Ceritasilat Novel Online

Jodoh Rajawali 9

Eps 9 Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo

Baca online Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo

Cersil Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo.

"Melihat engkau menjadi dewasa dan persis ibumu, tadinya aku mempunyai keinginan untuk menarik engkau di sampingku sebagai pengganti ibumu yang kucinta sungguh. Akan tetapi, setelah aku menjadi makin tua, aku kehilangan gairah terhadap wanita, apalagi setelah berjumpa dengan Pangeran Liong, aku mengambil keputusan untuk menyerahkan engkau kepadanya demi kebahagiaanmu, anakku! Ha-ha-haha-ha!"

Dapat dibayangkan betapa muak, benci dan sakitnya hati Hwee Li mendengar semua itu.

Biarpun ayahnya mengaku cinta kepada ibunya, namun dia tahu bahwa akibat paksaan ayah angkat atau ayah tirinya inilah maka ibunya sampai tewas.

Dan sesungguhnya, orang ini sama sekali tidak pantas dia sebut ayah, bahkan sebagai ayah tiri sekalipun, Karena ibunya menjadi isteri orang ini tidak secara suka rela dan tidak syah, melainkan diculik dan dipaksa!

Orang ini sama sekali bukan ayahnya, bukan ayah angkat atau ayah tirinya, melainkan musuh besarnya, pembunuh ibunya!

Panglima Kim Bouw Sin?

Dia teringat akan peristiwa pemberontakan lima enam tahun yang lalu.

Ketika itu, usianya baru kurang lebih sebelas tahun, akan tetapi dia sudah tahu akan apa yang telah terjadi.

Dia mendengar nama Panglima Kim Bouw Sin ini.

Bukankah itu panglima pembantu Jenderal Kao Liang yang kemudian memberontak dan bersekutu dengan Pangeran Liong Khi Ong dan akhirnya panglima itu terbunuh?

Jadi ibunya dan ayahnya yang sebenarnya, ayah ibu kandungnya, semua telah mati?

Dia masih penasaran dan bertanya dengan suara kering.

"Dan ayah kandungku....?"

"Panglima Kiam Bouw Sin? Ha-haha, dia sekeluarga telah dihukum mati karena memberontak. Jadi akhirnya engkau malah harus berterima kasih kepadaku, Hwee Li. Karena andaikata aku tidak melarikan ibumu dan engkau ikut, tentu engkau dan ibumu juga akan mengalami nasib yang sama, dihukum mati sebagai anggauta keluarga pemberontak,"

Kata Hek-tiauw Lo-mo.

Dengan muka pucat akan tetapi tidak begitu kentara karena taman itu hanya diterangi oleh sinar bulan purnama yang sudah membuat segala sesuatu nampak pucat, Hwee Li berkata lirih.

"Kalau begitu engkau bukan ayahku, Hek-tiauw Lo-mo...."

Pangeran Liong Bian Cu menyentuh tangan Hwee Li dan berkata.

"Moi-moi, jangan bilang begitu. Betapapun juga, Locianpwe Hek-tiauw Lo-mo adalah ayah tirimu dan dia sudah memeliharamu sejak kecil, mendidikmu dengan segala macam ilmu. Aku akan selalu menganggap dia sebagai ayahmu."

Pikiran Hwee Li bekerja.

Dia melihat Hek-tiauw Lo-mo memandang tajam kepadanya dan di balik pandang matanya itu terdapat ancaman hebat.

Dia tahu bahwa kakek itu melakukan semua ini dengan harapan untuk membonceng kemuliaannya kalau dia kelak menjadi isteri Liong Bian Cu.

Tentu saja kalau tidak diaku sebagai ayah, harapan kakek itu menjadi hancur dan mungkin saja dia melakukan sesuatu yang akan merugikan dirinya.

Selagi dia masih berada di lembah itu, selagi dia masih mencari-cari kesempatan untuk lolos, tidak baik kalau dia menanamkan kebencian dan ancaman baru dalam diri Hek-tiauw Lo-mo.

"Tentu saja, Pangeran.

Aku tidak dapat melupakan segala kebaikan Ayah, katanya sambil minum araknya beberapa teguk.

Dia melirik ke arah Hek-tiauw Lo-mo dan melihat kakek ini tertawa-tawa senang mendengar ucapannya itu.

Demikianlah, Hwee Li yang bagaikan seekor burung telah terkurung dalam sangkar emas itu, terjaga ketat dan sama sekali tidak melihat kesempatan sedikit pun untuk melarikan diri, mulai menggunakan kecerdikannya.

Setiap saat dia waspada dan mencari lubang, dan hanya kecerdikannya saja yang membuat dia dapat menahan segala kekhawatirannya dan bersikap biasa, bahkan ramah terhadap Pangeran Liong Bian Cu, seolah-olah dia mulai setuju untuk menjadi isteri Pangeran Nepal ini.

Sering Hwee Li termenung dan hatinya diliputi kedukaan dan kemarahan.

Dia merasa benci sekali kepada Hek-tiauw Lo-mo yang ternyata adalah seorang musuh besar.

Kini lenyaplah harapanya untuk dapat tertolong oleh kakek itu.

Semua orang yang berada di lembah ini adalah musuh-musuhnya, dan Hek-tiauw Lo-mo merupakan musuh utama malah, di samping Pangeran Liong Bian Cu.

"Ingatlah, Moi-moi, engkau adalah puteri mendiang Panglima Kim Bouw Sin dan engkau sudah tahu betapa ayah kandungmu itu dahulu juga bersekutu dengan ayahku dan membantu ayahku, Pangeran Liong Khi Ong. Maka, kalau sekarang engkau menjadi isteriku dan membantuku, sungguh sudah tepat sekali. Orang tua kita bersahabat, dan kini kita berjodoh, bukankah itu baik sekali?"

Demikian antara lain bujukan dari Pangeran Liong Bian Cu.

Akan tetapi biarpun dia tidak mau membantah, di dalam hatinya dia sangat tidak senang.

Ayahnya adalah seorang pemberontak dan karena perbuatannya itu, seluruh keluarga ayahnya binasa.

Dia mengerti bahwa perbuatan ayahnya itu tidak benar, dan tentu saja dia tidak sudi mengulang perbuatan itu, apalagi ditambah dengan pengorbanan dirinya menjadi isteri dari Liong Bian Cu yang dibencinya.

Akan tetapi, kesempatan yang dinanti-nantinya itu tidak kunjung datang.

Penjagaan terlalu ketat dan dia sama sekali tidak melihat kernungkinan untuk dapat meloloskan diri melalui penyeberangan sungai.

Satu-satunya jalan untuk dapat lolos hanya dengan bantuan garudanya, akan tetapi kini garuda itu telah dikurung, dijaga ketat dan kurungannya dikunci.

Hwee Li sudah menggunakan akal untuk bersikap ramah kepada Liong Bian Cu sehingga pergaulan di antara mereka sudah kelihatan akrab dan tidak asing lagi.

Bahkan dengan keramahannya itu, Hwee Li mengajak dia bercakap-cakap dan dengan gembira Hwe Li menceritakan tentang kesenangan menunggang burung garuda melayang-layang di angkasa.

Mendengar ini dan melihat sikap Hwee Li, Liong Bian Cu berkata.

"Jangan khawatir, kekasihku. Kelak kalau kita sudah menikah, aku akan mengajakmu berpesiar naik garuda itu."

"Ah, mana mungkin? Burungku itu tentu akan dibawa pergi oleh Hek-tiauw Lo-mo. Sekarang pun telah dikurungnya, aku khawatir burung itu akan sakit dan mati."

"Ha-ha-ha, kau tidak perlu khawatir. Ayahmu telah menyerahkan burung itu kepadaku dan ini kunci kurungan itu selalu berada di tanganku. Dan aku sudah menyuruh para pemelihara burung itu baik-baik, memberi makan dan minum secukupnya."

Lnilah yang ingin diketahui oleh Hwee Li dan dara ini cepat mengalihkan percakapan.

Dia kini sudah tahu bahwa kunci kurungan berada di tangan pangeran ini!

Cukuplah itu!

Terbuka lagi jalan baginya untuk meloloskan diri.

Kalau saja dia dapat merobohkan Liong Bian Cu, merampas kunci itu dan membebaskan garudanya, tentu dia akan dapat lolos dari situ menunggang garudanya!

Liong Bian Cu benar-benar jatuh cinta kepada Hwee Li.

Sikapnya baik sekali, dan pemuda ini tidak pernah lagi memperlihatkan kekerasan, sungguhpun sikapnya mesra sekali.

Namun, dia sudah puas untuk menggandeng tangan Hwee Li, atau paling jauh dia hanya mencium tangan dara itu, tidak berani bertindak lebih.

Akan tetapi, Hwee Li makin gelisah ketika hari yang ditentukan makin mendekat.

Liong Bian Cu telah menentukan hari pernikahan mereka, dan tanpa disadari dia telah hampir sebulan berada di situ sehingga waktu pernikahan tinggal satu bulan lagi!

Pada suatu senja, Liong Bian Cu sibuk mencari-cari Hwee Li.

Dara ini memang diberi kebebasan untuk pergi ke mana saja di dalam lembah itu, karena Liong Bian Cu merasa yakin bahwa tidak mungkin Hwee Li dapat meloloskan diri.

Selain lembah itu terkurung sungai lebar, juga terdapat banyak sekali penjaga ditepi sungai sehingga andaikata Hwee Li hendak nekat menyeberang, dia akan ketahuan pula.

"Hwee Li....!"

"Moi-moi, di mana kau....?"

Liong Bian Cu mencari-cari ke sana-sini sambil berteriak-teriak memanggil.

Hatinya merasa agak gelisah.

Biarpun dia merasa yakin bahwa tidak mungkin dara itu dapat meloloskan diri, namun setelah agak lama mencari-cari tanpa hasil, dia merasa khawatir juga, khawatir kehilangan dara yang dicintanya itu.

Akan tetapi hatinya merasa lega ketika seorang pengawal memberi tahu bahwa dara yang dicari-carinya itu tadi pergi ke sumber air di tempat yang agak tinggi di sebelah belakang lembah.

Liong Bian Cu cepat pergi ke tempat itu.

Dia tahu bahwa dara itu memang suka pergi ke sana dan bahkan suka mandi di sumber air mancur itu, sunggupun di dalam kamarnya telah tersedia kamar mandi dan kolam.

Membayangkan kekasihnya mandi di tempat sunyi itu, jantungnya berdebar keras.

Betapa sering dia harus menahan gelora nafsunya kalau berhadapan dengan Hwee Li.

Nafsunya mendorong untuk menubruk dan memeluk dara itu, seperti seekor harimau kelapar dan menubruk seekor domba muda.

Akan tetapi cinta kasihnya melarangnya, karena dia ingin menikmati penyerahan diri Hwee Li sebulatnya, dengan suka rela dan dengan sikap yang membalas perasaan cintanya.

Hampir setiap malam dia mimpi bermain cinta dengan tunangannya itu!

Kini, membayangkan Hwee Li mandi di sumber air, menimbulkan keinginan besar di hatinya untuk mengintai dan melihat kekasihnya itu mandi.

Setidaknya tentu dara itu akan menanggalkan pakaian luarnya!

Dengan hati-hati pangeran ini lalu menghampiri sumber air, menyelinap di antara pohon-pohon dan semak-semak.

Jantungnya berdebar makin tegang ketika dia mendengar suara kekasihnya bersenandung dan mendengar suara air berkecipakan!

Sementara itu, Hwee Li sejak tadi memang, menanti munculnya Liong Bian Cu.

Sudah berhari-hari dia mengatur siasat ini.

Siasat itu timbul ketika dia lewat di lorong kecil yang menuju ke sumber air itu dan sebuah batu runtuh dari tebing di sebelah kiri lorong dan hampir menimpanya.

Dia melihat bahwa tebing itu hampir longsor, tanahnya sudah retak-retak dan di atas tebing terdapat sebongkah batu sebesar kepala gajah!

Untung hanya batu sebesar kepala manusia saja yang runtuh dan hampir menimpanya.

Kalau batu besar itu yang runtuh, tentu akan membawa semua batu yang berada di atas dan tepi tebing dan dia akan teruruk oleh batu-batu besar karena lorong di tempat itu terhimpit tebing dan sempit sekali.

Peristiwa itu menimbulkan siasat kepada Hwee Li yang cerdik.

Berhari-hari dia mempelajari keadaan tebing dan batu besar itu.

Ternyata bahwa yang menahan batu besar itu tidak sampai longsor ke bawah adalah sebatang pohon kecil yang tumbuh di tebing, juga ada beberapa buah batu yang tidak begitu besar merupakan pengganjal.

Kalau pohon itu diambil, atau batu-batu kecil itu runtuh, tentu pohon itu tidak kuat menahan dan batu besar itu akan runtuh ke bawah.

Dia mencari akal dan mulailah dengan diam-diam dia menggali dan melubangi tanah di atas tebing, tepat di bawah batu besar itu, menyingkirkan beberapa buah batu pengganjal dengan hati-hati sekali.

Pekerjaan ini dilakukannya secara diam-diam selama beberapa hari.

Kemarin, ketika seorang pegawal melihatnya dengan heran di situ, Hwee Li cepat menangkap seekor jengkerik dan bermain-main dengan binatang itu sehingga pengawal yang melihatnya di situ mengira bahwa dara remaja tunangan pangeran itu mencari jengkerik dan bermain-main seperti seorang anak-anak saja.

Dan memang dara remaja itu masih bersikap lincah seperti anak kecil!

Setelah membuat persiapan secara menyakinkan, Hwee Li mengikatkan tali pada batang pohon kecil yang kini seolah-olah merupakan pengganjal utama bagi batu besar tadi, lalu menyembunyikan tali panjang itu melalui belakang batu-batu besar, terus menurun dan disembunyikan di dekat sumber air.

Dan pada senja hari itu, dia sengaja mandi di situ.

Biarpun dia mendengar teriakan-teriakan suara Liong Bian Cu memanggil-manggilnya, dia sengaja tidak menjawab dan membiarkan pangeran itu mendatangi sumber air.

Liong Bian Cu juga bukan seorang yang bodoh.

Begitu dia tiba di luar lorong dan mengintai dari jauh, dia melihat dara itu duduk di bawah pancuran air dan benar saja hanya memakai pakaian dalam, akan tetapi dara itu kelihtan tegang dan tidak mandi!

Dan dara itu bersenandung sambil matanya diarahkan ke bawah sumber air, seolah-olah menanti kedatangannya!

Dia teringat bahwa dia tadi telah menggunakan khikang ketika memanggil-manggil.

Mustahil kalau gadis itu tidak mendengar panggilannya.

Akan tetapi gadis itu tidak pernah menjawab.

Dan kini Hwee Li seolah-olah menanti-nya, kedua tangannya disembunyikan di dalam air yang membentuk kolam jernih di bawah pancuran.

Air terjun kecil itu datang dari sumber air dari batu-batu di atas pancuran.

Apa yang akan dilakukan gadis itu?

Agaknya akan menyerangnya lagi, pikir pemuda itu.

Demikian mencurigakan sikapnya.

Akan tetapi, dia tidak tahu bahwa sepasang mata yang tajam sekali dari Hwee Li telah dapat melihat-nya ketika dia menyelinap di balik pohon dan mengintai.

Hwee Li juga maklum akan kecerdikan Liong Bian Cu.

Mengapa pemuda itu tidak terus naik melalui lorong?

Tentu timbul kecurigaannya, pikirnya.

Tidak ada gunanya membujuk Bian Cu untuk naik.

Satu-satunya jalan adalah memancingnya naik melalui lorong itu dan dia tahu akan umpan terbaik untuk memancingnya, yaitu bukan lain adalah tubuhnya sendiri.

Maka, dengan sikap biasa, setelah pura-pura menengok ke sana-sini untuk meyakinkan bahwa di sekitar tempat itu tidak ada orang, Hwee Li lalu mulai menanggalkan pakaian dalamnya dengan berdiri membelakangi tempat di mana Bian Cu mengintai.

Nampaklah tubuh belakangnya yang mulus.

Melihat adegan strip-tease (tarian menanggalkan pakaian) yang terjadi di alam terbuka ini, Liong Bian Cu berkali-kali menelan ludahnya dan matanya tidak pernah berkedip satu kali pun, pandang matanya melotot seolah-olah dia hendak menelan tubuh itu bulat-bulat dengan sinar matanya!

Liong Bian Cu bukanlah seorang pemuda hijau.

Tidak, dia adalah seorang pangeran dan di Nepal sudah biasalah bagi seorang pangeran untuk mengambil selir sebanyak mungkin.

Dia sudah banyak bergaul dengan wanita-wanita cantik, akan tetapi belum pernah dia jatuh cinta seperti yang dirasakannya sekarang terhadap Hwee Li.

Kini melihat dara yang dicintanya itu, yang dirindukannya siang malam, melepas busana di depan matanya, tentu saja membuat dia menjadi seperti cacing terkena abu panas!

Lebih-lebih lagi ketika dengan gerakan tanpa disengaja Hwee Li miringkan tubuhnya sehingga nampak dari samping sebagian dari bukit dadanya, darah Bian Cu tersirap dan seperti terkena pesona, terkena sihir yang amat kuat, dengan semangat seperti terbang meninggalkan tubuhnya, kedua kakinya melangkah ke dalam lorong dan matanya masih tanpa berkedip memandang ke arah tubuh itu.

Dia seperti terbetot oleh kekuatan rahasia, kekuatan yang mengandung semberani, yang membuat kedua kakinya bergerak dan berjalan memasuki lorong menuju ke tempat Hwee Li.

Hwee Li yang memutar tubuh miring tadi melirik dan ketika melihat Bian Gu memasuki lorong, dia merasa betapa jantungnya berdebar keras sekali.

Dia menanti sampai pangeran itu tiba tepat di bawah batu besar, kemudian tiba-tiba dia menarik tali yang dipegangnya sejak tadi, mengerahkan seluruh tenaganya.

"Braakkk.... bruuuuukkkkk....!"

Suara ini disusul suara hiruk-pikuk ketika batu sebesar gajah itu menggelinding menuruni tebing, membawa batu-batu lainnya ikut pula runtuh dan longsor!

Pohon kecil itu tadi digerakkan oleh tali dan jebol, tidak kuat lagi menahan batu besar dan karena sebelah bawah batu sudah digerowongi, maka tanpa dapat dicegah lagi batu itu menggelinding turun.

Liong Bian Cu terkejut bukan main, berteriak keras dan berusaha untuk me-nyingkir.

Akan tetapi, dia tidak mungkin dapat meloncat ke kanan atau kiri yang merupakan tebing tinggi, maka jalan satu-satunya baginya hanya meloncat ke belakang.

Namun, gerakannya kurang cepat dan biarpun dia berhasil menghindarkan diri dari tindihan batu sebesar gajah itu, Dia tidak dapat terhindar dari hantaman batu-batu kecil lainnya yang datang bagaikan hujan.

Dia berteriak lagi, terpelanting dan tubuhnya ditimpa banyak batu yang menguruknya.

Debu Mengebul tinggi dan suara hiruk-pikuk dari batu-batu yang runtuh itu terdengar sampai jauh.

Sementara itu, dengan jantung berdebar penuh ketegangan, Hwee Li sudah cepat mengenakan kembali pakaiannya dan dia lalu berloncatan menghampiri tumpukan batu.

Dia melihat sebelah kaki dan sebelah tangan Bian Cu tersembul dari tumpukan batu.

Dia bergidik ngeri, mengira bahwa tentu pemuda ini telah tewas.

Dan memang demikianlah perhitungannya.

Kalau Bian Cu mati, dia tidak lagi terancam bahaya untuk dipaksa menjadi isterinya.

Dan banyak kemungkinan dia akan selamat.

Pertama, orang-orang tidak akan tahu bahwa kematian Bian Cu disebabkan oleh dia.

Ke dua, kalau dia dapat membebaskan garuda, dia akan dapat meloloskan diri dari tempat itu.

Ke tiga, andaikata dia tidak dapat membebaskan garuda, dia akan dapat meloloskan diri dari tempat itu.

Ke tiga, andaikata dia tidak dapat nenbebaskan garuda, setelah pangeran itu mati, orang-orang di lembah itu tentu tidak membutuhkan lagi dia dan mungkin saja dia dibiarkan lolos dari situ.

Semua kemungkinan itu tidak mungkin ada selama Liong Bian Cu masih hidup!

Cepat dia berusaha mencari kunci kurungan garuda yang menurut pemuda itu berada di sakunya.

Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan.

"Apa yang terjadi? Minggir kau!"

Dan tubuh Hwee Li terdorong ke samping.

Dara ini ter-kejut sekali melihat seorang kakek bermantel merah, telah berada di situ.

Dorongan dari jarak jauh yang dilakukan oleh Ban-hwa Sengjin, kakek itu amat hebat sehingga Hwee Li terdorong mundur.

Kini, dengan kecepatan dan tenaga yang luar biasa, kakek itu membongkar batu dan melempar-lemparkan batu yang menindih tubuh muridnya.

Tubuh itu penuh dengan luka-luka dan berdarah.

Ban Hwa Sengjin memondong tubuh muridnya dan lari cepat sekali menuju ke gedung di tengah lembah.

Hwee Li berdiri bingung.

Kunci itu belum berhasil dia temukan.

Akan tetapi, selagi semua orang sibuk mengurus Liong Bian Cu, sebaiknya dia berusaha untuk membebaskan garudanya.

Maka berlarilah dia menuju ke taman di belakang gedung untuk rnenuju ke tempat di mana garuda itu dikurung, karena selama ini dia sudah menyelidiki dan tahu bahwa burung itu dikurung di sudut taman di belakang gedung.

Akan tetapi, baru saja dia muncul, bukan pengawal-pengawal yang menyambutnya dan yang sudah dia rencanakan untuk dirobohkan semua baru dia akan berusaha membebaskan burungnya.

Yang berdiri di situ adalah Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi!

Hwee Li naklum bahwa terhadap dua orang kakek ini, percuma saja kalau dia melawan.

Maka dengan suara dibuat gugup dia bertanya.

"Bagaimana keadaan Pangeran....?"

Akan tetapi sebagai jawaban, dua orang kakek itu tiba-tiba menerjangnya!.

Hwee Li terkejut dan berusaha untuk mengelak dan membela diri, namun di serang oleh dua orang sakti itu secara berbareng, tentu saja dia tidak mungkin dapat menyelamatkan diri dan sebuah totokan mengenai pundaknya, membuat dia roboh terguling, Hek-tiauw Lo-mo mengempit tubuhnya dan membawanya masuk ke dalam gedung.

Dapat dibayangkan betapa kaget, kecewa, dan penasaran rasa hati Hwee Li ketika dia dibawa masuk ke dalam kamar besar mewah itu, dilempar ke atas kursi oleh Hek-tiauw Lo-mo dan dia melihat Liong Bian Cu serang duduk di atas pembaringan dengan muka pucat dan masih nampak obat kuning di atas luka-luka di seluruh tubuhnya.

Akan tetapi dia telah memakai baju hersih dan sinar matanya memandang lembut kepada Hwee Li sedangkan mulutnya tersenyum.

"Kau.... kau....?"

Hwee Li menggagap, akan tetapi melihat senyum itu melebar dia melanjutkan.

"Kau tidak apa-apa, Pangeran....?"

Tiba-tiba Hek-tiauw Lo-mo memben-taknya.

"Anak durhaka! Engkau hampir saja membunuhnya dan untung Ban Hwa Sengjin masih sempat menyelamatkannya karena beliau kebetulan datang! Kalau tidak, dan Pangeran sampai meninggal dunia, tentu kau sudah kami bunuh sejak tadi!"

"Locianpwe, jangan bicara begitu....!"

Tiba-tiba pangeran itu berkata, suaranya lemah menandakan bahwa peristiwa itu benar-benar amat berbahaya baginya dan membuatnya menderita, sungguhpun tidak sampai berbahaya bagi nyawanya.

"Hwee Li tidak bersalah!"

"Muridku, Pangeran yang mulia. Saya sendiri melihat dia berada di sana ketika Paduka tertindih batu-batu itu, bagaimana Paduka dapat mengatakan dia tak bersalah?"

Terdengar Ban Hwa Sengjin yang duduk di dalam kamar itu pula, menegur, mata kakek ini dengan tajamnya menatap wajah Hwee Li.

"Tidak, Suhu. Dia tidak bersalah dan aku perintahkan agar dia dibebaskan dari totokan. Hek-tiauw Lo-mo locianpwe, bebaskan dia!"

Tiga orang kakek itu saling pandang, kemudian Hek-tiauw Lo-mo menghampiri dara itu dan membebaskan totokannya.

Hwee Li cepat menghampiri pangeran itu dan duduk di tepi pembaringan, wajahnya pucat dan matanya terbelalak.

Dia maklum bahwa dengan satu gerakan saja dari pangeran itu, tiga orang kakek sakti itu tentu akan turun tangan membunuhnya.

"Pangeran, maafkan saya. Akan tetapi saya melihat tali mengikat pohon kecil itu. Tentu ada yang menarik tali itu merobohkannya sehingga batu besar itu menggelinding turun!"

Kata Hek-hwa Lo-kwi.

"Pangeran, harap Paduka tidak membahayakan diri sendiri dan melindungi orang yang berdosa,"

Ban Hwa Sengjin juga memperingatkan.

Liong Bian Cu memandang wajah dara itu dan tersenyum, lalu mengangkat kedua tangannya ke atas dan menggoyang-goyangnya, akan tetapi dia menyeringai karena lengan kirinya terasa nyeri sekali.

"Jangan gerakkan lengan kiri Paduka dulu, baru saja sambungan tulang pundak saya benarkan,"

Kata Ban Hwa Sengjin.

"Sam-wi (Anda Bertiga) harap jangan salah sangka. Sungguh peristiwa itu terjadi karena kesalahan saya. sendiri. Tali itu adalah saya sendiri yang mengikatnya. Saya melihat tempat itu dapat menjadi perangkap yang baik, perangkap rahasia untuk melindungi diri kalau-kalau ada musuh berani datang. Hwee Li cerdik sekali, dia membantuku dan kami sedang mengatur perangkap itu. Akan tetapi, ketika aku mendaki di bawah tebing untuk mencarikan tempat rahasia untuk menaruh tali, dan berpegang pada pohon itu, pohon itu tidak kuat, jebol dan aku jatuh ke bawah, lalu batu-batu itu menimpa turun."

"Ah, tapi...."

Ban Hwa Sengjin hendak membantah. Liong Bian Cu mengangkat tangan kanan ke atas menyetopnya.

"Sudahlah, Koksu, aku sudah bicara. Peristiwa itu hanya kecelakaan dan aku melarang siapapun untuk menggangu kekasihku dengan pertanyaan-pertanyaan tentang itu. Sekarang, harap kau ceritakan tentang perkembangan usaha kita."

Kakek bermantel merah itu kembali menoleh ke arah Hwee Li, menarik napas panjang dan berkata.

"Baiklah, Pangeran. Saya baru saja mengunjungi Gubernur Ho-nan dan dia sudah menyanggupi untuk melindungi tempat ini dan dia pun setuju kalau tempat ini dijadikan markas untuk sementara. Selain itu, sesuai dengan perintah Paduka, Gitananda sedang pergi menjemput tawanan itu untuk dipindahkan ke sini."

