Ceritasilat Novel Online

Darah Pendekar 10

Eps 10 Darah Pendekar - Kho Ping Hoo

Baca online Darah Pendekar - Kho Ping Hoo

Cersil Darah Pendekar - Kho Ping Hoo.

Apa lagi, pemuda Tai-bong-pai itu lihai sekali.

Kalau dia bersama muridnya melakukan pengejaran dan membayanginya, hal itu amatlah berbahaya.

Dia harus menyelidiki barisan itu dengan cara yang lebih aman dan bersembunyi.

Setelah Kwa Sun Tek pergi, seorang diantara dua kakek berjubah biru itu berkata kepada teman-temannya.

"Orang itu lihai sekali. Seorang yang berkepandaian tinggi telah menemukan tempat ini. Mungkin dia tadi seorang diantara kaki tangan Perdana Menteri Li Su dan sekutunya. siapa tahu kalau orang tadi diutus untuk mencari Tong-taihiap. Kita harus cepat memberi laporan kedalam. Hayo!"

Enam orang itu lalu memasuki hutan.

Liu Pang memberi tanda kepada muridnya dan merekapun cepat membayangi.

Bulan kadang-kadang tertutup awan sehingga memudahkan guru dan murid ini melakukan pengintaian tanpa diketahui enam orang itu.

Akan tetapi, ketika enam orang itu memasuki bangunan pesanggrahan, Liu Pang tidak berani mengambil jalan dari pintu depan.

Dia mengajak muridnya untuk mengambil jalan dari belakang, melalui air danau dan mereka berenang diantara pohon-pohon teratai yang rimbun.

Karena permukaan air itu cukup gelap, dengan agak menjauh dari gurunya, Pek Lian berani berenang dengan telanjang bulat, membawa pakaiannya diatas kepala.

Juga Liu Pang yang berenang lebih dahulu, melepaskan pakaiannya.

Setelah tiba dibagian belakang bangunan, barulah mereka mengenakan pakaian mereka.

Mereka bergantung pada tiang-tiang bangunan dan menanti dengan hati-hati sekali.

Dalam keadaan seperti ini, Pek Lian termenung.

Banyak sudah yang aneh-aneh dialaminya semenjak ayahnya ditawan, semenjak di Istana terjadi kekacauan.

Kini hidupnya sebatangkara dan setelah kini berdekatan dengan gurunya, baru terasa olehnya bahwa didalam diri gurunya ini dia menemukan pengganti segala-galanya.

Pengganti orang tua, juga pengganti guru-gurunya yang kebanyakan telah gugur dalam perjuangan, pengganti sahabat-sahabatnya yang kini berpisah darinya.

Kalau dia teringat kepada A-hai, jantungnya masih berdebar keras.

Entah bagaimana, di.

Dalam hatinya terdapat suatu perasaan yang aneh terhadap pemuda yang aneh itu.

Akan tetapi, iapun harus mengakui bahwa gurunya ini juga mendapatkan tempat yang istimewa dalam hatinya!

Liu Pang yang usianya belum ada empat puluh tahun mi juga hidup sendirian.

Isterinya gugur dalam perjuangan pula dan belum mempunyai anak.

Dan iapun dapat merasakan sesuatu yang aneh dalam pandangan Liu Pang terhadap dirinya, walaupun ia tidak berani memastikan apakah gurunya itu jatuh cinta kepadanya, Seperti juga ia sendiri tidak tahu apakah ia mencinta A-hai, ataukah mencinta Liu Pang, bahkan ia tidak tahu pasti apakah ada orang yang dicintanya!

Tiba-tiba gurunya memberi isyarat.

Mereka tadi duduk ditiang melintang dipermukaan air.

Ada suara disebelah kiri dan suhunya kini sudah memanjat tiang bangunan yang terendam air.

Iapun mengikuti jejak gurunya, memanjat tiang kedua.

Setelah tiba diatas, kini mereka dapat mengintai kedalam, juga suara mereka yang sedang bercakap-cakap didalam itu terdengar cukup jelas.

Mereka berdua mengenal suara Tong Ciak yang berjuluk Pek-lui-kong itu.

Si pendek cebol yang amat lihai dan menjadi jagoan Istana itu.

Liu Pang dan Pek lian mengintai dan Pek Lian merasa jantungnya seperti hendak copot saking kagetnya.

Pek-lui-kong Tong Ciak yang lihai itu ternyata sedang bercakap-cakap dengan seorang kakek berambut putih yang amat dikenalnya dan kakek ini bahkan lebih sakti dibandingkan dengan Tong Ciak.

Kakek itu berpakaian serba putih sederhana dan dia bukan lain adalah Yap Cu Kiat atau Yap-lojin, ketua Thian-kiam-pang, ayah kandung Yap Kim dan ayah angkat Yap Kiong Lee!

Untunglah bahwa air danau itu mengeluarkan bunyi.

Riak air itulah yang menyelamatkan guru dan murid itu sehingga kemunculan mereka tidak didengar oleh dua orang sakti yang berada didalam pesanggrahan.

Si Malaikat Halilintar Tong Ciak tidak memakai pakaian seragam, melainkan memakai pakaian biasa dan sebuah topi caping lebar.

Kiranya dia sedang menyamar.

Sikapnya amat menghormat terhadap Yap-lojin dan suaranya seperti orang melapor kepada atasannya ketika dia berkata.

"Lo-cianpwe, ternyata bahwa Kaisar telah benar-benar dibunuh oleh mereka. Persekutuan pengkhianat itu telah menyewa orang-orang dari golongan hitam untuk menjatuhkan Sribaginda Kaisar. Kaisar telah dibunuh oleh mereka dipantai timur. Rencana ini sebenarnya telah diketahui Sang puteri Siang Houw Nio-nio, dan beliau telah mengutus saya ketempat itu. Namun, kedatangan saya terlambat. Kaisar telah mereka bunuh dan saya hanya mampu merebut dan melarikan jenazah Sribaginda saja."

Yap-lojin mengangguk-angguk dan menarik napas panjang.

"Kelemahan Sribaginda sendirilah yang menciptakan munculnya pengkhianat-pengkhianat."

Sementara itu, Liu Pang merasakan tubuhnya menggigil.

Kaisar telah dibunuh oleh para pengkhianat itu!

Betapapun juga, dia masih mempunyai perasaan setia kepada Kaisar dan mendengar nasib Kaisar itu, tanpa disadarinya, kedua matanya menjadi basah.

Kaisar dibunuh orang dan jenazahnya sampai dibuat rebutan!

"Saya berhasil menyembunyikan jenazah itu dan membawanya sampai kesini, Lo-cianpwe.

Sungguh bukan sebuah pekerjaan yang mudah!

pengkhianat-pengkhianat itu mengerahkan tokoh-tokoh sesat untuk merebut kembali jenazah Kaisar.

Sanhek-houw dan Si Buaya Sakti yang lihai itu selalu membayangi saya.

Mereka ingin merebut jenazah karena mereka membutuhkannya untuk menjadi bukti kematian Sribaginda.

Tanpa adanya bukti jenazah tak mungkin mereka dapat mengangkat Kaisar baru menurut pilihan mereka.

Demikian sukarnya saya melarikan jenazah Sribaginda sehingga terpaksa saya sembunyikan kedalam pedati ikan asin."

Yap-lojin mengangguk-angguk.

"Sungguh buruk sekali nasib Sribaginda. Akan tetapi engkau bertindak benar, demi tugasmu. Perdana Menteri Li Su dan kawan-kawannya memang berusaha mati-matian untuk merebut kekuasaan. Mereka telah berhasil menyingkirkan pangeran mahkota. Bahkan Jenderal Beng Tian juga mereka singkirkan bersama sang pangeran, juga para pembesar yang jujur. Mereka sudah mencalonkan pula pangeran pilihan mereka sendiri untuk diangkat menjadi Kaisar, tentu saja pangeran yang dapat menjadi boneka mereka. Mereka ingin menggantikan Kaisar secepat mungkin sebelum pangeran mahkota dan Jenderal Beng Tian kembali dari perang diperbatasan."

Liu Pang termangu-mangui mendengarkan itu semua.

Kaisar telah dibunuh.

Keadaan di Istana dalam kemelut.

Pangeran mahkota disingkirkan.

Mereka saling memperebutkan kekuasaan, tanpa mengetahui banwa kini pasukan-pasukan pemberontak dari daerah bersama pasukan asing sudah mendekati Kotaraja dan siap menyerbu dan menguasai Kotaraja!

Kemudian terdengar suara kakek itu, halus penuh keharuan.

"Tong-ciangkun, setelah Sribaginda Kaisar wafat, perlukah beliau disiksa lagi dengan membiarkan jenazahnya membusuk? Apakah tidak lebih baik kalau kita membakar saja jenazah itu?"

"Saya sudah memikirkan hal itu, akan tetapi sungguh sayang bahwa hal itu tidak mungkin dapat kita lakukan, Lo-cianpwe. Para sesepuh dan yang berwenang di Istana tidak akan dapat mengangkat Kaisar baru kalau Kaisar lama belum wafat dan sebagai buktinya tentu harus ada jenazah beliau. Kalau kita bakar jenazah itu, nanti apabila putera mahkota pulang, tentu akan terdapat kesukaran dalam mengangkatnya sebagai Kaisar baru. Bukti berupa abu tentu kurang meyakinkan, apa lagi kalau diingat bahwa terdapat banyak pihak yang menghendaki diangkatnya pangeran yang jahat itu!"

"Benar pula apa yang kau katakan, Tong-ciangkun."

"Selain itu, Sribaginda Kaisar sendiri selama hidupnya sangat mendambakan agar hidupnya langgeng. Beliau pergi kemana-mana, kadang-kadang sendirian saja, hanya karena ingin mencari ilmu hidup abadi. Beliau pernah berkata kepada saya bahwa beliau tidak menginginkan badannya rusak sampai akhir jaman."

Yap-lojin mengangguk-angguk dan menarik napas panjang.

"Akupun sudah mendengar akan hal itu. Beliau terlalu dipengaruhi oleh pelajaran Agama To, akan tetapi secara keliru sehingga beliau menghendaki hal yang aneh-aneh. Itulah sebabnya beliau suka mengembara seorang diri, ketempat-tempat sepi, kegunung-gunung tanpa pengawal sehingga kesukaan beliau itu kini dimanfaatkan oleh pengkhianat Li Su untuk menghadang dan membunuhnya."

"Masih untung saya berhasil mengamankan jenazahnya sehingga niat busuk mereka itu gagal."

Pada saat itu terdengar bunyi langkah orang dan muncullah enam orang murid Liong-i-pang diambang pintu.

Ketika dua orang berjubah coklat itu memandang kedalam ruangan dan melihat Yap-lojin, mereka terkejut sekali dan seperti orang bingung.

"Ahhh... maaf... kami... kami tidak tahu bahwa Yap-Lo-cianpwe berada disini"

Kata Bhong Kim Cu dengan gugup sambil memberi hormat, diturut oleh para sutenya pula yang kesemuanya memandang dengan alis berkerut tanda bahwa hati mereka tidak senang.

"Hemm, Bhong Kim Cu, apa artinya kemunculanmu yang tiba-tiba ini bersama saudara-saudaramu, dan apa artinya sikapmu yang gugup ini?"

Yap-lojin yang mengenal baik murid-murid sahabatnya itu menegur. Bhong Kim Cu menjawab dengan hati-hati.

"Yap-Lo-cianpwe, kami berenam menerima tugas dari suhu agar turut melindungi jenazah Sribaginda Kaisar. Suhu mendengar desas-desus bahwa Raja Kelelawar sendiri akan keluar membantu anak-buahnya mencari dan merampas jenazah itu."

"Hemm, begitukah? Dan dimana adanya suhumu sekarang?"

"Suhu juga sedang berkeliling untuk mencari Raja Kelelawar dan menghadapinya!"

"Bhong Kim Cu, apa lagi yang hendak kau sampaikan kepadaku? Bicaralah!"

Tanya pula Yap-lojin melihat betapa pandang mata tokoh Liong-i-pang itu masih membayangkan keraguan dan kebingungan. Bhong Kim Cu cepat menjura dengan hormat.

"Saya sendiri merasa bingung dan hanya karena perintah suhu maka saya berani menyampaikan hal ini kepada Lo-cianpwe. Saya dan sute ini menerima tugas untuk menyelamatkan Jenderal Lai dari tawanan kaum pemberontak Liu Pang dan ketika kami melaksanakan tugas itu, kami melihat hal yang amat mengejutkan hati, yaitu bahwa kedua putera Lo-cianpwe, saudara Yap Kiong Lee dan Yap Kim, berada bersama para pemberontak itu, bahkan mereka telah membantu pasukan pemberontak Liu Pang."

"Hemm!"

Wajah kakek itu berobah merah dan juga berduka, sedangkan si cebol Tong Ciak tidak berani mengangkat mata memandang, maklum betapa terpukulnya hati ketua Thian-kiam-pang itu ketika mendengar berita ini.

Dia sendiri tidak merasa heran karena mendengar betapa para pendekar banyak yang membantu gerakan Liu Pang.

Dan para murid Thian-kiam-pang memang sejak dahulu menganggap diri mereka sebagai pendekar.

Sejenak suasana menjadi sunyi, seolah-olah mereka semua tenggelam dalam lamunan masing-masing.

Kembali terdengar langkah-langkah kaki dan kini muncul dua orang gadis cantik yang segera menjatuhkan diri berlutut didepan Yap-lojin.

Melihat dua orang gadis ini, hampir saja Pek Lian berseru memanggil.

Mereka adalah Pek In dan Ang In, dua orang murid dan juga pengawal pribadi Siang Houw Nio-nio yang sudah dikenalnya dengan baik itu.

Akan tetapi teringat bahwa ia sedang mengintai bersama gurunya, Liu Pang, yang merupakan pemimpin pergerakan para pendekar, tentu saja ia menahan diri dan sama sekali tidak berani mengeluarkan suara.

"Suhu, teecu berdua diutus oleh subo untuk menjemput suhu. Ini surat dari subo yang harus teecu haturkan kepada suhu."

Pek In mengeluarkan sepucuk surat yang diberikannya kepada Yap-lojin.

Dengan sikap tenang, walaupun hatinya masih terpukul oleh berita tentang kedua orang puteranya tadi, Yap-lojin menerima dan membuka surat dari isterinya yang lalu dibacanya itu.

Isi surat itu menyatakan bahwa pasukan yang dipimpin oleh Jenderal Beng Tian dan putera mahkota, mengalami gempuran-gempuran musuh dari luar dan kini mengundurkan diri sudah mendekati Kotaraja.

Juga barisan pemberontak Chu Siang Yu yang makin kuat itu makin mendekati Kotaraja.

Karena itu Yap-lojin diminta datang oleh bekas isterinya itu untuk berunding dan membantunya ikut memikirkan keadaan Kotaraja yang semakin gawat.

Sejenak Yap-lojin termangu-mangu, lalu menarik napas panjang, terdengar dia mengeluh duka.

"Ahhh, agaknya Thian telah menentukan semuanya, agaknya saat-saat terakhir dari Dinasti Cin Si Hongte sudah berada diambang pintu"

Kalau orang lain yang berani mengeluarkan ucapan seperti ini tentu akan dianggap pemberontak dan mungkin ditangkap, akan tetapi karena yang mengucapkan adalah Yap-lojin dan semua orang tahu bahwa kakek ini benar-benar berduka, maka mereka semua kelihatan prihatin dan suasana menjadi sunyi.

Hati siapa yang tidak akan menjadi prihatin memikirkan keadaan kerajaan disaat itu?

Kaisar telah tewas dalam keadaan amat menyedihkan.

Semua pejabat yang setia, seperti Jenderal Beng Tian, putera mahkota, Siang Houw Nio-nio, Tong Ciak, dan juga mereka yang berpihak kerajaan menentang para pemberontak seperti Yap-lojin dan Liong-i-pang, agaknya kini tidak akan dapat berbuat apapun untuk menyelamatkan Istana dan kerajaan.

Mereka harus menghadapi dua pemberontakan yang kuat, yaitu pemberontakan barisan Chu Siang Yu dan juga barisan Liu Pang.

Padahal didalam tubuh pemerintah sendiri muncul sekelompok musuh dalam selimut dibawjah pimpinan Perdana Menteri Li Su, pangeran kedua, dan kepala thaikam Chao Kao.

pengkhianat-pengkhianat ini bahkan tidak segan-segan untuk menarik golongan hitam untuk membantu mereka.

"Yap-Lo-cianpwe,"

Kata Bhong Kim Cu si jubah coklat.

"Pada saat ini, barisan besar Liu Pang juga sudah tiba didaerah Kotaraja. Negara kita benar-benar terjepit, sedangkan para pejabat di Istana yang gila kekuasaan hanya saling memperebutkan kekuasaan."

Yap-lojin menghela napas dan si pendek Tong Ciak mengerutkan alisnya sambil mengepal tinju! Yap-lojin lalu bangkit dan berkata kepada jagoan cebol itu.

"Sayang aku tidak dapat ikut menjaga jenazah Sribaginda. Aku harus kembali kekota raja sekarang juga."

Yap-lojin lalu pergi dikawal oleh dua orang gadis cantik. Mereka pergi dengan cepat. Bhong Kim Cu lalu berkata kepada Tong Ciak.

"Tong-ciangkun, tadi dua orang sute berjubah biru dan empat orang sute berjubah hijau telah memergoki seorang mata-mata yang sangat lihai. Sayang bahwa mereka tidak berhasil membekuknya. Aku khawatir bahwa tempat ini sudah dike tahui pihak musuh"

Tiba-tiba dia menghentikan bicaranya karena Tong Ciak sudah meloncat keluar, diikuti oleh para murid Liong-i-pang.

Sementara itu, Liu Pang yang tadinya mendengar semua percakapan yang amat penting, tiba-tiba dikejutkan oleh suara air bergelombang.

Dia bersama Pek Lian cepat merosot dan bersembunyi dibawah bangunan yang gelap.

Kiranya yang muncul adalah Si Buaya Sakti, Sin-go Mo Kai Ci bersama belasan orang anak-buahnya yang semua mengambil jalan air.

Mereka tadi mendekati bangunan itu dengan jalan menyelam dan barisan katak ini sekarang bermunculan lalu berloncatan keatas bangunan dengan sigapnya.

Tak lama kemudian, bangunan itu dibakar dan terjadilah pertempuran antara para penyerbu dan Tong Ciak yang dibantu oleh murid-murid Liong-i-pang.

Terdengar auman-auman harimau dan muncullah Sanhek-houw bersama anak-buahnya, juga Si Maling Cantik, si Jai-hwa-cat Jai-hwa Toat-beng-kwi, dan yang lain-lain.

Terjadilah perkelahian yang amat hebat.

Diantara berkobarnya api yang membakar pesanggrahan, mereka berkelahi.

"Tahan mereka!"

Pek-lui-kong Tong Ciak berbisik kepada Bhong Kim Cu.

"Aku akan menyelamatkan!"

Dia tidak berani melanjutkan, akan tetapi murid Liong-i-pang itu sudah mengerti.

Tentu si cebol itu akan menyelamatkan jenazah Sribaginda.

Maka, kini Bhong Kim Cu dan sutenya yang juga berjubah coklat, dibantu oleh dua orang berjubah biru dan empat orang berjubah hijau, mengamuk dan menahan serbuan para pengeroyok yang jumlahnya banyak itu.

Tong Ciak sendiri cepat menyelinap dan menyusup kehutan lebat disebelah utara danau.

Disanalah dia menyembunyikan pedatinya dan peti mati Kaisar berada didalam pedati, dicampur dengan keranjang-keranjang ikan asin.

Bulan bersinar cukup terang dan dari jauh dia melihat pedatinya masih berdiri dengan selamat.

Dengan hati girang Tong Ciak lalu berlari cepat, akan tetapi ketika dia tiba didekat pedati, tiba-tiba terdengar suara ketawa mendengus.

Dia terkejut dan cepat menoleh.

Ternyata disitu telah berdiri seorang laki-laki tinggi kurus memakai pakaian dan jubah serba hitam, mukanya seperti mayat akan tetapi matanya mencorong mengerikan.

Jantung didalam dada jagoan Istana cebol itu berdebar tegang.

"Raja Kelelawar!"

Bentaknya.

"Ha-ha-ha, cebol sombong engkau mengantarkan nyawa!"

Biarpun sudah mendengar akan kelihaian iblis ini namun Tong Ciak tidak gentar.

Jagoan Istana ini adalah seorang ahli waris Soa-hu-pai (Partai Persilatan Danau Pasir), mewarisi ilmu keturunan dari Kim-mo Sai-ong.

Dia sudah mematangkan ilmu-ilmu kesaktian dari perguruan itu dan dia berhak mengaku sebagai ahli waris tunggal atau yang paling lihai dari Soa-hu-pai.

Ketika dia mendengar munculnya Raja Kelelawar, bahkan hatinya merasa penasaran dan dia ingin sekali bertemu dengan Raja iblis itu untuk mengadu ilmu.

Maka kini, begitu melihat Raja Kelelawar berada disitu, diapun menjadi marah sekali.

Jelaslah bahwa Raja Kelelawar hendak merampas jenazah Sribaginda.

"Engkaulah yang datang mengantar nyawa!"

Bentaknya dan si cebol ini langsung saja menyerang dengan ganasnya.

Begitu menyerang, dia sudah mainkan ilmu inti dari perguruannya, yaitu Ilmu Silat Teratai atau Soa-hu-lian.

Begitu dia mainkan ilmu ini, kedua lengannya bergerak sedemikian cepatnya sehingga dilihat oleh mata biasa kedua lengannya berobah menjadi puluhan, bahkan ratusan banyaknya!

Dan setiap pukulannya mendatangkan angin halus yang bersiutan!

Tentu saja Raja Kelelawar tidak berani memandang rendah karena diapun sudah tahu akan kelihaian lawan ini.

Maka, begitu melihat lawan langsung mengeluarkan ilmu simpanannya, diapun tidak segan-segan untuk mainkan ilmu simpanannya pula, yaitu Pat hong Sin-ciang (Silat Sakti Delapan Penjuru Angin).

Karena dua macam ilmu silat itu sama-sama mengandalkan kecepatan, maka tubuh kedua orang sakti itupun lenyap dan yang nampak hanya bayangan mereka berkelebatan dan bayangan banyak sekali lengan dan kaki sehingga kalau ada yang menonton, dia tentu akan bingung mengenal mana Pek-lui-kong dan mana Bit-bo-ong.

Si cebol yang segera merasa betapa hebatnya lawan, cepat mengeluarkan tenaga sakti yang ampuh, yaitu Pukulan Pusaran Pasir Maut yang mendatangkan angin puyuh dan hawa dingin itu.

namun, lawannya mendengus dan Raja Kelelawarpun mainkan Kim-liong Sin-kun yang tidak kalah hebatnya.

Terjadilah perkelahian yang amat hebat, kadang-kadang mereka mengandalkan kecepatan sehingga tubuh mereka lenyap, Ada kalanya mereka bahkan tidak bergerak atau hanya bergerak sedikit sekali karena mereka saling dorong dan saling serang dengan menggunakan kekuatan sinkang!

Diam-diam Raja Kelelawar terkejut juga menyaksikan kehebatan si cebol ini.

Sejak tadi dia mempelajari gerakan lawan dan tahulah dia bahwa ilmu-ilmu yang dikeluarkan oleh si cebol ini memang hebat, setingkat dengan ilmu perguruannya sendiri.

Hanya dalam kecepatanlah dia unggul.

Oleh karena itu, setelah perkelahian berlangsung seratus jurus lebih, Raja Kelelawar mengeluarkan bentakan nyaring dan tiba-tiba tubuhnya berkelebat sedemikian cepatnya sehingga Pek-lui-kong Tong Ciak mengeluarkan seruan kaget karena sukarlah baginya untuk mengikuti gerakan lawan yang sedemikian cepatnya seperti pandai menghilang itu.

Kecepatan luar biasa inilah yang membuat Tong Ciak akhirnya terkena tamparan pada tengkuknya dan diapun roboh terguling.

Pada saat itu terdengar suitan nyaring dan dari jauh nampak berkelebatan tiga bayangan orang.

Melihat ini, Raja Kelelawar maklum bahwa yang datang adalah orang-orang yang tinggi ilmunya.

Dia tidak merasa gentar untuk menandingi siapapun juga, akan tetapi urusan yang lebih penting harus diselesaikannya dahulu.

Maka diapun mengeluarkan suara mencicit seperti kelelawar sebagai tanda kepada anak-buahnya untuk mundur, sedangkan dia sendiri membuka pintu pedati, tanpa memperdulikan bau busuk yang menyambut hidungnya, dia lalu menyambar peti jenazah Sribaginda dan membawanya pergi dengan kecepatan luar biasa.

Pakaian dan jubahnya yang serba hitam itu membuat dia seperti menghilang saja ditelan kegelapan malam.

Anak-buahnya yang dipimpin oleh Sanhek-houw dan Si Buaya Sakti, mendengar isyarat pimpinan mereka itupun lalu berloncatan pergi diikuti oleh anak-buah mereka.

Ketika terjadi perkelahian, Liu Pang dan Pek Lian sudah keluar dari tempat persembunyian mereka dibawah bangunan pesanggrahan yang terbakar itu.

Mereka lalu bersembunyi dibalik semak-semak belukar dan dapat menyaksikan semua hal yang terjadi disitu, yakni penyerbuan para kaum sesat yang dilawan oleh para tokoh Liong-pang.

Mereka tidak dapat mengikuti Tong Ciak dan tidak tahu bahwa si cebol yang lihai itu sudah terluka oleh Raja Kelelawar dan bahwa jenazah Sribaginda telah terampas oleh Raja iblis itu.

Tiga bayangan yang datang dengan cepat sekali itu ternyata adalah kakek Kam Song Ki, bersama Kwee Tiong Li yang menjadi muridnya dan Seng Kun.

Seperti telah diceritakan dibagian depan, mereka bertiga ini sedang mencari jejak Sanhek-houw dan Si Buaya Sakti yang menculik Bwee Hong.

Akhirnya mereka terbawa oleh jejak kedua orang tokoh jahat itu ketempat itu dan kedatangan mereka menyelamatkan nyawa Tong Ciak yang sudah roboh.

Kalau mereka tidak datang, tentu Raja Kelelawar akan memberi pukulan terakhir kepadanya.

Tiga orang itu datang terlambat juga karena peti mati berisi jenazah Kaisar telah dilarikan Raja Kelelawar.

Akan tetapi, Seng Kun segera berlutut memeriksa keadaan Tong Ciak yang menggeletak pingsan.

Ternyata si cebol menderita luka hebat sekali oleh pukulan tangan ampuh Raja Kelelawar dan kalau saja dia sendiri bukan orang yang memiliki kesaktian, pukulan itu telah merampas nyawanya.

"Kita lihat dulu apa yang telah terjadi dipesanggrahan yang terbakar itu,"

Kata kakek Kam Song Ki.

Seng Kun memondong tubuh Tong Ciak dan merekapun pergi menghampiri para murid Liong-i-pang yang sedang sibuk berusaha memadamkan api yang tadi dipergunakan oleh para anak-buah penjahat untuk membakar pesanggrahan.

Melihat betapa mereka sibuk memadamkan api yang membakar dan menjalar keruangan tengah, kakek Kam Song Ki lalu meloncat dan sekali bergerak saja tubuhnya sudah melewati para murid Liong-i-pang, kemudian dia melakukan gerakan seperti mendorong dengan kedua tangan dirangkapkan kedepan dada.

Angin kuat menyambar kearah api yang segera padam!

Melihat gerakan ini, Bhong Kim Cu dan para sutenya terkejut sekali karena mereka mengenal ilmu pukulan paling hebat dari perguruan mereka, yaitu Ilmu Pai-hud-ciang, akan tetapi dilakukan dengan tingkat yang amat tinggi!

Bhong Kim Cu cepat memandang dan begitu melihat tanda-tanda pada kakek itu, diapun cepat menjatuhkan diri berlutut, diturut oleh para sutenya.

"Ah, kiranya Kam-susiok yang datang. Harap maafkan bahwa teecu sekalian tidak tahu akan kedatangan susiok!"

Kam Song Ki tersenyum dan menggoyangkan tangannya.

"Sudahlah, tidak perlu banyak sungkan, kedatanganku inipun kebetulan saja. Jadi kalian adalah murid-murid Ouwyang-suheng yang menjadi ketua Liong-i-pang? Ini adalah Kwee Tiong Li muridku dan pemuda itu adalah"

"Adalah orang yang hendak membalas kematian kakek Bu Kek Siang dan isterinya!"

Seng Kun berseru.

Dia sudah menurunkan tubuh Tong Ciak dan kini dengan muka merah saking marahnya dia mencabut pedang dan siap untuk menyerang Bhong Kim Cu dan para sutenya yang menyebabkan tewasnya kakeknya dan neneknya.

"Hemm, kiranya engkau!"

Bhong Kim Cu berseru kaget dan siap melayaninya. Melihat ini, kakek Kam Song Ki terkejut dan cepat melangkah maju untuk melerai.

"Hemm, apa-apaan ini? Kita semua masih satu keturunan perguruan, kenapa harus bentrok sendiri? Aku sudah mendengar tentang kematian Bu Kek Siang, dan murid-murid Liong-i-pang ini hanya mentaati perintah guru mereka. Dimana guru kalian, Ouwyang-suheng? Akupun hendak minta pertanggungan jawabnya atas perbuatannya terhadap Bu Kek Siang."

Melihat sikap paman gurunya ini, Bhong Kim Cu menundukkan muka.

"Teecu tidak tahu dimana suhu sekarang, tadinya suhu pergi untuk mencari dan menandingi Raja Kelelawar dan kami diperintahkan untuk membantu melindungi jenazah Sribaginda "

"Jenazah Sribaginda? dimana?"

Tanya kakek Kam Song Ki.

"Di sana "

Bhong Kim Cu tertegun memandang kepada Tong Ciak yang masih menggeletak pingsan.

Baru dia teringat akan jenazah itu dan tanpa mengeluarkan kata-kata lagi tubuhnya melesat kedepan, lari memasuki hutan.

Sebagai cucu murid Raja Tabib Sakti Tanpa Bayangan tentu saja ginkangnya hebat.

Tak lama kemudian dia kembali dengan mata terbelalak dan muka pucat.

"Celaka jenazah itu telah dicuri orang...!"

Dengan singkat dia lalu menceritakan tentang jenazah Kaisar itu, didengarkan oleh mereka bertiga dengan kaget.

"Kalau begini, teecu sekalian harus cepat pergi mencari suhu untuk melaporkan peristiwa ini, susiok."

"Baiklah, akan. tetapi, apakah kalian melihat penjahat-penjahat Sanhek-houw dan teman-temannya? Mereka telah menculik Bwee Hong..."

Tanya kakek itu.

"Baru saja kami berkelahi melawan mereka! Merekalah yang tadi menyerbu dan membakar pesanggrahan. Kini mereka telah melarikan diri, tentu setelah jenazah itu berhasil mereka curi!"

Kata Bhong Kim Cu penuh geram.

Setelah memberi hormat kepada susiok mereka, para murid Liong-i-pang itu segera pergi dari situ.

Mereka merasa tidak enak untuk berlama-lama berada disuatu tempat bersama Seng Kun.

Setelah dapat menyabarkan hatinya karena bujukan susioknya, Seng Kun lalu mengobati Pek-lui-kong Tong Ciak.

Sementara itu, Pek Lian membuat gerakan hendak keluar dari tempat persembunyiannya.

Melihat ini, gurunya cepat menyentuh lengannya dan memberi isyarat kepada muridnya untuk mengikutinya meninggalkan tempat itu.

Setelah mereka pergi jauh dari situ, dia menegur.

"Nona Ho, apa yang hendak kau lakukan tadi?"

Didalam percakapan resmi atau serius, Liu Pang selalu menyebut muridnya ini nona Ho. Hanya kadang-kadang saja dia menyebut nama muridnya seperti tak disadarinya.

"Suhu, teecu mengenal baik mereka itu. Mereka bukan musuh, dan teecu mendengar betapa enci Bwee Hong diculik oleh Sanhek-houw. Teecu ingin membantu mereka mencari enci Hong"

Gurunya tersenyum dan menggeleng kepala.

"Ingat, pada saat ini kita bukanlah bertugas sebagai pendekar, melainkan memiliki tugas perjuangan yang lebih penting lagi sehingga urusan-urusan pribadi harus disingkirkan atau dikesampingkan lebih dulu. Kalau engkau keluar dan terlihat oleh Tong Ciak atau orang-orang Liong-i-pang, tentu engkau akan ditangkap. Lupakah engkau bahwa kita ini telah dianggap pemberontak?"

Pek Lian termangu-mangu dan terpaksa membenarkan ucapan gurunya. Ia menarik napas panjang.

"Kasihan enci Bwee Hong"

"Kita harus berhati-hati. Kurasa yang menggerakkan orang-orang jahat tadi adalah Raja Kelelawar sendiri. Siapa lagi yang akan mampu merobohkan Tong Ciak kalau bukan Raja iblis itu? Jangan sampai kita bertemu dengan dia. Mari kita mencari jejak pemuda Tai-bong-pai itu untuk menyelidiki keadaan pasukan asing yang bersekongkol dengan para pengkhianat."

Guru dan murid itu melepaskan lelah sambil menanti datangnya fajar.

Liu Pang segera dapat tertidur dan Pek Lian duduk termenung.

Ia sendiri tidak dapat tidur, memikirkan keadaan Bwee Hong, sahabat yang disayangnya itu.

Kalau Bwee Hong diculik Sanhek-houw, dimana nona itu ditawannya?

Tadi Sanhek-houw menyerbu pesanggrahan bersama teman-temannya tanpa membawa Bwee Hong sebagai tawanan.

Jangan-jangan sudah dibunuhnya!

Ia bergidik dan mengepal tinju.

Kalau saja tidak ada tugas perjuangan yang mengikatnya tentu ia akan membantu Seng Kun mencari Bwee Hong dan membalaskan dendam kepada para penjahat itu kalau benar Bwee Hong sudah terbunuh.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka telah melanjutkan perjalanan, menuju kearah larinya Kwa Sun Tek, pemuda Tai-bong-pai semalam.

Menjelang senja, setelah melalui beberapa buah bukit dan banyak hutan liar, didalam sebuah hutan mereka mendengar derap kaki kuda.

Mereka menyelinap bersembunyi dan dengan girang mereka melihat belasan orang penunggang kuda yang dipimpin oleh Kwa Sun Tek sendiri, menuju kedepan.

Segera mereka membayangi dari jauh dan setelah matahari mulai tenggelam ke barat, akhirnya mereka menemukan barisan yang mereka cari-cari.

Disebuah lembah barisan itu berkemah.

Menurut taksiran Liu Pang yang sudah berpengalaman, jumlah pasukan asing yang dibantu oleh orang-orang lihai dari golongan sesat itu berjumlah paling sedikit seribu orang.

Dan didalam pasukan itu terdapat banyak orang lihai dan berbahaya seperti pemuda Tai-bong-pai dan para iblis Ban-kwi-to itu.

Setelah membuat perhitungan dan penggambaran dalam benaknya, Liu.

Pang mengajak muridnya untuk pulang kebeteng mereka.

Akan tetapi mereka telah pergi jauh dan untuk pulang kebenteng mereka, tentu mereka harus melakukan perjalanan kurang lebih dua hari dua malam!

Malam itu mereka bermalam dihutan yang sepi.

Ketika mereka sedang mencari tempat yang enak untuk beristirahat, tiba-tiba terdengar suara halus memanggil.

"Hei, sobat tukang kayu. kesinilah apabila kalian hendak beristirahat."

Liu Pang dan Pek Lian terkejut, akan tetapi mereka datang juga menghampiri sebuah gua.

Dan disitu terdapat dua orang kakek yang berpakaian seperti tosu sedang duduk bersila menghadapi api unggun.

Gua itu cukup luas dan memang merupakan tempat yang cukup enak untuk melewatkan malam.

Maka Liu Pang lalu menurunkan pikulan kayunya, lalu masuk kedalam gua dan bersama muridnya duduk bersandar dinding guha sambil memandang kepada dua orang tosu itu.

"Terimakasih, ji-wi totiang,"

Katanya.

"Kami ayah dan anak memang kemalaman dan sedang mencari tempat untuk berteduh dan melewatkan malam."

Dua orang pendeta itu ramah sekali.

Mereka bahkan membagi roti kering kepada Liu Pang dan Pek Lian.

Guru dan murid ini menerima dan memakannya, tidak berani mengeluarkan perbekalan mereka berupa roti dan daging kering yang tidak sesuai dengan keadaan mereka sebagai orang-orang miskin.

Sekali ini, Pek Lian dapat mengaso dan tertidur pulas disudut guha, membelakangi mereka yang sedang bercakap-cakap.

Liu Pang berlagak bodoh seperti penghuni dusun pencari kayu.

Dia mengatakan bahwa dia dan puterinya terpaksa lari mengungsi karena ancaman perang, dan kini hidup dari mencari dan menjual kayu kering.

"Siancai!"

Kata tosu yang matanya sipit sekali.

"Dunia memang sedang kacau oleh ulah orang-orang jahat. Kami sendiri terpaksa turun gunung untuk membantu gerakan para pendekar yang dipimpin oleh Liu-Bengcu. Kabarnya pasukan Liu Pang Bengcu berada didekat tempat ini."

Tentu saja Liu Pang tidak berani memperkenalkan diri karena dia tidak boleh percaya begitu saja kepada dua orang tosu ini.

Siapa tahu mereka ini malah mata-mata pihak musuh?

Maka diapun lebih banyak mendengarkan dari pada bicara.

Dari percakapan itu Liu Pang mendapat kenyataan bahwa dua orang tosu itu amat membenci pasukan asing dan para tokoh sesat yang membantu para pengkhianat.

Pada keesokan harinya, dua orang tosu itupun berangkat pergi, dan Liu Pang bersama muridnya juga meninggalkan tempat itu, melanjutkan perjalanan mereka kembali keinduk pasukan mereka.

Malam berikutnya mereka tiba disebuah padang rumput yang sebenarnya sudah tidak jauh dari lembah dimana pasukan mereka berkumpul.

Akan tetapi melanjutkan perjalanan dimalam hari amatlah berbahaya.

Bukan saja jalan pendakian kebukit didepan itu cukup licin dan banyak terdapat jurang-jurang berbahaya, akan tetapi juga padang rumput itu sendiri dihuni banyak ular sehingga berjalan melalui tempat itu dimalam hari juga berbahaya dan mengerikan.

Mereka tahu bahwa didekat padang rumput sebelah barat terdapat sebuah kuil tua yang sudah kosong maka kesanalah mereka menuju untuk melewatkan malam agar besok pagi-pagi dapat langsung kembali kelembah tempat pasukan mereka berada.

Ketika mereka mendekati kuil, tiba-tiba Liu Pang memberi isyarat.

Mereka berhenti karena hidung mereka mencium bau yang membuat mulut mereka berair, bau sedap daging dipanggang!

Selama beberapa hari ini mereka melakukan perjalanan sukar dan mereka tidak memperoleh kesempatan untuk makan enak!

Dan kini, sudah dekat dengan tempat sendiri, dalam keadaan letih dan lapar, mereka mencium bau yang demikian sedap.

Siapa orangnya tidak mengilar!

Seperti ditarik oleh tenaga sembrani, guru dan murid ini mendekati kuil.

Akan tetapi, agaknya kedatangan mereka sudah diketahui orang dalam kuil.

Buktinya, tidak ada api bernyala didalam kuil dan keadaannya sunyi saja.

Bagaimanapun juga, bau sedap daging panggang tadi tidak mungkin mereka hilangkan dan masih mengambang diudara, dengan mudah dapat dicium.

"Hati-hati,"

Bisik Liu Pang.

"Siapa tahu mereka adalah pihak musuh"

Karena jelas bahwa orang yang berada didalam kuil bersembunyi.

Liu Pang dan Pek Lian tidak berani sembarangan memasuki kuil.

Mereka bahkan mengambil keputusan untuk bermalam ditempat lain saja.

Akan tetapi, pada saat mereka hendak membalikkan tubuh pergi dari situ, tiba-tiba nampak dua sosok bayangan berkelebat keluar.

Mereka adalah dua orang gadis cantik.

"Lian-moi, kiranya engkau!."

Teriak gadis yang berbaju merah sedangkan gadis baju putih memandang Liu Pang dengan sinar mata penuh selidik.

"Ah, Pek-cici dan Ang-cici!"

Pek Lian berseru girang ketika mengenal dua orang gadis itu ternyata adalah Pek In dan Ang In yang beberapa hari yang lalu telah dilihatnya menghadap Yap-lojin didalam pesanggrahan.

"Perkenalkan, ini adalah paman Kiang, seorang sahabat yang boleh dipercaya. Paman, mereka ini adalah enci Pek In dan enci Ang In, dua orang murid Siang Houw Nio-nio yang lihai. Eh, enci, kenapa kalian berada disini? Hendak kemanakah?"

Pek In memandang kekanan kiri, kemudian menggandeng tangan Pek Lian.

"Mari kita bicara didalam saja."

Mereka berempat masuk kedalam kuil kosong itu.

Api unggun dinyalakan lagi dan sebelum bicara, Pek Lian dan gurunya mendapat bagian daging panggang yang sedap tadi.

Mereka berempat makan tanpa berkata-kata.

Setelah kenyang, Pek In melirik kearah Liu Pang dan berkata kepada Pek Lian.

"Adik Lian, aku mau bicara penting denganmu, akan tetapi jangan sampai terdengar orang diluar kuil. Maukah pamanmu ini berjaga diluar agar diketahuinya kalau ada orang datang?"

Liu Pang maklum bahwa gadis baju putih ini masih belum percaya kepadanya, maka diapun bangkit dan berkata.

"Biarlah aku berjaga diluar."

Diapun melangkah keluar, duduk didepan kuil yang gelap dan sunyi, akan tetapi tentu saja dia memasang telinga karena biarpun nanti muridnya bisa bercerita kepadanya, namun hatinya sudah tidak sabar, ingin mendengar apa yang akan diceritakan oleh gadis yang baru keluar dari Istana ini.

Tentu terdapat berita yang amat penting sehubungan dengan lenyapnya jenazah Kaisar yang diduganya tentu dicuri oleh Raja Kelelawar atau anak-buahnya, kaum sesat yang membantu para pengkhianat.

Setelah Liu Pang keluar, Pek In berkata.

"Maafkan kami, adik Lian. Yang akan kami ceritaka ini penting sekali dan terus-terang saja, hatiku tidak enak kalau terdengar orang lain. Kepadamu kami sudah percaya penuh, akan tetapi temanmu itu, kami belum tahu benar siapa dia"

"Tidak mengapa, enci. Padahal, pamanku itu amat boleh dipercaya. Sudahlah, ada baiknya dia berjaga diluar. Nah, ceritakan, mengapa kalian disini dan apa yang telah terjadi?"

Pek In lalu bercerita yang membuat Pek Lian dan Liu Pang yang ikut mendengarkan diluar, menjadi terkejut bukan main.

Hal-hal yang amat hebat telah terjadi di Istana!

Pek In menceritakan dari awal, dimulai dengan kepergian Kaisar yang melakukan perjalanan sendirian untuk mencari Ilmu hidup abadi!

Semua pembesar yang bersih, bahkan mereka yang telah diangkat kembali oleh Kaisar, dipecat oleh komplotan Perdana Menteri Li Su dan kepala thaikam Chao Kao.

Kemudian, dengan dalih berbakti kepada negara, mendapat dukungan para pembesar yang menjadi antek mereka, putera mahkota diperintahkan menyusul Jenderai Beng Tian ke garis depan.

Dalam keadaan Istana kosong inilah, karena Kaisar tidak diketahui, kemana perginya, Li Su dan Chao Kao berkuasa didalam Istana!

Kemudian terjadi kegegeran ketika Li Su menyatakan Kaisar telah tewas dan dapat membuktikannya dengan jenazah Kaisar yang telah mulai membusuk!

Gegerlah seluruh pejabat Istana.

Mereka berkumpul dan bersidang.

Didalam persidangan ini, Perdana Menteri Li Su mengusulkan agar dilakukan pengangkatan Kaisar baru agar kedudukan jangan berlarut-larut kosong.

Nenek Siang Houw Nio-nio mengusulkan agar ditunggu kembalinya pangeran mahkota.

Akan tetapi usul ini ditentang oleh Li Su yang mengatakan bahwa adanya pangeran mahkota digaris depan amat perlu untuk membangkitkan semangat barisan.

Dan kini pihak pemberontak telah mulai mendekati Kotaraja, maka perlu segera diangkat Kaisar baru.

Karena Li Su memang menang suara dan memperoleh dukungan terbanyak, akhirnya pangeran muda yang pandainya hanya bersenang-senang itupun diangkat menjadi Kaisar dengan julukan Cin Si Hongte keDua!

Tindakan pertama yang dilakukan oleh Kaisar muda ini dapat diduga.

Dia mengangkat Li Su menjadi wakil penuh Kaisar, dan Chao Kao diangkat menjadi kepala Istana!

Para pejabat yang berani memprotes, ditangkap dan dipecat.

Yang lebih hebat lagi.

para datuk sesat diberi pangkat dan kedudukan!

Raja Kelelawar diangkat menjadi panglima!

Dan orang-orang macam Sanhek-houw diangkat menjadi perwira yang berkuasa.

"Adik Lian, pendeknya gegerlah Istana yang berobah seperti neraka. Tentu saja subo memprotes keras dan akibatnya beliau kini ditangkap dan dijebloskan kedalam penjara!"

"Ahhh!"

Pek Lian berseru kaget. Nenek itu adalah pengawal Kaisar nomor satu dan masih bibi dari Kaisar lama, jadi nenek Kaisar baru, akan tetapi toh ditangkap.

"Kami berhasil melarikan diri dan melapor kepada suhu. Kini kami diutus suhu untuk memberi kabar kepada Yap-suheng dan ji-suheng tentang hal itu sedangkan suhu sendiri berusaha untuk membebaskan subo,"

Kata Pek In dengan suara duka.

"Akan tetapi kami mendengar bahwa kedua suheng kami itu telah bergabung dengan pasukan para pendekar dibawah Liu-Bengcu!"

"Kebetulan sekali! Kami juga mau pulang"

Tiba-tiba terdengar suara dan Liu Pang melangkah masuk, wajahnya masih tegang mendengarkan penuturan tadi akan tetapi matanya memandang dua orang gadis itu dengan ramah.

Pek Lian juga tahu bahwa kini tidak perlu lagi merahasiakan keadaan gurunya.

"Pek-cici dan Ang-cici, kalian maafkanlah aku yang tadi berbohong. Beliau ini adalah Liu-Bengcu, juga guruku!"

Dua orang gadis itu terkejut bukan main.

Cepat mereka bangkit berdiri dan memandang dengan tajam.

Sudah lama mereka mendengar nama Liu Pang atau Liu-Bengcu.

Tak disangkanya mereka akan dapat bertemu dengan pemimpin besar itu disini dan melihat pemimpin besar itu mengenakan pakaian sederhana seperti seorang petani biasa!

Mereka lalu memberi hormat dan dibalas oleh Liu Pang.

"Ji-wi lihiap, mari kita duduk dan bicara,"

Ajaknya dan mereka kembali duduk mengelilingi api unggun.

"Aku tadi sudah ikut mendengarkan dari luar, maafkan kelancanganku itu dan keadaan di Istana itu sungguh mengenaskan dan menggemaskan. Dua orang pengkhianat Li Su dan Chao Kao itu harus dibasmi. Akan tetapi kemana perginya Pek-lui-kong Tong Ciak? Dan juga Jenderal Beng Tian yang kabarnya sudah meninggalkan posnya dibarat? Mereka berdua adalah jagoan-jagoan Kaisar Cin Si Hongte yang setia dan lihai!"

"Entahlah, Liu-Bengcu, karena keadaan amat kacau pada waktu itu dan mereka berdua itu tidak ada kabarnya lagi,"

Jawab Pek In, yang kemudian menyambung cepat.

"Benarkah pemberitahuan suhu kepada kami bahwa kedua orang suheng kami telah menggabungkan diri dengan pasukan Bengcu?"

Liu Pang tersenyum dan mengangguk.

"Bukan hanya menggabungkan diri, bahkan kini selagi kami pergi, yang menjadi wakil kami memimpin pasukan adalah saudara Yap Kim dibantu oleh suhengnya, saudara Yap Kiong Lee."

Tentu saja dua orang gadis itu tercengang, akan tetapi juga merasa girang.

Ketika untuk pertama kalinya mereka mendengar dari suhu mereka bahwa kedua orang suheng itu membantu pasukan pemberontak Liu Pang, mereka hampir tidak mau percaya.

Subo mereka adalah kepercayaan Kaisar, bahkan suhu mereka akhir-akhir ini juga membantu Kaisar, bagaimana mungkin dua orang suheng itu menjadi pembantu-pembantu para pemberontak?

Akan tetapi, setelah melihat suasana di Istana, kini mereka malah menjadi gembira mendengar bahwa dua orang suheng mereka itu malah menjadi pembantu-pembantu pemimpin besar, Liu Pang!

Sikap kedua orang gadis ini sama sekali tidak perlu diherankan.

Kalau kita mau membuka mata, memandang dengan waspada segala hal yang terjadi baik didalam maupun diluar diri kita sendiri, maka akan nampaklah dengan jelas betapa sikap dan perasaan kita, seperti dua orang gadis itu, selalu dikendalikan oleh pementingan diri pribadi atau keakuan.

Kita selalu amat mudah mema-afkan kesalahan sendiri, siap membela diri sendiri untuk menutupi kesalahan yang kita perbuat.

kita selalu menentang segala sesuatu yang merugikan diri kita, dan membantu sesuatu yang menguntungkan diri kita, karena yang menguntungkan itu, lahir maupun batin, adalah menyenangkan dan sebaliknya yang merugikan itu selalu tidak menyenangkan.

Aku yang paling benar, aku yang paling baik, aku yang harus menang.

Siaku ini bisa meluas menjadi anakku, keluargaku, sahabatku, kelompokku, bangsaku dan selanjutnya.

Seorang yang berada disuatu kelompok, selama memperoleh keuntungan dan merasa disenangkan dalam kelompok itu, pasti akan membelanya mati-matian.

Bukan karena setianya kepada si kelompok, melainkan karena setianya kepada diri sendiri, karena disitu terdapat kesenangan.

Akan tetapi, begitu dia disisihkan dari kelompok, begitu dia tidak lagi memperoleh keuntungan, apa lagi begitu dia dirugikan dan tidak disenangkan, maka seketika dia akan berobah dan akan menentang kelompok itu dan memilih kelompok lain yang menentang kelompok lama!

Pengejaran kesenangan dapat menyeret mamusia menjadi munafik, palsu, pengkhianat, kejam dan curang, dan segala macam, kejahatan lain.

"Kalau begitu kami berdua akan mengikuti Bengcu ketempat kedua orang suheng kami!"

Kata Ang In dengan, wajah cerah, lalu ia menoleh kepada Pek Lian.

"Apakah apakah Kim-su-heng baik-baik saja?"

Pek Lian tersenyum.

"Dia dalam keadaan sehat dan semakin gagah!"

Katanya sambil tersenyum, penuh arti dan wajah Ang In yang manis itu berobah kemerahan.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka berempat meninggalkan kuil itu dan berangkat menuju keperkemahan para perajurit pendekar dibalik bukit.

Dari puncak bukit itu tidak nampak apa-apa dan memang inilah yang dikehendaki oleh para pimpinan pasukan itu dan baru setelah mereka menuruni bukit, mereka memasuki daerah perondaan pasukan dan bertemulah mereka dengan dua orang peronda.

Liu Pang dan Pek Lian segera mengenal dua orang pendeta atau tosu yang mereka jumpai didalam guha, maka mereka segera menegur.

Akan tetapi dua orang tosu itu mengambil sikap keras.

"Kalian telah melanggar wilayah kami, harus menyerahkan diri untuk kami tangkap dan kami bawa ke benteng!"

"Ehh? Liu Pang berseru heran."

"Apakah ji-wi kini sudah menjadi anggauta pasukan Liu-Bengcu?"

Pek Lian bertanya.

"Benar, karena itu, dalam tugas pertama kami, kalian harus kami tangkap sebagai orang-orang yang melanggar wilayah kami tanpa ijin."

Sebelum Pek Lian menjawab, Liu Pang mendahuluinya bertanya.

"Kalau aku tidak mau ditangkap?"

Suaranya mengandung tantangan, akan tetapi sinar matanya dan wajahnya berseri.

"Kami akan menggunakan kekerasan!"

Jawab tosu yang bermata sipit.

"Totiang, aku sangsi apakah engkau akan mampu menangkap aku!"

Kata Liu Pang sambil melangkah maju. Tosu sipit itu memandang tajam, kemudian diapun melangkah maju.

"Boleh kita coba!"

Dan diapun sudah menubruk maju mencengkeram kearah pundak Liu Pang.

Pemimpin besar ini cepat mengelak dan balas menyerang karena dia memang ingin sekali mencoba kepandaian dua orang tosu yang baru saja masuk menggabungkan diri dengan pasukannya itu.

Dan hatinyapun puas dan kagum.

Tosu sipit ini lihai sekali sehingga kalau Liu Pang benar-benar menghendaki, belum tentu dia akan mampu mengalahkan tosu ini dalam waktu seratus jurus!

Gerakannya cepat dan tangkas, tenaganyapun kuat.

Perkelahian itu amat seru dan semakin ramai.

Tiba-tiba terdengar bentakan.

"Berhenti..."

Dan muncullah Yap Kim. Dua orang pertapa itu menghadap Yap Kim dan memprotes.

"Mereka adalah pelanggar-pelanggar wilayah tanpa ijin!."

"Ji-wi totiang, beliau ini adalah Liu-Bengcu, pemimpin kita!"

Kata Yap Kim.

"Siancai siancai...Dan dia sudah bercakap-cakap semalam suntuk dengan pinto!"

Kata tosu kedua yang lebih tua.

Mereka lalu memberi hormat yang dibalas oleh Liu Pang sambil tertawa dan memuji-muji kepandaian mereka.

Sementara itu, Yap Kim sudah saling bertemu dengan Pek In dan Ang In.

Pertemuan yang menggembirakan, juga mengharukan sekali.

Apa lagi Ang In yang tiada kedip-kedipnya menatap wajah pemuda itu sehingga Pek Lian merasa geli hatinya.

Ketika Yap Kim mendengar bahwa ibu kandungnya ditawan di Istana, dia mengepal tinju dan mukanya berobah pucat, kemudian merah karena marah.

"Mari kita bicara disana!"

Kata Liu Pang dan mereka semuapun pergilah keperkemahan pasukan.

Pertemuan antara Yap Kiong Lee dan Pek In yang memang sejak dahulu sudah ada rasa saling sayang, amat menggembirakan.

Segera diadakan pertemuan antara para pemimpin dan para pendekar, bukan hanya untuk menyambut kembalinya Liu Pang akan tetapi juga untuk mengatur siasat selanjutnya.

Situasi di Kotaraja sudah demikian berobah, maka harus diatur siasat yang sesu-ai dengan keadaan itu.

Yap Kiong Lee tidak merasa ragu-ragu lagi untuk mencurahkan seluruh tenaganya membantu gerakan pasukan ini.

Kini subonya ditawan.

Kini Kotaraja dikendalikan oleh pengkhianat-pengkhianat yang menjadi musuhnya.

Juga Pek In dan Ang In bertekad untuk membantu gerakan pasukan para pendekar dibawah pimpinan Liu Pang.

*** Kita kembali menjenguk keadaan A-hai yang kini berada seorang diri saja didalam ruangan rumah tua mendiang gu-lojin.

Dia ditinggalkan oleh semua orang dalam keadaan masih pingsan atau tertidur karena pengaruh totokan Seng Kun ketika mengobatinya.

Pengaruh totokan itu makin menghilang dan akhirnya A-hai sadar.

Begitu dia sadar dan dapat bergerak, dia segera bangkit duduk dan mencari kakak-beradik yang tadi mengobatinya.

Akan tetapi tidak ada orang lain disitu.

Dia berteriak memanggil.

"Saudara Kun...! Nona Hong...!"

Tidak ada jawaban.

Dia melihat pakaian Bwee Hong bertumpuk disudut ruangan itu.

Apakah nona itu berganti pakaian?

Kalau benar demikian, kenapa pakaian yang kotor dibiarkan saja bertumpuk disitu?

Mencurigakan benar keadaan ini, pikirnya dan kembali dia memanggil-manggil.

Setelah yakin bahwa tidak ada suara jawaban, baik dari Seng Kun maupun dari nona itu, dia lalu bangkit berdiri dan mencari keluar.

Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hatinya ketika dia melihat mayat si pemilik warung, dan disitu nampak bekas-bekas perkelahian.

A-hai menjadi panik dan dia memanggil-manggil lagi sambil mencari kesekeliling rumah itu.

Namun, tidak ada yang menjawab.

Dengan hati penuh kekhawatiran dia lalu berlari mencari, menuju keperkampungan nelayan dengan melewati jalan setapak dalam hutan.

Tiba-tiba dia memperlambat larinya dan hidungnya kembang-kempis, mendengus-dengus karena dia mencium bau harum yang aneh.

Dia semakin terheran-heran karena tidak ada apa-apa disitu, cuaca yang suram karena hanya mendapat pene-rangan bulan lemah itu mendatangkan suasana menyeramkan.

Setelah menoleh kekanan kiri dan belakang, dia memandang kedepan lagi untuk melanjutkan perjalanan.

Begitu dia membalik, hampir dia menjerit kaget karena tiba-tiba saja didepannya kini sudah berdiri dua orang yang mukanya pucat seperti mayat!

Seorang kakek dan seorang nenek.

Kalau saja mereka itu tidak bergerak, tentu A-hai mengira berhadapan dengan mayat yang mengingatkan dia akan mayat tukang warung yang menggeletak diluar rumah mendiang gu-lojin itu.

Ketika laki-laki setengah tua itu bertanya, suaranya juga kosong dan mengambang seperti bukan suara manusia!

"Sobat, apakah engkau melihat seorang gadis cantik disekitar tempat ini?

Seorang gadis cantik dengan kulit putih dan keringatnya berbau harum dupa?"

Pertanyaan itu saja sudah membuat A-hai serem. Gadis cantik putih pucat berbau dupa hanyalah siluman! "Tidak ada... aku tidak tahu"

Jawabnya dengan suara gemetar.

Dia tidak tahu bahwa laki-laki dan wanita yang berdiri didepannya itu adalah Kwa Eng Ki dan isterinya.

Kwa Eng Ki adalah ketua Tai-bong-pai yang jarang keluar pintu dan kini keluar bersama isterinya untuk mencari anak-anak mereka.

"Huhh!"

Laki-laki setengah tua bermuka pucat itu mendengus dan berkata kepada isterinya.

"Orang-orang dusun itu berkata bahwa anak kita menuju ketempat ini. Mari kita cari ditempat lain dan bertanya kepada orang yang lebih cerdik!"

Mereka berkelebat dan lenyap.

A-hai yang dianggap tidak cerdik itu tidak marah, bahkan merasa lega bahwa dua orang manusia yang seperti mayat hidup itu pergi meninggalkannya.

Diapun melanjutkan perjalanan menuju kedusun nelayan.

Keadaan dusun itu masih ribut.

Para penduduknya masih diliputi suasana tegang dengan peristiwa aneh yang terjadi berturut-turut itu.

mereka dipaksa keluar dengan ancaman rumah dibakar, lalu ada pemilik perahu yang perahunya dirampas.

Melihat para penduduk belum tidur dan berkelompok sambil bicara secara serius dan geli-sah, A-hai lalu menghampiri mereka dan bertanya apa yang telah terjadi.

"Ada terjadi apakah? Dan apakah kalian melihat sahabat-sahabatku, pemuda tampan dan gadis cantik itu?"

Dari orang-orang ini A-hai mendengar bahwa Seng Kun pergi bersama seorang kakek dan seorang pemuda, katanya untuk mencari adik perempuannya yang diculik penjahat.

Mendengar ini, A-hai terkejut.

Ah, dia sendirian sekarang.

Bwee Hong diculik orang dan Seng Kun melakukan pengejaran.

"Dan disana kulihat pemilik warung sudah menjadi mayat, entah siapa yang membunuhnya,"

Katanya.

Kini para penghuni dusun itulah yang terkejut dan merekapun lalu ikut dengan A-hai menuju kerumah mendiang gu-lojin.

Benar saja, pemilik warung itu mereka temukan tewas dalam keadaan mengerikan.

Beramai-ramai mereka lalu mengurus mayat itu.

A-hai duduk termenung sampai fajar menyingsing.

Dia bingung sekali.

Dia sekarang sendirian.

Apa yang harus dilakukan?

kemana dia harus pergi?

Bagaimanapun juga, dia masih dalam waktu pengobatan oleh kakak-beradik itu.

kemana dia harus mencari rnereka?

Berkat pertolongan kedua orang kakak-beradik itu, sinar terang dalam kehidupannya mulai bercahaya untuk mengusir kegelapan rahasia yang menyelimuti dirinya.

Akan tetapi kini dia terpisah dari mereka.

Kini, dia harus hidup sendirian dan kalau pengobatan itu tidak dilanjutkan, dia akan celaka.

Mungkin ingatannya semakin mundur, atau mungkin dia akan mati.

Ah, dia kini hidup sendiri lagi, harus mengembara kesana kemari bertahun-tahun sambil bekerja sedapatnya, dengan tujuan mustahil, yaitu mencari seseorang yang akan dapat mengenalnya dan menceritakan siapa sebenarnya dia?

dimana keluarganya?

A-hai menengadah.

Kini dia duduk diluar rumah tua itu, memandang langit yang mulai merah terbakar sinar matahari pagi yang baru terbit.

Agaknya tidak ada seorangpun mengenalnya, mengenal keluarganya.

Agaknya dia sekeluarga dahulu hidup terasing dari pergaulan umum.

Tak terasa lagi kedua matanya basah.

Dia mengusap air matanya dengan punggung tangan yang dikepal.

Hatinya penasaran sekali.

Masa ada orang tidak tahu siapa dirinya sendiri, siapa ayah-bundanya?

Ketika lengannya bergerak, tanpa disadarinya tangannya menyentuh boneka batu giok yang tadi dibawanya keluar.

Boneka yang tadi ditemukannya melalui nalurinya dirumah mendiang gu-lojin.

Kini sinar matahari memungkinkan dia memandang boneka itu dengan jelas.

Ada sesuatu pada boneka itu yang seperti membuka ingatannya.

Batu giok yang berkilauan terkena cahaya matahari pagi itu seperti menyihirnya dan secara samar-samar ia membayangkan pemilik boneka ini.

Seorang anak perempuan kecil yang lincah, yang suka berlari-lari dengan penuh kebahagiaan, berlarian dialam terbuka.

Suka mengejar kupu-kupu.

Anak perempuan kecil yang manja, berlari-larian didekat sebuah rumah yang bersih indah, ditepi sungai yang airnya jernih.

Banyak batu menonjol tersembul disana-sini.

Sungai itu mengalir mengeluarkan dendang dan terjun kebawah, tak jauh dibelakang rumah itu.

Anak perempuan itu gemar sekali bermain ketepi sungai, berlari-larian biarpun sudah sering dilarangnya.

Pada suatu hari, anak perempuan itu kembali berlari-lari dan kakinya tersandung, tubuhnya terguling dan jatuhlah anak perempuan itu kedalam lubuk air terjun yang sangat dalam.

Badannya yang mungil tenggelam, membuat pelayannya menjerit keras.

"Lian Cu!!"

Tiba-tiba A-hai menjerit dan tubuhnya meloncat kedepan, tangannya menyambar kedepan secepat kilat dan ternyata tangannya itu telah menangkap seekor burung kecil yang kebetulan terbang lewat!

A-hai sadar.

Dengan terheran-heran dia melepaskan burung kecil itu cepat-cepat.

Burung itu terbang menggelepar sambil mencicit ketakutan.

A-hai mengamati tangannya yang tiba-tiba saja menjadi amat cepat gerakannya itu.

Lalu dia menarik napas panjang dan duduk kembali.

"Hemm, aku melamun. Tempat itu, rumah itu kenapa aku seperti mengenalnya? Dan... anak perempuan itu Lian Cu, ahhh!"

Dia membalik boneka yang masih berada ditangan kirinya, lalu membaca tulisan yang terdapat dibelakangnya.

"HADIAH ULANG TAHUN UNTUK PUTERIKU LIAN CU."

Berkali-kali dibacanya tulisan itu.

"Lian Cu, Lian Cu? Benarkah anak itu ada?"

A-hai merasa pusing. Ingatan yang serba suram tentang anak perempuan itu, rumah dekat sungai dan air terjun itu, memusingkan kepalanya. Akhirnya dia bangkit berdiri.

"Aku harus mencari rumah itu! Rumah indah bersih ditepi sungai jernih yang ada air terjunnya. Aku akan menyelusuri setiap sungai didunia ini sampai kutemukan rumah itu,"

Tekadnya.

Pikiran ini membuat hatinya tenang.

Dia lalu mengumpulkan sisa uangnya, juga buntalan pakaiannya dan buntalan pakaian Seng Kun dan Bwee Hong yang ditinggalkan.

Sisa uangnya masih cukup untuk membeli sebuah perahu kecil sederhana dari para nelayan didusun itu.

Dengan semangat besar diapun meninggalkan rumah tua mendiang gu-lojin dan pergi menuju kedusun.

Ketika penduduk dusun mendengar bahwa A-hai hendak menyusul sahabat-sahabatnya mencari nona yang diculik penjahat, mereka memberikan sebuah perahu kecil sederhana dengan harga murah.

A-hai girang sekali, berterimakasih lalu berangkat dengan perahu kecilnya menyusuri sungai itu.

Biarpun perahunya mudik dan melawan arus, akan tetapi dia mendayung penuh semangat, menggerakkan perahunya disepanjang pinggiran sungai dimana arusnya tidak sekuat ditengah.

Setiap kali dia kelelahan dan hendak beristirahat, dia membawa perahunya ketepi dan menariknya kedarat, mengaso ditepi sungai.

Biarpun ingatannya sudah tertutup rahasia gelap yang membuatnya tidak ingat apa-apa tentang masa lalunya, akan tetapi pada dasarnya dia memiliki kecerdikan.

Kini dia mempunyai pegangan, yaitu bahwa dia harus mencari sebuah rumah indah mungil ditepi pantai sebuah sungai kecil yang jernih airnya dan yang terdapat air terjunnya dibelakang rumah.

Dia merasa yakin bahwa sungai didekat rumah itu tentu ada hubungannya dengan sungai yang ditelusurinya ini.

Buktinya, bukankah rumah mendiang gu-lojin juga dekat dengan sungai ini dan bahwa anak kecil yang namanya terukir dibelakang boneka giok itupun menurut mendiang pemilik warung sering pula datang kesitu?

Setidaknya, antara sungai kecil didekat rumah mungil dengan sungai ini tentu ada hubungannya.

Karena perahunya mudik, maka perahu itu hanya dapat maju perlahan saja.

Namun A-hai tidak pernah kehilangan kesabaran.

Dia sudah mengambil keputusan untuk mencari terus disepanjang sungai ini, kalau perlu sampai selama hidupnya!

Tiga hari sudah dia mendayung sambil memperhatikan keadaan dikanan kiri sungai.

Kalau ada tempat yang agak mirip-mirip saja dia tentu berhenti dan mendarat untuk melakukan penyelidikan.

Hari telah menjelang sore ketika perahunya memasuki bagian sungai yang lebar dan disini airnya tenang sehingga dia dapat mendayung lebih cepat.

Beberapa kali sejak pagi tadi dia berpapasan dengan perahu-perahu lain yang lebih besar.

Tiba-tiba muncul tiga buah perahu besar yang bergerak mudik dengan dorongan layar, juga dibantu dengan dayung-dayung anak-buah perahu-perahu itu.

Sinar matahari senja membuat layar-layar itu berwarna kemerahan.

Dengan cepat tiga buah perahu itu mendahului perahu A-hai.

Dia melihat beberapa orang dengan sikap yang keren dan wajah serem berdiri diatas geladak, memandang kepadanya dengan sinar mata tajam, A-hai tidak perduli, akan tetapi hatinya tertarik juga karena dapat menduga bahwa orang-orang yang berada diperahu-perahu itu tentulah bukan nelayan atau pedagang biasa.

Bulan menggantikan matahari dengan sinarnya yang cerah, membuat permukaan air nampak seperti perak.

A-hai tidak mendarat.

Malam terlalu indah dan terang, sedangkan air sungai tenang, enak untuk mendayung perahu.

Malam sungguh indah.

A-hai mendayung perahu sambil membuka matanya memandang kesekeliling.

Matanya bersinar-sinar, ada rasa bahagia yang aneh memenuhi hatinya.

Ataukah sinar bulan itu, keheningan yang mendalam itu yang menerangi batinnya?

Keindahan terdapat disetiap tempat dan disetiap saat bagi mata yang waspada dengan batin yang kosong dari pada segala kesibukan pengejaran kesenangan.

Keindahan menggetarkan jiwa yang bersih dari pada segala kesibukan senang susah, puas kecewa dan segala perasaan yang timbul karena pertentangan antara dua keadaan.

Disetiap pucuk daun, disetiap sudut awan, disetiap batang rumput, disetiap tetes air, didalam setiap helai rambut kita, dimana-mana terdapat keagungan, keindahan dan kemujijatan itu.

Namun sayang, mata kita telah menjadi buta, dibutakan oleh pikiran yang selalu mengejar-ngejar kesenangan sehingga bertemulah pikiran dengan kesusahan, kekecewaan, iri hati, kebencian, permusuhan, pemuasan nafsu dan sebagainya.

Batin menjadi lelah dan lumpuh oleh hempasan-hempasan perasaan itu dan mata menjadi buta, tidak dapat lagi melihat keindahan, keagungan dan kemujijatan yang amat besar itu.

Selagi A-hai tenggelam kedalam keindahan dan keheningan yang maha besar itu, tiba-tiba perhatiannya tertarik oleh banyak benda yang mengapung dipermukaan air.

Dan terkejutlah hatinya ketika dia melihat bahwa benda-benda itu adalah pecahan-pecahan perahu yang hanyut dan lebih kaget lagi rasa hatinya ketika dia melihat betapa diantara pecahan-pecahan perahu itu terdapat pula beberapa mayat manusia mengambang.

A-hai bergidik ketika mengenal mayat itu seperti wajah orang yang tadi dilihatnya diatas tiga buah perahu yang mendahuluinya.

Karena merasa ngeri, A-hai lalu mempercepat gerakan dayungnya dan perahunya meluncur cepat mendahului benda-benda mengerikan yang terbawa arus air itu.

Tak lama kemudian perahunya memasuki daerah yang berbukit-bukit dan kedua tepi sungai terdiri dari tebing-tebing yang terjal menjulang tinggi.

Tempat ini memiliki keindahan yang lain lagi, yang megah dan jelas memperlihatkan keper-kasaan alam.

Akan tetapi, perhatian A-hai tertarik oleh tiga buah perahu yang berlabuh disebuah lekukan bukit atau tebing karang.

A-hai merasa tertarik sekali, apa lagi ketika dia mendengar gemuruh suara air memantul diantara tebing-tebing terjal itu, membuat dia teringat akan gemuruhnya air terjun dalam lamunannya.

Diapun segera mengarahkan perahunya kepinggir mendekati tiga buah perahu yang disangkanya tentu perahu-perahu para nelayan.

Akan tetapi, begitu perahunya tiba ditepi dan berada diantara tiga buah perahu itu, tiba-tiba muncul belasan orang dari dalam perahu-perahu itu dan perahu-perahu mereka bergerak mengepung perahu A-hai.

Sebatang tombak panjang yang dipegang oleh seorang diantara mereka yang berdiri dikepala perahu, meluncur kearah dada A-hai yang masih duduk dengan kaget.

Melihat ini, secara otomatis, diluar kesadarannya, tangan A-hai bergerak cepat meraih kedepan.

Gerakannya persis seperti ketika dia menangkap burung kecil yang sedang meluncur terbang didepannya tempo hari, didepan rumah tua mendiang gu-lojin.

Dengan amat tepatnya, tombak itu tertangkap ujungnya oleh tangan A-hai.

Pemilik tombak terkejut dan tentu saja menahan tombaknya, lalu berusaha membetotnya kembali.

A-hai juga otomatis berusaha merampas tombak yang dapat berbahaya bagi dirinya itu.

Dia mengerahkan tenaga dan menggerakkannya melanjutkan gerakan menangkap tadi.

Tanpa disadarinya, tenaga sinkang mengalir dari pusarnya, otot lengannya menggembung dan ketika tangannya menyentak, terdengarlah jeritan ketakutan!

Tubuh pemilik tombak itu terpental dan terlempar tinggi keudara, seperti dilempar oleh tangan raksasa yang amat kuat saja.

belasan orang yang berada diatas tiga perahu yang mengepung itu terbelalak kaget dan ngeri melihat betapa tubuh teman mereka itu terlempar begitu tingginya, kemudian terbanting jatuh keatas batu-batu tebing, mengeluarkan bunyi mengerikan karena tulang-tulang pecah dan patah.

Orang itu tak dapat bergerak lagi.

A-hai sendiri menjadi terkejut dan ngeri.

Dia memandangi tangannya seperti orang tidak percaya.

Memang terjadi keanehan pada dirinya.

Tanpa disadarinya sendiri, pengobatan yang dilakukan oleh Seng Kun dan Bwee Hong telah memperlihatkan hasilnya.

Sedikit demi sedikit A-hai mulai dapat mengingat masa lalunya, juga ilmu yang pernah dipelajarinya.

Memang baru sedikit sekali yang diingatnya itu karena otaknyapun baru saja kealiran darah kembali, itupun belum lancar.

Kebetulan sekali yang mula-mula dirangsang dan dihidupkan kembali sehingga dapat bekerja, adalah otak dibagian dia menyimpan kenangan ketika berada dirumah indah ditepi sungai bersama seorang anak perempuan bernama Lian Cu.

Dia mengajarkan ilmu silat kepada bocah itu sambil menangkap kupu-kupu dan burung-burung.

bagian inilah yang teringat sehingga bagian ini pula dari ilmu silat yang dapat diingatnya.

Kini muncullah dua orang dari dalam bilik perahu lawan.

Perahu A-hai kini sudah menempel dengan perahu lawan, bahkan sudah dikait sehingga tidak dapat melepaskan diri lagi.

Melihat munculnya dua orang itu, A-hai mengerutkan alisnya, tahu bahwa dia berada dalam bahaya.

Dua orang itu bukan lain adalah Pekpi Siauw-kwi, Si maling Cantik berusia tiga puluhan yang selain cantik juga cabul dan sesat itu.

Sedangkan orang kedua adalah Jai-hwa Toat-beng-kwi, si penjahat cabul tukang pemerkosa yang amat keji.

A-hai kini mulai sadar bahwa seperti pernah didengarnya dari orang-orang lain, dia sebetulnya mempunyai ilmu kepandaian silat.

Maka diapun mulai memeras otaknya untuk mengingat-ingat.

Dan mulailah dia melihat bayangan-bayangan ingatan dalam otaknya, dan dia mengerahkan tenaga otaknya sekuatnya dan sedapatnya.

Ya, dia tahu bagaimana harus melayani pengeroyokan.

Hemm, dia harus bersikap begini.

Menurutkan jalan pikirannya, A-hai lalu bangkit berdiri.

Tubuhnya yang tegap jangkung itu kelihatan gagah sekali ketika dia berdiri tegak dengan kedua kaki dipentang lebar, lutut agak ditekuk, tubuh tidak bergoyang dan kedua lengan ditekuk pula, yang kiri menyilang didepan dada dan yang kanan dengan jari terbuka menyentuh ujung hidung sendiri, matanya mengerling dari bawah kearah lawan!

Biarpun Pekpi Siauw-kwi dan Jai-hwa Toat-beng-kwi merupakan dua orang tokoh sesat yang amat lihai, namun mereka kini memandang kepada pemuda itu dengan sikap ragu-ragu dan agak gentar.

Mereka tadi telah melihat sendiri betapa hanya dengan satu sentakan saja, seorang anak-buah yang sebetulnya bukan orang lemah sampai terpental tinggi sekali dan terbanting tewas.

Maka kini mereka berdiri dikepala perahu mereka dengan sikap hati-hati.

(Lanjut ke

Jilid 26) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono

Jilid 26 Empat orang yang berada diperahu sebelah kiri, kini serentak meloncat dan menyerang dengan tombaknya kearah A-hai.

A-hai membuat gerakan otomatis dengan tubuhnya dan ketika tangannya bergerak kekiri, ada hawa atau angin pukulan yang dahsyat menyambar keluar.

"Wuuuttt, prakkkk!!"

Empat batang tombak itu patah-patah dan empat orang pemegangnya terjengkang kembali kedalam perahu mereka!

Si Penjahat Cabul dan Si Maling Cantik saling pandang dengan mata terbelalak.

Mereka tidak tahu siapa pemuda ini yang tak dapat mereka lihat jelas mukanya karena bulan tertutup awan.

Akan tetapi harus mereka akui bahwa pemuda ini memiliki ilmu yang amat dahsyat.

Angin pukulan ketika pemuda itu menangkis tadi, sampai terasa oleh mereka berdua, membuat mereka berdua bergidik ngeri.

Akan tetapi kini mereka melihat hal yang aneh.

Tadi, gerakan tangan pemuda itu selain dahsyat, juga gerakannya indah dan gagah.

Akan tetapi, begitu menangkis, pemuda itu agaknya menjadi bingung, menggerakkan tangan kekanan, agaknya untuk menghantam kearah perahu dikanan.

"Wutt!"

Tidak ada apa-apanya dalam pukulan ini dan si pemuda sendiri agaknya menjadi bingung dan kaget, bahkan lalu terpelanting jatuh kedalam perahunya sendiri!

Memang A-hai merasa bingung bukan main.

Tadi, secara otomatis tangannya bergerak menyambut empat batang tombak dan dia ingat benar akan gerakan ini dan merasakan betapa tangannya yang menangkis dipenuhi tenaga yang amat kuat dan hangat.

Akan tetapi setelah tangkisannya berhasil membuat o-rang-orang yang menyerangnya terjengkang dan tombak-tombak mereka patah-patah, dia menjadi bingung, tidak tahu harus melanjutkan bagaimana.

Dia tidak ingat lagi, maka diapun membuat gerakan ngawur saja dengan menghantamkan tangannya kearah perahu kedua disebelah kanan.

Akan tetapi dia semakin bingung karena kini tangannya itu kosong melompong tidak ada hawa saktinya, dan pukulannya ini bahkan membuat tubuhnya terpelanting kedalam perahunya sendiri.

Cepat dia merangkak bangun.

Tepat pada waktunya karena pada saat dia terpelanting tadi, Si Maling Cantik dan Si Penjahat Cabul sudah melayang keatas perahunya dan menyerangnya.

Kini, dalam keadaan terjepit, kembali A-hai ingat akan gerakannya.

"Plak! Plak!"

Dua orang lawannya berteriak kaget dan meloncat mundur karena tangkisan A-hai itu membuat mereka merasa betapa kedua lengan mereka tergetar hebat dan nyeri.

A-hai membalas dengan serangannya.

Dua orang lawan yang lihai itu tidak berani menyambut dan melangkah mundur, sedangkan dua orang anak-buahnya yang lancang menyambut dengan golok, berteriak kaget dan terlempar kedalam air karena dorongan tenaga dahsyat yang keluar dari tangan A-hai.

Kini A-hai dikeroyok dan terjadilah perkelahian yang seru, lucu dan aneh.

Kadang-kadang gerakan A-hai demikian indah dan dahsyat sehingga dua orang lihai macam Si Penjahat Cabul dan Si Maling Cantik sekalipun tidak kuat menahan.

Akan tetapi, kadang-kadang gerakan A-hai demikian kacaunya dan dari kedua tangannya sama sekali tidak keluar tenaga sakti sehingga bukan hanya lawan yang menjadi bingung, bahkan A-hai sendiripun bingung.

Kini tiga perahu itu sudah menempel semua dan perahu A-hai dikurung.

Para pengeroyok kini tinggal tiga belas orang, akan tetapi yang berani menyerang dekat hanyalah dua orang tokoh sesat itu sedangkan anak-buah mereka hanya menyerang dari jauh dengan tombak panjang.

Memang hebat sekali kalau pemuda itu sedang "ingat"

Akan ilmunya.

Bukan hanya gerakannya yang hebat dan tenaganya yang dahsyat, bahkan tubuhnya juga dialiri tenaga sinkang amat kuat yang membuat tubuhnya kebal dan mata-mata tombak yang berhasil menusuknya, membalik, bahkan ada pula yang patah!

Kini Jai-hwa Toat-beng-kwi yang mulai mengerti bahwa pemuda yang lihai itu ternyata masih "mentah"

Ilmunya, mendesak maju.

Mula-mula dia melakukan tendangan kilat, dibarengi oleh hantaman tangan Pekpi Siauw-kwi dari samping, kearah tengkuk A-hai.

A-hai bergerak otomatis, merendahkan tubuhnya dan membiarkan pukulan dan tendangan lewat, lalu tangannya menyambar dan dia berhasil menangkap pergelangan kaki Jai-hwa Toat-beng-kwi yang menendang tadi.

Tentu saja penjahat cabul itu terkejut dan ketakutan.

Tubuhnya sudah diangkat, akan tetapi, tiba-tiba saja A-hai kehilangan ingatannya lagi, menjadi bingung harus bergerak bagaimana dan otomatis tenaga saktinya lenyap, seperti sebuah balon yang tadinya ditiup mengembung, mendadak menjadi gembos kehilangan anginnya.

Dan sekali menggerakkan kaki yang kedua, menendang kearah dada A-hai, Jai-hwa-cat itu berhasil melepaskan kakinya dari cengkeraman.

Beberapa kali A-hai berhasil mendesak lawan, akan tetapi karena tidak ingat lagi akan kelanjutan gerakan silatnya, dan tidak dapat menahan tenaga saktinya agar tetap didalam kedua lengannya, semua gerakannya mandeg ditengah jalan dan dari keadaan mendesak, berbalik dia malah menerima beberapa kali hantaman, tendangan dan gebukan yang membuatnya jatuh bangun diperahunya.

Biarpun tubuhnya secara otomatis dilindungi sinkang yang kuat sehingga tidak terluka, akan tetapi hantaman bertubi-tubi itu membuatnya babak bundas dan benjut-benjut juga!

Masih untung baginya bahwa yang menghajarnya hanyalah dua orang itu, kalau saja yang muncul orang-orang macam Sanhek-houw atau Si Buaya Sakti, tentu dia akan celaka, tewas atau setidaknya terluka parah.

Karena kini mengetahui rahasia A-hai, kedua orang sesat itu bersikap cerdik.

Mereka tidak terlalu mendesak dan kalau melihat pemuda itu bergerak hebat, mereka malah menjauh dan mundur.

Akan tetapi begitu melihat gerakan pemuda itu terhenti tiba-tiba dan pemuda itu nampak bingung, mereka menyerbu dan menghajarnya.

Akhirnya, A-hai tidak dapat tahan juga dan sebuah tendangan membuatnya terjungkal keluar dari perahunya.

"Byurrr!"

A-hai yang merasakan seluruh tubuhnya memar dan perih-perih, membiarkan dirinya hanyut terbawa arus air.

Untung bahwa permukaan air itu cukup gelap, tidak memungkinkan musuh-musuhnya untuk menemukannya dan sebentar saja A-hai sudah hanyut jauh.

Sial baginya, air semakin dalam dan semakin kuat arusnya sehingga ketika dia berusaha berenang ketepinya, dia terseret terus semakin jauh dan kadang-kadang tubuhnya dihantamkan pada batu-batu besar.

Tadi dia dihajar oleh pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan, kini dihajar oleh batu-batu yang menghadang, sungguh sial dan dia merasa tubuhnya semakin lemas, bahkan beberapa kali dia terpaksa menenggak air!

Tiba-tiba A-hai yang sudah merasa betapa tubuhnya lemas itu, terkejut dan girang.

Tadinya dia mengira bahwa yang menyambar dan mengangkat tubuhnya keatas perahu itu musuh dan dia sudah siap untuk melawan lagi mati-matian.

Akan tetapi ketika dia melihat bahwa yang berada diperahu itu adalah Bwee Hong dan seorang gadis lain, dia merasa gembira bukan main sehingga ingin rasanya dia bersorak dan menari-nari!

"Ha-ha-ha, sungguh beruntung aku!"

A-hai bangkit duduk dan tersenyum lebar, wajahnya yang basah kuyup itu berseri-seri.

Melihat kegirangan meluap-luap pada diri pemuda itu, Bwee Hong dan Kwa Siok Eng, gadis yang menemani Bwee Hong diperahu itu, memandang dengan alis berkerut.

Terutama sekali Bwee Hong.

Jangan-jangan pengobatan yang diberikan kakaknya dan ia sendiri kepada A-hai mendatangkan akibat sampingan dan membuat pemuda ini benar-benar menjadi miring otaknya, pikirnya dengan gelisah.

Pemuda ini baru saja terbebas dari maut, tubuhnya memar-memar dan babak bundas, hampir saja tenggelam dan kelihatan begitu kehabisan tenaga, akan tetapi dapat tertawa-tawa gembira seperti itu.

"A-hai, apa saja yang kau lakukan disini? bagaimana engkau tahu-tahu hanyut disungai ini?"

Bwee Hong bertanya. Akan tetapi pada saat itu A-hai memandang kepada Siok Eng dan hidungnya kembang kempis.

"Aih, nona yang berbau dupa harum! Kita berjumpa lagi disini, sungguh senang hatiku. Bukankah nona bernama eh, nona Kwa Siok Eng?"

"Benar sekali. Aih, ingatanmu sudah mulai baik, A-hai,"

Kata Bwee Hong girang karena ternyata kini A-hai memperlihatkan kekuatan ingat-annya, tanda bahwa pengobatan itu memperlihatkan hasilnya.

Juga Kwa Siok Eng yang sudah banyak tahu tentang keadaan A-hai yang aneh itu, tersenyum mengangguk.

"Saudara A-hai, bagaimana engkau dapat berada dalam keadaan seperti ini?"

A-hai lalu bercerita sambil memeras ujung baju dan celananya, juga rambutnya yang basah kuyup.

"Ketika engkau hilang dan kemudian kakakmu juga pergi, agaknya mencarimu, aku bingung sekali, nona Hong. Aku tidak tahu harus mencari atau mengejar kemana. Maka aku lalu mengumpulkan ingatanku tentang boneka itu. Dan aku mulai dapat membayangkan adanya sebuah rumah indah ditepi sungai, dekat air terjun. Ditempat itu aku pernah bermain-main dengan seorang anak perempuan bernama Lian Cu.

"Ah, nama yang terukir pada boneka itu."

Kata Bwee Hong.

"Benar. Aku belum ingat betul apa hubunganku dengan Lian Cu, akan tetapi aku ingat bermain-main dengannya. Lalu aku mengambil keputusan untuk mencari tempat itu, mencari rumah indah mungil dekat air terjun ditepi sungai. Aku hendak menyusuri seluruh sungai sampai dapat kutemukan tempat itu. Dan aku dihadang orang-orang jahat aku dikeroyok, untung aku masih teringat akan beberapa jurus ilmu silat, sayang hanya sepotong-sepotong dan akhirnya aku terlempar keluar perahu dan hanyut sampai kesini."

"Aih, untung kami menemukanmu,"

Kata Bwee Hong menarik napas panjang, merasa kagum dan heran akan keadaan dan nasib pemuda itu yang aneh.

"Dan engkau sendiri, kenapa pergi meninggalkan aku setengah jalan dalam pengobatan itu, nona?"

A-hai bertanya, alisnya berkerut sedikit tanda bahwa kenyataan itu tidak menyenangkan hatinya.

"Aku diculik orang, A-hai."

Tiba-tiba A-hai meloncat berdiri, lupa bahwa dia berada diperahu sehingga perahu itu menjadi miring dan Siok Eng berteriak mengingatkan.

"Heiii, hati-hati... kita bisa terguling dan engkau hanyut lagi!"

"Wah, maaf..."

A-hai duduk kembali dan memandang Bwee Hong.

"Siapa yang berani menculikmu, nona Hong?"

"Tenanglah."

Bwee Hong tersenyum dan pipinya berobah merah.

Pemuda ini begitu marah mendengar ia diculik orang dan sikap ini membuat jantungnya berdebar karena pemuda aneh ini memperlihatkan saja perasaan hatinya yang demikian jelas menaruh perhatian besar terhadap dirinya.

"Baik kuceritakan saja apa yang telah kualami sejak kita terpaksa saling berpisah dari dalam pondok mendiang gu-lojin itu."

Bwee Hong lalu bercerita, didengarkan oleh A-hai penuh perhatian.

Juga Siok Eng mendengarkan sambil mendayung perahunya dengan hati-hati agar jangan sampai menabrak batu-batu yang menonjol disungai itu.

Mari kita ikuti pengalaman Bwee Hong sebelum ia lenyap dari rumah mendiang gu-lojin.

Seperti kita ketahui, setelah melakukan pengobatan atas diri A-hai yang kemudian tidur nyenyak, Seng Kun keluar dari dalam rumah, meninggalkan Bwee Hong yang masih berjaga-jaga didalam membenahi perabot-perabot pengobatan.

Tiba-tiba nampak bayangan orang berkelebat memasuki ruangan itu.

Bwee Hong oepat meloncat dan membalikkan tubuhnya.

Wajahnya berubah pucat ketika dia melihat seorang kakek bertubuh tinggi besar dan sikapnya kasar dan kokoh kuat, mengenakan jubah kulit harimau dan pada pinggangnya nampak sehelai rantai baja yang ujungnya dipasangi tombak jangkar.

Kakek itu bukan lain adalah Sanhek-houw, Si Harimau Gunung!

Bwee Hong maklum bahwa dia berhadapan dengan datuk sesat yang kejam, maka tanpa banyak cakap lagi iapun menyerang dengan tangan kosong.

Pedangnya tidak ada pada tubuhnya, maka ia tidak sempat mengambil pedang yang disimpan disudut ruangan.

Karena maklum bahwa lawannya ini tangguh, Bwee Hong mengerahkan tenaga sinkang ketika melakukan pukulan kearah leher lawan.

Akan tetapi, kakek tinggi besar itu tertawa dan sama sekali tidak mengelak, melainkan menggerakkan tangan menyambar kedepan untuk menangkap pergelangan tangan gadis itu.

Bwee Hong terkejut, menarik kembali tangannya dan menyusulkan tendangan kilat dari samping mengarah lambung.

"Bukkk!!"

Tendangan itu tepat mengenai lambung, akan tetapi Bwee Hong menjerit karena tahu-tahu pundaknya sudah dirangkul dan dilain saat ia sudah dipondong dan ditekan pundaknya sehingga tidak mampu bergerak lagi.

Kiranya, ia tadi gugup sehingga tergesa-gesa.

Kegugupannya dimanfaatkan lawan yang lebih tangguh itu.

Tendangannya diterima begitu saja sambil melindungi tubuh dengan pengerahan sinkang dan sebaliknya, sambil menerima tendangan, Si Harimau Gunung sudah menangkap dan mencengkeram pundak Bwee Hong seperti seekor harimau mencengkeram anak domba saja.

Sebetulnya, biarpun ia kalah lihai, akan tetapi kalau Bwee Hong tidak gugup atau terlalu bernapsu menyerang, melainkan lebih mencurahkan kepandaian untuk berjaga diri, mengandalkan ginkangnya yang membuat tubuhnya jauh lebih cepat dan ringan dari pada lawan, belum tentu Si Harimau Gunung akan mampu menangkapnya dengan cepat.

"Ha-ha-ha-ha!"

Harimau Gunung tertawa bergelak dengan girang sekali.

Dia sudah menotok jalan darah ditubuh Bwee Hong, membuat gadis itu tidak mampu melawan lagi, dan sambil tertawa-tawa dia lalu melucuti pakaian Bwee Hong, dengan gerakan kasar sekali!

Bwee Hong hendak melawan, hendak meronta, namun ia tidak mampu membebaskan diri dari totokan dan melihat betapa dirinya terancam malapetaka, agaknya akan diperkosa oleh iblis itu didepan A-hai yang masih tidur atau pingsan itu, ia mengeluarkan keluhan dari rongga dadanya kemudian lemas terkulai dan jatuh pingsan!

Melihat gadis itu terkulai lemas dan pingsan, Sanhek-houw mendengus tak senang.

Watak manusia ini memang sudah mendekati harimau, mendekati binatang buas.

Seperti juga harimau yang menerkam domba, dia tidak akan merasa puas kalau tidak melihat korbannya menggelepar-gelepar didalam gigitannya.

Dia ingin korbannya meronta melawan, ingin melihat darah segar yang panas.

Maka begitu gadis itu terkulai pingsan, dia lalu menggeram, dan tubuh Bwee Hong lalu dipanggulnya dan sekali meloncat dia sudah keluar dari dalam rumah dan membawa lari gadis itu dengan maksud akan diperkosa kalau gadis itu sudah siuman dari pingsannya, ditempat lain.

Akan tetapi, tiba-tiba Bwee Hong menjerit.

Si Harimau Gunung terkejut.

Tak disangkanya gadis itu akan siuman sedemikian cepatnya.

Dia lalu menekan leher Bwee Hong untuk membuat gadis itu tidak mampu berteriak lagi, dan melemparkan gadis itu keatas rumput.

Dia sudah lari agak jauh dari rumah dan kini melihat Bwee Hong sudah siuman, hatinya girang dan diapun hendak memperkosa gadis itu ditepi jalan, dilereng gunung itu!

Jeritan melengking yang hanya satu kali keluar dari mulut Bwee Hong itu telah didengar oleh Seng Kun, akan tetapi karena pada saat itu Seng Kun sendiri sedang berkelahi melawan Sin-go Mo Kai Ci Si Buaya Sakti, maka kakak ini tidak dapat menolong adiknya.

Akan tetapi, bukan hanya Seng Kun yang mendengarnya.

Seorang gadis lain juga mendengar jeritan ini dan cepat gadis itu berlari mendekat.

Gadis itu adalah Kwa Siok Eng!

Dapat dibayangkan betapa kaget hati gadis ini ketika melihat Bwee Hong yang sudah tidak mengenakan pakaian luar itu rebah terlentang pingsan diatas rumput dan kakek raksasa Harimau Gunung agaknya sedang bermaksud untuk memperkosanya.

Kwa Siok Eng, gadis itu, maklum akan kelihaian Harimau Gunung dan mungkin saja datuk sesat itu masih mempunyai kawan-kawan lain seperti biasanya.

Untuk melawan kakek itu ia tidak takut, akan tetapi bagaimana mungkin melawan kakek yang amat tangguh berbareng harus menyelamatkan Bwee Hong?

Ia lalu mempergunakan akal.

Siok Eng bersembunyi ditempat gelap, Kemudian mengerahkan tenaga sakti Asap Hio sehingga terciumlah bau dupa harum yang amat menyolok keluar dari tubuhnya, lalu ia menirukan suara ayahnya menggumam.

"Hemrn, siapa berani menghina orang Tai-bong-pai dengan melakukan kecabulan didepan mataku?"

Ketika hidungnya mencium bau dupa harum yang menyengat hidung itu, dan mendengar suara ini, terkejutlah Si Harimau Gunung.

Dia sendiri belum pernah bertemu dengan Kwa Eng Ki, ketua Tai-bong-pai akan tetapi dia sudah banyak mendengar tentang tokoh aneh itu.

Tai-bong-pai adalah perkumpulan aneh, tidak condong kepada para pendekar akan tetapi juga tidak pernah mau merendahkan diri memasuki golongan kaum penjahat.

Dan kabarnya Tai-bong-pai memiliki kekejaman yang tiada taranya disamping kelihaiannya yang mengerikan.

Tak disangkanya bahwa ditempat ini dia akan bertemu dengan ketua Tai-bong-pai, dan dia mengerti bahwa perbuatannya hendak memperkosa gadis cantik itu tentu dianggap penghinaan karena tanpa disengajanya hal itu hendak dilakukan didepan si ketua Tai-bong-pai yang dia tidak tahu entah berada dimana.

Lebih baik mencari rekannya, Si Buaya Sakti, baru dia akan menghadapi orang Tai.-bong-pai itu dan melanjutkan pemuasan nafsunya terhadap si gadis cantik, pikirnya.

Maka tanpa banyak cakap Harimau Gunung membatalkan maksudnya dan meninggalkan Bwee Hong, pergi dari situ untuk mencari Buaya Sakti yang dia yakin tidak berada jauh dari tempat itu.

Tak lama kemudian terdengarlah aumannya memanggil rekannya.

Begitu melihat kakek raksasa itu pergi, Siok Eng cepat meloncat keluar dan memondong Bwee Hong, dibawa lari kebelakang semak-semak.

Disini ia membebaskan totokannya.

Bwee Hong sadar dan terkejut, juga girang melihat Siok Eng.

Akan tetapi, gadis Tai-bong-pai ini menutupi mulutnya, berbisik.

"Enci Hong, lekas kau pakai pakaianku ini, dan kita harus cepat pergi dari sini,"

Katanya.

Bwee Hong yang melihat bahwa tubuhnya hampir telanjang bulat, menjadi merah mukanya dan iapun cepat mengenakan pakaian cadangan dari Siok Eng yang diberikan kepadanya.

Ia bersyukur sekali bahwa dirinya belum ternoda oleh Si Harimau Gunung dan kalau membayangkan apa yang akan terjadi andaikata tidak muncul Siok Eng yang menyelamatkannya, ia bergidik ngeri.

"Mari kita pergi"

"Akan tetapi, A-hai dan kakakku mereka dirumah mendiang gu-lojin"

"Kita pergi dulu, baru nanti mencari jalan"

Kata Siok Eng yang sudah menarik tangannya dia-jak lari.

Pada saat itu terdengar bentakan keras dari Harimau Gunung yang agaknya kembali ketempat tadi dan tidak lagi menemukan tubuh gadis yang hendak diperkosanya.

"Ketua dari Tai-bong-pai, harap keluar untuk bicara!"

Terdengar bentakan suara Harimau gunung.

Mendengar ini, Siok Eng lalu menarik tangan Bwee Hong dan merekapun melarikan diri.

Agaknya berkelebatnya bayangan mereka nampak oleh Sanhek-houw yang cepat melakukan pengejaran sambil berteriak-teriak.

Dua orang gadis itu bergegas lari menyusup-nyusup diantara pohon-pohon dan semak-semak sehingga sukarlah bagi Sanhek-houw untuk dapat mencari mereka.

Raksasa ini marah sekali.

Dia tahu bahwa dia tadi telah dipermainkan orang.

Tidak mungkin ketua Tai-bong-pai lari terbirit-birit seperti itu.

Tadi, ketika dia meninggalkan korbannya, dia merasa menyesal dan sambil menanti datangnya rekannya yang sudah dipanggilnya melalui aumannya, dia hendak menemui dulu ketua Tai-bong-pai untuk diajak berdamai.

Akan tetapi, ternyata gadis itu telah lenyap dan dia melihat berkelebatnya dua bayangan gadis yang bertubuh ramping maka segera dikejarnya.

Dengan hati mengkal Sanhek-houw berputar-putar didalam hutan itu, mencari-cari korbannya.

Akhirnya, dengan kesal dia lalu meninggalkan hutan, hendak kembali kedusun mencari Buaya Sakti yang belum juga datang membantunya.

Ketika dia berlari sampai diluar dusun, tiba-tiba dia melihat bayangan dua orang dari jauh.

Timbul lagi harapannya, dan dia mempercepat larinya mengejar.

Akan tetapi setelah dekat, hatinya menjadi semakin kesal karena dua orang itu bukanlah dua orang gadis yang tadi dikejarnya, melainkan seorang laki-laki dan seorang perempuan setengah tua, keduanya mengenakan pakaian putih sederhana.

"Heh, petani-petani busuk!"

Bentaknya dengan sikap kasar sekali.

"Hayo katakan apakah kalian melihat dua orang gadis cantik lewat disini. Kalau tidak bicara dengan baik kalian akan kuhajar dan kupatah-patahkan tulang punggungmu!"

Memang sengaja Harimau Gunung yang sudah marah ini mencari gara-gara agar ada tempat untuk melampiaskan kemarahannya.

Dia mengharapkan dua orang itu marah-marah agar dia dapat membunuh mereka seperti ancamannya tadi!

Siapapun orangnya tentu akan marah kalau mendengar ucapan seperti itu.

Dan dua orang setengah tua itupun marah, walaupun kakek pakaian putih itu tidak berkata apa-apa.

Si neneklah yang marah dan melangkah maju.

"Harimau iblis, agaknya engkau sudah ingin disembahyangi!"

Katanya dan tiba-tiba saja nenek itu menerjang kedepan dan mendorongkan telapak tangannya kearah Si Harimau Gunung.

Hawa pukulan yang kuat menyambar dan tercium bau dupa harum yang amat keras.

Sanhek-houw terkejut dan cepat dia menangkis.

"Desss!"

Dia terhuyung kedekat kakek itu dan tubuhnya terasa panas seperti dibakar.

"Huhh!"

Kakek itupun mendengus dan tangannya menampar.

Tercium bau hio yang lebih keras lagi.

Melihat tangan yang menyambar kearah kepalanya, Si Harimau Gunung cepat menangkis sambil mengerahkan tenaganya walaupun kepalanya masih pening dan tubuhnya terasa panas.

"Blarrrr!"

Harimau Gunung mengeluh dan tubuhnya terpelanting.

Seluruh tubuhnya kini terasa dingin sekali.

Dia bergidik dan cepat menggulingkan tubuhnya, meloncat bangun dengan mata terbelalak memandang kepada kakek dan nenek itu.

"Kiranya kau, kau..."

Dan diapun meloncat kebelakang sambil bergidik, menyusut sedikit darah dari ujung mulutnya dan lari secepatnya.

Sialan, pikirnya, kiranya dia benar-benar bertemu dengan ketua Tai-bong-pai!

Siapa lagi kalau bukan ketua Tai-bong-pai, mungkin dengan isterinya, yang memiliki kepandaian sehebat itu?

Kembali dia bergidik.

Masih untung bahwa mereka tidak berniat membunuhnya!

Kini dia maklum bahwa biar dibantu Si Buaya Sakti sekalipun, dia tidak akan kuat menandingi kakek dan nenek pakaian putih itu.

Kecuali kalau Raja Kelelawar sendiri yang datang membantunya.

Kakek dan nenek berpakaian putih itu memang suami-isteri Kwa Eng Ki, ketua Tai-bong-pai.

Mereka berdua sedang mencari puteri dan putera mereka.

Hati mereka kesal, maka mereka menghajar Si Harimau Gunung, walaupun mereka tidak bermaksud bermusuh dengan kaum sesat.

Oleh karena itulah mereka tidak mengejar datuk itu dan melanjutkan perjalanan mereka menyelidiki dan mencari anak-anak mereka.

Sementara itu, Siok Eng dan Bwee Hong sudah keluar pula dari dalam hutan.

Dari jauh saja, Siok Eng telah dapat mencium bau hio keras itu ketika suami-isteri Kwa Eng Ki menghajar Si Harimau Gunung.

Gadis ini nampak terkejut dan cepat ia menarik tangan Bwee Hong, diajaknya gadis itu masuk kedalam hutan.

"Wah, enci Hong, itu ayah dan ibu telah datang pula kesini! Aku pergi dari rumah tanpa persetujuan mereka dan sudah beberapa bulan aku tidak pulang. Mereka tentu sedang mencariku dan aku belum mau pulang sekarang. Kita bersembunyi dulu disini sampai mereka pergi."

Bwee Hong mengangguk.

Ia dapat mengerti keadaan Siok Eng.

Sahabatnya ini adalah puteri dari ketua Tai-bong-pai dan iapun mendengar bahwa keluarga Tai-bong-pai adalah orang-orang yang dianggap iblis oleh dunia kang-ouw.

Tidak heran kalau cara hidup merekapun aneh sekali sehingga seorang anak perempuan pergi tanpa pamit dan takut ditemukan ayah-bundanya, takut dipaksa dan diajak pulang.

Sungguh aneh!

Akan tetapi ia tidak mau menyinggung hati sahabatnya dengan menyatakan keheranannya, dan iapun ikut bersembunyi.

Pengalamannya ketika terculik oleh Harimau Gunung tadi saja sudah amat mengerikan, dan ia takut kalau-kalau bertemu lagi dengan iblis itu.

Tentang keadaan A-hai, ia tidak khawatir karena bukankah disana terdapat kakaknya?

malam itu mereka berdua bersembunyi didalam hutan, tidak berani banyak bersuara, bahkan tidak berani membuat api unggun.

Mereka hanya mengandalkan tenaga sinkang untuk melawan dinginnya sang malam.

Pada keesokan harinya, barulah kedua orang gadis itu berani keluar dari dalam hutan.

Dengan hati-hati mereka menuju kerumah mendiang gu-lojin.

Akan tetapi, ternyata rumah itu kosong.

A-hai maupun Seng Kun tidak nampak berada didalam rumah.

Bwee Hong lalu mengajak Siok Eng pergi kedusun nelayan untuk mencari mereka.

Namun didusun ini juga mereka tidak menemukan dua orang pemuda itu.

Dan dari para nelayan inilah mereka mendengar akan apa yang terjadi malam tadi.

Mereka mendengar akan munculnya dua orang kakek iblis yang mereka dapat menduganya tentulah Si Harimau Gunung dan Si Buaya Sakti.

Kemudian datangnya seorang kakek dan seorang pemuda bersama Seng Kun yang mencari dua orang kakek iblis itu, kemudian betapa tiga orang ini melakukan pengejaran menggunakan perahu ketika mendengar betapa dua orang kakek iblis itu merampas perahu seorang nelayan.

Kemudian mereka mendengar akan munculnya A-hai yang juga membeli sebuah perahu dan mendayung perahu itu seorang diri.

"Demikianlah, kami berdua lalu menggunakan perahu melakukan pengejaran karena menurut para penghuni dusun, engkau pergi belum lama,"

Kata Bwee Hong menutup ceritanya kepada A-hai.

"Dan akhirnya kami dapat menemukanmu dalam keadaan hanyut dan hampir tenggelam."

"Wah, wah, engkau selalu menjadi bintang penolongku, nona Hong."

A-hai berkata dengan terharu. Dia teringat betapa baiknya gadis ini dan kakaknya, yang bahkan berjasa pula dalam mengobati dirinya dan berusaha memulihkan ingatannya.

"Aih, jangan berkata demikian, A-hai. Bukankah engkau sebaliknya yang sudah berkali-kali menyelamatkan diriku dari bencana?"

Melihat betapa dua orang ini saling merendah dan saling memuji, Siok Eng terbatuk-batuk. karena batuknya ini batuk buatan, Bwee Hong menoleh dan menegur dengan pipi merah.

"Ih, apa artinya engkau batuk-batuk itu, adik Eng?"

Siok Eng menutupi mulut dan tersenyum.

"Kalian saling berebutan merendahkan diri dan saling memuji. Sudahlah, anggap saja kalian saling hutang budi dan saling berkewajiban untuk membalas budi, hi-hik "

Bwee Hong mengerutkan alisnya.

"Maksudmu?"

"Maksudku adalah seperti yang kau maksudkan didalam lubuk hatimu, enci"

Kedua pipi itu menjadi semakin merah.

"Adik Eng, jangan main-main kau. Dan jangan bicara seperti main teka-teki. Apa yang kau maksudkan?"

Siok Eng hanya tertawa dan sikap inilah yang membuat Bwee Hong tiba-tiba mengerti apa yang dimaksudkan sahabatnya itu, maka didalam, gelap ia mencubit lengan Siok Eng dengan keras, akan tetapi tidak berkata apa-apa karena takut kalau A-hai akan tahu apa yang dimaksudkan oleh Siok Eng dengan godaannya itu.

Siok Eng telah menyindir dan menggoda mereka, menjodohkan mereka!

Memang sesungguhnya A-hai tidak mengerti akan kelakar dua orang gadis itu dan diapun bertanya.

"Kita kemana sekarang?"

Pertanyaannya diajukan kepada Siok Eng yang mengemudikan perahu.

"Sebaiknya kita pergi ketempat A-hai dikeroyok orang. Tentu ada sesuatu ditempat itu dan siapa tahu kalau-kalau kakakku juga berada disana."

"Baik, kita kesana sekarang juga!"

Tiba-tiba Siok Eng berkata dengan tegas sambil mendayung perahunya. Melihat ini, Bwee Hong tersenyum dan mendekati Siok Eng, berkata lirih didekat telinga gadis itu.

"Engkau tentu sudah ingin sekali segera berjumpa dengan kakakku, bukan?"

Akan tetapi, sejak kecil Siok Eng mempunyai lingkungan hidup yang berbeda dengan Bwee Hong.

Sebagai puteri ketua Tai-bong-pai, ia sudah biasa bergaul dengan orang-orang aneh yang hidupnya tidak begitu terbelenggu oleh segala macam sopan-santun dan kepura-puraan yang munafik.

Apa yang berada dalam hatinya tidak ditutup-tutupinya dengan malu-malu lagi, maka iapun mengangguk dan menjawab dengan suara serius.

"Benar, enci Hong. Aku harus cepat bertemu dengan dia dan melihat dia dalam keadaan selamat, barulah hatiku akan merasa tenteram."

Jawaban ini sudah jelas sekali bagi Bwee Hong, akan tetapi A-hai hanya termangu-mangu diujung perahu, masih berusaha mengeringkan bajunya yang basah.

Dia mendengar ucapan itu dalam arti kata-kata biasa saja, sama sekali tidak melihat bahwa ucapan itu mengandung perasaan hati gadis Tai-bong-pai itu terhadap Seng Kun.

Perahu didayung oleh A-hai menurut petunjuk Siok Eng dan menjelang sore hari tibalah mereka ditempat pengeroyokan itu.

Akan tetapi tempat itu sunyi saja dan nampak perahu A-hai ditepi sungai.

"Itu perahuku!"

Kata A-hai yang mendayung kepinggir. Dengan girang dia mengambil buntalan pakaiannya.

"Aku mau berganti pakaian kering!"

Katanya sambil lari kebelakang semak-semak.

Tak lama kemudian diapun keluar dan sudah memakai pakaian kering dan sikapnya gembira sekali.

Memang hatinya gembira setelah dia dapat berkumpul kembali dengan Bwee Hong.

"Disini sunyi tidak ada seorangpun manusia,"

Kata Siok Eng.

"Tapi ini banyak bekas kaki orang,"

Kata Bwee Hong.

Mereka lalu melalui jalan setapak, mengikuti jejak kaki banyak orang yang menuju kebukit-bukit didepan.

Ketika melihat sebuah pondok bambu yang kosong, mereka masuk.

Banyak terdapat bekas kaki disitu, juga diatas meja kasar terlihat corat-coret gambar semacam peta dan ada tulisan Pesanggrahan Hutan Cemara.

"Wah, aku mengenal tempat itu!"

Tiba-tiba A-hai berkata.

"Telah beberapa kali aku kesana mengantarkan arak!"

Hari telah malam, akan tetapi karena mengenal jalan, A-hai dapat membawa kedua orang temannya menuju kepesanggrahan yang dimaksudkan itu.

Mereka melewati kedai arak yang pernah menjadi langganan A-hai.

Kedai itu tertutup rapat, dan nampak bekas keributan dan perkelahian yang membuat beberapa bagian dari kedai itu jebol dan rusak.

Agaknya keributan besar terjadi disitu.

Sama sekali tidak mereka ketahui betapa didalam kedai itu telah terjadi keributan dan perkelahian antara rombongan para penjahat melawan para anggauta Liong-i-pang dan dikedai itupun hadir pula Liu Pang dan Ho Pek Lian seperti yang telah diceritakan dibagian depan.

Tiga orang itu melanjutkan perjalanan, dengan A-hai sebagai penunjuk jalan, menuju ke Pesanggrahan Hutan Cemara, yaitu pesanggrahan Kaisar yang hanya dipergunakan diwaktu Kaisar mengadakan perburuan.

Malam sudah larut,-sudah lewat tengah malam ketika mereka bertiga tiba dipesanggrahan itu.

Dan disinipun mereka melihat bekas-bekas pertempuran hebat yang membuat bangunan pesanggrahan yang mungil itu porak-poranda.

Melihat akibat yang demikian parah, dapat diduga bahwa pertempuran yang terjadi ditempat itu amatlah hebatnya.

Sebagian bangunan nampak bekas terbakar dan darah masih nampak berceceran disana-sini, berwarna kehitaman dan sudah mengering.

"Ssttt, ada orang!"

Kata Siok Eng berbisik dan mereka bertiga lalu menyelinap kebelakang semak-semak.

Muncullah seorang laki-laki bertubuh pendek dari dalam bangunan yang bekas terbakar dan sinar bulan membuat wajah laki-laki pendek itu nampak pucat sekali.

Melihat wajah itu, Bwee Hong segera mengenalnya.

Orang itu bukan lain adalah Pek-lui-kong Tong Ciak, jagoan Istana yang setia itu.

Tentu orang itu tahu akan semua hal yang terjadi, mungkin tahu pula dimana adanya kakaknya.

Maka Bwee Hong lalu keluar dari tempat sembunyinya, diikuti oleh Siok Eng dan A-hai.

Dua orang inipun telah mengenal muka cebol yang lihai itu dan mereka merasa agak khawatir.

Tadinya Tong Ciak nampak terkejut, akan tetapi ketika dia mengenal Bwee Hong, diapun merasa lega dan menghampiri mereka.

"Ah, kiranya nona Chu yang datang,"

Katanya.

"Tong-ciangkun, kenapa ciangkun berada disini dan apakah yang telah terjadi ditempat ini? Kulihat ada bekas-bekas pertempuran."

Si pendek itu menarik napas panjang dan nampak berduka. Dia mengepal tinju yang diamangkan kearah bulan, menahan diri yang agaknya ingin menyumpah-nyumpah, lalu berkata.

"Sudahlah, apa artinya dipertahankan lagi? Nona Chu, kalau nona bertemu dengan ayahmu, tolong sampaikan bahwa aku Tong Ciak mengirim hormat dari jauh dan bahwa aku tidak akan kembali lagi ke Istana."

Bwee Hong mengerutkan alisnya.

Ia tahu bahwa panglima ini menghormati ayahnya, yaitu Bu Hong Tojin dan ia tidak perduli apa yang akan dikerjakan oleh orang ini.

Akan tetapi ia ingin tahu apa yang sebenarnya telah terjadi maka panglima cebol yang lihai ini kelihatan murung, berduka dan putus harapan, maka iapun menjawab.

"Baik, ciangkun, akan kusampaikan. Akan tetapi apakah yang terjadi dan ciangkun hendak pergi kemanakah?"

"Aku akan kembali ke Bawa Pasir. Tidak ada gunanya lagi mengabdi di Istana setelah Kaisar terbunuh. Yang berada di Istana sekarang adalah kaum pencoleng dan penjahat, begundal-begundal Perdana Menteri Li Su yang lalim dan Chao thai-kam yang korup."

Si cebol menarik napas panjang.

"Mereka, dipimpin oleh Raja Kelelawar, telah berhasil merampas jenazah Sribaginda. Kakakmu dibantu oleh dua orang temannya melakukan pengejaran karena mereka mengira bahwa para penjahat itu membawamu, nona. Akan tetapi sungguh perbuatan mereka itu amat berbahaya. Raja Kelelawar sungguh amat lihai sekali dan dia masih dibantu oleh pentolan-pentolan kaum sesat yang berilmu tinggi."

"Kalau begitu, aku harus menyusul Kun-koko,"

Kata Bwee Hong.

"Akupun akan pergi sekarang juga, harap engkau suka berhati-hati, nona. kaum sesat itu selain kejam dan jahat, juga amat lihai. Aku sendiri sudah terluka, dan perlu beristirahat untuk memulihkan tenaga dan kesehatan."

Mereka lalu berpisah dan Bwee Hong, Siok Eng dan A-hai malam itu juga meninggalkan tempat itu.

Mereka lebih suka melewatkan malam ditempat lain dari pada dibekas pesanggrahan yang terbakar itu.

Mereka bermalam ditepi hutan dan pada keesokan harinya barulah mereka melanjutkan perjalanan ke Kotaraja, untuk menyusul Seng Kun.

Tiga orang itu melakukan perjalanan cepat, akan tetapi kadang-kadang mereka terpaksa mengurangi kecepatan karena kalau dua orang gadis itu mengerahkan ilmu lari cepat mereka, tentu A-hai akan tertinggal.

Selain itu, juga sering kali secara tiba-tiba A-hai berhenti dan termenung, memeras otaknya untuk mengingat-ingat ilmu silat yang pernah dipelajarinya.

"Perlu apa melelahkan pikiran dengan mengingat-ingat ilmu silat yang pernah kau pelajari dalam keadaan seperti sekarang ini, A-hai?"

Pertanyaan Bwee Hong ini dimaksudkan bahwa mereka bertiga sedang tergesa-gesa mencari dan mengejar Seng Kun, maka bukanlah waktunya yang tepat untuk sering kali berhenti dan mengingat-ingat ilmu silat.

Akan tetapi A-hai salah mengerti dan menjawab dengan sungguh-sungguh.

"Justeru dalam keadaan seperti sekarang ini maka perlu aku mengingat semua ilmu yang pernah kupelajari, nona Hong. Dimana-mana terjadi kekalutan dan aku melihat betapa ilmu silat amat diperlukan pada waktu sekarang ini. Orang-orang jahat berkeliaran, kalau tidak memiliki kepandaian silat, tentu celaka karena tidak mampu melindungi diri sendiri. Maka perlu sekali aku mengingat-ingatnya, dan agaknya samar-samar aku mulai teringat akan gerakan ilmu silat yang pernah kupelajari."

Sambil berkata demikian, kaki tangannya bergerak-gerak secara aneh dan mulutnya bicara kepada diri sendiri.

"Setelah kaki digeser kekiri, tangan harus mencengkeram kearah ubun-ubun lawan. Begini! Ah, benar"

Dia melakukan gerakan kaki menggeser kekiri itu dan tangannya mencuat dengan cengkeraman aneh keatas.

Sebagai ahli-ahli silat kelas tinggi Bwee Hong dan Siok Eng dapat mengenal ilmu silat yang amat aneh dan hebat.

Sayang hanya sepotong-sepotong, akan tetapi gerakan yang kelihatan sederhana itu memiliki dasar kecepatan yang mengerikan, bahkan setiap kali tangan digerakkan, terdengar suara mengaung atau berdesing seperti sebatang pedang yang baik disentil atau diayunkan.

Tenaga sinkang yang hebat tersembunyi didalam gerakan itu tanpa disadari oleh A-hai sendiri!

Siok Eng yang bahkan memiliki tingkat kepandaian lebih tinggi dari Bwee Hong, juga memandang kagum lalu mengajukan usulnya.

"Alangkah baiknya kalau engkau merangkai gerakan-gerakan itu, dari awal mula. Tentu saja yang engkau ingat, saudara A-hai. Tanpa dirangkai, gerakan-gerakan itu menjadi kacau tidak karuan ujung pangkalnya."

A-hai yang mendengar usul ini termenung, mengangguk-angguk, lalu kedua alisnya yang tebal itu berkerut, tanda bahwa dia mulai mengerahkan ingatannya.

"Baiklah, akan kucoba. Akan tetapi harap nona berdua tidak mentertawakan."

Siok Eng dan Bwee Hong lalu duduk dibawah pohon dengan hati gembira.

Mereka ingin sekali melihat A-hai, dalam keadaan sadar, dapat mengingat dan menguasai ilmu-ilmunya yang mujijat.

Setelah memandang kepada dua orang gadis itu dengan malu-malu, A-hai lalu agak menjauh dan mulailah dia memasang kuda-kuda.

Mula-mula A-hai berdiri tegak, menghadap kearah dua orang nona yang menjadi penonton itu, lalu mengangkat kedua tangan kedepan dada sebagai tanda penghormatan.

Kemudian dia menurunkan kedua tangannya, terus kedua lengan dibuka dan dipentang kekanan kiri dengan jari-jari terbuka membuat gerakan seperti burung terbang dan kedua lengan itu seperti menjadi sepasang sayapnya, perlahan-lahan kaki kanan diangkat dan diturunkan lagi kedepan dalam keadaan berjungkit.

Tiba-tiba saja terdengar suara berkerotokan dari tulang-tulang ditubuh pemuda itu dan sepasang matanya mencorong menakutkan, sedangkan dari ubun-ubun kepalanya nampak uap tipis mengepul.

Bwee Hong terbelalak dan tak terasa lagi ia memegang lengan kawannya erat-erat saking tegang hatinya dan khawatir kalau-kalau A-hai kumat lagi!

Tenaga dahsyat yang seolah-olah bangkit dalam diri A-hai itu, makin lama nampak semakin hebat sehingga mempengaruhi keadaan sekeliling.

Bahkan dua orang nona itu merasakan getaran yang aneh walaupun A-hai belum menggerakkan kaki tangannya dan baru mulai dengan pemasangan kuda-kuda saja.

Sepasang mata yang sudah mencorong hebat itu kini perlahan-lahan menjadi redup kembali, uap diatas kepalanyapun lenyap dan sikap A-hai nampak kebingungan dan ketolol-tololan lagi.

Diapun menurunkan kedua tangannya dan nampak lesu.

"Wah, sudahlah, aku lupa lagi bagaimana untuk melanjutkan!"

Katanya dengan nada suara kesal. Tentu saja Siok Eng dan Bwee Hong yang tadinya sudah merasa tegang sekali dan juga gembira, menjadi kecewa dan ikut lemas seperti balon kembung kini dikempiskan.

"A-hai, jangan putus harapan. Cobalah lagi. Engkau sudah hampir berhasil tadi!"

Bwee Hong membujuk.

"Benar, saudara A-hai, engkau sudah berhasil dengan pasangan kuda-kuda itu,"

Siok Eng juga memuji.

"Cobalah lagi, A-hai dan karena kuda-kudamu sudah benar, jangan terlalu kerahkan pikiranmu untuk itu, melainkan untuk mengingat gerak lanjutannya,"

Sambung Bwee Hong.

Didorong semangat oleh dua orang gadis itu, akhirnya A-hai menjadi gembira juga dan dicobanya lagi berkali-kali, kalau lupa dia mulai lagi dari permulaan.

Akhirnya berhasil juga!

Ketika dia melakukan gerakan pertama memasang kuda-kuda, agaknya kini gerakannya itu benar-benar sempurna.

Uap yang mengepul diatas kepalanya semakin tebal dan tiba-tiba terjadilah keanehan yang membuat kedua orang dara itu terbelalak dan wajah mereka berobah.

Mata mereka memandang kepada A-hai seperti orang yang tidak percaya akan apa yang mereka saksikan.

Uap yang mengepul diatas kepala A-hai itu kini terbagi menjadi dua warna.

Yang sebelah kiri berwarna putih seperti uap tebal biasa, akan tetapi yang sebelah kanan berwarna kemerahan!

Uap itu mengepul keatas setinggi satu meter.

Tentu saja dua orang dara yang selama hidupnya belum pernah melihat hal seperti itu, bahkan mendengarpun belum, menjadi melongo dan dapat menduga bahwa tenaga sinkang yang dimiliki oleh A-hai sungguh luar biasa anehnya dan amat hebat.

Akan tetapi, mereka sengaja menahan mulut dan tidak mengeluarkan kata-kata agar A-hai tidak menjadi bingung atau kikuk.

Mereka diam saja dan memperhatikan dengan kedua mata terbelalak, mengikuti setiap gerakan kaki dan tangan A-hai.

Kini gerakan A-hai mulai lancar, walaupun masih dilakukan dengan perlahan dan lambat.

biarpun begitu, dua orang dara itu memandang dengan melongo dan semakin takjub melihat keadaan yang benar-benar amat luar biasa dari pemuda itu.

Kini perlahan-lahan anggauta tubuh A-hai juga mengalami perobahan warna.

Agaknya warna pada uap yang mengepul diatas kepala pemuda itu kini mempengaruhi tubuhnya sehingga separuh tubuhnya yang sebelah kiri menjadi keputih-putihan, sedangkan separuh tubuh sebelah kanan menjadi kemerah-merahan.

Tentu saja wajah yang tampan itu nampak aneh dan mengerikan karena menjadi dua warna, merah dan putih seperti dicat saja dengan warna muda.

Dari perasaan takjub dan kagum, kini dua orang dara itu merasa khawatir juga.

Bahkan Bwee Hong menjadi gelisah karena biarpun ia mengikuti kakaknya mengusahakan pengobatan terhadap A-hai, namun ia sama sekali tidak dapat mengetahui dengan pasti, apa yang sedang terjadi dan berobah didalam tubuh pemuda itu dan iapun merasa tidak berdaya untuk menghentikannya.

Kalau saja disitu terdapat kakaknya.

Kakaknya adalah seorang ahli pengobatan yang sudah mewarisi kepandaian mendiang kakek mereka, sedangkan ia sendiri hanya mengetahui cara pengobatan umum saja, tidak terlalu mendalam seperti kakaknya.

Kalau kakaknya berada disini dan menyaksikan keadaan A-hai, tentu akan tertarik sekali dan mungkin dapat menerangkannya.

Kini A-hai mengeluarkan suara mendengus beberapa kali dan gerakan tubuhnya sangat aneh.

Dia hanya menggerakkan kaki dan tangan kirinya saja, bahkan yang bergerak hanya tubuh bagian kiri.

Mata kirinya melirik-lirik akan tetapi mata kanannya bengong dan diam saja!

Bagian tubuh kiri yang putih itulah yang bergerak, sedangkan bagian tubuh kanan yang merah hanya terseret, tidak ikut-ikut bergerak.

Tentu saja dua orang dara itu terbelalak dan bulu tengkuk mereka meremang menyaksikan keanehan yang menggiriskan dan menakutkan ini.

Bwee Hong makin gelisah.

Gerakan itu kini terasa mendatangkan hawa dingin yang luar biasa sekali, yang seperti terasa menyusup tulang oleh dua orang dara.

Uap berwarna putih diatas kepala A-hai itupun menghilang, tinggal yang berwarna merah saja yang mengepul.

Akan tetapi, biarpun yang bergerak itu hanya anggauta tubuh kiri, hebatnya bukan kepalang.

setiap jari tangan kiri yang bergerak melakukan totokan-totokan dan mengeluarkan bunyi mendesis-desis seperti bara api tersiram air hujan.

Agaknya, kelancaran gerakannya membual A-hai menjadi semakin bersemangat.

Kadang-kadang pemuda itu menghentikan gerakannya, mengingat-ingat sebentar lalu melanjutkan lagi.

Akan tetapi, pada suatu gerakan yang nampak aneh dan indah, ketika dia menggeser kakinya kekiri, dia termangu-mangu dan tidak mampu melanjutkan lagi, tubuhnya masih condong kedepan dan karena dia mengingat-ingat dan menghentikan gerakannya, dia menjadi seperti patung yang lucu.

Akhirnya dia menyerah karena tidak mampu mengingat kelanjutan gerakan ini.

"Wah, sudahlah... cuma sampai disini saja ingatanku."

Dan diapun menghentikan permainan silatnya dan duduk diatas rumput dengan hati kesal.

Pagi telah menjelang.

Kabut pagi yang dingin membuat dua orang dara yang seperti baru sadar dari mimpi itu kedinginan.

Mereka menarik napas panjang, seperti baru kembali dari alam khayal yang mentakjubkan.

Mereka disuguhi tontonan Ilmu silat yang langka dan yang hebat luar biasa.

"Ehh? Putih-putih dirambutmu itu apakah hujan salju?"

Tiba-tiba Siok Eng menunjuk kearah rambut Bwee Hong.

Dara ini mengangkat muka memandang dan iapun melihat betapa dirambut Siok Eng terdapat benda-benda putih seperti kapas, bahkan di Puncak-puncak daun dan rumput disekitar mereka terdapat salju.

"A-hai, apakah hujan salju? Pantas begini dingin!"

Kata Bwee Hong sambil menoleh kepada A-hai.

"Hujan salju? Entahlah, aku tidak tahu, nona,"

Kata A-hai yang masih tenggelam kedalam lamunan, mengingat-ingat ilmu silatnya.

"Hei, kenapa tidak ada salju dirambut A-hai?"

Bwee Hong berseru sambil bangkit dan mendekati pemuda itu. Siok Eng juga memeriksa sekitar situ, yang kini tidak begitu gelap lagi karena fajar mulai menyingsing.

"Eh, disinipun tidak ada salju, yang ada hanya kabut dan embun di Puncak-puncak daun."

Siok Eng juga berseru.

Mereka memeriksa keadaan yang aneh itu dan akhirnya mereka sadar dengan penuh takjub bahwa salju itu tercipta sebagai akibat dari pada pengaruh ilmu silat aneh dari A-hai!

Kiranya, pukulan-pukulan yang dilakukan A-hai mengandung tenaga sinkang mujijat yang dingin, yang agaknya dapat membuat embun-embun tipis disekitar tempat itu berobah menjadi salju.

Luar biasa sekali!

Sambil menanti datangnya pagi, mereka duduk dan dua orang gadis itu memuji-muji ilmu silat yang baru saja diperlihatkan oleh A-hai.

Akan tetapi A-hai menggeleng kepalanya.

"Masih kacau-balau, belum tersusun baik,"

Katanya, bukan untuk merendah melainkan karena dia memang belum merasa puas dan tahu bahwa ilmu yang diingatnya itu tidak lengkap.

"Sungguh mati, selama hidupku belum pernah aku mendengar, apa lagi melihat, ilmu silat seperti yang kau mainkan tadi, saudara A-hai. Hanya sayang sekali, mengapa engkau bersilat hanya dengan sebelah kaki dan sebelah tangan? Kalau saja engkau menggunakan semua kaki tanganmu, tentu Ilmu itu akan menjadi semakin hebat dan ampuh."

A-hai menunduk dari mukanya berobah merah, lalu dia mengangkat mukanya lagi, memandang kepada Siok Eng sambil tersenyum sedih.

"Akan tetapi yang kuingat memang hanya digerakkan oleh satu tangan saja."

"A-hai, tadi engkau mengatakan sebelum engkau mulai bersilat, bahwa ketika kakimu bergeser kekiri, seharusnya engkau mencengkeram kearah ubun-ubun lawan. Apa yang kau maksudkan dengan itu?"

Bwee Hong mengingatkan. A-hai meloncat bangun, menepuk kepalanya.

"Aih, benar! Seharusnya jurus terakhir tadi dilanjutkan, ketika kaki bergeser kekiri, tangan kananku harus mencengkeram kearah ubun-ubun lawan dengan jurus Pai-in-jut-sui (Mendorong Awan Keluar Puncak). Ya, begitulah!"

Katanya dengan girang seperti seorang anak kecil yang menemukan kembali mainannya yang hilang.

Dengan semangat baru yang meluap-luap A-hai kembali memainkan ilmu silatnya, melanjutkan dengan gerakan yang terlupa tadi setelah keadaannya kembali seperti tadi, yaitu tubuhnya berobah menjadi dua warna.

Dengan suara menggeram dahsyat, ketika kakinya bergeser kekiri, tiba-tiba tangannya mencuat kedepan dan mencengkeram keatas.

Terdengar suara mendesis dan pohon didepan A-hai tergetar keras, air embun yang tadinya menempel diujung daun-daun berhamburan kebawah dalam keadaan berobah menjadi salju yang melayang turun seperti kapas.

Sampai disini, A-hai berhenti dan mengerutkan alisnya, mengingat-ingat.

Tiba-tiba, kaki kanannya yang sejak tadi seperti mati atau hanya mengikuti gerakan kaki kiri dalam keadaan terseret, kini ditekuk dan melangkah kedepan.

Tangan kanannya dengan terbuka kini mencengkeram kedepan.

"Wuuuuttt!"

Hawa panas menyambar keluar dari telapak tangan itu dan uap merah yang mengepul diatas kepalanya lenyap.

Cengkeraman tangan kanan itu menyambar keatas dan butiran-butiran salju yang teriadi oleh tenaga pukulan tangan kirinya tadi kini lenyap dan menguap menjadi seperti kabut.

Lebih hebat lagi, daun-daun yang tergantung paling rendah dipohon itu menjadi layu seperti terlanda hawa panas yang hebat.

"Bukan main!"

Siok Eng berbisik kagum.

Ia adalah puteri ketua Tai-bong-pai dan sudah banyak melihat ilmu-ilmu aneh dan hebat dari orang-orang pandai.

Akan tetapi apa yang disaksikannya ini sungguh membuat ia takjub.

Bagaimana seorang bisa bersilat seperti itu?

Kedua kaki dan kedua tangan itu membuat gerakan sendiri-sendiri, seperti dikemudikan oleh dua otak.

Bahkan kedua mata pemuda itupun bekerja sendiri-sendiri, melirak-lirik mengikuti gerakan bagian masing-masing.

"Hebat sekali permainanmu, A-hai!"

Bwee Hong juga memuji.

Pujian ini membuat ingatan A-hai menjadi buntu lagi dan betapapun dia mengingat-ingat, tetap saja dia tidak mampu melanjutkan.

Akan tetapi dia tidak kecewa lagi karena hasil ingatannya sekali ini sudah baik sekali.

mereka lalu beristirahat sambil makan pagi yang dikeluarkan oleh Siok Eng dan A-hai, yaitu roti kering dan dendeng asin.

A-hai masih mempunyai arak untuk menghangatkan perut melawan hawa dingin.

Setelah makan pagi, mereka bertiga melanjutkan perjalanan.

Kini pandangan Siok Eng terhadap A-hai lain.

Ia bersikap hormat dan didalam hatinya ia memandang pemuda itu sebagai seorang yang lebih pandai dari padanya, sama sekali tidak memandang rendah sebagai seorang pemuda yang kehilangan ingatannya.

Ketika mereka tiba didataran rendah, dari jauh nampak iring-iringan tandu dikawal oleh belasan orang perajurit yang gagah perkasa.

Mereka cepat menyelinap bersembunyi dan memperhatikan ketika iring-iringan itu lewat didepan tempat persembunyian mereka.

Diam-diam Bwee Hong terkejut.

Tidak salah lagi.

Tandu-tandu yang terisi wanita-wanita tua muda dan anak-anak itu tentu datang dari Kotaraja, agaknya merupakan keluarga bangsawan.

Timbul pertanyaan dihatinya.

mengapa mereka meninggalkan Kotaraja dan siapakah mereka?

Akan tetapi ia tidak mau mencari perkara dengan banyak bertanya, khawatir kalau-kalau dicurigai dan malah bentrok dengan para pengawal itu.

Mereka sedang meninggalkan Kotaraja dan nampak tergesa-gesa, tentu banyak kecurigaan mereka kalau ada orang bertanya-tanya dijalan.

Mereka bertiga melanjutkan perjalanan dan disepanjang perjalanan Bwee Hong selalu mencari keterangan tentang Raja Kelelawar yang membawa jenazah, juga tentang kakaknya yang ditemani dua orang yang belum diketahuinya siapa.

Menurut keterangan yang diperolehnya dari penghuni dusun nelayan, yang menemani kakaknya adalah seorang pemuda tampan dan seorang kakek tua memegang tongkat.

Biarpun Bwjee Hong selalu bertanya kepada orang-orang didalam perjalanan tentang mereka itu, tidak ada seorangpun yang dapat memberi keterangan, tidak ada yang melihat orang-orang yang ditanyakannya itu.

Pada suatu pagi perjalanan mereka terhalang oleh sebuah sungai.

Mereka berhenti didusun penyeberangan.

Untuk menyeberang, orang harus naik perahu penyeberangan yang disediakan didusun itu.

Akan tetapi pada saat itu, tidak terdapat perahu ditepi sini karena semua perahu dikerahkan untuk menjemput orang-orang yang berjubel diseberang sana dan hendak menyeberang kesini.

Melihat keadaan ini, A-hai mendekati seorang anak laki-laki belasan tahun yang berada disitu.

Anak inipun membantu para tukang perahu dan nampaknya cerdik.

"Adik kecil, kenapa banyak sekali orang-orang menyeberang dari sana, sedangkan aku tidak melihat seorangpun yang hendak menyeberang dari sini kesana?"

"Mereka adalah para pengungsi,"

Jawab anak itu.

"Pengungsi dari mana dan kenapa mengungsi?"

Tanya pula A-hai. Anak itu memandang wajah A-hai seperti merasa heran mengapa ada orang yang tidak tahu akan keadaan geger pada waktu itu.

"Kabarnya pasukan pemerintah telah mundur, dan pasukan pemberontak sudah mendekati Kotaraja. Pasukan yang mundur sudah sampai diseberang sana. Para pengungsi itu datang dari utara hendak keselatan."

Mendengar jawaban ini, Bwee Hong dan Siok Eng saling pandang dengan A-hai.

Kalau begitu, iring-iringan tandu yang mereka jumpai itu tentulah para pengungsi dari bangsawan atau pejabat Kotaraja yang hendak menyelamatkan diri karena Kotaraja sudah terancam oleh para pemberontak.

Sebuah perahu dari seberang yang padat pengungsi tiba ditepi.

Rombongan ini tentu keluarga hartawan, pikir Bwee Hong dan dua anak muda ini malah hendak menuju kesana?

Ketika perahu menyeberangi sungai yang lebar itu, A-hai sempat mengajak tukang perahu bercakap-cakap.

"Kami sudah lama meninggalkan utara dan kini hendak pulang kekeluarga kami,"

Demikian A-hai bicara dan Bwee Hong melihat kenyataan bahwa setelah ingatannya agak dapat bekerja kembali, sikap A-hai sungguh amat berbeda dan kini nampaklah bahwa dia adalah seorang pemuda cerdik, sama sekali tidak tolol.

"Kami sama sekali tidak tahu bagaimanakah keadaan disana. Apakah yang telah terjadi, lopek?"

Tukang perahu menarik napas panjang.

"Membanjirnya para pengungsi sungguh membikin panik. Kalau kami tidak ingat akan tugas, juga karena kami orang-orang miskin yang tidak mungkin pergi membawa bekal, tentu kamipun akan ikut-ikut lari. Kabarnya pasukan pemerintah yang dipimpin oleh Jenderal Beng Tian telah dipukul mundur oleh pemberontak. Dan kini setelah Kaisar lenyap dan kabarnya ditemukan tapi sudah tidak ada, juga kabarnya Kaisar baru diangkat, keadaan di Kotaraja menjadi kalut. Kabarnya kaum penjahat merajalela di Kotaraja, para petugas keamanan tidak berdaya, rakyat tidak terlindung sama sekali dan peraturan-peraturan dilanggar secara berani. Kabarnya kini para pejabat malah bertindak sewenang-wenang dan bersekongkol dengan para penjahat, bahkan banyak keluarga Istana dan pejabat dihukum gantung dan dibunuh. Aku hanya mengumpulkan percakapan para pengungsi, aku sendiri tidak tahu apa-apa."

Tukang perahu menutup ceritanya dan mengelak dari pertanggungan jawab.

"Lopek, aku mencari tiga orang. Yang seorang adalah pemuda yang usianya dua puluh tahun lebih, bertubuh jangkung, wajahnya tampan dan gagah"

"Di dagunya sebelah kanan ada tahi lalatnya"

Siok Eng menyambung, kemudian mukanya menjadi agak merah ketika Bwee Hong menoleh kepadanya sambil tersenyum.

"Ya, dan orangnya pendiam. Dia ditemani oleh seorang kakek yang bertongkat, juga seorang pemuda yang usianya agak lebih tua dari pada pemuda pertama, tubuhnya tegap sedang dan muka nya agak kemerahan"

"Ah, jangan-jangan mereka yang nona maksudkan!"

Tukang perahu berseru kaget.

"Baru kemarin ada tiga orang seperti yang nona gambarkan tadi. Akan tetapi mereka itu menjadi tawanan. Tangan mereka dibelenggu kuat-kuat dan dijaga oleh beberapa orang yang bertampang bengis dan menakutkan, seperti tampang penjahat. Orang-orang bengis ini dipimpin oleh seorang kakek yang tinggi kurus dan pakaiannya serba hitam, juga mantelnya hitam dan mukanya... hihhh, menyeramkan sekali, seperti topeng mayat. Mereka menumpang perahu ini dan aku tidak berani berkutik atau bicara sedikitpun, bahkan memandangpun tidak berani"

Tukang perahu itu tidak tahu betapa berita yang diceritakannya ini membuat tiga orang penumpangnya terkejut setengah mati.

Mereka tahu bahwa orang yang dicari-cari itu ternyata telah terjatuh ketangan Si Raja Kelelawar dan anak-buahnya.

Mereka itu tidak dibunuh, melainkan ditawan dan diajak menyeberang, maka mudahlah diduga bahwa Seng Kun dan dua orang kawannya itu tentu dibawa ke Kotaraja.

Bwee Hong sudah mengambil keputusan untuk melanjutkan perjalanan ke Kotaraja, dan ia harus dapat menolong kakaknya.

Keputusan hati ini terjadi juga didalam batin Siok Eng.

Gadis puteri Tai-bong-pai ini telah jatuh cinta kepada Seng Kun, pemuda yang pernah menyelamatkan nyawanya.

Kini, mendengar bahwa pemuda yang dicintanya itu terjatuh ketangan Raja Kelelawar dan dibawa ke Kotaraja, iapun mengambil keputusan untuk mencari sampai ke Kotaraja dan berusaha menolongnya.

Hanya A-hai yang tidak berpikir apa-apa.

Dia akan pergi kemana saja Bwee Hong mengajaknya.

Dia merasa seolah-olah dia menjadi bagian tak terpisahkan dari gadis itu, atau gadis itu merupakan bagian tak terpisahkan darinya.

Kini perahu mereka sudah tiba ditengah-tengah sungai dan dari depan nampak beberapa buah perahu yang penuh dengan para pengungsi dari seberang.

Tiba-tiba A-hai menunjuk kearah hilir sungai.

"Lihat, disana ada beberapa buah perahu besar juga sedang menyeberang!"

Dua orang gadis itu memandang dan benar saja, disana nampak beberapa buah perahu besar sedang menyeberang.

"Lopek, apakah disana terdapat tempat penyeberangan lain?"

Tanya Bwee Hong.

"Tidak ada. Dibagian sana kedua tepinya hanya hutan belukar, tidak ada perkampungan. Entah perahu siapa itu,"

Jawab si tukang perahu.

"Lopek, seberangkan kita dibagian sana juga."

Tiba-tiba Siok Eng berkata. Tukang perahu kelihatan tidak setuju.

"Akan tetapi aku harus sampai keseberang sana untuk mengangkuti orang-orang yang masih berjubel"

"Nih sebagai pengganti kerugianmu,"

Kata pula Siok Eng sambil mengeluarkan beberapa keping uang perak.

Melihat ini, si tukang perahu tidak banyak cakap lagi dan mengerahkan perahunya kehilir.

Biarpun dia mengangkuti para penumpang hilir-mudik seharian, dia tidak akan bisa memperoleh hasil sebesar seperti yang diberikan nona ini kepadanya.

Maka dia lalu menerima uang perak itu dan perahunya meluncur cepat.

Bagaimanapun juga, tidak lebih cepat dari pada perahu-perahu besar yang sudah lebih dulu mendarat diseberang sana.

Ketika melihat bahwa para penumpang perahu besar itu berpakaian seragam, Bwee Hong berbisik kepada Siok Eng.

"Adik Eng, mau apa kita kesana?"

"Mereka mencurigakan, sebaiknya kita selidiki."

"Kalau begitu, kita menyeberang agak jauh dari perahu-perahu itu,"

Kata Bwee Hong dan Siok Eng setuju.

Perahu itu lalu mereka suruh daratkan diseberang yang agak jauh.

Mereka berloncatan kedarat yang ternyata merupakan bagian hulan belukar.

Setelah mendaratkan tiga orang itu, si tukang perahu menggerakkan perahunya kembali dan dia hanya menggeleng kepala keheranan melihat kelakuan tiga orang muda itu yang memilih pendaratan ditengah hutan!

Akan tetapi hal itu bukan urusannya dan yang terpenting dia sudah menerima upah yang besar.

Tiga orang muda itu menyusup-nyusup diantara pohon-pohon menuju ketempat dimana perahu-perahu 'besar itu mendarat.

Akhirnya mereka melihat banyak orang disebuah lapangan terbuka ditengah hutan.

Mereka itu berpakaian seragam perajurit dan bersenjata lengkap.

Jumlah mereka tidak kurang dari lima puluh orang dan yang membuat tiga orang muda itu terkejut sekali adalah ketika mereka mengenal seorang kakek tinggi besar yang memakai pakaian perwira dan agaknya menjadi pemimpin pasukan itu karena perwira ini bukan lain adalah Sanhek-houw Si Harimau Gunung!

Tentu saja tiga orang muda itu terkejut bercampur heran.

Mereka tahu bahwa Sanhek-houw adalah seorang datuk sesat, seorang diantara Sam-ok.

Bagaimana kini tiba-tiba saja berpakaian perwira dan memimpin pasukan pemerintah?

"Kalau dia berada disini, besar kemungkinan kakakku juga ditahan ditempat ini,"

Bisik Bwee Hong kepada dua orang temannya.

Akan tetapi karena mereka maklum akan kelihaian Sanhek-houw yang ditemani anak-buah puluhan orang banyaknya, apa lagi kalau diingat kemungkinan adanya pula Si Raja Kelelawar dihutan itu, tiga orang muda itupun tidak berani terlalu mendekat.

"Mari kita mencoba untuk mencari sendiri dimana adanya sarang mereka dihutan ini dan menyelidiki kalau-kalau kakakku berada dihutan ini pula."

Dua orang kawannya mengangguk dan mereka lalu menyusup-nyusup kedalam hutan, diantara pohon-pohon dan semak-semak.

Mereka naik turun bukit kecil dan tiba didaerah yang banyak rawanya.

Ketika mereka berdiri di puncak bukit kecil sambil meneliti kesekitar tempat itu, mereka melihat seorang gadis kecil asyik menjala ikan dirawa yang tidak begitu dalam itu.

Menimbulkan perasaan aneh dan curiga melihat seorang gadis kecil menjala ikan seorang diri saja ditempat yang sunyi seperti itu.

Gadis itu masih kecil, paling banyak dua belas tahun usianya.

wajahnya cantik manis dan rambutnya dikepang dua, dipinggangnya tergantung kempis yang terisi ikan-ikan yang didapatkannya dalam menjala.

Dengan heran dan menduga-duga, mereka bertiga lalu menghampiri tepi rawa.

Pada saat itu, mereka melihat seekor ular yang meluncur diatas air rawa itu menghampiri dan menyerang gadis nelayan tadi yang berdiri didalam air setinggi pinggang!

Tentu saja tiga orang itu terkejut sekali.

Untuk menolong agak sukar karena jarak antara mereka dan gadis cilik yang berada didalam air itu cukup jauh.

Akan tetapi, ternyata gadis itupun sudah tahu akan bahaya yang mengancam dirinya.

Ular itu menyerang dari kanan dan dengan sigapnya, gadis itu memutar tubuhnya dan tangan kanannya yang membawa jala itu bergerak menyabet kearah ular.

"Plakkk!"

Ular itu terpukul keras, terlempar jauh dan jatuh keair, mengambang dan tidak bergerak lagi karena mati.

Jatuhnya ular itu agak ditepi rawa, tidak jauh dari kaki A-hai.

Pemuda ini segera menghampiri, membungkuk dan ketika menyentuh bangkai ular, dia mendapat kenyataan bahwa ular itu mati dengan tulang-tulang remuk!

"Wah, adik kecil, engkau sungguh hebat!

bolehkah kami berkenalan denganmu?

Namaku A-hai.

Siapakah engkau, adik kecil?"

Gadis cilik itu menoleh dan memandang kepada mereka bertiga dengan alis berkerut tanda curiga.

Ia tidak menjawab pertanyaan A-hai, akan tetapi ia menyudahi pekerjaannya menjala ikan dan berjalan menuju ketepi.

Celananya basah kuyup dan tentu saja paha dan kakinya nampak membayang ketat dibalik celana yang basah.

Akan tetapi gadis cilik itu bersikap biasa saja, tidak kikuk.

Bwee Hong maklum bahwa gadis itu belum percaya kepada mereka dan merasa curiga, maka iapun melangkah maju menghampiri dan merang-kul anak perempuan itu.

"Siauw-moi, jangan curiga dan khawatir. Kami bertiga bukanlah orang-orang jahat dan kami hanya kebetulan saja lewat disini dan melihatmu tadi. Kalau engkau tidak suka berkenalan dengan kami, kamipun tidak akan memaksa."

Agaknya wajah cantik dan sikap halus dari Bwee Hong menimbulkan kepercayaan pada anak perempuan itu.

"Namaku Cui Hiang, tinggal bersama ayah-ibuku dan adikku yang masih kecil. Kami hidup terpencil dan setiap hari mencari ikan dirawa. Kami hidup dengan tenteram. Akan tetapi beberapa hari ini kami didatangi orang-orang yang sikapnya kasar dan jahat. Mereka agaknya mencari seseorang yang mereka kira bersembunyi didaerah ini. Bahkan mereka mengira ayah menyembunyikan orang itu dan menanyai ayah. Ayahku melawan, akan tetapi para penjahat itu berkepandaian tinggi. Ayah dihajar babak belur dan menderita luka parah. Ibuku yang menolong ayah juga dihajar dan terluka parah. Ayah dan ibu hampir dibunuh, akan tetapi baiknya muncul seorang kakek berjubah hitam yang sakti dan menghajar semua penjahat itu. Kakek itu mengatakan bahwa orang yang dicari-cari berada dalam lindungannya dan dia malah menantang agar mereka menyuruh pemimpin mereka sendiri datang menghadapinya. Para penjahat itu lalu pergi membawa teman-teman mereka yang terluka."

Anak itu melanjutkan ceritanya.

Setelah para penjahat pergi membawa teman-teman yang terluka, kakek itu lalu mengobati ayah-ibunya.

Dan karena ayah-ibunya terluka parah, sedang diobati dan perlu beristirahat, maka mereka tidak dapat mencari ikan seperti biasa.

"Akulah yang menggantikan mereka mencari ikan."

Ia menutup ceritanya.

Bwee Hong, Siok Eng dan A-hai merasa terharu dan kasihan sekali kepada gadis cilik ini.

