Darah Pendekar 12

Eps 12 Darah Pendekar - Kho Ping Hoo

Baca online Darah Pendekar - Kho Ping Hoo

Cersil Darah Pendekar - Kho Ping Hoo.

"Sudahlah, tenangkan hatimu. Ingat bahwa aku adalah keturunan keluarga panglima, bahwa aku seorang pemimpin yang harus berani menghadapi segala kegagalan. Aku akan keluar memimpin sendiri sisa pasukanku menghadapi musuh."

Wanita itu bangkit dan menyusut air matanya, lalu berkata dengan sikap gagah.

"Aku ikut dan akan membantumu!"

"Ah, jangan, isteriku. Engkau tinggallah disini. Liu Pang adalah seorang gagah, dia pasti akan melindungimu dan tidak akan membolehkan orang mengganggumu."

"Tidak! Mati hidup aku harus berada disampingmu!"

"Jangan, isteriku. Apakah engkau akan membuat suamimu ini menjadi buah tertawaan orang? Apa akan kata mereka? Lihat, Chu Siang Yu tidak berani maju perang tanpa diantar isterinya! Maukah engkau melihat aku menjadi bahan ejekan?"

Isterinya menangis dan merangkul suaminya, tidak mau melepaskah lagi.

Beberapa orang dayang juga menangis sambil berlutut, sedangkan tujuh orang pengawalnya, yaitu barisan Jit-seng-tin yang lihai itu, memandang dengan termangu-mangu.

Mereka merasa terharu, akan tetapi mereka adalah perajurit-perajurit yang keras hati dan tidak mau membiarkan diri diseret kelemahan perasaan.

Akhirnya, setelah beberapa kali mencium isterinya dengan penuh kemesraan dan kecintaan hatinya, Chu Siang Yu dengan halus merenggutkan dirinya terlepas dari rangkulan isterinya, memberi isyarat kepada Jit-seng-tin lalu meninggalkan ruangan Istana itu tanpa menoleh lagi karena dia mendengar isterinya menangis sesenggukan bersama para dayang.

Pemimpin pemberontak ini melangkah lebar diikuti tujuh orang pengawalnya, kemudian menunggang kuda dan menyerbu keluar, mengamuk!

Hebat bukan main sepak terjang Chu Siang Yu dan Jit-seng-tin dan akhirnya mereka bertemu dengan rombongan Liu Pang sendiri!

Terjadilah pertempuran yang amat seru, akan tetapi karena Liu Pang dibantu orang-orang pandai seperti dua saudara Yap, Pek Lian dan lain-lain, akhirnya seorang demi seorang dari Jit-seng-tin roboh dan tewas.

Melihat, betapa para pengawalnya tewas dan pertempuran disekitar tempat itu berhenti karena sisa anak-buah pasukannya banyak yang menyerah, Chu Siang Yu menjadi semakin sedih.

"Jangan bunuh dia! Tangkap hidup-hidup karena aku mengagumi kegagahannya'!"

Liu Pang berseru kepada para pembantunya dan kini Chu Siang Yu dikepung. Pemimpin ini maklum bahwa melawan terus tidak mungkin. Dia tentu akan kewalahan dan akhirnya dapat ditangkap sebagai tawanan.

"Seorang perajurit sejati lebih baik mati dari pada hidup menjadi tawanan!"

Teriaknya dan pedangnya berkelebat.

Liu Pang dan para pembantunya terkejut akan tetapi mereka tidak sempat mencegah lagi.

Tubuh Chu Siang Yu terguling dari atas kudanya dalam keadaan tak bernyawa karena pedangnya telah menggorok lehernya sendiri!

Liu Pang berdiri memandang jenazah yang berlumuran darah itu dengan hati trenyuh lalu dia memesan pengawalnya untuk mengurus baik-baik jenazah pemimpin itu.

"Serahkan jenazah dalam peti yang baik kepada keluarganya yang mungkin masih berada di Istana, agar dapat disembahyangi,"

Katanya.

Akan tetapi, ketika dia dan para pembantunya menyerbu Istana, tidak terdapat perlawanan sama sekali.

Disebuah ruangan depan, mereka menemukan isteri Chu Siang Yu dan dua belas orang dayang menggeletak tak bernyawa.

Melihat pisau belati menancap didada masing-masing tahulah Liu Pang bahwa mereka itu semua membunuh diri, mungkin setelah mendengar akan tewasnya Chu Siang Yu.

Liu Pang makin terharu melihat peristiwa ini dan diapun memesan agar jenazah isteri pemimpin pemberontak itu dirawat sebagaimana mestinya.

Mereka semua terus memasuki Istana.

Kosong!

Istana yang masih porak poranda bekas tangan-tangan panjang yang merampoki benda-benda berharga itu nampak sunyi dan kosong, walaupun semua lampu dipasang.

Agaknya para pengawal dan petugas yang tadinya berjaga di Istana, semua telah dikerahkan keluar untuk membantu pasukan menahan serangan musuh.

Liu Pang memimpin para pembantunya terus masuk sampai kebalairung, ruangan luas dimana terdapat singgasana Kaisar dan dimana Kaisar biasa bersidang bersama semua pembesar atasan.

Ruangan yang luas itupun sunyi, akan tetapi tiba-tiba Bwee Hong menuding kedepan sambil menahan jeritnya.

semua orang memandang dan terbelalak keheranan.

Diatas singgasana, kursi kebesaran Kaisar itu, duduk seorang pria yang agaknya sedang termenung seorang diri.

Dan pria itu bukan lain adalah A-hai!

Tentu saja semua orang merasa heran bukan main.

Pek Lian sudah meloncat kedepan, memandang terbelalak kepada pemuda itu.

"Engkau... engkau disini? Bagaimana bisa berada disini?"

Juga Seng Kun dan Bwee Hong meloncat maju, girang melihat pemuda itu yang amat mereka khawatirkan ternyata, dalam keadaan selamat didalam Istana, malah enak-enak duduk diatas singgasana Kaisar!

"Saudara A-hai, bagaimana engkau tahu-tahu berada disini?"

A-hai tersenyum dan bangkit berdiri dan kakak-beradik yang bermata tajam itu dapat melihat dengan jelas betapa terjadi perobahan besar pada diri pemuda itu.

Sikapnya yang seperti orang tolol atau bingung itu lenyap sama sekali dan kini sikapnya tenang, bahkan agung dan berwibawa.

Matanya bersinar tajam dan wajahnya berseri gembira melihat rombongan Liu Pang, apa lagi melihat Pek Lian, Bwee Hong dan Seng Kun.

"Nona Lian, panjang ceritanya bagaimana aku dapat berada disini,"

Jawabnya kepada Pek Lian, kemudian dia menjura kepada Seng Kun dan Bwee Hong sambil berkata.

"Sahabat Kun dan nona Hong, berkat pengobatan kalian berdua yang amat berharga, kini aku dapat mengingat semua hal dan ingatanku pulih kembali. Banyak terimakasih atas segala budi kebaikan kalian berdua."

Sebelum tiga orang muda itu sempat menjawab, dia sudah menjura kepada Liu Pang.

"Liu-Bengcu, saya menghaturkan selamat atas kemenangan Bengcu dan para pendekar."

Liu Pang balas menjura dan biarpun wajahnya berseri, namun dia menarik napas panjang dan mengerutkan alisnya.

"Ah, kemenangan yang berlumuran darah. Entah berapa laksa orang gagah yang harus mengorbankan nyawanya, negara ini baru dapat dibebaskan dari cengkeraman orang-orang jahat setelah dicuci oleh darah para pendekar."

Diam-diam Seng Kun, Bwee Hong, dan Pek Lian ingin sekali mendengar apa yang telah terjadi antara A-hai dan Raja Kelelawar, akan tetapi karena suasana yang demikian sibuknya, mereka belum sempat bertanya.

Kemenangan gemilang itu tentu saja disambut dengan pesta lagi oleh Liu Pang dan pasukannya.

Akan tetapi, Liu Pang adalah seorang pemimpin yang baik.

Dia tidak mau mengulang kesalahan yang diperbuat Chu Siang Yu.

Dia mengeluarkan peraturan keras dan melarang perajurit-perajuritnya untuk berbuat sewenang-wenang.

Para pendekar yang membantunya bertugas melakukan pengawasan.

Juga dia tidak mabok kemenangan.

Dibentuknya pasukan-pasukan baru yang bertugas mengadakan pembersihan terhadap musuh-musuh yang masih berkeliaran, juga ada pasukan yang bertugas memperbaiki semua kerusakan dan penjagaan terhadap keamanan di Kotaraja juga diperkuat.

Rakyat merasa aman terlindung sehingga mereka menyambut kemenangan Liu Pang dengan gembira, dianggap sebagai kemenangan mereka sendiri pula, kemenangan yang baik terhadap yang jahat.

Karena itu, yang bergembira dan berada dalam keadaan berpesta ria bukan hanya Liu Pang dan pasukannya, melainkan seluruh penghuni Kotaraja.

Orang-orang bersuka ria, dijalan-jalan, diwarung-warung, dirumah-rumah, dengan pemasangan kembang api dan petasan.

Pada keesokan harinya, dengan meriah Liu Pang dinobatkan sebagai Kaisar baru secara resmi.

Yang mengepalai upacara resmi penobatan Liu Pang sebagai Kaisar ini bukan lain adalah Bu Hong Seng-jin, kepala kuil Istana Thian-to-tang yang sudah dibebaskan dari dalam penjara bersama banyak sekali pejabat tinggi lainnya.

Para pejabat tinggi yang rata-rata pandai dan jujur ini oleh Liu Pang dibebaskan dan diberi kedudukan tinggi sesuai dengan kepandaian masing-masing.

Tentu saja Seng Kun dan Bwee Hong hadir pula dalam penobatan Kaisar yang dipimpin upacaranya oleh ayah kandung mereka itu.

Juga A-hai, Pek Lian, Yap Kiong Lee, Yap Kim dan para pembantu lain hadir semua dengan wajah berseri gembira.

Dengan dinobatkannya Liu Pang menjadi Kaisar Han Kao Cu, maka berdirilah wangsa baru yang disebut Wangsa Han (tahun 202 Sebelum Masehi).

Kaisar Han Kao Cu segera membagi-bagi hadiah kepada para pembantunya.

Mereka diberi kedudukan dan tanah dengan pangkat yang tinggi sesuai dengan kepandaian dan jasa mereka.

Penobatan Kaisar dan pangkat para pembantunya itu tentu saja disusul dengan pesta yang meriah.

Yap Kim yang menjadi tangan kanan Liu Pang diwaktu akhir-akhir ini, oleh Kaisar Han Kao Cu diangkat menjadi panglima kerajaan, sedangkan Yap Kiong Lee yang tidak mau menerima pangkat itu diangkat sebagai penasihat tanpa kedudukan tetap, akan tetapi mempunyai tanda kekuasaan berupa pedang pusaka hadiah Kaisar dan cap kebesaran sebagai penasihat!

Bu Hong Seng-jin masih tetap menjadi kepala kuil Istana dan penasihat Kaisar.

Akan tetapi Seng Kun dan Bwee Hong dengan halus menolak pemberian pangkat, hanya menerima hadiah-hadiah dari Kaisar berupa barang-barang berharga dan indah sebagai hasil sitaan dalam Istana.

Banyak sekali harta kekayaan yang disita dari Istana, terutama sekali harta pusaka yang telah ditimbun oleh mendiang Perdana Menteri Li Su, sungguh luar biasa banyaknya sampai tak terhitung.

Demikian pula harta kekayaan dari mendiang Thaikam Chao Kao amatlah besar.

Semua orang bergembira ria, agaknya sudah lupa bahwa Kotaraja yang sudah nampak bersih itu masih berbau darah, dan ribuan orang masih menderita karena luka-luka mereka didalam pertempuran.

Sewaktu semua orang bersuka ria dipagi hari esoknya, A-hai meninggalkan Istana yang sedang dalam keadaan pesta itu secara diam-diam dan dia berjalan seorang diri menyusuri jalan-jalan yang juga amat ramai dengan penduduk yang ikut pula merayakan penobatan Kaisar baru.

Dia melangkah perlahan-lahan seperti orang termenung, tidak menengok kekanan kiri, bahkan tidak melihat semua keramaian itu.

Karena itu, diapun tidak memperhatikan dan tidak tahu bahwa ada seorang wanita diam-diam membayanginya dari jauh.

Wanita ini bukan lain adalah Chu Bwee Hong!

Dara ini belum juga memperoleh kesempatan untuk bercakap-cakap dengan A-hai semenjak mereka bertemu didalam Istana.

Keadaan terlalu sibuk dan Bwee Hong sendiripun bersama kakaknya sibuk menangani pembebasan ayah kan-dungnya dan kemudian menghabiskan waktu mereka untuk bercakap-cakap dengan ayahnya.

kemudian disusul kesibukan ayahnya yang memimpin upacara pengangkatan Kaisar baru, maka biarpun hatinya ingin sekali dapat bicara dan berduaan dengan A-hai, namun kesempatan belum terbuka.

Oleh karena itu, ketika Bwee Hong melihat A-hai keluar dari ruangan pesta dan berjalan sendirian, iapun diam-diam membayangi dari jauh, ingin sekali tahu kemana pemuda itu hendak pergi dan mengapa pula agaknya hendak menyingkir dari orang banyak.

Sejak pertemuan mereka di Istana itu, Bwee Hong selalu memperhatikan A-hai ketika bertemu dan ia melihat bahwa biarpun A-hai kini sudah berobah, Bukan seorang yang nampak tolol lagi, akan tetapi pria perkasa itu seperti kehilangan kegembiraannya dan selalu wajahnya diliputi mendung, seolah-olah perasaannya sedang menderita suatu kesedihan yang tidak diketahuinya.

A-hai berjalan terus menuju kepinggir kota yang sepi, diantara sawah ladang yang pada hari itu ditinggalkan semua orang yang sibuk bersuka ria.

Akhirnya dia berhenti disebuah ladang dan duduk diatas batu dekat selokan air sawah yang kecil, duduk termenung seperti patung.

Angin bersilir menggerakkan rambut dan ujung pakaiannya.

Hanya itu yang bergerak, sedangkan tubuh pria itu sendirian sama sekali tidak bergerak.

Sampai beberapa lamanya Bwee Hong mengintai dan berdiri agak jauh dibelakang batang pohon, memandang kepada A-hai.

Akhirnya ia tidak tahan melihat pemuda itu diam seperti patung dan dengan hati-hati agar jangan mengejutkan pemuda itu, ia menghampiri.

Tiba-tiba A-hai menggerakkan tangannya dan Bwee Hong menahan langkah, lalu menyelinap lagi.

bersembunyi diantara batang-batang pohon yang malang-melintang karena ada batang pohon yang tumbang.

Ia mengintai, ingin tahu apa yang akan dilakukan pemuda itu.

Ternyata A-hai hanya menggerakkan tangan kanan mengambil sebuah boneka batu kemala dari saku jubahnya.

Bwee Hong mengenal betul boneka itu dan iapun memandang penuh perhatian.

Kini A-hai menarik napas panjang, memandangi boneka itu, lalu menciumnya satu kali dan menekankan boneka itu kedadanya, kemudian dia memegang boneka itu dan menundukkan mukanya yang nampak sedih sekali.

Bwee Hong melihat semua ini dan iapun dapat menduga apa artinya semua itu.

Ia dapat menduga bahwa boneka itu tentulah patung kecil dari seorang wanita yang amat dicinta oleh A-hai dan kini agaknya A-hai telah mengenal kembali siapa adanya wanita itu.

Bwee Hong merasa betapa jantungnya seperti tertusuk, hatinya sedih tak terasa lagi beberapa tetes air mata membasahi pipinya dan tanpa disengaja kakinya membuat gerakan sehingga terdengar suara daun kering terinjak.

Ia terkejut sendiri dan cepat menggunakan tangan menyusut air matanya.

Memang sedikit suara itu cukup bagi A-hai.

Dia tahu bahwa ada orang disebelah kirinya.

Ketika dia mengerling dan melihat bahwa orang itu adalah Bwee Hong, dia terkejut sekali.

"Nona Hong!"

Katanya dan diapun bangkit berdiri, cepat menghampiri dara itu dengan boneka masih dipegangnya.

Sejenak mereka berdiri saling berhadapan dan saling berpandangan.

Pandang mata A-hai yang awas itu agaknya dapat melihat bekas air mata dibawah mata Bwee Hong, maka diapun bertanya dengan khawatir.

"Engkau engkau menangis, nona?"

Mendengar pertanyaan ini, otomatis tangan Bwee Hong mengusap kedua matanya dan ia menggeleng tanpa menjawab.

"Akan tetapi aku melihat engkau seperti orang berduka, ada apakah, nona?"

"Aku tadi melihat engkau berjalan sendirian ketempat ini dan aku diam-diam membayangimu. Kemudian aku melihat engkau duduk termenung, demikian sedih sehingga akupun ikut merasa sedih. Aku khawatir kalau-kalau penyakitmu kambuh kembali, saudara A-hai eh, aku tidak berani lagi menyebutmu dengan nama sederhana itu."

Pria itu tersenyum pahit.

"A-hai adalah nama kecilku, nona. Namaku adalah Souw Thian Hai"

"Ah, jadi engkau benar Souw-kongcu itu? Dan boneka itu"

"Ini patung isteriku. Ia sudah meninggalkan aku, sudah tewas dan anakku... anakku buntung pula lengannya."

Pria itu mengerutkan alisnya dan wajahnya menjadi muram sekali.

Tentu saja Bwee Hong menjadi terkejut bukan main.

Kiranya A-hai ini benar adalah Souw-kongcu yang sudah mempunyai anak isteri!

Hampir saja air matanya runtuh kembali, akan tetapi kini ia menekan perasaannya dan memandang wajah pria itu dengan penuh rasa kasihan.

Betapa banyak ia mengalami hal-hal yang hebat dengan pria ini dan biarpun dilubuk hatinya ia merasa girang melihat A-hai telah sembuh dan kembali menjadi Souw Thian Hai, seorang pendekar yang gagah perkasa, namun pulihnya ingatan itu malah membenamkan pria ini kedalam kedukaan.

Dan pula, ia kehilangan sesuatu pada pandang mata pria ini.

Dahulu, sebagai A-hai, pria ini memandangnya dengan sinar mata yang kadang-kadang amat mesra, penuh cinta!

"Engkau...

sungguh kasihan sekali, Souw-taihiap"

Katanya dan tak terasa pula ia menjamah tangan kiri pria itu dengan hati terharu.

Jari-jari tangan kiri A-hai atau Souw Thian Hai menyambut dan sejenak digenggamnya tangan yang kecil itu dengan jari tangan mengandung getaran penuh perasaan, akan tetapi lalu dilepasnya kembali.

"Nona Hong, engkau sungguh seorang yang berhati mulia, bahkan engkau dan kakakmu telah menyembuhkan aku. Budimu terlampau besar, dan jangan sebut aku taihiap. Engkau penolongku, sahabatku yang kuhormati, dan"

"Dan bagaimana? Mengapa tidak kau lanjutkan? Engkau tentu sudah tahu akan isi hatiku, perlukah kita menyembunyikan semuanya itu?"

Ucapan Bwee Hong keluar dengan bibir gemetar dan kembali kedua matanya menjadi basah ketika ia memandang wajah pria yang dicintanya itu.

Ya.

ia telah jatuh cinta kepada A-hai, dan biarpun kini ia tahu bahwa A-hai adalah pendekar Soiiw Thian Hai yang sudah duda dan mempunyai seorang anak perempuan, ia tidak mampu menyangkal perasaan hatinya sendiri.

Thian Hai menatap wajah dara itu, penuh kerinduan dan penuh kasih sayang kini, akan tetapi dia memalingkan muka, memandang patung ditangannya, lalu menggeleng kepalanya keras-keras.

"Tidak! Tidak boleh! Engkau seorang dara mulia dan bangsawan tinggi, sedangkan aku... aku... seorang yang kesepian, kehilangan kebahagiaan, seorang duda yang sudah mempunyai seorang anak perempuan besar... maafkan aku, nona Hong! "

Sebelum Bwee Hong mampu membantah, Thian Hai berkelebat lenyap dari tempat itu.

Bwee Hong merasa seluruh tubuhnya menjadi lemas dan iapun menjatuhkan diri berlutut diatas tanah sambil menutupi muka dengan kedua tangannya.

Isaknya terdengar lirih tertahan.

Hatinya terasa pilu dan perih seperti disayat-sayat.

Ia merasa yakin akan perasaan cintanya kepada Thian Hai, dan iapun tahu bahwa pria itu mencintanya!

Tadi, dalam pandangan yang sekejap saja, iapun sudah tahu akan isi hati Thian Hai.

Akan tetapi, pria yang halus budi itu merasa dirinya terlalu rendah dan rela menjauhkan diri karena merasa tidak sederajat, kalah kedudukan dan sudah duda mempunyai anak lagi!

"A-hai, ohh, A-hai!"

Ia mengeluh lirih.

Tiba-tiba tangan yang gemetar menyentuh pundaknya.

Ia cepat mengangkat muka dan ternyata Thian Hai sudah berdiri dibelakangnya.

Pria itu kembali!

Bwee Hong cepat bangkit berdiri dan mereka saling berpegang tangan tanpa kata-kata.

Tidak perlu kata-kata kalau sudah begini.

Getaran yang keluar dari jari-jari tangan sudah mewakili seribu satu kata.

Akan tetapi, dengan halus Thian Hai melepaskan pegangannya.

"Nona Hong, maafkanlah kekasaranku tadi. Tentu saja aku tahu akan isi hatimu, dan engkaupun tentu sudah tahu akan isi hatiku. Tidak dapat disangkal, terutama oleh kita sendiri bahwa kita saling mencinta. Akan tetapi, aku sungguh merasa tidak patut menjadi... sisihanmu"

"Hai-ko, ucapan itu tidak pantas keluar dari mulut seorang gagah sepertimu!"

Bwee Hong menegur.

"Apakah engkau mulai menilai seseorang dari keturunan dan kedudukannya?"

Thian Hai memandang kagum dan menggeleng kepala.

"Bukan itu saja. Akan tetapi aku baru saja memperoleh kembali ingatanku dan kenyataan keadaan diriku amat mengejutkan, dan engkau... engkau dalam pandanganku begitu mulia. Maukah engkau maafkan aku dan berjanji tidak akan membicarakan urusan cinta kita sebelum tiba saatnya?"

Bwee Hong mengerutkan alisnya.

"Hemm, tiba saatnya? Dan kapankah saatnya itu, Hai-ko?"

"Aku masih mempunyai banyak urusan yang merupakan ganjalan hati. Pertama, aku harus dapat menemukan musuh besarku"

"Si Raja Kelelawar? Jadi engkau belum membunuhnya?"

"Benar, dia! Bukan Raja iblis atau Raja Kelelawar, melainkan dia pembunuh isteriku! Dan akupun harus mencari Sanhek-houw untuk membalaskan buntungnya lengan anakku."

Bwee Hong mengangguk lemah.

Pria ini minta waktu karena masih merasa terikat untuk membereskan urusan dendam keluarganya dan ia sama sekali tidak boleh dan tidak berhak untuk mencampuri, apa lagi melarang.

Ia harus menanti dengan sabar, dan walaupun kenyataan ini amat pahit baginya, amat berat, namun demi cintanya, ia harus berani mengorbankan perasaannya.

"Baiklah, Hai-ko, aku akan menanti uluran tanganmu"

Katanya lemah. Tiba-tiba Thian Hai membalikkan tubuhnya dan ternyata sesosok bayangan berkelebat dari jauh. Setelah dekat, bayangan tadi adalah Seng Kun.

"Ah, kucari kalian dengan hati khawatir, tidak tahunya berada disini!"

Kata pemuda itu dengan gembira melihat keberduaan adiknya dan Thian Hai, akan tetapi juga agak cemas melihat betapa wajah keduanya tidak membayangkan kegembiraan.

"Aku mencarimu kemana-mana, saudara A-hai."

"Koko, namanya Souw Thian Hai, sebaiknya kita tidak memanggil A-hai lagi karena itu hanya panggilan nama kecilnya,"

Kata Bwee Hong.

"Ah, ah jadi benar-benar engkau ini pendekar Souw Thian Hai yang oleh orang-orang yang mengenalmu disebut Souw-kongcu itu? Saudara Souw, apakah sekarang engkau sudah dapat mengingat seluruh riwayatmu?"

Thian Hai mengangguk.

"Sudah, berkat bantuan dan pertolongan kalian berdua. Dan untuk itu, biarlah kalian berdua menjadi orang-orang pertama yang mendengarkan riwayatku. Mari kita duduk dibawah pohon yang teduh."

Ketiganya duduk dibawah pohon dan kakak-beradik itu mendengarkan penuturan Thian Hai dengan penuh perhatian dan hati tertarik sekali.

Agar jelas, mari kita ikuti keadaan pria yang luar biasa ini sebelum menjadi seorang A-hai yang ketolol-tololan.

Seperti pernah kita ketahui dari penuturan Yap-lojin dan Ouwyang Kwan Ek, dijamannya para datuk mereka, puluhan bahkan seabad yang lalu, didunia persilatan ada empat datuk yang paling terkenal dan dianggap mewakili dunia persilatan.

Yang pertama adalah Bu-Eng Sin-yok-ong yang dianggap datuk dunia selatan, kedua Sin-kun butek datuk dunia utara, ketiga Cui-beng Kui-ong pendiri Tai-bong-pai, kemudian keempat Kim-mo Sai-ong pendiri Soa-hu-ipai.

Empat orang datuk ini dianggap sebagai datuk-datuk besar yang tidak dapat dicari tandingannya.

Ada pula Bit-bo-ong atau Si Raja Kelelawar akan tetapi dia dianggap sebagai orang luar dan juga masih belum dapat dibandingkan dengan keempat orang datuk itu.

Akan tetapi, pada suatu hari, empat orang datuk itu berturut-turut dikalahkan secara mudah oleh seorang kakek sasterawan pelukis yang sama sekali tidak dikenal namanya!

Dan biarpun kemudian empat orang datuk itu mencari-carinya sampai bertahun-tahun, sampai mereka itu satu demi satu meninggal dunia, mereka tidak berhasil menemukan kakek sasterawan itu!

Siapakah kakek sasterawan pelukis itu?

Dia adalah seorang sakti yang menyembunyikan diri, seorang yang pada waktu itu oleh orang-orang dusun dikenal sebagai kakek Souw saja.

Kakek ini menurunkan ilmu-ilmunya yang mujijat kepada puteranya, yang kemudian mewariskannya pula kepada puteranya yang bernama Souw Koan Bu.

Akan tetapi, keluarga Souw ini oleh nenek moyangnya dilarang keras untuk memperkenalkan ilmu keluarga mereka, dan bahkan diharuskan untuk menyembunyikan diri saja karena mereka mempunyai keyakinan bahwa seorang ahli silat yang dikenal tentu akan mempunyai banyak musuh.

Demikianlah, Souw Koan Bu inipun membawa isteri dan seorang puteranya tinggal disebuah tempat yang amat indah dan terpencil, ditepi sungai dengan lembah yang amat subur dimana terdapat air terjun yang besar.

Souw Koan Bu hanya mempunyai seorang putera yang diberi mama Souw Thian Hai.

Tentu saja sejak kecil, Souw Thian Hai diajar ilmu-ilmu keluarga yang amat lihai itu.

Pada suatu hari, Souw Koan Bu mendengar betapa kaum sasterawan dimusuhi oleh kaki tangan Kaisar, kitab-kitab dibakar dan orang-orangnya dibunuh.

Biasanya, Souw Koan Bu tidak mau ambil perduli terhadap urusan luar.

Akan tetapi sekali ini, mendengar betapa kaum sasterawan dikejar-kejar, disiksa dan dibunuh, hati Souw Koan Bu menjadi prihatin dan berduka sekali, juga marah.

Sejak turun-temurun keluarga Souw adalah orang-orang yang menghargai sastera, bahkan mereka selalu berpakaian sasterawan dan mempelajari sastera sejak kecil.

Thian Hai juga sejak kecil, disamping ilmu silat, diajar sastera oleh ayahnya.

Maka, dengan hati panas Souw Koan Bu turun gunung, keluar dari lembah dan dengan menyamar sebagai seorang sasterawan miskin, dia membantu dan membela kaum sasterawan.

Ketika pasukan pemerintah yang jumlahnya seratus orang lebih menggerebeg sebuah kota untuk menangkapi para sasterawannya, Souw Koan Bu mengamuk.

Tentu saja tidak ada anggauta pasukan yang mampu mendekatinya dan sebelum dekat mereka sudah roboh oleh dorongan tangan dari jauh.

Tentu saja hal ini amat menggemparkan.

Jagoan-jagoan dari Kotaraja didatangkan, akan tetapi tidak ada yang mampu menandingi Souw Koan Bu yang berhasil mengungsikan para sasterawan dan menyuruh mereka itu bersembunyi.

Pada suatu hari, Souw Koan Bu pulang kelembah membawa seorang pemuda kurus tinggi.

Tubuh pemuda yang berpakaian sasterawan ini penuh luka dan menurut penuturan Souw Koan Bu ketika ditanya oleh anak isterinya, dia menceritakan bahwa pemuda yang bernama Ma Kim Liang ini adalah seorang sasterawan yang akan dibunuh oleh pasukan pemerintah dan berhasil diselamatkan.

Karena kasihan, pemuda itu lalu dibawa pulang kelembah dan diambil murid, tentu saja setelah menjalani upacara pengambilan sumpah dan juga upacara keluarga Souw seperti yang pernah kita ketahui, yaitu pembedahan dan jahitan pada ubun-ubun dan punggung.

Pemuda bernama Ma Kim Liang itu ternyata memiliki bakat yang baik sekali sehingga dia memperoleh kemajuan pesat, bahkan hampir mengejar tingkat Souw Thian Hai yang menjadi suhengnya dan yang juga memiliki bakat luar biasa.

Akan tetapi, Souw Koan Bu mempunyai pandang mata yang cukup tajam.

Ada gerak-gerik Ma Kim Liang yang membuatnya belum percaya sepenuhnya dan dia belum mau menurunkan ilmu-lmu simpanan yang paling ampuh dari keluarganya, seperti yang diajarkannya semua kepada puteranya sendiri.

Hal ini ternyata diketahui oleh Ma Kim Liang.

Diam-diam dia menjadi marah dan menaruh dendam, akan tetapi secara cerdik dia menyembunyikan perasaannya itu dan kelihatannya baik dan tekun, juga rajin sekali.

Akan tetapi, diam-diam secara sembunyi-sembunyi dia suka mengintai apabila Thian Hai berlatih ilmu-ilmu silat yang tidak diwariskan kepadanya.

Dan diapun melakukan penyelidikan dengan diam-diam tentang rahasia-rahasia dan benda-benda pusaka milik keluarga sakti itu.

Setahun kemudian, ketika pada suatu pagi Kim Liang bekerja diladang mengurus tanaman sayur keluarga Souw, dia melihat seorang kakek asing lewat ditempat itu.

Dia menjadi curiga dan cepat dia meninggalkan ladang dan menghadang.

"Siapakah engkau, lopek, dan ada keperluan apa datang kelembah ini?"

Dia bertanya.

Kakek itu ternyata memiliki muka yang amat buruk, kulit mukanya habis dimakan cacar, hitam dan matanya besar sebelah.

Muka yang buruk menakutkan dan usianya kurang lebih enam puluh lima tahun, tubuhnya tinggi besar agak bongkok dengan kedua lengan panjang seperti lengan orang hutan.

Dengan matanya yang mengerikan itu dia menatap wajah Kim Liang, lalu dia berkata.

"Aku mau mengunjungi Souw-supek."

Kim Liang mengerutkan alisnya.

Orang macam ini menjadi murid keponakan gurunya?

Usianyapun tua orang ini, pikirnya.

Dan dia belum pernah mendengar bahwa gurunya mempunyai seorang sute (adik seperguruan), maka dari mana munculnya murid keponakan ini?

"Maksudmu yang kau cari adalah suhu Souw Koan Bu?"

Tanyanya.

"Benar, supek Souw Koan Bu gurumukah? kalau begitu, kita masih saudara seperguruan."

"Nanti dulu, aku belum pernah mendengar suhu menyebutkan seorang sute, apa lagi murid keponakannya. Hayo ceritakan siapa engkau dan siapa pula gurumu itu untuk meyakinkan hatiku."

"Heh, aku hanya mau bicara dengan supek, bukan dengan bocah ingusan seperti kamu!' Tiba-tiba kakek itu memperlihatkan belangnya dan ternyata dia seorang yang kasar sekali, pantasnya seorang penjahat yang biasa bersikap kasar dan keras.

"Kalau begitu, engkau kuanggap palsu dan aku melarang engkau melanjutkan perjalanan memasuki lembah ini!"

Kakek itu menjadi marah.

"Engkau ini saudara muda akan tetapi bersikap kurang ajar!"

Katanya sambil menampar.

"Wuuuuttt"

Plakkk!"

Kim Liang menangkis dan akibatnya dia terpelanting!

Dia terkejut sekali melihat kekuatan dahsyat lawannya, akan tetapi diapun melihat lawannya itu menyeringai kesakitan.

Maka diapun membalas dengan hantaman sekuat tenaga yang juga ditangkis oleh kakek itu.

"Dukkk!"

Dan kini Kim Liang terlempar, akan tetapi kakek itu mundur dua langkah, terbatuk dan ada darah keluar dari ujung bibirnya.

Tahulah Kim Liang bahwa kakek ini sedang menderita suatu penyakit atau sudah terluka dalam ketika memasuki lembah itu.

Maka diapun terus menyerang.

Mereka berkelahi dengan sengit dan diam-diam Kim Liang harus mengakui bahwa kakek ini memiliki tingkat yang lebih tinggi darinya, terutama sekali gerakan ginkangnya yang membuat tubuh kakek itu berkelebatan kesana-sini.

Akan tetapi ada suatu keuntungan baginya, yaitu kakek itu sedang sakit dan setiap kali mengadu tenaga, keadaannya semakin payah.

Akhirnya, dengan sebuah tendangan, Kim Liang berhasil membuat kakek itu roboh tertelungkup dan diapun cepat menubruk dan menungganginya, menelikung kedua lengannya kebelakang.

"Engkau minta hidup atau mampus?"

Katanya mengancam.

"Auhhh, lepaskan aku... ah, aku sedang terluka hebat, lepaskan aku"

"Mengaku dulu siapa sebenarnya engkau dan siapa gurumu"

"Aku tidak bohong. Guruku, atau mendiang guruku adalah cucu Bit-bo-ong Si Raja Kelelawar"

"Apa? Raja Kelelawar datuk sesat yang menggemparkan dunia persilatan itu? Dan engkau berani mengaku bahwa guruku adalah supekmu?"

"Memang benar. Ada rahasianya tentang ini. Lepaskan aku dan aku akan bicara."

"Baik, akan tetapi kalau engkau membohong, kubunuh kau!"

Setelah dilepaskan, kakek itu tertawa.

"Heh-heh, kiranya murid supek juga sama saja dengan kami. Akan tetapi kenapa supek tidak mau mendekati mendiang suhu?"

"Hayo ceritakan!"

Kim Liang mendesak.

"Sebenarnya, hubungan seperguruan ini telah terjadi puluhan, bahkan seratus tahun yang lalu. Sucouw Bit-bo-ong adalah sute dari kakek supek Souw Koan Bu. Dengan demikian, berarti bahwa guruku masih terhitung sute dari gurumu walaupun tidak pernah berhubungan. Asal mulanya dari sucouw Bit-bo-ong. Karena beliau dianggap jahat, maka kakek supek Souw Koan Bu tidak mengakuinya lagi sebagai sute, bahkan keturunannya dipesan agar jangan berhubungan atau mengakui keturunan Bit-bo-ong."

"Hemm, sudah begitu, kenapa engkau berani muncul disini?"

"Aku... aku hanya mentaati pesan mendiang suhu. Sebelum meninggal, suhu menyerahkan pusaka-pusaka peninggalan sucouw Bit-bo-ong, juga jubahnya dan semua kitab pelajarannya, kepadaku dengan pesan agar diserahkan kepada supek Souw Koan Bu. Suhu tidak mau kalau kesesatan keturunan sucouw Bit-bo-ong diteruskan orang lain."

Kim Liang merasa tertarik sekali.

Dia sudah pernah mendengar tentang datuk sesat Raja Kelelawar yang mengguncang dunia persilatan.

Kini pusaka-pusakanya berada ditangan kakek ini!

"Bagaimana aku bisa tahu bahwa engkau tidak membohong?

Mana pusaka-pusaka itu?"

Kakek itu membuka buntalannya dan nampaklah beberapa buah kitab kuno dan jubah hitam, juga sepasang pisau belati yang bergagang indah berhiaskan mutiara.

Berdebar jantung Kim Liang melihat semua ini.

Gurunya telah menyia-nyiakan dirinya, tidak diberi pelajaran ilmu terampuh dari keluarga Souw.

Dan ini ada kitab-kitab pusaka dan senjata-senjata pusaka ampuh dari Bit-bo-ong.

Bodoh kalau dilewatkannya begitu saja.

"Kalau benar engkau keturunan Bit-bo-ong, coba ceritakan tentang semua pusaka ini,"

Katanya. Dengan panjang lebar kakek itu lalu menceritakan keistimewaan Bit-bo-ong, dan juga jubah kebal dan sepasang pisau belati yang amat tajam itu.

"Kau bilang pisau-pisau ini tajam dan ampuh?"

Kim Liang mengambil kedua batang pisau itu dan menimang-nimangnya.

Kemudian, secepat kilat dia menggerakkan sepasang pisau itu dan menusuk kearah lambung dan dada kakek itu.

Kakek buruk rupa itu kaget setengah mati karena tidak pernah menyangka pemuda itu akan berbuat demikian.

Dia menggerakkan kedua tangan menangkis, akan tetapi, sepasang pisau itu ternyata ampuh dan tajam bukan main sehingga tangkisannya membuat kedua tangannya malah buntung sebatas pergelangan tangan dan dua batang pisau itu tetap saja meluncur dan masuk kedalam dada dan perutnya!

Kakek itu melotot dan roboh, berkelojotan sebentar saja dan tewas.

Kim Liang cepat membersihkan kedua pisau itu, menyimpannya dipinggang, menyambar buntalan terisi pusaka-pusaka peninggalan Bit-bo-ong, kemudian setelah memasukkan kedua tangan buntung kedalam saku jubah kakek itu, dia menyeret mayat kakek itu dan membuangnya kedalam jurang yang amat dalam.

Jurang itu terlalu curam dan berbahaya untuk dapat didatangi manusia dan mayat itu lenyap, sama sekali tak dapat nampak dari atas.

Akan tetapi, pemuda ini lupa bahwa mayat yang membusuk itu akan mengeluarkan bau yang keras dan dapat tercium sampai jauh.

Demikian pula dengan mayat kakek itu.

Beberapa hari kemudian, terciumlah bau yang amat busuk naik keatas jurang dan sampai tercium dari rumah keluarga Souw.

Tentu saja Souw Koan Bu dan Souw Thian Hai yang lihai itu dapat menciumnya dan merekapun terheran-heran.

"Bau bangkai!"

Kata Thian Hai "Tentu bangkai binatang besar atau manusia,"

Kata ayahnya.

"Ihh, bangkai manusia?"

Isterinya berseru kaget.

"Mana mungkin ada bau mayat di tempat ini?"

"Malam tadipun teecu sudah mencium sesuatu yang mencurigakan, suhu, akan tetapi teecu menduga bahwa itu tentu bau tikus mati. Dan sekarang baunya begitu keras,"

Kata Ma Kim Liang.

"Mari kita cari!"

Kata pula Souw Koan Bu dan tiga orang pria ini cepat keluar dari rumah untuk mencari sumber bau busuk itu.

Tidaklah mudah mencari sumber bau busuk ditempat terbuka.

Angin telah meniup dan menyebarkannya sehingga dimana-mana tercium bau itu, dan mereka bertiga lalu berpencar.

Setelah berputar-putar disekitar tempat itu, akhirnya Thian Hai menemui ayahnya.

"Ayah, kalau tidak salah, bau itu keluar dari dalam jurang dibarat itu."

"Apa? Dari jurang yang curam itu? Ah, jangan-jangan ada binatang atau orang yang terjerumus kesana. Mari kita lihat!"

Mereka berlari ketepi jurang itu dan setelah mempergunakan ketajamannya, Souw Koan Bu membenarkan pendapat puteranya bahwa sumber bau itu memang keluar dari dasar jurang.

"Biar aku yang turun dan memeriksanya, ayah,"

Kata Thian Hai. Jurang itu amat dalam dan curam, agaknya tak mungkin dapat dituruni manusia. Akan tetapi Souw Koan Bu percaya akan kepandaian puteranya, maka dia mengangguk.

"Hati-hati dan pergunakan pedangmu untuk membantumu merayap turun."

Thian Hai mengangguk dan dengan cekatan pemuda yang amat lihai ini menuruni jurang yang curam itu.

Memang bukan pekerjaan mudah.

Tebing itu curam, lurus kebawah dan permukaan dinding tebing itu licin dan kadang-kadang tidak ada tempat untuk berpijak atau berpegang.

Namun, Thian Hai tidak perlu mempergunakan pedang untuk membantunya.

Dengan kedua tangannya mencengkeram, dia dapat merayap turun seperti seekor kucing.

Jari-jari tangannya dapat mencengkeram perrnjukaan batu tebing dan berpegang, dan dengan cara demikian akhirnya dia dapat mencapai dasar jurang.

Dan dia terpaksa menahan napas ketika tiba didasar jurang dan melihat sisa tubuh manusia yang sudah rusak dan mukanya sukar untuk dikenal lagi!

Dia memperhatikan mayat busuk itu, mencoba untuk mencari ciri-cirinya, kemudian diapun menggunakan kekuatan kedua tangannya untuk menggempur batu padas dan tanah untuk menimbuni mayat itu agar baunya jangan tersiar kemana-mana.

Selagi dia mengerjakan ini, terdengar suara ayahnya dari atas, bergema.

"A-hai! Apa yang terjadi? Kenapa lama benar engkau dibawah?"

"Aku sedang menimbuni mayat busuk ini, ayah!"

Jawabnya sambil mengerahkan khikang sehingga suaranya terdengar sampai keatas jurang. Setelah mayat itu tertimbun rapat, Thian Hai lalu merayap naik. Ayahnya sudah menantinya dengan hati tidak sabar.

"Mayat siapakah itu? Bagaimana mungkin ada mayat didalam jurang itu?" (Lanjut ke

Jilid 31) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono

Jilid 31

"Wajahnya sukar dikenal lagi, ayah. Sudah rusak membusuk dan juga hancur, agaknya ketika terjatuh kepalanya yang mendahului badan menimpa batu. Aku tidak dapat memeriksa dengan seksama karena baunya, akan tetapi ada kulihat bekas luka didada dan perut karena bajunya dibagian itu berlubang dan ada tanda-tanda bekas darah."

"Hemm, pembunuhan? Dan mayatnya dilempar kesitu? Mana mungkin? disekitar sini tidak ada orang..."

"Orang itu berkulit kehitaman, tinggi besar dengan punggung agak bongkok. Kuketuk-ketuk kaki tangannya dan ternyata dia bukan orang sembarangan, ayah, melainkan seorang yang sudah terlatih kaki tangannya.

"Engkau tidak menemukan tanda-tanda lain?"

Thian Hai menggeleng kepala, lalu mengerutkan alisnya.

"Ayah, yang tinggal disini hanyalah ayah, ibu, aku, sute dan Pouw Hong pelayan kita. Jelas bahwa ibu tidak tahu apa-apa, juga kita bertiga, Ma sute sibuk mencari mayat dan tidak tahu tentang peristiwa ini. Tinggal Pouw Hong yang belum kita tanyai."

Ayahnya mengangguk-angguk.

"Mari kita pulang dan tanyai Pouw Hong, barangkali dia mengetahui sesuatu."

Mereka pulang dan segera memanggil pelayan mereka yang setia, yaitu Pouw Hong.

Orang ini sejak muda sudah ikut Souw Koan Bu dan bentuk tubuhnya lucu.

Tubuhnya pendek gendut dengan kepala kecil gundul sehingga biarpun usianya sudah tiga puluh tahun lebih, dia masih kelihatan seperti kanak-kanak.

Wajahnya kekanak-kanakan.

Ketika dia ditanya tentang mayat itu, dia menggeleng kepala dan kelihatan bingung.

"Mayat? didasar jurang? Saya tidak tahu."

"Apakah engkau tidak melihat orang asing berkeliaran disini dalam beberapa hari yang lalu?"

Tanya Souw Koan Bu.

"Tidak, tidak ada orang asing..."

"Dan tidak ada peristiwa yang kau rasakan aneh selama beberapa hari ini?"

Tanya pula Thian Hai. Si pendek gendut itu menggeleng kepala, akan tetapi tiba-tiba dia seperti ingat akan sesuatu.

"Sebaiknya kongcu bertanya saja kepada Ma-kongcu!"

Ayah dan anak itu saling pandang.

Memang keduanya sudah sering kali merasa curiga terhadap Ma Kim Liang yang biarpun pada lahirnya nampak ramah, sopan dan rajin, namun dibalik itu semua seperti menyembunyikan suatu rahasia, juga kadang-kadang ada sinar aneh mencorong dari pandang matanya.

"Mengapa aku harus bertanya kepadanya? Ada apakah dengan dia?"

Tanya Thian Hai.

"Saya... saya melihat hal aneh-aneh dilakukan oleh Ma-kongcu."

"Hemm, Pouw Hong, sejak kecil engkau menjadi pembantuku dan engkau seperti keluarga kami sendiri. Kalau engkau melihat hal-hal aneh, kenapa engkau tidak melaporkan hal itu kepadaku? Kenapa?"

"Maaf, saya... saya tidak berani..."

"Mengapa tidak berani? Hayo cepat ceritakan segala keanehan yang kau lihat itu!"

Souw Koan Bu berkata dengan nada suara agak marah sehingga pelayan itu menjadi ketakutan lalu menceritakan semua isi hatinya.

"Sudah lama Sekali saya melihat sikap aneh dari Ma-kongcu. Sering kali dia mengintai kalau Souw-kongcu sedang berlatih silat seorang diri didalam kamar kongcu dan sering pula dia bertanya-tanya tentang keadaan keluarga Souw, tentang pusaka-pusaka dan semua yang saya ketahui. Bahkan pernah saya melihat dia mencari-cari dikamar perpustakaan. Ketika tanpa sengaja saya masuk, dia mengancam agar saya tidak menceritakan kehadirannya itu kepada loya, dan sinar matanya demikian penuh ancaman, mengerikan dan saya menjadi takut,"

Pouw Hong menoleh kekanan kiri dengan sikap takut.

"Ceritakan terus, apa lagi yang kau lihat, terutama dalam beberapa hari ini?"

Desak Souw Koan Bu. Dengan suara lirih pelayan itu berkata.

"Kira-kira empat lima hari yang lalu saya bertemu dengan Ma-kongcu. Dia agaknya baru pulang dari ladang dan dia membawa sebuah buntalan hitam. Karena hari masih siang dan dia membawa buntalan, saya bertanya kepadanya. Akan tetapi dia menghardik, mengatakan bahwa saya tidak boleh mencampuri urusannya."

Ayah dan anak itu saling pandang.

Memang tepat kalau empat lima hari yang lalu.

Akan tetapi apa hubungannya Ma Kim Liang dengan kematian kakek didasar jurang itu?

Dan apa pula adanya buntalan hitam itu?

"Ayah, hatiku tidak enak.

Mari kita cari dikamarnya dan bertanya kepadanya!"

Ayah dan anak itu lalu cepat memasuki kamar Ma Kim Liang, hanya untuk mendapatkan bahwa kamar itu telah kosong!

Jangankan buntalan hitam seperti yang diceritakan Pouw Hong tadi, bahkan semua pakaiannya dan juga pedang yang dipinjam dari gurunya untuk berlatih silat, ikut pula lenyap!

"Ah, anak itu telah melarikan diri!"

Kata Souw Koan Bu terkejut dan penasaran, juga marah.

"Ayah... tempat penyimpanan pusaka kita!"

Begitu Thian Hai berkata demikian, Souw Koan Bu mengeluarkan seruan aneh dan tubuhnya berkelebat lenyap.

Thian Hai juga meloncat dan mengejar ayahnya.

Mereka berlari cepat sekali keair terjun yang berada agak jauh disebelah belakang pondok mereka.

Pusaka keluarga Souw memang oleh Souw Koan Bu disimpan didalam guha rahasia dibelakang air terjun itu.

Hal ini dilakukan untuk mencegah pusaka keluarga yang amat penting itu terjatuh ketangan orang jahat atau orang yang tidak berhak.

Keduanya cepat memeriksa dan tak lama kemudian mereka keluar lagi dari guha itu dengan muka pucat.

Mereka saling pandang dan tanpa kata-katapun mereka tahu akan isi hati masing-masing.

Semua pusaka didalam peti, berisi kitab-kitab ilmu simpanan keluarga Souw, telah lenyap!

Dan melihat kenyataan betapa Kim Liang juga lenyap, mudah saja diketahui bahwa tentu murid murtad itulah yang melarikan pusaka keluarga Souw.

"Ayah, biar kucari jahanam itu dan kurampas kembali pusaka kita, juga kuwakili ayah untuk menghukum murid murtad itu!"

Kata Thian Hai dengan marah sekali melihat betapa wajah ayahnya membayangkan penyesalan besar. Ayahnya menarik napas panjang.

"Jangan tergesa-gesa, A-hai. Semua ini terjadi karena kesalahanku sendiri yang kurang teliti menilai orang. Setelah dia membawa lari semua pusaka, maka dia dapat merupakan musuh yang amat berbahaya. Untuk menghadapinya sekarang, memang tingkat kepandaianmu masih lebih tinggi, akan tetapi dia amat cerdik dan kalau dia mempelajari semua Ilmu itu, mungkin engkau akan menghadapi kesukaran. Baiknya, ada beberapa macam ilmu didalam kumpulan pusaka itu yang tidak mungkin dilatih tanpa guru, tanpa bimbingan dan pengoperan tenaga sinkang. Engkau sempurnakan dulu dua ilmu itu, baru hatiku akan tenang kalau engkau menghadapinya. Pula, dia hanya bersalah melarikan pusaka kita, dan itu belum hebat asal dia tidak mempergunakan ilmu keluarga kita untuk kejahatan. Bagaimanapun juga, dia adalah murid yang sudah kuangkat, dan semua ini kesalahanku sendiri."

"Akan tetapi, mayat dalam jurang itu...?"

"Belum tentu dia yang melakukannya. Sudahlah, mari engkau tekun mempelajari dua ilmu simpanan itu, kemudian baru engkau berangkat mencarinya. Pula, kalau belum jelas dia melakukan kejahatan, mengapa tergesa-gesa?"

Diam-diam Thian Hai menarik napas panjang karena dia tahu bahwa ayahnya ini sebenarnya mencinta murid murtad itu.

Hal inipun tidak mengherankan karena memang Kim Liang amat pandai mengambil hati orang.

Demikianlah, dengan tekun mulai hari itu Thian Hai digembleng oleh ayahnya memperdalam dua macam ilmu simpanan keluarga Souw.

Yang pertama adalah Thai-kek Sin-ciang dan yang kedua adalah Thai-lek Pek-kong-ciang, dua macam ilmu tangan kosong yang luar biasa ampuhnya.

Biarpun Thian Hai memperoleh bimbingan dari ayahnya sendiri, namun demikian sukarnya dua macam ilmu itu sehingga setelah lewat tiga tahun, barulah dia dapat menguasainya dengan sempurna dalam arti bahwa kedua ilmu itu seolah-olah sudah mendarah daging pada dirinya.

Sementara itu, didunia persilatan muncullah seorang "Duplikat"

Raja Kelelawar! Dan Souw Koan Bu yang mendengar berita angin tentang munculnya orang yang mengaku sebagai Raja Kelelawar, cepat memanggil puteranya.

"Sungguh gila! Raja Kelelawar sudah mati puluhan tahun yang lalu, bagaimana mungkin kini muncul lagi?"

Kata ayah itu.

"Akan tetapi, ayah, siapa tahu kalau yang muncul ini adalah keturunannya, baik keturunan keluarga maupun murid."

Ayahnya mengelus jenggot.

"Hemm, engkau tahu bahwa Bit-bo-ong adalah seorang adik seperguruan kakek guruku yang sudah tidak diakui lagi. Semenjak dia tewas ditangan Lo-cianpwe Sin-kun butek, keturunan atau murid-muridnya tidak berani muncul secara berterang. Hal ini adalah karena sukong memesan kepada keturunannya untuk mengawasi gerak-gerik keturunan bekas sute itu. Bagaimanapun juga, sumber ilmu-ilmunya adalah ilmu keluarga kita, maka kita harus menjaga agar ilmu-ilmu itu jangan dipergunakan untuk kejahatan. Selama ini, tidak ada keturunan Raja Kelelawar yang berani main gila."

"Akan tetapi, kalau sekarang ada orang berani mengaku sebagai Raja Kelelawar, setidaknya dia tentu mempunyai hubungan dengan datuk sesat itu."

"Mungkin engkau benar. Nah, sekarang engkau berangkatlah A-hai. Pertama untuk mencari murid murtad Ma Kim Liang itu dan merampas semua kitab pusaka kita, dan kedua untuk menyelidiki apakah benar ada penjahat yang mengaku bernama Raja Kelelawar merajalela didunia persilatan."

Maka berangkatlah Souw Thian Hai seorang diri untuk mencari bekas sutenya dan penjahat yang mengaku sebagai Raja Kelelawar itu.

Setelah berputar-putar selama setahun lebih, akhirnya dia menemukan jejak Raja Kelelawar, bukan jejak adik seperguruannya!

Dan pada malam hari yang hebat itu, dia melihat penjahat berjubah hitam itu sedang menyerbu rumah kepala kampung Gu Tek untuk menculik puterinya yang amat cantik!

Puteri kepala kampung ini yang bernama Gu Yan Kim memang cantik jelita dan agung seperti seorang puteri saja biarpun ayahnya hanyalah seorang kepala dusun.

Memang sesungguhnya, yang mengalir dibawah kulitnya yang putih mulus itu adalah darah bangsawan tertinggi, darah Kaisar!

Diwaktu mudanya, ketika Kaisar melakukan perjalanan berburu dan singgah didusun itu, dia disambut dan dilayani oleh Gu Tek yang ketika itu hanya merupakan seorang petani dan pemburu biasa saja.

Kaisar tergila-gila kepada isteri Gu Tek, seorang wanita dusun sederhana dan agaknya justeru kesederhanaannya inilah yang membuat Kaisar tergila-gila.

Sebagai seorang Kaisar, setiap hari dia dihadap oleh wanita-wanita cantik akan tetapi kecantikan mereka itu dibantu oleh riasan-riasan muka dan pakaian-pakaian indah.

Tidak demikian dengan isteri Gu Tek yang sederhana itu.

Kecantikannya adalah kecantikan alam dan Kaisar yang tergila-gila lalu mengajak wanita itu bersamanya ketika dia pulang ke Istana.

Gu Tek yang masih pengantin baru itu tidak berani berbuat sesuatu, apa lagi dia lalu diangkat menjadi kepala dusun itu karena dianggap "berjasa"

Kepada Kaisar!

Akan tetapi setelah wanita itu mengandung, agaknya Kaisar menjadi bosan dan mengirim kembali wanita itu kepada suaminya!

Memang tak dapat disangkal pula bahwa hubungan antara pria dan wanita, kalau hal itu terjadi hanya karena daya tarik kecantikan, kedudukan, harta dan sebagainya, maka hubungan yang mereka anggap cinta itu akan gagal dan akhirnya akan mendatangkan kebosanan dan kekecewaan!

Daya tarik seperti itu hanyalah nafsu, dan segala macam bentuk nafsu hanyalah sementara saja, tidak mungkin abadi.

Inilah sebabnya mengapa pria dan wanita yang tadinya bersumpah setinggi langit saling mencinta, kalau sudah saling memiliki lalu cintanya menguap dan bahkan ada kalanya berobah menjadi kebosanan dan kebencian.

Akhirnya, sepasang manusia yang tadinya bersumpah sehidup semati itu, dalam waktu beberapa bulan atau beberapa tahun saja bercerai!

Akan tetapi tidak demikian dengan cinta kasih!

Cinta kasih adalah kekal abadi.

Cinta kasih bukan lahiriah, bukan karena nafsu, melainkan terpendam jauh didalam perasaan hati.

Cinta kasih menjelma setelah unsur pemisah dan pemecah-belah antar manusia lenyap, dan unsur pemecah-belah itu adalah si aku.

Gu Tek menerima kembali isterinya dan tentu saja dia tidak berani menolak.

Memang dia masih mencinta isterinya dan setelah seorang anak perempuan terlahir, dia menganggapnya sebagai anak keturunannya sendiri, tentu saja dia merasa bangga mempunyai anak seperti Gu Yan Kim itu.

Seorang anak yang mungil dan setelah dewasa menjadi seorang dara yang amat cantik.

Pada malam hari itu, terang bulan membuat malam teramat indah.

Langit cerah dan sinar bulan purnama sepenuhnya menerangi bumi.

Sesosok bayangan hitam yang amat cepat gerakannya nampak seperti beterbangan dari atas genteng sebuah rumah kerumah lain didusun tempat tinggal keluarga Gu Tek.

Bayangan itu adalah seorang laki-laki jangkung kurus yang memakai pakaian serba hitam dengan jubah hitam pula.

Ketika dia berlompatan seperti terbang cepatnya itu, jubah hitamnya berkembang dan berkibar membuat dia nampak seolah-olah memang sedang beterbangan seperti seekor kelelawar raksasa!

Ketika tiba diatas rumah keluarga Gu Tek, bayangan itu berhenti, kemudian melayang turun dan lenyap.

Tak lama kemudian, bayangan itu sudah melayang naik lagi keatas genteng dan kini dia memanggul seorang gadis yang lemas tak mampu bergerak.

Kiranya bayangan hitam itu telah menculik Gu Yan Kim tanpa mengeluarkan suara gaduh sedikitpun sehingga dara itu tidak sempat berteriak dan tidak ada seorangpun anggauta keluarga itu yang terbangun dari tidurnya.

Dengan cepat sekali bayangan hitam itu membawa pergi korbannya, meninggalkan dusun.

Dia berhenti disebuah lereng bukit yang datar dimana terdapat batu-batu besar dan diturunkannya dara culikannya itu dari atas pundaknya.

Kemudian, sambil menyeringai girang, bayangan itu melepaskan jubah hitamnya.

Pada saat itu, wajahnya tertimpa sinar bulan purnama, wajah yang memiliki sepasang mata mencorong seperti mata iblis.

"Keparat Ma Kim Liang, kiranya engkaukah Raja Kelelawar palsu itu?"

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan muncullah Thian Hai yang sejak tadi membayanginya tanpa diketahui oleh iblis itu.

Bukan main kagetnya hati Ma Kim Liang yang sudah menyamar sebagai Raja Kelelawar.

Hampir dia tidak dapat percaya bahwa ditempat ini dia akan berhadapan muka dengan bekas suhengnya.

Rahasianya telah terbuka.

Selama bertahun-tahun, setelah mencuri pusaka gurunya, dia bersembunyi ditempat rahasia, dengan tekun mempelajari semua ilmu yang terdapat didalam kitab-kitab pusaka gurunya, juga mempelajari ilmu-ilmu sesat dari kitab-kitab peninggalan Raja Kelelawar!

Setelah merasa dirinya lihai, walaupun ada beberapa macam ilmu silat keluarga Souw yang tidak dapat dikuasainya, dan ilmu-ilmu peninggalan Raja Kelelawar juga belum dikuasainya secara sempurna, diapun mulai memperlihatkan diri dengan menyamar sebagai Raja Kelelawar.

Dan kini timbullah watak aselinya dan dia tidak segan-segan untuk memuaskan nafsunya dengan jalan menculik dan memperkosa lalu membunuh wanita-wanita cantik yang menimbulkan seleranya!

Biarpun dia merasa terkejut, akan tetapi mengingat bahwa selama beberapa tahun ini dia telah menambah ilmu kepandaiannya, dia menjadi tenang kembali dan sambil tersenyum mengejek dia menyambar kembali jubahnya yang tadi dibuka dan dilemparkannya keatas tanah dekat tubuh dara itu yang menggeletak terlentang tak dapat bergerak karena tubuhnya tertotok lemas dan dara itu hanya dapat memandang dengan mata basah air mata.

Dikenakannya kembali jubahnya.

Jubah ini amat penting baginya, karena jubah ini adalah jubah pusaka peninggalan Raja Kelelawar, jubah yang membuatnya kebal terhadap serangan senjata apapun.

Karena maklum bahwa dia menghadapi seorang lawan yang amat lihai, Ma Kim Liang mengeluarkan sepasang pisau belatinya, senjata istimewa peninggalan Kelelawar Hitam.

"Suheng, akhirnya engkau datang juga. Akan tetapi jangan mengira aku takut kepadamu, karena aku sudah mempelajari semua ilmu keluarga Souw dan engkau hendak menangkapku, berarti engkau sudah bosan hidup. ha-ha-ha!"

"Ma Kim Liang, engkau seorang manusia tak kenal budi. Ayahku telah mengangkatmu sebagai murid dan engkau diperlakukan baik, akan tetapi sebagai balasannya engkau malah mencuri pusaka keluarga kami! Dan engkau malah menyamar menjadi Raja Kelelawar yang sejak dahulu dimusuhi oleh keluarga kami karena dia telah mencemarkan nama keluarga perguruan kami."

"Souw Thian Hai, jangan sombong engkau! Siapa bilang bahwa ayahmu memperlakukan aku dengan baik? Aku dipekerjakan seperti budak pelayan, dan hanya diberi pelajaran ilmu-ilmu silat kelas rendah saja. Ilmu-ilmu yang menjadi simpanan hanya diajarkan kepadamu seorang! Tidak sudah sewajarnyakah kalau aku melarikan semua pusaka untuk kupelajari sendiri? Dan tentang Raja Kelelawar, memang akulah keturunannya, akulah ahli waris satu-satunya dari semua ilmu dan pusakanya. Lihat pakaian dan jubah ini, lihat sepasang pisau ini dan lihatlah ilmu-ilmu yang sudah kumiliki, ha-ha-ha!"

"Ma Kim Liang, engkau menguasai pusaka Raja Kelelawar tentu ada hubungannya dengan mayat yang berada didasar jurang itu!"

"Ha-ha-ha, engkau dan ayahmu yang tolol itu baru tahu sekarang? Dia itu murid dari cucu murid Raja Kelelawar, seorang manusia berotak miring yang hendak menyerahkan semua pusaka kepada ayahmu. Orang gila itu kubunuh dan pusakanya kurampas, kusatukan dengan pusaka keluarga Souw dan kupelajari"

"Jahanam busuk engkau!"

Souw Thian Hai lalu menyerang bekas sutenya itu.

Akan tetapi, sutenya tertawa, meloncat dengan amat cekatan kesamping lalu menggunakan sepasang pisau belatinya untuk balas menyerang.

Melihat gerakan bekas sutenya, Thian Hai terkejut.

Dia maklum bahwa sutenya menguasai pula semua ilmu silat keluarganya, maka kalau tidak mempergunakan ilmu simpanan yang tidak mungkin dipelajari sutenya, dia akan terancam bahaya besar.

Maka, cepat dia mulai bergerak mempergunakan kaki tangannya mainkan ilmu Thai-kek Sin-ciang.

Begitu tangan kirinya bergerak, angin dahsyat menyambar dan dari jauh pukulan itu sudah merupakan serangan maut yang menerjang kearah Ma Kim Liang.

"Ah, Thai-kek Sin-ciang!"

Ma Kim Liang berseru.

Dia mengenal ilmu ini karena dia sudah memiliki kitabnya, akan tetapi sampai pusing dia mencoba untuk mempelajarinya, hasilnya nihil.

Dan kini lawannya mempergunakan ilmu itu untuk menyerangnya.

Diapun berhati-hati sekali, cepat menggerakkan pundak sehingga jubah hitam itu melindungi tubuhnya, dan diapun menerjang dengan sepasang belatinya.

Akan tetapi, angin dahsyat itu menggempurnya dan tahu-tahu telapak tangan Thian Hai menyambar kearah lehernya.

Kim Liang menyambut dengan pisau belati yang menggurat kearah pergelangan tangan itu.

Tahu-tahu tangan itu meluncur kebawah dan menampar dadanya.

"Dukk!"

Dada Kim Liang kena ditampar, akan tetapi tubuhnya terdorong kebelakang tanpa menderita luka karena dada itu terlindung oleh jubah hitam yang amat kuat.

Sebaliknya, Thian Hai terkejut sekali ketika merasa betapa tangannya bertemu dengan benda lunak yang amat kuat!

Dan bagaikan kilat menyambar, tahu-tahu dua batang pisau belati ditangan Kim Liang yang telah berubah menjadi dua gulung sinar itu menyambar dengan serangan mautnya!

Thian Hai cepat meloncat kebelakang dan menggerakkan tangan mendorong, kembali mengerahkan tenaga Thai-kek Sin-ciang sehingga angin besar menahan gerakan Kim Liang, membuat serangannya gagal.

Mereka serang menyerang dengan hebatnya, Thian Hai mengandalkan ilmu yang belum dikuasai oleh lawan, sedangkan Kim Liang yang kalah unggul ilmunya itu mengandalkan kekebalan jubah hitam dan keampuhan sepasang belatinya.

Sampai tiga puluh jurus lebih mereka saling serang dengan serunya, namun masih sukar bagi Thian Hai untuk mengalahkan lawan, apa lagi menangkapnya.

pemuda ini lalu merobah gerakan tangannya dan begitu tangan kirinya menyambar, nampak uap putih yang amat panas menerjang kedepan.

"Thai-lek Pek-kong-ciang!"

Kata pula Ma Kim Liang dengan gentar.

Dia mencoba untuk mengelak, akan tetapi tetap saja tubuhnya terguling ketika telapak tangan Thian Hai sempat menyerempetnya.

Karena maklum bahwa agaknya tidak mungkin baginya dapat menandingi bekas suhengnya yang amat lihai itu, Kim Liang terus bergulingan sampai jauh, lalu meloncat dan menghilang didalam kegelapan malam.

"Jahanam, hendak lari kemana engkau...?"

Thian Hai hendak mengejar, akan tetapi pada saat itu dia mendengar suara rintihan lemah dan teringatlah dia akan gadis yang terculik tadi.

Ah, mengapa dia begitu sembrono?

Kalau dia mengejar, mungkin saja Kim Liang mengambil jalan memutar untuk membawa lari lagi gadis itu.

Melakukan pengejaran terhadap seorang yang ginkangnya setingkat dengan dia, apa lagi diwaktu malam ditempat yang tidak dikenalnya benar, tentu akan berbahaya sekali.

Dia tidak jadi mengejar dan melihat kesekeliling.

Hebat memang perkelahian antara dia dan sutenya tadi.

Ada pohon tumbang bekas pukulan atau tendangan kaki Kim Liang, bahkan ada batu besar yang ditinggali tanda bekas jari tangan sutenya.

Dia bergidik.

Sutenya itu kini lihai sekali dan kalau dia tidak mahir dua macam ilmu simpanan keluarganya tadi, kiranya belum tentu dia akan menang.

Dengan hati-hati dia lalu menghampiri dara itu, membebaskan totokannya dari begitu dapat bergerak dara itu lalu berlutut didepan kaki Thian Hai sambil menangis.

Thian Hai menjadi gugup dan disentuhnya pundak itu dan disuruhnya gadis itu bangkit berdiri.

"In-kong (tuan penolong) telah menyelamatkan saya dari malapetaka hebat, sampai mati saya tidak akan melupakan budi inkong yang amat besar itu."

Kata si dara dengan suara bercampur sedu sedan.

"Ah, sudahlah, nona. Penjahat itu memang pantas dihajar. Siapakah nona dan dimana rumahmu? Apakah dirumah dalam dusun dari mana engkau diculik tadi?"

"In-kong sudah mengetahuinya?"

"Sejak tadi aku membayangi penjahat itu yang memang menjadi incaranku sejak tadi."

"In-kong, nama saya adalah Gu Yan Kim, ayahku adalah kepala dusun itu bernama Gu Tek. Bolehkah saya mengetahui nama inkong yang mulia?"

"Namaku Souw Thian Hai. Mari kuantar engkau pulang, nona."

Keduanya lalu berjalan menuju kedusun itu tanpa berkata-kata lagi.

Akan tetapi keduanya kadang-kadang saling lirik dan diam-diam Thian Hai merasa heran sendiri mengapa hatinya begitu tertarik kepada wajah yang cantik jelita ini!

begitu bertemu dan bicara, dia telah jatuh cinta kepada wanita ini!

Tentu saja ketika mereka mengetuk pintu dan disambut oleh Gu Tek dan isterinya, kedua orang tua itu terkejut bukan main melihat puteri mereka tahu-tahu mengetuk pintu dari luar ditemani seorang pemuda asing yang berpakaian sasterawan!

Lebih kaget lagi hati mereka ketika mendengar penuturan puteri mereka bahwa ia diculik penjahat dan diselamatkan oleh pemuda itu yang selanjutnya mereka kenal sebagai Souw kongcu.

Peristiwa itu ternyata menjadi awal perjodohan antara Thian Hai dan Yan Kim.

Keduanya saling mencinta dan ketika orang tua Thian Hai mengajukan pinangan, tentu saja diterima dengan gembira oleh keluarga kepala dusun itu.

Tanpa ada halangan apapun, berlangsunglah pernikahan antara Souw Thian Hai dan Gu Yan Kim.

Thian Hai mengajak isterinya tinggal dirumah keluarganya yang terpencil, dan kadang-kadang mereka mengunjungi keluarga Gu Tek didusun itu.

Sampai mereka mempunyai seorang anak perempuan yang diberi nama Souw Lian Cu, kebiasaan mengunjungi dusun itu masih sering dilakukan.

Kadang-kadang Souw Thian Hai hanya pergi berdua dengan puterinya yang amat dicintanya, dan kadang-kadang juga bersama isterinya.

Akan tetapi karena keluarga Souw hidup dalam keadaan menjauhkan diri dari dunia ramai, maka keluarga Go tidak pernah diperkenankan mengunjungi lembah itu.

Ketika dirayakan pesta pernikahanpun, keluarga Souw yang datang berkunjung dan pesta diadakan dirumah keluarga Go.

Souw Thian Hai hidup rukun dengan isterinya, saling mencinta dan dalam suasana yang bahagia.

Mereka semua sudah hampir melupakan Ma Kim Liang karena tidak ada kabar ceritanya lagi tentang murid murtad itu.

Juga didunia kang-ouw tidak ada lagi terdengar munculnya orang yang mengaku sebagai Raja Kelelawar.

Akan tetapi, sesungguhnya Ma Kim Liang tidak tinggal diam begitu saja.

Hatinya sakit bukan main karena kekalahannya terhadap bekas suhengnya.

Apa lagi ketika dia mendengar bahwa gadis dusun yang membuatnya tergila-gila itu kabarnya menjadi isteri suhengnya dan hidup berbahagia di lembah, hatinya dipenuhi oleh iri dan dendam.

Dia menggembleng dirinya dengan tekun sekali, terutama dia mempelajari ilmu-ilmu aneh dari Raja Kelelawar disamping memperdalam ilmu-ilmu yang didapatnya dari keluarga Souw.

Juga dia mempelajari ilmu yang jahat tentang racun-racun karena dia harus mempersiapkan diri menghadapi dua ilmu simpanan keluarga Souw yang sukar dikalahkan itu.

Selama tiga tahun dia menyiksa diri dengan tekun berlatih siang malam tak mengenal lelah sehingga setelah tiga tahun dia keluar dari dalam guha persembunyiannya, tubuhnya menjadi kurus dan wajahnya menjadi jauh lebih tua dari pada usia yang sesungguhnya.

Setelah merasa dirinya benar-benar memperoleh kemajuan yang amat pesat, diapun berangkat untuk membalas dendam atas kekalahannya dan melampiaskan iri hatinya terhadap Thian Hai!

Malam itu gelap gulita dan hujan turun dengan derasnya di lembah tempat tinggal keluarga Souw.

Sungai kecil yang biasanya berair bening dan tidak begitu besar, kini meluap dengan air bercampur lumpur, dan anak sungai yang biasanya mengeluarkan bunyi berdendang merdu, kini mengeluarkan bunyi gemuruh yang menyeramkan.

Karena hawa menjadi dingin oleh hujan, sore-sore keluarga Souw sudah tidur dikamar masing-masing.

Isteri Souw Koan Bu menemani menantunya, bercakap-cakap dalam kamar mantunya karena malam itu, Gu Yan Kim hanya sendirian saja dikamarnya.

Suaminya, Souw Thian Hai dan puterinya, Souw Lian Cu yang baru berusia dua tahun, pergi keluar rumah sejak sebelum hujan.

Mereka semua tahu bahwa malam itu Souw Thian Hai berlatih ilmu silat didekat air terjun, dan biasanya kalau sedang berlatih, hujan atau panas tidak menjadi penghalang, bahkan menambah gemblengan dengan kerasnya hawa udara.

Dan sore tadi Thian Hai mengajak anak perempuan yang amat dicintanya itu, dengan maksud untuk mulai melatih tubuh anak itu dengan perobahan hawa udara.

Dia mengajak pula Pouw Hong, pelayan setia itu untuk menjaga Lian Cu selagi dia berlatih dibawah air terjun, berlatih sinkang.

Malam yang gelap menyeramkan itu bertambah seram dengan munculnya bayangan hitam yang mengintai dirumah terpencil itu.

Dengan gerakan yang amat hati-hati dan sama sekali tidak dapat terdengar oleh seorang sakti seperti Souw Koan Bu sekalipun karena suara itu tertutup oleh suara air hujan, bayangan hitam itu menyelinap dan mengintai kedalam kamar belakang.

Bayangan ini bukan lain adalah Ma Kim Liang yang sudah mengenakan pakaian Raja Kelelawar!

Dia harus berhati-hati.

Berbahayalah menghadapi Souw Koan Bu dan Souw Thian Hai begitu saja dan dia sudah mengatur muslihat dan siasat yang baik untuk melum-puhkan mereka.

Kebetulan sekali hujan menolongnya.

Kalau tidak ada hujan lebat yang menimbulkan suara berisik ketika menimpa genteng, dia tentu akan ragu-ragu untuk melepaskan siasatnya, maklum betapa lihainya keluarga itu.

Ketika dia mengintai kedalam kamar Souw Thian Hai yang amat dibencinya, dia melihat seorang wanita muda cantik sedang bercakap-cakap dengan subonya.

Jantungnya berdebar dan mukanya terasa panas.

Itulah gadis yang pernah digilainya dan yang kemudian menjadi isteri Souw Thian Hai!

Cepat dia mengeluarkan sesuatu dari bungkusannya, lalu membuat api dan membakar sesuatu yang mengeluarkan asap tebal.

Dilubanginya jendela kamar dan ditiupnya asap tebal itu memasuki kamar.

Semua ini dapat dilakukannya dengan aman, karena selain gemuruh air hujan menyembunyikan semua suara yang ditimbulkannya, juga dua orang wanita didalam itu tidak memiliki ilmu silat tinggi.

Dan dengan girang dia melihat betapa kedua orang wanita itu berkali-kali menutupkan tangan kedepan mulut, menguap dan akhirnya keduanya tidur pulas diatas kursi dengan berbantal tangan diatas meja!

Sayang Souw Thian Hai tidak berada dikamarnya, pikirnya.

Dia tidak berani bertindak sembrono dan tubuhnya bergerak menyusup kebangunan yang sudah amat dikenalnya itu dan tak lama kemudian dia sudah mengintai kekamar bekas gurunya.

Dan girangnya bukan main melihat suhunya rebah miring dan agaknya sudah hampir tidur karena pernapasannya sudah panjang dan halus, nampak dari kembang kempisnya dada yang berselimut itu.

Bagus, pikirnya, suasananya ternyata amat menguntungkan dan memudahkan segalanya.

Dia mengeluarkan sebatang bambu sumpit dan tiga batang jarum halus berwarna merah.

Dimasukkannya jarum-jarum itu kedalam sumpit dan disusupkan sumpit itu melalui lubang jendela.

Setelah membidik dengan hati-hati, dia mengerahkan khikangnya dan sekali tiup, tiga batang jarum itu meluncur seperti kilat cepatnya menuju kearah sasarannya.

Betapapun lihainya Souw Koan Bu, dibokong seperti itu tentu saja dia tidak berdaya.

Andaikata tidak sedang turun hujan, mungkin saja dia dapat menangkap suara desir angin tiga batang jarum itu.

Akan tetapi kalaupun ada suara itu, kalah jauh oleh suara rintik hujan diatas atap rumah, maka tahu-tahu pendekar sakti ini merasa nyeri pada pung-gungnya.

Sebagai seorang ahli silat yang sakti, dia segera meloncat sambil mengebutkan selimutnya.

Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika dia merasa betapa punggungnya nyeri sekali, gatal, panas dan ada rasa kesemutan menjalar dari punggungnya, mengancam kelumpuhan tubuh!

Dia sadar akan adanya malapetaka dan segera dia teringat akan isteri dan mantunya.

Cepat dia menubruk kearah pintu yang tertutup.

"Brakkkkk!"

Daun pintu kamarnya ambrol dan dengan beberapa kali lompatan saja dia sudah memasuki kamar mantunya.

Asap harum keras menyambutnya dan kakek ini menggunakan kedua tangan memukulkan angin kedepan.

Asap itu segera membuyar dan terdesak keluar.

Setelah asap membuyar, Souw Koan Bu melihat betapa isteri dan mantunya sudah tertidur pulas diatas tempat duduk mereka.

Ini tidak wajar, pikirnya dan dia menghampiri.

Tahulah dia bahwa mereka berdua itu telah keracunan asap tadi.

Dia hendak menolong, membungkuk, akan tetapi tiba-tiba rasa nyeri yang hebat menyerang punggungnya dan dia terhuyung.

"Ha-ha-ha-ha! Souw Koan Bu, akhirnya engkau roboh juga ditanganku!"

Souw Koan Bu cepat membalikkan tubuhnya dan terkejutlah dia melihat orang berpakaian hitam berjubah hitam itu.

"Raja... Raja Kelelawar!"

Katanya seperti mimpi, akan tetapi segera dia mengenal wajah itu, wajah muridnya sendiri.

"Engkau?!"

Dia hendak menerjang, akan tetapi kembali begitu mengerahkan sinkang, punggungnya terasa nyeri.

Racun yang terkandung dalam tiga batang jarum itu sungguh hebat bukan main, dan jarum-jarum itu sudah masuk kedalam tubuhnya.

"Uhhh!"

Dia mengeluh dan bekas muridnya itu tertawa bergelak, campur dengan suara air hujan dan angin sehingga terdengar mengerikan, seperti suara iblis dalam dongeng.

"Ma Kim Liang, mengapa engkau memusuhiku?"

Bentaknya karena dia merasa penasaran sekali.

Kalau murid murtad itu mencuri pusaka karena tamak, hal itu masih dapat dimengertinya.

Akan tetapi sesungguhnya bekas murid ini tidak ada alasan untuk memusuhinya!

"Ha-ha-ha, engkau tidak tahu?

Aku adalah keturunan Raja Kelelawar, ha-ha-ha.

Aku harus membasmi orang-orang yang pernah memusuhi nenek moyangku itu, dan aku akan membangun kembali kerajaan dunia sesat dimana aku akan menjadi Rajanya, ha-ha-ha...!"

Souw Koan Bu sudah mendengar dari puteranya tentang pusaka peninggalan Raja Kelelawar yang dirampas oleh Kim Liang dengan membunuh cucu murid Raja iblis itu.

Kim Liang sama sekali bukan keturunan Raja iblis itu, juga bukan murid yang diangkat secara sah.

Maka sikapnya itu membuat dia merasa serem.

"Engkau... telah gila!"

Bentaknya.

"Ha-ha-ha, dan engkau akan mampus!"

Ma Kim Liang yang merasa yakin akan kemenangannya menubruk maju.

Dia sudah memperdalam ilmu-ilmunya sehingga kini menghadapi bekas gurunyapun, dia belum mencabut pisaunya dan hanya menggunakan pukulan sakti Kim-liong Sin-kun untuk menyerang bekas gurunya itu.

"Huh, Kim-liong Sin-kun inipun berasal dari keluarga kami!"

Kata Souw Koan Bu dan dengan mudahnya dia mengelak kesana-sini karena dia hafal akan ilmu silat ini.

Akan tetapi ketika dia menangkis dan bertemu tenaga dengan bekas muridnya, dia mengeluh dan terhuyung, hampir terjatuh.

Ternyata sebagian tubuhnya lumpuh oleh racun jarum-jarum itu.

"Ha-ha-ha!"

Kim Liang tertawa lagi dan menyerang terus.

Akan tetapi, ternyata kakek yang sudah terluka parah dan keracunan itu masih hebat bukan main.

Biarpun sebagian tubuhnya lumpuh, namun ilmu silatnya yang amat tinggi membuat dia masih dapat melawan dengan hebatnya.

Apa lagi ketika dia mengeluarkan dua ilmu Thai-kek Sin-ciang dan Thai-lek Pek-kong-ciang, biarpun tenaga sinkangnya sudah berkurang namun kedua ilmu ini masih hebat dan membuat Kim Liang yang belum dapat menguasai kedua ilmu itu menjadi sukar untuk merobohkannya.

"Keparat!!"

Bentaknya marah dan kini dia mencabut sepasang belatinya!

Dan pemuda ini lalu mengamuk.

Kasihan sekali Souw Koan Bu yang sudah mulai lemah itu.

Gerakannya kurang cepat, tenaganya kurang kuat dan tubuhnya penuh dengan luka-luka pisau yang menyambar ganas.

Akan tetapi, kakek itu masih melawan terus dengan hebatnya.

Bahkan tiba-tiba dia mengeluarkan pekik melengking yang tinggi sekali, pekik yang dimaksudkan untuk melumpuhkan lawan dan memanggil puteranya.

Akan tetapi begitu mengerahkan khikang sekuatnya, napasnya hampir putus dan dia terjengkang.

Kim Liang yang sudah marah itu menubruk dan sebuah tendangan mengenai perutnya.

"Bukk!"

Kim Liang terjengkang akan tetapi tidak terluka karena jubahnya melindunginya. Dia marah sekali dan dua batang pisaunya disambitkan dari jarak dekat.

"Crott! Crottt!!"

Souw Koan Bu hanya sempat mengeluarkan gerengan sekali karena dua batang pisau itu telah menembus jantung dan paru-parunya.

Dia tewas dalam keadaan menyedihkan sekali.

Biarpun tendangan tadi tidak melukainya, akan tetapi membuat isi perutnya terguncang dan kemarahan Ma Kim Liang memuncak.

Dia mencabut kedua pisaunya lalu mengamuk, menusuki tubuh Souw Koan Bu sampai ludas.

Darah berhamburan kemana-mana dari tubuh yang sudah tidak mampu berkutik itu.

Sebentar saja, tubuh pendekar itu sudah hancur dan hanya tinggal kepalanya saja yang utuh.

Ma Kim Liang seperti gila.

Dia tertawa-tawa, lalu menghampiri nyonya Souw Koan Bu.

Dengan kejam, sambil menyeringai sadis, kedua pisaunya digerakkan dan leher nyonya itu terpenggal!

Darah menyembur-nyembur dan kini tubuh nyonya itupun menjadi korban keganasan iblis ini.

Yang terakhir kali, Ma Kim Liang menghampiri tubuh Yan Kim yang masih pulas diatas tempat duduknya.

Sekali tendang, tubuh itu terpelanting dan roboh keatas lantai yang penuh darah, terlentang.

Pisau-pisau itu bekerja dan dalam waktu sekejap saja semua pakaian wanita cantik itu terlepas, membuatnya rebah terlentang dengan telanjang bulat dalam keadaan masih pulas.

"Ha-ha-ha, engkau tidak mau menjadi kekasihku dan menjadi isteri Souw Thian Hai? Ha-ha-ha, perempuan tolol, sekarangpun aku tidak sudi kepadamu!"

Dan kedua batang pisau itupun menyambar-nyambar ganas.

Kembali darah muncrat-muncrat ketika menyayat-nyayat dada dan perut.

Wanita itu tewas tanpa sempat bergerak atau mengeluh lagi karena masih terbius oleh racun asap.

Sementara itu, tanpa menduga sedikitpun akan malapetaka hebat yang menimpa keluarganya, Souw Thian Hai sedang melatih sinkang dibawah air terjun.

Puterinya, Souw Lian Cu, sudah tidur pulas didalam guha dibelakang air terjun, dijaga dan ditunggui oleh Pouw Hong, pelayan keluarga Souw yang setia itu.

Tiba-tiba Thian Hai mendengar suara melengking tinggi memecah keheningan malam.

Dia terkejut dan mengenal suara khikang ayahnya.

Sungguh aneh sekali kalau ayahnya mengeluarkan suara melengking itu dimalam buta!

Pasti ada sesuatu, pikirnya.

Akan tetapi dia tidak merasa khawatir, tidak menyangka buruk karena dia percaya penuh kepada ayahnya yang sakti.

Siapa yang akan berani mengganggu keluarganya?

Biarpun demikian, dia lalu memesan kepada Pouw Hong untuk menanti disitu sambil menjaga Lian Cu karena dia hendak pulang sebentar untuk melihat apa yang terjadi.

Dengan mempergunakan ilmu berlari cepat, sebentar saja dia sudah tiba dirumah keluarganya.

Lampu penerangan masih bernyala dan diapun cepat menuju kekamarnya dan terkejutlah hatinya melihat dari luar betapa pintu kamarnya telah jebol.

Dengan jantung berdebar dia lalu meloncat kedalam kamar.

Lilin masih bernyala didalam kamar itu, bahkan tidak seperti biasanya, ada lima batang lilin bernyala diatas meja sehingga kamar itu menjadi terang sekali.

"Aaiiihhhh!"

Tak terasa Thian Hai menjerit ketika matanya terbelalak memandang kedalam kamar.

Mukanya seketika menjadi pucat sekali dan matanya terbelalak liar seperti tidak percaya akan apa yang dilihatnya.

Pemandangan didalam kamar itu akan dapat meremas hati orang yang bagaimana tabah pun juga.

Tubuh Souw Koan Bu hancur seperti cacahan daging, hanya kepalanya saja yang dibiarkan utuh sehingga dapat dikenal bahwa mayat yang dicincang itu adalah mayat pendekar sakti ini.

Dan tak jauh dari situ menggeletak tubuh ibunya yang berada digenangan darah yang masih mengucur dilantai, keluar dari lehernya yang putus!

Kemudian, matanya menatap tubuh isterinya.

Telanjang bulat dan bagian depan tubuh itu disayat-sayat!

"Houkkk!"

Thian Hai hampir muntah dan diapun menubruk kedepan, berlutut dan bengong seperti patung.

Terlalu hebat pemandangan itu, membuat dia hampir pingsan dan kehilangan kesadaran.

Terlalu hebat pukulan dan guncangan batin yang diterima pendekar ini sehingga dia tak tahu harus berbuat apa.

Tidak ada suara lagi keluar dari kerongkongannya, dan dia diam saja tak bergerak seperti telah kehilangan semangatnya.

Kedukaan itu terlampau besar, kekagetan itu terlampau tiba-tiba.

Dalam keadaan setengah pingsan dan kehilangan kesadaran itu tentu saja Thian Hai menjadi lengah, tidak tahu bahwa ada sesosok tubuh menyelinap masuk dengan gerakan yang amat ringan.

Bayangan ini bukan lain adalah Ma Kim Liang.

Pemuda yang menaruh dendam ini memang sengaja memasang banyak lilin agar kamar itu menjadi terang dan dia menyelinap bersembunyi mengintai ketika Thian Hai memasuki kamar.

Ketika dia melihat musuh besarnya itu berlutut didekat mayat-mayat itu dan tak bergerak seperti kehilangan semangat, diapun secepat kilat menyerang dengan Ilmu Sam-ci Tiam-hwe-louw, yaitu totokan menggunakan tiga jari tangan yang amat kuat, satu diantara ilmu-ilmu simpanan keluarga Souw!

dengan tiga jari tangannya, Kim Liang menotok kearah ubun-ubun kepala Thian Hai yang sedang berlutut.

Serangan ini hebat sekali dan kalau mengenai sasaran diubun-ubun tentu akan mendatangkan maut, betapapun lihainya orang yang terkena serangan ini.

Thian Hai adalah satu-satunya keturunan keluarga Souw yang telah mewarisi semua ilmu keluarga ini.

Ilmu silatnya yang amat tinggi sudah mendarah daging didalam tubuhnya, sehingga dia seperti memperkuat atau mempertajam indera keenam yang tidak digerakkan lagi oleh pikiran, melainkan bergerak secara otomatis setiap kali tubuhnya diancam bahaya.

Demikian pula, pada saat itu, secara tiba-tiba indera keenam itu bekerja dan tubuh Thian Hai secara otomatis pun mengelak.

Akan tetapi, sekali ini yang menyerangnya adalah seorang lawan yang amat lihai sehingga elakannya itu tidak berhasil sepenuhnya.

Totokan Sam-ci Tiam-hwe-louw yang menggunakan tiga jari tangan itu, yang tadinya menyambar kearah ubun-ubun, ketika dielakkan masih saja mengenai pelipis Thian Hai.

"Tukk!!"

Tubuh Thian Hai terjengkang dan dari mata, mulut, telinga dan hidungnya mengalir darah segar!

Melihat ini, Kim Liang tertawa bergelak, merasa yakin akan keberhasilan serangannya walaupun hanya mengenai pelipis dan bukan ubun-ubun yang dijadikan sasaran.

Akan tetapi, tiba-tiba dia harus menghentikan tawanya karena Thian Hai sudah melompat dan menerjangnya dengan dahsyat bukan main!

Kim Liang hampir tidak percaya.

Totokan tiga jari tangannya tadi tepat mengenai pelipis!

Orang lain tentu akan tewas seketika dan biarpun karena kekebalan dan kelihaiannya bekas suhengnya ini tidak sampai tewas, tentu menderita luka yang hebat.

Akan tetapi bagaimana mungkin Thian Hai bahkan masih dapat menyerangnya sedemikian dahsyat?

Dia tidak memperoleh banyak waktu untuk memikirkan teka-teki ini karena bekas suhengnya itu menyerang dengan hebat sekali.

Terpaksa Kim Liang mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua kepandaiannya untuk melawan.

Thian Hai mengamuk.

Agaknya totokan itu telah mempengaruhinya, membuatnya kehilangan kesadaran dan kerongkongannya mengeluarkan suara menggereng-gereng seperti binatang buas dan sepak terjangnya amat hebat.

Beberapa kali Kim Liang terkena hantaman dan tendangannya dan kalau bukan Kim Liang, tentu telah roboh.

Kim Liang merasa gentar bukan main.

Biarpun bekas suhengnya ini sudah terluka hebat, akan tetapi dapat mengamuk sedemikian dahsyatnya.

Ngeri dia memikirkan kalau harus melawan bekas suhengnya ini dalam keadaan sehat.

Akhirnya, dia terpaksa melarikan diri membawa beberapa luka pukulan setelah mencoba untuk melawan selama seratus jurus lebih.

Bekas suhengnya itu masih terlampau kuat baginya!

Souw Thian Hai menderita hebat akibat totokan Sam-ci Tiam-hwe-louw itu.

Dia kehilangan kesadarannya, kehilangan ingatannya dan seperti berobah menjadi gila.

Biarpun lawannya sudah melarikan diri, dia tetap mengamuk seperti orang gila.

Rumah itu dihancurkan, dirobohkan lalu dibakar!

Tentu saja jenazah ayah-bundanya dan isterinya habis terbakar pula, menjadi satu dengan puing rumah yang dibakarnya.

Sambil membakar rumah, Thian Hai berloncatan kesana-sini sambil kadang-kadang tertawa kadang-kadang menangis.

Kemudian diapun meloncat jauh dan berlari cepat meninggalkan tempat itu.

Dia berlari terus siang malam tiada hentinya sampai akhirnya beberapa hari kemudian dia roboh pingsan disebuah padang rumput, dimana terdapat banyak domba.

Dia ditolong oleh para penggembala domba dan setelah siuman diapun jatuh sakit hebat.

Akan tetapi, jasmaninya yang terlatih baik itu dapat mengatasi derita karena luka pukulan dan tubuhnya sembuh.

Akan tetapi ingatannya lenyap dan dia sudah lupa segala-galanya tentang dirinya.

Dia tidak tahu lagi siapa dirinya dan siapa atau dimana keluarganya.

Sementara itu, Pouw Hong yang menjaga Souw Lian Cu, akhirnya mengetahui akan malapetaka yang menimpa keluarga majikannya.

Diapun melarikan Lian Cu dan karena dia ketakutan kalau-kalau para musuh keluarga itu akan mencarinya, dia lalu membawa Lian Cu kepada adik perempuannya yang sudah menikah dengan seorang she Gan yang hidup ditepi rawa itu.

Dan anak perempuan itupun lalu berganti nama menjadi Gan Cui Hiang!

Demikianlah riwayat Souw Thian Hai yang kemudian hanya mengingat namanya sebagai A-hai, yaitu nama kecil yang biasa dipakai ayah-bundanya untuk memanggilnya.

Seng Kun dan Bwee Hong mendengarkan cerita A-hai atau Souw Thian Hai itu dengan hati tertarik, dan keharuan besar menyelinap didalam hati Bwee Hong mendengar betapa buruk nasib keluarga pria yang dicintanya itu.

Diam-diam iapun berjanji dalam hatinya bahwa kalau sudah tiba saatnya, ia akan memenuhi sisa hidup pria itu dengan cintanya agar Thian Hai mengalami kebahagiaan.

Demikianlah, setelah Thian Hai menuturkan riwayatnya, dia lalu pergi menjemput puterinya dirumah kepala dusun Gu Tek.

Pertemuan itu amat mengharukan.

Begitu bertemu dengan Gu Tek yang menggandeng tangan Cui Hiang, Thian Hai menubruk dan merangkul anak perempuan itu, menciuminya dan berkata.

"Anakku..., anakku..., engkau anakku! Lian Cu, engkau Lian Cu...!"

Tentu saja Cui Hiang, anak perempuan yang buntung sebelah lengannya itu, menjadi kaget, bingung dan juga ketakutan.

"Paman... paman, ada apakah ini...?"

Katanya heran.

Juga kepala dusun Gu Tek terkejut mendengar bahwa anak perempuan yang memang memiliki ciri-ciri khas keluarga diubun-ubun dan punggungnya itu ternyata adalah cucunya yang hilang!

Setelah Cui Hiang atau Lian Cu itu mendengar cerita tentang keluarga ayahnya, iapun menangis dalam rangkulan ayahnya dan malam itu keluarga Gu Tek berada dalam suasana penuh keharuan dan juga kegembiraan karena keluarga itu dapat bersatu kembali.

Pada keesokan harinya, Thian Hai kembali ke Kotaraja.

Dia menemui Seng Kun, Bwee Hong, Pek Lian dan semua orang yang pernah dikenalnya untuk minta diri, kemudian diapun mengajak Lian Cu pergi meninggalkan Kotaraja untuk melakukan pengejaran terhadap Raja Kelelawar yang berhasil meloloskan diri, karena dia bersumpah didalam hatinya untuk mencari dan membunuh bekas sutenya itu!

Thian Hai dan Lian Cu melakukan perjalanan kearah selatan.

Disepanjang perjalanan, ayah dan anak ini saling melepas rindu hati mereka.

Mereka berdua itu kini merasa benar bahwa mereka hanya saling memiliki didunia ini, tidak ada orang lain.

Setidaknya, demikianlah yang terasa oleh Lian Cu karena disudut hati Thian Hai terdapat bayangan wajah Bwee Hong!

Karena dia dapat menduga bahwa bekas sutenya, Ma Kim Liang kini telah berobah menjadi Raja Kelelawar dan menjadi Raja diantara penjahat, dia lalu mendatangi tempat-tempat yang terkenal menjadi sarang dunia hitam.

Dia pikir tentu akan lebih mudah mencari jejak Raja Kelelawar melalui lembah hitam dunia kaum sesat.

Pada suatu hari, ketika memasuki sebuah hutan, dari jauh saja Thian Hai sudah dapat menangkap suara hiruk-pikuk orang-orang berkelahi.

Cepat dia memberi isyarat kepada Lian Cu untuk berhati-hati.

Pada waktu itu, Lian Cu sudah berusia kurang lebih dua belas tahun, dan anak ini telah memiliki dasar-dasar ilmu silat yang secara kilat diajarkan ayahnya kepadanya.

Bahkan selagi ayahnya masih menjadi "A-hai"

Ia sudah menerima gemblengan ilmu itu. Ia dapat menerimanya dengan amat mudah karena memang sejak bayi ia sudah "Dioperasi"

Sesuai dengan aturan keluarga Souw yang sakti.

Dan orang-orang akan merasa heran melihat betapa pria semuda Thian Hai dapat mempunyai seorang anak perempuan yang sudah berusia dua belas tahun.

Akan tetapi, yang mengenal sejak dahulu tidak akan merasa heran karena tahu bahwa Thian Hai kini telah berusia tiga puluh satu atau dua tahun!

Kalau dia masih nampak muda, hal itu adalah karena racun totokan Sam-ci Tiam-hwe-louw itulah!

Selain mendatangkan luka parah dan membuat ingatannya hilang, juga racun totokan itu membuat dia seperti tidak menjadi semakin tua!

Kini Thian Hai menyusup-nyusup diantara batang-batang pohon bersama puterinya.

Lian Cu juga bersikap waspada dan hati-hati, dan jantungnya berdebar tegang.

Inilah pengalaman pertama sejak ia melakukan perjalanan bersama ayah kandungnya.

Setelah tiba ditempat pertempuran, mereka menyelinap dan bersembunyi sambil mengintai dari balik semak belukar.

Ternyata yang sedang berkelahi itu adalah dua kelompok penjahat kasar yang sedang memperebutkan harta!

Melihat pakaian mereka dan cara mereka berkelahi, Thian Hai mengerti bahwa mereka itu adalah orang-orang kasar yang sudah biasa berkelahi keroyokan.

Karena dia ingin sekali tahu mengapa mereka berkelahi dan siapakah mereka, dia mempergunakan kepandaiannya.

Dengan gerakan cepat dia meloncat dari tempat sembunyinya, mencengkeram leher baju seorang diantara mereka yang sudah terluka dan menyeretnya kebalik semak-semak.

Tidak ada yang melihat perbuatan pendekar ini karena semua orang sedang sibuk berkelahi.

Setelah dipaksa dengan ancaman, orang itupun mengaku dan dengan suara terputus-putus dia bercerita.

Ternyata dua puluh orang lebih itu adalah bekas pasukan pengawal dari Istana, anak-buah Perdana Menteri Li Su.

Ketika Kotaraja terancam oleh barisan pemberontak, Perdana Menteri Li Su siang-siang sudah mempersiapkan pengungsian keluarga dan harta bendanya.

Perdana Menteri Li Su adalah seorang pembesar yang korup.

Harta bendanya banyak sekali dan untuk menyelamatkan harta benda dan keluarganya, dia menyuruh sepasukan pengawal mengantar keluarganya keluar Kotaraja, kembali kekampung halaman.

Dia mengatakan agar pasukan itu berangkat dulu dan dia akan menyusul kemudian.

Akhirnya pasukan itu berhasil mengawal keluarga dan harta benda itu sampai dipantai timur, dimana direncanakan untuk menanti kedatangan Perdana Menteri itu.

Akan tetapi, pembesar itu tak kunjung datang, bahkan para pengawal lalu mendengar bahwa pembesar itu telah terbunuh oleh barisan pemberontak.

Mendengar berita ini, para pengawal menjadi gelisah.

Dan karena disitu terdapat banyak wanita cantik dan harta benda yang banyak, tak dapat dicegah lagi terjadilah pemberontak dan perebutan.

Terjadilah perkelahian diantara para pengawal itu sendiri.

Pihak pemenang lalu mencari harta karun.

Akan tetapi, mereka tidak menemukan harta karun kecuali perhiasan-perhiasan yang dipakai oleh para wanita dan anak-anak.

Marahlah mereka.

Semua perhiasan itu dirampas, para wanita yang cantik dan muda mereka permainkan dan perkosa, selebihnya, yang tua dan kanak-kanak dibunuh.

Pembantaian besar-besaran ini terjadi ditepi laut dan akhirnya, mereka yang tadinya diperkosapun dibunuh semua.

Mayat-mayat mereka, berikut tandu-tandu yang tadinya dipakai mengangkut mereka, dibuang kelautan.

"Hemm, kalian sungguh orang-orang kejam!"

Thian Hai memotong cerita orang itu. Orang itu terengah-engah karena lukanya memang berat.

"Kami melarikan perhiasan-perhiasan itu, akan tetapi sesampainya dihutan ini, kembali terjadi keretakan dan perebutan antara pemimpin-pemimpin kami sehingga terjadi perkelahian ini..."

Orang itu tidak dapat melanjutkan ceritanya karena dia sudah roboh pingsan karena kehabisan darah yang bercucuran keluar dari lukanya.

Akhirnya perkelahian itupun berhenti setelah pihak yang kalah habis dibunuh.

Pihak yang menang tinggal belasan orang lagi, dipimpin oleh seorang bekas perwira.

Karena kelelahan, kepala penjahat ini lalu menduduki sebuah tandu, satu-satunya tandu yang masih ada karena yang lain semua dibuang kelaut, dan memerintahkan anak-buahnya untuk memikulnya secara bergilir.

Thian Hai mengajak puterinya untuk membayangi mereka.

Siapa tahu, para penjahat bekas pengawal Istana ini akhirnya akan membawanya kepada musuh besarnya!

Dan para penjahat yang masih berpakaian seperti pasukan itupun dapat melakukan perjalanan dengan aman karena seperti biasa, rakyat sudah menyingkir ketakutan melihat pasukan serdadu ini.

Pada sore hari itu mereka tiba ditepi sungai dan tiba-tiba saja nampak belasan orang berloncatan keluar dari balik semak-semak dan pohon-pohon besar.

Mereka itu jelas perampok-perampok dengan pakaian mereka yang tidak karuan dan senjata mereka yang bermacam-macam.

Dan tanpa banyak cakap lagi, belasan orang perampok yang muncul itu lalu menyerang.

Terjadilah perkelahian lagi.

Akan tetapi bekas pengawal itu rata-rata memiliki kepandaian berkelahi yang lumayan sehingga kelompok perampok kewalahan menghadapi mereka.

Para pengawal ini mahir mempergunakan gendewa dan anak panah, juga pandai berkelahi dengan golok dan perisai.

Thian Hai dan puterinya hanya mengintai, tidak mau mencampuri urusan orang-orang yang saling berebut harta itu.

Diam-diam Thian Hai melihat betapa gilanya manusia.

Memperebutkan harta benda seperti itu, sampai bunuh-bunuhan!

Akan tetapi, ketika para perampok itu mulai terdesak, tiba-tiba muncullah seorang gendut pendek yang membawa senjata ruyung atau alu pendek.

Begitu muncul, orang ini menggunakan alunya untuk mengamuk dan para perajurit itu tidak ada yang mampu melawannya, seorang demi seorangpun roboh!

Melihat orang gendut pendek ini, Thian Hai menahan seruannya.

Dia mengenal orang itu.

Sin-go Mo Kai Ci Si Buaya Sakti, kepala bajak sungai yang perkasa itu.

Dan hatinya merasa girang, harapannya muncul karena datuk sesat ini merupakan seorang diantara para pembantu Raja Kelelawar!

Akan tetapi, dia tidak mungkin muncul begitu saja.

Kalau melihat dia, tentu Buaya Sakti itu akan mengerahkan anak-buahnya untuk mengeroyok dan akan sukarlah baginya untuk mengikuti jejak musuh besarnya.

Dia harus mencari dan menggunakan akal yang cerdik, agar dia dapat mengikuti orang-orang ini kesarang mereka tanpa mereka curigai.

Setelah Thian Hai meninggalkan Kotaraja, suasana di Kotaraja semakin tenang karena Liu Pang yang kini telah menjadi Kaisar Han Kao Cu mulai mengatur pemerintahan dengan bijaksana, dibantu oleh para pendekar yang kini memperoleh kedudukan tinggi sesuai dengan jasa dan kepandaian masing-masing.

Setelah suasana menjadi tenang, Chu Seng Kun berpamit kepada ayahnya yang kini telah memegang jabatannya kembali sebagai ketua kuil dilingkungan Istana, untuk pergi mengunjungi keluarga Kwa, ketua Tai-bong-pai yang telah meninggalkan undangan kepadanya itu.

Bu Hong Seng-jin, ayah pemuda itu, sebetulnya merasa berat juga melepas kedua orang anaknya, karena Bwee Hong tidak mau ditinggalkan kakaknya, pergi mengunjungi keluarga yang dianggapnya sebagai orang-orang sesat itu.

Akan tetapi diapun maklum bahwa selama dalam kekacauan, kedua orang anaknya itu telah menjalin tali persahabatan dengan banyak orang, dan sedikit banyak, keluarga Tai-bong-pai itu telah berjasa bagi pemerintah yang baru.

Selain itu, juga menurut cerita anak-anaknya, puteri ketua Tai-bong-pai sudah beberapa kali menolong dan menyelamatkan mereka.

Maka, terpaksa kakek ini membiarkan kedua orang anaknya pergi.

Setelah kakak-beradik yang menjadi sahabat paling dekat itu pergi, Ho Pek Lian merasa betapa hidupnya sunyi.

Dia merasa kesepian sekali.

Pertama-tama dara ini mengalami pukulan batin ketika mendapat kenyataan bahwa A-hai pemuda yang mula-mula ditemukannya itu ternyata adalah seorang pendekar bernama Souw Thian Hai yang selain sakti, juga sudah mempunyai keluarga, punya isteri dan anak.

Lebih dari pada itu, iapun dapat merasakan dari sikap sahabatnya, Chu Bwee Hong, bahwa antara Bwee Hong dan Thian Hai terdapat perasaan saling mencinta.

Kemudian, lepasnya A-hai atau Thian Hai dari hatinya, ia condong kembali kepada gurunya yang kini telah menjadi Kaisar.

Akan tetapi, dengan hati duka ia harus dapat melihat kenyataan bahwa tidaklah mungkin ia berdekatan lagi dengan pria yang selama ini amat dikaguminya dan diam-diam juga mendapatkan tempat penting didalam lubuk hatinya.

Liu Pang telah menjadi Kaisar.

Selain Kaisar, juga pria ini adalah gurunya.

Mana mungkin baginya untuk mendekatinya terus?

Kedukaan ini ditambah lagi melihat para pembesar jujur yang dahulu menjadi sahabat-sahabat dan teman seperjuangan ayahnya, kini memperoleh kedudukan layak kembali dan hidup bahagia dengan keluarga mereka.

Hal ini membuat ia teringat akan keluarganya sendiri yang sudah berantakan.

Dan iapun terdorong oleh hasrat yang amat kuat untuk pergi mengunjungi makam ayahnya.

Ketika ia hendak menghadap gurunya untuk bermohon diri, ia mendengar bahwa Kaisar yang baru itu sedang sibuk memimpin sendiri pasukan istimewa untuk mengadakan pembersihan didaerah Kotaraja!

Memang tindakan Kaisar baru ini bijaksana sekali.

Dia tidak mau enak-enakan saja setelah menduduki singgasana, melainkan bekerja memberi contoh kepada para pembantunya, mengadakan pembersihan dan turun tangan sendiri agar suasana menjadi benar-benar aman dan rakyat darat hidup tenang setelah menderita kekacauan selama bertahun-tahun karena perang saudara itu.

Terpaksa Pek Lian, lalu menyusul ketempat pasukan gurunya itu beroperasi dan diluar Kotaraja, akhirnya dara ini dapat bertemu dengan gurunya atau Kaisar Han Kao Cu yang sedang beristirahat dan duduk dibawah pohon besar, berlindung dari terik panas matahari yang membuat tubuhnya amat gerah dalam pakaian perang kebesaran yang megah itu.

Pek Lian lalu menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut didepan gurunya.

Melihat dara ini, sang Kaisar tersenyum.

"Ah, kiranya engkau yang mohon menghadapku dalam saat dan ditempat seperti ini, nona Ho?"

Pek Lian merasa terharu dan semakin kagum. Biarpun sudah menjadi Kaisar, ternyata gurunya ini masih bersikap biasa kepadanya, menyebutnya "nona Ho"

Dan bersikap sederhana seperti gurunya yang biasa.

Akan tetapi ia sendiri tidak mungkin berani bersikap seperti terhadap Liu Pang ketika masih melakukan perjalanan bersamanya untuk melakukan penyelidikan.

Pria gagah perkasa didepannya ini adalah Kaisar!

Maka iapun berlutut memberi hormat tanpa berani mengangkat mukanya.

"Sribaginda, harap paduka sudi memaafkan hamba yang berani datang mengganggu dan menghadap tanpa dipanggil. Hamba menghadap untuk mohon perkenan paduka untuk pergi mengunjungi makam ayah hamba."

Di dalam suara dara itu terkandung kedukaan hatinya dan hal ini agaknya terasa oleh Kaisar.

Dia memandang murid itu dengan kerut diantara keningnya dan diulurkannya tangan kanannya untuk menyentuh kepala dara perkasa itu.

Sejenak dielusnya rambut kepala itu penuh keharuan dan kemesraan hatinya, akan tetapi perlahan-lahan ditariknya kembali tangannya.

"Nona Ho, setelah engkau mengerahkan segala-galanya, juga sudah berkorban keluarga, demi perjuangan, mengapa engkau tidak mau menikmati hasilnya? Engkau tidak mau menerima jabatan, dan bekas Istana keluarga ayahmu telah kuberikan kepadamu. Akan tetapi engkau tidak mau beristirahat dirumah, melainkan hendak pergi lagi. Ingat, sehabis perang, keadaan diluar masih kacau dan orang-orangku belum sempat mengamankan seluruh daerah."

"Sribaginda, hamba merasa kesepian setelah semua sahabat pergi dan dan hamba ingin bersembahyang didepan makam ayah"

Kaisar itu menarik napas panjang dan memandang dengan terharu.

"Nona, sejak berjuang, engkau selalu berada disampingku, seperti murid atau anak sendiri, aku menyesal sekali bahwa sekarang, sebagai Kaisar, tidak mungkin aku, kita, ah, menjadi orang besar sama seperti duduk ditempat paling tinggi, nampak dari manapun dan dijadikan sari tauladan, disorot oleh semua rakyat. Maka, terpaksa harus berhati-hati dan tidak mungkin dapat berbuat sekehendak hati sendiri. Baiklah, engkau berangkatlah, akan tetapi harus berhati-hati dan sebaiknya kalau menyamar sebagai seorang pria."

Hati Pek Lian terharu mendengar ucapan gurunya itu.

Ia maklum apa yang dimaksudkan oleh Kaisar, bahwa Kaisar sebenarnya juga ingin selalu berdampingan dengannya, akan tetapi sebagai Kaisar, akan menjadi celaan orang kalau berdekatan dengan seorang gadis yang dikenal sebagai muridnya.

Terdapat jurang pemisah diantara mereka, jurang yang berupa kedudukan pemimpin itu.

Bagaimanapun juga, seorang murid sama dengan anak, kalau seorang guru menikah dengan muridnya, sama saja dengan seorang ayah menikahi anaknya.

Hal ini masih tidak begitu menghebohkan kalau terjadi diantara rakyat biasa, akan tetapi Kaisar?

Tentu akan merupakan aib!

Setelah memberi hormat dan sejenak bertemu pandang yang menembus sampai kejantung, Pek Lian lalu mengundurkan diri dan berkemas.

Ia menyamar sebagai seorang pria muda yang tampan dan berangkatlah dara ini sendirian meninggalkan Kotaraja.

Di sepanjang perjalanan Pek Lian melihat bekas-bekas perang dan diam-diam ia mengeluh dan merasa bersedih atas nasib rakyat jelata.

Ketika ia sendiri sedang berjuang, seluruh perhatiannya tertuju kepada perjuangan sehingga dia melihat semua penderitaan rakyat akibat perang itu sebagai korban perjuangan yang suci.

Pengorbanan yang diderita rakyat itu dianggap sebagai bahan bakar perjuangan, sebagai penambah semangat dan perjuangan itupun dilakukan oleh para pendekar demi kemakmuran rakyat jelata, demi membebaskan rakyat dari tindasan si angkara murka.

Akan tetapi sekarang, setelah perang selesai dan para pejuang berhasil memperoleh kemenangan, gurunya menjadi Kaisar dan para pembantu gurunya masing-masing memperoleh kedudukan, harta benda dan kemuliaan, baru ia melihat betapa rakyat jelata yang tadinya menjadi kocar-kacir hidupnya dilanda perang, kini masih juga belum terbebas dari pada kesengsaraan!

Bahkan sebaliknya, kemalangan lain menimpa rakyat jelata karena perang telah membuat daerah-daerah pedalaman menjadi daerah tak bertuan.

Pergantian pemerintah menimbulkan perebutan kekuasaan didaerah-daerah, dan karena belum ada ketentuan siapa yang akan menjadi kepala, disuatu daerah, maka daerah itu seolah-olah menjadi medan perang perebutan kekuasaan, menjadi daerah kosong sehingga kaum penjahat merajalela seenaknya tanpa ada pihak pemerintah yang ditakutinya.

Rakyat hidup dalam kegelisahan tanpa pelindung karena pemerintah yang baru belum sempat mengirimkan pembesar untuk daerah-daerah itu.

Ada pembesar lama yang masih mempertahankan kedudukannya dan menjadi semacam Raja kecil.

Kalau tidak demikian, tentu kepala penjahat yang menggantikannya menjadi semacam pejabat sementara yang sewenang-wenang.

Sepanjang sejarah, dibagian manapun juga didunia ini, perang merupakan semacam wabah yang paling keji dan terkutuk bagi manusia.

Didalam perang, manusia bukan saja terserang dan terancam jasmaninya, akan tetapi juga terancam roha-ninya.

Perang membuat manusia menjadi keras, kejam, mementingkan diri sendiri, haus akan keku-asaan.

Perang adalah perebutan kekuasaan antara orang-orang; golongan atas, perebutan yang dilakukan diatas tumpukan mayat rakyat jelata.

Bagaikan dalang atau suteradara, golongan atas ini bersembunyi dibelakang layar, membiarkan rakyat yang berkiprah didalam perang dengan pengorbanan harta dan nyawa.

Kalau kemenangan tercapai, orang-orang golongan atas itulah yang akan membagi-bagi rejeki diantara mereka sendiri, lupa sudah akan segala pengorbanan yang dilakukan rakyat demi kemenangan perjuangan mereka.

Kalau kekalahan diderita, orang-orang golongan atas itulah yang akan bersicepat lari mengungsi sambil menyelamatkan keluarga dan harta mereka.

Tentu ada kecualinya, ada orang-orang yang berjiwa pemimpin dan pahlawan sejati, akan tetapi yang begini ini hanya ada beberapa gelintir?

Sebagian besar adalah dalang-dalang curang yang mementingkan diri sendiri dan hanya mempergunakan rakyat untuk mencapai cita-cita pribadinya.

Tidaklah mengherankan apabila Pek Lian merasa berduka dan menyesal sekali ketika ia menyaksikan kesengsaraan rakyat didaerah-daerah dalam perjalanannya itu.

Pek Lian adalah seorang pendekar sejati, seorang yang berjiwa patriot tanpa ambisi pribadi.

Ia menuruni watak ayahnya, Menteri Ho yang terkenal sebagai seorang Menteri yang jujur.

Kejahatan merajalela dan penduduk hidup dalam keadaan yang tidak tenang, selalu diburu ketakutan.

Ketika Pek Lian memasuki kota itu, hari sudah hampir senja dan selagi ia berkeliling mencari sebuah rumah penginapan, tiba-tiba ia mendengar suara teriakan-teriakan.

Lalu nampak belasan orang berlari-larian keluar dari sebuah rumah yang dirias, beberapa orang diantara mereka yang lari itu memikul sebuah tandu dan ada pula yang memondong seorang pemuda yang berpakaian pengantin.

"Tolong, toloonggg,! Kedua pengantin, diculik!"

Teriak seorang laki-laki tua yang berlari keluar dari rumah itu sambil melakukan pengejaran.

Sebuah tendangan dari seorang yang bertubuh tinggi besar membuat orang tua itu terpelanting.

Para tamu juga berlari keluar akan tetapi tidak ada seorangpun diantara mereka yang berani melakukan pengejaran.

Melihat ini, sejenak Pek Lian berdiri bengong.

Ia tidak akan merasa heran mendengar seorang gadis atau seorang pengantin puteri diculik penjahat.

Akan tetapi sepasang pengantin yang diculik?

Sungguh luar biasa dan tentu ada apa-apanya dibalik peristiwa aneh ini.

Maka, iapun cepat mempergunakan kepandaiannya untuk melakukan pengejaran.

Setelah rombongan penculik itu tiba diluar kota, ditepi sebuah hutan, tiba-tiba mereka terkejut melihat munculnya seorang pemuda tampan yang berdiri bertolak pinggang menghadang jalan.

"Penculik-penculik hina! Hayo bebaskan sepasang pengantin itu kalau kalian ingin selamat!"

Pek Lian membentak dengan marah.

Kemarahan Pek Lian bukan hanya melihat orang-orang kasar ini melakukan kejahatan, akan tetapi juga karena tidak melihat adanya petugas-petugas keamanan yang mencegah kejahatan itu, bahkan tidak ada pula yang melakukan pengejaran.

Pemimpin gerombolan itu adalah seorang kakek berusia enam puluh tahun lebih yang memegang sebatang toya.

Melihat seorang pemuda yang kelihatan begitu muda dan tampan berani menghadang dan menantang, dia menjadi marah, akan tetapi juga merasa geli hatinya.

Pemuda ini seperti seekor harimau kecil yang baru mulai berani berlagak, pikirnya.

Akan tetapi pemuda itu masih amat muda dan amat tampan, jauh lebih tampan dari pada pengantin pria yang mereka culik.

Kalau dia dapat menangkap pemuda ini dan menghadapkannya kepada pemimpinnya, tentu dia akan menerima ganjaran.

"Tangkap anak ayam ini!"

Perintahnya dan belasan orang itu maju mengepung Pek Lian sambil tertawa-tawa mengejek. Mereka semua mengira akan dengan amat mudahnya menangkap pemuda ini.

"Ha-ha-ha, bocah ingusan, engkau sudah berani berlagak!"

Kata seorang diantara mereka sambil menubruk kedepan. Akan tetapi, secepat kilat Pek Lian melompat kekiri dan kaki kanannya bergerak menendang, cepat dan kuat.

"Dukk! Heppp!"

Orang yang kena tendang itu terjengkang, memegangi ulu hati yang kena tendang dan megap-megap seperti ikan didarat karena pernapasannya menjadi sesak oleh tendangan itu.

Melihat ini, teman-temannya menjadi marah dan empat orang menubruk kedepan.

Kembali mereka kecelik karena mereka hanya menubruk tempat kosong dan sebelum mereka sempat menyingkir, Pek Lian telah menghujankan pukulan dan tendangan yang membuat mereka terpelanting dan mengaduh-aduh.

Kini marahlah si kepala gerombolan, juga matanya terbuka melihat kenyataan bahwa pemuda ingusan itu sesungguhnya bukan orang sembarangan, bukan mangsa lunak melainkan lawan yang berbahaya!

Maka diapun menggerakkan toyanya dan membentak.

"Bunuh setan, ini!"

Teman-temannya juga sudah marah dan mereka mempergunakan segala macam senjata yang ada pada mereka untuk maju mengeroyok, dan melihat ini, Pek Lian cepat mencabut pedangnya yang disembunyikan dibalik baju luarnya.

Nampak sinar berkilat dan berturut-turut dua orang anggauta gerombolan menjerit kesakitan.

Pek Lian yang juga sudah marah sekali itu mengamuk, pedangnya berkelebatan dan si kepala gerombolan yang kelihatan paling lihai diantara mereka itupun tidak terluput dari amukannya.

Pundak kiri orang itu terserempet pedang, membuat dia terpekik dan melompat kebelakang, kemudian terus melarikan diri!

Teman-temannya merasa gentar, dan sambil menyeret tubuh teman-teman yang terluka, merekapun melarikan diri meninggalkan si pemuda ingusan!

Pek Lian memang tidak berniat membunuh orang.

Akan tetapi, ia ingin tahu siapa yang menjadi pemimpin mereka.

Maka iapun cepat mengambil sepotong batu dan menyambitkan batu itu kearah seorang anggauta gerombolan yang larinya paling belakang.

Batu kerikil menyambar, mencium tengkuk dan orang itupun terguling roboh.

Teman-temannya hendak menolong, akan tetapi melihat pemuda ingusan itu sudah berloncatan datang, mereka ketakutan dan melarikan diri, tidak perduli lagi kepada teman mereka yang roboh tadi.

"Hayo katakan, siapa yang menjadi pemimpin kalian dan apa maksud kalian menculik sepasang pengantin itu?"

Bentak Pek Lian sambil menodongkan pedangnya didada orang yang masih pening kepalanya terkena sambitan pada tengkuknya itu.

"Ampun... ampun... saya hanya... hanya anak-buah saja."

"Katakan siapa pemimpinmu dan mengapa menculik sepasang pengantin!"

Pek Lian menghardik dan ujung pedangnya menembus baju melukai kulit dada.

"Aduh...! Ampun... kami adalah anak-buah kepala daerah kota sancou dan... Dan beliau yang memerintahkan kami menculik sepasang pengantin."

"Untuk apa...?"

Pek Lian bertanya heran.

"Entahlah, mana saya mengetahui? Mungkin... taijin dan... teman-temannya suka ditemani orang-orang muda, laki ataupun wanita..."

Pek Lian menarik pedangnya dan menendang dagu Orang itu.

"Pergilah!"

Orang itu pergi, Pek Lian menghampiri sepasang pengantin itu.

Pengantin pria telah membuka tirai tandu dan kini dia sedang merangkul isterinya yang menangis ketakutan.

Melihat adegan mesra ini, Pek Lian merasa jantungnya tertusuk dan iapun lalu berkata.

"Sebaiknya kalau kalian cepat-cepat pergi dari sini dan sementara ini bersembunyi saja ditempat lain."

Pengantin pria itu lalu menarik keluar pengantin wanita, mengajaknya menjatuhkan diri berlutut didepan Pek Lian.

"Kami berdua menghaturkan banyak terimakasih atas pertolongan taihiap..."

Kata pengantin pria sedangkan pengantin wanita sambil menangis hanya mengangguk-anggukkan kepala.

"Sudahlah, aku hanya ingin bertanya, dimanakah kota sancou itu?"

"Tidak jauh dari sini, taihiap. Diluar hutan ini akan ada jalan menuju ke sancou."

"Terimakasih, aku akan pergi kesana. Kalian pergilah sebelum gelap."

Kata Pek Lian sambil membalikkan tubuhnya hendak pergi dari tempat itu.

"Nanti dulu, taihiap!"

Tiba-tiba terdengar suara pengantin wanita yang sejak tadi tidak mengeluarkan kata-kata.

Pek Lian berhenti dan membalikkan tubuhnya, memandang pengantin wanita yang kini bersama suaminya sudah bangkit berdiri.

"Ada apakah?"

Tanyanya heran mengapa pengantin wanita itu memanggilnya, suatu hal yang amat berani bagi seorang pengantin wanita yang biasanya malu-malu terhadap seorang pria asing.

Pengantin wanita itu memang nampak malu-malu, akan tetapi suaranya bersungguh-sungguh ketika ia berkata.

"Maaf, taihiap. Pakaianmu memang sudah tepat, akan tetapi gerak-gerikmu dan kulit mukamu yang halus, bentuk alis dan anak rambutmu tidak menyembunyikan sifat kewanitaan. Penyamaran taihiap kurang berhasil dan mudah diketahui orang."

Mendengar ucapan itu, wajah Pek Lian menjadi merah dan iapun tertawa sambil membuka kain penutup kepalanya.

"Aih, kalau engkau dapat mengenaliku, cici, tidak ada gunanya lagi aku bersusah payah menyamar. Akupun merasa tidak leluasa kalau harus merobah suara dan sikap."

Pengantin pria itu memandang bengong kepada gadis cantik jelita yang berada didepannya.

Dia sendiri sama sekali tidak pernah mengira bahwa pendekar yang lihai dan yang telah menyelamatkan dia dan isterinya itu ternyata adalah seorang dara yang cantik!

Setelah mereka saling berpisah, Pek Lian langsung saja pergi ke sancou, lalu mencari keterangan perihal kepala daerah dan didengarnya bahwa kepala daerah itu adalah seorang baru.

Didalam perebutan kekuasaan, kepala daerah baru ini berhasil menggulingkan kepala daerah yang lama.

Anehnya, tidak ada orang yang mengenal benar siapa adanya kepala daerah ini dan, dari mana asalnya!

Menurut keterangan itu, baru satu bulan kepala daerah baru ini menguasai sancou, dan semenjak itu, berbagai perbuatan kejam dan sewenang-wenang terjadilah.

Satu diantara kejahatan-kejahatan itu adalah bagaimana si pembesar membiarkan anak-buahnya menculik gadis-gadis cantik dan pemuda-pemuda tampan yang kabarnya dipaksa menjadi pelayan-pelayan didalam gedung kepala daerah yang baru.

Begitu memperoleh keterangan jelas dan merasa yakin bahwa kepala daerah baru itu memang jahat dan sewenang-wenang, Pek Lian lalu langsung pergi mengunjungi gedung besar dan megah tempat tinggal kepala daerah baru itu.

Tentu saja para penjaga diluar pintu gerbang merasa heran melihat munculnya seorang gadis cantik yang menyatakan ingin menghadap pembesar itu.

Akan tetapi, Pek Lian melihat betapa para penjaga itu tertawa-tawa dan dengan sikap kurang ajar mereka mempersilahkan Pek Lian menanti.

"Tunggu dulu sebentar, nona. Kami yakin bahwa seorang cantik manis seperti engkau tentu akan diterima, oleh taijin, walaupun hari telah mulai gelap. ha-ha, siapa yang tidak akan girang menerima kunjungan seorang tamu seperti nona?"

Pek Lian tidak mau melayani kekurangajaran mereka.

Dara ini menanti dan tidak lama kemudian ia dipersilahkan masuk oleh penjaga yang tersenyum-senyum menyeringai memuakkan.

Empat orang penjaga yang memegang tombak mengawalnya.

Pek Lian diajak masuk kesebuah ruangan luas dan dari jauh ia sudah melihat seorang berpakaian pembesar duduk diatas kursi kebesarannya yang terletak tinggi di puncak anak tangga.

Beberapa orang pengawal berdiri menjaganya dan didekatnya duduk seorang perwira yang berpakaian mewah dan bertubuh kokoh kuat.

Pek Lian maklum bahwa ia telah memasuki.

sarang harimau.

Akan tetapi hatinya terlampau marah kepada pembesar yang suka menculik orang-orang muda itu dan begitu melihat pembesar itu ia lalu menudingkan telunjuknya.

"Engkaukah kepala daerah kota sancou?"

Mendengar pertanyaan yang diucapkan dengan tegas ini, si perwira meloncat turun menghadapinya dan para pengawal yang tadi mengiringkannya lalu menodongkan tombaknya kepada Pek Lian.

Akan tetapi dara ini bersikap tenang saja.

Kini ia mengenal beberapa orang pengawal sebagai anggauta penculik yang sore tadi dihajarnya.

Agaknya mereka tidak mengenalnya karena ia kini sudah berpakaian sebagai seorang perempuan.

(Lanjut ke

Jilid 32 -Tamat) Darah Pendekar (Seri ke 01 -Serial Darah Pendekar) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo Bahan Cerita . Sriwidjono

Jilid 32 (Tamat) Pembesar itu sendiri mengerutkan alisnya, akan tetapi sikapnya masih ramah karena dia melihat bahwa gadis itu benar-benar cantik jelita seperti yang dilaporkan oleh penjaga tadi.

"Nona, memang akulah kepala daerah disini. Siapakah engkau dan apa keperluanmu malam-malam datang kesini?"

"Siapa aku tidak penting. Aku mewakili semua muda-mudi yang menderita gangguanmu. Benarkah engkau yang menyuruh gerombolan penjahat menculiki pemuda-pemuda dan gadis-gadis, juga yang sore tadi hendak menculik sepasang pengantin dikota Tung-cou?"

"Eh... ohh... aku... aku tidak..."

Pembesar itu menjawab tergagap.

"Heii, ia ini yang tadi menyamar pria dan menggagalkan pekerjaan kita!"

Tiba-tiba seorang pengawal berteriak ketika dia mengenal Pek Lian. Mendengar ini, belasan orang perajurit segera mengepung dara itu. Dan si perwira yang mendengar teriakan anak-buahnya lalu berseru.

"Tangkap gadis ini!!"

Akan tetapi, gadis itu telah mencabut pedangnya dan mengamuk.

Seperti ketika ia dikeroyok dihutan tadi, kinipun para perajurit bukanlah tandingannya.

Ilmu pedang yang dimainkan Pek Lian sungguh hebat dan sebentar saja beberapa orang perajurit telah roboh terluka dan ada pula yang kehilangan senjatanya.

Hanya tinggal perwira berjenggot pendek itu yang masih melawan dengan pedangnya dibantu sisa para pengawal pribadinya.

"Tahan senjata!"

Tiba-tiba terdengar bentakan halus dan muncullah dua orang wanita kembar yang sikapnya genit, pesolek dan cukup cantik biarpun muka mereka tebal oleh riasan.

Melihat mereka, terkejutlah Pek Lian.

Ia mengenal mereka karena sepasang wanita kembar itu bukan lain adalah Jeng-bin Siang-kwi (Iblis Kembar Seribu Muka), yaitu dua orang wanita kembar yang merupakan tokoh ketiga dan keempat dari Tujuh Iblis Ban-kwi-to!

"Aihh!

Kiranya puteri Menteri Ho yang muncul!

hi-hik, bagus sekali, mari kita tangkap gadis ini dan biar taijin menikmatinya."

Dua orang wanita itu sudah menubruk kedepan untuk menangkap Pek Lian.

Dara ini maklum akan kelihaian lawan, maka iapun memutar pedangnya menangkis dan balas menyerang.

Akan tetapi, gerakan kedua orang wanita itu sungguh cepat dan karena mereka berdua maju bersama, biarpun keduanya bertangan kosong, Pek Lian menjadi terdesak dan beberapa kali hampir saja ia kena dipukul atau ditangkap.

Dara ini maklum bahwa ia tidak boleh melanjutkan amukannya.

Tiba-tiba ia mengeluarkan bentakan halus ketika tangan kirinya bergerak dan ia sudah melemparkan dua batang piauw berturut-turut kearah dua orang lawan itu.

Ketika dua orang lawannya mengelak dengan gesit, Pek Lian melompat jauh kebelakang dan keluar dari dalam bangunan.

Para penjaga tidak berani mencoba untuk menghalanginya karena mereka sudah tahu betapa lihainya dara ini, dan kedua orang wanita kembar itupun hanya mengejar sampai dipintu dan membiarkan gadis itu melarikan diri dan lenyap didalam kegelapan malam.

Agaknya dua orang wanita kembar itu merasa gentar kalau-kalau Pek Lian datang membawa teman dan merekapun sudah maklum siapa adanya dara perkasa ini, dan bahwa dara perkasa ini mempunyai banyak sekali kawan-kawan pendekar yang tinggi ilmunya.

Pek Lian juga maklum bahwa dengan adanya iblis betina kembar itu dirumah si kepala daerah ia tidak dapat berbuat banyak.

Ia tahu sampai dimana kelihaian sepasang iblis itu, belum lagi diingat kemungkinan hadirnya pula iblis-iblis Ban-kwi-to yang lain.

Kiranya para penghuni Ban-kwi-to, setelah kegagalan mereka bersekongkol dengan para pembesar pengkhianat, melarikan diri bersembunyi ditempat yang tak tersangka-sangka, yaitu dirumah para pembesar yang dapat mereka kuasai.

Kini tahulah ia siapa yang berdiri dibalik kejahatan penculikan-penculikan itu.

Tentu sepasang iblis betina ini yang membutuhkan pemuda-pemuda yang diculik, sedangkan gadis-gadis yang diculik tentu diberikan kepada si pembesar, atau mungkin juga kawan-kawan para iblis itu.

Ia tidak dapat berbuat apa-apa pada saat itu, akan tetapi sudah dicatatnya didalam hati agar kelak kalau ia sudah kembali ke Kotaraja, ia dapat melapor kepada Kaisar dan pasukan yang kuat akan dikirim untuk menghancurkan penjahat-penjahat itu.

Juga daerah harus dibersihkan dari pada pembesar-pembesar yang pada hakekatnya hanyalah penjahat-penjahat berkedok kedudukan mereka.

Karena maklum bahwa besar kemungkinan ia akan dikejar oleh pihak lawan, maka Pek Lian terus melarikan diri dengan cepat sampai lewat tengah malam ia terpaksa berhenti karena terhalang oleh sebuah sungai yang cukup besar dan lebar.

Ia mencari-cari perahu untuk menyeberang dan karena akhirnya ia hanya dapat melihat sebuah perahu besar yang berhenti ditepi sungai itu, iapun menghampiri perahu itu.

Sunyi diperahu itu, agaknya semua penghuninya sudah tidur.

Dua orang laki-laki yang agaknya menjadi penjaga malam diujung perahu, ketika melihat seorang gadis longak-longok sendirian disitu, lalu menghampiri dan bertanya.

"Siapakah nona dan hendak mencari siapa?"

Tanpa menyangka buruk, Pek Lian yang sudah lelah itu menjawab.

"Saya seorang pelancong yang kemalaman disini dan hendak mencari perahu untuk menyeberang."

"Aihh, kebetulan sekali, nona. Kamipun hendak menyeberang. Kalau nona mau, mari ikut kami menyeberang dengan perahu ini."

Tentu saja tawaran itu disambut gembira oleh Pek Lian.

"Terimakasih, saudara baik sekali. Jangan khawatir, nanti akan saya bayar berapapun biaya penyeberangannya."

Dua orang itu tidak menjawab melainkan mempersilahkan Pek Lian naik perahu.

Perahu itu memang besar sekali, sebuah perahu yang akan cukup memuat puluhan orang dan begitu naik keperahu, Pek Lian melihat bahwa memang penghuninya banyak sekali, sebagian besar laki-laki yang tidur malang-melintang diatas geladak perahu.

Melihat betapa beberapa orang diantara mereka itu yang belum tidur menyeringai kepadanya dan rata-rata sikap mereka kasar, juga mereka membawa-bawa senjata, hati Pek Lian mulai terasa tidak enak.

Akan tetapi ia butuh diseberangkan, maka iapun diam saja ketika dua orang tadi mengajaknya pergi kesebuah ruangan besar didalam bilik perahu.

Ruangan itu terang sekali dan nampak duduk beberapa orang mengelilingi sebuah meja panjang.

Ada pula anak-buah yang berdiri disudut dan dari tempat itu nampak sekelompok pendayung perahu yang agaknya sudah siap untuk menggerakkan dayung mereka.

"Ha-ha-ha, selamat memasuki perahu kami, nona Ho Pek Lian!"

Pek Lian mengangkat muka memandang dan bukan main kaget rasa hatinya ketika mengenal bahwa yang menegurnya itu bukan lain adalah datuk sesat gendut pendek yang suaranya tinggi seperti wanita itu, ialah Sin-go Mo Kai Ci Si Buaya Sakti!

Dan didekatnya duduk pula seorang raksasa tinggi besar yang menyeramkan dan orang inipun bukan tokoh sembarangan melainkan orang kedua dari Tujuh Iblis Ban-kwi-to, ialah Tiat-siang-kwi, raksasa yang suka makan daging manusia itu!

"Celaka..."

Pikirnya dan ia sudah siap untuk membalikkan tubuh melarikan diri dari tempat berbahaya itu.

Akan tetapi, pada saat itu perahu sudah meluncur ketengah sungai!

"Ha-ha-ha, engkau sudah masuk kesini, seperti seekor anak kijang memasuki guha naga dan harimau, mana mungkin engkau akan melarikan diri, nona?

Silahkan duduk, engkau menjadi tamu kami.

Jangan khawatir, kami takkan mengganggumu.

Siapa orangnya mau mengganggu murid Sribaginda Kaisar?

Bukankah begitu, saudara Tiat-siang-kwi?"

Kata pula si gendut pendek sambil tertawa-tawa girang sekali.

Memang hatinya girang bukan main ketika anak-buahnya memberi tahu akan munculnya Ho Pek Lian yang dikenalnya sebagai murid dan pembantu setia Liu-Pang yang kini telah menjadi Kaisar.

Kalau dara ini menjadi tawanannya, berarti dia akan untung besar.

Dia akan dapat menjadikan gadis itu sebagai sandera dan dia akan minta uang tebusan yang besar dari Kaisar baru!

Tiat-siang-kwi mengangguk-angguk.

"Kau benar, Sin-go, nona ini akan membikin kita kaya raya."

Mendengar percakapan itu mengertilah Pek Lian apa yang mereka maksudkan.

Dari kata-kata itu ia dapat menangkap maksud orang-orang jahat itu.

Ia diculik dan mereka akan mengancam Kaisar untuk memberi uang tebusan yang besar atas dirinya!

"Aku tidak sudi!"

Teriaknya dan sambil mencabut pedangnya iapun hendak lari keluar dari ruangan itu.

Akan tetapi, tujuh orang pengawal yang sudah siap siaga itu kini menghadangnya sambil menyeringai dan mereka menodongkan senjata golok dan tombak, menghadang gadis itu keluar dari ruangan.

Pek Lian maklum bahwa jalan satu-satunya hanyalah melawan.

Iapun mengerti bahwa ia menghadapi lawan yang amat kuat.

Baru dua orang iblis itu saja masing-masing memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi darinya.

Akan tetapi, ia tidak sudi menyerah begitu saja untuk menjadi sandera, maka dengan pedangnya iapun menerjang tujuh orang penghalang itu.

Terjadilah pertempuran kecil diruangan itu dan karena ilmu pedang Pek Lian juga lihai sekali, maka para pengeroyok itu menjadi repot menghadapi sambaran sinar pedang dara perkasa itu.

Dalam belasan jurus saja, tiga orang pengeroyok telah dapat dirobohkannya.

Akan tetapi, pada saat Pek Lian memutar pedangnya dan menangkis serangan sisa para pengeroyoknya, terdengar gerengan keras dan ternyata Tiat-siang-kwi (Iblis Gajah Besi) telah meloncat kedepan.

"Plak! Tranggg...!"

Tepukan pada pundak kanan Pek Lian itu sedemikian kuatnya sehingga pedang yang dipegangnya terlempar dan jatuh keatas lantai ruangan perahu itu.

Dan sebelum Pek Lian dapat mengelak, dua buah tangan besar berkuku panjang telah mencengkeram lengan dan pundaknya dari belakang.

Ia berusaha meronta, akan tetapi dalam cengkeraman Tiat-siang-kwi, ia tidak mampu bergerak lagi.

"Engkau masih belum mau menyerah?"

Bentak Tiat-siang-kwi.

Pek Lian bukanlah seorang wanita bodoh.

Ia tidak mau mencari penyakit.

Tahu bahwa melawanpun tidak ada gunanya, hanya akan menyakiti badan, ia tidak meronta lagi.

Ia tahu bahwa selama ia dijadikan sandera dengan maksud menukarnya dengan uang tebusan, mereka ini tidak akan mengganggunya.

Selain itu, setelah kini gurunya menjadi Kaisar, bagaimanapun juga, para datuk sesat ini tentu tidak begitu tolol untuk mengganggu murid Kaisar karena hal itu akan membuat mereka menjadi buronan pemerintah selama hidup.

Melihat dara itu tidak meronta lagi, Tiat-siang-kwi lalu melepaskan cengkeramannya.

"Ha-ha-ha, nona Ho sungguh amat lihai dan gagah. Kami merasa kagum sekali. Marilah, nona, mari duduk sebagai tamu kami dan menikmati hidangan sekedarnya!"

Si Buaya Sakti yang agaknya menjadi pimpinan diperahu itu berkata dengan suara halus.

Pek Lian tidak berlaku sungkan lagi.

Ia tahu bahwa ia telah menjadi tawanan dan mereka akan memperlakukan dengan hormat selama ia tidak melawan.

Ia melihat bahwa selain dua orang datuk yang kini setelah sama-sama menderita kekalahan dalam perang agaknya dapat bersatu itu, terdapat pula beberapa orang yang dari sikapnya dapat diketahui bahwa mereka adalah kaum sesat.

Akan tetapi yang amat mengherankan hatinya adalah ketika ia melihat seorang anak perempuan berusia kurang lebih dua belas tahun, berwajah cantik manis sekali, akan tetapi lengan kirinya buntung, duduk pula dimeja itu disebelah Si Buaya Sakti.

Apakah iblis ini mempunyai seorang anak perempuan yang demikian manisnya?

Bagaimanapun juga, ia segera merasa tertarik kepada anak manis ini, dan merasa kasihan melihat sebelah lengan itu buntung.

Maka, ketika dipersilahkan duduk dan melihat ada kursi kosong didekat anak perempuan itu, iapun duduklah.

Anak perempuan itu memandang kepadanya dengan sepasang matanya yang bening, kemudian tersenyum dan hati Pek Lian semakin tertarik.

Anak ini sungguh manis sekali dan tiba-tiba ia mengerutkan alisnya, teringat betapa jahat dan kejamnya para datuk sesat ini.

Jangan-jangan anak inipun menjadi korban mereka!

Maka, ia hendak menggunakan kepentingan dirinya sebagai sandera untuk menentang Si Buaya Sakti.

"Aku tidak akan melawan dengan kekerasan selama kalian disini tidak melakukan kejahatan didepan mataku. Kalau kalian melanggar, sampai matipun aku tidak akan menyerah, dan biarlah kalian membunuhku. Guruku, Sribaginda Kaisar tentu akan mengirim pasukan mengejar dan mencari dan memberi hukuman seberat-beratnya kepada kalian!"

Mendengar ucapan ini, diam-diam semua penjahat menjadi gentar juga.

Menghadapi pembalasan orang seperti Liu Pang itu sungguh mengerikan.

Sebelum menjadi Kaisar saja pemimpin itu sudah dibantu oleh semua pendekar gagah, apa lagi sekarang setelah menjadi Kaisar.

Siapa berani melawannya?

Sin-go Mo Kai Ci menyembunyikan kegentaran hatinya dibalik senyum lebar dan suaranya meninggi ketika dia menjawab.

"Nona Ho, siapa yang akan berani melakukan hal-hal yang tidak, menyenangkan hatimu? Engkau adalah tamu kehormatan, tentu saja kami tidak akan melanggar laranganmu."

"Hemm, kalau begitu, siapakah anak ini? Apakah iapun menjadi korban penculikan?"

Si Buaya Sakti tertawa.

"Ha-ha, jangan salah sangka, nona. Anak ini adalah anak seorang pembantu kami, dan kami semua suka kepadanya karena ia manis dan lucu, juga amat cerdik. Biarpun sebelah lengannya buntung, ia cekatan dan pandai melayani kami."

Anak itu lalu bangkit dan dengan sebelah tangan kanannya anak itu cepat mengisi arak dalam cawan bersih, memberikannya kepada Pek Lian dengan sikap hormat.

"Enci yang baik, aku disini senang sekali dan semua paman ini baik kepadaku. Silahkan cici minum, biar kuambilkan mangkok bersih dan sumpit."

Dengan cekatan anak itu lalu melayani Pek Lian, dan melihat sikap anak ini yang gembira dan tidak nampak seperti korban yang tersiksa, hatinya merasa lega.

Akan tetapi, keterangan yang diberikan oleh Si Buaya Sakti itu membuat si raksasa Tiat-siang-kwi mengerutkan alisnya.

Dua hari yang lalu, ketika mereka saling bertemu dan berjanji untuk bekerja sama dibawah pimpinan Raja Kelelawar yang menaklukkan pula tujuh iblis Ban-kwi-to, Sin-go Mo Kai Ci sudah berjanji kepadanya untuk memberikan anak perempuan mungil itu kepadanya!

"Tunggu sampai kita tidak membutuhkan lagi bantuan ayahnya, baru kuserahkan anak itu kepadamu dan boleh kau miliki sesuka hatimu."

Akan tetapi, kini Si Buaya Sakti berjanji kepada murid Kaisar itu bahwa mereka tidak akan mengganggu anak perempuan itu.

Tentu saja dia merasa kecewa sekali dan beberapa kali dia memandang dengan mata membayangkan kedongkolan hatinya dan beberapa kali dia mengerling kearah anak perempuan itu dengan sinar mata penuh gairah.

Dia harus mendahuluinya, pikir raksasa ini dan untuk melampiaskan kedongkolan hatinya, diapun minum arak sebanyak dan sepuasnya.

Setelah makan-minum, Pek Lian dipersilahkan dengan ramah oleh Buaya Sakti untuk melepaskan lelah dan tidur didalam bilik perahu.

Gerombolan kaum sesat itu melanjutkan makan-minum dan Pek Lian tidak lagi memperdulikan mereka karena ia sendiri merasa lelah dan perlu untuk mengaso dan mengumpulkan tenaga.

Selama perahu ini masih berlayar, ia tidak berdaya.

Andaikata ia dapat melarikan diri, akan pergi kemanakah?

Meloncat dari perahu keair?

Ia akan mati tenggelam karena ia tidak begitu pandai renang.

Pula, melawan dengan kekerasan akan sia-sia belaka mengingat betapa disitu terdapat Si Buaya Sakti dan Tiat-siang-kwi yang amat lihai.

Ia harus menanti kesempatan baik, sesudah mendarat baru ia mencari akal untuk meloloskan dirinya.

Sementara ini, ia harus banyak istirahat dan mengumpulkan tenaga.

Dengan pikiran ini, sebentar saja Pek Lian tidur pulas.

Akan tetapi, belum lama ia tertidur dalam pakaian lengkap karena ia tidak mau bersikap lengah, ia terkejut mendengar suara jeritan nyaring.

Cepat ia meloncat dan menyambar pedangnya yang sudah dikembalikan kepadanya, lalu melompat keluar bilik.

Dilihatnya bayangan raksasa Tiat-siang-kwi sedang memegang lengan kanan anak perempuan buntung itu sambil menarik-narik dan anak itupun meronta-ronta.

"Lepaskan aku! Lepaskan...!"

Anak itu meronta dan berteriak.

"Heh-heh, anak manis, jangan cerewet atau kucengkeram hancur kepalamu."

Raksasa itu menghardik.

Akan tetapi, dengan heran sekali Pek Lian melihat betapa anak perempuan itu membuat gerakan aneh dengan kakinya dan tahu-tahu kaki kiri yang kecil itu telah melayang dengan kecepatan luar biasa, ujung sepatunya menotok siku lengan kakek yang memegangi tangannya.

"Tukk!"

Kakek itu terkejut dan melepaskan cengkeramannya karena sikunya yang tertotok ujung sepatu itu untuk beberapa detik lamanya menjadi lumpuh!

Kesempatan ini dipergunakan oleh anak perempuan itu untuk meloncat kebelakang dan kembali Pek Lian melihat gaya lompatan yang amat indah dan cekatan!

Itu bukanlah tendangan dan lompatan seorang anak biasa saja, pikirnya heran.

Akan tetapi melihat anak itu terancam dan kini si raksasa agaknya sudah marah dan hendak menubruk lagi, ia meloncat kedepan dan pedangnya melakukan gerakan menyerang.

"Singg... plakk!"

Kakek raksasa itu masih dapat menangkis pedang dengan tangannya yang dilindungi kekebalan, lalu matanya yang lebar itu melotot memandang Pek Lian dengan marah.

"Kau... kau berani mencampuri?"

Bentaknya dan dari suara dan sikapnya, juga bau mulutnya, mudah diketahui bahwa kakek raksasa ini dalam keadaan mabok.

"Sudah kukatakan, semua bentuk kejahatan disini akan kutentang sampai mati!"

Pek Lian berkata dan iapun sudah menyerang dengan pedangnya.

Akan tetapi, dengan sigapnya kakek raksasa itu mengelak.

Sekali ini, Pek Lian berlaku hati-hati dan ia tidak mau pedangnya sampai terpukul oleh kakek yang bertenaga gajah ini.

Ia mengandalkan kegesitannya dan pedangnya berkelebatan mencari sasaran lemah, tidak memberi kesempatan kepada kakek itu untuk mengadu kekuatan.

Menghadapi dara yang menggunakan kegesitannya ini, Tiat-siang-kwi yang agak mabok itu kewalahan juga dan tiba-tiba dia mencabut senjatanya yang menggiriskan, yaitu sebatang golok besar sekali yang punggungnya seperti gigi gergaji.

Begitu golok ini menyambar, terdengar angin bersiutan dan Pek Lian terpaksa berloncatan mundur karena golok lawan itu menyambar-nyambar ganas dengan kekuatan yang tidak mungkin ditangkisnya.

Kalau ia berani menangkis, tentu pedangnya akan terpental dan mungkin terlepas dari pegangannya.

Sebentar saja Pek Lian sudah terdesak hebat oleh raksasa itu.

Tiba-tiba anak perempuan itu berteriak dengan suara melengking.

"Ayaaaahhh...! Tolonglah... kami!!"

Pada waktu itu, para anak-buah perahu sudah banyak yang berdatangan dan menonton perkelahian itu.

Tidak ada yang berani melerai atau mencegah si raksasa karena didalam perahu itu, hanyalah Si Buaya Sakti seoranglah yang berani menentang si raksasa yang telah menjadi rekan dan sekutunya.

Teriakan anak perempuan itu ternyata memperoleh sambutan.

Tiba-tiba papan lantai perahu tergetar hebat dan disitu telah berdiri seorang laki-laki muda yang gagah perkasa, berpakaian biasa saja seperti para tukang dayung, akan tetapi kini wajahnya penuh wibawa dan nampak menyeramkan, sepasang matanya mencorong seperti mata naga ketika dia memandang kepada Tiat-siang-kwi yang berhenti sejenak melihat munculnya orang ini.

Pek Lian yang tadinya sudah terdesak hebat itu memperoleh kesempatan memperbaiki posisinya dan iapun menengok dan memandang.

"A-hai...!!"

Tiba-tiba Pek Lian berseru girang dan kaget sehingga dara ini lupa bahwa orang yang biasanya disebut A-hai itu telah memperkenalkan diri sebagai Souw Thian Hai, seorang pendekar yang sakti.

"Ayah, bantulah enci ini!"

Anak perempuan buntung itu kini mendekati ayahnya dan kembali Pek Lian tertegun.

Kiranya anak perempuan buntung inilah puteri pendekar ini!

Karena anak itu belum pernah diperkenalkan kepadanya, maka ia tidak tahu, dan siapa mengira bahwa anak A-hai berada diperahu penjahat ini?

Tidak tahunya malah pendekar itu sendiripun berada disini, agaknya menyamar sebagai tukang dayung.

Sementara itu, si raksasa berdiri dengan mata terbelalak lebar.

Dia kini juga mengenal pria gagah ini dan teringatlah akan kehebatan pemuda ini ketika mengamuk.

Dia sendiri pernah dikalahkan dengan mudah!

Pada saat itu, karena terganggu oleh keributan, Si Buaya Sakti juga sudah datang ketempat itu dan seperti juga Tiat-siang-kwi, si gendut pendek ini terbelalak memandang kepada Thian Hai.

Melihat betapa ditempat itu terdapat banyak kawannya, si raksasa timbul kembali keberaniannya dan sambil mengereng diapun menubruk kedepan dengan goloknya yang besar dan berat itu.

Akan tetapi, dengan tenang Thian Hai menggerakkan tangan kirinya mendorong kedepan.

Tiba-tiba saja gerakan raksasa itu tertahan oleh dinding tenaga yang tidak nampak namun yang kuat sekali membuat dia tertegun dan gerakan serangannyapun terhenti.

Pada saat itu, tangan kanan Thian Hai membuat gerakan menampar seperti orang mengusir lalat dan dari mulutnya terdengar bentakan.

"Pergilah engkau iblis busuk!"

Sungguh aneh sekali.

Tubuh tinggi besar itu terpelanting jauh, bergulingan diatas lantai perahu dan ketika tiba ditepi perahu, si raksasa itu agaknya sudah kehilangan nyalinya maka diapun melanjutkan tubuhnya terguling keluar perahu.

"Byuurrr...!"

Tokoh kedua dari Tujuh Iblis Ban-kwi-to itu begitu ketakutan sehingga dia memilih terjun kesungai dari pada harus berhadapan lagi dengan pendekar yang memiliki kesaktian luar biasa itu.

Si Buaya Sakti memandang dengan muka pucat.

Dia maklum akan kehebatan lawan ini, akan tetapi sebagai pimpinan diperahu itu, tentu saja dia merasa malu kalau harus melarikan diri seperti Tiat-siang-kwi, Walaupun hatinya pudah lebih dahulu melarikan diri.

Sambil mengeluarkan bentakan nyaring, dia menerjang dengan senjata alunya.

Thian Hai tidak melangkah pergi, tidak mengelak, melainkan diam saja dan ketika alu itu sudah mendekati kepalanya yang dijadikan sasaran, tiba-tiba saja kedua tangannya bergerak, cepat bukan main dan tahu-tahu tangan yang memegang alu itu lumpuh tertotok sikunya dan alu itupun berpindah tangan.

Lalu senjata itu menyambar punggung pemiliknya sendiri.

"Bukk!!"

Tubuh Si Buaya Sakti memang kebal, akan tetapi pukulan itu sedemikian kuatnya sehingga walaupun tulang-tulang punggungnya tidak remuk, akan tetapi tubuhnya terlempar sampai keluar perahu.

"Byuuurrr!!"

Untuk kedua kalinya, air muncrat tinggi ketika tubuh kedua itu menimpa air.

Melihat ini, para penjahat anak-buah Buaya Sakti menjadi panik ketakutan dan tanpa menanti komando lagi mereka mengikuti contoh pimpinan mereka, berloncatan kesungai sehingga sebentar saja perahu itu telah kosong, kecuali tukang-tukang dayung yang sebagian besar merupakan orang-orang paksaan atau bayaran, bukan anggauta-anggauta bajak yang sudah lebih dulu berloncatan keair.

Souw Thian Hai berdiri termangu-mangu memandang keair, seperti orang merasa menyesal.

Melihat ini, Souw Lian Cu, yaitu puterinya yang buntung lengannya, menghampiri dan merangkul pinggang ayahnya.

Souw Thian Hai sadar kembali dan merangkul puterinya, lalu menoleh dan menghadapi Pek Lian sambil tersenyum.

"Nona Ho Pek Lian, tidak kusangka akan bertemu denganmu disini,"

Katanya.

Melihat sikap dan mendengar suara orang ini, seketika wajah Pek Lian menjadi merah.

Ini bukan A-hai yang dulu lagi, bukan pemuda ketololan yang menimbulkan rasa iba dihatinya.

Ini adalah seorang pendekar sakti yang sikapnya tenang berwibawa, maka iapun menjura.

"Souw-taihiap, terimakasih atas pertolongan mu."

"Ah, nona Ho, perlukah engkau menyebutku taihiap segala? Aku adalah A-hai"

"Taihiap, mana berani aku menyebutmu seperti dahulu? Kalau engkau berkeberatan disebut taihiap, biarlah aku menyebutmu Souw-toako."

"Itu lebih baik, Lian-moi (adik Lian). Inilah puteriku itu yang bernama Souw Lian Cu. Lian Cu, inilah bibi Ho Pek Lian yang sering kali kuceritakan padamu, ia seorang pendekar wanita yang gagah perkasa dan berbudi."

"Bibi!"

Lian Cu memberi hormat dan Pek Lian cepat merangkulnya. Kini hatinya merasa terharu dan kasihan. Anak semanis ini, masih kecil sudah harus kehilangan lengan kirinya.

"Aku sungguh bingung, bagaimana aku mendapatkan engkau disini sebagai tukang dayung dan puterimu ini melayani mereka itu"

"Nanti kuceritakan, sekarang kita perlu mengemudikan perahu ini."

Thian Hai lalu minta kepada teman-temannya atau bekas teman-temannya tukang dayung untuk melanjutkan pekerjaan mereka, mendayung dan membantunya mengemudikan perahu.

Setelah perahu berjalan lancar dan tenang kembali, Thian Hai mengajak Pek Lian dan puterinya duduk diruangan, lalu menceritakan pengalamannya.

Seperti telah kita ketahui dari bagian depan, Thian Hai dan puterinya melakukan perjalanan mencari jejak musuh besarnya, yaitu Ma Kim Liang yang menyamar atau berobah menjadi Raja Kelelawar.

Dia melakukan perjalanan jauh, mendatangi tempat-tempat yang menjadi sarang gerombolan-gerombolan jahat karena dia menduga bahwa ditempat-tempat seperti itulah dia mempunyai harapan untuk menemukan jejak Raja Kelelawar, mengingat bahwa iblis itu telah menjadi datuk besar atau Raja dari dunia sesat.

Kemudian dia menyaksikan perebutan harta karun milik keluarga bekas Menteri Li Su, dan akhirnya dia melihat Buaya Sakti yang berhasil merampas barang-barang harta benda itu.

Melihat datuk ini, dia lalu cepat melakukan penyamaran.

Dia menanggalkan baju atasnya dan pura-pura kelelahan mengaso sambil tiduran ketika Buaya Sakti berhasil membasmi pasukan yang merampok harta benda keluarga Li Su.

Tukang-tukang pemikul tandu sudah pada melarikan diri atau ikut terbunuh, hanya tinggal dua orang saja lagi yang dipaksa oleh anak-buah Buaya Sakti untuk memikul tandu yang berat itu.

Anak-buah bajak itu sudah melucuti pakaian para anggauta pasukan yang terbunuh dan sambil tertawa-tawa mereka mengenakan pakaian seragam tentara itu, mematut-matut diri seperti monyet-monyet diberi pakaian.

Kemudian, beberapa orang diantara mereka melihat Thian Hai yang sedang tidur terlentang diatas tanah, berbantalkan kedua tangan itu.

Mereka menghampiri dan seorang diantara mereka menghardik.

"Heh, malas! Orang-orang lain sibuk mengangkut tandu, engkau enak-enak tidur! Hayo bangun!"

Dan seorang diantara mereka menendang pahanya. Thian Hai pura-pura terkejut dan kesakitan menggosok-gosok pahanya.

"Aduh, aduh... baru saja istirahat sudah dibangunkan"

Kemudian dia pura-pura heran melihat beberapa orang yang berpakaian tentara itu.

"Eh, apa? Mau berangkat lagi? Apa pertempuran sudah selesai?"

Beberapa orang bajak itu terbahak-bahak, mengira bahwa pemikul tandu ini salah lihat dan menyangka mereka anak-buah pasukan yang sudah terbasmi habis.

"Tolol, hayo bantu kami mengangkut tandu itu keperahu."

Thian Hai bangkit, menyambar bungkusan pakaiannya dan longak-longok.

"Mana anakku? Lian Cu, dimana kau?"

Seorang anak perempuan yang buntung sebelah lengannya datang berlari-lari, baru saja keluar dari tempat sembunyinya.

Anak ini bertindak sesuai dengan rencana ayahnya yang hendak menyelundup menjadi anak-buah Si Buaya Sakti agar dia dapat mencari jejak musuh besarnya.

"Ayah, apakah kita akan berangkat lagi?"

"Ya, mari, kita harus angkut tandu itu,"

Katanya bangkit berdiri.

"Hei, anak ini tidak boleh ikut!"

Kata seorang diantara mereka.

"Hemm, biar lengannya buntung sebelah, ia manis juga. Mari kita hadapkan kepada pimpinan."

Mereka memegang tangan Lian Cu.

Anak ini ketakutan, akan tetapi ketika melihat ayahnya berkedip dan mengangguk kepadanya, iapun menurut saja dibawa pergi.

Ketika Si Buaya Sakti melihat Lian Cu, hatinyapun merasa suka kepada anak perempuan yang biarpun buntung sebelah lengannya, akan tetapi berwajah manis dan bersikap berani dan cekatan itu.

Siapa tahu, anak perempuan ini ada gunanya kelak, pikirnya.

Demikianlah, Thian Hai berhasil menyelundup menjadi tukang pikul tandu berisi harta benda itu, kemudian setelah tiba diperahu besar, tugasnya berobah menjadi tukang dayung diantara belasan tukang dayung bayaran atau paksaan.

Sementara itu, dengan cerdiknya Lian Cu dapat menyenangkan hati Si Buaya Sakti dengan pelayanannya yang cekatan, baik didapur maupun diruangan makan.

Beberapa hari kemudian, Si Buaya Sakti bertemu dengan Tiat-siang-kwi.

Keduanya dahulu menjadi lawan dalam perang, akan tetapi karena kedua pihak sudah kalah dan karena kini Tujuh Iblis Ban-kwi-to sudah ditaklukkan pula oleh Raja Kelelawar, si raksasa itupun mau dipersilahkan naik keperahu untuk bersama-sama mengunjungi tempat persembunyian Raja Kelelawar.

Dalam pertemuan itu, secara iseng ketika melihat si raksasa tertarik kepada Lian Cu, Sin-go Mo Kai Ci menjanjikan kelak akan menyerahkan gadis cilik itu kepada si raksasa!

Karena itulah maka terjadi keributan dimalam itu dan terpaksa Thian Hai turun tangan untuk melindungi puterinya dan Pek Lian.

"Demikianlah, Lian-moi, terpaksa aku turun tangan dan sekarang buyarlah harapanku untuk dapat menemukan jejak musuh besarku. Tadinya aku merasa yakin bahwa mereka itu akan membawaku kepada musuhku. Lian Cu dapat mendengarkan percakapan mereka dimeja makan dan ternyata kedua orang datuk sesat itu telah menjadi anak-buah Raja Kelelawar dan mereka hendak melayarkan perahu ketempat sembunyinya."

Thian Hai menutup ceritanya sambil menarik napas panjang penuh rasa kecewa.

"Ah, kalau aku tidak muncul tentu rencanamu tidak akan gagal, Souw-toako."

Pek Lian berkata menyesal pula.

"Sudahlah, yang lalu tidak perlu disesalkan. Sekarang aku hendak mencari sendiri tempat itu, kurasa tidak jauh dari sini walaupun aku belum tahu dimana sesungguhnya tempat persembunyian musuh besarku itu."

Selagi mereka bercakap-cakap, tiba-tiba mereka merasa badan perahu itu terguncang dan terdengar teriakan-teriakan ketakutan para pendayung perahu.

Mereka bertiga cepat keluar dari dalam ruangan itu dan betapa kaget hati mereka melihat bahwa perahu besar itu telah dikepung oleh beberapa buah perahu kecil yang penuh penumpang dan para penumpang itu membawa obor sehingga keadaan menjadi terang seperti siang.

Perahu-perahu itu adalah perahu bajak sungai dan ketika mereka bertiga melihat wajah Si Buaya Sakti diantara para bajak itu, tahulah mereka bahwa mereka telah berada ditangan musuh!

Si Buaya Sakti itu menyeringai dan dengan suaranya yang kecil tinggi dia berseru.

"Kalau melawan perahu kalian akan kami bakar!"

Menghadapi ancaman ini, Thian Hai tidak berdaya, bahkan melihat sikap Pek Lian, dia berbisik.

"Lian-moi, disini kita tidak boleh melawan."

Pek Lian maklum bahwa memang percuma saja melakukan perlawanan selagi mereka berada diatas perahu.

Betapapun lihainya Thian Hai, tak mungkin dia dapat menyelamatkan Pek Lian dan Lian Cu kalau mereka masih berada ditengah sungai.

Maka Pek Lianpun diam saja membiarkan perahu mereka dikait dan ditarik oleh perahu-perahu musuh.

Hari telah pagi ketika perahu-perahu bajak itu menarik perahu rampasan itu kepantai dan nampaklah oleh Pek Lian betapa selain perahu mereka, ada pula sebuah perahu lain terampas oleh bajak.

Diatas perahu yang juga besar dan mewah itu terdapat belasan orang yang berpakaian seperti saudagar-saudagar kaya, akan tetapi diantara mereka itu nampak pula seorang kakek tua berpakaian sederhana memegang tongkat butut dan seorang pemuda sederhana bermuka merah yang bertubuh tegap dan berwajah gagah.

Tentu saja Pek Lian merasa girang disamping keheranannya mengenal dua orang itu sebagai kakek sakti Kam Song Ki dan muridnya, bekas pemimpin lembah Kwee Tiong Li!

Kiranya guru dan murid itu yang meninggalkan Kotaraja, agaknya menumpang sebuah perahu saudagar dan ikut pula menjadi tawanan ketika perahu itu dirampas oleh para bajak anak-buah Si Buaya Sungai.

Dalam semalam itu, kawanan bajak telah membajak dua buah perahu.

Tentu saja Kwee Tiong Li dan gurunya juga terkejut, heran dan girang melihat Pek Lian dan juga Thian Hai.

Akan tetapi mereka diam saja dan pura-pura tidak mengenal mereka.

Dua buah perahu itu ditarik terus sampai kepantai dimana telah menunggu sekelompok pasukan yang dipimpin oleh seorang laki-laki berusia lima puluh tahunan yang berpakaian mewah seperti seorang bangsawan kaya.

Orang ini berkepala bundar, tubuhnya juga bulat serba gendut dan mukanya penuh senyum ramah.

Melihat orang gendut mewah ini, Pek Lian terkejut bukan main.

Ia mengenal orang itu walaupun si gendut itu belum sempat mengenalnya.

Pria itu adalah Lam Siauw-ong (Raja Muda Selatan), seorang diantara tiga tokoh besar lautan yang menjadi kepala bajak.

Dahulu, pernah Lam Siauw-ong menawan Chu Bwee Hong dan dengan sembunyi-sembunyi ia berhasil menolong Bwee Hong dan meloloskan diri dari cengkeraman kepala bajak laut ini.

Siapa kira hari ini ia yang menjadi tawanannya.

Dan diam-diam ia merasa semakin heran bagaimana Si Buaya Sakti dapat menjadi sekutu Lam Siauw-ong?

Bukankah dahulu terdapat suatu permusuhan atau persaingan antara golongan mereka?

Akan tetapi, Pek Lian tidak mau banyak cakap lagi.

Ia maklum bahwa sekali ini, ia harus melakukan perlawanan.

Sebelum ia dan Thian Hai ditawan dan dibuat tidak berdaya, ia harus melakukan perlawanan.

Inilah satu-satunya kesempatan untuk melawan, setelah perahu mendarat.

Ia dapat melihat kekuatan lawan yang cukup banyak.

Dan melihat betapa anak-buah bajak itu banyak yang memakai pakaian seragam bekas pakaian tentara.

Akan tetapi, iapun sudah siap siaga.

Sebelum mendarat, ia telah mempersiapkan diri, mengenakan pakaian ringkas dan menemukan pedang didalam ruangan bilik perahu.

Begitu perahu menempel didarat, tanpa membuang waktu lagi Pek Lian mengeluarkan pekik melengking dan iapun meloncat kedarat, langsung menyerbu kearah Lam Siauw-ong yang berdiri sambil tersenyum-senyum.

Akan tetapi, si gendut ini memang lihai sekali.

Diserang seperti itu, dengan mudah dia meloncat kebelakang dan para pengawalnya yang sebagian ada yang mengenakan pakaian seragam pasukan itu segera maju mengepung Pek Lian.

Namun gadis ini tidak menjadi gentar.

Ia meloncat keatas, kaki tangannya bergerak dan ia mengamuk seperti see-kor garuda, membagi-bagi tamparan dan tendangan diantara para pengeroyoknya.

Melihat kehebatan dara muda ini, Lam Siauw-ong kagum sekali.

Dia belum sempat mendengar dari rekan-rekannya seperti Si Buaya Sakti dan Tiat-siang-kwi siapa adanya gadis cantik gagah itu, karena kedua orang rekannya itupun agaknya sedang berkelahi tak jauh dari situ.

Melihat kehebatan Pek Lian, dia pun berseru keras menyuruh anak-buahnya mundur dan tubuhnya yang bulat itu dengan ringan sekali telah melayang kedepan Pek Lian.

"Heh-heh, nona cantik manis. Engkau patut menjadi permaisuriku, maka marilah kita berdamai saja. Untuk apa kita saling"

"Lam Siauw-ong manusia cabul, lihat pedang!"

Pek Lian membentak sambil mencabut pedang dan menyerang dengan dahsyat.

"Eh, oh engkau sudah mengenalku? Lebih baik lagi!"

Kata Raja muda bajak gendut itu.

Akan tetapi Pek Lian tidak memberinya kesempatan untuk banyak cerewet karena dara itu telah menyerang semakin ganas, membuat lawannya terpaksa mencabut pula sebatang pedangnya.

Begitu pedangnya bergerak, Pek Lian terkejut karena hampir saja pergelangan tangannya kena digurat.

Itulah Hun-kin-kiam (Pedang Pemutus Urat) dan Raja muda bajak ini ternyata mahir sekali bermain pedang.

Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat.

"Nona Ho, minggirlah dan biarkan aku menghadapi babi ini!"

Orang itu adalah Kwee Tiong Li yang juga sudah mempergunakan pedangnya.

Melihat majunya kawan ini, hati Pek Lian menjadi girang dan iapun mengamuk diantara para anak-buah bajak.

Terjadi perkelahian antara Tiong Li dan Lam Siauw-ong dan ternyata kepandaian mereka seimbang sehingga perkelahian itu menjadi seru dan hebat.

gerakan Tiong Li sekarang jauh berbeda dengan dahulu.

Kini dia telah mewarisi ilmu dari kakek Kam, maka ginkangnya luar biasa sekali, gerakannya cepat laksana burung walet beterbangan menyambar-nyambar.

Menghadapi pengeroyokan banyak sekali orang, tentu Pek Lian akan kewalahan kalau saja ia tidak mendapat bantuan kakek Kam Song Ki!

Ia sudah terpincang karena betisnya kena disambar ujung tombak lawan sehingga kulit betisnya terobek dan terluka.

Namun, dengan gigih dan gagah ia melawan terus, merobohkan banyak orang dengan pedangnya.

Dalam keadaan gawat itulah muncul kakek Kam Song Ki yang mengamuk dengan tongkatnya.

Tentu saja sepak terjang kakek ini amat hebat.

Tongkatnya mendatangkan angin pukulan dahsyat sehingga para pengeroyok sudah bergelimpangan walaupun belum tercium ujung tongkat.

Sementara itu, dibagian lain, Thian Hai dikeroyok dua oleh Si Buaya Sakti dan Tiat-siang-kwi.

Pemuda perkasa ini sungguh hebat luar biasa.

Dua orang pengeroyoknya itu bukan sembarang orang, Sin-go Mo Kai Ci, Si Buaya Sakti, adalah seorang diantara tiga Sam-ok (Tiga Jahat), merupakan Raja diantara para bajak sungai dan jaranglah ada orang dapat menandinginya.

Adapun orang kedua, dari Tujuh Iblis Ban-kwi-to.

Dapat dibayangkan betapa hebat kepandaian raksasa pemakan daging manusia ini.

Namun, sekali ini menghadapi Thian Hai, keturunan langsung dari keluarga sakti Souw yang selalu menyembunyikan diri, mereka berdua tidak mampu berbuat banyak.

Golok besar punggung gergaji dan senjata penggada berbentuk alu dari kedua orang datuk ini tidak ada gunanya sama sekali ketika dipergunakan untuk menyerang Thian Hai.

Senjata-senjata itu seolah-olah merupakan benda lunak saja, ditangkis begitu saja oleh kedua lengan Thian Hai dan setiap kali terjadi pertemuan antara lengan dan senjata, si pemegang senjata tentu mengeluh dan merasa betapa telapak tangan mereka seperti terbakar dan terkupas.

Thian Hai maklum bahwa dia telah menemukan jejak musuh besarnya.

Tidak salah lagi, disinilah agaknya tempat persembunyian musuhnya itu, maka diapun tidak ingin membiarkan dua orang pembantu musuhnya ini lolos.

Dua orang ini terlalu jahat dan lihai untuk dibiarkan lolos, dan juga kedudukan musuhnya akan terlalu kuat kalau dua orang ini dibiarkan terlepas dari tangannya.

Maka pemuda perkasa inipun.

mengerahkan tenaganya, terdengar dia mengeluarkan suara menggeram dan ketika tubuhnya menyerang kedepan dengan kedua tangan terbuka, kedua orang lawannya itu tidak mampu bertahan lagi.

Pukulan Thai-kek Sin-ciang yang dilontarkan dari jarak dekat itu terlalu hebat bagi dua orang iblis itu.

Mereka berusaha menahan dengan sinkang, akan tetapi akibatnya mereka terbanting kebelakang, terjengkang dan tidak mampu bangkit kembali karena isi dada mereka yang terlanda hawa pukulan sakti itu telah remuk-rendam, membuat mereka tewas seketika dengan semua lubang ditubuh mereka mengucurkan darah segar!

Sejenak Thian Hai termangu menyaksikan akibat pukulannya, akan tetapi dia segera mendengar teriakan puterinya.

Cepat dia menoleh dan meloncat, menendang dua orang perajurit atau anggauta bajak yang berhasil menangkap Lian Cu ketika anak perempuan ini ikut pula mengamuk.

Dua orang itu terlempar dan Thian Hai mengamuk, membiarkan puterinya yang sudah lumayan ilmu silatnya itupun ikut pula mengamuk.

Sementara itu, perkelahian antara Tiong Li melawan Siauw-ong amat hebatnya.

Keduanya sudah berkeringat, akan tetapi belum juga ada yang kalah.

Melihat betapa pihaknya menderita kekalahan, Lain Siauw-ong menjadi gentar dan begitu memperoleh kesempatan, dia meloncat kebelakang dan hendak melarikan diri.

Akan tetapi, sebatang tongkat menotok punggungnya dan diapun roboh terpelanting.

Kiranya yang menotoknya adalah seorang kakek tua, akan tetapi totokannya itu hanya membuat dia roboh saja dan tidak melukainya, juga tidak menghentikan jalan darah.

Hal ini makin menunjukkan betapa lihainya kakek itu, maka Lam Siauw-ong menjadi semakin jerih.

Akan tetapi, begitu dia bangkit berdiri, pemuda yang menjadi lawannya itu sudah menerjangnya lagi dan kembali mereka berkelahi.

Sekali ini semangat perlawanan Lam Siauw-ong mengendur.

Hatinya sudah gentar maka permainan pedangnya tidaklah sekuat tadi, bahkan agak kalut sehingga pada suatu ketika Kwee Tiong Li berhasil memasukkan pedangnya menusuk dan mengenai pundaknya.

Lam Siauw-ong terkejut dan terhuyung, dan kesempatan ini dipergunakan oleh Tiong Li untuk menyusulkan tusukan maut yang menembus dada lawan.

Robohlah Raja Muda Selatan itu dengan badan berlumuran darah dan tewas tak lama kemudian.

Anak-buah gerombolan bajak itu menjadi panik melihat betapa tiga orang pemimpin mereka tewas dan banyak sekali teman-teman mereka roboh, tewas atau terluka.

Akan tetapi selagi mereka panik dan hendak melarikan diri, tiba-tiba muncul pasukan yang berpakaian hitam sebanyak belasan orang dan terdengarlah suara melengking nyaring dari tengah daratan, dimana nampak genteng dan tembok sebuah bangunan besar.

"Tahan semua senjata! Para tawanan harus menyerah, kalau tidak akan kami bunuh semua!!"

Semua orang, termasuk kakek Kam Song Ki, terkejut bukan main.

Itulah suara yang mengandung khikang amat kuatnya, menunjukkan bahwa orang yang mengirim suara itu memiliki kepandaian yang hebat.

Akan tetapi, kalau semua orang terkejut dan gentar, sebaliknya Thian Hai merasa girang bukan main dan jantungnya berdebar tegang.

Itulah pekik yang mengandung tenaga Pek-houw-ho-kang, yaitu auman Harimau Putih, ilmu khikang dari keluarga Souw dan dia dapat menduga siapa yang mengeluarkan pekik seperti itu.

Musuh besar berada didepan mata!

Maka, diapun lalu memberi isyarat kepada Pek Lian, kakek Kam dan Kwee Tiong Li agar menghentikan amukan.

Ketika pasukan berpakaian hitam itu mengumpulkan para saudagar sebagai tawanan, merekapun termasuk didalamnya dan dengan mandah mereka digiring meninggalkan pantai sungai itu menuju kesebuah bangunan besar yang megah.

Begitu memasuki ruangan depan dimana nampak beberapa orang penjaga yang memegang golok dan perisai, pimpinan pasukan berpakaian hitam itu berkata.

"Berhenti! Nona ini harus memisahkan diri dan mari ikut bersama dia!"

Pemimpin itu menudingkan telunjuknya kepada seorang anak-buahnya yang berkumis tebal tanpa jenggot. Laki-laki tinggi besar ini tersenyum dan menghampiri Pek Lian.

"Marilah, nona, kuantar ketempat peristirahatan nona!"

Tentu saja Pek Lian tidak mau dipisahkan dari kawan-kawannya. Ia menggeleng kepalanya dan berkata tegas.

"Tidak, aku tidak mau memisahkan diri!"

Si kumis tebal melotot dengan sikap mengancam. Dia menghampiri Pek Lian dan tangannya diulur untuk menangkap lengan dara itu.

"Di sini orang tidak boleh membantah!"

Katanya, Tentu saja Pek Lian tidak membiarkan tangannya ditangkap dan ia menarik tangannya mengelak.

"Eh, engkau malah melawan?"

Bentak si kumis tebal dan sekali ini dia menggerakkan tangan kanan mencengkeram kearah pundak Pek Lian dengan gerakan cepat dan bertenaga kuat.

Marahlah Pek Lian.

Ia cepat menggeser kakinya yang terpincang karena terluka itu kesamping sehingga tubuhnya miring dan ketika tangan kanan lawan yang luput mencengkeram itu lewat, secepat kilat ia menangkap pergelangan tangan kanan orang itu dan sambil mengeluarkan bentakan nyaring ia menarik tangan itu kebelakang dengan gerak membanting keras.

Laki-laki berkumis tebal itu terkejut bukan main, tak dapat menghindarkan dirinya terangkat dan terbanting keras kelantai ruangan.

"Brukk"

Dan laki-laki itu mengeluh karena tulang lengannya yang bersambung dipundak terlepas, membuat lengan kanan itu lumpuh.

Melihat ini, pemimpin pasukan berpakaian hitam marah sekali.

Tak disangkanya bahwa orang"orang yang tadinya menyerah tanpa melawan sedikitpun itu kini setelah tiba didalam bangunan malah memperlihatkan sikap menentang dan melawan.

Dia memberi aba-aba dan pasukannya bergerak, dibantu pasukan penjaga, mengurung para tawanan.

Para saudagar yang ikut tertawan menjadi ketakutan dan mereka menjatuhkan diri berlutut dengan tubuh gemetar.

Akan tetapi, melihat Pek Lian kini mulai diserang oleh banyak orang bersenjata, Tiong Li segera melompat, menggerakkan pedangnya dan bersama nona itu dia mengamuk.

Kakek Kam Song Ki juga tidak tinggal diam, meloncat kedepan dan membantu muridnya dan Pek Lian.

Diamuk oleh tiga orang ini, pasukan berpakaian hitam itu mawut dan barisan mereka menjadi kacau.

Sementara itu, Thian Hai menyuruh puterinya berlindung diantara para saudagar yang tidak melawan dan dia tahu tidak akan diserang oleh pasukan itu.

Dia sendiri lalu meloncat lenyap dari tempat itu, berusaha mencari musuh besarnya kesebelah dalam bangunan.

Souw Lian Cu adalah seorang anak yang cerdik sekali.

Ia mengerti maksud ayahnya yang hendak mencari musuh besar mereka dan ia merasa aman berada diantara para saudagar yang berlutut sambil menonton perkelahian.

Diam-diam anak ini memperhatikan dengan kagum betapa tiga orang teman ayahnya itu, terutama sekali kakek Kam Song Ki, memiliki kepandaian hebat dan biarpun dikeroyok banyak orang, mereka bertiga dapat menguasai keadaan dan banyak sudah pihak pengeroyok berjatuhan.

Ketika ia melihat sebatang golok yang terlempar dari pegangan seorang pengeroyok terjatuh tidak jauh dari tempat ia berlutut diantara para saudagar, ia lalu mengambilnya dan menggenggam gagang golok itu erat-erat.

Lumayan, pikirnya.

Golok ini dapat kupakai untuk membela diri kalau perlu.

Tiga orang gagah itu memang dapat membuat para pengeroyok mereka menjadi kacau-balau.

Terutama sekali amukan Tiong Li dan gurunya, sungguh membuat mereka tak berdaya, apa lagi ketika pemimpin pasukan itu roboh oleh tongkat ditangan kakek Kam dan tidak dapat bangkit kembali.

Hal ini membuat para sisa anak-buah pasukan pakaian hitam itu menjadi panik.

Akan tetapi pada saat itu terdengar suara auman harimau yang menggetarkan dan muncullah seorang kakek tinggi besar yang berjubah kulit harimau dan tangannya memegang senjata rantai yang ujungnya berbentuk tombak jangkar dan dibelakangnya ikut pula dua ekor harimau kumbang yang ganas dan mengaum-aum menggiriskan.

Melihat ini, para saudagar menjadi ketakutan dan menyembunyikan muka dibalik kedua tangan, seolah-olah merasa khawatir kalau-kalau muka mereka akan dicakar dan diganyang harimau-ha-rimau itu.

Pek Lian dan kedua temannya terkejut dan mengenal raksasa itu yang bukan lain adalah Sanhek-houw, Si Harimau Gunung yang amat lihai dan kejam.

Diantara para saudagar itu, Lian Cu memandang kepada pendatang baru ini dan tiba-tiba saja sepasang mata anak ini mengeluarkan sinar mencorong penuh kemarahan.

Itulah orangnya yang telah membuat lengannya buntung!

Melihat munculnya tokoh ini, sisa pasukan dan para penjaga bangkit kembali semangat mereka dan memperketat pengeroyokan.

Sedangkan Sanhek-houw ketika melihat siapa yang muncul, menjadi marah.

Dia mengenal Pek Lian dan Tiong Li, dan biarpun dia belum tahu siapa adanya kakek bertongkat itu, namun dia memandang rendah dan sambil menggereng, diapun maju diikuti oleh dua ekor harimau kumbang!

Melihat ini, kakek Kam Song Ki berseru kepada muridnya.

"Tiong Li, kau hadapi dua ekor anjing itu!"

Dan dia sendiri lalu menggerakkan tongkatnya menyambut terjangan Si Harimau Gunung.

"Trangg"

Barulah Sanhek-houw kaget setengah mati ketika senjatanya yang panjang dan berat itu, begitu bertemu dengan tongkat butut, melayang dan terpental kembali kepadanya!

Kiranya kakek ini lihai sekali, pikirnya.

Diapun cepat memutar rantainya dan menerjang dengan buas, tiada ubahnya seekor harimau besar mengamuk.

Akan tetapi, dia menjadi semakin kaget ketika tiba-tiba saja tubuh kakek didepannya itu lenyap dan tahu-tahu ada ujung tongkat menyambar tengkuknya!

Nyaris tertotok dan Si Harimau Gunung memperhebat gerakannya.

Dia maklum bahwa lawannya ini adalah seorang ahli ginkang yang amat hebat, dan tiba-tiba dia merasa tengkuknya dingin dan bulu tengkuknya meremang.

Dia teringat sekarang!

Kakek ini adalah kakek yang pernah mengajak Raja Kelelawar bertanding dan dalam pertandingan adu ginkang kakek ini bahkan mampu mengatasi kepandaian Raja iblis itu!

Tentu saja Sanhek-houw menjadi gentar juga.

Akan tetapi dia sudah muncul dan sudah bertanding, tidak ada jalan lain kecuali melawan mati-matian.

Tiong Li menggunakan pedangnya menghadapi dua ekor harimau ganas itu, dan dengan gerakan-gerakan yang amat gesit dia mengatasi kecepatan dua ekor binatang itu sehingga tak lama kemudian, dia berhasil merobohkan dua ekor harimau itu yang roboh berkelojotan dan mandi darah, hanya auman-auman mereka saja yang menggetarkan tempat itu akan tetapi keduanya sudah tidak berbahaya lagi.

Sedangkan Pek Lian masih mengamuk dikeroyok para penjaga dan kini Tiong Li segera membantunya setelah merobohkan dua ekor harimau.

Melihat betapa dua ekor harimau peliharaannya roboh, hati Sanhek-houw semakin gentar.

Karena gentar, permainan rantai ditangannya menjadi kacau dan kesempatan itu dipergunakan oleh kakek Kam untuk menggerakkan tongkatnya.

Tongkat butut meluncur dan menotok dadanya.

Sanhek-houw mengeluarkan gerengan keras, tubuhnya terhuyung kebelakang dan rantai itu terlepas.

sejenak totokan ampuh itu menembus kekebalan tubuhnya, dan dia merasa seperti kehilangan tenaga.

Tiba-tiba saja sebatang golok menghunjam lambungnya dari samping.

Si Harimau Gunung terkejut, namun dalam keadaan tertotok itu kekebalannya lenyap dan tanpa dapat dicegahnya lagi, golok itu menancap dilambungnya sampai dalam sekali.

Dia membuat gerakan membalik dan melihat bahwa yang menusuknya itu adalah seorang anak perempuan yang buntung lengan kirinya!

Dia terbelalak, memandang anak itu dan sayup-sayup dia teringat kepada anak itu dan mulutnya menyeringai.

"Kau, kau!"

Dia hendak menubruk, akan tetapi sebatang tongkat meluncur dan menotok lututnya, membuat dia jatuh berlutut, lalu tergelimpang mandi darah yang bercucuran dari lambungnya.

Sementara itu, Lian Cu merasa ngeri sendiri menyaksikan akibat dari perbuatannya.

Ia melemparkan golok berdarah itu, mundur-mundur dan dengan mata terbelalak memandang korbannya, mulutnya beberapa kali berkata lirih seperti membela diri.

"Dia membuntungi lenganku, dia membuntungi lenganku!"

Anak inipun menjatuhkan diri kembali berlutut dan menangis.

Robohnya Sanhek-houw ini membuat semua semangat perlawanan para anak-buah gerombolan itu lenyap sama sekali.

Mereka menjadi ketakutan dan sisa gerombolan lalu melarikan diri keluar dari dalam bangunan itu.

Pek Lian lalu menghampiri Lian Cu yang sedang menangis, merangkulnya dan memandang tubuh Sanhek-houw yang sudah tak bergerak lagi dan sudah tewas.

"Sudahlah, Lian Cu, engkau hanya membasmi kejahatan yang membahayakan semua orang didunia ini."

Pada saat itu, dari dalam terdengar suara aneh, suara angin menyambar-nyambar dan bentakan-bentakan yang menggetarkan jantung.

Pek Lian segera bangkit berdiri dan bersama Lian Cu yang digandengnya, Tiong Li dan kakek Kam ia lalu berlari kedalam.

Setibanya diruangan paling belakang, mereka berhenti dan terbelalak menyaksikan suatu pertandingan yang amat hebat dan yang selamanya belum pernah mereka saksikan!

Ruangan itu mewah, akan tetapi pada saat itu, prabot-prabot ruangan telah porak-poranda, bahkan dinding-dinding yang dicat indah itu banyak yang retak-retak.

Ketika Pek Liari dan kawan-kawannya tiba diambang pintu ruangan itu, mereka merasakan getaran-getaran aneh yang amat kuat, yang membuat mereka terpaksa melangkah mundur lagi dan tidak berani menonton terlalu dekat!

disitu, bagaikan dua ekor naga, nampak Souw Thian Hai berkelahi mati-matian melawan seorang yang berpakaian serba hitam, siapa lagi kalau bukan Raja Kelelawar!

Dan agaknya mereka keduanya sudah kelihatan kelelahan!

Memang mereka telah bertanding cukup lama.

Tadi ketika Thian Hai mencari musuhnya didalam bangunan, akhirnya dia menemukan musuh itu berkemas diruangan paling belakang.

Thian Hai tersenyum mengejek melihat musuhnya itu sedang menutupkan sebuah peti.

Dia dapat menduga bahwa tentu pusaka peninggalan keluarga Souw berada didalam peti itu, juga mungkin pusaka peninggalan Raja Kelelawar aseli.

Dan dugaannya memang benar.

Raja Kelelawar sedang berkemas ketika melihat munculnya lawan-lawan tangguh, mengandalkan para pembantunya yang cukup lihai untuk menahan para lawan sehingga dia masih mempunyai waktu untuk berkemas dan melarikan diri.

Semenjak kalah dalam peperangan di Kotaraja, iblis ini menaklukkan datuk-datuk dan memaksa para datuk seperti Tujuh Iblis Ban-kwi-to bahkan Raja Muda Selatan untuk menjadi pembantunya dan melindunginya bersembunyi.

"Ma Kim Liang, engkau tidak akan dapat lari lagi dariku!"

Kata Souw Thian Hai yang tadi mempergunakan kepandaiannya sehingga masuknya tidak diketahui lawan.

Raja Kelelawar menoleh dan diapun terkejut bukan main melihat bekas suhengnya didalam ruangan itu.

Tahulah dia bahwa dia harus melawan mati-matian.

Dengan tenang diapun bangkit, percaya akan kemampuan sendiri.

Dia bahkan tersenyum menyeringai.

"Souw Thian Hai, kebetulan sekali. Aku akan menyempurnakan perbuatanku yang lalu, dan sekali ini engkau tentu akan mati ditanganku."

"Hemm, kalau bukan aku, tentu engkau yang akan tewas agar arwahmu dapat menerima perhitungan dan hukuman atas dosa-dosamu!"

Tanpa banyak cakap lagi, mereka lalu saling serang dengan dahsyatnya.

Karena masing-masing sudah tahu betapa lihainya lawan, maka begitu bergebrak keduanya sudah mengeluarkan simpanan masing-masing dan mengerahkan seluruh tenaga.

Terjadilah perkelahian yang amat hebat.

Prabot-prabot ruangan itu dilanda pukulan dan tendangan mereka, menjadi porak-poranda dan pukulan yang mengenai dinding membuat dinding itu retak-retak atau ambrol.

Angin pukulan bersiuran, bahkan terdengar dan terasa oleh mereka yang berada diluar ruangan itu dan bentakan-bentakan yang keluar dari dada mereka mendatangkan getaran aneh dan amat kuat.

Diam-diam Souw Thian Hai harus mengakui bahwa bekas sutenya ini tidak boleh dibandingkan dengan ketika dihadapinya terakhir kali.

Kini sutenya itu telah memperoleh kemajuan pesat dan terutama sekali alat yang tersembunyi didalam sepatunya membuat gerakannya cepat dan tak terduga-duga.

Bagaima-napun juga, Thian Hai memiliki andalan dua macam ilmu rahasia keluarga Souw, yaitu Thai-kek Sin-ciang dan Thai-lek Pek-kong-ciang, yang bagaimanapun juga, belum dapat dikuasai dengan baik oleh Ma Kim Liang.

Akan tetapi sebagai penggantinya, dia telah memiliki dan menguasai ilmu-ilmu peninggalan Kelelawar Hitam yang hebat seperti Ilmu Pat-hong Sin-ciang (Tangan Sakti Delapan Penjuru Angin), Kim-liong Sin-kun (Silat Sakti Naga Emas) dan terutama sekali sepasang pisau belatinya yang amat tajam.

Akan tetapi, maklum betapa lihainya sepasang tangan lawan, Raja Kelelawar tidak mau menggunakan sepasang pisau belatinya, karena penggunaan sepasang pisau ini bahkan mengganggu kelihaian sepasang lengannya dan tangannya.

Maka diapun melawan dengan tangan kosong dan mengandalkan jubahnya untuk menerima pukulan lawan.

Lebih dari seratus jurus mereka bertanding dan Raja Kelelawar sudah menerima beberapa kali pukulan karena dia tidak hati-hati.

Sedangkan dia sendiri mengerahkan sinkang untuk menahannya.

Sambil mengeluarkan pekik dahsyat itu, Raja Kelelawar melompat kedepan, seperti seekor kelelawar raksasa tubuhnya melayang, jubahnya menjadi semacam sayap dan dia telah menubruk kearah kepala Thian Hai dengan masing-masing tangan membentuk segi tiga dengan tiga jari tangannya.

Dengan dahsyat dia telah mempergunakan Ilmu Totok Sam-ci Tiam-hwe-louw untuk menyerang ubun-ubun kepala dan tengkuk lawan dari atas!

Sam-ci Tiam-hwe-louw adalah ilmu totok yang amat hebat dan ganas dari keluarga Souw dan Thian Hai dahulupun dilukai sampai menjadi gila oleh Ma Kim Liang mempergunakan ilmu ini.

Murid murtad ini, diantara ilmu-ilmu keluarga Souw yang lain, memang telah mempelajari ilmu ini secara mendalam dan mahir.

Dan dia menggabungkan ilmu ini dengan ilmu meloncat dari Raja Kelelawar, maka hebatnya serangan itu bukan main!

Akan tetapi Thian Hai sudah mengenal baik ilmu keluarganya ini dan sudah tahu akan kelihaian lawan.

Agaknya lawannya sudah putus asa untuk mencapai kemenangan, maka mengeluarkan lagi ilmunya yang pernah membuatnya roboh dahulu.

Agaknya bekas sutenya ini hendak mengadu nyawa karena serangan ini memang hebat bukan main dan banyak sekali kemungkinannya untuk melanjutkan dengan serangan-serangan maut lainnya.

Mengelak, tidak mungkin dan untuk menangkis, amat berbahaya karena sekali tangkisan luput, dia akan terancam bahaya maut yang tak mungkin terelakkan lagi.

Kalau sampai ubun-ubun atau bagian kepala lain yang berbahaya terkena totokan itu, yang dilakukan dengan pengerahan tenaga sinkang sepenuhnya, dia tentu akan tewas seketika!

Tenaga totokan Ma Kim Liang sekarang ini jauh lebih kuat dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu, ketika merobohkannya dengan totokan yang sama pada pelipisnya.

"Haiiiiittt!"

Thian Hai juga mengeluarkan pekik melengking yang membuat Pek Lian kembali menutupi telinga Lian Cu, akan tetapi ia sendiri tiba-tiba merasa lemas dan jatuh berlutut, tidak dapat menahan getaran yang melumpuhkan kakinya.

Thian Hai mengangkat kedua tangannya melindungi kepala dan ketika kedua tangan lawan menotok turun, ia menyambut dengan telapak tangan terbuka.

Tangan kanannya berhasil menyambut tangan kiri lawan, akan tetapi tangan lawan ketika bertemu dengan telapak tangan kirinya, tiba-tiba meleset dan terus menyerang kebawah kearah pelipisnya!

Nyaris terulang kembali peristiwa beberapa tahun yang lalu.

Akan tetapi Thian Hai cepat miringkan kepalanya sehingga totokan tiga jari itu meluncur terus mengenai pundak kirinya.

Pada saat itu, Thian Hai juga sudah menggerakkan tangan kirinya yang luput menyambut tangan kanan lawan tadi kedepan, mengerahkan tenaga dan memukul dengan Thai-lek Pek-kong-ciang.

"Tukk! Desss!!"

Totokan pada pundak Thian Hai dan hantaman dengan tangan terbuka pada dada Raja Kelelawar itu terjadi dalam waktu bersamaan dan akibatnya, tubuh Thian Hai berlutut sedangkan tubuh Raja Kelelawar terdorong dan terpental kebelakang lalu diapun terbanting roboh!

Muka Raja iblis itu menjadi pucat seperti mayat dan tangan kirinya menekan dadanya, mukanya memperlihatkan rasa nyeri yang ditahan-tahan.

Sebaliknya, Thian Hai merasa betapa lengan kirinya lumpuh dan diapun merasa pundak kirinya nyeri.

Dicobanya dengan tangan kanan mengurut pundak kirinya yang tertotok itu.

Biarpun mereka sudah sama-sama terluka, akan tetapi mereka saling pandang dengan sinar mata mencorong penuh kemarahan dan kebencian.

"Souw-toako!"

Melihat Thian Hai juga roboh berlutut, Pek Lian tak dapat menahan kekhawatiran hatinya dan iapun sudah meloncat dan menghampiri pendekar itu.

"Toako, engkau engkau terluka?"

Tanyanya khawatir sambil menyentuh punggung pendekar itu. Pada saat itu terdengar suara ketawa Raja Kelelawar.

"Ha-ha-ha, suheng, inikah pengganti isterimu? Inikah calon isterimu? Bukankah ia puteri mendiang Menteri Ho? ha-ha, Ho-siocia, kesinilah engkau!"

Suara terakhir yang mengundang Pek Lian ini terdengar aneh, menggetarkan dan mengandung wibawa yang demikian kuatnya sehingga seperti dalam mimpi, Pek Lian meninggalkan Thian Hai dan menghampiri Raja iblis itu!

Melihat ini, Thian Hai terkejut sekali.

"Lian-moi, minggir!!"

Dan tubuhnya yang sudah terluka itupun dipaksanya meloncat kedepan dan pada saat yang tepat, dengan tangan kanannya dia telah berhasil mendorong dara itu sehingga terpelanting, tepat pada saat Raja Kelelawar melemparkan pisau belatinya kearah dada Pek Lian.

Pisau itu meluncur lewat dan menancap sampai kegagangnya, memasuki dinding sebagai pengganti dada Pek Lian yang tentu saja kaget setengah mati ketika tubuhnya terpelanting itu.

Ia mengeluh karena ketika ia jatuh, kakinya terhimpit, membuat luka dibetisnya menjadi semakin parah dan mengeluarkan darah.

"Souw Thian Hai keparat!"

Terdengar Raja Kelelawar memaki dan tiba-tiba nampak sinar berkelebat dan tahu-tahu sebatang pisau belati yang sama dengan pisau yang tadi menyambar Pek Lian, telah memasuki dadanya, menembus jantungnya.

Ternyata Raja iblis ini yang sudah terluka parah oleh pukulan Thai-lek Pek-kong-ciang, merasa bahwa dia tidak dapat hidup lagi, setelah gagal memberi pukulan terakhir kepada Thian Hai dengan jalan mencoba membunuh dara yang dianggapnya calon isteri bekas suhengnya itu, lalu membunuh diri.

Thian Hai bangkit berdiri menghampiri, memandang kepada bekas sutenya.

Juga Pek Lian terpincang-pincang menghampiri, lalu Lian Cu lari menghampiri ayahnya.

Kam Song Ki dan muridnya juga menghampiri.

Semua orang memandang wajah Raja Kelelawar itu dan Pek Lian berseru.

"Haiii! Bukankah dia ini Kaisar yang lihai itu?"

Souw Thian Hai menarik napas panjang dan mengangguk.

"Aku gagal mengejarnya karena tertipu pula. Ketika aku mengejar Raja Kelelawar, dia memasuki Istana dan lenyap. Aku tidak mengira bahwa Kaisar muda itu adalah dia! Kiranya, Kaisar baru telah dibunuh oleh komplotan mereka dan Ma Kim Liang, bekas suteku ini diangkat menjadi Kaisar! Bagaimanapun juga, aku kagum kepadanya. Dia benar-benar telah berhasil menjadi Kaisar, walaupun hanya untuk beberapa hari! Dan ilmu kepandaiannya hebat"

Thian Hai yang teluka pundaknya oleh totokan Sam-ci Tiam-hwe-louw ini lalu diperiksa oleh kakek Kam.

Bagaimanapun juga, kakek ini adalah murid mendiang Bu-Eng Sin-yok-ong Si Raja Obat.

Setelah memeriksa dan memberi obat, dia menganjurkan agar pendekar itu beristirahat selama sehari untuk mengumpulkan hawa murni.

Tubuh pendekar ini terlampau kuat untuk sampai celaka oleh totokan tadi.

Tiong Li sendiri lalu mencari tenaga bantuan untuk menguburkan semua jenazah, dan mengobati mereka yang luka tanpa pilih bulu.

Semua orang berterimakasih dan baru mereka melihat betapa bedanya watak pendekar dan watak kaum sesat.

Pendekar tidak mendendam dan selalu mengulurkan tangan membantu siapa saja yang membutuhkan bantuan, termasuk bekas-bekas lawan!

Lian Cu menemani ayahnya yang duduk bersila didalam sebuah kamar kosong dibekas tempat tinggal Raja Kelelawar.

Peti terisi pusaka-pusaka peninggalan keluarga Souw dan Raja Kelelawar berada didekatnya.

Setelah selesai mengubur semua jenazah dan membiarkan mereka yang terluka pergi, Tiong Li menghampiri Pek Lian.

Dia memandang dengan sinar mata kagum dan penuh keharuan.

"Nona, kakimu terluka, perlu dirawat dan diobati."

Dia memandang kearah celana yang menyembunyikan betis kanan yang terluka itu.

Masih nampak darah mengering pada celana itu.

Nona yang gagah perkasa ini tadi seperti melupakan luka dikakinya dan membantu dengan penguburan jenazah, dan ketika kakinya hendak diobati oleh kakek Kam ditolaknya.

"Ah, tidak apa-apa, hanya luka sedikit,"

Kata Pek Lian.

"Nona, pekerjaan telah beres dan kalau kakimu tidak diobati, bisa keracunan. Bolehkah aku membantumu?"

Tidak enak juga hati Pek Lian melihat keramahan pemuda yang mencintanya dan pernah ditolak cintanya ini.

Ia hanya mengangguk, lalu duduk diatas batu dibawah pohon, melonjorkan kaki kanannya.

Dengan duduk didekat gadis itu, Kwee Tiong Li menyingsingkan celana itu keatas sambil minta maaf.

Sikapnya amat sopan walaupun jari-jari tangannya tidak ragu-ragu sebagai seorang ahli, karena selain pengalaman dan kepandaiannya sendiri dalam merawat luka-luka, pemuda inipun memperoleh pelajaran ilmu pengobatan yang lebih mendalam dari gurunya.

Dan ternyata luka itu tidaklah seringan yang diakui Pek Lian.

Kulitnya robek berikut dagingnya dan banyak daiah keluar.

Bahkan karena didiamkan saja, luka itu nampak agak merah dan bengkak.

Terkejutlah Pek Lian ketika tiba-tiba saja Tiong Li membungkuk dan mengecup luka itu dengan mulutnya, mengeluarkan darah dan kotoran dari situ!

Wajah dara ini menjadi merah sekali dan kedua matanya basah melihat perbuatan pemuda itu.

Sampai tiga kali Tiong Li mengecup, setelah luka itu bersih, dia menaruh obat, lalu membalut betis itu dengan sobekan sutera putih yang bersih.

"Aughhh!"

Pek Lian merintih dan membuang muka.

Ini dilakukan untuk menyembunyikan kenyataan bahwa ia menangis, menangis saking terharu melihat cinta kasih yang demikian nyata diperlihatkan Tiong Li terhadap dirinya.

"Nyeri sekalikah, nona?"

Tiong Li bertanya sambil membereskan balutannya, kemudian menurunkan kembali celana menutupi betis dan sebagian paha yang berkulit putih halus itu.

Pek Lian menyusut air matanya, lalu memandang tersenyum melalui air matanya, menggeleng kepala.

"Tidak berapa nyeri, dan... Dan engkau baik sekali, terimakasih!"

Sejenak mereka beradu pandang dan Tiong Li melihat suatu sinar yang aneh dan mesra dalam pandang mata gadis itu.

Jantungnya berdebar penuh harapan, akan tetapi dia lalu teringat bahwa gadis ini pernah menolak cintanya, maka ketika Pek Lian menundukkan muka, diapun berpamit dan pergi.

Sementara itu, Lian Cu yang tadi berjalan-jalan keluar melihat ayahnya samadhi, kini memasuki kamar ayahnya.

Melihat ayahnya sudah membuka matanya, ia menghampiri dan memperlihatkan sebatang kayu.

"Ayah, lihat ini!"

Thian Hai melihat bahwa potongan kayu itu ternyata didalamnya adalah batangan emas murni! "Eh, dari mana kau dapatkan ini?"

Tanyanya heran, membolak-balik potongan kayu itu.

"Ini adalah sebagian tandu yang rusak. Ingat tandu yang kau pikul itu, ayah? Ketika kita menyelundup menjadi anak-buah bajak? Tandu itu kutemukan pecah berantakan dan tanpa sengaja aku melihat ini. Didalam kayu yang dipakai membuat tandu itu terdapat emas semua!"

"Ahhh!"

Thian Hai tahu sekarang bahwa harta karun mendiang Perdana Menteri Li Su telah dijadikan emas murni dan disembunyikan didalam tandu-tandu itu, dilapisi kayu.

Dan belasan buah tandu itu telah dibuang kelautan, ketepi lautan diantara batu-batu karang oleh para bajak.

Jadi harta karun itu berada disana, aman, tidak ada yang tahu kecuali dia karena semua bajak telah tewas!

Mereka tidak lama tinggal ditempat itu.

Pek Lian melanjutkan perjalanannya mengunjungi makam ayahnya.

Kemudian ia kembali ke Kotaraja, membantu gurunya yang menjadi Kaisar untuk melakukan pembersihan terhadap para pengacau didaerah-daerah.

Sedangkan Tiong Li yang patah hati itu mengikuti gurunya merantau.

Dan kemanakah perginya Souw Thian Hai?

Pendekar ini mengajak puterinya kembali kerumah keluarga Souw yang sudah porak-poranda untuk dibangun kembali, sambil membawa peti terisi pusaka keluarganya.

Ada suatu ganjalan dihatinya kalau dia teringat Bwee Hong.

Dia mencinta Bwee Hong, bukan hanya karena dara itu telah menyelamatkannya dengan pengobatan, bukan hanya karena dara itu mirip sekali dengan isterinya yang telah tewas, bukan hanya karena dara itu memang cantik jelita dan berbudi mulia, melainkan karena ada rasa cinta didalam hatinya.

Akan tetapi, kalau dia teringat kepada Lian Cu, timbul keraguan didalam hatinya.

Baikkah bagi Lian Cu kalau dia menikah lagi?

Souw Thian Hai masih ragu-ragu.

Bagaimanapun juga, dia belum mengikat gadis itu dengan janji perjodohan.

Dan dia berkewajiban untuk menggembleng puterinya yang sudah kehilangan sebelah lengannya.

Cerita ini berakhir sampai disini karena untuk mengikuti perjalanan para tokohnya membutuhkan suatu kisah dengan judul tersendiri.

Kalau para pembaca budiman ingin mengikuti kisah selanjutnya dari A-hai atau pendekar Souw Thian Hai dengan puterinya Souw Lian Cu, Ho Pek Lian, Kwee Tiong Li, Chu Seng Kun dengan Kwa Siok Eng, dan Chu Bwee Hong, silahkan menunggu sampai terbitnya lanjutan kisah ini yang sedang disusun dan ditulis oleh pengarang & pelukis muda SRIWIDJONO.

Sekian dan teriring salam bahagia dari pengarang, sampai jumpa dilain cerita!

TAMAT Lereng Lawu, akhir Agustus 1978.

Karya .

Asmaraman S.

Kho Ping Hoo Bahan Cerita/Ilustrasi .

Sriwidjono Penerbit .

CV.

GEMA Cetakan Tahun .

1978 (Pertama) Kontributor .

Awie Dermawan

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 10

Baca Juga: Pendekar Mata Keranjang 7

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger