Eps 1 Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono
Baca online Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono
Cersil Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono.
Pendekar Penyebar Maut (Seri ke 02 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 01 Malam telah sangat larut, bulan yang pucat dan tinggal sepotong itu sudah jauh pula condong ke arah barat.
Titik-titik embun sudah bertebaran pula turun ke bumi.
Menebar seperti gumpalan awan yang melayang-layang dari langit, mengendap perlahan-lahan ke bawah, menjadi kabut yang menyelimuti segala makhluk serta benda yang berada di atas bumi, sehingga segalanya menjadi kabur dan kelihatan samar samar.
Dinginnya bukan alang-kepalang!
Dingin dan sunyi.
Apalagi jika sekali datang angin berhembus.
Biar sangat lemah sekalipun, ternyata sudah cukup untuk menggerakkan beberapa pucuk daun cemara yang paling tinggi.
Sehingga beberapa di antaranya terpaksa melepaskan butiran-butiran air embun yang telah terkumpul pada setiap ujungnya.
Berjatuhan ke bawah, menimpa pucuk pucuk daun yang lain, menyebabkan pucuk-pucuk yang lain itu tak kuasa pula menahan muatan mereka sendiri.
Dan untuk beberapa saat bagaikan runtuhnya gunung mutiara yang digoyang gempa, ribuan butir embun itu jatuh bertaburan ke bawah.
Dingin gemerlapan.
Memercik, kesanakemari.
Sebagian membasahi rumput, sebagian lagi langsung berjatuhan ke bumidan lenyap terhisap oleh tanah yang basah.
Suasana malam itu memang benar-benar dingin dan sunyi.
Terlebih-lebih suasana di dalam hutan lebat yang tumbuh di sebelah utara kota Tie-kwan itu.
Tak sebuah makhlukpun yang tampak hidup di tempat itu.
Biar seekor binatang malam yang paling kecil sekalipun.
Hutan itu tumbuh dengan lebat di lereng lereng Bukit Ular.
Yaitu sebuah rangkaian dari beberapa buah bukit yang letaknya membujur sepanjang sepuluh lie di tepi Sungai Huang-ho, persis di sebelah utara kota Tie-kwan, di Propinsi Shan-tung.
Selain lebat hutan tersebut tumbuh di atas tanah yang terjal serta berbukit-bukit, sehingga tempat tersebut sangat licin dan berbahaya sekali.
Maka dari itu biarpun letaknya berada di tepi arus lalu lintas sungai serta berada tidakN jauh dari perkampungan penduduk, tidak seorangpun selama ini yang pernah menginjakkan kakinya di tempat tersebut.
Apalagi dalam suasana malam yang dingin seperti itu.
Tetapi...
Tetapi ternyata suasana malam itu agak lain dari biasanya.
Dalam pekatnya kabul yang dingin mencekam itu, samarsamar terlihat beberapa sosok tubuh yang berdiri tegak tak bergerak di antara gelapnya bayang-bayang pohon.
Semuanya diam tak bergerak.
Sehingga sekilas pandang bagaikan sekumpulan hantu yang sedang bangkit dari kuburnya.
Senyap dan mengerikan!
Mereka berjumlah empat belas orang, berdiri berkumpul ditempat yang sedikit lapang dan rata.
Berdiri mengelilingi empat buah tandu yang berisi wanita dan anak-anak.
Dan dilihat dari gerak-gerik mereka dengan mudah dapat diduga bahwa mereka terdiri dari satu rombongan.
Delapan orang di antaranya, yang agaknya juga bertugas merangkap sebagai pemikul tandu, tampak berdiri tegak di sekitar barang bawaan mereka itu.
Dua orang yang lain, yang bertampang lebih garang, berdiri agak terpisah dari kedelapan orang itu.
Di bawah pohon siong itu yang tumbuh tidak jauh dari tempat tersebut berdiri seorang laki-laki separuh baya.
Usianya sekitar empat puluh lima tahun.
Berpakaian bersih dan rapi.
Jenggot serta kumisnya yang lebat itu juga terawat rapi.
Matanya bersinar tajam dan selalu waspada melirik ke kanan dan ke kiri, seperti mata harimau betina yang sedang menjaga anak-anaknya.
Tangannya yang tertutup oleh lengan baju yang longgar itu tampak selalu siap di atas gagang golok besar yang tergantung di pinggangnya.
Dan dilihat dari sikapnya yang berwibawa, bisa diduga bahwa dialah yang memimpin rombongan kecil tersebut.
Di belakang orang itu, tampak seorang yang berwajah sangat mirip dengan dia.
berdiri bersandar pada pohon siong tersebut.
Umurnya sekitar lima tahun lebih muda.
Mukanya dicukur bersih, sehingga tampak lebih tampan.Sebuah golok besar juga tergantung diatas pinggangnya.
Beberapa langkah dari pohon tersebut, yaitu di atas pohon pek yang telah tumbang, terlihat dua orang lagi dari anggauta rombongan itu.
Seorang pemuda yang bertubuh tinggi kurus, berusia delapan belas tahun dan seorang kakek tua yang kelihatan sedang menderita sakit.
Hawa malam yang kelewat dingin itu agaknya membuat kakek tersebut semakin menderita.
Berkali-kali tangannya mengurut dada dan tenggorokannya yang terasa gatal dan nyeri.
Kadang-kadang tampak dengan susah payah ia menahan diri agar mulutnya tidak mengeluarkan batuk.
la kelihatan takut apabila suara batuknya akan menggangggu suasana tegang yang kini sedang berlangsung di tempat itu.
"Twako, embun pagi telah menyelimuti kita semua. Kenapa utusan yang kita kirim itu belum juga kembali? Hampir semalam penuh kita menunggu dia."
Orang berjenggot lebat itu menggeram mendengar perkataan adiknya, yaitu laki-laki yang berwajah mirip dia itu.
la tak menjawab sepatahpun!
Tampak tangannya mengepalngepal dengan tegang.
Sementara itu pemuda tinggi kurus yang sedari tadi selalu memperhatikan kakek tua yang sedang sakit itu, merasa kasihan dan khawatir sekali.
"Apakah engkau merasa kedinginan, kek?"
Pemuda itu berbisik pelan sekali.
Orang tua yang tampak semakin sukar menahan rasa nyeri dan gatal pada tenggorokannya dan menggeleng dengan cepat.
Tetapi tiba-tiba batuknya tak bisa ditahan lagi.
Suaranya melengking memecahkan kesunyian malam.
Membuat kaget orang orang yang berada di tempat itu.
Dan sekali telah terbatuk, batuk itu tidak bisa dibendung lagi.
Suaranya sambung-menyambung tak habis-habisnya.
"Diam! Hentikan suara itu!"
Laki-laki berjenggot lebat itu menghardik dengan suara berat.
Kakek tua itu dengan ketakutan cepat membungkam mulutnya erat-erat, sehingga suara batuk itu berhenti dengan mendadak.
Tetapi akibatnya, muka yang semula pucat itu kini menjadi merah membara.
Matanya melotot kemerahan menahan sakit.
Pundaknya berguncang dengan keras karena menahan batuk.
Peluhnya bercucuran membasahi dahi dan lehernya.
Pemuda yang berada di sampingnya itu cepat mencengkeram pundaknya.
"Kek, apakah engkau sakit? Apakah penyakit dadamu kambuh lagi?"
Tetapi kakek itu tak bisa menjawab.
Ia masih sibuk mendekap mulutnya dengan ketakutan.
Oleh karena itu si pemuda tidak bertanya lebih lanjut.
Cepat ia merogoh kantong orang tua itu dan mengeluarkan sebuah pipa tembakau beserta bumbu-bumbunya.
Dengan cekatan pemuda itu meracik beberapa macam serbuk obat lalu memasukkannya ke dalam pipa bersama tembakaunya.
Agaknya ia telah terbiasa dan hafal betul, apa yang harus diperbuat untuk mengobati orang tua itu apabila penyakitnya kambuh.
Tetapi begitu pemuda tersebut menyalakan api.
"Yang ji! Padamkan api itu!"
Pemuda yang dipanggil dengan nama "Yang"
Itu menoleh ke arah laki-laki berjenggot yang berada dibawah pohon siong itu. Alisnya berkerut, mulutnya terkatup rapat. Matanya menatap dengan bingung dan penasaran.
"Ayah? Aku... Kenapa aku tidak boleh mengobatinya? Kenapa engkau melarang aku merawatnya? Bukankah selama ini aku selalu dirawat olehnya? Kenapa...? "Jangan banyak bicara! Sekali kukatakan tidak boleh menyalakan api, ya tidak boleh! Apakah engkau ingin memberitahukan tempat kita ini kepada para musuh kita? Apakah engkau ingin agar mereka datang ke sini untuk menumpas keluarga kita?"
"Tapi siapakah musuh kita itu? Ayah tak pernah mengatakannya kepadaku! Kenapa kita yang selama ini selalu hidup tenteram mengasingkan diri mesti dimusuhi? Kalau toh kita akan ditumpas, kenapa tidak kita hadapi saja secara jantan? Kenapa kita mesti melarikan diri sampai sedemikian jauhnya seperti sekawanan orang pengecut?"
"Apa katamu? kau berani membantah? Apakah kau mau melawan ayahmu?"
Orang tua itu berdiri tegak dengan marahnya.
Tetapi pemuda itu juga tak mau mengalah.
Agaknya ia benar-benar merasa penasaran atas sikap ayahnya kali ini.
Dengan sinar mata penuh rasa penasaran pemuda itu juga berdiri tegak menghadapi ayahnya.
Tentu saja sikapnya itu semakin membuat ayahnya bertambah marah.
Untunglah laki-laki yang sedari tadi berdiri di belakang sang ayah cepat menengahi mereka.
"Sabarlah, Twako! Puteramu masih sangat muda. Dia belum menyadari sepenuhnya apa yang terjadi. Biarlah aku yang menasehati dia!"
"Tuan muda, oh. tuan muda! Apakah yang telah terjadi? Kenapa tuan muda berani bersikap demikian terhadap ayahandamu?"
Tiba-tiba kakek tua yang sakit itupun berseru sambil menarik lengan si pemuda.
Agaknya penyakit yang dideritanya telah sedikit mereda.
Pemuda itu cepat menoleh.
Tangannya meraih lengan orang tua itu.
Begitu melihat kakek tersebut tidak kurang suatu apa, hatinya tampak lega bukan main.
Biarpun di dalam hati ia masih juga merasa penasaran atas sikap ayahnya, tetapi ia tidak ingin berbantah lebih lanjut.
Maka dari itu ketika terdengar suara langkah kaki orang yang menghampiri tempatnya, ia segera menundukkan mukanya.
Ia tahu pamannya yang sedari tadi berada di belakang ayahnya, kini telah berada didepannya.
Ia juga tahu bahwa semua orang tentu sedang mengawasi dirinya.
Termasuk juga Siang-hui-houw (Sepasang Harimau Terbang) kepercayaan ayahnya, yang hadir berdampingan di dekat para pemikul tandu itu.
"Yang Kun! kau tidak boleh bersikap demikian kepada ayahmu. kau belum memahami benar masalah besar yang kini sedang dihadapi oleh ayahmu dan oleh seluruh keluarga kita. Ayahmu sebagai saudara tertua sudah tentu harus bertanggung jawab atas keselamatan kita semua. Beliau tentu sudah berpikir dengan matang tentang apa-apa yang dirasakan baik buat kita. Soalnya masalah besar yang kita hadapi ini tidak boleh kita hadapi dengan hati panas dan pikiran pendek, apalagi dengan membabi-buta tanpa pemikiran yang matang. Kita harus memperhitungkan untung ruginya. Kita harus memperhitungkan segala sesuatunya dengan cermat sampai kepada hal yang sekecil-kecilnya, agar hal yang kita anggap kecil itu tidak sampai merugikan rencana kita nantinya."
"Tapi... aku tidak mengerti, paman. Masalah berarti apakah sebenarnya yang kini sedang kita hadapi? Masalah apakah itu sehingga ayah sampai membawa kita semua melarikan diri meninggalkan rumah, harta benda serta milik kita? Sehingga aku sangat kecewa karenanya? Lalu apa gunanya kita berlatih silat setiap hari, jikalau setiap ada musuh datang kita lari menyembunyikan diri. Bukankah ayah dan paman selalu mengatakan kepadaku bagaimana menjadi seorang ksatria dan pendekar?"
Pemuda itu diam sejenak setelah memuntahkan rasa penasaran serta kekecewaan hatinya di hadapan sang paman.
Ia menatap dengan penuh harap, agar pamannya tersebut memberi keterangan yang jelas, sehingga hatinya menjadi lega.
Orang tua yang telah banyak makan asam garam kehidupan itu mengelus pundak keponakannya.
Wajahnya tampak berseri-seri.
"Yang Kun, maafkan pamanmu. Aku kini belum bisa membeberkan masalah besar itu kepadamu. Pada saatnya, kau tentu akan mengetahuinya sendiri nanti. Adapun tentang musuh yang kita hadapi saat ini, pamanmu juga belum dapat menyebutkannya. Selain musuh keluarga kita itu sangat banyak, kita juga belum tahu dengan pasti siapakah yang kini datang memusuhi kita..."
"...Tetapi kami benar-benar sangat gembira melihat semangatmu yang besar. Engkau memang menjadi tumpuan harapan kita di masa mendatang, apabila ternyata kami orang-orang tua ini tidak bisa melanjutkan cita-cita kita. Itulah sebabnya dengan tidak mengenal lelah kami menggembleng dirimu siang dan malam. Dan kukira jerih payah kami itu tidaklah sia-sia. Engkau telah dapat menguasai dengan baik semua ilmu silat keluarga kita. Tetapi meskipun begitu, engkau tidak boleh terlalu membanggakan dirimu. Apalagi menjadi sombong. Seperti yang telah kita ketahui bersama, ternyata musuh yang datang juga bukan orang sembarangan pula. Terbukti dengan terbunuhnya pamanmu yang bungsu, orang terlihai di antara keluarga kita."
"Tetapi musuh paman bungsu itu tentu tidak hanya seorang. Mereka tentu secara beramai-ramai mengeroyok paman bungsu. Tak seorangpun di dunia ini yang mampu melawan beban sendirian saja."
Yang Kun membela mendiang pamannya.
Orang yang paling banyak memberi pelajaran silat kepadanya!
Orang tua itu tersenyum penuh arti.
Dengan menggelenggelengkan kepalanya ia memandang ke arah Siang-hui-houw yang berdiri diam tak bergerak sejak tadi.
"Tuan muda Yang Kun ini memang sangat membanggakan paman bungsunya,"
Kata salah seorang di antara mereka.
Sang paman itu mengangguk, ia sendiri juga sangat bangga terhadap mendiang adik bungsunya itu.
Sayang umurnya terlalu pendek.
Untunglah keponakannya ini agaknya telah mewarisi bakat serta kepandaian adiknya tersebut.
"Yang Kun sudahlah! Mungkin juga pamanmu itu memang dikeroyok oleh banyak orang seperti dugaanmu, tetapi mungkin juga tidak. Soalnya tak seorangpun yang menyaksikan ketika dia melawan musuhnya. Dan pada saat tubuhnya yang terluka itu kita temukan, dia hanya sempat mengeluarkan dua buah perkataan saja. Yaitu perkataan larilah dan perkataan benda itu!"
"Lalu...apakah maksud perkataan beliau itu?"
Yang Kun mendesak. Orang tua itu menatap keponakannya dengan tajam.
"Itulah! Biarpun hanya dua buah perkataan saja tetapi kamu bisa menduga apa yang dimaksudkannya! Yaitu yang berhubungan dengan masalah besar yang sedang kita hadapi! Itulah sebabnya, biarpun kita kehilangan seorang keluarga yang kita cintai, kita harus tetap berpikiran dingin. Kita tidak boleh menurutkan hati dan perasaan. Kita harus mengingat kepentingan keluarga kita yang lebih besar."
Lagi-lagi masalah besar dan kepentingan keluarga, Yang Kun menggerutu di dalam hati. Ia sungguh merasa sangat penasaran sekali.
"Lalu... kenapa kita mesti berlari-lari serta bersembunyi?"
Orang tua itu menghela napas panjang.
"Hmmm... sudah kukatakan sejak tadi bahwa pada saatnya nanti engkau akan mengerti dan memaklumi sendiri masalah ini. Yang terang, apabila seorang pendekar besar seperti paman bungsumu saja menganjurkan kita lari, persoalannya tentulah tidak main-main."
Sekali lagi orang tua itu mengawasi dengan tajam.
Sepintas lalu dapat ia rasakan betapa keponakannya tersebut belum merasa puas hatinya.
Tetapi agar persoalan itu tidak menjadi berkepanjangan, ia segera memotong saja pembicaraannya.
"Sudahlah, nak! kau rawatlah dahulu kakek pengasuhmu itu. Jangan terlalu kau risaukan masalah ini, biarlah kami orang-orang tua saja yang menyelesaikannya."
Kemudian setelah sekali lagi menepuk pundak keponakannya, orang tua itu melangkah kembali ke tempat semula, di samping kakaknya.
"Twako! Sungguh aneh, kenapa Hek-mou-sai (Singa Berbulu Hitam) hingga sekarang belum juga kembali? Dia sendiri yang memberi batas waktu sampai tengah malam. Padahal kini sudah fajar..."
"Entahlah! Aku juga hampir gila memikirkan dia."
"Aku khawatir kalau-kalau dia mendapatkan kesukaran di jalan. Seperti ada firasat yang tidak baik..."
"Aku juga mempunyai firasat demikian. Lalu apa sebaiknya yang akan kita lakukan?"
"Terserah Twako saja! Aku selalu menurut perintahmu!"
"Baiklah! Karena Hek-mou-sai sendiri yang berkata bahwa dia akan kembali sebelum tengah malam, maka kita bebas untuk berlalu sekarang juga."
"Tetapi bagaimana kalau dia nanti kembali kesini?"
"Biarlah Siang hui-houw memberi suatu tanda di tempat ini, yang menyatakan bahwa kita telah berangkat."
Kata kakaknya sambil memberi tanda ke arah Siang-hui-houw agar mendekat.
"Tuan memanggil kami berdua?""
Kedua harimau itu bertanya.
"Kita akan berangkat sekarang. Berilah tanda di ditempat ini, agar Hek-mou-sai mengetahui kalau kita telah berangkat. Kemudian ajaklah para pemikul tandu untuk membawa para wanita itu turun dari bukit ini. Kita menuju ke pinggir Sungai Huang-ho!"
"Baik, tuan."
Kedua jagoan pengawal itu mengangguk hormat, lalu kembali ke tempat semula.
Mereka menyiapkan tanda yang akan mereka tinggalkan untuk teman seperjalanan mereka yang bertugas sebagai penyelidik, yang sampai saat itu belum kembali.
Hek-mou-sai bertugas menyelidiki jalan-jalan yang akan dilalui oleh rombongan kecil tersebut.
"Apakah kita akan berangkat sekarang? "
Salah seorang pemikul tandu bertanya kepada mereka.
"Benar! Ajaklah teman-teman kita yang lain untuk bersiap siap! Tuan Chin memberi perintah agar berangkat sekarang.""
Kabut dingin makin tebal menyelimuti mereka.
Dinginnya sampai mengigit tulang.
Membuat para pemikul tandu tersebut sebenarnya sangat enggan untuk bergerak dan tempatnya.
Tapi apa boleh buat, tuan Chin, majikan mereka, memerintahkan mereka untuk berangkat sekarang juga.
Terpaksa dengan perasaan enggan mereka mengangkat tangkai tandu masing-masing.
Sementara itu melihat ayah dan pamannya telah berkemaskemas pula untuk berangkat, Yang Kun membuka baju luarnya yang lebar dan memberikan kepada kakek pengasuhnya.
"Kita akan berjalan lagi, kek. kau pakailah bajuku ini biar tubuhmu merasa lebih hangat."
"Terima kasih, Tuan muda...Tuan muda baik sekali... aku..."
Belum juga kakek itu selesai berbicara, tiba-tiba mereka dikagetkan oleh suara teriakan seorang pemikul tandu yang diikuti oleh pemikul tandu yang lain.
"Hah?!?"
"Ohh?!?"
"Ehh!?!"
Semua orang cepat menoleh ke arah para pemikul tandu dan...untuk beberapa saat lamanya mereka berdiri mematung!
Di hadapan mereka, didepan para pemikul tandu, tampak beberapa sosok tubuh wanita dan anak-anak, tersungkur mencium tanah yang becek berlumut.
Agaknya mereka tadi terjatuh, ketika para pemikul tandu tersebut mulai mengangkat tangkai tandu yang mereka tumpangi.
Dan sekejap kemudian, seperti mendapatkan suatu komando saja, ketiga orang ayah, paman dan anak itu meloncat bagai terbang cepatnya kearah keluarga mereka tersebut.
Ketiga-tiganya sampai di tempat dalam waktu yang hampir bersamaan.
Dengan gaya dan jurus yang bersamaan pula, yaitu jurus burung walet Terbang ke Sarang!
Ayah Yang Kun, yang terdahulu sampai di tempat itu segera mengulurkan tangan ke arah ibu Yang Kun, wanita cantik yang tergolek dengan separuh badan masih berada di dalam tandu.
"Twako!! Jangan sentuh dia!"
Adiknya berteriak memperingatkan.
"Ibuuuu,...!"
Yang Kun yang berada di belakang kedua orang tua itu bergegas mau menubruk tubuh ibunya tetapi pamannya cepat menahan lengannya dengan erat.
"Lepaskan! Lepaskan, paman! Aku akan melihat ibuku!"
Yang Kun berteriak sambil berusaha melepaskan pegangan tangan pamannya.
Tetapi sedikitpun tak mau sang paman itu mengendorkan pegangannya.
Beberapa kali pemuda itu berusaha membebaskan lengannya dengan berbagai macam cara, tetapi karena tenaga dalamnya masih berada dibawah tenaga dalam pamannya, maka usahanya selalu sia-sia.
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara teriakan ayahnya yang mengerikan.
Otomatis keduanya menghentikan pergulatan mereka.
Dengan mata melotot Yang Kun melihat ayahnya mundur terhuyung-huyung menjauhi tubuh ibunya Darah segar tampak menyembur-nyembur dari lengan kanannya yang buntung.
Buntung sebatas siku.!
"Ayahhhh...?!"
"Twako..? kau...kau kenapa?"
Paman Yang Kun bergegas menyambut tubuh kakaknya yang terhuyung-huyung.
Kemudian dengan cekatan ia menotok beberapa kali di sekitar bahu dan pundak, sehingga darah yang mengucur keluar itu berhenti dengan segera.
Salah seorang dari Siang-hui houw cepat membentangkan selembar kain untuk membaringkannya di tanah.
"Kalian semua jangan terlalu dekat dengan..."
"Aduuuhh..."
Belum juga paman Yang Kun selesai berteriak untuk memperingatkan mereka, salah seorang pemikul tandu telah mengaduh dan terjerembab di samping tandunya.
"Awas racun ganas! Wanita dan anak-anak itu telah mati! Aku terlambat menyadari peringatanmu tadi. Untung aku cepat memotong lenganku ka...kalau tidak, nyawaku tentu sudah melayang mengikuti mereka."
Ayah Yang Kun yang berada di dalam pelukan adiknya itu merintih lemah karena banyak kehilangan darah.
"Jauhilah tandu itu! Cepat!"
Paman Yang Kun sekali lagi berteriak.
Tetapi terlambat sudah!
Para pemikul tandu yang lainpun satu persatu jatuh ke tanah, terkulai mati tanpa mereka menyadari apa yang telah terjadi.
Kejadian yang mengerikan itu berlangsung secara berturutturut di depan Yang Kun dengan cepatnya.
Sejak tergulingnya para wanita dan anak-anak dari tandu mereka sampai terbuntungnya lengan ayahnya lalu yang terakhir adalah meninggalnya para pemikul tandu, semua terjadi dalam sekejap mata.
Dia terpaku bagaikan sebuah patung batu.
Dia hampir tak percaya atas apa yang terjadi di depan matanya tersebut.
Tetapi begitu terpandang sekali lagi mayat ibunya, ia berteriak kaget bagai terbangun dari sebuah mimpi buruk.
"Ibuuuu...!"
Yang Kun menghambur ke arah tubuh ibunya yang tergolek di depan tandunya.
Untunglah sang paman selalu waspada.
Melihat keponakannya lari mendekati mayat ibunya, la cepat meloncat menyambar lengan si pemuda dan menariknya kembali.
Pemuda itu meronta dengan hebat tetapi pamannya juga tidak mau melepaskan pegangannya.
"Yang Kun, sadarlah! Apakah engkau ingin bunuh diri? Lihatlah! Semua mati terkena racun hanya karena mereka menyentuh tandu saja. Apakah engkau ingin menyusul mereka? Cobalah engkau berpikir dengan baik, jangan kau turutkan perasaanmu yang sedang kacau itu!"
Yang Kun tertegun mendengar perkataan pamannya tersebut.
Sama sekali ia memang tidak menduga bahwa orang-orang itu, ibunya, bibi serta adik-adiknya telah mati, apalagi mati karena terkena racun!
Tadi sore ibunya masih mengajak bicara dengan dia.
Malahan ketika dia makan malam bersama yang lain, ibunyalah yang mengambilkan nasi buat dia.
Sedangkan adik-adik sepupunya seakan juga baru saja bergurau dengan dia sebelum berangkat tidur tadi.
Perlahan-lahan Yang Kun melepaskan diri dari pegangan sang paman dan menoleh ke arah tubuh ibunya yang terbaring diam itu.
Wajah yang biarpun sudah mulai berkerut tetapi masih kelihatan cantik itu seperti tersenyum kepadanya.
Di dalam keremangan sinar bulan yang pucat tak terlihat sedikitpun bahwa tubuh itu telah menjadi mayat.
Dengan susah payah Yang Kung menahan sedu-sedan yang menyesakkan isi dadanya.
"Paman, bagaimana dengan ibuku? Siapakah orang yang telah berbuat begitu kejam?"
Ujarnya lemah setelah bisa sedikit menguasai perasaannya.
"Entahlah, nak. Aku juga belum dapat menduganya. Marilah kita periksa bersama-sama."
Orang tua itu menjadi lega melihat Yang Kun sudah dapat menguasai hatinya kembali.
Sebenarnyalah bahwa dia sendiripun tidak kalah sedihnya.
lsteri serta kedua puteranya yang masih kecil-kecil, turut pula menjadi korban di antara mereka!
Hanya karena usianya yang telah tua dan jiwanya yang telah matanglah dia bisa menguasainya.
Tetapi begitu suasana telah dapat diatasi, iapun teringat kembali kepada keluarganya sendiri.
Bagaimanapun ia adalah seorang ayah yang sangat mencintai anak-anaknya!
"Siang-hui houw!
Berilah bubuk obat luka pada lengan tuan Chin, lalu balutlah agar darahnya lekas mengering,"
Orang tua itu berusaha mengalihkan kedukaan hatinya. Lalu ia menggandeng lengan keponakannya.
"Marilah kita periksa korban-korban itu, tetapi jangan mengurangi kewaspadaan! Racun apakah yang mempunyai sifat begitu ganas?"
Mereka menyulut obor agar bisa melihat pada korban lebih jelas lagi.
Mereka tidak peduli apabila musuh menemukan tempat tersebut.
Toh korban telah berjatuhan!
Siapa tahu pihak musuh justeru telah berada di sekeliling mereka?
Maka lebih baik menghadapi musuh di tempat terang daripada harus bertempur dengan banyak lawan di tempat gelap.
Dengan sebuah ranting kayu paman Yang Kun membalikkan tubuh kakak iparnya serta yang lain-lainnya.
Semuanya telah mati!
Mati dalam keadaan yang aneh!
Wajah dari pada para korban itu berwarna kehijau-hijauan dan semuanya dalam keadaan tersenyum simpul sehingga dilihat sepintas lalu mayat-mayat itu seperti masih bernyawa.
Tentu saja hal itu membuat Yang Kun serta pamannya tadi tertegun keheranan.
Untuk sekejap Yang Kun seperti hampir tidak bisa mengendalikan perasaannya kembali, tetapi sebuah tepukan halus sang paman di pundaknya memperkuat hatinya lagi.
"Racun apakah itu, paman? Kenapa mempunyai pengaruh sedemikian anehnya? Dan...siapakah menurut pendapat paman yang melakukannya?"
Orang tua itu tidak segera menjawab.
Dengan tajam matanya menebar ke sekeliling tempat itu kemudian menunduk lagi ke arah mayat-mayat itu dengan ragu-ragu.Ada sedikit tersimpul perasaan kuatir dan ngeri pada mukanya.
"Paman menemukan sesuatu?"
Yang Kun bertanya. Pamannya tidak menjawab, tetapi orang tua itu justru berdiri tegak dengan kepala tengadah Tangannya siap di atas gagang golok yang tergantung pada pinggangnya.
"Jika saudara masih berada di sini, silahkan keluar untuk menemui kami,"
Orang tua itu pun berkata perlahan.
Tetapi karena didorong oleh khi-kang yang tinggi, suaranya berkumandang jelas.
Menembus rimbunnya daun-daun di sekitar tempat tersebut.
Beberapa saat telah berlalu, tetapi tak seorang yang muncul atau menjawab perkataannya.
Yang Kun menjadi tegang melihat sikap pamannya, Agaknya sang paman itu mengira bahwa musuh masih berada di sekitar tempat itu.
Beberapa kali orang tua itu mengulangi tantangannya, tapi suasana tetap sepi, sehingga Siang-hui-houw yang berdiri tegang di samping ayah Yang Kun yang terluka menjadi tidak sabar pula.
Tetapi sebelum keduanya turut ambil suara, pamannya, Yang Kun sudah duduk kembali.
"Agaknya mereka telah meninggalkan tempat ini,"
Katanya.
"Siapakah mereka paman? Kenapa mereka tidak menampakkan diri jika mereka memang sedang mencari kita?"
Yang Kun bertanya.
"Adik Kong, apakah ada orang di sekitar kita ini?"
Ayah Yang Kun yang masih terbaring itu juga bertanya lemah.
"Tidak Twako, adikmu hanya menduga-duga saja. Mungkin orang yang meracuni para wanita dan anak-anak itu masih berada di sekitar tempat ini. Ternyata tidak. Melihat keadaan para korban itu, agaknya mereka telah meninggal pada waktu sore sebelum kita sampai di sini kemarin. Hanya karena keteledoran kitalah sampai hal tersebut tidak kita ketahui sejak semula. Mungkin pihak lawan bergerak tanpa kita ketahui pada saat para wanita dan anak-anak itu berangkat tidur."
"Ya... benar! Seharusnya aku sudah curiga pada keadaan kakak iparmu ketika dia diam saja melihat aku berbantah dengan Yang Kun tadi. Dia selalu menegur atau menyabarkan aku apabila aku sedang marah."
"Lalu siapakah menurut pendapat paman musuh yang berbuat sekeji ini? Kenapa mereka cuma membunuh keluarga kita saja? Kenapa tidak kita para laki-laki ini sekalian, jikalau mereka itu memang ingin membunuhi kita semua?"
Yang Kun menyela dengan tidak sabar.
"Hal ini..."
"Hai! Nyonya besar ini seperti menggenggam sesuatu!"
Kakek tua pengasuh Yang Kun yang turut meneliti sejak tadi tiba-tiba berseru kaget.
Yang Kun beserta pamannya cepat mengikuti arah telunjuk kakek tua itu.
Tampak oleh mereka telapak tangan kanan ibu pemuda itu menggenggam secarik kertas kecil.
Dengan hati-hati paman Yang Kun menotok pergelangan tangan mayat itu agak keras, sehingga untuk sesaat jari-jari itu mengembang.
Tapi yang sesaat itu sudah cukup bagi orang tua itu untuk menggerakkan ranting yang ia pakai untuk menotok tadi secara kilat mengambil kertas tersebut.
Dengan hati tegang tapi tanpa mengurangi kewaspadaan, paman Yang Kun membentangkan gulungan kertas tersebut dengan ranting yang dibawanya diatas tanah.
Semua orang yang tinggal yaitu paman Yang Kun, Yang Kun dan kakek pengasuhnya serta Siang-hui-houw yang menggandeng tuan Chin, berkumpul mengelilingi.
Ternyata kertas itu hanya berisi beberapa huruf saja.
Tanpa alamat maupun nama si pengirim dan isinya merupakan sebuah peringatan .
"Turunlah kalian dari bukit ini kearah sungai, kemudian, berbeloklah ke arah kanan melalui jalan setapak di tepi sungai itu sejauh satu lie! Di sana akan kalian dapati sebuah gubuk kecil beratapkan daun ilalang dan... tinggalkan BENDA itu disana! Jika kalian membangkang seperti keluarga kalian, inilah akibatnya!"
Tulisan tersebut ditulis dengan huruf yang pencang-penceng, menandakan bahwa penulisnya adalah seorang yang tidak begitu mahir di dalam hal kesusasteraan.
"Kurang ajar! Pengecut yang hanya dapat membokong orang dengan racun!"
Yang Kun memaki dengan marah.
"Keluarlah dan hadapi kami secara jantan!"
Pemuda itu bertolak pinggang sambil memandang dengan mata melotot ke segala penjuru.
Hatinya yang pepat dan sedih karena kematian ibunya yang sangat ia cintai itu membuat dia ingin mengamuk serta menghadapi semua musuh keluarganya.
Tetapi seperti yang terjadi pada beberapa saat yang lalu, tak seorangpun yang menjawab tantangannya, apalagi keluar menemui dia.
"Yang Kun, sudahlah! Tak ada gunanya engkau marahmarah dengan seseorang yang sudah pergi. Marilah urus jenazah ibu serta bibimu. Siang-hui-houw, lekaslah kalian membuat liang untuk mengubur mereka!"
Tanpa mengeluarkan perkataan sepatahpun Yang Kun ikut mengubur ibu serta keluarganya yang lain.
Ia sudah tidak menangis lagi, tetapi ada terjadi sesuatu perubahan pada raut wajah serta sinar matanya apabila dibandingkan dengan beberapa saat yang lalu.
Tampangnya yang semula kelihatan bersinar, mencerminkan hati yang keras, namun tenang itu kini berubah menjadi pucat dingin menakutkan!
Sinar matanya yang semula bening penuh rasa belas kasih itu kini berubah menjadi ganas dan mengandung sinar dendam yang tiada tara!
"Paman,"
Katanya kaku setelah semua upacara penguburan itu selesai.
"Siapakah sebenarnya musuh kita? Siapakah orang yang meracuni keluarga kita ini? Siapakah yang mengeroyok dan membunuh paman bungsu? Kenapa kita tidak menghadapinya saja secara jantan? Benda apakah yang mereka kehendaki itu? Kenapa aku agaknya tidak boleh mengetahui? Aku kini benar-benar sangat penasaran paman? Kalau selama ini aku selalu menurut serta mengikuti kehendak ayah dan paman di dalam perjalanan ini hanyalah disebabkan oleh rasa segan dan hormatku kepada ibu. Sekarang ibu sudah tidak ada lagi, maka aku juga tidak mengikuti perjalanan ini. Aku akan pergi mencari orang-orang yang mengeroyok paman bungsu dan yang meracuni ibuku!"
Pemuda itu diam sebentar menanti reaksi ayah dan pamannya, tetapi ketika kedua orang tua itu juga diam saja, tidak berusaha untuk menanggapi perkataannya, pemuda itu segera beranjak untuk pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Baiklah! Agaknya aku memang harus mencari langsung kepada para pembunuh itu!"
Katanya tegas.
Tentu saja ayah serta pamannya menjadi kelabakan.
Keluarga Chin tinggal mereka bertiga saja, itupun salah seorang di antaranya telah cacat, sehingga hanya pada si pemuda itulah tumpuan harapan mereka.
"Yang Kun, tunggu!"
Ayahnya berseru, tetapi agaknya pemuda itu sudah tidak bisa ditahan lagi, sudah bulat maksudnya untuk mencari musuh-musuhnya.
"Siang-hui houw! Tahan anak itu!"
Akhirnya orang tua itu memberi perintah kepada pengawal kepercayaannya.
Bagai terbang cepatnya kedua harimau itu meluncur ke hadapan si pemuda.
Gesit bukan main.
Tak heran, kalau mereka mendapat julukan seperti itu!
"Tuan muda, harap berhenti dahulu!
Ayahmu ingin berbicara sebentar!"
Mereka berseru sambil menjura di depan Yang Kun.
Kedua orang itu berdiri berjajar berdampingan, menutupi jalan yang akan dilalui oleh pemuda itu.
Tetapi Yang Kun sudah tidak mau lagi untuk berhenti, apalagi kembali kehadapan ayahnya.
Dengan mengerahkan tenaga ia terus menerjang ke depan, mendorong kedua harimau itu ke samping.
la mengerahkan lebih dari separuh kekuatannya karena ia maklum bahwa kedua orang kepercayaan ayahnya itu mempunyai kepandaian yang tidak lebih rendah daripada dirinya, apalagi ilmu silat gabungan mereka.
Melihat tuan muda mereka tidak mau berhenti tapi malahan menyerang mereka berdua, kedua orang itu juga tidak mau menyingkir untuk memberi jalan.
Setelah saling memberi isyarat, keduanya mengulurkan kedua belah lengan mereka untuk memapak ke depan, sehingga ketiga pasang lengan itu bertemu di udara, menimbulkan suara berdentam yang hebat.
Yang Kun terdorong ke belakang beberapa langkah sementara kedua harimau itupun tergempur kuda-kuda mereka.
Agaknya kedua orang pengawal kepercayaan ayahnya tersebut juga tidak mau mengeluarkan seluruh tenaga mereka.
"Yang Kun! Jangan pergi!"
Sekali lagi ayahnya berteriak.
Tapi pemuda itu sudah tidak peduli lagi.
Sudah bulat benar tekadnya untuk mencari para pembunuh keluarganya.
Dikerahkan seluruh tenaga dalamnya dan bersiap-siap untuk menerjang kembali.
Kali ini dengan seluruh kekuatannya!
"Harap paman berdua menyingkir dan jangan halangi aku!
Atau aku akan terpaksa mengadu nyawa dengan paman berdua!"
Geram pemuda yang sedang diliputi dendam itu kepada Siang hui-houw.
Buku buku tangannya gemeretak dengan keras saking kuatnya ia mengepalkan jari-jari tangan yang telah disaluri oleh tenaga dalamnya yang hebat.
"Yang Kun...kau...kau kembalilah!"
Ayahnya tertatih-tatih menghampiri sambil mendekap sebelah lengannya yang buntung.
"Yang Kun!!"
Paman pemuda itupun akhirnya ikut campur pula. Tubuhnya yang kokoh kuat itu melesat ke hadapan Yang Kun, seperti burung walet menukik ke atas batu karang.
"Kau tidak boleh gegabah menurutkan isi hatimu tanpa mempergunakan akal pikiran yang sehat! kau mengira mereka hanyalah para penjahat kecil yang mudah ditundukkan dengan satu dua pukulan?"
"Begitukah?"
Yang Kun mundur selangkah, tetapi bukan mau mengurungkan maksudnya untuk pergi dari tempat itu!
Dengan tangkas tangannya mencabut golok pusaka, tapi bukan untuk menghadapi sang paman yang terkejut melihat perbuatannya tersebut, tetapi justru ditempelkan pada lehernya sendiri.
"Maaf. Paman! Kali ini keponakanmu terpaksa tidak mau menuruti nasehatmu! Sudah bulat kemauanku untuk pergi mencari mereka, apapun yang akan terjadi. Lebih baik aku mati sekarang juga apabila paman tetap memaksa aku untuk mengurungkannya! Aku... Berhenti!!"
Tiba-tiba pemuda itu berteriak keras ketika dilihatnya sang paman mau melangkah ke depan.
Mata golok yang menempel di lehernya sedikit ia tekan sehingga tiba-tiba darah merembes keluar membasahi golok yang putih mengkilap itu!
"Kong-te (adik Kong)!
Jangan..."
Ayah Yang Kun berteriak ke arah adiknya. Bagaimanapun juga ayah Yang Kun tak ingin putera satu-satunya tersebut mati membunuh diri karena dipaksa untuk mengurungkan niatnya! "Biarlah ia pergi!"
"Tapi itu juga sama dengan membunuh diri."
"Biarlah! Biarlah nasib yang akan menentukannya! Kalau toh ia akan mati di tangan musuh, itupun lebih baik dari pada ia mati membunuh diri di sini."
Yang Kun mengangguk kaku ke arah ayahnya, pelan pelan ia bergeser surut serta melepaskan mata golok dari lehernya.
Tampak luka yang memanjang dan agak lebar, melintang pada lehernya!
Darah segar makin deras merembes keluar sehingga membasahi baju yang menempel di dadanya.
Lalu sekali ia menghentakkan kakinya ke atas tanah, tubuhnya melesat turun dari bukit itu dengan cepat sekali!
"Tuan Mudaaaaaa...,"
Kakek pengasuhnya yang tua itu berseru, tapi si pemuda telah lenyap masuk hutan.
* * * Fajar telah menyingsing.
Di ufuk timur matahari memancarkan sinarnya yang hangat dan berwarna kemerahmerahan.
Sinarnya menerobos rimbunnya daun dan ranting yang berselimutkan kabut tebal, seakan ingin menjenguk setiap lorong yang gelap dan tersembunyi di dalam hutan itu.
Sehingga terciptalah pemandangan yang sangat indah mempesonakan!
Sinar hangat yang menerobos di sela-sela daun tersebut terlihat seperti ber puluh puluh sinar lampu yang menyorot di tempat gelap, menciptakan garis-garis lurus yang menerjang pekatnya kabut serta tetesan-tetesan air embun yang berjatuhan dari atas.
Cahaya gemerlapan di antara kepulan asap tipis yang berwarna-warni itu membuat isi hutan itu bagaikan sebuah taman dewata!
Tetapi suasana pagi yang indah segar itu ternyata tidak menarik sama sekali bagi Yang Kun, pada saat itu ia lebih suka merenung sambil berjalan di jalan setapak yang membujur di sepanjang sungai besar itu.
Setiap kali matanya dengan liar mengawasi keadaan di sekitarnya, seakan mencari sesuatu di antara bongkahan batu dan daun ilalang yang memadati tepian sungai itu.
"Dalam surat itu dikatakan bahwa aku harus melalui jalan setapak ini untuk mencapai gubug yang mereka maksudkan,"
Pemuda itu bergumam di antara langkahnya.
"...Dan pembunuh-pembunuh itu tentu telah menanti di sana. Tapi aku tidak takut!"
Pemuda itu menjadi tegang begitu terlihat sebuah gubug kecil di kelokan sungai.
Gubug yang dibangun di pinggir sungai dengan atap daun ilalang serta dinding dari papan.
Dari jauh tempak sepi dan tak terawat.
Beberapa bagian dari atapnya telah hilang, begitu pula dindingnya.
Yang Kun melangkah mendekat dengan hati-hati.
la tahu bahwa pembunuh-pembunuh itu bukan orang sembarangan, maka ia benar-benar mengerahkan seluruh kepandaian yang ia miliki agar tidak terjatuh di tangan mereka.
Beberapa langkah dari bangunan tersebut ia berhenti lalu meloloskan golok pusaka pemberian paman bungsunya.
"Aku datang mewakili seluruh keluarga Chin. Nah, cepatlah kalian keluar menemui aku!"
Katanya lantang.
Suaranya nyaring menggetarkan udara pagi karena ditunjang oleh tenaga dalam yang kuat, sehingga mengejutkan beberapa ekor burung yang pada saat itu sedang sibuk mencari makan di tempat itu.
Karena beberapa kali pemuda itu berseru tidak seorangpun menjawab, maka dengan nekad ia masuk ke dalam bangunan rusak tersebut, la tidak memperdulikan lagi apakah musuh memasang jebakan atau tidak di dalamnya.
Dengan golok yang selalu siap di depan dada ia menendang daun pintu sehingga ambruk.
Matanya nanar mencari ke segala sudut, di manakah gerangan musuhnya itu berada.
Yang Kun melihat sebuah bayangan berkelebat di kamar sebelah.
"Berhenti!"
Sambil berteriak pemuda itu mengayunkan tanganya.
Tiga buah peluru dari baja berbentuk bulat meluncur menghantam ke arah bayangan itu.
Satu menuju ke arah kepala, sedangkan yang dua lagi menyerang ke arah pinggang.
Tampak olehnya bayangan itu meliukkan tubuh dengan amat manis untuk menghindari serangannya, tetapi oleh karena tidak disokong dengan tenaga yarg kuat ternyata gerakan menghindar dari bayangan itu tidak secepat peluru-peluru yang datang!
Terdengar suara mengeluh pelahan ketika dua di antara ketiga peluru tersebut menyerempet pinggang orang itu.
Bayangan itu jatuh menggelepar di atas lantai dan sebelum ia tegak kembali, Yang Kun telah memburunya dengan golok terhunus!
Pemuda itu tidak mau kehilangan waktu atau kesempatan karena ia tahu bahwa musuhnya sangat banyak serta berkepandaian tinggi pula.
Sebelum ia sendiri jatuh ia harus telah membunuh lawan sebanyak-banyaknya!
Goloknya berkelebat ke bawah dalam jurus Menatap Lantai Menyembah Raja, jurus ke sebelas dari ilmu silat keluarga Chin yang hebat!
Dalam keadaan terbanting tentu saja sangat sukar bagi orang itu untuk mengelakkannya.
Tetapi sekali lagi Yang Kun dibuat kagum oleh gerakan Iawan yang tampak olehnya kaki orang itu bergantian menjejak lantai seperti layaknya kaki seekor angsa berenang dan tubuh yang sedang terlentang itu bergeser ke samping dengan manisnya.
Lalu bersamaan dengan jatuhnya golok yang menghantam lantai, orang itu telah meloncat berdiri kembali.
Tetapi Yang Kun menjadi heran ketika orang itu seperti tidak bisa menguasai gerakan tubuhnya dengan baik.
Orang itu seperti seorang yang menguasai ilmu silat tinggi tetapi tidak mempunyai tenaga yang cukup untuk mengatur gerakannya!
Loncatan orang itu seperti kekurangan tenaga, sehingga biarpun bisa berdiri kembali tetapi tubuhnya tampak bergoyang-goyang mau jatuh.
"Hmm, mungkin ia sudah terluka peluru bajaku tadi."
Pikir Yang Kun "...Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini!"
Maka pemuda itu cepat membalik dan menyerang kembali dengan lebih ganas.
Jurus-jurus sakti dari ilmu silat keluarganya yang jarang terlihat di dunia dunia persilatan ia keluarkan dengan sangat bernafsu.
Goloknya berkelebat seperti sinar perak yang menyambar di sekeliling lawannya.
Tapi lagi-lagi pemuda itu dikejutkan oleh gaya dan gerak-gerik lawan yang aneh dan membingungkan!
Orang itu tampak kerepotan serta kalang kabut melayani gempuran Yang Kun yang hebat.
Apalagi kelihatannya orang itu tidak berani menangkisnya ataupun adu tenaga dengan si pemuda.
Kalau toh sesekali tangan mereka saling bersentuhan, tampak orang itu seperti terpelanting menahan sakit.
Tapi oleh karena orang itu mempunyai ilmu silat yang yang aneh serta menakjubkan, maka biarpun telah berapa kali ujung golok Yang Kun melukai kulitnya, orang itu masih selalu bisa menyelamatkan diri, sehingga tentu saja membuat si pemuda makin penasaran!
belasan jurus telah berlalu dan Yang Kun semakin terheranheran dalam menghadapi lawannya.
Ternyata perkelahian antara mereka itu benar-benar suatu pertempuran yang sangat aneh!
Jika dibuat perbandingan, sebenarnya orang itu mempunyai ilmu silat yang hebat serta lebih tinggi dari daripada ilmu silatnya.
Tetapi anehnya, ilmu silat yang hebat itu ternyata tidak disertai atau ditunjang oleh Iweekang yang hebat pula, sehingga seperti seekor singa ompong saja, perbawanya sangat menakutkan tapi ternyata tidak berbahaya sama sekali!
Beberapa kali orang itu berada diatas angin, tetapi karena keadaannya itu tentu saja kemenangan tersebut tidak ada gunanya!
Beberapa kali pukulannya mengenai Yang Kun, tetapi tidak ada pengaruhnya sama sekali.
Justeru dia sendiri yang terpelanting karena pengaruh tenaga dalam si pemuda.
Malahan orang sendirilah yang akhirnya menjadi repot dan kewalahan menahan serangan Yang Kun!
Pakaian yang dikenakannya telah hancur compang camping, tubuhnya telah arang keranjang penuh luka pula.
Untunglah luka tersebut cuma luka diatas kulit saja, karena dengan ilmu silatnya yang tinggi, pukulan maupun goresan golok Yang Kun tidak pernah dengan telak mengenai tubuhnya.
Tetapi hal itu tentu saja tidak akan bertahan lama, lama kelamaan akhirnya dia akan lengah juga.
Dan keadaan ini tampaknya disadari oleh Yang Kun, maka pemuda itu semakin bernafsu untuk segera menyelesaikan pertempuran tersebut, sebelum yang lainnya datang.
Yang kun menyerang semakin hebat, ia sudah tidak memperdulikan pertahanan dirinya lagi, toh pukulan lawan tak membahayakan tubuhnya.
Tentu saja orang itu semakin repot dan terpojok.
Ketika untuk kesekian kalinya si pemuda mengayunkan goloknya mendatar dalam jurus panglima yi po mengatur barisan, yaitu jurus tujuh belas dari ilmu silat keluarganya.
Lawannya sudah tidak mungkin bisa mengelak lagi!
Sabetan mendatar kearah kaki selagi lawan meloncat turun itu benarbenar sangat sukar untuk dielakkan, jalan satu-satunya yang terbaik hanyalah menangkis atau mengadu tenaga!
Padahal itu terang tidak mungkin sebab selain orang itu tidak bersenjata tenaga dalamnya pun sangat lemah sekali.
Maka untuk kali ini orang tersebut tentu akan termakan oleh jurus yang kun yang hebat itu.
Tetapi Yang kun menjadi melongo ketika goloknya yang hampir menebas kaki lawannya itu tiba-tiba menemui tempat kosong!
Ternyata di dalam keadaan terpepet, yang bagi orang lain tentu sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain mengadu jiwa itu ternyata tidak berlaku buat orang aneh seperti lawan si pemuda tersebut.
Orang itu menekuk kakinya keatas, lalu menggeliatkan badannya sehingga sepintas lalu seperti orang yang terlentang di udara.
Dengan gerakannya tersebut berarti untuk waktu sedetik orang itu seperti menunda daya luncur tubuhnya!
Tetapi waktu yang cuma satu detik itu ternyata telah menyelamatkan nyawanya dari tebasan golok si pemuda!
Maka sekali lagi orang itu membuktikan betapa hebat sebenarnya ilmu silatnya.
Hanya sekejap saja Yang Kun dibuat terpana oleh gerakan lawan yang manis itu, tetapi ketika tubuh lawannya berdentum jatuh kesampingnya ia tersadar kembali.
Dan ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu!
Tetapi karena tak sempat lagi untuk mempergunakan goloknya, Yang Kun menghantamkan siku tangan kanannya yang memegang golok ke bawah ke arah ulu hati!
Orang itu berusaha menghindar tetapi sudah tidak keburu lagi, ia cuma bisa menggeser sedikit arah serangan si pemuda.
"Dukkk!!"
Siku tangan Yang Kun tidak jadi mengenai ulu hati tetapi justru tepat mengenai jalan darah Ang-lu-hiat di dekat pundak, akibatnya separuh badan orang itu menjadi lumpuh!
Dengan gembira Yang Kun menyusuli serangannya dengan sabetan golok ke arah leher lawan yang sudah tidak berdaya lagi.
Tetapi sekali lagi mata si pemuda menjadi melotot!
Goloknya menghantam lantai dan...orang itu telah berdiri dengan kaki sebelah didepannya.
Kaki serta tangan kanannya yang lumpuh itu tampak bergantung disamping tubuhnya.
Anehnya, orang itu berdiri dalam sikap tempur dan sikap kuda-kuda yang sangat aneh!
Hati Yang Kun mulai tergetar!
Agaknya ia bertempur dengan hantu, bukan dengan manusia biasa!
Ketika orang itu meloncat ke belakang, Yang Kun memburu lagi dengan goloknya sehingga pertempuran yang aneh itu berlangsung lagi dengan serunya!
Dan sebuah ilmu silat yang aneh dan belum pernah dilihat oleh Yang Kun kembali diperagakan oleh orang itu di depannya.
Separuh dari anggota badannya yang lumpuh itu ternyata sedikitpun tidak menghalang-halangi gerakannya.
Gerakan tubuhnya masih tetap aneh dan luwes!
Kaki dan tangannya yang lumpuh tampak bergelantungan ke sana ke mari apabila sedang bergerak, tetapi sedikitpun tidak tampak jelek atau kaku.
Justru sepintas lalu bagaikan sebuah alat untuk keseimbangan gerak dari anggota tubuhnya yang normal.
Dan yang membuat Yang Kun penasaran adalah bahwa ternyata kelumpuhan orang itu menjadi berkurang!
Orang tersebut masih tetap sangat sukar ditundukkan!
Sambil bertempur Yang Kun berpikir dengan keras, jalan apakah yang harus ia kerjakan agar supaya lawan cepat bisa ia tundukkan.
Tiba-tiba ia teringat peluru bajanya!
Pada serangannya yang pertama tadi ternyata mampu melukai lawannya, kenapa sekarang tidak ia coba lagi?
Maka tangan kirinya merogoh kantong dan mempersiapkan tiga buah peluru.
Begitu orang tersebut meloncat ke kiri untuk menghindari sabetan goloknya, Yang Kun memapakinya dengan taburan peluru bajanya.
Orang itu berusaha mengelak tetapi karena kurang gesit sebuah di antaranya tetap masih mengenai tengkuknya!
Tubuh lawan yang tinggi besar itu jatuh berdebam ke lantai dalam keadaan pingsan.
Agaknya peluru si pemuda tepat mengenai jalan darah terpenting di sekitar tulang punggungnya.
Yang Kun sekali lagi mengayunkan goloknya untuk menabas leher lawannya.
Tetapi belum ada separuh gerakan tiba-tiba ia berubah pikiran!
Sekian lama mereka berdua bertempur, kenapa yang lain tidak juga keluar?
Mungkinkah lawan yang datang kali ini cuma seorang ini saja?
Mungkinkah pihak lawan sudah percaya sepenuhnya bahwa orang ini tentu akan dapat membereskan segalanya?
Apabila demikian halnya orang ini tentu merupakan orang penting di dalam kelompok penjahat-penjahat yang memusuhi keluarganya!
Maka goloknya yang hampir menebas leher itu ia hentikan dengan mendadak, hanya satu dim saja dari sasarannya!
Ia tidak ingin membunuh orang itu sekarang, lebih baik ia membawa orang ini kehadapan ayah dan pamannya untuk mengorek keterangan dari mulutnya mengenai kawankawannya yang lain.
Dengan kakinya Yang Kun membalikkan tubuh lawan yang tertelungkup di atas lantai dan di pandanginya dengan seksama wajah yang tampan gagah itu untuk beberapa lama.
Ia benar-benar tidak menyangka bahwa lawannya begini gagah dan tampan, biarpun dilihat dari garis-garis wajahnya umurnya tentu telah lebih dari pada tiga puluh tahun.
Walaupun belum setua mendiang paman bungsunya yang berusia tiga puluh tahun itu.
Sambil mengeluarkan gulungan tali Yang Kun mengkerotokan giginya kuat-kuat.
Bagaimana pun juga orang ini adalah salah satu dari para pembunuh keluarganya, ia tidak sudi memberi ampun apalagi memanggul atau menggendong orang itu ke hadapan ayahnya.
Maka setelah menotok di beberapa tempat, dengan kasar ia mengikat tubuh orang itu serta menyeretnya begitu saja di atas tanah!
Kembali ke arah huma, melalui jalan setapak yang dilaluinya tadi.
Jalan yang berbatu-batu dan banyak akar-akar yang menonjol itu membuat orang itu siuman dari pingsannya, tetapi oleh karena badannya terikat dengan kuat, apalagi jalan darahnya telah ditotok di beberapa tempat, maka sedikitpun ia tidak bisa berkutik.
Pakaian yang dikenakannya semakin menjadi compang-camping tersangkut akar-akar pohon.
Tempat dimana keluarganya berkemah semalam kini telah kosong.
Ayah dan pamannya telah meninggalkan tempat itu.
Disana tinggal bekas-bekasnya saja, yaitu tandu-tandu beracun serta gundukan tanah dimana ibu dan bibinya dikuburkan.
Melihat kuburan itu hati Yang Kun seperti menyala kembali.
Disentakkannya tali yang mengikat tawanannya dengan keras sehingga orang itu terlempar menabrak pohon.
Hampir saja pemuda itu membunuhnya, untunglah ia teringat bahwa orang tersebut sangat berguna bagi penyelidikannya.
Matahari sudah naik semakin tinggi.
Sinarnya yang panas telah mulai menyengat punggung.
Yang Kun menyeret kembali tawanannya turun ke arah lereng yang lain.
Ia teringat bahwa ayah beserta pamannya bermaksud menuju ke Kota Tie-Kwan untuk menghindari kejaran para musuhnya.
Semakin mendekati kaki bukit pohon-pohon pun semakin jarang.
Dan begitu keduanya keluar dari hutan, ternyata tanah datar yang ditumbuhi perdu serta ilalang telah membentang di hadapan mereka.
Yang kun menyeret tawanannya ke tanah yang agak tinggi untuk melepaskan lelah sejenak.
Ia tidak peduli atas penderitaan tawanannya yang ia seret di sepanjang jalan tadi.
Kira-kira satu Lie dari tempat mereka beristirahat, Yang Kun melihat sepetak rumah dengan genting merah, terpencil sendirian di tengah-tengah padang yang luas tersebut.
Agaknya dihuni oleh seorang pencari kayu hutan atau seorang pemburu yang senang menyendiri di tempat sepi.
"Ayoh berangkat!"
Yang Kun untuk pertama kali sejak mereka berkelahi mengajak bicara dengan lawannya, biarpun sebenarnya lebih tepat dikatakan sebagai bentakan dari pada ajakan untuk bicara.
Dendam yang berkobar-kobar di dalam dadanya agaknya membuat dia tak sudi berbicara sedikitpun dengan musuhnya.
Sebaliknya musuhnya itu ternyata juga seorang yang tidak banyak bicara.
Hal ini terbukti bahwa sejak mereka bertempur sehingga ia diseret dan ditawan oleh si pemuda, sedikitpun ia tidak mengeluh maupun berbicara, apa lagi mengeluarkan perkataan yang panjang lebar.
Pintu depan rumah itu tertutup rapat.
Yang Kun mengetuknya beberapa kali, lalu berdiri menanti.
Matanya mengawasi halaman rumah bersih dan terawat rapi itu.
Pemilik rumah itu tentu seorang yang rajin dan suka akan kebersihan, pikirnya.
Dia akan menanyakan apakah rombongan ayahnya tadi lewat di tempat ini atau tidak.
Ataukah mereka justru masih berada di tempat ini?
Tetapi pintu itu tidak juga dibuka orang.
Di dalam rumah tetap sepi, sedikitpun tidak terdengar gerakan manusia.
Pemuda itu menjadi berdebar-debar.
Hatinya merasakan adanya sesuatu yang aneh dan tidak wajar.
Maka dengan waspada dan hati-hati ia mendorong pintu itu pelan-pelan sehingga terbuka.
Tiba-tiba matanya terbelalak, mulutnya ternganga...
Di halaman depan ia melihat beberapa buah mayat menggeletak dengan darah yang membeku berceceran dimana-mana.
Berbagai macam senjata pedang, golok, tombak, tampak berserakan pula diantara mereka.
Agaknya telah terjadi pertempuran sengit di tempat ini beberapa saat yang lalu.
Tetapi semua itu sebenarnya belum begitu mengagetkan Yang Kun!
Yang membikin mata pemuda itu terbelalak diatas tangga pendapa rumah, karena mayat itu adalah mayat...
Siang-hui-houw!
Dada serta punggung mereka tampak hangus, sedangkan pakaian mereka tampak seperti habis dimakan api.
Yang Kun berlari meninggalkan tawanannya.
Matanya nanar mencari ayah dan pamannya diantara mayat-mayat itu.
Hatinya sedikit lega ketika tubuh mereka tidak terdapat diantara gelimpangan mayat tersebut.
Tetapi hatinya belum lega.
Mungkin mereka berada di dalam rumah!
Bagaikan dikejar setan pemuda itu berlari meloncati tangga dan masuk ke dalam rumah.
Disana ada beberapa sosok mayat lagi.
Mayat wanita dan anak-anak!
Agaknya mereka korban kebiadaban dari orang-orang yang saling bertempur ini.
Pemuda itu berlari ke ruangan samping.
Di mana dari sana terdapat lorong menuju ke belakang.
Jantungnya yang bergemuruh seperti berhenti berdetak secara tiba-tiba ketika dilihatnya mayat pamannya yang ia hormati itu tertelungkup di atas lantai lorong tersebut.
Darah kental mengalir membasahi lantai di sekitarnya.
Sekejap Yang Kun hanya berjongkok saja di samping mayat pamannya, tak tahu apa yang harus ia kerjakan.
Lalu dengan beralaskan selembar saputangan ia membalik tubuh sang paman hingga telentang.
Tapi untuk yang kedua kalinya ia menjadi terkejut sekali ketika melihat wajah pamannya tersebut telah remuk dan tidak dapat dikenali lagi.
Ususnya telah terburai keluar!
Betapa mengerikan!
Mungkin kalau pada saat itu ada musuh yang menyerangnya, sedikitpun pemuda itu tentu tidak dapat mengerakkan kaki tangannya untuk membela diri lagi.
Otot dan urat-urat di tubuhnya seperti lumpuh dan tak berdaya sama sekali.
Peristiwa itu seperti menggoncang dan merontokkan segala kekuatannya.
Baru setelah ingat akan ayahnya, pemuda itu seperti tersadar dari keadaannya.
Bagai terbang ia meninggalkan tempat itu untuk mencari sang ayah.
Ia menerobos halaman tengah, menuju ke arah kamar-kamar yang berderet-deret di samping.
Hatinya semakin rusuh ketika ia melihat ceceran darah menuju ke halaman belakang.
Sambil lewat Yang Kun menjenguk setiap kamar dengan hati penuh was-was.
Pintu yang menghubungkan ruangan tengah dan ruangan belakang ia tendang sehingga jebol dan...
sesuatu yang sangat dikhawatirkannya sejak semula ternyata kini benarbenar terjadi.
Ayahnya tampak terkulai berlumuran darah, bersandar di tiang pendapa belakang.
Beberapa buah luka tampak menganga pada tubuhnya!
"Ayahhhhhhh...!"
Yang Kun berteriak memilukan.
Betapapun tidak sukanya dia kepada orang tua itu tetapi toh ia tetap ayahnya, yang mengasuh dan membesarkan dia selama ini.
Pemuda itu menubruk mayat ayahnya tanpa menghiraukan apakah tubuh ayahnya beracun atau tidak.
Dipeluknya dada yang bidang tapi penuh berlumuran darah itu dengan erat, sehingga muka serta bajunya yang semula telah kotor oleh darahnya sendiri ketika ia akan membunuh diri itu kini semakin kotor oleh lepotan darah sang ayah.
Tiba-tiba telinga Yang Kun yang menempel di dada sang ayah itu seperti mendengar suatu gerakan yang lemah pada tubuh yang dipeluknya itu.
Sepercik harapan tumbuh di dada Yang Kun.
maka diguncangnya tubuh itu dengan bersemangat.
"Ayah! Ayah! Lihatlah anakmu telah datang! Lihatlah!"
Tetapi tubuh itu tetap diam tak bergerak, sehingga pemuda itu semakin penasaran dan mengguncangnya terlebih keras.
Baru setelah pemuda itu berhenti karena telah putus harapan, mayat itu tampak dengan susah payah membuka matanya.
Girang bukan main hati Yang Kun malihat hal itu.
"Ayah! Ayah, inilah aku! Anakmu Yang Kun yang datang!"
Katanya penuh semangat. Mata ayahnya yang redup itu tampak mengecil, seperti biasanya kalau dia selama ini berusaha mengingat-ingat sesuatu. Lalu mata itu tampak bersinar sekejap.
"...Yang...Kun... Anakku. Ya, Tuhan...Engkau benar... benar... bermurah hati. Kau kirim... anak...ku kemari... te...pat pada waktunya..."
Bibir yang pucat dan berlepotan darah itu menggumam menyebut nama Tuhan. Yang Kun menggenggam lengan ayahnya yang tinggal sebuah itu dengan erat, seakan mau membantu memberi kekuatan kepada ayahnya.
"Kuatkanlah sedikit, ayah! Akan kubawa ke kota untuk mencari tabib. Biarlah luka-luka ini mendapat pengobatan..."
Tetapi kepala itu menggeleng dengan keras.
"Ti...dak perlu, Nak! Sudah tak ada guna lagi... Aku sudah merasa... bahwa hari kematianku telah tiba...kau dekatkan telingamu kesini. Akan kuceritakan tentang masalah besar kepadamu... Su...dah tiba masanya engkau... engkau mengetahuinya pula. Hanya engkaulah satu-satunya keturunan keluarga Chin yang... yang masih hidup!"
Dengan tersendat-sendat orang tua itu berkata.
Bukan main pedihnya perasaan pemuda itu.
Bagaimanapun bengis dan keras sang ayah itu padanya, tetapi menghadapi saat-saat terakhir orang yang selama ini selalu mengasuhnya, batinnya merasa pilu juga!
"Sudahlah, yah...!
Anakmu sudah tidak ingin mengganggumu lagi mengenai urusan itu.
Maafkan aku kalau selama ini selalu membuatmu marah...,"
Yang Kun memotong perkataan ayahnya dengan mata berkaca-kaca. Tetapi tangan orang tua itu justru mencengkeram tangan anaknya dengan kuat, alisnya tampak berkerut.
"Tidak... tidak! Yang Kun... Kini justru engkau... engkau harus... mengetahuinya! Engkau tidak boleh lari dari masalah ini...! Justru engkaulah...orang satu-satunya yang...yang harus meneruskan cita-cita ini... nah... oleh karena itu cepatlah... tempelkan telingamu kesini... ayah akan bercerita sedapat-dapatnya... sebelum kekuatanku habis..."
Dan ketika dilihatnya anak itu masih mau membantah, orang tua itu segera menarik lengan puteranya.
"Ce...cepatlah... kau ja...jangan membantah...!"
Terpaksa dengan hati berat pemuda itu menuruti permintaan ayahnya. Telinga kanannya ia tempelkan pada bibir ayahnya yang pucat gemetar itu.
"Anakku... mungkin aku hanya akan bercerita... yang... yang penting-penting sa...saja... ka...kalau kau ingin lebih jelas la...lagi, kau... kau selidiki sendiri... nanti!"
"Baiklah, Ayah! Sebenarnya..."
"Diamlah! kau dengarkan saja...kata-kataku! Kita keluarga Chin langsung dari...Kaisar lama, yaitu Kaisar Chin Si Hong-te! Sedangkan mendiang Kaisar muda, yang digulingkan oleh Kaisar Han yang bertahta sekarang ini yang dahulu... Cuma... Cuma bertahta selama... empat puluh hari menggantikan... mendiang ayah Baginda Kaisar... Kaisar Chin Si Hong-te, adalah... adalah kakak...ku!"
Orang tua itu berhenti sebentar untuk mengumpulkan kekuatannya kembali. Beberapa saat kemudian ia meneruskan kisahnya lagi.
"Kakakku itu terbunuh oleh sa...salah seorang teman...teman dari Kaisar Han yang bernama Souw Thian Hai! Sebelum terbunuh beliau meninggalkan pesan ke...kepadaku... bah...bahwa mempunyai... bahwa beliau mempunyai... pusaka warisan yang... yang harus dijaga dengan baik apabila beliau meninggal nanti...! Pusaka dapat dipergunakan un...untuk... meraih singgasana kembali! Dan benda inilah yang... yang sedang di...diincar oleh pembunuh-pembunuh itu... tapi... tapi nak, sebenarnyalah... aku tidak tahu di mana ben...da... benda itu disimpan Kakakku hanya... hanya berpesan bahwa harus... harus berdoa di dalam goa harimau tepat di waktu tengah malam pada saat bulan purnama berada di atas kepala... begitulah pesan... pesannya... apabi...la aku ingin menda...patkan ben...benda itu!"
Orang itu berhenti lagi, tetapi ketika sampai beberapa lama dia tidak berbicara lagi Yang Kun menjadi curiga.
Ternyata ketika pemuda tersebut memeriksa lebih lanjut, orang tua itu sudah tidak bernyawa lagi!
Hampir saja Yang Kun menangis sejadi-jadinya.
Tetapi peristiwa yang beberapa kali menimpa dirinya selama ini ternyata telah membuat pemuda itu lebih dewasa serta tidak mudah hanyut oleh perasaannya.
Cepat ia mengurus mayat ayah dan pamannya dan menguburnya di halaman belakang dari rumah itu.
Tanpa adanya air mata yang mengalir dari pelupuk matanya!
Baru sesudah semuanya telah selesai.
Yang Kun menyesali keadaannya.
Biarpun telah mendapat sedikit keterangan tentang masalah yang dihadapi keluarganya tetapi keterangan yang ia dapatkan itu belumlah memuaskan hatinya.
Yang ia butuhkan sekarang sebenarnya hanyalah keterangan mengenai siapa sebenarnya yang menumpas seluruh keluarganya itu?
Segalanya masih gelap baginya!
Siapakah yang membunuh paman bungsunya?
Siapakah yang meracuni ibu serta keluarganya yang lain-lain itu?
Siapakah yang membantai ayah dan pamannya di tempat ini?
Tiba-tiba bagai disengat lebah Yang Kun melompat dari tempatnya.
Cepat ia berlari ke depan!
Baru teringat dia sekarang, bukankah salah seorang diantara pembunuh itu kini telah ia tangkap?
Yang Kun berlari melewati ruang tengah pendapa lalu turun melangkahi mayat-mayat yang masih bergelimpangan di halaman depan, menerobos pintu depan yang masih terbuka lebar-lebar itu.
Matanya nyalang ke arah di mana dia tadi meninggalkan tawanannya, tapi betapa kagetnya hatinya ketika tempat tersebut telah kosong...
Orang itu telah lenyap!
Tinggal tali bekas untuk mengikat orang itu yang tertinggal di sana.
"Bangsat!"
Yang Kun berlari sambil mengumpat-umpat ke arah kota, untuk mencari tawanannya yang lolos.
Orang itu tentu menuju ke Kota untuk mengobati luka-lukanya.
Sementara itu sepeninggal Yang Kun, tiba-tiba salah sebuah mayat yang bergelimpangan di halaman depan tadi tampak bergerak, lalu perlahan-lahan duduk.
Baju lebar yang ia pakai untuk menyamar ia buka dan jadilah orang itu sebagai tawanan yang dicari oleh si pemuda tadi.
Tertatih-tatih orang itu berdiri dan keluar dari tempat tersebut ke arah hutan untuk menghindari Yang Kun yang pergi ke arah kota.
"Hmmm, Souw Thian Hai... Souw Thian hai. Engkau benar-benar sial dalam beberapa hari ini. Hampir saja engkau yang telah terkenal dan disegani orang ini mati secara mengecewakan di tangan seorang bocah ingusan yang baru lepas dari pelukan ibunya...!"
Orang itu bergumam kepada diri sendiri.
Tempat itu sepi kembali.
Sepi yang mengerikan, karena tempat yang semula bersih dan rapih itu kini penuh dengan mayat yang berserakan!
* * * Siapakah orang yang bernama Souw Thian hai itu?
Yang oleh ayah si pemuda juga disebut pula sebagai pembunuh dari Kaisar muda pengganti Kaisar tua Chin Si Hong te itu?
Orang yang secara kebetulan tanpa disadari oleh Yang Kun sendiri telah ia ikat dan ia seret kesana kemari itu?
Bagi Para pembaca yang telah mengikuti cerita Darah Pendekar karya Asmaraman S.
Kho Ping Hoo, tentu telah mengenalnya dengan baik.
Dia adalah seorang pendekar muda yang pernah menderita sakit ingatan, yang menyebabkan ia lupa akan dirinya sendiri.
Padahal ia mempunyai kesaktian yang tidak terlawan oleh siapapun juga.
Kesaktiannya itu pernah pula dimanfaatkan oleh Kaisar Han yang bertahta sekarang ini, semasa Baginda memimpin barisan para pendekar dalam merobohkan kekuasaan Kaisar Chin.
Tetapi apabila lelaki gagah itu memang benar-benar Pendekar Souw Thian Hai yang maha Sakti, kenapa demikian mudahnya dikalahkan oleh pemuda yang belum berpengalaman seperti Chin Yang Kun?
Apalagi sampai sedemikian tidak berdaya sehingga tubuhnya diikat, diseret dan dihina seperti itu?
Benarkah dia Pendekar Souw Thian Hai yang asli, yang tidak terkalahkan yang mampu membunuh Kaisar Chin terakhir padahal Kaisar tersebut ternyata adalah juga seorang jago silat maha sakti pula?
Baiklah, untuk sementara kita tinggalkan dahulu "misteri"
Tentang lelaki yang mengaku pendekar sakti Souw Thian Hai ini.
Marilah kita mengikuti terlebih dahulu perjalanan Chin Yang Kun yang sedang menuju ke kota Tie-kwan untuk mencari tawanannya yang ia duga telah membunuh keluarganya!
* * * Pemuda itu berlari bagai dikejar setan, melintasi padang ilalang, menuju ke arah kotaTie-kwan.
Ia tak sempat memikirkan keadaan tubuhnya yang "aneh"".
Pakaian kolor penuh bercak-bercak darah ayahnya, yang menempel ketika ia memeluk tubuh orang tua itu, wajah dan rambut yang kusut itu seperti seekor jago yang habis berlaga di arena sabung ayam!
Maka tidaklah heran ketika berpapasan dengan tiga orang lelaki, mereka menjadi curiga dan menghentikan langkah pemuda itu.
"Berhenti!"
Yang Kun terpaksa berhenti karena ketiga orang itu menghadang serta berdiri menghadang jalannya.
Dengan penuh kewaspadaan pemuda memperhatikan para penghadang tersebut.
Salah seorang di antaranya, yang berdiri di tengah, tampak membawa sebuah buntalan di tangannya.
Sedangkan yang lain tampak menjaga di samping kiri dan kanannya.
Mereka berusia antara tiga puluh lima sampai empat puluh tahun, dengan wajah yang kasar dan kejam!
"Sute anak ini sangat mencurigakan!
Dia datang dari arah rumah pendekar Lim yang kita cari.
Tubuh serta pakaian anak ini kelihaian kusut dan penuh noda darah, agaknya ada sesuatu yang tidak beres di rumah itu.
Coba kau tengok sebentar tempat itu.
biar aku dan Pang-sute menahannya disini."
Orang yang membawa buntalan itu menengok ke arah adik seperguruannya yang bercambang lebat sambil menunjuk ke rumah maut yang baru saja ditinggalkan oleh Yang Kun.
"Baik!"
Adik seperguruannya mengangguk lalu badannya melesat ke depan meninggalkan tempat itu dengan cepat sekali, menuju ke rumah pendekar Lim yang masih kelihatan dari tempat tersebut.
Ginkang orang itu sangat hebat!
Tentu yang lainpun tidak boleh dipandang enteng, pikir Yang Kun di dalam hati.
Aku tidak boleh lengah sedikitpun, siapa tahu mereka ini juga termasuk salah seorang dari pada para pembunuh yang menumpas keluarganya!
Teringat kembali akan nasib keluarganya, pemuda itu menjadi beringas lagi, melotot ke arah lawannya.
"Siapakah kalian? Kenapa menghadang serta menghalang halangi jalanku"
Tanyanya kasar, ia pikir tak ada gunanya bermanis muka atau berlaku sopan terhadap orang-orang kasar seperti mereka.
Orang yang membawa buntalan itu mencibirkan mulutnya yang ditumbuhi kumis dan jenggot pendek kaku secara sangat menghina sekali.
Agaknya dia tak memandang sebelah mata terhadap seorang bocah ingusan seperti Yang Kun itu.
"Huh! Kurang ajar benar! Pang-sute, lihatlah anak ini benar-benar tidak tahu bahaya sama sekali. Berani berlaku tak sopan dihadapan kita!"
"Haha... Mo suheng harap jangan marah dahulu! Lihatlah keadaannya! Siapa tahu dia kurang waras pikirannya sehingga dia tidak mengenal kita dan telah lari terbirit-birit sejak tadi. Di daarah pantai Timur siapa yang belum pernah mendengar nama Tung-hai Sam-mo? Kecuali kalau anak ini memang telah bosan hidup tentunya..."
Adik seperguruannya yang dipanggil dengan nama Pang-Sute itu menjawab dengan nada takabur.
"Manusia sombong! lekas minggir! Jangan salahkan aku kalau aku sampai membunuh orang!"
Teriak Yang Kun sambil memukul ke depan.
Hatinya yang telah menjadi buram karena diliputi dendam itu tak dapat dikendalikan lagi melihat kesombongan mereka.
Kedua orang itu meloncat ke samping menghindarkan diri, sehingga angin pukulan Yang Kun yang kuat itu hanya menyerempet baju mereka.
Suaranya tajam bersuitan!
"Mo Suheng, bocah ini agaknya punya isi juga, biarlah aku memberi pelajaran kepadanya!"
"Baiklah, tetapi hati-hatilah! Engkau nanti jangan sampai salah tangan membunuhnya, siapa tahu anak ini memang gila? Beri saja beberapa pukulan pada mulutnya biar tahu sedikit sopan-santun, sementara kita menunggu kedatangan Lim sute!"
Yang Kun semakin tidak bisa mengendalikan dirinya.
Katakata mereka amat menyakitkan hati dan terlalu memandang rendah dirinya.
Maka ia tidak mau sungkan-sungkan lagi, ilmu silat keluarga Chin yang selama ini sangat dibanggakannya ia keluarkan dengan sepenuh tenaga!
Suara angin yang mengikuti gerakan tangan dan kakinya terdengar bersuitan seperti suara topan yang bertiup diantara celah-celah perbukitan!
Kedua orang itu, terutama Pang-Sute yang kini sedang berhadapan langsung dengan pemuda tersebut, menjadi kaget setengah mati!
Mereka tidak menyangka sama sekali bahwa bocah ingusan itu mempunyai ilmu demikian hebatnya.
Mereka menjadi sibuk menduga-duga, siapakah sebenarnya anak muda yang kini sedang berada di hadapan mereka itu?
Kalau apa yang dikatakan oleh mendiang ayah Yang Kun beberapa saat sebelum meninggal itu adalah benar, yaitu bahwa keluarga mereka adalah keturunan langsung dari Kaisar Chin, maka tidaklah mengherankan kalau ilmu silat pemuda itu begitu hebatnya.
Dalam sejarah juga disebutkan bahwa rajaraja Chin yang bertakhta, turun-temurun dari awal sampai Kaisar Chin yang terakhir (yang telah digulingkan oleh Kaisar Han yang bertakhta saat ini), adalah merupakan jago-jago silat yang tangguh pula!
Secara turun-temurun pula mereka mempelajari ilmu silat keluarga Chin, yang diciptakan oleh Raja Chin yang pertama yaitu seorang raja yang sangat sakti dan dikenal sebagai manusia setengah dewa pada zamannya.
Sepuluh jurus telah berlalu dan kedua orang itu masih bertempur dengan sengitnya.
Tetapi semakin lama makin kelihatan betapa orang she Pang itu mulai kerepotan.
Setiap pertemuan tangan tampak ia tergetar mundur dan meringis kesakitan.
Malahan ketika Yang Kun dengan telapak tangan mau miring menebas ke arah lehernya dalam jurus Panglima Yi Po mengatur barisan (jurus yang seharusnya dilakukan dengan memegang golok), dia tidak dapat mengelak lagi.
Terpaksa ia mengerahkan tenaga, menangkis serangan itu.
Akibatnya kedua tangannya terasa lumpuh!
Sehingga ketika sekali lagi pemuda itu menyerang di dalam jurus Raja Chin Miu mematahkan kimpai, yang tertuju ke arah mukanya, ia tak bisa mengelak maupun menangkis lagi.
Dengan telak pukulan pemuda itu mengenai mulutnya sehingga dua buah giginya tanggal.
Sakitnya bukan main!
"Nah, kalian lihat sekarang!
Siapa yang otaknya miring, sehingga perlu mendapat sedikit pelajaran sopan-santun dengan beberapa buah pukulan pada mulutnya?"
Yang Kun berteriak mengejek.
"Bangsat! Jahanam! Anjing?"
Orang she Pang itu menyumpah-nyumpah.
"...Kubunuh engkau!"
Orang itu mengerahkan tenaga untuk menghilangkan rasa kaku pada lengannya, lalu mencabut sebilah pedang yang bergerigi pada kedua belah sisinya sehingga menyerupai moncong ikan cucut!
Dengan mata berapi-api ia mengayunkan pedangnya yang aneh ke arah leher si pemuda.
Ia mengerahkan seluruh tenaganya agar bisa menebas leher itu sekali tebasan.
Ia segera ingin menebus rasa malunya dengan cara menjatuhkan lawannya tersebut dan mencincangnya sampai lumat.
Tapi Yang Kun tak ingin kehilangan kesempatan pula.
Tangannya menarik golok yang tergantung diatas pinggangnya dengan cepat dan melambaikannya beberapa kali di depan tubuhnya dalam jurus Mengayun Tangkai Bendera Menghadapi Panah Lo Biauw!
Yaitu jurus yang diciptakan oleh salah seorang Raja Chin pada zaman dahulu ketika berperang menghadapi raja dari suku Biaw di daerah selatan.
Bunga api memercik ketika kedua buah senjata tersebut beradu di udara.
Yang kun merasakan getaran yang kuat pada lengannya, sementara lawannya tampak terdorong mundur dua langkah ke belakang.
Masing-masing memeriksa senjata yang dibawanya.
Yang kun tersenyum puas melihat goloknya tak kurang suatu apa.
Sebaliknya orang she Pang itu nampak berubah air mukanya demi melihat pedang cucutnya mengalami kerusakan pada beberapa giginya.
Orang she Mo, orang tertua dari Tung-hai sam-mo melangkah ke depan, memegang bahu adik seperguruannya yang telah bersiap-siap untuk menyerang lawannya.
Buntalan kecil yang sejak tadi tidak pernah berpisah dari tubuhnya diserahkan kepada adik seperguruannya tersebut.
"Pang-sute, kau periksa sebentar. Apakah sute telah kelihatan datang? lama benar dia. Biarlah bocah ini kau serahkan dahulu kepadaku, nanti kukembalikan kepadamu!"
Katanya menolong muka adik seperguruannya yang kerepotan itu. Ia tidak menginginkan nama Tung-hai sam-mo yang besar dan disegani di daerah pantai Timur selama ini jatuh di tangan seorang "bocah"
Yang tidak punya nama, hanya karena salah seorang di antara mereka telah dikalahkan oleh anak ini.
Biarpun dadanya hampir meledak karena kemarahannya yang meluap-luap, orang she pang ternyata tahu diri juga, oleh karena itu dalam hati ia sangat berterima kasih atas majunya sang kakak tersebut.
Kali ini ternyata ia salah menilai orang.
Ternyata dalam hal tenaga dan ilmu silat, pemuda itu mempunyai kemampuan yang lebih dari pada dia.
Hanya dalam hal pengalaman mungkin ia masih menang.
Tetapi tentu saja kemenangan di dalam hal pengalaman ini tidak berarti banyak apabila selisih kepandaian ternyata sangat banyak!
Sambil pura-pura bersungut-sungut orang she Pang itu mengiyakan perintah kakak seperguruannya, tangannya menyambar buntalan yang diberikan oleh sang kakak, lalu pergi meninggalkan tempat tersebut untuk menengok apakah kakak seperguruannya yang lain telah datang.
Sementara itu Yang Kun yang kini harus bertempur melayani orang tertua dari tung-hai sam-mo, ternyata kini harus lebih memeras tenaganya pula!
sebagai saudara tertua dari tiga serangkai itu, ternyata ilmu silatnya juga lebih hebat dari saudara-saudaranya.
Sebaliknya orang she mo itu menjadi berdebar-debar pula hatinya, ia tidak menyangka bahwa anak muda ini mempunyai kemampuan yang jauh di luar dugaannya.
Justru dialah yang setiap kali harus berhati-hati apabila mereka terpaksa beradu tenaga tenaga dalam.
Bocah itu ternyata selapis lebih kuat dari pada tenaga dalamnya sendiri sehingga akhirnya secara perlahan-lahan iapun menjadi terdesak seperti adik seperguruannya tadi.
"Gila! Setan mana yang masuk di dalam tubuhmu!"
Umpatnya sambil berusaha sekuat tenaga menahan desakan lawannya.
"Jangan mengumpat-umpat terus, tidak baik untuk kesehatanmu! Lebih baik engkau cepat-cepat mengeluarkan kemahiranmu uniuk memberi sedikit pelajaran sopan-santun kepadaku, seperti yang tadi kau perintahkan kepada temanmu yang lari ke hutan itu!"
Yang kun yang merasa di atas angin selalu membakar hati musuhnya.
"Gilaaa! sungguh gilaa...!!"
"Haha...Engkau memang sudah gila. Sekarang engkau baru mengakui sendiri bahwa engkau tidak waras, sehingga tidak mengenal bahaya yang berada di hadapanmu!"
Jilid 02
"Tutup mulutmu, anak setaaannn...!"
"Mo-suheng! Mo-Suheng! Awas, jangan sampai terlepas! Dia telah membantai seluruh keluarga pendekar Li. Ringkus saja bocah ingusan itu!"
Tiba-tiba dari jauh berkelebat datang dua orang saudara seperguruannya.
"Bocah ingusan... nenekmu!! Huh!! Kalian betul-betul buta! Ayoh... kita tangkap bocah ini bersama-sama!"
Teriak suhengnya di antara desah napasnya yang memburu.
Sejenak kedua orang yang baru tiba itu tampak bingung dan heran melihat keadaan suhengnya yang terdesak oleh serangan si anak ingusan tersebut!
Tetapi serentak mereka melihat suheng mereka hampir saja terkelupas kulit kepalanya akibat sambaran golok lawannya, mereka segera menyadari apa yang telah terjadi.
Mereka mencabut pedang cucut mereka masing-masing dan seperti yang diperintahkan oleh kakak seperguruan mereka segera menerjunkan diri mengeroyok Yang Kun.
Sekarang keadaan menjadi berbalik.
Yang Kun yang semula berada di atas angin kini harus melawan tiga buah pedang cucut sekaligus.
Apalagi mereka bertiga agaknya telah biasa bermain pedang secara berpasangan, sehingga pemuda itu terpaksa harus mengerahkan seluruh kepandaiannya Untunglah, ilmu silat keluarga Chin yang terdiri dari tiga puluh enam jurus itu benar-benar hebat dan sukar diduga perkembangannya.
Kelihatannya sangat sederhana, tetapi ternyata mengandung berbagai macam variasi yang sulit ditebak oleh lawan.
Sehingga biarpun pada permulaannya pemuda tersebut bisa didesak oleh ketiga lawannya, tetapi lambat laun akhirnya dapat juga mengimbangi permainan mereka.
Hal itu tentu saja membuat Tung-hai Sam-mo menjadi heran dan tak habis mengerti.
Anak muda yang semula mereka anggap sebagai bocah ingusan yang belum hilang bau pupuknya itu, ternyata mampu mengimbangi Tung-hai Sam mo, tokoh yang telah ternama dan ditakuti orang.
Dan sedikitpun mereka tidak bisa menebak dari aliran manakah atau murid siapakah anak muda ini?
Oleh karena itu setelah sekian lamanya mereka tidak dapat menundukkan pemuda itu, akhirnya orang she mo itu memberi isyarat kepada dua orang sutenya agar mundur.
"Sute, siapkan ang-cin lu-tin (barisan cucut merah)!"
"Baik!"
Kedua orang sutenya menjawab berbareng.
Yang kun melihat ketiga lawannya tersebut berdiri berderet seperti anak kecil main sepur-sepuran, orang she mo sebagai saudara tertua berdiri di depan, lalu diikuti dua orang saudaranya yang lain.
Masing-masing masih tetap memegang pedang cucutnya, cuma bedanya kini orang she lim yang berdiri di tengah tampak mengeluarkan lagi sebuah pedang, yang dipegang dengan tangan kirinya.
"Hah!"
Orang tertua dari Tung-hai Sam-mo membentak sambil meloncat menyerang lawannya dan seperti lengket saja, kedua saudaranya mengikuti di belakangnya.
"Traang!"
Yang Kun menangkis dengan goloknya dan sungguh heran kini goloknya terdorong mundur dengan kuatnya.
Padahal ia tahu bahwa tenaga dalam dari orang pertama Tung-hai Sam mo tersebut masih di bawah dirinya!
Dan kekagetan pemuda ini atas kejadian tersebut benar-benar dimanfaatkan oleh ketiga orang lawannya.
Sebelum ia sempat memperbaiki kedudukan kakinya yang tergoyah, tiba-tiba orang ketiga dari Tung-hai Sam-mo yang berdiri di belakang kedua kakaknya tampak membalikkan tubuh serta menyerang dia dengan pedang cucutnya.
Dalam gugupnya Yang Kun mengangkat goloknya ke atas untuk menangkis ujung pedang lawan, tetapi lagi-lagi ia terkecoh!
Serangan itu ternyata berhenti di tengah jalan dan sebagai gantinya pedang si orang she Mo kembali menebas ke depan, ke arah perutnya.
Kelihatannya serangan ini sukar untuk dielakkan lagi.
Maka dari itu secara untung-untungan Yang Kun melempar tubuhnya ke belakang dalam posisi terlentang, sebuah gerakan yang sangat sulit dari jurus Jendral Yin Tu Terjatuh dari Punggung Hung-ma.
Jurus ini amat sukar dipelajari dan Yang Kun hampir tak pernah mempergunakannya!
Tubuh pemuda tersebut jatuh ke atas tanah dengan punggung lebih dahulu, lalu dengan cepat berguling ke kiri.
Gerakan itu dilakukan dengan manis dan cepat, tapi toh masih terasa sebuah goresan yang pedih pada kulit perutnya!
Dan ketika ia meloncat berdiri serta memeriksa perutnya, tampak ditempat itu dua lapis bajunya telah menganga bagai diiris pisau tajam.
Darah juga kelihatan menetes dari kulit perutnya yang turut tergores!
Mereka berdiri berhadapan kembali.
Masing-masing tak berani memandang rendah lagi.
Yang Kun tidak berani pula mengejek seperti tadi, apa lagi ia masih dikejutkan oleh kenyataan tentang menjadi berlipatgandanya kekuatan masing-masing orang itu setelah memainkan Ang-cio hi tin!
Pertempuran selanjutnya adalah pertempuran yang sangat berat bagi Yang Kun.
Dia yang miskin akan pengalaman bertempur itu dibuat bingung dan tak berkutik oleh cara bertempur mereka yang aneh tapi ampuh tersebut!
Secara perseorangan sebenarnya ia jauh lebih kuat dari pada kepandaian setiap orang dari mereka itu, tetapi setelah mereka memainkan ilmu silat berpasangan mereka, dia benarbenar repot dan mati kutu!
Darah mulai mengalir dari lukaluka yang diakibatkan oleh pedang cucut mereka!
Celakanya luka tersebut semakin lama semakin terasa gatal sehingga mengganggu gerakannya.
Beberapa kali ia kepingin menggaruknya!
"Ha-ha-ha...
anak muda, agaknya engkau belum mengenal keistimewaan pedang kami ini.
Ketahuilah, pedang kami ini memang sengaja kami olesi racun dan lendir uburubur laut yang hidup di daerah kami.
Racun itu memang bukan racun yang mematikan, tetapi akibatnya dapat kau rasakan nanti seumur hidupmu, ha-haa..."
Sekarang ganti mereka yang mengejek Yang Kun.
"Penjahat kejam!"
"Kejam? Ha-ha... jangan asal omong. Siapa yang lebih kejam di antara kita? Engkau atau kami? Siapa yang membantai seluruh keluarga pendekar Li di sana itu?"
Orang ke dua dari Tung-hai Sam-mo turut berbicara.
"Aku tidak membunuh mereka!"
Teriak pemuda itu sambil menghindari serangan lawan yang tertuju ke arah lututnya.
"Ho-ho, mana ada seorang pencuri mengakui perbuatannya..."
"Bangsat kurang ajar... aduhhh!"
Tiba-tiba Yang Kun memekik kesakitan.
Pedang bergerigi dari orang she Mo menancap dalam pada paha kirinya dan darah mengalir dengan deras dari luka yang semakin melebar akibat ulah pedang yang seperti gergaji itu.
Rasanya juga gatal sekali!
Tentu saja keadaan itu membuat Yang Kun semakin lemah daya perlawanannya, sehingga akhirnya sebuah tusukan lagi pada kakinya yang lain membuat pemuda tersebut jatuh terduduk tak berdaya.
Dan beberapa buah luka lagi pada tubuhnya membuat pemuda itu hanya bisa melotot marah kepada lawannya.
"Jangan dibunuh...!"
Seru orang she Mo kepada sutenya yang termuda, ketika yang terakhir ini mau mengayunkan pedangnya ke arah leher Yang Kun.
"Kita bawa dia ke rumah pendekar Li kembali... kita adili dia di sana!"
"Wah, bagaimana cara kita membawa dia? Aku tak mau kalau harus memanggulnya."
Kata sutenya bersungut-sungut.
"Hmm, kenapa repot-repot, seret saja habis perkara...!"
Langit biru bersih, hampir tak ada segumpal awanpun yang tampak lewat, sehingga matahari yang telah mulai bergulir ke arah barat itu dengan hebat melemparkan panasnya yang terik ke tempat tersebut.
Semuanya telah berangkat menuju ke rumah pendekar Li, di mana telah terjadi pembantaian yang mengerikan oleh orang orang yang belum diketahui oleh mereka.
Perjalanan ke tempat itu sebenarnya tidak begitu jauh, tetapi bagi Yang Kun yang diseret dalam keadaan terluka agak parah serta mengalami siksaan rasa gatal yang tak tertahankan tersebut, memang merupakan suatu penderitaan yang hebat sekali.
Apalagi ketika beberapa kali tubuhnya membentur batu ataupun tongguk-tonggak pohon yang runcing, rasa-rasanya luka-luka itu semakin bertambah parah saja.
Dalam hati ia mengumpat-umpat ketiga orang yang berbuat kejam kepadanya itu.
Tetapi sekilas ia teringat akan perbuatannya sendiri yang juga menyeret seseorang dari pinggir Sungai Huang-ho ke tempat tersebut pagi hari tadi.
Tidakkah perbuatannya itu juga sangat kejam?
Tapi kenapa sedikitpun ia tidak merasakannya pada saat itu?
Padahal orang yang diseretnya pagi tadi tubuhnya juga penuh luka akibat goresan-goresan goloknya!
Tapi orang itu layak menerima perlakuan seperti itu, karena dia adalah salah satu dari para pembunuh ibunya, ia membela dirinya.
Itulah manusia.
Jarang yang dapat melihat noda-noda pada dirinya sendiri, apalagi mengakuinya dengan sportip.
Kalau toh kadangkala merasakannya juga, tentulah akan cepat-cepat mencari seribu satu macam alasan untuk menghapus atau menguranginya.
Mereka tiba di rumah bergenting merah tersebut tidak lama kemudian.
belasan ekor burung pemakan bangkai tampak terbang berputar-putar di atas genting, menanti saat yang tepat untuk berpesta pora di antara bangkai yang berserakan di bawahnya.
Yang Kun diseret masuk melalui pintu halaman yang terbuka, lalu dilemparkan begitu saja di dekat pintu.
Tubuhnya membentur patung singa-singaan dan jatuh tertelungkup di atas kaki salah sebuah mayat yang berada di sana.
Karena masih dalam keadaan tertotok maka ia tidak bisa berkutik sama sekali.
Jangankan untuk bergeser dari mayat yang dihadapannya, sedang untuk menggaruk siksaan rasa gatal pada tubuhnya saja ia tidak mampu.
Maka dengan sangat terpaksa ia menahan rasa mual pada perutnya akibat bau mayat yang sudah mulai membusuk tersebut.
Sementara itu sebelum melemparkan Yang Kun di dekat pintu, Tung-hai Sam-mo bergegas menaiki tangga pendapa dengan hati-hati.
"Apakah engkau tadi telah masuk dan menyelidiki keadaan di dalam sana?"
Tanya orang she Mo kepada adik seperguruannya yang ke dua.
"Sudah. Tapi aku tidak menyelidikinya dengan teliti di semua tempat. Aku khawatir suheng menungguku terlalu lama."
"Baiklah, mari kita sekarang menyelidikinya bersama-sama! Tapi apakah semua mayat ini adalah keluarga pendekar Li semuanya? Kudengar keluarganya cuma terdiri dari sepuluh orang saja, kenapa sedemikian banyaknya mayat yang bergelimpangan di sini?"
"Mungkin beberapa di antaranya adalah mayat pihak lawan yang mati terbunuh disini,"
Adik seperguruannya menjawab lagi.
"Atau orang yang mati ini sebenarnya dipersiapkan oleh pendekar Li untuk menghadapi pertemuannya dengan kita?"
Sutenya yang termuda ikut berbicara.
"...Dan mereka ternyata telah dibantai oleh pihak ke tiga sebelum kita keburu datang, begitukah maksudmu?"
Suhengnya meneruskan.
"Benar! Dan pihak ke tiga itu mungkin telah merampas peta wasiat yang selama ini dibawa oleh pendekar Li."
"Kau benar! Kalau begitu mari kita geledah anak itu terlebih dahulu!"
Bergegas suhengnya turun kembali ke halaman diikuti kedua orang sutenya menuju ke tempat di mana Yang Kun tergeletak. Tetapi...
"Hah??? Di mana anak itu?"
Orang itu berteriak hampir berbareng.
Tempat itu telah kosong.
Pemuda itu telah lenyap.
Bagai kilat ketiga orang itu meloncat menerobos pintu keluar lalu berpencar mencari di sekitar tempat itu.
Tetapi sampai bosan mereka berputar-putar, pemuda itu tetap tidak mereka ketemukan.
Sambil menyumpah-nyumpah ketiga orang itu kembali memasuki halaman rumah.
"Bangsat! Anak setan! Kenapa kita sampai terkecoh olehnya? Seharusnya kita tidak boleh terlalu meremehkan dia!"
Mereka menaiki tangga pendapa kembali.
"Apa yang mesti kita kerjakan sekarang suheng? Kita kehilangan jejak tentang separuh dari peta itu lagi."
Orang termuda dari ketiga bersaudara seperguruan itu mengeluh.
"Jangan cepat berputus-asa. Bagaimanapun juga separuh peta itu telah ada pada kita, maka siapapun yang telah merampas separuh peta yang lainnya tentu akan mencari kita pula akhirnya,"
Kata suhengnya sambil menepuk-nepuk buntalan yang sedari tadi selalu dibawanya.
"Lalu apa yang harus kita kerjakan sekarang? Tetap menunggu di sini ataukah kita cari lagi bocah setan itu?"
Tanya adiknya lagi.
"Kita jangan sembrono lagi sekarang. Kita harus teliti dalam segala hal agar tidak mengalami peristiwa-peristiwa yang membuat kita menyesal seperti tadi. Sekarang kita geledah seluruh rumah ini, siapa tahu peta yang separuh itu masih tersembunyi di sini! Cari mayat pendekar Li dan para anggauta keluarganya! Geledah tubuhnya, siapa tahu bocah itu juga belum mendapatkannya."
"Baik, suheng!"
Mulailah ketiga iblis dari laut timur itu mengobrak-abrik tempat tersebut untuk mencari separuh dari peta wasiat yang semula berada di tangan orang yang mereka sebut sebagai pendekar Li.
Semua mayat yang berada di tempat itu mereka bolak-balik dan mereka geledah seluruh tubuhnya.
Mereka bekerja sampai matahari mau terbenam tanpa mengenal Ielah, tetapi benda yang mereka cari tetap tidak ketemu.
"Hei, kenapa kita tidak menemukan mayat dari pendekar Li! Adakah ia masih hidup dan lolos dari tempat ini?"
Orang pertama dari tiga sekawan itu keheranan.
"Wah, repot juga kalau benar demikian."
Tambahnya lagi.
"Memang repot juga,"
Adik seperguruannya yang ke dua menyambung.
"...Paling tidak kita harus mencari pula orang itu disamping tugas kita mencari bocah setan itu."
"Twa suheng! Ji-suheng! Di halaman belakang ada beberapa buah gunduk tanah bekas galian baru! Agaknya baru saja untuk menanam sesuatu?"
Tiba-tiba dari tanah belakang rumah terdengar seruan dari saudara mereka yang termuda.
"Tunggu!"
Bergegas kedua orang itu berlari ke belakang menghampiri saudara mereka yang berjongkok di antara beberapa buah gundukan tanah di bawah rumpun pohon bambu.
"Hemm, seperti sebuah kuburan baru."
"Aku juga berpikir demikian. Suheng, apakah kita perlu..."
"Tentu. Kita tidak boleh teledor. Kalau kita pergi dari sini, itu berarti bahwa kita sudah yakin benda tersebut memang sudah dibawa pergi dari tempat ini. Nah, bongkar saja kuburan ini!"
Dengan harapan untuk memperoleh barang yang mereka cari selama ini, mereka menggali gundukan tanah tersebut dengan cepat.
"Heh! Benar-benar sebuah kuburan!"
Mereka berdesah begitu pacul mereka mengenai tubuh mayat yang masih baru.
"Keluarkan mayat-mayat itu!"
Orang pertama dari Tung-hai sam-mo memberi perintah kepada adik seperguruannya.
"Hai..., suheng! Benar! Mayat pendekar Li ada disini! Tapi tak ada apa-apa di tubuhnya! Eh... kenapa wajahnya menjadi hancur begini?"
"Uh, ususnya telah keluar pula dari perutnya!"
Tiba-tiba iblis yang termuda berseru sehingga kedua kakaknya buru buru menghampiri.
"He... pendekar Li? Benarkah? Ah..., bukan! Benarkah mayat itu mayat dari pendekar Li? Badan serta potongan tubuhnya memang seperti pendekar Li, tapi...bukankah kepala dari pendekar Li telah dipenuhi uban? Kenapa rambut ini masih hitam?"
"Ah... suheng, bukankah kabarnya pendekar Li sudah kawin lagi dengan seorang gadis yang masih muda? Siapa tahu rambutnya sudah dicat lagi menjadi hitam agar supaya kelihatan lebih muda? haahaa..."
Kakak seperguruannya tersenyum.
"Engkau ini ada-ada saja. Kenapa dia mesti repot-repot bersolek kalau cuma ingin mempersunting seorang gadis saja? Tapi bukan itu yang aku maksudkan. Maksudku, jikalau mayat ini benar mayat dari pendekar Li, lalu siapakah yang menguburkannya disini? Kenapa dia dikubur sendirian di sini sementara anggauta keluarganya yang lain tetap dibiarkan bergelimpangan di sana? Dan ketiga mayat lainnya ini mayat siapa? Kenapa justru mayat-mayat yang bukan keluarganya ini yang turut dikuburkan di sini? Bukankah hal ini sangat aneh?"
Kedua saudara seperguruannya mengangguk-angguk membenarkan.
Baru terbuka pikiran mereka sekarang, betapa aneh sebenarnya keadaan tersebut bagi mereka!
"Benar!
Memang sungguh aneh!
Kenapa hanya empat buah mayat saja di antara belasan mayat itu yang dikuburkan di sini?
Siapakah sebenarnya orang yang menguburkannya?"
Iblis yang termuda berkata perlahan.
"Mungkinkah anak muda itu yang menguburkannya? Dia tentu datang ke tempat ini bersama-sama dengan temantemannya untuk merampas peta wasiat itu dari tangan pendekar Li. Kebetulan justru pendekar Li sedang bersiap-siap pula menghadapi kita. Nah, kedua kekuatan itu tentu bertempur dengan sengit, di mana akhirnya pihak pendekar Li kalah dan terbunuh semua, termasuk para wanita dan anak anak. Sementara di pihak anak muda itu hanya tinggal dia sendiri yang hidup. Jadi kuburan itu adalah kuburan temantemannya!"
Orang ke dua dari ketiga iblis itu mengutarakan pendapatnya.
"Tapi kenapa anak muda tersebut bersusah-susah mengubur pendekar Li pula apabila mereka baru saja saling membunuh?"
Kakaknya keberatan.
"Oh... iya! Lalu siapakah menurut pendapat suheng?"
"Entahlah, akupun menjadi bingung pula. Bila keduaduanya bukan yang mengubur mereka, lalu siapa lagi? Apakah ada orang luar yang lewat dan tidak tega melihat mayat bergelimpangan di sini? Tapi kenapa hanya empat sosok mayat saja yang dikuburkannya? Kenapa tidak semuanya?"
Ketiga orang itu berusaha memeras otaknya, tetapi mereka tetap tidak dapat menebak apa yang telah terjadi di tempat itu beberapa saat yang lalu.
Mereka hanya dapat menduga bahwa di tempat itu telah terjadi bentrokan hebat antara dua buah kekuatan besar yang sama kuat sehingga kedua-duanya mengalami kehancuran.
Hanya mereka bertiga tidak bisa menduga kekuatan dari manakah yang datang menyerang ke tempat pendekar Li ini.
Satu-satunya orang yang mereka duga sebagai salah seorang anggauta dari pihak penyerang tersebut kini telah lepas dan tangan mereka.Ketiga iblis dari laut timur itu berdiri dengan lesu.
Jerih payah mereka selama bertahun-tahun untuk mendapatkan separuh bagian dari peta wasiat itu kini menjadi musnah kembali.
Sejak merampas sebuah peta wasiat dari seorang kepala perampok, mereka mengembara dari barat sampai ke timur, naik turun gunung, mencari separuh bagian lainnya dari peta wasiat hasil rampasannya tersebut.
Akhirnya jerih payah mereka itu berbuah juga.
Beberapa hari yang lalu mereka memperoleh kabar bahwa separuh dari peta wasiat itu kini telah jatuh ke tangan seorang pendekar dari Gunung Bu-tong yang telah mengasingkan diri di dekat kota Tie-kwan!
Maka dengan gembira mereka menghubungi pendekar itu dengan diam-diam serta mengajaknya untuk bekerjasama dalam mengambil isi dari peta wasiat itu.
Hari ini adalah hari yang mereka tentukan bagi mereka untuk saling bertemu dan berunding.
Tapi ternyata keadaan telah berubah.
Ada lagi pihak ke tiga yang agaknya telah turut campur dengan merampas peta yang berada di tangan Pendekar Li.
Celakanya, siapa yang telah datang dan merampas benda tersebut dari tangan pendekar Li, mereka bertiga tidak dapat menduganya, sehingga otomatis urusan tentang peta wasiat tersebut menjadi gelap bagi mereka.
Sebuah perjalanan yang panjang dan lama kembali terbayang di depan mata mereka.
"Satu-satunya kemungkinan untuk mendapatkan peta yang hilang itu adalah bila kita dapat menangkap kembali bocah setan itu. Aku yakin anak muda itu tentu tahu di mana adanya peta tersebut,"
Orang tertua dari ketiga iblis itu berkata pelan.
"Tapi untuk mencari bocah itu kembali kurasa juga bukan hal yang mudah..."
Langit sudah semakin menjadi gelap.
Satu dua buah bintang sudah mulai kelihatan di atas langit.
Ketiga orang itu telah pergi meninggalkan tempat yang mengerikan tersebut.
Mereka biarkan begitu saja mayat-mayat yang telah mereka gali tadi, sehingga suasana di tempat itu benar-benar amat mengerikan!
* * * Kemanakah Yang Kun sebenarnya?
Benarkah ia dapat meloloskan diri dari tempat itu?
Lalu di mana ia sekarang?
Sesungguhnyalah, pemuda itu memang mempunyai bakat serta tulang yang baik untuk belajar ilmu silat.
Maka tidaklah mengherankan kalau di antara keturunan keluarga Chin selama ini, hanya dialah satu-satunya orang yang mampu mempelajari ilmu silat keluarga mereka dengan sempurna dalam usia yang masih sangat muda.
Padahal rata-rata para kakek dan neneknya, termasuk pula ayah serta para pamannya, baru dapat memahami ilmu silat tersebut dalam usia pertengahan.
Mungkin hanya dalam hal tenaga dalam saja pemuda itu harus banyak berlatih, sebab untuk mencapai tingkat kesempurnaan dalam ilmu itu harus secara bertahap.
Mengenai soal bertulang baik dan berbakat di dalam ilmu silat, pemuda itu pernah diberi tahu oleh paman bungsunya, bahwa selama keluarga Chin berkuasa, dari dahulu hingga sekarang, telah ada dua orang yang mempunyai bakat serta bertulang baik seperti dia.
Yang pertama adalah Chin Hoa, hidup pada zaman Raja Chin Bun, lebih kurang seratus tahun yang lalu.
Orang ini dapat mempelajari ilmu silat keluarganya secara sempurna dalam usia lima belas tahun.
Sayang ketika terjadi malapetaka gempa bumi yang melanda di seluruh negeri, orang itu tewas terkubur di ruang semadhinya.
Yang ke dua ternyata masih terhitung keluarga dekat dengan Yang Kun sendiri, karena orang itu adalah kakak kandung dari ayah serta paman bungsunya.
Orang inilah yang disebut-sebut sebagai Kaisar terakhir dari Dinasti Chin oleh mendiang ayah Yang Kun.
Orang itu menjabat sebagai Kaisar hanya dalam waktu sampai empat puluh hari saja, karena pemberontak yang dipimpin oleh Liu Pang (Kaisar sekarang) keburu masuk ke Kotaraja dan memaksanya untuk meninggalkan singgasana kerajaan.
Orang ini pulalah yang memberi pesan wasiat kepada ayah Yang Kun agar menyimpan benda yang diperebutkan itu secara baik-baik.
Tetapi, apabila benar apa yang dikatakan oleh paman Yang Kun bahwa pada usianya yang baru delapan belas tahun tersebut Yang Kun telah mampu meyakinkan ilmu silat keluarganya dengan sempurna, mengapa anak muda itu harus mengalami kekalahan ketika melawan Tung-hai Sam-mo?
Apakah yang menyebabkannya?
Apakah karena mutu ilmu silat keluarga Chin tersebut masih di bawah mutu ilmu silat keluarga ketiga iblis itu?
Sehingga biarpun sudah mempelajarinya secara sempurna toh tetap masih kalah kuat?
Sebenarnya tidaklah demikian halnya.
Bagaimanapun juga ilmu silat keluarga Chin tersebut adalah ciptaan dari Raja Chin yang pertama, yang hidup pada zaman purba dahulu.
Yaitu sebuah zaman, di mana hanya seorang yang benar-benar kuat dan sakti sajalah yang mampu bertahta di singgasana kerajaan untuk memimpin negara dan rakyat yang berjuta juta banyaknya!
Oleh sebab itu, apabila dalam penampilannya yang pertama itu Yang Kun mengalami kekalahan, Hal tersebut bukannya disebabkan karena mutu ilmu silat keluarganya yang terlalu rendah, akan tetapi karena disebabkan oleh kosongnya pengalaman pemuda itu sendiri di dalam hal menghadapi keanehan dari ilmu silat golongan lain.
Coba kalau pemuda itu mendapat kesempatan sedikit saja untuk berpikir tentang keanehan dari ilmu silat lawan yang diberi nama Ang-cio hi-tin itu, tidak mustahil kalau ia bisa menguasai lawan-lawannya pula.
Hal itu sebenarnya telah terbukti ketika pemuda tersebut ditotok dan diseret ke rumah pendekar Li oleh lawan-lawannya itu.
Kekerasan hatinya membuat ia seperti tidak merasakan rasa sakit dan penderitaannya ketika diseret oleh lawannya tetapi pikirannya justru disibukkan oleh rasa penasaran di hatinya karena dikalahkan oleh ketiga orang itu.
Padahal ia merasa dengan pasti bahwa ilmu silatnya jauh lebih unggul dari pada ilmu silat mereka.
Sebentar saja otaknya yang encer dan cerdas itu segera dapat meraba rahasia ilmu silat berpasangan mereka tersebut.
Ketiga orang yang berdiri berderet seperti orang main sepur-sepuran itu tentu bermaksud membentuk diri mereka sebagai seekor ikan cucut besar.
Di mana orang she Mo sebagai saudara tertua berada di depan sendiri dan bertindak sebagai kepala ikan.
Pedang bergerigi yang dibawanya merupakan ujung tombak dari ikan cucut tersebut.
Sedang orang she Lim, adik seperguruannya yang ke dua, yang berdiri di tengah, bertindak sebagai tubuh ikan itu.
Kedua bilah pedang yang dipegangnya, ia mainkan sebagai sirip dari ikan cucut tersebut.
Sementara adik seperguruan mereka yang termuda, berdiri paling belakang sebagai ekor ikan cucut.
Pedang yang dibawanya ia mainkan sebagai sirip dari ikan tersebut yang terkenal tajam dan berbahaya!
Seperti halnya ikan cucut asli, di mana moncong dan sirip ekornya adalah bagian yang sangat berbahaya bagi lawan, begitu pula Ang-cio hi-tin tersebut!
Orang pertama serta orang ketigalah yang bertugas sebagai pihak penyerang, sementara orang ke dua hanya bertindak sebagai benteng pertahanan saja bagi keselamatan dari ikan cucut itu.
Dan karena mereka itu bergabung sehingga seolah-olah menjadi satu ekor ikan besar, maka otomatis tenaga merekapun selalu bergabung menjadi satu kekuatan pula!
Itulah sebabnya kenapa tenaga mereka seolah-olah menjadi bertambah besar.
Dan seperti menghadapi ikan cucut yang hidup bebas di lautan, maka sangatlah berbahaya pula menghadapi Ang ciohi-tin tersebut dari arah depan ataupun belakang.
Tempat satu-satunya yang paling aman adalah di samping tubuh ikan, persis di dekat siripnya.
Maka asal pihak lawan selalu bisa berusaha berdiri di tempat itu bagaimanapun ikan tersebut menggerakkan tubuhnya, lalu menyerangnya dan tempat itu pula, niscaya ilmu silat tersebut akan mati kutu.
Biarpun takkan mudah pula untuk berbuat seperti itu.
Betapa gembiranya Yang Kun bisa memecahkan rahasia ilmu silat lawan itu.
Semangatnya menjadi meluap-luap, ingin rasanya ia melepaskan diri dari ikatan yang membelit tubuhnya dan menantang mereka kembali untuk bertanding silat.
Tapi karena tubuhnya tertotok maka niat itu belum dapat ia laksanakan.
Maka ketika tubuhnya dibanting di atas mayat orang setelah mereka tiba di rumah pendekar Li, pemuda itu mulai berusaha memunahkan pengaruh totokan lawan terlebih dahulu.
Apalagi ketika ketiga iblis itu pergi meninggalkan dia di halaman, kesempatan yang diperolehnya menjadi bertambah besar.
Cepat pemuda itu memusatkan pikirannya untuk berkonsentrasi, lalu disedotnya udara sebanyak-banyaknya melalui hidung.
Semuanya ia kumpulkan di pusarnya (tan tian).
Baru setelah itu ia pecah menjadi dua bagian.
Setelah berputar-putar sejenak, bagian pertama dia dorong ke bawah melalui wa pu hiat terus ke si kang-hiat dan menerobos lu-poh tung-hiat di bawah lutut.
Setelah berputar-putar sebentar di ujung jempol (Ibu jari) kaki, hawa murni itu didorong kembali ke atas melalui tung-to hiat, go-lo hiat dan Khong ho-hiat, terus kembali ke tan tian.
Semuanya berjalan lancar, tak sebuahpun jalan darah dilaluinya mengalami hambatan sehingga sebentar kemudian kedua buah kakinya dapat ia gerakkan kembali.
Sementara itu hawa-murni yang sebagian lagi ia tekan ke atas melalui thia-wu-hiat di atas pusar, lalu berhenti sebentar di thinu su-hiat, terus meluncur ke atas melalui sam-le-hiat di atas dada.
Tetapi ketika akan menerobos pang-wa-hiat yang berada di bawah leher, hawa murni tersebut mengalami kesukaran.
Seperti ada sebuah tonjolan yang menekan jalan darah tersebut dari luar.
Betapapun Yang Kun mengerahkan tenaganya, jalan darah itu tetap tak tertembus.
"Kurang ajar! Benda apa yang berada di balik baju mayat ini? Kenapa persis benar menekan pada jalan darah di dadaku?"
Pemuda itu mengumpat.
Oleh karena tubuh atasnya masih belum dapat digerakkan, Yang Kun berusaha untuk beringsut dari posisinya dengan jalan menjejakkan kakinya.
Dan usahanya berhasil, sehingga penyaluran tenaga murninya dapat ia lanjutkan lagi tanpa hambatan.
Begitu terbebas dari pengaruh totokan lawan, pemuda itu tidak langsung berdiri, tetapi dengan penasaran ia merogoh saku mayat yang berisi barang menonjol tadi.
Dengan heran pemuda itu mengeluarkan sebuah potongan emas yang berkilauan dari balik baju tersebut.
Emas itu berbentuk bulat panjang, sebesar ibu jari kaki, dengan panjang kira-kira satu dim.
Hampir saja Yang Kun mengembalikan benda itu ke tempatnya semula, sebab ia tak ingin mencuri apalagi mengambil kepunyaan orang yang telah mati.
Tetapi ketika matanya melihat goresan-goresan yang menyerupai sebuah peta pada emas tersebut, cepat keinginan itu ia batalkan.
Siapa tahu benda tersebut akan berguna baginya kelak?
Perasaannya mengatakan bahwa ada sesuatu yang aneh dan rahasia pada benda itu.
Maka dengan hati-hati potongan emas tersebut ia masukkan ke dalam saku bajunya sendiri.
Pemuda itu bermaksud bangkit dari tempat itu ketika Tiba-tiba lukanya terasa gatal dan sakit bukan main.
"Kurang ajar! Luka ini benar-benar sangat mengganggu. Aku tidak boleh tergesa-gesa melawan mereka. Luka-luka ini harus kuobati dahulu sehingga sembuh, baru aku mencari pembunuh ayah ibuku dan mengadakan perhitungan dengan mereka."
Sedikit demi sedikit Yang Kun beringsut ke arah pintu halaman.
Kedua belah pahanya yang terluka itu sungguh sangat mengganggu jalannya.
Sampai di luar pintu rasa sakit itu semakin menghebat sehingga kaki tersebut rasa-rasanya sukar untuk dipakai berjalan lagi.
"Kurang ajar! Kemana aku harus menyembunyikan diri untuk sementara waktu? Hah, bangsat benar senjata Iblis itu! Awas, sekali waktu akan kubuat mereka menderita dengan senjata mereka sendiri!"
Berdesir dada Yang Kun ketika tiba-tiba dilihatnya sebuah bayangan berlari dengan cepat mendatangi tempat itu.
Betapa ringan dan cepat langkah kakinya sehingga sekejap kemudian orang itu telah berada di depan mukanya.
"Ohh... tuan muda!"
Tiba-tiba orang itu berseru.
Matanya memancarkan sinar aneh, kaget dan seperti tidak percaya pada apa yang telah dilihatnya.
Sebaliknya pemuda itu juga tidak kalah pula rasa terkejutnya.
Tak terpikir sedikitpun di dalam benaknya bahwa ia akan menjumpai orang itu di tempat ini.
Tersembul sedikit harapan di dalam hatinya untuk bisa lolos dari tempat tersebut.
"Paman Hek-mou-Sai...!"
"Tuan muda kau? kau masih... eh, kenapa tuan muda berada di sini? Di mana yang lainnya?"
"Paman, lukaku sangat parah. Bawalah dulu aku pergi dari sini secepatnya, nanti akan kuceritakan semuanya! Di di dalam ada Tung-hai-Sam-mo!"
Pemuda itu berbisik.
"Hah? Tung-hai Sam-mo berada di sini?"
Hek-mou sai terkejut pula.
"Benar, paman!"
"Baik, mari kita pergi! Ketiga Iblis itu memang sangat berbahaya, apalagi gurunya! Teman-temannyapun sangat banyak!"
Maka ketika beberapa saat kemudian Tung-hai Sam mo mencarinya, Yang Kun telah tiada lagi di tempat semula.
Dia telah dibawa pergi oleh Hek-Mou-Sai, salah seorang pengawal kepercayaan mendiang ayahnya.
* * * "Demikianlah paman, semuanya terjadi dengan cepat serta di luar dugaan begitu paman meninggalkan kami di tengahtengah hutan itu.
Hampir-hampir aku tidak mempercayainya bahwa semua itu telah terjadi pada keluargaku."
Pemuda itu menutup kisahnya.
"Sudahlah, tuan muda. Betapapun kita masih harus berterima kasih kepada Tuhan bahwasanya Dia masih melindungi jiwa tuan muda, sehingga tuan muda dapat meneruskan semua cita-cita tuan Chin yang belum terlaksana. Tuan muda, tidakkah ayahmu memberi sesuatu wasiat atau petanya kepadamu?"
Hek-mou-sai menghibur.
Hampir saja pemuda itu mengatakan semua pesan ayahnya pada saat mau menghembuskan nafasnya yang terakhir itu, tetapi tiba-tiba diurungkannya, biarlah rahasia keluarganya itu ia simpan sendiri di dalam hati, orang luar tak perlu mengetahuinya.
Semua urusan tersebut akan ia selesaikan sendiri!
Hek-mou-sai merasakan keragu-raguan pemuda putera majikannya itu, tetapi iapun tak enak pula untuk terlalu mendesaknya, biarpun hatinya menjadi sangat kecewa sebenarnya.
"Maafkan aku, paman. Bukannya aku tak mempercayai engkau yang telah banyak berjasa kepada keluarga kami itu, tetapi sebenarnyalah bahwa pesan ayahku itu hanya diperuntukkan bagiku saja. Pesan seorang ayah kepada anaknya."
Yang Kun berusaha menerangkan.
"Permisi, tuan...!"
Tiba-tiba terdengar sebuah suara di luar pintu memutus pembicaraan mereka.
"Siapakah yang datang, paman?"
Yang Kun mengerutkan keningnya dengan curiga, Hatinya yang telah dipenuhi perasaan dendam permusuhan itu kini ternyata tidak pernah merasa tenang. Hek-mou-sai tersenyum.
"Tenanglah tuan muda. Aku telah memanggil seorang tabib untuk mengobati luka-Iakamu itu, terutama untuk menghilangkan perasaan gatal yang kadangkadang datang! Kurasa tabib yang kupanggil itulah yang datang,"
Katanya seraya membuka pintu.
"Maaf tuan, Aku terlambat datang. Jalan sudah penuh dengan orang, sehingga saya harus berputar-putar melalui jalan kecil."
"Ah, tak apalah. Kami juga tak tergesa-gesa sekali. Marilah masuk, sinshe (tabib)!"
Hek-mou-sai mempersilakan orang itu untuk memasuki kamar mereka.
"Terima kasih!"
Yang Kun memandang orang yang baru datang itu dengan hati yang semakin tidak enak.
Nalurinya mengatakan bahwa tabib tua yang berperawakan kecil dengan bola mata kemerah-merahan itu tentulah bukan orang baik-baik.
Apalagi ketika orang itu memandang ke arah dirinya dengan senyum yang aneh, ia merasa seperti menghadapi seorang iblis yang siap untuk mencekik lehernya.
Tetapi ketika ia berusaha untuk beranjak dari tempat ia berbaring, Hek-mou-Sai menahannya.
"Sudahlah, tuan muda. Engkau jangan terlalu banyak bergerak. Biarlah Ang-sinshe mengobatimu. Dia adalah seorang tabib yang paling tersohor di daerah Shan-tung ini. Percayalah!"
Terpaksa dangan hati berat Yang Kun menuruti anjuran Hek-mou-sai tersebut.
Ia percayakan sepenuhnya nasib dirinya kepada pengawal kepercayaan ayahnya itu.
Oleh karena itu ia tetap berdiam diri ketika tabib itu memeriksa luka-lukanya.
"Wah, berat...! Racun yang masuk di dalam luka-luka itu sungguh sangat keji sekali. Sebenarnya racun itu sendiri memang bukan semacam racun yang mematikan, tetapi akibat yang ditimbulkan akan justru lebih kejam malah...! Sebab apabila rasa gatal itu semakin sering datang dan semakin terasa menghebat, alamat kelumpuhan akan segera tiba. Dan penyakit seperti ini kurasa belum ada obatnya di dunia ini!"
Tabib itu memandang Hek-mou-sai sambil mengelenggelengkan kepalanya.
"Tidaaaak...!! Mesti ada obatnya! Oh, aku tidak boleh lumpuh! Aku tidak boleh lumpuuuuh!"
Yang Kun berteriak seperti orang gila.
"Aku harus sembuh kembali! Masih banyak yang harus akan kukerjakan! Aku masih harus membalaskan seluruh dendam kesumat keluargaku!"
"Tuan muda, tenanglah! Jangan berteriak begitu, nanti semua penghuni penginapan ini akan keluar dan menuju kemari."
Hek-mou-sai cepat memegang lengan Yang Kun dan menenangkannya. Benarlah, tampak beberapa orang mendatangi kamar mereka dengan curiga, tapi Hek-mou-sai cepat keluar menemui mereka.
"Maafkan kami! Mungkin suara anakku yang sedang sakit itu mengagetkan tuan semua. Dia baru saja terjatuh dari punggung kuda dan sekarang sedang diobati oleh tabib. Anakku memang seorang yang tak biasa menahan sakit."
Orang-orang itu kembali ke kamar mereka masing-masing dengan menggerutu. Tapi dua orang wanita yang wajahnya sangat mirip satu sama lain tampak tersenyum ketika melihat tabib tua itu.
"Aha... tapi tuan tidak usah merasa khawatir! Di mana di situ ada Ang-sinshe, di situ pula semua penyakit akan hilang! Di dunia ini tak ada seorangpun tabib yang mampu melebihi dia,"
Kata salah seorang di antaranya. Lalu setelah mengangguk ke arah Hek-mou-sai kedua orang itu berlalu pula dari tempat itu.
"Tapi... aku tidak mau menjadi lumpuh, paman!"
Yang Kun berkata lagi setelah suasana telah menjadi sepi kembali.
"Harap tuan muda jangan khawatir lebih dahulu. Angsinshe tentu tidak akan kekurangan akal, bukankah begitu, Ang-sinshe?"
"Entahlah, tuan. Akan kupelajari dahulu daya serang dari racun itu di rumah, setelah itu baru akan kuusahakan untuk mendapatkan obat pemunahnya. Sementara ini akan kuberikan obat untuk menghentikan daya kerja dari racun itu."
Jawab orang tua itu sambil mengeluarkan bubuk putih dari kantong obatnya.
Rasa perih dan panas yang tak terkatakan hebatnya menyerang tubuh pemuda itu ketika obat bubuk berwarna putih tersebut ditaburkan di atas luka-lukanya.
Begitu hebatnya rasa sakit tersebut mencekam tubuhnya sehingga Yang Kun tak kuat lagi menahannya.
Pembaringan yang semula tersusun rapi itu kini menjadi berantakan ke sana kemari karena desakan kaki tangannya yang menggeliat-geliat menahan sakit.
Bayangan Hek-mou-sai dan tabib tua itu seperti saling berkelebatan di depan matanya bercampur dengan bendabenda di dalam kamarnya yang melayang-layang pula ke sana ke mari.
Akhirnya sebelum ia jatuh pingsan, lapat-lapat ia seperti mendengar suara nyanyian dan gelak ketawa tabib serta Hek-mou-sai yang keras.
Entah berapa lama ia dalam keadaan pingsan, hanya ketika pemuda itu telah menjadi siuman kembali, ia mendapatkan dirinya seperti berada di dalam ruangan sempit yang selalu bergoyang-goyang.
Agaknya sebuah kereta atau gerobak yang sedang berjalan di jalan umum.
Terdengar suara orang berlalu lalang di sekitar ruangan sempit dan gelap tersebut.
Betapa terkejutnya pemuda itu ketika tangannya seperti menyentuh tubuh seseorang yang berbaring di sampingnya.
Tubuh yang gemuk besar serta banyak ditumbuhi bulu yang lebat.
Tubuh Hek-mou-sai!
"Ah!
Uh!"
Gila, Yang Kun mengumpat di dalam hati.
Urat gagunya ternyata telah ditotok orang.
Begitu juga kaki dan tangannya!
Sedikitpun tak bisa digerakkan, sehingga maksudnya untuk menyapa atau membangunkan orang yang berbaring di sebelahnya tersebut menjadi gagal.
Yang Kun berusaha memunahkan totokan itu, tetapi gagal pula!
Arus tenaga dalam yang dikerahkannya selalu membalik begitu sampai di urat darah yang tertotok, sehingga hal tersebut justru mengakibatkan badannya sakit bukan main.
Seluruh urat darahnya seperti ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum!
Sebuah tiam-hoat (ilmu totok jalan darah) dari golongan sesat, pemuda itu berpikir di dalam hati.
Ilmu ini tentu ada rahasianya tersendiri dan tidak mungkin lain orang dapat memunahkannya.
Maka dari itu tak ada gunanya membuangbuang tenaga secara percuma.
Lebih baik berdiam diri dan menghimpun kekuatan, biarlah semuanya ia pasrahkan kepada nasib, pikir pemuda itu selanjutnya!
Yang Kun lama-kelamaan terbiasa oleh kegelapan yang melingkupi ruangan sempit tersebut, sehingga akhirnya dia bisa melihat tubuh Hek-mou-sai yang terbaring di sisinya dengan jelas.
Tampak olehnya tubuh itu terikat dengan tali yang sangat kuat.
Tak mungkin pula untuk membebaskan diri.
Ternyata firasatnya tentang tabib itu adalah benar.
Orang itu memang benar bukan orang baik-baik.
Dan mereka berdua telah tertipu dan terjebak!
Mungkin orang tersebut justru ialah seorang dari kelompok para pembunuh keluarganya yang menyamar sebagai tabib.
Kurang ajar, Yang Kun menggeretakkan giginya.
Dan orang seperti itu telah ia biarkan dengan sesuka hati untuk menyakiti dirinya.
Menaburkan bubuk putih yang dikatakan sebagai obat penawar racun untuk menyiksa dirinya sehingga pingsan.
Dan selama ia pingsan orang itu telah merampok semua miliknya pula!
"Binatang!
Tabib keparat!"
Tiba-tiba Hek-mou-sai yang telah siuman dari pingsannya mengumpat dengan keras.
Lalu nampak orang yang belum terbiasa dengan suasana gelap itu berusaha dengan keras memutuskan ikatannya.
Berguling ke sana kemari sehingga akhirnya tubuhnya menimpa tubuh Yang Kun.
"Heh? Siapa kau?"
Dengan cepat tubuhnya berguling menjauhi tubuh Yang Kun.
Kemudian matanya terbuka lebar-lebar berusaha menembus kegelapan yang menyelubungi ruangan itu.
Akhirnya lapat-lapat ia mengenali wajah Yang Kun.
"Oh tuan muda! kau...! Hah, bangsat benar tabib itu! Aku kena ditipunya. Seseorang memperkenalkan dia kepadaku. Dia mengaku bahwa dialah yang disebut orang sebagai Ang-sinshe. Seorang tabib yang... eh, tuan muda! kau?"
Hek-mou-sai berhenti bicara.
Matanya yang kini telah terbiasa di tempat gelap itu dengan heran mengawasi Yang Kun.
Agaknya baru maklum kalau pemuda di depannya tersebut ternyata dalam keadaan lemas tertotok jalan darahnya.
Akhirnya iapun berbaring diam di tempatnya sambil menghela napas berkali-kali.
"Baiklah, kita memang tinggal menunggu nasib. Tuan muda sedang terluka parah dan kini tertotok pula. Sedangkan aku biarpun bisa bergerak tetapi ternyata tidak mampu melepaskan diri dari belenggu ini. Hemmm... agaknya kita memang ditakdirkan untuk musnah semuanya..."
Terasa oleh mereka kereta itu berbelok ke arah kiri.
Jalannya halus dan nyaman, tidak berguncang seperti tadi.
Cuma jalannya kini agak sedikit lambat.
Terdengar pula olah telinga mereka suara gema percakapan orang banyak yang menyerupai kawanan lebah di sekitar kereta mereka.
Sesekali diselingi suara ledakan petasan dan suara gembreng ditabuh.
Agaknya kini mereka sedang melalui sebuah jalan besar di tengah-tengah kota, di antara keramaian orang yang baru berpesta pora!
"Huh!
Mereka tentu telah mulai dengan pesta perayaan itu,"
Hek-mou-sai bergumam lagi.
"Sungguh menyebalkan!"
Dan ketika tampak olehnya wajah Yang Kun yang memandang ke arahnya dengan penuh tanda tanya, Hek-mou-sai cepat memberi keterangan.
"Hari ini adalah hari peringatan bagi para perampok itu untuk merayakan keberhasilan mereka dalam menduduki singgasana kerajaan. Mereka merampok singgasana itu dari tangan nenek moyang tuan muda dan mendudukinya! Setiap tahun mereka memperingatinya secara besar-besaran di seluruh negeri. Dan hari ini merupakan peringatan yang kelima kalinya. Celakanya, perampok-perampok itu sangat pandai mengelabui mata rakyat, sehingga mereka memperoleh banyak dukungan dan pengikut!"
Yang Kun mendengarkan keterangan Hek-mou-sai yang panjang lebar itu dengan dahi berkerut.
Memang selama ini ia tak pernah mengikuti perkembangan negaranya.
Sejak jatuhnya Dinasti Chin lima tahun yang lalu dia beserta seluruh keluarganya buru-buru menyembunyikan diri mereka di suatu tempat yang terpencil dan tak diketahui orang.
Kereta itu semakin lama semakin terasa lambat jalannya dan suara ramai serta ribut di sekitarnya semakin terdengar dengan nyata pula.
Agaknya kereta tersebut kini semakin mendekati tempat yang menjadi pusat keramaian.
Beberapa saat kemudian terasa oleh Yang Kun kereta itu berbelok lagi ke arah kanan, lalu berhenti.
Sinar obor menerobos masuk ke dalam kereta dan menyilaukan mata mereka ketika pintu kereta tersebut dibuka orang.
Beberapa saat lamanya mereka berdua justru tidak dapat melihat apa apa.
"Bawa kedua orang ini ke ruang belakang! Tutup mereka di dalam sebuah kamar dan jagalah dengan ketat! Jangan sampai terlepas! Aku akan menghadap Ongya (pangeran) lebih dahulu,"
Terdengar sebuah suara kecil nyaring.
Suara dari orang yang menyamar sebagai tabib itu!
Mereka masing-masing digotong oleh dua orang yang berpakaian ringkas, masuk ke dalam gedung besar yang sangat megah dari pintu samping.
Mereka langsung dibawa ke ruangan belakang dan ditutup di sebuah kamar yang kokoh kuat.
Beberapa orang yang rata rata mempunyai kepandaian cukup menjaga di sekitar mereka.
Hek-mou sai selalu mengumpat-umpat dan menantang untuk berkelahi, tetapi tak seorangpun meladeninya.
Mereka semua diam seperti bonekaboneka penjaga yang sangat seram!
Satu jam kemudian datang seorang penjaga lagi yang membawa perintah dari Ongya agar kedua tawanan itu dibawa menghadap ke ruang tengah.
Yang Kun digotong kembali oleh orang-orang itu bersama-sama Hek-mou-sai melalui sebuah petamanan yang luas.
Naik turun jembatan kayu berukir yang sangat indah, berkelok-kelok menyeberangi kolam luas yang penuh dengan bunga teratai dan menerobos lorong-lorong yang penuh bergantungan lampu-lampu minyak beraneka warna!
Kedua orang itu dibawa masuk ke sebuah ruangan yang lebar dan luas.
Di sana telah berdiri dua-tiga puluh orang, berkelompok-kelompok di pinggir mengelilingi bagian tengah yang telah dikosongkan.
Yang Kun dan Hek-mou-sai mereka diletakkan pada tempat yang kosong tersebut, di bawah pengawasan puluhan pasang mata yang mengelilinginya.
Ternyata Hek-mou-sai tidak rewel dan mengumpat-umpat lagi.
Suasana serta pemandangan yang selalu besar dan megah, apalagi kini berada di tengah-tengah puluhan pasang seram dan aneh membuat hatinya menjadi kuncup dan kecil.
Beberapa lampu minyak yang ditaruh di sana tidak cukup untuk menerangi ruangan tersebut, sehingga suasana menjadi remang-remang.
Remang dan sunyi!
Tak sebuah suarapun terdengar.
Mereka bagaikan sekelompok hantu yang berada di sebuah gedung tua yang angker.
"Ongya datang!"
Tiba-tiba suasana yang lengang itu dikejutkan oleh suara penjaga yang nyaring.
Orang-orang yang berada di ruangan itu tampak bergerak sekarang.
Mereka menghadap ke arah pintu masuk dengan khidmat.
Menghormat kepada seorang laki-laki jangkung yang baru saja memasuki ruangan bersama beberapa orang pengawalnya.
Laki-laki itu mengenakan baju longgar dari kain sutera yang putih bersih berenda-renda, sehingga di tempat gelap benarbenar terasa menyolok dan mengesankan.
Dia mengangguk sedikit untuk membalas penghormatan orang, lalu berjalan menuju ke ujung ruangan di mana telah tersedia kursi kehormatan.
Tetapi ternyata ia tidak langsung duduk di tempat yang telah disediakan itu.
la hanya berdiri saja di bawahnya dan menyuruh semua orang untuk mengambil tempat duduk mereka di kursi masing-masing.
"Maaf, saudara-saudara, karena harus menyelesaikan sebuah urusan yang sangat penting maka kali ini Ongya akan terlambat datang menemui saudara! Tetapi beliau telah berkuasa mengirim aku kemari untuk mewakili beliau selama beliau belum datang."
Terdengar oleh Yang Kun orang-orang yang berada di sekitarnya berdesah pelahan sambil mengambil tempat duduk masing-masing.
Sekelebatan terlihat olehnya orang yang menyamar sebagai tabib itu berada di sebelah kanan bersama-sama dengan dua orang wanita.
Mereka duduk di tempat yang agak tinggi di dekat kursi kehormatan.
Agaknya mereka termasuk orang-orang yang berkedudukan penting di dalam pertemuan tersebut.
Yang Kun mengedarkan pandangannya ke tempat yang lain.
Biarpun tidak begitu jelas, tetapi ia ingin mengingat sedapat-dapatnya wajah-wajah mereka satu persatu.
Siapa tahu dugaannya benar, bahwa mereka adalah komplotan yang telah membantai seluruh keluarganya.
"Saudara-saudara semua, sebelum Ongya datang nanti, beliau menugaskan aku yang rendah untuk mengurus sesuatu hal di sini. Beliau baru saja memperoleh laporan bahwa Teetok-ci Lo-Cianpwe (Tikus Tanah Beracun) telah berhasih menangkap anak muda yang bernama Chin Yang Kun itu. Benarkah begitu Lo-Cianpwe?"
Yang Kun terkejut mendengar kata-kata orang berbaju putih tersebut.
Terkejut tetapi juga terselip perasaan gembira di dalam hatinya.
Betapa tidak?
Kesengsaraan dan penderitaan yang telah disandangnya sejak dia beserta keluarganya meninggalkan tempat persembunyian mereka, sekarang agaknya telah membawa hasil.
Berhari-hari, berbulan-bulan.
ia dan seluruh keluarganya harus berlari-lari menyembunyikan diri dari teror dan kejaran musuh yang tak mereka ketahui orangnya.
Satu-persatu keluarganya terbunuh.
Mulai dari paman bungsunya, lalu para wanita dan anak-anak, dan paling akhir adalah ayahnya sendiri.
Semuanya mati dengan bermacam-macam cara tanpa mereka ketahui siapa pembunuhnya!
Maka tidaklah mengherankan jikalau pemuda itu sangat gembira begitu mendengar perkataan orang berbaju putih tersebut.
Menilik dari perkataan yang baru saja dikeluarkan tadi, dapat diduga bahwa Yang Kun memang telah lama dicari dan dibutuhkan oleh mereka, terutama oleh orang yang mereka sebut sebagai Ongya itu.
Padahal selama ini pemuda tersebut bersama keluarganya tidak pernah berhubungan dengan orang luar, apa lagi orang orang dari kalangan persilatan.
Jadi apabila ada orang yang mencari dia atau keluarganya, tidak boleh tidak tentu berhubungan dengan "benda warisan keluarga"
Yang diperebutkan itu.
Dan apabila memang benar begitu keadaannya, jelaslah sudah, merekalah para pembunuh keluarganya itu!
Maka tidaklah heran kalau Yang Kun sangat gembira di dalam hatinya, karena kegelapan yang selama ini menyelubungi dirinya agaknya telah mulai terbuka.
"Kwa-sicu, laporan yang telah ditampilkan kepada Ongya tersebut adalah benar. Lihatlah! Pemuda itu telah saya tangkap bersama seorang pengawalnya."
Orang yang menyamar sebagai tabib itu menjawab pertanyaan laki-laki berbaju putih tadi.
"Terima kasih! Jasa Lo-Cianpwe sungguh amat besar kali ini! Ongya akan bergembira sekali Apakah Lo-Cianpwe telah memeriksa dan menanyai pemuda itu?"
"Belum. Silahkan Kwa-sicu memeriksanya sendiri! Tetapi ketika lohu (aku orang tua) menggeledah badannya. lohu mendapatkan potongan emas ini."
Orang yang bergelar Teetok-ci itu menyerahkan benda tersebut kepada laki-laki berbaju putih itu. Laki-laki itu menimang-nimang potongan emas itu di dalam tangannya.
"Inikah benda yang dimaksudkan oleh Ongya itu? Kenapa seperti ini?"
Gumamnya dengan ragu-ragu.
"Baiklah, akan kuperiksa sendiri. Pengawal bawa kemari pemuda itu!"
Pengawal-pengawal itu dengan tangkas menyeret tubuh Yang Kun dan Hek-mou-sai ke hadapan laki-laki tersebut, lalu dengan gesit pula mereka kembali berdiri di belakang tuannya.
Orang berbaju putih itu maju selangkah mendekati Yang Kun.
Wajahnya yang putih pucat itu tersembunyi di balik gumpalan rambut yang sengaja dibiarkan terurai lepas, hingga sukar bagi orang lain untuk melihat jelas wajahnya.
Selelah meneliti sebentar kedua tawanannya orang itu lalu memberi isyarat kepada Tee-tok-ci untuk memunahkan totokannya.
Dengan tertatih-tatih Yang Kun bangkit dari lantai tempat ia menggeletak.
Luka-luka yang ia derita pada kedua buah pahanya masih terasa sakit sekali, sehingga serasa masih sukar untuk berdiri tegak.
Meskipun demikian matanya dengan tajam menatap tak berkedip kepada laki-laki berbaju putih yang berdiri tak jauh di hadapannya.
Jelas terpancar di dalamnya sebuah perasaan dendam yang tiada taranya.
Tetapi laki-laki pucat berbaju putih itupun ternyata balas memandang dengan tidak kalah pula tajamnya.
Justru kelihatan lebih seram malah!
"Apakah engkau yang bernama Chin Yang Kun?"
Pemuda itu mengangguk.
Matanya tetap menyala memandang ke arah lawannya.
Sukar untuk mengatakan apa yang tersirat di dalam hati kecilnya pada saat itu.
Mungkin suatu perasaan sedih, gembira, marah, penasaran, yang semuanya bergolak menjadi satu di dalam dadanya.
Bila dilihat dari sorot matanya, bisa diduga betapa inginnya pemuda itu mengamuk dan membunuh seluruh orang yang berada di tempat tersebut.
Tetapi bila dibaca dari sikapnya yang diam itu, bisa diduga pula bahwa pemuda tersebut telah dapat mempergunakan otaknya untuk mengekang perasaan hatinya.
Apakah faedahnya melawan mereka yang sekian banyaknya itu dengan tubuh yang terluka parah seperti ini?
"Dimanakah benda itu disimpan oleh keluargamu?"
Laki-laki berbaju putih itu bertanya lagi.
"Nah, apalah kataku."
Yang Kun membatin. Mereka semua inilah yang selama ini telah mengincar benda pusaka itu dan dia semakin yakin pula bahwa orang ini pulalah yang telah membantai keluarganya.
"Benda apakah yang kau maksudkan? Sedikitpun aku tidak memahami pertanyaanmu. Kalau yang kau maksudkan benda tersebut adalah potongan emas itu, kurasa kini kau telah memegangnya..."
Yang Kun berusaha mengekang perasaannya.
"Hah! jangan berpura-pura! Tak ada gunanya berdusta di tempat seperti ini. kau lihat di sekelilingmu, semua ini adalah tokoh-tokoh kang-ouw yang biasa menyiksa orang! Tak terasakan hal itu olehmu? Mereka ini semuanya mempunyai seribu macam cara untuk dapat membuka mulutmu, tahu? Perlukah semua itu dicoba terlebih dahulu kepadamu?"
"Tetapi apa yang mesti kukatakan kalau aku memang benar-benar tak paham apa yang kau maksudkan? kau siksa sampai sejuta kalipun aku tetap tidak tahu apa yang kau kehendaki itu. Paling hebat aku akan mati. Nah, coba katakan kepadaku! Benda apakah yang kau maksudkan itu?"
Dengan tenang Yang Kun menghadapi orang itu.
Benar-benar dengan hati yang sangat tenang!
Yang Kun sendiri sampai heran memikirkan sikapnya yang sangat tenang tersebut.
Padahal kondisi tubuhnya demikian jelek, berada di mulut singa pula!
Ah, inilah agaknya sikap jago silat sejati seperti yang selalu didengung-dengungkan serta selalu ditanamkan oleh paman bungsu kepadanya!
"Sebuah CAP KERAJAAN!
Nah, di mana benda itu sekarang?"
Laki-laki itu berkata tandas. Tampak oleh semua orang betapa marah sebenarnya laki-laki tersebut.
"Cap kerajaan? Wah, apa pula itu? Baru kali ini aku mendengarnya. Sebenarnyalah kalau kukatakan bahwa aku benar-benar tidak mengetahuinya. Kurasa seluruh keluargaku juga belum pernah mendengar apalagi sampai memilikinya..."
Yang Kun mengerutkan dahinya.
Memang pemuda itu berkata yang sebenarnya.
Sesungguhnyalah, sampai saat meninggalnya, ayah dan pamannya belum mengetahui, apa wujud dari benda pusaka yang diwariskan kepada keluarganya itu.
Malah baru saat inilah ia mendengar tentang wujud dari benda pusaka tersebut, justru dari mulut orang lain!
"Anak bodoh!
Masih berbelit-belit juga!
kau memang perlu mendapat sedikit siksaan.
Tee-tok-Cianpwe, tolong siksa dia agar mengaku!"
"Jangan! Jangan kalian siksa dia! Dia memang benar-benar tidak tahu-menahu tentang cap itu! Tak ada gunanya menyiksa dia, kalau kalian ingin menyiksa orang...nah, siksalah saja aku!""
Tiba-tiba Hek-mou-sai yang masih terikat erat itu berteriak.
Laki-laki itu mengibaskan ujung bajunya yang putih bersih tersebut ke samping, lalu dengan lagak yang angkuh ia mendongak ke arah langit langit rumah.
"Siapakah dia?"
Katanya dingin. Terdengar suara tertawa yang nyaring dari tempat di mana Tee-tok-ci duduk. Suara seorang wanita yang telah mencapai tingkat tertinggi dalam ilmu Iweekang.
"Dia adalah Wan It, bergelar Hek-mou-sai! Dahulu merupakan salah seorang dari pengawal rahasia Kaisar Chin. Kepandaiannya memang tidak boleh dipandang rendah, terutama sepuluh jari-jari tangannya. Dia mampu membunuh lawan dari jarak sepuluh langkah!"
"Jeng bin Siang kwi (Sepasang Iblis Berwajah seribu) terima kasih!"
Laki-laki berbaju putih itu menoleh, lalu ia menatap kearah wajah Yang Kun dengan tajam.
"Kau sungguh tidak kecewa mempunyai pembantu seperti dia,"
Katanya "Tetapi aku tetap pada pendirianku. Nah, sekali lagi, katakan di mana cap itu disimpan oleh keluargamu?"
Yang Kun diam tak menjawab.
"Kalian semua ini benar-benar keterlaluan sekali. Memaksa seseorang anak mengatakan apa yang tidak diketahuinya..."
Hek-mou-sai berteriak kembali.
"Diam! Tee tok-ci Lo-Cianpwe, silakan kau mulai!"
Orang tua yang bergelar Tee-tok-ci itu melangkah ke depan.
Satu langkah saja!
Tapi biarpun hanya melangkah saja, ternyata tubuhnya yang kecil itu telah berada di depan Yang Kun.
Padahal jarak antara tempat duduknya dengan tempat di mana Yang Kun berdiri, lebih dari pada tujuh meter!
Hal itu menunjukkan betapa hebat ilmu kepandaian orang bertubuh kecil itu sebenarnya.
"Heh-heh... anak muda, kau sungguh sangat sial pada hari ini. Dua kali engkau jatuh ke tangan Tee-tok-ci. Pertemuan pertama engkau telah merasakan Ji hoan Tatbeng-soa (Bubuk Pasir Pencabut Nyawa Dalam Dua Langkah) kepunyaanku. Khasiat dari bubuk beracun itu terbagi dalam dua tingkat. Tingkat pertama telah kau rasakan tapi sayang engkau keburu pingsan. Tingkat yang ke dua akan terjadi selang enam jam kemudian. Pada saat itu engkau akan merasakan kesakitan yang maha hebat, sehingga engkau tidak akan kuat menanggungnya dan... mati! Tetapi agaknya hal seperti itu tidak keburu terlaksana, karena saat ini aku akan menyiksa engkau dengan cara yang lain lagi. Dan penyiksaan yang akan kupersembahkan kepadamu kali ini akan berakhir dengan kematian! Hihihi... lihatlah!"
Hampir saja Yang Kun mengerahkan tenaga untuk menghajar muka orang itu, apapun yang akan terjadi.
Tetapi kembali otak sehatnya melarang, dia harus bersabar sampai saat yang terakhir.
Siapa tahu ada jalan yang terlebih baik nanti, dari pada harus berjibaku seperti itu?
Orang itu mengeluarkan sebuah alat kecil terbuat dari kulit bambu.
Alat seperti itu sering dibuat oleh para penggembala di kala senggang untuk bermain tiup-tiupan, sebab alat itu akan mengeluarkan bunyi melengking apabila ditiup.
Benarlah, tak lama kemudian terdengarlah suara tinggi melengking seperti suara ribuan nyamuk yang terbang bersama-sama.
Makin lama makin tinggi, sehingga akhirnya membuat telinga merasa riuh dan sakit.
Beberapa orang tampak mulai tidak tahan dan menutup telinga mereka dengan tangannya.
Suara itu mengalun panjang pendek, bergetar-getar, sehingga membentuk sebuah irama yang aneh.
Seperti suara sepasang nyamuk yang sedang bercanda di malam sunyi.
Seram dan ngeri.
Apalagi suara itu didorong dengan Iweekang yang amat kuat, sehingga selain terasa aneh, seram, ngeri, juga sangat berbahaya.
Tampak beberapa orang penjaga terpaksa keluar dari ruangan itu, sebab biarpun telinga mereka telah ditutup dengan tangan, suara itu masih saja menyakitkan gendang telinga mereka.
Semula Yang Kun merasakan juga pengaruh suara ini di telinganya, tapi begitu ia mengerahkan Iweekang, tubuhnya menjadi nyaman dan pengaruh dari suara itu menjadi lenyap.
Malah sekarang ia bisa menikmati irama yang dihasilkan oleh alat tiup sederhana itu.
Tiba-tiba suara itu berhenti dengan mendadak!
"Nah, permainan ini benar-benar akan saya mulai.
Lihat!"
Semua orang menjadi lega kembali, karena suara yang menyakitkan itu telah hilang.
Tetapi mendengar suara Teetok-ci yang mengatakan bahwa permainan justru baru hendak dimulai mereka menjadi berdebar-debar kembali.
Sama sekali mereka tidak mengira bahwa irama melengking tadi ternyata cuma dipakai sebagai pembukaan saja dari penyiksaan yang sebenarnya.
Mendadak...
ya...
mendadak saja semua orang mendengar suara menCicit sambung-menyambung dari segala penjuru.
Makin lama makin riuh dan akhirnya mereka dikejutkan oleh datangnya berpuluh-puluh, bahkan beratusratus ekor tikus ke dalam ruangan itu.
Beberapa orang menjadi terkejut sehingga mereka terpaksa memukul atau menginjaknya.
Tetapi tikus-tikus itu tetap datang dengan tertib dan berkumpul di sekeliling tubuh Teo-tok-ci.
Mereka saling bertumpang tindih saking banyaknya yang datang dan juga saking kepinginnya mereka berada terlebih dekat dengan orang tua itu.
Sehingga otomatis orang-orang yang berada di dekatnya, seperti Chin Yang Kun, Hek-mou-sai dan laki-laki berbaju putih itu, semuanya menjadi ikut terkepung di tengahtengah kawanan tikus tersebut.
Tetapi binatang itu benarbenar sangat tertib.
Biarpun saling berdesakan di sekitar kaki mereka, tetapi tak seekorpun yang mengganggu atau berusaha untuk menyerang mereka.
Dan tentu saja ketiga orang itu juga tak mau dikatakan sebagai orang penakut, sehingga biarpun merasa risih mereka tetap berdiri di tempatnya masing-masing.
"Aha, ternyata banyak juga tikus-tikus di sekitar tempat ini."
Orang tua itu berkata dengan gembira.
"Nah, anak muda! Lihatlah! Tikus-tikus ini dapat menjadi buas dan bisa kuperintah untuk apa saja. Lihat contohnya!"
Katanya pula dengan bengis ke arah Yang Kun.
Orang tua itu kembali meniup alatnya tadi dan tiba-tiba kawanan tikus itu berubah menjadi buas dan sekonyongkonyong...menyerang Hek-mou sai!
Terdengar suara jeritan yang disertai tenaga khikang, sehingga gedung itu seakan menjadi bergetar mau roboh, bahkan puluhan ekor tikus yang semula menempel di tubuh Hek-mou-sai tampak terpental pergi dalam keadaan hangus.
Tapi agaknya binatang itu telah menjadi gila karena tiupan kulit bambu tersebut.
Begitu mati Sepuluh, datang lagi dua puluh.
Mati lagi seratus, datang lagi duaratus.
Begitu seterusnya, sehingga akhirnya pada jeritan yang ke enam dan ke tujuh, tak seekor tikuspun yang terpental mati!
Dan kini jeritan yang keluar dari mulut Hek-mou-sai bukanlah jeritan yang mengandung khikang tetapi benar-benar suatu jeritan ketakutan.
"Haha, Sai-Cu Ho-kangnya (Tenaga Sakti Singa Mengaum) sungguh hebat! Sayang kaki tangannya terikat, sehingga tak leluasa dia mengeluarkannya!"
Tee tok ci tertawa sadis.
Beberapa saat lamanya Yang Kun seperti terpesona oleh kejadian tersebut, tapi begitu terdengar suara jeritan Hekmou-sai berubah menjadi jeritan ketakutan, ia segera menjadi sadar kembali.
Kemarahan yang sejak semula selalu ditahantahannya kini terlepas tak terkendalikan lagi.
Tanpa menghiraukan kedua belah pahanya yang sakit, ia meloncat menyerbu ke arah tubuh pengawalnya yang telah lenyap dirubung oleh kawanan tikus gila itu.
Kerumunan tikus itu tersibak ke samping, bahkan beberapa di antaranya terlempar hancur dilanggar oleh arus tenaga yang tersalur dari kedua lengan pemuda itu.
Dan sebelum semuanya menyadari apa yang telah diperbuat oleh anak muda itu, anak muda itu sendiri telah berhasil mencengkeram ikat pinggang temannya dan mengangkatnya di atas kepalanya.
Disertai dengan sebuah geraman yang dasyat tubuh itu diputar-putar bagaikan sebuah baling-baling.
Dan suasana di dalam ruangan itu menjadi kalang kabut, ketika puluhan bahkan ratusan ekor tikus yang semula menempel pada tubuh Hek-mou-sai itu terlempar menyebar bagai hujan ke segala penjuru.
Keadaan itu membuat Tee-tok-ci menjadi marah sekali.
Sekali tubuhnya berkelebat, ia telah berada di belakang tubuh Chin Yang Kun.
Dan sebelum pemuda itu sempat mengelak, jalan darah poh-ki-hiat yang berada di bawah pinggang telah kena ditotoknya hingga lumpuh.
Kontan saja pemuda itu roboh menimpa tikus-tikus yang berkerumun di bawah kakinya.
Sedang tubuh Hek-mou-sai yang semula dipegangnya, terlempar jatuh mengenai meja dan kursi di pinggir ruangan.
Dan tubuh yang gemuk itu benar-benar sangat mengerikan keadaannya.
Biarpun belum terlanjur habis dimakan tikus tetapi tubuh itu telah penuh berselimutkan cairan darah segar.
Pakaian serta rambut yang semula menempel di badannya kini sudah habis tandas tercabik-cabik taring kawanan tikus yang sangat tajam.
Malah beberapa buah jari kakinya tampak ikut lenyap pula dilahap binatangbinatang menjijikkan tersebut.
Hanya yang sangat mengherankan adalah keadaan tali pengikat dari tubuh Hek Mou sai tersebut.
Tali itu tetap utuh seperti semula, seakan tidak mempan oleh gigitan binatang yang bergigi tajam itu.
Melihat suasana demikian.
Tee-tok-ci cepat meniup alatnya yang aneh tadi.
Dan sungguh menakjubkan.
Kawanan tikus yang semula telah menjadi gila itu mendadak berubah menjadi jinak kembali, dengan patuh mereka berkumpul kembali di sekitar orang tua itu dan seakan-akan menanti perintah selanjutnya.
"Nah, anak muda! Sekali lagi kuberi waktu untuk berterus terang. Jawab sejujurnya pertanyaan yang telah kuajukan kepadamu tadi! Lihatlah! Apakah engkau ingin dikeroyok tikus seperti temanmu itu? Apakah engkau ingin mati dengan cara dicabik-cabik hingga tinggal tulang-tulang saja?"
Laki-laki berbaju putih itu kembali menggertak Yang Kun.
"Pembunuh-pembunuh kejam! Lakukanlah ancamanancamanmu itu segera, kenapa mesti ditunda-tunda juga? Sekali kukatakan tidak tahu tetap tidak tahu!"
Pemuda itu menjawab tegas.
"Anak tolol! Baiklah! Nah, silakan kau lanjutkan Tee-tok-ci Lo-Cianpwe!"
"Hihihi... baiklah!"
Orang tua itu mengangguk kesenangan.
Ketika alat tiup yang aneh itu telah ditempelkan pada mulutnya, itba-tiba dari atas genting meluncur sesosok bayangan yang menerjang ke arah orang tua itu.
Gerakannya cepat bukan main, sehingga hampir tak seorangpun yang mengetahuinya.
"Tahan!"
Tee-tok-ci berusaha mengelak, tetapi karena sama sekali tidak mengira, apalagi gerakan orang itu memang cepat sekali, maka alat tiup yang telah berada di atas bibirnya itu dapat disambar oleh bayangan itu dengan mudah.
Tentu saja Tee-tok-ci menjadi marah sekali.
Begitu juga semua orang yang saat itu berkumpul di tempat tersebut.
Mereka bersiap siaga menghadapi pendatang baru itu.
Setelah berhasil menyambar alat tiup itu, bayangan yang mempunyai gerakan seperti kilat tersebut melayang ke arah kursi kehormatan.
Tentu saja laki-laki berbaju putih itu tidak tinggal begitu saja.
Entah dari mana ia mengambilnya, tahu-tahu tangannya telah memegang sebatang hio (dupa) yang telah terbakar ujungnya.
Tapi begitu ia bermaksud membidik bayangan yang datang ke arah kursi kehormatan itu tiba-tiba telinganya mendengar sebuah bisikan halus.
"Kwa-heng (saudara Kwa), akulah yang datang!"
"Ongya!"
Teriak orang berbaju putih itu dengan kaget.
Semuanya tertegun di tempat masing-masing.
Apalagi ketika melihat bayangan itu duduk di kursi kehormatan.
Wajahnya teraling oleh kain sutera tipis yang dipasang pada topinya yang lebar, membuat dia tampak asing dan aneh.
Suasana menjadi sunyi.
Barulah semua tersadar ketika orang berbaju putih itu berlutut.
"Ong ya!"
Semuanya ikut berlutut.
"Terima kasih! Silahkan cuwi duduk kembali! Tee-tok-Ci Loheng, maafkan kekasaranku tadi. Soalnya aku tak mempunyai jalan yang lain lagi untuk menahan agar benda itu tidak terlanjur Loheng bunyikan."
"Ah. Ongya jangan terlalu sungkan."
Tee-tok-ci menjawab dengan tergesa-gesa.
"Aku memang terlalu suka bermain main."
"Sekali lagi terima kasih, Tee-tok-ci Loheng, inilah alat tiupan yang hebat itu, silahkan kau bubarkan saja tikus-tikus ini. Biarlah aku sendiri yang menyelesaikannya. Hai penjaga! Bersihkan lagi tempat ini!"
Binatang-binatang itu serentak pergi meninggalkan tempat itu, begitu Tee-tok-ci meniup alatnya sehingga dengan mudah para penjaga membersihkan dan mengatur kembali ruangan tersebut.
Mereka menggotong tubuh Hek-mou-sai yang terluka parah itu ke tengah ruangan kembali dan menutupi tubuhnya yang berdarah dengan sebuah mantel lebar.
"Ongya, Tee-tok-ci Lo-Cianpwe telah menemukan sebuah barang aneh di saku baju Chin Yang Kun. Sebuah potongan emas yang mempunyai guratan-guratan menyerupai sebuah peta,"
Orang berbaja putih itu melapor.
"Hah? Mana barang itu?"
"Inilah, Ongya."
Orang yang disebut Ongya itu menimang-nimang potongan emas tersebut untuk beberapa lamanya, kemudian tampak kepalanya yang tertutup topi berkain sutera tipis itu menggeleng-geleng.
"Apakah benda itu ada hubungannya dengan barang yang sedang kita cari selama ini?"
Pembantunya yang berbaju putih itu menegaskan.
"Entahlah. Kwa-heng. Aku juga tidak mengerti. Aku belum pernah mendengar atau melihatnya pula. Tapi baiklah kita simpan saja dia. Siapa tahu ada gunanya nanti! Bagaimana dengan pengakuan pemuda itu sendiri?"
"Itulah sebabnya saya menyuruh Tee-tok-ci Lo-Cianpwe untuk menyiksanya. Pemuda itu selalu mengatakan bahwa dia tidak tahu menahu soal cap yang disimpan oleh keluarganya..."
"Sudahlah, bawa dia bersama pengawalnya itu ke ruang bawah tanah! Biarlah mereka berdua mati di sana."
"Lalu bagaimana dengan keterangan yang kita butuhkan itu, Ongya? Bukankah Ongya pernah mengatakan kepada kita bahwa benda itu disimpan oleh keluarga Chin? Padahal keluarga Chin tinggal dia saja di dunia ini."
"Kwa-heng, sudahlah! Serahkan semua itu kepadaku! Aku sudah mendapatkan sebuah jalan yang lebih baik! Marilah kita merundingkan sesuatu yang lain, yang lebih penting dari pada urusan ini!"
Orang berbaju putih itu masih ragu-ragu, tapi akhirnya ia mengangguk.
"Terserah Ongya kalau demikian."
Chin Yang Kun dan Hek-mou-sai digotong keluar oleh para penjaga.
Kali ini langsung dibawa ke ruang bawah tanah, yaitu sebuah ruangan yang khusus dibuat untuk memenjarakan para penjahat berbahaya.
Keduanya diletakkan begitu saja di atas lantai yang kotor dan berlumut.
Padahal mereka tidak bisa bergerak sama sekali!
Yang Kun masih lumpuh akibat totokan Tee-tok-ci tadi, sedangkan Hek-mou-sai kini lebih parah lagi keadaannya.
Sementara itu sepeninggal Yang Kun dan Hek-mou-sai, mereka melanjutkan perundingan mereka.
Ong ya itu memanggil pembantunya, yaitu laki-laki berbaju putih, dan yang lain-lain untuk datang lebih dekat ke tempat duduknya.
"Kwa-heng, di manakah Si-Ciangkun sekarang?"
"Si-Ciangkun berada di gedung kepala daerah saat ini. Dia mendapat undangan untuk menghadiri perayaan yang diadakan di sana. Apakah Ongya memerlukan dia sekarang? Biarlah siauwte pergi ke sana untuk memanggilnya."
"Tak usah! Biarlah dia tetap di sana. Itu justru lebih baik buat dia kalau kita bergerak nanti. Tak seorangpun yang akan mencurigainya! Sementara kita dapat mempergunakan rumahnya sebagai tempat perlindungan yang aman."
"Bergerak? Apakah kita akan bergerak sekarang, Ongya? Apakah kekuatan kita telah cukup?"
Salah seorang dari Jeng bin Siang-kwi ikut menyela pembicaraan itu.
"Oh, tidak. Kita belum akan memulainya sekarang. Kita harus mempunyai beberapa ribu orang perajurit, jadi belum saatnya kita memulai gerakan kita."
"Kalau begitu apa maksud Ongya dengan gerakan itu?"
Beberapa orang bertanya.
"Sabarlah! Nanti akan kujelaskan juga. Tetapi Iebih dulu saya i"ngin mengetahui perihal beberapa buah urusan yang pernah aku mintakan tolong kepada saudara-saudara untuk menyelesaikannya... Eh. Kwa-heng! Kwa-heng tadi berkata bahwa keluarga Chin kini hanya tinggal Chin Yang Kun seorang, benarkah itu?"
"Begini, Ongya. Sejak Ongya memberikan tugas itu kepada Siauwte, siauwte telah berusaha dengan sekuat tenaga bersama beberapa orang teman untuk mendapatkannya. Tetapi hingga saat ini benda itu tetap belum siauwte peroleh. Padahal kami juga telah mengusahakannya dengan berbagai macam cara, termasuk pula pesan Ongya bahwa kami diperbolehkan menyiksa, membunuh, memusnahkan semua keluarga itu asal benda itu kita peroleh."
"Lalu...?"
Ongya itu mendesak.
"Ketika kami mendatangi tempat persembunyian keluarga Chin, ternyata kedatangan kami sudah terlambat. Seluruh keluarga itu telah pergi melarikan diri. Kami hanya menemukan mayat Chin Bu, orang termuda dari Chin bersaudara. Meskipun demikian kami tetap mengobrak-abrik tempat itu guna mendapatkan benda tersebut."
Tee-tok-ci ikut memberi keterangan.
"Tentu saja benda itu takkan ditinggalkan oleh mereka..."
Ongya itu menyela lagi.
"Benar. Kami tak dapat menemukannya. Oleh karena itu kami berusaha mengejar mereka. Setelah itu agar supaya kami dapat mengetahui dengan pasti di mana sebenarnya benda itu berada, siauwte telah menangkap beberapa orang pengawal mereka serta menyiksanya. Tetapi tak seorangpun dari pengawal itu yang mengetahuinya. Cuma dari hasil penyiksaan tersebut kami dapat menarik kesimpulan bahwa benda itu tidak mereka bawa tetapi telah disimpan entah di mana,"
Laki-laki berbaju putih itu meneruskan keterangan temannya.
"Oleh sebab itu Kwa-heng bersama para saudara yang lain akhirnya berketetapan hati untuk berhadapan langsung dengan Chin bersaudara. Hidup atau mati. Dan begitu kedua bersaudara itu tetap tidak mau mengaku, Kwa-heng lalu membunuhnya. Begitukah...?"
Ongya itu mengutarakan dugaannya.
"Ah, tidak demikian..."
Tee-tok-ci cepat menyanggah dugaan itu. Orang berbaju putih itu memberi isyarat kepada Tee-tok-ci agar sedikit bersabar. Lalu dengan tenang ia meneruskan keterangannya.
"Maksud kami memang begitu. Kami akan membunuh mereka semuanya apabila mereka tetap tidak mau mengaku. Tetapi sebelum rencana itu kami jalankan, tiba-tiba muncul sebuah tembok penghalang di hadapan kami..."
"Hei, tembok penghalang? Apakah itu?"
"Benar. Ongya."
Tee-tok-ci menyahut lagi.
"Kemarin malam ketika kami mulai memasuki hutan di Bukit Ular. Tiba-tiba kami berhadapan dengan beberapa orang yang berjalan mengendap-endap pula seperti kami. Ternyata mereka juga sedang memata-matai buronan kita. Agaknya orang-orang itu juga menginginkan benda pusaka itu pula. Oleh karena saling berebut mangsa, akhirnya di dalam kegelapan bayang-bayang pohon kita saling bertempur dengan seru..."
"Tapi agar kami tidak kehilangan jejak dari keluarga Chin, maka saudara Kwa telah meminta adik kami yang ke lima, yaitu Ceng-ya-kang (Si kelabang Hijau ) untuk berangkat lebih dahulu,"
Salah seorang dari Jeng-bin Siang-kwi menambahkan.
"Ternyata lawan kami bertempur itu benar-benar sangat tangguh. Mereka adalah jago-jago silat kelas satu. Buktinya biar hampir setengah malaman kita bertempur secara kucingkucingan, diantara lebatnya pohon dan rimbunnya daun di hutan itu, kami tidak dapat mengalahkan mereka. Sayang demi kerahasiaan tugas itu kami tidak diperbolehkan mengeluarkan ilmu racun kita secara sembarangan. Coba..."
Yang lain juga turut menceriterakan pengalamannya.
Suasana di dalam ruangan itu menjadi sunyi.
Masing masing sibuk dengan angan-angan mereka sendiri.
Ongya itu juga kelihatan termangu-mangu.
Tak disangkanya suasana telah berkembang begitu pesat.
Kini ternyata mereka tidak sendiri lagi dalam usaha mencari cap kerajaan itu.
Beberapa orang telah tampak turut pula memperebutkannya.
"Apakah saudara bisa menduga, dari golongan manakah orang-orang itu?"
Tanya orang berkerudung itu.
"Sukar, Ongya. Selain hutan tersebut sangat gelap dan lebat, merekapun agaknya selalu menjaga kerahasiaan diri mereka,"
Laki-laki berbaju putih itu menerangkan.
"Kalau begitu... kini semakin sukar pula maksud kita untuk memiliki cap itu. Sekarang ternyata ada satu orang lagi yang juga menginginkannya..."
Ongya menghela napas panjang.
"Ah, tak hanya satu orang, Ongya!"
Jeng-bin Siang-kwi cepat memotong perkataan itu.
"Ngo-sute (adik kami yang ke lima) juga menjumpai kelompok yang lain ketika dia mendahului kami..."
"Kelompok yang lain lagi? Apakah bukan anggauta kelompok yang pertama itu pula? Mungkin mereka memang menyebar...,"
Ongya itu semakin kaget.
"Bukan, Ongya! Orang-orang yang terlihat oleh ngo-sute itu terang bukan berasal dari satu golongan dengan orang yang sedang bertempur melawan kami itu. Sebab kebetulan ngo-sute sudah mengenal pimpinan mereka."
"Siapa...?"
"Yap Tai-Ciangkun (Panglima Yap)! Seorang panglima besar kepercayaan Kaisar Han."
Jeng-bin Siang-kwi menjawab dengan mantap.
"Kata ngo-sute panglima itu hanya dikawal oleh dua orang jagoan istana, seorang laki-laki dan seorang wanita."
Orang berkerudung yang selalu disebut Ongya oleh anak buahnya itu berdiri dengan tegang.
Mantel hitam yang lebar menutupi pundaknya itu ia sibakkan ke punggung, sehingga pakaiannya yang berwarna kuning emas itu kelihatan menyolok di dalam keremangan sinar lampu.
"Yap Tai-Ciangkun? Gila! Jadi Kaisar sendiri juga telah ikut memperebutkan benda keramat itu?"
Geramnya keras-keras. Membuat semua pembantunya terdiam dan tak berani bersuara "Jadi itukah sebabnya kenapa Kaisar Han berada di kota ini sekarang?."
Jilid 03 Kini ganti para pembantunya yang menjadi terkejut! "Kaisar berada di sini?"
Mereka berseru hampir berbareng.
"Benar! Inilah soal penting yang akan saya rundingkan dengan saudara-saudara pada saat ini. Bukankah tadi telah saya katakan bahwa saya mempunyai sebuah persoalan yang lebih penting untuk kita rundingkan? Tapi...baiklah, sebelum persoalan ini kita rundingkan, saya ingin mendengarkan laporan saudara-saudara terlebih dahulu sehingga selesai. Nah, Kwa-heng, bagaimana akhir dan pertempuran saudara dengan kelompok pertama tersebut?"
"Begini, Ongya. Setelah kami pikirkan lebih lanjut, akhirnya kami merasa bahwa pertempuran itu sungguh tidak bermanfaat sebenarnya bagi kami. Oleh karena kekuatan kita seimbang, maka biar semalaman kita berkelahi keadaan tentu tidak akan berubah. Tidak akan ada yang menang ataupun kalah. Salah-salah kita justru akan kehilangan jejak buruan kita malah. Maka akhirnya kami mengalah dan pergi dari tempat itu. Kami berusaha mengejar COngya-kang melalui tanda-tanda yang telah ditinggalkannya. Tetap ketika kami sampai di suatu tempat yang agak lapang, kami hanya mendapatkan puing-puing bekas tandu mereka serta sebuah kuburan besar."
"...Dan bekas-bekas racun kelabang hijau milik ngosute!"
Tee-tok-ci menambahkan.
"Tetapi di sana tidak ada seorangpun yang tinggal. Maka dengan perasaan khawatir kami membongkar kuburan itu. Jangan-jangan ngo-sute menjadi tidak sabaran dan menyerang mereka seorang diri, sehingga akhirnya kedua belah pihak sama-sama hancur. Tetapi hati kami menjadi lega ketika kuburan tersebut hanya berisi wanita, anak-anak dan para pemikul tandu saja."
"Kemudian kami berputar-putar di hutan yang lebat dan sukar ditempuh tersebut untuk mencari ngo-sute dan sisa-sisa keluarga Chin yang masih hidup!"
Jong-bin Siang kwi ikut pula menambahkan.
"Tetapi kami tidak dapat menemukan mereka, sehingga kami terpaksa kembali menuju ke kota ini sesuai dengan perintah Ong ya..."
"Tetapi kami benar-benar tidak menyangka sama sekali kalau di tengah perjalanan itu kami justru dapat menemukan buron kita yang hilang."
Laki-laki berbaju putih itu melanjutkan kisahnya.
"Mula mula Tee-tok-ci Lo-Cianpwe melihat sebuah rumah bergenting merah di tengah-tengah padang ilalang. Kami menjadi curiga melihatnya, sehingga kami bersepakat untuk pergi menengoknya. Astaga! Begitu kami memasuki pintu halaman kami menyaksikan tumpukan mayat yang masih baru, bergelimpangan di mana mana. Dan beberapa di antaranya adalah mayat dari keluarga Chin, buronan kita yang hilang itu. Kami segera memeriksanya dengan teliti tapi cap kerajaan itu tidak ada pada tubuhnya..."
"...Dan kami menjadi bingung sekali pada saat itu."
Tee-tok-ci menyambung kisah itu.
"Selain kami tidak bertemu dengan ngo-sute yang kami tugaskan memata-matai mereka, kami juga tidak bisa menduga apa yang sebenarnya terjadi di tempat tersebut beberapa saat yang lalu."
"Dengan perasaan lesu kami meninggalkan tempat itu. Tugas yang dibebankan di atas pundak kami ternyata telah gagal sama sekali. Keluarga Chin telah musnah seluruhnya dan kami belum bisa mendapatkan benda yang disimpannya itu. Maka kami bermaksud menghadap Ongya untuk menerima hukuman..."
Laki-laki berbaju putih itu berkata lemah.
"Benar! Kami bermaksud menghadap Ongya ketika tiba-tiba muncul ngo-sute di hadapan kami."
Jeng bin Siang-kwi mengiyakan kata-kata yang diucapkan temannya tersebut.
"Ngo-sute lancang menceritakan semua pengalamannya setelah pergi meninggalkan kami. Dia berpendapat bahwa untuk memperoleh cap kerajaan itu kita harus bertindak lebih cepat, sebab sekarang terbukti bahwa tidak hanya kita saja yang menginginkan benda tersebut. Maka tanpa menanti persetujuan dari kami dia telah bertindak lebih lanjut dengan membuat surat ancaman kepada keluarga Chin. Dan untuk lebih mengokohkan serta lebih menguatkan bahwa surat ancaman itu tidak main-main ngo-sute telah membunuh semua wanita dan anak-anak dengan racun kelabangnya. Nah, pada saat dia menantikan hasil dari surat ancamannya itulah dia melihat Yap Tai-Ciangkun bersama dua orang rekannya melewati hutan tersebut..."
"Haha...melihat bekas teman akrabnya lewat, ngo-sute kontan mengikutinya,"
Tee-tok-ci meneruskan sambil tertawa.
"Benar teman akrabnya?"
Ongya itu menegaskan.
"Benar, Ongya! Dahulu, ketika masih berpetualang di dalam dunia persilatan Yap Tai-Ciangkun memang pernah bersahabat dan merantau bersama-sama dengan ngo-sute kami. Tapi persahabatan itu akhirnya putus akibat ulah ngosute yang suka membunuh orang!"
"Ah... lalu apa yang terjadi setelah Ceng-ya-kang Loheng mengikuti Yap Tai-Ciangkun...?"
Orang berkerudung itu menjadi tidak sabar. Laki-laki berbaju putih itu cepat-cepat menyelesaikan laporannya.
"Akhirnya Ceng-ya-kang Loheng kehilangan jejak mereka. Begitu pula ketika ia kembali ke tempat semula, keluarga Chin telah pergi dari tempat itu! Ceng-ya-kang Loheng bergegas pergi menuju ke tepi Sungai Huang-ho, sesuai dengan isi dan surat ancaman yang telah dibuatnya sendiri. Tapi sampai di tempat tujuan Ceng-ya-kang Loheng menjadi terkejut sekali. Ternyata dugaannya salah. Ternyata Ceng-ya-kang Loheng tidak menjumpai keluarga Chin yang datang ke tempat itu untuk memenuhi surat ancamannya, tapi Ceng-ya-kang Loheng justru bertemu dengan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai (Pendekar Gila) yang berada di sana!"
"Hong-gi-hiap Souw Thian Hai juga berkeliaran di daerah itu?"
Ongya itu bertanya dengan suara tinggi.
Orang-orang yang berkumpul di dalam ruangan itu semuanya memandang ke arah pimpinan mereka dengan perasaan ragu-ragu.
Ragu-ragu akan kemampuan pemimpin mereka itu apabila akan berhadapan dengan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai.
Soalnya nama itu memang sangat terkenal, ia menjulang tinggi di dunia persilatan.
Apalagi sejak pendekar itu dapat membunuh Bit-Bo-Ong (Raja Kelelawar) pada lima tahun yang lalu.
Padahal Bit-Bo-Ong tersebut adalah seorang raja di raja dari kaum sesat!
Kesaktiannya tak terlawan oleh pendekar manapun, termasuk pula pendekar-pendekar angkatan tua yang biasanya sangat disegani orang.
"Menurut penuturan Ceng-ya-kang Loheng memang benar demikian..."
Laki-laki berbaju putih itu menjawab pertanyaan pemimpinnya.
"Lalu bagaimana kelanjutan dan perjumpaan mereka yang tak disangka sangka itu? Apakah mereka berdua lalu bertempur?"
"Ah, tidak Ongya!"
Jeng-bin Siang-kwi cepat menyela.
"Ngo-sute adalah orang yang sangat cerdik. Biarpun ia tidak takut. Tapi ia juga merasa bahwa dirinya bukanlah tandingan pendekar besar tersebut. Oleh karena itu ngo-sute lalu segera menghindar dari tempat tersebut dan mencari buronannya di tempat lain. Hampir seharian penuh ngo-sute berputar-putar di hutan yang lebat itu, tapi tak seorangpun dapat dijumpainya. Akhirnya menjadi putus-asa dan kembali ke kota ini seperti kami. Sehingga bertemu dengan kami di tengah jalan."
"...Dan surat tadi... saudara-saudara sekalian, telah menerima surat pemberitahuan dari seseorang yang tak mau dikenal wajahnya, bukan? Isi surat tersebut mengatakan bahwa Chin Yang Kun, satu-satunya ahli waris dari keluarga Chin yang masih hidup, saat itu sedang menuju ke kota bersama-sama dengan salah seorang pengawalnya yang bernama Hek-mou-sai. Dalam surat itu juga dikatakan bahwa Chin Yang Kun dalam keadaan terluka parah dan Saudarasaudara dipersilakan untuk mempersiapkan sebuah jebakan guna menangkapnya. Bukankah begitu?"
Orang berkerudung itu melanjutkan sendiri kisah yang diceritakan oleh anak buahnya tersebut.
"Hei?"
Semuanya saling berpandangan.
"Ongya sudah tahu? Oh, surat itu tentu Ongya sendiri yang mengirimkan,"
Tee-tok-ci berseru gembira.
"Jadi orang yang tak mau dikenal tersebut adalah Ongya sendiri!"
"Bukan! Tee-tok-ci Loheng salah menduga kali ini. Bukan aku tapi dia adalah salah seorang anggauta kita yang baru. Baru dalam arti jika dipertemukan dengan saudara semua tetapi sebenarnya dia justru merupakan anggauta perkumpulan kita yang paling lama...!"
"Eh! Siapakah dia, Ongya?"
Orang berbaju putih yang merasa paling lama menjadi pembantu Ongya tersebut mengerutkan dahinya.
"Kwa-heng harap bersabar dulu! Pada saatnya nanti, yaitu setelah tugas rahasia yang dilakukannya telah selesai, dia tentu akan datang dengan sendirinya di hadapan saudara-saudara untuk memperkenalkan dirinya. Nah, sekarang marilah kita membicarakan persoalan kita yang lain..."
"Ongya, maafkan kami. Ternyata, kami semua benarbenar orang yang tidak berguna, sehingga selalu membuat kekecewaan di hati Ongya. Tugas yang demikian ringannya ternyata tidak dapat kami selesaikan dengan baik,"
Orang berbaju putih itu menyatakan penyesalannya.
"Benar, Ongya! Seperti niat kami semula, kami siap untuk diberi hukuman,"
Jeng-bin Siang-kwi ikut pula menyatakan perasaan menyesalnya.
"Dan kami juga minta maaf atas kelakuan ngo-sute kami yang teledor dan..."
Tee-tok-ci menundukkan kepalanya.
"Ongya, maafkan siauwte terlambat datang!"
Tiba-tiba terdengar suara Ceng-ya-kang dari balik pintu.
"Tee-tok-ci suheng, biarlah aku sendiri yang menerima hukuman itu!"
Pintu terbuka dan muncullah seorang laki-laki gemuk gundul memasuki ruangan itu.
la memakai pakaian berwarna hijau tua, sehingga sangat sesuai dengan warna kulitnya yang putih pucat kehijau-hijauan itu.
Dia mengangguk ke arah laki-laki berbaju putih sebentar lalu maju ke depan untuk menghadap orang berkerudung tersebut.
"Ongya. siauwte datang terlambat sebab..."
"Sudahlah. Ceng-ya-kang Loheng. Loheng tak perlu meminta maaf kepadaku. Jika Loheng sampai terlambat datang, itu tentu disebabkan oleh sesuatu hal yang sangat penting. Nah, silakan Loheng mengatakannya kepadaku!"
Ongya itu cepat memotong perkataan Ceng-ya-Kang.
"Terima kasih, Ongya. Sebenarnyalah bahwa keterlambatan siauwte ini memang disebabkan oleh sesuatu hal yang amat penting bagi kita semua."
Orang gundul itu menerangkan.
"Begini, Ongya, Ketika sore tadi siauwte keluar dari penginapan dan bermaksud datang ke sini, secara kebetulan siauwte melihat Yap Tai-Ciangkun lagi di antara kerumunan orang yang sedang bergembira di jalan."
Sambungnya sambil melihat ke arah Jeng-bin Siang-kwi.
"Kami telah melaporkan semua keterangan yang telah kau ceritakan kepada kami itu di hadapan Ongya."
Kedua wanita kembar itu memberi keterangan.
"Biarpun dia menyamar sebagai perajurit peronda siauwte tetap mengenalnya. Seperti juga ketika siauwte melihat dia di hutan itu, kali ini siauwte juga mengikutinya dari belakang. Di setiap tempat dia menemui orang-orangnya yang menyamar di antara penduduk. Berkali-kali ia berbuat demikian sehingga akhirnya siauwte merasa kuatir terhadap keselamatan saudara-saudara kita.Orang-orangnya Yap Tai-Ciangkun sangat banyak dan dipasang di mana-mana, seakan-akan kota ini sudah diawasinya dengan ketat. Ongya, ketika Yap Tai-Ciangkun menyelinap melalui sebuah gang kecil dan masuk ke gedung kepala daerah dari pintu belakang, siauwte tidak berani terlalu mendekatinya. Setelah beberapa saat kemudian, siauwte baru berani mendekat dan rnengintip gedung itu. siauwte melihat di halaman belakang berkumpul kira-kira tiga puluh orang perajurit berpakaian biasa seperti kita, tetapi dilihat sepintas lalu bisa diduga bahwa mereka rata-rata adalah seorang jago silat kelas satu! Ongya, siauwte menjadi sangat khawatir sekali! Jangan-jangan Kaisar Han telah mencium jejak kita dan kini Kaisar mengirim Yap Tai-Ciangkun bersama perajurit-perajurit pilihannya ke sini untuk menangkap kita. Oleh karena itu siauwte lekas-lekas kembali ke sini untuk melaporkan hal itu."
Ceng-Ya-kang menutup laporannya.
Suasana ruangan itu menjadi berisik.
Semuanya terpengaruh oleh kekhawatiran itu.
Masing-masing menyatakan pendapatnya.
Orang berkerudung itu akhirnya mengangkat lengannya ke atas dan menenangkan mereka.
"Saudara-saudara sekalian, harap jangan tergesa-gesa mengambil keputusan dahulu! Kita bicarakan dan kita rundingkan laporan Ceng-Ya-kang Loheng itu secara matang terlebih dahulu, baru kita menentukan apa yang sebaiknya kita lakukan nanti. Kemungkinan apa yang dikhawatirkan oleh Ceng-ya-Kang LoHeng-tersebut benar juga tetapi mungkin juga tidak benar! Seperti yang saya katakan sejak tadi, bahwa Kaisar Han saat ini berada di kota ini tanpa diketahui siapapun juga.Artinya, Kaisar itu telah datang ke kota Tie-Kwan ini secara rahasia.Dan apabila hal itu memang benar, maka kita tak usah heran kalau penjagaan di kota ini menjadi diperketat. Tapi untuk mendapatkan keterangan yang lebih jelas, marilah kita tunggu kembalinya Si Ciangkun dari rumah kepala daerah...!"
Belum juga kata-kata yang diucapkan oleh Ongya itu selesai, tiba-tiba terdengar ramai suara langkah kaki di luar.
"Ongya! Ongya!"
Dari luar pintu menerobos seorang perwira muda dengan terburu-buru, sehingga semua orang yang berada di dalam ruangan itu menjadi kaget sekali.
Apalagi ketika mereka tahu bahwa perwira muda tersebut adalah pengawal kepercayaan dari Si-Ciangkun!
"Liok Cian-bu (kapten Liok), ada apa?"
Orang berbaju putih itu cepat menahannya.
"Kwa-Sicu... ah Ongya! Anu... anu... semuanya lekaslah pergi dari sini! Si...Si Ciangkun telah ditangkap oleh Yap Tai-Ciangkun atas perintah dari Kaisar!"
Teriaknya. Suasana di dalam ruangan itu menjadi ribut seketika! "Saudara-saudara sekalian, dengarlah...!"
Orang berkerudung itu membentak.
Tidak begitu keras tetapi semuanya menjadi terdiam pula seketika.
Rasa-rasanya seperti ada halilintar yang meletus di dalam gendang telinga mereka!
Semuanya berdiri diam termangu-mangu, heran, kagum, takut dan juga sedikit harapan melihat kemampuan Ongya mereka yang hebat itu.
"Saudara semua harap tenang! Jangan terburu nafsu untuk lekas-lekas pergi dari tempat ini karena dengan terburu nafsu dan tanpa mampergunakan otak, lawan dengan mudah akan membunuhi atau menangkap kita! marilah kita atur dulu cara-cara kita untuk meloloskan diri!"
Benarlah, melihat ketenangan pemimpin mereka itu, semuanya menjadi terpengaruh pula. Mereka lalu bersiap-siap membenahi pakaian serta senjata masing-masing.
"Pertama-tama, silakan saudara menutup wajah masingmasing dengan saputangan! Setelah itu kita membagi diri kita menjadi empat kelompok. Tiap kelompok masing-masing akan dipimpin oleh Kwa-Heng-tee-tok-ci, Jeng-bin Siang-kwi dan Ceng-ya-kang. Masing-masing kelompok nanti harus berlari menuju ke arah yang berlainan, yaitu utara, selatan, timur dan barat! Jangan berpencar dari kelompok masing-masing dan jangan bertempur sendiri-sendiri! Usahakanlah mendobrak setiap penghalang secara bersama-sama dalam kelompok! Musuh tentu tidak akan mengira dan dengan mudah kepungan akan bobol! Kemudian berusahalah berlari ke arah kerumunan penduduk yang sedang berpesta ria di jalanan, lalu berbaurlah bersama mereka! Berbuatlah agar penduduk itu menjadi panik dan ketakutan, sehingga suasana akan menjadi kacau-balau!"
Ongya itu mengambil napas sejenak.
"Kulihat di muka dan dibelakang gedung ini adalah jalan besar. Disana tentu banyak penduduk yang bersukaria, sehingga dengan cepat kita akan dapat membaurkan diri dengan mereka. Tetapi pintu depan dan pintu belakang tentu akan dijaga dengan lebih kuat pula sedangkan di kanan kiri gedung ini merupakan perumahan penduduk. Selain medannya sukar, juga banyak waktu untuk mencapai jalan raya. Maka kelompok yang berjalan ke arah ini harus mempunyai ginkang dengan baik. Masing-masing pemimpin kelompok harus bertanggungjawab terhadap anggauta kelompoknya. Dia harus membantu sekuat tenaga agar semua anggauta kelompoknya dapat meloloskan diri semuanya! Nah, sekarang silakan memecah diri menjadi empat kelompok! Cepat! Ingat, yang merasa mempunyai ginkang lebih baik silakan berkumpul di belakang Tee tok ci dan Jeng-Bin Siang-Kwi untuk berlari ke arah perumahan penduduk!"
Kembali Ongya itu menghela sebentar. Lalu seperti layaknya seorang Jenderal perang yang berpengalaman ia kembali mengatur anak buahnya.
"Liok Cian-bu! saudara masih sangat diperlukan bagi kita semua, terutama setelah Si Ciangkun yang menjadi andalan kita disini telah ditangkap Kaisar. Oleh karena itu untuk mengelabui mereka, biarlah saudara saya lukai sedikit dan kami masukkan di ruang penjara belakang!"
Untuk beberapa saat orang-orang yang berada di dalam ruangan itu menjadi kagum atas siasat yang telah diberikan oleh Ongya mereka.
Semula mereka memang hanya mengagumi ketokohan dan kepemimpinannya, sehingga orang-orang aneh seperti Tee-tok-ci dan adik-adik seperguruannya dan Ban-kwi-to itu menjadi tunduk serta mau diajak bekerjasama.
Kini melihat pemimpin mereka itu juga mahir ilmu Siasat perang pula, otomatis mereka semakin menjadi kagum dan takluk lahir batin!
Maka dengan hati yang semakin santai mereka melaksanakan semua perintah tersebut.
Dan mulailah mereka satu-persatu keluar dari ruangan itu.
Mereka mengendap-endap melalui lorong-lorong kamar, yang berbelit-belit menuju ke arah masing-masing.
Sementara itu Ongya tersebut membawa Liok Cian-bu ke penjara belakang setelah pundaknya ia tusuk dengan jari-jarinya yang ampuh!
Benarlah!
Seperti yang telah diduga oleh orang berkerudung tadi, gedung itu telah dikepung oleh pasukan Yap Tai-Ciangkun.
Mereka telah berjejer-jejer dengan garangnya di sekeliling rumah tersebut.
Agaknya Yap-Tai-Ciangkun juga telah mempersiapkan pasukannya agar pertempuran itu tidak merembet ke tempat lain.
Beberapa orang prajurit tampak memegang obor besar untuk menerangkan halaman yang amat luas.
Yap Tai-Ciangkun berdiri tampak berada di halaman depan, duduk dengan gagah diatas punggung kudanya.
Di bawahnya berdiri seorang prajurit yang berdiri tenang dengan pedang telanjang di tangannya.
Orang she Kwa yang kebetulan membawa kelompoknya ke arah depan tampak mempersiapkan diri untuk menerjang ke halaman.
Kelompok mereka hanya memerlukan jarak lima puluh meter untuk mencapai jalan raya.
Sebuah jarak yang tidak begitu jauh tetapi harus mereka lalui dengan taruhan nyawa.
Di bagian belakang, kelompok Ceng ya kang telah dicegat lawan di taman bunga.
Mereka harus melawan kira-kira tiga puluh orang perajurit yang dipimpin oleh seorang perwira bergolok besar.
Ceng-Ya-kang membawa teman-temannya bertempur sembari berlari-lari mengelilingi taman.Mereka menerobos rumpun bunga, berputar-putar di pinggir kolam dan bersembunyi di dalam gardu-gardu yang banyak terdapat di sana, sehingga perajurit-prajurit itu menjadi kalang kabut.
Apalagi lampu minyak yang ada di di tempat tersebut terasa kurang sekali daya sinarnya.Maka dalam waktu yang tidak terlalu lama mereka segera dapat mencapai pintu belakang.
Tinggal selangkah lagi mereka akan dapat lolos dari tempat itu.
Di Luar Tembok telah terdengar sorak-sorak penduduk yang merayakan hari besar tersebut.
Tee tok ci yang memimpin teman-temannya menuju ke arah barat tampak membuat ulah yang aneh-aneh untuk menolong anggota kelompok.
Sekali lagi ia mendorongkan pasukan tikusnya sehingga di dalam keremangan cahaya obor pihak lawan dibuat kalang kabut oleh teman-teman yang merayap ke dalam baju-baju perang mereka.
Tentu saja kesempatan itu segera dipergunakan oleh teman-teman Teetok-ci untuk meloloskan diri.
Mereka meloncati tembok halaman yang tidak begitu tinggi dan menyusup di antara perumahan penduduk yang padat.
Pertempuran di halaman sebelah Timur tampak lebih seru dan sadis, lebih kurang tiga puluh orang perajurit yang berjaga di sana tampak memperlengkapi diri mereka dengan busur dan anak panah.
Begitu Jeng-bin Siang-kwi memimpin temantemannya turun ke halaman, mereka disambut dengan hujan anak panah.
Terpaksa kedua orang kembar itu memerintahkan teman-temannya untuk berlindung kembali kedalam gedung.
"Gila! harus melayani anak-anak panah mereka kita bisa ketinggalan oleh teman-teman kita yang lain..."
Jeng-Bin Sam-nio berkata pada adiknya Jeng-bin Su-nio.
"Lalu apa akal kita?"
"Cici, kita terpaksa mempergunakan bedak-bedak beracun kita. Kalian tidak, kita akan terlalu banyak kehilangan waktu."
"Baiklah, apa boleh buat. Nah, saudara semua kumpulkan anak panah yang berada di luar itu dan berikan kepada kami!"
Perintah Jeng-Bin-Sam-nio kepada yang lain.
"Cici akan mengikatkan sebuah kembang api pada setiap kepala anak panah ini, bukan?"
Tanya Jeng Bin Su-nio setelah mereka dapat mengumpulkan puluhan anak panah.
"Benar! Nah, kau bantulah aku untuk memegangnya!"
Sepasang saudara kembar itu kemudian sibuk mengeluarkan seikat kembang api serta memasangnya sekalian.
"Kita pancing sekali lagi agar mereka melepaskan anak panah. Dan sementara mereka belum sempat memasang anak panah yang lain, kita harus cepat-cepat melemparkan anak panah itu ke tempat mereka. Mengerti?"
Jeng bin Su-nio memberitahu teman-temannya.
Lalu dengan cekatan ia membagi anak panah tersebut dengan adil.Mereka meloncat ke halaman bersama-sama begitu hujan anak panah berhamburan di udara mereka segera berlindung kembali.
Tetapi begitu semua anak panah itu mengenai tembok gedung, mereka serentak keluar untuk melemparkan anak panah yang mereka bawa.
Biarpun tanpa memakai busur, tetapi oleh karena mereka itu rata-rata adalah seorang ahli silat berkepandaian tinggi, maka daya luncur daripada anak panah tersebut justru lebih pesat daripada bidikan para prajurit itu.
Suaranya berdesing memenuhi udara, sehingga mengagetkan para prajurit itu sendiri.
Di antara berkelipnya bintang di langit mereka melihat ber puluh puluh batang anak panah melesat ke arah mereka.Para perajurit itu menjadi panik.
"Mundur! Cepat...!"
Komandan mereka berteriak.
Terlambat.
Mereka tidak menyangka sejak semula bahwa mereka akan dibalas dengan batang anak panah mereka sendiri, sehingga keadaan malah membuat mereka tercenung tak tahu apa yang harus mereka perbuat.
Maka bersamaan dengan jeritan beberapa orang perajurit yang tertembus panah, Jeng-bin Siang Kwi meloncat ke depan bersama teman-temannya untuk melewati penjagaan yang kacau balau itu.
Prajurit-prajurit yang lain yang terhindar dari ujung anak panah bergegas membidikkan panahnya ke arah lawan yang berlari mendatangi.
Tetapi belum juga busur itu terpentang lebar, mereka dikagetkan sekali lagi dengan suara letusan beruntun di sekitar mereka berdiri, lalu tampak sinar gemerlapan memancar ke sana kemari di sela-sela tubuh mereka.
Bau belerang bercampur dengan wangi yang sangat lembut menyelimuti udara dimana mereka berdiri.
Dan belasan perajurit tampak roboh pula ke tanah, menimpa teman-teman mereka yang terkena anak panah.
"Awas! Gas beracun! Jangan bernapas dulu!"
Komandan perajurit itu berteriak memperingatkan teman-temannya.
Tetapi sekali lagi mereka telah terlambat.
Lebih dari separuh perajurit itu sudah terlanjur menghisapnya, sehingga tak lama kemudian merekapun ikut roboh ke tanah.
Suasana benar-benar menjadi kacau balau!
Beberapa orang perajurit yang masih dapat bertahan terhadap gas beracun itupun ternyata tidak dapat menyelamatkan diri pula.
Lawan yang telah sampai di tempat itu segera membantai mereka dengan senjata yang dibawanya.
Keributan yang terjadi di halaman timur tersebut terdengar pula oleh orang berbaju putih dan rombongannya.
Teriakan kemenangan dari kawan-kawan mereka itu ternyata menggugah semangat mereka.
"Kwa-sicu, kenapa ragu-ragu? Marilah kita meneroboskepungan itu, jangan sampai kita menjadi orang terakhir yang meninggalkan gedung ini,"
Salah seorang kawannya berkata dengan tak sabar.
"Baiklah! Tapi saudara-saudara harap berhati-hati! Usahakan jangan sampai bentrok dengan prajurit yang berdiri di samping kuda Yap Tai-Ciangkun itu!"
Pesan orang she Kwa kepada teman-temannya. Dan ketika semuanya memandang kepadanya dengan pandang mata bertanya-tanya, Orang berbaju putih itu segera menerangkan.
"Saya curiga kepada perajurit itu. Serasa pernah aku melihatnya, tapi sayang aku lupa mengingatnya. Tapi yang terang dia tentu bukan orang sembarangan! Dialah sebetulnya yang lebih berbahaya dari pada Yap Tai-Ciangkun sendiri. Hehh, marilah kita keluar sekarang!"
Mereka menghambur keluar pintu.
Dengan senjata yang teracung ke depan mereka berlari melintasi halaman, ke arah lawan yang berlari menyongsong mereka pula.
Para perajurit tersebut langsung mengepung ketujuh orang yang bermaksud melarikan diri itu.
Denting suara senjata mereka yang beradu sama lain terdengar berkumandang memenuhi halaman yang luas itu.
Walaupun mereka itu adalah perajurit-prajurit yang sangat terlatih serta pandai silat pula, tetapi menghadapi ketujuh orang kang-ouw yang rata rata berkepandaian tinggi itu akhirnya menjadi kocar-kacir juga.
Kepungan itu makin lama semakin melebar.
"'Kepung dengan tombak!"
Tiba-tiba Yap Tai-Ciangkun berteriak dari luar kepungan.
"Desak mereka kembali!"
Dua puluh orang perajurit bertombak berlari ke depan, menggantikan teman-teman mereka.
Dengan mata tombak yang teracung ke depan mereka mendesak ketujuh orang itu kembali ke tempat semula.
Orang berbaju putih dan temantemannya berusaha menggempur bersama-sama, tetapi mereka menghadapi puluhan ujung tombak yang menahannya.
Sehingga akhirnya mereka sendirilah yang kini terombang-ambing di ujung tombak lawan.
Orang berbaju putih itu menggeram, dia bersama rombongannya kini berada dalam bahaya.
Beberapa kali ia harus menyelamatkan teman-temannya yang tergencet oleh kepungan lawan beberapa kali pula ia harus mengeluarkan jurus simpanan dari perguruannya.
"Ilmu silat yang hebat!"' Lagi-lagi terdengar suara dari luar kepungan. Ketika mendadak salah seorang kawannya jatuh tertusuk tombak lawan, orang berbaju putih tak bisa mengendalikan diri lagi. Apalagi kawan yang roboh itu justru kawan yang bersemangat tadi. Maka dari itu, sambil berteriak keras orang itu meloncat tinggi tinggi ke udara. Lalu entah dari mana ia mengambilnya tapi tahu-tahu pada dua belah telapak tangannya telah tergenggam sebongkok hio (dupa) yang telah menyala di setiap ujungnya. Dan ketika kedua belah tangan itu terayun ke bawah, maka seperti juga derasnya tetes hujan yang menimpa bumi, batangbatang hio itupun tampak berhamburan ke bawah menimpa kepala para pengepungnya. Terdengar jeritan-jeritan kesakitan ketika belasan orang yang tertembus batang hio itu roboh berkelojotan di tanah. Otomatis kepungan itu menjadi berantakan dengan sendirinya. Dan kesempatan ini langsung di pergunakan oleh orang berbaju putih bersama teman-temannya untuk meloloskan diri.
"Berhenti!"
Terdengar suara geram di belakangnya ketika orang berbaju putih itu menunggu temannya yang terakhir melompati pagar tembok.
Belum sempat pula orang berbaju putih itu menoleh ke arah musuhnya, serangkum angin pukulan yang sangat kuat telah menerjang punggungnya.
Tak ada kesempatan untuk mengelak lagi.
Maka sambil membalikkan badan, orang berbaju putih itu mengerahkan tenaga dalamnya ke arah lengan untuk membentur kekuatan lawan.
"Dukkkk!"
Dua buah tenaga dalam yang berlainan sifatnya telah saling membentur dengan hebatnya.
Orang berbaju putih itu jatuh terduduk di tanah, sementara penyerangnya yang ternyata adalah Yap Tai-Ciangkun sendiri itu terlempar jauh menimpa anak buahnya.
Keduanya cepat berdiri kembali dan masing-masing mengusap darah yang menetes dan sudut bibirnya.
Ternyata dalam benturan keduanya sama-sama terluka, biarpun agaknya luka yang di derita oleh Yap Tai-Ciangkun sedikit lebih parah daripada luka lawannya.
Hal itu dapat menjadi bukti bahwa Iweekang orang berbaju putih tersebut sedikit lebih kuat daripada tenaga dalam Yap Tai-Ciangkun.
Sekilas orang berbaju putih itu menoleh ke arah pagar tembok yang berada di dekatnya.
Tempat itu telah kosong.
Orang terakhir dari anggauta kelompoknya telah berhasil meloncat keluar pula kini hanya tinggal dirinya sendiri saja yang harus berusaha untuk meloloskan diri dan tempat itu.
Untuk sesaat tampak hatinya menjadi lega.
Tetapi begitu melihat Yap Tai-Ciangkun dan para perajuritnya telah mengepung dirinya kembali, ia menjadi marah dan mengumpat-umpat di dalam hati.Apa boleh buat, orang itu mengeluh di dalam hatinya.
Darah telah terlanjur tumpah membasahi tangan mereka, tak mungkin mereka akan berdamai kembali.
Satu satunya kesempatan hanyalah bertempur mati-matian melawan mereka.
"Saudara, kami tahu bahwa saudara tak mungkin mau menyerah begitu saja kepada kami. saudara tentu akan melawan sampai titik darah penghabisan sebagai seorang laki-laki sejati. Nah, marilah kita mulai!"
Yap Tai-Ciangkun menantang.
Ternyata panglima yang bernama besar itu tidak sungkan sungkan lagi.
Pedangnya terjulur lurus kearah dada lawan dalam jurus Wan-Ong Kai-ko (Raja Kera mempersembahkan Buah).
Jurus ini sebenarnya adalah sebuah jurus yang sederhana, tetapi dimainkan oleh Yap Tai-Ciangkun ternyata menjadi sangat ampuh dan hebat!
Ujung Pedang itu tampak bergetar menjadi beberapa buah banyaknya, sehingga sepintas lalu sangat sukar untuk menduga arah tujuannya.
Tapi orang berbaju putih itu juga bukan orang sembarangan pula.
Hanya dengan bergeser sedikit ke samping ternyata serangan itu telah hilang keampuhannya.
Setelah itu tangannya melolos ikat pinggang yang dikenakannya dan diayun ke depan dengan keras.
Tapi ternyata panglima itu sangat cerdik, bukannya mundur tapi justru melingkar maju malah.
Sehingga serangan orang berbaju putih itu menjadi sia-sia.
Mereka berdiri berhadapan kembali.
Sebentar kemudian kedua orang itu telah terlihat dalam pertempuran yang sangat seru.
Mereka sama-sama muda, sama-sama berkepandaian tinggi dan sama-sama bersemangat besar.
sepuluh jurus, dua puluh jurus telah berlalu tapi mereka masih tetap seimbang.
Masing-masing masih menyimpan ilmu andalan mereka.
Meskipun begitu, para prajurit yang berada di sekitar mereka telah dibuat kagum oleh kegesitan mereka.
Akhirnya orang berbaju putih itu menjadi tidak sabar lagi.
Dia telah kehilangan banyak waktu dan hal ini tidak boleh berlarut-larut.
Mungkin kawan-kawannya dari kelompok lain telah dapat meloloskan diri semuanya.
Oleh karena itu dengan berseru keras ia mengubah cara bertempurnya.
Para prajurit yang mengepung tempat itu tiba-tiba merasakan sesuatu yang asing dan aneh.
Hawa malam itu tiba-tiba saja seperti bertambah dingin dan semakin dingin, sehingga prajurit yang berdiri di deret paling depan tampak menggigil kedinginan.
Langit yang semula tampak bersih bertaburkan bintang itu lama kelamaan seperti berubah menjadi kelam dan semakin kelam juga, sehingga akhirnya udara di sekitar merekapun rasa-rasanya berubah menjadi gelap pula.
Suara ribut dan ramai yang tadi terdengar oleh telinga mereka tiba-tiba saja juga lenyap, sehingga suasana di sekitar mereka kini seperti berubah pula menjadi sunyi sepi!
Tapi suasana itu belum begitu menggetarkan perasaan mereka.
Yang lebih menggetarkan hati mereka justru perubahan yang terjadi di arena pertempuran di depan mereka.
Tampak oleh mereka semua, suatu pemandangan yang aneh tapi juga terasa mengerikan!
Orang berbaju putih itu tampak bersilat dengan cara yang sangat aneh dan mengerikan.
Belum pernah selama hidup mereka menyaksikan sebuah ilmu silat sedemikian asing dan aneh seperti itu.
Biasanya gerakan kaki dan tangan merupakan unsur yang terpenting serta amat dibutuhkan di dalam setiap ilmu silat.
Tak sebuah ilmu silatpun di dunia ini yang tak mempergunakan tangan serta kaki sebagai gerakan pokoknya.
Tetapi sungguh lain halnya dengan ilmu silat yang kini sedang mereka saksikan!
Orang berbaju putih itu bersilat dengan cara yang amat mustahil.
Kaki dan tangannya hampir tak pernah dipergunakan.
Tubuh berdiri tegak dengan kaki dan tulang punggung yang lurus kaku.
Kedua belah lengannya selalu tampak bersilang di depan dadanya.
Sehingga sepintas lalu sikapnya itu tak ubahnya dengan sikap sesosok mayat yang telah siap untuk dikebumikan.
Tidak hanya bentuk dan sikapnya yang aneh tapi ternyata gerakan yang dilakukannyapun sangat aneh pula.
Badan yang lurus kaku seperti mayat itu selalu berdiri bergoyang-goyang pada ujung jari kakinya.
Bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri, ke muka dan ke belakang, seperti sebatang tonggak yang mau roboh.
Kadang-kadang berloncatan seperti sesosok mayat yang berjalan.
Anehnya tak sebuahpun serangan yang dilontarkan oleh Yap Tai-Ciangkun dapat mengenai sasarannya, biarpun panglima itu telah mengerahkan seluruh kekuatannya pula.
Malah beberapa saat kemudian ketika mayat itu sudah mulai melakukan serangan balasan, tampak Yap Tai-Ciangkun mulai mengalami kerepotan.
Beberapa kali panglima itu harus berloncatan kesana kemari untuk menghindari serangan lawannya.
"Ilmu hitam... heh... ilmu apakah ini?"
Serunya.
"Inilah ilmu silat Mayat Mabuk yang baru saja selesai kupelajari. Beruntunglah engkau dapat melihatnya,"
Orang berbaju putih itu menjawab.
"sengaja ilmu ini kukeluarkan di hadapanmu karena dengan demikian tak seorangpun dapat mengenali diriku. Lain halnya jika aku harus mengeluarkan ilmu perguruanku yang lain..."
Para prajurit yang telah dicekam kengerian itu hampir saja menjerit ketika sekali lagi tampak oleh mereka serangan mayat itu hampir saja mengenai dada panglima mereka.
Terlihat oleh mereka serpihan baju perang dan kain baju panglima mereka bertebaran tertiup angin.
Ternyata kedua tangan mayat itu berhasil menerobos pertahanan Yap Tai-Ciangkun dan hampir saja melukainya.
Sedang panglima itu seperti terkejut melihat kehebatan ilmu silat lawan.
Begitu pula seluruh prajurit yang berada di sekitar mereka.
Mereka seperti tertegun memandang ke arah panglima mereka yang nyaris terkena serangan lawannya.
Dan waktu yang hanya sesaat itu ternyata tidak dilewatkan begitu saja oleh mayat tersebut!
Dengan teriakan yang mendirikan bulu roma, mayat tersebut meluncur menerjang kepungan para prajurit.
Bagaikan sebuah bendungan yang dihantam oleh gelundungan batu besar, kepungan itu menjadi jebol dan roboh berantakan.
Tapi sebelum mayat itu sempat mencapai tembok, tampak seorang prajurit meluncur pula dengan tangkas menghadangnya.
"Jangan tergesa-gesa melarikan diri! Tunggu dulu, pertempuran belum selesai! Yap Tai-Ciangkun juga belum mengeluarkan ilmu simpanannya!"
Teriak perajurit itu sambil memukul ke depan.
Terdengar suara gemuruh seperti badai ketika pukulan itu melanda ke arah mayat di depannya.Sejak semula orang berbaju putih itu memang selalu berjaga-jaga terhadap perajurit yang dicurigainya itu.
Dan kini ternyata dugaannya memang benar.
Dari suaranya yang bergemuruh itu diduga bahwa pukulan tersebut tentu mengandung tenaga dalam yang telah sampai pada puncaknya.
Ia bermaksud meloncat mundur untuk menghindari pukulan itu.
Tetapi bila diingat bahwa dengan berbuat begitu sama saja dengan menyerahkan dirinya kembali untuk dikepung para perajurit itu, ia menjadi berubah pikiran!
Apa boleh buat, akhirnya ia toh harus mempergunakan salah satu dari ilmu simpanannya.
Kalau tidak ia akan mati oleh pukulan lawan secara sia-sia.
Hanya beberapa detik saja orang berbaju putih telah mampu menghimpun tenaga sakti Hio-Yen Sinkang (Tenaga Sakti Asap Hio) dari perguruannya!
Lalu dengan disertai bentakan yang keras tangannya terulur ke depan untuk memapaki pukulan lawan yang menderu-deru itu.
Bau asap hio tersebar dari tubuhnya.
"Bhlaaaaar!"
Bagaikan layang-layang putus tubuh orang berbaju putih itu terpental balik dengan luka dalam yang cukup parah.
Tapi sebelum tubuhnya menyentuh tanah, tiba-tiba terasa tubuhnya telah disanggah oleh sepasang lengan yang sangat kuat.
"Kwa-heng, jangan terlalu sembrono! Belum saatnya saudara menandingi pukulan Thian-Lui-gong-ciang (Pukulan Tangan Kosong Halilintar) orang itu. Marilah kau pegang tanganku, kita keluar dari tempat ini!"
Terdengar suara pemimpinnya dengan jelas.
"Terima kasih, Ongya!"
Dan suatu pemandangan yang menakjubkan kembali tampak di depan mata para prajurit itu.
Orang yang datang seperti setan saking cepat gerakannya, yang kemudian menolong orang berbaju putih itu, kini melambung tinggi ke udara dengan tangan menggandeng temannya.
Ginkang yang diperlihatkannya benar-benar hebat dan sempurna sehingga tubuh itu seperti melayang-layang tanpa menggerakkan kaki dan tangan sedikitpun.
"Bu-eng Hwe-teng (Loncat Terbang Tanpa bayangan)!"
Prajurit yang mempunyai pukulan Thian "lui-gong-ciang tadi berteriak tak terasa.
Tubuhnya yang tegap itu tampak bersandar pada tembok.
Ternyata iapun menderita luka dalam akibat mereka beradu pukulan tadi, biarpun tubuhnya tidak begitu parah seperti lawannya.
Tetapi untuk mengerahkan tenaga lagi, rasa-rasanya harus membutuhkan waktu istirahat sejenak.
Maka ketika dilihatnya iblis berkerudung itu terbang ke atas tembok membawa orang berbaju putih, ia tak mampu berbuat apa-apa.
Sebenarnya bisa saja ia nekad menyerang, tetapi melihat kemampuan lawan yang begitu hebat ia merasa bahwa hal itu tidak akan ada gunanya.
Salah-salah apabila orang itu malah berbalik menyerang dirinya, mungkin ia yang masih belum bersiap diri itu justru akan mengalami kesukaran.
"Lempar dia dengan tombakkkkkk...!"
Tiba-tiba terdengar aba-aba dari Yap Tai-Ciangkun mengatasi kepanikan itu.
puluhan batang tombak meluncur dengan deras kearah punggung kedua orang itu.
Tapi orang berkerudung itu sedikitpun tidak mengacuhkannya, ia malah merangkul kawannya yang terluka sehingga mantel hitamnya yang lebar itu menutup keduanya.
Terdengar suara benda patah ketika puluhan tombak itu mengenai tubuh yang tertutup mantel tersebut.
Orang yang melihatnya menjadi melongo tak habis mengerti.
Kedua orang itu lenyap dibalik tembok tanpa menderita luka sedikitpun!
para prajurit itu justru mendapatkan senjata tombaknya dalam keadaan patah-patah.
"Lagi-lagi sebuah ilmu iblis!"
Mereka bergumam dalam hati.
"Bukan ilmu iblis!"
Perajurit yang mahir pukulan Thian-lui gong-ciang itu menjelaskan.
"Itulah mantel pusaka yang tak mempan senjata, milik seorang iblis yang hidup pada kira-kira delapan puluh tahun yang lalu. Ahh, agaknya sejarah akan berulang kembali..."
"Suheng, apakah engkau terluka?"
Yap Tai-Ciangkun menghampiri perajurit yang terluka itu.
"Jangan khawatir, aku hanya luka ringan saja. Perintahkan saja perajurit-perajuritmu untuk mengurus teman-temannya yang terluka! Kita pergi dulu untuk melihat bagian yang lain...!"
Jawab kakak seperguruan Yap Tai-Ciangkun yang menyamar sebagai perajurit biasa itu.
Bukan main kagetnya mereka berdua ketika melihat keadaan para perajurit yang berjaga di sebelah barat dan timur gedung.
Ternyata keadaan di situ lebih parah daripada di tempat mereka sendiri.
Keduanya bergegas menuju ke bagian belakang, dimana penjagaan lebih diperkuat seperti mereka lakukan di bagian depan.
Perwira yang bertugas ditempat itu cepat menyongsong mereka dengan ketakutan.
Wajahnya pucat pasi.
Keadaan di bagian belakang ternyata tidak lebih baik dari pada di bagian lain tampak belasan perajurit terkapar berserakan di tanah.
Seorang laki-laki brewok (berjanggut lebat) kelihatan sedang memeriksa seorang perajurit yang terluka dibantu oleh seorang gadis yang berparas cantik sekali.
Yap Tai-Ciangkun menjura kepada orang berjanggut itu tapi orang tersebut cepat mencegahnya dengan menaruh jari telunjuk di bibirnya!
Maka panglima itu segera berpaling kembali ke arah perwira yang ketakutan tersebut.
"Apa yang telah terjadi di sini? Katakan!"
"Tai-Ciangkun, penjahat itu tidak lebih dari pada tujuh delapan orang sebenarnya. Tapi mereka benar-benar berilmu tinggi dan berbahaya. Taman ini sungguh sangat gelap dan mereka itu pandai bermain kucing-kucingan, sehingga tanpa kami ketahui mereka telah berada di tembok belakang ini. Untunglah datang nona Ho bersama gurunya menghadang mereka. Kami semua bertempur serta membantu nona Ho melawan penjahat itu. Dua orang di antara penjahat itu akhirnya dapat dibunuh oleh Ho-siocia! Tapi agaknya hal itu membuat kepala penjahat tersebut menjadi sangat marah. Ketika orang itu mula-mula meludah kesana kemari, kami hanya beranggapan bahwa hal itu dilakukan oleh orang tersebut saking tak kuat menahan kemarahannya. Tak kami sangka akhirnya sungguh amat mengerikan! Siapapun yang telah terkena percikan ludah itu tidak berapa lama kemudian jatuh ke tanah dan tewas.Akhirnya Nona Ho menyuruh kami mundur, sehingga nona Ho bersama gurunya menghadapi mereka hanya berdua saja..."
"Bodoh! Kenapa kau biarkan...eh...nona Ho melawan mereka sendirian? Apakah engkau tidak tahu kalau nona Ho itu adalah murid kesayangan dari Baginda Kaisar? Apa jawabmu jikalau dia sampai terluka? Apakah engkau berani berhadapan dengan Kaisar?"
"Hamba tidak berani... hamba tidak berani!"
Sahut perwira itu gemetar.
"Yap Tai-Ciangkun, maafkanlah kami. Kami harap paduka tidak memarahi perwira ini. Kalau dipikir kamilah sebenarnya yang bersalah. Coba kami tidak turut campur dengan menghadang penjahat-penjahat itu, kami kira takkan ada korban seperti ini. Padahal akhirnya kamipun terpaksa melepaskan juga...,"
Nona cantik itu berusaha menolong si perwira.
"Tetapi bagaimana kami harus bertanggung jawab kepada Baginda nanti?"
Yap Tai-Ciangkun berkata seraya menoleh ke arah laki-laki brewok yaag masih sibuk memeriksa perajuritnya.
'"Yap Tai-Ciangkun, kukira paduka tak usah merasa resah di dalam hati.
Baginda tentu akan memaklumi pula keadaan ini.
Tapi agaknya paduka telah salah menilai lawan sebelumnya, sehingga mengakibatkan banyak korban di antara perajurit prajurit paduka serta para penduduk..."
Laki-laki brewok itu berkata hormat.
"Oh?! Ada korban di antara penduduk...?"
Panglima itu tersentak kaget.
"Silakan paduka lihat di jalan itu...! Penjahat-penjahat itu banyak membunuh penduduk yang sedang bersuka-ria untuk mengacaukan suasana. Sehingga para penjaga yang secara diam diam paduka taruh di segala tempat juga tidak mampu menanggulanginya."
"Loheng benar! Agaknya aku memang tidak berbakat untuk menjadi panglima perajurit. Aku kurang mahir dalam ilmu siasat perang, aku hanya pandai berkelahi saja, Baiklah, aku lebih baik menghadap Baginda Kaisar untuk mengembalikan kedudukanku ini."
Panglima itu tampak menyesal bukan main.
"Ah! Kenapa Yap Tai-Ciangkun berubah menjadi cengeng begini? Di manakah kegarangan paduka seperti yang selalu paduka tunjukkan di tengah medan pertempuran dahulu? Lupakan saja pengalaman pahit ini, lebih baik sekarang paduka memeriksa keadaan di dalam gedung Si Ciangkun ini!"
Guru nona Ho itu memberi saran.
"Kim sute marilah...!"
Kakak seperguruan dari panglima itu juga berkata.
"Kau tak perlu terlalu menyesalinya!"
Dengan diiringi suheng dan kedua orang itu, Yap Tai-Ciangkun memasuki gedung tersebut.
Mereka manemukan bukti-bukti bahwa Si Ciangkun memang telah berkhianat dan bersekutu dengan seseorang untuk membentuk sebuah pasukan pemberontak.
Sayang mereka tidak menemukan daftar dari siapa saja yang telah menjadi anggauta pasukan pemberontak itu.
* * * Bagaimana dengan keadaan Chin Yang Kun dan Hek-mousai yang pada saat itu berada di ruang penjara di bawah tanah?
Apakah mereka dapat mengatasi kesulitan dan penderitaan mereka?
Agaknya mereka berdua memang tinggal menunggu saja nasib yang akan mendatangi mereka!
Keadaan tubuh kedua orang itu memang sudah sangat payah.
Yang Kun selain telah terluka parah kedua kakinya, ia juga telah terkena racun yang cukup ganas.
Dua macam racun telah memasuki tubuhnya, yaitu racun dan lendir ubur ubur laut dan racun tikus laut!
Racun pertama masuk ke dalam badannya melalui pedang Tung-hai Sam-mo dan racun yang ke dua masuk ke dalam badannya melalui bubuk putih yang diberikan oleh tabib palsu itu.
Sedangkan keadaan Hek-mou-sai juga sangat mengenaskan.
Tubuhnya masih tetap terikat kencang, sementara kulit badannya hampir semuanya terkelupas bersama-sama dengan pakaian yang dikenakannya.
Tetapi biarpun kelihatan lebih mengerikan.
sebenarnya keadaan tubuh Hek-mou-sai tidak begitu membahayakan bagi jiwanya.
Dia cuma menderita luka-luka luar yang biasa saja!
Saat itu selagi di luar gedung sedang terjadi pertempuran berdarah antara pasukan Yap Tai-Ciangkun dengan para pemberontak, di dalam tubuh Chin Yang Kun sendiri juga sedang terjadi pergolakan antara mati dan hidup.
Sebenarnya, seperti yang telah dikatakan oleh Tee-tok-ci bahwa racun bubuk putih yang terbuat dan hati tikus laut itu, akan mulai bekerja dan merenggut nyawanya selang enam jam kemudian.
Tapi oleh karena keadaan tubuh pemuda itu sudah sangat jelek, maka baru berselang tiga jam, racun dari bubuk putih tersebut ternyata sudah mulai bekerja.
Mula-mula bekas luka pada kedua belah pahanya itu terasa amat gatal.
Begitu gatalnya sehingga rasa-rasanya ia ingin memotong saja kaki itu.
Sukurlah ia dalam keadaan tertotok lumpuh kaki tangannya.
Coba tidak, mungkin ia sudah mengorek luka itu dan menggaruknya hingga hancur.
Lama kelamaan rasa gatal itu disertai rasa panas yang makin lama juga semakin menggila, sehingga rasa-rasanya pada lubang luka yang menembus dari atas ke bawah itu telah dijejal dengan sebungkah arang menyala.
Begitu panas rasanya sehingga hampir-hampir tak kuasa lagi menahannya.
Apalagi ketika rasa panas itu menjalar ke seluruh badannya.
Rasa panas itu merembet sedikit-demi sedikit bersama-sama dengan cairan darah yang terasa bagaikan telah mendidih ke seluruh tubuh dan seakan telah menghanguskan semua tulang serta daging yang dilewatinya.
Inilah agaknya saat yang pernah dikatakan iblis itu, bahwa pada saat serangan kedua telah datang maka hidupnyapun tinggal sebentar lagi.
Samar-samar ia melihat Hek-mou-sai telah siuman.
Lalu dengan amat sukar orang yang telah banyak jasanya itu berusaha mendekati dirinya.
Tampak beberapa butir air matanya meleleh ke pipi, ketika orang itu melihat penderitaannya.
"Tuan Muda... bagaimanakah keadaanmu?"
Sapanya lirih.
"Paman... mungkin aku sudah tak kuat lagi... heh-heh... seperti kata tabib palsu itu... aku tentu mati! Paman... kalau aku mati nanti, tolong aku carikan benda pusaka itu! Lalu letakkan benda tersebut di makam ayahku, biar arwah beliau dapat tentram... mau... maukah kau, paman...?"
"Tentu! Tentu! Aku tentu akan mentaati semua permintaanmu, tuan muda!"
"Nah, menurut a...ayah benda...a i...itu...terletak di...di Goa Harimau! Dan mengambilnya harus te...tepat di tengah malam... s...saat bulan sedang p...purnama!"
Hek-mou-sai terbelalak matanya.
"Di manakah goa itu berada, Tuan muda?"
"Entahlah, aku... aku juga tidak t...tahu. Ayah hanya memberi p...pesan ke...kepadaku..."
Pemuda itu meregang sebentar.
"Paman aku meminta tolong... juga ke...kepadamu... B-BUNUHLAH SEMUA MUSUHKU!"
Terasa berdiri seluruh bulu roma Hek-mou-sai mendengar perkataan yang paling akhir itu. Seakan seluruh dendam kesumat pemuda itu telah tersirat di dalam kata-kata yang mengerikan tersebut.
"Ba-baik, tuan muda!"
"Terima ka..."
Dan mata itu telah tertutup! Tiba-tiba terdengar, suara langkah kaki menuruni tangga. Dan di depan sel tersebut telah berdiri empat orang laki-laki dan seorang gadis.
"Liok Cianbu, tawanan inikah yang kau maksudkan?"
Salah seorang yang berpakaian panglima bertanya kepada seorang perwira bawahannya, sementara yang lain berusaha untuk membuka pintu sel tersebut.
"Suhu, pemuda ini terkena racun yang ganas!"
Tiba-tiba gadis itu berteriak ke arah orang tua berjanggut lebat.
"Agaknya sudah tak tertolong lagi."
Orang tua itu cepat memeriksa urat nadi Yang Kun, lalu mengerutkan keningnya rapat-rapat.
Terasa ada sesuatu yang aneh pada tubuh anak muda itu, tapi karena ia bukan seorang ahli pengobatan maka ia tak mengetahui dengan pasti, apakah yang telah terjadi di dalam tubuh anak muda itu.
Yang terang pemuda itu menderita luka-luka di beberapa tempat dan agaknya luka-luka tersebut mengandung racun terutama luka yang terdapat di kedua pahanya!
Sementara itu Hek-mou-sai yang terbaring di dekatnya tampak menatap kelima orang yang baru datang itu dengan curiga.
Meskipun badannya dalam keadaan terikat serta penuh luka tetapi pikirannya masih tetap jernih, sehingga dengan terang orang itu masih dapat berpikir dan mengurai semua peristiwa yang terjadi di depan matanya.
Sedikitpun Hek-mou-sai tidak mengenal kelima orang yang kini berada di depan hidungnya.
Melihatpun juga belum pernah.
Tapi meskipun begitu perasaannya dapat menebak dengan pasti bahwa kelima orang ini tentu tidak segolongan dengan orang-orang yang menawannya, biarpun orang-orang yang menawan mereka itu beberapa orang di antaranya juga mengenakan seragam perajurit ini.
Sekilas Hek-mou-sai menatap ke salah seorang di antara ketiga pendatang itu, yaitu yang menggunakan seragam perwira, yang tadi telah dipanggil dengan nama Liok Cianbu oleh kawannya.
Tiba-tiba Hek-mou-sai seperti melihat orang tersebut berkedip matanya.
Sekali saja tapi bagi Hek-mou-sai hal itu sudah merupakan sebuah isyarat.
Biarpun baginya sementara itu masih sangat meragukan karena diapun juga tidak mengenal orang itu.
"Yap Tai-Ciangkun, bolehkah siauwte mengatakan sesuatu kepada paduka?"
Laki-laki brewok itu menghadap ke arah orang yang mengenakan pakaian seragam panglima.
Tergopoh-gopoh panglima itu menunduk dan hal ini tentu saja sangat mengherankan apalagi bagi Liok Cianbu dan Hekmou-sai!
Seorang laki-laki biasa kenapa begitu dihormati oleh seorang panglima besar kerajaan?
"Oh, Liu-suhu, Tentu saja boleh!
Silakan!
Silahkan!"panglima itu menyahut dengan cepat.
"Begini Tai-Ciangkun, menurut pendapat lohu (aku orang tua) dan mungkin juga pendapat orang umum yang tidak begitu paham tentang ilmu pengobatan, pemuda ini terang sudah meninggal dunia. Tak ada lagi detak jantungnya. Tak ada denyut nadinya. Lenyap juga semua hawa murni. Tetapi... tetapi ada sesuatu yang membuat siauwte merasa ngeri...! Ada getaran-getaran aneh sebelah dalam dari tubuh pemuda ini! Maka dari itu siauwte ingin memohon kepada paduka satu hal saja, yaitu biarlah mayat pemuda ini aku bawa ke pondokku saja bersama nona Ho. Kebetulan rumah nona Ho ada tamu kenalan lama yang sangat mahir tentang pengobatan. Biarlah orang itu memeriksanya!"
"Ah, silakan Liu-Suhu! Silakan! Hanya kau mohon kalau ada keterangan apa apa pemuda ini, kamipun ingin pula mengetahui. Soalnya kami juga ingin mengetahui, kenapa orang ini sampai ditangkap oleh gerombolan itu."
Yap Tai-Ciangkun meminta.
Orang tua itu menyatakan rasa terima kasihnya.
Dan ia beringsut ke samping untuk memeriksa tubuh Hek-mou-sai.
Nona Ho memalingkan mukanya, karena tubuh tersebut hampir tidak berpakaian sama sekali.
Setelah melepaskan tali yang dipakai untuk mengikat tubuh itu, orang tua tersebut mengambil bubuk obat dan mengobati luka-luka itu.
"Terima kasih, tuan!"
Hek mou sai mengangguk. Lalu mengambil baju yang ditinggalkan oleh para penawannya dan dikenakan pada tubuhnya yang telah diobati.
"Kalau kami boleh bertanya siapakah sebenarnya cuwi (saudara) ini? Apakah yang menyebabkan sehingga cuwi ditangkap dan disiksa seperti ini?"
Orang yang disebut dengan nama Liu-suhu bertanya kepada Hek-mou-sai.
Hek-mou-sai terdiam, tak tahu harus menjawab bagaimana.
Dia tak ingin mengatakan kepada siapapun tentang diri mereka, tetapi oleh karena pertanyaan itu datangnya secara tiba-tiba maka dia belum mempersiapkan sebuah jawaban yang baik untuk tidak menimbulkan kecurigaan mereka.
Tiba-tiba nampak olehnya perwira yang bernama Liok Cianbu memberi isyarat sekali lagi dengan sudut matanya.
"In-kong (tuan penolong), jelek-jelek siauwte juga seorang guru silat, biarpun cuma seorang guru silat dari desa. Sedang pemuda ini adalah murid Siauwte, putera kepala desa kami sendiri. Kami berdua sedang merantau bersama-sama untuk memperoleh pengalaman, sebab pemuda ini telah tamat belajar dalam ilmu silat..."
Hek-mou-sai menjawab setelah beberapa saat memikirkan suatu jawaban yang bagus.
"Ah, kalau begitu tentu ada kesalahpahaman..."
Perwira she Liok tersebut cepat menyela.
"Yap Tai-Ciangkun jika diperbolehkan biarlah saudara ini Tai-Ciangkun serahkan saja kepada kami untuk kami periksa. Mungkin sejak mulai berkhianat Si Ciangkun selalu tidak tenteram dan selalu mencurigai orang, sehingga akhirnya terjadi suatu kesalahpahaman seperti ini. Saya memang memperoleh laporan bahwa Si Ciangkun kemarin telah menangkap dua orang mata-mata yang dicurigai karena telah memasuki halaman rumahnya."
"Benar, tuan. Kami ditangkap ketika kami sedang melepaskan lelah di gardu penjaga yang terletak di halaman depan itu. Padahal kami hanya ingin beristirahat sebentar sebelum menonton perayaan besar ini. Kami berdua baru saja menempuh perjalanan jauh dan tak ada tempat lagi untuk menginap di kota ini. Jalan-jalan juga telah penuh manusia, sehingga iseng-iseng kami diam di gardu penjaga tersebut. Toh tidak ada salah apabila kami, salah seorang rakyat jelata, turut mengaso sebentar di halaman seorang pemimpin rakyat seperti juga yang sering kami lakukan di desa kami apabila ada tamu yang kemalaman di jalan..."
Hek-mou-sai kembali bersandiwara sebagai orang yang benar-benar tidak tahu menahu tentang keadaannya.
Padahal orang ini sebenarnya mulai menangkap maksud dari perwira she Liok itu.
Yap Tai-Ciangkun tampak berpikir sebentar, kemudian menoleh kearah suhu dan nona Ho.
"Bagaimana pendapat Liusuhu?"' panglima itu bertanya.
"Siauwte kira memang lebih baik paduka serahkan saudara ini kepada Liok-Cianbu agar Paduka tinggal menerima laporannya saja nanti..."
Liu suhu itu memberikan sarannya.
"Tetapi mayat pemuda itu biarlah tetap kami bawa..."
"Terima kasih Liu-suhu...!"
Liok-Cianbu itu menjadi sangat hormat pula kepada orang itu seperti yang dilakukan oleh atasannya.
Mereka semua kembali ke gedung kepala daerah setelah urusan di tempat itu telah selesai.
Di jalan-jalan mereka melihat para penduduk telah bersukaria kembali, meskipun untuk sesaat mereka dihentikan oleh kekacauan itu.
Tai-Ciangkun sibuk memeriksa dan mengatur seluruh perajurit-prajuritnya yang berada di kota dibantu oleh suhengnya yang menyamar sebagai perajurit biasa tersebut.
Sementara itu mayat Chin Yang Kun telah dibawa pergi Liu-suhu dan nona Ho ke pondok mereka.
Sebuah pondok kecil dipinggir kota, yang biasa dipakai oleh kepala daerah untuk melukis dan membaca buku di kala senggang.
Mereka memasuki pondok itu melalui empang-empang ikan yang penuh dengan tanaman bunga beraneka warna.
Dan di setiap tempat terlihat beberapa orang perajurit sedang berjaga-jaga.
Baca Juga: Pendekar Sadis 12
Baca Juga: Pendekar Mata Keranjang 5