Eps 11 Darah Pendekar - Kho Ping Hoo
Baca online Darah Pendekar - Kho Ping Hoo
Cersil Darah Pendekar - Kho Ping Hoo.
Perwira itu memandang tajam penuh selidik, akan tetapi mengangguk-angguk percaya.
"Kalau begitu, bantulah kami. Kami mencari sumber air yang berada didusun ini, kami perlu air untuk mandi menyegarkan badan."
Seketika A-hai teringat dimana adanya sumber air itu.
"Mari kutunjukkan dimana adanya sumber air itu, ciangkun."
Perwira itu lalu memanggil anak-buahnya, disuruh mengambil bak-bak air dan merekapun mengikuti A-hai dan Cui Hiang mendaki bukit.
Dengan cekatan A-hai menjadi penunjuk jalan dan dia sama sekali tidak mencari-cari, seolah-olah dia sudah biasa pergi kesumber air itu.
Melihat ini, pasukan itu makin percaya bahwa A-hai tentulah seorang penduduk dusun itu pula.
Jalan kesumber air itu licin dan agak sulit.
Dan perwira itu girang melihat betapa A-hai dengan cekatan dapat membantu para perajurit mengusung bak-bak air keatas dan ternyata bahwa pemuda itu memiliki tenaga yang besar sekali.
"Nah, itulah sumber air yang mengalir kedusun. Dibawah pohon itu, ciangkun."
Kata A-hai. Benar saja, disitu terdapat mata air yang deras airnya dan para perajurit dengan gembira lalu mandi, didahului oleh sang perwira. A-hai sendiri lalu berdiri menjauh, termangu-mangu.
"Paman, apakah engkau lelah sekali? Mengapa engkau termenung lagi?"
Cui Hiang yang memperhatikan sekali setiap gerak-gerik A-hai, mendekat, menyentuh tangannya dan bertanya dengan suara penuh sayang.
A-hai menarik napas panjang dan duduk diatas batu gunung, diikuti oleh Cui Hiang yang duduk disampingnya.
Para perajurit tentu akan mengira pemuda ini mengaso karena lelah.
"Tidak, Cui Hiang, aku. tidak lelah. Aku sedang berusaha mengumpulkan ingatanku. Aku sungguh telah mengenal daerah ini dengan baik. Rasanya... aku pernah menolong seorang kawan wanita yang dilarikan orang ketempat ini. Orang itu adalah adik seperguruanku sendiri yang murtad. Eh... benar begitu, aku ingat sekarang. Benar! Aku mempunyai seorang saudara seperguruan yang kelakuannya jelek, suka menghina wanita. Tapi ilmu silatnya amat lihai. Untung ayahku siang-siang sudah melihat keburukan wataknya itu sehingga ilmu silat simpanan keluarga tidak diajarkan kepadanya. Agaknya suteku itu pun merasakan hal ini. Dia minggat meninggalkan ayah, tapi ayah diam saja. Bagaimanapun juga, ketika mendengar bahwa suteku itu melakukan kejahatan-kejahatan diluar, ayah menjadi marah. Akan tetapi ayahku telah bersumpah tidak akan keluar dari daerah pertapaannya, maka dia lalu... lalu... wah, aku lupa lagi..."
Cui Hiang yang mendengarkan dengan penuh perhatian itu, kini tersenyum.
"Paman, tidak sukar melanjutkan ceritamu itu. Aku dapat menebaknya. Ayahmu tentu mengutus paman untuk pergi mencari adik seperguruan paman itu. Dijalan agaknya paman berkenalan dengan seorang wanita yang kemudian menjadi kawan. Lalu pada suatu hari kawanmu diculik oleh sutemu itu. Bukankah begitu? Lalu paman mengejarnya dan... paman lalu menghajarnya habis-habisan disini, ditempat ini! Benarkah begitu?"
Wajah A-hai berseri gembira dan dia menepuk pahanya sendiri.
"Benar sekali! Engkau benar. Kami berkelahi dengan sengit, di... dilereng sana itu!"
A-hai menudingkan telunjuknya kearah lereng disebelah.
"Adikku itu sungguh bertambah lihai bukan main setelah berkelana didunia luar. Dan hebatnya, dia dapat pula memainkan beberapa ilmu silat simpanan keluarga kami. Agaknya dia telah mencuri lihat ketika aku berlatih. Mari, kita melihat tempat kami bertempur dahulu. Kalau tidak salah, disana terdapat banyak bekas-bekas perkelahian kami."
Mereka berlari-lari kearah lereng itu.
Ternyata tempat itu adalah sebuah lereng datar dimana terdapat banyak batu-batu besar.
Seperti orang yang sudah hafal akan tempat itu dan keadaannya, A-hai menghampiri sebuah batu besar dan berkata.
"Lihat batu ini! Aku terjatuh kesini ketika terkena pukulan pada pahaku. Ketika aku terlentang dibatu ini, suteku melancarkan pukulan-pukulan maut yang dapat kuelakkan dan pukulannya itu mengenai batu ini. Lihat!"
Cui Hiang memandang dan mulutnya ternganga keheranan melihat bekas-bekas diatas permukaan batu itu.
Bekas-bekas itu tidak menyerupai bentuk jari tangan, melainkan seperti tapak kaki anjing atau kucing, dan dalamnya ada lima senti!
"Paman, kenapa pukulan tangan macamnya seperti ini?"
Cui Hiang bertanya heran. A-hai tersenyum.
"Itu adalah bekas jari-jari tangan yang disatukan membentuk paruh burung. Itulah pukulan sakti pemutus urat dari ilmu keluargaku, disebut Thai-kek Sin-ciang. Apa lagi kalau dilontarkan dengan tenaga sinkang Merah Putih seperti yang kau pelajari, akibat pukulan itu hebat bukan main. Untung bagiku bahwa suteku itu tidak mempelajari sinkang itu."
"Bukan main hebatnya"
Cui Hiang membelalakkan matanya dan memandang ngeri.
"Ini masih belum seberapa. Ada ilmu andalan keluargaku yang disebut Thai-lek Pek-kong-ciang, lebih hebat lagi!"
"Wah, Thai-kek Sin-ciang itu masih ada yang lebih hebat lagi?"
"Ya, Thai-lek Pek-kong-ciang adalah ilmu yang dilakukan dengan Khong-sinkang, yaitu Tenaga Sakti Kosong!"
"Eh? Tenaga kosong? Bagaimana itu, paman?"
"Hanya keturunan langsung saja yang bertulang baik diwarisi ilmu mujijat ini. Tenaga Sakti Kosong adalah tenaga sakti yang benar-benar kosong sehingga tidak dapat dirasakan oleh panca indera. Tanpa mengandung hembusan angin sedikitpun sehingga apabila dipukulkan kepada segumpal kapas yang ringan sekalipun, kapas itu tidak akan bergoyang. Padahal tenaga ini mempunyai daya yang amat hebat dan sukar dicari bandingnya didunia ini. Yang nampak kosong itu sesungguhnya penuh, dan yang kosong itu lebih kuat dari pada yang isi. Ruangan dijagad raya inipun kosong dan yang isi hanya merupakan bagian saja dari pada kekosongan luas itu. Seperti juga suara hanya merupakan sebagian kecil dari pada keheningan yang maha luas."
"Wah, aku bingung, paman. Apa sih artinya semua itu?"
A-hai tersenyum dan bergurau.
"Jangankan engkau, aku sendiripun bingung kalau sudah bicara tentang filsafat kekosongan. Mungkin hanya omong kosong belaka! Kembali kepada ilmu itu, sesungguhnya amat hebat. Tergantung dari besar kecilnya tenaga lawan. Kalau lawan bertenaga besar, maka tenaga itu otomatis menjadi lebih besar lagi. Kalau lawan bertenaga kecil, tenaga Khong-sinkang itupun menjadi kecil, hanya lebih besar sedikit sekedar untuk melebihi lawan. Kalau tidak menemui lawan, tenaga itupun tidak nampak sama sekali, tidak ada pengaruhnya sama sekali seperti udara hampa. Itulah sebabnya dinamakan Tenaga Sakti Kosong. Tenaga ini tidak dapat dipergunakan untuk melukai atau menyerang orang, melainkan menerima dan membalikkan serangan orang lain saja."
Cui Hiang terbelalak heran dan bingung.
"Apakah... apakah paman sudah menguasai ilmu aneh ini?"
"Tentu saja. Aku adalah keturunan tunggal yang terakhir dari keluargaku. Ayahku bilang bahwa aku memiliki bakat yang lebih baik dari ayah atau bahkan dari kakek-kakekku, jadi aku berhak mempelajarinya."
"Kalau begitu... maukah paman memperlihatkan ilmu itu kepadaku? Aku ingin sekali menyaksikannya."
"Baiklah, agar engkau mengenal ilmu simpanan keluargaku. Nah, bersiaplah, aku memukulmu dengan Tenaga Sakti Kosong!"
Kata A-hai.
Dia berdiri lurus dengan kedua kaki dirapatkan.
Tidak terjadi keanehan apa-apa, tidak ada pembahan wajahnya, tidak ada suara, bahkan tidak ada sedi-kitpun angin menyambar ketika dia menekuk sedikit lututnya dan kedua tangannya mendorong kedepan, kearah Cui Hiang.
Perlahan sekali, gerakan itu, seolah-olah dia hanya mengulurkan tangan kepada Cui Hiang.
Tidak terasa apapun oleh Cui Hiang, bahkan rambut anak itupun tidak sampai bergerak.
Tentu saja Cui Hiang menjadi terheran-heran.
Tadinya ia bersiap menyambut serangan orang yang tanpa upacara telah menjadi gurunya itu akan tetapi karena ternyata pemuda itu sama sekali tidak menyerangnya, iapun termangu-mangu dengan heran.
Disangkanya bahwa A-hai ragu-ragu untuk menyerangnya, takut kalau ia terluka.
"Mari, paman, cepat menyerang. Aku sudah siap menyambut. Kenapa paman tidak melanjutkan?"
"Anak bodoh, aku. sudah memukulmu sejak tadi. Inilah maka ilmu ini dinamakan Tenaga Sakti Kosong. Engkau memang tidak merasakan apa-apa, karena engkau tidak mengerahkan tenagamu. Coba engkau menangkis, tentu engkau akan melihat buktinya."
Tentu saja Cui Hiang menjadi penasaran.
Tentu A-hai telah mempermainkannya.
Mana mungkin serangan itu sudah dilakukan kalau ia tidak merasakan apa-apa?
Kenapa yang begini dinamakan ilmu yang hebat?
Dengan alis berkerut karena mengira dipermainkan ia menepiskan tangannya kearah A-hai dan bermaksud untuk menjauhkan diri.
Akan tetapi, apa yang terjadi?
Ketika ia menepiskan tangannya, tiba-tiba saja dirinya didorong oleh tenaga luar biasa yang membuatnya terjungkal kebelakang!
Cui Hiang bangkit dan matanya terbelalak ketakutan.
Tubuhnya terasa lemas seperti baru saja dilanda angin yang amat kuat.
"Paman, apa yang kau lakukan?"
A-hai tersenyum dan mengulurkan tangan, membantu gadis kecil itu bangun.
"Nah, engkau sudah merasakan sekarang? Kalau tangkisanmu tadi lebih kuat, engkaupun akan lebih keras terbanting. Ilmu ini hebat karena tak dapat dirasakan, disitulah letak keampuhannya. Dengan ilmu inilah maka dijaman dahulu terdapat dongeng-dongeng yang aneh, dimana seorang sakti sendirian saja mampu menghancurkan sebuah kerajaan yang mempunyai pasukan laksaan orang. Dan ini pula sebabnya mengapa dijaman dahulu terdapat dongeng akan kesaktian manusia yang seperti dewa."
"Hebat!"
Cui Hiang kagum sekali.
"Oya... setelah paman berkelahi melawan sute paman itu lalu bagaimana?"
"Adikku benar-benar hebat kepandaiannya. Aku hampir terbunuh olehnya. Ilmu silatnya seperti iblis, kecepatannya seperti setan. Akan tetapi setelah aku mempergunakan ilmu simpanan keluargaku, barulah dia kewalahan. Dia jatuh bangun melawan Khong-sinkang yang kupergunakan untuk Ilmu Thai-lek Pek-kong-ciang. Tubuhnya yang kebal itu akhirnya terluka dan dia dapat kuringkus dan kubawa menghadap ayahku."
"Wah, hebat sekali cerita itu, paman. Lalu bagaimana jadinya dengan wanita sahabatmu itu, paman?"
Tanya Cui Hiang tertarik.
"Tentu saja ia menjadi isteri Souw-kongcu. Masa hal itu perlu ditanyakan lagi?' tiba-tiba terdengar suara orang dan muncullah seorang laki-laki tua yang tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Laki-laki tua yang kurus ini dengan wajah berseri-seri memandang kepada A-hai.
"Souw-kongcu! Telah sepuluh tahun kita tidak saling bertemu. Apakah kongcu baik-bauk saja? Kenapa lama benar tidak berkunjung kesini? Dan bagaimana dengan puterimu yang mungil itu? Tentu sudah besar sekarang,"
Berkata demikian, kakek itu melirik kearah gadis kecil berlengan buntung sebelah dengan ragu-ragu.
A-hai bengong memandang kepada kakek itu.
Lagi-lagi ada orang yang menyebutnya kongcu, seorang tuan muda she Souw!
Benarkah dia seorang she Souw?
Akan tetapi kenapa dia tidak mengenal kakek ini sama sekali?
Secara tak terduga-duga, proses penyembuhannya berjalan dengan cepat, akan tetapi ternyata masih banyak hal-hal lalu yang sama sekali tidak diingatnya, agaknya termasuk orang tua ini.
Siapakah kakek ini?
Nampaknya orang ini selain sangat mengenalnya, juga sangat menghormatnya.
Telah dua orang bersama tukang warung itu yang mengenalnya sebagai seorang kongcu yang telah mempunyai isteri dan anak.
Kalau benar demikian, dimanakah adanya isterinya dan anaknya itu?
Dan dimana pula rumahnya?
Hatinya terguncang keras dan biarpun dia belum yakin benar bahwa dia memang Souw-kongcu, melihat ada orang yang mengenalnya, dia lalu menangkap tangan kakek itu.
"Lopek, katakanlah. Apakah wajahku benar-benar wajah Souw-kongcu seperti yang kau kenal itu? Benarkah? Lalu... lalu dimanakah tinggalnya Souw-kongcu?"
Kakek itu terbelalak kebingungan.
"Eh, bagaimana ini? Souw-kongcu, apakah yang telah terjadi denganmu sehingga sikapmu seaneh ini?"
"Lopek, maafkanlah aku. Aku sendiri tidak tahu betul siapa sebenarnya aku ini, apakah Souw-kongcu ataukah orang lain. Ketahuilah, aku telah terserang penyakit sehingga aku lupa segala-galanya tentang masa laluku. Justeru sekarang ini aku sedang melakukan penyelidikan untuk dapat mengingat kembali masa laluku, Tempat ini kukenal baik akan tetapi... maaf, aku lupa sama sekali kepadamu, tidak mengenal wajahmu."
Kakek itu mengangguk-angguk dan memandang dengan sinar mata menaruh kasihan.
"Ah... kiranya begitu? Souw-kongcu, aku adalah kepala kampung didusun ini. Tentu saja aku sangat mengenalmu karena engkau telah menikah dengan puteri angkatku sendiri. Aku adalah mertua angkatmu sendiri, kongcu. Marilah ikut aku kerumahku dan aku akan menceritakan segalanya dan kongcu akan dapat melihat gambar-gambar lama. Mudah-mudahan kongcu akan dapat teringat lagi akan semua masa lalumu. Marilah"
Pada saat itu nampak beberapa orang perajurit menghampiri tempat itu.
"Nah. itu dia disana! Hei, monyet. Kenapa kau pergi tanpa pamit? Mau lari, ya?' Hayo, bantu kami mengangkut bak air itu turun. Komandan kami perlu air untuk mandi'"
"'Wah, ini kepala kampung disini pula!,"
Tegur seorang lain diantara mereka.
"Kenapa engkau disini? Kenapa engkau meninggalkan komandan kami dirumahmu sendirian saja? Apakah engkau tidak suka kepada kami para perajurit kerajaan ya? Mau berontak, ya? Mau jadi kaki tangan pemberontak asing?"
Kakek kepala kampung; itu menjawab halus.
"Saya tidak berniat buruk. Saya hanya ingin membuktikan laporan orang bahwa ada beberapa orang perajurit menawan rakyatku. Maka saya mengikuti kalian sampai kesini. Dan ternyata orang-orangku ini hanya kalian mintai bantuan mencari sumber air."
"Wah, kau kira perajurit-perajurit kerajaan adalah perajurit brengsek yang suka mengganggu rakyat, ya? Gila kau. Hayo pulang kerumahmu lagi. Komandan kami ingin sekali mandi secepatnya dan kita bisa didamprat kalau terlambat."
Kepala kampung memberi isyarat agar A-hai menurut saja.
Mereka lalu turun dari tempat itu dan A-hai membantu mereka memikul bak air kerumah si kepala kampung dimana sang komandan sudah menunggu, dengan baju atas terbuka.
Nampaklah dadanya yang bidang berbulu dan menyeramkan.
"Kenapa lama benar kalian? Ingin dihukum cambuk, ya?"
Bentaknya marah.
Tentu saja para anak-buahnya menjadi ketakutan dan mereka cepat mempersiapkan segalanya untuk sang komandan yang kegerahan dan ingin mandi itu.
Sebelum menuju ketempat mandi, komandan itu berteriak kearah kepala kampung.
"Siapkan makanan enak untukku. Carikan ayam gemuk dan masak yang enak!"
Si kepala kampung hanya mengangguk lalu memerintahkan orang-orangnya untuk mempersiapkan permintaan sang komandan.
"Inilah akibatnya perang,"
Katanya lirih kepada A-hai.
"Kalah atau menang, tetap saja rakyat yang menderita akibatnya. Penindasan selalu terjadi dengan sewenang-wenang, Tentu saja, kadarnya yang berbeda. Dibawah telapak kaki musuh, tentu lebih hebat dan lebih celaka."
A-hai mengangguk.
Teringat dia akan keadaan para penduduk dusun yang kelaparan dan terpaksa lari mengungsi.
Dan kini penduduk dusun itu dipaksa melayani para perajurit dan mengeluarkan seluruh miliknya untuk menyenangkan para perajurit agar mereka tidak mengamuk dan menghukum para penduduk yang dapat dituduh sebagai berpihak kepada musuh atau pemberontak.
Setelah selesai membantu para perajurit, A-hai dan Cui Hiang lalu diajak masuk oleh kepala kampung.
Mereka memasuki rumah melalui pintu samping dan memasuki bangunan samping dimana tuan rumah biasa minum teh dan membaca kitab.
(Lanjut ke
Jilid 28) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono
Jilid 28 Ketika mereka memasuki ruangan dimana tergantung sebuah lukisan besar seorang wanita yang berpakaian puteri Istana, A-hai berlari menghampiri dan berdiri memandang gambar itu dengan muka pucat dan mata terbelalak.
Cui Hiang juga berdiri mendekat dan gadis cilik ini terkejut sekali melihat betapa gambar wanita itu wajahnya persis wajah Bwee Hong.
Gambar wanita ini nampak lebih agung dan anggun, mungkin karena pakaiannya seperti puteri Istana.
Akan tetapi wajahnya sungguh mirip sekali wajah Bwee Hong.
A-hai berdiri memandang dengan peluh bercucuran.
Jelas dia nampak amat terpengaruh oleh gambar itu, dan keharuan membayang diwajahnya.
"Lopek... siapa... siapakah wanita dalam gambar ini? Aku seperti sudah sangat mengenalnya... aku merasa sangat dekat dengan wanita ini, akan tetapi... aku lupa lagi siapakah ia"
"Wanita ini adalah puteri angkatku sendiri, isteri dari Souw-kongcu."
"Hahhh...? Isteri... Souw-kongcu? Dan kalau aku Souw-kongcu, ia isteriku?"
"Benar, itulah gambar puteri angkatku"
"Akan tetapi kalau ia puteri kakek, kenapa ia mengenakan pakaian seorang puteri Istana?"
Tiba-tiba Cui Hiang bertanya. Gadis cilik ini sudah "pernah"
Melihat gambar puteri Istana, maka ia menyatakan keheranannya. Kakek itu tertegun sebentar dan mukanya menjadi kemerahan. Mendengar pertanyaan yang diajukan Cui Hiang, A-hai juga memandang kakek itu.
"Memang aneh sekali kalau engkau mempunyai anak berpakaian seperti itu, lopek, dan aku... mana mungkin aku mempunyai isteri puteri Istana?"
A-hai juga bertanya, mendesak.
Siapa tahu penjelasan kakek ini akan merupakan kunci pembuka rahasia masa lalunya yang dilupakannya.
Kakek itu menarik napas panjang, setelah termenung sejenak lalu berkata.
"Mendiang isteriku adalah bekas selir Kaisar. Belum lama menjadi isteriku, ketika pada suatu hari Kaisar dalam perantauannya lewat didusun kami, beliau tertarik kepada isteriku dan direbutnya kekasihku dari tanganku, dan dibawa ke Istana. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah kekasihku itu mempunyai anak, ia dan anaknya dikembalikan kepadaku dan anak itu dibesarkan di Istana. Jadi sebenarnya, puteri angkatku itu adalah anak isteriku dan Kaisar."
"Ahh maafkan aku, kek"
Cui Hiang berkata menyesal telah mengajukan pertanyaan tadi.
"Tidak apa. Peristiwa itu sudah lama berlalu, isteriku telah meninggal dunia. Mari kuperlihatkan sebuah gambar lagi."
Cui Hiang menahan teriakan heran ketika melihat gambar besar itu.
Jelas bahwa pria gagah yang berpakaian sasterawan dan memegang kendali kuda putih mulus itu adalah A-hai!
Dan diatas pelana kuda duduk seorang anak perempuan yang tersenyum manis sambil memeluk sebuah boneka indah berupa seorang puteri Istana, terbuat dari pada batu giok.
A-hai sendiri memandang lukisan itu seperti berobah menjadi patung, kemudian dia melangkah maju mendekati gambar, tangannya terjulur kedepan, gemetar.
"Bukankah... bukankah... ini... gambarku?"
Teriaknya.
"Dan ini... boneka ini..."
Suaranya gemetar dan tangannya merogoh kedalam buntalannya.
Dikeluarkannya sebuah boneka batu giok yang ternyata persis dengan boneka yang dibawa anak perempuan dalam lukisan itu.
Kini kakek itu yang memandang kaget.
"Ah, boneka itu... boneka itu adalah hadiah dari Souw-kongcu untuk cucuku itu, pada hari ulang tahunnya. Kenapa sekarang kau bawa? dimanakah cucuku itu?"
"Lopek, sudah kukatakan bahwa aku lupa akan masa laluku. Boneka ini kutemukan dirumah gu-lojin, sebuah rumah tua diluar dusun yang sunyi. Disana pula untuk pertama kalinya aku mendengar tentang Souw-kongcu itu. Ketika pertama kali melihat patung ini, aku terkesan dan... Dan nama yang terukir pada boneka ini"
"Lian Cu? Itulah nama cucuku dan Gu-lojin yang kongcu sebut itu, bukankah dia seorang pelukis yang hidup menyendiri?"
"Benar"
"Dia adalah kakakku sendiri, kongcu."
Kakek itu nampak terharu sekali.
"Kakakku bernama Gu-Toan dan aku sendiri bernama Gu Tek. Anak angkatku itu, yang sebenarnya puteri Kaisar dan isteriku, bernama Gu Yan Kim dan cucuku bernama Lian Cu, Souw Lian Cu."
A-hai mendengarkan semua ini seperti dalam mimpi. Kemudian dia menarik napas panjang.
"Agaknya... aku memang benar-benar Souw-kongcu seperti dugaan paman itu. Aku juga mahir ilmu silat tinggi, biarpun entah karena apa aku telah lupa sebagian dari ilmu itu, dan lupa akan masa laluku sama sekali, lupa akan keluargaku..."
Tiba-tiba kepala kampung itu memandang dengan wajah berseri.
"Aku ingat akan adanya suatu tanda untuk meyakinkan apakah kongcu benar-benar Souw-kongcu atau bukan."
"Benarkah itu? Bagaimanakah maksudnya?"
Teriak A-hai sambil mencengkeram tangan kakek itu sehingga kakek itu meringis kesakitan. A-hai cepat melepaskan cengkeramannya dan kakek itu tersenyum.
"Karena aku beruntung mempunyai mantu seorang keturunan keluarga Souw, maka aku tahu akan rahasia keluarga itu. Sejak turun-temurun, keluarga Souw adalah keluarga pendekar yang memiliki ilmu silat maha hebat! Dan sebagai tanda pengenal, semua anak keturunan mereka diberi tanda merupakan bekas luka jahitan yang memanjang dari ubun-ubun sampai kebelakang kepala dekat tengkuk. Selain luka jahitan memanjang ini, juga luka akibat totokan dari ciri perguruan keluarga sakti itu pada sebelah tulang punggung dikanan kiri, tepat dibawah pinggang. Setiap bayi keturunan mereka, setelah berusia satu tahun, tentu mendapat tanda itu. Aku sebagai kakek Lian Cu diberi tahu dan ternyata tanda itu bukanlah sekedar tanda belaka, melainkan ada hubungannya dengan ilmu mereka. Semua itu dimaksudkan untuk membuka jalan darah penting ditubuh anak itu agar setelah besar nanti sudah siap untuk menerima pelajaran ilmu keturunan mereka yang hebat. Tanpa dilakukan pembedahan pada kepala dan totokan dipinggang itu sewaktu masih bayi, tidak mungkin mereka dapat melatih ilmu mujijat keturunan keluarga itu. Bagaimana jelasnya tentang ilmu itu, tentu saja aku tidak mengerti."
A-hai mendengarkan dengan terheran-heran.
"Luka bekas jahitan dan bekas totokan? Apakah itu?"
"Aku pernah melihatnya sendiri ketika cucuku Lian Cu menjalani upacara keluarga itu setelah berusia setahun. Mula-mula dipinggangnya, sebelah kanan dan kiri tulang punggung, ditotok dan daging dibagian itu menjadi hangus melepuh seperti dibakar. Setelah sembuh, bekas totokan itu meninggalkan bekas dengan nyata. Kemudian, kulit kepala bayi itu diiris dengan ujung pedang, membujur dari ubun-ubun sampai ketengkuk. Entah apa yang mereka lakukan setelah kulit kepala dibuka karena aku sendiri tidak tega untuk menonton terus. Kemudian kulit itu dijahit kembali dan setelah sembuh meninggalkan bekas luka memanjang. Nah, demikianlah. Maka untuk menentukan apakah kongcu keturunan keluarga Souw atau bukan, amatlah mudah. Selain tanda-tanda dibadan yang tidak nampak dari luar itu, juga semua keturunan keluarga Souw memakai sebuah cincin batu giok yang ada huruf Souw diukir disitu."
A-hai mendengarkan dengan bengong.
Otomatis, matanya mengerling kearah jari-jari tangannya dan dia merasa kecewa tidak melihat sebuah cincinpun dijari tangannya.
Apa lagi cincin batu giok yang diukir huruf Souw, bahkan cincin kuninganpun tak pernah dia memakainya.
Kemudian, lengannya bergerak dan tangannya merayap menuju kepinggangnya dibelakang, meraba-raba dan mencari-cari tanda dikanan kiri tulang punggung seperti yang diceritakan oleh kakek itu.
Akan tetapi, alisnya berkerut dan kembali dia merasa kecewa karena tangannya tidak merasakan adanya bekas luka-luka akibat totokan yang membakar itu.
Dengan penasaran dia lalu meraba-raba kepalanya, jari-jari tangannya menyusup kebawah rambutnya yang tebal, mencari-cari luka bekas jahitan yang menjadi ciri khas keturunan keluarga Souw.
Kakek Gu Tek menanti dengan wajah tegang, sedangkan Cui Hiang juga ikut-ikutan meraba-raba kepalanya sendiri dibawah rambut karena ia merasa amat tertarik oleh cerita aneh kakek kepala kampung itu.
Selagi A-hai sibuk mencari-cari dibawah rambutnya, Cui Hiang berteriak membuat keduanya terkejut.
"Haiii! Kepalaku! dikepalaku juga ada bekas luka memanjang dari depan kebelakang! Lihatlah ini, kek!"
Gadis cilik itu berseru gembira sambil menyodorkan kepalanya yang kecil itu kearah kakek kepala kampung.
Tentu saja kakek yang tadinya bersikap tegang itu kini tersenyum geli.
Ada-ada saja ulah gadis cilik yang buntung lengan kirinya ini, pikirnya.
"Aih, nona, jangan main-main. Nona mengejutkan saja. Sungguh lucu kau ini, dan ada-ada saja. Mana bisa nona mempunyai ciri tanda itu? Apa hubunganmu dengan keluarga Souw? ha-ha, kalau toh ada bekas luka dikepalamu, kiranya itu tentu hanya akibat pukulan dengan sendok nasi atau sumpit oleh ibumu karena kenakalanmu."
Kakek itu tertawa geli sampai terguncang perutnya, bukan untuk menghina atau mentertawakan, melainkan karena benar-benar merasa lucu setelah dicekam ketegangan tadi.
Akan tetapi Cui Hiang tidak ikut ketawa, malah matanya melotot.
"Kek..., tapi dikepalaku benar-benar ada bekas luka yang memanjang! Coba saja kau raba sendiri, panjang bersambung dari muka kebelakang!"
Suaranya mengandung rasa penasaran sehingga menarik perhatian kakek itu.
Kakek Gu Tek masih menahan ketawa dan tersenyum lebar ketika terpaksa meluluskan permintaan Cui Hiang.
Jari-jari tangannya meraba sekenanya saja kearah kepala anak itu, hanya untuk memberi kepuasan saja.
Akan tetapi, tiba-tiba senyumnya sedikit demi sedikit menghilang dari paras mukanya, dan kini wajahnya dibayangi keheranan yang besar, matanya terbelalak.
Jari-jari tangannya kini meraba-raba dan jelas terasa oleh ujung jari-jarinya adanya bekas luka memanjang dari ubun-ubun sampai ketengkuk.
Cepat dia menyibakkan rambut yang hitam itu dan alangkah kagetnya ketika disitu dia benar-benar melihat tanda luka bekas jahitan!
"Kau..
kau...
siapa?"
Akhirnya kakek itu bertanya dengan suara gemetar, dan tangannya yang agak menggigil itu kini meraba pinggang.
Cui Hiang mendiamkannya saja ketika bajunya disibakkan agar kakek itu dapat memeriksa punggungnya.
Dan kakek Gu Tek semakin terbelalak ketika melihat betapa dikanan kiri pinggang gadis cilik itu benar-benar nampak adanya bekas totokan yang mirip jejak kaki kucing itu.
"Kau... engkau benar-benar keturunan keluarga Souw"
Teriaknya dengan muka berubah agak pucat.
"Hemm"
Tiba-tiba A-hai berseru lirih.
"Lopek, dikepalaku juga seperti ada bekas jahitan, akan tetapi hanya pendek saja, tidak sampai keubun-ubun dan tengkuk."
"Ah, mana mungkin, kongcu? Maaf, biarkan aku memeriksanya!"
Dengan hati penasaran kakek itu lalu memeriksa kepala dan pinggang A-hai.
Semakin penasaran hatinya ketika menemukan bahwa memang benar dikepala A-hai ada tanda jahitan itu, akan tetapi tidak begitu panjang seperti tanda pada kepala Cui Hiang, bahkan tanda pada pinggangnya juga tidak sedalam dan sejelas seperti yang terdapat pada pinggang anak perempuan itu.
Biarpun demikian, jelas bahwa tanda-tanda itu ada pada A-hai, maka kakek itu menjadi girang sekali.
Dirangkulnya pemuda itu dengan hati terharu.
"Engkau benar Souw-kongcu ah, Souw-kongcu betapa girang hatiku"
A-hai bersikap tenang. Bagaimanapun juga, semua ini belum meyakinkan hatinya karena ingatannya belum pulih.
"Lopek, harap maafkan aku. Sekarang aku baru dapat teringat sebagian-sebagian, dan aku sedang dalam pengobatan. Mudah-mudahan tak lama lagi aku akan dapat teringat semuanya. Aku sendiri juga mulai agak yakin bahwa aku sebenarnya adalah orang she Souw, mantumu. Akan tetapi harap jangan bertanya apa-apa tentang masa laluku. Aku belum ingat semua itu bahkan aku belum ingat tentang keluargaku. Tidak ada sedikitpun yang kuingat tentang isteri atau anakku. Bahkan setelah berhadapan dengan lopek sendiri yang agaknya tidak salah lagi tentulah ayah mertuaku, akan tetapi aku sama sekali tidak ingat dan tidak mengenal wajah lopek. Maafkanlah dan harap lopek bersabar sampai aku memperoleh kembali ingatanku."
Dengan wajah sedih kakek Gu Tek hanya mengangguk-angguk.
Kini A-hai menoleh kepada Cui Hiang.
Sama sekali tidak pernah disangkanya ada hal yang begini kebetulan.
Dia merasa kasihan kepada Cui Hiang dan mengajaknya hidup bersama, bahkan telah menurunkan ilmu silatnya yang dia tidak tahu betul adalah ilmu simpanan keluarganya dan siapa kira, ternyata gadis ini mempunyai ciri-ciri keturunan keluarga Souw seperti yang dituturkan oleh kakek itu!
"Cui Hiang, jika dilihat dari adanya tanda-tanda ditubuhmu, ternyata diantara kita masih ada hubungan keluarga.
Entah hubungan yang bagaimana aku belum dapat memastikannya.
Mungkin antara paman dan keponakan atau antara saudari sepupu, atau bahkan antara kakak dan adik."
Cui Hiang mengangguk-angguk, menunduk dan beberapa butir air mata menitik turun keatas sepasang pipinya yang agak pucat.
Tentu saja dara kecil ini merasa gembira dan terharu sekali Pendekar yang amat dikaguminya dan disayangnya ini masih ada hubungan keluarga dengannya!
A-hai kini menjura kepada kakek Gu Tek kepala kampung itu.
"Lopek, tolong beri tahu kepadaku, dimanakah tempat tinggal keluarga Souw itu? Aku harus pergi kesana karena aku yakin bahwa kalau aku pergi ketempat keluarga itu, aku akan lebih mudah mengingat masa laluku."
Kakek itu mengembangkan kedua lengannya dan menggerakkan pundaknya, menarik napas panjang penuh sesal.
"Wah, inilah celakanya. Aku sendiri belum tahu tempat tinggal keluarga pendekar itu. Keluarga Souw benar-benar merahasiakan tempat mereka, bahkan aku sendiri sebagai mertuanya tidak boleh tahu. Mereka tidak mau dikenal orang, tidak ingin diganggu dengan urusan kaum persilatan. Itulah sebabnya ketika tiba-tiba mantuku dan puteriku pergi selama sepuluh tahun dan tidak pernah datang berkunjung, aku sama sekali tidak tahu kemana harus mencari mereka. Sampai-sampai isteriku, bekas selir Kaisar itu, meninggal dunia karena duka. Hanya secara samar-samar aku pernah mendengar dari puteriku, bahwa tempat tinggal mereka itu terdapat disebuah pulau penuh bunga yang indah. Rumah mereka didirikan ditepi sungai kecil yang airnya jernih, yang mengalir ditengah pulau kecil itu dan dibelakang rumah mereka... terdapat sebuah air terjun yang sangat indah!"
A-hai melanjutkan, seperti dalam mimpi rasanya.
"Benar!"
Seru kakek itu gembira.
"Ah, engkau benar-benar mantuku! Ya Tuhan, dimanakah adanya isterimu dan cucuku yang mungil itu?"
Kakek itu tidak dapat menahan runtuhnya beberapa butir air matanya. A-hai tertegun dan seluruh tubuhnya terasa lemas, wajahnya membayangkan kesedihan mendalam.
"Entahlah... entahlah, aku tidak ingat lagi..."
Katanya kecewa sekali. Pada saat itu terdengar teriakan beberapa orang perajurit dihalaman samping rumah.
"Hai, kepala kampung! dimana engkau? Mana masakan ayam itu? Apakah sudah siap?"
Tergopoh-gopoh kakek Gu Tek menemui komandan pasukan dan menjura dengan sikap hormat.
"Maaf, tai-ciangkun, saya harus mencarikan ayam dulu karena kami sendiri tidak mempunyainya, harap ciangkun bersabar."
Komandan itu menjadi marah dan membentak.
"Hemm, jangan mempermainkan aku. Siapkan secepatnya, juga untuk sore nanti karena ada seorang panglima kerajaan yang akan datang berkunjung."
"Baik, ciangkun."
Dan kakek Gu Tek lalu mengatur orang-orangnya untuk mempersiapkan makanan yang dipesan oleh komandan itu.
Malam itu komandan pasukan menjamu seorang panglima yang datang bersama dua orang kakek berjubah coklat.
Panglima ini adalah Lai-goanswe dan dua orang kakek berjubah coklat itu adalah dua orang tokoh Liong-i-pang, dikawal pula oleh belasan orang perajurit pengawal.
Setelah makan hidangan yang disuguhkan, panglima itu bertanya dengan suara lantang kepada sang komandan.
"Ma-ciangkun, sekarang ceritakan kepadaku tentang keadaan digaris depan dan terangkan mengapa engkau membawa sisa pasukanmu meninggalkan Jenderal Beng dari daerah pertempuran?"
Komandan pasukan itu menarik napas panjang.
"Lai-goanswe, keadaan semua pasukan kerajaan digaris depan sudah amat payah. Pasukan-pasukan pemberontak Chu Siang Yu yang dibantu pasukan-pasukan bangsa liar sungguh terlalu amat kuat. Jumlah mereka bertambah terus sedangkan jumlah pasukan kita semakin berkurang tanpa adanya bala bantuan dari Kotaraja. Saya membawa pasukan mundur sampai kesini karena perintah langsung Beng-goanswe sendiri. Beliau kini bertahan disepanjang Sungai Ular, sedangkan kami diutus untuk mempersiapkan jalan mundur pasukan induk. Juga kami diutus untuk mencari tambahan ransum karena persediaannya sudah menipis dan tidak pernah ada kiriman bantuan ransum dari Kotaraja. Kekuatan musuh hampir tiga kali lipat jumlahnya. Jenderal Beng Tian bermaksud untuk mengumpulkan sisa pasukan yang ada, bertahan dibenteng terakhir sampai titik darah terakhir."
"Apakah Jenderal Beng sudah mendengar bahwa didaerah selatan dan timur juga muncul barisan pemberontak Liu Pang yang tidak kalah kuatnya?"
"Sudah, Beng-goanswe sudah mendengar berita itu. Hal itu pulalah yang membuat Beng-goanswe menjadi patah semangat. Beliau berpendapat bahwa kalau sampai pasukan yang paduka pimpin itu sampai kalah, itu berarti bahwa barisan pemberontak Liu Pang itu tentu kuat sekali. Mungkin lebih kuat dari pada pasukan pemberontak Chu Siang Yu. Kalau sudah muncul dua pasukan pemberontak yang masing-masing memiliki kekuatan melebihi kekuatan pemerintah, apa yang mesti diperbuat lagi? Paling-paling kita bertahan sampai kita gugur sebagai bunga bangsa!"
Kata komandan pasukan she Ma itu dengan sikap gagah. Jenderal Lai menarik napas panjang.
"Betapa menyedihkan melihat banyaknya orang yang menjadi perajurit setia seperti engkau ini telah tewas dengan sia-sia. Ma-ciangkun, maksudmu untuk gugur sebagai bunga bangsa memang menjadi watak seorang perajurit sejati. Akan tetapi ada suatu hal yang lebih penting lagi untuk dipikirkan. kalau tekad itu dilakukan demi membela tanah air dan bangsa, memang tepat dan sudah menjadi kewajiban setiap orang warga negara. Akan tetapi lebih bijaksanalah kalau kita melihat dulu untuk siapa kita berjuang. Benarkah untuk negara dan bangsa, ataukah hanya untuk segelintir manusia di Istana yang merupakan manusia-manusia lalim dan tidak patut kita bela?"
"Apa... apa maksud paduka?"
Ma-ciangkun memandang heran.
Dia adalah seorang perajurit tulen yang setia dan dia mengenal benar Jenderal Lai ini yang selama puluhan tahun pernah menjadi atasannya.
Seorang jenderal yang setia!
Akan tetapi mengapa kini mengeluarkan kata-kata yang membingungkan hatinya itu?
"Ma-ciangkun.
Aku baru saja dari Kotaraja.
Kaisar baru dan para pembantunya sungguh membuat kita prihatin.
Mereka itu sama sekali tidak memperdulikan keadaan pasukan yang didesak musuh.
Mereka bersenang-senang, berpesta-pora dan melakukan segala macam kemaksiatan yang menjijikkan.
Pembesar-pembesar penjilat dan korup dinaikkan pangkat, kaum sesat yang amat kejam dijadikan pengawal-pengawal dan panglima, sedangkan pejabat-pejabat yang setia dan jujur malah dipecat, dipenjarakan atau dibunuh.
Istana seperti menjadi sarang penjahat yang paling keji.
Ketika aku menghadap Kaisar yang masih muda itu, sama sekali tidak ada penghargaan melihat betapa aku dan pasukanku telah membela kerajaan mati-matian, bahkan hampir saja aku dibunuh oleh begundal-begundal Kaisar yang terdiri dari datuk-datuk sesat yang lihai itu.
Apakah sekarang engkau masih mau gugur sebagai bunga bangsa demi sekumpulan manusia lalim dan sesat seperti mereka itu?"
Wajah perwira Ma menjadi pucat.
"Be... benarkah itu?"
Dia bertanya gagap. Jenderal Lai menatap tajam.
"Ma-ciangkun, engkau mengenal aku, bukan? puluhan tahun aku menjadi atasanmu, pernahkah aku bicara sembarangan kepada bawahanku? Atau engkau ingin membuktikan sendiri kata-kataku dan pergi ke kotaraja?"
"Maaf, goanswe. Mana saya berani? Akan tetapi, kalau begitu keadaannya lalu... lalu apa yang harus saya kerjakan?"
"Begini. Engkau tidak perlu membawa pasukanmu ke Kotaraja. kau tetap saja didusun ini. Aku akan pergi menghadap Jenderal Beng Tian untuk merundingkan langkah-langkah selanjutnya. Engkau menanti perintah saja disini."
"Baiklah, goanswe!"
Kata Ma-ciangkun dengan lega karena tugas itu ternyata ringan saja.
Malam itu juga Jenderal Lai pergi bersama para pengawalnya dan pasukan itupun mengaso.
Setelah pertemuan penting itu bubaran, A-hai yang juga mendengar percakapan itu dari lain ruangan, lalu bertanya kepada kakek Gu Tek.
"Lo-pek, aku mendengar tentang adanya sebuah benteng tua yang kini dipergunakan sebagai tempat tawanan. Dimanakah letak benteng itu dan bagaimana keadaannya? Apakah terjaga kuat dan sukar dimasuki?"
"Ah, benteng itu? Sekarang menjadi tempat pembuangan para pejabat Istana. Tempatnya kurang lebih sepuluh li dari sini, terletak diatas puncak sebuah bukit gundul yang terjal. Tempat itu sukar didekati, tak dapat dicapai lewat samping atau belakang. Jalan satu-satunya hanyalah dari depan, jalannya lebar dan baik. Akan tetapi kenapa kongcu menanyakan tempat itu?"
"Hemm, aku hendak kesana, lopek."
"Ah, apakah ada seorang kerabat yang dibuang disana?"
A-hai hanya mengangguk dan tahulah Gu Tek bahwa dia tidak boleh banyak bertanya. Maka diapun lalu memberi keterangan tentang jalan yang menuju ke benteng itu. A-hai merasa girang sekali.
"Lopek, karena tempat itu cukup berbahaya, maka aku ingin menitipkan Cui Hiang agar berdiam disini lebih dulu. Aku akan menjemput dua orang wanita yang menjadi sahabatku dan yang kutinggalkan dihutan. Kalau sudah selesai urusan kami, aku akan datang kesini untuk menjemput Cui Hiang."
Kakek itu girang sekali. Bagaimanapun juga, gadis berlengan buntung sebelah ini adalah keturunan keluarga Souw pula, maka termasuk sanaknya juga melalui puteri angkatnya.
"Baik, jangan khawatir, kongcu. Kami akan menjaganya baik-baik."
"Kakek Gu. jangan kaget kalau kelak engkau melihat seorang diantara dua nona itu. Wajahnya mirip sekali dengan gambar puterimu itu,"
Kata Cui Hiang dan kakek itu mengangguk-angguk, dalam hatinya terheran-heran mengapa begini banyak hal-hal yang "Kebetulan."
A-hai lalu berangkat keluar dari dusun, meninggalkan Cui Hiang dirumah si kepala kampung karena dia merasa kurang leluasa kalau harus rttengajak anak itu, padahal dia dan teman-temannya akan menyerbu benteng menyelamatkan Seng Kun dan yang lainnya.
Ketika A-hai berjalan keluar dari dusun, beberapa orang perajurit peronda menegurnya.
"Hei, berhenti! Siapa itu?"
A-hai berhenti dan dua orang peronda itu menghampiri.
"Ah, kiranya engkau!"
Kata mereka yang sudah mengenal A-hai yang pernah membantu mereka mencari air, pemuda yang berada dirumah kepala kampung dan menjadi keluarga kepala kampung itu.
"Hendak kemana engkau?"
"Aku disuruh oleh Gu-lopek untuk mencari ayam."
"Bagus! Cari yang banyak, kalau ada telurnya juga, ya? Sudah lama aku tidak makan telur ayam!"
A-hai melanjutkan perjalanan dengan cepat, menuju kehutan dimana dia meninggalkan Bwee Hong dan Siok Eng.
Ketika dia sudah jauh meninggalkan perajurit.
perajurit itu, dia berpikir bahwa dia harus mempergunakan ilmu berlari cepat agar kedua orang gadis itu tidak menunggu terlalu lama.
Akan tetapi ketika dia hendak mengerahkan tenaganya tiba-tiba saja dia lupa sama sekali bagaimana harus mengerahkan tenaga saktinya.
Lupa sama sekali cara atau jalannya.
Dia berdiri tegak dan menggerak-gerakkan perut dan dadanya, namun hasilnya sia-sia karena memang belum ditemukan kembali jalannya.
Dia menjadi uring-uringan dan menyumpahi diri sendiri.
"Otak udang!"
Tanpa disadarinya, sikapnya kembali seperti A-hai yang ketolol-tololan.
Hal ini adalah karena dia masih sedang dalam proses pengobatan.
Kalau terlambat jalan darahnya diperlancar dengan bantuan jarum yang tepat, maka darahnya tidak lancar lagi dan ingatannyapun semakin buntu lagi.
Dia belum sembuh, dan masih tergantung kepada bantuan Bwee Hong yang sewaktu-waktu harus mempergunakan jarum-jarumnya agar jalan darahnya lancar kembali.
Selagi dia berkutetan dan memarahi dirinya sendiri itu sehingga dia kelihatan lucu dan aneh, Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa, suara ketawa yang ditahan-tahan akan tetapi tetap memberobot keluar sehingga terdengar agak cekikikan.
Tentu saja A-hai menjadi terkejut dan juga marah.
Dia memaki-maki dan memarahi diri sendiri, akan tetapi sekarang malah ada orang mentertawakannya!
Itu penghinaan namanya.
Akan tetapi ketika dia membalikkan tubuh dan memandang, dia terbelalak dan bulu tengkuknya meremang.
Didepannya berdiri dua orang kakek dan nenek yang pakaiannya serba putih dan wajahnya juga putih seperti mayat!
Bau harum semerbak tercium olehnya dan diapun bergidik.
Sinar bintang-bintang dilangit menyinari dua wajah yang pucat seperti mayat itu.
Karena keduanya menahan tawa dan bergerak, mereka kelihatan seperti sepasang mayat hidup.
Akan tetapi, kakek itu lalu berkata, suaranya halus.
"Saudara yang gagah perkasa. Tak dapat kami menahan tawa melihat tingkah lakumu yang aneh dan konyol itu. Agaknya engkau baru saja memperoleh pelajaran lweekang dari gurumu, akan tetapi kini engkau sudah lupa lagi sehingga gagal ketika mencobanya. Benarkah?"
Mendengar pertanyaan ini, tentu saja seketika wajah A-hai menjadi merah sekali, merah karena malu rahasianya dapat diterka sedemikian tepatnya dan marah karena orang ini sungguh telah mencemoohkannya dengan sikapnya yang dianggapnya sombong sekali.
Karena malu dan marah, juga karena merasa tidak berdaya setelah sama sekali tidak mampu mengingat ilmunya, dia mendengus dan membalikkan tubuhmu, melangkah lebar meninggalkan dua orang aneh itu.
Akan tetapi tiba-tiba kakek aneh itu menahannya.
"Saudara yang baik, jangan engkau pergi dulu!"
"Huh!"
A-hai tidak perduli dan mempercepat langkahnya, bahkan mulai menggerakkan kakinya untuk lari.
Akan tetapi mendadak dia merasa ada angin bertiup didekat tubuhnya dan terpaksa dia berhenti karena tahu-tahu kakek itu sudah berada didepannya sambil menyeringai!
Dengan mendongkol A-hai hendak membalikkan tubuhnya, akan tetapi ternyata nenek itupun sudah berada dibelakangnya dengan tatapan mata yang dingin menyeramkan.
A-hai menjadi marah sekali dan tiba-tiba saja dia teringat akan semua ilmu silatnya.
Agaknya, kemarahannya membuat jalan darah keotak yang mulai menciut itu menjadi lancar kembali.
Dia lalu mengerahkan tenaga saktinya dan seketika kedua orang suami-isteri aneh itu terkejut sekali.
Uap merah putih mengepul dari kepala pemuda yang mereka anggap lucu tadi.
"Awas, itu adalah Tenaga Sakti Merah Putih!"
Teriak kakek itu kepada isterinya.
"Eh, orang muda, siapakah engkau?"
Akan tetapi A-hai tidak memperdulikan kekagetan mereka.
Telapak tangannya sudah bergerak menyerang kearah kakek itu, bukan maksudnya untuk menyerang sebenarnya, melainkan mendorong dengan tangannya.
Sementara bau dupa harum semakin menusuk hidung.
Teringatlah dia kepada Siok Eng yang juga memiliki ilmu seperti itu.
Ah, pikirnya, jangan-jangan kedua orang ini masih keluarga nona Siok Eng.
Maka diapun lalu melangkah mundur lagi sambil berseru.
"Berhenti!"
Kakek itupun sudah dapat menekan hatinya yang terguncang. Dia memandang tajam penuh selidik, dan tidak menyembunyikan keheranannya.
"Orang muda, engkau sungguh hebat! Siapakah engkau?"
A-hai tidak menjawab pertanyaan ini, melainkan mengamati kedua orang itu bergantian, lalu bertanya.
"Apakah ji-wi Lo-cianpwe ini dari Tai-bong-pai?"
"Orang muda, aneh kalau seorang dengan tingkat kepandaian sepertimu masih belum mengenal kami. Aku adalah ketua Tai-bong-pai dan ia ini adalah isteriku."
"Ah, kiranya ji-wi Lo-cianpwe adalah ayah dan ibu nona Kwa Siok Eng?"
Seru A-hai dengan girang.
"Hemm, engkau mengenalnya? dimanakah anak kami itu sekarang?"
Nenek itu bertanya, sikapnya masih dingin.
"Kami bersahabat baik sekali! Ia kini sedang menantikanku didalam hutan. Apakah ji-wi hendak mencarinya? Mari, ikut bersamaku."
Karena memang dua orang itu sudah amat mengkhawatirkan anak gadis mereka dan sudah lama mencarinya, tentu saja mereka girang sekali mendengar keterangan A-hai.
Akan tetapi kegirangan hati mereka itu tidak nampak pada wajah mereka yang pucat dingin, dan kakek Kwa Eng Ki, ketua Tai-bong-pai itu berkata.
"Mari antar kami bertemu dengannya!"
Kakek Kwa Eng Ki dengan isterinya, sebagai ketua Tai-bong-pai, tidak pernah mencampuri urusan dunia.
Mereka telah mewarisi ilmu-ilmu mujijat dari Tai-bong-pai dan mereka tidak ingin melihat Tai-bong-pai terseret kedalam suatu kelompok atau golongan.
Karena watak mereka yang aneh dan kadang-kadang dalam melakukan hukuman dan balas dendam mereka amatlah keras dan kejam, maka golongan pendekar menganggap mereka sebagai kaum sesat.
Sebaliknya, golongan sesatpun tidak bersahabat dengan mereka karena Tai-bong-pai tidak pernah mau bergaul dengan mereka, Jadi Tai-bong-pai merupakan perkumpulan yang berdiri ditengah-tengah, tidak bersahabat dengan kedua golongan, juga tidak bermusuhan secara terbuka.
Pendeknya, Tai-bong-pai ingin berdiri sendiri dan tidak mau tunduk, tidak mau dijajah.
Mereka terkenal sebagai orang-orang yang keras hati dan bersikap dingin seperti mayat, tidak perdulian.
Kalau mereka tidak diganggu, merekapun tidak akan memperdulikan apapun yang terjadi asal bukan urusan mereka.
Karena, itu.
kini mereka menjadi pusing sekali karena kedua orang anak mereka, yaitu Kwa Sun Tek dan Kwa Siok Eng, lebih sering berkelana dan mencampuri urusan luar sehingga terbuka bahaya terlibatnya Tai-bong-pai.
Hal ini memusingkan mereka dan setelah gagal mengutus murid-muridnya untuk memanggil pulang kedua orang anak itu, kini mereka berdua berangkat sendiri untuk mencari dan memaksa kedua orang anak mereka pulang!
A-hai lari kedalam hutan, diikuti oleh suami-isteri itu.
Setelah tiba ditempat dia meninggalkan Bwee Hong dan Siok Eng, A-hai berseru.
"Nona Hong dan nona Eng, aku sudah datang! Keluarlah dan temuilah dua orang tamu kita ini!"
Tentu saja Siok Eng sudah tahu akan kedatangan, ayah-bundanya.
Ia terkejut dan mendongkol kepada A-hai.
Mengapa si tolol itu pulang mengajak ayah-bundanya?
Ia sudah selalu berusaha menghindarkan diri agar jangan bertemu ayah-bundanya.
Eh, kini tahu-tahu mereka malah diajak oleh A-hai ketempat itu.
Akan tetapi, iapun maklum bahwa kalau ia tidak mau menjumpai mereka, tentu A-hai yang akan dipersalahkan, maka dengan cemberut iapun keluar menyambut bersama Bwee Hong.
Melihat puterinya bersama Bwee Hong, nenek itu lalu menjura kearah Bwee Hong.
"Ah, kiranya nona penolong juga berada disini bersama Siok Eng. Suamiku, inilah nona Bwee Hong dari keluarga Bu yang telah menyelamatkan puteri kita dengan berkorban nyawa itu!"
Kwa Eng Ki sudah banyak mendengar penuturan isterinya tentang keluarga Bu Kek Siang yang telah menyelamatkan puterinya dengan mengorbankan nyawa kakek Bu dan isterinya, bahkan membuat putera mereka yang bernama Bu Seng Kun terluka parah, maka diapun mengangguk kearah Bwee Hong.
"Nona, aku girang sekali dapat bertemu dengan penyelamat nyawa puteri kami."
Disebut nona penolong dan penyelamat nyawa, Bwee Hong merasa kikuk sekali. Ia cepat membalas dengan penghormatan kepada kakek dan nenek itu sambil berkata.
"Harap ji-wi Lo-cianpwe tidak bersikap sungkan. Adik Eng adalah seorang sahabat baikku, diantara kita tidak ada lagi tolong-menolong, melainkan hanya merupakan kewajiban hidup yang lumrah saja."
Kini Kwa Eng Ki memandang kepada puterinya dan menghardik.
"Eng-ji, kenapa engkau tiada hentinya membikin pusing orang tua, selalu pergi tanpa pamit? Apakah engkau tidak betah tinggal dirumah sendiri? kemana lagi engkau hendak pergi? Hayo ikut kami pulang!"
Kwa Siok Eng menggeleng kepalanya dan mulutnya cemberut, alisnya berkerut.
"Ayah, aku belum ingin pulang!"
"Siok Eng, jangan kau bantah ayahmu yang sudah pusing karena kepergianmu. Sudah lama kami mencarimu, setelah bertemu, tak mungkin engkau menolak ajakan kami untuk pulang."
"Tidak, ibu, aku belum mau pulang. Aku harus membalas budi orang. Aku tidak mau hidup sebagai orang yang tidak mengenal budi. Aku sudah diselamatkan nyawaku, bahkan dengan pengorbanan dua orang tua yang berbudi mulia seperti mendiang kakek Bu Kek Siang dan isterinya. Apakah sekarang aku harus berdiam diri saja melihat putera angkat mereka, juga cucu keponakan atau murid mereka, terancam bahaya?"
Ayah dan ibu yang biasanya tidak mau memperdulikan urusan orang lain itu, saling pandang dan kemudian menoleh lagi kepada puteri mereka.
"Apa yang kau maksudkan? Siapa yang terancam dan hendak kau tolong itu?"
"In-kong (tuan penolong) Chu Seng Kun, kakak kandung enci Bwee Hong ini yang harus kuselamatkan. Baru aku mau pulang."
Ibunya yang sudah mengenal Seng Kun dengan baik terkejut.
"Apa? Tuan penolong kita terancam bahaya? Apa yang terjadi dengan dia?"
Kini Bwee Hong yang memberi penjelasan, menceritakan bahwa kakaknya telah tertawan oleh Raja Kelelawar dan anak-buahnya dan sekarang kemungkinan besar kakaknya itu ditawan didalam benteng kuno yang kini menjadi semacam penjara.
"Kami bertiga malam ini juga akan pergi ke benteng itu untuk berusaha menolong saudara Chu Seng Kun keluar dari sana. Aku sudah menyelidiki dan tahu dimana adanya tempat itu,"
Kata A-hai yang menceritakan kepada dua orang gadis itu bahwa dia menitipkan Cui Hiang kepada kepala kampung didusun.
Akan tetapi dia tidak menceritakan tentang keadaan dirinya dan pertemuannya dengan kakek Gu Tek yang membuka rahasia hubungannya dengan keluarga Souw.
"Kalau begitu, aku harus ikut dengan kalian dan membantu usaha membebaskan inkong!"
Kata ibu Siok Eng penuh semangat. Suaminya mengangguk.
"Memang dia harus diselamatkan,"
Kata ketua Tai-bong-pai.
"Akan tetapi, Eng-ji apakah engkau tahu dimana adanya kakakmu.? Kami pun mencarinya sampai hampir putus asa tanpa hasil."
Tiba-tiba Siok Eng cemberut dan kelihatan tak senang.
"Ayah, perlu apa mencarinya? Orang macam dia tidak perlu dicari lagi!"
"Eh, Siok Eng, kau bicara apa itu?"
Ibunya membentak marah.
"Ibu, puteramu itu telah melakukan penyelewengan besar dan hanya membikin malu keluarga kita saja. Dia telah menyeret nama Tai-bong-pai kedalam lumpur!"
"Hemm, jelaskan ucapanmu itu!"
Ayahnya juga membentak.
"Ayah, kakak Sun Tek telah bersekongkol dengan pasukan asing dan membantu pemberontak. Dia merendahkan diri menjadi kaki tangan penjual negara!"
Dara itu lalu menceritakan tentang kakaknya seperti yang diketahuinya. Mendengar ini, ayah-ibunya menjadi marah sekali.
"Hemrn, anak itu perlu dihajar! Aku akan mencarinya sendiri. Akan tetapi sekarang mari kita berangkat untuk membebaskan dan menyelamatkan tuan penolongmu itu."
Berangkatlah mereka berlima menuju kebenteng tua dengan A-hai sebagai penunjuk jalan.
Dia sudah memperoleh keterangan secara jelas sekali dari kepala kampung, maka tanpa ragu-ragu diapun memimpin teman-temannya memasuki hutan cemara.
Setelah mereka keluar dari hutan itu, nampaklah benteng tua itu.
Malam gelap gulita, hanya diterangi bintang-bintang dilangit.
Benteng itu memang besar dan kokoh kuat, juga dijaga dengan ketat.
Tidak ada jalan lain memasuki benteng, kecuali dari pintu gerbang didepan yang terjaga kuat itu.
Sisi benteng yang lain merupakan dinding-dinding karang, jurang yang amat terjal dan tak mungkin dilalui manusia.
Dan satu-satunya jalan menuju kepintu gerbang merupakan sebuah lorong anak tangga yang kadang-kadang terputus dan disambung jembatan-jembatan gantung besar.
Sehingga dengan adanya lorong ini, maka setiap orang luar yang naik kebukit menuju ke benteng yang berada di Puncak, baru tiba dikaki bukit saja tentu sudah diketahui oleh para penjaga.
Melihat sulitnya jalan naik dan mereka tentu akan ketahuan dan diserang sebelum sempat memasuki benteng sehingga usaha mereka akan sia-sia, ketua Tai-bong-pai lalu mengajak mereka berunding dikaki bukit, duduk bersembunyi dibalik semak-semak dibawah pohon-pohon cemara.
Disini terdapat tanah kuburan tua dan ditempat inilah mereka berlima duduk untuk mengadakan perundingan.
Anehnya, kalau Bwee Hong dan A-hai merasa seram dan ngeri berada ditanah, kuburan diwaktu malam gelap seperti itu, adalah ayah-ibu dan anak dari Tai-bong-pai itu merasa betah dan enak!
Tidaklah mengherankan karena memang mereka berasal dari perkumpulan Makam Kuburan!
"Tempat itu sungguh terjaga ketat dan sukar dimasuki,"
Kata Kwa Eng Ki.
"Andaikata kita nekat mendaki dinding karang yang terjal itu dan berhasil mencapai tembok, tentu setibanya diatas tembok kita akan diketahui oleh para penjaga disana. kita belum tahu dimana para tawanan itu berada, maka kalau sampai kita ketahuan sebelum berhasil membebaskan tawanan, tentu mereka akan bersiap-siap dan penjagaan diperkuat sehingga makin sulit bagi kita untuk membebaskan tawanan!"
Selagi lima orang itu berunding dan belum menemukan jalan baik, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara hiruk-pikuk dan sorak-sorai diantara bunyi terompet.
Jelas bahwa itu adalah suara pertempuran!
Dan suara itu makin jelas terdengar, mendekati kearah hutan cemara itu.
Kwa Eng Ki, ketua Tai-bong-pai itu berkata.
"Sebaiknya kita berlindung dan bersembunyi keatas pohon!"
Berkata demikian, kakek ini lalu meloncat keatas, diikuti oleh isterinya dan puterinya.
Bagaikan burung saja mereka bertiga melayang keatas dan hinggap didahan pohon cemara.
Bwee Hong juga meloncat dengan ringannya, dan gerakannya amat indah.
Akan tetapi baru saja ia tiba diatas dahan pohon dan melihat kebawah, dara ini sudah berjungkir balik dan meloncat turun lagi.
Dari atas ia melihat A-hai berdiri bengong dan ragu-ragu, maka iapun turun lagi dan menghampiri pemuda itu.
"Kau... kau kenapakah?"
Tanyanya. A-hai menghela napas panjang.
"Ah, sungguh celaka, nona aku... aku telah mulai lupa lagi, tidak ingat lagi bagaimana harus mengerahkan tenaga agar dapat meloncat keatas."
Bwee Hong teringat bahwa sudah tiba waktunya pemuda itu harus menerima bantuan pengobatan.
Maka iapun cepat mengeluarkan jarum-jarumnya dan dengan meraba-raba, ia menusukkan jarum-jarum itu pada pelipis, tengkuk dan pundak A-hai.
Dan seperti biasa setelah mengalami pengobatan ini, A-hai tertidur pulas dibawah pohon!
Bwee Hong duduk tersimpuh menjaganya.
"Ssttt, enci Hong, cepat naik"
Terdengar suara Siok Eng, Akan tetapi Bwee Hong tidak menjawab. Bagaimana ia dapat meninggalkan A-hai dalam keadaan tidur seperti itu? Akhirnya Siok Eng dan ayah-bundanya turun kembali.
"Ada apakah dia itu?"
Tanya ketua Tai-bong-pai dengan terheran-heran melihat pemuda yang pernah dirasakan kehebatannya itu kini enak-enak tidur pulas.
"Lo-cianpwe, saudara A-hai selalu tertidur setiap kali habis diobati. Untuk membantu ingatannya yang selalu lupa, aku dan kakakku melakukan penusukan jarum, dan baru saja aku melakukan penusukan lagi dan akibatnya dia tertidur."
"Sampai berapa lama dia akan tidur?"
Tanya Kwa Eng Ki sambil mengerutkan alisnya. Suara pertempuran itu makin mendekat, agaknya ada pihak yang dikejar-kejar dan lari masuk kedalam hutan sambil melakukan perlawanan.
"Biasanya agak lama, sedikitnya satu jam."
"Wah, kalau begitu biar kita bawa dia bersembunyi diatas pohon saja. Pertempuran itu sudah dekat dan tentu akan memasuki hutan ini!"
Kata ketua Tai-bong-pai dan dia lalu memanggul tubuh A-hai lalu didudukkan diatas dahan dan cabang, bersandar batang pohon.
Bwee Hong memegang pundak dan menjaganya.
Karena pohon cemara itu bukan pohon yang terlalu kuat untuk ditempati terlalu banyak orang, maka ketua Tai-bong-pai, isterinya dan puterinya bersembunyi dipohon lain dan membiarkan Bwee Hong berdiam dipohon itu bersama A-hai yang dijaga agar tidak sampai terguling kebawah.
Agaknya karena posisi yang tidak menyenangkan itulah yang membuat A-hai terbangun atau sadar lebih cepat dari pada biasanya.
Ketika pertempuran itu mulai memasuki hutan, diapun terjaga.
Dari atas pohon dapat dilihat pertempuran yang tidak seimbang dari dua pasukan yang sama-sama berpakaian seragam.
Pasukan yang jumlahnya hanya dua ratus lebih itu diserbu dan didesak oleh pasukan lain yang juga berpakaian seragam perajurit pemerintah daerah yang jumlahnya seribu orang lebih!
Dan kini jumlah pasukan yang dikejar-kejar itu sudah banyak berkurang, agaknya sudah banyak yang roboh dan tewas sejak mereka diserbu kemudian dikejar sampai kehutan itu.
Pasukan kecil ini mati-matian mempertahankan diri, akan tetapi karena mereka itu sudah nampak kelelahan sekali dan satu orang dikeroyok oleh lebih dari lima orang, maka apa yang terjadi dihutan itu bukan lagi pertempuran, melainkan pembantaian.
Lima Orang yang berada diatas pohon, termasuk A-hai yang kini sudah sadar kembali, menonton pertempuran itu dengan penuh keheranan.
Mengapa dua pasukan yang sama-sama pasukan pemerintah itu saling gempur sendiri?
"Ah, pasukan kecil itu adalah pasukan yang berada didusun itu!"
A-hai berbisik kepada Bwee Hong.
"Dan lihat, komandan pasukan itu... ah, bukankah dia itu kakak nona Eng? Dan disana itu, mereka adalah pasukan asing yang pernah kita jumpai"
Bwee Hong mengangguk.
Iapun mengenal Kwa Sun Tek yang berpakaian perwira, dan melihat pula adanya pasukan orang-orang asing bukan Bangsa Han yang berada diantara pasukan yang sedang melakukan pembantaian.
Tahulah mereka bahwa yang dibantai itu adalah pasukan kecil anak-buah pasukan induk dari Jenderal Beng Tian, yaitu pasukan yang setia kepada kerajaan, sedangkan pasukan besar itu adalah pasukan daerah yang bersekongkol dengan pasukan asing.
Akhirnya, pasukan kecil yang bertahan itu habis dibasmi dan mungkin hanya beberapa orang saja diantara mereka yang berhasil meloloskan diri didalam kegelapan hutan.
Setelah musuh tidak ada yang bergerak melawan lagi, pasukan asing itupun berhenti dan melepaskan lelah dihutan.
Kebetulan sekali para pimpinan pasukan yang menang itu, terdiri dari beberapa orang pembesar kepala daerah dan beberapa perwira, beristirahat dan berkumpul dibawah pohon dimana lima orang itu bersembunyi.
Mereka membuat api unggun dan kini lima orang yang bersembunyi diatas pohon itu dapat melihat wajah mereka.
Terheran-heranlah lima orang itu.
Jelas bahwa pasukan ini menang perang, akan tetapi kenapa wajah para pemimpinnya nampak tidak bergembira, seperti orang berduka dan gelisah, bahkan dua orang diantara para pembesar sipil itu nampak menghapus air matanya?
A-hai membuat gerakan, mendekatkan mulutnya kearah telinga Bwee Hong.
Dia ingin mengatakan atau membisikkan sesuatu, akan tetapi begitu dia mendekatkan mulutnya dengan kepala dara itu, hidungnya mencium bau sedap khas wanita yang membuat dia merasa jantungnya berdebar keras dan diapun tidak mampu mengeluarkan kata-kata, dan mukanya menjadi merah sekali.
Melihat betapa A-hai mendekatkan mulutnya dekat telinga akan tetapi tidak jadi mengeluarkan kata-kata itu, Bwee Hong terheran-heran dan berbisik.
"Engkau kenapakah? Apa yang akan kau katakan?"
A-hai tergagap "Anu... eh, aku heran sekali kalau tidak salah ingat, pasukan asing dan komplotannya itu tadinya berjumlah banyak sekali. Kenapa kini tinggal sekian?"
Bwee Hong mengangguk-angguk dan memandang penuh perhatian.
Tiba-tiba seorang diantara dua kepala daerah yang nampak menghapus air mata itu bangkit berdiri dan wajahnya merah padam, tangan kanannya dikepal dan dipukulkan ketelapak tangan kirinya sendiri penuh geram dan penyesalan.
"Sungguh kurang ajar! Tak kusangka Liu Pang dan pasukannya itu sedemikian cerdik dan kuatnya. Sebenarnya, pasukan gabungan kita itu lebih kuat dari pada mereka. Akan tetapi karena kelalaian kita, kita menjadi buruan seperti ini! Untung yang kita temui tadi hanya sebagian kecil saja pasukan pemerintah. Andaikata kita bertemu dengan pasukan besar Jenderal Beng Tian, kita akan hancur lebur. Aihhh... kita telah gagal, hancurlah semua rencana dan cita-cita kita"
Seorang perwira menarik napas panjang.
"Kita memang bernasib malang. Bukan hanya kehilangan pasukan, bahkan semua anak isteri dan keluarga dan harta benda kitapun musnah"
Apakah yang telah terjadi dengan pasukan gabungan yang tadinya amat kuat itu?
Seperti telah kita ketahui, Liu-Bengcu atau Liu Pang, berdua dengan muridnya, Ho Pek Lian, melakukan penyelidikan terhadap pasukan gabungan antara pasukan pemerintah daerah dan pasukan asing yang menjadi sekutunya.
Pasukan itu amat kuat, bukan hanya terdiri dari pasukan para kepala daerah dan pasukan asing, akan tetapi mereka dibantu dan diperkuat pula oleh para iblis Ban-kwi-to dan anak-buah mereka.
Akan tetapi, setelah Liu-Bengcu mengetahui tempat mereka berkumpul, tempat itu dikepung dan dengan cara perang gerilya, sergap dan lari, kekuatan mereka itu dapat dicerai-beraikan dan akhirnya mereka mengalami kekalahan besar terhadap penyerbuan pasukan pendekar.
mereka dapat dibuat cerai-berai dan akhirnya mereka dikejar-kejar sampai ketempat itu.
Selagi para pimpinan pejabat daerah yang berkhianat itu bercakap-cakap, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan muncullah seorang perajurit yang segera memberi laporan dengan napas terengah-engah.
"Pasukan Liu Pang makin dekat, tinggal dua dusun lagi dari sini. Mereka beristirahat disana dan menjelang fajar nanti akan berangkat melanjutkan pengejaran mereka."
"Keparat!"
Tiba-tiba Kwa Sun Tek bangkit berdiri dan mengepal tinju.
"Biarkan mereka datang, kita akan hadapi mereka disini!"
Seorang perwira yang berada diantara para pimpinan itu melangkah maju dan suaranya lantang terdengar oleh semua rekannya.
"Cu-wi (tuan sekalian), bagaimanapun juga, agaknya kita tidak mempunyai jalan keluar, dan terpaksa kita harus menghadapi mereka. Kekuatan mereka jauh lebih besar dan melakukan pertempuran secara terbuka berarti menghancurkan diri sendiri bagi kita. Didepan terdapat sebuah benteng tua, di puncak bukit itu. Tempat itu sekarang dijadikan tempat tahanan dan tempat itu amatlah baik untuk dipergunakan sebagai benteng pertahanan. Mari kita kuasai tempat itu dan kita jadikan sebagai tempat pertahanan menghadapi pasukan-pasukan Liu Pang. Mereka tidak akan mampu mengalahkan kita dengan mudah kalau kita bertahan disana."
"Akan tetapi kalau tempat itu sukar diserbu, bagaimana mungkin kita dapat merampasnya?"
Kata Kwa Sun Tek.
"Aku mengenal baik para komandan disana karena aku pernah bertugas disana selama beberapa tahun. Biarlah aku membawa pasukan dan mengatakan bahwa kita adalah pasukan pembantu dari ibu kota untuk memperkuat penjagaan ditempat tawanan ini. Mereka tentu akan percaya dan setelah berada disana, kita kuasai benteng itu,"
Kata si perwira. Semua orang menyetujui.
"Mari kita laksanakan rencana itu sebelum barisan Liu Pang tiba disini,"
Kata seorang pembesar sipil yang sudah merasa ketakutan.
Sementara itu, tiba-tiba A-hai dan Bwee Hong mendengar bisikan suara ketua Tai-bong-pai yang agaknya dikirim dengan kekuatan khikang sehingga biarpun kakek itu berada dipohon lain, suaranya dapat terdengar oleh mereka dengan jelas tanpa terdengar oleh mereka yang berada dibawah pohon.
"Kebetulan sekali bagi kita rencana mereka itu. Mari kita mencari pakaian perajurit dan menyamar sebagai anggauta pasukan mereka. Kita menyusup dibagian pedati-pedati perbekalan agar tidak mudah mereka ketahui. Jangan bertindak apa-apa, dan kita ikut menyelundup kedalam benteng itu."
Bwee Hong lalu memberi isyarat kepada A-hai dan keduanya lalu meloncat kepohon lain.
Mempergunakan kegelapan malam, mereka berloncatan dan setelah berada ditempat sepi, mereka dapat mencari pakaian dari perajurit-perajurit yang tewas dalam pertempuran tadi.
Mereka melucuti pakaian mayat perajurit yang cocok besarnya untuk mereka, lalu menyamar sebagai perajurit.
Karena malam itu gelap dan semua perajurit sedang sibuk dan tegang mendengar betapa para penyerbu sudah semakin dekat, dengan mudah Bwee Hong dan A-hai menyusup diantara kereta-kereta perbekalan dan bersikap sebagai pengawal-pengawal.
Mereka juga dapat melihat kakek dan nenek Tai-bong-pai bersama puteri mereka.
Bahkan kakek itu kini memegang kendali kuda yang menarik kereta perbekalan.
Entah apa yang telah mereka lakukan dengan kusirnya.
Berkat akal si perwira, dengan mudah pasukan yang berjumlah seribu orang lebih itu dapat memasuki pintu gerbang benteng dan begitu mereka berada didalam, segera mereka menyergap dan melucuti para penjaga.
Tentu saja para penjaga yang jumlahnya hanya seratus orang dan yang mengandalkan kekuatan benteng itu, tak berani melawan dan akhirnya menyerahkan benteng untuk dikuasai para pendatang baru ini.
Segera pasukan itu diatur untuk melakukan penjagaan sekuatnya dibenteng yang amat kokoh itu.
Hati mereka agak lega karena kini mereka memperoleh tempat perlindungan yang boleh diandalkan.
Sementara itu, lima orang perajurit palsu yang ikut menyelundup masuk, kini berpencar untuk menyelidiki keadaan benteng penjara itu.
Bwee Hong pergi bersama A-hai, Siok Eng bersama ibunyanya sedangkan ketua Tai-bong-pai yang lihai itu pergi menyendiri.
Mereka tentukan tempat untuk pertemuan mereka setelah penyelidikan masing-masing, yaitu dibagian belakang benteng, tak jauh dari sumber air yang berada disebelah belakang dibalik tembok belakang.
Bwee Hong dan A-hai menuju kebelakang bangunan benteng, kebagian dapur.
Karena yang bertugas didapur adalah perajurit-perajurit lama dan mereka tidak dapat membedakan mana kawan dan lawan, apa lagi melihat betapa diantara pasukan baru yang mengambil alih benteng itu terdapat banyak pula orang-orang liar atau orang asing, maka kemunculan Bwee Hong dan A-hai yang menyamar sebagai perajurit-perajurit itu tidak menimbulkan kecurigaan.
"Sobat baik, tolonglah beri makanan kepada kami yang kelaparan ini,"
Kata A-hai dan diam-diam Bwee Hong melihat betapa kawannya itu telah mendapatkan kembali kecerdikannya, bukan seperti A-hai yang biasanya ketololan itu.
Dua orang petugas dapur itu memandang kepada A-hai dan agak lama memandang wajah "perajurit"
Yang bertubuh kecil ramping itu. Seorang diantara mereka tersenyum dan tangannya diulur untuk menyentuh lengan Bwee Hong sambil berkata.
"Anak masih begini kecil dan tampan sudah menjadi perajurit."
A-hai memegang tangan orang itu dan pura-pura marah.
"Jangan goda adikku! Dia tidak bisa pisah dariku, maka terpaksa ikut menjadi perajurit. Dan jangan tertawakan dia, karena dia dia gagu."
"Gagu? Wah, sayang begini tampan gagu"
"Sudahlah, kami lapar, tolong beri makanan."
"Sebentar lagi, belum matang roti yang kami masak,"
Kata seorang diantara mereka.
"Duduklah dulu dan ceritakan jalannya pertempuran melawan pemberontak."
A-hai lalu bercerita bahwa dia ikut pula bertempur melawan para pemberontak didaerah selatan.
Akan tetapi karena selalu kalah, pasukannya ditarik kembali ke Kotaraja dan pagi tadi mendadak pasukannya menerima perintah untuk menduduki benteng itu dan mempertahankannya dari pemberontak Liu Pang yang menuju kesitu.
Tiba-tiba terdengar suara derap kaki dan Bwee Hong bersama A-hai sudah siap-siap menghadapi segala kemungkinan.
Yang muncul adalah dua orang perajurit lagi yang berjalan sempoyongan, tanda bahwa mereka sedang mabok.
"Ha-ha-ha... kepala jaga penjara itu selalu mempunyai arak dan kami diberi seguci arak yang amat baik. Tapi... eh, mereka minta tukar dengan roti. A-khun, tolonglah beri roti kepadaku untuk kepala jaga."
"Tunggu sebentar, rotinya sedang dipanaskan,"
Kata si tukang masak.
Dua orang perajurit itu duduk dan menghabiskan arak mereka.
Ketika roti yang diminta akhirnya sudah siap, seorang diantara mereka sudah rebah tidur mengorok, yang seorang mencoba untuk membangunkannya namun sia-sia karena orang itu sudah tidur seperti bangkai.
Melihat ini, A-hai menghampiri.
"Sobat, temanmu itu sudah tidur pulas, mana mungkin bisa disuruh bangun? Kalau ada tugas, biarlah aku dan adikku ini membantumu, menggantikan temanmu yang tidur."
Melihat wajah yang mabok itu memandang ragu, A-hai cepat menyambung.
"Dan engkau sendiripun perlu mengaso, kalau kami berdua dapat menggantikan, engkau kan dapat tidur pula disana."
Mendengar bahwa ada orang mau menggantikannya berjaga sehingga dia dapat mengaso dan tidur, perajurit itu nampak girang. Dia mengangguk-angguk.
"Baik, sungguh membosankan memang berjaga dipenjara itu. Apanya sih yang dijaga?"
A-hai dan Bwee Hong lalu mengikuti penjaga itu sambil membawakan roti.
Mereka berdua merasa betapa jantung mereka berdebar tegang ketika perajurit yang jalannya sempoyongan itu membawa mereka memasuki sebuah bangunan besar yang terjaga oleh pasukan yang nampak tak acuh.
Mereka bertiga terus masuk kelorong dalam penjara itu, melewati kamar-kamar tahanan.
Didalam sebuah ruangan tahanan yang besar dan agak gelap nampak tiga orang tahanan yang diborgol kaki tangannya.
Tiba-tiba Bwee Hong mencubit lengan A-hai.
Pemuda ini memandang dan diapun mengenal Seng Kun bersama seorang kakek dan seorang pemuda lain.
Melihat betapa keadaan tiga orang tawanan itu diborgol dengan ketat dan penjagaan disitu amat kuat, A-hai memberi isyarat kepada Bwee Hong agar tidak melakukan tindakan sesuatu.
Yang berada didalam ruangan itu memang Seng Kun dan dua orang penolongnya, yaitu kakek Kam Song Ki dan muridnya, yaitu Kwee Tiong Li bekas pemberontak yang kini telah meninggalkan pasukannya dan menjadi murid kakek sakti itu.
Mereka bertiga melihat adanya dua orang perajurit penjaga yang datang bersama perajurit mabok, akan tetapi karena penyamaran kedua orang itu amat baik dan mereka hanya melihat dari jauh, mereka tidak mengenal dua orang itu.
Apa lagi karena memang mereka bertiga tidak menaruh perhatian terhadap para perajurit penjaga.
Bwee Hong juga cerdik dan ia tidak memperlihatkan sikap yang mencurigakan, pura-pura tidak perduli dan tidak mengenal tiga orang tawanan itu walaupun ingin ia cepat turun tangan menolong kakaknya.
Ia harus menahan kesabarannya.
Biarpun saat itu amat berbahaya kalau ia dan A-hai mencoba untuk menolong tawanan, melihat penjagaan yang cukup kuat.
namun setidaknya ia sudah tahu benar dimana tempat kakaknya ditahan.
Setelah perajurit mabok itu menyerahkan roti yang dimintanya dari dapur kepada kepala jaga dan dia sendiri lalu tertidur ditempat penjagaan dengan membiarkan A-hai dan Bwee Hong menggantikannya, A-hai lalu mengajak Bwee Hong diam-diam meninggalkan tempat itu dan menyelinap pergi untuk menemui teman-temannya.
Ditempat yang sudah ditentukan, tak lama kemudian merekapun sudah berkumpul kembali dengan Kwa Eng Ki ketua Tai-bong-pai, Siok Eng dan ibunya.
Mereka bertiga tidak berhasil mencari dimana adanya tiga orang yang ditahan itu dan tentu saja mereka girang mendengar akan hasil penyelidikan A-hai.
"Mereka ditahan didalam ruangan tahanan yang menembus kedapur,"
Kata A-hai.
"Kami sudah tahu tempatnya dan kami sudah melihat mereka diruangan itu, diborgol kaki tangan mereka."
"Akan tetapi penjagaan disitu amat kuat, agaknya amat sukar kalau kita menyerbu dengan kekerasan. Sebelum kita berhasil melepaskan mereka, terdapat bahaya kalau-kalau para perajurit penjaga menyerang mereka yang diborgol,"
Sambung Bwee Hong.
"Tadipun kita beruntung karena dapat pergi bersama seorang perajurit penjaga mabok. Kalau bukan perajurit penjaga penjara itu, agaknya sukar untuk dapat masuk, dan kita tidak tahu pula siapa pemegang kunci-kunci pintu besi dan kunci-kunci borgol besi itu. Padahal, memasuki ruangan itu saja harus melalui lima pintu besi yang hanya dapat dibuka dengan kunci,"
A-hai menerangkan lebih lanjut. Ketua Tai-bong-pai mengangguk-angguk.
"Kita harus pergi kesana dan membebaskan mereka sekarang juga."
"Tapi... tapi... itu membahayakan kakakku"
Bwee Hong membantah.
"Nona, harap jangan khawatir. Percayalah kepada suamiku. Dia tidak akan bertindak sembrono dan dia pasti akan berusaha sampai berhasil."
Isteri ketua Tai-bong-pai menghibur Bwee Hong ketika melihat suaminya mengerutkan alisnya, tanda tidak senang hatinya karena dibantah.
Memang sudah menjadi watak ketua Tai-bong-pai ini yang akan merasa terhina kalau sampai tidak dipercaya orang, apa lagi kalau sampai dibantah kehendaknya dia akan marah sekali.
Andaikata bukan Bwee Hong yang membantahnya, yaitu nona keluarga penolong puterinya, tentu dia akan memberi hajaran!
Mendengar kata-kata nyonya itu, hati Bwee Hong menjadi lega.
Bagaimanapun juga, ia sudah mengenal Siok Eng dan tahu betapa lihainya temannya itu, dan kini, ayah temannya itu yang akan turun tangan membantunya membebaskan kakaknya, tentu saja ia percaya akan kesaktian kakek ketua Tai-bong-pai itu.
Dipimpin oleh kakek Kwa Eng Ki, mereka dengan hati-hati lalu bergerak menuju kebangunan depan, bersikap sebagai serombongan perajurit yang sedang meronda.
Tiba-tiba mereka melihat adanya kesibukan.
Beberapa orang perwira nampak bergegas memasaki sebuah ruangan.
Kwa Eng Ki memberi isyarat dan mereka cepat menyelinap dan melakukan pengintaian kedalam ruangan itu karena mereka dapat menduga bahwa tentu telah terjadi sesuatu yang penting.
Dan ternyata didalam mangan itu berkumpul para pimpinan pasukan yang menguasai benteng itu.
Para gubernur pelarian beserta para perwiranya sudah berkumpul.
Mereka mendengarkan pelaporan seorang perwira yang bertugas menyelidiki keadaan diluar dan wajah mereka berobah tegang ketika mendengar bahwa barisan pemberontak yang dipimpin oleh Liu Pang telah menuju ke benteng itu.
"Ah, barisan orang she Liu itu benar-benar datang!"
Kata seorang gubernur.
"Mereka agaknya tidak berhenti malam ini dan terus melakukan pengejaran, langsung menuju kesini. Kalau begitu, malam ini juga tentu mereka akan sampai disini. Kita harus cepat mengatur penjagaan yang kuat. Untung bahwa benteng ini merupakan tempat bertahan yang amat baik."
Kwa Eng Ki memberi isyarat kepada teman-temannya dan mereka menyelinap pergi menjauhi ruangan itu. Ditempat sunyi mereka berkumpul dan membuat rencana.
"Wah, kita akan terlibat dalam pertempuran lagi malam ini. Dan mereka ini pasti akan mempertahankan diri mati-matian dibenteng ini sedangkan pasukan-pasukan Liu-Bengcu juga tentu akan mengerahkan kekuatan untuk menghancurkan musuh."
"Lo-cianpwe, apa yang akan kita lakukan sekarang?"
Tanya Bwee Hong, hatinya tidak sabar dan penuh ketegangan.
Ia mengkhawatirkan terjadinya perobahan kalau sampai pasukan Liu-Bengcu menyerbu.
Kalau terjadi pertempuran yang kacau-balau, tentu keselamatan kakaknya terancam.
kakaknya harus dapat dibebaskannya sebelum terjadi pertempuran, pikirnya.
"Kalian berempat tetaplah menanti disini. Aku akan menyiapkan rencanaku. Nanti tepat tengah malam kalian harus menyerbu dan membersihkan sudut pojok tembok belakang bagian barat itu dari para penjaga. Aku telah menyelidiki bagian itu. Hanya ada belasan orang penjaga saja, tempatnya sunyi dan dibelakang tembok itu tebingnya biarpun curam akan tetapi terdapat banyak tonjolannya sehingga kita akan dapat menuruninya. Dibawah tebing terdapat sebuah sungai yang dangkal sehingga mudah bagi kita untuk menyeberanginya dan menghilangkan jejak."
"Akan tetapi... apa yang akan Lo-cianpwe lakukan? Agar kami dapat mengetahuinya sehingga hati kami menjadi tenang,"
Kata A-hai. Ketua Tai-bong-pai itu tersenyum dan wajahnya yang pucat seperti mayat itu nampak semakin menyeramkan.
"Tentang cara-caraku untuk menyelamatkan kawan-kawan kita, kalian tidak perlu turut campur. Aku yakin pasti usahaku akan berhasil. Mungkin bagi orang-orang golongan bersih seperti kalian, cara-caraku itu akan kelihatan agak mengerikan. Bagaimanapun juga, aku merasa yakin akan dapat membebaskan tiga orang tawanan itu."
Beberapa orang perajurit muncul ditempat itu dan mereka berlima menghentikan percakapan mereka. Seorang diantara perajurit-perajurit itu, yang agaknya memiliki pangkat, melihat lima orang "perajurit"
Bergerombol itu, menegur.
"Hei, apa yang kalian lakukan disini? Kita semua sedang sibuk melakukan persiapan untuk menghadapi penyerbuan musuh, kalian malah enak-enakan disini. Hayo, kembali keinduk pasukan kalian dan mempersiapkan diri!"
A-hai mendahului kawan-kawannya, mengambil sikap tegak dan menjawab.
"Siapp!!"
Lalu mereka berlima pergi meninggalkan tempat itu. Setelah memberi isyarat dengan tangannya, ketua Tai-bong-pai lalu menggerakkan tubuhnya dan lenyap ditempat gelap.
"Dimana kita harus menanti ayah? Kalau kita ikut berkumpul dan berbaris, ada bahayanya penyamaran kita akan ketahuan,"
Kata Siok Eng.
"Kita kedapur saja! Aku telah mereka kenal dan kita dapat membohong, mengatakan bahwa kita diberi tugas memperkuat penjagaan didapur,"
Kata A-hai dan mereka semua tidak mempunyai pilihan lain yang lebih baik, maka pergilah mereka kedapur.
Menjelang tengah malam yang menyeramkan dan menegangkan.
Para perajurit yang berjaga dibenteng itu merasa betapa waktu merayap amat lambatnya, semakin lama semakin menegangkan hati.
Sedikit suara saja sudah membuat mereka terperanjat dan jantung mereka berdebar-debar penuh rasa gelisah.
Mereka secara bergilir melakukan penjagaan diatas tembok benteng, disekitar pintu gerbang dan bagian-bagian yang sekiranya akan menjadi sasaran penyerbuan musuh.
Tiba-tiba, seorang perajurit yang berjaga dimenara membunyikan terompet.
Itulah tanda bahaya, tanda bahwa pihak musuh sudah nampak!
Seperti berebutan, para komandan pasukan berlari-larian keatas tembok benteng untuk menyaksikan sendiri dan mereka semua menahan napas ketika melihat cahaya terang dari kejauhan yang semakin lama semakin terang, seolah-olah matahari terbit difajar menyingsing.
Padahal, saat itu masih menjelang tengah malam!
Dan tak lama kemudian, terdengarlah derap kaki yang membuat benteng itu seperti tergetar dan nampaklah barisan obor yang memenuhi lembah dan kaki bukit yang luas itu.
Tentu saja semua perajurit yang berjaga dibenteng merasa ngeri.
Kekuatan pihak musuh itu tentu puluhan kali lebih besar dari pada kekuatan mereka sendiri.
Kini ribuan obor yang berada dilereng itu perlahan-lahan terpencar dan tersebar mengepung benteng Itu.
Bukan main banyaknya, kemudian terdengar bunyi terompet yang memecah keheningan angkasa malam.
Begitu terompet terdengar, semua obor yang bergerak naik keatas bukit itu padam!
Keadaan menjadi gelap pekat dan tidak terdengar suara sedikitpun.
Derap kaki musuhpun lenyap seolah-olah mereka itu barisan setan yang pandai menghilang.
Tentu saja keadaan ini membuat semua perajurit yang berjaga diatas tembok benteng menjadi tegang hatinya dan ketakutan.
Mereka menjadi kebingungan, tidak tahu apa yang harus dilakukan karena pimpinan merekapun tidak memberi isyarat apa-apa, agaknya sama bingungnya dengan mereka menghadapi siasat musuh yang luar biasa ini.
Bagaimana kalau musuh itu tahu-tahu muncul didepan hidung mereka?
Malam demikian gelapnya!
Untuk memasang penerangan diatas tembok benteng, sama saja dengan membuat mereka menjadi sasaran anak panah pihak musuh.
Sungguh celaka, belum apa-apa, sebelum bertempur, nyali para perajurit dibenteng itu sudah hilang separuh.
Segerombolan perajurit yang berjaga dibelakang pintu gerbang, berkelompok dan biarpun hawa malam itu tidak begitu dingin, mereka itu sering kali menggigil seperti orang kedinginan.
"Kawan-kawan,"
Kata seorang diantara mereka setelah mereka turun lagi dari atas benteng untuk melihat keadaan diluar tembok benteng.
"Mereka itu seperti setan saja! Mereka menggunakan akal busuk, membikin kita tegang dan ketakutan terlebih dahulu dengan cara memadamkan obor-obor itu. Kita menjadi seperti menanti musuh yang seperti iblis bangkit dari kuburan, menanti munculnya mereka yang siap untuk mencekik leher kita, entah dari arah mana..., huh, sungguh gila...!"
"Ahhh jangan bicara tentang iblis dan setan..., aku juga takut. Siapa tahu tiba-tiba mereka muncul disini dan... hiiiihhh... sssettt... sseeetann!"
Dan orang itupun jatuh terduduk dengan celana basah, mukanya pucat dan matanya terbelalak, telunjuknya menuding kearah depan, yaitu diarah belakang teman-temannya.
Semua orang membalikkan tubuh dan merekapun terbelalak, ada yang menahan jerit, bahkan ada yang langsung roboh pingsan.
Apakah yang mereka lihat?
Sungguh penglihatan yang mendirikan bulu roma dan amat menakutkan, apa lagi terjadi dimalam sunyi yang menegangkan itu, dimana mereka semua berada dalam keadaan dicekam ketakutan.
Siapa yang tidak akan merasa takut kalau dimalam gelap itu mereka melihat seorang perajurit berdiri, hanya tiga meter jauhnya, dengan dadanya masih ditembusi tombak?
Jelaslah bahwa orang itu tidak mungkin dapat berdiri, bahkan bergerakpun tak mungkin, karena orang yang dadanya tertembus tombak seperti itu tentu sudah mati.
Pakaiannya berlepotan darah kering, dan mukanya putih pucat, mulutnya ternganga dan matanya mendelik, juga bau bangkai busuk menyerang hidung mereka.
Yang membuat mereka semua amat ketakutan adalah ketika mereka mengenal perajurit ini sebagai seorang teman mereka yang tewas dalam pertempuran dilereng bukit melawan sisa pasukan Jenderal Lai itu.
Dan kini mayat hidup itu melangkahkan kaki, menghampiri mereka dengan gerakan meloncat-loncat kaku!
Ternyata bukan ditempat itu saja muncul mayat hidup.
Juga diatas tembok benteng, bermunculan mayat-mayat hidup, mayat para perajurit yang tewas didalam pertempuran, baik perajurit dari pasukan Jenderal Lai maupun perajurit teman-teman mereka yang berjaga dibenteng itu.
Mayat-mayat hidup berkeliaran, gentayangan dengan bau busuk dan tubuh masih berlepotan darah kering, Gegerlah tempat penjagaan.
Siapa tidak akan merasa ngeri melihat mayat-mayat itu berjalan, ada yang lengannya buntung, bahkan ada yang tanpa kepala.
Para perajurit penjaga yang panik ketakutan itu ada yang berlaku nekat, menyerang mayat-mayat hidup itu dengan golok dan pedang, juga menusuk dengan tombak.
Akan tetapi, mayat-mayat itu tidak mengenal sakit.
Biarpun tubuh mereka ditembusi senjata tajam dan leher mereka putus ditebas golok, tetap saja mereka itu tertatih-tatih berjalan, ada yang meloncat-loncat dan bau busuk amat memuakkan perut.
Banyak sekali mayat-mayat itu, seperti tiada habisnya bermunculan dari luar tembok benteng.
Tadinya para komandan jaga mengira bahwa ini tentu siasat musuh yang melakukan penyamaran, akan tetapi betapa ngeri rasa hati mereka ketika mereka merobohkan dan menangkap sebuah mayat hidup dan memeriksa, ternyata yang diperiksanya itu benar-benar mayat yang sudah hampir busuk!
Benar-benar mayat hidup yang gentayangan dan berkeliaran menyerbu benteng itu!
Bukan hanya puluhan, bahkan ratusan banyaknya.
Mayat-mayat itu terus bergerak dengan kaku menuju kepenjara!
Dapat dibayangkan betapa panik dan takutnya para perajurit yang berjaga dipenjara.
Keadaan menjadi kacau-balau.
Memang sebelumnya mereka sudah ketakutan mendengar bahwa benteng diserbu oleh ratusan mayat hidup dan kini tahu-tahu mayat-mayat itu bermunculan ditempat jaga mereka.
Tanpa banyak cakap lagi merekapun melarikan diri ketakutan, ada yang terkencing-kencing.
Sebentar saja, penjara itupun kosong ditinggalkan para penjaga.
Betapapun gagahnya, para penjaga yang hanya manusia-manusia biasa itu tentu saja tidak mempunyai nyali yang cukup besar untuk melawan pasukan mayat hidup!
Mayat-mayat itu menyusup kemana-mana.
Bahkan dapurpun mereka masuki.
A-hai, Bwee Hong, Siok Eng dan ibunya yang ikut berjaga didapur, melihat kawan-kawan mereka lari ketakutan dan merekapun bangkit dan keluar dari dalam dapur untuk menyaksikan apakah benar ada mayat-mayat mengamuk seperti yang diteriakkan orang-orang itu.
Dan baru saja mereka keluat pintu dapur, mereka berhadapan dengan beberapa sosok mayat hidup yang berjalan dengan gerakan kaku dan ada yang berloncatan.
"Heiii itu be... benar mayat-mayat hidup...!"
A-hai berseru, matanya terbelalak karena selama hidupnya belum pernah dia menyaksikan keanehan seperti itu.
"Hiiihhhh, mengerikan!"
Bwee Hong memandang pucat dan ketakutan.
Akan tetapi, Sok Eng dan ibunya nampak tenang-tenang saja, bahkan mereka berdua lalu meloncat kedepan menghadapi lima sosok mayat hidup itu dan mereka lalu merangkapkan kedua tangan didepan dada seperti orang-orang memberi hormat, mulut mereka berkemak-kemik dan mayat-mayat itupun lalu membalikkan tubuh dengan kaku, kemudian melangkah pergi meninggalkan tempat itu!
Tentu saja A-hai dan Bwee Hong memandang dengan mata terbelalak heran.
"Jangan takut,"
Kata isteri ketua Tai-bong-pai.
"Semua itu adalah perbuatan suamiku. Dia menggunakan ilmunya untuk membangkitkan mayat-mayat perajurit yang tewas dalam pertempuran, mengerahkan mayat-mayat itu untuk mengacau musuh dan kesempatan ini harus kita pergunakan untuk membebaskan tawanan, sebelum pengaruh Ilmu 'Memanggil Roh' itu habis."
Mendengar ini, Bwee Hong dan A-hai merasa girang sekali dan mereka berempat lalu cepat-cepat memasuki penjara.
Akan tetapi, baru saia mereka tiba dipintu penjara, mereka bertemu dengan Seng Kun, kakek Kam Song Ki dan Kwee Tiong Li.
Belenggu mereka telah lepas dan dikanan kiri mereka berjalan belasan sosok mayat hidup yang membebaskan mereka.
Tiga orang itu adalah orang-orang yang berilmu tinggi, akan tetapi merekapun kagum dan juga merasa ngeri menyaksikan sepak terjang para mayat hidup itu.
Akan tetapi, melihat munculnya Bwee Hong, Seng Kun terbelalak dan wajahnya memperlihatkan rasa girang dan haru, hampir tidak percaya dia bahwa dia akan dapat bertemu dengan adiknya ditempat berbahaya dan mengerikan itu.
"Hong-moi!"
"Koko!"
Keduanya berangkulan dan Bwee Hong yang masih memakai pakaian perajurit kedodoran itu menangis didada kakaknya.
A-hai memandang dengan hati terharu.
Sementara itu, kakek Kam Song Ki yang sakti itu bengong memandang kearah mayat-mayat yang berkeliaran disitu.
"Ya Tuhan! Hanya orang-orang dari Tai-bong-pai sajalah yang akan mampu bermain-main dengan mayat-mayat seperti ini! Demikian banyaknya mayat yang berkeliaran. Aku berani bertaruh bahwa yang bermain-main ini tentulah tokoh Tai-bong-pai yang berkedudukan tinggi!"
Mendengar ucapan itu, ibu Siok Eng menjura kepada kakek itu dan berkata.
"Maafkan, Lo-cianpwe. Suamikulah yang membuat onar disini karena kami ingin membebaskan Lo-cianpwe bertiga dari penjara ini."
Kam Song Ki cepat membalas penghormatan nyonya itu dan hidungnya kembang kempis. Dia dapat mencium bau harum dupa dari tubuh nyonya yang berwajah pucat ini, maka diapun tertawa gembira.
"Ha-ha-ha, ditempat seperti ini dapat bertemu dengan isteri ketua Tai-bong-pai, sungguh menggembirakan sekali! Bukankah toanio ini nyonya Kwa Eng Ki ketua Tai-bong-pai dan dia yang mempunyai ulah begini?"
"Benar, Lo-cianpwe,"
Jawab nenek itu.
"Dan menurut penuturan puteri kami, Lo-cianpwe adalah Kam Song Ki, murid bungsu dari mendiang Lo-cianpwe Bu-Eng Sin-yok-ong."
Kembali kakek itu tertawa.
"Ha-ha-ha, hanya nama kosong belaka, mana mampu menandingi ilmu mujijat dari perguruanmu ini?"
Sementara itu Siok Eng berkata.
"Sebaiknya kita menyelamatkan diri dulu melalui tebing sebelah barat seperti telah dipesan oleh ayah."
Semua orang lalu berangkat menuju ketembok benteng sebelah barat dan dengan kepandaian tinggi yang mereka miliki, tidak sukar bagi mereka untuk menuruni tebing curam itu hanya dengan bantuan obor yang mereka pegang.
Akhirnya dengan selamat mereka tiba didasar tebing dimana terdapat sebuah sungai dangkal dan merekapun menyeberangi sungai dan tiba ditepi sebelah seberang dengan selamat.
"Mari kita mencari suamiku. Dia tentu berada dibekas pertempuran itu, dimana dia mengerahkan mayat-mayat untuik menyerbu benteng,"
Kata nyonya Kwa dan dengan petunjuknya, mereka semua lalu menuju ketempat dari mana mayat-mayat hidup itu berasal.
Dan benar saja, ditempat itu, disebuah lereng yang amat sunyi, seorang kakek sedang duduk bersila menghadapi sebongkok besar dupa wangi yang mengepulkan asap tebal keudara.
Kakek ini agaknya sedang mengerahkan tenaga batinnya, duduk bersila dalam samadhi.
Seorang pria tinggi tegap nampak berdiri dibelakangnya, seperti sedang menjaganya.
Dan memang orang itu sedang menjaga keselamatan kakek yang raganya seperti sedang kosong ini, dan orang itu bukan lain adalah Liu Pang atau Liu-Bengcu, pemimpin besar barisan yang sedang bergerak menuju ke Kotaraja itu dan yang kini sedang mengepung dan hendak menyerbu benteng!
"Suamiku, bangunlah, usahamu telah berhasil,"
Kata nenek itu dengan girang.
Kwa Eng Ki menarik napas panjang beberapa kali, dari mulutnya keluar suara bisikan membaca mantera dan membuka matanya, lalu bangkit berdiri.
Kiranya ketika ketua Tai-bong-pai ini pergi ketempat mayat-mayat bergelimpangan untuk memulai usahanya membangkitkan mayat-mayat itu untuk mengatur siasatnya mengacau benteng, dia bertemu dengan Liu Pang dan anak-buahnya.
Mendengar rencana kakek itu, Liu Pang lalu memerintahkan anak-buahnya untuk membiarkan mayat-mayat itu memasuki benteng, sedangkan dia sendiri menjaga tubuh kakek Kwa kalau-kalau ada yang akan mengganggunya selagi dia menjalankan ilmunya memanggil roh dan menghidupkan orang-orang mati.
Bwee Hong, A-hai dan Siok Eng memberi hormat kepada pemimpin pemberontak itu, dan Seng Kun bersama dua orang kawannya yang baru saja dibebaskan dari penjara itupun memberi hormat, lalu menghaturkan terimakasih kepada Kwa Eng Ki.
"Ha-ha-ha, tepat dugaanku bahwa tentu tokoh besar Tai-bong-pai yang bermain-main dengan mayat-mayat itu. Kiranya malah ketuanya yang maju sendiri menolong kami. ha-ha, terimakasih, pai-cu!"
Beberapa lamanya Kwa Eng Ki menatap wajah kakek sederhana itu lalu menarik napas panjang.
"Kalau ada orang-orang mampu menawan seorang murid mendiang Bu-Eng Sin-yok-ong, dapat dibayangkan betapa lihainya orang-orang itu!"
Kakek Kam menarik napas panjang.
"Tidak aneh kalau yang menjadi lawan itu iblis macam Raja Kelelawar dan anak-buahnya yang terdiri dari datuk-datuk kaum sesat yang amat lihai."
"Ayah, inilah dia tuan penolongku yang bernama Chu Seng Kun atau Bu Seng Kun, berdua dengan enci Bwee Hong dan mendiang suami-isteri Bu Kek Siang telah menyelamatkan selembar nyawaku yang tidak berharga, bahkan dengan pengorbanan nyawa suami-isteri Bu Kek Siang."
Kakek yang berwajah mayat itu memandang kepada Seng Kun dengan sepasang mata tajam penuh selidik, kemudian diapun tidak segan-segan untuk menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat kepada Seng Kun!
Tentu saja Seng Kun menjadi kaget dan cepat-cepat diapun membalas dengan menjatuhkan diri berlutut pula.
Tiba-tiba terdengar bunyi terompet yang ditiup oleh Liu Pang.
Kiranya pemimpin besar ini sudah berdiri ditempat tinggi sambil meniup terompetnya yang menjadi tanda bagi barisannya untuk memulai dengan penyerbuan mereka!
Dan terjadilah geger dibenteng musuh.
Sebelumnya memang pasukan yang berada didalam benteng sudah kacau-balau ketakutan oleh sepak terjang para mayat hidup.
Baru saja mereka dikejutkan dan dibikin ngeri lagi ketika mayat-mayat hidup itu secara tiba-tiba saja, seperti kemunculan mereka tadi, berjatuhan dan mati kembali, seolah-olah tenaga penggerak mereka dicabut serentak dan mereka itu terpelanting semua tanpa nyawa lagi.
Bukan hanya para perajurit yang menjadi panik.
Bahkan para pimpinannya termasuk Kwa Sun Tek yang amat diandalkan oleh para pembesar itu menjadi ketakutan.
Tentu saja pemuda ini mengenal ilmu yang menggerakkan mayat-mayat itu dan tahulah dia bahwa ayah dan ibunya juga datang ke benteng itu dan menjadi musuh!
Tahulah dia bahwa dia tidak mempunyai harapan lagi untuk melaksanakan cita-citanya memperoleh kedudukan tinggi karena pihak yang dibelanya itu agaknya telah mendekati jurang kehancuran dan kegagalan.
Maka diapun diam-diam berusaha meloloskan diri bersama anak-buahnya.
Pada saat mereka diliputi kekhawatiran, tiba-tiba saja, dalam keadaan gelap gulita itu, pintu gerbang benteng didobrak dari depan.
Terjadilah pertempuran hiruk-pikuk dan kacau-balau.
Pasukan Liu Pang yang menyerbu mengenakan tanda ikat pinggang putih dipinggang mereka sehingga mereka dapat bergerak dengan leluasa, dapat membedakan mana kawan mana lawan.
Sebaliknya, pasukan yang mempertahankan benteng yang sudah dicekam ketakutan dan dalam keadaan gugup tidak dapat membedakan lawan dan kawan, dihantam dan didesak, sebentar saja banyak anggauta pasukan mereka yang roboh dan benteng itupun jatuh.
Semua perajurit pasukan asing dihancurkan dan terbunuh, karena semua perajurit Liu Pang menerima pesan khusus bahwa mereka harus membunuh semua perajurit asing dan boleh mengampuni dan menerima kalau ada perajurit para gubernur yang menakluk dan menyerahkan diri.
Belum sampai pagi, pertempuran berhenti dan benteng itupun jatuh ketangan pasukan pemberontak.
(Lanjut ke
Jilid 29) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono
Jilid 29 Beberapa orang gubernur yang ketakutan membunuh diri, ada pula yang ikut melawan dan tewas.
Akan tetapi ada pula yang menakluk dan mereka ini bersama keluarga mereka diterima oleh para pimpinan pemberontak.
Juga para perajurit yang menakluk diterima untuk dibentuk menjadi pasukan khusus yang masih berada dibawah pengawasan.
Semua perajurit kini bertugas membersihkan benteng itu, menyingkirkan mayat-mayat dan merawat mereka yang terluka.
Para tawanan yang tadinya ditahan dipenjara itu dibebaskan.
Pada keesokan harinya, semua mayat dikuburkan dengan rapi dan sederhana, dan pada malam harinya, Liu Pang mengadakan pesta sederhana, sekedar untuk menghibur hati para anggauta pasukan, merayakan kemenangan itu.
Pada waktu itu, Liu Pang dan barisannya telah menguasai hampir seluruh bagian negara.
Bengcu atau pemimpin pemberontak itu kini tidak dianggap sebagai Bengcu lagi, melainkan sebagai seorang Raja baru!
Hal ini tidak mengherankan.
Perjuangannya berhasil dengan baiknya.
Banyak kota jatuh ketangannya dan pasukannya menjadi semakin besar dan kedudukannya menjadi semakin kuat.
Kini, Kotaraja sudah berada didepan mata.
Liu Pang ingin membiarkan pasukannya memperoleh istirahat secukupnya untuk menyusun kekuatan sebaik-baiknya agar pasukan dalam keadaan segar ketika ia menggerakkannya untuk tujuan terakhir, yaitu menghantam Kotaraja, mendudukinya dan merampas singgasana Kaisar.
Sambil makan-minum berpesta sekedarnya untuk merayakan kemenangan, Liu Pang duduk diatas kursi kepemimpinan, dikelilingi para perwira dan pembantunya yang kini telah mulai mengenakan pakaian seragam sesuai dengan pangkat yang diberikan oleh pemimpin itu kepada mereka.
Diantara para perwira ini terdapat pula Yap Kim yang tampan dan gagah.
Sambil bercakap-cakap membicarakan semua pengalaman pertempuran mereka, semua orang nampak bergembira.
A-hai dan teman-temannya juga ikut berpesta, berkumpul dengan perwira-perwira muda.
Karena A-hai, Seng Kun, Bwee Hong, Tiong Li, kakek Kam Song Ki dan suami-isteri Kwa merupakan tamu-tamu kehormatan, mereka mendapatkan sebuah meja kehormatan yang ditempatkan tak jauh dari tempat duduk Liu Pang dan para perwiranya.
Sejak tadi, A-hai celingukan memandang kekanan kiri dan akhirnya dia berbisik kepada Bwee Hong yang duduk disebelah kirinya.
"Sejak pagi tadi aku mencari-cari nona Ho Pek Lian, akan tetapi ia tidak kelihatan. Mengapa ia tidak menemui kita dan kemanakah perginya? Bukankah ia merupakan seorang tokoh penting dalam barisan ini, bahkan menjadi murid paling dipercaya dari Liu-Bengcu?"
"Ah, engkau benar! Aku sampai lupa saking gembiraku melihat Kun-koko dalam keadaan selamat."
"Biar kutanyakan kepada Liu-Bengcu"
Kata A-hai, akan tetapi seorang perwira muda yang duduk tidak berjauhan dengan mereka dan mendengar percakapan itu segera menoleh.
Perwira muda ini dahulunya adalah seorang pendekar ternama didaerah pantai timur.
Ketika dia menoleh dan melihat wajah Bwee Hong, dia seperti silau oleh kecantikan nona itu.
Dengan sikap hormat diapun lalu berkata, ditujukan kepada A-hai karena dia kurang patut kalau bicara kepada seorang gadis yang belum dikenalnya.
"Agaknya jiwa (anda berdua) adalah sahabat baik dari Ho-siocia. Memang saat ini ia tidak berada didalam-barisan ini. Ia mendapat tugas dari Liu-Bengcu untuk melakukan penyelidikan ke Kotaraja, ditemani oleh Yap-taihiap. Kita harus mengetahui dengan baik keadaan di Kotaraja sebelum melakukan penyerbuan, dan karena itulah benteng ini kita kuasai secepatnya agar kita dapat beristirahat dan mengumpulkan kekuatan. Kalau tidak ada halangan, menurut perhitungan, hari ini juga Ho-siocia akan kembali dari Kotaraja."
"Terimakasih, ciangkun,"
Kata A-hai girang.
"Memang kami bersahabat baik dengan nona Ho. Kotaraja sudah dekat, hanya tiga empat jam perjalanan dari sini. Tentu ia akan kembali nanti. Kami akan menanti sampai ia pulang."
Bwee Hong menarik napas panjang, hatinya terasa sedih. Bagaimanapun juga, sedikit banyak ada hubungan darah antara ia dan keluarga Kaisar.
"Aahh, agaknya Kotaraja sudah benar-benar akan runtuh!"
Perwira muda itu menggeleng kepala.
Dia tidak perlu merahasiakan kepada tamu-tamu pemimpinnya ini, karena diapun sudah mendengar bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan kakek dan nenek yang bermuka seperti mayat itu sudah berjasa besar dalam penyerbuan ke benteng malam tadi.
"Saya kira tidaklah begitu mudah, nona. Selain di Kotaraja masih ada Beng-tai-ciangkun yang pandai, juga kami masih mempunyai musuh besar, yaitu barisan yang dipimpin oleh pemberontak Chu Siang Yu yang kabarnya juga sudah menguasai hampir seluruh daerah utara dan barat."
A-hai dan teman-temannya tidak melanjutkan percakapan mengenai perang karena sesungguhnya mereka tidak ingin terlibat.
Kalau sampai selama ini mereka kadang-kadang terlibat adalah karena kebetulan saja dan bukan karena mereka memang ingin membantu suatu pihak tertentu.
Seng Kun dan Bwee Hong memang pernah dekat dengan Kaisar yang telah meninggal dunia, akan tetapi pendekatan itupun hanya karena mereka bertemu dengan ayah kandung mereka yang menjadi orang penting di Istana saja, dan Seng Kun juga tidak terjun kedalam pertempuran, melainkan hanya bertugas menyelidiki hilangnya mendiang Menteri Ho Ki Liong, ayah Pek Lian.
Didalam hatinya, pendekar inipun tidak suka akan peperangan, apa lagi perang antara bangsa sendiri yang merupakan perang saudara yang amat kejam.
Tak lama kemudian terdengar orang-orang bersorak diluar benteng.
Seorang pengawal melaporkan kepada Liu Pang dengan suara nyaring dan gembira bahwa rombongan Ho-siocia telah tiba kembali.
Nampaklah Ho Pek Lian menunggang kuda, diiringkan oleh seorang pemuda yang berpakaian putih-putih dan nampak gagah perkasa penuh wibawa.
Pemuda ini bukan lain adalah Yap Kiong Lee yang amat dihormati oleh para perajurit karena pemuda ini memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat dan walaupun Kiong Lee juga tidak mau terlibat secara resmi dalam barisan itu, namun dia terpaksa membantu karena sutenya menjadi orang penting disitu.
Dibelakang kedua orang ini nampak perajurit-perajurit yang menyambut dan mengelu-elukan mereka dengan gembira.
Kedua orang muda itu memang amat populer dikalangan mereka dan mereka amat menyayangi mereka berdua yang sudah banyak berjasa namun selalu bersikap ramah dan rendah hati.
Dapat dibayangkan betapa gembiranya hati Pek Lian bertemu dengan kawan-kawannya ditempat itu.
Pertemuan yang tak disangka-sangkanya.
Apa lagi mendengar bahwa Seng Kun telah dapat ditemukan dalam keadaan selamat.
Ia merangkul dan mencium pipi Bwee Hong dan Siok Eng, memberi hormat kepada suami-isteri Tai-bong-pai, bergembira menyambut penghormatan Seng Kun dan Tiong Li yang sudah dikenalnya sejak dahulu, dan disambutnya uluran tangan A-hai dengan hangat.
Bagaimanapun juga, pemuda ini masih meninggalkan guratan istimewa didalam hati pendekar wanita muda ini.
Kemudian, setelah meluapkan kegembiraannya didepan teman-teman lamanya, Pek Lian lalu melapor kepada pemimpin dan gurunya, dengan suara nyaring menceritakan hasil penyelidikannya sehingga dapat didengar oleh semua anggauta pimpinan pasukan yang berkumpul disitu.
"Saya dan Yap-taihiap sudah berhasil menyelundup ke Kotaraja. Wah, kami menemui keadaan yang kacau-balau didalam Kotaraja. Penduduk kota sudah banyak yang lari mengungsi keluar kota, akan tetapi mereka itu tidak dapat membawa secuilpun harta kekayaan mereka karena dihalangi oleh para penjaga. Bagaimana Kotaraja tidak akan menjadi kacau-balau? Penjahat-penjahat besar, pencoleng, perampok dan maling-maling berkumpul disana. Datuk-datuk seperti Sanhek-houw, Sin-go Mo Kai Ci, Pekpi Siauw-kwi Si Maling Cantik, Jai-hwa Toat-beng-kwi Si penjahat Cabul, dan orang-orang sebangsa itu yang jahat dan kejam, yang menjadi anak-buah Raja Kelelawar, semua berkumpul disana dan mereka malah diberi kedudukan! Orang-orang macam itu diberi kedudukan dan kekuasaan! Bagaimana tidak akan kacau? Seolah-olah harimau ganas diberi tambahan sayap saja. Dan yang paling gila lagi, kini Kaisar baru mengangkat Raja Kelelawar menjadi Panglima Besar Kerajaan, menggantikan kedudukan Beng-goanswe!"
Semua orang terkejut, dan Liu Pang mengerutkan alisnya.
"Ah..., dia malah diangkat menjadi panglima besar? Lalu dimana adanya Jenderal Beng Tian?"
"Sisa pasukan kerajaan dibawah pimpinan Jenderal Beng Tian telah dipukul mundur dan porak peranda oleh pasukan Chu Siang Yu kemarin dulu. Jenderal Beng pulang kekota untuk melapor ke Istana. Akan tetapi dia malah ditangkap dan dianggap bersalah karena kekalahan itu, dan kabarnya besok dia akan dihukum mati!"
"Kaisar gila!!"
Liu Pang bangkit berdiri dan mengepal tinju.
Pemimpin ini mengenal betul orang macam apa adanya Jenderal Beng Tian.
seorang panglima besar, seorang perajurit sejati yang amat setia dan pandai.
Kekalahan yang dideritanya itu bukan kesalahannya, melainkan karena kelemahannya kerajaan.
Jenderal itu sudah berusaha mati-matian untuk menghalau semua musuh negara.
Akan tetapi dia bekerja sendiri, sama sekali tidak memperoleh dukungan dari pusat, bahkan tidak didukung rakyat yang sudah marah terhadap kelaliman Kaisar dan para pengikutnya.
Akhirnya Liu Pang teringat akan keadaannya dan dia duduk kembali, memandang muridnya dan berkata.
"Lalu bagaimana?"
Pek Lian menarik napas panjang.
"Pagi tadi pasukan Chu Siang Yu sudah mengepung Kotaraja. Kami melihat pasukannya yang amat besar dan kuat, bercampur dengan pasukan asing diluar tembok besar. Kami bergegas kembali kesini sesuai dengan rencana sehingga kami tidak tahu apa yang terjadi sekarang di Kotaraja."
Liu Pang mengerutkan alisnya.
"Benarkah semua keterangan itu, Yap-taihiap?"
Tanyanya kepada Kiong Lee. Kiong Lee mengangguk.
"Benar semua, dan saya kira saat ini tentu sedang terjadi pertempuran dibenteng Kotaraja."
Liu Pang menundukkan kepalanya.
"Ahh, kita telah didahului oleh Chu Siang Yu. Tak kusangka dia akan lebih dulu sampai di Kotaraja dari pada kita. Hemm, kita harus bergerak, tidak boleh membiarkan dia mendahului kita."
Selagi Liu Pang dan para pembantunya berbincang-bincang dengan sikap dan suara serius, diam-diam A-hai meninggalkan ruangan itu.
Munculnya Pek Lian mendatangkan perasaan tidak karuan didalam hatinya.
Teringat dia akan masa lalunya ketika dia masih berada dalam keadaan hilang ingatan.
Mula-mula nona Ho Pek Lian itulah yang menggugah perasaannya.
Harus diakuinya bahwa dalam keadaan hilang ingatan, dia pernah bergantung secara batiniah kepada Ho Pek Lian dan dalam pertemuan tadi, dia masih dapat menangkap sinar mata nona Ho itu kepadanya.
Sinar mata yang mengandung rasa kasih sayang!
Tak salah lagi, Pek Lian pernah jatuh cinta kepadanya.
Setelah Pek Lian, lalu muncul Bwee Hong dalam hidupnya.
Diapun dalam keadaan hilang ingatan pernah bergantung secara batiniah kepada Bwee Hong, apa lagi karena wajah Bwee Hong serupa benar dengan wajah isterinya!
Kini, setelah dia mulai memperoleh kembali ingatannya, tentu saja dia harus menjauhkan perasaannya terhadap dua orang dara itu.
Dia sudah mempunyai isteri, bahkan sudah mempunyai seorang anak.
Kenyataan ini membuat A-hai merasa berdosa, walaupun tidak sengaja dia menggoda hati dua orang dara perkasa yang cantik jelita dan berbudi mulia itu.
Betapa baiknya kedua orang dara itu terhadap dirinya!
Dan dia hanya dapat membalas mereka dengan melukai hati mereka, pikirnya.
Hal inilah yang membuat A-hai tidak betah tinggal lebih lama didalam ruangan itu dan diapun keluar berjalan-jalan.
Malam itu amat cerah.
Bulan sepotong naik tinggi dan A-hai sengaja mencari tempat yang sepi disudut benteng itu.
Yang menjaga benteng hanyalah para petugas jaga diatas benteng dan semua perajurit lainnya menikmati istirahat setelah merayakan kemenangan mereka.
Selagi A-hai berdiri termenung dibawah pohon yang membentuk bayangan gelap, tiba-tiba dia melihat berkelebatnya dua bayangan orang.
Dua orang itu berhenti tidak jauh dari pohon itu dan heranlah dia ketika melihat bahwa mereka itu berpakaian tosu.
Teringat dia bahwa memang ada dua orang tosu yang membantu perjuangan barisan Liu Pang dan kabarnya dua orang tosu itu lihai ilmu kepandaiannya.
Agaknya dua orang tosu inilah orangnya, pikir A-hai.
Akan tetapi, dari dalam gelap bermunculan beberapa orang berpakaian perajurit dan mereka bercakap-cakap dengan dua orang tosu itu dengan bahasa daerah utara!
A-hai mendengarkan dan ternyata dia mampu menangkap dan mengerti bahasa itu!
Dia sendiri merasa heran dan tidak ingat bahwa dia mengerti bahasa daerah utara, maka dengan gembira dia lalu mengintai dan mendengarkan.
"Sudah tiba saatnya bagi kita untuk bergerak,"
Terdengar seorang diantara dua tosu itu berkata. Tosu ini membawa sebatang tongkat, rambutnya digelung keatas dan memakai jubah kotak-kotak, sikapnya berwibawa.
"Nanti tengah malam, kalian kumpulkan semua teman ditempat ini dan kami berdua akan keluar dari benteng dan langsung melapor akan keadaan barisan Liu Pang kepada Chu-taijin."
Ucapan ini saja cukup bagi A-hai.
Kiranya mereka adalah mata-mata musuh, anak-buah pemberontak Chu Siang Yu, karena yang disebut Chu-taijin tadi tentulah Chu Siang Yu.
Dan pemberontak Chu Siang Yu merupakan musuh dan saingan Liu Pang.
Kiranya mereka itu memang sengaja menyelundup kedalam barisan ini untuk mengamati gerak-geriknya dan kemudian memberi pelaporan kepada Chu Siang Yu sehingga tentu akan memudahkan fihak musuh untuk mengatur perangkap!
Dengan hati-hati, menggunakan ilmu kepandaiannya yang tinggi, A-hai menyelinap pergi dan langsung dia memasuki ruangan dimana Liu Pang masih berbincang-bincang dengan para pembantunya.
Seperti tidak disengaja, A-hai yang merupakan seorang diantara para tamu terhormat, mengambil tempat duduk agak dekat dibelakang Liu Pang.
Kemudian, setelah dia mengingat kembali ilmunya, bibirnya bergerak-gerak perlahan dan terkejutlah Liu Pang ketika dengan jelas sekali dia mendengar suara A-hai disamping telinganya!
"Dua orang tosu pembantu ternyata adalah dua orang mata-mata anak-buah Chu Siang Yu yang menyelundup.
Tengah malam ini mereka akan mengadakan gerakan, harap Liu-Bengcu waspada dan siap siaga."
Tentu saja Liu Pang terkejut bukan main mendengar suara A-hai ini.
Dia maklum bahwa A-hai yang aneh itu memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat, dan tidak mengherankan kalau A-hai pandai mengirim suara dari jauh seperti itu.
Yang mengejutkan hatinya adalah berita itu sendiri.
Maka dia lalu mengusap mukanya yang sama sekali tidak memperlihatkan kekejutan hatinya dan mengatakan kepada semua pembantunya bahwa dia merasa lelah dan ingin beristirahat dulu.
"Kita harus beristirahat dan besok pagi-pagi aku akan mengadakan rapat lagi,"
Katanya. Rapat itu bubaran dan Liu Pang berkata kepada A-hai.
"Saudara A-hai, aku ingin sekali mendengar ceritamu."
Ketika mendengar penuturan A-hai tentang dua orang tosu yang ternyata mata-mata musuh yang menyelundup itu.
"Biarlah saya menangkap dan menghajar mereka!"
Katanya. Liu Pang tersenyum.
"Aku sendiri ingin menghadapi mereka. Engkau siapkan saja pasukanmu untuk menangkap anak-buah mereka."
Pemimpin besar ini lalu mengatur siasat bersama Yap Kim dan A-hai untuk menghadapi dua orang mata-mata dan anak-buah mereka yang akan beraksi menjelang tengah malam nanti.
Menjelang tengah malam itu keadaan semakin sunyi didalam benteng.
Para perajurit yang tidak sedang tugas jaga sudah tidur mendengkur melepaskan lelah setelah pertempuran.
Juga para perwira yang memperoleh kesempatan tidur itu memuaskan badan yang sudah kelelahan.
Suasana amat sunyi.
Tidak ada seorangpun yang tahu betapa dalam keadaan yang amat sunyi itu, pemimpin besar mereka sendiri sedang sibuk mengatur para pembantunya mengepung tempat yang akan dijadikan pertemuan para mata-mata itu!
Untuk memudahkan gerakannya, Liu Pang menanggalkan pakaian kebesarannya dan hanya memakai pakaian biasa, pakaian petani seperti ketika dia masih memimpin barisannya melintasi gunung-gunung selama ini.
Hanya sebatang pedang tergantung dipinggang sehingga dia lebih mirip seorang pendekar dari pada seorang pemimpin dan calon Kaisar!
Tiba-tiba terdengar suara suitan-suitan lirih dan mulailah bermunculan beberapa orang.
Ada dua orang berpakaian perwira, belasan orang berpakaian perajurit dan dua orang tosu itu.
Hanya kini para perajurit itu mengenakan topi khas, topi ciri bahwa mereka itu adalah perajurit-perajurit asing dari utara!
Kiranya mereka adalah pasukan istimewa dari barisan asing yang bersekutu dengan Chu Siang Yu dan yang dikirim untuk menyelundup kedalam barisan Liu Pang dan selain memata-matai juga mengatur siasat.
Liu Pang sendiri, diikuti Yap Kim, menggunakan kepandaiannya untuk menyusup dekat sehingga mereka berdua selain mampu melihat gerak-gerik mereka, juga dapat mendengarkan percakapan mereka dengan jelas.
Sedangkan anak-buah Yap Kim tetap berjaga ditempat pengepungan, siap menanti komando.
"Petugas pembakaran!"
Tiba-tiba seorang diantara dua tosu itu berkata lirih namun tegas.
"Siap!"
Tujuh orang perajurit maju.
"Kalian sudah tahu benar akan tugas kalian?"
Tanya si tosu yang menjadi pimpinan.
"Kami akan berpencar, mempergunakan minyak yang sudah tersedia membakar gudang-gudang makanan dan perlengkapan,"
Jawab seorang diantara mereka.
"Bagus! Petugas racun!"
"Siap!"
Dua orang perajurit maju.
"Bagaimana tugas kalian?"
"Kami sudah mempersiapkan empat guci air beracun untuk dituang kedalam sumber dan simpanan air minum, juga kedalam guci-guci arak, akan dilakukan pada saat pembakaran terjadi."
"Baik sekali. Kini regu panah!"
"Siap!"
Lima orang perajurit yang membawa busur maju.
"Selagi terjadi kebakaran dan keributan, kami akan berbaris pendam menanti orang she Liu keluar untuk kami serang dengan anak panah dari tempat gelap. Mudah-mudahan usaha kami berhasil!"
"Ya, mudah-mudahan semua kita berhasil. Ingat, kalau semua rencana ini berhasil baik, kalian akan menerima hadiah yang amat besar dan pangkat yang tinggi. Sesudah melaksanakan tugas masing-masing, kalian sudah tahu harus berkumpul diluar benteng, kami akan mendahului kalian untuk memberi pelaporan tentang kedudukan musuh kepada induk barisan yang berada dekat Kotaraja."
"Baik!"
Akan tetapi, sebelum mereka sempat bergerak, Liu Pang sudah melompat kedepan dengan pedang terhunus, lalu menudingkan telunjuknya kepada tosu pemimpin mata-mata itu.
"'Bagus, kalian berdua telah membuat dua macam dosa tak berampun. Pertama, kalian memalsukan pendeta-pendeta dan kedua, kalian menjadi pengkhianat-pengkhianat dan mata-mata busuk!"
"Serbu!"
Tosu itu yang menjadi terkejut sekali berteriak.
Anak-buahnya bergerak, akan tetapi pada saat itu, Yap Kim dan kawan-kawannya bermunculan!
Liu Pang sendiri segera menerjang tosu pemimpin dengan pedangnya setelah merobohkan seorang perajurit mata-mata yang membawa sebuah bendera asing, agaknya untuk memberi semangat kawan-kawannya.
"Tranggg!"
Tosu itu menangkis dengan tongkat ditangan kirinya, dan dengan dahsyat tangan kanannya menghantam dengan jari-jari terbuka dan dimiringkan.
"Dukkk!"
Liu Pang menangkis dengan tangan kiri, dan pedangnya membabat lagi dengan gerakan yang amat cepat.
Segera terjadi perkelahian yang amat seru diantara mereka berdua.
Sementara itu, anak-buah mata-mata yang hendak mengamuk, ternyata menghadapi kepungan pasukan yang jauh lebih besar jumlahnya.
Apa lagi disitu terdapat Yap Kim yang dibantu oleh perwira-perwira yang lihai ilmu silatnya sehingga sebentar saja, semua mata-mata roboh dan tewas kecuali dua orang tosu yang dihadapi oleh Liu Pang dan Yap Kim sendiri!
Dua orang tosu itu terdesak hebat dan sudah luka-luka.
Akan tetapi agaknya mereka tidak mau menyerah karena maklum bahwa bagaimanapun juga, mereka tidak mungkin dapat diampuni.
Dari pada tertawan dalam keadaan hidup dan disiksa untuk mengaku, lebih baik melawan sampai mati, demikian pikir mereka.
Dan memang Liu Pang dan Yap Kim tidak ingin membunuh mereka, hendak menangkap hidup-hidup agar dapat mengorek keterangan dari mulut mereka.
Maka, Liu Pang dan Yap Kim berusaha sedapat mungkin untuk merobohkan lawan tanpa membunuh mereka.
Akhirnya, pedang Liu Pang berhasil membacok kaki kanan lawannya sehingga orang itu terpelanting roboh dan pada saat yang hampir berbareng, Yap Kim juga sudah merobohkan lawannya dengan tendangan.
Akan tetapi, begitu roboh, dua orang tosu itu menggerakkan tongkat mereka sendiri.
Liu Pang dan pembantunya hendak mencegah namun terlambat karena dua orang tosu itu telah tewas dengan kepala pecah oleh hantaman tongkat sendiri.
Mereka membunuh diri agar jangan tertawan musuh!
Liu Pang memandang mayat-mayat yang bergelimpangan itu dan menarik napas panjang.
"Pantas Chu Siang Yu mampu mendahului kita ke Kotaraja. Kiranya dia dibantu oleh orang-orang pandai dan gagah seperti mereka ini!!"
Karena penundaan rapat tadipun hanya dilakukan untuk menghadapi mata-mata ini, maka Liu Pang lalu memerintahkan agar semua pembantunya dipanggil, yang tidur digugah, untuk melanjutkan rapat mereka!
Rapat dilanjutkan lewat tengah malam dengan penuh kesungguhan hati, karena semangat mereka bangkit oleh adanya peristiwa tadi.
"Bagaimana kalau kita terus saja menyerbu Kotaraja pada besok pagi-pagi?"
Yap Kim mengajukan usulnya. Setelah membantu perjuangan Liu Pang, kini Yap Kim mencurahkan seluruh perhatiannya terhadap perjuangan itu dan dia merupakan orang terpenting didalam barisan Liu Pang.
"Saya kira tidak tepat waktunya,"
Kata seorang perwira yang berpengalaman karena dia merupakan bekas perwira kerajaan yang sudah menakluk.
"Pada saat ini, terdapat dua kekuatan besar, yaitu barisan kerajaan yang sedang bertempur melawan barisan Chu Siang Yu. Kalau saat ini kita menyerbu, bukan tidak mungkin mereka berdua itu berhenti perang dan keduanya malah menggencet kita. Kalau sudah demikian, alangkah berbahayanya."
"Akan tetapi, kalau kita diamkan saja, barisan Chu itu akan mendahului kita merebut Kotaraja... Dan kita ketinggalan"
Yap Kim membantah.
Ucapan Yap Kim itu membuat semua orang mengerutkan alis dan hati mereka menjadi gelisah.
Kalau kedahuluan musuh, berarti akan sia-sia gerakan mereka selama ini yang sudah mengorbankan banyak tenaga dan nyawa.
"Pasukan kita selama tiga hari tidak pernah beristirahat. Kalau sekarang diharuskan bertempur lagi, hal itu sungguh berbahaya dan terlalu memeras tenaga, apa lagi kalau diingat betapa kuatnya fihak musuh"
Kata seorang pembantu lain.
Banyaklah diantara mereka yang mengemukakan pendapatnya dan selama itu Liu Pang hanya mendengarkan tanpa membantah.
Dia mendengarkan dan mempertimbangkan semua usul dan pendapat.
Setelah semua orang mengajukan usulnya dan agaknya menemui jalan buntu, akhirnya Liu Pang bangkit berdiri.
"Saudara sekalian. Sesungguhnya, memang saat inilah yang paling tepat untuk menyerbu Kotaraja, selagi dua kekuatan itu saling bertempur. Akan tetapi mengingat keadaan kita yang sudah lelah, besar bahayanya kalau kita menyerbu sekarang. Oleh karena itu, sebaiknya kita. membiarkan mereka saling gempur sehingga kedudukan mereka kedua pihak itu menjadi semakin lemah. Sementara itu, kita menyusun kekuatan dan beristirahat. Nah, setelah satu diantara mereka kalah, kita menyerbu dengan keadaan segar bugar!"
"Akan tetapi, bagaimana kalau barisan Chu Siang Yu sudah lebih dahulu merebut Kotaraja sehingga keadaan mereka lebih baik, memiliki perlengkapan yang lebih kuat, dan posisi mereka menjadi semakin baik? Kita akan ketinggalan dan lebih sukar menyerang mereka yang sudah bertahan dibenteng Kotaraja."
"Saya kira hal itu tidak perlu dikhawatirkan,"
Tiba-tiba Yap Kiong Lee ikut bicara.
"Bagaimanapun juga, kalau mereka sudah berhasil memasuki Kotaraja, tentu korban diantara mereka amat besar dan jumlah mereka menjadi kecil dan lemah. Selain itu, rnerekapun tentu dalam keadaan lemah, semangat tempur mereka menurun, apa lagi mereka tentu masih mabok kemenangan."
"Bagus sekali! Pendapat Yap-taihiap tepat!"
Kata Liu Pang.
Lalu diambil keputusan untuk membiarkan pasukan mereka beristirahat, akan tetapi mereka harus dapat mengikuti perkembangan dan terutama sekali dapat mengetahui besarnya kekuatan musuh.
Untuk itu, mereka lalu mencari orang-orang yang dapat ditunjuk sebagai penyelidik.
Memang banyak terdapat orang-orang lihai diantara mereka, akan tetapi tidak mudah untuk menunjuk siapa orangnya yang patut melakukan tugas berbahaya itu.
Liu Pang sendiri dalam waktu itu tidak mungkin meninggalkan pasukannya.
Kehadirannya amat diperlukan karena segala macam keputusan yang diambil pada saat itu dapat menjadi kunci sukses atau gagalnya gerakan mereka.
Yap Kim harus membantunya, dan Ho Pek Lian bersama Yap Kiong Lee baru saja pulang.
Ketua Tai-bong-pai dan anak isterinya tak mungkin mau menjadi penyelidik karena mereka adalah orang-orang "bebas"
Yang tidak mau melibatkan diri dengan perang.
Demikian pula kakek Kam Song Ki dan muridnya, Kwee Tiong Li, walaupun pemuda ini sebelum menjadi murid kakek Kam juga seorang ketua lembah pemimpin para pemberontak yang menjadi anak-buah Chu Siang Yu akan tetapi semenjak menjadi murid kakek sakti itu juga menjadi orang "bebas."
Masih ada orang-orang lihai lainnya seperti Seng Kun, Bwee Hong dan juga A-hai yang kadang-kadang masih meragukan kesehatan ingatannya.
Akhirnya, tidak ada orang lain lagi yang lebih tepat, kakak-beradik Seng Kun dan Bwee Hong dipilih!
Usulnya datang dari Pek Lian yang langsung disetujui oleh Liu Pang dan semua orang yang sudah mengenal baik kakak-beradik ini, mengenal kelihaian mereka dan juga mengenal watak mereka sebagai orang-orang gagah perkasa.
Hanya satu hal yang meragukan, yaitu bahwa Seng Kun dan Bwee Hong juga tidak mau telibat dalam perang.
Apa lagi mereka itu masih merupakan keluarga Kaisar, walaupun agak jauh, dan Seng Kun bahkan pernah menjadi utusan Kaisar tua yang sudah meninggal.
Melihat semua orang memilih dia dan adiknya, Seng Kun menarik napas panjang.
"Seperti saudara sekalian telah mengetahui, aku dan adikku tidak suka terlibat dalam perang, oleh karena itu sesungguhnya tidak tepatlah kalau anda sekalian memilih kami. Akan tetapi, kami telah lama mengenal barisan para pendekar ini dan tahu bahwa cita-cita kalian mulia. Selain itu, kami berduapun mempunyai kepentingan di Kotaraja. Kami ingin mencari ayah kandung kami, maka biarlah dengan senang hati kami menerima tugas untuk melakukan penyelidikan itu."
Semua orang bersorak mendengar ucapan Seng Kun itu dan setelah sorakan itu mereda, terdengar A-hai berkata.
"Akupun akan menemani kalian berdua!"
Seng Kun dan Bwee Hong saling pandang, dan khawatir kalau-kalau kakak-beradik itu menolak, A-hai berkata cepat.
"Tanpa kalian berdua, bagaimana aku akan dapat sembuh?"
Sesungguhnyalah, pemuda sinting ini memang masih amat memerlukan pengobatan mereka dan kesembuhannya belum sempurna.
Maka, keduanyapun tidak dapat menolak.
Selain itu, dengan ilmu kepandaiannya yang amat luar biasa, A-hai dapat menjadi seorang pelindung yang amat baik dan boleh diandalkan.
Persiapan diadakan dan malam itu A-hai mendapat perawatan tusukan jarum dari Seng Kun dan Bwee Hong.
Pada keesokan harinya, sebelum fajar menyingsing, tiga orang muda itupun berangkatlah meninggalkan perkemahan mereka.
Mereka memotong jalan, melalui sawah ladang dan kebun-kebun para penduduk dusun.
Dimana-mana mereka bertemu dengan orang-orang yang pergi mengungsi menjauhi tempat pertempuran.
Semua orang yang sedang bergegas mengungsikan keluarga dan harta milik mereka itu memandang dengan terheran-heran kepada tiga orang muda ini.
Semua orang berbondong-bondong dan tergesa-gesa pergi menjauhi Kotaraja, akan tetapi tiga orang muda ini malah menuju kesana!
Karena para pengungsi itu rata-rata tergesa-gesa ketakutan, tidak mudah bagi Seng Kun bertiga untuk mencari keterangan tentang keadaan di Kotaraja.
Baru setelah mereka bertemu dengan serombongan pedagang yang juga melarikan diri dan mereka mengaso diluar hutan saking lelahnya, Seng Kun memperoleh kesempatan bercakap-cakap dengan seorang diantara mereka, seorang laki-laki setengah tua yang nampak gelisah.
"Kalian bertiga hendak mencari keluarga di Kotaraja? Aih, orang-orang muda, kalau boleh kunasihati kalian, jangan mendekati Kotaraja. Tempat itu telah menjadi seperti neraka!"
Kata seorang diantara mereka.
"Seperti neraka? Apa maksudmu?"
Seng Kun bertanya.
"Memang ada perang, akan tetapi yang perang adalah pasukan dan kita tidak ikut-ikut dengan mereka!"
"Ahhh, enak saja engkau bicara karena belum melihat sendiri. Disekitar Kotaraja terjadi pertempuran yang amat hebat dan mengerikan. Ribuan, bahkan laksaan tentara bertempur disana dan pasukan pemberontak amat banyak dan pasukan kerajaan... hiiihh, amat mengerikan."
"Kenapa?"
"Mereka itu kejam sekali, seperti bukan manusia lagi, seperti iblis! Mereka itu lebih patut menjadi penjahat-penjahat keji, mereka suka makan daging dan minum darah! Apa lagi para komandan mereka, seperti bukan manusia lagi, seperti binatang... tidak, bahkan lebih pantas seperti iblis mereka itu. Mereka membunuh tidak memandang bulu, bukan hanya pihak perajurit musuh saja yang mereka bunuh, akan tetapi juga rakyat jelata yang mengungsi, kalau bertemu mereka tentu dibunuh dan dirampas barang-barangnya. Huh, sungguh menakutkan sekali sepak terjang mereka itu."
Tiga orang muda itu sesungguhnya tidak terlalu heran mendengar berita ini.
Mereka sudah mendengar bahwa Istana kini dibantu oleh para tokoh kaum sesat, bahkan dipimpin oleh datuk sesat Raja Kelelawar yang sakti itu.
Akan tetapi Bwee Hong pura-pura bertanya kepada pedagang itu.
"Sungguh aneh dan sukar dipercaya! Kenapa orang-orang jahat seperti iblis diangkat menjadi perajurit pemerintah, bahkan menjadi komandan?"
Mendengar pertanyaan ini, rombongan pedagang itu makin percaya bahwa tiga orang muda ini tidak tahu apa-apa maka berani hendak pergi menuju ke Kotaraja.
"Ah, mana kami mengerti? Sejak Kaisar baru naik tahta, bermunculan banyak perwira dan perajurit kejam, seperti itu, berkeliaran di Kotaraja. Maka, sebaiknya kalau kalian bertiga cepat-cepat pergi dari sini dan jangan mendekati Kotaraja."
"Apakah pertempuran masih berlangsung disana?"
A-hai bertanya sambil menunjuk kedepan.
"Tentu saja masih! Makin hebat tentunya. Pertempuran dimulai malam tadi dan tentu kini masih berlangsung dengan hebatnya. Untung kami dapat segera melarikan diri, akan tetapi banyak teman kami yang terkurung di Kotaraja dan tidak sempat lagi melarikan diri. Entah bagaimana nasib mereka itu. Kalau mereka tidak kehilangan nyawa saja masih untung akan tetapi tidak mungkin dapat diharapkan mereka akan dapat mempertahankan barang dagangannya dan semua harta milik mereka."
Setelah secara omong-omong sambil lalu, tiga orang muda itu berhasil memperoleh gambaran sekedarnya tentang keadaan di Kotaraja, mereka lalu meninggalkan tempat itu dan melanjutkan perjalanan menuju ke Kotaraja dengan cepat.
makin dekat dengan Kotaraja, mulailah terdengar sayup sampai terbawa angin suara gemuruh dan riuh-rendah, tanda bahwa jauh didepan terjadi pertempuran hebat.
Dan makin tinggi lagi, mulai nampaklah debu mengepul tinggi.
Mereka bertiga cepat mendaki bukit yang berada diluar benteng Kotaraja.
Kini nampak debu tebal dan asap api bertebaran, menghalangi pandangan mereka sehingga pertempuran itu tidak kelihatan jelas.
Dari tempat sejauh itu, orang-orang yang bertempur hanya kelihatan kecil seperti semut yang bergerak dan berlarian kesana-sini.
Nampak panji-panji, bendera-bendera bercampur baur dengan kereta perang, kuda dan manusia.
Suara bising memenuhi udara.
Teriakan manusia diseling bunyi terompet komando dan tambur.
Dari atas bukit itu, sukar dikenal mana pasukan pemerintah dan mana pemberontak.
Juga belum nampak tanda-tanda siapa yang berada dipihak unggul.
Tiba-tiba A-hai berseru.
"Lihat diluar pintu gerbang sebelah barat itu! Pertempuran disana sungguh luar biasa!"
Pemuda ini menunjuk kedepan.
Dua orang temannya cepat menengok dan memandang kearah yang ditunjuk.
Dan nampaklah apa yang dimaksudkan oleh A-hai.
Ada seorang penunggang kuda yang dari situ, hanya kelihatan sebesar lengan, membawa panji besar dan penunggang kuda ini dikepung oleh banyak sekali pasukan lawan, mungkin ada ratusan orang banyaknya.
Para pengeroyok itu mengepungnya dan bahkan ada pasukan anak panah menghujaninya dengan serangan anak panah.
Akan tetapi, jelas nampak oleh tiga orang muda diatas bukit itu betapa dengan benderanya yang besar, penunggang kuda itu mengebut runtuh semua anak panah yang menyambar kearah dirinya.
Dan anehnya, pengepung yang jumlahnya demikian banyak itu tidak ada yang berani mendekatinya karena siapa berani agak terlalu dekat pasti roboh.
Orang lihai ini tentu merupakan seorang tokoh besar yang amat lihai dari Kotaraja, mungkin seorang panglima.
"Heii! Itu disana juga ada dua orang dikepung ratusan orang perajurit!"
Tiba-tiba Bwee Hong berseru sambil menuding kearah kiri.
Yang dimaksudkan itu adalah dua orang yang berdiri membelakangi, dikepung dan dikeroyok oleh ratusan orang perajurit seperti keadaan penunggang kuda itu.
"Dan itu disana! Dia sendirian... ah, ada dua ekor harimau, wah siapa lagi kalau bukan Sanhek-houw? Hemm, kiranya datuk-datuk sesat mereka itu dan kini mereka sedang menghadapi pengeroyokan pasukan anak-buah Chu Siang Yu!"
Kata Seng Kun.
"Ah, benar!"
Kata Bwee Hong.
"Para datuk sesat telah turun tangan menghadapi pasukan yang mengepung Kotaraja. Akan tetapi dimana pemimpin mereka yang kabarnya diangkat menjadi panglima kerajaan itu? dimana dia Raja Kelelawar?"
Kini tiga orang muda itu mencari-cari dengan pandang mata mereka, mencari iblis itu diantara orang-orang yang sedang bertempur. Akan tetapi mereka tidak dapat menemukan Raja iblis itu.
"Ha-ha, mana ada kelelawar muncul disiang hari? Kalau kalian ingin melihatnya, datang saja kembali kesini malam nanti. ha-ha, lihat betapa pasukan kerajaan mulai terdesak. Paling lama sore nanti mereka tentu akan dapat didesak mundur sampai kedalam benteng Kotaraja. Kalau sudah begitu, tentu Iblis Kelelawar itu akan muncul, tunggu saja malam nanti!"
Tiga orang muda itu terkejut dan memandang kesana-sini mencari siapa orangnya yang tiba-tiba bicara kepada mereka itu.
Suara itu seperti terdengar dari atas, akan tetapi mereka tidak dapat menemukan pembicara itu.
Akhirnya mereka tidak perduli lagi karena keadaan jauh dibawah sana itu amat menarik hati mereka.
Mereka bertugas melakukan penyelidikan dan kini mereka memperoleh tempat yang amat baik untuk dapat melihat jalannya pertempuran antara para pemberontak anak-buah Chu Siang Yu melawan pasukan pemerintah.
Kini, setelah melihat jalannya pertempuran, mulailah mereka dapat membedakan mana pasukan pemerintah dan mana pasukan pemberontak.
Dan memang tepat seperti yang dikatakan orang yang tak dapat mereka temukan tadi, kini pihak pemerintah terdesak hebat.
Pada saat matahari terbenam, pihak pasukan pemerintah sudah terdesak semakin hebat dan akhirnya mereka itu meninggalkan teman-teman yang tewas, lari memasuki pintu gerbang yang segera mereka tutup dan pasukan anak panah menghujankan anak panah dari atas tembok benteng.
Tentu saja pertempuran otomatis berhenti dan pihak pemberontak juga menarik pasukannya agar mengepung tembok benteng akan tetapi tidak terlalu dekat agar jangan menjadi korban anak panah yang turun bagaikan hujan.
Pasukan pemberontak yang berhasil mendesak pasukan pemerintah itu kini memperkuat kedudukan dan membuat perkemahan dikaki bukit, mengepung tembok benteng Kotaraja.
Karena pertempuran berhenti, Seng Kun bertiga lalu turun dari puncak untuk beristirahat pula dan mengisi perut.
Mereka mengambil keputusan untuk kembali lagi malam nanti, sesuai dengan anjuran suara tanpa rupa tadi.
Malam itu sunyi, akan tetapi bulan muncul dilangit yang bersih.
A-hai mencari sepotong kayu cabang pohon untuk membantunya mendaki bukit sampai ke Puncak.
Walaupun pendakian kepuncak itu merupakan jalan liar yang harus dicari sendiri, namun mereka bertiga dapat mendakinya dengan mudah, apa lagi ada sinar bulan menerangi permukaan puncak.
Seng Kun dan Bwee Hong berjalan didepan, sedangkan A-hai yang memegang tongkat kasar dengan tangan kirinya, mengikuti dari belakang.
Agaknya pasukan kedua pihak malam itu tidak melanjutkan pertempuran.
Agaknya masing-masing pihak hendak menyimpan tenaga sambil mengatur siasat malam itu.
Ketika tiga orang muda itu tiba di Puncak, mereka berhenti dan memandang kebawah pohon dimana berdiri seorang laiki-laki yang amat gagah!
Pria itu berdiri dengan tegak, kedua tangan bersedekap dan tidak bergerak seperti sebuah arca.
Jubahnya panjang berwarna putih terbuat dari sutera halus.
Dipinggangnya tergantung sebatang pedang.
Sepatunya mengkilap dan kuat, rambutnya digelung keatas, dihias dengan semacam hiasan berbentuk mahkota kecil.
Wajahnya tampan dan sikapnya agung, menunjukkan bahwa pria ini adalah seorang bangsawan yang memiliki wibawa kuat.
Dari tempat itu, Seng Kun bertiga dapat melihat perkemahan para pemberontak, dan lebih jauh lagi nampak benteng Kotaraja.
"Selamat malam!"
Orang berjubah putih itu menyambut mereka dengan sikap angkuh, tanpa menoleh dan melanjutkan pandang matanya yang sejak tadi memeriksa keadaan dibawah sana penuh perhatian.
Seng Kun bertiga terkejut mendengar suara ini, suara yang segera mereka kenal baik sebagai suara orang yang tidak mau memperlihatkan dirinya siang tadi.
Karena keadaan orang itu menimbulkan rasa hormat, merekapun membalas salam orang itu dan menghampirinya, lalu berdiri didekatnya sambil ikut pula memandang penuh perhatian kebawah puncak.
Setelah dekat, nampaklah bahwa laki-laki ini berusia hampir empat puluh tahun dan wajahnya gagah dan tampan.
"Kalian lihatlah!"
Orang itu berkata seolah-olah mereka adalah kenalan lama.
"Perkemahan itu demikian luas, tidak kurang dari seribu buah banyaknya, dan setiap kemah kecil itu menampung dua puluh lima orang perajurit, belum kemah yang besar. Kekuatan pemberontak Chu ini sungguh tidak kecil, bukan?"
Seng Kun mengangguk-angguk membenarkan.
"Kami juga menduga bahwa kekuatan pasukan pemerintah tidak akan dapat bertahan terlalu lama."
"Bertahan terlalu lama? ha-ha, kau lihat saja, besok, sebelum matahari terbenam, benteng itu akan jatuh dan dapat dikuasai, Kotaraja akan dapat diduduki oleh pasukan-pasukan Chu yang hebat!"
Tiga orang muda itu tertegun dan saling pandang.
Diam-diam mereka menduga-duga.
Siapakah gerangan orang ini?
Dari golongan mana dan bagaimana orang ini dapat meramal dengan suara demikian penuh keyakinan?
"Eh Lo-cianpwe siapakah?"
A"hai yang sejak tadi sudah ingin tahu sekali tidak dapat menahan pertanyaannya.
Pertanyaan itu membuat si jubah putih membalik dan menatap mereka dengan langsung.
tiga orang muda itu kembali terkejut.
Kini nampak jelas wajah yang gagah penuh wibawa itu, dan sepasang matanya tajam bersinar tanda bahwa dia memiliki kepandaian yang tinggi.
"Kelak kalian akan tahu sendiri siapa aku. tidak layak aku memperkenalkan diri kepada orang-orang yang aku sendiri tidak mengenalnya dengan betul. Siapa tahu aku berhadapan dengan pihak musuh? Suasana begini kacau dan kita harus bersikap curiga dan hati-hati."
A-hai mengerutkan alisnya.
Orang ini bicara begini terus-terang tanpa menjaga perasaan orang lain sehingga kata-katanya terdengar kasar dan tidak enak, walaupun suaranya tetap halus dan sopan.
Diapun sudah siap untuk membalas ucapan tidak enak itu, akan tetapi sebelum dia sempat membuka mulut, orang itu sudah mengangkat tangan mencegah mereka membuat berisik.
"Sstt, harap perhatikan. Inilah saatnya Raja Kelelawar keluar dari sarangnya!"
Tentu saja ucapan itu membuat mereka bertiga terkejut dan juga merasa serem sehingga tanpa dapat mereka cegah, mereka merasa betapa tengkuk mereka menjadi dingin.
Mereka semua kini memandang penuh perhatian kebawah, kesegenap penjuru, terutama kearah benteng Kotaraja yang nampak sunyi itu.
Tiba-tiba A-hai menyentuh lengan Seng Kun.
"Lihat diatas tembok sebelah barat itu, didekat menara penjaga. Ada orang berlompatan disana hemm, ada lima orang banyaknya"
Seng Kun dan Bwee Hong mengerahkan kekuatan pandang mata mereka kearah yang ditunjuk A-hai itu.
Tentu saja keduanya menjadi terkejut dan heran.
Dari puncak bukit itu, benteng Kotaraja hanya kelihatan kecil, seperti tembok rumah biasa saja, dan bangunan-bangunan dibagian dalamnya hanya sebesar kotak-kotak kertas.
Bagaimanakah A-hai dapat melihat orang-orang yang tentu saja amat kecil, diwaktu malam lagi, hanya dengan penerangan bulan saja?
Kalau waktu siang dan mereka mengerahkan sinkang, mungkin mereka masih akan mampu melihat orang-orang yang dimaksudkan oleh A-hai.
Seng Kun dan Bwee Hong menoleh dan memandang kepada A-hai dan mereka berdua terkejut bukan main.
sepasang mata A-hai mencorong seperti mata harimau didalam kegelapan.
Bukan hanya kakak-beradik itu yang menjadi kagum, juga orang berjubah putih itu diam-diam terkejut bukan main.
Pemuda ini memiliki ketajaman mata yang luar biasa, pikirnya sehingga dia sendiripun kalah kuat!
"Pemuda ini bukan orang sembarangan dan memiliki tenaga sinkang yang sukar diukur kehebatannya,"
Demikian dia berkata didalam hatinya dan sikapnya menjadi semakin waspada.
Di dalam keheranan dan kekaguman mereka, kakak-beradik itu diam-diam merasa girang bukan main.
Mereka tahu bahwa keadaan A-hai semakin membaik dan ternyatalah bahwa A-hai benar-benar seorang pemuda yang amat lihai.
Sikap A-hai saja menunjukkan bahwa pemuda itu sudah mulai pulih kembali ingatannya, tidak lagi kelihatan ketololan.
Hanya ada hal-hal yang belum diingatnya dan mungkin hal-hal yang teramat pentinglah yang dilupakannya itu, dan siapa tahu, hal-hal penting ini yang menjadi penyebab dia kehilangan ingatan.
Kalau peristiwa penting ini teringat, bukan tidak boleh jadi kalau dia akan menjadi waras kembali.
Seng Kun meraba tangan adiknya dan diajaknya minggir agak menjauhkan diri.
"Hong-moi, aku tiba-tiba mendapat pikiran bahwa jalan satu-satunya untuk membuat dia sembuh sama sekali adalah memberinya guncangan batin hebat dengan jalan mempertemukannya dengan tempat dan orang yang membuat dia kehilangan ingatannya. Ingat, totokan tiga jari dipelipisnya itu. Kalau saja dia dapat berhadapan dengan orang yang menotoknya, aku berani bertaruh bahwa guncangan batin akan mampu menembus semua penghalang dan dia akan pulih kembali sama sekali."
"Akan tetapi,"
Bwee Hong juga berbisik.
"Bagaimana hal itu dapat dilaksanakan? Kita tidak tahu siapa yang melakukan perbuatan keji terhadapnya, bahkan diapun tidak ingat dimana tempat tinggalnya dahulu."
Seng Kun menarik napas panjang.
"Engkau benar. Kita hanya boleh mengharapkan terjadinya suatu keajaiban, yaitu musuhnya itulah yang datang mencarinya!"
"Harapan itu bukan kosong belaka, koko. kalau musuhnya melihat bahwa dia masih hidup, tentu musuhnya itu akan datang untuk mencoba membunuhnya."
"Betapa mengerikan! A-hai yang demikian saktinya saja sampai kalah dan dibuat tidak berdaya. Kalau musuh yang sedemikian saktinya muncul dan menyerangnya, bagaimana kita akan mampu menolongnya?"
Pada saat itu, terdengar suara orang berjubah putih.
"Nah, tepat dugaanku! Si Raja iblis Kelelawar itu keluar dari sarangnya. Dia menyeberangi parit yang mengelilingi tembok benteng!"
Setelah berkata demikian, dia bertepuk tangan dan terkejutlah tiga orang muda itu ketika melihat munculnya beberapa orang dari tempat gelap dan melihat kecepatan gerakan mereka, mudah diketahui bahwa mereka terdiri dari orang-orang yang berilmu tinggi!
Yang membuat Seng Kun dan Bwee Hong memandang dengan kaget adalah ketika mereka mengenal dua orang diantara mereka itu.
Dua orang itu bukan lain adalah Kim I Ciangkun dan Gin I Ciangkun, dua orang panglima yang menjadi komandan pasukan pengawal Istana dan mereka adalah tangan kanan dari Pek-lui-kong Tong Ciak, jagoan di Istana kepercayaan Kaisar lama!
Beberapa orang itu menghadap si jubah putih dan memberi hormat.
"Si iblis sudah muncul, tepat seperti yang kita perhitungkan. Dia membawa empat orang teman yang berkepandaian tinggi. Beri tahu teman-teman dan jalankan siasat yang telah kita rencanakan!"
"Akan hamba laksanakan perintah Ong-ya!"
Jawab seorang diantara mereka.
"Ji-wi Tai-ciangkun, bagaimanakah ji-wi dapat berada disini selagi Kotaraja terancam oleh pasukan musuh? Mengapa dua orang ini malah berada disini dan agaknya menjadi pembantu orang asing ini?"
Mendengar teguran si gadis, orang yang berjubah putih itu nampak terkejut.
Tadinya dia memang sudah curiga dan menduga-duga siapa adanya tiga orang muda yang amat lihai itu dan ternyata gadis itu malah sudah mengenal dua orang pembantunya yang dipercaya!
"Kalian mengenal mereka ini?"
Tanyanya kepada Kim I Ciangkun dan Gin I Ciangkun.
"Maaf, Ong-ya. Mereka berdua itu adalah keluarga Kaisar lama, masih keponakan Kaisar lama. Mereka adalah putera Bu Hong Seng-jin, ketua kuil Istana Thian-to-tang yang kini telah dipenjara oleh Kaisar baru itu."
"Ayah dipenjara?"
Kakak-beradik itu bertanya, hampir berbareng.
Memang, hubungan antara mereka dan ayah kandung mereka tidaklah demikian erat karena sejak kecil mereka telah berpisah dari ayah kandung mereka, namun tentu saja mereka menjadi terkejut dan penasaran sekali mendengar betapa ayah kandung mereka yang tidak berdosa itu, yang hanya menjadi ketua kuil di Istana, kini ditangkap dan dijebloskan pula kedalam penjara.
"Tai-ciangkun, dimana ayah ditahan dan mengapa?"
Seng Kun mendesak. Akan tetapi orang yang berjubah putih dan disebut Ongya itu menggerakkan tangan menahan.
"Hendaknya kalian berdua bersabar dan menunda pertanyaan kalian itu. Keadaan amat mendesak, Raja Kelelawar telah keluar dari sarangnya. Mari ikut kami, menyongsong Raja Kelelawar yang menjadi panglima dan mungkin pula penyebab ditangkapnya ayah kalian."
Seng Kun dan Bwee Hong tidak dapat membantah lagi dan mereka, tentu saja diikuti pula oleh A-hai, mengikuti orang itu pergi dari puncak bukit.
Mereka semua pergi dengan jalan menyebar, dan tiga orang muda itu mengikuti si jubah putih.
Kiranya si jubah putih itu membawa mereka turun puncak menuju keperkemahan barisan pemberontak yang mengepung benteng Kotaraja!
Mereka tiba ditempat penyimpanan kuda dan tiba-tiba dari tempat gelap muncul seorang berkulit hitam berkepala gundul.
Kemunculannya amat mengejutkan.
Kulitnya yang hitam membuat dia sukar darat dilihat didalam kegelapan malam.
Akan tetapi orang ini menghadap si jubah putih sambil memberi hormat.
"Ong-ya, semua kuda dalam keadaan baik dan terjaga kuat. Tidak akan ada musuh dapat lewat disini tanpa sepengetahuan kami,"
Orang itu melapor. Si jubah putih mengangguk-angguk.
"Bagus, akan tetapi hati-hatilah. Musuh yang akan menyusup kesini adalah Raja Iblis Kelelawar dan teman-temannya. Mereka itu memiliki kepandaian tinggi seperti iblis-iblis saja. Pergilah dan bersiaplah baik-baik!"
Orang itu menjura dan sekali berkelebat diapun lenyap. A-hai yang kini sudah agak pulih ingatannya dan sudah menguasai sebagian besar kepandaiannya, memuji.
"Wah, ginkang si hitam itu hebat juga."
Mereka tiba digudang persediaan makanan dan tiga orang muda itu merasa kagum akan kerapian penjagaan dibagian ini.
Juga seorang komandan maju memberi hormat dan melaporkan bahwa keadaan disitu aman dan bahwa mereka melakukan penjagaan dengan ketat.
Setelah melewati bagian-bagian yang dijaga ketat, si jubah putih membawa tiga orang muda itu masuk kekompleks perkemahan.
yang besar, terjaga kuat dan dihias dengan panji-panji dan bendera-bendera.
Disitu nampak para komandan, diantaranya Kim I Ciangkun dan Gin I Ciangkun, dan mereka semua menghormati si jubah putih seperti orang-orang menghormati Raja mereka.
Dan setelah tiga orang muda itu disuruh ikut masuk, barulah mereka sadar bahwa si jubah putih itu bukan lain adalah pemimpin besar barisan ini, dan dialah pemimpin barisan pemberontak, yaitu Chu Siung Yu yang terkenal sekali itu!
Setelah tiba dibagian dalam, beberapa orang dayang mengiringkan seorang wanita cantik berusia tiga puluh tahun lebih yang menyambut kedatangan Chu Siang Yu dengan meriah.
Kiranya wanita cantik itu adalah isteri pemimpin pemberontak Chu Siang Yu itu, seorang isteri yang amat setia dan mencinta suaminya, mengalami segala macam suka-duka selama suaminya memimpin pemberontakan dan sering kali hidup dalam keadaan amat sukar dan penuh dengan kekerasan dan bahaya.
Setelah sadar bahwa si jubah putih itu adalah Chu Siang Yu si pemimpin pemberontak yang amat terkenal dan lihai, yang menjadi saingan besar dari Liu Pang, tentu saja tiga orang muda itu menjadi terkejut sekali dan mereka saling pandang dengan hati berdebar.
Celaka, pikir Seng Kun.
Mereka telah masuk ditengah-tengah kekuatan musuh!
Mereka menduga-duga apakah pemimpin pemberontak ini sudah tahu bahwa mereka, biarpun tanpa ikatan, kini menjadi mata-mata pihak Liu Pang, berarti musuh pemberontak ini!
Akan tetapi, agaknya Chu Siang Yu tidak memusuhi mereka dan agaknya belum tahu akan hubungan mereka dengan Liu Pang.
"Isteriku, mari kuperkenalkan dengan tiga orang muda yang tentu akan sangat menarik hatimu. Mereka berdua ini adalah masih sanakku sendiri, karena mereka adalah putera-puteri dari paman Chu Sin, engkau tentu ingat, paman Pangeran Chu Sin yang kini menjadi Bu Hong Seng-jin, ketua kuil Istana Thian-to-tang. Dan pemuda yang seorang ini, jangan main-main, dia ini memiliki ilmu kepandaian yang mungkin tidak ada tandingannya diantara kita semua!"
Mendengar ucapan ini, tiga orang muda itu terkejut bukan main.
Tahulah kini mengapa Chu Siang Yu bersikap begitu baik.
Kiranya masih ada pertalian keluarga antara pemimpin pemberontak ini dengan ayah mereka.
Pantas nama keturunan mereka sama, yaitu she Chu!
Juga A-hai terkejut sekali karena pemimpin pemberontak ini ternyata sudah dapat mengetahui akan ilmu kepandaiannya.
Benar-benar seorang gagah perkasa yang cerdik dan tidak boleh dipandang ringan!
Karena diperkenalkan, terpaksa mereka memperkenalkan nama mereka.
Ketika mendengar bahwa pemuda yang memiliki mata amat tajam itu hanya bernama A-hai tanpa she, Chu Siang Yu mengerutkan alisnya akan tetapi tidak memberi komentar.
Sebagai seorang gagah diapun tahu bahwa orang-orang kang-ouw memang banyak yang memiliki watak aneh dan dia mengira bahwa pemuda inipun tidak ingin memperkenalkan nama yang sebenarnya dan hanya memakai nama samaran saja.
Isteri Chu Siang Yu segera tertarik dan suka sekali kepada Bwee Hong yang memang amat cantik jelita.
Ia menggandeng tangan gadis ayu itu dan diajak duduk didekatnya.
Sementara itu, para dayang lalu mengeluarkan hidangan dan pemimpin pemberontak itu, bersama isteri dan para komandan yang menjadi pembantu dekatnya, lalu mengadakan perjamuan makan-minum dengan gembira.
Kiranya mereka itu secara sederhana merayakan kemenangan pertempuran dihari tadi.
Tentu saja tiga orang muda itu menjadi semakin kagum.
Bukankah Chu Siang Yu sudah mengetahui bahwa Raja Kelelawar-bersama empat orang pembantunya yang lihai keluar dari dalam benteng dan agaknya hendak menyusup kedalam perkemahan barisannya?
Bahkan para komandan pembantunya juga sudah tahu?
Akan tetapi mengapa mereka itu malah makan-minum dan berpesta seperti tidak mengambil pusing sama sekali?
Ini hanya menunjukkan bahwa Chu Siang Yu amat percaya kepada kekuatannya sendiri.
Diam-diam tiga orang muda itu memperhatikan para komandan pembantu Chu Siang Yu dan bagaimanapun juga, didalam hati Seng Kun merasa tidak senang melihat kenyataan bahwa pemimpin pemberontak yang masih sanaknya ini ternyata telah mempergunakan tenaga-tenaga asing dalam pasukannya.
Disitu duduk beberapa orang yang dari bentuk tubuh, muka dan pakaiannya, juga logat bicaranya, jelas menunjukkan bahwa mereka itu adalah orang-orang asing.
Diantaranya terdapat seorang laki-laki raksasa Mongol yang kelihatan amat kuat.
Tubuhnya tinggi besar, kokoh seperti bukit karang, dan dengan pakaian seorang panglima yang bersisik emas, sungguh dia nampak menakutkan.
Kedua pergelangan tangannya dilindungi kulit berlapiskan perak, dan rambutnya yang pendek dibiarkan teriap kebelakang, diikat dengan pita, sedangkan mukanya penuh brewok yang sudah bercampur uban..
Sepasang matanya besar dan tajam, dan sikapnya agak kasar seperti sikap orang-orang yang tidak memperdulikan sopan-santun, juga dari gerak-geriknya masih terbayang keliarannya dan agaknya dia menganggap rendah orang-orang lain.
Seorang lawan yang amat tangguh, pikir Seng Kun.
Setelah makan-minum selesai, Chu Siang Yu lalu berkata sambil tersenyum lebar.
"Kita malam ini menyambut tiga orang muda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, oleh karena itu, sudah sepatutnya kalau kita memberi pertunjukan ilmu silat. Nah, siapa mau memulai untuk menyambut para tamu kita yang gagah?"
Mereka semua sudah minum arak cukup banyak yang membuat kepala dan hati terasa ringan. Gin I Ciangkun sudah bangkit berdiri dan menjura kearah pemimipinnya.
"Biarlah saya yang bodoh menghormati putera dan puteri Bu Hong Seng-jin!"
Katanya dan setelah Chu Siang Yu mengangguk setuju, kakek berusia empat puluh tahun lebih ini menuju ketengah ruangan itu dan mulailah dia bersilat.
Kakek ini bertubuh tinggi tegap dan bermuka brewok.
Gerakan kaki tangannya mantap dan ketika dia bermain silat beberapa lamanya, orang-orang disitu mulai merasakan sambaran hawa dingin.
Kiranya panglima baju perak ini memiliki ilmu sinkang yang disebut Swat-ciang (Tangan Salju) dan pukulan yang mengandung hawa dingin itu amat berbahaya bagi lawan.
Setelah dia selesai bersilat dan memberi hormat kepada pemimpinnya, Chu Siang Yu bertepuk tangan memuji, diikuti oleh orang-orang yang hadir disitu.
melihat rekannya sudah maju, Kim I Ciangkun tidak mau ketinggalan.
Diapun memperlihatkan ketangkasannya.
Tubuhnya yang tinggi kurus bergerak cepat dan tak lama kemudian, gerakan kedua tangannya itu mengeluarkan hawa panas menyambar-nyambar.
Itulah ilmu Hui-ciang (Tangan Api) yang tidak kalah ampuhnya dibandingkan dengan Swat-ciang milik rekannya tadi.
Juga Kim I Ciangkun menerima sambutan pujian dan tepuk tangan.
Sejak tadi, raksasa Mongol yang duduknya berhadapan dengan isteri Chu Siang Yu sehingga dia dapat menatap wajah Bwee Hong dengan jelas, memperlihatkan sikap amat tertarik kepada dara ini.
Dia bersikap kasar dan biarpun dia tidak berani secara terus-terang mengeluarkan kata-kata yang menyinggung, namun kerling matanya yang lebar itu selalu menyambar kearah Bwee Hong, membuat dara ini kadang-kadang mengerutkan alisnya dan membuang muka.
Kini, melihat betapa dua orang rekannya itu memperlihatkan ilmu kepandaian, si raksasa Mongol inipun bangkit berdiri dan mengajukan diri untuk menghibur para tamu.
Tentu saja permintaannya dikabulkan dengan gembira oleh Chu Siang Yu.
Dengan langkah gagah raksasa ini menuju ketengah mangan.
Raksasa ini adalah adik dari Malisang, kepala suku Mongol yang menjadi sekutu Chu Siang Yu dan bekerja-sama dengan pasukan yang dipimpin oleh Kwa Sun Tek putera ketua Tai-bong-pai.
Usianya sudah hampir lima puluh tahun dan dalam hal Ilmu silat, ilmu gulat dan tenaga, dia tidak kalah oleh kakaknya.
Sejak tadi dia terpesona oleh kecantikan Bwee Hong, maka kini dia maju untuk menjual tampang, untuk menarik perhatian dara yang membuatnya tergila-gila itu.
Mulailah raksasa Mongol ini bersilat dan begitu dia menggerakkan kedua kakinya, lantai bergoyang-goyang dan seluruh kemah itu tergetar.
Juga kedua tangannya yang menyambar-nyambar mendatangkan hawa pukulan yang amat kuat.
Akan tetapi, baru belasan jurus raksasa ini bersilat, dia menghentikan gerakannya.
Sejak tadi dia bersilat sambil tersenyum dan mengerling kearah Bwee Hong, akan tetapi nona ini malah memalingkan muka dan tidak mau nonton kelihaiannya.
Hal ini membuatnya merasa penasaran.
Dia bersilat hanya untuk pamer kepada nona itu, akan tetapi yang dipameri malah membuang muka!
Semua orang merasa heran melihat raksasa itu berhenti bersilat, bahkan Chu Siang Yu sendiri bertanya mengapa ilmu silat yang belum selesai dimainkan itu dihentikan tiba-tiba?
"Bermain silat sendirian kurang menggembirakan,"
Kata si raksasa Mongol dengan logat asing.
"Para tamu kita adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi. Kata orang persilatan, perkenalan tidaklah akrab tanpa melalui adu silat. Oleh karena itu, aku mempersilahkan seorang diantara tiga tamu kita yang gagah untuk maju dan bermain-main denganku beberapa jurus. Akan tetapi, orang bilang bahwa kepalan tidak mempunyai mata, maka aku takut kalau-kalau aku akan salah tangan dan lupa, melukai tamu terhormat. Oleh karena jitu, agar aman, kuharap nona tamu sudi memperlihatkan kepandaian. Kalau menghadapi lawan wanita, tentu aku tidak akan lupa dan tidak akan salah tangan, ha-ha-ha!"
Mendengar ucapan ini, para perwira yang wataknya kasar tertawa.
Akan tetapi tiga orang muda itu tentu saja merasa mendongkol sekali.
Dan Seng Kun merasa makin tidak suka kepada pemimpin pemberontak yang menjadi sanaknya.
Disitulah letak kelemahan Chu Siang Yu, pikirnya.
Berbeda dengan Liu Pang yang pandai memilih sekutu dan anak-buah, yang sebagian besar terdiri dari para pendekar dan rakyat jelata, sebaliknya Chu Siang Yu memilih orang-orang asal pandai ilmu silatnya saja, biarpun orang itu datang dari golongan yang sesat, bahkan tidak segan bersekutu dengan pihak asing!
Seng Kun berpikir bahwa tidaklah pantas membiarkan Bwee Hong menjadi buah tertawaan melawan raksasa yang tangguh ini.
Dan kalau A-hai yang maju, dia khawatir kalau-kalau A-hai yang kadang-kadang masih kumat itu akan menurunkan ilmunya yang amat hebat dan raksasa ini akan terpukul tewas.
Jalan terbaik adalah dia sendiri yang maju, mencoba mengalahkan raksasa ini tanpa membuat Chu Siang Yu marah.
Maka diapun cepat mendahului adiknya dan A-hai yang sudah memandang marah kepada raksasa itu.
Dengan tenang dan sabar dia memberi hormat kepada raksasa itu.
"Ciangkun, harap maafkan adikku kalau tidak dapat memenuhi undanganmu karena tentu saja adikku bukanlah tandinganmu. Biarlah aku mewakilinya menerima petunjuk-petunjuk dari ciangkun."
Raksasa itu memandang kepada Seng Kun dan tertawa, sikapnya memandang rendah sekali.
"Ah, jadi engkau adalah kakak nona itu? bagus, dengan mengingat bahwa engkau kakaknya, tentu akupun berlaku hati-hati agar tidak sampai melukaimu, orang muda. Dan jangan khawatir, andaikata engkau terluka olehku, akupun mempunyai obatnya untuk menyembuhkanmu."
Sungguh tekebur sekali sikap dan ucapan raksasa Mongol ini. Akan tetapi Seng Kim tetap tenang saja.
"Ciangkun, lebih baik kita segera mulai dari pada membuang-buang waktu dengan obrolan kosong."
Melihat ada nada marah dalam ucapan Seng Kun, raksasa itu mendengus, akan tetapi mulutnya masih tersenyum-senyum.
"Baik, kau jagalah pukulanku!"
"Wuuuuttt!"
Pukulan itu memang kencang sekali datangnya, dan amat kuatnya karena sebelum kepalan tiba, angin pukulannya sudah terasa oleh Seng Kun dan membuat bajunya berkibar.
Akan tetapi pemuda ini tentu saja dapat mengelak dengan sigapnya.
Dia membiarkan si raksasa memukul sampai empat kali berturut-turut, selalu menghindarkan diri dengan jalan mengelak.
Pada pukulan kelima, yang dilakukan dengan keras sekali karena raksasa itu mulai merasa penasaran melihat semua pukulannya luput, Seng Kun menangkis sambil mengerahkan tenaganya.
"Dukkk!!"
Akibat dari adu tenaga ini membuat Seng Kun terlempar dan hampir terjengkang kalau saja dia tidak memiliki ginkang yang baik sekali sehingga dia mampu meloncat berjungkir balik dan tidak sampai terbanting.
Dia terkejut, karena tidak disangkanya raksasa itu memiliki tenaga sehebat itu.
"Ha-ha-ha, aku membuatmu kaget? Maaf, dan hati-hatilah!"
Raksasa itu tertawa girang dan nada suaranya mengejek sekali.
Bagaimanapun juga, Seng Kun hanya seorang manusia biasa dan kesabaran ada batasnya.
Dia mulai merasa penasaran dan mukanya menjadi merah.
Ketika raksasa itu menyerang lagi, dia mengelak dan balas menyerang dengan tamparan kearah dada lawan.
Akan tetapi, betapa kagetnya ketika melihat lawan tidak mengelak atau menangkis sama sekali, sebaliknya membiarkan dadanya dipukul akan tetapi membarengi dengan pukulan kearah perut Seng Kun.
Pukulan yang keras sekali!
"Bukkk!"
Tamparan tangan Seng Kun tepat mengenai dada, akan tetapi pemuda itu menahan seruannya karena telapak tangannya terasa nyeri dan pedas.
Kiranya baju perang itu terbuat dari pada logam tipis yang amat kuat dan diantara sisiknya itu terdapat bagian runcing sehingga akan dapat melukai pukulan tangan lawan!
Hampir saja perut Seng Kun kena terpukul kalau saja dia tidak meloncat kebelakang dan pada saat itu Bwee Hong meloncat kedepan hendak membantu kakaknya.
"Hong-moi, mundur!"
Seng Kun berseru kepada adiknya setelah dia terbebas dari pada pukulan kearah perutnya tadi.
Untung kepalan tangan lawan itu hanya menyerempet kulit perut dan bajunya, kalau mengenai perut dengan tepat, mungkin dia akan celaka mengingat besarnya tenaga lawan.
"Ha-ha-ha, kalau engkau hendak maju sekalian, silahkan, nona. Dikeroyok dua akan menjadi semakin meriah!"
"Lihat serangan!"
Seng Kun membentak marah melihat kecongkakan raksasa itu dan kini diapun mulai menyerang.
Dan si raksasa terkejut karena gerakan Seng Kun itu cepat bukan main, tubuhnya seperti terbang saja dan kedua tangannya seperti berobah menjadi banyak!
Raksasa itu menggunakan kedua tangan untuk menangkis, bahkan berusaha menangkap dengan ilmu gulat, namun Seng Kun terlalu cepat baginya dan tahu-tahu pemuda itu sudah berada dibelakangnya dan sekali renggut, terlepaslah ikatan rambutnya!
Pada saat tali rambutnya putus direnggut tangan Seng Kun, pemuda ini memberi sentilan dengan jari tangannya pada tengkuk lawan.
Hal ini dilakukannya untuk memberi isyarat kepada lawan bahwa kalau dia berniat buruk, betapa mudah baginya untuk mengganti sentilan itu dengan totokkan atau pukulan maut!
Akan tetapi, raksasa Mongol itu adalah seorang kasar yang tidak mengenal segala macam isarat dan sindiran halus seperti itu.
Baginya, dalam perkelahian atau adu kepandaian hanya ada dua hal, kalah atau menang.
Dan dia belum merasa kalah kalau hanya direnggutkan tali rambutnya sampai terlepas saja!
Maka dengan gerengan keras, dia menyerang lagi.
Seng Kun cepat menghindarkan diri dengan loncatan kesamping dan pada saat itu terdengar seruan Chu Siang Yu.
"Tahan pukulan! Cukup sudah, kita diantara kawan sendiri!"
Dan tahu-tahu tubuh Chu Siang Yu yang tadinya masih duduk diatas kursi sudah melayang dan berdiri diantara dua orang itu.
Melihat gerakan ini, A-hai mengangguk-angguk dan kagum akan kelihaian pemimpin pemberontak itu.
Sementara, itu, raksasa Mongol yang merasa belum kalah, menjadi penasaran dan sikapnya masih marah.
Keadaan menjadi tegang, akan tetapi pada saat itu terdengar suara anak panah mengaung diudara, disusul suara ribut-ribut dikejauhan.
Peristiwa ini menyadarkan si raksasa dan diapun cepat menjura kepada sekutu dan pemimpinnya, lalu kembali ketempat duduknya.
Seng Kun juga duduk kembali dan anehnya, peristiwa itu agaknya tidak mempengaruhi sikap Chu Siang Yu yang masih saja melanjutkan makan-minum.
Tiba-tiba muncul dua orang berpakaian penjaga yang datang berlari-lari dan menjatuhkan diri berlutut, memberi laporan bahwa musuh gelap mulai menyerang.
"Bodoh! Tidak tahukah kalian bahwa Ongya sedang menyambut tamu? Hayo pergi, jangan diganggu!"
Dua orang itu memberi hormat dan pergi.
Tentu saja hal ini amat mengherankan hati Seng Kun dan teman-temannya.
Tak lama kemudian, kembali datang dua orang perwira yang nampak gugup.
Dua orang ini segera membuat laporan.
"Ada beberapa orang pengacau memasuki perkemahan kita. Mereka berkepandaian tinggi sekali dan beberapa orang perajurit terbunuh secara aneh dan mengerikan."
Kini Chu Siang Yu sendiri yang menjawab dengan sikap tak acuh.
"Sudah, kalian kembalilah ketempat penjagaanmu. Tak perlu gelisah. Iblis-iblis itu tidak dapat berbuat seenaknya sendiri. Mereka sudah dikepung dan semua akan dapat kita binasakan!"
Diam-diam Seng Kun bertiga menjadi semakin kagum.
Orang ini benar-benar amat tabah, pandai dan berwibawa.
Dan memang bukan bual kosong saja ketika Chu Siang Yu menghibur dua orang penjaga tadi.
Ketika mereka berdua kembali ketempat penjagaan, para penyelundup itu telah dikepung ketat oleh jagoan-jagoan yang sudah dipersiapkan oleh Chu Siang Yu dan para pembantunya.
Seorang diantara para penyelundup itu, yang berusia kurang lebih empat puluh tahun, berwajah ganteng pesolek dan bersenjata sebatang huncwe berlapis emas, dikeroyok oleh lima orang jagoan pilihan.
Tak jauh dari situ terdapat pula seorang wanita cantik berusia sekitar tiga puluh tahun yang mengamuk dengan senjata pedang pendek ditangan kiri dan sehelai sabuk ditangan kanan.
Juga wanita ini dikepung oleh lima orang jagoan.
Dua orang penyelundup ini adalah pembantu-pembantu Raja Kelalawar yang lihai, yaitu Jai-hwa Toat-beng-kwi si penjahat cabul dan Pekpi Siauw-kwi, Si Maling Cantik.
Di depan gedung ransum terjadi pula pengeroyokan atas diri Sanhek-houw yang mengamuk dengan senjatanya yang istimewa itu, ialah sebatang rantai baja dengan ujung tombak jangkar.
Sedangkan didekat kandang kuda terdapat pula perkelahian seru antara Sin-go Mo Kai Ci Si Buaya Sakti yang juga dikeroyok oleh banyak orang.
Ternyata empat orang pembantu utama Raja Kelelawar itu masuk perangkap.
Maka dibiarkan memasuki perkemahan, lalu dikepung ketat dan dikeroyok oleh jagoan jagoan yang memang sudah dipersiapkan terlebih dahulu oleh Chu Siang Yu dan para pembantunya.
Empat orang penjahat itu marah sekali.
Mereka tidak mengira akan terperangkap oleh pihak musuh, maka mereka mengamuk dengaa hebatnya.
Sepak terjang mereka, terutama sekali Si Buaya Sakti dan Si Harimau Gunung, benar-benar amat menggiriskan.
Perajurit-perajurit yang berani mencoba untuk ikut mengeroyok, banyak yang roboh dan tewas.
Debu dan batu kerikil berham-buran, kemah-kemah disekitar tempat mereka mengamuk itu roboh.
Dua orang iblis ini mengamuk sambil mengeluarkan caci-maki dan geraman-geraman seperti binatang buas.
Betapapun juga, yang mengepung dan mengeroyok mereka adalah jagoan-jagoan dan juga banyak jumlahnya sehingga mereka berempat itu tidak melihat jalan, keluar untuk meloloskan diri, maka mereka mengamuk mati-matian.
Sementara itu, diatas puncak tiang kemah tak jauh dari situ, terdapat sesosok tubuh berdiri tegak seperti seekor burung hinggap diujung tiang.
pakaian dan jubahnya berwarna hitam sehingga sukar dapat dilihat.
Si jubah hitam ini memandang kebawah, kearah perkelahian itu dan dia mengepal tinju, bibirnya bergerak memaki-maki marah.
"Keparat! Gila! Tak kusangka bangsat Chu Siang Yu begini cerdik. Kiranya dia tidak boleh dipandang ringan, para pembantunya juga banyak yang lihai. Jahanam benar!"
Tubuh yang tinggi besar itu tiba-tiba bergerak melayang keatas puncak tenda lain, kemudian meloncat lagi dari tenda ketenda seperti seekor kelelawar saja gesit dan ringannya.
Kemudian dia hinggap di puncak perkemahan pusat dimana Chu Siang Yu sedang makan-minum dengan para tamunya.
Begitu berjumpa dengan tiga orang muda itu, Chu Siang Yu sudah tertarik sekali dan dia dapat menduga bahwa tiga orang muda ini adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan akan dapat menjadi tenaga-tenaga yang amat penting baginya.
Oleh karena itu, sambil menjalankan siasatnya untuk menjebak pihak musuh yang berani menyelundup keperkemahan, dia juga berusaha untuk menyenangkan hati tiga orang muda itu dan kalau mungkin dia akan menarik mereka menjadi pembantu-pembantunya.
"Sam-wi adalah orang-orang muda yang luar biasa,"
Akhirnya sambil menyuguhkan arak dia berkata.
"Sam-wi merupakan orang-orang muda yang memiliki harapan baik sekali untuk mencapai kedudukan tinggi dan mulia, dan pertemuan antara kita ini membuka kesempatan yang amat baik bagi kalian. Kotaraja sudah berada ditelapak tangan kita, tak lama kemudian kita akan dapat menguasainya. Dan aku akan merasa gembira sekali kalau dapat memperoleh bantuan sam-wi dalam membangun kerajaan baru."
Seng Kun terkejut mendengar ini.
Baru dia tahu sekarang mengapa pemimpin pemberontak ini bersikap demikian baiknya terhadap dia bertiga.
Kiranya mempunyai maksud untuk mempergunakan mereka sebagai pembantu.
Diapun cepat mewakili teman dan adiknya itu, memberi hormat kepada pemimpin pemberontak itu.
"Kami kakak-beradik menghaturkan terimakasih atas maksud baik taijin. Akan tetapi, pada saat ini kami sama sekali belum memikirkan tentang kedudukan atau pekerjaan..."
"Wah, saya sendiripun masih mempunyai banyak sekali urusan keluarga dan pribadi sehingga tidak sempat memikirkan tentang urusan kedudukan!"
A-hai juga berkata.
"Kami masih amat mengkhawatirkan keadaan ayah kandung kami!"
Bwee Hong juga membantu kakaknya.
"Saya ingin sekali mengetahui bagaimana sebenarnya dengan keadaan ayah kandung kami itu?"
Chu Siang Yu menarik napas panjang menyembunyikan rasa kecewa hatinya. Dia maklum bahwa menghadapi orang-orang muda yang lihai ini tidak boleh tergesa-gesa, apa lagi mempergunakan tekanan.
"Menurut keterangan Kim I Ciangkun memang benar ayah kalian ditangkap dan dimasukkan penjara. Tentu saja hal itu terlihat oleh Kim I Ciangkun dan Gin I Ciangkun sebelum mereka berdua lari dari Istana setelah melihat keadaan yang kacau di Istana, dimana Kaisar muda itu mempergunakan para datuk kaum sesat untuk menjadi pengawal-pengawal dan pembantu-pembantu. Banyak pejabat yang setia seperti kedua ciangkun itu tidak tahan melihat betapa pembesar-pembesar yang jujur dijebloskan penjara atau dibunuh, sedangkan penjahat-penjahat rendah diberi kedudukan tinggi. Kim I Ciangkun menambahkan keterangan pemimpinnya.
"Bu Hong Seng-jin sebagai seorang penasihat Istana, mencoba untuk mengingatkan Sribaginda Kaisar yang masih muda itu. Akan tetapi beliau malah kena marah dan ditangkap, dijebloskan kedalam penjara."
"Akan tetapi kalian jangan khawatir. Kotaraja sudah kita kepung dan sebentar lagi, kalau kita sudah dapat menguasai Kotaraja, kalian akan dapat menyelamatkan ayah kandung kalian. Oleh karena itu, marilah kalian bantu kami untuk menyerbu Kotaraja besok."
Seng Kun dan adiknya saling pandang, tidak dapat segera menjawab.
Tentu saja mereka berdua yang bertugas menyelidiki keadaan musuh Liu Pang dan menyelidiki keadaan ayah mereka, tidak mungkin kalau kini malah bergabung dengan pemberontak Chu Siang Yu dan membantunya menyerbu Kotaraja.
Dan A-hai sendiri kini kelihatannya tidak tertarik lagi, bahkan seperti tidak mengacuhkan percakapan itu dan perhatiannya seperti tertarik oleh hal lain.
Tiba-tiba api lilin-lilin yang berada didalam ruangan itu bergoyang seperti tertiup angin dan mereka yang berada disitu tidak sadar bahwa didalam ruangan itu telah bertambah seorang lagi kalau saja A-hai tidak menyapanya.
"Silahkan masuk!"
Mendengar ucapan A-hai, Chu Siang Yu dan semua orang menoleh dan mereka semua terkejut bukan main melihat betapa diambang pintu kemah itu telah berdiri seorang laki-laki tinggi yang mengenakan pakaian dan jubah hitam!
Penjaga-penjaga yang berdiri diluar pintu kemah itu agaknya tidak melihat masuknya orang ini dan hanya A-hai seorang yang melihatnya.
Akan tetapi, kini terjadi keanehan.
Orang yang mereka semua duga tentu Si Raja Kelelawar itu yang tadinya melangkah dengan gerakan kaki seperti tidak menginjak tanah, tiba-tiba berhenti dan matanya terbelalak menatap wajah A-hai, kemudian tiba-tiba kakinya melangkah kesamping dan memasang kuda-kuda sambil menjaga jarak antara dia dan A-hai, agaknya siap untuk berkelahi!
A-hai juga memandang dengan tajam penuh selidik, akan tetapi dia tidak mengenal orang ini dan hanya memandang dengan wajah heran.
"Kiranya engkau belum mampus juga!"
Tiba-tiba orang itu berkata dengan mata mendelik.
Dan terjadilah perobahan pada wajah A-hai.
Wajahnya yang tadinya nampak keheranan melihat tingkah laku orang berpakaian hitam itu, kini berkerut-kerut seolah-olah terjadi sesuatu didalam ingatannya.
Matanya terbuka lebar dan mencorong, seperti hendak menembus kedalam dada orang berjubah hitam itu, memandang penuh selidik, mukanya menjadi merah sekali dan dahinya berdenyut-denyut.
"Siapa siapakah engkau? Aku... aku seperti mengenal suaramu"
Dia tergagap menudingkan telunjuknya kepada orang itu.
Orang berjubah hitam itu agaknya menemukan kembali ketenangannya.
Mulutnya tersenyum mengejek dan dia tidak lagi mengacuhkan A-hai, melainkan memutar tubuhnya memandang kesekeliling.
Semua orang tadinya seperti terpesona oleh ketegangan yang terjadi ketika A-hai menegur orang itu, dan barulah kini mereka sadar akan siapa orangnya yang telah begitu berani memasuki kemah pusat ini.
Kim I Ciangkun segera mengenalnya dan tanpa banyak cakap lagi, bekas pengawal jagoan di Kotaraja ini sudah menerjang sambil mengerahkan Hui-ciang (Tangan Api), memukul kearah orang berpakaian hitam itu.
Angin keras menyambar berikut hawa yang amat panas.
(Lanjut ke
Jilid 30) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono
Jilid 30
"Berhenti!"
Tiba-tiba orang berpakaian hitam itu membentak sambil memandang kemuka Kim I Ciangkun dan sungguh aneh, tiba-tiba saja Kim I Ciangkun berhenti ditengah-tengah serangannya, seolah-olah dia telah berobah menjadi patung, mukanya membayangkan kebingungan dan matanya terbelalak.
"Keluar kamu!"
Kembali si jubah hitam membentak dan semua orang terkejut dan heran sekali melihat betapa seperti orang yang amat patuh, Kim I Ciangkun membalikkan tubuhnya dan tertatih-tatih melangkah keluar kemah itu.
Takutkah panglima pengawal yang lihai ini?
Akan tetapi Chu Siang Yu dan mereka yang memiliki kepandaian tinggi didalam kemah itu dapat menduga apa yang telah terjadi.
Si Raja Kelelawar, orang yang berpakaian dan berjubah hitam itu, tentu telah mempergunakan ilmu sihirnya untuk menguasai dan menaklukkan Kim I Ciangkun, maka Chu Siang Yu lalu mengeluarkan suara melengking nyaring yang mengandung getaran khikang kuat sekali.
Lengkingan ini ternyata mampu memecahkan daya pengaruh sihir yang dikerahkan oleh Si Raja Kelelawar kepada Kim I Ciangkun karena panglima pengawal itu tiba-tiba berhenti diambang pintu tenda lalu membalik memandang kepada orang berjubah hitam itu.
Akan tetapi, orang aneh itu mengulur tangan kiri dan telapak tangan kirinya dihadapkan kearah Kim I Ciangkun dan tiba-tiba saja panglima pengawal ini merasa betapa ada kekuatan dahsyat menghimpitnya dari semua penjuru, membuat dia tidak dapat berkutik, seolah-olah tenaganya habis tersedot.
Perlahan-lahan, sambil menyeringai sadis, Raja Kelelawar mengangkat tangan kanannya keatas, siap melakukan pukulan maut kearah lawan.
Barulah semua orang sadar akan bahaya yang mengancam keselamatan Kim I Ciangkun.
belasan orang perajurit pengawal yang berada diluar pintu lalu menyerbu masuk dan dengan tombak ditangan mereka itu menyerang.
Bagaikan hujan senjata-senjata itu menyambar dan mengenai tubuh Raja Kelelawar!
Akan tetapi, terdengar suara keras dan semua senjata itu terpental seperti mengenai tubuh yang terbuat dari baja yang amat kuat saja!
Tentu saja para perajurit itu merasa ngeri dan otomatis mereka melangkah mundur dengan mata terbelalak dan wajah pucat.
Tangan kanan Raja Kelelawar yang tadinya sudah siap menghantam Kim I Ciangkun, kini digerakkan, bukan memukul Kim I Ciangkun melainkan dialihkan, menyapu kesamping, kearah para perajurit yang menyerang tadi.
Hembusan angin dingin melanda mereka ini dan seperti daun-daun kering tertiup angin, belasan orang perajurit itu berpelantingan dan terdengar mereka mengeluh dan merintih.
Beberapa orang diantara mereka bahkan tidak sempat mengeluh lagi karena langsung tewas seketika!
"Tahan!!"
Chu Siang Yu melompat kedepan menghadapi orang berjubah hitam itu yang memandang kepadanya dengan senyum mengejek.
"Kalau tidak keliru, engkau adalah panglima kerajaan yang baru diangkat oleh Kaisar muda. Engkau adalah Si Raja Kelelawar itu, bukan?"
"Pemberontak she Chu! Dosamu bertumpuk dan aku sendiri yang akan menghukummu!"
Raja Kelelawar berseru dan begitu tangannya bergerak, angin dahsyat menyambar kearah pemimpin itu.
Akan tetapi, ternyata Chu Siang Yu juga bukan orang sembarangan.
Dia memiliki ilmu silat yang cukup tinggi dan serangan Raja Kelelawar yang dahsyat itu dapat dielakkannya dengan baik, bahkan diapun membalas dengan serangan pedangnya.
Demikian cepatnya Chu Siang Yu telah mencabut pedang dari pinggangnya dan menyerang sehingga Raja Kelelawar juga terkejut dan cepat mengelak sambil bersikap hati-hati, tidak berani memandang rendah pemimpin pemberontak ini yang ternyata adalah seorang ahli pedang yang berbahaya juga.
Terjadilah perkelahian hebat dan para pembantu Chu Siang Yu tentu saja tidak mau membiarkan pemimpin mereka terancam bahaya ditangan Raja iblis itu.
Mereka serentak maju mengepung dan mengeroyok.
Akan tetapi, kepandaian Raja iblis itu memang hebat sekali sehingga dalam waktu singkat saja, tiga orang pengeroyok telah dapat dirobohkannya dan Chu Siang Yu sendiri terdesak hebat.
Pemimpin pemberontak itu lalu bersuit nyaring dan muncullah tujuh orang berseragam putih-putih mengkilap yang memegang sebatang pedang ditangan kanan dan sebuah perisai ditangan kiri.
Sambil bergulingan, tujuh orang itu maju dan membuat gerakan mengepung Raja Kelelawar.
Chu Siang Yu dan para pembantunya mundur karena mereka bahkan akan mengacaukan gerakan Jit-seng-tin (Barisan Tujuh bintang) ini kalau mereka membantu.
Raja Kelelawar berdiri tegak memandang tujuh orang lawan yang kini mengepungnya dan tujuh orang itu semua bertindak mengitarinya.
Sungguh merupakan pemandangan yang amat menegangkan dan juga mempesonakan.
Karena pakaian para pengepung ini putih-putih mengkilap, maka pakaian Raja Kelelawar yang serba hitam itu menjadi menyolok sekali.
Tiba-tiba seorang diantara tujuh anggauta Jit-seng-tin itu mengeluarkan bentakan sebagai aba-aba dan mulailah bergerak menyerang secara teratur sekali.
Raja Kelelawar menghadapi mereka dengan tenang dan biarpun tujuh orang itu dapat bergerak saling bantu dan tentu saja gerakan mereka amat cepat karena susul-menyusul, namun Raja Kelelawar dengan ginkang yang luar biasa dapat mengimbangi mereka, bahkan dapat mematahkan semua serangan mereka yang membentuk bintang-bintang.
Belum lewat tiga jurus Raja Kelelawar sudah mengenal inti gerakan mereka dan kini dialah yang memimpin dan menyerang sehingga bentuk barisan itu membayar dan menjadi kacau.
Ketika memperoleh kesempatan baik, Raja Kelelawar itu membentak keras dan tangannya yang bergerak itu dapat bertemu dengan dada dan punggung dua orang pengeroyok.
"Takk! Takkk!"
Raja iblis itu berseru kaget dan meloncat kebelakang ketika merasa betapa tangannya bertemu benda keras yang amat kuat.
Tahulah dia bahwa dibalik baju putih mengkilap itu tersembunyi perisai baja yang kuat.
Maka, pukulannya tadi hanya membuat mereka terdorong mundur akan tetapi tidak terluka parah.
Kini Raja Kelelawar terdesak oleh tujuh orang lawannya.
Marahlah dia.
Sekali tangannya bergerak, kedua tangannya itu telah memegang sepasang belati yang mengeluarkan sinar kebiruan.
Dan diapun bergerak cepat Mantelnya yang lebar itu membungkus tubuhnya, menjadi perisai yang amat kuat karena mantel itu tahan serangan senjata.
Tubuhnya berputar-putar dan terbungkus jubah.
Setiap senjata yang sempat menyentuh tubuhnya, mental dan membalik kearah penyerangnya sendiri dan tubuhnya yang bergulingan.
Akan tetapi robeknya perisai membuktikan betapa ampuh dan tajamnya sepasang belati ditangan Raja iblis itu.
Gentarlah mereka.
"Awas! Jangan terlalu dekat dengan dia!"
Chu Siang Yu berseru dan diapun bertepuk tangan beberapa kali.
Kini muncul pula lima pasang orang yang berpakaian hitam-hitam.
Mereka membawa senjata aneh, yaitu jaring seperti jaring untuk menjala ikan.
Setiap pasang, yaitu dua orang, membawa sehelai jaring.
Lima pasang orang ini segera mengepung dan berada disebelah luar tujuh orang Jit-seng-tin.
Melihat ini, diam-diam Raja Kelelawar merasa terkejut sekali.
Kiranya Chu Siang Yu telah benar-benar bersiap siaga untuk menyambutnya, pikir Raja iblis ini.
Betapapun lihainya dan betapapun ampuh sepasang belatinya kalau sampai dia tertangkap jaring, dia akan celaka.
Kalau dipikirkan secara mendalam, memang tidak mungkin dia dan empat orang kawannya saja menyerbu perkemahan yang dihuni oleh puluhan ribu orang perajurit!
Tiba-tiba Raja Kelelawar mengeluarkan pekik melengking dan selagi semua orang terkejut dan seperti pecah rasa anak telinga mereka, Raja iblis itu sudah melenting tinggi diudara, menerobos atap kemah yang tinggi itu dan lenyap.
Suara lengkingannya amat hebat, bergema dan seperti bergulung-gulung bagaikan kilat bergemuruh, menderu-deru dari segala penjuru.
Semua orang terpukau dan seperti kesima, tak dapat bergerak dari tempatnya.
Ketika semua orang sadar kembali dan hendak melakukan pengejaran, iblis itu telah lenyap.
Semenjak Raja Kelelawar mengeluarkan pekik melengking tadi, tiba-tiba A-hai yang sejak tadi menonton perkelahian dengan wajah tetap bingung mengingat-ingat siapa adanya orang berpakaian hitam itu, kini bangkit berdiri dan terjadi perubahan hebat pada wajahnya.
Matanya mencorong ganas, lalu mendelik menakutkan.
Urat-urat darah dipelipis dan dahinya menggembung seperti mau pecah.
Uap tipis membungkus kepalanya dan matanya yang melotot itu seperti hendak meloncat keluar.
Peluhnya menetes-netes dan tubuhnya gemetar hebat seperti erang kedinginan.
Melihat keadaan A-hai ini, Bwee Hong tak dapat lagi menguasai rasa gelisah dan ngerinya.
"Koko! kunko..., dia dia kenapa?"
Seng Kun cepat menghampiri adiknya dan menarik tangan adiknya menyingkir menjauhi A-hai, kemudian berteriak kepada semua orang yang berada disitu.
"Awas, kawanku ini sedang kumat sakitnya. Harap semua orang menjauhkan diri, karena dalam keadaan begini dia berbahaya sekali. Kepandaiannya amat luar biasa!"
Kata-kata ini tentu saja disambut dengan senyum oleh mereka yang berada disitu.
Betapapun lihainya pemuda ini, siapa yang akan takut?
disitu penuh dengan orang-orang lihai sehingga Raja Kelelawar sendiripun sampai melarikan diri Sementara itu, Chu Siang Yu sibuk memberi perintah kepada anak-buahnya untuk melakukan pengejaran dan juga penjagaan agar diperketat.
"Kun-ko... tolonglah dia. jangan biarkan dia mati..., jangan biarkan dia mati...! Lihat urat-urat dikepalanya... ah, seperti mau pecah...!"
Bwee Hong berteriak sambil meremas-remas tangan kakaknya. Seng Kun mengelus pundak adiknya.
"Jangan khawatir, Hong-moi. Kita sekarang tidak bisa mendekatinya. Lihat matanya, siapa mendekat mungkin dibunuhnya. Kita hanya mengharap mudah-mudahan pengobatan yang kita berikan selama ini mampu menghilangkan hambatan-hambatan yang mengganggu jalan darahnya. Lihat, tonjolan dipelipisnya sudah tidak nampak lagi."
"Tidak..., tidak..., biar dia akan membunuhku, aku akan menolongnya, aku akan menusukkan jarumku dijalan darah tengkuknya. Aihh... koko, lepaskanlah aku, lepaskan aku... biar aku menolongnya!"
Bwee Hong meronta-ronta dari pelukan kakaknya.
"Jangan...!!"
Seng Kun terpaksa membentak adiknya karena dia maklum betul betapa besar bahayanya mendekati A-hai disaat seperti itu.
Sementara itu, wajah A-hai nampak semakin mengerikan dan tiba-tiba dia mengepal tinju tangannya, dan sekali menggerakkan tangan itu kekanan, ada angin bersiutan menyambar dan beberapa orang yang berada dua meter jauhnya dari tempat itu terpelanting!
"Aku...
aku mengenal...
suara melengking itu...!
Jahanam...!
Engkaulah kiranya orang itu!
Engkau...!
Engkau!!"
A-hai menjerit dan tiba-tiba tubuhnya meluncur keatas, menerobos lubang atap kemah dari mana Raja Kelelawar tadi melarikan diri.
Cepat sekali gerakannya, seperti terbang, seperti anak panah terlepas dari busurnya dan sebentar saja lenyap, hanya terdengar suara lengkingan aneh yang tidak kalah dahsyatnya dibandingkan dengan lengkingan yang dikeluarkan oleh Raja Kelelawar tadi.
Semua orang kembali kesima dan terpesona, seperti dalam mimpi saja.
Baru beberapa saat kemudian, setelah gema suara melengking itu lenyap, berbondong-bondong orang yang berada didalam kemah itu keluar.
Sementara itu, empat orang kawan Raja Kelelawar, ketika mendengar pekik lengkingan pemimpin mereka, berusaha meloloskan diri.
Mereka dikepung ketat dan sukar untuk lolos.
Akan tetapi, dasar penjahat-penjahat yang sudah berpengalaman, mereka menemukan akal dan mereka membakari kemah-kemah sehingga keadaan menjadi kalut.
Didalam kekalutan itulah, biarpun mereka menderita luka-luka, empat orang iblis itu dapat melarikan diri.
Setelah semua penjahat lari dan Chu Siang Yu bersama para pembantunya sibuk memadamkan kebakaran dan mengatur penjagaan menenteramkan para perajurit yang tadi dilanda kekalutan, diam-diam Seng Kun dan Bwee Hong yang ditinggal pergi A-hai itu meninggalkan perkemahan, mengambil jalan yang tadi dilalui Chu Siang Yu.
Para penjaga yang mengenal mereka sebagai sahabat dan tamu pemimpin mereka, tidak menghalangi.
Mereka berdua pergi dengan cepat, dengan maksud hendak kembali keperkemahan pasukan Liu Pang yang tidak begitu jauh dari tempat itu.
Disepanjang perjalanan ini, wajah Bwee Hong nampak berduka sekali.
Ia teringat kepada A-hai yang pergi meninggalkan mereka dalam keadaan kumat dan berbahaya, apa lagi kalau diingat bahwa agaknya A-hai lari melakukan pengejaran terhadap Raja Kelelawar yang demikian sakti dan ganasnya.
"Koko, bagaimana kalau A-hai nanti dibunuh oleh Raja Kelelawar? Biarpun dia juga lihai kalau sedang kumat, akan tetapi mana mungkin dia akan mampu menandingi Raja Kelelawar yang sakti itu?"
Seng Kun diam saja. Matanya menatap wajah adiknya.
"Hong-moi, serahkan saja kepada Thian. Pada hakekatnya, A-hai adalah seorang yang amat baik budinya dan aku yakin bahwa orang yang baik budinya pada akhirnya akan selamat lahir batinnya dan akan bahagia hidupnya. Pada saat ini kita tidak mampu berbuat sesuatu, karena kita tidak akan mampu mencari kedua orang yang memiliki kepandaian amat tinggi itu."
"Ah, koko, aku khawatir aku gelisah..."
Bwee Hong menahan isaknya. Seng Kun merangkulnya dengan hati terharu.
"Adikku engkau mencintanya?"
Bwee Hong tidak mampu menjawab, akan tetapi pertanyaan kakaknya itu membuat ia menangis tersedu-sedu diatas dada kakaknya yang merangkul dan mengelus rambutnya.
Cinta kasih adalah sesuatu yang hanya dapat dirasakan.
Bukan sesuatu yang dapat dipikirkan.
Cinta kasih tidak terpengaruh oleh pikiran, karenanya tidak pernah membuat perhitungan untung rugi.
Segala perbuatan kita manusia sekarang ini penuh dengan perhitungan untung rugi, oleh karena itu, pamrih memperoleh keuntungan menjauhi kerugian ini membuat setiap perbuatan kita palsu dan pura-pura, menyembunyikan pamrih.
Hanya cinta kasih sajalah satu-satunya yang masih memberi harapan.
Perbuatan yang didasari cinta kasih adalah perbuatan yang bebas dari pada pamrih mencari keuntungan atau kesenangan.
Hidup tanpa adanya cinta kasih sama dengan mati, karena hidup menjadi hampa, membuat manusia tiada bedanya dengan sebuah robot.
Dan cinta kasih ini baru nampak, baru muncul, sinarnya baru terang memenuhi hati yang tidak lagi dipenuhi keinginan-keinginan.
Malam itu terang bulan, sunyi akan tetapi menyejukkan hati, sama dengan sejuknya suasana dan udara yang penuh dengan sinar bulan kuning kehijauan.
Ditepi sebuah hutan, tak jauh dari perkemahan barisan pendekar yang dipimpin oleh Liu Pang, nampak dua orang duduk diatas rumput.
Seorang pemuda dan seorang gadis.
Tidak ada pemandangan yang lebih mesra, lebih menyenangkan dilihat dari pada sepasang muda-mudi bercengkerama dibawah sinar bulan, ditempat yang sunyi dan sejuk aman, pada saat yang amat romantis penuh damai.
Akan tetapi, asmara tidak selamanya mendatangkan kebahagiaan!
Asmara antara pria dan wanita membutuhkan sambutan dari kedua pihak!
Kalau hanya sepihak yang mencinta sedangkan pihak lain tidak, maka asmara mendatangkan sengsara, kekecewaan, patah hati!
Bahkan sambutan kedua pihak sajapun belum cukup.
Banyak terjadi dua orang muda yang saling mencinta, yang bersumpah disaksikan Langit dan Bumi bahwa mereka akan saling mencinta sampai selamanya, kemudian bercerai kasih, bahkan cinta mereka berobah menjadi benci!
Cinta asmara seperti itu mengenal pula cemburu, mengenal kebosanan, karena cinta asmara seperti itu mengandung nafsu dan nafsu selalu didampingi oleh kebosanan.
Demikian pula, kalau kita mengikuti percakapan antara pemuda dan gadis ditepi hutan itu dibawah sinar bulan, akan ternyata bahwa mereka tidaklah semesra seperti nampaknya.
"Nona Ho, betapa sempit dunia ini kalau kita bayangkan betapa sudah bertahun-tahun kita pernah bertemu secara kebetulan saja. Kemudian kita saling berpisah, bertahun-tahun lamanya, menempuh jalan hidup masing-masing, akan tetapi akhirnya kita saling berjumpa pula disini, Aneh, bukan?"
Ho Pek Lian, dara itu, tersenyum mengangguk.
"Kwee-taihiap..."
"Aih, jangan menyebutku taihiap (pendekar besar), nona."
"Hemm, aku tidak pernah dapat melupakan bahwa engkau dahulu adalah ketua lembah yang memimpin banyak orang gagah..."
"Lupakan saja hal itu, nona. Engkau sendiripun seorang pemimpin para pendekar yang berjuang, dan aku, selama menjadi murid suhu, tidak lagi mau mencampuri urusan perang. Aku adalah Kwee Tiong Li biasa, bukan pendekar besar bukan pula pejuang "
"Baiklah, Kwee-toako. Akan tetapi apa sih anehnya pertemuan antara kita? Bagaimanapun juga, masih terdapat kesamaan antara kita, yang jelas, kita sama-sama menentang segala macam bentuk kejahatan. Tentu saja besar kemungkinan kita saling jumpa."
"Nona... eb, sebaiknya kusebut adik padamu karena engkau menyebutku toako. Lian-moi, masih ingatkan engkau akan pertemuan kita yang pertama kali?"
Pek Lian tertawa.
"Tentu saja. Disebuah rumah yang gelap, engkau membunuh beberapa orang perwira dan... wah, engkau pernah membuat aku ketakutan."
"Akan tetapi, ada suatu hal yang takkan pernah kau ketahui atau kau duga."
"Apa itu, toako?"
"Bahwa pertemuan itu takkan pernah kulupakan selama hidupku, karena pada saat pertemuan itulah aku... aku jatuh cinta padamu, Lian-moi."
Ucapan yang membelok kearah pernyataan cinta ini sungguh tak pernah disangka oleh Pek Lian.
Ia terkejut sekali dan mengangkat muka memandang wajah pemuda yang duduk disampingnya itu dengan mata terbelalak.
Seorang pemuda yang tampan, bertubuh tegap, bermuka merah, berwibawa, pendiam dan pakaiannya sederhana.
Seorang pendekar tulen!
Jatuh cinta padanya sejak pertemuan pertama itu?
Seperti dalam dongeng saja, atau dalam mimpi.
Akan tetapi, didalam hatinya, Pek Lian menggeleng kepala dengan sedih.
Sesungguhnya, seorang gadis seperti ia seharusnya berbahagia dicinta oleh seorang pendekar muda seperti Kwee Tiong Li dan betapa mudahnya membalas cinta seorang pemuda seperti ini.
Akan tetapi baginya tidak mungkin.
Tidak mungkin ia membalas cinta pemuda ini karena...
karena memang tidak merasakan adanya cinta didalam hatinya terhadap pemuda ini, melainkan hanya perasaan suka dan kagum sebagai sahabat belaka.
Cinta hatinya sudah direnggut oleh...
oleh siapa?
Ia sendiri masih bingung dan hal ini sering kali membuat ia gelisah dan tak dapat tidur.
Melihat gadis itu memandang kepadanya dengan pandang mata kaget lalu nampak termenung diam, Tiong Li menatap wajah itu penuh harapan.
Betapa rindunya kepada Pek Lian.
Rasa cinta dan rindunya dipendam selama bertahun-tahun dan dia merasa bahwa kini tiba saatnya untuk berterus-terang.
Hatinya diliputi kekhawatiran dan harapan.
"Lian-moi, maafkan aku. Sudah terlalu lama aku menyimpan rahasia hatiku ini, dan biarlah kini kubukakan kepadamu. Aku cinta padamu, Lian-moi, dan suhu juga menyetujui perasaanku terhadap dirimu. Kalau saja engkau sudi menerima cintaku..."
"Cukup, toako, harap jangan dilanjutkan. Maafkan aku... toako, akan tetapi aku tidak mungkin dapat menerima cintamu... bukan aku tidak menghargainya... aku amat berterimakasih bahwa engkau suka memperhatikan diriku, akan tetapi..."
Ia tidak dapat melanjutkan dan menundukkan mukanya, jantungnya berdebar gelisah menanti reaksi penolakannya itu dari Tiong Li.
Hening sejenak.
Bukan keheningan yang menyejukkan hati lagi bagi keduanya.
Bagi Pek Lian, keheningan itu menggelisahkan hati dan bagi Tiong Li keheningan itu merupakan suatu kesepian yang membuatnya terpencil menyedihkan hati.
Ketika Pek Lian merasa hampir tidak dapat lebih lama lagi menahan himpitan kegelisahan dalam keheningan itu, terdengar suara Tiong Li, lirih dan agak gemetar.
"Lian-moi, apakah... apakah sudah ada orang lain?"
Pertanyaan yang sama inipun sering kali menghantui hati Pek Lian dan ia sendiripun belum dapat menjawab dengan tepat.
Akan tetapi ia pikir lebih baik mengiyakan saja agar Tiong Li tidak perlu memperpanjang harapan hatinya.
Maka iapun mengangguk, kemudian menyusulkan ucapan lirih.
"... maafkan aku, toako."
Tiong Li tersenyum dan Pek Lian hanya berani memandang sekilas saja karena melihat betapa getirnya senyum itu.
"Tidak apa, Lian-moi. Sudah dapat kuduga dan tidak mengherankan. Seorang dara seperti engkau ini tentu banyak pemuda yang jatuh cinta. Akan tetapi, seorang laki-laki harus memiliki keberanian untuk mencoba dan membuka isi hatinya, seperti halnya menghadapi seorang lawan tangguh, soalnya hanya kalah atau menang, dan aku... aku telah kalah... engkaulah yang harus memaafkan kelancanganku dan selamat tinggal, Lian-moi, mudah-mudahan kelak kita akan dapat bertemu lagi dalam keadaan yang lebih menggembirakan..."
Pemuda itu bangkit berdiri dan ketika Pek Lian juga berdiri, dia menjura dengan hormat, lalu pergi.
"Toako, engkau hendak kemana?"
Tiong Li menoleh dan tersenyum lagi.
"Pergi bersama suhu. Sampai jumpa..."
Dan diapun pegi meninggalkan Pek Lian yang termangu-mangu.
Pek Lian tentu akan lebih lama tenggelam dalam lamunannya dengan hati sedih kalau tidak muncul seorang perajurit yang melaporkan kepadanya bahwa Seng Kun dan Bwee Hong telah pulang dan kini gurunya, Liu Pang, memanggilnya Mendengar ini, hati Pek Lian girang sekali dan ia cepat-cepat pergi keperkemahan besar dimana ia melihat Seng Kun, Bwee Hong, dan Liu Pang bersama semua pembantunya telah berkumpul mendengarkan pelaporan kakak-beradik itu.
Pek Lian segera merangkul Bwee Hong dan duduk disebelah gadis itu, mendengarkan pula penuturan kakak-beradik yang berhasil baik dengan tugas mereka itu.
Akan tetapi, ia mengerutkan alisnya karena tidak melihat adanya A-hai bersama mereka!
"Dimana...
Dimana A-hai?"
Tanyanya kepada Bwee Hong sambil berbisik.
"Kau dengarkan saja, nanti koko tentu akan menceritakan tentang dia,"
Bisik Bwee Hong kembali.
Seng Kun menceritakan semua pengalamannya, tentang keadaan Kotaraja yang dikepung oleh pasukan Chu Siang Yu, tentang pertemuan mereka dengan Chu Siang Yu yang kemudian mengajak mereka bertiga berkunjung, kemudian tentang kemunculan Raja Kelelawar dan anak-buahnya untuk mengacau perkemahan Chu Siang Yu akan tetapi akibatnya hampir saja Raja iblis dan anak-buahnya itu celaka.
Akhirnya dia menceritakan tentang A-hai yang begitu bertemu dengan Raja Kelelawar lalu kumat dan melakukan pengejaran seorang diri.
Mendengar penuturan yang hebat menegangkan itu, semua orang termangu-mangu.
Terutama sekali Liu Pang dan juga Pek Lian, walaupun antara guru dan murid ini terdapat perbedaan sebab yang membuat mereka termangu.
Liu Pang termangu membayangkan kekuatan musuh, sedangkan Pek Lian termenung karena mengkhawatirkan kepergian A-hai yang melakukan pengejaran terhadap Raja Kelelawar seorang diri saja!
Sementara itu, Yap Kiong Lee yang tentu saja paling tertarik mendengar kemunculan Raja Kelelawar, ketika mendengar tentang A-hai, menggeleng kepala.
"Hebat..., hebat! Saudara A-hai itu memang memiliki ilmu kepandaian simpanan yang amat dahsyat. Akan tetapi Raja Kelelawarpun merupakan seorang iblis yang sakti. Aku pernah menghadapi keduanya dan tingkat kepandaian mereka memang jauh diatas tingkatku. Sungguh, aku ingin sekali dapat menyaksikan pertarungan diantara keduanya, tentu akan hebat bukan main!"
Semua orang yang mendengar ucapan Yap Kiong Lee ini menarik napas panjang penuh kagum.
Pemuda she Yap yang mereka banggakan dan mereka anggap paling lihai itupun masih mengaku kalah terhadap Raja Kelelawar!
"Hemm, baiknya Raja iblis itu mengacau perkemahan Chu Siang Yu, bukan perkemahan kita!"
Kata seorang diantara mereka dengan ngeri. Liu Pang yang sejak tadi menundukkan muka dengan alis dikerutkan, lalu berkata.
"Kita harus berhati-hati. Kalau dibandingkan, diantara kekuatan pemerintah, kekuatan pemberontak Chu Siang Yu dan kekuatan kita, maka kekuatan kita adalah yang paling lemah. Kita harus mengatur siasat sebaik-baiknya agar sekali pukul merupakan pukulan terakhir yang berhasil baik."
Mereka bermusyawarah dan akhirnya diambil keputusan bahwa mereka akan membiarkan dua kekuatan itu saling hantam sampai seorang diantaranya kalah dan yang lain, biarpun menang, tetap saja berkurang kekuatannya.
Saat itulah mereka akan menggempur pihak yang menang.
Siasat ini mereka namakan MEMBIARKAN DUA EKOR ANJING MEMPEREBUTKAN TULANG, yang dimaksudkan bahwa dua ekor anjing itu adalah pihak kerajaan dan pihak Chu Siang Yu.
Kalau dua ekor anjing itu sudah kelelahan dan yang seekor mati, mudah untuk membunuh yang kedua.
Setelah pertemuan dibubarkan untuk memberi waktu istirahat kepada semua orang, Seng Kun dan Bwee Hong bercakap-cakap dengan Yap Kiong Lee yang masih merasa tertarik sekali mengenai diri A-hai dan Raja Kelelawar.
Dalam kesempatan ini, Seng Kun menceritakan bahwa dia pernah bertemu dengan ayah angkat atau guru pendekar itu, ialah Yap Cu Kiat atau Yap-lojin ketika orang tua itu melindungi putera mahkota yang hendak dibunuh oleh Kaisar muda.
"Yap-Lo-cianpwe itu pergi mencari sisa pasukan Jenderal Beng,"
Demikian Seng Kun menutup ceritanya.
"Akan tetapi... eh, kenapa dalam pertemuan tadi aku tidak melihat Kwa Lo-cianpwe ketua Tai-bong-pai?"
"Benar! Akupun tadi sudah heran kenapa tidak melihat adik Siok Eng!"
Bwee Hong bertanya, Adik ini tahu bahwa sang kakak sesungguhnya mencari dan kehilangan gadis manis puteri ketua Tai-bong-pai itu! Yap Kiong Lee tersenyum.
"Aih, hampir aku lupa. Beliau sekeluarga telah pergi dan menitipkan surat untukmu."
Dia lalu mengeluarkan sesampul surat dari saku bajunya dan diserahkan kepada Seng Kun.
Pemuda ini tidak segera membacanya.
Entah bagaimana, biarpun surat itu datangnya dari ketua Tai-bong-pai, karena ketua itu ayah Siok Eng, dia merasa malu membukanya didepan orang lain!
Dan untuk menutup rasa malunya, dia membelokkan percakapan dan bertanya.
"Dan akupun tidak melihat Kam lo-cianpwe dan Kwee Tiong Li!"
"Merekapun sudah berangkat pergi, baru saja sebelum kalian berdua datang,"
Jawab yang ditanya.
Mereka berpisah dan pergi kekemah masing-masing yang sudah disediakan untuk mereka.
Setelah berduaan dengan adiknya, baru surat itu dibuka oleh Seng Kun dan isinya ternyata merupakan surat undangan!
Dengan resmi, ketua Tai-bong-pai sekeluarga mengundang tuan penolong mereka, Seng Kun dan Bwee Hong, untuk berkunjung ketempat mereka sesudah kakak-beradik itu menyelesaikan semua urusan mereka.
Membaca surat undangan itu, Bwee Hong berkata.
"Kun-ko, kita harus menemui ayah dahulu sebelum pergi mengunjungi mereka."
Mendengar nada suara adiknya, Seng Kun memandang.
"Maksudmu?"
"Kita harus pergi bersama ayah kesana untuk meminang adik Siok Eng!"
Seng Kun menarik napas panjang.
"Matamu tajam sekali, adikku. Memang, aku tertarik kepadanya. Hanya sayang... ayahnya ketua Tai-bong-pai..."
"Hemm, apa hubungannya hal itu dengan kalian berdua kalau kalian saling mencinta?"
"Engkau melupakan ayah kita? Ayah adalah seorang bangsawan, seorang pendeta pula. Aku sangsi apakah beliau suka berbesan dengan ketua Tai-bong-pai."
Bwee Hong terdiam dan melihat wajah kakaknya yang muram, ia merangkul.
"Koko, jangan khawatir, aku akan membantumu membujuk ayah kalau tiba saatnya."
"Engkau adikku yang baik. Mudah-mudahan engkaupun akan berbahagia kelak dengan... Dia!"
Malam itu, Bwee Hong tidur bersama Pek Lian.
Keduanya mempunyai rahasia hati, akan tetapi tidak mau saling menceritakan.
Bahkan Pek Lian tidak berani bercerita tentang peristiwa yang dialaminya bersama Tiong Li malam tadi.
*** Semua perhitungan yang dilakukan oleh Chu Siang Yu yang ahli dalam ilrnu perang itu ternyata berjalan seperti yang digambarkannya.
Benteng Kotaraja diserbu.
Pasukannya dibantu pasukan asing dari utara dan barat yang besar jumlahnya.
Biarpun Kotaraja dilindungi oleh datuk-datuk kaum sesat, akan tetapi tidak mampu menahan gelombang pasukan yang amat besar itu dan akhirnya benteng itupun jatuh.
Dan sesuai dengan watak para penjahat, begitu mereka tidak ada harapan lagi, para datuk itupun melarikan diri entah kemana!
Ketika Chu Siang Yu dan para pembantu pilihannya menyerbu Istana, mereka menemui perlawanan gigih.
Kaisar yang jangkung itu dilindungi oleh datuk-datuk sesat seperti Pekpi Siauw-kwi, Jai-hwa Toat-beng-kwi, Sin-go Mo Kai Ci, Sanhek-houw dan masih banyak lagi tokoh-tokoh dunia sesat yang jumlahnya dua puluh orang lebih.
Mereka ini mengadakan perlawanan gigih dan ketika keadaan mendesak, Kaisar sendiri yang maju membela diri dan Chu Siang Yu bersama para pembantunya menghadapi suatu kejutan yang hebat.
Kiranya Kaisar itu amat lihai, bahkan jauh lebih lihai dari pada para pengawalnya, lebih lihai dari pada penjahat besar seperti Sanhek-houw sendiri!
Banyak sekali perajurit yang roboh dan tewas ditangan Kaisar dan para pengawalnya ini.
Anehnya, Raja Kelelawar sendiri tidak pernah keluar dan agaknya Raja iblis yang licik itu siang-siang sudah melarikan diri dari Istana!
Akan tetapi ketika Chu Siang Yu dan beberapa orang bekas komandan pengawal termasuk Kim I Ciangkun dan Gin I Ciangkun ikut mengeroyok dan berhasil mendekati Kaisar, barulah mereka tahu bahwa Kaisar yang amat lihai ini ternyata bulanlah Kaisar muda yang diangkat oleh para Menteri dunia sebagai pengganti Kaisar tua yang telah meninggal!
Karena memakai pakaian Kaisar, maka hampir sama.
Akan tetapi orangnya sama sekali bukan!
Ini adalah Kaisar palsu!
Keadaan menjadi geger ketika Kim I Ciangkun berteriak-teriak mengatakan bahwa Kaisar adalah Kaisar palsu!
"Bedebah engkau!"
Bentak Kaisar itu dan tangannya menyambar kedepan.
Kim I Ciangkun dibantu oleh Gin I Ciangkun menyambut, mengerahkan sinkang mereka dan keduanya mempergunakan Hui-ciang dan Swat-ciang yang menjadi andalan mereka.
"Dessss!"
Hantaman kedua tangan Kaisar itu disambut oleh dua orang komandan ini dan akibatnya, dua orang komandan itu terlempar dan terbanting roboh dengan mata mendelik dan napas putus!
Hal ini tentu saja menggegerkan pihak penyerbu.
Dua orang komandan itu amat lihai dan kuat, akan tetapi sekali pukul tewas oleh Kaisar asing ini!
Chu Siang Yu memberi aba-aba dan masuklah ratusan orang perajurit pilihan menyerbu Istana.
Melihat ini, Kaisar memberi isyarat dan bersama para pengawalnya, dia berhasil membuka jalan berdarah dan meloloskan diri melalui pintu belakang.
Diantara puluhan orang pengawal dan anak buahnya hampir setengahnya roboh dan tewas, akan tetapi Kaisar itu sendiri berhasil lolos menyelamatkan diri.
Perlawanan para pengikut Kaisar akhirnya dapat dilumpuhkan dan Chu Siang Yu berhasil menguasai Istana.
Dua orang pembesar durna yang menjadi biang keladi semua kekeruhan pemerintah, yaitu kepala thaikam yang bernama Chao Kao bersama sekutunya, Perdana Menteri Li Su yang korup, ditangkap dan tidak sempat diadili karena mereka berdua dikeroyok, dipukuli, ditendangi dan diinjak-injak sehingga mereka tewas dalam keadaan yang mengerikan sekali.
Mayat mereka menjadi dua onggok daging dan tulang-tulang remuk.
Karena merasa heran melihat betapa Kaisar muda yang amat lihai dan berhasil melarikan diri itu ternyata bukan Kaisar aseli, Chu Siang Yu mengadakan penyelidikan.
Dari pengakuan para tawanan dia mendengar bahwa Kaisar muda yang menggantikan Kaisar lama diam-diam telah dibunuh dengan racun oleh Chao Kao dan kaki tangannya, kemudian bersama Li Su dan para pembesar pengkhianat lainnya, diam-diam mereka mengangkat seorang Kaisar baru, yaitu Kaisar yang amat lihai ilmu silatnya tadi.
Chu Siang Yu menggeleng-geleng kepala.
Tak disangkanya sampai sejauh itu pengkhianatan yang dilakukan oleh para Menteri korup.
Yang amat mengherankan hatinya adalah tidak munculnya Raja Kelelawar dalam penyerbuan di Istana itu.
keadaan yang mengerikan sekali.
Apa gerangan yang telah terjadi dengan Raja iblis itu?
Dia teringat betapa pemuda aneh yang kumat itu melakukan pengejaran terhadap Raja Kelelawar, apakah pemuda itu berhasil membunuhnya?
Banjir darah terjadi di Kotaraja, sejak dari pintu benteng sampai kedalam Istana.
Tak terhitung banyaknya manusia yang tewas, menjadi korban perang yang amat ganas itu.
Dan mereka yang menang perang berpesta-pora diatas tanah yang masih berlumur darah, baik darah musuh maupun darah rekan-rekan mereka sendiri.
Selagi hawa kematian masih mengotori Kotaraja, Chu Siang Yu dan pasukan-pasukannya, bersama para sekutunya, yaitu pasukan-pasukan asing, merayakan pesta kemenangan dengan meriah sekali.
Akan tetapi, seperti biasa terjadi dalam perang, pesta kemenangan ini bukan tidak terjadi bersama peristiwa-peristiwa mengerikan dan menyedihkan bagi para penduduk.
Para perajurit yang merasa menang perang mulai bertindak sewenang-wenang Manusia, dibagian dunia yang manapun, selalu condong untuk menciptakan kekuasaan dalam kemenangan, dan mempergunakan kekuasaan itu untuk bertindak sewenang-wenang.
Para perajurit yang mabok-mabokan itu berkeliaran diantara rumah para penduduk, dan tidak ada harta benda dan wanita-wanita yang lolos dari gangguan mereka.
Terjadilah perampokan, perkosaan dan pembunuhan terhadap mereka yang melawan.
Terutama sekali para perajurit pasukan asing dari utara yang memang ganas dan liar itu segera memperebutkan para wanita penduduk Kotaraja, tidak perduli wanita itu cantik atau buruk, muda ataupun tua.
Bukan hanya wanita-wanita penduduk Kotaraja yang menjadi sasaran.
Juga keluarga para pembesar, para dayang Istana, para puteri yang cantik-cantik dijadikan rebutan.
Banyak peristiwa perkosaan dan pembunuhan keji terjadi didepan mata perajurit pribumi sendiri, dan bagaimanapun juga, perasaan setia kawan sebangsa membuat para perajurit pribumi menjadi marah.
mulailah terjadi bentrokan-bentrokan antara para perajurit pribumi melawan perajurit asing itu.
Mula-mula memang bentrokan kecil saja antara perajurit, memperebutkan wanita atau harta benda, akan tetapi bentrokan pribadi disusul bentrokan kelompok dan golongan, kemudian bentrokan antara pasukan!
Para pimpinan pasukan tidak berhasil melerai, bahkan mereka terseret dan terjadilah pertempuran secara terbuka!
Pesta kemenangan yang dirayakan selama dua tiga hari itupun kini berobah menjadi pesta pertempuran yang makin lama semakin hebat, seolah-olah berobah menjadi, perang terbuka!
Kembali Kotaraja dilanda pertempuran hebat yang mengorbankan lebih banyak lagi jiwa manusia Melihat ini, Chu Siang Yu mengerahkan pasukan-pasukannya dan dia tidak bertindak kepalang tanggung.
Dia melihat betapa pasukan asing yang tadi nya menjadi sekutunya itu amat tamak dan kalau dibiarkan kelak hanya akan menjadi pengganggu jalan pemerintahannya saja.
Ternyata orang-orang asing itu amat tamak dan menuntut terlalu banyak dari jasa bantuan mereka.
Siapa tahu kelak malah akan merampas kedudukannya, maka sebelum hal-hal yang lebih buruk terjadi, lebih baik basmi saja mereka.
Kesempatan baik terbuka dan alasannyapun cukup kuat, yaitu dengan adanya permusuhan-permusuhan antara pasukan mereka.
Terjadilah pertempuran hebat dan dalam waktu dua hari dua malam, pasukan asing itu dapat dibasmi habis karena memang tentu saja jumlah mereka jauh kalah banyak dibandingkan dengan pasukan Chu Siang Yu.
Walaupun demikian, dalam gerakan pembasmian ini, Chu Siang Yu kehilangan banyak sekali perajurit sehingga tentu saja kekuatan barisannya menjadi jauh berkurang.
Apa lagi sisa pasukannya juga menjadi lelah kehabisan tenaga karena baru saja mengerahkan tenaga menyerbu Kotaraja, harus disusul pula dengan pertempuran hebat dan melelahkan melawan pasukan asing bekas sekutu mereka itu.
Semua peristiwa yang terjadi di Kotaraja itu tentu saja tidak pernah lepas dari pengintaian Liu Pang.
Tentu saja hati Liu Pang gembira bukan main melihat perkembangan yang sama sekali tidak diduganya dan amat menguntungkan pihaknya itu.
Maka diapun menahan diri dan membiarkan Chu Siang Yu berhantam sendiri dengan sekutunya sampai pasukan-pasukan asing itu terbasmi habis.
Selagi pasukan-pasukan Chu Siang Yu kelelahan, tiba-tiba saja Liu Pang menggerakkan barisannya yang sudah beristirahat selama lima hari dan berada dalam keadaan segar bugar, menyerbu pintu gerbang Kotaraja yang terjaga oleh pasukan-pasukan yang kelelahan.
Kembali terjadi perang yang paling hebat diantara perang yang lalu.
Kotaraja yang porak-poranda itu menjadi semakin hancur.
Chu Siang Yu yang sedang mabok kemenangan itu tentu saja kaget setengah mati.
Cepat dia mengumpulkan para pembantunya untuk mengatur pertahanan.
Akan tetapi, mana mungkin pasukannya yang sudah banyak berkurang jumlahnya itu, yang sedang berada dalam kelelahan dan kehabisan tenaga, mampu menandingi kekuatan pasukan para pendekar yang jumlahnya besar dan keadaan jasmaninya segar bugar itu?
Apa lagi karena penduduk segera menyambut pasukan Liu Pang ini sebagai pasukan pembebas, dan para penduduk mendukung dan membantunya.
Liu Pang melakukan penyerbuan dipagi buta.
Tidak sukar bagi pasukannya untuk meruntuhkan pintu gerbang dan terjadilah pertempuran terbuka diseluruh Kotaraja.
Pertempuran besar yang amat mengerikan dan terjadi selama sehari penuh.
Ketika matahari sudah condong ke barat, pasukan Chu Siang Yu hampir seluruhnya tersapu bersih.
Mayat-mayat berserakan dan bergelimpangan dilorong-lorong, dijalan-jalan, dihalaman-halaman rumah penduduk, bercampur baur dengan mayat-mayat pasukan asing yang kemarin mereka bantai dan belum sempat disingkirkan.
Keadaan ini sungguh mendirikan bulu roma.
Laporan demi laporan tentang kekalahan yang diderita pasukannya membuat Chu Siang Yu merasa benar-benar terpukul hancur batinnya.
Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa perjuangannya yang bertahun-tahun lamanya, yang mengorbankan puluhan ribu nyawa pasukannya, yang diperjuangkannya dengan susah payah melalui air mata, peluh dan darah, kini setelah tiba diambang keberhasilan yang gemilang, ternyata menghadapi kehancuran!
Penguasaan Kotaraja dan Istana hanya dapat dinikmatinya dalam waktu beberapa hari saja!
Seluruh pengawal dan pasukan di Istana telah dikerahkan membantu keluar.
Kini tinggallah Chu Siang Yu berdua dengan isterinya di Istana, ditemani tujuh orang pengawalnya yang berpakaian putih mengkilap.
Sore hari itu, setelah mendengar laporan terakhir bahwa pasukannya sudah hampir terbasmi habis, Chu Siang Yu mengenakan pakaian perang dan duduk menghadapi meja makan ditemani isterinya yang cantik.
Mereka makan-minum dan kelihatannya gembira, walaupun wajah isterinya yang cantik itu pucat sekali dan matanya basah.
"Isteriku, kenapa engkau menangis? Segala sesuatu didunia ini hanya ada dua macam, baik atau buruk, terang atau gelap, menang atau kalah. Yang dua itu selalu datang bergantian, bergilir. Ada waktunya terang ada waktunya gelap, ada waktunya menang ada waktunya kalah, seperti juga ada waktunya hidup ada waktunya mati. Kita harus berani menghadapi kenyataan, baik maupun buruk. Mari kita makan-minum sepuasnya, isteriku, siapa tahu untuk yang terakhir kali."
Mendengar ucapan terakhir itu, isterinya bangkit dan menubruknya sambil menangis.
Chu Siang Yu merangkul dan menciumi isterinya yang tercinta, diam-diam merasa bersyukur bahwa mereka tidak mempunyai anak.
Sungguh akan membingungkan sekali kalau mereka harus menghadapi kegagalan seperti ini bersama anak-anak mereka.
Baca Juga: Pendekar Sadis 5
Baca Juga: Si Bangau Merah 3