Eps 2 Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono
Baca online Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono
Cersil Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono.
Mereka mengangguk penuh hormat setiap nona Ho dan gurunya lewat di dekat mereka.
Sepasang pemuda dan pemudi keluar menyongsong mereka.
Pemudanya bertubuh jangkung serta tampan, sedang gadisnya berperawakan langsing kecil tetapi cantik sekali.
Mereka nampak heran melihat Liu-suhu memanggul orang.
"Hongsiang (Baginda)! Nona Ho!"
Keduanya menyapa dengan hormat dan ramah.
"Nona Kwa... saudara Chu! Kalian belum tidur malam-malam begini?"
Kaisar Han yang menyamar sebagai Liu-Suhu itu menjawab (Baginda sebelum menjadi Kaisar bernama Liu Pang, seorang pendekar pedang dari kalangan petani).
"Ah, bukankah belum lewat tengah malam. Hongsiang juga belum berangkat ke peraduan pula. Tidak enak bagi kami untuk mendahuluinya..."
Pemuda she Chu itu berkata merendahkan diri.
"Heh, inilah sebenarnya yang tidak aku sukai...! segala peradatan yang rnembuat aku tidak enak makan dan enak tidur. Semua orang itu bersikap sungkan kepadaku, sehingga aku tidak merasa bebas dan bahagia seperti dahulu ketika aku masih menjadi seorang petani atau ketika aku masih suka berkelana di Kang-ouw bersama-sama kawan."
Kaisar itu berkata menyesali diri. Tubuh pemuda yang dipanggulnya itu ia letakkan di atas pembaringan kamar depan, lalu memberi isyarat agar kedua orang tamunya itu mendekat.
"Saudara Chu., nona Kwa, ingin sebenarnya aku kembali menjadi petani seperti dulu lagi dan melepaskan semua kedudukan ini yang sangat mengikat serta membosankan ini..."
Kaisar itu melanjutkan keluhannya.
"Tetapi orang seperti Baginda ini masih sangat diperlukan oleh rakyat jelata. Semua orang telah mempercayakan nasib negara dan diri mereka kepada Baginda. Mereka semua beranggapan bahwa hanya Baginda seoranglah yang mampu memimpin perahu mengatur negeri kita ini. Apabila hal ini sebenarnya tidak menyenangkan hati Baginda... yah... anggap saja sebagai suatu pengorbanan Baginda terhadap negara..."
Nona Kwa yang cantik itu berkata pula dengan lemah lembut. Kaisar itu menghela napas berat.
"Yah... tetapi aku telah berjanji pada diriku sendiri. Kalau pada suatu saat nanti telah ada penggantiku yang juga disukai oleh mereka, atau negeri ini telah kembali aman dan tenteram, aku akan pulang kembali ke kampungku untuk bercocok tanam lagi..."
Beberapa saat mereka terdiam semua sehingga suasana menjadi sunyi sepi.
"Eh, aku menjadi terlupa akan sesuatu,"
Baginda tiba-tiba tersentak dari lamunannya.
"Anu... saudara Chu, aku membawa mayat seseorang yang rasa-rasanya sangat aneh keadaannya. Dikatakan sudah mati... kok terasa ada getaran yang aneh di dalam tubuhnya, tapi kalau dikatakan masih hidup kenapa sudah hilang detak dan denyut nadinya... coba kau periksa dia! Sebagai cucu murid dari Bu-eng Sin-yok-ong (Raja Tabib Sakti Tanpa bayangan) kukira tak ada lagi didunia ini yang menyamai kepandaian saudara Chu di dalam hal seperti ini."
"Ah, Hongsiang ini bisa saja..."
Pemuda itu menjadi malu.
Tubuh Chin Yang Kun sudah menjadi dingin pada saat itu.
Dingin sekali, tapi belum menjadi kaku.
Ketika jari-jari pemuda she Chu itu telah mulai menyelusuri setiap jalan darah di tubuh Yang Kun, semua orang menjadi tegang menanti.
Mereka tahu bahwa pemuda she Chu tersebut sedang mengerahkan segala kepandaiannya untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya dari "mayat"
Itu.
Peluh telah mulai tampak pada dahi pemuda ahli pengobatan itu.
Apalagi ketika pemuda tersebut sudah mulai pula mempergunakan jarum jarum peraknya.
Tapi beberapa saat kemudian ternyata semua peralatan itu ia letakkan kembali di atas meja.
Sebatang jarum perak yang kini berwarna kebiru-biruan dibawanya ke dekat lampu dan diamat-amatinya dengan teliti.
"Tak mengherankan jikalau Hongsiang merasakan sesuatu yang aneh pada pemuda ini,"
Katanya perlahan.
"Hambapun baru sekali ini pula memergoki peristiwa yang aneh seperti ini. Dalam tumpukan buku pengobatan serta buku catatan mengenai peristiwa penting warisan leluhur hamba, hamba juga belum pernah menemukan atau membaca tentang peristiwa yang aneh seperti ini..."
"Ah, saudara Chu masih juga berteka-teki...! Ayolah lekas ceritakan apa yang telah terjadi di dalam tubuh pemuda ini! Kami telah terlalu lama menderita ketegangan hati menunggu hasil penyelidikan saudara...!"
Nona Ho berseloroh.
"Baiklah! Baiklah! Tetapi sebelumnya siauwte memohon maaf terlebih dahulu. Soalnya peristiwa seperti ini juga masih asing bagi Siauwte. Jadi siauwte juga belum berani memastikan, apakah hasil penyelidikan yang akan siauwte katakan ini sudah betul..."
"Ya! Ya! Ya! Lalu...?"
"Tunggu sebentar...!"
Pemuda she Chu itu masih menahan keterangannya.
"Hongsiang, sebelum hamba katakan apa yang hamba ketahui, bolehkah hamba mengetahui siapakah sebenarnya pemuda ini? Kenapa Hongsiang begitu bersusah payah membawa dia kemari? Hongsiang, hamba mohon maaf jikalau pertanyaan hamba ini tidak berkenan di hati..."
"Haha... tak apalah! Tak apalah! saudara Chu ini memang pintar sekali membikin orang menjadi tak sabaran. saudara Chu, terus terang aku tidak tahu dan tidak mengenal anak muda ini. Aku menemukan dia di ruang penjara Si Ciangkun. Aku juga tidak tahu kenapa aku menjadi sangat tertarik kepadanya. Semula aku hanya merasa penasaran melihat keadaan tubuh anak muda ini yang sangat aneh. Dan kebetulan pula aku menjadi teringat bahwa saudara Chu sedang berada di pondokku. Itu saja, lain tidak!"
"Nah, suhu telah mengatakannya. Cepatlah...!"
Nona Ho menjadi tidak sabar.
"Baiklah! Tetapi..."
"Ah, brengsek amat! Aku bisa menjadi gila kalau terus terusan menunggu..."
"Hihihi... kau ini memang suka mengganggu orang sih!"
Nona Kwa itu menegur kawannya sambil tertawa.
Ahli pengobatan yang masih sangat muda itu tertawa pula.
Tapi suara tertawa itu tiba-tiba berhenti secara mendadak dan secara tiba-tiba pula wajah yang tampan itu berubah menjadi muram.
"Benar! Aku memang sudah lama tidak mengganggu dan menggoda orang sejak adikku Bwe Hong pergi..."
"Hei, ada apa lagi dengan enci Bwe Hong? Ini saja belum selesai sudah ada kabar yang menegangkan lagi... ayoh, saudara Chu! Lekas ceritakan semuanya! Ya...tentang penyakit pemuda ini, ya... tentang enci Bwe Hong! Biarlah tidak tidur sampai pagi juga tidak apa!"
Nona Ho mencak mencak.
Kaisar Han tersenyum melihat tingkah muridnya.
Mereka semua memang merupakan teman akrab sejak dari dahulu, sehingga kunjungan kedua muda-mudi itu di pondok mereka membuat muridnya gembira bukan main.
"Kalau begitu aku juga akan ikut pula bergabung sampai pagi untuk mendengarkan cerita dari saudara Chu,"
Kaisar Han juga ikut terseret kegembiraan anak-anak muda itu.
"Hei, pengawal! Bawa ke sini makanan dan arak wangi untuk tamutamuku!"
"Ah, Baginda membuat kami merasa kikuk saja..."
Nona Kwa tampak malu-malu.
"Wah, sudahlah! Anggap saja hal ini merupakan sebuah pesta kecil untuk merayakan pertemuan antara para sahabat lama..."
Kaisar Han tersenyum.
"...Dan pesta kecil untuk merayakan hari penobatan Hongsiang yang kelima!"
Nona Kwa melanjutkan.
"Hm, boleh juga... tapi aku sebenarnya tidak menyukai hal-hal seperti itu... Nah, saudara Chu...aku juga telah siap untuk mendengarkan uraianmu."
Maka pemuda itupun mulai dengan penuturannya.
"Dugaan Hongsiang tadi memang benar bahwa pemuda ini telah terkena racun. Dan racun yang masuk ke dalam tubuhnya ternyata tidak hanya sebuah saja tetapi dua buah racun. Kebetulan pula bahwa kedua buah racun tersebut sama-sama termasuk dalam satu golongan, yaitu golongan racun yang bersifat dingin. Artinya apabila salah satu dari racun tersebut menyerang manusia atau binatang, maka sebagai akibatnya manusia atau binatang itu akan menderita kedinginan dan menggigil badannya."
"Lalu bagaimana dengan anak muda yang terkena dua buah racun sekaligus ini?"
Baginda bertanya.
"Hongsiang, di dalam hal pengetahuan tentang dunia racun, nenek moyang kita sejak dahulu telah mencatat beberapa keanehan dari sifat racun itu sendiri. Misalnya beberapa buah di antara keanehan-keanehan itu ialah apabila racun-racun tersebut satu sama lain saling bercampur. Dua buah racun yang mempunyai sifat dingin bila saling bercampur akan berubah sifat mereka menjadi panas, sehingga penderita keracunan itu akan merasa seperti terbakar tubuhnya. Begitu juga sebaliknya, dan sebuah racun yang mempunyai sifat panas apabila saling bercampur satu sama lain akan cepat berubah pula menjadi dingin..."
"Kalau dua buah racun yang bercampur satu sama lain tersebut terdiri dari dua buah racun yang berbeda sifatnya? Misalnya racun yang satu dari golongan racun yang bersifat panas sedang racun yang lain dari golongan racun yang bersifat dingin, bagaimana?"
Nona Ho bertanya.
"Aha, nona Ho agaknya mempunyai minat terhadap pengetahuan ini?"
Orang she Chu itu tertawa.
"Memang akan terdapat lagi sebuah keanehan apabila kedua buah racun yang berlainan sifatnya tersebut saling bercampur. Jikalau kedua buah racun tersebut saling bercampur satu sama lain maka kedua buah racun itu justru akan hilang lenyap sifat maupun pengaruhnya!"
"Menjadi tawar? Begitukah maksud saudara Chu?"
Kaisar Han menegaskan.
"Benar, Hongsiang""
"Wah, menarik juga ya... pengetahuan tentang racun itu? Lalu kalau dua buah racun yang saling bercampur tersebut terdiri dari golongan racun yang bersifat sama? Yaitu seperti yang kini sedang terjadi pada anak muda ini? Bagaimana?"
Baginda bertanya lagi.
"Wah, suhu ini bagaimana! Tentu saja karena mereka sejenis, maka mereka akan bergabung menjadi satu dan kekuatannya akan menjadi berlipat ganda, bukankah demikian saudara Chu?"
Nona Ho mencela gurunya, Kaisar Han! "Nona Ho benar sekali...!"
Pemuda itu mengacungkan jempolnya.
"Hah? Kalau begitu anak muda ini benar-benar sudah mati dan tak mungkin tertolong lagi?"
Baginda terkejut. Pemuda she Chu itu memperbaiki letak duduknya.
"Hongsiang, ternyata apa yang sekarang sedang terjadi di dalam tubuh anak muda ini juga merupakan salah satu dari pada keanehan-keanehan yang sering terjadi di dalam dunia racun seperti yang hamba ceritakan tadi. Hamba tadi telah memberikan keterangan secara panjang lebar bahwa di dunia racun kami mengenal dua macam racun, yaitu racun yang bersifat dingin dan racun yang bersifat panas. Biasanya racun yang bersifat dingin itu sebagian terbesar bisa didapatkan dari binatang atau tumbuh-tumbuhan yang hidup di dalam air. Sedangkan racun yang bersifat panas bisa didapatkan dari binatang atau tumbuh-tumbuhan yang hidup di tempat kering..."
"Ooo... begitukah?"
Nona Ho mengangguk-angguk dengan mantap saking tertariknya pada uraian itu.
"Lalu keanehan apakah yang sekarang sedang terjadi pada tubuh pemuda ini? Bukankah menurut keterangan saudara Chu tadi apabila dua macam racun yang sejenis bercampur satu sama lain, maka mereka akan bergabung menjadi satu dan menjadi berlipat ganda kekuatannya? Dan karena dua macam racun tersebut termasuk dalam golongan racun yang bersifat dingin, maka gabungan itu akan mengubah mereka menjadi panas? Itu saja, bukan? Apa lagi keanehannya?"
"Nona, keanehan-keanehan yang saya ceritakan tadi hanyalah merupakan sebagian kecil saja dari keanehan keanehan yang sering terjadi di dalam dunia ilmu racun. Beberapa keanehan yang saya sebutkan itu hanyalah merupakan suatu keanehan yang terjadi apabila hanya dipandang dari sudut kalau beberapa racun bercampur menjadi satu, itu saja. Padahal masih banyak keanehan keanehan yang lain, misalnya keanehan yang ditimbulkan oleh dua macam racun yang satu sama lain memang tidak bisa bercampur menjadi satu, biar dua macam racun itu ditempatkan di dalam satu wadah sekalipun. Dan masih banyak sekali keanehan yang tidak dapat kami sebutkan di sini satu persatu..."
Pemuda she Chu itu menerangkan.
"lalu keanehan apakah yang kini sedang terjadi di dalam tubuh pemuda ini?"
Nona Ho bertanya agak bingung.
"Keanehan yang terjadi di dalam tubuh pemuda ini adalah keanehan yang ditimbulkan oleh suatu unsur kebetulan yang tidak mungkin didapatkan oleh lain orang. Ada dua macam racun yang memasuki tubuh anak muda ini..."
Pemuda itu menarik napas sebentar.
"Racun pertama yang memasuki tubuhnya adalah racun ubur-ubur yang hidup di pantai-pantai karang. Sedang racun yang kedua adalah racun tikus laut yang juga hidup di batu-batu karang pula. Kedua binatang itu selalu hidup berdampingan selama ini. Ubur-ubur itu hidup dari kotoran-kotoran yang dikeluarkan oleh tikus laut, sementara tikus laut itu selalu membuat sarangnya diantara kumpulan ubur-ubur laut. Kedua binatang tersebut sebenarnya adalah binatang yang sangat beracun, tapi karena selalu hidup berdampingan maka pengaruh dari racun mereka masing-masing sudah tidak berarti apa-apa lagi bagi yang lainnya."
"Jadi maksud saudara Chu, oleh karena kedua macam racun yang masuk ke dalam tubuh anak muda ini sudah bersahabat sejak semula, maka biarpun kedua racun itu sangat berbahaya tapi tidak akan membahayakan lagi pada tubuh anak muda ini, begitukah?"
Baginda menegaskan lagi dugaannya.
"Benar! Karena sudah bersahabat, maka kedua buah racun itu sudah tidak lagi berbahaya bagi anak muda ini."
Pemuda she Chu itu mengangguk.
"Lalu... kalau racun-racun itu sudah tak membahayakan lagi, kenapa dia masih tetap meninggal dunia juga?"
"Secara umum anak muda ini memang telah dianggap mati, tetapi dipandang dari sudut ilmu ketabiban, keadaan seperti yang terjadi pada tubuh anak muda ini belumlah dianggap mati. Jantungnya belum berhenti sama sekali. Hanya karena denyut itu sudah sangat lemah sekali, maka orang sudah tidak merasakannya lagi. Padahal jantung itu masih bergetar dan getaran yang amat lemah inilah yang Hongsiang rasakan sebagai getaran-getaran aneh itu."
"Jadi menurut pendapat saudara Chu anak muda ini belum mati, bukan? Tetapi yang sangat kuherankan ialah apa yang menyebabkan hawa murninya menjadi hilang lenyap? Padahal yang aku ketahui hawa murni itu hanya dapat hilang apabila orang itu sudah mati!"
"Iya... ya. bagaimana sih sebenarnya hal ini? Sudah mati dikatakan belum mati, dikatakan masih hidup hawa murninya khok sudah lenyap...jadi yang mana yang benar?"
Nona Ho tampak sangat penasaran.
"Hongsiang, hawa murni yang asli dari anak muda ini masih tetap ada di dalam tubuhnya, karena hawa murni tersebut merupakan dasar daripada kekuatan hidup manusia pada umumnya. Tapi apabila hawa murni yang Hongsiang maksudkan itu adalah hawa murni yang diperoleh anak muda ini sejak ia berlatih silat, maka dugaan dari Hongsiang bahwa hawa murninya telah lenyap adalah benar. Hawa murni atau tenaga murni yang diperoleh anak muda ini sejak ia mulai berlatih silat telah lenyap bersamaan dengan hilangnya denyut nadi serta berhentinya aliran darahnya. Hal itu disebabkan karena hawa murni yang didapatkan orang ketika berlatih ilmu silat disimpan di dalam aliran darahnya, supaya hawa murni tersebut dapat bergerak terus berputar-putar di seluruh tubuh. Maka ketika jantung dari anak muda ini sudah tidak mampu lagi mengalirkan darahnya, otomatis hawa murni yang terkandung di dalamnya merembes dan bergerak keluar hingga habis."
"Wah, kalau begitu percuma juga, ya...buat dia! Walau dapat hidup kembali seperti semula, tetapi sudah hilang lenyap semua tenaga murninya. Percuma saja ia belajar silat selama ini,"
Nona Ho turut menyesal, apalagi bila teringat kembali pada penuturan guru dari anak muda ini.
Pemuda ini baru saja menamatkan pelajaran silatnya dan bermaksud merantau untuk menambah pengalaman sebanyak-banyaknya.
Tidak tahunya malah mendapatkan kerugian bagi hidupnya!"
"Benar. Anak muda ini harus mulai berlatih serta menghimpun lagi tenaga murninya sejak dari awal kembali, jika ingin pulih kembali seperti sediakala. Dan hal itu membutuhkan waktu bertahun-tahun pula untuk dapat mencapai tingkatan seperti yang ia capai sekarang..."
Pemuda she Chu itu menegaskan pendapat nona Ho.
"Lalu kapan anak muda ini menjadi sembuh dan hidup kembali?"
Nona Kwa yang sedari tadi hanya diam saja itu bertanya.
"Tunggu saja hingga besok pagi...!"
Orang she Chu itu menjawab.
"Ha... kalau begitu sambil menanti dia hidup kembali, harap saudara Chu bercerita tentang enci Bwe Hong...!bagaimana khabarnya bidadari itu?"
Nona Ho menagih janji. Pemuda she Chu itu menunduk sambil menghela napas berulang-ulang, sehingga teman gadisnya yang cantik itu menghibur dengan lemah lembut.
"In-kong (tuan penolong), ceritakanlah semuanya! Bukankah kita sampai kemari juga ingin menanyakan kepada mereka, kalau-kalau mereka pernah melihat adik Bwe Hong?"
"Eh... ada apa sebenarnya dengan enci Bwe Hong? Apa...apakah dia telah...ooh!"
Nona Ho menjadi khawatir juga melihat tingkah kedua kawan akrabnya itu.
"Hongsiang, maafkan hamba kalau kesedihan hamba ini membuat pesta kecil ini menjadi agak terganggu kegembiraannya..."
Pemuda itu meminta maaf kepada Kaisar Han.
"Tenanglah, saudara Chu! Baiklah kau ceritakan saja semuanya kepada kami! Siapa tahu aku dapat memberi bantuan kepada kalian,"
Baginda bersabda.
"Terima kasih, Hongsiang."
Maka berceriteralah pemuda itu dengan jelas apa yang telah terjadi di dalam keluarga mereka selama beberapa tahun ini.
Setelah Kaisar Chin jatuh dan Kaisar Han naik takhta pada lima tahun yang lalu, mereka berdua, pemuda itu dan adik perempuannya yang bernama Chu Bwe Hong, kembali ke rumah mendiang orang tua angkat mereka, yang mengasuh mereka semenjak masih kecil.
Sebenarnya mereka berdua masih mempunyai seorang ayah, yang kini menjabat sebagai pendeta agung, di kuil istana sejak Kaisar Chin masih berkuasa.
Tetapi mereka lebih suka menyendiri di tempat yang terpencil itu untuk merawat makam ayah ibu angkat mereka yang tercinta.
Mereka berdua menolak dengan halus tawaran Kaisar Han yang kini berada di hadapan pemuda itu untuk menduduki sebuah jabatan di kalangan pemerintahan.
Ibu dari kedua kakak beradik tersebut adalah keturunan langsung dari salah seorang datuk persilatan, yang hidup pada kira-kira delapan puluhan tahun yang lalu.
Kakek mereka tersebut bergelar Bu eng Sin-yok-Ong (Raja Tabib Sakti Tanpa Bayangan), yaitu salah seorang dari Empat Datuk Besar Persilatan yang hidup pada jaman itu!
Maka dari itu biarpun mereka berdua kakak beradik berdiam di tempat yang terpencil, ternyata setiap harinya banyak orang berdatangan ke rumah mereka untuk berobat.
Mereka berdua sudah terkenal sebagai ahli waris dari kakek mereka yang mahir ilmu pengobatan itu.
Bertahun-tahun kedua kakak beradik itu hidup berbahagia di tempat itu.
Apa lagi ketika selang dua tahun kemudian sang kakak telah meresmikan peminangannya dengan Kwa Siok Eng, seorang gadis yang pernah ditolong oleh pemuda itu dari penyakit lumpuh yang menyerang seluruh anggota badannya.
Padahal gadis itu adalah putri dari seorang tokoh ilmu sesat yang sangat sakti, bernama Kwa Eng Ki, yang kini menjabat sebagai ketua Tai Hong-pai (Partai Silat Kuburan Besar).
Sebuah partai silat yang didirikan oleh salah seorang dari Empat Datuk Besar Persilatan juga!
Kwa Siok Eng sering datang dan menginap di rumah itu untuk beberapa hari sehingga mereka bertiga benar-benar kelihatan berbahagia.
Sang kakak juga tidak ingin lekas-lekas meresmikan perkawinannya, karena pemuda tersebut bermaksud untuk mengawinkan adik perempuannya terlebih dulu.
Ternyata suasana berbahagia di rumah itu tidak dapai bertahan lama.
Kwa Siok Eng yang sering datang ke tempat itu merasakan adanya suatu perubahan pada calon adik iparnya yang cantik bagai bidadari itu.
Terasa gadis ayu itu semakin kelihatan kurus dan menderita batinnya.
Ketika hal itu disampaikan oleh Kwa Siok Eng kepada Chu Seng Kun calon suaminya, pemuda itu juga sangat heran sekali.
Beberapa kali dia juga memergoki adik perempuannya tersebut yang melamun sendirian di tempat sepi.
Akhirnya datanglah malapetaka itu!
Jilid 04 Pada suatu hari Chu Bwe Hong pergi berbelanja ke kota yang terdekat seperti yang dia lakukan selama ini, sedangkan Chu Seng Kun berada di rumah melayani tamu-tamu yang datang berobat kepada mereka.
Tetapi hingga larut malam hari Chu Bwe Hong belum juga pulang.
Tentu saja Chu Seng Kun menjadi gelisah main!
Maka itu begitu orang-orang yang datang berobat kepadanya habis, malam itu juga Chu Seng Kun menyusul adiknya ke kota.
Semua toko dan warung telah menutup pintu mereka.
Waktu telah menunjukkan jam 10 malam.
Jalan telah menjadi sepi, hanya sebuah warung minum saja yang masih kelihatan terbuka pintunya.
belasan orang tamu tampak memenuhi tempat itu.
Suara mereka terdengar sampai ke jalan, memecahkan kesunyian malam.
Chu Seng Kun lebih dahulu menanyakan ke toko langganan mereka, tetapi pemilik toko yang telah menutup pintu itu mengatakan bahwa nona Chu Bwe Hong telah pulang sejak siang tadi.
Tentu saja keterangan itu membuat Chu Seng Kun semakin merasa khawatir dalam hatinya.
Khawatir terhadap keselamatan adiknya, biarpun dia tahu bahwa adiknya bukanlah seorang gadis yang lemah.
Sebagai ahli waris dari salah seorang Datuk Besar Persilatan yang berkepandaian sangat tinggi.
Tetapi Chu Seng Kun juga menyadari betapa banyaknya orang sakti di dunia ini.
Chu Bwe Hong adalah seorang gadis yang cantik.
Luar biasa cantik malah!
Hal itulah yang membuat kakaknya semakin mengkhawatirkan keselamatan adiknya tersebut.
Chu Seng Kun tahu betapa banyaknya hidung belang di dunia ini.
Padahal biarpun telah berusia 23 tahun.
Chu Bwe Hong masih merupakan seorang gadis yang hijau dalam pengalaman, terutama dalam hubungan laki-laki dan wanita.
Apalagi menghadapi kelicikan manusia!
Chu Seng Kun berusaha menanyakan kepada setiap kenalan mereka di kota itu.
Tapi setiap kali ia mengetuk pintu, jawaban mereka selalu sama.
Mereka tidak tahu.
Malam semakin larut.
Akhirnya Chu Seng Kun pergi ke warung yang masih terbuka pintunya tadi.
Ia ingin sekedar mengurangi ketegangan dan beban pikirannya dengan sedikit minum arak di tempat itu.
Tak seorangpun dari sekian banyaknya orang yang sedang duduk-duduk di dalam warung itu memperhatikan kedatangannya, selain pemilik warung yang telah dikenal baik oleh pemuda itu.
"Oh, Chu siauw-sinshe! Mari! Mari! Wah... tumben malam-malam begini pergi ke kota. Ada keperluan yang penting agaknya...!"
Dengan tersenyum lebar pemilik warung itu mempersilahkan Seng Kun masuk.
Chu Seng Kun tersenyum pula sambil mengangguk.
Diambilnya kursi yang terletak di dekat pintu yang kebetulan sedang kosong.
Dari tempat itu ia dapat mengawasi seluruh ruangan tanpa terlihat oleh siapapun.
Lalu ia mengamit pemilik warung itu agak mendekat.
"Paman Ciu, engkau kebanjiran langganan rupanya. Alamat banyak untung, nih!"
Chu Seng Kun membuka pembicaraan.
"Iya... Siauw-sinshe (tabib muda). Dari pagi belum beristirahat, hampir patah rasanya tulang-tulangku yang tua ini"
Minum apakah Chu siauw-sinshe?"
"Arakmu saja bawa ke sini! Aku mau minum sebanyakbanyaknya malam ini!"
"Hei? Sungguh? Tumben benar! Baru kali ini Chu siauwsinshe kulihat minum arak!"
Pemilik warung itu terbelalak keheranan.
"Sedang resah hati agaknya!"
"Benar, paman Ciu. Aku sedang kehilangan adikku. Sejak pagi tadi ke kota ini dan sekarang belum pulang!"
"Ah, siang tadi nona Chu juga lewat di depan warungku ini.Setiap orang saya kira mengetahuinya juga."
"Ya"
"Tapi sampai sekarang dia belum pulang juga,"
Chu Seng Kun mengeluh.
"Ahh... Chu siau-sinshe jangan putus-asa dahulu. Siapa tahu nona Chu mengambil jalan memutar dan kini sudah ada di rumah malah. Atau"
Mungkin nona Chu telah berjumpa dengan kawan lama dan... hei! Tadi siang nona Chu memang berjalan dengan seorang teman""
"Hah? Benarkah? Ke mana perginya? Macam apakah temannya itu?"
Seng Kun lupa diri sehingga pundak pemilik warung itu ia cengkram serta diguncang-guncang dengan keras.
"Ohh... paman Chu, maafkan aku!"
Katanya meminta maaf begitu menyadari tindakannya yang kasar itu.
"Aduh"
Chu Siauw-sinshe hampir saja meremukkan tulang pundakku""
Pemilik warung itu meringis kesakitan.
Tapi orang itu lantas menyadari isi hati pemuda yang berdiri di hadapannya, sehingga dengan cepat iapun tersenyum kembali.
Lalu dibimbingnya Chu Seng Kun ke tempat duduknya lagi.
"Tenanglah, Chu siauw-sinshe! Memang siapa yang takkan bingung kalau salah seorang keluarganya sampai hilang tak tentu rimbanya. Apalagi dia seorang gadis yang telah dewasa. Nah, Chu sauw-sinshe"
Kulihat tadi siang nona Chu berjalan bersama-sama dengan seorang laki-laki muda berperawakan tinggi kurus, berpakaian secara orang terpelajar. Mereka berdua berjalan ke arah utara. Orang itu"
"Terima kasih, paman Ciu!"
Seng kun berbisik dan sekejap kemudian tubuhnya berkelebat lenyap dari depan pemilik warung itu.
"Bukan main"!"
Orang she Ciu itu menggeleng-gelengkan kepala saking kagumnya.
"Siapa dia? Diakah yang digelari orang Keh-sim Siauwhiap (Pendekar Patah Hati)?"
Tiba-tiba pemilik warung itu merasa tangannya dipelintir orang dari belakang. Sakitnya bukan main! "Bu-bukan"! D-dia bukan", bukan", eh siapa yang kau sebut tadi?"
Pemilik warung itu menjawab dengan gagap dan lucu.
"Dia bukan Keh-sim Siauwhiap maksudmu?"
Orang yang memelintir tangan pemilik warung itu menggertak lagi.
"Jangan membohong! Kupatahkan lenganmu nanti!"
"Jangan! Jangan kau patahkan lenganku! aku tidak membohong", Pemuda itu bukanlah Keh-sim Siauwhiap! Pemuda itu bernama Chu Seng Kun...dia...dia adalah seorang tabib ter... aduuh!"
Orang itu kembali ke tempat duduknya setelah mendorong tubuh pemilik warung tersebut hingga membentur tembok.
"Heh"
Lama benar kau keluar? Apakah Twa-suheng sudah datang?"
Enam orang kawannya yang duduk di meja itu bertanya. Tak seorangpun dari mereka yang mengetahui peristiwa di depan pintu warung itu.
"Huh, Twa-suheng belum kelihatan datang. Sebenarnya aku tak sabar lagi. Kenapa untuk menghadapi satu orang saja, suhu memerintahkan kita semua berangkat? Kenapa tidak salah seorang saja dari kita yang disuruh berangkat menghadapi bangsat itu?"
Orang yang baru datang itu bersungut-sungut.
"Jit-te ( adik seperguruan ke-7)! Tahan kata-katamu! Kita tidak boleh terlalu memandang rendah Keh-sim Siauwhiap!"
Salah seorang dari mereka membentak orang yang baru datang itu. Tiba-tiba dari meja yang berada di dekat mereka berdiri seorang laki-laki berbadan kekar memberi hormat ke arahmereka.
"Ah, agaknya cuwi sekalian juga berurusan dengan Keh-sim Siauwhiap seperti kami..."
Orang yang membentak adik seperguruannya tadi cepat pula berdiri membalas penghormatan itu untuk mewakili adik-adik seperguruannya.
"Benar! Kami memang mempunyai sebuah urusan yang harus kami selesaikan bersama. Antara kami dan Keh-sim Siauwhiap! Maaf, apakah cuwi mengenal dia pula?"
Jawabnya berhati-hati.
"Ahaa, kalau begitu kita mempunyai tujuan yang sama.Kami juga mempunyai sebuah urusan yang harus kami selesaikan dengan dia! Ah, maaf kami belum memperkenalkan diri. Kami empat orang ini adalah pembantupembantu Song-tie-koan (pembesar Song) dari kota Tie-an. Orang memanggil kami berempat dengan Tiat-I Su-jin (Empat Orang Berbaju Besi). Sekarang bolehkah kami mengenal nama besar dari cuwi sekalian?"
Kata orang berbadan kekar itu sambil memperkenalkan diri mereka.
Tiga orang yang duduk satu meja dengan orang itu segera berdiri pula untuk memberi hormat kepada ke-7 orang itu dengan penghormatan pula.
Mereka tidak ingin berbuat sembrono dihadapan petugas petugas Negara, meskipun di dalam hati mereka tidak begitu menyukainya.
Soalnya setiap mereka melakukan tugas pekerjaan mereka, mereka harus selalu berhubungan dengan para petugas Negara.
"Oh, kami ber-7 benar-benar tidak mengira dapat berjumpa dengan Tiat-i Su-jin di tempat ini. Kami semua adalah pengawal Kim-liong Piauw-kiok (Perusahaan Pengangkutan Naga Mas) yang berkedudukan di kota Sin-yang."
"Kim-liong Piaw-kiok? Wah, kalau begitu kita masih merupakan sahabat lama sebenarnya. Kami telah sering bertemu dengan saudara Thio Lung, pemimpin Kim-liong Piaw-kiok. saudara Thio Lung sering berkunjung ke tempat tinggal Song-tie-koan. Haha"
Kalau begitu mari kita duduk dalam satu meja saja. Kita rayakan pertemuan malam ini dengan arak!"
Ajak orang bertubuh kekar tersebut dengan sangat gembira. Mereka lalu makan minum sepuas-puasnya.
"Thio Lung adalah Twa-suheng kami (kakak seperguruan yang tertua). Karena sedang mengurus sesuatu urusan maka Twa-suheng kami itu akan datang kesini agak terlambat"
Tapi sebentar lagi tentu akan tiba,"
Kata orang yang membentak adik seperguruannya tadi.
"Ji-sute"! Ini aku sudah datang!"
Tiba-tiba terdengar suara di luar pintu.
Dan sebelum gema suara itu lenyap, orangnya telah berada di antara mereka.
Pertemuan itu menjadi semakin meriah.
Orang yang bernama Thio Lung itu benar-benar seorang yang ramah dan pandai bicara.
Sesuai benar dengan jabatannya sebagai pemimpin perusahaan pengangkutan yang selalu berhubungan dengan para langganan.
Itulah agaknya menjadi sebab mengapa suhunya mempercayakan perusahaan Kim-liong Piaw-kiok itu kepadanya.
"Saudara Thio"! Lama sungguh kita tidak pernah berjumpa...!"
Mendadak pula terdengar sebuah suara dari pojok ruangan. Seorang laki-laki berusia sekitar 40 tahun dengan kumis dan jenggot lebat tampak berdiri menghadap ke arah mereka.
"Hei... Li-Taihiap rupanya (pendekar Li)!"
Thio Lung tersentak keheranan.
"Angin apakah kiranya yang meniup Li-Taihiap, sehingga jauh-jauh dari kota Tie-kwan di lembah Sungai Huang-ho, sampai di kota kecil ini?"
"Ha-ha... Agaknya sama juga persoalannya dengan cuwi semua. Aku juga ada sedikit urusan dengan Keh-sim Siauwhiap,"kata orang yang disebut dengan nama Pendekar Li itu sambil mengambil tempat duduk di antara mereka pula. Thio Lung memperkenalkan pendekar itu kepada teman-temannya yang lain.
"Inilah Li-Taihiap yang ternama itu. Beliau menjadi sangat ternama tidak hanya disebabkan oleh Jit-seng Kiam-hoat (Ilmu Pedang Tujuh Bintang) beliau yang hebat, tetapi juga disebabkan karena harta benda beliau yang berlimpah-limpah. Beliaulah ahli waris satu-satunya dari mendiang Perdana Menteri Li Su""
Katanya. (Li Su adalah perdana menteri dari Kaisar Chin yang lama).
"Ah, saudara Thio ini... kenapa mesti mengungkit-ungkit nama seseorang yang telah tiada""
Sahut Pendekar Li kurang senang.
"Maafkan siauwte kalau begitu. Sebenarnya siauwte hanya ingin meyakinkan kepada semua orang bahwa Li-Taihiap bukanlah seorang pendekar sembarangan seperti kami semua ini."
"Ya"
Tapi justru karena khabar seperti itulah yang menyebabkan Keh-sim Siauwhiap mengirim orang-orangnya untuk merampok semua isi rumahku.
Sehingga aku terpaksa pergi ke tempat ini untuk mengambil kembali barangbarangku itu,"
Kata Pendekar Li dengan geram.
"Oh"
Jadi hal itukah yang menyebabkan Li-Taihiap jauh jauh datang ke sini?
Kalau begitu memang hampir sama juga persoalannya dengan urusan kami orang-orang Kim-liong Piauw-kiok.
Hanya bedanya barang-barang yang mereka rampok dari kami itu bukan barang-barang kami sendiri tapi barang-barang yang dititipkan orang kepada kami,"
Kata Thio Lung dengan menggeram pula.
"Wah, agaknya Keh-sim Siauwhiap itu memang seorang manusia yang serakah dan suka mengganggu orang lain."
Tiat-I Su-jin ikut berbicara.
"Beberapa orang tahanan yang berada di bawah pengawasan kami juga mereka ambil dan mereka lepaskan begitu saja. Maka kami terpaksa mencari pula orang itu untuk mempertanggungjawakan perbuatan yang dilakukan oleh para anak buahnya tersebut."
Sementara itu selagi orang-orang tersebut memperbincangkan urusan mereka masing-masing.
Chu Seng Kun tampak mendatangi tempat itu kembali.
Wajahnya kelihatan kusut dan lelah.
Ia telah jauh berlari-lari ke arah utara untuk mencari adiknya tanpa hasil.
Ia malah bertemu dengan rombongan gadis-gadis cantik yang sangat mencurigakan.
Gadis-gadis itu menanyakan letak warung minum milik orang she Ciu itu, sehingga hampir saja Chu Seng Kun yang sedang berhati kusut itu bentrok dengan mereka.
Dan ternyata di dalam warung itupun Chu Seng Kun hampir bentrok pula dengan orang-orang tersebut.
Roman mukanya yang muram, lesu dan tak bergairah hidup itu membuat orang-orang yang sedang mencari Keh-sim Siauwhiap tersebut menjadi salah duga terhadap dirinya.
Wajahnya yang tampan, usia yang masih muda dan roman mukanya yang seperti orang patah hati itu membuat orang-orang tersebut menyangka dirinya Keh-sim Siauwhiap!
Pemilik warung yang sekali lagi memberi keterangan tentang siapa sebenarnya pemuda itu ternyata juga tidak dipercaya oleh mereka.
Apalagi kedatangan Chu Seng Kun saat itu tepat tengah malam seperti saat yang dijanjikan oleh Keh-sim Siauwhiap kepada mereka.Baru setelah rombongan gadis yang pernah dijumpai Chu Seng Kun di luar kota itu memasuki warung tersebut, kesalahpahaman itu menjadi jelas.
Orang-orang itu baru menyadari akan kesalahan mereka.
Ternyata gadis-gadis tersebut adalah anak buah Keh-sim Siauwhiap yang diperintahkan untuk menjemput mereka semua.
Akhirnya orang-orang itu meninggalkan warung tersebut bersama-sama dengan gadis-gadis cantik itu.
Chu Seng Kun dengan lesu duduk kembali di atas kursi ditemani pemilik warung itu.
"Chu siauw-sinshe, bagaimanakah"? Kenapa tadi terus berlari begitu saja? Tidak bertemu dengan nona Chu, bukan? Tentu saja tidak! Bukankah nona Chu telah berangkat siang tadi? Sekarang sudah tengah malam. Paling tidak nona Chu telah menempuh jarak 100 lie lebih... Eh, Chu Siauw-sinshe! Kata-kataku tadi sebenarnya belum habis. Aku menyimpan sebuah barang kepunyaan orang yang pergi bersama-sama dengan nona Chu tapi""
"Heh? Benar? Benda apakah itu?"
Chu Seng Kun terlompat dari tempat duduknya.
"Cepat perlihatkan kepadaku, paman! Apa...Apakah orang itu menginap di sini?"
Pemilik warung itu mengangguk lalu bergegas masuk ke dalam diikuti oleh Chu Seng Kun.
Dari dalam almari penyimpanan arak orang itu mengambil sebuah topi lebar dengan kain sutera tipis sebagai penutup pinggirannya.
Benda itu diperlihatkan kepada Chu Seng Kun yang lalu mengamat amati benda tersebut dengan teliti.
"Sudah pernah mengenal topi ini, Chu siauw-sinshe?"
"Belum pernah!"
Chu Seng Kun menjawab lemah.
"Nah, siauw-sinshe. Sekarang pulang beristirahatlah!"
"Tidak! Aku mau pulang malam ini juga. Siapa tahu Chu Bwe Hong telah berada di rumah""
Tapi rumahnya tetap sepi. Ia menanti lagi sampai pagi, siang, sore"
Adiknya tetap tidak kembali.
Beberapa hari ia menanti, kadang-kadang ia pergi ke kota untuk menanyakan tentang Chu Bwe Hong, tetapi adiknya tetap juga belum kembali.
Akhirnya ia meninggalkan rumahnya untuk mencari Chu Bwe Hong!
Satu bulan telah berlalu, berita tentang Chu Bwe Hong belum juga terdengar.
Dua bulan tiga bulan telah berlalu pula.
Chu Seng Kun pergi pula ke tempat calon mertuanya dan mengajak tunangannya untuk turut mencari adiknya.
Sehingga kini enam bulan telah terlewatkan pula tanpa hasil.
Akhirnya pada hari ulang tahun penobatan Kaisar Han ini mereka teringat untuk mengunjungi Baginda.
Untunglah dari salah seorang perwira yang mengiringkan Baginda ke kota ini mereka diberi tahu tentang kunjungan Baginda di sini, sehingga sekarang mereka bisa berhadapan dengan junjungannya itu.
Demikianlah pemuda itu mengakhiri kisahnya, sementara hari ternyata juga telah menjelang pagi.
Terdengar suara kokok ayam di sekitar pondok itu.
Para prajurit penjaga telah mulai sibuk dengan tugasnya masing-masing.
"Ooh... jadi sampai sekarang enci Bwe Hong belum juga terdengar kabar beritanya? Ah, enci Bwe Hong... enci Bwe Hong!"
Nona Ho mengeluh sedih.
Teringatlah gadis itu akan pengalamannya bersama-sama Chu Bwe Hong beberapa tahun yang lalu tatkala mereka berkelana bersama, berpetualang bersama, mengalami pahit getir bersama.
Terbayang pula di depan mukanya saat mereka berdua diombang-ambingkan gelombang laut yang sangat luas.
"Enci"
Enci!"
Keluhnya lagi.
Hatinya seakan-akan juga mengetahui apa sebenarnya yang menjadi beban pikiran gadis ayu itu.
Kaisar Han yang biasanya berhati keras itupun tampak menghela napas berulang-ulang.
Baginda telah mengenal baik gadis itu sebelum Baginda menduduki singgasana, karena kedua kakak beradik tersebut juga turut berjuang bersamanya dalam menumbangkan kekuasaan Kaisar Chin yang kejam itu.
"Sudahlah"! Kita tidak boleh hanya merenung dan menyesalinya saja. Kita harus berusaha untuk menemukan nona Chu kembali secepatnya! Nah, aku juga akan membantu saudara Chu dalam hal ini."
Kaisar Han berkata dengan penuh semangat.
"Penjaga! Panggillah Yap Tai-Ciangkun ke sini sekarang juga! Bawa kim-pai (tanda perintah) ini! Lekas!"
Kaisar Han memanggil penjaga pintu dan menyuruhnya memanggil Yap Tai-Ciangkun yang sedang berada di gedung kepala daerah.
"Baik Hongsiang!"
Penjaga itu berdatang sembah. Lalu dengan gemetar diterimanya "kim-pai"
Itu di atas kepalanya.
"Hongsiang"
Maaf, apakah yang akan Hongsiang lakukan dengan memanggil Yap Tai-Ciangkun kemari?"
Chu Seng Kun bertanya dengan perasaan tidak enak.
"Saudara Chu, kau tenang-tenang sajalah di sini! Aku akan berusaha menolong pula untuk mencari nona Chu... Soalnya... hei, lihat! Anak muda ini telah membuka matanya!"
Mendadak Kaisar Han menunding ke arah di mana Chin Yang Kun dibaringkan.
Tampak pemuda yang hampir saja mati terkena racun itu berusaha membuka pelupuk matanya yang terpejam.
Dan beberapa saat kemudian tampak mata yang telah terbuka termangu-mangu seakan tidak mempercayai kalau dirinya masih tetap hidup.
Tetapi begitu mata itu memandang berkeliling dan melihat wajah-wajah keempat orang yang mengerumuni dirinya, kontan mata itu menjadi beringas.
Agaknya ia telah teringat kembali akan dirinya yang berada di penjara bawah tanah.
Tiba-tiba pemuda itu melompat dari tempat tidurnya.
Tetapi karena luka-lukanya yang parah pada kedua belah pahanya serta habisnya lweekang yang ia pelajari selama ini, maka tubuh itu jatuh terduduk di atas lantai dan terguling pingsan kembali.
Chu Seng Kun dan Kaisar Han bergegas mengangkatnya kembali ke atas pembaringan.
"Kelihatannya anak muda ini telah mengetahui tadi bahwa tenaga dalamnya telah musnah""
Kaisar Han berguman pelan.
"Tetapi hamba kira hal itu justru kebetulan sekali, terutama demi keselamatan umum dan kaum persilatan""
Chu Seng Kun bergumam pula.
"Apa maksud saudara Chu?"
Kaisar Han bertanya kaget.
"Hongsiang, di dalam darah anak muda ini telah mengalir sebuah campuran racun yang kekuatannya telah berlipat ganda. Racun itu telah bersenyawa menjadi satu dengan cairan darah sehingga tidak mungkin terpisahkan lagi. Pada hal sifat racun itu adalah hidup, artinya mereka akan berkembang biak menjadi berlipat ganda banyaknya, sejalan dengan bertambahnya cairan darah di dalam tubuh manusia. Nah"
Tanpa kepandaian apa-apapun anak muda ini sudah menjadi orang yang sangat berbahaya bagi lingkungannya.
Apalagi kalau sampai dia memiliki tenaga dalam yang mampu mengantar keistimewaan tubuhnya yang mengandung racun itu untuk melukai atau menyerang orang...
Wah, dunia persilatan tentu akan menjadi geger!"
Chu Seng Kun menerangkan.
"Tetapi bukankah sudah banyak tokoh-tokoh persilatan yang mempunyai pukulan-pukulan beracun?"
Nona Ho membantah.
"Benar, tetapi lain sifatnya. Orang yang mempelajari ilmu pukulan beracun biasanya merendam lengannya di dalam cairan racun, sehingga sedikit demi sedikit cairan racun itu akan melekat pada kulit lengannya tanpa membahayakan jiwanya. Jadi selain mempelajari ilmu silat, orang itu juga melatih daya tahan tubuhnya terhadap racun itu. Maka seseorang yang berlatih ilmu pukulan racun hanya bagian kulit lengan saja yang mengandung racun. Cairan darahnya tetap bersih! Lain halnya dengan anak muda ini"
Darahnya benar benar beracun sehingga boleh dikata ia menjadi seorang manusia beracun, tidak ada bedanya dengan binatang ubur-ubur atau tikus laut itu sendiri!"
Chu Seng Kun menghentikan kata-katanya sebentar, kemudian melanjutkannya lagi.
"Maka dari itu semakin tinggi anak muda ini berlatih lweekang semakin berbahaya pula dia bagi orang-orang yang berada di sekelilingnya. Sebab, berbeda dengan seseorang yang berlatih ilmu pukulan beracun, di mana letak kemanjuran dari racunnya baru terbukti apabila lengan itu sudah berhasil menyentuh tubuh lawannya, maka bagi manusia beracun seperti anak muda ini sentuhan terhadap tubuh lawan itu sudah tidak diperlukan lagi! Karena setiap anak muda ini mengerahkan lweekangnya maka otomatis tenaga dalam itu telah mengandung racun yang telah mengalir di dalam darahnya."
"Hongsiang, hamba Yap Kim telah datang menghadap!"
Tiba-tiba di luar pintu terdengar suara orang mengetuk pintu.
"Yap Tai-Ciangkun, silahkan masuk! lihat teman-teman lamamu berada di sini!"
Seorang laki-laki yang masih sangat muda tetapi memakai seragam panglima perang yang paling tinggi di dalam kalangan keperajuritan, tampak memasuki ruangan itu.
Untuk beberapa saat Chu Seng Kun hampir tidak mengenali wajah itu.
Wajah seorang pemuda yang tegas, gagah dan berwibawa.
Padahal dahulu wajah itu sempat membuat ayah ibunya dan kakaknya menjadi kalang-kabut karena ulahnya yang badung serta nakal.
"Hongsiang... ada keperluan apakah pagi-pagi begini telah mengirim seorang utusan untuk memanggil hamba?"
Panglima itu berlutut di depan Kaisar Han.
"Yap Tai-Ciangkun, coba lihat orang-orang yang kini sedang duduk bersamaku ini! kau mengenal mereka tidak?"
"Oh"
Saudara Chu! Nona Kwa"!"
Panglima muda itu terkejut. Kemudian dengan tersenyum ramah panglima itu menyalami mereka.
"Aha, akhirnya kita dapat berjumpa pula. Tadi malam Hongsiang memang telah mengatakannya kepadaku""
"Yap Tai-Ciangkun, bagaimana dengan orang-orangmu yang tergabung dalam barisan Sha-cap mi-wi (30 Orang Pengawal Rahasia Kaisar)?"
Baginda memanggil panglima muda itu.
"Mereka selalu bersiap diri siang malam untuk menjadi pagar bernyawa bagi keselamatan Hongsiang!"
Panglima itu menjawab tegas.
"Bagus! Sekarang aku ingin meminta pertolongan mereka untuk mencari nona Chu yang hilang!"
"Hongsiang...!"
Chu Seng Kung berseru untuk mencegah maksud Baginda itu.
Bagaimanapun juga pemuda itu menjadi tak enak hati kalau dalam mencari adiknya ini harus melibatkan pasukan yang hebat itu.
Ia telah mendengar khabar angin bahwa untuk dapat menjadi anggota pasukan pengawal ini harus melalui pendadaran yang sangat berat lebih dahulu.
Sehingga setiap anggota pasukan itu tentulah merupakan seorang jago silat berkepandaian tinggi dan telah lulus dari perguruan mereka masing-masing.
Yap Tai-Ciangkun memandang Kaisar Han dengan sinar mata kaget.
Sedikitpun ia tidak mengetahui maksud Baginda itu.
Barulah ia menjadi maklum akan maksud junjungannya itu setelah Baginda sendiri yang menerangkan apa yang telah terjadi.
Meskipun demikian, sebetulnya ia tidak begitu cocok dengan maksud dan keinginan Baginda itu.
Bagaimanapun pentingnya masalah tersebut, tak perlu sebenarnya harus mempergunakan pasukan yang hebat itu, sehingga Baginda sampai melupakan kepentingannya sendiri pula.
Tapi tentu saja keputusan Baginda tersebut sudah tidak bisa diganggu gugat lagi.
"Yap Tai-Ciangkun, sebarlah seluruh anggota Sha-cap mi-wi ke seluruh negeri! Suruh mereka berangkat besok pagi setelah kau beri keterangan yang lengkap tentang keadaan nona Chu. Beri juga batas waktunya, yaitu ketemu atau tidak ketemu harap sudah tiba kembali di istana pada tanggal 10 bulan depan. Nah, Yap Tai-Ciangkun, silahkanlah kau kembali mempersiapkannya sekarang juga!"
"Akan hamba kerjakan, Hongsiang!"
Yap Tai-Ciangkun minta diri.
Kaisar Han berjalan ke jendela dan membukanya lebarlebar.
Sang sinar matahari pagi masuk menerangi ruangan itu.
Burung-burung kecil tampak beterbangan di antara pohonpohon bunga dan cemara yang ditanam di halaman.
Anginpun meniup perlahan menyegarkan suasana.
"Besok pagi aku juga akan kembali ke Kotaraja. Anak muda yang terluka parah ini biarlah kubawa serta pula. saudara Chu... Kalian berdua lebih baik juga pergi bersamaku. Kalian dapat menanti khabar dari orang-orangku itu di sana sekalian beristirahat..."
Baginda berkata perlahan.
"Hongsiang... kami mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila kami terpaksa menolak ajakan Hongsiang ini. Selain kami memang ingin berusaha dengan sekuat tenaga kami. Kami merasa tak enak pula di dalam hati apabila hanya berpangku tangan saja di rumah, sementara Hongsiang telah bersusah payah mengerahkan Sha-cap mi-wi ke seluruh pelosok negeri. Maka dari itu besok pagi kami juga ingin mohon diri untuk meneruskan perjalanan kami... sedangkan pada tanggal 10 bulan depan kami juga akan menghadap Hongsiang untuk mengetahui hasil dari perjalanan para anggota Sha-cap mi-wi ini..."
Nona Kwa berkata dengan halus mewakili calon suaminya.
"...Dan hamba menghaturkan banyak terima kasih atas perhatian Hongsiang pada masalah yang hamba derita ini."
Chu Seng Kun menambahkan.
"Baiklah! Aku tahu perasaan kalian. Sekarang kalian beristirahatlah, nanti sore aku ingin bertukar pikiran dengan kalian lagi!"
"Terima kasih, Hongsiang!"
Sepeninggal sepasang merpati itu dari ruangan tersebut nona Ho segera mendekati Kaisar Han.
"Suhu, aku ingin sekali mengikuti mereka untuk mencari enci Bwe Hong. Selain itu aku juga ingin menemui teman teman lama yang sudah bertahun-tahun tak kujumpai. Boleh... ya, suhu? Bosan juga disuruh menjadi puteri pingitan di istana terus-menerus."
Rengeknya. Kaisar Han menatap wajah muridnya yang disayanginya.
"Baiklah, kau boleh ikut mereka apabila mereka memperbolehkan"
Haha, biar aku larangpun engkau tentu akan tetap pergi juga!"
Kaisar Han tersenyum.
"Terima kasih, suhu!"
Teriak nona Ho sambil berlari keluar.Hatinya tampak senang bukan main.
Gadis itu segera berlari menemui kedua temannya itu serta mengatakan maksudnya untuk ikut dengan mereka mencari Chu Bwe Hong.
Tentu saja Kwa Siok Eng juga merasa senang sekali mendapat teman seperjalanan seperti Ho Pek Lian.
Sementara itu Kaisar Han kembali berdiri di samping pembaringan Chin Yang Kun.
Baginda memandang wajah yang agak kurus tapi tampan sampai lamaa"
Sekali.
Entah kenapa Baginda sendiri tidak tahu.
Sejak Baginda melihat untuk pertama kalinya di dalam penjara bawah tanah itu, di mana anak muda itu terkapar terluka parah badannya, Baginda seperti tersentuh perasaan simpatinya.
Baginda secara tidak sadar sampai memanggul sendiri tubuh anak muda ini, Padahal di sana terdapat beberapa orang hamba sahayanya.
Baginda sampai lupa juga akan kedudukannya ketika Baginda memanggul anak muda itu ke pondok ini, sehingga para pengawal dan para prajurit yang telah mengenal penyamaran Baginda menjadi sangat heran dibuatnya.
Para prajurit itu seakan-akan melihat junjungan mereka memanggul salah seorang putera Baginda sendiri saja.
Padahal mereka semua tahu bahwa biarpun telah berusia 40 tahun lebih, junjungan mereka itu masih tetap belum berkeluarga, apalagi mempunyai seorang putera.
Ketika tubuh itu mulai bergerak Baginda segera memegang lengannya, dan sebelum pemuda itu sempat berpikir yang bukan-bukan Baginda cepat pula menerangkan duduk perkaranya, mengapa anak muda itu sampai di tempat tersebut, sehingga akhirnya pemuda itu menjadi tenang kembali.
"Tenanglah, anak muda! Kini engkau telah terbebas dari mereka, engkau telah berada di tempatku yang aman. Aku adalah seorang perwira kerajaan yang membebaskan engkau dari tangan penjahat-penjahat itu. Biarlah setelah engkau dapat berjalan kembali seperti sedia kala, terserah kepadamu untuk pergi ke mana saja. Nah, aku akan beristirahat dahulu. Kalau membutuhkan sesuatu, kau panggil sajalah penjaga yang berada di luar pintu itu!"
Baginda berkata sedikit berbohong agar tidak mengagetkan anak muda itu, kemudian Baginda keluar dari ruangan tersebut setelah lebih dahulu membisiki para penjaga agar berusaha membantu penyamaran Baginda itu.
Sampai lama Yang kun masih tetap berdiam diri saja di tempatnya.
Pikirannya melayang jauh mengenangkan semua peristiwa yang baru saja dia alami.
Bermula dari keberangkatan keluarganya yang masih utuh sampai musnahnya mereka satu persatu di dalam perjalanan.
Sehingga pada akhirnya tinggal dia sendirilah yang masih hidup.
Itu pun kalau tidak ditolong oleh perwira itu tadi niscaya nyawanya akan melayang seperti yang lainnya.
Sebenarnya Yang Kun tak menyangka sama sekali bahwa dirinya masih dapat diselamatkan dari kematian oleh para penolongnya itu.
Maka secara diam-diam tumbuh di dalam hatinya suatu perasaan terima kasih yang tak terhingga terhadap mereka itu.
Hanya ada sedikit rasa kecewa di hatinya ketika pemuda itu menyadari betapa himpunan tenaga dalam yang telah dikumpulkannya selama ini telah hilang lenyap dari tubuhnya.
Pada sore hari ketika perwira yang menolongnya itu datang kembali bersama-sama dengan kawan-kawannya, Yang Kun menyambutnya dengan senyuman terima kasih.
Perwira itu memperkenalkan kawan-kawannya itu kepada Yang Kun.
"Hiante (saudara kecil), mari kuperkenalkan engkau dengan kawan-kawanku ini. Mereka semua ini yang bersama-sama dengan aku menyelamatkan engkau dari penjara bawah tanah itu. Pertama-tama kenalkanlah pemuda jangkung ini.Dia bernama Chu Seng Kun, seorang ahli pengobatan yang menyelamatkan dirimu dari kematian."
Yang Kun dengan susah payah berusaha untuk duduk di atas pembaringannya.
"Terima kasih, in kong!"
Katanya perlahan.
Kemudian Kaisar Han itu memperkenalkan Yap Tai-Ciangkun juga, meskipun panglima itu hanya diperkenalkan sebagai salah seorang bawahannya saja.
Begitu juga ketika Baginda itu memperkenalkan nona Ho dan nona Kwa, kedua gadis itu hanya diperkenalkan sebagai kawan dari Chu Seng Kun saja.
Pokoknya Baginda tidak ingin dia berserta para pengawalnya dikenal orang sebagai seorang Kaisar dan prajurit-prajuritnya.
"Nah"
Kau beristirahatlah sebanyak mungkin agar supaya cepat sembuh! Kami akan berbincang-bincang sebentar di ruangan lain."
Kaisar Han minta diri.
"Terima kasih, tuan!"
Yang Kun mengangguk dalamdalam.
"Oh, iya""
Tiba-tiba Kaisar Han membalikkan tubuh ketika mereka telah berada di ambang pintu.
"Bolehkan kami mengetahui namamu, hiante? Siapa tahu kita akan sering bertemu di jalan nanti?"
Chin Yang Kun tampak gelagapan. Tak ingin sebenarnya ia dikenal orang, tapi tak enak pula hatinya kalau harus membohong terhadap orang yang telah menyelamatkan nyawanya.
"Siauwte bernama... Yang Kun!"
"Bagus! Yang-hiante, gurumu telah dibebaskan oleh Liok Cianbu pagi-pagi tadi. Mungkin dia telah berangkat lebih dahulu ke kampungmu, sehingga kau tak usah mencarinya lagi."
Sekali lagi pemuda itu gelagapan hatinya.
Dia tak mengerti dan tidak tahu apa yang dimaksud oleh perwira itu.
Tapi ketika berkelebat bayangan Hek-mou-sai di otaknya, segera ia menangkap siapa yang dimaksud oleh perwira itu.
Agaknya Hek-mou-sai telah membohongi mereka dengan mengatakan bahwa mereka berdua adalah dua orang guru dan murid.
"Terima kasih, tuan!"
Kelima orang itu pergi meninggalkan Chin Yang Kun seorang diri lagi.
Mereka turun ke halaman dan berjalan menuju sebuah bangunan kecil yang berada di tengah-tengah kolam ikan.
Ternyata di sana telah menunggu para pembesar kepala daerah, para perwira dan para penasehat Kaisar yang telah dibawa oleh Baginda dari Kotaraja.
Chu Seng Kun dan nona Kwa menjadi terkejut di dalam hati.
Tak mereka sangka Baginda mengajak mereka ke sebuah pertemuan di antara para pembesar Negara.
Mereka menjadi canggung dan tak tahu apa yang mesti mereka perbuat.
"Hongsiang, lebih baik hamba menanti saja di tempat saudara Yang Kun tadi. Hamba tidak berani menganggu apabila Hongsiang sedang berkenan untuk mengadakan pertemuan di sini."
Pemuda itu berkata kepada Kaisar Han.
"Hah? Tak apa-apa... ayolah! Aku memang bermaksud mengajak kalian dalam pertemuan kali ini. Ada sesuatu yang ingin kukatakan juga kepada kalian sebelum kalian berangkat besok pagi."
Baginda menyahut.
Semuanya menjatuhkan diri berlutut ketika Kaisar Han memasuki bangunan kecil itu dan baru bangun kembali ketika Baginda telah duduk di kursinya.
Mereka juga mengambil tempat duduk mereka masing-masing.
"Yap Tai-Ciangkun!"
Langsung saja Baginda memulai pertemuan itu tanpa melalui basa-basi.
"Siapakah yang kau tunjuk sebagai pengganti dari Si Ciangkun di sini?"
"Belum ada, Hongsiang. Sementara waktu kedudukan itu hamba berikan kepada Liok Cianbu. Tetapi hamba bermaksud menarik separuh dari prajurit hamba yang berada di sini untuk hamba tempatkan di kota lain."
"Bagus... begitupun juga baik. Dan lebih baik lagi kalau prajurit-prajurit yang kau tarik itu kau tempatkan saja di kota-kota kecil di pantai timur sana agar dapat menghadapi para perampok yang sering menganggu kota-kota itu."
"Akan hamba kerjakan, Hongsiang!"
"Baik! Kini tinggal kepala daerah yang harus membersihkan sisa-sisanya dan memperbaiki daerahnya!"Baginda meneruskan.
"Akan hamba kerjakan semua titah Hongsiang!"
Kepala daerah itu menyanggupi.
"...Sementara itu aku juga tidak akan berhenti sampai di sini saja. Akan kukirimkan beberapa orang petugas khusus untuk menyelidiki hal ini sampai tuntas!"
"Ampunkan hamba, Hongsiang! Hamba juga telah berusaha melacak jejak-jejak orang luar yang ikut tersangkut dalam usaha pengkhianatan terhadap negara ini,"
Panglima yang masih muda itu memberi laporan.
"Orang luar? Benarkah ada pihak lain yang turut campur dalam peristiwa ini?"
"Benar... Hongsiang! Agaknya Si Ciangkun telah mempergunakan orang-orang kang-ouw sebagai tulang punggung kekuatannya. Hal ini terbukti ketika tadi malam hamba menggerebeg rumahnya, pasukan hamba telah dikagetkan dengan munculnya belasan tokoh kang-ouw yang mempunyai kepandaian sangat tinggi, sehingga maksud hamba untuk mengepung rumah itu menjadi berantakan malah. Salah seorang di antara orang-orang itu sudah berhadapan pula dengan hamba,"
Dengan agak ragu-ragu Yap Tai-Ciangkun memberi keterangan kepada Kaisar Han.
Keraguan ini disebabkan oleh karena laporan tersebut sebenarnya tidak perlu lagi disampaikan kepada Baginda dalam pertemuan ini, sebab dengan menyamar sebagai Liu suhu Baginda telah melihat sendiri pertempuran tadi malam.
Justru Baginda sendiri juga telah bertempur dengan salah seorang di antaranya.
"Lalu apakah yang telah kau lakukan untuk melacak orang orang kang-ouw yang ikut terlibat itu!"
Kaisar Han bertanya.
"Kakak hamba sendiri telah menyanggupkan diri untuk melacak mereka..."
"Aha... Hong-lui-kun Yap Kiong Lee sendiri yang berangkat? Ha-ha-ha"
Inilah baru dapat dikatakan sebuah langkah yang benar.
Kukira selain orang seperti Hong-lui-kun (Si Tinju Petir dan Badai) Yap Kiong Lee sendiri yang berangkat takkan ada lagi orang-orang kita yang mampu menghadapi mereka."
Kaisar Han berkata dengan lega dan gembira.
Telah sejak lama Kaisar Han berusaha membujuk kakak Yap Tai-Ciangkun itu agar mau menjadi pembantunya, tetapi pendekar sakti itu dengan halus selalu menolaknya.
Pemuda itu hanya mempunyai suatu keinginan di dalam hidupnya, yaitu membalas budi gurunya yang telah mendidik dan merawat dia sejak kecil.
Dan salah satu jalan untuk berbuat seperti itu ialah dengan mengawasi dan melindungi Yap Kim (Yap Tai-Ciangkun), putera satu-satunya dari gurunya itu.
"Terima kasih atas kepercayaan Hongsiang terhadap kakak hamba."
"Sudahlah! Sekarang aku mempunyai sebuah persoalan lain yang kita akan bicarakan."
Kaisar Han mengalihkan pembicaraannya. Dengan tersenyum Baginda menoleh ke arah tempat duduk Chu Seng Kun dan nona Kwa.
"...Dan khusus dalam persoalan ini nanti, aku mengharapkan pertolongan sepasang tamu kita ini."
Kedua muda-mudi itu segera berdiri menghormat kepada Kaisar Han.
"Silahkan Hongsiang mengatakannya, hamba berdua akan selalu siap untuk melaksanakannya,"
Mereka berkata.
"Terima kasih! Begini cuwi semua..."
Kemudian Kaisar Han bercerita tentang sebuah benda kuno yang sejak jaman purbakala selalu menjadi rebutan para raja-raja. Benda itu berwujud sebagai "cap"
Terbuat dari batu giok berwarna kuning dan berbentuk persegi empat. Di bagian bawah terukir sebuah huruf "TIONG"
Yang memenuhi seluruh permukaannya.
(Tiong berarti .
Tengah).
Konon khabarnya benda itu dibuat oleh dewa yang turun ke tengah bumi untuk mendidik manusia agar lebih mengenal peradaban.
Dewa itu mengumpulkan orang-orang yang masih hidup di dalam goa-goa untuk diberi pelajaran hidup bermasyarakat serta mendirikan sebuah dusun dan kota.
Oleh manusia-manusia purba tersebut sang dewa itu lalu diangkat sebagai raja mereka.
Begitulah, setelah dewa itu mempunyai seorang putera yang nantinya dapat menggantikan dirinya sebagai raja, maka dewa tersebut lalu kembali lagi ke kahyangan.
Tetapi sebelum kembali dewa itu membuatkan sebuah mainan dari batu giok untuk anaknya yang ia beri nama TIONG itu.
Benda mainan itu oleh sang dewa diberi tuah agar menjadi pelindung bagi keselamatan anaknya yang masih kecil itu.
Tenyata benda mainan yang sederhana itu benar-benar sangat bertuah sekali.
Begitu anak kecil tersebut memegang benda mainan itu maka seakan-akan ia mempunyai perbawa dan pengaruh yang menakutkan, seakan-akan sedang berhadapan dengan sang dewa itu sendiri, sehingga segala binatang buas pun tunduk kepadanya.
Demikianlah, benda itu akhirnya menjadi sebuah benda pusaka yang diberikan turun-temurun kepada raja-raja pengantinya, sehingga akhirnya beberapa ribu tahun kemudian benda pusaka yang sangat bertuah itu menjadi rebutan bagi raja-raja lain yang menginginkan keselamatan, seperti halnya si anak dewa tersebut.
Sampai sekarangpun benda itu masih tetap diperebutkan oleh orang yang menginginkan dirinya agar dapat menjadi raja di Negara TIONG yaitu negara yang dikuasai oleh anak dewa itu.
(Tiongkok sekarang).
"Menurut catatan yang tertulis di dalam perbendaharaan buku istana, benda pusaka itu hilang dari istana kira-kira 90 tahun yang lalu, yaitu pada masa permulaan pemerintahan Raja Chin Lu. Raja ini masih berusia belasan tahun ketika menggantikan ayahnya, Raja Chin Bun, yang wafat karena musibah gempa bumi. Benda itu dicuri oleh Bit-bo-ong asli yang hidup pada jaman itu"!"
Semua orang yang berada di tempat itu menjadi termangu mangu ketika mendengarkan dongeng Baginda tersebut.
Sebagian dari mereka memang sudah pernah mendengar cerita itu dari nenek moyang mereka masing-masing.
"Ternyata lima tahun yang lalu benda pusaka itu telah muncul lagi di istana, biarpun hanya untuk beberapa hari saja. Benda pusaka itu telah dibawa masuk lagi ke istana oleh mendiang "duplikat Bit-bo-ong"
Yang sempat menikmati singgasana kerajaan selama 40 hari! Tetapi dengan runtuhnya dia dari istana maka benda itu ternyata juga lenyap kembali... hingga sekarang."
Kaisar Han meneruskan dongengnya.
Chu Seng Kun saling berpandang dengan nona Kwa.
Meskipun tidak saling mengutarakan pendapatnya tapi keduanya telah menduga apa yang akan dimaksudkan oleh Baginda tentang permintaan tolong kepada mereka itu.
"Selama 5 tahun ini aku telah memerintahkan Yap Tai-Ciangkun untuk menyelidikinya, di mana sebenarnya benda pusaka itu disimpan oleh duplikat Bit-bo-ong almarhum. Akhirnya sebulan yang lalu Yap Tai-Ciangkun mencium jejak dari keluarga duplikat Bit-bo-ong itu. Mereka tenyata bersembunyi di suatu tempat yang terpencil. Keluarga itu terdiri dari tiga orang kakak beradik berserta keluarga masing-masing yaitu Chin Yang, Chin Kong dan Chin Bu! Tetapi ketika aku memerintahkan Yap Tai-Ciangkun untuk menggerebeg tempat tersebut ternyata telah terlambat. Tempat itu telah menjadi puing-puing berserakan, sehingga kami kehilangan jejak dari pada benda pusaka itu lagi."
Kaisar Han menghentikan ceritanya lagi.
"Kemudian Yap Tai-Ciangkun menyebar lagi orangorangnya guna mendapatkan tempat persembunyian mereka itu, tapi belum lagi ketemu dengan mereka, Yap Tai-Ciangkun justru menemukan bukti bukti bahwa salah seorang perwira tingginya yang berada di kota Tie-kwan telah berhianat! Itulah sebabnya hari ini aku dan Yap Tai-Ciangkun berada di sini..."
Kaisar Han turun dari kursi lalu berjalan perlahan ke tengah ruangan. Ujung pedangnya yang panjang terseret di atas lantai. Dengan penuh kewibawaan Baginda menyilangkan tangannya di depan dadanya.
"Menurut penyelidikan yang terakhir, keluarga Chin itu menuju ke arah pantai timur. Oleh karena itu aku minta laporan pertolongan cuwi sekalian apabila melaporkan kepada kami apabila melihat atau mendengar tentang mereka. Cuwi sekalian saya kumpulkan di tempat ini karena cuwi adalah penguasa-penguasa di daerah ini. Siapa tahu mereka lewat di daerah cuwi..."
Kaisar Han menutup keterangannya. Kemudian Kaisar Han berjalan mendekati Chu Seng Kun dan nona Kwa.
"Chu-hiante... aku juga minta pertolongan kalian dalam persoalan ini. Aku menginginkan agar benda pusaka ini berada kembali di dalam perbendaharaan istana. Kalian tentu mengerti maksudku yang sebenarnya dalam hal ini. Aku tidak ingin benda itu menjadi penyebab dari arena pertempuran berdarah di antara rakyat karena masing-masing orang ingin memilikinya. Kalian tentu tidak akan menuduhku sebagai seorang yang serakah yang ingin berkuasa sebagai dewa dan menginginkan ditakuti oleh binatang-binatang buas... karena seperti yang pernah kukatakan kepada kalian, kalau toh aku diperbolehkan memilih di antara dua pilihan, raja atau petani...aku akan memilih sebagai petani saja!"
"Hongsiang hamba berdua akan berusaha untuk membantu Hongsiang dalam hal ini."
Chu Seng Kun menjawab. Kaisar Han mengucapkan rasa terima kasihnya berulang ulang. Kemudian perlahan-lahan Baginda mendekati tempat duduk Yap Tai-Ciangkun.
"Yap Tai-Ciangkun! Perintahkan kepada seluruh anggota Sha-cap mi-wi yang akan berangkat besok pagi agar melacak juga tempat persembunyian dari keluarga Chin!"
"Akan hamba kerjakan, Hongsiang!"
"Nah, kukira apa yang ingin kubicarakan di dalam pertemuan ini telah aku keluarkan semua. Maka siapa yang mempunyai suatu pendapat atau persoalan yang lain silahkan berbicara"!"
Kaisar Han menutup ucapannya.
Karena tak seorangpun yang mau berbicara maka Kaisar Han menutup pertemuan itu.
Dengan diantar Yap Tai-Ciangkun Baginda kembali ke kamarnya.
Keesokan harinya, di tempat itu terjadi kesibukan yang luar biasa.
Belum juga matahari pagi menampakkan sinarnya,berbondong-bondong beberapa kelompok orang meninggalkan tempat itu.
Mereka tersebar ke segala arah.
Kelompok yang paling sedikit adalah rombongan Chu Seng Kun dan kedua gadis itu.
Mereka menuju arah timur, ke arah kota-kota yang berada di pinggir pantai.
Rombongan yang terakhir adalah rombongan Kaisar Han sendiri yang akan pulang kembali ke Kotaraja.
Rombongan itu terdiri dari 4 kereta dan 1 pasukan prajurit terlatih.
Dengan diantar oleh Kepala Daerah Tie-kwan sampai di perbatasan rombongan ini berangkat tanpa menimbulkan kecurigaan penduduk.
Penduduk tetap menyangka bahwa prajurit-prajurit itu adalah pasukan yang diperbantukan untuk menjaga keamanan selama berlangsungnya pesta perayaan itu.
Sedikitpun mereka tidak menyangka kalau Kaisar junjungan mereka hari itu berada di antara mereka.
Hampir sebulan lamanya.
Yang Kun terbaring saja di atas pembaringannya.
Tabib yang setiap hari datang menjenguknya ternyata bukan Chu Seng Kun yang menolong dirinya itu.
Tabib yang kini selalu mengobati luka-lukanya adalah seorang tabib tua yang suka berkelakar dan sangat sabar.
Yang kun tidak diperbolehkan pergi ke mana-mana, takut kaki yang terluka parah itu akan menjadi lumpuh.
Tabib itu berkata bahwa luka itu sebenarnya tidaklah begitu membahayakan, tetapi pengaruh racun yang terlanjur bercampur dengan darahnya itulah yang justru sangat berbahaya bagi tubuhnya.
Kalau kaki yang terluka itu dipaksa untuk berjalan juga sebelum sembuh, maka kemungkinan untuk menjadi lumpuh semakin besar pula.
Oleh karena itu Yang Kun menjadi sangat patuh sekali, tak sekejappun selama sebulan itu dia turun dari tempat pembaringannya.
Ternyata setelah lolos dari kematian yang hampir saja merenggut nyawanya itu, semangatnya untuk hidup dan sembuh kembali seperti sedia kala menjadi sangat berkobar-kobar.
Maka biarpun di dalam minggu terakhir ini kakinya telah terasa normal kembali, pemuda itu masih tetap tidak berani mendahului perintah tabibnya.
Padahal semuanya itu hanya merupakan sebuah taktik dari Kaisar Han agar pemuda yang dibawanya ke dalam istana itu tidak berkeliaran keluar dari kamarnya, sehingga akan mengetahui bahwa dia sedang berada di dalam istana.
Baginda tetap menginginkan agar anak muda yang bernama Yang Kun ini masih beranggapan bahwa dirinya sedang berada di rumah seorang "perwira", yang tentu saja mempunyai rumah besar dan indah serta dijaga oleh para pengawal pula.
Setiap dua tiga hari sekali Kaisar Han dengan pakaian sederhana menjenguk pemuda itu di dalam kamarnya, sehingga hal itu membuat semua orang yang tinggal di istana menjadi terheran-heran dibuatnya.
Sungguhpun sebagai seorang jago silat yang berkepandaian tinggi, Kaisar junjungan mereka itu memang seringkali berbuat yang aneh-aneh.
Dan selama sebulan itu memang terjadi suatu persahabatan yang tulus antara dua orang manusia yang berwatak aneh, yaitu persahabatan antara seorang "perwira"
Dan seorang anak kepala desa yang baru saja lulus dari belajar silat!
"Yang-hiante, beberapa hari lagi mungkin engkau sudah diperbolehkan turun dari tempat tidurmu ini.
Engkau bisa berjalan-jalan dan berlari-lari kembali tanpa merasa khawatir kakimu akan menjadi lumpuh..."
Perwira itu menghibur hati Yang Kun.
"Hmm... tapi selama sebulan ini engkau tentu sangat menderita bukan?"
"Memang! Apalagi kalau malam telah tiba, di mana aku sudah ditinggalkan seorang diri di kamar yang luas ini... Wah, rasa-rasanya aku justru lebih tersiksa dengan rasa sepi itu dari pada dengan rasa sakitku ini. Selama sebulan berbaring saja di atas pembaringan ini membuat diriku seolah-olah akan menjadi sinting. Setiap malam di mana kegelapan telah menyelubungi kamar ini, maka otakku mulai berkhayal yang bukan-bukan. Aku merasa seperti tidak lagi berada seorang diri di kamar ini. Apabila malam telah larut, seakan-akan ada suara seruling yang ditiup perlahan"
Sekali di samping telinga saya. Sesekali apabila malam benar-benar sunyi malah terdengar pula suara nyanyian wanita di pojok sana itu""
Kata pemuda itu sambil menunjuk ke arah sudut kamarnya.
"Hahaha... Yang-hiante, jangan katakan kepadaku bahwa engkau adalah seorang yang takut hantu, hahaa""
"Hehe"
Tidak, Liu Twako!
Aku bukan seorang penakut!
Jika aku takut, aku tentu tidak akan tetap tinggal di atas pembaringan ini, aku tentu telah lari keluar biar kakiku akan menjadi lumpuh sekalipun...!
Liu Twako, aku justru malah mendengarkan dengan seksama, sehingga lama-kelamaan aku bisa menangkap seluruh isi lagunya."
"Benarkah? Hahaha...hebat benar hantu itu, dapat memberi pelajaran menyanyi kepada seorang manusia, haha...Wah, macam apa pula, ya"
Lagunya? Tentunya tidak seperti nada-nada lagu pada musik buatan manusia macam kita ini, yaa"?"
Perwira itu tertawa terpingkal-pingkal.
Mereka berdua benar-benar sudah sangat akrab sekali sehingga biar baru satu bulan mereka bergaul, mereka berbicara seperti seorang kakak beradik saja, tanpa khawatir merasa tersinggung satu sama lainnya.
"Twako, kau tentu tidak mempercayainya, bukan? kau tentu menganggap bahwa aku telah menjadi gila karena racun-racun itu, bukan?"
"Benar, haha"
Kun-te, kakakmu ini selama hidup belum pernah melihat hantu maka sedikitpun juga tidak percaya kalau di dunia ini ada hantu.
Apalagi hantu yang mengajari manusia menyanyi...
Kalau menurut pendapatku, apa yang telah terjadi kepadamu itu hanya disebabkan oleh daya khayalmu saja, saking lamanya engkau berbaring di sini.
Padahal suara itu cuma suara angin bertiup atau suara binatang malam""
"Tetapi, Twako""
"Haha, Kun-te, sudahlah...! Aku dulu juga pernah mengalami peristiwa seperti yang kau alami ini... Tapi percayalah semua itu tidak benar, hanya khayalan kita sendiri saja!"
"He? Liu Twako juga pernah mendengar hantu bernyanyi?"
"Ah... Tidak hanya bernyanyi"
Tapi seolah-olah juga berdiri di hadapan saya... Hei, kenapa kita hanya berbicara soal hantu saja? Ayoh, kita berbincang mengenai soal yang lainnya...!"
"Tunggu dulu...! Twako, kau berceritalah dahulu tentang hantu yang mengganggu dirimu itu, baru kita berbicara tentang soal-soal yang lain!"
"Wah, engkau ini ada-ada saja. Aku sudah hampir melupakannya. Peristiwa itu terjadi ketika aku masih muda sekali, ah"
Kenapa kau tanyakan juga hal ini?"
"Alaaa... Twako kenapa pelit amat? Ayolah ceritakan dulu, aku senang dengan cerita-cerita tentang hantu!"
"Hmm, baiklah! Begini... 20 tahun yang lalu, aku adalah seorang anak petani di dusunku. Biarpun tidak kaya tetapi aku sekeluarga juga tidak kekurangan. Kami mempunyai kepala desa yang sangat kaya raya. Dia mempunyai seorang gadis yang luar biasa cantiknya. Aku"
Aku dan gadis itu bersumpah untuk menjadi suami istri, apapun akibatnya"
Tapi kepala desa itu ternyata tidak menyukai aku.
Puterinya ditunangkan dengan seorang bangsawan dari Kotaraja.
Sebelum perkawinan mereka dilangsungkan, kekasihku itu aku larikan dari rumahnya.
Tentu saja calon suaminya mengejar bersama-sama dengan pasukan yang dibawanya.
Kami tertangkap setelah melarikan diri selama 2 hari di tanah perbukitan.
Aku disiksa sampai hampir mati"
Kun-te, lihatlah!
Luka-luka itu masih membekas hingga sekarang!
Wajahku yang semula tampan juga menjadi codat-cedet di sana-sini, sehingga aku terpaksa memelihara kumis dan jenggot lebat untuk menutupinya."
"Ah, Liu Twako"
Lambat benar, mana hantunya?"
Yang kun memotong. Tak sabar hatinya mendengarkan penuturan sahabatnya yang berbelit-belit tak kunjung sampai di tujuan itu.
"Katanya mau mendengar ceritaku..., bagaimana ini? Jadi tidak?"
Perwira itu tersenyum.
"Iya"! Tapi mana hantunya? Masa dari tadi tidak muncul muncul juga?"
"Wah... Ya belum sampai di situ ceritanya! Nanti kalau sudah sampai di situ, hantu itu tentu akan muncul juga."
"Yaa... tapi kenapa berputar-putar begitu. Sampai tua aku mendengarkan tak muncul-muncul juga nantinya..."
"Habis, bagaimana aku harus menceritakan kisah hantu ini kepadamu?"
"Langsung ke sasarannya, dong! Tanpa embel-embel ini itu, terus bercerita tentang kedatangan hantu itu."
"Wah, baiklah! Sekarang aku langsung saja bercerita tentang hantu itu. Dengarkanlah baik-baik!... Tiba-tiba hantu tersebut menyanyi di depan pembaringanku""
"Lhoh! Kenapa terus begitu? Haha"
Repot... repot! Masa menuturkan suatu kisah demikian caranya, mana orang lain dapat mengerti maksudnya?"
"Habis pendengarnya juga merepotkan benar! Begini salah begitu salah, Lalu harus bagaimana? Orang bercerita kan harus dari permulaan, tidak dipenggal-penggal. Kalau dipenggal-penggal, mana bisa dimengerti orang? Aneh benar kau ini!"
"Baiklah"
Baiklah! Maafkan aku, aku memang tidak sabaran... hehe"
Tapi jangan marah, lho!"
Kaisar Han menjadi heran pula hatinya.
Kenapa hari ini ia begitu gembira seperti anak kecil saja?
Kenapa senang benar bersahabat dengan anak muda ini?
Ah, dunia ini memang sangat aneh!
Dan Baginda tidak tahu apa yang menyebabkan hal itu semua...
"Kun-te, bagaimana ini? Jadi bercerita tidak aku ini?"
Yang Kun tertawa.
"Haha"
Tak usahlah! Liu Twako, aku kasihan melihatmu! Hahaha...!"
Kaisar Han juga tertawa terbahak-bahak, sehingga para pengawal yang berdiri di luar semakin merasa heran. Tidak biasanya Baginda itu tertawa demikian kerasnya. Tiba-tiba Yang Kun mengerutkan dahinya.
"Liu Twako...Tapi aku tidak main-main dengan suara seruling yang aku ceritakan tadi. Sungguh! Aku benar-benar mendengarnya. kau dapat membuktikannya nanti malam..."
Katanya bersungguh-sungguh, sehingga Kaisar Han tidak mau berkelakar lagi.
"Baiklah, aku nanti malam akan membuktikannya""
Malam harinya...
sejak matahari terbenam Yang Kun telah menjadi gelisah di dalam kamarnya.
Ia ingin membuktikan bahwa ceritanya adalah benar, tapi ia takut jangan-jangan malam ini hantu itu tak mau meniup serulingnya lagi, apalagi mau bernyanyi seperti biasanya.
Sahabatnya baru datang ketika menjelang tengah malam.
Langsung saja sahabatnya berkemas-kemas membenahi tempat tidur yang satunya, lalu berbaring di atasnya.
"Kun-te, kau bangunkan aku nanti kalau hantu yang kau katakan itu muncul di kamar ini! Sekarang aku mau tidur saja."
Yang Kun hanya mengangguk, pikirannya tetap tegang menanti datangnya suara seruling itu.
Akan dia tunjukkan kepada sahabatnya itu bahwa suara yang didengarnya itu benar-benar suara seruling, bukan suara angin malam yang bertiup seperti yang dikatakannya itu.
Malam semakin larut.
Suara yang dinanti-nantikan itu belum juga terdengar.
Suasana benar-benar telah menjadi sangat sunyi, sehingga suara angin malam yang bertiup menerpa genting di atas kamar itu terdengar sangat nyata sekali.
Ruangan kamar itu menjadi agak gelap karena lampu besar yang semula dipasang di atas meja telah diambil oleh penjaga, sehingga kini tinggal sebuah lampu teng kecil yang diletakkan di atas lantai di depan pintu masuk.
Nyala apinya yang bergoyang-goyang gelap di dalam ruangan tersebut juga ikut berayun ayun.
Yang Kun telah memusatkan seluruh perasaan hatinya kepada suasana di sekelilingnya, seperti yang selalu ia lakukan setiap hari apabila ia mendengarkan suara seruling itu.
Karena hanya perasaan hatinyalah yang dulu pertama tama dapat membedakan suara seruling itu dari suara-suara lembut yang lain.
Baru setelah dalam beberapa hari ia telah terbiasa dengan suara itu, ia berusaha mendengarkannya dengan seksama seluruh irama dan pantunnya.
Dan ternyata ia telah berhasil menangkap keseluruhan dari lagu itu.
Ternyata sama sekali tidak disadari oleh Yang Kun bahwa dia telah mempelajari sebuah ilmu silat tingkat tertinggi yang biasanya hanya didapatkan pada orang-orang yang telah mencapai tingkat kesempurnaan saja, yaitu ilmu yang biasa disebut orang dengan nama Lin-cui Sui-hoat (Ilmu Tidur di Atas Permukaan Air).
Sebuah ilmu yang didasarkan pada ketajaman perasaan dan kesempurnaan panca-indera manusia, sehingga apabila hal itu telah dipelajari dengan sempurna akan mengakibatkan seseorang bisa mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya.
Yang Kun semakin tenggelam di dalam pemusatan pikiran dan perasaannya, sehingga tubuhnya yang terbaring lurus dengan mata tertutup itu tampak seperti mayat saja.
Tetapi apa yang terjadi pada diri Yang Kun pada saat itu benar-benar suatu yang sangat mentakjubkan, apalagi untuk orang yang seumur dia!
Ternyata dengan apa yang kini sedang dilakukan olehnya, Yang Kun sudah mampu membedakan sebuah suara, betapapun lembutnya, di antara riuhnya suara-suara lembut yang lain.
Yang Kun sudah dapat membedakan antara suara desir angin lembut yang menghembus di atas genting dan suara desir angin yang menerobos celah-celah lubang angin di atas pembaringannya.
Yang Kun juga sudah mampu membedakan suara masing-masing nyamuk yang pada malam itu banyak beterbangan mengerumuni dirinya.
Malah pada akhirnya pemuda itu sudah mampu membedakan suara nyamuk jantan dan suara nyamuk betina.
Lebih hebat lagi ketika pemuda itu dengan ketajaman perasaannya mampu melihat tanpa membuka kelopak matanya, bahwa perwira sahabatnya itu sedang memperhatikan dirinya dari tempat pembaringannya.
Tiba-tiba Yang Kun merasa ada sebuah desiran suara yang lembut, yang sangat dikenalnya, diantara desiran lembut angin lalu.
Suara itu mengalun tinggi rendah membentuk sebuah sebuah irama lagu yang amat dikenalnya pula.
Tak terasa bibirnya bergumam mengikuti lagu tersebut dengan pantun yang telah dihapalnya pula di luar kepala.
Sinar Bulan di antara bintang, Membasahi padang di antara ilalang, Hamparan perak luas membentang, Alas tidur menentang awan.
"Kun-te"
Kau... kau berkata apa?"
Perwira itu terbangun dari pembaringannya. Yang Kun cepat menempelkan jari telunjuk pada bibirnya.
"Toa-ko... dengarlah! Suara seruling itu sudah terdengar... coba kau dengar dengan seksama, bukanlah suara itu ada di dalam kamar ini?"
Kaisar Han yang kini mengaku sebagai perwira itu berusaha mendengarkan pula, tapi meski sampai lelah ia menyaring nyaring semua suara yang terdengar oleh telinganya, toh suara seruling yang dikatakan sahabatnya itu tak kunjung kedengaran juga.
Kedua belah telinganya hanya mampu mendengar suara denging nyamuk-nyamuk yang beterbangan di dalam kamar itu.
"Ha-ha"
Kun-te, aku benar-benar tidak dapat mendengar apa-apa,"
Akhirnya Kaisar Han menyerah. Seakan-akan bahwa hantu itu masuk ke dalam tanah melalui celah ini...!"
Kaisar Han bergurau.
"Celah"
Celah apakah itu? Hei, kenapa rumahmu yang bagus ini sudah mulai retak?"
Kaisar Han menjawab dengan hati-hati, karena setiap pertanyaan yang menyinggung persoalan pribadi, Baginda harus mengingat penyamarannya.
"Kun-te, rumah ini bukan rumahku. Oleh karena aku belum berkeluarga, maka Baginda Kaisar belum berkenan memberi aku sebuah rumah. Aku hanya diperkenankan menempati salah sebuah ruangan di kompleks istana ini. Itupun hanya khusus untuk diriku saja, karena aku adalah perwira pengawal kepercayaan Kaisar. Jadi ruangan ini adalah sebagian dari bangunan istana yang sudah berumur hampir seratus tahun, sehingga seperti yang kau lihat, lantai ini telah merekah saking tuanya. Selain itu, konon menurut para ahli, tepat di bawah bangunan istana ini mengalir sebuah sungai di bawah tanah, sehingga hal ini pula yang menyebabkan bangunan di dalam istana ini mudah retak."
"Hei?!?... Jadi bangunan ini adalah bangunan istana Kaisar di Kotaraja itu?"
Pemuda itu kaget sekali.
"Kenapa aku dulu tidak melihat pintu gerbangnya ketika kita memasuki halaman istana ini?"
"Kita lewat pintu samping pada saat itu. Tapi meskipun lewat pintu gerbang depan, kau juga tidak mengetahuinya, karena kau selalu berbaring saja di dalam kereta. Lagi pula lewat pintu samping lebih dekat dari pada lewat pintu gerbang depan atau belakang."
"Pintu gerbang belakang? Adakah pintu gerbang belakang itu?"
"Dahulu memang tidak ada. Di tempat itu hanya ada sebuah pintu kecil untuk lewat para pengawal seperti halnya dua buah pintu kecil yang dibangun pada kedua belah tembok sampingnya. Tapi sejak dibangun kembali dari keruntuhan akibat adanya gempa bumi besar pada kira-kira seratus tahun yang lalu, pintu belakang tersebut dibuat menjadi besar dan megah seperti yang terdapat di bagian depan. Pembaharuan seperti yang terdapat di bagian depan. Pembaharuan ini dimaksudkan agar supaya Baginda lebih mudah menemui tamunya apabila kebetulan Baginda sedang berada di istana bagian belakang. Sebab dengan terjadinya gempa itu mengakibatkan suatu tanah retak yang membelah istana bagian tengah dan istana bagian belakang. Tanah retak yang memisahkan kedua buah bagian istana itu sedemikian lebar dan dalamnya sehingga tidak bisa dibangun sebuah jembatan di atasnya""
"Lalu bagaimana harus menyeberanginya?"
Yang Kun bertanya.
Pemuda ini memang seorang keturunan bangsawan, justru keturunan Kaisar Chin sendiri malah.
Tetapi karena mendiang ayahnya cuma seorang keturunan dari selir, maka beliau hampir tak pernah berada di dalam lingkungan istana.
Apalagi pemuda itu sendiri, sejak kecil selalu berada bersama ibunya di desa.
"Memakai perahu!"
Kaisar Han menjawab.
"Celah yang lebar dan dalam itu digenangi air di bawahnya. Sehingga"
Wah, Kun-te"
Lebih baik kuantar saja engkau melihatnya besok. Percayalah, suasananya malah menjadi lebih indah bukan main!"
"Terima kasih, Liu Twako! Aku memang ingin sekali melihatnya."
"Nah, marilah kita tidur sekarang! Lupakan saja hantumu itu!"
Kaisar Han berkata.
"Liu Twako, Tunggu...! Engkau tentu masih menganggap aku berbohong dan berkhayal tentang suara nyanyian itu... Benar, bukan? Tapi percayalah "Twako"
Aku tidak berbohong, aku bersungguh-sungguh!
Nah, sekarang dengarlah!
Aku mendengar seseorang berlari melintasi halaman.
Ginkangnya sangat tinggi dan gerakannya sangat gesit sehingga tidak seorangpun penjaga yang melihatnya..."
"Kun-te, apa katamu? ada orang berlari melintasi halaman? Kenapa aku tidak mendengarnya?"
Kaisar Han beranjak dari pembaringannya, lalu berusaha mendekati Yang Kun.
Dengan bersungguh-sungguh Baginda berusaha mendengarkan suara tersebut, tapi ternyata sedikitpun beliau tidak mendengarkan sama sekali.
Wah, dia tentu kumat lagi, pikir Kaisar Han.
"Liu Twako, cepatlah kau keluar! Orang itu kini bersembunyi di balik rumpun bambu kuning di depan istana ini!"
Yang Kun berbisik dengan tegang.
Kaisar Han terpaksa keluar pula dengan hati-hati, agar tidak terlalu menyakiti hati sahabatnya.
Sambil lalu dia melemparkan sepatunya ke arah rumpun bambu itu.
Tapi betapa terkejutnya Baginda ketika sepatu itu tiba-tiba membalik ke arahnya kembali dengan kecepatan yang bukan main hebatnya.
Otomatis Baginda mengelak ke samping sehingga tubuh Baginda menabrak daun pintu.
Sepatu tersebut meluncur lewat hanya satu dim dari pipi Baginda dan menghantam tembok hingga melesak ke dalam.
Untuk sekejap Kaisar melihat sesosok bayangan melayang meninggalkan rumpun bambu itu menuju ke gedung sebelahnya, gerakannya cepat sekali.
Kaisar Han bersuit nyaring untuk memanggil para penjaga, lalu sambil mencabut pedang Baginda mengejar bayangan mencurigakan tersebut.
Gedung itu adalah gedung perpustakaan tempat Baginda biasa membaca dan menulis, maka tentu saja Baginda sangat hapal seluruh keadaan di tempat itu.
Dengan hati-hati Baginda membuka pintu samping yang menembus ke ruangan belakang tempat menyimpan buku.
Dari tempat itu Baginda akan dapat mengawasi ke seluruh ruangan yang ada di dalam gedung tersebut melalui kisi-kisi yang terdapat di atas deretan almari buku.
Sementara itu para penjaga yang mendengar suitan Baginda berbondong-bondong datang ke tempat itu.
Merekacepat mengepung gedung itu dengan ketat sehingga tak mungkin seorang dapat lolos dari tempat tersebut tanpa mereka ketahui.
Kepala penjaga yang bertugas memimpin pengepungan itu mengajak beberapa orang penjaga untuk memasuki gedung tersebut melalui pintu depan.
Yang Kun yang belum berani meninggalkan tempat pembaringannya hanya dapat menunggu saja di kamarnya.
Ia cuma dapat menerka-nerka saja apa yang terjadi di luar kamarnya sekarang.
Agaknya ada seorang tokoh sakti datang ke tempat ini untuk berbuat jahat, buktinya orang itu datang dengan cara sembunyi sembunyi serta pada waktu tengah malam pula.
Beberapa saat telah berlalu, tapi belum juga ada khabar tentang orang yang mencurigakan itu.
Di luar masih terdengar ramai suara para penjaga yang mengepung tempat itu.
Sinar obor mereka yang terang benderang tampak menerobos lubang angin dan lubang pintu yang jebol akibat senggolan perwira Liu tadi, sehingga kamar yang dihuni oleh pemuda itu ikut menjadi terang benderang pula.
Beberapa waktu lagi telah berlalu pula.
Yang Kun menjadi tegang pula hatinya.
Rasa-rasanya ia ingin meloncat keluar juga untuk menyaksikannya.
Tapi bila diingat kaki itu sudah hampir sembuh, pemuda itu terpaksa mengurungkan pula niatnya.
Akhirnya Yang Kun memusatkan seluruh perasaan dan pikirannya kembali.
Biarpun tidak dapat melihat keadaan di luar secara langsung dengan kedua buah matanya, pemuda itu ingin pula mengetahuinya melalui ketajaman rasa dan panca indera yang lain, seperti yang biasa ia lakukan apabila ia mendengarkan suara "hantu"
Itu.
Mula-mula Yang Kun mendengar berpuluh-puluh suara langkah kaki dikamarnya.
Menurut suara langkah kaki mereka yang meskipun hilir mudik tapi tidak pernah meninggalkan tempat itu, dapat diduga bahwa mereka sedang berjaga di tempat masing-masing.
Dan apabila hal itu dihubungkan dengan peristiwa yang kini sedang terjadi, maka tidak salah lagi bahwa mereka kini sedang mengepung suatu tempat tertentu.
Kemudian terdengar langkah beberapa orang di antara mereka menuju ke arah kanan.
Lalu terdengar suara pintu dibuka secara perlahan.
Agaknya beberapa orang dari para pengepung itu telah membuka sebuah pintu ruangan yang diperkirakan berisi penjahat itu.
Tetapi beberapa saat kemudian terdengar lagi langkah mereka itu keluar dari tempat tersebut.
Kini terdengar langkah mereka telah bertambah dengan satu orang lagi, dan Yang Kun telah mengenal langkah orang tersebut dengan baik.
Orang yang telah dikenal langkahnya dengan baik oleh Yang Kun itu terus menuju ke kamarnya dan tak lama kemudian muncullah "perwira"
Sahabatnya itu di hadapannya.
"Engkau tidak menemukan orang itu, Liu Twako?"
Tanya Yang Kun kepada sahabatnya itu. Kaisar Han menggelengkan kepalanya.
"Heran! Tempat itu telah dikepung oleh seratus orang penjaga. Tidak mungkin rasanya apabila orang itu dapat meloloskan diri. Tapi orang itu benar-benar hilang lenyap tak ada bekasnya!"
"Apakah sudah diperiksa semua tempat dengan teliti? Siapa tahu ada tempat rahasia di sana?"
Pemuda itu bertanya lagi.
"Sudah! Sudah kuperintahkan untuk memeriksa di segala sudut-sudutnya, tapi orang itu tetap tidak dapat diketemukan. Dan rasa-rasanya juga tak ada jalan rahasia di tempat itu."
"Benar-benar mengherankan kalau begitu... Masakan di dunia ini ada manusia yang dapat menghilang dari pandangan mata?"
"Kun-te, kau tidurlah saja dahulu! Masih ada cukup waktu untuk meneruskan istirahatmu. Aku akan kembali ke tempatku untuk mengurus persoalan ini"
Dan""
Kaisar Han menghentikan kata-katanya sebentar, lalu lanjutnya.
"...Maafkan Twakomu ini! Sekarang aku mulai percaya pada kata-katamu tentang hantu itu. Agaknya memang telingaku yang tidak mampu mendengarkan suara-suara itu. Buktinya engkau dapat mendengar kedatangan penjahat itu, tapi aku yang telah kau beri tahu terlebih dulu juga tetap tidak dapat menangkap suara langkahnya."
Tetapi hingga fajar mulai menyingsing Yang Kun tetap tidak dapat tidur.
Banyak sekali persoalan yang memberati pikirannya.
Baik mengenai persoalan tentang keluarganya serta tugas-tugas yang dibebankan oleh mendiang ayahnya maupun persoalan yang menimpa dirinya sendiri.
"Haha... sudah bangun rupanya. Bagaimana keadaan kakimu, Yang-hiante!"
Tiba-tiba terdengar suara tabib yang setiap pagi menjenguknya.
"Hei kenapa matamu merah sekali? Ahh... Tentu tak bisa tidur akibat gangguan penjahat yang tadi malam tadi, bukan?"
Yang Kun terkejut.
"Sinshe sudah mengetahui peristiwa yang terjadi di sini tadi malam?"
"Haha... tentu saja sudah, karena aku singgah di tempat Liu-Ciangkun sebelum kemari tadi."
"Benarkah? Lalu bagaimana akhirnya? siapakah penjahat yang datang itu? Dan apa pula maksud kedatangannya ke dalam istana ini?"
Tabib itu meletakkan tas tempat peralatannya di bawah pembaringan Yang Kun, lalu tangannya meraih kedua kaki pemuda itu untuk melihat luka-lukanya yang telah mengering.
"Liu-Ciangkun tetap belum mengetahui, siapakah sebenarnya tamu malam itu. Yang terang ilmu kepandaiannya benar-benar sangat tinggi. Menurut Liu-Ciangkun tiada seorangpun jagoan istana yang akan mampu menghadapi orang itu seandainya dia mau berkelahi dengan para penjaga. Liu-Ciangkun juga berkata kepadaku bahwa orang itu bermaksud membunuh Kaisar Han. Dengan kepandaiannya yang sangat tinggi orang itu mampu meloloskan diri dari pengawasan penjaga istana, sehingga tanpa mendapatkan kesukaran orang itu dapat memasuki kamar tidur Baginda. Untunglah malam ini Baginda tidak tidur di kamarnya."
"Orang itu bermaksud membunuh Kaisar?"
Yang Kun terkejut.
Berani betul orang itu, pemuda itu membatin.
Seorang diri memasuki gua macan!
Padahal setiap orang mengetahui betul bahwa istana Kaisar merupakan tempat berkumpulnya orang-orang sakti dari seluruh pelosok negara.
Tabib itu telah selesai memeriksa kedua kaki Yang Kun.
"Besok pagi Yang-hiante telah dapat pulang ke desa, karena luka-luka ini telah sembuh seperti sedia kala,"
Tabib itu memberi tahu.
"Hah? Benarkah...?"
Yang Kun berteriak gembira.
"Sinshe, aku... aku..."
"Sudahlah, aku tahu Yang-hiante tentu akan mengucapkan rasa terima kasih kepadaku. Lupakanlah itu! Tapi Liu-Ciangkun telah memberi pesan kepadaku tadi, bahwa nanti malam dia akan mengajakmu berjalan-jalan di istana ini. Dia ingin menunjukkan seluruh keindahan istana ini kepada sahabatnya yang akan meninggalkan dia untuk selamalamanya...!"
"Untuk selama-lamanya...? Ah, tidak demikian, sinshe! Aku bukan seorang yang mudah melupakan budi seseorang, apalagi orang tersebut adalah sahabatku...! Aku tentu akan sering mengunjunginya setiap saat!"
"Nah, justru itulah yang sulit. Dalam keadaan biasa Yang-hiante akan sangat sulit untuk menemui Liu-Ciangkun, sebab selain Liu-Ciangkun itu merupakan seorang yang sangat penting di sini, Liu-Ciangkun itu juga jarang berada di istana. Dia sering mendapat tugas dari Kaisar Han untuk mengurus sesuatu di luar istana."
"Benarkah...? Ah, kalau begitu pertemuanku nanti malam adalah pertemuanku dengan dia yang terakhir?"
Yang Kun berdesah perlahan, tampak kedua buah matanya berkaca kaca.
Pemuda itu merasa bahwa ia telah diselamatkan jiwanya oleh sahabatnya itu.
Tanpa inisiatif Liu-Ciangkun untuk membawa dirinya kepada Chu Seng Kun yang ahli pengobatan itu niscaya dirinya telah mati di dalam penjara di bawah tanah tersebut.
Maka di dalam kegembiraan hatinya saat ini ternyata ada terselip juga rasa sedih karena harus berpisah dengan sahabatnya.
"Yang-hiante, aku akan kembali dahulu. Mungkin aku tidak dapat mengantarkanmu besok pagi. Kali ini kau harus lebih hati-hati di dalam petualanganmu selanjutnya! Selamat jalan!"
Tabib itu tersenyum sambil menenteng tasnya.
"Terima kasih, sinshe!"
Pemuda itu mengawasi punggung tabib tersebut sehingga lenyap di balik pintu, kemudian dengan menghela nafas panjang pemuda tersebut menatap ke arah langit-langit kamarnya kembali.
Pikirannya melayang jauh meliwati atap kamarnya itu.
Hmm, ternyata banyak juga orang yang mempunyai budi baik di samping para pembunuh yang rnembantai keluarganya.
Sampai matahari hampir terbenam Yang Kun telah berusaha melatih kedua buah kakinya untuk .berjalan-jalan di dalam kamar itu.
Kadang-kadang ia menjenguk keluar pintu.
Tapi ia belum berani keluar karena terlihat olehnya para penjaga hilir mudik di sekitar tempat itu.
Pemuda itu takut nanti terjadi kesalah-pahaman di antara mereka, biarpun dirinya adalah sahabat Liu Ciangkun.
Ternyata bersamaan dengan datangnya seorang penjaga yang menyalakan lampu kamarnya, Liu Twako juga telah muncul di dalarn kamarnya.
Dengan tersenyurn lebar sahabatnya itu menyalaminya.
"Hahaha tabib itu sudah mengatakannya kepadamu, bukan? Kun-te, engkau tentu gembira sekali. Apalagi malam ini aku mengajakmu keliling istana ini untuk melihat-lihat keindahannya..."
Yang Kun memaksa diri agar kelihatan bergembira pula di hadapan sahabatnya itu.
"Terima kasih, Liu-Twako! Aku memang telah diperbolehkan pulang ke desaku besok pagi. Tentu saja aku benar-benar merasa gembira sekali... Tetapi... tetapi benarkah bahwa malam ini adalah malam terakhir dari persahabatan kita, Liu-Twako? Kata tabib itu engkau sangat sulit untuk ditemui pada hari biasa, benarkah itu? Bagaimana kalau aku merasa rindu dan pada suatu saat ingin bertemu denganmu lagi?"
"Hei, kenapa hal itu kau risaukan benar? Bu-kankah tabib itu hanya bilang kalau aku "sulit"
Ditemui, dan itu tidak berarti bahwa aku "tidak dapat"
Ditemui, bukan?
Nah, itu berarti bahwa aku masih dapat ditemui, hanya saja karena tugas-tugasku yang sering harus bepergian jauh itulah yang menyebabkan kita akan sukar sekali bertemu.
Tapi kalau rnemang berjodoh, di manapun kita tentu dapat saling bertemu.
Haha...
kenapa hal yang demikian saja sangat memberati hatimu?
Su-dahlah, jangan kau pikirkan lagi hal itu!
Marilah kita keluar melihat-lihat keindahan suasana istana ini!
Kebetulan juga bagi kita bahwa malam ini adalah malam bulan purnarna"
Setelah berpikir sebentar akhirnya Yang Kun membenarkan pula ucapan sahabatnya itu.
Memang benar, kenapa ia mesti susah-susah memikirkan semua itu?
Kalau memang Thian menghendaki besok lusapun mungkin mereka telah dipertemukan lagi.
Maka dengan tersenyum gembira Yang Kun turun dari pembaringannya.
"Liu-Twako, engkau memang benar! Marilah kita pergi, aku telah siap mengikuti engkau!"
Katanya bersemangat.
Jilid 05 Mereka berdua kemudian keluar bersama-sama dari kamar itu, sebuah kamar yang selama sebulan menjadi tempat pemondokan bagi Yang Kun.
Di luar Yang Kun seakan-akan telah disongsong pula dengan meriah oleh taburan sinar cemerlang dari bulan purnama, yang saat itu dengan gencarnya sedang menerangi seluruh alam di sekitar mereka.
Hati dan perasaan Yang Kunpun seakan-akan menjadi lapang pula, sehingga ingin rasanya dia menghirup udara sepuas puasnya.
"Ooh... Twako, begitu indah rasanya dunia ini setelah aku keluar dari kungkungan kamarmu yang pengap itu!"
Serunya lega.
"Kun-te, kau benar...! Coba kau lihatlah daun-daun yang bergoyang-goyang disentuh angin itu, kau lihat juga dahan dahan dan ranting-rantingnya yang mencuat ke sana ke mari di tempat yang tinggi itu, lalu kau pandanglah juga atap-atap bangunan yang menjulang ke langit itu...! Semuanya seakan-akan berlapiskan perak yang putih mengkilap ditimpa sinar purnama, bukan? Indah sekali...! Inipun belum seberapa indahnya. kau akan lebih terpesona lagi apabila kau nanti melihat jurang yang tergenang air di taman sebelah belakang istana ini."
Mereka berjalan dengan perlahan-lahan mengitari halaman istana yang luas itu.
Mereka melihat gedung perpustakaan, gedung tempat senjata, gedung tempat menjamu tamu, gedung tempat para puteri istana, gedung tempat kesenian dipertunjukkan dan gedung-gedung yang lain, yang semuanya adalah bangunan yang berukir-ukir sangat indah sekali.
Dan agaknya perwira Liu sahabatnya tersebut memang orang yang sangat dihormati di istana itu, buktinya pemuda itu selalu melihat para penjaga, pengawal dan para dayang yang berpapasan dengan mereka tentu berdiri membungkuk dengan hormat sekali.
"Twako, kau benar-benar sangat dihormati di istana ini. Agaknya kau benar-benar orang yang penting seperti yang dikatakan oleh sinshe itu."
Yang Kun tersenyum. Kaisar Han tentu saja ikut tersenyum pula.
"Apakah dengan demikian kau lalu tidak mau mengenalku lagi?"
Baginda bertanya sambil merangkul pundak Yang Kun.
"Ah, tentu saja tidak! Apapun kedudukan Liu Twako di sini tidak akan merubah pandangan maupun penghargaanku kepadamu. Biar engkau hanya seorang tukang sapu ataupun seorang Kaisar sekalipun, engkau tetap seorang yang pernah melepas budi kepadaku. Liu Twako tetap seorang yang menyelamatkan aku dari elmaut!"
"Eh, Kun-te... benarkah kata-katamu itu? Bagaimana kalau pada suatu saat nanti kakakmu benar-benar menjadi Kaisar seperti kata-katamu tadi? Engkau juga masih tetap mau kenal denganku?"
Kaisar Han bergurau, tetapi di dalam hati sebenarnya merasa berdebar-debar.
Baginda merasa takut kalau kenyataan seperti itu akan merubah pandangan sahabat kecil yang telah disukainya seperti anak kandung sendiri itu.
"Ha-ha-ha... Awas kau! Di sini bukan tempat bergurau seperti itu. Salah-salah engkau akan ditangkap dan dijebloskan ke penjara oleh kaki tangan Kaisar Han nanti!"
Yang Kun tertawa mendengar kelakar Kaisar Han yang menyamar sebagai perwira she Liu itu. Tetapi dengan roman muka bersungguh-sungguh Kaisar Han menatap wajah Yang Kun.
"Kun-te, aku tidak bergurau! Aku ingin mengetahui pendapatmu! Bagaimana seandainya seperti yang kukatakan itu benar-benar terjadi?"
"Ah, Liu Twako... apakah engkau ingin memberontak kepada Kaisar Han?"
Yang Kun berbisik kaget.
Lalu dengan dahi berkerut karena merasa heran atas tingkah laku sahabatnya itu, Yang Kun menjawab pertanyaan tersebut perlahan-lahan.
Tetapi jawaban pemuda itu benar-benar bagai petir di siang hari bolong bagi telinga Kaisar Han.
"Liu Twako, terus terang engkau tak cocok untuk menjadi Kaisar. Seorang Kaisar tulen haruslah seorang yang berhati keras dan kejam, selain kecakapan dan kebijaksanaan tentunya. Dan engkau adalah seorang yang berhati lemah lembut dan penuh kasih sayang, maka mana cocok kedudukan itu bagimu? Engkau takkan tega menghukum atau menyiksa lawan-lawanmu yang setiap saat tentu akan mengusik singgasana yang kau duduki! Tetapi meskipun demikian apabila engkau tetap juga ingin mengetahui pendapatku, jika pada suatu saat engkau benar-benar menjadi Kaisar seperti yang kau katakan itu, aku hanya akan selalu berdoa agar engkau cepat-cepat jatuh dari tempat singgasanamu dan kembali menjadi rakyat biasa bersama aku untuk menggarap sawah serta ladang di desaku!"
"Kun-te...! Oh, cocok benar isi hatimu dengan apa yang kuinginkan selama ini! Hahaha"
Orang she Liu...
orang she Liu!
kau benar-benar menemukan seorang sahabat yang sungguh-sungguh cocok dengan isi hatimu...
hahaha...!
Kunte, aku sangat setuju pada apa yang baru saja kau katakan itu.
Pada suatu saat apabila aku menjadi Kaisar dan pada suatu hari tiba-tiba engkau datang mengajakku ke desamu untuk bertani dan menggarap sawah"
Hahaha... kedudukan sebagai Kaisar itu kontan aku tinggalkan! Sungguh! hahaha...!"
Kaisar Han tertawa terbahak-bahak saking senangnya, sehingga Yang Kun yang tidak mengetahui apa apa itu menjadi ketakutan apabila sampai terdengar oleh para pengawal Kaisar Han yang berada di sekitar tempat itu.
"Kun-te... jangan takut! Bukankah aku orang penting di sini?"
Kata sahabatnya itu.
"Aku akan selalu melindungimu dari siapapun juga, hahaha... Marilah kini kita pergi ke taman istana yang berada di bagian belakang sana...!"
Ketika mereka lewat di samping gedung lian-bu-thia (ruangan untuk berlatih silat), Yang Kun mendengar suara denting senjata beradu.
Otomatis mereka berhenti.
Yang Kun menoleh ke arah pintu ruangan yang terbuka daun pintunya.
Sekilas pandang ia melihat beberapa orang prajurit sedang berlatih silat dengan mempergunakan senjata.
"Ah, mereka cuma pengawal-pengawal tingkat pertengahan. Kepandaian silatnya belum dapat dibanggakan. Lain halnya dengan jagoan-jagoan istana yang tergabung dalam Sha-cap mi-wi, mereka rata-rata punya kesaktian setinggi ketua sebuah cabang persilatan!"
Kaisar Han menerangkan.
"Benarkah...? Hebat betul kalau begitu!"
"Tentu saja aku mengatakan yang sebenarnya kepadamu. Coba pada waktu penggerebegan di rumah Si Ciangkun terhadap penjahat-penjahat yang berkepandaian tinggi itu kita langsung menurunkan jago jago dari Sha-cap mi-wi itu... hehe, kukira tak seorangpun dari para penjahat tersebut yang mampu untuk meloloskan diri!"
"Kalau begitu kenapa kemarin malam tak seorangpun dari anggota Sha-cap mi-wi itu yang keluar untuk membekuk penjahat yang lenyap menghilang itu?"
"Soalnya pada saat ini tak ada seorangpun dari pasukan itu yang sedang berada di istana. Mereka tengah melaksanakan sebuah tugas yang diperintahkan oleh Kaisar Han."
"Liu Twako, bolehkah aku melihat latihan mereka itu sebentar saja?"
"Kenapa tidak boleh? Marilah...!"
Mereka berdua memasuki lian-bu-thia itu.
Beberapa orang yang berada di tepat itu tampak terkejut, sehingga dua orang yang sedang berlatihpun terpaksa menghentikan latihan mereka.
Tetapi sebelum mereka berbuat sesuatu yang lain, perwira she Liu itu cepat menghardik mereka dengan suara nyaring berwibawa.
"Jangan hiraukan aku! Teruskan latihan kalian, aku akan melihatnya!"
Dengan agak takut mereka meneruskan latihan mereka kembali, sehingga Yang Kun benar-benar menjadi heran sekali, sahabatnya ini sungguh mempunyai wibawa yang hebat di dalam istana ini.
Dua orang yang tadi berlatih berpasangan mempergunakan senjata pedang kini tampak saling berhadapan kembali.
Keduanya saling serang menyerang dengan ilmu silat yang mereka peroleh dari perguruan mereka masing-masing sebelum mereka masuk menjadi pengawal istana.
Yang bertubuh agak gemuk tampak bersilat dengan gaya Hok-kian, sementara lawannya yang bertubuh jangkung agaknya datang dari daerah Se-hek di Sin-kiang.
Keduanya mempunyai gaya silat yang sangat berlainan sekali.
Agaknya mereka memang bermaksud untuk saling bertukar pikiran tentang ilmu silat masing-masing.
Biarpun bertubuh agak gemuk ternyata orang yang datang dari Hok-kian tersebut bersilat dengan gerakan yang sangat cepat dan tangkas, ginkangnyapun sangat lumayan.
Dia berputar-putar pergi datang mengelilingi lawannya yang selalu berusaha mendekatinya.
Memang, seperti kebiasaan ilmu silat dari daerah barat yang dipengaruhi oleh gaya gulat, ilmu pedang dari orang Se-hek itupun dititikberatkan pada pertempuran dalam jarak dekat.
Itulah sebabnya mengapa pedang yang dipegangnya juga tidak sepanjang pedang lawannya yang datang dari Hok-kian tersebut.
"Kun-te, bagaimana menurut penilaianmu tentang ilmu silat kedua orang ini?"
Baginda bertanya kepada Yang Kun.
Kaisar Han ingin menjajaki ilmu kepandaian sahabat mudanya yang ia dengar hanya seorang murid dari guru silat desa saja itu.
Baginya juga ingin mengetahui keadaan yang sesungguhnya, benarkah seorang pemuda yang mampu mengalahkan dirinya dalam hal ketajaman panca-indera itu, benar-benar hanya seorang murid dari guru silat desa saja?
"Ah, Liu-Twako..., bukankah engkau sendiri yang mengatakan kepadaku bahwa akibat dari kedua buah racun yang menyerang diriku itu, aku kini sudah tidak berguna lagi?
Lweekangku sudah lenyap sama sekali, mana ada muka lagi bagiku untuk berbicara tentang ilmu silat?"
"Benar"
Tetapi bukankah hanya lweekangmu saja yang hilang?
Bukankah ilmu silatmu masih engkau kuasai dengan baik?
Engkau masih dapat bersilat dengan tangkas seperti semula, biarpun hanya berdasarkan pada tenaga gwakang saja.
Jadi asal tidak menghadapi seorang ahli lweekeh saja engkau masih bisa mendapatkan kemenangan!"
Kaisar Han menerangkan.
Yang Kun termenung mengawasi pertempuran kedua orang prajurit pengawal itu.
Memang, meskipun ia tidak punya lweekang lagi, tapi ia masih dapat melihat dengan jelas mutu ilmu silat kedua orang tersebut.
Dan iapun tahu setelah sekian lama ia melihatnya bahwa meskipun orang Hokkian itu kelihatan lebih gesit dan tangkas dari pada lawannya tetapi pertahannya ternyata tidak begitu kuat.
Berbeda dengan Se-hek tersebut, biarpun kelihatan lamban dan pasif tapi ilmunya benar-benar ulet dan tangguh.
Sehingga di dalam pertempuran yang bersungguh-sungguh orang Hok-kian itu tentu akan kalah.
Ketika Yang Kun dengan perlahan-lahan mengutarakan pendapatnya tentang kedua macam ilmu silat mereka itu, Kaisar Han cepat menepuk-nepuk pundak si pemuda dengan gembira sekali.
"Bagus! Bagus! kau ternyata bermata awas sekali. Akupun berpendapat begitu. Kun-te ternyata kau benar-benar lihai sekali!"
Kata Baginda keras-keras. Lalu tangannya cepat menghentikan pertempuran mereka.
"Pengawal! Mumpung Yang-hiante sahabatku, ada di tempat ini, ayoh... kalian mintalah pelajaran kepadanya!"
Yang Kun menjadi kaget setengah mati. Tapi sebelum ia mampu berkata-kata para prajurit pengawal tersebut telah menjura kepadanya.
"Yang siauw-ya, perkenankanlah kami belajar satu-dua jurus gerakan dari tuan."
Yang Kun memandang sahabatnya dengan bengong, tapi Baginda sendiri seakan-akan tidak mengetahui. Baginda justru melangkah ke tepi untuk memberi tempat kepada mereka.
"Kun-te, kasihanilah mereka! Berilah sedikit pelajaran agar mereka mereka puas di dalam hatinya!"
Terpaksa pemuda itu menghadapi kedua orang pengawal itu.
Hatinya menjadi ragu-ragu, bagaimana ia harus melayani mereka itu?
Dapatkah ia hanya mengandalkan jurus-jurus ilmu silatnya saja, tanpa dilandasi dengan lweekang sama sekali?
Masakan ia mampu mengelak saja terus-terusan tanpa sekali-sekali mengadu kepalan atau lengan, yang berarti ia harus mengadu tenaga?
Tetapi Yang Kun tidak mempunyai waktu lagi untuk melamun.
Kedua orang itu telah meletakkan senjata mereka dan kini telah bersiap-siap di hadapannya.
Maka agar jangan mengecewakan mereka, Yang Kun cepat memasang kuda-kuda.
Dengan berteriak keras kedua orang itu menyerang dari kanan dan kiri.
Semuanya mengarah ke pinggang Yang Kun.
Dalam keadaan masih mempunyai lweekang, Yang Kun tentu memilih untuk menangkis serangan itu, sehingga ia akan lebih mudah untuk menyerang mereka kembali.
Tapi karena ia tak berani beradu tenaga, terpaksa pemuda itu meloncat kebelakang.
Dan dari tempat itu baru dia menyerang balik kedua lawannya dengan tendangan berantainya.
Sekarang ganti kedua orang pengawal itulah yang meloncat mundur.
Tetapi mereka meloncat ke belakang sambil memisahkan diri ke kiri dan ke kanan, sehingga akhirnya Yang Kun menjadi terkepung di antara mereka berdua.
Untuk sesaat mereka bertiga hanya berdiri diam saling mengukur kekuatan lawan.
Tetapi beberapa saat kemudian mereka telah terlihat lagi di dalam tertempuran yang seru.
Yang Kun yang telah kehilangan seluruh kekuatan lweekangnya ternyata masih mampu juga bergerak dengan tangkas melayani kedua orang lawannya, biarpun setiap kali ia harus menghindari adu tenaga dengan mereka.
Yang kun dengan gesit menyerang pada bagian-bagian yang berbahaya dari kedua orang lawannya, karena hanya dengan berbuat begitu ia akan mampu merobohkan lawannya.
Maka dengan sangat hati-hati Yang Kun memainkan Hok-te Ciang-hoat (Ilmu Pukulan Menaklukkan Bumi), yaitu ilmu silat tangan kosong andalan keluarga Chin di samping Hok-te To-Hoat (Ilmu Golok Menaklukkan Bumi).
Hok-te Ciang-hoat diciptakan oleh cikal bakal raja-raja Chin dan terdiri dari 36 jurus.
Setiap jurusnya terdiri pula dari beberapa gerakan rahasia yang sukar diduga oleh lawan.
Seperti juga pada Ilmu Golok Hok-te To-Hoat, llmu Pukulan Hok-Te Ciang-Hoat ini berdasarkan pada kegesitan kaki dan kekuatan lengan.
Semua jurus serangan yang ada di dalam Hok-te Ciang-hoat ini selalu mengarah ke bagian-bagian tubuh lawan yang berbahaya.
Pengawal yang berasal dari Hok-kian itu bergerak semakin gesit tetapi ternyata gerakan kaki Yang Kun masih tetap lebih cepat dari padanya, sehingga setiap usahanya untuk mencecar dan merangsak Yang Kun selalu gagal karena pemuda itu tentu melejit dengan cepat menghindarkan diri.
Akhirnya justru dia sendirilah yang mengalami kesukaran ketika Yang Kun ganti membalas serangannya.
Yang Kun yang mengetahui titik kelemahan lawan dalam pertahanannya, selalu mempergunakan setiap kesempatan yang diperolehnya.
Untunglah prajurit pengawal yang ke dua, yang berasal dari Se-hek, selalu menolong temannya yang kerepotan itu.
Tetapi dengan berbuat demikian lambat-laun kedua orang itu akhirnya jatuh di bawah angin.
Kaisar Han yang memperhatikan cara bersilat Yang Kun sejak permulaan tetap belum dapat menebak dari aliran mana sahabatnya itu berasal.
Melihat gerakan kakinya yang cepat dan gesit seperti orang menari mengingatkan Baginda pada gerakan seorang ahli silat pedang, tetapi bila melihat gerakan tangannya yang selalu bertumpu pada gerakan pinggang, mengingatkan Baginda pada gerakan seorang ahli silat tombak yang biarpun agak lamban tetapi terlihat kokoh dan kuat itu.
Tetapi apabila dilihat dari gaya pukulan tangan dan jari-jarinya, Baginda menjadi teringat kepada seorang ahli kin-na-jiu (ilmu menangkap dan membanting).
Sehingga akhirnya Baginda menjadi pusing dan bingung sendiri.
Sementara itu pertempuran di antara ketiga orang itu telah hampir berakhir.
Pemuda itu berhasil mengurung kedua orang lawannya.
Beberapa kali serangannya berhasil menembus pertahanan lawan.
Hanya karena serangan tersebut tidak disertai Lweekang yang kuat maka kedua lawannya masih bisa bertahan.
Coba Yang Kun masih memiliki tenaga dalam seperti semula, mungkin kedua pengawal itu hanya dapat bertahan dalam beberapa jurus saja.
"Tahan!"
Tiba-tiba Kaisar Han berseru.
Yang Kun yang pada saat itu berhasil memasukkan sebuah serangan lagi ke dalam benteng pertahanan lawan, sehingga kedua ujung jari kanannya dapat menjepit tenggorokan salah seorang di antaranya, terpaksa melepaskan tangannya.
Kedua orang lawannya itu juga segera meloncat mundur, lalu menjura kepada Yang Kun dan mengaku kalah.
"Bagus! Bagus! Kun-te, engkau sungguh hebat sekali! Sekalipun tanpa lweekang ternyata engkau masih mampu mengalahkan kedua orang kepala pengawal Tu-shu-koan (Gedung Perpustakaan). Agaknya suhumu itu memang bukan orang sembarangan, sayang ketika bertemu dengan suhumu di ruang penjara bawah tanah itu aku tidak sekalian mengundangnya kemari."
Kaisar Han berkata. Tiba-tiba seorang pengawal yang sedari tadi berada di pinggir arena tampak melangkah maju. Setelah berlutut di depan Kaisar Han, pengawal itu berdiri menjura ke arah Yang Kun.
"Apabila diperkenankan siauwte juga ingin sekali meminta satu dua jurus pelajaran ilmu silat guna menambah pengetahuan siauwte di bidang permainan senjata."
Yang Kun sekali lagi menjadi termangu-mangu.
Kakinya baru saja sembuh dan dia tak ingin berkelahi sebenarnya.
Tapi ketika ia menoleh ke arah sahabatnya, lagi-lagi sahabatnya itu seperti tak ambil peduli pada keadaan itu.
Sahabatnya tersebut justru memberi peluang kepada mereka untuk melaksanakan niatnya itu.
"Hahaha... Tio shao-ping rupanya (Pengawal Tio)! Bagus... engkau agaknya juga ingin mencoba kepandaian Yang Siauw-ya dalam hal bermain senjata. Tapi Tio shao-ping harus berhati-hati! Sahabatku ini bukan tandinganmu, senjata"
Ehh Kun-te, apakah senjata yang biasa kau pakai?"
Kaisar Han bertanya kepada Yang Kun.
"Liu Twako, aku... aku sebenarnya..."
"Ah, Kun-te... kau tidak usah terlalu merendahkan dirimu. Kasihanilah mereka itu. Mereka ingin minta petunjuk dari sahabat pemimpinnya. Nah, apakah senjata yang biasa kau pakai?"
"Aku... Aku... yah, baiklah! Tapi hanya satu kali ini saja lagi. Sebenarnya aku tidak ada nafsu untuk berkelahi pada saat ini. Liu Twako, aku dapat mempergunakan segala macam senjata, tapi senjata yang biasa aku bawa adalah sebuah golok."
"haha... Kun-te, begitulah seharusnya engkau bersikap. Nah, pengawal"
Berilah Yang siauw-ya ini sebuah golok!"
Kaisar Han berteriak ke arah para pengawal.
"Nah, Kun-te... kau pun harus mengetahui, siapakah sebenarnya Tio shaoping ini. Dia adalah kepala regu pengawal Wu-chi-koan (Gudang Senjata)! Kedudukannya lebih tinggi dari pada kedua pengawal tadi. Kepandaiannya bermain tombakpun juga lebih membahayakan pula."
Salah seorang pengawal menyerahkan sebuah golok besar kepada Yang Kun, sementar Tio shao-ping telah bersiap-siap pula dengan tombak pendeknya.
Kedua orang itu kemudian saling berhadapan.
Tio shao-ping sekali lagi memberi hormat kepada Yang Kun sebagai tanda bahwa ia sudah akan memulai serangannya!
Lalu dengan sigap kepala pengawal Wu-chi-koan itu mendongakkan ujung tombaknya ke arah dada Yang Kun.
"Hiyaaaat...!!"
Bagaikan seekor ular berbisa, ujung tombak orang she Tio itu meluncur ke depan dengan cepat ke arah tenggorakan Yang Kun dalam jurus Sin-coa-chao-cu (Ular Sakti Mencari Mustika).
Yang Kun terkejut juga!
Ujung tombak orang itu tampak bergetar dengan dashyat, sebagai tanda bahwa serangan itu dibantu dengan dorongan lweekang yang kuat pula.
Maka Yang Kun tidak berani main-main.
Dalam keadaan biasa mungkin ia tidak perlu takut akan tenaga dalam lawan itu, tapi dalam keadaannya seperti sekarang ia memang harus selalu berhati-hati.
Satu-satunya jalan untuk menghindari serangan itu tanpa resiko mengadu tenaga hanyalah dengan cara meloncat mundur, sebab untuk menghindari ujung tombak yang bergetar seperti itu sama berbahayanya dengan menghindari patukan seekor ular berbisa.
Dengan cepat ujung tombak itu dapat berubah arah, ke kiri atau ke kanan!
Oleh karena itu meskipun telah melangkah ke belakang, Yang Kun tetap mengibaskan goloknya ke depan dadanya dalam jurus Mengayun Tangkai Bendera Menghalau Lo Biauw.
Begitu serangannya gagal, orang she Tio itu menyusuli lagi dengan Shao-in-kan-goat (menyapu Awan Melihat Bulan) ke arah muka lawan.
Dan belum lagi serangan itu tiba, Yang Kun telah merasakan kibasan angin yang menyertainya seperti sebuah angin taufan yang menampar-nampar wajahnya.
Tapi pemuda itu tidak ingin melangkah mundur lagi.
Dengan tubuh membungkuk Yang Kun melangkah ke depan malah, lalu diangkatnya goloknya tinggi ke arah tangan lawan yang memegang tangkai tombak, dalam jurus Mengangkat Obor Menerangi Langit.
Tentu saja pegawal itu tidak mau lengannya tergores ujung golok lawan, sehingga dengan tergesa-gesa pengawal tersebut menarik pula tombaknya ke belakang!
Malah kini tampak olehnya Yang Kun mengayunkan goloknya secara mendatar ke arah lehernya dalam jurus Panglima Yi Po Mengatur Barisan.
Orang she Tio itu terkejut juga melihat kegesitan lawan.
Dengan perasaan berat terpaksa ia meloncat ke belakang untuk menghindarkan diri sehingga keadaan telah menjadi seimbang kembali.
Sama-sama telah mundur selangkah!
Yang Kun juga tidak berusaha untuk mengejar lawannya.
Ia berdiri tegak kembali dengan golok di depan dadanya.
Baru setelah lawan berdiri dengan tegak ia ganti menyerang dengan sabetan goloknya.
Maka terjadilah suatu pertarungan seru di antara mereka.
Tapi seperti pertempuran pertama, kali ini Yang Kun juga harus selalu menghindari pertemuan di antara kedua senjata mereka, karena dengan bertemunya kedua senjata mereka berarti harus mengadu tenaga pula.
Padahal lweekang lawannya kali ini justru lebih tinggi dari pada kedua lawannya yang pertama.
Dan kelemahan ini tidak disia-siakan oleh orang she Tio itu.
Orang itu dengan nekat dan berani menyerbu ke arah Yang Kun sambil mengobat-abitkan tangkai tombaknya dengan maksud agar sekali tempo dapat beradu dengan tenaga lawannya.
Baginda tersenyum melihat cara bertempur pengawalnya itu.
Biarpun cara bertempur seperti itu dapat dikatakan licik tapi hal itu juga dapat menjadi tanda bahwa pengawal tersebut bertempur dengan memakai otak pula.
Agaknya YangKun menyadari pula akan hal ini.
Beberapa kali pemuda itu terpaksa harus meloncat ke sana ke mari untuk menghindari serbuan lawannya dan beberapa kali pula ia harus menangkis tombak lawannya.
Hal itu terpaksa ia lakukan karena tiada jalan lagi selain menangkis, padahal setiap senjata mereka beradu setiap kali pula ia meringis kesakitan karena tenaga gwakangnya ternyata tidak mampu menahan tenaga dalam lawannya, sehingga lambat laun telapak tangannya terasa perih bagai terkelupas kulitnya.
Baginda mengerutkan keningnya.
Ilmu golok sahabatnya itu hebat bukan main.
Entah dari perguruan mana Baginda juga tidak tahu, tetapi agaknya ilmu itu sedikit dipengaruhi ilmu toya dan ilmu pedang.
Beberapa kali Baginda melihat sahabatnya itu menusukkan ujung pedang.
Kadang-kadang Baginda melihat golok itu diayun oleh sahabatnya seperti orang mengayun toya, keras sekali, dan tidak memakai tenaga bahu tetapi dengan tenaga pinggangnya!
Baginda percaya, bila sahabatnya tidak kehilangan lweekangnya, paling-paling Tio shao-ping itu hanya dapat bertahan selama 20 jurus saja.
Tapi karena keadaannya itu pula yang mengakibatkan sahabatnya itu kini menjadi terdesak malah.
Yang Kun semakin repot menahan serbuan lawannya.
Kedua buah telapak tangannya telah mulai mengalirkan darah, sehingga rasa-rasanya sudah tak dapat lagi untuk memegang tangkai golok.
Tetapi untuk mundur dan mengaku kalah hatinya sungguh berat dan penasaran.
Ia tahu dengan pasti bahwa ilmu tombak lawannya benar-benar bukan tandingan Hok-te To-hoatnya yang hebat, maka jika harus mengaku kalah terhadap ilmu tombak seperti itu ia sungguh merasa sangat penasaran sekali.
Tetapi keadaan Yang Kun memang sangat runyam.
Melawan senjata lawan yang lebih panjang serta berkelahi seperti kerbau gila itu benar-benar membuat dia tidak bisa berkutik, sehingga ketika sekali lagi dia terpaksa harus menangkis pukulan gagang tombak lawannya, goloknya sudah tak bisa dipertahankan lagi.
Dengan suara nyaring golok itu terpental lepas dari tangannya!
Padahal ujung tombak lawan masih tetap meluncur ke arah pusarnya.
Sedangkan Yang Kun sudah tidak mempunyai kesempatan lagi untuk menghindar!Sementara itu saking bernafsunya, orang she Tio itupun sudah tidak keburu lagi untuk menahan daya luncur senjatanya.
Semua mata terbelalak kaget!
Kaisar Han juga terkejut setengah mati melihat perubahan suasana yang begitu cepatnya.
Baginda juga tidak dapat berbuat apa-apa!
Yang Kun juga sudah tidak mempunyai harapan lagi.
Dengan berteriak keras dia menampar ke arah muka lawan dengan jurus andalannya, Raja Chin Miu Mematahkan Kim-pai!
Dengan harapan meskipun ia mati tertembus tombak, tapi pihak lawan juga tidak dapat menikmati kemenangan itu dengan tubuh segar bugar, paling tidak tentu rontok semua gigi-giginya.
"Dessss!"
"Krakkkang!"
Kedua-duanya terlempar ke belakang dengan keras.
Semua orang yang berada di tempat itu serentak meloncat ke depan untuk menolong.
Para pengawal itu merubung dan menolong Tio shao-ping sementara Kaisar Han cepat memeluk Yang Kun yang terkapar di atas lantai.
Tampak kain baju yang menutup perut pemuda itu basah oleh darah!
"Kun-te...
Kun-te!
kau...?!?"
Baginda berdiri kembali, matanya menatap tubuh sahabatnya yang terkapar di samping kakinya.
Terpancar suatu perasaan menyesal yang dalam pada pandang mata Baginda, sehingga wajah yang tertutup kumis dan jenggot tebal itu tampak memucat.
Dan lambat laun dari pucat wajah itu berubah menjadi merah membara, sejalan dengan terbakarnya hati Baginda mengingat akan kecerobohan hamba pengawalnya yang kurang hati-hati sehingga membunuh sahabatnya.
Tetapi sebelum Baginda meledak dengan kemarahannya...
"Aduhhh... wadouhhh... gatal sekali! wadouhhh... mukaku gatal sekali! Oh... Oh... ooooohhh... panasnya!"
Tiba-tiba terdengar suara Tio shao-ping yang berteriak teriak kesakitan.
Dan ketika Baginda menoleh, tampak tubuh pengawal itu meronta-ronta di dalam pegangan kawan-kawannya.
Kulit mukanya yang semula berwarna kuning itu kini tampak membengkak kehitam-hitaman, sementara pada pipinya sebelah kanan ada bekas telapak tangan Yang Kun yang berwarna kemerah-merahan.
Sekali lagi Baginda terkejut setengah mati.
Terang kalau hambanya itu mengalami keracunan hebat.
Segera terngiang ngiang di dalam telinga Baginda akan kata-kata Chu Seng Kun sebulan yang lalu, ketika tabib muda itu selesai mengobati tubuh Yang Kun.
"Hongsiang, di dalam darah anak muda ini telah mengalir sebuah campuran racun yang kekuatannya telah berlipat ganda. Racun itu telah bersenyawa menjadi satu dengan cairan darah sehingga tidak mungkin terpisahkan lagi... Tanpa kepandaian apa-apapun anak muda ini sudah menjadi orang yang sangat berbahaya..."
Untuk beberapa saat Baginda masih melihat hambanya itu berteriak-teriak dan meronta-ronta, tetapi ketika Baginda melangkah untuk mendekati tiba-tiba kepala orang itu telah terkulai, napasnya berhenti, nyawanya telah meninggalkan tubuhnya.
Baginda berdiri termangu-mangu, begitu juga para pengawal yang lain, mereka hampir tak mempercayai segala kejadian yang baru saja berlalu itu.
Baginda menghela napas berat.
Akhirnya terbukti pula semua perkataan Chu Seng Kun itu.
"Liu-Twako..."
Semuanya dengan serentak menoleh.
Mereka hampir tidak percaya ketika tubuh pemuda yang tadi tertembus tombak itu kini tampak duduk memandang ke arah mereka.
Baginda cepat berlari menghampiri, lalu dengan perasaan tak percaya Baginda mengawasi muka sahabatnya.
"Kun-te... kau masih hidup? Engkau tidak apa-apa? Bagaimana dengan luka di perutmu?"
Baginda bertanya sambil mengawasi perut sahabatnya itu. Tangannya yang terulur ditariknya kembali begitu teringat kata-kata Chu Seng Kun.
"Aku... aku hanya tergores pada kulit perutku. Agaknya timang perak yang Twako berikan kepadaku untuk hiasan ikat pinggang itu telah menyelamatkan jiwaku."
Yang Kun menjawab sambil menoleh ke arah pecahan perak yang berkeping-keping di dekatnya.
"...Dan bagimana dengan Tio shao-ping itu? Kenapa dia juga terbaring di sana? Apakah tamparanku terlalu menyakitkan dia?"
Baginda terdiam untuk beberapa saat, kemudian memberi isyarat kepada para pengawal untuk menyingkirkan tubuh Tio shao-ping dari tempat itu.
"Awas! Jangan sampai racun itu menular ke pada tubuh kalian!"
Baginda memperingatkan.
Tentu saja Yang Kun heran sekali mendengar kata peringatan sahabatnya itu.
Apalagi ketika dilihatnya semua orang berwajah pucat.
Tanpa bersuara mereka menggotong tubuh Tio shao-ping keluar dari ruangan itu.
"Liu-Twako! Apa yang terjadi? Kenapa Tio shao-ping itu?"
Pemuda itu berteriak.
"Kun-te... sudahlah! Lihat dahulu lukamu, baru kita pikirkan yang lain!"
"lihat! Perutku benar-benar hanya tergores sedikit saja! Aku sungguh tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedikit mual dan pusing akibat hentakan tombak Tio shao-ping yang menghantam perutku tadi."
Yang Kun berkata sambil memperlihatkan perutnya yang terluka.
"Sukurlah!"
Baginda merasa lega.
"Ketahuilah, Kun-te, Tio shao-ping telah meninggal dunia terkena tamparan tanganmu tadi...!"
"Hah? Mati? Bagaimana mungkin? Bukankah tamparan itu hanya sebuah tamparan biasa saja tanpa dilandasi lweekang?"
"Benar, tapi ketahuilah bahwa telapak tanganmu telah lecet-lecet berdarah sebelum menampar Tio shao-ping tadi. Padahal seperti yang telah kuceritakan kepadamu dahulu bahwa darahmu telah mengandung racun dahsyat, yang dapat membunuh orang..."
"Oooohh...!"
"Sudahlah, Kun-te, engkau tidak usah menyesalinya. Hal ini memang tidak kau sengaja. Hanya mulai saat ini kau harus hati-hati dengan darah yang keluar dari tubuhmu, sebab darah itu mengandung racun yang dapat membunuh orang selain dirimu sendiri. Marilah kita keluar...!"
"Baik, Liu Twako..."
Hari semakin malam, udara juga semakin terasa dingin.
Bulan purnama juga telah mendaki semakin tinggi pula.
Kaisar Han mengajak Yang Kun ke halaman istana bagian tengah di mana bangunan-bangunan indah didirikan, yaitu beberapa bangunan besar yang dikelilingi tembok tinggi tempat Kaisar dan seluruh anggota keluarganya bertempat tinggal.
Di sana penjagaan lebih ketat dan keras dari pada bagian istana yang lain.
"Kita tidak usah masuk ke dalam. Soalnya harus ada ijin khusus selain keluarga Kaisar yang ingin masuk ke tempat itu."
Kaisar Han berkata.
"Kita lewat melalui jalan di luar temboknya saja."
"Liu Twako, apakah pengaruhmu tidak sampai di dalam tembok itu?"
"Haha"
Tentu saja kakakmu ini mempunyai juga pengaruh di sana.
Tetapi punya pengaruh atau tidak punya pengaruh tetap sama saja kalau akan memasuki daerah terlarang itu.
Tetap harus mempunyai ijin khusus dari Kaisar!"
Akhirnya mereka sampai di halaman istana bagian tengah di mana terdapat sebuah bangunan yang besar dan megah.
Di depan pintu masuknya yang besar dan indah tampak berderet-deret belasan buah patung manusia setinggi dua meter, terbuat dari batu pualam putih.
Halamannya sangat luas dan ditanami pohon-pohon cemara sehingga terasa sejuk dan agung.
Di sebelah belakang dari bangunan itu berdiri sebuah pagoda besar yang bertingkat tujuh menjulang ke angkasa.
Beberapa orang pendeta tampak hilir mudik di dalamnya.
"Inilah kuil agung tempat para bangsawan istana bersembahyang."
Baginda memberi keterangan kepada Yang Kun.
"Kepala kuilnya adalah ayah saudara Chu yang mengobati engkau dahulu itu. Bangunan ini telah berdiri kira-kira 200 tahun yang lalu... dan satu-satunya bangunan di dalam istana ini yang lolos dari gempa."
"Bolehkah aku melihat ke dalam?"
"Tentu saja..."
Yang Kun kagum sekali pada gaya bangunan yang sangat megah itu.
Semua kayu-kayunya diukir dengan indah sekali.
Lantainya juga terbuat dari batu pualam putih.
Ruangan depan yang luas itu dihiasi dengan beberapa patung dewa dewi di bagian tepinya, sementara altar tempat bersembahyang yang terletak di tengah-tengah ruangan itu terbuat dari batu pualam bening seperti kaca setebal satu jengkal lengan manusia.
Persis di atas altar tersebut, yaitu pada atap di gentingnya dibuat sebuah lubang seluas altar itu pula, sehingga sinar matahari maupun bulan dengan bebas dapat masuk menerangi altar kaca itu.
Beberapa orang pendeta menyambut kedatangan mereka, tetapi Kaisar Han cepat memberi keterangan bahwa mereka hanya ingin melihat-lihat saja keindahan dari kuil itu, sehingga pendeta-pendeta tersebut kembali lagi ke dalam setelah mempersilahkan mereka untuk melihat-lihat sepuas-puasnya.
"Liu Twako, lihatlah! Altar itu sungguh menggetarkan hati! Altar bening yang tertimpa sinar bulan purnama itu seakan akan mempunyai perbawa yang hebat pada diri orang yang melihatnya."
Yang Kun berbisik kepada sahabatnya.
"Benar. Aku juga merasakan sesuatu pengaruh yang membuat diriku merasa segan dan takut untuk berbuat sesuatu yang jelek di tempat ini..."
"Twako... aku tiba-tiba jadi kepingin sembahyang di tempat ini..."
Yang Kun berbisik lagi. Kaisar Han tercengang! Tapi serentak dilihatnya pemuda itu tampak bersungguh sungguh dan tidak hanya sekedar bergurau dengan dia, Baginda segera mempersilahkannya.
"Silahkan, Kun-te! Aku akan menunggu di luar saja."
Sebenarnyalah, memang secara tiba-tiba hati pemuda itu ingin sekali berdoa dan bersyukur di atas altar yang menyilaukan itu.
Ia ingin bersyukur atas keselamatan dirinya dari kematian ataupun dari luka-lukanya yag berbahaya itu, Ia ingin mengucapkan terima kasihnya kepada Thian atas semua itu dan ia juga secara tiba-tiba ingin menyembahyangkan semua arwah keluarganya yang sampai saat ini belum pernah ia lakukan.
Mumpung sekarang berada di tempat yang begini agung dan mengesankan hatinya, siapa tahu ia takkan sempat lagi melakukan di tempat lain?
Yang Kun mencopot sepatunya kemudian membersihkan kedua belah kakinya sebelum naik ke atas altar.
Pertama-tama ia menyembahyangkan arwah ibu yang sangat dicintainya, baru setelah itu ia menyembahyangkan arwah ayah dan paman-paman yang lain.
Sinar bulan purnama yang menyorot cemerlang tepat di atas kepalanya itu semakin menambah perbawa yang menakjubkan pada altar bening yang kini berada di bawah kakinya.
Bayangan langit, mega, bulan dan bintang seakan terpantul di sana, sehingga pemuda itu merasa berada di atas mega yang tinggi bersama-sama dengan mereka!
Yang Kun merasa seakan bayangan bulan yang terpantul di bawah kakinya itu sedang tersenyum kepadanya.
Tersenyum bangga, karena dialah yang menjadi ratu pada malam ini.
Tanpa kehadirannya, semuanya akan menjadi gelap dan tak berarti lagi.
Tetapi tiba-tiba Yang Kun terkejut!
Rasa-rasanya ia melihat dua buah bulan sedang tersenyum kepadanya di dalam altar itu.
Yang ke dua justru lebih cemerlang dari pada bulan yang pertama, sehingga rasa-rasanya altar tersebut semakin terasa menyilaukan pandangannya.
Ketika pemuda itu memandang lebih teliti lagi, ternyata ia melihat lubang kecil sebesar kepalan tangannya di bawah altar itu.
Dan jauh di dasar lubang tersebut Yang Kun melihat benda berwarna kuning mengkilat cemerlang terkena sinar bulan yang memasuki lubang kecil itu.
Dari tempat itulah sinar bulan yang kedua datang.
Yang Kun cepat-cepat turun dari atas altar tersebut dengan maksud memberi tahu tentang penemuannya itu kepada sahabatnya.
Tapi di luar kuil Yang Kun tidak melihat sahabatnya.
Halaman depan kosong, begitu pula halaman samping.
Pemuda itu berlari masuk kembali ke dalam kuil, tapi ia tetap tidak menemukan sahabatnya itu.
Seperti orang sinting Yang Kun berlari kembali ke atas altar.
Tapi betapa kagetnya ketika lubang yang berisi benda kuning itu telah lenyap dan tiada lagi di sana, seakan hilang bersama gerakan bulan yang telah sedikit mendoyong ke arah barat.
"Liu Twako... Liu Twako! Dimanakah engkau?"
Pemuda itu berseru. Beberapa orang pendeta tampak keluar dari dalam kuil dan dengan tergesa-gesa menghampiri Yang Kun.
"Siauw-sicu, kau mencari siapakah?"
Salah seorang pendeta yang berusia paling tua di antara mereka bertanya.
"Oh, siauwte sedang mencari kawan siauwte yang tadi datang ke sini bersama Siauwte..."
Pemuda itu menjawab.
"Apakah sicu adalah teman..."
"Kun-te...!"
Tiba-tiba terdengar suara orang memanggil dari jauh.
Yang kun bergegas meloncat keluar pintu, diikuti oleh para pendeta itu.
Tampak oleh mereka di atas pagoda dua orang sedang bertempur dengan seru.
Salah seorang di antara mereka dikenal oleh Yang Kun sebagai Liu Twako, sahabat yang sedang dicarinya itu.
Mereka berlari-lari menghampiri tempat itu.
Dari bawah terlihat dengan nyata, kedua orang yang sedang berkelahi di tingkat ke tiga itu adalah seorang laki-laki dan seorang wanita.
Yang Kun mengenal bahwa yang laki-laki adalah Liu Twako, sahabatnya, tapi yang lain pemuda itu tidak mengenalnya.
Kedua orang tersebut bertempur dengan seru.
Masing-masing ternyata mempunyai kepandaian yang sangat tinggi, apalagi wanita itu.
Pukulan mereka yang dilandasi oleh tenaga dalam tingkat tinggi terdengar bersiutan dari bawah, sehingga pagoda itu seperti bergetar dilanda angin pukulan mereka.
Kaisar Han yang sebelum menjadi Kaisar adalah seorang pendekar besar yang sangat terkenal di dunia persilatan tentu saja mempunyai kesaktian yang bukan main hebatnya, sebab tanpa mempunyai kesaktian yang hebat tidak mungkin dia bisa memimpin barisan para pendekar yang rata-rata juga merupakan seorang pendekar yang sudah punya nama pula di dunia persilatan.
Meskipun demikian dalam pertempuran seorang lawan seorang dengan wanita itu ternyata Baginda berada di bawah angin.
Wanita yang sekarang sedang bertempur dengan Baginda adalah seorang wanita yang telah berumur sekitar 60-an, tapi meskipun begitu ternyata gerakannya masih tetap gesit dan tangkas.
Dengan langkah-langkah kaki yang cepat serta lweekang yang tinggi, ia mengurung Kaisar Han yang selalu terdesak mundur.
Beberapa kali wanita itu memaksa Baginda untuk saling beradu kepalan atau lengan dan setiap kali pula Baginda harus mengakui kehebatan tenaga dalam lawannya.
Meskipun hanya seorang wanita apalagi sudah tua ternyata kekuatannya masih berada di atas kekuatan Baginda.
Baginda semakin terpepet di pagar kayu yang berada di tingkat tiga tersebut.
Anehnya sampai saat itu tak seorang pengawalpun yang datang ke tempat itu untuk menolong Baginda.
Agaknya para pengawal istana yang berada di sekitar tempat itu telah dilumpuhkan oleh wanita tersebut.
Sedangkan para pendeta yang berada di dalam kuil itu tak seorang pun yang mengerti ilmu silat selain kepala kuilnya yang bernama Chu Sin, ayah Chu Seng Kun!
Tapi sampai saat itu Chu Sin pun belum kelihatan di tempat tersebut.
Akhirnya Yang Kun tidak tega melihat keadaan sahabatnya.
Tapi sebelum ia berlari menyusul ke atas, tiba-tiba terdengar suara berdentam yang keras disertai ambrolnya pagar kayu yang melingkari teras di tingkat ke tiga.
Tampak oleh Yang Kun sahabatnya terlempar ke bawah akibat beradu tenaga dengan lawannya.
Yang Kun berusaha menyanggah tubuh sahabatnya.
Tetapi oleh karena lweekangnya telah tiada, apalagi Kaisar Han ternyata juga telah terluka dalam akibat pukulan lawan, maka keduanya justru jatuh terguling-guling di atas rumput.
Tapi hal itu juga sudah merupakan sebuah keuntungan pula bagi Kaisar Han.
Tanpa disanggah oleh Yang Kun, meskipun Baginda juga telah mengerahkan ginkangnya, jatuh dari tempat yang begitu tinggi niscaya akan berbahaya pula bagi tulang-tulang kakinya.
Yang Kun menolong sahabatnya untuk bangkit dari rumput.
Tampak oleh pemuda itu darah segar mengalir dari mulut sahabatnya, menandakan bahwa sahabatnya itu mendapat luka dalam yang tidak ringan.
Tapi sebelum mereka berdiri tegak, mereka dikejutkan oleh hembusan tenaga dalam yang dilontarkan dari atas kepala mereka.
Ketika mereka mendongakkan kepala mereka, tampak bayangan wanita itu meluncur turun ke arah mereka, dengan kedua belah lengannya menghantam ke depan.
Kedua orang sahabat itu merasa seperti dihimpit oleh tenaga yang amat berat, sehingga untuk mengambil napas saja sukar sekali rasanya.
Apalagi untuk dapat menghindar dari tempat itu.
Terpaksa secara bahu-membahu kedua sahabat itu bersama-sama memapaki pukulan lawan yang saat itu sedang meluncur tiba.
"Buuummm...!"
Debu tampak mengepul tinggi.
Rumput-rumput bagai tercabut dari akar-akarnya.
Kerikil dan pasir berhamburan ke mana-mana.
Kedua sahabat itu seakan lenyap tertutup oleh semuanya itu.
Sedangkan wanita yang terjun dari tingkat ke tiga itu kelihatan mendarat dengan ringan tak jauh dari sana.
Daya perlawanan kedua orang itu justru sangat menguntungkan bagi wanita tersebut, sebab dengan mendapatkan perlawanan itu membuat laju tubuhnya menjadi tertahan untuk sesaat.
Bersama dengan makin menipisnya debu yang menutupi tempat itu terdengar pula suara-suara tanda bahaya yang dipukul memenuhi angkasa.
Wanita itu tampak kaget, sekilas dilihatnya kedua orang korban pukulannya itu masih tergeletak pingsan di tempatnya.
Tapi sebelum ia beranjak pergi untuk meninggalkan tempat itu, telinganya yang sangat tajam mendengar derap kaki orang dari segala penjuru.
Dan sebelum ia memutuskan apa yang mesti diperbuatnya untuk dapat meninggalkan tempat tersebut tampak puluhan bahkan ratusan prajurit pengawal tampak memenuhi halaman kuil itu!
Wanita itu terdengar menggeram dengan marah.
Agaknya kedatangannya kali ini telah diperhitungkan oleh lawannya, buktinya ia melihat beberapa orang prajurit serta perwira pasukan kerajaan di antara para pengawal istana itu.
Tetapi meskipun demikian kedatangannya kali ini untuk membunuh Kaisar Han ternyata justru memperoleh keberhasilan.
Secara tak terduga wanita itu dapat bertemu dengan Kaisar di tempat tersebut, padahal kemarin malam ia telah berputar-putar hampir di segala sudut istana tanpa membawa hasil.
Sekali lagi wanita itu menoleh ke arah Kaisar Han dan Chin Yang Kun yang masih pingsan dan tiba-tiba saja ia memperoleh jalan keluar untuk meloloskan diri dari kepungan para prajurit itu.
Wanita itu meloncat dengan cepat dan di lain saat kedua tubuh Kaisar Han dan Yang Kun telah berada dalam genggaman tangannya.
Dengan kedua sosok tubuh di tangannya wanita itu berusaha membobol kepungan tersebut.
Tubuh Yang Kun dan tubuh Kaisar Han diayun ke sana ke mari untuk menghantam ke arah mereka.
Tentu saja para perwira yang memimpin pengepungan itu menjadi kalang kabut mengatur anak buahnya agar tidak salah tangan membunuh raja mereka sendiri.
Pasukan anak panah yang datang juga ke tempat itu tidak dapat berkutik pula di menghadapi keadaan seperti itu.
Sehingga akhirnya pasukan pengepung yang beratus-ratus jumlahnya itu hanya bisa mengikuti saja ke mana wanita itu membawa korbannya.
Mereka berteriak-teriak dan memaki-maki wanita tersebut dari kejauhan.
Kaisar Han dan Yang Kun dibawa lari ke arah halaman istana bagian belakang.
Di tengah-tengah taman istana wanita itu telah dihadang pula oleh sejumlah perwira yang berkepandaian tinggi.
Mereka inilah yang akhirnya dapat sedikit menghambat langkah kaki orang yang akan menculik dan membawa pergi junjungannya.
Dengan kepandaian mereka yang tinggi mereka dapat memilih sasaran-sasaran yang mereka kehendaki, biarpun untuk berbuat begitu juga tidak mudah, karena orang yang mereka hadapi kali ini juga bukan orang sembarangan.
Alhasil para perwira itu tetap tidak dapat menangkap musuh yang menawan Kaisarnya, tetapi penculik yang berusaha membunuh Kaisar itupun juga mengalami kesukaran untuk meloloskan diri dari istana itu.
Pertempuran itu makin lama makin bergeser ke arah belakang sehingga akhirnya mencapai celah lebar bekas gempa yang pernah diceritakan oleh Kaisar Han itu.
Tempat itu kini malah menjadi tempat bercengkrama yang indah bagi keluarga Kaisar, karena celah yang panjang dan lebar itu entah dari mana datangnya telah dipenuhi dengan air yang sangat bening, sehingga dasar celah yang terdiri dari lapisan batu kapur yang sangat keras dan terdiri dari bermacam-macam warna itu memantul ke atas bagaikan warna pelangi yang berkilau-kilau di atas permukaan air.
Lambat laun wanita itu mendekati daerah tepi tebing celah tersebut yang penuh ditumbuhi pohon-pohon cemara yang rimbun.
Sambil berlari berputar-putar di antara pohon-pohon tersebut, wanita itu sesekali melongok ke bawah tebing, ke arah permukaan air telaga yang bening yang berada sejauh tiga empat meter dari permukaan tanah itu.
Atau kadangkadang matanya melirik ke arah permukaan air telaga yang bermandikan cahaya bulan itu.
Agaknya wanita tersebut sedang berpikir keras untuk mencari jalan yang lebih aman baginya, yaitu menyeberangi telaga kecil itu ataukah menyusuri saja celah tersebut.
Dan agaknya maksud hatinya itu dapat dibaca juga oleh para pengepungnya, buktinya salah seorang dari para perwira itu cepat memerintahkan para prajuritnya untuk menyingkirkan perahu-perahu kecil yang berada di sana.
Selain itu juga diperintahkan untuk memperketat pengepungan di kedua belah tepian telaga itu, sehingga akhirnya ruang gerak dari wanita itu menjadi sangat terbatas.
Tentu saja hal itu membuat wanita itu menjadi marah sekali.
Tampak wanita itu mengerahkan seluruh kekuatannya dan menyerang para pengepungnya dengan lebih ganas.
Ia tidak lagi memperdulikan apakah kedua korbannya yang saat itu berada di dalam cengkramannya akan mati atau tidak.
Ketika salah seorang perwira mendapat kesempatan untuk menyerang punggung wanita itu justru menjadi terkejut setengah mati ketika wanita itu memapaki serangannya dengan tubuh sri Baginda sendiri.
Dengan kalang kabut perwira itu berusaha menarik dan menghindarkan arah serangannya, tapi dengan berbuat begitu ia menjadi lengah akan pertahanan tubuh sendiri.
Dan kesempatan ini memang tidak disia-siakan oleh wanita yang sakti itu.
Dengan sedikit merendahkan tubuh, wanita itu menghantamkan ujung tumitnya ke arah tubuh lawan yang sudah kehilangan keseimbangan tersebut.
"Heeekkk...!!"
Bagai sebuah layang-layang putus badan perwira itu terlempar tinggi ke udara dengan nyawa sudah meloncat pula dari tubuhnya.
Tubuh tersebut jatuh ke atas tanah dalam keadaan hancur semua tulang dadanya.
Darah segar mengalir dengan deras dari mulutnya yang ternganga!
Ketegangan telah menyelimuti udara di pinggir telaga itu.
Darah telah mulai mengalir!
Semua perwira dan prajurit yang saat itu berada di tempat tersebut seakan terpukau oleh kejadian yang baru saja terjadi.
Dan lagi-lagi kesempatan itu tidak disia-siakan pula oleh wanita perkasa itu.
Dengan berteriak nyaring wanita tua itu menggerakkan lehernya kuat-kuat, dan melesatlah tiga buah tusuk kundai kemala yang berada di atas sanggulnya, meluncur ke arah para perwira yang berdiri di sekitarnya.
Terdengar suara mengaduh yang hebat dan kembali tiga orang perwira telah jatuh terkapar dengan nyawa melayang.
Darah merah mengucur dari dahi setiap perwira itu yang berlubang karena tertambus oleh tusuk kundai wanita itu.
"Adikku... tahan! kau jangan membunuh orang...!"
Tiba-tiba terdengar sebuah seruan nyaring dari puncak menara pemandangan yang berdiri di pinggir telaga.
Bersama dengan hilangnya suara teriakan itu, tampak oleh semua orang yang berada di tempat itu seorang pendeta tua melayang turun dari puncak menara bagaikan burung terbang saja.
Kain lebar yang menutupi pundaknya yang telanjang tersebut berkibar-kibar tertiup angin, sepintas lalu seperti sepasang sayap yang menggelepar pada tubuh tua yang sedang terbang ke bawah itu.
Sebelum sampai tanah orang tua itu tampak berjumpalitan beberapa kali di udara, baru setelah itu mendarat dengan empuk di atas tanah.
Benar-benar suatu pertunjukan ginkang yang telah mencapai tingkatan tinggi.
"Bu Hong Seng-jin!"
Wanita itu berseru kaget.
"Adikmu ini telah beberapa hari mencarimu ke mana-mana tanpa membawa hasil, eh... ternyata Sin-ko (nama kecil pendeta tua itu adalah Chu Sin) berada di tempat ini."
"Benar Siang-moi...! Aku sebenarnya juga tahu bahwa engkau sedang mencari aku dalam beberapa hari ini. Tapi... aku juga mengetahui bahwa engkau ingin mengajak aku untuk berbuat yang tidak baik di dalam istana ini. Maka oleh karena itulah aku menyembunyikan diriku di tampat ini..."
Pendeta tua yang dipanggil dengan nama Bu Hong Seng-jin itu menjawab teguran wanita tersebut.
"Berbuat yang tidak baik? Eh...Sin-ko, apakah perbuatanku dalam membela nama keluarga kita ini adalah jelek? Aku ingin membalaskan dendam keluarga Chin yang dihancurkan oleh Kaisar Han ini, apakah hal itu juga tidak baik?"
Hening sesaat.
Pertempuran berhenti dengan mendadak.
Semua orang mengawasi kedua orang itu dengan tegang.
Para perwira dan prajurit yang kini mengepung tempat itu tahu belaka siapakah pendeta tua tersebut, karena selain menjabat sebagai kepala kuil di istana, orang tua itu juga merupakan salah seorang dari penasehat Baginda Kaisar yang sangat dihormati.
Tetapi beberapa orang dari para prajurit itu, yang dahulu pernah pula mengabdi kepada Kaisar lama, juga tahu siapakah sebenarnya wanita tua yang sangat sakti itu.
Karena pada zaman pemerintahan Kaisar Chin Si, wanita tua itu merupakan seorang pengawal pribadi Kaisar yang sangat ditakuti lawannya.
Sebab selain sangat sakti wanita itu masih terhitung sebagai seorang bibi dari Kaisar sendiri.
Wanita tua itu tidak lain adalah Siang-houw Nio-nio, adik sepupu dari Bu Hong Seng-jin sendiri, yang kawin dengan salah seorang keturunan langsung dari Sin-kun Bu-tek si Datuk Besar dari utara itu.
Pada waktu Kaisar Chin Si jatuh dan diganti oleh Kaisar baru, wanita itu lari bersama suaminya dari istana untuk mencari putera mahkota yang pada saat itu sedang berperang di daerah perbatasan.
Wanita itu bersama suaminya berharap agar Sang Putera Mahkota lekas-lekas mengambil kembali singgasana yang telah diduduki oleh seorang yang tidak berhak.
Tetapi ternyata mereka telah terlambat!
Sebelum Putera Mahkota itu sempat membawa bala tentaranya ke Kotaraja, barisan para pendekar yang dipimpin oleh Liu Pang telah lebih dahulu menduduki istana dan mengangkat Liu Pang tersebut menjadi Kaisar Han seperti sekarang ini.
Hingga kini segala usaha dari Putera Mahkota itu untuk kembali ke istana selalu gagal, maka tidak heran jikalau wanita tua itu sebagai pendampingnya merasa sangat masgul dan sakit hati.
Apalagi ketika wanita tua itu mendengar kabar tentang kedua orang puteranya yang kata orang justru telah terbujuk oleh Kaisar Han untuk menjadi pembantunya.
Pendeta tua yang dipanggil dengan nama Bu Hong Seng-jin itu melangkah beberapa tindak ke depan, lalu dengan sabar dan tenang ia menjawab ucapan adik sepupunya itu.
"Adikku..., kau lihatlah baik-baik! Kulit kita telah berkeriput..., rambut kitapun telah memutih seperti perak"! Itu tandanya bahwa kita ini sungguh telah lama sekali berada di dunia ini. Sungguh jauh sekali perjalanan yang telah kita lalui dan sungguh banyak benar pemandangan yang telah kita nikmati selama ini. Betapa banyak pula segala macam berita yang telah kita dengar...! Oleh karena itu seharusnyalah kalau kita ini sudah mengetahui dan memahami apakah sebenarnya arti dan makna dari pada kehidupan kita di dunia ini..."
"Huh! Sin-ko, hentikan khotbahmu itu! Engkau salah tempat mengucapkannya. Seharusnya hal itu kau ucapkan di depan para muridmu, bukan di depanku, apalagi di depan prajurit yang siap bertempur seperti sekarang ini."
"Siang-moi, kau benar-benar tidak berubah. Tabiatmu dikala engkau masih muda masih kau bawa hingga sekarang.Tapi aku tetap ingin menasehatimu"
Hentikanlah pertumpahan darah ini! kau kembalikanlah Kaisar Han itu kepada mereka!"
"Mengembalikan orang yang telah menghancurkan keluarga Chin ini kepada mereka? Huhh"
Enaknya! Sin-ko, tak kusangka engkau telah menyeberang pula kepada musuh. Agaknya engkau pulalah yang membujuk kedua orang keponakanmu untuk mengabdi kepada perampok ini."
"Engkau salah, adikku. Justru kedua orang puteramu itu yang lebih dahulu bersahabat dengan Kaisar Han itu dari pada aku. Nah, Siang-moi, lekaslah kau serahkan Baginda itu kepada mereka, agar kau tidak menyukarkan puteramu sendiri!"
"Orang ini tidak akan aku serahkan kepada siapapun, ia akan kubawa menghadap Putera Mahkota untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya!"
Wanita itu berteriak.
Kemudian mengerahkan ginkangnya, ia meloncat tinggi ke udara melewati kepala para pengepungnya.
Kedua tubuh tawanannya sekali lagi ia putar-putar di sekeliling badannya, sehingga otomatis para pengepung buyar dengan sendirinya.
Dengan mudah wanita itu berlari menyusuri tebing telaga yang menuju ke arah tembok samping istana.
"Tunggu!"
Tiba-tiba terasa ada hembusan angin yang sangat kuat di sampingnya dan...pendeta tua itu telah berada di depannya kembali, sehingga terpaksa wanita itu menghentikan langkahnya.
Meskipun begitu, sambil berhenti kaki kanannya dengan gesit meluncur ke arah pusar penghadangnya dalam jurus Ular Sakti Memperlihatkan Ekornya.
Ujung sepatu dari wanita itu mematuk dengan cepat menuju ke arah pusar, tapi dengan gerakan tenang pendeta tua itu menarik pinggangnya ke kiri dalam jurus Busur Kemala Tong Pin (Tong Pin adalah ksatria ahli panah dalam cerita rakyat), sehingga serangan wanita itu menemui tempat kosong.
Dan sebelum wanita itu menarik kembali kakinya, tiba-tiba pendeta tersebut mengulurkan tangannya ke arah lutut lawannya.
Karena tidak ingin mendapat malu apabila kakinya sampai terpegang oleh lawan, wanita tua itu cepat menyusuli dengan tendangan kakinya yang lain, kali ini ke arah lengan lawan yang terjulur ke depan itu.
Tapi dengan berani pendeta tua itu memapakinya dengan lengannya.
"Dessss..."
Keduanya terdorong tiga langkah ke belakang.
Meskipun demikian apabila diperbandingkan, agaknya tenaga dalam dari wanita itu sedikit lebih tinggi dari pada tenaga dalam pendeta tua tersebut.
Hal itu dapat dilihat dari bekas tanah yang terinjak oleh kaki mereka tadi.
Biarpun harus membawa dua buah beban ternyata tak sedikitpun kaki wanita itu meninggalkan jejak, lain halnya dengan kaki pendeta itu, selain meninggalkan jejak yang dalam, bekas dari jejak kaki itupun tidak dalam posisi yang teratur.
Jejak itu mencang menceng ke kanan dan ke kiri tanda bahwa pendeta itu melangkah mundur dengan kuda-kuda yang goyah.
Tetapi dalam pertempuran selanjutnya selisih yang sedikit tersebut menjadi tidak begitu berarti lagi, justru kedua buah beban yang dibawa oleh wanita itulah yang akhirnya sangat menganggu sepak terjang wanita tua itu.
Bagi seorang sakti seperti pendeta tua itu tidaklah sukar untuk menghindarkan serangannya dari tubuh Kaisar Han yang berada di dalam cengkeraman lawan.
Dengan mudah pendeta itu mencari lowongan-lowongan di antara ayunan tubuh Kaisar Han yang diputar-putar oleh wanita itu, sehingga tidak lama kemudian wanita itu telah mulai terdesak.
Beberapa orang perwira yang ingin lekas-lekas membebaskan Kaisar mereka tampak mulai bersiap-siap pula untuk terjun ke dalam pertempuran.
Salah seorang diantaranya malah sudah mempersiapkan sebuah jaring besar dengan anak buahnya.
Jaring itu mereka bentangkan di atas tanah dekat menara pemandangan tanpa setahu wanita tua itu.
"Siang-moi, lekas kau serahkan Kaisar Han itu kepada mereka sebelum terlambat! Lihat, mereka sudah tidak sabar lagi!"
Pendeta tua itu memperingatkan adik sepupunya.
"Hmm... lihat serangan!"
Wanita itu berseru dengan keras.
Tak ada sedikitpun niatnya untuk membebaskan Kaisar Han itu, apalagi sampai menyerahkan diri.
Tubuh Yang Kun yang dia jinjing dengan tangan kiri ia hantamkan ke depan, ke arah kepala Bun Hong Seng-jin.
Pendeta tua itu cepat membungkukkan badannya, sehingga serangan tersebut lewat di atas kepalanya.
Kemudian dengan tangkas ia melangkahkan kakinya ke depan malah dan dari samping itulah ia melepaskan totokan jarinya yang ampuh ke arah pinggang lawan.
Akibatnya Siang-houw Nio-nio menjadi terkejut sekali!
Terpaksa wanita tua itu mengangkat lutut kirinya ke atas untuk menahan ujung jari lawannya.
"Tukk!"
Siang-houw Nio-nio tampak meringis menahan sakit.
Untuk beberapa saat lamanya lutut kirinya terasa bebal terkena totokan lawan, tetapi setelah beberapa saat kemudian telah pulih kembali seperti sediakala.
Sementara itu Bu Hong Sengjin terpaksa tidak dapat melanjutkan pula serangannya yang hampir membawa hasil tersebut karena ujung jari yang mengenai lutut lawan itu juga terasa sakit bukan main!
Tetapi beberapa orang perwira yang sedari tadi telah bersiap-siap di sekitar mereka, ternyata tidak menyia-nyiakan kesempatan baik itu.
Selagi wanita itu terhuyung-huyung menahan rasa sakit pada lututnya, mereka langsung terjun ke arena untuk mengeroyoknya.
Akibatnya memang terasa sangat berat bagi Siang-houw Nio-nio, setiap kali ia terhuyung-huyung ke belakang menahan serangan mereka,sehingga akhirnya tanpa terasa ia mundur ke arah bentangan jaring yang telah dipasang oleh para prajurit tadi.
Awal mendung yang tebal tampak menutup bulan di atas langit dan untuk beberapa saat udara pun menjadi gelap gulita.
Suasana di dalam arena pertempuran itupun tampak gelap, hanya sinar-sinar kecil dari lampu-lampu tamanlah yang menerangi tempat tersebut.
Keadaan itu tentu saja membuat pertempuran tersebut menjadi kacau balau.
Siang-houw Nio-nio juga tidak merasa sama sekali bahwa ia semakin mendekati bentangan jaring yang akan menjerat tubuhnya.
Ketika pada suatu saat ia meloncat mundur untuk menghindari serangan Bu Hong Seng-jin, salah satu dari kakinya telah menginjak pinggiran jaring.
Para perwira yang mengeroyoknya semakin meningkatkan desakan mereka, dengan maksud agar wanita itu segera memasuki jaring yang mereka pasang tersebut.
Dengan dilindungi oleh kawan-kawannya, salah seorang perwira tampak menyerang dengan nekad ke arah Siang-houw Nio-nio, sehingga akhirnya wanita itu terpaksa mundur juga.
Kemudian terdengar suara aba-aba dan jaring itu digulung dengan cepat.
Tapi terbuktilah di sini bahwa wanita tua tersebut memang bukan seorang tokoh sembarangan.
Perasaannya yang tajam segera mencium suatu yang tidak beres pada tanah tempat ia berpijak, sehingga dengan kesaktiannya yang menakjubkan dia lekas-lekas melenting tinggi ke udara bersama dengan aba-aba ditariknya jaring itu dari atas tanah.
Wanita tua itu meluncur tinggi ke arah puncak menara pemandangan dengan menjinjing ke dua orang tawanannya, sehingga maksud lawan untuk menjaring tubuhnya mengalami kegagalan, Dan jika mereka beberapa saat yang lalu mereka telah dibuat kagum oleh cara Bu Hong Seng-jin ketika turun dari atas menara, kini mereka justru lebih dikejutkan lagi oleh kehebatan wanita itu dalam menghindari tangkapan jaring mereka.
Beberapa meter dari atas puncak menara, daya luncur dari wanita itu telah habis.
Tapi sebelum tubuh itu melayang kembali ke bawah, tampak tubuh Yang Kun ia lepaskan.
Lalu dengan menjejakkan kakinya pada tubuh pemuda itu ia meluncur kembali ke arah puncak dengan manisnya.
Sebaliknya, tubuh Yang Kun yang dipakai sebagai batu loncatan tersebut melesat dua kali lebih cepat ke arah permukaan air telaga.
Disertai dengan muncratnya air telaga, tubuh pemuda itu tenggelam ke dasar telaga dengan cepat sekali.
Sementara itu para perwira memerintahkan anak buahnya untuk mengepung kaki menara.
Mereka tidak mungkin untuk naik ke atas menara dengan melalui tangga yang tersedia.
Hal itu sangat berbahaya bagi keselamatan mereka, karena dengan melalui jalan tersebut adalah sangat mudah bagi wanita itu untuk membunuh mereka.
"Siang-moi, engkau tidak mungkin lagi untuk meloloskan diri dari tempat ini. Kenapa engkau tidak lekas-lekas menyerahkan saja tawananmu itu? Biarpun engkau telah membunuh salah seorang diantaranya, tetapi kukira apabila engkau menyerahkan Kaisar Han itu dengan tak kurang suatu apa, engkau akan diberi kelonggaran juga nanti."
Bu Hong Seng-jin berteriak dari bawah.
"Hmm, jangan bermimpi! Sampai matipun aku tidak akan menyerahkannya. Sekarang aku akan beristirahat sebentar, nanti aku akan berusaha untuk menerobos kembali kepungan kalian. Kalau toh aku tidak dapat melakukannya, Kaisar ini akan aku bunuh lebih dahulu baru aku mengadu jiwa dengan kalian semua."
Semua terdiam.
Mereka menanti dengan tegang.
Melihat gelagatnya wanita itu benar-benar akan membuktikan segala ucapannya tersebut.
Para perwira dan Bu Hong Seng-jin hanya saling pandang dengan bengong.
Mereka tidak tahu harus berbuat bagaimana untuk membebaskan junjungan mereka itu.
Tiba-tiba...
"Yap Tai-Ciangkun telah datang...! Harap semua prajurit minggir!"
Terdengar para prajurit yang berada di daerah belakang berteriak-teriak bersahut-sahutan.
Kepungan itu otomatis menyibak ke samping dengan sendirinya.
Mereka dengan tegap memberi penghormatan kepada panglima mereka yang baru tiba.
Yap Tai-Ciangkun dengan pakaian kebesarannya yang gemerlapan tampak berjalan dengan gagah diiringi oleh para pengawal khususnya.
Di depan Bu Hong Seng-jin panglima itu tampak mengangguk dengan hormat sekali, lalu berhenti.
Kepalanya mendongak ke atas ke arah puncak menara itu.
"Bu Hong supek, apakah penculik itu masih berada di atas sana? Bagaimana dengan keadaan Baginda Kaisar?"
"Kim-ji... kau... ah... kau..."
Bu Hong Seng-jin tak bisa bicara.
"Supek, ada apakah? Kenapa supek kelihatan...?"
"Hmmm...Kim-ji, akhirnya kau datang juga ke tempat ini. Apakah engkau akan menangkap aku pula?"
Tiba-tiba wanita yang berada di atas menara itu berseru ke bawah.
Kalau ada halilintar menyambar di dekat telinga Yap Tai-Ciangkun pada saat itu mungkin tidak akan mengagetkannya seperti ketika ia mendengar suara wanita yang datang dari atas menara itu.
Sedikitpun panglima itu tidak membayangkan bahwa ia akan bertemu dengan ibunya di tempat ini dan dalam suasana seperti ini pula.
Sejenak Yap Tai-Ciangkun hanya terlongong-longong diam tak bisa berkata-kata.
Berbagai macam perasaan sedang bergulat di dalam hatinya!
Antara perasaan senang, sedih, kaget, gembira, menyesal, takut dan lain sebagainya.
"Ibuuu..."
Panglima itu menyapa ibunya lirih.
Bayangan seorang panglima besar yang setiap kali membuat ketakutan barisan musuh kini seperti hilang lenyap dari tubuhnya.
Yang terpancar dari wajahnya kini hanya sebuah bayangan dari seorang anak yang ketakutan di hadapan ibunya.
Tentu saja semua gerak-gerik serta keadaan Yap Tai-Ciangkun yang seperti itu membuat para perwira dan prajurit yang berada di tempat itu menjadi terheran-heran tak mengerti.
Mereka tidak mengerti, kenapa panglima mereka yang gagah perkasa itu memanggil ibu kepada musuh yang menculik Kaisar mereka?
Kenapa agaknya panglima mereka itu menjadi ketakutan di hadapan wanita tua itu?
"Kim-ji!
Kenapa engkau diam saja?
Benarkah engkau akan menangkap ibu sendiri?
Apa kata ayahmu nanti kalau mendengar sepak terjangmu ini?"
Kembali suara wanita itu terdengar dari puncak menara. Dan suara ini semakin membuat panglima yang sudah biasa menghancurkan lawan di medan laga ini makin bertambah bungkam seribu bahasa.
"Siang-moi, kenapa engkau tidak juga berasa kasihan kepada puteramu sendiri? Apakah engkau ingin agar puteramu ini kehilangan muka di hadapan semua anak buahnya? Apakah engkau ingin agar puteramu ini mengorbankan jiwa untuk menebus semua ini?"
Tiba-tiba Bu Hong Seng-jin berseru sambil maju ke depan.
Pendeta itu merasa kasihan melihat keponakannya kehilangan akal di hadapan ibunya.
Bagai tersentak pula Yap Tai-Ciangkun dari keadaannya mendengar seruan supeknya itu.
Keadaan yang tak terduga ini memang sangat mengejutkan hatinya.
Tetapi seruan pamannya itu benar-benar membuat dirinya sadar kembali akan kedudukannya.
Ia adalah seorang panglima kerajaan.
Dan Kaisarnya kini dalam cengkeraman seorang musuh.
Ia harus berusaha untuk membebaskannya biarpun musuh itu adalah ibunya sendiri.
Dan ia bersedia untuk berkorban jiwa seperti ucapan supeknya itu, demi untuk tanggung jawabnya ini.
Maka dengan langkah yang tegap dan penuh kepercayaan diri Yap Tai-Ciangkun maju ke samping Bu Hong Seng-jin.
"Supek, silahkan supek mundur! Biarlah keponakanmu saja yang menyelesaikannya!"
Dengan dada tengadah panglima muda itu menghadap ke puncak menara. Suaranya terasa getir di dalam hati, meskipun diucapkan dengan tegas dan lancar.
"Ibu, agaknya ibu memang tidak menyukai aku. Agaknya ibu memang sudah tidak perduli akan kebahagiaan puteramu ini. Dahulu ketika aku masih kecil, di mana aku benar-benar sangat membutuhkan kasih sayang ibu, ibu justru pergi meninggalkan rumah untuk menjadi pengawal pribadi Kaisar Chin. Aku hanya tinggal bersama ayah yang lebih banyak di ruang samadinya dari pada membimbing diriku. Untunglah di rumah itu ada Yap suheng yang memanjakan aku. Sekarang setelah anakmu ini memperoleh kebahagiaan di sini ibu datang lagi untuk menghancurkannya..."
"Kim-ji, anakku..."
"Sebentar, ibu, jangan potong dahulu kata-kataku! Ibu, meskipun begitu sebagai seorang anak yang berbakti, aku tidak akan melawan kepada ibu. Tetapi aku hanya memohon kepada ibu untuk melepaskan Hongsiang demi tanggung jawab dan nama baik anakmu yang tidak kau sukai ini..."
"Kim-ji..."
"Sepatah kata lagi, ibu. Dan untuk kebebasan dari Hongsiang itu aku bersedia menghabisi nyawaku sendiri di hadapan ibu, agar ibu merasa puas di dalam hati. Nah, ibu... aku akan menghitung sampai tiga. Bersama dengan hilangnya nyawaku nanti kuharap ibu menepati janji untuk melepaskan Hongsiang! Nah... satu...!"
Yap Tai-Ciangkun mulai menghitung sambil menempelkan ujung pedangnya di dadanya.
"Anakku... kau...!"
Wanita itu berdesah dengan wajah pucat.
"Yap Tai-Ciangkun...!"
Para perwira berseru.
"...Dua...!"
"Kim-ji...!"
Bu Hong Seng-jin melangkah maju.
"Tiga!"
Yap Tai-Ciangkun menghabiskan hitungannya. Dengan tenang ujung pedang yang ia bawa itu ia tusukkan ke arah dadanya.
"Kim-ji! Tahan! Aku menyerah!"
Wanita itu berteriak tinggi. Tubuh Kaisar Han ia buang begitu saja ke arah para prajurit yang berada di bawah menara, sementara ia sendiri terjun ke arah putera satu-satunya.
"Trakk...!"
Bu Hong Seng-jin yang saat itu telah berada di samping Tai-Ciangkun cepat menghantam ke arah ujung pedang itu, sehingga dua buah jari tangannya putus.
Tetapi ujung pedang itu dapat terpental ke samping, meskipun ujungnya yang telah menembus daging tersebut sempat mematahkan sebuah tulang iga Yap Tai-Ciangkun!
Darah menyembur keluar, tapi jiwa panglima itu tertolong.
Wanita tua yang sangat sakti itu langsung menubruk puteranya dengan air mata bercucuran.
Sementara itu tubuh Kaisar Han yang melayang dari atas itu telah ditangkap beramai-ramai oleh para prajurit dan dibawa ke tempat yang aman.
Beberapa orang perwira tampak maju bersama para anak buahnya untuk meringkus wanita sakti yang sedang lengah karena menangisi Yap Tai-Ciangkun itu.
Senjata mereka meluncur dengan cepat ke arah punggung wanita yang sedang membungkuk tersebut.
"Tahan!"
Bu Hong Seng-jin berteriak menggeledek.
"Kraaaaaak...! Dessss...!"
Bersama-sama dengan Bu Hong Seng-jin, Yap Tai-Ciangkun yang mengetahui bahaya tersebut, sehingga tubuh ibunya ikut terjengkang ke belakang.
Wanita Sakti itu lolos dari kematian, tetapi sepasang lengan Yap-Tai-Ciangkun dan Bu Hong Seng-jin juga mengalami luka-luka pula terkena senjata mereka.
"Berhenti!"
Yap Tai-Ciangkun menggertak anak buahnya.
"Siapapun tidak boleh melukai ibuku. Beliau telah menyerahkan tubuh Hongsiang kepada kita dengan tidak kurang suatu apa. Kini beliau aku bebaskan untuk pergi dari tempat ini. Untuk itu aku akan mempertanggungjawabkan sendiri kepada Hongsiang nanti. Tan-Ciangkun...!"
"Ya...!"
"Beri ibuku ini sebuah perahu dan biarkan beliau menyeberangi telaga ini!"
"Baik, Tai-Ciangkun!"
"Ingat, tak seorangpun boleh mengganggu dia!"
"Anakku... Bagaimana luka-lukamu? mengapa engkau berlaku bodoh seperti itu? Bagaimana semuanya menjadi seperti ini? Ohh... ibumu memang telah berlaku kejam terhadapmu selama ini..."
Wanita itu merintih.
"Perahu untuk ibu telah tersedia, Ibu... lekaslah ibu keluar dari tempat ini! Jangan menunggu sampai Hongsiang siuman dari pingsannya!"
Yap Tai-Ciangkun memotong katakata ibunya.
"Tidak! Aku tidak akan pergi lagi dari sisimu! Biarlah mereka membunuhku, aku tidak takut! Aku tidak akan pergi jika tidak dengan engkau, anakku!"
"Ibu, kenapa ibu masih saja tidak mengerti hati anakmu ini? Apakah ibu ingin melihat kehancuranku? Kenapa ibu tidak membiarkan aku hidup tenteram dan bahagia dengan jalan hidupku sendiri? Jalan hidup yang kurintis sendiri sejak ibu meninggalkan diriku dahulu?"
"Kim-ji... aku sangat menyayangimu, nak!"
"Aku tahu, ibu...Tapi silahkanlah sekarang ibu naik perahu untuk meninggalkan tempat ini. Pada suatu saat nanti apabila aku masih hidup, aku akan mengunjungi ibu."
"Kim-ji... anakku!"
"Lekaslah, ibu! Atau ibu benar-benar ingin melihat aku bunuh diri sekarang?"
"Siang-moi, ayolah... kau masih menyayangi anakmu seperti katamu tadi, bukan? Biarlah kau turuti katakatanya..."
Bu Hong Seng-jin cepat menengahi. Ditariknya lengan wanita itu ke arah perahu yang telah disiapkan oleh Tai-Ciangkun.
"Baiklah... baiklah, aku menurut. Tapi... kuharap engkau benar-benar mencari ibumu kelak."
Wanita itu melangkah ke perahu sambil mencucurkan air mata.
Yap Tai-Ciangkun mengangguk.
Dia juga tidak kuasa lagi untuk berkata-kata.
Dipandanginya ibunya itu sehingga mendarat di pinggir seberang.
* * * Dasar Telaga itu sungguh sangat dalam.
Tubuh Yang Kunyang bagaikan dilempar dari atas itu tenggelam ke bawah dengan cepat hingga hampir mencapai dasar telaga.
Dan ketika daya lontar dari atas itu telah habis sehingga tubuh pemuda tersebut mulai terangkat kembali ke atas permukaan air, tiba-tiba datang sebuah arus air yang menyeret tubuh itu berputar menyusuri dasar telaga.
Arus tersebut menyeret tubuh Yang Kun ke arah sebuah lubang besar yang berada di dekat dasar telaga.
Seperti mulut seorang raksasa lubang itu menyedot tubuh Yang Kun ke dalamnya serta menggulungnya di dalam aliran sungai di bawah tanah.
Entah berapa saat lamanya pemuda itu terseret oleh aliran sungai tersebut.
Tahu-tahu ketika pemuda itu siuman kembali dari pingsannya, ia telah mendapatkan dirinya di sebuah gua yang aneh.
Sebuah gua yang langit-langit dan dindingnya terdiri dari batu bening yang beraneka macam warnanya, sehingga rasanya seperti di dalam mimpi saja.
Tubuhnyapun terbaring di atas pasir lembut yang berkilau berwarna-warni.
Yang Kun meringis menahan sakit ketika mencoba untuk bangkit, sehingga niatnya untuk duduk diurungkannya.
Rasanya tulang-tulang rusuk dan lengannya pada berpatahan semua.
Maka pemuda itu membiarkan dirinya terbaring diam di tempat tersebut.
Hanya kedua buah matanya saja yang sedang melirik ke sana ke mari, memperhatikan segala sesuatu yang berada di sekitarnya.
Di manakah dirinya sekarang?
Apakah dia telah ditawan oleh wanita sakti itu dan kini telah dibawa ke sarangnya?
Lalu ke mana sahabatnya itu?
Apakah Liu-Twakonya itu dapat menyelamatkan diri dari keganasan musuh?
Yang Kun sibuk mengingat-ingat segala kejadian yang telah menimpa dirinya beberapa saat yang lalu.
Sejak ia menolong sahabatnya yang terpukul jatuh dari atas pagoda sampai ia tidak sadarkan diri akibat ikut menangkis pukulan wanita sakti itu.
Peristiwa selanjutnya ia sudah tidak tahu menahu lagi.
"Biarlah aku tetap berbaring saja di sini sembil menanti kedatangan orang yang telah membawa diriku kemari..."
Pemuda itu berkata di dalam hati.
Lalu dipejamkannya matanya sehingga akhirnya ia tertidur.
Yang Kun tidak mengetahui berapa lama ia telah tertidur ketika mendadak ia terbangun.
Telinganya yang sudah terlatih untuk mendengarkan suara suara lembut itu tiba-tiba dikejutkan oleh suara hantu bernyanyi yang telah sangat dikenalnya itu.
Hanya bedanya suara seruling itu sekarang terdengar begitu kerasnya sehingga hantu tersebut seperti meniupnya di ruangan itu juga.
Malah ketika hantu tersebut mengucapkan pantunnya, pemuda itu merasa seakan-akan hantu tersebut mengucapkannya di depannya.
Sinar bulan di antara bintang, Membasahi padang di antara ilalang.
Tak terasa mulut Yang Kun ikut bergumam menyanyikan lagu itu.
Tapi ia menjadi kaget dan heran ketika mendadak suara nyanyian itu berhenti.
Dan tidak tahu dari mana datangnya tiba-tiba di depannya telah berdiri seorang nenek tua renta.
Bukan main kagetnya pemuda itu.
Nenek tua tersebut tak ubahnya seperti hantu.
Begitu tuanya nenek itu sehingga hampir-hampir tiada lagi rambut yang tumbuh di kepalanya.
Beberapa lembar rambutnya yang putih yang masih tinggal itu juga lebih tepat disebut tengkorak dari pada dikatakan sebagai kepala dari seorang manusia yang masih hidup.
Mulutnyapun kelihatan kosong tak bergigi sama sekali.
Nenek itu hampir tak memakai penutup badan sama sekali, hanya sebuah sobekan kain kecil yang menutupi bagian bawahnya, sehingga tubuhnya yang seperti kerangka berselaput kulit tipis itu kelihatan nyata sekali.
Satu-satunya tanda yang bisa dipakai untuk membedakan apakah orang itu laki-laki atau wanita hanyalah kedua buah dadanya yang tergantung tipis bagai lidah yang terulur keluar itu.
"Siapakah yang mengajarkan bunyi pantun itu kepadamu?"
Yang Kun menoleh ke kanan dan ke kiri dengan bingung, lalu sekali lagi ia berusaha untuk bangkit tetapi tetap tidak bisa.
Pertanyaan itu seperti diucapkan oleh nenek tersebut, tapi herannya bibirnya yang telah keriput itu sedikipun tidak kelihatan bergerak.
"Ayo, jawab! Kenapa malah menoleh ke sana kemari? Siapa yang kau cari? Tidak ada orang lain di gua ini selain aku dan kau!"
"Aku... ah... aku..."
Yang Kun masih bingung. Sekali lagi matanya mengawasi nenek tua tersebut, tapi bibir itu tetap diam tak bergerak seperti tadi.
"Hmmm, agaknya engkau heran melihat aku bisa berkata kata tanpa menggerakkan bibirku. Uh, apa sukarnya berbuat seperti itu... hei, kenapa diam saja? Ayo jawab pertanyaanku tadi!"
"Aku... aku telah sering mendengar lagu itu."
"Heh, kurang ajar! Apakah engkau telah siuman beberapa hari yang lalu? Lalu kenapa berpura-pura masih pingsan, begitu?"
"Siuman beberapa hari yang lalu? apakah maksud Lo-Cianpwe? Aku sungguh tidak mengerti. Aku pingsan baru beberapa saat yang lalu, kenapa Lo-Cianpwe katakan telah beberapa hari yang lalu?"
"Hihihihi...sungguh menyebalkan! Beberapa saat yang lalu? Hihihihi... ketahuilah, anak muda... eh, siapakah namamu?"
"Chin Yang Kun!"
"Heh, ketahuilah... kau telah pingsan selama satu bulan di sini."
"...satu bulan?"
Yang Kun tersentak kaget.
Satu bulan.
Benarkah itu?
Lalu apa yang terjadi setelah dia pingsan itu?
Bagaimana kelanjutan dari peristiwa yang terjadi pada saat itu?
Dan di manakah dia sekarang?
Siapa pula nenek tua itu?
"Hei...
siapa namamu tadi?"
Tiba-tiba pemuda itu dikejutkan oleh pertanyaan nenek tersebut. Yang Kun menatap wajah berkeriput itu dengan termangu mangu. Ia melihat mata yang cekung itu menatap dirinya dengan tegang.
"Siapa namamu? Kenapa diam saja?"
Nenek tua itu berteriak. Lagi-lagi meremang bulu kuduk pemuda itu mendengar suara tanpa gerakan mulut atau bibir tersebut.
"Chin Yang Kun... Chin Yang Kun nama Siauwte!"
Jawabnya terbata-bata.
Jilid 06 Tiba-tiba lengan kiri nenek itu terjulur ke arah leher Yang Kun.
Jarak diantara mereka berdua ira-kira setombak, tapi betapa terkejutnya hati pemuda itu ketika lengan tersebut dapat mencapai leher bajunya!
Gila, ilmu apa pula ini, pemuda itu membatin.
"Engkau she Chin juga? Huh, tidak banyak orang yang memakai she Chin di dunia ini selain eluarga kerajaan. Agaknya engkau hanya mengaku-aku saja sebagai keluarga Chin agar dikira sebagai salah seorang keluarga kerajaan pula!"
Wanita tua renta itu berteriak sambil mencengkram leher baju Yang Kun. Marah juga hati pemuda itu disangka sebagai orang yang hanya mengaku-aku sebagai keturunan keluarga Chin.
"Maaf, Lo-Cianpwe jangan sembarangan menuduh orang! Memang aku masih keturunan dari keluarga raja. Kakekku adalah Kaisar Chin Si yang agung! Karena ayahku adalah putera beliau dari selir yang ke empat. Puteri Hiang Su!"pemuda itu menyanggah perkataan nenek tua tersebut dengan berapi-api.
"Raja Chin Si? Siapakah dia? Apakah dia adalah pengganti Raja Chin Bun yang mangkat karena gempa besar itu?"
Nenek tersebut bertanya keheranan.
"Bukan! Pengganti Raja Chin Bun adalah Raja Chin Lu, ayah dari Kaisar Chin Si. Nah setelah berada di bawah pemerintahan kakekku itulah semua negara-negara kecil dapat dipersatukan. Itulah sebabnya kakekku tidak bergelar Raja Chin Si lagi tetapi Kaisar Chin Si!"
Dengan lancar pemuda itu menerangkan silsilah keluarganya.
"Ohhh... keturunan dari Pangeran Chin Lu!"
Nenek tua itu berkata dengan tandas, seakan-akan sudah mengenal dengan baik Raja Chin Lu.
Tentu saja Yang Kun menjadi terheran-heran.
Nenek tua itu agaknya sudah mengenal para nenek moyangnya yang telah tiada.
Nenek tua itu melepaskan leher baju Yang Kun, lalu perlahan-lahan dia duduk pula di atas tanah.
Diliriknya wajah Yang Kun yang terheran heran tersebut.
"Aku percaya pada kata-katamu! Agaknya engkau memang benar-benar keturunan keluarga Chin..."
"Bukan agaknya..., aku memang cucu Kaisar Chin Si! terserah Lo-Cianpwe percaya atau tidak."
Yang Kun memotong penasaran.
"Baiklah... baiklah! Aku percaya kepadamu! Sekarang aku ingin bertanya kepadamu, apa sebabnya engkau sampai terbawa oleh arus sungai yang berada di bawah tanah ini, hah? Beruntunglah engkau karena saat itu aku sedang memancing ikan. Coba tidak, tubuhmu akan terus terseret sampai di air terjun itu dan dihempaskan ke bawah jurang yang dalam."
"Arus Sungai di bawah tanah? Apa? Jadi aku kini berada di dalam tanah? Ohh, Tuhan... benarkah itu? Lalu bagaimana aku bisa keluar nanti?"
Yang Kun terbelalak kaget.
"Hihihihi... anak muda, engkau takkan pernah lagi dapat keluar dari tempat ini! kau lihat aku ini? Aku terjebak di dalam lorong-lorong gua di bawah tanah ini semenjak aku berumur 17 tahun. Yaitu ketika aku masih merupakan seorang gadis remaja."
"Ohhhh... tidak!"
Pemuda itu lemas seketika.
"Sudahlah... menyesalpun sudah tidak berguna. Aku dahulu juga kecewa bukan main. Tapi lambat laun aku juga menyerah kepada keadaan ini."
"Tapi aku tidak akan menyerahhh...!"
Yang Kun berteriak keras untuk melampiaskan keputus-asaannya. Nenek tua itu tersenyum, sehingga mulutnya yang berkeriput semakin terhisap ke dalam mulutnya.
"Hihihi... Engkau juga sama dengan aku dahulu. Akupun dulu berteriak-teriak juga seperti engkau ini sambil berlari ke sana ke mari untuk mencari jalan keluar. Setiap lubang aku masuki, setiap celah aku selidiki, tapi apa hasilnya? Sampai tua begini aku tetap tidak dapat keluar juga..."
"Ooooohhh...!"
Pemuda itu merintih dan semakin terasa hilang harapannya.
Nenek itu bangkit dari duduknya, lalu begitu kakinya yang reyot itu meloncat lenyaplah ia dari tempat tersebut, sehingga Yang Kun yang sedianya masih ingin berkata sesuatu menjadi terlongong-longong keheranan.
Dan tak beberapa lama kemudian terdengar lagi suara seruling yang menggetarkan hati di kejauhan.
Sinar bulan di antara bintang, Membasahi padang di antara ilalang...
Yang Kun mendengarkannya dengan hati sedih dan nelangsa.
Dia tidak tahu bagaimana halnya dengan dirinya sampai di tempat ini, sehingga ia harus menghabiskan seluruh sisa hidupnya seperti nenek tua itu di lorong-lorong gua ini.
Betapa sunyinya.
Yang Kun memiringkan badannya, sekedar untuk mengobati kepenatan punggungnya.
Tapi dia melihat sebuah mangkuk dari batu yang berisi bubur berwarna putih di sampingnya.
Ketika Yang Kun melihatnya terlebih dekat, ia melihat beberapa huruf tergores di atas lantai gua di bawah mangkuk batu itu.
Karena kini engkau bisa makan minum sendiri, Sekarang aku tidak perlu menyuapi kau lagi!
Tanpa merasa curiga lagi Yang Kun memakan bubur itu dengan lahap.
Yang Kun sudah tidak memikirkan mati hidupnya lagi.
Matipun ia tidak akan berkeberatan lagi, toh lebih baik dari pada seumur hidup berada di dalam liang-liang tikus seperti itu.
Selesai makan ia tertidur lagi.
Begitu terjadi setiap hari.
Bangun pagi-pagi telah tersedia di sampingnya semangkuk bubur hangat, lalu tertidur.
Sore hari baru terbangun.
Dan di sampingnya juga telah tersedia lagi bubur tersebut.
Makan lagi, dan...
tertidur lagi!
Kadang-kadang sebelum tertidur, telinganya sempat mendengar suara nyanyian dan suara seruling yang ditiup oleh wanita tua renta itu.
Dan sejak pertemuan mereka yang pertama itu Yang Kun tidak pernah lagi melihat nenek tersebut datang ke tempat itu.
Tahu-tahu segala keperluannya telah ada berada di sampingnya.
Sebulan telah berlalu lagi tanpa terasa.
Selama itu pula nenek tua itu tak pernah memperlihatkan batang hidungnya.
Tapi selama itu kesehatan Yang Kun semakin bertambah baik.
Dari bisa bangkit, duduk, merangkak sampai akhirnya sudah dapat berjalan kembali seperti biasa.
Badannya juga terasa bertambah segar dan sehat.
Hanya pemuda itu merasa heran pada kulit tubuhnya.
Ia tak pernah mendapatkan sentuhan sinar matahari, tapi kulit tubuhnya tampak kemerah-merahan seperti kulit perawan yang terbakar oleh sinar matahari.
Sejak mulai dapat berjalan Yang Kun terus meneliti segala sudut dan lubang yang berada di dalam gua tersebut.
Ternyata gua itu cukup luas dan terdiri dari dua buah ruangan besar.
Salah satu ruangannya ternyata dipakai untuk lewat oleh sungai di bawah tanah itu.
Sebuah sungai yang tidak begitu besar maupun dalam, tetapi karena berada di tempat yang aneh dan gelap maka kesannya sungguh sangat menyeramkan.
Yang membuat pemuda itu merasa heran adalah nenek tua tersebut.
Betapapun ia mencari kemana-mana, sehingga boleh dikatakan sampai setiap jengkal tanah dia amat-amati dengan teliti, toh nenek tua itu tidak dapat ia temukan.
Sehingga pemuda itu hampir-hampir mulai percaya bahwa nenek tersebut memang bukan manusia tetapi hantu.
Soalnya bagaimana mungkin seorang manusia biasa dapat lenyap begitu saja dari gua tersebut?
Padahal tak sebuah lubangpun yang dapat dipakai untuk keluar dari dua buah ruangan yang berada di dalam gua itu.
Memang pemuda itu melihat adanya beberapa lubang dan celah-celah sempit di sana, tetapi hanya seekor anjing atau kucing yang mampu masuk ke dalamnya.
Satu bulan lagi telah terlewatkan pula.
Yang Kun sudah benar-benar sehat dan kuat seperti sedia kala, tapi perasaan bosan telah mulai mencengkram hatinya.
Sering kali dia memang ingin bertemu muka dengan nenek penolongnya itu, tetapi setiap kali pula dia tertidur sehabis makan bubur itu.
Pernah ia dua hari dua malam tidak memakan bubur yang disediakan tersebut agar tidak jatuh tertidur.
Anehnya nenek itu tidak muncul ke tempat itu selama 2 hari 2 malam pula.
Agaknya orang tua itu tahu juga bahwa buburnya masih utuh dan belum perlu diganti.
Akhirnya dari pada kelaparan Yang Kun tidak peduli apakah ia tertidur atau tidak.
Dan untuk perintang waktu, pemuda itu mulai berlatih silat kembali.
Ilmu Silat Hok-te Ciang-hoat warisan keluarganya.
Sayang Lweekangnya telah hilang lenyap.
Tapi Yang Kun berketetapan untuk memupuknya kembali dari sedia kala.
Pada suatu hari selagi enak-enaknya atau asyik-asyiknya ia berlatih silat.
Yang Kun dikejutkan oleh kedatangan nenek hantu itu secara tiba-tiba.
Biarpun Yang Kun di dalam konsentrasi penuh ternyata dia tidak mampu mengetahui dari mana datangnya nenek itu sebenarnya.
Dengan mulut ternganga ia memandang perempuan tua itu.
"Huh, bocah gila! Siapa yang memberi pelajaran jurus Panglima Yi Po Mengatur Barisan seperti itu? Siapa yang menyuruh kaki kananmu terbekuk begitu? Dalam Hok-te Ciang-hoat keluarga Chin tidak ada bentuk kuda-kuda seperti itu!"
Nenek tua itu menghardik dengan keras.
"Lo-Cianpwe..."
"Diam! Apakah kau tidak diberi tahu bagaimana sejarah asal mulanya jurus tersebut diciptakan?"
"Tidak...!"
Yang Kun menjawab lirih.
Dipandanginya wajah perempuan tua itu dengan penuh pertanyaan di dalam hatinya.
Apa maksud sebenarnya dari nenek tua renta itu?
Kenapa orang itu seperti tahu akan segala hal yang berhubungan dengan keluarganya?
"Goblog!
Goblog benar gurumu itu!
Kenapa memberi pelajaran tanpa menerangkan secara jelas seluruh isi dasarnya?
Goblog!
Bagaimana mungkin muridnya bisa menyelami serta menghayati jurus-jurus yang diberikan itu?
Hah...!"
Tersinggung juga hati Yang Kun mendengar makian-makian nenek tua yang ditujukan kepada para gurunya yang juga merupakan paman-pamannya sendiri itu.
Apalagi khusus untuk Hok-te Ciang-hoat ini yang memberi pelajaran dan melatih setiap hari adalah paman bungsunya, orang yang paling dihormati dan dibanggakannya.
Ternyata di tempat ini mendiang paman bungsunya itu telah dicaci-maki oleh seorang nenek tua yang sudah hampir masuk ke liang kubur.
"Maksud Lo-Cianpwe, latihanku ini tidak benar serta tidak berguna sama sekali?"
Pemuda itu berkata dengan penasaran.
"Huh, engkau ingin mencobanya? Boleh engkau menyerang aku dengan jurus tiruanmu itu, nanti akan kutunjukkan betapa jeleknya dia!"
Nenek itu menantang. Melihat tubuhnya yang sudah reyot itu tak tega juga rasa hati Yang Kun. Tapi tingkahnya yang sombong dan memandang rendah kepada dirinya itu membuat Yang Kun penasaran juga.
"Baik! Aku ingin melihat di mana kejelekan dari jurus yang kupelajari itu,"
Ucapnya tegas. Lalu dengan tangkas pemuda itu memasang kuda-kuda untuk mempersiapkan jurus Panglima Yi Po Mengatur Barisan! Perempuan tua itu terkekeh-kekeh melihat kuda-kuda Yang Kun.
"Awas, serangan...!"
Dengan perasaan mendongkol Yang Kun menyerang.
Tapi sebelum serangannya sampai di tujuan, ia melihat perempuan tua itu bergeser ke samping sambil menyapukan kakinya ke arah Yang Kun.
Gerakannya demikian sederhana dan mudah diikuti, tapi ternyata Yang Kun tidak mampu untuk mengelak.
Sehingga bukannya nenek tua itu yang terkena serangannya, tapi justru dia sendirilah yang roboh terlentang disapu kaki lawan.
Dengan terheran-heran Yang Kun bangkit kembali.
Dilihatnya perempuan itu masih tertawa terkekeh-kekeh memandang dirinya.
"Bagaimana? Jelek sekali bukan? Hihihihi... kau tahu, jurus apa yang aku pakai untuk merobohkan kamu tadi? Liong-ong sao-te (Raja Naga Menyapu Tanah)! Jurus ke 8 dari Hok-te Ciang-hoat!"
"Liong-ong sao-te?"
Yang Kun terkejut.
Hmm, benar juga!
Tetapi ada sedikit perbedaan dalam gerakan mengayunkan kaki, yaitu kaki tersebut dilipat terlebih dahulu sebelum terayun ke arah sasaran!
Pemuda itu berpikir dan mengingat-ingat gerakan lawan tadi.
Agaknya perempuan tua itu dapat membaca pikiran Yang Kun.
"Apakah jurus Liong-ong sao-te tiruanmu tidak sama dengan jurusku tadi?"
"Lo-Cianpwe, siapakah Lo-Cianpwe ini sebenarnya? Mengapa Lo-Cianpwe dapat memainkan Hok-te Ciang-hoat juga?"
"Hihihihi... tidak hanya Hok-te Ciang-hoat saja, tapi aku juga dapat memainkan Hok-te To-hoat (Ilmu Golok Menaklukkan Bumi) secara lebih baik dari pada Hok-te To-hoat tiruanmu, hihihihi...!"
"Lo-Cianpwe..."
"Lo-Cianpwe... Lo-Cianpwe... huh! Sungguh menyebalkan sekali! Kenapa tidak lekas-lekas memanggil aku nenek buyut?"
Perempuan tua itu menghentakkan kakinya kanannya dengan kesal.
"Nenek buyut?"
Yang Kun menegaskan dengan perasaan bingung.
"Benar! aku ini adalah adik kandung Pangeran Chin Lu... eh... Raja Chin Lu! Jadi Raja eh... Kaisar Chin Si itu adalah keponakanku sendiri. Nah kalau engkau sungguh-sungguh cucu dari Kaisar Chin Si bukankah aku ini masih terhitung nenek buyutmu juga?"
"Adik kandung Raja Chin Lu?"
Yang Kun bergumam.
Tiba-tiba Yang Kun teringat akan cerita yang pernah didongengkan oleh paman bungsunya.
Yaitu tentang seorang anak keturunan keluarga Chin yang mempunyai kesaktian hebat pada usia belasan tahun.
Namanya adalah Chin Hoa.
Sayang anak itu meninggal dunia tertimbun reruntuhan istana ketika terjadi gempa bumi besar pada seratus tahun yang lalu.
Anak itu tertimbun di ruang semadinya yang berada di bawah tanah.
"Lo-Cianpwe... apakah Lo-Cianpwe bernama Chin Hoa?"
Yang Kun bertanya dengan harap-harap cemas. Nenek tua itu mengerutkan alis matanya.
"Chin Hoa? Ah, entahlah! aku sudah melupakan namaku sendiri... hei, sebentar! Coba kau baca huruf yang ditatah pada pangkal lenganku ini! Setiap putera Raja Chin namanya tentu ditatahkan pada bahunya."
Yang Kun mencari huruf itu di lengan perempuan tua itu. Benar! Meskipun telah hampir tidak kelihatan akibat kulitnya yang berkeriput, tapi masih tampak bekas-bekas huruf HOA di sana.
"Nenek buyut..."
Yang Kun segera berlutut.
"Hihihihi... bagus... bagus... Aku punya ahli waris sekarang. Terkabul juga permohonanku selama ini. Tuhan benar-benar mengirimkan seorang keturunan Chin kepadaku sebelum aku mati. Nah, berdirilah cucuku! Aku akan menurunkan seluruh kesaktianku kepadamu. Karena engkau dari keluarga Chin juga, maka aku tidak melanggar sumpah keluarga kita bila aku menerimamu menjadi muridku... hohoho... betapa senangnya hatiku!"
Yang Kun berlutut kembali untuk menyatakan rasa terima kasihnya, juga sebagai tanda bahwa dia bersedia untuk menjadi murid perempuan tua itu.
"Marilah cucuku! Akan kubenahi dan kubetulkan Hok-te Ciang-hoatmu yang tidak keruan itu. Dan akan kuajarkan kepadamu sebuah ilmu silat dahsyat yang telah kuciptakan selama aku terkurung di tempat ini."
"Terima kasih, nenek buyut!"
"Sekarang aku mau beristirahat dahulu. kau juga boleh beristirahat pula atau...sekarang engkau boleh melihat bagaimana caranya aku meninggalkan tempat ini."
Perempuan tua itu tersenyum penuh arti.
Agaknya perempuan tua itu selalu mengintip segala gerak-geriknya selama dua bulan ini.
Juga ketika dirinya sibuk mencari nenek itu kesana kemari.
Perempuan tua itu berjalan mendekati dinding gua, dimana terdapat sebuah lubang kecil yang semula dikira oleh Yang Kun hanya cukup untuk lewat seekor anjing atau kucing saja.
Perempuan tua itu berdiri sebentar di depan lubang itu.
Beberapa saat kemudian terdengar tulang-tulangnya berkerotokan lalu kepalanya menyuruk ke dalam lubang tersebut dan...
perlahan-lahan tubuhnya tampak meluncur masuk bagaikan seekor ular yang memasuki liangnya.
"Cucuku, sekarang engkau mengetahui, bukan? Mengapa aku tidak dapat kau cari di mana-mana? Hihihi... selain ruangan yang kau tempati itu, di sini masih banyak gua-gua lain. Tetapi engkau hanya bisa datang ke sini apabila kelak sudah kuberikan kepadamu sebuah ilmu yang dinamakan Kim-coa i-hoat (Baju Ular Emas)."
Tiba-tiba terdengar suara nenek itu bergema dari dalam lubang.
Demikianlah, esok harinya Yang Kun mulai berlatih di bawah bimbingan nenek buyutnya sendiri.
Satu persatu dari jurus Hok-te Ciang-hoat yang pernah dipelajari oleh pemuda itu diperbaiki dan dibetulkan oleh nenek buyutnya.
Ternyata tak ada satu juruspun dari Hok-te Ciang-hoat pemuda itu yang dianggap betul oleh perempuan tua tersebut.
Semuanya salah dan sudah menyimpang dari aslinya, sehingga perempuan tua itu kembali mencaci-maki orang yang mengajarkan ilmu tersebut kepada Yang Kun.
Apalagi ketika terasa olehnya seluruh jurus yang dikeluarkan oleh pemuda itu hanya digerakkan dengan tenaga gwakang saja.
Sekejap pun tidak pernah mempergunakan lweekang.
"Anak gila! Apakah gurumu tak pernah mengajarkan lweekang kepadamu?"
Yang Kun terperangah.
Baru teringat dia sekarang bahwa dia belum menceritakan tentang sudah punahnya lweekangnya akibat kematiannya yang sekejap tempo hari.
Maka dengan nada sedih Yang Kun meriwayatkan seluruh pengalaman dan peristiwa yang menimpa dirinya serta keluarganya sejak terjatuhnya dinasti Chin lima tahun yang lalu sampai dirinya terluka dan kehilangan lweekangnya tersebut.Bukan alang-kepalang kagetnya nenek Hoa itu.
"Apa katamu? Keturunan Wangsa Chin yang telah berlangsung selama ratusan tahun itu kini telah lenyap direbut orang? Jadi kejayaan keluarga kita itu kini sudah musnah? Kurang ajar... siapakah yang berani berbuat begitu?"
Perempuan tua itu menyambar leher baju Yang Kun dengan kasar. Matanya yang kecil dan terletak di dalam lubang mata yang dalam itu mendelik mengerikan.
"Para petani dan pendekar silat!"
Yang Kun menjawab cepat.
"Mereka bersatu padu dalam Barisan Para Pendekar, memberontak dan menghancurkan kekuasaan Kaisar Chin si..."
"Kurang ajar! Bangsat! Hmm... manusia-manusia gila dan tidak tahu diri! Anjing...! Sayang aku sudah tidak bisa apa-apa lagi! Huh, sungguh penasaran sekali hatiku! Yang Kun! Katakan kepadaku, siapakah yang memimpin barisan pemberontak itu? Apakah dia pula yang sekarang duduk di atas singgasana?"
Perempuan tua itu mengumpat-umpat dengan kasar.
"Pemimpin pemberontak itu sekarang memang telah mengangkat dirinya menjadi raja dengan nama Kaisar Han... sebelum menjadi Kaisar dia hanya seorang petani biasa yang datang dari dusun."
Yang Kun menjawab seperti yang pernah dia dengar pula dari orang lain. Nenek Hoa itu semakin marah hatinya. Giginya gemertak menahan geram.
"Yang Kun, cucuku! agaknya Thian memang sengaja mengirimkan dirimu ke hadapanku dengan maksud agar aku menurunkan seluruh kesaktianku kepadamu. Dengan demikian engkau sebagai keturunan Chin akan dapat merebut kembali singgasana kita yang telah direbut orang itu. Thian juga telah mempersiapkan segalanya sebelum mengirimkan dirimu ke tempat ini..."
"Mempersiapkan? Maksud nenek?"
"Kau datang di hadapanku dengan lweekang yang telah punah, sehingga kini engkau dalam keadaan kosong melompong tanpa isi sama sekali. Bukankah hal itu merupakan sebuah hal yang sangat kebetulan sekali? Ilmu Kim-coa ih-hoat yang hendak kuberikan kepadamu itu harus dipelajari dan dilatih dengan sebuah lweekang yang khusus, Yaitu Liong-cu I-kang (Tenaga Inti Mustika Naga). Sebuah pelajaran ilmu lweekang yang hanya boleh dipelajari oleh orang yang masih kosong dan tidak punya himpunan tenaga dalam dari golongan lain!"
Nenek buyutnya menerangkan.
Yang Kun mendengarkan ucapan itu dengan kepala tertunduk.
Hatinya terasa kosong.
Sebenarnyalah, terbersit di dalam hatinya pula suatu perasaan gembira mengingat akan hal keberuntungannya itu.
Suatu hal yang dahulu dianggapnya sebagai suatu hal yang menyedihkan dan menyengsarakan hatinya.
Kebanyakan dari manusia memang selalu dipengaruhi dan diombang-ambingkan oleh penilaian dan perasaannya sendiri.
Suatu peristiwa atau keadaan yang menimpa diri seseorang kadang-kadang tidak dinilai secara jujur oleh orang itu.
Suatu peristiwa yang sama sering dinilai secara berlainan oleh orang yang sama pada suatu saat, tergantung pada situasi dan keadaan orang itu pada saat itu.
Contohnya kini telah terjadi pada Yang Kun sendiri.
Dahulu ketika dia mengetahui tentang lenyapnya seluruh himpunan lweekang yang dilatihnya sejak kecil dari dalam tubuhnya, dia menganggap hal itu sebagai suatu hal yang sangat menyedihkan dan sangat menyengsarakan hatinya.
Tetapi sebaliknya ketika kini ia mendapat keterangan bahwa ilmu Kim-coa i-hoat hanya dapat dipelajari oleh orang yang masih kosong tenaga dalamnya, dia menjadi begitu gembira dan bersyukur atas musibah yang membuat dirinya kehilangan seluruh tenaga dalamnya tersebut.
Bukankah dengan demikian penilaian seseorang, dalam hal ini adalah Yang Kun, sudah tidak jujur lagi?
Maka sungguh tidak bijaksana bagi seseorang di dalam hidupnya di dunia ini apabila dalam menghadapi setiap peristiwa yang dihadapinya hanya selalu melihat dan memandang dari segi kepentingannya sendiri saja.
Karena pandangan hidup yang demikian itu pada suatu waktu bisa memukul atau menjebak dirinya sendiri.
Beruntunglah Chin Yang Kun dalam hal ini, bahwa perubahan pandangannya itu hanya menyangkut soal perasaannya sendiri, tidak berkaitan dengan seseorang yang lain.
Coba, bila perubahan itu terjadi dalam hubungannya dengan orang lain, apalagi jika hubungan itu menyangkut tentang sesuatu hal yang penting dan besar, apakah hal seperti itu tidak menimbulkan suatu keruwetan atau malapetaka yang hebat?
"Hal yang kedua...
mengapa kukatakan bahwa Thian telah mempersiapkan dirimu sebagai lantaran (sarana) untuk balas dendam kepada musuh keluarga Chin serta merebut kembali kekuasaan yang terjatuh ke tangan musuh, ialah dijadikannya darah yang mengalir di dalam tubuhmu sebagai alat pembunuh yang maha hebat bagi lawan-lawanmu Dengan kekuatan Liong-cu I-kang di dalam tubuhmu, maka tak sebuah makhlukpun di dunia ini yang mampu bertahan dari sentuhan tanganmu yang beracun!"
Nenek tua itu melanjutkan keterangannya kepada Yang Kun.
"Tapi apa gunanya itu semua, nek. Kita selama hidup akan tetap terkurung di sini..."
"Yah, kau memang benar. Tetapi meskipun begitu, di dalam hati sebenarnya aku masih mempunyai harapan juga... biarpun hanya sedikit! Siapa tahu engkau mempunyai nasib atau peruntungan yang berbeda dengan nasibku. Kita tidak bisa meramalkan apa yang terjadi di muka kita nanti..."
"Baik, nek...!"
Yang Kun berlatih dengan giat siang maupun malam.
Berhari-hari pemuda itu seperti melupakan waktu dan tenaganya.
Nenek tua itu melatihnya dengan tekun dan keras pula.
Caranya melatih sungguh berlainan sekali dengan cara para pamannya ketika memberi pelajaran silat kepadanya dahulu.
Pamannya selalu menekankan pada ketrampilan gerak serta ketangkasan berpikir di dalam menilai gerakan lawan.
Jadi menurut para pamannya untuk menjadi seorang jago silat yang tangguh orang harus giat berlatih sehingga menjadi tangkas, trampil, kuat gesit dan pandai mempergunakan otaknya dalam setiap pertempuran.
Tapi bagi nenek Hoa semuanya itu ternyata masih belum lengkap.
Tanpa memahami serta menjiwai ilmu silat yang dipelajari itu sehingga menjadi darah daging seperasaan dengan jiwanya, tak mungkin seseorang akan dapat mempergunakannya dengan sempurna.
Ilmu silat harus dipahami seluruhnya, baik isi maupun kulitnya.
Dan untuk memahami isi itu seseorang yang sedang berlatih silat harus mengetahui sejarah, riwayat ataupun makna dari setiap gerakan atau jurus yang sedang dipelajari itu.
Itulah sebabnya setiap membetulkan gerakan yang salah atau kurang benar, nenek Hoa selalu menerangkan dan meriwayatkan asal mula terciptanya gerakan itu, sehingga akhirnya pemuda itu menjadi paham akan makna yang terkandung di dalam setiap gerakan tersebut.
"Jurus Panglima Yi Po Mengatur Barisan ini diciptakan oleh seorang raja Chin ketika menyaksikan salah seorang panglimanya mengatur bala tentara dalam suatu kancah pertempuran yang hebat! Saat itu Sang Raja yang ikut terjun dalam medan pertempuran, melihat para prajuritnya yang dipimpin oleh Panglima Yi Po telah didesak dan dikepung oleh lawan mereka. Pasukan di sayap kiri panglima itu telah bergerak terlalu maju ke depan, sehingga mereka kocar-kacir dipukul lawan. Sementara pasukan yang berada di sayap kanan agak ketinggalan dalam gerak maju mereka, sehingga mereka menjadi terlambat untuk memecah perhatian lawan. Padahal dalam saat yang kritis demikian, Panglima Yi Po sebagai pemegang komando dari tentaranya sedang terlibat pertempuran sendiri dengan beberapa orang perwira lawan. Tetapi sebagai panglima yang telah mempunyai nama harum di setiap medan laga, ternyata Panglima Yi Po tidak pernah sekejappun kehilangan pengamatan atas seluruh bala tentaranya..."
Perempuan tua menghentikan penjelasannya sebentar. Kemudian.
"...Saat itu salah seorang lawan dari Panglima Yi Po sedang menusukkan tombak panjangnya ke arah leher kiri panglima itu. Sementara di samping kanan panglima itu, juga sedang menusukkan pedangnya. Maka... sekalian menghadapi kedua serangan tersebut, Panglima Yi Po juga sekalian memberi aba aba perintah kepada ke dua sayap pasukannya itu. Pertama-tama Panglima Yi Po mengibaskan lengan kirinya ke atas untuk memberi perintah agar pasukan sayap kiri mundur ke tengah, sekalian menjepit tombak lawan yang menusuk ke arah lehernya. Lalu lengan kanan dengan jari menunding, diayun ke depan dengan keras sambil memberi aba-aba agar pasukan sayap kanan cepat menyerbu ke depan, dan dengan gerakan itu Panglima Yi Po sekalian bermaksud menghantam badan pedang lawan yang menusuk ke arah pundaknya. Setelah itu Panglima Yi Po memutar tubuhnya ke kiri, sehingga tombak lawan yang terjepit di lengan kirinya dapat tersentak lepas, disusul dengan tendangan kaki kanan ke arah lawan yang memegang pedang. Dalam tiga gerakan kedua lawan tersebut dapat dilumpuhkan oleh Panglima Yi Po! Pemandangan itu ternyata sangat menarik perhatian Raja Chin, sehingga tercipta jurus Panglima Yi Po Mengatur Barisan sebagai pelengkap dari Hok-te Chiang-hoat."
Nenek Hoa memandang cucunya dengan tajam. Agaknya dia ingin mengetahui apakah penjelasannya tadi dapat ditangkap oleh Yang Kun atau tidak.
"Nah, cucuku... dengan mengetahui sejarah dari terciptanya jurus yang sedang kau lakukan itu otomatis engkau juga mengetahui pula bagaimana seharusnya gerakan tersebut kau kerjakan dengan betul. Jadi bukan sekedar gerakan Panglima Yi Po Mengatur Barisan mengawur seperti kepunyaanmu itu. Kini engkau tentu telah lebih memahami betapa salahnya gerakanmu dulu. Lengan kiri yang kau tekuk ke atas itu bukan hanya sekedar sebuah tangkisan tetapi lebih tepat dikatakan sebagai tangkapan dan capitan.Sedang jari telunjuk kanan yang menyerang ke depan itu juga bukan melulu sebagai totokan, tetapi lebih berfungsi sebagai tangkisan pula... oleh karena itu, bila gerakan tersebut engkau lakukan dengan tenaga bahu dan lengan, terang hal itu adalah salah besar. Gerakan itu harus kau lakukan dengan tenaga pinggang!"
Begitulah, selesai belajar Hok-te Ciang-hoat mereka ganti mempelajari Hok-te To-hoat, Yang Kun membuat golok tiruan dari batu, karena mereka tidak mempunyai sebuah golokpun di tempat itu.
Seperti pada saat berlatih Hok-te Ciang-hoat maka pada latihan inipun Yang Kun berusaha mempelajarinya dengan tanpa mengenal lelah pula.
Pada suatu malam selagi enak-enaknya tidur, Yang Kun dibangunkan oleh nenek Hoa.
"Cucuku! Saat ini adalah saat yang baik untuk memulai pelajaran Liong-cu I-kang, karena pada saat suhu udara di dalam tanah seperti inilah saat yang paling baik untuk memperoleh tenaga Liong-cu I-kang sebanyak-banyaknya."
"Nenek... tapi aku belum selesai memperbaiki Hok-te To-hoat!"
"Biarlah, tidak jadi apa! Kita lebih baik lekas-lekas memulai pelajaran Liong-cu-ikang ini agar tidak terlambat. Aku mendapat firasat yang tidak baik beberapa saat yang lalu. Aku merasa bahwa kita akan segera berpisah! Maka ilmu ciptaanku yang kuberi nama Kim-coa ih-hoat itu harus lekas-lekas kuturunkan kepadamu. Nah, ikutlah aku...!"
Nenek tua itu membawa Yang Kun ke ruangan yang lain, di mana mengalir sungai di bawah tanah itu.
Dengan diikuti oleh Yang Kun nenek itu berjalan menyusuri tepian sungai, Lalu di mulut celah di mana air itu terhisap masuk ke dalam dinding gua, nenek itu berhenti.
Lalu nenek itu membaringkan tubuhnya pada celah tersebut, sehingga celah yang sempit itu seperti tertutup oleh tubuhnya.
Air tampak mengalir disela-sela badannya, seakan-akan mau mengisap tulang tulang kurus itu bersamanya.
"Yang Kun, cucuku...! Untuk mendapatkan tenaga Liongcu-i-kang kamu harus mengambil dan memanfaatkan kekuatan hisap dari lubang ini. Sebentar lagi hawa di sini akan berubah dan celah ini akan mempunyai kekuatan menghisap yang berlipat ganda besarnya. kau kumpulkan semangatmu di sini lalu sedotlah daya hisap dari celah ini ke dalam tubuhmu. Putarlah tenaga hisap yang telah kau sedot itu ke seluruh jalan darah di dalam tubuhmu, agar berubah menjadi hawa murni yang dapat kau pergunakan setiap saat! Marilah... sekarang akan kuberi contoh lebih dahulu cara kita bersamadi."
Kemudian sambil menjelaskan semua urutan-urutannya nenek tua itu mulai bersamadi.
Urat-uratnya tampak menegang.
Kulitnya yang semula pucat itu perlahan-lahan kelihatan kemerah-merahan.
Sedikit demi sedikit ia menyedot kekuatan hisap dari celah tersebut dan memasukkannya ke jalan darahnya melalui tan-tian (pusar).
Kemudian dengan melalui wa-pi-hiat tenaga murni yang disedotnya itu ia salurkan ke seluruh tubuh.
Tetapi berbeda dengan umumnya orang yang berlatih lweekang, nenek itu tidak menyalurkannya secara berputar seperti layaknya arah jarum jam!
Nenek itu mendorong hawa murni yang didapatnya itu secara terbalik!
Dari bagian kanan dahulu baru setelah itu menerobos ke bagian atas!
Tapi pengaruhnya sungguh sangat hebat.
Tampak wajah orang tua itu berubah segar kemerah-merahan seperti wajah seorang perempuan muda!
"Yang Kun, cucuku!
Sekarang cobalah kau berlatih Liongcu-i-kang dengan cara seperti yang kuperlihatkan kepadamu tadi!
Dengan bakat serta bertulang baik seperti yang kau punyai itu, kukira dalam beberapa hari saja engkau tentu sudah dapat menembus semua jalan darah yang ada di dalam badanmu."
Nenek itu mengakhiri latihannya.
"...Dan kau sekarang tentu tahu, apa sebabnya orang yang telah mempunyai lweekang dari golongan lain tidak boleh berlatih Liong-cu I-kang ini. Penyaluran hawa murni secara terbalik itu sungguh sangat membahayakan para pemilik lweekang yang telah terbiasa menyalurkan lweekangnya secara biasa... sama halnya mereka melukai dan membunuh dirinya sendiri!"
Yang Kun mengangguk, lalu melangkah ke arah celah sempit tersebut. Ia berbaring seperti yang dilakukan oleh nenek buyutnya tadi.
"Nenek..., bolehkan aku bertanya sebentar?"
Pemuda itu mengawasi neneknya beberapa saat sebelum ia memulai dengan semadinya.
"Yaaa?!"
"Anu... bukankah sebelum menciptakan Liong-cu I-kang ini nenek juga telah mempunyai lweekang yang hebat dari keluarga Chin kita? kenapa...?"
Nenek tua itu tersenyum.
"Cucuku... kau jangan heran! Nasib kita memang hampir sama. Nenek dahulu juga mengalami kematian sesaat seperti yang kau alami itu. Nenek mati karena tertimbun reruntuhan akibat gempa bumi besar itu! Separuh tubuhku terjepit batu-batu besar di dalam gua ini tanpa mampu bergerak sedikitpun. Entah kenapa aku menjadi siuman kembali. Tapi seperti yang kau alami juga. lweekang yang telah kuhimpun sejak aku kanak-kanak telah hilang lenyap pula dari badanku. Rasa rasanya aku ingin mati saja saat itu. Tubuh tak bisa bergerak karena terjepit, tenaga sudah hilang pula dari badan, bagaimana pula bisa hidup? Tapi... agaknya Thian masih menghendaki lain. Tiba-tiba saja seperti ada sinar terang di dalam hatiku untuk tidak menyerah begitu saja kepada keganasan alam yang mencelakai diriku. Aku teringat kepada seseorang yang mungkin lolos dari keganasan gempa itu dan saat itu sedang sibuk mencari diriku..."
Nenek tua itu termangu-mangu memandang kosong ke depan.
"Nenek... kau...?"
"Cucuku, keinginanku untuk dapat bertemu kembali atau setidak-tidaknya bisa keluar dari tempat ini untuk mencari khabar tentang diri orang itu, membuat aku bersemangat serta tidak ingin mati. Aku teringat ada suatu ilmu yang disebut orang dengan nama Sia-Kut-hoat (Ilmu Mengkerut Tulang). Dengan ilmu tersebut kukira aku akan sangat mudah untuk melepaskan diri dari jepitan batu-batu itu. Tetapi karena aku tidak tahu bagaimana melatihnya, maka aku lalu mencari sendiri dan menciptakannya. Dengan hanya minum air dan memakan ikan yang kebetulan bisa ku tangkap setiap harinya aku menciptakan Liong-cu-ikang ini. Akhirnya berhasil! Aku bisa mengatur dan memerintah susunan persendian tulangku menurut sekehendak hati sendiri... Aku bisa lolos dari lubang yang menjepit tubuhku itu, tapi untuk beberapa bulan aku seperti menderita kelumpuhan pada anggota badan yang terjepit itu. Untunglah dengan Liong-cu I-kang aku bisa menyembuhkannya."
Sekali lagi nenek Hoa menghentikan penuturannya, lalu dipandangnya Yang Kun yang berbaring di celah sempit itu dengan pandangan aneh.
"...Dan tahukah kau di mana aku telah terjepit selama itu? Ketahuilah cucuku, aku terjepit pada lubang... yang sekarang kau tempati itu!"
"Hahh?!?"
"Nah, kau tentu tidak percaya bahwa aku telah mampu meloloskan diri celah sesempit itu. Tapi kalau kau telah menguasai Liong-cu I-kang dengan baik, kau akan mempercayainya."
Dan tentu saja perkataan nenek buyutnya itu semakin membuat Yang Kun bergairah untuk lekas-lekas menguasai ilmu tersebut.
Pemuda yang tidak pernah mengenal lagi hari siang ataupun malam itu semakin tidak memperhitungkan waktu pula.
Setiap ada waktu atau kesempatan sehabis berlatih silat dia tentu lekas-lekas merendam dirinya di celah sempit tersebut.
Oleh karena itu tidak mengherankan jikalau sebulan kemudian nenek buyutnya sendiri sampai menggeleng-gelengkan kepala saking kagum atas kemajuan yang dicapainya.
"Yang Kun, cucuku...! kau benar-benar bertulang baik dan berbakat sekali dalam ilmu silat. Aku beranggapan bahwa dalam waktu setengah tahun engkau baru akan dapat menguasai Liong-cu I-kang itu. Tak kusangka hanya dalam waktu sebulan engkau telah menguasainya dengan lancar! Baiklah...! Karena kini kau telah mahir mengatur dan menguasai seluruh jalan darahmu sesuai dengan pelajaran Liong-cu I-kang, maka sekarang akan kuberi tahu rahasia Ilmu Kim-coa i-hoat yang telah kujanjikan itu kepadamu...!"
Dengan perasaan gembira yang meluap-luap Yang Kun mempersiapkan diri untuk menerima kunci-kunci rahasia dari Ilmu Kim-coa i-hoat itu.
Inilah memang saat-saat yang telah ia nanti-nantikan selama ini!
Kim-coa ih-hoat!
"Rahasia utama dari Kim-coa ih-hoat adalah penyaluran arus tenaga murni yang dibolak-balik secara mendadak, sehingga untuk sesaat orang akan kehilangan daya lengket dari dalam tubuhnya.
Yaitu daya lengket yang membuat tulang-tulang di dalam badan selalu saling bertautan, di samping otot-otot dan urat-urat daging tentunya!"
Nenek itu mulai dengan keterangannya.
"...Coba kau lihat siku lenganku ini! aku akan mempertunjukkan kehebatan Ilmu Kim-coa ih-hoat itu... kepadamu!"
Nenek tua itu mengangkat lengan kanannya ke atas.
Lalu ia mengerahkan Liong-cu I-kang ke arah lengannya itu.
Terdengar suara gemertak dari tulang-tulangnya yang saling beradu dan kemudian secara mendadak nenek itu membalikkan seluruh Liong-cu I-kang!
"Hap!"
Dan perempuan tua itu lalu memegang lengan kanan tersebut dengan tangan kirinya.
Sungguh aneh sekali!
Siku lengan kanan itu dapat ia tekuk sekehendak hatinya!
Ke muka...
ke belakang...
ke kiri...
ke kanan!
Juga dapat ditarik memanjang memendek, bagai sebuah lengan boneka dari karet saja.
Yang Kun sampai melongo melihat keajaiban itu!
Gila, teriaknya di dalam hati.
Sebuah ilmu yang mengerikan!
"Kau lihat, cucuku?
Hihi...
tentu saja dalam prakteknya engkau tak usah menekuknya dengan pertolongan anggota tubuh yang lain.
Cukup kau kerahkan otot-otot lenganmu...
dan tulang itu akan tertekuk ke arah yang kau kehendaki dengan sendirinya!
Begitu juga pada persendian-persendian tulang-tulang yang lain.
Mereka dapat kau permainkan sesuka hatimu!
Semua tergantung pada kekuatan Liong-cu-ikang yang telah kau pelajari.
Semakin tinggi kau meyakinkannya, semakin bebas pula kau dapat mempermainkan susunan tulang-tulangmu!
Dan oleh karena kita dapat menggeser urat-urat darah atau otot-otot daging kita, sehingga keadaan itu sangat menguntungkan kita dalam setiap pertempuran."
Baca Juga: Raja Pedang 9
Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 1