Ceritasilat Novel Online

Jodoh Rajawali 10

Eps 10 Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo

Baca online Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo

Cersil Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo.

Ma Khong adalah seorang laki-laki yang tinggi besar dan agak pendek, usianya kurang lebih empat puluh tahun, matanya lebar dan kumisnya lebat.

Adiknya, Ma Ti Lok, berusia tiga puluh lima tahun, tubuhnya kekar dan jangkung, mukanya bersih tidak ada brewoknya karena tercukur rapi, rambutnya panjang dan hitam dijalin menjadi kuncir besar.

Seperti juga kakaknya, tubuhnya berotot dan nampaknya kuat sekali.

Di lain fihak, dua orang kepala bajak itu memandang Tek Hoat dengan ragu-ragu, karena mereka merasa sukar untuk percaya apakah pemuda yang kelihatan amat muda dan lemah ini benar-benar Si Jari Maut yang demikian menggemparkan?

Tentu saja mereka bukan tidak percaya bahwa mungkin saja seorang pemuda yang kelihatan lemah memiliki kepandaian hebat, karena mereka tahu bahwa Lauw Hong Kui, seorang wanita yang cantik jelita itu pun kepandaiannya hebat bukan main, jauh melebihi kepandaian mereka sendiri.

"Urusan apakah itu, Lihiap?"

Tanya Ma Khong akhirnya sambil memandang wanita itu.

"Ketahuilah, Ang-taihiap ini mempunyai seorang sahabat baik, seorang wanita yang terculik dan karena penculiknya membawanya ke daerah Po-hai, maka kami minta bantuan kalian untuk merampas kembali sahabat Ang-taihiap ini."

Dua orang kepala bajak itu saling pandang, lalu tersenyum lebar dan berkatalah Ma Khong.

"Ahhh, itu urusan kecil sekali, Lihiap. Tentu saja kami mau membantu. Siapakah penculik itu yang berani mati sekali, berani mengganggu sahabat Si Jari Maut, padahal ada Lihiap pula di samping Si Jari Maut?"

"Jangan bilang bahwa urusan ini kecil, Twa-ong, sebelum kalian mengetahui siapa penculik itu."

"Siapakah dia?"

Tiba-tiba Ma Ti Lok bertanya sambil memandang tajam penuh selidik.

"Kalau orang biasa, agaknya kami tidak perlu minta bantuan kalian. Menurut dugaanku, penculik itu bukan laln adalah Hek-sin Touw-ong...."

"Ahhhhh....!"

Dua orang Saudara Ma itu melonjak kaget dan bangkit berdiri dari bangku mereka dan muka mereka berubah pucat.

"Tidak mungkin....!"

"Apanya yang tidak mungkin? Dia yang menculik ataukah kalian yang membantu kami?"

Tanya Lauw Hong Kui.

"Kedua-duanya....!"

Kata Ma Khong yang sudah duduk kembali dan dia belum pulih kembali ketenangannya karena dia bersama adiknya benar-benar terkejut mendengar disebutnya nama Hek-sin Touw-ong Itu.

"Yang pertama, tidak mungkin Touw-ong sudi melakukan penculikan terhadap seorang wanita, dan ke duanya, andaikata benar dia yang melakukannya, tidak mungkin bagi kami untuk mencampurinya. Kami selamanya tidak pernah dan tidak akan mencampuri urusan Touw-ongya karena locianpwe itu pun tidak pernah mengganggu kami."

Jelas bahwa Ma Khong kelihatan jerih sekali terhadap nama itu.

"Kalian tidak tahu siapa wanita yang diculiknya itu, Twa-ong dan Ji-ong. Dengarlah, wanita yang diculiknya itu, sahabat dari Ang-taihiap ini, adalah seorang puteri dari Kerajaan Bhutan, bukan sembarang wanita belaka. Baru-baru ini, puteri itu terjatuh ke tangan ketua Liong-sim-pang di puncak Naga Api di Lu-liangsan, tempat yang amat kuat seperti benteng dan Liong-sim-pamg dipimpin orang-orang pandai dan mempunyai banyak sekali anak buah. Namun, seorang kakek mampu menculiknya dari ternpat itu dan jejaknya menuju ke pantai Po-hai. Siapa lagi kalau bukan Hek-sin Touw-ong yang melakukan penculikan itu?"

Mendengar ini, dua orang kepala bajak itu saling pandang dan mengerutkan alis, berpikir keras.

"Agaknya tidak mungkin Touw-ong yang melakukan penculikan,"

Kata Ma Ti Lok.

"Biarpun Touw-ongya dan puterinya berilmu tinggi dan tentu saja bukan merupakan pantangan bagi mereka untuk mencuri apa saja yang mereka sukai, akan tetapi agaknya tidak masuk di akal kalau Touw-ongya menculik wanita, biarpun Wanita itu seorang puteri kerajaan sekalipun!"

"Benar,"

Kata pula Ma Khong.

"Agaknya bukan dia...."

"Habis siapa lagi kalau bukan dia? Hanya dia seorang saja kakek berilmu tinggi yang berada di pantai Po-hai,"

Kata Hong Kui.

"Ah, bukan hanya dia,"

Kata Ma Khong.

"Ada seorang lagi dan kurasa dia inilah yang melakukan penculikan. Ya benar, tidak salah lagi. Tentu kakek aneh itu yang bertapa di tepi pantai sebelah ujung utara, di tempat yang sukar didatangi orang, yaitu di Gua Tengkorak."

"Hemm, siapa dia?"

Tanya Hong Kui.

"Seorang kakek tua renta yang kabarnya aneh dan lihai bukan main, bahkan orang-orang pernah melihat dia menghilang seperti setan, dan.... berjalan di atas air!"

"Bohong....!"

Kata Hong Kui.

"Mungkin bohong mereka itu, akan tetapi jelas bahwa kakek itu amat lihai, mungkin juga pandai bermain sihir, dan karena kami pun tidak mengenal benar siapa dia dan orang macam apa adanya dia, maka besar kemungkinan dialah yang melakukan penculikan,"

Kata Ma Khong.

"Kalian berdua tentu suka membantu kami, bukan? Kumaksudkan, membantu aku!"

Tanya Hong Kui sambil mengerling tajam.

"Tentu.... tentu....!"

Mereka berdua menjawab serentak.

"Kalau begitu, harap kalian membawa anak buah dan mengantar kami mencari kakek aneh di Gua Tengkorak itu untuk menyelidiki."

"Baik,"

Jawab mereka.

"Dan kalau kemudian ternyata bahwa bukan kakek aneh itu yang menculik Puteri Bhutan, kalian harus mmebantu kami menyelidiki keadaan Hek-sin Touw-ong."

"Akan tetapi.... ini.... ini...."

Ma Khong dan Ma Ti Lok menjawab penuh keraguan dan jelas membayangkan perasaan takut-takut.

"Kalian tidak mau membantu aku?"

Hong Kui mendesak dan kini senyumnya menantang.

"Kami tentu saja mau membantu Lihiap!"

Tiba-tiba Ma Ti Lok berkata.

"Benar, kami suka membantu Lihiap, dan harap Lihiap suka menghargai bantuan kami ini yang sesungguhnya kami lakukan dengan nekat demi rasa sayang kami kepada Lihiap. Sungquh kami tidak berani main-main terhadap Touw-ong, akan tetapi demi Lihiap.... kami mau melakukan segalanya, asal Lihiap tidak melupakan kami dan malam ini...."

Lauw Hong Kui tertawa.

"Hi-hik, kalian sungguh bodoh! Pernahkah aku Lauw Hong Kui melupakan kebaikan orang? Kalian adalah sahabat-sahabatku yang baik, dan aku sudah rindu kepada kalian. Akan tetapi nanti kalau urusan ini sudah selesai dengan baik, tunggu saja dan lihatlah betapa aku adalah seorang yang tahu terima kasih, yang mengenal budi dan kutanggung kalian berdua tidak akan menyesal telah membantu aku. Akan tetapi nanti kalau sudah berhasil, karena malam ini.... hemmm, aku ingin dilayani oleh dia itu."

Tiba-tiba Lauw Hong Kui menuding ke arah seorang pelayan pria yang sejak tadi memang menarik perhatiannya.

Tek Hoat ikut memandang bersama dua orang kepala bajak itu.

Pria yang ditunjuk oleh Lauw Hong Kui itu adalah seorang pria muda, usianya paling banyak enam belas tahun, akan tetapi tubuhnya tinggi besar dan wajahnya tidak tampan namun gagah dan membayangkan kejantanan.

Dia berpakaian sederhana sebagai seorang pelayan, namun kesederhanaan pakaiannya itu tidak menyembunyikan tubuhnya yang mulai dewasa, kekar dan kuat.

Sepasang matanya lembut dan sejak tadi dia memandang kepada Lauw Hong Kui penuh kekaguman karena sudah banyak dia mendengar dari kawan-kawannya di tempat itu tentang kehebatan wanita ini, hebat ilmu silatnya, hebat pula kepandaiannya merayu pria.

"Ah, si A-cun itu? Dia seorang yang baru di sini, baru belajar. Belum ada dua tahun dia ikut kami...., eh, dia masih bodoh dan hijau...."

"Hi-hik, justeru kebodohan dan kehijauannya itu menarik hatiku dan malam ini dia akan melayani aku. Adapun kalian berdua, tunggu sampai selesai urusan yang kalian bantu, tentu kalian akan mendapatkan bagian sepenuhnya."

Wanita itu lalu bangkit berdiri, menoleh kepada Tek Hoat dan berkata.

"Tek Hoat, kau bercakap-cakaplah dulu dengan mereka, aku akan pergi dan mengaso."

Dia lalu menghampiri pemuda pelayan yang di sebut A-cun tadi, menggandeng tangannya dan berkata.

"Marilah, kau tunjukkan aku di mana bagian-bagian yang paling indah di daerah ini."

Pelayan muda itu memandang dengan mata terbelalak, kelihatan bingung dan gugup, akan tetapi dia tidak membantah ketika ditarik dan diajak pergi oleh Hong Kui, diikuti suara ketawa dua orang kepala bajak itu yang memandang dengan mata mengandung iri.

Malam itu, Tek Hoat rebah di atas pembaringan dalam kamar tamu dengan hati gelisah memikirkan Syanti Dewi.

Benarkah kakek yang aneh seperti setan itu yang menculik kekasihnya?

Ataukah si Raja Maling?

Jantungnya seperti ditusuk-tusuk rasanya ketika dia membayangkan keadaan Syanti Dewi yang menderita bermacam kesengsaraan.

Melakukan perjalanan jauh dari Bhutan, mungkin menyusulnya, dan tiba di tangan orang-orang jahat, bahkan hampir dikawin oleh Hwa-i-kongcu secara paksa dan kini entah berada di tangan siapa dan di mana dan bagaimana keadaannya.

Semua ini terjadi karena ibunya yang muncul di Bhutan!

Ah, dia tidak akan menyalahkan ibunya yang telah meninggal.

Ibunya yang meninggal dalam keadaan demikian menyedihkan, terbunuh oleh orang dan sampai kini pun dia belum berhasil memecahkan rahasia pembunuhan terhadap ibunya itu.

Dia terpaksa menunda penyelidikannya ketika muncul persoalan Syanti Dewi.

Dia harus lebih dulu menyelamatkan kekasihnya itu, baru dia akan melanjutkan usahanya mencari pembunuh ibunya Malam itu sunyi sekali di hutan itu.

Akan tetapi bagi para anggauta bajak yang beringas di malam hari itu dan mengadakan penjagaan di sekitar sarang mereka, kadang-kadang mereka itu mendengar suara yang aneh, suara seperti rintihan seekor kucing, yang terdengar jauh di luar hutan itu.

Mereka hanya saling berbisik-bisik dan tertawa, akan tetapi tidak berani mendekati tempat dari mana suara itu terdengar, karena mereka maklum bahwa itulah suara Siluman Kucing yang sedang mempermain-kan korbannya, yaitu A-cun yang masih muda remaja itu.

Baru pada keesokan harinya, setelah mereka melihat Mauw Siauw Mo-li dengan wajah berseri dan segar, rambut kusut dan bibir tersenyum datang menggandeng A-cun, mereka para penjaga itu, atas isyarat wanita itu, menghampiri dan mereka memapah A-cun yang keadaannya payah, hampir pingsan, pucat dan seperti orang mabuk itu.

Mereka cepat menggotong pemuda remaja itu ke kamarnya dan membiarkan pemuda remaja itu tidur setelah memaksa pemuda itu minum obat yang diberikan Mauw Siauw Mo-li.

Tek Hoat yang mendengar akan hal ini sama sekali tidak mengambil peduli.

Begitu dia terbangun dan membersihkan badan, dia lalu mencari dua orang kepala bajak itu dan bertanya tentang usaha mereka menyelidiki ke Gua Tengkorak.

Ternyata Hong Kui sudah siap pula bersama dua orang kepala bajak.

Biarpun semalam suntuk tidak tidur, wanita itu kelihatan segar dan wajahnya berseri, bibirnya tersenyum, dan hanya mukanya agak pucat.

Dia telah memperoleh kepuasan setelah berhari-hari melakukan perjalanan bersama Tek Hoat, setelah banyak malam dilewatkan dengan gelisah sendirian tanpa kawan, dan ternyata pemuda remaja anak buah bajak itu bukan hanya memenuhi harapannya, bahkan melampaui yang diharapkannya sehingga dia merasa gembira dan puas.

Mereka melakukan perjalanan berempat dan agar dapat melakukan perjalanan cepat, Ma Khong dan Ma Ti Lok mengajak mereka naik perahu dan menyusuri tepi pantai menuju ke utara.

Ketika perahu itu melewati tebing yang amat tinggi, Ma Khong menuding ke atas tebing dan berkata.

"Disanalah tempat tinggal Hek-sin Touw-ong. Tidak kelihatan dari sini, di atas tebing itu terdapat sebuah rumah gedung yang menjadi tempat tinggalnya. Terus terang saja, kami sendiri belum pernah pergi ke tempat itu. Siapa pula orangnya yang berani mendekati tempat tinggal Touw-ongya? Mudah-mudahan saja dugaan kami benar bahwa kakek aneh di ujung pantai itu yang menculik Puteri Bhutan itu sehingga kita tidak perlu mendatangi Touw-ong."

Setelah hari menjadi sore, baru mereka mendarat di ujung utara dari pantai teluk itu dan mereka menuju ke daerah yang penuh dengan batu dan gua, daerah yang merupakan tebing dan pegunungan batu kapur.

Tak lama kemudian, tibalah mereka di depan sebuah gua yang bentuknya memang seperti tengkorak manusia, gua yang menyeramkan.

Akan tetapi sunyi saja di tempat itu dan ketika mereka memasukinya, mereka mendapatkan gua itu kosong.

Memang ada tanda-tanda bahwa gua itu pernah ditinggali manusia, bahkan agaknya belum lama penghuninya meninggalkan tempat itu.

Mereka memeriksa Gua Tengkorak itu dan tiba-tiba Tek Hoat berdiri termenung di depan dinding gua sebelah kiri, memandang dan membaca tulisan yang diukir dengan indahnya di dinding batu itu.

Dia melihat guratan-guratan huruf kecil-kecil itu dengan teliti dan diam-diam dia merasa kagum karena dari bekasnya dia dapat menduga bahwa orang itu menggurat-guratkan jari tangannya untuk menuliskan huruf-huruf itu!

Dia membaca dengan hati tertarik.

"Sayang, sungguh sayang Belum pernah aku bertemu seseorang yang setelah melihat kesalahan sendiri! Lalu benar-benar menyesalkan kesalahannya itu dan benar-benar memperbaiki dirinya sendiri!"

Tek Hoat membaca tulisan itu berkali-kali dan termenung.

Dia merasa seperti pernah mendengar kata-kata itu, akan tetapi karena pelajarannya tentang sastra memang tidak begitu mendalam, maka dia lupa lagi di mana dan bilamana.

"Hi-hik, orang tolol yang menuliskan itu. Mana di dunia ini ada orang yang mampu melihat kesalahan sendiri?"

Akan tetapi Tek Hoat tidak mempedulikan ejekan Mauw Siauw Mo-li itu dan dia termenung.

Keluhan orang yang menuliskan kata-kata di dinding batu itu memang merupakan kenyataan.

Adalah mudah melihat kesalahan sendiri,akan tetapi sukarlah untuk memperbaiki diri sendiri sungguhpun dari penglihatan itu selalu timbul penyesalan.

Sesungguhnya, tulisan itu adalah petikan dari ujar-ujar dalam kitab Lun Gi bagian ke lima dan pasal ke dua puluh tujuh, ujar-ujar dari Nabi Khong Cu dan kata-kata itu berasal dari Nabi Khong Cu sendiri.

Memang sudah menjadi kebiasaan kita untuk merasa menyesal setelah kita melihat kesalahan sendiri.

Akan tetapi, biasanya penyesalan itu bukan datang karena benar-benar kita menyadari akan kesalahan sendiri, melainkan penyesalan yang timbul karena akibat buruk yang timbul karena kesalahan perbuatan kita itu!

Jadi, sama sekali bukan penyesalan akan perbuatan kita yang salah, melainkan penyesalan karena kita dirugikan oleh perbuatan itu sebagai akibatnya.

Misalnya, kita melakukan perbuatan yang salah, yaitu mencuri.

Akibatnya, kita tertangkap dan dihukum.

Menyesaliah kita, akan tetapi penyesalan ini timbul karena JATUHNYA HUKUMAN itulah atas diri kita.

Oleh karena keadaan seperti inilah maka di lain kesempatan, kita dapat saja mengulangi perbuatan itu asal saja tidak terlihat ancaman hukumannya.

Itulah sebabnya maka Nabi Khong Cu tidak pernah melihat orang yang melihat kesalahan sendiri lalu benar-benar menyesalkan perbuatannya dan benar-benar memperbaiki dirinya sendiri.

Perbaikan diri sendiri yang dimaksudkan TIDAK MENGULANGI lagi perbuatannya yang salah itu.

Mempelajari atau menghafal ayat-ayat suci saja sesungguhnya tidak ada artinya sama sekali bagi jalannya kehidupan.

Yang penting adalah menyelami sedalam-dalamnya segala hal yang berhubungan dengan kahidupan kita.

Kalau kita melakukan suatu kesalahan tidak hanya cukup untuk disesalkan saja, melainkan kita hadapi secara menyeluruh, kita selidiki diri kita sendiri mengapa kita melakukan kesalahan itu, apa yang mendorongnya dan apa yang menimbulkan terjadinya hal itu.

Kalau kita selalu waspada akan gerak-gerik diri sendiri setiap saat, maka akan timbul kesadaran yang menyeluruh, bukan kesadaran sepintas lalu yang didapat dari membaca ayat.

Kesadaran membaca ayat hanya terbatas pada saat membaca ayat itu saja, untuk kemudian dilupakan lagi sehingga di waktu kita memikirkan atau melakukan sesuatu menurut pikiran, ayat-ayat itu sama sekali terpendam dan terlupa.

Dan biasanya, ayat-ayat itu yang kesemuanya amat muluk-muluk dan baik, hanya teringat oleh kita kalau kita ingin menasihati orang lain saja, sebaliknya sama sekali terlupa kalau kita melakukan segala sesuatu dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ayat-ayat itu seperti nyanyian-nyanyian merdu yang hanya mampu menggerakkan hati nurani kita pada saat kita mendengarnya atau membacanya, dan apakah artinya itu bagi kehidupan kita kalau hanya dinikmati sepintas lalu saja tanpa adanya PENGHAYATAN DALAM HIDUP?

Menerapkan ayat-ayat suci di dalam kehidupan sehari-hari pun hanya merupakan kepalsuan yang dipaksa-paksakan belaka, mungkin dengan tujuan agar kita dipuji, agar kita menjadi orang baik dan sebaiknya.

Kebaikan tidak mungkin dilatih, karena kalau kebaikan itu muncul karena dilatih, maka dia bukan kebaikan lagi melainkan kepalsuan.

Kebaikan adalah kewajaran, tidak dilatih tidak dibuat-buat, tidak mencontoh ini atau itu, melainkan keadaan bebas dari kekotoran.

Kalau kebusukan-kebusukan sudah tidak ada maka munculiah kebaikan, seperti kalau awan-awan gelap sudah sirna maka nampaklah sinar matahari.

Melatih kebaikan hanya akan menciptakan manusia-manusia munafik.

Yang penting, mengenal diri sendiri lahir batin, mengenal kekotoran-kekotoran dan kebusukan-kebusukan diri sendiri dengan mengamatinya setiap saat, dengan waspada setiap saat akan segala gerak-gerik lahir batin diri sendiri.

Pengamatan seperti ini adalah tanpa pamrih sama sekali, tanpa pengejaran akan sesuatu, tanpa ingin menjadi baik, tanpa adanya aku yang berpamrih, tanpa adanya aku yang mengejar dan menginginkan apa pun.

Yang ada hanya batin mengamati diri sendiri, gerak-geriknya setiap saat yang menimbulkan segala macam perbuatan, tanpa ada keinginan mengubah, memperbaiki, mengendalikan, dan keinginan-keinginan ini tentu tidak ada kalau YANG MENGAMATI tidak ada pula!.

Sampai lama mereka berempat memeriksa keadaan di dalam gua tengkorak, akan tetapi tetap saja mereka tidak menemukan sesuatu.

Tidak ada bekas-bekas yang menunjukkan bahwa Syanti Dewi pernah berada di dalam gua itu.

"Jelas bahwa bukan penghuni gua ini yang menculiknya. Tentu Hek-sin Touw-ong!"

Kata Tek Hoat.

"Kalau begitu kita akan menyelidiki ke rumah Raja Maling itu,"

Kata Mauw Siauw Mo-li. Dua orang Saudara Ma itu kelihatan gentar.

"Kalau begitu kita sebaiknya pulang dulu, kami akan mengerahkan anak buah kami."

"Tidak perlu,"

Kata Tek Hoat sambil mengerutkan alisnya.

"Kita berempat sudah cukup. Kalian hanya menunjukkan saja jalan menuju ke gedung itu, setelah bertemu dengan Hek-sin Touw-ong, serahkan saja kepadaku untuk menghadapinya."

"Tapi.... tapi dia amat sakti, dan puterinya juga amat lihai. Kami.... kami tidak berani. Kalau engkau gagal, Taihiap, kami pun tentu akan celaka."

"Jangan takut, Twa-ong. Ang-taihiap cukup kuat untuk menghadapi Touw-ong, dan selain itu ada aku di sini, bukan?"

Kata Hong Kui.

Karena takut kepada wanita itu, akhirnya dua orang itu terpaksa menurut.

Malam itu mereka bermalam di dalam gua tengkorak.

Hong Kui tidak mempedulikan dua orang kepala bajak yang membuat api unggun di dalam gua itu.

Dia mendekati Tek Hoat dan berusaha merayu pemuda ini.

Akan tetapi Tek Hoat menjadi merah mukanya dan marah.

Hampir saja dia memukul wanita tak tahu malu itu dan akhirnya dia keluar, lebih suka tidur di luar gua yang dingin daripada di dalam gua di mana dia harus menghadapi godaan Hong Kui yang amat mengganggunya.

Tak lama kemudian dia mendengar suara dua orang kepala bajak itu tertawa-tawa, dan menjelang tengah malam, dia mendengar rintihan suara kucing itu yang amat memuakkan hatinya.

Dia pergi menjauh dari gua, tidur di antara batu-batu karang, menerawang ke langit yang penuh bintang dan mengenangkan semua kehidupannya yang telah lalu.

Timbul perasaan malu di dalam hatinya.

Teringat akan tulisan di dinding batu, kini dia melihat betapa dia telah memenuhi kehidupan yang lalu dengan segala hal yang amat memalukan dan jahat.

Betapa dia dapat mengubah itu semua setelah dia bertemu dengan Syanti Dewi, bahkan di Bhutan dia telah menjadi seorang terhormat, sebagai panglima dan calon suami Syanti Dewi.

Cinta kasihnya terhadap Syanti Dewi selain membuat dia hidup bahagia, Juga membuat dia hidup barsih, Jauh dari pikiran kotor sama sekali.

Bahkan dia mulai menganggap dirinya berharga dan patut menjadi cucu tiri Pendekar Super Sakti dari Pulau Es dan menjadi calon suami Syanti Dewi yang berbudi mulia.

Akan tetapi terjadi perubahan.

Dia terusir dengan cara yang amat merendahkan dari Bhutan.

Dia meninggalkan Syanti Dewi dan kebahagiaannya hancur, kehidupannya hancur dan hatinya juga remuk-rendam.

Dia menjadi tidak peduli akan kehidupannya, apalagi setelah melihat ibunya terbunuh.

Dia tidak peduli lagi apakah dia hidup melalui jalan kotor atau bersih.

Dia tidak peduli!

Akan tetapi sekarang, kembali dia terombang-ambing antara kehancuran hidupnya dan pertemuannya kembali dengan Syanti Dewi.

Bagaimana kalau bertemu kembali?

Apakah dia masih berharga untuk puteri itu?

Apakah puteri itu dapat mencintanya?

Dia mulai merasa menyesal!

Penyesalan yang timbul karena kekhawatirannya akan kehilangan Syanti Dewi lagi!

Dia telah melalui jalan kotor dan sesat!

Dengan hati gelisah, akhirnya dia dapat pulas juga dan dapat-lapat seperti dalam mimpi dia mendengar rintihan suara kucing itu yang amat dibencinya.

Dia sudah mengambil keputusan untuk tidak membiarkan dirinya diseret ke dalam lumpur kehinaan oleh Mauw Siauw Mo-li!

Dia harus membuktikan bahwa dirinya masih berharga untuk mencinta Syanti Dewi!

"Suhu, lihat apa yang kudapatkan ini!"

Ang-siocia atau Kang Swi Hwa berkata bangga di depan kakek itu sambil membuka buntalan besar yang dibawanya masuk ke dalam gedung besar di tebing itu, buntalan yang tadi diseret masuk oleh dua orang pelayan yang menyambut kedatangannya bersama beberapa orang pelayan lain.

Rumah itu merupakan gedung besar dan sama sekali tidak pantas menjadi rumah seorang yang berjuluk Raja Maling!

Rumah itu teratur rapi, biarpun tidak terlalu mewah namun amat menyenangkan dengan hiasan-hiasan dinding berupa lukisan-lukisan dan huruf-huruf indah.

Pot-pot kembang kuno menghias di sudut-sudut ruangan, lantainya bersih dan kesemuanya menunjukkan bahwa rumah itu terpelihara dan penghuninya suka akan kebersihan.

Ada kurang lebih sepuluh orang pelayan bekerja di luar dan dalam rumah, kesemuanya biarpun berpakaian pelayan namun sebetulnya adalah anak buah Hek-sin Touw-ong dan mereka terdiri dari orang-orang yang memiliki kepandaian silat tinggi dan ilmu mencuri yang lihai.

Akan tetapi tentu saja kini mereka tidak lagi mencuri, setelah menjadi anak buah dan pelayan dari Raja Maling itu.

Kakek yang berjuluk Hek-sin Touw-ong itu adalah seorang lakl-laki tua berusia enam puluh tahun lebih.

Mukanya hitam seperti dicat, sesuai dengan julukannya si Raja Maling Bermuka Hitam.

Sebenarnya, sudah bertahun-tahun yang lalu kakek ini menjalankan pekerjaannya sebagai Raja Maling, yaitu ketika dia masih beroperasi di perbatasan Ho-nan dan Ho-pei.

Namanya amat terkenal di daerah itu dan semua kaum pencuri tunduk kepadanya dan menganggapnya sebagai datuk atau raja.

Karena kepandaiannya yang hebat, dan karena semua pencuri menganggapnya sebagai raja, kemudian karena mukanya hitam, maka dia memperoleh julukan Hek-sin Touw-ong.

Akan tetapi sesungguhnya dia bukanlah maling sembarang maling!

Dia hanya mau melakukan pencurian di dalam istana-istana saja!

Dan biarpun mukanya hitam, ternyata hatinya tidaklah sehitam mukanya.

Kakek yang terkenal dengan julukan Raja Maling ini terkenal dermawan dan suka menolong orang-orang yang menderita kekurangan dan kesengsaraan.

Pernah dia mencuri satu peti besar terisi ratusan tail uang emas milik gubernur di Ho-nan dan menggunakan seluruh uang itu untuk membeli ratusan ton gandum untuk dibagikan kepada rakyat yang kelaparan di daerah lembah Huang-ho di perbatasan antara Ho-nan dan Ho-pei ketika Sungai Huang-ho mengamuk dan membanjiri!

Perbuatannya ini menimbulkan kegemparan dan selain dia dimusuhi oleh para pembesar, juga perbuatannya itu menimbulkan rasa kagum dalam hati para pendekar.

Ketika kakek itu mendengar akan kedatangan muridnya, dia cepat keluar menyambut di ruangan tengah dengan wajah berseri-seri.

Kakek ini amat sayang kepada muridnya, bahkan murid itu juga sekaligus menjadi anak angkatnya, sungguhpun Swi Hwa masih belum dapat mengubah sebutan suhu kepadanya.

Sudah berbulan-bulan muridnya pergi merantau, dan kini muridnya pulang dan membawa "oleh-oleh"

Yang demikian banyaknya.

Ketika buntalan dibuka dan kakek itu melihat tumpukan perhiasan emas permata, uang dan juga kitab-kitab, dia terbelalak dan menatap wajah muridnya dengan alis berkerut.

"Swi Hwa, apa yang telah kau lakukan? Dari mana engkau memperoleh semua benda berharga ini?"

Biarpun dia berjuluk Raja Maling, akan tetapi kakek ini selalu melarang muridnya untuk melakukan pencurian, apalagi pencurian kecil-kecilan yang akan merendahkan nama mereka, sungguhpun muridnya sudah pandai sekali dalam hal ilmu mencuri dan ilmu menyamar.

Gadis itu tertawa.

"Suhu, harap jangan mengira, bahwa aku sembarangan saja mencuri segala macam benda. Benda-benda ini bukan benda-benda sembarangan, juga bukan milik orang-orang sembarangan pula."

"Hemmm, kantung itu terisi uang tidak berapa banyak dan kau bilang bahwa itu bukan benda sembarangan?"

Gurunya mencela dan menegur.

"Benar, Suhu. Hanya sekantung uang yang tidak berharga. Akan tetapi tahukah Suhu dari siapa aku mengambil kantung ini? Hemmm, Suhu tentu tidak akan pernah dapat menerkanya. Kantung ini kuambil dari buntalan yang dibawa oleh pendekar Siluman Kecil!"

"Wahhhhh....!"

Suhunya terbelalak dan memandang kepada muridnya dengan heran.

Tentu saja dia sudah mendengar akan nama pendekar yang baru muncul dalam waktu beberapa tahun ini, yang (Lanjut ke

Jilid 31) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 31 namanya amat terkenal di antara para tokoh besar dunia hitam, bahkan amat disegani.

Dia mendengar betapa ilmu kepandaian pendekar Siluman Kecil itu amat hebat dan kini muridnya berani mencopet kantung uangnya!

Melihat kekagetan, dan keheranan suhunya, Swi Hwa menjadi bangga dan senang, maka dia lalu menuding ke arah peti terbuka yang terisi barang-barang perhiasan emas permata.

"Dan Suhu lihat peti itu! Isinya adalah harta pusaka dari keluarga yang amat terkenal pula. Keluarga panglima besar kota raja, Jenderai Kao Liang! "Ehhh....?"

Sepasang mata Raja Maling itu makin terbelalak lebar ketika mendengar laporan itu.

Nama Jenderal Kao malah lebih terkenal lagi daripada nama Siluman Kecil.

Siapa yang tidak mengenal nama jenderal yang amat hebat itu?

Baru mendengar namanya saja orang menjadi gentar dan segan, akan tetapi muridnya ini berani mencuri harta pusaka keluarga jenderal itu!

Hati Swi Hwa makin besar dan bangga.

"Dan kitab-kitab ini, Suhu. Tentu Suhu tidak akan dapat menerka dari mana aku mencurinya. Kitab-kitab ini adalah milik si tua renta yang amat lihai itu, Sin-siauw Seng-jin...."

"Apa....?"

Sekali ini kakek itu hampir berteriak dan mukanya berubah, lalu tiba-tiba dia tertawa bergelak dan membuka-buka kitab itu.

"Ha-ha-ha-ha-ha! Lucu....! Lucu sekali! Muridku, anakku, hayo cepat kau ceritakan bagaimana engkau dapat melakukan semua itu, terutama sekali kitab-kitab palsu ini!"

"Palsu?"

Swi Hwa mengerutkan alisnya.

"Bagaimana Suhu tahu bahwa ini palsu? Aku mengambilnya dari rumah Sin-siauw Seng-jin sendiri setelah dia dikalahkan oleh Siluman Kecil."

Kembali kakek itu terkejut.

"Sin-Siauw Seng-jin dikalahkan oleh Siluman Kecil? Bagaimana pula itu? Ah, Swi Hwa, ceritakan.... ceritakan....!"

Melihat kegembiraan gurunya, Swi Hwa lalu menceritakan semua pengalamannya.

Mula-mula dia menceritakan tentang keluarga Jenderal Kao Liang yang membawa keluarganya pulang ke kampung halamannya di selatan, kemudian betapa muncul beberapa kelompok gerombolan yang hendak membunuh dan hendak merampok keluarga itu.

Dalam keributan ketika para kelompok gerombolan itu saling bertempur sendiri, dia lalu menggunakan kesempatan itu untuk merampas peti terisi harta pusaka itu dan melarikannya.

Kemudian dia menceritakan tentang penyamarannya sebagai tukang penjual sepatu dan berhasil mencopet kantung uang milik Siluman Kecil, dan akhirnya dia menceritakan bagaimana dia telah mencuri kitab-kitab pusaka milik Sin-siauw Seng-jin.

Akan tetapi tentang dia masuk menjadi pengawal Gubernur Ho-nan dan tentang rahasianya yang terbuka oleh Siauw Hong, dia sama sekali tidak berani mencerita-kan kepada suhunya.

Kakek itu mendengarkan penuturan muridnya dan berkali-kali dia berseru kagum.

Apalagi ketika dia mendengar tentang pertandingan antara Siluman Kecil dan Sin-siauw Seng-jin sampai kakek Suling Sakti itu kalah, berulang kali dia mengeluarkan suara heran dan memuji "Hebat....

hebat sekali orang muda yang berjuluk Siluman Kecil itu.

Tadinya kukira bahwa Sin-siauw Seng-jin tidak ada lawannya.

Kiranya dia kalah oleh seorang pemuda.

Ha-ha-ha!"

Kelihatan kakek ini girang sekali mendengar akan kekalahan Suling Sakti itu.

"Suhu, tadi Suhu mengatakan bahwa kitab-kitab ini palsu padahal Suhu belum memeriksanya dengan teliti. Benarkah itu?"

"Ha-ha, tentu saja, Swi Hwa. Aku sudah mengenal baik siapa kakek tua bangka itu! Kalau kitab-kitab peninggalan Suling Emas dapat dicuri orang begitu saja, tentu ilmu-ilmu itu tidak akan menjadi rahasia sampai sekarang. Kau boleh bakar kitab-kitab itu, karena semua itu palsu, apalagi kalau telah dia tinggalkan begitu saja."

"Betapapun juga, aku telah merampasnya dari dalam rumahnya, Suhu."

"Ha-ha-ha, itulah yang menggirangkan hatiku. Kalau saja dia mendengar bahwa rumahnya kemasukan maling dan maling itu adalah engkau, muridku, ha-ha-ha.... ingin aku melihat mukanya, ha-ha-ha!"

Kakek itu tertawa-tewa, akhirnya lalu berkata dengan suara sungguh-sungguh.

"Muridku, anakku, apa yang telah kau lakukan ini benar-benar hebat dan mengagumkan hatiku. Aku girang dan puas mempunyai murid seperti engkau. Akan tetapi, engkau telah bermain-main dengan api, anakku. Kurasa perbuatanmu ini akan berekor dan siapa tahu akan ada orang-orang pandai yang mencarimu di sini untuk merampas kembali benda-benda ini. Oleh karena itu, sebaiknya kalau kita menyembunyian di tempat aman."

"Di gua rahasia di tebing?"

Kakek itu mengangguk dan mereka lalu membawa benda-benda itu ke tepi tebing, lalu mereka merayap turun melalui tebing yang amat curam itu dan menyembunyikan benda-benda itu di dalam sebuah gua di tebing yang tertutup oleh batu dan tumbuh-tumbuhan sehingga kalau bukan mereka yang sudah mengenal tempat itu, kiranya tidak mungkin orang lain akan dapat mencari dan menemukan tempat itu.

Malam itu, di atas meja makan, Swi Hwa dengan hati-hati lalu menceritakan pengalamannya kepada gurunya.

Tanpa menyinggung perasaan hatinya yang mula-mula tertarik terhadap Siluman Kecil, dia akhirnya menceritakan juga tentang petualangannya memasuki sayembara di Ho-nan.

"Eh, Swi Hwa, apa yang kau lakukan itu? Mau apa engkau memasuki sayembara untuk menjadi pengawal?"

Tegur gurunya.

Swi Hwa memang amat dimanja oleh gurunya ini dan sejak kecil dia menganggap gurunya sebagai ayah sendiri.

Oleh karena inilah, maka biarpun ketika datang tadi dia tidak berani bercerita tentang semua itu, namun akhirnya dia bercerita juga karena dia tidak dapat menahan semua itu di dalam hatinya dan dia tidak mempunyai orang lain untuk diajak bicara.

"Suhu, aku hanya ingin meluaskan pengalaman saja. Apalagi aku terbawa oleh orang-orang lain yang melakukan perjalanan bersamaku. Dan Siluman Kecil juga melakukan perjalanan bersama, maka aku pun ingin memperli-hatkan kepandaian."

"Hemmm.. kau seorang wanita sungguh terlalu berani beraksi di depan umum."

Lalu dia memandang tajam.

"Apa sebabnya kau ingin agar orang-orang mengetahui kepandaianmu?"

"Suhu, tentu saja dengan maksud untuk mengangkat nama Suhu!"

"Eh, bocah lancang! Apa kau mengaku bahwa kau muridku?"

Ditegur begitu oleh gurunya, Swi Hwa terkejut.

"Aku.... aku.... hanya mengaku sebagai wakil Suhu dalam pertemuan di lembah Huang-ho...."

"Itu memang atas kehendak-ku. Engkau kusuruh mewakili aku menghadiri pertemuan itu di sana. Akan tetapi tidak di tempat umum!"

"Suhu, maafkan, aku.... aku hanya mengakui nama dan nama Suhu di depan.... eh, Siluman Kecil ketika aku mengambil kitab-kitab Sin-siauw Sengjin."

Gurunya menarik napas panjang.

"Engkau sungguh mencari penyakit. Nah, karena sudah terlanjur, bagaimana nanti sajalah, akibatnya kita hadapi bersama. Lanjutkan ceritamu."

Setelah mulai menu-turkan tentang sayembara itu, Swi Hwa tentu saja tidak dapat menutupi apa-apa lagi dan kata-kata pun mulai lancar keluar dari mulutnya.

Dibukanya segala peristiwa itu kepada suhunya.

Betapa dia terlibat dalam urusan perebutan Pangeran Yung Hwa yang ditawan oleh Gubernur Ho-nan, betapa dia terpukul oleh Siluman Kecil.

"Ah, engkau benar-benar sembrono sekali, muridku. Untung engkau tidak sampai terpukul mati oleh pendekar itu,"

Kata kakek itu dengan mata terbelalak, terheran-heran akan petualangan muridnya yang berani itu.

Swi Hwa lalu menceritakan bahwa perkelahian itu membuat dia tidak suka lagi tinggal di gubernuran, apalagi karena teman-temannya telah pergi, yaitu si gagu yang ternyata adalah kakak sendiri dari Siluman Kecil, Siauw Hong, Siluman Kecil dan seorang kakek gagah perkasa yang dia mendengar dari para pengawal adalah seorang tokoh bernama Sai-cu Kai-ong yang memimpin pasukan untuk menyelamatkan Pangeran Yung Hwa.

Mendengar nama ini, Hek-sin Touw-ong menjadi makin heran, matanya terbelalak dan dia berseru.

"Sai-cu Kai-ong....? Ahhh.... betapa aneh dan kebetulan....! "Apa maksudmu, Suhu?"

Gurunya menarik napas panjang.

"Tidak apa-apa, aku kenal dengan tua bangka itu, kelak engkau pun akan tahu sendiri. Teruskan, teruskan, ceritamu makin menarik"

"Setelah aku pergi meninggalkan gubernuran Ho-nan karena aku tidak ingin lagi melanjutkan sebagai pengawal gubernur, setelah terjadi peristiwa perebutan Pangeran Yung Hwa itu, aku bertemu dengan Jenderal Kao Liang yang sedang diserang oleh seorang wanita baju hijau yang lihai. Melihat jenderal yang sudah kudengar kegagahannya itu roboh, aku merasa kasihan dan aku lalu membantunya, kuserang wanita baju hijau yang lihai itu, Suhu."

Gurunya mengangguk-angguk.

"Sekali ini kau benar, muridku. Pertama, karena engkau telah melaku-kan kesalahan terhadap jenderal itu dengan mencuri harta pusakanya, maka sudah selayaknya engkau menebusnya dengan membantunya, apalagi engkau belum mengenal wanita penyerangnya itu."

"Akan tetapi dia lihai bukan main, Suhu! Pukulan Kiam-to Sin-ciang yang kupergunakan tidak merobohkannya...."

"Ah, ilmumu belum cukup tinggi untuk menggunakan Kiam-to Sin-ciang dengan sempurna."

"Pada saat itu, muncul pula Siluman Kecil dan Siauw Hong. Mereka melerai, akan tetapi aku sudah terpukul oleh wanita baju hijau itu sehingga aku roboh pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi...."

"Ah, begitu hebat dia? Siapakah wanita itu?"

"Aku tidak tahu, Suhu. Usianya lebih tua dua tiga tahun daripada aku, pakaiannya serba hijau, wajahnya cantik dan sikapnya dingin. Pukulannya itu hebat bukan main, aku merasa betapa seluruh tubuhku seperti dimasuki salju yang dinginnya menyusup tulang sumsum dan menyerang rongga dada sehingga aku tidak kuat dan roboh tidak ingat apa-apa lagi."

Kakek itu mengerutkan alisnya.

"Dingin....? Hemmm, tentu dia memiliki ilmu pukulan berdasarkan tenaga Im yang amat kuat. Lalu bagaimana, Swi Hwa? Kemudian apa yang terjadi denganmu?"

Tiba-tiba wajah gadis itu menjadi merah sekali.

Dia sudah kepalang, sudah menceritakan segala-galanya kepada gurunya, maka sukarlah untuk menyembunyikan peristiwa yang terjadi atas dirinya, apa yang dilakukan oleh Siauw Hong itu.

Teringat akan ini tiba-tiba saja gadis itu merasa amat malu dan terhina, lalu menangis!

Tentu saja Hek-sin Touw-ong menjadi terkejut sekali.

Dia memandang muridnya dengan sinar mata penuh selidik, kemudian dia bertanya.

"Apakah yang menimpa dirimu, muridku? Mengapa kau menangis?"

Suaranya mengandung kekhawatiran karena mendengar muridnya roboh pingsan laiu kini menangis itu, dia menyangka bahwa jangan-jangan terjadi hal yang buruk atas diri muridnya.

Swi Hwa menyusut air matanya dan setelah tangisnya mereda dan hatinya mulai tenang kembali, dia melanjutkan ceritanya.

"Pukulan itu membuat aku pingsan, Suhu. Aku tidak tahu apa-apa lagi. Ketika aku siuman kembali, aku telah berada di bawah pohon, di atas rumput terlentang dan.... dan...."

"Ya? Bagaimana?"

Gurunya bertanya dengan tangan terkepal karena hatinya tegang menanti lanjutan cerita muridnya itu.

"Ketika aku siuman kembali, aku melihat dia duduk di dekatku dan.... tangannya diletakkan di atas dadaku, Suhu...."

Gadis itu menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali.

"Dia? Dia siapa?"

"Siauw Hong...."

"Keparat! Berani benar dia!"

Kakek itu membentak marah.

"Suhu tentu mengerti betapa kaget dan malu rasanya hatiku. Tangannya itu meraba dadaku di balik bajuku.... maka aku lalu bangkit dan memukulnya sekuat tenaga sehingga dia terlempar dan mungkin dia mampus!"

"Bagus! Benar itu! Kalau dia belum mampus, biar aku yang akan mencarinya dan memukulnya sampai mampus benar-benar! Laki-laki keparat dia itu! Siapa sih Siauw Hong itu?"

"Dia adalah pemuda yang melakukan perjalanan bersama aku dan Siluman Kecil, yang juga memasuki sayembara dan diterima menjadi pengawal, akan tetapi ketika terjadi keributan perebutan Pangeran Yung Hwa, dia membantu Siluman Kecil.

"Hemmm, jadi dia memiliki kepandaian juga, ya? Orang macam apa dia berani berbuat kurang ajar seperti itu?"

"Dia.... dia masih muda, mungkin tidak lebih tua daripada aku, Suhu, dan dia dikenal sebagai pangeran pengemis...."

"Pengemis??"

Gurunya makin penasaran.

Anak angkatnya, muridnya yang tersayang itu diganggu oleh seorang pemuda pengemis?

"Ya, dia seorang pengemis aneh, dan ternyata kemudian bahwa dia adalah murid dari kakek pengemis aneh yang memimpin pasukan memperebutkan Pangeran Yung Hwa itu, Suhu."

"Siapa? Murid siapa?"

Muka kakek itu berubah. Swi Hwa terkejut melihat perubahan muka gurunya.

"Dia murid Sai-cu Kai-ong...."

"Ahhhhh....! Ya Tuhan....!"

"Ada apakah, Suhu? Mengapa Suhu demikian kaget?"

Kakek itu masih terbelalak, kemudian dia memegang lengan gadis itu dengan cepat sehingga gadis itu menjadi kaget dan takut kalau-kalau gurunya marah.

Belum pernah gurunya marah kepadanya, akan tetapi sikapnya sekarang benar-benar mengagetkan hatinya.

"Hayo katakan, apakah dia melakukan hal itu, meraba dadamu, untuk berbuat kurang ajar dan melanggar susila? Apakah dia berusaha.... memperkosamu?"

Kini Swi Hwa yang memandang dengan mata terbelalak.

"Memperkosa? Apa maksudmu, Suhu? Sama sekali tidak! Dia meraba dadaku untuk menyembuhkan aku, terasa olehku dia menyalurkan sinkang yang amat kuat dan mengusir hawa dingin akibat pukulan gadis pakaian hijau itu."

"Ahhh....!"

Kakek itu tertegun dan melongo.

"Jadi dia malah menolongmu? Kalau dia menyelamatkanmu dengan mengobati lukamu, mengapa kau menghantamnya sampai.... mungkin dia mati?"

Wajah Swi Hwa menjadi merah dan dia menunduk.

"Habis.... habis dia.... meraba dadaku dan aku malu karena rahasiaku terbuka. Tadinya dia dan mereka semua mengira aku seorang pemuda sejati Suhu, aku selalu menyamar. Ketika aku melihat dia meraba dadaku, di balik baju, tentu saja aku merasa malu dan marah karena rahasiaku terbuka dan aku lalu memukulnya, kemudian aku melarikan diri, dan pulang ke sini. Kakek itu menggaruk-garuk belakang telinganya yang tidak gatal.

"Ah, aku menjadi bingung, Swi Hwa. Sebentar aku marah, sebentar aku khawatir, dan kemudian aku terheran dan bingung lagi. Jadi pemuda yang mengobatimu dan juga yang berani meraba dadamu itu adalah murid Sai-cu Kai-ong?"

"Benar, Suhu."

Kakek itu menarik napas panjang.

"Aaahhhhh.... kekuasaan Thian sungguh amat hebat dan luar biasa, penuh rahasia ajaib...."

"Maksud Suhu?"

"Swi Hwa, engkau adalah seorang gadis yang sudah cukup umur. Sudah menjadi kewajibanku sebagai guru dan ayah angkatmu untuk memikirkan perjodohanmu...."

"Ah, Suhu! Harap jangan bicara tentang itu!"

Swi Hwa berseru dan mukanya menjadi merah sekali.

Dia teringat kepada Siluman Kecil, pemuda yang amat dikagumi itu, akan tetapi hatinya kecewa dan tawar kembali melihat betapa Siluman Kecil sama sekali tidak memperhatikannya, bahkan memusuhinya!

"Swi Hwa, hanya ada tiga peristiwa dalam kehidupan manusia yang kuanggap penting, bahkan yang diakui kepentingannya oleh semua orang, menjadi pusat perhatian dan didatangi sanak keluarga dan handai-taulan.

Pertama adalah kelahiran, ke dua adalah pernikahan dan ke tiga kematian.

Usiamu sudah hampir sembilan belas tahun, sudah cukup untuk memikirkan tentang jodoh.

Dan setelah kau menceritakan tentang pemuda murid Sai-cu Kai-ong itu, hemmm....

timbul pikiranku untuk menyelidikinya lebih jauh dan melihat kalau-kalau dia berjodoh denganmu."

"Suhu....!"

"Swi Hwa, bagi seorang wanita terhormat dan bersusila, merupakan pantangan besar untuk membiarkan tubuhnya diraba oleh laki-laki, kecuali oleh suaminya tentu saja! Siapa berani merabanya berarti telah melakukan penghinaan dan hanya layak ditebus dengan nyawa. Oleh karena itu, pemuda bernama Siauw Hong yang telah meraba tubuhmu itu pun hanya mempunyai dua pilihan, pertama menjadi jodohmu atau ke dua dia harus dibunuh!"

"Tapi.... tapi.... dia telah menolongku, Suhu, dia telah mengobatiku."

"Nah, itulah sebabnya mengapa aku pun hendak menyelidiki dia. Aku pun lebih condong untuk menjodohkan dia denganmu, apalagi mengingat bahwa dia adalah murid seorang seperti Sai-cu Kai-ong yang biarpun berkepala besar dan berhati baja, namun kurasa tentu dapat memilih seorang murid yang baik."

"Akan tetapi, Suhu, aku belum....!"

"Ssshhhhh....!"

Gurunya memberi isyarat agar muridnya diam dan dia lalu meloncat ke luar dari kamar itu, diikuti oleh Swi Hwa yang juga mendengar suara ribut-ribut di luar rumah itu.

Ketika mereka tiba di luar rumah, mereka terkejut bukan main melihat para pelayan mereka telah menggeletak di sana-sini dalam keadaan tertotok, pingsan atau terluka!

Pelayan-pelayan mereka adalah orang-orang yang cukup lihai, akan tetapi bagaimana dalam waktu singkat saja mereka roboh semua?

Hek-sin Touw-ong yang baru muncul itu tiba-tiba meloncat ke samping ketika dia melihat bayangan orang berkelebat dan sinar hijau menyambarnya.

Dia mengelak dan memandang.

Ternyata yang menyerangnya adalah seorang wanita cantik yang pesolek, dari pakaiannya tersebar bau semerbak harum dan pedangnya yang bersinar hijau itu lihai sekali.

Segera dia mengenal wanita ini dan dia berseru marah.

"Mauw Siauw Mo-li, mau apa kau? Berani benar kau mengacau di tempatku?"

"Tek Hoat, cepat....!"

Mauw Siauw Mo-li sudah berseru dan tanpa mempedulikan pertanyaan Hek-sin Touw-ong, dia sudah menerjang lagi dan mengirim se-rangan-serangan kilat kepada lawannya.

Hek-sin Touw-ong adalah seorang yang berilmu tinggi, akan tetapi karena dia maklum bahwa adik seperguruan Hek-tiauw Lo-mo ini adalah seorang yang amat lihai maka dia tidak berani sembrono menyambut serangan pedang itu, melainkan mengelak lagi dan mulai membalas dengan tendangan kilat yang dapat dielakkan pula oleh wanita itu.

Sementara itu, Tek Hoat yang datang bersama Mauw Siauw Mo-li, sudah berkelebat ke sebelah dalam rumah.

Dia melihat bayangan merah berkelebat dan di dalam keadaan remang-remang itu dia mengira bahwa wanita itu adalah Syanti Dewi.

Bukan main girang rasa hatinya.

"Syanti Dewi....!"

Dia berseru dan meloncat menghampiri, hendak memeluk dara itu.

"Wuuuttttt.... wirrrrr....!"

Tek Hoat terkejut bukan main karena dara yang dikira Syanti Dewi itu mengelak dan cepat menghantamnya dengan tangan kiri yang mengandung hawa tajam dan kuat sekali.

Dia cepat meloncat ke belakang dan memandang.

Kiranya dara itu sama sekali bukanlah Syanti Dewi, sungguhpun harus diakuinya bahwa dara itu juga cantik jelita.

Dara itu adalah Ang-siocia atau Swi Hwa yang tentu saja menjadi marah sekali melihat pemuda ini datang-datang hendak memeluknya.

Dari tempat itu dia melihat suhunya telah bertanding melawan seorang wanita cantik yang mainkan pedang bersinar hijau secara hebat sekali, dan dia dapat melihat pula para pelayan suhunya telah rebah di sana-sini.

Tahulah dia bahwa ada orang-orang jahat menyerbu, maka dia lalu mencabut pedangnya dan menyerang Tek Hoat dengan sengit dan dahsyat.

Tek Hoat terkejut dan kagum juga menyaksikan kehebatan ilmu pedang gadis cantik ini, akan tetapi karena dia sudah tidak sabar lagi ingin cepat-cepat menemukan kembali Syanti Dewi yang disangkanya diculik oleh Hek-sin Touw-ong dan disembunyikan di gedung itu, cepat mengerahkan kepandaiannya, me-mapaki serangan Swi Hwa dengan dorongan tangan kirinya yang mengandung tenaga sakti Inti Bumi.

"Aihhh....!"

Swi Hwa menjerit, ketika tubuhnya dilanda angin dahsyat yang amat kuat dan membuat dia terjengkang, dan sebelum dia sempat bergerak, pundaknya telah ditotok secara luar biasa sekali dan dia menjadi lemas, tak dapat berdaya lagi seperti kehilangan tenaganya.

"Hayo katakan, di mana adanya Syanti Dewi?"

Tek Hoat menghardik. Akan tetapi gadis itu melotot kepadanya penuh kemarahan.

"Tidak tahu!"

Gadis itu menjawab dengan keras pula.

Dua bayangan berlari datang dan mereka itu adalah Ma Khong dan Ma Ti Lok.

Dua orang ini tadinya gentar sekali ketika mendatangi rumah gedung milik Hek-sin Touw-ong itu, akan tetapi setelah mereka melihat bagaimana dengan amat mudahnya Ang Tek Hoat dan Lauw Hong Kui merobohkan para penjaga atau pengawal itu, kemudian melihat Lauw Hong Kui sudah bertempur dengan hebat lawan Hek-sin Touw-ong sedangkan Tek Hoat dengan amat mudahnya merobohkan murid Raja Maling, hati mereka menjadi besar dan mereka lalu berlari memasuki gedung itu.

Melihat mereka, Tek Hoat lalu berkata.

"Hayo bantu aku mencari ke dalam gedung. Geledah semua kamar sampai kalian mendapatkan puteri yang disembunyikan itu!"

Setelah berkata demikian, dia sendiri sudah mendahului mereka lari memasuki gedung untuk mencari Syanti Dewi.

Banyak sudah kamar dimasukinya, akan tetapi dia tidak juga menemukan Syanti Dewi.

"Syanti Dewi....! Syanti....! Ini aku, Tek Hoat....!"

Dia berteriak-teriak akan tetapi tidak pernah ada jawaban.

Dia melihat pula dua orang Saudara Ma itu ikut mencari-cari, namun belum juga berhasil.

Tiba-tiba dia mendengar teriakan keras yang dikenalnya sebagai suara Hong Kui.

"Tek Hoat...., tolonggggg....!"

Cepat Tek Hoat berloncatan dan lari ke luar.

Ternyata Hong Kui terdesak hebat oleh kakek bermuka hitam yang benar-benar amat lihai itu.

Bahkan pedang wanita itu telah terlempar ke atas lantai dan kini Hong Kui terdesak mundur, setiap pukulan tangan kakek itu mengeluarkan bunyi mencicit nyaring dan biarpun Hong Kui sudah mengelak ke sana-sini dengan cepat, namun tetap saja lengan kiri dan pundak kanannya kese-rempet pukulan sakti itu sampai berdarah seperti terluka oleh pedang tajam.

Itulah pukulan Kiam-to Sin-ciang yang mujijat!

"Wuuuttttt....!"

Tek Hoat sudah menghantam ketika dia tiba di tempat itu.

Melihat ada sambaran angin dahsyat dari samping, kakek itu meninggalkan Hong Kui dan menyambut pukulan itu dengan tangkisan lengannya sambil dikerahkannya tenaga Kiam-to Sin-ciang yang membuat kedua lengannya kuat dan mengandung hawa tajam seperti pedang atau golok itu.

"Plakkk!"

Benturan dua tenaga mujijat yang amat hebat itu membuat kakek itu terpelanting, akan tetapi Tek Hoat kaget melihat kulit lengannya lecet berdarah!

"Ahhh....!"

Hek-sin Touw-ong terkejut setengah mati.

Baru satu kali ini dia bertemu dengan seorang pemuda yang bukan hanya dapat menghadapi tenaga Kiam-to Sin-ciang tanpa membuat lengannya terluka hebat, akan tetapi juga mampu membuat dia terpelanting dan hampir roboh!

Dengan marah dia lalu menerjang dan terjadilah perkelahian hebat antara Tek Hoat dan kakek muka hitam itu.

Hong Kui yang tadi terdesak hebat, kini sudah mengambil kembali pedangnya dan dengan marah dia mengeroyok kakek itu untuk menebus kekalahannya dan membalas luka-luka yang dideritanya di lengan dan pundak.

Kakek itu kini sudah kewalahan dan bingung menahan serangan yang mengandung tenaga Inti Bumi yang dahsyat itu apalagi ketika Tek Hoat mempergunakan Ilmu Toat-beng-ci, melakukan totokan-totokan dengan satu jari, dia terkejut bukan main dan teringat akan nama seorang muda yang menggemparkan dunia kang-ouw.

"Si Jari Maut....!"

Teriaknya.

Akan tetapi pada saat itu, pedang bersinar hijau di tangan Hong Kui sudah menyambar ganas ke arah lehernya.

Cepat dia menghindarkan diri dengan mengelak dan merendahkan tubuhnya, akan tetapi karena pada saat itu Tek Hoat juga sudah menyerangnya, maka sebuah totokan mengenai punggungnya dan kakek itu mengeluh roboh terguling dalam keadaan tidak mampu bergerak lagi.

Kalau orang lain yang terkena totokan Tek Hoat itu, tentu akan tewas seketika.

Namun kakek itu cukup tangguh sehingga dia tidak tewas, hanya tertotok dan lumpuh.

"Hek-sin Touw-ong, hayo katakan di mana adanya Syanti Dewi!"

Tek Hoat mengancam dengan jari tangan di atas ubun-ubun kepala kakek itu.

Hek-sin Touw-ong adalah seorang yang keras hati dan tidak takut mati.

Dirobohkan oleh pemuda itu sudah merupakan hal yang amat memalukan, maka dia menjawab dengan jengkel.

"Mau bunuh, lekas bunuh, tidak perlu banyak cakap!"

"Aku tidak akan membunuhmu, aku mencari Syanti Dewi. Kau tidak berhak menculiknya dan menyembunyikannya. Hayo katakan, di mana Syanti Dewi? Di mana?"

Tek Hoat berteriak-teriak seperti orang gila.

"Aku tidak tahu!"

Jawab kakek itu dan membuang muka dengan gerakan lemah karena kedua kaki tangannya lumpuh.

Tek Hoat bangkit berdiri dan menarik napas panjang, memandang kepada Hong Kui.

"Aku tidak melihat Syanti Dewi di dalam,"

Katanya dengan hati kecewa bukan main.

"Hemmm, biarpun tidak ada Syanti Dewi, akan tetapi di dalam rumah maling ini tentu banyak barang berharga. Sebaliknya kubunuh saja dia!"

Hong Kui menggerakkan pedangnya membacok ke arah leher Hek-sin Touw-ong. Kakek itu membelalakkan mata, menanti datangnya maut dengan mata terbuka.

"Wuuuttttt.... tranggggg....!"

"Eh, Tek Hoat, mengapa kau?"

Hong Kui meringis dan memegangi pergelangan tangan kanannya yang terasa nyeri karena tadi terpukul oleh pemuda itu sehingga pedangnya terlempar dan berkerontangan di atas lantai.

"Kau tidak boleh sembarangan membunuh, tidak boleh selagi aku di sini!"

Bentak Tek Hoat yang merasa mendongkol sekali karena ternyata petunjuk dari wanita itu tidak menghasilkan dia menemukan kembali Syanti Dewi.

Dia merasa tertipu.

Pada saat itu, terdengar jerit wanita dari dalam.

Mendengar ini, Tek Hoat cepat berlari masuk diikuti oleh Hong Kui yang sudah menyambar kembali pedangnya.

Jantung pemuda itu berdebar tegang karena dia mengira bahwa itu adalah suara jeritan Syanti Dewi.

Akan tetapi betapa kaget dan kecewanya, juga marah sekali, ketika dia tiba di tempat di mana dia tadi meninggalkan Swi Hwa yang roboh tertotok, dia melihat Ma Khong dan Ma Ti Lok sedang hendak menggagahi dara itu dan mereka telah merobek pakaiannya sehingga gadis itu tadi menjerit.

Terasa pening kepala Tek Hoat saking marahnya.

"Bedebah....!"

Dia berseru dan tubuhnya meluncur ke depan.

Dua kali jari tangannya bergerak dan dua tubuh Ma Khong dan Ma Ti Lok terpelanting, berkelojotan dan tewas seketika dengan dahi mereka ada tanda jari hitam!

"Tek Hoat, kau terlalu!"

Hong Kui membentak marah.

"Kau membunuh teman sendiri!"

"Mereka layak mampus! Engkau juga!"

Tek Hoat menghardik dan memandang marah.

"Keparat kau, manusia tidak mengenal budi!"

Hong Kui tak dapat menahan kemarahannya dan dia menyerang dengan pedangnya.

Akan tetapi, dengan cepat Tek Hoat mengelak dan mendorong dengan tangan kirinya.

Angin kuat menyambar dan Hong Kui terhuyung ke belakang.

Wanita ini makin marah dan meloncat keluar dari dalam rumah.

"Keluarlah kau kalau jantan!"

Tantangnya.

Tek Hoat yang kecewa dan marah itu meloncat mengejar.

Ketika tiba di luar, Hong Kui menggerakkan tangannya dan sebuah benda hitam menyambar ke arah Tek Hoat.

Pemuda ini maklum bahwa itulah senjata rahasia yang paling ampuh dari Mauw Siauw Mo-li.

Lawan yang kurang hati-hati dan berani menangkis senjata rahasia ini, tentu akan celaka, setidaknya tentu akan terluka.

Maka dia mengelak dan membiarkan benda itu lewat.

"Darrr....!"

Benda itu meledak ketika terbanting ke atas lantai dan dinding di dekatnya jebol.

Dua kali lagi Mauw Siauw Mo-li menyambitkan senjata-senjata rahasia peledaknya, namun semua dielakkan oleh Tek Hoat dan pemuda ini secepat kilat telah mengirim serangan dengan hantaman kedua tangannya dengan menggunakan tenaga dahsyat Inti Bumi.

Mauw Siauw Mo-li berusaha mengelak, namun tetap saja dia terhuyung dan sebelum dia dapat menyelamatkan dirinya, sebuah tendangan kaki Tek Hoat mengenai pinggulnya.

"Bukkk! Aughhh!"

Wanita itu menjerit dan tubuhnya terbanting ke atas lantai. Dia bangkit dan menggosok-gosok bukit pinggulnya yang terasa nyeri.

"Kau kejam sekali, Tek Hoat. Kubunuh kau kalau aku mendapat kesempatan!"

Teriaknya marah.

"Mo-li, kalau aku tidak ingat bahwa engkau telah membantuku selama ini, jangan harap kau dapat pergi dari sini dengan masih bernyawa. Sekarang, pergilah dan jangan berani memperlihatkan mukamu yang tak tahu malu itu kepadaku lagi!"

Tek Hoat berkata.

"Uhhh....!"

"Bedebah, manusia sombong kau!"

Mauw Siauw Mo-li memaki, memandang dengan mata mendelik, akan tetapi dia tidak berani bergerak menyerang, akhirnya dia membalikkan tubuhnya dan lari sambil berteriak melengking nyaring, makin lama suaranya makin jauh sampai hanya terdengar seperti suara kucing terpijak ekornya.

Semua ini terlihat oleh Hek-sin Touw-ong.

Dia melihat pula betapa Tek Hoat lari menghampiri muridnya, menotok membebaskan gadis itu, kemudian Tek Hoat menghampiri dia dan membebaskan pula totokannya.

Hek-sin Touw-ong bangkit berdiri, mengurut kedua lengannya yang terasa kaku, kemudian dia memandang kepada pemuda itu dengan penuh keheranan.

"Kau.... kau Si Jari Maut?"

Tanyanya. Tek Hoat mengangguk.

"Maafkan kalau aku telah mengganggumu, Touw-ong. Akan tetapi, tadinya aku mengira bahwa engkau telah menculik Puteri Bhutan."

"Puteri Bhutan?"

Kakek itu berkata dan mengerutkan alisnya.

"Sungguh aneh, betapa banyak orang mencari Puteri Bhutan!"

"Apa maksudmu....?"

"Swi Hwa, jangan!"

Tiba-tiba kakek itu berteriak dan dengan tenang Tek Hoat miringkan tubuhnya, membiarkan pedang yang ditusukkan oleh Swi Hwa itu lewat di samping tubuhnya, kemudian dia menggunakan jari tangannya membabat ke bawah.

"Trakkk!"

Pedang itu patah dan Swi Hwa menjerit karena tangannya terasa nyeri dan gagang pedang itu terlepas.

"Swi Hwa, jangan sembrono kau!"

Kembali Touw-ong membentak dan gadis itu meloncat ke samping gurunya sambil memegangi tangan kanannya dan memandang kepada Tek Hoat dengan mata berapi dan penuh kemarahan.

"Hek-sin Touw-ong, apa maksudmu mengatakan bahwa banyak orang mencari Puteri Bhutan?"

"Baru-baru ini, See-thian Hoat-su kakek ajaib penghuni Gua Tengkorak juga datang ke sini dan menanyakan apakah aku melihat Puteri Bhutan dilarikan orang. Ketika aku mengatakan bahwa aku tidak melihatnya, dia lalu pergi. Dan sekarang, engkau dan Mauw Siauw Mo-li datang mencari Puteri Bhutan pula."

Hati Tek Hoat kecewa sekali.

"Aku telah dibohongi oleh wanita jalang itu. Jadi engkau benar tidak pernah melihat puteri itu, Touw-ong?"

"Guruku sudah bilang tidak melihatnya, mengapa banyak cerewet lagi?"

Tek Hoat menarik napas panjang.

Dia maklum mengapa gadis ini marah-marah, karena betapapun juga, dua orang Saudara Ma itu tadinya datang bersama dia sebagai kawan-kawannya.

"Sudahlah, maafkan aku kalau kalian tidak tahu!"

Berkata demikian, sekali berkelebat Tek Hoat sudah lenyap dari depan mereka.

"Jahat dia....!"

Swi Hwa berkata.

"Sssttt....!"

Gurunya memegang tangan muridnya agar jangan bergerak. Kemudian dia menoleh kepada mayat dua orang she Ma itu, menggeleng kepala dan berkata.

"Sungguh hebat sekali kepandaian Si Jari Maut. Pantas saja dia terkenal sekali, kiranya memang dia amat hebat. Entah tenaga apa yang dia pergunakan tadi sehingga aku sendiri kewalahan menghadapinya. Sayang ada wanita iblis tadi yang ikut membantu, kalau tidak, aku ingin sekali bertanding dengan pemuda hebat itu."

"Siapa sih Puteri Bhutan yang dicarinya itu, Suhu?"

"Entah. Ah, sungguh aneh sekali peristiwa ini, Swi Hwa. Engkau mencuri barang-barang dari tiga orang sakti, akan tetapi yang datang bukannya Jenderal Kao, Siluman Kecil atau Sin-siauw Sengjin, melainkan Si Jari Maut dan Mauw Siauw Mo-li! Untung masih baik kesudahannya. Ah, peristiwa ini makin mendorong hatiku untuk cepat-cepat menjurnpai Saicu Kai-ong...."

Kakek itu lalu menolong para anak buahnya yang tertotok, pingsan dan ada yang terluka.

Kemudian rnereka mengurus mayat dua orang penyerbu itu.

Beberapa hari kemudian, Hek-sin Touw-ong bersiap-siap untuk menghubungi Sai-cu Kai-ong, tokoh yang sebetulnya telah lama menjadi sahabatnya, akan tetapi yang selama belasan tahun ini tidak pernah lagi berhubungan dengan dia.

Kita kembali melihat keadaan di lembah Huang-ho, di markas besar perkumpulan Kui-liong-pang yang kini dipergunakan oleh Pangeran Liong Bian Cu sebagai benteng.

Telah diceritakan di bagian depan betapa Jenderal Kao Liang sendiri telah berada di dalam cengkeraman Pangeran Liong Bian Cu, membuat jenderal gagah perkasa itu tidak berdaya karena seluruh keluarganya berada di dalam tangan Pangeran Nepal itu.

Apalagi ketika jenderal ini melihat betapa Puteri Bhutan, anak angkatnya, juga menjadi tawanan di tempat itu.

Terpaksa dia bekerja sungguh-sungguh dan membangun tempat itu menjadi sebuah benteng yang amat kuat.

Dia sudah berjanji dan sebagai seorang gagah dia akan memegang janjinya, yaitu membuat tempat itu menjadi benteng yang tidak akan dapat dibobolkan musuh dan dia sendiri yang akan mengatur penjagaan mempertahankan benteng itu di saat yang perlu!

Ketika benteng itu masih belum selesai benar dibangun di bawah pimpinan Jenderal Kao, tempat itu telah mengalami serangan dan telah membuktikan kehebatan Jenderal Kao dalam mempertahankan tempat itu.

Serangan ini datang di waktu malam hari, terdiri dari lima puluh orang yang dipimpin tiga orang kakek yang amat lihai.

Peristiwa itu terjadi di malam terang bulan dan biarpun benteng itu belum selesai dibangun, namun tali-tali rahasia yang dipasang oleh Jenderal Kao telah menyembunyikan genta memberi tahu bahwa ada serombongan orang datang dari utara menuju ke lembah itu!

Tali-tali rahasia itu menjadi satu dengan akar-akar dan rantingranting pohon sehingga ketika dilanggar oleh rombongan orang itu, Menggerakkan genta di dalam benteng dan segera para penjaga bersiap dan melakukan penjagaan ketat, diatur sendiri oleh Jenderal Kao Liang yang sudah melatih anak buah Kui-liong-pang dan anak buah Pangeran Nepal itu menjadi pasukan yang tangkas dan hebat!

Semua ini ditonton dengan kagum oleh Liong Bian Cu, Hek-hwa Lo-kwi, Hek-tiauw Lo-mo, Gitananda, dan Ban hwa Seng-jin yang lebih banyak tinggal di dalam gedung, bersikap tenang akan tetapi dia selalu menerima laporan dari Gitananda akan segala yang terjadi di luar kamarnya.

Siapakah para penyerbu itu?

Mereka ini bukan lain adalah para anggauta Liong-sim-pang yang dipimpin sendiri oleh Hwa-i-kongcu Tang Hun, dibantu oleh tiga orang kakek lihai, yaitu Hak Im Cu, Ban-kin-swi Kwan Ok, dan Hai-liong-ong Ciok Gu To.

Seperti kita ketahui Hwa-i-kongcu Tang Hun merasa amat kecewa, penasaran dan marah sekali ketika Syanti Dewi yang akan menjadi isterinya itu tiba-tiba lenyap di tengah-tengah pesta pernikahannya!

Dia merasa kecewa karena kehilangan calon isteri yang cantik jelita, akan tetapi yang lebih menyakitkan hatinya lagi, dia merasa malu.

Dia telah mengundang banyak tamu, di antaranya banyak tokoh-tokoh kang-ouw dan banyak pembesar penting, dan ditengah pesta itu, pengantin wanitanya diculik orang begitu saja!

Hal ini merupakan tamparan hebat bagi mukanya, kehormatannya, dan dia tidak akan berhenti sebelum bisa mendapatkan kembali pengantinnya.

Oleh karena itu, dia mengerahkan seluruh anak buah Liong sim-pang untuk melakukan penyelidikan dan pencarian.

Bahkan dia mengandalkan harta bendanya yang besar untuk disebarkan di antara orang-orang kang-ouw agar mereka suka membantunya dan tidak lupa dia menjanjikan hadiah yang akan dapat membuat orang mendadak menjadi kaya raya kalau bisa menemukan jejak puteri itu!

Karena usahanya yang mati-matian ini, maka boleh dibilang semua orang kang-ouw tahu belaka bahwa Hwa-ikongcu Tang Hun menjanjikan hadiah besar itu, maka semua orang memasang mata dan telinga untuk ikut mencari.

Akan tetapi, ketika Syanti Dewi berada bersama See-thian Hoat-su, kemudian terampas oleh Gitananda dan disembunyikan di tempat rahasia, tidak ada seorang pun yang mengetahuinya sehingga sia-sia saja Tang Hun mencari dan mengerahkan banyak orang.

Setelah puteri itu oleh Gitananda dibawa ke lembah Huang-ho dan puteri itu kelihatan oleh semua anggauta Kui-liong-pang dan para anak buah Hek-tiauw Lo-mo dan Pangeran Nepal, Ada saja yang membocorkan berita ini sehingga akhirnya sampai juga ke telinga Hwa-i-kongcu Tang Hun.

Tentu saja Tang Hun menjadi marah sekali dan juga girang karena akhirnya dia tahu di mana adanya pengantin-nya itu.

Mendengar bahwa Puteri Bhutan itu ditawan oleh perkumpulan Kui-liong-pang, dia lalu mengumpulkan semua anak buahnya, dibantu oleh tiga orang kakek lihai itu dia memimpin sendiri pasukannya menuju ke lembah Huang-ho dan malam itu dia menyerbu Kui-liong-pang.

Sama sekali dia tidak tahu bahwa tempat itu kini sedang dibangun sebagai benteng yang kokoh kuat oleh bekas panglima besar Jenderal Kao, dan lebih lagi dia tidak menyangka bahwa kedatangan mereka telah diketahui dan Jenderal Kao yang merupakan seorang ahli perang amat pandai itu telah mempersiap-kan sambutan hangat atas penyerbuannya!

Dengan hati-hati tiga orang kakek lihai yang membantu Tang Hun itu memimpin pasukan memasuki lembah dari utara.

Hak Im Cu, kakek tosu, seorang di antara tiga pembantu itu, bertugas sebagai penunjuk jalan karena tosu ini pernah datang mengunjungi lembah ketika di situ diadakan pertemuan antara orang-orang kang-ouw.

Tentu saja Hak Im Cu tidak dapat mengambil jalan rahasia, seperti ketika dia mengunjungi tempat itu dahulu melainkan mengambil jalan liar yang telah diperhitungkan sebagai jalan paling aman untuk menyerbu lembah itu.

Satu-satunya halangan adalah sungai yang mengurung lembah itu, sungai yang terjadi ketika .lembah itu dibanjiri air ketika diadakan pertemuan dahulu.

Akan tetapi mereka telah siap dengan alat-alat untuk berenang dan menyeberang.

Ketika mereka tiba di tepi sungai, giranglah hati mereka bahwa di situ tidak terdapat penjagaan sehingga mereka dapat menyeberang dengan mudah, menggunakan perahu-perahu darurat.

Dan betapa girang hati mereka ketika melihat bahwa pagar tembok di seberang sungai itu ternyata masih baru dibangun dan belum selesai sehingga tempat itu terbuka.

Yang lebih menggirangkan lagi, tidak ada penjagaan di situ sehingga setelah bersembunyi dan mengintai sampai lama, kemudian yakin bahwa tempat itu sunyi tidak ada penjaga, mereka lalu bergerak merayap dan memasuki daerah lembah.

Atas pimpinan Tang Hun sendiri, mereka lalu berindap-indap dan memecah diri menjadi kelompok-kelompok terpisah menghampiri rumah besar yang mereka kira tentu menjadi bangunan pusat di mana berdiam ketua Kui-liong-pang dan di mana puteri itu dikeram!

Tang Hun telah mendengar bahwa ketua Kui-liong-pang adalah seorang kakek sakti berjuluk Hek-hwa Lo-kwi, yang kabarnya memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat.

Akan tetapi, dengan adanya tiga orang kakek sakti yang membantunya, tentu saja dia tidak merasa takut.

Apalagi setelah kini dia bersama pasukannya mampu mengepung rumah besar itu, mempersiapkan anak panah dan api yang mereka nyalakan secara serentak, merupakan obor-obor yang bernyala terang dan menerangi seluruh tempat itu, Tang Hun merasa yakin bahwa dia akan dapat memaksa tuan rumah mengembalikan pengantinnya.

Dengan sikap garang dia berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang, diapit oleh tiga orang kakek dan para pengawalnya, menghadap ke pintu depan dari rumah besar itu lalu berteriak lantang.

"Hek-hwa Lo-kwi, ketua Kui-liong-pang! Keluarlah dan mari kita bicara!"

Di antara cahaya obor yang amat banyak dan amat terang, semua mata ditujukan ke arah daun pintu besar itu dan tiba-tiba daun pintu terbuka dari dalam.

Muncullah beberapa orang dari sebelah dalam pintu itu dan Tang Hun memandang dengan terheran-heran ketika melihat bahwa yang memimpin rombongan orang itu adalah seorang kakek botak berjubah merah yang bersikap penuh wibawa, berpakaian indah dan sikapnya seperti seorang bangsawan tinggi.

Di kanan kiri kakek botak ini berjalan dua orang kakek lain yang keadaannya mengerikan dan menyeramkan.

Yang di kiri adalah kakek tinggi kurus bermuka tengkorak yang dia duga tentulah Hek-hwa Lo-kwi karena dia sudah mendengar akan kakek yang berpakaian serba hitam, mukanya yang seperti tengkorak itu putih seperti kapur.

Sedangkan yang berada di sebelah kanan kakek botak itu adalah seorang kakek raksasa yang amat buas kelihatanpya.

Dia tidak tahu bahwa itulah Hek-tiauw Lo-mo.

Akan tetapi dia segera mengenal kakek berkulit hitam, bersorban dan jenggotnya panjang sampai ke perut, memegang sebatang tongkat itu.

Itulah Gitananda, kakek Nepal yang dulu hadir pula di dalam pesta pernikahannya.

Gitananda berjalan di belakang kakek botak itu!

Akan tetapi, Tang Hun tidak mempedulikan mereka semua itu dan dia hanya memandang kepada Hek-hwa Lo-kwi dan sambil mengangkat dada dia berkata.

"Hek-hwa Lo-kwi, karena engkau adalah ketua dari tempat ini...."

"Hwa-i-kongcu, biarpun aku adalah ketua dari Kui-liong-pang, akan tetapi pada saat ini yang memimpin kami adalah Ban-hwa Seng-jin, koksu dari Nepal ini, yang mewakili Pangeran Liong Bian Cu. Kau boleh bicara dengan beliau!"

Kata Hek-hwa Lo-kwi sambil menunjuk ke arah kakek berkepala botak yang bersikap dingin dan tenang itu.

Tang Hun mengerutkan alisnya, merasa bahwa belum apa-apa dia sudah keliru dan salah duga.

Akan tetapi mendengar itu, tentu saja perhatiannya kini beralih kepada kakek botak yang kini juga bertanya kepadanya, suaranya tenang dan jelas biarpun masih ada nada asing.

"Jadi engkau adalah Hwa-i-kongcu Tang Hun ketua dari Liong-sim-pang di puncak Naga Api di Pegunungan Lu-liang-san? Selamat datang, Tang-kongcu, ada keperluan apakah engkau datang bersama pasukanmu di waktu malam begini tanpa memberi tahu lebih dulu kepada kami?"

Tang Hun merasa serba salah.

Kiranya kakek ini adalah koksu dari Nepal!

Nama ini mulai terkenal akhir-akhir ini, bahkan ketika dia mengadakan pesta pernikahan, dia mengirim undangan kepada koksu itu yang berada di gubernuran Ho-nan, dan koksu itu diwakili oleh kakek Gitananda.

Juga ketika mendengar bahwa kakek ini adalah Ban-hwa Seng-jin koksu dari Nepal, tiga orang kakek yang mengiringkan Hwa-i-kongcu menjadi kaget bukan main.

Akan tetapi, karena sudah terlanjur menyerbu dan kini sudah mengurung rumah itu, Hwa-i-kongcu Tang Hun yang ingin merampas kembali pengantinnya, tetap bersikap angkuh dan tidak mau kalah wibawa.

Dia menjura dengan sikap hormat.

"Ah, kiranya Ban-hwa Seng-jin koksu dari Nepal yang memimpin tempat ini? Sungguh kebetulan sekali! Seng-jin tentu telah mengetahui akan peristiwa yang terjadi di tempat tinggal saya pada waktu pesta pernikahan saya, karena kalau tidak salah, wakil Seng-jin yang sekarang juga berdiri di belakang Seng-jin, yaitu Kakek Gitananda, pada waktu itu juga hadir. Terjadilah keributan pada waktu itu dan pengantin wanita diculik orang."

"Hemmm, kami sudah mendengar akan hal itu. Lalu mengapa?"

Tanya koksu itu dengan sikap tidak acuh.

Sikap itu membuat Tang Hun merasa tidak enak.

Kalau koksu ini sudah tahu, tentu tahu pula bahwa dia datang untuk menuntut dikembalikannya Syanti Dewi, akan tetapi koksu itu pura-pura tidak tahu saja!

"Maaf, Ban-hwa Seng-jin,"

Katanya dan keangkuhannya mulai menurun karena dia benar-benar merasa gentar menghadapi koksu yang berwibawa ini dan tempat itu terlalu sunyi sehingga mencurigakan.

"Karena saya mendengar bahwa pengantin saya berada di lembah ini, maka saya datang bersama teman-teman saya untuk menjemput calon isteri saya itu. Harap saja Seng-jin mengingat persahabatan antara kita dan suka menyerahkan pengantin saya kepada saya."

Ban-hwa Seng-jin mengangkat mukanya, sikapnya makin angkuh dan dia berkata dengan suara yang nadanya menantang.

"Memang Puteri Bhutan berada di sini dan kami tidak bersedia menyerahkan dia kepadamu, Tang-kongcu. Sebaiknya Kongcu membawa pasukan Kongcu pergi dari tempat ini!"

Tang Hun mengerutkan alisnya.

Jantungnya berdebar tegang.

Kiranya benar pengantinnya berada di tempat ini!

Hatinya girang akan tetapi juga tegang karena sikap Koksu Nepal ini agaknya hendak menentangnya!

"Ban-hwa Seng-jin!

Puteri itu adalah calon isteri saya, pengantin saya.

Sudah sepatutnya kalau dikembalikan kepada saya!"

"Kami tidak bersedia menyerahkan beliau kepadamu. Habis engkau mau apa?"

Inilah tantangan!

Hwa-i-kongcu yang mengandalkan bantuan tiga orang kakek sakti dan anak buahnya, tentu saja mulai menjadi marah.

Biarpun kakek botak ini adalah Koksu Nepal yang kabarnya lihai dan berkuasa, akan tetapi pada saat itu dialah yang berada dalam kedudukan menang.

Tempat itu telah dikurungnya!

Dan dia pun masih mengandalkan gurunya yang biarpun tidak ikut di dalam pasukan itu, namun secara aneh dan diam-diam, gurunya tentu melindunginya pula!

"Ban-hwa Seng-jin, harap suka memikirkan baik-baik.

Ketahuilah bahwa kalian semua telah terkepung.

Lihat betapa pasukan kami telah siap dengan anak panah dan api, sekali saja saya memberi aba-aba, rumah ini akan dibakar dan kalian semua akan dihujani anak panah.

Saya tidak menghendaki hal itu terjadi, maka sebaiknya supaya puteri itu cepat diserahkan kepada kami dan kami akan pergi sekarang juga."' "Benarkah itu?

Apakah bukan engkau dan pasukanmu yarig sudah berada dalam kepungan kami?

Tang-kongcu, tengoklah di belakang kalian dan di atas."

Kakek botak itu berkata sambil menudingkan jari telunjuknya ke belakang pasukan Tang Hun dan ke atas genteng rumah dan pohon-pohon.

Hwa-i-kongcu Tang Hun cepat menengok, demikian pula tiga orang kakek pembantunya dan mereka terkejut bukan main.

Ternyata di belakang mereka ter-dapat pasukan yang lengkap dengan anak panah yang sudah ditodongkan ke arah mereka, dan selain pasukan itu, juga kini muncul banyak orang-orang di atas genteng dan di pohon-pohon sekitar tempat itu, semua mementang gendewa dan menodongkan anak panah ke arah mereka.

Karena mereka membawa obor, maka mereka merupakan sasaran empuk sekali sedangkan fihak musuh yang bersembunyi itu memang amat sukar diserang!

Wajah Hwa-i-kongcu menjadi pucat sekali.

"Bagaimana, Hwa-i-kongcu? Apakah masih akan dilanjutkan persiapan pertempuran ini? Kalau kami memberi aba-aba, sekali serbu saja akan habislah anak buahmu. Apakah tidak lebih baik kalau kita bicara sebagai sahabat?"

Hwa-i-kongcu memandang kepada tiga orang kakek pembantunya.

Mereka pun kelihatan gentar sekali, maka tahulah pemuda ini bahwa dia benar-benar telah kalah sebelum perang!

"Sudahlah, mari kita bicara sebagai sahabat, Seng-jin!"

Mendengar ini, Hek-hwa Lo-kwi tertawa bergelak, dan Ban-hwa Seng-jin berkata ke arah tempat gelap.

"Kaogoanswe, fihak lawan telah menjadi kawan, sebaiknya tarik mundur pasukanmu!"

Dari tempat gelap itu muncul seorang laki-laki tua yang tinggi tegap dan gagah sekali.

Dengan gerakan yang gagah dia mengangkat sebatang pedang ke atas dan tanpa bersuara, lenyaplah pasukan yang mengepung tempat itu tadi, juga mereka yang muncul di atas genteng dan di pohon-pohon juga lenyap dalam gelap.

Diam-diam Hwa-i-kongcu terkejut bukan main.

Kiranya fihak musuh sudah siap sedia dan dia bersama pasukannya benar-benar terjebak.

"Hwa-i-kongcu, kalau benar-benar kau datang sebagai sahabat, harap perintahkan anak buahmu untuk melemparkan senjata mereka,"

Kata Ban-hwa Sengjin.

Hwa-i-kongcu Tang Hun tidak melihat jalan lain.

Melawan berarti bunuh diri, karena mereka telah dikurung.

Maka dia lalu mengangkat kedua tangan ke atas dan berseru lantang.

"Buang senjata kalian semua! Kita datang sebagai sahabat!"

Pasukannya tadi pun melihat bahwa merekalah yang terkepung, bukan mereka yang mengepung, maka mereka tadi sudah merasa gentar sekali.

Kini mendengar perintah majikan mereka, semua orang membuang gendewa dan anak panah, bahkan banyak pula yang melolos pedang dan golok lalu melemparkannya ke atas tanah.

Melihat ini, Ban-hwa Seng-jin mengangguk-angguk puas.

"Tang-kongcu, engkau sungguh dapat melihat gelagat. Tidak tahukah engkau bahwa engkau telah berada di tepi jurang maut? Engkau, belum mengenal tempat ini dan tidak mengetahui keadaan kami, maka berani memandang rendah. Ketahuilah bahwa pemimpin penjagaan benteng kami adalah Jenderal Kao Liang, bekas panglima besar kerajaan. Apakah kau belum mendengar nama besarnya?"

Tang Hun mengangguk-angguk, hampir tidak percaya.

Benarkah Jenderal Kao Liang kini berkerja sama dengan mereka ini?

"Engkau sudah melihatnya namun masih belum percaya.

Kaukira siapakah panglima yang menjebak dan mengurungmu tadi?

Marilah, mari kita bicara di ruangan tamu, dan kami akan memberi penjelasan agar engkau tahu bahwa bersahabat dengan kami akan menguntungkan fihakmu."

Lalu dia memandang.

"Suruh pasukanmu beristirahat dan bermalam di dalam rumah ini. Mereka akan menerima hidangan sekedarnya."

Dengan perasaan yang makin terheran-heran Hwa-i-kongcu mendapatkan kenyataan bahwa rumah besar yang di kurungnya itu adalah rumah kosong!

Sama sekali bukanlah bangunan induk, tempat tinggal para pimpinan tempat itu!

Melainkan rumah besar yang berada di depan.

Dengan mengiringkan rombongan tuan rumah, diterangi oleh obor-obor besar yang dipegang oleh barisan selosin orang, Hwa-i-kongcu dan tiga orang kakek pembantunya lalu meninggalkan pekarangan rumah besar itu setelah menyuruh semua anak buahnya menanti di situ.

Dan mereka kini masuk ke dalam lembah, melalui tembok yang tebal dan terjaga kuat, kemudian melewati pagar-pagar tembok lain dan baru setelah melewati tujuh lapis pagar tembok yang semua terjaga dan memiliki liku-liku yang aneh dan tidak mudah dilalui orang luar yang belum mengenal rahasia tempat itu, mereka tiba di pusat lembah itu.

Dan Tang Hun mengeluarkan seruan tertahan saking kagumnya.

Di tengah-tengah itu, barulah terdapat bangunan-bangunan seperti istana dan keadaan di situ terang benderang karena banyaknya lampu penerangan yang dipasang di seluruh tempat.

Melalui barisan penjaga yang kelihatan gagah dan bertubuh tegap, mereka memasuki ruangan depan sebuah rumah besar.

Seorang yang berpakaian perwira menyambut rombongan ini dan setelah memberi hormat kepada Ban-hwa Sengjin, dia berkata.

"Pangeran menanti rombongan di ruangan tamu!"

Ban-hwa Seng-jin menoleh kepada Tang Hun.

"Hemmm, pangeran berkenan menerima Kongcu, hal ini baik sekali! Silakan."

Makin terbelalak mata Hwa-i-kongcu Tang Hun ketika dia memasuki ruangan tamu.

Dia sendiri adalah seorang kaya raya dan rumahnya seperti istana.

Akan tetapi dibandingkan dengan keadaan rumah besar ini, dia merasa iri.

Mewah sekali keadaan di rumah ini dan ketika mereka memasuki sebuah ruangan yang besar, dia melihat seorang pemuda yang berpakaian indah telah duduk seorang diri di situ, di kepala sebuah meja besar.

Dia tidak mengenal pemuda itu, akan tetapi melihat kulitnya dan wajahnya, dia menduga bahwa pemuda itu tentu seorang peranakan Nepal.

Ketika dia melihat Ban-hwa Seng-jin memberi hormat dengan membungkuk, sedangkan Gitananda yang sejak tadi diam saja memberi hormat sambil berlutut, juga Hek-hwa Lo-kwi dan kakek raksasa yang lain itu semua memberi hormat, sedangkan para pengawal juga memberi hormat dengan berlutut sebelah kaki kemudian mundur dengan tertib, dia menduga bahwa tentu pemuda ini bukan orang sembarangan dan agaknya dialah yang disebut pangeran oleh perwira tadi.

Hak Im Cu, tosu tinggi kurus, seorang di antara tiga pembantunya yang menjadi penunjuk jalan ke lembah itu karena dia pernah mengunjungi lembah ini ketika di situ diadakan pertemuan, berbisik di belakangnya.

"Kongcu, beliau adalah Pangeran Liong Bian Cu, cucu Raja Nepal."

Ban-hwa Seng-jin mendengar bisikan itu, tersenyum dan berkata.

"Benar, hendaknya Cu-wi ketahui bahwa beliau adalah Pangeran Liong Bian Cu, cucu Sri Baginda Raja Nepal."

Mendengar ini, Hwa-i-kongcu Tang Hun dan tiga orang pembantunya cepat maju memberi hormat dengan menjura sampai dalam.

Pangeran Liong Bian Cu tersenyum ramah dan mengangguk lalu menggerakkan lengan kanannya mempersilakan.

"Duduklah, Tang-kongcu dan Sam-wi Lo-enghiong. Duduklah sebagai tamu terhormat dan mari kita bicara sebagai sahabat-sahabat!"

Tang Hun dan tiga orang pembantunya segera duduk.

Tiga orang pembantu Tang Hun itu bukanlah sembarang orang.

Mereka adalah orang-orang kang-ouw yang berilmu tinggi dan sudah mengalami banyak hal yang hebat.

Namun keadaan di ruangan itu membuat mereka kagum dan juga berhati-hati, karena belum pernah mereka menjadi tamu pangeran dan koksu dari negara Nepal yang serba asing.

Mereka memandang ke arah pangeran yang tampan namun aneh itu, dan kepada Ban-hwa Seng-jin yang duduk di sebelah kanan pangeran.

Gitananda yang matanya tajam seperti mata burung rajawali itu, dan amat cekung, berdiri di belakang Ban-hwa Seng-jin seperti pengawal dan memang sesungguhnya, Gitananda bertugas sebagai pembantu dan pengawal koksu itu.

Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi duduk di sebelah kiri Pangeran Liong Bian Cu, dan pada saat itu, dari luar datang seorang laki-laki tua yang melangkah lebar dengan gagah, setelah tiba di dekat meja, dia memberi hormat kepada Pangeran Liong dengan menjura dan menganggukkan kepala, pemberian hormat yang singkat dan tidak terlalu merendah, kemudian dia mengambil tempat duduk di kursi paling kiri, duduk diam seperti patung.

Itulah lenderal Kao Liang dan Hwa-i-kongcu melihat dengan pandang mata kagum akan tetapi juga terheran-heran.

Dia tentu saja sudah mendengar akan nama besar jenderal ini.

Seorang panglima sejati yang sejak (Lanjut ke

Jilid 32) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 32 turun-temurun amat setia kepada kerajaan, gagah perkasa dan pandai, telah menghancurkan entah berapa banyak pemberontakan.

Akan tetapi kini jenderal itu duduk semeja dengan seorang Pangeran Nepal dan agaknya bekerja kepada pangeran ini!

Sementara itu, Pangeran Liong Bian Cu yang sudah mendengar semua laporan tentang penyerbuan Tang Hun, kini sambil tersenyum memandangi empat orang tamunya satu demi satu.

Dia melihat Tang Hun sebagai seorang pemuda yang berwajah tampan, pesolek dan cerdik.

Pemuda ini usianya sudah tiga puluh tahun namun masih kelihatan amat muda, bajunya kembang-kembang indah, sepasang matanya tajam berpengaruh.

Rambut kepalanya terhias sebuah hiasan rambut seekor naga kecil dengan sepasang mata mutiara mencorong, juga di bajunya yang berkembang terhias mainan emas terukir berbentuk naga yang sama.

Di pinggangnya tergantung sebatang pedang yang gagangnya terukir indah, terhias emas dan permata, sarungnya ukir-ukiran burung hong dan liong, ronce-roncenya merah dari bulu halus.

Seorang kongcu yang hebat, pikir pangeran ini.

Kalau saja kepandaiannya sehebat keadaan lahiriahnya, dia dapat menjadi pembantu yang baik, pikirnya pula.

Lalu dia melayangkan pandang matanya kepada tiga orang pembantu kongcu itu.

Tosu itu usianya kurang lebih enam puluh tahun.

Wajahnya bengis tubuhnya tinggi kurus, pakaiannya sederhana dan pedangnya tergantung di punggung, gagangnya menonjol di belakang pundak kanan.

Kelihatannya sederhana saja, akan tetapi melihat sinar matanya dan gerak-gerik tubuhnya yang amat ringan, dapat diduga bahwa tosu ini tentu pandai sekali ilmu silatnya.

Dugaan itu memang benar karena Hak Im Cu, tosu itu, memiliki kepandaian tinggi, terutama sekali ginkangnya yang membuat dia dapat bergerak seperti terbang saking ringan dan cepatnya.

Orang ke dua adalah seorang kakek yang usianya juga sudah enam puluhan tahun, tinggi besar dengan muka kehitaman.

Gerak-geriknya kasar namun tubuhnya membayangkan tenaga yang amat kuat, dan memang Ban-kin-kwi Kwan Ok ini, sesuai dengan julukannya, yaitu Setan Bertenaga Selaksa Kati, adalah seorang yang amat kuat dan mempunyai tenaga gajah.

Dia pun seperti Hak Im Cu, menjadi pembantu Hwa-i-kongcu karena dia dapat bergelimang dalam kemewahaan dan kekayaan.

Adapun pembantu ke tiga adalah seorang kakek gundul pendek gemuk akan tetapi melihat pakaiannya, biarpun kepalanya gundul, dia bukanlah seorang hwesio.

Kepalanya itu gundul karena penyakit kulit kepala, bukan digundul.

Kakek yang usianya juga sudah enam puluh tahun lebih ini juga bukan orang sembarangan, melainkan seorang yang ahli dalam ilmu bermain di air, dan selain itu, juga dia memiliki sinkang yang kuat, seorang ahli lweekeh yang tangguh.

Setelah puas memandangi empat orang tamunya, sementara itu pelayan datang menyuguhkan arak dan kue-kue.

Atas isyarat Pangeran Nepal itu, seorang pelayan segera maju dan dengan sikap menghormat pelayan ini lalu menuangkan arak di dalam cawan-cawan di depan rombongan tuan rumah dan empat orang tamu itu.

"Silakan minum Tang-kongcu dan para Lo-enghiong!"

Kata Liong Bian Cu sambil mengangkat cawannya, diikuti oleh Koksu Nepal, Hek-tiauw Lo-mo, Hek-hwa Lo-kwi dan Jenderal Kao Liang.

Gitananda tidak pernah minum arak, pula dia adalah seorang pengawal pribadi koksu, maka dia tentu saja tidak ikut berpesta melainkan berdiri di belakang koksu itu dengan tenang dan sikap penuh kewaspadaan.

Setelah para tamunya minum arak, Pangeran Nepal itu lalu memandang kepada Hwa-i-kongcu dan bertanya.

"Sekarang, harap Tang-kongcu suka mengatakan kepada kami dengan terus terang akan maksud kunjungan Kongcu yang amat mendadak ini."

Hwa-i-kongcu Tang Hun memandang kepada pangeran itu.

Pangeran Nepal itu demikian ramah sikapnya, maka timbul kembali harapannya.

Siapa tahu, pangeran yang ramah ini akan dapat memaklumi keadaannya, maka cepat dia menjawab dengan sikap amat menghormat.

"Harap Paduka suka memberi maaf kepada kami bahwa kami berani datang berkunjung tanpa lebih dulu minta ijin Paduka. Sesungguhnya, telah beberapa lama saya kehilangan calon isteri saya, yang lenyap ketika sedang diadakan pesta pernikahan kami di tempat kediaman kami, yaitu di Naga Api. Kemudian kami mendengar bahwa isteri saya itu berada di sini, oleh karena itu saya datang dengan rombongan, bermaksud untuk menjemput pengantin saya."

Setelah berkata demikian, wajah pemuda yang tampan pesolek itu memandang kepada Pangeran Nepal itu dengan penuh harapan.

Pangeran itu tersenyum dan bertanya.

"Tang-kongcu, siapakah nama pengantinmu itu?"

"Namanya.... Syanti Dewi...."

Tiba-tiba pandang mata pangeran itu menjadi tajam sekali dan jantung Tang Hun berdebar.

Pangeran ini memiliki sepasang mata yang aneh, tajam dan menyeramkan.

Sorbannya yang besar itu tengahnya, di atas dahi, dihias dengan sebuah mutiara yang besar dan bercahaya, berkilau-kilauan agak kebiruan.

Mutiara yang amat besar dan amat jarang terdapat.

Akan tetapi agaknya, dari dua buah mata yang kehitaman itu mencorong sinar yang lebih menyilaukan daripada mutiara itu.

"Tang-kongcu,"

Kini suara pangeran itu berbeda dengan tadi, tidak lagi ramah dan halus melainkan kaku dan dingin.

"Tahukah engkau siapa adanya Syanti Dewi?"

Mendengar pertanyaan itu Tang Hun terkejut dan kini dia melihat betapa ada tiga pasang mata yang memandang dengan sinar mata tajam dan penuh ancaman, yaitu tiga pasang mata dari pangeran itu sendiri, Koksu Nepal dan kakek Gitananda!

Dengan gugup dia menjawab.

"Saya.... saya hanya mendengar dia dari Bhutan dan...."

"Dia adalah Puteri Syanti Dewi, puteri tunggal dari Raja Bhutan! Tahukah kau apa artinya ini? Berarti engkau hendak menghina Bhutan dan karena Bhutan serumpun dengan Nepal, maka engkau seolah-olah hendak menghina Nepal!"

"Tidak.... bukan begitu maksud saya,"

Tang Hun berkata cepat.

"Sebetulnya saya tidak tertarik oleh kebangsaannya, melainkan oleh pribadinya, maka...."

"Cukup, Tang-kongcu!"

Tiba-tiba terdengar suara Ban-hwa Seng-jin, Koksu Nepal itu.

"Hendaknya Tang-kongcu membuang jauh-jauh pikiran itu kalau Kongcu ingin selamat. Puteri Syanti Dewi dari Kerajaan Bhutan adalah menjadi tamu agung kami di sini, apakah Kongcu berani hendak menghina dan mengganggu beliau?"

Tang Hun terkejut bukan main.

Tidak pernah terpikir olehnya sedemikian jauhnya.

Dia memang mendengar bahwa Syanti Dewi berasal dari Bhutan dan kabarnya seorang puteri, akan tetapi hal itu tidak begitu penting baginya, apalagi karena bagi dia dan sebagian besar di antara bangsanya, bangsa-bangsa asing di barat hanyalah bangsa-bangsa yang derajatnya rendah!

Baginya yang terpenting adalah kecantikan Syanti Dewi yang membuatnya tergila-gila.

Dia tidak peduli apakah dara itu puteri raja ataukah puteri pengemis!

Akan tetapi, ternyata persoalannya tidaklah sesederhana yang disangkanya dan dia kini dianggap melakukan penghinaan, terhadap bangsa Bhutan dan Nepal!

"Ah, maafkan saya...., saya tidak tahu sama sekali akan hal itu....

dan setelah mendengar penjelasan Paduka Pangeran dan Koksu, tentu saja saya tahu diri dan tidak akan melanjutkan keinginan saya."

"Bagus! Ternyata Tang-kongcu adalah seorang yang bijaksana dan dapat diajak bersahabat!"

Pangeran Liong Bian Cu berseru girang.

"Kami pun jauh-jauh datang dari barat sekali-kali bukan mencari untuk musuh, melainkan mencari kawan untuk bersama-sama menghadapi Kerajaan Ceng. Bagaimana Tang-kongcu, dapatkah kami mengharapkan bantuan Kongcu dan Liong-sim-pang?"

Wajah Tang Hun yang tadinya agak muram karena lenyapnya harapan hatinya untuk dapat memperisteri Syanti Dewi, kini berseri.

Dia melihat kesempatan yang baik sekali untuk mencari kedudukan dan tentu saja menambah besarnya kekayaannya.

Sekarang, biarpun dia kaya raya namun dia tidak memiliki kedudukan, bukan bangsawan melainkan orang biasa.

Agaknya hal inilah yang tidak memungkinkan dia menikah dengan seorang puteri!

Berbeda tentu kalau dia memiliki kedudukan tinggi di samping harta kekayaan, kekuasaan dan kepandaiannya.

"Tentu saja saya merasa terhormat sekali dan suka membantu perjuangan Paduka Pangeran. Memang telah lama saya mendengar betapa kaisar yang tua amat lemah, kekacauan terjadi di mana-mana dan bahkan kabarnya Gubernur Ho-nan...."

Tiba-tiba dia berhenti dan memandang kepada Jenderal Kao Liang yang duduk sambil menundukkan mukanya seolah-olah sama sekali tidak ingin mencampuri percakapan itu dan tidak ingin mendengarkan pula.

Melihat ini, Pangeran Nepal itu tertawa.

"Lanjutkan, Tang-kongcu, dan jangan khawatir terhadap Jenderal Kao karena dia pun menjadi korban kelaliman kaisar yang menjadi boneka di bawah pengaruh pembesar-pembesar jahat."

Tang Hun menarik napas panjang.

"Saya hanya mendengar desas-desus saja bahwa Gubernur Ho-nan juga memperlihatkan sikap menentang kaisar dan banyak komandan di perbatasan yang tidak merasa puas...."

"Berita itu memang benar, Kongcu. Bahkan kami telah mengadakan persekutuan dengan Gubernur Ho-nan.".

"Ah, bagus sekali....!"

"Kami hanya menanti saat yang tepat saja untuk mulai dengan gerakan kami, gerakan serentak dari segenap penjuru untuk menyerbu kota raja. Maka kalau engkau suka membantu, Tang-kongcu, kami akan menerima dengan kedua tangan terbuka."

"Tentu saja saya akan membantu, akan tetapi imbalannya kelak?"

Tang Hun adalah seorang yang cerdik, maka melihat betapa pangeran ini sudah bersikap terbuka kepadanya, dia maklum bahwa dia tidak akan dapat melepaskan diri dari pengaruh pangeran ini.

Setelah dipercaya mendengarkan pengakuan itu semua, tentu Pangeran Nepal itu tidak akan mau melepaskan dia begitu saja dalam keadaan hidup, kecuali kalau dia menyatakan kesanggupannya untuk membantu, akan tetapi dia pun bersikap terbuka dan lebih dulu menanyakan imbalan atau ganjarannya kelak!

Koksu Nepal mengangguk-angguk dan melirik ke arah Tang Hun.

"Hemmm, Tang-kongcu memang seorang yang cerdik. Akan tetapi sekali lagi, jangan Kongcu mengharapkan diri Puteri Bhutan, karena ketahuilah bahwa di samping beliau menjadi tamu agung kami, juga Puteri Bhutan adalah seorang sandera yang tidak ternilai harganya. Melalui Sang Puteri itu kami bermaksud menundukkan Bhutan. Maka, siapapun yang mengganggu sandera kami itu, berarti menghalangi perjuangan kami."

"Ah, Koksu. Setelah mendengar penjelasan tadi, saya sudah membuang pikiran untuk mendapatkan Sang Puteri itu."

"Bagus, kalau begitu Tang-kongcu boleh melegakan hati. Kalau perjuangan kita bersama ini berhasil baik kelak, tentu kami tidak akan melupakan Kongcu dan andaikata Kongcu menghendaki kedudukan, Kongcu tinggal memilih saja!"

Kata Pangeran Liong Bian Cu dengan suara dan wajah serius. Tang Hun menjadi girang sekali dan menghaturkan terima kasih. Kemudian dia berkata.

"Setelah saya menjadi pembantu pergerakan Pangeran, tentu semua anak buah Liong-sim-pang juga ikut pula membantu. Pangeran boleh mengandalkan mereka, karena mereka adalah orangorang yang telah dilatih dan masing-masing perajurit mempunyai kepandaian silat yang lumayan. Akan tetapi tiga orang pembantu saya ini harap diberi kedudukan sesuai dengan kepandaian mereka."

Pangeran Nepal itu kini memandang kepada tiga orang kakek itu penuh selidik, lalu dia berkata dengan suara dingin.

"Sebagai pembantu-pembantu pribadi, kami harus memilih orang yang benar-benar lihai seperti Tang-kongcu sendiri. Segala orang yang hanya berkepandaian biasa saja cukup bergabung dalam pasukan Liong-sim-pang sebagai komandan-komandan pasukan. Kami khawatir gagal kalau dibantu oleh sembarangan orang saja."

"Eh, harap Paduka jangan memandang rendah kepada mereka bertiga ini, Pangeran! Tingkat kepandaian mereka tidak lebih rendah daripada tingkat kemampuan saya sendiri!"

Tang Hun berseru dengan khawatir karena dia mengenal tiga orang pembantunya itu orang-orang kang-ouw yang mempunyai keangkuhan sehingga ucapan Pangeran Nepal itu tentu saja amat merendahkan dan menghina.

Akan tetapi, tiga orang pembantunya itu juga bukan orang-orang bodoh.

Mereka adalah orang-orang pengelana di dunia kang-ouw yang sudah makan asam garam dunia kang-ouw, sudah banyak pengalaman dan dapat menilai orang-orang pandai.

Melihat keadaan Pangeran Nepal itu dan para pembantunya, mereka maklum bahwa mereka berada di gua naga dan biarpun mereka merasa dipandang rendah, namun mereka tidak menjadi marah karena mereka tahu bahwa sang pangeran ini belum mengenal mereka!

"Apa yang dikatakan oleh Pangeran sungguh tepat.

Pinto hanyalah seorang tosu miskin yang tidak bisa apa-apa, hanya mengandalkan sebatang pedang untuk hidup, mana bisa diandalkan?"

Setelah berkata demikian, Hak Im Cu, tosu berwatak bengis bertubuh tinggi kurus itu mencabut pedangnya.

Melihat ini, Ban-hwa Seng-jin dan Gitananda memandang dengan mata memancarkan sinar aneh, akan tetapi Hek-hwa Lo-kwi dan Hek-tiauw Lo-mo, dua orang kakek iblis dari dunia hitam itu, hanya memandang tak acuh.

"Yaaah, pinto hanya dapat mengandalkan pedang untuk mencari sesuap nasi beserta lauk-pauknya!"

Pada saat itu, baru saja pelayan-pelayan datang menghidangkan nasi dan sayur mayur memenuhi meja itu.

Kini, begitu Hak Im Cu bangkit dan menggerakkan pedangnya, nampak sinar berkelebatan dan seolah-olah ada bayangan puluhan batang pedang menyambar-nyambar dan disusul dengan mulut tosu itu mengganyang semua masakan yang di "dipungut"

Oleh ujung pedangnya!

Pedang-pedang itu dipergunakan seperti sebatang sumpit, ditusukkan ke dalam mangkok-mangkok dan piring-piring yang ada masakannya, demikian cepatnya sehingga pedang berubah menjadi bayangan puluhan batang dan biarpun mangkok yang berdiri di ujung, yang agaknya me-nurut ukuran tidak mungkin dapat dicapai pedang, dapat juga dijumput!

Tiba-tiba tosu itu menghentikan gerakannya dan sudah duduk kembali, mulutnya masih mengunyah makanan yang memenuhi mulutnya.

Ban-hwa Seng-jin mengangguk-angguk dan Pangeran Liong Bian Cu bertepuk tangan memuji.

"Bagus, kepandaian Totiang hebat dan patutlah menjadi pembantu kami!"

Memang demonstrasi tadi biarpun kelihatan sederhana namun sudah membuktikan bahwa tosu ini memiliki ilmu pedang yang hebat dan ginkang yang luar biasa.

Hanya dengan ginkang luar biasa saja dia mampu bergerak sedemikian cepatnya sehingga seolah-olah dia tidak meninggalkan tempatnya ketika dia bangkit berdiri, padahal tanpa bergerak dari situ tidak akan mungkin dia dapat mengambil makanan di ujung meja yang agak jauh.

Cara dia menusuk setiap makanan dengan ujung pedang, membawanya ke mulut, demikian cepat, dan tidak ada sedikit pun kuah yang tercecer!

"Pinto Hak Im Cu hanya seorang biasa dan terima kasih atas kepercayaan Paduka,"

Hak Im Cu berkata sambil mengangguk.

Pangeran Liong Bian Cu tentu saja girang sekali melihat bahwa para pembantu Tang Hun itu ternyata adalah orang-orang yang berkepandaian tinggi, maka dia menoleh kepada dua orang kakek lain yang duduk di jajaran tamu itu.

"Hak Im Cu totiang telah memperlihatkan kepandaian dan mengagumkan sekali, harap Ji-wi Locianpwe jangan sungkan dan suka pula memperlihatkan kepandaian untuk menggembirakan pertemuan ini."

Ban-kin-kwi Kwan Ok yang bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam itu lalu bangkit berdiri dan menjura ke arah Pangeran Nepal itu.

"Saya Kwan Ok hanyalah seorang kasar dan bodoh, hanya mengandalkan tenaga sehingga dijuluki orang Ban-kin-swi. Kalau Paduka memperkenankan, saya akan coba mengangkat arca singa di sudut itu."

Pangeran Liong Bian Cu memandang dengan mata terbelalak.

Arca singa di sudut itu adalah arca yang sangat berat, dan untuk mengangkatnya dibutuhkan tenaga gabungan sedikitnya enam orang laki-laki dewasa yang kuat.

Maka dia tersenyum sambil mengangguk dan kakek raksasa itu lalu menghampiri arca singa, diikuti pandang mata semua orang.

Hanya Hek-hwa Lo-kwi dan Hek-tiauw Lo-mo yang cuma melirik dan bersikap tidak peduli.

Setelah menghampiri arca, Ban-kin-swi Kwan Ok menyingsingkan dengan bajunya, kemudian membungkuk dan kedua tangannya memegang arca itu, digoyang-goyang seperti hendak menaksir beratnya.

Kemudian tiba-tiba dia membentak keras dan hanya dengan tangan kanan memegang kaki belakang arca itu, dia mengangkat, arca itu naik ke atas kepalanya!

Melihat ini, Pangeran Liong Bian Cu kagum dan tahulah dia bahwa Ban-kin-swi benar-benar seorang yang memiliki tenaga gajah!

Kakek itu kini melempar-lemparkan arca itu ke atas, dilempar, disambut lagi dan mempermainkan benda berat itu seolah-olah baginya hanya merupakan sebuah bola yang ringan saja.

Kemudian dia menurunkan arca itu di tempatnya dan menghampiri meja dengan napas dan muka biasa, hanya di dahinya terdapat sedikit peluh.

"Bagus....! Kini Pangeran Liong Bian Cu berseru memuji dan merasa gembira. Senang juga hatinya memperoleh pembantu-pembantu yang sehebat ini.

"Kwan-lo enghiong patut pula menjadi pembantu kami."

Pangeran ini lalu menoleh kepada kakek ke tiga, yaitu Hai-Liong-ong Ciok Gu To, kakek berkepala gundul botak, bertubuh gemuk pendek itu.

Kakek gundul yang suka tertawa ini tersenyum lebar, lalu memandang kepada Hwa-i-kongcu Tang Hun.

"Heh-heh-heh, saya hanya seorang tua bangka nelayan yang hanya pandai berenang. Karena tidak memiliki kepandaian apa-apa, saya mengandalkan nasib ke tangan Tang-kongcu. Oleh karena itu sekarang pun saya hanya turut kepada Tang-kongcu saja yang sudah menanam banyak budi kebaikan terhadap saya. Tang-kongcu, saya menyerahkan urusan dengan Pangeran Liong ini kepada Kongcu dan untuk itu, saya menghaturkan terima kasih dengan secawan arak!"

Sambil berkata demikian, kakek gundul gemuk ini lalu bangkit berdiri, menyambar guci arak di atas meja dengan tangan kanan, menyambar cawan arak di depan Tang Hun dengan tangan kiri, kemudian dia menuangkan arak dari guci ke dalam cawan.

Semua orang memandang dan Pangeran Liong terkejut melihat betapa arak di cawan sudah penuh, namun masih terus dituang sehingga arak itu menaik melebihi bibir cawan.

Hebatnya, arak itu tidak sampai meluber tumpah!

Kelebihan arak di atas bibir cawan itu membulat seperti telur, bergoyang-goyang namun tidak tumpah.

Kini kakek itu menyerahkan cawan yang araknya terlalu penuh itu kepada Tang Hun.

"Ha-ha-ha, Hai-liong-ong Ciok Gu To lo-enghiong sungguh membikin saya merasa sungkan dan malu!"

Tang Hun juga bangkit berdiri dan menerima cawan itu dengan tangan kanan.

Semua orang memandang dengan tegang karena maklum bahwa Ciok Gu To telah mempergunakan sinkang yang amat kuat untuk "menahan"

Sehingga arak yang terlalu penuh itu tidak sampai meluber, maka kalau sampai cawan itu berganti tangan, tentu araknya akan meluber tumpah dan mengotori lengan baju Tang Hun.

Akan tetapi, sama sekali tidak terjadi hal seperti itu.

Kalau Tang Hun menerima cawan itu dan Ciok Gu To melepaskan tangannya, cawan itu berada tangan kanan Tang Hun dan araknya sama sekali tidak tumpah bahkan kini Tang Hun sengaja memiringkan cawan itu dan arak di dalam cawan tetap saja tidak tumpah!

Padahal, arak itu sudah hampir keluar dari dalam cawan, seperti telur direbus lunak akan tetapi tertahan oleh sesuatu.

Pertunjukan ini saja sudah membuktikan bahwa dalam hal tenaga sinkang, pemuda pesolek ini bahkan lebih kuat daripada Hai-liong-ong Ciok Gu To!

"Biarlah arak ini saya minum demi keselamatan Pangeran!"

Kata Tang Hun sambil mengacungkan cawan, kemudian sekali tenggak arak itu lenyap ke dalam perutnya.

Liong Bian Cu bertepuk tangan memuji.

Hatinya girang bukan main dan dia merasa sudah puas dengan semua demonstrasi ringan itu, karena sebagai seorang ahli dia pun sudah dapat menilai bahwa empat orang itu benar-benar bukan orang-orang sembarangan dan akan merupakan pembantu-pembantu yang amat baik.

Maka dia lalu mempersi-lahkan mereka semua makan minum dalam suasana yang amat gembira.

Selagi mereka berpesta gembira, dan hanya Hek-hwa Lo-kwi dan Hek-tiauw Lo-mo saja yang bersikap biasa dan sama sekali tidak menghormati tamu, juga Jenderal Kao Liang yang makan minum dengan sikap tidak peduli, muncullah kepala pengawal yang berlutut dan melapor kepada Pangeran Liong bahwa rombongan orang Bhutan yang dipimpin oleh Panglima Mohinta mohon menghadap.

Pangeran Liong Bian Cu mengerutkan alisnya, saling pandang dengan Ban-hwa Seng-jin, kemudian dia berkata kepada Hek-hwa Lo-kwi dan Hek-tiauw Lo-mo.

"Harap Ji-wi Locianpwe suka menemani para tamu bersama Jenderal Kao Liang. Kami bersama Koksu ada kepentingan lain untuk menerima tamu."

Hek-hwa Lo-kwi dan Hek-tiauw Lomo mengangguk.

Jenderal Kao Liang diam saja dan Liong Bian Cu lalu bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan itu, didampingi koksu yang dikawal oleh Gitananda yang setia.

Panglima muda dari Bhutan, Mohinta itu, telah menanti di ruangan tamu bersama tujuh orang pengikutnya yang kesemuanya adalah tokoh-tokoh yang berkepandaian tinggi dari Bhutan.

Bagaimana tokoh Bhutan muda itu dapat tiba di tempat ini?

Seperti kita ketahui, setelah Syanti Dewi berhasil melarikan diri dari Bhutan bersama Siang In, Panglima muda yang mencinta Syanti Dewi dan mengharapkan puteri itu menjadi isterinya ini segera melakukan pengejaran dan dia menyebar banyak sekali penyelidik.

Dia melakukan pengejaran dengan para penyelidiknya menuju ke timur dan dia selalu didampingi oleh tujuh orang pembantunya yang semuanya memiliki kepandaian cukup tinggi itu untuk mencari jejak Syanti Dewi.

Seperti yang dituturkan oleh Cui Ma, bekas pelayan Ang Siok Bi ibu dari Ang Tek Hoat kepada Kian Bu dan Hwee Li, pelayan yang menjadi gila karena ketakutan dan karena duka itu, dalam pe-ngejarannya mencari jejak Syanti Dewi, akhirnya Mohinta malah menemukan tempat sembunyi Ang Siok Bi.

Mengingat bahwa Ang Siok Bi adalah ibu Ang Tek Hoat yang dibencinya, maka Mohinta lalu turun tangan membunuh wanita yang malang itu.

Dia terus melakukan penyelidikan, mendengar bahwa Syanti Dewi terjatuh ke tangan Hwa-i-kongcu Tang Hun ketua Liong-sim-pang di Puncak Naga Api.

Dia menyusul ke sana, akan tetapi terlambat karena mendengar bahwa puteri yang dicarinya itu telah diculik orang lagi dari tempat itu.

Mohinta mencari terus, tanpa mengenal lelah.

Dia bukan hanya mencinta puteri yang memang amat cantik jelita itu, akan tetapi di samping cintanya ini terdapat pula keinginan yang mendorong dia berusaha memperisteri Syanti Dewi, yaitu kalau dia dapat menjadi mantu raja, tentu kelak dia mempunyai harapan besar untuk menjadi Raja Bhutan!

Ambisi inilah yang membuat dia tidak mengenal lelah mencari Syanti Dewi dan tidak akan berhenti sebelum puteri itu terdapat olehnya.

Setelah mencari-cari siang malam dan mengerahkan seluruh pembantunya yang banyak tersebar di daerah Ho-pei dan Ho-nan di mana untuk terakhir kalinya dia mendengar akan jejak Syanti Dewi, akhirnya dia mendengar bahwa puteri itu telah tertawan oleh Pangeran Bharuhendra dari Nepal!

Berita ini mengejutkan hati Mohinta!

Tertawannya Puteri Syanti Dewi oleh pangeran cucu Raja Nepal itu benar-benar amat mengejutkan dan mengkhawatirkan hatinya.

Dia maklum siapa adanya Pangeran Bharuhendra yang juga bernama Liong Bian Cu itu, seorang Pangeran Nepal yang berilmu tinggi dan berkuasa besar.

Bahkan dia mendengar bahwa pangeran itu ditemani oleh guru negara, yaitu pendeta Lakshapadma yang juga disebut Ban-hwa Seng-jin, bahkan kabarnya Gitananda, pendeta yang amat lihai itu pun menemani Sang Pangeran Nepal.

Hilanglah harapannya untuk merampas Syanti Dewi dengan menggunakan kekerasan.

Akan tetapi Mohinta adalah seorang muda yang cerdik dan dia segera memperoleh akal yang amat baik, bukan hanya untuk mendapatkan kembali puteri cantik yang membuatnya tergila-gila itu, akan tetapi bahkan mendapatkan jalan untuk menguasai Bhutan mengandalkan bantuan Nepal yang selama ini menjadi musuh Bhutan!

Ketika Pangeran Bharuhendra yang kita kenal sebagai Liang Bian Cu itu muncul bersama pendeta Lakshapadma yaitu Ban-hwa Seng-jin, Koksu Nepal dan diikuti oleh Gitananda, Mohinta dan tujuh orang pengikutnya cepat menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat.

Kemudian Mohinta bangkit sebagai seorang militer dan berkata.

"Harap Paduka sudi memaafkan kalau hamba dan para pengikut berani mengganggu Paduka di tengah malam begini."

Pangeran Lian Bian Cu memandang dengan penuh perhatian, lalu berkata.

"Duduklah dan ceritakan siapa engkau, apa pula yang menjadi maksudmu datang kepadaku. Harap bicara secara jujur dan terbuka karena kalau tidak demikian, saat ini juga kami akan menyuruh pengawal membunuh kalian."

Mohinta lalu menceritakan niatnya, yaitu bahwa dia disuruh oleh Raja Bhutan untuk mencari Syanti Dewi dan bahwa dia tahu di mana adanya puteri itu.

Akan tetapi dia siap untuk membantu Pangeran Nepal untuk menguasai Bhutan dengan menggunakan Puteri Syanti Dewi sebagai sandera.

"Dengan adanya puteri itu di tangan kita, Paduka tidak perlu mengerahkan bala tentara untuk menyerbu Bhutan. Cukup hamba yang akan menggulingkan raja dengan bantuan Paduka dan selanjutnya, hamba yang tanggung bahwa Bhutan akan tunduk terhadap Nepal dan memenuhi segala tuntutan dan perintah dari Nepal."

Demikian antara lain Mohinta berkata.

Semua penuturannya didengarkan oleh Pangeran Liong Bian Cu dan Ban-hwa Seng-jin.

Kemudian Koksu Nepal itu berkata dengan suara tenang, dalam bahasa Nepal yang dimengerti oleh Mohinta karena ada persamaan bahasa antara mereka.

"Mohinta, engkau sudah bersiap untuk mengkhianati rajamu sendiri! Engkau sudah berniat hendak membantu kami yang selama ini dianggap musuh oleh Kerajaan Bhutan. Tentu ada pamrih tertentu tersembunyi di dalam pengkhianatanmu ini. Apakah pamrih itu? Apakah yang kau inginkan dalam persekutuan antara engkau dan kami?"

Wajah Mohinta menjadi merah, jantungnya berdebar tegang.

Akan tetapi dia maklum akan kelihaian dan kecerdikan Koksu Nepal itu, maka dia tahu pula bahwa membohongi terhadap mereka amatlah berbahaya.

Menghadapi orang-orang Nepal yang amat kuat ini, jalan satu-satunya hanyalah mende-kati, bukan memusuhi.

"Maaf, Koksu. Sudah tentu dalam setiap tindakan terdapat pamrih yang mendorongnya, dan benarlah wawasan Koksu bahwa ada pamrih dalam hati saya kalau saya menawarkan diri untuk membantu Nepal menggulingkan Raja Bhutan. Pertama, saya ingin memperoleh Puteri Syanti Dewi sebagai isteri saya kalau kita berhasil. Ke dua, saya mengharapkan kebijaksanaan dan ganjaran dari Raja Nepal agar saya dapat menggantikan kedudukan raja di Bhutan."

Pangeran Liong Bian Cu tersenyum.

"Hemmm, besar sekali ambisimu, orang muda. Lalu, untuk semua anugerah yang kau harapkan itu, apa saja yang dapat kau berikan kepada kami?"

"Ayah hamba adalah kepala panglima di Bhutan. Biarpun ayah hamba tidak akan mencampuri urusan pemberontakan, bahkan mungkin menentang, akan tetapi hamba dapat menguasai sebagian besar dari bala tentara yang dipimpin oleh ayah. Dan hamba adalah seorang kepercayaan dari raja, maka kalau hamba yang berkuasa di Bhutan, tentu hamba dapat membantu Paduka untuk menghadapi Kaisar Ceng, Tibet, dan lain-lain."

Tiba-tiba Ban-hwa Seng-jin mengangkat tangan memberi isyarat kepada mereka semua untuk diam, lalu sekali berkelebat kakek ini telah meloncat ke jendela, membuka daun jendela.

Akan tetapi tidak ada siapapun di balik jendela itu, maka dia lalu menutupkan lagi daun jendela dan kembali ke ruangan.

"Aman,"

Katanya.

"Tadinya saya kira mendengar suara sesuatu yang mencurigakan."

Mereka lalu melanjutkan perundingan.

Mereka tidak tahu bahwa pada saat itu, Hwee Li berbisik-bisik di dekat telinga Puteri Syanti Dewi di dalam kamar puteri itu dan Syanti Dewi mendengarkan dengan wajah pucat.

Tadi memang Hwee Li yang mencuri dengar ketika Liong Bian Cu mengadakan perundingan dengan Mohinta, dan karena dara ini mengerti bahasa mereka, maka dia dapat mendengar kesanggupan Mohinta untuk menggulingkan Raja Bhutan dan bersekongkol dengan Pangeran Nepal itu.

Mendengar penuturan yang dibisikkan oleh Hwee Li, Syanti Dewi terkejut dan marah sekali.

Akan tetapi apa yang dapat dilakukannya terhadap Mohinta?

Dia sendiri berada di situ sebagai seorang tawanan!

"Bibi Syanti Dewi, apakah kau ingin agar aku memukul remuk kepala Mohinta itu?"

Tanya Hwee Li ketika dia melihat wajah puteri itu pucat dan tubuhnya agak menggigil.

"Jangan, Hwee Li. Hal itu berbahaya sekali. Kau sendiri seorang tawanan."

"Aku yakin mudah saja bagiku untuk membunuh pengkhianat itu, Bibi. Dan kalau Liong Bian Cu marah kepadaku, biarlah, malah kebetu-lan, biar dia benci padaku dan mengurungkan niatnya yang gila untuk menikah dengan aku!"

Syanti Dewi merangkulnya..

"Tenanglah, Hwee Li. Kita semua berada di dalam keadaan yang amat gawat. Lihat betapa Jenderal Kao Liang sendiri tidak berdaya, keluarganya masih ditawan di sini semua. Lihat betapa benteng ini dibuat amat kuatnya dan Liong Bian Cu mengumpulkan banyak orang pandai. Bahkan orang-orang Liong-sim-pang itu pun menjadi sahabat mereka! Akan ada peristiwa besar, kegegeran besar dan ancaman berbahaya bagi kerajaan bangsamu. Jangan pikirkan urusanku, urusan kecil saja. Baik sekali engkau telah mendengarkan tadi sehingga aku tahu akan isi perut pengkhianat Mohinta itu. Kalau tiba saatnya Bhutan terancam, aku dapat bertindak dengan tepat. Yang penting, kita harus dapat lolos dari sini, Hwee Lee, itulah yang penting, bukan membunuh orang rendah macam Mohinta itu."

Hwee Li mengangguk dan berbisik.

"Ah, kalau tidak terjadi sesuatu yang mujijat, bagaimana mungkin kita dapat lolos? Penjagaan terlampau ketat, orang-orang sakti terlampau banyak di sini dan setelah benteng ini selesai dibangun oleh Jenderal Kao yang amat ahli dalam hal itu, lenyaplah harapan kita untuk dapat lolos dan keluar dari dalam benteng."

"Kita tidak boleh putus harapan. Ba-nyak sekali teman-teman kita yang gagah perkasa di luar benteng. Aku yakin bahwa sewaktu-waktu mereka tentu akan muncul, seperti pada waktu yang sudah-sudah. Mereka tidak akan membiarkan kita celaka."

"Hemmm, mereka siapa?". tanya Hwee Li.

"Pertama-tama tentulah Siang In yang cantik dan cerdik, dan.... Tek Hoat...."

"Dan Siluman Kecil! Juga Suma Kian Lee! Ah, kenapa aku lupa bahwa mereka itu tentu tidak akan diam saja melihat kita ditawan orang-orang jahat?"

"Dan di sana masih ada pula adikku, Candra Dewi atau Ceng Ceng, dan suaminya yang amat sakti...."

"Ah, kenapa aku pun lupa kepada Subo dan Suhu? Hi-hik, betapa tolol aku. Tentu saja Subo dan Suhu akan dengan mudah mengobrak-obrik mereka semua ini!"

"Dan masih ada lagi Bibi Puteri Milana! Dan pendekar sakti Paman Gak Bun Beng, dan keluarga Pulau Es...."

"Wah-wah, kita mengharap terlampau jauh dan terlalu banyak, Bibi. Bagaimana kalau tidak ada seorang pun di antara mereka yang mempedulikan kita dan tidak ada yang datang menolong?"

"Mustahil.... akan tetapi.... setidaknya harapan itu menghibur hati kita...."

Jawab Syanti Dewi sambil menarik napas panjang lalu duduk termenung, ditemani oleh Hwee Li yang di tempat itu menjadi temannya yang paling baik, paling akrab dan dapat saling menghibur.

Dan memang benar seperti yang dikatakan oleh dua orang dara itu.

Setelah Liong-sim-pang bersekutu dengan Pangeran Liong Bian Cu, pembangunan benteng itu menjadi makin lancar karena anak buah Liong-sim-pang dikerahkan untuk membantunya.

Dan juga Hwa-i-kongcu Tang Hun tidak sayang-sayang atau segan-segan untuk membantu dengan keuangan, membeli bahan-bahan bangunan secara royal.

Mohinta dan para pengawalnya juga tinggal di benteng lembah itu, akan tetapi dia selalu bersembunyi dan tidak mau bertemu dengan Syanti Dewi karena dia menganggap belum waktunya untuk bicara.

dengan puteri itu, sungguhpun hatinya merasa amat rindu terhadap dara yang dianggapnya pasti akan menjadi isterinya itu.

Rencananya bersama Pa-ngeran Nepal untuk memberontak dan menggulingkan Raja Bhutan, yaitu ayah dari Puteri Syanti Dewi, membuat dia merasa tidak enak untuk bertemu dan bicara dengan Syanti Dewi karena puteri yang menjadi tawanan itu tentu akan merasa heran dan akan mendesaknya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sukar dijawabnya, Di antaranya mengapa dia berada di situ dan menjadi teman dari Pangeran Nepal dan yang menawan puteri itu.

Hwee Li adalah seorang dara yang amat cerdik.

Setelah usahanya yang gagal untuk membunuh Liong Bian Cu, dan melihat betapa pangeran itu tidak mendendam dan tetap mencintanya, dia tahu bahwa usahanya telah mencapai puncak dan jalan buntu.

Dia tidak boleh mencoba lagi karena kalau sampai dia menimbulkan rasa benci dalam hati pangeran itu, dia tidak akan tertolong lagi.

Kalau hanya dibunuh saja bukan apa-apa baginya, akan tetapi dia merasa ngeri kalau membayangkan betapa dengan kekuasaannya, pangeran itu bisa saja memaksanya dan memperkosanya.

Dia kini mengandalkan cinta kasih pangeran itu untuk berada dalam keadaan aman dan tidak terancam keselamatannya.

Dia yakin bahwa karena cintanya, pangeran itu tidak akan memaksanya nenyerahkan diri sebelum menikah, dan sebagai seorang pangeran negara besar, tentu pangeran itu akan melaksanakan pernikahannya di negerinya, di Nepal.

Maka, masih banyak waktu baginya dan masih banyak harapan untuk meloloskan diri, asal dia pandai membawa diri dan tidak memancing kebencian pangeran itu.

Akan tetapi tentu saja dia tidak boleh bersikap terlalu manis karena kalau sampai pangeran itu memuncak rindu dan berahinya terhadap dia, bisa berabe dan berbahaya!

Karena sikap Hwee Li yang tidak memberontak lagi, juga Syanti Dewi bersikap tenang dan sabar, maka kini mereka diperboleh-kan untuk mengunjungi keluarga Jenderal Kao Liang di dalam rumah tahanan mereka.

Pertemuan yang amat akrab dan mengharukan dan kini pertemuan-pertemuan itu merupakan hiburan besar bagi kedua fihak.

Kao Kok Tiong sering kali nampak termenung di rumah tahanan itu, diam-diam amat mengkhawatirkan keadaan ayahnya.

Jenderal ini tidak boleh menemui keluarganya, hanya diperbolehkan melihat dari jauh bahwa keluarganya selamat dan diperlakukan dengan baik.

Kok Tiong maklum betapa hati ayahnya tersiksa hebat.

Ayahnya terpaksa membantu pemberontak!

Demi keselamatan keluarganya!

Dia tahu bahwa andaikata ayahnya belum dipecat dan masih menjadi Panglima Kerajaan Ceng, sampai mati pun ayahnya tidak akan tunduk kepada pemberontak.

Biar andaikata seluruh keluarganya disiksa dan dibunuh di depan hidungnya, ayahnya pasti tidak akan sudi untuk membantu pemberontak.

Dan sekarang, karena dia bukan Panglima Ceng lagi, dia terpaksa tunduk, untuk menyelamatkan keluarganya, akan tetapi tentu saja dengan batin tersiksa.

Kok Tiong sendiri amat dicurigai oleh Pangeran Nepal sehingga dia dimasukkan dalam rumah tahanan keluarganya, tidak diperkenankan keluar dan bicara dengan ayahnya.

Keadaan seperti itu lewat sampai berbulan-bulan dan benteng besar yang dibangun atas petunjuk Jenderal Kao Liang itu, yang dikerjakan siang malam, mulai mendekati kesempurnaannya.

Hati para tawanan itu makin gelisah, harapan mereka untuk memperoleh pertolongan dari luar makin menipis, sungguhpun belum habis sama sekali.

Selama waktu-waktu itu, untuk menghibur diri, Syanti Dewi memperdalam ilmu silatnya dari Hwee Li, sebaliknya, Hwee Li mempelajari banyak hal dari sang puteri, dari menyulam, melukis, menari dan bernyanyi.

Pelayan rumah penginapan itu buruk sekali mukanya.

Tek Hoat sendiri sampai merasa heran dan kasihan mengapa ada seorang pria demikian buruk mukanya, rusak oleh penyakit cacar.

Selain muka itu hitam dan bopeng, berlubang-lubang seperti kulit pohon dimakan rayap, juga matanya besar sebelah, hidungnya berbentuk besar dan melengkung, bibirnya tebal sekali dan basah, dahinya sempit seperti dahi monyet.

Pendeknya, muka yang sama sekali tidak ada manisnya, biarpun tidak menakutkan, Namun sukar menimbulkan rasa suka di hati, apalagi karena sepasang mata itu mempunyai sinar yang liar seperti mata seekor anjing kelaparan.

Akan tetapi pelayan itu ternyata ramah sekali.

Setelah Tek Hoat membayar uang sewa kamar di meja pengurus, peraturan yang harus ditaati semua tamu, yaitu pembayaran di muka, pelayan itu lalu mendapat tugas untuk mengantar Tek Hoat di kamar yang disewanya dan melayaninya.

Setelah pelayan itu sambil menyeringai dan membungkuk-bungkuk mempersilakan dia mengikutinya, baru diketahui oleh Tek Hoat bahwa pelayan itu pincang kakinya dan ketika dia memperhatikan, ternyata kaki kirinya cacat, ada luka yang sudah mulai mengering di dekat tumit sehingga dia tidak dapat memakai sepatu, melainkan memakai sandal kayu yang mengeluarkan bunyi teklak-teklik ketika dia berjalan timpang.

"Heh-heh, di sinilah kamar Kongcu. Sunyi, karena kebetulan malam ini kurang tamu, Kongcu. Lihat, kamar di kanan kiri Kongcu juga kosong, jadi.... hehheh, aman deh!"

Tek Hoat yang memasuki kamar itu, sebuah kamar sederhana dengan sebuah pembaringan cukup besar untuk seorang saja, sebuah meja dan tempat air cuci muka, cepat menengok dan memandang muka buruk itu ketika mendengar ucapan itu.

"Cukup aman? Apa maksudmu?"

Tanyanya sambil menaksir usia orang. Sukar, menaksir usia wajah yang buruk itu. Mungkin tiga puluh, mungkin pula sudah lima puluh tahun lebih.

"Heh-heh-heh, aman, tidak akan ada yang mengganggu atau mendengar suara dari dalam kamar ini."

"Suara? Suara apa yang kau maksudkan?"

Tek Hoat bertanya lagi sambil mengeratkan alisnya.

Kembali orang itu menyeringai lalu mengambil baskom tempat air yang berwarna biru itu.

Dia berjalan ke pintu membawa baskom itu, menoleh dan menyeringai sambil tertawa.

"Tentu saja orang yang berpacaran mengeluarkan suara, bukan? Dan tentu akan merasa sungkan kalau di sebelah ada orang lain yang ikut mendengarkan."

Tek Hoat hendak membantah akan tetapi pelayan itu sudah keluar sambil berkata.

"Saya akan mengambilkan air. hangat untuk Kongcu."

Tek Hoat menjatuhkan diri duduk di atas pembaringan dan termenung.

Hatinya masih terasa kesal dan mengkal karena sampai saat itu dia belum berhasil menemukan jejak kekasihnya, yaitu Syanti Dewi.

Makin terasalah kini betapa dia amat mencinta Syanti Dewi, betapa sebetulnya dia hanya mempunyai semangat hidup karena puteri itulah.

"Heh-heh-heh....!"

Suara ketawa yang jelek ini menggugahnya dari lamunan dan pelayan itu sudah masuk lagi ke kamarnya membawa sebaskom air yang masih mengepulkan uap.

Melihat air ini, Tek Hoat segera menghampiri baskom yang telah diletakkan di atas bangku, mengeluarkan sebuah saputangan lebar dari buntalannya dan mencuci mukanya.

Terasa segar sekali air hangat itu ketika dia menggosok-gosokkan air di muka dan lehernya.

Lenyaplah semua kemuraman yang amat mengganggunya tadi.

"Heh-heh-heh, Kongcu tampan sekali, sungguh cocok kalau berpacaran...."

Tek Hoat mengusap mukanya dengan keras, menggosok-gosok kulit mukanya sampai berwarna merah sekali.

Setelah pikirannya kosong, setelah semua kenangan tentang Syanti Dewi lenyap oleh air panas dan oleh gosokan keras pada mukanya, dia merasa betapa segala sesuatu yang dihadapinya menjadi lebih menarik.

Dia biasanya tidak pedulian, tidak mengacuhkan segala hal dan orang lain.

Akan tetapi baru dia merasa betapa pelayan ini amat menarik hatinya dan menimbulkan ingin tahunya.

"Paman pelayan, jangan kau bicara yang bukan-bukan tentang suara pacaran dan lain-lain itu. Aku berada di dalam kamar ini sendirian tanpa kawan."

"Heh-heh, karena itulah Kongcu, maka saya menganggap bahwa sayang sekali seorang pemuda tampan seperti Kongcu sendirian saja di kamar ini untuk melewatkan malam yang dingin."

"Hemmm, aku memang sendirian. Habis bagaimana?"

"Ah, si Teratai Emas itu tentu merupakan lawan dan kawan yang amat cocok bagi Kongcu! Cantik jelita dan harum dia! Dan tidak sembarangan mau diajak orang, akan tetapi kalau Kongcu yang mengajaknya.... hemmm, tanggung puas!"

Sepasang mata Tek Hoat terbelalak.

"Apa maksudmu?"

Dia amat rindu kepada Syanti Dewi dan kini ditawari wanita untuk menemaninya!

Padahal, bujukan dan rayuan seorang wanita cantik seperti Mauw Siauw Mo-li itu pun ditolaknya mentah-mentah!

"Maksud saya?

Heh-heh, maksud saya....

Kongcu Muda dan tampan, malam ini di kamar sendiri, dan kamar-kamar di sekitar kamar ini kosong....

heh-heh, dan Teratai Emas itu sungguh cantik....

tentu akan mesra sekali...."

Tek Hoat kini mengerti dan dia cepat memberikan beberapa potong uang kepada pelayan itu.

"Pergilah!"

Katanya singkat karena dia tidak ingin diganggu lagi.

Dia tidak melihat betapa pelayan buruk rupa itu memandang ke arah tangan yang menerima uang itu dengan girang sekali, mengangguk-angguk lalu pergi dari situ.

Tek Hoat lalu menutupkan daun pintunya.

Tubuhnya terasa enak setelah dia mencuci muka, leher, kedua lengan dengan dengan air hangat.

Dia sudah makan tadi, dan tubuhnya lelah.

Kini terasa segar dan nyaman, membuat dia merasa mengantuk sekali.

Direbahkannya tubuhnya di atas pembaringan, terlentang dan menerawang langit-langit kamar itu yang berwarna putih.

Wajah Syanti Dewi membayang!

Makin dipandang, makin rindulah hatinya.

Cuaca mulai gelap karena matahari mulai tenggelam sehingga sinarnya tidak menerangi kamar itu melalui lubang jendela.

Akan tetapi dia merasa malas untuk bangkit dan menyalakan lilin, membiarkan saja kamar itu menjadi makin remang-remang gelap.

"Tok! Tok! Tok!"

Tek Hoat tergugah lagi dari keadaan yang hampir pulas. Sialan, pikirnya, siapa lagi yang mengganggu? "Siapa?"

Tanyanya, memandang ke arah daun pintu yang hampir tidak kelihatan karena kamar itu sudah mulai gelap.

"Saya, Kongcu...."

Si pelayan buruk rupa sialan lagi! "Ada apa lagi?"

"Ssssst, penting Kongcu. Sudah datang....!"

Tek Hoat yang masih setengah sadar setengah layap-layap itu tidak ingat apa-apa lagi tentang sore tadi. Dia merasa heran dan ingin tahu.

"Masuklah, daun pintunya tidak terpalang,"

Katanya.

Bunyi daun pintu berderit ketika dibuka dari luar.

Nampak dua sosok tubuh sebagai bayangan memasuki kamar itu.

Yang satu adalah bayangan tubuh pelayan muka buruk, dan yang satu lagi bayangan tubuh yang kecil ramping.

Tek Hoat menjadi curiga dan biarpun dia masih rebah terlentang, namun dia siap siaga.

"Aih, begini gelapnya, Kongcu. Kenapa lilin yang tersedia di atas meja tidak dinyalakan? Biar saya nyalakan!"

Pelayan itu menyalakan api dan lilin dinyalakan.

Cuaca remang-remang mulai terusir dan dengan mata terbelalak Tek Hoat memandang dan melihat bahwa orang yang ke dua itu adalah seorang wanita muda yang amat cantik!

Pantas saja ada bau harum ketika pintu kamarnya tadi dibuka.

"Kongcu, inilah dia, Kim Lian (Teratai Emas).... heh-heh!"

Pelayan itu bergegas keluar dan menutupkan daun pintu dari luar.

Wanita itu mengambil tempat lilin, menaruhnya di sudut meja dekat pembaringan, lalu memutar tubuh menghadapi Tek Hoat.

Begitu dia melihat wajah Tek Hoat, sepasang matanya yang indah itu terbelalak dan dia cepat menghampiri.

"Aihhhhh.... kiranya Kongcu benar-benar tampan sekali....! Girang hatiku mempercayai omongan A-khiu bahwa Kongcu amat tampan!"

Wanita itu lalu duduk di tepi pembaringan, memandang wajah Tek Hoat, lalu tubuh atas pemuda itu telanjang, kemudian sambil tersenyum wanita itu menjatuhkan dirinya di atas dada Tek Hoat dan mendekatkan mulutnya hendak mencium bibir pemuda itu.

Bau harum mendesak hidung pemuda itu.

Tek Hoat miringkan mukanya dan mendorong kedua pundak wanita itu sehingga hampir saja gadis itu terjengkang.

"Perempuan tak tahu malu! Perempuan tak mengenal susila!"

Bentaknya marah sambil menyambar bajunya, terus dipakainya baju itu dan dia meloncat turun ke atas lantai, pandang matanya keras dan muak.

Gadis itu menundukkan mukanya.

Seorang gadis yang cantik sekali, usianya paling banyak dua puluh tahun, rambutnya digelung indah mengkilap, terhias bunga teratai dari emas, tubuhnya ramping dan lemah gemulai gerak-geriknya, wajah dan tubuh yang terpelihara baik-baik, terbungkus pakaian dari sutera merah muda yang berkembang, menambah kecantikannya.

Kemudian dia mengangkat mukanya yang menjadi merah.

"Kongcu, perlukah seorang wanita seperti saya untuk merasa malu? Haruskah seorang wanita seperti saya untuk me-ngenal susila?"

Tanyanya dengan suara halus bernada menegur sehingga Tek Hoat tertegun.

Akan tetapi lalu pemuda ini dapat menduga ke adaan wanita itu, maka dia menjatuhkan diri duduk di atas kursi sambil bersungut-sunsgut.

"Huh, kiranya seorang pelacur! Sampah masyarakat!"

Sepasang mata yang bening indah itu mengeluarkan sinar dan tarikan muka yang manis itu membayangkan rasa penasaran seperti orang yang tersinggung kehormatannya, dan mulut yang bibirnya berbentuk indah itu berkata, suaranya halus namun dingin.

"Kongcu, saya memang seorang pelacur, akan tetapi bukan sampah masyarakat."

Hati Tek Hoat mulai diserang kemurungan lagi dan dia menjadi kesal.

Dengan kasar dia menoleh dan memandang wajah cantik itu, kecantikan yang makin membuat dia marah karena wajah cantik itu ternyata diobral kepada siapa saja yang mampu membayar!

"Bukan sampah masyarakat?

Huh, perbuatanmu sungguh kotor dan hina!

Engkau perempuan perusak rumah tangga, perusak pria, penyebar penyakit, engkau perempuan terkutuk, lebih kotor daripada sampah!"

Sepasang mata itu masih terbelalak, akan tetapi perlahan-lahan tanpa berkedip, dari bawah mata itu menetes-netes turun beberapa butir air mata yang berkilauan tertimpa cahaya api lilin, menimpa sepasang pipi yang halus kemerahan dan mengalir ke bawah.

Mata itu masih terbelalak menentang wajah Tek Hoat.

"Kongcu.... engkau boleh tidak senang kepada saya.... akan tetapi.... mengapa engkau menghina saya? Apakah dosaku kepadamu? Apakah salahku kepada kaum pria? Hak apakah yang ada pada Kongcu untuk menghina saya seperti itu, untuk menusuk-nusuk perasaan hati saya dengan kata-kata keji itu?"

Tek Hoat menjadi bengong.

Wajah yang cantik itu tetap halus, mengingatkan dia akan wajah lembut Syanti Dewi!

Betapa miripnya dara ini dengan Syanti Dewi!

Sama muda, sama cantik, dan apakah bedanya?

Mungkin berbeda karena Syanti Dewi adalah puteri raja dan seorang wanita bangsawan, apalagi wanita yang dicintanya.

Sedangkan wanita ini adalah seorang yang pekerjaannya sebagai pelacur.

Namun keduanya juga wanita, juga perempuan.

Ada perasaan malu dan menyesal mengapa dia tadi bersikap demikian menghina.

Melihat wanita ini menangis tanpa dibuat-buat, sepasang mata yang terbelalak seperti mata seekor kelinci yang tak berdaya itu, tiba-tiba saja Tek Hoat merasa kasihan sekali.

Di depannya ini adalah seorang wanita!

Sama dengan Syanti Dewi, sama dengan mendiang ibunya, seorang manusia!

"Ehhh....

hemmm....

maafkan aku...."

Pelacur itu mencoba untuk tersenyum sambil menghapus air matanya dengan sehelai saputangan, lalu dia berkata.

"Tidak apa-apa, Kongcu. Aku sudah biasa dihina orang, dan agaknya aku dapat mengerti bahwa tentu Kongcu pernah dibikin sakit hati oleh wanita, oleh pelacur, maka sekarang menumpahkan kemarahan dan dendam Kongcu kepada diriku."

Tek Hoat menggeleng kepala dan menarik napas panjang, menunduk sebentar lalu mengangkat kembali mukanya, akan tetapi dia tidak memandang kepada wanita itu.

Dia teringat akan Siluman Kucing dan agaknya iblis betina itulah yang membuat dia tadi marah dan menghina wanita ini.

Iblis betina itu lebih jahat lagi daripada pelacur ini!

Lalu dia memandang wanita itu yang juga memandangnya.

Harus diakuinya bahwa wanita muda ini amat cantik, tidak kalah cantiknya kalau dibandingkan dengan Siluman Kucing.

"Namamu Kim Lian"

Akhirnya dia bertanya. Wanita itu mengangguk.

"Nama aseliku telah kupendam di antara kehinaan yang menguruk diriku, Kongcu. Karena aku suka memakai hiasan teratai emas ini, maka aku dipanggil Kim Lian oleh mereka."

Lalu dia menunduk. Dagunya nampak meruncing halus kalau dia menunduk, manis sekali.

"Kim Lian, engkau menjadi pelacur tentu karena ingin memperoleh uang, bukan?"

"Satu di antaranya alasan itulah."

Tek Hoat mengeluarkan beberapa keping uang perak dari buntalannya, lalu melemparkan perak itu di atas pembaringan dekat pelacur itu.

"Nah, ambillah uang ini sebagai pembayaran biarpun aku tidak akan menyentuhmu."

Kim Lian kelihatan terkejut, menoleh kepada uang itu kemudian kepada Tek Hoat, lalu kepada uang itu lagi dan kepada Tek Hoat.

Air matanya makin ba-nyak bercucuran, akhirnya dia turun dari pembaringan dan menjatuhkan diri.

berlutut di depan kaki pemuda itu sambil menangis!

"Kongcu....

engkau menghancurkan hatiku dengan sikap ini....

lebih baik kau maki saja aku...., Kongcu....

kau maki dan pukul aku saja...."

Tek Hoat makin bengong.

Dia merasa heran sekali mengapa hatinya tersentuh oleh sikap wanita ini.

Seorang pelacur!

Mungkin karena dia merasa yakin bahwa pelacur yang satu ini tidak berpura-pura dalam semua sikapnya!

Ketika memuji ketampanannya tadi, ketika marah dan ketika berduka sekarang ini, semua adalah wajar dan tidak dibuat-buat.

Itulah mungkin yang menggerakkan hatinya sehingga dia merasa kasihan sekali.

"Bangkitlah!"

Katanya sambil memegang kedua pundak pelacur itu, menariknya berdiri.

Pelacur itu bangkit berdiri dan Tek Hoat juga berdiri.

Pelacur itu hanya setinggi dagunya.

Mereka saling pandang.

Pelacur itu masih terisak ketika memandangnya.

"Sudah, jangan menangis, aku hanya ingin bertanya-tanya, dan kuharap engkau suka menjawabnya. Uang itu sebagai pembayaran jawaban-jawabanmu."

"Kongcu.... Kongcu tidak memandangku dengan hina lagi?"

Wanita itu terisak.

Tek Hoat merasa makin tertusuk.

Betapa tidak berdayanya wanita ini, berdiri sendiri di dunia yang kejam, tidak ada yang melindunginya dari penghinaan semua orang!

Hatinya merasa terharu dan dia mendekatkan mukanya, mencium dahi perempuan itu, ciuman karena iba, bukan ciuman sayang, bukan pula ciuman berahi, lalu dia perlahan-lahan mendorong wanita itu sehingga terduduk kembali di atas pembaringan.

Dia sendiri lalu duduk di atas bangku di depan pembaringan.

"Nah, Kim Lian, kita bicara sebagai dua orang sahabat. Aku kasihan kepadamu dan harap kau suka menjawab sejujurnya. Kenapa engkau menjadi pelacur? Siapa yang memaksamu menjadi seorang pelacur, melakukan pekerjaan yang rendah dan hina ini?"

Agaknya Kim Lian sudah dapat menguasai dirinya kembali dan ciuman pada dahinya tadi menyentuh hatinya, membuat dia percaya kepada pemuda aneh ini yang sikapnya amat luar biasa terhadap dirinya, sikap yang selama ini belum pernah dia lihat diantara para langganannya yang tak terhitung banyaknya itu.

Maka dia pun tahu bahwa pemuda ini adalah seorang pemuda luar biasa yang amat baik hatinya terhadap dirinya, dan dia mengambil keputusan untuk bersikap jujur dan untuk menumpahkan seluruh isi hatinya kepada pemuda ini.

"Kongcu, pertanyaan Kongcu itu banyak sekali jawabannya. Kenapa aku menjadi pelacur? Mungkin karena keadaan karena terpaksa atau juga karena kusengaja! Yang memaksaku adalah kaum pria dan mungkin juga diriku sendiri."

"Hemmm, jawabanmu merupakan teka-teki, Kim Lian."

"Bukan, Kongcu, melainkan jawaban sejujurnya. Adalah kaum pria yang mendorongku untuk menjadi pelacur ini dan untuk itu sebaiknya Kongcu mendengar riwayatku secara singkat. Aku adalah anak keluarga miskin. Ibu kandungku mati ketika aku masih kecil. Ayah kawin lagi dan dalam keadaan miskin itu, atas desakan ibu tiriku untuk menyelamatkan mereka dan anak-anak lain dari bahaya kelaparan, aku dijual kepada seorang kaya. Sejak kecil aku menjadi pelayan dalam rumah keluarga kaya itu sampai aku mulai dewasa dan majikanku, laki-laki tua itu, pada suatu malam memaksa aku, memperkosa aku dengan ancaman dan dengan ganjaran. Aku tidak berdaya. Sampai aku mengandung dan majikan perempuan marah-marah lalu menghadiahkan aku kepada seorang pegawai pria dari mereka. Aku menjadi isteri pegawai itu, akan tetapi sering kali majikan laki-laki tua itu masih datang untuk menikmati tubuhku setahu suamiku! Setelah aku melahirkan seorang anak yang mati ketika lahir, majikan laki-laki itu pun meninggal dunia dan suamiku mulai bersikap kasar kepadaku. Aku sering dipukul, dan aku dipaksa untuk melacurkan diri. Aku lari minggat meninggalkan dia. Kemudian aku terjatuh ke tangan beberapa orang pria yang pada pertemuan pertama kelihatan amat mencinta, akan tetapi setelah mereka puas menikmati tubuhku dan menjadi bosan, aku dicampakkan begitu saja! Entah berapa kali aku merasa sakit hati kepada pria, Kongcu. Akhirnya aku bertemu dengan seorang wanita tua bekas pelacur, aku mendapat nasihat dari padanya untuk membalas kaum pria, untuk menyerahkan badan bukan hati dan untuk menikmati hidup sambil memperoleh hasil yang mudah. Nah, mulai hari itu aku menjadi pelacur sampai sekarang, terkenal dengan nama Kim Lian."

Tek Hoat berdiam diri saja mendengarkan penuturan singkat itu.

Dia merasa kasihan, dan setelah gadis pelacur itu mengakhiri penuturannya, dia menarik napas panjang dan berkata.

"Kim Lian, di antara segala pekerjaan di dunia ini yang begitu banyak, mengapa engkau memilih pekerjaan pelacur?"

"Kongcu, pekerjaan apa lagi yang dapat dilakukan oleh seorang wanita lemah dan tidak terpelajar seperti aku ini? Yang kumiliki hanyalah kewanitaanku, kecantikan dan kemudaanku! Menjadi pelayan rumah tangga orang? Sudah kulakukan beberapa kali, akan tetapi hasilnya hanyalah gangguan dari majikan laki-laki, tua maupun muda! Dan dalam pekerjaan sebagai pelacur ini, aku memperoleh dua hal, pertama, uang yang banyak dan mudah. Ke dua, kebutuhan nafsu badan sebagai seorang wanita muda yang sehat dan normal."

Tek Hoat mengerutkan alisnya.

"Apa artinya uang yang didapatkan dengan jalan hina? Dan untuk kebutuhan ke dua, mengapa engkau tidak berumah tangga saja, menikah dengan seorang pria dan hidup sebagai ibu rumah tangga yang terhormat?"

Sepasang, mata itu memandang dengan penasaran.

"Kongcu, bagaimana mungkin seorang wanita berumah tangga dan menikah kalau tidak ada pria yang menghendakinya? Dan pria manakah yang sudi menikah dengan aku? Tidak mungkin wanita memilih pria lalu melamar sebagai suaminya, seperti yang mudah saja dilakukan oleh pria! Dunia ini memang berat sebelah dan tidak adil, Kongcu, engkau pun tentu mengetahui akan hal itu!"

Makin lama dia bicara dengan pelacur muda ini, makin tertariklah hati Tek Hoat. Banyak kenyataan terbuka di depan matanya.

"Akan tetapi, pekerjaanmu ini merupakan dosa besar. Engkau berdosa karena engkau menggoda kaum pria, menyeret mereka ke dalam perbuatan hina, hubungan gelap yang membuat mereka mengkhianati kesetiaan suami isteri, dan engkau juga merusak orang muda yang belum beristeri."

Tiba-tiba gadis itu tertawa dan suara ketawanya membuat Tek Hoat merasa tertusuk jantungnya, karena sukar dibedakan apakah suara itu merupakan tawa ataukah tangis!

Kemudian gadis itu ber-kata, suaranya lantang.

"Kongcu yang baik, bicara tentang godaan, siapakah yang menggoda dalam hal ini? Priakah atau wanita semacam kami? Siapakah yang menyeret ke dalam perbuatan hina? Siapakah yang khianat-mengkhianati dalam hubungan antara kami dengan pria-pria itu? Kongcu, kami dan kaum pria sama-sama membutuhkan, akan tetapi kebutuhan kami lebih suci daripada kebutuhan mereka! Kami membutuhkan uang untuk hidup, membutuhkan kepuasan berahi sebagaimana patutnya. Berilah kami seorang suami yang baik dan uang untuk hidup, tidak akan ada seorang wanita pun yang mau menjadi pelacur, kecuali kalau dia gila! Akan tetapi kaum pria itu, sudah mempunyai isteri, bahkkan sudah mempunyai selir-selir, masih saja melacur! Siapakah yang hina? Siapakah yang rendah? Mereka itu membutuhkan kami, membutuhkan hiburan yang ada pada diri kami, sedangkan kami membutuhkan kesenangan dan uang. Mereka membeli dan kami menjual. Coba tidak ada kaum pria yang mengejar-ngejar dan mencari-cari kami untuk membeli, mana mungkin kami menjual diri?"

"Tapi, Kim Lian, kenyataan dalam hidup adalah bahwa semua orang pria maupun wanita, memandang rendah dan hina kepada pekerjaanmu ini."

"Biarlah! Akan tetapi buktinya, kami kaum pelacur tidak pernah mengkhianati siapa-siapa, kami bebas bermain cinta dengan laki-laki manapun juga menghendaki kami tanpa paksaan, tanpa sembunyi-sembunyi karena kami tidak mengkhianati siapa-siapa. Merekalah kaum prialah, yang (Lanjut ke

Jilid 33) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 33 mengkhianati isteri-isteri mereka, yang mencari kami dengan sembunyi-sembunyi dan berani membayar berapa saja kalau sudah tergila-gila kepada kami."

Gadis pelacur itu berhenti sebentar, lalu berkata lagi.

"Seluruh pria tentu ingin melihat agar semua wanita di dunia ini, kecuali ibunya, isterinya, anak perempuannya dan keluarga perempuannya, menjadi pelacur semua! Agar semua wanita suka melayaninya di atas pembaringan, agar semua wanita bersedia memuaskan nafsu berahi mereka. Betapa palsu, licik dan munafiknya kaum pria!"

Tek Hoat melongo.

Benarkah ini?

Diapun seorang pria.

Benarkah apa yang dikatakan oleh pelacur ini?

Bahwa semua pria menghendaki bahwa semua wanita, kecuali orang-orang tertentu, yaitu ke-luarganya, bersikap seperti pelacur?

Natinya condong mengatakan "ya"

Kalau dia berani memandang diri sendiri, memandang sampai ke sudut tergelap dari batinnya. Akan tetapi dia merasa "ngeri"

Untuk mengaku ini.

"Kim Lian, kata-katamu terlalu keras, agaknya karena dendam sakit hati kepada kaum pria. Akan tetapi, bukankah pekerjaanmu melacur ini mencemarkan kaum wanita? Bukankah pekerjaanmu ini dikutuk oleh kaum wanita?"

Kembali Kim Lian tertawa, suara ketawa yang aneh, setengah menangis setengah ketawa, lalu dia berkata lagi, lebih halus suaranya penuh kepahitan.

"Mungkin sekali, Kongcu. Dan biarlah mereka itu mengutuk dan mencemoohkan kami kaum pelacur. Kami tahu mengapa mereka mengutuk kami, dan kami kasihan kepada mereka."

"Eh, apa pula ini? Engkau kasihan kepada mereka yang mengutukmu dan kau tahu mengapa?"

"Memang ruwet lika-likunya, Kongcu. Akan tetapi aku, yang telah digembleng oleh hidup, yang telah direbus oleh api kepahitan, aku dapat melihatnya. Wanita-wanita itu mengutuk kami karena mereka merasa dirugikan...."

"Dirugikan?"

"Ya, dirugikan karena suami, anak mereka, keluarga mereka yang pria lari kepada kami dan menjauhi mereka. Karena kami dianggap mencemarkan dan memalukan mereka. Kemudian karena mereka merasa iri kepada kami"

"Iri?"

Tek Hoat berseru kaget.

"Kaum wanita baik-baik iri kepada pelacur? Apa maksudmu?"

"Benar, iri hati! Mungkin di bawah sadar mereka, akan tetapi jelas ada perasaan iri hati yang tidak mereka sadari sendiri itu. Lihatlah, wanita mana yang tidak suka bersolek, yang tidak suka mempercantik diri? Mereka mempercantik diri karena dua sebab, pertama agar dipuji oleh umum terutama sekali oleh kaum pria dan diirihatikan kaum wanita lainnya. Mereka itu, di luar sadarnya berusaha untuk menarik hati kaum pria sebanyaknya! Makin banyak pria yang kagum dan tergila-gila kepadanya, makin senanglah hatinya."

"Ah, masa....?"

"Keadaan membuktikan demikian dan mungkin itu sudah merupakan naluri wanita, Kongcu. Setiap mahluk betina selalu akan berlagak di depan jantan, tentu naluri untuk menarik perhatian. Karena itu, melihat betapa kami, kamu pelacur dapat menarik perhatian banyak pria, bahkan dapat menghibur mereka dalam permainan cinta, bahkan menerima perhatian pria yang rela memberi hadiah dan uang di samping perlakuan cinta, tanpa disadari mereka itu, kaum wanita merasa iri dan karena iri ini tidak dapat dinyatakan secara terbuka, maka perasaan iri itu berubah menjadi benci! Dan munculiah penghinaan mereka terhadap kami! Tentu saja selain itu, juga mereka mendendam karena kami dianggap merusak nama baik kaum wanita pada umumnya"

Tek Hoat memandang penuh perhatian dan makin terheran-heran.

"Kim Lian, engkau seorang pelacur, engkau seorang yang buta huruf, akan tetapi heran sekali, kurasa jarang ada orang pandai yang dapat dan berani berpandangan seperti yang kau nyatakan itu. Sekarang ada satu hal lagi, Kim Lian. Sebagai pelacur, engkau dan kaummu dianggap sebagai penyebar penyakit kotor! Hal ini mau tidak mau harus kau akui dan tidak dapat kau sangkal lagi!"

Gadis pelacur yang cantik itu menarik napas panjang.

"Memang, hukum rimba mengatakan bahwa segala macam sebab kesalahan selalu ditimpakan kepada mereka yang lemah dan yang kalah! Kaum pria mau mencari enaknya sendiri saja, benarnya sendiri saja! Penyakit itu hanya merupakan akibat, Kongcu. Sebabnya adalah hubungan-hubungan gelap itu. Dan siapakah yang mulai dengan pelacuran? Sudah kukatakan tadi, kalau tidak ada pria yang hendak melacur, apakah di dunia ini ada pelacur? Dan tentang penyakit, siapakah yang menularkan dan siapa yang ditularkan? Dari siapakah pelacur terserang penyakit kalau tidak ketularan oleh seorang langganannya, yaitu seorang pria? Ahhh, Kongcu, persoalan penyakit ini sama saja dengan persoalan siapa yang keluar lebih dulu, telur ataukah ayamnya!"

Tek Hoat bungkam.

Beberapa kali dia hendak berkata, akan tetapi tidak dapat keluar dan akhirnya dia hanya dapat menelan ludah.

Baru sekarang ini dia mendengar hal-hal seperti itu.

Sungguh ber-lainan dengan segala macam filsafat yang pernah dibacanya tentang susila, tentang kejahatan dan kebaikan dan lain-lain.

Kini dia dihadapkan dengan keadaan yang telanjang, tanpa aling-aling lagi, tanpa pulasan dan dia melihat ketelanjangan yang murni, melihat baik buruknya.

Dan dia terpesona, juga....

bingung!

Dirogohnya buntalannya, diambilnya beberapa keping uang lagi dan ditambahkan pada uang di atas pembaringan.

"Ambiliah semua uang itu, Kim Lian. Dan pulanglah engkau. Terima kasih atas segala keteranganmu. Percakapan kita membuka mataku dan aku tidak berani lagi memandang rendah kepada kaum pelacur karena aku mulai melihat apakah diriku ini tidak lebih rendah daripada engkau, Kim Lian"

Kim Lian turun dari pembaringan, mengambil semua uang dari atas pembaringan, menghampiri Tek Hoat yang sudah berdiri dan meletakkan uang itu di atas meja.

"Aku tidak bisa menerima uangmu, Kongcu. Bukan karena aku tidak melayanimu seperti mestinya di atas pembaringan. Biarpun tidak melayanimu, kalau engkau menghinaku, memandang rendah kepadaku, tentu akan kuperas kau sampai habis uangmu dengan Akal bagaimanapun juga. Akan tetapi, engkau begitu jujur, dan percakapan ini telah melegakan dadaku, aku telah menumpahkan segala beban hatiku kepadamu. Engkau telah memberi aku sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang ini ditambah sepuluh kali lipat, Kongcu. Aku akan pergi, Kongcu, hanya.... kalau boleh...., aku ingin menyatakan terima kasihku kepadamu dengan caraku sendiri."

Tek Hoat makin terharu. Benar-benar bukan gadis sembarangan dia ini, pikirnya.

"Silakan, Kim Lian, sungguhpun yang patut berterima kasih adalah aku kepadamu."

Kim Lian menghampiri makin dekat, lalu merangkul leher Tek Hoat, menarik leher itu sehingga kepala Tek Hoat menunduk, lalu dia berdiri di atas ujung jari-jari kakinya dengan mengangkat tumitnya sehingga bibirnya bertemu dengan bibir Tek Hoat ketika dia mencium mulut pemuda itu.

Ciuman yang amat mesra, yang dilakukan dengan sepenuh perasaannya, kecupan seorang wanita yang menyerahkan diri sebulatnya kepada seorang pria, ciuman yang selama hidupnya baru satu kali itu dilakukan oleh Kim Lian terhadap seorang pria!

Terdengar suara isak naik dari dada Kim Lian, dia melepaskan ciumannya lalu berlari ke pintu, membuka daun pintu, lalu berhenti, menoleh dengan air mata membasahi pipi sambil berkata.

"Pria seperti engkau inilah yang menjunjung tinggi martabat wanita, Kongcu, patut dibanggakan oleh ibumu, oleh semua wanita, patut menerima cinta kasih wanita. Aku selamanya tidak akan dapat melupakan wajahmu, Kongcu. Selamat tinggal."

Dan daun pintu itu ditutup kembali, lalu terdengar langkah-langkah kaki yang diseret dan ringan dari pelacur itu yang pergi setengah berlari.

Tek Hoat menjatuhkan diri di atas bangku, duduk termenung.

Dia pria seperti itu?

Menjunjung tinggi martabat wanita?

Patut dibanggakan oleh ibunya dan semua wanita?

Dia?

Terbayang kembali segala perbuatannya di waktu dahulu (baca Kisah Sepasang Rajawali), penyelewengannya, perjinaannya dengan isteri orang.

"Ahhh....!"

Dia menutupi kedua matanya dengan tangannya, memejamkan mata dan telinganya terus-menerus, mendengar pujian Kim Lian.

"Tidak....!"

Kini kedua tangan itu pindah ke telinganya.

Jantungnya seperti ditusuk-tusuk rasanya dan kalau saja hatinya tidak sudah membeku atau membaja, tentu Tek Hoat akan menangis menggerung-gerung di saat itu.

Dia merasa dirinya kotor sekali, hina dan jauh lebih rendah daripada Kim Lian si pelacur!

"Kongcu....

heh-heh-heh...."

Tek Hoat tergugah dan dia menoleh. Wajah buruk pelayan itu menyeringai.

"Kongcu, saya bertemu dengan Kim Lian, dia menangis dan tidak mau bicara. Ah, dan Kongcu duduk sendiri dengan pakaian lengkap. Apakah Kongcu tidak suka dengan dia? Begitu cantik manis, begitu menggairahkan, seperti buah apel yang sudah masak.... hemmmmm...."

Dan si buruk rupa itu menjilat-jilat bibirnya seperti orang yang mengilar!

"Kalau saya semuda dan setampan Kongcu, dan beruang, hemmm, kalau saya diberi kesempatan....

heh-heh...."

Tek Hoat melemparkan beberapa potong uang kepada pelayan itu. Uang itu jatuh ke atas lantai dan dipunguti oleh si pelayan.

"Pergilah! Pergilah cepat, kalau tidak, kubunuh kau!"

Pelayan itu terkejut, memandang dengan muka ketakutan, lalu dia mengangguk dan lari keluar, lupa menutupkan pintu kamar itu saking kaget dan takutnya.

Tek Hoat tidak peduli dan kembali duduk dengan kedua tangan menopang dahi di kanan kiri, matanya dipejamkan.

"Tek Hoat....!"

Pada saat itu, Tek Hoat sedang membayangkan wajah Syanti Dewi dan timbul keraguan di dalam hatinya apakah orang macam dia itu patut menjadi suami Puteri Bhutan itu.

Maka begitu mendengar suara lembut ini, jantungnya seperti berhenti berdetak.

"Syanti....!"

Dia berbisik dan mutar tubuhnya.

Seorang wanita berdiri di pintu kamarnya, wanita cantik yang bertubuh ramping.

Akan tetapi bukan Syanti Dewi, melainkan....

Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui, si Siluman Kucing!

Dan anehnya, kedua mata Siluman Kucing itu merah dan basah oleh air mata!

"Mo-li....!"

Tek Hoat berkata lirih dan dia agak terkejut melihat kehadiran siluman betina ini dalam saat yang sama sekali tidak disangka-sangkanya.

Siluman Kucing menutupkan daun pintu lalu dia melangkah maju dan tiba-tiba dia menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki Tek Hoat!

Pemuda ini terbelalak dan siap siaga karena dia maklum akan kelihaian dan kelicikan siluman ini.

Akan tetapi dia terheran-heran karena Lauw Hong Kui kini benar-benar menangis di depan kakinya!

"Tek Hoat....

maafkan aku....

ah, betapa aku kagum melihatmu, Tek Hoat.

Gadis itu demikian cantik, akan tetapi engkau tidak mengganggunya dan memberi uang.

Engkau benar-benar seorang pria yang jantan, Tek Hoat.

Betapa aku rindu kepadamu.

Setelah kau pergi meninggalkan aku, baru terasa olehku, dunia seperti kosong, sunyi....

ah, engkau boleh memukulku, Tek Hoat, engkau boleh membunuhku, akan tetapi jangan kau benci padaku, jangan kau tinggalkan aku....

aku haus akan cintamu, Tek Hoat, kau kasihanlah kepadaku...."

Tek Hoat menahan senyumnya.

Perempuan memang mahluk yang aneh, pikirnya dan dia teringat akan semua percakapannya dengan Kim Lian tadi.

Benarkah Mauw Siauw Mo-li haus akan cintanya?

Benarkah seorang wanita seperti iblis ini mengenal apa artinya cinta?

Ataukah hanya menjadi budak nafsu belaka?

Ingin dia tertawa, mentertawakan Mauw Siauw Mo-li, akan tetapi teringat akan kata-kata Kim Lian, dia merasa tidak tega.

Biarpun iblis Mauw Siauw Mo-li ini juga seorang wanita!

Sama dengan Kim Lian!

Seorang manusia yang berperasaan!

Mungkin karena biasanya dapat menundukkan pria dengan mudah, maka setelah bertemu dengan dia dan justeru karena dia tidak dapat ditundukkannya, maka Mauw Siauw Mo-li menjadi tergila-gila dan jatuh cinta!

Mungkin tersinggung perasaannya karena ucapan Kim Lian tadi, semua wanita ingin digilai laki-laki, sungguhpun hal ini bukan berarti bahwa wanita itu gila laki-laki.

Akan tetapi ingin digilai, ingin dipuji, ingin dikagumi laki-laki manapun juga.

Dan karena dia tidak tergila-gila kepada Mauw Siauw Mo-li, hal ini justeru malah membuat wanita ini tersinggung perasaannya dan merasa tidak puas, dan baru akan merasa senang kalau Tek Hoat yang kokoh kuat dan angkuh itu bertekuk lutut.

Demikiankah?

"Mo-li, bangkitlah dan jangan seperti anak kecil.

Mari kita duduk dan bicara.

Aku maafkan segala kesalahfahaman antara kita.

Betapapun juga, engkau sudah banyak membantuku dan kita sudah melakukan perjalanan bersama cukup lama sehingga boleh dibilang kita adalah sahabat."

"Ah, terima kasih, Tek Hoat!"

Mauw Siauw Mo-li bangkit berdiri dan duduk di atas pembaringan, karena di situ hanya terdapat sebuah saja bangku yang diduduki Tek Hoat.

Sejenak mereka berpandangan.

Di bawah sinar api lilin yang kemerahan, memang harus diakui oleh Tek Hoat bahwa Mauw Siauw Mo-li memang cantik.

Mungkin Kim Lian tadi lebih manis, akan tetapi Mauw Siauw Mo-li lebih matang!

"Mo-li, kenapa engkau menyusulku sampai di sini?"

Akhirnya Tek Hoat bertanya karena tidak tahan melihat sinar mata wanita itu yang seolah-olah akan membakarnya dengan nafsu membara, sepasang mata yang seolah-olah hendak menelannya bulat-bulat.

"Kenapa? Ahhh, engkau tidak tahu betapa aku hampir mati tersiksa hatiku setelah engkau pergi. Aku merasa kesepian dan dunia ini serasa hampa setelah kepergianmu, Tek Hoat. Tidak pernah aku menyangka bahwa aku akan tergila-gila kepadamu. Tidak pernah aku membayangkan betapa cinta dapat begini menyiksa. Apalagi ketika aku teringat betapa kita berpisah sebagai musuh. Ah, tidak, Tek Hoat, aku tidak tahan maka aku menyusulmu."

"Hemmm, Mo-li, siapa bisa percaya akan rayuanmu? Engkau terkenal sebagai seorang wanita yang bisa mendapatkan pria manapun yang kau inginkan. Seorang wanita seperti engkau ini, mana mungkin bisa jatuh cinta dengan sungguh-sungguh? Engkau hanyalah menjadi hamba nafsu berahimu sendiri...."

"Cukup, harap jangan lanjutkan, Tek Hoat. Aku mengaku bahwa memang hidupku yang lalu penuh dengan petualangan dan aku sudah biasa memandang rendah kaum pria yang kuanggap sebagai permainanku. Akan tetapi sekarang baru aku merasa bahwa aku sesungguhnya seorang manusia biasa, seorang wanita yang juga mempunyai hati dan perasaan. Aku cinta padamu, Tek Hoat, dan aku tersiksa ketika kita saling berpisah."

Tek Hoat tidak tahu apakah dia merasa terharu ataukah geli mendengar kata-kata wanita ini.

Siluman Kucing yang biasa mempermainkan pria sampai pria itu tewas, entah sudah berapa banyaknya pria ini yang tewas olehnya, diajaknya bermain cinta dan sekaligus dibunuhnya, wanita yang seperti iblis betina cantik ini, jatuh cinta kepadanya?

Sungguh menggelikan dan sukar untuk dipercaya.

Akan tetapi, dia pun tahu bahwa Mauw Siauw Mo-li adalah seorang wanita berkepandaian tinggi yang telah merupakan seorang tokoh di dunia kaum sesat sehingga memiliki keangkuhan besar, maka kiranya tidak mungkin mau merendahkan diri dengan pengakuan cinta dan kelemahannya itu kalau tidak ada kesungguhan di baliknya.

Apalagi bahwa wanita ini sudah mengaku sendiri betapa biasanya dia menganggap kaum pria sebagai permainannya dan baru sekarang perasaan wanitanya membisikkan bahwa dia jatuh cinta!

"Mo-li, kita hanya sahabat biasa, bahkan itu pun bukan, hanya kenalan yang kebetulan bertemu di tempat Yang-liu Nio-nio, ketua Hek-eng-pang yang menjadi muridmu itu.

Ada waktunya bertemu, berkumpul, tentu ada waktunya pula untuk berpisah.

Kita hanya bersimpang jalan dan jalan hidup kita tidak sama."

Mauw Siauw Mo-li mengangguk, akan tetapi pandang matanya masih terus menatap wajah pemuda itu seolah-olah dia hendak menyihirnya.

"Aku pun mengerti bahwa ada waktunya bertemu ada pula waktunya berpisah, Tek Hoat. Akan tetapi aku akan terus menderita kalau harus berpisah denganmu seperti itu, sebagai musuh!"

"Aku sudah memaafkan segala kesalahfahaman antara kita, Mo-li. Kita bukan musuh...."

"Akan tetapi aku ingin berpisah denganmu sebagai seorang kekasih, Tek Hoat."

Dan wanita itu kembali menjatuhkan diri berlutut di depan Tek Hoat, merangkul pinggang pemuda itu dan membenamkan mukanya di atas pangkuan Tek Hoat!

Kembali dia menangis!

"Tek Hoat, kasihanilah aku....

bersikaplah sedikit manis kepadaku untuk kujadikan kenangan selama hidupku...."

Sikap dan kata-kata wanita itu menyentuh perasaan Tek Hoat.

Kedua lengan yang merangkul pinggangnya itu begitu mesra, mengusap punggungnya, dan wajah yang cantik yang tadi bersembunyi di atas pangkuannya itu kini diangkat tengadah, memandangnya dari bawah, dengan sepasang mata agak berair dan sayu mesra, cuping hidungnya agak kembang-kempis, bibirnya tergetar, rambutnya yang hitam panjang awut-awutan, sebagian anak rambut menutup dahi dan telinganya.

Dari tubuhnya keluar bau khas wanita, bau betina yang merangsang dan di bagian tubuh yang tersentuh oleh tubuh wanita itu terasa panas dan tergetar.

Seorang wanita yang cantik dan masak.

Tek Hoat menunduk, memandang wajah itu, nampak jelas rambut alis itu yang tumbuh dengan indahnya, seperti rumput yang teratur sekali, seperti lukisan yang amat tepat dan bagus.

Mata itu, hidung itu, mulut itu!

"Engkau memang seorang wanita yang cantik sekali, Mo-li...."

Akhirnya dia berkata, ucapan yang bukan pujian kosong belaka melainkan pengakuan yang keluar dari lubuk hatinya.

Sepasang mata itu terbelalak seperti orang heran, kemudian bersinar-sinar dan wajah yang berkulit putih kemerahan dan halus itu berseri.

"Aihhh.... benarkah itu? Tek Hoat, kuminta kepadamu, dalam saat seperti ini.... aku bersungguh-sungguh, jangan kau goda aku, jangan kau-permainkan aku, benarkah kata-katamu itu?"

"Kau memang cantik sekali."

"Akan tetapi, orang menyebutku iblis betina....! "Mungkin kau iblis betina, akan tetapi iblis betina yang cantik,"

Tek Hoat membelai rambut panjang yang sanggulnya terlepas itu.

"Dan rambutmu amat halus mengkilap dan panjang."

Makin berseri wajah itu dan bibir yang memang bentuknya manis itu ter-senyum.

"Ahhh, Tek Hoat, jangan mempermainkan aku....! Aku lebih tua darimu, aku sudah tua sekali, sudah hampir nenek-nenek...."

Tek Hoat juga tersenyum.

Dalam percakapan seperti ini, dia menemukan dalam diri Mauw Siauw Mo-li itu seorang manusia wanita biasa!

Sama sekali bukan wanita iblis yang jahat dan keji, melainkan seorang wanita yang kalau dipuji oleh pria lalu menjadi bahagia hatinya, menjadi manja dan memancing pujian-pujian berikutnya!

"Usia tidak penting, yang nyata engkau adalah seorang wanita cantik yang kelihatannya tidak lebih dari dua puluh tahun usianya...."

Rangkulan kedua lengan itu mengetat di pinggang Tek Hoat.

"Benarkah itu? Tek Hoat...., ah, benarkah bahwa akhirnya ada pula rasa sayang dalam hatimu terhadapku? Benarkah bahwa engkau juga.... cinta kepadaku, Tek Hoat? Ahhh, betapa hatiku menanti jawabanmu seperti rumput kering menantikan turunnya hujan...."

Tek Hoat tersenyum dalam hatinya.

Teringat dia akan perasaan hatinya terhadap Syanti Dewi!

Tiap kali dia berhadapan dengan kekasihnya itu dan bercakap-cakap, terus saja timbul sifat romantisnya, timbul pula keinginannya untuk bernyanyi, bersajak atau setidaknya mempergunakan kata-kata yang indah-indah!

Kini Mauw Siauw Mo-li agaknya pun tidak terluput dari dorongan suasana hati itu.

Kata-katanya mulai indah-indah dan muluk-muluk!

"Mo-li, terus terang saja, aku hanya mencinta seorang di dunia ini.

Akan tetapi aku suka kepadamu, Mo-li, dan aku tidak berbohong ketika kukatakan bahwa engkau seorang wanita yang cantik sekali."

Tangan kanan wanita itu melepaskan rangkulan di pinggang dan kini mengusap dagu Tek Hoat dengan mesra dan manja.

"Aku masih belum, percaya benar.... apanya yang cantik pada diriku yang tua ini....?"

Jelas bahwa wanita ini yang sedang dibuai cinta memancing-mancing pujian lebih banyak lagi!

"Wajahmu, alismu, matamu, hidungmu, mulutmu dan....

hemmm, bentuk tubuhmu juga amat indah menggairahkan...."

"Hi-hik....!"

Mauw Siauw Mo-li meloncat berdiri dan menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan gerakan lemah gemulai seperti orang menari.

"Engkau menduga-duga saja, untuk menyenangkan hatiku. Engkau kejam, Tek Hoat, engkau hanya mengejek dan mempermainkan aku yang benar-benar tergila-gila kepadamu, yang mencintamu seperti yang belum pernah kurasakan terhadap pria yang manapun!"

Dalam hatinya, Lauw Hong Kui merasa bahwa dia berbohong karena sebelum ini pernah dia merasakan cinta yang sama seperti ini, yaitu terhadap Suma Kian Bu (baca Kisah Sepasang Rajawali).

"Tidak, aku tidak mempermainkanmu ketika aku memuji kecantikanmu, Mo-li."

"Dan tubuhku?"

"Hemmm.... dan tubuhmu."

"Menggairahkan katamu?"

Wajah Tek Hoat menjadi merah, akan tetapi dia mengangguk.

"Ya, menggairahkan."

Mauw Siauw Mo-li tertawa.

Memang manis dia kalau tersenyum atau tertawa, memperlihatkan sekilas pandang giginya yang rata dan putih, akan tetapi suara ketawanya menyeramkan, dengan suara tenggorokan yang ditahan.

"Hi-hik! Engkau hanya menduga-duga saja. Engkau belum pernah melihat tubuhku, bagaimana bisa mengatakan bahwa bentuk tubuhku indah menggairahkan?"

Wajah Tek Hoat makin menjadi merah.

"Mudah dilihat dan diduga...."

Dia menjawab juga.

Mauw Siauw Mo-li melangkah maju dan memegang kedua tangan pemuda itu, menariknya perlahan sehingga Tek Hoat juga berdiri.

Mauw Siauw Mo-li lalu merangkulkan kedua lengannya pada leher pemuda itu, mendekatkan mukanya sampai napasnya terasa oleh pipi Tek Hoat dan dia berbisik setelah mengeluarkan suara erangan kecil seperti kucing diusap kepalanya.

"Tek Hoat, aku ingin kau tidak menduga-duga, melainkan melihatnya sendiri bentuk tubuhku. Kau bukalah...."

Akan tetapi Tek Hoat yang mulai terseret oleh rayuan dan suasana romantis yang ditimbulkan oleh sikap dan kata-kata Mauw Siauw Mo-li, menggeleng kepala sungguhpun dia masih tersenyum.

"Hi-hik, kau malu-malu? Engkau memang seorang pemuda hebat. Keras, angkuh, berkuasa, berwibawa, tidak mudah tunduk, mau menang selalu, dan kadang-kadang amat lembut seperti sekarang ini! Dan engkau tidak mudah terayu oleh wanita! Ah, betapa hebat dan kagum sekali hatiku, Tek Hoat. Baiklah, biar aku sendiri yang akan membuka pakaian ini, agar engkau tidak hanya menduga-duga saja dalam menilai tubuhku."

Mauw Siauw Mo-li lalu mendorong tubuh pemuda itu dengan lembut sehingga Tek Hoat terduduk di atas pembaringan.

Pemuda ini memandang dan jantungnya berdebar tegang.

Mauw Siauw Mo-li adalah seorang wanita cantik yang sudah mahir sekali berlagak dan bergaya untuk memikat hati pria.

Dia sudah mengenal betul sifat-sifat pria pada umumnya dan dengan mudah dia dapat pula menjajagi perasaan hati Tek Hoat.

Dengan gerakan yang lemah gemulai, genit namun tidak menjemukan, mulailah wanita ini melepaskan kancing bajunya satu demi satu, gerakannya lambat, ragu-ragu, dengan jari-jari tangan gemetar buatan, dengan kerling mata dan senyum bibir malu-malu seperti seorang perawan yang baru pertama kalinya berhadapan dengan pria.

Tek Hoat benar-benar menghadapi rayuan maut yang amat hebat.

Jantungnya berdebar tidak karuan ketika dia melihat pakaian itu tanggal satu demi satu dengan cara penanggalannya demikian memikat, setiap potong pakaian diloloskan dari tubuh secara perlahan, sedikit demi sedikit sampai akhirnya Mauw Siauw Mo-li berdiri tanpa penutup tubuh sama sekali bermandikan sinar api lilin yang kemerahan dan bergoyang-goyang membentuk bayang-bayang aneh di dinding.

"Ihhh.... hi-hik, matamu seperti mengeluarkan api, Tek Hoat...."

Bisiknya halus dan wanita ini lalu mengangkat kedua lengannya ke atas, menggunakan jari-jari tangannya untuk membereskan rambut kepala yang awut-awutan.

Gerakan ini benar-benar merupakan gerakan khas wanita di bagian manapun di dunia ini dan pengangkatan kedua lengan ke atas itu menonjolkan keindahan bentuk tubuh wanita, dadanya makin menonjol, kerampingannya makin nampak dan tubuhnya makin polos, dan terbuka.

Tek Hoat adalah seorang pemuda normal yang biasa saja.

Menyaksikan semua pertunjukan ini, napasnya agak memburu dan mukanya merah sekali.

"Hi-hik, kau kenapa, Tek Hoat?"

Mauw Siauw Mo-li lalu melangkah maju, langkahnya perlahan dan seperti orang menari, kemudian tahu-tahu dia telah duduk di atas pangkuan pemuda itu, merangkulkan kedua lengannya ke leher Tek Hoat dan tahu-tahu pula Tek Hoat merasa betapa mulutnya dicium oleh bibir yang panas dan lembut.

Belum pernah selama hidupnya dia dicium wanita seperti ini!

Semua bagian mulut wanita itu hidup dan membelai mulutnya.

Tek Hoat hanyut dan terseret oleh gelombang nafsu yang ditimbulkan oleh Mauw Siauw Mo-li secara hebat itu dan hampir Tek Hoat tenggelam.

Seluruh perasaannya terpusat pada ciuman wanita itu dan belaian tangan Mauw Siauw Mo-li yang mulai menggerayangi tubuhnya dan jari-jari tangan wanita itu mulai menyentuh kancing-kancing bajunya.

Ketika Tek Hoat mendengar suara aneh dari kerongkongan wanita itu, suara seperti seekor kucing mengerang-erang, dia merasa seperti disambar petir.

Teringatlah dia bahwa yang memeluknya di atas pembaringan ini bukan Syanti Dewi!

Dia tadi seperti dalam mimpi, seolah-olah Syanti Dewi yang memeluk dan menciumnya, sungguhpun dia tadi merasa terheran-heran karena seingatnya, Syanti Dewi tidak pernah bersikap "menyerang"

Sehebat itu dalam pencurahan kasih sayang.

Pernah dia mencium kekasihnya itu, namun sungguh berbeda sekali sikap dan gerak sambutan Puteri Bhutan itu dengan Mauw Siauw Mo-li.

Syanti Dewi adalah lambang kesucian dan kehalusan, akan tetapi wanita ini amat ganas!

Erangan seperti suara kucing itu menyadarkan Tek Hoat dan kalau tadi dia menutupkan kedua matanya, kedua tangannya membalas pelukan dan dia mem-biarkan mulutnya diciumi secara luar biasa itu, kini dia membuka matanya dan ternyata bahwa lilin telah padam sehingga kamar itu menjadi gelap sekali.

Kiranya dengan gerakan tangannya, Mauw Siauw Mo-li telah memadamkan lilin di atas meja.

Dengan susah payah akhirnya Tek Hoat dapat melepaskan bibirnya dari cengkeraman mulut Mauw Siauw Moli.

Terdengar napas mendengus-dengus, napasnya sendiri dan napas wanita itu setelah ciuman dilepaskan.

Rintihan Mauw Siauw Mo-li makin panas, tangannya merenggut lepas tiga buah kancing baju Tek Hoat sekali tarik.

"Nanti dulu.... Mo-li, nanti dulu...."

"Tek Hoat...."

Mauw Siauw Mo-li menahan ketika Tek Hoat hendak bangkit duduk.

Dia tidak melanjutkan kata-katanya karena sudah mengerang lagi seperti seekor kucing.

Bulu tengkuk Tek Hoat meremang mendengar suara ini.

"Nanti dulu, Mo-li. Dengar, aku hendak.... hendak ke belakang dulu...."

Katanya.

"Ehhh....? Hi-hik.... baiklah, tapi jangan lama-lama, kekasih...."

Kedua tangannya melepaskan pelukan.

Tek Hoat bangkit duduk dan turun dari pembaringan, sudah setengah telanjang.

Tidak ingat lagi dia kapan Mauw Siauw Mo-li telah hampir menelanjanginya itu.

Akan tetapi sebelum dia melangkah, Mauw Siauw Mo-li rengerang.

"Tek Ho-at.... katakan dulu.... benarkah kau menganggap aku cantik menarik?"

"Ya, aku tidak berbohong."

"Dan kau suka kepadaku?"

"Aku suka sekali...."

"Kalau begitu, coba kau cium aku...."

Di dalam gelap, Tek Hoat tersenyum, lalu dia menghampiri pembaringan dan membungkuk, menggunakan tangannya meraba dan setelah dia menyentuh pundak wanita itu, dia lalu mendekatkan mukanya dan mencium mulut wanita yang panas itu dengan mesra.

Dicium semesra itu, Mauw Siauw Mo-li mengerang dan merangkul, hendak menarik lagi Tek Hoat ke atas pembaringan.

"Nanti dulu, sebentar, aku takkan lama, Mo-li...."

Tek Hoat melepaskan rangkulan dua tangan itu, meraba-raba di atas meja dan tak lama kemudian dia membuka daun pintu dan keluar dari kamar itu, menuju ke belakang, ke kamar kecil!

Terlalu lama bagi Mauw Siauw Mo-li menanti di dalam kamar, akan tetapi membayangkan penyerahan diri pemuda yang membuatnya tergila-gila itu membuat dia bersabar menanti dengan tubuh panas semua karena api berahi telah membakarnya berkobar-kobar.

Terdengar daun pintu terbuka, sesosok bayangan masuk dan daun pintu ditutup iagi.

"Ahhhhh.... kekasih.... pujaanku.... kesinilah.... cepat sini....!"

Mauw Siauw Mo-li berbisik.

Bayangan itu menghampiri pembaringan dan segera disambar oleh kedua tangan Mauw Siauw Mo-li, ditariknya ke atas pembaringan.

Di luar jendela kamar itu, Ang Tek Hoat berdiri dan tersenyum.

Tangannya memegang segulungan pakaian, pakaian Mauw Siauw Mo-li yang diam-diam dibawanya keluar tadi.

Ketika tadi dia dibelai dan dirayu oleh wanita itu, hampir saja dia terseret dan tenggelam.

Akan tetapi, suara mengerang seperti kucing itu menyadarkannya bahwa dia berada dalam pelukan Siluman Kucing!

Maka timbuliah akalnya untuk mempermainkan wanita ini.

Dia pura-pura hendak ke belakang, akan tetapi diam-diam dia menambah minyak dalam api berahi itu dengan bersikap manis dan memberi ciuman, dan disambarnya semua pakaian Mauw Siauw Mo-li, dibawa keluar.

Setelah tiba di luar kamar, Tek Hoat mempergunakan kepandaiannya, mendatangi kamar pelayan berwajah bopeng dan buruk sekali itu.

Pelayan ini masih belum tidur dan menjadi terkejut ketika tiba-tiba pintunya terbuka dan pemuda yang dilayaninya tadi berdiri di situ.

"Sssttttt.... Paman, cepat kau ikut aku!"

Pelayan itu mengenal Tek Hoat sebagai tamu yang royal dengan hadiah, akan tetapi juga galak, maka dia cepat turun dari pembaringan.

"Ada apa, Kongcu?"

"Kau mau.... eh, bermain dengan seorang wanita cantik? Lebih cantik dari Kim Lian tadi?"

"Aihhh, jangan main-main, Kongcu. Orang seperti saya mana ada uang untuk...."

"Tak usah bayar, aku sudah membayarnya. Aku lelah, dan kauwakili aku, tapi diam-diam saja jangan keluarkan suara, ya? Kau harus begini...."

Tek Hoat berbisik-bisik di dekat telinga pelayan itu yang membelalakkan mata, terkekeh dan nengangguk-angguk.

Dengan tergesa-gesa, pelayan itu ditarik oleh Tek Hoat sampai ke depan pintu kamarnya, dalam keadaan tidak berpakaian sama sekali!

Kemudian, setengah didorong, pelayan itu memasuki kamarnya yang gelap dan pelayan itu segera disambut oleh kedua lengan Mauw Siauw Mo-li yang mulus dan tubuhnya yang hangat.

Mauw Siauw Mo-li sedang terbakar nafsu berahi, dalam gelap itu mana dapat membedakan orang?

Apalagi, nafsu berahi, seperti nafsu lain, hanyalah merupakan permainan dari dirinya sendiri belaka.

Jika nafsu berahi telah berkobar, bantuan dari luar untuk pemuasan nafsu tidaklah merupakan hal yang mutlak penting.

Apalagi semua indera dari Mauw Siauw Mo-li seolah-olah telah menjadi tumpul dan buta sehingga dia tidak lagi dapat membedakan orang dan di dalam gelap itu, dia segera menggelut pelayan bopeng yang merasa terkejut, heran, juga amat girang karena dia seolah-olah menjadi seperti seorang kelaparan yang diberi hidangan lezat dan banyak sehingga dia pun makanlah dengan lahap dan rakusnya!

Dari luar jendela, Tek Hoat tersenyum mendengar erangan seperti kucing itu, dan bisikan-bisikan yang menyatakan kagum dan pujian terhadap dirinya oleh Mauw Siauw Mo-li.

Maka dia lalu meloncat pergi sambil tersenyum lebar.

Mudah-mudahan saja besok Mauw Siauw Mo-li akan sadar bahwa cinta tidak dapat dipaksa-paksakan, pikirnya.

Kini berkurang rasa bencinya terhadap Mauw Siauw Mo-li.

Dia tahu bahwa wanita itu telah menjadi hamba dari nafsu berahinya, yang merupakan semacam penyakit yang mendalam sehingga selama hidupnya, wanita itu akan menjadi tersiksa oleh penyakit itu, hidupnya tidak akan dapat tenteram, nafsu berahinya seperti api yang berkobar dan makin lama makin berkobar, membara dan membakar segala-galanya tanpa pernah mengenal kepuasan.

Dalam diri wanita itu seperti telah dicengkeram oleh racun yang amat dahsyat!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali setelah kegelapan dalam kamar terusir oleh sinar matahari pagi yang menerobos masuk ke dalam kamar melalui lubang-lubang di atas jendela, terdengar teriakan panjang mengerikan dari dalam kamar Tek Hoat.

Teriakan ini keluar dari mulut pelayan bopeng, disusul oleh suara maki-makian yang marah dari Mauw Siauw Mo-li.

Ketika wanita ini terbangun dan mendapatkan dirinya dalam pelukan seorang laki-laki yang berwajah buruk sekali, dia menjerit dan melemparkan pelayan itu dengan sekali gerakan saja ke atas lantai!

Pelayan itu terkejut dan berteriak, akan tetapi teriakkannya memanjang mengantar nyawanya ketika Mauw Siauw Mo-li sudah meloncat dan sekali tangannya terayun, pelayan itu roboh dengan kepala pecah!

Mauw Siauw Mo-li mencari pakaiannya dan ketika melihat bahwa pakaiannya hilang, dia memaki-maki dengan kemarahan meluap-luap.

Tahulah dia bahwa dia telah dipermainkan oleh Ang Tek Hoat!

Dua titik air mata meloncat keluar dari matanya, akan tetapi kini kemarahannya mengatasi kekecewaannya dan dia memaki-maki dan menendang, membanting dan menghancurkan seisi kamar itu.

"Tek Hoat keparat! Jahanam besar kau! Kubunuh kau....!"

Tiba-tiba pintu kamar itu terketuk orang keras-keras dari luar dan terdengar suara ribut-ribut.

Itu adalah suara para pelayan lain, dan para pengurus rumah penginapan dan para tamu yang mendengar teriakan mengerikan tadi.

Mauw Siauw Mo-li terkejut dan bingung.

Dia telanjang bulat!

"Braaaaakkkkk....!"

Pintu dijebol banyak orang dari luar.

Melihat ini, Mauw Siauw Mo-li terpaksa meloncat keluar dari jendela dalam keadaan telanjang bulat.

Akan tetapi, ternyata di luar jendela telah banyak orang pula, bahkan ada petugas keamanan mengurung tempat itu.

Tentu saja semua ini adalah perbuatan Tek Hoat yang memberi tahu orang-orang dan petugas itu bahwa di dalam kamarnya terdapat siluman yang suka membunuh orang!

Beberapa orang yang melihat wanita cantik jelita dan telanjang bulat itu menjadi terkejut, akan tetapi ketika melihat pelayan bopeng rebah di atas lantai berlumur darah mukanya dan telah tewas, mereka menjadi marah.

"Tangkap siluman!"

"Dia membunuh orang!"

"Bunuh saja dia! Awas, hadang dia, jangan sampai kabur!"

Banyak orang menyerbu ke dalam kamar, Akan tetapi tentu saja dengan sekali gerakan Mauw Siauw Mo-li telah berhasil merobohkan beberapa orang, kemudian dia menerobos keluar jendela, menendang dan memukul roboh mereka yang berani menghalanginya dan dengan beberapa kali lompatan di atas genteng-genteng rumah orang, lenyaplah wanita telanjang bulat yang cantik itu!

Tentu saja peristiwa itu menjadi "dongeng"' yang banyak diceritakan orang yang rnenganggap bahwa wanita cantik itu pasti benar-benar siluman!

Kalau manusia, mana mungkin ada seorang wanita yang demikian cantiknya suka bermain cinta dengan seorang laki-laki yang demikian buruknya seperti pelayan itu, yang selain buruk, juga sudah setengah tua dan miskin?

Dan pelayan itu dibunuhnya.

Siapa lagi wanita itu kalau bukan siluman?

Sementara itu, Mauw Siauw Mo-li menjadi marah dan sakit hati sekali terhadap Tek Hoat.

Akan tetapi ke manakah dia harus mencari Tek Hoat?

Pemuda itu sudah pergi jauh, dan selain itu, andaikata dia dapat bertemu dengan pemuda itu, apa yang dapat dia lakukan terhadapnya?

Dia tahu bahwa Tek Hoat memiliki kepandaian yang amat tinggi dan dia tidak akan menang melawan pemuda itu.

Ingin dia menangis kalau mengingat betapa dia gagal mendapatkan diri pemuda itu.

Bagaikan sepotong daging, pemuda itu sudah berada di dalam mulutnya, tinggal menelannya saja, akan tetapi daging itu terloncat keluar dari dalam mulutnya dan dia bukan hanya gagal mendapatkannya, bahkan sebaliknya dia dipermainkan!

Hatinya sakit sekali dan dalam keadaan seperti ini, Mauw Siauw Mo-li berjanji dalam hati sendiri untuk mencari jalan agar kelak dia dapat membalas penghinaan itu.

Lereng Bukit Tai-hang-san memiliki pemandangan alam yang amat indah.

Terutama sekali di lereng gunung di mana berdiri Kuil Kwan-im-bio itu.

Sungguh bagian lereng gunung ini merupakan tempat yang subur sekali tanahnya karena sumber air di dekat puncak mengalir melalui lereng ini.

Segala macam tanaman rempah-rempah yang mengandung khasiat pengobatan dan racun ampuh dan bunga-bunga indah dan aneh-aneh yang tidak terdapat di daerah lain.

Mungkin terpengaruh oleh cara hidup para nikouw (pendeta wanita) yang mendiami Kuil Kwan-im-bio itu, cara hidup penuh ketenteraman, ketenangan dan kedamaian, maka para penduduk di dusun-dusun sekitar daerah lereng ini pun hidup tenteram dan tenang.

Bahkan binatang-binatang hutan yang terdapat di lereng itu, burung-burung yang berkembang biak dengan amannya, kelihatan jinak dan tidak takut kepada manusia karena manusia yang tinggal di sekitar daerah itu tidak pernah ada yang mengganggu mereka.

Kuil Kwan-im-bio yang berada di lereng itu dipimpin oleh Kim Sim Nikouw, seorang pendeta wanita yang lemah lembut dan manis budi, yang dikenal oleh seluruh penduduk pegunungan itu sebagai seorang pendeta yang suka menolong mereka yang sedang dilanda kesusahan, dikenal sebagai seorang ahli pengobatan dan juga seorang yang biarpun kelihatan lemah namun sesungguhnya merupakan seorang yang memiliki kesaktian luar biasa sehingga tidak ada orang jahat pernah berani mencoba-coba untuk mengganggu daerah itu.

Akan tetapi, Kim Sim Nikouw tidak pernah mau memperlihatkan kepandaiannya, apalagi untuk berkelahi, bahkan dia selalu mengalah dan bersikap manis terhadap siapapun juga sehingga banyak orang jatuh olehnya bukan dengan kekerasan atau kepandaian silat, melainkan oleh sikapnya yang manis budi.

Kejatuhan seperti ini bukan merupakan kejahatan yang mengandung dendam dan sakit hati, sebaliknya malah kejatuhan seperti ini mengandung daya tarik yang membangkitkan rasa sayang di dalam hati semua orang terhadap nikouw tua ini.

Usia Kim Sim Nikouw sudah mendekati enam puluh tahun namun wajahnya masih nampak berkulit halus dan kemerahan, tanda sehat dan segar, masih jelas nampak bekas kecantikan wajahnya.

Memang nikouw ini dahulu adalah seorang wanita yang amat cantik dan tangkas.

Dan ilmu kepandaiannya memang tinggi sekali karena dia bukan lain adalah bekas suci dari Pendekar Super Sakti yang kini menjadi Majikan Pulau Es (baca cerita Pendekar Super Sakti).

Biarpun nikouw ini kelihatan lemah dan manis budi, namun sesungguhnya di waktu mudanya dia pernah menjadi murid seorang datuk kaum sesat yang bertangan kejam sekali.

Bahkan nikouw ini memiliki pula pukulan yang dinamakan Toat-beng Sin-ciang (Tangan Sakti Pencabut Nyawa), di samping tenaga dingin Swat-im Sin-kang yang amat mujijat.

Akan tetapi, belum pernah ada orang yang menyaksikan nikouw itu mempergunakan pukulan mengerikan dan tenaga mujijat itu, kepandaian yang oleh nikouw itu sendiri tidak disukainya.

Akan tetapi yang pernah nampak oleh orang lain adalah kepandaian berlari cepat dari nikouw ini.

Kim Sim Nikouw selama puluhan tahun telah menciptakan ilmu meringankan tubuh yang amat hebat sehingga dia dapat berlari seperti terbang cepatnya dan kedua kakinya seolah-olah menginjak ujung rumput-rumput di atas tanah.

Ilmu ciptaannya ini adalah Ilmu Jouw-sang-hui-eng (Ilmu Terbang di Atas Rumput) dan ada pula gerakan-gerakan yang luar biasa cepatnya dan yang diberinya nama Ilmu Sin-ho Coan-in (Bangau Sakti Terjang Awan).

Sikap dan sifat Kim Sim Nikouw memang membuat dia pantas sekali menjadi ketua Kuil Kwan-im-bio, karena dewi yang dipuja-puja di kuil itu sendiri, yaitu Kwan Im Pouwsat, adalah dewi lambang dari kebijaksanaan dan belas kasih, penolong dan pengampun.

Murid-muridnya, yaitu para nikouw yang berada di kuil itu, semua tunduk kepadanya, taat bukan karena takut melainkan karena mencinta pendeta wanita ini.

Dan para nikouw itu hanya menjadi muridnya dalam hal keagamaan saja.

Satu-satunya nikouw yang menjadi muridnya dalam hal ilmu silat hanyalah seorang, yaitu Liang Wi Nikouw yang usianya malah lebih tua dari padanya!

Liang Wi Nikouw telah berusia enam puluh lima tahun sedangkan Kim Sim Nikouw kurang lebih enam puluh tahun!

Akan tetapi, semenjak beberapa bulan ini, Kim Sim Nikouw membawa pulang seorang dara remaja yang usianya baru delapan belas tahun, seorang dara yang bersikap lemah lembut, berwajah cantik dan gerak-geriknya halus.

Dara ini bukan lain adalah Phang Cui Lan, puteri mendiang kepala kampung Cian-li-cung di dekat Lok-yang, dara yatim piatu yang hidup sebatangkara dan yang pernah menjadi dayang atau pelayan dari keluarga Gubernur Ho-nan.

Seperti telah diceritakan di bagian depan cerita ini, dayang yang muda dan cantik ini, biarpun merupakan seorang wanita lemah, Namun dia memiliki keberanian yang amat mengagumkan dan dengan cara luar biasa dia telah berhasil menyelamatkan Gubernur Ho-pei dari ancaman bahaya ketika Gubernur Ho-pei ini tertawan oleh Gubernur Ho-nan yang hendak memberontak.

Dan telah dituturkan pula betapa Cui Lan diangkat anak oleh Gubernur Ho-pei dan diajak pulang ke Ho-pei.

Akan tetapi di tengah jalan, Cui Lan bertemu kembali dengan satu-satunya, pria yang dipujanya dan yang diam-diam dicintanya, yaitu Siluman Kecil yang bertanding melawan kakek pembawa suling emas.

Sikap Siluman Kecil yang tidak mempedulikannya, membuat hati dara ini hancur dan terluka.

Kembali terbukti betapa cinta kasih yang sesungguhnya bukan cinta kasih murni melainkan cinta kasih yang mengikat, yang mengandung pamrih, yang disebut cinta kasih akan tetapi sebenarnya hanya merupakan pengejaran kesenangan diri pribadi, Selalu pasti mendatangkan penderitaan dan kesengsaraan!

Betapa banyak terjadi di dalam dunia ini cinta-cinta yang mendatangkan korban tak terhitung banyaknya dan bermacam-macam lika-likunya.

Cinta seperti itu yang mendatangkan korban di antara manusia telah terjadi semenjak ribuan tahun, sedang terjadi pula sekarang ini dan mungkin akan terus terjadi selama manusia tidak menyadari betapa palsunya cinta kasih seperti itu.

Betapa banyaknya kaum muda-mudi yang saling tertarik, bersumpah saling mencinta ketika mereka masih diombang-ambingkan oleh pengejaran untuk menyenangkan dirinya sendiri itu.

Kemudian, setelah datang badai berupa sesuatu yang membuat hati mereka tidak senang, lunturlah cinta kasih itu, bahkan tidak jarang cinta mereka berubah menjadi kebencian!

Cinta kasih macam itu tak dapat tiada tentu akan mendatangkan kepahitan, patah hati, kekecewaan, kebosanan, cemburu, dan sebagainya.

Karena cinta kasih seperti itu isinya penuh dengan pamrih dan harapan, bayangan untuk kesenangan pribadi, maka apabila ternyata bahwa cinta kasih itu tidak mendatangkan kesenangan lagi, bahkan merugikan dan menyakitkan, cinta kasih itu berubah menjadi penderitaan dan kesengsaraan batin.

Demikian pula dengan Phang Cui Lan.

Dia mencinta Siluman Kecil, cinta yang didorong oleh rasa kagumnya terhadap Siluman Kecil yang pernah menolongnya.

Cintanya berselubung harapan agar dia menjadi milik pria itu, agar pria itu membalas cintanya, agar dia selalu dapat berdampingan dengan pria itu karena hal ini akan amat menyenangkan hatinya.

Demikianlah gambaran yang diharap-harapkannya.

Oleh karena itu, karena melihat kenyataan betapa pendekar yang dipujanya itu sama sekali tidak mempedulikannya, sama sekali tidak menerima apalagi membalas cintanya, Phang Cui Lan mengalami pukulan batin yang hebat dan yang membuatnya merana.Untung baginya bahwa dalam keadaan itu dia bertemu dengan Kim Sim Nikouw yang menaruh kasihan kepadanya dan mengajak dara itu tinggal di kuilnya.

Kim Sim Nikouw merasa tertarik dan sayang kepada Cui Lan, karena dia melihat persamaan nasib antara dia dan dara itu.

Dia sendiri di waktu mudanya juga mengalami patah hati yang amat membuatnya sengsara, yaitu ketika cintanya terhadap Pendekar Super Sakti tidak berhasil membuat dia berjodoh dengan pendekar itu.

Dia pun pernah mengalami derita batin karena cinta gagal, maka kini menyaksikan keadaan Cui Lan, timbul rasa iba di dalam hatinya.

Dara itu pun seorang yang yatim piatu seperti dia, dan gagal pula dalam cintanya.

Dulu dia gagal dalam cintanya terhadap Pendekar Super Sakti dan kini Cui Lan gagal terhadap putera pendekar itu.

Hati Cui Lan banyak terhibur dan terobati setelah dia menjadi murid Kim Sim Nikouw.

Bahkan dara ini yang telah mengalami banyak hal-hal pahit dan maklum bahwa sebagai seorang wanita muda yang lemah dia terancam oleh berbagai kejahatan di dunia ramai, kini mulai mempelajari ilmu silat dari ketua Kwan-im-bio itu di samping menerima wejangan-wejangan kebatinan yang dapat dia pergunakan untuk mengatasi penderitaan batinnya.

Akan tetapi, bukan hanya menjadi maksud hati Kim Sim Nikouw untuk sekedar mengobati luka di hati Cui Lan, agar dara itu dapat melupakan kedukaannya dan melupakan Kian Bu.

Sama sekali tidak!

Nikouw ini melihat kenyataan bahwa menghibur hati yang sengsara dengan cara memaksa diri menjadi nikouw bukanlah merupakan jalan yang baik, karena dia sendiri sudah merasakan betapa sampai sekarang pun hatinya kadang-kadang terluka dan perih kembali!

Oleh karena itu, dia tidak ingin melihat Cui Lan mencontoh perbuatannya.

Tidak, Cui Lan adalah seorang dara yang amat cantik dan baik, hal ini sudah diketahuinya benar selama beberapa hari saja setelah dara itu ikut bersamanya.

Dara ini baik sekali, cukup baik dan cukup berharga untuk menjadi mantu Pendekar Super Sakti!

Karena itu, diam-diam dia akan turun tangan, dia yang akan menjadi wali dan wakil orang tua dara ini untuk menjodohkan Cui Lan dengan Kian Bu!

Cui Lan sendiri hanya dapat menduga-duga saja siapakah sebenarnya nikouw yang kini menjadi gurunya ini.

Dia hanya tahu bahwa nikouw ini bersama Kim Sim Nikouw dan menjadi ketua Kuil Kwan-im-bio, akan tetapi dia tidak tahu apa hubungan nikouw ini dengan Siluman Kecil.

Dia mendengar ketika dia mengintai bersama Hwee Li betapa Siluman Kecil menyebut nikouw ini "ibu".

Akan tetapi dia tidak berani menanyakan kepada subonya.

Pada suatu hari, setelah kurang lebih tiga bulan dia berguru kepada Kim Sim Nikouw, dan untuk ke sekian kalinya dia mengajukan permintaan agar diterima menjadi nikouw karena di dunia baru ini dia merasa seperti menemukan ketenteraman batin.

Kim Sim Nikouw kembali menolaknya dan berkata kepada dara yang berlutut di depannya itu.

"Cui Lan, ketahuilah bahwa engkau tidak berjodoh untuk menjadi pendeta."

Cui Lan mengangkat mukanya yang tadi menunduk dan memandang kepada subonya dengan sinar mata penuh permohonan.

"Akan tetapi, Subo. Teecu telah merasa tenteram dan senang hidup sebagai seorang pendeta. Apakah Subo hendak mengata-kan bahwa teecu masih terlalu kotor untuk menjadi nikouw?"

"Omitohud....! Sama sekali tidak demikian muridku."

"Kalau begitu, kenapakah, Subo? Harap Subo suka memberi penerangan kepada teecu."

"Engkau ingin tahu mengapa aku melarangmu menjadi nikouw, Cui Lan? Karena.... karena pinni menyayangmu seperti anak sendiri, karena pinni tidak ingin engkau yang begini muda menyia-nyiakan hidupmu dan tidak menikmati hidupmu. Karena pinni tidak ingin engkau menjadi korban dari cinta gagal yang akan membuat hidupmu selalu merana dan sengsara, biarpun hal itu akan kau tutupi dengan jubah pendeta sekalipun!"

Wajah Cui Lan berubah, agak pucat ketika dia memandang kepada nikouw itu dengan sinar mata terbelalak.

"Apa.... apa maksud Subo....?"

Nenek itu memandang kepada muridnya dengan sepasang matanya yang bersinar lembut namun tajam dan agaknya dapat menjenguk isi hati yang dipandangnya.

"Cui Lan, engkau masih mencinta Siluman Kecil, bukan?"

Wajah Cui Lan berubah menjadi merah dan dia menunduk, akan tetapi lalu menarik napas panjang dan sampai lama baru menjawab.

"Teecu.... cinta padanya dan selama hidup teecu akan tetap mencintanya, Subo. Akan tetapi apa artinya semua itu? Tidak ada gunanya dan karena itulah maka teecu mengambil keputusan untuk menggunduli kepala dan masuk menjadi nikouw saja. Harap Subo suka mengabulkan permintaan teecu ini...."

Baca Juga: Mutiara Hitam 7

Baca Juga: Suling Emas 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert