Eps 10 Perintah Maut - Buyung Hok
Baca online Perintah Maut - Buyung Hok
Cersil Perintah Maut - Buyung Hok.
Leher sang bangau yang panjang dianggukkan, suatu tanda kalau dia sudah mengerti, kemudian mengeluarkan satu pekikan panjang, sepasang sayapnya d-igibrik2kan, meluncurlah binatang itu menerjang ke awang-awang.
Co Hui Hee baru pertama kali menaiki burung, deruan angin yang membisingkan membuat ia merasa khawatir, semakin lama semakin tinggi, awan demi awan diterjang oleh bangau raksasa itu, se-olah2 berada di dalam sebuah impian.
Kalau saja dia kurang hati2 dan jatuh dari punggung sang binatang, remuk-redamlah badan yang jatuh dari tempat ketinggian yang seperti itu.
Timbul rasa ngerinya, dengan mempererat pegangannya, ia memeluki Kang Han Cing, dikaitkannya ke leher binatang raksasa itu.
Sang burung sudah biasa membuat penerbangan seperti itu, cara meluncurnya sangat cepat, mengenyampingkan angin dan awan, tanpa goyangan.
Timbul rasa ingin tahu Co Hui Hee, dengan membuka sedikit mata ia memandang kebawah.
Tentu saja apapun tidak tampak, kecuali kabut putih, mereka sudah berada diantara awang2 berawan tebal.
Disaat inilah terdengar lagi suara pekikan sang bangau, arahnya berubah, dan ke 2 sayap raksasa itu bergerak, menukik turun dengan cepat.
Co Hui Hee terkejut, cepat2 memperkeras pegangannya, kini ia sudah berada diatas sebuah telaga, dan tidak jauh dari telaga itu tampak tiga bangunan batu, itulah rumah-rumah ular dari Nenek Ular.
Mereka sudah sampai di tempat tujuan.
Bangau sakti meluncur turun, dengan ber-hati2 mendekati ke 3 bangunan baru tadi.
Jarak belasan lie hanya ditempuh untuk waktu yang begitu singkat.
Hal ini membuat Co Hui Hee girang hati, ia membawa Kang Han Cing turun dari punggung burung menuju ke salah satu bangunan batu tadi.
Bagaikan disiram oleh air dingin, rasa girang Co Hui Hee lenyap mendadak, pintu rumah batu yang bekas didobrak Cu Hoay Uh sudah ditutup dan dikunci dari luar, itulah pertanda kalau Nenek Ular pergi keluar.
Co Hui Hee lebih kaget lagi manakala didengarnya satu suara bertanya .
"Si Nenek Ular sudah tiada ?"
Ia menoleh dan tampak olehnya seorang pemuda berbaju putih berdiri tidak jauh, itulah Tong Jie Peng ! "Kau sudah sampai ?"
Co Hui Hee bertanya heran.
Tentu saja ia tidak mengerti bagaimana Tong Jie Peng bisa tiba begitu cepat, bisa menyamai kecepatan si burung raksasa ?
Tong Jie Peng memandang gadis itu, dengan tersenyum berkata .
"Aku memegangi kaki si Putih, maka bisa tiba didalam waktu yang bersamaan."
Inilah penjelasan bagaimana ia tiba pada saat bersamaan dengan sampainya sibangau sakti.
Co Hui Hee bingung menghadapi kenyataan, ia mengharapkan bantuan Nenek Ular, kini orang yang sangat dibutuhkan itu tidak berada di tempatnya, kemana pula harus mencari ?
Tidak perduli betapa cerdiknya Go Kiongcu, didalam persoalan ini ia sudah tidak berdaya sama sekali.
"Mari kita masuk dahulu,"
Berkata Tong Jie Peng. Ia mengebutkan lengan baju, maka dari situ menjulur angin pukulan yang keras, braaak.... Kunci yang menggembol pintu itu belah menjadi dua. Co Hui Hee menggumam sendiri .
"Ilmu kepandaian pemuda ini tidak berada di bawah Toa sucie."
Mereka memasuki bangunan itu, sesudah memeriksa beberapa saat, Tong Jie Peng berkata .
"Nenek Ular sudah turut serta dibelakang barisan mereka, tentunya bersama Jie suciemu membawa Cu Hoay Uh, menuju ke markas Ngo-hong-bun."
"Bagaimana baiknya?"
Bertanya Co Hui Hee semakin bingung. Tong Jie Peng tidak menjawab pertanyaan itu, diapun sedang memikirkan cara yang terbaik agar bisa menolong jiwa Kang Han Cing dari tebing jurang maut.
"Saudara Tong Jie Peng,"
Berkata Co Hui Hee kemudian.
"Ada sesuatu permintaanku."
Tong Jie Peng memandang gadis itu. Co Hui Hee melanjutkan kata2nya .
"Waktu tidak memungkinkan lagi. Dan tidak bisa ditolong, akupun tidak mau hidup, permintaanku ialah bisakah kau mengebumikan kami berdua ?"
Tampak sekilas perubahan wajah Tong Jie Peng.
"Kau mencintainya ?"
Ia bertanya. Ter-isak2 Co Hui Hee berkata .
"Aku harus menebus dosa itu, aku harus mati juga. Tidak seharusnya aku menggunakan Jarum Ular, maka...Oh.... Dia tidak bisa ditolong lagi. Biarlah aku juga tidak mau hidup."
"Kau yang meracuni dirinya ?"
Bertanya Tong Jie Peng heran.
"Ya."
Co Hui Hee menganggukkan kepala.
"Dia tidak menyangka sama sekali. Karena kelemahan itulah aku berhasil menusukkan Jarum Ular."
Tampak hawa pembunuhan mengarungi wajah Tong Jie Peng, tangannya yang lentik itu terjulur, ditujukan kearah jalan darah kematian Co Hui Hee.
Inilah reaksi kalau Tong Jie Peng mau membunuh orang !
Begitu tenaga dalam dikerahkan, crees....
Betapa lihay Co Hui Hee, didalam keadaan yang seperti itu tidak mungkin ia menghindari kematian.
Se-olah2 Co Hui Hee sedang berkelakar dengan maut, mencari kematian untuk bisa melakukan perjalanan menuju dunia akherat bersama-sama Kang Han Cing.
Tong Jie Peng mengeluarkan suara dengusan hidung, tangannya yang terjengkit itu turun kembali, ia menghela napas, hawa pembunuhan yang mengarungi wajahnyapun turut lenyap.
Batal membunuh orang.
"Dia masih belum mati,"
Katanya.
"Mengapa kau sudah terpikir begitu jauh ?"
"Siapa yang bisa menolongnya ?"
Bertanya Co Hui Hee, ia menyusut air mata. Dari dalam saku baju, Tong Jie Peng mengeluarkan sesuatu, dijejalkan ke mulut Kang Han Cing dan berkata .
"Obat ini memperlambat bekerja racun, dan kita usahakan sedapat mungkin."
"Jarum Ular adalah ciptaan si nenek yang paling dibanggakan, hasil ramu2an dari 100 macam ular berbisa, setiap macam ular itu memiliki sifat2 yang tidak sama, bagaimana kau bisa melenyapkannya ?"
Sinar mata Tong Jie Peng berkeliaran beberapa saat, kemudian dengan tegas berkata .
"Harus dicoba !"
"Apa ?!"
Teriak Co Hui Hee. Tong Jie Peng memegangi urat nadi Kang Han Cing, menganggukkan kepala berkata .
"Obat tadi mulai menambah kekuatannya, menjaga bisa racun menyerang jantung. Dan dari pada menyerah, akan kucoba dengan cara lain !"
"Dengan cara lain ?"
Tong Jie Peng tidak banyak bicara, dia bersuit memanggil burung raksasanya.
Tidak lama bangau sakti memasuki rumah, badannya terlalu besar, hampir menyesakkan tempat itu, bergoyang dan langkah demi langkah, menghampiri sang majikan.
Tong Jie Peng membuka mulut Kang Han Cing.
Burung bangau itu mencucupkan paruhnya, maka dari sana mengalir air liur burung bangau yang putih bening.
Co Hui Hee melompongkan mulut.
"Mungkinkah hendak menggunakan air liur burung mengobatinya ?"
Ia berpikir.
Dugaan Co Hui Hee memang tepat.
Mengetahui kalau Jarum Ular memiliki sifat2 seratus macam ular, sedangkan si burung bangau adalah raja anti ular, maka dengan menggunakan air liurnya yang juga mengandung racun itu, ia mencoba membuat percobaan.
Tidak lama Tong Jie Peng menghentikan percobaannya.
"Cukup."
Ia berkata.
Si Putih menarik keluar paruhnya, meninggalkan ruangan itu.
Co Hui Hee bisa menduga, tentunya air liur si bangau bisa diharapkan memberi bantuan.
Dan memang dugaannya tepat, bangau itu adalah binatang yang suka makan ular, maka memiliki sifat2 beracun.
Kini sedang dicoba kegunaannya.
Memperhatikan beberapa waktu, terdengar perut Kang Han Cing yang berkerukukan.
Tong Jie Peng masih memegangi urat nadi si pemuda.
"Bagaimana ?"
Bertanya Co Hui Hee penuh harapan.
"Khasiat liur si Putih sudah mulai bekerja, tapi belum penuh. Yang penting harus menyebarkan kekuatan obat ke seluruh tubuh, agar bisa menjalankan perbaikan yang sempurna."
Sesudah itu Tong Jie Peng menyingkap lengan bajunya, tampak sebuah tangan yang halus dan mulus, lebih putih dari tangan seorang gadis.
Co Hui Hee yang berdiri tidak jauh menjadi kesima, kalau dibandingkan dengan dirinya, bukankah pemuda yang bernama Tong Jie Peng ini lebih menarik sepuluh kali ?
Timbul rasa kecurigaannya, ia memperhatikan lebih seksama.
Tong Jie Peng menguruti seluruh bagian tubuh Kang Han Cing, selesai mengerjakan tugas itu, ia bangkit berdiri, menotoki jalan2 darah pentingnya.
Cara menotok jalan darah ini adalah cara menotok dari jarak jauh, begitu lengan dan jari2 halus itu terarah, daging2 yang ditunjuk bergerak menggeliat.
Suatu kejadian yang sangat mengagumkan, Co Hui Hee berpikir .
"Menurut keterangan suhu, cara ini bernama Bu-siang Sin-kang, tenaga latihan yang tidak mudah dipelajari. Tong Jie Peng berumur belasan, mungkinkah sudah bisa memahiri ilmu Bu siang Sin kang ?"
Tong Jie Peng sudah selesai menotok 36 jalan darah Kang Han Cing yang terpenting, napasnya mulai sengal2, ternyata ia menggunakan banyak tenaga.
Selesai menolong jiwa Kang Han Cing, Tong jie Peng duduk bersila, membenarkan peredaran jalan darahnya.
Co Hui Hee berdiri tidak jauh dari pemuda berbaju putih itu, semacam wangi parfum keluar dari tubuh Tong Jie Peng, hanya kaum gadis memiliki hawa seperti ini.
Sebagai seorang gadis, Co Hui Hee segera sadar, tidak perlu diragukan lagi kalau Tong Jie Peng ini adalah wanita asli.
Hanya kaum wanita yang bisa memiliki hawa seperti itu.
Timbul rasa cemburunya !
Diperhatikan lagi kulit tangan Tong Jie Peng yang halus, mulutnya bangir, wajah yang seperti santen, dan gerak-gerik yang lebih banyak membawakan sifat wanita daripada sifat pria.
Putusannya segera memberi vonis yang pasti .
Tong Jie Peng adalah gadis yang menyamar pria !
Co Hui Hee mengeluarkan Jarum Ular, sebagai seorang yang egoistis, ia tidak akan membiarkan pihak ketiga memasuki gelanggang asmaranya.
Hanya karena cintanya kepada Kang Han Cing, Co Hui Hee berani melanggar perintah Ngo-hong bun.
Suatu bukti kalau cinta itu buta !
Buta didalam segala2nya !
Co Hui Hee tidak berani sembarang bergerak, diketahui kalau ilmu kepandaian Tong Jie Peng tidak berada dibawah Toa sucienya, kalau ia tidak berhasil, pasti diri sendirilah yang celaka.
Tong Jie peng berhasil memulihkan tenaga didalam waktu yang sangat singkat, ia membuka matanya kembali.
Maka gagallah Co Hui Hee, tidak mungkin membokongnya lagi.
Jarum Ular tidak berani dilepas.
"Bagaimana keadaannya ?"
Bertanya Co Hui Hee.
"Dia sudah lepas dari bahaya kematian,"
Balas Tong Jie Peng.
"Sebentar lagi dia akan mencret2, mengeluarkan semua racun yang berada didalamnya."
"Oh, begitu cepat ?"
Hampir Co Hui Hee bersorak girang.
"Cara ini lebih baik dari cara Nenek Ular yang mau memandikan uap 7 hari 7 malam."
"Kau tahu apa ?"
Potong Tong Jie Peng.
"Memberi makan liur si Putih adalah kejadian yang sangat terpaksa. Tidakkah terbayang olehmu betapa banyak kerugian darah putih yang diderita olehnya ? Seumpamakan dua negara yang berperang, berapa banyakkah serdadu yang dikorbankan ? Keadaan Kang Han Cing tidak beda seperti seorang anak kecil yang baru merangkak, didalam 10 hari dia tidak boleh menggunakan tenaga, teristimewa tidak boleh bertempur dengan orang. Akibatnya bisa runyam, dia akan lumpuh seumur hidup."
"Apa susahnya ?"
Berkata Co Hui Hee.
"Asal saja tiga bulan setelah itu dia tidak menggunakan tenaga murni menempur orang, penyakitnya bisa sembuh seperti sedia kala, bukan ?"
"Ya. Begitulah."
"Baik. Akan kujaga baik2 agar dia tidak menggunakan tenaga murni."
"Tidak semudah seperti apa yang kau bayangkan. Apa kau kira suciemu itu membiarkannya begitu saja ?"
Keringat dingin membasahi Co Hui Hee, kalau ia membayangkan bagaimana pengejaran-pengejaran Ngo hong bun itu. Suara bunyl kerukuk2 didalam perut Kang Han Cing semakin keras.
"Lekas ambil tempat untuk menadahi kotorannya."
Teriak Tong jie Peng.
"Dia segera berak2."
Co Hui Hee bekerja cepat, ia sudah mengambil ember untuk menadahi kotoran besar Kang Han Cing. Diletakkannya di depan si pemuda.
"Lekas copoti celananya,"
Perintah Tong Jie Peng.
Co Hui Hee khusus dilahirkan bukan untuk menjadi juru rawat, mendengar perintah konyol tadi, wajahnya menjadi bersemu merah, bagaimanaa menyuruhnya membukakan celana seorang laki2 yang baru dikenal?
Menganggap hal tadi sebagai olok2 sang sairu, ia bercemooh.
"Apa kau sendiri tidak bisa membukakannya ?"
Tong Jie Peng berkata dingin .
"Aku harus membangunkannya, dengan kedua tangan memayang, bagaimana bisa ? Apa lagi mengingat keadaan yang mendesak. Lekas ! Terlambat berarti kesulitan."
Malu atau tidak, Co Hui Hee harus menjalankan perintah tadi, sesudah mempernahkan ember, ia melocoti celana Kang Han Cing.
Broobooott.....Broobootttt......
Ngejebrollah benda najis, baunya tidak keruan macam.
Tong Jie Peng sudah bekerja cepat, sebelum benda2 najis itu keluar dari tempat asalnya, ia sudah memayang kedua ketiak Kang Han Cing, di-urut2nya sehingga mempercepat proses pembuangan air besar yang menuangkan semua sisa racun di dalam perut si pemuda.
Sebentar kemudian Kang Han Cing selesai hajat, Co Hui Hee memakaikan kembali celananya.
Tong Jie Peng merebahkan si pemuda.
Bau busuk benda najis memenuhi seluruh ruangan, kalau kurang2 tahannya, mereka bisa muntah2, kotoran yang mengandung unsur racun itu segera dibuang keluar.
Co Hui Hee kembali sesudah Tong Jie Peng membaringkan Kang Han Cing.
Wajah si pemuda pucat pasi, tidak ada tanda2 memiliki darah.
Co Hui Hee mengeluarkan Thian-kie-in-kang-tan dan berkata .
"Berikan makan obat ini."
Obat Thian-kie-in kang tan itu didapat dari kantong baju Kang Han Cing, disaat si pemuda tidak sadarkan diri karena terkena racun Jarum Ular.
Mengingat khasiatnya yang luar biasa, diserahkannya kembali.
Tong Jie Peng menerima obat dan bertanya.
"Obat apakah ini ?"
"Obat ciptaan guruku, namanya Thian-kie-in-kang-tan, khusus untuk menyembuhkan orang yang kekurangan tenaga dan kekurangan darah, hanya tiga orang yang mendapatkannya, mereka adalah Toa sucie, Jie sucie dan Sam sucie. Aku dan Su sucie belum dapat."
"Darimana obat ini?"
Bertanya Tong Jie Peng heran. Tentu saja tidak mengerti, bagaimana Co Hui Hee bisa mendapatkan obat itu ? Mengingat Go Kiongcu Ngo hong-bun itu belum berhak mendapatkan obat thian-kie in-kang-tan.
"Obat ini kudapat dari kantong baju Kang Han Cing kemarin, tentunya didapat dari salah satu sucie2ku."
Thian-kie-in-kang-tan sudah masuk ke dalam mulut Kang Han Cing.
Tangan Tong Jie Peng belum pernah lepas dari denyutan nadi si pemuda.
Beberapa saat kemudian, Tong Jie Peng menoleh, memandang Co Hui Hee serta mengajukan pertanyaan .
"Kau cinta kepadanya ?"
Wajah Co Hui Hee menjadi merah, ia balik bertanya .
"Apa kau juga tidak cinta kepadanya?"
Tong Jie Peng tertegun, nyatalah kalau penyamarannya sudah diketahui orang.
"Aku yang bertanya kepadamu."
Ia berkata.
"Apa bedanya ?"
Berdengus Co Hui Hee dingin.
"Aku juga bisa mengajukan pertanyaan yang sama, bukan ?"
"Tidak perlu kau sangkal,"
Berkata Tong Jie Peng menghela napas.
"Aku tahu, kau sudah jatuh cinta kepadanya, tapi aku meminta kepastian, bahwa kau betul cinta kepadanya...."
"Apa bedanya ?"
Bertanya Co Hui Hee.
"Karena aku hendak memberitahu sesuatu yang sangat menyedihkan....."
"Apa ?"
Co Hui Hee mementangkan kedua matanya lebar2.
"Dia masih tidak bisa ditolong ?"
"Bukan tidak bisa ditolong,"
Berkata Tong Jie Peng.
"Tapi kekuatan tenaganya sudah hancur luluh, ia akan menjadi seorang laki-laki jompo....."
"Ah...."
"Karena itulah, aku meminta kepastianmu kalau betul2 kau cinta, hendak kuserahkan dengan hati lega."
Hati Co Hui Hee berdengus .
"Huh, kau hendak menyerahkan seorang laki2 jompo kepadaku?"
Saking marahnya, ia berteriak .
"Kalau kau mau pergi, pergilah segera ! Jangan takut, kalau sampai terjadi sesuatu apa, dimisalkan dia mati, akupun sanggup mengebumikannya sendiri."
"Aku yakin kepada cintamu,"
Berkata Tong Jie Peng.
"Maka kuserahkan kepadamu. Aku hendak pulang ke pulau Tong-hay. Disana meminta obat untuk memulihkan tenaganya yang sudah hilang."
"Masih ada obat yang bisa memulihkan tenaganya ?"
Berteriak Co Hui Hee girang.
"Tidak perlu diragukan. Obat itu pasti kubawa datang. Tapi jarak terlalu jauh, walau menunggang si Putih, paling cepat memakan waktu 2 hari. Didalam waktu2 ini, kuharap kau bisa menjaganya baik2. Jangan sampai ada gangguan dari luar yang mengacaukan rencana."
Co Hui Hee sadar akan kesalahannya, maksud Tong Jie Peng sudah disalah-terimakan.
"Pasti tidak ada gangguan,"
Jawabnya.
"Kujamin ketenangannya."
"Syukurlah. Yang kuragukan ialah . Mampukah kau menangkis datangnya serangan2 dari pihak Ngo hong bun itu? Terus terang saja, kalau aku berada ditempat ini, walau Ngo-hong-bun mengerahkan seluruh kekuatannya, tidak mungkin mereka bisa mengganggu ketenangan Kang Han Cing. Tapi hanya kau seorang, kukira....kukira......"
"Mengapa kau tidak membawanya saja pulang ?"
Bertanya Co Hui Hee.
"Dengan menunggang burung itu, kalian bersama-sama, bukankah lebih baik ?"
Kalau tadi Co Hui Hee cemburu, kini cemburunya itu mulai mereda, mengingat kepentingan Kang Han Cing pribadi.
Ia rela menyerahkan Kang Han Cing dengan maksud agar Tong Jie Peng membawanya menaiki burung bangau raksasa, memulihkan tenaga si pemuda.
Tong Jie Peng bergoyang kepala.
"Aku tidak bisa membawanya menghadap kedua orang tuaku. Mereka benci kepada pemuda Tionggoan."
Katanya lemah.
Sekelumit tentang kedua orang tua Tong Jie Peng .
Mereka adalah Sepasang Dewa dari daerah Tong-hay yang bernama Cung Cung dan Sun Hoa yang ternama.
Sebagai akhli waris Liu Ang Ciauw, mereka memegang patuh pesan sang sucouw, ternyata Liu Ang Ciauw pernah mengalami patah hati, cintanya kepada Lu Cu Kok kandas ditengah jalan, karena itu melarikan diri kedaerah Tong hay dan memberikan pesanan-pesanan terakhir agar mereka turut membenci pemuda Tiong-goan.
Apalagi mengawininya, inilah larangan terbesar.
Mengapa Tong Jie Peng tidak bisa membawa Kang Han Cing ke pulaunya, itulah sebab dari kasih cinta yang pernah terjalin diantara leluhurnya.
Tentang cerita Liu Ang Ciauw dan Lu Cu Kok, para pembaca dipersilahkan memberi penilaian dari cerita yang berjudul .
ANAK PENDEKAR.
"Ilmu kepandaianmu memang cukup untuk menjaga keamanannya,"
Berkata Tong Jie Peng.
"Agar lebih aman lagi, kuingin turunkan semacam ilmu pelajaran, maukah kau mempelajarinya ?"
"Cici."
Berkata Co Hui Hee terharu.
"Kau baik sekali."
"Apa ??!!"
Tong Jie Peng mundur dua tindak. Panggilan cicie itu berarti pecahnya penyamaran Tong Jie Peng.
"Cicie,"
Berkata Co Hui Hee.
"Tidak perlu menyangkal lagi. Gerak-gerikmu tidak mungkin bisa mengelabuiku, mungkinkah ada tangan pria yang lebih halus dari tangan seorang wanita ? Kau adalah gadis yang menyamar. Mengapa harus melakukan penyamaran ?"
Memandang beberapa saat, Tong Jie Peng harus menyerah kalah. Dengan perlahan ia berkata .
"Tidak percuma kau menjadi Go kiongcu Ngo hong bun. Matamu memang lihay. Ya ! tidak perlu kusangkal, aku adalah wanita. Tapi hanya kau seorang yang tahu. Kuharap kau tidak membuka rahasia ini kepada siapapun dan juga kepadanya."
"Apa sebelumnya Kang Jie kongcu juga tidak tahu ?"
Bertanya Co Hui Hee.
"Dia tidak tahu, dan kuminta jangan kau beritahu. Hubunganku dengannya hanya sebagai saudara angkat, tidak bisa disamakan dengan dirimu."
"Cicie, kau baik sekali."
"Nah ! Perhatikan baik2 pelajaran ini."
Berkata Tong Jie Peng.
Tangan kirinya diangkat, per-lahan2 mendorong kedepan.
Mengetahui kalau dirinya akan mendapat semacam ilmu luar biasa, Co Hui Hee memperhatikan dengan seksama, memperhatikan perubahan2 gerak Tong Jie Peng.
Tong Jie Peng sudah mengeluarkan pukulan, tapi tidak meneruskannya, jari2 itu bergerak, menukik ke pusat telapak, dikakukan sebentar, dan mekar kelima penjuru.
Co Hui Hee mengasah otak mengilmiah pelajaran inti yang tersembunyi didalam gerakan2 itu, tidak ada penemuan baru dan ia tidak berhasil memahami keistimewaannya.
Tong jie Peng selesai memberi contoh gerakan, kemudian memberi penjelasan .
"Untuk memahirkan ilmu ini dengan sempurna harus mencatat dalam2 kata2 ini . yaitu 'Putaran hawa lima kali dan pusatkan di telapak tangan, disimpan dan dilepas menutup jalan darah lawan"."
Sekali lagi diulangi pelajaran tadi.
Kini Co hui hee bisa menyelaminya dengan baik, ia menerima pelajaran tadi dengan senang hati.
Dengan tidak bosan, Tong Jie Peng mengoreksi kesalahan2, sesudah menganggap sempurna, ia berkata .
"Nah ! Cukup. Untuk memahirkannya dengan lebih baik, tergantung dari kecerdikan dan latihan2. Kalau untuk menghadapi jago kelas dua saja, inipun sudah berlebih2an. Sekarang aku hendak berangkat, jagalah dia baik2."
Ia bersiul memanggil burung bangaunya, dengan menunggang binatang raksasa inilah, Tong Jie Peng kembali ke daerah Tong hay, meminta obat mujarab untuk menyembuhkan tenaga Kang Han Cing yang sudah hancur tercerai-berai.
*** Bab 78 DIRUMAH ULAR......
Co Hui Hee sudah mempernahkan Kang Han Cing, ia wajib menjaga ketenangan si pemuda, selama kepergian Tong Jie Peng yang akan balik kembali dengan membawa obat pengumpul tenaganya.
Sesudah memakan obat Thian-kie-in kang-tan, keadaan Kang Han Cing agak mendingan, tertidur nyenyak diatas pembaringan.
Merasa dirinya yang terasing, Co Hui Hee ber-jalan2, menjelajahi rumah si Nenek Ular, dia sudah biasa ditempat itu, kini menuju kearah dapur dengan maksud untuk mencari makanan.
Hanya tersedia beberapa mangkuk sayur dan yang sudah dingin, dilahapnya makanan2 itu sebagai penangsal perut.
Teringat keadaan Kang Han Cing, ia harus membuat persediaan pula, mengambil beberapa comot beras, dituang di periuk, membuat api, dan siap menyediakan bubur sebagai persediaan sang kekasih.
Semua itu dilakukan dengan canggung, belum pernah Co Hui Hee turun dapur, dan inilah untuk pertama kalinya ia bekerja sebagai juru masak, walau hanya memasak beberapa mangkuk bubur saja.
Tiba2 Co Hui Hee menemukan sesuatu penemuan, pada lantai dapur yang ditumpuki kayu2 itu terdapat sebuah papan besi.
Ia bisa melihat adanya besi tersebut, karena sudah menggeser kayu2 yang menutupinya.
"Mungkinkah ruang dibawah tanah ?"
Pikir si gadis.
Co Hui Hee menduduki kursi kelima dari partay Ngo hong-bun, disana penuh dengan aneka macam rahasia, menduga kepada ruang rahasia di bawah tanah, segera ia mencari alat pengontrol.
Alat itu tidak sulit ditemukan, dua benda bulat tergantung pada pojok dapur, sesudah benda bulat itu ditarik maka terdengarlah suara gemeretek, papan besi tertarik secara otomatis, pintu ruang rahasia terbuka !
Melongok kebawah, keadaan tempat itu sangat gelap, betul2 ruangan rahasia yang berada di bawah tanah !
Mengikuti kemauan Co Hui Hee, ia ingin melongok ke tempat tersebut, kalau tidak ada gangguan Kang Han Cing, dibatalkannya maksud itu karena adanya si pemuda, cepat2 diselesaikannya masakan di dapur, untuk mengisi perut Kang Han Cing, dan perutnya sendiri juga tentunya.
Tidak lama Co Hui Hee selesai memasak bubur, dibawanya ke ruang dalam.
Kang Han Cing belum sadarkan diri.
"Mengapa begitu lama?"
Pikir Co Hui Hee.
Tentu saja gadis ini tidak tahu kalau obat Thian-kie-in-kang-tan tersedia untuk memulihkan tenaga yang hilang, siapa yang sudah memakan obat ini, ada beberapa waktu tertidur lelap.
Maka khasiatnya bekerja lebih sempurna.
Seseorang membutuhkan waktu istirahat, tidur adalah cara yang paling tepat.
Bukan saja memelihara badan, mengumpulkan potensi yang sudah terbuang, juga memberi kesempatan bagi anggota2 badan yang sudah bekerja satu harian penuh.
Satu hari diliwatkan.....
Cuaca gelap.
Menungkuli Kang Han Cing yang belum bangun, perut Co Hui Hee lapar kembali.
Ia melahap bubur bikinannya, sambil menunggui si pemuda.
Ia tidak berani menyalakan lampu, karena mereka belum lepas dari bahaya.
Juga tidak berani banyak mengeluarkan suara, takut2 menimbulkan perhatian orang.
Co Hui Hee mulai ngelenggut.
Terdengar bunyi hujan, tidak terlalu besar, menetes dipinggiran rumah.
Bangunan didalam Lembah Ular yang terpencil, keadaan sunyi dan sepi, didalam keadaan hujan yang seperti itu, tampak sangat menakutkan.
Dibawah tetesan air hujan, ada 2 orang yang sedang menuju ke tempat itu.
Terdengar seorang yang berjalan dibelakang berkata .
"Di tempat yang begini seram, walau memiliki tanda jalan Ular, aku masih merasa tidak aman. Tuhan seperti tidak memihak kita, air hujan dituangnya pula. Bikin orang tambah segan saja. Aku tidak percaya kalau Go kiongcu masih berani menyembunyikan diri di sekitar daerah ini."
Kawannya berkata .
"Seluruh tempat sudah digeledah, tidak ada bekas tapaknya. Kecuali tempat ini yang belum diperiksa."
"Mungkinkah Go Kiongcu tidak takut kepada ular2 berbisa yang menempati lembah?"
Bertanya yang duluan.
"Dia memiliki Jarum Ular, tentu saja tidak takut."
"Apa kau juga tidak takut ?"
"Aku tidak takut karena sudah diberi obat penawar."
"Kau tidak takut kepada Go Kiongcu ?"
"Takut apa ? Inilah perintah sucie-sucienya."
"Apa yang bisa kita lakukan kalau berhasil menemukannya ?"
"Wah ! Hujan bertambah besar."
Seperti apa yang dikatakan, air hujan seperti dituang dari langit, menyirami bumi.
"Mari kita mencari tempat berteduh."
Berkata salah satu dari orang itu. Mereka berlari2, akhirnya meneduh diemperan Rumah Ular.
"Basah kuyuplah kita berdua."
Orang itu ngedumel.
"Gara2 Go Kiongcu yang gila laki2,"
Berkata kawannya.
"Semua orang bawahanlah yang susah."
"Huh ! Kau bicara harus menjaga mulut, apa akibatnya kalau sampai ke dalam telinganya?"
"Takut apa ? Toa Kiongcu berada dibelakang kita."
"Apa kau tahu pasti ? Mereka adalah saudara seperguruan, kalau tertangkap, paling-paling dimaki dengan beberapa kata. Tapi kalau mereka tidak suka kepada kita, leher bisa copot, tahu?"
"Ha, ha....."
Terdengar orang itu tertawa.
"Lo Lie, lupa kepada pesan Toa Kiongcu ? Kalau berhasil menemukannya, tidak perlu sungkan2 lagi. Mati atau hidup, kita diberi kekuasaan penuh. Apa saja yang kita bawa lemparkan saja kepadanya."
Terdengar orang yang dipanggil Lo Lee menghela napas, katanya .
"Dengan ilmu kepandaian yang kau miliki hendak melawan Go kiongcu ? Kim Jie, kau seperti sedang mengimpi."
Angin semakin keras, mereka berhimpit2an kedinginan dengan baju yang sudah basah kuyup, rasa dingin itu terasa sekali.
Tanpa disadari, Kim Jie dan Lo Lie bersandar pada pintu, maka.....gedubraaaakkkk......terpentanglah pintu itu, hampir2 keduanya jatuh.
"Eh,"
Teriak Kim Jie.
"Mengapa pintu rumah Nenek Ular tidak dikunci ?"
"Kebetulan ! Mari kita istirahat di dalam."
Berkata Lo Lie.
"Kau berani ? Rumah Nenek Ular bukan sembarang rumah, tahu ?"
"Siapa tahu kalau Go Kiongcu bersembunyi di tempat ini ?"
Mereka memperhatikan isi rumah ular itu, dan seperti apa yang mereka khawatirkan, Go Kiongcu Ngo hong bun Co Hui Hee memang berada di tempat itu ! "Hei !"
Bentak Co Hui Hee heran.
"Dua2nya masuk kedalam."
"Si....Siapa ?"
Lo Lie bertanya dengan suara gemetaran.
"Sudah tidak mengenali suaraku lagi ?"
Bentak Co Hui Hee.
"Kau.....Kau Go Kiongcu ?" ***
Jilid 23
"Huh !"
Co Hui Hee berdengus.
"Bukankah kalian mendapat tugas untuk menemukan diriku? Mengapa tidak berani masuk?"
"Hamba tidak berani,"
Berkata Lo Lie.
"Mana hamba berani,"
Berkata Kim Jie.
"Masuk !"
Bentak Co Hui Hee.
"Inilah perintahku."
Lo Lie dan Kim Jie saling pandang, mereka tidak berani membangkang perintah itu. Dengan penuh kewaspadaan, mereka memasuki Rumah Ular, memberi hormat kepada Go Kiongcunya.
"Apa yang tadi kalian perbincangkan ?"
Bentak Co Hui Hee galak.
"Ti..... Tidak apa2."
"Bukankah kahan mendapat tugas untuk menemui diriku ?"
Tanya lagi Co Hui Hee.
"Hamba......hamba............"
"Betul atau tidak ?"
Bentak dan potong sang Go kiongcu.
"Be.....Betul."
"Kemudian, apa pula tugas kalian, sesudah berhasil ?"
"Toa Kiongcu sekalian mengharapkan kembalinya Go Kiongcu,"
Berkata Lo Lie.
"Apa hanya itu saja pesannya ? Berkata Co Hui Hee.
"Apa bukan menyuruh kalian menghujani senjata apa saja yang ada ?"
Lo Lie dan Kim Jie lompat mundur ke belakang, dengan maksud meninggalkan tempat itu.
Cepat gerakan Lo Lie dan Kim Jie, lebih cepat lagi adalah gerakan Co Hui Hee, sebelum kedua orang bawahan itu bisa keluar dari ruangan tadi, Co Hui Hee sudah menghadang mereka.
Saking nekadnya, Kim Jie dan Lo Lie mengeluarkan senjata2 rahasia mereka, dilemparkannya ke arah Co Hui Hee.
Terjadilah hujan senjata !
Co Hui Hee menduduki urutan kelima di dalam partay Ngo-hong-bun, tentu saja memiliki kesempurnaannya, dengan gerakan tangan yang lincah, ia memukul pergi semua senjata itu.
Disaat Kim Jie dan Lo Lie masih mempertahankan maksudnya yang mau melarikan diri dari tempat itu, dua pisau terbang sudah bersarang pada paha mereka, serentak jatuh jungkir baliklah kedua orang itu.
Mengetahui sulit menghindari diri dari kekejaman sang Go Kiongcu, Kim Jie menggigit lidah, dengan maksud bunuh diri !
Gerakan Co Hui Hee lebih cepat lagi, plak....ia menampar pipi orang itu dan sekalian menotok jalan darahnya.
"Mau bunuh diri ?"
Ia berdengus.
"Begitu enak, hee ?"
Sesudah itu ia menoleh ke arah Lo Lie, dilemparkannya sebuah pisau dan memberi perintah .
"Dia sudah tidak menghendaki lidahnya, gunakanlah ini untuk mengorek bagian atas, biar dia tahu rasa !"
Lo Lie terbelalak di tempat, bagaimana Go Kiongcu begitu kejam, menyuruhnya melukai lidah teman sendiri. Co Hui Hee mengulangi perintah itu .
"Hayo, sebagai seorang anggota yang baik, laksanakanlah perintah atasanmu !"
Mengetahui tidak bisa mengelakkan siksaan2nya, Kim Jie berteriak .
"Lo Lie laksanakanlah perintahnya."
Agaknya Lo Lie sudah bisa mengambil putusan, memungut pisau yang dilemparkan dan berkata .
"Baik."
Ia mendekati Kim Jie, se-olah2 sudah siap melaksanakan perintah Go Kiongcu, mau mengorek lidah kawan sendiri, tapi secepat itu pisau diambleskan kedadanya sendiri, ia bunuh diri !
Hal ini berada diluar dugaan Co Hui Hee, ia sadar sesudah Lo Lie berkelojotan sekarat di tanah.
Semua kemarahan ditujukan kepada Kim Jie, tubuhnya bergerak dan dengan kecepatan yang susah diikuti dengan mata, membarengi jeritan Kim Jie yang menyeramkan, batok kepala anak buah Ngo hong bun itu sudah berada ditangan sang Go Kiongcu !
Tetesan darah masih mengetel.
Sungguh suatu pemandangan yang paling sadis !
betul2 batok kepala copot dari tempatnya.
Baru saja Co Hui Hee menamatkan riwayat hidup Kim Jie, telinganya yang lihay bisa menangkap sesuatu yang kurang beres, secepatnya melempar kepala sang korban, membalikkan badan, didalam posisi yang siap tempur, ia membentak .
"Siapa yang bersembunyi di tempat itu? Lekas keluar !"
Maka dari arah yang dibentak oleh Co Hui Hee tadi, dari semak2 gelap bermunculan beberapa orang, mereka dikepalai oleh huhuat kelas satu Ngo hong bun Kwee In Su.
"Huh !"
Dengus Co Hui Hee.
"Apa maksud kalian menyembunyikan diri ?"
Kwee In Su memberi hormat, dengan merendah diri ia berkata .
"Kami siap menyambut pulangnya Go kiongcu."
"Oh ! Begitu? Kalau aku tidak mau, bagaimana?"
"Itulah tugas 7 bintang kejora,"
Berkata Kwee In Su sambil melirik ke arah orang2 yang berada di belakang, mereka adalah 7 jago Perintah Maut, dengan julukan 7 bintang kejora.
Masing2 memiliki ilmu kepandaian tinggi, teristimewa kalau bergerak bersama, kekuatan 7 orang itu belum pernah terpatahkan.
Sesudah Perintah Maut melebur diri kedalam Ngo hong bun, mereka turut serta.
7 bintang kejora sudah mulai mengepung Co Hui Hee.
Co Hui Hee meneliti mereka, satu persatu ditatapnya dalam2, kemudian memberi perintah .
"Bagus, Hok Goan, kedatangan kalian tepat pada waktunya. Lekas tangkap Kwee In Su !"
Hok Goan adalah pemimpin/kepala dari 7 bintang kejora.
Dan sekarang Co Hui Hee memberi perintah kepada mereka untuk menangkap Kwee In Su.
Mendengar perintah tadi, nyali Kwee In Su mengkeret keras, dia mengeluh celaka, mengingat kalau 7 bintang kejora adalah bekas orang2 Co Hui Hee juga.
Tampak salah satu dari 7 bintang kejora membungkukkan badan, inilah orang yang bernama Hok Goan itu, ia berkata .
"Harap Go kiongcu maklum, orang harus kami tangkap bukanlah Kwee In Su huhuat."
"Apa kalian ditugaskan untuk menangkap diriku ?"
Bertanya Co Hui Hee dengan suara dengusan.
"Kami mendapat tugas untuk mengundang Go kiongcu pulang,"
Kwee In Su menalangi menjawab.
"Eh, kalian berani membangkang kepada perintahku?"
Co Hui Hee menggertak 7 bintang kejora.
"Harap Go kiongcu maklum,"
Berkata Hok Goan.
"Didalam tugas ini, Toa kiongcu sudah menyerahkan tugas kepada Kwee huhuat, kami diwajibkan mendengar perintahnya."
"Harap Go kiongcu tidak menjadi gusar,"
Berkata Kwee In Su.
"Mereka juga mendapat tugas untuk mengundang Go kiongcu pulang."
Dada Co Hui Hee turun naik karena kemarahan yang meluap2.
"Kwee In Su,"
Ia membentak.
"Apa kau kira aku takut membunuh dirimu?"
Sret..... Co Hui Hee sudah mengeluarkan pedangnya. Kwee In Su mundur dua langkah, dengan demikian ia sudah menyiapkan pertempuran, menyeringai dan berkata .
"Go kiongcu, walau kau sudah berkhianat kepada partay, kami masih menghormatimu sebagai Go kiongcu, kalau saja bersedia pulang ke markas, itulah yang kami harapkan. Tapi sebaliknya.....hm.....hmm......"
Tanpa penerusannya, siapapun sudah maklum apa lanjutan dari kata2 Kwee In Su tadi. Sepasang biji mata Co Hui Hee ber-putar2, pikirnya dalam2 .
"Dengan kepandaian Kwee In Su, tidak mungkin ia berani seperti ini. Mungkinkah....mungkinkah ada bala bantuan dibelakang? Memancing aku keluar dari rumah ini? Membiarkan 7 bintang kejora menggeledah isi rumah?"
"Kwee In Su, berani kau kurang ajar?"
Bentak Co Hui Hee.
"Apa kau tidak takut batok kepala copot dari tempatnya?"
Kwee In Su mundur lagi tiga langkah, kini sudah keluar dari rumah itu, ia berkata .
"Go kiongcu, kami semua mendapat tugas mengundang kau pulang ke markas. Disaat Kim Jie dan Lo Lie berhasil menemukan jejakmu sudah kulepas tanda penemuan, tidak lama lagi bantuan segera datang. Walau hamba mengalami copot batok kepala, Go kiongcu tidak luput dari pengejaran2."
Seperti apa yang dikatakan Kwee In Su, bantuan untuk menangkap Co Hui Hee sudah berada di tempat itu, kini menyembunyikan diri diatas pohon, orang ini adalah Sam kiongcu Sun Hui Eng.
Mengikuti percakapan Co Hui Hee dan Kwee In Su, Sun Hui Eng maklum kalau Kang Han Cing itu berada pada sang sumoay.
Kalau kejadian ini dibiarkan ber-larut2 terus, lebih sulit lagi untuk mengurusnya.
Karena itulah tubuh Sun Hui Eng bergerak, dengan pedang ditangan, membelah Kwee In Su.
Terdengar jeritan Kwee In Su, pedang tadi telah membelahnya menjadi 2 bagian.
Sun Hui Eng tidak bekerja kepalang tanggung, kalau Co Hui Hee berani berkhianat kepada partay, mengapa ia tidak?
Semuapun demi keselamatan jiwa Kang Han Cing.
Tidak menunggu sampai 7 bintang kejora sadar, Sam kiongcu Ngo hong bun itu mengeluarkan jarum rahasia, disebarkan kepada orang2 disana.
Terdengar 7 suara jeritan, tidak satupun dari 7 bintang kejora yang luput dari kematian, mereka turut dikorbankan.
Kejadian itu berada diluar dugaan Co Hui Hee.
"Kau....kau Sam sucie?"
Jeritnya dengan suara tidak mengerti. Sun Hui Eng menghampiri sang sumoay, dengan suara penuh getaran jiwa bertanya .
"Dimanakah dia ?"
Co Hui Hee menyimpan kembali pedang yang sudah disiapkan, ia tidak perlu turun tangan untuk membereskan Kwee In Su, karena Sam kiongcu sudah menalanginya untuk berbuat seperti itu.
Mendapat pertanyaan yang tidak keruan juntrungan, ia bertanya .
"Siapa yang sucie maksudkan ?"
"Dimana Kang Han Cing ?"
Bertanya Sun Hui Eng dengan suara yang lebih jelas.
"Bukankah kalian bersama2 ?"
"Kang Han Cing? Oh ! dia tidak berada pada diriku,"
Berkata Co Hui Hee. Sun Hui Eng menghela napas.
"Menurut keterangan Nenek ular, dia sudah terkena Jarum Ularnya......"
Ia berkata dengan suara sedih.
"Aku.....Aku tidak tahu."
Sangkal terus Co Hui Hee.
"Mana kutahu, ia sudah tidak berada padaku."
"Baiklah,"
Berkata Sun Hui Eng.
"Lebih baik kau cepat2 meninggalkan tempat ini. Sangat berbahaya bagimu."
Co Hui Hee menggelengkan kepala.
"Tidak !"
Katanya tegas.
"Aku tidak mau melarikan diri. Kalau Sam sucie juga mendapat tugas menangkap diriku, tangkaplah !"
"Jangan kau memikir sejauh itu."
Berkata Sam Kiongcu.
"Kalau aku mempunyai maksud menangkap, mengapa harus membunuh Kwee In Su dan 7 Bintang kejora ? Dengarlah anjuranku, cepat2 meninggalkan daerah berbahaya. Aku hendak menolongmu."
"Tidak,"
Berkata Co Hui Hee.
"Sudah kukata 'Tidak"
Tetap 'Tidak". Matipun aku tidak mau meninggalkan tempat ini."
Sun Hui Eng melirik ke arah ruang dalam, dengan berkerut alis berkata .
"Go sumoay tidak perlu bohong kepadaku. Tentunya kau sudah sembunyikan Kang Han Cing ditempat ini maka tidak mau pergi. Dimanakah dia berada ?"
"Dia.....Dia.....Dia sudah mati,"
Berkata Co Hui Hee. Wajah Sun Hui Eng berubah pucat.
"Betulkah itu ?"
Ia menjadi kepala berat.
"Ya. Dia sudah terkena Jarum Ular, seperti kau tahu, bisa Jarum Ular tidak melebihi 24 jam. Kang Han Cing sudah keracunan Jarum Ular lebih dari 24 jam. Dia tidak tahan..... Dan kini sudah.....Sudah mati."
"Oh....."
Air mata Sun Hui Eng tidak bisa dibendung lagi, tetes demi tetes jatuh ditanah.
"Oh......"
Ia mengeluh.
"Nasib.....Go sumoay, percayalah kepadaku, dimana Kang Han Cing berada ? Aku hendak melihat wajahnya yang terakhir."
"Dia tidak disini."
"Go sumoay.....Begitu besar kecurigaanmu ? Melihat tanda pemberitahuan Kwee In Su tergesa2 aku lari kemari. Membunuh mereka, tidak segera melapor kepada Toa sucie, tapi... Oh.....Dia sudah mati.....Maksudku......Maksudku melihat wajahnya yang terakhir, sebelum kau mengebumikannya."
"Dia sudah berada didalam tanah,"
Berkata Co Hui Hee.
"Dimana makamnya? Cobalah kau ajak aku, agar aku bisa memberi penghormatan terakhir."
"Baiklah. Mari ikut."
Berkata Co Hui Hee, ia berjalan keluar, menuju kearah rimba. Dengan badan limbung, Sam kiongcu mengikuti di belakang Go kiongcu.
"Kau tanam di dalam pohon2 ini?"
Tanyanya semakin sedih. Tanpa menoleh ke belakang, Co Hui Hee berkata .
"Tidak lama lagi, kau bisa menjumpainya. Nah, dibawah pohon itulah....."
Kedua pipi Co Hui Hee sudah basah dengan air mata, sesudah mengucapkan kata2 tadi, tiba2 ia menangis semakin keras, membalikkan badan dan menubruk Sun Hui Eng.
Keadaan Sun Hui Eng tidak kalah sedihnya, mereka menangis bersama.
Kalau tangisan Sam kiongcu keluar dari hati yang setulusnya, tangisan Go kiongcu adalah tangisan buatan, tiba2 saja ia menggerakkan tangan, menotok jalan2 darah Sun Hui Eng.
Sun Hui Eng mana menduga, kalau maksud baiknya mendapat balasan yang seperti itu, air susu dibalas dengan air tuba !
didalam jarak yang begitu dekat, tanpa bisa dielakkan, 8 jalan darahnya sudah tertotok.
Sun Hui Eng masih belum sadar, dengan alasan apa sang sumoay kecil membokong dirinya?
Dia cinta kepada Kang Han Cing, juga cinta kepada Co Hui Hee.
Mendengar berita yang menyatakan Kang Han Cing terluka, mengetahui kalau sang sumoay membutuhkan pertolongan, ia rela berkhianat kepada Ngo hong bun, membunuh 7 bintang kejora.
Dengan maksud menyerahkan Kang Han Cing kepada adik seperguruannya.
Dengan adanya maksud baik ini, Sam kiongcu tidak menaruh syak wasangka kepada Go kiongcu.
Terjebloslah dia kedalam kehancuran.
Co Hui Hee membanggakan kelicikannya dan berkata .
"Sam sucie, tentu kau tidak mengerti mengapa aku membalas kebaikanmu dengan cara yang semacam ini bukan ?"
Bicara sampai disini, telinga Co Hui Hee yang tajam dapat menangkap sesuatu, itulah suara desiran angin gerakan kaki seorang akhli, disana sudah bertambah seorang jago silat yang sedang menyembunyikan diri.
Go kiongcu bisa menduga siapa adanya jago itu.
Tapi ia berpura2 tidak tahu, ia meneruskan kata2nya .
"Hal itu disebabkan karena.....kau, Sam sucie telah berkhianat kepada partay. Hanya aku seorang yang tahu rahasia ini, maka kau menjatuhkan getah kejahatan kepada diriku, membuat posisi kedudukanku terjepit. Jangan kira tidak ada yang tahu, bagaimana cara2 pengkhianatan Sam sucie kepada partay. Saking cintanya kepada Kang Han Cing, kau tidak memberitahu sesuatu yang penting, hal ini mengakibatkan kerugian partay. Seharusnya kau memberitahu kepada Toa Sucie, kalau Lengcu Panji Hitam Lauw Keng Sin yang belakangan itu adalah Lengcu Panji Hitam palsu. Kau tahu kalau samaran Kang Han Cing, mengapa tidak memberitahu? Di Lam peng an, rencana Jie sucie yang begitu bagus juga rusak dibawah tanganmu. Kau membebaskan dirinya, membiarkan Jie sucie sendiri menghadapi lawan. Sengaja memberi kebebasan. Pada tubuh Kang Han Cing terdapat obat Thian-kie-in-kang-tan, tentunya pemberianmu, bukan?"
Bicara sampai disini, Go Kiongcu Co Hui Hee melebarkan telinga, betul saja, tidak terdengar gesekan suara angin, suatu tanda kalau orang yang baru datang menaruh minat besar kepada kata2nya, maka ia meneruskan lagi .
"Sam sucie, betapa besar pengkhianatanmu ini kepada partay, tapi Toa sucie dan Jie sucie menjatuhkan surat penangkapan kepadaku, adilkah ?"
Tentu saja, betapa banyakpun keterangan Co Hui Hee, tidak mungkin terjawab oleh Sun Hui Eng, karena si pemimpin ketiga dari Ngo-hong-bun sudah tertotok jalan darah.
Co Hui Hee masih meneruskan pembelaan sepihaknya .
"Tentunya kau yang meng-ojok2 Toa sucie atau Jie sucie sehingga mereka salah paham. Maksudku menahan Kang Han Cing untuk menghilangkan racun Jarum Ular, sesudah itu pasti kuserahkan kepada partay. Yah ! Fitnahmu memang hebat. Toa sucie dan Jie sucie jatuh kedalam hasutanmu. Apalagi sesudah matinya Kwee In Su dan 7 Bintang Kejora, tentu mereka mendakwa aku lagi. Siapapun tidak akan percaya, kalau Kwee In Su dkk mati dibawah tanganmu. Hmm..... Siasat lihay ! Tipu luar biasa...! Disebabkan fakta2 inilah aku akan.... membunuhmu !"
Co Hui Hee mengayun pedang yang sudah disiapkan, dengan tujuan membunuh Sun Hui Eng.
Sebutir batu kecil meluncur dengan kecepatan kilat, traaannnggg......membentur pedang Co Hui Hee, menggagalkan usaha pembunuhan itu.
Disana sudah bertambah seorang manusia bertopeng perak, itulah Jie kiongcu Ngo hong bun!
Co Hui Hee mundur dan berteriak terkejut .
"Jie sucie !"
Tentu saja hanya pura2 ! kehadiran Jie sucie itu sudah berada dibawah perhitungannya. Dengan singkat Jie Kiongcu berkata .
"Aku sudah tahu. Kalian berdua ikut aku pulang. Biar Toa sucie yang memberi putusan."
Pemimpin kedua dari partay Ngo hong-bun mengajak kedua adik seperguruannya meninggalkan tempat itu.
Mereka juga meninggalkan Kang Han Cing didalam rumah Ular.
*** Bab 79 MATAHARI PAGI bercahaya kembali, inilah hari berikutnya sesudah kejadian2 dimalam hari.
Lembah Ular menjadi amis dengan aneka bangkai, ribuan ular mati celentang, mereka adalah korban2 bangau sakti dari Tong hay.
Dan diluar rumah Ular menggeletak 8 mayat manusia, itulah mayat2 Kwee In Su beserta 7 Bintang Kejora Perintah Maut.
Tidak ada yang mengurus bangkai2 itu, karena Lembah Ular memang tertutup untuk umum.
Sesudah Jie Kiongcu mengajak kedua adik seperguruannya meninggalkan tempat itu, belum ada pendatang2 baru.
Sekarang seorang nenek berjalan datang, itulah Nenek Ular yang baru balik kembali.
Kehadiran si nenek disambut oleh 5 ekor ular yang besar, mereka men-dongak2kan kepala, se-olah2 memberi laporan tentang jalannya kejadian.
Prilakunya seperti orang yang sudah melakukan kesalahan.
Nenek Ular tertegun sebentar, kemudian bisa mengerti dan menyelami laporan2 itu, dengan tertawa berkata .
"Orang2 yang kemarin malam datang bukan orang luar. Mereka sudah minta izin permisiku. Kalian tidak bersalah."
Kelima ular besar itu masih tetap bertiarap ditanah. Nenek Ular menjadi heran.
"Mungkinkah terjadi sesuatu lagi ? Ia bertanya. Kelima ular angkluk2an, membenarkan pertanyaan itu. Wajah Nenek Ular yang menyeramkan berubah semakin seram.
"Coba ajak aku ke tempat kejadian."
Ia berkata kepada ular-ularnya.
Kelima ekor ular menggelusur dengan cepat, diikuti oleh majikan mereka.
Maka sadarlah Nenek Ular, kalau laporan ular2nya adalah laporan tentang kejadian kembalinya Tong Jie Peng beserta si Putih yang sudah menghancurkan barisan ular2nya.
Ribuan ular sudah terpatuk oleh paruh si Putih.
"Eh, dari mana munculnya burung pemakan ular?"
Si nenek bergumam heran.
Ia bisa membedakan, kalau barisan ular itu hancur dibawah serangannya semacam burung.
Inilah kerusakan kedua, sesudah kerusakan dari si Kakek Beracun Cu Hoay Uh.
Dengan penuh kemasgulan, nenek Ular kembali ke tempat kediamannya.
Disaat ia memasuki dapur, lebih terkejut lagi, karena ruang rahasia dibawah tanahnya sudah terbuka, ter-gesa2 ia menyalakan lampu penerangan, turun memasuki ruang rahasia yang gelap itu.
Dibawah ruang rahasia terdapat kolam, kini tampak sesuatu yang bergelembung, seekor ular besar sudah mengapung di permukaan kolam itu, mati menjadi bangkai !
Mencelosnya hati si nenek tidak terkira, kalau bisa terjadi keadaan seperti itu.
Ular lindung yang dipeliharanya sejak kecil, dipelihara selama 30 tahun, mendadak sontak disaat hampir selesai jelmaannya, ular tersebut sudah dibunuh orang, bagaimana ia tidak ber-jingkrak2 ?
Memandang ke lain tempat, di tepi kolam terdapat seorang anak muda yang bertiarap tidak sadarkan diri, itulah Kang Han Cing !
Untuk jelasnya, bagaimana ular Lindung bisa mati dan bagaimana Kang Han Cing memasuki ruangan rahasia ini mari kita balik sebentar.
*** TERNYATA Kang Han Cing sadar sesudah Co Hui Hee dibawa pergi oleh Jie Kiongcu.
Perasaan nomor satu adalah perutnya yang keroncongan, tentu saja terlalu lama tidak diisi, maka merasa lapar.
Langkah pertama diarahkan ke bagian dapur, seperti apa yang sudah ditemukan Co Hui Hee, Kang Han Cing juga melihat adanya ruang rahasia dibawah tanah itu.
Ia menuruni tangga gelap, didalam keadaan yang belum sadar betul, kaki Kang Han Cing jatuh kedalam kolam air.
Kang Han Cing memang tidak bisa berenang, apa lagi belum sadar 100 persen, terasa sekali air dingin yang meresap tulang, hampir2 membuat ototnya menjadi kejang.
Ia berusaha ber-ontak2 dengan maksud mencari tepian kolam itu.
Sedikit dari adanya kolam didalam ruang rahasia Nenek Ular, adanya kolam ini untuk memelihara sejenis ular campuran, namanya Ular Lindung, sangat bermanfaat untuk menambah tenaga dan menghidupkan kembali daging2 yang rusak, Ular Lindung dipelihara untuk menyembuhkan penyakit lumpuh Nenek Goa Naga Siluman, karena mengalami masuk api, terkena pukulan Sepasang Dewa dari daerah Tong hay.
Ular lindung segera melilit Kang Han Cing yang jatuh ke tempat kolam itu, sangkanya adalah makanan yang disediakan oleh sang majikan.
Terjadi pergumulan diantara binatang air itu dan Kang Han Cing, tentu saja kedudukan Kang Han Cing semakin lemah, lilitan Ular lindung semakin keras, hampir membuat si pemuda tidak bisa bernapas.
Putra Datuk Selatan memang luar biasa, didalam keadaan krisis itu, tiba2 Kang Han Cing menggunakan giginya, menggigit kepala Ular lindung.
Sesuatu yang kebetulan itu memang tidak mudah terjadi, tapi bukan berarti mustahil, disini timbul pula sesuatu proses kebetulan, gigitan Kang Han Cing tepat berada di tempat 7 cun, tempat yang menjadi kelemahan golongan binatang ular.
Terjadi berita yang bisa digembar-gemborkan orang, manusia menggigit ular !
Ya !
Untuk menolong jiwanya dari ancaman maut, apapun bisa digigit olehnya.
Kini Kang Han Cing menggigit apa saja yang berada didepannya, demi mencari usaha untuk mencari kebebasan dari ancaman maut.
Kalau saja di-bagian2 lain, tidak mungkin Kang Han Cing bisa berhasil.
Ular Lindung adalah hasil basteran Nenek Ular, hasil perkawinan seekor ular dan lindung raksasa, tidak mudah mengerjakan tugas yang semacam ini.
Tokh Nenek Ular berhasil juga.
Dengan sabar ditungkulinya sehingga 30 tahun, dan hari2 itu adalah hari2 yang bersejarah untuk mengambil penetapan itu.
Sisik2 tebal dan kuat dari Ular Lindung tidak tergigit, bagian 7 cun yang lemah itu terkait gigitan Kang Han Cing.
Dasar nasib sang ular yang sudah seharusnya menyumbang darah berkhasiat.
Dasar rejeki jago kita yang bagus maka bisa terjadi hal itu.
Menceritakan Kang Han Cing, terasa cairan amis memasuki tenggorokannya.
Terasa juga lilitan Ular Lindung yang semakin keras.
Terjadi pergumulan yang lebih seru.
Manusia kontra Ular Lindung !
Kang Han Cing tidak berani mengendurkan gigitannya, lepas berarti menyerah kepada gigitan sang ular.
Demikian ia menerima semburan darah Ular Lindung yang amis, melalui kerongkongan masuk kedalam perut, demikian sehingga darah itu mengalir habis dari pemiliknya.
Lilitan Ular Lindung mulai mengendur, akhirnya terlepas.
Kang Han Cing bebas dari lilitan, tapi lain bahaya mulai mengancam, itulah bahaya keracunan darah Ular Lindung yang mengamuk didalam perputaran dirinya.
Terasa kepala yang memberat, matapun mulai ber-kunang2, Kang Han Cing tidak bisa meneruskan pertahanannya, lagi2 ia jatuh pingsan !
Nenek Ular tiba terlambat beberapa jam dari kejadian2 itu.
Matanya menjadi liar, bagaimana ia memberi langsung jawabnya kepada Nenek Goa Naga Siluman ?
Mengingat pentingnya darah Ular Lindung !
Timbul rasa bencinya kepada Kang Han Cing, pemuda yang jatuh terhampar di tepian kolamnya inilah yang mengacaukan hati-hati remaja Sun Hui Eng dan Co Hui Hee, sesudah itu membunuh pula Ular Lindung yang disembunyikannya dibawah tanah.
Nenek Ular mengeluarkan pisau belati, dengan maksud mau membunuh Kang Han Cing yang sudah tidak berdaya.
Tentu saja, didalam keadaan yang seperti itu, tidak mungkin Kang Han Cing memberi perlawanan, baru saja sembuh dari keracunan Jarum Ular, ditimpa lagi keracunan Ular Lindung, bagaimana mungkin mempertahankan diri dari tusukan belati Nenek Ular ?
Beruntung Tuhan masih melindungi diri jago kita.
Sebelum pisau belati Nenek Ular tertancap pada sasaran, tiba2 terpikir ide baru, betapa pentingnya darah anak muda ini, mungkin bisa menggantikan darah Ular Lindung.
Diperiksanya sebentar, dan betul saja, Kang Han Cing membunuh mati Ular Lindung dengan cara satu2nya, itulah menyedot darah ular via 7 cun dari kepala sang binatang.
Sebagai seorang akhli obat2an, dan aneka macam bisa racun, Nenek Ular berhasil mencari jalan keluar dari kesulitan yang akan dihadapi.
Nenek Goa Naga Siluman membutuhkan darah Ular Lindung yang berumur tiga puluh tahun.
Syarat itu sudah terpenuhi, bedanya Ular Lindung berumur tiga puluh tahun sudah dibunuh oleh Kang Han Cing.
Darah ular itu sudah berada didalam perut si pemuda, apa bedanya menyerahkan darah Kang Han Cing yang sudah bercampuran dengan darah Ular Lindung itu ?
Satu penemuan baru !
Menyerahkan Kang Han Cing kepada Nenek Goa Naga Siluman berarti memberi 2 macam darah luar biasa, itulah darah Ular Lindung dan darah Kang Han Cing yang terlatih sempurna.
Perpaduan darah itu akan lebih hebat dari satu macam darah saja.
Putusan Nenek Ular tidak akan tergoyah, dia akan menyerahkan darah segar Kang Han Cing kepada Nenek Goa Naga Siluman.
Sesudah itu, berhasil atau tidaknya dari penyakit lumpuh si nenek, hal itu bisa diurus kemudian hari.
Nenek Ular bertepuk girang .
"Sesudah menyerahkan bocah ini kepada Sri Ratu, bebaslah tugasku."
Yang diartikan Sri Ratu oleh Nenek Ular adalah guru Toa Kiongcu dkk yang mendapat julukan Nenek Goa Naga Siluman itu.
Kini Nenek Ular mengasah otak, bagaimana membawa Kang Han Cing meninggalkan Lembah Ular, mengingat semakin meningkatnya jumlah jago-jago Lembah Baru yang sedang berkeliaran disekitar tempat tinggalnya.
Kesulitan inipun bisa dipecahkan segera.
Dasar Nenek Ular yang banyak akal.
Caranya lain dari pada yang lain.
Bagaimanakah Nenek Ular membawa Kang Han Cing meninggalkan Lembah Ular yang sudah terjaring oleh jago2 Lembah Baru ?
Mari kita mengikuti cerita pada bagian selanjutnya.
*** Bab 80 SEORANG NENEK buruk dengan kerudung kepala berwarna hitam, memayang seorang gadis dengan wajah tertunduk, mereka meninggalkan Lembah Ular.
Para pembaca bisa menduga, siapa adanya kedua orang itu, mereka adalah si Nenek Ular dan Kang Han Cing.
Ternyata si nenek pandai mencari akal, untuk mengelakkan kerewelan2 orang2 dari Lembah Baru yang sedang disebar untuk mencari jejak Kang Han Cing dan Cu Liong Cu, agar bisa tiba di tempat tujuan dengan aman, si nenek meriasi jago kita, dipoles dan didandani, terciptalah 'perawan kesiangan', wajah si pemuda memiliki type halus, tidak sukar menjadikannya sebagai seorang wadam.
Karena Kang Han Cing masih berada didalam keadaan tidak sadar, ia harus memayang dan menjinjingnya.
Tidak ada cerita yang perlu diceritakan sehingga mereka tiba dikota Yen-ciu.
Agaknya Nenek Ular juga kewalahan karena harus memayang dan menentengnya terus menerus, yang lebih berat lagi adalah, perjalanan itu tidak boleh menarik perhatian umum, tepatnya ialah, harus tampak wajar !
Dan ini membawa banyak beban untuknya.
Tiba dikota Yen-ciu, sang nenek mencari sebuah rumah makan untuk mengisi perut, begitu memasuki rumah makan itu, tampak suasana lain dari pada yang lain, banyak jago-jago rimba persilatan yang bermata tajam.
Memilih tempat dipojok, Nenek Ular memesan makanan.
Tidak jauh dari tempat si nenek bersama-sama Kang Han Cing terdapat lain tamu, itulah seorang tosu tua berjubah biru, kalau ada yang mengenalinya, sekali sebut terciptalah nama sang tosu, siapa lagi kalau bukan ketua kelenteng Pek yun koan Tian hung Totiang !
Tian-hung Totiang duduk seorang diri, seperti juga Cu Hoay Uh, Tian-hung Totiang berada di tempat ini karena mencari jejak Cu Liong Cu, ia tidak berhasil, kini sedang duduk terpekur memikirkan, dimanakah lenyapnya si Putri Beracun ?
Kesepian Tian hung Totiang tidak berlangsung lama, karena masuknya seorang pemuda berbaju biru, inilah putra Datuk Utara, namanya Lie Wie Neng !
Lie Wie Neng segera berhasil menemukan Tian hung Totiang, menghampiri dan memberi hormat.
Tian-hung Totiang bangkit dan menyambut kedatangan Lie Wie Neng.
"Bagaimanakah, apa ada berita baru ?"
Ia bertanya.
Lie Wie Neng menggelengkan kepala, inilah suatu tanda kalau rombongannya juga tidak berhasil menemukan jejak orang yang dicari.
Seorang pelayan rumah makan menghampiri mereka, menanyakan pesanan makanan.
"Tolong sediakan makanan untuk 7 orang."
Berkata Lie Wie Neng.
"Tidak lama lagi merekapun tiba."
Ternyata pencarian Cu Liong Cu memakan banyak tenaga, bagi jago2 istimewa seperti Kang Han Cing, Cu Hoay Uh dan Tian hung totiang, cukuplah berjalan seorang diri, bagi mereka yang kurang kuat, dibantu oleh beberapa orang, Lie Wie Neng dikawal oleh 2 jago dari Yen-san dan 4 Jendral Keluarga Lie.
Dua jagoan dari gunung Yen-san adalah Khong Bun Hai dan Yo Su Kiat.
Empat Jendral Keluarga Lie adalah Lie Cun, Lie Hee, Lie Ciu dan Lie long.
Dua jago dari gunung Yen-san dan empat Jendral Keluarga Lie adalah tokoh2 silat dari Datuk Utara, sekarang mendapat tugas mengawal ketua muda mereka.
Seperti apa yang Lie Wie Neng katakan, begitu meja dan makanan siap, anak buah jago2 Datuk Utara itupun sudah tiba, semua memberi hormat kepada Tian hung Totiang dan Lie Wie Neng.
"Bagaimana hasil penyelidikan kalian ?"
Bertanya Tian-hung Totiang.
"Tidak ada tanda2 sama sekali."
Jawab Khong Bun Hui.
"Juga Cu Hoay Uh cianpwe, mengikuti jejak Kang Han Cing, juga turut lenyap, tidak ada kabar berita lagi."
"Mungkinkah Kang han cing dan kakek Beracun bisa jatuh kedalam tangan mereka ?"
Tian hung Totiang berkerut alis.
Dugaan si ketua kelenteng Pek-yun-koan tidak meleset jauh, itu waktu Cu Hoay Uh masih berada dimarkas Ngo hong-bun, Kang Han Cing berada ditangan Nenek Ular.
Bagaimana kekuatan Cu Hoay Oh ?
Bagi para pembaca yang belum mengenal asal usul si Kakek Beracun, dipersilahkan mencari buku dengan judul Manusia Beracun.
Lie Wie Neng menenggak air minumnya, menyetujui pendapat Tian-hung Totiang, ia turut membuka suara .
(Bersambung 24) ***
Jilid 24
"KEKUATAN NGO HONG BUN memang tidak boleh dipandang ringan, sampaipun saudara Kang Han Cing turut lenyap, inilah suatu bukti kalau mereka mempunyai jago2 yang kuat."
Mereka mempersoalkan urusan Kang Han Cing, tidak seorangpun yang tahu kalau lakon pembicaraan mereka itu sudah berada didalam satu rumah makan yang sama, hanya terpaut beberapa meja saja.
Nenek Ular turut mengikuti pembicaraan mereka, duduk dengan hati berdebar2, sangat gelisah, takut2 kalau penyamaran Kang Han Cing bisa diketahui orang.
Hatinya mengucapkan seribu doa, mengharapkan orang2 itu cepat pergi.
Dan hal ini tidak mungkin, karena orang2 dari Lembah Baru menggunakan rumah makan tersebut sebagai tempat yang ditunjuk untuk berkumpul dan tukar menukar berita.
Ternyata rencana Tan Siauw Tian tidak berhasil seratus persen, menggunakan siasat "Memancing Macan Meninggalkan Sarangnya"
Menggunakan 2 perahu sebagai umpan, para jago Lembah Baru berhasil mengubrak-abrik Goa Sarang Tawon, mereka mendapat gambaran yang cukup jelas.
Kang Han Cing sudah memberitahu dimana kira2 letak Goa Sarang Tawon itu, maka markas cabang Ngo-hong-bun yang bisa tembus ke kelenteng Sin-ko-sie berhasil dihancurkan.
Disini mereka berhasil.
Dilain pihak, mereka kehilangan Cu Liong Cu dan Kang Han Cing yang ditugaskan sebagai umpan.
Dan disini mereka mengalami kegagalan !
Tidak seberapa lama, datang pula belasan orang, mereka adalah Tan Siauw Tian, Kong Kun Bu dkk.
Tentu saja, Kong Kun Bu yang sekarang adalah Kong Kun Bu asli karena Kong Kun Bu penyamaran Co Hui Hee sudah pecah sama sekali.
Seperti juga Tian hung Totiang dan Lie Wie Neng, kedatangan Tan Siauw Tian dkk tidak banyak menolong, mereka datang dengan tangan kosong.
Tidak seorangpun yang berhasil menemukan jejak2 Cu Liong Cu, Kang Han Cing dan Cu Hoay Uh.
Kedatangan jago2 Lembah Baru itu membuat pemilik rumah makan ketakutan setengah mati, mengetahui kalau resiko dari hadirnya jago-jago rimba persilatan itu bisa membahayakan usahanya, mereka melayani dengan lebih ber-hati2.
Yang lebih kejepit adalah Nenek Ular, seperti menduduki kursi berduri, ia sedang mencari jalan untuk meninggalkan tempat tersebut.
Tentu saja ia tidak berani lengah, mengingat bahwa lawannya berupa jago-jago istimewa.
Rumah makan itu semakin meriah dengan kedatangan Goan Tian Hoat, sebagai jago cerdik pandai, Goan Tian Hoat membawa berita baru.
Tukang jual teh kedapatan mati, walau pihak Ngo hong-bun sudah menggunakan air keras melenyapkan bukti2, dengan ketelitian Goan Tian Hoat, ia berhasil menemukan bekas2nya.
Sesudah membikin penyelidikan di sekitar daerah itu, maka kematian tukang jual teh itu tidak bisa disangsikan lagi.
Bukan itu saja yang dibawa oleh Goan Tian Hoat, jago Hay yang-pay kita mengeluarkan dua macam tanda bukti, itulah kerudung hitam Cu Liong Cu dan Jarum Ular.
Diperlihatkannya kepada semua orang.
Kerudung hitam tipis adalah milik Cu Liong Cu, semua orang tidak menyangsikan lagi.
Dan semuapun bisa membuktikan kebenaran itu.
Tian-hung Totiang berkerut alis.
"Rasa2nya, Cu Liong Cu sudah jatuh kedalam tangan Ngo hong-bun. Entah bagaimana keadaan Kang Han Cing dan Cu Hoay Uh?"
Ia mengutarakan perasaannya.
"Mungkinkah berhasil menolong si Putri Beracun ?"
Menunjuk ke arah Jarum Ular Goan Tian Hoat berkata .
"Jarum ini kedapatan tidak jauh dari kerudung tipis, mungkinkah benda milik Cu Liong Cu juga ?"
Tan Siauw Tian memeriksa dengan teliti, menoleh kearah Tian hung Totiang dan mengajukan pertanyaan .
"Perut jarum ini tidak berisi, sudah kosong, tentunya ada sesuatu yang disempurnakan dari tempat asalnya. Kukira bukan milik Cu Liong Cu. Bagaimana pendapat Totiang?"
Tian-hung Totiang juga seorang akhli tabib, ia memeriksa beberapa saat dan berkata .
"Tepat ! Isi jarum adalah semacam racun ular yang luar biasa sekali. Kukira bukan milik si Putri Beracun."
Kong Kun Bu berkata .
"Cu Hoay Uh cianpwe ayah dan anak perempuannya tidak memelihara ular. Pasti bukan milik mereka."
"Aaaa......"
Tiba2 Tian-hung Totiang bertepuk kepala.
"Adanya benda ini mengingatkan aku kepada seseorang."
"Tentunya seorang jago silat tua."
Berkata Goan Tian Hoat.
"Siapakah orang itu ?"
"Nenek Ular."
Berkata Tian-hung Totiang.
"Nenek Ular ?"
Lie Wie Neng belum pernah dengar nama ini.
"Ya."
Tian-hung Totiang menganggukkan kepala.
"Nenek Goa Naga Siluman mempunyai seorang dayang kepercayaannya yang bernama Nenek Ular, demikian semua orang menyebutnya seperti itu, karena tidak ada yang tahu siapa nama aslinya. Nenek tua inilah yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi, dan khususnya obat2an dan racun2 dari segala macam ular."
"Bagaimanakah ciri2 Nenek Ular ?"
"Ia suka mengenakan pakaian warna hitam, berkerudung kepala hitam, istimewa mengenakan gelang tangan jambrut, bukan jambrut biasa, kalau orang begitu saja ingin kepada gelang jambrutnya itu, maka mereka akan segera celaka, gelang "jambrut"
Itu adalah sepasang ular beracun, setiap waktu bisa memagut orang."
"Oh ! Dimanakah si Nenek Ular ?"
"Tempatnya sudah tidak jauh dari kita,"
Berkata Tian hung Totiang.
Semua mata terarah kepada nenek dan 'perawan kesiangan'nya !
Dan Nenek Ular sudah siap melepaskan ular2nya, kalau perlu mengadakan perlawanan kelas berat.
Tian hung Totiang meneruskan cerita .
"Kini Nenek Ular menempati Lembah Ular yang tidak jauh dari tempat ini."
Dan tokoh bersangkutan yang namanya baru disebut mengeluarkan napas lega.
"Kalau betul senjata rahasia ini berasal dari Nenek Ular, tentunya Cu Liong Cu berada di tempat itu. Mari kita segera mendatangi Lembah Ular,"
Tan Siauw Tian memberi usul.
Itu waktu, Nenek Ular berhasil memanggil pelayan rumah makan, dan mengatakan kepada pelayan itu, kalau anak perawannya "sakit keras", minta tolong dipanggilkan sebuah kereta.
Pelayan rumah makan membutuhkan tip dan persenan, tanpa perintah kedua segera melaksanakan permintaannya.
Terdengar suara gelinding kereta yang menuju ke arah rumah makan itu.
"Popo, kereta sudah siap !"
Muncul pelayan itu dan meneriakinya. Maka nenek ini memayang anak 'perempuannya", dengan mulut penuh kesayangan berkata .
"Oh, anakku sayang, biar ibumu yang menggendong. Kita segera sampai dirumah. Kereta sudah datang."
Kedua orang itu meninggalkan rumah makan, berjalan didepan hidung-hidungnya para jago-jago Lembah Baru.
Tidak seorangpun yang tahu kalau mereka adalah Nenek Ular dan Kang Han Cing.
*** Bab 81 SEBUAH KERETA meninggalkan kota Yen-ciu, mereka membawa seorang nenek dan seorang banci, dengan arah tujuan kota Heng-ciu, seperti apa yang sudah dipesankan oleh sipelayan rumah makan.
Kini kota Heng-ciu sudah berada didepan mata, kusir kereta semakin bersemangat, tidak lama lagi ia menerima uang sewa dan selesailah tugas itu.
"Lo-popo,"
Katanya.
"Didepan adalah kota Heng-ciu, dimana kalian akan turun ?"
"Terus......Terus jalan,"
Berkata Nenek Ular. Kereta memasuki pintu Utara, melewati jalan2 yang penuh sesak, dan akhirnya tiba dipintu Selatan.
"Lo-popo."
Berkata lagi sang kusir.
"Sudah berada diujung pintu."
"Terus.....Terus......!"
"Terus lagi sudah bukan kota Heng-ciu."
"Ya ! Tentu saja."
"Uang sewa kereta dijanjikan hanya sampai kota Heng ciu."
Sang kusir keberatan.
"Terus. Akan kuberi tambahan,"
Berkata Nenek Ular.
Maka kereta pun keluar kembali, meninggalkan pintu Selatan kota Heng ciu.
Kusir kereta hanya bisa mengomel didalam hati, mendapat janji uang tambahan itu, rasa dongkolnya hanya bisa disimpan begitu saja.
Kereta itu masih diteruskan kedepan, sehingga memasuki daerah pegunungan.
"Kemana nih ?"
Ia bertanya lagi.
"Terus lurus !"
Perintah sang nenek.
"Maju lagi adalah daerah pegunungan."
"Apa kita orang dilarang menetap didaerah pegunungan ?"
Bentak si nenek.
"Oh.....Oh......Bukan itu yang dimaksudkan,"
Cepat2 sang kusir memberi koreksi.
"Daerah pegunungan susah dilalui kereta."
"Apa sudah tidak bisa dilalui lagi ?"
"Sekarang masih bisa. Tapi hanya kurang lebih 10 lie, sesudah itu, kereta tidak bisa menanjak keatas."
"Cukup. Sekarang teruskan saja perjalanan."
Kereta masih terus maju kedepan, semakin lama semakin lambat, jalanpun menjadi kecil, akhirnya tidak bisa diteruskan karena menanjak keatas. Terpaksa kereta dihentikan.
"Apa sudah tidak bisa diteruskan lagi ?"
Bertanya sang nenek rewel.
"Lo-popo, hanya bisa sampai disini saja,"
Berkata sang kusir.
"Betul2 tidak bisa terus lagi."
"Baiklah."
Nenek Ular keluar dari kereta itu.
"Kau tahu tempat apakah ini ?"
"Siok-sek po,"
Sang kusir membanggakan pengetahuannya.
"Sesudah melewati Siok sek po, didepan adalah On-leng."
"Dan sesudah itu ?"
"Puncak yang menjulang tinggi itu adalah puncak gunung Tulang ikan. Eh, mungkinkah lo-popo belum pernah ke tempat ini?"
Kusir kereta memandang sang nenek dengan perasaan heran.
"Siapa bilang aku belum pernah ke tempat ini?"
Berkata Nenek Ular.
"Aku hanya hendak menguji pengalamanmu selama menjadi kusir kereta. Kalau2 kau tidak bisa menyebut nama tempat."
Sang kusir tertawa.
"Ha, ha....."
Dia belum sadar kalau maut sudah mengintai sangat dekat.
"Bagi kita orang yang harus bernapas diatas kereta, sedikit banyak harus mempunyai pengetahuan yang semacam ini. Bagaimanapun harus bisa nama2 tempat yang belum dan mau dilalui. Tempat ini memang sangat sepi. Baru kali ini aku melakukan perjalanan, tapi ti...."
"Dan inipun untuk terakhir kalinya,"
Sambung si nenek.
Dikala sang kusir memandang dengan perasaan penuh tanda tanya, nenek Ular memamerkan "gelang jambrutnya', maka sepasang gelang hidup itu meletik, memberi pagutan maut.
Seperti apa yang dicetuskan oleh sang nenek, perjalanan kusir kereta ke tempat itu adalah perjalanannya yang terakhir, kini arwah sang kusir melayang-layang ke akherat.
Dengan menyeringai seram, Nenek Ular berkata .
"Siapa suruh kau bisa menyebut nama gunung Tulang Ikan ? Demi keamananku dan keamanan Sri Ratu sekalian. Apa boleh buat."
Jelaslah sudah, kemana Kang Han Cing mau dibawa.
Tentu saja kearah gunung Tulang Ikan, ditempat inilah Sri Ratu Goa Naga Siluman mengasing dan menyembunyikan diri, memelihara kesehatan badannya.
Mengapa golongan Perintah Maut mau melebur diri kedalam partay Ngo-hong-bun?
Karena dibelakang Ngo hong-bun berdiri seorang tokoh kuat, Nenek Goa Naga Siluman yang ditakuti dan disegani.
Dan dimanakah sarang pusat partay Ngo hong bun ?
Tentu saja dipuncak gunung Tulang Ikan itu !
Nenek Ular menenteng Kang Han Cing menuju kearah gunung Tulang Ikan.
Sesampainya digunung Tulang Ikan, sang nenek disambut oleh Kepala Keamanannya yang bernama Pang Khong Goan, memandang ke arah Kang Han Cing yang masih berada dipunggung sang nenek, Pang Khong Goan bertanya .
"Coa Khu Po, siapakah yang kau bawa itu ?"
Nama Nenek Ular Co Khu Po ! "Seseorang yang diingini oleh Sri Ratu."
Jawab sang nenek.
"Apa kau tidak mau minum teh ditempatku dahulu ?"
Bertanya Kepala Keamanan Pang Khong Goan.
Sebagai seorang kepala keamanan seharusnya Pang Khong Goan memiliki kedudukan yang lebih tinggi, apa mau Nenek Ular menjadi dayang Nenek Goa Naga Siluman, karena itulah menyulitkan kedudukannya.
Ia tidak berani mencegah, maka dengan mengajaknya minum teh, ia bisa memberitahu kalau nenek itu ada membawa seseorang.
Nenek Ular bisa menangkap arti yang disembunyikan oleh Pang Khong Goan, dengan sungguh2 ia berkata .
"Apa kau tahu, siapa orang ini ? Dia adalah orang yang ditunjuk oleh Sri Ratu, harus diantar segera !"
"Siapakah dan bagaimana asal usulnya sehingga Sri Ratu begitu tertarik ?"
Tanya Pang Khong Goan.
"Huh !"
Dengus sang nenek.
"Terang2an saja kau hendak mempersulit diriku. Lihat !"
Sang nenek mengeluarkan tanda pengenal kebebasan jalan Ngo-hong-bun, tanda itu berupa tulang ikan yang terbuat dari batu kumala, khusus disediakan kepada mereka yang mendapat perintah langsung dari Nenek Goa Naga Siluman.
Melihat adanya tanda bebas jalan itu, Pang Khong Goan tidak berani mempersulit lagi, dipersilahkannya Nenek Ular membawa Kang Han Cing melewati pos penjagaan.
Nenek Ular tidak banyak bicara, menenteng Kang Han Cing, ia memasuki lorong rahasia, lorong itu berada di perut gunung, kurang lebih satu lie, menembus di bagian lain, cahaya matahari seperti biasa, disinilah yang bernama Istana Naga, tempat persembunyian Nenek Goa Naga Siluman yang dirahasiakan.
Kalau didepan, si nenek mendapat pencegatan Pang Khong Goan, disini terjaga oleh seorang nenek gemuk, kedudukannya sama2 dengan Nenek Ular, namanya Kui Ku Po dengan nama julukan Nenek Bunga, dia adalah kepala barisan pengawal istana Naga.
Kui Ku Po memperhatikan orang yang digendong oleh Nenek Ular, menyipitkan mata dan mengajukan pertanyaan .
"Coe Khu Po, siapa yang dibawa ?"
"Tokoh penting."
"Tokoh penting ?"
"Ya ! Darah orang ini sangat dibutuhkan Sri Ratu."
"Sri Ratu membutuhkan darah orang ini? Mengapa aku tidak pernah tahu menahu ?"
Sebagai tangan kanan Nenek Goa Naga Siluman, Kui Ku Po harus serba tahu, hanya ia belum pernah tahu tentang adanya kebutuhan darah orang dari majikannya, karena itu wajib mengajukan pertanyaan.
"Darah orang ini bisa digunakan untuk menyembuhkan tangan kanan Sri Ratu,"
Coa Khu Po memberi keterangan.
"Oooo....Begitu ! Baiklah, tinggalkan saja dia disini."
Berkata Kui Ku Po. Maksudnya meminta Kang Han Cing.
"Sri Ratu sangat....."
"Sri Ratu sedang bersemedhi. Tidak boleh mendapat gangguan."
Kui Ku Po memberi keterangan.
"Hanya pada saat tertentu saja beliau bersedia menemui orang."
"Oh,"
Berkata Coa Khu Po.
"Tidak mengapa. Biar menunggu saat itu saja."
Kui Ku Po bertepuk tangan, maka dari istana Naga keluar 2 dayang pelayan, kepada dayang inilah, ia berkata .
"Bawa orang ini ke kamar dibawah tanah !"
Kedua dayang itu saling pandang sebentar, yang dikanan mewakili kawannya berkata .
"Lapor kepada Kui congkoan, ruang dibawah tanah hanya ada 2 buah kamar. Dan kedua2nya itu sudah penuh..."
"Aku tahu,"
Kui Ku Po tidak puas.
"Dijadikan satu saja dikamar nomor 2."
Kedua dayang itu membungkukkan badan, menghampiri Nenek Ular, meminta Kang Han Cing dari gendongannya. Nenek Ular masih ragu2, memandang Kui Ku Po dan berkata .
"Cicie Kui, orang yang kubawa ini bukan manusia biasa. Ada baiknya kalau berhati-hati. Apa tidak bisa memisahkannya disatu kamar tersendiri ?"
Kui Ku Po tertawa.
"Istana Naga disediakan untuk Sri Ratu istirahat. Tentu saja tidak menyediakan kamar tahanan. 2 buah kamar dibawah tanah itupun berada didalam keadaan darurat, sedianya hendak dihadapkan kepada Sri Ratu, berhubung Sri Ratu masih berada di dalam keadaan bersemedhi itu, maka sementara digunakan sebagai kamar darurat. Seseorang yang sudah berada didalam Istana Naga, apa masih diragukan bisa melarikan diri ?"
"Tapi......Tapi......"
Wajah Kui Ku Po berubah dengan tidak senang, berkata .
"Apa kau tidak percaya kepadaku?"
"Bukan tidak percaya,"
Nenek Ular Coa Khu Po masih belum mau menyerahkan Kang Han Cing kepada 2 dayang yang sudah menyodorkan tangan itu.
"Tapi.......Tapi........"
"Hmm......"
Kui Ku Po mengeluarkan suara dengusan dari hidung.
"Takut kehilangan bagian pahala ? Baiklah. Pegangi sendiri orang tawananmu itu. Tunggu saja sampai tengah malam. Mungkin Sri Ratu bisa menyelesaikan penyemedhiannya."
Sesudah itu, Kui Ku Po membalikkan badan, siap meninggalkan Nenek Ular. Cepat2 Nenek Ular berteriak .
"Kui cicie, jangan marah. Baiklah."
Sambil menyerahkan Kang Han Cing kepada dayang istana.
Kedua dayang itu mengambil orang yang diserahkan dan berjalan pergi.
*** DISEBUAH kamar berdinding hitam yang sangat gelap, dikamar inilah Kang Han Cing mendapat tahanan sementara, sambil menunggu vonis Sri Ratu Naga Siluman, sesudah nenek itu selesai menekunkan pelajaran semedhinya.
Baru sekarang si pemuda sadar dari "istirahat jangka panjangnya".
Istirahat jangka panjang adalah reaksi dari minum mabuk-mabukan dari sedotan darah Ular Lindung yang tidak disengaja, hasil perpaduan dari obat Thian-kie-in-kang-tan.
Dimisalkan orang lain yang menyedot darah Ular Lindung itu, tidak bisa disangsikan lagi, orang tersebut akan mati kembung di tempat !
Memang Kang Han Cing luar biasa, ia mendapat obat Thian-kie-in-kang-tan, dengan pemakanan obat ini, ia berhasil menghindarkan dari mati kembung darah ular.
Obat Thian-kie-in-kang tan membantu darah Kang Han Cing menerima aliran darah Ular Lindung, disebarkan ke sekujur badan, dan hasil itu memang luar biasa.
Didalam kamar gelap itu bukan hanya Kang Han Cing seorang, karena ia mendapat dandanan wanita, Coa Khu Po tidak menerangkan jenis kelaminnya, hal ini menjadikan Kui Ku Po salah paham, sangkanya orang yang digendong Coa Khu Po itu wanita biasa, dan didalam Istana Naga tidak tersedia kamar lainnya, maka disatukan sekamar dengan salah satu lakon dari dalam cerita ini -Sun Hui Eng !
Adanya Sun Hui Eng di tempat itu berstatus sebagai orang tawanan, bersama2 Co Hui Hee menunggu keputusan guru mereka, si Nenek Goa Naga Siluman.
Masing2 terpisah disatu kamar.
Dan kamar yang ditambah Kang Han Cing adalah kamar Sun Hui Eng.
Sesudah Kang Han Cing sadar, orang yang pertama ditemukannya adalah Sun Hui Eng, itu waktu Sun Hui Eng sedang membelakanginya, tidak tampak wajah, hal ini membuat si pemuda mengajukan pertanyaan .
"Eh, dimana aku berada? Siapakah nona?"
Tentu saja Kang Han Cing berbicara dengan suara asli.
Sun Hui Eng terkejut, kalau tadi ia menyangka kepada kawan sejenis, kini dugaan itu keliru.
Dan rasa kagetnya itu bertambah, takutnyapun timbul berbareng, masakan dia disatukan dengan laki2
"asing" ? "Hai !"
Ia berbalik cepat.
"Kau laki-laki?"
Mereka saling tatap dan Kang Han Cing mengenali kepada Sam kiongcu Ngo hong bun Sun Hui Eng.
"Sam kiongcu ?"
Rasa heran dan tidak mengerti bercampur aduk menjadi satu. Sun Hui Eng memperhatikan "wajah"
Yang bisa menyebut lengkap kedudukannya itu, tentu saja ia tidak bisa mengenali, mengingat dandanan Kang Han Cing yang begitu molek.
"Kau kenal diriku?"
Ia bertanya heran.
"Sam kiongcu lupa kepadaku ?"
Bertanya Kang Han Cing.
Pemuda ini juga heran, bagaimana Sun Hui Eng secepat itu tidak lagi kenal kepadanya?
Hal ini bisa dimaklumi, karena Kang Han Cing tidak tahu kalau Nenek Ular Coa Khu Po sudah mengubahnya menjadi seorang "perawan kesiangan"
Yang mengenakan pakaian wanita.
"Kau.....?! kau......."
Sun Hui Eng mengenali suara Kang Han Cing, tapi suara itu dianggap keluar bukan dari mulut asli Kang Han Cing, keluar dari mulut seorang "gadis"
Yang tidak dikenal. Terbayang khayalan yang bukan2. Mungkinkah orang "kemasukan" ? kemasukan roh Kang Han Cing yang sudah mati terkena Jarum Ular? "Oh !"
Sun Hui Eng menutup wajahnya dan menangis sesenggukan.
"Betul2 kau mati penasaran. Sukmamu belum rela pergi dari....oh....."
"Apa ? mati penasaran ?"
Kang Han Cing baru sempat memperhatikan pakaiannya.
"Eh, siapa yang menggantikan pakaianku ?"
"Jie kongcu,"
Sambat Sun Hui Eng.
"Hidupkupun tidak lama lagi. Oh.....Bawalah aku turut serta....Pergi ke tempat duniamu yang sudah abadi itu....."
"Sam Kiongcu."
Berkata Kang Han Cing.
"Aku belum mati."
"Belum mati ? Bagaimana suaramu bisa masuk ke orang lain ?"
Sesudah berkutet beberapa waktu, Sun Hui Eng bisa diberi mengerti, kalau "perawan kesiangan"
Yang berada di satu kamar dengannya itu betul2 Kang Han Cing asli.
Mereka saling tukar pengalaman, mengertilah sudah, apa saja yang sudah menimpa diri mereka.
Kang Han Cing menceritakan pengalamannya yang seperti terjadi di dalam dongeng seribu satu malam itu.
"Kalau begitu, ular didalam ruang bawah tanah Coa Khu Po yang menolong dirimu ?"
"Kira2 demikianlah."
"Siapa yang menggantikan pakaianmu seperti ini ?"
Bertanya Sun Hui Eng.
"Mana kutahu. Baru saja aku sadar sekarang."
"Oh......"
"Eh, dimanakah kita berada sekarang ?"
"Istana Naga."
"Istana Naga ?"
"Istana Naga adalah tempat guruku,"
Sun Hui Eng memberi keterangan.
"Goa Naga Siluman ? Oh......kau ditawan oleh gurumu?"
Bertanya Kang Han Cing.
"Aku ditipu mentah2 oleh Co Hui Hee."
Sun Hui Eng memberi keterangan.
"Tapi belum bertemu dengan guruku."
"Siapa yang menawanmu ditempat ini ?"
"Jie sucie."
"Apa gurumu bisa percaya kepada keterangan Jie suciemu ?"
"Go sumoay Co Hui Hee bisa memberikan kesaksian2nya."
Sun Hui Eng menangis, kalau memikirkan nasib mereka. Sedari adanya sejarah, belum pernah ada tawanan Istana Naga yang lolos dari kematian.
"Sudahlah. Jangan menangis lagi."
Kang Han Cing meng-elus2 gadis itu.
"Seharusnya aku gembira karena kau masih segar bugar. Tapi.....tapi kau jatuh ke tangan Ngo hong bun, agaknya kita sudah ditakdirkan mati bersama."
"Jangan menangis,"
Kang Han Cing meng-elus2.
"Biar kudebat gurumu nanti."
Cepat2 Sun Hui Eng menjulurkan tangannya yang halus, ditempatkan ke mulut si pemuda, dengan perlahan berkata .
"Jangan bicara seperti itu....."
Terasa satu rangsangan yang hebat, Kang Han Cing bertahan sekeras mungkin, ia berkata .
"Mengapa ?"
"Suhu tidak suka orang mendebatnya."
Sun Hui Eng memberi keterangan.
"Masih lumayan kalau kita mau menyerah. Tapi jangan sekali2 menentang kemauannya, apa lagi mendebat, hal itu akan menimbulkan sesuatu yang lebih buruk."
"Apa tidak lebih baik, kalau kita melarikan diri ?"
Kang Han Cing memberi usul.
"Tidak semudah itu. Istana Naga bukan sembarang tempat. Tidak ada kesempatan untuk melarikan diri."
"Kau rela mempasrahkan diri di tempat ini ?"
Tanya Kang Han Cing.
"Oh....."
Si gadis menubruk dan memeluk Kang Han Cing, menangis ter-isak2.
"Kita akan berusaha melarikan diri dari tempat ini."
Putusan Kang Han Cing tidak bisa tergoyah.
Pendirian seorang manusia akan lebih kuat bilamana mendapat dukungan dari orang yang dipercaya, terutama dukungan seorang kekasih.
Begitu juga keadaan Sun Hui Eng, biarpun ia tidak mempunyai pegangan kuat bisa melarikan diri dari Istana Naga, ia tidak mau membantah kekasih itu, dari pada mati konyol mempasrahkan diri, lebih baik mencobanya sekali, siapa tahu kalau berhasil ?
Memang demikianlah maksud tujuan dari si empunya cerita.
Kang Han Cing berhasil menyeret Sun Hui Eng, melarikan diri dari kamar tahanan.
Kamar tempat mengurung mereka bukanlah kamar tahanan khusus, pada tubuh Kang Han Cing masih terselip pedang lemas pemberian nenek Wie Tay Kun, si Nenek Ular hanya menggantikan pakaian luarnya, tidak mencopot bulat, karena itu pedang lemas bisa dipertahankan.
Singkatnya, mereka berhasil membongkar kamar itu.
Tentu saja disaat diluar tidak ada orang.
Memang !
kamar mereka tidak terjaga, penjagaan Istana Naga sudah cukup kuat, belum pernah ada orang yang ditawan disitu, dan juga belum pernah ada yang melarikan diri dari Istana Naga.
"Pinjamkan pedang itu kepadaku."
Sun Hui Eng menyodorkan tangan. Kang Han Cing menyerahkan pedang Kim liong-kiam. Sesudah menerima pedang itu, Sun Hui Eng berkata .
"Kau lari kearah kanan, ingat, begitu ada tikungan, belok kanan. Ingat betul2 kanan. Sesudah menemukan tangga batu, kau harus menaikinya dengan kecepatan kilat, lompat keluar dan menyembunyikan diri di semak2, sebelah kanan ! Tunggu aku di tempat itu."
"Kau tidak turut serta ?"
Bertanya Kang Han Cing heran.
"Kalau mau melarikan diri jangan kepalang tanggung. Aku mau menolong Cu Hoay Uh dan Cu Liong Cu."
Ternyata Kakek dan Putri Beracun juga berada di tempat itu, tertawan oleh pihak Ngo-hong-bun.
"Kalau mau menolong orang, mengapa kita tidak menolong ber-sama2 ?"
Bertanya Kang Han Cing.
"Disini masih banyak dayang2 istana, kalau denganku seorang, mereka belum tentu berteriak. Lain lagi kalau melihat kau turut serta dibelakangku. Mereka bisa mengacaukan rencana."
"Baiklah."
"Ingat ! Kalau ada tikungan, harus mengambil arah yang dikanan, tahu ?"
"Nngg....."
Mereka segera berpisah, Kang Han Cing melarikan diri kearah kanan, dan Sun Hui Eng masih berusaha menolong Cu Hoay Uh dan Cu Liong Cu.
*** Bab 82 MENGIKUTI PERJALANAN Kang Han Cing.
Ia kurang paham seluk-beluk keadaan Istana Naga, karena itu lebih berhati2.
Mengayun langkah demi langkah, sesudah betul2 tahu tidak ada orang didepannya.
Seperti apa yang Sun Hui Eng pesan, setiap ada tikungan, ia mengambil arah yang sebelah kanan, inilah jalan keluar dari Istana Naga.
Belasan tikungan sudah dilewatkan, tapi masih juga belum menemukan undakan tangga batu.
Suatu bukti betapa luas dan misteriusnya Istana Naga itu.
Kang Han Cing berpikir .
"Mungkinkah salah jalan ?"
Disaat itu terdengar suara derap langkah kaki yang sedang mendatangi kearahnya, cepat2 Kang Han Cing menyembunyikan diri di tikungan sebelah kiri.
Dua dayang istana berjalan sambil mengobrol, mereka tidak menduga kalau ada orang mau melarikan diri.
Karena munculnya dua dayang istana itu yang menyesatkan arah Kang Han Cing, untuk menyelamatkan dirinya, si pemuda lari ke arah lorong yang sudah ditempuh.
Itulah jalan kiri !
Berjalan lurus ke depan, Kang Han Cing menemukan jalan bercabang, satu ke kanan dan satu ke kiri.
Kalau tadi ia lengah dan mengambil jalan salah, kini teringat kembali pesan Sun Hui Eng, ia menempuh yang kanan.
Lorong itu menemukan ujungnya, terhias oleh gantungan2 permata, sangat indah dan menarik.
Menyangka kepada jalan keluar, secepat kilat Kang Han Cing menerobos tempat tersebut.
"Eh, anak perawan siapa yang masuk ke dalam Istana Naga ?"
Terdengar satu suara.
Kang Han Cing salah jalan, bukannya keluar dari istana, tapi salah masuk ke kamar terhias bagus itu.
Kini didepannya duduk bersila seorang nenek, wajahnya sangat buruk, hidungnya mancung lurus, dengan mata mencelong ke dalam.
Nenek inilah yang mengajukan pertanyaan.
"Cianpwe yang bertanya?"
Kang Han Cing memandang nenek itu.
"Hei, anak perjaka ? Mengapa kau mengenakan pakaian perempuan?"
"Ada hubungan apa denganmu ?"
Balik tanya Kang Han Cing.
"Ha, ha...."
Nenek itu tertawa.
"Puluhan tahun ini, kau yang pertama kali berani menentang kata2ku."
"Mengapa tidak berani?"
Tantang terus Kang Han Cing.
"Kita sama2 tidak tahu menahu, bukan?"
"Eh, sesudah menemuiku, kau tidak tahu siapa diriku ?"
"Kau......kau Nenek Goa Naga Siluman ?"
"Bedebah !"
Sepasang sinar mata nenek itu menjadi liar, sebentar kemudian redup kembali. Dengan tenang berkata .
"Gunakanlah istilah yang lebih sopan, kalau kau minta dirimu lebih dihormati orang."
Secara tidak terduga, Kang Han Cing sudah menerobos masuk ke dalam kamar semedhi si Nenek Goa Naga Siluman.
"Hei, siapa namamu?"
Bertanya si nenek.
"Boanpwe Kang Han Cing."
"Kang Han Cing ?"
"Ya ! Mengapa ?"
"Hmm....menurut keterangan Sin Hui Siang, seorang pemuda bernama Kang Han Cing memelet Co Hui Hee dan Sun Hui Eng secara serentak. Kau itukah orangnya?"
"Boanpwe memang Kang Han Cing. Tapi tentang cerita itu bukanlah cerita yang sebenarnya."
"Huh ! A Pie !"
Si nenek memanggil keluar.
"Siap !"
Seorang dayang perempuan berlari masuk. Inilah yang bernama A Pie.
"Sri Ratu ada perintah baru ?"
"Pergi ambil air sebaskom, suruh orang ini membersihkan wajahnya yang celomotan itu,"
Perintah Nenek Goa Naga Siluman.
"Siap,"
Dayang istana yang bernama A Pie mengundurkan diri.
Tidak lama kemudian ia sudah balik kembali dengan menenteng ember untuk cuci muka yang sudah terisi air, disodorkannya ke depan Kang Han Cing.
Bukan maksud tujuan Kang Han Cing menyembunyikan diri dibalik wajah belepotan bedak itu, hal mana terjadi karena pandainya si Nenek Ular membawa orang.
Sesudah menemukan air dan mendapat kesempatan itu, Kang Han Cing membersihkan wajahnya.
Terpeta kembalilah sebuah wajah pemuda yang tampan, walau masih mengenakan pakaian wanita, wajah itu tidak menghilangkan cahaya sang putra Datuk Selatan.
Tampak sekilas senyuman di bibir Nenek Goa Naga Siluman, menganggukkan kepala memberi pujian .
"Betul2 pemuda ganteng. Pantas saja kalau Co Hui Hee dan Sun Hui Eng bisa jatuh cinta. Eh, siapakah yang memberi pelajaran ilmu silat kepadamu? Kulihat kau memiliki kekuatan yang luar biasa."
"Suhu boanpwe Ciok-kiam Sianseng !"
Jawab Kang Han Cing.
"Pendekar Bambu Kuning Ciok-kiam Sianseng ?"
Ulang Nenek Goa Naga Siluman kurang yakin kepada keterangan itu.
"Aku tidak percaya. Bagaimanapun si Ciok-kiam Sianseng tidak akan bisa mendidik seorang murid yang seperti dirimu."
"Mengapa tidak bisa? Apa sebelumnya ada yang percaya kalau guru cianpwe berhasil menciptakan tokoh tenar seperti cianpwe?"
"Ha, ha......kau adalah jago pertama yang berani menentang diriku,"
Berkata Nenek Goa Naga Siluman. Kemudian menoleh kearah A Pie.
"A Pie,"
Perintahnya.
"Sediakan seperangkat pakaian laki2, suruh dia ganti pakaian."
"Mari ikut aku,"
Berkata A Pie. Kang Han Cing turut kepada A Pie, ia mengundurkan diri, sebelum itu ia memberi hormat kepada Nenek Goa Naga Siluman dan berkata .
"Banyak terima kasih atas perhatian dan kasih cianpwe."
Di dalam masih mengenakan pakaian perempuan, agaknya kelakuan Kang Han Cing itu sangat lucu, Nenek Goa Naga Siluman tertawa kecil.
"Semua orang takut kepadaku, hanya kau seorang yang tidak, mengapa?"
Ia bertanya.
"Mengapa harus takut?"
Berkata Kang Han Cing.
"Didalam anggapan boanpwe, tidak ada sesuatu dari tingkat cianpwe yang menakutkan. Cianpwe cukup ramah dan bijaksana."
"Ha, ha.....lekas kau turut A Pie untuk ganti pakaian,"
Nenek Goa Naga Siluman bangga karena mendapat pujian yang seperti itu.
Kang Han Cing mengundurkan diri.
A Pie sudah menyerahkan kepadanya seperangkat pakaian pria dan membiarkan si pemuda ganti pakaian.
Sesudah merapikan diri, Kang Han Cing dipersilahkan menghadap Nenek Goa Naga Siluman yang ke 2 kalinya.
Seorang dayang perempuan lain sudah berada di tempat itu dan sedang memberi laporan .
"Lapor kepada Sri Ratu, diluar sudah menunggu Coa Khu Po yang hendak minta bertemu."
Hati Kang Han Cing mencelos, kalau sampai Nenek Ular menghadap Nenek Goa Naga Siluman, bisakah ia menghindari diri dari kesulitan2 itu ?
Ternyata rasa takut Kang Han Cing itu bisa mereda sesudah mendengar putusan Nenek Goa Naga Siluman yang menolak permintaan bertemunya sang dayang lama, katanya .
"Katakan kepada Coa Khu Po, aku masih ada tamu. Tunggulah sebentar."
Dayang istana itu mengundurkan diri.
Nenek Goa Naga Siluman menggapaikan tangan, ia menggunakan tangan kiri karena tangan kanannya sudah Masuk Api, karena terluka dibawah tangan kedua orang tua Tong Jie Peng.
"Anak muda,"
Katanya.
"Duduk disini. Banyak yang hendak kutanyakan kepadamu."
Kang Han Cing duduk di tempat yang sudah ditunjuk.
"Anak muda,"
Bertanya lagi Nenek Goa Naga Siluman.
"Berapa umurmu?"
"Boanpwe 19 tahun."
"Hee....Co Hui Hee berumur 20, lebih besar 1 tahun. Dan Sun Hui Eng 18, satu tahun lebih kecil dari umurmu."
Kang Han Cing sulit mengelakkan persoalan yang menyangkut kedua murid nenek itu, ia bungkam. Nenek Goa Naga Siluman bertanya lagi .
"Bagaimana keadaan rumah tanggamu? Siapa2 saja yang masih ada? Berapa saudara?"
"Boanpwe hanya mempunyai seorang saudara tua."
"Ouw....saudaramu sudah beristri?"
"Belum."
"Dan kau?"
"Umur boanpwe masih terlalu kecil untuk mengikuti persoalan itu."
"Ouw.....apa sudah ada tunangan."
"Belum."
"He, he.....syukurlah....syukurlah....."
Nenek ini tertawa terkekeh.
"Eh, apa kau bersedia belajar silat dariku ?"
"Boanpwe sudah mempunyai guru,"
Jawab Kang Han Cing.
"Tidak baik merubah pintu perguruan. Atas kebaikan hati cianpwe itu boanpwe hanya bisa mengucapkan terima kasih."
"he, he....memang murid berbakti. Aku tidak memaksa untuk mengganti pintu perguruan, maksudku untuk memberi petunjuk2 penting, mengingat bakat2mu yang memang luar biasa, kalau saja bersedia menetap di tempat ini 2 atau 3 bulan, pasti akan tercipta seorang anak muda tanpa tandingan yang pertama."
"Sebetulnya tidak baik menolak kebaikan hati cianpwe, tapi....."
"Eh, Co Hui Hee dan Sun Hui Eng mempunyai kecantikan yang hampir sama, siapa diantara kedua muridku itu yang lebih mencocoki seleramu?"
"Cianpwe salah paham. Sebetulnya perkenalan boanpwe dengan mereka hanya berjalan...."
"Ha, ha......sudahlah.....! aku tahu. Memang jamak kalau lelaki mata keranjang. Yang ini cinta, yang itu sayang. Begini saja kuatur, tinggallah untuk beberapa waktu, per-lahan2, kau bisa memilih satu diantara kedua muridku itu."
"Cianpwe......"
"Tidak perlu diragukan. Mereka mendapatkan didikan langsung dariku. Mungkin seimbang dengan ilmu yang kau miliki. Agar tidak dikatakan aku berat sebelah. Begini saja kuatur. Tidak salah lagi, pilihan mereka tidak salah. Aku bukan ibu kandung mereka, tapi semua kudidik sedari kecil. Hubungan kami lebih erat dari ibu dan anak, anggap saja aku sebagai mertua sendiri. Ha, ha, ha, ha......."
"Cianpwe......"
"Nah ! kukira cukup sampai disini. Aku hendak menemui Coa Khu Po. Kau boleh mengundurkan diri."
"Terima kasih."
Kang Han Cing memberi hormat dan meninggalkan tempat itu.
"Tunggu dulu !"
Tiba2 Nenek Goa Naga Siluman berteriak.
Kang Han Cing hendak cepat2 meninggalkan tempat itu, ingin sekali tidak menggubris panggilan tadi, tapi ia tahu sampai dimana ilmu kepandaian sang Sri Ratu, tindakan itu adalah tindakan berbahaya.
Maka dengan amat terpaksa ia balik kembali.
Nenek Goa Naga Siluman mengeluarkan sesuatu, diserahkannya kepada Kang Han Cing dan berkata .
"Istana Naga tidak bisa disamakan dengan tempat biasa. Peganglah ini, agar kau bebas dari gangguan2 mereka."
Itulah tanda bebas jalan untuk seluruh Istana Naga, ukiran tulang ikan yang terbuat dari pada batu kumala.
Kang Han Cing menerima hadiah itu, membungkukkan badan dan memberi hormat, demikian ia mengundurkan diri, tidak lupa mengucapkan terima kasihnya.
Nenek Goa Siluman tersenyum puas dan mengoceh seorang diri .
"Sungguh anak muda yang tahu diri. Jarang sekali ada pemuda yang hormat seperti ini."
Lebih daripada jarang, hanya Kang Han Cing seorang yang bisa menemukan pengalaman2 seperti tadi.
Bagaikan orang yang bebas dari vonis hukuman, Kang Han Cing keluar dari kamar semedhi Nenek Goa Naga Siluman.
Ia tidak berani melarikan diri, karena mengingat bahaya yang masih mengancam.
Berjalan beberapa waktu, memilih lorong2 yang tepat, sesudah jauh, baru ia mengayun langkahnya cepat2.
Kali ini ia tidak banyak mendapat kesusahan, menemukan jalan yang benar dan keluar dari lorong tangga undakan batu.
Keluar dari goa rahasia, waktu sudah malam, disana disambut oleh Sun Hui Eng.
Dengan kecemasan yang tidak terhingga, si gadis menegur .
"Mengapa lama sekali?"
"Aku ditahan oleh gurumu."
Kang Han Cing memberi keterangan.
"Heh ?!!"
Sun Hui Eng memperhatikan pakaian Kang Han Cing yang sudah ganti pakaian pria, hatinya penuh tanda tanya.
Secara singkat diceritakan pengalamannya yang sesat jalan itu.
Dan kini mereka meneruskan pelariannya.
Jumlah mereka 4 orang, Sun Hui Eng berhasil melepas Cu Hoay Uh dan Cu Liong Cu.
Keluar dari istana, mereka berlari2 diantara semak2, dengan adanya Sun Hui Eng sebagai petunjuk jalan, mereka tidak banyak mengalami kesulitan.
Dikala hendak melewati pos penjagaan si Kepala Keamanan Pang Khong Goan, dengan tenang Sun Hui Eng mendekati tempat itu.
"Siapa?"
Terdengar suara bentakan Pang Khong Goan.
"Paman Pang, aku !"
Sahut Sun Hui Eng.
"Oh ! Sam kiongcu, mau kemana ?"
Bertanya si Kepala Keamanan Tulang Ikan.
"Suhu memberi sesuatu tugas, tolong paman Pang buka pintu."
"Dan mereka ?"
"Mereka bekas anak buah Perintah Maut, tentu saja turut serta."
"Sam kiongcu jangan menjadi gusar. Tunggulah sebentar. Biar kuhubungi Kepala Istana Kui Ku Po."
"Mengapa harus menunggu Kui Ku Po? Tugas ini sangat penting, tahu?"
"Eh, tidak percaya? Hayo ikut kepada suhuku."
Sun Hui Eng mulai cemas, ia berlagak galak. Disebutnya tanda Tulang Ikan membuat hati Kang Han Cing tergerak, ia turut bicara .
"Sam kiongcu, apa perlu memperlihatkan tanda Tulang Ikan?"
Sun Hui Eng tidak menyangka kalau Kang Han Cing memiliki pas jalan Istana Naga, sangkanya hanya gertak sambel saja, karena itu ia berkata .
"Tugas kita harus dirahasiakan. Mengapa harus memperlihatkan tanda Tulang Ikan?"
"Paman Pang bukan orang luar."
Berkata Kang Han Cing.
"Tidak ada salahnya kalau memperlihatkan tanda Tulang Ikan kepadanya. Nah! Tanda Tulang Ikan berada disini, lekas buka pintu !"
Betul2 Kang Han Cing memperlihatkan tanda Tulang Ikan yang didapat dari Nenek Goa Naga Siluman.
Mengenali kepada tanda kebesaran itu, Pang Khong Goan memberi perintah kepada orang2nya untuk membuka pintu gerbang.
Disaat ini terdengar suara lonceng bahaya dibunyikan !
Dua orang berbaju hitam yang membuka pintu gerbang menjadi ragu2, sebelum mereka sempat menutup pintu kembali, Sun Hui Eng dkk sudah bergerak cepat mencelat dari sela2 pintu gerbang itu.
Pang Khong Goan menerima code tanda bahaya, wajahnya berubah, melihat kelakuan Sun Hui Eng dkk yang mencurigakan, ia turut mengejar.
"Sam kiongcu,"
Teriaknya.
"Tunggu dulu !"
Cu Hoay Uh berada di paling belakang, mengetahui datangnya bahaya pengejaran, ia mengebutkan lengan baju.
"Tidak perlu menyusahkan diri,"
Katanya.
"Kami bisa berjalan sendiri."
Sepintas lalu kebutan Cu Hoay Uh itu hanya kebutan biasa saja, kenyataannya mengandung satu kekuatan besar yang tidak tampak.
Menyerang Pang Khong Goan.
Sebagai Kepala Keamanan Gunung Tulang Ikan, Pang Khong Goan tidak mudah ditipu mentah2, ia bisa melihat gelagat yang kurang baik, cepat2 mengerahkan tenaga dalam, memukul kebutan si Kakek Beracun.
Terjadi benturan tenaga, tubuh Pang Khong Goan terpental balik.
Disaat itu, ia melihat orang2nya yang hendak mengejar, maka berteriak memberi peringatan .
"Awas, pukulannya yang beracun!"
Ternyata Cu Hoay Uh memberi sedikit permainannya, membuat Pang Khong Goan keracunan, karena itu si Kepala Keamanan tidak bisa meneruskan pengejarannya, ia harus duduk bersila, mendesak keluar benih2 racun yang memasuki tubuhnya.
Cu Hoay Uh, Cu Liong Cu, Kang Han Cing dan Sun Hui Eng melarikan diri.
Mereka di-kejar2 oleh 16 orang Pang Khong Goan.
Beruntung mendapat peringatan si Kepala Keamanan, 16 pengawal keamanan itu tidak berani mengejar terlalu dekat, takut kalau kena racun lagi.
Keadaan yang seperti inipun sudah sangat menyulitkan Sun Hui Eng dkk, mereka tidak bisa membebaskan diri dari pengejaran orang2 itu.
Sun Hui Eng memandang Kang Han Cing bertiga.
"Kalian lari dahulu, biar kuhadapi mereka itu."
Katanya sambil menunggu para pengejar2nya.
16 orang pengawal keamanan mengurung gadis itu.
Sun Hui Eng memperhatikan mereka, satu persatu ditatapnya dalam2, kemudian memandang seorang yang menjadi pemimpinnya seraya membentak .
"An Kie To, apa maumu?"
"Hamba hanya mendapat perintah,"
Jawab orang yang dipanggil An Kie To itu.
"Kau berani?"
Bentak Sun Hui Eng.
"Sam kiongcu, kembalilah ber-sama2 kami,"
Berkata An Kie To merendah.
"Tutup mulut !"
Bentak Sun Hui Eng.
"Seperti inikah kau bicara denganku ?"
"Sam kiongcu......"
Sedang mereka adu mulut tidak ada habisnya, dari jauh terdengar satu suara teriakan nyaring.
"Tangkap! Tangkap Sam kiongcu yang mau kawin lari !"
Itulah suara Go kiongcu Co Hui Hee !
Wajah Sun Hui Eng berubah, meninggalkan rombongan An Kie To, mengejar ke arah larinya Kang Han Cing.
Sebentar kemudian mereka berkumpul kembali.
Tetap dikejar oleh 16 orang anak buah Pang Khong Goan.
Dengan adanya pembuntutan2 yang seperti itu, tentu saja sangat memudahkan pengejaran pihak Ngo hong bun.
Sebentar kemudian, Co Hui Hee berhasil menyusul tiba, dengan disertai oleh seorang nenek gemuk, inilah kepala istana Naga Kui Ku Po.
Dibelakang mereka turut juga si Nenek Ular Coa Khu Po.
"Tangkap perawan lari ! Tangkap perawan melarikan laki2 !"
Teriak Co Hui Hee tidak berhenti. Sun Hui Eng mendelikkan mata.
"Go sumoay,"
Tegurnya.
"Apa kau tidak bisa menggunakan mulut yang lebih bersih?"
"Mau apa?"
Rasa cemburu Co Hui Hee bertambah besar, manakala melihat Kang Han Cing yang mendampingi dan merapat disebelah sang sucie.
"Go kiongcu,"
Mengetengahi nenek bunga Kui Ku Po.
"Sam kiongcu, kalian tidak usah bertengkar mulut. Sri Ratu sudah tahu urusan ini, lebih baik kalian balik kembali. Biar Sri Ratu yang memberi putusan."
"Aku tidak mau kembali,"
Teriak Sun Hui Eng.
"Sam kiongcu......."
"Bibi Kui Ku Po,"
Berkata Sun Hui Eng dengan airmata bercucuran.
"Baiklah. Aku bersedia kembali, asalkan kalian bersedia membebaskan mereka."
"Itu tidak mungkin."
Kui Ku Po menolak.
"Perintah Sri Ratu belum pernah dibantah ! Orang yang dikehendaki adalah pemuda she Kang itu."
"Aku disini,"
Teriak Kang Han Cing.
"Mau apa?"
"Han Cing,"
Sun Hui Eng menubruk dan mendekap dada si pemuda.
"Jangan kau turut campur. Pergilah segera. Biar aku turut dengannya. Didepan suhu, ia bisa membela diriku. Legakanlah hatimu."
Melihat mereka bermesra-mesraan, Co Hui Hee meludah .
"Cih ! tidak tahu malu. Pacar2anpun harus memilih tempat dahulu."
Kakek Beracun Cu Hoay Uh tampil kedepan, ia berteriak keras .
"Cukup ! siapapun tidak perlu berdebat. Apa yang kalian kehendaki? Aku Kakek Beracun tidak akan tinggal diam."
"Cu Hoay Uh !"
Bentak Kui Ku Po.
"Bukankah kau hendak menemui Sri Ratu? Kini beliau sudah selesai bersemedhi, mengapa kau sudah tidak ingin menemuinya lagi?"
"Tidak perlu,"
Cu Hoay Uh sudah siap sedia.
"Aku sudah berhasil menemukan putriku, kini hendak pulang dahulu."
Memandang kearah Kang Han Cing dan Sun Hui Eng, si kakek berkata .
"Mari kita pulang. Siapa yang berani menghadang peryalanan, dia akan belajar dengan permainan2 racunku."
"Masih mau lari?"
Co Hui Hee menyelak diantara rombongan orang2 itu.
"Go kiongcu,"
Cu Hoay Uh memberi peringatan.
"Kalian saudara seperguruan janganlah berlaku kelewatan."
"Huh ! Siapa yang sudi menjadi saudara seperguruannya orang yang sudah gila laki?"
"Go sumoay....."
"Apa ? Apa salah ?"
Lagi2 Cu Hoay Uh menyelak ditengah, mendorong Sun Hui Eng dan berkata .
"Berangkatlah dahulu."
Dihadapinya Co Hui Hee dan berkata .
"Go kiongcu, jangan katakan aku tidak mengenal budi."
Lagi2 ia mengibaskan lengannya, memaksa Co Hui Hee pergi dari tengah jalan.
Satu kali letikan badan, Co Hui Hee belum mau menyerah, itu waktu Sun Hui Eng dan Cu Liong Cu sudah lari jauh, para anak buah Pang Khong Goan hanya berdiri mematung, tidak membuat pencegatan.
Hal ini membuat ia naik darah dan memaki kepada orang2 itu .
"Hei, apa kalian sudah menjadi mayat hidup? Mengapa tidak berusaha menahan larinya mereka?"
Cu Liong Cu tersenyum kecil.
"Tepat !"
Sambungnya.
"Mereka sudah menjadi mayat2, tapi bukan mayat hidup. Mereka sudah menjadi mayat mati."
Satu kali sapuan tangan, 8 pengawal keamanan Gunung Tulang Ikan jatuh roboh. Mereka terkena racun si gadis. Di pihak lain, Nenek Ular Coa Khu Po menerjang Kang Han Cing.
"Kembalikan Ular Lindungku !"
Teriaknya penasaran.
Benturan tidak bisa dielakkan, tubuh Coa Khu Po terbanting jatuh, manakala membentur kekuatan Kang Han Cing yang luar biasa.
Kang Han Cing tertawa mengejek, memperhatikan keadaan nenek itu, ia masih siap menerima serangan2 berikutnya.
Coa Khu Po berusaha bangkit kembali, sepasang matanya yang sipit dikernyitkan, dengan kebencian yang tidak terhingga, ia bekoar .
"Kau berani, he? Nah, rasakan kehebatan si Nenek Ular."
Ia sudah mencopot sepasang "Gelang jambrut"nya, dilempar kearah si pemuda. Sun Hui Eng berteriak .
"Han Cing, awas ular beracun!"
Sudah terlambat !
kedua ular itu melingkar seperti gelang, dari kiri dan kanan, meluncur ke arah si pemuda.
Kang Han Cing masih menganggap sebagai senjata rahasia biasa, dengan satu kali sawut, kedua "Gelang"
Itu sudah berada didalam genggamannya.
Semua orang akan tertipu, Kang Han Cing tidak terkecuali !
Begitu miripnya ular jambrut itu tidak seorangpun yang akan menduga, termasuk pemuda kita, terpeganglah segera.
Kini dua ekor ular itu menggunakan taringnya, menggigit pergelangan tangan Kang Han Cing, menyantel dan menggantung.
Tradisi lamanya, orang yang terpagut ular jambrut terkena keracunan, ular itu tidak akan lepas sebelum orang yang digigit mati biru.
Menyimpang dari tradisi2 itu, sepasang ular jambrut yang memagut pergelangan tangan Kang Han Cing kelojotan, bagaikan menggigit besi panas, cepat2 melepaskan taring mereka.
Terlalu lambat untuk diceritakan, disaat Kang Han Cing terjengkit karena gigitan ular2 itu, ia sadar kalau dirinya sudah tertipu, secepat itu mengeraskan pegangannya, ditariknya kekiri dan kekanan, kedua ekor ular itu terpotong menjadi empat bagian.
Dilemparkannya bangkai2 ular dan berteriak .
"Nenek jahat, hayo ! senjata aneh apa lagi yang kau miliki? Keluarkan semua!"
Mulut Coa Khu Po melompong lebar2 menyaksikan keadaan itu, hatinya terasa menjadi sedih, mengingat kedua ular kesayangannya itu dipotongi orang. Sepasang matanya menjadi liar, dengan geram berteriak .
"Aaaa......aku lupa kalau kau sudah minum darah Ular Lindung."
"Apa? Aku minum darah ular?"
"Belagak tolol ! Ular Lindung yang sudah kutungkuli selama 30 tahun di dalam kolam rahasia menjadi korbanmu. Huh ! Lekas kembali menemui Sri Ratu."
Co Hui Hee pernah melihat adanya ruang rahasia di bawah tanah dari bangunan ular. Itu waktu ia tidak sempat mendapat keterangan yang lebih jelas, dengan heran ia mengajukan pertanyaan .
"Eh, bibi ular, kau memelihara Ular Lindung dibawah ruang rahasia? Apakah kegunaan Ular Lindung itu?"
"Untuk menyembuhkan dan mengembalikan lengan kanan suhumu,"
Berkata Coa Khu Po.
"Tapi dicolong oleh anak muda ini, menjengkelkan tidak?"
Dihadapinya lagi Kang Han Cing dan membentak .
"Hayo ! Lekas kembalikan darah Ular Lindung itu. Kau boleh memberi keterangan kepada Sri Ratu."
Kang Han Cing baru mengerti apa yang telah menimpa dirinya, sehingga merasakan sesuatu yang lain, pantas saja tenaganya bertambah, ternyata ia sudah meminum darah Ular Lindung, sambil tertawa ia berkata .
"Baru saja aku dari Nenek Goa Naga Siluman."
"Huh ! Jangan kurang ajar."
"Apa yang kurang ajar? Aku memang sudah bertemu dengan Nenek Goa Naga Siluman."
"Sri Ratu ! Gitu !"
"Baik. Aku sudah menemui Sri Ratu,"
Berkata Kang Han Cing.
"Dan diapun menghadiahkan tanda bebas jalan Tulang Ikan yang terbuat dari batu kemala."
"Itu waktu beliau tidak tahu kalau kau sudah merampas darah Ular Lindungnya."
"Sesudah tahu, bagaimana?"
"Minta ganti rugi."
"Bagaimana harus memberi ganti kerugiannya?"
"Serahkan darahmu !"
"Mana bisa? Aku mati, bukan?"
"Jangan banyak rewel. Lekas ikut pulang ke Istana Naga !"
"Silahkan coba bila kau mampu mengalahkan diriku."
Berkata Kang Han Cing menantang.
Coa Khu Po sudah mengeluarkan ban pinggang, juga berupa ular beracun yang mempunyai kulit keras, kebal senjata, dilayangkannya ke arah si pemuda, dengan satu gerakan silat.
Kang Han Cing sudah mengeluarkan pedang lemas, dipapaskan kearah datangnya serangan itu.
Passs......ular kuat Coa Khu Po terpapas putus.
Mata si Nenek Ular semakin liar.
Kui Ku Po berteriak .
"Cicie, serahkan kepadaku."
Didalam keadaan seperti itu, permainan Coa Khu Po sudah kehabisan.
Ia menang di bidang racun2an, teristimewa meminta bantuan ular2nya, kini ular beracun tidak mempan, karena Kang Han Cing sudah meminum darah Ular Lindung.
Ular kuat yang digunakan sebagai senjatanya tidak guna, karena Kang Han Cing mempunyai pedang pusaka, kecuali menyerahkan sang lawan kepada Kui Ku Po, memang tidak ada jalan lain.
Karena itu ia mengundurkan diri.
Kui Ku Po menggantikan kedudukan Coa Khu Po, menghadapi Kang Han Cing yang selalu siap tempur.
Ilmu kebanggaan Kui Ku Po bernama Ilmu Pukulan Angin Kiu-coan-ciang, istimewanya bisa menggempur lebih dari satu kali, mudah menghancurkan isi dalam lawan.
Kini digunakan memukul si pemuda.
Kang Han Cing menyimpan kembali pedang pusaka, dilipat dipinggang.
Menghadapi Kui Ku Po yang bertangan kosong, ia juga siap dengan telapak tangannya.
Terdengar beradunya kedua pukulan, masing2 tidak dapat mempertahankan kedudukan semula.
Kui Ku Po menatap lawannya beberapa saat, ia mendapatkan anak muda itu tidak menderita kerugian sesuatu apa.
"Bagus,"
Geramnya.
"Terima lagi sekali pukulanku ini."
Tubuhnya berputar sebentar, dan Kui Ku Po melaksanakan ancamannya.
Kang Han Cing memanjangkan tangan, dengan jurus Pendekar Bambu Kuning yang bernama Ciang-liong-cut-hay, siap menerima pukulan Kui Ku Po.
Pukulan kedua Kui Ku Po yang sudah mendapat persiapan matang, kekuatannya bisa membelah perut gajah.
Didalam anggapannya, pukulan ini bisa menghancurkan Kang Han Cing, se-tidak2nya membuat pemuda itu jatuh ngeloso.
Mengingat rahasia simpanan pukulan angin Kiu-coan-ciang, anggapan Kui Ku Po memang masuk diakal.
Mana disangka kalau Kang Han Cing menghadapinya dengan tipu Ciang-liong-cut-hay, perlawanan yang menjadi momok dari segala macam pukulan magic hitam.
Sebelumnya Kang Han Cing sudah menyedot napasnya dalam2, maka sesudah terdengar bunyi benturan tenaga, kedudukannya tidak tergoyah lagi.
Hal ini membuat Kui Ku Po meng-garuk2 kepala, kalau didalam tahap pertama ia berhasil menggeser kedudukan bhesi si pemuda, mengapa pukulan kedua ini tidak membawa hasil yang diharapkan?
Sedang ia tahu betul kalau pukulan tenaga kedua tadi dikerahkan lebih besar dari tenaga pukulan pertama.
Mungkinkah bisa terjadi sesuatu, didalam sekejap mata Kang Han Cing menerima tambahan tenaga baru?
Kui Ku Po mana bisa mengerti, apa hasil ramuan darah Ular Lindung yang mendapat bantuan obat Thian-kie-in-kang-tan, semakin besar datangnya serangan semakin besar pula tenaga simpanan yang berada di dalam gudang urat.
Dengan cara pukulan Kui Ku Po yang menggunakan tenaga secara bertahap, secara tidak langsung membangkitkan tenaga listrik raksasa Kang Han Cing yang tersimpan.
Kalau gebrakan pertama menghasilkan kesudahan remis, gebrakan2 berikutnya tidak menguntungkan Kui Ku Po, semakin lama tampak Kang Han Cing yang semakin gagah, tentu saja kebalikan dari pada itu, si Nenek Bunga yang menyadi payah.
Beberapa kali lagi benturan, tubuh Nenek Bunga Kui Ku Po terpental ke belakang, tentu saja ia tidak tahan menerima kekuatan Kang Han Cing yang sudah bertambah berlipat ganda.
Co Hui Hee turun ke gelanggang, dihadapinya Kang Han Cing dengan tipu2 Tiga Pukulan Burung Maut.
Ganti lawan !
Kini Kang Han Cing menghadapi Co Hui Hee !
Menghadapi permainan2 ini, Kang Han Cing sudah apal, maka pertempuran berjalan seimbang.
Dilain pihak, Pang Khong Goan sedang menempur Kakek Beracun Cu Hoay Uh, ia mengejek sang lawan, dikatakan hanya pandai menggunakan racun2an dan tidak mempunyai kepandaian asli.
Hal ini membuat Cu Hoay Uh naik darah, diterimanya tantangan perang tanpa racun2an, dan ternyata mereka sama kuat, sama ulet.
Cu Hoay Uh berjanji didalam 100 gebrakan, ia tidak akan menggunakan racun dan pasti bisa mengalahkan Pang Khong Goan.
Pang Khong Goan juga berjanji didalam waktu 100 jurus itu, ia akan mengalahkan si Kakek Beracun tanpa bantuan orang.
Ia rela menyerahkan batok kepala, kalau tidak bisa melaksanakan janji itu.
Demikian pertempuran berjalan sengit.
Cu Liong Cu berhasil mengajak Sun Hui Eng menerobos kurungannya orang2 Istana Naga.
Tapi mereka masih mengkhawatirkan keselamatan Kang Han Cing.
Kalau Kang Han Cing bisa mengalahkan Coa Khu Po dan Kui Ku Po, mengapa tidak bisa mengalahkan Co Hui Hee?
Ya !
seharusnya Co Hui Hee tidak bisa berbuat banyak, mengingat ilmu kepandaian Go kiongcu yang masih berada dibawah jago muda kita.
Lain lagi kesudahannya, sesudah Tong Jie Peng memberi ilmu pelajaran hebat dari pulau Tong-hay, kini kita lihat si gadis menggerakkan jari2nya, dengan cara2 yang belum lama dipelajari, tanpa bisa dielakkan, tubuh Kang Han Cing terpental jauh, dengan sebelah tangan mati sebelah.
"Aaaa....."
Co Hui Hee mengeluarkan jeritan tertahan.
Cepat2 ia menubruk kearah pemuda yang dicintainya.
Disaat yang sama melihat Co Hui Hee berhasil merobohkan Kang Han Cing, kedua nenek tua, Coa Khu Po dan Kui Ku Po menubruk ke arah si pemuda.
Cu Liong Cu tidak mau ketinggalan, mengikuti jejak Sun Hui Eng, juga siap membantu Kang Han Cing.
Yang datang paling dahulu adalah Coa Khu Po dan Kui Ku Po, mereka menerkam Kang Han Cing.
Jago muda kita sudah tidak bisa menggerakkan tangan kanan, tapi sebelah tangan pun cukup mengelakkan sergapan kedua nenek tua itu, satu persatu dibuat terpental jauh.
Ber-sama2 dengan Cu Liong Cu dan Sun Hui Eng, dibawah apitannya kedua gadis itu, mereka melarikan diri.
"Ayah !"
Cu Liong Cu meneriaki si Kakek Beracun.
"Lekas selesaikan pertempuran itu."
Tentu saja kalau Cu Hoay Uh mau, ia bisa cepat2 melepaskan gas beracun untuk menyelesaikan pertempurannya dengan Pang Khong Goan, tapi itu melanggar peraturan dan menyimpang dari janjinya yang masih mampu mengalahkan lawan tanpa bantuan racun2an.
"Sebentar lagi,"
Ia meneriaki putrinya.
"Keadaan Jie kongcu sudah tidak mengijinkan kita lama2 berada di tempat ini."
Berkata Cu Liong Cu. Ya ! Kang Han Cing sudah kehilangan kekuatan tempurnya ! Cu Hoay Uh menahan satu serangan Pang Khong Goan, sesudah itu ia berteriak .
"Tahan !"
"Masih ada tiga jurus lagi !"
Berkata Kepala Keamanan Gunung Tulang Ikan yang masih penasaran.
"Tidak mungkin."
Mungkin atau tidak, si Kakek Beracun sudah bertekad meninggalkan lawannya, karena itu tanpa memperdulikan janjinya yang bersedia melayani sampai 100 jurus, tubuh Cu Hoay Uh melejit, meninggalkan lawannya, siap menggabungkan diri bersama2 Sun Hui Eng dkk.
"Jangan lari !"
Pang Khong Goan berteriak dan mengejar.
"Lanjutkan dahulu sisa 3 jurus yang belum selesai itu."
Ternyata mereka sudah bergebrak sebanyak 97 ronde.
"Sisa tiga jurus ini biar dilanjutkan lain kali saja."
Cu Hoay Uh tertawa dan tetap berlari.
"Tidak mungkin,"
Pang Khong Goan tidak setuju, dengan tinjunya yang keras, ia mengejar dan mengirim pukulan.
"Ha, ha......"
Cu Hoay Uh tertawa.
Tangannya terayun ke belakang, dari sana mengepul asap berwarna hitam, sebentar kemudian asap itu berkembang biak, menutup semua pemandangan.
Pang Khong Goan dkk menahan kaki mereka, mana mungkin kalau asap hitam si Kakek Beracun tidak disertai kombinasi istimewa?
Terhentilah pengejaran itu.
Tidak henti2nya Cu Hoay Uh melepas asap hitam, menggabungkan diri dengan Cu Liong Cu, Sun Hui Eng dan Kang Han Cing, mereka meninggalkan gunung Tulang Ikan.
Asap yang dilepas oleh si Kakek Beracun mana mungkin bisa disamakan dengan asap biasa !
tidak seorangpun dari pihak Ngo hong bun yang berani mengejar.
Dengan cara demikian, Kang Han Cing dkk bebas meninggalkan Istana Naga.
(Bersambung 25) ***
Jilid 25 ORANG PERTAMA yang menemukan rombongan Kang Han Cing dkk adalah Lie Wie Neng dan Goan Tian Hoat, dapat dibayangkan, betapa girangnya mereka, karena bukan Kang Han Cing seorang saja yang ditemukan, Cu Liong Cu dan Cu Hoay Uh yang tidak ada berita itupun tidak mengalami sesuatu apa.
Lie Wie Neng dan Goan Tian Hoat memandang kearah Sun Hui Eng, mereka tidak kenal kepada Sam Kiongcu dari Ngo hong-bun itu.
Keadaan Kang Han Cing menjadi payah sekali, sebelah tangannya praktis sudah tidak bisa digunakan.
Lebih dari pada itu, sedikit sentuhan ditempat lainpun bisa menyeret urat2 nadi yang menghubungkan ke tempat itu, rasa sakitnya tidak kepalang.
Ini akibat pukulan Go Kiongcu Co Hui Hee.
Ya !
Pukulan istimewa dari Tong-hay yang disediakan untuk membela Kang Han Cing membawa akibat yang sangat bertentangan.
Pukulan hadiah Tong Jie Peng ini pula yang menyiksa Kang Han Cing.
Pukulan istimewa daerah Tong-hay memang bukan pukulan biasa, siapa yang terkena pukulan itu, daging2nya akan berkerinyut sedikit demi sedikit, proses ini bisa berlangsung sehingga puluhan tahun, Nenek Goa Naga Siluman adalah suatu bukti.
Nenek Goa Naga Siluman mengasingkan diri dari rimba persilatan, bersembunyi didalam Istana Naganya yang dirahasiakan, karena ia sedang berkutat dengan siksaan2 sakit Ngo-hang-ciat-mek-ciang.
Pukulan Ngo hang-ciat-mek ciang adalah nama pukulan Tong hay itu !
Nenek Goa Naga Siluman terkena pukulan tersebut dari kedua orang tua Tong Jie Peng.
Dan kini Kang Han Cing terkena pukulan itu dari tangan Co Hui Hee.
Suatu hal yang tidak pernah dibayangkan oleh Tong Jie Peng.
Mengingat keadaan Nenek Goa Naga Siluman yang tidak bisa memadai rasa sakit itu, bagaimana Kakek Beracun bisa menyembuhkannya?
Putusan mereka, segera mengajak Kang Han Cing ke Lembah Baru !
Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan kendaraan perahu.
Per-tama2 tangan Kang Han Cing yang terkena pukulan membengkak, kemudian menyusut, semakin lama semakin kecil.
Hal ini mengherankan semua orang.
"Pukulan apakah ini?"
Semua orang hanya bisa ber-tanya2. Kakek Beracun Cu Hoay Uh memeriksa beberapa saat dan berkata .
"Dia seperti terkena semacam pukulan yang bernama in-khiu-pit-hiat."
"Pukulan jahat in-khiu-pit-hiat?"
Bertanya Lie Wie Neng.
"Pukulan dari manakah itu?"
"Pukulan in-khiu-pit-hiat adalah semacam pukulan beracun, bedanya, racun pukulan ini tidak seperti racun2 biasa. Menyerang secara per-lahan2, menyusutkan daging dan tulang2, sehingga saat ini belum ada cara menyembuhkannya."
Cu Hoay Uh memberi keterangan.
"Kalau tahu Co Hui Hee begitu jahat, kita racuni saja."
Berkata Cu Liong Cu dengan hati panas. Ia menoleh kearah Sun Hui Eng dan bertanya.
"Eh, kalian sebagai satu pintu perguruan, tentunya tahu bagaimana cara untuk menyembuhkan orang yang terkena pukulan in-khiu-pit-hiat ?"
Sun Hui Eng berkerut alis dalam2.
"Suhu tidak bisa ilmu in-khiu-pit-hiat."
Ia memberi keterangan.
"Heran ! dari mana Co Hui Hee mendapatkan pelajaran itu ?"
Goan Tian Hoat memandang Cu Hoay Uh.
"Cu cianpwe,"
Katanya.
"Menurut cianpwe, tokoh dari aliran mana lagi yang masih memiliki ilmu kepandaian in-khiu-pit-hiat?"
Mereka salah sangka, ilmu Ngo-hang-ciat-mek-ciang dari Tong-hay dianggap ilmu in-khiu-pit-hiat. Tentu saja Cu Hoay Uh tidak bisa memberi keterangan yang memuaskan, katanya .
"Ilmu in-khiu-pit-hiat boleh dikata sudah lenyap dari rimba persilatan. Bukan saja karena kesesatannya, juga karena tidak mudah melatih ilmu tersebut. Maka dikalangan tokoh2 silat yang sekarang rata2 sudah tidak mengenal ilmu sesat itu."
"Ya ! Dia sendiripun tidak mengenal ! Sun Hui Eng berkata .
"Menurut Toa sucie, sebelah tangan suhu juga rusak terkena pukulan Sepasang Dewa dari daerah Tong-hay. Mungkinkah ilmu in-khiu-pit-hiat yang dimaksudkan?"
Tiga puluh tahun yang lalu, Nenek Goa Naga Siluman kalah dibawah tangan Sepasang Dewa dari Tong-hay hanya tidak ada yang tahu, kalau sebelah tangan si nenek sudah rusak karenanya.
Dari keterangan Sun Hui Eng, mereka baru sadar mengapa Nenek Goa Naga Siluman tidak pernah menampilkan diri dimuka rimba persilatan, ternyata sudah rusak tangan.
"Kalau begitu, tidak ada orang yang bisa menolong luka saudara Kang?"
Bertanya Lie Wie Neng.
"Nasib seseorang berada di tangan Tuhan."
Berkata Kang Han Cing.
"Walau luka ini tidak bisa disembuhkan, aku tidak akan banyak pikiran."
Sedikit gerakan Kang Han Cing menggeser urat2 besarnya, terasa sakit yang tidak terhingga, ia meringis sakit.
"Jie kongcu luka dibawah tangan Go sumoay, tentunya ia bisa menyembuhkannya, mengapa kita tidak balik mencarinya saja?"
Sun Hui Eng memberi usul.
"Didalam Lembah Baru sedang berkumpul jago2 pandai."
Berkata Cu Hoay Uh.
"Masakan tidak satu diantara mereka yang mengetahui cara2 pengobatan in-khiu-pit-hiat?"
Menoleh kearah Lie Wie Neng dan berkata .
"Ciok-kiam sianseng berpengalaman luas, mungkin bisa menyembuhkan penyakit Jie kongcu. Sayang sekali gurumu itu belum tiba di Lembah Baru."
Sepasang mata Lie Wie Neng bercahaya terang, katanya .
"Kalau suhu betul2 bisa, syukur saja. Begitu mendengar berita tentang kita, pasti menuju ke Lembah Baru."
Perjalanan dilanjutkan.
Hari berikutnya, disaat perahu menepi, beberapa orang berpakaian ringkas menyambut mereka, tersedia juga kuda2 pilihan yang dikosongkan, khususnya untuk rombongan yang hendak menuju kearah Lembah Baru itu.
Ternyata pihak Lembah Baru telah mendapat berita dari penemuannya Kang Han Cing dkk, mereka adalah orang2 bawahan.
Salah seorang yang menjadi pemimpin rombongan itu memberi hormat dan berkata .
"Hamba sekalian ditugaskan untuk membawa kuda. Harap cuwie sekalian bisa menerima tunggangan2 ini agar lebih cepat tiba di Lembah Baru."
Cu Hoay Uh mewakili rombongannya menerima kuda2 itu, masing2 seekor, dari Lie Wie Neng, Goan Tian Hoat, dia sendiri, Cu Liong Cu, Sun Hui Eng dan Kang Han Cing.
Dari sekian banyak orang2 itu, keadaan Kang Han Cing yang seperti tidak mengijinkan, memandang si pemuda, Kakek Beracun bertanya .
"Apa Jie kongcu masih kuat naik kuda ?"
"Hanya luka ditangan ini tidak ada artinya."
Berkata Kang Han Cing sok sombong.
Dan ia menghampiri seekor dari 6 ekor kuda yang sudah tersedia.
Cu Hoay Uh sudah lompat kearah kuda yang pertama.
Sun Hui Eng mendekati Kang Han Cing, dengan penuh perhatian berkata perlahan .
"Keadaan lukamu belum sembuh betul. Bagaimana bisa melakukan perjalanan dengan kuda ?"
"Kukira aku masih bisa bertahan."
Berkata Kang Han Cing. Goan Tian Hoat menuntun seekor kuda yang tidak terlalu tinggi, mendekati Kang Han Cing seraya berkata .
"Jie kongcu, biar kupayang kau naik."
"Akh, masakan naik kuda saja harus dipepayang ?"
Kang Han Cing menolak.
Sesudah itu ia mengangkat sebelah kaki, dan lompat naik keatas kuda tersebut.
Segala sesuatunya itu tidak bisa dipaksakan, keadaan Kang Han Cing yang mengalami totokan Ngo hang-ciat-mek-ciang membekukan semua jalan2 darahnya, sedikit gerakan saja sudah cukup membetot otot2 itu, apa lagi mau lompat keatas punggung kuda ?
Mana bisa !
Sebelum ia bisa berpegangan kuat, rasa sakitnya yang menguasai separuh badannya bergetar, ia terjengkang jatuh.
Sun Hui Eng kaget, dengan mulut menjerit, ia memayang pemuda itu.
"Jie kongcu,"
Goan Tian Hoat juga segera membantu.
"bagaimana ?"
"Uh...."
Kang Han Cing hanya bisa mengeluarkan keluhan rasa sakit.
Sun Hui Eng menotok jalan darah tidur Kang Han Cing, dengan cara seperti ini, ia bisa meringankan penderitaan si pemuda, sebagai jawaban atas pertanyaan Goan Tian Hoat, ia berkata .
"Lukanya tidak ringan. Sudah kutotok jalan darah tidurnya. Serahkan saja kepadaku. Dengan satu kuda tunggangan, aku bisa banyak memperhatikannya."
Sesudah itu, dengan menggendong Kang Han Cing, Sun Hui Eng menggunakan satu kuda tunggangan.
Goan Tian Hoat juga mencongklang kuda yang sudah tersedia.
Dipihak lain Cu Liong Cu sudah memilih seekor kuda berbulu merah, mendekati mereka, ia bertanya penuh perhatian .
"Bagaimana keadaan Jie kongcu ?"
"Sudah kutotok jalan darah tidurnya. Biar saja satu kuda denganku."
Sun Hui Eng tidak main2 lagi, menggendong Kang Han Cing.
"Rejeki Kang Jie kongcu memang bagus. Selalu mendapat kawan wanita yang baik hati."
Berkata Cu Liong Cu tertawa. Sun Hui Eng meng-erlip2kan kedua matanya.
"Adik Liong Cu,"
Ia berkata.
"Jangan jauh2 dariku. Sebentar kalau aku kecapaian, kau harus menggantikan diriku, memondongnya."
Cu Liong Cu menjadi jengah sendirinya.
"Terimakasih,"
Katanya.
"Bukan hak bagianku untuk menggendong."
"Ya, kalau orang lain tentu saja bukan hak bagianmu,"
Berkata Sun Hui Eng.
"Tapi ketahuilah, Kang Jie kongcu terkena Jarum Ular karena demi kepentinganmu, bukan? Bagaimana kau tega, membalas air susu dengan air tuba?"
Cu Liong Cu menundukkan kepala.
Demikianlah kedua gadis itu bergilir merawat dan menggendong Kang Han Cing menuju ke arah Lembah Baru.
*** Bab 84 MEREKA TIBA di Lembah Baru, suatu tempat yahg terasing, seperti makna arti dari kata2
"Baru", tempat itu memang baru saja ditempati. Lahirnya Lembah Baru adalah sejalan dengan munculnya partay Ngo-hong-bun. Nenek Goa Naga Siluman terpukul oleh Sepasang Pendekar dari Tong hay, sebelah tangannya menyusut dan menderita penyakit tahunan, sengaja menyuruh Coa Khu Po menciptakan Ular Lindung, sedianya untuk menyembuhkan daging2 dan tulang yang susut itu. Maka kelima muridnya mendirikan partay Ngo-hong bun. Kelahiran Ngo-hong-bun berarti bencana bagi rimba persilatan. Tokoh dari keempat Datuk Persilatan menjadi sasaran utama. Dengan demikian lahirlah Lembah Baru. Mau tahu pemimpin utama Lembah Baru? Dan jawaban ini tidak terlalu lama lagi terpecah, sementara ada baiknya juga kita rahasiakan. Rombongan Co Hoay Uh dkk tiba di Lembah Baru, mereka disambut oleh seorang gadis cantik.
"Paman Cu....."
Panggil gadis lincah itu.
"Ha, ha...."
Co Hoay Uh tertawa.
"Mari kuperkenalkan."
"Inilah putra Datuk Utara Lie Wie Neng,"
Sambil menunjuk kearah putra Lie Kong Tie. Dan menunjuk Kang Han Cing yang dipepayang oleh Cu Liong Cu dan Sun Hui Eng, ia berkata .
"Inilah putra Datuk Selatan Kang Han Cing."
Dan satu persatu diperkenalkan kepada gadis lincah itu.
Terakhir, baru ia mengenalkan utusan Lembah Baru kepada semua orang.
Ternyata si gadis adalah cucu perempuan Nenek Wie Tay Kun, keturunan bengcu rimba persilatan lama, nama si gadis ialah Wie Ceng Ceng.
Sikap Wie Ceng Ceng sangat hormat kepada semua orang, hanya bersikap dingin kepada Sun Hui Eng seorang.
"Oh..."
Katanya.
"Ternyata Sam Kiongcu dari Ngo-hong-bun."
Acuh tak acuh !
Suaranya mengejek dan mengandung cemoohan.
Sun Hui Eng juga bisa membedakan ketidak-samaan dari sikap yang diperlihatkan Wie Ceng Ceng kepada dirinya, wajahnya berubah.
Wie Ceng Ceng mengalihkan pandangannya ke arah si Kakek Beracun.
"Paman Cu,"
Katanya.
"Beberapa hari ini kedatangan banyak tamu, kedatanganmu sedang di-tunggu2. Harap bisa turut serta didalam perundingan mereka itu. Dan yang lain2nya sudah tersedia petak2 dibagian timur."
"Siapa2 saja yang datang ?"
Bertanya Cu Hoay Uh.
"Datuk Timur Kho See Ouw ayah dan putra, Kang Toa kongcu dari Datuk Selatan, dari Benteng Penganungan Jaya adalah paman Yen Yu San dan putri Datuk Barat Cin Giok Tin, Datuk Utara Lie Kong Tie dan lain2nya sudah komplit hadir semua."
"Aaaa....."
Cu Hoay Uh bersorak girang.
"Sudah komplit ?"
"Toako berada disini ?"
Kang Han Cing juga turut gembira.
"Kang Toa kongcu baru saja tiba dua hari."
Wie Ceng Ceng tertawa manis.
"Nona Wie,"
Berkata Lie Wie Neng.
"Bagaimana keadaan penyakit ayahku ?"
Ia belum tahu keadaan penyakit ayah itu.
"Dibawah perawatan Tian-hung Totiang dkk, kesehatan paman Lie Kong Tie sudah pulih kembali,"
Jawab Wie Ceng Ceng.
Masing2 menanyakan keadaan sanak famili mereka.
Semua jago segera berkumpul di Lembah Baru.
Siapakah kokcu atau ketua lembah kekuatan baru itu ?
Sebentar lagi akan kita ketahui.
Kita bayangi perjalanan Wie Ceng Ceng yang mengajak Cu Hoay Uh, Lie Wie Neng, Goan Tian Hoat dan Kang Han Cing.
Melalui lorong2 panjang, mereka tiba disebuah ruangan besar.
Dari ruang itu keluar sepasang pemuda dan seorang pemudi, melihat kedatangan rombongan orang yang dibawa oleh Wie Ceng Ceng, mereka kemekmek sebentar, seorang pemuda diantaranya segera berteriak .
"Jie-tee."
Langsung ia menubruk Kang Han Cing.
"Toako....."
Kang Han Cing juga berteriak girang.
Orang itu adalah putra pertama dari Datuk Selatan, engkoh Kang Han Cing yang bernama Kang Puh Cing.
Sedari terculiknya Kang Puh Cing oleh rombongan Perintah Maut, inilah perjumpaan mereka engkoh dan adik yang pertama kali.
Mereka saling ber-peluk2an.
Atas geseran jiwa itu, Kang Han Cing meringis lagi, menahan rasa sakit yang terkena pukulan Ngo hang ciat mek-ciang.
"Jie-tee, mengapa ?"
Bertanya Kang Puh Cing.
"Tidak apa2,"
Lagi2 Kang Han Cing meringis sakit.
"Oh, lupa kuperkenalkan,"
Berkata Kang Puh Cing.
"Inilah adikku."
Dan menunjuk kearah sepasang muda-mudi yang tadi bersama-sama dengannya, ia berkata .
"Inilah Kho Siang Siang dan Kho In In, kedua putra-putri dari Datuk Timur Kho See ouw."
Mereka saling berjabatan tangan. Dan sesudah itu baru diperkenalkan dengan rombongan lain2nya. Dikala memperkenalkan Sun Hui Eng, suara Kang Han Cing agak gugup .
"Nona Sun Hui Eng..."
Kang Puh Cing memberi hormat kepada Sun Hui Eng.
"Sam Kiongcu dari Ngo-hong-bun !"
Wie Ceng Ceng turut nimbrung.
Kang Puh Cing, Kho Siang Siang dan Kho In In kemekmek, tidak disangka kalau Kang Han Cing mengajak salah satu dari anggota musuh mereka.
Keadaan itu sangat canggung sekali.
Akhirnya Goan Tian Hoat meminta bantuan Lie Wie Neng, dengan memberi satu lirikan mata, agar putra Datuk Utara itu bisa memberi sedikit keterangan.
Lie Wie Neng tampil kemuka dan berkata .
"Didalam membebaskan diri dari partay Ngo hong-bun, nona Sun Hui Eng mempunyai andil jasa yang terbesar. Nona Sun rela meninggalkan kepentingannya, demi keselamatan kita semua."
Kemudian diceritakan juga jalannya cerita. Kang Puh Cing mulai tertarik.
"Istana Naga? Gunung Tulang Ikan ? Dimanakah letak tempat2 itu ? Begitu hebat ? Sampai Cu cianpwe juga bisa tertawan ditempat itu !"
"Istana Naga adalah tempat persembunyian baru dari Nenek Goa Naga Siluman."
Lie Wie Neng memberi keterangan.
"Aaaa......."
"Nenek Goa Naga Siluman ? Nenek Siluman yang pernah digembar-gemborkan orang dahulu itu ?"
"Ya ! Dan nona Sun ini adalah salah satu dari kelima muridnya."
"Oh......"
Dijelaskan juga, bagaimana kelima Kiongcu itu mendirikan sebuah partay yang diberi nama Ngo-hong-bun bagaimana menerima partay2 atau golongan2 sesat yang mau bernaung dibawah panji kebesarannya, salah satu dari golongan itu adalah golongan Perintah Maut.
Jelaslah sudah, siapa yang menjadi biang keladi rimba persilatan.
Rasa curiga kepada Sun Hui Eng bisa mereda, Kang Puh Cing memberi hormat dan berkata .
"Atas bantuan nona yang sudah dicurahkan kepada saudaraku, dengan ini aku mengucapkan banyak terima kasih. Kalau ada sesuatu keperluan, keluarga Kang selalu siap membantu."
Putri Datuk Timur Kho In In tertawa.
"Semua orang yang berada ditempat ini adalah orang sendiri. Setiap orang wajib bantu membantu."
Katanya tertawa.
"Lihat, ayah pun datang."
Dari arah yang ditunjuk, datang seorang tua berjenggot putih, itulah Datuk Timur Kho See Ouw yang ternama.
Mengiringi Datuk Timur adalah Yen Yu San dan Yen Siu Hiat.
Dibelakang mereka turut serta juga putri Benteng Penganungan Jaya Cin Siok Tin.
"Ha, ha, ha......"
Terdengar suara gelak tawa Yen Yu San yang menyerobot maju kedepan.
"Jie kongcu berhasil membebaskan diri ? Ha, ha, ha..... Mereka semua mengkhawatirkan keselamatanmu. Kukatakan tidak perlu, dengan ilmu kepandaian yang kau miliki, siapakah yang bisa mengganggu? Ha, ha, ha... betul saja. Kau sudah bebas, bukan?"
Kang Han Cing menyengir, mana si Hakim Muka Merah tahu kalau jiwanya sudah berulang kali menempuh maut ?
Tidak lama, Lie Kong Tie juga muncul di ruangan itu.
Hal ini sangat menggirangkan Lie Wie Neng.
Kalau Wie Ceng Ceng sangat ramah kepada semua orang, sikap yang diperlihatkan kepada Sun Hui Eng sangat menyolok sekali, se-olah2 memandang rendah gadis itu.
Cu Liong Cu mendampingi Sun Hui Eng dengan suara perlahan berkata .
"Gadis ini menjabat Tongcu Lembah Baru, putri bengcu lama, turun menurun keluarganya menduduki pemimpin rimba persilatan, kalau saja ia berkepandaian tinggi, entah bagaimana lagi sombongnya ? Huh ! Sedari kecil ia dimanjakan oleh neneknya, maka suka memandang rendah orang. Jangan kau tersinggung."
"Kita sebagai tamu mana berani disamakan dengannya,"
Berkata Sun Hui Eng. Dari sekian banyak orang itu, keadaan Kang Han Cing yang paling menderita, sakitnya ditahan sedapat mungkin. Dan hal ini tidak lepas dari penilaian Kang Puh Cing.
"Jie-tee,"
Katanya.
"Apa yang kau rasakan sakit ?"
"Pundak Jie kongcu terkena pukulan."
Goan Tian Hoat menalangi memberi jawaban.
"Biar kuantar istirahat."
Berkata sang toako.
Ber-sama2 Goan Tian Hoat, Kang Han Cing diantar ke kamar yang sudah tersedia.
Itu waktu, Pendekar Kipas Wasiat Sin Soan Cu, Tan Siauw Tian, Kong Kun Bu dan lain2nya belum kembali dari pencarian Kang Han Cing, Cu Liong Cu dkk.
Tapi mereka sudah diberi tahu tentang keselamatan orang yang dicari.
Pada hari berikutnya satu persatu mulai kembali ke Lembah Baru.
Keadaan semakin meriah.
Lie Wie Neng mendekati gurunya dan memberi tahu tentang luka Kang Han Cing yang agak aneh.
"Apa betul ia terkena pukulan in-khiu-pit-hiat?"
Pendekar Kipas Wasiat Sin Soan Cu berkerut alis.
"Cu cianpwe mengatakan terkena pukulan In-khiu pit-hui."
Jawab Lie Wie Neng.
"Jago mana lagi yang bisa menggunakan pukulan In-khiu-pit-hiat ?"
Kerut Sin Soan Cu semakin dalam.
"Ilmu In-khiu-pit-hiat berupa ilmu sesat jaman silam. Tidak mudah dipelajari orang. Mungkinkah masih ada jago tersembunyi ?"
Yen Yu San memandang Tian hung Totiang dan Sin Soan Cu bergantian, dengan tertawa ia berkata .
"Kehadiran kalian berdua sungguh kebetulan, bukan ? Yang satu akhli obat2an, dan yang lain akhli ilmu totokan2, mengapa tidak mau bekerja sama menyembuhkan penyakit Kang Jie kongcu ?"
"Kau tahu apa ?"
Berkata Sin Soan Cu.
"Yang kutahu, sesudah penyakit Kang Jie kongcu sembuh ! Beres ! Ha, ha....."
Hakim Muka Merah Yen Yu San tertawa berkakakan.
"Tidak mudah, kawan."
Berkata Pendekar Kipas Wasiat Sin Soan Cu.
"Apa lagi yang tidak mudah ?"
"Luka In-khiu pit-hiat bukan termasuk luka ringan."
"Aku tahu. Tapi kalian berdua juga bukan jago2 kelas ringan, bukan ?"
"Huh ! Kalau betul Kang Jie kongcu terkena pukulan in khiu pit hiat, kalian juga tidak bisa berpeluk tangan,"
Berkata Sin Soan Cu sambil memandang Yen Yu San dan Kho See Ouw sekalian.
"Eh.....??!!"
"Jangan takut. Kita selala siap sedia."
Kho See Ouw memberikan janjinya.
"Untuk menyembuhkan penyakit In-khiu-pit-hiat, kita harus mencari 6 jago kuat yang mempunyai kekuatan hampir sama."
Berkata Sin Soan Cu.
"Enam jago kuat, buat apa ?"
"Pukulan In-khiu pit-hiat digerakkan dengan 6 jari kuat, menutup dan merusaki tempat jalan darah. Maka kita membutuhkan 6 tokoh silat, masing2 mengarah satu tempat, secara serentak memecahkan tempat2 yang buntu itu."
Sin Soan Cu memberi keterangan.
Tan Siauw Tian memandang kepada orang2 yang hadir ditempat itu, kecuali pengurus Lembah Baru Ouwyang Goan, disana masih ada Datuk Timur Kho See Ouw, pejabat Benteng Penganungan Jaya Yen Yu San, ketua kelenteng Pek-yun-koan Tian-hung Totiang dan Pendekar Kipas Wasiat Sin Soan Cu.
Dengan dia pribadi, jumlah mereka hanya lima orang.
"Disini sudah ada 5 orang, masih kurang satu,"
Ia kata.
"Bagaimana kalau meminta bantuannya si Manusia Beracun Cu Hoay Uh ?"
"Mungkin..."
"Tidak ada mungkin lagi, lekas panggil orang beracun itu."
Putusan rapat selesai, 6 jago utama berusaha menyembuhkan penyakit Kang Han Cing yang dianggap terkena pukulan in-khiu-pit hiat.
Bagaimana hasilnya ?
Tentu saja salah jalan.
Bukan caranya menyembuhkan penyakit pukulan Ngo-hang ciat-mek-ciang dengan cara menyembuhkan pukulan in-khiu pit hiat.
Betapa kuat daya pendobrakan ke 6 jago itu, cukup menghancurkan sebuah gunung, secara bertahap diselipkannya ke urat-urat Kang Han Cing, dengan maksud menjebol bagian2 yang buntu.
Kekuatan Tian-hung Totiang masuk dari jalan darah Tay in-keng, Tan Siauw Tian masuk dari Ciat in-keng, Kho See Ouw masuk dari Tay yang keng, Cu Hoay Uh dari Yang beng-keng, Yen Yu San dari Yang yu keng, dan Sin Soan Cu dari Siauw yang-keng.
Enam jalur kekuatan itu per-lahan2 bertambah.
Kang Han Cing yang sudah mendapat pemberitahuan, mengikuti datangnya bantuan keenam jalur tenaga tadi, diteroboskannya kearah tangan kanan dengan maksud memecah otot2 yang tertutup atau tersumbat.
Rambatee ratas hayoo...
Terdengar suara jeritan Kang Han Cing, si jago muda jatuh pingsan.
Perubahan itu mengejutkan semua orang, terutama Sun Hui Eng yang menantikan hasil baiknya, ia berteriak .
"Jie kongcu...Jie kongcu....."
Kang Puh Cing juga menjadi bingung. Memandang ke arah 6 jago kelas satu, mereka sudah mulai menarik tenaganya.
"Dia tidak tahan !"
Berkata Yen Yu San menggelengkan kepala.
"Heran !"
Berkata Sin Soan Cu.
"Kemana larinya enam kekuatan kita itu ?"
Dengan wajah tegang, Tian-hung Totiang memeriksa urat nadi Kang Han Cing, berkerut alis sebentar dan berkata .
"Jangan takut. Ia tidak mengalami suatu apa. Hanya pingsan karena tidak tahan menerima kekuatan yang besar. Bukan kekuatan kita berenam saja yang berada didalam tubuhnya. Masih ada satu kekuatan liar yang tidak terkendalikan turut merajalela, kekuatan inilah yang mengacau rencana."
"Kekuatan apakah itu ?"
"Ini yang membuat aku tidak mengerti."
Berkata Sin Soan Cu.
Bukan Sin Soan Cu seorang yang tidak mengerti, semuapun tidak mengerti, mengapa kekuatan gabungan 6 tokoh kelas satu tidak bisa mengusir virus jahat yang mengganggu Kang Han Cing itu ?
Itulah kekuatan hasil campuran obat Thian-kie-in-kang-tan dan Ular Lindung.
Sun Hui Eng menangis sesambatan.
Kang Puh Cing bingung tidak keruan.
Dan begitupun yang lain2nya.
Beberapa saat kemudian, Kang Han Cing bisa sadarkan diri, menyaksikan keadaan penolongnya yang seperti itu, ia menyengir.
"Tidak perlu para cianpwe menyusahkan diri,"
Katanya lemah.
"paling2 hanya kehilangan sebelah tangan saja, bukan ?"
Dan ia siap membacok tangan yang menyusahkan banyak orang itu. Hal mana cepat2 dicegah oleh mereka. Tiba2 Sun Hui Eng bangkit berdiri merapikan rambut dan berkata .
"Jie kongcu, tunggu sebentar. Biar kutemukan Go sumoay."
Ia siap kembali ke gunung Tulang Ikan. Cu Liong Cu terkejut, cepat2 meng-halang2inya.
"Tidak mungkin,"
Ia berkata.
"Itulah satu perbuatan yang mengandung resiko."
Sun Hui Eng sudah melarikan diri dari Ngo hong bun, kembali berarti mencari kematiannya.
"Walau apapun yang terjadi, akan kuseret Co Hui Hee ke tempat ini."
Berkata Sun Hui Eng. Tian-hung Totiang turun tangan, katanya .
"Nona Sun, harap kau bersabar. Walau kita belum berhasil menemukan cara2 untuk menyembuhkan Kang Jie kongcu, tapi jiwanya belum terancam bahaya. Lain lagi kepergianmu ke tempat itu. Bagaimana pula kalau terjadi sesuatu?"
Atas bujukan2 yang lain2nya, Sun Hui Eng bisa diberi mengerti.
"Begini saja,"
Berkata Cu Liong Cu.
"Kita tunggu hasil mereka. Kalau 3 hari masih tidak ada perubahan, biar kukawani kau memasuki Istana Naga."
Demikian hari itu dilewatkan.
Hari berikutnya, ketua Lembah Baru mengadakan perjamuan makan, turut hadir 4 datuk persilatan dan semua tokoh yang ada di tempat itu.
Semua belum pernah bertemu muka dengan ketua Lembah Baru, tokoh misterius yang bisa menghubungi tokoh2 tidak terkendalikan seperti Cu Hoay Uh, Sin Soan Cu, Ciok-kiam Sianseng dan lain2nya.
Dan kini mereka berhadapan muka dengan kokcu itu, ia mengenakan tutup kerudung muka, berarti masih gelap pula asal usulnya.
Meja perjamuan dipecah menjadi 6 rombongan.
Pada meja kesatu tampak Datuk Timur Kho See Ouw beserta kedua putra-putrinya.
Meja berikutnya adalah Kang Puh Cing dan Kang Han Cing.
Mereka sebagai wakil2 dari Datuk Selatan.
Di meja ini turut memeriahkan juga Goan Tian Hoat dan Sun Hui Eng.
Meja ketiga adalah Yen Yu San, Yen Siu Hiat dan Cin Siok Tin, mereka sebagai wakil2 Datuk Barat.
Meja keempat adalah Lie Kong Tie, Lie Wie Neng, sepasang jago dari gunung Yen-san Yo Su Kiat dan Khong Bun Hui.
Mereka dari pihak Datuk Utara.
Meja kelima adalah penasehat2 Lembah Baru yang terdiri dari Pendekar Kipas Wasiat Sin Soan Cu, ketua kelenteng Pek yun koan Tian-hung Totiang dan Kakek Beracun ayah dan anak Cu Hoay Uh-Cu Liong Cu.
Kecuali mereka, terdapat juga jago2 Lembah Baru lainnya, seperti Tan Siauw Tian, Kong Kun Bu, Wie Ceng Ceng, Ouwyang Goan dan beberapa orang lagi.
Sesudah semua orang duduk komplit, ketua Lembah Baru memberi hormat dan mengucapkan 'Selamat datang di Lembah Baru', ia membawakan sikap dan kemisteriusannya.
Di sebelah ketua Lembah Baru duduk seorang tosu tua, tidak seorangpun yang kenal kepada tosu tua ini.
Sesudah mengucapkan beberapa kata sambutan, ketua Lembah Baru memperkenalkan tosu tua yang duduk disebelahnya itu.
"Mari kuperkenalkan tokoh satu2nya yang pernah berhubungan dengan Nenek Goa Naga Siluman, inilah ex ketua partay Hoa-san-pay See-lie-cu."
"Aaaa......."
Semua orang memberi hormat kepada tosu tua itu. Ketua Lembah Baru meneruskan kata-katanya .
"Hubungan kami dengan See Lie cu totiang sudah berlangsung tahunan, sifatnya tidak mau tahu urusan orang. Hari ini kita berhasil menahannya karena ia mendengar diantara kita turut hadir salah satu murid Nenek Goa Naga Siluman, ia hendak berkenalan dengan nona Sun Hui Eng."
Sun hui Eng bangkit dari tempat duduknya, memberi hormat kepada See-lie-cu.
"Sebelumnya,"
Berkata lagi ketua Lembah Baru.
"Biar kujelaskan maksud dari pertemuan ini. Seperti apa yang cuwie sekalian sudah maklum, Lembah Baru bukan berupa partay atau golongan yang berambisi kekuasaan, Lembah Baru lahir karena adanya pertentangan dengan partay Ngo hong bun. Lembah Baru untuk menolong rimba persilatan dari gangguan2 Ngo-hong-bun. Cerita dimulai dari belasan tahun yang lalu, secara tidak disengaja, Pendekar Bambu Kuning Ciok-kiam Sianseng menemukan murid tertua dari Nenek Goa Naga Siluman mengadakan gerakan2, menarik kekuatan dari golongan hitam, suatu bukti kalau Nenek Goa Naga Siluman bisa bangkit kembali. Untuk menghadapi Ngo-hong-bun secara perorangan tentu tidak mungkin, bukan? Maka lahirlah Lembah Baru."
Ia menelan ludah sebentar dan meneruskan ceritanya .
"Tiga puluh tahun yang lalu, rimba persilatan pernah mengalami masa kegelapan. Nenek Goa Naga Siluman merajalela dan mengganas, masa2 gelap itu berakhir sesudah munculnya Sepasang Dewa dari daerah Tong-hay yang mengalahkannya."
"Tapi....."
Meneruskan lagi cerita ketua Lembah Baru.
"Apa yang pernah terjadi sebelum itu ? Mari kita saksikan sebuah gambar."
Dari salah satu orang bawahannya, ketua Lembah Baru membentangkan sebuah gulungan kertas, itulah gambar punggung dari seorang pendekar.
Semua orang sedang menimbang2, apa maksud tujuan ketua Lembah Baru yang membentangkan gambar tersebut?
Diantaranya, Sun Hui Eng lebih mengerti, mendekati Kang Han Cing dan bertanya.
"Jie kongcu, kau sudah mengerti?"
"Mengerti apa?"
Kang Han Cing heran.
"Gambar itu adalah tanda2 luka dari seseorang."
"Luka2 seseorang?"
"Sudah lupa kepada pelajaran Tiga Pukulan Burung Maut?"
Bertanya Sun Hui Eng.
"Orang di dalam gambar adalah terkena luka2 ilmu pedang Hui-hong-kiam hoat, inti dari Tiga Pukulan Burung Maut."
"Aaaa......."
Kang Han Cing mulai sadar.
"Orang itu terkena goresan2 luka pedang dari gurumu?"
Sun Hui Eng menganggukkan kepala. Terdengar lagi suara kokcu Lembah Baru .
"Cuwie sekalian sudah melihat jelas, gambar ini adalah gambar seseorang yang terkena luka pedang Hui-hong kiam hoat di 18 tempat. Hanya seorang ini yang lolos dari kematian karena serangan Nenek Goa Naga Siluman, walau ia menderita luka2 yang begitu banyak. Betul, ia meninggal juga, tapi berhasil meninggalkan gambar ini kepada anak cucunya, gambar bersejarah penting untuk dipelajari agar sang anak cucu bisa lebih berhati2 untuk menghadapi Nenek Goa Naga Siluman."
Terbayang kembali keganasan2 Nenek Goa Naga Siluman sebelum tokoh itu dikalahkan oleh Sepasang Dewa dari daerah Tong-hay. Betul saja, ketua Lembah Baru masih meneruskan cerita .
"Ketua Tian khong-pay Kat Tay Hian, ketua Siauw lim pay Hian-hoat Taysu, ketua Ngo-bie-pay Hoan-hoan Siansu dan lain-lainnya tidak luput dari kematian....."
Cerita ketua Lembah Baru adalah cerita lama yang sudah diketahui umum, hampir sebagian besar dari orang2 yang berada di tempat itu pernah mendengar cerita tadi.
Itulah keganasan2 Nenek Goa Naga Siluman.
Ketua Lembah Baru meneruskan cerita .
"Tahun ketiga dari terjadinya drama2 diatas, muncul seorang kakek tanpa nama, langsung mencari Nenek Goa Naga Siluman, tidak terlalu sulit untuk ditemukan, terjadi pertempuran, yang dinamakan pertempuran hanya dua kali gebrakan, didalam dua jurus serangan, kakek tanpa nama itu menderita luka di 18 tempat. Nah ! Inilah gambar luka dari si kakek tanpa nama."
Pusat mata tertuju kepada gambar yang terpancang, ternyata gambar luka di 18 tempat dari kakek tanpa nama yang diceritakan.
"Siapakah kakek tanpa nama itu ?"
Bertanya Datuk Timur Kho See Ouw.
"Itulah ayahku yang rendah,"
Berkata ketua Lembah Baru.
"Aaa......"
Ternyata si kakek tanpa nama yang berhasil memberi gambaran2 ilmu pedang Nenek Goa Naga Siluman adalah ayah dari ketua Lembah Baru. Yen Yu San berkata .
"Belum pernah ada orang yang bisa menghindarkan diri dari permainan ilmu pedang Hui-hong kiam hoat si Nenek Goa Naga Siluman."
Berkata Yen Yu San.
"Termasuk ketua2 partay dari aliran ternama. Kalau ayah kokcu bisa menerima 2 jurus serangannya, dan kembali sehingga bisa membuat gambar luka2nya, inilah suatu bukti, kalau ilmu kepandaian ayah kokcu sudah berada diatas kepandaian orang."
"Menurut cerita ayah,"
Berkata ketua Lembah Baru.
"Beliau hanya bisa menerima satu jurus saja. Jurus berikutnya berarti pengorbanan, disengajakan untuk menjelajahi ilmu pedang Hui-hong-kiam-hoat."
"Dengan maksud memberi petunjuk kepada keturunan dan generasi selanjutnya untuk berdaya upaya, mencari jalan memecahkan ilmu pedang Hui-hong-kiam-hoat yang ganas,"
Sambung Yen Yu San.
"Itulah tujuan utamanya. Kalau dibiarkan Nenek Goa Naga Siluman mengganas terus menerus, tanpa ada yang mengenal permainan ilmu pedang Hui-hong-kiam-hoat, apakah jadinya rimba persilatan kita ?"
Lie Kong Tie memberi pujian .
"Pengorbanan ayah kokcu adalah pengorbanan yang berbudi luhur."
Ketua Lembah Baru berkata .
"Dan ditahun itu juga Nenek Goa Naga Siluman dikalahkan oleh Sepasang Dewa dari Tong-hay. Tahun berikutnya, ayah kami meninggal dunia, dan sebelum itu beliau berpesan . Walau Nenek Goa Naga Siluman tidak ada berita, bahaya Hui-hong-kiam-hoat merupakan bahaya latent yang tidak bisa dimusnahkan, harus tetap waspada. Kita diwajibkan mencari penyelesaian untuk mengalahkannya. Dan dugaan itu tepat, 20 tahun kemudian, ilmu pedang Hui hong-kiam-hoat muncul diantara anggota2 Ngo hong bun....."
"Tentunya kokcu sudah bisa menemukan cara untuk memecahkan ilmu pedang Hui-hong-kiam-hoat itu, bukan ?"
Bertanya Kho See Ouw.
"Sangat malu diceritakan,"
Berkata kokcu Lembah Baru.
"Untuk menghadapi ilmu pedang hui-hong-kiam-hoat yang lemas, mungkin bisa bertahan sampai beberapa jurus. Tapi....Untuk mengalahkannya kukira...kukira masih jauh. Apa lagi kalau mengingat Nenek Goa Naga Siluman tidak tinggal diam, dimisalkan dia juga mendapat kemajuan baru, bukankah sulit ditandingi ? Kebetulan nona Sun Hui Eng bersedia memihak kepada kita, bisakah nona memberi sedikit gambaran ?"
Kata2 yang terakhir ditujukan kepada Sun Hui Eng.
"Suhu telah menciptakan semacam ilmu baru yang diberi nama Tiga pukulan Burung Maut, yang terdiri dari inti2 ilmu pedang Hui-hong-kiam-hoat,"
Berkata Sun Hui Eng. Kokcu lembah Baru menoleh kearah Ketua partay Hoa-san-pay See-lie-cu.
"Bagaimana ?"
Ia tertawa.
"Ha, ha, ha....dugaanku tidak salah, bukan ?"
Suara tertawa kokcu Lembah Baru berkumandang diseluruh ruangan, dan suara ini menggetarkan jiwa Kang Han Cing dan Kang Puh Cing, inilah suara tertawa yang tidak asing bagi telinga mereka.
Demikian Sun Hui Eng mendemonstrasikan ilmu pedang Hui-hong-kiam-hoat, juga memperlihatkan ilmu Tiga Pukulan Burung Maut.
Semua orang yang menonton memberi pujian kepada dua macam ilmu hebat itu.
Sun Hui Eng kembali ke tempat duduknya.
Masih berdengung dan memperbincangkan ilmu pedang Hui hong kiam hoat dan ilmu Tiga Pukulan Burung Maut.
Hanya seorang yang tidak puas, itulah Wie Ceng Ceng yang menaruh sentimen besar kepada Sun Hui Eng, hal ini bisa dimaklumi, mengingat Kang Han Cing lepas dari bagiannya.
Dari penuturan sang nenek, jodohnya hendak dirangkapkan sedari kecil, tapi yang mendampingi Kang Han Cing sekarang adalah gadis lain, bagaimana Wie Ceng Ceng tidak menaruh cemburu ?
Dikala semua orang memuji ilmu pedang dan ilmu pukulan Sun Hui Eng, di kala semua orang berkecap-kecup atas pemberontakan yang sudah dilakukan Sun Hui Eng kepada partay dan pintu perguruannya, secara diam2, Wie Ceng Ceng meninggalkan ruangan.
Pesta masih dilanjutkan.
Bekas ketua Hoa san-pay lama See lie-cu meminta beberapa petunjuk dari keistimewaan ilmu pedang Hui-hong-kiam-hoat dan ilmu Tiga Pukulan Burung Maut.
Dengan tidak bosan2nya Sun Hui Eng menjelaskan apa yang diminta.
Dikala pesta masih berlangsung, tiba2 Wie Ceng Ceng masuk kembali, langsung mendatangi kokcu Lembah Baru, memberi hormat dan berkata .
"Lapor kepada kokcu. Lembah Baru kedatangan dua mata2 musuh, sesudah berhasil banyak melukai orang kita. Mereka berhasil ditangkap. Atas keterangan yang mereka berikan, kedatangan mereka dengan maksud untuk menemukan Sam kiongcu."
Sengaja atau tidak sengaja Wie Ceng Ceng melirik ke arah Sun Hui Eng. Wajah Sun Hui Eng berubah.
"Mencari aku ?"
Ia tidak mengerti.
"Wie Tongcu, bagaimanakah kedua orang itu ? Laki atau wanita?"
"Nona Sun jangan gugup,"
Berkata ketua Lembah Baru.
"Duduk saja tenang2."
Dihadapi Wie Ceng Ceng dan berkata .
"tolong kau bawa mereka masuk."
Dengan bangga Wie Ceng Ceng membalikkan badan, didepan pintu ruangan ia berteriak keras .
"Giring masuk kedua mata2 itu !"
Seiring dengan kata2nya, empat anak buah Wie Ceng Ceng yang mengenakan pakaian seragam hijau menggiring masuk 2 pengemis kotor yang penuh luka, beberapa pengiring Wie Ceng Ceng itu terdiri dari kaum wanita, mereka dari gedung keluarga Wie, beberapa diantaranya terluka, hal ini yang menambah dendam dan kemarahan Wie Ceng Ceng.
Kedua mata2 yang tertangkap oleh Wie Ceng Ceng itu segera menemukan adanya Sun Hui Eng diantara rombongan orang2 yang hadir ditempat itu, mereka berteriak keras .
"Sam Kiongcu, hamba A Wan dan Bu Lan."
Ternyata kedua pengemis yang tertawan itu adalah samarannya A Wan dan Bu Lan, kedua dayang terpercaya Sun Hui Eng di dalam jabatan Sam Kiongcu Ngo-hong-bun.
"Heeei, bagaimana kalian bisa mencari ke tempat ini ?"
Sun Hui Eng juga merasa heran.
"Jie Kiongcu memenjarakan kami dan kami melarikan diri dari tahanan."
A Wan memberi keterangan. Sun Hui Eng menganggukkan kepala, memandang Wie Ceng Ceng dan berkata .
"Wie Tongcu, mereka betul2 adalah kedua dayangku. Bisakah tolong membebaskan ikatannya ?"
"Membebaskan ikatan mata2 dari Ngo-hong-bun ?"
Wie Ceng Ceng berdengus.
"Begitu mudah ?"
"Mereka adalah orang2ku,"
Sun Hui Eng masih merendah diri.
"Apa Sam Kiongcu berani menjamin, kalau mereka tidak memata2i Lembah Baru ?"
Wie Ceng Ceng masih tidak mau membebaskan ikatan A Wan dan Bu Lan.
"Aku sudah bukan Sam Kiongcu lagi."
Berkata Sun Hui Eng.
"Tentang kejujuran mereka, tentu menjadi tanggung jawabku."
"Tanggung jawab yang bagaimana ?"
Wie Ceng Ceng masih ngotot.
Maksudnya jelas dan gamblang.
Ia menyangsikan keputihan hatinya Sun Hui Eng, tidak percaya kepada tanggungan jawabnya.
Semutpun bisa berteriak, kalau diinjak terus menerus, penghinaan Wie Ceng Ceng yang terlalu menyolok mata mengakibatkan kemarahan Sun Hui Eng, alisnya melentik naik, dengan tidak puas berkata .
"Wie Tongcu, jangan anggap aku takut kepadamu. Merendah berarti memberi penghormatan. Tapi junjung tinggilah sesama maksud baik, jangan terlalu menghina orang....."
"Kalau aku mau menghina, bagaimana ?"
Wie Ceng Ceng juga tidak kalah galak. Kedua gadis itu siap adu urat ! Kokcu Lembah Baru tidak menghendaki terjadi percekcokan seperti itu, segera ia melerai mereka, katanya .
"Ceng Ceng, jangan kau membawakan adat lamamu. Biar bagaimana nona Sun adalah tamu kita, hormatilah setiap tamu yang datang di Lembah Baru."
Kemudian, tanpa menunggu reaksinya, menggunakan kekuasaannya sebagai ketua setempat, ia membentak ke empat dayang Wie Ceng Ceng .
"Bebaskan ikatan !"
Orang2 itu segera membebaskan ikatan yang mengekang kebebasan A Wan dan Bu Lan. Kemarahan Sun Hui Eng masih belum mereda, menggunakan kesempatan itu, segera ia mengutarakannya .
"Kokcu, pernahkah aku melakukan kesalahan. Begitu tiba ditempat ini, Wie Tongcu seperti tidak puas, seperti menaruh dendam yang sangat besar. Untuk meredakan ketegangan ini, biar sampai disini saja pertemuan kita. Aku meminta diri."
Cepat2 kokcu Lembah Baru menggoyangkan tangan, katanya .
"Nona Sun salah paham. Adat Wie Tongcu memang demikian. Bukannya ia menaruh dendam. Memang sifat2 orang itu tidak sama. Pandanglah muka terangku, dan sudahilah persoalan ini."
Dihadapinya Wie Ceng Ceng dan berkata .
"Ceng Ceng, nona Sun berbudi luhur. Secara rela sudah memihak kepada kita, inilah suatu kebanggaan. Tidak dibenarkan untuk menaruh dendam. Mari....Mari..... kudamaikan kalian berdua."
"Oh ! Dia berbudi luhur ?"
Berkata Wie Ceng Ceng dingin.
"Kalau begitu tentunya aku yang bersalah ?"
Ia membalikkan badan, memandang dayang-dayangnya dan berkata .
"Berangkat pulang !"
Dan rombongan dari keluarga Wie itu meninggalkan ruangan. Kokcu Lembah Baru meng-geleng2kan kepala, dihadapi lagi Sun Hui Eng dan berkata .
"Sedari kecil, dia sudah kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Terlalu dimanjakan oleh Nenek Wie Tay Kun. Sifatnya menjadi seperti ini. Jangan kau menaruh didalam hati."
Disaat ini terdengar lagi suara gaduh2, kokcu Lembah Baru bengong sejenak.
"Mata-mata dari mana lagi yang berani mendatangi Lembah Baru ?"
Ia bergumam. Siuuuttttt....... Entah bagaimana, disana bertambah seorang tua beralis putih.
"Ha, ha......"
Ia tertawa.
"Aku juga dianggap sebagai mata2 ?"
Kedatangan orang tua bermuka putih ini sangat menggirangkan Yen Yu San dan Cin Siok Tin, yang satu berteriak 'Cin pocu"
Dan lainnya berteriak 'ayah" !
Orang yang datang adalah Datuk Barat Cin Jin Cin, ketua Benteng Penganungan Jaya yang ternama.
Sesudah lama ia menghilang, menyembunyikan diri secara misterius, mendadak sontak bisa muncul di tempat itu.
"Ha, ha, ha......"
Kokcu Lembah Baru juga tertawa.
Suara tertawa ketua Lembah Baru ini lagi yang menggerakkan hati Kang Han Cing dan Kang Puh Cing, mereka teringat kepada suara seseorang yang sudah tiada.
Datuk Barat Cin Jin Cin memandang kokcu Lembah Baru yang mengenakan tutup kerudung muka itu, beberapa lama kemudian ia membentak .
"siapa kau ?"
Disaat ini, muncul lagi satu bayangan, inilah Pendekar Bambu Kuning Ciok-kiam sianseng ! "Saudara Cin."
Teriak Ciok-kiam Sianseng.
"Sungguh keliwatan kau ! Membuat aku capai percuma."
Cin Jin Cin memandang Ciok kiam Sianseng dan mengajukan pertanyaan .
"inikah ketua Lembah Baru ?"
Ia menunding kearah si orang berkerudung yang mengepalai rombongan orang2 ditempat itu. Ciok kiam Sianseng menganggukkan kepala.
"Mari kuperkenalkan,"
Ia berkata.
"Inilah kokcu Lembah Baru, Datuk Selatan Kang Sang Fung !"
"Aaaa........."
"Oh........"
"Eeeee.........."
Semua orang terbelalak atas ucapan Ciok kiam Sianseng itu.
Ketua Lembah Baru adalah Datuk Selatan Kang Sang Fung yang diceritakan sudah meninggal dunia ?
Bukan diceritakan saja bagi Kang Han Cing yang sudah melihat bagaimana mayat sang ayah dipantek didalam peti mati, tentu saja merasa bingung, bagaimana ayah itu bisa bangkit dan hidup kembali ?
Baca Juga: Dendam Sembilan Iblis Tua 1
Baca Juga: Kim Hoa Piauw 3