Eps 8 Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo
Baca online Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo
Cersil Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo.
"Mundurlah kau, Siauw Hong! Paman dan Saudara-saudara Kao, hentikan serangan kalian! Ketahuilah bahwa aku bukan orang yang menculik keluarga Kao maupun mencuri harta benda keluarga kalian!"
Mendengar ini, Jenderal Kao dan dua orang puteranya menghentikan serangan, namun mereka masih memandang dengan penuh kecurigaan dan kemarahan.
"Apa maksudmu? Dan bagaimana kau bilang bahwa kau bukan orang yang melakukannya kalau kau mengetahui semua itu?"
Kian Bu menghela napas.
"Aku mendengar dari kakakku, Suma Kian Lee yang juga telah menceritakan betapa dia kalian serang kalang-kabut seperti tadi. Jelas bahwa kami berdua kakak beradik difitnah orang sehingga engkau menyangka kami yang melakukan semua itu, Paman Kao Liang. Sungguh aneh, Paman Kao tentu sudah mengenal baik keadaan kami sekeluarga. Apakah Paman dapat percaya begitu mudahnya mendengar bahwa kami kakak beradik dari Pulau Es kini menjadi perampok dan penculik? Begitu rendahkah Paman memandang kami berdua?"
Wajah bekas jenderal itu menjadi merah. Dia menarik napas panjang dan menjawab.
"Kalau keadaan tidak seperti ini, tentu sampai mati pun kami tidak akan percaya. Akan tetapi, banyak bukti menunjukkan bahwa yang melakukan semua kekejian terhadap keluarga kami adalah orang-orang she Suma. Dan mengingat bahwa kami tidak terpakai lagi oleh kerajaan, mengingat bahwa ayah kalian adalah mantu kaisar, maka besar kemungkinannya keluarga kalian yang dipergunakan oleh sri baginda atau mereka yang berkuasa untuk membasmi kami. Bukan sebagai penculik atau perampok, melainkan sebagai pengemban perintah atasan."
Lalu diceritakanlah semua pe-ngalaman yang menimpa dia sekeluarganya itu kepada Kian Bu, dari awal sampai saat itu mereka belum juga dapat menemukan keluarga mereka.
"Demikianlah, Sicu. Semua bukti menunjukkan bahwa keluarga Suma yang melakukan ini, dan sekarang Sicu bersikap seperti ini. Sungguh membuat kami meragu dan bingung. Katakanlah, demi keadilan, demi kegagahan dan demi nama baik Pendekar Super Sakti Majikan Pulau Es, katakanlah Suma-sicu, demi persahabatan antara keluarga kita, apakah kalian yang melakukan penculikan keluarga kami ataukah bukan?"
Melihat wajah yang pucat dan muram penuh kekhawatiran dan kedukaan itu, melihat pandang mata yang penuh harapan itu, Kian Bu merasa terharu dan dengan tegas dia menjawab.
"Bukan kami, demi kehormatan keluarga kami!"
"Ohhh....!"
Dan bekas jenderal itu menjatuhkan diri berlutut dan menutupi mukanya dengan kedua tangannya.
Dua orang puteranya cepat berlutut dan memegang lengan ayah mereka.
"Ayah....!"
Kok Han mengeluh.
"Ayah, kuatkanlah perasaan Ayah"
Kata Kok Tiong, dia sendiri menjadi pucat mukanya dan menahan air matanya.
Hati siapa tidak akan menjadi gelisah memikirkan lenyapnya isterinya di antara keluarga itu, juga dua orang anaknya?
Kao Liang menurunkan kedua tangannya.
Pipinya basah akan tetapi dari kedua matanya tidak lagi ada air mata mengalir.
"Hatiku lega mendengar bahwa bukan keluarga Suma yang melakukan perbuatan biadab itu,"
Katanya setelah dia berdiri lagi.
"Akan tetapi bersama dengan kelegaan itu hatiku menjadi makin khawatir karena kami sama sekali tidak tahu siapa gerangan pelakunya." (Lanjut ke
Jilid 24) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 24
"Ayah, mari kita cepat melanjutkan perjalanan mencari Twako,"
Kata Kok Tiong. Ayahnya mengangguk-angguk.
"Benar, akan tetapi tempat tinggal kakakmu terlalu jauh, aku khawatir kalau-kalau akan terlambat...."
Tiba-tiba Kian Bu berkata.
"Paman, jangan khawatir. Aku dan kakakku sudah memperbincangkan urusan kalian itu dan kami berdua sudah mengambil keputusan untuk membongkar rahasia ini. Bukan hanya untuk menolong keluargamu dan mencari harta bendamu, melainkan juga untuk membersihkan nama kami yang difitnah orang. Kakakku menderita sakit, terluka parah dan sedang berobat, bahkan sekarang pun aku sedang membelikan obat untuknya. Tunggu kalau dia sudah sembuh, kami berdua tentu akan menyelidiki hal ini dan menangkap orangnya yang telah melakukan semua perbuatan secara sembunyi itu dan menggunakan nama kami!"
Kian Bu bicara penuh semangat.
"Ah, kami menyesal sekali, kami pernah pula menyerang kakakmu. Hal itu adalah karena kami masih mengira...."
"Sudahlah, Paman Kao. Kakakku juga mengerti bahwa kalian salah paham dan tidak menaruh penyesalan."
"Betapapun juga, kami harus menengoknya."
"Kalau begitu, marilah, Paman."
Berangkatlah Kian Bu, Siauw Hong, diiringkan oleh Kao Liong dan dua orang puteranya itu, menuju ke puncak Nelayan yang tidak berapa jauh lagi dari situ.
Siauw Hong merasa girang dan lega sekali karena percakapan yang serius antara Kian Bu dan keluarga Kao tadi agaknya membuat semua orang, terutama Kian Bu, lupa akan keadaan Kang Swi sehingga tidak lagi bertanya-tanya.
Mereka melakukan perjalanan cepat mendaki puncak dan matahari sudah mulai berkurang panasnya.
Ketika mereka tiba di lembah bawah puncak Nelayan, tiba-tiba terdengar seruan.
"Sute....!"
Kian Bu dan Siauw Hong cepat menengok dan cepat pula mereka berlari ke arah datangnya suara itu, diikuti oleh Kao Liang dan dua orang puteranya yang merasa terheran-heran melihat bahwa yang memanggil itu adalah seorang berpakaian pengemis yang usianya sudah enam puluh lima tahun lebih.
Pengemis ini berdiri bersandarkan batang pohon dan terikat pada batang pohon itu dari dada sampai ke kaki, sama sekali tidak mampu bergerak!
"Suheng....!
Kau kenapa....?"
Siauw Hong bertanya penuh keheranan dan cepat dia bersama Kian Bu melepaskan ikatan itu. Wajah Gu Sin-kai, pengemis itu, menjadi merah sekali.
"Celaka,"
Katanya.
"Gadis setan itulah yang melakukannya!"
Siauw Hong terkejut.
"Seorang gadis? Dan dia mampu mengalahkanmu dan membelenggumu seperti ini, Suheng?"
Tentu saja Siauw Hong kaget bukan main.
Suhengnya itu, Gu Sin-kai, adalah murid pertama dari gurunya, ilmu kepandaiannya tinggi, akan tetapi kini dapat dibelenggu oleh seorang gadis!
Melihat pengemis itu ragu-ragu dan kelihatan seperti malu untuk menceritakan karena di situ terdapat banyak orang, Kian Bu lalu berkata.
"Gu Sin-kai, harap kau tidak ragu-ragu untuk menceritakan semuanya. Mereka ini bukan orang lain, melainkan Paman bekas Jenderal Kao Liang yang terkenal itu dan dua orang puteranya."
Memang nama Kao Liang amat terkenal, apalagi hampir semua orang gagah di dunia kang-ouw mengenal nama ini dengan perasaan hormat, maka begitu mendengar bahwa kakek gagah perkasa yang datang bersama sutenya dan Siluman Kecil itu adalah bekas panglima yang amat terkenal itu, dia cepat menjura dengan hormat.
"Ah, kiranya Kao tai-ciangkun...."
Kao Liang tersenyum.
"Jangan menyebutku Tai-ciangkun karena aku sekarang bukan lagi seorang panglima, bahkan perajurit pun bukan."
Gu Sin-kai mengangguk.
"Maafkan saya, Kao-enghiong."
Lalu dia bercerita kepada Kian Bu dan Siauw Hong.
"Tadi ada seorang gadis remaja yang liar naik ke sini. Ketika bertemu denganku, dia mengatakan bahwa dia hendak bertemu dengan Taihiap Suma Kian Lee. Aku merasa curiga dan mengatakan bahwa tidak boleh sembarangan bertemu dengan Suma-taihiap, akan tetapi dengan lagak sombong dia mengatakan bahwa kalau aku tidak mau menunjuk-kan, dia akan memukulku. Tentu saja aku makin curiga dan marah. Kami bertempur dan ternyata dia lihai bukan main...."
"Hemmm, gadis itu apakah pakaiannya serba hitam?"
Tiba-tiba Kian Bu bertanya.
"Ya benar! Apakah kau mengenalnya, Taihiap?"
Tanya Gu Sin-kai.
Kian Bu menahan senyumnya dan membayangkan wajah Hwee Li.
Siapa lagi kalau bukan gadis liar yang lihai itu yang dapat membelenggu Gu Sin-kai?
Gadis itu liar, ganas, aneh dan ilmu kepandaiannya tinggi.
Sukar diduga apa saja yang akan dilakukan oleh seorang dara seperti Hwee Li.
"Mari kita cepat naik ke puncak!"
Katanya tanpa menjawab pertanyaan Gu Sin-kai tadi.
Semua orang mengikutinya dan mereka mendaki puncak dengan cepat.
Apa yang dikhawatirkan oleh Kian Bu memang benar terjadi.
Ketika dia dan yang lain-lain tiba di depan pintu gerbang tempat tinggal Sai-cu Kai-ong, mereka melihat keributan sedang terjadi di situ.
Dari jauh sudah nampak dua orang sedang bertanding dengan serunya.
Para pengemis yang menjadi anak buah Sai-cu Kai-ong hanya mengurung dengan senjata di tangan, tidak berani turun tangan.
Kian Bu maklum bahwa Sai-cu Kai-ong adalah seorang tua yang angkuh dalam hal pertandingan, sama sekali tidak memperbolehkan anak buahnya melakukan pengeroyokan.
Padahal dia terdesak hebat dalam perkelahian itu!
Di dekat situ nampak Hwee Li berdiri sambil meringis kesakitan memegangi lengan kanannya yang agaknya terluka.
Pertempuran itu memang hebat sekali.
Kian Bu menjadi bengong dan kagum.
Lawan dari Sai-cu Kai-ong adalah seorang wanita muda yang amat luar biasa gerakannya.
Melihat betapa Sai-cu Kai-ong sampai mempergunakan tongkatnya melawan wanita yang bertangan kosong itu, dan masih terdesak, dapat diduga betapa lihainya wanita ini, wanita cantik yang pandang matanya tajam mencorong namun alisnya berkerut seperti orang sedang marah atau berduka.
Kian Bu, Siauw Hong, Kao Liang dan dua orang puteranya itu segera mengenal wanita itu.
"Ceng Ceng....!"
Terdengar bekas jenderal itu menahan seruannya ketika dia mengenal mantunya. Kian Bu yang tadinya teringat bahwa wanita itulah yang disebut "subo"
Oleh Hwee Li, mendengar disebutnya nama ini menjadi terkejut sekali dan kini dia pun teringatlah bahwa guru Hwee Li itu adalah Ceng Ceng!
Adapun Siauw Hong juga mengenal wanita perkasa itu ketika Ceng Ceng dan suaminya, Kao Kok Cu, berada di dalam restoran di mana Kok Cu membagi-bagikan masakan kepada para pengemis.
Melihat bahwa wanita itu adalah Ceng Ceng, yang baru sekarang diingatnya, Kian Bu cepat meloncat ke depan dan berseru.
"Tahan....! Kita berada di antara teman sendiri!"
Ceng Ceng menahan gerakannya dan kini dia berdiri tegak, sepasang matanya mencorong memandang ke arah pemuda berambut putih yang berdiri di depannya.
Sejenak mereka berpandangan dengan sinar tajam penuh selidik, kemudian terdengar Kian Bu berkata lirih.
"Ceng Ceng, Lupakah kau kepadaku? Aku Suma Kian Bu...."
"Ohhh....!"
Sepasang mata itu terbelalak, bibir itu tersenyum dan dia cepat menjura.
"Ahhh, kiranya Paman...."
Katanya agak gagap karena memang belum terbiasa olehnya menganggap pemuda dari Pulau Es ini sebagai pamannya.
"Ceng Ceng....!"
Wanita itu terkejut dan menengok. Bukan main kagetnya ketika dia melihat bahwa ayah mertuanya berada di situ pula.
"Twa-so....!"
Kok Tiong dan Kok Han juga berseru.
"Ayah....! Adik Tiong dan Adik Han....!"
Ceng Ceng cepat menghampiri dengan wajah berseri.
"Ayah di sini?"
Dia cepat memberi hormat.
"Ceng Ceng, kebetulan sekali kita bertemu di sini. Mana suamimu? Kami sedang hendak mencari kalian di utara"
"Kami sudah lama meninggalkan utara, Ayah. Puteramu tidak jauh dari sini dan kami.... ah, panjang ceritanya, Ayah. Akan tetapi mengapa Ayah dan kedua adik berada di sini?"
Bekas jenderal itu menarik napas panjang.
"Ceritanya juga panjang, nanti kuceritakan semua kepadamu...."
Dia menoleh ke arah Kian Bu.
"Ceng Ceng, sebaiknya urusanmu di sini dibereskan dulu. Apa yang terjadi dan kenapa kau berkelahi?"
"Benar, Ceng Ceng, kenapa kau berkelahi dengan Paman Sai-cu Kai-ong? Paman, apakah yang telah terjadi dan mengapa kalian berdua bertempur?"
Kian Bu juga bertanya.
"Ahhh, semua adalah gara-gara Hwee Li yang bengal! Hwee Li, hayo kau ceritakan semua perbuatanmu yang mengakibatkan aku sampai bertempur dengan Locianpwe ini!"
Ceng Ceng berkata kepada Hwee Li sambil menghampiri muridnya itu dan memeriksa luka di lengan muridnya, mengobatinya dan membalutnya dengan saputangan.
Mulut yang indah bentuknya itu cemberut, matanya yang tajam menyambar ke kanan kiri, mengamati semua orang dan agak lama berhenti di wajah Kian Bu.
Lalu dia berkata kepada Kian Bu.
"Eh, kau sudah kubantu mendapatkan obat untuk kakakmu, apakah engkau juga akan menyalahkan aku dan membantu tuan rumah yang galak ini?"
Dia menuding ke arah Sai-cu Kai-ong.
Kian Bu menahan senyumnya.
Dara itu sebenarnya bukan kanak-kanak lagi, baik dilihat dari wajahnya yang cantik jelita maupun bentuk tubuhnya, akan tetapi sikapnya benar-benar seperti seorang anak kecil!
"Aku tidak menyalahkan siapa-siapa, kita berada di antara orang-orang sendiri, maka sebaiknya semua kesalah-fahaman diselesaikan dengan damai.
Hwee Li, mengapa engkau membelenggu Gu Sin-kai ini di bawah sana, mengikatnya pada sebatang pohon?"
Hwee Li tersenyum.
"Siluman Kecil, kau sudah tahu namaku sekarang?"
"Tentu saja! Dan Lee-koko sangat berterima kasih kepadamu."
"Ah, bagaimana dengan dia? Ketahuilah, ketika aku mendengar darimu bahwa.... dia terluka parah, aku lalu menyusul ke sini dan aku ingin sekali menengoknya. Aku pernah mengenalnya, pernah mengobati pahanya dan kini mendengar dia menderita luka parah, aku ingin menengoknya. Salahkah itu? Akan tetapi.... para jembel ini...."
"Hwee Li!"
Ceng Ceng menghardiknya. Hwee Li melirik ke arah Ceng Ceng dengan mulut cemberut.
"Subo, harap Subo lihat pakaian mereka,"
Dia menuding ke arah anak buah Sai-cu Kai-ong.
"Bukankah mereka itu pengemis semua dan bukankah pengemis juga boleh disebut jembel?"
"Hemmm, bocah bengal! Jangan kurang ajar kau!"
Kembali Ceng Ceng menghardik.
Sering kali nyonya muda ini merasa kewalahan menghadapi muridnya yang bengal dan pandai bicara itu, dan sering dia memarahi Hwee Li sungguhpun di dalam hatinya dia sayang sekali kepada dara ini dan hal ini pun diketahui oleh Hwee Li sehingga murid ini tidak pernah merasa sakit hati dimarahi oleh subonya.
"Baiklah, Subo. Siluman Kecil, ketahuilah, ketika aku hendak menengok kakakmu, aku dilarang naik ke puncak oleh jem.... eh, oleh kakek itu."
Dia menuding ke arah Gu Sin-Kai.
"Kami bertempur dan dia lalu kuikat di pohon agar tidak menghalangiku. Masih baik aku tidak mengetuk kepalanya....!"
Dia melerok ke arah Gu Sin-kai yang hanya menundukkan mukanya dan masih terheran-heran dan penasaran bagaimana dia telah dikalahkan oleh dara remaja yang sikapnya masih seperti anak kecil itu!
"Kemudian, ketika tiba di depan pintu gerbang ini, muncul jem....
eh, kakek tua yang lihai ini.
Aku kalah dan untung datang Subo yang membantuku setelah lenganku terluka oleh tongkat bututnya."
"Aku tadinya tidak tahu akan duduk perkaranya, akan tetapi melihat Hwee Li terluka oleh Locianpwe ini, tentu saja aku lalu membelanya, Paman,"
Kata Ceng Ceng kepada Kian Bu sehingga Sai-cu Kai-ong dan para murid serta anak buahnya terheran-heran mengapa nyonya muda itu menyebut paman kepada Kian Bu, padahal usia mereka sebaya.
Tentu saja bekas Jenderal Kao Liang dan dua orang puteranya yang sudah tahu bahwa Ceng Ceng adalah cucu isteri Pendekar Super Sakti, tahu akan hubungan mereka dan tidak menjadi heran.
"Ahhh, sungguh kesalahan terletak pada kami,"
Sai-cu Kai-ong berkata dan menjura ke arah Ceng Ceng.
"Kepandaian Toanio sungguh amat hebat luar biasa dan harap suka memaafkan kami yang terlalu mencurigai orang. Suma Kian Lee sedang terluka parah dan tidak boleh sembarang ditengok orang, apalagi kami belum mengenal muridmu ini, maka kami melarangnya."
Akan tetapi Ceng Ceng sudah tidak memperhatikan lagi kata-kata itu. Dia menoleh kepada Kian Bu dan bertanya dengan wajah agak berubah.
"Paman Kian Lee terluka parah....?"
Dia bertanya.
"Benar, Subo. Dan aku yang mencarikan obatnya. Kalau tidak ada aku, tidak mungkin Siluman Kecil bisa mendapatkannya dengan mudah."
"Kenapa kau tidak rnenceritakan kepadaku? Ah, bocah bodoh. Hayo kita cepat menengok Paman Kian Lee!"
Kian Bu cepat memperkenalkan mereka semua, keluarga Jenderal Kao Liang dan Ceng Ceng serta muridnya kepada Sai-cu Kai-ong.
Kakek ini terkejut sekali mendengar bahwa para tamunya adalah orang-orang yang telah lama dikagumi dan dijunjung tinggi namanya, apalagi nama bekas Jenderal Kao Liang, dan dia terkejut mendengar bahwa nyonya muda bekas lawannya itu adalah isteri dari pendekar si Naga Sakti dari Istana Gurun Pasir!
Dengan ramah dan penuh hormat dia lalu mempersilahkan mereka semua masuk dan mereka langsung mengunjungi Suma Kian Lee yang masih rebah di atas pembaringan di dalam kamar.
Akan tetapi setelah tiba di luar pintu, Sai-cu Kai-ong menahan mereka dan berkata halus.
"Harap Cu-wi sekalian sudi memaafkan saya. Biarpun Kian Lee telah terbebas dari bahaya maut, akan tetapi tubuhnya masih lemah sekali, maka kunjungan banyak orang tentu akan mengejutkannya dan melelahkannya. Oleh karena itu, sebaiknya kunjungan dilakukan secara bertahap dan terpisah, dan sebaiknya kalau satu demi satu?"
"Aku akan, menengoknya lebih dulu!"
Hwee Li sudah melangkah maju.
Melihat ini, yang lain mengalah dan diam-diam Ceng Ceng mengerutkan alisnya menyaksikan sikap muridnya itu.
Akan tetapi di depan banyak orang, dia diam saja tidak mencegah dan pintu kamar itu dibuka oleh Sai-cu Kai-ong yang membiarkan Hwee Li menyelinap masuk.
Hwee Li melangkah perlahan mendekati pembaringan di mana Kian Lee rebah terlentang dengan mata terpejam.
Wajahnya yang tampan masih agak pucat dan tubuhnya agak kurus.
Hwee Li berdiri dekat pembaringan, pandang matanya menatap wajah itu tanpa berkedip.
Selama bertahun-tahun ini, semenjak dia mengobati paha Kian Lee ketika terluka dahulu (baca Kisah Sepasang Rajawali), dia tidak pernah melupakan Kian Lee yang dikaguminya.
Kini, melihat pemuda itu, jantungnya berdebar aneh dan baru pertama kali ini selama hidupnya Hwee Li yang keras hati itu merasa terharu dan hampir saja dia meneteskan air mata kalau dia tidak cepat-cepat memejamkan mata dan mengeraskan hati menekan perasaan.
Ketika dia membuka kembali matanya, dia melihat bahwa Kian Lee telah sadar dan menengok kepadanya, memandang kepadanya dengan mata terbelalak.
Akan tetapi segera Kian Lee tersenyum dan mengenalnya, bahkan sudah bangkit duduk.
"Ahhh, kiranya engkau yang datang, Hwee Li,"
Kata Kian Lee wajah gembira. Hwee Li cepat duduk di atas bangku dekat pembaringan.
"Kau masih mengenal aku?"
Suaranya agak gemetar karena dia masih terharu.
"Tentu saja, apalagi karena adikku telah menceritakan betapa engkau yang memban-tunya mencari jamur panca warna. Hwee Li, beberapa tahun yang lalu engkau pernah menyelamatkan nyawaku ketika pahaku terluka oleh bibi gurumu, dan kini kembali engkau menyelamatkan nyawaku dengan bantuanmu mendapatkan jamur panca warna. Sungguh aku berhutang budi kepadamu, Hwee Li."
"Ahhhhh, siapa ingin bicara tentang budi? Mukamu pucat sekali, Kian Lee, tubuhmu kurus dan kau kelihatan lemah sekali. Hemmm, sungguh keji sekali Siluman Kecil adikmu itu! Ingin aku mengetuk kepalanya karena dia berani me-mukulmu seperti ini!"
Kian Lee tersenyum dan matanya bersinar-sinar.
Melihat dan mendengar kata-kata gadis ini benar-benar mendatangkan semangat dan gairah hidup, seolah-olah ada cahaya matahari cerah memasuki kamarnya dari jendela.
"Sudah cukup kau menghajarnya, Hwee Li. Kasihanilah dia karena dia memukul aku tanpa disengaja. Kami berkelahi karena kami berdua dalam penyamaran dan tidak saling mengenal. Eh, kau dari mana saja, Hwee Li? Selama lima enam tahun tidak berjumpa, engkau kini telah menjadi seorang gadis yang lihai dan sudah dewasa."
Sepasang mata itu bersinar-sinar amat indahnya.
"Benarkah kau tidak melupakan aku? Aku telah banyak merantau, Kian Lee, sampai di gurun pasir, bahkan melintasi lautan bersama burung garuda. Akan tetapi aku tidak pernah bertemu denganmu, dan baru secara kebetulan aku bertemu dengan Siluman Kecil yang ternyata adalah Kian Bu, adikmu."
Selama ini Kian Lee banyak menanggung penderitaan batin sehingga dia selalu murung dan kurang gembira.
Baru sekarang dia merasa gembira sekali memandang dan bicara dengan gadis ini.
Sungguh, luar biasa lucu dan menggembirakannya melihat gadis ini bicara, me-nyebut namanya dan nama adiknya begitu saja seolah-olah Hwee Li merasa lebih tua, lebih pandai dan lebih segala-galanya!
Akan tetapi di dalam semua itu terdapat kewajaran yang menyegarkan, sehingga orang tidak akan merasa tersinggung oleh sikapnya yang polos, wajar dan jujur sehingga agak kasar itu.
Tidak ada bosannya mendengar Hwee Li bercerita panjang lebar dengan gerakan kedua tangannya dan bibir itu bergerak-gerak dengan kenesnya, mata itu bersinar-sinar.
Dari cerita ini Kian Lee mendengar bahwa Hwee Li telah berguru kepada Ceng Ceng yang kini menjadi nyonya Kao Kok Cu, tinggal di Istana Gurun Pasir dan mempunyai seorang anak laki-laki yang telah lenyap!
"Subo dan Suhu sekarang mencari-carinya...."
Pada saat itu, pintu kamar terbuka dan masuklah Sai-cu Kai-ong.
"Nona, harap Nona menyudahi kunjungan Nona karena yang lain-lain juga ingin masuk. Maaf, dia tidak boleh diganggu terlalu lama."
"Akan tetapi siapa yang mengganggunya? Aku sama sekali tidak mengganggunya! Bukankah aku tidak mengganggumu, Kian Lee?"
Hwee Li membantah. Kian Lee menggeleng kepala lalu bertanya kepada kakek itu.
"Paman, siapakah yang akan mengunjungi aku?"
"Ada Panglima Kao Liang di luar...."
"Ahhh!"
Kian Lee terkejut dan dia lalu berkata kepada Hwee Li.
"Hwee Li, maafkan aku. Harap kau suka keluar dulu dan membiarkan Jenderal Kao masuk."
"Huh, jadi kau lebih suka bercakap-cakap dengan segala macam jenderal, ya? Kau lebih senang bicara dengan dia daripada dengan aku?"
Kian Lee tersenyum.
"Tidak begitu, Hwee Li, akan tetapi kasihan dia yang sudah menanti sejak tadi."
Dengan mulut cemberut Hwee Li terpaksa meninggalkan kamar itu dan ketika di pintu kamar dia bertemu dengan Kao Liang, dia mencibirkan bibirnya kepada bekas panglima besar itu!
Bekas Jenderal Kao Liang memasuki kamar.
Kian Lee memandangnya dan mempersilakan duduk dengan tangannya.
Kao Liang duduk dan berkata.
"Kedua orang puteraku berada di luar pula, akan tetapi karena kami tidak ingin banyak mengganggu Sicu yang sedang sakit, maka aku mewakili mereka untuk menengok dan sekalian minta maaf kepada Sicu atas sikap kami tempo hari."
"Ah, Lo-ciangkun terlalu sungkan...."
"Sicu, saya bukan panglima lagi. Kami telah bertemu dengan adikmu dan barulah kami tahu bahwa Sicu berdua sama sekali bukan orang yang telah mengganggu keluarga kami, maka maafkanlah kami atas penyerangan kami terhadap Sicu tempo hari karena kami tadinya mengira bahwa...."
"Sudahlah Lo-enghiong. Aku pun sudah mengerti dan sudah menduga bahwa terjadi kesalahfahaman di sini. Bahkan aku dan adikku sudah bersepakat untuk kelak setelah aku sembuh, membantu keluar-ga Lo-enghiong dan membongkar rahasia itu, menghukum penjahatnya yang telah menjatuhkan fitnah kepada kami."
Kao Liang lalu bangkit berdiri dan menjura.
"Terima kasih, Sicu. Sungguh bodoh sekali bahwa saya pernah meragukan kemuliaan budi dan kegagahan keluarga Pulau Es. Perkenankan saya keluar dan harap Sicu menjaga diri baik-baik agar cepat sembuh."
"Terima kasih."
Kao Liang lalu keluar dan tak lama kemudian pintu itu terbuka kembali dan masuklah seorang wanita cantik ke dalam kamar itu.
Sejenak mereka berpandangan ketika wanita itu berdiri di tengah kamar.
Wajah Kian Lee sebentar pucat sebentar merah ketika dia memandang wajah cantik yang selama ini sukar untuk dilupakannya itu, wajah wanita satu-satunya di dunia ini yang pernah mencengkeram hatinya, yang telah merampas cinta kasihnya akan tetapi juga yang kemudian menghancurkan hatinya karena wanita ini tidak mungkin menjadi jodohnya.
Dia sama sekali tidak mengira bahwa Ceng Ceng akan memasuki kamarnya.
"Kau.... kau.... Ceng Ceng....?"
Dia berkata lemah dan gugup, lirih seperti bisikan saja.
Sejenak hati Ceng Ceng seperti di-remas oleh rasa haru.
Dia tahu apa yang terjadi di dalam hati pemuda perkasa ini.
Melihat betapa pemuda ini demikian kurus dan pucat, dan wajahnya tampan itu jelas membayangkan banyak penderitaan batin, dia merasa terharu karena merasa bahwa dialah yang berdosa telah mengecewakan hati pemuda yang amat baik ini.
Dari pandang mata Kian Lee, dia dapat mengukur isi hatinya dan makin perih rasa hatinya melihat betapa besar sinar kemesraan dan cinta kasih masih saja terpancar dari sepasang mata itu yang kini memandangnya.
"Paman....!"
Cepat Ceng Ceng menghampiri pembaringan dan menjatuhkan diri berlutut di depan Kian Lee yang duduk di atas pembaringan.
"Keponakanmu Ceng Ceng memberi hormat dan mengharapkan kesembuhan bagimu, Paman Suma Kian Lee."
"Eh.... eh...., Ceng Ceng, bangunlah....!"
Kian Lee berseru gugup.
"Haha, hampir saja aku lupa bahwa engkau adalah keponakanku! Ceng Ceng, bangunlah dan duduklah di atas bangku itu...."
Mendengar ini, barulah Ceng Ceng bangkit dan duduk di atas bangku, mukanya menjadi merah sekali, mungkin karena dia berlutut tadi demikian anggapan Kian Lee, padahal wanita ini dengan sekuat tenaga menahan air matanya.
Hati Ceng Ceng menjadi lega melihat pemuda itu kini memandangnya tidak seperti tadi lagi, bahkan ada senyum di bibir pemuda itu.
Sejenak mereka saling berpandangan.
"Terima kasih, Ceng Ceng, terima kasih atas kunjungan ini dan sikapmu yang ramah. Bagaimana keadaanmu? Mana, suamimu dan apakah engkau kini telah menjadi seorang ibu yang baik?"
Ceng Ceng mengangguk-angguk lalu bangkit berdiri, menghampiri pembaringan.
"Paman, keadaan kami baik-baik saja dan kami telah mempunyai seorang anak laki-laki. Akan tetapi biarlah kita bicara tentang hal itu kelak saja karena aku datang mendengar engkau terluka parah dan aku ingin mengobatimu, Paman."
Kian Lee tersenyum.
"Aku sudah sembuh, Ceng Ceng, setidaknya, sudah hampir sembuh berkat pengobatan Sai-cu Kai-ong."
"Aku tahu, Paman, aku sudah mendengar penuturan orang tua itu dan Paman Kian Bu, akan tetapi selama ini aku memperdalam ilmu pengobatan dengan penggunaan sinkang dan kim-ciam (jarum emas) dari guru suamiku."
"Dewa Bongkok dari Istana Gurun Pasir?"
Ceng Ceng hanya mengangguk.
"Hebat sekali!"
"Marilah kuperiksa keadaanmu, Paman. Harap kau suka rebah terlentang,"
Kata Ceng Ceng dan Kian Lee tidak membantah, lalu dia rebah terlentang dan hanya memandang ketika dengan cekatan jari-jari tangan itu menanggalkan semua kancing bajunya sehingga tubuhnya bagian atas telanjang.
Dengan teliti dan halus, jari-jari tangan Ceng Ceng memeriksa dada dan sekitarnya, menekan sana-sini, meraba sana-sini, dipandang dengan sinar mata penuh keharuan oleh Kian Lee.
Dia merasa amat terharu melihat betapa wanita yang selama bertahun-tahun ini dirindukannya, membuat dia merana, kini memeriksanya dengan sikap begitu lembut dan teliti, membuatnya teringat benar bahwa wanita ini adalah keponakannya sendiri!
Kian Lee yang melihat betapa wanita yang selama ini merampas semangat hidupnya itu memeriksanya, wajahnya demikian dekat sehingga dia melihat wajah itu sejelasnya, merasakan benar kehadirannya, dan merasakan betapa jari-jari itu dengan amat teliti memeriksanya, memejamkan mata dan merasa malu kepada diri sendiri mengapa dia tidak mau melihat kenyataan bahwa wanita ini adalah keponakannya, masih ada hubungan darah daging dengan ibunya sendiri, cucu dari ibunya!
Kini jari-jari yang cekatan itu mengancingkan kembali bajunya dan terdengar Ceng Ceng berkata.
"Seperti yang telah kuduga, Paman. Memang obat dari Sai-cu Kai-ong amat manjur dan telah menyelamatkanmu dari bahaya, akan tetapi untuk dapat memulihkan kesehatan dan tenagamu secara cepat dan tepat, kiranya hanya dapat dilakukan dengan bantuan sinkang dari luar dan tusukan jarum emas. Dan mengingat bahwa engkau memiliki dasar tenaga sinkang yang amat kuat, maka diperlukan tenaga yang jauh lebih kuat darimu, dan untuk itu kiranya kalau aku menggabungkan tenagaku dengan Paman Kian Bu, engkau akan dapat mudah tertolong sehingga cepat sembuh dan pulih seperti biasa kembali."
Kian Lee sudah bangkit duduk dan memandang kepada Ceng Ceng sambil tersenyum.
"Sungguh bahagia mempunyai seorang keponakan seperti engkau, Ceng Ceng. Dan tentu saja aku suka sekali dapat segera sembuh dan kuat mengingat banyaknya persoalan yang kuhadapi."
Ceng Ceng lalu membuka daun pintu dan memanggil masuk Suma Kian Bu dan Sai-cu Kai-ong.
Kedua orang itu bergegas masuk dan kepada mereka Ceng Ceng lalu menceritakan hasil pemeriksaannya.
"Harap Sai-cu Kai-ong suka memaafkan kelancanganku. Pengobatanmu memang luar biasa sekali dan engkau telah menyelamatkan nyawa Paman Kian Lee, akan tetapi untuk dapat memulihkan kesehatan dan tenaga secara cepat, pengobatan dengan mengandalkan ramuan obat itu kurang cepat. Paman Kian Lee terluka oleh pukulan sinkang, maka pengobatan satu-satunya yang tepat dan cepat hanyalah dengan penggunaan sinkang pula, dibantu dengan penusukan jarum emas untuk menahan dan membuka jalan-jalan darah tertentu."
Sebagai seorang ahli pengobatan, Sai-cu Kai-ong mengangguk-angguk.
"Sayang aku tidak pandai ilmu tusuk jarum, dan tentang pengobatan dengan sinkang, siapakah yang mampu menembus tubuh Kian Lee yang penuh dengan sinkang amat kuat itu?"
"Aku akan menggabungkan tenagaku dengan Paman Kian Bu, Kai-ong, dan tentang penggunaan jarum emas, kebetulan sekali aku telah mempelajarinya dari guru suamiku."
"Bagus sekali kalau begitu!"
Sai-cu Kai-ong berseru girang dan kagum.
Juga Kian Bu merasa girang sekali dan cepat-cepat dia membantu Ceng Ceng membuka baju Kian Lee, kemudian pemuda itu duduk bersila di atas pembaringan.
Ceng Ceng lalu mengeluarkan empat batang jarum emas.
Dengan gerakan hati-hati namun cekatan, dia lalu menancapkan jarum-jarum itu pada dahi di antara kedua mata, di tengkuk, dan di kedua pundak Kian Lee yang sama sekali tidak merasakan nyeri.
Kemudian, Ceng Ceng menyuruh Kian Bu duduk bersila di belakang Kian Lee, Sedangkan dia sendiri duduk bersila di depan pemuda yang diobati itu, kemudian mereka berdua mengulur lengan, menempelkan telapak tangan di punggung dan dada Kian Lee menurut petunjuk Ceng Ceng.
Mulailah mereka mengerahkan tenaga sinkang mereka dari pusar, sesuai dengan petunjuk nyonya muda yang lihai itu.
Di dalam Kisah Sepasang Rajawali telah dituturkan bahwa sebelum menjadi isteri Kao Kok Cu, Ceng Ceng pernah menjadi murid Ban-tok Mo-li, seorang nenek iblis ahli racun yang amat lihai dalam hal ilmu tentang racun dan dari nenek ini Ceng Ceng telah mempelajari ilmu-ilmu yang mujijat tentang segala macam racun yang dipergunakan oleh dunia persilatan.
Tentu saja, selain pandai menggunakan racun, dia pandai pula mengobati segala macam penyakit akibat racun.
Setelah dia menjadi isteri Kao Kok Cu, melihat keahliannya ini.
Dewa Bongkok Bu Beng Lojin dari Istana Gurun Pasir lalu menurunkan pelajaran ilmu pengobatan dari golongan putih yang mempergunakan sinkang dan jarum emas untuk mengubah keahlian yang berdasarkan ilmu kaum sesat itu menjadi ilmu yang bersih pula.
Karena hawa pukulan yang melukai tubuh Kian Lee adalah penggabungan antara tenaga yang sifatnya panas dan dingin seperti yang dilatih oleh Kian Bu, maka cara pengobatannya juga menyalurkan dua macam tenaga.
Ceng Ceng menyuruh Kian Bu menggunakan inti tenaga Swat-im Sin-ciang sedangkan dia sendiri mempergunakan sinkang yang berhawa panas.
Dengan dua macam hawa sakti itu, mereka berdua mengalirkan tenaga mereka ke dalam tubuh Kian Lee.
Dan jarum-jarum emas itu melakukan tugasnya untuk mencegah masuknya hawa-hawa yang amat kuat ini ke bagian-bagian tertentu yang lemah dan untuk mengurung tenaga sinkang Kian Lee sendiri agar jangan bangkit melakukan perlawanan.
Terasalah oleh Kian Lee betapa tubuhnya disusupi dua macam hawa yang amat dingin dan amat panas, dua hawa yang saling bertentangan dan yang mula-mula membuat tubuhnya kadang-kadang menggigil kedinginan dan kadang-kadang berkeringat kepanasan, akan tetapi lambat-laun dua tenaga itu seperti dapat bersatu dan membuat dia merasa nyaman sekali.
Tanpa disadarinya, Kian Lee tertidur dan melihat ini, Ceng Ceng memberi tanda kepada Kian Bu untuk perlahan-lahan menarik kembali tenaganya.
Kemudian nyonya muda ini dibantu oleh Kian Bu merebahkan Kian Lee yang pulas itu ke atas pembaringan setelah dia mencabuti kembali empat batang jarum emas tadi.
"Biarkan dia tidur. Pengobatan ini diulang sekali lagi dan dia akan sembuh sama sekali,"
Kata Ceng Ceng setelah mereka semua meninggalkan kamar itu dan menutupkan daun pintunya.
Bukan main girangnya hati Kian Bu mendengar ini.
Dia memegang tangan Ceng Ceng, mengepalnya erat-erat dan berkata.
"Terima kasih, engkau benar-benar keponakanku yang amat hebat!"
Katanya.
Ceng Ceng hanya tersenyum akan tetapi merasa betapa matanya menjadi basah.
Sambil menanti sehari semalam lamanya untuk mengobati Kian Lee lagi, mereka semua bercakap-cakap di ruangan tamu yang luas.
Kesempatan ini mereka pergunakan untuk saling menceritakan pengalaman mereka dan tentu saja masing-masing menjadi terkejut, marah, penasaran dan berduka sekali ketika mendengar malapetaka yang menimpa diri masing-masing.
Bekas Jenderal Kao mengepal tinju dan matanya yang lebar terbelalak.
"Brakkk!"
Untung meja itu tidak pecah oleh hantaman tinjunya ketika orang tua ini dengan gemas menampar dengan tangannya ke atas meja di depannya.
"Jahanam manakah berani menculik cucuku? Aihhh, jangan-jangan cucuku itu bukan diculik orang melainkan pergi sendiri dan hilang seperti yang dialami oleh ayahnya di waktu kecil?"
Ceng Ceng menggeleng kepalanya.
"Tidak, Ayah. Kami berdua sudah menyelidiki dan beberapa kali kami menemukan jejak Cin Liong diajak seseorang. Akan tetapi anehnya, orang yang mengajaknya itu selalu berganti-ganti sehingga kami menjadi bingung dan sampai sekarang kami berdua belum berhasil menemukannya."
Nyonya muda itu mengusap air mata yang menetes turun.
Betapapun gagahnya Ceng Ceng, namun sebagai seorang ibu, tentu saja hatinya seperti disayat-sayat oleh kekhawatiran kalau dia nengingat akan puteranya yang hilang.
Kini tiba giliran Kao Liang menceritakan tentang keadaannya yang dipecat atau istilah halusnya dipensiun dan betapa ketika dia sekeluarga hendak pulang ke kampung halaman, di tengah jalan terjadi malapetaka sehingga harta bendanya dicuri orang dan semua anggauta keluarganya diculik orang.
"Ehhh....!"
Kini Ceng Ceng yang bangkit berdiri dengan muka pucat.
"Siapakah mereka yang begitu jahat?"
Dia duduk kembali dan mendengarkan penuturan ayah mertua dan dua orang adik iparnya itu dan dia menggeleng-geleng kepala ketika mendengar betapa ayah mertuanya dan dua orang adik iparnya pernah menyangka keluarga Pulau Es yang melakukannya, bahkan mereka pernah menyerang Suma Kian Lee dan Suma Kian Bu karena mengira bahwa mereka inilah yang melakukan semua kejahatan terhadap keluarga mereka.
"Akan tetapi, baru kemarin kami bertemu dengan Sicu Suma Kian Bu dan kami sadar bahwa bukan mereka yang melakukannya, bahkan mereka berjanji hendak membantu kami."
Kakek itu menutup penuturannya sambil menarik napas panjang. Ceng Ceng mengerutkan alisnya.
"Memang tidak mungkin kalau kedua orang Paman Suma yang melakukan kejahatan seperti itu. Ayah, kini timbul dugaanku bahwa sangat boleh jadi hilangnya Cin Liong ada hubungannya dengan penculikan terhadap keluarga kita itu!"
"Ahhh....!"
Kao Liong dan dua orang puteranya berseru kaget.
"Saya dan puteramu telah mengunjungi semua orang yang agaknya dipandang sebagai orang-orang yang memusuhi Istana Gurun Pasir, akan tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang melakukan penculikan atas diri Cin Liong. Oleh karena itu, agaknya hanya orangorang yang memusuhi Ayah saja yang akan melakukannya, tahu bahwa Cin Liong adalah cucu Ayah. Mengingat akan kedudukan Ayah dahulu, tentu banyak sekali orang-orang yang memusuhi Ayah."
"Ahhh.... kiranya benar dugaanmu itu, mantuku. Benar sekali! Bahkan tempo hari kami bertiga pun hampir celaka oleh puteri mendiang pemberontak Kim Bouw Sin. Sama sekali tidak pernah kusangka-sangka sebelumnya bahwa Kim Bouw Sin meninggalkan seorang anak yang kini hendak membalaskan kehancuran keluarganya kepadaku. Mungkin.... mungkin sekali musuh-musuhku yang selain melakukan penculikan atas diri keluarga kita juga telah menculik anakmu. Akan tetapi siapa? Para penjahat dan pemberontak yang jatuh olehku ketika aku masih menjadi panglima begitu banyak, ratusan, mungkin ribuan. Kemana kita harus menyelidiki?"
"Saya dan Kok Cu koko berjanji akan bertemu di Pao-ting sepekan lagi. Mari kita berunding dengan dia untuk mengambil keputusan."
Girang sekali hati ayah dan dua orang puteranya itu mendengar bahwa dalam waktu sepekan lagi mereka dapat bertemu dengan Kao Kok Cu karena hanya kepada pendekar inilah mereka menggantungkan harapan.
Mereka lalu meneruskan percakapan, menceritakan pengalaman masing-masing.
Sementara itu, atas kemauannya sendiri yang keras, Hweee Li minta agar dia diperkenankan menjaga Kian Lee di kamarnya.
Sai-cu Kai-ong dan Kian Bu tidak bisa melarang gadis yang keras kepala ini sehingga akhirnya dia diperkenankan menjaga Kian Lee di dalam kamarnya, ditemani oleh Kian Bu.
Adapun Sai-cu Kai-ong sendiri sibuk memasak obat karena dia hendak memberi kesempatan kepada Ceng Ceng dan ayah mertuanya untuk bercakap-cakap urusan kekeluargaan mereka yang tentu saja tidak boleh dicampuri atau didengarkan oleh orang luar.
Siauw Hong membantu gurunya ini dengan tekun.
Pada keesokan harinya, kembali Ceng Ceng dan Kian Bu mengerahkan sinkang mengobati Kian Lee yang ternyata benar saja sudah hampir sembuh sama sekali setelah menerima pengobatan pertama itu.
Dibantu pula dengan obat-obat Sai-cu Kai-ong, maka setelah pengobatan ke dua yang dilakukan Ceng Ceng dibantu oleh Kian Bu, maka boleh dibilang keadaan Kian Lee sudah pulih kembali!
Dia sudah sehat kembali, juga tenaganya sudah pulih dan hanya tubuhnya saja masih kurus dan mukanya masih agak pucat.
Namun, dia telah sembuh sama sekali!
Tentu saja Kian Bu girang bukan main.
Demikian pula Sai-cu Kai-ong menjadi girang dan raja pengemis ini lalu memerintahkan para muridnya untuk mempersiapkan masakan dan minuman karena dia hendak menjamu para tamu yang terhormat itu.
Semua orang bergembira dan mengucapkan selamat kepada Kian Lee yang tersenyum dengan wajah cerah di antara mereka yang mengelilingi meja perjamuan yang besar dan penuh dengan masakan dan minuman.
"Terima kasih.... terima kasih,"
Kata Kian Lee dengan terharu setelah dia minum arak menyambut ucapan selamat mereka.
"Terutama sekali terima kasih kuhaturkan kepada Paman Yu Kong Tek yang berjuluk Sai-cu Kai-ong yang telah menyelamatkan saya. Terima kasih kepada keponakan saya Ceng Ceng yang telah mempercepat kesembuhan saya dengan kepandaiannya yang tinggi, dan juga kepada Nona Hwee Li yang telah membantu adik saya memperoleh jamur panca warna. Kepada Paman Kao Liang dan kedua Saradara Kao, saya juga berterima kasih atas kunjungan mereka."
Semua orang tersenyum dan merendahkan diri. Kemudian Kian Bu berkata.
"Kita merupakan sekelompok orang yang masih ada hubungan, baik hubungan keluarga atau persahabatan. Bahkan Paman Yu Kong Tek ini adalah keturunan dari keluarga yang sejak dahulu bersahabat dengan keluarga Suling Emas yang tidak dapat dipisahkan dengan riwayat keluarga kami. Oleh karena itu, mengingat bahwa kita semua telah mengenal riwayat masing-masing, sukalah kiranya Paman Yu menceritakan riwayatnya, dan riwayat tempat kuno yang seperti benteng ini."
Sai-cu Kai-ong teringat akan janjinya kepada dua saudara Suma bahwa dia akan memperlihatkan bangunan seperti istana peninggalan nenek moyangnya itu, maka dia lalu menghela napas panjang dan berkata.
"Memang, tempat ini dahulunya merupakan istana-istana dari nenek moyang saya yang menjadi raja pengemis dan terkenal di seluruh dunia pengemis. Akan tetapi sekarang tinggal bekas-bekasnya saja karena saya lebih senang menyembunyikan diri di sini bersama beberapa orang murid dan dilayani oleh mereka yang masih setia kepada keluarga saya. Semenjak ratusan tahun yang lalu, nenek moyang saya terkenal sebagai keluarga pendekar besar pendiri perkumpulan Khong-sim Kai-pang. Apalagi ketika berada di bawah pimpinan kakek besar saya Yu Siang Ki, Khong-sim Kai-pang menjadi makin terkenal sebagai perkumpulan pengemis yang hanya menggunakan pakaian pengemis sebagai tanda kesederhanaan, sebagai para pengikut pelajaran Buddha yang suci, hldup sederhana untuk diri sendiri tanpa banyak keinginan, akan tetapi selalu mempergunakan ilmu warisan keluarga untuk membela yang lemah tertindas dan menentang yang kuat jahat. Akan tetapi saya.... ah, setelah tua saya kehilangan semangat, bahkan tidak suka mencampuri urusan dunia lagi, hidup tenang dan sunyi di tempat ini sampai datang utusan dari kaisar yang memaksa saya berangkat memimpin pasukan ke Ho-nan untuk menyelamatkan Pangeran Yung Hwa."
Dengan singkat dia lalu menceritakan tentang tugasnya itu di mana dia bertemu dengan Suma Kian Bu dan Suma Kian Lee dan betapa Pangeran Yung Hwa telah berhasil diselamatkan dan kini telah dengan aman kembali ke istana.
Setelah secara singkat menceritakan riwayat nenek moyangnya yang didengarkan penuh perhatian oleh semua orang, kakek itu lalu mengajak para tamunya untuk melihat-lihat keadaan bangunan kuno yang seperti istana itu.
Bangunan itu memang amat besar dan luas, mempunyai banyak sekali ruangan-ruangan dan kamar-kamar dan di situ tergantung banyak gambar orang-orang yang berpakaian pengemis namun kelihatan gagah perkasa dan berwibawa.
Itulah gambar-gambar dari para anggauta keluarga Yu dan Sai-cu Kai-ong Yu Kong Tek memperkenalkan gambar-gambar itu kepada para tamunya, siapa namanya, hidup di jaman apa dan bagaimana kedudukan masing-masing di Khong-sim Kai-pang.
Juga dia memperlihatkan kamar-kamar bersejarah yang pernah dipakai oleh para nenek moyangnya, dan kamar-kamar itu dipergunakan ketika mereka menjabat ketua perkumpulan Khong-sim Kai-pang.
Semua kamar-kamar ini dijaga oleh anak murid yang bertugas menjaga kebersihan kamar itu dan juga menjaga agar jangan sampai kemasukan orang luar yang dapat mencuri benda-benda kuno di dalam kamar itu.
Akhirnya Sai-cu Kai-ong membawa mereka ke sebuah kamar yang besar indah dan angker, yang di pintunya terjaga oleh empat orang pengemis.
Melihat kamar ini lain daripada kamar yang lain, lebih besar dan lebih megah, Hwee Li tak dapat menahan keinginan tahunya dan bertanya.
"Kai-ong, kamar apakah ini?"
"Inilah kamar dari leluhur keluarga Yu yang langsung menurunkan saya,"
Kata kakek itu dengan wajah sungguh-sungguh.
"Dan kamar ini ditempati secara turun-temurun oleh keluarga yang menurunkan saya secara langsung. Mari, silakan Cu-wi masuk dan melihat-lihat."
Kamar itu memang megah dan diatur seperti ruangan balairung istana, hanya bentuknya sederhana dan tidak mewah seperti istana yang terhias oleh emas permata.
Biarpun tidak mewah, namun ruangan itu megah dan agung, membuat mereka yang masuk merasa kagum.
Dinding ruangan itu terhias sutera beraneka warna, dan selain terdapat tulisan-tulisan indah yang menghias dinding, juga terdapat banyak gambar-gambar orang tergantung rapi.
"Itu adalah gambar-gambar dari para leluhur saya yang pernah menjadi raja di perkumpulan kami,"
Sai-cu Kai-ong menerangkan dengan suara penuh hormat.
Hwee Li yang mendahului orang-orang lain memandangi gambar-gambar itu, berhenti di depan sebuah gambar dan memandang gambar itu dengan melongo penuh kagum.
"Gambar siapakah ini, Sai-cu Kai-ong?"
Tanyanya.
"Tampan dan gagah sekali dia!"
Sai-cu Kai-ong dan semua tamunya menghampiri Hwee Li.
Ternyata gambar itu memperlihatkan seorang pria muda yang berpakaian pengemis dan bertubuh jangkung, kepalanya memakai topi pandan yang berhiaskan bunga mawar.
Memang gambar itu memperlihatkan seorang pria yang gagah perkasa dan tampan.
"Dia adalah kakek besar saya yang bernama Yu Siang Ki"
Kata Sai-cu Kai-ong dengan suara mengan-dung kebanggaan.
"Dia adalah kebanggaan perkumpulan kami karena beliau yang mengangkat nama Khong-sim Kai-pang ke tempat tinggi sehingga dihormati oleh seluruh perkumpulan manapun juga. Beliau memimpin perkumpulan kami dengan adil dan usahanya itu diteruskan oleh putera tunggal beliau yang bernama Yu Goan, itulah gambarnya. Kakek besar Yu Goan itulah yang memperbaiki istana tua ini, bahkan dia yang pertama-tama mengumpulkan semua harta benda pusaka di sini, yang kami jaga terus-menerus dan turun-temurun. Dan deretan sana itu terdapat gambar-gambar para sahabat leluhur saya."
Hwee Li yang berjalan paling dulu telah tiba di depan gambar yang berderet-deret di dinding sebelah kiri dan dia berseru.
"Wah, dia ini lebih ganteng lagi! Siapakah dia?"
Ceng Ceng terpaksa tersenyum karena pujian muridnya itu bukan keluar dari hati seorang wanita yang genit, melainkan pujian yang keluar dari hati yang jujur dan tulus seperti watak muridnya itu.
Semua orang kini memandang gambar itu.
Memang benar, pria yang bertubuh tinggi besar itu dan berpakaian sastrawan itu amat ganteng, dan tangannya memegang kipas.
"Dia ini bukan orang sembarangan, dan menjadi sahabat baik dari kakek besar saya Yu Siang Ki. Dia bernama Kam Liong...."
"Heeei.... bukankah itu sebatang suling emas yang terselip di pinggangnya?"
Hwee Li berseru heran sambil menunjuk ke arah gambar pria ganteng itu.
Kian Bu terkejut dan meneliti dan semua orang kini memang melihat gambar suling yang terselip di pinggang orang dalam gambar itu, suling yang berwarna kuning emas.
"Memang benar,"
Kata Sai-cu Kai-ong.
"Beliau ini adalah putera kesayangan dari pendekar sakti Suling Emas yang termasyur itu. Tentu saja suling itu adalah senjata pusaka beliau yang mengangkat nama beliau menjadi pendekar besar Suling Emas. Ketika masih muda, beliau ini terkenal dengan sebutan Kam-taihiap, akan tetapi setelah tua, beliau lebih terkenal lagi sebagai Kam-taijin, seorang menteri yang setia. Akan tetapi sayang.... sayang beliau tewas dalam keadaan tidak begitu baik, mati sebagai seorang pemberontak"
Sai-cu Kai-ong menarik napas panjang.
"Tidak!"
Tiba-tiba Kian Lee membantah.
"Beliau tewas sebagai seorang gagah perkasa dan beliau tetap seorang menteri yang setia. Dia tewas karena fitnah seorang yang amat jahat, demikian menurut penuturan ibuku"
Kian Lee dan Kian Bu saling pandang dengan alis berkerut, di dalam hati mereka merasa menyesal sekali kematian orang gagah keturunan Suling Emas ini adalah akibat perbuatan keji dari kakek besar mereka sendiri, yaitu Suma Kiat (baca cerita Istana Pulau Es)!
Suma Kiat yang jahat itu mempunyai anak yang lebih jahat lagi, seorang jai-hoa-cat (penjahat pemerkosa wanita) bernama Suma Hoat, dan dari Suma Hoat inilah ayah mereka Suma Han diturunkan.
Sungguh amat tidak enak menghadapi gambar-gambar para orang-orang besar keturunan keluarga gagah perkasa itu, yang mengingatkan betapa keluarga Suma sejak dahulu amat jahat.
Sai-cu Kai-ong mengangguk-angguk.
"Mungkin juga, karena aku sendiri pun selalu tidak percaya bahwa putera pendekar sakti Suling Emas sampai bisa menjadi pemberontak. Senjata pusaka suling emas itu selalu berada di tangan orang-orang gagah, sebuah senjata yang amat bagus, ampuh dan luar biasa. Jarang ada orang berkesempatan melihat pusaka itu...."
"Aku pernah melihatnya!"
Tiba-tiba Hwee Li berseru.
Sai-cu Kai-ong kembali menghadapi Hwee Li setelah menoleh ke belakang, ke arah Siauw Hong yang sejak tadi diam saja dan mengikuti rombongan itu melihat-lihat.
"Ah, benarkah itu, Nona? Di mana?"
"Tentu saja di tangan Sin-siauw Seng-jin! Aku melihatnya beberapa bulan yang, lalu."
"Benarkah itu? Sin-siauw Seng-jin adalah pewaris dari ilmu-ilmu keluarga Suling Emas. Dia adalah cucu murid dari Gu Toan yang pernah menjadi pelayan setia dari Kam-taijin atau Kam Liong itu. Gu Toan inilah yang mewarisi semua pusaka dan kitab-kitab ilmu yang sakti dari keluarga Suling Emas, dan kemudian secara turun-temurun pusaka-pusaka itu tiba di tangan Sin-siauw Seng-jin. Dimanakah Nona bertemu dengan dia?"
Hwee Li menoleh kepada Kian Bu.
"Kalau kau ingin tahu, Kai-ong, kau tanyalah kepada Siluman Kecil ini! Dialah orangnya yang pernah mencoba keampuhan suling emas yang ternyata tidak berguna itu!"
"Jangan sembarangan bicara!"
Tiba-tiba terdengar suara bentakan dari belakang.
Hwee Li menoleh dan ternyata yang mengeluarkan suara membentak marah itu adalah Siauw Hong yang tadi berlutut menghadap kepada gambar Kam Liong dan kini sudah bangkit berdiri.
"Apa? Kau membentak-bentak aku, heh? Kau bocah ini belum pernah dihajar rupanya!"
Hwee Li sudah maju menghampiri dan mengepal tinjunya sedangkan Siauw Hong juga sudah siap dan memandang marah.
"Siapapun tidak boleh menghina kepada orang yang kami hormati dan junjung tinggi itu. Aku akan membelanya, dengan nyawaku!"
Kata pula Siauw Hong, suaranya penuh kesungguhan sehingga Kian Bu yang telah mengenalnya memandang dengan heran.
"Hwee Li!"
Tiba-tiba Ceng Ceng membentak.
"Mundur kau dan hayo cepat kau minta maaf!"
Hwee Li masih mengepal tinju, akan tetapi dia menoleh ke arah subonya dan sejenak dua orang wanita itu saling "mengukur"
Tenaga dengan pandang mata mereka. Akhirnya Hwee Li mengeluh pendek, dan tersenyum, mata kirinya berkejap kepada subonya.
"Aku paling tidak kuat kalau melihat Subo marah kepadaku...."
Lalu dia menoleh kepada Sai-cu Kai-ong dan berkata.
"Kai-ong, harap kau maafkan kelancanganku tadi, ya?"
Dia sama sekali tidak memandang kepada Siauw Hong dan sengaja minta maaf kepada Sai-cu Kai-ong.
Dasar gadis yang berhati keras seperti baja, mana dia mau mengalah dan minta maaf kepada Siauw Hong yang dianggapnya masih bocah itu?
Akan tetapi, semua orang merasa heran ketika Sai-cu Kai-ong menghadapi Siauw Hong dan berkata.
"Nona Kim telah minta maaf, hendaknya dilupakan saja kata-kata tadi."
Dan Siauw Hong mengangguk!.
"Paman Yu, benarkah itu.... bahwa Sin-siauw Seng-jin adalah ahli waris yang tulen dari Suling Emas?"
Kian Bu bertanya sambil memandang tajam kepada Sai-cu Kai-ong. Sai-cu Kai-ong mengangguk-angguk.
"Benar! Ketika pendekar sakti Kam Liong sebagai menteri dikeroyok oleh pasukan kerajaan dan sudah luka-luka parah, beliau berpesan kepada pelayannya yang setia itu, Gu Toan, untuk melarikan semua pusakanya. Kabarnya berkat bantuan manusia dewa Bu Kek Siansu sendiri akhirnya Gu Toan dapat membawa jenazah pendekar Kam Liong dan jenazah muridnya she Ku, juga membawa semua pusaka, kemudian memakamkan jenazah itu di kuburan keluarga Suling Emas dan menjaga kuburan di sana. Sin-siauw Sengjin adalah keturunan Gu Toan itu yang bertugas menjaga baik-baik semua pusaka, mempelajarinya agar kelak dapat diserahkan kepada yang berhak, yaitu keturunan langsung dari keluarga Kam, keluarga Suling Emas."
"Ah, mana mungkin itu?"
Kian Lee membantah.
"Menurut penuturan ayah, keluarga Kam dari pendekar Suling Emas telah habis, berhenti hanya sampai kepada pendekar Kam Liong itu saja. Pendekar Kam Liong tewas sebagai seorang menteri yang hidup menyendiri, tidak mempunyai keluarga, tidak mempunyai isteri dan anak."
Sai-cu Kai-ong kembali melirik kepada Siauw Hong, lalu menarik napas panjang dan berkata.
"Memang demikianlah yang diketahui orang. Dan tentu saja cerita Suma-taihiap Majikan Pulau Es itu tidak salah, karena memang hal ini merupakan rahasia pribadi dari Menteri Kam Liong. Beliau kematian isterinya dan tidak mempunyai anak. Sebagai seorang yang berbakti kepada leluhurnya, tentu saja hal itu amat menyusahkan hatinya, karena dia merupakan putera tunggal dari pendekar Suling Emas. Untuk menikah lagi, hal itu berlawanan dengan hati nuraninya, maka untuk menyambung keturunan nenek moyangnya, Menteri Kam Liong diam-diam memiliki seorang wanita baik-baik dari antara para pelayannya. Dari wanita inilah dia memperoleh seorang putera...."
"Ahhhhh....!"
Kian Bu dan Kian Lee berseru kaget dan heran.
"Memang tidak ada yang tahu, bahkan sungguh amat mengharukan sekali, mendiang Menteri Kam Liong sendiri tidak mengetahuinya bahwa beliau mempunyai atau meninggalkan seorang keturunan, seorang putera!"
Kata Sai-cu Kai-ong.
"Eh, bagaimana pula itu?"
Kian Lee bertanya kaget.
"Wanita yang diambilnya sebagai selir untuk menyambung keturunan itu baru diambilnya beberapa bulan lamanya sebelum beliau tewas sehingga beliau sendiri tidak tahu bahwa selir itu telah mengandung ketika beliau tewas. Tidak ada yang tahu akan hal itu kecuali pelayannya yang setia, yaitu Gu Toan. Karena khawatir kalau-kalau selir itu dan keturunan Menteri Kam Liong akan dibunuh karena dianggap sebagai keturunan pemberontak, maka selir itu lalu disingkirkan ke tempat aman oleh Gu Toan. Nah, keturunan dari Gu Toan inilah yang selalu mengikuti perkembangan keturunan tunggal itu dan sampai sekarang menjadi tugas Sin-siauw Seng-jin untuk menyerahkan semua pusaka dan ilmu dari Suling Emas kepada keturunan itu. Karena, hanya apabila terdapat keturunan langsung yang berbakat, barulah ilmu-ilmu itu akan diserahkan kepada yang berhak, yaitu keturunan langsung dari Pendekar Suling Emas. Dan putera selir itulah yang melanjutkan keturunan Suling Emas, karena putera lain dari keluarga Kam, yaitu yang bernama Kam Han Ki, adik sepupu Menteri Kam Liong, telah menjauhkan diri dari keduniaan dan tidak pernah mempunyai keturunan."
"Koai-lojin...."
Kian Lee dan Kian Bu berbisik.
Mereka sudah mendengar cerita ayah mereka bahwa keluarga Suling Emas yang bernama Kam Han Ki dan murid terutama dari Bu Kek Siansu, hidup menyendiri dan setelah tua menjadi Koai-lojin yang sakti seperti dewa.
"Ah, kalau begitu ada keturunannya sekarang? Siapa dia....?"
Kian Lee bertanya penuh keheranan dan Kian Bu kembali memandang gambar dari laki-laki ganteng berpakaian sastrawan membawa kipas dan suling emas itu.
"Bukan menjadi hakku untuk membuka rahasia orang lain. Hanya Sin-siauw Sengjin seorang yang berhak,"
Jawab Sai-cu Kai-ong.
Kian Bu bengong memandang gambar itu, terutama memandang ke arah kipas dan suling emas yang berada pada pria di dalam gambar itu.
Dia merasa bingung sekali.
Manakah yang aseli sebenarnya?
Milik orang tuanya ataukah milik Sinsiauw Seng-jin?
Ibunya, Puteri Nirahai, memiliki sebatang suling emas yang juga dahulu katanya diterima dari kakek Gu Toan, dan juga ibu Kian Lee, bekas ketua Pulau Neraka, Lulu, menerima pusaka-pusaka peninggalan Suling Emas dari kakek Gu Toan.
Akan tetapi sekarang muncul keturunan kakek Gu Toan yang menyimpan semua pusaka itu!
"Kian Bu, bagaimana engkau sampai bertanding dengan Sin-siau Seng-jin?"
Sai-cu Kai-ong bertanya, akan tetapi yang ditanya masih bengong memandangi gambar itu.
Ketika Sai-cu Kai-ong hendak mendesak, tiba-tiba seorang muridnya tergopoh-gopoh masuk dan melaporkan bahwa di luar lembah terjadi pertempuran antara orang-orang yang tidak dikenal.
Mendengar ini, Sai-cu Kai-ong berlari keluar diikuti oleh Suma Kian Lee, Ceng Ceng, Hwee Li, Siauw Hong, bekas Jenderal Kao Liang dan dua orang puteranya, dan bergegas lari ke arah pertempuran itu.
Dalam ketegangan itu, mereka sampai tidak tahu bahwa Kian Bu masih tetap terlongong memandangi gambar Kam Liong.
Ketika mereka tiba di lembah bawah puncak, benar saja di sana terjadi pertempuran dahsyat sekali.
Yang bertempur adalah seorang kakek raksasa yang menyeramkan melawan seorang kakek tua renta yang bersenjata sebatang suling emas!
Hwee Li, Ceng Ceng, dan Jenderal Kao segera mengenal kakek raksasa itu yang bukan lain adalah Hek-tiauw Lomo, ketua Pulau Neraka, ayah dari Hwee Li!
Sedangkan kakek tua yang bersenjata suling emas itu adalah Sin-siauw Sengjin.
Dua orang ini bertempur dengan seru dan hebatnya dan terdengar suara berdengung dari suling ditangan Sin-siauw Seng-jin.
Akan tetapi sekali ini dia berhadapan dengan seorang lawan tangguh sehingga keduanya saling serang dengan dahsyatnya.
Sedangkan tak jauh dari situ, beberapa orang anak buah Hek-tiauw Lomo yang berwajah serem-serem sedang bertanding melawan pengikut-pengikut Sin-siauw Seng-jin yang jumlahnya lima orang.
Melihat ayahnya bertanding dengan pewaris Suling Emas itu, Hwee Li segera meloncat ke depan dan berseru, (Lanjut ke
Jilid 25) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 25
"Ayah....! Aku berada di sini!"
Sai-cu Kai-ong terkejut ketika mendengar nona berpakaian hitam itu menyebut ayah kepada lawan Sin-siauw Seng-jin, maka dia pun cepat maju dan berkata kepada sahabatnya itu.
"Sengjin, hentikan pertempuran di antara orang sendiri!"
Mendengar seruan Sai-cu Kai-ong ini, Sin-siauw Seng-jin terkejut dan meloncat mundur, mengelebatkan sulingnya dan berteriak menyuruh Gin-siauw Lo-jin dan empat orang murid lain untuk mundur dan menghentikan pertempuran pula.
Sepuluh orang anak buah Hek-tiauw Lomo yang serem-serem itu pun mundur dan berkelompok.
Hek-tiauw Lo-mo sendiri ketika mendengar suara Hwee Li, sudah menarik kembali golok gergajinya, menyimpannya di punggung.
Kakek ini memandang kepada Hwee Li dengan mata terbelalak lalu tertawa bergelak.
Semua orang merasa ngeri ketika melihat kakek ini tertawa karena nampak gigi seperti taring di mulut kakek itu!
Sungguh seorang kakek yang mengerikan, seperti iblis saja.
Tubuhnya tinggi besar, kelihatan kokoh kuat seperti batu karang.
Di punggungnya nampak golok gergaji dan tombak tulang ikan, sedangkan di pinggangnya tergambar sebatang pedang.
"Ha-ha-ha! Kiranya benar engkau di sini, anakku! Melihat garuda terbang di atas sini, aku sudah menduga bahwa engkau tentu berada di sini. Ha-ha-ha, dan ternyata engkau bersama orang-orang yang berkepandaian tinggi yang berkumpul di lembah ini. Hebat.... hebat...."
"Ayah, aku bersama Subo di sini...."
"Hemmm, aku tahu."
Hek-tiauw Lo-mo lalu menjura dengan kaku ke arah Ceng Ceng sambil berkata.
"Terima kasih atas bimbinganmu kepada puteriku, Toanio. Akan tetapi, hari ini terpaksa aku hendak mengajak puteriku pergi."
"Ah, tidak, Ayah! Aku masih ingin bersama Subo....!"
Dan gadis berpakaian hitam itu menoleh, bukan kepada subonya, melainkan kepada Kian Lee!
"Hushhh!
Lima tahun lamanya aku membiarkan engkau pergi meninggalkan aku menahan hati yang rindu.
Anakku, setelah kini bertemu, apakah engkau masih tidak kasihan kepada ayahmu?
Aku rindu padamu, ingin mengajakmu berkumpul.
Apakah engkau hendak menjadi seorang anak yang sama sekali tidak berbakti terhadap ayahmu?
Aku hanya memiliki engkau seorang, Hwee Li anakku...."
Aneh sekali, kakek raksasa yang segala-galanya kelihatan kasar dan keras itu, kini suaranya terdengar menggetar seperti mengandung isak!
"Hwee Li, engkau tahu bahwa Subomu dan Suhumu sedang sibuk menghadapi banyak urusan.
Sekarang, Ayahmu telah datang dan sebagai seorang anak yang berbakti engkau tidak boleh menyakitkan hati Ayahmu.
Sudah menjadi kewajibanmu, untuk menghibur hati Ayahmu.
Kelak masih banyak waktu untuk kita saling bertemu lagi."
Mulut yang manis itu cemberut, lalu tiba-tiba Hwee Li menghampiri Kian Lee dan bertanya.
"Bagaimana pendapatmu, Kian Lee? Apakah benar bahwa aku harus turut dengan Ayah?"
Kian Lee terkejut.
Tak disangkanya bahwa dia akan ditanya oleh Hwee Li tentang hal itu.
Dan tentu saja semua orang juga merasa heran, hanya Ceng Ceng yang mengerutkan alisnya karena guru yang sudah bertahun-tahun mengenal watak muridnya itu merasakan sesuatu yang membuat dia merasa tidak enak.
Dia tahu bahwa muridnya itu jatuh cinta kepada Kian Lee!
"Eh....
ini....
ini....
memang sebaiknya begitu, Hwee Li.
Seorang anak harus berbakti kepada orang tuanya, dan kurasa ada baiknya kalau engkau ikut bersama ayahmu karena aku yakin bahwa dengan adanya engkau di sampingnya, engkau akan mencegah terjadinya hal-hal yang tidak baik."
Dengan ucapan ini Kian Lee hendak mengatakan bahwa dara itu dapat mencegah ayahnya melakukan kejahatan-kejahatan karena dia sudah mengenal siapa adanya Hek-tiauw Lo-mo ketua Pulau Neraka yang ganas dan keji seperti iblis itu.
Mulut itu makin cemberut.
"Tapi.... kita baru saja saling berjumpa.... dan kau baru saja sembuh. Aku masih belum puas bercakap-cakap denganmu, Kian Lee."
"Hwee Li, jangan banyak membantah. Ayahmu sudah mengajak, aku sebagai gurumu telah menyetujui, dan.... Paman Kian Lee telah menganjurkan pula, mengapa engkau masih banyak membantah?"
Hwee Li membanting-banting kaki kanannya, lalu mulutnya mengeluarkan lengkingan panjang dan tak lama kemudian terdengar lengking panjang menjawab.
Itulah garudanya yang segera melayang turun.
Hwee Li sekali lagi membanting kaki kanannya dan menghampiri ayahnya.
"Ha-ha-ha! Apakah kau marah, anakku? Apakah gurumu terlalu galak kepadamu? Apakah ada orang yang membuatmu tidak senang? Katakan, siapa dia dan aku akan mengeluarkan isi perutnya, ha-ha-ha!"
Semua orang bergidik mendengan ucapan ini, apalagi mata yang lebar dan liar itu menyapu semua orang yang berada di situ tanpa terkecuali, seolah-olah dia sama sekali tidak memandang mata kepada mereka.
"Sudahlah, Ayah. Mari kita pergi. Dia menoleh ke arah Kian Lee dan berkata lagi.
"Benarkah aku harus pergi?"
Kian Lee hanya mengangguk karena dia merasa sungkan dan malu untuk menjawab.
"Subo, sampai jumpa. Sampaikan hormatku kepada Suhu,"
Kata Hwee Li kepada Ceng Ceng.
Wanita itu mengangguk dan hatinya merasa tertusuk ketika dia melihat Hwee Li meloncat ke atas punggung garuda sambil menangis!
Tahulah dia bahwa sebenarnya hati dara itu berat sekali harus pergi bersama ayahnya.
"Muridku yang baik, hati-hatilah menjaga diri dan kelak kita bertemu kembali!"
Katanya melambaikan tangan ketika garuda itu mulai menggerakkan sayapnya dan terbang mening-galkan tempat itu.
"Heiii, Hwee Li, aku ikut....!"
Tiba-tiba Hek-tiauw Lo-mo berseru keras.
"Ayah mengikuti dari bawah saja!"
Teriak Hwee Li.
Hek-tiauw Lo-mo tertawa bergelak, dari tangannya menyambar sinar hitam yang halus dan tahu-tahu tubuh raksasa ini sudah melayang naik bergantung kepada benda halus hitam yang telah mengait kaki garuda yang terbang tadi.
Kiranya kakek itu menggunakan sehelai jala tipis lembut yang tadi ditujukan ke arah kaki garuda dan kini dia bergantung kemudian memanjat naik dengan cekatan dan tak lama kemudian dia sudah duduk di atas punggung garuda di belakang puterinya!
Semua orang terkejut dan kagum karena memang hebat sekali kakek raksasa itu.
Anak buahnya lalu berlari-larian mengikuti arah terbangnya burung garuda.
Setelah orang-orang Pulau Neraka itu lenyap, Sin-siauw Seng-jin lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap ke arah Sai-cu Kai-ong.
Tentu saja kakek ini menjadi terheran-heran dan cepat dia menghampiri sahabatnya itu dan memeluknya.
"Seng-jin, apa artinya ini? Kau aneh sekali, Twako! Kenapa engkau berlutut di depan adikmu seperti ini?"
Akan tetapi, kakek itu tidak menjawab, melainkan menundukkan mukanya yang menjadi pucat dan kelihatan berduka sekali, hampir menangis malah.
Makin heranlah Sai-cu Kai-ong dan dia berkata lagi.
"Eh, kakakku, Sin-siauw Seng-jin,, apakah yang terjadi? Lihatlah dia itu...."
Sai-cu Kai-ong menuding ke arah Siauw Hong.
"Telah kudidik dia sesuai dengan persetujuan antara kita lima belas tahun yang lalu. Lihat, dia telah menjadi seorang dewasa dan telah memiliki dasar kepandaian yang cukup kuat. Dan manakah cucuku yang kutitipkan kepadamu? Mengapa tidak kau bawa bersamamu? Ah, tentu dia sudah dewasa sekarang!"
Sin-siauw Seng-jin tetap berlutut dan kini memejamkan mata seperti hendak menahan keluarnya air matanya.
"Kai-ong adikku yang baik.... kau.... kau bunuhlah saja aku sekarang...."
Akhirnya kakek tua renta itu berkata. Sai-cu Kai-ong terkejut bukan main.
"Apa.... apa maksudmu.... Twako?"
"Cucumu.... cucumu itu.... baru dua tahun berada bersamaku, lalu diculik orang...., sampai sekarang...."
"Ahhh....!"
Sai-cu Kai-ong meloncat berdiri dan mukanya menjadi pucat sekali.
Dia memandang kakek yang masih berlutut itu, kemudian dia menarik napas panjang dan menarik tangan Sin-siauw Seng-jin.
"Seng-jin, marilah kita bicara di dalam. Marilah kita menenangkan pikiran dulu dan kemudian kita bicara di antara sahabat-sahabat ini,"
Katanya dan dia menggandeng tangan Sin-siauw Seng-jin, diajak naik ke puncak dan mereka semua lalu masuk istana tua itu, duduk mengelilingi meja besar di ruangan tamu.
Sementara itu, setelah tadi mendengar bahwa kakek itu adalah Sin-siauw Seng-jin, Kian Lee mencari-cari dengan pandang matanya dan merasa heran karena baru dia tahu bahwa Kian Bu tidak berada di situ.
Dia merasa tidak aneh, karena bukankah Sin-siauw Seng-jin pernah bertanding melawan adiknya?
Tentu adiknya itu menyembunyikan diri agar jangarn terjadi pertemuan yang tidak enak, pikirnya dan diam-diam memuji kebijaksanaan adiknya itu.
Setelah duduk, pandang mata Sin-siauw Seng-jin ditujukan kepada orang-orang asing yang ikut duduk di situ.
Melihat ini, Sai-cu Kai-ong berkata.
"Tenangkan hatimu, Twako. Mereka ini adalah sahabat-sahabat sendiri. Beliau ini adalah bekas Panglima Kao Liang bersama dua orang puteranya, dan nyonya ini adalah mantunya, dan Sicu ini adalah putera Majikan Pulau Es. Semua adalah orang-orang sendiri...."
Sin-siauw Seng-jin memandang kagum dan mengangguk-angguk.
"Sudah lama mendengar nama-nama Cu-wi yang mulia...."
Katanya, akan tetapi kembali dia terbenam ke dalam kedukaan.
"Sekarang ceritakanlah tentang diri cucuku, Twako."
"Dua tahun setelah dia ikut bersamaku, pada suatu hari dia diculik orang yang amat tinggi kepandaiannya. Aku dan para murid mengejar, akan tetapi setelah dia lari jauh ke luar dari daerah Tai-hang-san, tentu saja aku tidak berani melanjutkan pengejaran. Seperti telah kau ketahui, Kai-ong, aku dan para murid telah bersumpah tidak akan meninggalkan puncak Tai-hang-san selama hidup sebelum aku dapat menguasai secara sempurna semua ilmu warisan itu, kecuali kalau aku dikalahkan orang dalam pibu. Lima belas tahun telah lewat dan baru-baru ini sebelum aku berhasil menguasai semua ilmu dengan sempurna, aku telah dikalahkan orang, maka aku dapat turun puncak dan berkunjung kepadamu untuk mengabari tentang lenyapnya cucumu itu lima belas tahun yang lalu. Aihhh, Kai-ong, aku merasa bersalah dan selanjutnya terserah kepadamu...."
Dia berhenti sebentar.
"Ketika aku tiba di lembah itu, aku melihat raksasa itu sedang mencari-cari orang, sikapnya mencurigakan dan kami bentrok. Ternyata dia lihai bukan main. Ah, sampai setua ini ternyata aku belum juga dapat menguasai ilmu-ilmu keluarga Suling Emas!"
Dia menarik napas panjang.
"Andaikata aku sudah berhasil, tidak mungkin pemuda itu dapat mengalahkan aku, dan juga raksasa tadi tentu sudah dapat kurobohkan. Dasar aku yang bodoh dan tidak berbakat...."
Lalu dia memandang kepada Siauw Hong yang sejak tadi mendengarkan saja dan duduk anteng, dan kakek ini lalu bangkit berdiri, menjura ke arah pemuda itu sambil berkata.
"Kongcu.... kuharap saja engkau tidak akan mengecewakan.... leluhurmu...."
Suaranya seperti tercekik keharuan. Siauw Hong balas menjura.
"Mudah-mudahan saja, Locianpwe,"
Jawabnya singkat.
Semua orang saling pandang dengan heran.
Kian Lee mengerutkan alisnya karena dia sama sekali tidak mengerti apa artinya semua itu.
Melihat ini, Saicu Kai-ong lalu berkata kepada Sin-siauw Seng-jin.
"Twako, di depan para sahabat yang gagah perkasa ini, kiranya kita tidak perlu merahasiakan lagi, apa pula karena kita boleh mengharapkan bantuan mereka untuk mencari cucuku yang hilang."
Sin-siauw Seng-jin yang sudah tua sekali itu menarik napas panjang dan mengangguk-angguk.
"Sebaiknya memang demikian. Sudah terlampau lama rahasia itu tersimpan di antara keturunan kami sehingga menjadi beban yang amat menggelisahkan, dan sekarang setelah terdapat keturunan majikan kami yang tepat untuk mewarisi ilmu dan pusaka dari Pendekar Suling Emas, sudah sepatutnya pula kalau rahasia ini kubuka saja di depan orang-orang gagah."
Mereka semua mendengarkan penuh perhatian terutama sekali Kian Lee karena pemuda ini pernah mendengar riwayat keluarga Suling Emas yang diceritakan oleh orang tuanya di Pulau Es.
Bahkan sebetulnya, di antara leluhurnya dan keluarga Suling Emas terdapat hubungan yang amat dekat, yaitu antara nenek moyang keluarga Suma dan nenek moyang keluarga Kam.
Hanya sayangnya, di antara keluarga Suma, yaitu nenek moyangnya, muncul banyak orang-orang jahat yang mengganggu keluarga Kam yang terkenal gagah perkasa itu.
Bahkan kehancuran keluarga Kam sejak Menteri Kam Liong, adalah karena hasil perbuatan jahat dari seorang she Suma, yaitu Suma Kiat, kakek buyut dari ayahnya sendiri!
Dengan perasaan bersalah pemuda Pulau Es ini mendengarkan, dan dia maklum bahwa adiknya, Kian Bu tentu sengaja tidak mau muncul karena merasa tidak enak terhadap Sin-siauw Seng-jin, dan memang benarlah dugaan Kian Lee ini.
Kian Bu yang tadinya bengong di dalam ruangan menghadapi gambar dari Menteri Kam Liong di waktu muda, Menjadi terkejut ketika mengetahui bahwa yang datang bersama orang-orang itu adalah Sin-siauw Seng-jin!
Dia merasa tidak enak untuk keluar, takut kalau-kalau kakek yang belum lama ini dikalahkannya akan merasa malu dan penasaran sehingga akan terjadi bentrok antara mereka.
Tentu saja dia tidak menghendaki hal ini karena kalau terjadi demikian, dia merasa sungkan sekali kepada Sai-cu Kai-ong yang begitu baik.
Maka diam-diam dia pun mendengarkan dari balik pintu ruangan.
Sin-siauw Seng-jin mulai dengan penuturannya.
Kakek besarnya, Gu Toan bekas pelayan setia dari Menteri Kam Liong (baca cerita serial Suling Emas, Cinta Bernoda Darah, Mutiara Hitam, Istana Pulau Es dan selanjutnya), menyelamatkan pusaka-pusaka Suling Emas dan membawa jenazah Menteri Kam Liong dan muridnya she Khu, Menguburkan mereka di tanah pekuburan keluarga Suling Emas.
Gu Toan lalu menjadi penjaga kuburan dan diam-diam dia memperdalam ilmu-ilmunya dari kitab-kitab pusaka Suling Emas yang berada di tangannya, sehingga dia menjadi seorang yang lihai sekali.
Dia khawatir bahwa pusaka-pusaka itu tentu akan dicari dan diperebutkan orang-orang pandai, maka dia menyimpannya di tempat rahasia, dan dia telah membuat beberapa buah suling dan kipas palsu, juga kitab-kitab palsu yang dikutipnya dari yang aseli, lalu menyimpan pusaka-pusaka palsu itu di beberapa tempat.
Hal ini dilakukannya untuk menjaga keamanan yang aseli dan memang dugaannya tidak meleset karena banyak orang pandai yang mencari pusaka itu sehingga beberapa pusaka palsu itu dirampas orang.
Akan tetapi pusaka yang aseli tetap di dalam kekuasaannya, disimpan di tempat aman dan rahasia, dan hanya diketahui oleh dia sendiri dan seorang puteranya yang sengaja dia singkirkan jauh-jauh dan tidak diakuinya sebagai anak secara terbuka agar jangan ada yang tahu bahwa Gu Toan mempunyai seorang anak laki-laki!
Semua ini dilakukan untuk menjaga keselamatan anaknya berikut pusaka-pusaka itu.
Dan akhirnya, seperti yang telah dikhawatirkannya pula, Gu Toan tewas di tangan seorang di antara mereka yang memperebutkan pusaka itu.
Akan tetapi pusaka Suling Emas yang aselinya selamat bersama anaknya yang juga menyembunyikan diri, bahkan tidak berani mengaku she Gu!
Mendengar penuturan sampai di sini, Kian Lee terbelalak dan mukanya menjadi merah.
Ibunya yang dulu bernama Lulu, ternyata telah "mewarisi"
Kitab-kitab Suling Emas yang palsu!
Kitab-kitab itu diambilnya dari kuburan keluarga Suling Emas seperti yang ditunjukkan oleh Gu Toan sendiri ketika kakek bongkok ini diserang orang yang lihai.
Jadi kiranya ibunya itu pun hanya memperoleh yang palsu saja, dan agaknya hal itu disengaja oleh Gu Toan untuk mengalihkan perhatian orang-orang yang memperebutkan pusaka itu ke arah lain.
Dan juga ibu tirinya, Puteri Nirahai yang meminjam senjata pusaka suling emas dari kakek Gu Toan, hanya menerima suling yang palsu saja, biarpun benar-benar terbuat dari emas!
Ah, kiranya ibu kandungnya dan ibu tirinya, dua orang wanita perkasa yang memiliki kesaktian hebat, isteri-isteri dari ayahnya, Pendekar Super Sakti, telah dikelabui oleh kakek Gu Toan, bekas pelayan Menteri Kam Liong itu!
"Betapa berat tugas nenek moyang kami...."
Sin-siauw Seng-jin melanjutkan penuturannya dan kakek ini kelihatan lelah sekali.
"Bukan hanya kami tidak lagi menggunakan nama keturunan kami she Gu agar jangan dikejar-kejar orang, juga kami harus menjaga pusaka itu dengan taruhan nyawa, mempelajari kitab-kitab yang amat sukar itu...."
Kembali dia kelihatan lelah sekali dan menarik napas panjang.
"Itu masih belum berapa sukar. Yang lebih sukar lagi, menjaga dan mengikuti perkembangan keturunan dari Pendekar Suling Emas, keturunan she Kam dan meneliti kalau-kalau lahir seorang anak laki-laki yang berbakat dalam keluarga Kam itu agar kami dapat mengembalikan pusaka kepadanya."
Kian Lee yang mempunyai dugaan bahwa Siauw Hong mempunyai hubungan erat dengan urusan itu, mengerling dan dia melihat Siauw Hong duduk seperti arca sambil menundukkan kepalanya, hanya mendengarkan tanpa berani memandang kepada kakek Sin-siauw Seng-jin atau kepada gurunya, Sai-cu Kai-ong.
"Sungguh amat luar biasa dan amat menyukarkan kami selama beberapa keturunan ketika ternyata bahwa keturunan keluarga Kam tidak ada yang berbakat dalam ilmu silat! Kami tidak boleh memaksa, dan kami harus meneliti bakat mereka tanpa membuka rahasia mereka. Akan tetapi selama beberapa keturunan ini, keluarga she Kam hanya menjadi sastrawan, petani, atau pedagang. Tidak ada seorang pun yang memiliki bakat baik dalam ilmu silat. Kesukaran kami ini, juga rahasia kami sebagai keturunan she Gu yang melanjutkan tugas nenek moyang kami Gu Toan sebagai pelayan setia keluarga Kam, tidak diketahui oleh lain orang, kecuali oleh keluarga Yu inilah yang selalu membantu kami, dan keluarga Yu sudah kami percaya sepenuhnya sebagai keturunan dari tokoh-tokoh Khong-sim Kai-pang, sahabat baik dari keturunan keluarga Kam, semenjak jaman Menteri Kam Liong, yaitu Locianpwe Yu Siang Ki."
Kakek tua itu berhenti sebentar, kemudian dia mengerling kepada Siauw Hong yang masih mendengarkan sambil menundukkan mukanya.
"Kam-kongcu, bolehkah saya melanjutkan?"
Tanyanya kepada pemuda itu dengan sikap hormat.
Semua orang terkejut mendengar ini, Kian Lee memandang tajam wajah pemuda yang pernah menjadi "rekannya"
Ketika dia menyamar dan memasuki sayembara sehingga terpilih menjadi pengawal Gubernur Ho-nan dalam usahanya menyelidiki Pangeran Yung Hwa tempo hari.
Kiranya pemuda ini she Kam, keturunan dari pendekar sakti Suling Emas!
Dia melihat Siauw Hong bangkit dan menjura ke arah Sin-siauw Seng-jin dan Sai-cu Kai-ong, lalu dia berkata dengan suara lantang dan tenang.
"Budi keluarga Gu yang dilimpahkan kepada keluarga saya sudah setinggi langit dan sedalam lautan, demikian pula dengan budi dari Suhu. Oleh karena itu, saya hanya menyerahkan kepada kebijaksana-an Locianpwe dan Suhu saja."
Setelah memberi hormat dia lalu duduk kembali dengan tubuh tegak dan kini Kian Lee melihat bahwa wajah pemuda itu memang selain tampan juga mengandung kegagahan yang mengagumkan, yang terselimut dan tersembunyi di dalam kesederhanaannya.
Maka dia merasa kagum sekali.
Sin-siauw Seng-jin lalu melanjutkan penuturannya dengan suara tenang dan lambat.
"Setelah menanti sampai beberapa keturunan dengan sia-sia, akhirnya saya menemukan bakat itu di dalam diri Kam Siauw Hong, Kongcu ini. Dialah yang berhak untuk mewarisi seluruh ilmu dari nenek moyangnya. Karena saya sendiri masih terikat sumpah tidak akan turun gunung selama belum berhasil menyempurnakan ilmu-ilmu dari keluarga Suling Emas, dan agar Kam-kongcu memperoleh kesempatan memperluas pengetahuannya, maka untuk memberi pelajaran dasar ilmu-ilmu silat tinggi, saya mempercayakannya kepada sahabat saya yang saya percaya penuh, yaitu Sai-cu Kai-ong. Dan bagi engkau juga, Kam-kongcu, sekarang hendak saya bukakan rahasia yang selama ini tidak Kongcu ketahui. Kai-ong, harap kau lanjutkan ceritaku tentang pertunangan itu."
Sai-cu Kai-ong menarik napas panjang dan memandang muridnya.
"Siauw Hong, betapapun juga engkau harus bersyukur bahwa keturunan keluarga Gu amat setia kepada keluargamu sehingga dahulu timbul akalnya untuk menyerahkan engkau kepadaku karena memang banyak tokoh kang-ouw yang selalu menyelidiki pusaka Suling Emas dan tentu akan mengganggumu kalau ada yang tahu bahwa engkau keturunannya. Ketahuilah, ketika engkau masih kecil, sebelum dititipkan kepadaku untuk menjadi muridku, dengan persetujuan kami berdua, telah diikat tali perjodohan antara engkau dan cucuku, yaitu Yu Hwi yang kutitipkan kepada Sin-siauw Seng-jin agar dididik dengan dasar ilmu-ilmu silat tinggi pula. Engkau tahu bahwa semenjak kecil, ayah bundamu telah meninggal dunia karena sakit, engkau hidup sebatangkara dan karena itu kami berdua berani mengambil keputusan tentang tali perjodohan itu agar hubungan baik antara keluarga Kam dan keluarga Yu menjadi makin erat dan berubah menjadi keluarga."
Kakek berpakaian sederhana itu menarik napas panjang.
Siauw Hong mengerutkan alisnya, memandang ke arah gurunya dan kepada Sin-siauw Seng-jin, nampaknya dia terkejut bukan main bahwa di luar tahunya, dia telah dijodohkan dengan seorang gadis semenjak dia masih kecil dan belum tahu apa-apa.
Akan tetapi, karena memang dia sudah tidak berkeluarga dan sejak kecil dia menerima budi kedua orang tua itu, maka dia tidak berkata apa-apa, lalu menunduk kembali.
Sai-cu Kai-ong dapat meraba isi hati pemuda itu, maka dia berkata lagi.
"Maafkan kami, muridku. Percayalah bahwa kami melakukan hal itu demi kebaikanmu dan demi memperkuat tali perhubungan antara keturunan keluarga Kam dan Yu. Tunanganmu itu, ialah cucuku yang bernama Yu Hwi, sejak kecil sekali kuserahkan kepada Sin-siauw Seng-jin untuk dididik. Akan tetapi, seperti yang telah dia ceritakan tadi, terjadi malapetaka. Dia diculik orang dan sampai sekarang belum diketahui berada di mana, masih hidup ataukah sudah mati...."
Kakek itu berhenti sebentar, mukanya menjadi pucat.
"Kai-ong, harap kau maafkan aku...."
Sin-siauw Seng-Jin berkata pilu. Lalu dia berkata kepada Siauw Hong.
"Kam-kongcu, sekarang tiba saatnya engkau harus menggembleng diri dengan ilmu-ilmu peninggalan nenek moyangmu, dan saya akan menurunkan semua ilmu itu. Setelah Kongcu mempelajarinya dan mudah-mudahan Kongcu lebih cocok sehingga dapat menguasainya dengan sempurna, tidak seperti saya yang bodoh, maka sudah menjadi kewajiban Kongcu untuk pergi mencari tunangan Kongcu itu sampai dapat. Kalau tidak demikian, maka selama hidup kita akan berhutang kepada keluarga Yu...."
Melihat wajah Sia-cu Kai-ong yang pucat, dan melihat kedukaan Sin-siauw Seng-jin, bangkit semangat Siauw Hong.
Dia maklum bahwa mereka berdua itu selalu berusaha demi kebaikannya, maka ikatan jodoh itu pun dia terima dengan hati rela.
"Baiklah, Locianpwe. Saya akan mengerahkan seluruh semangat saya untuk mempelajari ilmu-ilmu itu. Suhu, harap jangan khawatir, teecu kelak akan mencari Yu Hwi sampai dapat! Teecu bersumpah!"
Sepasang mata kakek itu menjadi basah, akan tetapi mulutnya tersenyum.
"Manusia boleh saja berusaha, namun Tuhan yang kuasa, muridku. Kalau memang Yu Hwi masih hidup, tentu dia sewaktu-waktu akan dapat bertemu dengan kita. Dan kalau toh sudah meninggal dunia, kita harus dapat menemukan kuburannya agar tali perjodohan itu dapat membebaskan dirimu dan engkau berhak untuk berjodoh dengan orang lain."
"Tidak! Saya merasa yakin bahwa dia tidak akan dibunuh oleh penculiknya. Kalau memang penculik itu menghendaki nyawanya, mengapa tidak dibunuhnya dia seketika itu juga?"
Sin-siauw Seng-jin berkata hampir berteriak. Melihat ini, Ceng Ceng lalu berkata.
"Saya berjanji akan bantu mencarinya. Namanya Yu Hwi, apakah dia mempunyai ciri-ciri yang khas?"
"Saya juga berjanji akan bantu mencarinya!"
Kian Lee berkata pula.
Jenderal Kao Liang dan dua orang puteranya, walaupun di dalam hatinya juga merasa kasihan, namun diam saja karena mereka maklum bahwa tidak mungkin mereka akan dapat membantu, karena mereka sendiri masih bingung kehilangan seluruh keluarga mereka yang diculik orang.
Bahkan mantunya, seperti telah diceritakan oleh mantunya kepadanya, telah kehilangan puteranya yang juga diculik orang, akan tetapi kini mantunya menjanjikan bantuannya untuk ikut mencari Yu Hwi.
Dia mengenal watak mantunya, seorang pendekar wanita yang sakti, maka dia hanya mendengarkan dengan kagum.
Sin-siauw Seng-jin dan Sai-cu Kai-ong menjura kepada Kian Lee dan Ceng Ceng.
"Terima kasih atas kebaikan Ji-wi,"
Kata Sin-siauw Seng-jin.
"Di dagu Yu Hwi, sebelah kiri, terdapat sebintik tahi lalat hitam, itulah cirinya yang paling mudah dikenal,"
Kata Sai-cu Kai-ong dan Sin-siauw Seng-jin mengangguk membenarkan.
"Kalau begitu, adikku Kai-ong, perkenankan saya pergi dan mengajak Kam-kongcu agar dia dapat cepat mewarisi ilmu-ilmu keturunan keluarganya,"
Tiba-tiba Sin-siauw Seng-jin berkata sambil bangkit berdiri.
"Memang sebaiknya begitulah, kakakku yang baik. Aku sendiri pun akan segera berusaha mencari cucuku yang hilang,"
Jawab Sai-cu Kai-ong.
"Siauw Hong, kau ikutlah bersama Sin-siauw Seng-jin dan berbahagialah muridku, karena engkau akan mewarisi ilmu dari keluargamu yang mujijat, yang semenjak ratusan tahun selalu dicari dan diperebutkan oleh seluruh dunia persilatan."
Siauw Hong lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek pengemis itu.
"Teecu menghaturkan banyak terima kasih atas segala budi kebaikan yang Suhu limpahkan kepada teecu."
Sai-cu Kai-ong tersenyum dan mengangkat bangun muridnya.
"Berlatihlah baik-baik, muridku, agar kelak aku boleh berbangga hati bahwa engkau pernah menjadi muridku."
Siauw Hong lalu memberi hormat kepada semua orang dan pergilah orang muda keturunan Suling Emas ini mengikuti Sin-siauw Seng-jin, bersama rombongan murid-muridnya yang mengikuti dari belakang.
Setelah Suling Sakti dan para muridnya itu pergi, Ceng Ceng lalu menceritakan pertemuannya dengan Syanti Dewi kepada Kian Lee, didengarkan pula oleh Jenderal Kao dan dua orang puteranya, dan juga oleh Sai-cu Kai-ong.
"Sungguh kasihan sekali Enci Syanti,"
Kata Ceng Ceng.
"Entah bagaimana nasibnya demikian terlunta-lunta selalu, setelah dia baik-baik kembali ke istana orang tuanya di Bhutan, tahu-tahu kini dia berada di sini pula, dan bahkan dia telah diculik seorang yang belum kuketahui siapa."
Dia menceritakan pertempurannya melawan See-thian Hoat-su di dalam gelap, pertempuran yang terjadi karena salah pengertian dan selagi mereka bertempur, Syanti Dewi lenyap dibawa orang.
Kian Bu mendengarkan dan dia terkejut bukan main.
seakan-akan tersentuh kembali bekas luka di hatinya mendengar itu.
Mengapa Syanti Dewi berada di daerah ini?
Dan siapa yang menculiknya?
Bagaimana dengan Ang Tek Hoat?
Teringatlah Kian Bu akan ibu kandung Tek Hoat yang terbunuh oleh perwira Bhutan.
Apakah ada hubungannya dengan kepergian Syanti Dewi meninggalkan Kerajaan Bhutan?
Kian Bu lalu menghampiri sebuah meja, membuat coretan-coretan dengan alat tulis di atas kertas, meninggalkan kertas tulisannya itu di atas meja, kemudian dia menyelinap pergi dengan diam-diam.
Setelah bercakap-cakap dan menceritakan pengalaman masing-masing, mereka lalu mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan tempat itu di hari itu juga.
Kian Lee yang melihat bahwa sin-siauw Seng-jin tidak ada lagi di situ akan tetapi adiknya belum juga muncul, segera mencarinya.
Akan tetapi, ternyata Kian Bu tidak ada lagi di ruangan itu dan dia hanya menemukan sehelai suratnya..Lee-ko, Banyak sekali tugas menanti kita.
Karena banyaknya, sebaiknya kalau kita berpisah dan masing-masing melaksanakan satu tugas.
Aku lebih dulu akan pergi menyelidiki dan mencari Syanti Dewi.
Adikmu, KIAN BU Kian Lee menyimpan surat itu di dalam saku bajunya dan menarlk napas panjang.
Dia merasa kasihan sekali kepada adiknya itu dan maklumlah dia bahwa diam-diam Kian Bu masih belum dapat melupakan Syanti Dewi.
Karena itu, tidaklah mengherankan apabila Kian Bu yang agaknya tadi mendengar penuturan Ceng Ceng, lalu diam-diam cepat pergi untuk mencari dan menolong puteri itu!
Mereka semua lalu pergi.
Ceng Ceng pergi bersama ayah mertuanya dan dua orang adik iparnya, meninggalkan tempat itu untuk pergi ke kota Pao-ting di mana dia sudah berjanji akan bertemu dengan suaminya yang mencari-cari jejak anak mereka dari lain jurusan.
Kian Lee juga pergi dan karena dia tidak tahu ke mana perginya Kian Bu, maka dia teringat akan wanita yang mencuri pusaka-pusaka dari Sin-siauw Seng-jin, yang agaknya tentu pusaka-pusaka palsu pula mengingat akan penuturan Sin-siaw Seng-jin sendiri betapa nenek moyangnya banyak memalsukan pusaka-pusaka itu untuk mencegah yang aseli dicuri orang.
Bukankah Kian Bu telah berjanji akan mendatangi tempat gadis pencuri itu di pantai Po-hai?
Sebaiknya kalau dia mewakili adiknya mencari gadis pencuri itu di pantai Po-hai, di teluk sebelah utara.
Siapa tahu, kalau-kalau Kian Bu juga pergi ke sana.
Tadinya dia ingin mernbantu Jenderal Kao, akan tetapi setelah ada Ceng Ceng dan suaminya, yang dia tahu amat sakti, tidak perlu lagi dia membantu dan kalau dia tidak berhasil bertemu dengan adiknya, dia akan terus mencari atau akan kembali ke Pulau Es melapor kepada ayahnya.
Sai-cu Kai-ong juga pergi meninggalkan tempat tinggalnya untuk mulai mencari cucunya yang hilang pula.
Biarpun Ceng Ceng dan Kian Lee sudah berjanji untuk membantu mencari cucunya, dia tidak puas kalau dia sendiri tidak ikut mencari.
Dia tahu betapa sukarnya mencari seseorang tanpa mengetahui di mana adanya cucunya itu, yang sama sekali tidak meninggalkan jejak dan hilangnya sudah lima belas tahun yang lalu!
"Ayah, ke manakah kita pergi?
Apakah akan kembali ke Pulau Neraka?"
Tanya Hwee Li kepada ayahnya ketika mereka dibawa terbang di atas punggung garudanya.
"Tidak, Hwee Li. Pulau Neraka terlalu jauh dan aku sudah tidak suka tinggal di tempat buruk itu. Aku malah tidak mau kembali lagi ke sana."
"Kalau begitu, kita pergi ke mana?"
"Ke tempatku yang baru."
"Di mana itu, Ayah?"
"Ha-ha, kau sudah pernah mengunjunginya. Di lembah Huang-ho."
"Lembah Huang-ho?"
Dara itu mengerut-kan alisnya, mengingat-ingat.
"Maksudmu di sarang Huang-ho Kui-liong-pang?"
"Ha-ha-ha, engkau memang anakku yang amat cerdik. Benar di sana. Tempat indah itu menjadi tempat tinggal kita yang baru."
"Eh, bukankah di sana tinggal ketua Kui-liong-pang, musuh besar Ayah sendiri, yaitu Hek-hwa Lo-kwi?"
"Hemmm, dalam hal ini engkau masih bodoh dan tidak mengerti, anakku. Ada waktunya menjadi musuh, ada pula waktunya menjadi sahabat, semua disesuaikan dengan waktu dan keadaan. Ha-ha-ha!"
Hwee Li paling tidak suka melihat ayahnya tertawa.
Kalau ayahnya bersikap biasa, maka ayahnya kelihatan sebagai seorang raksasa yang berwibawa.
Akan tetapi kalau sudah tertawa dan kelihatan gigi yang bertaring itu, dia merasa jijik dan malu.
Kalau tertawa, ayahnya amat menyeram-kan seperti iblis saja, atau seperti seekor binatang buas!
"Kenapa Ayah tinggal di tempat orang lain!"
"Hek-hwa Lo-kwi bukan orang lain, anakku. Dia seorang sekutu!"
"Hemmm, agaknya Ayah sudah main-main lagi dengan persekutuan. Apakah Ayah tidak jera setelah mengalami kegagalan ketika Ayah membantu pemberontak she Liong dahulu itu? Hampir saja Ayah celaka dan kehilangan banyak anak buah."
"Hemmmm, sekali ini lain lagi persoalannya, anakku. Bukan pemberontak biasa yang kubantu, melainkan seorang pangeran tulen, dari kerajaan besar Nepal."
"Ahhh.... Ayah maksudkan orang she Liong itu? Peranakan Nepal putera mendiang Pangeran Liong Khi Ong itu?"
"Benar, murid dari Ban Hwa Seng-jin, Koksu Nepal yang sakti. Dia seorang muda yang amat pandai, seorang calon kaisar yang amat hebat, heh-heh-heh!"
"Dan aku amat benci padanya!"
Tiba-tiba Hwee Li berkata.
"Ehhh, mengapa, anakku?"
"Kulitnya hitam coklat...."
"Menambah manis dan jantan!"
"Hidungnya meleng-kung...."
"Tanda dia bernafsu besar dan kuat, heh-heh!"
"Matanya cekung...."
"Itu menunjukkan bahwa dia memiliki kecerdikan...."
"Ah, pendeknya aku tidak suka kepadanya. Pandang matanya cabul dan genit, Ayah. Aku sudah ingin menamparnya ketika kami bertemu di sana dan dia meman-dangku dengan mata seolah-olah hendak menelanjangiku. Huh!"
"Ha-ha-ha, begitulah kalau seorang pria sudah jatuh cinta! Dan pria mana yang tidak akan tergila-gila kepada anakku yang cantik jelita dan manis ini? Haha-ha!"
"Ah, aku tidak suka kalau Ayah bicara seperti itu!"
Hwee Li bersungut-sungut dan menjambak bulu di leher garudanya sehingga garuda itu memekik kesakitan dan terbang makin cepat lagi.
Ayahnya hanya tertawa-tawa akan tetapi tidak bicara lagi karena maklum bahwa puterinya masih marah-marah.
Benarkah ucapan Hek-tiauw Lo-mo, ayah Hwee Li itu, bahwa dia kini telah menjadi sekutu dari Hek-hwa Lo-kwi ketua Huang-ho Kui-liong-pang di lembah Huang-ho?
Di dalam cerita Kisah Sepasang Rajawali telah dituturkan betapa dahulu, Hek-tiauw Lo-mo pernah bermusuhan secara hebat dengan Hek-hwa Lo-kwi.
Hek-hwa Lo-kwi dahulu bernama Thio Sek, seorang pelayan dari manusia dewa yang amat terkenal sebagai penghuni Istana Gurun Pasir dan dikenal sebagai Go-bi Bu Beng Lojin atau juga Si Dewa Bongkok.
Sebagai pelayan manusia sakti ini, tentu saja Hek-hwa Lo-kwi juga memiliki kepandaian tinggi.
Pada suatu hari, munculiah Hek-tiauw Lo-mo untuk mencuri kitab pusaka milik Si Dewa Bongkok.
Dengan hekerja sama bersama Thio Sek, berhasiliah dua orang ini mencuri sebuah kitab pusaka tentang ilmu pukulan beracun.
Keduanya lalu melarikan kitab itu, akan tetapi, di tengah jalan mereka bercekcok dan saling memperebutkan kitab.
Mereka bertanding dan karena keduanya memiliki tingkat kepandaian yang seimbang, akhirnya mereka menguasai seorang separoh dari kitab yang terobek dalam perebutan itu.
Mereka mempelajari bagian masing-masing dan sampai bertahun-tahun menjadi musuh, akan tetapi keadaan mereka selalu seimbang.
Dua orang yang tadinya menjadi kawan ketika maling kitab, berubah menjadi musuh.
Akan tetapi kini, dengan munculnya Liong Bian Cu, Pangeran Nepal yang pandai menarik hati orang-orang kang-ouw itu, mereka menjadi sekutu lagi.
Sekali ini, keduanya yang sudah merasa tua ingin sekali memperoleh kedudukan, mengandalkan kedudukan Pangeran Nepal itu, agar mereka kelak akan mengakhiri kehidupan mereka sebagai pembesar-pembesar terhormat!
Ketika Hek-tiauw Lo-mo mengunjungi lembah itu, tadinya dengan maksud menentang Hek-hwa Lo-kwi, dia bertemu dengan Liong Bian Cu, Ban Hwa Sengjin dan para pembantu pangeran itu.
Liong Bian Cu berhasil membujuk Hek-tiauw Lo-mo dan akhirnya Hok-tiauw Lo-mo terpikat pula, bahkan lalu masuk dalam persekutuan itu, apalagi ketika dia melihat betapa keadaan Liong Bian Cu sebagai pangeran dan sebagai murid Koksu Nepal, amatlah kuatnya.
Dia mendengar bahwa puterinya telah mewakili dia mengunjungi lembah itu, dan giranglah hatinya ketika dalam pembicaraannya dengan Pangeran Nepal itu, dia mendengar bahwa pangeran itu ternyata amat tertarik dan agaknya jatuh hati kepada puterinya!
Kalau saja dia dapat menjadi mertua dari Pangeran Nepal ini.
Dan kelak, kalau pangeran ini menjadi Raja Nepal, dia menjadi mertua raja!
Apalagi kalau pangeran ini berhasil menjadi kaisar, dia menjadi mertua kaisar.
Pangkat dan kemuliaan apalagi yang dapat lebih tinggi lagi daripada itu?
Maka dia lalu berpamit dari lembah dan pergi untuk mencari puterinya, dengan satu tujuan di dalam benaknya, yaitu dengan cara apa pun dia akan menyerahkan puterinya kepada Liong Bian Cu sebagai Isterinya!
Beberapa orang anak buahnya membantunya mencari Hwee Li!
dan akhirnya dia menemukan puterinya itu di tempat tinggal Sai-cu Kai-ong.
Atas petunjuk Hek-tiauw Lo-mo, Hwee Li menyuruh garudanya menukik turun.
Dari atas dia sudah melihat lembah itu dan dia memandang heran.
Lembah yang dikenalnya sebagal tempat tinggal atau sarang Hek-hwa Lo-kwi itu kini telah berubah.
Masih sukar untuk didatangi dari darat tanpa melalui jalan rahasia, akan tetapi kini dari atas nampak betapa lembah itu telah dikurung air!
Ternyata bahwa air yang meluap dan membanjiri lembah akibat ledakan-ledakan alat peledak Siluman Kucing dahulu itu, telah membentuk genangan air seperti telaga di sekitar lembah dan oleh Hek-hwa Lo-kwi, air itu malah dipergunakan untuk memperkuat bentengnya.
Dengan adanya air yang mengurung lembah itu, maka makin sukarlah bagi orang luar untuk dapat menyerbu ke lembah.
Mereka harus lebih dulu menyeberangi air yang lebarnya lebih dari dua puluh tombak itu, Air yang cukup dalam karena oleh Hek-hwa Lo-kwi telah digali dan diperdalam dan tidak ada jembatan yang menghubungkan lembah dengan seberang air seperti sungai atau telaga itu.
Garuda itu menukik turun dan akhirnya hinggap di atas tanah di depan bangunan besar yang menjadi tempat tinggal Hek-hwa Lo-kwi.
Dari atas sudah nampak banyak orang berdiri di luar bangunan itu menyambut kedatangan ayah dan anak yang aneh itu.
Ketika Hwee Li dan ayahnya meloncat dari atas punggung garuda, dara ini memutar tubuh dan memandang.
Alisnya berkerut ketika wajah pertama yang dilihatnya justeru adalah wajah yang amat dibencinya, wajah Liong Bian Cu sendiri!
Laki-laki yang tinggi tegap ini memakai pakaian indah, dan dia sudah menjura dengan hormatnya dan tersenyum penuh keramahan kepada Hwee Li.
"Hek-tiauw Lo-mo locianpwe, sungguh mengagumkan sekali betapa dalam waktu singkat Locianpwe dapat menemukan puterimu!"
Katanya kepada Hek-tiauw lo-mo yang tertawa bergelak penuh kebanggaan.
"Nona Hwee Li, selamat datang di lembah dan mudah-mudahan engkau tadi menikmati perjalanan menyenangkan sekali,"
Katanya kepada Hwee Li sambil tersenyum.
Giginya putih dan rata, hidungnya yang agak melengkung itu bergerak-gerak.
Sesungguhnya pria ini cukup tampan dan juga gagah sekali, akan tetapi entah mengapa, Hwee Li merasa tidak suka kepadanya.
Agaknya hal itu ditimbulkan oleh pandang mata yang memang jalang dan menembus itu, yang terpancar dari sepasang mata yang cekung dan tajam bukan main.
"Hemmm....!"
Hwee Li hanya mengeluarkan suara dari hidungnya tanpa menjawab.
"Hwee Li, engkau diajak bicara oleh Pangeran. Jawablah, jangan membikin malu Ayahmu seolah-olah engkau tidak pernah dididik kesopanan!"
Kata Hek-tiauw Lo-mo kepada puterinya.
Makin dalam kerut pada alis dara itu.
Dia merasa makan tidak senang dan juga terheran-heran.
Sejak kapankah ayahnya menjadi seorang penjilat dan seorang yang mengenal kesopanan?
Biasanya, dahulu dia yang sering kali merasa malu karena ayahnya adalah seorang yang sama sekali tidak mempedulikan tata susila atau sopan santun!
Karena di situ terdapat banyak orang, dan tentu, saja dia tidak mau membikin malu ayahnya, maka dia lalu balas menjura kepada pangeran itu dan berkata dengan suara kaku.
"Terima kasih, Ayahku memaksa aku berkunjung ke sini, mudah-mudahan tidak mengganggu siapa pun!"
Sambil berkata demikian, dia melirik kepada Hek-hwa Lo-kwi yang dia tahu adalah tuan rumahnya.
Kembali dia terheran-heran, karena Hek-hwa Lo-kwi hanya mengangguk sambil tersenyum saja sedangkan yang menjawabnya adalah pangeran itu.
"Ha-haha.... tidak sama sekali, Nona! Saya percaya bahwa Hek-hwa Lo-kwi locianpwe bahkan akan merasa terhormat dan girang dengan kunjunganmu ini. Siapa yang tak kan merasa terhormat dan gembira menerima kunjungan seorang seperti engkau, Nona? Nona tentu telah merasa lelah sekali, maka silakan Nona beristirahat di kamar yang telah kami sediakan, menyegarkan diri baru kemudian kita makan dalam pesta yang kami selenggarakan untuk menyambut kedatangan Locianpwe Hek-tiauw Lo-mo dan Nona Kim Hwee Li!"
Pangeran itu bertepuk tangan dan munculiah empat orang pelayan wanita yang cantik-cantik. Mereka menjatuhkan diri berlutut di depan pangeran itu.
"Kalian antar Nona Hwee Li ke kamarnya dan layani baik-baik!"
Perintah pangeran itu.
"Silakan, Siocia...."
Seorang pelayan memberi hormat kepada Hwee Li.
Dara ini tadinya hendak menolak.
Tidak biasa dia diperlakukan seperti seorang puteri dan dilayani orang, akan tetapi ketika pandang matanya bertemu dengan mata ayahnya, dia melihat ayahnya menganggukkan kepala dan pandang matanya ayahnya itu seperti dia memaksanya.
Dengan gerakan marah dia memutar tubuh lalu mengikuti para pelayan itu memasuki gedung yang besar dan akhirnya dipersilakan masuk ke sebuah kamar yang amat indah.
Begitu masuk, Hwee Li terpesona.
Hebat bukan main kamar ini.
Selain besar dan luas, juga dihias seperti kamar seorang puteri istana saja layaknya.
Dia berdiri dan memandang ke kanan kiri.
Sebuah dipan berada di tengah kamar, dipan yang terbuat dari kayu indah terukir dan terhias emas dan permata, terletak di atas permadani merah yang tebal dan berbulu, permadani yang terhampar memenuhi kamar itu.
Di dekat pembaringan terdapat meja dengan empat kursinya dari kayu ukir-ukiran dan halus mengkilap amat indahnva, merupakan hassil seni ukir yang mentakjubkan.
Pot-pot bunga berukiran gambar naga dan burung dewata menghias sudut-sudut kamar dan di sebelah kiri nampak meja rias yang mungil, dengan piring cermin dari perak mengkilap tergantung di dinding, dan di atas meja itu nampak lengkap alat-alat rias seperti bedak, yan-ci (pemerah pipi), gincu, sisir, tusuk konde emas, minyak wangi dan sebagainya.
Dan dari pintu kecil di belakang yang menyambung dengan kamar itu, yang daun pintunya terbuka sedikit, nampak kolam mandi dari batu pualam!
Sebuah kamar yang amat indah dan mewah dan dari jendela yang bentuknya seperti bulan purnama dan terhias pot-pot bunga itu dia dapat melihat sebuah kamar kecil yang indah pula di luar kamar.
Benar-benar merupakan kamar seorang puteri raja!
"Siocia, mari kami bantu Siocia menanggalkan pakaian...."
"Biar kami membantu Siocia mandi...."
"Rambut Siocia kusut dan agak kotor terkena debu, perlu dikeramasi lalu disikat...."
Empat orang pelayan itu menghampir Hwee Li dan mengulurkan tangan hendak membantu dara itu agar menanggalkan pakaian untuk mandi.
Hwee Li membelalakkan matanya dan mengepal tinju, lalu menghardik.
"Pergi kalian dari sini!"
Empat orang pelayan itu terkejut, akan tetapi mereka telah menerima perintah dari majikan mereka untuk melayani nona ini sebaiknya.
"Siocia, kami...."
"Cukup! Cepat kalian menggelinding keluar dari kamar ini, kalau tidak, akan kulemparkan kalian satu demi satu!"
"Siocia...."
Mereka masih nekat.
Mereka adalah empat orang di antara para pelayan Pangeran Nepal itu dan mereka adalah pelayan-pelayan terlatih yang menguasai ilmu silat dan ilmu gulat, maka ancaman Hwee Li tidak membuat mereka takut.
Mereka sudah terlatih dah sudah biasa menghadapi dara cantik jelita yang dipersiapkan untuk melayani majikan mereka.
Dan biarpun mereka udah mendengar bahwa puteri Hek-tiauw Lo-mo ini memiliki kepandaian tinggi, mereka tidak khawatlr karena mereka mengira bahwa sepandai-pandainya seorang dara remaja seperti ini, mana mungkin dapat mengalahkan mereka berempat?
Apalagi mereka melihat bahwa Hwee Li begitu cantik dan masih begitu muda, dan mereka dapat melihat dari sikap Pangeran Liong Bian Cu bahwa pangeran itu benar-benar jatuh cinta kepada dara ini sehingga sebelum dara ini tiba pun kamar yang amat indah itu telah dipersiapkan olehnya!
Maka, mereka berempat tentu saja tidak mau meninggalkan Hwee Li, karena kalau mereka mampu membujuk sehingga dara ini dengan hati terbuka mau melayani majikan mereka, mau menerima cintanya, tentu mereka akan menerima ganjaran besar!
"Siocia, kami hanya membantu...."
"Cerewet!"
Bentak Hwee Li, dan dia menggerakkan tangan kirinya untuk mendorong.
Akan tetapi, dengan cepat wanita itu mengelak ke kanan dan tiba-tiba saja tangannya telah menangkap pergelangan tangan kiri Hwee Li.
Itulah gerakan seorang ahli gulat yang amat cekatan dan biarpun pelayan itu berlaku hati-hati sehingga tangkapannya tidak akan menyakitkan orang, namun jelas bahwa di bawah kulit telapak tangannya terkandung getaran tenaga yang kuat sehingga tangkapan itu pun erat sekali!
"Kalian mencari mampus!"
Hwee Li berseru ketika tiga orang pelayan yang lain juga sudah memegangnya dari kanan kiri dan belakang.
Tiba-tiba Hwee Li mengguncang tubuhnya sambil mengerahkan sinkangnya.
Tentu saja empat orang pelayan itu sama sekali bukan lawan puteri majikan Pulau Neraka ini.
Mereka terguncang dan pegangan mereka terlepas semua, kemudian sebelum mereka tahu apa yang menimpa mereka, tubuh mereka satu demi satu melayang keluar dari pintu kamar mewah itu.
Terdengar suara hiruk-pikuk ketika tubuh empat orang pelayan itu terbanting di luar kamar, diiringi keluhan dan rintihan mereka.
Tiba-tiba di luar pintu itu muncul Liong Bian Cu diiringi oleh Hek-tiauw Lo-mo.
Kakek raksasa itu memandang kepada puterinya dan menegur.
"Eh, Hwee Li, apa yang terjadi? Apa yang kau lakukan tadi?"
Kembali Hwee Li merasa terheran karena jelas bahwa di dalam pertanyaan ayahnya itu mengandung penyesalan terhadapnya dan terkandung rasa sungkan terhadap Sang Pangeran Nepal itu!
Diam-diam dia merasa muak dan marah.
Mengapa ayahnya menjadi seorang penjilat?
Mana kegagahan ketua Pulau Neraka?
"Mereka layak dihajar!"
Katanya tak acuh dan sama sekali tidak takut menghadapi Pangeran Nepal itu. Liong Bian Cu tersenyum lebar dan menjura, sikapnya halus memikat.
"Maaf, Nona. Apakah empat orang pelayan itu bersikap kurang ajar kepadamu? Apakah mereka tidak menyenangkan hatimu? Kalau begitu, katakanlah dan aku akan membunuh mereka atau menyiksa mereka di depan kakimu sekarang juga!"
Hwee Li cemberut.
Sikap ayahnyalah yang membuat dia marah, bukan sikap pangeran itu.
Kalau saja ayahnya tidak bersikap seperti itu, berubah sama sekali daripada biasanya, agaknya sikap pangaran ini akan menyenangkan hatinya juga.
Maka kemarahannya lalu dia lontarkan kepada pangeran itu dengan kaku dan kasar dia menjawab.
"Mereka adalah orang-orangmu. Mau siksa atau mau bunuh terserah, tiada sangkut-pautnya dengan aku!"
Lalu dia membuang muka, kedua pipinya merah dan terasa panas karena marahnya.
"Hwee Li!"
Ayahnya membentak marah.
"Pangeran telah bersikap demikian hormat dan ramah kepadamu, pantaskah sikap dan jawabanmu ini?"
Hwee Li menoleh kepada ayahnya.
Mereka saling pandang dan baru sekarang Hwee Li melihat pandang mata ayahnya kepadanya demikian penuh kemarahan.
Selamanya, pandang mata ayahnya kepadanya selalu lembut dan penuh kasih sayang, akan tetapi sekarang ayahnya memandangnya dengan mata melotot marah.
Hal ini amat menyakitkan hatinya dan tak terasa lagi dua titik air mata membasahi matanya!
"Sudahlah, Locianpwe, jangan marah kepadanya.
Nona Hwee Li, kalau para pelayanku tidak menyenangkan hatimu, biarlah aku yang minta maaf kepadamu!"
Sambil berkata demikian, pangaran itu benar-benar menjura kepada Hwee Li!
Diam-diam gadis ini terkejut dan merasa heran juga.
Pangeran ini ternyata seorang yang amat hormat kepadanya, sungguhpun pandang matanya amat menjijikkan dan membuat dia merasa seperti telanjang bulat kalau berhadapan dengan pangeran itu.
Melihat sikap yang amat hormat ini, juga amat merendah, padahal pemuda berusia tiga puluhan tahun ini benar-benar seorang pangeran yang kaya raya dan berpengaruh, pula melihat betapa ayahnya marah-marah kepadanya, maka kemendongkolan hatinya agaknya mereda.
Biarpun sikapnya masih acuh tak acuh, namun suaranya tidaklah sekaku dan sekasar tadi ketika dia berkata kepada Liong Bian Cu.
"Mereka tidak apa-apa, hanya aku tidak senang dilayani, aku ingin tinggal sendiri di kamar ini"
"Eh, begitukah? Baiklah, Nona."
Dia lalu menoleh kepada empat orang pelayan wanita yang sudah berlutut di situ dengan muka pucat dan sikap ketakutan.
Hwee Li percaya bahwa sekali dia bilang "mati", agaknya tak dapat diragukan lagi pangeran itu tentu akan membunuh mereka berempat!.
"Hei, dengarkan baik-baik kalian berempat! Kalian sama sekali tidak boleh masuk ke dala, kamar ini, melainkan siap di luar kamar dan baru masuk kalau Siocia memanggil dan membutuhkanmu. Mengerti?"
Empat orang itu lalu memberi hormat dengan dahi menyentuh lantai.
"Nah, beristirahatlah, Nona Hwee Li. Sebentar lagi kita bertemu lagi di ruang dalam, di mana akan diadakan pesta perjamuan makan untuk menyambut kedatanganmu."
Pangeran itu menjura lagi lalu pergi, diikuti oleh Hek-tiauw Lo-mo yang melirik penuh desakan kepada puterinya.
Setelah mereka pergi, dan melihat empat orang.
pelayan itu masih berlutut di situ, Hwee Li menutupkan daun pintu keras-keras dengan hati mengkal.
Lalu dia menjatuhkan diri di atas pembaringan.
Kasur itu bergoyang-goyang naik turun, mengayun-ayun tubuhnya.
Ternyata pembaringan itu selain berkasur tebal juga dipasangi per sehingga amat enak di tiduri.
Hwee Li memejamkan matanya, lalu membukanya lagi, termenung.
Dia sungguh merasa penasaran dan heran melihat perubahan pada watak ayahnya.
Akan tetapi, ayahnya adalah seorang yang dikenalnya sebagai orang yang amat cerdik.
Tidak mungkin ayahnya menjadi penjilat.
Tentu ada apa-apa di balik semua sikap ayahnya itu.
Ayahnya sedang bersiasat!
Pikiran ini mengusir rasa penasaran di hatinya, dan tak lama kemudian wajah yang cantik itu telah berseri kembali.
Sepasang matanya bersinar-sinar ketika dia duduk di depan meja rias dan memandangi wajahnya sendiri.
Dia membuat berbagai gerakan dengan lehernya, menggerakkan kepalanya miring ke kanan dan ke kiri, lalu menggerak-gerakkan alisnya, matanya, hidungnya dan mulutnya.
Dia merasa huas.
Dia cantik memang!
Dan timbul rasa bangga di hatinya.
Pangeran hidung betet itu agaknya tergila-gila kepadanya!
Kini baru terasa olehnya betapa mesra pandang mata pangeran itu, betapa halus dan hormat sikapnya.
Bahkan pangeran itu tidak segan-segan untuk menjura dan minta maaf kepadanya untuk urusan kecil tadi!
Hwee Li adalah seorang gadis yang mempunyai watak lincah jenaka dan gembira, Maka dia tidak bisa lama-lama berada dalam keadaan marah atau berduka.
Sesaat kemudian dia sudah merendam tubuhnya di kolam mandi dan terdengar mulutnya bersenadung!
Setelah merasa tubuhnya segar sekali, dia keluar dari kolam, mengeringkan tubuhnya dengan kain bersih yang tersedia di situ, kemudian keluar dari kamar mandi, kembali ke dalam kamar dalam keadaan telanjang bulat.
Seperti seekor kijang muda dia melangkah kecil-kecil menuju ke depan meja rias, memutar-mutar tubuhnya yang telanjang di depan cermin perak, mengagumi bentuk tubuhnya sendiri yang padat dengan lekuk lengkung sempurna itu, kulitnya yang putih halus, mengagumi dadanya yang sebagian tertutup oleh rambutnya yang hitam halus, membayangkan bukit-bukit dadanya dan timbul kebanggaan di dalam hatinya.
Dia bagaikan setangkai bunga yang sedang mekar, bagaikan sebutir buah yang sedang meranum.
Kesadaran bahwa dia cantik dan memiliki tubuh yang indah, mendatangkan kebanggaan dan dia berjanji dalam hati tidak akan menyerahkan dirinya secara murah kepada siapa pun, apalagi kepada pangeran berhidung betet itu!
Ketika Hwee Li mengambil pakaiannya yang tadi ditanggalkannya dan ditumpuknya di atas pembaringan, alisnya berkerut.
Tubuhnya sudah segar dan bersih, akan tetapi pakaiannya itu sudah kusut dan kotor!
Dia teringat akan lemari yang berdiri di sudut kamar.
Dihampirinya lemari itu dan dibukanya.
Penuh dengan pakaian!
Pakaian wanita, serba indah dan semua terbuat daripada kain sutera yang mahal!
Dipilihya pakaian dalam dan celananya yang terbuat dari kain tipis licin berwarna merah muda, didekatkan kepada tubuhnya.
Ukurannya persis!
Dia terheran-heran.
Milik siapakah pakaian-pakaian ini?
Kenapa semua masih baru dan belum ada yang bekas?
Dan kenapa pula ukuran tubuh pemilik pakaian itu sama benar dengan ukuran tubuhnya?
Dipakainya pakaian dalam itu.
Dan memang benar dugaannya.
Persis betul seperti memang sengaja dibuat untuk dia!
Dipilihnya baju dan celana berwarna biru.
Dia paling suka memakai pakaian hitam, akan tetapi pakaian selemari itu tidak ada yang hitam, maka dia memilih yang biru tua, satu-satunya warna yang mendekati warna hitam.
Lalu dipakainya pula.
Ketika dia sedang menyisir rambutnya di depan kaca rias, daun pintunya terketuk dari luar.
Hwee Li mencelat kaget.
Dia merasa "berdosa"
Karena telah memakai pakaian orang lain dan tiba-tiba daun pintu terketuk, maka tentu saja dia kaget bukan main.
"Slapa?"
Bentaknya, karena dia mengira bahwa yang mengetuk pintu tentulah pangeran ceriwis itu, maka disambutnya lebih dulu dengan suara ketus.
"Hwee Li, bukalah pintunya. Aku mau bicara dengan-mu."
Suara ayahnya! Hwee Li lalu menghampiri pintu dan sebelum membukanya dia bertanya.
"Ayah datang dengan siapa? Kalau sendirian baru aku mau membuka pintu."
"Ha-ha-ha, anak bodoh. Tentu saja aku datang sendirian. Bukalah!"
Hwee Li membuka pintu dan ayahnya masuk ke dalam kamar sambil membelalakkan matanya, hidungnya yang besar berkembang-kempis dan dia memandang puterinya dengan sinar mata penuh kagum.
"Hemmm, harumnya! Dan kau begini segar, dan pakaian biru itu pantas sekali bagimu!"
"Ayah, aku lebih senang pakaian hitamku sendiri. Akan tetapi pakaianku kotor dan aku pinjam pakaian orang yang berada di dalam lemari itu...."
Dia menuding ke arah lemari di sudut.
"Pakaian orang? Ha-ha-ha, anak bodoh. itu adalah pakaianmu semua! Dan hal itu membuktikan kebaikan hati Pangeran Liong Bian Cu kepadamu, kepada kita! Sungguh, selama hidupku belum pernah aku bertemu orang sebaik dia. Selain kamar ini yang sudah dipersiapkan sebelum kau datang, juga pakaian-pakaian itu telah disuruhnya buat untukmu, Hwee Li"
"Ahhh....!"
Hwee Li terkejut sekali.
"Dia membuatkan pakaian untukku? Bagaimana bisa, begini pas ukurannya?"
"Ha-ha-ha, tentu. saja aku yang memberi tahu."
"Ayah! Kenapa Ayah begitu.... merendah kepadanya? Kalau ini pakaian yang sengaja dia buatkan untukku, biarlah aku memakai pakaianku sendiri!"
Hwee Li sudah memegang bajunya seperti orang hendak menanggalkannya.
"Eh, eh.... jangan begitu Hwee Li. Kau tidak tahu! Duduklah dan dengarkan kata-kataku."
Hwee Li menjadi girang.
Tepat dugaannya.
Tentu ada apa-apanya di balik sikap ayahnya yang seperti menjilat-jilat pangeran itu.
Maka dia lalu duduk menghadapi ayahnya, terhalang oleh meja berukir indah itu.
"Kau tidak tahu siapa Pangeran Liong Bian Cu. Dia adalah putera mendiang Pangeran Liong Khi Ong dan ibunya adalah Puteri Nepal, maka dia adalah cucu Raja Nepal sendiri! Dan siapa gurunya? Gurunya Adalah seorang manusia sakti yang tingkat kepandaiannya tinggi sekali, mungkin tidak kalah olehku, dan gurunya itu adalah koksu dari Nepal!" (Lanjut ke
Jilid 26) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 26
"Hemmm, aku sudah mendengar akan hal itu, Ayah. Lalu apa artinya bagi kita?"
Hwee Li menjawab dan bibirnya berjebi, memandang rendah pangeran itu.
"Artinya? Anak bodoh! Artinya, pangeran itu mempunyai kesempatan besar untuk menjadi Raja Nepal! Bukan itu saja, dia amat cerdik dan pandai, dengan mudahnya dia telah dapat menguasai Gubernur Ho-nan, dia mempunyai banyak pembantu yang amat lihai sehingga aku tidak ragu-ragu bahwa kelak dia akan berhasil menguasai daratan Tiongkok dan menjadi seorang kaisar!"
Hwee Li masih tersenyum mengejek.
"Hemmm, habis mengapa? Dia boleh jadi raja neraka sekalipun, apa hubungannya dengan kita?"
Ayahnya membelalakkan matanya sampai lebar sekali.
"Oooh-ho-hoh-ho! Engkau sungguh bodoh dan polos, tidak tahu apa-apa, anakku!"
"Tidak, Ayah. Aku tahu semua-nya. Aku tahu bahwa Ayah menjilat-jilat karena Ayah ingin memperolah kedudukan kelak di dekat pangeran itu. Bukan begitu?"
Hek-tiauw, Lo-mo mengepal tinjunya.
"Kau kira aku orang macam apa yang suka menjilat dan merendahkan diri begitu saja? Akan tetapi, aku makin tua, Hwee Li, dan selama ini aku hidup dalam dunia yang keras dan penuh dengan kesukaran, penuh kemiskinan dan kehinaan. Aku sudah tua. Aku ingin mati sebagai seorang yang terhormat dan mulia,seseorang yang berkedudukan tinggi. Aku tidak ingin kelak mati sebagai seorang liar dari Pulau Neraka. Tidak! Aku ingin mati meninggalkan nama sebagai seorang mulia, seorang bangsawan tinggi!"
"Hemmm, terserah kepada Ayah. Akan tetapi aku tidak sudi menjilat pangeran itu karena aku tidak menghen-daki apa-apa darinya, Ayah. Bahkan pakaian ini pun tidak!"
Berkata demikian, Hwee Li menyambar pakaian hitamnya sendiri dan lari ke dalam kamar mandi. Hek-tiauw Lo-mo mendengar suara kain dirobek-robek.
"Hwee Li, jangan begitu....! Jangan kau menyia-nyiakan kebaikan orang lain...."
"Peduli!"
Hwee Li menjawab dengan marah dan tak lama kemudian dia sudah keluar lagi dari kamar mandi, kini mengenakan pakaian hitamnya sendiri sedangkan pakaian bagus berwarna biru dan pakaian dalam berwarna merah muda sudah robek-robek dan berserakan di kamar mandi.
Wajah kakek raksasa itu menjadi merah dan dia bangkit berdiri, memandang kepada puterinya yang juga berdiri di depannya dan menentang pandang mata ayahnya dengan berani.
"Hwee Li, engkau adalah puteriku! Apakah engkau tidak mau mentaati perintahku? Apakah engkau hendak menjadi anak yang tidak berbakti?"
Hwee Li mengerutkan alisnya.
"Ayah, aku tidak melarang Ayah menghambakan diri kepada pangeran itu, aku tidak menentang Ayah. Akan tetapi aku sendiri tidak mau ikut campur dan aku hendak pergi dari sini sekarang juga agar jangan berhutang budi kepada pangeran atau kepada siapa pun juga."
"Tidak boleh! Engkau harus berada di sini, Hwee Li, membantu usahaku!"
"Akan tetapi aku tidak butuh bantuan pangeran."
"Aku butuh! Dan aku ingin menjadi mertuanya, maka engkau tidak boleh pergi!"
Ucapan itu seolah-olah kilat yang menyambar kepala Hwee Li.
Seketika wajahnya menjadi pucat sekali, lalu berubah merah dan matanya seperti mengeluarkan sinar berapi ketika dia memandang ayahnya.
"Apa kata Ayah? Menjadi mertuanya? Jadi aku.... aku....!"
"Engkau akan menjadi isterinya, menjadi permaisurinyai, Dia amat mencintamu, Hwee Li. Dia berterus terang kepadaku bahwa dia telah jatuh hati kepadamu ketika untuk pertama kali bertemu denganmu di tempat ini. Ingat? Dan lihat betapa dia telah menyediakan segala-galanya untukmu. Engkau akan menjadi isteri pangeran, dan kelak menjadi Permaisuri Nepal, kemudian mungkin menjadi permaisuri kaisar! Dan aku mertua kaisar! Ha-ha, bukankah hebat sekali kedudukan kita kelak, anakku?"
Akan tetapi Hwee Li sudah tidak mendengarkan kata-kata ayahnya lagi karena tiba-tiba tubuhnya sudah mencelat keluar dari situ.
"Hwee Li....!"
Ayahnya mengejar.
"Ayah, aku mau pergi dari sini!"
Terdengar dara itu menjawab.
"Apa kau ingin Ayahmu menggunakan kekerasan?"
Bentak ayahnya sambil mengejar.
Jantung Hwee Li berdebar keras!
Baru sekarang selama hidupnya dia diancam oleh ayahnya sendiri!
Ayahnya yang dahulu selalu memanjakannya, yang tidak pernah bersikap keras kepadanya sungguhpun dia tahu ayahnya amat keras kepada orang lain.
Dia terisak dan melanjutkan larinya.
Dia tidak mempedulikan orang-orang yang memandangnya dengan heran di dalam gedung itu dan dia terus lari keluar dengan cepat, siap untuk menyerang siapa saja yang akan menghalangi larinya.
Akan tetapi tidak ada orang yang menghalanginya, kecuali ayahnya yang mengejarnya dari belakang.
Semenjak dia menjadi murid Ceng Ceng dan juga menerima petunjuk dari suami subonya itu, Hwee Li telah memperoleh kemajuan hebat sehingga ginkangnya juga meningkat dengan luar biasa.
Maka dia dapat melarikan diri dengan cepat sekali meninggalkan ayahnya.
Banyak sekali para anggauta Huang-ho Kui-liong-pang yang melihat gadis ini berlari-lari dikejar ayahnya, akan tetapi mereka hanya memandang dan tidak berani mencampuri.
Juga anak buah Liong Bian Cu hanya menonton.
Bahkan di dalam larinya, Hwee Li melihat Hekhwa Lo-kwi duduk di bawah sebatang pohon sambil tersenyum melihat Hek-tiauw Lo-mo mengejar-ngejar puterinya.
Hwee Li berlari cepat sampai di tempat lembah dan bukan main kagetnya ketika dia melihat telaga atau sungai menghadang di depannya.
Dia berlari terus di sepanjang tepi sungai itu, akan tetapi sungai itu terus saja tiada putusnya karena air itu mengitari lembah!
Teringatlah Hwee Li akan pemandangan lembah itu dari atas ketika dia datang bersama ayahnya menunggang garuda, maka dia tahu bahwa tempat itu memang sudah dikelilingi air yang amat luas.
Melihat bahwa bayangan ayahnya tidak mengejarnya lagi, tiba-tiba Hwee Li mengeluarkan suara melengking nyaring, memanggil burung garudanya.
Beberapa kali dia melengking nyaring, akan tetapi garudanya tidak kunjung datang.
Padahal biasanya, sekali saja dia memanggil, betapapun jauhnya garuda itu terbang, dia akan mendengar dan akan datang, atau setidaknya menjawab dengan lengking yang sama.
Kembali dia melengking nyaring dan sekali ini ada jawaban, akan tetapi jawaban itu membuat Hwee Li terkejut.
Jawaban yang nyaring itu terdengar dari dalam gedung!
Dan yang lebih menggelisahkan hatinya lagi, jawaban itu mengandung keluhan yang membuat dia mengerti bahwa garudanya berada dalam keadaan tidak berdaya untuk datang ke situ.
Jelas bahwa garuda itu tentu telah diikat atau dikurung sehingga percuma saja dia memanggilnya!
"Hwee Li jangan pergi....!"
Hwee Li meloncat dan lari lagi ketika mendengar suara ayahnya itu.
Kini dia lari sambil meneliti dan tiba-tiba hatinya girang melihat sebuah perahu di tepi pantai.
Cepat dia menghampiri perahu itu, menyambar dayungnya, lalu mengempit perahu itu sambil mengerahkan tenaganya dan membawanya lari ke air.
Dia melontarkan perahu itu ke atas air, lalu meloncat ke dalamnya dan mendayung secepatnya ke tengah!
Hatinya sudah merasa lega dan girang karena dia mendapatkan kesempatan untuk melarikan diri dari tempat itu.
Akan tetapi tiba-tiba dia terkejut bukan main.
Begitu terkena air, perahu itu pecah-pecah dan sambungannya terlepas!
Tentu saja tanpa dapat dicegah lagi, dia tercebur ke dalam air!
Padahal, sungai itu amat luas dan dia baru saja meninggalkan pantai lembah.
Untuk berenang menyeberangi sungai itu sama dengan membunuh diri, karena dia bukan ahli, biarpun dia dapat berenang sekedar untuk mencegah agar dia tidak tenggelam saja.
Maka terpaksa dia menggerakkan kaki tangannya berenang kembali ke pantai, pantai lembah, bukan pantai di seberang!
Ketika dengan pakaian dan rambut basah kuyup, dengan mulut menyumpah-nyumpah, dia merangkak.
keluar dari air, dia disambut oleh suara ketawa ayahnya yang sudah berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar dan kedua tangan bersedakap.
Begitu mendongkol hati Hwee Li sehingga kalau saja bukan ayahnya yang mentertawakan, tentu orang itu akan diserangnya atau dimakinya habis-habisan.
Dia hanya berdiri melotot memandang kepada ayahnya, penuh kemarahan.
"Ayah, kau.... kau kejam!"
Akhirnya dia berkata dan menangis terisak-isak. Ayahnya menghampirinya.
"Hwee Li, siapa bilang aku kejam? Engkaulah yang terlalu, tidak mau mentaati perintah Ayahmu. Aku ingin mengangkat dirimu menjadi seorang yang mulia dan terhormat, akan tetapi engkau malah hendak menghancurkan rencana hidup Ayahmu. Jangan kira kau akan dapat pergi dari sini, anakku. Mau atau tidak mau, engkau harus menjadi isteri pangeran yang cinta kepadamu."
Watak Hwee Li memang keras.
Begitu mendengar kata-kata "harus", dadanya diangkat, kepalanya ditegakkan, dan dia bertanya dengan air matanya bercampur dengan air sungai yang mengalir turun dari rambutnya.
"Kalau aku tidak sudi?"
"Kau akan dipaksa! Nah, boleh kau pilih. Engkau menjadi isterinya secara terhormat atau menjadi isterinya dengan lebih dulu dipaksa, seperti seekor kuda betina liar yang dijinakkan!"
Hwee Li membelalakkan, kedua matanya, hampir tidak dapat percaya akan kata-kata ayahnya. Tidak mungkin ayahnya akan berbuat sekeji, itu.
"Ayah! Kau.... kau...."
Dia tidak dapat melanjutkan, hanya menangis keras.
"Tiada gunanya engkau menangis, Hwee Li. Kalau engkau mentaati permintaanku, berarti engkau menjadi puteriku tersayang, akan tetapi kalau kau menentang kehendakku, berarti engkau adalah musuhku! Dan engkau tahu apa jadinya dengan musuh Hek-tiauw Lo-mo!"
"Biar sampai mati aku tidak sudi! Aku mau melihat siapa berani memaksaku!"
Tiba-tiba Hwee Li berdiri tegak, kedua tangannya terkepal, pakaiannya basah kuyup sehingga menempel ketat di tubuhnya, membuat lekuk-lengkung tubuhnya nampak nyata.
"Hemmm, engkau tidak akan mati, akan tetapi aku yang akan menundukkanmu, anak bandel!"
Bentak Hek-tiauw Lo-mo.
"Aku adalah anakmu, aku tidak akan melawan Ayahku sendiri, akan tetapi kalau aku hendak kau umpankan kepadanya, seperti mengumpankan kelinci untuk dimakan srigala, aku akan melawan!"
Kata Hwee Li.
"Huh, agaknya gurumu telah mendidikmu untuk menjadi anak durhaka terhadap ayahnya. Nah, coba kau lawan aku!"
Hek-tiauw Lo-mo lalu menubruknya dan mencengkeram pundak puterinya.
Hwee Li cepat mengelak dan balas menyerang dengan dahsyat sehingga ayah dan anak itu lalu saling serang dengan hebat dan serunya di tepi sungai itu!
Hwee Li maklum bahwa kalau dia tidak dapat menangkan ayahnya, Harapannya untuk lari habis sama sekali, dan entah apa yang akan menimpa dirinya, maka dia mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya.
Dia tahu bahwa dia tidak boleh menggunakan ilmu silat yang pernah dipelajarinya dari ayahnya, karena hal itu akan percuma saja karena tentu ayahnya lebih mahir.
Maka dia selalu bergerak menurut petunjuk Ceng Ceng dan suami subonya itu.
Sebetulnya, dari Ceng Ceng, seperti pernah dijanjikan oleh subonya itu dahulu (baca cerita Kisah Sepasang Rajawali), dara ini hanya diberi pelajaran tentang racun-racun yang paling hebat dan penolaknya.
Akan tetapi karena Ceng Ceng merasa suka kepada muridnya yang lincah jenaka ini, dia juga mengajarkan Ilmu Pukulan Sin-liong-kun, yaitu semacam ilmu silat yang diciptakan dengan bantuan suaminya, Yang disaring dari ilmu-ilmu silat yang dikenalnya lalu ditambah dengan beberapa gerakan yang mengambil dari ilmu mujijat Sin-liong ciang-hoat, ilmu yang hanya dapat dipelajari dan dikuasai oleh seorang yang buntung lengannya seperti Kao Kok Cu.
Akan tetapi betapapun lihainya Hwee Li, tentu saja dia masih belum mampu menandingi Hek-tiauw Lo-mo!
Beberapa kali dia sudah kena ditampar oleh ayahnya, yang tidak ingin melukai puterinya, maka yang ditamparnya hanya bagian tubuh yang tidak berbahaya seperti di bahu dan pundak, akan tetapi yang cukup membuat tubuh Hwee Li terpelanting dan terguling-guling.
Akan tetapi, setiap kali roboh, Hwee Li meloncat bangun kembali dan menyerang dengan ganas!
Dia sudah nekat dan ingin mati di tangan ayahnya sendiri daripada harus menyerahkan dirinya kepada Pangeran Liong Bian Cu!
"Hyaaaaattttt....!"
Tiba-tiba dia melengking nyaring, tubuhnya meloncat dan meluncur lurus ke depan, kedua tangannya menusuk seperti pedang selagi tubuhnya melayang di udara.
Inilah jurus yang amat hebat dari Sin-long-kun, yang mengandung unsur ilmu mujijat Sin-liong hok-te dari Kao Kok Cu!
"Ihhh....!"
Hek-tiauw Lo-mo terkejut bukan main karena dari serangan ini menyambar hawa dahsyat yang membuat dia terjengkang.
Akan tetapi, sebagai seorang ahli ilmu silat tinggi yang mengenal pukulan mujijat, dia tidak berani menangkis dan cepat dia melempar tubuh ke belakang terus bergulingan.
Dia meloncat bangun dan mukanya berubah.
Nyaris dia roboh oleh pukulan mujijat itu.
"Bocah durhaka!"
Dia membentak dan menubruk maju begitu melihat Hwee Li melayang turun, tubrukan dari belakang yang dahsyat.
Hwee Li bergerak ke samping, kakinya melayang untuk menyambut serangan ayahnya dengan tendangan.
"Plakkk!"
Ayahnya menangkis, demikian keras tangkisannya sehingga tubuh Hwee Li terhuyung.
Kembali gadis itu melempengkan kedua lengan, untuk mengulangi serangannya yang hampir berhasil tadi.
Akan tetapi tiba-tiba ayahnya sudah menyerang lagi, menyerang dari bawah ke arah kedua kakinya.
Melihat hebatnya serangan kaki ayahnya yang menyerampang ini, dia berteriak keras dan tubuhnya mencelat ke atas.
"Wuuuuuttttt....!"
Hwee Li terkejut.
Hendak mengelak namun terlambat dan tubuhnya sudah tercakup oleh sinar hitam yang ternyata adalah jala tipis yang tadi dipergunakan oleh Hek-tiauw Lo-mo selagi tubuh Hwee Li meloncat ke atas.
"Cukup, Locianpwe!"
Tiba-tiba terdengar seruan nyaring dan tahu-tahu di situ telah berdiri Liong Bian Cu dengan sikapnya yang ramah. Pangeran ini berkata.
"Andaikata bukan Locianpwe yang melakukan hal ini, terhadap Nona Hwee Li, tentu akan berhadapan dengan aku dan aku belum puas kalau belum menyiksanya!"
Hek-tiauw Lo-mo membungkuk.
"Anak ini tidak bisa dibujuk dengan halus, Pangeran. Terpaksa saya sebagai orang tuanya menundukkannya. Sekarang kuserahkan kepada Pangeran untuk menjinakkan dia. Ha-ha-ha!"
Hek-tiauw Lo-mo menyerahkan tali jala itu kepada Pangeran Nepal itu.
Liong Bian Cu menerima tali itu, lalu menghampiri Hwee Li yang masih rebah miring di dalam jala.
"Marilah, Nona, biar aku merawatmu, Nona...."
Dia membungkuk dan hendak memondong tubuh itu.
Hwee Li yang kini mengalihkan kemarahan dan kebenciannya kepada pangeran ini yang dianggapnya sebagai biang keladi perubahan sikap ayahnya, diam-diam menanti dan begitu pangeran itu membungkuk, tiba-tiba dia menggerakkan tangan kanannya menghantam sekuat tenaga!
Akan tetapi, dia merasa pundaknya ditekan dan tenaganya lenyap, pukulannya tidak dapat dilakkan dan terhenti setengah jalan.
"Tenanglah, Nona, dan percayalah bahva aku tidak tega untuk menyakitimu,"
Kata pangeran itu dengan tenang dan tiba-tiba Hwee Li merasa tubuhnya diangkat dan dipondong oleh pangeran itu, dibawa ke arah gedung.
Semua orang yang melihat dan bertemu di jalan, membungkuk dengan penuh hormat kepada pangeran itu yang bersikap seolah-olah tidak melihat mereka, sikap angkuh seorang pangeran!
Hwee Li tidak dapat meronta lagi, kedua tangannya seperti lumpuh dan tahulah dia bahwa pangeran yang kelihatan lemah lembut ini memang lihai sekali sehingga dia telah ditotoknya sebelum dapat menyerang.
Dia pernah melihat pangeran ini dalam pertemuan dengan para tokoh dan yang dahulu pernah mendemonstrasikan kepandaiannya yang hebat.
Dara ini maklum bahwa menggunakan kekerasan akan percuma saja, karena selain pangeran ini sendiri amat lihai, juga di situ terdapat ayahnya yang agaknya siap untuk menggunakan kekerasan terhadap dirinya untuk memaksanya menjadi isteri pangeran ini.
Belum lagi diperhitungkan adanya Hek-hwa Lo-kwi di situ, dan banyak anak buah Kui-liong-pang dan anak buah pangeran itu sendiri.
Juga, biarpun belum dijumpainya, dia mendengar bahwa di situ terdapat pula guru pangeran ini, koksu dari Nepal yang menurut ayahnya memiliki kepandaian yang amat hebat, mungkin melebihi kepandaian ayahnya dan Hek-hwa Lo-kwi.
Jelas bahwa mengandalkan kepandaian silatnya akan sia-sia belaka, maka dia harus berlaku cerdik.
Pangeran itu memondongnya dengan hati-hati dan membawanya kembali ke dalam kamarnya yang mewah.
Dengan gerakan lembut dia merebahkan Hwee Li di atas pembaringan setelah melepaskan jala tipis itu.
Sejenak dia berdiri di tepi pembaringan memandang wajah Hwee Li yang rebah terlentang.
Dara itu gelisah sekali.
Dia masih belum mampu menggerakkan kaki tangannya dan dia tidak akan dapat melawan kalau pangeran itu melakukan hal-hal yang mengerikan terhadap dirinya.
Sepasang mata yang cekung dan tajam itu bersinar-sinar ketika menjelajahi tubuh Hwee Li dari rambut sampai ke kakinya.
Tubuh yang terbungkus pakaian basah itu kelihatan seperti telanjang saja.
"Ah, betapa kejam ayahmu, Nona.... sungguh kasihan engkau...."
Kata pangeran itu dengan sikap menyayang sekali dan tangannya lalu memeriksa leher, pipi, dan pundak Hwee Li yang babak bundas karena dibanting-banting tadi.
"Aku akan mengobatimu. Ah, kalau lain kali dia berani menyakitimu lagi, tentu akan kuhukum dia!"
Hwee Li memandang dengan mata terbelalak.
Hatinya lega.
Biarpun dia masih muda sekali, namun sebagai seorang wanita, Hwee Li dapat merasakan bahwa pangeran ini sungguh mencinta dia.
Sikapnya demikian lembut, cintanya demikian halus sehingga agaknya tidak perlu dikhawatirkan bahwa pangeran ini akan melakukan kekerasan terhadap dirinya.
Akan tetapi, biarpun dia cerdik, dalam hal seperti ini, mengenai urusan cinta, dia masih asing sama sekali sehinga dia tidak tahu benar bagaimana dia harus bersikap terhadap musuh yang jatuh cinta kepadanya ini.
Dia tahu bahwa dari orang berkulit kehitaman ini mengancam bahaya yang amat hebat terhadap dirinya, namun perasaan wanitanya juga tahu bahwa pria ini amat mencintanya dan tidak akan suka melihat dia sengsara.
"Pangeran.... harap.... harap kau suka membebaskan aku.... dan biarkan aku pergi dari sini. Aku akan berterima kasih sekali kepadamu dan selamanya engkau akan kuanggap sebagai seorang yang amat baik."
Liong Bian Cu tersenyum, memandang mesra dan menggeleng kepala.
"Jangan kita bicara tentang itu. Engkau perlu kuobati, akan tetapi pakaianmu basah. Engkau harus berganti pakaian lebih dulu. Ah, betapa kejamnya ayahmu.... sakit hatiku melihat engkau disiksa. Aku amat cinta kepadamu, Nona Hwee Li, dan kalau bukan ayahmu yang melakukan ini, pasti dia sudah kubunuh. Biar aku membantumu berganti pakaian...."
Jari-jari tangan pangeran itu menyentuh kancing-kancing di depan dadanya.
Biarpun pangeran itu bersikap lembut dan sopan, namun Hwee Li terbelalak dan hampir menjerit.
Sayang kaki tangannya masih belum dapat digerakkan, kalau tidak demikian, tentu dia sudah meronta dan meloncat turun dari atas pembaringan.
"Jangan....! Tidak.... jangan buka pakaianku....!"
Dia meratap.
Jari-jari tangan yang baru berhasil membuka dua buah kancing itu berhenti dan mata yang cekung itu menatap tajam, mulutnya tersenyum dingin.
"Mengapa, Nona? Engkau basah kuyup dan dapat jatuh sakit. pakaianmu yang basah harus diganti dengan yang kering, baru, luka-lukamu akan kuobati sendiri...."
Hwee Li melihat sinar gembira di mata pangeran itu dan tiba-tiba jantungnya memukul keras.
Agaknya di balik kelembutannya, di balik keramahan dan kesopanannya, pangeran ini memiliki watak aneh yang amat kejam.
Agaknya pangeran ini akan bergembira melihat dia digerogoti rasa malu, tersiksa batinnya kalau ditelanjangi.
Hwee Li tiba-tiba menekan perasaannya dan mukanya tidak lagi memperlihatkan rasa ngeri dan takut seperti tadi.
Suaranya dingin dan tenang ketika dia berkata.
"Pangeran, baru saja engkau mengatakan bahwa engkau amat mencintaku, akan tetapi sekarang engkau hendak melakukan penghinaan. Kalau perbuatanmu ini kau lanjutkan, aku akan merasa amat benci kepadamu!"
"Benci?"
Pangeran itu mengerutkan alisnya.
"Tidak bisa engkau membenciku, Nona, karena engkau akan menjadi isteriku yang terkasih. Aku hendak menolongmu, mengapa engkau membenciku?"
"Di luar banyak terdapat pelayan, mengapa engkau hendak mengganti sendiri pakaianku? Hal itu menandakan bahwa engkau sengaja hendak menghinaku, tidak memandang aku sebagai seorang gadis yang terhormat, yang tentu saja tidak sudi dilihat telanjang oleh seorang laki-laki."
Tangan itu meninggalkan baju Hwee Li dan pangeran itu tersenyum, mengangguk-angguk.
"Sikapmu ini menambah besar cintaku, Nona. Engkau memang seorang gadis terhormat dan agung, patut menjadi calon isteriku."
Pangeran itu bertepuk tangan dan masuklah empat orang pelayan tadi.
"Kalian bantu Nona Hwee Li berganti pakaian kering. Eh, Nona, engkau memilih pakaian yang berwarna apa?"
Pangeran itu bertanya kepada Hwee Li, sikapnya ramah dan biasa seolah-olah gadis itu sedang dalam keadaan biasa, tidak tertotok seperti itu.
"Aku selamanya memakai pakaian hitam,"
Jawab Hwee Li yang ingin mencegah pakaiannya diganti.
"Hei, kau! Cepat kau suruh penjahit membuatkan pakaian dari sutera hitam beberapa stel dan dengan cara kilat. Harus jadi sekarang juga!"
Pangeran Liong Bian Cu berkata dan pelayan yang diperintahkannya itu cepat pergi. Lalu dia berpaling kepada Hwee Li.
"Karena yang hitam sedang dibikin, harap kau suka memakai yang lain untuk sementara saja, Nona."
Setelah berkata demikian, pangeran itu menggerakkan kakinya menuju ke pintu.
"Pangeran....!"
Hwee Li tiba-tiba memanggil. Liong Bian Cu membalikkan tubuhnya dan memandang dengan wajah berseri.
"Apalagi yang dapat kulakukan untukmu, Nona Hwee Li? Bukankah kau bilang bahwa engkau merasa terhina kalau.... terlihat olehku? Aku tahu engkau malu, biarlah aku keluar dulu dan nanti baru kuobati engkau...."
"Pangeran, engkau tentu maklum bahwa aku tidak akan dapat lolos dari sini. Di sana ada ayahku, ada Hek-hwa Lo-kwi, ada orang-orangmu, dan tempat ini terkurung air. Aku tidak akan mampu lolos dan hal ini aku tahu benar, maka aku pun tidak begitu tolol untuk mencoba melarikan diri."
Pangeran itu mengangguk-angguk.
"Engkau memang cerdik sekali, Nona. Kecerdikanmu makin mengagumkan hatiku dan makin memperdalam cintaku."
Hwee Li merasa malu sekali melihat pangeran ini mengaku cinta begitu saja di depan tiga orang pelayan yang masih berlutut di atas lantai, maka cepat-cepat dia berkata.
"Kalau engkau sudah tahu bahwa aku tidak akan lolos atau melarikan diri, mengapa engkau masih menotokku? Apakah kau ingin menyiksaku, Pangeran? Bebaskan totokan ini...."
Pangeran itu melangkah menghampiri pembaringan.
"Dan kau berjanji tidak akan memukul pelayan, tidak akan memberontak?"
"Aku bukan seorang tolol. Memberontak pun apa gunanya? Para pelayan ini tidak salah dan tidak tahu apa-apa. Tidak, aku tidak akan memukul mereka atau memberontak."
"Bagus, aku percaya kepadamu, Nona."
Pangeran itu lalu menggerakkan tangan kanannya menotok kedua pundak Hwee Li dan seketika dara itu dapat menggerakkan kembali kedua lengannya.
Ketika pangeran itu menotok pula punggungnya dan kedua kakinya juga dapat digerakkan, hatinya lega bukan main.
Kaki dan tangannya masih terasa penat dan sakit, maka dia bangkit duduk perlahan-lahan, memandang kepada pangeran yang diam-diam telah siap kalau-kalau dia akan memberontak.
Melihat ini, Hwee Li tersenyum.
"Terima kasih, Pangeran. Dan sekarang harap engkau suka keluar, aku hendak ganti pakaian. Dan kalian bertiga juga keluarlah saja, nanti kalau aku perlu bantuan kalian kupanggil."
Tiga orang pelayan itu memandang kepada Liong Bian Cu, ragu-ragu apakah mereka harus mentaati perintah gadis itu.
Liong Bian Cu tersenyum dan mengangguk, maka mereka pun pergilah meninggalkan kamar itu bersama Liong Bian Cu.
Pangeran itu menutupkan pintunya sambil menjenguk ke dalam dan tersenyum.
"Kalau sudah selesai, beritahulah aku, Nona."
Hwee Li mengangguk dan daun pintu itu ditutup dari luar oleh Liong Bian Cu.
Setelah mereka semua keluar, Hwee Li cepat menggerak-gerakkan kaki tangannya agar jalan darahnya lancar kembali.
Diam-diam dia menyumpah di dalam hatinya dan panaslah rongga dadanya teringat akan perlakukan ayahnya kepadanya.
Dia duduk kembali dan memutar otaknya.
Keinginan besar untuk melarikan diri ditekannya.
Tidak, dia tidak boleh sembrono lagi.
Lari dalam keadaan sekarang ini tidak akan ada gunanya, dan dia tentu akan tertawan kembali.
Dan kalau sampai dia mencoba lari dan tertawan kembali, tentu pangeran itu tidak akan bersikap demikian baik lagi.
Celaka kalau sampai dia ditotok terus atau dibelenggu.
Lebih celaka lagi kalau dalam kemarahannya pangeran itu akan melakukan hal-hal yang mengerikan terhadap dirinya.
Lebih baik dia berlaku cerdik, bersikap halus dan mempergunakan cinta kasih pangeran terhadapnya untuk melindungi dirinya.
Hwee Li memilih pakaian hijau dari lemari, karena yang biru sudah dirobek-robeknya.
Dia memindahkan dua benda seperti gulungan tali hitam dan segulung kecil tali merah dari saku pakaian hitamnya ke dalam saku baju dalamnya yang baru.
Tiga benda yang kelihatan seperti gulungan tali itu sebetulnya adalah tiga ekor ular!
Kemudian dia menyisir rambutnya, memakai sedikit bedak di meja rias dan mengganti pula sepatunya yang basah dengan sepatu baru yang berjajar beberapa pasang di bawah lemari.
"Aku sudah selesai, Pangeran!"
Katanya sambil duduk di atas kursi.
Daun pintu itu segera terbuka, tanda bahwa pangeran itu sejak tadi sudah siap dengan tangan tak pernah melepas-kan daun pintu.
Wajahnya berseri, mulutnya tersenyum dan matanya bersinar-sinar memandang Hwee Li yang bangkit berdiri.
Penuh kagum!
"Bukan main....!
Engkau....
engkau sungguh cantik seperti bidadari, Nona Hwee Li!
Aih, rambutmu yang masih agak kusut itu, anak rambut yang melihg-kar di dahi dan depan telinga, sungguh seperti lukisan saja!
Marilah, Nona, mari kuobati luka-lukamu."
Pangeran itu mengeluarkan sebuah botol terisi obat kuning dari dalam sakunya.
"Terima kasih, Pangeran. Kurasa tidak perlu karena sudah kuobati sendiri dan luka-luka ini tidak ada artinya."
Dia memperlihatkan leher dan tangannya yang tadi lecet-lecet, dan yang kini sudah menjadi kering.
"Ahhh, engkau lihai, ilmu silatmu tinggi, juga engkau memiliki keberanian hebat, engkau cantik jelita dan cerdik. Sungguh, semua keindahan dan kebaikan terkumpul menjadi satu di dalam dirimu, Nona Hwee Li."
"Hanya luka di pundakku ini masih terasa nyeri. Aku khawatir kalau-kalau ada tulangnya yang retak...."
Hwee Li meringis ketika tangannya menyentuh pundak kirinya.
"Ahhh....! Benarkah? Celaka! Sungguh kejam Hek-tiauw Lo-mo. Coba kuperiksa pundakmu, Nona. Jangan khawatir, jangankan baru retak, biar sudah remuk sekalipun, aku akan dapat mengobati dan menyembuhkannya!"
Pangeran itu datang mendekat.
Dengan hati-hati, sambil kadang-kadang meringis kesakitan, Hwee Li membuka kancing bajunya bagian atas sehingga nampak baju dalamnya yang tipis.
Disingkapnya baju di bagian pundak kiri dengan tangan kanannya sehingga nampak kulit pundaknya yang putih halus dan memang di atas pundak itu terdapat warna kebiruan.
Ketika melihat pundak kiri setengah telanjang yang berkulit putih halus itu bernoda biru, pangeran itu lalu berseru.
"Ahhh, sungguh kejam....!"
Tangannya lalu memeriksa dan dengan halus menyentuh pundak itu.
Saat inilah yang ditunggu-tunggu oleh Hwee Li.
Sudah diperhitungkannya semenjak dia melihat pangeran itu masuk kamarnya.
Dara ini tadi sudah mengambil keputusan untuk membunuh pangeran ini.
Dia tidak mungkin melarikan diri, akan tetapi dia tahu bahwa yang menyebabkan ayahnya bersikap seperti itu kepadanya adalah pangeran ini.
Pangeran inilah biang keladinya, maka kalau pangeran ini dibunuhnya, tentu ayahnya akan bersikap lain.
Dan kalau ayahnya tidak lagi mengharapkan bantuan pangeran yang mati untuk meraih kedudukan tinggi, tentu akan lain lagi sikap ayahnya, tentu akan pulih seperti dulu dan kalau sudah begitu, dia dan ayahnya tentu akan dapat saling bantu untuk meloloskan diri dari tempat itu.
Kini, melihat pangeran itu memeriksa pundak kirinya dan agaknya tenggelam dalam pekerjaannya itu, diam-diam Hwee Li mengeluarkan ular merahnya.
Ular itu kecil sekali, sebesar kelingking jari tangannya, panjangnya hanya dua jengkal, kulitnya merah seperti darah, matanya juga merah dan lidahnya hitam.
Inilah Hiat-coa (Ular Darah) dari Gurun Pasir Go-bi-pai yang merupakan binatang yang sukar sekali dilihat orang, seekor ular janah yang amat berbahaya dan racunnya amat hebat.
"Ssssshhh....!"
Liong Bian Cu terkejut sekali dan cepat dia meloncat mundur ketika dia melihat sinar merah meluncur ke arah mukanya.
Matanya terbelalak dan dia berusaha menghindarkan diri, akan tetapi gerakan ular itu lebih hebat dan cepat lagi, seolah-olah burung terbang dan tahu-tahu pundak pangeran itu telah kena digigitnya.
Liong Bian Cu mengeluarkan suara melengking nyaring, jeritan maut yang amat lantang, lalu tubuhnya terhuyung dan roboh ke atas lantai.
Melihat ini, Hwee Li girang sekali dan cepat dia meloncat ke arah jendela kamar itu.
Akan tetapi, begitu dia meloncat, dari jendela itu muncul dua orang penjaga yang memegang pedang.
Hwee Li menggunakan kakinya menendang dari samping untuk menangkis sambaran pedang.
Kini tangan kirinya bergerak dan sinar hitam panjang bergerak ke depan.
Ular hitam panjang itu mematuk dan dua orang penjaga roboh seketika.
"Bocah setan, berani engkau mengacau lagi?"
Tiba-tiba terdengar bentakan dan Hek-hwa Lo-kwi muncul bersama Hek-tiauw Lo-mo! "Ayah, aku sudah membunuh Liong Bian Cu!"
Teriak Hwee Li.
"Mari kita cepat pergi dari sini!"
"Apa? Anak durhaka, engkau patut dihukum!"
Hek-tiauw Lo-mo berseru marah sedangkan Hek-hwa Lo-kwi cepat meloncat memasuki jendela dan cepat kakek ini memondong tubuh Pangeran Liong Bian Cu yang sudah menjadi biru mukanya.
Hek-hwa Lo-kwi adalah ahli racun yang telah kebagian kitab yang dicuri bersama Hek-tiauw Lo-mo dari Si Dewa Bongkok, bagian tentang racun dan pengobatannya, maka kini dia cepat membawa pergi Liong Bian Cu untuk diobati.
Sementara itu, melihat ayahnya sudah menyerangnya, Hwee Li menjadi marah juga.
"Ayah, apa engkau sudah gila?"
Dia memaki sambil mengelak dari sambaran pedang yang amat mengerikan, pedang yang mendatangkan hawa mujijat.
Itulah pedang Cui-beng-kiam (Pedang Pengejar Nyawa) yang amat mujajat.
Pedang ini dahulu adalah milik Cui-beng Koai-ong, tokoh nomor satu dari Pulau Neraka, dan akhirnya pedang itu tadinya terjatuh ke tangan Ang Tek Hoat dan kemudian, ketika Tek Hoat tertawan, pedang itu terjatuh ke tangan Hek-tiauw Lo-mo sampai sekarang (baca Kisah Sepasang Rajawali).
Sambil mengelak, Hwee Li yang sudah marah sekali itu memaki.
"Aku adalah anakmu, apakah Ayah hendak membunuhku?"
"Bocah keparat, anak durhaka!"
Hek-tiauw Lo-mo yang sudah marah sekali kembali menyerangnya dengan dahsyat.
"Baik! Ayah membela musuh dan melawan anak sendiri! Ayah memaksa aku untuk melawan!"
Hwee Li juga mengeluarkan dua ekor ularnya yang panjang itu dan balas menyerang.
Bertempurlah anak dan ayah ini untuk kedua kalinya, kini lebih seru dan hebat karena Hwee Li benar-benar melakukan perlawanan mati-matian.
Setelah dara itu melakukan perlawanan nekat dengan menggunakan dua ekor ularnya yang amat berbahaya, Hek-tiauw Lo-mo bergerak dengan hati-hati.
Dia maklum bahwa anaknya itu telah menguasai banyak ilmu yang aneh dan hebat.
Beberapa kali dia menggerakkan pedangnya untuk membunuh ular-ular itu, akan tetapi dua ekor ular itu adalah mahluk hidup, selain memiliki gerakan sendiri untuk mengelak, juga digerakkan oleh tangan Hwee Li yang mahir.
Bahkan beberapa kali hampir saja tangan Hek-tiauw Lo-mo terpatuk oleh ular-ular itu.
"Hemmm, inikah anakmu, Hek-tiauw Lo-mo? Sungguh ganas dan liar dia!"
Tiba-tiba terdengar suara besar yang berwibawa dan munculiah dua orang kakek.
Yang seorang adalah kakek tinggi besar, sama tinggi besarnya dengan Hek-tiauw Lo-mo, seperti seorang raksasa yang kepalanya botak, pakaiannya indah dan mewah dengan mantel merah, sepatunya pakai lapis baja dan sepasang matanya besar sekali, usianya tentu hampir enam puluh tahun akan tetapi wajahnya masih segar dan kemerahan.
Sikapnya amat berwibawa dan di belakangnya berdiri seorang kakek lain yang bersorban, berkulit hitam, jenggotnya panjang sampai ke perut, tangan kiri memegang tongkat cendana dan wajahnya seperti topeng, sama sekali tidak pernah bergerak seolah-olah mati.
Melihat munculnya dua orang kakek ini, Hek-tiauw Lo-mo terkejut.
Itulah Ban Hwa Sengjin, koksu dari Nepal, dan kakek Nepal bersorban itu adalah Gitananda, pembantunya yang lihai dan pandai sihir.
"Maafkan, Sengjin, anakku kurang ajar dan perlu saya hukum!"
Teriak Hek-tiauw Lo-mo dan pedang Cui-beng-kiam diputarnya cepat.
Melihat ini, Hwee Li menarik kedua ekor ularnya karena tidak ingin ular-ularnya menjadi korban pedang ayahnya.
Akan tetapi, pada saat itu, tendangan kaki Hek-tiauw Lo-mo yang amat cepat datangnya tak dapat dielakkan oleh Hwee Li.
Pahanya tertendang dan dara ini hanya dapat mengerahkan sinkang untuk melindungi pahanya.
"Desss....!"
Dia terlempar dan terbanting, bergulingan.
"Mampus kau!"
Hek-tiauw Lo-mo berteriak dan pedangnya menyambar.
Hwee Li terkejut bukan main.
Tak disangkanya bahwa ayahnya benar-benar hendak membunuhnya.
Pedang itu menyambar ganas dan merupakan serangan maut.
Terpaksa dia menggunakan dua ekor ularnya untuk balas menyerang.
Dua ekor ular itu meluncur dan kalau pedang Hek-tiauw Lo-mo dilanjutkan untuk membacok tubuh dara itu, tentu dua ekor ular itu akan berhasil pula menggigitnya.
Melihat ini, Hek-tiauw Lo-mo mengubah gerakan pedangnya, dibabatkan ke samping dua kali.
"Crok! Crokkk!"
"Ihhhhh.... kau membunuh ular-ularku....?"
Hwee Li menjerit dengan isak tertahan dan dia berlaku nekat, menubruk ayahnya dengan kedua tangan kosong dan melancarkan pukulan-pukulan beracun.
"Anak setan!"
Hek-tiauw Lo-mo menyambutnya dengan tusukan Cui-beng-kiam dan sekali ini, tak mungkin Hwee Li dapat menghindarkan diri dari tusukan maut itu.
Tiba-tiba nampak sinar menyambar.
"Trangg....!"
Pedang Cui-beng-kiam tergetar di tangan Hek-tiauw Lo-mo.
Kakek itu terkejut dan melompat ke belakng.
Kiranya Ban Hwa Sengjin sudah turun tangan menggunakan sebutir kerikil memukul ke arah pedangnya itu dengan sambitannya.
"Dia adalah calon isteri Pangeran, bagaimana kau berani mencoba untuk membunuhnya!"
Teriak Koksu Nepal itu.
"Gitananda, tangkap Nona itu!"
Gitananda membungkuk dan sekali dia menggerakkan kedua kakinya, dia sudah meloncat ke depan Hwee Li.
Tiba-tiba tangan kiri kakek Nepal ini mengeluarkan sesuatu dan ada cahaya menyorot ke muka kakek itu.
Hwee Li tentu saja tidak mengerti apa yang terjadi dan melihat ada cahaya menyorot ke muka kakek itu, dia memandang.
Kiranya kakek itu memegang sebuah cermin dan pantulan sinar matahari menyorot ke mukanya sendiri.
Melihat wajah yang berkilauan terkena cahaya itu, Hwee Li memandang terbelalak.
Dia seperti melihat wajah yang aneh, wajah dalam dongeng tentang dewa-dewa!
Dan betapapun dia hendak mengalihkan pandangannya, dia tidak dapat!
Dia tidak dapat menguasai pandang matanya sendiri yang terus menatap wajah kehitaman dengan mata yang tajam berpengaruh itu.
Tongkat Gitananda menyambar dan dengan perlahan mengetuk tengkuk Hwee Li.
Gadis itu sama sekali tidak mampu bergerak untuk mengelak, seolah-olah pandang matanya yang melekat pada wajah menyeramkan itu membuat seluruh tubuhnya lumpuh.
Ketika tongkat mengenai tengkuknya, dia mengeluh memejamkan matanya dan roboh terguling, pingsan!
Kesadaran perlahan-lahan menyusupi dirinya.
Mula-mula hanya pendengarannya yang bekerja.
Dia mendengar suara berapa orang bercakap-cakap, makin lama makin jelas dan perhatiannya tertuju kepada suara-suara itu karena di antara suara-suara itu dia mendengar suara ayahnya.
Matanya masih dipejamkan dan dia masih belum mempunyai keinginan untuk melihat di mana adanya dia dan dalam keadaan bagaimana.
Dia masih terlampau lemah untuk itu dan kini dia hanya tinggal diam dengan tenang, hanya membuka telinga mendengarkan.
"Kalau Paduka suka menggunakan obat hamba tentu mudahlah menundukkan dia. Dia akan jatuh cinta, kepada Paduka, dan akan mentaati semua perintah Paduka,"
Terdengar suara parau dan asing, suara yang tidak dikenalnya, namun dapat diduganya bahwa agaknya itu adalah suara orang Nepal yang memegang tongkat itu.
"Ah, Gitananda, aku sudah tahu akan kepandaianmu dan aku percaya bahwa menggunakan obat dan sihirmu, dia akan tunduk kepadaku. Akan tetapi aku tahu pula bahwa kekuatan sihir dan obat itu hanya sementara saja. Dan aku menghendaki agar dia selama hidupnya tunduk dan membalas cintaku!"
Terdengar suara yang amat dikenalnya, suara halus dan sopan, suara Liong Bian Cu.
Ah, jadi pangeran itu belum mampus, pikirnya dengan perasaan menyesal.
Biarpun sudah terkena gigitan ular darah, tapi masih hidup Hemmm, tentu Hek-hwa Lo-kwi yang mengobatinya.
Dia tahu bahwa kakek itu juga seorang ahli racun yang jempol!
"Dia memang keras kepala!"
Tiba-tiba terdengar suara ayahnya.
"Anak itu keras kepala dan keras hati, seperti ibunya! Sebaiknya kalau Pangeran menggunakan kekerasan menundukkan dia, seperti menjinakkan seekor kuda betina yang liar. Hanya kalau dia sudah satu kali menjadi milik Pangeran, dia akan terpatahkan kekerasannya, dia akan tunduk, seperti yang terjadi pula dengan ibunya dahulu. Percayalah kepada saya, Pangeran. Itu satu-satunya cara untuk menjinakkan dia. Paksa saja dia menjadi milik Pangeran malam ini juga, dan besok atau lusa, dia sudah akan menjadi jinak, untuk selama-lamanya!"
Hwee Li hampir menjerit.
Dia mengepal tinju dan berniat untuk meloncat turun.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika dia mendapatkan kenyataan bahwa dia tidak mampu menggerakkan kaki dan tangannya.
Dia tidak tertotok, kaki tangannya dapat bergerak, akan tetapi tidak dapat dipindahkan dari tempatnya.
Cepat dia membuka matanya dan dia makin terkejut.
Dia rebah terlentang di atas pembaringannya, kedua kakinya terpentang dan setiap kaki terbelenggu pada ujung pembaringan, demikianpun dengan kedua lengannya, terpentang dan pergelangan lengan terbelenggu dengan rantai baja pada ujung pembaringan.
Dia seperti seekor lembu atau domba yang terikat dan siap untuk disembelih!
Dia berada di dalam kamar mewah itu dan orang-orang yang suaranya didengarnya itu bercakap-cakap di luar kamar.
Dia mendengarkan lagi.
Dan kini dia mendengar suara Hek-hwa Lo-kwi.
"Agaknya memang tepat apa yang diusulkan oleh Lo-mo, Pangeran. Anak itu amat keras hati, membujuknya saja akan sia-sia. Dan kekerasan yang tidak dapat diluluhkan oleh kelembutan, dapat dikalahkan oleh kekerasan pula."
"Akan tetapi.... ah, aku sungguh cinta kepadanya, dan aku ingin sekali agar dia dapat membalas cinta kasihku dengan sewajarnya. Pangeran itu membantah dan mengeluh.
"Menggunakan kekerasan? Memperkosanya? Ah, betapa hal itu akan menyiksa hatiku, aku tidak ingin melihat dia berduka...."
"Hemmm, pada mulanya memang dia akan menangis dan berduka, akan membencimu, akan tetapi lambat-laun kebencian itu akan berubah menjadi cinta. Dia persis ibunya...."
Terdengar Hek-tiauw Lo-mo berkata pula.
"Akan tetapi, melihat dia dibelenggu terus...."
"Hal itu tidak perlu lagi setelah Paduka dapat memaksa dan memilikinya, Pangeran,"
Kata Hek-hwa Lo-kwi.
"Dan jangan khawatir dia akan dapat melarikan diri. Dia akan saya beri obat beracun dan racun itu akan mengeram di dalam dirinya, akan membunuhnya dalam waktu satu tahun. Sedangkan obat penawarnya berada di tangan Paduka."
Hening sejenak. Kemudian terdengar lagi suara ayahnya, suara yang mulai mendatangkan kebencian di hati Hwee Li.
"Dia amat cerdik dan banyak akalnya, Pangeran. Selama dia belum menjadi milikmu, dia tentu akan menggunakan segala akalnya dan hal itu dapat nenimbulkan kesukaran. Akan tetapi kalau malam ini Paduka berhasil memilikinya, semua daya lawannya akan patah dan luluh. Percayalah."
"Sudahlah, tinggalkan kami berdua. Akan kupikirkan usul-usul kalian."
Terdengar langkah kaki tiga orang kakek itu pergi dan tak lama kemudian, daun pintu kamar itu terbuka dan muncullah Liong Bian Cu.
Melihat pangeran itu, Hwee Li membuang muka.
Pangeran itu menghampiri dan duduk di dekat pembaringan, di atas sebuah kursi.
Sejenak dia diam saja hanya menatap wajah yang miring itu.
Kemudian dia menarik napas panjang.
"Ahhhhh, betapa sedih hatiku melihat engkau terbelenggu kaki tanganmu seperti ini, Nona Hwee Li. Betapa perih hatiku yang mencintamu melihat bahwa hal ini terpaksa dilakukan karena engkau ternyata tega hendak membunuhku. Nyaris saja aku tewas oleh gigitan ular merahmu itu. Kalau tidak ada Hek-hwa Lo-kwi, tentu tercapai maksudmu dan aku sudah mati. Akan tetapi tentu engkau pun tidak akan terhindar dari maut."
Hwee Li tidak menjawab dan tidak menoleh.
Masih terlalu ngeri hatinya mendengar percakapan tadi.
Jantungnya berdebar keras.
Mau apakah pangeran ini?
Apakah benar-benar hendak melaksanakan usul-usul tadi?
Hampir dia pingsan kembali membayangkan hal itu!
Ingin dia menangis, ingin dia minta-minta ampun agar dibebaskan saking ngeri dan takutnya, akan tetapi wataknya yang keras dan gagah melarangnya berbuat seperti itu.
Dia hendak memperlihatkan, terutama kepada ayahnya, bahwa sampai mati dia tidak takut menghadapi apapun!
Akan tetapi, dia tidak boleh nekat begitu saja.
Selama dia masih hidup, dia harus berusaha menggunakan kecerdikannya untuk meloloskan diri dari bahaya penghinaan hebat itu!
"Aku memang hendak membunuhmu.
Maka sebaiknya kaubunuh saja aku sekarang!"
Akhirnya dia berkata sambil memutar otaknya mencari akal.
Dia masih belum berani memandang, karena dia khawatir kalau sinar mata yang tajam itu akan dapat menjenguk isi hatinya.
Pangeran itu menyentuh lengan tangan Hwee Li, dan membelai lengan yang berkulit halus itu.
Hwee Li memejamkan matanya.
Rabaan jari-jari tangan pada lengannya itu menimbulkan perasaan jijik dan geli, juga gelisah dan ngeri.
"Ahhh, bagaimana mungkin aku membunuhmu, sayang? Tidak tahukah bahwa aku cinta kepadamu, Nona?"
"Aku sudah berdosa hendak membunuhmu, dan aku kelak akan membunuhmu kalau kau tidak membunuhku sekarang!"
Hwee Li memancing.
"Tidak.... tidak....! Engkau masih muda, engkau belum tahu betapa aku amat mencintaimu. Kalau kau tahu, engkau akan menyesal, Hwee Li. Perbuatanmu itu amat kejam, sedangkan aku.... ah, tanpa engkau sebagai isteriku, hidup rasanya akan menjadi hampa...."
"Hemmm, bagus, ya? Siapa sudi percaya obrolanmu tentang cinta? Kalau engkau benar mencintaku, mengapa engkau membiarkan aku dibelenggu seperti ini? Beginikah perlakuan orang yang mencinta?"
Hwee Li kini memandang dan menjebikan bibirnya yang merah.
Pangeran itu mengerutkan alisnya dan matanya menjadi sayu, berduka.
Kini dia melepaskan lengan Hwee Li dan kini jari-jari tangannya meraba kaki dara itu, mengelus betis yang nampak karena pipa celana kanannya tertarik ke atas.
Betis yang berkulit putih mulus kemerahan itu, yang kulitnya kelihatan demikian tipis dan halusnya sehingga urat-uratnya membayang, dirabanya dengan penuh kemesraan dan kegairahan.
Kini Hwee Li menggigil.
Seluruh bulu di tubuhnya bangkit berdiri, meremang saking ngerinya.
Ingin dia menjerit, ingin dia memaki agar pangeran itu jangan mengusap dan membelai betis kakinya.
Akan tetapi semua perasaan ini ditahannya.
"Sudah kukatakan tadi, sayang. Hatiku berduka, jantungku berdarah melihat kakimu yang indah dan tanganmu yang halus itu dirantai seperti ini. Akan tetapi, mengapa engkau memperlihatkan kekerasan dan tidak sudi menerima cintaku? Tentu saja, kalau engkau mau menerima dan membalas cintaku engkau tidak akan dibelenggu, bahkan engkau akan menjadi orang paling terhormat dan paling mulia di sini, di seluruh Nepal, dan di seluruh dunia! Engkau akan menjadi permaisuri, menjadi ratu, disembah-sembah! Mengapa engkau tidak mau menjadi kekasihku, sayang? Aku Liong Bian Cu dapat menciptakan sorga untukmu, engkau dapat bergelimang dalam kemewahan, kemuliaan dan kehormatan."
"Hemmm, janjimu terlalu muluk, Pangeran. Bagaimana kalau aku berjanji untuk tidak melawan dan untuk.... hemm, belajar mempertimbangkan cintamu dan mungkin kelak dapat menerima dan membalas cintamu?"
Kata Hwee Li hati-hati.
"Apakah dengan janjiku itu engkau mau membebaskan aku sekarang juga?"
"Tentu saja! Tentu saja akan kubebaskan sekarang juga!"
Kata pangeran itu penuh gairah kegembiraan.
Dapat dibayangkan betapa tegang dan gembira hati Hwee Li mendengar ini dan dia meraba betapa tangan pangeran itu telah meraba-raba belenggu kedua kakinya.
Akan tetapi, timbul kekecewaannya karena jari-jari tangan pangeran itu kembali meninggalkan belenggu dan terdengar pangeran itu berkata.
"Nona, aku sungguh mencinta dan kasihan kepadamu. Akan tetapi, bagaimana aku dapat mempercaya janjimu. Betapa aku ingin kita dapat saling percaya dan saling mencinta, akan tetapi apa yang baru saja kaulakukan terhadapku sungguh membuat hatiku meragu. Dan engkau belum berjanji."
Dengan jantung berdebar Hwee Li berkata.
"Aku berjanji, Pangeran! Aku berjanji bahwa aku akan mempertimbangkan cintamu dan aku akan belajar membalas cintamu!"
Mulut pangeran itu tersenyum lebar, matanya yang cekung bersinar-sinar, akan tetapi dia belum bergerak membuka belenggu kaki dan tangan Hwee Li.
"Kau berani bersumpah?"
Tanyanya perlahan.
"Aku bersumpah!"
Jawab Hwee Li sedangkan di dalam hatinya dia mengejek.
Apa artinya sumpah baginya?
Apalagi bersumpah di depan orang Nepal yang dibencinya ini!
"Ahhh, sumpah dan janji harus disertai bukti, Nona Manis."
"Bukti? Bukti bagaimana maksudmu?"
Hwee Li bertanya, penasaran dan kecewa.
"Kalau benar engkau mempunyai maksud hati yang baik dan tidak hendak berlaku curang kepadaku, kalau benar engkau jujur dalam janjimu, engkau tentu mau memperlihatkan kebaikanmu itu untuk menciumku."
Pangeran itu tersenyum dan memandang tajam.
Hwee Li merasa betapa wajahnya panas sekali.
Dia tidak tahu betapa kedua pipinya menjadi merah seperti udang direbus mendengar permintaan pangeran itu.
Ingin dia menjerit, memaki dengan segala macam makian kotor yang pernah didengarnya.
Akan tetapi dara yang cerdik ini menekan perasaannya dan dia lalu berkata.
"Aku mau...."
Sepasang mata yang cekung itu berkilat.
"Benarkah? Aihhh, Nona Hwee Li, kekasihku...., benarkah engkau mau menciumku? Ah, betapa bahagia hatiku dan kalau benar, aku akan mempercayaimu sepenuh hatiku. Nah, kau ciumlah aku, sayang."
Pangeran itu lalu berlutut di dekat pembaringan dan mendekatkan mukanya pada muka dara itu.
Ketika muka itu mendekati mukanya, Hwee Li merasa ngeri bukan main.
Tercium bau wangi yang aneh, agaknya pangeran itu memakai minyak wangi yang asing, bercampur bau badan pria yang mungkin keluar dari keringat, seperti bau binatang liar, dan napas pangeran itu menyapu pipinya, panas dan tersendat-sendat.
Hwee Li memejamkan matanya dan dengan cepat menggerakkan mukanya sehingga hidungnya menyapu pipi pangeran itu.
"Ngokkk!"
Pertemuan antara ujung hidung dan sebagian bibirnya dengan pipi yang panas kasar itu membuat Hwee Li mengkirik dan bulu tengkuknya meremang.
"Terima kasih.... ha-ha, ciumanmu seperti ciuman seorang anak kecil. Nona, karena kita kelak akan menjadi suami isteri, maka tiada buruknya kalau kita saling mencium. Dan mengingat betapa Nona adalah seorang dara yang masih murni dari hijau, biarlah saya memberi contoh bagaimana kalau mencium kekasih."
Setelah berkata demikian, tiba-tiba pangeran itu merangkul Hwee Li dan sebelum gadis itu dapat membuang muka, tahu-tahu bibirnya telah dicium oleh pangeran itu.
Ketika merasa betapa sepasang bibirnya tertawan daham ciuman mulut yang panas itu, hampir saja Hwee Li menjadi pingsan.
Dia menggerak-gerakkan kepalanya agar bibirnya terlepas dari ciuman, akan tetapi mulut pangeran itu menempel pada mulutnya seperti seekor lintah yang tidak mau lepas lagi.
Setelah napas mereka terengah-engah, barulah pangeran itu melepaskannya.
Wajah Hwee Li menjadi pucat, matanya terbelalak penuh kemarahan dan dua titik air mata meloncat ke luar dari sepasang matanya.
Akan tetapi wajah pangeran itu menjadi kemerahan, napasnya tersendat-sendat, tanda bahwa nafsu berahi telah naik ke kepala pangeran itu.
Dia memandangi wajah dan tubuh Hwee Li dengan mata merah.
"Benar hemm, .... benar usul mereka...."
Katanya lirih dan kini tangannya meraba baju Hwee Li.
Dara itu memandang dengan mata terbelalak.
Dia tadi telah mendengar usul-usul yang dikeluarkan oleh suara ayahnya sendiri dan suara Hek-hwa Lo-kwi, maka tahulah dia apa yang akan dliakukan oleh pangeran itu.
"Jangan...."
Bisiknya dengan muka makin pucat.
"Lepaskan aku....!"
Dia meronta, akan tetapi karena kaki dan tangannya terikat, dia hanya dapat menggerak-gerakkan pinggang dan lehernya saja.
"Brettttt....!"
Sekali renggut saja robeklah baju Hwee Li sehingga tubuhnya bagian atas hanya tertutup pakaian dalam yang tipis.
"Jangan....! Aku akan bunuh diri kalau kau lanjutkan.... aku akan menggigit putus lidahku....!"
Pangeran yang sedang dikuasai nafsu berahi itu terkejut, secepat kilat tangannya bergerak ke arah leher Hwee Li, menotok ke bawah telinga dan seketika gadis itu tidak mampu lagi menggerakkan dagunya, apalagi untuk menggigit!
"Hwee Li, aku terlalu cinta padamu, aku ingin engkau dapat membalas cintaku, maka aku juga tidak segan mempergunakan segala cara...."
Katanya terengah-engah dan kembali dia sudah menubruk gadis itu penuh nafsu berahi yang berkobar-kobar.
Hwee Li merasa takut sekali.
Dia teringat akan jalan satu-satunya untuk membunuh diri.
Maka dia melupakan segalanya, menutup ingatannya dan menahan napasnya.
Pangeran itu sudah meraba pakaian dalamnya ketika melihat wajah Hwee Li.
Dia terkejut sekali.
"Ahhhhh...."
Dan cepat dia turun dari atas tubuh Hwee Li yang sudah ditindihnya, kini dia mengguncang-guncangkan pundak dara itu dengan muka pucat.
"Hwee LI....! Hwee Li.... jangan.... jangan....aihhh, Hwee Li, aku tidak akan memaksamu.... jangan begitu nekat....!"
Dia menggunakan tangannya untuk mengurut leher dan ulu hati gadis itu, dalam keadaan panik dan khawatir itu dia tidak lagi merasakan betapa tangannya tanpa disengaja menyentuh dua buah bukit dada yang sedang mekar itu.
Lenyap sama sekali nafsu berahinya karena sama sekali dia tidak ingat lagi akan hal-hal yang berhubungan dengan itu.
Kini pikirannya penuh dengan kekhawatiran melihat betapa wajah dara itu kebiruan dan napasnya sama sekali terhenti, dadanya mekar penuh dengan hawa yang ditahan-tahan dan tidak dikeluarkan.
"Hwee Li....!"
Dia mengeluh dengan suara seperti orang menangis.
Akhirnya, karena dipaksa oleh pijatan dan urutan tangan Liong Bian Cu, Hwee Li bernapas lagi, terengah-engah dan terbatuk-batuk.
Dia sadar kembali, membuka matanya dan melihat bahwa tubuhnya masih tertutup pakaian dalam, tahulah dia bahwa dia belum ternoda.
Dia melihat pangeran itu berlutut dan ada air mata di kedua pipi pemuda itu!
"Hwee Li....
ah, Hwee Li, apa yang akan kulakukan tadi?
Kau ampunkan aku, Hwee Li, percayalah, semua yang kulakukan kepadamu terdorong oleh rasa cintaku yang besar...."
Liong Bian Cu meratap.
"Hemmm, kau tahu sekarang bahwa setiap saat aku dapat membunuh diri dan kau sama sekali tidak akan mampu mencegahku? Aku sudah berjanji, dan kau ternyata hendak melanggar, padahal kau pun berjanji akan membebaskan aku."
"Akan kubebaskan.... sekarang juga, akan tetapi kau pun harus berjanji tidak akan membunuh diri...."
Hwee Li tersenyum.
"Aku tidak akan begitu bodoh untuk membunuh diri, Pangeran. Akan tetapi, kau tidak boleh menyentuhku, tidak boleh menciumku seperti tadi, apalagi menggunakan kekerasan untuk memperkosa. Kalau kau melakukan satu kali saja, aku akan mencoba untuk membunuhmu, dan kalau aku gagal, aku akan membunuh diri sendiri. Kau boleh memiliki tubuhku sebagai mayat!"
"Tidak...., tidak...., kau maafkanlah aku, sayang. Nah, lihat, aku akan membebaskanmu sekarang juga."
Dia meraba belenggu, akan tetapi berhenti lagi.
Diam-diam Hwee Li gemas bukan main.
Pangeran ini amat berbahaya, juga amat besar curiga dan hati-hati, amat licin dan cerdik!
"Tapi, kau benar-benar mau menjadi isteriku, bukan?
Jawablah, Hwee Li sekarang juga.
Karena kalau kau suka berjanji untuk menjadi isteriku, apa pun akan kulakukan demi engkau, sayang.
Sebaliknya, aku tidak mau disiksa menantikan sesuatu yang tidak akan terjadi, tidak mau disiksa dengan harapan kosong yang tidak akan terpenuhi.
Kalau kau tidak mau, katakan saja tidak mau.
Aku tidak akan memaksamu, aku terlalu cinta padamu untuk melihat engkau menderita di bawah tanganku, akan tetapi....
hemmm, kalau tidak mau, aku akan hadiahkan engkau kepada anak buahku!"
Hwee Li merasa ngeri. Dia maklum bahwa gertakan pangeran ini bisa saja dilaksanakan kalau dia membuat pangeran ini putus harapan dan marah.
"Aku berjanji, Pangeran. Akan tetapi aku bukanlah seorang wanita sembarangan saja. Aku hanya mau menjadi isterimu dalam pernikahan yang syah, pernikahan yang dirayakan secara meriah dan disaksikan oleh banyak tamu di dunia kang-ouw. Sebelum itu, sekali saja engkau menyentuhku, aku akan membunuh diri! Kehormatanku jauh lebih penting daripada nyawaku. Nah, aku sudah berjanji, terserah kepadamu!"
Bukan main girangnya hati Liong Bian Cu.
Dia mengeluarkan kunci dari dalam saku bajunya dan segera membuka kunci belenggu kaki tangan Hwee Li.
Dara itu bangkit duduk di atas pembaringan, menggosok-gosok pergelangan tangan dan kakinya, bergantian, untuk melancarkan jalan darah yang tadi terganggu oleh himpitan belenggu.
Tiba-tiba dia teringat akan peristiwa tadi, betapa mulutnya dicium dengan lahapnya oleh mulut Liong Bian Cu.
Teringat akan ini, tiba-tiba saja Hwee Li muntah-muntah!
"Ah, kau sakit....!
Kalau pusing, engkau rebahlah, Hwee Li...."
Liong Bian Cu terkejut sekali melihat gadis itu muntah-muntah di atas lantai dekat pembaringan, lalu mendekati untuk memijat-mijat tengkuk gadis itu.
"Sudah, aku tidak apa-apa!"
Hwee Li berkata sambil melepaskan tangan yang memijit-mijit (Lanjut ke
Jilid 27) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 27 tengkuknya.
Dia menggunakan lengan baju untuk mengusap mulutnya, diusapnya keras-keras karena dia bukan hanya mau menghapus bekas muntah tadi, melainkan hendak menghapus bekas ciuman dari kedua bibirnya.
"Sungguh engkau tidak apa-apa, Moimoi (Dinda)....?"
Tanya Liong Bian Cu, suaranya penuh kasih sayang dan dia bertepuk tangan memanggil pelayan.
Pelayan datang dan segera disuruh membersihkan lantai.
Pelayan itu lalu disuruh keluar lagi setelah selesai mengerjakan perintah itu.
"Bekas belenggu itu menyakitkan tanganmu, Hwee Li?"
Dia merayu lagi dan mendekati, membantu gadis itu menggosok-gosok pergelangan tangannya.
"Biar kulancar-kan jalan darahnya dengan urutan tangan dan....!"
Tiba-tiba pangeran itu menghentikan kata-katanya, karena dia merasa betapa tangan yang kecil halus namun mengandung tenaga yang amat kuat itu kini telah mencengkeram jalan darah di dekat ulu hatinya, jalan darah kematian!
"Jangan bergerak atau kau akan mampus!"
Hwee Li menghardik.
"Aihhh, apa yang hendak kau lakukan ini, Moi-moi....?"
Pangeran itu mengeluh, tidak berani bergerak karena sekali saja dara itu mengerahkan sinkang dan mencengkeram, tidak ada yang dapat menolong nyawanya lagi.
"Dengar kau, Liong Bian Cu! Engkau tadi telah menghinaku, dan untuk.... ciuman itu saja engkau sudah layak mampus. Apalagi penghinaan lainnya tadi! Hayo kauantar aku keluar dari lembah ini, kalau tidak, engkau akan mampus sekarang juga."
"Ah, Hwee Li, apa kau kira aku takut mati? Akan tetapi, bukan kematianku yang kutakutkan, melainkan nasibmu. Kalau kau membunuhku, apa kau kira akan dapat lolos dari kematian? Engkau yang masih begini muda remaja, cantik jelita, pasti tidak akan lolos dari kematian di tangan Hek-hwa Lo-kwi dan Hek-tiauw Lo-mo dan semua anak buahku dan anak buah Kui-Liong-pang. Aku mati, akan tetapi engkau juga mati, apa bedanya bagiku? Kita akan berkumpul juga di alam baka! Mati di tangan seorang yang kucinta seperti engkau adalah kematian yang menyenangkan, Hwee Li. Nah, kaubunuhlah dan aku akan menantimu di sana karena aku yakin engkau akan menyusulku cepat, dalam hari ini juga."
"Bohong!"
Bentak Hwee Li.
"Kalau kau mampus, ayah tentu tidak melihat kegunaannya lagi berada di sini dan mengorbankan aku. Ayah tentu akan membantuku melarikan diri. Betapapun juga, dia adalah ayah kandungku sendiri!"
Tiba-tiba pangeran itu tertawa dan Hwee Li memperkuat cengkeramannya sehingga kuku-kuku jarinya sudah mulai terbenam sedikit ke dalam baju dan me nyentuh kulit di dada Liong Bian Cu.
"Ha-ha-ha-ha! Ayah kandungmu? Hwee Li, kalau dia ayah kandungmu, mana mungkin dia sengaja menyerahkan engkau kepadaku, bahkan dia menasihatkan aku untuk memperkosamu? Kalau dia ayah kandung yang mencinta puterinya, mana mungkin dia tega melakukan hal itu? Sedangkan aku saja, seorang pria muda yang mencintamu, masih tidak tega memperkosamu seperti yang kau lihat sendiri tadi. Dia bukan ayah kandungmu, Hwee Li, engkau adalah anak pungut dari Hek Tiauw Lo-mo!"
"Bohong....!"
Hwee Li menjerit dan dia lupa dengan ancamannya, kini tangannya bergerak menampar.
"Plakkk!"
Pipi Liong Bian Cu ditamparnya dan tubuh pemuda bangsawan itu terhuyung ke belakang.
Akan tetapi dia hanya tersenyum dan mengelus pipinya yang menjadi merah sekali oleh tamparan tadi.
"Bohong kau....! Bohong....!"
Bentak Hwee Li, wajahnya pucat dan air matanya menitik turun.
"Tidak, Hwee Li, aku tidak bohong. Ayahmu sendiri yang akan menceritakan kepadamu,dan kau boleh bertanya kepadanya. Semua peristiwa itu diketahui Hek-hwa Lo-kwi, dahulu sahabat ayahmu, dan aku mendengar dari Hek-hwa Lo-kwi. Hek-tiauw Lo-mo tidak pernah punyak anak, dan engkau bukan puterinya."
Mata yang indah itu terbelalak, kedua kakinya menggigil.
"Bohong...! Bohong...!"
Dara itu meloncat ke luar dari kamar dan berlari sambil menutupi mukanya dan menangis terisak-isak.
Malam telah tiba.
Di luar sudah gelap.
Akan tetapi tidak terlalu gelap karena bulan telah muncul di angkasa timur.
Biarpun bukan bulan purnama, namun bulan yang tiga perempat itu cukup mengusir kegelapan dan menimbulkan cahaya remang-remang yang sejuk dan kehijauan.
Hwee Li berlari terus sambil menangis dan akhirnya dia baru berhenti ketika tiba di tepi sungai yang mengurung lembah.
Dia menjatuhkan diri di atas rumput dan menangis sejadi-jadinya.
Ia mengingat akan semua pengalamannya dengan ayahnya, waktu yang belasan tahun itu seperti membayang semua di benaknya.
Ayahnya selalu memanjakannya, selalu mencintanya.
Hanya akhir-akhir ini berubah.
Dan dia mendengar ucapan ayahnya ketika bercakap-cakap di luar kamar tadi.
Apa kata ayahnya ke pada Pangeran Liong Bian Cu?
Terngiang di telinganya sebagian dari kata-kata.
ayahnya yang sukar dia lupakan.
"Hanya kalau dia satu kali sudah menjadi milik pangeran, dia akan terpatahkan kekerasannya, dia akan tunduk, seperti yang terjadi pula dengan ibunya dahulu."
Ah, ayahnya hanya bilang bahwa ibunya telah meninggal dunia ketika dia masih kecil.
Dia sama sekali sudah tidak ingat lagi kepada ibunya.
Dan dia percaya!
Siapakah ibunya?
Siapa pula ayahnya?
Apa yang terjadi dengan mereka?
Dan bagaimana dia bisa menjadi anak Hek-tiauw Lo-mo dan tinggal di Pulau Neraka?
Hwee Li masih menangis, akan tetapi sekarang pikirannya bekerja.
Kalau benar bahwa Hek-tiauw Lo-mo bukan ayahnya, tentu dia tidak bisa mengharapkan bantuan dari kakek itu.
Dia sendirian saja dikurung di dalam lembah itu, bahkan ayahnya itu juga membantu Pangeran Liong Bian Cu.
Dia tidak bisa mengandalkan siapa-siapa, dan kalau dia ingin selamat, dia harus mengandalkan dirinya!
Akan tetapi, kepandaiannya masih jauh daripada cukup untuk menghadapi orang-orang seperti mereka, yang amat lihai itu.
Satu-satunya yang boleh diminta tolong dan diandalkannya hanyalah otaknya, kecerdikannya.
Dia harus cerdik, kalau dia tidak ingin terhina dan mati konyol.
Dan dia tidak ingin mati.
Dia harus mencari akal!
"Moi-moi....!"
Hwee Li tahu siapa yang datang dan dia menangis makin keras.
Dia terisak-isak sambil berlutut di atas rumput, akan tetapi kini tangisnya berbeda dengan tadi.
Kalau tadi, dia menangis sepenuhnya terdorong oleh rasa penasaran, marah, kecewa dan duka.
Akan tetapi kini tangisnya sebagian besar terkendali oleh kecerdikannya.
"Hwee Li, kau maafkanlah aku. Aku tidak sengaja melukai hatimu. Akan tetapi percayalah, bahwa satu-satunya orang di dunia ini hanya aku yang dapat kau percaya, hanya aku yang mencintamu. Jangan kau memikirkan lagi ayah angkatmu itu. Aku akan membahagiakan hidupmu, Moi-moi."
Hwee Li masih menangis, kemudian ketika dia merasa ada tangan menyentuh pundaknya, sentuhan penuh kasih sayang, dia mendorong perlahan tangan itu, bangkit berdiri dan menghadapi pangeran itu dengan muka basah air mata.
"Pangeran, betapa sedih hatiku mendengar bahwa dia bukan ayah kandungku. Dan aku tahu akan kebaikanmu, akan tetapi, engkau pun tahu bahwa aku tidak sudi untuk dijadikan perempuan sembarangan. Kalau kau berlaku sopan, kalau kau dapat menghormati dan menghargai aku sebagai gadis baik-baik, mungkin akan lebih mudah bagiku untuk kelak menjadi jodohmu."
Tiba-tiba pangeran yang sudah tergila-gila dan benar-benar jatuh cinta kepada dara itu menjatuhkan dirinya berlutut.
"Lihat, kekasihku, lihat. Aku Pangeran Liong Bian Cu yang biasa disembah-sembah orang. Aku tidak malu-malu untuk berlutut di depan kakimu. Aku bersumpah akan memenuhi janjiku, tidak akan mengganggumu sebelum kita menikah dan menjadi suami isteri yang syah. Engkau tahu bahwa aku mempunyai cita-cita yang maha besar, dan agaknya, tanpa engkau di sampingku, aku merasa tidak cukup kuat untuk melaksanakan tugas berat itu. Akan tetapi, dengan engkau di sampingku, Moi-moi, aku sanggup untuk menaklukkan seluruh dunia!"
"Baiklah, Pangeran. Aku percaya kepadamu, dan kuharap mulai sekarang aku boleh bebas di tempat ini."
"Tentu saja kekasihku. Akan tetapi, kuharap engkau jangan mencoba untuk melarikan diri karena engkau tahu bahwa hal itu selain tidak mungkin terjadi, juga ketahuilah bahwa dengan jarum beracun pemberian Hek-hwa Lo-kwi, aku telah terlanjur menusukkan jarum itu di tubuhmu sehingga kini racun itu telah berada di dalam tubuhmu. Racun itu tidak akan bekerja sebelum satu tahun, akan tetapi dalam satu tahun, racun itu akan dapat mematikan, Moi-moi. Akan tetapi, jangan khawatir, obat penawarnya selalu berada di tanganku."
Pangeran itu bangkit berdiri dan tersenyum.
"Jadi jelas bahwa mencoba untuk melarikan diri, selain tidak mungkin, juga berarti engkau kelak akan tewas dalam keadaan tersiksa sekali. Maka, kuharap engkau tidak sebodoh itu."
Demikianlah, dalam keadaan tersudut, Hwee Li yang cerdik itu bermain sandiwara, pura-pura menerima kehendak sang pangeran untuk memperisterinya.
Setiap hari dia hidup dengan bebas di lembah itu, dihormati semua orang yang tahu bahwa dara cantik jelita ini adalah tunangan Pangeran Nepal itu.
Akan tetapi penjagaan terhadap dirinya sungguh amat ketat, apalagi di situ selalu ada Hek-hwa Lo-kwi atau Hek-tiauw Lo-mo yang membayanginya.
Selain itu, juga semua perahu selalu dijaga sehingga tanpa memiliki perahu, tidak mungkin dia dapat menyeberangi sungai.
Adapun sikap pangeran itu terhadapnya kini tidak begitu merisaukan hati Hwee Li karena pangeran yang amat mencintanya itu benar-benar tidak pernah mau mengganggunya, Sikapnya amat manis, ramah dan mesra dan pangeran itu jelas berusaha keras untuk menundukkan hatinya dengan memupuk segala macam kebaikan dan keramahan.
Hwee Li mengimbanginya dengan sikap manis sambil selalu mengincar kesempatan untuk dapat meloloskan diri dari tempat itu.
Bahkan dia pandai menyimpan penasaran hatinya sehingga dia tidak melontarkan rasa penasaran itu secara kasar kepada Hek-tiauw Lo-mo.
Ketika beberapa hari kemudian Liong Bian Cu mengundang makan Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi di taman bunga untuk menikmati bulan purnama bersama Hwee Li, barulah dara ini dengan hati-hati mengajukan pectanyaan kepada Hek-tiauw Lo-mo.
Mereka telah selesai makan dan Hek-tiauw Lo-mo telah minum banyak sekali arak pada malam hari itu.
"Ayah, jangan Ayah merasa heran bahwa aku telah mendengar bahwa Ayah sesungguhnya bukan ayah kandungku."
"Ehhh?"
Hek-tiauw Lo-mo menoleh kepada Hek-hwa Lo-kwi dengan alis berkerut, akan tetapi kakek muka tengkorak yang tinggi kurus itu tidak perduli dan tenang-tenang saja makan manisan angco.
"Sayalah yang menceritakan kepadanya, Locianpwe,"
Tiba-tiba Pangeran Liong Bian Cu berkata.
"Untuk melenyapkan rasa penasaran di hatinya."
Hek-tiauw Lo-mo memandang kepada pangeran itu, akan tetapi lalu mengangguk-angguk dan minum arak dari cawannya, kemudian meletakkan cawan kosong dan memandang kepada Hwee Li sambil tersenyum lebar.
"Bagus kalau engkau sudah tahu. Kalau Pangeran tidak memberi tahu, sebetulnya aku pun hendak memberitahukan kepadamu, Hwee Li. Engkau sudah dewasa dan sudah waktunya mengetahui riwayatmu."
"Ayah,"
Kata Hwee Li tenang sambil memandang tajam.
Dia memaksa diri menyebut ayah, padahal di dalam hatinya dia tidak sudi lagi menyebut kakek yang kejam ini sebagai ayahnya.
Semenjak dia bukan kanak-kanak lagi dan sudah mengerti dan dapat membedakan antara baik dan buruk, dia memang sudah merasa kecewa dan tidak senang kepada ayahnya.
Sikap ayahnya itulah yang membuat dia tidak kerasan berdekatan dengan ayahnya itu.
"Ayah telah memeliharaku sejak kecil dan untuk itu, aku berterima kasih sekali. Akan tetapi, aku berhak untuk mengetahui siapa orang tuaku yang sebenarnya dan di mana adanya mereka."
Hwee Li menggunakan kekuatan batinnya untuk menekan perasaan dan dia menelan kembali keinginannya untuk menangis. Lalu dia menambahkan.
"Kurasa Ayah adalah seorang tokoh yang terlalu terkenal dan gagah untuk tidak menyembunyikan semua perbuatan yang Ayah lakukan terhadap orang tuaku itu."
"Ha-ha-ha! Kim Hwee Li, engkau tentu sudah cukup mengenal watakku. Aku bukanlah orang yang suka menyesalkan semua perbuatanku sendiri, dan aku bukanlah orang yang suka mengingkari perbuatan sendiri. Aku berani berbuat dan berani pula bertanggung jawab. Ha-ha-ha! Sekarang dengarlah penuturanku dan setelah kau mendengarnya, terserah apa yang akan kau pikirkan terhadap diriku."
Dengan wajah tenang namun hatinya penuh dengan segala macam perasaan, Hwee Li mendengarkan penuturan kakek itu.
Belasan tahun yang lalu, di dalam perantauannya setelah dia menemukan dan menundukkan orang-orang di Pulau Neraka dan mengangkat diri sendiri menjadi ketua Pulau Neraka, Pada suatu hari Hek-tiauw Lo-mo singgah di benteng yang dipimpin oleh Panglima Kim Bouw Sin yang terkenal sebagai seorang panglima yang suka berhubungan dengan orang-orang berilmu tinggi di dunia kangouw.
Karena tertarik akan berita bahwa Kim Bouw Sin amat menghormati orang-orang kang-ouw, maka Hek-tiauw Lo-mo singgah di benteng itu.
Benar saja, Panglima Kim Bouw Sin menyambutnya penuh penghormatan, bahkan lalu mengadakan pesta untuk menyambut tamu agung ini.
Di dalam pesta itu, Panglima Kim Bouw Sin berkenan menghibur tamunya dengan tari-tarian yang dilakukan oleh seorang selirnya yang terkasih.
Selir ini cantik sekali dan masih muda belia, seorang ahli menari yang amat pandai.
Sebenarnya, Hek-tiauw Lo-mo pelarian dari Korea itu, biarpun pernah menjadi raja orang-orang liar, bahkan pernah mempunyai kebiasaan makan daging manusia, Amat kejam dan membunuh orang seperti membunuh lalat saja, dia bukan termasuk seorang laki-laki yang lemah terhadap nafsu berahi.
Akan tetapi, dalam keadaan setengah mabuk melihat selir panglima itu menari-nari dengan tubuh yang lemah gemulai, dengan dada montok penuh karena wanita muda ini mempunyai anak yang baru tiga bulan usianya, Hek-tiauw Lo-mo menjadi tergila-gila, dan pada malam hari itu, tanpa pamit, lenyaplah Hek-tiauw Lo-mo dari dalam kamar itu dan bersama dia, lenyap pula selir cantik itu bersama anaknya yang baru berusia tiga bulan!
Panglima Kim Bouw Sin terkejut sekali, akan tetapi melihat betapa tamunya yang seperti raksasa itu dapat menculik selir dan anaknya, melarikan diri dari sebuah benteng yang terjaga ketat, tahulah dia bahwa tamunya itu lihai sekali.
Dan sebagai seorang panglima yang bercita-cita besar, yang ingin mengambil hati orang-orang berilmu di dunia kangouw, Panglima Kim Bouw Sin tidak mau ribut-ribut tentang penculikan ini, sungguhpun diam-diam dia menggerakkan orang-orangnya untuk mencari tanpa hasil.
Selir muda yang cantik itu menangis ketika dia dibawa masuk ke rumah Hek-tiauw Lo-mo di Pulau Neraka.
Mula-mula dia menolak semua bujuk rayu raksasa itu, dan memilih mati.
Akan tetapi, ketika Hek-tiauw Lo-mo menangkap anaknya, menempelkan golok gergajinya di leher anak yang baru berusia tiga bulan itu, wanita muda ini menyerah!
Demi menjaga nyawa anaknya, dia mau menyerahkan diri setelah Hek-tiauw Lo-mo berjanji tidak akan mengganggu dan tidak akan membunuh anak itu, Bahkan mengambil anak itu sebagai anaknya sendiri.
Barulah wanita muda itu menyerahkan diri, penyerahan yang dilakukan dengan terpaksa dan dengan hati hancur.
Hek-tiauw Lo-mo, raksasa yang kasar itu, mempermainkan wanita itu di luar batas kekuatan si wanita sehingga dalam waktu tiga bulan saja, wanita itu tidak kuat bertahan dan tewas!
Biarpun dia seorang liar dan kejam, namun Hek-tiauw Lo-mo merasa sebagai orang gagah, maka dia pantang untuk menjilat janjinya sendiri.
Maka, setelah wanita itu meninggal dunia, dia benar tidak membunuh anak itu dan memeliharanya sebagai anak sendiri.
Makin besar anak itu, makin sayanglah dia, apalagi setelah anak perempuan itu memperlihatkan tanda-tanda bahwa dia kelak akan menjadi seorang wanita yang cantik jelita seperti ibunya!
"Ha-ha-ha engkaulah anak itu, Hwee Li!"
Hek-tiauw Lo-mo menutup ceritanya yang dilakukan terang-terangan tanpa menyembunyikan sesuatu untuk membuktikan "kegagahannya".
Baca Juga: Mutiara Hitam 6
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 12