"Bagus! Memang sebaiknya puteri itu berada di sini. Di sini dia lebih aman dan terjaga, selain itu, juga dia dapat menjadi teman tunanganku. Betapapun juga, dialah orangnya yang dapat mengajarkan kepada Hwee Li tentang tata susila kerajaan dan hal-hal lain yang patut diketahui oleh seorang calon puteri kerajaan."

Hwee Li tidak turut bicara sungguhpun semua percakapan tidak ada yang terlewat oleh perhatian-nya.

Dia masih merasa tegang dan terkejut, dan diam-diam dia merasa heran sekali mengapa pangeran ini menolongnya, padahal sudah jelas pangeran ini tentu tahu bahwa peristiwa itu sama sekali bukan kecelakaan, melainkan usahanya untuk membunuh Liong Bian Cu.

Setelah percakapan itu selesai, Liong Bian Cu berkata.

"Sekarang harap Samwi meninggalkan kamar ini. Aku lelah dan ingin beristirahat, biar Hwee Li menemaniku."

Kembali tiga orang itu bangkit dan memandang dengan ragu-ragu.

"Maaf, Pangeran. Apakah itu bijaksana?"

Tanya Ban Hwa Sengjin.

"Berbahaya sekali membiarkan dia di sini sendiri bersama Paduka!"

Kata Hek-tiauw Lo-mo sambil memandang ke arah dara itu dengan mata melotot. Agaknya dia masih marah sekali atas perbuatan "bekas anaknya"

Itu. Akan tetapi pandang mata Liong Bian Cu menjadi keras.

"Siapapun tidak boleh menilai calon isteriku! Pergilah kalian!"

Bentaknya.

Ban Hwa Sengjin dan dua orang kakek itu lalu menjura dan pergi.

Biarpun Ban Hwa Sengjin itu seorang Koksu Nepal, seorang yang berkedudukan tinggi, dan juga guru dari Liong Bian Cu, akan tetapi betapapun juga, terhadap pemuda itu dia adalah seorang petugas terhadap atasannya, maka sikapnya selalu menghormat dan taat.

Setelah mereka pergi dan pintu kamar ditutupkan dari luar dengan hati-hati oleh seorang pelayan yang atas isyarat Pangeran Liong Bian Cu lalu ke luar lagi, mereka kini tinggal berdua saja di dalam kamar itu.

Hwee Li lalu mundur dan duduk di atas bangku, agak jauh dari pembaringan di mana Liong Bian Cu duduk.

Gadis itu mengangkat muka dan memandang Bian Cu.

Pemuda ini kelihatan pucat, mukanya hampir penuh dengan warna-warna kuning, yaitu obat cair yang dipergunakan oleh Ban Hwa Sengjin untuk mengobati luka-lukanya.

Agaknya obat itu manjur bukan main karena luka-luka itu kelihatan sudah mengering.

Liong Bian Cu juga memandang kepadanya, lalu mulutnya tersenyum dan dia mengejapkan sebelah matanya, seolah-olah memberi tanda kepada seorang sekutunya.

Melihat sikap ini, Hwee Li merasa makin heran.

"Pangeran, kenapa engkau menolongku?"

Tanyanya, tidak tahan dia melihat sikap itu.

Kalau pangeran itu marah-marah tentu dia akan menerimanya dengan tenang saja, akan tetapi melihat pangeran itu bersikap demikian baik terhadap perbuatannya yang hampir saja mengakibatkan pangeran ini tewas, benar-benar sukar untuk dapat diterimanya.

"Kenapa? Tentu saja karena aku cinta padamu, Hwee Li! Dan kenapa engkau bermaksud membunuhku?"

"Perlukah kujawab itu?"

"Tentu saja. Karena aku merasa penasaran kalau tidak mendengar sebabnya."

"Karena aku memben-cimu, Pangeran."

"Ahhh! Engkau membenciku karena aku mencintamu?"

Hwee Li menggelengkan kepalanya.

"Tidak, aku belum segila itu. Akan tetapi aku benci kepadamu karena engkau memaksa aku untuk menjadi isterimu, karena engkau mengurung aku di sini, karena biarpun engkau bersikap ramah dan baik, akan tetapi pada hakekatnya engkau melakukan penekanan dan paksaan kepadaku."

"Hemmm, semua itu kulakukan demi cintaku kepadamu, Hwee Li. Tahukah engkau bahwa sebagai seorang pangeran, belum pernah ada wanita yang bagaimanapun menolak cintaku? Dan engkau, tidak saja menolak, bahkan beberapa kali engkau nyaris membunuhku!"

"Dan aku akan masih terus berusaha membunuhmu!"

Kata Hwee Li terus terang.

"Ha-ha-ha, sikapmu inilah yang membuat aku makin tergila-gila dan makin cinta kepadamu, sayang. Kalau engkau menangis merengek-rengek minta ampun, atau engkau merayuku, agaknya cintaku akan menipis. Akan tetapi tidak, engkau melawan, engkau menggunakan kecerdikan, engkau tabah, berani, cerdik dan gagah. Itulah sebabnya maka aku mau mengorbankan apa saja demi untuk mendapatkan cintamu."

"Aku tidak akan mencintamu, Pangeran."

"Ha-ha-ha, kita sama lihat saja nanti. Dengan cintaku yang murni, dengan kebaikan-kebaikan yang kulimpahkan, pada suatu hari aku mengharapkan akan dapat mencairkan kekerasan hatimu, dewiku, dan aku akan mengecap kenikmatan dan kebahagiaan itu sebagai hasil jerih payahku selama ini."

"Aku akan berusaha untuk minggat!"

Pangeran itu menggeleng kepalanya.

"Tidak mungkin, Hwee Li. Dan bukankah engkau senang tinggal di sini? Bukankah semua orang mentaati perintahmu dan segala keinginanmu dapat terpenuhi? Bukan itu saja, engkau bahkan akan memperoleh seorang kawan yang tentu akan menyenangkan hatimu, seorang puteri yang cantik jelita dan terkenal. Dia akan diantar oleh Gitananda ke sini."

"Siapakah dia?"

"Dia adalah Puteri Syanti Dewi, Puteri Bhutan."

Diam-diam Hwee Li menjadi terkejut sekali mendengar nama ini.

Biarpun dia sendiri tidak pernah mengenal puteri itu, namun nama puteri itu sudah kerap kali didengarnya.

Gurunya, Nyonya Kao Kok Cu yang dulu bernama Lu Ceng atau Ceng Ceng itu, sering kali menceritakan tentang Puteri Syanti Dewi ini yang menjadi kakak angkat gurunya.

Akan tetapi di depan Pangeran Nepal itu, dia bersikap tenang saja.

"Apakah dia itu tamumu?"

Tanyanya.

"Bukan, dia adalah tawanan kami. Dia secara kebetulan dapat tertawan oleh Gitananda, selama ini disembunyikan karena banyak orang pandai mencarinya, dan kini atas perintahku, puteri itu di bawa ke sini untuk menemanimu."

"Dia kau tawan pula? Pangeran, memang tepatlah kalau dia yang menjadi jodohmu. Engkau pangeran dan dia puteri. Pula, bukankah Nepal dan Bhutan itu bertetangga?"

"Ha-ha-ha, mana mungkin begitu? Aku cinta padamu, Hwee Li. Dan dari kenyataan bahwa Puteri Bhutan itu ku tawan, jelas membuktikan bahwa Bhutan dan Nepal bukanlah sahabat. Mungkin saja kelak dia akan menjadi selirku, tapi ah, sementara ini, aku tidak ingin memandang atau membicarakan wanita lain kecuali dirimu, sayang."

Semenjak peristiwa itu, biarpun sikap pangeran itu masih biasa, masih ramah kepadanya, namun Hwee Li maklum bahwa penjagaan terhadap dirinya makin diperkuat.

Dia selalu dibayangi, kalau tidak oleh Hek-tiauw Lo-mo tentu oleh Hek-hwa Lo-kwi atau para pembantu lain.

Dia merasa penasaran dan kebenciannya terhadap Liong Bian Cu tidak berkurang.

Biarpun dia telah mencela dirinya sendiri sebagai orang kurang mengenal budi, mengakui sendiri bahwa pangeran itu benar-benar cinta kepadanya, tidak sakit hati biarpun nyaris tewas oleh perbuatannya, namun tetap saja dia tidak mempunyai sedikit pun perasaan cinta kepada pangeran itu.

Bahkan dia merasa makin gemas karena dia menuduh pangeran itu sengaja hendak "melepas budi"

Agar dia merasa berhutang budi kepadanya.

Dan memang dia merasa canggung sekali, sukar baginya kini untuk memperlihatkan sikap kasar terhadap pangeran yang selalu baik kepadanya itu.

Dan ini berbahaya, dia tahu akan hal itu.

Merasa betapa kebenciannya makin mengendur, Hwee Li menjadi takut dan dia memperkuat pula perasaan benci itu sambil mengingat satu hal pokok, yaitu bahwa kemerdekaannya dihalangi oleh Liong Bian Cu.

Pada keesokan harinya, benar saja Gitananda muncul bersama Syanti Dewi.

Seperti telah kita ketahui, Gitananda berhasil menculik Syanti Dewi ketika terjadi perebutan antara Ceng Ceng dan See-thian Hoat-su karena salah duga sehingga Syanti Dewi tidak terlindung dan mudah diculik dan dilarikan oleh Gitananda.

Karena maklum bahwa banyak orang pandai yang akan mengejarnya untuk merampas kembali Syanti Dewi, maka Gitananda lalu menyembunyikan puteri itu di suatu tempat dalam hutan besar, menyuruh anak buahnya menjaga dengan ketat dan dia hanya melaporkan saja kepada koksu, yaitu atasannya.

Kemudian koksu menceritakan hal itu kepada muridnya, yaitu Pangeran Liong Bian Cu dan akhirnya Liong Bian Cu memerintahkan agar puteri itu dipindahkan saja ke lembah Sungai Huang-ho itu, Selain untuk dapat menjaganya lebih kuat, juga puteri itu dapat menemani tunangannya.

Setelah Syanti Dewi yang kelihatan kurus dan agak pucat itu disambut oleh Liong Bian Cu dengan sikap hormat dan disuruh antar ke kamarnya, Liong Bian Cu lalu mengajak gurunya berunding.

Sementara itu, Hwee Li yang sepintas lalu melihat puteri itu, diam-diam merasa kagum sekali.

Benar cerita gurunya.

Puteri Syanti Dewi amat cantik jelita, sikapnya agung dan tenang.

Menurut penuturan gurunya, puteri itu tentu sudah berusia dua puluh tiga tahun lebih, akan tetapi kelihatan seperti dara remaja belasan tahun saja.

Hanya sikapnya, pandang matanya dan gerak-geriknya yang lemah lembut membayangkan bahwa puteri itu adalah seorang wanita yang sudah matang, tenang, dan memiliki kepribadian yang amat kuat.

Hwee Li lalu mengunjungi kamar itu.

Para penjaga yang berdiri di luar kamar dengan senjata di tangan, cepat memberi hormat dan tidak ada seorang pun berani menghalangi Hwee Li memasuki kamar itu.

Hwee Li dianggap sebagai tunangan pangeran dan tidak ada seorang pun yang berani menentangnya, sungguhpun tidak akan ada pula yang berani membantunya andaikata Hwee Li minta mereka membantu dia lolos dari tempat itu.

Mereka tahu bahwa sekali saja nona ini mengadu kepada pangeran, tentu pangeran tidak akan segan-segan untuk menghukum orang yang diadukan, atau mungkin membunuhnya seketika!

Hwee Li memasuki kamar dan melihat puteri itu rebah telentang, menatap langit-langit kamar dengan sikap termenung.

Ada dua orang pelayan wanita duduk bersimpuh di atas lantai.

Melihat Hwee Li, dua orang pelayan itu cepat memberi hormat.

"Keluarlah kalian berdua dan jangan masuk kalau tidak kami panggil!"

Kata Hwee Li dengan sikap keren dan dua orang pelayan itu menghormat lalu keluar dari dalam kamar.

Mereka bersama para penjaga berkelompok di luar pintu, bingung dan khawatir.

Mereka diperintahkan untuk menjaga sang puteri, akan tetapi mereka disuruh keluar oleh tunangan pangeran dan mereka tidak berani membantah karena sudah berkali-kali ditekankan oleh pangeran dan para pembantunya, bahwa tunangan pangeran itu harus ditaati dan jangan sampai marah.

Pula, mereka semua tahu bahwa tunangan pangeran itu adalah seorang dara yang memiliki tangan baja, memiliki kepandaian tinggi dan sekali pukul saja dapat menghancurkan kepala mereka!

"Bibi Syanti Dewi....!"

Hwee Li melangkah maju dan menjura ke arah wanita yang masih rebah dan menyambut kedatangannya dengan pandang mata penuh selidik itu.

Syanti Dewi mengerutkan alisnya dan bangkit duduk.

Dia tidak pernah diganggu selama diculik oleh Gitananda, dan dia tahu bahwa Gitananda adalah kaki tangan Kerajaan Nepal, bahwa dia terjatuh ke tangan musuh negaranya.

Maka, biarpun dia merasa berduka karena putus harapannya bertemu dengan kekasihnya, Ang Tek Hoat, namun dia tahu bahwa dia aman berada di tangan orang-orang Nepal ini.

Hanya karena terlalu berduka memikirkan Tek Hoat, maka dia tidak suka makan, kurang tidur sehingga badannya lemah dan mukanya pucat.

Kini, setelah disambut oleh Pangeran Liong Bian Cu yang dia dengar adalah cucu Raja Nepal, dia tahu bahwa dia akan dijadikan sandera.

Maka tentu saja dia terkejut dan terheran-heran melihat munculnya seorang dara remaja yang cantik dan yang menyebutnya bibi ini.

Melihat sikap dara cantik ini terhadap para pelayan, dan melihat betapa para pelayan mentaati perintahnya, dia maklum bahwa dara ini tentu orang penting yang besar kekuasaannya di tempat itu.

Ditatapnya wajah Hwee Li dengan tajam dan penuh selidik.

"Engkau siapakah, Nona?"

Tanyanya sambil bangkit duduk.

"Namaku Hwee Li,"

Jawab Hwee Li sambil tersenyum dan duduk di atas pembaringan di dekat Puteri Bhutan itu.

"Engkau tentu tidak mengenalku dan merasa heran mengapa aku menyebutmu bibi. Ketahuilah, Bibi Syanti Dewi, bah-wa guruku adalah adik angkatmu yang bernama Lu Ceng atau Candra Dewi."

Dari subonya, dara ini memang sudah mendengar banyak tentang riwayat subonya bersama Syanti Dewi.

Candra Dewi adalah nama yang diberikan oleh Puteri Bhutan ini kepada Ceng Ceng yang menjadi adik angkatnya (baca Kisah Sepasang Rajawali).

Mendengar disebutnya nama Ceng Ceng, Syanti Dewi terkejut dan gembira bukan main.

Wajahnya berseri dan dia meloncat turun dan berdiri di depan Hwee Li, langsung saja memegang lengan dara itu dan bertanya.

"Di mana dia? Di mana Candra Dewi? Dan bagaimana engkau dapat berada di sini?"

Hwee Li merasa kasihan melihat kegembiraan dan sinar mata penuh harapan dari puteri itu. Dia menarik napas panjang dan menjawab lirih.

"Aku tidak tahu di mana adanya Subo sekarang ini, Bibi. Dan aku sendiri pun menjadi seorang tawanan di sini."

"Ahhhhh....!"

Syanti Dewi masih memegang tangan Hwee Li, akan tetapi dia kini duduk kembali di samping dara itu, memandang dengan sinar mata khawatir.

Seketika dia sudah melupakan keadaan dirinya sendiri karena semua perhatiannya tercurah kepada dara murid adik angkatnya itu, mengkhawatirkan keadaan Hwee Li yang menjadi tawanan.

Demikianlah memang watak Puteri Bhutan ini, mudah melupakan penderitaan sendiri akan tetapi selalu peka terhadap penderitaan orang lain.

Hwee Li lalu menceritakan keadaannya dan bagaimana dia bisa menjadi seorang tawanan di tempat itu, sungguhpun dia, kelihatan sebagai seorang tamu agung yang dihormati dan ditaati oleh para pengawal dan pelayan.

Ketika Syanti Dewi mendengar bahwa dara remaja yang cantik jelita ini akan dijadikan isteri oleh Liong Bian Cu, dia terkejut bukan main.

Terkejut, heran dan juga kagum.

Tentu ada puluhan, bahkan ratusan ribu gadis yang ingin menjadi isteri Pangeran Nepal itu, yang akan menyambut pinangan pangeran itu dengan penuh kebanggaan dan kegirangan hati.

Akan tetapi, dara remaja murid Ceng Ceng ini kelihatan sama sekali tidak gembira!

"Aku benci dia, Bibi!

Aku ingin membunuhnya dan nyaris aku berhasil, akan tetapi dia memang lihai sekali, apalagi dia dibantu oleh Hek-hwa Lo-kwi yang sakti, belum lagi gurunya yang amat lihai, Ban Hwa Sengjin yang mempunyai banyak pembantu.

Bahkan ayahku sendiri kini juga menjadi pembantunya."

"Ayahmu?"

Syanti Dewi bertanya heran.

Bagaimana ayah seorang dara yang tidak suka dipaksa menjadi jodoh pangeran itu malah menjadi pembantu pangeran itu?

"Ya, ayahku adalah Hek-tiauw Lo-mo....!"

"Ahhh....!"

Bukan main kagetnya hati Syanti Dewi mendengar nama ini.

Tentu saja dia sudah mendengar dan mengenal baik nama ini, raksasa jahat yang banyak mengambil peranan dalam keributan pemberontakan dua orang Pangeran Liong dahulu (baca Kisah Sepasang Rajawali).

Dara cantik jelita ini, yang menjadi murid Ceng Ceng, adalah puteri dari majikan Pulau Neraka itu?

Sungguh mengherankan dan mengejutkan sekali.

Dan mendengar bahwa dara ini adalah puteri iblis itu, otomatis Syanti Dewi melepaskan pegangan tangannya dan duduk agak menjauh.

Gerakan Syanti Dewi ini tidak terlepas dari pandang mata Hwee Li.

Dara itu menarik napas panjang, lalu cepat berkata.

"Harap Bibi jangan kaget. Hek-tiauw Lo-mo memang kini menjadi pembantu utama dari Pangeran Nepal itu, dan Hek-tiauw Lo-mo juga memaksaku untuk menjadi isteri Pangeran Liong. Justeru itulah yang dikejarnya. Agar aku menjadi isteri Liong Bian Cu dan dia dapat membonceng kedudukanku dan menjadi seorang yang mulia dan terhormat. Akan tetapi, aku tidak sudi...."

Syanti Dewi mengerutkan alisnya yang berbentuk indah itu, lalu kembali mendekat dan memegang tangan Hwee Li.

Makin besar rasa iba di dalam hatinya terhadap dara yang malang ini.

Betapa banyaknya dara di dunia ini yang dipaksa oleh ayah mereka dalam urusan perjodohan!

Bukan hanya Hwee Li ini, juga dia sendiri malah!

Bukankah dia sudah memilih Tek Hoat sebagai calon jodohnya, akan tetapi juga kini gagal karena ayahnya yang tidak menyetujui pemuda pilihannya itu menjadi mantu?

Betapa banyaknya gadis dari yang paling miskin sampai yang paling kaya, dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi kedudukannya, harus tunduk kepada ayah mereka dalam urusan memilih jodoh!

Dan betapa banyaknya hati yang hancur karena paksaan harus menikah dengan orang lain.

Dalam hal perjodohan, biarpun berlainan sifatnya, dia merasa senasib dengan Hwee Li, maka timbuliah rasa sayang dalam hatinya terhadap murid adik angkatnya ini.

"Hwee Li, sungguh engkau patut dikasihani! Aku merasa heran sekali mengapa ayahmu sampai hati memaksamu? Padahal, aku tahu bahwa ayahmu bukanlah orang biasa, melainkan seorang tokoh besar yang amat terkenal dan berilmu tinggi...."

"Akan tetapi dia jahat, Bibi. Jahat sekali dan aku benci padanya! Aku pun ingin membunuhnya kalau bisa!"

Hwee Li mengepal tinju dan matanya mengeluarkan sinar berkilat. Syanti Dewi mengerutkan alisnya.

"Hwee Li,"

Katanya dengan suara keren.

"Engkau adalah murid adikku Candra Dewi, oleh karena itu engkau patut mendengarkan kata-kataku pula. Engkau telah menyeleweng dari kebenaran! Mana boleh seorang anak membenci ayahnya sendiri, bahkan hendak membunuhnya?"

"Dia bukan ayahku! Dia bukan ayah kandungku! Dia malah musuh besarku!"

Hwee Li berseru dan sepasang mata itu menjadi merah.

"Eh, bagaimana pula ini, Hwee Li?"

Syanti Dewi bertanya dan tiba-tiba Hwee Li menangis tersedu-sedu.

Syanti Dewi terkejut.

Dia cepat memeluk dara itu dan Hwee Li menangis di atas dada puteri itu.

Hwee Li adalah seorang dara yang berhati keras seperti baja.

Penderitaan batin yang dideritanya selama ini, apalagi ketika mendengar bahwa Hek-tiauw Lo-mo bukan ayahnya, Dan betapa seluruh keluarganya, yaitu keluarga Kim, telah binasa, membuat batinnya tertekan oleh duka yang amat besar.

Namun, di depan orang-orang yang dibencinya di lembah itu, dia menggunakan kekuatan batinnya, menggunakan kekerasan hatinya, untuk menahan tekanan batin itu.

Kini, berhadapan dengan Syanti Dewi yang lemah lembut, yang bersikap begitu baik dan penuh perasaan kepadanya, apalagi mengingat bahwa puteri ini adalah bibi gurunya, Hwee Li merasa (Lanjut ke

Jilid 28) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 28 seolah-olah menemukan tempat penumpahan segala derita batinnya dan setelah kini bendungan itu dibuka, menangislah dia, sewajarnya tangis yang amat memilukan hati sehingga Syanti Dewi yang lembut hati itu pun tidak dapat pula menahan air matanya dan dia mengusap-usap rambut kepala Hwee Li penuh rasa sayang dan iba.

Dia membiarkan dara remaja itu menangis sepuasnya.

Syanti Dewi sendiri bukan seorang wanita tua, sama sekali bukan.

Usianya baru dua puluh dua tahun, akan tetapi pengalaman dan penderitaan hidup telah menggemblengnya sehingga kini menghadapi Hwee Li yang baru berusia tujuh belas tahun ini, dia merasa seolah-olah menjadi bibi atau ibu dara remaja ini.

Setelah tangisnya mereda dan hatinya terasa ringan sekali setelah dia menangis sepuasnya, Hwee Li lalu menceritakan apa yang didengar-nya tentang Hek-tiauw Lo-mo yang ternyata bukan ayahnya, bukan apa-apanya itu, dan tentang keluarganya yang terbasmi karena dianggap sebagai keluarga pemberontak.

Syanti Dewi mengangguk-angguk.

"Aku telah mendengar tentang keluargamu itu. Aku mendengar bahwa ayah kandungmu yang sesungguhnya, Panglima Kim Bouw Sin itu, memang telah memberontak terhadap kerajaan. Betapapun juga, sikapnya itu tentu ada alasannya, dan biarpun oleh kerajaan dia dianggap berdosa, namun sebagai manusia dia tidaklah sejahat seperti halnya Hek-tiauw Lo-mo yang terkenal sebagai seorang manusia iblis itu. Tadi aku sudah merasa heran bagaimana seorang dara seperti engkau, murid adik angkatku, dapat menjadi puteri iblis Hek-tiauw Lo-mo. Kiranya engkau bukan puterinya! Hwee Li, engkau memiliki kepandaian, engkau harus berusaha untuk meloloskan diri dari tempat berbahaya ini!."

"Ah, tidak mudah, Bibi."

Hwee Li lalu menceritakan keadaan lembah itu dan betapa semua daya upayanya gagal.

"Malah Liong Bian Cu sudah bersiap-siap, pernikahan akan diadakan beberapa pekan lagi. Aku khawatir, Bibi, apalagi melihat Bibi ditawan pula. Aku harus dapat me-nolong Bibi dari tempat ini!"

"Tidak perlu engkau mengkhawatirkan diriku, Hwee Li. Pangeran Liong Bian Cu, sebagai cucu Raja Nepal, adalah musuh dari negaraku. Dia menawanku tentu dengan maksud menjadikan aku sebagai sandera untuk memukul negaraku. Akan tetapi, engkau, engkau menghadapi bahaya langsung yang sudah makin dekat saatnya, maka kau harus dapat lolos dari sini."

Demikianlah, dua orang wanita itu kini menjadi akrab sekali dan bercakap-cakap mencari jalan untuk dapat lolos dari tempat itu.

Akan tetapi, mereka akhirnya maklum bahwa jalan untuk lolos sama sekali buntu.

Agaknya, tanpa ada bantuan dari luar, tidak mungkin bagi mereka untuk meloloskan diri.

Akan tetapi Hwee Li tidak putus harapan.

Dia masih mempunyai harapan untuk lolos, yaitu pada saat pernikahan di mana dia percaya tentu banyak hadir tokoh kangouw yang lihai.

Siapa tahu, di antara mereka itu terdapat orang-orang yang mau membantunya, dan dia percaya pula bahwa orang-orang seperti suhunya dan subonya, seperti Suma Kian Bu si Siluman Kecil, Suma Kian Lee, dan orang-orang gagah lainnya tidak akan tinggal diam kalau mendengar bahwa dia dipaksa menikah dengan Pangeran Liong Bian Cu!

Kita tinggalkan dulu Syanti Dewi dan Hwee Li, dua orang wanita muda yang tertawan di dalam lembah dan sama sekali tidak berdaya untuk meloloskan diri itu, dan mari kita mengikuti perjalanan Jenderal Kao Liang bersama dua orang puteranya yaitu Kao Kok Tiong dan Kao Kok Han, yang bersama-sama dengan Ceng Ceng pergi menuju ke kota Pao-ting.

Seperti yang diceritakan oleh Ceng Ceng kepada ayah mertuanya, dia sudah berjanji untuk bertemu di Pao-ting bersama suaminya setelah dia dan suaminya berpisah dan melakukan penyelidikan untuk mencari putera mereka secara berpencar.

Mereka tiba di kota Pao-ting pada waktu senja.

Menurut perjanjian antara suami isteri itu, pertemuan di antara mereka di kota ini akan dilakukan esok hari.

Karena itu, Ceng Ceng lalu mengajak ayah, mertua dan adik-adik iparnya untuk mencari rumah penginapan.

Akan tetapi, tiba-tiba seorang anak kecil, anak laki-laki yang usianya kurang lebih dua belas tahun, seorang anak yang berpakaian pengemis, menghampiri mereka yang sedang berjalan perlahan di atas jalan raya itu dan berbisik kepada Ceng Ceng.

Ceng Ceng dan rombongannya mengira bahwa anak itu tentu hendak mengemis, akan tetapi betapa kaget hati Ceng Ceng ketika mendengar anak itu berbisik.

"Apakah Toanio mengenal Topeng Setan?"

Tentu saja Ceng Ceng kaget karena Topeng Setan adalah nama julukan suaminya dahulu ketika suaminya belum menikah dengan dia dan suka menggunakan topeng buruk menutupi wajahnya yang tampan (baca Kisah Sepasang Rajawali).

"Anak baik, kau membawa berita apa dari Topeng Setan?"

Tanyanya, berbisik dan membungkuk.

"Saya disuruh menyerahkan surat ini,"

Jawab anak itu, mengeluarkan sesampul surat dari saku bajunya yang butut.

"Ah, terima kasih!"

Ceng Ceng berseru, menerima surat itu dan mengeluarkan beberapa potong uang kecil.

"Ini hadiah untukmu"

"Tidak, Toanio. Saya sudah menerima hadiah cukup dari pengirim surat ini."

Setelah berkata demikian, bocah itu lari meninggalkan Ceng Ceng dan rombongannya. Ceng Ceng lalu menoleh kepada ayah mertuanya dan berkata.

"Ayah, lihatlah, seorang anak jembel pun mempunyai kejujuran."

Jenderal Kao Liang mengangguk dan menarik napas panjang.

"Justeru kejujuran biasanya ditemukan pada orang-orang bodoh dan miskin, sebaliknya orang-orang yang mengaku dirinya terpelajar dan pandai, agaknya tidak mengenal lagi kejujuran yang mereka anggap semacam kebodohan."

Ceng Ceng membuka sampul surat dari suaminya itu dan melihat tulisan suaminya di atas kertas, tulisan yang amat dikenalnya.."Isteriku, harap ajak ayah dan adik-adik ke kuil kosong di sudut barat kota."

Ceng Ceng memperlihatkan surat itu kepada ayah mertuanya.

Hati bekas jenderal ini girang bukan main dan diam-diam dia kagum kepada putera sulungnya itu yang ternyata telah dapat mengetahui bahwa dia dan dua orang puteranya datang bersama mantunya.

Dia membenarkan sikap putera sulungnya yang berhati-hati dan tidak menghendaki pertemuan di tempat terbuka.

"Mari kita pergi ke sana,"

Katanya kepada Ceng Ceng dan mereka berempat lalu menuju ke barat. Malam telah tiba dan mereka menghampiri kuil yang tua, kosong dan gelap itu.

"Ayah....!"

Kao Kok Cu menyambut kedatangan ayahnya dengan memberi hormat sambil berlutut di atas lantai ruangan kuil itu.

Ruangan itu luas dan sebagian dindingnya sudah runtuh, atapnya juga sebagian banyak terbuka.

Di atas meja butut terdapat dua batang lilin yang dinyalakan oleh pendekar itu dan lantainya dibersihkan.

Bekas jenderal itu mengangkat bangun putera sulungnya dan memandang dengan penuh perhatian dan penuh selidik.

Kao Kok Cu berusia kurang lebih tiga puluh tahun, berpakaian sederhana.

Tubuhnya tinggi dan padat, dan kelihatan agak kurus.

Wajahnya yang tampan itu ke-lihatan agak muram.

Lengan kirinya yang buntung tertutup lengan baju yang tergantung lepas.

Inilah dia Naga Sakti dari Gurun Pasir, pendekar sakti yang berilmu tinggi, akan tetapi yang kini bersama isterinya merana dan berduka, mencari putera mereka yang hilang.

"Saya melihat Ceng Ceng muncul bersama Ayah dan adik-adik, maka saya menyuruh anak pengemis mengirim surat,"

Katanya setelah bangkit berdiri, memandang ayahnya yang kelihatan demikian muram dan berduka, bahkan sepasang mata kakek itu basah.

Melihat ini, Kao Kok Cu bertanya khawatir.

"Ada apakah Ayah? Apa yang terjadi?"

"Twako....!"

Dua orang adiknya berseru dan kini dua orang muda itu menangis sambil merangkul kakak mereka.

"Eh, eh, Adik Tiong dan Han! Ada apakah?"

Kok Cu bertanya, makin kaget dan khawatir.

"Mari kita duduk di lantai dan bicara!"

Mereka berlima duduk di atas lantai membentuk lingkaran dan berceritalah Jenderal Kao Liang tentang semua peristiwa yang terjadi, tentang malapetaka yang menimpa keluarganya.

Semua dia ceritakan dengan jelas, melewati hal-hal yang dianggapnya kurang penting.

Sebagai penutup, dia menghela napas panjang dan berkata, suaranya gemetar.

"Kami bertiga masih bingung dan tertekan oleh peristiwa hebat itu dan engkau dapat membayangkan betapa gelisah hatiku. Akan tetapi, kemudian kami bertemu dengan isterimu dan mendengar bahwa cucuku juga hilang! Aihhh, Kok Cu, apa yang dapat kita lakukan sekarang?"

Ayah itu mengusap ke arah bawah matanya untuk menghapus dua tetes air matanya.

Si Naga Sakti dari Gurun Pasir tidak menjawab, tangan kanannya dikepal, sepasang matanya mencorong seperti mengeluarkan api, seperti mata naga ketika tertimpa sinar dua batang lilin yang lemah.

Mendengar betapa ibunya, iparnya, bibinya, keponakan-keponakannya diculik orang, betapa keluarga ayahnya, tertimpa malapetaka yang hebat itu, dia menjadi marah bukan main.

Anaknya sendiri lenyap dan kini ibunya dan semua keluarganya diculik orang.

Melihat keadaan pendekar itu, ayahnya dan dua orang adiknya meman-dang dengan kaget dan gentar juga.

Memang hebat sekali melihat sepasang mata yang mencorong itu.

Menakutkan!

Mereka hanya menanti ketika melihat Kok Cu diam saja, wajahnya seperti topeng, keras dan kaku, hanya matanya yang mencorong itulah yang hidup, bergerak seperti mata naga mencari mustikanya.

Melihat ini, mengertilah Ceng Ceng bahwa suaminya menderita himpitan batin yang hebat dan betapa suaminya sedang mengerahkan sinkang untuk menghadapi penderitaan itu.

Tahulah dia betapa suaminya marah dan andaikata orang-orang yang menyebabkan malapetaka itu berada di situ, berapapun banyaknya, betapapun kuatnya, tentu akan mengalami saat kiamat di tangan suaminya!

"Suamiku, kemarahan adalah sia-sia, hanya melemahkan batin dan mengeruhkan plkiran,"

Katanya dengan suara halus, tangannya meraba lengan suaminya.

Kata-kata itu adalah kata-kata suaminya sendiri yang sekarang dia pergunakan untuk membantu suaminya sadar akan keadaan dirinya.

Perlahan-lahan wajah yang kaku itu bergerak dan hidup kembali.

Kok Cu menghela napas panjang dan matanya, biarpun masih mencorong, namun tidak liar seperti tadi ketika dia menoleh dan memandang isterinya.

Dia tidak menjawab, akan tetapi jari-jari tangannya memegang tangan isterinya, tergetar dan Ceng Ceng dapat menerima rasa syukur dan terima kasih yang terpancar melalui getaran jari-jari tangan dan pandang mata suaminya itu.

Dia merasa terharu dan dua titik air mata membasahi kedua matanya.

Dia menunduk dan dua titik air mata itu menetes turun.

"Ayah, tidak mungkin semua peristiwa ini terjadi secara kebetulan saja. Ayah dipecat tanpa kesalahan, kemudian perjalanan Ayah ke kampung diganggu, keluarga kita diculik dan harta yang dikumpulkan secara jujur, hasil pengabdian Ayah selama puluhan tahun, dicuri dan bukan itu saja, juga cucu Ayah diculik orang. Aku dan Ceng Ceng sudah melakukan penyelidikan, mencari-cari Cin Liong, dan kami sependapat bahwa Cin Liong bukan pergi dan tersesat begitu saja, melainkan tentu ada yang membawanya pergi. Semua ini kurasa ada hubungannya, saling kait-mengait. Bukankan menurut cerita Ayah tadi, di antara para penghadang yang kemudian saling bertempur sendiri, di antara mayat mereka terdapat pengawal-pengawal istana?"

Bekas jenderal itu mengangguk.

"Aku sendiri memang sudah menduga demikian, Kok Cu. Akan tetapi, sungguh aneh sekali kalau begitu. Apa perlunya kaisar melakukan semua kekejian itu terhadap kita? Dan siapa yang melaksanakannya? Tadinya kami mengira keluarga Suma, akan tetapi ternyata bukan."

"Memang bukan. Aku sudah berjumpa dengan kedua orang Paman Suma, dan mereka itu sama sekali tidak tahu, bahkan mereka berjanji akan membantu kita untuk menyelidiki,"

Kata Ceng Ceng yang percaya sepenuhnya kepada dua orang pamannya dari Pulau Es itu.

"Aku sendiri tidak akan percaya kalau keluarga Pulau Es mencampuri urusan yang keji ini, akan tetapi kita tidak bisa mengandalkan ocang lain. Kita harus menyelidiki sendiri. Karena awal peristiwa ini dimulai dengan pemecatan Ayah di kota raja, maka kurasa semua rahasia ini bisa didapatkan di kota raja. Aku bersama isteriku akan melakukan penyelidikan ke kota raja, Ayah. Sekali kita mengetahui rahasianya, kiranya tidak akan sukar mencari di mana mereka itu menyembunyikan keluarga kita dan anakku"

"Akan tetapi.... ahhh, bagaimana kalau sampai terlambat? Kalau sampai anakku Cin Liong....?"

Ceng Ceng tidak dapat melanjutkan kata-katanya dan mukanya menjadi pucat.

"Tidak mungkin!"

Tiba-tiba Kok Cu berseru nyaring sekali, mengejutkan Jenderal Kao dan dua orang puteranya.

"Kalau terjadi apa-apa dengan anakku dan keluarga kita, mereka semua, siapapun adanya mereka itu, bahkan kaisar sendiri sekalipun, tidak akan dapat terlepas dari tanganku!"

Hebat bukan main ancaman ini dan hati Jenderal Kao Liang yang semenjak nenek moyangnya amat setia kepada kaisar, seperti tertusuk.

Akan tetapi ayah yang bijaksana ini tidak berkata sesuatu, karena maklum bahwa dalam keadaan seperti itu, dilanda oleh kegelisahan dan kemarahan, tidak baik kalau menentang putera sulungnya.

"Baiklah, Kok Cu. Engkau pergilah bersama isterimu menyelidiki ke kota raja. Engkau tentu mengerti bahwa tidak mungkin bagi ayahmu untuk kembali ke sana, setelah ayahmu dipecat. Kami bertiga akan melakukan penyelidikan dengan cermat sekali lagi di tempat peristiwa kehilangan itu terjadi. Siapa tahu kami akan bisa menemukan jejak."

Malam itu mereka tidak tidur, tidak meninggalkan ruangan itu, melainkan bercakap-cakap saling menceritakan perjalanan mereka lebih jauh.

Pertemuan yang amat mengharukan dari keluarga seorang jenderal yang pernah menjadi panglima besar, yang kini mengadakan pertemuan di kuil kosong, sunyi dan kotor.

Biarpun keadaannya demikian, agaknya pertemuan itu tentu akan berlangsung penuh kegembiraan kalau saja tidak terjadi peristiwa-peristiwa hebat yang menimpa keluarga mereka.

Kini, pertemuan itu menjadi pertemuan yang amat mengharukan dan menyedihkan.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Kok Cu dan Ceng Ceng sudah berlutut di depan kaki Jenderal Kao Liang dan bermohon diri untuk melanjutkan perjalanan mereka ke kota raja di mana mereka akan menyelidiki rahasia malapetaka yang menimpa keluarga mereka.

Jenderal Kao Liang mengelus kepala mereka seperti memberi berkah, kemudian Kok Cu merangkul kedua orang adiknya.

Pergilah suami isteri pendekar ini meninggalkan kuil tua dalam cuaca yang masih gelap.

Jenderal Kao Liang sendiri bersama putera-puteranya lalu meninggalkan kota Pao-ting, Menuju ke daerah lembah Huang-ho di mana keluarga mereka lenyap dan mereka pun hendak melakukan penyelidikan yang lebih cermat setelah kini mereka tahu bahwa bukan keluarga Suma yang melakukan semua kejahatan terhadap keluarga mereka itu.

Pada suatu siang, tibalah mereka di tempat itu, di mana dahulu mereka meninggalkan keluarga mereka yang kemudian lenyap.

Mereka berhenti di celah tebing di mana rombongan mereka diserang dan banyak yang mati keracunan oleh balok-balok yang menghadang jalan.

Mereka termenung berdiri di situ.

Peris-tiwa yang telah lalu itu seperti baru terjadi dan masih terbayang di mata mereka.

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara derap kaki kuda.

Mereka cepat menoleh dan dari belakang mereka datang sepasukan orang berkuda yang jumlahnya ada dua puluh orang lebih.

"Hati-hati, dan jangan sembarangan turun tangan,"

Bisik Jenderal Kao Liang kepada dua orang puteranya.

Mereka berdiri di tepi jalan dan memandang pasukan yang datang makin dekat itu.

Mereka mengira bahwa rombongan yang ternyata bukan pasukan kerajaan, melainkan pasukan yang memakai pakaian aneh, bukan seperti tentara namun memakai seragam berwarna biru gelap, akan lewat.

Akan tetapi, ternyata mereka itu menghentikan kuda mereka ketika tiba di situ dan kini mereka melihat sulaman gambar naga di dada baju orang-orang itu!

Seorang di antara mereka, yang tinggi kurus, melompat turun dari atas kudanya dan berdiri di depan Jenderal Kao Liang sambil tersenyum lebar.

Ayah dan anak ini terkejut ketika mengenal orang ini.

Inilah orang yang berjuluk Hoa-gu-ji (Kerbau Belang), seorang tokoh dari Kwi-liong-pang dan tahulah mereka bahwa mereka berhadapan dengan orang-orang Kwi-liong-pang, satu di antara gerombolan-gerombolan yang memperebutkan harta benda mereka!

Jenderal Kao Liang maklum bahwa orang ini lihai, akan tetapi dia bersikap tenang, walaupun dia dan dua orang puteranya sudah siap untuk menghadapi perkelahian.

Akan tetapi, setelah tertawa, Hoa-gu-ji sama sekali tidak menyerang atau memberi isyarat untuk menyerang.

Sebaliknya malah, dia memberi hormat dan menjura kepada Jenderal Kao Liang sambil berkata.

"Kao-goanswe, maafkan kalau kami mengganggu. Kami sengaja menemui Kao-goanswe untuk menyerahkan bungkusan ini, harap kau suka menerima dan memeriksa isinya."

Hoa-gu-jii mengeluarkan sebuah bungkusan kecil berwarna kuning dan biarpun meragu, Jenderal Kao Liang menerimanya juga.

"Siapa yang menyuruhmu?"

Tanyanya.

"Bukalah, dan engkau akan mengetahuinya sendiri, Kao-goanswe,"

Jawab Hoa-gu-ji.

Jenderal Kao Liang membuka bungkusan itu, dengan hati-hati karena dia tentu saja tidak percaya kepada orang seperti tokoh Kwi-liong-pang ini.

Akan tetapi, begitu isi bungkusan itu nampak, Kok Tiong yang bersama Kok Han ikut pula memperhatikan, berseru kaget.

"Ini tusuk konde isteriku!"

Teriaknya.

Jenderal Kao Liang mengangguk dan memeriksa sebuah cincin bermata biru, cincin milik isterinya!

Ternyata orang telah mengirim dua buah benda itu yang cukup menjadi bukti bahwa keluarga Kao berada di tangan mereka!

"Keparat, kau apakan mereka?

Di mana mereka?"

Kok Tiong sudah mencabut pedang diikuti oleh Kok Han, akan tetapi Jenderal Kao Liang cepat mencegah mereka dan menyuruh mereka mundur dan menyimpan pedang mereka kembali.

Sementara itu, Hoa-gu-ji yang akan di serang itu hanya memandang sambil tersenyum lebar saja.

Jenderal Kao Liang membuka sampul surat yang berada di dalam bungkusan bersama dua buah benda perhiasan wanita itu..Jenderal Kao Liang, Kalau engkau ingin bertemu dengan keluargamu, lkutlah bersama utusan kami dan taati semua perintahnya.

Surat itu tanpa tanda tangan, akan tetapi maksudnya sudah cukup dan jelas bagi Jenderal Kao Liang.

Dengan adanya tusuk konde mantunya dan cincin isterinya, jelas bahwa keluarganya berada di dalam cengkeraman pengirim surat ini dan kalau dia menghendaki dapat bertemu kembali dengan mereka, bahkan demi keselamatan mereka, dia dan dua orang puteranya harus menyerah!

"Baiklah, kami akan ikut bersama kalian"

Kata Jenderal Kao, lalu kepada Kok Han dia berkata.

"Kao Han, engkau susul twakomu ke kota raja."

"Baik, Ayah,"

Kata Kok Han yang tadi juga sudah membaca surat itu.

Dia menjura kepada ayahnya, memeluk kakaknya, lalu berlari pergi dengan cepat.

Hoa-gu-ji tidak mencegahnya karena menurut perintah, dia hanya disuruh menangkap Jenderal Kao Liang saja.

Dia lalu melucuti pedang Jenderal Kao dan Kok Tiong, kemudian mereka berdua dibelenggu dan disuruh naik ke atas punggung kuda, kemudian keduanya dibawa pergi dengan mata ditutup kain hitam.

Ayah dan anak ini tak pernah melepaskan perhatian dalam perjalanan itu.

Akan tetapi, mereka tahu bahwa tidak mungkin mereka dapat melalui bukit-bukit dan hutan-hutan yang dapat mereka ketahui dari jalan yang naik turun dan dari hawa dan suara angin di antara banyak pohon, suara burung dan binatang hutan.

Malam itu mata mereka dibuka ketika rombongan berhenti di dalam sebuah hutan yang gelap, dan mereka diberi makan yang cukup baik, diperlakukan dengan sikap yang hormat biarpun Hoa-gu-ji dan seluruh anggauta rombongan tidak pernah bicara.

Pada keesokan harinya, perjalanan dilanjutkan dan kembali mata mereka ditutup.

Ketika hari telah panas, mereka berhenti, ayah dan anak ini lalu diturunkan dari punggung kuda, dibawa masuk ke dalam rumah yang luas dan ke dalam ruangan.

Mata mereka dibuka dan mereka memandang silau.

Ruangan itu luas dan di situ terdapat banyak pintu.

Di tengah ruangan terdapat meja besar dan di belakang meja duduk beberapa orang.

Ketika Jenderal Kao Liang mengenal Hek-tiauw Lo-mo yang duduk pula di dalam ruangan itu, dia terkejut, akan tetapi, dia diam saja, pura-pura tidak mengenalnya.

Dengan adanya Hek-tiauw Lo-mo di situ, tahulah dia bahwa dia terjatuh ke tangan gerombolan orang dari dunia hitam, orang-orang yang berniat memberontak terhadap kerajaan, karena Hek-tiauw Lo-mo dahulu juga bersekutu dengan pemberontak.

Diam-diam dia memperhatikan, demikian pula puteranya.

Di antara semua orang yang berada di kursi-kursi belakang meja itu, yang paling menarik perhatiannya adalah seorang laki-laki muda yang kelihatan berwibawa, berkulit kehitaman dengan hidung melengkung dan mata cekung, gagah dan tampan namun juga aneh dan asing, rambutnya coklat dan pakaiannya indah dan mewah.

Dia duduk di tengah-tengah dan di sebelah kanannya duduk seorang kakek berusia kurang lebih enam puluh tahun bertubuh seperti raksasa, kepalanya botak dan bermantel merah.

Pemuda yang usianya kurang lebih tiga puluh tahun dan kakek botak itulah yang agaknya menjadi orang-orang terpenting di situ, maka Jenderal Kao Liang menujukan pandang matanya kepada mereka.

Dugaannya benar.

Pemuda itu lalu bangkit berdiri dan menyambutnya dengan mata bersinar dan mulut tersenyum lebar.

"Ah, sungguh merupakan kebahagiaan besar dapat bertemu muka dengan Jenderal Kao Liang yang namanya pernah menggetarkan dunia! Haaii, Hoa-gu-ji, hayo cepat buka belenggu mereka!"

Hoa-gu-ji memberi hormat dan dibantu oleh beberapa orang, dia membuka belenggu tangan Jenderal Kao Liang dan puteranya.

Mereka lalu mundur kembali dan kini pemuda berkulit kehitaman itu berkata lagi.

"Jenderal Kao Liang, silakan kau duduk bersama puteramu dan menikmati hidangan kami sebagai penyambutan!"

Jenderal Kao Liang melangkah maju mendekati meja, menjura sebagai balasan penghormatan lalu berkata.

"Kita tidak perlu berpura-pura lagi. Aku dan puteraku bukanlah tamu undangan, melainkan tawanan. Oleh karena itu, harap segera memberi penjelasan. Apakah sebabnya engkau menawan keluarga kami dan siapakah engkau?"

"Ha-ha-ha, sungguh hebat dan tegas!"

Tiba-tlba kakek botak itu berkata dan matanya memandang penuh kagum.

"Memang tepat menjadi seorang jenderal yang pandai!"

"Suhu, tidak percuma dia pernah menjadi panglima besar,"

Kata pula orang muda itu, lalu dia berkata lagi kepada Jenderal Kao Liang.

"Memang engkau benar, Jenderal Kao. Kita tidak perlu berpura-pura lagi. Memang, kami yang telah menawan keluargamu. Akan tetapi kami tidak berniat buruk, melainkan hendak mengajak engkau untuk bekerja sama dengan kami."

Jantung Kao Liang berdebar tegang.

Jadi, keluarganya masih hidup?

Semua selamat?

Akan tetapi, mendengar betapa orang muda asing ini mengajak dia bekerja sama, dia merasa curiga sekali.

Kerja sama dalam hal apa?

Betapapun juga, Kao Liang adalah bekas panglima besar dan sudah sering kali menghadapi urusan-urusan besar, sungguhpun belum pernah dia menghadapi ancaman hebat bagi seluruh keluarganya seperti sekarang ini yang membuat hatinya tegang luar biasa.

Sebelum melanjutkan percakapan, dia harus melihat buktinya lebih dulu, bukti bahwa keluarganya dalam keadaan selamat semua.

Dengan sikap tenang dan air muka sama sekali tidak berubah, bekas jenderal itu lalu berkata dengan sikap hormat pula.

"Soal kerja sama dan yang lain-lain baru bisa dibicarakan dengan hati terbuka kalau kami sudah diperbolehkan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa keluarga kami berada di sini dalam keadaan selamat. Sebelum itu, engkau tentu mengerti bahwa kami tidak mungkin dapat melakukan percakapan dengan hati terbuka."

Kembali Liong Bian Cu tertawa.

"Benar sekali kata-katanya itu, bukan, Suhu?"

Ban Hwa Sengjin mengangguk.

"Dia memang laki-laki sejati!"

"Suhu, harap suka membawa mereka melihat keluarga mereka. Akan tetapi hanya melihat saja karena belum tiba saatnya mereka diperkenankan bicara dan bertemu dengan keluarga mereka."

Ban Hwa Sengjin kembali mengangguk, lalu bangkit berdiri dan ditemani oleh Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi, dia lalu menghampiri Jenderal Kao Liang dan puteranya.

"Goanswe dan Sicu, mari silakan ikut bersama kami."

Dengan jantung berdebar tegang Kao Liang dan Kok Tiong mengikuti tiga orang kakek itu.

Ban Hwa Sengjin berjalan di depan, diiringkan oleh Kao Liang dan Kok Tiong sedangkan dua orang kakek iblis itu mengikuti dari belakang.

Mereka melalui lorong berlika-liku di dalam gedung besar itu dan akhirnya Ban Hwa Sengjin berhenti dan memberi isyarat kepada dua orang itu untuk berhenti.

Mereka tiba di sebuah ruangan kecil dan tidak jauh di depan terdapat sebuah pintu yang lebar dan di depan pintu ini berdiri enam orang penjaga yang memegang senjata.

Melihat kedatangan Ban Hwa Sengjin, mereka lalu cepat memberi hormat.

"Buka daun pintu kayu itu lebar-lebar agar kami dapat melihat mereka yang berada di dalam!"

Kata Ban Hwa Sengjin kepada kepala penjaga.

Perintah ini cepat ditaati, rantai pintu itu dibuka dan pintu itu didorong ke samping.

Ternyata di balik pintu kayu itu terdapat pula ruji-ruji besi seperti kerangkeng dan di belakang ruji-ruji ini terdapat sebuah kamar yang besar sekali, dengan beberapa buah pembaringan, meja dan kursi-kursi.

Dan di dalam kamar besar yang ditutup ruji dan dijaga ketat itu terdapat beberapa orang wanita dan anak-anak, ada yang sedang berbaring, ada yang duduk membaca, ada pula yang menyulam, ada yang sedang bercakap-cakap.

Melihat mereka itu, Kao Liang dan Kao Tiong memandang dengan mata terbelalak.

Mereka itulah keluarga yang hilang!

Dan tidak ada seorang pun yang kurang.

Masih lengkap dan kelihatannya memang sehat, sungguhpun di antara mereka ada yang kelihatan pucat dan kurus.

Dan biarpun tidak ada yang kelihatan gembira, namun harus diakui bahwa mereka itu selamat dan agaknya kamar besar itu cukup baik, mereka cukup terjamin.

"Ayah....!"

Tiba-tiba seorang anak laki-laki berseru dan menuding ke arah Kok Tiong.

Semua orang dalam kamar itu menengok dan terjadilah pemandangan yang amat memilukan.

Para wanita itu sejenak memandang dengan mata terbelalak ke arah Kao Liang dan Kao Tiong, seolah-olah tidak percaya, kemudian terdengarlah seruan-seruan mereka memanggil dan tangis mereka riuh-rendah.

Mereka semua lari ke ruji besi, seperti tawanan-tawanan yang melihat keluarga datang berkunjung.

Ban Hwa Sengjin mengembangkan kedua lengannya ketika melihat Kao Liang dan Kok Tiong bergerak hendak maju, sambil berkata.

"Cukup sudah untuk membuktikan bahwa keluargamu dalam keadaan selamat, Kao-goanswe."

Lalu dia memerintahkan kepada para penjaga.

"Tutup kembali pintunya!"

Kao Liang clan Kok Tiong berdiri tegak dengan muka pucat dan mata terbelalak, melihat betapa wajah-wajah orang yang mereka cinta itu lenyap kembali di pintu kayu dan tangis mereka masih terdengar lapat-lapat.

Seperti ditusuk-tusuk rasa jantung Kok Tiong mendengar putera sulungnya yang baru berusia empat tahun itu memanggil-manggilnya dari balik daun pintu.

Ingin dia memberontak dan memecahkan daun pintu itu, akan tetapi dia maklum bahwa itu bukanlah cara yang baik dan selamat, maka dia menekan perasaannya dan ketika tangan ayahnya menjamah lengannya, dia memutar tubuh dan bersama ayahnya mengikuti kakek botak kembali ke ruangan tadi di mana pemuda berkulit kehitaman itu masih menanti mereka sambil tersenyum-senyum.

Begitu tiba di ruangan itu, Kao Liang lalu menghadapi pemuda asing itu dan berkata dengan suara tegas.

"Orang muda, apakah artinya semua ini? Lekas katakan, siapakah engkau dan kerja sama yang bagaimana yang kau minta dariku?"

"Kao-goanswe, dan Kao-sicu, duduklah kalian agar kita dapat bicara dengan baik,"

Kata Liong Bian Cu sambil memberi isyarat kepada pelayan.

Segera pelayan datang membawa cawan dan meletakkan cawan dan mangkok di depan ayah dan anak itu, kemudian hidangan dikeluarkan, hidangan yang masih panas.

Liong Bian Cu lalu menuangkan sendiri arak ke dalam dua cawan di depan ayah dan anak itu, mempersilakan mereka untuk minum.

"Maaf, orang muda. Sebelum kami mengenal siapa engkau dan mengetahui apa maksudmu menawan keluarga kami, bagaimana kita dapat minum dan makan seperti antara sahabat?"

Kao Liang berkata lagi dan tidak menyentuh cawan arak itu.

Juga Kok Tiong duduk tegak dengan mata menatap wajah pemuda berkulit kehitaman itu dengan sinar mata tajam penuh selidik.

Liong Bian Cu tersenyum melihat penolakan ayah dan anak itu.

Dia minum araknya dari cawan, lalu meletakkan cawan itu di atas meja dan berkatalah dia sambil menatap tajam wajah bekas jenderal itu.

"Kao-goanswe, saya bernama Liong Bian Cu dan biarpun engkau belum pernah bertemu dengan saya dan belum mengenal saya, akan tetapi saya kira engkau tentu sudah mengenal baik mendiang ayah saya."

Kao Liang mengerutkan alisnya.

"She Liong....?"

Dia berkata lirih dan meng-ingat-ingat karena setahunya, yang she Liong adalah pangeran-pangeran dari Kerajaan Ceng!

"Benar, Goanswe, mendiang ayah saya adalah Pangeran Liong Khi Ong!"

"Ahhh....!"

Bukan main kagetnya Kao Liang mendengar ini, juga Kok Tiong terkejut dan timbul kekhawatiran besar di dalam hatinya.

Mendiang Liong Khi Ong adalah seorang pemberontak besar dan ayahnya adalah bekas panglima yang telah membasmi kaum pemberontak.

Kenyataan ini saja sudah amat jelas berbicara mengapa keluarga Kao diculik dan ditawan!

"Antara mendiang Pangeran Liong Khi Ong dan saya memang terdapat pertentangan"

Akhirnya Kao Liang berkata dengan suara berat.

"Akan tetapi itu bukan merupakan permusuhan pribadi, melainkan dalam kedudukan saya sebagai panglima perang abdi negara. Maka saya tidak melihat dasar-dasar yang kuat mengapa Kongcu mengambil tindakan terhadap keluarga saya yang tidak tahu-menahu tentang pertentangan antara mendiang ayahmu dan saya itu."

Liong Bian Cu tersenyum lebar.

"Tenanglah, Goanswe. Sudah kukatakan tadi bahwa kami menawan keluargamu sama sekali bukan dengan niat yang buruk! Dan saya sama sekali tidak menaruh dendam pribadi kepadamu. Saya bukanlah seperti orang biasa yang mabuk oleh dendam dan sakit hati pribadi. Saya adalah seorang pangeran, cucu dari raja besar di Nepal."

Kao Liang rnengangguk-angguk dan mendengar bahwa putera Pangeran Liong Khi Ong ini juga merupakan cucu Raja Nepal, tahulah dia dan teringatlah dia bahwa Pangeran Liong Khi Ong memang mempunyai seorang selir, yaitu puteri Raja Nepal.

Jadi pemuda inikah keturunannya dari puteri Nepal itu?

Dia lalu memandang kepada kakek botak dan kedua kakek lain yaitu Hek-tiauw Lo-mo yang seperti raksasa menyeramkan, dan kakek muka tengkorak yang tidak kalah mengerikan itu.

"Dan saya memperkenalkan Locianpwe ini adalah guru saya, juga beliau adalah koksu dari Nepal, berjuluk Ban Hwa Sengjin,"

Liong Bian Cu berkata dan kakek botak itu bangkit berdiri.

Kao Liang makin kaget dan cepat dia bangkit berdiri memberi hormat yang dibalas oleh kakek botak itu.

Kiranya Pangeran Nepal ini berada di situ bersama Koksu Nepal!

Tentu ada apa-apa di balik ini semua, ada sesuatu yang amat penting!

Akan tetapi dia menekan keheranannya dan tetap bersikap tenang.

"Mereka berdua ini adalah dua di antara pembantu-pembantu kami, Goan-swe. Beliau ini adalah Locianpwe Hek-hwa Lo-kwi, dan Locianpwe ini adalah Hek-tiauw Lo-mo."

"Ha-ha-ha, Jenderal Kao Liang sudah mengenalku!"

Kata Hek-tiauw Lo-mo sambil tertawa dan minum araknya.

"Kiranya Kongcu adalah pangeran dari Nepal dan lengkap dengan para pembantu yang amat lihai. Akan tetapi apa hubungannya itu dengan keluarga saya? Kerja sama apa yang dapat saya lakukan untuk Kongcu?"

"Kami tahu bahwa Goanswe adalah seorang ahli dalam ilmu perang. Mungkin untuk seluruh Tiongkok pada waktu ini, Goanswe adalah orang yang paling pan-dai! Kami amat membutuhkan bantuanmu, Kao-goanswe. Kami ingin agar engkau suka memimpin orang-orang kami, menjadikan tempat ini, lembah ini sebagai benteng yang amat kuat. Terus terang saja, kami berniat untuk menentang kaisar, dan kami sudah menerima janji bantuan dari Gubernur Ho-nan dan banyak pula pembesar lain, baik sipil maupun militer."

Berubah wajah bekas jenderal itu.

Keluarga Kao sejak turun-temurun adalah pahlawan-pahlawan yang setia!

Kini, Pangeran Nepal ini mengajak dia bersekutu untuk memberontak terhadap kerajaan!

Hampir saja Kao Liang menghantam meja di depannya saking marahnya, matanya mendelik dan kumisnya seolah-olah berdiri.

Dia tidak mampu bicara saking marahnya.

"Engkau berjanji akan membantu kami, Kao-goanswe, dan kami pun akan berjanji untuk menjamin keselamatan jiwa raga keluargamu. Bukankah itu sudah adil sekali?"

Liong Bian Cu kembali berkata dengan suaranya yang tenang dan halus.

"Tidak....! Tidak sudi aku....!"

Tiba-tiba Jenderal Kao berteriak dan bangkit berdiri, mengepal tinjunya, mukanya merah dan matanya mendelik.

"Ayah....!"

Kok Tiong berkata lirih penuh kegelisahan.

"Ayah, harap Ayah sudi menyelamatkan dua orang cucumu!"

Muka dua orang muda ini pucat sekali karena dia maklum bahwa nyawa seluruh keluarga yang dikurung di sana tadi berada di telapak tangan ayahnya!

"Tidak....!

Seribu kali lebih baik kita mati semua!", kembali Kao Liang berseru keras dan pada saat itu terdengar jerit tertahan dari balik sebuah pintu.

"Gihu (Ayah Angkat)....!"

Dan muncullah Syanti Dewi bersama Hwee Li dari balik pintu itu.

Syanti Dewi lari menghampiri Kao Liang.

Bekas jenderal ini terkejut, menoleh dan segera memeluk Syanti Dewi yang sudah merangkulnya dan menangis di atas dadanya yang bidang.

"Kau....? Dewi....? Kau.... juga di sini?"

Bekas jenderal itu berkata heran dan juga bingung, penuh kekhawatiran.

"Gihu, saya menjadi.... tawanan perang di sini. Baru hari ini saya mendengar bahwa keluarga Gihu semua juga menjadi tawanan di sini.... harap Gihu tidak menggunakan kekerasan dan bersikap bijaksana untuk menyelamatkan keluarga Gihu....!"

"Syanti Dewi, biarpun kami memberi kebebasan kepadamu, akan tetapi perbuatanmu ini lancang sekali dan tidak tahu tata susila. Harap kau suka meninggalkan ruangan ini,"

Kata Liong Bian Cu dengan sikap halus. Syanti Dewi melepas-kan pelukan ayah angkatnya dan mundur dengan kedua pipi kemerahan.

"Semua ini tentu gara-gara Hwee Li!"

Hek-tiauw Lo-mo membentak, lalu berkata kepada dara itu dengan nyaring.

"Hwee Li, hayo kau ajak Sang Puteri pergi dari ruangan ini!"

Dara cantik jelita yang datang bersama Puteri Bhutan itu berdiri tegak, bertolak pinggang menghadapi Hek-tiauw Lo-mo lalu berkata.

"Memang benar aku yang mengajaknya ke sini! Habis, kau mau apa?"

Sikapnya menantang sekali, mengherankan Kao Liang dan puteranya.

Betapa berani sikap dara cantik jelita ini, dan anehnya, Hek-tiauw Lo-mo yang biasanya amat angkuh, kejam dan ganas, sekali ini tidak menjawab apa-apa atas tantangan itu!

Pangeran Liong Bian Cu cepat bangkit berdiri dan dengan suara yang amat ramah dan halus dia berkata kepada dara itu.

"Hwee Li, kekasihku, harap engkau tidak membuat ribut di sini. Kami sedang membicarakan urusan besar, harap kau suka mengajak Syanti Dewi ke taman, Sayang"

Hwee Li merasa malu sekali melihat pangeran itu memperlihatkan sikap demikian ramah dan mesra kepadanya di depan banyak orang.

Dia ingin marah, akan tetapi dia takut kalau-kalau pangeran itu akan makin bersikap mesra, maka dia lalu menggandeng tangan Syanti Dewi dan diajaknya pergi cepat-cepat dari ruangan itu.

Pangeran Liong Bian Cu tersenyum lebar, puas akan hasil dari kecerdikannya.

Dia tahu benar harus bersikap bagaimana untuk mengalahkan dara yang dicintanya itu.

"Maaf atas gangguan tadi, Kao-goanswe. Sungguh saya tidak mengira bahwa Syanti Dewi adalah anak angkatmu. Dan gadis tadi adalah puteri Hek-tiauw Lo-mo locianpwe, atau tunangan saya."

Diam-diam Kao Liang merasa heran dan juga terkejut.

Dara cantik jelita tadi tunangan pangeran ini?

Puteri Hek-tiauw Lo-mo?

Kini dia mengerti mengapa Hek-tiauw Lo-mo membantu pangeran ini.

Dan biarpun dia kagum akan kecantikan dan keberanian dara itu, namun diam-diam dia bergidik mengingat akan sikap dara itu terhadap ayahnya!

Dasar ayahnya seorang laki-laki iblis, anaknya pun sikapnya demikian kurang ajar terhadap ayahnya sendiri!

Akan tetapi, yang amat mengherankan hatinya, bagaimana Syanti Dewi yang memiliki watak mulia dan lemah lembut itu kelihatan begitu akrab dengan dara iblis tadi?

"Kao-goanswe,"

Tiba-tiba Koksu Nepal berkata kepadanya dengan suaranya yang asing karena Ban Hwa Sengjin memang seorang aseli Nepal, sungguhpun dia telah mempelajari bahasa Han dengan baik dan dapat bicara dengan lancar.

"Kita sama-sama adalah orang-orang yang tahu akan tata negara, tahu akan kebijaksanaan dan kesetiaan terhadap pemerintah. Seorang bijaksana akan setia kepada tanah air dan bangsa melalui kesetiaannya terhadap pemerintah. Akan tetapi, kalau melihat betapa pemerintah dipimpin oleh orang-orang yang lemah dan tidak bijaksana, benarkah kalau dia mengekor saja dan berarti menambah beban penderitaan rakyatnya? Tentu tidak, dan seorang bijaksana akan menentang pemerintah yang demikian, demi kebaktiannya kepada rakyat dan tanah airnya."

Kao Liang memandang wajah kakek botak itu dan sejenak mereka beradu pandang.

Diam-diam bekas jenderal itu terkejut melihat sinar mata yang tajam bersinar-sinar dan penuh wibawa itu, maklumlah dia bahwa selain pandai, juga Koksu Nepal itu tentu bukan orang sembarangan dan memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi.

Kemarahan hebat yang tadi membakar dadanya kini sudah mereda setelah munculnya Syanti Dewi yang tak disangka-sangkanya.

"Ban Hwa Sengjin, ke manakah tujuan kata-katamu itu?"

"Kao-goanswe, seperti yang dikatakan oleh Puteri Bhutan tadi, seorang bijaksana akan lebih dulu mengutamakan keselamatan keluarganya dan dalam hal ini, Goanswe adalah seorang yang akan menentukan mati hidupnya keluarga Goanswe, termasuk pula Syanti Dewi."

"Hemmm, engkau hendak mengancam keselamatan mereka demi untuk memeras dan memaksaku, Koksu?"

Bekas jenderal itu mengejek.

"Bukan ancaman kosong, Kao-goanswe! Dengan sekali isyarat, saat ini pun aku sanggup menyuruh algojo memenggal leher keluargamu di depan matamu!"

Pangeran Liong Bian Cu berkata tenang dan halus, namun isi kata-katanya itu penuh ancaman yang mengerikan sehingga pucatlah wajah Kok Tiong mendengar ini.

"Bukan sekedar mengancam untuk memaksa, Jenderal Kao Liang!"

Kata pula Ban Hwa Sengjin dengan sinar mata tajam.

"Sebagai seorang ahli perang engkau tentu dapat mengetahui kalau keadaanmu sudah tersudut dan kalah total. Engkau sudah kalah dan kami yang menang, karena itu kami menggunakan hak kami sebagai pemenang dan sudah selayaknya kalau engkau tahu diri. sebagai fihak yang kalah. Akan tetapi, selain kenyataan ini aku ingin membuka mata dan kesadaran-mu akan kenyataan lain, yaitu bahwa engkau tidak mempunyai pilihan lain."

Kao Liang menegakkan kepalanya dan mengangkat dadanya.

"Bagiku, tetap saja ada pilihan, Koksu, karena aku lebih menghargai kehormatan daripada nyawa. Ancamanmu terhadap keluargaku, sama sekali tidak akan membutakan mataku terhadap nilai kehormatan kami!"

Wajah koksu itu sudah menjadi merah karena dia marah sekali melihat kekerasan hati bekas jenderal ini.

Akan tetapi Liong Bian Cu memberi isyarat kepadanya dan orang muda yang cerdik ini lalu berkata.

"Jenderal Kao Liang, sikapmu yang tegas dan gagah itu amat mengagumkan hatiku. Akan tetapi engkau lupa bahwa setiap perbuatan itu tentu ada dasarnya. Setiap pemberontakan ada pula yang menjadi dasarnya. Ketika mendiang ayahku memberontak terhadap kaisar, apakah dasarnya? Karena kaisar terlalu lemah dan membiarkan para pembesar melakukan korupsi dan maksiat besar-besaran, memeras rakyat. Ayah memberontak dan gagal, hal itu sudah biasa dan tidak perlu disesalkan. Yang patut disesalkan adalah betapa kelaliman berlangsung terus. Engkau, yang ketika itu menjadi panglima, bahkan lalu diangkat menjadi panglima besar, kini dapat melihat bukti kebenaran dasar yang membuat ayahku memberontak, Jenderal Kao. Lihat betapa lalimnya kaisar! Betapa kaisar memberi hati kepada para thaikam dan pembesar-pembesar lalim dan jahat, sehingga banyak orang-orang yang benar-benar merupakan pahlawan seperti engkau, malah disingkirkan dan dipecat. Orang-orang yang penjilat dan pemeras rakyat, tukang korupsi besar malah dipakai dan memperoleh kekuasaan. Engkau yang dipecat dan diusir secara halus oleh kaisar membuktikan bahwa engkau bukan termasuk pembesar penjilat dan korup. Engkau tidak merasa sakit hati oleh tindakan lalim kaisar itu terhadapmu, itu membuktikan bahwa engkau berjiwa pahlawan yang setia. Akan tetapi, sebaliknya, engkau membiarkan kaisar dan kaki tangannya melakukan kelaliman yang menyengsarakan rakyat, hal itu berarti bahwa engkau pun membantu kelaliman mereka. Bukankah orang yang tahu kejahatan dan tinggal memeluk tangan saja berarti membantu kejahatan itu pula?"

Kata-kata Liong Bian Cu merupakan ujung pedang tajam yang menusuk-nusuk hati bekas jenderal itu, membuat dia menundukkan kepalanya dan mukanya menjadi agak pucat.

Harus diakui bahwa di dalam kata-kata itu terkandung kebenaran yang sukar untuk disangkal.

Memang kaisar amat lemah, kaisar yang sudah terlalu tua dan sakit-sakitan itu seakan-akan menyerahkan kendali pemerintahan kepada para thaikam yang korup dan lalim, dan memang kelaliman akan terus terjadi dan berlangsung tanpa ada yang berani menentang.

"Saya.... saya tidak mungkin mau memberontak, lebih baik mati sekeluarga daripada memberontak.."

Akhirnya dia berkata dengan lirih dan memejamkan matanya.

"Ayah....!"

Kok Tiong berkata dengan suara penuh duka dan dua butir air mata jatuh ke atas pipinya.

Membayangkan dia dan isterinya mati masih belum apa-apa, akan tetapi membayangkan ibunya dibunuh, dan dua orang anaknya, benar-benar membuat dia hampir tidak kuat menahan.

"Hemmm, lihat betapa lemahnya jenderal yang terkenal ini! Lihat betapa kejam hati bekas panglima yang disanjung-sanjung dan dipuji-puji sebagai pahlawan ini! Membiarkan keluarganya terancam kematian padahal dia dapat menyelamatkan mereka, membiarkan rakyat tertekan kesengsaraan padahal dia dapat pula berusaha untuk mengubah nasib mereka! Betapa lemahnya, dan hanya mementingkan diri sendiri, kehormatan dan namanya sendiri saja!"

Kata Liong Bian Cu berkata lagi.

"Brakkk!"

Jenderal Kao menggebrak meja sampai tergetar dan cawan mangkok piring mencelat berkerontangan.

"Cukup!"

Bentaknya.

"Baiklah, aku mau membantu kalian, akan tetapi hanya untuk memimpin lembah ini yang akan dibangun sebagai benteng. Aku mau memimpin dan mengatur agar benteng ini tidak dapat diduduki oleh musuh manapun, akan tetapi hanya sekian saja, dan biar kalian mengancam bagaimanapun, jangan harap dapat memaksaku memimpin pasukan menyerbu kerajaan!"

Liong Bian Cu tersenyum dan cepat bangkit berdiri dan menjura.

"Terima kasih, Goanswe. Siapa yang mengharapkan engkau menyerbu ke kota raja? Asal engkau dapat membuat lembah ini menjadi benteng yang kuat, sudah cukuplah. Berjanjilah bahwa engkau akan mempertahankan benteng ini dengan sekuat tenaga dan seluruh jiwa ragamu!"

"Hemmm, Liong-kongcu, lebih dulu berjanjilah demi nama nenek moyangmu bahwa engkau akan menjamin keselamatan keluargaku dan Puteri Bhutan!"

"Baik, aku berjanji akan menjamin keselamatan keluargamu dan Puteri Bhutan, demi nama nenek moyangku!"

Liong Bian Cu berkata dengan sikap sungguhsungguh.

"Dan aku berjanji akan mempertahankan lembah ini dengan jiwa ragaku, demi nama keluarga Kao!"

Kata bekas jenderal itu.

Hidangan dan minuman ditambah dan mereka merayakan persekutuan itu.

Untuk melupakan perasaannya yang tertindih, bekas jenderal itu minum arak tanpa batas sampai akhirnya dia mabuk dan diantar oleh pengawal memasuki kamar keluarganya, bersama Kok Tiong.

Terjadilah pertemuan yang mengharukan dan hujan tangis terjadi.

Demikianlah, mulai hari itu, Kao Liang dengan sungguh hati lalu membangun lembah itu menjadi sebuah benteng yang kokoh kuat.

Pelaksanaannya dibantu oleh tukang-tukang dan tenaga dari Gubernur Ho-nan dan semua rencana dan gambar yang dibuat oleh Jenderal Kao dilaksanakan sehingga tempat itu menjadi sebuah benteng yang sukar sekali ditembus musuh.

Sungai yang mengelilingi lembah itu diperdalam dan diperlebar, ditambah air yang mengalir dari atas bukit ke dalam lembah.

Di sekeliling lembah dibangun tembok benteng yang tebal dan kokoh, dan dibuat pula banyak tempat-tempat jebakan yang amat berbahaya.

Jenderal Kao dan seluruh keluarganya hidup bebas di tempat itu, bersama Hwee Li dan Puteri Syanti Dewi yang seperti telah bergabung menjadi anggauta keluarga jenderal itu.

Akan tetapi biarpun mereka kelihatan bebas, sesungguhnya mereka sama sekali tidak bebas!

Jenderal Kao dan Kok Tiong memang dapat pergi ke mana saja, akan tetapi selalu di situ terdapat anggauta keluarga mereka menjadi sandera dan tidaklah mungkin untuk mencoba-coba meloloskan diri beserta seluruh keluarga yang terdiri dari wanita-wanita dan anak-anak itu!

Dalam waktu beberapa pekan saja, rambut Jenderal Kao sudah berubah menjadi putih semua.

Hal ini terjadi karena memang batinnya amat tertekan dan dia melakukan semua itu demi menyelamatkan keluarganya.

Di dalam hatinya, dia merasa malu sekali kepada mendiang ayahnya, kakeknya dan nenek moyangnya yang turun-temurun merupakan panglima-panglima besar yang setia.

"Satu-satunya sumber yang baik dan dapat dipercaya adalah Pangeran Yung Hwa,"

Kata Ceng Ceng kepada suaminya setelah mereka tiba di kota raja dan bermalam di sebuah rumah penginapan.

"Kalau masih ada Puteri Milana yang terhitung bibi tiriku pula, tentu beliau dapat membantu. Akan tetapi kini Puteri Milana sudah tidak ada di kota raja, tidak berada di istana, telah pergi entah ke mana semenjak lima tahun yang lalu, maka satu-satunya orang di lingkungan istana yang dapat kupercaya adalah Pangeran Yung Hwa."

Kao Kok Cu menggunakan tangan kanan untuk meraba dagunya, kebiasaannya kalau dia sedang berpikir, matanya memandang kepada isterinya penuh selidik.

"Akan tetapi, bukankah dahulu pernah dia jatuh cinta kepadamu seperti yang pernah kau ceritakan kepadaku? Dan kau sekarang hendak menemuinya?"

Ceng Ceng tersenyum, mendekati dan merangkul leher suaminya, dengan sikap manja.

"Ihhh! Jangan kau bilang bahwa engkau cemburu!"

Kao Kok Cu tertawa dan mecium isterinya.

Semenjak putera mereka hilang, hanya kalau dia berada di dekat isterinya sajalah maka hatinya terhibur dan sejenak dia atau mereka, dapat melupakan kedukaan yang menindih hati.

"Engkau salah duga, isteriku. Kau tahu betapa aku mencintamu, betapa kita saling mencinta, dan cinta adalah kepercayaan. Seujung rambut pun tidak ada penyakit cemburu menyentuh hatiku, aku hanya bertanya karena agaknya tidak tepatlah kalau engkau mencari keterangan dari seorang pangeran yang telah patah hati terhadap dirimu. Pertemuan itu selain hanya akan menyakitkan hatinya, membuat luka kambuh, juga mana mungkin dia mau membantu kita?"

"Engkau belum mengenal siapa dia, suamiku. Pangeran Yung Hwa bukanlah sembarang pangeran yang mabuk kekuasaan dan rusak oleh keangkuhan seperti biasanya para muda bangsawan. Sama sekali bukan. Dia menuruni watak gagah, seperti juga Bibi Milana, hanya bedanya, pangeran itu tidak mempelajari ilmu silat."

Ceng Ceng lalu menceritakan sifat-sifat dan watak pangeran yang pernah jatuh cinta kepadanya itu (baca cerita Kisah Sepasang Rajawali).

Setelah mendengar penuturan Ceng Ceng, akhirnya Kok Cu percaya juga bahwa mungkin dari pangeran itu isterinya akan dapat menyelidiki rahasia dari sernua malapetaka yang menimpa keluarga ayahnya.

"Selain menyelidiki rahasia itu, juga aku ingin sekali menyampaikan rasa penyesalanku kepada kaisar melalui Pangeran Yung Hwa atas peristiwa dipecatnya ayahmu."

Demikian Ceng Ceng berkata dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia sudah mencari istana Pangeran Yung Hwa dan menghadap pangeran itu.

Pangeran Yung Hwa menyambut kedatangan Ceng Ceng yang mengunjunginya itu dengan perasaan heran dan gembira.

Begitu melihat siapa wanita yang menghadap dan memberi hormat kepadanya, dia segera teringat kepada wanita perkasa itu.

"Ahhh.... engkau....?"

Serunya dan mempersilakan nyonya muda itu duduk di atas kursi di depannya.

"Aku telah mendengar bahwa engkau menjadi mantu Jenderal Kao Liang! Bagaimana keadaanmu? Kuharap baik-baik saja dan berbahagia."

Melihat sikap pangeran itu yang ramah dan jujur, Ceng Ceng merasa terharu.

"Terima kasih atas kebaikan dan perhatian Paduka, Pangeran. Sesungguhnya saya cukup berbahagia kalau saja tidak timbul peristiwa-peristiwa yang menimpa keluarga kami, merupakan bencana yang didatangkan dari istana."

Pangeran Yung Hwa mengerutkan alisnya.

"Ehhh? Apa maksudmu? Istana mendatangkan bencana terhadap keluargamu?"

Ceng Ceng lalu menceritakan tentang dipecatnya ayah mertuanya secara halus oleh kaisar.

Kemudian diceritakannya pula betapa ketika ayah mertuanya beserta seluruh keluarga melakukan perjalanan menuju ke kampung halaman, di tengah jalan diganggu oleh berbagai golongan dan di antara gerombolan yang mengganggu itu terdapat pengawal-pengawal istana!

Kemudian diceritakan pula akan hilangnya puteranya yang diduga ada hubungannya dengan malapetaka yang menimpa keluarga Jenderal Kao Liang.

"Coba Paduka pikir, siapa lagi yang menyuruh pengawal-pengawal itu menghadang dan mengganggu keluarga Kao? Bukankah semua itu amat mencurigakan sekali?"

Pangeran Yung Hwa meraba dahinya dan berpikir, lalu dia memandang wanita yang pernah dicinta-nya itu, bertanya.

"Nyonya muda yang baik, apa maksudmu mengunjungi aku dan menceritakan semua ini kepadaku?"

Ceng Ceng membalas pandang mata itu dan berkata terus terang.

"Saya dan suami saya menduga keras bahwa kunci semua peristiwa itu berada di istana, oleh karena itu kami datang ke kota raja untuk melakukan penyelidikan. Mengingat bahwa Padukalah satu-satunya orang yang saya percaya sebagai seorang keluarga istana yang adil dan bijaksana, maka saya sengaja menghadap untuk mohon pertolongan Paduka sehingga saya dapat mengetahui ke mana putera saya dibawa dan di mana pula adanya keluarga Kao yang terculik."

Pangeran Yung Hwa menarik napas panjang.

"Aihhhhh.... kalau saja aku tahu, tentu sekarang juga aku akan turun tangan membebaskan mereka dan mengembalikan puteramu. Akan tetapi, bagaimana mungkin aku dapat menyelidikinya? Harus kuakui bahwa keadaan kaisar amat lemah, sudah tua dan tidak begitu memperhatikan keadaan para pembantunya yang banyak melakukan hal-hal yang tidak baik. Aku memang mendengar bahwa Jenderal Kao mengundurkan diri, akan tetapi kusangka tadinya bahwa hal itu terjadi secara wajar sebagaimana biasanya pembesar yang sudah tua dan mengundurkan diri. Kelemahan kaisar memang membuat para pembesar yang tidak jujur untuk bergerak demi keuntu-ngan diri pribadi sehingga terjadi banyak hal yang buruk. Biarpun aku tidak dapat membantumu secara langsung, akan tetapi munculmu di sini menggerakkan hatiku dan mendorongku untuk bertindak, Nyonya Kao. Hari ini juga aku akan menemui kakakku, Pangeran Mahkota, karena hanya beliau saja yang akan dapat turun tangan membersihkan segala kekotoran yang menodai istana. Mudah-mudahan saja dengan pembersihan yang pasti akan dilakukan oleh kakakku, Pangeran Yung Ceng, urusanmu itu akan terbongkar pula dan engkau dapat menemukan kembali puteramu dan keluarga Kao yang hilang. Hanya inilah yang dapat kulakukan."

Tentu saja Ceng Ceng tidak merasa sangat puas dengan hasil ini akan tetapi dia pun maklum bahwa Pangeran Yung Hwa tidak berdaya menolongnya karena memang tidak tahu di mana adanya puteranya atau keluarganya, tidak tahu pula siapa biang keladinya.

Sudah jelas bahwa bukan kaisar yang melakukan tindakan itu, melainkan pembesar lalim yang amat banyak terdapat di waktu itu.

Terpaksa dia lalu berpamit setelah mengha-turkan terima kasih, pergi meninggalkan istana Pangeran Yung Hwa untuk menemui suaminya dan menceritakan semua hasil pertemuannya dengan pangeran itu.

Sementara itu, Pangeran Yung Hwa juga tidak lama kemudian meninggalkan istananya, dengan menyamar pangeran ini lalu melakukan perjalanan menuju ke Kuil Siauw-lim-si untuk menemui kakaknya, yaitu Pangeran Yung Ceng.

Hal ini tentu menimbulkan perasaan heran bagi yang belum mengetahuinya.

Mengapa pangeran itu mencari kakaknya, Pangeran Yung Ceng atau Pangeran Mahkota, ke kuil Siauw-lim?

Tidaklah mengherankan kalau diketahui bahwa Pangeran Yung Ceng memang menjadi murid Siauw-lim-pai!

Pangeran ini sejak kecil memang suka akan ilmu silat, apalagi setelah dia diangkat menjadi Pangeran Mahkota, dia makin tekun mempelajari ilmu silat karena dia berpendapat bahwa untuk dapat menjadi kaisar yang baik, selain harus ahli dalam soal-soal bun yang meliputi juga soal-soal tata negara, harus mahir pula dalam bu atau ilmu silat, juga ilmu perang.

Maka dia lalu masuk ke Siauw-lim-si dan menjadi murid kuil yang juga menjadi partai persilatan yang amat besar dan telah terkenal sebagai sumber ilmu silat yang tinggi itu.

Pangeran Yung Hwa menjumpai kakaknya dan menceritakan akan segala yang terjadi selama kakaknya tenggelam dalam pelajaran ilmu silat di kuil itu, akan penyelewengan para pembesar.

Pangeran Yung Hwa menceritakan tentang pemecatan-pemecatan yang dilakukan kaisar karena bujukan pembesar-pembesar penjilat, pemecatan yang dilakukan terhadap pemimpin-pemimpin yang setia, jujur dan pandai, bahkan menceritakan betapa Jenderal Kao Liang juga dipecat.

Kemudian, Pangeran Yung Hwa menceri-takan pengalamannya ketika dia hampir tewas di Ho-nan.

"Kenapa kau tidak adukan semua itu kepada kaisar?"

Pangeran Yung Ceng menegur adiknya.

"Gubernur Ho-nan yang memberontak itu harus ditindak!"

Pangeran Yung Hwa menarik napas panjang.

"Itulah sebabnya mengapa aku terpaksa menyusulmu ke sini. Kaisar sama sekali tidak mau mendengar laporanku, bahkan marah-marah dan kalau bukan aku yang melapor, agaknya tentu sudah dihukum. Betapa banyaknya pem-besar jujur yang sudah mencoba untuk menyadarkan beliau, akan tetapi malah menerima hukuman. Pengaruh para thaikam (pembesar kebiri) amat besar dan kaisar amat lemah, seperti bersikap masa bodoh."

"Hemmm, sampai sekian jauhnya keadaan buruk itu?"

Tanya Pangeran Yung Ceng.

"Malah lebih lagi,"

Kata Yung Hwa.

"Semenjak kakak kita, Puteri Milana tidak ada, dan engkau sendiri pergi memperdalam ilmu silat di sini, tidak ada lagi orang kuat di dalam istana. Aku sendiri biarpun telah terbebas dari cengkeraman Gubernur Ho-nan dan berkali-kali tertolong oleh orang-orang gagah, akan tetapi tidak pernah terlepas dari pengawasan mereka. Bahkan aku percaya bahwa ketika aku menyamar dan datang ke sini ada orang-orang yang diam-diam membayangiku."

"Ahhh! Sampai begitu hebat?"

Pangeran Yung Ceng mengepal tinjunya.

"Yung Hwa, wajah kita mirip sekali seperti saudara kembar, maka biarlah aku memakai pakaianmu dan keluar lebih dulu dari kuil ini. Engkau boleh menyusul besok dan dikawal oleh murid-murid Siauw-lim-pai. Hendak kulihat sendiri sampai di mana keberanian pengkhianat-pengkhianat itu!"

Dengan marah sekali Pangeran Mahkota Yung Ceng lalu mengenakan pakaian adiknya, setelah berpamit kepada para guru di kuil itu dan memesan agar besok adiknya dikawal ke kota raja, dia lalu meninggalkan kuil.

Memang wajah Pa-ngeran Yung Ceng mirip sekali dengan wajah Pangeran Yung Hwa.

Tentu saja, kalau mereka berdua berbuka pakaian, nampak perbedaan yang menyolok karena kalau tubuh Pangeran Yung Hwa halus lemah lembut, sebaliknya tubuh Pangeran Yung Ceng yang sejak kecil gemar berolah raga itu kokoh dan kekar.

Akan tetapi, kalau tubuh mereka disembunyikan dalam pakaian dari luar, nampak serupa, bertubuh sedang dan berwajah tampan.

Hari telah senja ketika Pangeran Yung Ceng memasuki kota Thian-cin di sebelah selatan kota raja.

Karena menyamar sebagai adiknya, pangeran ini tidak mempergunakan kepandaiannya untuk berlari cepat dan dia sengaja melakukan perjalanan lambat untuk melihat-lihat keadaan.

Banyak sudah dia mendengar (Lanjut ke

Jilid 29) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 29 percakapan di antara rakyat tentang penyelewengan para petugas, dan dia pun mendengar berita-berita tentang sikap memberontak dari para pembesar di Ho-nan yang tentu saja mencontoh sikap gubernur mereka.

Dia juga tahu bahwa diam-diam dia selalu dibayangi orang seperti yang diceritakan oleh adiknya.

Ketika malam hari itu Pangeran Yung Ceng memasuki sebuah restoran di kota Thian-cin, dia tahu bahwa ada lima orang laki-laki yang bertubuh kokoh kuat dan gerak-geriknya menunjukkan bahwa mereka adalah jagoan-jagoan, diam-diam membayanginya dan mereka pun masuk pula di restoran itu, mengambil tempat duduk di meja yang berdekatan dengan meja pangeran itu.

Restoran itu tidak begitu ramai dan banyak kursi yang kosong.

Ketika pangeran itu memesan masakan kepada seorang pelayan, tiba-tiba seorang di antara lima orang yang duduk di meja yang berdekatan itu bangkit berdiri dan menghampiri Pangeran Yung Ceng, menjura dan berkata.

"Harap maafkan! Kalau tidak salah lihat, bukankah Kongcu datang dari kota raja?"

Yung Ceng memandang dengan sikap tak acuh, lalu menggelengkan kepalanya dan menjawab.

"Bukan, saya memang hendak pergi ke kota raja, akan tetapi saya bukan dari kota raja, saya orang dari selatan."

Orang itu berkata "maaf"

Sambil tersenyum, lalu kembali duduk di tempat teman-temannya.

Percakapan pendek itu disaksikan oleh pelayan yang kini sudah pergi untuk mempersiapkan pesanan Pangeran Yung Ceng.

"Ha-ha, memang mirip, akan tetapi dia tentu bukan pangeran pengecut itu,"

Tiba-tiba terdengar seorang di antara lima orang itu berkata, kata-katanya cukup keras sehingga terdengar oleh Pangeran Yung Ceng.

"Kalau dia Pangeran Yung Hwa, sudah kuhancurkan kepalanya sejak tadi,"

Terdengar pula mereka bicara.

"Ha-ha, yang ini hanyalah seorang sastrawan lemah, tidak ada harganya untuk dipandang. Dan kita telah membayanginya sehari penuh. Sialan!"

"Karena gara-gara dia kita membuang tenaga sia-sia, sebaiknya kalau kita hajar kutu buku ini."

"Akan tetapi, bagaimana kalau dia benar Pangeran Yung Hwa....?"

Terdengar suara lain, berbisik dan kalau yang duduk di situ adalah Pangeran Yung Hwa, tentu tidak akan dapat mendengar bisikan itu.

Akan tetapi, Pangeran Yung Ceng telah mempelajari ilmu yang tinggi.

sehingga panca inderanya lebih peka dan tajam daripada orang biasa.

Dia mampu mendengarkan bisikan ini.

"Lebih baik lagi kalau begitu! Dan kita tidak akan salah, karena bukankah dia menyangkal siapa dirinya? Pelayan itu menjadi saksi."

Kini maklumlah Pangeran Yung Ceng mengapa seorang di antara mereka tadi menegurnya.

Kalau dia sudah menyangkal sebagai pangeran, maka andaikata mereka itu membunuhnya, mereka dapat menggunakan alasan bahwa mereka tidak mengenalnya sebagai pangeran, seperti disaksikan pula oleh pelayan tadi.

Pelayan tadi datang membawa masakan, langsung menghampiri meja Pangeran Yung Ceng.

"Heeeii, itu pesanan kami!"

Teriak seorang di antara mereka sambil bangkit berdiri dan menghampiri meja Pangeran Yung Ceng.

"Tidak, Sicu, ini adalah pesanan Kongcu ini!"

Bantah si pelayan.

"Setan! Kami juga memesan masakan seperti ini sejak tadi. Hayo berikan kepada kami. Apakah kau hendak menjilat kutu buku ini?"

Pangeran Yung Ceng maklum bahwa orang yang berkumis tebal, seorang di antara mereka itu yang kini bersikap kasar, memang sengaja hendak mencari keributan, maka dia berkata tenang.

"Sobat, harap jangan membikin ribut!"

Inilah yang ditunggu-tunggu oleh Si Kumis Tebal itu. Dengan mata melotot dia menghampiri Pangeran Yung Ceng, menghardik.

"Kalau aku membikin ribut, engkau mau apa, cacing buku yang busuk?"

Akan tetapi, biarpun Yung Ceng juga seorang kutu buku atau cacing buku, yaitu sebutan mengejek bagi seorang sastrawan, dia bukanlah seorang yang lemah.

Sama sekali bukan!

Dia adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang tekun dan berbakat, bahkan telah diberi pelajaran istimewa oleh tokoh-tokoh Siauw-lim-pai sehingga dia memiliki ilmu kepandaian tinggi.

"Tidak apa-apa,"

Jawab Pangeran Yung Ceng tenang.

"Hanya kalau kau tidak segera pergi dari sini, aku akan mencabuti kumismu!"

Sepasang mata itu terbelalak makin lebar, mulutnya ternganga seolah-olah tidak percaya akan pendengarannya sendiri.

Benarkah si kutu buku ini berani berkata demikian kepadanya?

"Keparat....!"

Teriaknya dan kepalan tangannya yang sebesar kepala anak kecil, yang keras dan terlatih karena sering kali dilatih memukuli batu sampai remuk, kini menyambar ke arah kepala Pangeran Yung Ceng.

Akan tetapi, dengan gerakan ringan dan tenang, pangeran itu miringkan kepalanya, membiarkan tangan yang memukul itu lewat, kemudian secepat kilat jari-jari tangannya menyambar dan membetot.

"Auuuwwwhhhhh....!"

Si Kumis Tebal itu menjerit-jerit dan kedua tangannya menutupi bawah hidungnya yang berdarah karena kumisnya telah dicabut dengan paksa oleh Pangeran Yung Ceng.

"Manusia bosan hidup!"

Terdengar teriakan dan empat orang lainnya sudah berloncatan dari kursi mereka dan menerjang Pangeran Yung Ceng.

Pelayan itu lari ketakutan dan kini pangeran itu bangkit berdiri wajahnya merah karena marah.

Empat orang itu menerjang dengan kepalan tangan mereka, dan dari gerakan mereka dapat diketahui bahwa mereka memang bukan orang-orang sembarangan, melainkan jagoan-jagoan yang pandai ilmu silat.

Akan tetapi, yang mereka keroyok adalah murid Siauw-lim-pai yang sudah matang ilmu silatnya, maka terdengar suara mereka mengaduh dan meja kursi berserakan ketika pangeran itu membagi-bagi pukulan dan tendangan yang membuat mereka terlempar ke sana-sini.

Mengertilah lima orang itu sekarang bahwa pemuda tampan yang kelihatan lemah itu, yang mereka sangka adalah Pangeran Yung Hwa, ternyata adalah seorang pemuda yang sama sekali tidak lemah, melainkan seorang pemuda yang memiliki kepandaian tinggi.

Kemarahan, mereka memuncak dan mereka berlima termasuk Si Kumis Tebal yang kini berubah menjadi Si Kumis Buntung karena masih ada sisa kumisnya menempel di bawah hidung, segera mencabut senjata mereka berupa golok besar dan dengan teriakan-teriakan ganas mereka kini menerjang pemuda itu.

Yung Ceng meraba pinggangnya dan nampaklah cahaya berkelebat ketika pangeran ini sudah mencabut sebatang pedang pendek yang tadi disembunyikan di bawah baju sastrawannya.

Pedang pendeknya itu digerakkan dengan hebat, nampak gulungan sinar menyambar-nyambar dan terjadilah pertempuran yang seru di dalam rumah makan itu.

Para tamu sudah sejak tadi lari meninggalkan restoran itu, demikian pun para pelayan ada yang lari, ada pula yang sembunyi dengan tubuh menggigil.

Dengan marah sekali Pangeran Yung Ceng menggerakkan pedangnya dan berturut-turut terdengar-lah pekik mengerikan disusul robohnya lima orang pengeroyok itu, ada yang lehernya terpancung hampir putus, ada yang perutnya robek dan dadanya berlubang.

Pangeran Yung Ceng menyimpan pedangnya dan melihat bahwa seorang di antara mereka masih belum tewas, yaitu yang tadi sengaja dia lukai pahanya, dia cepat mencengkeram pundak orang itu, ditariknya naik dan dia membentak.

"Kalian telah membayangi aku dan sekarang sengaja menyerang, hayo katakan siapa yang menyuruh kalian!"

Orang itu meringis kesakitan, mukanya pucat dan dia ketakutan, menggelenggelengkan kepala.

"Hayo mengaku! Kau tahu siapa aku? Aku adalah Pangeran Mahkota Yung Ceng!"

Orang itu terbelalak.

"Am.... ampunkan hamba.... hamba hanya utusan.... dari.... dari....!"

Pada saat itu nampak sinar berkelebat menyambar.

Pangeran Yung Ceng terkejut sekali karena sinar itu datangnya cepat bukan main, menyambar dari luar rumah makan.

Karena tidak mungkin dapat mengelak lagi, pangeran itu cepat mengangkat tubuh orang yang dicengkeram pundaknya itu, dipakai sebagai perisai.

"Crottt....auggghhhhh....!"

Orang itu menjadi lemas dan melihat betapa tawanannya itu tewas, Pangeran Yung Ceng melemparkannya ke atas lantai dan dia cepat meloncat ke pintu.

Akan tetapi dia hanya melihat bayangan penyerangnya itu berkelebat cepat dan sudah lenyap di antara banyak orang di jalan raya.

Dia kembali lagi dan melihat bahwa punggung orang tadi tertusuk jarum berwarna kehijauan yang menancap sampai hanya kelihatan sedikit saja ujungnya, tahulah dia bahwa penyerangnya adalah seorang yang mahir menggunakan senjata rahasia jarum beracun.

Dia merasa menyesal karena tawanan ini belum sempat mengaku siapa yang menyuruh mereka.

Ketika pembesar setempat mendengar bahwa pangeran mahkota diserang orang di kotanya, dia tergopoh-gopoh datang diiringkan oleh pasukan pengawal.

Kiranya ketika Pangeran Yung Ceng tadi mengakui dirinya untuk memaksa tawanannya mengaku, ada beberapa orang yang mendengar dan cepat mereka itu melaporkan kepada para penjaga keamanan sehingga pembesar kepala daerah sendiri kini datang ke restoran itu.

Pangeran Yung Ceng menerima penghormatan mereka yang berlutut dan dengan singkat dia lalu memerintahkan untuk menyelidiki lima orang itu, ke-mudian dia minta seekor kuda dan melanjutkan perjalanannya dengan cepat ke kota raja, menolak ketika hendak dikawal.

Pangeran mahkota ini marah sekali karena kini dia mendapatkan bukti sendiri betapa memang terjadi kekacauan sehingga ada penjahat-penjahat yang menghendaki nyawa adiknya, yaitu Pangeran Yung Hwa.

Dia dapat menduga bahwa lima orang itu tentulah orang-orang yang diutus oleh Gubernur Ho-nan yang memperlihatkan sikap memberontak itu.

Setelah tiba di kota raja, pangeran mahkota yang sedang marah itu langsung saja menghadap ayahnya, yaitu Kaisar Kang Hsi yang sudah tua dan pikun.

Dengan tegas dia menceritakan keadaan yang amat kacau karena tingkah polah para pembesar yang menyeleweng itu kepada kaisair.

Kaisar Kang Hsi adalah seorang kaisar yang tadinya amat terkenal karena pandai mengatur pemerintahan, berwibawa dan juga bijaksana.

Kerajaan Mancu berkembang dengan baiknya, dan harus diakui bahwa dialah yang berjasa dalam menaikkan nama Dinasti Kerajaan Cengtiauw.

Akan tetapi, setelah dia menjadi tua dan pikun, dia menjadi tidak acuh dan malas.

Kini, mendengar teguran pu-teranya yang telah dipilihnya untuk kelak menggantikan dia menjadi kaisar, Kaisar Kang Hsi mendengarkan dengan sabar dan dengan sikap tidak acuh, kemudian dia menggerakkan tangan dan berkata.

"Puteraku yang baik, ayahmu ini sudah tua dan sudah malas untuk mengurus segala macam hal yang memusingkan belaka. Di dalam tahun-tahun terakhir dari usiaku ini, aku ingin hidup tenteram dan enak, ingin menikmati hidup ini, dan yang kupentingkan adalah keuntungan bagi negeriku. Mengapa aku tidak boleh menikmati kehidupan di dalam usia setua ini? Engkau saja yang harus rajin dan mematangkan dirimu agar kelak kalau kau menggantikan aku, engkau sudah benar-benar cakap."

"Maafkan hamba, bukan maksud hamba untuk membantah. Akan tetapi lupakah Paduka akan Sri Baginda Raja, Liang Hwi Ong?"

Kaisar yang tua itu memandang puteranya sambil tersenyum.

"Hemmm, maksudmu?"

Dengan tegas Pangeran Mahkota Yung Ceng lalu mengingatkan kaisar akan pelajaran dalam kitab Beng Cu.

Beng Cu adalah seorang murid Nabi Khong Cu yang amat bijaksana dan banyaklah contoh-contoh diambil dari Beng Cu ini sebagai pewaris pelajaran Nabi Khong Cu.

Yang dimaksudkan oleh Pangeran Yung Ceng dengan Raja Liang Hwi Ong adalah pelajaran Beng Cu yang menuturkan tentang pertemuan antara Raja Hwi Ong dari Negeri Liang dengan Beng Cu.

Raja Hwi Ong bertanya kepada Beng Cu, ajaran apakah yang dapat membawa keuntungan bagi negerinya di waktu itu.

Mendengar pertanyaan ini, Beng Cu lalu menjawab.

"Mengapa Baginda menanyakan keuntungan? Yang saya bawa hanyalah cinta kasih dan kebenaran. Apabila Paduka bertanya tentang keuntungan bagi negeri Paduka, para pembesar tentu akan bertanya tentang keuntungan bagi keluarga mereka, dan rakyat pun akan bertanya tentang keuntungan bagi diri sendiri. Apabila yang berkedudukan tinggi maupun yang rendah hanya memperebutkan atau menginginkan keuntungan saja, negara tentu akan berada dalam bahaya. Raja yang memiliki berlaksa kereta perang kalau sampai terbunuh tentu oleh pangeran yang memiliki ribuan kereta perang, dan pangeran itu kalau sampai terbunuh tentu oleh keluarga yang hanya memiliki seratus kereta perang. Apabila yang memiliki selaksa kereta perang mengambil yang seribu, tentu yang memiliki seribu mengambil yang seratus dan selanjutnya. Jumlah itu bukan kecil, akan tetapi apabila manusia membelakangi kebenaran dan mengutamakan keuntungan, pasti dia tidak puas sebelum memperoleh seluruhnya. Sebaliknya, belum pernah ada seorang manusia yang mempunyai cinta kasih menyia-nyiakan orang tuanya, dan belum pernah ada seorang manusia yang menjunjung kebenaran membelakangi rakyatnya. Seharusnya Paduka bertanya tentang cinta kasih dan kebenaran. Untuk apa bertanya tentang keuntungan?"

Demikianlah pelajaran dalam kitab Beng Cu yang kini dikemukakan oleh Pangeran Yung Ceng untuk menyadarkan ayahnya, yaitu Kaisar Kang Hsi.

Kaisar Kang Hsi sudah amat tua dan sakit-sakitan tubuhnya, juga batinnya tidak sehat lagi semenjak dia berduka atas kematian saudara-saudaranya yang memberontak.

"Sudahlah, Yung Ceng, jangan ganggu aku dengan segala isi kitab lama itu. Aku sudah lelah dan aku tidak ingin memusingkan keadaan di luar kamarku."

"Akan tetapi Paduka masih seorang kaisar, Paduka masih mempunyai tanggung jawab yang amat besar terhadap rakyat jelata. Apakah Paduka masih belum tahu akan segala peristiwa di luaran? Apakah Paduka tidak tahu betapa hampir saja Adik Yung Hwa terbunuh karena Gubernur Ho-nan hendak memberontak? Betapa pembesar-pembesar jahat sekarang ini sudah bersekongkol dengan penjahat-penjahat dari dunia hitam dan menanti saatnya saja untuk memberontak? Betapa para pembesar setia dan bijaksana Paduka pecat karena bujukan para pembesar palsu yang menjilat-jilat? Betapa kedudukan Paduka menjadi lemah karena kekuasaan secara diam-diam diambil alih oleh mereka yang berpengaruh di dalam istana?"

"Sudahlah Yung Ceng. Apa yang dapat dilakukan oleh seorang tua seperti aku yang sudah bosan dengan semua itu?"

"Paduka dapat turun tangan, Paduka dapat bertindak sekarang juga, dan pertama-tama Paduka seyogyanya dapat membebaskan diri dari pengaruh para thaikam...."

Pada saat itu, thaikam kepala yang bernama Kong Tek Jin dan yang hadir pula di situ, tiba-tiba berkata.

"Pangeran, harap jangan terlalu mendesak kepada Sri Baginda. Beliau sedang kurang sehat dan lelah...."

"Diam kau! Jangan mencampuri!"

Yung Ceng membentak.

"Yung Ceng, tidak boleh kau bersikap begitu terhadap dia yang amat berjasa...."

Kaisar mencela.

"Justeru dia inilah seorang di antara mereka yang jahat dan palsu, akan tetapi dia pandai menjilat!"

"Pangeran, tidak boleh Paduka berkata demikian...."

"Yung Ceng, Kong Tek Jin adalah seorang yang amat setia!"

Akan tetapi Yung Ceng sudah meloncat dan menyambar pundak thaikam itu, mengangkatnya dan membantingnya ke atas lantai.

"Brukkk....!"

Thaikam yang gendut itu mengeluh dan ketika para pengawal dalam bergerak maju, Yung Ceng bertolak pinggang dan membentak.

"Kalian mundur! Berani melawan Pangeran Mahkota?"

Tentu saja para pengawal itu meragu dan mereka memandang ke arah Sri Baginda.

Kalau Sri Baginda memberi aba-aba atau isyarat, tentu tanpa ragu-ragu lagi mereka akan menerjang pangeran itu.

Akan tetapi Sri Baginda diam saja, hanya memandang kepada puteranya dan kembali Yung Ceng membentak.

"Kalian keluar dari sini, jaga di luar pintu kamar!"

Kembali para pengawal memandang kepada kaisar.

Sekali ini kaisar mengangguk dan menggerakkan tangan memberi isyarat agar mereka keluar.

Setelah para pengawal keluar, Yung Ceng berkata kepada ayahnya.

"Sekarang hamba akan membuktikan siapa adanya manusia macam ini!"

Dia sudah mendekati Thaikam Kong Tek Jin, menggerakkan tangannya mencengkeram ke arah tengkuk thaikam itu, lalu menghardik..

"Hayo kau mengaku sebenarnya! Bukankah seluruh keluargamu telah kau datangkan ke sini dan kau angkat menjadi orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi? Hayo jawab, kalau membohong akan kuhancurkan kepalamu sekarang juga?"

Sambil berkata demikian, Yung Ceng menggunakan tangannya mencengkeram jalan darah di tengkuk yang menimbulkan rasa nyeri yang amat hebat.

Thaikam itu ketakutan karena dia tahu bahwa pangeran ini memang berilmu tinggi.

Dia harus menyelamatkan diri dulu, baru kelak mencari jalan untuk melenyapkan pangeran ini.

Sekarang, dia benar-benar tidak berdaya dan kalau dia membohong, tentu dia benar-benar akan dibunuh.

"Be.... benar, Pangeran. Akan tetapi apakah salahnya itu? Tentu saja hamba ingin menolong keluarga hamba...."

"Dan untuk itu kau memecat pejabat-pejabat lama? Dan engkau sudah menumpuk harta kekayaan berlimpah-limpah? Engkau sudah makan sogokan dari pembesar-pembesar bawahan agar engkau suka membujuk Kaisar demi keuntungan mereka, bukan?"

"Ini.... ini...."

"Hayo katakan yang benar! Bukankah Gubernur Ho-nan telah mengirimkan seribu tail emas dan dua buah kereta bertabur emas kepadamu baru-baru ini?"

Yung Ceng mendengar ini semua dari Pangeran Yung Hwa.

"Dan dengan pemecatan Jenderal Kao Liang, engkau memper-oleh hadiah sepeti permata dari Panglima Ciu yang diangkat menjadi panglima penggantinya? Dan engkau juga telah menyuruh orang-orang untuk membasmi keluarga Yauw, ketika pembesar Yauw bermaksud untuk membongkar kepalsuanmu di depan Kaisar? Hayo jawab, tidak benarkah semua itu?"

"Ti.... tidak.... tidak...."

Yung Ceng mencabut pedang pendeknya.

"Crottt....!"

Ujung pedang itu menusuk paha sampai beberapa senti dalamnya, dan dia mencengkeram otot di punggung sehingga thaikam itu memekik-mekik seperti seekor babi disembelih saking nyerinya.

"Hayo kau menjawab, benarkah semua itu?"

"Ya.... ya.... benar....!"

Thaikam Kong Tek Jin menangis, akan tetapi diam-diam dia bersumpah untuk membalas pangeran ini.

"Sekarang, katakan, bukankah engkau tahu pula bahwa Gubernur Ho-nan akan memberontak? Hayo jawab!"

Tubuh thaikam itu menggigil.

"Hamba.. hamba tidak ikut-ikut.."

"Tapi engkau tahu?"

"Ya... ya.."

Kaisar kini mengerutkan alisnya.

"Kong Tek Jin! Engkau tahu ada gubernur hendak memberon-tak dan kau tidak melaporkan kepada kami?"

"Hamba... hamba tidak berani... hamba..."

"Yung Ceng, kiranya benar pelaporanmu. Keadaan sudah demikian buruk, sama sekali tidak kusangka. Suruh bawa dia pergi!"

Yung Ceng memanggil pengawal.

"Seret dia ke dalam tahanan!"

Kini kaisar memandang puteranya dengan kagum.

Lalu dia mencabut pedangnya, pedang kerajaan yang merupakan lambang kekuasaan, menyerahkannya kepada pangeran itu.

"Terimalah ini dan kau wakili aku melakukan pembersihan di dalam dan di luar istana. Aku sudah lelah, aku ingin beristirahat dan jangan ganggu aku dengan tugasmu itu. Harus kau selesaikan seluruhnya dan kalau sudah selesai saja melaporkan kepadaku."

Pangeran Yung Ceng menerima pedang pusaka itu sambil berlutut, menghaturkan terima kasih dan meninggalkan kamar ayahnya.

Mulailah pangeran mahkota ini melakukan pembersihan.

Tindakannya yang pertama adalah menangkapi para thaikam yang menjadi kaki tangan Thaikam Kong Tek Jin, menjatuhkan hukuman mati!

Dan semua pembesar yang diangkat oleh para thaikam ini, para keluarga thaikam dan sobat-sobat mereka, yang memperoleh kedudukan dengan jalan menyogok, dipecat dari kedudukannya dan ada pula yang dijatuhi hukuman.

Kota raja geger!

Para pembesar palsu yang kerjanya hanya korupsi dan menumpuk kekayaan pribadi tanpa menghiraukan tugas-tugasnya menggigil.

Mereka tidak enak makan tidak nyenyak tidur, dan dalam keadaan seperti itu, sogok-menyogok makin menghebat karena mereka yang merasa terancam, kembali mencari perlindungan dengan cara sogok sana sogok sini.

Kalau dunianya para koruptor itu geger, adalah para petugas yang setia dan jujur merasa bersyukur sekali.

Mereka seolah-olah melihat cahaya terang, melihat matahari muncul kembali di tengah-tengah kegelapanan yang ditimbulkan oleh awan tebal yang sudah bertahun-tahun mengancam kerajaan.

Setelah pembersihan di dalam istana dilakukan, Yung Ceng melanjutkan tindakannya dengan melakukan pembersihan-pembersihan di luar istana atas nama kaisar.

Gubernur Ho-pei cepat menghadap dan barulah sekarang dia berani melapor tentang sikap memberontak Gubernur Ho-nan.

Sebelum ini, dia sama sekali tidak berani melaporkan kepada kaisar, karena maklumlah gubernur ini bahwa melaporkan akan percuma saja, sama sekali tidak akan diterima oleh kaisar, bahkan sebalik-nya akan membahayakan dia sekeluarganya karena yang dihadapi bukan kaisar melainkan para thaikam yang berkuasa seolah-olah melebihi kaisar.

Ketika mendengar pelaporan Gubernur Ho-pei betapa fihak pemberontak, yaitu Gubernur Ho-nan diam-diam telah bersekutu dengan kerajaan Nepal, bahkan mendirikan benteng di perbatasan propinsi, di lembah Sungai Huang-ho, dia terkejut dan marah sekali.

Dia maklum akan bahayanya perang saudara, maka pangeran mahkota ini lalu teringat akan Puteri Milana.

Dia segera menyebar orang-orang untuk mencari Puteri Milana, karena dia tahu bahwa puteri itu adalah seorang yang paling boleh diandalkan untuk menanggulangi ancaman bahaya pemberontakan itu.

Dia tidak mau sembrono mengirim pasukan, karena hal itu akan menimbulkan perang saudara yang akan membuat rakyat menderita sengsara.

Di dalam Kisah Sepasang Rajawali telah diceritakan bahwa Puteri Milana bersama Pendekar Sakti Gak Bun Beng, telah meninggalkan dunia ramai.

Puteri Milana adalah puteri dari Pendekar Super Sakti Suma Han majikan Pulau Es.

Ibunya adalah Puteri Nirahai.

Seperti telah diceritakan dalam Kisah Sepasang Rajawali, Puteri Milana meninggalkan istana, minggat setelah suaminya, yaitu mendiang Panglima Han Wi Kong, membunuh Pangeran Liong Bin Ong.

Selain untuk membunuh seorang pemberontak dan pengkhianat, pembunuhan atas diri pangeran ini dilakukan oleh Han Wi Kong sebagai cara untuk membunuh diri karena dia ingin memberi kebebasan kepada Puteri Milana yang menjadi isterinya hanya dalam nama saja.

Dia tahu isterinya itu mencinta Gak Bun Beng, maka semenjak menikah, belum pernah dia mendekati isterinya dan belum pernah mereka tidur bersama.

Demikianlah, Puteri Milana akhirnya bertemu dan berkumpul juga dengan pria yang dicintanya, satu-satunya pria yang pernah dicintanya, yaitu Gak Bun Beng.

Akan tetapi, atas permintaan Gak Bun Beng yang tidak ingin mendengar nama kekasihnya ini cemar dan tertimpa aib, sebagai janda bangsawan, seorang puteri istana, menikah lagi dengan dia, maka dia mengajak kekasihnya yang menjadi isterinya itu ke tempat sunyi, jauh dari dunia ramai.

Mereka berdua meninggalkan segala kericuhan hidup di dunia ramai dan tinggal di sebuah puncak, satu di antara puncak-puncak Pegunungan Beng-san, yaitu puncak yang disebut puncak Telaga Mawar karena di situ terdapat sebuah telaga kecil yang penuh dengan pohon bunga mawar.

Suami isteri ini seolah-olah hendak menebus segala kerinduan mereka bertahun-tahun yang lalu, belasan tahun penuh kerinduan ketika mereka dahulu saling berpisah.

Kini mereka itu seolah-olah tenggelam dan berenang di dalam lautan madu asmara, mencurahkan seluruh perasaan cinta kasih satu kepada yang lain di tempat sunyi di pondok mereka dekat telaga, di tengah-tengah suasana tenang dan hening yang diliputi keharuman bunga-bunga mawar.

Dalam waktu satu tahun saja, Puteri Milana yang sudah berusia tiga puluh lima tahun itu melahirkan dua orang anak kembar, dua orang anak laki-laki yang sehat dan tampan.

Tentu saja mereka merasa bahagia sekali, akan tetapi Puteri Milana menjadi repot juga karena tiba-tiba saja dia harus mengurus dua orang anak!

Padahal dia adalah seorang puteri istana yang lebih biasa bermain pedang daripada mengurus anak.

Namun, karena Gak Bun Beng yang menjadi suaminya itu penuh kasih sayang kepadanya dan membantunya, maka kedua orang itu mengurus anak-anak mereka dengan baik, dengan cara gotong royong.

Gak Bun Beng adalah seorang pendekar yang memiliki ilmu kepandaian hebat sekali.

Dia memiliki bermacam-macam ilmu silat yang amat tinggi, di antaranya adalah ilmu-ilmu silat dari Siauw-lim-pai, ilmu-ilmu sinkang Swat-im Sin-kang dan Hwi-yang Sin-kang dari Pulau Es.

Ilmu Silat Sam-po Cin-keng yang mujijat, tenaga sakti Inti Bumi yang didapatnya dari gembong Pulau Neraka yaitu Butek Siauw-jin, dan dia bahkan pernah menerima ilmu mujijat dari Koai-lojin, yaitu Ilmu Lo-thian Kiam-sut yang sukar ditemukan tandingannya.

Akan tetapi Puteri Milana juga bukan orang sembarangan.

Sebagai puteri dari Pendekar Super Sakti, tentu saja dia mewarisi ilmu-ilmu yang tinggi dari ayahnya dan ibunya, bahkan dia memiliki kelebihan dari suaminya yang sakti itu dalam hal ilmu perang.

Dia mewarisi ilmu perang dari ibunya, bahkan ilmu ini diperdalamnya ketika dia berada di istana, dan ketika terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh dua orang pamannya, yaitu kedua orang Pangeran Liong, dia telah memimpin pasukan untuk membasmi pemberontak-pemberontak di perbatasan utara itu (baca Kisah Sepasang Rajawali).

Memiliki ayah dan ibu seperti ini, sudah barang tentu kalau dua orang anak kembar itu semenjak kecil menerima gemblengan dari ayah bundanya sehingga mereka pun tumbuh menjadi anak-anak yang luar biasa.

Selain menggembleng anak-anak mereka dengan dasar-dasar ilmu silat tinggi, juga pendekar Gak Bun Beng dan Puteri Milana tidak lupa untuk memberi pelajaran "bun" (sastra) kepada dua orang anak itu agar mereka kelak tidak menjadi orang-orang buta huruf yang hanya akan mengandalkan kekuatan badan dan menjadi orang-orang kasar.

Pondok mereka yang sederhana itu, bersama sebidang tanah yang kini telah mereka olah menjadi kebun sayur dan bunga, berada di puncak, di tepi telaga dan terkurung oleh jurang dan bukit-bukit.

Tempat ini aman dan tenteram sekali, dan tidak mungkin didatangi orang dari jurusan lain kecuali melalui telaga.

Hanya dengan menyeberangi telaga itulah orang dari jurusan atau tempat lain di seberang telaga dapat mengunjungi pondok suami isteri pendekar ini.

Oleh karena itu, jarang sekali ada orang datang ke tempat itu, dan hanya setelah dua orang anak kembar mereka mulai besar dan mengerti, suami isteri ini kadang-kadang mengajak dua orang anak mereka untuk mengunjungi dusun-dusun di seberang telaga agar mereka jangan sampai terasing dari hubungan antara manusia.

Para penghuni dusun-dusun di seberang telaga mengenal suami isteri dan dua orang anak kembarnya ini, yang mereka anggap sebagai orang-orang luar biasa yang mengasingkan diri.

Setelah Gak It Kong dan Gak Goat Kong, nama dua orang anak kembar itu, berusia enam tahun, mereka telah menjadi anak-anak luar biasa yang memiliki kepandaian jauh melebihi anak-anak biasa.

Orang tua mereka memberi mereka nama dengan mengambil huruf Jit (Matahari) dan Goat (Bulan) untuk menunjukkan kekembaran mereka.

Akan tetapi dua orang anak itu pun mulai mengerti keadaan dan mereka mulai merasa heran dan penasaran, juga tidak puas melihat betapa mereka hidup terasing di tempat itu, padahal di dusun-dusun di seberang telaga terdapat banyak manusia lain.

Mereka telah pandai membaca dan dari kitab-kitab yang mereka baca, mereka tahu bahwa yang hidup mengasingkan diri hanyalah pertapa-pertapa atau orang--orang jahat yang menjadi buronan.

Padahal ayah bunda mereka bukan pertapa.

Apakah ayah bunda mereka buronan?

Agaknya tidak mungkin.

Rasa penasaran ini membuat mereka pada suatu malam, sehabis makan malam, mengajukan pertanyaan kepada ayah bunda mereka.

"Ayah, mengapa kita hidup di tempat sunyi dan terasing ini? Mengapa kita tidak tinggal di tempat yang banyak ditinggali manusia lain seperti di dusun-dusun itu?"

Kata It Kong.

"Kenapa kita tidak pernah pergi melakukan perjalanan mengunjungi kota-kota besar dan kota raja seperti yang sering Ibu ceritakan? Katanya Ibu adalah cucu kaisar, kenapa sekarang tinggal di tempat sunyi begini?"

Goat Kong menyambung.

Karena It Kong lahir lebih dulu, maka Goat Kong ini terhitung adik, akan tetapi dia tidak pernah mau menyebut kakak kepada It Kong.

Suami isteri itu saling pandang dan dalam pertemuan pandang mata ini Milana menyerahkan jawaban-jawaban itu kepada suaminya.

Maka Gak Bun Beng lalu memegang tangan kedua orang puteranya, menarik mereka dan merangkul mereka, lalu berkata.

"Ketahuilah, anak-anakku. Kita memang sengaja tinggal di tempat sunyi, jauh dari keramaian. Bukankah tempat ini indah sekali dan kita hidup bahagia? Di tempat-tempat ramai, terutama sekali di kota-kota besar, terdapat banyak keributan, terdapat banyak orang-orang jahat yang suka mengganggu orang lain."

"Akan tetapi kita tidak perlu takut!"

Jit Kong berkata.

"Benar, perlu apa kita belajar silat kalau takut orang jahat!"

Goat Kong menyambung. Gak Bun Beng tersenyum dan diam-diam dia bangga melihat sifat gagah itu ada pada diri dua orang puteranya.

"Sama sekali kita tidak takut, anak-anakku. Akan tetapi perlu apakah kita mendekati tempat-tempat di mana orang-orang saling bermusuhan? Di sini kita hidup tenang dan damai."

"Akan tetapi aku ingin melihat banyak orang di kota besar!"

Kata Jit Kong.

"Dan aku ingin melihat kaisar!"

Kata Goat Kong. Melihat suaminya kewalahan menghadapi desakan dua orang anaknya, Milana lalu turun tangan membantu dan berkata.

"Jit Kong dan Goat Kong, kalian masih terlalu kecil untuk pergi ke tempat ramai dan bertemu dengan orang-orang jahat. Belajarlah baik-baik dan kalau kalian kelak sudah dewasa, sudah memiliki kepandaian tinggi, baru tiba saatnya kalian boleh mengunjungi tempat--tempat ramai itu. Aku sendiri yang akan membawa kalian ke kota raja dan menghadap kaisar."

"Benar, kata Ibumu,"

Bun Beng menyambung dengan hati lega.

"Dan ingatlah, di dunia ini banyak berkeliaran manusia-manusia jahat. Oleh karena itu, kalian pun tidak boleh mengunjungi dusun-dusun di seberang tanpa ayah ibumu. Mengertikah kalian?"

Dua orang anak itu mengangguk, akan tetapi saling lirik karena hati mereka sesungguhnya tidak merasa puas.

Betapapun juga, janji ibu mereka itu amat menarik hati dan mereka makin rajin berlatih ilmu silat sehingga ayah bunda itu merasa girang sekali.

Pada suatu pagi, seperti biasa, Jit Kong dan Goat Kong bermain-main di telaga, mendayung sebuah perahu kecil.

Mereka harus mencari ikan, akan tetapi karena semenjak pagi tadi mereka memancing namun belum juga memperoleh hasil, mereka lalu bermain-main dan mandi di telaga.

Mereka menanggalkan pakaian mereka di atas perahu dan dari perahu itu mereka terjun ke air yang jernih, berenang ke sana-sini sambil tertawa-tawa, berkejaran, menyelam dan saling siram dengan air.

"Hayo kita berlumba mengejar perahu!"

Jit Kong berkata sambil tertawa-tawa dan mengusap air dari mukanya.

"Baik, yang kalah nanti harus mendayung perahu sampai ke pinggir ketika pulang!"

Jawab Goat Kong.

Mereka lalu berenang ke arah perahu mereka, lalu bersama-sama mereka mengerahkan tenaga menggunakan tangan mereka mendorong perahu yang meluncur cepat ke tengah telaga.

Mereka lalu berenang secepatnya mengejar dan berlumba.

Keduanya memang pandai renang, terlatih sejak masih kecil.

Akan tetapi, sejak kecil Jit Kong memang memiliki dasar tenaga lebih besar, akan tetapi Goat Kong memiliki dasar gerakan yang lebih cepat, maka ketika berlumba mengejar perahu ini, gerakan Goat Kong lebih cepat dan kakaknya tertinggal setengah badan ketika dia lebih dulu memegang perahu dan meloncat ke dalamnya sambil berpegang kepada bibir perahu.

"Aku menang....!"

Soraknya, mentertawai Jit Kong.

"Kau berenang seperti ikan saja!"

Jit Kong kini juga meloncat ke dalam perahu. Mereka tertawa-tawa. Akan tetapi, tiba-tiba Goat Kong memegang tangan kakaknya.

"Jit Kong, lihat! Ada perahu....!"

Jit Kong cepat memutar tubuh dan memandang.

Benar saja.

Ada sebuah perahu didayung cepat ke tengah telaga, datang dari seberang dan agaknya menuju ke tempat tinggal mereka.

"Wah, lihat pakaian mereka!"

Jit Kong berbisik.

Dua orang anak ini mendekam di atas perahu mereka dan memandang.

Perahu itu ditumpangi oleh dua orang yang berpakaian seperti tentara, bertubuh tinggi besar dan mereka mendayung perahu dengan kuat sehingga perahu itu meluncur cepat sekali.

"Pakaian mereka seperti gambar tentara...."

Bisik Goat Kong.

"Celaka, agaknya Ayah benar-benar seorang buruan dan mereka tentu datang hendak menangkap Ayah,"

Kata Jit Kong. Dua orang anak itu saling pandang dengan mata terbelalak dan muka berubah pucat.

"Kita harus halangi mereka...."

Bisik Goat Kong.

Kakaknya mengangguk dan bagaikan dua ekor ikan saja, dua orang anak yang masih telanjang itu lalu meluncur ke dalam air dan berenang cepat menghadang perahu yang meluncur dari depan itu.

Ketika perahu meluncur dekat, keduanya cepat menyelam.

Dua orang yang berpakaian perwira itu mendayung perahu dan memandang ke arah perahu kecil itu dengan heran.

Perahu kecil itu kosong, tidak ada orangnya dan di dalam perahu terdapat tumpukan pakaian!

"Eh, tadi seperti kulihat ada dua orang bocah di perahu itu,"

Kata perwira yang tua, yang rambutnya sudah putih semua.

"Benar, Souw-ciangkun, saya tadi pun melihatnya. Entah di mana mereka sekarang,"

Kata perwira yang lebih muda, yang bertubuh tinggi besar.

"Ehhh....!"

"Heiiiii....!"

Mereka berdua berteriak dengan kaget karena tiba-tiba saja perahu mereka itu miring!

Mereka berusaha untuk menekan perahu, akan tetapi percuma saja karena tiba-tiba perahu itu terbalik dan mereka ikut terjatuh ke dalam air.

"Tolooooonggg....!"

Perwira tua yang disebut Souw-ciangkun tadi berteriak.

Dia adalah seorang perwira yang gagah perkasa, akan tetapi di darat.

Kalau di air, dia sama sekali tidak bisa apa-apa, karena berenang pun dia tidak mampu, maka tentu saja dia menjadi ketakutan dan gelagapan, kedua tangannya meraih-raih udara kosong dan mulutnya berteriak minta tolong sebelum kepalanya tenggelam.

Perwira tinggi besar itu dapat berenang, akan tetapi juga tidak ahli.

Maka ketika dia berenang mendekati dan mencoba untuk menolong temannya, perwira tua itu menangkap lengannya dengan panik dan hal ini menghalangi temannya untuk berenang sehingga keduanya tenggelam!

Jit Kong dan Goat Kong yang sudah kembali ke perahu mereka, memandang ke arah dua orang yang sedang bergumul itu dengan mata terbelalak.

"Kita tidak boleh membunuh orang,"

Kata Jit Kong.

"Ya, dan mereka itu tidak pandai renang,"

Sambung Goat Kong.

"Kalau dibiarkan, tentu mereka akan mati."

"Karena itu, kita harus menolong mereka."

Kedua orang anak itu lalu terjun ke air, menyelam dan berenang ke arah dua orang perwira yang sudah mulai lemah gerakan-gerakan mereka itu, sebentar timbul sebentar tenggelam seperti dua ekor ayam terjatuh ke air.

Ketika dua orang anak itu berhasil menjambak rambut mereka dan membawa mereka berenang ke perahu kecil itu, mereka berdua sudah tidak bergerak lagi, perut mereka agak kembung dan mereka tidak sadarkan diri.

Melihat mereka pingsan, Jit Kong dan Goat Kong terkejut dan ketakutan.

"Celaka, mereka sudah mati!"

Teriak Jit Kong.

"Hayo cepat bawa pulang, biar diobati Ayah!"

Kata Goat Kong.

"Tapi.... tapi kita tentu akan mendapat marah. Kita telah membunuh orang!"

"Biarpun begitu, kita harus berikan tanggung jawab. Seorang gagah selalu akan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya."

Semua ucapan yang keluar dari mulut dua orang anak itu adalah hasil ajaran orang tua mereka.

Maka, biarpun mereka merasa sangat takut dan mengira bahwa dua orang itu telah mati sehingga mereka akan menerima kemarahan ayah mereka, Namun mereka tidak ragu-ragu lagi untuk cepat mendayung perahu pulang dan setibanya di tepi telaga, Jit Kong sudah meloncat dan lari secepatnya menuju ke pondok, sedangkan Goat Kong menjaga perahu di mana dua orang perwira itu masih menggeletak tak bergerak dengan wajah pucat.

Tak lama kemudian Gak Bun Beng datang berlarian bersama Isterinya, mengikuti Jit Kong yang datang memberi tahu kepada mereka tentang dua orang perwira itu.

Ketika melihat mereka menggeletak pingsan Bun Beng cepat menelungkupkan mereka dan memaksa air keluar dari dalam perut mereka, kemudian mengurut dada dan punggung sampai mereka siuman kembali.

Begitu mereka siuman dan perwira yang sudah berusia lanjut dan rambutnya putih semua itu melihat Milana, dia segera mengenalnya dan cepat dia menjatuhkan diri berlutut di depan puteri itu.

"Ah, sungguh beruntung sekali hamba, akhirnya dapat bertemu dengan Paduka Puteri!"

Kakek ini memang merasa terkejut, terheran-heran dan juga girang bukan main karena sama sekali tidak disangkanya bahwa dia akan dapat bertemu dengan orang yang dicari-carinya itu!

Mereka berdua adalah dua di antara para perwira yang diutus oleh Pangeran Yung Ceng untuk mencari Puteri Milana.

Dari para penghuni dusun di seberang mereka mendengar bahwa di tempat itu tinggal dua orang suami isteri pertapa yang masih muda dan aneh, bersama dua orang anak mereka.

Mendengar betapa suami isteri "pertapa"

Ini mengasingkan diri selama beberapa tahun, dua orang utusan itu merasa heran dan mereka lalu menggunakan sebuah perahu untuk pergi menyelidiki.

Akan tetapi mereka bertemu dengan Jit Kong dan Goat Kong sehingga hampir saja mereka mati tenggelam di telaga.

"Siapakah kalian?"

Milana bertanya sambil mengerutkan alisnya, sama sekali tidak menyangka bahwa ada orang yang akan mengenalnya sebagai puteri istana.

"Maaf, hamba telah berani datang mengganggu. Hamba adalah Souw Ciat, dan dia ini adalah Ciang Sim To,"

Kata perwira tua sambil menunjuk kepada temannya yang juga sudah menjatuhkan diri berlutut ketika mendengar ucapan Souw Ciat.

Baru sekarang dia juga mengenal Milana yang berpakaian sederhana seperti seorang wanita petani biasa itu.

"Hamba berdua adalah perwira-perwira pengawal dari istana, hamba diutus oleh sri baginda kaisar mencari Paduka Puteri Milana yang mulia."

Mendengar ini, Gak Bun Beng lalu berkata.

"Sebaiknya mari kita ke pondok dan di sana kita dapat bicara dengan baik."

Dua orang perwira itu kini pun teringat kepada pendekar ini yang pernah menjadi tokoh terkenal di kota raja, maka Souw-ciangkun lalu menjura, diikuti oleh temannya, kepada pendekar itu sambil berkata.

"Terima kasih atas kebaikan Taihiap."

Mereka berempat diikuti oleh dua orang anak kembar, segera menuju ke pondok di mana Jit Kong dan Goat Kong menyalakan perapian sehingga dua orang perwira itu dapat menghangatkan tubuh mereka dan mengeringkan pakaian mereka.

Kemudian, dua orang anak kembar yang sudah biasa bekerja membantu ibu mereka itu menghidangkan arak kepada dua orang tamu itu yang memandang kepada mereka berdua dengan sinar mata terheran-heran dan juga penuh curiga.

"Kalau tidak berkat pertolongan dua orang Kongcu ini, tentu kami telah tewas,"

Kata Ciang Sim To kepada Bun Beng. Pendekar itu menarik napas panjang.

"Kami telah mendengar penuturan dua orang putera kami, Ji-wi Ciangkun, dan harap Ji-wi suka memaafkan mereka yang masih anak-anak sehingga belum dapat membedakan orang. Mereka mengira bahwa Ji-wi datang dengan niat buruk, maka mereka telah lancang menggulingkan perahu dan menangkap Ji-wi."

"Jit Kong, Goat Kong, hayo cepat minta maaf kepada kedua Ciangkun ini!"

Milana berkata kepada kedua orang putera kembarnya.

Jit Kong dan Goat Kong cepat melangkah maju menghadap dua orang perwira itu, menjura dan mengangkat kedua tangan di depan dada, membungkuk dan berkata.

"Harap Ji-wi Ciangkun sudi memaafkan kami berdua."

Mereka mengeluarkan kata-kata yang sama dan hampir berbareng, tanda bahwa ucapan itu keluar dari hati mereka sendiri bukan saling mengikuti saja.

Souw-ciangkun dan temannya cepat membalas dan perwira tua ini berkata kagum.

"Ah, sungguh hebat sekali! Ji-wi Kongcu ini masih begini muda, akan tetapi telah memiliki kepandaian hebat sehingga kami dua orang perwira bangkotan telah dibuat tidak berdaya! Haha-ha, betapa bahagianya hati hamba menyaksikan putera-putera Paduka yang begini tampan dan gagah perkasa!"

"Ji-wi Ciangkun, sekarang ceritakanlah tentang tugas Ji-wi mencari aku, dan mengapa pula kaisar mengutus Ji-wi,"

Kata Milana.

Pangeran Yung Ceng demikian bersemangat untuk menemukan dan memanggil Puteri Milana sehingga setiap rombongan tentu dibawai surat untuk Sang Puteri.

Juga Souw-ciangkun tidak ketinggalan membawa sepucuk surat.

Untung bahwa surat itu disimpannya di dalam kantung kulit sehingga tidak basah ketika dia terjatuh ke air telaga tadi.

Dengan sikap hormat dia menyerahkan surat itu kepada Milana yang segera, membuka dan membacanya.

Tidak salah memang.

Surat itu adalah surat dari pamannya, putera kaisar yang masih amat muda itu.

Biarpun Yung Ceng dan Yung Hwa jauh lebih muda daripada Milana, namun dua orang pangeran muda ini termasuk pamannya, karena mereka adalah putera-putera kaisar, sedangkan dia sendiri adalah cucu kaisar.

Di dalam surat itu, jelas Pangeran Yung Ceng mengharapkan kedatangannya di istana karena di istana timbul hal-hal yang membutuhkan bantuan Puteri Milana untuk ditanggulangi.

Milana mengerutkan alisnya.

"Yang mengutus Ji-wi bukan sri baginda kaisar, melainkan putera mahkota,"

Tegurnya.

"Harap Paduka maafkan hamba berdua,"

Jawab Souw Ciat.

"Oleh karena sri baginda kaisar telah menyerahkan pedang kekuasaan kepada pangeran mahkota, maka kekuasaan beliau tiada bedanya dengan kekuasaan sri baginda kaisar, maka hamba menganggap bahwa yang mengutus hamba juga dari baginda kaisar sendiri."

"Hemmm, apakah yang terjadi di istana maka kaisar menyerahkan pedang kekuasaan kepada Paman Pangeran Yung Ceng?"

Souw-ciangkun lalu menceritakan keadaan di kota raja dengan jelas.

Sebagai seorang panglima pengawal yang setia dia ikut merasa lega dan gembira atas tindakan pangeran mahkota itu maka dia dapat bercerita dengan jelas tentang diberantasnya penyelewengan-penyelewengan oleh Pangeran Yung Ceng, betapa para thaikam ditangkapi dan dihukum, dan banyak pula pembesar korup yang dihukum.

"Ah, mengapa terjadi hal demikian? Apakah kesalahan para thaikam itu?"

Tanya Milana dengan heran.

"Mereka telah mengua-sai istana dan membujuk sri baginda kaisar melakukan pemecatan-pemecatan terhadap pembesar-pembesar yang setia. Bahkan Jenderal Kao Liang yang telah menjadi panglima besar itu pun dipecat."

"Ehhh....?"

Berita ini amat mengejutkan hati Milana dan Bun Beng.

Mereka berdua mengenal siapa, adanya Jenderal Kao Liang, seorang yang amat setia dan tangguh, yang amat besar jasanya terhadap kerajaan yang telah berkali-kali menyelamatkan kerajaan dari ancaman pemberontakan-pemberonta kan, bahkan yang terakhir, lima enam tahun yang lalu, juga menyelamatkan negara dari pemberonta-kan dua orang Pangeran Liong.

"Dia dipecat?"

Milana menegaskan dengan hati penasaran.

"Bukan dipecat begitu saja, melainkan dipensiun dan diperkenankan mengundurkan diri dan pulang ke kampung halaman. Akan tetapi semua orang tahu belaka bahwa hal itu merupakan pemecatan dan pengusiran secara halus."

Souw-ciangkun memberi penjelasan.

"Kalau Paman Pangeran Mahkota sudah melakukan tindakan tegas itu dan para pembesar lalim telah dibasmi, perlu apalagi menyuruh Ji-wi mencari aku?"

Tanya Milana yang merasa enggan untuk pergi ke kota raja mencampuri urusan pemerintah.

Souw-ciangkun lalu menceritakan tentang ancaman pemberontakan yang agaknya akan dicetuskan oleh Gubernur Ho-nan.

"Maafkan hamba, sesungguh-nya hamba tidak tahu jelas akan persoalannya, dan tentu saja pangeran mahkota tidak menceritakan kepada hamba. Akan tetapi karena hamba melaksanakan tugas mencari Paduka, maka hamba memperlengkapi diri dengan pengetahuan akan hal-hal itu sehingga kalau Paduka bertanya hamba sudah dapat memberi penjelasan. Mengenai pemberontakan yang agaknya akan dilakukan oleh Gubernur Ho-nan, dimulai ketika Pangeran Yung Hwa menjadi utusan kaisar mengunjungi Propinsi Ho-nan."

Souw-ciangkun lalu menceritakan segala yang telah didengarnya tentang peristiwa yang terjadi atas diri Pangeran Yung Hwa dan Gubernur Ho-pei.

Milana dan Bun Beng mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Malah akhir-akhir ini terdapat berita bahwa Gubernur Ho-nan agaknya hendak bersekutu dengan mata-mata dari Nepal, dan mengumpulkan banyak orang pandai di lembah Sungai Huang-ho. Oleh karena itulah agaknya maka pangeran mahkota hendak minta bantuan Paduka."

Milana saling pandang dengan suaminya.

Mereka maklum bahwa keadaan tentu amat gawat, maka sampai Pangeran Yung Ceng mencari Milana.

Biarpun mereka sekeluarga telah menjauhkan diri dan tidak mau berurusan dengan persoalan dunia, akan tetapi mendengar adanya ancaman terhadap kerajaan, tergerak juga hati Milana.

"Baiklah, Souw-ciangkun. Kalian berdua telah berhasil menemukan aku dan telah menyampaikan surat Paman Pangeran Yung Ceng. Sekarang kembalilah kalian ke kota raja, dan permintaan dari istana itu akan kami pertimbangkan. Souw-ciangkun memandang dengan wajah berseri, lalu bertanya.

"Apakah Paduka tidak menitipkan surat jawaban kepada pangeran mahkota melalui hamba?"

"Tidak usah. Sampaikan saja secara lisan bahwa aku telah menerima surat beliau dan bahwa permin-taan itu akan kami pertimbangkan. Begitu saja. Sekarang, harap kalian suka pergi meninggalkan tempat ini dan jangan, memberitahukan kepada orang lain kecuali pangeran mahkota tentang kami dan tempat tinggal kami."

Dua orang perwira pengawal itu memberi hormat, minta diri dan mereka diantar oleh Bun Beng sendiri yang menggunakan perahunya karena perahu mereka tadi entah hanyut ke mana.

Mereka diantar sampai ke seberang telaga, lalu pendekar itu kembali pulang dan segera dia memperbincangkan persoalan panggilan dari kota raja.

Itu bersama isterinya.

Akhirnya, karena Milana berkeras untuk membela kerajaan yang terancam bahaya sebagai puteri istana, diambiliah keputusan bahwa puteri itu akan berangkat sendiri ke kota raja melihat keadaan.

Gak Bun Beng tinggal di rumah bersama putera mereka.

Pada keesokan harinya, berangkatlah Milana yang berganti pakaian ringkas dan membawa pedangnya sehingga kini dia berubah dari seorang wanita petani menjadi seorang pendekar wanita yang cantik dan gagah.

"Ohhh.... hu-hu-huuuhhhhh....!"

Dia menangis menutupi matanya dengan kedua tangan, terisak-isak dan menjatuhkan dirinya di atas rumput tebal di bawah pohon dalam hutan sunyi itu.

Dia masih mengenakan pakaian pria, pakaian seorang pemuda dan dengan pakaian itu dia telah menggunakan nama Kang Swi, memasuki sayembara dan berhasil menjadi perwira pengawal Gubernur Ho-nan.

Akan tetapi, sungguh dia tidak sangka bahwa rahasianya terbuka secara demikian memalukan!

Dalam keadaan pingsan, pemuda yang bernama Siauw Hong itu telah meraba dadanya!

Dia tahu bahwa Siauw Hong telah menolongnya, telah menyembuhkannya dari luka berat.

Akan tetapi dia tidak peduli.

Pemuda itu telah meraba dadanya!

Dia harapkan pukulannya itu akan membunuh Siauw Hong!

Kalau tidak, percuma saja dia menyamar setelah rahasianya kini terbuka.

"Hu-hu-huuuhhhhh.... sialan....!"

Pemuda yang ternyata adalah seorang dara itu kembali menangis.

Akan tetapi, betapapun keras dia menangis, di tempat sunyi itu siapa yang akan mendengarnya atau menghiburnya?

Kita mengenal pemuda itu sebagai Kang Swi, pemuda royal yang melakukan perjalanan bersama Siluman Kecil atau Kian Bu dan Siauw Hong ke kota raja Ho-nan dan bersama Siauw Hong memasuki sayembara dan berhasil diangkat menjadi perwira pengawal Gubernur Ho-nan.

Akan tetapi ketika dia bertemu dengan Kim Cui Yan yang menangkap Jenderal Kao Liang dan dia menolong jenderal itu, dia berkelahi melawan Kim Cui Yan yang amat lihai dan terkena pukulan Swat-im Sin-ciang sehingga roboh pingsan.

Kemudian, ketika Siauw Hong menolong bekas sahabatnya itu, Siauw Hong mendapatkan kenyataan bahwa "pemuda"

Royal itu adalah seorang wanita muda!

Memang demikianlah sesungguhnya.

Kang Swi hanyalah merupakan satu di antara penyamaran gadis yang selain pandai ilmu silatnya, juga ahli dalam hal ilmu menyamar dan "ilmu"

Mencuri itu!

Gadis ini bukan lain adalah Ang-siocia (Si Nona Merah), julukan yang didapatnya karena dia suka berpakaian merah muda.

Seperti telah kita ketahui, Ang-siocia yang cantik ini adalah murid dari Hek-sin Touw-ong yang terkenal sebagai raja pencuri yang tinggal di pantai Po-hai.

Dan seperti telah kita ketahui pula, ketika Siluman Kecil atau Kian Bu bertanding melawan Sin-siauw Seng-jin, untuk menebus kekalahannya lima tahun yang lalu dan akhirnya berhasil mengalahkan kakek itu, Nona ini muncul dan mencuri barang-barang pusaka peninggalan Suling Emas yang ditinggalkan oleh Sin-siauw Seng-jin setelah dia mengakui kekalahannya terhadap Siluman Kecil.

Gadis ini bukan hanya merupakan murid yang tersayang dari Hek-sin Touw-ong, akan tetapi juga anak angkatnya yang amat dicinta oleh kakek raja maling itu.

Oleh karena itu, maka hampir seluruh ilmu kepandaian kakek itu diajarkan kepada Ang-siocia yang bernama Kang Swi Hwa itu.

Karena terlalu disayang ini agaknya, maka setelah digembleng sejak kecil, Swi Hwa menjadi seorang gadis yang manja, keras, bicaranya tajam, dan menonjolkan sifat kewanitaannya dengan berani sehingga kelihatannya agak genit.

Namun dia cantik sekali dan amat cerdas otaknya sehingga semua pelajaran yang diterimanya dapat dia kuasai, terutama sekali ilmu mencuri dan menyamar.

Setelah menguasai ilmu penyamaran itu, di dalam saku-saku bajunya tidak pernah tertinggal alat-alat menyamar sehingga dia dapat menyulap dirinya dalam waktu singkat menjadi orang yang dikehendakinya, bahkan dengan mudahnya dia dapat menyamar sebagai pria tanpa ada yang dapat menduganya.

Ketika dia mewakili ayahnya menghadiri pertemuan yang diadakan oleh Hek-hwa Lo-kwi di lembah Sungai Huang-ho, kita telah mengenal kelihaian Kang Swi Hwa atau Ang-siocia ini.

Biarpun belum selihai gurunya atau ayah angkatnya, namun ilmu Kiam-to Sin-ciang yang dikuasainya amat dahsyatnya.

Dalam keadaannya itu, sebagai seorang dara yang berkepandaian tinggi, mempunyai seorang ayah angkat atau guru yang amat sayang dan memanjakannya, memberinya kebebasan seluasnya sehingga dia diperbolehkan pergi ke manapun, dan tidak pernah kekurangan karena sebagai raja maling tentu saja ayahnya mampu memberikan apa pun yang diinginkannya, Dari perhiasan yang termahal sampai pakaian terindah atau barang apa pun yang ada di dunia ini.

Apalagi setelah dia pandai, dia boleh mengandalkan kepandaiannya sendiri untuk memiliki barang apa saja yang diinginkannya, dengan jalan mencurinya, tentu saja!

Akan tetapi, betapapun juga Swi Hwa adalah seorang manusia biasa, seorang dara yang mulai dewasa.

Maka pada suatu saat perasaan wanita dan kedewasaannya ini bergerak dan membuat dia bertekuk lutut!

Saat itu adalah ketika dia melihat Kian Bu atau Siluman Kecil bertanding melawan Sin-siauw Seng-jin.

Melihat pemuda berambut putih itu, melihat sepak terjangnya ketika mengalahkan Sin-siauw Seng-jin yang demikian lihai, Swi Hwa atau Ang-siocia menjadi tertarik sekali dan dia sendiri tidak tahu apakah itu yang dinamakan cinta, Akan tetapi yang jelas, dia merasa kagum dan tertarik dan ingin sekali dia berkenalan dengan Siluman Kecil, mendekatinya dan mengenal pemuda luar biasa itu dari dekat!

Inilah sesungguhnya yang menyebabkan gadis ini mendahului Siluman Kecil, mencuri barang-barang pusaka di dalam rumah Sin-siauw Seng-jin!

Dan dia maklum bahwa dia tidak akan mungkin melawan Siluman Kecil, maka dia menggunakan nikouw tua itu untuk membuat Siluman Kecil tidak berdaya dan tidak berani menyerangnya.

Dia lalu menantang agar Siluman Kecil datang ke tempatnya, yaitu tempat tinggal gurunya, di pantai Po-hai teluk sebelah utara.

Maksudnya memancing Siluman Kecil ke sana adalah selain hendak menguji kepandaian pemuda itu melawan gurunya, juga dia ingin berkenalan dengan pemuda itu berdua saja, tanpa ada banyak orang.

Akan tetapi, karena dia tidak melihat Siluman Kecil tergesa-gesa mengejarnya ke pantai Po-hai, hatinya kecewa dan dia menggunakan lain akal.

Melihat Siluman Kecil atau Kian Bu melakukan perjalanan menuju ke Ho-nan dan membawa uang, hal yang tidak mungkin terlepas dari "mata malingnya"

Yang terlatih baik, dia lalu menyamar sebagai nenek penjual sepatu!

Ang-siocia inilah sesungguhnya nenek penjual sepatu rumput dahulu itu!

Penyamarannya memang hebat sekali sehingga Kian Bu sama sekali tidak menyangka.

Dan dengan ilmu mencurinya yang luar biasa, dia berhasil mencopet uang dari dalam bungkusan Kian Bu tanpa diketahui oleh pendekar yang memiliki kesaktian hebat dan berjuluk Siluman Kecil itu!

Kemudian, Ang-siocia atau Swi Hwa cepat mengubah penyamarannya dan sekali ini dia menyamar sebagai seorang kongcu yang royal dan ramah.

Tidak sukar penyamaran ini, karena sesuai dengan sifatnya yang memang lincah dan ramah, pandai bicara dan jenaka.

Dan giranglah hatinya bahwa dia berhasil menarik hati Siluman Kecil sehingga dapat melakukan perjalanan bersama dengan pendekar itu dan juga dengan Siauw Hong.

Akan tetapi, hatinya merasa amat kecewa ketika dia bertemu dengan Siluman Kecil sebagai musuh pada waktu dia membantu fihak Gubernur Ho-nan memperebutkan Pangeran Yung Hwa.

Dia memasuki sayembara lalu menjadi pengawal bukan sekali-kali karena dia memihak Gubernur Ho-nan, melainkan karena pertama dia hendak mencari pengalaman dalam petualangannya meninggalkan tempat tinggal gurunya, ke dua karena dia ingin menarik perhatian Siluman Kecil dengan memamerkan kepandaiannya.

Setelah keributan itu di mana dia berada di fihak yang bermusuhan dengan Siluman Kecil, dengan hati kecewa sekali dia lalu meninggalkan gubernuran, meninggalkan jabatannya tanpa pamit setelah dia melihat Siauw Hong, Siluman Kecil, bahkan si Gagu yang aneh itu semua pergi.

Dan ketika dia mencari Kian Bu, dia bertemu dengan wanita baju hijau yang menawan Jenderal Kao Liang, kemudian dia dipukul pingsan dan rahasianya bahwa dia wanita diketahui oleh Siauw Hong!

Kini Ang-siocia atau Swi Hwa telah berhenti menangis dan duduk termenung di bawah pohon.

Entah mengapa, semenjak dia ditolong oleh Siauw Hong dan "diraba"

Dadanya ketika pemuda itu menolongnya menyembuhkan lukanya dengan menyalurkan sinkang, Terjadi keanehan di dalam hatinya terhadap Siauw Hong, pemuda yang tadinya selalu dia anggap sebagai seorang bocah yang masih hijau itu!

Membayangkan wajah tampan pengemis muda itu, sikapnya yang sederhana dan pendiam, tubuhnya yang agak jangkung, dia kini merasa malu.

Semenjak Siauw Hong meraba dadanya, seolah-olah pemuda itu telah berubah sama sekali dalam pandang matanya!

Sebetulnya, dara inilah yang dulu mencuri harta pusaka keluarga Jenderal Kao ketika terjadi perebutan.

Ketika itu, dia melihat betapa ada tiga rombongan atau golongan orang yang seolah-olah memperebutkan pusaka itu dan menguasai keluarga Jenderal Kao, bahkan rombongan pertama yang terdiri dari pasukan kota raja yang menyamar, berusaha keras untuk membasmi dan membunuhi keluarga Kao.

Akan tetapi di situ masih ada dua rombongan lain yang berebutan, dan bahkan seolah-olah bermusuhan sendiri, yaitu golongan dari Hek-eng-pang perkumpulan wanita-wanita liar dan Kwi-liong-pang.

Di dalam pertempuran-pertempuran hebat itu di mana terjatuh banyak korban di kedua fihak, dia melihat pula serombongan orang yang dipimpin oleh orang asing menculik dan melarikan semua keluarga Jenderal Kao.

Dia mengenal pemimpin rombongan itu sebagai orang Nepal kaki tangan Liong Bian Cu, Pangeran Nepal itu.

Akan tetapi karena dia tidak mempunyai hubungan dengan semua itu, dia tidak mempedulikannya, dan dia hanya mempergunakan kepandaiannya untuk mencuri harta pusaka Jenderal Kao.

Hal ini dilakukannya karena memang sebagai murid seorang "raja maling"

Tentu saja dia tidak mau mendiamkan harta pusaka dijadikan perebutan tanpa bertindak apa-apa, dan selain itu juga dia (Lanjut ke

Jilid 30) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 30 bermaksud untuk mengangkat nama.

Memang dalam perebutan di antara gerombolan-gerombolan itu berarti mengangkat nama gurunya dan namanya sendiri.

Makin dikenang, makin berduka, kecewa dan penasaran rasa hati dara itu.

Melihat Siluman Kecil yang telah menarik perhatiannya itu tidak mengejarnya langsung ke Po-hai, dia lalu berbalik membayangi pendekar aneh itu, berkali-kali menyamar dan berusaha menarik perhatiannya.

Akan tetapi Siluman Kecil agaknya sama sekali tidak tertarik kepadanya, bahkan telah memukulnya dalam keributan itu sehingga dia terluka.

Dan kemudian, bukan saja dia tidak menarik perhatian pendekar itu sama sekali, bahkan akhirnya "menarik"

Perhatian Siauw Hong yang mengetahui rahasianya!

Yang menggemaskan, mengapa kini wajah Siauw Hong selalu terbayang di depan matanya?

Setiap kali dia mencoba membayangkan wajah Siluman Kecil yang amat dipujanya, wajah aneh tampan dengan rambutnya yang putih dan matanya yang tajam bersinar-sinar itu, selalu saja wajah pendekar sakti ini berubah menjadi wajah Siauw Hong!

Dengan hati penasaran Ang-siocia lalu mengambil keputusan untuk pulang ke Po-hai saja karena dia pun sudah terlalu lama meninggalkan gurunya.

Dia pulang membawa banyak hasil curiannya, antara lain harta pusaka Jenderal Kao Liang, pusaka-pusaka peninggalan Suling Emas, dan sekantung uang milik Siluman Kecil.

Bukan barang-barang biasa, melainkan milik orang-orang ternama dan tentu suhunya akan merasa gembira dan kagum serta bangga akan hasil karyanya itu!

Sudah terlalu lama kita meninggalkan Ang Tek Hoat sehingga tentu banyak yang bertanya-tanya apa jadinya dengan tokoh yang hidupnya diombang-ambingkan oleh keadaan yang selalu berubah-ubah itu.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Ang Tek Hoat yang patah hati dan dirundung kecewa, penasaran dan berduka itu seolah-olah menjadi tidak peduli lagi akan hidupnya, tidak peduli lagi apakah yang dia lakukan dalam hidup selanjutnya itu benar atau salah.

Dia dipaksa berpisah dari kekasihnya di Bhutan, kemudian kehancuran dan kepatahan hati ini ditambah lagi oleh pukulan amat hebat, yaitu kematian ibunya yang belum juga dapat dia ketahui siapa pembunuhnya.

Rasa kecewa dan duka ini membuat dia mudah terseret ke dalam pergaulan yang tidak benar sehingga dia tidak ragu-ragu untuk membantu orang-orang dari golongan sesat, bahkan dia telah membantu Hek-eng-pangcu Yang-liu Nio-nio untuk menyerbu dan mencoba membasmi perkumpulan Kwi-Liong-pang yang menjadi musuh Hek-eng-pang.

Dan dalam usaha inilah maka dia bertemu dan bekerja sama dengan guru ketua Hek-eng-pang ini, yaitu Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui, Siluman Kucing yang amat lihai namun jahat seperti iblis betina di balik wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang menggairahkan biarpun usianya sudah mendekati empat puluh tahun.

Tek Hoat tidak peduli lagi apa yang diperbuatnya itu, karena dia pun tidak mengenal Kwi-Liong-pang dan tidak mau tahu akan permusuhan antara dua perkumpulan itu.

Kalau dia membantu Hek-eng-pang adalah karena dia mempunyai kepentingannya sendiri, yaitu hendak minta bantuan Hek-eng-pang yang terdiri dari perkumpulan wanita untuk merampas kembali Syanti Dewi yang dia dengar terjatuh ke tangan Liong-sim-pang di puncak Naga Api.

Seperti telah kita ketahui, usahanya yang dibantu oleh Hek-eng-pang itu gagal sama sekali.

Syanti Dewi lenyap entah ke mana diculik oleh orang lain dari tangan Hwa-i-kongcu, ketua Liong-simpang.

Ketika dia hendak meninggalkan Hek-eng-pang, dia terbujuk oleh Mauw Siauw Mo-li untuk mengadakan perjalanan bersama mencari Syanti Dewi.

Karena Siluman Kucing itu mengatakan bahwa dia mungkin mengetahui jejak Syanti Dewi yang lenyap, terpaksa Tek Hoat mau melakukan perjalanan bersama wanita iblis yang cantik itu, tidak tahu bahwa wanita itu tentu saja bukan sekali-kali ingin membantunya mendapatkan kembali Syanti Dewi, melainkan karena merasa tertarik oleh ketampanannya, kemudaannya, dan kegagahannya!

Memang Siluman Kucing itu tidak membohong ketika dia mengatakan bahwa dia melihat wanita yang bertanya-tanya tentang seorang dara cantik yang dibawa dengan paksa oleh seseorang.

Wanita muda yang bertanya-tanya itu adalah Siang In.

Maka dia pun mengajak Tek Hoat untuk mengikuti jejak Siang In.

Namun, penyelidikannya tidak berhasil dan hanya karena kecerdikan dan kepandaian Mauw Siauw Mo-li dalam pembicaraan saja maka Tek Hoat masih percaya kepadanya dan melanjutkan perjalanannya bersama wanita cantik ini.

Akan tetapi, akhirnya dia mulai merasa curiga karena sampai berhari-hari mereka berdua melakukan perjalanan, belum juga mereka berdua berhasil menemukan jejak Syanti Dewi yang hilang.

Yang jelas adalah sikap Mauw Siauw Mo-li yang selalu ingin menarik perhatiannya dan yang selalu membujuknya dengan sikap dan kata-katanya untuk bermain cinta!

Pengalaman mereka dalam rumah makan melawan lima orang kasar itu pun jelas merupakan siasat Mauw Siauw Mo-li untuk menjebak Tek Hoat dalam umpan dan pancingannya agar pemuda itu bangkit berahinya dan mau melayani hasrat nafsunya untuk bermain cinta.

Akan tetapi sekali ini, Mauw Siauw Mo-li kecewa.

Dahulu, lima enam tahun yang lalu, dia pernah berhasil memikat dan menjatuhkan hati seorang pendekar muda putera majikan Pulau Es, Yaitu Suma Kian Bu.

Hal itu terjadi bukan hanya karena Mauw Siauw Mo-li ketika itu masih belum tua benar dan lebih cantik menarik, melainkan semata-mata karena Kian Bu merupakan seorang pemuda yang berwatak romantis dan masih hijau dan bodoh sehingga dia seperti seekor lebah, terpikat dan melekat dalam perangkap penuh madu.

Akan tetapi Tek Hoat lain lagi.

Dia memang masih muda, akan tetapi pemuda ini pernah terjerumus ke dalam dunia sesat, sudah banyak pengalaman dalam hal permainan cinta dan semenjak dia jatuh hati kepada Syanti Dewi, pemuda ini tahu benar bahwa semua permainan cinta itu hanyalah pemuasan nafsu belaka yang makin dituruti makin haus dan menghendaki lebih.

Dia dapat membedakan antara cinta kasihnya yang murni dan bersih terhadap Syanti Dewi dan "cinta"

Yang bergelimang nafsu berahi dengan wanita-wanita lain, Maka dia pun segera mengenal cinta kasih macam itu yang terkandung dalam hati Mauw Siauw Mo-li terhadap dirinya.

Oleh karena itu, dia selalu menghindarkan diri dan setiap kali darah mudanya bergelora oleh rayuan yang lihai dari wanita matang itu, dia menggunakan kekerasan hatinya untuk menekan nafsu berahinya.

Telah diceritakan betapa semenjak peristiwa di rumah makan itu, sikap Tek Hoat lebih hati-hati lagi dan dia mulai menaruh kecurigaan, akan tetapi karena dia sudah mendengar berita tentang Syanti Dewi, dia mempertahankan perasaannya dan bersama Lauw Hong Kui, yaitu si Siluman Kucing, berangkatlah dia menuju ke pantai Lautan Po-hai di timur.

Setelah tiba di pantai lautan itu pada suatu pagi, mereka berdiri di pantai yang sunyi dan memandang ke teluk yang amat luas itu.

"Pantai Teluk Po-hai begini luas, ke mana kita harus mencari mereka?"

Kata Tek Hoat, nada suaranya penuh kegelisahan karena memang dia merasa gelisah sekali kalau memikirkan kekasihnya.

Dia masih belum mengerti mengapa Syanti Dewi meninggalkan Bhutan dan terjatuh ke tangan ketua Liong-sim-pang dan mengapa pula sekarang diculik dan dilarikan orang.

Gelisah dia memikirkan kekasihnya itu.

Dia dapat menduga bahwa tentu kekasihnya itu melarikan diri dari Bhutan untuk mencarinya.

Kalau teringat akan dugaan ini, hatinya menjadi terharu sekali dan cinta kasihnya terhadap Syanti Dewi makin mendalam, akan tetapi segera dia dihimpit oleh rasa gelisah yang hebat.

Mauw Siauw Mo-li tersenyum dan menoleh kepadanya, menatap wajah yang tampan itu, lalu berkata.

"Engkau tidak percuma melakukan perjalanan mencari puteri itu bersama-ku, Tek Hoat."

Sudah lama dia memanggil pemuda itu dan bicara dengan sikap ramah dan akrab, seolah-olah mereka telah menjadi sahabat karib.

Dan Tek Hoat pun tidak peduli akan sikap ini.

"Apa maksudmu? Tahukah engkau ke mana kita harus mencari?"

Lauw Hong Kui memperlebar senyumnya dan mengangguk, lalu membereskan anak rambut di dahinya yang kusut dan melambai-lambai tertiup angin laut.

Memang cantik sekali dia dan pandai dia menonjolkan kecantikannya di saat yang tepat.

"Tentu saja aku tahu, atau setidaknya dapat menduga dengan tepat. Aku tidak asing di daerah ini, Tek Hoat. Kalau dugaanku tidak meleset, dan biasanya tidak, agaknya yang melakukan penculikan itu tentulah si Raja Maling!"

"Raja Maling?"

Tek Hoat bertanya, memandang wajah yang cantik dan terias baik-baik itu penuh perhatian.

"Lihat, angin begini besar membuat rambutku kusut. Rambutku awut-awutan, ya?"

Tanyanya sambil mengatur rambut dengan jari-jari tangannya yang kecil panjang.

Terpaksa Tek Hoat memandang rambut itu dan memang indah sekali rambut yang panjang halus itu melambai-lambai tertiup angin.

"Katakan, siapa dia dan di mana tempatnya?"

Dia berkata setelah sejenak dia tertegun.

Mauw Siauw Mo-li Lauw Hong Kui tersenyum manis sehingga deretan giginya yang putih dan kecil itu nampak berkilat.

"Engkau sungguh tidak menghargai kecantikan orang!"

Dia menartk napas panjang.

"Dia itu adalah Hek-sin Touw-ong, si Raja Maling Sakti Hitam, seorang kakek yang amat sakti dan yang bertapa di pantai Po-hai sebelah utara."

Tek Hoat mengerutkan alisnya.

Dia tahu bahwa memang banyak terdapat manusia-manusia yang berilmu tinggi di dunia ini, maka biarpun dia sendiri belum pernah mendengar atau berjumpa dengan kakek raja maling itu, dia percaya bahwa tentu dia seorang yang amat lihai.

Tidak sembarang orang akan dipuji kepandaiannya oleh Siluman Kucing ini, yang dia tahu juga lihai sekali.

"Bagaimana engkau dapat menyangka bahwa dia yang menculik Syanti Dewi?"

Dia mendesak, tidak mau percaya begitu saja.

Siluman Kucing itu bertolak pinggang dengan lagak dan gaya memikat sekali.

Pinggangnya makin nampak ramping ka-lau dia bertolak pinggang seperti itu, apalagi angin yang nakal membuat bajunya tersingkap-singkap terbuka.

"Tentu saja aku menduga demikian, pemuda yang tampan! Menurut jejak yang kita ikuti, puteri Bhutan itu dibawa lari seorang kakek dan larinya menuju ke pantai Po-hai, sampai di laut lenyaplah jejaknya dan tidak ada orang yang tahu biarpun kita sudah bertanya-tanya sampai mulut terasa lelah. Dan di pantai ini, hanya ada satu-satunya kakek yang berilmu tinggi, yaitu si Raja Maling. Siapa lagi kalau bukan dia yang melakukan penculikan itu? Melarikan seorang puteri dari dalam benteng Liong-sim-pang yang amat kuat itu bukanlah hal mudah, bahkan engkau yang dibantu oleh muridku dan anak buah Hek-eng-pang pun gagal. Akan tetapi kakek itu seorang diri saja mampu mencuri dan menculiknya. Siapa lagi kalau bukan perbuatan si Raja Maling?"

Tek Hoat mengangguk-angguk, harapannya timbul kembali.

"Kalau begitu, mari kita cepat mengejarnya ke sana, Mo-li!"

"Hi-hik, mengapa tergesa-gesa, Tek Hoat? Takkan lari gunung dikejar, perlu apa terburu-buru?"

"Mo-li, Raja Maling itu tentu bukan gunung, melainkan seorang maling yang dapat bergerak dan lari, dan aku khawatir kalau-kalau dia akan mengganggu Syanti Dewi!"

"Aihhh, Tek Hoat. Kau gelisah seolah-olah di dunia ini tidak ada wanita lain saja. Apakah aku bukan wanita pula dan apakah aku tidak cantik?"

Mauw Siauw Mo-li sudah mendesak dan merangkulkan kedua lengannya yang panjang itu ke leher Tek Hoat.

Kedua lengan itu melingkar-lingkar seperti seekor ular, merayap ke atas dan membelai rambut di tengkuk Tek Hoat, lalu menjambaknya perlahan dengan gemas.

"Mo-li, jangan begitu....!"

Tek Hoat berkata dengan alis berkerut.

Kalau dia tidak membutuhkan bantuan wanita ini untuk menemukan kembali kekasihnya, tentu dia sudah bersikap kasar dan mendorong wanita ini.

Namun, Mauw Siauw Mo-li malah mendekapkan tubuhnya sehingga melekat ke tubuh Tek Hoat, menggoyang-goyang tubuhnya sehingga menggesek tubuh pemuda itu dengan gaya memikat sekali, mukanya didekatkan ke mulut Tek Hoat.

Harus diakui bahwa Lauw Hong Kui adalah seorang wanita cantik yang bertubuh menggairahkan sekali.

Dia sudah matang dan pandai merayu prla.

Dan biarpun Tek Hoat bukan seorang pemuda hijau seperti Suma Kian Bu lima tahun yang lalu, namun tetap saja dia adalah seorang yang masih muda dan berdarah panas dan biarpun dia tidak sudi membalas cinta seorang wanita seperti Siluman Kucing ini, namun dipeluk seperti itu dan merasakan gesekan dan geseran tubuh yang hangat dan padat itu jantungnya berdebar juga.

Sebagai seorang wanita yang sudah banyak pengalaman, debar jantung di dalam dada pemuda itu diketahui dan terasa oleh Hong Kui.

Memang dia sengaja merapatkan dadanya ke dada pemuda itu untuk menangkap tanda ini.

Begitu dadanya merasa denyut jantung yang mengencang itu, cepat dia meraih kepala pemuda itu, ditarik ke bawah karena Tek Hoat lebih tinggi daripada dia sehingga muka mereka bertemu dan Hong Kui lalu mencium mulut pemuda itu dengan bibirnya.

Ciuman yang amat mesra, yang dilakukan dengan gelora nafsu berahi dan sepenuh perasaannya, ciuman yang panas dengan napas yang mendengus-dengus.

Tek Hoat terkejut sekali.

Harus diakuinya bahwa wanita ini menyalakan sesuatu di dalam hatinya, akan tetapi dia teringat bahwa tidak semestinya dia melayani wanita ini dan tidak menuruti gelora berahinya yang dibangkitkan oleh Siluman Kucing yang amat pandai ini.

Akan tetapi pada saat itu, mau tidak mau dia menikmati dan merasakan ciuman hangat itu, merasa betapa sepasang bibir yang lunak itu bergerak-gerak, kemudian dia mendengar suara merintih seperti suara seekor kucing, dan terasa betapa lidah yang lunak menjilat-jilat, seperti lidah seekor kucing yang manja!

Sejenak Tek Hoat terlena, akan tetapi ketika bayangan wajah Syanti Dewi berkelebat di depan matanya yang dipejamkan, tiba-tiba saja dia merenggutkan dirinya terlepas dari pelukan.

Dengan muka pucat dan mata terbelalak, napas agak terengah dia memandang wanita itu.

Hong Kui juga memandangnya dengan mata setengah terpejam, mulut agak terbuka, mulut yang basah merah dengan gigi putih mengintai di antara ujung lidah meruncing, napasnya tersendat-sendat, senyumnya memikat, kedua lengan dibuka menantang.

"Tek Hoat.... Tek Hoat.... ke sinilah...."

Suaranya tergetar dan penuh dengan daya tarik.

"Mo-li! Aku tidak sudi memenuhi kehendakmu yang gila ini!"

Tiba-tiba Tek Hoat yang sudah sadar itu membentak marah.

Suara pemuda itu cukup untuk mengguncang Mauw Siauw Mo-li bahwa pemuda itu sudah tidak lagi dapat dikuasainya pada saat itu, maka dia pun tersadar dan dia memandang pemuda itu dengan sinar mata tajam.

"Tek Hoat, engkau sungguh tidak mengenal budi!"

Celanya.

"Aku sudah payah membantumu mencari puteri itu, bahkan sekarang pun aku yang mengetahui tempat kakek itu, akan tetapi engkau sedikit pun tidak mau menyenangkan hatiku dan memberi air cinta untuk hatiku yang sedang dahaga. Engkau kejam! Dan kalau engkau menolak cintaku, aku pun tidak sudi lagi menunjukkan tempat Raja Maling itu padamu!"

Tiba-tiba sinar mata Tek Hoat menjadi keras dan mengancam sehingga Mauw Siauw Mo-li sendiri menjadi terkejut.

"Mauw Siauw Mo-li! Enak saja kau bicara. Kalau sekarang engkau tidak mau menunjukkan tempat itu, aku akan memaksamu!"

"Ehhh....?"

Wanita itu membelalakkan mata.

"Aku sudah membantumu dan kau sekarang hendak memaksa? Sungguh tidak tahu aturan engkau ini!"

"Mo-li, ingat. Siapa yang dulu membujuk aku untuk melakukan perjalanan bersamamu? Siapa yang berjanji akan menemukan kembali Syanti Dewi? Engkau sudah membawa aku sampai di sini, dan kalau engkau sekarang meninggalkan aku, berarti engkau telah menipuku! Dan aku bukan orang yang mudah saja ditipu tanpa membalas!"

"Kau kira aku takut!"

Tek Hoat tersenyum mengejek.

"Tentu saja tidak. Aku tahu siapa adanya Mauw Siauw Mo-li. Akan tetapi, aku yakin akan dapat menghajarmu, Mo-li. Senjata rahasia peledakmu itu tidak menakutkan Si Jari Maut!"

Sikap yang gagah, pandang mata yang tajam penuh ancaman, ditambah nama julukan Jari Maut itu mengingatkan kepada Mauw Siauw Mo-li bahwa pemuda ini memang lihai bukan main, dan kalau sudah marah, kekejamannya amat mengerikan sehingga mendapat julukan Si Jari Maut.

Memang dia tidak takut, akan tetapi dia melihat bahayanya kalau sampai memusuhi pemuda ini.

Dan pula, dia masih belum putus asa.

Tadi, bukankah jantung pemuda perkasa ini berdebar dan bukankah ketika mulut mereka bertemu tadi, terasa olehnya betapa bibir pemuda itu membalas kecupannya?

Akan tiba saatnya pemuda yang keras hati ini akan bertekuk lutut dan menyerahkan diri dalam pelukannya, dan betapa akan manis dan nikmatnya penyerahan itu setelah berkali-kali ditolaknya.

Maka dia pun tersenyum kembali dan sepasang matanya kehilangan sinar kemarahannya.

"Hemmm, kita sudah lama bersahabat, sudah jauh melakukan perjalanan bersama. Akan luculah kalau tiba-tiba kita berhadapan sebagai musuh. Baik, Tek Hoat, aku akan terus membantumu, dan kalau sampai aku membantumu berhasil mendapatkan kembali puteri itu, bagaimana sikapmu kepadaku?"

"Aku akan menganggapmu sebagai seorang sahabat baik dan aku akan berterima kasih kepadamu, Mo-li."

"Hanya itu saja? Apa yang akan kaulakukan untuk membuktikan terima kasihmu?"

"Heemm... aku tidak tahu. Mungkin aku akan membalasmu dan menolongmu kalau sewaktu-waktu kau membutuhkan bantuan."

"Aku hanya membutuhkan bantuanmu agar engkau suka bersikap manis kepadaku, Tek Hoat. Tak tahukah kau bahwa aku sangat suka kepadamu? Kalau sudah berhasil, kau balas saja dengan sikap manis dan memenuhi hasrat cintaku, ya?"

Tek Hoat tidak sudi menjanjikan itu, akan tetapi dia tidak ingin banyak bicara tentang itu lagi, maka dia menjawab.

"Kita lihat saja nanti, Mo-li. Yang penting sekarang, hayo kau tunjukkan tempat tinggal Raja Maling yang menculik Syanti Dewi."

"Nanti dulu, Tek Hoat. Engkau masih muda dan engkau sembrono. Biarpun engkau memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi dalam hal ini engkau sama sekali tidak boleh sembrono. Hek-sin Touw-ong adalah seorang tua yang amat lihai. Aku sendiri sudah pernah menandinginya dan dalam hal kesaktian dia agaknya tidak kalah olehmu. Bahkan dulu suhengku, Hek-tiauw Lo-mo, pernah bentrok dengan dia dan suheng selalu memperingatkan kepada anak buahnya agar jangan sampai bentrok dengan Raja Maling itu. Suheng sendiri merasa segan untuk bermusuhan dengan kakek sakti itu, maka dalam hal ini, kita tidak boleh sembrono menyerbu ke sana begitu saja karena hal itu mungkin sekali membuat kita celaka dan puteri itu tidak akan tertolong pula."

"Hemmm, aku tidak takut. Habis kalau kita tidak menyerbu ke sana, bagaimana kita dapat menolong Syanti Dewi?"

"Tentu kita tidak akan membiarkan saja, kita akan menyerbu ke sana. Akan tetapi tidak sekarang. Aku akan mencari kawan-kawanku di pantai ini. Mereka akan membantu kita dan dengan bantuan mereka, maka aku baru berani mengajakmu menyerbu. Bukankah ketika kau berusaha menolong puteri itu dari benteng Liong-sim-pang, engkau pun membutuhkan bantuan Hek-eng-pang?"

"Ketika itu lain lagi keadaannya, Mo-li. Liong-sim-pang adalah benteng dan selain kuat, juga mempunyai banyak anggauta, maka aku membutuhkan bantuan Hek-eng-pang. Akan tetapi sekarang, kita hanya menghadapi seorang kakek...."

"Hemmm, kau tidak tahu kakek macam apa yang kita hadapi. Kita harus menggunakan bantuan kawan-kawanku itu agar mereka memancingnya keluar dari sarangnya sehingga engkau akan mudah merampas kembali puteri itu."

Tek Hoat mengerutkan alisnya.

Sebetulnya dia tidak menyukai cara yang curang ini, akan tetapi yang terpenting baginya adalah menyelamatkan Syanti Dewi, maka dia tidak mau mengecewakan wanita iblis yang hendak membantunya ini, maka dia tidak membantah lagi.

"Mari kita mencari kawan-kawanku itu!"

"Siapakah mereka?"

"Siapakah mereka? Ha-ha-ha, mereka pun amat terkenal di wilayah ini, Tek Hoat, sungguhpun sama sekali tidak boleh dibandingkan dengan Raja Maling. Mereka adalah raja-raja di perairan Teluk Po-hai! Marilah!"

Tek Hoat pergi mengikuti wanita itu menuju ke utara dan memasuki hutan di pantai Po-hai.

Hutan itu sunyi sekali dan tidak nampak seorang pun manusia sehingga kelihatan menyeramkan sekali.

Belum lama mereka memasuki hutan itu, tiba-tiba terdengar suitan-suitan nyaring di sana-sini.

Suara-suara suitan itu susul-menyusul dan agaknya saling menjawab, makin lama makin dekat sehingga akhirnya terdengar di sekeliling mereka, dari depan, belakang, kanan dan kiri.

Mereka telah dikepung oleh suara-suara itu.

Tek Hoat bersikap waspada, akan tetapi Mauw Siauw Mo-li tertawa-tawa saja.

"Lihat, betapa cepat mereka itu tahu akan kedatangan kita dan telah berkumpul mengurung. Bukankah berguna sekali bantuan-bantuan seperti mereka itu?"

Tiba-tiba terdengar seruan nyaring.

"Berhenti kalian berdua yang berjalan dalam hutan! Kalian telah memasuki daerah kami tanpa ijin!"

Mauw Siauw Mo-li dan Tek Hoat berhenti, dan wanita itu berseru nyaring.

"Lo Kwa, bukankah engkau yang bicara itu? Keluarlah, jangan main kucing-kucingan!"

Ucapan wanita ini diikuti suasana sunyi, agaknya semua orang yang mengurung tempat itu menjadi terkejut dan heran.

Lalu terdengar seruan yang mengandung keheranan dan juga kegembiraan.

"Lauw-lihiap....!"

Bermunculanlah kini belasan orang laki-laki dari empat penjuru, berloncatan keluar dari balik-balik pohon dan semak-semak.

Mereka itu rata-rata adalah laki-laki kasar dan tinggi besar, nampaknya kuat dan keras.

Mereka dipimpin oleh seorang laki-laki yang usianya antara tiga puluh lima tahun, bertubuh tegap dan berwajah tampan akan tetapi mukanya tertutup brewok.

"Lihiap....!"

Pemimpin gerombolan ini melangkah maju dan menjura kepada Lauw Hang Kui sambil tersenyum lebar.

Diam-diam Tek Hoat terheran-heran melihat mereka itu menyebut lihiap (pen-dekar wanita) kepada Siluman Kucing ini.

Dia tidak tahu bahwa julukan itu hanyalah julukan yang diberikan oleh mereka yang menganggap wanita ini sebagai iblis, akan tetapi gerombolan bajak laut dari Po-hai yang bersarang di dalam hutan ini merupakan sahabat-sahabatnya yang tentu saja menganggapnya sebagai seorang wanita perkasa yang patut disebut lihiap!

Lauw Hong Kui menghampiri laki-laki tampan itu dan mengangkat tangan kirinya mengusap dagu yang penuh jenggot itu.

"Aihhh, Lo Kwa, hampir aku tidak dapat mengenalmu lagi. Ihhh, aku baru mau bicara berdua denganmu kalau kau sudah membuang semua brewokmu yang menggelikan itu! katanya dengan sikap genit dan manja. Orang she Kwa yang disebut Lo Kwa (Kwa yang Tua) itu tertawa dan menangkap lengan Hong Kui, ditariknya dan hendak dipeluknya wanita itu. Akan tetapi sambil tersenyum manja Hong Kui melepaskan dirinya dan berkata.

"Kau cukur dulu semua brewokmu!"

Orang she Kwa itu tertawa dan semua anak buahnya juga tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, kedatanganmu mendatangkan cahaya kegembiraan di hutan yang gelap ini, Lauw-lihiap!"

Kata orang she Kwa itu.

"Akan tetapi aku adalah Siluman Kucing, apakah kalian tidak takut?"

Lauw Hong Kui berkata sambil bertolak pinggang, senyumnya lebar dan dia kelihatan gembira sekali, merasa berada di antara teman-teman baiknya.

"Hidup Lauw-lihiap!"

"Selamat datang, Mauw Siauw Mo-li!"

"Biar besok pagi aku mampus, aku rela asal semalam suntuk boleh membelai kucing!"

"Aku pun bersedia!"

Riuh-rendah suara mereka dan pernyataan kagum mereka dinyatakan secara terang-terangan, bahkan ada yang mengeluarkan pernyataan kasar dan tidak sopan, akan tetapi semua itu agaknya sudah biasa diantara mereka dan Lauw Hong Kui juga menyambutnya dengan tersenyum saja.

"Akan kulihat nanti siapa di antara kalian yang patut untuk menghiburku,"

Katanya.

Tek Hoat merasa muak juga, dan diam-diam dia merasa malu juga, mengapa dia pernah merasa tertarik dan timbul berahinya terhadap wanita ini.

Padahal, wanita ini benar-benar merupakan siluman yang tak tahu malu, seorang wanita yang biasa mempermainkan pria seperti kucing mempermainkan tikus lebih dulu sebelum diterkam dan dibunuhnya!.

"Lo Kwan, di mana para Ong-ya?"

Pertanyaan ini membuat Tek Hoat menjadi maklum bahwa orang she Kwa ini hanya seorang bawahan saja, dan kini iblis betina ini menanyakan para ong-ya, yaitu para raja bajak!

"Semua berada di sarang, Lihiap.

Tentu mereka akan menjadi gembira sekali mendengar akan kedatanganmu.

Marilah kita ke sana, ataukah kita berdua bersenang-senang dulu?"

Kata orang she Kwa itu sambil memandang dengan mata mengandung penuh gairah.

"Hushhh, brewokmu itu menggelikan. Dan mungkin kelak kalau ada waktu bagiku, boleh kita bersenang-senang. Mari antar aku kepada para Ong-ya."

"Tapi, dia ini....?"

Orang she Kwa itu menuding ke arah Tek Hoat dengan pandang mata tidak senang dan penuh curiga.

Diam-diam Tek Hoat merasa mendongkol juga.

Sejak tadi sama sekali tidak diacuhkan dan kini dicurigai.

Kalau tidak ingat akan kepentingannya, tentu sekali pukul dia sudah membunuh bajak-bajak ini.

Agaknya Hong Kui dapat mengerti akan kegemasan hati Tek Hoat dengan melihat wajah dan sinar matanya, maka dia lalu berkata.

"Dia ini adalah sahabatku yang akan menjadi tamu agung kalian. Jangan kau main-main, Lo Kwa, dialah yang berjuluk Si Jari Maut!"

"Ahhhhh....?"

Agaknya orang she Kwa ini pernah mendengar julukan ini, maka dia memandang dengan mata terbelalak dan mukanya berubah pucat.

"Maaf, kami tidak tahu...."

Katanya.

"Sudahlah, mari kita jalan,"

Kata Tek Hoat tidak sabar.

Di sepanjang perjalanan memasuki hutan itu, dengan ramahnya Hong Kui bercakap-cakap dengan orang she Kwa dan beberapa orang anak buah bajak yang muda-muda, beramah-tamah dan kadang-kadang mereka berkelakar dengan omongan-omongan yang kotor sehingga Tek Hoat merasa makin muak.

Tibalah mereka kini di tengah hutan yang berada di tepi tebing yang agak tinggi.

Dari sini nampak Teluk Po-hai terbuka luas di depan.

Memang tempat ini merupakan tempat yang paling indah dan juga paling tepat untuk dijadikan sarang para bajak laut itu karena dari tepi tebing mereka dapat melihat keadaan di seluruh Teluk Po-hai, melihat perahu-perahu yang seperti semut-semut kecil hitam di teluk itu.

Dari sini mereka dapat melihat dan mengenal kapal-kapal besar yang patut mereka hadang dan mereka bajak, juga mereka dapat mengadakan pengawasan terhadap anak buah mereka.

Tempat yang amat cocok untuk menjadi sarang bajak laut!

Bajak laut itu terdiri dari tiga puluh orang lebih, dipimpin oleh dua orang kakak beradik yang disebut twa-ong dan ji-ong sebagai ketua atau raja pertama dan ke dua.

Mereka itu bernama Ma Khong dan Ma Ti Lok, dua orang kakak beradik yang bertubuh tinggi besar, kokoh kuat, dan memiliki ilmu golok yang cukup hebat sehingga mereka sejak belasan tahun telah terkenal sebagai kepala-kepala bajak yang ditakuti dan disegani.

Kini mereka hanya mau membajak kapal-kapal asing, tidak mau mengganggu perahu-perahu nelayan dan pedagang pedalaman karena mereka tidak berani menghadapi hukuman pemerintah.

Akan tetapi, hal ini malah menguntungkan mereka karena para pedagang dan nelayan tidak segan-segan untuk "membagi hasil keuntungan"

Kepada mereka asal para bajak itu tidak mengganggu pekerjaan mereka itu.

Ketika melihat munculnya Hong Kui, Ma Khong dan Ma Ti Lok menjadi gembira bukan main, demikian pula para anak buah mereka.

Tek Hoat dapat mu-dah saja menduga bahwa di antara Hong Kui dan dua orang kakak beradik yang gagah dan cukup tampan itu tentu terdapat hubungan gelap, dan juga dengan banyak anak buah mereka termasuk orang she Kwa tadi.

Dugaan itu memang benar.

Lauw Hong Kui adalah seorang wanita yang gila laki-laki, seorang wanita yang diperhamba oleh nafsu berahinya sehingga menjadi tidak normal lagi.

Dia merasa tersiksa kalau terlalu lama tidak ditemani pria, maka ketika dia melakukan perjalanan bersama Tek Hoat yang tidak mau melayaninya, dia merasa amat tersiksa.

Dan wanita yang seperti iblis betina ini memiliki kebiasaan yang mengerikan pula, yaitu dia akan membunuh setiap orang pria yang sudah memuaskannya semalam suntuk, yaitu pria yang asing baginya karena dia tidak mau kalau pria itu akan menceritakan semua pengalamannya dan membuat namanya sebagai seorang wanita tercemar.

Akan tetapi, tentu saja dia tidak akan membunuh pria-pria yang menjadi sahabatnya, yang akan merahasiakan dan menjaga namanya seperti para bajak yang telah menjadi teman-temannya sejak belasan tahun yang lalu ini.

Ada pula yang dibunuhnya secara tidak sengaja, yaitu kalau dia bertemu dengan seorang pria yang benar-benar memuaskan hatinya dan amat menyenangkannya sehingga dia akan terus merayu pria ini, dan memaksanya bermain cinta sampai pria itu tewas!

Dan dengan ilmunya yang luar biasa, Siluman Kucing ini bisa saja memaksa pria melayani dan memuaskan nafsunya yang tak kunjung padam itu sampai pria itu mati.

Ketika Hong Kui memperkenalkan Ang Tek Hoat sebagai Si Jari Maut, dua orang kepala bajak itu bersikap hormat kepada pemuda ini.

Mereka lalu mengadakan pesta perjamuan untuk menyambut kedatangan Hong Kui dan Tek Hoat.

Mereka makan minum dengan gembira dan beberapa kali Tek Hoat memberi isyarat kepada Hong Kui untuk cepat menceritakan maksud kedatangan mereka.

Akan tetapi Hong Kui akhirnya berbisik kepadanya.

"Tidak perlu tergesa-gesa, nanti setelah makan minum selesai."

Tek Hoat merasa mendongkol, akan tetapi tentu saja dia tidak dapat memaksa.

Setelah ruangan itu dibersihkan dan mereka duduk mengobrol, barulah Hong Kui berkata kepada dua orang kepala bajak itu.

"Twa-ong dan Ji-ong, sebetulnya kedatangan kami ini selain terdorong oleh rasa rindu hatiku terhadap semua teman di sini, juga kami bermaksud minta bantuanmu untuk urusan sahabatku Si Jari Maut ini, urusan yang amat penting."

Ma Khong dan Ma Ti Lok memandang kepada Tek Hoat penuh perhatian.

Pemuda sakti ini pun balas memandang mereka.

Baca Juga: Bu Kek Siansu 1

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert