Eps 10 Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung
Baca online Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung
Cersil Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung.
Sudah tentu Thia Eng merasa bingung, sebaliknya Pang Bik-hong mengira apa yang dikatakan Nyo Ko betul terjadi, ia menjadi murka terhadap Li Bok-chiu, serentak timbul keberaniannya palu dan tongkat bekerja sekaligus terus menghantam ke arah Li Bok-chiu dengan membawa hawa panas.
Li Bok-chiu tak berani menyambut serangan hebat ini, cepat ia melompat ke samping dan mencari peluang untuk balas menyerang.
Segera Nyo Ko berseru pula.
"Li Bok-chiu, kau memaki Tho-hoa-tocu sebagai manusia tidak tahu malu, kulihat kau sendiri yang tidak kenal malu !"
Makin gusar Pang Bik-hong, palu dan tongkatnya terus menghantam musuh dengan tangkas luar biasa, semula dia rada kaku memainkan kedua macam senjatanya itu, tapi lambat-laun dia mulai biasa dengan permainan ilmu silatnya.
Kalau bicara tentang keuletan, sebenarnya selisih kedua orang tidak jauh, tapi Li Bok-chiu sudah lama malang melintang di dunia Kangouw.
entah sudah berapa banyak pertempuran yang di-alaminya, pengetahuan dan pengalamannya entah berapa kali lebih banyak daripada Pang Bik-hong, apalagi Pang Bik-hong cacat sebelah kaki, lama-2 tentu kewalahan dan kalah.
Benar saja, setelah rasa murka Pang Bik-hong rada mereda, semangat tempurnya menjadi kendur, lambat-laun ia mulai terdesak di bawah angin.
Tentu saja Li Bok-chiu sangat girang, mendadak kebutnya menyabet ke dada lawan, Cepat Pang Bik-hong menangkis dengan palu, tapi ujung kebut terus memutar dan melilit ujung palu.
Sebenarnya gerakan kebut itu adalah kepandaian khas Li Bok-chiu yang biasanya sangat lihay untuk merampas senjata musuh, asal ujung kebut sudah melilit terus dibetot maka senjata lawan pasti akan terlepas dari cekalan..
Tak terduga mendadak terdengar suara mencicit disertai kepulan asap yang berbau sangit, ternyata ujung kebutnya telah hangus terbakar, jadinya Li Bok-chiu tidak berhasil merampas senjata lawan, sebaliknya kehilangan senjatanya sendiri.
Namun Li Bok-chiu tidak menjadi bingung dan gugup, ia buang tangkai kebutnya yang sudah gundul itu, kini dia menggunakan ilmu pukulan andalannya, yaitu Ngo-tok-sin-ciang, pukulan sakti panca-bisa.
Meski ilmu pukulannya yang berbisa lima macam itu sangat lihay, tapi untuk menggunakannya larus dilakukan dari jarak dekat, sedangkan lawannya sekarang bersenjatakan palu dan tongkat yang panjang serta diputar sedemikian kencangnya, tertampaklah di antara dua sosok bayangan orang itu mengepulkan asap pula.
Kiranya jubah pertapaan Li Bok-chiu telah bersentuhan dengan palu dan tongkat yang membara dan sebagian demi sebagian terbakar, Keruaa tidak kepalang gusar Li Bok-chiu, sudah jelas dirinya pasti menang, tapi justeru kewalahan dalam hal senjata, betapapun ia merasa penasaran dan bertekad akan menghantam pandai besi tua itu dengan suatu pukulan maut untuk melampiaskan rasa gemasnya.
Untuk pertama kalinya Pang Bik-hong bertempur dengan orang, jika begitu maju lantas kalah, tentu semangat tempurnya akan semakin surut, tapi sekarang dia berada di atas angin, tongkat dan palunya dimainkan sedemikian lihaynya sehingga tiada peluang bagi Li Bok-chiu untuk memukulnya, sebaliknya Li Bok-chiu sendiri beberapa kali hampir termakan oleh palunya, kalau tidak cepat berkelit tentu tangannya sudah terbakar hangus.
Sejenak kemudian, tiba2 Pang Bik-hong berseru .
"Sudahlah, berhenti, aku tidak mau bertempur lagi dengan kau ! Macam apa keadaanmu ini!"
Habis itu ia terus melompat mundur.
Li Bok-chiu tertegun, ketika angin meniup tiba, baju yang dipakainya sepotong demi sepotong terbang terbawa angin, ternyata bajunya telah berlubang di sana sini kelihatan jelas kulit dagingnya di bagian lengan, pundak dan dada.
Padahal tubuh Li Bok-chiu masih suci bersih, masih tubuh perawan, keruan ia menjadi malu sekali baru saja ia hendak melarikan diri mendadak dekat bokong terasa silir dingin, kiranya sepotong kain baju bagian itu robek pula terbawa angin.
Melihat keadaan orang yang runyam dan konyol itu, cepat Nyo Ko tanggalkan baju sendiri terus dilemparkan sekuatnya ke punggung Li Bok-chiu, Begitu kuat baju Nyo Ko itu melayang ke depan sehingga mirip seorang yang mendadak mendekap Li Bok-chiu dari belakang.
Cepat Li Bok-chiu memasukkan tangannya pada lengan baju itu dan mengencangkannya dengan tali pinggang, Dalam keadaan demikian, biarpun selama hidupnya sudah banyak mengalami pertempuran besar, tidak urung ia menjadi serba salah, mukanya sebentar pucat dan sebentar merah, pikirannya.
"Jika kulanjutkan pertarungan ini, sebentar baju ini akan terbakar lagi, Biarlah pil pahit ini kutelan saja sekarang, kelak akan kucari kesempatan untuk menurut balas."
Ia lantas mengangguk kepada Nyo Ko sebagai tanda terima kasih atas pemberian bajunya, lalu ia berpaling dan berkata kepada Pang Bik-hong.
"Caramu menggunakan senjata aneh ini ternyata sesuai benar dengan jalan pikiran Ui-losia yang eksentrik itu, Coba katakan terus terang menurut perasaanmu jika bertarung dengan kepandaian sejati, dapatkah kau mengalahkan aku? Anak Ui-losia kalau bertempur satu lawan satu dengan aku, apakah di antaranya bisa mengalahkan aku?"
Pada dasarnya Pang Bik-hong adalah orang yang jujur dan polos, maka dengan terus terang ia menjawab.
"Ya, jikalau kau tidak kehilangan senjata andalanmu, lama-lama kau pasti akan mengalahkan aku."
"Asal kau tahu saja"
Ujar Li Bok-chiu dengan angkuh.
"Dan apa yang kutulis tadi bahwa anak murid Tho-hoa-to kebanyakan memang tidak becus menjadi tepat kan?"
Pang Bik-hong berpikir sejenak, lalu berkata .
"Tidak, anggapanmu itu tidak betul. Kalau saja keempat suhengku berada di sini, salah seorang di antaranya pasti lebih kuat dari padamu. Tidak perlu Tan-suheng atau Ki-suheng yang lihay, hanya Bwe-suci saja yang sesama kaum wanita seperti kau, betapapun kau tak dapat mengalahkan dia."
"Hm, orang sudah mati tak dapat dibuktikan, apa gunanya dibicarakan"
Jengek Li Bok-chiu.
"Yang jelas kepandaian Ui-losia juga cuma begini saja, tadinya aku bermaksud menguji kepandaian puterinya yaitu Kwe-hujin, tapi sekarang kukira tidak perlu lagi." -Habis berkata ia terus hendak melangkah pergi "Nanti dulu!"
Tiba-tiba Nyo Ko berseru.
"Ada apa?"
Jawab Li Bok-chiu dengan kurang senang.
"Kau bilang kepandaian Tho-hoa-tocu hanya begini saja, ucapanmu ini salah besar,"
Kata Nyo Ko.
"Pernah kudengar dari beliau bahwa dia punya Giok-siau-kiam-hoat (permainkan seruling sebagai ilmu pedang) sudah cukup untuk mematahkan permainan kebutmu."
Lalu ia ambil sepotong besi dan menggores-gores di atas tanah sambil memberi penjelasan misalnya Li Bok-chiu menyerang begini segera akan ditangkis dengan begitu terus disusul dengan serangan balasan begini dan seterusnya, dan dalam keadaan kepepet akhirnya kau harus membuang kebutmu dan menyerah kalah.
Lebih jauh Nyo Ko berkata.
"Bicara tentang Ngo-tok-ciang-hoat andailanmu, Tho-hoa-tocu sudah siap menghadapi seranganmu -dengan kuku jarinya yang cukup panjang, setiap seranganmu akan "
Dipatahkan, jika pukulanmu tetap diteruskannya, segera beliau menggunakan tenaga jari sakti, dengan kuku tajam akan menyelentik telapak tanganmu dan bila kena, seketika tanganmu akan lumpuh, sedangkan beliau dapat segera memotong kukunya dan terhindarlah dari penjalaran panca-bisa pukulanmu itu.
Keterangan Nyo Ko itu membuat wajah Li Bok-chiu sebentar pucat sebentar merah padam, sebab setiap kata pemuda itu memang masuk di akal dan memang tepat benar untuk menghadapi serangannya.
Kemudian Nyo Ko menambahkan.
"Tho-hoa-tocu sangat gusar akan ucapanmu yang kurangajar, cuma beliau adalah seorang tokoh maha besar dan tidak sudi bergebrak sendiri dengan kau, beliau telah mengajarkan semua kepandaian tadi kepadaku dan suruh aku membereskan kau, tapi mengingat kau dan guruku ada hubungan saudara seperguruan maka aku telah membeberkan kelihayan Tho-hoa-tocu kepadamu agar kelak bila kau bertemu dengan anak muridnya ada lebih baik menghindari saja sejauhnya,"
Li Bok-chiu termangu sejenak, akhirnya ia berkata dengan lesu.
"Sudahlah!" -Segera ia memutar tubuh dan melangkah pergi, dalam sekejap saja sudah menghilang di balik bukit sana. Diam-diam Pang Bik-hong bersyukur melihat musuh lihay itu sudah pergi, Padahal meski Ui Yok-su telah mengajarkan ilmunya kepada Nyo Ko, untuk bisa digunakan secara tepat dan mengalahkan musuh, sedikitnya Nyo Ko perlu berlatih setahun dua tahun, Tapi Li Bok-chiu ternyata gentar dan takluk benar-benar lahir batin atas uraian Nyo Ko tadi, sejak itu ia tidak berani lagi mengeluarkan kata-kata menghina terhadap Ui Yok-su. Dengan kepergian Li Bok-chiu, rasanya yang paling girang adalah Liok Bu-siang, maklumlah nona itu sudah lama berada di bawah pengaruh iblis itu, mendengar suaranya saja ketakutan jangankan lagi berhadapan dengan dia. Maka dia tidak habis kagum akan kecerdikan Nyo Ko, berulang ia memuji "si tolol"
Itu.
Selagi mereka hendak masuk lagi ke dalam bengkel si pandai besi mendadak terdengar suara gemuruhnya orang banyak disertai suara derapan lari kuda yang riuh.
Thia Eng terkejut Cepat Nyo Ko berkata.
"Coba kupergi melihatnya!" -Segera ia mencemplak ke atas kudanya dan dilarikan ke sana, setelah membelok ke balik bukit sana dan beberapa li kemudian sampailah dia di jalan raya, Tertampak debu mengepul panji berkibaran, kiranya pasukan Mongol sedang bergerak ke arah selatan. Selamanya Nyo Ko belum pernah menyaksikan gerakan pasukan sebanyak itu, ia menjadi terkesima. Tiba-tiba dua perajurit Mongol menyentaknya sambil menerjang ke arahnya .
"Hei, kau lihat apa?"
Cepat Nyo Ko memutar kudanya dan kabur, kedua perajurit itu segera pentang busur dan melepaskan anak panah, Tapi sekali meraup ke beIakang, dengan mudah saja dua batang anak panah itu sudah kena ditangkap Nyo Ko, ia merasa sam-beran anak panah itu cukup kuat, kalau saja dirinya tidak mahir ilmu silat tentu sudah mati tertembus kedua panah itu.
Melihat Nyo Ko mampu menangkap panah mereka, kedua perajurit itu menjadi jeri terhadap kelihayan Nyo Ko, mereka menahan kuda dan memutar balik ke sana.
Nyo Ko lantas kembali ke bengkel si pandai besi dan menuturkan apa yang dilihatnya itu.
"Pasukan besar Mongol ternyata benar bergerak ke selatan, maka rakyat jelata bangsa Han kita kembali akan menderita,"
Kata Pang Bik-hong dengan gegetun.
"Ya, ketangkasan menunggang kuda dan memanah pasukan Mongol memang sukar dilawan oleh pasukan Song, malapetaka yang bakal menimpa sungguh hebat,"
Ujar Nyo Ko. Pang Bik-hong berkata pula.
"Nyo-kongcu muda usia, mengapa tidak pulang ke selatan untuk ikut berjuang melawan serbuan musuh?"
Nyo Ko melenggong sejenak jawabnya kemudian .
"Tidak, aku harus ke utara untuk mencari Kokoh, Begitu kuat pasukan Mongol, hanya tenagaku seorang apa gunanya?"
"Tenaga seorang memang kecil, tapi kalau tenaga orang banyak bergabung kan menjadi kuat,"
Kata Pang Bik-hong.
"Apabila setiap orang berpendirian seperti Nyo-kongcu, lalu siapa lagi yang mau berjuang demi bangsa dan tanah air?"
Walaupun merasa ucapan orang tidak salah, tapi Nyo Ko tetap merasa lebih penting mencari Siao-liong-li dahulu.
Sejak kecil ia hidup terlunta-lunta di daerah Kanglam dan sudah kenyang derita siksaan kaum penguasa, ia merasa meski orang Mongol tampak kejam dan jahat, tapi kaisar Song juga belum tentu manusia baik dan tidak perlu jual tenaga baginya.
Karena itu ia hanya tersenyum saja dan tidak menanggapi ucapan Pang Bik-hong tadi.
Sctelah meringkaskan barang bawaannya dan dipanggul, lalu Pang Bik-hong berkata kepada Thia Eng.
"Sumoay, kelak bila bertemu dengan Suhu, harap kau suka menyampaikan kepada beliau bahwa murid Pang Bik-hong tidak pernah melupakan ajaran beliau, Kini aku akan menyusup ke tengah pasukan Mongol, betapapun aku harus membinasakan satu-dua panglimanya yang telah menyerbu tanah air kita ini."
Habis berkata ia terus melangkah pergi tanpa berpaling.
Seperginya Pang Bik-hong, mereka bertiga masuk lagi ke dalam bengkel dan melihat Sah Koh terkulai di lantai, mereka kaget dan cepat menggotongnya ke atas pembaringan Kelihatan muka Sah Koh merah padam, kedua matanya melotot tak bersinar, jelas racun pukulan sakti Li Bik-chiu telah bekerja pula.
Cepat Thia Eng memberi minum obat lagi dan Nyo Ko mengurut Hiat-tonya.
Sah Koh terbeliak memandangi pemuda itu, mendadak air mukanya mengunjuk rasa ketakutan dan berteriak.
"Saudara Nyo, jangan kau minta ganti nyvwa padaku, bukan aku yang mencelakai kau..."
"Jangan takut, Suci,"
Bujuk Thia Eng dengan suara halus.
"dia takkan..."
Nyo Ko pikir selagi pikiran Sah Koh dalam keadaan linglung, kesempatan ini dapat digunakan untuk memaksanya memberi keterangan Maka cepat ia cengkeram pergelangan tangan Sah Koh dan membentak dengan bengis.
"Jika bukan kau, habis siapa yang mencelakai diriku? Hayo lekas mengaku jika tidak ingin kucekik mati kau untuk mengganti jiwaku!"
Dengan suara gemetar Sah Koh memohon "Jangan, saudara Nyo, jangan, bukan aku!"
"Kau tetap tidak mau mengaku?"
Bentak Nyo Ko pula dengan gusar "Baik, biar kucekik mampus kau!"
Berbareng sebelah tangannya lantas mencengkeram tenggorokan Sah Koh sehingga perempuan itu menjerit ketakutan.
Sudah tentu Thia Eng dan Liok Bu-siang sadar tahu maksud tujuan Nyo Ko, mereka sama mencegahnya dan meminta jangan merecoki Sah Koh.
Tapi Nyo Ko tidak menggubris dan menambahi tenaga cekikannya, dengan lebih beringas ia membentak pula .
"Aku adalah setan saudara Nyo, aku mati penasaran, tahukan kau?"
"Ya, ya, aku tahu,"
Jawab Sah Koh dengan gemetar "Setelah kau mati, burung gagak memakan dagingmu."
Perasaan Nyo Ko seperti disayat sembilu, tadinya ia cuma mengira ayahnya mati secara tak wajar, siapa tahu sesudah mati mayatnya tidak terkubur pula dengan baik, bahkan menjadi mangsa burung gagak, maka ia tambah murka, dengan suara keras ia membentak pula.
"Hayo lekas katakan, siapa yang membunuh diriku ?"
Dengan suara serak Sah Koh menjawab .
"Kau sendiri memukul Kokoh, pada badan Kokoh ada jarum berbisa, lalu kau mati."
Duduk perkara kematian Nyo Khong dahulu terjadi secara kebetulan saja, Semula Auyang Hong menggunakan racun ular membinasakan Lam Hi-jin (salah seorang Kanglam-jit-koay dan guru Kwe Cing), waktu Lam Hi-jin hampir mati, secara tak sadar ia menghantam pundak Ui Yong satu kali sehingga darah beracun dari tangannya itu tertinggal di atas "baju landak"
Yang dipakai Ui Yong, hal ini sama sekali diluar tahu Ui Yong sendiri.
Maka kemudian ketika Nyo Khong juga menghantam pundak Ui Yong di suatu kelenteng di kota Kah-hin, kebetulan tempat hantamannya itu adalah bagian tempat yang dihantam Lam Hi-jin.
Sebab itulah Nyo Khong mati keracunan oleh "duri baju landak!"
Berbisa yang dipakai Ui Yong itu. Begitulah Nyo Ko berteriak menanya pula "Kokoh? Siapa itu Kokoh?"
Karena cekikan Nyo Ko yang tambah kencang, hampir saja Sah Koh tidak dapat bernapas dan hampir kelenger, dengan suara lemah ia menja-javvab .
""Kokoh ya Kokoh,"
"Kokoh she apa? Siapa namanya ?"
Desak Nyo Ko.
"Aku... aku tak tahu, kau le... lepaskan aku!"
Jawab Sah Koh dengan serak.
Melihat gelagat tidak enak, Liok Bu-siang bermaksud menarik tangan Nyo Ko.
Tapi kini keadaan Nyo Ko menyerupai orang yang kehilangan akal sehat, sekuatnya ia mengipatkan tangannya, keruan Bu-siang tak tahan, ia terlempar ke belakang dan tertumbuk pada dinding dengan rasa sakit tidak kepalang.
Melihat Nyo Ko yang biasanya ramah tamah itu kini berubah seperti orang gila, Thia Eng menjadi ketakutan hingga kaki dan tangan terasa lemas.
Nyo Ko pikir kalau sekarang tak dapat mengetahui nama pembunuh ayah, tentu dirinya bisa mati penasaran Maka berulang ia tanya pula .
"Siapa Kokohmu? Dia she Ki atau she Bwe?" -ia pikir Sah Koh adalah putri Ki Leng-hong, tentu Kokohnya (bibinya) juga she Ki, bisa jadi adalah Bwe Ciau-hong yang dimaksudkan Maklumlah, Kwe Cing dan Isterinya memperlakukan dia seperti anaknya sendiri sejak kecil betapapun Nyo Ko tak berani membayangkan bahwa yang membinasakan ayahnya itu adalah Ui Yong adanya. Begitulah Sah Koh meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Nyo Ko. tapi karena Hiat-to bagian pergelangan tangan juga terpegang pemuda itu, terpaksa ia tidak mampu berkutik hanya berseru dengan suara serak.
"Kau minta ganti jiwa kepada Kokoh saja dan jangan mengganggu diriku."
"Kokoh berada di mana?"
Tanya Nyo Ko pula.
"Entahlah, waktu aku dan Suhu berangkat, dia dan lakinya masih tinggal di pulau sana,"
Jawab Sah Koh. Mendengar keterangan yang cukup berarti ini, seketika hati Nyo Ko tergetar hebat dengan suara gemetar ia coba menegas .
"Kokoh memanggil Suhumu dengan sebutan apa?"
"Sudah tentu ayah, apa lagi?"
Jawab Sah Koh. Serentak air muka Thia Eng dan Liok Bu-siang juga berubah demi mendengar keterangan itu. Kuatir salah, Nyo Ko coba mengulangi lagi pertanyaannya .
"Jadi laki Kokohmu itu bernama Kwe Cing?"
"Ya, masakah kau tidak tahu?"
Jawab Sah Koh sambil memancal-mancalkan kakinya dan mendadak berteriak .
"Tolong! ToIong!"
Kacau rasanya benak Nyo Ko, sejak kecil ia hidup sebatangkara, seketika terbayang kembali kisah deritanya di masa lalu, ia pikir kalau ayahnya tidak dibunuh orang, tentu ibunya tidak perlu hidup sengsara dengan menangkap ular dan dengan sendirinya juga takkan mati tergigit ular berbisa, tentu pula dirinya juga tidak perlu hidup merana.
Bila teringat pula kebaikan Kwe Cing dan Ui Yong waktu dirinya tinggal di Tho-hoa-to dahulu, sungguh sukar dipercaya bahwa musuh pembunuh ayah itu adalah paman dan bibi itu.
Karena gejolak perasaannya itti, cengkeramannya menjadi kendur, Sah Koh berteriak satu kali terus melompat bangun.
Cepat Thia Eng mendekati Nyo Ko dan menghiburnya.
"Suci memang tidak waras pikirannya hal ini kaupun tahu, maka apa yang dikatakannya itu janganlah kau percaya."
Walaupun begitu katanya, namun dalam hati ia percaya penuh apa yang diucapkan Sah Koh pasti benar adanya.
Ia lihat air muka Nyo Ko sangat sedih dan seperti tidak mendengar apa yang dikatakannya itu.
Setelah termenung sejenak, mendadak Nyo Ko melompat keluar rumah dan mencemplak ke atas kudanya yang kurus itu terus dilarikan dengan cepat.
Dari belakang sayup-sayup terdengar seruan Thia Eng dan Liok Bu-siang, tapi tak digubris lagi oleh Nyo Ko, yang terpikir oleh pemuda itu hanya.
"Aku harus menuntut balas! Aku harus menuntut balas !"
Sekaligus ia larikan kudanya sampai ratusan li jauhnya, ketika tiba-tiba merasa bibir rada perih dan sakit, ia coba merabanya dan ternyata penuh darah.
Kiranya saking sedih dan gusarnya, tanpa sadar ia menggigit bibir sendiri hingga pecah dan berdarah.
Dasarnya Nyo Ko memang benci kepada kehidupan yang dianggapnya tidak adil ini, kini dirasakan dunia ini palsu belaka dan tiada seorangpun yang baik, Bahwa bibi Kwe memang tidak begitu baik padaku, ini sudah jelas, tapi paman Kwe, paman Kwe...
Maklumlah, selama ini dia sangat kagum dan menghormat kepada Kwe Cing, ia merasa ilmu silat dan kepribadian paman Kwe itu sungguh lain daripada yang lain, lebih-lebih sang paman yang begitu baik hati padanya, tapi sekarang ia merasa tertipu habis-habisan.
Saking berdukanya ia menjadi lemas, ia turun dari kuda dan duduk di tepi jalan, ia menangis tergerung sambil mendekap kepala.
Sekali sudah menangis, maka sukar dibendung lagi air matanya seakan-akan segala duka derita manusia hidup ini seluruhnya berada dalam tangisnya itu.
Sebenarnya Nyo Ko belum pernah melihat muka ayahnya dan juga belum pernah mendengar kisah hidup sang ayah, tapi sejak kecil ia mengkhayalkan sang ayah yang gagah ksatria itu, dalam lubuk hatinya ia merasa sang ayah adalah manusia yang paling baik, yang paling sempurna di dunia ini.
Sudah tentu ia tidak tahu bahwa semasa hidup ayahnya adalah manusia yang kotor dan rendah, seorang pengkhianat terhadap bangsa dan negara.
Begitulah Nyo Ko terus menangis sampai sekian lamanya, ketika tiba-tiba mendengar suara derapan kaki kuda, tertampak dari utara mendatangi tiga empat penunggang kuda, dari dandanannya jelas adalah Busu bangsa Mongol.
Busu paling depan memegang tumbak, pada ujung tombaknya menusuk seorang bayi berumur dua tahunan, jadi seperti sujen satai dan dianggapnya seperti permainan yang menarik.
Agaknya bayi itu belum mati terbukti masih mengeluarkan suara tangisan yang lemah, Tapi busu Mongol itu malah bergelak tertawa gembira.
Ketika melihat Nyo Ko merintangi jalan lalu mereka, segera seorang di antaranya membentak.
"Hayo, minggir !" -Berbareng tumbaknya terus menusuk ke arah Nyo Ko. Memangnya Nyo Ko keki dan tak terlampiaskan segera ia pegang ujung tumbak musuh terus dibetot, menyusul sebelah tangannya terus menampar, kontan Busu yang terberosot dari kudanya itu mencelat beberapa meter jauhnya dan mati dengan batok kepala pecah berantakan. Keruan Busu yang lain menjadi ketakutan melihat ketangkasan Nyo Ko, mereka menjerit kaget terus memutar kuda dan kabur seperti diuber setan "Plok" , bayi yang tersujen di ujung tumbak seorang Busu tadi terjatuh di tepi jalan. Cepat Nyo Ko memondongnya, ia lihat bayi itu adalah anak bangsa Han, gemuk lagi putih, tampaknya sangat menarik, Tapi ujung tumbak Busu tadi telah menembus perutnya, walaupun seketika belum mati, tapi tidak mungkin juga disembuhkan. Bayi itu masih dapat mengeluarkan suara tangisan lemah sambil memanggil "ibu"
Dengan suara lirih, Nyo Ko sendiri lagi berduka, ia bertambah sedih dan kasihan kepada bayi yang sedang sekarat itu, kembali air matanya bercucuran.
Melihat bayi itu dalam keadaan menderita, terpaksa ia pukul bayi itu dengan pelahan untuk menewas-kannya, Lalu ia gunakan tumbak Busu Mnngol tadi untuk menggali tanah, maksudnya hendak mengubur jenazah bayi itu.
Tapi baru sebentar ia menggali, mendadak terdengar suara gemuruh di kejauhan sana disertai debu mengepul tinggi, di tengah suara terompet, pasukan besar Mongol tampak menerjang tiba dengan cepat.
Lekas Nyo Ko jinjing tombaknya dan mencemplak ke atas kudanya, meski kurus, tapi kudanya itu adalah kuda perang yang sudah berpengalaman.
Maka sekali meringkik segera kuda itu menerjang ke tengah pasukan Mongol Tumbak Nyo Ko bekerja cepat, sekaligus ia membinasakan beberapa perajurit musuh, tapi pasukan Mongol membanjir tak terhitung jumlahnya, terpaksa Nyo Ko membelokkan kudanya dan kabur ke tempat sepi.
Dari belakang ia dihujani anak panah, namun semuanya dapat disampuk jatuh oleh tumbaknya.
Kuda kurus itu dapat berlari cepat sekali hanya sekejap saja sudah meninggalkan kejaran musuh, tapi kuda itu masih terus lari secepat terbang di ladang belukar, Tak lama haripun mulai gelap, Nyo Ko menahan kudanya dan coba memandang jauh sekelilingnya, tertampak semak belukar tumbuk melebihi batas lutut, puncak gunung dikelilingi kabut tebal di kejauhan, suasana sunyi senyap, bahkan suara burungpun tak terdengar.
Nyo Ko turun dari kudanya sambil masih memondong bayi yang sudah tak bernyawa tadi, ia pikir.
"Kedua orang tua anak ini tentu sangat sayang padanya, tapi tumbak Busu Mongol itu telah membinasakan bayi tak berdosa ini. Bayi ini kini sudah mati dan tak merasakan apa-apa lagi, tinggal kedua orang tuanya yang berduka dan merana, Melihat keganasan musuh, serbuan pasukan Mongol ke selatan sekali ini entah betapa banyak korban yang akan ditimbulkannya?"
Makin dipikir makin susah hati Nyo Ko, kemudian ia menggali liang di tepi pohon untuk mengubur bayi itu.
Habis itu ia menjadi teringat kepada ucapan Sah Koh tentang kematian ayahnya, bayi ini mati, tapi ada yang menguburnya, sebaliknya kematian ayahku harus diakhiri di dalam perut burung gagak, Kalian sudah membunuhnya dan mengapa tidak menguburnya puIa?
Ai, kalian sungguh amat kejam !
Karena berlari seharian, Nyo Ko melihat kudanya sudah lelah, apalagi ke sananya mungkin juga sukar mendapatkan tempat pondok, terpaksa harus mencari tempat bermalam seadanya, ia kuatir di semak belukar ini akan diganggu oleh ular berbisa atau binatang buas, maka ia lantas mengeluarkan seutas tali, kedua ujung tali diikat pada dua batang pohon, ia menirukan cara tidur Siao-liong-li dengan berbaring di atas tali yang terbentang itu.
Sampai tengah malam, tiba-tiba Nyo Ko mengendus bau langu, menyusul terdengarlah suara raungan di sana sini, Nyo Ko terkejut, cepat ia memandang ke arah suara meraung itu, Kebetulan malam ini gelap gulita, syukur dia sudah biasa bertempat tinggal di kuburan kuno yang gelap itu, sudah biasa pula ia memandang sesuatu dalam keadaan gelap.
Maka dapatlah diketahui ada empat lentera kecil yang mendekatnya dengan pelahan.
Waktu ia menegas pula, kiranya empat lentera kecil itu adalah sorot mata dua ekor harimau kumbang.
Kedua ekor harimau kumbang itu hitam mulus dengan badan langsing dan panjang, jelas bukan harimau daerah Tionggoan yang pernah dilihatnya.
Kedua ekor mariraau itu sambil berjalan sambil mengendus-endus, sampai di tempat kuburan bayi, mendadak cakar kedua harimau itu menggaruk-garuk dengan cepat.
Nyo Ko menjadi gusar, pikiranya hendak melompat turun untuk mengusir harimau itu, ceIakanya tidak membawa senjata, tumbak rampasan dari Busu Mongol itu sudah dibuangnya tadi.
Tampaknya kedua ekor kucing raksasa sangat tangkas dan buas, jika menempurnya dengan bertangan kosong mungkin diri sendiri tak terhindar dari luka parah.
Selagi sangsi, tiba-tiba terdengar di sebelah barat sana ada suara "blang"
Yang keras, sejenak kemudian suara "blang"
Itu terdengar lagi satu kali.
Waktu Nyo Ko memandang ke sana, seketika ia tertegun dan hampir tak percaya kepada matanya sendiri.
Ternyata yang dilihatnya adalah sebuah peti mati, anehnya peti mati itu dapat bergerak dan melompat-lompat, makin lama makin dekat Bahwa peti mati dapat bergerak sendiri benar-benar aneh bin ajaib, Nyo Ko sampai terkesima berbaring di atas talinya sambil menahan napas.
Setelah melompat-lompat lagi beberapa kali,, kemudian peti mati itu berhenti di bawah sebatang pohon besar Tampaknya kedua ekor harimau kumbang itu menjadi heran juga melihat peti mati, mereka terus lari ke sana dan mengelilingi peti mati sambil mengeluarkan suara endusan dari hidung.
