergian Suhu ini, entah kapan baru dapat bertemu lagi."
Mestinya ia ingin berbicara lagi dengan Nyo Ko, tapi tampak dilihatnya bayangan orang berkelebat di luar, ia tahu itulah Liok Bu-siang yang berseliweran diluar, ia tahu sang Piau-moay juga hati terhadap Nyo Ko, maka ia lantas meninggalkan kamar pemuda itu.
Kemudian Nyo Ko meneliti baju tersebut, tampak jahitannya sangat rapi, dalam ia bergetar, pikirnya.
Nona ini jatuh hati padaku, bini cilik juga, namun hatiku sudah terisi dan tidak mungkin lagi, jika aku tidak lekas pergi dari sini tentu akan banyak menimbulkan kesukaran.
Sehari suntuk ia memikirkan tindakan apa yang harus dilakukannya, ia kuatir pula bila dirinya pergi dan mendadak Li Bok-chiu melancarkan serangan, maka ia coba mengintai ke balik gunung sana, dilihatnya gubuk bekas tempat tinggal Li Bok-chiu itu hanya setumpuk puing belaka, gubuk itu sudah terbakar, rupanya Li Bok-chiu telah pergi setelah membakar gubuknya sendiri.
Maka tekad Nyo Ko menjadi bulat untuk pergi, malamnya ia menulis surat untuk ditinggalkan kepada kedua nona itu, Bila teringat kepada kebaikan hati kedua nona itu, tanpa terasa hati Nyo Ko menjadi muram.
Malam itu ia bergulang-guling tak dapat pulas.
Saat pagi, selagi layap2, tiba-tiba terdengar suara Liok Bu-siang memanggilnya, suara si nona kedengaran gugup, Cepat Nyo Ko melompat bangun dan keluar.
Terasa angin pagi meniup silir, hari belum lagi terang benderang, tapi tampak jelas Liok Bu-siang merasa takut dan menuding pada daun pintu sebelah-sana.
Waktu Nyo Ko memandangnya, ia menjadi kaget, Kiranya di daun pintu itu jelas tertera empat buah cap tangan merah.
Terang itulah tanda pengenal Li Bok-chiu.
Agaknya semalam iblis itu telah datang dan mengetahui Ui Yok-su sudah pergi, maka dia sengaja meninggalkan daftar calon yang akan dibunuhnya yaitu Nyo Ko, Thia, Eng, Liok Bu-siang dan ditambahkan pula si Sah Koh.
Tidak lama Thian Eng juga muncul, iapun merasa sedih melihat cap tangan itu.
Mereka bertiga lantas masuk ke dalam rumah untuk berunding...
"Tempo hari iblis itu telah dihajar oleh "
Garpu api Sah Koh dan melarikan diri mengapa sekarang dia tidak takut lagi?"
Ujar Liok Bu-siang.
"Permainan garpu Sah Koh hanya begitu-begitu saja, setelah direnungkan tentu iblis itu sudah mendapatkan cara mematahkan serangan garpu Sah Koh"
Kata Thia Eng.
"Tapi luka si Tolol kini sudah sembuh, jika kedua orang tolol bergabung kan jadi maha kuat?"
Kata Bu-siang pula. Nyo Ko tertawa, katanya.
"Tolol laki ditambah tolol perempuan tentu keadaan menjadi tambah runyam, mana bisa menjadi kuat segala?"
Begitulah mereka menjadi tak berdaya, tapi mengingat betapapun gabungan kekuatan mereka berempat sedikitnya cukup untuk menjaga diri walaupun tak dapat mengalahkan musuh, maka mereka bertekad besok akan menempur iblis itu dengan mati-2an.
"Besok barlah kami berdua orang tolol menghadapi dia dan kalian berdua saudara mengerubutnya dari kanan dan kiri,"
Ujar Nyo Ko.
"Marilah kita mencari Sah Koh untuk berlatih lebih dulu"
Mereka menyadari keganasan Li Bok-chiu yang tak kenal ampun itu, sedikit lengah saja jiwa mereka akan melayang, maka mereka tak berani gegabah.
Segera mereka mencari Sah Koh, tapi ternyata tak diketemukan.
Mereka menjadi kuatir dan cepat mencari sekeliling situ.
Akhirnya di balik gundukan batu sana Thia Eng menemukan Sah Koh menggeletak dalam keadaan kempas-kempis.
Waktu diperiksa, pada punggung Sah Koh ada bekas telapak tangan yang merah, jelas itulah pukulan berbisa Li Bok-chiu, Ngo-tok-sin-ciang, Cepat ia memanggil Nyo Ko dan Liok Bu-siang, segera pula ia memberi minum obat mujarab perguruannya, yaitu Giok-loh-wan.
Nyo Ko masih ingat dalam kitab pusaka milik Li Bok-chiu yang dicuri Liok Bu-siang itu tertera cara menyembuhkan akibat pukulan berbisa itu, maka cepat ia mengerahkan lwekang untuk melancarkan Hiat-to si Sah Koh.
Sejenak tampak Sah Koh tersenyum ketolol-tololan dan berkata.
"Tokoh busuk itu menyerang dari... dari belakang, tapi kupersen ia dengan... dengan sekali gamparan."
Kiranya gamparan dengan tangan membalik ke belakang yang dimaksud Sah Koh adalah salah itu ilmu ajaran Ui Yok-su.
Meski Li Bok-chiu berhasil menyergap Sah Koh, tapi pergelangan tangan pun juga kena digampar oleh Sah Koh, saking kesakitan ia tidak berani menyerang lebih, lanjut sehingga jiwa Sah Koh dapat diselamatkan.
Begitulah mereka lantas menggotong Sah Koh kembali ke gubuk itu, mereka berduduk terpekur sedih, antara mereka berempat kini salah seorang cidera, besok tentu lebih sukar menghadapi musuh ganas itu.
Sambil memandang Thia Eng dan lain saat memandang Bu-siang, secara iseng Nyo Ko mengambil gunting yang berada di keranjang jahitan Thia Eng itu dan mengguntingi seutas benang hingga menjadi potongan kecil-kecil.
Sekonyong-konyong Sah Koh yang rebah di pembaringan itu berseru.
"Gunting saja, itu kebut si Tokoh busuk, gunting putus dia!"
Mendadak hati Nyo Ko tergerak, ia pikir kebutan iblis itu adalah benda lemas, senjata tajam apapun sukar menabasnya, jika ada sebuah gunting raksasa dan sekaligus ujung kebut musuh itu digunting putus, maka segalanya menjadi beres, iblis itu tentu akan berkurang keganasannya.
Tanpa terasa gunting yang dipegangnya itu lantas bergaya ke sana dan ke sini seperti sedang mematahkan serangan musuh Melihat itu, pahamlah Thia Eng dan Bu-siang apa yang sedang dipikirkan pemuda itu.
Thia Eng berkata.
"Beberapa li di sebelah barat sana ada seorang pandai besi..."
"Benar marilah kita pergi ke sana dan minta dia membuatkan sebuah gunting besar"
Sahut Bu-siang cepat.
Nyo Ko pikir dalam waktu singkat tentu sukar juga membuat senjata demikian itu, tapi tiada jeleknya untuk dicoba, sebenarnya ia ingin pergi sendiri ke tempat pandai besi itu, tapi kuatir kalau mendadak Li Bok-chiu melakukan serangan, Kalau Sah Koh ditinggalkan sendirian tentu lebih berbahaya pula.
Kini mereka berempat tak dapat berpisah sejenakpun.
Terpaksa Thia Eng dan Bu siang memasang kasur di atas kuda untuk tempat merebahkan si Sah Koh, lalu mereka berangkat ke tempat pandai besi.
Bengkel itu ternyata sangat jorok dan sederhana keadaannya, begitu memasuki pintu bengkel, segera tertampak sebuah tatakan besi, yaitu tempat untuk menggembleng, lantai penuh karatan besi dan debu arang, dinding sebelah sana tergantung beberapa buah arit dan cangkul buatan pandai besi itu, suasana sunyi senyap tiada seorangpun.
Melihat keadaan bengkel itu, Nyo Ko pikir pandai besi begini masakah mampu membuatkan senjata apa segala?
Tapi sudah terlanjur datang, tiada jeleknya ditanyai dulu.
Maka ia lantas berseru.
"Hai, adakah yang punya rumah ?"
Sejenak kemudian keluarlah seorang kakek yang sudah ubanan meski usianya tampaknya baru 50-an, mungkin penderitaan kehidupan dan sepanjang tahun hanya menggembleng besi melulu, maka punggungnya membungkuk kedua matanya juga menyipit dan merah, malahan banyak kotoran pada kelopak matanya, sebelah kakinya juga pincang.
Sambil berjalan dengan bantuan sebuah tongkat, orang tua itu menegur.
"Tuan tamu ada keperluan apa?"
Baru saja Nyo Ko hendak menjawab, tiba-tiba terdengar suara derapan kuda, dua penunggang kuda telah berhenti di depan bengkel, kedua penunggangnya adalah tentara-tentara Mongol seorang yang mukanya penuh berewok, lantas bertanya.
"Mana si pandai besi she Pang?"
Orang tua bungkuk tadi mendekati dan memberi hormat, jawabnya.
"Hamba adanya !"
"Perintah atasan, agar segenap pandai besi diwilayah ini dalam tiga hari harus berkumpul ke dalam kota untuk wajib dinas bagi pasukan kerajaan,"
Seru opsir itu pula.
"Nah, besok juga kau harus lapor ke kota, jelas tidak?"
"Tapi hamba sudah tua..."
Belum selesai pandai besi she Pang itu berkata, cepat opsir Mongol itu telah menyabetnya dengan cambuk sambil membentak.
"Besok tidak datang, awas dengan kepalamu !"
Habis berkata kedua opsir itu lantas membedalkan kuda mereka.
Pandai besi tua itu menghela napas dan berdiri terkesima.
Thia Eng merasa kasihan padanya, ia mengeluarkan 20 tahil perak dan ditaruh di atas meja, lalu katanya .
"Pak pandai besi, engkau sudah tua, jalanpun tidak leluasa, jika diwajibkan bekerja bagi pasukan Mongol tentu jiwamu akan melayang percuma. Kukira lebih baik engkau lari saja mencari selamat dengan sedikit sangu yang kuberi ini"
"Terima kasih atas kebaikan hati nona,"
Jawab pandai besi itu sambil menghela napas.
"Sebenarnya hidup atau mati bagi orang tua macam diriku ini tidak ada artinya, sayangnya dalam waktu singkat berpuluh ribu jiwa bangsa kita mungkin akan tertimpa malapetaka."
Myo Ko bertiga terkejut dan cepat bertanya.
"Malapetaka? Ada urusan apa?"
"Panglima Mongol sedang mengumpulkan segenap pandai besi, jelas tujuannya senjata Mongol biasanya sangat lengkap dan cukup, kalau sekarang mereka membuat senjata baru secara besar-besaran, terang ada rencana hendak menyerbu ke selatan,"
Tutur kata pandai besi tua itu ternyata masuk di akal dan bukan ucapan seorang pandai besi kampungan biasa, Selagi mereka hendak tanya lagi, pandai besi itu telah tanya mereka ada keperluan apa?
"Sebenarnya tidak enak bagi kami untuk mengganggu orang yang sedang ada urusan, tapi lantaran terdesak keperluan penting, terpaksa kami minta pertolonggan bapak,"
Jawab Nyo Ko.
Lalu iapun menjelaskan maksud kedatangannya dan memberikan gambar contoh gunting yang diperlukan.
Kalau orang memberi pekerjaan misalnya minta dibuatkan cangkul atau arit atau golok tentulah tidak mengherankan tapi kini barang pesanan Nyo Ko adalah sebuah gunting raksasa, hal ini sebenarnya luar biasa, tapi pandai besi itu ternyata tidak mengunjuk rasa heran, setelah mendapatkan keterangan pola gunting yang diperlukan ia hanya manggut-manggut, Ialu menyalakan api tungku dan membakar dua potong besi besar untuk digembleng.
"Entar, malam ini dapat jadi tidak?"
Tanya Nyo Ko.
"Akan kuusahakan secepatnya,"
Jawab si pandai besi she Pang itu.
Habis itu ia percepat bara dalam tungku, hanya sekejap saja kedua potong besi tadi sudah merah dan mulai lunak.
Nyo Ko bertiga berasal dari daerah Kanglam, meski sejak kecil sudah meninggalkan kampung halaman, tapi demi mendengar kampung halaman bakal tertimpa bencana, betapapun mereka merasa masgul sedih.
Sah Koh mendekap di atas meja, setengah berduduk dan setengah bersandar, memang keadaannya sangat lelah, maka apapun yang terjadi di sekitarnya tak sempat diperhatikannya.
Selang tak lama, kedua potong besi yang dibakar itu sudah lunak, segera pandai besi Pang mengangkat potongan besi itu dan mulai digembleng dengan sebuah palu besar, Meski usianya sudah lanjut, tapi tenaga lengannya ternyata sangat kuat, palu besar itu dapat diayunnya dengan leluasa tanpa susah payah, kedua potongan besi itu digembleng lagi, kemudian memanjang dan melengkung dalam bentuk gunting.
"Tolol, tampaknya guntingmu itu dapat jadi petang nanti,"
Kata Bn-siang dengan girang. Pada saat itulah mendadak di belakang mereka ada suara orang berkata.
"Hm, untuk apa membikin gunting sebesar itu? Hendak digunakan memotong kebutku bukan?"
Nyo Ko bertiga terkejut, cepat mereka berpaling dan ternyata Li Bok-chiu sudah berdiri di ambang pintu dengan tangan memegang kebutnya yang lihay itu.
Sungguh celaka, senjata yang diandalkan belum jadi dibuat, tapi musuh tangguh sudah tiba lebih duIu.
Cepat Thia Eng dan Liok Bu-sang melolos pedang, Nyo Ko juga mengincar sebatang besi di sebelahnya, asal musuh menyerang segera besi itu akan disambernya untuk digunakan sebagai senjata.
"Hm, memotong ksbutku dengan gunting, pintar juga jalan pikiranmu,"
Demikian jengek Li Bok-chiu pula.
"Tapi boleh dicoba juga, akan kutunggu di sini sampai guntingmu itu jadi, habis itu barulah kita bertempur."
Habis berkata ia seret sebuah bangku ke dekat pintu dan berduduk di situ dengan tenangnya, lawan-Iawan yang dihadapinya itu dianggapnya seperti barang sepele saja.
"Bagus sekali jika begitu, tampaknya nasib kebutmu itu harus dipotong putus oleh guntingku nanti,"
Kata Nyo Ko.
Melihat si Sah Koh mendekap di atas meja, diam-diam Li Bok-chiu merasa heran akan kekuatan orang, padahal orang yang terkena pukulannya yang berbisa itu biasanya takkan tahan hidup beberapa jam saja, Kemudian ia bertanya pula.
"Mana Ui Yok-su?"
Mendengar disebutnya nama "Ui Yok-su" , si pandai besi tua itu rada bergetar dan menoleh sekejap kepada Li Bok-chiu, lalu menunduk lagi meneruskan pekerjaanmu.
"Hm, jelas kau mengetahui guruku tidak berada di sini, tapi sengaja tanya,"
Ejek Thia Eng "Jika beliau masih tinggal di sini, hm, biarpun nyalimu sebesar gajah juga takkan berani datang."
Li Bok-chiu balas mendengus sekali, ia mengeluarkan sehelai kertas dan berkata pula.
"Ui Yok-su hanya bernama kosong saja, paling-paling main kerubut karena bermurid banyak. Tapi, hm, antara murid-muridnya itu masakah ada seorangpun yang betul-betuI berguna?"
Habis berkata, sekali tangannya bergerak, kertas itu mendadak melayang ke depan dan "crit", kertas itu terpaku pada tiang kayu oleh sebuah jarum perak yang disambitkannya. Lalu Li Bok-chiu menyambung.
"Nah, biarkan tulisan ini sebagai bukti. Kelak kalau Ui-losia kembali ke sini supaya dia mengetahui siapakah yang membunuh muridmu ini "
Mendadak ia berpaling dan membentak si pandai besi.
"Hayo, lekas! Tempoku tidak banyak menunggu kau."
Sambil memicingkan matanya si pandai besi she Phang itu memandangi kertas yang bertuliskan kaia-kata yang mengolok-olok Ui Yok-su itu, habis itu dia menengadah dan memandangi atap rumah dengan termangu-mangu.
"Hayo, kenapa kau berhenti?"
Bentak Li Bok-chiu.
"Ya, ya, baik !"
Pandai besi itu seperti tersadar dari lamunannva, ia mulai bekerja lagi Tapi sebelah tangannya mendadak gunakan tanggam besi nya yang panjang itu untuk menjepit jarum perak berikut kertas surat tadi terus dimasukkan ke dalam tungku, tentu saja hanya sekejap kertas itu, sudah terbakar menjadi abu.
Li Bok-chiu menjadi gusar, segera kebutnya diayun hendak dihantamkan kepada pandai besi itu, Tapi dia sudah berpengalaman luas, mendadak terpikir olehnya bahwa seorang pandai besi tua renta dan kampungan ini masakan begini berani, bukan mustahil dia seorang luar biasa.
Tadinya ia sudah berbangkit, maka pelahan ia duduk kembali, lalu menegur.
"Siapakah kau ini?"
"Tidakkah kau lihat sendiri, aku cuma seorang pandai besi,"
Jawab orang she Pang itu.
"Mengapa kau membakar kertasku itu?"
Tanya Li Bok-chiu pula.
"Yang tertulis di situ tidak betul maka janganlah ditempel di tempatku ini,"
Jawab si orang tua.
"Apa katamu?"
Bentak Li Bok-chiu.
"Tho-hoa-tocu mempunyai kepandaian maha sakti, setiap anak muridnya asalkan memperoleh sejenis kepandaiannya saja sudah cukup untuk malang melintang di dunia ini,"
Kata pandai besi itu.
"Muridnya yang tertua bernama Tan Hian-hong, sekujur badannya keras laksana otot kawat tulang besi tak mempan senjata, apakah kau pernah mendengar namanya?"
Sambil bicara palunya masih terus memukuli lempengan besi yang digemblengnya itu.
Mendengar disebutnya nama Tan Hian-hong, tidak saja Li Bok-chiu terkejut dan heran, bahkan Nyo Ko dan lain-Iain juga merasa aneh, sama sekali mereka tidak menduga secrang pandai besi tua kampungan ternyata kenal juga tokoh-tokoh Kang-ouw termashur.
Terdengar Li Bok-chiu menanggapinya .
"Em, konon Tan Hian-hong mati ditusuk oleh seorang anak kecil, di mana letak kelihayannya?"
"O,"
Terdengar pandai besi itu bersuara ragu, Lalu disambungnya.
"Dan murid kedua Tho-hoa-tocu bernama Bwe Ciau-hong, terkenal dengan Ginkangnya yang maha hebat dan kecepatan menyerangnya."
"Ya, begitu cepat gerakan orang she Bwe itu sehingga lebih dulu matanya kena dibutakan oleh Kanglam-jit-koay (tujuh tokoh aneh dari Kanglam), Kemudian mampus di tangan Se-tok (si racun dari barat) Auyang Hong."
"Begitukah?"
Tukas si pandai besi, ia termenung haru sejenak, lalu berkata pula.
"Tapi sama sekali aku tidak mengetahui kejadian itu. Dan murid ketiga Tho-hoa-tocu yang bernama Ki Leng-hong terlebih lihay lagi, terutama Pi-kong-ciang (pukulan dari jauh) terkenal amat ganas."
"Memang ada cerita di dunia Kangouw, katanya ada seorang pencuri berani masuk ke keraton raja yang bertahta sekarang dan telah dibinasakan oleh pengawal keraton, tentulah orang itu ialah Ki Leng-hong yang maha lihay dengan Pi-kong-ciang-nya? Hehe"
Tiba-tiba si pandai besi tua itu menunduk "ces-ces" , dua tetes butiran air jatuh di atas lempengan besi yang membara itu dan terbakar menjadi uap.
Liok Bu-siang berduduk paling dekat dengan orang tua itu dan dapat melihat jelas kedua tetes air itu adalah air mata yang mengucur dari mata orang tua itu, Diam-diam ia merasa heran, Tertampak orang tua itu mengangkat palunya terlebih tinggi dan memukul dengan lebih keras.
Sejenak kemudian pandai besi she Pang itu membuka suara lagi.
"Tho-hoa-to terkenal dengan empat murid utamanya, masing-masing she Tan, Bwe, Ki dan Liok, Murid keempat, Liok Seng-hong, selain terkenal lihay ilmu silatnya juga termashur karena kemahirannya dalam ilmu-ilmu mujizat, jika kau bertemu dengan dia tentu kau bisa celaka."
"Hm, ilmu mujizat apa gunanya?"
Jengek Li Bok-chiu.
"Liok Seng-hong membangun sebuah perkampungan Kui-in-ceng di tepi danau Thay-ouw, tapi hanya dengan sebuah obor saja orang telah membumi hanguskan perkampungannya itu pula dia lantas kehilangan jejak, bisa jadi iapun sudah terbakar menjadi abu oleh api itu."
Mendadak si pandai besi she Pang menatap Li Bok-chiu dan berseru dengan bengis.
"Kau Tokoh ini berani mengaco-belo, setiap anak murid Tho-hoa-tocu cukup lihay, manabisa semuanya terbinasa. Hm, kau kira aku orang udik dan tidak tahu apa-apa?"
"Jika tidak percaya boleh kau tanya ketiga bocah ini,"
Jengek Li Bok-chiu.
Si pandai besi paling suka kepada Thia Eng, maka ia berpaling kepada nona itu, sorot matanya memancarkan sinar yang penuh mengandung tanda tanya.
Dengan muram Thia Eng lantas berkata.
"Sungguh malang perguruanku yang telah kekurangan tenaga andalannya kini, Wanpwe juga merasa malu karena belum lama masuk perguruan sehingga belum mampu membela nama kehormatan Suhu. Apakah engkau ada hubungannya dengan Suhuku?"
Pandai besi tua itu tidak menjawab, ia hanya mengamat-amati Thia Eng dengan sikap yang sangsi, kemudian ia bertanya.
"Apakah paling akhir ini Tho-hoa-tocu mengambil murid Iagi?"
Melihat sebelah kaki si pandai besi cacat, tiba-tiba hati Thia Eng tergerak, jawabnya.
"Suhu merasa kesepian dan perlu orang meIayaninya. sebenarnya anak muda macam diriku ini mana berani mengaku sebagai anak murid Tho-hoa-tocu, malahan sampai detik ini Wanpwe belum pernah menginjakkan kaki di Tho-hoa-to."
Dengan ucapan Thia Eng itu sama saja ia telah mengaku dirinya memang betul adalah anak murid Tho-hoa-to.
Tertampak pandai besi tua itu manggut2, sorot matanya mengunjuk rasa simpatik terhadap si nona seperti sanak keluarga sendiri lalu menunduk dan menggembleng besi lagi beberapa kali, tampaknya sambil merenungkan sesuatu.
Melihat gerakan palu si pandai besi sangat mirip dengan gaya ilmu pukulan Lok-hoa-ciang-hoat dari Tho-hoa-to, mau-tak-mau Thia Eng menjadi lebih paham persoalannya, ia berkata.
"Di waktu iseng Suhu suka bicara padaku mengenai kejadian beliau mengusir anak muridnya dahulu, bahwa Tan dan Bwe berdua Suheng itu adalah akibat perbuatannya sendiri yang jahat tidak perlu disayangkan, tapi Ki, Liok, Bu dan Pang berempat Suheng benar-benar ikut kena getahnya karena mereka berempat sebenarnya tidak berdosa, terutama Pang Bik-hong, Pang-suheng itu berusia paling muda, kisah hidupnya juga pantas dikasihi, bila teringat akan hal itu sering Suhu merasa menyesal"
Padahal watak Ui Yok-su sangat eksentrik, biarpun hatinya berpikir begitu, tidak mungkin sampai diucapkannya dengan mulut Soalnya Thia Eng adalah gadis cerdik dan berperasaan halus, di kala sang guru kesepian dan bicara iseng dengan dia, dari nada ucapan Ui Yok-su itu dapatlah diterka akan jalan pikiran sang guru itu, maka sekarang ia sengaja memperbesar apa yang didengarnya itu.
Dasar watak Li Bok-chiu memang kejam dan keji, di samping itu perasaannya sebenarnya juga mudah terguncang, dari tanya jawab dan sikap si pandai besi dan Thia Eng dapatlah diterka sembilan bagian hubungan antara kedua orang itu.
Dilihatnya si pandai besi menghela napas panjang, air matapun bercucuran dan menetes pada lempengan besi yang membara itu sehingga terdengar suara mendesis terbakarnya butiran air.
Melihat keadaan itu, perasaan Li Bok-chiu ikut terharu juga, Tapi dalam sekejap saja pikirannya sudah berubah dan kembali pada wataknya yang kejam, ia pikir pihak lawan telah bertambah lagi seorang pembantu, tapi pandai besi ini cacad, betapapun kepandaiannya juga terbatas.
Begitulah Li Bok-chiu lantas menjengek "Hm., Pang Bik-hong, selamat atas pertemuan kalian sesama saudara seperguruan !"
Memang betul pandai besi tua she Pang ini adalah murid terkecil Ui Yok-su yang bernama Pang Bik-hong.
Dahulu Tan Hian-hong dan Bwe Ciau-hong melarikan diri dari Tho-hoa-to dengan menggondol Kiu-im-sin-keng, tentu saja Ui Yok-su sangat murka, akibatnya semua muridnya terkena getahnya, ia patahkan kaki para muridnya itu dan mengusir mereka dari Tho-hoa-to.
Ki Leng-hong dan Liok Seng-hong dipatahkan kedua kakinya, tapi Ui Yok-su paling sayang kepada murid terkecil yaitu Pang Bik-hong, maka hanya kaki kiri saja yang dipatahkannya walaupun begitu Pang Bik-hong tidak menjadi sakit hati kepada sang guru, ia merasa utang budi karena jiwanya juga diselamatkan oleh gurunya itu, maka ia tidak dendam terhadap apa yang dilakukan sang guru kepadanya itu, hanya saking berdukanya ia lantas mengasingkan diri ke pedesaan ini dan sudah lebih 30 tahun tinggal di sini sebagai pandai besi, sama sekali ia tidak berhubungan lagi dengan orang Kangouw meskipun ilmu silatnya tak pernah dilakukannya.
Sebab itulah Liok Seng-hong dan kakak seperguruannya yang lain mengira dia sudah meninggal Tak tersangka hari ini dia dapat bertemu dengan Thia Eng dan mendengar berita tentang sang guru, saking terharunya air matanya lantas bercucuran.
Sudah tentu Nyo Ko dan Liok Bu-siang kegirangan demi mengetahui si pandai besi she Pang ini adalah Suhengnya Thia Eng, mereka yakin anak murid Ui Yok-su pasti bukan jago lemah dan itu berarti pihaknya telah bertambah bala bantuan.
Tapi Li Bok-chiu telah menjengek pula.
"Hm, gurumu sudah mengusir kau, tapi kau masih terkenang padanya, sungguh aneh, pokoknya begini, ketiga bocah ini akan kubunuh, sebaiknya kau jangan ikut campur." ----------------gambar -----------Dengan bertopang pada tongkat besi dan berlangkah pincang, Pang Bik-hong ayun palu melawan serangan ilmu kebut Li Bok-chiu yang lihay. -------------------------------------"Meski aku pernah belajar silat, tapi selama hidupku tak pernah berkelahi dengan siapapun, apalagi aku sudah cacat kaki, untuk berkelahi juga tidak dapat,"
Ujar Pang Bik-hong, si pandai besi tua.
"Ya, memang begitulah, tidak perlu jiwamu ikut dikorbankan,"
Kata Li Bok-chiu.
"Tidak,"
Tiba2 Pang Bik-hong menggeleng kepala.
"betapapun kau tak boleh mengganggu seujung rambut Sumoayku, beberapa orang ini adalah teman Sumoayku, kaupun tidak boleh mengganggu mereka."
Screntak timbul napsu keganasan Li Bok-chiu, jengeknya.
"Hehe, jika begitu kalian berempat boleh maju saja seluruhnya !" -Habis berkata ia lantas berdiri dan siap menghadapi pertempuran. Namun Pang Bik-hong tetap tenang saja menggembleng besinya, dengan pelahan ia berkata.
"Sudah lebih 30 tahun kutinggalkan perguruan, ilmu silatku sudah lama kulupakan, sekarang aku harus mengingat-ingatnya dahulu dan mengatur seperlunya."
Li Bok-chiu bergelak tertawa, katanya.
"Sekian lamanya aku malang melintang di dunia ini, belum pernah kulihat orang macam kau, di medan perang baru mengasah tombak, Pang Bik-hong, apa betul selama hidupmu belum pernah bergebrak dengan orang?"
"Selamanya aku tak pernah bersalah kepada siapapun, orang memukul atau memaki aku juga kubiarkan saja, dengan sendirinya takkan terjadi perkelahian,"
Kata Pang Bik-hong.
"Hehe, anak murid Ui-losia benar-benar tak becus semua dan memalukan,"
Ejek Li Bok-chiu.
"Li-totiang,"
Kata Pang Bik-hong.
"kuharap engkau jangan mengolok-olok guruku."
"Hahaha, sudah lama orang tak mengakui kau sebagai murid, tapi kau masih terus menyebutnya guru ini dan itu, memangnya kau tidak malu?"
Jengek Li Bok-chiu pula. Sambil menggembleng besinya, Pang Bik-hong menjawab.
"Selama hidupku penuh derita, di dunia ini hanya Suhu saja sanak kadangku, jika aku tidak mengenangkan dan menghormati beliau, habis siapa yang harus kupikirkan lagi? Eh, Siau su-moay, apakah Suhu baik-baik saja?"
"Beliau sangat baik,"
Jawab Thia Eng.
Seketika air muka Pang Bik-hong tampak mengunjuk rasa girang.
sementara itu besi yang di-gemblengnya itu sudah membeku, pandai besi tua itu menanggamnya pula untuk dibakar lagi ke dalam tungku.
Tapi lantaran pikirannya sedang melayang, maka yang disodorkan ke dalam tungku ternyata bukan besi yang sedang digembleng melainkan palu besar yang dipegangnya itu.
Maka Li Bok-chiu tertawa mengejek puIa.
"Pang Bik-hong, boleh kau pikirkan kembali kepandaian ajaran gurumu dan tidak perlu bingung."
Pang Bik-hong tidak menanggapinya, ia memandangi api tungku dengan terkesima, selang sejenak kembali ia memasukkan pula tongkatnya ke dalam tungku.
"He, jangan keliru, itulah tongkatmu !"
Seru Nyo Ko dan Liok Bu-siang.
Tapi Pang Bik-hong tetap tidak menjawab dan tetap menatapi api tungku.
Aneh juga, tongkatnya ternyata tidak terbakar di dalam tungku, sebaliknya lama-lama berubah merah membara, kiranya tongkatnya adalah tongkat besi.
Selang tak Iama palu besar tadi juga terbakar hingga merah, tapi tangannya yang memegangi palu dan tongkat itu ternyata tidak merasakan panasnya besi yang membara itu.
Baru sekarang Li Bok-chiu mulai waspada, ia menyadari pandai besi tua ini tidak boleh diremehkan, kuatir kalau orang mendadak melancarkan serangan dan masuk perangkapnya, segera Li Bok-chiu melompat keluar rumah dan berseru.
"Pang Bik-hong, keluar sini!"
Sekali lompat Pang Bik-hong segera menyusul keluar rumah, gerak-geriknya ternyata sangat cepat sedikitpun tidak kelihatan tanda-tanda sebagai seorang cacat, Tongkatnya yang merah membara itu ditancapkannya di tanah, lalu berkata.
"Li-to-tiang, kuharap jangan kau memaki guruku lagi juga jangan membikin susah sumoayku, sudilah engkau mengampuni pandai besi tua macam diriku ini!"
Sungguh heran Li Bok-chiu oleh sikap Pang Bik-hong ini, masakah sudah maju di medan perang malah minta ampun kepada lawan, Segera iapun menjawab.
"Aku boleh mengampuni jiwamu, kalau kau takut sebaiknya jangan ikut campur urusanku ini."
"Jika begitu silakan kau membunuh diriku dahulu !"
Jawab Pang Bik-hong dengan mengertak gigi, tubuhnya tampak gemetar, agaknya disamping takut juga pantang mundur.
Li Bok-chiu angkat kebutnya terus menyabet kepala lawan, Tapi Pang Bik-hong mengelak ke samping dengan gaya yang indah, lantaran tangan gemetar, ia ternyata tidak berani balas rnenyerang, Berturut tiga kali Li Bok-chiu menyerangnya dan Pang Bik-hong selalu menghindarkan diri dengan gerakan yang indah dan gesit, tapi tetap tidak berani balas menyerang.
Sementara itu Nyo Ko bertiga ikut keluar dan menonton di samping, mereka mencari kesempatan untuk maju membantu bila perlu.
Serangan, Li Bok-chiu semakin gencar, tapi Pang Bik-hong memang belum pernah bertempur dengan orang, ditambah wataknya memang ranah, betapapun serangannya tidak dapat dilontarkan.
Melihat gelagat jelek, Nyo Ko pikir untuk memancing semangat tempur tokoh yang berkepandaian tinggi ini tiada jalan lain kecuali membuatnya marah, karena itu ia sengaja berteriak.
"Li Bok-chiu, mengapa kau memaki Tho-hoat-tocu manusia rendah, orang yang tidak berbudi dan tidak tahu diri?"
Sudah tentu Li Bok-chiu sangat penasaran karena merasa tidak pernah berkata begitu. Namun ia tidak menanggapi ocehan Nyo Ko itu, sebaliknya serangannya bertambah gencar. Segera Nyo Ko berseru pula.
"Li Bok-chiu, kau menuduh Thoa-hoa-tocu suka berzinah dengan isteri orang dan sering memperkosa anak perempuan orang, memangnya kau pernah menyaksikannya sendiri? Kau memaki beliau suka mengkhianati kawan dan menjual teman, apakah betul tuduhanmu itu?"
Baca Juga: Pedang Penakluk Iblis Kho Ping Hoo
Baca Juga: Perintah Maut 10