Eps 11 Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo
Baca online Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo
Cersil Jodoh Rajawali - Kho Ping Hoo.
"Tahukah engkau siapa sebetulnya Siluman Kecil itu?"
Cui Lan memandang gurunya.
"Teecu tidak tahu, Subo. Dia.... dia diliputi penuh rahasia.... dan teecu pernah mendengar betapa dia menyebut Subo dengan sebutan ibu.... ah, bukan sekali-kali teecu bermaksud untuk menanyakan hal ini kepada Subo, teecu tidak berhak mengetahui...."
"Anak baik, engkau amat sopan dan baik. Akan tetapi jangan khawatir. Dia bukanlah puteraku sungguhpun dia kuanggap sebagai anakku sendiri dan dia pernah mempelajari beberapa macam ilmu dari pinni. Akan tetapi yang kumaksudkan bukan itu, melainkan bahwa dia itu putera dari Majikan Pulau Es, putera dari Pendekar Super Sakti, dan namanya adalah Suma Kian Bu."
Cui Lan mengerut-kan alisnya, mengingat-ingat.
Dia sama sekali tidak pernah mengenal nama Pendekar Super Sakti atau Majikan Pulau Es, akan tetapi nama Suma Kian Bu tidak asing baginya, terutama she Suma itu.
Kemudian dia teringat.
"Ah, teecu pernah mengenal seorang pendekar perkasa yang amat berbudi dan bernama Suma Kian Lee...."
"Ehhh? Suma Kian Lee? Dia adalah kakak dari Suma Kian Bu atau Siluman Kecil!"
"Ohhhhh....!"
Cui Lan terbelalak dan kini dia mengerti mengapa dia merasa kagum dan suka sekali kepada Suma Kian Lee, bukan hanya karena Kian Lee merupakan seorang pemuda tampan yang gagah perkasa dan berbudi mulia, akan tetapi sekarang dia melihat bahwa memang terdapat persamaan antara kedua orang pemuda itu!
Banyak sekali persamaan malah.
Memang wajah mereka agak berbeda, memiliki ketampanan masing-masing, akan tetapi kini nampak olehnya bahwa memang terdapat persamaan yang kuat sekali, entah di dalam sinar matanya, atau dalam sikap mereka yang gagah.
"Dan ketahuilah bahwa pinni adalah sahabat baik dari ayah mereka. Pendekar Super Sakti. Bukan hanya sahabat baik sekali, Cui Lan, bahkan dia itu dahulu adalah suteku sendiri. Pinni menganggap Kian Bu sebagai anak sendiri dan pinni melihat engkau memang pantas menjadi jodohnya, Cui Lan...."
"Subo....!"
Cui Lan menjerit dan mukanya berubah makin merah.
"Dia.... dia tidak suka kepada teecu....!"
"Ah, mana mungkin ada orang tidak suka kepadamu, Cui Lan? Dan anakku Kian Bu itu bukanlah pembenci orang."
"Akan tetapi dia.... dia.... agaknya tidak dapat menerima perasaan teecu, Subo."
Dia berhenti sebentar.
"Dia.... tidak mencinta teecu.... tidak mungkin dia sudi berjodoh dengan, teecu."
"Jangan khawatir, muridku. Aku cukup mengenal anakku Kian Bu. Bukannya dia tidak mencintamu, akan tetapi mungkin ada hal lain yang membuat dia agaknya sengaja menjauhimu. Akan tetapi, biarlah pinni yang akan menemuinya dan kalau perlu pinni yang akan membicarakan urusan perjodohan antara engkau dan Kian Bu dengan ayahnya, Pendekar Super Sakti. Kalau pinni yang bicara, pinni yakin akan ada perhatian dari keluarga mereka."
Tiba-tiba Cui Lan tak dapat menahan lagi membanjirnya air matanya, air mata yang terdorong oleh bermacam perasaan.
Ada kesedihan, ada keharuan, akan tetapi juga ada kegirangan yang timbul oleh harapan baru.
Hampir dia tidak percaya bahwa dia kelak akan dapat menjadi jodoh Siluman Kecli.
Akan tetapi siapa tahu?
Nasibnya berada di tangan subonya.
Dia lalu memberi hormat sampai dahinya menyentuh lantai.
"Subo.... teecu menyerahkan mati hidup teecu di tangan Subo, dan teecu hanya akan mentaati segala perintah Subo...."
Kim Sim Nikouw menarik napas panjang dan menggerakkan tangannya, dengan lembut dia mengusap rambut kepala muridnya itu. Tak lama kemudian dia berkata.
"Aihhh, betapa cinta kasih di dunia ini mendatangkan banyak korban di antara manusia! Pinni akan berusaha sungguh-sungguh, Cui Lan, karena pinni tidak menghendaki engkau mengalami nasib seperti wanita-wanita yang gagal dalam bercinta sehingga akhirnya hidup menderita selamanya. Pinni sendiri telah menemui kebahagiaan dalam penghambaan diri kepada Pouwsat, akan tetapi betapa banyaknya orang yang hanya menggunakan agama sebagai pelarian belaka? Apalagi kalau pinni teringat kepada sucimu Yan Hui.... hemmm, pinni merasa ngeri...."
Wajah nikouw itu menjadi muram ketika menyebut nama Yan Hui itu.
Cui Lan yang telah mereda keharuannya dan telah mengusap air matanya itu memandang subonya, hatinya tertarik.
"Subo, siapakah Suci (Kakak Seperguruan) yang bernama Yan Hui itu?"
Tanyanya. Kembali Kim Sim Nikouw menarik napas panjang.
"Ketahuilah bahwa belasan tahun yang lalu, hampir dua puluh tahun yang lalu, pinni belum mendidik Liang Wi Nikouw sucimu itu sebagai murid, pinni tadinya tidak berniat untuk menurunkan ilmu silat kepada siapapun karena pinni menganggap bahwa ilmu silat hanyalah ilmu yang dipergunakan orang untuk menunjukkan kekerasan belaka. Akan tetapi pada suatu hari, pinni bertemu dengan seorang gadis cantik jelita yang memiliki kepandaian tinggi dan dia pinni temui hampir membunuh diri di dalam kamar kuil ini ketika pada suatu malam dia bermalam di sini. Pinni mencegah dia membunuh diri dan memutuskan tali penggantung lehernya. Dara itu bernama Ouw Yan Hui, cantik jelita dan berilmu tinggi. Melihat betapa pinni menggagalkan maksudnya membunuh diri, setelah dia siuman kembali, dia menjadi marah dan menyerang pinni. Kami bertanding dan ternyata ilmunya memang hebat! Kalau saja pinni tidak memiliki ilmu ginkang yang telah pinni latih secara tekun sekali sehingga dalam hal kecepatan pinni dapat mengatasinya, agaknya pinni tidak akan menang menghadapinya."
Sampai di sini nikouw itu berhenti dan memejamkan mata mengingat-ingat.
"Akan tetapi pinni tidak mau melukai orang, apalagi membunuh orang. Maka perlahan-lahan pinni menasihatinya dengan pelajaran agama dan akhirnya dia sadar dan insyaf, lalu dia menangis dan berlutut mohon menjadi murid pinni. Seperti juga engkau, dia ingin menjadi nikouw, akan tetapi pinni yang melihat ada ganjalan hati yang membuatnya keras luar biasa, tidak mau menerimanya, hanya menerimanya sebagai murid. Pinni mengajarkan ginkang itu kepadanya dan ternyata dia berbakat sekali. Dalam waktu tiga tahun saja ginkangnya bahkan sudah melampaui tingkat pinni sendiri!"
"Ah, dia tentu hebat....!"
Cui Lan berseru kagum.
"Memang dia hebat! Yan Hui seorang wanita yang hebat sekali. Akan tetapi dia pun menjadi rusak oleh patah hati karena cinta gagal!"
"Ohhh....!"
Cui Lan berseru kaget dan kasihan.
"Sebetulnya dia sudah bersuami dan dia amat mencinta suaminya itu. Akan tetapi, selagi dia mengandung tua, suaminya itu menyeleweng dan dia menangkap basah suaminya yang berjina dengan seorang gadis tetangganya. Yan Hui tidak mampu menahan kemarahannya dan dia membunuh suaminya dan gadis itu, menjadi buronan dalam keadaan mengandung tua. Dengan sengsara dia melarikan diri, melahirkan anak seorang diri di dalam kuil tua dan anak itu mati ketika dilahirkan. Dia sendiri hampir saja mati, dan biarpun akhirnya dia dapat memulihkan kembali kesehatannya, namun hatinya telah terluka. Dalam keadaan seperti itulah pinni bertemu dengan dia, ketika dia hendak membunuh diri."
Cui Lan makin tertarik.
"Sungguh kasihan sekali dia Subo, di mana sekarang adanya suci itu?"
Kim Sim Nikouw menghela napas panjang.
"Dia tinggal di Pulau Ular Emas, di mana dia hidup sebagai seorang ratu yang amat mewah. Dia berhasil menemukan harta pusaka yang disimpan kaum bajak jaman dahulu di pulau itu. Aihhh.... sungguh menyedihkan. Dia menjadi seorang wanita yang mabuk oleh dendam, menjadi pembenci kaum pria.... menyedihkan sekali, dia berubah menjadi seorang yang kejam, seperti iblis. Pinni tidak berdaya, karena dengan ginkang yang sudah melebihi pinni tingkatnya, mana pinni mampu menghadapinya? Kiranya, hanya Kian Bu saja yang akan sanggup menghadapi sucimu itu.... ah, sudahlah, hati pinni merasa tidak enak kalau membicarakan sucimu Yan Hui itu karena pinni merasa betapa pinni telah menambah sayap pada seekor harimau betina yang haus darah! Karena itulah, Cui Lan, maka pinni tidak ingin melihat engkau menjadi seorang wanita yang putus asa karena cinta gagal. Pinni akan berusaha agar engkau dapat berjodoh dengan Kian Bu karena pinni yakin bahwa baik engkau maupun Kian Bu kelak akan hidup sebagai suami isteri yang berbahagia."
"Teecu merasa amat berterima kasih atas budi kecintaan Subo kepada teecu,"
Jawab Cui Lan dan (Lanjut ke
Jilid 34) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 34 semenjak percakapan itu, dara ini berlatih makin tekun dan wajahnya mulal berseri karena timbul harapan baru dalam hatinya.
Gadis itu memang cantik bukan main.
Bukan hanya wajahnya yang cantik jelita dengan raut muka yang sempurna, kulitnya berwarna putih kemerahan, terutama sekali di kedua pipinya dan dahinya yang halus seperti lilin diraut, akan tetapi juga tubuhnya yang tinggi ramping itu amat lemas dan memiliki kepadatan dan lekuk lengkung yang tidak dapat disembunyikan oleh pakaiannya yang serba indah.
Aneh sekali melihat seorang dara cantik jelita berjalan seorang diri memasuki hutan itu, dengan tangan kiri memegang gagang payung yang terbuka dan yang melindunginya dari sengatan matahari yang terik itu.
Setelah memasuki hutan yang penuh pohon dan tedub sekali, dia menurunkan payungnya, menutup payung itu dan mengempitnya di ketiak lengan kiri tanpa menunda langkahnya yang satu-satu dan yang membuat tubuhnya melenggang-lenggok dengan patutnya.
Memang seorang dara yang cantik manis dan menggairahkan.
Akan tetapi pada wajah yang manis itu terbayang kemurungan hati.
Memang hati Siang In, gadis itu, sedang murung.
Sudah lama sekali dia berputar-putar mencari jejak Syanti Dewi tanpa hasil!
Dia merasa bertanggung jawab atas hilangnya Puteri Bhutan itu, karena sesungguhnya dialah yang membantu puteri itu melarikan diri dari istana Kerajaan Bhutan.
Akhir-akhir ini dia mendengar bahwa jejak puteri itu menuju ke pantai Po-hai, akan tetapi telah berhari-hari dia mencari-cari di seluruh pantai, tetap saja tidak ada hasilnya.
Dalam perantauannya mencari jejak Syanti Dewi yang kini lenyap seperti ditelan bumi itu, Siang In banyak mendengar tentang keributan dan pergolakan di tapal batas Propinsi Ho-nan.
Dia mendengar pula tentang peristiwa yang menimpa diri Pangeran Yung Hwa, betapa pangeran itu tertolong dari Ho-nan oleh pendekar yang namanya dia dengar di mana-mana, yaitu Siluman Kecil.
Ketika dia mendengar penuturan orang-orang kang-ouw di sepanjang perjalanan bahwa Siluman Kecil adalah seorang pemuda lihai sekali yang rambutnya sudah putih semua, dia teringat akan pemuda yang bertanding melawan kakek raksasa botak bermantel merah yang amat lihai itu.
Teringat dia ketika dia membantu pemuda itu karena melihat betapa kakek raksasa itu mempergunakan ilmu sihir dalam pertandingan.
Jadi pemuda itukah yang berjuluk Siluman Kecil dan yang namanya amat terkenal di seluruh tapal batas propinsi, bahkan, terdengar pula sampai ke tempat-tempat terpencil di pantai Po-hai?
Dia merasa kagum.
Memang, dia teringat betapa pertandingan itu membuktikan akan kelihaian pemuda rambut putih itu.
Dan kini dia mengerti bahwa lawan pemuda itu adalah Ban Hwa Seng-jin, koksu dari Nepal!
Dunia begini kacau, pikirnya.
Pembesar-pembesar melakukan pergolakan, pemberontakan.
Tokoh-tokoh dunia hitam seperti iblis-iblis merayap keluar dari gua-gua tempat persembunyian mereka untuk mendatangkan kekacauan dan mengail di air keruh.
Dalam keadaan sekacau ini, tentu saja makin sukarlah untuk mencari Syanti Dewi.
Dia makin murung.
Kalau saja dia tidak ingat bahwa dia yang mengajak dan membantu puteri itu minggat dari Bhutan, tentu dia tidak akan peduli lagi, tidak mau melanjutkan penyelidikannya mencari Syanti Dewi.
Karena Syanti Dewi, maka dia sampai mengesampingkan urusannya sendiri, yaitu mencari pemuda yang selama ini selalu merupakan gangguan dalam hatinya, dalam perasaannya, merupakan duri dalam daging.
Pemuda yang kadang-kadang menimbulkan rasa gemas sampai benci, kadang-kadang menimbulkan rasa gembira, malu sampai terasa bahagia, pemuda yang pernah menciumnya!
Suma Kian Bu!
Dia terpaksa mengesampingkan pencariannya terhadap pemuda itu karena urusan Syanti Dewi.
Apalagi ketika dia yang sudah hafal akan keadaan pantai Po-hai itu mencari-cari tanpa hasil, kemudian malah mendapatkan Gua Tengkorak, tempat pertapaan gurunya di pantai Po-hai juga kosong dan tidak ada pesan apa pun dari gurunya, hatinya makin menjadi murung, Sungguhpun pada wajah yang cantik jelita dan manis, itu tidak pernah kelihatan kegembiraan, sikapnya selalu lincah berseri, penuh kegembiraan, sikapnya selalu lincah jenaka, bibirnya selalu tersenyum sehingga sukarlah membayangkan wajah seperti ini berduka atau muram.
Satu-satunya yang membuktikan betapa murung hati dara ini adalah cara dia melakukan perjalanan itu.
Sama sekali dia tidak mempedulikan kanan kiri, bahkan tidak lagi mempedulikan ke mana kakinya melangkah dan sama sekali dia tidak pernah berhenti melangkahkan kaki memasuki hutan itu.
Sampai matahari telah jauh condong ke barat, sinarnya tidak lagi dapat menembus daun-daun pohon sehingga keadaan dalam hutan mulai gelap sampai kedua kakinya terasa amat lelah dan perutnya lapar, barulah dara ini merasa betapa sejak pagi tadi dia belum makan apa-apa!
"Uhhh....!"
Dia melempar payungnya ke atas rumput di bawah pohon besar, diikuti oleh pinggulnya yang mendarat dengan lunaknya ke atas rumput tebal dan Siang In sudah merebahkan diri di atas rumput berbantal kedua lengannya, mata-nya menerawang daun-daun yang masih menguning tertimpa sinar matahari senja.
Perhatiannya segera tercurah kepada suara burung-burung yang bercuitan, burung-burung yang berkelompok datang beterbangan di atas pohon itu, hingga di ranting-ranting dan dahan-dahan, bersahutan-sahutan kemudian tiba-tiba mereka terbang pergi.
Suara sayap mereka terdengar nyata dan sebentar saja mereka sudah jauh, hanya terdengar suara mencicit mereka lapat-lapat.
Akan tetapi tak lama kemudian burung-burung itu datang lagi memenuhi pohon.
Agaknya mereka masih sangsi dan terkejut melihat ada manusia di bawah pohon yang menjadi tempat mereka bermalam itu.
Tiba-tiba Siang In membuat gerakan cepat dan tubuhnya yang tadi rebah terlentang itu, tahu-tahu sudah meloncat dan bangkit duduk, alisnya berkerut dan pendengarannya dicurahkan kepada suara yang sayup sampai dihembus angin lalu.
Demikian penuh perhatian dia akan suara itu sehingga andaikata dia seekor kelinci, tentu daun telinganya bergerak-gerak.
Suara orang!
Ada orang di tempat sunyi ini, di waktu matahari mulai terbenam!
Tentu hal ini amat mencurigakan!
Dengan langkah-langkah ringan sekali.
Siang In sudah melangkah berindap-indap ke arah datangnya suara, payungnya telah dipegang gagangnya, siap menghadapi segala kemungkinan.
Suara itu makin jelas, suara seorang saja yang membaca sajak!
Sungguh mengherankan.
Di tempat sunyi seperti itu, bukan suara harimau atau monyet atau binatang buas lain yang didengarnya, melainkan suara seorang laki-laki membaca sajak!
Sungguh tidak umum, tidak lumrah!
Orang gila agaknya.
Akan tetapi kata-katanya jelas dan lantang, dan isi kata-kata itu amat menarik hatinya, membuatnya berdiri termangu-mangu dan biarpun dia belum melihat orangnya, dia telah mendengar semua isi sajak yang diucapkannya dengan suara lantang itu..Bahagia, hanya sebuah kata!
penuh daya tarik, penuh rahasia dikejar, Dia lari dicari, dia sembunyi Makin dibutuhkan makin manja bahagia, Hanya sebuah kata!
Harta benda bukanlah bahagia Nafsu berahi bukan bahagia dia Bukan pula kebesaran nama Bukan pula kedudukan mulia Tak mungkin didapat melalui pengejaran seperti halnya kesenangan!
Yang mengejar bahagia selamanya takkan bahagia Yang tidak butuh bahagia adalah orang yang benar-benar bahagia Itulah hakekat bahagia hanya sebuah kata belaka!
Siang In bengong terlongong mendengar ini.
Mimpikah dia?
Di tempat seperti ini bertemu dengan seorang manusia pun sudah merupakan suatu hal yang langka, suara hal yang aneh dan andaikata bertemu orang pun, pantasnya orang itu hanyalah seorang pencari kayu, seorang pemburu binatang buas atau paling hebat juga seorang perampok!
Akan tetapi, dia mendengar orang membaca sajak tentang bahagia!
Dan isi kata-kata yang dirangkai seperti sajak itu amat mengesankan hatinya.
Mendengar itu, dia termenung, bahkan lalu duduk di atas batu besar di tempat itu dan tak pernah pikirannya dapat melepaskan isi sajak itu.
Dia seperti terkena pesona, terkena sihir oleh kata-kata itu dan tanpa disadarinya sendiri, dia pun kini termenung-menung mencari arti dari kata aneh itu.
BAHAGIA!
Sesungguhnya, apakah bahagia itu?
Semua orang di dunia ini seolah-olah berlumba untuk mencari kebahagiaan.
Bahkan segala sesuatu ditujukan ke arah pencapaian kebahagiaan itu.
"Yang mengejar bahagia selamanya tidak akan bahagia!"
Demikian bunyi baris antara sajak tadi.
Benarkah ini?
Kalau tidak dikejar, mana bisa dapat?
Untuk mendapatkan sesuatu, tentu saja harus dilalui pengejaran, demikian suara hati Siang In membantah.
Orang gilakah yang membaca sajak tadi?
Dia sendiri pernah membaca banyak kitab kuno, akan tetapi dia tidak pernah mendengar sajak seperti itu.
Sajak orang sinting, kata-kata yang dirangkai seperti teka-teki.
Teringat dia akan kitab kuno yang menceritakan tentang aliran Agama Beng yang paling suka mempermainkan katakata sebagai jembatan untuk menyelami kehidupan dan filsafatnya, misalnya "kuda putih bukanlah kuda!"
"anjing putih adalah hitam", dan sebagainya.
Semua itu menyimpan maksud agar kita tidak terpengaruh oleh keadaan luar seperti warna, sikap, kedudukan, harta, kepintaran dan sebagainya yang kesemuanya itu hanyalah keadaan lahiriah belaka.
Kuda putih, yang penting bukanlah putihnya, melainkan anjingnya.
Keadaan lahiriah itu berubah selalu, dan tidak menentukan isinya!
Agar faktor bendanya, dalam hal ini tentu saja manusianya, yang penting bukan segala keadaan lahiriahnya.
Apakah pembaca sajak itu seorang di antara sisa-sisa penganut kebatinan Beng itu?
Akan tetapi kabarnya kini sudah tidak ada lagi sisa pengikut aliran itu yang sudah amat kuno, yang hidup di sekitar jaman Dinasti Cou (abad ke 4 sebelum Masehi).
Ataukah dia seorang tosu?
Mungkin, pikir Siang In.
Pendeta beragama To memang banyak aneh, dan kadang-kadang pendeta agama ini suka mengambil filsafat-filsafat lain aliran ke dalam agamanya.
Betapapun juga, siapapun adanya orang itu, sungguh amat aneh dan menarik hatinya.
Akan tetapi, sebagai seorang kang-ouw, Siang In juga maklum bahwa orang yang membaca sajak di dalam hutan seperti itu tentu bukan orang sembarangan, maka dia pun bersikap hati-hati, dia tidak berani muncul begitu saja memperlihatkan diri, melainkan berindap-indap mengintai dari balik sebatang pohon yang besar, sepasang matanya mencoba untuk mencari orang yang tadi bersajak dengan suara cukup jelas itu, di dalam cuaca yang remang-remang dan telah mulai agak gelap itu dia tidak dapat melihat adanya seorang pun manusia di situ.
Maka dia lalu bergerak maju pula, dengan pengerahan ginkangnya sehingga daun kering yang terpijak kakinya pun tidak mengeluarkan suara, seperti langkah seekor kucing saja layaknya.
Siang In terus mencari-cari, namun ternyata dia tidak dapat menemukan orang yang tadi membaca sajak itu.
Sedangkan malam mulai tiba.
Bulu tengkuknya mulai meremang.
Setankah yang dia dengar membaca sajak tadi?
Kalau manusia, tidak mungkin dapat bergerak secepat itu dan dapat menghilang begitu saja dari pencariannya.
Padahal tadi jelas terdengar suaranya tidak jauh dari tempat dia bersembunyi.
Kalau bukan setan, kalau manusia, tentu manusia itu memiliki kepandaian yang hebat bukan.
Dia tidak lagi melanjutkan pencariannya, mengira bahwa tentu setan atau orang itu tadi hanya lewat saja di hutan itu dan kini telah pergi jauh.
Mulailah dia teringat lagi akan perutnya yang lapar ketika perutnya berbunyi.
Bunyi perutnya berkeruyuk itu sampai mengagetkan hatinya, karena pada saat itu dia sedang mengerahkan seluruh perhatian pada pendengarannya.
"Ihhh, tak tahu malu!"
Siang In menepuk perutnya sendiri ketika dia terkejut mendengar bunyi berkeruyuk itu.
Karena menganggap bahwa di hutan itu pasti tidak ada orang lain, karena kalau ada tentu dia sudah dapat menemukannya, maka Siang In lalu mulai mencari sesuatu untuk dapat dimakan.
Akan tetapi, hutan itu penuh dengan pohon liar, sama sekali tidak terdapat sebatangpun pohon yang mengeluarkan buah yang dapat dimakan.
Dia mencari-cari, selain buah juga mencari binatang hutan yang dapat ditangkap dan dimakan dagingnya, namun hasilnya sia-sia belaka karena malam telah tiba dan cuaca mulai gelap.
"Sialan!"
Dia memaki.
"Sialan setan yang bersajak tadi!"
Gerutunya karena dia terpaksa harus melewatkan malam dengan perut lapar dan dia menimpakan kesalahan kepada si pembaca sajak tadi.
Kalau dia tidak mencari-cari orang itu, tentu dia dapat mencari makanan selagi cuaca masih belum gelap tadi, pikirnya dengan hati kesal.
Siang In lalu mencari tempat yang kering di bawah pohon, duduk dan bersandar batang pohon melepaskan lelah.
Dalam keadaan sendirian di tengah hutan yang gelap itu, dengan perut menderita gigitan rasa lapar, Siang In melamun dan terkenang akan keadaan dirinya.
Tiba-tiba jantungnya seperti ditusuk rasanya, rasa sedih menyelimuti hatinya.
Teringatlah Siang In akan keadaannya yang sebatangkara itu.
Semenjak dia masih kecil, orang tuanya telah meninggal dunia.
Dia tadinya hidup berdua dengan encinya yang bernama Teng Siang Hwa, hidup berdua di Lembah Pek-thouw-san.
Akan tetapi, encinya itu tewas ketika berhadapan dengan anak buah raja liar Tambolon sehingga dia menjadi sebatangkara sampai dia bertemu dengan See-thian Hoat-su yang mengambilnya sebagai murid.
Dia tidak mempunyai siapapun di dunia ini, hanya gurunya itu.
Akan tetapi kakek aneh yang menjadi gurunya itu pun tidak pernah mau tinggal diam, bahkan kini pun tidak berada di tempat pertapaannya, di Gua Tengkorak di pantai Po-hai.
Entah ke mana perginya gurunya itu.
Hanya ada gurunya, kakek tua itu dan....
Siang In melihat bayangan wajah di depan mata hatinya.
Wajah seorang pemuda yang tampan, gagah, lincah jenaka dan suka menggoda orang.
Wajah yang selama ini sering kali dijumpainya dalam mimpi.
Wajah pemuda yang selama ini dicari-carinya sampai dia bertemu dengan Syanti Dewi sehingga pencariannya itu tertunda karena urusan Syanti Dewi.
Wajah Suma Kian Bu, pemuda yang pernah mencium bibirnya!
Semua peristiwa itu terbayang di dalam benaknya (baca cerita Kisah Sepasang Rajawali) dan membuatnya merasa amat kesepian.
Dia menghela napas dan memejamkan kedua matanya, ingin mengusir semua kenangan itu, akan tetapi sinar mata tajam dan nakal, senyum yang menarik dari wajah pemuda itu malah terbayang makin jelas!
Tiba-tiba Siang In membuka mata dan bangkit duduk dengan tegak, cuping hidungnya kembang-kempis seperti cuping hidung seekor kelinci.
Memang hidungnya mencium bau sesuatu, bau yang sedap dan gurih, bau daging panggang!
"Kruuuyuuuuukkk....!"
"Ihhh!"
Siang In menepuk perutnya yang kecil dan kosong itu.
Akan tetapi dia tidak dapat mencegah air liurnya membasahi mulut.
Terpaksa dia menelan ludahnya karena seleranya timbul secara tiba-tiba.
Berindap-indap dia melangkah setelah menyambar buntalan dan payungnya, menghampiri tempat dari mana dia mencium bau sedap gurih itu.
Dia harus berhati-hati sekali.
Biarpun kini di langit nampak bulan yang sinarnya merah kehijauan di dalam hutan itu, namun keadaan masih gelap karena lebatnya hutan itu.
Hanya bau sedap itu yang menjadi penunjuk jalan.
Akhirnya dia keluar dari hutan itu dan ternyata di luar hutan itu terdapat sebuah padang rumput yang luas dan nampak indah sekali karena bermandikan cahaya bulan tanpa terganggu bayangan pohon.
Dan agak jauh di tengah-tengah padang itu, dia melihat api unggun di antara semak-semak dan dari sanalah datangnya bau sedap gurih tadi.
Siang In mempergunakan kepandaiannya, menyusup di antara semak-semak dan menghampiri tempat itu.
Setelah dekat, dia bersembunyi di balik semak-semak bunga dan mengintai.
Sinar api unggun menambah terang tempat yang sudah disinari cahaya bulan itu.
Di depan api unggun duduk seorang yang rambutnya riap-riapan.
Tertimpa sinar api dan sinar bulan, rambut panjang riap-riapan itu mengkilap dan seperti benang-benang perak.
Wajahnya agak menunduk, memandang kepada daging paha kijang yang sedang dipanggangnya.
Kembali Siang In menelan ludah.
Akan tetapi dia termangu dan tidak berani bergerak.
Jantungnya berdebar tegang.
Bukankah orang itu Siluman Kecil?
Melihat rambut panjang riap-riapan yang keputihan itu!
Pernah dia melihat Siluman Kecil, ketika pendekar aneh itu bertanding melawan seorang kakek botak yang amat lihai.
Ketika itu, dia turun tangan membantu Siluman Kecil karena dia melihat kakek botak mempergunakan sihir, dan dia hanya membuyarkan ilmu hitam itu.
Akan tetapi, ketika itu, dia hanya melihat Siluman Kecil dari jarak jauh dan tidak dapat melihat wajah pendekar yang amat terkenal itu dengan jelas.
Benarkah orang yang berjongkok dekat api unggun dan sedang memanggang dua buah paha kijang besar gemuk itu Siluman Kecil?
Siapapun adanya orang itu, tidak lagi menarik perhatian Siang In benar karena dia lagi-lagi sudah tertarik oleh gumpalan-gumpalan daging yang sedang dipanggang itu.
Bibirnya sudah bergerak, mulutnya sudah hampir dibuka untuk menegur orang itu, untuk minta kebaikan orang itu agar suka membagi sedikit daging kepadanya ketika cepat Siang In menutupkan mulutnya kembali dan menahan napas.
Dia melihat munculnya seorang bayangan lain, kemunculan bayangan ini sedemikian cepatnya sehingga dia merasa bulu tengkuknya meremang.
Seperti setan saja yang pandai menghilang dan kini tahu-tahu menampakkan diri, demikian cepatnya gerakan orang itu.
Kini sinar api unggun dari bawah menyorot ke arah muka bayangan itu dan Siang In melihat seraut wajah wanita yang amat cantik, kemerah-merahan tertimpa sinar api unggun itu.
Bayangan wajah wanita yang sukar ditaksir berapa usianya.
Saking cantiknya masih kelihatan muda, namun wajah itu sedemikian penuh kematangan sehingga sudah barang tentu juga tidak bisa dikatakan muda lagi.
Pakaiannya amat mewah, seperti puteri istana saja, rambutnya digelung malang melintang penuh dengan hiasan emas dan ratna mutu manikam yang gemerlapan.
Akan tetapi bajunya itu berlengan besar dan longgar seperti jubah pendeta, dan juga tangan kanannya memegang sebatang hudtim (kebutan pertapa) yang berbulu halus dan panjang, gagangnya terbuat dari benda putih berkilauan halus, entah terbuat dari gading gajah ataukah tulang ikan besar.
Yang amat mengagumkan, akan tetapi sekaligus juga menyeramkan adalah sepasang mata wanita itu.
Sepasang mata itu indah sekali memang, akan tetapi di dalam keindahan itu bersembunyi kebengisan dan kekejaman luar biasa, sinar mata yang tajam seperti menusuk ulu hati dan menjenguk segala isi hati orang!
"Hai!
Kamu....!"
Suara wanita itu halus merdu ketika menegur laki-laki berambut riap-riapan yang sedang memanggang daging.
Lagaknya demikian tinggi hati dan angkuh, seolah-olah dia seorang ratu yang sedang menegur hambanya saja.
"Apakah kamu melihat lima orang lelaki bersenjata golok besar keluar dari dalam hutan ini?"
Pria yang sedang memanggang paha kijang itu masih tetap menunduk, sama sekali tidak menjawab, apalagi menjawab, mengangkat muka memandang pun tidak.
Dia hanya melanjutkan pekerjaannya dan membesarkan api unggun dengan menambah kayu kering sehingga sinar api unggun makin terang, apinya makin bernyala tinggi.
Namun sebagian besar muka orang itu tertutup oleh rambut putihnya yang berjuntai ke bawah sehingga sukar dikenal.
Melihat orang yang ditanya itu diam saja, berkerut sepasang alis yang hitam kecil itu dan sepasang mata itu mengeluarkan sinar berkilat.
"Heiii, laki-laki jembel, apakah kau tuli? Apakah kau gagu? Hayo jawab!"
Wanita itu membentak dan hudtim di tangan kanan itu digoyang-goyangnya.
Terdengar suara bersuitan dan diam-diam Siang In terkejut bukan main.
Tenaga sinkang dari wanita ini hebat sekali, baru menggoyangkan sedikit hudtim itu saja sudah mengeluarkan suara bersuitan seperti itu!
Dengan hati penuh ketegangan Siang In mengintai dan ingin sekali tahu apa yang akan di jawab oleh laki-laki itu, yang disangkanya adalah pendekar sakti Siluman Kecil.
Akan tetapi, laki-laki yang sedang memanggang paha kijang itu sama sekali tidak mengangkat muka apalagi menjawab, hanya membolak-bolik daging yang dipanggangnya agar tidak sampai hangus, dan kini terdengar dia bernyanyi atau membaca sajak dengan suara yang berirama!
"Siapa bicara kasar menyakitkan hati orang akan memperoleh jawaban yang kasar pula kelakuan kasar menyakitkan hati hanya akan menimpa diri sendiri!
Akan tetapi si bodoh dan tolol!
berbuat jahat tanpa melihat akibat seperti si tolol api akhirnya membakar diri sendiri!"
Mendengar itu, Siang In teringat akan suara orang yang pernah didengarnya membaca sajak tentang bahagia tadi.
Tahulah dia bahwa orang yang tadi membaca sajak tentang bahagia adalah si pemanggang daging ini.
Dua buah sajak yang dinyanyikannya sekarang ini pun bukan sajak main-main.
Dia mengenalnya sebagai ujar-ujar yang terdapat dalam kitab-kitab para hwesio, dalam kitab Agama Buddha, kalau dia tidak salah ingat, dalam kitab Dhammapada bagian Hukuman.
Wanita yang memegang hudtim itu pun agaknya terkejut dan agaknya mengenal pula sajak-sajak itu maka kini dia melangkah maju dan memandang wajah orang yang tersembunyi di balik rambut putihnya.
Melihat rambut putih itu, tiba-tiba wanita itu berseru.
"Ah, apakah engkau ini yang dijuluki orang Siluman Kecil?"
Pria itu memang bukan lain adalah Siluman Kecil atau Suma Kian Bu!
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Siluman Kecil atau Suma Kian Bu.
Bahkan di istana kuno milik Sai-cu Kai-ong Yu Kong Tek di puncak Bukit Nelayan itu, dia bertemu dengan Ceng Ceng yang terhitung adalah keponakannya sendiri, dengan Jenderal Kao Liang dan dua orang puteranya, bahkan dia melihat pula munculnya Sin-siauw Seng-jin yang mewarisi kepandaian Suling Emas.
Dia mendengarkan percakapan mereka itu dari sebelah dalam, dan dia merasa enggan untuk keluar, karena dia segan bertemu dengan Sin-siauw Seng-jin yang pernah menjadi lawannya.
Akan tetapi, ketika dia mendengar penuturan Ceng Ceng tentang Syanti Dewi yang diculik orang, Kian Bu terkejut bukan main dan dia sudah cepat meninggalkan tempat itu tanpa pamit, hanya meninggalkan surat untuk kakaknya dan dia sudah pergi untuk mencari dan menolong Syanti Dewi, satu-satunya wanita yang pernah dicintanya dan masih dicintanya itu.
Dia mencari jejak Syanti Dewi di sekitar pantai Po-hai, namun dia tidak dapat menemukan jejak itu dan pada senja hari itu, setelah merobohkan seekor kijang, dia sedang asyik memanggang paha kijang ketika dia melihat munculnya wanita cantik yang angkuh dan galak itu.
Ketika mendengar pertanyaan yang nadanya meremehkan itu, Kian Bu hanya miringkan mukanya dan melirik ke atas, lalu menjawab tak acuh, seperti melayani seorang anak-anak yang mengajukan pertanyaan yang tidak penting pula.
"Kalau benar, kenapa sih?"
Wanita itu mendengus dan suaranya dingin sekali ketika berkata.
"Semua laki-laki di dunia ini berhati palsu dan bicaranya mengandung racun seperti ular-ular belang! Akan tetapi selama ini yang kubunuh hanyalah cacing-cacing yang tidak ada gunanya. Orang macam engkau inilah baru seekor ular sendok yang berbahaya. Aku bosan juga membunuhi cacing-cacing kotor, sekarang bertemu dengan ular jahat dan berbahaya macammu, tidak boleh terlepas dari tanganku!"
Setelah berkata demikian, tiba-tiba saja wanita itu menggerakkan hudtimnya dan sinar putih menyambar dengan cepat dan dahsyat sekali ke arah leher Kian Bu!
"Wuuuttt....!"
Kian Bu sudah cepat mengelak dan tubuhnya tidak berada lagi di depan api unggun.
Dan api unggun itu seketika padam tertiup hawa pukulan kebutan itu!
Melihat ini, diam-diam Siang In memandang kagum bukan main dan jantungnya berdebar.
Kiranya pria itu benar Siluman Kecil adanya!
Dan gerakan Siluman Kecil tadi pun luar biasa, ketika kebutan menyambar dari jarak dekat.
Tubuhnya seperti dapat menghilang saja.
"Huh, agaknya engkau telah menguasai Ilmu-ilmu Sin-ho-koan (Ilmu-ilmu Bangau Sakti). Hemmm, aku sudah mendengar bahwa engkau si ular jantan ini berhasil membujuk Kim Sim Nikouw sehingga engkau dapat mencuri ilmu-ilmu itu."
Wanita itu hanya mengejek dan cepat menerjang lagi.
Kian Bu merasa tidak enak.
Dia masih ragu-ragu apakah benar wanita ini adalah orang she Ouw seperti yang pernah dia dengar dari ibu angkatnya.
Kalau benar demikian, dia menjadi serba salah.
Mau mengeluarkan jurus maut, orang ini masih terhitung saudara seperguruan dengan dia.
Kalau tidak, agaknya sukar baginya memperoleh kemenangan karena wanita ini benar-benar amat lihai sekali.
Tiba-tiba terdengar jerit seorang wanita, suara jeritan yang hanya terdengar lapat-lapat saja karena amat jauh.
Namun bagi telinga Kian Bu dan wanita itu, suara ini terdengar amat jelas.
Sedangkan Siang In yang mengintai itu hampir tidak mendengarnya sama sekali.
"Huh, mengingat Kim Sim Nikouw, biarlah kutitipkan dulu kepalamu di atas lehermu!"
Kata wanita itu dan tiba-tiba tangan kirinya bergerak dan sinar emas yang amat cepat menyambar ke arah leher Kian Bu.
Biarpun cuaca amat gelap dan hanya diterangi oleh bulan, namun melihat kehebatan serangan hudtim itu, disamping keheranannya mengapa wanita yang tak dikenalnya ini memusuhi-nya dan begitu bertemu ingin membunuhnya.
Akan tetapi, wanita itu hanya menjawab dengan kebutannya yang bergerak makin dahsyat, makin lama makin cepat sehingga kini bayangan wanita itu pun tergulung sinar putih dan tidak kelihatan lagi, dan dari dalam gulungan sinar itu terdengar suaranya mendengus penuh ejekan dan kebencian.
"Huh!"
"Hemmm, kalau begitu engkau adalah seekor ular betina! Baik, kau ingin mengadu ilmu? Nah sambutlah!"
Kian Bu kini tidak lagi mau mengalah dan cepat dia menggerakkan rantingnya, selain menangkis juga membalas serangan.
Dalam satu gerakan saja, rantingnya telah mengirim totokan yang mengarah sedikitnya tujuh jalan darah di tubuh lawan, sedangkan tangan kirinya juga tidak mau menganggur, melainkan melancarkan dorongandorongan yang mengandung hawa pukulan mujijat, berselang-selang dari pukulan pukulan sakti Pulau Es, yaitu Swat-im-sin-jiu dan Hwi-yang-sin-ciang.
Maka menyambarkan hawa panas dan hawa dingin berganti-ganti ke arah wanita itu sehingga wanita itu berkali-kali mengeluarkan pekik kaget.
Kian Bu yang tidak mengenal wanita ini tidak merasa bermusuh dengannya, masih tidak tega untuk mengeluarkan ilmu pukulannya yang paling ampuh, yaitu pukulan penggabungan sinkang yang bersifat Im dan Yang, pukulan yang hampir saja pernah menewaskan nyawa kakaknya sendiri itu.
Kian Bu segera mendapatkan kenyataan bahwa biarpun dalam hal ilmu pukulan dan tenaga sinkang, dia mempunyai kelebihan dari wanita itu, namun dia diam-diam harus mengakui bahwa dalam hal ginkang, dia masih kalah setingkat!
Hal ini tentu saja membuat dia terkejut bukan main dan teringatlah dia akan cerita Kim Sim Nikouw yang menjadi ibu angkatnya.
"Tahan dulu! Bukankah engkau ini orang she Ouw?"
"Huhhh! Laki-laki palsu yang cerewet!"
"Sialan! Engkau harus mampus dua kali untuk itu!"
Kini wanita itu telah menerjang dengan hebat, hudtim di tangannya berubah menjadi gulungan sinar putih yang amat lebar dan terdengarlah bunyi bersuitan nyaring memekak-kan telinga ketika sinar putih itu bergulung-gulung menyambar ke arah Siluman Kecil.
Namun, Siluman Kecil sudah meninggalkan dua paha kijang tadi dan sebagai gantinya kini tangannya telah memegang sebatang ranting.
Dengan kecepatan kilat, dia pun mengelak sambil balas menotok dengan rantingnya ke arah tengkuk lawan.
Namun, wanita itu ternyata dapat bergerak dengan cepat luar biasa sehingga ketika Kian Bu menotoknya, sebelum totokan tiba, dia sudah melesat ke kanan dan kembali gulungan sinar putih itu menyambar dahsyat.
"Hei, siapakah engkau perempuan galak ini?"
Kian Bu menghardik karena selain merasa terkejut menyaksikan gerakan wanita ini yang jelas menguasai Ilmu-ilmu Sin-ho-koan pula, dan juga pandang mata Kian Bu awas sekali.
Dia terkejut bukan main ketika melihat bahwa sinar emas yang menyerangnya itu adalah seekor ular yang kulitnya seperti emas berkilauan!
Cepat dia mengelak dan rantingnya menyambar ke depan untuk memukul ular itu.
"Wuuuttttt.... syiiittttt....!"
Kian Bu tertegun.
Ular itu dapat mengelak dan sabetannya luput!
Padahal, sabetan rantingnya tadi belum tentu dapat dielakkan oleh seorang ahli silat umum saja!
Dan kini, seperti dapat terbang saja, tubuh ular itu menggeliat dan ternyata dia sudah membalik dan menyerang lagi ke arah muka Kian Bu.
"Ehhh!"
Seru pemuda itu dan ketika ular itu lewat di dekat mukanya yang dia condongkan ke belakang untuk mengelak, dia mencium bau harum yang amis.
Ular itu berbisa dan berbahaya sekali!
Akan tetapi kini wanita tadi sudah menyambut kembali ularnya yang seperti burung bisa terbang itu, lalu kakinya meloncat dan dalam sekelebatan saja wanita itu telah lenyap dari tempat itu.
Kian Bu merasa penasaran, juga dia cepat mempergunakan gerakan Sin-coan-in, tubuhnya berkelebat dan lenyap dari situ, tahu-tahu sudah jauh sekali dan dia mengejar dengan Ilmu Jouw-sang-huiteng ke arah timur.
Siang In memandang bengong.
Dia hanya melihat dua orang itu berkelebat dan lenyap, kemudian di timur dia hanya melihat dua titik putih seperti bintang jatuh, lalu lenyap?
Siang In menarik napas panjang, penuh kekaguman.
Dia tadi dapat melihat wajah wanita itu dengan jelas, akan tetapi dia tidak pernah dapat melihat wajah Siluman Kecil.
Sudah dua kali dia bertemu dengan pendekar sakti yang terkenal sekali itu, namun kedua kalinya dia tidak berkesempatan untuk berkenalan, bahkan melihat wajahnya pun belum, atau sedikitnya tidak jelas sama sekali karena dilihatnya dari samping, itu pun masih tertutup sebagian oleh rambut putih.
Siang In muncul dari tempat sembunyinya dan menghampiri tempat bekas pertempuran tadi.
Dilihatnya api unggun telah padam, akan tetapi dua paha kijang masih berada di situ, ditusuk bambu dan sudah matang.
Melihat paha kijang, perutnya menjadi lapar lagi dan tanpa mempedulikan siapa yang memiliki daging paha kijang itu, dia lalu mengambil dua paha itu dan mulai menggerogotinya.
Sedap sekali!
Kiranya Siluman Kecil itu pandai memanggang paha kijang, pikirnya.
Diberi bumbu pula dan diberi garam.
Bukan main!
Siang In cepat membawa dua buah paha kijang yang sudah matang itu kembali ke dalam hutan.
Dengan lahap dia makan daging itu.
Sudah habis sepotong, dia mulai dengan yang ke dua, akan tetapi kini kelahapannya berkurang.
Daging paha itu besar dan menghabiskan sepotong pun sudah kenyang.
Akhirnya dia tidak mampu menghabiskan paha ke dua dan melemparkannya ke samping.
Perutnya kenyang dan tenaga pulih, akan tetapi rasa kenyang itu menimbulkan kantuk sehingga tak lama kemudian Siang In sudah tertidur pulas di bawah pohon!
Sementara itu, Kian Bu yang melakukan pengejaran, menjadi penasaran bukan main.
Tak disangkanya bahwa wanita itu amat hebat larinya, memiliki ginkang yang mencapai tingkat sempurna sehingga dia sendiri tertinggal jauh dan sebentar saja bayangan wanita itu sudah lenyap dan dia berdiri termangu-mangu karena tidak tahu ke arah mana larinya bayangan yang lenyap itu.
Dia merasa menyesal sekali.
Betapapun cepat larinya wanita itu, kalau dia mengejarnya di waktu siang, tentu dia akan tahu ke arah mana larinya.
Kini, hanya sinar bulan remang-remang saja yang membantunya maka dia kehilangan jejak.
Dia hanya ingin mendapat kepastian dari wanita itu apakah benar wanita itu murid ibu angkatnya.
Akan tetapi dia segera teringat.
Bukankah wanita itu tadi meninggalkannya ketika mendengar jerit wanita dari jauh itu?
Dan jerit itu datang dari arah lereng bukit di depan.
Teringat akan ini, Kian Bu melanjutkan larinya menuju ke bukit yang nampak remang-remang di depan.
Setelah tiba di lereng bukit itu, kembali Kian Bu menjadi bingung.
Dia memperhatikan dan mendengar-dengarkan, namun tidak terdengar suara apa pun.
Akhirnya, dengan untung-untungan dia memasuki sebuah hutan kecil.
Bulan bersinar sepenuhnya tanpa terhalang mega sehingga sinarnya cukup terang juga.
Tiba-tiba dia melihat tubuh lima orang berserakan di atas tanah, di depan sana.
Dia teringat betapa wanita lihai tadi sedang mencari-cari lima orang laki-laki yang bergolok panjang.
Jangan-jangan....!
Dia cepat berlari menghampiri dengan penuh kewaspadaan.
Ketika dia tiba di tempat itu, dia mengerutkan alisnya.
Di situ nampak mayat seorang wanita muda yang cantik dan empat orang laki-laki tinggi besar yang kelihatan kasar dan bengis wajah mereka.
Akan tetapi empat orang laki-laki itu tewas dalam keadaan mengerikan.
Mereka rebah dengan pakaian hancur dan tubuh penuh luka-luka berjalur-jalur merah, seolah-olah seluruh tubuh mereka disayat-sayat dengan pisau tajam!
Kian Bu teringat akan hudtim yang mempunyai bulu-bulu putih halus itu dan dia merasa ngeri.
Betapa kejamnya wanita itu, agaknya dalam kemarahan dan kebencian yang amat hebat, wanita itu telah mencambuki empat orang laki-laki ini dengan bulu-bulu kebutannya yang kalau digerakkan dengan tenaga sinkang hebat tentu berubah menjadi benda yang amat menyeramkan, dapat dipakai seperti puluhan buah pedang tajam yang menyayat-nyayat kulit daging!
Dengan perasaan muak Kian Bu lalu mendekati mayat wanita muda cantik yang agaknya masih utuh tubuhnya itu.
Akan tetapi ketika dia mendekat, memandang jelas, dia lalu membuang muka dan mengutuk.
Wanita itu setengah telanjang dan dari keadaan tubuhnya yang berlepotan darah, Kian Bu dapat menduga bahwa wanita muda ini tentu telah menjadi korban perkosaan yang amat keji dan buas!
Tiba-tiba, bagaikan seekor kijang melompat tubuh Kian Bu melesat ke kiri dan di lain saat dia telah menyambar tengkuk seorang laki-laki dan melemparkannya ke atas tanah, di dekat mayat-mayat itu.
Kiranya tadi dia mendengar ada gerakan di kiri dan cepat dia menyambar, dan ternyata di tempat itu terdapat seorang laki-laki yang bersembunyi.
Laki-laki ini tubuhnya juga sudah tersayat-sayat, pakainya robek-robek dan mukanya membayangkan ketakutan sampai bola matanya berputaran memandang ke kanan kiri, kemudian dia bangkit berlutut dan mengangguk-angguk ke depan kaki Kian Bu sambil mengeluarkan suara seperti orang menangis.
".... ampunnn.... ampunkan saya...."
Tubuhnya menggigil.
"Siapa kau?"
Kian Bu membentak dengan suara bengis.
"Saya.... saya.... bernama Giam Hok.... harap Taihiap sudi mengampuni saya...."
Orang itu meratap.
"Harap Taihiap sudi menolong dan menyela-matkan saya.... nama Taihiap sudah terkenal di seluruh kang-ouw.... harap lindungi saya dari.... dari iblis betina itu.... hu-huuhhh...."
Kian Bu mengerutkan alisnya.
Orang ini telah mengenalnya sebagai Siluman Kecil.
Memang namanya banyak dikenal di kalangan dunia hitam!
Dan dia melihat wajah orang ini mirip dengan wajah empat orang laki-laki yang sudah tewas di situ.
Maka teringatlah dia akan lima orang saudara she Giam yang terkenal di wilayah selatan.
"Hemmm, apakah engkau dan empat orang ini adalah Ngo Giam-lo-ong dari selatan yang tersohor itu?"
Orang itu mengangguk-angguk.
Lalu dia memandang ke arah mayat empat orang saudaranya itu dan menangis mengguguk.
Kian Bu meraba dagunnya dan mengerutkan alisnya.
Dia sudah mendengar akan nama Ngo Giam-lo-ong (Lima Dewa Maut) ini.
Bukan tergolong manusia-manusia yang baik, bahkan sering kali mengandalkan kekerasan, memaksakan kehendak sendiri dan berlaku sewenang-wenang.
Maka dia pun tertarik sekali.
Siapakah pembunuh empat di antara mereka?
Wanita cantik itukah?
Dan mengapa?
"Siapa yang melakukan pembunuhan terhadap empat orang saudaramu?"
Tiba-tiba dia bertanya, suaranya bengis penuh wibawa sehingga orang yang sudah habis nyalinya karena takut terhadap orang yang membunuh saudara-saudaranya itu dan kini makin jerih setelah mengenal Siluman Kecil, menjadi makin ketakutan dan menggigil seluruh tubuhnya.
"Yang membunuh adalah.... dia.... Bu-eng-kui...."
Kian Bu mengerutkan alisnya.
Dia belum pernah mendengar nama julukan Bu-eng-kui (Setan Tanpa Bayangan) itu.
Akan tetapi julukan itu memang tepat bagi wanita yang memiliki gerakan sedemikian gesitnya itu.
"Dia seorang wanita?"
"Begitulah.... yang saya dengar...."
Orang yang bernama Giam Hok itu men-jawab ketakutan.
"Dan namanya Ouw Yan Hui?"
"Saya mendengar kabar bahwa dia she Ouw.... akan tetapi tidak tahu jelas...."
"Apa artinya kata-katamu ini?"
Kian Bu membentak marah.
"Saudara-saudaramu ini jelas dibunuh orang, dan melihat keadaan tubuhmu, agaknya engkau pun nyaris tewas pula, dan sekarang kau bilang hanya mendengar kabar, apakah engkau tidak melihat pembunuh-pembunuh saudaramu ini?"
"Dia.... dia bergerak seperti setan hampir tak dapat saya lihat.... bayangan berkelebat kadang-kadang ada kadang kadang tidak dan yang terdengar hanya bunyi bersuitan sinar putih bergulung-gulung dan kami.... kami sudah disayat-sayat.... baiknya dia menyangka saya telah mati pula dan dia melesat pergi. Saya.... saya masih hidup dan cepat bersembunyi sampai Taihiap datang tadi...."
"Dan bagaimana kau dapat menduga bahwa dia itu yang berjuluk Bu-eng-kui dan she Ouw?"
Kian Bu mendesak lagi.
"Kami.... saya.... telah lama mendengar akan Bu-eng-kui yang amat kejam dan mengerikan itu.... dan bahwa dia she Ouw.... hidup di Kim-coa-to (Pulau Ular Emas). Tapi saya belum pernah bertemu dengan dia...."
"Kau belum pernah bertemu dengan dia, dan tadi pun tidak dapat kau melihat wajahnya, akan tetapi bagaimana kau tahu dia itu Bu-eng-kui Ouw Yan Hui?"
"Karena.... sebelum berkelebat pergi, saya pura-pura menggeletak mati, dia mengeluarkan suara ketawa mengejek dan berkata. Bu-eng-kui tidak dapat mengampuni segala cacing busuk!"
Kian Bu mengerutkan alisnya.
Tak salah lagi, tentu wanita yang menyerang tadi itulah yang telah melakukan pembunuhan-pembunuhan mengerikan ini.
Bu-eng-kui Ouw Yan Hui, murid dari ibu angkatnya, berarti masih sucinya sendiri!
Hemmm, seorang pembenci pria yang amat kejam dan ganas!
"Mengapa kalian berlima diserangnya?
Hayo katakan, mengapa?"
"Kami.... kami tidak melakukan kesalahan, kami tidak pernah bermusuhan dengan dia...., entah mengapa, dia datang-datang menyerang dengan ganas, seperti setan yang tidak kelihatan, kami tidak diberi kesempatan untuk bicara...."
"Jangan membohong! Atau aku akan menyempurnakan perbuatannya atas dirimu yang masih belum selesai itu! Hayo katakan, siapa mayat wanita muda itu?"
"Dia.... dia...."
"Hayo katakan, siapa dia dan bagaimana dia mati?"
Kian Bu menghardik.
"Dia adalah tawanan kami...."
"Hemmm, jahanam-jahanam busuk kalian ini! Dan kalian telah memperkosanya sampai mati, ya?"
Orang itu mengangkat muka dan memandang kepada wajah yang tampan namun menyeramkan karena dikurung rambut putih itu, terutama sekali sepasang mata yang seperti mata naga itu amat menakutkan hatinya.
Dia mendengar bahwa Siluman Kecil adalah seorang pendekar sakti yang suka mengampuni orang, bahkan banyak orang golongan hitam yang tunduk kepadanya.
Mendengar nama julukan "siluman"
Itu, tentu pendekar sakti ini juga seorang dari golongan hitam, maka Giam Hok dengan terus terang mengakui, karena menganggap bahwa hal itu tentu tidak aneh bagi pendengaran seorang tokoh kaum sesat seperti Siluman Kecil.
"Kami berlima memang sedang bersenang-senang dengan tawanan kami, sudah menjadi hak kami untuk menikmati gadis yang menjadi tawanan kami ketika dia datang dan...."
"Desssss....! Aughhh....!"
Tubuh Giam Hok terpental dan bergulingan sampai beberapa meter jauhnya.
Kian Bu berdiri dengan alis berkerut.
Dia tadi menendang tubuh di depannya itu saking muak dan marahnya.
"Jahanam busuk kau!"
Katanya dan cepat dia menghampiri mayat gadis itu, memondongnya dan membawanya pergi dari tempat itu, tidak mempedulikannya lagi Giam Hok yang mengaduh-aduh dan berkelojotan.
Tendangan itu bukan dimaksudkan untuk membunuh dan orang ini tidak mati, akan tetapi karena dia telah terluka berat oleh sayatan kebutan Bu-eng-kui, kini ditambah dengan tendangan Kian Bu, tentu saja dia menjadi tiga perempat mati!
Setelah mengubur jenazah itu dengan sederhana di dalam hutan, Kian Bu lalu kembali ke tempat tadi untuk mencari paha kijang yang telah dipanggangnya.
Akan tetapi, betapapun dia mencari, dua paha kijang itu telah lenyap!
Dia menjadi heran sekali, juga penasaran dan bersungut-sungut.
Perutnya lapar sekali dan paha-paha kijang tadi kelihatan amat enak!
Apakah digondol binatang hutan?
Agaknya tidak mungkin, karena binatang liar tentu tidak doyan makanan daging yang sudah dipanggang itu.
Dia lalu memasuki hutan dengan maksud mencari kijang lain atau kelinci.
Tak lama kemudian, dia sudah berdiri memandangi gadis cantik yang tidur berbantalkan buntalan pakaian.
Bukan hanya gadis cantik yang tidur nyenyak itu yang menarik perhatiannya, melainkan sepotong paha kijang yang tinggal separuh dan yang berada di atas rumput.
"Sialan....!"
Kian Bu menggeleng-geleng kepalanya.
Cuaca yang terlalu gelap membuat dia tidak mengenal wajah gadis yang tidur nyenyak itu, maka dia pun lalu membalikkan tubuhnya dan meninggalkan tempat itu dengan cepat tanpa mengeluarkan suara sehingga tidak mengganggu Siang In yang masih tidur nyenyak.
Sambil berjalan, dia teringat kepada gadis setengah telanjang yang telah mati karena diperkosa dan yang tadi mayatnya telah dia kubur.
Dia teringat akan pakaian dalam gadis itu yang koyak-koyak dan kini teringatlah dia bahwa gadis itu bukanlah bangsan Han, setidaknya bukan pakaian gadis Han-lah yang dipakainya itu.
Timbul keinginan tahunya.
Dari manakah lima orang itu memperoleh gadis asing yang diperkosanya dan tewas tadi?
Cepat dia kembali ke bukit yang ditinggalkan.
Fajar telah menyingsing dan cuaca telah mulai terang ketika dia tiba di tempat tadi.
Dilihatnya Giam Hok sedang mengubur jenazah empat orang saudaranya dengan susah-payah dan sambil menangis.
Diam-diam Kian Bu merasa kasihan juga.
Betapapun jahatnya, orang ini telah menerima hukuman yang amat berat.
Bayangkan saja!
Tadinya dia berlima dengan saudaranya, terkenal di dunia kang-ouw sebagai Lima Dewa Maut dari selatan, dan kini dalam waktu semalam saja, empat orang saudaranya telah tewas semua dalam keadaan mengerikan, dia sendiri pun luka-luka dan kini dia mengubur jenazah empat orang saudaranya itu sambil menangis sedih!
Setelah Giam Hok selesai menguruk lubang kuburan empat orang saudaranya, Kian Bu muncul.
Melihat Kian Bu, Giam Hok cepat bangkit berdiri dan kini timbul keberaniannya.
Dia bertolak pinggang dan berkata.
"Siluman Kecil adalah nama yang bergema di seluruh dunia kang-ouw sebagai seorang pendekar sakti yang suka memberi kesempatan kepada para anggauta golongan hitam. Akan tetapi kalau sekarang telah berubah dan hendak membunuh aku, marilah, jangan kepalang. Memang aku pun tidak mempunyai harapan lagi, lebih baik menyusul saudara-saudaraku."
Kian Bu menarik napas panjang, lalu melangkah dekat.
Jantung Giam Hok sudah berdebar keras.
Dia maklum akan kelihaian iblis berambut putih ini, maka biarpun dia menantang maut, tidak urung jantungnya berdebar tegang.
Akan tetapi Kian Bu tidak menggerakkan tangan, melainkan menunduk, menutupi muka dengan rambut putihnya dan dari celah-celah rambut itu sepasang matanya yang mencorong tajam itu mengerling.
"Giam Hok loheng,"
Katanya ramah.
"Jangan mengira yang bukan-bukan. Biarpun engkau memang sudah layak dibunuh sepuluh kali, akan tetapi aku bukanlah seorang yang haus darah."
"Kalau begitu, mengapa Taihiap datang lagi menemui saya?"
Sikap Giam Hok berubah. Ucapan seorang seperti pendekar ini tentu saja dapat dipercaya, maka timbul lagi harapannya untuk hidup.
"Aku datang hanya untuk bertanya kepadamu asal-usul wanita yang tewas tadi. Dari manakah engkau memperolehnya atau menawannya?"
Tiba-tiba sikap Giam Hok menjadi berubah lagi, dan dia kelihatan takut sekali.
Dia menoleh ke kanan kiri dan seolah-olah ingin melarikan diri.
Melihat ini, Kian Bu menjadi heran dan tertarik.
"Giam-loheng, jangan takut. Ceritakan sebenarnya. Dari mana kalian memperoleh dia? Kulihat dia bukan seperti orang sini."
Dia berhenti sebentar dan menyambung.
"Dia seperti orang dari.... Bhutan. Benarkah?"
Memang keadaan pakaian wanita itulah yang amat menarik perhatian Kian Bu.
Pakaian itu mengingatkan dia kepada Puteri Syanti Dewi!
Karena itulah maka dia sampai mau menemui lagi orang she Giam itu.
Akan tetapi Giam Hok menggeleng kepala.
"Saya tidak tahu.... hanya dia.... dia itu sesungguhnya adalah seorang di antara dayang-dayang yang melayani ehhh...."
Kembali Giam Hok berhenti dan memandang ke kanan kiri, ketakutan.
"Orang she Giam!"
Kian Bu membentak tak sabar lagi.
"Selagi ada aku di sini, yang engkau takuti siapa lagikah?"
Giam Hok menjadi makin gugup, akan tetapi setelah menelan ludah beberapa kali, dia dapat berkata dengan muka pucat.
"Dia adalah seorang di antara dayang-dayang yang melayani Pangeran Bharuhendra atau Pangeran Liong Bian Cu dari Nepal."
Kian Bu terkejut.
Dia pernah bertemu dengan koksu dari Nepal, kakek botak yang amat lihai itu dan kini dia mendengar tentang Pangeran Nepal yang dayangnya tadi ditawan dan diperkosa sampai mati oleh lima orang iblis she Giam itu.
Pantas saja pakaiannya mirip dengan pakaian Syanti Dewi, karena memang negera Nepal hampir sama dengan negara Bhutan, merupakan negeri-negeri tetangga di sebelah barat, di Pegunungan Himalaya.
"Hei, bagaimana kalian bisa memperoleh seorang dayang Pangeran Nepal?"
Tanyanya, tertarik. Giam Hok menarik napas panjang dan berkata.
"Itulah yang menjadi gara-gara sampai empat orang saudaraku tewas semua."
Lalu dia bercerita dengan suara sedih.
"Kami berlima mendengar bahwa Pangeran Nepal kini berada di lembah Huang-ho, di sarang Kui-liong-pang dan kami mendengar bahwa pangeran itu royal sekali terhadap orang-orang kang-ouw yang suka bersahabat dengan dia. Kami lalu mengunjungi lembah itu dan memang benar, Pangeran Liong itu mengumpulkan banyak orang pandai, bahkan kabarnya hendak membangun lembah itu menjadi benteng yang amat kuat. Akan tetapi sungguh menggemaskan, terhadap kami lima orang Giam-lo-ong dia memandang rendah dan kami diberi pekerjaan mengepalai orang-orang yang menggali parit untuk dibangun sebagai dasar dari tembok benteng. Kami merasa penasaran akan tetapi tidak berani membantah karena pangeran itu selain sakti juga dibantu oleh banyak orang-orang yang luar biasa tinggi kepandaiannya. Maka kami bersikap sabar, sampai kami mendapat kesempatan melarikan diri sambil membawa seorang dayang cantik dari pangeran itu yang kami anggap sebagai hadiah. Hemmm, dayang itu memang cantik jelita dan tubuhnya berbau sedap, sayang dia tidak kuat dan lebih celaka lagi, ketika kami sedang lari, kami berjumpa dangan Bu-eng-kui. Untung kami masih dapat melarikan diri ke dalam hutan, berlindung di kegelapan malam. Akan tetapi, ketika kami sedang menikmati hadiah kami itu, muncul si Setan Tanpa Bayangan sehingga akibatnya.... beginilah...."
Kian Bu tertarik sekali mendengar akan Pangeran Nepal yang berada di lembah Huang-ho, di sarang perkumpulan Kui-liong-pang itu.
Mau apa seorang Pangeran Nepal main-main di tempat ini?
Bahkan mau membangun sebuah benteng?
Hadirnya Koksu Nepal yang lihai itu di istana Gubernur Ho-nan saja sudah amat mencurigakan hatinya, apalagi ketika dia mendapat kenyataan bahwa gubernur itu memang bermaksud buruk dan hendak membangkang terhadap kekuasaan kerajaan.
Suma Kian Bu adalah putera Majikan Pulau Es, dia adalah putera dari Puteri Nirahai yang berdarah keluarga kaisar.
Maka tentu saja di dalam batinnya terdapat perasaan setia terhadap kerajaan sehingga berita tentang pangeran asing itu menarik hatinya dan menimbulkan kecurigaannya.
Melihat wajah Siluman Kecil itu kelihatan tertarik sekali, maka Giam Hok lalu melanjutkan.
"Memang aneh-aneh yang terjadi di lembah itu, Taihiap. Pangeran Nepal itu dibantu oleh banyak orang pandai dan luar biasa. Bahkan saya melihat kakek raksasa yang amat menyeramkan, yang kabarnya adalah kakek majikan Pulau Neraka yang kesaktiannya melebihi iblis sendiri, akan tetapi yang mempunyai seorang anak perempuan yang seperti bidadari...."
"Ahhh....!"
Kian Bu benar-benar tertarik.
Kiranya Hek-tiauw Lo-mo telah berada di sana pula, dan puterinya itu, Kim Hwee Li, juga diajak ke tempat itu.
Apa maksudnya tokoh jahat itu berada di sana dan apa artinya semua itu?
Jangan-jangan di sana menjadi sarang mereka yang merencanakan pemberontakan!
Memang tempat itu baik sekali, di perbatasan antara Propinsi Ho-nan dan Ho-pei!
Dia harus menyelidikinya!
"Taihiap....
ahhh....!"
Giam Hok melongo karena pemuda yang tadinya masih berada di depannya itu tahu-tahu telah lenyap entah ke mana perginya!
Lembah Huang-ho yang menjadi benteng pertahanan Kui-liong-pang itu benar-benar amat hebat!
Jenderal Kao Liang benar-benar telah memenuhi janjinya terhadap Pangeran Liong.
Sebagai seorang gagah perkasa, Jenderal Kao memenuhi janjinya, membuatkan sebuah benteng yang kokoh kuat dan yang tidak akan mudah diserbu oleh musuh.
Benteng itu terletak di Lembah sungai yang mengalir di belakang benteng dan amat sukarlah untuk menyerbu benteng melalui sungai karena sungai itu lebar sekali dan di bagian itu merupakan bagian yang mengandung banyak pusaran air.
Selain berbahaya bagi perahu-perahu yang berani mendatangi benteng dari belakang, juga sebelum musuh dapat mendekati, tentu fihak penjaga benteng sudah dapat menghujankan anak panah ke perahu-perahu itu.
Di kanan kiri benteng itu terlindung oleh tebing yang amat curam, juga dari kanan kiri ini sukar sekali musuh dapat menyerbu.
Jalan satu-satunya adalah dari depan, akan tetapi tentu saja jalan ini diperketat penjagaannya sehingga dari jarak beberapa li sebelum tiba di benteng, musuh sudah akan nampak dan dapat dikepung karena jalan menuju ke benteng itu melalui jalan terusan yang di kanan kirinya terapit tebing curam.
Pasukan musuh yang melalui terowongan atau jalan yang terapit tebing ini sama dengan membunuh diri, karena tentu saja penyerangan dari atas kedua tebing di kanan kiri itu akan sukar sekali mereka tangkis atau balas.
Akan tetapi, biarpun tidak dapat disangkal pula bahwa tempat itu merupakan tempat berbahaya dan sukar ditembus oleh pasukan, namun tidaklah merupakan tempat yang tak mungkin didatangi oleh seorang pendekar yang berkepandaian tinggi seperti Siluman Kecil, Suma Kian Bu yang datang sendirian saja!
Menjaga penyelundupan pasukan besar tentu saja mudah, akan tetapi sama sekali tidak mudah bagi para penjaga untuk dapat melihat Kian Bu yang menyelinap masuk dengan pengerahan ilmunya meringankan tubuh.
yang membuat dia dapat bergerak seperti burung terbang itu!
Kian Bu juga tidak kurang hati-hati.
Dia maklum bahwa tempat itu amat berbahaya, apalagi karena di situ terdapat orang-orang yang amat sakti seperti Hek-tiauw Lo-mo dan Koksu Nepal itu.
Maka dia tidak berani muncul di siang hari dan menyelundup ke lembah itu, melainkan menanti sampai malam tiba.
Bagaikan seekor burung saja ringannya, tubuh Kian Bu berloncatan, mula-mula melalui pohon, sampai ke puncak pohon dan tiba-tiba tubuhnya berkelebat ke atas, berjungkir-balik beberapa kali, makin lama makin tinggi sampai dia mencapai puncak tembok benteng!
Sukar membayangkan ada seorang manusia dapat berloncatan sampai setinggi itu.
Orang lain, betapapun lihainya, tentu akan menggunakan tali untuk memanjat naik.
Memang tingkat ginkang yang dimiliki atau dikuasai oleh Kian Bu sudah amat tinggi sehingga untuk waktu itu, jarang ada yang dapat menandinginya.
Akan tetapi, begitu kakinya menyentuh dasar puncak tembok, tiba-tiba saja terdengar suara kelenengan di tempat penjaga yang berada di setiap sudut tembok benteng.
Kian Bu terkejut bukan main dan cepat memeriksa bawah kakinya.
Kiranya, di atas tembok itu terben-tang tali yang amat halus dan karena malam hari itu gelap, maka dia tidak melihat kawat halus itu.
Apalagi di waktu malam, bahkan andaikata dia meloncat ke tempat itu di siang hari, belum tentu dia dapat melihat kawat halus yang warnanya sama dengan kawat tembok itu.
Dan kakinya hanya menyentuh kawat itu sedikit saja, namun ternyata sudah cukup bagi alat rahasia ini untuk membunyikan kelenengan di pondok penjaga.
Memang hebat sekali perlengkapan yang dipasang sebagai penjagaan keselamatan yang diatur oleh Jenderal Kao Liang.
Begitu ada suara kelenengan, maka segera terdengar suara suitan-suitan bersambung-sambung, tidak terlalu keras sehingga tidak akan meributkan penduduk di sebelah dalam benteng atau di lembah itu, namun cukup untuk memberitahu kepada seluruh penjaga yang bertugas di sekeliling benteng!
Kian Bu menjadi bingung.
Dia masih berada di atas tembok, dan kini dia sudah ketahuan oleh penjaga.
Cepat dia lalu meloncat ke sebelah dalam tembok, hinggap di atas atap rumah penjaga dan mendekam di balik wuwungan tinggi, mengintai ke depan.
Nampak olehnya betapa para penjaga menjadi sibuk dan banyak sekali pasukan-pasukan kecil hilir-mudik dengan obor-obor di tangan.
Celaka, pikirnya, benteng ini benar-benar amat rapi penjagaannya dan melihat pakaian seragam itu, agaknya benteng ini penuh dengan pasukan-pasukan terlatih!
Padahal, tidak demikian sesungguhnya.
Orang-orang yang membentuk pasukan-pasukan kecil dengan pakaian seragam itu hanyalah anak buah Kui-liong-pang yang mulai terdidik sebagai pasukan-pasukan penjaga.
Belum ada rencana Gubernur Ho-nan untuk menempatkan barisan yang dikuasainya ke dalam benteng yang menjadi tempat tinggal Liong Bian Cu, pangeran dari Nepal itu.
Dari tempat sembunyinya, Kian Bu melihat berkelebatnya bayangan orang orang.
Dia makin terkejut.
Ternyata banyak sekali orang pandai di dalam benteng ini.
Ketika dia melihat Hek-tiauw Lo-mo berlompatan dari genteng ke genteng bangunan lain untuk ikut mencari penyelundup, dia diam saja dan tetap bersembunyi di tempat gelap.
Dari arah lain dia melihat pula bayangan yang juga amat ringan, dan ternyata bahwa orang itu adalah seorang kakek tua yang wajahnya amat menyeramkan tertimpa sinar lampu dan obor, muka tengkorak yang menakutkan sekali, pakaiannya serba hitam, dan muka tengkorak yang putih seperti kapur itu kelihatan jelas sekali di atas pakaiannya yang hitam.
Itulah Hek-hwa Lo-kwi!
Kemudian datang pula seorang laki-laki tinggi besar yang kepalanya tertutup sorban dan jenggotnya sampai ke perut, memegang sebatang tongkat panjang kayu cendana.
Kakek bersorban ini gerakannya juga amat hebat sehingga Kian Bu menjadi makin kaget.
Yang kelihatan saja sudah ada tiga orang sakti di situ!
Ternyata cerita Giam Hok itu benar juga!
Tiga orang kakek itu berhenti tak jauh dari tempat dia bersembunyi, dan mereka bercakap-cakap, maka dia lalu mengerahkan pendengarannya untuk menangkap percakapan mereka.
"Jangan membolehkan para perjaga memukul tanda bahaya lebih dulu!"
Terdengar kakek bersorban berkata dengan suaranya yang kaku.
"Jangan sampai mengagetkan pangeran kalau belum jelas persoalannya."
"Penjaga-penjaga tolol itu! Belum apa-apa sudah ribut sendiri. Hemmm, Lo-kwi, anak buahmu itu benar-benar tidak becus!"
Berkata Hek-tiauw Lo-mo. Hek-hwa Lo-kwi memandang marah.
"Yang tidak becus adalah Jenderal Kao itu! Alat rahasianya yang menimbulkan geger! Jangan-jangan hanya seekor kucing saja yang melanggarnya sehingga kelenengan berbunyi. Jangan lancang mengatakan anak buahku yang tidak becus, Lomo. Bahkan anak buahku memperlihatkan kesigapan sehingga ada tanda sedikit saja mereka sudah siap!"
"Ataukah panik karena ketakutan?"
Hek-tiauw Lo-mo mengejek.
"Kau berani menghina anak buahku?"
Hek-hwa Lo-kwi menghardik dengan alis berkerut.
Melihat dua orang kakek ini yang memang seringkali saling berbantahan dan saling tidak mau kalah, kakek Nepal bersorban itu cepat menengahi dan berkata.
"Sudahlah, sesungguhnya tidak ada yang bersalah dalam hal ini. Andaikata benar hanya kucing yang melanggar, maka hal itu membuktikan bahwa hasil pekerjaan Jenderal Kao memang hebat sehingga tempat ini tidak mungkin didatangi musuh tanpa ketahuan. Dan anak buah Kui-liong-pang juga sudah membuktikan kesigapan mereka sehingga membuktikan pula baiknya disiplin yang ditanamkan oleh Jenderal Kao. Hanya jangan sampai hal ini didengar oleh pangeran. Kalau hanya masuknya kucing yang melanggar alat rahasia itu sampai mengagetkan pangeran, kita semua tentu akan menerima teguran keras."
"Kucing atau tikus yang melanggarnya, kita tidak boleh lengah. Andaikata ada orang pandai masuk, dia tentu hanya mempunyai tujuan untuk coba-coba melarikan tawanan."
Kata Hek-hwa Lo-kwi.
"Ah, sekali ini kau benar, Setan Tua! Sebaiknya kita membagi tugas. Aku mengawasi anakku, engkau mengawasi puteri dan biar Gitananda ini yang memperkuat penjagaan keluarga Kao di sana,"
Kata Hek-tiauw Lo-mo.
Kakek bersorban itu yang bukan lain adalah kakek Gitananda pembantu Koksu Nepal, mengangguk dan tiga orang itu lalu melayang, turun dalam tiga jurusan.
Kian Bu termenung dan termangu-mangu.
Kiranya di tempat ini terdapat tawanan-tawanan dan di antaranya adalah keluarga Jenderal Kao!
Akan tetapi, menurut percakapan tadi, benteng ini adalah buatan Jenderal Kao, juga tali kawat halus berupa alat rahasia tanda bahaya yang terlanggar kakinya tadi.
Apa artinya ini semua?
Namun, dia segera melupakan semua itu karena perhatiannya sepenuhnya tertarik oleh ucapan Hek-tiauw Lo-mo yang menyebut-nyebut tentang "puteri"
Dan menyuruh Hek-hwa Lo-kwi untuk mengawasi sang puteri.
Siapakah itu?
Jantungnya berdebar tegang.
Apakah yang dimaksudkan itu adalah Puteri Syanti Dewi?
"Besar kemungkinannya demikian,"
Pikirnya.
Menurut Ceng Ceng, Syanti Dewi telah meninggalkan Bhutan dan kini diculik dan dilarikan orang.
Bukan tidak aneh kalau Syanti Dewi berada di sini, menjadi tawanan orang-orang Nepal!
Setelah berpikir demikian, dia lalu dengan hati-hati berlari menuju ke arah larinya Hek-hwa Lo-kwi untuk menyelidiki dan kalau memang benar Syanti Dewi yang menjadi tawanan di tempat ini, dia akan mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menolong puteri itu keluar dari benteng ini!
Akan tetapi, Kian Bu menjadi bingung karena dia sudah kehilangan bayangan Hek-hwa Lo-kwi dan dia mendekam di atas wuwungan sebuah bangunan terbesar karena dia mengira bahwa agaknya kakek itu tadi lenyap di tempat ini dan agaknya sudah meloncat turun.
Dia bersembunyi di balik wuwungan dan melihat bahwa kini para pasukan sudah mulai tenang, agaknya mereka itu pun menganggap bahwa yang melanggar tanda bahaya tadi hanyalah seekor kucing saja.
Akan tetapi jauh di bawah, dia melihat bayangan seorang tinggi besar yang dengan suara lantang berkata kepada para pasukan.
"Malam ini tidak ada istirahat! Semua harus berjaga secara bergiliran sampai pagi! Baik kucing maupun apa saja yang melanggar alat tanda bahaya, kita harus tetap berjaga!"
Kian Bu terkejut ketika dia mengenal suara itu.
Jenderal Kao Liang!
Hampir dia tidak dapat menahan suaranya untuk memanggilnya.
Akan tetapi dia cepat sadar, sungguhpun dia hampir tidak percaya.
Jenderal Kao kini memimpin pasukan menjaga benteng itu?
Dan Jenderal Kao ini sekarang menjadi pembantu atau kaki tangan seorang pangeran asing yang agaknya bersekutu dengan Gubernur Ho-nan yang akan memberontak?
Sungguh tak masuk di akal dan sukar sekali untuk dapat dipercaya.
Padahal nama Jenderal Kao telah terkenal sebagai seorang pahlawan yang amat setia kepada (Lanjut ke
Jilid 35) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 35 kerajaan!
Akan tetapi dia segera teringat akan ucapan Hek-tiauw Lo-mo tadi yang menyinggung adanya keluarga Kao yang harus dijaga.
Jelas bahwa keluarga Kao Liang yang dikabarkan lenyap diculik orang itu ternyata diculik oleh kaki tangan Pangeran Nepal dan berada di sini menjadi tawanan!
Mengertilah dia, sungguhpun pengertian itu juga menimbulkan keheranan di dalam hatinya.
Tentu keluarga jenderal itu ditawan dan dijadikan sandera untuk memaksa sang jenderal menuruti permintaan musuh agar jenderal itu suka membangun benteng dan mengatur penjagaan benteng itu.
Yang mengherankan hatinya adalah mengapa jenderal itu suka melakukan perbuatan yang sifatnya mengkhianati negara ini hanya demi menyelamatkan keluarganya.
Diam-diam Kian Bu merasa khawatir sekali, Kalau keluarga jenderal itu menjadi tawanan, dan juga Syanti Dewi seperti yang diduganya, maka tidak akan mudahlah untuk menyelamatkan mereka dan meloloskan mereka dari tempat ini.
harus diakuinya bahwa benteng ini amat kuat.
Dia yang sudah memiliki ginkang istimewa saja masih mengalami kesukaran dan dapat diketahui kehadirannya.
Mereka yang biarpun berkepandaian tinggi, kalau tidak memiliki ginkang istimewa, kiranya akan sukar memasuki benteng ini.
Dan di dalam benteng masih terdapat begitu banyak orang pandai.
Sekarang pun dia tahu bahwa dia tidak bisa mempergunakan kekerasan, karena mana mungkin dia akan berhasil kalau harus menghadapi pengeroyokan begitu banyak orang pandai yang masih dibantu oleh pasukan pula?
"Aku harus menolong Syanti Dewi,"
Pikirnya dengan hati bulat.
"Apapun yang terjadi, aku harus menyelamatkan dia."
Jantungnya berdebar kalau dia teringat kepada puteri itu.
Bayangan wajah yang cantik jelita dan lembut itu membangkitkan semangatnya dan Kian Bu lalu cepat bergerak menyelidiki bangunan besar di mana Hek-hwa Lo-kwi tadi menghilang.
Dia memandang ke bawah.
Sunyi di pekarangan belakang gedung itu, maka dia lalu melayang turun dengan maksud untuk menyelidiki tempat itu dari bawah.
Dengan gerakan yang amat cepat dan ringan, kedua kakinya sudah hinggap di atas tanah tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar bentakan yang amat mengejutkan hatinya.
"Hei, berhenti! Siapa di situ?"
Bukan main kagetnya hati Kian Bu mendengar bentakan ini.
Tadi tidak kelihatan ada seorang pun manusia di bawah ini, mengapa begitu kakinya menyentuh tanah lalu ada orang yang menegurnya?
Bayangan orang itu muncul dari balik sebuah pintu maka dia menduga bahwa tentu tempat itu ada alat rahasianya lagi.
Akan tetapi, dia cepat mempergunakan kepandaiannya, tubuhnya sudah mencelat lagi ke atas dengan kecepatan kilat.
Dia mendekam di atas genteng, mendengar langkah kaki beberapa orang di bawah dan terdengar suara orang mengomel.
"A-ban, siapa yang kau tegur tadi? Tidak ada bayangan seorang pun di sini!"
"Ah, jelas kulihat tadi bayangannya. Kenapa dia bisa lenyap lagi?"
Kian Bu cepat berloncatan di atas genteng menuju ke samping gedung itu untuk turun dari bagian lain. Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Maling hina, menyerahlah!"
Dan sebuah lengan yang panjang besar, dengan tangan berbentuk cakar, dan kuku-kukunya yang panjang keluar bau amis dan gerakan tangan itu mengandung sambaran angin besar, telah meluncur hendak mencengkeram pundaknya dari belakang.
Kian Bu maklum bahwa tangan itu adalah tangan orang yang memiliki ilmu tinggi, dan juga kuku-kuku tangan itu mengandung racun berbahaya, maka dia mempergunakan kelincahannya, melesat ke belakang dan menyerong ke kanan sehingga cengkera-man itu luput.
Dia tidak mau melayani dan terus lari ke depan.
Raksasa yang menyerangnya itu bukan lain adalah Hek-hwa Lo-kwi.
Ketika tadi dia mendengar teguran penjaga di belakang gedung, dia tahu bahwa ada orang di sekitar tempat itu, maka diam-diam dia lalu meloncat naik ke atas genteng dan ketika melihat berkelebatnya bayangan orang dia langsung saja menerkam.
Akan tetapi, Hek-hwa Lo-kwi terkejut bukan main.
Terkamannya itu dapat dielakkan sedemikian mudahnya oleh maling itu!
Dan kini maling itu dapat berlari sedemikian cepatnya.
"Hendak lari ke mana kau?"
Bentaknya dan dia pun mengejar dengan cepat.
Kian Bu cepat melarikan diri dan meloncat ke atas genteng rumah lain.
Gerakannya memang cepat bukan main sehingga sebentar saja Hek-hwa Lo-kwi telah kehilangan jejaknya.
Akan tetapi, baru saja kakinya menginjak wuwungan sebuah bangunan lain, tiba-tiba terdengar suara berkerining di dalam bangunan itu, disusul bentakan kasar yang parau dan keras, sekali.
"Anjing dari mana berani mengantar nyawa? Ha-haha!"
Dan dari sebuah jendela, melayang keluar sesosok bayangan orang tinggi besar yang langsung naik ke atas genteng.
Begitu melihat bayangan ini, Kian Bu mengenalnya.
Orang itu bukan lain adalah Hek-tiauw Lo-mo, musuh lamanya!
Kian Bu hendak lari lagi, akan tetapi tiba-tiba ada sinar meluncur ke arah lambungnya.
Cepat dia mengelak dan melihat bahwa sinar itu adalah sebatang tombak tulang ikan, senjata ampuh dari kakek raksasa itu, dia mengelak sambil menendang dengan ujung kakinya yang mengenai batang tombak.
Tombak itu terpental, akan tetapi tidak sampai terlepas dari tangan kakek raksasa itu.
Namun, terpentalnya tombak itu cukup bagi Kian Bu untuk menjejaknya kakinya dan tubuhnya sudah melesat dengan cepat sekali dari situ.
"Ha-ha-ha, kau hendak lari?
Tak mungkin!
Hek-tiauw Lo-mo mengejar sambil tertawa suara ketawa untuk menutupi rasa penasaran dan kagetnya karena maling itu ternyata mampu mengelak dari senjatanya yang ampuh, bahkan tendangan kaki orang itu hampir saja membuat tombaknya terlepas dari pegangannya!
Tentu saja Kian Bu tidak merasa jerih menghadapi dua orang kakek sakti itu, akan tetapi kedatangannya bukan untuk bertanding dengan mereka, melainkan untuk membebaskan Syanti Dewi.
Kalau dia melayani mereka, tentu akan muncul yang lain dan akan sukarlah baginya untuk dapat menyelamatkan Syanti Dewi yang belum diketahuinya berada di mana itu, bahkan belum diketahuinya dengan pasti apakah benar Puteri Bhutan itu berada di tempat itu sebagai tawanan.
Maka dia cepat berlari dan ketika dia melihat bayangan Hek-hwa Lo-kwi mendatangi dari depan sedangkan Hek-tiauw Lo-mo mengejar dari belakang, dia lalu melarikan diri ke kanan.
Akan tetapi baru saja dia melompat ke atas genteng bangunan di sebelah kanan, tiba-tiba muncul belasan orang pasukan yang melepaskan anak panah ke arahnya.
Kiranya tempat itu telah dijaga dengan barisan panah dan terpaksa dia lalu mempergunakan ginkang-nya untuk mengelak ke sana-sini sambil menggerakkan kedua tangan menyampok anak panah yang tak dapat dielakkannya.
Melihat bahwa di depan telah dihadang, dia lalu membalikkan diri lagi dan berlari ke jurusan kiri, tempat yang agak terang karena di situ terdapat sebuah bangunan yang amat megah, agaknya merupakan bangunan induk dan tempat itu terang sekali, bahkan di atas genteng juga terang karena ada lampu-lampu besar digantung di tingkat atas.
Celaka, belum juga dia tahu di mana adanya Syanti Dewi, kalau benar dara itu ditawan di situ, dia telah ketahuan.
Lebih baik aku menyelamatkan diri lebih dulu, baru kemudian mencari akal untuk menyerbu tempat ini, kalau perlu minta bantuan kakaknya atau teman-teman lain!
Berpikir demikian, melihat jalan kanan kiri, dan belakang sudah dihadang musuh, Kian Bu meloncat ke atas bangunan yang megah dan terang itu.
Dia mengerahkan ginkangnya dan mempergunakan Ilmu Jouw-sang-hui-teng, kedua kakinya seolah-olah tidak menyentuh genteng dan tubuhnya melesat ke depan, kemudian jarak antara bangunan ini dan bangunan megah itu diloncatinya dengan gerakan yang membubung ke atas, tubuhnya berjungkir-balik beberapa kali dan akhirnya dengan ringan kedua kakinya hinggap di atas wuwungan gedung megah yang terang benderang itu.
"Kraaakkkkk....!"
Tiba-tiba genteng yang diinjaknya itu, yang diinjak dengan ringan sekali, mengeluarkan suara keras dan terbuka, disusul menyambarnya puluhan batang amgi (senjata gelap) berupa jarum, paku, piauw, pisau dan sebagainya lagi!
Kian Bu sejak tadi tidak pernah kehilangan kewaspadaannya, maka begitu genteng-genteng itu terbuka dan dari dalam menyambar sinar-sinar senjata gelap itu, dia sudah mendahuluinya meloncat turun dari atas genteng dan karena tidak ada tempat lain yang dapat diloncatinya, terpaksa dia melayang turun ke bawah, sebuah ruangan terbuka yang amat terang dan sunyi, tidak nampak seorang pun manusia.
"Pyarrrrr....!"
Sebelum tubuhnya turun ke atas lantai ruangan terbuka itu, lebih dulu Kian Bu melemparkan sebuah genteng yang tadi disambarnya ketika dia meloncat.
Genteng itu menimpa lantai dan pecah berantakan, namun tidak ada akibat apa-apa, maka barulah Kian Bu berani turun dan hinggap di dekat pecahan genteng itu.
Ternyata ruangan yang lantainya dari batu ini tidak dipasangi alat rahasia, akan tetapi kesunyian tempat itu amat menyeramkan karena begitu kosong, begitu terang dan begitu sunyi!
Sebelum Kian Bu bergerak, telinganya mendengar sesuatu, mendengar gerakan-gerakan di sekeliling tempat itu dan kini bermuncullanlah orang-orang di sekeliling ruangan terang itu, makin lama makin banyak dan ternyata bahwa tempat itu telah terkepung!
Tidak kurang dari lima puluh orang bersenjata lengkap mengepung tempat itu dan kini tempat itu telah tertutup oleh pagar manusia!
Kian Bu berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, kedua lengannya tergantung di kanan kiri tubuhnya, muka agak menunduk dan sebagian tertutup oleh rambutnya yang panjang riap-riapan dan berwarna putih.
Dia kelihatan seperti sebuah arca saja karena tidak pernah bergerak, namun mendatangkan perasaan ngeri di dalam hati para pengepungnya.
Hanya mata di balik tirai rambut putih itu saja yang bergerak memandang ke kanan kiri, sikapnya tenang namun jelas bahwa setiap jalur urat syarafnya menegang dan dalam keadaan siap siaga.
Melihat pemuda berambut putih ini, sekarang jelas sekali karena penerangan di situ menjadi makin terang dan semua mata ditujukan kepada Kian Bu.
"Siluman Kecil....!"
Kian Bu mendengar bisikan-bisikan yang keluar di sana-sini di antara para pengepung itu.
Tahulah dia bahwa para perajurit atau anak buah pasukan itu bukanlah orang-orang asing karena ternyata telah mengenalnya.
Memang, para penjaga yang kini menjadi pasukan berseragam itu adalah anak buah Kui-liong-pang, maka tentu saja mereka mengenal Siluman Kecil karena biarpun jarang di antara mereka ada yang pernah melihatnya, setidaknya mereka telah mendengar nama pendekar itu dan keadaannya yang aneh menyeramkan.
"Aha, kiranya tempat kami mendapatkan kehormatan, dikunjungi oleh seorang tokoh besar yang namanya menggemparkan dunia persilatan. Sicu, benarkah engkau yang dijuluki orang Siluman Kecil?"
Kian Bu mengerling ke kiri dan melihat bahwa dari sebuah pintu muncul beberapa orang tinggi besar mengiringkan seorang pemuda tinggi tegap yang tampan.
Pemuda itu memakai pakaian yang serba indah gemerlapan, kepalanya tertutup sorban yang dihiasi permata besar dan bulu burung dewata, tubuhnya tinggi tegap, kulitnya kecoklatan, matanya yang cekung itu mempunyai biji mata yang amat tajam seperti mata burung hantu, hidungnya panjang melengkung ke bawah seperti paruh betet, rambutnya hitam agak kemerahan, hampir menyamai kulitnya.
Usia pemuda ini sekitar tiga puluh tahun dan pembawaannya ramah, namun juga penuh dengan wibawa.
Agaknya inilah Pangeran Bharuhendra atau Pangeran Liong Bian Cu dari Nepal itu, pikirnya.
Kian Bu memperhatikan orang-orang yang berjalan di belakang pangeran ini.
Pertama-tama dia mengenal Hek-tiauw Lo-mo, kakek yang menjadi majikan Pulau Neraka itu.
Semenjak dia berusia belasan tahun, dia sudah mengenal kakek ini, bahkan dia bersama kakaknya, Kian Lee, pernah menjadi tawanan kakek itu di Pulau Neraka (baca cerita Kisah Sepasang Rajawali).
Dan setelah dia dewasa, dalam peristiwa pemberontakan dua orang Pangeran Liong, dia pun pernah bertemu dengan lawan ini.
Bukan itu saja, tadi pun dia telah bertanding segebrakan melawan kakek ini yang kini makin lihai saja.
Namun, sebaliknya, kakek yang seperti raksasa itu agaknya tidak lagi mengenal Kian Bu, dan kini memandang dengan penuh perhatian karena hati kakek ini tertarik sekali ketika mendengar bahwa orang yang disangkanya maling dan yang tadi ternyata memiliki kepandaian amat tinggi itu ternyata adalah Siluman Kecil, nama tokoh yang dalam waktu beberapa tahun ini menggemparkan dunia persilatan dengan sepak terjangnya yang hebat sehingga nama itu ditakuti oleh seluruh tokoh kaum sesat dan disegani oleh semua tokoh golongan putih pula.
Di samping Hek-tiauw Lo-mo berdiri Hek-hwa Lo-kwi, kakek bermuka tengkorak yang menjadi majikan lembah itu atau ketua dari Kui-liong-pang.
Juga dia melihat kakek bersorban yang jenggotnya panjang sampai ke perut dan memegang tongkat kayu cendana.
Selain tiga orang kakek ini, nampak pula banyak orang-orang yang kelihatannya berkepandaian dan yang tidak dikenalnya.
Memang banyaklah yang datang mengepung "maling"
Itu, di antaranya terdapat Khiu Sek, atau yang oleh para anggauta Kui-liong-pang lebih dikenal dengan sebutan Khiu-pangcu, bekas ketua Huang-ho Kui-liong-pang sebelum Hek-hwa Lo-kwi muncul di situ.
Juga hadir pula Hoa-gu-ji, yang memegang senjata dayung panjang.
Seperti juga Khiu-pangcu, Hoa-gu-ji yang tinggi kurus ini pun merupakan tokoh Kui-liong-pang.
Masih ada lagi tiga orang kakek yang bukan orang-orang biasa, karena mereka itu adalah para pembantu Hwa-i-kongcu, tokoh-tokoh Liong-sim-pang yang kini bergabung dan bersekutu dengan Pangeran Nepal.
Mereka bertiga itu adalah Hak Im Cu, Ban-kin-kwi Kwan Ok, dan Hai-Liong-ong Ciok Gu To.
Di samping tiga orang tokoh Liong-sim-pang ini, masih terdapat pula beberapa orang yang berpakaian sebagai orang-orang Bhutan, dan mereka ini adalah para pembantu Mohinta, panglima muda dari Bhutan itu.
Kian Bu maklum bahwa dia kini dikepung oieh orang-orang pandai.
Hanya Koksu Nepal saja yang tidak dilihatnya berada di situ, namun orang-orang ini sudah cukup tangguh kalau mereka maju semua untuk mengeroyoknya.
Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh pangeran dari Nepal itu, yang bertanya dengan sikap ramah, Kian Bu yang cerdik maklum bahwa pangeran ini agaknya sedang mencari dan mengumpulkan tenaga yang kuat untuk membantunya!
Dia teringat akan sikap dua orang Pangeran Liong yang dulu memberontak.
Dua orang pangeran tua itu pun selalu berusaha mengumpulkan orang-orang kang-ouw untuk membantu mereka dalam usaha pemberontakan mereka.
Kini, Pangeran Nepal ini agaknya juga bersikap ramah untuk berusaha menariknya agar suka menjadi kaki tangannya!
Akan tetapi perhatiannya sebagian ditujukan ke arah sekelilingnya, untuk mencari kemungkinan meloloskan diri andaikata terpaksa harus menggunakan kekerasan.
Hatinya merasa tidak enak sekali ketika dia melihat tubuh Jenderal Kao Liang yang tinggi besar itu berdiri di sudut, memimpin pasukan itu dan sikapnya gagah dan tidak peduli, seolah-olah tidak mengenalnya!
Dengan menggerakkan jari-jari kakinya, tanpa mengangkat kaki, Kian Bu telah memutar tubuhnya menghada-pi pangeran itu.
Sejenak mereka berdua saling pandang dan sang pangeran bergidik juga melihat sepasang mata dari balik tirai rambut putih itu menyambar dengan ketajaman yang menusuk perasa-an.
Hebat orang ini, pikirnya, kalau saja aku dapat menaklukkannya!
"Tidak keliru dugaan itu.
Bukankah aku berhadapan dengan Pangeran Bharuhendra dari Nepal?"
Tanya Kian Bu dengan suara lirih namun terdengar jelas sekali oleh semua yang hadir.
Semua orang terkejut dan pangeran itu juga ter-cengang, akan tetapi dia tersenyum lebar dan wajahnya kehilangan kebengisannya kalau tersenyum.
Memang dia cukup tampan, bahkan amat tampan bagi ukuran orang Nepal yang menyukai hidung melengkung.
"Ha-ha-ha, sungguh Sicu amat mengagumkan! Dugaan Sicu benar sekali, akan tetapi aku lebih dikenal di sini sebagai Pangeran Liong Bian Cu. Tentu Sicu dapat menduga bahwa ayahku adalah mendiang Pangeran Liong Khi Ong, ibuku seorang Puteri Nepal. Ha-ha-ha, sungguh girang sekali kami dapat berkenalan dengan Sicu dan merasa terhormat bahwa tempat kami ini mendapat kunjungan dari Sicu. Kami harap saja Sicu datang sebagai sahabat, karena memang sudah lama kami telah mendengar nama besar Sicu, hanya tidak tahu bagaimana kami dapat menghubungi Sicu. Silakan, Sicu, marilah kita bicara di dalam sebagai sahabat-sahabat."
Jelaslah bagi Kian Bu.
Memang sudah diduganya demikian.
Suruh dia membantu seorang anak pemberontak, seorang pangeran asing yang tak salah lagi tentu mempunyai niat yang tidak baik terhadap pemerintah?
Tidak sudi!
Dia bukan seorang pengkhianat, bukan pula seorang pemberontak.
Dia mengerling ke arah Jenderal Kao Liang dan melihat betapa kebetulan sekali jenderal itu memandang kepadanya.
Orang tua itu cepat menundukkan muka dan kelihatan berduka sekali.
Kesempatan itu dipergunakan oleh Kian Bu untuk menegur jenderal yang dianggapnya pengecut dan pengkhianat itu.
"Pangeran, saya datang bukan sebagai musuh, karena saya tidak mempunyai urusan pribadi dengan Pangeran, akan tetapi melihat betapa Koksu Nepal bersekutu dengan Gubernur Ho-nan, saya mendapatkan kesan kurang baik terhadap orang-orang Nepal. Maaf, Pangeran, bukan maksud saya untuk menyinggung Paduka, akan tetapi saya bukanlah seorang rendah dan hina yang dapat diajak bersahabat kalau yang mengajaknya itu termasuk golongan pemberontak."
"Uhhh...."
Suara ini lirih saja, akan tetapi Kian Bu maklum bahwa suara itu keluar dari tenggorokan Jenderal Kao Liang.
Ketika dia mengerling, jenderal itu sudah mundur dan menyelinap di antara para pasukan.
Pangeran Liong Bian Cu dan para pembantunya terlalu marah demi mendengar ucapan Kian Bu itu sehingga mereka tidak mendengar suara yang keluar dari tenggorokan jenderal itu, karena dalam waktu yang bersamaan mereka pun sudah mengeluarkan suara menggereng marah.
Namun, Pangeran Liong Bian Cu benar-benar amat cerdik.
Dia dapat menekan kemarahannya, memberi isyarat dengan tangan kepada para pembantunya agar jangan turun tangan lebih dulu, kemudian dia merangkap kedua tangan di depan dada, menghadapi Kian Bu dan berkata sambil tersenyum.
"Hebat sekali! Sicu masih muda, sudah mengangkat nama besar, dan ternyata memiliki jiwa pahlawan pula! Kalau Sicu berkeberatan untuk datang sebagai sahabat kami, lalu kami harus menganggap Sicu datang ini sebagai apakah?"
Diam-diam Kian Bu kagum juga atas ketenangan pangeran itu.
Bahkan para pembantu pangeran itu sudah memandang kepadanya dengan marah, akan tetapi sang pangeran ini sendiri sama sekali tidak kelihatan marah!
Dia pun balas menjura dengan hormat dan berkata halus.
"Maaf, Pangeran. Memang kedatanganku ini lancang dan untuk itu aku mohon maaf. Aku datang bukan sebagai musuh dan bukan pula sebagai sahabat, melainkan sebagai seorang yang mendengar adanya hal yang tidak semestinya dan karenanya terpaksa aku datang untuk minta kepada pangeran agar suka memberes-kan yang tidak semestinya itu."
"Hemmm, Sicu mendengar apakah?"
"Bahwa Pangeran telah menawan seorang wanita yang bernama Syanti Dewi, maka aku minta agar Pangeran suka membebaskan dia!"
Katanya dengan suara tegas.
"Ahhh....! terdengar suara bentakan marah dan sang pangeran menoleh. Yang membentak itu adalah Mohinta sendiri, putera panglima tua di Bhutan. Seperti kita ketahui, Mohinta dan para pembantunya telah tiba di dalam benteng itu dan menjadi sekutu Pangeran Nepal itu pula. Sang pangeran lalu tersenyum dan berkata kepada Kian Bu.
"Sicu, perkenalkanlah, inilah dia Saudara Mohinta, panglima muda dari Bhutan yang bertanggung jawab atas keselamatan Puteri Syanti Dewi. Lebih baik dialah yang menjawab permintaanmu tadi, karena dia lebih berhak."
Mohinta lalu melangkah maju menghadapi Kian Bu yang memandang kepadanya dengan penuh perhatian.
"Siluman Kecil, tahukah engkau siapa adanya nama yang kau sebutkan tadi?"
Tanya Mohinta dengan marah.
"Syanti Dewi? Dia adalah Puteri Bhutan...."
Jawab Kian Bu.
"Nah, dia adalah Puteri Bhutan dan junjungan kami! Pada saat ini, akulah yang bertanggung jawab atas keselamatan Sang Puteri. Beliau berada di sini sebagai tamu agung, bagaimana engkau berani menuduh yang bukan-bukan? Hak apakah yang ada padamu untuk menguruskan diri beliau?"
Tentu saja Kian Bu merasa terdesak.
Kalau benar orang ini adalah tokoh Bhutan, tentu saja dia tidak berhak mencampuri.
Akan tetapi, dia tentu saja tidak mau mengalah secara mudah.
"Aku adalah seorang sahabat baiknya. Bukan aku tidak percaya, akan tetapi aku baru yakin akan kebenaran ucapanmu itu kalau aku sudah dapat berhadapan dan bicara dengan dia sendiri. Persilahkan dia keluar dan bicara sendiri denganku."
"Keparat! Kau kira dia wanita macam apa, mudah saja diajak bicara oleh segala macam orang sepertimu?"
Mohinta mendamprat dan dia sudah menerjang maju dengan kepalan tangannya untuk menghantam muka Siluman Kecil.
Pemuda rambut putih ini diam saja, sama sekali tidak mengelak, akan tetapi ketika kepalan tangan Mohinta sudah dekat sekali dengan mukanya, tiba-tiba tangan kirinya bergerak menangkis.
"Krekkk!"
"Aughhh....!"
Mohinta terpelanting dan memegangi lengan kanannya yang patah tulangnya!
Para pembantunya maju dengan senjata terhunus, akan tetapi Pangeran Liong Bian Cu yang tersenyum menyaksikan semua itu mengangkat tangan membentak mereka agar mundur.
"Aku tahu orang macam apa adanya Puteri Syanti Dewi. Dia seorang wanita yang bijaksana agung dan berbudi mulia, tidak seperti engkau manusia rendah yang sombong!"
Kian Bu membentak ke arah Mohinta yang sudah dibantu orang-orangnya untuk bangkit berdiri.
"Mengingat bahwa engkau adalah orang Bhutan, maka aku memandang nama Puteri Syanti Dewi mengampuni nyawamu."
Gerakan Kian Bu tadi cepat bukan main, akan tetapi tidak mengejutkan para tokoh yang hadir karena mereka semua tahu bahwa kepandaian Mohinta masih jauh terlalu rendah untuk menyerang seorang tokoh seperti Siluman Kecil.
Pangeran Liong Bian Cu tertawa lagi.
"Hebat sepak terjangmu, Sicu. Akan tetapi harus kau ketahui bahwa urusan Puteri Bhutan tentu saja kita harus tunduk kepada peraturan Bhutan dan di sini, yang berkuasa mengenai hal itu adalah Panglima Mohinta. Selain itu, apakah masih ada keperluan lain yang mendorong kedatanganmu ini?"
"Selain menuntut agar Syanti Dewi dibebaskan, juga aku menuntut agar keluarga Kao yang ditawan di sini, dibebaskan semua!"
Kembali semua orang terkejut. Alangkah beraninya pemuda ini! Akan tetapi sang pangeran tersenyum saja, lalu berkata tidak acuh.
"Engkau menduga yang bukan-bukan, Sicu. Puteri Syanti Dewi dari Bhutan merupakan tamu agung kami yang dikawal oleh Panglima Mohinta sendiri, sedangkan keluarga Kao juga merupakan keluarga yang menjadi tamu kami, bahkan minta perlindungan kami dari pengejaran pasuhan istana yang memusuhi mereka."
"Hemmm, aku tidak percaya! Biar aku menemui mereka dan bertanya sendiri!"
"Sikapmu terlalu keras dan engkau terlalu tidak mempercayai orang, Sicu. Persoalan keluarga Kao sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kao-goanswe, maka biarlah dia saja yang menghadapimu dan menjawabmu."
Begitu mendengar ucapan sang pangeran, Jenderal Kao yang tadinya menyelinap di antara para pasukan, kini melangkah maju dua tindak dan berkata, suaranya lantang akan tetapi matanya memandang kosong, tidak menatap wajah Kian Bu.
"Siluman Kecil, harap kau jangan mencampuri urusan kami sekeluarga Kao!"
Setelah berkata demikian, dia mundur lagi dan berdiri di antara para perajurit dengan muka menunduk, kelihatan berduka sekali.
Kian Bu merasa heran bukan main.
Timbul keraguan apakah benar orang tua itu adalah jenderal gagah perkasa yang pernah dikenalnya itu?
Ataukah hanya orang yang mirip mukanya?
Sikapnya demikian aneh dan jelas bahwa orang itu bertindak bukan atas kemauan sendiri, melainkan terpaksa atau tertekan.
Benar-benar hatinya merasa tidak puas sekali.
Akan tetapi apa yang dapat dilakukan?
Betapapun juga, dia harus membe-narkan bahwa Puteri Bhutan tidak bisa dijumpakan kepada seorang laki-laki asing, dan dalam hal itu tentu saja Panglima Butan yang mengawalnya mempunyai hak penuh untuk menolak permintaannya.
Mengenai keluarga Kao, kalau Jenderal Kao Liang sendiri sudah mengatakan demikian, dia dapat berbuat apakah?
Dia merasa ragu-ragu, bingung, memandang ke kanan kiri seperti hendak menanya-kan pendapat orang lain, kemudian dia mengangkat kedua bahunya dan berkata.
"Ahhh.... kalau begitu, kehadiranku tidak dibutuhkan orang lagi. Biarlah aku pergi saja...."
Dia melangkah pergi, akan tetapi tiba-tiba Pangeran Liong Bian Cu melangkah maju dan memberi hormat dengan kedua tangan dirangkap di depan dada.
"Sicu, setelah semua urusan beres, maka biarlah dalam kesempatan ini kami mengundang Sicu untuk duduk di dalam dan bercakap-cakap sebagai seorang tamu yang terhormat."
Kian Bu menahan langkah kakinya.
Tentu saja di dalam hatinya dia merasa tidak sudi untuk bersahabat dengan pangeran asing yang mungkin bersekutu dengan fihak pemberontak ini, akan tetapi dia teringat akan Syanti Dewi.
Hatinya bimbang ragu, ingin dia bertemu dengan puteri itu dan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa puteri itu selamat, mendengar dengan telinganya keterangan dari mulut puteri itu sendiri bahwa sang puteri tidak terancam bahaya.
Kalau dia menerima undangan Pangeran Nepal ini, mungkin saja dia memperoleh kesempatan untuk bertemu dengan Syanti Dewi, akan tetapi kalau dia memenuhi undangan itu, bukankah berarti bahwa dia telah menerima kebaikan dari seorang musuh negara?
Selagi dia meragu, tiba-tiba terdengar suara nyaring bening.
"Tangkap dia....!"
"Eh, mau apa kau?"
Terdengar suara Hek-tiauw Lo-mo.
Kian Bu menoleh dan dia melihat seorang dara cantik jelita berpakaian sutera serba hitam, dipegangi lengan kirinya oleh Hek-tiauw Lo-mo.
Dara itu meronta dan menudingkan telunjuknya ke arah Kian Bu sambil berseru.
"Tangkap dia! Pangeran, dia adalah mata-mata kerajaan! Dia adalah Suma Kian Bu, putera dari Pendekar Super Sakti, dia masih cucu dari kaisar sendiri! Karena itu, dia tentulah mata-mata kerajaan, maka harus ditangkap!"
Kian Bu tertegun mengenal dara itu yang bukan lain adalah Kim Hwee Li, puteri dari Hek-tiauw Lo-mo.
Mendengar seruan puterinya ini, Hek-tiauw Lo-mo juga menjadi girang dan melepaskan pegangan tangannya.
Dia sudah mengeluarkan senjatanya yang ampuh, yaitu sebatang golok gergaji di tangan kanan.
Kini Kian Bu menggerakkan kepala sehingga rambut putihnya semua terbang ke belakang kepalanya dan mukanya yang tampan nampak.
Hek-tiauw Lo-mo segera mengenal wajah ini dan dia pun terkejut.
Kiranya putera Pendekar Super Sakti yang dikenal orang sebagai pendekar aneh yang berjuluk Siluman Kecil!
"Benar-benar dia putera Majikan Pulau Es!"
Teriaknya sambil menerjang ke depan.
"Tangkap mata-mata musuh!"
Mendengar ini, Pangeran Liong Bian Cu terkejut bukan main.
Kalau benar bahwa Siluman Kecil adalah putera Pendekar Siluman atau Pendekar Super Sakti, Majikan Pulau Es, cucu kaisar sendiri, maka jelaslah bahwa kehadirannya ini berbahaya bukan main!
"Tangkap dia!"
Perintahnya sambil melangkah mundur ke tempat aman.
Sementara itu, Hwee Li sudah menerjang maju dengan kepalan tangannya, menghantam dada Kian Bu yang masih keheranan itu dengan tangan kanan.
Pemuda ini tentu saja merasa amat heran melihat sikap Hwee Li.
Gadis ini jelas mencinta kakaknya dan ketika membantunya mencari obat, Hwee Li bersikap manis kepadanya.
Kenapa sekarang gadis ini membuka rahasianya sehingga dia terancam bahaya?
Dia cepat mengelak dan hendak balas mendorong, ketika dia mendengar bisikan gadis.
itu.
".... kau tangkaplah aku....!"
"Wuuuttttt....!"
Dorongannya diperlemah, namun tetap saja tubuh Hwee Li terdorong ke belakang dan tentu akan terjengkang dan terbanting kalau saja dia tidak berjungkir-balik ke belakang dengan amat lincahnya.
Sementara itu, Hek-tiauw Lo-mo telah menyerang Kian Bu dengan golok gergajinya dari depan, sedangkan dari kiri Hek-hwa Lo-kwi telah menyerangnya dengan tangannya yang kini berubah hitam sampai ke siku, tanda bahwa tangan itu mengerahkan tenaga mujijat yang mengandung racun berbahaya sekali.
Namun Kian Bu cepat bergerak dan tubuhnya berkelebatan ke sana-sini, dengan mudahnya dia dapat menghindarkan diri dari dua serangan maut itu.
Akan tetapi, ke manapun dia meloncat, dia selalu dipapaki serangan dari semua orang yang telah mengepungnya.
Di sebelah dalam kepungan itu, dia dikeroyok oleh Hek-tiauw Lo-mo, Hek-hwa Lo-kwi, Gitananda, Hwee Li, Hak Im Cu, Ban-kin-kwi Kwan Ok, Hai-liong-ong Ciok Gu To, tokoh-tokoh Kui-liong-pang dan para pembantu Mohinta, sedangkan di sebelah luarnya dia dikepung oleh puluhan orang anak buah pasukan yang dipimpin oleh Jenderal Kao Liang!
Dengan demikian, betapapun dia melesat ke sana-sini, tetap saja dia tidak mampu lolos dari kepungan itu.
Akan tetapi, yang membuat Kian Bu makin bingung dan ragu adalah sikap Hwee Li dan bisikan dara itu tadi!
Dia tidak mengerti dan menjadi ragu-ragu apalagi melihat betapa dara itu terus mendesaknya, bahkan menjadi penyerang terdepan seolah-olah dara itu amat benci kepadanya dan hendak mengadu nyawa!
Akan tetapi, tentu saja dia tidak tega melukainya, maka gerakan Kian Bu menjadi kurang gesit dan ketika akhirnya dia berhasil merobohkan lima enam orang pengeroyoknya, tiba-tiba sinar hitam yang amat lebar menimpanya dan tahu-tahu dia telah tertangkap oleh jala hitam tipis yang dilepas oleh Hek-tiauw Lo-mo.
Kian Bu meronta, namun jala itu memang aneh sekali sifatnya.
Amat lemas dan halus tipis sekali sehingga dapat dikepal dalam genggaman tangan, akan tetapi uletnya melebihi baja dan mempunyai sifat mengkerut sehingga kalau yang terperangkap itu meronta, malah makin ketat melibat!
Tiba-tiba Hwee Li menubruknya.
"Mampuslah kau, mata-mata hina-dina!"
Bentaknya dan kini semua orang pengepung berteriak-teriak girang melihat pemuda itu telah tertawan.
Dan di antara bentakan-bentakan dan teriakan-teriakan ini, Kian Bu mendengar suara Hwee Li yang halus sekali.
".... tolol, cepat tangkap aku, jadikan sandera....!"
Kini mengertilah pendekar muda yang sakti itu.
Kiranya sejak tadi Hwee Li menunjukkan jalan keluar yang amat cerdik.
Akan tetapi apa gunanya menangkap Hwee Li?
Bukankah gadis itu sendiri agaknya tidak leluasa bergerak, buktinya tadi dicurigai ayahnya sendiri dan ditangkap lengannya?
Dalam keadaan yang berbahaya itu, dia tidak mau banyak membantah, ketika melihat Hwee Li menghantam ke arah kepalanya dengan kepalan tangan kanan, menghantam sekuatnya, dia sengaja menerimanya dengan bahunya.
"Desss....!"
Tubuh Kian Bu terguling-guling di dalam gulungan jala itu.
"Ha-ha-ha, bagus Hwee Li anakku, bagus! Hantam dia sampai mampus!"
Hek-tiauw Lo-mo tertawa sambil memegangi ujung tali jala.
Tadinya Hwee Li terkejut melihat betapa Kian Bu sengaja menerima hantamannya dengan bahu, akan tetapi dara ini memang cerdik sekali, maka dia segera mengerti akan maksud Kian Bu.
Pemuda itu membiarkan dirinya terpukul agar tidak ada orang yang akan mencurigainya nanti.
Maka cepat dia menubruk dan memukul lagi.
Benar saja dugaannya, sekali ini Kian Bu mengulur tangannya dan menangkap pergelangan tangannya, terus secepat kilat jari tangan pemuda itu menotok jalan darah thian-hu-hiat dan seketika dia menjadi lemas.
"Ayah...., tolong...."
Hwee Li berteriak lirih dengan tubuh lemas dan lengannya masih dipegang oleh Kian Bu.
"Keparat, lepaskan anakku!"
Hek-tiauw Lo-mo mendekati dengan golok gergaji di tangan, juga Hek-hwa Lo-kwi dan lain-lain tokoh yang berkumpul di situ melangkah maju.
"Berhenti! Mundur semua atau gadis ini akan kubunuh lebih dulu!"
Kian Bu menghardik dan jari tangannya telah terjulur keluar dari celah-celah jala itu, menempel di tengkuk Hwee Li.
Hek-tiauw Lo-mo dan semua orang terkejut, maklum bahwa sekali menggerakkan jari tangannya, pemuda itu memang akan dapat menewaskan Hwee Li tanpa ada yang akan sanggup menolongnya karena jari tangan itu telah menempel di jalan darah yang mematikan.
Sejenak Hek-tiauw Lo-mo tertegun, akan tetapi dia laiu menerjang maju dengan goloknya.
"Keparat! Kalau engkau berani membunuh anakku, maka aku akan menyiksamu dan akan mencincang tubuhmu!"
Agaknya dia tidak peduli akan ancaman terhadap anaknya itu dan masih hendak melanjutkan serangannya.
Tentu saja Kian Bu menjadi bingung sekali dan mulai menyesal akan akal yang digunakan oleh Hwee Li, yang ternyata, seperti telah disangsikannya tadi, telah gagal.
Orang macam Hek-tiauw Lo-mo yang berwatak seperti iblis itu mana mempunyai rasa sayang kepada anak sendiri?
Dia sudah berniat melepaskan Hwee Li dan sedapat mungkin mempertahankan nyawanya ketika tiba-tiba terdengar seruan berwibawa.
"Locianpwe, tahan dulu!"
Hek-tiauw Lo-mo menahan gerakan goloknya dan melangkah mundur.
Baru teringat dia bahwa hampir saja dia membahayakan nyawa anaknya.
Dia sendiri memang tidak peduli apakah Hwee Li akan mati atau hidup, akan tetapi dia lupa bahwa tentu saja ada orang yang amat mempedulikan hal itu, dan orang ini tentu saja adalah Pangeran Liong Bian Cu yang amat mencinta Hwee Li!
Kini pangeran itu muncul dan memandang kepada Kian Bu yang masih tertawan dalam jala dan yang memegang lengan Hwee Li yang tertotok lemas dan menempelkan jari tangannya di tengkuk dara itu.
Dia memandang penuh kekhawatiran, lalu berkata dengan gagap.
"Suma-sicu, harap kau suka melepaskan dia."
Hwee Li menoleh ke arah pangeran itu dan berkata lirih.
"Lekas...., lekas.... Pangeran.... kenapa kau tidak cepat menolong tunanganmu ini....? Lekas.... ahhhhh...."
Mengertilah kini Kian Bu.
Kiranya Hwee Li adalah tunangan pangeran berhidung betet ini!
Hatinya menjadi girang.
Memang Hwee Li merupakan seorang sandera yang amat berharga.
Akan tetapi di samping kegirangan hatinya, juga timbul keheranan.
Kalau Hwee Li menjadi tunangan pangeran itu, mengapa Hwee Li bersikap begini dan agaknya hendak menolongnya?
Dia tidak mengerti, akan tetapi dia pun tidak mau banyak pusing menikirkan hal itu.
"Mudah saja melepaskan dia, Pangeran, akan tetapi aku pun berhak minta dibebaskan pula,"
Katanya.
"Tentu saja! Kau lepaskanlah tunanganku itu, dan kami akan membebaskanmu."
"Hemmm, kedudukan kalian adalah jauh lebih kuat, maka sepatutnyalah kalau aku yang lebih dulu minta dibebaskan, baru kemudian aku akan membebaskan Nona ini."
"Kau.... kau tidak percaya kepada omonganku?"
Pangeran Liong Bian Cu membentak marah, akan tetapi dia lalu menarik napas panjang, dan berkata kepada Hek-tiauw Lo-mo.
"Locianpwe, harap kau suka melepaskan jalamu itu dan biarkan dia bebas."
Hek-tiauw Lo-mo bersungut-sungut, memandang kepada Kian Bu dengan mata lebar dan melotot penuh kemarahan, akan tetapi dia tidak berani membantah dan dengan beberapa kali gerakan, jala yang menyelimuti tubuh Kian Bu itu ditariknya terlepas.
Memang jala itu merupakan senjata yang amat aneh, tali pengikatnya berada di tangan kakek ini maka dia dapat menggerakkan jala itu sesuka hatinya.
Kian Bu bangkit berdiri dan masih memegang pergelangan tangan Hwee Li.
Dia mengangguk kepada pangeran itu dan berkata.
"Biarlah sekarang aku pergi saja dan nanti setelah tiba di luar daerah ini aku pasti akan membebaskan tunanganmu ini, Pangeran."
Tanpa menanti jawaban, Kian Bu lalu memondong tubuh Hwee Li, kemudian meloncat dengan kecepatan seperti terbang saja keluar dari tempat itu.
Hek-tiauw Lo-mo bergerak hendak mengejar, demikian pula Hek-hwa Lo-kwi, akan tetapi pangeran itu mengangkat tangan mencegah mereka, lalu berkata lirih.
"Jangan ceroboh, Adinda Hwee Li berada dalam kekuasaannya!"
"Ah, tapi siluman itu! Bagaimana kalau dia tidak membebas-kan Hwee Li?"
Hek-tiauw Lo-mo berkata dengan alis berkerut.
"Kita harus membayangi dia!"
Hek-hwa Lo-kwi juga mengangguk-angguk.
Sang pangeran menjadi bingung, dia berjalan hilir-mudik dengan kedua tangan di belakang pinggulnya, wajahnya agak pucat.
Dia amat mencinta Hwee Li dan kini kekasihnya itu terancam bahaya tanpa dia berani mengerahkan orang--orangnya karena kekasihnya itu berada dalam ancaman seorang musuh yang amat lihai.
"Kenapa tidak menggunakan garuda saja....?"
Tiba-tiba Gitananda berkata.
"Ah, benar! Hanya dengan cara itu Ji-wi Locianpwe dapat membayanginya dan menjaga keselamatan Adinda Hwee Li!"
Hek-tiauw Lo-mo mengangguk dan wajahnya berseri.
"Kenapa aku melupakan garuda itu?"
Dia mencela diri sendiri.
"Lo-kwi, hayo kau bantu aku menghadapi Siluman Kecil!"
Hek-hwa Lo-kwi sejak dahulu memang selalu tidak mau mengalah terhadap Hek-tiauw Lo-mo, maka kini mendengar ajakan itu, dia membuang muka.
"Urusan anakmu sendiri, kenapa kau hendak merepotkan orang lain? Katakan saja engkau tidak berani menghadapi siluman itu sendirian saja!"
"Siapa tidak berani? Biar ditambah engkau sekalipun, aku tidak takut!"
Hek-tiauw Lo-mo menghardik. Melihat dua orang pembantunya yang kukoai (aneh wataknya) itu mulai cekcok sendiri, Pangeran Liong Bian Cu cepat berkata.
"Harap Hek-hwa locianpwe suka membantu Hek-tiauw Locianpwe menyelamatkan Adinda Hwee Li."
Barulah dua orang kakek iblis itu tidak berani banyak ribut lagi dan tak lama kemudian mereka telah menunggang di atas punggung burung garuda besar itu yang mulai mengibaskan sayapnya dan terbang ke atas, memasuki udara yang gelap.
Pangeran Liong Bian Cu lalu memerintahkan kakek Gitananda untuk memimpin sepasukan pengawal melakukan pengejaran jalan darat, dan Jenderal Kao mendapat tugas menjaga benteng dengan ketat agar jangan sampai dapat diselundupi musuh lagi.
Dengan pengerahan tenaga dan kepandaiannya, bagaikan terbang cepatnya Kian Bu melarikan diri keluar dari benteng melalui pintu gerbang tanpa ada yang mencoba untuk menghalanginya.
Para penjaganya yang sudah menerima perintah itu hanya memandang dengan bengong melihat pemuda itu berlari cepat memondong tubuh dara tunangan pangeran itu keluar dari pintu gerbang dan menghilang di dalam gelap.
Hwee Li sendiri memejamkan mata karena ngeri.
Dia sudah biasa menunggang garuda yang terbang tinggi di angkasa dan juga cepat sekali, akan tetapi kini berada dalam pondongan pemuda rambut putih ini yang berlari tidak lumrah cepatnya, dia merasa ngeri juga.
Setelah jauh meninggalkan lembah itu dan tiba di padang rumput yang sunyi, yang diterangi oleh sinar bulan sepotong dan dibantu oleh bintang-bintang di langit, barulah Kian Bu membebaskan totokan yang membuat tubuh Hwee Li lemas tadi, dan menurunkannya dari pondongan.
Kemudian dia menjura kepada dara itu sambil berkata.
"Nona, sekali lagi engkau telah menolongku, kalau dulu engkau menolongku mencarikan obat untuk kakakku, kini engkau malah menolong aku dan membebaskan aku dari cengkeraman maut. Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih atas budimu yang besar itu."
"Siapa berterima kasih kepada siapa? Akulah yang harus berterima kasih kepadamu,"
Kata Hwee Li.
"Tidak, engkau yang telah melepas budi besar kepadaku, Nona, dua kali malah, dan yang terakhir ini sungguh engkau telah menyelamatkan aku dari cengkeraman maut. Aku berhutang nyawa kepadamu."
"Hi-hik, berhutang nyawa? Lalu kapan kau akan membayar hutangmu itu?"
Kian Bu gelagapan, akan tetapi memang pada dasarnya dia adalah seorang pemuda yang berwatak gembira, maka kini bertemu dengan seorang dara lincah seperti Hwee Li, kumat kembali wataknya itu.
"Ah, biarlah aku akan selalu membayangimu dan menanti saat balk. Kalau engkau terancam bahaya maut, aku akan menolongmu sehingga dengan demikian aku akan dapat membayar hu-tangmu itu."
"Hemmm...."
Hwee Li lalu duduk di atas rumput.
Indah sekali suasana di padang rumput itu.
Angin malam semilir menggerakkan ujung-ujung rumput yang seperti air laut sedang bergelombang lembut.
Bau sedap harum rumput bercampur tanah mendatangkan rasa nyaman dan membuat orang ingin menarik napas dalam-dalam untuk memenuhi paru-parunya.
Sinar bulan lembut menyentuh mesra.
Semuanya nampak serba lembut, tidak ada kekerasan yang terbawa dalam sinar matahari siang.
"Kau benar-benar ingin membalas budi kepadaku?"
"Benar! Sungguh, Nona, hanya aku tidak tahu dengan cara bagaimana aku harus membalas kebaikan hatimu dan budi yang telah berkali-kali kaulepaskan kepadaku itu."
"Kalau ada sebuah permintaanku, benar engkau mau memenuhinya?"
"Benar, pasti akan kupenuhi permintaanmu itu, asal dapat membalas budimu dengan itu."
"Nah, mulai sekarang, jangan lagi menyebut nona kepadaku."
"Ehhh....?"
Kian Bu melongo.
Masa hanya sedemikian sederhana permintaannya?
Dan apa maksudnya?
Apakah dia harus menyebut namanya saja?
Namanya Hwee Li, nama yang indah dan enak diucapakan.
"Lalu.... menyebut apa?"
Tanyanya, ragu.
"Kau harus menyebut aku enci (kakak perempuan)."
"Hehhh....? Tapi.... tapi aku lebih tua daripada engkau....! Usiaku sudah dua puluh tahun lebih, dan engkau paling banyak delapan belas...."
"Tujuh belas!"
Potong Hwee Li dengan cepat.
"Nah, baru tujuh belas malah!"
"Hemmm, baru permintaan sedemikian saja engkau sudah banyak cerewet. Katakan saja engkau tidak mau! Apalagi untuk membayar hutang nyawa segala....!"
Hwee Li bersungut-sungut dan memalingkan muka dari pemuda itu.
"Ah, tentu saja aku mau. Enci Hwee Li, jangan marah. Aku akan menyebutmu enci, cici, kakak ataukah enso (kakak ipar)....?"
"Ihhh! Tak tahu malu!"
Hwee Li membentak dan mukanya berubah merah sekali, akan tetapi karena sinar bulan juga mengandung warna kemerahan, maka perubahan warna muka ini tidak dapat kentara.
Sebaliknya, Kian Bu termenung dan hatinya terharu, dia tidak mau menggoda lagi.
Jelaslah bahwa permintaan dara ini membuktikan bahwa dara ini benar-benar mencinta kakaknya!
Dia merasa girang dan terharu.
Ah, derita batin kakaknya tentu akan terobati kalau kakaknya memperoleh dara cantik jelita dan lincah jenaka ini sebagai kekasih dan calon isteri!
"Maafkan aku, Enci Hwee Li, aku berjanji tidak akan menyebutmu so-so lagi...."
Hwee Li menoleh dan matanya yang indah itu melotot.
"Berjanji tidak akan menyebut akan tetapi terus-menerus mengulang! Kau menantang, ya?"
"Eh, oh.... tidak...., maafkan. Akan tetapi sungguh aku tidak mengerti apa yang kaumaksudkan ketika mengatakan bahwa engkau yang harus berterima kasih kepadaku. Engkau sudah berkali-kali menolongku, kalau sekarang mengatakan bahwa engkau yang harus berterima kasih, bukankah itu artinya mengejekku?"
"Huh, kau tidak tahu. Apakah kau kira aku begitu ceroboh dan usil untuk mempertaruhkan nyawaku menolongmu kalau hal itu tidak penting bagiku?"
"Maksudmu....?"
"Bukan aku yang menolongmu, melainkan engkaulah yang telah membebaskan aku dari kurungan benteng itu. Aku adalah seorang tawanan pula di sana, mengertikah engkau?"
Tentu saja Kian Bu menjadi terkejut bukan main.
Tadi dia mendengar bahwa dara jelita ini adalah tunangan dari Pangeran Nepal itu, dan sekarang mengaku sebagai tawanan.
"Tawanan? Bukankah ayahmu juga berada di sana? Kalau Hek-tiauw Lo-mo menjadi pembantu pangeran itu, mana mungkin engkau menjadi tawanan?"
"Hek-tiauw Lo-mo bukan ayahku, melainkan musuh besarku!"
"Ehhhhh....?"
Kan Bu memandang dengan mata terbelalak.
"Dia.... dia bahkan musuh yang telah membunuh ibuku...."
Hwee Li menunduk, hatinya berduka teringat akan riwayatnya itu.
"Ahhh....! Kalau begitu kionghi (selamat) kepadamu, Enci!"
Dan Kian Bu benar-benar telah bangkit berdiri dan memberi selamat dengan mengangkat kedua tangan ke depan dada sambil membungkuk di depan dara itu.
Hwee Li meloncat berdiri.
"Engkau.... engkau manusia kejam! Engkau siluman liar!"
Dan tiba-tiba dara itu telah menerjang dan menyerang Kian Bu dengan hebatnya!
Begitu menyerang, tangannya meluncur menotok ke arah jalan darah di leher Kian Bu, sedangkan kakinya yang kecil itu cepat sekali menyusul dengan tendangan yang juga merupakan totokan dengan ujung sepatu mengarah lambung!
"Eh....
plakkk!
Ohhh....
plekkk!"
Kian Bu terhuyung-huyung ke belakang karena dia menangkis tanpa mengerahkan sinkangnya sehingga dia terdorong oleh tenaga totokan dan tendangan itu.
Dengan penasaran dan marah karena serangannya yang tiba-tiba dan amat cepat itu dapat ditangkis, bahkan tangan dan kakinya terasa nyeri, Hwee Li telah menerjang lagi, seperti seekor naga mengamuk saja.
Namun sekali ini Kian Bu telah siap, dan dengan mudah pemuda ini terus-menerus mengelak.
"Eh, nanti dulu.... wah, Enci.... eh, Ciciku yang baik.... tahan dulu....!"
Melihat Hwee Li terus menyerang, tiba-tiba tubuh Kian Bu melesat jauh dan lenyap! Hwee Li termangu-mangu, dan merasa heran, lalu bersungut-sungut.
"Tak tahu aturan, adik macam apa dia itu! Orang menceritakan ibunya dibunuh orang malah memberi selamat!"
"Wah, engkau salah sangka, Enci Hwee Li...."
Tiba-tiba Hwee Li membalikkan tubuhnya dan kiranya pemuda berambut putih itu telah berdiri di belakangnya!
Kian Bu cepat mengangkat kedua tangan ke atas, tanda takluk dan tergesa-gesa menyambung ucapannya sebelum dara yang galak itu sampai menyerangnya lagi.
"Dengarkan dulu! Aku memberi selamat kepadamu bukan untuk itu, melainkan mendengar bahwa engkau bukan puteri Hek-tiauw Lo-mo! Sejak dahulu pun aku sudah tidak percaya, masa iblis jelek menakutkan macam Hek-tiauw Lomo bisa mempunyai seorang anak yang cantik molek dan manis jelita seperti engkau...."
"Wah, engkau memang seorang adik yang bejat moralnya!"
"Lhoh, kenapa lagi?"
"Engkau memuji-muji kecantikan cicimu, hemmm, ada maksud kotor apa di dalam hatimu?"
Kian Bu tersenyum.
"Aihhh, segala yang kuucapkan ternyata kau anggap salah saja. Sudahlah aku minta maaf. Aku tadi memberi selamat saking girang hatiku mendengar bahwa engkau bukanlah puteri Hek-tiauw Lo-mo, maka aku memberi selamat dan saking girang hatiku sampai aku tadi lupa bahwa ibumu telah terbunuh oleh iblis itu! Hemmm, jangan khawatir, aku akan membantumu membalaskan dendam orang tuamu itu, Enci Hwee Li. Lalu...., siapakah orang tuamu, kalau aku boleh bertanya?"
Akan tetapi Hwee Li sudah duduk lagi dan tidak menjawab, hanya menunduk.
Keadaan menjadi sunyi, keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Kian Bu memang merasa girang, karena kalau dara ini bukan puteri Hek-tiauw Lo-mo, berarti dara ini makin pantas menjadi jodoh kakaknya.
Betapapun cantiknya dan baiknya, kalau dia ini puteri Hek-tiauw Lo-mo, wah, agak sukar juga karena setidaknya, orang tua mereka di Pulau Es tentu tidak akan sudi berbesan dengan iblis Pulau Neraka itu.
Akan tetapi, melihat Hwee Li tidak menjawab pertanyaannya tentang orang tuanya, dia pun tidak berani mendesak, karena dia mengira bahwa tentu dara itu masih merasa berduka atas kematian orang tuanya di tangan Hek-tiauw Lo-mo.
Di lain fihak, Hwee Li juga tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Dia menyuruh Kian Bu menyebutnya enci karena memang dia merasa bahwa pemuda ini adalah adik Kian Lee, maka sudah sepantasnya menyebut enci, bukan enso (kakak ipar) karena memang belum waktunya!
Dan kini, sukar baginya untuk mengaku bahwa dia adalah keturunan mendiang Kim Bouw Sin, panglima di perbatasan yang pernah menjadi pemberontak itu!
Bagaimanakah keluarga Suma akan memandangnya kalau mereka mendengar bahwa dia adalah keturunan pemberontak Kim Bouw Sin?
Padahal, dia tahu bahwa keluarga Pulau Es adalah keluarga pahlawan, bahkan ibu Kian Bu Siluman Kecil ini adalah seorang puteri istana kaisar!
Maka, dia tidak berani mengaku di depan Kian Bu siapa adanya orang tuanya yang sesungguhnya.
Melihat Hwee Li menunduk seperti orang berduka itu, Kian Bu mengira bahwa dara itu teringat akan orang tuanya, maka dia lalu mengalihkan percakapan.
"Enci Hwee Li, jadi engkau telah ditahan secara paksa di dalam benteng itu? Akan tetapi aku mendengar bahwa engkau.. eh, engkau adalah tunangan pangeran itu!"
"Tidak sudi! Dia memaksa aku menjadi tunangannya, dia dan iblis tua bangka itu dan para pembantunya. Akan tetapi, siapa sudi menjadi isterinya?"
"Eh, kenapa? Bukankah pangeran itu gagah dan tampan, seorang pangeran kerajaan pula?"
"Tampan? Dia me.... memuakkan....!"
Hwee Li teringat betapa dia pernah diciumi oleh pangeran itu dalam keadaan tak dapat menghindar.
"Terutama.... hidungnya! Dan matanya! Seperti burung hantu.... ihhh, menjijikkan!"
Dan Hwee Li meludah karena dia teringat akan ciuman-ciuman dahulu itu.
Kian Bu tidak mau mengukur isi hati dara itu lagi.
Hatinya girang karena selain dara ini ternyata bukan puteri dari iblis Pulau Neraka itu, juga ternyata Hwee Li bukanlah tunangan pangeran dari Nepal itu, melainkan dipaksa sebagai tunangannya.
Sekarang tahulah dia mengapa Hwee Li menolongnya.
Memang benar pengakuan dara ini tadi bahwa Hwee Li bukan semata-mata menolongnya, melainkan juga hendak menggunakan kesempatan itu untuk meloloskan diri dari dalam benteng.
Dan memang perhitungan dara itu amat cerdik.
Karena "membiarkan"
Dirinya ditawan dan dijadikan sandera oleh Kian Bu, maka biarpun tokoh-tokoh lain tidak peduli, namun pangeran itu ternyata merasa khawatir akan keselamatan tunangannya dan membiarkan Kian Bu lolos membawa Hwee Li.
"Kalau begitu, Enci Hwee Li, apakah engkau tidak akan kembali ke sana setelah berhasil lolos bersamaku?"
Akhirnya Kian Bu bertanya.
"Kembali ke sana? Apakah engkau gila? Terang aku tidak akan kembali ke sana, akan tetapi.... aku terpaksa harus kembali ke sana."
"Ehhh? Engkau memang aneh, Enci."
Kian Bu memandang heran.
"Setelah berhasil lolos, mengapa hendak kembali lagi ke sana? Katanya engkau membenci sang pangeran?"
"Hushhh, aku bukan hendak kembali untuk dia. Pertama-tama, aku harus berhasil membalaskan sakit hati ibuku terhadap ibliss tua bangka dari Pulau Neraka itu."
"Hemmm, tidak mudah! Dia lihai sekai!."
"Takut apa? Dengan adanya engkau di sampingku yang membantuku, apakah kau kira aku tidak mampu membekuk batang lehernya?"
"Aku....? Ah, akan tetapi.... belum tentu aku akan kembali ke sana."
Hwee Li meloncat bangun, berdiri dan menghadapi Kian Bu dengan kedua tangan menekan pinggangnya yang ramping.
Dia membanting kaki kanannya dua kali, tanda bahwa dia merasa kesal dan marah.
"Engkau ini seorang adik macam apa? Engkau harus kembali ke sana bersamaku, membantu aku!"
Terlalu sekali bocah ini, pikirnya.
Belum apa-apa saja lagaknya sudah begini memerintah dan memaksa.
Bagalmana kalau kelak benar-benar menjadi kakak iparku?
Wah, kakaknya, Kian Lee harus bekerja keras untuk menundukkan si liar ini!
"Bagaimana kalau aku tidak....
sanggup?"
Dia tidak jadi mengatakan tidak mau, khawatir nona itu akah marah-marah dan menyerangnya lagi seperti tadi.
Betapapun juga, dia tidak dapat lupa bahwa nona ini pernah menyelamatkan nyawa kakaknya ketika menolongnya mencarikan jamur mujijat itu, kemudian telah menyelamatkan nyawanya sendiri ketika dia tertawan di dalam benteng Pangeran Liong Bian Cu tadi.
"Engkau harus sanggup dan engkau harus mau!"
Jawab Hwee Li.
"Tanpa kuminta sekalipun engkau pasti akan kembali ke sana!"
"Eh, bagaimana engkau begitu pasti, Enci....?"
Kian Bu terheran.
"Karena ketahuilah bahwa keluarga Jenderal Kao Liang juga menjadi tawanan di tempat itu. Dia sendiri, isterinya, puteranya, cucu-cucunya dan keluarganya. Aku tahu bahwa engkau tentu akan mencoba untuk menolong mereka."
Kian Bu menunduk dan mengerutkan alisnya.
Hatinya merasa kecewa sekali kalau dia mengingat akan jenderal yang dulu amat dikagumi dan dihormatinya itu.
Masih berkumandang di telinganya betapa jenderal itu sendiri menolak ketika dia menuntut pembebasan keluarga jenderal itu, apalagi melihat kenyataan kemudian betapa jenderal itu benar-benar telah menjadi pembantu pangeran dari Nepal, seorang musuh negara!
Maka dia menggeleng kepalanya.
"Tidak, aku tidak akan mencampuri urusan Jenderal Kao...."
"Akan tetapi dia melakukan semua itu karena terpaksa, Kian Bu!"
Hwee Li berkata dan kini dia telah duduk kembali.
"Jangan kau mengira bahwa Jenderal Kao telah menjadi seorang pengkhianat! Keluarganya ditawan dan semua diancam akan disiksa di depan matanya kalau dia tidak menurut, kalau dia tidak mau membangun benteng itu."
"Huh, laki-laki macam apa itu? Seorang gagah tidak akan mementingkan diri sendiri dan keluarganya. Untuk menyelamatkan keluarga lalu menjual diri kepada musuh negara hanya dapat dilakukan oleh orang yang lemah dan pengecut."
"Akan tetapi dia tidak berkhianat! Dia hanya berjanji untuk membangun benteng dan memimpin pertahanan di benteng itu, dia tidak berjanji untuk menyerang kerajaan. Dia terpaksa, Kian Bu, siapa orangnya yang dapat bertahan melihat keluarganya terancam bahaya maut dan siksaan? Selain itu, di sana masih ada seorang lain yang ditahan dan yang pasti akan kau coba selamatkan. Dia adalah Bibi Syanti Dewi!"
"Bibi....? Kau menyebutnya bibi?"
Kian Bu bertanya heran.
"Tentu saja! Habis disuruh menyebut apa?"
"Dia usianya tidak berselisih banyak denganmu."
"Dasar kau yang tolol! Apakah sebutan orang itu tergantung dari usianya? Andaikata dia lebih muda daripada aku sekalipun, tetap saja aku menyebut bibi kepadanya. Dia adalah kakak angkat dari guruku, habis suruh aku menyebut apa kepadanya?"
Kian Bu makin terheran dan juga bingung.
Bocah ini adalah murid dari Ceng Ceng, dan Ceng Ceng adalah seorang keponakannya, puteri dari mendiang kakak tirinya!
Ceng Ceng sendiri menyebut paman kepadanya, jadi semestinya Hwee Li yang menjadi murid Ceng Ceng ini harus menyebutnya susiok-kong (paman kakek guru)!
Akan tetapi, malah dia diharuskan menyebut enci kepada dara ini yang masih terhitung murid cucu keponakannya!
Dan bagaimana kalau kakaknya sampai berjodoh dengan dara ini?
Bukankah hal itu berarti menikah dengan cucu keponakan sendiri?
Dan anak mereka kelak?
Bukankah anak itu masih cucu buyut keponakan?
Wah, dia menjadi bingung sendiri.
Persetan segala macam sebutan-sebutan itu!
"Bagaimana, Kian Bu.
Engkau tentu akan menyelamatkannya, bukan?
Tadi engkau mati-matian datang seorang diri memasuki benteng untuk menolong Bibi Syanti...."
Kian Bu menggeleng kepala. (Lanjut ke
Jilid 36) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 36
"Sekarang tidak perlu lagi. Dia adalah Puteri Bhutan, dan di sana terdapat Panglima Bhutan yang tentu saja berhak untuk melindunginya. Dan kalau dia berada di sana sebagai tamu...."
"Wah, engkau ini berjuluk Siluman Kecil, namamu menggemparkan seluruh dunia, eh, kiranya hanya seorang bocah yang bodoh belaka! Siapa bilang Bibi Syanti menjadi tamu? Dia pun diculik oleh kakek Gitananda dan menjadi tawanan di sana. Memang si Mohinta yang tak tahu malu itu tadinya hendak minta dibebaskannya Bibi Syanti Dewi, akan tetapi pengkhianat hina-dina itu malah bersekutu dengan pangeran blo"on itu...."
"Eh, kok ada pangeran blo'on segala?"
"Maksudku, pangeran hidung kakatua itu. Mohinta bersekutu, menjadi kaki tangan Pangeran Nepal dan mereka berjanji untuk mengguna-kan Bibi Syanti sebagai sandera untuk menundukkan Kerajaan Bhutan! Dan kelak Mohinta dijanjikan akan dikawinkan dengan Bibi Syanti Dewi.... Coba, apa kau rela?"
"Ahhh....!"
Kian Bu meloncat berdiri dan mengepal tinjunya, mukanya menjadi merah sekali tanda bahwa Siluman Kecil ini marah bukan main.
Mereka berani mempermainkan Syanti Dewi?
Berarti harus berhadapan dengan dia!
Melihat pemuda itu termenung dan mengepal tinju, kelihatan marah sekali, Hwee Li memandangnya dan tiba-tiba sepasang matanya memandang sayu.
"Kian Bu.... dia.... dia.... Bibi Syanti Dewi...."
Dia tidak melanjutkan kata-katanya ketika Kian Bu cepat menoleh kepadanya, lalu menunduk.
Ketika berada di dalam benteng, antara dia dan Syanti Dewi terdapat hubungan yang amat akrab dan di dalam percakapan yang penuh kepercayaan, Syanti Dewi pernah menceritakan semua pengalamannya, betapa Kian Bu menderita karena terpaksa ditolak cintanya dan betapa puteri itu merasa kasihan dan berdosa terhadap pemuda Pulau Es yang amat baik itu, betapa sang puteri tidak dapat membalas cintanya karena sang puteri telah mencinta orang lain!
Ketika Hwee Li bertanya siapa adanya orang lain itu, sang puteri tidak mau menjelaskan.
Kini Hwee Li melihat sendiri betapa Kian Bu masih mencinta puteri yang menolak cintanya itu, dan dia merasa kasihan, tidak dapat melanjutkan kata-katanya.
"Dia kenapa....?"
Kian Bu mendesak bertanya, suaranya agak gemetar.
"Dia.... harus ditolong, kalau tidak, bukan hanya Bibi Syanti Dewi yang akan celaka, dipaksa menikah dengan Mohinta itu, bahkan kerajaan ayahnya tentu akan celaka akibat pemberontakan Mohinta yang dibantu oleh Pangeran Nepal."
"Ha-ha-ha-ha, lihat Lo-mo, anakmu itu sungguh tak tahu malu!"
Tiba-tiba terdengar suara orang dari atas.
Kian Bu cepat memandang ke atas, demikian pula Hwee Li dan di langit yang sudah mulai remang-remang menanti datangnya fajar itu nampak seekor burung garuda besar yang ditunggangi oleh Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi!
"Tutup mulutmu yang berbau busuk, Lo-kwi, atau kugampar kau sampai jatuh ke bawah!"
Hek-tiauw Lo-mo membentak.
Burung garuda itu menukik turun dan dengan cepat dua orang kakek itu sudah meloncat ke atas tanah di depan Kian Bu, sedangkan garuda itu sudah terbang lagi ke atas.
"Hemmm, begini sajakah Siluman Kecil yang terkenal hebat itu?"
Hek-hwa Lo-kwi mengejek sambil menghadapi Kian Bu.
"Ternyata, hanya seorang hina yang tidak dapat memegang janjinya sendiri!"
"Huh, manusia dari Pulau Es mana bisa dipercaya omongannya?"
Hek-tiauw Lo-mo menyambung sambil menyeringai penuh kebencian.
Bagi bekas tokoh Pulau Neraka ini, segala yang berbau Pulau Es amat dibencinya.
Dan biarpun dia tahu bahwa putera Pendekar Super Sakti ini memiliki kepandaian hebat, bahkan telah berjuluk Siluman Kecil yang menggemparkan namanya di sepanjang lembah Huang-ho, namun dia tidak merasa takut.
Pernah dia menyaksikan kepandaian pemuda ini ketika jaman pemberontakan dua orang Pangeran Liong beberapa tahun yang lalu dan dia merasa masih sanggup menandinginya.
Apalagi kini ada Hek-hwa Lo-kwi yang membantunya.
Tentu saja dia belum tahu tentang kemajuan Kian Bu yang telah memperoleh ilmu mujijat itu.
"He, Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi dua ekor anjing tua bangka tak tahu malu!"
Tiba-tiba Hwee Li membentak sehingga Kian Bu merasa tidak enak sendiri.
Bocah ini memaki ayahnya dengan sebutan anjing tua bangka tak tahu malu.
Biarpun Hek-tiauw Lo-mo bukan ayahnya sendiri, biarpun mungkin saja telah membunuh orang tua Hwee Li, namun harus diakui bahwa semenjak kecil Hwee Li dirawat dan dididiknya, maka makian itu sungguh terlalu kasar dan tidak enak didengar.
"Kalian jangan menuduh orang sembarangan saja, ya? Orang gagah seperti dia ini mana bisa disamakan dengan raksasa-raksasa biadab macam kalian yang mengingkari janji dan bersikap khianat? Dia telah memegang janjinya, dia telah membebaskan aku seperti yang dijanjikan kepada pangeran brengsek itu! Hanya akulah yang tidak mau kembali ke sana. Tahukah kalian?"
Dasar Hek-tiauw Lo-mo memang seorang kasar yang sama sekali tidak mempunyai perasaan halus, maka makian-makian yang dilontarkan oleh mulut Hwee Li kepadanya itu sama sekali tidak membekas.
Dia hanya tertawa bergelak.
Akan tetapi Hek-hwa Lo-kwi yang tidak pernah merasa suka kepada rekannya ini segera membentak.
"Lo-mo, perlu apa banyak cerewet lagi? Hayo kita bunuh bocah siluman ini dan seret anakmu pulang ke benteng!"
Setelah berkata demikian, Hek-hwa Lo-kwi sudah menggosok-gosok kedua tangannya dan aneh sekali, seketika seluruh tubuhnya menjadi putih seperti kapur.
Itulah ilmunya yang baru, yang dilatihnya di Lembah bersama para peng-ikutnya, yaitu sisa-sisa anak buahnya yang masih hidup ketika dia dahulu menjadi ketua Lembah Bunga Hitam (baca Kisah Sepasang Rajawali).
Ilmunya ini dia namakan Pek-hiat-hoat-lek (Ilmu Sihir Darah Putih), ilmu pukulan yang mengandung hawa mujijat dan racun yang amat berbahaya.
Selama berbulan-bulan dia menanam diri di dalam rumah tempurung, diikuti oleh para anak buah bekas perkumpulan Lembah Bunga Hitam yang sudah tinggi ilmunya.
Akan tetapi tentu saja para anak buahnya itu tidak dapat mencapai tingkat tinggi yang dicapai oleh Hek-hwa Lo-kwi ini.
"Biar kau hajar Siluman Kecil yang sombong itu Lo-kwi. Di benteng aku pernah menangkap dia, sekarang tunjukkanlah kepandaianmu, hendak kulihat apakah kau juga mampu menangkapnya, biar aku yang membekuk batang leher betina liar ini!"
Hek-tiauw Lo-mo memang licik sekali wataknya.
Memang benar ketika Kian Bu berada di dalam benteng, dia berhasil menangkap pemuda itu menggunakan senjata jalanya yang istimewa, akan tetapi hal itu hanya dapat terjadi karena Kian Bu menghadapi pengeroyokan banyak orang pandai.
Kalau berhadapan satu lawan satu, jangan harap bekas ketua Pulau Neraka ini akan mampu menangkap Kian Bu!
Kini, dia sengaja mengejek Hek-hwa Lo-kwi, dan dia sendiri sudah maju menubruk Hwee Li.
Di dalam lubuk hatinya, Hwee Li merasa amat membenci kakek yang pernah menjadi ayahnya ini.
Orang ini adalah musuh besarnya, yang telah memperkosa ibu kandungnya sampai mati!
Maka, kini melihat bahwa dia tidak mendapat jalan lain kecuali melawan, dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya dan diam-diam dia telah mempersiapkan dirinya.
Selama beberapa tahun dia sedikit banyak telah menerima ilmu-ilmu tentang racun dari gurunya.
Dia maklum bahwa kalau mempergunakan ilmu silat, tentu saja dia tidak akan mampu melawan bekas ayahnya ini.
Ular-ularnya telah dirampas oleh mereka ketika dia menjadi tawanan di dalam benteng, juga semua senjata rahasia telah dirampas orang.
Dia pun tidak memegang senjata apa-apa, maka begitu melihat Hek-tiauw Lo-mo menubruk, dia cepat menghindarkan diri, meloncat jauh ke kiri dan tangannya menyambar tanah di bawah kakinya.
Kini kedua tangannya mengepal segenggam tanah bercampur pasir dan dia telah mengerahkan sinkangnya.
Di dalam kepalan tangannya, tanah dan pasir itu berubah menjadi hitam dan telah mengandung racun yang amat hebat!
Itulah satu di antara ilmu racun yang diterimanya dari gurunya.
Gurunya adalah Ceng Ceng atau Nyonya Kao Kok Cu, murid mendiang Ban-tok Mo-li si Iblis Betina Selaksa Racun!
Dan memang dia berguru kepada Ceng Ceng hanya untuk mem-pelajari tentang racun seperti telah dijanjikan oleh gurunya itu (baca Kisah Sepasang Rajawali).
Melihat tubrukannya dihindarkan oleh dara itu, Hek-tiauw Lo-mo tertawa.
Tugasnya jauh lebih ringan daripada tugas Hek-hwa Lo-kwi yang harus menghadapi Siluman Kecil seorang diri, maka dia pun tidak mau tergesa-gesa.
Dia hendak membiarkan dulu Hek-hwa Lo-kwi setengah mati menghadapi lawan tangguh itu, dan dia akan seenaknya saja menangkap bekas anaknya ini yang dianggapnya merupakan pekerjaan mudah.
Nanti kalau temannya yang dibencinya itu sudah be-nar-benar membutuhkan bantuan, barulah dia akan merobohkan Hwee Li dan membantunya.
"Heh-heh, bocah kurang ajar, kau kira dapat melepaskan diri dariku? Kalau tidak mengingat pangeran, tentu aku sudah menelanjangimu dan mempermainkanmu seperti aku mempermainkan ibumu dahulu, baru kulobangi kepalamu! Ha-ha-ha!"
Hampir Hwee Li menjerit saking marah dan bencinya mendengar kata-kata itu, akan tetapi dia menahan kemarahannya, dia menggerakkan kaki berputar-putar dan mundur-mundur menjauhi lawan, akan tetapi sepasang matanya mengincar tajam, mencari kesempatan kalau lawan lengah akan diserangnya dengan "senjata"
Istimewa di dalam genggaman kedua tangannya itu.
Sementara itu, Hek-hwa Lo-kwi juga sudah mulai menyerang Kian Bu.
Dengan suara melengking nyaring, dia telah bergerak ke depan, kedua tangannya mengeluarkan suara seperti angin puyuh mengamuk, dan dari kedua telapak tangannya itu menyambar bau wengur yang mengeluarkan sinar putih.
Kian Bu terkejut.
Hebat ilmu pukulan itu, pikirnya.
Ada serangkum hawa yang amat tajam dan berbau wengur menyambar.
Dia maklum bahwa bukan hanya hawa itu yang dapat melukai orang, akan tetapi juga bau itu dapat merobohkan lawan karena mengandung racun berbahaya.
Namun, dia sudah cepat mengelak dan membalas dengan pukulan dari samping, dengan telapak tangan didorongkan ke depan sambil mengerahkan tenaga Hwi-yang Sin-kang.
Tenaga berhawa panas membakar ini menyambar dari samping ke arah tubuh Hek-hwa Lo-kwi.
Demikian cepat gerakan Kian Bu sehingga pukulan itu tidak mungkin dapat dielakkan lawan lagi.
Satu-satunya jalan bagi lawan hanyalah menangkis dan hal ini pun dilakukan oleh Hek-hwa Lo-kwi tanpa ragu-ragu lagi.
Dia membalik ke kiri menghadapi pemuda itu dan menggerakkan kedua tangannya ke depan untuk menyambut pukulan Kian Bu.
Serangkum angin dahsyat menyambar dan segulung sinar putih nampak, bertemu dengan hawa pukulan Kian Bu yang tidak kelihatan itu.
"Nyesssss....!"
Kian Bu terkejut bukan main.
Hawa pukulannya yang mengandung hawa panas itu seperti terjun ke dalam air dingin saja rasanya, seperti api yang disiram air dingin.
Nampak asap hitam mengepul di antara mereka ketika kedua pukulan itu bertemu dan Kian Bu merasa betapa hawa pukulan Hwi-yang Sin-ciang itu membalik, seperti seekor naga yang kembali ke gua karena takut bertemu lawan yang kuat!
Namun, pemuda ini sudah menguasai sinkang dari Pulau Es itu dengan sempurna, maka dia dapat menyimpan kembali hawa itu tanpa melukai dirinya sendiri.
Dia melihat tubuh kakek bermuka tengkorak itu juga tergoyang, berarti bahwa hawa pukulan kakek itu pun membalik.
Maka dia merasa penasaran.
Siluman Kecil ini belum mau mempergunakan pukulan gabungan Im dan Yang dari Pulau Es yang dilatihnya atas petunjuk Kim Sim Nikouw, karena pukulannya itu dianggapnya terlalu berbahaya sehingga membahayakan nyawa lawan, padahal dia tidak mau membunuh lawan ini.
Bahkan dia sekarang merasa ngeri sendiri mengingat betapa pukulan gabungannya yang amat hebat itu hampir saja menewaskan kakaknya sendiri, maka diam-diam dia berjanji di dalam hatinya bahwa kalau tidak terpaksa sekali dia tidak mau mengeluarkan pukulan gabungan itu.
Kini, melihat betapa Hwi-yang Sin-ciang dapat ditangkis lawan dan tidak berhasil, dia lalu mengganti sinkangnya menjadi Swat-im Sin-kang dan dia lalu memukul lagi, sekali ini dengan pukulan hawa dingin, yaitu Swat-im Sin-ciang.
Serangkum angin yang mengandung hawa dingin melebihi salju menyambar ke depan.
Kakek itu memandang tajam.
"Bagus....!"
Hek-hwa Lo-kwi berseru girang dan seperti juga tadi, dia telah menggerakkan kedua tangan mendorong ke depan.
Serangkum angin dahsyat didahului sinar putih bergulung-gulung menyambar serangan Kian Bu itu.
Kembali kakek itu menggunakan ilmu pukulannya yang sakti, yaitu Pek-hiat-hoat-lek.
Kembali dua macam hawa pukulan sakti bertemu di udara.
"Cesssss....!"
Dan sekali lagi nampak asap mengepul, akan tetapi asap itu tidak hitam seperti tadi, melainkan berupa uap putih.
Seperti juga tadi, Kian Bu merasa betapa hawa sakti yang dipergunakannya membalik, membuat tubuh atasnya bergoyang.
Akan tetapi dia melihat Hek-hwa Lo-kwi terhuyung ke belakang beberapa langkah.
Dia sudah merasa girang ketika dengan heran dia melihat kakek itu meloncat bangun sambil tertawa girang.
Mendadak Kian Bu berteriak.
"Celaka....!"
Dan dia pun terhuyung.
Kepalanya terasa pening dan matanya berkunang, dadanya terasa gatal-gatal dan sesak!
Tahulah dia bahwa dia telah terkena racun yang amat hebat.
Memang itulah kelihaian Pek-hiat-hoat-lek!
Ketika tadi Kian Bu menggunakan Hwi-yang Sin-ciang untuk menyerang, kakek itu menangkis dengan ilmunya yang mujijat, yang mengandung racun amat hebat.
Dia sudah merasa penasaran dan heran melihat pemuda itu tidak apa-apa, akan tetapi dia segera tahu bahwa pemuda itu tadi menggunakan inti tenaga panas, maka tentu hawa beracun dari pukulannya telah terbakar dan buyar oleh hawa panas itu.
Ketika pemuda itu kini memukul kembali dengan penggunaan tenaga dingin, dia merasa girang dan menangkis sambil mengerahkan seluruh tenaganya.
Dan sekali ini dia berhasil!
Memang dalam hal tenaga sinkang dia masih kalah setingkat oleh Kian Bu, akan tetapi pemuda Pulau Es ini tidak tahu bahwa ketika tangan saktinya membalik, tenaga itu sudah mengandung racun dari Pek-hiat-hoat-lek!
Kalau tadi hawa beracun itu terbakar oleh panasnya Hwi-yang Sin-kang, kini hawa beracun itu malah menjadi kuat terbawa oleh Swat-im Sin-kang yang kembali dan otomatis tertarik ke dalam tubuh dan melukai dadanya!
Hek-hwa Lo-kwi maklum bahwa pukulannya yang beracun itu telah melukai kawan, maka sambil tertawa dia lalu menubruk maju dengan pukulanpukulan itu yang dilakukan dengan bertubi-tubi.
Memang hebat sekali ilmu mujijat ini.
Angin berpusing-pusing dan sinar putih bergulung-gulung mengejar Kian Bu.
Akan tetapi pemuda itu pun sudah menjadi marah.
Cepat tubuhnya berkelebatan dan dia sudah menggunakan Ilmu Sin-ho-coan-in yang membuat tubuhnya seperti kilat menyambar-nyambar saja, mencelat ke sana-sini sampai tak dapat diikuti oleh pandang mata saking cepatnya.
Hek-hwa Lo-kwi terkejut dan menjadi bingun, namun dia terus mengejar.
Kian Bu tidak mengerahkan lweekang untuk melakukan pukulan mautnya, yaitu penggabungan Yang-kang dan Im-kang itu, karena dadanya telah terluka dan terkena hawa beracun.
Kalau dia mengerahkan lweekang terlalu kuat, maka tentu racun itu akan menjalar dan lukanya akan menjadi parah.
Maka kini dia mengandalkan kecepatannya dan berusaha untuk menotok lawan.
Namun, dia harus berlaku hati-hati dan gerakannya menjadi kurang gesit karenanya, tidak seperti biasa, sungguhpun kecepatan itu masih membuat Hek-hwa Lo-kwi menjadi bingung.
"Dia sudah terluka! Lo-mo, hayo cepat bantu aku. Sialan kau!"
Hek-hwa Lo-kwi berteriak-teriak.
Hek-tiauw Lo-mo tentu saja melihat hal itu.
Diam-diam dia juga merasa girang dan kagum terhadap kelihaian ilmu pukulan kawan yang tidak disukainya itu.
Maka dia lalu menubruk Hwee Li yang sejak tadi hanya dikejar-kejar dan di desaknya itu.
Hwee Li tidak dapat mengelak, lalu menyambut dengan tendangan dan pukulan.
"Dukkk!"
Tendangan kakinya mengenai perut bekas ayahnya, akan tetapi tendangan itu membalik dan kakinya terasa nyeri.
Cepat dia meloncat ke belakang, kedua tangannya diayun ke depan dan sinar-sinar hitam menyambar ke arah muka dan dada Hek-tiauw Lo-mo.
Itulah "senjata"
Tanah dan pasir yang telah berubah menjadi senjata beracun itu.
Dia memang menanti saat baik dan kinilah saatnya.
Bukan hanya karena dia telah terdesak, akan tetapi juga melihat Hek-tiauw Lo-mo menubruknya sambil tertawa dan kelihatan lengah.
Akan tetapi Hek-tiauw Lo-mo adalah seorang tokoh besar yang memiliki kepandaian yang amat tinggi tingkatnya.
Diserang secara mendadak seperti itu, dia tidak menjadi gugup, bahkan suara ketawanya tidak berhenti, dia hanya menggerakkan kedua lengan yang tadinya hendak menubruk itu, kini digerakkan cepat sehingga ujung kedua lengan bajunya yang lebar itu bergerak seperti bendera berkibar dari mana menyambar angin yang keras dan senjata rahasia hitam yang lembut terdiri dari tanah dan pasir itu tentu saja menjadi buyar dan tertiup ke kanan kiri.
Sebelum Hwee Li dapat mengelak, dia telah kena ditendang lututnya dan jatuh terpelanting.
Sebuah totokan kilat menyusul dan gadis itu tidak mampu bergerak lagi, hanya memaki-maki kalang-kabut.
"Iblis tua bangka keparat! Anjing babi monyet tua mau mampus!"
Akan tetapi Hek-tiauw Lo-mo hanya tertawa dan kini tiba-tiba dia menubruk ke samping, menyerang Kian Bu sambil mencabut keluar dua senjatanya yang hebat, yaitu golok gergaji di tangan kanan dan jala hitam itu dikepalnya di tangan kiri.
Goloknya berkelebat menyambar ke arah leher pemuda itu.
Namun, tubuh Kian Bu berkelebat lenyap dan biarpun kini dia dikeroyok oleh dua orang kakek yang amat lihai itu, namun mereka berdua tidak pernah dapat memukul atau membacoknya.
Tubuhnya berkelebatan terlalu cepat, dan tempat itu luas sekali sehingga leluasalah bagi Kian Bu untuk memainkan ilmunya yang berdasarkan ginkang sempurna itu.
Akan tetapi, setelah kini dikeroyok dua, tipislah harapannya untuk dapat merobohkan dua orang lawannya.
Dia sama sekali tidak berani mengerahkan sinkang terlalu kuat, padahal kalau hanya mengandalkan ilmu silat biasa saja, sukarlah merobohkan dua orang raksasa ini.
Dan rasa gatal dan sesak di dadanya makin menghebat, apalagi melihat betapa Hwee Li telah roboh tertotok, hatinya menjadi agak gelisah dan hal ini makin mengacaukan gerakannya!
Hampir saja dia kena disabet golok Hek-tiauw Lo-mo ketika dia melirik Hwee Li, maka dia cepat melempar diri ke belakang dan kini dia tidak mau membagi perhatiannya.
Sebetulnya, kalau dia mau pergi dan melarikan diri, dengan mengandalkan ilmu Sin-ho-coan-in, dengan mudah dia dapat meninggalkan dua orang kakek itu dan mereka tidak mungkin dapat mengejar larinya, biar mereka itu menunggang garuda sekalipun.
Akan tetapi, dia tidak bisa meninggalkan Hwee Li.
Maka kini Kian Bu mencari kesem-patan untuk dapat menolong Hwee Li dan membawanya pergi dari situ secepatnya.
Akan tetapi, dua orang kakek itu adalah tokoh-tokoh besar yang selain lihai ilmu mereka, juga amat cerdik.
"Ha-ha-ha, Lo-mo, dia sudah terluka, jangan sampai dia melarikan anakmu yang puthauw (tidak berbakti) itu!"
Kata Hek-hwa Lo-kwi dan setelah berkata demikian, dia menyerang lagi dengan pukulan beracunnya.
Untuk ke sekian kalinya, Kian Bu tidak berani menangkis dan hanya mengelak.
Hek-hwa Lo-kwi lalu mengeluarkan sebotol benda cair berwarna kuning dan menuangkan benda cair itu di sekeliling tubuh Hwee li yang rebah.
Nampak asap mengepul dan tanah yang terkena benda cair itu mendidih!
Melihat ini, agaknya Hek-tiauw Lomo tidak mau kalah.
Dia mengeluarkan segenggam paku berwarna hijau dari saku jubahnya yang lebar, lalu sekali tangannya bergerak, paku-paku itu menancap di sekeliling tempat Hwee Li rebah dan anehnya, paku-paku itu menancap berdiri dengan ujungnya yang runcing di atas sehingga siapapun yang akan menolong Hwee Li harus melalui asap beracun dan juga paku-paku beracun itu.
Kian Bu menjadi makin khawatir.
Kalau tidak dihalangi oleh dua orang ini, tentu saja dia tidak merasa berat untuk mengeluarkan Hwee Li dari kurungan asap dan paku itu.
Merobohkan mereka sementara ini tidak mungkin karena dia tidak dapat mengerahkan lweekangnya yang terlalu kuat.
Melarikan diri tanpa membawa Hwee Li juga dia tidak mau melakukannya, maka dia menjadi serba salah!
Tiba-tiba terdengar suara parau.
"Benarkah katamu bahwa dia itu Siluman Kecil?"
Pertanyaan parau ini dijawab oleh suara merdu seorang gadis.
"Mana bisa keliru, Suhu? Teecu mengenalnya dengan baik."
Kian Bu yang sedang berloncatan ke sana-sini menghindarkan terjangan dua orang itu, cepat melirik.
Dia melihat seorang kakek berusia enam puluh tahun lebih, bermuka hitam dan berpakaian sederhana berwarna hitam pula, telah berdiri di situ bersama seorang gadis cantik yang pakaiannya serba merah muda, di punggungnya membawa sebatang pedang yang dihias ronce merah tua.
Dia segera mengenal gadis itu yang bukan lain adalah Ang-siocia, gadis maling yang pernah mencuri pusaka-pusaka dari rumah Sin-siauw Seng-jin itu!
Tentu saja Kian Bu sama sekali tidak pernah mimpi bahwa gadis ini, yang dikenalnya sebagai Ang-siocia, sesungguhnya bukan lain adalah Kang Swi yang pernah menemaninya dalam perjalanan menuju ke Ho-nan, si kongcu royal itu, dan juga gadis inilah nenek penjual sepatu yang telah mencuri uangnya sekantung!
"Hemmm, aneh....!"
Kata kakek bermuka hitam itu yang bukan lain adalah Hek-sin Touw-ong si Raja Maling Sakti Hitam, guru dari Ang-siocia yang bernama Kang Swi Hwa itu.
"Gerakannya demikian hebat dan lincah, dua orang iblis tua ini sama sekali tidak akan mampu memukulnya roboh. Hebat bukan main, akan tetapi mengapa dia tidak balas menyerang?"
Setelah menonton pertempuran itu, Hek-sin Touw-ong berkata dengan heran.
Dia melihat gerakan pemuda berambut putih itu memang luar biasa sekali.
Dia sendiri yang di juluki Raja Maling dan memiliki ginkang yang cukup tinggi, menjadi silau menyaksikan gerakan yang secepat itu.
Akan tetapi mengapa pemuda itu tidak balas menyerang, padahal kalau pemuda itu menggunakan lweekang dan balas menyerang, mengandalkan kecepatan gerakannya, dua orang kakek itu mana mampu mengelak atau menangkis?
Tentu saja dia tidak tahu bahwa Kian Bu telah menderita luka dan keracunan di dadanya, juga dia tidak tahu bahwa kecepatan Kian Bu itu belum sepenuhnya, baru tiga perempat bagian saja karena gerakannya sudah menjadi berkurang kecepatannya karena lukanya.
"Suhu, tentu ada sebabnya dia tidak dapat membalas. Dan lihat gadis itu.... ah, dia agaknya terluka, tidak mampu bergerak.... dan dia dikurung asap aneh dan paku-paku hijau."
Kang Swi Hwa mendekati Hwee Li.
"Awas, Hwa-ji, jangan kau menyentuh paku atau terlalu dekat dengan asap itu!"
Gurunya memperingatkan karena dia merasa curiga.
Hwee Li juga melihat munculnya dua orang ini.
Dia tidak mengenal mereka, akan tetapi dari sikap mereka, dia dapat menduga bahwa mereka, terutama kakek itu, tentu memiliki kepandaian.
Dan melihat sikap mereka, agaknya mereka itu bukan orang-orang jahat dan bukan pula sekutu dua orang iblis tua itu.
"Heiii, kalian ini apakah orang-orang pengecut, ataukah orang-orang jahat yang menjadi kaki tangan dua orang kakek iblis jahanam ini?"
Tanya Hwee Li dengan suara lantang. Kakek itu mengerutkan alisnya dan Swi Hwa yang juga berwatak galak lalu mendamprat.
"Kau ini bocah bermulut lancang dan rusak! Rasakan saja sekarang, memang sudah pantas sekali kalau kau mengalami nasib seperti itu. Huh! Mengatakan orang pengecut dan jahat! Manusia seperti engkau ini yang agaknya jahat dan pengecut!"
"Swi Hwa, jangan sembrono dan jangan layani orang!"
Gurunya memperingatkan, karena dia masih kagum sekali terhadap gerakan orang muda yang telah lama dia kenal namanya sebagai Siluman Kecil itu.
"Kalau kalian bukan pengecut dan bukan orang jahat, mengapa tidak lekas membantu dia yang dikeroyok oleh dua orang iblis tua bangka itu? Mereka hendak memperkosa aku dan dia itu telah membelaku, kalau kalian diam saja berarti kalian membantu dua iblis jahat itu!"
Hwee Li berkata lagi.
"Hemmm, kau bocah bermulut jahat ini memang sepatutnya mengalami nasib seperti itu! Aku malah ingin menontonnya!"
Kang Swi Hwa balas membentak.
"Wah, kau perempuan cabul....!"
Hwee Li memaki dan kehabisan akal. Lalu dia berkata kepada Hek-sin Touw-ong.
"Orang tua yang baik, aku melihat engkau bukan orang lemah, apakah kau tidak berani menghadapi Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi itu?"
"Apa? Mereka itu adalah...."
"Benar, Suhu. Kakek yang mukanya seperti tengkorak itu adalah ketua dari Kui-liong-pang di lembah. Dialah Hek-hwa Lo-kwi yang kini menjadi kaki tangan Pangeran Nepal itu. Dan gadis berpakaian hitam galak itu bukan lain adalah puteri dari Hek-tiauw Lo-mo ketua Pulau Neraka, maka jangan dipercaya omongannya. Mana mungkin Hek-tiauw Lo-mo yang menjadi ayahnya sendiri itu hendak memperkosanya?"
Kata Kang Swi Hwa.
Seperti kita ketahui, ketika diadakan pertemuan para tokoh kang-ouw, Swi Hwa atau Ang-siocia ini juga hadir mewakili gurunya yang tidak berkenan hadir.
Dan di dalam pertemuan di lembah itu, dia juga bertemu dengan Hwee Li yang mewakili ayahnya yang juga tidak dapat hadir.
"Aihhh, kiranya engkau si maling betina itu? Wah, celaka, kiranya kalian ini maling-maling besar dan kecil, tentu cocok sekali dengan iblis-iblis itu! Mampuslah kalian dimakan api neraka!"
Hwee Li memaki-maki dan putus harapan.
Baru sekarang dia mengenal Ang-siocia.
Kalau gadis itu datang bersama gurunya yang dikenalnya sebagai maling tua atau raja maling itu, dan yang dulu datang menghadiri pertemuan di lembah, tentu mereka ini juga menjadi anak buah dari pangeran pula!
Akan tetapi, Hek-sin Touw-ong sudah mencegah muridnya membuka mulut lagi.
Dia merasa amat heran.
Memang aneh yang dia hadapi ini.
Muridnya tidak mungkin bisa keliru.
Gadis itu jelas ditotok orang.
Sepantasnya, kalau gadis itu benar puteri dari Hek-tiauw Lo-mo yang mainkan golok gergaji secara lihai itu, tidak mungkin gadis itu dirobohkan oleh ayahnya sendiri, apalagi hendak diperkosa seperti yang diceritakan oleh gadis baju hitam itu.
Jadi, tentu pemuda rambut putih itulah yang telah menotoknya.
Dan kalau pemuda rambut putih itu yang menotok dan hendak memperkosanya, barulah benar dan masuk di akal.
Akan tetapi, dia mengenal nama Siluman Kecil sebagai seorang pende-kar besar yang amat terkenal, masa sekarang ternyata hanyalah seorang jai-hwa-cat (penjahat pemerkosa wanita) yang rendah saja?
"Ha, apakah Lote ini Hek-sin Touw-ong?"
Tiba-tiba Hek-hwa Lo-kwi yang merasa penasaran karena dia dan Hek-tiauw Lo-mo sampai sekarang belum juga mampu merobohkan Kian Bu, berkata.
"Kebetulan sekali, marilah bantu kami menangkap Siluman Kecil ini yang berani melarikan tunangan Pangeran Liong Bian Cu. Mari bantu kami merobohkan dia dan membawa kembali tunangan pangeran itu ke lembah!"
"Tunangan pangeran....?"
Kang Swi Hwa berkata lirih penuh keheranan, lalu dia mengangguk-angguk.
"Ahhh, kiranya dia telah diangkat menjadi tunangan pangeran. Cocok sekali!"
"Cocok hidungmu!"
Hwee Li membentak dan matanya melotot.
"Boleh kau gantikan saja kalau kau sudah ingin sekali menjadi kekasihnya. Kalau aku sih tidak sudi!"
Kang Swi Hwa tidak menjawab.
Se-perti juga gurunya, dia bingung menghadapi keadaan yang serba runyam dan bertentangan itu.
Gadis itu tunangan pangeran, puteri Hek-tiauw Lo-mo, akan tetapi kini tertawan dan tertotok, dan gadis itu malah membantu Siluman Kecil agaknya.
Melihat betapa guru dan murid itu bengong saja, memandang kepadanya dan kepada pertempuran itu seperti orang-orang tolol, Hwee Li menjadi mendongkol sekali.
Melihat betapa kakek bermuka hitam itu tidak melayani ajakan Hek-hwa Lo-kwi, timbul harapannya dan dia lalu berkata nyaring.
"Hek-sin Touw-ong, biarpun julukanmu Raja Maling, kulihat engkau tidak sejahat muridmu itu. Ketahuilah bahwa aku dipaksa dan ditawan di lembah oleh pangeran brengsek dari Nepal itu yang dibantu oleh anjing-anjing tua termasuk Hek-tiauw Lo-mo ayah palsu dan bukan ayahku itu. Aku dapat diloloskan oleh Siluman Kecil, akan tetapi dikejar dan.... entah mengapa, dia agaknya belum juga mampu merobohkan dua ekor anjing tua bangka itu. Maka, kalau engkau masih mengaku sebagai orang tua yang gagah, yang pantas ku-sebut locianpwe, harap kau suka membantunya. Lekaslah, Locianpwe!"
"Ha-ha, kita adalah orang segolongan, kalau membantu Pangeran Nepal tentu kelak kita akan memperoleh kedudukan besar. Mari bantu kami menangkap Siluman Kecil yang sombong ini, Hek-sin Toauw-ong!"
Kata pula Hek-hwa Lo-kwi.
"Swi Hwa, kau bebaskan totokannya, akan tetapi hati-hati, jangan menginjak paku dan jangan menyedot asap itu!"
Tiba-tiba Hek-sin Touw-ong berkata dan dia lalu meloncat ke dalam gelanggang pertempuran, tangan kirinya mengirim serangan dengan tangan dimiringkan seperti pedang dan menyambar ke arah Hek-hwa Lo-kwi.
Si muka tengkorak ini terkejut dan marah sekali melihat si Raja Maling itu ternyata malah membantu Siluman Kecil.
Dia cepat menggerakkan tangan untuk menangkis dan mengelak.
"Srattt!"
Dan ujung lengan bajunya putus seperti terbabat pedang yang amat tajam! "Ahhh....!"
Hek-hwa Lo-kwi terkejut bukan main.
Kiranya maling tua ini memiliki ilmu pukulan yang demikian hebatnya.
Teringatlah dia akan kepandaian murid raja maling ini, yang pernah mendemonstrasikan Ilmu Kiam-to Sin-ciang (Tangan Sakti Pedang dan Golok).
Kalau murid perempuan itu memperlihatkan ilmu itu menggunakan pedang, kini si raja maling ini menggunakan tangan seperti pedang!
Dia balas menyerang dan karena Hek-sin Touw-ong juga maklum akan kelihaian ketua Kui-liong-pang ini, maka dia pun cepat mengelak dan balas menyerang.
Segera terjadi pertempuran hebat, saling menyerang antara dua orang kakek ini.
Masuknya Hek-sin Touw-ong ke dalam pertempuran ini benar-benar amat menolong Kian Bu.
Tentu saja dia tidak akan dapat dirobohkan oleh dua orang lawannya, akan tetapi dia pun sama sekali tidak mungkin dapat merobohkan mereka berdua tanpa mengerahkan sinkang.
Kini, setelah Hek-hwa Lo-kwi meninggalkannya dan dia hanya menghadapi Hek-tiauw Lo-mo seorang, Kian Bu mempercepat gerakannya sehingga Hek-tiauw Lo-mo menjadi bingung.
Dia seperti seekor biruang besar yang menghadapi seekor lebah, dia menyerang ke sekelilingnya dan lebah itu beterbangan mengelilinginya.
Beberapa kali jala hitamnya menyambar di antara sinar goloknya yang bergulung-gulung, namun tak pernah berhasil karena gerakan Kian Bu terlalu cepat.
Tiba-tiba Kian Bu yang mendapat kesempatan meloncat ke belakang tubuh kakek itu mengulurkan tangan dan menotok tengkuk Hek-tiauw Lo-mo.
"Dukkk....!"
Tubuh Hek-tiauw Lomo terguling, akan tetapi karena Kian Bu tidak berani mengerahkan terlalu banyak tenaga dalam totokannya tadi, kakek raksasa itu tidak lumpuh sama sekali, hanya sebagian saja dan dia masih berusaha memulihkan jalan darahnya.
Kian Bu cepat menyusulkan sekali totokan lagi dan robohlah kakek itu dalam keadaan setengah lumpuh dan tidak mampu bergerak lagi!
Sementara itu, Kang Swi Hwa sudah mendekati tempat Hwee Li rebah.
Nona ini boleh jadi lihai dalam ilmu silat, terutama sekali dalam ilmu mencopet dan ilmu penyamaran, akan tetapi tentang racun, pengertiannya baru kelas nol.
Maka dia menghampiri lingkaran asap dan barisan paku hijau itu dengan ragu-ragu.
Jangan menginjak paku dan jangan menyedot asap itu, pesan gurunya.
Dengan hati-hati sekali Swi Hwa menghampiri lingkaran itu.
Melihat bahwa lingkaran asap dan paku-paku itu hanya memisahkan tempat dara pakaian hitam itu rebah dengan tempat dia berdiri sejauh kurang lebih tiga meter saja, maka dia lalu menggunakan ginkangnya dan melompat melewati lingkaran asap dan paku yang berjajar.
Hwee Li melihat itu semua dan tersenyum.
Mampuslah, pikirnya!
Akan tetapi dia, diam saja.
Dara ini semenjak kecil dirawat dan dididik oleh seorang manusia ganas dan kejam macam Hek-tiauw Lo-mo, maka tentu saja dia pun mempunyai watak yang ganas dan tidak mengenal kasihan, Sungguhpun sering pula timbul sifat-sifat baiknya yang banyak tertutup oleh pendidikan Hek-tiauw Lo-mo.
Apalagi setelah dia ikut bersama gurunya yang baru, yaitu Ceng Ceng, sering kali dia menerima teguran-teguran dan petunjuk-petunjuk, juga dia melihat sifat-sifat dan watak-watak Ceng Ceng dan suaminya sebagai pendekar-pendekar besar yang gagah perkasa, maka banyak kegagahan yang menular pula kepadanya.
Akan tetapi kadang-kadang, timbul keganasannya yang dia bawa dari Pulau Neraka, apalagi kalau dia sedang marah.
Dan saat itu dia memang sedang marah.
Dia ditotok orang, tak mampu bergerak, lalu muncul gadis baju merah yang menggemaskan hatinya.
Swi Hwa berhasil meloncat ke dekat Hwee Li.
Dia mencium sesuatu yang aneh dan kepalanya merasa agak pening, akan tetapi dia tidak tahu sebabnya.
"Bocah galak, akhirnya toh engkau membutuhkan pertolonganku...."
Kata Swi Hwa akan tetapi begitu dia bicara, rasa pening di kepalanya bertambah. Hwee Li menjebikan bibirnya yang merah.
"Huh, siapa membutuhkan pertolonganmu? Kau lihat saja, bukan aku yang membutuhkan pertolonganmu, melainkan engkaulah yang akan mampus kalau tidak ada aku yang menolongmu!"
Tentu saja Swi Hwa menjadi marah.
Ingin dia menampar muka yang cantik itu.
Akan tetapi gurunya telah memerintahkan dia untuk membebaskan totokan yang membuat gadis baju hitam ini tak dapat bergerak.
Dia tidak berani membangkang terhadap perintah gurunya.
Pula, dia kini tahu bahwa gadis ini ternyata bukanlah anak Hek-tiauw Lo-mo, bukan sekutu si pangeran bahkan dipaksa untuk menjadi isteri pangeran itu.
Malah gadis ini ditolong oleh Siluman Kecil!
Hal ini sedikit banyak membuat dia mengiri juga.
"Huh, manusia macam engkau ini mana pantas ditolong orang?"
Dia bersungut-sungut akan tetapi kembali kepalanya seperti dihantam orang rasanya kalau dia bicara.
Maka dia tidak mau bicara lagi dan cepat dia menggerakkan tangan hendak membebaskan totokan yang melumpuhkan Hwee Li.
"Nanti dulu!"
Kata Hwee Li.
"Totokan ini dilakukan oleh Hek-tiauw Lo-mo, orang macam engkau mana mampu membuyarkannya? Hayo kau totok jalan darah in-thai-hiat. Yang keras, karena ilmu totok iblis tua itu adalah Su-sat-jiu, tidak mudah dibuyarkan!"
Sikap dan kata-kata Hwee Li benar-benar membuat Swi Hwa menjadi mendongkol bukan main.
Bocah ini benar-benar sombong, pikirnya.
Akan tetapi karena dia tentu akan makin diejek dan makin dipermainkan kalau dia gagal membuyarkan totokannya, maka dia lalu menotok dengan pengerahan lweekangnya ke arah jalan darah in-thai-hiat di punggung Hwee Li.
"Dukkk....!"
Totokan itu keras sekali, membuat punggung Hwee Li terasa sakit akan tetapi segera dapat bergerak lagi.
Akan tetapi sebaliknya, Swi Hwa mengeluh dan roboh terguling dalam keadaan pingsan!
Hwee Li bangkit berdiri, mengurut-urut lengan dan kakinya yang terasa kaku sambil memandang kepada Swi Hwa dengan senyum mengejek.
Tiba-tiba terdengar seruan Hek-sin Touw-ong.
"Hei, apa yang terjadi dengan Swi Hwa?"
Dia hendak melompati lingkaran asap itu, akan tetapi Hwee Li cepat mencegahnya dengan teriakan.
"Touw-ong, jangan meloncat ke sini! Dia juga keracunan setelah meloncat ke sini, biar aku membawanya keluar!"
Kiranya Hek-hwa Lo-kwi juga sudah dapat dirobohkan dengan totokan.
Ketika Kian Bu tadi berhasil merobohkan Hek-tiauw Lo-mo, dia melihat betapa pertempuran antara Hek-hwa Lo-kwi dan Raja Maling itu masih berlangsung dengan amat hebatnya.
Si Raja Maling itu memang lihai sekali.
Ilmu Kiam-to Sinciang membuat kedua tangannya seperti golok dan pedang, bahkan hawa pukulannya saja telah berubah menjadi seperti sinar pedang yang mampu merobohkan lawan tangguh.
Sebaliknya, Hek-hwa Lo-kwi juga mengeluarkan ilmunya yang mujijat itu, Pek-hiat-hoat-lek yang telah berhasil membuat Kian Bu terluka dan keracunan.
Kian Bu mengkhawatirkan keselamatan si Raja Maling, mengingat akan jahatnya Ilmu Pukulan Darah Putih itu, maka dia cepat meloncat dan mempergunakan kecepatannya untuk menotok jalan darah di tengkuk Hek-hwa Lo-kwi.
Kakek itu mengeluh dan terpelanting, dan saat itu dipergunakan oleh Hek-sin Touw-ong untuk menyusulkan totokannya sendiri yang dilakukan dengan kekuatan penuh sehingga Hek-hwa Lo-kwi roboh dan pingsan.
Mendengar ucapan Hwee Li, Hek-sin Touw-ong terkejut dan ragu-ragu.
"Harap turut saja kata-katanya, Locianpwe, dia memang ahli dalam hal racun,"
Kata Kian Bu dan dia sendiri pun cepat duduk bersila sambil memejamkan kedua matanya untuk mengumpulkan hawa murni dan melawan hawa beracun yang melukai dadanya.
Hwee Li mengempit tubuh Swi Hwa, menggunakan saputangan untuk menutupi mulut dan hidung gadis baju merah itu dengan mengikatkan sapu-tangan di depan muka gadis itu, kemudian dia melompat keluar melalui atas lingkaran asap yang mulai mengecil dan padam itu.
Akan tetapi, begitu dia melihat Kian Bu duduk bersila sambil me-mejamkan kedua matanya, Hwee Li terkejut dan dia melepaskan tubuh Swi Hwa yang masih pingsan itu ke atas tanah dan tergopoh-gopoh dia menghampiri Kian Bu tanpa mempedulikan lagi kepada Swi Hwa.
Tentu saja Hek-sin Touw-ong menjadi bingung dan sibuk memeriksa dan mencoba membuat sadar muridnya yang pingsan itu.
"Kian Bu, kau.... kau kenapa? Apakah kau terluka?"
Hwee Li berlutut di dekat Kian Bu dan bertanya dengan penuh kekhawatiran. Kian Bu membuka matanya, tersenyum.
"Hek-hwa Lo-kwi mempunyai pukulan aneh, tanpa kuketahui lebih dulu terkena hawa beracun dari pukulannya...., akan tetapi perlahan-lahan dapat kuusir dengan sinkang...."
"Ahhh? Kau terkena Pek-hiat-hoat-lek! Aku tahu macam apa pukulan iblisnya itu! Dan kau bilang perlahan-lahan? Aku mempunyai obat penawar segala racun, buatan Subo yang amat ces-pleng (manjur) sekali!"
Gadis itu segera mengeluarkan buntalan besar dari dalam saku bajunya dan membuka buntalan itu, memilih-milih obat.
Kemudian dia mengeluarkan sebungkus obat pulung berbentuk bundar-bundar kecil seperti tahi kambing dan memberikan dua butir kepada Kian Bu.
"Kau telan ini dan tentu hawa itu akan mudah terusir!"
Katanya.
Kian Bu maklum akan kelihaian dara ini tentang segala racun, maka dia percaya, menerima dua butir obat pulung seperti tahi kambing itu dan menelannya sekaligus.
Rasanya agak pahit, akan tetapi mengandung manis dan baunya tidak seperti tahi kambing, melainkan agak harum.
Begitu dua butir obat pulung itu memasuki perutnya, terdengar perutnya berkeruyuk dan ada hawa panas berkumpul di situ.
Kian Bu kaget dan girang sekali.
Tak disangkanya obat tahi kambing itu benar-benar hebat sekali, maka dia lalu menggunakan sinkangnya, perlahan-lahan mendorong hawa panas itu ke arah dadanya.
Benar saja, hawa panas yang terdorong sinkangnya itu seolah-olah seperti api yang membakar hawa beracun yang menyesakkan dadanya.
Hawa beracun itu menjadi asap dan membubung naik melalui hidung dan mulutnya dan dia mencium bau yang amis bercampur bau harum obat tadi.
Kian Bu adalah seorang pendekar muda yang sakti, memiliki sinkang yang amat hebat.
Andaikata dia tidak diberi obat sekalipun dengan sinkangnya dia tentu akan mampu mengusir hawa beracun itu.
Akan tetapi hal itu akan memakan waktu agak lama karena dia harus berhati-hati mengerahkan sinkangnya.
Kini, obat yang manjur itu membuat dia dalam waktu singkat dapat mengusir hawa beracun dari pukulan Pek-hiat-hoat-lek.
"Taihiap...., Lihiap...., harap Ji-wi (Anda berdua) sudi menolong muridku ini!"
Tiba-tiba Hek-sin Touw-ong berkata sambil mendekati Kian Bu dan Hwee Li setelah dia melihat pemuda itu kini membuka mata dan tersenyum, mukanya juga tidak sepucat tadi tanda bahwa pemuda itu telah sehat kembali.
Hek-sin Touw-ong adalah seorang tokoh kang-ouw yang pandai, akan tetapi tentang urusan racun dia pun tidak banyak tahu, maka melihat keadaan muridnya dia merasa khawatir bukan main.
Sudah dicobanya dengan segala kekuatannya untuk menyadarkan muridnya, akan tetapi usahanya sia-sia belaka dan wajah Swi Hwa kini malah menjadi kebiruan, maka dia menjadi gelisah dan tanpa sungkan-sungkan dia lalu minta tolong kepada Siluman Kecil dan puteri Hek-tiauw Lo-mo itu.
Hwee Li yang melihat Kian Bu telah sembuh, lalu bangkit berdiri dan meng-hampiri Swi Hwa.
"Touw-ong, muridmu ini mulutnya jahat sekali, maka sudah sepantasnya dia menerima hajaran ini, Kuharap saja lain kali engkau suka menjaga agar mulutnya jangan suka menghina orang!"
"Enci Hwee Li, jangan kurang ajar, harap lekas sembuhkan dia!"
Kian Bu berkata dengan alis berkerut.
"Hemmm, baru saja kusembuhkan kau sudah lupa lagi, ya? Engkau ini adik macam apa berani bicara kasar kepada encinya!"
Dalam keadaan biasa, tentu Hek-sin Touw-ong akan merasa heran sekali mendengar ucapan mereka berdua itu, akan tetapi karena dia amat khawatir melihat muridnya, dia tidak mempedulikan hal lain dan cepat berkata kepada Hwee Li.
"Nona yang baik, harap Nona sudi menolong muridku dan aku Hek-sin Touw-ong tidak akan melupakan kebaikanmu ini."
Wajah Hwee Li berseri-seri dan mulutnya yang manis itu tersenyum, matanya bersinar-sinar penuh kebanggaan.
Biarpun hanya seorang maling, namun kakek ini adalah Raja Maling!
Seorang tokoh kang-ouw yang amat terkenal, namanya menjulang tinggi di seluruh perbatasan Ho-nan dan Ho-pei, juga di seluruh pantai Po-hai.
Dan kini raja ini, biarpun raja maling, telah minta tolong kepadanya dengan ucapan yang demikian halus dan menghormat!
Tentu saja dia bangga sekali!
"Aku akan mengobatinya dan pasti cepat sembuh.
Aku mengenal racun-racun itu.
Racun yang membakar tanah itu adalah racun yang amat berbahaya, cairan itu kalau mengenai kulit akan mem-buat kulit daging dan tulang hancur sama sekali, kecuali rambut saja cairan itu tidak mampu menghancurkan.
Dan baunya juga berbahaya, karena asap racun itu dapat memabukkan orang.
Iblis tua muka tengkorak itu memang paling suka memakai racun cuka busuk seperti itu!
Dan tentang paku yang digunakan oleh ayah....
eh, oleh tua bangka Pulau Neraka itu hanyalah mainan kanak-kanak saja bagiku.
Kau lihat!"
Dia lalu menghampiri paku-paku itu setelah asap beracun itu kini padam, dan menggunakan kedua tangannya, sembarangan saja dia mencabuti paku-paku itu dan melempar-lemparkannya ke samping.
Paku-paku itu mengeluarkan bunyi bercuitan, menancap pada batang dua pohon yang berdekatan.
Dan seketika, pohon-pohon itu menjadi layu, daun-daunnya melayu dan rontok, menjadi gundul dan mati dalam waktu sebentar saja!
Wajah Hek-sin Touw-ong menjadi pucat.
"Bukan main! Ah, Nona yang baik, tolonglah muridku ini...."
"Tapi dia tadi bicara kasar kepadaku...."
Hwee Li berlagak jual mahal! "Hwee.... eh, Enci Hwee Li! Cepat kau obati dia!"
Kian Bu berkata dengan suara keras. Hwee Li mengerling kepadanya.
"Hem, agaknya engkau sudah jatuh tergila-gila kepada seorang gadis berpakaian merah muda, ya? Aihhh, siapa tahu Siluman Kecil kiranya paling suka pada pakaian merah, hemmm....!"
"Enci Hwee Li, jangan main-main begitu! Orang sedang terancam bahaya maut, mengapa kau main-main seperti itu? Ingat, kedatangan mereka berdua ini telah menyelamatkan kita. Engkau tidak membalas budi malah menggoda orang!"
Hwee Li bersungut-sungut ditegur oleh Kian Bu, dan makin segan saja untuk turun tangan mengobati Swi Hwa.
Melihat ini, Hek-sin Touw-ong yang sudah berpengalaman itu segera dapat mengenal watak si gadis yang aneh, ganas dan manja ini, maka dia lalu berkata.
"Nona, aku berjanji akan menegur muridku dan selanjutnya dia tidak akan berani lagi bersikap kasar terhadapmu."
Kakek itu lalu menjura kepada si gadis galak dan berkata.
"Kalau muridku telah berlaku salah, biarlah aku sebagai gurunya mintakan maaf kepadamu!"
Hwee Li memang seorang dara yang aneh.
Dia memang dahulunya selalu dimanja oleh Hek-tiauw Lo-mo, akan tetapi pada dasarnya dia mempunyai watak yang baik dan ramah.
Kini, melihat kakek itu begitu menghormat kepadanya, dia Cepat-cepat menjura dan berkata dengan muka merah sekali.
"Aihhh, Touw-ong.... jangan begitu. Sebetulnya aku pun telah bersikap kasar, kau maafkanlah aku yang muda. Biar kuobati muridmu sekarang juga."
Dia lalu berlari menghampiri Swi-Hwa yang masih rebah terlentang dalam keadaan pingsan itu.
Diambilnya obat bubuk dari bungkusannya, lalu diambilnya pula sebotol obat cair seperti arak.
Dengan tutup guci arak yang berbentuk cangkir itu, dia menuangkan arak obat ke dalamnya, mencampurnya dengan obat bubuk itu.
Nampak cairan seperti arak itu mengeluarkan suara mendesis dan asap mengepul dari dalam cangkir tutup guci.
Kemudian, Hwee Li membuka sebuah bungkusan lain dan menaburkan sedikit bubuk merah ke dalam hidung Swi Hwa, Semua gerakannya ini diikuti penuh perhatian oleh Hek-sin Touw-ong dan Kian Bu.
Diam-diam pemuda berambut putih itu merasa kagum dan juga geli menyaksikan sikap Hwee-li yang benar-benar menjadi seorang tukang obat atau seorang yang hendak bermain sulap sebelum menjual obatnya!
Jari-jari tangannya begitu cekatan dan sikapnya begitu pasti.
"Haaa.... cinggggg...!"
Tiba-tiba Swi Hwa berbangkis dan dia menjadi setengah sadar.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Hwee Li untuk mengangkat kepala gadis itu dan mencekokkan obat dari cangkirnya.
Terdengar suara clegak-cleguk karena Swi Hwa terpaksa menelan obat itu, kemudian Hwee Li merebahkan kembali kepala gadis itu dan bangkit berdiri, membereskan bungkusan obatnya dan menoleh kepara Hek-sin Touw-ong sambil tersenyum.
"Dia sudah sembuh, sudah terbebas dari cengkeraman maut racun itu,"
Katanya seenaknya, lalu menoleh dan memandang kepada dua orang kakek yang masih rebah tak mampu bergerak karena tertotok jalan darah mereka.
"Eh, akan tetapi.... mengapa dia belum sadar, Nona?"
Hek-sin Touw-ong bertanya dengan suara yang nadanya masih khawatir. Hwee Li menoleh ke arah Swi Hwa dengan sikap tak acuh, lalu berkata.
"Dia belum kentut, sih!"
"Eh, apa....?"
Kakek itu bertanya sambil membelalakkan matanya, bingung dan tidak mengerti, mengira dara berpakaian hitam itu masih marah.
"Racun itu sudah buyar, akan tetapi kalau dia belum kentut, dia tidak akan sadar. Kalau dia sudah kentut, itu tanda-nya dia sembuh benar-benar dan sadar...."
Sambil berkata demikian, Hwee Li kini melangkah menghampiri Hek-tiauw Lo-mo.
"Enci, benarkah kata-katamu itu?"
Tanya Kian Bu sambil mengikutinya, khawatir kalau gadis itu melakukan hal-hal yang tak dikehendakinya.
Akan tetapi baru saja Kian Bu bertanya demikian, dari sebelah belakangnya terdengarlah suara itu.
"Puiiittttt....!"
Suara kentut yang nyaring.
Nyaring dan merdu!
Hampir Kian Bu tertawa.
Mengapa kentut seorang dara cantik juga cantik terdengarnya?
Bisa merdu?
Bukan main!
"Suhu....!"
"Ah, syukurlah, kau telah sembuh, Swi Hwa. Dengar, yang menyembuhkanmu adalah Nona berbaju hitam itu, maka jangan sekali-kali kau bersikap kasar kepadanya. Kalau tidak ada dia...."
Selanjutnya Kian Bu tidak lagi mendengarkan kata-kata kakek Raja Maling itu kepada muridnya karena perhatiannya tertumpah kepada Hwee Li.
Gadis ini menghampiri Hek-tiauw Lo-mo, berdiri dan memandang sebentar dengan sepasang mata terbelalak dan berapi-api, kemudian dia mengambil golok gergaji milik bekas ayahnya itu dan tanpa berkata apa pun dia lalu mengayun golok itu ke arah leher Hek-tiauw Lo-mo.
"Singgggg.... trakkk....!"
Golok itu terpental oleh hantaman batu kecil yang dilontarkan oleh Kian Bu, sabetannya menceng dan hanya mengenai pundak Hek-tiauw Lo-mo sehingga pundak kiri kakek itu terluka dan mengeluarkan darah.
Akan tetapi Hwee Li juga tidak mampu memegang gagang golok lebih lama lagi karena hantaman batu itu membuat tangannya tergetar hebat dan terpaksa dia melepaskan golok dan menoleh kepada Kian Bu dengan mata ber-api karena marahnya.
"Kau.... kau malah membantu dia?"
Bentaknya marah, kedua tangannya siap dengan pasangan kuda-kuda, siap untuk bersilat dan menyerang Kian Bu!
Kakinya memasang kuda-kuda dengan satu kaki kiri berdiri tegak, kaki kanan diangkat ke lutut seperti jurus Kim-ke-tok-lip, dan tangan kanan dengan telapak ke atas ditarik ke depan pusat, tangan kiri terbuka miring di depan dada.
Dia telah memasang kuda-kuda jurus Jeng-pai-kwan-im (Memuja Kwan Im Dengan Tangan Miring), dan menghadapi Kian Bu dengan sikap marah!
Kian Bu sejak tadi sudah merasa curiga dan menduga bahwa tentu gadis itu akan melakukan serangan kepada Hek-tiauw Lo-mo.
Kalau orang lain yang melakukan serangan dan membunuh kakek iblis itu, agaknya dia tidak akan mencampurinya dan akan membiarkan saja.
Memang kakek iblis Pulau Neraka ini adalah seorang manusia yang berwatak iblis, sudah sepantasnya kalau dibunuh seratus kalipun!
Akan tetapi, dia teringat bahwa Hwee Li adalah seorang yang sejak kecil dirawat dan dididik oleh kakek itu, dan betapa kakek itu amat menyayangi Hwee Li.
Maka, kalau dia membiarkan gadis itu membunuh Hek-tiauw Lo-mo, berarti dia membiarkan gadis itu menjadi seorang manusia bong-im-pwe-gi (manusia yang tidak ingat budi orang lain).
Padahal, dia merasa suka sekali kepada Hwee Li dan bahkan diam-diam mengharapkan agar gadis yang dia tahu mencinta kakaknya ini kelak akan menjadi jodoh kakaknya.
Tentu saja dia tidak membiarkan gadis itu menjadi seorang manusia durhaka dan dia telah meng-halangi gadis itu membunuh Hek-tiauw Lo-mo.
"Enci Hwee Li, tidak sepantasnya kalau engkau membunuh dia!"
Kian Bu menegur, suaranya tegas dan berwibawa.
Hwee Li membalikkan tubuhnya menghadap Hek-tiauw Lo-mo dengan mengubah kedudukan kakinya, sikapnya menyerang, akan tetapi dia mengerling ke arah Kian Bu, lalu menggeser lagi kaki-nya menghadapi pemuda itu, kembali memasang kuda-kuda, siap untuk menyerang, semua gerakannya dilakukan dengan gerak silat sehingga nampak lucu sekali, akan tetapi wajahnya sungguh-sungguh dan matanya berapi-api.
"Kau tahu apa tentang pantas atau tidak?"
Akhirnya dia berkata lantang.
"Kau tahu apa tentang balas-membalas? Hutang luka dibayar luka, hutang nyawa dibayar nyawa, hutang kebaikan dibayar kebaikan! Dia telah membunuh ibu kandungku, maka aku harus membunuhnya! Apakah kau hendak menghalangiku?"
Kian Bu menarik napas panjang.
"Sama sekali bukan hendak menghalangimu membunuhnya, melainkan menghalangimu menjadi seorang yang tidak mengenal budi, seorang yang bong-im-pwe-gi, dan yang namanya akan dikutuk manusia di seluruh dunia selama-lamanya!"
"Eihhh....?"
Saking heran dan penasaran, Hwee Li lupa akan kuda-kuda silatnya dan kini dia melangkah biasa menghampiri Kian Bu, lalu berdiri di depan pemuda itu dengan kedua tangannya bertolak pinggang sehingga jari-jari kedua tangannya melingkari pinggangnya dan saling bertemu karena pinggangnya kecil ramping seperti pinggang lebah kemit (lebah hitam coklat yang pinggangnya kecil sekali).
"Aku hendak membunuh orang yang telah membunuh ibuku dan kau bilang aku seorang yang tidak mengenal budi, seorang yang bong-im-pwe-gi? Kian Bu, apa artinya ucapanmu itu?"
Tanyanya, lebih heran daripada marah karena dia tidak percaya bahwa pendekar sakti ini mau mempermainkannya.
"Enci, bukankah kau tadi mengatakan bahwa hutang luka dibayar luka, hutang nyawa bayar nyawa, dan hutang kebaikan...."
"Bayar kebaikan!"
Sambung Hwee Li melihat pemuda itu berhenti seolah-olah lupa lanjutannya.
"Nah, belasan tahun lamanya Hek-tiauw Lo-mo merawat dan mendidikmu dengan segala rasa kasih sayang, bukankah itu berarti bahwa engkau hutang kebaikan kepadanya? Engkau harus membayar hutang kebaikan itu dengan kebaikan, Enci. Sebaliknya engkau hendak membunuhnya, bukankah itu berarti bahwa Enci akan menjadi orang yang tidak ingat budi?"
Hwee Li tertegun dan melongo, bingung. Akhirnya dia berkata ragu.
"Akan tetapi dia telah membunuh ibuku..."
"Heh, siapa membunuh ibumu? Dia mati sendiri, tidak kubunuh!"
Terdengar Hek-tiauw Lo-mo berkata.
Dia adalah seorang manusia iblis, maka biarpun tadi nyaris tewas dan kini pundaknya terluka, dia tidak kelihatan gentar sedikit pun juga.
"Tutup mulutmu yang busuk!"
Hwee Li memaki.
"Engkau memaksa dia, biarpun tidak membunuh dengan tanganmu, akan tetapi engkau yang menyebabkan ibuku mati! Kian Bu, dia menyebabkan kematian ibu, kalau aku tidak membalas, bagaimana kelak aku dapat menghadapi arwah ibuku di alam baka?"
"Enci, sebaiknya engkau memenuhi semua peraturan balas-membalas itu. Engkau memang berhak membalas kematian ibumu, akan tetapi engkau pun harus membalas kebaikannya terhadap dirimu. Kalau sekarang kau balas kematian ibumu dan kau membunuhnya, mana bisa engkau membalas kebaikannya terhadap dirimu selama belasan tahun itu? Sebaliknya, kalau engkau lebih dulu membalas kebaikannya, lalu kelak engkau membalas kematian ibumu dan membunuhnya, juga belum terlambat."
Kian Bu menggunakan segala akalnya untuk mencegah gadis ini membunuh Hek-tiauw Lo-mo.
Dia memang bisa saja menggunakan kepandaian untuk mencegah pembunuhan itu, namun hal itu tentu akan menjadi kurang baik.
Sebaiknya kalau dia dapat menginsyafkan gadis ini dengan omongan saja.
"Benar sekali, Adik Hwee Li. Omongannya itu benar sekali! Tak mungkin seorang gadis gagah perkasa dan baik budi seperti engkau sampai tidak membalas budi kebaikan orang!"
Tiba-tiba terdengar suara merdu dan ternyata yang bicara itu adalah Swi Hwa.
Tadi gadis ini telah siuman dan benar saja, dia telah sembuh sama sekali.
Dia mendengar penuturan gurunya bahwa yang menyelamatkan dia adalah Hwee Li.
Kemudian dia mendengar percakapan antara Hwee Li dan Kian Bu atau yang dikenalnya sebagai Siluman Kecil.
Dia ikut merasa terharu mendengar bahwa ibu gadis itu mati karena Hek-tiauw Lo-mo.
Jadi terang bahwa gadis itu bukanlah anak iblis jahat itu.
Juga mendengar bahwa Hwee Li disebut "enci"
Oleh Siluman Kecil, lenyap rasa iri dan tidak senangnya terhadap Hwee Li.
Tadinya dia mengira bahwa gadis secantik jelita itu tidaklah mengherankan kalau menjadi pacar Siluman Kecil dan dia merasa iri karena memang dahulu pernah dia kagum sekali terhadap Siluman Kecil.
Hwee Li yang mendengar ucapan ramah itu lalu melirik ke arah Swi Hwa.
Kemarahannya terhadap Swi Hwa sudah lenyap dan kini beralih kepada Kian Bu yang hendak menghalangi dia.
Akan tetapi uraian Kian Bu yang diperkuat oleh Swi Hwa itu membuat dia menjadi bingung dan ragu-ragu.
"Kalau begitu, apa kau minta agar aku membalas segala kebaikannya selama belasan tahun ini? Dia telah memondong dan menimangku, apakah aku pun harus menggendong dan menimang-nimangnya? Apakah aku harus merawatnya sampai belasan tahun?"
Dia makin penasaran. Kian Bu tertawa.
"Tidak usah sejauh itu, Enci Hwee Li. Cukup kalau engkau tidak membunuhnya sekarang, berarti engkau telah melepas kebaikan yang boleh menebus semua kebaikannya itu. Kalau kelak ada kesempatan dan engkau membunuhnya, bukankah berarti hari ini engkau telah menebus kebaikannya itu?"
"Waaahhhhh, terlalu enak buat dia!"
Hwee Li berkata dengan alis berkerut.
"Kalau begitu, apakah kita harus membebaskan dua orang monyet tua ini dan minta maaf dan menghaturkan selamat jalan kepada mereka, membekali uang untuk mereka sebagai bekal biaya perjalanan?"
Karena jengkel Hwee Li mengeluarkan kata-kata yang berlebihan itu.
Swi Hwa adalah seorang yang ter-didik.
Dia tahu bahwa kejengkelan hati nona berpakaian hitam itu betapapun juga harus dipuaskan.
Maka dia lalu maju dan berkata.
"Adik Hwee Li, kalau aku boleh mengusulkan, mereka itu tidak perlu dibunuh agar engkau tidak dianggap tak kenal budi, akan tetapi perbuatan mereka pun harus dihukum. Mereka tertotok, bagaimana kalau mereka itu dikubur hidup-hidup di tempat ini?"
"Wah, cocok!"
Hwee Li bersorak. Dia merasa mendapat teman untuk menentang Kian Bu,. dan dia sudah mendekati Swi Hwa dan memegang lengannya.
"Kau memang orang cerdik, Enci. Nah, Siluman Kecil, kau bisa bicara apa menghadapi dua orang dara yang cerdik seperti kami?"
Siluman Kecil memandang Swi Hwa dengan heran, akan tetapi dia melihat dara berpakaian merah itu berkedip kepadanya, maka dia mengangkat pundak dan berkata.
"Terserah, asal kalian tidak membunuhnya."
"Adik Hwee Li, terang bahwa kau tidak bisa membunuhnya sebelum kau membalas kebaikannya. Nah, kau membebaskan dia dari kematian, itu berarti sudah membalas kebaikannya. Sekarang, mari kita kubur mereka, mengubur hidup-hidup asal jangan sampai mereka mati."
"Lhoh! Dikubur hidup-hidup mana bisa tidak mampus?"
Tanya Hwee Li bingung.
"Kita kubur tubuhnya saja biar kepalanya di atas tanah. Bukankah dengan demikian mereka akan tersiksa sekali? Mereka tertotok, kalau sudah tiba saatnya terbebas dari totokan, tentu orang-orang selihai mereka itu akan mampu membebaskan diri. Sementara itu, biar mereka tahu rasa. Dengan demikian engkau telah melaksanakan dua macam pembalasan budi, budi baik dibalas baik dan budi busuk dibalas busuk."
Hwee Li girang sekali dan bersorak, bertepuk tangan seperti anak kecil mendapatkan mainan baru yang menarik.
"Bagus sekali, Enci. Hayo kita kerjakan, kau bantulah aku."
Dua orang dara yang sama cantik manisnya itu lalu mengerahkan tenaga mereka untuk menggali lubang di atas tanah.
Mereka adalah gadis-gadis remaja yang cantik dan halus.
Akan tetapi jangan kira bahwa tangan yang berkulit halus itu tidak mampu menggali lubang yang besar dengan cepat.
(Lanjut ke
Jilid 37) Jodoh Rajawali (Seri ke 10 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 37 Tangan-tangan halus itu mengandung tenaga Iweekang yang hebat sehingga sebentar saja mereka masing-masing telah menggali sebuah lubang.
Kini keduanya menyeret tubuh Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lokwi, melempar mereka ke dalam lubang lalu menutupi lubang itu sehingga dua orang kakek iblis itu dikubur sampai ke leher mereka!
Tentu saja Hek-tiauw Lo-mo dan Hek-hwa Lo-kwi menyumpah-nyumpah dan memaki-maki kalang-kabut.
Mereka adalah dua orang kakek sakti dan kalau hanya ditanam seperti itu saja, mereka tidak merasa takut.
Biar dikubur seluruh tubuh mereka pun mereka tidak merasa jerih dan tentu akan dapat mempertahankan nyawa.
Akan tetapi yang membuat mereka marah besar adalah penghinaan itu!
Mereka dipermainkan oleh dua orang gadis remaja!
"Hi-hik, biar mereka digerayangi dan digigiti semut-semut dan cacing-cacing sebelum mereka dapat membebaskan diri!"
Kata Hwee Li bertepuk-tepuk tangan.
Kian Bu dan Hek-sin Touw-ong mendiamkan saja kedua orang gadis itu.
Mereka maklum akan akal Swi Hwa untuk meredakan kemarahan Hwee Li.
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 10
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 13