Salah seekor harimau itu coba menggaruk tutup peti mati dengan cakarnya yang tajam.
Pada saat itulah mendadak tutup peti mati bisa menjeplak sendiri, dari dalam peti melompat keluar sesosok mayat kering yang tinggi kurus, sekali kakinya menendang dengan kaku, kontan harimau kumbang di depannya jatuh terguIing.
Harimau yang lain segera menubruk maju hendak menggigit mayat hidup itu, tapi kuduk harimau malah kena dicengkeram oleh mayat hidup itu dan terlempar hingga jauh.
Melihat betapa hebat kekuatan mayat hidup itu, Nyo Ko terkejut hingga mandi keringat dingin.
Meski sudah kecundang, tapi kedua harimau kumbang itu tidak menyerah mentah-mentah, walaupun tak berani menerjang maju lagi, tapi keduanya mendekam di kejauhan sambil meraung geram.
Tiba-tiba dari lembah gunung sana timbul suara seram laksana bunyi burung hantu, sesosok bayangan hitam menggelinding tiba laksana gumpalan asap, Kedua ekor harimau kumbang lantas memapaki gumpalan asap itu dan berdiri di sampingnya dengan tingkah laku yang sangat jinak seperti anjing terhadap majikannya.
Sesudah gumpalan asap hitam itu tidak bergerak lagi barulah kelihatan dengan jelas, kiranya adalah seorang kakek pendek dengan baju hitam mulus, kulit badannya juga hitam kelam serta janggut yang hitam lebat, di atas pundaknya menghinggap seekor burung kondor besar dengan kepala botak, warna burung kondor itupun hitam mulus, Terdengar kakek hitam pendek itu membuka suara.
"Siau-siang-cu, mengapa kau memukuli kucing piaraanku? Kata pribahasa. pukul anjing juga mesti mengingat majikannya, Tindakanmu tadi bukankah terlalu ?"
Tinggi badan kakek itu hanya satu meteran, walaupun tubuhnya cebol, tapi suaranya ternyata nyaring seperti bunyi guntur sehingga anak telinga Nyo Ko pun tergetar.
Terdengar mayat hidup tadi mendengus dan menjawab dengan suara lemah.
"Saudara Singh, kucingmu kan tidak sampai kulukai? Baiklah kuminta maaf padamu !"
Sembari berkata iapun memberi hormat.
Kini barulah Nyo Ko dapat melihat dengan jelas, kiranya mayat hidup itu sebenarnya adalah manusia, cuma gerak-geriknya lurus kaku, mukanya pucat seperti kertas, pula muncul dari dalam peti mati maka Nyo Ko salah menyangkanya sebagai mayat hidup.
Kalau melihat gerak tendangan serta cengkeramannya tadi, dua ekor harimau kumbang dianggapnya seperti dua ekor kucing saja, jelas kepandaiannya itu adalah tokoh dunia persilatan kelas satu.
Kedua orang sama-sama menyebut harimau-kumbang sebagai "kucing" , si kakek cebol berwatak keras berangasan, sebaliknya si-mayat hidup jangkung bersikap tenang, sungguh suatu perbandingan yang menyolok dan aneh.
Terdengar si kakek cebol berkata pula.
"Siau-siang-cu, bagaimana dengan urusannya Kim-Iun Hoat-ong?"
Mendengar nama "Kim-lun Hoat-ong"
Disebut, mau-tak-mau Nyo Ko sangat tertarik dan menaruh perhatian sepenuhnya. Maka terdengar Siau-siang-cu mendengus satu kali, lalu berduduk di atas peti mati dan berkata.
"Seorang diri dia berebut pengaruh dengan jago silat Tionggoan dan telah mengalami kekalahan besar."
Kakek cebol itu terbahak-bahak, suaranya menggetar pohon, burung hantu di atas pundaknya juga mengeluarkan suara yang seram. Habis tertawa barulah kakek cebol itu berkata .
"Aku Nimo Singh datang dari negeri Thian-tiok (lndia sekarang) yang jauh di barat sana, tapi sampai di sini ternyata telah didahului oleh Kim-lun Hoat-ong, dia sudah diangkat sebagai Koksu (imam negara) kerajaan Mongol Hm, hm, padahal berdasarkan kepandaiannya apakah dia sesuai untuk disebut sebagai "
Nomor satu"?"
Dengan nada mengejek Siau-siang-cu menanggapi "Memangnya, di dunia ini selain engkau saudara Singh, siapa lagi yang sesuai dianugerahi gelar itu?"
Nimo Singh bergelak tertawa gembira, Siau-siang-cu juga terkekeh beberapa kali, tapi jelas nadanya mengejek. Nimo Singh berkata lagi .
"Siau-siang-cu, kau tinggal di Ouwlam, mengapa kau tidak berebut gelar itu padanya ?"
Siau-siang-cu menjawab.
"Waktu pangeran Kubilai mengirim undangan padaku, ketika itu aku sedang berlatih Siu-bok-tiang-sing-kang (ilmu hidup abadi) dan tidak sempat hadir, jadinya kedudukan itu dapat diambil Kim-lun Hoat-ong dengan mudah."
"Dan kini ilmu saktimu itu tentu sudah selesai kau latih, mengapa kau tidak mengukur tenaga dengan dia? Apakah kau takut kepada roda emas Hwesio besar itu?"
Ejek Nimo Singh.
"Kenapa takut kepada Hwesio?"
Jawab Siau-siang-cu.
"soalnya kepandaianku belum memadai, kan begitu ?"
Kembali Nimo Singh bergelak terrawa, tapi mendadak ia merasa ucapan orang bernada mengejek dengan gusar ia lantas berkata.
"Siau-siang-cu, kau pandang rendah diriku. bukan? Baik, akan kucoba betapa lihaynya kau punya Siu-bok-tiang-sing-kang?"
Sekali bilang mau coba, tanpa tawar-tawar lagi segera ia mencobanya, mendadak segulung asap menerjang ke depan..
Tapi biarpun perawakan Siau-siang-cu kelihatan kaku, gerak-geriknya ternyata gesit dan cepat luar biasa, cepat ia angkat peti matinya terus mengepruk.
Terdengarlah suara "blang"
Yang keras, kedua orang sama melompat mundur, kedua ekor harimau kumbang dan burung hantu sama meraung dan menguak sehingga menambah seramnya suasana.
Setelah benturan tadi, kedua orang sama merasakan kepandaian lawan memang lihay, Nimo Singh berkata.
"Hebat sekali kepandaianmu Siau-siang-cu,"
Siau-siang-cu tertawa dingin pula dan menjawab .
"Ah, aku yang mengaku kalah. Apakah namanya ilmu kepandaianmu itu?"
"lnilah Sakya-hiat-kang (ilmu sakti Sakya melempar gajah),"
Jawab Nimo Singh "Ya, saudara Singh berasal dari negeri Tat-Ipo Loco (Budha Dharma), pantas memiliki ilmu sakti itu,"
Ujar Siau-siang-cu.
Dari jarak jauh kedua orang lantas saling memberi hormat Habis itu mendadak Nimo Singh berlari cepat ke sana, dalam sekejap saja bayangannya sudah menghilang di kegelapan, kedua ekor harimau kumbang tadi juga lantas menyusul pergi.
Siau-siang-cu juga lantas melompat ke dalam peti matinya dan peti mati itu kembali berjingkrak-jingkrak menggeser sendiri ke arah berlawanan.
Tanpa sengaja Nyo Ko telah menyaksikan adegan aneh itu, diam-diam ia mengakui bahwa jagat raya yang luas ini benar-benar terdapat orang-orang maha sakti dan hal-hal yang ajaib.
Coba kalau dirinya tidak berbaring tinggi di atas tali, tentu jejaknya sudah ketahuan kedua orang aneh tadi dan bukan mustahil jiwanya sudah melayang.
Sukar baginya untuk tidur lagi, ia coba merenungkan gaya ilmu silat kedua orang tadi, ia merasa ilmu mereka itu sama anehnya, tapi sangat lihay.
Sampai lama sekali Nyo Ko merenung, akhirnya ia pejamkan mata untuk menghimpun semangat.
Tak lama, tiba-tiba terdengar kudanya meringkik sekali.
Kuda itu sangat cerdik, ketika kedua ekor harimau kumbang tadi datang, karena mengendus bau binatang buas itu, maka kuda kuda itu mendahului menyingkir jauh, kini mendadak meringkik, tentu terjadi sesuatu pula di sekitar situ.
Dari balik semak rumput Nyo Ko coba merunduk maju ke sana, sementara itu sudah fajar hari sudah mulai remang-remang, Nyo Ko melihat di kejauhan ada seorang sedang melompat tinggi ke atas, sebelah tangannya menjulur untuk memetik buah-buahan.
sesudah dekat, Nyo Ko mengenal orang itu adalah Darba, murid Kim-lun Hoat-ong.
Setiap lompatan Darba hanya dapat memetik satu buah, rupanya ia menjadi tidak sabar, akhirnya ia gunakan lengannya untuk menghantam batang pohon, seketika pohon buah itu patah dan rebah, maka dapatlah Darba memetik buahnya dengan mudah dan cepat.
Nyo Ko pikir barangkali Kim-lun Hoat-ong juga berada di sekitar situ, sebenarnya dia tiada permusuhan dengan Hoat-ong, kini setelah jelas diketahui Kwe Cing dan Ui Yong adalah musul pembunuh ayahnya, ia menjadi menyesal tempo hari telah membantu kedua orang itu menempur Kim-lun Hoat-ong.
Diam-diam Nyo Ko lantas menguntit di belakang Darba, ia lihat orang berlari secepat terbang menuju lereng bukit sana, Nyo Ko tahu ilmu silat Darba sangat hebat, maka ia tidak berani terlalu dekat, hanya menguntit dari kejauhan saja.
Tertampak Darba masuk ke tengah hutan dan makin menanjak ke atas, akhirnya sampai puncak tertinggi pegunungan itu.
Di atas puncak gunung itu terdapat sebuah gubuk kecil yang tak berdinding, Kelihatan Kim-lun Hoat-ong sedang duduk bersemadi.
Darba menaruh semua buah yang dipetiknya tadi di lantai gubuk itu, lalu mengundurkan diri.
Ketika berpaling dan mendadak dilihatnya Nyo Ko sedang mendatanginya, seketika air mukanya berubah dan berseru.
"Hei, Toasuheng, apakah engkau hendak membikin susah Suhu?"
Berbareng itu ia terus menerjang maju dan menarik baju Nyo Ko.
Sebenarnya ilmu silat Darba terlebih kuat daripada Nyo Ko, tapi lantaran sang guru dalam keadaan semadi dan tidak boleh diganggu, apabila sampai terganggu, seketika jiwa bisa melayang, saking gugupnya ia menjadi linglung dan cara menyerangnya menjadi melanggar peraturan dasar ilmu silat, keruan ia berbalik kena dipegang oleh Nyo Ko terus disengkelit sehingga dia terbanting jatuh.
Menurur jalan pikiran Darba, ia percaya Nyo Ko adalah inkarnasi Suhengnya, apalagi sekarang ia terbanting jatuh, setelah berguling di tanah segera ia merangkak bangun dan berlari pula ke depan Nyo Ko.
Semula Nyo Ko menyangka orang hendak menyerangnya lagi, maka cepat ia melangkah mundur dan siap balas menyerang, Siapa duga mendadak Darba terus tekuk lutut dan menyembah padanya sambil memohon.
"O, Toasuheng, harap engkau suka mengingat kebaikan Suhu di masa lampau, kini Suhu terluka parah dan sedang mengadakan penyembuhan diri, jika engkau mengejutkan beliau tentu bisa..."
Sampai di sini Darba tidak sanggup melanjutkan lagi karena tenggorokan serasa tersumbat dan air matapun bercucuran Meski Nyo Ko tidak paham bahasa Tibet yang diucapkan Darba, tapi dari sikapnya dan suaranya, pula Kim-lun Hoat-ong tampak pucat, maka dapatlah dia memahami apa artinya itu, cepat ia membangunkan Darba dan berkata.
"Aku takkan mencelakai gurumu, jangan kuatir."
Melihat sikap Nyo Ko yang ramah itu, Darba menjadi girang, meski berbeda bahasa, namun rasa permusuhan telah lenyap kini.
Pada saat itulah Kim-lun Hoat-ong tampak membuka matanya, melihat Nyo Ko, ia menjadi melenggong, Tadi dia tekun bersemadi sehingga tidak mendengar apa yang dipercakapkan antara Darba dan Nyo Ko, kini mendadak nampak musuh sudah berada di depan mata, maka sambil menghela napas iapun berkata.
"Percumalah kepandaian yang kulatih berpuluh tahun ini, siapa nyana hari ini aku harus tewas di Tionggoan sini."
Kiranya Kim-lun Hoat-ong terluka parah oleh hantaman batu besar itu hingga isi perutnya terluka dalam, ia pasang gubuk dan merawat luka di atas gunung ini, tak terduga Nyo Ko mendadak bisa muncul di sini, maka ia mengira dirinya pasti celaka.
Siapa tahu Nyo Ko malah memberi hormat padanya dan menyapa.
"Kedatanganku ini bukan untuk memusuhi Hoat-ong, hendaklah jangan kuatir."
Hoat-ong menggeleng kepala, baru mau bicara lagi, mendadak dada terasa kesakitan, cepat ia pejamkan mata dan mengatur pernapasan.
Melihat keadaan orang, Nyo Ko mengulurkan tangan kanan dan menempel Ci-yang-hiat di punggung Hoat-ong.
Darba kaget, cepat ia ayun kepalan hendak menyerang Nyo Ko, Tapi Nyo Ko sempat menggoyangi tangan kiri dan mengedipinya.
Ketika nampak keadaan sang guru tiada perubahan apapun, sebaliknya tampak tersenyum simpul, maka kepalan yang sudah diangkat itu tak jadi dipukulkan.
Dalam pada itu Nyo Ko telah mengerahkan tenaga dalam sehingga suatu arus hawa hangat mengalir ke berbagai Hiat-to di tubuh Kim-lun Hoat-ong.
Karena pikirannya tidak perlu kuatir lagi segera Kim-lun Hoat-ong memusatkan segenap kekuatannya untuk melancarkan aliran darahnya serta membenarkan luka dalamnya, Tidak terlalu Iama rasa sakitnya sudah mulai lenyap, wajahnya telah bersemu merah.
Ia membuka mata dan mengangguk kepada Nyo Ko sebagai tanda terima kasih.
Setelah dibantu Nyo Ko sekian lama, Kim-lun Hoat-ong merasa hawa murni di dalam tubuh telah berputar dengan cepat dan lancar.
Nyo Ko merasakan perputaran dan arah aliran hawa murni di dalam tubuh Hoat-ong itu ternyata sama sekali berbeda dengan Lwekang aliran Coan-cin-pay, bahkan juga tidak sama dengan lwekang terbalik ajaran Auyang Hong.
Yang jelas Lwekang Hoat-ong ini juga teratur dengan baik walaupun perputarannya terkadang berubah ke kanan dan ke kiri secara tak menentu.
ia tahu ini adalah aliran ilmu tersendiri dari Tibet, diam-diam iapun mengingatnya dengan baik, hanya saja bagaimana caranya berlatih belum diketahui Nyo Ko, apalagi untuk berlatih sampai tingkatan Kim-lun Hoat-ong tentu tak dapat dicapai dalam waktu singkat.
BegituIah kemudian Kim-lun Hoat-ong memberi hormat kepada Nyo Ko dan bertanya.
"Nyo-siauhiap, mengapa engkau tiba-tiba datang membantu aku?"
Nyo Ko lantas menceritakan bahwa baru saja ia mengetahui pembunuh ayahnya ternyata adalah Kwe Cing dan Ui Yong, maka kini bertekad akan menuntut balas, secara tidak sengaja tadi dia menguntit Darba sehingga akhirnya bertemu di sini.
"Syahdu ! Syahdu ! Kiranya Nyo-siauhiap sendiri dibebani dendam kesumat begitu,"
Sabda Kim-lun Hoat-ong.
"Namun Kwe-tayhiap dan isterinya itu berilmu silat maha tinggi, bagi Nyo-siauhiap kiranya tidaklah mudah untuk menuntut balas."
"Jika perlu, biarlah kami ayah dan anak mati semua di tangannya,"
Ujar Nyo Ko setelah terdiam sejenak "Betapapun maksud tujuanmu untuk mengukur tenaga dengan tokoh persilatan di Tionggoan sini belum terhenti, namun dengan tenagaku sendiri jelas tak sanggup melawan mereka yang berjumlah banyak, aku juga ingin mengundang tokoh persilatan dari negeri lain untuk membantu pihak kami, dengan begitu kita akan dapat mengukur tenaga dengan jago silat Tionggoan dengan sama banyak dan adil Untuk ini apakah engkau bermaksud membantu pihak kami?"
Mestinya Nyo Ko ingin menerima tawaran itu, tapi segera teringat olehnya kekejaman perajurit Mongol, segera ia menjawab.
"Aku tak dapat membantu pihak MongoI."
"Tapi jika engkau ingin membunuh Kwe Cing dan isterinya dengan tenagamu sendiri terang maha sulit,"
Kata Hoat-ong. Untuk sejenak Nyo Ko berpikir, katanya kemudian.
"Baik, akan kubantu kau merebut kedudukan Bu-lim Beng-cu, tapi kau harus membantu aku menuntut balas."
"Baik,"
Jawab Hoat-ong sambil mengulurkan tangan "Kata-kata seorang lelaki sejati harus ditepati, Marilah kita berjanji dengan bertepuk tangan."
Segera kedua orang saling tepuk tangan tiga kali sebagai sumpah setia berserikat. Lalu Nyo Ko berkata pula.
"Aku cuma berjanji membantu kau berebut kedudukan Bu-Iirn-bengcu saja, bahwa kau akan membantu orang Mongol menyerang ke selatan dan melakukan kekejaman dan kejahatan, untuk itu aku tak dapat memberi bantuan."
"Setiap orang mempunyai cita-cita sendiri dan tak dapat dipaksakan,"
Kata Hoat-ong dengan tertawa.
"Saudara Nyo, gaya ilmu silatmu terdiri dari berbagai aliran, ingin kukatakan terus terang, bahwasanya memahami berbagai ilmu memang tiada jeleknya, tapi terlalu banyak menjadi tidak murni. Dalam ilmu apa yang paling kau andalkan dan dari aliran mana? Dengan kepandaian apa kau hendak menempuh Kwe Cing dan istrinya untuk membalas sakit hatimu?"
Pertanyaan ini membikin Nyo Ko bungkam dan sukar memberi jawaban.
Selama hidupnya memang banyak pengalaman aneh yang ditemuinya, wataknya juga suka menerima kepandaian apa saja asalkan bisa dipelajarinya, ilmu silat Coan-cin-pay, kepandaian Auyang Hong, Giok-li-sim-keng dari Ko-bong-pay, Kiu-im-cin-keng, ajaran Ui Yok-su dan Ang Chit-kong tak terhitung banyaknya ilmu yang telah dipeIajarinya.
Tapi setiap ilmu itu sangat luas dan dalam, biarpun dia mempelajarinya dengan segenap kepintarannya juga sukar mencapai tingkatan yang sempurna, dia hanya ambil sini sebagian dan petik sana sebagian pula, belum ada sejenis ilmu itu yang benar-benar dilatihnya hingga mencapai tingkat kelas satu.
Dengan memiliki kepandaian yang beraneka macam itu, kalau ketemu jago kelas dua memang cukup untuk membikin musuhnya itu kewalahan dan bingung, tapi kalau kebentur tokoh kelas tinggi segera kelemahannya kelihatan dan menyolok perbedaannya.
Begitulah Nyo Ko menunduk merenungkan-apa yang dikatakan Kim-lun Hoat-ong itu, ia merasa ucapan orang memang benar dan tepat mengenai kelemahan ilmu silat yang telah dipelajarinya itu, Bahwa Ang Chit-kong, Ui Yok-su, Auyang Hong, Kim-lun Hoat-ong dan tokoh terkemuka lain, dapat termashur, dan menonjol semuanya adalah karena mereka hanya meyakinkan ilmu perguruannya sendiri, jadi untuk mencapai tingkatan sempurna tidaklah perlu serakah dalam jumlah, tapi yang penting adalah kadar kepandaian itu sendiri.
Ia pikir sudah sekian banyak ilmu yang kupahami dan semuanya serba lihay, lalu ilmu manakah yang harus kupelajari secara khas?
Kalau menuruti arah pikiran, sudah tentu dirinya harus melulu meyakini Giok-li-sim-keng dari Ko-bong-pay, apalagi kalau dirinya sudah bertekad akan hidup berdampingan selamanya di dalam kuburan kuno bersama Siao-tiong-li.
Tapi bila teringat betapa bagusnya Pak-kau-pang-hoat ajaran Ang Chit-kong, atau betapa indahnya Giok Siau-kiam-hoat ajaran Ui Yok-su, kalau semuanya itu dikesampingkan kan juga sayang?
Apalagi Ha-mo-kang ajaran Auyang-Hong atau berbagai ilmu sakti dari kitab Kiu-im-cin-keng, ilmu yang sangat diidamkan jago silat siapapun, kini dirinya dapat mempelajarinya, masakah malah ditinggalkan begitu saja ?
Saking kesalnya ia keluar gubuk itu dan berjalan mondar-mandir dengan bersedekap-tangan, sejenak kemudian mendadak timbul suatu pikiran dalam benaknya.
"Ya, mengapa aku tidak menggunakan intisari semua ilmu yang kupahami ini untuk menjadikannya suatu aliran tersendiri? setiap ilmu silat di dunia ini adalah ciptaan manusia, kalau orang lain dapat menciptakannya, mengapa aku tidak?"
Berpikir sampai di sini, mendadak pikirannya terbuka, jalan terbentang terang di depan matanya.
Begitulah ia mulai memeras otak, dari pagi berpikir sampai lohor dan sampai jauh malam pula tanpa makan dan minum, Berbagai aliran ilmu silat terbayang bergantian dalam benaknya dan seakan-akan saling bertempur.
Ia pernah menyaksikan pertandingan antara Ang Chit-kong dan Auyang Hong secara lisan, ia sendiripun pernah menggertak lari Li Bok-chiu hanya dengan uraian mulut saja.
Kini pertarungan berbagai aliran ilmu silat dalam benaknya itu ternyata jauh lebih dahsyat dan sengit daripada pertandingan lisan.
Begitulah bayangan pertarungan antara berbagai aliran silat terus berkecamuk di dalam benaknya sampai akhirnya tanpa terasa kaki dan tangannya juga ikut bergerak.
Semula masih dapat dibedakan jurus ini berasal dari ajaran Ang Chit kong dan jurus lain dipelajari dari Auyang Hong, tapi lama-Iama menjadi kacau balau dan tak tahan lagi, mendadak ia jatuh terjungkal dan pingsan.
Dari jauh Darba mengikuti gerak-gerik Nyo Ko yang linglung dan kemudian main silat sendiri seperti orang gila, akhirnya pemuda itu mendadak jatuh, ia menjadi kaget dan memburu maju hendak menolongnya.
Tapi Kim-lun Hoat-ong telah mencegahnya dengan tertawa.
"Jangan kau ganggu dia, Sayang kecerdasanmu kurang sehingga kau tidak memahami persoalannya."
Nyo Ko tidur setengah malam, esoknya setelah bangun kembali ia memeras otak pula, dalam tujuh hari ia jatuh pingsan lima kali tapi gerak tangan dan kakinya semakin lihay, telapak tangan mampu mematahkan pohon dan kaki sanggup menerbangkan batu.
Sampai hari kedelapan, gerakan Nyo Ko sudah mulai pelahan, dari dahsyat berubah menjadi lemas, sekali pukul pada batang pohon, sehelai daun juga tidak bergoyang, tahu-tahu pohon itu patah.
Tahulah Nyo Ko bahwa ilmu silat ciptaannya telah jadi, sungguh girangnya tidak alang kepalang, segera ia duduk bersila dan mulai merenungkan kembali semua jurus ilmu silat ciptaannya itu dari awal sampai akhir, ia merasa semuanya terlebur menjadi satu dalam pemikirannya, baru sekarang dia tahu perbedaan antara kekuatan batin dan tenaga luar, antara kebagusan Pak-kau-pang-hoat dan Giok-siau-kiam-hoat, sesungguhnya semua itu "Bhinneka Tunggal Ika" , berbeda-beda, tapi satu, Kemudian ia berbangkit pelahan dan memandang jauh di atas puncak gunung itu, perutnya terasa sangat lapar, tanpa pikir ia makan sekenyangnya buah-buahan yang dikumpulkan Darba.
"Selamat, saudara Nyo atas berhasilnya ilmu silat ciptaanmu,"
Kata Kim-iun Hoat-ong dengan tertawa sambil berbangkit dan memberi hormat dengan merangkap kedua telapak tangannya di depan dada.
Berbareng itu serangkum angin dahsyat terus menyambar ke arah Nyo Ko.
Nyo Ko terkejut dan cepat gunakan tangannya untuk menyampuk angin pukulan lawan ke samping, Tapi begitu tenaga pukulan kedua pihak saling kontak, segera Kim-lun Hoat-ong tarik kembali tenaga pukulannya.
Hanya benturan ringan tenaga pukulan tadi Kim-lun Hoat-ong sudah dapat menarik kesimpulan bahwa hasil renungan Nyo Ko selama delapan hari ternyata luar biasa hebatnya.
Tahu bahwa orang cuma menguji kepandaian-nya, Nyo Ko tertawa dan berkata.
"Akupun mengucapkan selamat padamu, kini kau sudah sehat kembali"
Bahwa seorang kalau sudah "jadi" , apakah jadi kaya, atau jadi pintar, dengan sendirinya sikap dan wibawanya segera berubah, Begitu juga dalam hal ilmu silat, karena kini Nyo Ko adalah pendiri suatu aliran tersendiri meski usianya masih muda belia, namun wibawa dan sikapnya sudah jauh berbeda daripada delapan hari sebelumnya.
Diam-diam Kim-lun Hoat-ong merasa syukur dan merasa akan banyak memetik hasilnya dengan bersekutu dan mendapat bantuan anak muda ini, Maka ia lantas berkata.
"Saudara Nyo, marilah kuperkenalkan seorang kepadamu, Orang ini mempunyai pengetahuan yg luar biasa dan berbakat tinggi, bijaksana lagi berbudi kutanggung engkau juga akan kagum kepadanya setelah menemuinya."
"Siapakah dia?"
Tanya Nyo Ko.
"Kubilai, pangeran Mongol,"
Jawab Hoat-ong.
"Dia adalah cucu Jengis Khan, putera keempat pangeran Tule."
Karena pernah menyaksikan keganasan tentara Mongol, maka Nyo Ko merasa benci kepada orang Mongol, ia menjawab.
"Aku ingin selekasnya dapat membunuh musuh untuk menuntut balas. Maka tak perlulah kiranya pertemuan dengan pangeran MongoI itu."
"Aku sudah berjanji akan membantu kau, janji ini pasti akan kupegang teguh,"
Ujar Hoat-ong dengan tertawa.
"Tapi aku adalah orang undangan pangeran Kubilai, aku perlu memberi lapor sekadarnya kepada beliau. Perkemahannya terletak tidak jauh dari sini sehari saja cukup untuk mencapainya."
Nyo Ko merasa sendirian pasti bukan tandingan Kwe Cing dan Ui Yong, karena memerlukan bantuan orang, terpaksa Nyo Ko menurut dan ikut Kim-lun Hoat-ong.
Adalah kebiasaan orang Mongol bertempat tinggal dalam kemah adat ini tak dapat dilenyapkan meski mereka berhasil menyerbu ke Tiongkok dan menduduki kota, mereka tetap tidak biasa bertempat tinggal di dalam rumah bertembok.
Sebab itulah Kubilai juga tinggal di dalam kemahnya.
Kim-lun Hoat-ong adalah Koksu utama kerajaan Mongol, dengan sendirinya dia sangat dihormati dan disegani melihat kedatangannya cepat penjaga melapor kepada sang pangeran.
Sambil berendeng maju, Kim-lun Hoat-ong dan Nyo Ko melangkah masuk ke dalam kemah pangeran Kubilai.
Di dalam kemah itu ternyata sangat sederhana, kecuali luasnya satu kali lipat daripada kemah orang Mongol biasa, lebih dari itu tiada kelihatan tanda-tanda sesuatu yang mewah.
Seorang pemuda berusia 25-26 tahun dengan dandanan orang terpelajar sedang membaca kitab.
Melihat Hoat-ong berdua datang, cepat pemuda itu berbangkit menyambut dan berkata dengan tertawa.
"Sudah, beberapa hari tidak bertemu dengan Koksu, rasaku menjadi kesal."
"Ongya, ini kuperkenalkan seorang kesatria muda padamu,"
Kata Hoat-ong.
"Saudara Nyo ini adalah seorang ksatria yang sukar ada bandingannya."
Mendengar sapa menyapa itu, Nyo Ko terkejut.
Tadinya ia mengira sebagai cucu Jengis Khan dan saudara raja Mongol yang bertahta sekarang, tentulah pangeran Kubilai itu pasti gagah berwibawa dan kereng, siapa tahu yang dihadapinya sekarang adalah seorang pemuda pelajar yang berdandan sebagai bangsa Han dan bicara dalam bahasa Han pula.
Kubilai mengawasi Nyo Ko sejenak, lalu sebelah tangannya menggandeng Nyo Ko dan tangan lain menarik Kim-Iun Hoat-ong serta berseru kepada anak buahnya.
"Lekas ambilkan arak, aku ingin minum bersama saudara ini."
Segera anak buahnya menghaturkan tiga buah mangkuk besar serta dituangi arak khas Mongol, arak susu kuda.
Sekali tenggak Kubilai habiskan semangkuk penuh, Hoat-ong juga keringkan isi mangkuknya.
Nyo Ko sendiri biasanya jarang minum arak, kini melihat tuan rumah sangat simpatik, ia merasa tidak enak untuk menolak, segera iapun habiskan isi mangkuknya, ia merasa arak itu sangat keras dan pedas, tapi mengandung rasa pahit dan kecut pula.
"Bagaimana rasanya arak ini, saudara cilik?"
Tanya Kubilai dengan tertawa.
"Arak ini mempunyai rasa pahit, pedas, kecut dan sepat, di dalamnya terasa perih puIa, rasanya tidak enak, tapi inilah arak minuman seorang lelaki sejati,"
Jawab Nyo Ko cepat.
Kubilai sangat girang, berulang ia berseru kepada anak buahnya agar menuangkan arak pula dan ketiga orangpun masing-masing menghabiskan tiga mangkuk.
Berkat tenaga dalamnya yang kuat, sedikitpun Nyo Ko tidak memperlihatkan tanda mabuk meski sudah habiskan arak keras itu cukup banyak.
Dengan gembira Kubilai tanya kepada Kim-lun Hoat-ong .
"Koksu, dari manakah engkau mendapatkan bakat muda sebagus ini? Sungguh beruntung bagi Mongol Raya kita."
Secara ringkas Kim-lun Hoat-ong lantas menceritakan,asal usul Nyo Ko, nadanya bahkan sengaja meninggikan derajat anak muda itu seolah-olah menganggap Nyo Ko sebagai tokoh dunia persilatan di Tionggoan.
Jika orang lain tentu takkan percaya terhadap cerita Hoat-ong itu mengingat usia Nyo Ko jelas masih sangat muda, Tapi Kubilai sendiri sejak kecil sudah terkenal sebagai anak ajaib, pintar luar biasa dan bijaksana, apalagi iapun percaya penuh kepada Hoat-ong, maka ia menjadi kegirangan dan segera memerintahkan diadakan perjamuan, katanya kepada Hoat-ong dan Nyo Ko.
"Sebentar akan kuperkenalkan kalian kepada beberapa orang kosen."
Kubilai sudah lama tinggal di daerah Tiong-goan dan mengagumi kebudayaan Tiongkok, hidupnya sehari-hari senantiasa bergaul dengan kaum terpelajar iapun mengumpulkan jago silat, dari berbagai penjuru dan menghimpun kaum cendekiawan sebagai staf untuk membincangkan rencana penyerbuan ke Tiongkok "selatan.
BegituIah tidak seberapa lama meja perjamuan sudah siap dengan hidangan campuran Mongol dan Han.
Kubilai memberi perintah pula kepada anak buahnya.
"Undanglah beberapa tuan di Ciau-hian-koan (Wisma Ksatria) itu hadir ke sini."
Setelah anak buahnya mengiakan dan pergi, Kubilai berkata pula.
"Beberapa hari di Ciau-hian-koan telah berkumpul beberapa tamu yang memiliki kepandaian kosen, semuanya sangat menyenangkan hatiku, tapi tetap belum dapat memadai kepandaian Koksu dan saudara Nyo yang serba bisa."
Habis berkata ia tertawa terbahak-bahak.
Tidak lama penjaga memberi lapor tamu undangan telah datang, Waktu tirai kemari tersingkap, masuklah empat orang.
Nyo Ko terkejut ketika mengenali orang yang berjalan paling depan itu kaku sebagai mayat dan di sebelahnya adalah seorang cebol hitam, siapa lagi kalau bukan Siau-siang-cu dan Nimo Singh yang dipergokinya di lembah gunung tengah malam itu.
Dua orang lagi yang masuk belakangan juga mempunyai potongan yang aneh, seorang tinggi besar, tingginya lebih 2 meter, tangan kasar dan kaki besar, sungguh seorang raksasa tulen, cuma air mukanya tampak ketolol-tololan, pandangan matanya kaku buram, mirip orang tidak waras, seorang lagi berhidung besar, Iekuk matanya dalam, rambutnya keriting dan janggutnya merah keemasan, jelas seorang golongan Arab, justeru memakai pakaian bangsa Han yang perlente memakai kalung mutiara segala, malahan pakai gelang jamrud lagi.
Dandanannya gemilapan dan lagaknya kebanci-bancian.
Kubilai menyilakan semua orang berduduk, lalu memperkenalkan mereka satu per satu, Kira-nya si raksasa tadi adalah suku Hwe di daerah Sin-kiang, sejak kecil memiliki tenaga besar dan sanggup membinasakan singa atau harimau dengan bertangan kosong.
Kemudian bertemu pula dengan orang kosen dan mendapatkan pelajaran ilmu silat yang kasar, cuma tenaganya memang maha kuat, meski ilmu silatnya tidak tinggi, kalau berkelahi tampaknya menjadi dahsyat sekali.
Sedangkan orang keturunan Arab itu adalah saudagar Persia dan sudah tiga turunan tinggal di Tiongkok sebagai pedagang batu permata, namanya juga menggunakan nama bangsa Han, yakni In Kik-si, dia memiliki ilmu silat gaya Persia yang aneh, ditambah lagi waktu dia berkeliling mencari barang dagangan, sering dia berbincang ilmu silat dengan jago silat Tiongkok, dari hasil tukar pikiran itu dipelajarinya lagi secara mendalam hingga akhirnya dia mengkombinasikan ilmu silat dari dua negeri, dapat diciptakannya suatu aliran silat tersendiri.
Ia mendengar Kubilai sedang mencari jago silat maka iapun datang melamar.
Begitulah Nimo Singh dan Siau-siang-cu saling pandang dengan tertawa penuh arti, mereka melirik ke arah Kim-lun Hoat-ong dengan sikap yang tidak mau tunduk, Ketika melihat Nyo Ko masih muda belia itu, mereka mengira anak muda ini adalah anak cucu murid Kim-lun Hoat-ong, maka sama sekali tidak memperhatikannya.
Setelah suguhan arak berulang tiga kali, Nimo Singh yang berwatak berangasan itu tidak sabar lagi, segera ia berteriak.
"Ongya, kerajaan MongoI Raya makmur jaya, ksatria di dunia ini semuanya berkumpul di sini, kalau Hwesio besar ini dianugerahi dengan gelar Koksu nomor satu, tentu ilmu silatnya tiada bandingannya, untuk itu kami justeru ingin tahu akan kesaktiannya sekadar menambah pengalaman kami."
Kubilai tersenyum dan tidak menanggapi segera Siau-siang-cu menyambung.
"Saudara Nimo Singh ini datang dari negeri Thian-tiok (lndia), sedangkan ilmu silat di Tibet berasal dari negeri Thian-tiok, apakah mungkin anak didik lebih mahir dari sang guru, aku menjadi ragu dan ingin tahu pula."
Ucapan Siau-siang-cu itu jelas bernada mengadu domba, ia memang berharap agar Nimo Singh dapat bertempur dulu dengan Kim-lun Hoat-ong, dengan begitu dirinya nanti tinggal menarik keuntungannya saja, walaupun nadanya rada memihak Nimo Singh, tapi sesungguhnya dia berharap keduanya bertarung mati-matian.
Melihat air muka Siau-siang-cu pucat bersemu hijau, Kim-lun Hoat-ong yakin orang ini pasti memiliki Lwekang yg tinggi bukan mustahil diantara empat orang dia ini adalah lawan yang terkuat, Sekilas dilihatnya In Kik-si hanya tertawa saja, sejak tadi dengan lagak saudagar yang cuma mementingkan duit belaka, tampaknya sama sekali tidak mengerti ilmu silat, tapi justeru orang yang macam begini malahan tidak boleh dipandang enteng.
Maka Kim-lun Hoat-ong lantas berkata dengan tersenyum.
"Bahwa diriku diangkat sebagai Kok-su, semua ini adalah berkat budi kebaikan Sri Baginda serta Paduka Pangeran, sebenarnya aku mana berani menerimanya."
"Jika tidak berani menerima, kan seharusnya kau memberikan pangkat itu kepada orang lain,"
Ujar Siau-siang-cu sambil melirik ke arah Nimo Singh. Hoat-ong angkat sumpitnya menyupit sepotong besar daging sampi rebus, lalu berkata dengan tertawa.
"Potongan daging ini paling besar di piring ini, sesungguhnya akupun tidak ingin memakannya, hanya saja sumpitku secara kebetulan mencomotnya, dalam agama Budha disebut "
Ada jodoh"
Sekiranya tuan yang hadir di sini ada yang berminat makan daging ini, kusilahkan menyumpitnya saja."
Habis berkata Hoat-ong tetap pegang sumpitnya yang menjepit potongan daging itu dan berhenti di atas piring sambil menunggu reaksi orang lain.
Si raksasa Be Kong-co paling polos orangnya, pikirannya terlalu sederhana dan tidak tahu kelicikan manusia umumnya, ia tidak tahu bahwa ucapan Kim-lun Hoat-ong itu bercabang makna.
Katanya saja sepotong daging, tapi yang dimaksudkan sebenarnya adalah kedudukan Koksu nomor satu yang ingin diperebutkan Nimo Singh itu.
Dasar Be Kong-co memang lugu, tanpa pikir ia menjulurkan sumpitnya untuk menjepit potongan daging disumpit Hoat-ong itu, tapi baru saja ujung sumpitnya hampir menempel daging, sekonyong-konyong ujung sebuah sumpit yang dipegang Kim-lun Hoat-ong itu, menyerong keluar dan membentur sumpitnya.
Seketika Be Kong-co merasakan tangannya tergetar sakit, sumpitnya terlepas dari cekalan dan jatuh di atas meja.
Semua orang saling memandang dengan melongo kaget, mereka kagum betapa lihaynya tenaga dalam Hoat-ong.
Tapi Be Kong-co sendiri ternyata belum menyadari apa yang terjadi itu, dia jemput kembali sumpitnya dan sekali ini dipegang sekencangnya agar tidak tergetar jatuh pula, lalu sumpit dijulurkan untuk berebut daging lagi.
Kembali ujung sumpit Hoat-ong menyerong keluar, tapi sekali ini pegangan Be Kong-co sungguh kencang dan tak dapat tergetar jatuh sumpitnya, yang terdengar adalah suara "krek"
Sekali, sepasang sumpitnya telah patah menjadi empat seperti ditabas pisau, kedua bagian yang patah itu jatuh semua di atas meja.
Be Kong-co menjadi gusar malah, ia meraung terus hendak menubruk maju untuk melabrak Kim-lun Hoat-ong.
Namun Kubilai keburu mencegahnya dan berkata dengan tertawa.
"Harap Be-cong-su jangan marah, kalau mau bertanding silat boleh nanti saja setelah dahar."
Meski orangnya kasar, tapi Be Kong-co ternyata takut kepada sang pangeran, dia kembali berduduk, katanya dengan mendongkol sambil tuding Hoat-ong.
"Kau menggunakan ilmu siluman apa sehingga alat makanku terpatahkan?"
Kim-lun Hoat-ong hanya tersenyum saja tanpa menjawab, sumpitnya tetap terjulur di atas meja dengan daging yang tersumpit itu.
Semula Nimo Singh meremehkan Kim-lun Hoat-ong, tapi kini ia tak berani memandang enteng lagi padanya setelah melihat Lwekang orang yang hebat itu.
Sebagai orang Thian-tiok, cara makannya tidak memakai sumpit, tapi pakai tangan belaka, segera ia berkata.
"Be-heng tak mampu menyumpit daging ini, serahkan saja padaku."
Mendadak kelima jarinya terus mencengkeram daging yang disumpit Hoat-ong itu.
Akan tetapi secepat kilat Kim-lun Hoat-ong tetap menyerongkan sebuah ujung sumpit, hanya sedikit bergetar saja sekaligus ia mengincar beberapa Hiat-to pada jari tangan Nimo Singh.
Namun Nimo Singh juga bukan jago rendahan, tangannya membalik terus memotong pergelangan tangan lawan.
Tangan Hoat-ong tidak bergerak, hanya sumpitnya yang diputar balik dan tetap bergetar beberapa kali, Segera Nimo Singh merasa ujung sumpit lawan hampir menyentuh urat nadi tangannya, cepat ia menarik kembali tangannya, Dalam pada itu sumpit Kim-lun Hoat-ong juga telah membalik lagi dan tetap dapat menyapit potongan daging tadi.
Nyo Ko dan lain-lain dapat menyaksikan bahwa hanya sekejap itu saja sebenarnya antara Kim-lun Hoat-ong dan Nimo Singh sudah saling gebrak beberapa jurus, gerakan sumpit Hoat-ong sangat cepat, tapi cara Nimo Singh bergerak dan menarik tangannya juga cepat luar biasa, itulah pertarungan antara jago silat kelas satu.
Dengan nada dingin Siau-siang-co berseru memuji, sedangkan Kubilai hanya tahu kedua orang itu telah saling uji kepandaian dengan ilmu silat yang tinggi, tapi ilmu apa yang dikeluarkan mereka tak dapat diketahuinya, Be Kong-cu juga melongo bingung mengikuti pertarungan aneh itu.
Kini giliran In Kik-si, dengan tertawa ia berkata.
"Ah, saudara-saudara ini mengapa sungkan-sungkan terhadap daharan lezat ini, kau tak mau makan, akupun tak mau makan, kan sebentar semua menjadi dingin."
Sambil berkata iapun menjulurkan sumpitnya dengan pelahan, gelang tangannya yang jamrud bersentuhan dengan gelang emas hingga menerbitkan suara gemerincing nyaring, Belum lagi sumpitnya menyentuh daging, Hoat-ong sudah merasakan sumpitnya tergetar oleh tenaga dalam In Kik-si.
Tapi Hoat-ong malah terus menyurung sumpitnya ke depan agar dagingnya kena disumpit In-Kik-si, berbareng itu suatu arus tenaga dalam yang maha kuat disalurkan dan menggempur lengan lawan.
Dalam hati In Kik-si berteriak celaka, kalau saja tenaga dalam dapat menggempur sampai di dadanya, maka dirinya pasti akan terluka parah, Terpaksa ia mengerahkan segenap tenaga untuk balas menggempur.
Tak terduga tenaga dalam Hoat-ong itu setelah dikerahkan secara mendadak ditarik kembali pula, karena itu daging yang sudah tersumpit oleh In Kik-si itu menjadi tertolak kembali oleh gempuran balik tenaganya sehingga dapat dicapit pula oleh sumpit Hoat-ong.
"Haha, ternyata In-heng juga sungkan dan tidak sudi makan daging ini,"
Kata Hoat-ong dengan tertawa.
Nyata Hoat-ong telah mengalahkan In Kik-si dengan akal In Kik-si juga sangat tinggi hati setelah kena diakali, terpaksa ia mundur teratur, apa lagi kalau bergebrak pula dirinya juga belum tentu dapat menang, ia pikir lain kali saja kalau ada kesempatan akan kucoba lagi Hwesio ini.
Kemudian ia menyumpit sepotong daging yang agak kecilan dan dimakan, katanya dengan tertawa.
"Selama hidupku hanya duit saja yang menarik daging sampi yang terlalu banyak gemuknya akupun tak suka, biarlah kumakan daging yang kecilan saja."
Diam-diam Kim-lun Hoat-ong juga mengakui kelihayan orang Persi ini dengan gayanya yang luwes, kalau mesti bertempur sungguh merupakan lawan yang tangguh, talu ia berpaling kepada Siau-siang-cu dan berkata.
"Jika Siau-heng juga tidak sudi, terpaksa kumakan sendiri "
Berbareng ia sedikit tarik mundur sumpitnya.
Kiranya Hoat-ong yakin Siau-siang-cu adalah lawan paling kuat di antara empat orang yang dihadapinya sekarang, bahwa alasannya mau makan sendiri sebenarnya dia sengaja menarik mundur tangannya, dengan demikian daya tahannya akan bertambah -kuat, sebaliknya jarak lawan menjadi tambah jauh dan dengan sendirinya pihak lawan harus lebih banyak mengeluarkan tenaga apabila mau menyerang.
Sudah tentu Siau-siang-cu mengetahui maksud tujuan orang, ia hanya mendengus saja, pelahan ia angkat sumpitnya, tapi mendadak secepat kilat bergerak ke depan dan tepat mencapit potongan daging itu terus ditarik, karena itu jarak mundurnya tangan Hoat-ong tadi kena diseret maju lagi ke posisi semula.
Meski sebelumnya Hoat-ong mengetahui tenaga dalam lawan ini sangat lihay, tapi tak menduga bahwa gerakannya bisa bergitu cepat, maka cepat iapun balas menarik.
Karena kedua orang sama2 mengerahkan tenaga dalam, seketika terjadilah saling betot dan saling tahan, hanya sekejap saja tiga gebrakan sudah terjadi dan potongan daging itu masih tersumpit oleh dua pasang sumpit.
Kubilai tidak paham betapa bagusnya ilmu silat kelas wahid, ia mengira kedua orang hanya saling berebut daging rebus saja, padahal kedua orang sudah saling gebrak beberapa jurus seperti pertarungan di medan tempur.
Di tengah saling uji kepandaian beberapa orang itu, sejak tadi Nyo Ko hanya menyaksikan saja dengan tersenyum, ia pikir orang kosen di dunia ini sungguh sukar dihitung banyaknya, terutama kepandaian kedua orang yang sukar dibedakan kalah dan menang sekarang ini, pada saat itulah tiba2 dari jauh berkumandang suara seorang.
"Kwe Cing! Adik Kwe Cing dimana kau ? Lekas keluar! Hai, Kwe Cing, bocah she Kwe, dimana kau?"
Suara itu semula terdengar berkumandang dari sebelah timur dan sekejap kemudian kedengaran ada beberapa li jauhnya, seperti suara seorang, lalu disusul dengan suara orang kedua, cuma logatnya jelas berasal dari seorang yang sama, malahan dari timur ke barat dan dari barat ke timur suara itu terus menerus bergema tanpa berhenti maka dapat dibayangkan betapa cepat gerak tubuh orang itu sungguh jarang ada bandingannya.
Selagi semua orang saling pandang dengan melenggong, sementara itu Kim-lun Hoat-ong dan Siau-siang-cu masih saling ngotot.
Padahal daging rebus itu mana mampu menahan tenaga tarikan dua jago kelas satu itu, tapi nyatanya daging itu masih tetap ulet dan tidak putus.
Kiranya teramat cepat pergantian tenaga Kim-lun Hoat-ong dan Siau-siang-cu, begitu saling tarik segera pula saling sodok, tapi lantaran gerakan kedua orang sama cepatnya dan sama kuat pula, maka daging itu tidak lebih hanya sebagai perantara penyaluran tenaga saja sehingga tidak hancur.
Nyo Ko dapat melihat keadaan itu, ia tunggu ketika kedua orang sedang saling betot dan daging itu tertarik hingga memanjang, mendadak ia angkat sumpitnya dan memotong daging itu, dua batang sumpit memotong daging itu menjadi tiga bagian, pada saat yang tepat ia jepit potongan daging bagian tengah, sedangkan Hoat-ong dan Siau-siang-cu masing-masing mendapatkan potongan daging ujung kanan dan kiri.
Cara turun tangan Nyo Ko ini tidak mengutamakan kekuatan tenaga dalam melainkan unggul dalam hal kejituan dan kecepatan, ia dapat menggunakan tempo yang paling tepat.
BegituIah ketiga orang saling pandang dengan tertawa dan baru saja mereka hendak memakan daging pada sumpit masing-masing, se-konyong2 tirai kemah tersingkap dan bayangan seorang berkelebat mendadak seorang mengulurkan tangan dan sekaligus-dapat merampas potongan daging pada sumpit Nyo Ko bertiga, lalu dimakan dengan lahapnya.
Orang itu terduduk bersimpuh di atas permadani di dalam kemah dan makan dengan mikmatnya, sama sekali tidak pandang sebelah mata pada orang lain yang berada di situ.
Kejadian ini membikin semua orang terkejut dan serentak berdiri Bayangkan saja, betapa lihaynya ilmu silat Kim-lun Hoat-ong, Siau-siang-cu dan Iain-lain, Nyo Ko kinipun sudah termasuk barisan tokoh kelas satu, tapi orang itu sekaligus dapat merampas daging mereka tanpa bisa mengelak sedikit.
Waktu Nyo Ko mengawasi kiranya orang itu adalah seorang kakek berambut dan berjenggot putih, tapi mukanya merah bercahaya dan tersenyum simpul menyenangkan, betapa usianya sukar untuk diterka.
Penjaga kemah ternyata tidak mampu merintangi kakek itu, para pengawal itu serentak membentak.
"Tangkap pengacau !"
Berbareng empat tumbak terus menusuk ke dada kakek itu. Tapi kakek itu cuma menggunakan tangan kirinya dan sekaligus ujung keempat tumbak sudah terpegang olehnya, Lalu katanya kepada Nyo Ko.
"Eh, adik cilik, ambilkan lagi daging sampi, perutku lapar sekali."
Sudah tentu keempat pengawal Mongol itu sangat penasaran, sekuatnya mereka membetot tumbak yang dipegang si kakek, tapi sedikitpun tak bergeming meski muka mereka merah padam dan otot hijau menonjol di dahi mereka.
Nyo Ko sangat tertarik akan kepandaian kakek aneh itu, tanpapikir ia angkat piring yang berisi daging rebus itu terus, dilemparkan ke sana sambil berkata .
"lni, silahkan makan!"
Dengan tangan kanan saja kakek itu menahan pantat piring yang menyambar tiba itu, mendadak sepotong daging di atas piring itu melompat-ke atas dan masuk mulut si kakek.
Kubilai sangat tertarik dan bersorak gembira, disangkanya kakek itu mahir main sulapan, sedangkan Kim-lun Hoat-ong dan lain-lain dapat melihat Lwekang orang tua itu kuat luar biasa, bahwa potongan daging itu dapat melompat sendiri jelas karena getaran tenaga tangannya yang menyanggah piring itu.
Hebatnya daging yang melonjak ke atas itu hanya sepotong saja dan potongan daging yang lain tidak bergerak sedikitpun ketepatan tenaga inilah yang luar biasa dan tak dapat ditiru orang lain, Mau-tak-mau semua orang merasa kagum dan segan pula.
Tertampak kakek itu terus makan dengan Iahapnya, baru potongan daging pertama dilalap, segera sepotong daging yang lain melompat lagi dari piring dan masuk mulut si kakek.
Hanya sekejap saja daging seisi piring itu sudah tersapu bersih.
Ketika tangan kanan si kakek bergerak, piring kosong yang dipegangnya itu terus melayang ke atas dan berputar satu kali, lalu menyamber ke arah Nyo Ko dan In Kik-si.
Karena sudah tahu kakek itu memiliki ilmu gaib dan kuatir terdapat sesuatu pada piring itu, Nyo Ko dan In Kik-si tak berani menangkap piring itu, mereka sama mengegos ke samping.
Karena itu piring kosong itu terus menyamber lewat dan turun ke permukaan meja, tepat membentur piring lain yang berisi daging kambing panggang, piring kosong tadi berhenti di atas meja, sebaliknya piring yang berisi daging kambing panggang terus terbang menuju si kakek.
Tampaknya si kakek sangat senang, ia bergelak tertawa, seperti cara tadi setelah piring berisi daging kambing dipegangnya, kembali sepotong demi sepotong daging kambing itu melompat masuk mulutnya dan tidak lama telah dilalap habis.
Dalam keadaan begitu, yang paling konyol tentulah keempat pengawal Moegol tadi tumbak mereka terpegang si kakek, mereka membetot se-kuatnya dan tak dapat terlepas, untuk melepaskan senjata merekapun tidak berani Maklumlah disiplin tentara Mongol sangat keras, membuang senjata di medan perang hukumannya mati, apalagi keempat orang itu bertugas sebagai pengawal sang Pangeran, terpaksa mereka mengerahkan segenap tenaga untuk menarik sekuatnya.
Kakek itu ternyata sangat nakal, semakin ke empat orang itu kelabakan, semakin senang dia.
Mendadak ia berseru .
"Bim-salabim! Dua orang menyembah padaku, dua lagi terjengkang ! Satu-dua-tiga !"
Selesai "tiga"
Diucapkan, berbareng tangannya sedikit bergerak, kontan ujung keempat tumbak patah semua, Tapi tenaga yang dikeluarkan jari tangannya ternyata berbeda, dua batang tumbak ditolak ke sana, sebaliknya dua tumbak yang kiri di-betot, maka terdengarlah suara mengaduh kesakitan keempat orang Mongol itu, yang dua orang jatuh tiarap seperti orang menyembah, dua lagi jatuh terjengkang ke belakang.
Habis itu si kakek bertepuk tangan dan menyanyikan lagu kanak-kanak, yaitu lagu yang umumnya didendangkan orang tua untuk menghibur anak kecil yang menangis karena jatuh.
Tiba-tiba Siau-sang-cu teringat kepada satu orang, cepat ia bertanya.
"Apakah Cianpwe she Ciu?"
Kakek itu terbahak-bahak, jawabnya.
"Ya, kau kenal padaku ?"
Tanpa ayal Siau-siang-cu"
Berbangkit dan memberi hormat, katanya.
"Kiranya Lo-wan-tong Ciu Pek-thong, Ciu-locianpwe yang tiba,"
Kim-lun Hoat-ong dan Nimo Singh baru pertama kali ini datang di Tionggoan, mereka belum kenal siapa itu Ciu Pek-thong, mereka hanya merasa ilmu silat si kakek she Ciu ini tinggi luar biasa dan sukar diukur, tapi tingkah lakunya jenaka dan nakal pula, pantas berju!uk "Lo-wang-tong", (si nakal tua)..
Karena itu rasa permusuhan mereka jadi lantas berkurang, malahan mereka sama tersenyum geli oleh julukan orang yang lucu itu.
Segera Kim-lum Hoat-ong berkata.
"Maafkan keteledoranku yang tidak kenal orang kosen dari dunia persilatan Bagaimana kalau silakan duduk saja di sini. Ongya sedang mencari orang pandai, kini orang kosen berada di sini, tentu Ongya merasa sangat gembira."
Kubilai juga memberi salam dan berkata.
"Benar, silakan Ciu-losiansing berduduk, ada banyak persoalan yang kurang jelas perlu kuminta petunjuk padamu."
Tapi Ciu Pek-thong menggeleng kepala, jawabnya.
"Tidak, aku sudah kenyang dan tidak ingin makan lagi, Di mana Kwe Cing? Apakah dia berada di sini?"
Hati Nyo Ko tergetar mendengar nama Kwe Cing disebut, dengan dingin ia tanya.
"Ada urusan apa kau mencari dia?"
Dasar watak Ciu Pek-thong memang kocak dan kekanak-kanakan, dia paling suka bergaul dengan anak kecil, melihat Nyo Ko berusia paling muda diantara orang yang hadir di situ, hal ini sudah membuatnya suka lebih dahulu, kini mendengar pula Nyo Ko menyebutnya dengan kata "kau"
Dan tidak pakai "Locianpwe"
Dan "Ciu-siansing"
Segala, ini membuatnya lebih-lebih senang. Maka cepat Ciu Pek-thong menjawab.
"Kwe Cing adalah saudara angkatku, apakah kau kenal dia? Sejak kecil dia suka bergaul dengan orang Mongol, maka begitu melihat orang Mongol di sini segera kumenerobos ke sini untuk mencarinya."
"Ada urusan apa kau mencari Kwe Cing?"
Tanya Nyo Ko pula sambil mengerut kening. Ciu Pek-thong memang orang polos dah tidak bisa berpikir, mana dia tahu urusan apa yang harus dirahasiakan atau tidak, tanpa ragu ia terus menjawab.
"Dia telah kirim berita padaku agar aku menghadiri Eng-hiong-yan (perjamuan ksatria)."
Jauh-jauh aku berangkat ke sana, di tengah jalan aku mampir dan pesiar sehingga terlambat datang beberapa hari, mereka ternyata sudah bubar, sungguh mengecewakan.
"Apakah mereka tidak meninggalkan surat untukmu?"
Ujar Nyo Ko. Mendadak Ciu Pek-thong mendelik dan berkata.
"Mengapa kau hanya bertanya melulu ? sebenarnya kau kenal Kwe Cing tidak?"
"Mengapa aku tidak kenal ?"
Jawab Nyo Ko.
"Nyonya Kwe bernama Ui Yong, betul tidak? Anak perempuan mereka bernama Kwe Hu, ya bukan ?"
Tapi Ciu Pek-thong mendadak menggoyangkan tangannya dan berseru dengan tertawa.
"Salah, salah ! Si budak Ui Yong sendiri juga seorang anak perempuan kecil, mana mereka mempunyai anak perempuan segala ?"
Nyo Ko melengak bingung, tapi ia lantas paham persoalannya, segera ia tanya pula.
"Sudah berapa tahun kau tidak bertemu dengan mereka suami-isteri?"
Ciu Pek-thong tidak lantas menjawab, ia tekuk jarinya satu demi satu, sepuluh jari secara rata di-hitungnya ulang dua kali, lalu berkata.
"Sudah ada 20 tahun."
"Nah, masakah sudah 20 tahun dia masih anak perempuan kecil ?"
Kata Nyo Ko dengan tertawa. Ciu Pek-thong tertawa ngakak sambil garuk2 kepala, lalu berkata.
"Ya, ya, kau yang benar, kau yang benar ! Apakah anak perempuan mereka itu pun cakap ?"
"Suka anak perempuan mereka itu lebih banyak mirip nyonya Kwe dan sedikit saja memper Kwe Cing, nah, cakap tidak menurut pendapatmu ?"
Tanya Nyo Ko.
"Hahahaha! Bagus kalau begitu !"
Kata Ciu Pek-thong dengan tertawa.
"Anak perempuan kalau beralis tebal dan bermata besar serta bermuka hitam seperti saudaraku Kwe Cing itu, dengan sendirinya bukan cakap lagi namahya."
Nyo Ko tahu kini Ciu Pek-thong tidak ragu lagi, tapi untuk memperkuat kepercayaannya kembali ia menambahkan.
"Ayah Ui Yong, yaitu Tho-hoa-tocu Ui Yok-su, kakak Yok-su ada hubungan persaudaraan denganku, apakah kau kenal dia ?"
Berganti Ciu Pek-thong melengak heran sekarang, ia pikir masakah anak muda ini berani mengaku bersaudara dengan Ui-losia, lantas apa kedudukan orang muda ini? Segera ia bertanya pada Nyo Ko.
"siapakah gurumu ?"
"Kepandaian guruku teramat hebat, jika kukatakan bisa jadi kau mati ketakutan,"
Jawab Nyo Ko.
"Masakah aku dapat ditakut-takuti?"
Ujar Ciu Pek-thong dengan tertawa, Berbareng tangannya bergerak, piring kosong bekas wadah daging kambing tadi terus melayang ke arah Nyo Ko dengan maha dahsyat.
Sebenarnya Nyo Ko tidak tahu asal-usul aliran perguruan orang kosen macam Ciu Pek-thong ini, samberan piring Kosong yang keras itu sebenarnya tak berani ditangkapnya, tapi ketika melihat gaya Ciu Pek-thong itu ternyata berasal dari aliran Coan-cin-pay, padahal ilmu silat Coan-cin-pay baginya boleh dikatakan sudah apal di luar kepala, maka.
tanpa pikir ia hanya gunakan jari telunjuk tangan kiri, ia tunggu ketika piring kosong itu melayang tiba, dengan cepat dan tepat jarinya menyanggah pantat piring, seketika laju piring itu terhenti terus berputar pada ujung jarinya.
Kejadian ini sungguh membikin Ciu Pek-thong sangat gembira, malahan Kim-lun Hoat-ong, Nimo Singh dan Iain-Iain juga melengak.
Lebih-lebih Siau-siang-cu, semula ia lihat pakaian Nyo Ko kotor dan robek, usianya muda pula, maka ia tidak pandang sebelah mata padanya, tapi sekarang mau-tak-mau ia harus berubah sikap, ia heran siapakah dan dari manakah pemuda lihay ini?
Di sebelah sana Ciu Pek-thong telah berseru memuji beberapa kali kepada Nyo Ko, malahan ia pun dapat melihat gaya permainan jari Nyo Ko itu adalah gaya aliran Coan-cin-pay, maka ia lantas tanya .
"Apakah kau kenal Ma Giok dan Khu Ju-ki?"
"Kedua hidung kerbau itu masakah aku tak kenal?"
Jawab Nyo Ko tak acuh.
Ciu Pek-thong tambah kegirangan.
Maklumlah, meski dia terhitung, tokoh tertua Coan-cin-pai, tapi lantaran dia tak dapat mematuhi peraturan agama, maka selama ini dia tak pernah menjadi Tojin.
Mendiang Ong Tiong-yang, yaitu cakal bakal Coan-cin-kau yang juga Suhengnya, kenal watak Ciu Pek-thang yang polos dan suka bertindak menuruti jalan pikiran sendiri kalau saja dipaksa menjauhi dunia ramai dan memeluk agama dan menjadi Tojin, tentu kuil Tiong-yang-kiong akan tambah kacau dibuatnya.
Sebab itulah Ciu Pek-thong tidak diharuskan menjadi Tosu dan hal ini pun cuma berlaku atas diri Lo-wan-tong saja.
Walau Kwe Cing, Nyo Khong dan Nyo Ko juga belajar ilmu silat Coan-cin-pay, tapi mereka bukanlah anak murid Coan-cin-pay, kedudukan mereka berbeda dengan Ciu Pek-Thong.
Meski antara Ciu Pek-thong dan Khu Ju-ki, Ma Giok dan lainnya tiada persengketaan apapun, dia hanya menganggap mereka itu terlalu kaku dan terikat oleh macam-macam peraturan dan pantangan, maka dalam hati dia merasa cocok.
Selama hidupnya kecuali sang Suheng, yaitu Ong Tiong-yang, yang paling dihormati dan dikagumi adalah Kiu-ci-sin-kay Ang Chit-kong, si pengemis sakti berjari sembilan.
Selain itu iapun rada cocok dengan kelatahan Ui-Yok-su dan kejahilan Ui Yong.
Kini mendengar Nyo Ko menyebut Khu Ju-ki, Ma Giok dan lainnya sebagai "
Hidung kerbau (kata olok-oIok kepada kaum Tosu), kata-kata ini ternyata sangat cocok bagi pendengaran Ciu Pek-thong, segera ia tanya pula.
"Dan bagaimana dengan Hek Tay-thong?"
Mendengar nama "Hek Tay-thong", seketika Nyo Ko menjadi gusar dan memaki.
"Hm, hidung kerbau ini paling brengsek, pada suatu hari pasti akan kerjai dia, agar dia tahu rasa."
Ciu Pek-thong menjadi semakin tertarik, cepat ia tanya.
"Cara bagaimana akan kau kerjai dia dan apa rasanya ?"
"Akan kuringkus dia, kuikat tangan dan kaki-nya, lalu kurendam dia di kembangan kakus seharian,"
Kata Nyo Ko. Tidak kepalang senangnya Ciu Pek-thong, ia berbisik dengan suara tertahan.
"Sst, nanti kalau dia sudah kubekuk, jangan kau rendam dia dahulu, beri kabar dulu kepadaku agar aku dapat mengintipnya secara diam-diam."
Sebenarnya tiada maksud buruknya terhadap Hek Tay-thong, hanya watak Ciu Pek-thong memang suka pada permainan yang kocak, orang lain berbuat nakal dan onar, hal ini terasa sangat cocok dengan kegemarannya, maka iapun ingin ikut ambil bagian.
Dengan tertawa Nyo Ko lantas menjawab.
"Baiklah, kuingat akan pesanmu, Tapi mengapa kau harus mengintip secara diam-diam, apakah kau takut pada kawanan hidung kerbau dari Coan-cin-kau?"
Ciu Pek-thong menghela napas dan menjawab.
"Aku kan paman gurunya Hek Tay-thong itu!"
Ucapan ini membikin Nyo Ko bersuara kaget. Lalu Ciu Pek-thong menyambung lagi.
"Bila dia melihat diriku, tentu dia akan minta tolong padaku. Dalam keadaan begitu, jika aku tidak menolongnya akan terasa tidak enak, sebaliknya kalau kutolong dia, pertunjukan menarik akan gagal kulihat."
Diam-diam Nyo Ko pikir ilmu silat orang ini sangat tinggi meski wataknya polos dan lugu, apa pun juga dia adalah orang Coan-cin-pay, jelas tidak mungkin mengajaknya memusuhi Kwe Cing, maka jalan paling baik adalah berusaha membinasakan dia saja.
Sebenarnya pembawaan Nyo Ko tidaklah jahat, soalnya dia tak pernah melupakan sakit hati kematian ayahnya, untuk mencapai tujuan menuntut balas, segala cara dapat diIakukannya.
Sudah tentu Ciu Pek-thong tidak tahu Nyo Ko sudah berpikir jahat padanya, ia malah tanya lagi.
"He, kapan kau akan menangkap si Hek Tay-thong itu?"
"Sekarang juga aku akan berangkat, kau ingin lihat keramaian, bolehlah kau ikut saja padaku,"
Kata Nyo Ko. Dengan girang Ciu Pek-thong lantas berbangkit tapi mendadak ia berduduk pula dengan Iesu, katanya.
"Ai, tidak bisa jadi, aku harus pergi ke Siang-yang."
"Masakah menarik kota Siangyang? Kukira janganlah kau pergi ke sana,"
Ujar Nyo Ko.
"Adik Kwe meninggalkan surat bagiku, katanya pasukan Mongol telah menyerbu ke selatan dan pasti akan menyerang Siangyang,"
Tutur Ciu Pek-thong.
"Dia telah memimpin semua pahlawan ke Siang-yang, akupun diminta ke sana untuk membantunya, sepanjang jalan kucari dia dan tidak ketemu, terpaksa kususul ke Siangyang saja."
Kubilai saling pandang sekejap dengan Kim-lun Hoat-ong, mereka sama pikir.
"Adanya bala bantuan para pahlawan yang dipimpin Kwe Cing itu, mungkin Siangyang sukar diduduki."
Bicara sampai di sirii, tiba-tiba masuklah seorang Hwesio setengah umur, dari tingkah laku dan wajahnya jelas Hwesio ini adalah seorang terpelajar.
Dia mendekati Kubilai, lalu kedua orang bicara dengan suara tertahan.
Kiranya Hwesio ini adalah bangsa Han, namanya Cu-cong, terhitung seorang stafnya Kubilai.
Aslinya Cu-cong bernama Lau An, menurut catatan sejarah, Lau An adalah seorang pintar dan serba tahu, karena itu dia sangat disayang oleh Kubilai.
Dari penjaga Lau An mendapat laporan bahwa di kemah Kubilai ada orang kosen, maka lebih dulu ia telah mengatur penjagaan seperlunya di luar kemah, habis itu barulah masuk menghadap Kubilai.
Ciu Pek-thong tepuk-tepuk perutnya yang rada gendut, katanya.
"Eh, Hwesio, kau menyingkir dulu, aku lagi bicara dengan adik cilik itu. Hai, saudara cilik, siapa namamu?"
"Aku she Nyo bernama Ko."
Jawab Nyo Ko.
"Sebenarnya siapa gurumu?"
Tanya Ciu Pek-thong pula.
"Guruku seorang perempuan cantik, ilmu silatnya maha sakti tapi namanya tak boleh diketahui orang luar,"
Jawab Nyo Ko.
Ciu Pek-thong merinding mendengar perempuan cantik, ia teringat kepada kekasihnya dahulu, Eng Koh, seketika ia tak berani tanya lagi ia berbangkit dan mengebut debu di tubuhnya, maka berhamburanlah debu memenuhi kemana2 Cu-cong bersin dua-tiga kali karena debu yang mengepul itu, Ciu Pek-thong tambah gembira, lengan bajunya mengebut semakin keras, mendadak ia bergelak tertawa dan berkata .
"Aku mau pergi!"
Berbareng empat potong ujung tumbak patah tadi terus disambitkan ke arah Siau-siang-cu, Nimo Singh, In Kik-si dan Be Kong-co.
Terdengar suara mendesing menyambernya ke empat ujung tumbak itu, karena jaraknya sangat dekat, dalam sekejap saja ujung tumbak itu sudah menyamber sampai di depan mata keempat orang sasarannya.
Siau-siang-cu berempat terkejut, mereka merasa sukar untuk mengelak, terpaksa mereka mengerahkan tenaga dalam dan menangkap ujung tumbak Siapa tahu keempat tangan mereka itu ternyata menangkap angin.
"plok" , tahu-tahu keempat ujung tumbak itu menancap di atas tanah. Kiranya tenaga sambitan Ciu Pek-thong itu sangat spesial, begitu disambitkan segera disertai tenaga tarikan, maka ketika ujung tumbak menyamber, sampai di depan sasarannya, mendadak terus ganti arah dan membelok ke bawah dan menancap di atas tanah. Be Kong-co adalah seorang lugu, sekali tangkap tidak kena, ia malah merasa geli dan bergelak tertawa, serunya.
"Hei, jenggot putih, sungguh hebat permainan sulapmu !" .. Tapi Siau-siang-cu bertiga menjadi tidak kepalang kagetnya, tanpa terasa air muka mereka berubah hebat. Bayangkan saja, ujung tombak itu tidak berhasil mereka tangkap, tapi sempat berganti arah, maka pada detik itu sesungguhnya jiwa sendiri sudah tergenggam di tangan lawan, kalau saja ujung tombak itu bukan menancap di tanah, tapi menyamber ke perut mereka, apakah jiwa mereka dapat diselamatkan ? Karena berhasil mempermainkan keempat orang itu, Ciu Pek-thong sangat senang, baru saja dia mau keluar kemah, tiba2 Cu-cong berseru .
"Eh, Ciu-losiansing, kesaktianmu sungguh jarang ada di dunia ini. Biarlah kuberi selamat padamu dengan suguhan secawan arak ini!"
Berbareng ia terus menyodorkan secawan arak yang sudah disiapkan ke hadapan Ciu Pek-thong.
Tanpa pikir Ciu Pek-thong terima suguhan itu dan sekali tenggak habislah isi cawan itu.
Kembali Cu-cong menghaturkan satu cawan arak dan berkata.
"Sekarang aku mewakili Ongya menyuguh engkau satu cawan,"
Segera Ciu Pek-thong menghabiskan lagi arak itu, baru saja Cu-cong hendak menyuguh lagi cawan ketiga, se-konyong2 Ciu Pek-thong berteriak.
"Haya, celaka ! Perutku mules, aku mau berak !" -Berbareng itu ia terus berjongkok sambil membuka kolor celana terus hendak memberak di tengah kemah. Dengan menahan rasa gelinya Kim-lun Hoat-ong membentak untuk mencegah perbuatan Ciu Pek-thong yang tidak senonoh itu. ---------Keterangan gambar --------Dengan menggunakan sumpit masing2 Siau-siang-ca adu betot daging melawan Kim-lun Hoat-ong. Dalam waktu sekejap mereka sudah beradu kekuatan tiga babak. ------------------------------------Ciu Pek-thong tampak melengak sejenak, habis itu berteriak pula.
"He, muIesnya perut ini tidak beres, rasanya bukan kebelet mau berak !"
Nyo Ko memandang sekejap ke arah Cu-cong, pahamlah dia duduknya perkara, ia tahu Hwesio itulah menaruh racun di dalam arak yang disuguhkan kepada Ciu Pek-thong, tapi ia merasa tidak tega bila orang tua yang polos dan jenaka itu sampai mati keracunan, baru saja dia mau memperingatkan agar Kubilai ditawan untuk memaksa Cu-cong memberikan obat penawar racun, mendadak didengarnya Ciu Pek-thong berseru pula.
"Ah, salah, salah ! Kiranya arak beracun yang kuminum terlalu sedikit, lantaran itulah perut menjadi mules, Hei, Hwesio, lekas, tuangkan lagi tiga cawan arak beracun !"
Keruan semua orang saling pandang dengan bingung, sedangkan Cu-cong menjadi ketakutan kalau-kalau Ciu Pek-thong mendadak ngamuk sebelum ajalnya, mana dia berani mendekatinya, jangankan disuruh memberi arak lagi.
Karena itu Ciu Pek-thong lantas maju mendekati meja, cepat Kim-lun Hoat-ong mengadang di depan Kubilai untuk melindunginya.
Tapi Ciu Pek-thong ternyata tidak bermaksud menyerang, dengan sebelah tangan memegangi celana yang kedodoran, tangan lain terus angkat poci yang berisi arak teracun, sekaligus ia tenggak habis seluruh isi poci itu, satu tetespun tidak tersisa.
Di tengah rasa bingung dan kaget semua orang, Ciu Pek-thong malah tertawa ter-bahak2, katanya.
"Nah, beginilah baru segar rasanya,"
Perut terlalu banyak barang kotor dan beracun, harus serang racun dengan racun !
" -Habis itu mendadak mulutnya terbuka, suatu arus arak terus menyembur ke arah Cu-cong.
Cepat Kim-Iun Hoat-ong samber meja di sebelahnya untuk menangkis, arak berbisa itu tepat menyerempet di muka meja dan muncrat ke mana-mana.
Sambil bergelak tertawa Ciu Pek-thong melangkah pergi, sampai di depan kemah, mendadak timbul lagi pikirannya yang jahil, ia tarik tali kemah dan dibetot sekuatnya, kontan tiang penyanggah kemah itu patah, seketika kemah besar yang terbuat dari kulit itu ambruk, Kubilai, Kim-lun Hoat-ong, Nyo Ko dan lainnya terkurung semua di bawah.
Ciu Pek-thong kegirangan, ia melompat ke atas kemah ambruk itu dan berlari-lari kian kemari beberapa kali sehingga semua orang yang terkurung di bawah kemah itu seluruhnya terinjak olehnya.
Dari bawah kemah Kim-Iun Hoat-ong melontarkan suatu pukulan dan tepat mengenai telapak kaki Ciu Pek-thong, karena tidak tersangka-sangka, Ciu Pek-thong terpental dan berjumpalitan di udara sambil berteriak.
"Haha, menarik, menarik!"
Lalu pergilah dia tanpa pamit !
Waktu Kim-Iun Hoat-ong dan lainnya merangkak keluar dengan melindungi Kubilai, para pangawal juga cepat memasang kemah baru, sementara itu Ciu Pek-thong sudah menghilang.
Hoat-ong dan lainnya sama minta maaf kepada Kubilai atas kelalaian mereka yang kurang cermat mengawal sang pangeran, Namun Kubilai cukup bijaksana, sedikitpun ia tidak menyalahkan mereka, hanya berulang ia memuji kelihayan Ciu Pek-thong, dan menyesal karena tak dapat menarik orang kosen begini ke pihaknya.
Dengan sendirinya Kim-lun Hoat-ong dan lainnya merasa iri dan malu pula.
Kemudian perjamuan diperbarui, Kubilai berkata.
"Sudah sekian kali pasukan Mongol menggempur Siangyang, tapi tak berhasil. Kabarnya para pahlawan Tionggoan sama berkumpul dan bertahan di sana, sekarang Ciu Pek-Thong ini pergi ke sana, lagi untuk membantu, sungguh sulit urusan ini, entah kalian mempunyai akal bagus tidak?"
Nimo Singh berwatak berangasan segera ia mendahului buka suara.
"Meski ilmu silat tua bangka she Ciu itu sangat tinggi, tapi kepandaian kita juga tidak rendah, Harap saja Ongya melancarkan serangan sekuatnya, biarlah kita menghadapi mereka, perajurit lawan perajurit, panglima lawan panglima, biarpun di Tionggoan banyak pahlawan, tapi benua barat juga banyak jagoan."
"Meski betul juga ucapanmu, tapi segala sesuatu harus ditimbang secara masak,"
Kata Kubilai.
"untuk memenangkan suatu pertempuran kita harus dapat menilai kekuatan lawan dan kekuatan sendiri."
Bicara sampai di sini, tiba-tiba di luar kemah ada orang berteriak.
"Sudah kukatakan aku tak mau pergi, mengapa kalian terus memaksa saja, sekali kubilang tidak mau ya tetap tidak mau."
Dari suaranya itu jelas dialah Ciu Pek-thong.
Entah mengapa sudah pergi dia datang lagi dan sedang bicara dengan siapa?
Tentu saja semua orang sangat tertarik dan lari keluar kemah untuk melihat apa yang terjadi, tapi sebelum Kubilai memberi tanda, tiada seorangpun yang berani meninggalkan tempat duduknya.
Rupanya Kubilai tahu pikiran mereka, katanya dengan tertawa.
"Marilah kita melihatnya, entah sedang bertengkar dengan siapa si orang tua nakal itu?"
Waktu mereka keluar kemah, tertampaklah Ciu Pek-thong berdiri jauh di tanah lapang sebelah barat sana, ada empat orang lagi yang berdiri mengelilinginya dalam posisi mengepung, hanya sebelah timur saja yang terluang, Sambil mengepal dan ngotot, berulang Ciu Pek-thong hanya menyatakan.
"Tidak mau ! Tidak mau!"
Nyo Ko menjadi heran, kalau saja orang tua nakal itu bilang tak mau pergi, siapa lagi yang mampu memaksanya dan perlu ribut mulut begitu ?!
Waktu mengawasi keempat orang itu, ternyata semuanya berseragam jubah hijau model kuno, jelas bukan pakaian model pada jaman itu, tiga di antaranya lelaki memakai kopiah besar, seorang lagi perempuan muda.
Keempat orang bersikap tenang dan ramah, Terdengar lelaki yang berdiri di sebelah utara berkata.
"Kami tidak ingin membikin susah padamu, soalnya engkau telah mengobrak-abrik tempat kami, menjungkirkan tungku, mematahkan lengci (sejenis rumput obat), merusak kitab pusaka dan lainnya yang merusak, kalau engkau tidak menjelaskan sendiri duduknya perkara kepada guru kami, apabila diketahui guru kami sungguh kami tidak berani menanggung hukuman yang akan dijatuhkan beliau."
"Kau dapat mengatakan semua itu adalah perbuatan seorang hutan yang kebetulan menerobos ke situ, kan segala urusan menjadi beres ?"
Ujar Ciu Pek-thong dengan tertawa seperti anak kecil.
"Jadi tuan sudah pasti tak mau ikut pergi ?!"
Tanya lelaki kekar tadi. Ciu Pek-thong hanya menggeleng kepala saja. Mendadak lelaki itu menuding ke belakang Ciu Pek-thong dan berseru.
"He, siapa itu?" -Dan begitu Ciu Pek-thong menoleh, cepat lelaki itu beri tanda kepada kawan-kawannya, serentak keempat orang membentangkan sebuah jaring hijau terus menutup ke atas kepala Ciu Pek-thong. Gerakan keempat orang itu sudah terlatih, caranya aneh pula, biarpun ilmu silat Ciu Pek-thong maha sakti, sekali terkurung oleh jaring ikan, seketika ia menjadi kelabakan dan tak berdaya ? Dengan cepat keempat orang itu lantas meringkus tubuh Ciu Pek-thong dengan tali jaring, setelah kencang, dua lelaki itu lantas memanggulnya, perempuan muda dan lelaki satunya lagi mengawal dari samping, mereka terus berlari. Kejadian ini sungguh aneh dan langkah keempat orang itu secepat terbang. Gaya Ginkang mereka ternyata belum pernah dikenal. Segera Nyo Ko memburu dan berseru.
"He, kalian hendak membawanya ke mana?"
Akan tetapi keempat orang itu tidak menggubrisnya dan tetap berlari ke depan, Karena tertarik, Nyo ko terus mengejar.
Hoat-ong dan lainnya juga menyusuInya.
Beberapa li kemudian, sampailah ditepi sebuah sungai tertampak Ciu Pek-thong digotong ke atas sebuah perahu terus didayung pergi oleh keempat orang itu.
Cepat Nyo Ko dan lainnya mencari sebuah perahu dan memburu dengan kencang, Arus sungai itu ternyata berliku-liku, setelah memutar beberapa tikungan, mendadak kehilangan jejak perahu tadi Nimo Singh melompat ke atas tebing, seperti kera gesitnya ia merangkak ke atas, dari situ ia memandang sekelilingnya, Dilihatnya perahu kecil yang ditumpangi keempat orang berseragam hijau tadi sedang menyusuri sebuah sungai yang sangat sempit, sungai kecil itu adalah cabang sungai tadi, ujung sungai kecil yang bertemu dengan muara sungai besaran itu tertutup oleh semak pohon yang lebat, kalau tidak dipandang dari ketinggian siapa pun takkan mengetahui di balik lembah pegunungan itu ternyata masih ada "dunia"
Lain.
Lekas Nimo Singh melompat turun, dengan pelahan ia tancapkan kakinya di atas perahu, perahu kecil itu hanya bergoyang sedikit saja tanpa menimbulkan guncangan berarti Hoat-ong dan lain sama berseru memuji melihat Ginkangnya yang bagus itu.
Nimo Singh lantas menunjukkan arahnya dan cepat perahu itu didayung balik, lalu menerobos semak pohon lebat itu.
Perahu itu terus meluncur dengan cepat, tertampak tebing gunung menjulang tinggi di kedua tepi sungai yang sempit itu sehingga langit kelihatannya seperti satu garis saja.
Setelah beberapa li lagi, bagian depan di tengah sungai itu teralang oleh sembilan potong batu besar yang menonjol di permukaan sungai sehingga perahu mereka tidak dapat melintasi "Wah, celaka !
Perahu ini tak dapat digunakan lagi!"
Seru Be Kong-co.
"Tubuhmu segede kerbau, boleh kau angkat perahu ini ke sebelah sana,"
Kata Siau-siang-cu dengan suara melengking.
"Mana aku kuat, kecuali kau?"
Jawab Be Kong-co dengan gusar.
Memangnya Kim-lun Hoat-ong lagi ragu cara bagaimana melintasi rintangan kesembilan batu karang itu, Demi mendengar pertengkaran Be Kong-co dan Siau-siang-cu, -tiba2 pikirannya tergerak.
Kalau mengandalkan tenaga seorang tentu siapapun tak mampu mengangkat perahu itu, tapi kalau enam orang bergotong royong, kan segala persoalan menjadi mudah dipecahkan?
Karena itu ia lantas berkata .
"He, bagaimana kalau kita berenam lakukan bersama saja? Adik Nyo, In-heng dan diriku di-sisi sini, saudara Nimo, Siau-heng dan Be-heng di sisi sana."
Serentak semua orang bersorak setuju dan menuruti petunjuk Kim-lun Hoat-ong, enam orang terbagi dan berdiri dua sisi, karena sungai itu sangat sempit, dengan berdiri di sisi tepian tangan mereka masih dapat meraih pinggir perahu.
Begitulah ketika Kim-lun Hoat-ong memberi komando, serentak enam orang mengerahkan tenaga, kontan perahu itu terangkat melintasi sepotong batu karang yang mengalang di tengah sungai itu.
Tukang perahu yang berduduk di atas perahu belum lagi menyadari apa yang terjadi, tahu-tahu terasa seperti terbang di udara, saking kagetnya ia jerit kuatir.
Di tengah jerit kaget dan tertawa senang, berturut perahu itu telah melintasi sembilan batu pengalang itu, lalu semua orang melompat kembali ke atas perahu dengan tertawa gembira, lalu tukang perahu yang masih melongo itu diperintahkan lekas mendayung lagi.
Sebenarnya keenam orang itu saling curiga mencurigai dan suka bertengkar, tapi setelah mendalami kerja sama ini, tanpa terasa mereka menjadi lebih akrab dan mulai pasang omong.
Kata Siau-siang-cu.
"Betapapun kepandaian kita berenam ini boleh dikatakan terhitung jago kelas satu di dunia persilatan, dengan tenaga gabungan kita memang tidak sulit untuk mengangkat perahu ini, akan tetapi mereka."
"Ya, benar, mereka hanya empat orang, masakah merekapun mampu mengangkat perahu dan melintasi sembilan batu karangtadi?"
Tukas Ni-mo Singh. Teringat hal itu, mereka sama merasa heran. Tidak lama, berkatalah In Kik-si.
"Perahu mereka memang lebih kecil, tapi jumlah mereka juga lebih sedikit daripada kita. Kalau mereka berempat mampu mengangkat perahu itu, maka kepandaian merekapun harus dipuji."
"Nona cantik muda belia, apapun juga pasti tidak mempunyai kemampuan sebesar itu,"
Kata Nimo Singh.
"Kukira mereka pasti mempunyai cara lain yang seketika tak dapat kita pecahkan."
Kim-Iun Hoat-ong tersenyum dan berkata.
"Manusia tak boleh dinilai dari lahiriahnya, misalnya saudara Nyo kita ini, meski usianya masih muda, tapi memiliki ilmu maha tinggi, jika kita tidak menyaksikan sendiri, siapa yang mau per-caya?"
"Ah, sedikit kepandaianku ini apa artinya?"
Ujar Nyo Ko dengan rendah hati.
"Tapi keempat orang berseragam hijau itu mampu meringkus Ciu Pek-thong yang maha sakti itu, tentu merekapun mempunyai kepandaian sejati"
Kini lagak lagu Nyo Ko sudah sejajar dengan Siau-siang-cu dan lainnya, karena semua orang sudah menyaksikan caranya menyambut samberan piring yang disambitkan Ciu Pek-thong tadi, maka tiada seorangpun yang berani lagi meremehkan dia.
Di antara keenam orang usia Nyo Ko paling muda, sedangkan Kim-lun Hoat-ong, Be Kong-co dan Nimo Singh bertiga baru sekarang ini menginjak daerah Tionggoan, Siau-siang-cu juga lebih sering tirakat di pegunungan sunyi dan jarang bergaul dengan khalayak ramai, hanya In Kik-si saja yang sangat paham terhadap kejadian di dunia persilatan daerah Tionggoan dengan aneka macam aliran serta tokohnya.
Tapi bagaimana asal usul keempat orang berbaju hijau tadi ternyata tak diketahuinya.
Selagi mereka berbincang keanehan orang berbaju hijau itu, sementara itu perahu telah sampai di ujung sungai kecil itu, jalan menjadi buntu, terpaksa mereka menyuruh tukang perahu tinggal di perahunya mereka berenam lantas melempat ke tepi sungai, dengan mengikuti sebuah jalanan kecil mereka terus menyusuri lembah gunung yang rindang itu.
Untungnya jalan kecil itu hanya satu sehingga mereka tidak sampai salah arah, namun jalanan itu makin lama makin meninggi dan makin terjal, sampai akhirnya sukar dibedakan lagi mana jalannya di antara batu padas yang berserakan itu.
Kim-lun Hoat-ong dan lainnya bertenaga dalam tinggi, dengan sendirinya mereka tidak susah menempuh jalan pegunungan yang curam itu, hanya Be Kong-co seorang saja, karena Ginkangnya tidak setinggi kelima orang kawannya, ia sudah mulai terengah-engah, kalau saja dia tidak ditarik Nyo Ko, In Kik-si dan Kim-lun Hoat-ong, beberapa kali ia hampir terjerumus ke dalam jurang.
Baru sekarang Be Kong-co merasakan kelemahannya sendiri, meski memiliki tenaga sebesar kerbau, tapi bicara tentang tenaga dalam jelas masih selisih jauh dengan orang lain, Meski dia seorang kasar, tapi diam-diam japun tahu diri dan malu hati.
Sementara itu hari sudah mulai gelap, tapi jejak keempat orang berbaju hijau masih belum di ketemukan, Selagi mereka merasa gelisah, tiba-tiba di kejauan tertampak beberapa gunduk api unggun yang sedang menyala, seketika mereka bergirang bahwa di lembah pegunungan itu ada cahaya api, dengan sendirinya di sana juga ada penduduknya, Kecuali beberapa orang berbaju hijau tadi, orang biasa tentunya juga tak dapat bertempat tinggal dj tempat securam ini.
Begitulah mereka lantas berlari lebih cepat ke sana, dalam sekejap saja Be Gong-co sudah tertinggal jauh di belakang, Kecuali Nyo Ko, empat orang lainnya sudah banyak berpengalaman biar-pun berlari secepatnya, tapi merekapun menyadari sedang berada di daerah berbahaya, maka mereka sama was-was terhadap segala kemungkinan.
Namun begitu merekapun bertambah tabah mengingat kini mereka datang berenam, dengan gabungan tenaga mereka berenam, rasanya tidak perlu gentar terhadap siapapun juga.
Tidak lama sampailah mereka di suatu tanah lapang di atas puncak gunung itu, terlihat empat gundukan api yang sangat besar sedang berkobar dengan hebatnya.
Waktu mereka mendekati, maka tertampaklah dengan jelas bahwa gundukan api besar itu masing-masing mengitari sebuah rumah batu kecil di tengah, di pinggir rumah batu itulah tertimbun kayu bakar yang berkobar itu.
entah barang apa di dalam rumah batu itu yang lagi dibakar.
Nimo Singh datang dari negeri Thian-tiok, dia mahir ilmu Yoga dan tidak takut pada api, segera ia melompat maju dan mendekati rumah batu di ujung timur sana, ia mendorong pintunya dan terpentanglah seketika, tertampak rumah batu itu kosong melompong tiada isinya, hanya di lantai duduk, seorang lelaki baju hijau, kedua tangannya tersingkap di depan dada sebagai penganut agama Budha, tubuhnya kelihatan menggigil air mukanya tampak meringis menahan derita.
Heran sekali Nimo Singh, ia tidak mengerti apa yang sedang dilakukan orang itu?
Apakah sedang berlatih semacam Lwekang?
Tapi tampaknya bukan?
Waktu mengamat-amati lebih jelas, kiranya kaki dan tangan orang itu terikat oleh rantai besi dan terikat pula pada tiang di belakangnya.
Ia coba memeriksa lagi rumah batu kedua dan ketiga, keadaannya ternyata serupa dengan rumah pertama, Rumah keempat rada berbeda, sebab yang terikat di situ adalah seorang gadis berbaju hijau, jelas keempat orang ini adalah orang yang menangkap Ciu Pek-thong dengan jaring ikan itu.
Cuma si tua nakal itulah yang tak kelihatan bayangannya.
Nyo Ko dan lain-lain ikut memandang ke dalam rumah itu dan semuanya ikut heran dan terkesiap, kelihatan api semakin berkobar dan pasti luar biasa panasnya, keempat orang itu menjadi seperti dipanggang hidup-hidup.
Tindak-tanduk Nyo Ko biasanya memang tidak suka memikirkan bagaimana akibatnya, selain itu ia justeru dilahirkan dengan perasaan yang suka kepada keindahan dan dengan sendirinya juga suka kepada perempuan cantik ia pikir ketiga lelaki itu tidak menjadi soal biarpun mampus terpanggang, tapi nona jelita ini kan harus dikasihani.
Segera ia mengambil sepotong ranting pohon dan digunakan memadamkan api yang berkobar di tepi rumah batu yang didiami si nona.
Tidak lama Be Kong-co juga menyusul tiba, tanpa bertanya iapun membedol sebatang pohon kecil dan membantu Nyo Ko memadamkan api, tidak lama api dapat diatasinya.
Nyo Ko bermaksud memadamkan api pada rumah yang lain, tiba-tiba si nona baju hijau berkata.
"Tuan tamu harap berhenti agar tidak menambah dosa kami"
Selagi Nyo Ko merasa bingung dan hendak tanya apa artinya, tiba-tiba dari balik rumah muncul seorang dan berseru.
"Kokcu (pemilik lembah) ada perintah, karena ada tamu, maka hukuman sementara ditunda, keempat murid diperintahkan melayani tamu sebaiknya."
Nona baju hijau itu mengiakan dan menyatakan terima kasih, Lalu orang yang bicara itu melompat masuk rumah batu, ia mengeluarkan sebuah kunci yang amat besar untuk membuka gembok pada rantai si nona, begitulah ber-turut2 keempat, orang itu telah dibebaskan, habis itu dia terus berlari pergi tapi memandang sekejap kepada Nyo Ko dan Iain-lain.
Keempat orang yang terantai di dalam rumah batu tadi lantas keluar semua dan memberi hormat seorang di antaranya berkata.
"Maafkan jika tadi kami tak dapat menyambut kedatangan tuan sekalian." -lalu ia tuding tanah lapang di sebelah timur sana dan menyambung.
"Silakan duduk saja di sana, rumah terlalu panas terbakar, sukar untuk menerima tamu di dalam rumah."
Kim-lun Hoat-ong mengangguk tanda setuju, baru saja mau melangkah ke sana, mendadak Nimo Singh berkata.
"semakin panas semakin menyenangkan." -Habis itu dengan lagak tak takut mati ia terus melangkah masuk ke dalam rumah batu yang terletak di tengah dan masih dikelilingi oleh api yang berkobar itu. --------gambar ---------"Hei, adik cilik, siapa namamu?"
"Aku she Nyo bernama Ko"
"Siapakah gurumu?"
"Guruku seorang perempuan jelita, ilmu silatnya, tinggi, orang lain dilarang menyinggung namanya." ---------------------------Semua orang melengak dan tahu kakek keling cebol itu sengaja pamer kepandaian, Siau-siang-cu mendengus satu kali, segera iapun menyusul ke dalam rumah itu.
"Wah, jangan sampai orang Persi berubah menjadi daging panggang,"
Ujar In Kik-si dengan tertawa, walaupun begitu katanya, tanpa ragu ia pun ikut masuk ke dalam rumah.
Kim-lun Hoat-ong paling tenang dan pendiam, tanpa bicara iapun masuk ke situ.
Sudah tentu Be Kong-co juga tidak mau ketinggalan tapi baru sampai di ambang pintu, se-konyong2 hawa panas terasa membakar, ia berseru.
"Ah, lebih baik kucari angin saja di bawah pohon sana."
Habis itu ia terus berlari kebawah pohon dan duduk istirahat. Kini tertinggal Nyo Ko saja, baru saja dia mau masuk ke rumah itu, mendadak si nona baju hijau tadi berkata padanya.
"Jika tuan tamu ini takut panas, bagaimana kalau silakan berduduk istirahat di sana bersama tuan itu?"
Rupanya dia merasa terima kasih atas bantuan.
Nyo Ko tadi yang telah memadamkan api, pula melihat usianya masih muda, ia pikir Nyo Ko pasti tidak mampu menahan hawa panas di dalam rumah yang mirip dipanggang itu.
Tak terduga Nyo Ko tetap melangkah kesana, ia Ijetpaling dengan tertawa dan berkata ."
"Biarlah aku duduk sebentar di dalam, kalau tidak tahan tentu aku akan keluar,"
Sesudah di dalam rumah, ia duduk di sebelah Kim-lun Hoat-ong, keempat lelaki-perempuan berseragam hijau itupun ikut masuk dan duduk di sisi Iain sebagai tuan rumah, seorang di antaranya lantas bertanya.
"Maaf, sekiranya boleh kami mengetahui nama tuan-tuan yang terhormat ?"
Ln Kik-si paling lancar main mulut, dengan tersenyum ia memperkenalkan kelima orang ka-wannya, akhirnya ia berkata.
"Cayhe sendiri bernama In Kik-si, berasal dari Persi, kepandaianku selain makan nasi adalah cari duit, berbeda dengan beberapa kavvanku ini, mereka memiliki ilmu sakti yang sukar kuterangkan."
"Tempat kami ini bernama Cui-sian-kok, biasanya jarang dikunjungi orang luar,"
Kata orang tadi.
"Maka kami merasa beruntung dapat kunjungan tuan-tuan sekarang. Entah tuan-tuan ini ada keperluan apa, sudilah kiranya memberitahu?"
"Kami melihat kalian meringkus Lo-wan-tong Ciu Pek-thong dan dibawa ke sini, karena rasa ingin tahu, maka kami telah ikut kesini tak terduga kami dapat menyaksikan peristiwa aneh pula di sini."
Jawab In Kik-si.
Selama tanya jawab kedua orang itu, suhu panas di dalam rumah telah bertambah hebat, Nimo Singh dan Siau-siang-cu sudah lantas duduk bersila begitu mereka masuk ke dalam rumah, satu patah-katapun mereka tidak buka suara, soalnya lwekang yang mereka latih itu di kala mengerahkan tenaga sekali-kali tidak boleh membuka mulut.
Dalam pada itu, akhirnya In Kik-si sendiripun terengah-engah napasnya, suarapun terputus-putus.
Rupanya Lwekang keempat orang baju hijau itu berbeda Lwekang orang lain, juga sudah biasa melawan hawa panas itu, meski kepandaian mereka terbatas, tapi masih sanggup bertahan.
Maka orang pertama tadi berkata pula.
"Jadi orang tua yang mengacau itu she Ciu? Pantas dia berjuluk Lo-wan-tong, nyatanya sudah tua masih nakal seperti anak kecil."
"Apakah kalian juga sehaluan dengan si tua nakal itu?"
Tanya orang baju hijau kedua. In Kik-si menjawab.
"Kami... kami ti.... tidak..."
Melihat kawannya sudah megap-megap dan tidak sanggup melanjutkan ucapannya, cepat Kim-lun Hoat-ong menyambung.
"Kami juga baru kenal dia tadi, bdleh dikatakan tiada hubungan apa-pun."
Meski perkataan Kim-Iun Hoat-ong dapat diucapkan dengan lancar, tapi sebenarnya cukup makan tenaga, Diam-diam ia mendongkol terhadap Nimo Singh yang sejak tadi duduk diam saja, padahal gara-gara Nimo Singh yang sok aksi dan mendahului masuk rumah ini, kalau tidak, tentu mereka tidak perlu tersiksa, sekarang Nimo Singh duduk terpekur tanpa menggubris orang lain, kalau sebentar para teman tak sanggup membuka mulut, bukankah akan ditertawai pihak lawan ?
Karena rasa gemas itu, tanpa terasa Kim-lun Hoat-ong melotot kepada Nimo Singh, namun orang keling itu tetap pejam mata dan bersemadi tanpa ambil pusing.
Hanya Nyo Ko saja ternyata dapat duduk dengan tenangnya, ia pernah tidur selama beberapa tahun di atas dipan kumala dingin yang terdapat di kuburan kuno itu, biarpun dalam keadaan tidur nyenyak tubuhnya secara otomatis telah biasa mengatur suhu yang berubah setiap waktu, maka untuk melawan hawa panas sekarang sedikitpun dia tidak merasa sulit.
Begitulah orang baju hijau pertama tadi membuka suara lagi.
"Lo-wan-tong itu telah menyusup ke Cui-sian-kok kami ini dan membikin kacau...".
"Membikin kacau bagaimana? Apakah benar dia telah membakar rumah, merobek kitab dan sebagainya seperti tuduhan kalian?"
Tukas Nyo Ko.
Semua orang menjadi terheran-heran melihat Nyo Ko masih sanggup membuka suara dengan lancar, sedikit tiada ubahnya seperti biasa, padahal pemuda ini juga sudah duduk sekian lamanya di dalam rumah batu yang panas ini.
Karena itu semua orang sama memandang padanya, kecuali Nimo Sing yang masih tetap memejamkan mata dan tidak pusing terhadap kejadian di sekitarnya.
Terdengar orang baju hijau tadi menjawab pula.
"Memang begitulah. Waktu itu aku diperintahkan guruku menunggui anglo yang menggembleng obat, entah cara bagaimana mendadak tua bangka itu menerobos masuk ke situ dan mengajak ngobrol padaku ke timur dan ke barat, dia mengajak main teka teki segala dan menantang taruhan padaku, sungguh sinting dia. Padahal aku sedang sibuk menunggui anglo yang sedang menyala, aku tidak sempat mengusir dia, terpaksa ku anggap tidak mendengar ocehannya, Tak terduga mendadak dia mengayun kakinya, anglo yang kutunggu itu telah ditendangnva hingga terguling."
"Dan dia malah menyalahkan kau karena kau tidak menggubris dia, betul tidak ?"
Kata Nyo Ko dengan tertawa.
"Benar, memang begitulah,"
Kata si nona baju hijau tadi.
"Waktu kudengar suara ribut, ku tahu telah terjadi keonaran, baru aku hendak meninggalkan kamar penyimpan Leng-ci-cau yang ku tunggui itu, mendadak kakek aneh itu sudah menerobos tiba, sekali pegang, kontan dia bedol dan dipatahkan menjadi dua sebatang Leng-ci-cau yang sudah berumur lebih 400 tahun."
"Wah, Lo-wan-tong itu sungguh terlalu, sebatang Leng-ci-cau yang sudah hidup lebih 400 tahun. tentulah benda mestika yang perlu disayang"
Ujar Nyo Ko sambil geleng kepala dengan tertawa.
"Padahal ayahku telah merencanakan Leng-ci-cau ini akan dimakan bersama ibu tiriku pada hari pernikahan mereka nanti, siapa tahu tua nakal telah membikin kacau semuanya itu, maka tidak perlu dijelaskan lagi apabila ayahku menjadi murka!"
Kata si nona baju hijau.
"Apa boleh kami mengetahui nama ayahmu yang terhormat?"
Tanya Nyo Ko.
"Tanpa sengaja kami menyusup ke sini, tapi nama tuan rumah sampai saat ini belum diketahui sungguh terasa kurang sopan."
Nona baju hijau itu tampak sangsi untuk menjawab, maka seorang lelaki baju hijau yang lain lantas berkata.
"Sebelum diidzinkan Kokcu, maafkan jika kami tidak dapat memberi keterangan"
Nyo Ko pikir orang-orang ini tentulah orang kosen yang hidup di dunianya sendiri maka tidaklah heran jika mereka tidak mau menjelaskan asal usul mereka. Maka ia lantas bertanya pula.
"Dan kemudian bagaimana dengan Lo-wan-tong itu?"
Pada saat itulah terlihat In Kik-si berbangkit lalu melangkah cepat ke luar rumah dengan sempoyongan.
Rupanya orang Persi itu sudah tidak tahan lagi hawa panas.
Maka orang baju hijau, ketiga ikut bicara.
"Orang tua she Ciu itu tidak mau kepalang tanggung, dia menerobos lagi ke dalam kamar tulis guru kami dan merobek beberapa buah kitab pusaka, dalam pada itu kedua suhengku dan Sumoay ini telah memburu tiba, kami berempat akhirnya tetap tak dapat merintangi dia..."
Belum habis ucapannya, mendadak terlihat tubuh Siau-siang-cu melayang keluar rumah, dia tidak berdiri, tapi masih tetap duduk bersila.
Gerakan tubuhnya yang gesit itu tanpa berdiri itu sungguh luar biasa.
Nyo Ko tersenyum, lalu berkata pula.
"Watak lo-wan-tong itu sungguh teramat aneh, ilmu silatnya juga sudah mencapai tingkatan yang sukar di ukur, pantas kalau kalian tak dapat menghalangi dia."
"Malahan dia belum selesai, dia masuk lagi ke kamar senjata,"
Tutur orang kedua.
"tapi lantaran di situ cuma senjata melulu, dia terus menyalakan api sehingga lukisan dan seni tulisan yang bergantung di dinding semuanya terbakar. Kami sibuk memadamkan api, peluang itu telah digunakan olehnya untuk kabur."
"O, makanya kemudian kalian mengejarnya dan berhasil menawannya dengan jaring ikan,"
Kata Nyo Ko. Mendadak Kim-lun Hoat-ong juga berbangkit sambil menggeliat pinggang yang pegal, katanya dengan tertawa.
"Adik cilik, akupun merasa tidak tahan lagi, perlu cari angin keluar saja, Kaupun jangan paksakan diri, racun api ini tidak boleh dibuat permainan"
Habis berkata ia terus melangkah keluar dengan tenang. Si nona baju hijau berkata. kepada Nyo Ko.
"Hampir semua tetamu telah keluar, kami berempat sesungguhnya juga tak tahan lagi, bagaimana kalau kita bicara di bawah pohon di luar sana?"
Nyo Ko tersenyum dan mengiakan, lalu ia berdiri dan berkata kepada Nimo Singh.
"He, saudara tua, kau mau keluar tidak?" . Siapa duga Nimo Singh masih tetap pejam mata dan diam saja, waktu Nyo Ko mendorong pelahan pundaknya, kontan Nimo Singh roboh di lantai Nyo Ko tetkejut, cepat ia membangunkannya.
"Rupanya dia pingsan karena hawa yang teramat panas ini, setelah mendapat angin silir di luar tentu akan siuman kembali,"
Ujar si lelaki baju hijau pertama tadi.
Diam-diam Nyo Ko merasa geli terhadap kemampuan dengan keling tua yang sok aksi itu, segera ia jinjing tubuh Nimo Singh yang kurus kecil itu dan dibawa keluar.
Begitulah semua orang lantas duduk mengitar di bawah pohon, keempat orang baju hijau itu tiada hentinya memuji kehebatan Lwekang si Nyo Ko.
"Kami berempat harus bicara secara bergiliran,"
Setelah buka mulut harus mengerahkan tenaga untuk melawan suhu panas dan pembicaraan disambung oleh yang lain, tapi tuan Nyo ini dapat sekaligus melayani pembicaraan kami berempat tanpa berhenti sungguh sangat mengagumkan tenaga dalamnya yang Iihay.
Demikian kata orang pertama tadi.
Tiba-tiba orang kedua menyambung.
"Eh, Su-ko, aliran Lwekang tuan Nyo ini tampaknya sangat mirip dengan ibu guru kita yang baru itu?"
Hati Nyo Ko tergerak tanpa pikir ia terus tanya.
"Siapakah ibu guru kalian ?" -Tapi segera ia menyadari ketidak sopanan pertanyaannya itu. ketika keempat orang baju hijau itu saling pandang dengan air muka yang aneh tanpa menjawab. In Kik-si tahu Nyo Ko merasa kikuk dan perlu dialihkan pokok-pembicaraan mereka, maka cepat ia menimbrung.
"Sebenarnya sebab apakah Lo-wan-tong itu mengamuk, padahal tabiatnva tidaklah jelek meski kelakuannya memang nakal"
"Dia bilang usia ayahku sudah sebanyak itu, tapi masih ingin..."
Belum si nona baju hijau habis berbicara, mendadak kawannya yang pertama tadi menyambung.
"Ah, Lo-wan-tong itu memang sinting, mana ucapannya dapat dipegang buntutnya, O, ya, kalian datang dari jauh, tentu sudah lapar, silakan dahar sekadarnya ke sana."
"Bagus ! Bagus !"
Kontan Be Kong-co bersorak bicara makan, dia paling bernapsu.
Sementara itu pernapasan Nimo Singh belum lagi lancar kembali dia terus angkat tubuh sang kawan yang kecil itu dan dikempit terus mendahului menuju ke arah yang ditunjuk lelaki baju hijau tadi.
Tempat bersantap juga sebuah rumah batu yang sederhana, tidak banyak alat perabotnya, tapi sangat luas.
Keempat orang baju hijau tadi masuk dapur sendiri untuk menyiapkan daharan, Tidak lama perjamuan lantas dimulai, meja penuh dengan sayur mentah dan buah-buahan belaka, tiada makanan dari daging atau ikan dan juga tiada satu pun yang dimasak.
Makan tanpa ikan daging bagi Be Kong-co jelas tidak menarik, maka ia menjadi kecewa melihat meja itu tiada sesuatu daharan enak selain sayur mentah dan buah-buahan.
"Di sini selamanya tidak kenal makanan berjiwa dan tidak pakai asap api, maka diharap tuan-tuan suka maklum,"
Kata orang pertama tadi.
"Masakah tidak pakai api segala ? Tadi kalian kan membakar rumah dengan api?"
Ujar Be Kong co...
"Itu adalah cara hukuman Kokcu,"
Kata orang kedua. Lalu lelaki baju hijau ketiga menyambung.
"Silahkan dahar !" -Lalu ia ambilkan sebuah botol dan menuangkan setiap orang satu mangkoK air jernih. Be Kong-co mengira disuguh arak, ia tidak makan daging juga tak jadi soal asalkan dapat minum arak. Tanpa pikir ia terus angkat mangkoknya dan ditenggak, tapi rasanya tawar, baru sekarang ia tahu isi mangkok itu adalah air. Dasar, wataknya memang kasar, segera ia berteriak.
"He, majikan kalian itu sungguh kikir, masakah arak saja tidak disuguhkan kepada tamu."
"Di lembah ini dilarang minum arak, peraturan ini sudah turun temurun selama beratus tahun, harap tuan tamu suka memaafkan,"
Kata orang pertama tadi. Si nona baju hijau juga berkata.
"Hanya dalam kitab saja kami pernah membaca tulisan arak, tapi sebenarnya bagaimana rasanya arak, selama hidup tak pernah kami lihat, Menurut tulisan dalam kitab, katanya arak dapat mengacaukan pikiran sehat, tentunya juga bukan barang baik"
Nyo Ko dan lainnya adalah orang yang sudah biasa hidup bebas di dunia kangouw, mereka merasa kurang cocok dengan lagak lagu keempat orang itu, apalagi sejak mulai bicara tadi belum pernah tertampak air muka mereka mengunjuk senyum, walaupun juga tidak menjemukan, tapi boleh dikatakan tidak menarik.
Karena itu mereka hanya makan nasi saja.
Celakanya nasi itupun mentah, yaitu beras yang digiling halus dan dicampur air melulu, tentu saja rasa katulnya sangat terasa sehingga sukar ditelan saja sekadar tangsal perut.
Hanya Be Kong co yang bertubuh besar kekar, setiap kali makan sedikitnya delapan sampai sembilan mangkok besar, tentu saja dia tidak puas akan suguhan itu, sambil makan nasi beras mentah itu ia terus menggerundel tiada hentinya.
Aneh juga, keempat orang baju hijau itu ternyata tidak ambil pusing terhadap gerundelan Be Kong-co, semula mereka masih minta maaf kepada tamunya, tapi kemudian merekapun tidak menanggapi apapun, mereka anggap makan nasi mentah dan minum air tawar adalah kehidupan yang wajar.
Selesai bersantap, Be Kong-co berkaok ingin pulang saja malam itu juga, tapi kelima orang kawannya merasa tertarik oleh macam-macam keanehan di lembab gunung ini, mereka sama ingin mencari tahu duduknya perkara, maka In Kik-si coba memberi pengertian-kepada Be Kong-co, katanya.
"Be-heng, kita sudah datang di sini dan sepantasnya besok kita harus menemui Kokcu, mana boleh pulang begitu saja,"
"Tidak ada arak tidak daging, nasipun tidak keruan, aku merasa tersiksa di sini,"
Seru Be Kong-co pula. Mendadak Siau-siang-cu menarik muka dan berkata.
"Semua orang bilang tinggal dulu di sini, kau sendiri ribut apa?"
Be Kong-co paling takut kepada Siau-siang-cu karena potongannya yang mirip mayat hidup itu, karena itu ia tidak berani mengomel lagi Malamnya mereka berenam lantas tidur di dalam rumah batu itu, lantai batu dingin sekali, jangankan kasur dan selimut, bahkan tikar dan sejenisnya juga tidak ada sama sekali.
"Eh, Hwesio gede,"
Kata Nimo Singh kepada Kim-lun Hoat-ong.
"kau adalah otak kita berenam, coba katakan, menurut pendapatmu orang macam apakah Kokcu ini? Apakah orang baik atau orang busuk, besok kita harus bersikap ramah tamah atau labrak dia habis-habisan?"
"Seperti juga kalian, aku sendiripun belum tahu bagaimana Kokcu mereka ini, biarlah besok kita bertindak menurut keadaan saja,"
Jawab Kim-lun Hoat-ong tertawa. Dengan suara pelahan In Kik-si berkata.
"Kepandaian keempat orang ini sudah begini bagus, dengan sendirinya sang Kokcu akan jauh lebih lihay. Besok kita harus selalu waspada, sedikit lengah bisa jadi kita berenam akan terkubur di sini."
Tapi Be Kong-co masih terus menggerundel tentang makanan tak enak dan sebagainya, sama sekali ia tidak menghiraukan peringatan In Kik-si yang suka berpikir itu.
Maka Nyo Ko sengaja menakuti Be Kong-co, katanya.
"Besok kalau kau tidak bertindak hati2 dan kena ditawan mereka, selamanya kau hanya akan merasakan air tawar dan sayur mentah belaka."
Baru sekarang Be Kong-co terkejut dan cepat menjawab.
"Baik, adik cilik, baiklah, aku akan menuruti kalian!"
Karena berada di tempat berbahaya, maka tidur mereka semalaman boleh dikatakan tidak nyenyak, hanya Be Kong-co saja yang dapat pulas, suara mendengkurnya begitu keras laksana guntur Setelah bangun pagi-pagi, Nyo Ko keluar rumah batu itu dan memandang sekelilingnya, semalam karena hari sudah gelap, maka keadaan setempat belum terlihat jelas.
Ternyata sekitar pepohonan menghijau permai dengan bunga mekar harum semerbak, sungguh suatu tempat dengan pemandangan alam yang indah.
Karena terpesona oleh pemandangan yang menarik itu, Nyo Ko mengayunkan langkah ke depan, tertampak di tepi jalan bangau putih bergerombol dua-tiga sekalian di sana sini menjangan putih berkelompok, tupai dan kelinci berlari kian kemari tanpa menghiraukan manusia yang berlalu di situ.
Setelah membelok ke sana, terlihat si nona baju hijau kemarin itu sedang memetik bunga di tepi jalan, nampak Nyo Ko, nona itu lantas menyapa.
"Selamat pagi! Silakan sarapan !" -Sembari bicara ia lantas memetik dua tangkai bunga dan disodorkan kepada Nyo Ko. Tanpa ragu Nyo Ko menerima bunga itu, ia ragu apakah mesti makan bunga ini sebagai sarapan pagi? Melihat si nona mengeleteki kelopak bunga dan dimakan, Nyo Ko meniru dan makan juga beberapa sayap kelopak bunga itu, ia merasa kelopak itu ada rasa manis yang sangat tipis, tapi dikunyah lebih jauh, terasa pula rasa sepat dan pahit, ia merasa tidak sopan kalau memuntahkan kembali kelopak bunga yang dimakannya itu, tapi untuk ditelan rasanya sukar pula masuk tenggorokan. Ia coba mengamati pohon bunga itu, ternyata ranting daunnya penuh duri kecil, tapi warna kelopak bunga indah sekali, mirip bunga mawar tapi lebih harum, menyerupai melati tapi lebih cantik, entah apa nama bunga yang aneh ini.
"Bunga apakah ini, belum pernah kulihat,"
Tanya Nyo Ko.
"Namanya Bunga Cinta, memang jarang ada di dunia ini,"
Jawab si nona.
"Enak tidak rasanya dirasakan?" .
"Mula-mula terasa manis, tapi kemudian terasa pahit,"
Ujar Nyo Ko sembari mengulur tangannya untuk memetik bunga lagi.
Karena melihat ranting bunga itu berduri, maka dia memetik dengan sangat hati-hati.
Tak terduga, di balik kuntuman bunga yang hendak dipetik itu tersembunyi juga duri yang kecil itu dan jarinya terluka hingga meneteskan beberapa tetes darah segar.
Aneh juga, batang pohon bunga itu mirip kapas saja, begitu darah menetes di dahan pohon, seketika darah segar itu terisap lenyap tanpa bekas.
"Menurut cerita ayahku, bunga cinta ini paling suka kepada darah manusia,"
Tutur si nona baju hijau.
"Dengan mengisap beberapa tetes darahmu ini, pasti bunganya akan mekar terlebih indah dan harum, Lembah ini bernama "
Lembah Patah Hati", tapi di sini justeru tumbuh bunga cinta sebanyak ini, aneh bukan ?"
Nyo Ko merasa nama lembah itu sangat aneh, katanya.
"Mengapa bernama lembah patah Hati, nama ini sungguh luar biasa."
Nona baju hijau itu menggeleng, jawabnya.
"Akupun tidak tahu apa maksudnya, nama ini sudah turun temurun, bisa jadi ayah, mengetahui asal-usul nama ini"
Sembari bicara mereka lantas berjalan berendeng ke depan, Hidung Nyo Ko mengendus bau harum yang sedap, terlihat pula menjangan kecil yang berlari kian kemari di tepi jalan itu sangat menarik, hatinya menjadi lapang dan semangat segar, terpikir olehnya tiba-tiba .
"Alangkah bahagianya apabila yang berjalan berendeng denganku sekarang ini adalah Kokoh, sungguh aku ingin tinggal selamanya di lembah sunyi ini."
Baru berpikir sampai di sini, mendadak jari yang tertusuk duri bunga tadi terasa sakit nyeri sekali rasa sakit ini sangat aneh dan lihay, dada terasa seperti dipalu beberapa kali oleh orang, tanpa terasa ia menjerit tertahan dan cepat jari dimasukkan ke dalam mulut untuk dihisap.
"Terkenang kepada buah hatimu, bukan?"
Tanya si nona hambar. Karena isi hatinya tepat dikatakan si nona, . muka Nyo Ko menjadi merah, jawabnya.
"Aneh, darimana kau mendapat tahu?"
"Bila anggota badan tertusuk oleh duri bunga cinta itu, selama tiga hari tiga malam tidak boleh timbul rasa rindu, kalau tidak tentu akan merasa sakit luar biasa,"
Tutur nona itu.
"Sungguh aneh, masakah di dunia ini terdapat hal aneh begini?"
Kata Nyo Ko dengan heran.
"Kata ayahku, memang begitulah arti cinta, mula-mula terasa manis, tapi kemudian akan timbul terasa pahit getir, bahkan penuh duri, biarpun kau sudah berhati-hati juga tak terhindar akan terluka olehnya, Mungkin karena bunga ini memiliki beberapa segi Khas ini, makanya orang memberi nama begini,"
"Dan mengapa selama tiga hari tiga malam tidak boleh timbul rasa rindu asmara?"
Tanya Nyo Ko. Betapapun dia masih muda belia, bicara mengenai "rindu asmara", tanpa terasa mukanya merah lagi. Tapi nona baju hijau sama sekali tidak terpengaruh dengan tenang ia berkata pula.
"menurut ayah, duri bunga cinta ini berbisa, Umumnya setiap orang yang tergerak cinta berahinya, bukan saja jalan darahnya akan mengalir lebih cepat, bahkan di dalam darah akan timbul sesuatu unsur yang entah apa namanya, Biasanya racun duri bunga cinta ini tidak membahayakan, tapi begitu bertemu dengan unsur itu di dalam darah, seketika akan membuat orang kesakitan tidak kepalang."
Nyo Ko merasa cerita orang juga rada masuk diakal tapi ia masih setengah ragu.
Kedua orang itu terus melangkah ke dataran puncak yang terang benderang oleh sinar matahari pagi yang hangat, bunga cinta tampak mekar semarak, bahkan pohon bunga itu pun berbuah.
Macam-macam warna buahnya, ada hijau, ada merah dan kombinasi merah dan hijau, malahan buahnya berbulu halus seperti bulu ulat.
"Aneh, bunga cinta itu sangat indah, mengapa buahnya begini jelek,"
Ujar Nyo Ko.
"Buah bunga cinta ini tak dapat dimakan,"
Kata si nona.
"rasa buahnya ada yang masam, ada yang pedas, malahan ada yang bau busuk dan memuakkan."
"Masakah tiada yang manis sebagai madu?"
Ujar Nyo Ko dengan tertawa. Nona itu memandang sekejap padanya, lalu menjawab .
"Ada sih memang ada, cuma sukar dibedakan dari kulit buahnya, ada yang rupanya buruk, tapi rasanya manis, tapi yang rupanya bagus tidak selalu pasti manis."
Nyo Ko pikir meski apa yang dikatakan si nona itu mengenai bunga cinta, tapi sebenarnya mengandung filsafat tentang asmara lelaki dan perempuan apakah rasa cinta itu memang mula-mula manis dan akhirnya pasti pahit getir ?
Apakah cinta kasih sepasang laki perempuan tentu akan berakhir dengan mimpi buruk daripada mimpi indah ?
Apakah rasa rindukan kepada Kokoh ini kelak juga akan...!
Begitu dia terkenang kepada Siao-liong-li, kontan jarinya terasa kesakitan lagi, baru sekarang ia percaya kepada apa yang diceritakan si nona baju hijau memang bukan omong kosong belaka, Melihat Nyo Ko meringis lagi menahan sakit, si nona seperti mau tersenyum, tapi segera ditahannya, sementara itu wajahnya yang tersorot oleh sinar matahari itu telah menambah cantiknya.
"Di jaman dahulu ada seorang raja telah mengorbankan kerajaannya hanya karena ingin melihat senyuman manis seorang perempuan cantik, itulah tandanya sukarnya melihat tertawa perempuan cantik sejak jaman kuno sampai jaman kini memang sama susahnya,"
Kata Nyo Ko dengan tertawa.
Dasar si nona memang masih muda dan polos, karena olok-olok Nyo Ko itu, tak tertahan lagi, akhirnya tertawa mengikik.
Tadinya sikap si nona tampak dingin dan kaku, maka Nyo Ko selalu merasa prihatin, kini tawa si nona telah membuat jarak hubungan mereka menjadi lebih dekat.
"Ai, bicara tentang sukarnya melihat tertawa orang perempuan yang mengakibatkan musnahnya suatu negara, padahal masih ada sesuatu pada diri perempuan cantik yang lebih sukar diperoleh dari pada tertawanya,"
Kata Nyo Ko pula. Nona itu tampak terbeliak heran dan ingin tahu, cepat ia tanya.
"Apakah itu?"
"Ialah nama si cantik,"
Ujar Nyo Ko.
"Bahwa dapat melihat wajah si cantik sebenarnya sudah beruntung, apalagi dapat melihat tertawanya, itulah rejeki nomplok namanya, sedangkan kalau ingin si cantik sendiri mengatakan namanya, untuk itu perlu rejeki nomplok di tambah perbuatan amal bakti turun temurun."
Si nona tahu arti ucapan Nyo Ko itu hendak menuju ke mana, sambil tertawa iapun menjawab.
"Aku bukan perempuan cantik segala, di lembah ini belum pernah ada orang mengatakan aku ini cantik, rupanya engkau bercanda padaku?"
Nyo Ko menarik napas panjang, katanya .
"Ai, pantas lembah ini bernama Lembah Patah Hati atau Lembah Tanpa Perasaan, Menurut pendapatku lembah ini perlu ganti nama."
"Ganti nama apa?"
Tanya si nona.
"Lebih tepat pakai nama Lembah Orang Buta,"
Kata Nyo Ko.
"Sebab apa?"
Si nona menegas.
"Kan mudah dimengerti."
Kata Nyo Ko.
"Orang yang tidak tahu kecantikan seseorang kan namanya orang buta, Kau begini cantik, tapi mereka tidak pernah memuji kau, bukankah semua penghuni lembah ini adalah orang "
Buta?"
Kembali si nona tertawa terkekeh, padahal wajahnya meski tergolong kelas atas, tapi kalau dibandingkan Siao-liong-li jelas masih jauh sekali, dibandingkan kelembutan Thia Eng dan kegenitan Liok Bu-siang juga masih kalah.
Cuma nona gunung ini lebih polos, sederhana, tidak pernah makan barang berjiwa, dengan sendirinya ada sesuatu gaya yang istimewa pada dirinya.
BegituIah dengan sendirinya nona itu sekarang senang karena dipuji cantik oleh Nyo Ko, dengan tertawa ia menjawab.
"kau sendirilah yang buta, masakah menganggap seorang perempuan jelek sebagai orang cantik "
Melihat tertawa si nona yang menarik, tubuhnya yang semampai rada bergetar, tanpa terasa hati Nyo Ko tergerak juga.
Maklumlah, seorang pemuda berdiri di samping seorang gadis cantik dan melihat wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang indah, adalah jamak kalau timbul juga pikiran berahinya.
Siapa duga karena goncangan perasaannya itu, mendadak jarinya yang tertusuk jari bunga cinta tadi kembali kesakitan lagi.
Melihat Nyo Ko meringis kesakitan sambil memegangi jarinya, si nona rada kurang senang, omelnya.
"Aku sedang bicara dengan kau, tapi kau justeru memikirkan kekasihmu."
"Ai, sungguh mati, sakitnya jariku ini justeru akibat aku memikirkan dirimu, tapi kau malah marah padaku,"
Kata Nyo Ko. Mendadak muka si nona merah jengah terus berlari cepat ke depan sana. Nyo Ko menjadi menyesal setelah ucapannya keluar, pikirnya.
"cintaku telah kucurahkan seluruhnya kepada Kokoh, tapi tabiatku yang sok bangor mengapa tidak dapat berubah? Ai, dasar !"
Maklumlah, pembawaan Nyo Ko memang memiliki sebagian sifat ayahnya yang ugal-ugalan dan suka kepada kaum wanita, meski sebenarnya tidak bermaksud jahat, tapi dia suka menggoda dan merayu beberapa patah kata terhadap setiap gadis cantik, sudah tentu akibatnya si nona menjadi kacau pikirannya.
Setelah berlari tak jauh, mendadak nona tadi berhenti termenung di depan sebatang pohon bunga cinta.
selang sejenak ia menoleh dan tertawa kepada Nyo Ko, lalu berkata.
"Jika kuberi tahukan namaku, tapi kau tidak boleh katakan lagi kepada orang lain, lebih-lebih tidak boleh memanggil aku di depan orang lain."
"Wah, banyak amat syaratnya, baiklah, aku bersumpah."
Ujar Nyo Ko dengan sikapnya yang kocak Si nona tertawa pula, lalu berkata .
"Ayahku she Kongsun..."
Dia tetap tak mau mengatakan namanya sendiri secara langsung, tapi sengaja berputar untuk menyebut namanya.
"Dan siapakah she nona?"
Sela Nyo Ko.
"Entah, boleh kau terka sendiri,"
Jawab si nona sambil tertawa geli, lalu melanjutkan.
"Yang jelas ayahku memberikan nama kepada puteri tunggalnya yaitu Lik-oh".
"Sungguh nama yang bagus, secantik orangnya,"
Puji Nyo Ko. Setelah memperkenalkan namanya. Kongsun Lik-oh menjadi lebih akrab terhadap Nyo Ko, katanya pula.
"Sebentar ayah akan bertemu dengan kau, tapi jangan kau tertawa padaku."
"Memangnya kenapa?"
Tanya Nyo Ko.
"Apabila ayah mengetahui aku pernah tertawa padamu, apalagi mengetahui aku telah memberitahukan namaku padamu, wah, entah cara bagaimana dia akan menghukum diriku,"
Kata Kongsun Lik-oh.
"Masakah begitu bengis ayahmu?"
Ujar Nyo Ko.
"Semalam kalian dihukum panggang di rumah batu itu, masakah dia tidak sayang kepada puterinya yang begini cantik ini?"
Mata Kongsun Lik-oh menjadi merah basah. jawabnya.
"Dahulu ayah sangat sayang padaku, tapi sejak ibuku meninggal ketika umurku baru sepuluh tahun, selanjutnya ayah lantas makin bengis padaku, Apalagi nanti kalau ayah sudah punya isteri baru, entah bagaimana nasibku ini kelak."
Habis berkata, tak tertahan lagi air matanya lantas menetes. Nyo Ko berusaha menghiburnya.
"Setelah menikah, ayahmu tentu gembira dan pasti akan perlakukan kau dengan lebih baik."
Kongsun Lik-oh menggeleng, katanya.
"Aku lebih suka dia terlebih bengis padaku daripada dia mengambil isteri baru lagi."
Karena sejak kecil Nyo Ko sudah ditinggalkan ayah-bundanya. maka perasaan kekeluargaan demikian kurang dipahami olehnya, dia hanya ingin membikin senang hati si nona, maka ia berkata pula.
"Ibumu yang baru tentu tiada setengahnya daripada kecantikanmu-"
"Salah kau,"
Cepat Lik-oh menyanggah "Justeru ibuku yang baru itulah seorang wanita cantik sejati.
ilmu silatnya juga bagus.
Kemarin ketika kami berhasil menangkap pulang Ciu Pek-thong, kalau saja ayah dan ibu baru tidak lagi bertanding silat dan tidak sempat memeriksanya tentu si anak tua nakal tak bakalan bisa kabur.
"llmu silat ayahmu dan ibumu yang baru itu siapa lebih tinggi?"
Tanya Nyo Ko.
"Sudah tentu ayah lebih tinggi, kalau tidak, masakah ibu baru mau menjadi isterinya?"
Jawab Lik-oh.
"Lusa adalah hari perkawinan mereka, besar kemungkinan ayah akan mengundang kalian tinggal dua-tiga hari lagi di sini untuk menghadiri pesta nikahnya. Ai, aku sendiri lebih baik pergi sejauhnya saja."
Setelah berbicara sekian lama, sementara itu sang surya sudah makin tinggi di ufuk timur, Lik-oh tersadar dan berkata.
"Lekas kau kembali ke sana, jangan sampai kita dipergoki para suhengku dan dilaporkan kepada ayah."
Serentak timbul rasa kasihan kepada keadaan si nona, Nyo Ko genggam tangan sebelah tangan nona itu dan tangan lain menepuk pelahan pada bahunya sebagai tanda simpatik, habis itu ia terus melangkah kembali ke rumah batu itu.
Belum lagi dia memasuki pintu rumah sudah lantas mendengar suara teriakan Be Kong-co yang lagi mengomel karena makanan tidak enak dan merasa disiksa segala.
Terdengar In Kik-si lagi berkata.
"Be-heng, jika kau membawa sesuatu barang yang berharga, kukira kau harus menyimpannya dengan baik, tampaknya Kokcu di sini tidak bermaksud baik."
Be Kong-co tidak tahu In Kik-si sengaja menggodanya ia mengira betul apa yang dikatakan itu, maka berulang mengiakan.
Waktu Nyo Ko masuk rumah, tertampak di atas meja batu tersedia beberapa piring kelopak bunga cinta, sudah tentu tiada seorangpun yang doyan makanan istimewa itu dan karena itu semuanya tampak bersungut.
Pada saat itu juga datanglah seorang berbaju hijau dan memberitahu bahwa sang Kokcu mengundang kehadiran Nyo Ko berenam, Kim-lun Hoat ong, Nimo Singh dan lainnya adalah tokoh terkemuka dunia persilatan, di manapun mereka selalu disambut sendiri oleh tuan rumah, bahkan pangeran yang berkuasa seperti Kubilai juga menghormati mereka, siapa duga sampai di lembah sunyi ini mereka justeru diperlakukan dengan dingin oleh tuan rumahnya, tentu saja mereka sangat mendongkol.
Namun, merekapun penuhi undangan itu, hanya dalam hati mereka sama membatin.
"Sebentar kalau sudah bertemu biarlah Kokcu keparat itu disuruh rasakan kelihayanku."
Begitulah mereka berenam terus ikut orang berbaju hijau itu menuju ke belakang gunung, mendadak di depan sana terbentang hutan bambu yang luas, biasanya di daerah utara jarang ada pohon bambu, apalagi hutan bambu selebar ini.
Mereka terus menyusuri hutan bambu itu, terendus bau harum bunga yang menyegarkan semangat.
Setelah menembus hutan bambu itu, terlihatlah alam luas sejauh mata memandang penuh Cui-sian-hoa (bunga dewi air) belaka.
Kiranya tanah di situ adalah empang yang dangkal, dalam air cuma sebatas betis saja dan penuh tumbuh bunga yang harum itu.
Padahal Cui-sian-hoa itu adalah tumbuhan khas daerah selatan, entah mengapa bisa muncul di atas gunung daerah utara ini?
Kim-lun Hoat-ong pikir tentu di puncak gunung ini adalah sebangsa sumber air panas, karena tanahnya menjadi subur dan hawa hangat, makanya bunga daerah selatan dapat tumbuh dan mekar dengan suburnya.
Pada permukaan empang yang sangat luas itu kelihatan ada tonggak kayu yang berjajar dalam jarak dua-tiga meter, Orang berbaju hijau yang mengantar mereka itu mendahului melompat ke atas tunggak kayu pertama, seterusnya ke tunggak kedua dan ketiga dan begitu selanjutnya seperti di tanah datar saja.
Nyo Ko berenam juga menirukan cara melintasi empang itu seperti orang berbaju hijau, hanya Be Kong-co saja karena tubuhnya segede kerbau, Ginkangnya juga kurang, meski langkahnya lebar, tapi sukar mencapai dua-tiga meter sekali melangkah, akibatnya beberapa tunggak menjadi ambruk terinjak olehnya, akhirnya ia menjadi tidak sabar, diseberanginya empang itu dengan berjalan di air.
Sesudah melintasi empang bunga dewi air, tertampaklah di tempat yang rindang di kejauhan sana enam tamunya.
lalu berkata.
Selamat datang, silahkan, kelihatan dua kacung berbaju hiiau dengan memegang kebut yang semula berdiri di depan pintu, seorang diantaranya segera masuk melapor, sedangkan kacung yang Iain lantas membukakan pintu untuk menyambut tamu.
Selagi Nyo Ko ragu apakah tuan rumahnya juga akan muncul menyambut kedatangan mereka atau tidak, sekonyong-konyong bayangan hijau berkelebat di depan mata, tahu-tahu seorang kakek berjenggot panjang dan berjubah hijau sudah berdiri di depan mereka.
Perawakan kakek ini sangat pendek, tidak lebih dari satu meter, mukanya jelek lagi aneh, mulutnya menjengkit, hidungnya pesek, daun telinga lebar seperti kuping gajah, memakai jubah hijau dari kain kasar, ikat pinggangnya adalah tali rumput warna hijau pula, Sungguh istimewa wajah dan dandanannya.
Nyo Ko merasa heran bahwa puterinya begitu cantik, mengapa sang Kokcu begini aneh dan jelek?
Kakek cabol itu memberi hormat kepada ke-enam tamunya, lalu berkata.
"Selamat datang, silakan duduk di dalam dan sekadar minum teh !"
Nimo Singh berpikir.
"Aku sendiri pendek.. tapi Kokcu di sini ternyata juga cebol, sebentar ingin kutahu apakah cebol macammu lebih hebat atau cebol macamku lebih lihay."
Segera ia mendahului ke depan dan mengulurkan tangan sambil berkata.
"Selamat bertemu !"
Kakek berjenggot panjang itupun menyodorkan tangannya, begitu tangan berjabat tangan, seketika Nimo Singh mengerahkan tenaganya.
Melihat kedua orang bermaksud menguji tenaga, orang lain cepat menyingkir ke samping, mereka tahu pertandingan dua tokoh lihay tentu tidak boleh diremehkan akibatnya.
Semula Nimo Singh hanya mengerahkan tiga bagian tenaganya, terasa pihak lawan tidak memberi reaksi apapun dan juga tidak balas menggempur.
ia rada heran, segera ia tambahi lagi tiga bagian tenaga, terasa yang tergenggam ditangan itu seperti sepotong kayu yang keras, Waktu Nimo Singh menambahi lagi tiga bagian tenaganya, sekilas air muka kakek berjenggot panjang itu bersemu hijau, lalu tenang kembali dan tangannya tetap kaku dan keras.
Nimo Singh sangat heran, sisa tenaganya yang masih sebagian itu tidak berani dikeluarkan lagi, ia kuatir kalau mendadak pihak lawan melancarkan serangan balasan dan diri sendiri sudah tiada tenaga cadangan untuk menghadapi tentu diri sendiri akan celaka.
BegituIah ia lantas tertawa, lalu me!epaskan tangan lawan".
Pertarungan halus ini ternyata tidak kelihatan pihak mana yang lebih unggul entah si kakek berjenggot sengaja mengalah atau memang cuma begitu saja kekuatannya.
Nimo Singh merasa sia-sia ketika perasaannya tadi, betapa hebat kepandaian lawan ternyata sedikitpun sukar dijajaki.
Kim-lun Hoat-ong berjalan di belakang Nimo Singh, ia sangat cerdik, ia pikir kalau Nimo Singh tak dapat mengukur kepandaian lawan, maka dirinya juga tidak perlu mengujinya Iagi.
Dengan tenang ia terus masuk saja kedalam rumah disusul dengan Siau-siang-cu dan In Kik-si.
Menyusul adalah Be Kong-co, dilihatnya jenggot si kakek yang panjang itu terjulai sampai di atas tanah, Memangnya dia sedang dongkol karena sejak pagi belum makan apapun, rasa lapar ditambah rasa gusar, segera ia sengaja mencari gara-gara.
Waktu melangkah masuk pintu rumah itu, ia berlagak tidak tahu, sebelah kakinya terus menginjak ke atas jenggot si kakek sehingga ujung jenggot terinjak.
Tapi kakek itu tidak berbuat apapun, dia cuma berkata .
"Hati-hati tuan."
Kaki Be Kong-co yang lain sengaja menginjak pula di atas jenggot orang, lalu pura-pura tidak tahu dan bertanya .
"Ada apa ?"
Si kakek menggeleng pelahan, kontan Be Kong-co tergebat dan jatuh terjengkang.
Jatuhnya sesosok tubuh sebesar itu tentu saja menimbulkan suara gedebuk yang keras.
Nyo Ko berjalan paling belakang, cepat ia memburu maju, --sebelah tangannya menyanggah pantat Be Kong-co terus disodok ke depan, seketika tubuh yang besar itu melayang ke sana, dengan enteng dapatlah Be Kong-co berdiri tegak kembali sambil meraba bckong yang kesakitan itu dengan meIongo.
Si kakek berjenggot anggap tidak pernah terjadi apapun, dia menyilakan keenam tamunya mengambil tempat duduk yang telah tersedia, lalu berseru nyaring.
"Para tamu sudah tiba, harap Kokcu suka menemuinya."
Nyo Ko dan lainnya sama terkesiap, baru sekarang mereka tahu bahwa si kakek cebol berjenggot panjang ini kiranya bukan sang Kokcu.
Dalam pada itu dari ruangan belakang telah muncul belasan orang lelaki perempuan berseragam baju hijau dan berdiri berjajar di sebelah kiri, Habis itu dari balik pintu anginpun keluar seorang lelaki, setelah memberi salam kepada tetamunya, lalu iapun berduduk.
Orang terakhir ini adalah sang Kokcu, usianya sekitar 45-46 tahun, wajahnya bagus, dapat dibayangkan 20 tahun yang lalu tentu dia ini seorang pemuda yang cakap, cuma sekarang air mukanya rada pucat kuning dan kurus sehingga sukar diketahui bahwa dia memiliki ilmu silat maha tinggi.
Sesudah Kokcu itu berduduk, beberapa kacung berbaju hijau lantas menyuguhkan teh.
Di ruangan tamu ini segala perabotan dan pakaian seluruhnya berwarna Hijau, hanya jubah yang dipakai sang Kokcu berwarna biru manikam sehingga tampaknya sangat menyolok di tengah2 yang segalanya serba hijau itu.
Sejenak kemudian sang Kokcu mengebaskan lengan bajunya yang panjang, lalu angkat mangkok teh dan berseru.
"Silakan minum tuan-tuan yang terhormat !"
Melihat air teh di dalam mangkok yang di-suguhkan padanya itu sangat cemplang, keruan hati Be Kong-co bertambah dongkol ia terus berteriak.
"He, tuan rumah, daging kau tidak doyan, minum teh juga setawar ini, pantas kalau kau selalu kelihatan sakit-sakitan."
Sang Kokcu tidak memperlihatkan reaksi apa-pun, sehabis minum tehnya, ia menjawab .
"Selama beberapa ratus tahun hidup di lembah ini kami melulu makan minum cara begini."
"Coba jelaskan, apa paedafanya hidup cara demikian? Apakah bisa menjadikan kau panjang umur?"
Tanya Be Kong-co.
"Yang pasti pantangan makan barang berjiwa dan hidup sederhana demikian sudah dimulai sejak kakek moyang kami hijrah menetap di sini pada jaman Tong-hian-cong, kami sebagai anak cucunya tiada yang berani melanggar peraturan ini,"
Jawab sang Kokcu.
"Oh, jadi keluarga kalian sudah menetap di sini sejak dinasti Tong, sungguh lama dan kerasan sekali,"
Kata Kim-lun Hoat-ong. Mendadak Siau-siang-cu ikut bertanya dengan suaranya yang banci.
"Eh, jika begitu kakek moyangmu itu tentu pernah melihat Nyo-kuihui (seorang selir kaisar Tong-hian-cong yang sangat cantik)?"
Suara Siau-siang-cu ini kedengaran sangat aneh, sebenarnya suaranya sudah cukup dikenal oleh Nimo Singh, In Kik-si dan lainnya, karena ini mereka menjadi heran, mereka sama memandang wajah Siau-siang-cu, serentak mereka terperanjat ternyata wajah Siau-siang-cu telah berubah sama sekali, mukanya yang memang kaku pucat sebagai mayat kini bertambah aneh luar biasa.
Diam-diam Nimo Singh dan lainnya menjadi jeri, mereka menyangka ilmu yang dilatih Siau-siang-cu itu ternyata begini lihay, apabila dikeluarkan bahkan air mukapun bisa berubah sama sekali.
Bahwa sekarang Siau-siang-cu telah mulai mengerahkan ilmunya, tentu segera dia akan mulai melabrak sang Kok-cu.
Karena pikiran demikian, Nimo Singh dan lainnya juga sama siap siaga.
Begitulah terdengar sang Kokcu lagi menjawab.
"Leluhurku memang pejabat tinggi dan pemindahan leluhur kami ke sini ketika itu memang untuk menghindari keganasan menteri dorna Nyo Kok-tiong yang berkuasa pada masa itu."
Kembali Siau-siang-cu mengakak dan berkata.
"Haha, jika begitu leluhurmu itu pasti pernah minum air cuci kaki Nyo-kuihui."
Ucapan ini sungguh membikin kaget semua orang, jelas kata-kata demikian berarti suatu tantangan terhadap sang Kokcu dan pertarungan pasti segera akan terjadi.
Diam-diam Kim-lun Hoat-ong dan lainnya merasa heran, padahal mereka kenal Siau-siang-cu biasanya sangat licik dan licin, segala persoalan lebih suka ditimpakan kepada orang lain, mengapa sekarang dia mau tampil ke muka sendiri?
Kokcu itu ternyata tidak gubris ucapan Siau-siang-ciu itu, dia cuma memberi isyarat kepada si kakek jenggot panjang yang berdiri di belakangnya.
"Hm"
Kakek berjenggot itu berseru.
"Kokcu menghormati kalian sebagai tamu, sebab itulah kalian diperlakukan dengan baik, tapi mengapa kau bicara secara ngawur ?"
Siau-siang-cu terkekeh lagi dan berkata dengan nada suara yang dibuat-buat.
"Hehe, leluhurmu itu pastilah pernah minum air cuci kaki Nyo-kui-hui, aku berani bertaruh dengan potong kepalaku ini."
Be Kong-cu merasa terheran-heran, ia bertanya.
"Hai, Siau-heng, darimana kau tahu begitu pasti ? Apakah waktu itu kau juga minum air cuci kaki itu bersama dia?"
Kembali Siau-siang-cu tertawa, tapi sekali ini nada suaranya berubah pula, katanya.
"Jika bukan lantaran muak terlalu banyak minum air cuci kaki itu, mengapa orang hidup tidak makan minum sebagaimana lazimnya ?"
Kim-lun Hoat-ong dan lainnya sama mengerut kening dan merasa ucapan Siau-siang-cu ini keterlaluan, makan-minum adalah kebiasaan masing2 orang, mana dapat dipersamakan dan dijadikan bahan olok-olok?
Tampaknya si kakek berjenggot panjang tidak tahan lagi, ia melangkah ke tengah ruangan dan berseru .
"Siau-siansing, setahuku kami tidak berbuat kesalahan apapun padamu, jika engkau benar-benar ingin coba-coba, marilah maju sini !"
"Boleh!"
Kata Siau-siang-cu, mendadak orangnya bersama kursinya melompati meja di depannya dan tahu-tahu berduduk di tengah ruangan.
"Nah, kakek jenggot panjang, siapa namamu ? Kau kenal namaku, tapi aku tidak tahu namamu, kan tidak adil?"
Ucapan ini seperti tepat tapi juga lucu, keruan kakek berjenggot itu bertambah gusar, tapi diam2 iapun waspada setelah menyaksikan lompatan orang berikut kursinya dengan gaya yang gesit dan lihay itu.
Terdengar sang Kokcu berkata.
"Boleh kau beritahukan dia, tidak soal."
"Baik,"
Jawab si kakek berjenggot panjang.
"Nah, dengarkan, aku she Hoan bernama It-hong. sekarang silakan berdiri dan marilah kita mulai!"
"Kau menggunakan senjata apa? Coba perlihatkan padaku dahulu !"
Kata Siau-siangcu.
"Kau ingin bertanding dengan bersenjata? Boleh juga !"
Ucap Hoan It-hong. Mendadak sebelah kakinya memukul lantai sambil berseru .
"Ambilkan sini!"
Serentak dua kacung berbaju hijau tadi berlari ke ruangan dalam, keluarnya kedua kacung itu sudah menggotong sebatang tongkat yang pangkalnya berukirkan kepala naga, panjang tongkat sekitar, dua meter.
Tentu saja Nyo Ko dan lainnya terperanjat, mereka tidak habis paham mengapa si kakek cebol itu menggunakan senjata yang panjangnya hampir dua kali daripada panjang badannya, cara bagaimana akan dapat dimainkannya?
Ternyata Siau-siang-cu tidak ambil pusing terhadap senjata orang, ia sendiri lantas mengeluarkan dari dalam bajunya yang longgar itu sebuah gunting raksasa dan berkata.
"lni senjataku, apakah kau tahu kegunaannya ?"
Kalau semua orang paling-paling cuma heran saja atas gunting besar itu, tidak demikian dengan Nyo Ko, ia terperanjat sekali, tanpa meraba rangselnya iapun yakin bahwa gunting besar miliknya itu sudah hilang.
Gunting raksasa itu khusus dipesannya pada pandai besi Pang dan ingin digunakan untuk memotong ujung kebut Li Bok-chiu, kini ternyata kena dicuri oleh Siau-siang-cu di luar tahunya?
Sementara itu Hoan It-hong telah pegang tongkat panjang yang digotong keluar kedua kacung tadi, dia pegang bagian tengah tongkat, lalu di-jungkirkan, pangkal tongkat dipukulkan pelahan pada lantai.
Karena ruangan tamu rumah batu itu sangat luas, ketokan tongkat baja itu dengan sendirinya menimbulkan suara gemerantang yang nyaring mengejutkan.
Dengan tangan kanan Siau-siang-cu memegangi guntingnya, jarinya dikerjakan sekuatnya barulah gunting itu dapat terbuka dan terkatup, lalu ia berseru .
"He, orang cebol berjenggot, tentunya kau tidak kenal nama guntingku ini, apakah kau perlu kuberitahukan dahulu ?"
"Huh, senjata rombengan entah kau temukan dari mana, masakah punya nama yang baik?"
Jengek si kakek alias Hoan It-ong dengan mendongkol.
"Benar, namanya memang kurang enak di-dengar,"
Ujar Siau-siang-cu dengan bergelak tertawa.
"Gunting ini disebut Kau-mo-cian (gunting bulu anjing)."
Nyo Ko merasa kurang senang, pikirnya .
"Brengsek ! Masakah guntingmu itu kauberi nama begitu ?"
Dalam pada itu terdengar Siau-siang-cu lagi berkata .
"Karena kutahu di sini ada makhluk aneh berjenggot panjang, maka sengaja kupesan gunting bulu anjing ini untuk memotong jenggotmu" . Berbareng Nimo Singh dan Be Kong-co bergelak tertawa, In Kik-si dan Nyo Ko juga ikut tertawa walaupun tidak keras, Hanya Kim-lun Hoat-ong dan sang Kokcu saja yang tetap duduk tenang berhadapan seperti tidak mendengar apa yang terjadi itu. Segera Hoan It-ong angkat tongkatnya dan diputar sedikit, serentak berjangkit angin keras, lalu ia berkata.
"Memangnya jenggotku ini sudah terlalu panjang, jika kau ingin menjadi tukang cukur, wah, kebetulan bagiku, Nah silakan mulai !"
Siau-siang-cu seperti terkesima memandangi dinding ruangan itu dan sama sekali tidak mendengarkan ucapan Hoan It-ong, tapi begitu orang selesai bicara, mendadak guntingnya menyambit ke depan secepat kilat.
"creng" , kontan ia menggunting jenggot lawan. Sama sekali Hoan It-ong tidak menyangka dalam keadaan masih berduduk mendadak Siau-siang-cu dapat melancarkan serangan, untuk menghindar jelas tidak keburu lagi, terpaksa ia menggunakan gerakan istimewa, sekuatnya tangan menahan batang tongkatnya, tubuhnya terus meloncat ke atas. Dalam sekejap itu kedua orang telah sama2 memperlihatkan gerak kilat yang mengejutkan namun Hoan It-ong tetap rugi dalam keadaan diserang lebih dulu tanpa terduga, meski guntingan itu dapat dihindarkan, tidak urung ujung beberapa utas jenggotnya masih tergunting putus juga. Siau-siang-cu tampak sangat senang, jenggot yang putus itu disambernya terus ditiupnya, tiga-tmpat utas jenggot itu lantas terbang ke arah mangkok teh sendiri yang terletak di meja, menyusul terdengarlah suara nyaring, mangkok teh itu jatuh dan pecah berantakan. Nyo Ko dan lainnya cukup paham bahwa pecahnya mangkok itu adalah disebabkan hawa yang ditiupnya Siau-siang-cu itu. Tapi Be Kong-co tidak tahu hal ikhwalnya, ia mengira mangkok teh itu jatuh lantaran tersodok oleh samberan bulu jenggot yang ditiup itu. Segera ia berteriak.
"Wah, hebat benar jenggotmu itu, Siau-siang-cu !"
Sambil tertawa Siau-siang-cu mengacipkan guntingnya beberapa kali hingga menimbulkan suara "creng-creng", katanya.
"Hayo maju sini, jenggot cebol!"
Semua orang kini dapat melihat lebih jelas ketika Siau-siang-cu tertawa ternyata kulit mukanya sama sekali tidak bergerak keruan semua orang bertambah kejut dan heran, Bahwa orang yang memiliki Lwekang maha tinggi memang sanggup tidak memperlihatkan sesuatu tanda gusar atau gembira, tapi air muka Siau-siang-cu yang kaku dan seram meski dalam keadaan gembira, hal ini sungguh luar biasa dan belum pernah mereka alami.
Berulang kali dipermainkan, Hoan It-ong semakin murka, ia memberi hormat kepada sang Kokcu dan berkata.
"Suhu, terpaksa Tecu tidak dapat menghormati tamu kita secara layak."
Nyo Ko heran mendengar kakek cebol berjenggot itu memanggil sang Kokcu sebagai Suhu, padahal umurnya jauh lebih tua, masakah malah menyebutnya sebagai guru?
Terlihat sansi Kokcu memanggut sekalian sambil melambaikan tangannya, Segera Hoan It-ong mengayun tongkatnya.
"wuttt" , kontan kursi yang diduduki Siau-siang-cu itu dihantam. Meski tubuhnya pendek, tapi tenaganya luar biasa hebatnya, tongkat baja yang bobotnya ratusan kati itu, bila sampai kursi itu kena dihantam, tentu akan hancur berkeping. Walau Nyo Ko dan lainnya datang bersama Siang-siang-cu, tapi sampai di mana kepandaian smjati kawannya itu hakikatnya merekapun tidak tahu persis, Maka mereka lantas mengikuti pertarungan itu dengan penuh perhatian. Kelihatan tongkat si kakek sudah dekat dengan kaki kursi, mendadak tangan kiri Siau-siang-cu menjulur ke bawah, ternyata tongkat itu hendak dipegangnya. Malahan sekaligus gunting di tangan lain terus menyamber ke depan untuk menggunting jenggot lawan yang panjang itu. Tidak kepalang gusar Hoan It-ong karena merasa orang terlalu meremehkan dirinya, cepat ia miringkan kepalanya hingga jenggotnya yang panjang itu melayang ke samping dan tongkatnya tetap dipukulkan ke tangan Siau-siang-cu yang hendak menangkap senjatanya itu, serangan ini dengan tepat mengenai telapak tangan, serentak semua orang bersuara kaget dan berbangkit. Hoan It-ong menduga tangan orang pasti akan patah kena dihantamnya, tak tahunya ketika menyentak sasarannya, rasanya tongkat seperti menghantam air, lunak dan enteng, ia sadar keadaan bisa runyam, cepat ia menarik kembali tongkatnya, namun sudah terlambat, tongkat sudah tergenggam kencang oleh tangan Siau-siang-cu. Segera Hoan It-ong merasakan pula lawan sedang membetot, segera ia dorong sekalian tongkatnya ke depan, Tongkat itu amat panjang, maka dorongannya itu sangat kuat, tampaknya Siau-siang-cu pasti akan terdesak meninggalkan kursinya jika tidak mau roboh terjungkal. Tak terduga sedikit Siau-siang-cu kencangkan pantatnya, serentak orang berikut kursinya meloncat lagi ke samping, seketika dorongan tongkat Hoan It-ong tidak mencapai sasarannya, sedangkan pegangan Siau-siang-cu pada tongkatnya juga lantas dilepaskan. Cepat Hoan It-ong memutar tongkatnya yang panjang itu dan kembali menyabet ke kepala lawan, Agaknya Siau-siang-cu sengaja hendak pamer kepandaiannya kembali orang bersama kursinya meloncat setingginya dan melayang lewat di atas samberan tongkat musuh. Melihat gerakannya yang aneh lagi gesit itu, meski duduk di atas kursi, tapi tiada bedanya seperti orang berdiri saja, tanpa terasa semua orang sama bersorak memuji. Hoan It-ong tak berani ceroboh lagi menghadapi lawan yang lihay itu, ia putar tongkatnya sedemikian cepat, ia pikir untuk menghantam tubuh orang jelas sukar, kalau dapat menghancurkan kursinya rasanya lebih baik. Karena itu tongkatnya terus mengincar untuk menyabet kursi lawan. Siapa tahu ilmu silat Siau-siang-cu sungguh maha sakti, gunting di tangan kanan terus mengincar jenggot lawan, sedangkan tangan kiri selalu berusaha hendak merampas tongkat baja. Kedua orang terus berkisar kian kemari di ruangan tamu yang luas itu, dalam sekejap saja berpuluh jurus sudah berlangsung, tampaknya kedua orang sama kuat dan belum ada yang lebih unggul, tapi Siau-siang-cu yang tetap berduduk saja di kursinya, serangan Hoat It-ong ternyata disepelekan olehnya. Diam-diam Kim-lun Hoat-ong dan lainnya terkejut, mereka tidak mengira Siau-siang-cu yang lebih mirip mayat hidup itu ternyata memiliki kepandaian sehebat ini. Setelah belasan jurus lagi, tongkat Hoan It-ong masih terus mengincar dan menyabet kursi lawan, terdengar suara kaki kursi yang mengetok lantai riuh ramai tiada hentinya dan makin lama makin cepat. Mendadak sang Kokcu berseru kepada Hoan It-ong.
"Jangan hantam kursinya, kau pasti bukan tandingannya !"
Hoan It-ong melengak, tapi segera ia menyadari peringatan sang guru, ia pikir.
"Ya, dia duduk di atas kursi barulah aku sanggup menandingi dia dengan sama kuat, apabila kursinya hancur dan dia berdiri di tanah, mungkin dalam beberapa jurus saja jenggotku pasti sudah terpotong oleh guntingnya."
Cepat ia ganti permainan tongkatnya dan diputar semakin cepat sehingga tubuhnya yang pendek itu se-olah2 terbungkus oleh sinar tongkat, sedangkan di luar gulungan sinar perak itu adalah sesosok bayangan orang yang mirip mayat hidup sedang berlompatan, pemandangan demikian menjadi sangat aneh dan menarik Rupanya sang Kokcu tahu Siau-siang-cu sengaja hendak mempermainkan lawannya, kalau berlangsung lagi, sebentar Hoan It-ong pasti akan kecundang.
Segera ia berbangkit dan melangkah maju, katanya.
"lt-ong, kau bukan tandingan orang kosen ini, mundur saja kau !"
Karena perintah sang guru itu, Hoan It-ong mengiakan dengan suara keras, tongkatnya ditarik dan segera ia hendak mengundurkan diri. Tak terduga Siau-siang-cu terus berteriak.
"Tidak boleh ! Tidak boleh !" -Mendadak tubuhnya melayang maju meninggalkan kursinya terus menubruk ke atas batang tongkat. Terdengarlah suara "krak"
Yang keras, kursi terhantam hancur oleh ujung tongkat Hoan It-hong, namun berbareng itu batang tongkat juga kena ditahan ke bawah oleh tangan kiri Siau-siang-cu terus diinjak dengan kaki kiri, menyusul gunting raksasa di tangan kanan terbuka, jenggot Hoan liong yang panjang legam itu sudah terjepit pada mata guntingnya, sekali gunting dikasipkan, tanpa ampun jenggot yang indah menarik itu pasti akan putus.
Tak tahunya jenggot panjang yang dipelihara Hoan It-ong itu sesungguhnya juga semacam senjata yang maha lihay, daya gunanya serupa dengan ruyung, cambuk dan sebagainya, Terlihat sedikit Hoan It-ong menggeleng kepalanya, serentak jenggotnya yang panjang itu terus menguntir dan terlepas dari mata gunting, malahan sempat pula balas melilit gunting lawan, menyusul kepalanya mendongak ke belakang, dengan tenaga maha kuat ia membetot untuk rebut gunting musuh.
"Haya, cebol tua, jenggotmu sungguh lihay, kagum sekali aku !"
Seru Siau-siang-cu sambil bertahan sekuatnya.
Begitulah jadinya jenggot seorang membelit pada gunting dengan kencang, sebaliknya seorang lain menahan batang tongkat dengan sebelah kaki dan tangan, seketika keduanya sukar melepaskan diri.
"Haha ! Menarik ! Menarik !"
Seru Siau-siang-cu dengan tertawa gembira.
Pada saat itulah sekonyong-konyong berkelebat sesosok bayangan orang, cepat luar biasa seorang telah menerjang masuk, sekaligus kedua tangannya menghantam punggung Siau-siang-cu.
"Siapa itu?"
Bentak sang Kokcu.
Sergapan yang cepat dan ganas itu tampaknya pasti akan kena pada sasarannya, Namun kembali Siau-siang-cu memperlihatkan kepandaiannya yang luar biasa, tangan kirinya membalik ke belakang, dengan mudah saja ia telah dapat mematahkan tenaga pukulan musuh yang menyerangnya itu.
"Keparat, jahanam !"
Teriak penyergap itu dengan gusar "Biar kuadu jiwa dengan kau !"
Waktu Nyo Ko dan lainnya mengawasi penyergap ini, mereka menjadi kaget dan heran.
"He, Siau-siang-cu !"
Seru mereka berbareng.
Kiranya penyergap ini juga Siau-siang-cu yang sudah mereka kenal itu, mengapa dia bisa berubah menjadi dua dan sebab apa dia menyergap pada dirinya sendiri yang kembar itu?
seketika mereka menjadi bingung.
Setelah diamat-amati pula, orang yang lagi bergelut dengan Hoan It-ong itu memang jelas memakai dandanan Siau-siang-cu, pakaiannya, sepatunya dan topinya, semuanya persis, tapi wajahnya ternyata berbeda daripada wajah asli Siau-siang-cu meski air mukanya juga kaku pucat sebagai mayat sebaliknya wajah orang yang datang belakangan itu persis dengan Siau-siang-cu yang sudah mereka kenal hanya baju yang dipakainya berwarna hijau seperti seragam yang dipakai orang-orang di Cui-sian-kok ini.
Nyo Ko dan Kim-lun Hoat-ong sama2 dapat berpikir cepat, sejenak saja mereka sudah dapat menerka apa yang terjadi sebenarnya.
Sementara itu Siau-siang-cu yang berbaju hijau tua dengan kedua tangan yang kurus laksana cakar itu kembali mencengkeram lagi ke punggung Siau-siang-cu yang memegang gunting sambil berteriak.
"Keparat ! Main curang, jago macam apa kau?"
Hoan It-ong heran dan kejut juga meski mendapatkan bala bantuan, walau orang mengenakan seragam hijau, tapi mukanya tak dikenal sementara ia mundur ke pinggir dan menyaksikan kedua orang yang menyerupai mayat hidup itu saling labrak dengan serunya.
Kini Nyo Ko sudah dapat menduga bahwa orang yang memegang gunting itu pasti telah mencuri kedok kulit manusia pemberian Thia Eng tempo hari dan dipakainya, lalu ganti pakaian Siau-siang-cu dan sengaja mengacau ke ruangan ini soalnya wajah Siau-siang-cu memang kaku seperti orang mati, maka sejak mula tiada orang yang memperhatikannya.
Setelah mengamat-amati sekian lama dan dapat mengenali gaya ilmu silat orang bergunting itu, segera Nyo Ko berseru .
"Hai, Ciu Pek-thong, kembalikan kedok dan guntingku !" -Berbareng ia melompat maju untuk merebut gunting. Kiranya orang itu memang betul Ciu Pek-thong adanya, Dia tertawan oleh keempat murid Cin-sian-kok dengan jaring ikan, Meski wataknya nakal dan jahil, tapi ilmunya memang maha sakti, sedikit meleng saja keempat orang itu segera Ciu Pek-thong berhasil lolos dengan membobol jaring, akibatnya sang Kokcu menghukum keempat orang itu dengan hukum panggang. Ciu Pek-thong tidak lantas kabur, dia sembunyi di suatu tempat, dia memang sengaja hendak mengobrak-abrik lembah sunyi itu. Tapi segera dia lihat Nyo Ko berenam juga datang ke situ, Malamnya dia melakukan sergapan, Siau-siang-cu diculiknya hingga tak bisa berkutik, lalu dipindahkan ke luar rumah dan dilucuti pakaiannya untuk dipakai sendiri. Karena Ginkangnya maha sakti, pergi datang tanpa suara dan tak meninggalkan bekas, maka dalam tidurnya Siau-siang-cu kena dikerjai, bahkan Kim-lun Hoat-ong dan lainnya juga tidak mengetahui akan kejadian itu. Setelah mengganti pakaian Siau-sian cu, lalu Ciu Pek-thong masuk lagi ke rumah itu dan tidur di sisi Nyo Ko, kesempatan itu digunakan pula untuk menggerayangi rangsel pemuda itu, gunting dan kedok kulit dapat dicurinya. Esoknya ternyata semua orang juga belum menyadari akan perbuatan Ciu Pek-thong itu. Sudah tentu Siau-siang-cu berusaha melepaskan diri dari tutukan Ciu Pek-ehong, tapi lantaran ilmu Tiam-hiat yang digunakan Ciu Pek-thong itu sangat lihay, sampai tiga-empat jam kemudian barulah Siau-siang-cu berhasil melancarkan jalan darah dan dapat bergerak kembali sementara itu tubuhnya hanya memakai baju dan celana dalam saja, sudah tentu dia sangat dongkol dan murka. Ketika kebetulan seorang murid Cui-sian-kok lewat di situ, secepat kilat ia merobohkannya dan merampas bajunya untuk dipakai, lalu memburu ke rumah batu yang besar itu. Pada saat itu dilihatnya Ciu Pek-thong dengan memakai bajunya sendiri sedang bertempur sengit dengan Hoan It-ong, dengan murka ia terus menerjang maju, sekaligus ia ingin membinasakan Ciu-Pek-thong dengan pukulannya yang dahsyat, beberapa jurus kemudian lalu Nyo Ko juga ikut maju mengeroyok. Tapi Ciu Pek-thong mempunyai kepandaian khas yang dilatihnya ketika dia disekap di Tho hoa-to dahulu oleh Ui Yok-su, yaitu dua tangan memainkan silat yang berbeda, Maka dengan tangan kiri ia layani Nyo Ko, sedang tangan kanan dengan gunting ia lawan Siau-siang-cu, guntingnya sebentar terbuka dan sebentar terkatup, betapapun Siau-siang-cu tidak berani sembarangan mendekat. Maklumlah, gunting itu amat besar, kalau mata gunting terbuka, jaraknya hampir setengah meter, kalau saja leher tergunting, mustahil kepala takkan berpisah dengan tuannya, Karenanya, meski Siau-siang-cu sangat murka, tapi iapun tidak berani sembarangan melancarkan serangan. Dalam pada itu sang Kokcu masih terus mengikuti pertarungan sengit itu. Sudah turun temurun Kokcu itu menetap di lembah sunyi ini, ilmu silat keluarganya juga turun-temurun semakin hebat. Pada umumnya ada kebiasaan buruk dalam dunia persilatan, lantaran kuatir muridnya kelak berkhianat atau murtad, maka seringkali sang guru menyimpan beberapa jurus rahasia untuk menjaga kemungkinan penghianatan murid. Karena itu, beberapa keturunan saja ilmu silatnya semakin berkurang dan akhirnya habis sama sekali. Ciri demikian tak berlaku dalam ilmu silat keturunan. Sang ayah mengajarkan kepada anak atau sang kakek mengajarkan kepada cucu pasti takkan menahan jurus simpanan, malahan setelah beberapa keturunan seringkali timbul satu-dua angkatan yang berbakat dan pintar menciptakan jurus baru sehingga satu turunan lebih hebat daripada angkatan yang lebih tua. Begitulah dengan Kokcu ini, ilmu silatnya kini boleh dikatakan jauh lebih lihay daripada leluhurnya, ia yakin bila dirinya keluar lembah, ilmu silatnya pasti dapat menjagoi dunia. Siapa duga lembah yang aman tenteram ini mendadak kedatangan Ciu Pek-thong sehingga suasana menjadi kacau balau, ia sudah kagum ketika menyaksikan pertarungan Ciu Pek-thong dengan Hoan It-ong, kini melihat anak tua nakal itu menempur dua orang dengan dua tangan yang bermain silat dengan cara yang berbeda, malahan sedikitpun tidak tampak lebih lemah dari kedua Iawannya, sungguh sang Kokcu menjadi kagum tak terhingga. Dilihatnya pula ilmu silat Siau-siang-cu sangat ganas, serangannya tak kenal ampun. sedangkan gerak-gcrik Nyo Ko tenang halus dan tenang, tapi tidak kurang lihaynya. Diam-diam Kokcu itu harus mengakui bahwa dunia seluas ini ternyata tidak sedikit terdapat orang kosen. Segera ia berdiri dengan suara lantang ia berkata .
"Harap kalian bertiga suka berhenti dulu !". Berbareng Nyo Ko dan Siau-siang-cu melompat mundur,"
Ciu Pek-thong lantas menanggalkan kedok kulit, berikut guntingnya terus dilemparkan kepada Nyo Ko sambil berkata.
"Permainanku sudah cukup, aku hendak pergi saja!"
Sekali mengenjot kaki seperti anak panah cepatnya dia terus meloncat ke atas belandar rumah..
Karena kedoknya ditanggalkan, dengan sendirinya wajah aslinya lantas kelihatan.
Keruan gemparlah para anak murid Cui-sian-kok setelah mengenali siapa dia.
"Ayah, orang tua inilah !"
Seru Kongsun Lik-oh.
Sementara itu Ciu Pek-thong sedang bergelak tertawa sambil duduk mengangkang di atas belandar.
Tinggi belandar rumah itu sedikitnya lima-enam, meter dari permukaan tanah, biarpun di ruangan itu tidak sedikit terdapat tokoh terkemuka, terasa sukar juga kalau ingin sekali lompat mencapai belandar itu.
Hoan It-ong adalah murid pertama Cui-sian-kok, usianya bahkan lebih tua daripada sang guru, dalam hal ilmu silat, kecuali sang Kokcu dialah terhitung nomor satu, Kini berulang dia dipermainkan oleh Ciu Pek-thong, tentu saja dia murka.
walaupun tubuhnya cebol, tapi dia mahir memanjat sekali lompat ia rangkul erat-erat tiang ruangan itu terus memanjat ke atas segesit kera..
Dasar watak Ciu Pek-thong paling suka cari gara2, dia paling senang kalau ada orang mau main gila dengan dia, maka ia menjadi gembira melihat Hoan It-ong memanjat ke atas, belum lagi kakek cebol itu mencapai belandar, lebih dulu ia sudah menjulurkan tangannya untuk menariknya ke atas.
Sudah tentu Hoan It-ong tidak tahu tujuan Ciu Pek-thong sebenarnya baik, melihat tangan orang menjulur, segera ia menutuk Tay-leng-hiat pada pergelangan tangannya.
Namun ilmu silat Ciu Pek-thong sudah mencapai tingkatan yang maha sakti sedikit merasakan sesuatu, segera ia menutuk Hiat-to yang hendak ditutuk itu dan mengendorkan urat dagingnya, Karena itu tusukan Hoan It-ong itu laksana mengenai kapas yang lunak, cepat ia menarik kembali tangannya...
Tapi Ciu Pek-thong sempat membaliki tangannya dan menepuk sekali pada tangan Hoan It-ong sambil berseru.
"Keplok ami-ami! Kakak makan nasi adik cebol minta isteri!"
Dengan murka Hoan It-ong menggelengkan kepalanya, jenggotnya yang panjang itu terus menyabet ke dada lawan, Mendengat samberan angin yang keras itu, Ciu Pek-thong tahu betapa lihaynya jenggot lawan, cepat ia melompat mundur, dengan tangan kiri berpegangan pada belandar, tubuhnya bergantungan seperti anak sedang main ayunan.
Siau-siang-cu yakin Hoan It-ong pasti bukan tandingan anak tua nakal itu, sekalipun dirinya ikut mengerubut juga sukar mengaIahkannya.
Segera ia berpaling kepada Nimo Singh dan Be Kong-co, katanya.
"Saudara Singh dan Be, tua bangka ini tidak memandang sebelah mata kepada kita berenam sungguh keterlaluan !"
Watak Nimo Singh paling berangasan dan tidak tahan dibakar, sedangkan pikiran Be Kong-co sangat sederhana dan tidak dapat menimbang antara baik dan buruk, demi mendengar rombongannya berenam tidak dipandang sebelah mata, serentak mereka menjadi gusar dan melompat ke atas untuk menangkap kaki Ciu Pek-thong.
Namun dengan jenaka Ciu Pek-thong mengayun kakinya untuk menggoda, tapi sebenarnya menendang dengan tepat ke arah yang mematikan pada tangan Nimo Singh dan Be Kong-co sehingga gagal total usaha kedua orang itu.
"ln-heng, apakah kau sendiri hanya mau menonton saja?"
Jengek Siau-siang-cu terhadap In Kik-si tersenyum dan menjawab .
"Baiklah, siakan Siau-heng maju lebih dulu, segera aku menyusul !"
Siau-siang-cu bersuit aneh menyeramkan, mendadak ia melompat ke atas, kedua kakinya tidak nampak tnemekuk, tubuhnya kaku lurus, kedua tangan juga menjulur lempeng ke atas terus mencengkeram ke perut Ciu Pek-thong, gaya ilmu silat yang diperlihatkannya ini ternyata tiada ubahnya seperti mayat hidup.
Melihat tibanya serangan, cepat Ciu Pek-thong mengerutkan tubuhnya, tangan kiri berganti tangan kanan dan tetap bergelantungan di belandar.
Serangan Siau-siangcu menjadi luput, ia tak dapat berhenti diudara, terpaksa anjlok ke bawah.
Siapa saja kalau jatuh ke bawah dari ketinggian begitu tentu kedua kakinya akan menekuk agar tidak keseleo dan terluka, tapi gaya Siau-siang-cu sungguh istimewa, seluruh tubuhnya tetap, kaku seperti sepotong kayu saja, begitu kaki menyentuh lantai.
"tok" , kembali ia meloncat lagi ke atas. Begitulah, jadinya Hoan It-ong merangkul pada tiang dan mengayun jenggotnya untuk menyerang, sedangkan Siau-siang-cu, Nimo Singh dan Be Kong-co bertiga berloncatan naik turun bergantian menyerang dari bawah ke atas.
"Si tua ini sungguh luar biasa, biar akupun ikut bikin ramai!"
Kata In Kik-si, tangannya merogoh saku sejenak kemudian tertampaklah sinar kemilauan menyilaukan mata, tahu2 tangan In Kik-si sudah bertambah sebuah ruyung lemas yang terbuat dari benang emas dan perak penuh bertaburkan batu permata pula.
Sebenarnya tokoh selihay In Kik-si, melulu bertangan kosong saja sudah jarang ada tandingannya, ruyung bertaburkan batu permata demikian tidak lebih hanya pameran akan kekayaannya saja.
Ia pikir untuk menyerang Ciu Pek-thong yang berada tinggi di atas itu jelas tidak mudah, maka dengan ruyungnya itu ia coba menyerang bagian bawah lawan.
Nyo Ko tertarik"
Oleh pertarungan lucu ini, ia-pikir dengan kepandaian kelima orang itu ternyata tidak mampu mengalahkan seorang Lo-wan-tong, kalau aku tidak dapat menang dengan cara istimewa tentu takkan membikin takluk orang Iain.
Setelah berpikir begitu, segera ia memakai kedoknya yang tipis itu, menirukan gaya Siau-siang-cu yang mengatakan itu, ia jemput tongkat baja Hoat It-ong tadi sekali tongkat itu menahan dilantai, tubuhnya terus mengapung ke atas.
Panjang tongkat itu dua meteran, ditambah loncatannya, maka tubuh Nyo Ko kini hampir sama tingginya dengan Ciu Pek-thong yang bergelantungan di belandar itu.
"Awas gunting, Lo-wantong"
Seru Nyo Ko samibil mengarahkan guntingnya untuk memotong jenggot Ciu Pek-thong."
Bukannya marah, sebaliknya Ciu Pek-thong malah senang akan serangan itu, ia miringkan kepalanya untuk menghindari guntingan itu dan berseru .
"Bagus sekali caramu ini, adik cilik !"
"Lo-wan-tong, aku kan tidak bersalah pada-mu, mengapa kau main gila dengan aku ?"
Kata Nyo Ko.
"Ada ubi ada tales, diberi harus membalas !"
Jawab Ciu Pek-thong dengan tertawa.
"Kau kan tidak rugi, mungkin mendapat untung malahan tidak tahu."
"Ada ubi ada talas apa maksudmu ?"
Tanyanya.
"Kelak kau tentu akan tahu sendiri sekarang tidak perlu banyak omong,"
Jawab Ciu Pek-thong dengan tertawa, sementara itu ruyung "in Kik-si sedang menyamber ke arahnya, segera sebelah tangannya meraup untuk menangkapnya.
Namun ruyung In Kik-si yang lemas itu terus membelit untuk menghantam punggung tangannya, sedangkan tubuhnya telah anjlok ke bawah.
Dalam pada itu jenggot Hoan it ong yang panjang juga telah menyabet tiba, kini Hoan It-ong juga bergelantungan pada belandar, kedua tangannya memegang belandar itu, melulu jenggotnya saja yang digunakan menyerang musuh.
"Eh kiranya jenggotmu sebanyak ini pula daya gunanya,"
Ujar Ciu Pek-thong tertawa, iapun menirukan cara orang dan mengayunkan jenggot sendiri ke arah lawan.
Tapi panjang jenggotnya tiada separuh panjang jenggot Hoan It-ong, pula tak pernah berlatih akan kegunaannya sebagai senjata, dengan sendirinya sabetan jenggotnya ini tidak berguna.
"sret" , pipinya malah kena tersabet oleh jenggot lawan sehingga terasa panas pedas kesakitan, untung lwekangnya sangat tinggi kalau tidak pasti akan kelengar seketika dan terbanting ke bawah. walaupun merasakan pil pahit, tapi lo wan tong tidak menjadi gusar, sebaliknya malah timbul rasa laparnya kepada Hoan It-ong, katanya.
"jenggot panjang, sungguh lihay kau, jenggotku tak dapat menandingi jenggotmu, sudahlah, kita tak perlu bertanding lagi !"
Tapi Hoan It-ong ternyata tidak mau kompromi, kembali jenggotnya menyabet pula, Kini Ciu Pek-thong tak berani melawannya lagi dengan jenggot, segera ia melancarkan gaya pukulan "Khong-beng-kun"
Angin pukulannya yang keras membikin jenggot Hoan It-ong terpencar dan melayang ke samping, kebetulan saat itu Be Kong-co lagi meloncat ke atas untuk menyerang Ciu Pek-thong, maka jenggot Hoan It-ong tepat menyabet pada muka Be Kong-co.
Cepat Be Kong-co pejamkan mata, muka terasa gatal pedas pula, dalam keadaan mata tertutup Be Kong-co memegang sekenanya sehingga jenggot Hoan It-ong itu kena dicengkeramnya.
Sebenarnya jenggot Hoan It-ong dapat melilit seperti barang hidup, tapi lantaran tenaga pukulan Ciu Pek-tiong tadi, Hoan It-ong tak dapat mengendalikan lagi jenggotnya, sehingga kena dipegang Be Kong-co, dalam kagetnya cepat Hoan It-ong membetot sekuatnya, tapi Be Kong-co juga menarik sekencangnya ketika tubuhnya anjlog ke bawah sehingga kedua orang akhirnya terbanting ke tanah.
Tubuh Be Kong-co segede kerbau, kulit kasar daging tebal, dia tidak teriak merasakan sakit, Tubuh Hoan It-ong tepat terbanting menindih badan Be Kong-co, ia menjadi gusar dan membentak .
"He, apa-apaan kau? Lekas lepaskan jenggotku !"
Duduk diatas berlandar, Cui Pek-thong mempermainkan lawan2 yang terdiri dari tokoh2 dunia pesilatan secara lucu dan nakal.
Bantingan itu tidak dirasakan oleh Be Kong-co, tapi perutnya terinjak oleh Hoan It-ong, rasanya tentu tidak enak, ia menjadi gusar juga dan batas membentak .
"Aku justeru tidak mau lepas, kau mau apa?" -Berbareng itu tangannya terus memutar sehingga jenggot orang malahan melilit beberapa kali lagi pada tangannya. Dengan gemas Hoan It-ong terus memukul ke muka lawan, Be Kong-co cepat miringkan kepalanya tak terduga pukulan Hoan It-ong itu cuma pura-pura saja, kepalan lain mendadak menyamber tiba.
"plok" , dengan tepat hidung Be Kong-co kera ditonjok sehingga berdarah, Sambil berkaok-kaok kesakitan Be Kong-co juga balas menjotos satu kali. Bicara tentang ilmu silat sebenarnya Hoan It-ong jauh lebih tinggj, celakanya jenggotnya terlilit pada tangan lawan sehingga kepalanya tidak leluasa bergerak, karena itu jotosan Be Kong-co juga tepat mengenai tulang pipinya dan matang biru. Begitulah yang satu tinggi dan yang lain pendek lantas main baku hantam, meski tubuh Hoan It-ong menindih di atas, tapi tetap sukar meloloskan diri dari betotan lawan yang terus menarik kencang jenggotnya itu. Melihat suasana kacau balau, rombongannya berenam ternyata tidak dapat berkutik menghadapi seorang anak tua nakal, betapapun terasa memalukan maka Kim-lun Hoat-ong tidak dapat tinggal diam Iagi, segera ia mengeluarkan dua buah gelang, satu perak dan satu lagi tembaga, sekaligus kedua gelang. atau roda itu disambitkan dari kanan kiri dan menerbitkan suara mendenging.
"Barang apa ini?"
Kata Ciu Pek-thong, ia tidak tahu lihaynya senjata orang, maka tangannya terus meraih dan bermaksud menangkapnya.
Betapapun Nyo Ko menaruh simpatik kepada Ciu Pek-thong yang polos itu, cepat ia memperingatkan.
"Hei, jangan dipegang!"
Berbareng pula ia lemparkan tongkat baja yang dipegangnya itu ke atas, Maka terdengarlah suara gemerantang nyaring, tongkat baja yang panjang itu tertumbuk hingga terpental ke sudut ruangan sana, sebaliknya arah gelang tembaga yg terbentur itu tidak berubah dan masih tetap berputar menyamber ke atas be-landar.
Baru sekarang Ciu Peh-thong tahu si Hwesio besar ini tidak boleh diremehkan, ia pikir kalau dikerubuti jelas dirinya sukar melayani Segera ia berjumpalitan turun ke bawah dan berseru.
"Maaf, Lo-wan-tong tak dapat menemani lebih lama, besok saja kita main-main lagi."
Habis berkata ia terus berlari ke pintu ruangan tamu, tapi dilihatnya empat orang berseragam hijau telah mengadangnya di situ dengan mementang sebuah jaring ikan.
Ciu Pek-thong sudah merasakan lihaynya jaring begitu, cepat ia membelok ke kanan dan bermaksud menerobos keluar melalui iendela, tapi bayangan hijau lantas berkelebat, kembali sebuah jaring merintangi jalannya.
Setelah melompat kembali ke tengah ruangan, Ciu Pek-thong melihat keempat penjuru sudah terentang oleh jaring ikan sehingga jalan lolosnya menjadi buntu.
Segera ia melompat lagi ke atas belandar, dengan hantaman dari jauh ia bikin atap rumah berlubang besar.
maksudnya hendak menerobos keluar melalui lubang itu, tapi baru saja ia mendongak, dilihatnya di atas juga sudah terpasang sebuah jaring ikan.
Terpaksa ia melompat turun ke bawah, katanya dengan tertawa sambil menuding si Kokcu.
"He, untuk apakah kau menahan diriku di sini? Setiap hari melulu minum air tawar dan makan beras mentah, memangnya Lo-wan-tong dapat kau piara sampai tua?"
Kokcu itu menjawab dengan dingin .
"Asalkan kau tinggalkan kitab dan obat yang kau ambil itu, segera kau boleh pergi dari sini"
Ciu Pek-thong menjadi heran, katanya .
"Untuk apa kuambil kitab dan obatmu segala ? seumpama mampu berlatih sehingga selihay kau juga aku tidak kepingin."
Sang Kokcu melangkah pelahan ke tengah ruangan, ia kebut-kebut debu pada baju sendiri, lalu berkata .
"Jika sekarang bukan hari bahagiaku, tentu aku akan minta petunjuk beberapa jurus padamu, sebaiknya kau tinggalkan barang yang kau ambil itu dan kau boleh pergi dengan bebas."
Dengan gusar Ciu Pek-thong berteriak.
"Jadi kau tetap menuduh aku mencuri barangmu? Huh, memangnya apa barangmu yang berharga sehingga aku perlu mencurinya ? Ini, boleh kau periksa!"
Sembari bicara dengan cepat ia terus membuka baju sendiri sepotong demi sepotong, dalam sekejap saja sudah telanjang bulat.
Berulang sang Kokcu membentak agar Ciu Pek-thong menghentikan perbuatannya, tapi anak tua nakal itu tidak ambil pusing, ia pentang dan membaliki baju celananya, memang benar tiada sesuatu benda apapun juga.
Sudah tentu anak murid perempuan yang hadir di situ menjadi kikuk dan sama berpaling ke jurusan lain.
Kelakuan Ciu Pek-thong ini sungguh sama sekali tak terduga oleh sang Kokcu, iapun ragu apakah benar Ciu Pek-thong tidak mencuri barangnya yang hilang itu, padahal barang-barang itu besar sangkut-pautnya dengan Cui-sian-kok ini.
Selagi sang Kokcu termenung sangsi tiba-tiba Ciu Pek-thong bertepuk tangan dan berseru.
"He, usiamu sudah cukup tua, mengapa kau tidak tahu harga diri ngomong sesukanya, berbuat seenak sendiri di depan umum melakukan hal memalukan begini sungguh menggelikan."
Ucapan itu sebenarnya lebih tepat ditujukan kepada Ciu Pek-thong sendiri tapi justeru dia mendahului omong, keruan Kongsun Kokcu itu dibuat serba salah dan takdapat membuka suara, Ketika melihat Hoan It-ong dan Be Kong-co masih bergumul di lantai, segera ia membentaknya agar lekas berdiri.
Padahal bukanlah Hoan It-ong tidak mau melepaskan diri soalnya jenggotnya teriilit di tangan Be Kong-co dan sukar melepaskan diri.
Dalam pada itu sambil mengernyitkan dahinya Kongsun Kokcu menuding Ciu Pek-thong dan mendamperatnya.
"Kukira yang tidak tahu malu adalah kau sendiri !"
"Memangnya aku kenapa ?"
Jawab Ciu Pek-thong.
"Aku dilahirkan dengan bugil, sekarang aku telanjang bulat, putih bersih, apanya yang salah? sebaliknya kau sudah tua dan masih ingin mengawini seorang perawan muda sebagai isteri, hehe, sungguh mentertawakan !"
Ucapan ini laksana palu besar yang menghantam dada Kongsun Kokcu itu, seketika mukanya yang kuning itu bersemu merah dan tak dapat menjawab. Mendadak Ciu Pek-thong berteriak .
"Haya, celaka ! Tidak pakai baju, bisa masuk angin nih !" -Berbareng ia terus menerjang keluar. Ketika mendadak melihat bayangan orang berkelebat ke arahnya, empat murid berbaju hijau yang siap di dekat pintu itu cepat bergerak dan membentang jaring, sekaligus jaring terus menutup ke atas kepala orang, Terasa sasarannya berontak di dalam jala, maka cepat keempat orang itu mengikat kencang empat ujung jaring dan diseret ke depan sang Kokcu. Jala ikan itu terbuat dari benang emas yang halus dan Iemas, sekalipun golok dan pedang pusaka juga sukar membobolnya, apalagi gerakan ke empat orang itu sangat cepat dan lihay, biar tokoh maha hebat juga sukar menghadapinya. Begitulah keempat orang itu sangat senang karena berhasil menawan sasarannya sehingga merekapun tidak memperhatikan lagi siapa sebenarnya yang terjaring itu, Tapi ketika mendadak nampak air muka sang Kokcu bersungut dari menatap tajam jaring mereka, cepat merekapun menunduk dan mereka menjadi kaget hingga berkeringat dingin, cepat pula mereka membuka jaring dan membebaskan dua orang yang sedang bergumul. Siapa lagi mereka kalau bukan Hoan It-ong dan Be Kong-co. Kiranya tiada seorangpun yang menduga bahwa dalam keadaan telanjang bulat Ciu Pek-thong berani menerjang keluar semendadak itu. Karena gerakannya secepat kilat, sekali samber ia tarik kedua orang yang sedang bergumul itu terus dilemparkan ke dalam jaring. Selagi keempat murid Cui-sian-kok itu sibuk mengencangkan ikatan jaring mereka, secepat angin Ciu Pek-thong terus menyelinap keluar, Gerakan aneh dan maha cepat ini sungguh luar biasa dan maha lihay. Gara-gara perbuatan Lo-wan-tong Ciu Pek-thong ini, tidak cuma sang Kokcu saja yang kebobolan, bahkan mereka Kim-lun Hoat-ong dan kawannya juga merasa malu, masakah gabungan tokoh kelas wahid seperti mereka ini ternyata tidak mampu menangkap seorang tua yang gila-gilaan itu, sungguh terlalu tidak becus. Hanya Nyo Ko saja yang kagum sekali terhadap kepandaian Ciu Pek-thong, tadi ia sudah bertekad akan menolong anak tua nakal itu apabila sampai tertawan, tapi kini Ciu Pek-thong sendiri dapat meloloskan diri, diam-diam Nyo Ko bersukur dan lega. Tujuan Kim-lun Hoat-ong sebenarnya hendak mencari tahu seluk-beluk sang Kokcu, tapi setelah Dikacau"
Oleh Ciu Pek-thong, ia merasa rikuh untuk tinggal lebih lama lagi di situ, Setelah berunding dengan Slau-siang-cu dan In Kik-si, lalu dia berbangkit dan mohon diri.
Semula Kokcu itu menyangka keeram orang ini adalah sekomplotan dengan Ciu Pek-thong, tapi kemudian melihat Siau-siang-cu, Be Kong-co dan lainnya menempur Ciu Pek-thong dengan sengit dan menggunakan kepandaian khas masing-masing yang lihay, tampaknya memang sengaja membantu pihak sendiri maka ia lantas memberi hormat dan berkata.
"Ada sesuatu permintaanku yang tidak pantas, entah kalian berenam sudi menerimanya tidak?"
"Asalkan kami sanggup, tentu akan kami terima,"
Jawab Kim-lun Hoat-ong.
"Begini."
Kata sang Kokcu.
"lewat lohor nanti adalah upacara pernikahanku yang kedua kalinya, maka ingin kuundang kalian ikut hadir memberi do"
A restu, di lembah pegunungan ini selama beratus tahan jarang didatangi orang luar, kebetulan sekarang kalian hadir sekaligus, sungguh kurasakan sangat beruntung.
"Ada arak tidak nanti ?"
Seru Be Kong-co. Belum lagi sang Kokcu menjawab, mendadak bayangan orang berkelebat masuklah seorang perempuan berbaju putih sambil bertanya.
"Apakah orang yang mengacau sudah pergi?"
Kejut dan girang tidak kepalang Nyo Ko melihat perempuan ini, cepat ia melompat maju dan menarik tangannya serta berseru .
"Hei, Kokoh, engkau juga datang ke sini? sungguh payah kucari kau sekian lamanya!"
Perempuan itu memandang sekejap kepada Nyo Ko dengan air muka merasa heran, lalu menjawab.
"Siapakah tuan? Kau memanggil apa padaku ?" , Nyo Ko terperanjat ia coba mengamat-amati lagi perempuan ini, kelihatan wajahnya yang putih halus dan cantik, siapa lagi dia kalau bukan Siao-liong-li adanya ? Tanpa ragu segera ia menjawab.
"Kokoh.. aku ini Nyo Ko, masakah kau sudah pangling padaku?"
Kembali perempuan itu memandang sekejap kepadanya, lalu menjawab dengan dingin.
"Selamanya aku tidak pernah kenal kau, mana kuberani dipanggil sebagai Kokoh?"
Berbareng ia terus melangkah ke depan dan duduk di sebelah sang Kokcu.
Wajah sang Kokcu yang tadinya kaku dingin segera berubah berseri-seri akan kedatangan perempuan cantik itu, dia berkata kepada Kim-lun Hoat-ong.
"lnilah bakal isteriku yang upacara perkawinan kami segera akan dilangsungkan lewat lohor nanti"
Habis berkata ia melirik sekejap ke arah Nyo Ko seperti kurang senang akan kecerobohan pemuda itu yang salah mengenali-orang. Keruan kejut Nyo Ko tak terkatakan, serunya.
"Kokoh, masakah engkau ini bukan Siao-liong-li? Memangnya kau bukan Suhuku?"
Perempuan itu mengawasi Nyo Ko sejenak air mukanya menampilkan perasaan heran dan bingung, sejenak kemudian barulah menjawab sambil menggeleng.
"Bukan, siapakah Siao-liong-li itu?"
Kedua tangan Nyo Ko mengepal sekencangnya dan diremas-remas hingga lecet, benaknya terasa tawar sekali, ia tidak tahu apakah sang Kokoh marah padanya sehingga tidak mau mengakui dia lagi?
Atau disebabkan berada di tempat berbahaya dan dia sengaja bersikap demikian untuk mencari selamat?
Atau barangkali di dunia ini benar-benar ada perempuan lain yang serupa dengan dia?
Meski Nyo Ko biasanya pintar dan cerdik, tapi kini ia tak dapat mengendalikan pergolakan perasaannya teringat cintanya kepada Siao-Jiong-li, dan tanpa terasa ia menjerit.
Melihat pemuda itu bersikap kurang wajar, Kokcu itu mengernyitkan dahi dan berkata pelahan kepada perempuan baju putih itu .
"Liu-ji, hari ini sungguh banyak orang yang aneh"
Perempuan itupun tidak menggubris padanya, pelahan ia menuang secawan air dan diminum, sorot matanya mengerling semua orang, tapi sampai pada Nyo Ko, pandangnya menghindarkan pemuda itu dan tidak melihatnya lagi.
Jika orang lain tentu akan bersikap tenang untuk melihat apa yang akan terjadi nanti, tapi dasar watak Nyo Ko memang tidak sabaran, apa lagi Kokcu itu menyatakan akan menikah lewat lohor nanti, dalam keadaan bingung dan tak berdaya, Nyo Ko coba berpaling dan tanya Kim-lun Hoat-ong.
"Kau pernah bertanding dengan suhuku, tentu kau kenal dia dengan baik, coba katakan, apakah aku salah mengenali dia?"
Ketika perempuan baju putih itu muncul tadi sebenarnya Kim-lun Hoat-ong sudah mengenal dia sebagai Siao-Iiong-li, tapi nona itu ternyata tidak mau gubris, meski Nyo Ko telah menegurnya sendiri, di antara pasangan muda-mudi ini tentu terjadi pertengkaran, maka ia tersenyum dan menjawab.
"Entahlah, akupun tidak begitu ingat lagi."
Sudah tentu jawaban Kim-lun Hoat-ong ini mempunyai dua maksud tujuan.
Dia pernah dikalahkan oleh Giok-Ii-kiam-hoat yang dimainkan bersama antara Nyo Ko dan Siao-liong-Ii, kini kepandaian Myo Ko sudah jauh lebih maju lagi, kalau kedua muda-mudi itu bergabung, jelas dirinya lebih-Iebih bukan tandingan mereka.
Tapi kalau kedua orang itu bertengkar biarpun bergabung lagi dan menempurnya, asalkan antara jiwa kedua orang itu sudah terjadi keretakan dan tidak dapat saling kontak, maka kesempatan untuk menang bagi dirinya menjadi sangat besar.
BegituIah Nyo Ko menjadi melengak oleh jawaban Hoat-ong itu, tapi ia lantas paham juga maksud tujuan orang, pikirnya dengan mendongkol.
"Hati manusia benar-benar keji dan culas, Ketika kau terluka parah, aku pernah membantu menyembuhkan kau, tapi sekarang kau malah bermaksud membikin susah padaku."
Melihat sorot mata kebencian Nyo Ko, Kim-lun Hoat-ong tahu pemuda itu merasa dendam padanya, kelak pasti akan membahayakan, kalau ada kesempatan harus kubereskan sekarang juga.
ia lantas balas menghormat sang Kokcu dan menjawab.
"Kami berterima kasih atas undangan Kok-cu-untuk menghadiri pernikahanmu, cuma kedatangan kami hanya kebetulan sehingga tidak membawa kado apapun, sungguh kami merasa tidak enak?"
Kokcu itu merasa senang karena Kim-lun Hoat-ong dan rombongannya mau terima undangannya, segera ia memperkenalkan mereka kepada bakal isterinya, ketika giliran Nyo Ko, ia hanya menyebutnya she Nyo saja, lalu tidak diberi tambahan keterangan Iain.
Kelihatan perempuan baju putih itu cuma mengangguk pelahan saja tanpa memberi sesuatu perhatian apapun ketika diberitahu nama setiap orang, terhadap Nyo Ko iapun tidak ambil pusing seperti halnya orang Iain.
Muka Nyo Ko menjadi merah padam, jantungnya memukul keras, apa yang dibicarakan Kokcu itu sama sekali tak terdengar olehnya.
Kongsun Lik-oh yang berdiri di belakang ayahnya dapat mengikuti gerak-gerik Nyo Ko itu, ia teringat ketika pemuda itu tertusuk duri bunga cinta segera merasa sakit karena timbul rasa rindunya, melihat gelagatnya sekarang apakah memang betul bakal ibu tiriku ini adalah kekasihnya ?
Masakah bisa terjadi secara begini kebetulan, jangan-jangan kedatangan orang-orang ini justeru di sebabkan oleh bakal ibu tiriku ini?
Karena pikiran itu, Kongsun Lik-oh coba mengawasi perempuan baju putih itu, terlihat air mukanya tenang-tenang saja, tidak merasa suka ria juga tidak merasa kikuk dan malu, sama sekali tidak memper sebagai seorang calon pengantin baru.
Dalam pada itu Nyo Ko merasakan dadanya sesak seakan-akan putus napasnya, tapi biarpun wataknya mudah terguncang perasaannya namun dia juga seorang yang pintar dan cerdik, ia pikir kalau sang Kokoh tidak mau mengakui dia, bisa jadi Kokoh mempunyai maksud tujuan tertentu, untuk ini aku harus menjajakinya dengan jalan lain.
Segera ia berdiri dan memberi hormat kepada sang Kokcu, katanya dengan lantang.
"Karena ada seorang sanak keluargaku yang mirip dengan wajah nyonya barumu, tadi aku salah mengenalinya untuk itu kumohon maaf."
Ucapan yang cukup sopan ini diterima dengan baik oleh Kokcu itu, sikapnya lantas berubah ramah juga, ia balas hormat dan menjawab.
"Salah mengenali orang adalah kejadian biasa dan tidak ada persoalan maaf segala, Cuma... cuma di dunia ini ternyata ada orang lain lagi yang serupa bakal isteriku tercinta ini, hal ini tidak hanya kebetulan saja. tapi sesungguhnya teramat aneh."
Di balik ucapannya ini dia ingin menyatakan bahwa di dunia ini mustahil ada wanita cantik lagi yang serupa dengan calon isterinya itu.
"Memangnya, maka akupun sangat heran,"
Ujar Nyo Ko.
"Maaf, apakah boleh kutanya siapakah she nyonya yang terhormat?"
"Dia she Liu, apakah kenalanmu itu juga she Liu?"
Kata sang Kokcu dengan tersenyum.
"Oh, bukan,"
Jawab Nyo Ko, Diam-diam ia menimang-nimang mengapa sang Kokcu mengaku she Liu. Tapi, segera pikirannya tergerak.
"Ah, soalnya aku she Nyo."
Nyoliu Yang itu adalah nama pohon, jadi jelas Siau-liong-li mengaku she liu karena dia belum lagi melupakan Nyo Ko.
Terpikir akan demikian, seketika jari Nyo Ko kesakitan lagi.
Melihat Nyo Ko meringis menahan sakit, Kongsun Lik-oh merasa kasihan dan sayang padanya, sorot matanya senantiasa mengikuti perubahan aii muka pemuda itu.
Sekuatnya Nyo Ko menahan rasa sakit bekerjanya racun bunga cinta, mendadak teringat lagi sesuatu olehnya, cepat ia tanya "Apakah nona Liu ini penduduk sekitar pegunungan ini?
Entah cara bagaimana Kokcu berkenalan dengan "dia?"
Sebenarnya Kokcu itu juga sangat ingin tahu asal-usuI bakal isterinya itu, ia pikir bukan mustahil bocah ini memang kenal Liu-ji dan dari dia nanti akan diperoleh keterangan lebih jelas mengenai asal-usul bakal isteri itu, segera ia menjawab.
"Ya, pertemuan kami memang terjadi secara kebetulan setengah bulan yang lalu, ketika aku sedang mencari bahan obat di lereng gunung, kutemukan dia menggeletak di kaki gunung sana dalam keadaan terluka parah dan kempas-kempis. Setelah kuperiksa dia, kiranya dia menderita kesesatan lantaran berlatih lwekang kurang tepat, Aku lantas membawanya pulang dan mengobati dia dengan obat mujarab keluargaku yang sudah turun temurun, jadi perkenalan kami ini boleh dikatakan secara kebetulan, itulah yang dikatakan kalau memang sudah jodoh."
"O, kiranya di dunia ini juga ada obat mujarab yang dapat menyembuhkan nona Liu, kukira hanya dapat disembuhkan dengan bantuan darah "
Orang lain,"
Kata Nyo Ko. Mendengar ucapan ini, mendadak perempuan itu menumpahkan darah segar sehingga bajunya yang putih itu berlepotan darah.
"Semua orang menjerit kaget dan sama berbangkit. Kiranya nona Liu ini memang betul nama samaran Siao-liong-li, setelah mendengar pembicaraan Ui Yong tempo hari itu, semalam suntuk ia tak dapat tidur, setelah dipikir bolak-balik, ia merasa kalau "
Nyo Ko menjadi suami isteri dengan dirinya, akibatnya pemuda itu akan dicaci maki orang dan hati sendiri merasa tidak enak jika keduanya mengasingkan diri di dalam kuburan kuno-itu, lama-lama pemuda itu tentu akan kesal dan akhirnya bukan mustahil akan meninggalkannya.
Namun cintanya terhadap Nyo Ko sesungguhnya teramat mendalam, sebab itulah dia tegas memutuskan hubungan hal inipun timbul dari cintanya yang suci murni dan demi kebahagiaan dan hari depan Nyo Ko.
Begitulah seorang diri dia mengayunkan langkah tanpa arah tujuan di ladang sepi dan lereng, pegunungan, suatu hari ia berduduk bersemadi, mendadak pikirannya bergolak dan sukar diatasi, akibatnya luka dalam yang lama kambuh lagi.
Untung Kokcu she Kongsun itu kebetulan lewat di situ dan menolongnya, kalau tidak tentu Siao-liong-li sudah tewas di pegunungan sunyi itu.
Kongsun Kokcu itu sudah lama menduda, meIihat kecantikan Siao-liong-li yang tiada taranya itu, ia menjadi tertarik sebenarnya Siao-liong-Ii sendiri juga sudah putus asa, tapi setelah dipikirkan lagi ketika dilamar oleh Kokcu ,itu, ia pikir kalau sudah menjadi isteri orang lain, jelas persoalannya dengan Nyo Ko akan menjadi putus, apalagi Cui-sian-kok ini sangat sunyi dan terpencil, selanjutnya pasti takkan bertemu lagi dengan pemuda itu.
Siapa tahu mendadak muncul Lo-wan-tong Ciu Pek-thong dan mengacaukan Cui-sian-kok itu dan memancing pula kedatangan Nyo Ko.
Kini mendadak berhadapan dengan Nyo Ko di tengah perjamuan, sungguh remuk rendam hati Siao liong-li, pikirnya.
Aku sudah menerima lamaran orang dan segera akan menikah, lebih baik aku berlagak tidak kenal dia, biar dia pergi dari sini dengan gusar dan membenci diriku selama hidup.
Sebab itulah dia tetap tidak menggubrisnya meski dilihatnya Nyo Ko sangat cemas dan bingung, Ketika mendadak Nyo Ko berkata tentang penyembuhan dengan bantuan darah orang lain, segera teringat olehnya ketika dirinya terluka parah oleh kaum Tosu Coan-cin-kau sehingga muntah darah, tapi tanpa menghiraukan keselamatan sendiri Nyo Ko telah menyalurkan darah sendiri untuk menyelamatkan jiwanya, hal ini sungguh terukir mendalam di lubuk hatinya.
Karena guncangan perasaan itulah seketika iapun menumpahkan darah segar.
Dengan wajah pucat lesi ia berbangkit dan bermaksud melangkah ke ruangan belakang Kong-sun Kokcu cepat berkata padanya.
"Duduk saja dan jangan bergerak agat tidak mengganggu urat nadi yang lain." -Lalu ia berpaling kepada Nyo Ko dan berkata pula.
"Sebaiknya kau pergi saja dan untuk selanjutnya janganlah datang lagi ke sini"
Air mata Nyo Ko bercucuran, katanya kepada Siao-liong-li.
"Kokoh, bila aku beranjak silakah kau mencaci dan memukul aku, sekalipun kau membunuh aku juga aku rela, Tapi mengapa kau tidak mau mengakui diriku lagi?"
Siao-liong-li tidak menjawab, ia menunduk dan batuk pelahan beberapa kali.
Sejak tadi Kongsun Kokcu sudah murka karena ucapan Nyo Ko telah membikin Siao-liong-li muntah darah, tapi sebisanya ia bersabar, dengan suara geram ia berkata pula.
"Jika kau tidak segera pergi, jangan kau menjalankan aku tidak kenal ampun."
Tapi mata Nyo Ko hanya menatap tajam kepada Siao-liong-li dan tidak menggubris Kongsun Kokcu, ia memohon pula.
"Kokoh, aku berjanji akan mendampingi kau selama hidup di kuburan kuno itu dan takkan menyesal, marilah kita berangkat sekarang."
Pelahan Siao-liong-li mengangkat kepalanya, ia lihat sorot mata Nyo Ko penuh rasa kasih sayang yang mendalam bercampurkan rasa sedih dan cemas tak terhingga, tanpa terasa hatinya bergoncang dan timbul niatnya akan terima ajakan Nyo Ko itu, tapi segera terpikir lagi olehnya.
"Tidak. perpisahanku ini sudah kupikirkan dengan masak, bila aku tidak tahan sekejap ini, kelak pasti akan bikin susah dia selama hidup."
Karena itu, cepat ia berpaling lagi ke arah lain dan menghela napas panjang, katanya.
"Aku tidak kenal kau. Apa yang kau katakan sama sekali aku tidak paham, sebaiknya lekas kau pergi saja !"
Beberapa kalimat itu diucapkannya dengan lemah dan lirih, namun penuh mengandung kasih sayang, kecuali orang dogol semacam Be Kong-co yang sama sekali tidak merasakannya, orang-orang lain segera mengetahui bahwa perasaan Siao-liong-li terhadap Nyo Ko sesungguhnya sangat mesra, apa yang dikatakannya itu sesungguhnya bertentangan dengan pikirannya.
Sudah tentu tidak kepalang rasa cemburu Kongsun Kokcu setelah mendengar perkataan itu, meski Siao-liong-li sudah menerima lamarannya dan bersedia menjadi isterinya, tapi belum pernah nona itu mengucapkan sesuatu perkataan yang mesra padanya.
Dengan geram ia melotot kepada Nyo Ko, dilihatnya pemuda itu memang gagah dan cakap, sesungguhnya memang pasangan yang sangat setimpal dengan Siao-liong-li, ia pikir kedua muda-mudi itu mungkin memang sudah pacaran, entah pertengkaran urusan apa sehingga berpisah dan Liu-ji mau terima lamaranku, tapi jelas hatinya belum melupakan kekasihnya yang lama.
Teringat hal ini, tanpa terasa sorot, matanya memancarkan sinar kegusaran dan kebencian.
Hoan It-ong paling setia kepada sang guru, ia lihat Nyo Ko telah mengacaukan rencana pernikahan gurunya, bahkan mengakibatkan bakal ibu guru itu muntah darah dan sang guru tetap bersabar saja, segera ia tampil ke muka dan membentak.
"Bocah she Nyo, jika kau tahu diri hendaklah lekas enyah dari sini, Kokcu kami tidak menyukai tamu yang tidak kenal sopan santun macam kau."
Nyo Ko anggap tidak mendengar saja, dengan suara lembut ia berkata pula kepada Siao-liong-li.
"Kokoh, apakah engkau benar-benar telah lupa kepadaku?"
Gusar sekali Hoan It-ong, sebelah tangannya terus mencengkeram ke punggung Nyo Ko dengan tenaga penuh, maksudnya sekali pegang segera Nyo Ko hendak dilemparkannya keluar.
Saat itu Nyo Ko sedang bicara kepada Siao-liong-li dengan penuh perhatian, kejadian apa di luar itu sama sekali tidak dihiraukannya, ketika jari Hoan It-ong menyentuh punggungnya barulah dia terkejut dan cepat mengerahkan tenaga untuk mengerutkan badan, seketika cengkeraman Hoan It-ong mengenai tempat kosong, terdengar suara "bret"
Baju bagian punggung Nyo Ko telah terobek.
Karena permohonanaya yang berulang tefap tidak digubris oleh Siao-liong-li, Nyo Ko menjadi semakin cemas, apabila berada berduaan di dalam kuburan kuno, dengan sendirinya dia akan memohon dengan sabar, tapi kini berada di depan orang banyak, sedangkan Hoan It-ong terus mengganggu keruan rasa gusar Nyo Ko menjadi berpindah kepada kakek cebol itu, segera ia berpaling dari membentak.
"Aku sedang bicara dengan Kokoh, kenapa kau mengganggu saja?"
Dengan suara keras Hoan It-ong balas membentak.
"Kokcu suruh kau enyah, kau dengar tidak? Kalau kau tetap membangkang, jangan kau salahkan kakekmu yang tidak kenal ampun lagi padamu."
"Aku justeru tidak mau pergi, kau mau apa?"
Jawab Nyo Ko dengan gusar.
"Selama Kokoh masih di sini akupun akan tetap tinggal di sini. Biarpun aku mati dan mayatku menjadi abu juga tetap kuikut dia."
Sudah tentu ucapan Nyo Ko itu sengaja di-perdengarkan kepada Siao-liong-li.
Ketika Kongsun Kokcu itu melirik wajah si nona, tertampak air matanya berlinang dan akhirnya menetes, sungguh pedih hatinya, rasa cemburunya terhadap Nyo Ko juga semakin membakar, segera ia mengedipi Hoan It-ong dan memberi tanda agar segera melancarkan serangan maut untuk membinasakan Nyo Ko.
Tak terduga juga oleh Hoan It-ong bahwa sang guru akan menyuruhnya membunuh pemuda itu, semula dia hanya bermaksud mengusirnya saja, Tapi sang guru telah mendesaknya lagi, terpaksa ia angkat tongkatnya dan diketokkan ke lantai hingga menerbitkan suara nyaring, bentaknya .
"Apa-kau benar-benar tidak takut mati?"
Dalam pada itu Nyo Ko merasakan darah panas, bergolak di rongga dadanya, seperti halnya Siao liong-li, rasanya darah itu akan tertumpah keluar.
Kiranya aliran lwekang Ko-bong-pay itu sangat mengutamakan soal mengekang perasaan dan pengendalikan napsu, sebab itulah waktu Siao-liong-li diajarkan oleh gurunya dahulu, ia diharuskan menjauhi segala macam perasaan suka-duka dan pengaruh dari Iuar.
Belakangan ketika Siao-liong-li tak dapat menahan perasaannya sehingga beberapa kali ia telah tumpah darah.
Nyo Ko sendiri mendapat ajaran dari Siao-liong-li, aliran Lwekangnya sama, karena gejolak perasaannya itu, kini kaki dan tangannya terasa dingin dan darah hampir tersembur dari mulutnya.
Ia menjadi nekat ingin mati saja di hadapan sang Kokoh yang tidak mau gubris lagi padanya itu, Tapi segera terpikir olehnya.
"Betapa mesranya Kokoh padaku biasanya, bahwa sekarang dia bersikap sedingin ini padaku, kuyakin pasti-ada sebab musababnya, besar kemungkinan dia mendapat tekanan dari Kokcu bangsat ini dan terpaksa tidak berani mengakui diriku. Kalau aku tidak bersabar dan cari jalan keluar, tentu sukar menghadapi orang-orang di sini."
Karena pikiran itu, serentak semangat jantannya timbul, ia bertekad akan melabrak musuh dan menyelamatkan Siao-liong-li keluar dari tempat berbahaya ini.
Segera ia mengumpulkan semangat dan menenangkan diri, kemudian ia tersenyum dan berkata kepada Hoan It-ong.
"He, ada apa kau gembat-gembor tadi? Pegunungan sunyi seperti kuburan ini, kalau tuan muda mau datang masakah kau mampu mengalangi dan jika kuingin pergi masakah kau dapat menahan diriku?"
Tadi semua orang menyaksikan keadaan Nyo Ko yang sedih dan kalap seperti orang gila, tap mendadak bisa berubah menjadi sabar dan tenang sungguh mereka sangat heran, Karena Hoart It-ong memang tiada maksud membunuh Nyo Ko sebagai mana perintah sang guru, maka tongkatnya segera disabetkan ke kaki Nyo Ko.
Kongsun Lik-oh kenal kepandaian Toasuhengnya itu sangat lihay, meski tubuhnya pendek, tap memiliki tenaga raksasa pembawaan semalam pun menyaksikan ketahanan Nyo Ko digarang di dalam rumah batu itu, Lwekangnya jelas tidak rendah, tapi mengingat usianya yang masih muda, rasanya sukar melawan permainan tongkat Toasu-hengnya, apabila kedua orang sudah bergebrak untuk menolong pemuda itu pasti sangat sukar.
Karena hasratnya ingin menolong Nyo Ko, walaupun nampak sang ayah sedang gusar, namun Kongsun Lik-oh tetap nekat dan tampil ke muka, katanya kepada Nyo Ko.
"Nyo-kongcu, tiada gunanya kau buang waktu di sini dan mengorbankan jiwamu."
Nyo Ko hanya mengangguk dan tersenyum, jawabnya.
"Terima kasih atas maksud baik nona, Tapi aku ingin main-main beberapa jurus dengan si jenggot panjang ini, eh, apakah kau suka mainan kuncir, biar kupotong jenggot si cebol ini untukmu."
Kejut sekali Kongsun Lik-oh dan tidak berani menanggapi ucapan Nyo Ko itu, ia anggap kelakar pemuda itu keterlaluan dan benar-benar sudah bosan hidup barangkali.
Dalam pada itu Hoan It-ong menjadi gusar juga karena jenggotnya itu diremehkan Nyo Ko, mendadak ia membuang tongkatnya dan melompat maju sambil membentak.
"Bocah kurangajar! rasakan dulu jenggotku ini!"
Belum habis ucapannya, mendadak jenggot yang panjang itu menyabet ke muka si Nyo Ko. Aembari berkelit Nyo Ko berkata dengan tertawa.
"Lo-wang-tong tidak berhasil memotong jenggotmu, biarlah akupun mencobanya."
Segera ia mengeluarkan gunting raksasa dari rangselnya terus menggunting, Tapi sekali miringkan kepalanya, Hoan It-ong putar jenggotnya terus menghantam kepala lawan dengan kekuatan yang hebat.
Cepat Nyo Ko melompat ke samping, sebalikya guntingnya terus membalik dan "creng", guntingnya telah mengatup.
Kejut Hoan It-ong tak terkatakan, secepat kilat ia berjumpalitan ke belakang, sedikit ayal saja jenggotnya pasti sudah tergunting putus.
Sebenarnya gunting Nyo Ko itu dia pesan dari Pang Bik-hong untuk digunakan melawan senjata kebut Li Bok-chiu, untuk itu dia sudah mempelajari gaya permainan kebut lawan dan cara, bagaimana guntingnya harus bekerja.
Siapa tahu Li Bok-chiu yang diharapkan itu belum pernah bertemu, kini guntingnya harus menghadapi si kakek cebol yang menggunakan jenggot panjang sebagai senjata.
Nyo Ko sangat senang, ia yakin betapapun lihaynya jenggot si kakek juga pasti tidak lebih lihay daripada kebut Li Bok-chiu, karena itu dia tidak menjadi gentar, guntingnya terus mendesak lawan.
Hoan It-ong sendiri sudah lebih 30 tahun menggunakan jenggotnya sebagai senjata, apalagi kedua tangannya juga ikut menyerang, tentu saja tambah lihay.
Malahan Ciu Pek-thong yang maha sakti itupun tidak berhasil menggunting jenggot Hoan It-ong, maka semua orang menyangka Nyo Ko pasti juga akan gagal.
Tak terduga permainan gunting Nyo Ko ternyata lebih lincah dan hidup serta lain dari pada Ciu Pek-thong.
tentu saja hal ini membikin semua orang merasa heran, Padahal bukanlah Nyo Ko lebih tinggi ilmu silatnya daripada Ciu Pek-thong, soalnya sebelum itu dia sudah mempelajari gaya permainan kebut Li Bok-chiu dan sudah merancangkan cara bagaimana akan menggunakan guntingnya, sedangkan gerakan jenggot Hoan It-ong justeru hampir sama dengan permainan kebut Li Bok-chiu, maka sekali Nyo Ko mulai memainkan guntingnya, dengan sendirinya terasa sangat lancar dan berada di atas angin.
Begitulah beberapa kali jenggot Hoan It-ong tampak kena digunting putus, kini ia tak berani lagi meremehkan Nyo Ko yang masih muda itu.
Segera, ia ganti serangan jenggotnya disertai dengan pukulan yang dahsyat, terkadang sabetan jenggotnya cuma gerak pura-pura, lalu disusul dengan pukulan lihay sungguhan tapi ada kalanya pukulannya cuma pancingan, lalu jenggotnya menyabet, sungguh kepandaian yang luar biasa dan lain daripada yang lain.
Setelah beberapa puluh jurus lagi, diam2 Nyo Ko mulai gelisah, ia pikir Kokcu she Kongsun itu jelas manusia culas dan kejam, ilmu silatnya pasti juga jauh di atas kakek cebol ini, kalau muridnya tak dapat dikalahkan lalu cara bagaimana melawan gurunya nanti?
Nyo Ko coba memperhatikan gerak-gerik lawan, tertampak kelakuan kakek cebol itu sangat lucu dikala menggoyangkan kepala untuk menya-betkan jenggotnya, semakin keras sabetan jenggot-nya, semakin lucu pula kepalanya itu bergoyang.
Tiba-tiba hari Nyo Ko tergerak ia telah menemukan cara mematahkan serangan lawan itu.
"cret", ia katupkan guntingnya sambil melompat mundur dan berseru.
"Berhenti dulu !"
Hoan It-ong tidak mengudaknya, ia bertanya.
"Adik cilik jika kau menyerah kalah, nah lekas pergi saja dari sini!"
Tapi Nyo Ko menggeleng dan menjawab.
"Aku ingin tanya, setelah jenggotmu ini dipotong, berapa lama baru dapat tumbuh lagi sepanjang itu?"
"Itu bukan urusanmu?"
Sahut Hoan lt-ong dengan gusar.
"Selamanya aku tidak pernah cukur!"
"Sayang, sayang ! sungguh sayang!"
Ujar Nyo Ko sambil menggeleng.
"Sayang apa ?"
Tanya Hoan It-ong melengak.
"Cukup di dalam tiga jurus saja segera jenggotmu yang panjang ini akan kugunting putus,"
Kata Nyo Ko. Mana Hoan It-ong mau percaya dalam tiga-jurus saja dirinya akan dikalahkan oleh Nyo Ko, bukankah sejak tadi mereka sudah bergebrak beberapa puluh jurus? Dengan pusar ia membentak.
Baca Juga: Badik Buntung 6
Baca Juga: Pendekar Bego 3