Bwee Hong berpikir keras dan menduga-duga.

Siapakah orangnya yang dicari-cari oleh para penjahat itu?

Siapa pula kakek jubah hitam yang lihai itu, yang selain mampu memukul mundur para penjahat, juga berani sekali menantang pemimpin kaum sesat?

A-hai lalu bertanya.

"Adik kecil, apakah engkau melihat rombongan pasukan belum lama ini?"

Yang ditanya menggeleng dan kelihatan khawatir sekali.

"Jangan-jangan ada lagi orang jahat yang mengganggu ayah dan ibu yang belum sembuh,"

Katanya dan tanpa banyak cakap lagi ia lalu menggerakkan kedua kakinya yang kecil untuk berlari pulang.

Bwee Hong, Siok Eng dan A-hai mengikuti dari belakang.

Ternyata bahwa larinya gadis cilik secara tiba-tiba untuk pulang itu digerakkan oleh suatu perasaan yang tidak enak.

Ketika ia tiba dirumahnya, ternyata rumah itu telah menjadi abu!

Masih ada arang-arang membara mengepulkan asap.

sedangkan ayahnya, ibunya dan adiknya yang masih kecil tidak nampak.

Tentu saja Cui Hiang menangis tersedu-sedu dan memanggil-manggil ayah-bundanya, dengan bingung lari kekanan kiri seperti seekor anak ayam mencari-cari induknya sambil berkotek-kotek.

Melihat ini, tak terasa lagi kedua mata A-hai menjadi basah dan diapun menghampiri anak perempuan itu, lalu berlutut dan dirangkulnya anak itu.

"Diamlah, nak, tenanglah besarkan hatimu. Karena tidak nampak jenazah mereka, maka aku yakin ayah-ibumu dan adikmu masih hidup. Sudahlah, jangan terlalu berduka"

Anak perempuan itu merangkul A-hai dan menangis terisak-isak didada pemuda itu yang juga merangkul dan mengusap rambutnya.

"Mari kita ikuti jejak iblis-iblis itu,"

Kata Siok Eng melihat jejak banyak kaki orang yang masih baru.

Tentu ini jejak kaki para penjahat yang membakar rumah keluarga itu.

A-hai menggandeng tangan Cui Hiang dan mereka berempat, dipimpin oleh Siok Eng, lalu mengikuti jejak para penjahat.

Jejak itu nampak jelas dan mudah diikuti.

Dari jauh sudah dapat mereka dengar suara pertempuran itu.

Siok Eng mempercepat langkahnya sehingga Bwee Hong juga berlari.

A-hai memondong tubuh Cui Hiang dan dibawanya lari pula mengikuti.

Mereka tiba didaerah yang lapang dimana terdapat batu-batu besar berserakan.

Dan diatas batu-batu itu, sambil berloncatan, dua belas orang sedang dikeroyok oleh puluhan orang yang dipimpin oleh Sanhek-houw.

Pasukan seragam itu mengeroyok sambil berteriak-teriak dan pertempuran itu sungguh tidak seimbang sama sekali.

Apa lagi karena diantara dua belas orang itu, hanya dua orang saja yang lihai ilmu silatnya sedangkan yang sepuluh orang memiliki ilmu kepandaian yang biasa saja.

Maka seorang demi seorang, sepuluh orang itu pun roboh dan tewas.

Kini tinggal dua orang itu saja, seorang pemuda gagah dan seorang kakek berjubah hitam, yang masih bertahan dan mengamuk.

Tiba-tiba Cui Hiang melepaskan diri dari gandengan A-hai dan berlari menghampiri kearah mayat-mayat yang bergelimpangan itu, kemudian ia menjatuhkan diri, menjerit dari satu kelain mayat karena ia mengenal mayat keluarganya!

Sejenak ia menangis mengguguk, kemudian matanya menjadi beringas ketika ia bangkit berdiri dan memandang kearah pertempuran, dimana dua orang itu masih dikeroyok oleh Harimau Gunung dan anak-buahnya.

"Mereka membunuh keluargaku!"

Teriaknya dan tiba-tiba anak perempuan itu dengan wajah beringas lari kemedan perkelahian.

Pada saat itu, Sanhek-houw terhuyung mundur oleh desakan kakek berjubah hitam yang lihai.

Anak perempuan itu sudah mengenal Sanhek-houw sebagai pemimpin gerombolan penjahat yang pernah melukai ayah-bundanya dan mengenal pula kakek jubah hitam yang pernah menolong orang tuanya, maka dengan kemarahan meluap karena kedukaan gadis cilik itu menyerang Sanhek-houw dengan pukulannya.

Melihat ini, Bwee Hong, Siok Eng dan A-hai terkejut, akan tetapi untuk mencegahnya sudah tidak keburu lagi.

Apa artinya serangan seorang gadis cilik seperti Cui Hiang?

Tanpa menoleh kebelakang dia sudah tahu akan datangnya serangan lemah itu.

Tiba-tiba rantai baja ditangannya berkelebat kebelakang dan tombak jangkar diujung rantai itu membabat kearah lengan Cui Hiang yang menyerangnya.

Cui Hiang hendak mengelak dengan miringkan tubuhnya, akan tetapi tentu saja gerakannya kalah cepat.

"Crakkkk! Aduuuhhhh!"

Tombak jangkar itu membabat lengan kiri Cui Hiang sebatas pundaknya dan lengan itu putus seketika!

Tubuh Cui Hiang terguling pingsan.

Potongan lengan kecil itu terlempar dan melayang, tepat mengenai muka A-hai!

Darah berceceran mengenai sebagian pakaian, leher dan dagunya.

"Uhh... uhhh!"

A-hai terbelalak dan tiba-tiba dia merasa betapa darahnya bergolak.

Matanya terbelalak memandang kearah Cui Hiang yang menggeletak pingsan dan darah menyembur-nyembur dari luka menganga dipundaknya.

Rasa haru, kasihan dan kemarahan membuat darah ditubuhnya mendidih, makin lama makin hebat sehingga dia merasa matanya menjadi kabur, kepalanya berdenyut-denyut dan pening, akan tetapi dia tetap menyadari dirinya.

Tubuhnya menggigil menahan aliran darahnya yang seperti membanjir, seperti air bah melanda turun karena bendungannya jebol.

A-hai masih tetap sadar, bahkan kini dia sadar bahwa dia akan kumat seperti yang sering diceritakan oleh kawan-kawannya kepadanya.

Teringat akan ini, yaitu bahwa dia akan kumat, dia merasa ngeri dan bingung juga, maka dia menoleh kepada Bwee Hong sambil berkata.

"Nona Hong, ahhh aku badanku ini seperti akan terbang melayang rasanya"

Sejak tadi Bwee Hong memang telah mengetahui akan keadaan A-hai.

Dilihatnya tubuh pemuda itu menggetar hebat dan sepasang matanya mencorong seperti mata naga.

Bwee Hong maklum bahwa A-hai mengalami guncangan hebat yang membuat saluran darahnya membobolkan semua perintang, yang akan membuatnya kumat.

Akan tetapi berkat pertolongan Seng Kun, pemuda itu akan tetap sadar walaupun dalam keadaan kumat.

Dan dara inipun ingat akan penjelasan kakaknya bahwa pada saat kumat seperti itulah terbuka kesempatan untuk menggali dan mengorek masa lalu A-hai, karena saat itu A-hai seperti berpijak kembali kepada alam aselinya.

Dan biasanya, waktu dalam keadaan seperti itu tidaklah lama.

apabila gejolak darahnya sudah normal kembali, dia akan kembali dalam keadaan semula, yaitu sebagian besar masa lalunya terlupa sama sekali.

kesempatan yang baik sekali.

Akan tetapi, gadis cilik itupun harus ditolong sekarang juga.

Inilah yang paling perlu, dan juga pihak musuh harus dibasmi lebih dulu.

"A-hai, cepat bereskan pasukan jahat itu!"

Teriaknya dan iapun cepat meloncat kedepan, menyambar tubuh Cui Hiang yang pingsan dan membawanya ketempat aman, lalu tanpa memperdulikan apa-apa lagi, dijaga oleh Siok Eng, Bwee Hong mulai mengobati Cui Hiang, menghentikan darah yang keluar lalu membubuh obat pencegah rasa nyeri dan membalut luka itu dengan kain bersih yang dirobeknya dari bajunya sendiri.

Sejenak A-hai ternanar dan membiarkan kepalanya yang pening itu menjadi ringan, barulah dia meloncat kedepan dan menghadapi Sanhek-houw yang sudah berkelahi lagi melawan kakek jubah hitam.

"Iblis keji!"

Dia memaki dengan suara menggeledek.

"Siuuuuttt!"

Tangannya bergerak menampar kearah Sanhek-houw yang sudah kewalahan menghadapi kakek jubah hitam, walaupun dia dibantu oleh para pembantunya yang juga lihai dan yang jumlah semua anak-buahnya lebih dari lima puluh orang itu.

Melihat serangan ini, Sanhek-houw cepat menangkis dengan rantai bajanya yang menyambar ganas kearah lengan A-hai.

Akan tetapi, A-hai tidak perduli, agaknya yakin akan kekuatan tangannya sendiri.

"Plakk!"

Tangan A-hai bertemu dengan tombak jangkar diujung rantai baja dan akibatnya, rantai itu terpental dan tombak jangkar hampir menghantam kepala pemiliknya! "Uhh!"

Sanhek-houw berseru kaget dan meloncat mundur.

Lima orang temannya menubruk kedepan untuk menolong pemimpin mereka ketika melihat A-hai hendak menyerang lagi.

Mereka menggunakan tombak panjang menyerang A-hai sedangkan Sanhek-houw memperbaiki posisinya yang tadi terhuyung karena terkejut.

Terdengar suara lantang ketika A-hai menyambut pengeroyokan.

Tombak dan pedang beterbangan dan dua orang pengeroyok kena ditangkapnya, lalu dibanting sehingga tewas seketika.

Sementara itu, Siok Eng juga sudah meloncat kedalam gelanggang perkelahian dan sepak-terjangnya sungguh menggiriskan.

Gadis ini berkelebatan, kedua tangannya menyebar maut dengan gerakan aneh dan juga luar biasa ganasnya.

Dari tubuhnya keluar bau dupa harum yang menyeramkan.

Menjatuhkan kakek jubah hitam yang amat lihai dan yang memiliki tingkat kepandaian lebih tinggi darinya itu saja sudah sukar sekali, kini muncul orang-orang muda yang lihai.

Tentu saja Sanhek-houw menjadi gentar.

Apa lagi melihat betapa diantara lima puluh orang lebih anak-buahnya, kini tinggal setengahnya lagi, dari mereka inipun sudah kelihatan gentar dan semangat mereka menurun.

Kalau dilanjutkan semua anak-buahnya akan terbasmi dan dia sendiripun tidak mungkin dapat meloloskan diri dari tangan orang-orang lihai ini.

Maka, seperti biasa menjadi watak orang-orang yang licik, kejam dan pengecut, Sanhek-houw lalu meloncat dan melarikan diri.

Setelah dia memberi perintah agar anak-buahnya mundur.

Pasukan yang sudah kocar-kacir itu kini melarikan diri dengan kacau-balau.

Kakek berjubah hitam itu tidak mengejar.

Dan pemuda yang tadi bertempur disampingnya, yang sebenarnya tidak begitu tinggi kepandaiannya dan selalu dilindungi oleh kakek jubah hitam, kini juga berdiri mengamati tiga orang yang baru muncul.

A-hai makin lama semakin lemas, kehilangan tenaga karena dia kembali kedalam keadaan semula sebelum kumat.

Mukanya yang tadinya merah sekali itu perlahan-lahan menjadi pucat, peluhnya berleleran dilehernya.

Setelah darah ditubuhnya berjalan normal, ingatannyapun kembali seperti semula dan dia berdiri agak termangu-mangu, merasa seperti orang baru sadar dari mimpi akan tetapi lupa lagi apa yang diimpikan itu.

Kakek jubah hitam itu mengamati mereka dengan sinar mata penuh takjub.

Sungguh tak disangkanya dia bertemu dengan tiga orang muda yang begini aneh dan hebat.

Gadis baju putih yang mukanya pucat itu tadi menyerang para pengeroyok dengan jurus pukulan ampuh dari Tai-bong-pai.

Dia mengenal pukulan itu, dan mengenal pula bau dupa harum yang keluar dari tubuh Siok Eng.

jelaslah bahwa dara yang masih muda ini telah menguasai ilmu dari Tai-bong-pai dengan amat baiknya.

Dan gadis kedua yang cantik jelita itupun dapat melakukan perawatan dan pengobatan yang amat baik terhadap anak perempuan yang buntung lengannya.

Caranya menghentikan darah, caranya menotok, mengobati dan membalut, semua membuktikan bahwa gadis ini adalah seorang ahli ilmu pengobatan yang mengagumkan.

Kemudian pemuda tinggi tegap ini!

Bukan main!

Dia sendiri adalah seorang "golongan atas"

Akan tetapi harus diakui bahwa dia sama sekali tidak mengenal ilmu pukulan yang diperlihatkan oleh pemuda itu ketika mengamuk tadi.

Akan tetapi, kakek berjubah hitam ini menjadi semakin heran dan terkejut ketika dia melihat gadis cantik jelita yang menyelesaikan pengobatannya terhadap anak perempuan itu kini bangkit berdiri, dan ketika memandang kepadanya, gadis itu terbelalak dan pandang matanya terhadap dirinya penuh kemarahan dan kebencian!

Apa lagi ketika Bwee Hong melangkah maju dan menudingkan telunjuknya kepadanya sambil berkata marah.

"Kau... kau... pembunuh keluarga kakekku!"

"Eh eh nanti dulu!"

Kakek berjubah hitam itu berseru kaget ketika tiba-tiba Bwee Hong menyerangnya kalang-kabut.

Bwee Hong tidak perduli dan terus menyerang, menggunakan jurus-jurus simpanan dan setiap pukulan tangannya merupakan pukulan maut.

Dan si kakek jubah hitam semakin tercengang mengenal jurus-jurus pukulan ini sebagai jurus-jurus pukulan perguruannya sendiri!

"Tahan!

Tahan!"

Teriaknya sambil mengelak kesana-sini.

Bwee Hong yang hatinya dipenuhi dendam dan kebencian itu, tentu saja tidak mau berhenti dan terus menyerang kakek berjubah hitam yang diketahuinya tentu seorang tokoh besar Liong-i-pang itu, melihat dari gambar naga yang samar-samar nampak dijubah hitamnya.

Karena Bwee Hong mendesak terus, kakek itu yang ternyata adalah Ouwyang Kwan Ek ketua Liong-i-pang, terpaksa turun tangan, membalas serangan gadis yang masih terhitung cucu murid keponakan itu.

Menghadapi serangan susiok-couwnya, tentu saja Bwee Hong tidak dapat bertahan dan ia segera terkena totokan dan terkulai lemas diatas tanah.

Tiba-tiba terdengar suara menggeram dahsyat.

A-hai yang tadinya sudah "loyo"

Itu setelah melihat Bwee Hong dirobohkan orang, secara mendadak menjadi kumat kembali!

Badannya tergetar hebat dan matanya mencorong mengawasi dara yang disayangi dan dihormati, yang kini terkulai lemas keatas tanah dalam keadaan tertotok.

kemudian dia berteriak dengan lengking nyaring dan diapun menerjang kakek itu dengan pukulan dahsyat.

Siok Eng juga menerjang maju, menyerang kakek jubah hitam.

"Eh, nanti dulu!"

Kakek jubah hitam yang sudah mengenal kehebatan dua orang muda ini, cepat meloncat kebelakang dan menghindarkan serangan mereka yang amat berbahaya.

Tubuhnya berkelebatan cepat bagaikan terbang dan Siok Eng sampai menjadi bingung karena tubuh kakek yang diserangnya itu tiba-tiba saja menghilang, tahu-tahu muncul dibelakang dan setiap kali diserang dapat menghilang saking cepatnya kakek itu bergerak dan mengelak.

Akan tetapi, kakek jubah hitam yang seperti para ahli silat lain kalau sudah menghadapi pertandingan lalu kumat keinginan tahunya untuk mengukur dan menguji kepandaian lawan, menjadi terkejut.

Dua orang lawannya itu, biarpun masih muda, ternyata memang telah memiliki kepandaian yang tinggi dan aneh.

Dia bergembira memperoleh kesempatan menguji ilmu dari Tai-bong-pai dan berkesempatan pula untuk menyelidiki dan mengenal ilmu aneh dari pemuda itu.

"Hyeeeehhhh!"

Suara yang dikeluarkan oleh A-hai itu demikian hebat getarannya sehingga mengguncangkan perasaan kakek Ouwyang Kwan Ek, dan gerakan pemuda itu membuat dia lebih kaget lagi.

Dia menggunakah Pek-in Ginkang atau Ginkang Awan.

Putih yang membuat tubuhnya ringan dan dapat bergerak cepat, dan dengan langkah ajaib Ilmu Silat Kim-hong-kun dari perguruan Tabib Sakti, dia menghindarkan diri dari pukulan-pukulan kedua orang muda itu.

Akan tetapi, sambil berteriak tadi, tahu-tahu tubuh A-hai melengkung dan dengan gerakan aneh sekali, tubuhnya sudah melingkar kesamping dan meluncur cepat memotong jalan!

Seolah-olah dengan gerakan ini A-hai telah tahu kemana arah dari langkah ajaibnya sehingga memotong jalan kakek itu sehingga tubuh mereka kini saling bertentangan dan hampir bertubrukan.

Kakek itu terkejut sekali, apa lagi ketika melihat betapa pemuda itu mendorongkan kedua telapak tangannya dengan hantaman dahsyat.

(Lanjut ke

Jilid 27) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono

Jilid 27 Tidak ada jalan lagi untuk menghindarkan tabrakan atau benturan itu dan satu-satunya jalan hanya menyambut hantaman pemuda itu karena kalau dia melempar tubuh kesamping, dia akan terancam oleh gadis Tai-bong-pai itu dan hal ini akan lebih berbahaya lagi.

Terpaksa dia lalu mengerahkan tenaga sakti Pai-hud-ciang (Tangan Menyembah Buddha) dan kedua tangannya didorongkan kedepan dengan gerakan seperti menyembah, menyambut dua telapak tangan A-hai.

Akan tetapi, kembali kakek itu terkejut ketika dalam sekejap mata melihat dua warna kabut merah dan putih membungkus badan pemuda itu, yang kanan merah dan yang kiri putih.

Benturan dua pasang tangan itu tak terelakkan lagi.

"Blarrrrr!!"

Ouwyang Kwan Ek, kakek tua renta berusia tujuh puluh tahun itu adalah murid kedua dari datuk sakti Bu-Eng Sin-yok-ong (Raja Tabib Sakti Tanpa Bayangan), dan dia adalah ketua dari Liong-i-pang yang terkenal.

Akan tetapi, pertemuan tenaga melalui telapak tangan melawan pemuda itu membuat dia terhuyung kesamping sampai beberapa langkah dan apabila tangannya tidak cepat memegang ujung sebuah batu besar yang berdiri disitu, agaknya dia tentu akan terjatuh!

Sebaliknya, tubuh pemuda itu terpental keatas, akan tetapi tubuh itu dapat berpoksai (bersalto) sampai tiga kali dengan indahnya diudara, kemudian tubuh itu meluncur kebawah, hinggap diatas sebuah batu dengan ringannya.

Kabut yang menyelimuti tubuhnya tidak nampak lagi, matanya mencorong dan tidak ada tanda-tanda bahwa dia terguncang oleh pertemuan tenaga tadi.

Tentu saja hal ini membuat Ouwyang Kwan Ek terkejut setengah mati.

Dia tadi sudah amat khawatir akan akibat pertemuan tenaga itu.

Dia sendiri merasakan akibatnya, membuat dia hampir terbanting jatuh dan dia khawatir kalau-kalau pemuda itu tidak akan mampu bertahan dan akan tewas atau setidaknya menderita luka dalam yang parah.

Akan tetapi ternyata pemuda itu sama sekali tidak terpengaruh.

"Gila"

Pikirnya penuh takjub.

"Anak ini benar-benar mempunyai kekuatan seperti iblis. Siapakah orang ini dan dari perguruan mana?"

A-hai sudah siap untuk mengadu kekuatan melawan kakek jubah hitam, sedangkan Siok Eng yang menyaksikan adu tenaga yang amat hebat tadipun berdiri termangu-mangu, semakin takjub melihat keadaan A-hai.

Dara ini maklum bahwa kakek jubah hitam itu lihai bukan main, jauh lebih tinggi ilmu kepandaiannya dibandingkan dengan ia sendiri.

Akan tetapi, bentrokan tenaga sinkang antara kakek itu dan A-hai nampaknya membuktikan bahwa pemuda aneh itu ternyata lebih unggul!

Pada saat suasana sudah menegangkan karena semua menduga bahwa tentu akan terjadi perkelahian yang lebih hebat lagi antara kakek berjubah hitam itu dengan A-hai, tiba-tiba laki-laki muda yang menjadi teman kakek jubah hitam yang tadi selalu dilindunginya, kini melangkah maju dan berseru nyaring.

"Tahan! Siapakah kalian? Kenapa setelah tadi menolong kami, sekarang berbalik kalian menyerang kami? Apakah maksud kalian? Inilah aku, putera mahkota! apabila kalian mencari putera mahkota, inilah aku. Apakah kalian orang-orang yang ingin mencari hadiah bagi kepalaku?"

Semua orang terdiam dan terkejut. Kakek jubah hitam cepat memperingatkan.

"Pangeran, harap paduka berhati-hati!"

Dianggapnya pangeran yang membuka rahasianya itu amat sembrono karena pihak Istana sudah menyebar orang-orangnya untuk mencarinya, tentu bukan dengan maksud baik karena pangeran mahkota ini tentu saja akan menjadi penghalang bagi mereka yang sudah mengangkat Kaisar baru setelah mereka berusaha menyingkirkan pangeran mahkota ini ke garis depan.

Bwee Hong yang masih rebah dalam keadaan tertotok, tak mampu bergerak atau bicara, hanya memandang dengan hati tegang dan cemas, memandang kearah A-hai yang ia tahu berada dalam keadaan kumat kembali.

Kini A-hai yang biarpun dalam keadaan kumat itu masih sadar, ketika mendengar bahwa dia berhadapan dengan pangeran mahkota, agaknya mampu bersikap waras dan tidak menuruti dorongan ilmu yang seperti akan membuatnya meledak-ledak itu.

Dengan sikap tenang dan penuh wibawa, A-hai melangkah maju menghadapi kakek jubah hitam yang kini sudah berdiri berdampingan dengan sang pangeran mahkota.

Sikapnya hormat dan lemah lembut, suaranya dalam dan serius, sungguh berbeda dengan sikap dan suaranya yang biasa setiap hari.

"Kami adalah perantau-perantau yang kesasar sampai ditempat ini. Namaku adalah Thian Hai. Dua orang nona ini adalah sahabat-sahabat baikku. Kenapa Lo-cianpwe menyerang dan menjatuhkan sahabatku itu?"

Ouwyang Kwan Ek adalah seorang datuk besar, ketua Liong-i-pang pula. Tentu saja diapun bersikap agak tinggi, tidak mau mengaku salah, apa lagi karena dia memang tidak merasa bersalah.

"Hemm, orang muda yang lihai. Nona itulah yang menyerangku, dan aku hanya mempertahankan diri saja."

A-hai mengerutkan alisnya, agaknya tidak puas dengan jawaban itu. Akan tetapi sang pangeran yang melihat betapa suasana dapat menjadi gawat lagi, lalu melerai.

"Sudahlah, tidak perlu diributkan siapa yang bersalah dalam hal ini. Agaknya telah terjadi kesalahfahaman diantara kita. Lo-cianpwe, harap suka membebaskan nona itu lebih dulu."

Ouwyang Kwan Ek menghampiri Bwee Hong dan sekali menotok kearah pundak nona itu, Bwee Hong sudah pulih kembali.

Siok Eng memandang kagum.

Tadi ia sudah berusaha membebaskan totokan itu, akan tetapi tanpa hasil.

Tahulah ia bahwa totokan kakek itu merupakan ilmu istimewa yang hanya dimiliki oleh perguruan kakek itu, demikian pula cara membebaskannya.

Setelah membebaskan totokannya, Ouw yang Kwan Ek lalu memandang kepada Bwee Hong dan berkata.

"Jadi engkaukah seorang diantara dua anak angkat, juga murid mendiang Bu Kek Siang? Ketahuilah bahwa mendiang Bu Kek Siang adalah murid keponakanku sendiri. Dia murid suheng ku"

"Aku sudah tahu!"

Jawab Bwee Hong dengan suara keras dan sedikitpun ia tidak menaruh hormat walaupun ia tahu bahwa ia berhadapan dengan susiok-couwnya.

Kakek didepannya ini adalah adik seperguruan dari kakek gurunya!

"Dan aku tahu pula bahwa kakekku, juga guruku atau ayah angkatku, tewas ditangan murid-muridmu, tewas bersama isterinya.

Padahal dia adalah murid keponakanmu sendiri!"

"Dan ketika itu aku sedang diobati oleh keluarga Bu, dan aku menjadi saksinya bahwa kedua Lo-cianpwe yang menjadi penolongku itu tewas oleh tangan-tangan jahat orang-orang Liong-i-pang!"

Kata Siok Eng. Ouwyang Kwan Ek menarik napas panjang.

"Aaah, dunia menjadi kacau-balau, kesemuanya oleh ulah manusia yang didorong oleh keserakahan, oleh keinginan untuk senang sendiri yang menimbulkan permusuhan, dendam-mendendam, balas-membalas, bunuh-membunuh! Ahhh, anak yang baik, agaknya engkau hanya tahu ujungnya akan tetapi tidak tahu pangkalnya. Tahu akibatnya tidak tahu sebab-sebabnya. Pertikaian diantara sesama perguruan kita agaknya sudah demikian berlarut-larut dan sudah terjadi sejak lama sekali sebelum kau lahir. Engkau begitu membenci aku dan murid-muridku, karena engkau belum mengetahui persoalan yang sebenarnya. Aku juga merasa heran mengapa kakekmu yang juga menjadi ayah angkat dan gurumu itu tidak menjelaskan persoalan yang sebenarnya kepadamu dan kepada kakakmu. Kalau tidak salah, engkau berdua dengan seorang kakakmu, bukan?"

Bwee Hong diam saja, tidak menjawab, hanya mendengarkan sambil menatap wajah kakek jubah hitam itu dengan sinar mata tajam penuh selidik, seolah-olah hendak meneliti kebenaran omongan kakek itu.

Iapun tadi sudah melirik kearah A-hai dan melihat betapa pemuda yang bernama Thian Hai ini sekarang telah kembali kedunia keduanya, membuat dia agak ketololan dan pemuda itupun ikut mendengarkan.

Demikian pula Siok Eng yang maklum bahwa urusan ini adalah urusan antara keluarga seperguruan, tidak berani banyak mencampuri dan hanya mendengarkan.

Juga sang pangeran yang menghendaki agar mereka itu tidak lagi saling serang, ikut pula mendengarkan.

Dengan sabar Ouwyang Kwan Ek lalu bercerita, suaranya tegas dan disingkat, terbuka dan jelas.

Bwee Hong diam mendengarkan, akan tetapi hatinya masih panas oleh dendam.

"Dahulu, lima puluh tahun lebih yang lalu, mendiang suhu Bu-Eng Sin-yok-ong memberi pelajaran kepada kami bertiga sebagai murid-muridnya. Suhu memberikan ilmu-ilmunya kepada kami, sesuai dengan bakat kami yang berbeda-beda pula. Mendiang suhengku suka bertapa dan mengasingkan diri, dan sesuai dengan bakatnya, suheng menerima pelajaran khusus tentang lweekang yang kemudian diturunkan kepada puteranya, yaitu Bu Kek Siang. Sayang suheng Bu Cian telah meninggal"

Sejenak kakek itu terhenti dan nampak berduka sekali. Akan tetapi dia menghela napas panjang menenteramkan hatinya lalu melanjutkan.

"Aku sebagai murid kedua suka belajar ilmu silat, maka akupun diberi pelajaran khusus dalam ilmu silat. Sedangkan suteku yang bernama Kam Song Ki yang bertubuh kecil dan gesit menerima warisan ilmu ginkang yang khas. Dengan demikian, kami bertiga menerima ilmu-ilmu keistimewaan masing-masing, suheng mahir dalam sinkang, aku sendiri mahir dalam ilmu silat, dan sute mahir dalam ginkang,"

"Akupun sudah mendengar akan hal itu,"

Kata Bwee Hong penasaran.

"Akan tetapi kenapa engkau masih juga tidak mau menerima dengan hati rela? Mendiang sucouw sudah membagi-bagi semua ilmunya dengan adil, akan tetapi kenapa engkau masih hendak merebut hak orang lain?"

Kakek itu mengangguk-angguk.

"Aku mengerti mengapa engkau penasaran. Dan itulah yang membuat aku terheran-heran. Kenapa kakekmu, Bu Kek Siang itu, tidak mau menceritakan hal yang sebenarnya sehingga terjadi kesalahfahaman ini? Apakah dia ingin agar kita saling bermusuhan dan berbunuh-bunuhan terus?"

"Berbunuh-bunuhan? Apa maksudmu?"

Bwee Hong bertanya sambil mengerutkan alisnya dan memandang tajam.

"Apakah kakekmu atau ayah angkatmu itu tidak pernah bercerita bagaimana dia memperoleh kitab wasiat ilmu pengobatan itu?"

"Tentu saja kitab itu diwarisinya dari sucouw!"

Jawab Bwee Hong cepat karena ia tak mungkin dapat berpikir lain.

"Memang, akan tetapi kitab itu bukan hanya diwariskan kepada seorang murid saja! Mendiang suhu dahulu merupakan datuk nomor satu didunia. Keahliannya dalam ilmu sinkang telah diwariskan kepada suheng, keahliannya dalam ilmu silat diwariskan kepadaku dan keahliannya dalam ginkang kepada sute. Disamping semua ilmu itu, suhu yang berjuluk Tabib Sakti Tanpa Bayangan itu juga memiliki keahlian dalam ilmu pengobatan. Suhu adalah seorang yang bijaksana dan adil. Maka kelebihan satu ilmu ini, yang dianggap amat berguna bagi semua muridnya, akan diberikan kepada tiga muridnya. Semua muridnya diberi kesempatan untuk belajar. Sebelum meninggal dunia, suhu meninggalkan sebuah kitab ilmu pengobatan dan beliau memesan agar semua muridnya mempelajari kitab itu secara bergilir. Dengan keras beliau melarang murid yang hendak mempertahankan ilmu itu untuk diri sendiri. Maka, kitab itu diserahkan kepada suheng dengan pesan sesudah sepuluh tahun dipelajari, harus diserahkan kepadaku untuk kupelajari selama sepuluh tahun, baru Kemudian kuserahkan kepada sute. Akan tetapi ternyata suheng yang pendiam itu menjadi serakah! Setelah sepuluh tahun, buku itu tidak diserahkan kepadaku. Aku memperingatkannya dan mencelanya, namun dia tetap tidak mau memberikan. Kami bercekcok dan akhirnya berkelahi. Akan tetapi aku tidak mampu menandingi tenaga saktinya yang hebat itu. Demikianlah, aku selalu belajar dengan tekun dan sekali-kali aku datang untuk minta kitab itu yang berakhir dengan perkelahian dan aku selalu berada dipihak yang kalah. Melihat kami berdua selalu cekcok dan berkelahi, sute menjadi tidak senang dan diapun pergi menjauhkan diri sampai sekarang tidak pernah kembali. Sudah empat puluh tahun dia pergi"

Kerut diantara alis Bwee Hong makin mendalam.

Benarkah cerita kakek ini?

Benarkah kakek gurunya yang bernama Bu Cian, ayah Bu Kek Siang, demikian serakah?

Akan tetapi ia tidak menyela lagi, melainkan memandang kakek itu dan sinar matanya menuntut dilanjutkannya cerita itu.

"Karena bertahun-tahun usahaku minta kitab itu gagal dan aku selalu dikalahkan oleh suheng, aku patah semangat, mengasingkan diri dan memperdalam ilmu silat, juga menerima murid-murid dan mendidik putera tunggalku, mendirikan perkumpulan Liong-i-pang dan tidak mau lagi mengganggu suheng dengan urusan kitab itu. Akan tetapi setelah puteraku dewasa, pada suatu hari dia pergi tanpa pamit. Agaknya dia yang tahu akan peristiwa kekeluargaan perguruan itu telah pergi seorang diri mendatangi suheng dan mohon keadilan, meminta kitab itu. Agaknya, menghadapi keponakannya, suheng yang biasanya keras hati itu menjadi lunak, hatinya terharu dan kitab ilmu pengobatan itu diserahkan oleh suheng kepada puteraku. Puteraku girang bukan main dan pergi membawa kitab itu. Akan tetapi"

Kakek itu berhenti lagi dan kini wajahnya diliputi kedukaan hebat, mukanya diangkat menengadah memandang langit dan matanya menjadi basah!

Tentu saja Bwee Hong terkejut sekali melihat ini dan iapun mulai percaya akan cerita kakek yang sebenarnya masih susiok-couwnya sendiri ini.

"Lalu... lalu bagaimana?"

Tanyanya, suaranya juga lunak.

"Suheng juga mempunyai putera, yaitu Bu Kek Siang. Diwaktu mudanya, Bu Kek Siang berwatak keras berangasan. Agaknya dia tidak rela bahwa kitab pusaka ilmu pengobatan itu, yang sudah puluhan tahun dianggap sebagai pusaka perguruan ayahnya, jatuh ketangan orang lain. Dia menghadang perjalanan anakku, dan kitab itu dimintanya. Tentu saja puteraku tidak mau memberikannya dan terjadilah perebutan dan perkelahian. Keduanya terluka, akan tetapi karena Bu Kek Siang mewarisi ilmu sinkang, tenaga dalamnya lebih kuat dan luka dalam yang diderita anakku amat parah. Ketika bertemu denganku, keadaannya tak tertolong lagi"

Bwee Hong menahan napas. Tak pernah disangkanya bahwa riwayat perguruannya demikian hebat, terdapat perebutan dan permusuhan yang memalukan diantara saudara-saudara seperguruan sendiri.

"Dia... Dia mati?"

Tanyanya, suaranya berbisik Kakek itu memandang kepadanya, tersenyum pahit dan mengangguk.

"Dia mati dan tentu saja aku marah sekali. Urusan kitab, sudah kupendam dan aku tidak berniat merampasnya dari tangan suheng lagi. Akan tetapi sekali ini adalah urusan matinya putera tunggalku! Aku datang kepadanya dan minta pertanggungan jawabnya atas perbuatan puteranya, yaitu Bu Kek Siang. Suheng amat sedih. Dia merasa menyesal sekali dengan terjadinya peristiwa itu dan sadar bahwa semua itu timbul karena keserakahannya sendiri. Akan tetapi dia amat menyayangi putera tunggalnya itu dan tidak tega untuk menghukumnya. Kemudian, melihat puteraku yang sudah hampir mati itu kubawa didepannya dan kini puteraku menghembuskan napas terakhir didepan hidungnya, suheng lalu membunuh diri untuk menebus kesalahan puteranya! Dan dia berpesan sebelum menghembuskan napas terakhir, minta kepadaku agar permusuhan dan dendam-mendendam itu dihabiskan sampai disitu saja. Pada saat itu aku amat berduka atas kematian puteraku, juga tersentuh oleh pengorbanan suhengku, maka akupun mengangguk dan menuruti pesannya. Aku tidak memperdulikan lagi urusan kitab, dan membawa pergi jenazah puteraku."

Bwee Hong merasa betapa bulu tengkuknya meremang mendengar cerita ini.

Kalau saja kakaknya ikut mendengarkan!

Pandangannya terhadap kakek jubah hitam yang sudah banyak menderita tekanan batin itu kini berobah.

Ia percaya akan kebenaran cerita ini, karena apa perlunya kakek ini membohong dan bercerita begitu panjang lebar kepadanya?

Kakek itu menarik napas panjang.

"Sayang sungguh sayang agaknya Thian tidak menghendaki urusan itu berhenti sampai disitu saja...! Kalau aku sudah dapat menerima keadaan, tidak demikian dengan murid-muridku. Mereka itu mendendam atas kematian suheng mereka dan diam-diam mereka berusaha menuntut balas, atau setidaknya berusaha untuk merampas kitab ilmu pengobatan itu. Beberapa kali usaha mereka gagal dan aku memberi hukuman kepada mereka. Akan tetapi mereka itu nekat terus sampai akhirnya Bu Kek Siang menjauhi pembalasan mereka dan menyembunyikan diri. Hingga belasan tahun kemudian murid-muridku itu menemukan tempat persembunyiannya dan terjadilah peristiwa yang kau alami itu."

Kakek itu menghentikan ceritanya dan memandang kepada Bwee Hong dengan mata sedih sekali.

"Demikianlah ceritaku selengkapnya, nona. Dendam... Dendam balas-membalas! Apakah sekarang engkau dan kakakmu hendak melanjutkan lingkaran dendam itu? Engkau dan kakakmu membunuh aku atau muridku, kemudian kelak anak mereka akan mencarimu untuk membalas dendam lagi, disambung oleh keturunanmu yang kembali membalas dendam kepada keturunan mereka. Begitukah yang kau kehendaki? Ah, betapa menyedihkan!"

Kakek itu menundukkan mukanya.

Bwee Hong tak dapat bicara.

Hatinya tersentuh.

Tak mungkin dunia ini terdapat kedamaian dan ketenteraman selama hati selalu diracuni dendam dan kebencian.

Mula-mula sekali kakek guru Bu Cian yang memulainya, dengan keserakahannya tidak mau membagi-bagi ilmu pengobatan seperti pesan mendiang Bu-Eng Sin-yok-ong.

Kemudian, ayah angkatnya, Bu Kek Siang yang membunuh putera kesayangan kakek ini.

Akibatnya, murid-murid kakek ini datang membalas dendam.

Kalau menurut cerita ini, pihak kakeknyalah yang menjadi biang keladi permusuhan.

Akan tetapi benarkah cerita yang baru didengarnya dari kakek jubah hitam itu?

Agaknya Ouwyang Kwan Ek dapat menduga keraguan hati Bwee Hong.

"Kalau engkau tidak percaya akan kebenaran ceritaku, engkau boleh bertanya kepada tokoh-tokoh tua dunia persilatan yang kini masih hidup dan yang mengetahui peristiwa keributan dalam perguruan kita itu. Diantara mereka adalah Yap-lojin ketua Thian-kiam-pang dan Siang Houw Nio-nio pengawal Kaisar."

"Kata-katanya itu benar belaka"

Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita dari balik batu besar.

Semua orang menengok dan nampak seorang kakek dan seorang nenek keluar dari balik batu.

Mereka adalah Yap-lojin ketua Thian-kiam-pang bersama isterinya, yaitu Siang Houw Nio-nio!

Melihat Siang Houw Nio-nio, Bwee Hong cepat memberi hormat.

"Dia tidak membohong dan memang semua itu telah terjadi pada keturunan Bu-Eng Sin-yok-ong, sungguh patut disesalkan sekali,"

Kata pula nenek Siang Houw Nio-nio kepada Bwee Hong.

"Akupun menjadi saksi akan kebenaran cerita susiok-couwmu itu, nona Chu. Karena itu, semua permusuhan antara keluarga perguruan sendiri yang tiada gunanya itu seyogianya dihadapi dengan kesadaran dan kebesaran hati sehingga dapat berakhir."

Yap-lojin juga berkata.

"Kalau memang demikian riwayatnya, sayapun tidak akan melanjutkan dendam yang tiada gunanya ini, Lo-cianpwe,"

Kata Bwee Hong menunduk. Yap-lojin dan isterinya lalu memberi hormat sambil bermuka sedih kepada pangeran mahkota. Siang Houw Nio-nio menjatuhkan dirinya berlutut dan berkata.

"Pangeran, hal-hal yang hebat terjadi tanpa saya mampu menolong, dosa saya besar sekali..."

Pangeran mahkota cepat-cepat mengangkat bangun wanita itu yang masih terhitung nenek sendiri karena mendiang ayahnya adalah keponakan nenek ini.

"Harap jangan bersikap demikian, Nio-nio. Bukan salahmu, bukan salahku, bukan salah kita semua. Segala hal yang terjadi adalah kehendak Thian."

Ketika Ouwyang Kwan Ek yang merasa amat takjub kepada A-hai mencari pemuda itu untuk diajak bicara dan berkenalan lebih dekat, ternyata pemuda itu kini telah bersikap biasa, bahkan nampak bodoh.

A-hai telah duduk mendekati Cui Hiang yang buntung lengan kirinya itu.

Cui Hiang menangis, bukan menangis karena nyeri melainkan karena kematian keluarganya.

Memang luka dipundaknya yang kehilangan lengan kiri itu terasa nyeri, akan tetapi berkat pengobatan Bwee Hong, tidaklah begitu hebat dibandingkan dengan rasa nyeri dihatinya.

A-hai merangkulnya dan menghiburnya dengan terharu.

"Adik kecil, kita sama-sama yatim piatu, seorang diri saja didunia ini, tiada sanak saudara lagi. Maukah engkau bersama-sama dengan aku?"

Dengan terharu Cui Hiang mengangguk.

Air matanya bercucuran, sebentar menoleh kearah jenazah keluarganya, kemudian menoleh kearah lengan yang menggeletak diatas tanah, Ia merasa seolah-olah lengannya yang buntung itu, yang kini merupakan sepotong lengan yang menggeletak tak bergerak dan pucat diatas tanah, seperti sebuah mayat pula.

Kemudian, tanpa berkata apa-apa, ia menghampiri potongan lengannya sendiri itu, diambilnya dengan tangan kanan, lalu dibungkusnya kedalam baju luarnya, semua ini dilakukan dengan agak sukar karena hanya menggunakan satu tangan saja, lalu bungkusan lengan kiri itu dipeluknya dengan lengan kanan.

Semua orang memandang dengan terharu dan merasa bergidik, akan tetapi tidak ada yang bertanya karena merasa kasihan dan tidak mau menyinggung hati anak perempuan itu.

Bagaimanakah pangeran mahkota muncul ditempat itu dan bersama dengan Ouwyang Kwan Ek, ketua Liong-i-pang?

Seperti pernah diceritakan dibagian depan, pangeran mahkota telah disingkirkan oleh komplotan Perdana Menteri Li Sn dan kepala thaikam Chao Kao, dikirim ke garis depan untuk membantu Jenderal Beng Tian memimpin pasukan menghadapi para pemberontak.

Pada mulanya, pasukan pemerintah ini bertugas disepanjang Tembok Besar melawan bangsa nomad Hun (Siung Nu), akan tetapi kemudian pindah ke barat untuk menghadapi pemberontakan yang dipimpin oleh Chu Siang Yu.

Karena pasukan itu tidak mendapat bantuan lagi dari pusat, seolah-olah dibiarkan saja, maka pasukan pemerintah ini terus terdesak mundur oleh kaum pemberontak.

Pangeran mahkota yang bukan seorang ahli perang dan hanya maju memimpin pasukan atas desakan Istana, menjadi putus asa dan dia menyerahkan sisa pasukannya kepada Jenderal Beng Tian.

Dia sendiri lalu melakukan perjalanan pulang keselatan.

Akan tetapi, ditengah perjalanan dia mendengar tentang kematian Kaisar dan tentang penggantian yang dilakukan pada waktu dia tidak ada dan yang diangkat menjadi Kaisar adalah adiknya, putera Kaisar yang kedua.

Tahulah pangeran mahkota bahwa terjadi pengkhianatan dan kecurangan, akan tetapi setelah lama berada diluar Istana, ikut bertempur bersama Jenderal Beng Tian, pangeran ini telah terbuka matanya.

Dia melihat kebobrokan pemerintahan ayahnya, melihat betapa rusaknya pemerintah akibat kelaliman para pejabat tinggi yang mempengaruhi ayahnya.

Setelah matanya terbuka, dia merasa malu dan jijik, bahkan tidak mempunyai minat untuk menjadi Kaisar, seperti orang yang jijik melihat sesuatu yang penuh kekotoran diserahkan kepadanya untuk diurus.

Ngeri dia kalau harus bekerja dibantu oleh orang-orang yang demikian jahat, licin dan curangnya.

Maka, mendengar bahwa adiknya yang naik tahta, diapun tidak menjadi penasaran.

Akan tetapi, para pendekar yang tahu bahwa sang pangeran hendak kembali ke Kotaraja, memperingatkannya bahwa Kaisar baru dikuasai oleh pejabat-pejabat lalim, telah mengirim jagoan-jagoan untuk mencari putera mahkota ini, Setelah Kaisar baru mengirim utusan ke garis depan untuk menangkapnya mendengar bahwa pangeran itu telah pergi meninggalkan pasukan.

Kini pangeran dicari oleh jagoan-jagoan Istana, maka sang pangeran lalu menyembunyikan diri.

Untung dia bertemu dengan kakek Ouwyang Kwan Ek yang kemudian melindunginya.

Sementara itu, Siang Houw Nio-nio merupakan tokoh yang paling tidak setuju akan adanya penggantian Kaisar oleh pangeran kedua itu.

Iapun dapat menduga bahwa surat wasiat Kaisar lama telah dipalsukan.

Akan tetapi apa dayanya seorang wanita yang pangkatnya hanya pengawal pribadi Kaisar yang sudah mati, walaupun ia masih terhitung bibi dari Kaisar itu sendiri?

Karena merasa tidak suka akan tetapi juga tidak berdaya, ia hanya memprotes yang akhirnya hanya membuat ia ditahan dan dijebloskan kedalam penjara.

seperti diceritakan dibagian depan, Pek In dan Ang In, dua orang murid Siang Houw Nio-nio, berhasil lolos dan melaporkan hal itu kepada Yap-lojin.

Kakek ini segera terbang ke Kotaraja dan hanya dengan susah payah dan mengandalkan kepandaiannya dan bantuan para pendekar di Kotaraja sajalah akhirnya Yap-lojin berhasil membebaskan isterinya.

Akan tetapi mereka menjadi buruan pemerintah, dan mereka harus cepat-cepat pergi karena kini Istana memiliki jagoan-jagoan dari kaum sesat yang dipimpin oleh Panglima Kelelawar Hitam!

Setelah mendengar para pendekar itu saling menceritakan pengalamannya, putera mahkota menarik napas panjang.

"Aih, betapa bobroknya keadaan di Istana, baru sekarang aku menyadari. Kiranya sejak lahir aku sudah berada didalam dunia yang mewah dan mulia namun penuh dengan kebobrokan!"

Dia makin tidak bernafsu lagi untuk kembali ke Istana, apa lagi untuk memperebutkan kedudukan Kaisar.

Dia akan membantu gerakan para pejuang dan semua itu dilakukan bukan untuk memperebutkan kedudukan, melainkan untuk membantu melenyapkan kekuasaan sewenang-wenang dan jahat yang menguasai negara dan rakyat.

Tiba giliran Bwee Hong untuk menceritakan pengalamannya didepan Ouwyang Kwan Ek.

Yap-lojin, Siang Houw Nio-nio, dan sang pangeran itu.

Ia menceritakan tentang tugas dari Kaisar yang dipikul kakaknya, tugas mencari Menteri Ho yang ternyata gagal karena Menteri Ho yang setia itu keburu dibunuh oleh para penjahat kaki tangan Menteri lalim.

Kemudian, kakaknya hendak ke Kotaraja untuk melaporkan hasil tugasnya itu.

Akan tetapi dia malah ditawan oleh kaki tangan Kaisar baru yang dipimpin oleh Kelelawar Hitam atau Raja Kelelawar.

"Padahal, Kun-koko yang sudah melihat sendiri keadaan pasukan para pendekar yang dipimpin oleh Liu-Bengcu, ingin pula melaporkan ke Kotaraja tentang kesalah-pahaman antara pemerintah dan pasukan itu. Liu-Bengcu bermaksud membersihkan negara dari para pengkhianat dan penjual bangsa, akan tetapi oleh pemerintah malah dimusuhi dan dicap sebagai pemberontak,"

Katanya.

"Tentu saja!"

Kata Siang Houw Nio-nio.

"Pemerintah sudah dikuasai oleh para pengkhianat itu sendiri, tentu saja Liu-Bengcu dimusuhi!"

Yap-lojin menarik napas panjang.

"Kaisar boneka diangkat, kekuasaan berada ditangan pembesar-pembesar lalim dan korup, malah kaum sesat yang dipimpin Raja iblis seperti Raja Kelelawar diangkat sebagai panglima dan perwira-perwira. Aih, adakah yang lebih gila dari pada ini?"

"Menteri-Menteri dan pejabat-pejabat yang jujur dipenjarakan atau dibunuh,"

Siang Houw Nio-nio berkata lagi.

"Setan-setan dan iblis-iblis berkeliaran di Istana, menguasai negara, jenderal Beng Tian seorang diri dibiarkan mati-matian menahan majunya para pemberontak yang melanda negara seperti air bah, sedangkan mereka yang di Istana hanya bersenang-senang belaka. Padahal, pasukan Liu-Bengcu sudah mendesak dari selatan dan timur, sedangkan pasukan Chu Siang Yu mendesak dari barat."

"Kami berdua tidak berdaya. Kami sendiri menjadi buronan, terpaksa meninggalkan Kotaraja,"

Sambung Yap-lojin.

"Di tengah jalan kami sudah berpapasan dengan sebagian pasukan Jenderal Beng Tian yang kalah berperang. Mereka mundur untuk mempertahankan benteng terakhir, yaitu Kotaraja sendiri. Kotaraja sudah terhimpit dari empat jurusan, tak tertolong lagi!"

"Ah, apa akan jadinya dengan negara kita? Apakah akan terjatuh ketangan pemberontak dan terobek-robek dipakai berebutan?"

Sang pangeran ikut bicara, suaranya sedih.

Semua orang terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Tak seorangpun nampak gembira, walaupun kesedihan yang membayang diwajah A-hai dan Cui Hiang berbeda dengan kesedihan orang-orang lain itu.

Bagaimanapun juga, orang-orang yang masih setia kepada negara ini masih mempunyai sisa keinginan untuk dapat menyelamatkan negara dari pada bencana, kalau mungkin.

Akan tetapi sampai lama mereka tidak dapat melihat jalan yang baik.

Kekuatan pasukan yang dapat diharapkan hanyalah tinggal satu-satunya pasukan Jenderal Beng Tian yang sudah mengalami pukulan berkali-kali dan semakin menipis, baik jumlah maupun semangatnya itu.

Pasukan-pasukan para kepala daerah sudah jatuh ketangan para pemberontak dan banyak pula pasukan-pasukan kecil yang bertugas diluar Kotaraja, kalau tidak dihancurkan oleh para pemberontak, juga menyeberang dan bergabung dengan para pemberontak.

Menteri-Menteri dan para pejabat yang jujur sudah dihalau dari kedudukan mereka.

Apa lagi yang dapat dilakukan?

Ouwyang Kwan Ek menarik napas panjang.

"Pangeran, agaknya tidak terdapat jalan yang baik untuk menolong negara pada waktu seperti sekarang ini. Andaikata kita mampu menghalau para pemberontak, tetap saja kita harus menghadapi para pengkhianat yang sudah bercokol dan mencengkeram Istana. Dan melawan kekuasaan mereka, selain membutuhkan kekuatan besar, juga berarti menentang kekuasaan yang ada, sama dengan memberontak pula. Sebaiknya kita bergabung saja dengan sisa pasukan Jenderal Beng Tian. Kita bawa sisa pasukan menghindar dan menyusun kekuatan baru. Biarlah para pengkhianat itu menghadapi pasukan pemberontak dan biarlah para pemberontak yang menggulingkan mereka. Kelak apabila kekuatan kita sudah cukup, kita gempur kembali pasukan pemberontak itu. Kiranya hanya inilah satu-satunya jalan."

Sang pangeran dan semua orang mengangguk membenarkan.

Kemudian mereka bubaran.

Tiga orang Lo-cianpwe itu akan mengawal sang pangeran bergabung kepada pasukan Jenderal Beng Tian yang sudah mundur ke benteng Kotaraja.

Sedangkan Bwee Hong, Siok Eng, dan A-hai yang mengajak Cui Hiang yang masih perlu perawatan Bwee Hong dan yang sejak saat itu tidak mau berpisah dari A-hai, hendak melanjutkan perjalanan mereka ke Kotaraja untuk mencari Seng Kun.

Sebelum berpisah, mereka beramai-ramai mengubur semua jenazah dan Cui Hiang diberi kesempatan untuk menyembahyangi makam keluarganya.

Anak kecil ini meratap dan menangis, membuat terharu semua orang karena selain kehilangan ayah-bunda dan adiknya, juga anak perempuan ini kehilangan lengan kirinya.

Sebelum meninggalkan orang-orang muda itu, nenek Siang Houw Nio-nio berkata kepada Bwee Hong.

"Nona Chu, kalau engkau mencari kakakmu, janganlah mencari di Kotaraja, akan tetapi carilah dibenteng kuno diluar pintu gerbang Kotaraja sebelah selatan. Semua tawanan pemerintah dikumpulkan disana."

Bwee Hong mengangguk dan mengucapkan terimakasih.

Keterangan ini amat penting karena mencari seorang tawanan di Kotaraja memang tidak mudah, apa lagi Kotaraja kini dikuasai oleh kekuatan kaum sesat yang lihai.

Malam itu mereka bermalam dibekas reruntuhan rumah keluarga Cui Hiang yang telah dibakar para penjahat.

Cui Hiang duduk termenung mengawasi bekas rumah dan tempat dimana ia biasa bermain-main dengan adiknya.

Wajahnya pucat akan tetapi ia tidak menangis lagi.

Anak ini maklum bahwa ia telah ditolong oleh orang-orang gagah dan ia merasa malu kalau selalu memperlihatkan tangisnya.

Keluarganya sendiri hanyalah keluarga sederhana yang hanya memiliki ilmu silat biasa saja, akan tetapi dari ayahnya ia sudah banyak mendengar tentang kegagahan para pendekar didunia kang-ouw.

Ia tidak ingin mengecewakan hati orang-orang gagah, para pendekar yang telah menolongnya itu.

Melihat anak perempuan itu tidak tidur melainkan duduk termenung dengan sedih.

A-hai yang merasa kasihan dan suka sekali kepada Cui Hiang, mendekati dan mereka duduk diatas batu diluar bekas rumah itu.

"Cui Hiang, kenapa engkau tidak mengaso dan tidur? Kita besok akan melanjutkan perjalanan yang amat jauh dan melelahkan,"

Kata A-hai dengan suara lembut. Anak itu menggeleng kepala.

"Aku belum mengantuk dan biarlah malam ini kulewatkan untuk melihat-lihat tempat dimana aku dipelihara sampai besar dan yang akan kutinggalkan untuk selamanya."

"Anak yang baik, mari kutemani kau. Kita bicara. Siapakah nama marga keluargamu? Aku hanya tahu namamu Cui Hiang, akan tetapi tidak tahu siapa she mu."

"Keluarga yang terbasmi penjahat itu she Gan, akan tetapi aku sendiri she Pouw."

"Eh? Kenapa begitu? Bukankah engkau anak mereka?"

Gadis cilik itu menggeleng kepalanya dan wajahnya menjadi muram.

"Aku hanya anak angkat mereka, akan tetapi mereka begitu baik kepadaku sehingga kuanggap mereka sebagai ayah dan ibu kandung sendiri. Aku mereka pelihara sejak bayi."

A-hai mengangkat alisnya dan merasa tertarik sekali.

"Ah, sungguh tak kusangka. Maukah engkau menceritakan riwayatmu kepadaku, Cui Hiang?"

Anak itu menoleh dan memandang wajah A-hai yang hanya nampak remang-remang dibawah sinar bintang-bintang dilangit dan iapun memegang tangan orang muda itu.

"Tentu saja, inkong (tuan penolong), aku suka menceritakan riwayatku kepadamu. Sekarang aku hanya mempunyai engkau seorang yang mau menolongku didunia ini"

Suaranya terhenti karena haru. A-hai memecahkan keharuan itu dengan senyum dan merangkul pundaknya.

"Ihh. kenapa menyebut inkong? Tidak enak sekali sebutan itu."

"Habis aku harus menyebut apa? Kongcu? Atau taihiap?"

"Wah, wah... bisa ditertawakan semut kalau engkau menyebutku kongcu. Masa ada kongcu (tuan muda) macam aku ini. Dan taihiap (pendekar besar)? Wah, kepalaku bisa mengembung dan hidungku bisa mekar nanti. Sebut saja eh, bagaimana kalau aku menjadi kakakmu?"

"Baik, aku menyebutmu twako. Aku mendengar namamu disebut A-hai, biarlah kusebut kau Hai-twako!"

Melihat gadis cilik itu sudah pulih lagi kegembiraannya dan percakapan itu mengusir kedukaannya, A-hai lalu berkata.

"Nah, sekarang ceritakanlah riwayatmu, adikku yang manis."

"Ketika itu aku masih kecil, baru berusia tiga atau empat tahun,"

Cui Hiang mulai menceritakan riwayatnya.

"Kalau ayah angkatku tidak menceritakan riwayat itu kepadaku, tentu aku akan lupa dan tidak mengetahui keadaanku yang sebenarnya. Menurut cerita ayah angkatku, aku datang dibawa oleh ayahku yang terluka parah kepada mereka, keluarga Gan suami-isteri yang belum mempunyai anak. Mereka sudah saling mengenal sejak lama. Oleh ayahku, aku diserahkan kepada suami-isteri Gan yang sudah belasan tahun menikah tapi belum mempunyai anak. Karena lukanya yang parah akhirnya ayahku itu meninggal dunia, dan sebelum mati dia menyerahkan aku kepada suami-isteri itu dengan pesan agar suami-isteri itu membawaku bersembunyi karena ayahku dan juga aku sebagai anaknya sedang dicari-cari musuh besar yang telah melukainya."

A-hai mendengarkan dengan tertarik. Tak disangkanya bahwa anak ini membawa rahasia yang demikian menarik.

"Lalu bagaimana?"

Tanyanya ketika anak itu kelihatan mengingat-ingat.

"Ayah dan ibu Gan amat suka kepadaku, maka aku lalu diambil anak. Dua tahun kemudian merekapun dikurniai seorang anak yang menjadi adikku. Dan mentaati pesan ayahku, keluarga kami. hidup didekat rawa sebagai penangkap ikan, karena memang keluarga Gan adalah keluarga sederhana yang miskin. Kehidupan kami sederhana namun cukup berbahagia dan ayah angkatku melatih ilmu silat sedikit-sedikit kepadaku. Akan tetapi, siapa kira akan datang malapetaka yang menewaskan mereka sekeluarga, kecuali aku"

Gadis cilik itu menahan kesedihannya dan memandang kearah pundak kirinya yang tak berlengan lagi itu. A-hai merangkulnya.

"Sudahlah, sebagai gantinya kan ada aku yang menjadi kakakmu! Biarlah aku menggantikan mereka, menggantikan ayahmu, ibumu, saudaramu!"

Cui Hiang memandang wajah yang tampan itu.

"Hai-twako, mungkin engkau bisa menggantikan ayah angkatku, akan tetapi mana mungkin engkau menggantikan tempat ibu angkatku dan adikku laki-laki yang masih kecil?"

Katanya sambil tersenyum.

"Siapa bilang tidak bisa?"

A-hai lalu bangkit berdiri dan bergaya sebagai seorang wanita, berlenggak-lenggok dan mukanya dimanis-maniskan lalu bicara dengan suara dikecilkan.

"Cui Hiang, anakku yang baik, apakah engkau sudah makan?"

Melihat gaya itu, Cui Hiang tertawa geli dan lupa akan kedukaannya. A-hai menghentikan gayanya dan tertawa pula.

"Nah, apakah tidak pantas aku menjadi ibumu? Sekarang menjadi adikmu."

Dan diapun bergaya lagi, dengan sikap kekanak-kanakan sehingga nampak lucu seperti monyet menari. Suaranya dibikin pelo seperti suara anak kecil.

"Enci Hiang sekalang aku minta endong, minta endong huhuh"

Dan dia pura-pura mau menangis seperti anak kecil yang manja.

Melihat ini, tawa Cui Hiang makin geli.

Giranglah hati A-hai dan diapun bernyanyi, seperti nyanyian anak-anak akan tetapi kata-katanya sungguh bukan kata-kata yang pantas dinyanyikan anak kecil.

"Apa yang terjadipun terjadilah dewa dan iblis tak dapat mencegahnya tawa dan tangis tak dapat merobohnya! Akan tetapi sama-sama menggerakkan mulut mengapa menangis dan tidak tertawa saja? Tangis mengeruhkan hati dan pikiran tawa menjernihkannya! Tangis mengundang kesedihan tawa mendatangkan kegembiraan! Tangis memperburuk muka tawa mempercantiknya! Hentikan tangis, hayo tertawa!!"

Dan keduanya lalu tertawa-tawa dengan bebas, merasa betapa rongga dada menjadi longgar dan langit penuh bintang nampak indah berseri. Akan tetapi, tawa juga mendatangkan lelah.

"Aku lapar!"

Cui Hiang berkata.

"Sama!"

Kata pula A-hai dan merekapun tertawa lagi.

"Di kebun belakang ada tanaman ubi, biar kuambilkan dan kita bakar,"

Kata pula Cui Hiang dan anak inipun berlari menuju keladang dibelakang reruntuhan rumah.

Ia melupakan kesedihannya, bahkan melupakan hilangnya lengan kiri ketika dengan tangan kanannya ia mencari dan mendapatkan beberapa batang ubi yang segera dibawanya kepada A-hai sambil berlari-lari.

Mereka lalu membuat api unggun dan membakar ubi itu lalu sama-sama makan ubi.

Lezat rasanya makan ubi bakar sewaktu perut lapar dan hati masih diliputi kegembiraan yang timbul karena percakapan tadi.

Kalau pada saat itu Bwee Hong melihat keadaan A-hai, tentu ia akan merasa terheran-heran.

Belum pernah A-hai memperlihatkan sikap seperti itu, pandai bermain-main dengan anak kecil, pandai menghibur dan pandai pula melucu!

"Eh, Cui Hiang, siapakah ayah kandungmu itu?

Engkau belum memberitahukan namanya kepadaku,"

Tiba-tiba A-hai teringat dan bertanya. mereka duduk menghadapi api unggun, merasa hangat dan nyaman sehabis makan ubi dan minum air.

"Menurut ayah angkatku, namanya adalah Pouw Hong!"

"Pouw... Pouw... Hong? Pouw Hong, hemm, aku seperti pernah mengenal nama itu."

A-hai mengerutkan alisnya dan mengerahkan ingatannya. Wajah Cui Hiang berseri.

"Twako, engkau mengenal mendiang ayah kandungku itu?"

"Entahlah, akan tetapi... aku benar-benar merasa seperti pernah mendengar nama itu, tidak asing bagiku"

Pada saat itu, Bwee Hong keluar dari dalam rumah yang sebagian besar sudah terbakar. Melihat A-hai dan Cui Hiang duduk bercakap-cakap dekat api unggun, Bwee Hong menghampiri.

"A-hai, malam ini aku harus melanjutkan pengobatan atas dirimu,"

Gadis itu berkata. A-hai memandang ragu.

"Akan tetapi nona, saudara Seng Kun tidak ada..."

"Tidak mengapa, A-hai. Aku sudah tahu bagaimana cara pengobatannya. Kalau tidak dilanjutkan, walaupun hanya tusukan jarum di bagian yang penting-penting saja, aku khawatir kalau keadaanmu tidak menjadi semakin baik. Pengobatan pokok dilanjutkan kelak kalau kita sudah berkumpul kembali dengan Kun-koko."

A-hai tidak membantah lagi dan merekapun memasuki bekas rumah keluarga Gan yang sudah porak-poranda itu.

A-hai rebah diatas lantai yang sudah dibersihkan.

Dibawah penerangan api yang dijaga oleh Siok Eng dan Cui Hiang.

Bwee Hong mulai dengan pengobatan itu, dengan penusukan jarum-jarum dibeberapa tempat, dipelipis, tengkuk dan pundak.

Mendapatkan pengobatan itu, A-hai merasa tubuhnya enak dan nyaman, maka diapun segera tertidur dengan nyenyaknya.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali begitu bangun tidur, A-hai sudah cepat-cepat mencari Cui Hiang.

Bwee Hong dan Siok Eng sedang mandi dipancuran, dan Cui Hiang sedang duduk melamun seorang diri ditepi rawa, memandang ketengah rawa yang menjadi sumber nafkah keluarga Gan selama ini.

"Hei, baru apa engkau? Melamun disini!"

Tegurnya dan begitu melihat A-hai, wajah gadis cilik itupun berseri dan wajah yang tadinya muram menjadi terang seperti segumpal awan tipis tertiup angin.

A-hai lalu duduk diatas rumput disebelah Cui Hiang.

"Malam tadi aku bermimpi dan aku bertemu dengan ayah kandungmu...!"

Cui Hiang tersenyum dan menyangka bahwa A-hai menggodanya.

"Ah, mana mungkin bertemu dengan orang yang belum kau kenal dalam mimpi, Hai-twako?"

"Benar! Aku teringat sekarang. Dia selalu bersama denganku. Tidak salah lagi, agaknya kami pernah bersahabat karib, bahkan dia juga tinggal dirumahku. Rumah pesanggrahan kecil mungil didekat sungai, dimana terdapat air terjun yang indah itu"

Cui Hiang tetap kurang percaya dan tersenyum seperti mentertawakan orang yang menggoda dan membohonginya ini. Melihat ini, A-hai berkata.

"Engkau masih tidak percaya kepadaku? Nah, bukankah ayahmu itu tubuhnya pendek bulat dan kepalanya kecil? Dan kakinya agak timpang dan bengkok? Maaf"

Cui Hiang terbelalak memandang wajah A-hai.

"Eh... be... benar"

Katanya.

"Aku masih ingat bahwa ayahku itu memang bertubuh pendek bulat... akan tetapi aku tidak ingat lagi wajahnya. Ketika itu aku baru berusia tiga empat tahun..."

"Ha-ha, itulah!"

Kata A-hai dengan gembira.

"Jelas bahwa aku bersahabat karib dengan ayah kandungmu itu. Nah, kalau begitu engkau sebut saja paman kepadaku, anggap saja aku adik ayah kandungmu!"

Cui Hiang juga menjadi gembira dan mengangguk taat.

"Baiklah, paman."

"Nah, mari kita mandi."

"Di pancuran belakang rumah"

"Aku sudah tahu. Dua orang nona itupun tadi mandi disana."

Mereka lalu berlari-lari kecil menuju kepancuran. Bwee Hong dan Siok Eng sudah selesai mandi. Seperti biasa, sebelum mandi pagi, Cui Hiang berlatih silat.

"Ayah angkatku selalu mengharuskan aku berlatih silat sebelum mandi pagi,"

Katanya.

"Dan aku ingin mencoba apakah dengan satu tangan saja aku masih bisa berlatih silat."

Akan tetapi saat itu didalam suara Cui Hiang tidak terkandung kesedihan dan iapun segera bersilat dengan sebelah tangan.

Tentu saja kaku gerakannya, karena dibagian gerakan tangan kiri, ia harus berhenti sebentar dan hanya membayangkan saja tangannya itu bergerak, memukul, menangkis atau mencengkeram.

A-hai diam-diam mengamati gerakan anak itu dan hatinya terharu.

Tanpa disadarinya, kini dia dapat meneliti ilmu silat dengan baiknya seolah-olah dia seorang ahli silat yang pandai!

diluar kesadarannya bahwa telah terjadi perobahan lagi pada ingatannya, A-hai berdiri dan mendekati Cui Hiang yang sedang berlatih itu.

"Cui Hiang, langkahmu itu lemah dan gerakan tangan kananmu itupun salah. Wah, ilmu silatmu itu hanya baik untuk pamer saja, hanya kelihatannya saja bagus akan tetapi tidak ada gunanya untuk menghadapi lawan. Mari sini, kuajari engkau Ilmu silat yang lebih berguna bagimu."

Karena menduga bahwa penolongnya ini seorang ahli, seorang pendekar yang berilmu tinggi seperti juga dua orang gadis pendekar tu, Cui Hiang menjadi girang sekali.

Memang tadi ia berlatih silat dengan suatu niat dihatinya, yaitu untuk memancing perhatian A-hai karena ia sudah berniat minta diajari ilmu silat.

Ia harus pandai ilmu silat agar kelak ia dapat membalas kepada orang yang membuntungi lengan kirinya.

Ia sudah tahu dari Siok Eng siapa orang itu.

Sanhek-houw Si Harimau Gunung!

"Terimakasih, paman.

Aku suka sekali belajar ilmu silat darimu!"

"Nah, ikuti gerakanku. Mula-mula kedua kaki dibentangkan selebar ini, tenaga tubuh berada ditengah-tengah, seimbang, perhatian kedepan dan sikapmu kokoh seperti benteng, seimbang seperti orang menunggang kuda. Nah, begitu, lalu kaki digeser kedepan, mula-mula yang kanan, jatuhkan perlahan saja, disusul yang kiri dan tanganmu itu begini!"

Dengan patuh Cui Hiang mengikuti gerakan A-hai.

Hebatnya, A-hai dapat saja mengajarkan ilmu silat yang cocok untuk seorang yang hanya berlengan tunggal!

juga dia memberi petunjuk tentang gerak napas sewaktu bersilat.

Akan tetapi, baru beberapa gerakan saja, gadis cilik itu sudah menjadi pening sekali dan terhuyung, hampir pingsan.

A-hai cepat menangkap dan merangkulnya, melihat wajah yang pucat itu.

Biasanya, menghadapi peristiwa begini, A-hai yang ketolol-tololan itu tentu akan menjadi bingung.

Akan tetapi sekali ini ternyata tidak.

Dia bersikap tenang saja.

"Ah, aku lupa. Tenaga dalammu belum kuat untuk mempelajari ilmu silat ini. Mari duduklah, akan kuajarkan ilmu menghimpun tenaga dalam dan akan kubantu engkau dengan penyaluran tenaga dalam tubuhku."

A-hai lalu tanpa ragu-ragu lagi seolah-olah memang sudah pekerjaannya sehari-hari melatih silat, duduk bersila dan diapun menyuruh Cui Hiang duduk bersila diatas pangkuannya!

dengan meletakkan kedua telapak tangannya, yang kiri dipunggung anak itu, yang kanan ditengkuknya, dia lalu berbisik-bisik memberi petunjuk agar anak itu dapat menerima penyaluran sinkang dari tubuhnya lewat kedua telapak tangannya, dan menyalurkan seperti yang dibisikkannya.

Cui Hiang yang menaruh kepercayaan sepenuhnya itu mentaati semua petunjuk orang yang menjadi gurunya.

Hawa yang panas memancar dan memasuki tubuhnya.

Tiba-tiba darah mengucur keluar dari luka dipundaknya yang dibalut oleh Bwee Hong, Melihat ini, A-hai sama sekali tidak rnenjadi gugup.

Tangannya yang tadi menempel ditengkuk kini bergerak, sebuah jari telunjuknya menekan pundak dan darah itupun berhenti mengucur!

Secara tiba-tiba saja A-hai menjadi seorang ahli yang bukan main lihainya.

Mereka berdua tenggelam dalam latihan itu sehingga mereka tidak tahu bahwa Bwee Hong dan Siok Eng muncul dan memandang kearah mereka dengan mata terbelalak penuh rasa heran dan kagum.

"Apakah kesadarannya telah pulih kembali?"

Tanya Siok Eng, berbisik penuh harap.

"Entahlah, aku belum yakin benar. Agaknya eh, lihatlah!"

Kedua orang dara pendekar yang lihai itu terkejut ketika nampak uap mengepul dari kepala A-hai dan Cui Hiang.

Uap itu makin tebal dan berwarna putih dan merah.

Kemudian muka dan tubuh A-hai dan Cui Hiang juga perlahan-lahan berobah, separuh merah dan separuh putih, persis keadaan A-hai ketika kumat tempo hari.

"Hebat!"

Bwee Hong berbisik.

"Cui Hiang telah diberi pelajaran ilmu sinkang yang amat hebat!"

"Lebih hebat lagi, kenapa sekecil itu Cui Hiang sudah mampu menerimanya?"

Bisik Siok Eng yang juga merasa kagum.

Mereka tetap menonton tanpa mengeluarkan suara berisik.

Lambat-laun uap diatas kepala mereka itu makin menipis, lalu lenyap.

Dan A-hai menyudahi latihannya, menyuruh Cui Hiang turun dari atas pangkuan.

Keduanya lalu bangkit berdiri.

A-hai menoleh kepada dua orang dara itu dan mereka berdua segera melihat perobahan itu.

Sikap ketololan seperti biasa lenyap dari wajah tampan itu.

Sikap A-hai kini tenang dan pandang matanya penuh wibawa dan kekuatan dahsyat.

Seketika timbul rasa hormat dan segan dihati kedua orang dara itu!

"Nona berdua sudah selesai berkemas?

Aku sedang berlatih dengan Cui Hiang,"

Katanya sopan dan lembut.

"Saudara A-hai kelihatannya sudah ingat kembali akan masa lalumu?"

Tanya Siok Eng sedangkan Bwee Hong hanya memandang seperti orang kesima. Mendengar pertanyaan itu, A-hai mengangguk-angguk.

"Agaknya begitulah. Akan tetapi masih belum semua dapat kuingat. Berkat pengobatan nona Bwee Hong yang bijaksana, aku dapat mengingat lebih banyak tentang masa laluku. sayang, aku masih belum dapat teringat siapa keluargaku dan dari mana aku berasal. Aku hanya bisa mengingat lebih banyak tentang ilmu silat. Ya, sekarang aku ingat bahwa memang dahulu aku dapat bermain silat."

"Saudara Thian Hai, apakah engkau sudah teringat akan nama margamu?"

Bwee Hong bertanya dan tiba-tiba saja dara ini menyebut saudara Thian Hai, bukan lagi A-hai seperti biasanya.

Dan agaknya pemuda itupun tidak menjadi kikuk dengan sebutan itu.

Dia memandang Wajah Bwee Hong dengan pandang yang masih sama, penuh dengan rasa kagum, hormat dan sayang, akan tetapi sikapnya sungguh jauh berbeda dengan A-hai yang biasa.

A-hai yang biasa itu agak ketololan, bahkan kemanjaan.

Yang sekarang ini benar-benar seorang laki-laki jantan yang dewasa dan matang!

"Sayang, nona.

Aku masih belum mampu mengingat nama margaku.

Aku hanya lebih banyak teringat akan ilmu silat yang pernah kupelajari.

Aku memang bisa silat"

"Bisa silat?"

Bwee Hong tersenyum.

"Bukan hanya bisa, engkau malah seorang datuk ilmu silat, seorang ahli yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali dalam ilmu silat."

"Ah, nona berolok-olok."

"Tidak, aku bersungguh-sungguh. Lihat saja adik kecil ini. Kalau kelak engkau melatihnya setahun saja, kami berdua ini sudah bukan tandingannya lagi!"

Kata pula Bwee Hong dengan suara serius.

"Engkau sudah begini hebat, entah bagaimana pula kelihaian orang yang menjadi gurumu, saudara Thian Hai,"

Kata Siok Eng yang juga ikut-ikut mengganti nama A-hai menjadi Thian Hai. Mendengar kedua orang dara itu menyebutnya Thian Hai, pemuda itu tersenyum.

"Hendaknya nona berdua jangan bersikap sungkan. Aku masih tetap A-hai bagi kalian yang menjadi sahabat-sahabat baikku. Aku tidak mempunyai guru, yang mengajarkan silat kepadaku adalah ayahku sendiri."

"Ayahmu? Siapakah ayahmu dan dimanakah beliau sekarang?"

Bwee Hong yang tertarik itu cepat bertanya.

"Ayahku, ayah-ibuku ah, entahlah, aku sudah lupa lagi,"

A-hai menutupi muka dengan kedua telapak tangannya.

Melihat ini, Bwee Hong merasa kasihan dan ia memberi isyarat kepada temannya agar jangan bertanya lagi.

Sementara itu, melihat A-hai menutupi mukanya, Cui Hiang menghampiri dan menyentuh lengannya.

"Paman Hai, engkau kenapakah? Jangan berduka, paman"

Mendengar ini, A-hai menurunkan kedua tangannya. Dia lalu memandang Cui Hiang dan tersenyum.

"Mengapa menangis dan tidak tertawa saja?"

Tiba-tiba Cui Hiang berkata, mengutip sebaris sajak yang pernah dinyanyikan A-hai.

A-hai tertawa dan memondong tubuh anak perempuan itu keatas dan dia melempar-lemparkan tubuh itu seperti sebuah bola keatas, lalu menerimanya lagi dan melemparkannya lagi.

Melihat ini, Bwee Hong dan Siok Eng ikut gembira dan setelah menerima kembali tubuh Cui Hiang, A-hai berkata.

"Lihat, aku sudah tertawa, bukan?"

Mereka berempat lalu melanjutkan perjalanan menuju kearah Kotaraja atau ibu kota Sianyang di Propinsi Shen-si.

Disepanjang perjalanan, A-hai selalu mengajak Cui Hiang bergurau dan menghiburnya, juga setiap kali ada kesempatan, ia melanjutkan melatih sinkang kepada gadis cilik itu.

Beberapa hari kemudian, tibalah mereka disebuah dusun kecil dilereng bukit.

Kotaraja tidak begitu jauh lagi.

Mereka berempat melepaskan lelah ditepi hutan kecil.

Bwee Hong dan Siok Eng mengeluarkan buntalan yang terisi perbekalan yang mereka beli diperjalanan, yaitu roti dan daging kering, sedikit bumbu dan juga arak ringan.

Akan tetapi, Cui Hiang tidak mau makan.

Ia malah bangkit berdiri dan berjalan perlahan menuju ke puncak bukit.

Bwee Hong hendak memanggil dan menegurnya, akan tetapi A-hai memberi isyarat kepada dara itu, kemudian diapun bangkit dan mengikuti Cui Hiang yang berjalan seperti orang kehilangan akal menuju ke puncak bukit.

Akhirnya Cui Hiang berhenti ditepi jurang dan berdiri termenung, memandang jauh kebawah.

"Cui Hiang, kenapa engkau tidak mau makan roti? Apakah engkau tidak suka roti? Kalau engkau tidak suka, biar kucarikan binatang buruan."

Mendengar kata-kata yang begitu halus penuh kasih sayang, Cui Hiang menoleh dan memandang wajah A-hai dengan air mata berlinang-linang, kemudian ia menunduk.

Begitu ia melihat lengan kirinya yang buntung, tangisnya meledak.

Ia menubruk A-hai dan menangis mengguguk.

"Paman!"

A-hai membiarkan anak itu menangis.

Dia tahu bahwa selama ini Cui Hiang menahan-nahan tangisnya, mencoba menghibur kedukaannya.

Dan kini, agaknya bendungan itu bobol dan sebaiknya kalau gadis cilik ini menangis sepuasnya agar semua ganjalan dihati itu dapat ikut terseret oleh arus air mata.

Dia sendiri tersentuh oleh tangis Cui Hiang, Hatinya seperti diremas-remas dan matanya sendiripun menjadi basah.

Tiba-tiba saja kepalanya berdenyut-denyut.

Mata yang tadinya berkaca-kaca itu kini tiba-tiba bersinar dan mencorong mengerikan.

Darahnya yang mengalir keras itu seperti berkumpul dikepalanya sehingga wajahnya berobah menjadi kemerahan.

Dia mengepal tinju kanan sampai terdengar suara berkerotokan.

"Jahanam yang membuntungi lenganmu itu tentu akan kubunuh apabila bertemu denganku!"

Katanya penuh geram, suaranya juga berobah menjadi menggetar penuh kemarahan. Tentu saja Cui Hiang menjadi terkejut bukan main dan ketakutan melihat perobahan pada wajah dan sikap A-hai.

"Paman Hai... engkau kenapakah, paman? Jangan memandangku seperti itu... aku takut"

A-hai terharu dan merangkulnya. Setelah dirangkul, Cui Hiang kembali merasa tenang.

"Paman, aku ingin membunuh orang itu dengan tanganku sendiri. Akan tetapi bagaimana aku dapat melawan dia dengan tanganku yang hanya sebelah ini?"

"Jangan takut! Masih ada aku disini!"

Kata A-hai geram.

"Aku mempunyai ilmu silat yang amat hebat dan yang akan kuajarkan kepadamu. Ilmu itu disebut Thai-kek Sin-ciang. Aku percaya engkau akan mampu melawan dan mengalahkannya. Akan tetapi engkau harus lebih dahulu mematangkan tenaga sinkang yang kita latih itu. Hayo kita latihan lagi!"

Didorong semangat untuk segera dapat mengalahkan musuh yang telah membuntungi lengannya, kini dengan penuh semangat dan ketekunan, Cui Hiang mulai berlatih lagi.

Mereka latihan sedemikian tekunnya sehingga ketika Bwee Hong dan Siok Eng tiba disitu, keduanya tidak tahu dan tetap tenggelam dalam latihan.

Melihat betapa A-hai melatih Cui Hiang dengan tekunnya, dua orang gadis itu menjadi terharu dan juga bersyukur bahwa anak kecil yang bernasib malang itu, yang kehilangan keluarganya dan juga lengannya, telah memperoleh seorang guru yang luar biasa.

"Enci Bwee Hong, agaknya saudara Thian Hai itu sudah hampir sembuh. Perawatanmu nampaknya berhasil."

"Mudah-mudahan begitulah. Mudah-mudahan dengan beberapa kali perawatan dengan tusuk jarum dia akan sembuh sama sekali, tapi"

Bwee Hong berhenti bicara, lehernya terasa seperti tercekik.

Hatinya dipenuhi keraguan dan kekhawatiran.

Ia merasa khawatir kalau yang sudah didengarnya tentang A-hai itu ternyata benar.

Bagaimana kalau ternyata kemudian seperti yang didengarnya dari tukang warung yang terbunuh oleh para penjahat itu bahwa A-hai adalah seorang kongcu yang sudah beristeri, bahkan mempunyai seorang anak perempuan?

Kalau A-hai sudah berkeluarga, tentu ia...

ia tidak ingin merusak rumah tangga orang lain.

Akan tetapi kalau benar dia sudah beristeri, kenapa sampai sekarang isterinya itu tidak mencarinya?

Keraguan ini membuatnya termenung dan melihat perobahan pada air muka sahabatnya itu, Siok Eng memandang dengan heran.

Sahabatnya itu hampir berhasil mengobati dan menyembuhkan A-hai, mengapa tidak nampak gembira malah seperti orang gelisah?

"Enci Bwee Hong, engkau kenapakah?"

Bwee Hong tergagap mendengar pertanyaan yang mengandung teguran itu.

"Ah, tidak apa-apa, adik Eng... aku... aku merasa kasihan kepada anak perempuan itu!"

Siok Eng mengangguk dan memandang kepada Cui Hiang yang sedang berlatih sinkang secara aneh bersama A-hai itu dan iapun menarik napas panjang.

"Kalau dilihat, sukar mengatakan apakah harus merasa kasihan ataukah bersyukur. Enci, banyak kejadian didunia ini membuktikan bahwa peristiwa yang nampaknya buruk sering kali malah mendatangkan berkah. Coba saja lihat Cui Hiang itu. Andaikata ia tidak kematian keluarganya kemudian buntung lengan kirinya, kukira belum tentu A-hai akan tergerak hatinya sehingga dia menurunkan ilmunya yang hebat kepada anak itu."

Bwee Hong mengangguk.

"Kalau direnungkan, memang ada kenyataannya dalam kata-katamu itu, adik Eng."

Setelah selesai berlatih, A-hai yang melihat dua orang gadis itu segera menghampiri dan wajahnya berseri.

"Nona Hong, agaknya kesehatanku sudah semakin baik. Aku makin banyak dapat mengingat ilmu silatku."

Mereka melanjutkan perjalanan dan tiba-tiba setelah mereka keluar dari hutan kecil itu, nampak debu mengepul dikejauhan dan terdengar bunyi terompet.

Empat orang itu lalu bersembunyi, tidak ingin bertemu dengan pasukan yang lewat itu.

Tak lama kemudian, pasukan itupun lewat.

Jumlah mereka antara dua sampai tiga ratus orang dan mereka nampak kelelahan.

Dari pakaian mereka, tahulah Bwee Hong bahwa mereka adalah pasukan pemerintah yang agaknya mengundurkan diri karena terdesak oleh pasukan pemberontak Chu Siang Yu.

Wajah mereka muram, pakaian mereka kotor berdebu dan diantara mereka terdapat orang-orang yang luka, ada yang dibalut lengannya, ada yang dibalut kepalanya, ada yang pucat wajahnya dan ada yang jalannya terpincang-pincang.

Pasukan itu lewat dan memasuki dusun kecil yang pernah dilewati Bwee Hong dan kawan-kawannya, agaknya pasukan itu hendak beristirahat disana.

"Hemm, mereka itu pasukan pemerintah yang agaknya kalah perang. Entah apa yang telah terjadi didepan,"

Kata Bwee Hong yang nampaknya ingui sekali mengetahui.

"Aku akan menyelidikinya sebentar."

"Jangan, nona Hong. Biar aku saja yang melakukan penyelidikan. Mereka itu pasukan yang kalah perang, dapat melakukan apa saja untuk melampiaskan kekesalan hati mereka dan nona adalah seorang gadis... eh, cantik"

Bwee Hong senang mendengar ini akan tetapi tentu saja.

tidak dinyatakannya pada wajahnya.

Bagaimanapun juga, karena pujian atau pernyataan bahwa ia cantik itu membuat jantungnya berdebar dan mukanya agak merah, ia cepat menutupinya dengan berkata.

"Aku dapat menyamar sebagai seorang gadis dusun.."

"Sebaiknya tidak, nona. Perajurit-perajurit itu lelah dan kesal hatinya, dalam keadaan seperti itu mereka bisa saja mengganggu setiap orang wanita. Biar aku saja yang pergi menyelidikinya. Akupun ingin tahu apa yang telah terjadi."

Diam-diam Bwee Hong kagum.

A-hai yang sekarang ini benar-benar amat berbeda dengan A-hai tempo hari.

Kini A-hai bersikap jantan dan juga tenang dan cerdas, seperti sikap seorang, pendekar tulen.

Dan didalam suaranya terkandung ketegasan yang sukar untuk dibantah.

Maka iapun mengangguk.

"Baiklah kalau begitu."

Cui Hiang.

minta kepada A-hai untuk diperbolehkan ikut.

A-hai tidak merasa keberatan karena ikutnya anak itu malah mempermudah penyamarannya sebagai seorang perantau dan keponakannya.

Bwee Hong dan Siok Eng berjanji akan menanti didalam hutan itu sampai mereka kembali dari penyelidikan kedusun.

A-hai bersama Cui Hiang lalu berangkat memasuki dusun.

Nampak pasukan yang kepayahan itu tersebar dirumah-rumah penduduk dusun, dipelataran-pelataran, Mereka menggeletak dimana-mana melepaskan lelah.

Mereka minta makanan dan minuman dari penduduk dusun itu.

penduduk dusun yang ketakutan itu tidak berani membantah dan sibuklah mereka hilir-mudik dijalan melayani para perajurit itu dengan makanan dan minuman seadanya.

Munculnya A-hai dan seorang anak perempuan kecil yang buntung lengannya tidak mencurigakan.

Selain pasukan mengira bahwa mereka itupun anggauta penduduk dusun, juga melihat seorang anak perempuan buntung lengannya adalah pemandangan biasa di waktu perang seperti itu.

Dimana-mana terlihat orang-orang terluka dan pengungsi-pengungsi kelaparan.

A-hai yang menggandeng tangan kanan Cui Hiang, memasuki dusun itu dan tiba-tiba saja sikapnya berobah.

Dia kelihatan seperti orang termangu-mangu, memandang kesekitarnya, bukan kepada para perajurit, melainkan kepada rumah-rumah dan pohon-pohon didusun itu.

Kadang-kadang dia berhenti dan termenung.

Melihat ini, tentu saja Cui Hiang merasa heran dan setelah mereka melewati sekelompok perajurit, ditempat yang sunyi, Cui Hiahg bertanya.

"Paman Hai, engkau kenapakah?"

A-hai yang sedang melamun itu terkejut.

"Ehh? Aku? Tidak apa-apa, hanya aku merasa heran sekali mengapa aku seperti pernah mengenal tempat ini. Padahal ketika kita melewatinya aku sama sekali tidak memperhatikannya. Kenapa sekarang aku seperti merasa bahwa tempat ini sama sekali tidak asing bagiku? kau lihat pohon siong besar disana itu? Aku pernah memanjat disana! Cuma pohon itu tidak sebesar sekarang ini. Dan aku pernah tinggal ditempat seseorang yang letaknya didekat pohon itu. Akan tetapi, entah siapa aku tidak ingat lagi"

Kata A-hai dengan suara lirih dan matanya termenung memandang kearah pohon itu.

Dari depan muncul beberapa orang perajurit dan seorang perwira.

Agaknya mereka itu melakukan tugas meronda dan meneliti keadaan.

ketika perwira itu melihat A-hai, alisnya berkerut dan diapun menegur.

"Hei, kenapa engkau enak-enakan saja disini dan tidak membantu saudara-saudara lain untuk sekedar meringankan penderitaan pasukan kami? Apakah engkau pemberontak? Atau orang yang pro kepada pemberontak?"

Perwira itu sudah meraba gagang goloknya.

Jelaslah bahwa sekali saja A-hai mengeluarkan kata-kata atau memperlihatkan sikap menentang, golok itu akan dicabut dan dibacokkan!

"Harap tai-ciangkun tidak salah duga,"

A-hai berkata, suaranya tenang saja dan sikapnya sungguh berbeda dari biasanya.

Kalau dia masih seperti A-hai biasanya, tentu dia akan marah dan memaki-maki, A-hai tempo hari hanya menurutkan perasaannya saja.

Kinipun A-hai mendongkol, akan tetapi dia dapat mempergunakan kecerdikannya dan menjawab dengan tenang.

"Aku bukan pemberontak, malah aku menjadi korban perang, terpaksa merantau kehilangan keluarga. Bahkan keponakanku ini kematian semua keluarganya dan lengannya juga terluka oleh penjahat."

Baca Juga: Rajawali Emas 2

Baca Juga: Jodoh Rajawali 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert