Ceritasilat Novel Online

Badik Buntung 6

Eps 6 Badik Buntung - GKH

Baca online Badik Buntung - GKH

Cersil Badik Buntung - GKH.

"Jika tiada Ma Bong-hwi dan tak ada Tio Gun pula, apa pula yang hendak kau lakukan?"

Ing Si-kiat tertawa, sahutnya.

"Meskipun Ma-ciangkun berdinas luar, tapi kekuatan tentaranya jauh lebih kuat dari aku, apalagi bala tentaranya juga jauh lebih terlatih, melulu Tio Gun dan ratusan pasukan Gi-lim-kun tak perlu dibuat takut."

"Jikalau tiada mereka berdua, pasti Toh-ciatsu takkan berani banyak bacot. Tatkala itu putraku bakal dapat menumpas huru-hara dan mendirikan jasa dan memperoleh pahala, jikalau kita melamar putrinya, Baginda tak bisa tidak mesti menerima pinangan ini."

Thian-hi semakin jelas akan duduk perkara sebenar-benarnya.

Kiranya Tan-siangkok sedang berusaha supaya putranya menikah dengan tuan putranya menikah dengan tuan putri, supaya kelak dapat mewarisi kedudukan raja, dengan jalan yang licik tapi cukup nyata ini tentu tiada seorangpun yang tidak akan tunduk.

Ing Si-kiat tertawa, katanya.

"Baginda raja tentu akan setuju!"

Tan-siangkok juga tertawa senang, ujarnya.

"Kali ini tidak mungkin menggunakan ular lagi. Tak kukira Tio Gun itu pandai menangkap ular!"

Ing Si-kiat berpikir sekian lama, katanya.

"Bagaimana menurut pendapat Tan-siangkok?"

Tan-siangkok menyeringai sinis, dari atas rak buku diambilnya alat2 tulis terus menulis apa-apa di atas telapak tangannya. Melihat huruf2 itu Ing Si-kiat tertawa, katanya.

"Akupun punya maksud demikian." -terdengar gelak tawa mereka yang keras kumandang. Thian-hi tidak tahu apa yang tengah mereka lakukan, tapi samar-samar ia dapat meraba tentu mereka merencanakan sesuatu yang bertujuan jahat, entah tipu daya jahat apa lagi yang sedang mereka rancang. Terdengar Ing Si-kiat berkata.

"Cara ini dapat membabat rumput sampai ke-akar2nya, cukup kita hadapi Tio Gun itu dengan cara yang lebih hati-hati saja!"

Tan-siangkok bergelak tawa, ujarnya.

"Untuk pelaksanaannya kuharap Ing-ciangkun membantu sekedarnya."

"Ah, kenapa Tan-siangkok begitu sungkan? Untuk pelaksanaan rencana ini harap Tan-siangkok memikirkan lebih matang."

"Urusan jangan terlambat, pukul besi mumpung masih panas, Tio Gun baru saja diangkat menjadi panglima, kesempatan inilah yang paling baik untuk melaksanakan rencana itu."

"Menurut maksud Tan-siangkok...."

"Besok saja!"

"Besokpun baik, tapi kalau rencana kali ini gagal belakang hari tentu bakal menimbulkan bibit bencana."

"Besoklah saatnya pembukaan dasar. masa kita tidak berlaku hati-hati. Bagaimana menurut pendapat Ing-ciangkun mengenai pasukan yang berada di Bi-seng itu?"

"Yang aku kuatirkan hanyalah Ma Bong-hwi seorang, orang lain sedikit pun tidak kupandang sebelah mataku."

Lalu mereka bergelak tawa sambil berjabatan tangan. Ing Si-kiat lalu bangkit dan minta diri, katanya.

"Sekarang aku minta diri, rencana kerja di dalam seluruhnya tanggung jawab Tansiangkok, mengenai penjagaan diluar akulah yang akan mengatur."

Tan-siangkok bangkit mengantar tamu, sahutnya.

"Aku tak menahanmu lebih lama lagi, waktu terlalu mendesak, harap Ing-ciangkun banyak membantu...."

Ing Si-kiat tertawa sambil manggut-manggut, mereka berjajar keluar pintu.

Thian-hi berkelebat di atas wuwungan, dilihatnya Tan-siangkok mengantar Ing Si-kiat sampai di pintu luar.

Thian-hi menghirup napas panjang, setelah meneliti keadaan sekelilingnya, sebat sekali tubuhnya melesat terbang keluar dari lingkungan Gedung Tan-siangkok ini, terdengar anjing di bawah meng-gonggong2 bersahutan Terpaksa Thian-hi mendekam di atas pojokan atap tanpa berani bergerak, seluruh gedung menjadi ribut dan ramai, tak lama kemudian baru kembali menjadi sunyi.

Sementara itu hati Thian-hi masih menerawang, entah tipu daya apa yang sedang direncanakan oleh kedua orang itu, dalam pada itu ringan sekali kakinya melangkah bagai terbang berlari menuju keistana raja.

Dari kejauhan tampak istana yang megah menjulang tinggi, tanpa terasa terbayang olehnya muka tuan putri yang sedih menangis, pelan-pelan ia menghela napas.

Begitu sampai diistana Thian-hi langsung kembali ke kamarnya.

Ternyata Ma Bong-hwi sedang menunggu disana.

Begitu melihat Thian-hi pulang segera Ma Bong-hwi memapak maju serta tanyanya.

"Lote, kau menyelidik ke gedung Siangkok bukan?"

Thian-hi tidak menduga hari sudah begitu malam namun Ma Bong-hwi masih berada di tempatnya, sebagai jawaban ia manggut-manggut saja "Lote,"

Kata Ma Bong-hwi.

"Bukan aku suka cerewet sebetulnya tindakanmu ini terlalu bahaya, di dalam gedung Tan-siangkok ada memelihara ratusan anjing2 galak, sekali jejakmu konangan. pasti kau bakal menghadapi banyak rintangan."

"Ucapan Toako memang benar-benar, malam2 Toako kemari entah ada urusan apa?"

"Bukan keperluanku adikku yang mengundang kau kesana, ada omongan yang perlu dikatakan kepada kau."

Berdetak jantung Thian-hi, Ma Gwat-sian mencari aku? Malah ada urusan lagi. kelihatannya urusan yang cukup genting! Thian-hi terlongong. Ma Bong-hwi mendesak.

"Marilah sekarang juga berangkat, dalam istana tiada pekerjaan penting, malam ini kau menginap dirumahku saja,"

Apa boleh buat Thian-hi segera ganti pakaian, setelah memberi pesan kepada anak buahnya bersama Ma Bong-hwi naik kuda terus berangkat.

Tiba dipintu gerbang kota, kebetulan bersua dengan Ing-ciangkun.

Begitu melihat mereka berdua Ing Si-kiat segera maju menyapa.

"Kiranya saudara Ma dan Tio-lote! Hendak kemana kalian?"

"Ternyata Ing-ciangkun, Ing-ciangkun selalu berdinas ronda sungguh tidak mengenal lelah, kami hendak pulang kerumah Ma-ciangkun."

"Tentu kalian punya urusan penting! Silakan!"

Segera ia perintahkan membuka pintu.

Cepat Thian-hi berdua mencohgklang kuda keluar.

Langsung mereKa menuju ke Bi-seng.

ditengah jalan Ma Bong-hwi menutur bahwa Siau-hou sangat kangen bertemu dengan Thian-hi.

Thian-hi tertawa senang, setelah sampai langsung mereka masuk keruang belakang.

Thian-hi segera menyampaikan salam kepada Ma-hujin serta, menjumpai Siau-hou.

Tak lama kemudian tampak Ma Gwat-sian juga keluar.

Setelah bercakap-cakap sekadarnya Ma Bong-hwi dan istrinya minta diri sambil menyeret Siau-hou masuk ke dalam.

Ma Gwat-sian unjuk senyuman manis, Thian-hi membalas dengan senyuman pula.

Kata Thian-hi.

"Kudengar katanya kau punya urusan dengan aku, apa benar-benar?"

"Benar-benar. mungkin bagi kau cukup penting, sebab guruku sudah tahu sebab musabab kau sembunyi dinegara kecil ini, tak lain untuk menghindari bencana bukan?"

Terkejut Thian-hi, berubah air mukanya, katanya tersekat.

"Gurumu...."

"Beberapa hari yang lalu guruku baru pulang dari perjalanannya ke Tionggoan, beliau rada kurang percaya akan sepak terjangmu dulu, beliau berkata kau bukan orang macam itu. Tetapi kenyataan kau sembunyi di tempat ini!' "Adakah orang lain pula yang mengetahui?"

"Kau tak usah gelisah."

Ujar Ma Gwat-sian.

"Hanya guruku dan aku saja yang tahu. Menurut guruku hanya ingin mencari tahu dulu, apakah berita itu dapat dipercaya."

Thian-hi mandah tertawa ewa, seolah-olah ia mendapat firasat apa-apa sampai pada tahap sekarang agaknya aku tidak usah pedulikan segala tetek bengek lagi. katanya.

"Adakah gurumu membicarakan keadaan di Tionggoan?"

Sekian lama Ma Gwat-sian pandang Thian-hi lalu katanya tertawa.

"Situasi di Tionggoan sangat kalut, katanya banyak gembong-gembong iblis bermunculan membuat huru hara.... Tiada seorang toKoh kosen dari aliran lurus yang mampu mengatasi gelombang huru hara ini."

Thian-hi manggut dengan maklum, tahu ia bahwa Kiu-yu-mo-lo sudah lolos, tentu dia bakal menimbulkan keonaran, entah apakah Tok-sim-sin-mo juga sudah berhasil lolos, kalau dihiturg waktunya, perjanjian Soat-san-su-gou dengan Bu-bing Loni bakal habis waktunya, entah apakah beliau bisa mencari dirinya di tempat ini.

"Apakah kau masih punya sanak kadang di Tionggoan?"

Demikian Ma Gwat-sian main selidik.

"Guruku masih hidup, aku punya seorang taci angkat, entah bagaimana keadaan mereka."

Ma Gwat-sian menunduk, sesaat kemudian bertanya.

"Orang lain adakah yang membuat hatimu rindu padanya?"

"Memang banyak orang di Tionggoan menyangka aku ini sesuai dengan berita yang tersebar luas itu, namun banyak pula orang-orang yang menanam budi kepada aku, selamanya hatiku terkenang dan berterima kasih kepada mereka."

Demikian Thian-hi berdiplomasi. Ma Gwat-sian tertawa, katanya.

"Thian-bi-kok ini selamanya melarang orang asing menyelundup kemari, memang orang luar tidak akan mampu datang kemari. Kalau kau diketahui datang dari Tionggoan pasti kau akan mengalami kesulitan."

"Terima kasih akan peringatanmu ini, aku pun terpaksa datang kemari...."

"Asal guruku tidak membuka rahasia ini. selamanya tidak akan ada orang tahu."

"Kukira tidak lama lagi aku harus meninggalkan tempat ini, kedatanganku ini tidak punya perhitungan untuk menetap selamanya disini."

Ma Gwat-sian rada melengak, katanya.

"Benar-benar kau hendak pergi?"

"Ya, aku tidak bisa menetap terlalu lama disini. Banyak urusan yang harus kukerjakan di Tionggoan, tak bisa aku menyembunyikan diri saja disini."

"Apa kau tidak takut? Apakah kau unggulan melawan mereka?"

"Seumpama tidak unggulan aku juga harus pulang ke sana."

"Kau tak usah kuatir,"

Ujar Ma Gwat-sian lirih.

"Aku bisa minta guruku bantu kau, asal beliau mau, kau tentu tak perlu kuatir lagi. Ketahuilah gunung gemunung di belakang Thian-seng yang bernama Thian-ting itu, banyak bersemajam orang-orang aneh, guruku adalah orang aneh diantara orang-orang aneh itu."

"Ada kalanya suatu urusan yang tidak bisa diselesaikan dengan bantuan orang luar, apalagi gurumu sekarang sedang menyelidiki keadaanku, betapapun tak mungkin membantu, untuk kebaikan ini, aku terima setulus hati."

"Sekarang kau tak usah gelisah, segalanya akulah yang mengatur, guruku tidak akan bertindak terhadap kau."

"Terima kasih akan kebaikanmu ini."

Ujar Thian-hi tertawa dibuat-buat.

"Tak perlu sungkan, bagaimana keadaanmu di istana?"

"Cukup baik!"

"Tadi pagi engkohku mengundang kau kemari, kenapa kau tak mau datang?"

"Aku baru saja terima jabatan, disana ada urusan pula maka tiada senggang kemari."

"Hun-toako,"

Ujar Ma Gwat-sian menunduk, suaranya lirih.

"Aku merasa....seolah-olah kau segan bertemu dengan aku!."

"Tak ada kejadian itu!"

Cepat Thian-hi menyahut gugup.

"Kau tak usah kelabui aku,"

Ujar Ma Gwat-sian lirih.

"aku sudah tahu! Tapi aku tidak tahu kenapa kau tak sudi bertemu dengan aku!"

"Mana ada kejadian begitu, hubungan kami seperti saudara sekandung, mana bisa aku tak sudi bertemu dengan kau!"

Ma Gwat-sian angkat kepaja mengawasi Thian-hi dengan seksama, katanya.

"Coba beritahu aku apakah karena urusan tuan putri, kemarin siang kau keluar pesiar bersama tuan putri, pulangnya air muka tuan putri rada berbeda dengan keadaan biasanya, hari ini kudengar kabar dia jatuh sakit lagi! Kenapa?"

Sungguh gugup dan gelisah hati Thian-hi, kata-kata Ma Gwat-sian memang tepat dan sulit untuk dielakkan, terpaksa ia menjawab.

"Tiada kenapa, di atas gunung kami berjumpa dengan dua ekor biruang yang tinggi besar, dia ketakutan tapi biruang itu berhasil kubunuh."

"Kukira bukan itu sebabnya, aku tahu watak tuan putri, tak mungkin karena gangguan kedua ekor biruang itu lantas menjadi murung, kedua ekor biruang itu tak perlu dibuat heran, semestinya dia perintahkan orang untuk mengangkutnya pulang serta memberikan pujian muluk2 kepada kau, tapi semua ini tak pernah terjadi."

"Tapi kami memang benar-benar disergap oleh kedua ekor biruang itu."

Thian-hi meng-ada2 membela diri.

"Jadi kau sudah mengakui bukan karena kedua ekor biruang itu sehingga tuan putri bersikap dingin dan murung. Pasti ada kejadian lain yang lebih penting lagi, kalau tidak tak mungkin dia begitu sedih sampai jatuh sakit!"

"Tuan putri adalah putri tunggal Baginda, kelak dialah yang bakal mewarisi kedudukan ayahnya, ada omongan yang tidak bisa ku utarakan."

"Beritahu kepadaku,"

Tiba-tiba Ma Gwat-sian menyela.

"Apakah dia. jatuh hati kepada kau?"

Bergetar tubuh Thian-hi, kepalanya terangkat ia mengamati Ma Gwat-sian, katanya.

"Kenapa kau bisa memikirkan ke arah itu?"

"Betul bukan?"

Ujar Ma Gwat-sian bangkit berdiri sambil tertawa-tawa.

"Kudengar dari engkohku katanya kau pernah bertemu dengan dia dalam istana, tentu sikapnya sangat simpatik terhadap kau. Kau jauh lebih kuat dan baik dibanding putra Tan-siangkok. Kau dapat menduduki jabatanmu sekarang sebagai Komandan Gi-lim-kun kukira dia punya andil yang cukup besar."

Thian-hi menjadi sebal, segera ia mengalihkan pembicaraan, katanya.

"Tadi baru saja aku menyelidiki ke gedung Tan-siangkok. Disana kulihat Ing-ciangkun sedang mengadakan perundingan rahasia."

","

Ma Gwat-sian mengiakan, katanya.

"Mereka sedang berunding cara bagaimana untuk menghadapi kalian bukan?"

"Akhirnya Tan-siangkok menulis entah apa di atas telapak tangannya, dia tidak membacakan, jadi akupun tidak tahu apa sebenar-benarnya rencana mereka." -lalu secara singkat jelas ia menceritakan pengalamannya kepada Ma Gwat-sian. Ma Gwat-sian berpikir, katanya.

"Kelihatannya mereka sudah mempersiapkan segalanya, menggunakan kekuatan tentara lagi untuk menghadapi kau dan engkohku. Tentu besok mereka akan mengadakan Hong-bun-yam (perjamuan) mengundang kalian berdua."

Thian-hi juga berpikir demikian, namun ia bertanya.

"Tapi kenapa menggunakan cara halus dan mempersiapkan kekuatan lagi?"

"Untuk perjamuan itu kukira mereka sudah mempersiapkan arak beracun, sepihak menggunakan tipu daya yang licik. dipihak lain sudah mempersiapkan bala tentara, bila rencana licik terbongkar mereka menggunaKan kekuatan pasukannya untuk menumpas kamu."

"Kiranya begitu!"

Ujar Thian-hi bingung.

"Tidak bisa tidak kalian harus hadir dalam perjamuan itu, kalau tidak pergi berarti kalian sudah secara terang-terangan berdiri dipihak yang berlawanan. Apa-lagi Ing-ciangkun juga pasti hadir, mungkin pula Toh-ciatsu juga diundang, kalau kalian pergi jangan sekali2 minum arak. Thian-hi manggut-manggut. katanya.

"Mereka menyiapkan tentara, cara bagaimana mengatasinya?"

"Urusan itu aku tidak tahu dan bukan bidangku, silakan kau tanya engkohku saja. Perjamuan besok malum itu sangat penting. merupakan titik tolak dari segala keselamatan negara, jangan sekali2 dihadapi secara serampangan. Selamanya engkohku anggap Ing Si-kiat sebagai sahabat lama, Ing Si-kiat tidak akan mencelakai jiwanya, tepat pada waktunya harap kau suka menjaga dan melindungi dia!"

"Sudah tentu aku akan berusaha sekuat tenaga dan kemampuanku betapapun aku pasti melindungi engkohmu,"

"Tuan putri jatuh sakit, bagaimana menurut maksudmu?"

Melihat Ma Gwat-sian menyinggung persoalan itu pula. Thian-hi tertawa, sahutnya.

"Mati atau hidup besok malam susah diketahui, kenapa membicarakan urusan itu!"

Ma Gwat-sian tersenyum, ujarnya.

"Sekarang sudah larut malam, pergilah tidur, besok kau harus menghadiri Hong-bun-yam itu!" -habis berkata segera ia mengundurkan diri. Thian-hi berdiri mengantar Ma Gwat-sian, setelah menyendiri terasa hatinya hambar entah berapa lama ia menjublek ditempatnya. mendadak terbayang raut wajah Ham Gwat, lalu terbayang pula akan Su Giok-lan, tak lama lagi teringatlah kepada Sutouw Ci-ko, demikian juga bentuk wajah Ka-yap Cuncia yang welas asih itu terbayang dalam benaknya. Kemana pula jejak Lam-siau Kongsun Hong sang guru berbudi berkelebat juga dalam otaknya. Tak lama kemudian didengarnya. langkah kaki mendekat, tampak Ma Bong-hwi mendatangi, Thian-hi tersentak dari lamunannya, kata Ma Bong-hwi tertawa.

"Tadi Gwat-sian sudah menjelaskan seluruhnya kepada aku sungguh aku hampir tak mau percaya!"

"Tiada jeleknya Toako percaya untuk kali ini. Jikalau Tan-siangkok benar-benar mengadakan Hong-bun-yam itu, bagaimana Toako hendak menghadapinya?"

"Mengandal Ing Si-kiat, aku tidak perlu takut, kekuatan pasukannya jauh lebih lemah dari aku. jikalau tidak pulang pada waktu yang ditentukan. diapun takkan bisa hidup lebih lama lagi!"

"Toako hendak menggunakan kekerasan atau cara halus?"

"Gwat-sian minta aku tidak membocorkan rahasia ini. selamanya aku patuh akan nasehatnya. Demikian juga untuk hal ini, kau sendiri bagaimana pendapatmu?"

"Jika berada dalam gedung Tan-siangkok, bila musuh kuat dan pihak kita lemah, tindakan yang utama adalah kita harus berdaya untuk meloloskan diri, setelah lolos baru kita pikirkan cara menghadapinya!"

Ma Bong-hwi tenggelam dalam pikirannya, katanya.

"Sedianya aku sudah siap menghantamnya untuk hancur bersama, sekarang aku menjadi beragu malah, rasanya tiada harganya hancur bersama mereka, apakah kau punya cara untuk meloloskan diri itu!"

"BUat kita tidak minum arak beracun mereka tidak akan mampu berbuat apa-apa atas diri kita. Kalau tepat pada waktunya kita belum keluar dari gedung Tan-siangkok, akan kuutus seseorang menggunakan perintah raja untuk menarik mundur kita berdua secara kilat. Bila mereka sedikit lena tentu akan terjebak ke dalam tipu daya ini."

"Ini merupakan salah satu cara. Lebih baik kita bekerja menurut gelagat!"

Begitulah setelah bercakap-cakap sekadarnya.

mereka masuk istirahat.

Thian-hi mulai berlatih dan samadi di dalam kamarnya.

Ka-yap Cuncia menyuruh aku kemari untuk terlatih Wi-thian-citciat-sek, sekarang tiga bulan sudah berselang, sedikit pun aku belum memperoleh hasil, Tionggoan sudah semakin kemelut, bagaimana aku bisa hidup tentram disini.

Lalu dikeluarkan buku pelajaran Wi-thian-citciat-sek, dengan seksama ia memeriksa dan meneliti meski pun dalam kamarnya.

petang gelap, namun gambar2 Wi-thian-cit-ciat-sek itu dapat dilihat dan dibacanya secara jelas, otaknya bekerja.

Tahu-tahu cuaca sudah mulai terang.

Pagi2 benar-benar Ma Bong-hwi sudah bangun, Thian-hi pun menyimpan Wi-thian-cit-cia-sek lalu berangkat ke Thian-seng.

Sebagai komandan Gi-lim-kun yang berkuasa di istana Thian-hi tidak perlu piket setiap pagi, setelah upacara berakhir.

Tan-siangkok melangkah masuk ke dalam kamar kerja Thian-hi sembari berseri tawa, katanya.

"Tio-ciangkun. Tio-ciangkun seorang panglima yang gagah perwira, merupakan panglima tinggi yang paling muda dan berani dalam sejarah Thian bi-kok kita, hari ini aku mengadakan perjamuan untuk merajakan pengangkatan Bu-wi Ciangkun, kuundang pula para pembesar istana. harap kau sendiri tidak menampik untuk hadir dalam perjamuan nanti malam."

Cepat Thian-hi menjawab.

"Siauciang baru saja berkedudukan di istana, Tan-siangkok begitu tinggi menghargai kami, sungguh kami tidak berani terima."

Sementara itu Ing Si-kiat juga ikut melangkah maju, katanya.

"Tio-lote merupakan tunas harapan bangsa kita, Tan-siangkok dan aku sering berdebat seru sampai kepala panas, namun betapapun kita merupakan satu rumpun, satu keluarga dalam satu negara. Malam nanti aku pun bersedia hadir, demikian juga Ma-ciangkun. sedang Toh-ciatsu menolak. maklum dia sudah tua dan berpenyakitan lagi. Banyak pula pembesar lain yang akan hadir semua. Harap Tio-ciangkun tidak menolak."

Thian-hi tahu, katanya.

"Para pembesar semua adalah angkatan yang lebih tua, kalau aku tidak hadir berarti aku tidak tahu penghargaan, baiklah nanti aku hadir, sebelumnya kunyatakan banyak terima kasih terlebih dulu kepada Tan-siangkok."

Tan-siangkok tertawa lebar, katanya.

"Tio-ciangkun merupakan tunas harapan kita semua, masih begitu muda sudah menjabat kedudukan begitu tinggi, kelak pasti punya harapan lebih tinggi dari kita semua. Tak usah sungkan-sungkan!"

Lalu dengan berseri tawa bersama Ing Si-kiat mengundurkan diri. Ma Bong-hwi lantas melangkah masuk, Thian-hi tersenyum penuh arti, kata Ma Bong-hwi.

"Sungguh tak nyana, ternyata seperti dugaan semula. Baik aku pulang dulu menyiapkan segala sesuatunya!"

Thian-hi mengantar Ma Bong-hwi sampai di ambang pintu, tak lama kemudian datang seorang Thaykam memberi lapor bahwa Baginda raja mengundangnya untuk bicara.

Diam-diam bergejolak hati Thian-hi, entah ada urusan apa Baginda mengundang dirinya, tersama Thaykam itu ia ikut masuk ke dalam istana.

Setelah menyembah kepada Baginda raja, tampak olehnya sang raja sedang murung dan bersedih.

katanya.

"Setelah pergi bersama kau tuan putri lantas jatuh sakit tanpa mau bicara, sebetulnya apa ang telah kalian alami?"

Bercekat hati Thian-hi, sesaat ia menjadi bingung, akhirrja menjawab.

"Mungkin hamba yang kurang becus menjaga tuan putri sehingga beliau ketakutan, kami disergap dua ekor biruang besar di atas gunung, mungkin saking takut itulah sehingga beliau jatuh sakit."

Baginda goyang2 tangan, ujarnya.

"Tidak mungkin, nyali tuan putri tidak sekecil seperti apa yang kau katakan, tak mungkin hanya karena urusan sekecil ini menjadi ketakutan dan sakit. Sejak kecil dia jarang sakit, menurut tabib katanya punya janggalan hati, itulah sakit rindu, sebetulnya apa yang telah kalian alami lagi?"

"Hamba tidak tahu sebetulnya tiada kejadian lain yang luar biasa."

Baginda menarik muka, katanya rada gusar.

"Apa! Kau tak mau bicara?"

"Apakah tuan putri sekarang sudah siuman?"

"Dia baik-baik saja, hanya tidak mau berkata atau bersuara, selalu terlongong-longong ngelamun, coba kau bicara terus terang, aku tidak akan salahkan kau."

"Apakah Baginda dapat mengijjnkan hamba bertemu dengan tuan putri?"

"Kau...."

Baginda melengak. Mendadak ia seperti tersadar, dengan seksama ia amat-amati Thian-hi, sesaat kemudian berkata.

"Berapa umurmu sekarang?"

"Hamba berusia dua puluh satu!"

"Apakah kau sudah punya calon jodoh?"

Tergetar jantung Thian-hi, setelah terlongong ia menjawab.

"Belum!"

Baginda manggut-manggut tak bicara lagi.

Thian-hi pun tidak bersuara lagi, hatinya menjadi gelisah, pertanyaan Baginda ini merupakan suatu pernyataan yang paling dikuatirkan untuk diterima.

Diam-diam ia berdoa semoga tuan putri dapat menyelami perasaannya.

"Sekarang aku tahu, kau boleh keluar. Urusan ini aku tidak salahkan kau."

Thian-hi menyembah lalu mundur, sungguh ia tidak bisa melukiskan bagaimana perasaan hatinya saat itu.

Baru saja cuaca menjadi gelap Tan-siangkok sudah mengirim utusan mengundangnya, sejak siang Thian-hi sudah berpesan seperlunya kepada anak buahnya, segera ia naik kuda terus berangkat bersama utusan itu.

Gedung Tan-siangkok dihias begitu indah dan megah, ramai luar biasa, ratusan pembesar2 militer dan sipil sudah hadir, ruang yang besar itu menjadi penuh sesak.

Tak lama kemudian Ma Bong-hwi juga sudah datang, banyak pembesar mengelilingi Thian-hi, Thian-hi menjadi keripuhan berbagai pertanyaan dan sanjung puji yang berkelebihan, kepala menjadi pusing, namun dengan tersenyum sedapat mungkin ia layani mereka.

Tan-siangkok menyeruak orang-orang yang merubung itu terus mendekati Thian-hi, katanya.

"Kedatangan Tio-ciangkun sungguh merupakan suatu kehormatan bagi aku orang tua ini."

"Demi permintaan Siangkok Tayjin, mana Siau-ciang berani tidak hadir. Siangkok Tayjin mengadakan perjamuan bagi diriku, sungguh membuat aku malu dan terima kasih, budi kebaikan Siangkok ini sungguh sulit aku membalasnya."

Tan-siangkok bergelak tawa, ujarnya.

"Tio-ciang-kun masih muda ganteng lagi, setiap orang akan kagum dan memujimu, kalau punya gadis perawan sungguh ingin rasanya kau kuambil mantu."

Seluruh hadirin ikut bergelak tawa akan kelakar ini, Thian-hi sendiri menjadi kikuk, diam-diam hatinya rada dongkol.

Tak lupa Tan-siangkok pun sekedar basa basi dengan Ma Bong-hwi, akhirnya mereka dipersilahkan duduk di kursi teratas.

Tan-siangkok sendiri duduk di sebelah kanan Thian-hi, di sebelah yang lain duduk Ma Bong-hwi.

Setelah seluruh hadirin menempati tempat duduknya masing-masing, tampak serombongan gadis2 aju membawa poci arak dan cawan berbondong-bondong tersebar ke seluruh ruangan menyuguhkan hidangan pertama.

Segera Thian-hi berdiri dan berkata kepada Tan-siangkok.

"Siangkok, maaf aku tidak bisa minum arak!"

Tan-siangkok lekas bangun berdiri pula, katanya.

"Kenapa Tio-tiiangkun begitu sungkan, apakah sengaja hendak membuat aku serba runyam!"

"Sebetulnyalah aku pernah berjanji di hadapan ibunda sebelum beliau ajal, selamanya tidak akan minum arak."

Begitulah Thian-hi kemukakan alasannya. Tan-siangkok menjadi kewalahan, matanya melirik ke arah Ing Si-kiat, segera Ing Si-kiat bangun serta bertanya kepada Thian-hi.

"Waktu ibundamu wafat entah berapa umur Tiociangkun?"

Thian-hi merandek, jawabnya.

"Kira-kira empat belas tahun!"

"Nah tatkala itu Tio-ciangkun masih bocah kecil, sudah tentu ibunda Tiong-ciangkun melarang minum arak, sekarang Tio-ciangkun naik pangkat mendirikan pahala, usia sudah dewasa!"

"Tapi ibundaku...."

"Bagaimana kalau Baginda yang menganugrahi secawan arak?"

Tanya Ing Si-kiat mendesak.

Thian-hi menjadi bungkam, sebetulnya sengaja ia mengada2 menggunakan pesan ibunya untuk menolak, tapi pertanyaan Ing Si-kia+ ini membuatnya serba sulit, tidak bisa tidak ia harus minum, sesaat ia bingung dan berdiri terlongong.

Lekas Ma Bong-hwi bangkit serta menalangi.

ujarnya.

"Tan-siangkok, Ing-ciangkun sudahlah kenapa begitu bersitegang leher. Apalagi aku dan Tio-lote sudah melulusi permintaan adikku untuk tidak minum arak."

Sesaat Ing Si-kiat tampak melongo, katanya.

"Kenapa? Apa Ma-ciangkun juga tidak sudi minum arak?"

"Pesan adikku tidak bisa tidak harus kupatuhi. Bukankah Ing-ciangkun juga tahu hal ini."

Apa boleh buat Ing Si-kiat menyeringai sinis.

Selamanya Ma Bong-hwi sangat mematuhi setiap patah kata adiknya memang sudah diketahuinya dengan jelas.

Sekarang Ma Bong-hwi bicara secara gamblang, diapun menjadi kewalahan.

Melihat gelagat yang tidak menguntungkan ini, segera Tan-siangkok berkata.

"Kenapa Maciangkun tidak sudi minum arakku, apakah curiga dan merasa sirik terhadapku?"

"Ah, Siangkok berkelakar saja!"

"Biasanya aku tak senang mengurus segala urusan tetek bengek dalam keluarga, sehingga putra anjingku itu suka bersimaharaja di luaran. Tapi hari ini secara langsung biarlah aku mohon maaf sebesar2nya kepada Ma ciangkun di hadapan sekian orang-orang gagah, apakah Maciangkun masih tidak sudi mencicipi arakku?"

Melihat orang sudah naik pitam Ma Bong-hwi mandah tersenyum saja, ujarnya.

"Mana aku membenci dan sirik terhadap Siangkok, soalnya aku terpaksa."

Tan-siangkok memberi isyarat dengan kedipan mata, seorang gadis pelayan segera menuang arak, tanpa banyak cincong lagi Tan-siangkok segera menyamber cawan arak di hadapan Thian-hi dan Ma Bong-hwi terus ditenggak habis.

Para pembesar militer atau sipil lainnya beramai ikut angkat cawan dan tenggak habis arak masing-masing.

Tan-siangkok suruh kedua gadis pelayan yang lain menuang lagi dua cawan arak dipersembahkan kepada Thian-hi dan Ma Bong-hwi.

Melihat tingkah laku Tan-siangkok ini semakin besar curiga Ma Bong-hwi, timbul kewaspadaannya, namun dalam hati ia berpikir.

'mungkin Thianhi dan adikku yang banyak curiga, belum lagi mereka jelas duduk perkaranya, mana mereka tahu bahwa arak ini mengandung racun!

Sebaliknya bagi pandangan Thian-hi kelakuan Tan-siangkok itu malah mempertegas akan keyakinannya atas kelicikan orang.

Untuk dirinya tiada halangan ia minum arak itu, karena Lwekangnya jauh mencukupi untuk menolak segala racun, tapi bagaimana dangan Ma Bong-hwi, bila dia ikut minum bukan berarti aku pun menyelakai jiwanya?' Tan-siangkok tertawa lebar katanya sambil angkat cawan.

"Para hadirin sekalian, marilah kita minum menyampaikan selamat kepada Tio-ciangkun." -lalu ia angsurkan cawannya ke depan Hun Thian-hi. Thian-hi pun angkat sebelah tangan, katanya.

"Terima kasih akan kebaikan Tan-siangkok, baiklah dengan tangan kosong ini kuterima pemberian arak ini."

Seperti orang menenggak arak tangannya terangkat ke depan mulutnya lalu mendongak.

Melihat Thian-hi dan Ma Bong-hwi mengukuh tidak mau minum arak, Tan-siangkok dan Ing Sikiat saling pandang sebentar.

Dengan sebuah lirikan beringas Tan-siangkok memberi isyarat, kedua gadis pelayan itu segera digusur ke belakang.

Bertaut alis Thian-hi, tak tahu ia apa yang akan diperbuat atas kedua gadis pelayan itu.

Tapi dalam hati ia berkata; 'akan kulihat bagaimana kau akan bertingkah, betapapun hari ini aku pantang minum setitik arak pun.' Tak lama kemudian dua laki-laki menyanggah dua nampan perak maju menghadap ke hadapan Tan-siangkok, di atas nampan perak itu jelas terletak dua kepala kedua gadis pelayan tadi.

Saking terperanjat Thian-hi sampai berjingkrak bangun.

Tan-siangkok berkata.

"Kedua pelayan tidak becus tadi sudah kubunuh dan sekarang kupersembahkan kepada kalian!"

Ma Bong-hwi juga berubah pucat air mukanya. Dari samping suara Ing-ciangkun berkata lantang.

"Tan-siangkok terlalu banyak minum!"

Dengan mengunjuk senyum lebar, Tan-siangkok menggapai dua pelayan lain yang membawa poci dan cawan pula.

Bab 17 Terkejut hati Thian-hi, kelihatan tangan kedua gadis pelayan itu gemetar dan ketakutan, begitu dekat salah seorang menuang arak di depan Thian-hi serta berkata bergidik.

"Tio-cjangkun! Silakan minum arak!"

Karena takut dan gemetar arak banyak tumpah di atas meja.

Tan-siangkok mandah tersenyum manis, matanya melirik congkak menyapu pandang ke sekelilingnya.

Dua laki-laki berseragam hijau segera maju menyeret gadis itu, cepat gadis itu berlutut di hadapan Thian-hi serta meratap.

"Tio-ciangkun, tolonglah jiwaku!"

"Nanti dulu!"

Thian-hi berjingkrak bangun. matanya menyapu ke seluruh hadirin. Sikap Tan-siangkok acuh tak acuh, duduk dengan angkernya. Keruan bukan kepalang gusar Thian-hi. Serunya.

"Siangkok Tayjin, apakah boleh pandang mukaku, ampuni jiwanya?"

Tan-siangkok tertawa, katanya.

"Apakah Tio-ciangkun benar-benar tidak mau memberi muka?"

Pandangan Hun Thian-hi menyapu keadaan sekelilingnya. Ing Si-kiat segera bangkit seraya berkata.

"Sungguh Tio-ciangkun membuat Tan-siangkok serta runyam dan kena malu!"

Dilihat oleh Thian-hi air muka Ma Bong-hwi yang geram, seperti tidak tahan sabar lagi, dengan lirikan matanya ia mencegah orang berbuat gegabah, lalu katanya tersenyum kepada Tansiangkok.

"Kalau Siangkok memaksa terpaksa tak dapat kutolak lagi, namun Ma-ciangkun terang tak bisa minum, biarlah aku yang mewakili saja, bagaimana menurut pendapat Siangkok?"

Baru saja Tan-siangkok hendak bicara, Ing Si-kiat keburu mendahului, katanya.

"Begitupun baik, ucapan adik perempuan Ma-ciangkun seolah-olah lebih tinggi dari perintah raja bagi dia, maka Tan-siangko kpun tak perlu memaksanya lagi."

Sekaligus Thian-hi tenggak habis dua cawan arak, begitu masuk perut terasa perutnya seperti dibakar, terang itulah arak beracun yang sangat jahat, heran dia kenapa tadi Tan-siangkok bisa minum, mungkinkah mereka sudah minum obat pemunah sebelumnya.

Melihat sikap Thian-hi yang masih berdiri tegak tanpa bergeming dengan gagah, diam-diam terkejut hati Ing Si-kiat dan Tan-siangkok, serta merta mereka saling berpandangan.

Menurut perhitungan Ing Si-kiat dia terlalu tinggi menilai ilmu silat Hun Thian-hi, melihat orang rela mewakili Ma Bong-hwi minum arak, dalam hati ia membatin; hanya meringkus Thian-hi seorangpun bolehlah, soal Ma Bong-hwi gampang saja dihadapi dengan pasukan pendam yang sudah dipersiapkan diluar.

Siapa kira setelah Hun Thian-hi minum arak itu sedikitpun ia tidak kurang suatu apa.

Keruan kejut dan gentar hatinya, mungkinkan arak beracun itu tidak mujarab lagi khasiatnya?

Bergegas Tan-siangkok berdiri minta diri ke belakang untuk tukar pakaian, karena gemetar Ing Si-kiat berlaku kurang hati-hati tangannya menyenggol jatuh sebuah cawan arak.

Ma Bong-hwi melonjak bangun sambil meraba pedangnya, dia siap menghadapi segala kemungkinan.

Tapi kenyataan keadaan tetap tenang tiada terjadi apa-apa.

Dengan tajam matanya menyelidik ke empat penjuru, akhirnya berhenti di muka Ing Si-kiat, katanya tertawa tawar.

"Ing-ciangkun menjatuhkan cawan membuat aku kaget!"

Sudah tentu Ing Si-kiat yang paling kaget dan pucat mukanya, bagaimana mungkin pasukan sebanyak lima ratus orang yang telah dipersiapkan diluar itu satupun tiada yang muncul, apakah telah terjadi sesuatu di luar dugaan?"

Dasar licik, sebentar saja dia dapat mengendalikan perasaannya, dengan tersenyum simpul ia berkata.

"Minumku juga terlalu banyak, sebuah cawan saja sampai tak kuasa kupegang."

Ma Bong-hwi mandah tertawa ejek, hatinyapun heran dan bertanya-tanya, kenapa suasana masih demikian tenang, sampai dimana tingkat kepandaian ilmu silat Ing Si-kiat ia tahu jelas, takkan mungkin sebuah cawan saja tak kuasa memegangnya, apalagi arak yang diminumnya tidak banyak, tak mungkin kena mabuk, tapi kenyataan pasukan terpendam itupun tidak muncul.

Begitulah hatinya bertanya-tanya, dia pun heran apakah arak yang diminum itu beracun?

Tansiangkok sendiri tidak kurang suatu apa, demikian juga Hun Than-hi tetap segar bugar, sungguh hatinya bingung dan tak mengerti.

Demikian juga hati Thian-hi dirundung rasa heran yang sama, kenapa pasukan pendam yang dipersiapkan itu tidak muncul menyerbu.

Tengah ia bertanya-tanya dalam hati, tampak seseorang pengawal yang mengenakan seragam Busu serba merah muncul langsung menghadap ke depan Thian-hi.

"Lapor komandan, sekarang juga Baginda raja ingin bertemu dengan Komandan dan Maciangkun, diperintahkan untuk segera menghadap!"

Thian-hi bersama Ma Bong-hwi lantas berdiri, katanya kepada Ing Si-kiat.

"Perintah Baginda memanggil, terpaksa kami tak bisa tinggal lebih lanjut, harap Ing-ciangkun mewakili kami mohon diri kepada Tan-siangkok."

Habis berkata angkat tangan menjura lalu melangkah lebar keluar, dengan hambar dan terlongong Ing Si-kiat berdiri di tempatnya, sesaat lamanya mulutnya terbungkam tak kuasa bicara....

Bagaimana ia harus bertindak selanjutnya, mau menahan orang terang dirinya tidak mampu, kalau membiarkan mereka berdua pulang, bak umpama membiarkan harimau kembali kesarangnya.

Kejadian hari ini betapa pun harus dirahasiakan.

Bila besok pagi waktu piket dihadapan Baginda Ma Bong-hwi membeber intrik kejahatan ini, Tan-siangkok sendiripun takkan terhindar dari bencana....

Begitulah waktu ia mendongak lagi, Thian-hi berdua sudah pergi jauh, tersipu-sipu ia memburu keluar dan memeriksa ke empat penjuru, tampak olehnya kelima ratus tentara pendamnya yang bersenjata lengkap itu semua rebah di tanah, sebagai seorang ahli silat sekali pandang saja lantas dia tahu duduk perkaranya, ternyata seluruh pasukan pendamnya telah tertutuk jalan darah penidurnya, keruan kejut dan murka pula hatinya, darimana datangnya tokoh kosen yang telah menggagalkan rencananya, merobohkan lima ratus pasukan pendamnya tanpa mengeluarkan sedikit suarapun, sungguh lihay dan tinggi kepandaian tokoh silat itu.

Sekonyong-konyong tersentak sanubarinya, pikirnya mungkinkah semua ini hasil berpuatan Buwi Ciangkun Tio Gun itu?

Sekujur badannya menjadi basah oleh keringat dingin, arak beracun dipandangnya minuman nikmat yang menyegarkan badan, betapa tinggi lwekangnya sungguh tak berani dibayangkan.

Semakin pikir Ing Si-kiat menjadi semakin takut, mengandal ilmu silat Hun Thian-hi yang begitu menakjupkan itu, bila mau memenggal kepala mereka rasanya segampang mengambil barang di dalam kantong bajunya sendiri.

Sementara itu, begitu keluar dari gedung Tan-siangkok langsung Thian-hi berdua naik kuda terus dibedal ke depan cepat-cepat, setelah di perjalanan, Thian-hi ulapkan tangan, lari kuda diperlambat, segera ia kerahkan tenaga mendesak arak beracun itu keluar dari perutnya.

Begitu arak itu menyemprot di tanah, rumput sekitarnya yang kecipratan arak itu kontan menjadi kuning terbakar.

Diam-diam bercekat hati Ma Bong-hwi, begitu jahat arak beracun ini, namun lebih kagum lagi akan kekuatan Thian-hi yang bisa bertahan lama mengendom arak beracun dalam perutnya.

Setelah mengeluarkan arak beracun, badan Thian-hi terasa lemas dan kesal, batinnya; jahat benar-benar arak beracun ini.

Melihat keadaan temannya itu Ma Bong-hwi segera berkata.

"Lote, lebih baik malam ini kau menginap dirumahku saja!"

Thian-hi tertawa-tawa, katanya.

"Badanku masih cukup kuat, mungkin Baginda ada urusan dengan aku, aku harus berada di tempat tugasku."

Begitulah akhirnya mereka berpisah ditengah jalan, Thian-hi langsung pulang keistana.

Dalam hati selalu ia heran dan bertanya-tanya kenapa pasukan pendam Ing Si-kiat tidak muncul.

Begitu memasuki kamarnya, tampak di atas mejanya terletak secarik kertas.

dimana tertulis.

"Besok tengah malam, bertemu dipuncak Thian-ting datanglah dan jangan membangkang!" -surat ini tidak dibubuhi tanda tangan, hanya tergambar sepasang pedang. Berkerut alis Thian-hi. pikirnya, aku belum ada kenalan di tempat ini, darimana orang ini bisa mengundang aku untuk bertemu muka, tanda sepasang pedang ini entah apa pula maksudnya, mungkin merupakan julukan seseorang. Begitulan hati Thian-hi menjadi gundah, mau pergi atau tidak. kalau orang itu bisa keluar masuk dalam istana dan meninggalkan secarik kertas ini di atas meja, ilmu silatnya tentu tidak lemah, tapi apa tujuannya dia mengundang aku? Tengah Thian-hi terpekur, seorang Gi-lim-kun beranjak masuk, lapornya.

"Baginda minta Tiociangkun segera menghadap diistana!"

Thian-hi rada melengak, sembari menyimpan kertas itu ia mengiakan terus melangkah tersipusipu menuju keistana raja. Setelah Thian-hi melakukan sembah sujudnya segera Baginda berkata kepadanya.

"Apa kau tahu cara bagaimana sehingga kau dapat memangku jabatan Komandan Gi-lim-kun ini."

Berdetak jantung Thian-hi, sahutnya.

"Sebetulnya hamba masih banyak kekurangan, semua itu berkat budi dan anugrah Baginda raja."

Baginda menggeleng pelan-pelan, ujarnya.

"Tidak! Menurut maksudku semula hendak kuangkat kau sebagai wakil Ma Bong-hwi, namun tuan putri sangat simpatik terhadap kau, katanya jabatan komandan Gi-lim-kun masih kosong, kaulah yang paling cocok mendudukinya!"

Thian-hi bungkam, Ma Gwat-sian ternyata menebak betul. Kiranya memang maksud hati tuan putri yang mencalonkan dirinya pada kedudukan sekarang ini. Dengan lesu Baginda menghela napas, katanya.

"Apa kau tahu kenapa aku tidak mengusut lebih lanjut perkara hilangnya benda-benda mestika itu?"

"Hamba tidak tahu!"

"Begitu melihat situasi dan keadaan selama ini lantas aku maklum, tujuan orang itu bukan melulu mencuri barang-barang mestika itu, para pembesar dalam lingkungan istana saling berebutan pegang kuasa, aku menjadi pusing dan tak mau urus mereka lagi!" -Selesai bicara, ia menunduk dengan lemas lunglai. hatinya tampak sangat sedih dan murung. Sungguh haru dan tergugah perasaan Thian-hi, Baginda raja ini kiranya bukanlah raja lalim yang begitu ceroboh seperti dugaan mereka semula. Bagi seorang raja, ternyata setiap hari setiap saat dirundung kerisauan hati yang memuncak. Memang kalau dia mengusut perkara ini labjh lanjut, pasti selurah negara bakal terjadi keonaran besar. Terdengar Baginda berkata lagi.

"Tuan putri adalah anakku satu-satunya, aku mengharap dia baik, tanpa dia mau bilang akupun tahu perasaannya. Selamanya dia pasti dapat memperoleh barang apa saja yang diinginkan, ternyata sekarang dia tidak sudi mendesak dan memaksa pada kau, aku sendiri aku pun tidak akan paksa kau. kalau mungkin saja, kuharap kau tidak menyianyiakan harapannya yang suci."

Thian-hi tunduk semakin dalam tanpa buka suara. Setelah menghela napas. Baginda berkata pula.

"Cara bicaraku ini tiada perbedaan antara raja atau pembesar lagi, aku bicara sebagai orang tuanya!"

"Baginda,"

Kata Thian-hi sambil angkat kepala.

"Apakah kau tahu asal usulku?"

Dengan seksama Baginda pandang mata Thian-hi. katanya.

"Aku sendiri kurang jelas, tapi aku tahu bahwa kau adik angkat Ma Bong-hwi, dan yang terpenting aku percaya penuh kepada kau!"

"Nama asliku bukan Tio Gun, yang benar-benar aku bernama Hun Thian-hi, aku juga bukan rakjat dari Thian-bi-kok ini, aku menyelundup datang dari Tionggoan."

Terkejut Baginda.

"Apa?"

Serunya berjingkrak bangun. Thian-hi menunduk lagi, sahutnya.

"Aku tahu akibat apa setelah aku menjelaskan asal usulku, tapi sekarang aku terpaksa harus bicara terus terang. tak lama lagi aku harus kembali ke Tionggoan."

Baginda pandang Thian-hi lekat-lekat, sesaat lamanya bungkam dan duduk kembali, katanya.

"Kau cukup jujur. Bagi orang yang menyelundup ke Thian-bi-kok ini hukumannya adalah penggal kepala, betapa pun tinggi kepandaian silatmu, puncak Thian-ting sana tidak kurang tokoh-tokoh kosen yang mampu meringkus kau. Rahasia ini hanya aku saja yang tahu, jangan kau katakan kepada orang lain!"

"Terima kasih akan budi dan keluhuran Baginda!"

"Dikala kita bersemajam bersama, aku tidak mau kau bicara begitu rupa, aku simpatik akan sikapmu yang perwira dan pambekmu yang tinggi. Kuduga tuan putri pasti ketarik juga akan sifat2mu ini!"

Thian-hi tidak bicara, dalam hati ia sangat bersyukur akan kemurahan hati Baginda. Sejenak merandek, Baginda meneruskan.

"Sebelum kau pulang meninggalkan kami, apakah kau sudi tetap tinggal di istana saja?"

"Dengan senang hati hamba akan tetap tinggal dan menunaikan tugas sekuat tenaga."

"Apa kau mau bertemu dengan tuan putri?"

Thian-hi sangsi sebentar, akhirnya manggut-manggut.

Baginda segera bangkit membawa Thian-hi masuk ke istana keputrian.

waktu mereka memasuki sebuah kamar tidur yang besar, para dayang segera menyingkir minggir serta memberi sembah hormat.

Di tengah sebelah pojok dinding sana terletak sebuah ranjang, disanalah tuan putri rebah, wajahnya kelihatan pucat dan rada kurus, kedua biji matanya terpejam, kelihatannya sedang tidur nyenyak.

Baginda menghela napas ringan, ujarnya.

"Dia tidur nyenyak, mari kembali keluar saja!"

Mendadak tuan putri membuka biji matanya, sekilas pandang dilihatnya Thian-hi berada di situ dengan kaget tersipu-sipu ia berusaha bangun duduk dengan sikut menahan badannya, kedua matanya terbelalak besar, serunya.

"Kau...."

Cepat Thian-hi membungkuk memberi hormat, sapanya.

"Tio Gun memberi hormat pada tuan putri, semoga tuan putri lekas sembuh dan sehat walafiat!"

Baginda bergegas maju mendekat, sekian lama tuan putri terlongong memandangi Thian-hi, akhirnya dengan rasa hambar ia lepaskan topangan tangannya, badannya rebah lagi dengan lesu.

Thian-hi menunduk, diam-diam dalam hatinya ia mencercah diri sendiri.

"Apakah harus aku kemari menemui dia? Tetapi tinggal di istana belum tentu lantas benar-benar, pengalaman yang kuhadapi di Thian-bi-kok ini sungguh belum pernah terbayangkan sebelumnya."

Sementara itu Baginda sudah dipinggir ranjang, tuan putri masih terlongong bungkam, Baginda menjadi rawan dan menghela napas, ujarnya.

"Ih-ji....jangan kau membuat aku bersedih hati!"

Kelopak mata tuan putri mengembeng air mata, sesaat kemudian baru bersuara dengan sesenggukkan.

"Hanya hatiku saja yang rasanya kurang enak, sebentar saja tentu sudah baik, aku tidak apa-apa, ayah tidak perlu bersedih!"

"Dia memang benar-benar, tak lama lagi dia akan segera kembali ke Tionggoan, untuk kau dia kurang cocok!"

Tuan putri termangu-mangu, sesaat lamanya baru tersenyum dan berkata.

"Aku tidak akan salahkan dia!"

Dengan mengembeng air mata Baginda manggut-manggut, katanya.

"Aku hanya punya seorang putri, kau tahu aku tidak bisa kehilangan kau!"

Thian-hi tahu dirinya tidak enak tinggal terlalu lama di tempat itu, secara diam-diam ia mundur keluar terus kembali ke tempatnya sendiri.

Dalam hati ia berpikir Wi-thian-cit-ciat-sek belum lagi sempurna, bagaimana juga aku jangan menyia-nyiakan waktu untuk berlatih, maka malam itu semalam suntuk ia tekun dan lebih giat mempelajari Wi-thian-cit-cit-sek.

Hari kedua setelah selesai piket Ma Bong-hwi datang, Thian-hi lantas bertanya soal tanda sepasang pedang itu merupakan julukan siapa?

Dengan heran Ma Bong-hwi berkata.

"Apa Thian-bi-siang-kiam juga tidak kau kenal?"

Melihat sikap Ma Bong-hwi ini bercekat hati Thian-hi, mungkin Thian-bi-siang-kiam itu merupakan tokoh aneh yang berkepandaian sangat tinggi, namun sediki tpun aku tidak tahu, jangan sampai aku memperlihatkan kebodohanku ini.

Maka segera ia menjawab tak acuh.

"Selamanya aku tidak tahu akan seluk beluk hal ini!"

Ma Bong-hwi mengawasinya dengan pandangan tidak percaya, serunya.

"Apa! Jadi mereka mencari dirimu?"

Thian-hi mandah tertawa-tawa tanpa bersuara lagi.

"Ini bukan soal main-main, mereka berdua mengasingkan diri di Thian-ting, kecuali urusan yang sangat besar selamanya mereka segan turut campur menguruS segala tetek bengek, bila benar-benar mereka mencari kau, jelas kau bakal menemui kesulitan, bila urusan baik itulah tak menjadi soal, kalau urusan buruk, kukuatir...."

"Tiada apa-apa, aku hanya bertanya sambil lalu saja,"

Tukas Thian-hi. Ma Bong-hwi tidak percaya, katanya.

"Dalam istana tiada tugas yang penting, mari kau ikut pulang ke rumahku, hanya adikku saja yang rasanya dapat mengorek keteranganmu, terhadap aku agaknya kau tidak sudi bicara blak2-an!"

Thian-hi menampik dengan alasan, namun Ma Bong-hwi memaksa dan menariknya keluar, apa boleh buat terpaksa Thian-hi ikut pergi.

Setelah sampai di rumahnya Ma Bong-hwi suruh Thian-hi duduk menunggu di ruang tamu, tersipu-sipu ia masuk memanggil Ma Gwat-sian, tak lama kemudian tampak mereka keluar sambil bicara.

Melihat Ma Gwat-sian keluar Thian-hi lantas bangkit dan menyapa.

"Toa-moaycu, kau baik?"

Ma Gwat-sian tersenyum, katanya sambil duduk.

"Apakah Thian-bi-siang-kiam mencari kau?"

Dengan kikuk Thian-hi manggut-manggut, seolah-olah dihadapan Ma Gwat-sian sedikit pun ia tidak berani membual, daya pikir dan analisa Ma Gwat-sian membuat dia sulit untuk bohong di hadapannya.

Ma Gwat-sian tertawa geli, Ma Bong-hwi segera menyeletuk.

"Nah apa aku bilang? Setiap kali kau bertemu dia seperti tikus melihat kucing!"

Benak Thian-hi dan Ma Gwat-sian bergetar bersama, sekilas mereka saling beradu pandang, otaknya lantas membayangkan pikiran sendiri, tanpa bersuara. Akhirnya Ma Gwat-sian tertawa, katanya.

"Menurut dugaanku mungkin karena kedua biruang itulah sebabnya!"

"Biruang?"

"Apakah yang sedang kalian perbincangkan, apa boleh dijelaskan kepada aku?"

Ma Bong-hwi menukas.

"Soal ini tak ada sangkut paut dengan kau, maka kaupun tidak perlu banyak tanya!"

Sahut Ma Gwat-sian. Ma Bong-hwi menghela napas, ujarnya.

"Begitulah aku yang menjadi engkoh ini, setiap urusan selalu harus dengar ucapan adik! Baiklah aku menyingkir saja supaya tidak mengganggu keasjikan kalian bicara!"

Ia bangkit terus tinggal pergi sambil tertawa lebar. Merah jengah selebar muka Ma Gwat-sian, katanya tersenyum manis.

"Sebagai seorang pejabat tinggi engkohku bicara terlalu bebas!"

Thian-hi juga tertawa, katanya.

"Mungkin sekedar kelakarnya saja untuk menyenangkan hati belaka!"

Sejenak mereka berdiam diri, lalu Ma Gwat-sian berkata.

"Apakah benar-benar kau gunakan tenaga dalam untuk memukul mati kedua biruang itu!"

Thian-hi manggut-manggut.

Tatkala itu dia sudah punya pikiran bila hal ini diketahui orang lain pasti bakal menimbulkan buntut perkara yang menyulitkan dirinya, sayang waktu itu dia tidak memendam saja kedua ekor biruang itu, sekarang menyesalpun sudah kasep.

Kata Ma Gwat-sian.

"Thian-bi-siang-kiam pasti sudah tahu bahwa orang yang membunuh kedua ekor biruang itu tentu kau adanya. Lwekang mereka sangat tinggi, mungkin kau bukan tandingan mereka. Tapi sebagai Bu-wi Ciangkun tentu mereka tidak berani berlaku kasar terhadapmu, yang penting hanya mencari tahu asal usul perguruanmu saja."

Thian-hi tenggelam dalam pikirannya, tanyanya.

"Orang macam apakah sebenar-benarnya Thian-bi-siang-kiam itu?"

"Kalau kau tidak tahu bila ketemu mereka mungkin lantas dapat diketahui asal usulmu, bahwa kau bukan warga Thian-bi-kok asli, dalam wilajah Thian-bi-kok ini tua muda laki perempuan tiada seorang pun yang tidak kenal akan kebesaran nama Thian-bi-siang-kiam!"

Bercekat hati Thian-hi; 'untung hari ini aku kemari, kalau tidak kesulitan bakal lebih besar kuhadapi!' Setelah merandek Ma Gwat-sian melanjutkan.

"Mereka bernama Giok-hou-sian dan Pek-bi-siu. Sepuluh tahun yang lalu, dari Tionggoan ada serombongan gembong-gembong iblis yang menyelundup kemari segera mereka yang tampil ke depan membunuh seluruh gembong-gembong iblis itu. Maka seluruh rakjak Thian-bi-kok tiada yang tidak kenal ketenaran mereka."

Thian-hi lantas membatin.

"Thian-bi-siang-kiam ini pasti bertangan gapah dan kejam, yang jelas ilmu silat mereka pasti sangat lihay!"

Sekian lamanya mereka tenggelam lagi ke alam pikiran masing-masing, akhirnya Ma Gwat-sian menunduk serta bicara kalem.

"Hun-toako, apakah benar-benar kau rada takut terhadapku seperti yang dikatakan oleh engkohku itu? Terhadap urusan orang lain aku dapat meraba dan memberikan pandanganku, namun serta menghadapi urusan yang melibatkan diriku sendiri, hatiku menjadi bingung dan kehilangan akal sehatku!"

Thian-hi tertawa, katanya.

"Sebetulnya aku sangat kagum pada kau, kau benar-benar seorang cerdik pandai!"

"Kata Ma Gwat-sian.

"Guruku sudah pergi lagi, entah kapan beliau baru akan pulang. Bila beliau ada disini, mungkin aku bisa minta pertolongannya. Bolek dikatakan guruku merupakan tokoh paling aneh di seluruh negeri kecil ini, ada beliau yang tampil ke depan, urusan sebesar gunungpun akan dibikin beres segampang membalikkan tangan."

Thian-hi tertawa seraya menyatakan terima kasih, katanya.

"Ini menyangkut urusanku sendiri tak enak kalau gurumu ikut campur, apalagi gurumu sedang pergi, mungkin sedang menyelidiki persoalanku di Tionggoan!"

Ma Gwat-sian mengawasi Thian-hi lekat-lekat, katanya.

"Guruku menyuruh aku jangan terlalu dekat dengan kau, katanya waktu berada di Tionggoan kau dijuluki Leng-bin-mo-sin, sedang kau sendiri kau memang berwatak tinggi hati ya bukan?"

"Benar-benar,"

Thian-hi mengakui.

"Dikala gurumu pulang, saat itulah bencana bakal menimpa diriku. Sebelum kemari guruku pemah berpesan supaya aku tidak menunjukkan ilmu silatku, atau sebaliknya aku bakal ketimpa bahaya besar!"

"Kalau begitu jadi gurumu juga seorang tokoh aneh yang tinggi kepandaiannya, apalagi cara bagaimana beliau bisa mengetahui adanya tempat terasing ini?"

Thian-hi geleng-geleng kepala sembari tertawa tanpa buka suara.

"Ketahuilah guruku seorang yang cukup bijaksana dan mengenal aturan, bila kau tidak melakukan perbuatan yang tercela kau tidak perlu takut terhaday beliau, dia tidak akan sembarangan turun tangan tanpa alasan, apalagi....apalagi aku bisa mohon pengampunan pada beliau."

"Aku sendiri tidak merasa takut, sudah sering aku kebentur urusan yang menyulitkan diriku, aku sendiri juga bisa mengakui akan julukan Leng-bin-mo-sin itu, julukan ini memang cukup menakutkan bukan?"

Ma Gwat-sian termangu-mangu, agak lama kemudian mendadak bertanya.

"Hun-toako, apa kau sudi beritahu lebih banyak tentang dirimu kepada aku?"

Thian-hi beragu sesaat lamanya, ujarnya.

"Sekarang aku belum bisa bicara, bila kukatakan seakan-akan memberi bahan kepada kau untuk minta pengampunan terhadap gurumu, lebih baik setelah gurumu memberitahu kepada kau baru akan kujelaskan, begitu lebih jelas lebih baik!"

"Selalu aku merasa sikapmu terlalu congkak, apa kau merasa akan hal ini?"

"Selamanya aku pantang meminta2 kepada orang lain, pernah aku mengalami pahit getir yang mengenaskan, toh aku tidak pernah mendapat simpatik dan belas kasihan orang lain!" -teringat olehnya peristiwa di Giok-bun-koan dimana dia berhadapan secara langsung dengan Situa Pelita, yang dia minta dan pengampunan bukan untuk dirinya, tapi demi hidup Sutouw Ci-ko, saudari angkatnya itu! "Aku tahu akan watakmu ini! Cara bagaimana kau akan menghadapi Thian-bi-siang-kiam nanti malam?"

"Aku sendiri belum tahu apa tujuan mereka mencari aku, mana bisa aku ambil kepastian?"

"Watak mereka juga sangat takabur dan tinggi hati, kecuali guruku selamanya tidak mau tunduk pada orang lain, mereka tentu akan menanyakan perguruanmu, dan kau tentu sulit untuk menerangkan. Urusan ini tentu sulit diselesaikan secara damai."

"Kalau begitu aku menjadi tak berminat untuk kesana!"

"Kau harus pergi, kalau tidak mereka tentu akan mencari kau. Dengan kehadiranmu disana malah mempelihatkan jiwa ksatriamu, kau bisa membawa sikapmu yang sombong tapi jangan keterlaluan, atau mereka tidak akan memberi angin kepada kau, jiwa mereka rada sempit!"

"Terima Kasih akan nasehatmu ini, tiba pada waktunya tentu akan berbuat seperti apa yang kau katakan!"

"Aku pernah dengar kau mengajar meniup seruling kepada Siau-hou, tiupan seruling yang merdu itupun pernah kudengar juga, namun kau belum pernah mempelajari intisari keindahan seninya. Bila kau mempelajari Tay-seng-ci-lau segala persoalan tentu bisa dibereskan."

Thian-hi tertawa-tawa tanpa bersuara. Ma Gwat-sian melanjutkan.

"Guruku pantang pandangan subjektif, kesan beliau akan sepak terjangmu selama berada di Thian-bi-kok ini sangat baik, namun soal urusanmu di Tionggoan rada kurang dapat menerimanya, bila kesannya terhadapmu baik mungkin beliau bisa menurunkan ilmu Tay-seng-ci-lau kepada kau, pada waktu itu kau akan menjadi seorang tokoh tanpa tandingan di seluruh jagad!"

"Beliau belum lagi pulang, dari mana kau bisa tahu? Jangan kecewa dan berputus asa!"

"Bahwasanya kau sendiri juga paham akan persoalan inj, kenapa kau ngapusi dirimu?"

Kecut perasaan Ma Gwat-sian, dengan mendelu ia menundukkan kepala.

Sebetulnya dia sendiri tahu akibat apa yang bakal terjadi, namun sungguh aneh dan heran kenapa selalu ia berpikiranke arah yang baik, menurut anggapannya Hun Thian-hi pasti bisa merubah haluan dari sesat menuju kejalan benar-benar, sehingga dia mau sembunyi di tempat ini.

Bila gurunya pulang dan mengetahui liku2 hidupnya tentu Hun Thian-hi bakal mendapat hukuman yang setimpal apakah adil sikap dan keputusan demikian ini?

Lama dan lama sekali Ma Gwat-sian menepekur.

tiada memperoleh jawaban cara bagaimana ia harus membantu Hun Thian-hi, kecuali ia turunkan ilmu Tay-seng-ci-lau kepadanya, tapi dia tidak berani, karena bila dia mengajarkan ilmu hebat itu akan membuat gurunya lebih murka lagi, mungkin Hun Thian-hi akan menerima akibat yang lebih berat.

Entah berapa lama mereka berdiam diri, tenggelam dalam alam pikiran masing-masing.

Tahutahu Ma Bong-hwi berjalan mendatangi.

serunya.

"Kalian sudah selesai bicara belum?"

Hun Thian-hi tersipu-sipu bangun, Ma Siau-hou memburu kehadapannya, serunya.

"Guru! Jangan kau pulang keistana lagi, lebih baik tinggal dirumahku saja, ajarkan aku meniup seruling!"

"Siau-hou sendiri bisa belajar! Aku tiada tempo lagi, kelak bila ada waktu pelan-pelan kuajarkan kepada kau!"

"Siau-hou selalu terkenang pada kau, tahu bahwa kau pun pandai main silat, diapun ingin berguru kepadamu!"

Demikian ujar Ma Bong-hwi.

"Guru,"

Seru Ma Siau-hou mendongak.

"Kapan kau tinggal lagi dirumah kami?"

Hun Thian-hi tertawa, sulit untuk memberi jawaban.

"Siau-hou,"

Kata Ma Bong-hwi.

"Gurumu sangat repot. lekas kau masuk membantu ibumu!"

Siau-hou menarik tangan Thian-hi dan tak mau pergi, sesaat ia celingukan memandang Ma Gwat-sian, lalu katanya nakal.

"Aku tahu!"

"Bocah kecil Kau tahu apa?"

Tanya Ma Bong-hwi. Ma Siau-hou berlari masuk, serunya.

"Ajah berkata pada ibu katanya pak guru sedang berkencan dengan Bibi. mungkin pak guru hendak menikah dengan bibi. setelah menikah tentu pindah tinggal disini!"

Keruan merah malu muka Ma Gwat-sian, demikian juga Thjan-hi menjadi kikuk dan geli.

Ma Bong-hwi segera membentak dan suruh anaknya pergi.

Ma Gwat-sian lantas minta diri kembali ke kamarnya.

Thian-hi juga minta diri kepada Ma Bonghwi.

Setiap kali ia selalu mendapatkan Thian-hi bicara dengan Gwat-sian di belakang orang lain, diam-diam ia girang hatinya, pikirnya.

'kelak Thian-hi pasti bakal menjadi iparku.' Cuaca sudah gelap, dengan tetap mengenakan pakaian seragam kebesaran Thian-hi naik kuda terus dicongklang menuju ke Thian-ting.

Sepanjang jalan hatinya menerawang cara untuk menghadapi mereka, supaya urusan ini tidak berlarut dan membawa akibat yang buruk, terpikir pula olehnya bahwa sebelum guru Ma Gwat-sian pulang ia harus sudah menyelesaikan pelajaran Wi-thian-cit-ciat-sek, seumpama terjadi sesuatu diluar dugaan, dengan mudah ia bisa tinggal pergi dengan cepat.

Tak lama kemudian ia sudah tiba dipegunungan Thian-ting.

langsung ia bedal kudanya manjat ke atas, alam pegunungan gelap gulita, pekik burung malam sebangsa kokok-beluk saling bersahutan membuat suasana sunyi di pegunungan bertambah seram.

Jalan pegunungan semakin lelak lekuk, akhirnya kudanya tak kuasa lagi berjalan, terpaksa Thian-hi tinggalkan kudanya, meski pun latihan Lwekang Thian-hi belum mencapai puncak kesempurnaan, namun boleh dikata sudah cukup ampuh dan hebat.

Segera ia empos semangat dan menarik napas, cukup mengerahkan lima bagian tenaganya.

tubuhnya lantas meluncur naik laksana roket menembus angkasa, ringan sekali setiap kakinya menutul tanah badannya lantas mumbul pesat kepuncak gunung.

Setiba dipuncak tertinggi keadaan hening lelap, tiada kelihatan bayangan seorang pun, angin malam di atas pegunungan mengbembus kencang menderu dipinggir telinga, namun sebagai seorang ahli silat yang berkepandaian tinggi sedikitpun Thian-hi tidak terganggu oleh keadaan alam yang ribut ini.

Tak lama ia menanti sambil celingak-celinguk tampak di bawah sana dua titik putih kecii sedang meluncur mendatangi dengan pesat.

Tahu dia itulah Thian-bi-siang-kiam.

Sejap lain Thian-bisiang-kiam sudah hinggap di pucak gunung.

Sambil tersenyum lebar Thian-hi awasi mereka satu persatu.

Kelihatan kedua pendatang ini orang-orang yang berpakaian aneh dan sudah lanjut usia, yang satu rambut dan jenggotnya sudah ubanan namun seorang yang lain rada lucu, rambut dan jenggotnya ternyata tetap menghitam, punggung mereka memanggul pedang panjang, sekali pandang saja lantas dapat diketahui yang berambut ubanan itulah Pek-bi-siu dan seorang lain sudah tentu Giok-hou-sian adanya.

Sementara itu dengan seksama mereka berdua juga tengah mengamati Thian-hi, segera Thianhi maju selangkah serta menjura, sapanya.

"Wanpwe Tio Gun, sesuai dengan Undangan kedua Cianpwe kemari, entah ada petunjuk apakah para Cianpwe?"

Pek-bi-siu tertawa, katanya.

"Hanya ketarik dan heran saja kita mengundang Tio-ciangkun kemari, ada beberapa omongan ingin kami tanyakan kepada Tio-ciangkun."

Giok-hou-sian menimbrung bicara.

"Dalam Thian-bi-kok mendadak muncul seorang tokoh kosen yang lihay, kami merasa sangat heran dan kejut, maka kami merasa ketarik!"

"Sebetulnyalah Wanpwe bukan seorang kosen apa segala, ilmu silat aku hanya belajar secara sambil lalu dan cakar kucing belaka, bila Cianpwe berdua begitu memuji, sungguh Wanpwe merasa sangat malu!"

Demikian Thian-hi merendah. Pek-bi-siu tertawa lebar, kelihatannya ia simpatik akan sikap Thian-hi yang merendah diri dan tahu tata kehormatan, katanya.

"Tio-ciangkun, setelah melihat biruang yang kau bunuh dengan pukulanmu itu, meskipun harus kau tambahi dengan sebuah tusukan pedang lagi, namun Lwekangmu yang hebat itu sungguh jarang kami lihat selama ini. Entahlah apakah Tio-ciangkun sudi beritahu kepada kami siapakah gurumu yang mulia?"

Thian-hi tersenyum, sahutnya.

"Sebetulnya tusukan pedangku itulah yang tepat mengenai sasarannya, tiada yang perlu dibanggakan."' Melihat Thian-hi bicara menyimpang tidak mau menyinggung gurunya, Giok-hou-sian tidak sabar dan mendesak.

"Siapakah sebenar-benarnya guru Tio-ciangkun...."

","

Thian-hi seperti tersentak sadar, sahutnya.

"Pelajaranku ini kuperoleh dari sebuah buku saja!"

"Jadi Tio-ciangkun belajar sendiri?"

Tanya Pek bi-siu menegas.

Sudah tentu Thian-hi tak leluasa menyebut nama gurunya Lam-siau atau menyinggung kebesaran Ka-yap Cuncia terpaksa ia manggut-manggut membenar-benarkan.

Terangkat alis Giok-hou-sian, tampak mukanya merengut berang, katanya.

"Dinilai dari usiamu mungkinkah kau belajar sendiri dapat memperoleh tingkat kepandaian yang begitu tinggi?"

"Secara kebetulan aku memperoleh rejeki, aku pernah memakan Kiu-thian-cu-ko!"

Thian-bi-siang-kiam saling pandang, tanya Pek-bi-siu.

"Di tempat mana kau dapat?"

Thian-hi beragu sesaat lamanya, tahu dia bahwa jawaban kali ini tidak boleh ngelantur. sambil tertawa ia berkata.

"Apakah Cianpwe berdua harus mengetahui?"

Pek-bi-siu mendengus, jengeknya.

"Di dalam wilajah Thian-bi-kok ini, bila di tempat mana ada tumbuh buah ajaib seperti yang kau katakan itu, masa ada keserapatan giliranmu?"

Bercekat hati Thian-hi, namun lahirnya tetap tenang dan tersenyum simpul, katanya.

"Dengan alasan apa Cianpwe berdua berani begitu yakin? Rejeki yang berjodoh tiada punya sangkut paut dengan tinggi rendah kepandaian seseorang!"

Diam-diam curiga dan sangsi pula hati Pek-bi-siu dan Giok-hou-sian, namun dalam batin mereka mengakui akan kebenar-benaran kata-kata Thian-hi ini. Kata Giok-hou-sian.

"Soalnya kau main sembunyi2, tak berani bicara terang-terangan supaya diketahui oleh kami berdua?"

"Soalnya kenapa pula aku harus beritahu kepada kalian?"

Demikian Thian-hi tak mau kalah debat.

"Selamanya aku belum saling kenal dengan kalian, kalian pun baru saja tahu adanya seseorang macam aku ini, apakah seseorang yang punya sekedar kepandaian silat harus kalian periksa dan diselidiki asal usulnya?"

Giok-hou-sian menjadi murka oleh debat Thian-hi yang beralasan itu. dengan menggeram ia melangkah setindak, jengeknya.

"Tajam benar-benar mulutmu, kami mengajukan pertanyaan, selamanya tiada seorang pun yang berani tidak menjawab!"

Thian-hi pura-pura melengak dan angkat pundak keheranan, serunya.

"Kalian adalah tokoh kosen dari aliran lurus bukan? Kenapa berkata demikian, aku tiada punya permusuhan atau sakit hati dengan kalian, kenapa pula aku harus menjawab setiap pertanyaan kalian?"

"Sahabat kecil,"

Pek-bi-siu cukup licin, ia mengubah sikap dan merubah suasana yang semakin tegang ini.

"Maksudmu bila ada permusuhan atau ada hutang budi baru boleh mengajukan tanya jawab?"

Thian-hi melenggong, tak tahu ia apakah Pek-bi-siu ada permusuhan atau pernah menanam budi terhadap dirinya, dalam hati bertanya-tanya, namun lahirnya tetap bersenyum, jawabnya.

"Boleh dikata begitulah!"

"Kami Thian-bi-siang-kiam tiada sebab takkan mengajukan pertanyaan kepada kau, sebelum ini kamipun pernah sekedar membantu kau mengerjakan urusan kecil saja. Ketahuilah lima ratus pasukan pendam digedung Siangkok yang bersenjata lengkap itu, semua berhasjl kami tutuk jalan darah penidurnya. Anggaplah perbuatan kami ini sebagai budi kecil belaka!" -habis berkata Pek bi-siu tertawa lantang. seolah-olah ia sangat bangga akan buah karyanya itu, bahwa sebenarbenarnyalah Thian-hi harus mengetahiii bahwa Thian-bi-siang-kiam bukan golongan tingkat rendah yang boleh diajak main-main. Baru sekarang Thian-hi sadar.

"Kiranya adalah perbuatan kalian"

"Bagi kami kejadian itu tidak perlu dibanggakan. tapi sekarang kau boleh menjawab pertanyaan kami bukan?"

Demikian desak Pek-bi-siu.

"Kiranya Cianpwe berdualah yang turun tangan.

"Kemaren aku heran kenapa pasukan pendam itu seperti mati kutu, kalau begitu aku harus ucapkan banyak terima kasih pada kalian!"

"Kami sudah menerimanya dan tidak perlu disinggung lagi,"

Kata Pek-bi-siu.

"yang penting kau harus menjawab pertanyaan yang kuajukan tadi."

Thian-hi tahu kalau dirinya menjelaskan urusan bakal semakin runyam, Thian-bi-siang-kiam sudah puluhan tahun menetap di Thian-bi-kok, tempat mana saja yang tidak diketahui oleh mereka, maka katanya.

"Seharusnya aku menjelaskan. Soalnya aku pernah berjanji kepada seseorang supaya tidak membocorkan rahasia tempat itu, harap Cianpwe berdua maklum dan memberi maaf!"

Giok-hou-sian mendengus, jengeknya.

"Jelas kau hanya membual belaka! Menurut aku asalusulmu kurang jelas, mungkin kau datang dari Tionggoan, betul tidak?"

Bercekat hati Thian-hi, sahutnya tertawa.

"Cianpwe main menuduh karena aku tidak sudi menjelaskan dimana aku menemukan buah ajaib itu?"

Giok-hou-sian semakin berang, sebaliknya Pek-bi-siu tertawa, katanya.

"Kalau begitu cobalah kau sebutkan nama orang yang melarang padamu itu!"

"Aku tidak tahu siapa namanya, diapun tak mau menerangkan padaku!"

"Usiamu masih muda, tapi berani membual hendak menipu kami berdua,"

Demikian jengek Giok-hou-sian.

"masa ada urusan begitu gampang, dia yang kasihkan kau atau kau sendiri yang memperoleh buah ajaib itu?" . Jelas kelihatan oleh Thian-hi bahwa Pek-bi-siu dan Giok-hou-sian ini masing-masing berwajah warna merah dan putih, karena diberondong oleh pertanyaan terus ia menjadi jengkel, sahutnya dingin.

"Apakah Cianpwe berdua anggap pernah menanam budi lantas mendesakku sedemikian rupa? Kenapa sikap kalian begitu kasar dan kurang terhormat? "

Pek-bi-siu merengut membesi, katanya kereng.

"Soalnya karena asal usulmu yang tidak jelas jangan kau sangka ilmu silatmu sudah lihay, usiamu masih begitu muda berani memandang rendah orang lain!"

"Jika kalian tiada urusan lain lagi, maaf, aku mohon diri saja, tugas di istana menjadi bebanku, tidak bisa aku meninggalkan dinas terlalu lama!"

Tiba-tiba Giok-hou-sian terloroh-loroh dingin panjang, serunya.

"Baru hari ini aku melihat ada seseorang berani bersikap begitu kurang ajar terhadap kami, ingin aku melihat betapa lihay bocah macammu yang belajar sendiri tanpa bimbingan guru ini!"

"Cianpwe tidak berhasil memeras dan mengorek keterangan, lantas hendak menggunakan kekerasan adu kepandaian?"

"Sungguh besar nyalimu, tapi dengan sikapmu yang jumawa terhadap angkatan tua, sudah seharusnya kami berdua mengajar adat terhadapmu, tapi kau tak perlu takut. kami tidak akan mengeroyok kau seorang!"

Mendengar orang hendak menghajar adat pada dirinya, Thian-hi insaf bahwa hari ini sulit terhindar bentrok, betapapun sanubari Thian-hi tidak mau turun tangan, terutama ia tidak suka memperlihatkan ilmu silat aslinya.

Dengan tertawa tawar ia berkata.

"Satu lawan satu boleh! Satu lawan dua pun tidak menjadi halangan."

"Bocah sombong!"

Teriak Giok-hou-sian menyeringai dingin.

"bila kami tidak menghajar adat padamu, kau tidak akan tahu betapa tingginya langit dan tebalnya bumi, mari aku saja yang menjajal kepandaianmu, dalam dua puluh jurus bila kau tidak terkalahkan. pasti kami berdua tidak akan mempersulit lagi kepada kau!"

Girang hati Thian-hi, memang kata-kata inilah yang hendak dipancingnya dari mereka, serunya tertawa besar.

"Sikap dan pembawaan yang gagah ini sungguh tidak malu kalian diangkat menjadi Thian-bi-siang-kiam!"

Lalu pelan-pelan ia melolos pedang serta katanya lagi.

"Mari silakan Cianpwe mulai dulu!"

Walaupun Giok-hou-sian tahu bahwa dirinya sudah tertipu oleh pancingan Thian-hi, serta melihat tantangan Thian-hi yang mengumpak itu, hatinya menjadi girang juga.

Pelan-pelan iapun mengeluarkan pedangnya, katanya.

"Mari kau saja yang mulai serang!"

Thian-hi angkat kedua tangannya sedikit menjura lalu dari kejauhan menyodokkan pedangnya ke depan lalu ditariknya kembali dan berdiri tegak tak bergerak lagi.

Melihat Hun Thian-hi tidak sudi diberi hati dan tidak mau mengalah jengkel hati Giok-hou-sian, tanpa banyak cingcong lagi, tahu-tahu pedangnya melesat miring, segulung angin pedang yang menderu tajam kontan menerpa ke arah Thian-hi.

Diam-diam Thian-hi sudah ambil keputusan, ia tidak mau banyak urusan lagi, asal dirinya sudah menyambut dua puluh jurus serangan musuh berarti urusan dapat selesai begitu saja.

Maka pedang panjangnya terangkat naik sedikit dengan jurus Tam-lian-hun-in-hap ujung pedangnya memapak maju, begitu permainan pedangnya dikembangkan, segulung bayangan pedang yang kelabu memutih berkembang melebar di sekitar tubuhnya, membendung serangan pedang Giokhou-sian.

Tujuan serangan Giok-hou-sian .

ini adalah hendak menjajaki sampai dimana Lwekang Hun Thian-hi, serta serangan pedangnya dilancarkan, tahu-tahu kekuatan tusukan pedangnya ternyata sirna dan amblas di tengah jalan, hakikatnya dia gagal menjajaki betapa tinggi atau rendah Lwekang Thian-hi, sekali lagi pedang terputar membuat sebuah bundaran melancarkan tipu Hohgsa-liu-co (pasir angin mengalir), kontan berkembanglah gugusan bayangan pedang yang kemilau merangsak dari berbagai penjuru menyerang kepada Thian-hi.

Melihat jurus serangan Giok-hou-sian yang aneh dan lihay ini, terkejut hati Thian-hi, serta merta hatinya sedikit gentar, demikian juga permainan jurus pedangnya menjadi merandek dan sedikit lamban, bahwasanya sejak mulai ia tidak kerahkan seluruh Lwekangnya, begitu kedua pedang masing-masing saling bentrok, kontan ia tergetar mundur dua langkah.

Mendapat hasil Giok-hou-sian tidak memberi hati, kaki melangkah maju pedang bergerak pula melancarkan serangannya yang lebih gencar.

Kali ini Thian-hi lancarkan jurus lain dari Gin-ho-samsek yaitu Gelombang perak mengalun berderai, bayangan sinar pedangnya sekokoh gunung tegak memunahkan seluruh rangsekan Giok-hou-sian yang hebat itu.

Penjagaan Thian-hi begitu rapat begitu kokoh kuat, sedikitpun Giok-hou-sian tidak bisa lihat atau menyelami jurus permainan apa yang digunakan oleh Thian-hi, demikian juga ia merasa jurus permainan pedang Thian hi sangat aneh, tanpa terasa ia berseru memuji.

"Kepandaian yang hebat!"

Pedangnya bergerak dan menyerang lagi lebih sengit.

Menurut perkiraannya semula, sejurus ia dapat menjebol bendungan lawan jurus-jurus selanjutnya pasti gampang mengocar-kacirkan pertahanan lawan, tak nyana perubaban permainan Thian-hi ternyata begitu cepat dan cekatan.

meskipun rangsekannya cukup cepat, namun sekarang tidak mampu lagi mendesak mundur Thian-hi meski hanya setengah tindak saja.

Sekejap saja sepuluh jurus telah lewat.

Sungguh kejut dan gusar pula hati Giok-hou-sian, selama ini Thian-hi melulu gunakan kedua jurus permainannya itu saja.

sehingga serangannya yang lihay dan hebat itu selalu kandas ditengah jalan.

Semula ia beranggapan betapa tinggi kedudukan Thian-bi-siang-kiam dan betapa tenar namanya di Thian-bi-kok, menghadapi bocah macam Hun Thian-hi ini meskipun dengan perjanjian dua puluh jurus, rasanya sudah berkelebihan dan sudah menurunkan derajatnya sendiri, maka selama puluhan jurus ini ia tidak mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuannya.

Separo dari perjanjian sudah dilewati, serangannya selalu kandas pula ditengah jalan, bila tidak kerahkan segala kemampuan lagi, mungkin dirinya bakal terjungal ditangan seorang bocah muda yang dianggap masih berbau pupuk ini.

Karena kekuatiran hatinya inilah serta merta kerahkan Lwekang di atas batang pedangnya.

Diiringi dengan kegesitan gerak tubuhnya yang lincah, pedang panjangnya berkelebat melayang seperti bianglala kelap-kelip, kemilau sinar pedangnya berputar terbang mengelilingi Thian-hi dengan rangsekan membadai.

Kontan Thian-hi rasakan empat penjuru sekelilingnya bertamhah gencetan tenaga yang besar sekali, karena kuatir dapat dilihat dan diketahui seluk beluknya Thian-hi tidak berani kerahkan kekuatannya, namun ia insaf bila dirinya tidak menyambut serangan musuh, mau tidak mau, akhirnya dirinya mesti terdesak untuk mengerahkan Lwekangnya.

Sebat sekali ia mengegos miring, kakinya menjejak tanah tubuhnya lantas melayang naik keudara, dengan menukik turun inilah ujung pedangnya menutul kebawah dengan jurus Hun-liong-pian-yu salah satu jurus terlihay dari Thian-liong-cit-sek, yang diarah adalah ubun-ubunnya kepala Giok-hou-sian.

Melihat Thian-hi mulai lancarkan serangan balasan Giok-hou-sian lebih waspada dan bersikap hati-hati, tanpa berani ayal sedikitpun ia kerahkan seluruh kekuatannya untuk melawan serangan musuh.

Ujung pedangnya teracung tinggi lalu berputar membabat dan membacok serabutan, Sejak mula pertempuran Thian-hi tidak mau kerahkan Lwekangnya, sudah tentu dia punya perhitungan permainan pedangnya.

melihat rangsekan balasan lawan pedangnya diputar turun naik merabu dengan berbagai tipu serangan gertak sambel saja, sedikit mengancam musuh terus ditarik pulang kembali tanpa benar-benar hendak melukai lawan.

Giok-hou-sian gusar mencak-mencak, lima enam belas jurus sudah berlalu, sedemikian jauh ia masih belum berhasil menjajaki sampai dimana tinggi atau rendah Lwekang Hun Thian-hi.

Tibatiba ia bersuit nyaring panjang, pedangnya berubah memainkan jurus Hou-tiong-jit-gwat, Serangan pedang ini dilancarkan dengan penuh variasi yang menakjubkan, dikata satu jurus sebetulnya mengandung perubahan yang tidak terhitung banyaknya, bayangan pedang seperti sebuah poci pendek bundar saja menungkup ke atas kepala Thian-hi.

Melihat itu bukan kepalang kaget Giok-hou-sian, serentak secara reflek ia lancarkan tiga jurus kembangan berantai untuk merintangi luncuran serangan balasan Thian-hi itu.

Namun ia tidak berhasil menahan terjangan musuh.

Dua puluh jurus pun tepat telah berakhir.

Dilain saat Hun Thian-hi sudah jumpalitan hinggap di tanah, segera ia rangkap tangan serta menjura, katanya.

"Atas kemurahan hati Cianpwe. Wanpwe sudah menandingi dua puluh jurus!"

Betapa pedih dan pilu hati Giok-hou-sian, anggapannya semula sepuluh jurus saja Thian-hi tidak akan mampu bertahan, tapi sekarang dua puluh jurus mampu ditandingi, malah dirinya sendiri yang terdesak dipihak yang runyam.

tanpa merasa ia goyang2 tangan dengan rawan.

Kun Thian-hi menjadi girang, sangkanya urusan sudah selesai sampai disitu saja, baru saja ia niat tinggal pergi, tiba-tiba Pek-bi-siu membentak.

"Nanti dulu!" -dengan kejut dan heran Thianhi berpaling memandang Pek-bi-siu. Kata Pek-bi-siu tertawa sinis.

"Dimulut kau berkata sungkan, namun sepak terjang dan tingkah lakumu sangat takabur, kau memakai seragam militer, mengenakan mantel panjang lagi, dan yang lebih menjengkelkan kau tidak mau terima kebaikan orang lain!"

"Jadi maksudmu hendak menahan aku lagi?"

Demikian batin Thian-hi, namun lahirnya ia berkata.

"Cianpwe! Sebetulnya Wanpwe terpaksa, kalau tidak mengenakan seragam ini, mana aku bisa pulang masuk kota!"

Pek-bi-siu menyeringai, ujarnya.

"Itu bukan soal, yang jelas kulihat aliran silatmu dari Tionggoan, untuk hal ini kau harus memberi keterangan sejelasnya, ketahuilah selamanya Thianbi-kok tidak akan membiarkan orang Tionggoan menyelundup kemari!"

Bercekat hati Thian-hi, namun lahirnya tetap tenang, sahutnya.

"Kalau Cianpwe menuduh demikian aku pun tidak bisa main debat, tapi ingin aku tanya, uraiannya ilmu silat tiada perbedaan dengan garis yang tegas, entah apa yang disebut aliran Tionggoan atau golongan Thian-bi"

"Permainanmu ada beberapa jurus yang aneh, ada beberapa jurus pula seperti pernah kulihat entah dimana, tapi yang pasti bahwa dalam wilajah Thian-bi-kok tidak ada jurus permainan silat seperti itu."

Demikian jengek Pek-bi-siu dingin.

Dalam pada itu Giok-hou-sian tengah menjublek, kelihatannya iapun dibuat keheranan, meskipun mereka melarang orang-orang Tionggoan kemari, tapi dulu sering mereka ke Tionggoan.

Diapun merasa walau pun permainan silat Thian-hi rada aneh, samar-samar seperti pernah dilihatnya.

"Bagaimana! Kau datang dari Tionggoan bukan?"

Desak Pek-bi-siu. Belum lagi Thian-hi menjawab, mendadak Giok-hou-sian berseru keras.

"Tadi waktu kau balas menyerang aku apa namanya jurus itu?"

Berdetak jantung Thian-hi, jurus itu adalah Han-liong-pian-yu, Ilmu Thian-liong-cit-sek memang hebat, tidak sedikit kaum Kangouw yang pernah melihat dan tahu akan kehebatannya.

Dari nada seruan Giok-hou-sian ini kelihatan memang dia pernah menyaksikan ilmu ini.

Sejenak ia merandek lalu jawabnya.

"Jurus kesebelasankah yang kau maksudkan?"

Mendadak Giok-hou-sian berkata lagi.

"Dulu pernah aku melihat ada orang menggunakan jurus permainanmu ini!"

Thian-hi tertawa geli, ujarnya.

"Permainan silat yang sama di seluruh dunia ini tidak terhitung banyaknya, jurus permainanku itu belum rampung seluruhnya, masa kau tahu apa betul jurus yang kau maksudkan tadi?"

"Siapapun yang datang dari Tionggoan harus diberantas lenyap!"

Seru Pek-bi-siu.

"Sebelum kami jelas duduknya perkara, bila kau mengaku terus terang, kami akan beri jalan hidup padamu, paling-paling hanya larang kau pamerkan ilmu silatmu selamanya menetap di Thian-bi-kok. Tapi setelah dapat kami selidiki jelas, kematianlah jalan yang harus kau tempuh."

Sudah tentu Thian-hi tidak sudi pilih satu diantara kedua cara yang ditunjuk ini, ia gelenggeleng kepala katanya.

"Aku tidak mau main debat dan bertengkar dengan Cianpwe berdua. Kenyataan aku sudah bertahan sebanyak dua puluh jurus sesuai dengan janji kalian sendiri aku harus pulang, apakah Cianpwe berdua hendak menjilat ludah sendiri?"

Melihat sikap Thian-hi begitu tenang, namun kata-katanya selalu menghindari pertanyaan langsung Pek-bi-siu menjadi dongkol, katanya mendengus.

"Kuanjurkan bicaralah terus terang!"

Selama ini memang Thian-hi sengaja men-cari2 alasan, tapipun tidak berani membual secara langsung. katanya tertawa.

"Silakan kalian menyelidiki saja, sekarang mungkin Baginda sedang mencari aku, aku harus cepat pulang."

"Pek-bi!"

Tiba-tiba Giok-hou-sian berteriak.

"Pernahkah kau dengar Thian-liong-cit-sek dari Tionggoan?" -dengan seringai sinis ia tatap tajam muka Thian-hi. Bercekat hati Thian-hi, bila orang tahu akan nama Thian-liong-cit-sek, terang mereka bisa tahu akan nama-nama jurus permainannya tadi. Pek-bi-siu manggut-manggut, sahutnya.

"Ya, sekarang aku ingat lagi!"

Dengan lekat Giok-hou-sian awasi Thian-hi, katanya pelan.

"Kiranya kau sealiran dengan Lamsiau, apakah kau tidak mau mengaku?" -seringainya lebih seram. Thian-hi tersenyum, sahutnya.

"Kapan Cianpwe pernah dengar nama Lam-siau?"

Giok-hou-sian menggerung gusar, serunya.

"Lam-siau Kongsun Thoan! Apakah dia ayahmu?"

Mendengar nama Kongsun Thoan, itulah nama Sucou Thian-hi, atau ayah Kongsun Hong, Thian-hi tertawa, sahutnya.

"Selamanya Thian-liong-cit-sek tidak diturunkan kepada orang luar!"

"Apakah nama Tio Gun itu bukan nama aslimu?"

Desak Giok-hou-sian. Belum lagi Thian-hi membuka mulut, Pek-bi-siu bergelak tawa panjang, katanya.

"Darimana bisa kau tahu sedemikian banyak, urusan Bulim di Tionggoan ada berapa banyak orang di Thianbi-kok ini yang mengetahui? Thian-liong-cit-sek tidak diturunkan orang luar, baru sekarang aku tahu dari mulutmu, dari mana kau bisa tahu begitu jelas? Apakah kau masih tidak berani mengaku bahwa kau datang dari Tionggoan?"

Sampai disini mendadak mereka mencelat berpencar kekanan kiri mengepung Thian-hi dari depan dan belakang. Thian-hi insaf tidak mungkin mengelabuhi lagi, terpaksa katanya tertawa.

"Buat apa kalian begitu bersitegang leher, apakah kalian takut menghadapi aku seorang?"

"Sepuluh tahun yang lalu dari Tionggoan ada meluruk kemari delapan orang, mereka dapat merambat naik ke Thian-bi-kok sudah tentu bukan tokoh silat kelas kambing, namun mereka berhasil kami bunuh seluruhnya, masa sekarang kami takut menghadapi kau seorang! Tapi kau bisa menetap disini begitu lama tanpa konangan kedok aslimu, sekarang malah menjabat kedudukan Komandan Gi-lim-kun lagi, kau betul cukup licin!"

Sesaat Thian-hi menjadi mati kutu tidak tahu harus menjawab apa. ujarnya.

"Banyak orang yang sudah tahu, melulu kalian saja yang ketinggalan!"

Pek-bi-siu menggerung murka, semprotnya.

"Tapi kamilah yang tidak akan beri ampun padamu."

Sembari berkata telapak tangannya menyelonong maju menepuk kepunggung Thian-hi.

Caranya turun tangan cepat dan ganas, kekuatannyapun bukan olah-olah katanya.

Melihat Pek-bi-siu turun tangan, terpaksa Thian-hi harus mengadu jiwa, namun pertarungan ini menang atau kalah untuk selanjutnya terang dirinya tidak akan bisa menetap lama lagi diwilajah ini.

Kecuali ia bunuh kedua orang ini supaya tutup mulut dan rahasia tidak diketahui umum!

Seiring dengan jalan pikirannya ini, ia membalik sebuah tangannya menyambut pukulan orang, menggunakan daya pental kekuatan benturan pukulan itu tubuhnya mencelat terbang kesamping terus berkelebat menyingkir, maksudnya mau tinggal merat saja.

Dilain pihak Giok-hou-sian sudah bersiaga diluar gelanggang sudah tentu ia tidak mandah membiarkan Thian-hi melarikan diri begitu saja, segera tubuhnya mencelat terbang, sebelah tangannya menindih ke atas kepala Thian-hi dengan pukulan berat.

Cepat-cepat Thian-hi menyedot hawa, sekonyong-konyong badannya terbang jumpalitan ditengah udara, badannya mumbul lebih tinggi.

lolos dari serangan lawan.

Pek-bi-siu menjadi murka serunya.

"Jangan harap hari ini kau dapat lolos?"

Sembari mengancam tubuhnya ikut melesat tinggi mengejar, kedua telapak tangannya didorong keluar memukul dari jarak jauh dengan setaker tenaganya.

Begitu mendengar kesiur angin pukulan musuh yang dahsyat ini terkejut Thian-hi.

Kepandaian Pek-bi-siu memang tidak rendah, kecuali Si-gwa-sam-mo, mungkin tokoh-tokoh macam Situa Pelita pun tidak akan lebih ungkulan dibanding mereka berdua ini.

Untung Thian-hi membekal latihan Pan-yok-hian-kang, Lwekangnya maju pesat berlipat ganda Untuk menang dari keroyokan kedua orang ini memang tidak mudah, kalau untuk meloloskan diri saja cukup berkelebihan segampang membalikkan telapak tangan.

Begitu melihat serangan dahsyat yang menerpa tiba ini, Thian-hi memutar balik kedua telapak tangannya terjulur maju, kekuatan Pan-jok-hian-kang terkerahkan penuh, memukul balik ke arah serangan musuh.

Pek-bi-siu menjadi geram, pikirnya.

"Bukankah kau cari mati ini?"

Kontan ia kerahkan seluruh kekuatannya terus memapak maju secara kekerasan.

"Blang!"

Kekuatan pukulan sama bentur ditengah udara, menimbulkan gelombang angin yang menderu laksana angin topan, batu pasir beterbangan.

Tampak tubuh Thian-hi terpental terbang ke belakang, sementara Pek-bi-siu melorot jatuh mentah-mentah terus sempoyongan beberapa langkah, setelah berdiri tegak mulut terpentang terus menyemprotkan darah segar.

Masih untung baginya karena Thian-hi rada memberi kelonggaran padanya, kalau tidak mungkin luka-luka yang dideritanya bakal lebih berat.

Melihat Pek-bi-siu kalah dan terluka, sungguh kejut dan heran pula Giok-hou-sian, cukup sekali pukul pemuda yang masih bau pupuk bawang ini berhasil melukai Pek-bi-siu, lwekang sendiri setingkat lebih rendah dari saudaranya jelas diri sendiri jauh bukan lawannya.

Namun betapapun ia tidak rela membiarkan Thian-hi tinggal pergi begitu saja.

dengan menghardik keras ia terbang mengejar, namun jaraknya sudah setengah li ketinggalan oleh Thianhi, tampak tubuh Thian-hi melesat turun seperti meteor jatuh secepat kilat.

Sungguh murka bukan kepalang hatinya, namun apa yang dapat dilakukan?

Sungguh Thian-hi merasa girang bukan kepalang.

siapa nyana sekali pukul ia berhasil membuat Pek-bi-siu terluka parah, kini dapat membebaskan diri lagi dari kecokan mereka, namun demikian hatinya rada was-was pula, mungkin musuh terlalu pandang ringan dirinya, selanjutnya bagaimana untuk menghadapi kericuhan ini?

Thian-bi-siang-kiam jelas sudah mengetahui bahwa dirinya datang dari Tionggoan, soal ini bakal menimbulkan keonaran di seluruh negeri kecil ini, mungkin tiada tempat berpijak lagi dalam wilajah Thian-bi-kok bagi dirinya.

Tengah pikirannya melayang, sementara kakinya masih berlari kencang secepat anak panah.

sekonyong-konyong dari kejauhan terdengar petikan irama kecapi.

Kontan berubah air muka Thian-hi, itulah irama kekal abadi, tempo hari ia pernah dengar lagu ini, namun orang yang memetik harpa kali ini jauh lebih pandai iramanya juga lebih mantap, jelas bukan petikan Ma Gwat-sian, jika bukan Ma Gwat-sian tentu gurunyalah yang sudah kembali.

Dan yang lebih menguatirkan justru Wi-thian-cit-ciat-sek belum lagi sempurna dilatih olehnya.

Bab 18 Irama harpa semakin tegas dan kumandang dialam pegunungan nan sunyi ini, tenaga Thian-hi masih belum bujar, ia masih cukup bertahan.

sambil kertak gigi dan menyedot napas, tubuhnya meluncur turun semakin pesat.

Hampir tiba pada tunggangannya, dia sudah tidak kuat bertahan lagi....

Dia insaf bila menerjang terus kebawah pasti seluruh isi perutnya bakal hancur lebur oleh tekanan dahsyat irama harpa itu.

Pemetik harpa itu menggunakan irama getar yang paling dahsyat seolah-olah dia tahu bahwa dirinya masih berusaha lari, kedengaran suara harpa semakin tegang dan membawa hawa membunuh yang tebal.

Akhirnya Thian-hi tidak kuat lagi, pelan-pelan ia duduk bersila menentramkan pikiran memusatkan semangat, Pan-yok-hian-kang dikerahkan untuk membendung serangan dari luar pelan-pelan ia berhasil menghimpun seluruh hawa murni dipusarnya.

lambat laun tenanglah hati dan pikirannya.

Tapi dia tidak berani sembarangan bergerak.

Sementara itu Giok-hou-sian tidak berputus asa.

meski ketinggalan ia nekad mengejar terus, sekonyong-konyong didengarnya suara harpa keruan girang bukan main, tahu dia bahwa tokoh aneh yang tertinggi di Thian-bi-kok sudah muncul dan turun tangan, seumpama kepandaian Thian-hi setinggi langit juga jangan harap dapat lolos lagi.

Begitulah dengan kencang ia mengejar kebawah, tampak Thian-hi masih berlari seperti sipat kuping.

diam-diam tengetar hatinya, betapa tinggi Lwekang Hun Thian-hi ini, bila aku sendiri jelas tidak kuat bertahan lagi.

Akhirnya dilihatnya Hun Thian-hi berhenti dan duduk bersila.

Giok-hou-sian menjadi girang cepat ia memburu datang, waktu tiba.

disamping Thian-hi, dilihatnya Thian-hi samadi dengan tenangnya.

Kagum dan memuji dalam hati, usianya masih begini muda sudah membekai Lwekang sehebat itu, ada berapa banyak tokoh di dunia ini yang dapat memadainya!

Sesaat lamanya ia berdiri menjublek di tempat itu, tak tahu apa yang harus dilakukan.

Begitu Thian-hi mengerahkan Pan-yok-hian-kang, irama harpa menjadi kalem, tekanan sedikit ringan perasaannya juga rada enteng.

Hatinya senang.

diam-diam ia membacn; Pan-yok-hiankang latihanku ini ternyata begini sakti mandra guna, kiranya irama kekal abadi yang hebat itu juga tidak mampu menyerang masuk melukai diriku lagi.

Sementara itu, lagu kekal abadi masih terus berkembang mengalun tinggi laksana awan berlalu seperti gelombang berderai, bak umpama air sungai mengalir terjun kebawah.

Begitulah lagu nan merdu ini meresap pelan-pelan ke bawah, sekonyong-konyong Thian-hi merasakan sesuatu keganjilan, kiranya irama harpa di dalam keadaan yang tidak terasa olehnya telah meresap masuk mengeram dalam badannya, baru saja ia hendak laksanakan rontaan terakhir, tiba-tiba irama harpa berhenti putus, kontan seluruh jalan darah tubuhnya seperti tertutuk oleh Jiong-jiu-hoat tanpa dapat berkutik lagi.

Kesadaran Thian-hi masih segar bugar, tahu dia bahwa dirinya sudah tamat, tanpa kusadari ternyata aku telah teringkus begitu gampang.

Tak lama kemudian badan Thian-hi tergetar, lantas ia rasakan tekanan badannya menjadi enteng, seluruh jalan darah yang tertutuk bebas seluruhnya, waktu ia buka mata dan celingukan, tampak dirinya masih berada di tengah hutan, di sebelah kiri sana terdapat sebuah pohon besar di bawah pohon terdapat pula sebuah batu besar, di atas batu besar ini duduk tenang seorang Nikoh pertengahan umur, Thian-bi-siang-kiam tampak berdiri tegak menjulurkan tangan dikedua sampingnya.

Pelan-pelan Thian-hi bangkit berdiri, dengan cermat ia awasi Nikoh itu, tampak wajahnya bersih dan welas asih, mengenakan jubah hijau mulus, dipangkuannya terletak sebuah harpa kuno sikapnya serius dan sungguh-sungguh.

Tahu Thian-hi bahwa Nikoh ini pasti guru Ma Gwat-sian adanya, lekas-lekas ia menjura serta menyapa.

"Wanpwe Hun Thian-hi, menghadap pada Cianpwe."

Thian-bi-siang-kiam saling berpandangan. Nikoh pertengahan itu mengamati Thian-hi lekatlekat, ujarnya.

"Urusanmu aku tahu jelas sekali."

Thian-hi mandah tertawa-tawar saja, dalam hati ia membatin.

"Apa benar-benar kau tahu seluruhnya?"

Terdengar Nikoh itu menyambung lagi.

"Mungkin kau pun tahu, bahwa aku adalah guru Gwatsian."

Thian-hi manggut-manggut, sahutnya.

"Aku sudah tahu!"

Kata Nikoh itu lagi.

"Sejak kau menetap di Thian-bi-kok, selama ini belum pernah melakukan perbuatan tercela, jika boleh dikata malah melakukan pekerjaan baik. Aku tidak peduli sepak terjangmu waktu kau berada di Tionggoan dulu, berdiri pihak Thian-bi-kok sini, bolehlah aku melanggar larangan biasanya, kau harus segera meninggalkan Thian-bi-kok."

Thian-hi tercengang, ia berdiri bingung tak bersuara. Pek-bi-siu menjadi gugup, selanya.

"Mana boleh begitu, setiap orang luar yang menginjak kakinya di Thian-bi-kok tidak boleh dilepas pulang."

Nikoh itu tidak hiraukan protes Pek-bi-siu, kata-katanya tetap tertuju kepada Hun Thian-hi.

"Sekarang juga kuperintahkan kau meninggalkan Thian-bi-kok!"

Thian-hi serba bingung dan gundah, ia tenggelam dalam pikirannya, akhirnya ia mendongak kata-kata Ka-yap Cuncia seperti terkiang di pinggir telinganya.

"Sebelum Wi-thian-cit-ciat-sek sempurna kau latih, kularang kau meninggalkan Thian-bi-kok." -sejak mula datang ia sudah melanggar salah satu pantangan Ka-yap Cuncia, memperlihatkan kepandaian silatnya, sekarang mana boleh mengingkari pula pesan beliau? Dengan tajam Nikoh itu pandang muka Thian-hi, dia tidak bisa meraba kemana jalan pikiran Thian-hi yang kebingungan itu. Akhirnya Thian-hi menunduk sambil tertawa, katanya.

"Wanpwe ada sebuah permintaan, entah apakah Cianpwe bisa memberi persetujuan!"

Hati si Nikoh menjadi rada berang, selamanya tiada seorang pun yang berani melanggar setiap patah katanya, sekarang apa pula yang diatur Hun Thian-hi ini.

ingin aku mendengar apa yang akan dikatakan olehnya, maka tanyanya.

"Coba kau katakan!"

Kata Hun Thian-hi.

"Waktu Wanpwe hendak kemari, aku pernah berjanji pada seseorang untuk mematuhi dua buah pesannya. Pesannya yang pertama tidak mungkin tertolong lagi, urusan yang kedua ya itu bahwa aku harus tinggal lagi selama sepuluh hari baru bisa menyelesaikan pesannya yang kedua. Apakah Cianpwe suka memberi ijin supaya aku menetap sepuluh hari lagi disini?"

Timbul amarah si Nikoh, alisnya terangkat tinggi, sahutnya tegas.

"Tidak bisa!"

Diam-diam Giok-hou-sian dan Pek-bi-siu mengumpat dalam hati, begitu besar nyali Thian-hi main tawar menawar untuk tinggal lagi sepuluh hari disini.

Thian-hi menunduk lagi menepekur, akhirnya ia berkata pula.

"Lima haripun bolehlah, dapatkah Cianpwe melulusi?"

Nikoh itu duduk tak bergerak dengan angkernya, dingin-dingin ia awasi Thian-hi, katanya.

"Kau sangka aku tidak berani bunuh kau?"

Thian-hi tersenyum kecut, katanya.

"Tiga hari juga bolehlah!"

Nikoh itu bergegas bangun, matanya mendelik dan membara gusar mengandung hawa membunuh, dengan tajam ia pandang Hun Thian-hi.

Tapi tanpa mengenal takut Thian-hi pun balas pandang dia.

Terketuk sanubari si Nikoh, begitu tinggi kepandaian silat Hun Thian-hi, belum pernah ia ketemukan lawan yang begitu lihay, kelihatannya juga begitu tawar hati dan perasaannya, kelihatannya sedikit pun ia tidak gentar bila aku membunuhnya.

Lama dan lama sekali ia pandang orang lekat-lekat, akhirnya dia tak kuasa turun tangan Waktu pertama datang dulu Thian-hi tidak mau unjuk kepandaian silatnya, sampai mandah dihajar orang dengan pecut dan dihina, namun justru karena hubungannya dengan Ma Gwat-sian, akhirnya ia terdesak dan memperlihatkan kepandaiannya yang sejati.

Hari ini dia kena tertawan dan terjadi peristiwa yang tidak enak ini, betapapun dirinya harus ikut mempertanggung jawabkan akibatnya.

Akhirnya ia duduk lagi pelan-pelan, katanya.

"Urusan apakah itu, coba kau tuturkan pada aku, biar aku yang bantu kau menyelesaikan."

"Terima kasih Cianpwe,"

Ujar Thian-hi tersenyum.

"urusan ini harus kukerjakan sendiri orang lain tidak akan bisa membantu!"

"Apa yang hendak kau kerjakan, beritahu aku, biar kupertimbangkan."

"Maaf Wanpwe tidak bisa memberitahu!"

Melihat kekukuhan Thian-hi, Thian-bi-siang-kiam menjadi gegetun, pikirnya.

"Bila aku, sejak tadi sudah kubunuh kau!"

Nikoh itu merenung sesaat lamanya, akhirnya berkata.

"Kali ini aku baru pulang dari Tionggoan, banyak kudengar persoalanmu, sebetulnya aku harus bunuh kau, namun ada sebuah urusan menurut aku latar belakangnya masih belum jelas dan tidak bisa kupercaya demikian saja, maka kuputuskan hanya mengusirmu keluar dari Thian-bi-kok. Sebab lain karena kulihat selama disini kau tidak punya maksud-maksud jelek, malah pernah melakukan tugas dengan baik!"

Sampai disini ia pandang Thian-hi lagi lalu sambungnya.

"Kudengar katanya kau kejam dan telengas, seluruh golongan dan aliran Kangouw di Tionggoan semua ingin meringkus dan membekuk kau, tapi hanya pihak Siau-lim-pay saja yang tidak ikut campur, akhirnya karena sepak terjangmu terlalu mengumbar nafsu dan kelewatan, terpaksa Siau-lim-pay baru ikut bergabung, tapi soal itu jauh lebih kecil dibanding kau membunuh Ciangbunjin Bu-tong-pay. Kalau semula Siau-lim-pay tidak turut campur, maka persoalan belakangan seharusnya juga tidak usah turun tangan, kenyataan toh mereka ikut meng-uber-uber kau. Akhirnya seluruh kaum persilatan disana mulai menguber jejakmu, kemanapun kau pergi selalu dikuntit, terpaksa kau menyelundup ke Thian-bi-kok dan sembunyi disini."

Berhenti Sebentar, ia pandang Thian-hi lagi, lalu sambungnya.

"Tapi setengah bulan kemudian, pihak Siau-lim mengundurkan diri pula."

Thian-hi menjadi heran dan bertanya-tanya, Siau-lim Ciangbun Te-coat Taysu sendiri memimpin pengejaran itu dan mengurung dirinya dengan Sutouw Ci-ko di Jian-hud-tong, bagaimana mungkin bisa mengundurkan diri!

Mungkinkah Ka-jap Cuncia sendiri sudah mengunjukkan diri?

Tidak mungkin, bila Ka-yap Cun-cia mau bicara sekejap saja bukan saja pihak Siau-lim.

Seluruh kaum Kangouw tiada yang tidak akan mendengar nasehatnya.

Ini betul-betul hal yang sangat ganjil.

pikir punya pikir tanpa merasa mulutnya lantas menggumam.

"Ini tidak mungkin!"

Dengan heran si Nikoh pandang Thian-hi, katanya.

"Konon kabarnya Te-coat Taysu terluka parah, baru pihak Siau-lim mundur, tapi tidak mungkin, karena Te-coat sudah lama terluka, hampir luka-luka parahnya sembuh baru pihak mereka mengundurkan diri."

Thian-hi tertunduk menepekur tanpa buka suara. Kata si Nikoh itu lagi.

"Maka aku bertindak tidak berdasarkan sepak terjangmu di Tionggoan, yang jelas tingkah lakumu disini tidak jelek pernah mendharma-baktikan kemampuanmu demi keselamatan, negara ini lagi, maka keputusanku cukup mengusirmu keluar! Ini cukup bijaksana."

Thian-hi tertawa geli, seperti mentertawakan kelakuannya selama ini.

"Aku sudah bicara panjang lebar, apakah kau maklum maksud juntrunganku?"

Tanya si Nikoh. Thian-hi tahu, maksud si Nikoh adalah supaya dirinya lekas meninggalkan tempat ini, katanya tawar.

"Tidak! Paling sedikit aku harus tinggal tiga hari lagi!"

Kau hendak mohon Gwat-sian mintakan ampun bagi kau?"

Jengek si Nikoh. Hun Thian-hi tertawa-tawa, sahutnya.

"Bila begitu, buat apa melulu tiga hari saja?"

Si Nikoh menghela napas, sedemikian kukuh dan teguh pendirian Thian-hi, membuat ia merasa kewalahan, akhirnya dia manggut-manggut, katanya.

"Baiklah! Kuijinkan kau menetap lagi tiga hari saja!"

Tersipu-sipu Thian-hi menjura dengan senang. serunya.

"Terima kasih Cianpwe!"

Si Nikon mengulapkan tangannya ujarnya.

"Kau pergilah!"

Cepat Thian-hi lari ke kudanya terus dicemplak cepat kebawah gunung langsung pulang ke istana.

Si NikOh terlongong memandangi punggung Thian-hi yang semakin menjauh, mantel merah yang melambai-lambai terhembus angin di belakang punggungnya membuat pikirannya membayangkan adegan yang baru saja terjadi.

setiap gerak gerik Hun Thian-hi sedemikian tegas dan punya wibawa yang besar.

Sikapnya angkuh dalam keadaan yang gawat tadi sedikit pun tidak kelihatan menjadi gugup atau gentar.

sungguh sukar didapat orang macam ini!

Dari lahirnya yang bersikap sopan dan halus, tiada seorang pun yang bakal menduga bahwa dia diberi julukan sebagai Leng-bin-mo-sin (hati iblis muka dingin).

Dalam pada itu setelah tiba di dalam kota, langsung Thian-hi mengadakan perondaan kesekeliling kota.

setelah memberi petunjuk-petunjuk seperlunya kepada bawahannya, langsung ia pulang ke kamarnya terus mengunci pintu, mulailah ia memperdalaan pelajaran Wi-thian-cit-ciatsek.

Seluruh pikiran dan semangatnya dipusatkan untuk menyelami pelajaran Wi-thian-cit-ciat-sek, dalam jangka tiga hari ia harus berhasil mencangkok seluruh pelajaran Wi-thian-cit-ciat-sek ini.

supaya dapat meninggalkan Thian-bi-kok dengan bekal ilmu yang mencukupi untuk membela dan menjaga diri.

Sebelumnya dia sudah memberi pesan kepada anak buahnya.

siapapun dan ada perlu apa juga dilarang mengganggu dirinya, seumpama sang Baginda ingin bertemu juga harus ditolak.

Tanpa tidur dan tidak mengenal istirahat seluruh perhatian Thian-hi ditumplekkan pada pelajaran Wi-thian-cit-ciat-sek itu, dia sendiri tidak tahu berapa hari dan berapa lama ia sudah menyekap diri dalam kamarnya ini.

yang jelas bahwa lambat laun ia sudah berhasil menyelami Withian-cit-ciat-sek lebih dalam lebih sempurna, terasa olehnya semakin hebat dan ampuh intisari pelajaran Wi-thian-cit-ciat-sek yang sakti dan digdaya Pada saat itu ia tengah tenggelam dalam memecahhkan sejurus permainan.

sebatang pedang terpegang ditangnnya sedang mempraktekkan pelajaran menurut apa yang tercatat di atas buku.

Mendadak diluar ada orang menggedor pintu.

"blang"

Tahu-tahu pintu kamarnya diterjang terbuka. Begitu cahaya matahari menyorot masuk menerangi kamarnya baru Thian-hi tersentak sadar. Tampak seseeorang anggota Gi-lim-kun menerjang masuk. teriaknya.

"Ing-ciangkun memberontak!"

Habis berkata lalu menjerit ngeri dan roboh tak berkutik lagi.

Terkesiap hati Thian-hi, tampak ditubuh Gi-lim-kun itu tergubat seekor ular panjang tiga kaki.

Seluruh istana ribut kalang kabut.

Lekas Thian-hi menerjang keluar sambil menenteng pedangnya, begitu tiba di luar dilihatnya dimana-mana dalam istana ini ular besar kecil melata, para anggota Gi-lim-kun menjadi panik dan lari serabutan dengan ketakutan, pintu gerbang Utama sudah tertutup, namun dari luar pintu digedor dan diterjang dengan keras, mungkin tak lama lagi bakal dijebol rusak.

Sungguh Thian-hi tidak mengira situasi berubah begitu gawat, mulutnya bersuit panjang, serentak dengan kegesitan gerak tubuhnya pedang ditangannya bekerja lincah laksana bianglala beterbangan ke-mana-mana, setiap kali sinar pedangnya melesat ular di badan para Gi-lim-kun itu dibabatnya kutung semua.

Sekaligus ia memutar tubuh seraya mengayun pedangnya, ular-ular yang memenuhi lantai menjadi ketakutan dan lari serabutan, sekejap saja ia berhasil membunuh separoh diantaranya.

Seluruh anggota Gi-lim-kun berjingkrak kegirangan begitu melihat Thian-hi muncul dengan memperlihatkan perbawa ilmu silatnya, bangkitlah semangat dan keberanian mereka, serentak mereka angkat senjata serta menyerbu ke pintu gerbang untuk berjaga-jaga dan menahan serbuan dari luar bila pintu gerbang benar-benar kena dijebol.

"Dimana baginda?"

Tiba-tiba Thian-hi berseru keras.

"Baginda masih berada di istana!"

Sahut salah orang Gi-lim-kun yang terdekat.

Selayang pandang Thian-hi menyapu keadaan sekelilingnya, situasi gawat tadi sudah dapat diatasi, kekacauan sendiri diantara para anggota Gi-lim-kun karena serangan ular-ular tadi sudah mereda.

Beban yang paling dikuatirkan melulu keselamatan Baginda raja dan tuan putri, lekaslekas ia memburu masuk ke-istana dalam, tampak Baginda raja tengah mengalangi di depan tuan putri menghadapi seekor ular besar yang melata mendekat, ular ini cukup besar dan panjang setombak lebih.

Muka Baginda tampak pucat kehijauan, seluruh mukanya penuh keringat dingin.

Cepat Thian-hi memburu maju seraya membentak, sekali ayun tangan kanan, pedangnya panjang segera melesat ke depan secepat kilat, telak sekali menancap amblas di bawah leher, siular kontan roboh dan binasa....

Bergegas Thian-hi maju memberi hormat serta serunya.

"Hun Thian-hi terlambat datang menolong membuat Baginda kena kejut!"

Baginda raja terlongong ditempatnya, sesaat kemudian baru bisa bicara.

"Darimana kau datang?"

Karena apa Ing-ciangkun angkat senjata memberontak?"

Tanya Hun Thian-hi cepat. Baginda menghela napas, katanya.

"Karena Tan-siangkok gagal melamar tuan putri untuk putranya, segera Ing-ciangkun kerahkan bala tentaranya menawan Ma-ciangkun, sekarang sedang pimpin anak buahnya untuk menggedor pintu gerbang istana."

Kejut dan gugup pula hati Thian-hi, Ma Bong-hwi telah ditawan berarti bala bantuan dari luar sudah tak mungkin diharapkan lagi karena memikirkan keadaan yang lebih gawat diluar istana segera ia berkata.

"Harap Baginda ikut hamba keluar supaya dapat melindungi dari segala kemungkinan"

Habis berkata bergegas ia melangkah keluar.

Tanpa bicara lagi Baginda dan Titan putri mengintil dibelakangnya.

Setiba diluar tampak masih banyak ular dimana-mana, seluruh kekuatan Gi-lim-kun dikerahkan untuk menahan gedoran pintu gerbang Istana, sebagian diantarania dikerahkan untuk menyapu ular-ular yang menjijikkan itu.

Sungguh geram hati Thian-hi bukan main.

Tan-siangkok berani menggunakan ular untuk menyerbu dan mengacau, kontan ia putar pedangnya, sebentar saja seluruhnya dapat dibinasakan oleh pedang Hun Thian-hi.

Lalu ia kumpulkan seluruh pasukan Gi-lim-kun, jumlah seluruhnya cuma seratus dua puluh orang, perusuh di luar semakin gencar menggedor pintu.

Segera Hun Thian-hi mengertak gigi, katanya kepada Baginda.

"Keadaan semakin gawat. kita tidak bisa bertahan melulu disini dengan kekuatan yang kecil ini. Harap Baginda beramai ikut menyerbu keluar kepungan, kalau bisa terjang sampai ke Bi-seng tentu keadaan jauh lebih baik."

Sesaat Baginda terlongong dan sangsi katanya.

"Mana boleh begitu. tentu mereka sudah menutup seluruh pintu kota!"

"Tidak usah takut, hamba punya kemampuan untuk menerjang keluar."

Segera ia perintahkan anak buahnya mempersiapkan kuda.

tak lama kemudian seluruh keperluan telah dipersiapkan.

Sementara itu pintu gerbang istana yang kokoh tebal itu pun telah retak.

Thian-hi suruh seluruh anggota Gi-lim-kun naik kuda, mempersiapkan anak panah, sedang tuan putri mengendalikan kereta membawa Baginda didalamnya.

Dalam pada itu Thian-hi pun sudah membawa seluruh keperluannya dan siap di atas kudanya pula.

Kebetulan saat itu juga pintu gerbang telah bobol dan terbuka lebar, pasukan pemberontak segera berbondong-bondong menyerbu masuk sambil berteriak-teriak.

Thian-hi memberi aba-aba untuk lepas anak panah.

seketika hujan panah menyambut serbuan para pemberontak, kontan sebagian besar diantaranya roboh mati, sisanya yang masih hidup menjadi ketakutan dan mundur keluar.

Hun Thian-hi memberi aba-aba pula, semua lemparkan anak panah dan menjinjing tombak, di bawah pimpinan Thian-hi sambil melindungi kereta tuan putri terus menerjang keluar.

Pasukan pemberontak tidak menduga akan serbuan Thian-hi beramai, dimana pedangnya terputar.

kontan sinar pedangnya merobohkan banyak perintangnya.

Tiada seorangpun yang mampu bertahan.

"Tio Gun!"

Lapat-lapat terdengar oleh Thian-hi seruan kaget seseorang dikejauhan.

Sekali dengar lantas Thian-hi dapat mengenali suara Ing Si-kiat, namun keadaan cukup genting tiada kesempatan membuat perhitungan dengannya, kudanya dicongklang ke depan terus menuju pintu utara....

"Lekas perintahkan tutup seluruh pintu kota!"

Ing Si-kiat berteriak memberi perintah.

Namun keburu pasukan Gi-lim-kun sudah menerjang keluar, melihat kegagahan Hun Thian-hi pasukan pemberontak menjadi gentar mana kuat menahan serbuan mereka.

Tak lama kemudian mereka berhasil menerjang tiba di pintu utara, pasukan yang menjaga di atas pintu gerbang segera lepaskan anak panah menyambut kedatangan mereka.

Sungguh gusar Thian-hi bukan kepalang, tubuhnya melambung maju ke tengah udara, kedua telapak tangannya mengerahkan Pan-yok-hian-kang.

Seluruh anak panah kena disampoknya runtuh, para Gi-lim-kun di belakangnya serempak melontarkan tombak2, sebagian besar pasukan pemberontak di atas gerbang pada terjungkal roboh binasa tertembus tombak.

Di lain kejap Hun Thian-hi telah mencelat mumbul lagi ke tengah udara, seluruh kekuatannya dikerahkan lagi di kedua tangannya.

"blang!"

Pintu kota yang tebal dan kuat itu kena dipukulnya roboh berantakan, pasukan mereka segera berbondong-bondong menerjang keluar, sebentar saja mereka berhasil menempuh ke Bi-seng.

Setiba di Bi-seng, tampak oleh Thian-hi jauh di belakang sana debu mengepul tinggi, tahu dia bahwa Ing Si-kiat membawa pasukan pemberontak mengejar kemari.

Tanpa ayal Thian-hi bawa pasukannya memasuki Bi-seng serta perintahkan tutup pintu rapat.

Thian-hi memeriksa kekuatan pasukannya, ternyata hanya delapan tunggangan saja yang roboh binasa kena panah musuh.

Panglima tentara yang menjaga di kota Bi-seng segera memburu turun memberi sembah hormat kepada Baginda raja Thian-hi tahu sebentar lagi pasti Ing Si-kiat memburu tiba....

segera ia memberi petunjuk pada pasukannya serta menyuruh bawahannya mengantar Baginda dan tuan putri ke rumah gedung Ma-ciangkun.

Seluruh pasukan Gi-lim-kun dikerahkan di atas pintu kota.

Tak lama kemudian Ing Si-kiat sudah tiba dengan pasukannya, teriak Ing Si-kiat kepada Hun Thian-hi.

"Tio Gun, lekas buka pintu, saudara angkatmu Ma Bong-hwi berada di tanganku, berani kau tidak buka pintu kubunuh dia!"

"Ing Si-kiat,"

Seru Hun Thian-hi tertawa.

"Awas kau! Saudara angkatku di tanganmu mungkin aku rada kuatir akan keselamatannya, bila kau bunuh dia, aku bisa bikin kau mati tidak ingin hidup pun sukar, kau tahu akan kemampuanku ini!"

Ing Si-kiat menjublek di atas kuda, secara langsung tadi ia melihat sendiri betapa tinggi dan lihay ilmu silat Hun Thian-hi, hatinya memang rada gentar dan was-was, biasanya ia rada takut menghadapi Ma Bong-hwi, namun sekarang justru Hun Thian-hi yang paling ditakuti.

Dua hari mendatang ini tidak kelihatan bayangan Hun Thian-hi, inilah kesempatan baik sesuai dengan intriknya dengan Tan-siangkok, mengancam Baginda raja dengan pasukan pemberontak untuk meminang tuan putri atas putranya.

Pikirnya sekali gebrak pasti berhasil, tak nyana sebelum rencananya berhasil tahu-tahu Hun Thian-hi menerjang keluar sambil melindungi Baginda dari istana, semakin besar takut hatinya menghadapi Hun Thian-hi.

Mendengar ancaman Hun Thian-hi semakin ciut nyalinya, bila dia bunuh Ma Bong-hwi jelas jiwanya sendiri juga tidak akan hidup lama.

Ia insaf untuk menyerbu dan menggempur Bi-seng bak umpama mimpi di siang hari bolong, bila Hun Thian-hi betul membuka pintu lebar-lebarpun belum tentu dia berani menerjang masuk.

Terpaksa dia harus berpikir, lebih baik kembali saja untuk berunding dengan Tan-siangkok, akhirnya tanpa banyak omong lagi ia tarik pasukannya kembali.

Thian-hi mendongak melihat cuaca, matahari sudah tinggi di tengah cakrawala, sudah lewat lohor, ini berarti bahwa dirinya sudah dua hari dua malam mengunci diri di dalam kamarnya mempelajari ilmu pedangnya.

Malam nanti ia harus meninggalkan negeri ini, namun urusan disini belum lagi dapat diatasi, cara bagaimanakah baiknya?

Badannya terasa letih, dilihatnya panglima wakil Ma Bong-hwi sudah tiba, segera ia serah terimakan penjagaan pada mereka terus mengundurkan diri pulang ke gedung Ma-ciangkun.

Begitu masuk ke dalam tampak Baginda raja, tuan putri semua hadir disitu ditemani istri Ma Bong-hwi, Ma Siau-hou dan Ma Gwat-sian.

Muka mereka semua mengunjuk rasa kuatir dan lesu.

Begitu Hun Thian-hi melangkah masuk, pandangan semua orang terhadapnya rada berlainan.

Setelah memberi hormat ala kadarnya, segera Baginda bertanya, padanya.

"Apakah Ing-ciangkun sudah menarik tentaranya?"

"Untuk sementara waktu dia mengundurkan diri, tapi Ma-ciangkun berada ditangannya, kitapun tidak bisa terlalu mendesaknya!"

Baginda manggut-manggut, tanyanya.

"Bagaimana menurut pendapat Tio-ciangkun?"

Thian-hi menunduk, sahutnya.

"Kejadian ini timbul karena hamba melalaikan tugas, hamba rela seorang diri menyerbu ke Thian-seng untuk menolong Ma-ciangkun, soal yang lain kukira cukup gampang untuk diatasi."

"Mana boleh begitu,"

Teriak tuan putri.

"kau sediri sudah sangat letih, mana boleh seorang diri ke sana!"

Sekilas Ma Gwat-sian pandang tuan putri lalu menundukkan kepala.

Hun Thian-hi menunduk tanpa bicara, memang dia sudah merasa cukup letih dan lesu, dua hari ini ia terlalu tekun mempelajari Wi-thian-cit-ciat-sek, teringat olehnya Thian-bi-siang-kiam, terbayang akan guru Ma Gwat-sian, ia heran kenapa mereka begitu acuh tak acuh terhadap kemelut di negeri sendiri ini.

Terdengar Baginda berkata.

"Untuk sementara kuduga Ing Si-kiat tidak berani bertindak terhadap Ma-ciangkun, kau memang sudah letih, pergilah istirahat dulu. Soal ini tak kesusu diselesaikan!"

Hun Thian-hi tertawa getir, sampai pada detik ini temponya tinggal beberapa jam lagi, bagaimana dirinya tidak akan gugup, sambil mendongak ia berkata.

"Bagi hamba soal ini sangat penting dan genting. sekarang juga hamba harus berangkat."

Baginda menghela napas tanpa bersuara lagi. Dengan langkah lebar Hun Thian-hi segera beranjak keluar.

"Tio-ciangkun!"

Tiba-tiba Ma Gwat-sian berseri.

Langkah Hun Thian-hi merandek dan berputar mengawasi Ma Gwat-sian.

Kata Ma Gwat-sian.

....Kemaren Suhu kemari, tanpa diberitahu aku pun sudah tahu Permintaanmu!

Kau tidak perlu kesusu pergilah istirahat!"

Terbayang oleh Thian-hi akan kata-kata si Nikoh itu.

"Kau ingin Gwat-sian minta ampuh bagi kau?"

Ia menjadi geli dan berkata.

"Tidak apa-apa, aku tidak seletih seperti yang kalian bayangkan!"

Segera ia memutar tubuh terus berlari pergi.

Setelah melihat bayangan Hun Thian-hi menghilang diluar Ma Gwat-sian menunduk, Dengan lekat tuan putri mengawasi dirinya.

Setelah keluar dari gedung Ma-ciangkun, seorang diri Hun Thian-hi menuju ke arah Thian-seng.

Sekonyong-konyong didengarnya sebuah suara yang sangat dikenalnya dari ufuk sebelah utara nan jauh sana, sejenak ia terlongong, dilihatnya di sebelah utara sana seekor burung dewasa tengah menukik turun ke arah utara kota Bi-seng, itulah letak dimana tebing curam itu berada, hatinya semakin tegang, kiranya Bu-bing Loni telah mengejar tiba sampai disini, dihitung2 waktunya, memang jangka perjanjian setahun sudah tiba diambang mata.

Baru sekarang Thian-hi sadar, kenapa Thian-bi-siang-kiam dan guru Ma Gwat-sian tidak muncul selama ini, terasa olehnya sang waktu semakin mendesak segera ia keprak kudanya dilarikan sekencang mengejar angin, sekejap saja tibalah dia di Thian-seng, pintu gerbangnya yang diterjang jebol masih belum sempat diperbaiki maka dengan gampang saja Thian-hi terus menerjang masuk, para tentara yang berjaga menjadi takut dan lari cerai berai berkaok2.

Thian-hi tahu dimana Ing Si-kiat berada maka langsung ia keprak kudanya membelok ke arah kiri, dari depan ia dipapaki sebarisan tentara yang membawa tameng dan tombak terus menerjang dan mencegat dihadapannya, namun tanpa gentar sedikit pun Thian-hi menerjang dengan kudanya.

Belum lagi dekat mendadak dari depan sana Thian-hi dihujani anak panah yang tidak terhitung banyaknya.

Cukup dengan sepasang tangan sambil mengerahkan Pan-yok-thian-kang seluruh anak panah itu kena disampoknya jatuh, sementara kudanya masih mencongklang pesat ke depan langsung menuju ke gedung Siangkok.

Sepanjang jalan ini dirinya disongsong oleh ke-lompok2 tentara yang bersenjata lengkap berusaha merintangi dan mencegat Thian-hi.

namun dengan kehebatan tenaga dan ilmu saktinya, Thian-hi dapat membikin seluruh perintangnya bercerai berai, pontang panting tak bangun lagi.

Waktu hampir sampai digedung Siangkok.

tiba-tiba didengarnya lengking suara seruling bambu yang mengalun halus, bertepatan dengan itu, dari pintu besar Siangkok berbondong-bondong menyerbu keluar banyak sekali ular besar kecil dari berbagai jenis.

Thian-hi menggeram gusar, ia berpaling dan mengawasi dangan tajam.

tampak di atas sebuah pohon tinggi di dalam halaman gedung Siangkok ada seorang berpakaian baju putih sembunyi disana sambil meniup seruling bambu itu.

Dengan membekal ilmu sakti mana Thian-hi takut menghadapi ular-ular ini, tapi terhadap si orang yang meniup seruling bambu mengendalikan ular-ular itulah ia benci sekali, sekali menyedot napas, tiba-tiba tubuhnya mencelat mumbul ke tengah udara secepat kilat terbang menerjang ke arah si orang baju putih di atas pohon itu.

Orang baju patih itu terkejut dan menjadi ketakutan.

cepat ia diumpalitan turun dan hinggap di atas tanah, maksudnya hendak melarikan diri.

Tapi sementara itu Thian-hi sudah melampaui tembok tinggi pagar gedung Siangkok, dari ketinggian ia menukik seraya menepuk sebelah tangannya kebawah, kontan si orang baju putih menjerit ngeri dan muntah darah.

tubuhnya terguling dan tidak bergerak lagi.

Luncuran tubuh Thian-hi terus menerjang ke dalam, langsung menuju keruang besar belakang, baru saja kakinya melangkah masuk lantas dirinya dihujani anak panah pula, cepat Thian-hi tarikan sepasang telapak tangannya, untuk melindungi.

tubuh, karena rintangan ini serta merta dirinya menjadi terhalang sebentar.

Sebuah suara lantas berkaok dari dalam.

"Tio Gun! Kularang kau masuk, kalau tidak jiwa saudara angkatmu she Ma ini akan lenyap!"

Suara ancaman ini terdengar gemetar.

Waktu Thian-hi melihat ke dalam.

tampak dua baris tentara berpanah siap dibusur menghadap kepintu, sedang Tan-siangkok dan Ing Si-kiat kelihatan berdiri sebelah samping, Ing Si-kiat sendiri juga menentang busur menjujuhkan ujung panahnya kepunggung Ma Bong-hwi, asal ia lepaskan panahnya itu.

kontan jiwa Ma Bong-hwi pasti melayang.

Thian-hi menjadi bingung, sesaat ia merandek sambil melolos keluar pedangnya, hatinya bekerja cepat menerawang tindakan selanjutnya.

Dengan mendelik Ing Si-kiat berseru.

"Lekas keluar, kalau tidak jiwa Ma Bong-hwi menjadi jaminan!"

"Thian-hi!"

Teriak Ma Bong-hwi "Jangan kau hiraukan aku, bila dia bunuh aku, kaupun bunuh dia menuntutkan balas sakit hatiku."

Ing Si-kiat menjengek, seringainya.

"Ma Bong-hwi, apakah kau rela mati konyol? Keluargamu sedang menanti kedatanganmu!"

"Ing Si-kiat!"

Teriak Hun Thian-hi lantang.

"Berani kau mencabut seujung rambutnya saja, akan kubuat kau mati konyol lebih seram dan lebih mengenaskan!"

Bercekat hati Ing Si-kiat, nyalinya menjadi ciut saking gentar kakinya rada lemas dan mundur selangkah, kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Thian-hi, kontan ia ayun pedangnya, selarik sinar terang segera melesat ke depan.

Tepat pada waktu itu anak panah dibusur Ing Si-kiat juga menjepret ke punggung Ma Bong-hwi, tujuan Ing Si-kiat menamatkan jiwa Ma Bong-hwi namun pedang Thian-hi secara tepat berhasil mengutungi anak panahnya di tengah jalan.

Seiring dengan ayunan tangan melemparkan pedangnya Thian-hi melesat seperti burung elang menubruk maju, barisan pemanah segera menyongsong dirinya dengan puluhan anak panah yang diberondongkan kepada dirinya, namun secara mudah Thian-hi berhasil meruntuhkan semua anak panah dengan pukulan saktinya, melihat kesaktian Thian-hi para pemanah itu menjadi ketakutan dan lari sipat kuping.

Terlihat oleh Thian-hi Ing Si-kiat juga terbirit2 lari ke dalam, namun didapatinya Ma Bong-hwi rebah di lantai, tiada tempo ia mengejar Ing Si-kiat, cepat atau lambat pasti durjana itu bakal dihukum setimpal, maka cepat ia membuka melenggu Ma Bong-hwi serta menolongnya bangun, dijemputnya sebatang pedang diserahkan kepadanya.

Dengan malu dan penuh sesal Ma Bong-hwi berkata.

"Lote! Untung kaulah adanya, bila aku sendiri tidak tahu apa yang harus kulakukan!"

"Toako tidak usah main sungkan lagi, yang penting kita harus cepat menerjang Keluar!"

Begitulah sambil menenteng pedang mereka menerjang keluar, melihat Thian-hi begitu gagah, keluar masuk begitu gampang seolah-olah rintangan yang dihadapi dianggap rumput yang gampang diinjak2 para tentara yang berjaga di luar menjadi kuncup nyalinya, apalagi Ma Bong-hwi sudah lolos maka mereka tidak berani maju merintangi.

Setelah berhasil merebut dua ekor kuda mereka langsung mencongklang keluar kota langsung menuju ke Bi-seng.

Begitu memasuki Bi-seng, seluruh rakjat dan pasukan di sana menyambut mereka dengan sorak sorai yang gegap gumpita.

Ma Bong-hwi sedikit kikuk, langsung mereka menuju ke gedung kediamannya.

Begitu masuk di dalam, Baginda segera menyongsong keluar, betapa girang hatinya sungguh sukar dilukiskan, sampai tidak bisa berkata-kata.

Segera Ma Bong-hwi sembah hormat, serunya.

"Hamba terlalu tidak becus sampai terjatuh di tangan Ing Si-kiat, hampir saja membuat malapetaka bagi seluruh negeri, harap Baginda suka memberi hukuman yang setimpal."

Baginda tertawa, ujarnya.

"Soal ini sulit diduga sebelumnya, kau bisa selamat dan situasi sudah dapat diatasi, tidak perlu kau salahkan diri sendiri lagi!" -lalu ia berpaling dan berkata pada Hun Thian-hi.

"Tio-ciangkun sungguh gagah perwira, tentu kau sudah banyak capai."

Hun Thian-hi tertawa, sahutnya.

"Sekarang Ma-ciangkun sudah pulang dengan selamat, segala sesuatunya pasti dapat dibereskan. Hamba masih ada sedikit urusan, mohon ijin untuk keluar sebentar!"

Tuan putri menjadi gugup, serunya.

"Kau sudah begitu letih, ada urusan apa lagi, apakah tidak bisa besok saja?"

"Urusan ini sangat penting, aku sendiri merasa sudah terlambat, bila segera tidak kususul kesana, entah apa akibatnya nanti!"

"Jadi maksud Tio-ciangkun sekarang juga hendak berangkat?"

Sela Ma Gwat-sian gelisah.

"Belum tahu,"

Sahut Thian-hi, ia tahu orang salah paham, maka sambungnya.

"Tapi gurumu pasti juga disana, bila itu benar-benar selanjutnya aku tidak akan kembali lagi."

"Apa!"

Teriak Tuan putri gugup.

"Kau hendak pulang ke Tionggoan?"

Ma Bong-hwi berjingkrak kaget, teriaknya.

"Apa! Thian-hi! Kau...."

Hun Thian-hi tersenyum lebar, katanya.

"Terdesak oleh keadaan, sekarang juga aku harus pergi!"

Lalu ia menjura memberi hormat kepada seluruh hadirin, cepat-cepat terus berlari keluar.

Baginda sendiri merasa diluar dugaan, namun tiada alasan ia mencegah pemberangkatan orang, terpaksa ia berteriak.

"Tio-ciangkun, bila kau sudi, Thian-bi-kok selamanya menyambut kedatanganmu dengan tangan terbuka!"

Thian-si melambaikan tangan serta nyatakan terima kasih, setelah segala barang-barangnya diamhil langsung ia melayang cepat keluar.

Seluruh penghuni kota Bi-seng berbondong-bondong keluar mengantar pemberangkatan Thian-hi.

Thian-hi sudah siap untuk meningalkan tempat ini, namun selama empat bulan ia menetap di Thian-bi-kok kesannya terlalu mendalam, ia menjadi berat untuk meninggalkan negeri kecil ini.

Tapi serta teringat kejadian yang bakal terjadi di tebing tinggi sana, kakinya menjadi semakin cepat melangkah.

langsung ia menuju ke utara keluar lewat pintu utara.

Para penjaga di atas benteng kota menjadi heran, tak tahu mereka kemana Hun Thian-hi hendak pergi.

Waktu Thian-hi mendongak tampak burung dewata itu masih terbang berputar-putar di atas tebing curam itu, berdebuk jantung Thian-hi, gebrak perkelahian kali ini pasti sangat seru dan sengit, sampai lama ternyata masih belum ada kepastian siapa lebih unggul atau asor.

Tengah ia berpikir2 dan melangkah lebih cepat, tiba-tiba burung dewata itu terbang di atas kepalanya, berputar dua kali.

Waktu Thian-hi mendongak, tampak Siau Hong tengah bercokol di atas punggung burung dewata itu, baru saja ia hendak berteriak memanggil, burung dewata itu sudah menukik turun hinggap di tanah.

Di lain saat Siau Hong sudah muncul di depan matanya, kedua biji matanya yang bundar besar terkesima mengawasi dirinya.

"Siau Hong!"

Panggil Thian-hi tertawa. Siau Hong berkata kaget.

"Tak nyana kau berada disini. kenapa kau berdandan demikian?" ."Mencari aku bukan?"

Tanya Thian-hi tertawa Siau Hong tertawa, katanya.

"Bersama Siocia kami mencarimu ke-mana-mana, kelihatannya puncak tebing ini rada aneh, baru saja kami turun lantas kepergok dengan seorang Nikoh dan dua orang kakek. Kontan mereka lantas bertempur begitu sengit."

Tersentak jantung Thian-hi, batinnya.

"Kiranya Ham Gwat juga telah datang."

Sembari tertawa ia berkata pula.

"Akupun tengah menuju ke sana!"

"Apa!"

Teriak Siau Hong kejut.

"Kau mau mengantar kematianmu?"

Thian-hi mandah tersenyum tanpa buka bicara lagi, secepat terbang mereka melayang menuju ke arah tebing itu.

Melihat Thian-hi lari begitu cepat seperti tidak menggunakan tenaga sedikitpun, batin Siau Hong menjadi heran dan bertanya-tanya, segera ia kerahkan tenaganya untuk adu kekuatan lari cepat.

Lwekang Thian-hi saat itu boleh dikata sudah mencapai tingkat kaki melangkah berjalan di udara, langkah kakinya itu sudah bergerak paling lamban.

Tapi bagi Siau Hong masih terlalu cepat, keruan bercekat hatinya, sungguh ia heran akan ilmu silat Hun Thian-hi yang maju begitu pesat.

Waktu mereka tiba di pinggir tebing, sementara itu dengan pedang tunggalnya Ham Gwat tengah menghadapi keroyokan Pek-bi-siu dan Giok-hou-sian, pedang Ham Gwat bergerak begitu lincah dan gesit sekali mendesak kedua musuhnya, Pek-bi-siu sudah kerahkan seluruh tenaga dan bojong keluar seluruh kemampuan, namun kepandaian mereka memang kalah setingkat, betapapun mereka berusaha tetap terdesak di bawah angin.

Sebaliknya seperti menari mendemonstrasikan gaya permainan pedangnya yang indah gemulai, Ham Gwat bergerak lamban dan seenaknya saja.

Diam-diam Thian-hi menjadi kagum akan Lwekang Ham Gwat yang tinggi dan hebat ini, selama ini belum pernah lihat Ham Gwat bertempur lawan orang, kini sekali dia turun tangan.

melihat permainan pedangnya itu, hatinya menjadi mencelos dan mengeluh dalam hati.

Dalam pada itu, dengan lirikan matanya Ham Gwat pun sudah melihat kehadiran Thian-hi, dilihatnya pakaian Thian-hi yang aneh itu, pandangan sinar matanya mengunjuk rasa heran dan tak mengerti, namun hanya sekejap saja lantas pulih seperti sediakala, kaku dingin tak berperasaan.

Dilihat oleh Thian-hi si Nikoh menggembol kecapinya menonton di pinggiran....

Diam-diam ia turut kuatir akan keselamatan Ham Gwat, begitu lagu irama abadi dikembangkan, mungkin dia tidak akan kuat bertahan.

Sementara itu, kedudukan Ham Gwat jelas dipihak yang menang, setiap jurus gerak pedangnya pasti membawa kesiur angin yang menderu keras merangsak kepada kedua musuhnya.

Meski bergabung namun Thian-bi-siang-kiam dibikin pontang panting menjaga diri keadaannya begitu runyam, sungguh mereka tidak akan menduga bahwa hari ini mereka bakal terjungkal di bawah tekanan sebatang pedang seorang gadis muda belia.

"Kau sudah datang!"

Terdengar si Nikoh menyapa kepada Hun Thian-hi. Segera Thian-hi menjura, sahutnya.

"Gadis ini datang mencari aku, harap Cianpwe melepasnya pulang, kami akan segera berangkat bersama!"

"Tidak boleh!"

Sahut si Niko;i dingin.

"Jangan asal sebagai murid Bu-bing Loni lantas dia berani main terobosan di Thian-bi-kok, seumpama Bu-bing Loni sendiri pun tidak kuijinkan."

Sudah tentu Ham Gwat juga dengar percakapan mereka, namun sinar matanya seperti tidak menunjukkan perubahan perasaan hatinya, sikapnya masih tetap dingin dan kaku.

"Cianpwe perhitungan ini biarlah aku saja yang menyelesaikan bagaimana?"

Tanya Thian-hi.

"Kau?"

Dengus si Nikoh geram.

"Keselamatanmu sendiri belum kau urus mau mohonkan ampun bagi orang lain?"

Dari samping Siau Hong segera menimbrung bicara.

"Buat apa kau bicara padanya, yang jelas Siocia berada di atas angin, suruh mereka berlutut kepada Siocia belum tentu Siocia sudi memberi ampun!"

Kelihatan amarah si Nikoh mulai memuncak, dengan tajam ia menyapu pandang ke tengah gelanggang, memang Thian-bi-siang-kiam sudah semakin payah dan tidak kuat bertahan lagi.

Segera ia gerakkan tangan kanannya ke arah Thian-hi sedang mulutnya berkata.

"Kau sendiri urus dirimu, jangan cerewet dan turut campur urusan orang lain!"

Begitu mendengar suara kecapi kelihatan Ham Gwat juga tahu akan kelihayan musuh, cepat pedangnya menyabet balik menyongsong ke arah datangnya suara kecapi.

Thian-bi-siang-kiam berdua menjadi terkejut, cepat mereka jumpalitan mundur ke belakang.

Melihat permainan pedang Ham Gwat begitu lihay, dengan sebatang pedangnya ia mampu menangkis dan membendung serangan irama kecapinya, diam-diam si Nikoh bercekat, ia percaya bahwa lagu kekal abadi merupakan ilmu yang tiada taranya di alam maja pada ini, segera kesepuluh jarinya bergerak lincah memetik snar bergantian, melagukan Tay-seng-ci-lau.

Thian-hi sendiri menjadi kejut dan was-was, cara pertempuran macam ini baru pertama kali ini dilihatnya, Hui-sim-kiam-hoat memang belum pernah mendapat tandingan yang setimpal, namun Tay-seng-ci-lau pun sama hebatnya tiada yang kedua di seluruh kolong langit ini.

Setiap petikan irama kecapi si Nikoh tentu dapat disampok atau ditangkis oleh pedang Ham Gwat, pedang yang bergerak lincah dan hebat di tangannya itu setiap saat selalu memancarkan cahaya pedang yang putih'kemilau dari desakan tenaga dalamnya yang hebat untuk membendung rangsakan irama Tay-seng-ci-lau.

Lambat laun lagu Tay-seng-ci-lau semakin keras dan cepat, lapat-lapat terasa adanya nafsu membunuh yang mulai menghayati serangan irama lagunya.

Akhirnya Ham-Gwat meletakkan pedangnya di tanah dan dia sendiri duduk bersila seperti orang semadi.

Kedua belah pihak bertahan sekian lamanya, saling serang menyerang, sekonyong-konyong irama harpa si Nikoh berubah.

jari jemarinya sekarang memetik lagu Le-liong-jut-cui seluruh lwekangnya dikerahkan melalui irama lagu ini untuk menyerang kepada Ham Gwat.

Raut muka Ham Gwat semakin pucat dan berkeringat, kelihaiannya sudah tidak kuat lagi.

Tahu bahwa Ham Gwat sudah terdesak segera Siau Hong berseru kepada Hun Thian-hi.

"Lekas kau tolong Siocia kami!"

Hun Thian-hi insaf bila Ham Gwat tetap bertahan dan melawan mati-matian akhirnya pasti bakal terluka dalam yang teramat parah, atau mungkin seluruh perutnya hancur dan sungsang sumbel sampai menemui ajalnya dengan mengenaskan.

Thian-hi tidak berayal lagi, sembari berkelebat ia meloloskan pedang.

kontan ia lancarkan jurus pertama dari ilmu Wi-thian-cit-ciat-sek yang bernama Thian-wi-te-tong (bumi bergerak langit berputar), pedangnya terangkat tinggi ke depan seperti tidak bergerak.

namun dalam gerak terpaut beberapa mili saja itu sudah kerahkan seluruh Lwekangnya di atas ujung pedang.

Setabir sinar perak kemilau dari batang pedang melesat keluar menggetar balikkan tenaga serangan si Nikoh melalui irama lagunya yang hebat itu.

Biji mata Ham Gwat rada terbuka mengawasi Thian-hi, sedikitpun ia tidak merasa heran atau aneh.

seolah-olah ia sudah tahu bahwa Thian-hi membekali ilmu yang teramat sakti ini.

Sebaliknya Siau Honglah yang kegirangan seperti putus lotre beberapa juta, teriaknya.

"Siocia! Lihatlah Hun-siangkong, ilmu pedangnya ternyata begitu lihay. ilmu pedang Suthay kiranya juga hanya begitu saja!"

Adalah si Nikoh itu yang bercekat, dua hari saja Thian-hi menyekap diri, namun ilmu pedangnya ternyata sudah maju melompat beberapa kali lipat hebatnya.

Ternyata ia mampu menggunakan hawa pedang untuk menyerang musuh, sejak dulu ia pernah dengar mengenai penggunaan hawa pedang untuk menyerang musuh dan belum pernah menyaksikan sendiri.

Sekarang dengan mata kepalanya sendiri ia saksikan seorang pemuda berusia likuran dapat menggunakan ilmu sakti yang tiada taranya itu justru untuk melawan dirinya, keruan kejutnya bukan main.

"Hun-siangkong!"

Teriak Siau Hong pula dari samping.

"Ilmu pedang apakah yang kau mainkan ini! Kenapa batang pedangmu sedikitpun tidak bergerak!"

Mendengar seruan Siau Hong ini, bertambah besar kejut si Nikoh, kenapa aku begitu gegabah. segera ia hentikan petikan harpanya serta berkata kepada Thian-hi.

"Adakah yang kau gunakan ini Wi-thian-cit-ciat-sek?"

Thian-hi rada tercengang.

Wi-thian-cit-ciat-sek merupakan ilmu sakti yang sudah putus turunan sel ma beberapa ratus tahun lamanya.

Latihan dirinya pun belum sempuma paling-paling baru mencapai 80%, namun sekali dirinya menggunakan ilmu ini lantas dapat dikenali asal usulnya.

Mendengar akan nama Wi-thian-cit-ciat-sek, meski raut wajah Ham Gwat selalu kaku dingin ini tak urung sinar matanya memancarkan cahaya terang yang sangat aneh, kelihatannya heran.

kaget dan aneh namun juga mengandung rasa kurang percaya.

tapi juga sangat kegirangan, akhirnya seperti rada kecewa pula.

Perubahan pancaran sinar matanya ini terjadi dalam kilasan waktu saja, tiada seorangpun yang tahu.

Thian-hi merenung sebentar, dia ragu-ragu untuk menerangkan dihadapan Siau Hong dan Ham Gwat karena mereka adalah murid dan pembantu Bu-bing Loni, apalagi Wi-thian-cit-ciat-sek belum lagi sempurna dilatih olehnya, bila mereka memberitahu rahasia ini kepada Bu-bing Loni, mungkin jiwanya bakal terancam bahaya, Namun sesaat ia bersangsi akhirnya ia manggut-manggut sambil mengiakan.

"Darimana kau pelajari ilmu ini?"

Tanya si Nikoh. Hun Thian-hi awasi si Nikoh, dia guru Ma Gwat-sian, tidak seharusnya aku bohong padanya, katanya.

"Ka-yap Cuncia yang menganugerahkan kepada aku!"

"Beliau!"

Teriak si Nikoh dengan kejut. Diam-diam Thian-hi curiga, dari nada teriaknya kelihatannya ia cukup kenal siapa itu Ka-yap Cuncia. Akhirnya si Nikoh menghela napas panjang, tanyanya.

"Siapa kau sebenar-benarnya?"

"Aku sebagai murid angkatnya!"

"Beliaukah yang suruh kau kemari?"

Thian-hi manggut-manggut, sahutnya.

"Benar-benar, Taysu memberi pesan supaya aku tidak menonjolkan ilmu silat sebelum Wi-thian-cit-ciat-sek kulatih sempurna dilarang meninggalkan tempat ini."

"Kalau begitu akulah yang salah. Seharusnya aku tidak membocorkan rahasiamu kepada Gwatsian. Apakah Wi-thian-cit-ciat-sek sudah kau latih sempurna seluruhnya?"

Thian-hi geleng kepala, sahutnya.

"Belum seluruhnya, soalnya terjadi huru-hara dalam negara tadi sehingga latihanku tertunda beberapa bagian!"

"Aku bernama Po-ci,"

Si Nikoh memperkenalkan dirinya.

"Bila jumpa dengan gurumu, tolong sampaikan salamku pada beliau. Apakah kau tidak mau tinggal lagi beberapa lama?"

"Tidak perlu lagi, sekarang juga aku sudah siap untuk berangkat!"

"Terpaksa aku tidak menahanmu lagi, kelak bila kau memerlukan tenagaku akan kubantu sekuat tenaga!"

Demikian ujar si Nikoh, lalu sambungnya.

"Sekarang bolehlah kalian berangkat bersama!"

Habis berkata bersama Pek-bi-siu dan Giok-hou-sian mereka tinggal pergi. Dengan suara lirih Siau Hong bertanya pada Thiani-hi.

"Benar-benarkah kau murid Ka-yap Cuncia?"

Thian-hi tertawa kikuk, katanya.

"Belum terhitung muridnya, yang benar-benar memang dia serahkan ilmu Wi-thiat-cit-ciat-sek kepada aku, dianggapnya aku sebagai murid angkat belaka."

Siau Hong meleletkan lidahnya, katanya.

"Tak heran ilmu psdangmu begitu lihay, hampir lebih tinggi dari kepandaian Suthay!"

Thian-hi tertawa tawar. Katanya.

"Sunggun menyesal pesan beliau tiada satupun bisa kulaksanakan dengan baik."

"Kau hendak tinggalkan tempat ini. maksudmu hendak pulang ke Tionggoan?"

"Aku sendiri masih bingung apa yang harus kulakukan, yang jelas aku memang harus meninggalkan tempat ini!"

"Belum pernah kulihat orang setolol kau. kemana dirinya hendak pergi kok tidak tahu, menurut perasaanku sikap dan watakmu sudah jauh lebih baik daripada waktu pertama kali aku jumpa dengan kau dulu!' Thian-hi mandah tersenyum saja. ia berpaling memandang ke arah Ham Gwat, saat mana Ham Gwat sedang bangkit berdiri, katanya.

"Jikalau aku adalah kau, sebelum Wi-thian-cit-ciat-sek sempurna kulatih aku tidak akan tinggal"

Pergi!"

Wajah Ham Gwat memang tetap kaku dan dingin. namun sinar matanya memancarkan cahaya jernih dan kalem yang melimpah dari kemurnian hatinya. Hati Thian-hi menjadi hangat, katanya.

"Terimakasih, pasti akan kusempurnakan!"

Ham Gwat menunduk ujarnya.

"Sekarang Tionggoan sudah di bawah cengkeraman Tok-simsin-mo. Sejak ia lolos dari Jian-hud-tong mengandal kepandaiannya yang hebat ia berhasil menundukkan Partai Merah dan mengusir Partai Putih keluar perbatasan, Jian-hud-tong dibangun sebagai sarang pangkalannya. Guruku tidak mau saling bentrok padanya maka mengumbar saja perbuatannya. yang bersimaharaja itu."

Thian-hi rada kaget akan perkembangan situasi yang tidak diduga ini. tanyanya cepat.

"Lalu bagaimana dengan Kiu-yu-mo-lo dan Pek-kut-sin-mo?"

"Soal mereka aku tidak tahu! Mengandal ilmu kepandaianmu sekarang. seorang diri menghadapi gerombolan Tok-sim-sin-mo itu masih jauh dari cukup Ketahuilah anak buahnya semua adalah gembong-gembong iblis yang sudah lama mengasingkan diri dan kenamaan, berkepandaian tinggi lagi." * "Terimakasih akan penjelasanmu ini!"

"Kedatanganku hari ini sebenar-benarnya mencari kau, untuk menyeretmu kehadapan guruku. tapi tadi kau menolong jiwaku, sekarang aku harus pulang, biarlah lain kesempatan saja kubalas kebaikan badimu ini!"

"Nanti dulu!"

Seru Thian-hi tergesa-gesa.

"Aku tahu, maksud baikmu, mungkin tidak berguna lagi, tapi aku terima maksud baikmu ini!"

Lalu bersama Siau Hong ia naik ke atas panggung burung dewata dan terbang tinggi menghilang.

Thian-hi terlongong dipinggir tebing, baru pertama kali ini sejak kenal dulu ia langsung berhadapan dan bicara dengan Ham Gwat, apa yang terasa sekarang olehnya bahwa Ham Gwat ternyata begitu lemah lembut, berperasaan halus dan simpatik, jauh berlainan dengan kesannya dulu yang kaku dingin dan congkak itu.

Waktu bicara tadi kelihatan rasa simpatiknya terhadap dirinya.

ia prihatin akan keselamatan dirinya.

Pikir punya pikir, akhirnya hatinya menjadi mencelos, bukankah Ham Gwat masih anggap dirinya sebagai musuh besarnya.

Begitulah Thian-hi menjublek dipinggir tebing, perasaannya panas dingin bergantian, akhirnya pelan-pelan ia memutar tubuh hendak tinggal pergi.

Mendadak ia merasa segulung angin keras menerpa datang dari belakang, keruan kejut Thian-hi begitu mendengar kesiur angin ini lantas ia tahu bahwa yang datang ini pasti seorang tokoh silat yang berkepandaian tinggi, bukan saja tokoh malah seorang kosen lagi.

Lincah sekali kakinya bergerak pindah kedudukan seraya memutar balik.

sekali pandang tanpa terasa ia menjadi berjingkrak kegirangan, kiranya pendatang ini bukan lain adalah Pek-kut-sin-mo Pek Si-kiat adanya.

"Paman Pek!"

Teriak Thian-hi kegirangan. Pek Si-kiat tertawa lebar, katanya.

"Ka-yap Taysu berpesan supaya aku kemari menjemput kau pulang, apa kau tahu kenapa beliau antar kau ke tempat ini?"

"Disini aku tidak akan direcoki orang lain."

"Bukan begitu, Ka-yap Taysu tahu betapapun kau akan menggunakan ilmu silatmu, karena kau manusia, manusia punya hati dan dapat berpikir, betapapun kau tidak akan dapat menyembunyikan kepandaian silatmu."

Thian-hi terlongong, katanya.

"Jadi buat apa Ka-yap Taysu menyuruh aku kemari?"

"Tiada maksudnya yang tertentu, yang utama dia hendak melatih kesabaranmu, beliau menjelaskan kepadaku supaya aku menerangkan pula kepada kau, ilmu silatmu baik sekali, kau punya keberanian dan ketekunan melakukan segala sesuatu yang harus kau kerjakan, yang kurang ialah bahWa kau jarang menggunakan otakmu untuk beipikir!"

Terlihat oleh Thian-hi dibalik senyum Pek Si-kiat itu samar-samar terbayang kekuatiran yang mencekam hatinya.

ia menjadi heran dan bertanya-tanya, namun bila Pek Si-kiat tidak menjelaskan iapun tidak enak menanyakan.

Dalam hati ia membatin.

"Orang lain selalu memuji aku pintar kenapa Ka-yap Cuncia mengatakan aku masih kurang cerdik?"

"Beliau berkata selamanya kau bertindak tanpa memikirkan akibatnya, sepak terjangmu membabi buta dan serampangan. Dan sekarang kau sudah rela tunduk kepada orang lain, setiap tindak tandukmu tidak akan gegabah dan ceroboh lagi. itulah kesabaran yang melandasi sanubarimu dan itulah kecerdikan hanya sabar dan bijaksana baru akan timbul akal cerdikmu!"

"Paman Pek. kenapa guru tidak langsung menjelaskan saja kepada aku?"

Pek Si-kiat menghela napas rawan, ujarnya.

"Beliau sudah lama mangkat!"

Thian-hi terlongong-longong sedih, dia menunduk berdoa.

Selanjutnya Pek Si-kiat memberi gambaran situasi kalangan Kangouw di Tionggoan, selama ini ia menjelajahi jejak Kiu-yu-mo-lo tanpa berhasil.

Tok-sim-sin-mo sudah lama lolos, untuk kesekian kalinya ia main bersimaharaja di Kangouw.

Karena menghilangnya Thian-hi sekian lamanya berbagai aliran dan golongan yang meng-uber-uber dirinya itu sekarang menjadi putus asa dan tawar.

Apalagi Tok-sim-sin-mo malang melintang membuat huru hara dimana-mana.

Memang berbagai aliran dan golongan dari kaum lurus beberapa kali niat bergabung menghantam Tok-sim-sin-mo, dasar licik dan banyak kaki tangannya, pihak Tok-sim-sin-mo selalu dapat bertindak lebih cepat menumpas para aliran lurus itu, lambat laun kekuatan aliran besar kecil dari Bulim menjadi lemah dan tidak berdaya lagi.

Melulu Siau-lim-pay saja yang masih tetap jaya, berdiri tegak tanpa tergoyahkan.

Soalnya mereka jarang turut campur urusan dunia persilatan, pihak Tok-sim-sin-mo sendiri juga segan mencari gara-gara terhadap mereka, yang jelas karena Thian-cwan dan Te-coat kedua Taysu yang teragung dari pihak Siau-lim masih sehat kuat, betapapun Tok-sim-sin-mo harus berpikir dua belas kali untuk memancing kerusuhan terhadap pihak yang paling kuat ini.

Bab 19 Begitulah sambil bercakap-cakap Thian-hi berdua menempuh perjalanan, terlihat oleh Thian-hi wajah Pek Si-kiat dirundung hawa kekuatiran yang melesukan hati, beberapa kali ia niat bertanya namun selalu urung.

Diam-diam heran Thian-hi, akhirnya tak tertahan ia bertanya.

"Paman Pek, apa pula yang perlu kau katakan?"

Pek Si-kiat beragu sebentar, katanya.

"Hun-hiantit, ingin kutanya kau, Wi-thian-cit-ciat-sek sudah sempurna kau latih belum?"

Mendengar orang menanyakan soal itu, berdetak jantung Thian-hi, tahu dia bahwa urusan pasti rada janggal, atau pasti terjadi sesuatu yang menyulitkan, soalnya Pek Si-kiat masih kuatir bila Withian-cit-ciat-seknya belum sempurna sulit untuk mengatasi soal ini, maka dia tidak berani membuka mulut.

Dari sikap dan raut muka Pek Si-kiat dapat diraba bahwa persoalan ini tentu sangat penting dan genting, katanya.

"Yang lain tidak berani kukatakan, melulu menghadapi Tok-sim-sin-mo kiranya cukup berlebihan!"

"Apa benar-benar?"

Pek Si-kiat menegas dengan muka kegirangan.

"Hian-tit, ada sesuatu hal yang harus kau sesalkan terhadapku, harap kau suka memaafkan!"

"Soal apakah sebenar-benarnya, harap paman suka menjelaskan?"

"Kalau dibicarkan sungguh memalukan, aku kehilangan taci angkatmu Sutouw Ciko!"

"Apa?"

Tanya Thian-hi berjingkrak.

"Ka-yap Taysu menyuruh aku menunggu sampai burung dewata muncul, bila kau turun segera kami harus langsung pulang ke Tionggoan, bila kau tidak turun, sepuluh hari kemudian aku harus naik ke atas tebing menyambut kau. Tapi aku kehilangan Sutouw Ci-ko terpaksa aku memburu ke atas."

Thian-hi menenangkan hati, katanya.

"Paman tahu cara bagaimana menghilangnya?"

"Diculik oleh Tok-sim-sin-mo!"

"Bukanlah Ci-ko tidak punya permusuhan apa dengan mereka."

"Benar-benar, tapi Ci-ko bersama aku. kubawa dia mengembara di Kangouw, entah bagaimana akhirnya Tok-sim tahu bahwa aku juga sudah lolos, berulang kali ia mengutus anak buahnya mencari aku minta aku masuk menjadi anggota gerombolan mereka, namun dengan tegas kutolak, siapa kira dia malah menculik Ci-ko sebagai sandera."

Thian-hi menjadi gugup, katanya.

"Entah bagaimana pula keadaan Ci-ko?"

"Dia minta aku menjadi anggota dan diangkat sebagai Wakil Pangcu, sudah tentu dia tidak berani siksa atau mempersulit Ci-ko, namun bila terlalu lama kurasa kurang leluasa juga. Aku tahu tenagaku bukan lawan Tok-sim, jalan yang terbaik hanya mencari kau. Bila Wi-thian-cit-ciat-sek sudah sempurna kau latih, apa pula yang perlu ditakuti?"

Thian-hi sudah melulusi permintaan Ham Gwat untuk menyempurnakan dulu latihan Wi-thiancit-ciat-sek di Thia-bi-kok ini baru pulang ke Tionggoan.

Tapi kejadian ini terpaksa harus merubah pula keputusannya, bgaimana juga ia harus segera menyusul kesana untuk menolong Sutow Ci-ko meski ilmu pedangnya belum sempurna.

Karena itu terpaksa Thian-hi harus menyelusuri pula jejak2 berdarah di kalangan Kangouw, dan seluruh dunia persilatan bakal gempar pula karena Thian-hi muncul pula di Kangouw, yang jelas dia harus langsung berhadapan dengan para gmbong2 iblis yang lihay dan jahat itu.

Dunia persilatan bakal bergelombang dan tiada ketenteraman hidup lagi.

Justru karena Wi-thian-cit-ciat-sek belum lagi sempurna latihannya, Thian-hi sendiripun harus menempuh mara bahaya yang selalu mengancam jiwanya.

Begitulah bersama Pek Si-kiat mereka melakukan perjalanan cepat siang malam untuk menolong Sutouw Ci-ko dari cengkeraman sarang iblis.

Hari menjelang magrib.

sang surja sudah hampir terbenam diutuk barat, cahayanya nan kuning keemasan terang benderang menerangi jagat raja, di atas tanah tandus yang berdebu ke arah timur tampak bayangan dua ekor kuda yang memanjang ke depan.

di atas kuda ini masing-masing bercokol Hun Thian-hi dan Pek Si-kiat.

Hun Thian-hi sekarang mengenakan jubah panjang seperti pakaian sastrawan umumnya.

Sudah beberapa hari ini mereka menempuh perjalanan jauh dengan tidak mengenal lelah.

tujuan utama adalah Jian-hud-tong.

Menurut perhitungan Pek Si-kiat, ia mengharap sebelum Sutouw Ci-ko berhasil digondol pulang masuk ke Jian-hud-tong mereka harus mencegatnya dulu ditengah jalan, menurut situasi dan keadaan menolong Sutouw Ci-ko dari cengkeraman musuh.

Lambat laun cuaca menjadi gelap, seluruh jagat raja ini dicekam kesunyian dan kegelapan tabir malam.

Mendadak Hun Thian-hi menarik tali kendali serta berkata kepada Pek Si-kiat.

"Paman Pek, ada orang mendatangi dari depan!"

Pek Si-kiat kaget, tahu ia orang yang dimaksud oleh Thian-hi ini tentu seorang tokoh luar biasa, maka cepat iapun menghentikan lari kudanya, dengan cermat ia pandang ke depan.

Benar-benar juga tak lama kemudian dilihatnya seorang mendatangi.

kiranya pendatang ini adalah Bing-tiongmo-tho (siiblis bungkuk dari Bing-tiong) Sukong Ko.

Sejak Si-gwa-sam-mo kena dibelenggu dan disekam di dalam Jian-hud-tong oleh Ka-yap Cuncia, Sukong Ko tahu diri, ia mengundurkan diri dari percaturan dunia persilatan.

Kini setelah Sigwa-sam-mo lolos dari hukuman, tujuan yang utama adalah menggabung seluruh kekuatan golongan hitam untuk menyelidik dan mencari tahu soal mati hidup Ka-yap Cuncia yang ditakuti itu.

Disamping itu keadaan yang cukup menguntungkan bagi golongan mereka pula sehingga mereka dapat melebarkan sayap dan kekuasaannya ke-mana-mana, karena pihak aliran lurus sedang merosot semangat dan tercerai berai.

Oleh karena itulah Bing-tiong-mo-tho Sukong Ko berani menampilkan diri pula dalam gelanggang adu kekuatan antar golongan sesat melawan aliran lurus ini.

Sudah tentu Pek Si-kiat tahu dan mengenal pribadi Sukong Ko ini melihat munculnya orang ini, ia insaf bahwa Tok-sim-sin-mo pasti sudah bertindak lebih cepat dari dugaan mereka, tentu kedatangan Sukong Ko ini tanpa sebab dan tujuan.

Bagaikan angin lesus Bing-tiong-mo-tho Sukong Ko mendatangi kehadapan mereka, setelah menyapu pandang sebentar ia berkata tertawa kepada Pek Si-kiat.

"Pek-heng! Pho-toako mengutusku kemari untuk menyilahkan kau kesana!"

Thian-hi tidak tahu siapakah Bing-tiong-mo-tho ini. ia heran dan terkejut akan kehebatan kepandaian orang yang tinggi, dengan cermat ia amati orang, lalu tanyanya kepada Pek Si-kiat.

"Paman Pek! Siapakah orang ini?"

Pek Si-kiat mendengus lirih, sahutnya.

"Mo-tho-cu! (iblis bungkuk)."

Selama hidup Sukong Ko paling benci dan sirik bila ada orang memanggilnya si Bungkuk, mendengar kata-kata Pek Si-kiat, kontan berubah airmukanya, katanya.

"Pek-heng! Ketahuilah kedatangan Sukong Ko hari ini bertujuan baik dan menguntungkan bagi kau, jangan kau sangka aku gentar menghadapi kau, sekarang aku menjalankan tugas engkohmu untuk mengundangmu kesana, kau sangka Sukong Ko sudi meminta2 sesuatu terhadap kau!"

Thian-hi belum pernah dengar nama Sukong Ko, namun dari ilmu silat orang dari sikapnya yang kaku serta punya hubungan erat dengan Pek Si-kiat lagi, ia kira orang sebagai salah satu gembong-gembong iblis yang telah mengundurkan diri dan sekarang muncul pula di Kangouw.

Pek Si-kiat menyeringai dingin, jengeknya.

"Dimana Sutouw Ci-ko sekarang? Lekas kau bebaskan dia!"

Sukong Ko pun tidak kalah dingin, dengusnya.

"Bila kau masuk anggota, jabatan wakil Pangcu jelas dapat kau duduki, kenapa pula kau terburu nafsu, bukan aku tidak tahu perangaimu, kenapa kau tidak mau bekerja sama dengan kita? Apakah kau tidak lagi ingin menuntut balas pada Ka-yap Cuncia yang telah mengurung kalian sekian lamanya?"

"Tutup mulutmu!"

Hardik Pek Si-kiat.

hatinya marah sekali.

Bercekat hati Sukong Ko, betapapun hatinya masih gentar menghadapi Pek Si-kiat, meskipun.

sebagai salah seorang gembong iblis yang jahat dan berkepandaian tinggi, namun bila dibanjng dengan Si-gwa-sam-mo rasanya masih kalah jauh beberapa tingkat.

Membayangkan sepak terjang Pek Si-kiat dulu, sungguh hatinya jadi mengkirik dan beku darahnya.

Tak tahu dia kenapa Pek Sikiat melepaskan diri dari hubunngan eratnya dengan Tok-sim-sin-mo.

Pek Si-kiat dapat mengendalikan diri, ia tahu tak boleh membawa sikapnya yang keras dan ketus, soalnya Sutouw Ci-ko masih berada ditangan mereka, yang dikuatirkan justru adalah keselamatan Sutouw Ci-ko.

Dengan memincingkan mata ia pandang muka Sukong Ko lalu katanya pelan-pelan.

"Kau pulang dan suruh Pho Cu-gi kemari bicara langsung dengan aku!"

Dengan heran dan bertanya-tanya Sukong Ko pandang Pek Si-kiat, ia menjadi melengak akan perubahan sikap Pek Si-kiat yang mendadak dapat mengendalikan hawa marahnya ini.

Sebentar kemudian ia menyeringai dingin, katanya.

"Pek-heng! Apapun yang kau inginkan bakal dikabulkan. Jangan kau lupa bahwa Sutouw Ci-ko sudah dibawa masuk ke Jian-hud-tong. Lima puluh tahun sudah menjelang, apakah kau masih takut dan gentar menghadapi Ka-yap si Hwesio tua itu?"

Memang Sukong Ko pernah dengar bahwa Ka-yap Cuncia belum wafat, namun dia tidak tahu bahwa Pek Si-kiat sekarang sudah berubah haluan, dari tersesat sudah kembali kejalan lurus.

Malah mendapat kebebasan langsung dari Ka-yap Cuncia sendiri.

Sekarang Ka-yap Cuncia sudah ajal, namun sikap Pek Si-kiat ini dianggapnya masih takut menghadapi Ka-yap seperti dulu.

Pek Si-kiat angkat alis, katanya mendengus lirih.

"Aku tak sudi banyak mulut pada kau, aku ingin bicara berhadapan dengan Pho Cu-gi. Dimana dia sekarang?"

"Pek-heng!"

Sindir Sukong Ko.

"Kau tak perlu takut pada Ka-yap lagi, meskipun Pan-yok-hiankangnya itu merupakan kepandaian tunggal yang tiada taranya, namun kita sudah punya cara yang paling sempurna untuk mengatasi ilmunya ini!"

Pek Si-kiat semakin murka, semprotnya.

"Dimana Pho Cu-gi sekarang?"

Sukong Ko sengaja menghindari pertanyaan ini, matanya melirik ke arah Thian-hi lalu bertanya pula kepada Pek Si-kiat.

"Konon kabarnya Pek-heng menempuh perjalanan bersama seorang yang bernama Hun Thian-hi, apakah benar-benar bocah ini adanya?"

Pek Si-kiat menyeringai, ejeknya.

"Apakah Pho Cu-gi tidak sudi menemui aku? Atau takut melihat aku?"

Sukong Ko tertawa sinis, sahutnya.

"Kau bersaudara dengan dia sekian lamanya. masa tidak tahu tabiatnya? Emangnya dia pernah takut pada siapa? Bila tidak mendapat persetujuannya aku sendirilah yang tidak sudi kemari menemui kau, sekarang kaulah yang perlu menemui beliau, terpaksa akulah yang menunjukkan jalan, tapi jangan kau lupakan tabiatnya!"

Pek Si-kiat mendengus hidung, jengeknya.

"Dia pun bukan tidak tahu akan watakku, masa perlu kau orang luar ikut campur dalam urusan ini. Cukup asal kau bawa aku kepadanya saja!"

"Kalau begitu, akupun tidak akan merintangi perjalananmu sekarang dia berada di Jian-huttong, mari ku antar kesana!" -habis berkata sebelah tangannya diayun ke belakang, seekor burung dara segera dilepaskan terbang cepat ke arah barat-laut. Pek Si-kiat cukup melirik saja, dengan kaku ia awasi Sukong Ko.

"Sekarang aku sudah memberi lapor, tidak bisa tidak kau harus datang ke sana!"

"Kau kira aku takut berhadapan dengan dia?"

Sukong Ko mandah menyeringai dingin, segera ia putar kudanya terus dilarikan dengan cepat.

Sepanjang jalan ini diam-diam Thian-hi pasang mata dan kuping, memang kenyataan kekuatan gerombolan Tok-sim-sin-mo sudah sedemikian luas dan kokoh kuat di daerah utara dan selatan sungai besar.

Banyak aliran lurus di daerah Tionggoan yang digencet dan diancam sehingga mereka tutup pintu dan menyarungkan pedang.

Daerah kekuasaan dan tempat rebutan antara Partai Merah dan Partai putih sekarang sudah menjadi sarang pusat Tok-sim-sin-mo dengan ganti nama menjadi Hek-liong-pang.

Singkatnya sepuluh hari kemudian rombongan Thian-hi bertiga tibalah dalam wilajah yang berdekatan dengan Jian-hud-tong.

Dari kejauhan Hun Thian-hi memandang ke arah Jian-hud-tong yang ditinggalkan beberapa bulan yang lalu, kini sudah ganti rupa, mulut Jian-hud-tong sekarang sudah diperlebar menjadi semacam pintu gerbang yang megah.

Baru saja mereka tiba diambang pintu gua, Tok-sim-sin-mo sudah menyongsong keluar, tampak oleh Thian-hi Tok-sim-sin-mo mengenakan pakaian serba hitam, wajahnya berseri tawa lebar, jenggot dan kumisnya sudah dicukur kelimis, hanya sepasang matanya itu yang tetap mencorong dingin berkilau seperti mata kucing, hampir Thian-hi tidak kenal bahwa yang dihadapi ini kiranya adalah Tok-sim-sin-mo.

Berkatalah Tok-sim-sin-mo lemah lembut kepada Pek Si-kiat.

"Samte! Watakmu seperti dulu, antara saudara sendiri kenapa main sungkan-sungkan apa segala. Sekarang kita sudah sama bebas seharusnyalah kita gabung dan kerja sama lagi untuk menghadapi Ka-yap. kenapa kau suka menyendiri dan tidak sudi bekerja sama!"

Pek Si-kiat menarik muka dan tidak bersuara. Kata Tok-sim-sin-mo kepada Hun Thian-hi.

"Kau pun ikut datang. Sejak kapan kau bergaul dengan Samteku, sekarang kami tidak perlu mempersoalkan perhitungan lama, kau sudah gaul bersama Samte berarti menjadi keluarga kami pula, mari silakan masuk!" -lalu ia mendahului memberi jalan ke dalam. Dengan waspada Thian-hi amat-amati beberapa orang di belakang Tok-sim-sin-mo, diam-diam bercekat sanubarinya, para pengikutnya itu semua adalah tokoh-tokoh lihay atau gembonggembong silat yang menakutkan, hampir seluruhnya dapat setingkat dijajarkan melawan Situa Pelita. Entah darimana Tok-sim-sin-mo dapat menggaruk begini banyak botoh2 silat ini! Dengan lirikan matanya Pek Si-kiat mengajak Hun Thian-hi masuk. Begitu berada di dalam didapati oleh Thian-hi, keadaan disini tidak banyak berbeda dengan keadaan dulu, hanya sekarang keadaan di dalam terang benderang ditimpah cahaya sinar mutiara yang diporotkan di atas dinding di berbagai tempat. Tampaknya Pek Si-kiat tidak pedulikan keadaan sekelilingnya, dengan langkah lebar ia beranjak masuk terus ke dalam gua. Akhirnya mereka dibawa masuk ke dalam sebuah kamar batu yang cukup luas dan besar. Setelah seluruh hadirin mengambil tempat duduk, belum lagi Pek Si-kiat sempat membuka mulut menuntut kebebasan Sutouw Ci-ko, Tok-sim-sin-mo sudah membuka suara lebih dulu, katanya.

"Samte! Aku punya sebuah barang ingin kuperlihatkan kepada kau!"

Tangannya bertepuk dua kali.

Pek Si-kiat dan Hun Thian-hi sama heran, entah Tok-sim-sin-mo sedang main sandiwara apa!

Segera mereka mendapat jawaban, tampak sebuah dinding di depan sana pelan-pelan terbuka, seorang berpakaian hijau segera keluar menyanggah sebuah kotak besi panjang dipersembahkan ke hadapan Tok-sim-sin-mo, Dengan berseri tawa Tok-sim-sin-mo meraih kotak besi itu terus dibuka, dari dalamnya ia menjemput keluar sebilah pedang panjang, pedang dan sarungnya lantas ia angsurkan kepada Pek Si-kiat serta katanya.

"Samte! Coba kau periksa, inilah pedang pusaka yang baru saja kusuruh orang membuatnya, bagaimana menurut penilaianmu?"

Berdetak jantung Pek Si-kiat, kiranya Tok-sim-sin-mo mampu cari seorang ahli untuk membuatkan pedang pusaka, sekarang diperlihatkan pada dirinya pula, entah kemana maksud juntrungannya.

Dengan kedua belah tangannya pelan-pelan Pek Si-kiat melolos pedang itu keluar, baru saja separo diantaranya tercabut selarik sinar kemilau yang menyilaukan mata memancar keluar dari batang pedang itu.

Begitu melihat cahaya berkilau yang menyilaukan mata ini kontan Pek Si-kiat berjingkrak kaget, otaknya lantas teringat akan seseorang, tanpa merasa mulutnya lantas berseru.

"Ling-lam-kiam-ciang!"

Hatinya menjadi was-was bila pandai pedang dari Ling-lam ini kena dipelet oleh Tok-sim-sin-mo, sungguh akibatnya sukar dibayangkan. Terdengar Tok-sim-sin-mo terkekeh-kekeh dingin, ujarnya.

"Benar-benar. Ling-lam-kiam-ciang Coh Jian-jo memang berada disini, oleh karena itu kau tidak perlu takut lagi bukan!"

Hun Thian-hi juga ikut kaget.

Tiada seorang pun kaum persilatan yang tidak tahu dan kenal akan seorang pandai pedang yang kenamaan macam Coh Jian-jo dari Ling-lam ini.

Bukan saja ia pandai membuat pedang, iapun pandai membuat bermacam2 senjata tajam lainnya yang hebat, beliau merupakan seorang jenius dari kaum Bulim.

Tapi konon sudah ratusan tahun lamanya menghilang dan tidak pernah membuat lagi senjata tajam, bila sekarang dia masih hidup usianya paling tidak sudah mencapai seratus lima puluh tahun, siapa nyana sekarang ahli pedang itu kena dipelet oleh Tok-sian-sin-mo.

Pek Si-kiat bungkam tak bersuara, hatinya semakin mencelos.

seperti yang dikatakan Bingtiong-mo-tho tak perlu takut lagi menghadapi Pan-yok-hian-kang kiranya beginilah kenyataannya Kalau begitu pasti Tok-sim-sin-mo sudah memperoleh sebuah alat senjata yang jahat dan ganas dapat memecahkan ilmu Pan-yok-hian-kang itu.

Kalau ini benar-benar maka Hun Thian-hi tidak akan mampu bertahan mengandal Pan-yok-hian-kang latihannya itu menang atau kalah menjadi sulit diperkirakan lagi.

Terdengar Tok-sim-sin-mo mendesak.

"Samte! Sampai detik ini apa pula yang perlu kau pertimbangkan?"

Pek Si-kiat menunduk berpikir sebentar, mendadak ia angkat kepala serta katanya. Dimana Sutouw Ciko sekarang?' "Samte!"

Ujar Tok-sim-sin-mo.

"Kulihat sikapmu sekarang tidak sewajar dulu lagi. Apa kau belum tahu tabiatku? Dari sikapmu ini jelas kau masih tidak rela bekerja sama dengan aku. sebetulnya apakah sebabnya?"

Pek Si-kiat tertawa tawar, sahutnya.

"Kau tak perlu tanya soal ini. Coh Jian-jo sudah berada disini, apa pula yang perlu kau takuti? Kaupun tidak perlu menarik diriku supaya bantu kau lagi!"

"Kukira soal apa, kiranya soal sepele ini."

Ujar Tok-sim-sin-mo tertawa.

"Watakmu seperti dulu, diantara kita bertiga hanya kaulah yang paling kupercayai, soal ini tiada halangannya kujelaskan kepada kau. Siapapun tiada yang kutakuti, tapi aku dapat membatasi diri tidak melebarkan sayapku keluar perbatasan dan juga tidak mencari perkara pada pihak Siau-lim, apa kau tahu apa sebabnya?"

Pek Si-kiat juga tahu tabiat Tok-sim-sin-mo, maka ia mandah diam saja, terdengar orang melanjutkan kata-katanya.

"Ang-hwat dia tidak akan mau dengar kata-kataku. Kau tahu tabiatku. lebih baik aku tidak mencari perkara pada pihak Siau-lim dan Ce-hun sitojin kerdil itu, tapi aku tidak akan membiarkan Ang-hwat bersimaharaja, sekarang diapun tengah mengumpulkan banyak kaki tangannya, tujuannya hendak mendirikan sebuah aliran yang bertentangan dengan pihak kami."

Pek Si-kiat tertawa, katanya.

"Ya, tapi bagi kau dia tidak lebih seperti seekor lalat belaka yang dapat ditimpuk mati."

Tok-sim-sin-mo menyeringai iblis, ujarnya.

"Seluk beluk soal ini belum kau ketahui, meskipun aku tidak gentar menghadapi dia, tapi Hwe-tok-kun sekarang sedang membantu dia."

Thian-hi tersentak kaget.

Hwe,tok-kun bukankah nama lain dari Mo-bin-suseng?

Hampir dia berjingkrak bangun, setiap kali mendengar nama Mo-bin-suseng, darahnya lantas bergolak dirongga dadanya.

Dengan kalem Pek Si-kiat manggut-manggut.

setelah berpikir sebentar ia berkata.

"Darimana kau toako tahu bahwa Hwe-tok-kun sedang membantu usaha Ang-hwat?"

Tok-sim-sin-mo terkekeh kering. ujarnya.

"Kalau bukan dia yang bergerak di belakang layar pasti Ang-hwat sudah tergenggam dalam telapak tanganku,"

Lalu ia awasi Pek Si-kiat, sambungnya.

"Samte! Kau tahu maksudku bukan?"

Pek Si-kiat maklum bahwa Tok-sim-sin-mo mengharap dirinya suka bergabung dalam komplotannya untuk menghadapi Hwe-tok-kun. maka dengan tertawa ewa ia menyahut.

"Aku takkan mampu bantu kau menyelesaikan persoalan ini."

"Apa betul?"

Dengus Tok-sim-sui-mo sembari bergegas bangun. kedua biji matanya memancarkan cahaya berkilat mengandung hawa membunuh.

"Aku punya kepentinganku sendiri yang harus segera kuselesaikan. Sekarang aku sedang menjelajahi jejak Ji-ci. masa kau sendiri kau tidak pikirkan dia?"

Lekat-lekat Tok-sim-sin-mo awasi Pek Si-kiat, sesaat kemudian, baru berkata.

"Kiranya kaupun tahu soal itu, akupun tidak perlu menjelaskan lagi. Ketahuilah kupanggil kau tujuanku justru supaya menghadapi dia. Sekarang tentu dia sedang giat memperdalam ilmu Hian-thian-mo-kip untuk menghadapi aku. Kalau kau tinggal disini pasti dapat mencarinya, bukankah malah meringankan bebanmu!"

"Tidak, aku tidak sudi melakukan kejahatan lagi. Malah aku sudah menyesal akan perbuatanku yang penuh noda dulu!"

Terpancang pandangan heran dari biji mata Tok-sim-sin-mo, sesaat kemudian ia bergelak tawa serunya.

"Kau sudah menyesal? Kenapa kau harus menyesal? Apa tidak terlambat kau menyesal sekarang?"

Kata Pek Si-kiat menghela napas.

"Bila kau anggap antara kau dan aku masih punya hubungan persaudaraan, aku harap kau suka menyerahkan Sutouw Ci-ko kepadaku sekarang juga!"

Tok-sim sin-mo rada melengak, dengan pandangannya berkilat ia menyapu seluruh hadirin lalu berkata.

"Kau minta aku menyerahkan sekarang juga dihadapan sekian banyak orang?"

Terdengar hidungnya mendengus lalu melanjutkan.

"Memang hubungan kami seperti saudara sekandung layaknya, bila hanya kepentinganku seorang tentu segera kuserahkan Sutouw Ci-ko kepadamu, tapi soalnya sekarang berlainan, urusan umum harus diselesaikan secara umum, kecuali kau masuk menjadi anggota kumpulan kita, kalau tidak aku tidak bisa mementingkan urusan pribadi mengingkari kepentingan umum."

Pek Si-kiat tertawa sinis, ia pandang Hun Thian-hi sebentar lalu menyapu pandang semua orang yang hadir, katanya pula.

"Apakah urusan ini tiada kompromi lagi?"

Tiba-tiba Tok-sim-sin-mo terbahak-bahak, ujarnya.

"Begitupun baik, berpisah selama lima puluh tahun, ingin aku melihat sampai dimana kemajuan ilmu silat Samte selama ini?"

Habis berkata dengan lirikan matanya ia pandang Bing-tiong-mo-tho. Bing-tiong-mo-tho segera bangkit dan berseru kepada Pek Si-kiat.

"Sukong Ko ingin mewakili Pangcu mohon pengajaran kepada Pek-heng!"

Pek Si-kiat bersikap tenang, sembari menyeringai pelan-pelan ia bangkit, tapi Thian-hi yang berada disampingnya juga melonjak bangun. katanya.

"Paman Pek, untuk gebrak ini biarlah aku saja yang turun gelanggang!"

Baca Juga: Mutiara Hitam Kho Ping Hoo

Baca Juga: Darah Pendekar 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert