Ceritasilat Novel Online

Pendekar Penyebar Maut 3

Eps 3 Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono

Baca online Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono

Cersil Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono.

"Nenek, adakah nenek menamakan ilmu itu dengan sebutan Kim-coa ih-hoat karena nenek ingin mencontoh kehebatan seekor ular yang dapat memperpanjang... memperpendek... memperbesar dan memperkecil tubuhnya itu?"

Yang Kun menyela.

"Benar, cucuku...! Sejak semula aku memang ingin lepas dari lubang sempit itu, seperti halnya seekor ular yang dapat keluar masuk celah sempit betapapun besar tubuhnya...! Hanya dengan kekuatan tenaganya aku tidak mengambil dari kekuatan seekor ular, tetapi dari seekor naga! Liong-cu I-kang!"

Demikianlah, dalam waktu yang tidak terlalu lama pemuda itu telah menguasai pula Kim-coa ih-hoat secara mahir.

Sehingga kini pemuda itu dapat mengikuti nenek buyutnya menerobos lubang-lubang kecil, dan mengunjungi gua-gua lain.

Betapa gembiranya hati Yang Kun melihat banyak gua yang sambung-menyambung bagai sarang semut itu.

Terasa hatinya menjadi bertambah lapang, seakan dunianya menjadi bertambah luas pula.

Tidak hanya berada di dalam sebuah gua yang terdiri dari dua buah ruangan seperti tempatnya semula itu!

Masing-masing gua mempunyai keistimewaan dan keindahan sendiri-sendiri.

Ada sebuah gua yang entah apa sebabnya hawanya dingin sekali, sehingga suasana di dalamnya seperti suasana di daerah kutub saja.

Batu batuannya yang beraneka macam warnanya itu seluruhnya diselimuti gumpalan-gumpalan salju yang tebal.

Tapi ada pula sebuah gua yang hawanya panas bukan main, sehingga rasa-rasanya semua batu yang berada di dalamnya telah berubah menjadi bara api yang sangat panas.

Ada pula sebuah gua yang penuh dengan tanaman jamur yang beraneka macam bentuk dan warnanya.

Agaknya jamur jamur itulah yang selama ini dimasak menjadi bubur oleh nenek buyutnya sebagai makanan pokoknya.

Di tempat itu pulalah neneknya tidur dan menaruh segala peralatannya.

Yang membuat takjub dan heran di hati Yang Kun adalah penerangan di dalam lorong-lorong gua itu.

Tak ada sedikitpun sinar matahari yang masuk, tapi ruangan-ruangan di dalam gua-gua itu ternyata cukup terang.

Pemuda itu sama sekali tidak menyadari bahwa selain keadaan batu-batuannya yang bening dan memantulkan sinar, pemuda itu sendiri kini telah menjadi lebih tajam daya penglihatannya!

Pemuda itu memang tidak menyadari betapa hebat sebenarnya dia sekarang.

Tiadanya manusia lain selain nenek buyutnya yang sangat sakti itu membuat dia tidak dapat memperbandingkan kepandaian dengan orang lain.

Satu-satunya perbandingan cuma neneknya itu!

Padahal kesaktian neneknya terasa selalu lebih hebat dari pada kepandaiannya.

Otomatis pemuda itu selalu merasa dirinya bodoh dan lemah!

"Nenek...!

Nenek...!"

Tiba-tiba pada suatu hari Yang Kun berteriak-teriak mencari neneknya.

Tubuhnya yang jangkung itu bagaikan seekor ular menelusup ke lorong-lorong gua yang sempit untuk menemui neneknya.

Tangan kanannya membawa tangkai pancing pendek yang tadi ia pakai untuk memancing di sungai bawah tanah itu.

Neneknya yang baru sibuk membuat bubur itu sampai kaget dibuatnya.

"Ada apa, cucuku...?"

Dengan terengah-engah Yang Kun bercerita bahwa aliran sungai yang berada di dalam gua mereka itu kini bercampur dengan darah! Begitu banyaknya darah tersebut sehingga baunya menjadi sangat amis.

"Hah...? Daraaahh...?"

Nenek itu berteriak kaget, sehingga pemuda itu menjadi kaget dibuatnya!

Baru kali inilah pemuda itu melihat neneknya berkata atau berteriak dengan mulutnya.

Kedengarannya menjadi sangat aneh di telinganya.

Selama berbulan-bulan bersamanya nenek itu selalu berbicara tanpa menggerakkan bibirnya.

Bagai kilat menyambar nenek itu melesat ke arah sungai itu melalui lorong-lorong gua yang sempit.

Tanpa terasa Yang Kun mengikutinya dengan tidak kalah gesit pula.

Dengan Kim-coa ih-hoat mereka menyusup, menerobos, menyusuri celah celah sempit seperti dua ekor ular yang berkejaran!

"Ya...

Thian!

Aku benar-benar tidak bermimpi!

Isyarat yang ku terima itu kini telah menjadi kenyataan..."

Nenek tua itu terbelalak menyaksikan gumpalan-gumpalan darah mengental yang hanyut dibawa aliran sungai tersebut.

"Isyarat...? Isyarat apakah itu, nenek? Apa... apa...?"

Yang Kun dengan gagap menegaskan. Untuk pertama kalinya pula Yang Kun melihat nenek itu tampak ketakutan dan merasa ngeri, sehingga otomatis membuat pemuda itu menjadi tegang pula.

"Nenek...! Nenek...! Katakanlah...!"

"Yang Kun... nenek pernah mengatakan kepadamu bahwa aku harus lekas-lekas menurunkan Kim-coa ih-hoat kepadamu sebab aku telah mendapat suatu firasat. Firasat mengatakan bahwa sesuatu bakal terjadi kepada kita sehingga kita akan berpisah untuk selama-lamanya. Dan Sekarang agaknya firasat itu akan segera terjadi...! Saat itu aku seperti sedang bermimpi... Aku merasa gua-gua ini tergenang oleh air bah yang kemerah-merahan karena telah bercampur darah. Aku dan engkau terhanyut dan digulung oleh air tersebut tanpa bisa menyelamatkan diri lagi. Kita... hei... ooooooohhh... apa ini? Oooooh Yang Kun... ini... ini... Ya, Thian... ini gempa! GEMPA!"

Nenek itu tiba-tiba berteriak kuat-kuat.

Wajahnya semakin menampilkan rasa ngeri dan takut yang maha hebat!

Terdengar suara gemuruh yang dahsyat.

Gua itu bergetar dengan keras.

Debu berhamburan memenuhi ruangan itu dan menghalangi pandangan mereka.

Atap gua tampak berderak derak mau pecah.

Begitu juga lantai gua yang mereka injak!

"Gempaaaa...?"

Yang Kun ikut berteriak sekuat tenaga.

Pemuda itu terjerembab ke depan.

Hampir saja mereka bertubrukan.

Keduanya berlari ke sana ke mari, tapi bagaimanapun mereka tetap tak bisa melepaskan diri dari dalam gua.

Oleh karena itu dapat dibayangkan betapa paniknya mereka.

Apalagi ketika bongkahan-bongkahan batu sebesar gajah mulai berguguran menghantam lantai gua dengan suara yang memekakkan telinga.

Debu dan batu kerikil bertebaran, menyebabkan udara menjadi gelap gulita dan menyesakkan nafas.

"Nenekkk...!"

Yang Kun berteriak di antara gemuruhnya suasana yang mengerikan itu. Ternyata kedua orang itu terpisah oleh damparan batu-batu yang berjatuhan di sekitar mereka.

"Yang Kuuuuun...!"

Suara nenek tua itupun hampir tak kedengaran lagi, padahal mereka cuma terpisah dalam beberapa langkah saja.

Yang Kun berusaha mati-matian untuk mendekati neneknya.

Beberapa bongkah batu besar yang menghantamnya ia elakkan atau kalau tidak sempat lagi terpaksa ditahannya dengan Liong-cu I-kangnya!

Sehingga akhirnya pemuda itu dapat memegang lengan kanan neneknya.

Tetapi bersamaan dengan itu terdengar suara berderak yang sangat hebat!

Dinding gua itu pecah bagaikan terbelah menjadi dua bagian.

Suara deburan gelombang air menyembur ke arah tempat mereka berdiri dan tidak lama kemudian tubuh mereka telah dihempaskan oleh arus air yang menyembur dari lapisan tanah yang terbelah lebar itu.

Mereka digulung dan dihempaskan oleh gelombang yang menyerbu dan memenuhi lubang gua tersebut.

Sedikitpun mereka tidak dapat berkutik melawan keganasan alam yang pada saat itu sedang mempermainkan tubuh mereka.

Di sinilah terbukti betapa lemahnya dan betapa kecilnya manusia dibandingkan dengan kebesaran alam.

Betapapun hebat dan saktinya manusia tersebut!

Yang Kun tidak tahu lagi di mana dan terbawa ke arah mana dirinya dihanyutkan oleh arus yang dahsyat itu.

Mata, telinga maupun seluruh anggota badannya sudah tidak berdaya lagi menghadapi amukan gempa dan air bah yang melanda dirinya.

Dia hanya merasa bahwa badannya dibawa berputar-putar, dihempas ke sana kemari, lalu dilontarkan ke atas bersama-sama batu batu besar yang tampak berenang di sekelilingnya.

Tangan nenek Hoa telah terlepas dari gandengannya.

Gempa yang maha dahsyat itu tidak lebih lama dari pada sekejap mata, tetapi akibat yang ditimbulkannya ternyata sungguh bukan kepalang besarnya.

Tak sebuah bangunanpun yang tampak berdiri tegak.

Rata-rata telah menjadi rata dengan tanah.

Daerah yang semula merupakan sebuah perkampungan yang bersih dan rapi, dengan tanaman yang hijau subur, kini berubah menjadi sebuah padang reruntuhan yang kotor dan hancur sama sekali!

*** Yang Kun merasa bahwa telah terjadi suatu kemukjijadan pada dirinya.

Bencana hebat yang timbul pada saat dirinya berada di dalam lorong-lorong bawah tanah, ternyata tidak menghancurkan dirinya tetapi justru malah menyelamatkan dan membebaskan dirinya dari penjara alam tersebut!

Tubuhnya sehat dan tidak ada segores lukapun yang menodai kulit dagingnya.

Padahal tubuhnya dihempas dan diombang ambingkan oleh arus air yang menggila, bersama-sama dengan bongkahan-bongkahan batu sebesar gajah!

Selain pakaiannya yang basah dan compang-camping tak ada setitik tandapun yang menyatakan bahwa dirinya baru saja bergulat dengan maut yang sangat dahsyat!

Thian benar-benar menurunkan suatu mukjijad pada diri pemuda itu!!

Yang Kun duduk termangu-mangu di dekat sebuah sumber air yang menyembur keluar dari sebuah tebing jurang yang terbelah menjadi dua bagian.

Air tersebut menyembur begitu saja dari dalam tanah dengan amat derasnya, lalu mengalir melalui batu-batu besar yang berserakan di bawah jurang dan akhirnya terjun ke sungai besar yang membawanya ke Sungai Yang Tse Kiang.

Dilihat dari keadaan tempat dan susunan batu-batu di mana sumber air tersebut keluar, mudah diduga bahwa lubang air itu baru saja terbentuk beberapa saat yang lalu.

Mungkin akibat gempa besar yang baru saja berlalu tadi.

Dan dari tempat itu pulalah agaknya pemuda tersebut dilontarkan keluar dari "penjara di bawah tanahnya."

"Yang... Kun... Cu...cuku...!"

Tiba-tiba pemuda itu mendengar rintihan neneknya yang memanggil namanya.

Bagai seekor kijang Yang Kun meloncat dari tempat duduknya dan bergegas mencari arah suara itu, Yang Kun tanpa terasa mengeluarkan Liong-cu I-kangnya yang maha hebat.

Bongkahan bongkahan batu sebesar kerbau ia angkat dan ia pindahkan dengan kedua belah tangannya!

Suara itu seperti datang dari bawah tumpukan batu yang berserakan di depan sumber air tersebut.

Oleh karena itu Yang Kun semakin bernafsu untuk menyingkirkan batu-batu tersebut dari tempatnya.

Dan semakin banyak batu yang ia singkirkan, semakin jelas pula suara tersebut terdengar.

Akibatnya Yang Kun bekerja bagai orang kesetanan!

Tumpukan batu-batu besar yang berserakan tersebut menjadi porak-poranda dibongkarnya.

Didapatinya nenek tua itu dalam keadaan terluka parah di dasar tumpukan batu itu.

Luka tersebut sangat parahnya sehingga tidak mungkin tertolong lagi.

Tubuhnya boleh dikatakan sudah remuk dan hancur.

Tapi disebabkan oleh kepandaiannya yang tinggi dan semangat keinginannya untuk bertemu dengan Yang Kun, maka nenek itu masih dapat bertahan untuk beberapa saat.

"Nenek..."

Yang Kun berlutut di sampingnya. Matanya berkaca-kaca.

"Cucuku... dengarlah amanatku! Aku sudah tidak dapat hidup lebih lama lagi, maka aku ingin meninggalkan pesan dan warisan kepadamu"

Huk"

Huk! Uuuuuhh""

Nenek itu terbatuk batuk dan memuntahkan gumpalan-gumpalan darah kental dari mulutnya.

"Nenek..."

"Cucuku... untuk pertama kalinya sejak seratus tahun ini aku dapat memandang langit dan matahari lagi. Bagaimanapun juga akhirnya aku dapat kembali ke dunia umum ini lagi...oh...betapa gembiranya aku. Aku benar benar rela untuk mati sekarang. Hanya...hanya aku minta tolong kepadamu..."

"Katakanlah, nek! Apapun permintaan nenek tentu akan aku kerjakan! Biar sampai berkorban nyawa sekalipun..."

Pemuda itu berkata dengan penuh perasaan. tak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya.

"Simpanlah abuku nanti...dan kalau kau mengembara nanti, pergilah kau ke daerah Kang-lam! Carilah sebuah dusun di kaki Bukit Pat-sian-gai (Bukit Delapan Dewa), yang bernama dusun Ho-ma-cun... lalu kau carilah berita tentang seorang gembala tampan yang sangat terkenal pada 100 tahun yang lalu! Namanya Pao Liang! Kalau dia masih hidup, berikanlah abu dari tubuhku itu kepadanya...tapi kalau dia juga telah mati... kau"

Kau tanamlah abuku itu di samping makamnya huk... huk!"

"Jangan khawatir, nek... cucumu tentu akan menjalankan segala perintahmu ini dengan sungguh-sungguh."

Yang Kun berjanji.

"Terima kasih, cucuku! Huk! Sekarang kau duduklah dalam sikap... huk... dalam sikap Naga Bertapa! Aku... a-aku akan memindahkan seluruh tenaga dalam Liong-cu I-kang yang kulatih selama 100 tahun i-itu ke...k-kepadamu!"

"Nenek..."

Pemuda itu tertegun.

"Jangan membantah! Aku tahu aku akan mati kalau hawa murni itu kupindahkan ke tubuhmu...tapi tidak ada bedanya bagiku, mati sekarang atau nanti... toh hari ini aku tentu mati juga! Le-lekaslah... mumpung badanku masih mampu."

Terpaksa Yang Kun menuruti kemauan neneknya.

Tubuhnya berbaring di samping neneknya dalam sikap Naga Bertapa.

Salah satu sikap bersamadi dalam Liong-cu I-kang yang hebat.

Sikap bersamadi yang sering ia lakukan apabila ia berlatih di celah-celah lubang sungai di bawah tanah itu.

"Yang Kun, cucuku... kau jangan melawan atau berusaha menolak tenaga yang akan kusalurkan kepadamu. Berdiam dirilah...a-apapun yang a-akan kuperbuat ke-kepadamu itu... huk! Nah, aku a-akan m-mulai...!"

Terdengar suara gemertak dengan keras ketika kedua orang itu secara bersama-sama mengerahkan Liong-cu I-kang mereka.

Secara bersamaan pula mereka menyalurkan hawa murni mereka, berputar melalui jalan darah terpenting ke seluruh tubuh mereka secara terbalik.

Suara nafas mereka yang teratur itu seperti desis seekor ular atau naga yang sedang marah.

"Ssssssssssss...!"

Beberapa saat kemudian...Ketika hawa murni itu telah berputar kembali ke arah tan-tian tiba-tiba tampak badan nenek tua itu melenting ke atas disertai desis mulutnya yang semakin kuat.

Seakan seluruh kekuatan Liong-cu I-kangnya telah terpusat untuk menggempur lawan!

Sekejap Yang Kun terperanjat menyaksikan peristiwa itu!

Hampir saja dia menggerakkan tangan untuk berjaga-jaga, apalagi ketika nenek itu meluncur turun dengan mulut menganga menuju ke arah pusarnya.

Tapi dalam sekejap pula pemuda itu telah teringat kembali akan pesan neneknya, sehingga ia menjadi urung melakukannya.

Dia justru bersiap-siap untuk menyambut tenaga yang akan dilimpahkan oleh orang tua itu kepadanya.

Dia tidak ingin menggagalkan maksud neneknya itu!

Ia juga tidak mau membuat orang tua tersebut merasa penasaran menjelang kematiannya.

"Ceppp...!"

Bagai seekor ular yang ganas mulut nenek tua yang tak bergigi itu mematuk dan menggigit pusar Yang Kun yang tersembul di antara bajunya yang compang-camping!

Sebuah arus tenaga yang maha dahsyat menyerbu masuk ke dalam tubuh si pemuda melalui pusarnya dan berputar dengan cepat ke seluruh tubuh.

Terasa tubuhnya semakin lama semakin terasa panas, lalu disertai perasaan sakit seperti ditusuk oleh ribuan jarum pada urat-urat darahnya.

Begitu sakitnya sehingga lama-kelamaan Yang Kun tidak kuat bertahan lagi.

Pemuda itu jatuh pingsan!

Ketika Yang Kun telah sadarkan diri kembali, terasa badannya menjadi lebih segar dan terasa ringan bukan main.

Begitu dirinya menghentakkan badan untuk bangkit dari tanah, pemuda itu menjadi terkejut setengah mati!

Tubuhnya melenting ke atas bagaikan burung mau terbang!

Buru-buru pemuda itu mengenjotkan kakinya ke bawah untuk turun kembali ke tanah...

"Jlugg!!"

Kakinya amblas terbenam di dalam tanah sebatas lutut!

Gila, Yang Kun mengumpat di dalam hati.

Ada apa pula ini?

Mengapa tenaganya menjadi sedemikan dasyatnya?

Bermimpikah dia?

"Ohh, pemuda itu sudah siuman dari pingsannya..."

Tiba-tiba terdengar beberapa orang berseru sehingga semakin mengagetkan hati Yang Kun.

Terlihat oleh Yang Kun beberapa orang penduduk mendatangi ke tempatnya.

Yang Kun menoleh ke kanan dan ke kiri mencari jenazah nenek buyutnya, tapi ia tidak menemukannya.

Mayat tersebut sudah tidak ada.

Dan yang sangat mengejutkan hati pemuda itu adalah bahwa ternyata dirinya bukan lagi berada di dekat sumber air itu.

Dia telah berada di antara perkampungan penduduk yang mengalami musibah gempa dahsyat itu.

Dirinya ternyata terbaring di atas tanah bekas reruntuhan sebuah rumah.

"Saudara, kami adalah orang-orang dari dusun Hi-sancung. Dusun kami terbenam oleh air bah akibat gempa bumi yang mengerikan itu. Kami terpaksa mengungsi ke dusun ini untuk menyelamatkan diri. Tadi di tengah jalan kami menemukan tubuh saudara dan seorang nenek tua tergeletak di antara batu-batu. Agaknya saudara dan nenek tua itu juga mengalami musibah gempa besar kemarin. Kami membawa saudara ke tempat ini, sementara nenek tua yang telah meninggal dunia itu kami kubur di tempat itu juga."

"Ohhhh... terima kasih!"

Ucap pemuda itu dengan lega.

Ternyata jenazah neneknya telah diurus orang dengan baik.

Dan pemuda itu mengucapkan terima kasihnya kembali ketika melihat dirinya juga telah berpakaian rapi dan bersih.

Biarpun hanya pakaian seorang petani biasa.

"Kami memang bukan dari golongan penduduk yang mampu, apalagi baru saja kami mengalami musibah, tapi salah seorang dari kami masih menyimpan beberapa buah pakaian untuk sewaktu-waktu dipergunakan..."

Orang itu berkata lagi mewakili teman-temannya. Agaknya dia adalah pemimpin dari kelompok penduduk tersebut.

"Saudara ini dari mana...? Bolehkah kami mengetahui juga nama saudara?"

"Saya... saya adalah pengembara yang datang dari jauh... Kebetulan saya bertemu dengan nenek itu... dan... dan terjadilah bencana itu."

Yang Kun menjawab pertanyaan mereka dengan gagap.

Ia sama sekali belum mempersiapkan jawaban yang baik.

Dan ketika dilihatnya orang-orang masih menanti kelanjutan dari perkataannya, Yang Kun cepat meneruskan.

"Saya bernama Yang Kun..."

"Untuk sementara saudara dapat tinggal di sini dengan kami... Cuma tentang makan dan minum... ya... seadanya saja."

Orang itu menawarkan lagi jasanya dengan simpatik.

"Terima kasih! Saya akan berangkat besok. Hanya pada malam ini saya memang bermaksud untuk memohon agar diperbolehkan tidur di sini..."

"Hei, mengapa merasa sungkan? Marilah kita berkumpul di rumah sebelah! Di sana ada banyak kawan-kawan pengungsi yang lain."

Yang Kun bangkit dan membersihkan pakaian dan sepatu yang kotor, lalu melangkah mengikuti orang-orang yang menolongnya itu ke rumah sebelah.

Dari jauh pemuda itu telah mendengar suara ribut para pengungsi yang saling bercerita tentang musibah yang menimpa diri mereka masing masing, juga ributnya anak-anak yang telah kehilangan orang tua mereka.

Beberapa orang tampak duduk menyendiri mengenangkan nasibnya yang buruk.

Kedatangan mereka tidak begitu menarik perhatian orang orang yang ada di sana.

Tempat itu adalah satu-satunya bangunan yang masih kelihatan utuh, sehingga dapat dipakai sebagai tempat berteduh untuk sementara bagi para pengungsi.

Mereka membentangkan tikar dan tiduran di segala tempat sementara para anak-anak mereka bermain main di halaman.

Yang Kun melewati beberapa orang yang terbaring di atas tikar lebar di bawah pohon siong yang rimbun.

Seorang gadis yang tidak bisa menyembunyikan kecantikannya meskipun mengenakan pakaian yang sederhana dan kasar, tampak merawat luka-luka mereka.

Yang sangat menarik perhatian Yang Kun ialah dengan gadis yang cantik itu.

Lengan yang sebelah kiri telah buntung sebatas siku!

Sejenak Yang Kun menghela nafas dengan perasaan tidak rela.

Gadis secantik itu kenapa mesti cacat tangannya?

Gadis itu menoleh.

Agaknya dia juga merasa kalau dirinya sedang diperhatikan orang.

Dua pasang mata bertemu...

dan Yang Kun cepat-cepat meneruskan langkahnya, takut gadis itu akan tersinggung karenanya.

Yang Kun duduk di antara laki-laki yang berwajah kasar dan bengis.

Pakaian mereka seperti pakaian seorang piauwsu lengkap dengan senjatanya.

Mereka berbicara dengan bebas tanpa memperdulikan para pengungsi lain yang berada di sekitar mereka.

Kadang-kadang terdengar suara umpatan dan caci-maki mereka di antara suara ketawa mereka yang keras.

Sebuah nada ketawa yang sumbang, karena mereka tertawa untuk menutupi ketegangan hati mereka sendiri.

Mereka adalah para pekerja piauw-kiok yang meninggalkan keluarganya di rumah.

Mereka tidak tahu bagaimana nasib anak istrinya yang terkena musibah bencana ini.

"Gila! Mengapa penderitaan ini tidak juga selesai? Baru saja kita menderita akibat peperangan besar lima tahun yang lalu... dan belum juga kita sekarang dapat membenci luka-luka itu, kini datang lagi bencana yang lain,"

Salah seorang dari mereka menggerutu.

"Itulah kalau Thian menjadi murka akibat ketamakan manusia. Dari dulu orang selalu mengejar kemulian dan kekayaan saja. Tak segan-segan manusia berbuat dosa dan nista hanya demi kepentingan pribadi mereka sendiri. Mereka membunuh, merampok dan merusak nilai kehidupan mereka sendiri, tanpa memperhitungkan segi-segi kemanusiaan dan kesopanan. Mereka berlindung dalam panji-panji dan sebutan-sebutan yang muluk-muluk... demi kaum yang miskin dan menderita... demi rakyat yang tertindas...demi tegaknya keadilan...Tapi mereka ternyata berbuat yang justru berlawanan dengan azas peri-kemanusiaan itu sendiri...!"orang yang tertua di antara mereka menyambung dengan nada berfilsafat.

"Agaknya Ji-suheng masih belum hilang rasa penasarannya akibat barang kawalan kita yang diganggu oleh anak buah Keh-sim Siauwhiap itu..."

Orang yang pertama tadi berkata lagi sambil tersenyum mengawasi kawan-kawannya yang lain.

"Tentu saja...! Akupun masih mendongkol juga sampai sekarang. Sudah dua kali ini Keh-sim Siauwhiap dan anak buahnya mengganggu Kim-liong Piauw-kiok kita. Tujuh bulan yang lalu mereka mencegat dan merampas barang kawalan kita sehingga suhu menjadi sangat marah. Kita bersama-sama dengan Thio Lung Twa-suheng dikirim suhu untuk meminta barang kawalan yang dirampas itu di sarang mereka, Tapi dengan mudah kita dikalahkan oleh mereka dan Twa-suheng dilukai pula. Kini mereka kembali merampas barang-barang kita lagi tanpa kita dapat berkutik sama sekali untuk melawannya... Sungguh penasaran sekali, bukan?"

Yang lain lagi turut berbicara dengan mata melotot.

"Mereka memang sangat lihai dan kita bukan lawan mereka...Apalagi Keh-sim Siauwhiap itu! Agaknya suhu sendiri juga belum dapat menyamai kesaktian si Keh-sim Siauwhiap yang hebat itu..."

Orang yang dipanggil ji-suheng itu menghela nafas berat.

"Lalu bagaimana nasib Kim-liong Piauw-kiok kalau setiap barang kawalannya mesti dirampok orang tanpa dapat merebutnya kembali? Selain orang tidak akan percaya lagi pada kita, harta benda kitapun akan habis pula untuk mengganti barang-barang yang telah hilang... Dan bagaimana kita harus memberi makan anak-istri kita di rumah?"

"Hmm...dan perampok-perampok itu dengan enaknya bilang bahwa barang-barang itu akan mereka bagi kepada kaum miskin yang membutuhkannya! Huh! Aku tidak percaya! Paling-paling juga akan mereka makan sendiri!"

Yang Kun yang ikut mendengarkan percakapan mereka, turut menjadi penasaran pula di dalam hati.

Pemuda itu memang benci sekali kepada segala macam pembunuh dan perampok, karena hal itu akan mengingatkan dia kepada para musuh besarnya yang telah membantai orang tua dan paman-pamannya.

"Mengapa tuan menghina Keh-sim Siauwhiap?"

Tiba-tiba terdengar suara parau di belakang mereka.

Otomatis semuanya menoleh dengan cepat.

Seorang laki-laki berpakaian penuh tambalan tampak mendatangi ke arah mereka.

Beberapa langkah di belakangnya tampak mengikuti dua orang temannya dengan baju yang penuh tambalan pula.

Mereka memandang rombongan piauwsu itu dengan rasa tak senang.

Dan ketika berhenti di depan para piauwsu itu mereka mengeluarkan tongkat kecil dari besi yang terselip di masing-masing pinggangnya.

"Tiat-tung Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Bertongkat besi)...!"

Terdengar seruan tertahan dari beberapa orang yang mengenal mereka.

Terkejut juga orang-orang dari Kim-liong Piauw-kiok itu demi mendengar siapa sebenarnya orang yang kini sedang berdiri di hadapan mereka.

Sebagai orang dari sebuah perusahaan pengawalan barang, sesungguhnya mereka tidak ingin menanam permusuhan dengan siapapun juga.

Apalagi bermusuhan dengan sebuah perkumpulan yang terkenal dan banyak anggotanya.

Hal seperti itu hanya akan mengganggu bidang pekerjaan mereka saja.

Tapi meskipun begitu, bukan berarti bahwa orang-orang dari sebuah perusahaan pengawalan barang adalah orang-orang yang sangat penakut dan tidak berani berkelahi, sama sekali bukan!

Justru sesungguhnya mereka itu adalah jago-jago berkelahi yang bekerja dengan modal kekuatan dan otot mereka!

Maka sebelum adik-adik seperguruannya menjawab tantangan mereka, orang tertua dari para piauwsu itu bangkit menyongsong ketiga orang itu.

"Ah, apakah kami sekarang sedang berhadapan dengan saudara-saudara dari Tiat-tung Kai-pang?"

Sapanya halus.

"Tidak salah! Kami bertiga memang anggota Tiat-tung Kaipang. Dan harap tuan ketahui juga bahwa ketua kami adalah sahabat karib dari Keh-sim Siauwhiap..."

"Huh!"

Tiba-tiba terdengar suara orang mendengus di antara orang-rang Kim-liong Piauw-kiok yang duduk menggerombol itu.

Dengus yang bernada menghina atau meremehkan lawan!

Tentu saja ketiga orang pengemis itu menjadi tersinggung karenanya.

Mereka menoleh ke arah orang-orang piauw-kiok itu dengan melotot dan mencari orang yang telah mengeluarkan suara dengusan tadi.

Yang Kun yang kebetulan juga sedang menatap mereka dengan pandangan tak suka, malahan dicurigai oleh para pengemis itu.

Ketiga orang itu memandang Yang Kun dengan mata mendelik!

Padahal suara dengusan itu keluar dari mulut orang termuda Kim-liong Piauw-kiok yang duduknya memang berada di dekat Yang Kun.

Agaknya orang piauw-kiok yang bangkit menyongsong mereka tadi mencium suasana yang membahayakan itu.

Mereka dengan tergesa-gesa ia meloncat menengahi di antara mereka dan berusaha menenangkan hati ketiga pengemis itu.

"Samwi (saudara bertiga), maafkan kelancangan suteku...! Jangan saudara masukkan di dalam hati... Marilah kita berbicara secara baik-baik! Anu... bolehkan kami mengetahui maksud samwi semua menghampiri tempat kami di sini? Adakah sesuatu hal atau kesalahan yang telah kami perbuat sehingga tanpa sengaja telah merugikan samwi?"

"Jangan berpura-pura tidak tahu. Kalian telah melakukan suatu kesalahan besar. Kalian telah menghina dan memperolok-olokkan Keh-sim Siauwhiap yang menjadi sahabat kami para fakir miskin."

Salah seorang dari para pengemis itu membentak.

"Huh! Musang berbulu domba. Pura-pura menjadi pembela para fakir miskin. Tapi hal itu cuma untuk kedok saja. Sekali perampok... ya... tetap perampok!"

Orang yang mendengus tadi mengeluarkan suara mengejek lagi.

"Bangsat! Keluar kau dari tempat itu!"

Pengemis yang pertama berteriak marah.

"Jit-te (adik ke 7)...!"

Orang yang tertua diantara para piauwsu itu memperingatkan pula adiknya yang ringan mulut itu.

Terlambat.

Pengemis itu telah meloncat dan menerkam ke arah...

Yang Kun!

Orang yang disangkanya telah mempermainkan dirinya.

Tentu saja pemuda itu kaget bukan main!

Dengan gesit pemuda itu menghindar ke samping.

"Duaaaarrr..."

Lantai tempat di mana Yang Kun baru saja duduk telah hancur berkeping-keping terkena tongkat besi si pengemis.

Meskipun begitu pecahan-pecahan batu itu telah mengotori pakaian Yang Kun, sehingga pemuda itu menjadi marah juga.

Tapi sebelum pemuda itu melayani mereka, orang termuda dari Kim-liong Piauwsu itu telah maju menghalanginya.

"Saudara... maafkan! Agaknya mereka salah mengenali lawannya. Silahkan saudara menyingkir! Biar kuhadapi dia...!"

"Jit-te, jangan sembrono...!"

"Ji-suheng! Biarkah aku melepaskan rasa sesak di dadaku ini. Aku bisa gila kalau tidak melampiaskannya..."

Dan orang termuda dari Kim-liong Piauw-kiok itupun meloloskan sebuah cambuk panjang dari pinggangnya. Lalu dengan kaki direnggangkan ia menghadapi pengemis yang marah itu.

"Gelandangan bermata buta! kau lihatlah aku! Inilah orang yang telah mendengus dan mengejekmu tadi... Bukan dia! Dengarlah pula, bahwa aku memang sangat benci kepada Keh-sim Siauwhiap! Maka kalau engkau telah menjadi begundalnya dan ingin membela dia... nah, silahkan kau maju!"

"Kau memang bosan hidup!"

Pengemis itu berteriak mengguntur.

Tongkatnya yang sepanjang lengan itu diayun ke depan, ke arah kepala lawannya.

Suaranya menCicit saking kuatnya pengemis itu mengayunkan tongkatnya.

Tapi jago dari Kim liong Piauw-kiok itupun juga tidak mau kalah gertak.

Cambuknya yang berjuntai panjang itu ia sabetkan pula ke depan untuk menyongsong tongkat lawan.

Dan sekali lagi terdengar suara menggelegar yang memekakkan telinga, ketika dua buah kekuatan yang terlontar itu bertemu di udara.

"Duaaaaaarr..."

Para pengungsi yang terdiri dari wanita dan anak-anak menjerit serta berlarian menyelamatkan diri dari tempat itu.

Suasana di tempat tersebut menjadi kacau balau tidak keruan.

Anak-anak kecil menjadi ketakutan dan menangis dalam gendongan ibunya.

Sementara itu kedua orang itu masih melanjutkan pertempuran mereka.

Keduanya bergeser ke arah halaman, di mana tempatnya lebih luas dan lebih leluasa untuk menggerakkan senjata mereka.

Suara ledakan cambuk mereka terdengar berdentam-dentam di udara, memanggil para pengungsi yang lain untuk datang ke tempat itu.

Sehingga tak lama kemudian halaman rumah itu telah penuh dengan pengungsi yang ingin menyaksikan pertempuran dahsyat itu.

Ketika beberapa saat kemudian tampak oleh rombongan piauwsu itu, adik seperguruan mereka terdesak oleh tongkat lawan, dua orang di antara mereka lalu terjun membantu.

Tentu saja kedua orang pengemis yang lain juga tidak tinggal diam pula.

Mereka turun juga ke dalam arena pertempuran membantu kawannya, sehingga akhirnya terjadi pertempuran tiga melawan tiga di tengah-tengah halaman itu.

Empat orang piauwsu yang lain, di antaranya adalah jisuheng mereka itu, tampak masih menonton di pinggir dengan perasaan tegang.

Agaknya mereka kini telah menyadari bahwa kepandaian para pengemis dari Tiat-tung Kai-pang rata-rata memang lebih tinggi dari pada kepandaian mereka.

"Samte (adik ke 3), hari-hari keruntuhan Kim-liong Piauwkiok kita agaknya telah berada di depan mata..."

Orang tua dari rombongan piauwsu yang disebut sebagai ji-suheng oleh kawan-kawannya itu berdesah perlahan kepada orang yang berada disampingnya.

"Kau lihat! Dalam dua hari ini saja kita telah tertimpa bencana dua kali. Barang kawalan kita telah dirampas orang...kuda dan gerobak angkutan kitapun dihancurkan gempa!"

"Dan Kini... kini agaknya akan mendapat malu pula karena dikalahkan orang!"

Kawannya menyambung.

"...Masa kejayaan Kim-liong Piauw-kiok agaknya memang telah lampau."

"Taaar! Taaar! Taaar!"

Suara lecutan cambuk ketiga orang piauwsu yang bertempur di dalam arena itu semakin jarang terdengar.

Jangankan untuk meledakkan ujung cambuknya, sedang untuk bertahan saja mereka semakin tampak kerepotan.

Tongkat besi lawan yang besarnya tak lebih daripada besar ibu jari mereka itu terdengar mengaung-gaung di sekitar tubuh mereka.

Lambat tapi pasti, tongkat besi itu mengurung dan mendesak mereka.

Dibandingkan dengan lawannya, orang-orang dari Tiat-tung Kai-pang itu memang tampak lebih gesit dan lebih tinggi kepandaiannya, sehingga biarpun orang-orang dari Kim-liong Piauw-kiok itu akan maju semua, rasa-rasanya juga tidak akan menang.

Gerakan ketiga orang pengemis itu benar-benar sangat tangkas dan hebat.

Terutama si pengemis yang datang pertama kali tadi!

Ayunan tongkatnya sangat kuat dan tak terlawan oleh ketiga orang musuhnya.

Suaranya mendesing desing di udara seperti digerakkan oleh tenaga raksasa.

Siapapun yang berani menangkis tangan maupun senjatanya tentu akan terlempar dari tempatnya.

"Apa boleh buat! Samte, mari kita bantu saudara-saudara kita! Biarlah...kita tidak usah memperdulikan apa kata orang terhadap kita. Biarlah kita dikatakan orang sebagai tukang keroyok."

Ajak ji-suheng kepada saudara-saudara yang lain.

Keempat piauwsu itu segera melolos cambuk mereka, lalu secara bersama-sama mereka terjun membantu kawan-kawannya yang telah terdesak di tengah-tengah arena.

Tampaknya ketiga orang pengemis itu juga telah memperhitungkan kemungkinan itu.

Buktinya mereka tidak merasa kaget sedikitpun melihat datangnya bala bantuan itu.

Pengemis yang pertama itu malah tertawa terkekeh-kekeh menyambut mereka.

"Hahaha... kenapa tidak sejak tadi kalian maju ke arena ini...Kalian boleh melihat sekarang macam apa kami bertiga ini. Sehingga lain kali kalian akan berpikir dulu beberapa kali sebelum mengejek dan menghina orang."

"Kurang ajar...! Siapa yang mulai mengejek dan menghina orang? Kalian benar-benar pandai omong! Siapa yang mula-mula menghardik kami bersaudara tadi? Bukankah kalian yang mencari gara-gara terlebih dahulu?"

Orang termuda dari rombongan piauwsu yang ringan mulut itu berteriak marah.

"Benar! Tapi bukankah pihakmu juga yang mula-mula mengejek dan menjelek-jelekkan nama Keh-sim Siauwhiap?"

"Lhoh! Mengapa kami mesti tidak boleh memaki-maki Kehsim Siauwhiap? Orang itu adalah musuh kami. Dia merampok barang-barang kami! Mengapa kami tidak boleh memakinya? Apakah kita justru diharuskan untuk berterima kasih atas dirampoknya barang-barang kami itu? Begitukah?"

"Persetan! Kami tidak perduli! Pokoknya kalau kalian tidak meminta maaf atas hinaan kalian kepada Keh-sim Siauwhiap itu kami akan menyeret kalian kehadapan Keh-sim Siauwhiap sendiri!"

"Bangsat! Jangan harap dapat memaksa kami...!"

Dan pertempuran tiga melawan tujuh orang itu makin menjadi seru dan ramai.

Biarpun dikepung oleh tujuh orang bersenjata cambuk, ternyata ketiga pengemis dari Tiat-tung Kai-pang itu tidak mengalami kesukaran sama sekali.

Agaknya mereka tadi memang belum mengeluarkan seluruh kepandaian mereka.

Sementara itu di luar kalangan telah penuh dengan para pengungsi yang ingin menyaksikan perkelahian tersebut.

Yang Kun yang berdiri di deret paling depan tampak meremas-remas telapak tangannya dengan perasaan tegang.

Pemuda itu benar-benar mengkhawatirkan nasib para piauwsu dari Kim-liong Piauw-kiok tersebut.

Bagaimanapun lihainya mereka, ketiga orang pengemis itu masih berada di atas kepandaian mereka.

Dan kekhawatiran pemuda itu segera terbukti ketika secara tiba-tiba terdengar suara teriakan kesakitan dari piauwsu termuda yang ringan mulut itu.

Tubuhnya tampak terhuyung huyung dari arena pertempuran.

Lalu jatuh terlentang di atas tanah.

Mati!

Perutnya terobek lebar oleh tongkat besi lawannya.

Darah mengalir membasahi besi lawannya.

Darahnya mengalir membasahi tanah di bawahnya.

Yang Kun tersentak!

Tiba-tiba terbayang di benaknya wajah mendiang ayahnya yang jatuh berlumuran darah di atas lantai gedung itu.

"Jite (adik ke 7)...!"

Para piauwsu itu serentak menjerit dengan hati pilu.

orang yang tertua diantara mereka bermaksud keluar dari kancah pertempuran untuk menengok adiknya tersebut justru termakan lagi oleh tongkat besi lawannya.

"Aduuuuhh...!"

Orang itu terkulai dengan dada tertembus tongkat besi!

Tubuhnya terkapar di atas tanah menyusul adiknya.

Para penonton mulai bubar ketakutan.

Yang Kun yang belum hilang rasa kagetnya itu semakin muak dan pening kepalanya.

Kini tidak saja wajah ayahnya yang terbayang bayang di depan matanya...tapi wajah paman dan ibunya juga turut menggoda di depannya.

"Berhentiii...!"

Mendadak pemuda itu berteriak sekuatkuatnya.

Untung Yang Kun berteriak hanya sekedar untuk menghentikan perkelahian dan juga hanya sekedar untuk menghentikan perkelahian dan juga hanya sekedar untuk menghilangkan bayang-bayang yang menggoda hatinya.Coba, pemuda itu mengerahkan Lion-cu i-kangnya, mungkin akan terjadi bencana kematian di antara orang-orang yang berada di tempat penampungan pengungsi itu.

Meskipun demikian suaranya yang keras itu mengagetkan juga pada semua orang.

Termasuk pula orang-orang yang sedang berkelahi.

"Mengapa saudara menghentikan pertarungan kami?"

Pengemis dari Tiat-tung Kai-pang itu membentak pula.

Pemuda itu melangkah ke depan, menghampiri ketiga orang Tiat-tung Kai-pang itu dengan pelan.

Wajahnya tampak pucat menahan geram.

Dan semua orang mengikuti langkahnya dengan perasaan tegang pula.

Mereka tidak tahu apa yang akan dikerjakan oleh pemuda tinggi kurus itu setelah menghentikan pertarungan para jago-jago silat tersebut.

Pemuda itu berhenti tiga empat langkah di depan orang orang Tiat-tung Kai-pang tersebut.

Matanya yang mencorong dingin itu menatap dengan tajam ke tiga orang pengemis yang berdiri congkak di depannya.

Beberapa saat lamanya mereka saling beradu pandang untuk mengukur kekuatan masing masing.

Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh orang-orang Kim-liong Piauw-kiok untuk menengok kedua orang saudara mereka yang tergeletak di atas tanah.

Sementara di antara para penonton juga telah bertambah dengan dua orang lain, yaitu sepasang gadis cantik berpakaian hitam-hitam.

Keduanya tampak memandang dengan penuh perhatian ke tengah-tengah arena.

"Kudengar kalian berdua adalah seorang pengemis yang tergabung dalam Tiat-tung Kai-pang."

Yang Kun mulai berbicara.

"Tidak salah! saudara mau apa? Mau membela kawan-kawanmu itu? Majulah!"

"Kurang ajar...! Kalau semua pengemis sedemikian kejam dan sombong seperti kalian, betapa akan tidak amannya dunia ini. Sedikit-sedikit suka membunuh orang. Mengemis tidak diberi...lalu membunuh orang!"

Yang Kun menggeram marah.

"Apa pedulimu? Kalau berani, majulah! Kalau tidak, lekaslah pergi dari tempat ini. Pergilah menyusu ke dada ibumu...!"

Hinaan itu benar-benar keterlaluan.

Dan tanpa disadari juga menyinggung pada tempat yang rawan di hati Yang Kun.

Pemuda itu seperti diingatkan kembali kepada kematian ibunya yang menyedihkan!

Tampak wajah pemuda itu menjadi merah padam.

Tulang-tulangnya terdengar gemertak menahan aliran Liong-cu I-kang yang membanjir melanda seluruh urat-urat darahnya.

Dan ketiga orang pengemis itu agaknya juga menyadari akan bahaya itu.

Maka sebelum pemuda itu selesai mengerahkan lweekangnya, ketiga orang itu serentak menerjangnya terlebih dahulu.

"Awas serangan...!"

Tiga buah tongkat besi itu menghantam dengan kekuatan yang dasyat ke arah tubuh Yang Kun.

Debu di sekitar pemuda itu bagai tersibak kesegala penjuru saking hebatnya ketiga orang itu mengerahkan tenaganya.

Yang Kun merasa kaget juga menyaksikan kehebatan lawan.

Tapi kemarahan pemuda itu telah sampai di puncak ubun-ubunnya.

Tak seorangpun di dunia ini yang mampu menakut-nakuti dirinya lagi.

Seperti gerakan seekor belalang Yang Kun melentingkan tubuhnya ke samping menghindarkan diri.

Bagaimanapun juga ia belum yakin benar akan kekuatan lweekangnya.

Selama ini ia hanya mengenal kekuatan lweekang paman dan ayahnya, serta yang paling akhir ini adalah nenek buyutnya.

Dan semuanya itu dia anggap sangat hebat pula.

Tak seorangpun di antara mereka yang mampu dia kalahkan.

Oleh sebab itulah sekarang pemuda tersebut juga masih ragu-ragu akan kemampuan dirinya.

Dia masih ragu-ragu untuk membenturkan tenaganya.

"Blaaaaaar...!"

Tiga buah tongkat besi itu menghantam tanah dengan keras sekali.

Untuk beberapa saat lamanya tempat itu menjadi gelap oleh debu yang berhamburan ke mana-mana.

Ketiga orang pengemis itu tampak telah bersiap-siap kembali dengan serangannya, sementara Yang Kun masih juga menghindari batu-batu kerikil yang berhamburan ke arah dirinya.

Ketiga orang pengemis itu berpencar ke samping.

Mereka bermaksud menyerang lawannya dari tiga jurusan.

Dan selagi Yang Kun masih disibukkan oleh debu yang berhamburan ke arahnya, ketiga orang itu kembali menyerang secaraberbareng.

Mereka menyerang dengan kekuatan penuh seperti tadi.

Seorang menyerang bagian kaki, sedang dua orang lainnya menggempur bagian kepala dan dada!

Tongkat mereka tampak bergetar saking kuatnya mereka menyalurkan tenaga.

Hembusan angin serangan mereka sungguh-sungguh mengagetkan pemuda itu.

Tahu-tahu serangan itu telah melanda dirinya.

Terutama serangan lawan yang tertuju ke arah kepalanya.

Begitu pemuda itu menyadari bahaya yang datang, tongkat itu sudah berada di depan alis matanya.

Padahal serangan lawan yang lain juga telah memburu datang.

Tak ada kesempatan lagi bagi Yang Kun untuk mengelak.

Serangan tongkat lawan sungguh di luar dugaan cepatnya.

Apa boleh buat, terpaksa pemuda itu memberanikan diri untuk membentur senjata lawan dengan sisi tangannya.

Lebih baik menderita patah lengan dari pada harus mati karena kepala pecah, pemuda itu membatin.

Meskipun begitu Yang Kun tetap masih berusaha menghindari benturan langsung.

Dengan sedikit menggeliatkan badannya Yang Kun menghantam ke arah tongkat lawan yang datang.

Untuk melindungi dirinya sedapat mungkin, pemuda itu mengerahkan seluruh tenaga Liong-cu-ikang kearah lengannya!

Terdengar suara berdesis dari mulutnya, seperti suara ular senduk yang sedang marah!

Dan bersamaan dengan benturan yang terjadi, pemuda itu masih dapat menghindari kedua serangan lawan yang lain.

"Kraaaaak!"

"Aduuuuuuuuh...!"

Jilid 07 Yang Kun terdorong keras ke samping terhuyung-huyung.

Tenaga pengemis itu memang sangat hebat, apalagi kedudukannya memang lebih menguntungkan.

Begitu dapat berdiri tegak kembali, yang pertama-tama diperbuatnya oleh Yang Kun adalah memeriksa lengan tangannya.

Melihat lengan itu tetap dalam keadaan baik dan tidak kurang suatu apa, begitu juga badannya, pemuda tersebut malah menjadi terheran-heran di dalam hati.

Cepat pemuda itu menoleh ke arah lawannya.

"Aduuuh...oh...gatal...! Gataaaaal...! Gatal dan panaaas...! Argggg...!"

Yang Kun ternganga.

Tampak di depan matanya pengemis yang beradu tenaga dengan dia tadi terguling-guling di atas tanah dalam keadaan sekarat.

Dari seluruh lubang di tubuhnya mengalir darah segar.

Dan tidak lama kemudian orang itu menghembuskan nafasnya yang penghabisan dalam keadaan yang sangat mengerikan.

Untuk sesaat suasana di tempat itu menjadi hening sepi.

Semua orang tidak menyangka sama sekali kalau pengemis yang amat lihai itu akan mati dengan begitu mudahnya.

Dan kedua orang pengemis yang lain tampak termangu-mangu pula seperti tidak percaya pada apa yang telah terjadi.

Tapi begitu menyadari pada apa yang telah terjadi, mereka menjadi sangat marah sekali.

Dengan berteriak keras mereka meloncat, menyerang ke arah pembunuh yang telah menghabisi nyawa temannya.

Sekarang Yang Kun telah yakin pada kemampuan ilmunya.

Maka melihat kedua orang lawannya yang lain menyerbu ke arah dirinya, ia sudah tidak merasa ragu-ragu lagi.

Kembali dikerahkannya Lion-cu-ikang sepenuhnya ke arah lengan.

Begitu serangan mereka tiba, pemuda itu menyongsong dengan kedua belah tangannya.

"Kraaaak...!"

"Auuuugh...!"

Seperti 2 buah layang-layang putus, tubuh kedua orang pengemis itu terlontar kembali dengan nyawa melayang dari tubuhnya.

Mereka jatuh berdebam di tanah dengan darah mengalir dari semua lubang tubuhnya.

Kulit mereka menjadi merah bagai kepiting yang baru saja direbus.

Selain digempur dengan tenaga dalam yang sangat hebat, ternyata kedua orang itu menderita keracunan yang mematikan pula.

Yang Kun memandang kepada korbannya dengan termangu-mangu, lalu mengawasi kedua belah telapak kakinya yang terbenam ke dalam tanah.

Tampak wajahnya sedikit muram.

Timbul juga perasaan menyesal di dalam hati pemuda itu.

Sebenarnya tak ada niat di hatinya untuk membunuh mereka.

Maka pemuda itu hanya melirik saja ketika para piauwsu dari Kim-liong Piauw-kiok menjura menyatakan rasa terima kasih mereka.

Sedikitpun ia tidak merasa gembira atas kemenangan itu.

"Saudara tadi mengatakan bahwa dunia ini tidak akan aman lagi kalau ada orang yang sedikit-sedikit suka membunuh orang...Lalu apa bedanya perbuatan saudara ini dengan para pengemis itu?"

Tiba-tiba terdengar suara perlahan dari tengah-tengah penonton.

Tersentak Yang Kun dari lamunannya.

Dilihatnya dua orang gadis berparas manis datang menghampiri dirinya.

Pakaian hitam-hitam yang mereka kenakan benar-benar tampak menyolok di antara kulit mereka yang putih bersih.

Sebuah pedang pendek tampak tergantung pada masing-masing pinggangnya.

Yang Kun tergagap tidak dapat menjawab pertanyaan mereka.

Setelah semua kemarahannya hilang pemuda itu memang merasa menyesal atas perbuatannya.

"Nah, bukankah saudara tidak dapat menjawabnya? Maka untuk selanjutnya saudara tidak usah membual dengan kata kata yang muluk-muluk, karena saudara sendiri ternyata juga bukan orang yang baik.Dalam hal ini ternyata saudara tidak ada bedanya pula dengan orang-orang Tiat-tung Kaipang itu. Malah kalau ditimbang, saudara justru lebih kejam dan bengis daripada mereka. Mereka cuma membunuh dua orang sementara saudara membunuh tiga orang..."

"Benar! Aku memang terlalu terburu nafsu sehingga menjadi lupa diri..."

Yang Kun mengakui dengan gagah.

"Tapi penyesalan saudara itu sudah terlambat! Bagaimanapun saudara telah menanam bibit permusuhan dengan Tiat-tung Kai-pang dan... Keh-sim Siauwhiap."

"Apa boleh buat! Nasi telah menjadi bubur... Aku tidak takut, apalagi ingkar!"

Yang Kun berkata dengan dada tengadah.

"Bagus! saudara memang seorang ksatria tulen! Sekarang bersiaplah...!"

Kedua gadis berbaju hitam itu membentak.

"Bersiap...? Apa maksud nona? Apakah...?"

Yang Kun terperanjat setengah mati. Sedikitpun dia tidak mengetahui apa maksud kedua orang gadis manis tersebut.

"Mereka berdua adalah anak buah Keh-sim Siauwhiap!"

Salah seorang dari para piauwsu itu membisiki Yang Kun.

"Harap tuan berhati-hati! Kepandaian mereka sangat tinggi. Lebih tinggi dari pada kepandaian orang-orang Tiat-tung Kaipang itu."

"Hah?!? Anak buah Keh-sim Siauwhiap...?"

Pemuda itu ternganga.

"Perkataan piauwsu itu adalah benar... kami memang para pembantu dari Keh-sim-Siauwhiap. Mereka telah mengenal kami dengan baik. Apakah sekarang saudara menjadi takut?"

Gadis manis tersebut berkata dengan tandas. Tersinggung kembali rasa keangkuhan pemuda itu.

"Hmh... takut? Gila! Mana ada kata-kata takut di hatiku? Majulah! Apabila aku sampai kalah melawan kalian, aku akan membunuh diri didepan hidungmu!"

Serunya marah.

"Oh... Tuan, ja...jangan terlalu memandang rendah gadis itu! Dialah yang merampas barang kawalan kami. Kepandaiannya benar-benar sangat tinggi..."

Piauwsu tadi memegang tangan Yang Kun dengan khawatir.

"Ah, tak usah saudara bersumpah seperti itu. Sedikitpun kami tidak ingin melihat saudara membunuh diri di hadapan kami. Nah, sekarang pilihlah di antara kami berdua, yang mana di antara kami yang akan saudara lawan?"

Gadis itu berkata tenang. Keangkuhan pemuda itu kembali tersentuh oleh perkataan gadis tersebut.

"Memilih? Huh! Membuang-buang waktu saja. Majulah, nona berdua sekalian, biar lekas beres!"

Kedua gadis itu justru terlongong-longong seperti orang kehilangan akal melihat kesombongan Yang Kun.

Begitu pula orang-orang lainnya.

Para piauwsu yang berada di dekat Yang Kun menatap pemuda itu dengan perasaan aneh.

Waraskah pemuda ini?

"Tuan...?

Adakah tuan bersungguh-sungguh?

Maaf...

kami bukan tidak mempercayai kepandaian tuan, tetapi...

tetapi...

sesungguhnyalah kedua wanita itu mempunyai kepandaian yang sangat tinggi.

Kami tujuh bersaudara telah dikalahkan hanya oleh salah seorang diantara mereka..."

Seorang dari para piauwsu itu berbisik kembali.

"Sudahlah! Silahkan saudara sekalian minggir. Tolong bawa mayat-mayat itu sekalian...!"

Salah seorang dari kedua gadis berbaju hitam itu maju ke depan.

"Saudara agaknya ingin lekas-lekas membunuh diri. Tapi kami tidak sekejam itu. Biarlah aku saja yang menghadapi saudara..."

Katanya perlahan.

"Nah, lekaslah saudara mengeluarkan senjata! Biarlah kuhadapi dengan tangan kosong."

"Telah kukatakan tadi, majulah kalian bersama-sama! Dan hunuslah pedang kalian itu! Atau kalian akan mati di sini tanpa sempat lagi mempergunakannya?"

Yang Kun membentak tidak kalah garangnya.

"Saudara sungguh sangat takabur. Baiklah, akan kulihat sampai di mana saudara dapat bertahan untuk tidak mempergunakan senjata."

Gadis itu berkata sambil bersiap siap untuk menyerang.

"Majulah berbareng, kataku!"

Yang Kun menjerit marah.

"Dan hunus pedang itu!"

Tubuhnya yang jangkung itu tiba-tiba mencelat ke depan dengan cepat sekali.

Begitu cepatnya sehingga gadis yang berada di depannya itu menjadi terkejut sekali.

Kali ini Yang Kun memang mengerahkan seluruh kepandaiannya.

Dia tidak mau berlaku setengah-setengah lagi.

Dari mulutnya terdengar suara desis yang mengerikan.

Gadis itu meloncat ke samping sehingga serangan Yang Kun menemui tempat kosong.

Lalu dengan tidak kalah gesitnya gadis tersebut memukul Yang Kun dari arah samping.

Hembusan angin panas menerjang pemuda itu bersama-sama dengan serangan yang menuju pinggangnya.

Begitu menjejakkan kakinya di atas tanah, Yang Kun cepat memutar badannya.

Kedua belah tangannya segera menyongsong ke depan untuk memapaki pukulan lawan.

Gadis itu tampak mengerahkan seluruh tenaganya guna menindih tenaga Yang Kun yang terlontar ke arah dirinya.

Tapi gerakan pemuda itu ternyata hanya merupakan gerak tipu saja.

Sebelum kedua belah tangan mereka saling berbenturan, Yang Kun segera menarik serangannya dan menggantinya dengan cengkraman ke arah gagang pedang lawan yang masih tergantung di atas pinggang.

Gadis itu menyentakkan tangannya kembali dengan kaget.

Kakinya melangkah selangkah untuk menghindari cengkraman lawan yang datang.

Tetapi bukan main kagetnya gadis itu ketika dilihatnya lengan lawan yang terulur ke arah gagang pedangnya tersebut mulur (bertambah panjang) menjadi satu setengah kali lipat dari lengan manusia biasa.

Maka tak ampun lagi senjatanya telah berpindah ke tangan lawannya itu.

Begitu berhasil merampas pedang lawannya, Yang Kun segera melenting ke arah gadis yang lain.

Pedang rampasannya ia sabetkan ke arah leher gadis yang masih berada di pinggir arena tersebut.

Selain sangat cepat gerakan pemuda itu benar-benar tidak terduga oleh lawannya.

Memperoleh serangan yang begitu mendadak, gadis itu menjadi kelabakan.

Otomatis tangannya mencabut pedang pendeknya, lalu dengan gugup berusaha untuk menangkis serangan tersebut sedapatnya.

"Trang!"

Bunga api berpijar ketika kedua buah senjata itu saling berbenturan di udara.

Tampak tubuh si pemuda berjumpalitan lebih dahulu di udara sebelum dengan manis mendarat di atas tanah.

Sedang si gadis tampak memutar badannya setengah lingkaran untuk mengurangi daya tekan lawan yang hebat.

Dan begitu berdiri tegak gadis itu secara kebetulan berada di belakang punggung lawannya, sehingga dengan enak gadis itu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membokong lawan dari belakang.

Jarak di antara mereka hanya 2 langkah saja.

Maka menurut aturan, serangan tersebut tak mungkin dielakkan lagi.

Jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri hanya dengan menangkis pedang itu.

Tapi mana mungkin hal itu dilakukan?

Sebagai manusia normal, untuk menggerakkan lengan tangan ke belakang sungguh suatu hal yang sulit dan amat kikuk sekali.

Misalnya bisa, juga takkan dapat mengejar lagi kecepatan gerak lawan.

Tapi kali ini gadis itu ternyata juga terkecoh oleh kehebatan dan keanehan Kim-coa-ih hoat seperti juga kawannya tadi...!

Gadis itu menjadi gembira bukan main begitu melihat tusukan pedangnya telah menyentuh baju lawan.

Tetapi sedetik kemudian kegembiraan itu berubah menjadi kekagetan yang luar biasa.

Dengan mata terbelalak gadis itu melihat suatu hal yang menakjubkan dan mustahil dapat dilakukan oleh manusia biasa.

Gadis tersebut melihat lengan si pemuda terlipat ke belakang dengan siku tertekuk terbalik, sehingga pedang yang terpegang dalam tangannya dapat menangkis pedang yang tertuju ke arah punggungnya.

Dan selagi gadis itu masih dalam keadaan tercengang dan tertegun, Yang Kun menyerangnya kembali dengan cengkeraman tangannya.

Dengan mudah pedang si gadis dapat dirampasnya.

Dan tidak itu saja...pundak si gadispun dapat ia cengkeram pula dengan tangannya.

Lalu begitu tangan itu bergerak, tubuh gadis itu terlempar ke arah kawannya, sehingga dengan terburu-buru kawannya tersebut menyanggahnya.

"Hunuslah pedang dan majulah berbareng, kataku!"

Yang Kun berseru lantang.

"Nah, apa kata kalian sekarang?"

Kedua orang gadis itu terdiam tak tahu apa yang mesti mereka katakan.

Peristiwa yang menimpa mereka tadi masih mencekam perasaan mereka.

Demikian cepat dan membingungkan seperti dalam mimpi saja.

Begitu juga para penonton.

Banyak di antara mereka malah tidak tahu apa yang telah terjadi dengan ketiga orang itu.

Tahu-tahu kedua orang gadis tersebut telah dikalahkan oleh pemuda itu.

Begitu juga dengan orang-orang Kim-liong Piauwkiok.

Mereka masih ternganga keheranan menyaksikan sepak terjang pemuda yang menolong mereka itu.

Sungguh tidak mereka sangka sejak semula bahwa pemuda itu begitu saktinya.

"Baiklah! Kali ini kami berdua mengaku kalah. Tapi sebenarnya di dalam hati kami belum sepenuhnya mengaku kalah. saudara telah memanfaatkan waktu dan keanehan ilmu silat saudara untuk menjebak kami. Jadi belum berarti kalau ilmu silat kami adalah lebih rendah dari pada ilmu silat saudara. Hal itu dapat dibuktikan apabila kita bisa mengadu ilmu dengan tenang serta jujur..."

Salah seorang dari kedua gadis itu berkata.

"Hmh! Begitukah pendapat kalian?"

Yang Kun mendengus.

"Apakah kalian berani bertaruh?"

"Hal ini..."

Tiba-tiba terlihat sesosok bayangan berkelebat dengan cepat sekali dari kerumunan para penonton.

Bayangan itu berjumpalitan beberapa kali di udara sebelum mendarat dengan ringan di depan kedua gadis tersebut.

"Cici...,"

Bayangan itu menoleh ke arah kedua orang gadis tersebut penuh wibawa,"...Tak usah Cici melayani tantangan pemuda ini! Lebih baik Cici pulang saja ke Meng-to (Pulau Mimpi)...!"

"Nona Souw...! Kami memang sedang mencari nona. Nona disuruh pulang selekasnya!"

Kedua orang gadis itu berseru berbareng begitu mengetahui siapa yang datang.

Kedua orang gadis berbaju hitam itu tampak sangat menghormat kepada gadis cantik yang baru tiba tersebut.

Sementara itu di lain pihak Yang Kun menjadi sangat terkejut sekali begitu melihat siapa yang datang di hadapannya.

Di pandangnya dengan seksama tubuh gadis cantik yang hanya bertangan sebelah itu.

Gadis yang tadi dilihatnya membantu para pengungsi yang sakit.

Gadis yang sempat menyentuh perasaannya dan menimbulkan rasa iba di dalam hatinya.

Ternyata gadis cantik itu segolongan dengan mereka dan mempunyai kepandaian yang tinggi pula.

Gingkang yang baru saja dipertunjukkan tadi adalah ginkang tingkat tinggi.

Gadis cantik bertangan buntung itu menganggukkan kepalanya.

"Baik!"

Aku memang sudah ingin pulang kembali. Ayolah, kita berangkat bersama-sama!"

Lalu tanpa memperdulikan lagi pada Yang Kun, ketiga orang gadis itu beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut.

"Hei, kalau kalian tak mau lagi bertarung denganku, kembalikan barang-barang kawalan para piauwsu yang telah kau rampas itu!"

Yang Kun berteriak di belakang mereka. Gadis buntung itu berputar dengan cepat. Matanya yang jeli dan lebar itu mengawasi Yang Kun dengan tajam. Sinar kemarahan tampak di dalam pandang mata gadis itu.

"Kalau saudara menginginkan barang-barang itu kembali, silahkanlah saudara mengambilnya di Meng-to pada tanggal lima bulan depan...!"

Yang Kun menjadi tergagap mendapat semprotan gadis itu. Heran! Hilang semua kegarangan dan kesombongannya selama ini.

"Aku... aku... eh, bukan itu maksudku...! Aku tidak mempunyai sangkut-paut sebenarnya dalam hal ini. Aku tidak kenal dengan mereka,"

Pemuda itu menerangkan. Jarinya menunjuk ke arah rombongan piauwsu yang berdiri di dekatnya.

"Maka... aku tidak bermaksud ke Meng-to untuk... menerima undanganmu itu."

"Huh! Lalu apa maksudmu membantu mereka dan membunuh kawan-kawan Keh-sim Siauwhiap ini? Hanya untuk gagah-gagahan dan memameran kepandaian saja?"

Memang benar-benar mengherankan sekali.

Sedikitpun pemuda itu tidak menjadi marah atau tersinggung oleh perlakuan gadis tersebut, membuat para penonton merasa heran juga.

Padahal tadi pemuda itu demikian garang dan sombong bukan main.

"Eh... aku tadi hanya tidak menyukai ada kekejaman dan kebengisan orang-orang Tiat-tung Kai-pang itu terhadap para piauwsu dari Kim-liong Piauw-kiok ini. Barang-barang mereka sudah dirampas, orangnya masih dihina dan dibunuh pula..."

"Hmm... itulah kalau orang terlalu usil dan suka mencampuri urusan orang. Apakah saudara telah mengetahui, mengerti atau memahami persoalannya?"

"Ini... ini... aku tidak tahu..."

"Nah, itulah! Dan saudara telah mencampurinya. Tapi semuanya sudah terlanjur. saudara tidak boleh ingkar lagi. saudara telah membunuh sahabat-sahabat dari Keh-sim Siauwhiap...dan itu berarti bahwa saudara telah tersangkut pula dalam urusan ini."

Yang Kun mengangguk tegas.

"Nona"

Aku memang tidak ingkar. Akan aku hadapi semuanya, apapun yang terjadi."

"Bagus! Bersiaplah mulai sekarang! Jalan yang akan saudara lalui tidak akan selicin dulu lagi. Banyak aral yang akan melintang di jalan karena perbuatan saudara ini!"

Gadis itu membalikkan badannya, lalu bergegas pergi dengan diikuti oleh kedua orang temannya.

Mereka keluar dari halaman itu dan lenyap di tikungan jalan.

Orang-orang dari Kim-liong Piauw-kiok itu datang mengelilingi Yang Kun untuk sekali lagi menyatakan rasa terima kasih mereka.

Tapi pemuda itu hanya mengangguk kecil, kemudian melangkah pergi dari tempat itu pula.

Di dekat pintu halaman Yang Kun dihentikan oleh orang yang telah menolong dirinya dan membawanya ke tempat ini.

"Tuan... apakah tuan tidak jadi bermalam di sini?"

"ohh... tidak! Terima kasih! Saya bermaksud untuk meneruskan perjalanan saya sekarang juga. Sekali lagi saya mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongan tuan itu..."

Yang Kun menjura dengan hormat. Kemudian pemuda itu meneruskan langkahnya. Tapi di tengah pintu halaman pemuda itu menoleh lagi.

"Tuan... di manakah tuan mengubur nenek saya itu? Maksud saya...di kampung mana?"

"Oh, apakah tuan belum pernah ke tempat ini? Nenek itu kami makamkan di dekat sumber air baru yang muncul di sebelah selatan Hok-cung..."

"Hok-cung (Kampung kelelawar)? Di manakah itu?"

"Ah, agaknya tuan memang bukan orang dari sini. Kampung Hok-cung itu terletak di sebelah timur Pesanggrahan Delapan Dewa, yaitu sebuah pesanggrahan yang sering dipergunakan oleh Baginda Kaisar Han apabila sedang ingin menyendiri."

"Terima kasih!" * * * Yang Kun berjalan dengan kepala tertunduk. Dia tak tahu apa yang pertama-tama mesti ia lakukan setelah dirinya terbebas dari penjara bawah tanah itu. Sebenarnya banyak tugas-tugas yang harus dia selesaikan, antara lain mencari benda pusaka yang diwariskan oleh leluhurnya. Kemudian juga mencari musuh-musuh besar keluarganya yang telah membantai ayah, ibu dan paman-pamannya. Setelah itu dia juga mendapat tugas dari nenek buyutnya untuk mencari seorang gembala yang bernama Pao Liang untuk mengantar abu neneknya itu. Matahari telah mulai terbenam. Hari telah berangsur-angsur menjadi gelap. Yang Kun berjalan perlahan-lahan ke arah kampung Hok-cung yang tadi telah ditunjukkan oleh penolongnya. Ia bermaksud bertanya kepada seseorang tentang arah yang benar, tapi sudah sekian lamanya dia berjalan belum pernah sekalipun ia berjumpa atau berpapasan dengan seseorang. Apalagi jalan yang dia lalui sekarang memang sebuah jalan gunung yang sunyi. Malam hari pula. Baru sekarang pemuda itu memasuki pedusunan, ia baru dapat melihat beberapa orang laki-laki duduk menggerombol di sebuah gardu penjagaan kampung. Orang-orang itu serentak berdiri begitu melihat dirinya. Seorang di antaranya lalu melangkah ke jalan dan menghentikan perjalanannya.

"Maaf, saudara siapa? Mengapa malam-malam begini berjalan seorang diri?"

Yang Kun mengerutkan keningnya.

Ada sesuatu yang tidak beres dilihatnya pada sikap orang itu.

Seperti ada suatu kecurigaan yang ditujukan kepada dirinya.

Dilihatnya kawan-kawan dari orang itu juga telah turun ke jalan dan bersiap-siap menghadapi dirinya.

"Saudara...aku seorang pengembara yang sedang mencari sebuah kampung yang bernama Hok-cung. Namaku adalah Yang Kun. Tolonglah...adakah di antara saudara saudara sekalian yang mengetahui letak kampung tersebut?"

Pemuda itu menjawab pertanyaan dengan halus. Tapi bukan main terkejutnya Yang Kun ketika orang-orang itu tiba-tiba mengepung dirinya sambil mengacungkan senjata mereka.

"Hah! Agaknya engkau juga kawan dari para penculik dan perampok itu, kurang ajar! Akan kami tangkap engkau lebih dahulu sebelum engkau bergabung dengan teman-temanmu itu."

Teriak orang itu dengan geram. Lalu orang itu menoleh ke arah kawan-kawannya yang telah bersiap-siap pula untuk menyerang.

"Tangkap orang yang mencurigakan ini! Kita sandera dia sebagai alat penukar untuk membebaskan gadis gadis kita yang telah diculik oleh teman-temannya!"

Dan tanpa berkata-kata lagi orang-orang itu segera menyerang Yang Kun.

Senjata mereka yang terdiri dari bermacam-macam bentuk itu menyerang bagai hujan ke arah tubuh pemuda tersebut.

Tapi dengan tangkas Yang Kun meloncat ke atas, melampaui kepala mereka, kemudian turun dengan ringan di belakang orang-orang itu.

"Tahan! Saudara-saudara harap bersabar! Aku bukan seorang perampok, apalagi menjadi seorang penculik gadis!"

Teriaknya mendongkol.

"Hmm, penipu! Kawan-kawanmu dulu juga berkata begitu. Katanya mau menolong warga kampung ini dari penderitaan akibat serangan gempa, tak tahunya malah merampok dan menculik gadis-gadis kami. Oleh karena itu sekarang kami tidak akan percaya lagi pada omongan orang..."

Wah, repot sekali nih, pemuda itu berpikir.

Tanpa menundukkan mereka terlebih dahulu, tentu sangat sukar untuk mengajak mereka bicara.

Maka pemuda itu lalu bersiap-siap pula untuk menghadapi orang-orang yang sudah mata gelap tersebut.

Kedua tangannya ia tekuk di depan dada, sedang badannya yang jangkung itu mendorong ke depan.

Dari mulutnya terdengar suara desisan yang mengalun mengikuti gelombang pernapasannya.

Tapi karena dia tidak ingin mengulang kejadian seperti beberapa saat yang lalu, di mana pukulannya ternyata menewaskan ketiga orang pengemis dari Tiat-tung Kai-pang, maka pemuda itu hanya mengerahkan seperempat saja dari kekuatannya.

Ketika orang-orang itu menyerang kembali, Yang Kun sengaja diam saja menanti.

Dan begitu senjata mereka telah berada di depan matanya, kedua lengannya segera melayang ke depan dengan cepatnya.

Lebih cepat dari luncuran senjata lawan-lawannya.

Dan di lain saat, jari-jarinya telah membagi totokan serta merampas senjata mereka.

Gerakan pemuda itu cepat bukan main sehingga sebelum orang-orang itu menyadari keadaannya, senjata mereka telah berpindah semuanya ke tangan Yang Kun.

Baru setelah mereka sadar apa yang telah terjadi, mereka menjadi gemetar ketakutan.

Mereka sungguh tidak menyangka sama sekali bahwa pemuda tampan yang mereka kepung dan akan mereka tangkap itu ternyata mempunyai kesaktian yang sangat hebat.

Sementara itu setelah berhasil menguasai lawannya, Yang Kun membuang senjata-senjata yang telah dirampasnya itu melangkah menghadapi mereka lagi.

Ditatapnya wajah orang yang pertama-tama menghadang dirinya tadi.

"Apakah engkau yang memimpin semua kawan-kawanmu ini?"

Dengan tubuh gemetar orang itu mengangguk.

"Nah, ceritakan kepadaku semuanya! Apa yang telah terjadi di tempat ini beberapa waktu lalu sehingga kalian menyangka bahwa aku adalah salah seorang anggota dari para perampok yang kalian benci."

Sambil mengusap peluh dingin yang mengalir di dahinya orang itu menceritakan apa yang telah menimpa para gadis di kampungnya.

Setelah siang harinya terjadi bencana alam yang menimbulkan banyak korban itu, pada sore harinya kampungmereka kedatangan tiga orang laki-laki asing.

Begitu datang, mereka langsung membantu para penduduk yang sedang ribut mencari harta dan anggota keluarganya yang hilang atau diduga tertimbun dalam reruntuhan rumah mereka masing masing.

Mereka pergi ke sana ke mari membantu orang-orang yang memang sangat membutuhkan pertolongan.

Tidak tahunya perbuatan mereka itu hanya sebagai kedok saja agar mereka bisa mengetahui siapa-siapa yang mempunyai harta benda banyak dan anak gadis yang cantik.

Malam harinya mereka datang lagi dengan membawa belasan orang kawan-kawannya untuk merampok dan menculik gadis gadis di kampung mereka itu.

Para perampok itu membawa hasil rampokan mereka ke Hok-cung yang letaknya tak jauh dari kampung mereka itu.

Di sana mereka berpesta-pora bersama-sama dengan teman-teman mereka yang lain dan disaksikan oleh penduduk setempat yang gemetar ketakutan melihat kekejaman mereka.

Harta benda penduduk yang masih tersisa dan terhindar dari malapetaka mereka pakai untuk berpesta, sementara gadis-gadis yang mereka culik mereka ajak menari dan minum arak secara paksa.

Dan akhirnya pada pagi hari gadis-gadis itu mereka perkosa secara bergantian.

Siapa saja yang merintangi dan mengganggu perbuatan mereka tentu mereka bunuh tanpa ampun.

"Bangsat keji!"

Yang Kun berteriak marah mendengar penuturan orang itu. Matanya yang tajam itu mencorong ganas sehingga orang-orang kampung itu menjadi semakin ketakutan melihatnya.

"Lagi-lagi perampok...! Lagi-lagi perampok...!"

Pemuda itu menggeram dengan penuh penasaran.

"Hei, mengapa kalian tidak pergi ke kota yang terdekat untuk melaporkan mereka? Mengapa kalian malah mencegati orang-orang yang tidak bersalah?"

Orang-orang itu semakin gemetar tubuhnya.

"Kami... kami tidak berani... eh... tidak seorangpun dari kami yang berani berangkat ke kota untuk melapor. Se-selain itu...tidak ada gunanya pula kalau kita melaporkannya. Sebab... sebab kami dengar para perampok yang berada di kampung Hok-cung itu justru baru saja kembali dari penyerbuan mereka ke kota. Malah kata beberapa orang yang menyaksikannya, jumlah mereka banyak sekali. Ribuan jumlahnya. Dan di kota, perampok-perampok itu telah menyerbu dan merusak istana Kaisar sebelum mereka dihalau dan diceraiberaikan oleh pasukan Yap Tai-Ciangkun."

Bukan main terperanjatnya pemuda itu.

Istana Kaisar diserang gerombolan perampok?

Ah, tentu orang-orang ini yang salah terka.

Sungguh tidak masuk akal apabila kawanan perampok sampai berani menyerang Kotaraja.

Apalagi sampai menyerbu istana!

Yang disangka sebagai perampok itu tentulah gerombolan para pemberontak yang ingin membunuh Kaisar Han, Yang Kun berpikir di dalam hatinya.

Yang Kun lalu teringat akan gerombolan pembunuh yang mengadakan pertemuan di rumah Si Ciangkun di kota Tiekwan beberapa bulan yang lalu.

Mungkinkah gerombolan itu yang menyerang Kotaraja?

Jikalau benar-benar mereka, hmmm...sungguh kebetulan sekali baginya.

Akan kubasmi mereka sehingga tak seorangpun yang tersisa, pemuda itu menggeram di dalam hati!

"Ayo, antarkanlah aku menemui perampok-perampok itu!

Akan kumusnahkan mereka semuanya!"

Yang Kun menunjuk kepada orang itu.

"Ini... ini... anu, mana aku berani ke sana?"

Orang itu segera menyahut dengan muka pucat.

"Sudahlah! Antarkan saja aku!"

Yang Kun meloncat pergi sambil menyambar lengan orang itu.

Orang itu berteriak minta tolong kepada teman-temannya, tapi tak seorangpun berani bergerak untuk menolong.

Teman temannya malah bubar melarikan diri.

Lenyap ditelan oleh gelapnya malam.

Yang Kun menurunkan orang itu di tempat yang sepi di tengah tengah persawahan.

"Sekarang tunjukkan arahnya! Di manakah letak dari kampung Hok-cung itu?"

"Baik... a-akan saya tunjukkan!"

Orang itu menjawab ketakutan.

Yang Kun mengikuti orang itu sambil sibuk memikirkan apa yang akan ia perbuat sesampai di tempat para perampok itu nanti.

Haruskah dia menghadapi gerombolan itu secara terang-terangan?

Ataukah dia mesti menghadapinya dengan secara sembunyi-sembunyi dan main kucing-kucingan?

Baik kulihat dulu keadaan di sana, setelah itu baru kupikirkan tindakan apa yang mesti kuambil, Yang Kun bergumam.

Langit biru bersih, Bintang-bintang bertaburan di angkasa raya.

Berkelap-kelip, sepintas lalu seperti mutiara yang berserakan di atas beludru berwarna biru maya.

Maka dari itu biarpun bulan belum tampak menampilkan diri, suasana jalan yang mereka lalui sudah tampak terang benderang.

Dari jauh telinga Yang Kun sudah dapat mendengar suara gaduh yang suara ketawa para perampok yang berpesta di kampung Hok-cung.

"Itu mereka, tuan!"

Kembali orang yang mengantarnya mengigil ketakutan.

"Baik! kau pulanglah kembali! Aku dapat mencari sendiri sekarang."

"Terima kasih, tuan. Terima kasih...!"

Dengan sangat gembira orang itu bergegas pergi meninggalkan Yang Kun.

Akhirnya Yang Kun meneruskan perjalanannya tanpa penunjuk jalan lagi.

Tapi suara gelak ketawa dari gerombolan perampok itu dapat ia pakai sebagai pedoman dari langkahnya.

Semakin lama gaung suara gelak ketawa mereka semakin keras terdengar oleh tenaga pemuda itu, menandakan bahwa kampung yang dicarinya tersebut telah berada di depan matanya.

Benarlah, di antara bayang-bayang hitam yang menyelimuti udara di sekitar tempat itu, Yang Kun melihat berkelipnya lampu-lampu obor yang dinyalakan orang kira-kira satu lie di depannya.

Yang Kun mempercepat langkahnya.

Tapi beberapa waktu kemudian tiba-tiba didengarnya suara gemericik air tidak jauh dari jalan yang dilaluinya.

Yang Kun berhenti melangkah.

Lalu bergegas ia mencari arah suara air mengalir itu.

Sebuah sungai yang mengingatkan dia akan gua-gua di bawah tanah serta...

neneknya!

Yang Kun berloncatan di antara tanah-tanah retak dan bongkah-bongkah batu yang berserakan akibat gempa itu.

Dan semakin mendekati suara air itu, semakin banyak pula bongkah-bongkah batu yang harus dilompatinya.

Tanah-tanah retak yang dijumpai pemuda itupun semakin dalam dan semakin lebar pula.

Sedangkan karena dalamnya tanah yang retak tersebut kadang-kadang menjadi terisi air.

Akhirnya sampai juga Yang Kun ke tempat di mana suara air yang didengarnya itu berasal.

Pada sebuah tebing gunung yang terbelah menjadi dua bagian, tampak sebuah mata air yang menyembur dengan deras sekali.

Airnya yang melimpah ruah itu mengalir ke bawah, melalui sela-sela bongkah batu yang berserakan di bawahnya.

Seketika itu juga Yang Kun menjadi teringat kembali pada peristiwa yang menimpa dirinya beberapa waktu yang lalu.

Yaitu pada saat dirinya dilahirkan kembali ke dunia ramai dari dalam perut bumi.

Bongkah-bongkah batu yang kini diinjak dan dilompatinya itu adalah batu-batu yang dulu ia singkirkan ketika ia berusaha untuk menolong nenek buyutnya.

Dan di tempat ini pulalah neneknya memberikan seluruh tenaga Liong-cu I-kangnya kepada dirinya.

Dan menurut keterangan para pengungsi itu, di tempat ini pulalah neneknya telah dikuburkan.

Bergegas Yang Kun mencari kuburan itu dan menemukannya di tempat yang agak tinggi, tempat di bawah pohon cemara yang telah hampir tumbang digoyang gempa.

Pemuda itu merasa lega dan bersyukur di dalam hati melihat makam itu tidak kekurangan suatu apa.

Hanya sekarang ia harus memikirkan, apa yang mesti diperbuatnya dengan makan neneknya itu.

Apakah ia harus membongkarnya sekarang dan membakar jenasahnya?

Atau biarkan seperti ini saja dahulu, baru setelah semua urusannya nanti telah selesai ia kembali lagi ke sini untuk mengurusnya?

Belum juga pemuda itu memperoleh keputusan apa yang mesti ia kerjakan, mendadak dari jauh terdengar suara suitan nyaring memecah kesunyian malam.

Pemuda itu segera berlindung di balik sebuah batu besar, karena suara itu bergerak menuju ke tempat di mana ia sekarang berada.

Bukan main terperanjatnya pemuda itu ketika tiba-tiba di atas sebuah batu besar yang tidak jauh dari tempat ia bersembunyi telah berdiri seorang laki-laki tinggi kurus.

Hampir seluruh badan orang itu tertutup oleh mantel hitamnya yang lebar dan panjang sampai ke bawah lutut.

Kepalanya tertutup pula dengan sebuah topi lebar yang bagian pinggirnya terjuntai kain sutera tipis, sehingga wajah itu menjadi tertutup dan tidak kelihatan dari luar.

Yang membuat kaget Yang Kun bukanlah dandanannya yang aneh itu tapi...orang yang mengenakannya!

Biarpun dahulu hanya melihat orang itu sebentar saja tapi Yang Kun takkan mungkin dapat melupakannya.

Sebab ketika dirinya ditangkap secara licik oleh gerombolan yang ingin merebut pusaka warisan keluarga Chin di kota Tie-kwan, Yang Kun sempat melihat bahwa orang inilah yang ternyata menjadi pemimpin dari gerombolan tersebut.

Gerombolan yang sampai saat ini ia anggap sebagai gerombolan yang bertanggung jawab atas terbantainya seluruh keluarganya.

Belum juga hilang rasa kagetnya, Yang Kun mendengar lagi langkah seseorang yang datang menuju ke tempat itu.

Dan tak lama kemudian di depan orang berkerudung itu telah berdiri seorang laki-laki berpakaian putih-putih.

Wajahnya yang putih pucat itu hampir tertutup pula oleh rambutnya yang dibiarkan lepas terurai ke bawah.

Sekali lagi Yang Kun dibuat kaget setengah mati begitu memandang dandanan orang yang baru tiba itu!

Hanya kekagetannya sekali ini dibarengi dengan geraman hebat di hatinya.

Laki-laki berbaju putih itu telah dikenalnya pula dengan baik, karena orang inipun termasuk salah seorang pimpinan dari gerombolan itu pula.

Orang inilah yang telah menyuruh seorang yang bergelar Teetok-ci untuk menyiksa dia dan Hek-mou-sai dengan barisan tikus-tikusnya.

Hampir saja pemuda itu tidak dapat mengekang kemarahannya.

Tetapi ia segera menyabarkan dirinya.

Ia tidak boleh gegabah!

Orang itu tidak seorang diri di sana.

Di depannya berdiri seorang laki-laki yang ilmu meringankan tubuhnya benar-benar sangat mengetarkan hati.

Jika ia bertindak ceroboh, boleh jadi malah dia sendiri yang akan menjadi korbannya.

Oleh karena itu Yang Kun tetap berdiam diri di tempatnya.

Dengan mata menyala pemuda itu mengawasi gerak-gerik dua orang tersebut.

"Mungkin benar dugaanku itu. Orang-orang ini dan anak buah merekalah yang kiranya oleh para penduduk itu sebagai perampok yang berani menyerang istana Kaisar Han. Dan mereka sebetulnya memang bukan perampok tetapi memang sebuah gerombolan pemberontak yang telah dipersiapkan untuk mengambil alih kekuasaan Kaisar Han!"

Pemuda itu berkata di dalam hati.

"Sayang agaknya gerakan mereka beberapa hari yang lalu telah menemui kegagalan... Dan kini mereka mundur dari Kotaraja benar-benar menjadi perampok! Mereka menjarah-rayah, merampok harta benda penduduk dan mengacau keamanan negeri."

Yang Kun menghentikan lamunannya ketika melihat orang berkerudung itu mengulapkan tangannya ke arah laki-laki berbaju putih di depannya.

"Bagaimana hasil penyelidikanmu, Kwa-heng?"

Orang berkerudung itu berkata memecah kesunyian malam. Laki-laki berbaju putih itu membungkuk dengan hormat sekali.

"Ongya, apakah Wan Lo-Cianpwe belum datang menghadap?"

"Belum. Mungkin dia belum dapat datang pada malam ini. Dia aku perintahkan untuk pergi menyelidiki istana di Kotaraja. Adakah berita yang mengatakan bahwa istana telah diserang oleh para pengacau itu benar adanya? Aku juga ingin mengetahui siapakah yang ingin mendahului kita dalam memperebutkan takhta kerajaan itu?"

"Ongya, agaknya berita itu memang benar. di dusun sebelah ini siauwte telah melihat beberapa puluh orang bersenjata sedang berpesta-pora mengganggu para penduduk. siauwte dengar mereka memang sebagian dari para pengacau yang beberapa hari yang lalu telah menyerbu Kotaraja."

"Hahaha... Liu Pang itu sungguh sial sekali nasibnya. Baru lima tahun di atas singgasana sekarang telah mulai dirongrong berbagai macam kesulitan. Sudah dikacau istananya masih dihancurkan pula oleh gempa yang dahsyat! Kwa-heng inilah tandanya Thian tidak merestui segala perbuatannya. Hal tersebut juga dapat dipakai sebagai tanda bahwa saat-saat kejatuhannya telah berada di ambang pintu!"

"Benar! Ongyalah yang sebentar lagi akan menggantikannya. Karena Ongyalah sebenarnya yang lebih berhak menduduki singgasana emas itu. Kami semua telah bersiap siaga menanti perintah dari Ongya, kapan pemberontakan itu akan dimulai. Kapan barisan kita itu diperbolehkan bergerak untuk menghancurkan kekuatan Kaisar Han!"

"Haha...kau sabar dulu, Kwa-heng! Kukira saat itu tidak akan lama lagi. Kita tidak boleh terlalu tergesa-gesa. Kita harus benar-benar memperhitungkan seluruh keadaan. Baiklah...kita menunggu berita dari Wan-heng! Kalian berdua adalah pembantu-pembantu utamaku. Aku harus mendengarkan nasehat kalian semua, lalu bersama-sama kita merundingkannya. Baru setelah itu aku akan memutuskan apa yang mesti kita perbuat selanjutnya dengan pasukan kita itu."

"Terserah Ongya kalau begitu..."

Kini semakin jelas bagi Yang Kun, apa sebenarnya masalah besar yang dahulu pernah diucapkan oleh ayah dan pamannya.

Masalah besar yang selalu dirahasiakan oleh orang-orang tua itu kepadanya.

Masalah besar yang kata pamannya sedang dihadapi oleh keluarganya.

Keluarga Chin!

Berdasarkan peristiwa-peristiwa yang dialaminya selama ini Yang Kun sudah dapat meraba serba sedikit, apa sebetulnya masalah besar yang sedang dihadapi oleh keluarga Chin tersebut.

Menurut pengamatannya, yang dimaksudkan dengan masalah besar oleh pamannya itu tentulah masalah tentang takhta kerajaan!

Sebagai keturunan dari keluarga Chin yang masih tinggal hidup, Ayah dan pamannya merasa berhak untuk mendapatkan kembali takhta yang direbut oleh Kaisar Han.

Apalagi ayah dan pamannya juga merasa telah memegang warisan pusaka kerajaan yang diperebutkan itu, biarpun karena sesuatu hal benda itu belum sempat diambilnya.

Itulah pula sebabnya, mengapa pamannya tidak dapat menyebutkan siapa saja sebenarnya yang memusuhi keluarganya.

Selain itu pamannya juga tidak bisa mengatakan siapakah sebenarnya musuh yang sedang dihadapi oleh keluarga Chin dalam menghadapi masalah besar itu.

Sekarang baru jelas bagi Yang Kun tentang sebab-sebab dan duduk persoalannya.

Tentu saja pamannya tidak bisa mengatakan siapa saja yang menteror dan membikin sengsara keluarganya, karena musuh yang mereka hadapi adalah sebuah kekuatan besar yang terdiri dari ratusan, bahkan ribuan orang jumlahnya.

Kemungkinan malah tidak itu saja.

Dari percakapan dua orang di hadapannya itu dapat ditarik kesimpulan bahwa kekuatan besar yang kini sedang bersaing untuk mendapatkan takhta ternyata tidak cuma satu golongan saja.

Oleh karena itu otomatis yang memperebutkan atau mengincar pusaka warisan keluarganya juga semakin tidak bisa dihitung lagi jumlahnya.

Tetapi dengan semakin jelasnya masalah besar itu bagi Yang Kun, justru membuat pemuda itu malah semakin pusing untuk menentukan siapa-siapa yang telah membunuh keluarganya.

Dulu pemuda itu beranggapan bahwa pembunuh keluarganya tentunya orang-orang yang ingin merebut pusaka warisan itu.

Dan karena yang dijumpainya pertama kali dan terbukti juga ingin merebut pusaka itu adalah rombongan dari orang berbaju putih itu, maka saat itu ia telah memastikan bahwa orang-orang itulah yang telah membantai seluruh keluarganya.

Tidak tahunya yang mengincar dan ingin memiliki pusaka warisan itu tidak hanya satu golongan saja.

Tidak hanya rombongan orang berbaju putih itu saja.

Tetapi masih ada golongan yang lain!

Wah, repot juga sekarang, pemuda itu berpikir di dalam hati.

Dugaannya bahwa orang berbaju putih dan gerombolannya itu yang bertanggung jawab terhadap kematian keluarganya menjadi pudar sekarang.

Artinya bisa juga orang-orang itu yang berbuat, tapi bisa juga tidak!

"Terpaksa aku harus menyelidikinya lagi secara lebih teliti,"

Pemuda itu memutuskan dalam hati.

Ketika Yang Kun memandang lagi ke depan dilihatnya kedua orang itu telah bersiap-siap untuk meninggalkan tempat tersebut.

Orang berkerudung itu telah berdiri berdampingan dengan laki-laki berbaju putih di atas tanah.

Kepalanya yang tertutup topi lebar itu mendongak ke arah bulan muda yang baru saja muncul di atas langit.

"Kwa-heng, aku mendengar kedatangan seseorang ke tempat ini. Mari kita pergi!"

"Marilah, Ongya..."

Tetapi belum juga mereka melangkah, tiba-tiba terdengar suara bentakan yang sangat mengagetkan semua pihak.

Baik pihak kedua orang itu maupun pihak Yang Kun yang masih berada di tempat persembunyiannya!

"Berhenti!!"

Dua orang yang sesungguhnya telah bersiap-siap untuk pergi itu benar-benar terkejut dengan kehadiran orang yang sangat tiba-tiba tersebut.

Mereka sungguh tidak menduga sama sekali bahwa gerakan orang yang baru tiba itu demikian cepatnya.

Baru saja orang berkerudung itu mendengar langkahnya, orang itu telah berada di depan mereka.

Begitu juga dengan Yang Kun.

Selain dikagetkan oleh kehebatan ginkang orang itu, Yang Kun dikagetkan pula oleh kenyataan tentang siapa yang telah datang di hadapan kedua orang yang diintipnya itu.

Yang Kun benar-benar masih dapat mengingat dengan jelas, siapakah orang yang baru saja tiba itu.

Pemuda itu tidak mungkin melupakannya karena dia berhutang jiwa dengan orang itu.

Tetapi sungguh di luar dugaan.

Ternyata orang itu juga sangat kaget begitu tahu siapa yang berdiri di samping orang berkerudung itu.

"Kau...?"

Desah orang itu tertahan.

"Kau...?"

Laki-laki berbaju putih itu berdesah pula.

"Hei?!?"

Orang berkerudung itu mengangkat wajahnya.

"Kwa-heng, apakah kau juga telah mengenal orang ini?"

Laki-laki berbaju putih itu cepat menggangguk dengan tegas.

"Tentu saja, Ongya. Bangsat inilah yang telah memelet dan membujuk adik siauwte dengan ketampanan wajahnya sehingga adik siauwte yang belum berpengalaman itu menjadi terpikat olehnya."

"Kurang ajar...!"

Saking marahnya orang yang baru datang itu sampai tidak dapat berkata apa-apa selain mengumpat. Orang berkerudung itu menoleh kepada pembantunya.

"Kwa-heng, orang ini sungguh tidak tahu diri. Sudah mengaet adik orang, masih memaki-maki kakaknya pula! Hmm, mengapa tidak kau bunuh saja dia?"

"Siauwte memang akan membunuhnya! Sejak dia menggoda adik Siauwte, siauwte telah berketetapan hati untuk melenyapkannya dari muka bumi."

Laki-laki berbaju putih itu mengeram.

Orang yang baru datang itu menggeram pula menahan hati.

Tapi agaknya ia tidak bernapsu untuk melayani tantangan orang berbaju putih tersebut.

Dia justru menghadapi orang berkerudung dengan mata yang menyala nyala.

"Hmm... akupun tidak akan lari apabila saudara memang ingin membuat perhitungan dengan aku. Tapi tidak sekarang! Kedatanganku kali ini untuk membuat perhitungan lebih dulu dengan Ongyamu yang bergelar Hek-eng-cu (Bayangan Hitam) itu!"

"Apa maksudmu?"

Laki-laki berbaju putih itu membentak. Pendatang baru itu mengebutkan ujung lengan bajunya yang lebar.

"Sudahlah! Biar aku berurusan sendiri dengan Hek-eng-cu! kau minggirlah!"

"Anjing kurapan! Selesaikan dulu urusan kita!"

Orang berbaju putih itu meloncat marah.

Melihat orang berbaju putih itu menyerang dirinya, orang yang baru datang itu cepat meloncat ke samping.

Kemudian sambil membalikkan badan ia balas menyerang dengan cengkraman tangan kanannya ke arah mata lawan.

Lengan bajunya yang longgar itu sampai melembung saking cepatnya tangan itu bergerak.

Orang berbaju putih itu tersentak kaget juga melihat kegesitan lawannya.

Dengan amat tangkas ia menarik kepalanya ke belakang, sehingga cengkraman orang itu gagal memcapai wajahnya.

Lalu sebelum lawannya itu sempat menyusuli lagi dengan serangan lain, orang berbaju putih itu cepat melangkah dua tindak ke belakang dan kembali di tempatnya semula.

Orang yang baru datang itu juga tidak mengejar lebih jauh.

Masing-masing berdiri berhadapan kembali seperti tadi.

Masing-masing menatap lawannya dengan tajam, seolah-olah ingin menjajaki kemajuan apa yang didapat oleh lawan selama lima tahun tidak berjumpa.

Selama ini, masing-masing merasa telah memperoleh kemajuan yang pesat dalam ilmu masing-masing.

Tapi dalam gebrakan pertama tadi masing-masing merasa pula bahwa pihak lawan juga telah mendapatkan kemajuan dalam ilmu silatnya.

Oleh karena itu tampaknya keduanya menjadi lebih berhati-hati.

Masing-masing tidak berani gegabah dan memandang enteng lawannya lagi.

Sementara itu di balik tempat persembunyiannya Yang Kun menggeleng-gelengkan kepalanya.

Hatinya kagum bukan main melihat ketangkasan dan kegesitan orang-orang itu.

Inilah baru benar-benar jago silat kelas satu.

Gerakan mereka dalam menyerang, mengelak, meloncat, berputar lalu berdiri tegak kembali di tempat semula itu mereka lakukan dengan amat cepat dan manis serta tidak lebih dari pada sekejap mata!

Betapa mengagumkan!

Melihat ini, jago-jago silat seperti para pengemis Tiat-tung Kaipang, para piauwsu Kim-liong Piauwkiok dan gadis berbaju hitam itu menjadi seperti tidak ada artinya lagi.

Orang berbaju putih itu tampak mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, sehingga beberapa saat kemudian tampak semua keringat yang berada di badannya seperti menguap menjadi kabut tipis di sekeliling tubuhnya.

Bau dupa hio tercium semerbak ke mana-mana.

"Hio-yen Sinkang...!"

Lawannya menggeram.

"Kwa Sun Tek! Apakah engkau tidak dapat menunda dulu urusan kita ini? Apakah engkau tidak mau memberi sedikit kesempatan kepadaku untuk membuat perhitungan dengan Hek-eng-cu itu?"

"Tidak bisa, Seng Kun! Sebab bila kuberi kesempatan itu kepadamu, selama hidup aku tidak akan bisa mengadakan perhitungan denganmu..."

Laki-laki berbaju putih yang dipanggil dengan nama Kwa Sun Tek itu menggelengkan kepalanya.

"Maksudmu...?"

Pendatang baru yang ternyata adalah pemuda ahli pengobatan itu bertanya menegaskan.

"Maksudku... engkau tak mungkin hidup lagi bila berhadapan dengan Ongya."

"Bedebah bermulut lancang...! kalau begitu majulah kalian berbareng! Akan kulihat macam apa kepandaian kalian itu!"

Chu Seng Kun berteriak marah sekali.

Pemuda ahli pengobatan itu menerangkapkan kedua belah telapak tangannya di depan dada.

Tubuhnya tampak bergetar menahan tenaga Pai-hud Sing-kang (Tenaga Sakti Menyembah Buddha) yang tersalur ke seluruh badannya.

Paihud Sing-kang adalah ciptaan mendiang Bu-eng Sin-yok-ong yang sakti.

Lalu bersama-sama dengan hentakan napasnya yang berat Chu Seng Kun menyerang lawannya.

Kedua belah telapak tangannya yang tadi terkatup di depan dada ia lontarkan ke depan dalam jurus Kim-hongpai-thian (Burung Hong Emas Menyembah langit)!

Jurus ke tiga dari ilmu silat andalan mendiang Bu-eng Sin-yok-ong yang disebut Kim-hong-kun hoat (Ilmu Pukulan Burung Hong Emas).

Udara hangat menerpa tubuh Kwa Sun Tek.

Rasanya nyaman dan nikmat ke dalam badan.

Tapi orang itu tidak mau lengah karenanya, sebab di balik kehangatan itu terkandung bahaya yang dapat membawa maut.

Cepat Hio-yen Sing-kang yang telah ia persiapkan tadi ia salurkan ke lengan tangannya, lalu dengan membentak keras kedua tangannya mendorong ke depan untuk memapaki pukulan Chu Seng Kun.

Sebuah tenaga sedot yang luar biasa kuatnya seperti mau menarik tubuh pemuda ahli pengobatan itu ke arah lawannya.

Tapi biarpun demikian, ilmu pukulan lawan yang bersifat aneh itu tidak membuat pemuda itu menjadi takut atau tergetar hatinya.

Bagi seorang ahli pengobatan seperti dia, tak sebuah hal pun yang membuat dirinya takut atau merasa aneh.

Apalagi dia memang sudah sangat mengenal ilmu silat lawannya itu.

Adik Kwa Sun Tek adalah calon istrinya.

Dan ilmu kepandaian Kwa Siok Eng, calon istrinya itu, tidak kalah pula tingginya dengan lawannya ini.

"Deeessssssss....!!"

Dua buah tenaga sakti yang berlainan sifatnya tetapi sama sama merupakan ilmu yang sukar dicari tandingannya, saling berbenturan satu sama lain.Tampak asap mengepul dari kedua pasang tangan mereka yang bertemu.

Kwa Sun Tek tampak terhuyung-huyung ke belakang dua tiga langkah, sementara Chu Seng Kun tampak terseret pula dua langkah ke depan oleh daya sedot lawannya yang aneh itu.

Lalu keduanya berdiri tegak kembali untuk mempersiapkan diri.

Chu Seng Kun mengamat-amati kedua belah lengannya, kalau-kalau pukulan Hiat-chuo-kun-hoat (Ilmu Pukulan Penghisap Darah) lawannya dapat menembus pertahanannya.

Dan hatinya menjadi lega begitu melihat kedua lengannya tetap dalam keadaan bersih, tak setetespun darahnya yang merembes keluar dari kulitnya.

Sebaliknya Kwa Sun Tek juga meneliti keadaan di dalam tubuhnya.

Dan begitu terasa olehnya semua jalan darah dalam keadaan normal dan tidak kurang suatu apa diapun menjadi lega pula.

Beberapa saat kemudian kedua orang itu terlibat pula kembali dalam sebuah pertempuran yang dahsyat.

Mereka sama-sama keturunan dari Datuk Besar Persilatan yang hidup pada ratusan tahun yang lalu.

Kwa Sun Tek adalah keturunan Cui-beng Kui-ong dari Tai-bong-pai, sedangkan Chu Seng Kun adalah keturunan Bu-eng Sin-yok-ong!

Masing-masing mempunyai keistimewaan dan kehebatannya sendiri-sendiri.

Pertempuran itu benar-benar suatu pertempuran yang hebat dan dahsyat.

Masing-masing mengerahkan segala kemampuannya.

Kedua-duanya tidak membawa senjata.

Mereka bertempur dengan tangan kosong.

Tapi dengan tingkat kesaktian seperti mereka, tangan dan kaki sama juga berbahayanya dengan senjata.

Dengan tangan kosong mereka mampu membelah batu dengan kakinya mereka mampu meruntuhkan batu karang!

Baru kali inilah Yang Kun dapat menyaksikan sebuah pertarungan yang demikian hebatnya.

Debu dan pasir, bahkan kerikil dan batu-batu kecil yang berhamburan ke mana-mana terlanda angin pukulan mereka.

Sehingga sepintas lalu tempat tersebut seperti sedang dilanda oleh angin puting beliung.

Bahkan batu besar tempat dia berlindung juga tidak luput dari hamburan pasir dan batu tersebut.

Dan lapat-lapat hidung pemuda itu mencium bau hio yang menyesakkan nafas.

Orang berkerudung yang di kalangan persilatan dikenal dengan sebutan Hek-eng-cu itu tampak pula menjauhi badai pasir tersebut.

Di dunia persilatan orang itu mendapat gelar Hek-eng-cu, karena ilmu meringankan tubuhnya telah sempurna, sehingga banyak orang yang hanya mampu melihat bayangannya saja tanpa dapat mengenal siapa dirinya.

Meskipun demikian ternyata orang ini juga menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ilmu meringankan tubuh Chu Seng Kun yang mempesonakan itu.

Pek-in Ginkang warisan Bu-eng Sin-yok-ong itu memang bukan main hebatnya!

"Untunglah aku memperoleh warisan buku-buku pusaka itu.

Kalau tidak, akupun takkan mampu menghadapi Pek-in ginkang (Ilmu Meringankan Tubuh Awan Putih) pemuda ini."

Hek-eng-cu berkata di dalam hati.

Apa yang dikatakan oleh orang berkerudung itu memang benar adanya.

Satu-satunya kelebihan dari Chu Seng Kun atas lawannya memang hanyalah ilmu meringankan tubuhnya yang hebat itu.

Kim-hong-kun-hoat (Ilmu Pukulan Burung Hong Emas) yang dikeluarkannya ternyata tidak dapat menindih Hiat-chuo-kun-hoat lawannya.

Begitu pula tenaga Pai-hud-sinkangnya, sedikitpun tidak bisa mengungguli Hio-yen-sinkang lawannya.

Dalam segala hal mereka memang seimbang.

Maka dari itu Chu Seng Kun tidak menyia-nyiakan kelebihannya itu.

Ia mengerahkan Pek-in ginkang sepenuhnya sehingga lawannya menjadi repot dalam mengembangkan ilmunya yang aneh dan mengerikan tersebut.

Dan akhirnya biarpun lambat pemuda itu dapat mendesak laki-laki berbaju putih yang bernama Kwa Sun Tek itu.

Diam-diam Yang Kun bersorak di dalam hatinya.

Kebalikannya, orang berkerudung itu tampak tegang dan khawatir.

Jari-jarinya yang panjang-panjang itu tampak mencengkeram batu karang yang berada di sebelahnya.

"Gila! Lihai benar bocah ini!"

Gumamnya perlahan.

"Duueesssssss...!!"

Sekali lagi kedua buah pasang lengan mereka saling beradu di udara.

Chu Seng Kun tergetar mundur tiga langkah, sementara Kwa Sun Tek tampak terhuyung-huyung tidak dapat menjaga keseimbangannya.

Sejenak mereka saling berdiri beradu pandang.

Sedikitpun tidak ada tanda-tanda kelelahan setelah sekian lamanya mereka mengadu tenaga.

Tiba-tiba Chu Seng Kun dikagetkan oleh perubahan gerak gerik lawannya.

Tampak oleh pemuda ahli obat itu lawannya melipat kedua belah lengannya di depan dada seperti orang yang kedinginan.

Sedangkan tubuhnya yang kurus itu tampak berdiri lurus seperti sebuah tonggak kayu yang tertancap di atas tanah.

Hanya yang sangat aneh tapi juga sangat mengerikan adalah gerak-gerik dari tubuh yang kaku kejang tersebut.

Tubuh itu bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri seperti tonggak pohon yang mau rebah karena tertiup badai.

Dan belum juga rasa kaget itu hilang, Chu Seng Kun melihat tubuh yang kaku seperti mayat itu melayang ke arah dirinya.

Heran!

Bersamaan dengan tubuh lawan yang melayang ke arah dirinya itu, Seng Kun merasa serangkum hawa yang luar biasa dinginnya menerjang dan melibat tubuhnya.

Begitu dingin hawa tersebut sehingga rasa-rasanya pemuda itu ingin melipat lengannya seperti yang dilakukan oleh lawannya.

Selain itu, Chu Seng Kun merasa adanya suatu perubahan yang aneh pada alam sekelilingnya!

Udara seperti berubah menjadi gelap dan suasana alam seperti berubah menjadi sunyi.

Padahal pemuda itu masih melihat bintang-bintang yang bertaburan di langit.

Dan bulanpun masih pula tampak bersinar di angkasa.

"Hmm, sungguh gila! Ini pengaruh dari ilmu Kwa Sun Tek yang aneh itu. Bocah ini benar-benar telah mewarisi semua ilmu iblis dari Tai-bong-pai!"

Chu Seng Kun menggeram didalam hatinya.

Pemuda ahli obat itu lalu teringat pada kata-kata yang pernah diucapkan oleh Kwa Siong Eng, tunangannya, bahwa salah sebuah ilmu rahasia dari Tai-bong-pai yang paling mengerikan adalah Ilmu Silat Mayat Mabuk.

Ilmu tersebut sangat sukar dipelajari, karena harus mempergunakan ilmu sihir dan ilmu hitam untuk melengkapinya.

Hanya ayahnya, ketua Tai-bong-pai, yang telah menguasainya.

Ternyata pemuda berbaju putih itu kini telah menguasainya pula.

Tapi Chu Seng Kun tidak mempunyai banyak waktu untuk memikirkan ilmu silat lawan yang aneh itu.

Beberapa detik kemudian tubuh kaku dari lawannya telah meluncur tiba.

Bagai sebatang anak panah yang dilepaskan dari busurnya, kepala dari Kwa Sun Tek menghantam ke arah dadanya.

Chu Seng Kun mengerahkan Pek-in ginkangnya untuk meloncat dan menghindari serangan itu.

Dan tubuh Kwa Sun Tek meluncur lewat di sampingnya.

Sehingga tubuh yang lurus kaku itu menghujam ke arah batu besar di belakang Chu Seng Kun dengan kepala terlebih dahulu.

Yang Kun hampir saja memejamkan matanya karena tak ingin melihat kepala orang berbaju putih itu pecah berantakan menghantam batu besar tersebut.

Tapi mata yang telah hampir terpejam itu menjadi terbelalak kembali ketika melihat tubuh kaku Kwa Sun Tek itu membuat suatu gerakan aneh dan menakjubkan sebelum membentur batu.

Beberapa jengkal sebelum menghantam batu, kedua buah lengan yang semula terlipat di dalam dada tiba-tiba mengembang keluar.

Bagaikan sepasang per baja, kedua buah lengan itu melindungi kepala dan menahan daya luncur dari tubuhnya.

"Dunggggg!"

Tubuh yang lurus dan kaku itu menekuk sebentar ketika menghantam batu, lalu bagai seekor ulat daun, tubuh itu melenting kembali ke arah Chu Seng Kun dengan kecepatan yang berlipat ganda.

Kali ini tubuh kaku itu meluncur dengan kaki terlebih dahulu.

Dengan deras dan kuat tumit itu meluncur ke arah pinggang dan punggung Chu Seng Kun yang terbuka.

Kembali Yang Kun menggeleng-gelengkan kepalanya.

Pengalaman yang dilihatnya kali ini benar-benar sangat berharga sekali.

Tampak oleh Yang Kun orang berkerudung yang berdiri tak jauh dari tempatnya itu juga menghela napas kagum.

Beberapa kali dilihatnya orang itu mengangguk-angguk, sehingga tirai sutera hitam yang menutupi wajahnya itu kelihatan melambai-lambai.

Mungkin juga baru kali inilah dia menyaksikan seluruh kepandaian dari pembantunya yang dipercaya itu.

Gerakan melenting dan membalik dari Kwa Sun Tek itu memang sangat aneh dan di luar dugaan semua orang.

Termasuk pula Chu Seng Kun yang menjadi sasaran dari serangan tersebut!

Pemuda ahli pengobatan itu benar-benar tidak menyangka bahwa lawannya akan menyerang lagi dengan gerakan yang begitu aneh, sehingga ketika tumit itu tinggal sejengkal lagi dari punggungnya, baru pemuda itu menyadari akan keterlambatannya.

Dan keterlambatannya itu benar-benar dibayar mahal oleh Chu Seng Kun.

Tak ada kesempatan lagi buat pemuda ahli pengobatan itu untuk mengelakkan serangan tersebut.

Padahal untuk menangkisnya juga sulit, karena harus memutar tubuh dahulu baru menangkis.

Sehingga satu satunya jalan hanya menahan serangan itu dengan pengerahan lweekangnya.

"Desssss...!"

Kedua buah tumit Kwa Sun Tek tepat mengenai sasarannya, sehingga tubuh Chu Seng Kun terbanting dengan keras ke tanah.

Untunglah dalam saat-saat terakhir pemuda itu dengan Pek-in ginkang masih mampu menggeser badannya, sehingga sasaran dari serangan tersebut bergeser ke arah pundak dan siku tangannya.

Sekali sudah terbanting ke atas tanah, pemuda ahli obat itu sudah tidak bisa memperbaiki posisinya lagi.

Dan lawannyapun tidak mau memberi kesempatan pula, sehingga dalam keadaan terbaring Chu Seng Kun dicecar habis-habisan oleh lawannya!

Tak ada kesempatan sedikitpun bagi Chu Seng Kun untuk bangkit dari atas tanah.

Bagai seekor cacing tanah yang sedang dipermainkan oleh paruh burung bangau, pemuda itu menggeliat ke sana ke mari untuk menghindari serangan lawannya.

Dan keadaan ini tak berlangsung lama.

Beberapa saat kemudian pemuda itu terpaksa tidak dapat menghindari lagi serangan Ilmu Silat Mayat Mabuk itu.

"Desss...!"

"Aughh...!"

Tersentak Yang Kun melihat pemandangan itu.

Saking kagetnya pemuda itu meloncat keluar dari tempat persembunyiannya tanpa terasa, lalu dengan sigap menghambur ke arena untuk menolong pemuda yang pernah melepas budi kepadanya itu.

Tampak oleh Yang Kun, orang berbaju putih itu sudah bersiap-siap untuk melepaskan serangan berikutnya.

"Berhenti...!"

Yang Kun berteriak sekuat tenaga.

Tubuhnya yang jangkung itu menyambar ke arah pertempuran dengan dahsyatnya.

Tangan kanannya terulur ke depan untuk mencengkeram punggung laki-laki berbaju putih itu, dengan maksud agar orang itu mengurungkan maksudnya menyerang Chu Seng Kun yang sudah tidak berdaya.

Dan penampilan Yang Kun yang sangat tiba-tiba itu memang mengagetkan semua pihak.

Terutama orang berbaju putih yang sudah siap dengan serangan mautnya.

Orang ini mengira bahwa kawan dari Chu Seng Kun telah datang untuk menolong calon korbannya itu.

Begitu pula orang berkerudung yang sedari tadi menyaksikan pertarungan itu.

Selain sangat kaget karena tidak dapat mengetahui kehadiran Yang Kun yang berada di balik batu tersebut, orang misterius itu juga menyangka bahwa Yang Kun adalah kawan dari Chu Seng Kun pula.

"Kwa-heng, awas di belakangmu...!"

Hek-eng-cu memberi peringatan kepada pembantunya.

Orang berbaju putih itu merasakan pula hawa pukulan Yang Kun yang tertuju ke arah punggungnya, tapi dia tidak bergitu mengacuhkannya.

Selain dia sangat percaya pada kemampuan ilmunya, serangan yang tertuju ke arah punggungnya itu masih terlalu jauh pula darinya.

Sehingga ia masih mempunyai banyak kesempatan untuk menangkis atau menghadapinya setelah dia membereskan korbannya itu terlebih dahulu.

Tetapi bukan main terperanjatnya orang berbaju putih itu.

Hampir-hampir dia tidak percaya pada apa yang telah terjadi.

Ternyata semuanya berjalan di luar dugaan, tidak seperti yang telah dia bayangkan semula.

Semula Kwa Sun Tek berpikir bahwa ia masih mempunyai banyak waktu untuk menghadapi serangan ke arah punggungnya itu, karena orang yang menyerangnya itu masih empat lima meter jauhnya dari tempat dia berdiri.

Di luar dugaan serangan itu ternyata justru datang lebih cepat dari pada maksud hatinya untuk memukul mati Seng Kun!

Baru saja tangannya bergerak ke atas, serangan yang tertuju ke arah punggungnya itu telah menyelinap tiba!

Dengan tergesa-gesa Kwa Sun Tek meloncat menjauh untuk menghindari cengkeraman lawannya yang baru tiba itu.

Tapi belum sempat juga ia berbalik, tahu-tahu punggung bajunya telah kena dicengkeram lawan.

Dan di lain saat tubuhnya telah terlempar tinggi di udara.

Begitu mendarat lagi di atas tanah.

Kwa Sun Tek terlongong-longong tak habis mengerti.

Dilihatnya orang yang menyerang dirinya itu masih tegak berdiri dua tiga meter jauhnya dari tempat dia berdiri tadi.

Tapi...

benar-benar sial dangkalan, mengapa punggung bajunya sampai kena dicengkeramnya tadi?

Hek-eng-cu yang dari semula selalu mengawasi gerak-gerik Chin Yang Kun, tersentak kaget sekali setelah dengan jelas dapat mengetahui siapa sebenarnya pemuda yang menolong Chu Seng Kun itu.

Tidak itu saja.

Diapun mengetahui dengan jelas apa yang telah terjadi dengan pembantunya itu sehingga pembantunya tersebut terlempar ke udara.

"Kwa-heng...kau tidak apa-apa, bukan? Lihatlah anak muda itu! Dia...dia...bukankah dia Chin Yang Kun yang dulu kau tangkap dan kita jebloskan ke penjara di bawah tanah itu?"

"Chin Yang Kun..."

Laki-laki berbaju putih itu mendesah.

"Saudara Yang Kun..."

Terdengar suara Chu Seng Kun menyapa begitu mengetahui siapa yang telah datang menolongnya.

Dengan tersenyum puas karena dapat menolong Chu Seng Kun, Yang Kun menghampiri ahli pengobatan itu dan membuatnya bangkit dari atas tanah.

"Chu-Twako... engkau tidak apa-apa bukan?"

Yang Kun bertanya khawatir melihat muka Chu Seng Kun yang pucat. Bibirnya membiru dan tubuh yang dipegangnya terasa dingin bukan main.

"Jangan khawatir, aku tidak apa-apa...! Ini hanya pengaruh dari ilmu silat orang itu saja. Begitu aku terkena pukulannya, tenaga Pai-hud Sinkang yang kukerahkan menjadi buyar sehingga pertahananku menjadi lemah. Akibatnya pengaruh dari ilmu iblis itu memasuki diriku... saudara Yang Kun, terima kasih! Sebentar kalau aku telah memakan obat, badanku tentu akan menjadi baik kembali."

"Syukurlah kalau begitu..."

Sementara itu Hek-eng-cu dan Kwan Sun Tek semakin yakin kalau orang yang berada di depan mereka itu memang benar-benar Chin Yang Kun adanya.

"Ongya, anak ini memang bocah yang kita cari dahulu...Tapi mengapa sekarang...?"

"Benar! Aku juga sangat heran! Dari mana anak ini memperoleh ilmu yang begitu dahsyat? Kwa-heng tidak melihatnya tadi...ketika ia menyerang punggung Kwa-heng dari kejauhan, lengannya mulur (memanjang) menjadi dua kali lipat panjangnya! Oleh karena itu biar Kwa-heng meloncat pergi, tangan itu tetap mengejar juga."

"Oh? Jadi... hmm?!? Dan... lweekang anak itu juga hebat sekali! Hio-yen Sinkang yang siauwte kerahkan ternyata tidak berhasil membendung tenaganya."

"Jika demikian kita memang harus berhati-hati menghadapinya."

"Ongya apakah kita akan menangkapnya sekali lagi untuk memaksa agar dia mengaku di mana cap Kerajaan itu disembunyikan? Kita telah membongkar hampir semua goa di negeri kita, baik yang bernama goa harimau maupun yang bukan, tapi benda itu tetap belum kita ketemukan."

"Ya! Tapi kita tidak boleh memandang rendah bocah itu sekarang! Kepandaian bocah itu ternyata telah meningkat dengan hebatnya."

Tapi belum juga mereka menggerakkan kaki untuk melangkah, tampak Yang Kun dan Chu Seng Kun mendahului tiba di depan mereka.

Kedua orang ini tampak datang dengan pandang mata merah penuh rasa dendam.

Chu Seng Kun yang telah menjadi baik kembali setelah minum obat, tampak menatap Hek-eng-cu dengan mata menyala.

Sementara Yang Kun juga memandang mereka tanpa berkedip.

"Nah, Hek-eng-cu! Di mana adikku kau sembunyikan? Lekas katakan!"

Teriak Chu Seng Kun kepada Hek-eng-cu.

Tidaklah mengherankan kalau Chu Seng Kun yang biasanya tenang dan sabar itu kini dapat menjadi demikian kasar dan marahnya.

Ketenangan dan kesabaran hatinya telah habis dimakan perasaan tegang dan khawatir selama berbulan-bulan sejak ia berkelana ke seluruh pelosok negeri untuk mencari jejak adiknya yang hilang.

Apalagi usaha pencariannya itu dapat dikatakan sebagai usaha yang sangat mustahil dan penuh sia-sia.

Sehingga pertolongan dari seorang Kaisar seperti Kaisar Hanpun tidak memperoleh hasil apa-apa.

Usaha pemuda itu dalam mencari adiknya dapat diibaratkan sebagai mencari sebuah jarum yang terjatuh ke dalam samodra luas.

Sangat sulit dan mustahil diketemukan kembali!

Betapa tidak?

pemuda itu tidak mempunyai petunjuk sama sekali, ke mana atau di mana adik perempuannya itu pergi.

Pemuda itu juga tidak mengetahui, apa yang menyebabkan adiknya itu pergi meninggalkan rumah dan dengan siapa adiknya itu pergi.

Adiknya seperti hilang begitu saja dari muka bumi ini.

Satu-satunya petunjuk yang dapat dipegangnya hanyalah sebuah topi bambu lebar yang pada pinggirnya digantungi kain sutera tipis berwarna hitam.

Itupun kalau boleh dianggap sebagai petunjuk.

Karena topi tersebut hanyalah pemberian dari seorang pemilik warung, yang merasa bahwa tempat tinggalnya pernah dipakai oleh seorang laki-laki yang terlihat oleh pemilik warung itu berjalan bersama dengan adiknya.

Tapi bagaimana mungkin untuk mencari pemilik topi tersebut di antara jutaan penduduk di dunia ini?

Tapi karena terdorong oleh perasaan sayang dan cinta terhadap adiknya, membuat pemuda itu tidak pernah mengenal perasaan putus-asa.

Biarpun kawan-kawannya yang membantu dia telah putus-asa dan menghentikan usaha pencarian itu, ia tetap tekun dan terus mencari tanpa mengenal lelah.

Thian agaknya merasa kasihan juga kepada pemuda itu, sehingga akhirnya ketekunannya tersebut membuahkan hasil juga.

Ketika keluar dari kota Tie-kwan bersama-sama dengan Kwa Siok Eng, tunangannya, dan nona Ho Pek Lian, murid Kaisar Han, Chu Seng Kun menuju ke kota Lou-yang dan menginap di kota itu.

Mereka ingin memulai penyelidikan mereka di kota tersebut.

Ketika Chu Seng Kun yang selalu tekun dan selalu memanfaatkan setiap waktunya untuk mencari adiknya itu secara kebetulan berjalan-jalan seorang diri di pinggiran kota, matanya melihat seorang gemuk tinggi besar sedang berusaha mengobati luka-lukanya.

Sebagai seorang ahli obat Chu Seng Kun menjadi sangat tertarik dengan mendekati orang itu.

Maksudnya hanyalah ingin membantu orang itu mengobati luka-lukanya.

Tak disangkanya orang itu justru menjadi marah dan mengusirnya pergi.

Tentu saja keadaan itu membuat Chu Seng Kun menjadi melongo keheranan.

Sungguh aneh sekalisikap orang itu!

Biasanya orang tentu sangat berterima kasih apabila ada orang yang memperhatikan penderitaannya.

Oleh karena merasa penasaran atas sikap orang yang sangat aneh itu, Chu Seng Kun secara diam-diam justru selalu membayanginya.

Dalam hati sebenarnya ia hanya ingin mengetahui, apa sebenarnya yang menyebabkan sehingga orang itu mempunyai kelakuan yang begitu anehnya.

Kemanapun orang itu pergi, Seng Kun selalu mengikutinya.

Begitu juga ketika orang itu berlari keluar kota dan menuju ke arah bukit-bukit kecil yang melingkari kota tersebut.

Di sebuah kuil kosong yang telah hampir roboh karena tidak terawat, orang itu berhenti.

Kedua tangannya bertepuk tiga kali, setelah itu dengan mendongakkan kepala ke atas orang itu bersuit panjang satu kali.

Lalu beberapa saat kemudian dari dalam kuil terdengar suara nyaring yang mempersilahkan orang itu masuk ke dalam kuil.

"Wan Li-heng (saudara Wan)... silahkan masuk! Kami semua telah menanti Wan-Loheng sejak tadi."

Karena hari masih sore dan di sekitar tempat itu tidak ada tempat berlindung yang baik, maka Chu Seng Kun tidak berani mengikuti orang itu masuk ke dalam kuil.

Chu Seng Kun berlindung di antara semak-semak yang tumbuh tidak jauh dari bangunan tersebut.

Dengan sabar dia menanti di tempat itu, biarpun sebenarnya hatinya ingin segera mengetahui apa yang diperbuat oleh orang itu dan kawan-kawannya di dalam kuil.

Tetapi untuk berlari menyeberangi halaman kuil yg terbuka itu terang tidak mungkin!

Tetapi sebelum hari menjadi gelap, orang yang tadi dia ikuti telah melangkah keluar dari pintu kuil.

Seng Kun segera memasang matanya dengan seksama.

dia ingin tahu, siapa saja yang berada di dalam kuil tersebut.

Dan...kedua buah matanya terbelalak lebar begitu melihat orang-orang yang melangkah keluar dari dalam kuil tersebut.

Beberapa orang di antara mereka telah dikenalnya atau diketahuinya dengan baik.

Di antaranya adalah Si Tikus Tanah Beracun dan tiga orang adik seperguruannya, yaitu Iblis Kembar Jeng-bin Siang-kwi dan Si Gundul Ceng-ya-kang!

Adapun seorang lagi yang telah dikenalnya pula dengan baik adalah Song-bun-kwi Kwa Sun Tek (Setan Berkabung)!

Yaitu laki-laki rambut riap-riapan yang mengenakan baju putih bersih itu.

Tapi yang membuat kaget dan terbelalak mata Chu Seng Kun bukanlah orang-orang yang telah dikenalnya itu, tetapi justru orang yang belum pernah dilihat maupun dikenalnya malah.

Orang yang dimaksudkan itu berperawakan tinggi kurus dan melangkah di samping Song-bun-Kwi Kwa Sun Tek.

Pakaiannya yang berwarna kelabu tua itu tertutup oleh sebuah mantel hitam sampai di bawah lututnya.

Tetapi bukan pakaian maupun jubah mantelnya yang lebar itu yang membuat Chu Seng Kun tergetar di dalam hati, tapi...Topi lebar yang dikenakan oleh orang itu!

Topi itu terbuat dari anyaman bambu yang sangat halus.

Dan pada pinggirannya terjuntai kain sutera tipis yang menutupi wajah pemakainya.

Otomatis Chu Seng Kun menjadi teringat pada topi pemberian seorang pemilik warung minuman kepadanya.

Topi tersebut sampai sekarang masih disimpan dengan baik dan rupa maupun bentuknya...persis dengan yang dipakai oleh orang yang sedang keluar dari kuil itu!

Chu Seng Kun merasa dadanya seperti mau meledak saking menahan perasaan gembira yang memenuhi seluruh rongga hatinya.

Ia seperti menemukan jarum yang selama ini dicaricarinya di dalam gelombang samodra luas.

Biarpun dalam kegembiraannya kali ini dia juga tidak mau meninggalkan kewaspadaannya.

Dia tidak mau tergesa-gesa mencegat orang itu untuk menanyakan persoalan adiknya.

Sekarang orang itu sedang dikelilingi oleh tokoh-tokoh silat yang bukan sembarangan.

Mereka adalah iblis-iblis dari dunia persilatan yang mempunyai kepandaian atau kesaktian yang tidak lumrah manusia.

Begitulah, karena takut kehilangan jejak orang bertopi lebar tersebut, Chu Seng Kun tidak sempat memberi tahu kepada nona Ho dan tunangannya di penginapan.

Dengan Pek-in ginkangnya yang hebat pemuda itu membuntuti orang-orang tersebut kemanapun mereka pergi, dengan sangat hati-hati sekali.

Tujuh orang itu berlari-lari menyusup hutan keluar hutan dan melalui tanah kosong serta perbukitan.

Dan akhirnya mereka masuk ke dalam sebuah lembah yang dikelilingi oleh bukit-bukit yang tinggi.

Beberapa orang bersenjata tampak menyongsong mereka, kemudian bersama-sama dengan ketujuh orang itu memasuki pintu gerbang lembah.

Chu Seng Kun terpaksa mencari tempat yang terlindung dan menaiki bukit untuk masuk ke dalam lembah tersebut.

Dan...

Seng Kun melihat perkemahan orang-orang bersenjata yang menebar di tanah yang luas!

Tampak pula oleh Seng Kun ketujuh orang itu telah berada di suatu tanah yang lapang, dikelilingi oleh ribuan orang bersenjata.

Seng Kun menjadi berdebar-debar hatinya.

Pasukan apa pula ini?

Mengapa ada pemusatan pasukan di tempat yang tersembunyi begini?

Pasukan siapakah gerangan?

Tak mungkin kalau orang-orang ini adalah pasukan pemerintah, karena pasukan kerajaan maupun pasukan para kepala daerah tentu memakai seragam dan perlengkapan perang yang komplit.

Sedangkan pasukan yang berada di lembah itu tampak bercampur baur serta tak berseragam.

Sepintas lalu seperti kumpulan orang-orang kang-ouw (persilatan) yang sedang berkumpul untuk memilih seorang Bengcu (pemimpin rakyat)!

Malam itu Chu Seng Kun terpaksa tidur di atas pohon.

Maksud hatinya untuk bertemu empat mata dengan orang berkerudung itu belum dapat terlaksana.

Orang itu selalu dikelilingi oleh kawan-kawannya!

Menjelang pagi Seng Kun dikejutkan oleh langkah kaki beberapa orang yang lewat di bawah pohon tempat dia berlindung.

Ketujuh orang yang dibuntutinya itu tampak sedang pergi meninggalkan lembah itu lagi.

Dengan tergesa gesa Seng Kun turun dari atas pohon dan mengikuti langkah mereka.

Ketujuh orang itu berlari menuju ke arah sungai dan menyewa sebuah perahu besar.

Chu Seng Kun terpaksa menyewa sebuah perahu pula.

Mereka berperahu hampir sepanjang hari.

Beberapa buah dusun dan kota telah mereka lewati, sehingga akhirnya pada suatu sore hari perahu orang-orang itu berlabuh di suatu perkampungan kecil.

Ketujuh orang itu turun dari perahu dan kembali berlari-lari melintasi bukit dan pegunungan.

Dan akhirnya mereka berhenti di kaki sebuah bukit terjal yang mempunyai puncak menembus awan.

Satu persatu mereka merembet naik.

Chu Seng Kun yang selalu mengikuti langkah mereka juga turut memanjat tebing itu pula.

Sampai di atas tampak oleh pemuda itu sebuah gua besar yang menghadap ke arah timur.Mulut gua itu menyerupai mulut seekor harimau yang sedang menganga.

Tempat itu benar-benar sangat sepi.

Ketujuh orang yang telah naik terlebih dahulu tadi tak seorangpun yang kelihatan.

Agaknya mereka telah masuk semua ke dalam gua tersebut.

Biarpun hatinya sangat berhasrat untuk melihat ke dalam.

tapi Chu Seng Kun tidak berani secara gegabah memasuki gua itu.

Pemuda itu memilih di luar saja menunggu mereka.

Bintang tampak mulai bermunculan di langit.

Sinarnya yang berkelap-kelip itu ternyata mampu mengusir kegelapan yang menyelubungi bukit terjal tersebut, sehingga Seng Kun dapat melihat dengan jelas seluruh permukaan bukit itu.

Dengan hati tegang Seng Kun duduk mengawasi ke arah mulut gua.

Dan baru pada saat menjelang tengah malam orang-orang itu keluar lagi dari dalam gua.

wajah mereka kelihatan lesu, marah dan kecewa.

"Gila! Mungkinkah pemuda itu membohongi aku?"

Tiba-tiba orang yang pertama-tama dibuntuti Chu Seng Kun itu mengeram marah. Sambil melangkah ke tempat di mana mereka tadi memanjat tebing, kawan-kawannya menyabarkan orang itu.

"Sudahlah, Wan-Loheng! Mungkin yang dimaksudkan oleh pemuda itu bukanlah Goa Harimau Gunung) ini. Mungkin yang dimaksudkan adalah Goa Harimau yang lain."

Tee-tok-ci yang berperawakan kecil itu menghibur dengan suaranya yang nyaring.

"Benar...! Rasanya memang tidak mungkin kalau bocah itu sampai membohongi Wan Lo-Cianpwe. Sandiwara yang Wan Lo-Cianpwe lakukan waktu itu sungguh sangat hebat, sampai aku sendiri juga tidak menyangka maupun menduganya."

Song-bun-kwi Kwa Sun Tek ikut meredakan kemarahan orang itu.

"Tentu saja Kwa-sicu tidak akan menduga akan hal itu, karena sandiwara itu memang telah dipersiapkan oleh Ongya untuk menjebak bocah she Chin itu. Kami sebelumnya juga belum pernah mengenal Wan-Loheng! Baru setelah Ongya menemui kami dan Tee-tok-ci suheng serta memberi perintah tentang rencana jebakan itu kami berkenalan dengan Wan-Loheng,"

Salah seorang dari Jeng-bin Siang-kwi berkata sambil tersenyum ke arah kawannya yang berbaju putih tersebut.

Orang berkerudung yang selalu diincar oleh Chu Seng Kun itu tampak menghentikan langkahnya, kemudian kepalanya yang tertutup oleh kerudung hitam itu menoleh kepada orang yang dipanggil dengan nama Wan-Loheng-tersebut.

"Wan-Loheng jangan cepat menjadi kecewa! Perkataan saudara-saudara kita ini memang benar. Marilah kita pergi ke Laut Timur! Aku pernah mendengar bahwa di salah satu pantainya juga terdapat sebuah goa yang bernama Goa Harimau. Mungkin goa itulah yang dimaksudkan oleh pemuda itu."

Demikianlah, dengan terpaksa Chu Seng Kun mengikuti mereka kembali ke arah yang mereka tuju.

Pemuda itu selalu berharap bahwa sekali waktu orang berkerudung tersebut pergi meninggalkan teman-temannya barang sebentar agar ia dapat berhadapan muka satu lawan satu.

Tapi harapannya itu tidak pernah terlaksana.

Orag itu kelihatannya sangat diagung-agungkan oleh teman-temannya, sehingga kemanapun orang itu pergi tentu ada beberapa orang yang menemaninya.

Jilid 08 Selain bingung memikirkan siapa sebenarnya wajah di balik kerudung itu, Chu Seng Kun sangat kaget melihat apa yang dilakukan oleh kelompok tujuh orang tersebut di sepanjang perjalanan mereka.

Hampir di setiap tempat ketujuh orang itu tentu mengunjungi tempat-tempat pemusatan pasukan liar yang tersembunyi di daerah sepi dan jarang dikunjungi orang.

Lambat-laun Chu Seng Kun menjadi curiga juga.

Kelihatannya orang-orang itu telah mempersiapkan sebuah pemberontakan terhadap kekuasaan pemerintah.

Tak mungkin kelompok-kelompok pasukan orang bersenjata yang sedemikian banyak dan di tempatkan di berbagai daerah seperti yang dilihatnya itu hanya merupakan sebuah pertemuan antara orang-orang persilatan.

Orang-orang itu tentulah merupakan sebuah kekuatan yang dipersiapkan untuk melakukan suatu hal yang besar dan hebat.

Dan satu-satunya kemungkinan yang paling tepat adalah...

sebuah pemberontakan!

Chu Seng Kun mengikuti mereka sampai di daerah pantai Laut Timur.

Dengan lebih meningkatkan kewaspadaannya pemuda itu selalu membayang-bayangi ketujuh orang tersebut, karena di tempat yang terbuka seperti itu sungguh sangat berbahaya baginya.

Orang-orang itu berjalan menyusuri pantai untuk mencari goa yang mereka maksudkan.

Tapi setelah berhari-hari mereka menyusuri pantai, goa itu baru mereka ketemukan.

Dan kali inipun mereka dikecewakan lagi dengan kenyataan bahwa di dalam goa tersebut juga tidak mereka dapatkan benda yang mereka cari-cari itu.

Kemudian ketujuh orang itu pergi meninggalkan daerah pantai tersebut dan mengembara kembali untuk mencari sebuah goa yang bernama Goa Harimau.

Dan seperti seekor anjing pelacak yang baik Chu Seng Kun membuntuti mereka dengan sabar dan tekun.

Berbulan-bulan mereka berjalan dari tempat yang satu ke tempat yang lain, hingga akhirnya mereka tiba di dekat Kotaraja.

Dan secara kebetulan ketujuh orang tersebut saling berpisah pula di tempat itu.

Masing-masing mendapat tugas dari orang berkerudung tersebut untuk memeriksa dan melihat keadaan pasukan-pasukan mereka sehubungan dengan terjadinya bencana gempa bumi dua hari yang lalu.

Dan saat yang seperti itulah yang sangat dinanti-nantikan oleh Chu Seng Kun.

Berhadapan muka satu lawan satu dengan orang berkerudung itu!

Tapi ternyata kali ini Chu Seng Kun salah duga lagi.

Kalau selama ini dia dapat membayang-bayangi mereka hal itu disebabkan oleh karena mereka selalu berjalan bersama-sama.

Sehingga masing-masing dari mereka tidak pernah mempergunakan ginkang mereka secara sepenuhnya.

Tapi begitu tinggal berjalan seorang diri, orang berkerudung itu ternyata tancap-gas dengan ginkangnya!

Sebentar saja orang itu hilang lenyap dan pandang matanya, sehingga Chu Seng Kun yang keturunan jago ginkang nomer wahid di dunia itu menjadi kehilangan jejak sama sekali!

Tentu saja Chu Seng Kun menjadi penasaran sekali.

Jerih payahnya selama ini ternyata lenyap begitu saja.

Berbulan bulan dia hidup seperti orang gila, makan tak teratur tidurpun tak tentu sehingga tubuhnya menjadi kurus kering dan matanya cekung.

Tapi begitu kesempatan itu terpampang di depan mata, buruan itu lenyap tanpa dia sanggup menahannya.

Dapat dibayangkan betapa sakit dan penasaran hatinya!

Ingin rasanya dia menangis.

Tahu begitu, lebih baik dia menggasak orang itu dulu-dulu!

Tak perduli orang tersebut berkawan atau tidak!

Chu Seng Kun menjadi teringat kembali pada tunangannya yang ditinggalkan di kota Lou yeng tanpa pamit itu.

Ah, gadis itu tentu bingung mencarinya.

Apa lagi sampai berbulan bulan dia tak memberi kabar maupun berita apa apa.

Ah, jangan-jangan gadis yang sangat mencintainya itu menjadi pendek pikiran.

Tapi...

tapi disana ada nona Ho Pek Lian yang tentu dapat menghiburnya dan mengawaninya!

Hmm, ternyata kekhawatirannya terhadap nasib adik satu-satunya itu membuat dia melupakan segala-galanya.

Sampai-sampai keadaan dirinya sendiripun juga dilupakannya!

Bagaikan orang yang tidak waras pemuda itu berputar putar di daerah tersebut untuk mencari-cari orang berkerudung yang lenyap dari depan matanya.

Oleh karena itu dapat dimengerti kalau di depan telah diceritakan betapa marah dan kasarnya pemuda itu ketika dapt menemukan kembali buruannya di dekat mata air baru tersebut!

Marah dan penasaran, tapi juga lega!

"Hek-eng-cu...

dimana adikku kau sembunyikan?

Katakanlah lekas!"

Chu Seng Kun mengulangi bentakannya. Orang berkerudung itu kelihatan tersinggung hatinya.

"Huh, mengapa kau tanyakan hal itu kepadaku? Apakah...?"

"Diam! Jangan mungkir! Lihat, benda apakah ini?"

Chu Seng Kun membentak lagi dengan keras.

Tangannya merogoh buntalan yang berada di atas punggungnya, lalu mengambil sesuatu dan membantingnya di depan orang tersebut.

Hek-eng-cu hampir terlonjak saking kagetnya.

Di depannya, diatas tanah, terlentang sebuah topi lebar yang serupa benar dengan topi kerudung yang sekarang dikenakan di atas kepalanya.

Oleh karena itu mulutnya menjadi terdiam tak bisa berkata apa-apa.

"Seseorang telah memberi tahu kepadaku, bahwa orang yang membawa pergi adik perempuanku ialah orang yang selalu mengenakan topi khusus seperti ini. Setahun lebih aku berkelana di seluruh pelosok negeri, kulihat dan kuselidiki semua tokoh persilatan yang ada, ternyata hanya engkaulah yang mengenakan tanda khusus seperti ini. Oleh karena itu engkau tidak bisa mengelak lagi..."

"Benar! Akulah yang menculik gadis ayu itu! Nah, engkau mau apa? Membalas dendam? He-he"

Kalau begitu... ayolah! kuantar sekalian kau menyusul dia ke akherat!"

"A-apa k-katamu...? kau... kau a-apakan adikku?"

Chu Seng Kun tergagap.

"Kubunuh! Kubunuh dia setelah kuperkosa lebih dahulu...!"

Jawab orang berkerudung itu menyakitkan hati.

Wajah pemuda yang cekung kurus itu seketika menjadi pucat!

Jantungnya seakan copot dengan mendadak sehingga aliran darahnya juga seakan berhenti mengalir pula!

Bibirnya tampak bergetar, tapi tak sebuah suarapun yang terucapkan!

Lidahnya keluar, matanya melotot!

"Bangsat...!"

Akhirnya bibir itu mengeluarkan suara serak dan perlahan.

Ternyata Hek-eng-cu tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Selagi lawannya dalam keadaan kaget dan berdiri mematung seperti orang kehilangan akal, ia menyerang dengan sepenuh tenaganya.

Memang agaknya dia tidak ingin membuang-buang waktunya di tempat itu.

Maka sekali gempur dia ingin membinasakan Chu Seng Kun.

Perbawa dari pukulan orang itu memang benar-benar menggiriskan!

Tidak heran kalau orang-orang sakti seperti Song-bun-kwi, Tee tok-ci, Jeng bin Siang-kwi dan yang lain-lain sampai begitu mengagung-agungkan dan begitu tunduk kepadanya.

Perbawa dari pukulan yang kini sedang dilontarkan ke arah Chu Seng Kun itu ternyata tidak hanya dirasakan oleh pemuda ahli obat tersebut tetapi juga dirasakan oleh orang-orang yang sekarang berada di tempat itu.

Termasuk pula Chin Yang Kun dan Song-bun-kwi Kwa Sun Tek!

Setiap orang yang sekarang berdiri di sekitar orang berkerudung tersebut merasa seolah-olah dari segala penjuru bertiup angin badai yang menggencet ke arah diri mereka masing-masing, sehingga tubuh mereka seperti terpaku di atas tanah tempat mereka berpijak.

Sukar sekali rasanya untuk menggerakkan anggota badan mereka.

"Pat-hong sin-ciang (Tangan Sakti Delapan Penjuru)...!"

Song-bun-kwi berbisik perlahan.

Dapat dibayangkan, jikalau yang lain saja sampai merasakan kehebatan ilmu tersebut, apalagi Chu Seng Kun yang langsung menjadi sasaran dari pada ilmu pukulan itu.

Lebih lebih pemuda itu kini sedang dalam keadaan bengong ditempatnya!

Untunglah Yang Kun yang sedari tadi selalu memperhatikannya segera bergerak menolong.

Lebih dahulu pemuda itu mengerahkan Liong cu-I-kangnya untuk mengusir pengaruh ilmu lawan yang mengerikan tersebut, setelah itu baru dia maju menyongsong pukulan lawan dengan kedua belah tangannya.

Di balik kain kerudungnya Hek-eng-cu tersenyum menghina.

Anak muda ini sungguh tidak melihat tingginya langit, sehingga berani menyongsong pukulannya yang dahsyat.

Jangankan baru bocah kemarin sore seperti dia, sedang orang-orang sakti seperti mendiang Empat Datuk Besar Persilatan itu jika masih hidup tentu harus berpikir seribu kali bila ingin adu tenaga dengan dirinya!

"Bresss...!!"

Yang Kun merasakan sebuah kekuatan yang maha dahsyat menghantam dadanya dan menghimpit seluruh urat-urat darahnya.

Untuk sesaat pemuda itu menjadi gelagapan seperti anak ayam terbenam di dalam empang.

Tubuhnya yang jangkung itu bergetar menahan Pat hong-sin-ciang yang maha hebat!

Memang.

Betapapun tingginya tenaga Liong-cu I-kang yang kini terkandung di dalam tubuh Yang Kun, tapi pemuda itu belum dapat menyesuaikan dirinya, sehingga kekuatan tersebut belum mampu dia kendalikan maupun dia pergunakan menurut keinginan hatinya.

Dapat diibaratkan sebagai sebuah pusaka yang ampuh, kehebatan maupun kedahsyatannya akan tetap tersembunyi bila berada di tangan seorang yang belum dapat menjiwai dan mengungkapkannya.

Antara orang dan pusaka itu harus terdapat suatu pertalian jiwa dan persenyawaan yang sangat erat!

Dan hal seperti itu tentu saja harus membutuhkan waktu dan usaha yang lama.

Padahal Yang Kun baru mendapatkan tenaga sakti itu dua hari yang lalu.

Meskipun demikian, Liong-cu I-kang memang bukan ilmu yang sembarangan.

Apalagi telah dipupuk dan dihimpun selama seratus tahun lebih oleh orang sakti seperti Chin Hoa itu.

Kedahsyatan dan keampuhannya tak dapat diragukan lagi.

Oleh karena itu biarpun berada di tangan seorang yang belum berpengalaman seperti Chin Yang Kun, kehebatannya toh masih terpancar pula dengan sendirinya!

Ketika tangannya beradu dengan tangan Hek-eng-cu, untuk sesaat Yang Kun memang menjadi gelagapan seperti anak ayam tercebur ke kolam.

Tapi sesaat kemudian tenaga sakti Liong-cu I-kang yang tersimpan di dalam tubuhnya meronta dengan dahsyat dan menggempur gencetan Pat-hong-sinciang lawan bagai seekor ayam aduan yang membalas sabetan Iawan dengan tajinya!

Akibatnya, orang berkerudung itulah kini yang menggelepar seperti ayam jago kalah perang.

Senyum hina yang tadi terlukis di balik kerudungnya seketika lenyap bersama dengan terbantingnya dia dari tempatnya berdiri.

Mata di balik kerudung itu juga melotot seakan tak percaya pada apa yang telah terjadi!

Pat-hongsin-ciang yang dibangga-banggakannya itu ternyata dengan mudah digempur oleh kekuatan lawan yang masih sangat muda tersebut.

Song-bun kwi Kwa Sun Tek melompat ke depan untuk menolong kawannya, tapi Hek-eng-cu dengan tangkas telah berdiri tegak kembali.

Tak seorangpun mengetahui apa yang tersimpul pada wajah yang terbungkus oleh kerudung hitam tersebut.

Yang terang orang itu seperti menggigil menahan suatu perasaan yang tak tertahankan.

Kadang-kadang secara tidak sadar jari-jarinya tampak berusaha menggaruk kulit tubuhnya yang terbungkus mantel jubah yang lebar itu, seakan di balik baju dan mantelnya tersebut telah bersarang kutu dan semut gatal.

Tentu saja kawannya merasa heran sekali melihatnya!

Tapi sebelum semuanya menyadari apa yang telah terjadi, orang berkerudung itu telah menyambar lengan pembantunya dan lenyap ditelan oleh redupnya malam.

Ketika Yang Kun bermaksud untuk mengejar Chu Seng Kun segera mencegahnya.

"Percuma! Orang itu mempunyai ilmu meringankan tubuh yang dinamakan orang Bu-eng Hweteng. Sebuah ilmu sakti yang dahulu pernah dipunyai oleh mendiang Bit-bo-ong. Tak seorang pun di dunia ini yang mampu mengejarnya apa bila dia sudah berlari begitu!"

"Tapi... bagaimana dengan... dengan nona...?"

"Adikku? saudara Yang Kun terima kasih! Terima kasih atas perhatian saudara terhadap adikku. Yang-hiante tentu juga dapat merasakan betapa dendamku pada orang berkerudung itu. Dia telah"

Ohh, lihat"

Aku tentu akan membunuhnya sendiri nanti!

Tapi aku sudah terluka, padahal dia sakti bukan main.

Entah dari mana asalnya, ternyata orang itu kini mewarisi semua ilmu-ilmu iblis dari Si Raja Kelelawar Bit-bo-ong almarhum lengkap dengan seluruh ciri-ciri kebesarannya""

"Lalu..., mengapa kita melepaskannya? Belum tentu kita akan kalah!"

"Sudahlah, Yang-hiante! Aku percaya pada suatu saat tentu akan kuketemukan juga dia, lambat atau cepat. Tapi aku harus bersabar dan tidak boleh bertindak sembrono apabila aku ingin berhasil dalam membalas dendam terhadapnya. Karena salah-salah aku bisa gagal atau menjadi korbannya.Oleh karena itu sekarang yang harus aku perbuat adalah mengobati lukaku, kemudian membenahi ilmu silatku. Baru setelah itu aku akan mencarinya lagi untuk membunuhnya! Dan aku berjanji kepada diriku sendiri bahwa orang itu akan dengan...cara yang sangat sengsara sekali!"

Chu Seng Kun mengakhiri keterangannya dengan nada yang mengerikan sekali, sehingga Yang Kun yang mendengarkan kata kata itu menjadi meremang bulu kuduknya.

Kalau yang mengucapkah kata seperti itu adalah orang lain, mungkin Yang Kun tidak akan merasa ngeri seperti itu.

Tapi karena yang mengucapkan sekarang adalah Chu Seng Kun, seorang ahli pengobatan yang ia kenal sangat sabar dan lemah lembut, maka Yang Kun ikut merasa seram pula mendengarnya.

Tapi dengan demikian Yang Kun semakin bisa merasakan, gejolak apa yang sebenarnya sedang bergulat di dada pemuda ahli pengobatan itu.

Hanya karena cara berpikirnya yang telah matang itu saja yang membuat Tabib muda itu mampu mengendalikan perasaannya.

Yang Kun membuang napas dengan berat.

Ia sangat terpengaruh akan perkataan Chu Seng Kun tersebut sehingga dia menjadi urung menceriterakan persoalannya sendiri yang mungkin juga akan melibatkan orang berkerudung itu pula.

"Yang-hiante... sebelumnya kita belum pernah saling mengenal sama sekali. Tapi agaknya Tuhan telah menakdirkan kepada kita untuk saling bersahabat dan saling menolong. Dua kali kita bertemu dan kedua pertemuan itu benar benar sangat bermanfaat bagi kita masing masing. Eh... kemana saja Yang-hiante selama beberapa bulan ini? Agaknya Yang-hiante telah memperdalam ilmu silat serta tenaga dalam yang hilang itu, benarkah? Kulihat lweekang Yang-hiante telah pulih kembali malah kurasa menjadi lebih hebat malah! Hek-eng-cu yang tersohor dengan Pat hong-sin ciangnya yang berbau sihir itupun dapat saudara gertak dengan sekali pukul."

Yang Kun mengangguk biasa. Sedikitpun tidak ada tanda tanda kalau dia merasa senang dengan kemenangannya itu.

"Chu-Twako, siauwte memang merasa penasaran sekali atas lenyapnya Iweekang siauwte dahulu itu. Maka siauwte lantas mencari tempat sepi untuk mempelajari kembali apa yang telah hilang itu,"

Pemuda itu berbohong.

Sebenarnya Chu Seng Kun kurang begitu mempercayai jawaban tersebut, tapi sebagai orang yang tidak mau mencampuri urusan pribadi orang lain maka dia tidak mengurusnya lebih lanjut.

"Lalu ke mana tujuan Yang-hiante sekarang?"

Tanyanya untuk mengalihkan pembicaraan mengenai hal itu. Tiba-tiba Yang Kun mengertakkan giginya.

"Seperti juga dengan Chu-Twako, Siauwtepun sedang mencari musuh besar yang telah menganiaya siauwte dan keluarga Siauwte!"

Geramnya keras.

Suasana menjadi hening kembali.

Masing-masing sibuk dengan khayalan mereka sendiri-sendiri.

Mendadak terdengar suara ketawa riuh di kejauhan yang mengagetkan mereka.

Yang Kun tiba-tiba menjadi teringat akan maksudnya semula, yaitu untuk menghajar para perampok yang menculik dan menduduki dusun sebelah!

"Chu-Twako!

Suara itu adalah suara para perampok yang sedang berpesta pora di dusun sebelah.

Menurut beberapa orang penduduk yang tadi siauwte temui, mereka telah mengganggu dan menculik gadis-gadis di daerah ini.

Maka siauwte saat ini sebenarnya sedang dalam perjalanan ke tempat itu."

"Hah? Ada perampok di dekat Kotaraja? Gila, orang-orang itu benar benar sangat berani! Agaknya mereka memanfaatkan keadaan saat ini, dimana Kaisar dan para perajuritnya tentu sedang sibuk dengan urusan mereka sendiri sendiri akibat malapetaka gempa itu. Huh, Yang-hiante! Marilah, kita pergi bersama-sama ke sana! Akupun paling benci dengan segala macam perampok!"

Kedua orang pemuda yang sama-sama jangkungnya itu bergegas pergi menuju ke tempat para perampok itu berpesta pora.

Masing-masing mengerahkan ginkang mereka yang tinggi.

Tetapi baru saja mereka menginjakkan kakinya di jalan besar yang menuju ke dusun itu, telinga mereka dikejutkan oleh suara keleningan kuda yang datang dari arah utara.

Chu Seng Kun yang berada di sebelah depan cepat menghentikan larinya, sehingga Chin Yang Kun juga ikut berhenti pula di sampingnya.

"Sebentar, Yang-hiante! Kita lihat dulu siapa yang datang. Jangan-jangan Hek-eng-cu kembali lagi dengan membawa teman-temannya. Mari kita bersembunyi dahulu!"

Begitu kedua orang tersebut meloncat ke dalam semak semak yang tumbuh di pinggir jalan, dari utara muncul seorang gadis muda berpakaian dan berdandan sangat mewah sedang menuntun kuda yang didandani dengan sangat mewah juga.

Agak jauh di belakangnya tampak berjalan dua gadis pula.

Hanya dandanan kedua orang gadis itu biarpun bersih tapi tidak semewah gadis yang menuntun kuda tersebut.

Kedua orang gadis masing-masing juga menuntun kuda pula.

Hanya bedanya kuda yang mereka tuntun itu juga tidak didandani dengan mewah seperti kuda yang didepan itu.

Chu Seng Kun dan Chin Yang Kun mengawasi ketiga orang gadis itu dengan heran.

Keduanya sibuk menduga duga, mengapa ketiga orang gadis itu membiarkan kuda mereka berjalan tanpa menungganginya?

Apakah mereka takut mengendarai kuda pada malam hari dan takut terperosok ke dalam semak atau lubang yang dalam?

Tapi saat itu suasana cukup terang benderang.

Bintang dan bulan tampak bersinar dengan cemerlang diatas langit.

Semakin dekat dengan tempat persembunyian mereka, semakin jelas pula wajah dan dandanan mereka.

Gadis yang berjalan di depan itu ternyata sangat cantik sekali dan benar-benar masih muda belia.

Umurnya tentu tidak lebih dari pada enam belas tahun.

Pakaiannya terbuat dari kain sutera halus yang dihiasi dengan berbagai macam perhiasan yang mahal-mahal.

Sedangkan rambutnya disanggul dan dikepang menjadi dua bagian.

Beberapa buah tusuk kundai emas yang dihiasi dengan batu-batu giok yang mahal tampak menancap di sanggulnya.

Lengannya yang putih dan halus itu penuh dengan gelang gelang emas yang bermatakan intan berlian, sehingga di bawah sinar bulan dan bintang, lengan itu seperti dihinggapi ribuan kunang-kunang yang gemerlapan!

Gadis cantik itu menuntun seekor kuda putih yang tegar dan gagah.

Tubuhnya yang panjang mengkilap dengan otot yang keras melingkar-lingkar itu menandakan kalau kuda tersebut adalah seekor kuda yang hebat.

Apalagi dengan pelana dan hiasan kendali yang bertaburan batu-batu permata, membuat kuda itu semakin terlihat gagah dan anggun.

Sayangnya kuda itu berjalan dengan kaki pincang.

Kaki depan yang sebelah kiri tampak membengkak di bawah lututnya.

Mungkin hal itulah yang menyebabkan gadis itu tidak mau menaikinya.

Beberapa kali kuda itu memperdengarkan rintihannya sehingga beberapa kali pula gadis cantik itu menghentikan langkahnya guna membujuk dan membelai kuda tersebut.

Dua orang gadis yang berjalan beberapa Iangkah di belakang itu ternyata berpakaian seperti seorang pelayan.

Masing-masing juga menuntun kuda berwarna coklat yang kelihatan tegap pula biarpun tidak secantik dan segagah kuda putih itu.

Dan melihat sepintas lalu Yang Kun dan Seng Kun sudah dapat menduga kalau kedua gadis itu adalah pelayan dari gadis cantik itu.

"Chu-Twako, gadis ini benar-benar tidak mengenal bahaya! Masa dalam suasana yang keras dan banyak orang jahat seperti ini malah mempertontonkan kekayaannya ke mana mana,"

Yang Kun berbisik perlahan.

"Benar! Baru kuda putih yang dibawanya saja setiap orang tentu mengincarnya. Kuda itu tentulah seekor kuda mustika yang mampu berlari seribu lie dalam sehari..."

Chu Seng Kun mengangguk.

"Dan celakanya gadis itu justru berjalan menuju ke dusun yang sedang diduduki oleh para perampok itu!"

Sambung Yang Kun dengan perasaan khawatir.

"Chu-Twako, apakah kita akan menghentikannya dan memberi tahu tentang bahaya yang kini berada di depan matanya?"

Chu Seng Kun tersenyum menyaksikan kekhawatiran kawannya itu.

"Yang-hiante, kenapa hiante menjadi repot amat? Kalau kita secara tiba-tiba lalu menghadangnya, apakah bukan kita sendiri yang akan dia curigai sebagai perampoknya? Ingat, hari telah malam dan kita belum saling mengenal dengan gadis itu..."

"Wah... lalu bagaimana yaa...?"

"Yaa biarkan saja mereka berlalu...! kemudian kita nanti berjalan agak jauh di belakangnya, sambil bersiap-siap untuk menolongnya apabila mereka mendapat kesukaran di dusun itu. Bagaimana Yang-hiante?"

Yang Kun menunduk sambil mengerutkan alisnya, lalu kembali mendongak ke depan.

"Terserah Chu-Twako sajalah..."

Keduanya lalu duduk kembali di atas rumput.

Celakanya, ketiga orang gadis itu justru datang mendekati semak-semak yang kini sedang mereka pakai untuk bersembunyi, lalu duduk bersama melepaskan lelah di atas batu di depan semak tersebut.

Bau harum semerbak menyentuh hidung mereka sehingga udara yang mereka isap seakan bertambah segar.

"Bersabarlah untuk beberapa saat lagi, Hong ma! Kotaraja sudah tidak jauh lagi dari sini. Di sana tentu banyak tabib yang akan dapat mengobatimu..."

Gadis cantik itu menghibur sambil membelai kepala kuda putihnya.

Kedua orang pelayan itu tampak sibuk dengan barang bawaan mereka.

Setelah itu mereka seakan berlomba untuk melayani gadis cantik tersebut.

Ada yang membenahi pakaian si gadis yang agak kedodoran, ada yang merapikan rambutnya yang sedikit kotor dan tak teratur.

Gadis yang manja, Seng Kun dan Yang Kun berkata di dalam hati.

Gadis cantik itu tampak menepiskan tangan-tangan yang sibuk melayani dirinya.

Lalu dengan gaya seorang majikan yang sudah terbiasa dilayani segala keperluannya ia memberi perintah kepada pelayanpelayannya tersebut.

"A-Kin! kau pergilah bersama A-Kun mencari air bersih untuk membasuh muka dan tanganku. Kotor dan lengket benar rasanya pipiku ini..."

Kedua orang pelayan itu tampak ragu-ragu dan berat meninggalkan majikannya.

"...Lalu siapakah yang akan menemani siocia (nona) di sini?"

"Teman? Uh...!"

Gadis itu mengerenyitkan cuping hidungnya.

"Di sini telah banyak kerbau yang sudah setahun tidak dimandikan... mengapa kalian masih repot memikirkan aku pula?"

Kontan Yang Kun dan Seng Kun mencium baju mereka masing-masing lalu menoleh dan saling berpandangan dengan senyum kecut di wajah mereka.

Kurang ajar!

Apakah gadis itu menyindir mereka?

Kalau benar, memang sungguh keterlaluan sekali bocah ini!

Kedua orang pelayan itu memandang majikannya dengan bingung.

"Kerbau bau? A-apakah maksud siocia...?"

Pelayan yang berbaju kuning membelalakkan matanya dengan bingung.

"Sudahlah! Cepat kalian pergi mengambil air!"

Kedua orang pelayan itu segera melangkah dengan tergesa-gesa biarpun hati mereka masih diliputi berbagai macam pertanyaan.

Mereka kelihatan sangat takut kepada nona majikannya yang masih sangat muda itu.

"Nah, sekarang keluarlah kalian semua dari semak-semak itu!"

Gadis tersebut berkata sambil menengadahkan mukanya yang cantik.

Suaranya terdengar acuh dan sombong serta sangat memandang remeh pada orang lain.

Seperti suara seorang majikan yang sedang memerintah hambanya.

Chu Seng Kun meraih tangan Chin Yang Kun untuk mencegah tapi terlambat!

Pemuda yang berada di sampingnya itu telah berdiri seakan menjawab tantangan yang dikeluarkan oleh gadis tersebut.

Mata temannya yang tajam itu tampak memandang dengan sangat gemas, seakan hilang semua perasaan simpatinya terhadap si gadis.

Tetapi Chu Seng Kun juga memaklumi sifat temannya yang masih berdarah panas itu.

Terpaksa Chu Seng Kun juga berdiri di sebelah Chin Yang Kun.

Tapi bukan main terkejut hatinya ketika dari semak semak yang lain muncul belasan laki-laki berwajah kasar dan bengis.

Orang orang itu menyeringai ganas dan kurang ajar sekali seakan mereka mau berebut untuk menelan dan memiliki gadis cantik yang membawa harta benda banyak tersebut.

Seperti juga Chu Seng Kun, Chin Yang Kun juga tidak kalah pula kagetnya melihat begitu banyaknya orang yang muncul dari balik semak-semak di pinggir jalan itu.

Pemuda itu menjadi terkejut karena ternyata dia telah kehilangan kewaspadaan sehingga tidak mengetahui kehadiran mereka di sekitar tempat tersebut.

Agaknya orang-orang itu telah lama bersembunyi disana sebelum dia sampai di tempat itu.

Melihat posisi mereka agaknya orang-orang itu memang telah merencanakan untuk mencegat perjalanan gadis cantik itu guna merampas kekayaannya yang berlimpah-limpah.

Yang Kun balik menjadi bersimpati kembali kepada si gadis cantik.

Mungkin kata katanya yang sombong tadi memang bukan ditujukan kepada dirinya tapi kepada orang-orang itu.

Mungkin mereka memang telah bermusuhan sejak lama dan rombongan pencegat itu sekarang bermaksud untuk membuat perhitungan di tempat ini.

Buktinya gadis itu telah menyingkirkan para pelayannya agar dapat menghadapi Iawannya ini dengan bebas.

Melihat lagak dan gayanya, Yang Kun dapat menduga bahwa gadis cantik itu tentu mempunyai kepandaian yang tinggi.

Gayanya yang sombong dan terlalu percaya kepada diri sendiri itu menandakan bahwa selama ini dia tidak pernah menemui kesukaran dengan orang lain.

Namun demikian Yang Kun merasa khawatir juga melihat begitu banyaknya orang yang kini mengepung gadis itu.

Sebaliknya gadis itu tampak sedikit terperanjat memandang Chin Yang Kun dan Chu Seng Kun yang tiba-tiba muncul dari semak di belakangnya.

Kelihatannya gadis itu tidak menyangka kalau di balik semak tersebut ada penghuninya.

Dari kaget gadis itu menjadi marah.

Apalagi begitu muncul Yang Kun tampak menatap dirinya dengan menantang!

"Bocah sombong!"

Laki-laki pendek kecil itu berteriak mengguntur.

Tongkatnya yang besar dan panjang melebihi tinggi tubuhnya itu ia hentakkan di samping kakinya lalu badannya meloncat ke depan dengan cepat sekali.

Kawan-kawannyapun segera mengikuti langkahnya, mereka berdiri mengepung gadis cantik itu.

Gadis itu tidak merasa takut sedikitpun.

Dengan tenang dia mengeluarkan sebuah kipas yang terbuat dari lempengan-lempengan baja tipis yang tajam dan kuat.

Dan ketika kipas tersebut dibuka terlihat gambar seekor burung rajawali yang sedang mengembangkan sayapnya, ditatah halus di tengah-tengah kipas itu.

"Bocah sombong! kau kira engkau demikian hebatnya sehingga semua orang kami harus keluar untuk menangkapmu? Huh! Secara kebetulan saja engkau dapat masuk ke gedung pusat kami. Engkau mengambil kesempatan selagi orang baru sibuk menyelamatkan diri dari keganasan gempa bumi. Apakah kau kira engkau akan mampu apabila dalam keadaan biasa? Jangan kau harapkan. Nah, lekas kau kembalikan barang yang kau ambil itu!"

"Kembalikan"? Ih, enaknya! Dahulu kalian mendapatkan benda itu tentu dengan mencuri pula. Maka kalau sekarang aku ganti mencurinya, bukankah hal itu sudah lumrah?"

Gadis itu menjawab seenaknya.

"...Tapi jika kalian ingin merebutnya kembali... ya... silahkan! akan kuhajar kalian seperti aku menghajar puluhan orang Im-yang-kauw yang mencegat aku kemarin!"

"Hmmm... perempuan tak tahu diri, kali ini kau jangan bermimpi dapat lolos dari tanganku,"

Laki-laki pendek kecil itu membentak.

"Tangkap bocah ini!"

Seperti belasan ekor anjing yang sedang memperebutkan tulang, orang-orang itu menerjang ke arah gadis cantik tersebut.

Senjata mereka yang terdiri dari bermacam-macam jenis itu saling berebut dahulu untuk mencacah tubuh molek lawannya.

Sementara itu si pendek kecil justru mundur ke samping untuk memberi tempat kepada anak buahnya.

Dengan waspada ia mengawasi ke sekelilingnya.

Matanya melirik ke samping, ke arah Chu Seng Kun dan Chin Yang Kun berdiri.

Dia berjaga-jaga kalau dua orang yang tidak dikenalnya itu turut campur dalam pertentangan ini.

Sementara itu Yang Kun dan Seng Kun diam saja tak bergerak di tempatnya.

Ternyata mereka telah salah duga lagi.

Mendengar percakapan mereka tadi keduanya justru menjadi salah tingkah dan bingung, tidak tahu apa yang mesti mereka lakukan.

Gadis yang demikian cantik dan molek, dengan dandanan dan kekayaan yang demikian melimpah ternyata bukanlah seorang gadis yang baik.

Gadis itu ternyata seorang pencuri!Dan barang yang sekarang dicurinya benar-benar tidak tanggung-tanggung, yaitu...barang kepunyaan Im-yang-kauw!

Padahal setiap orang tahu belaka macam apa perkumpulan Im-yang-kauw itu.Yang Kun pernah pula mendapat keterangan serba sedikit tentang aliran kepercayaan Im-yang-kauw ini dari mendiang paman bungsunya.

Pamannya itu pernah mengatakan bahwa aliran kepercayaan itu muncul pada akhir abad ke lima sebelum masehi, jadi sekitar duaratus tahun yang lalu.

Dan aliran kepercayaan ini menjadi ternama serta memperoleh banyak pengikut pada abad ke empat sebelum masehi sampai sekarang.

Nenek moyangnya, mendiang raja-raja Chin semua adalah penganut aliran kepercayaan ini.

Dan aliran kepercayaan ini memperoleh kejayaannya pada masa pemerintahan kakeknya, yaitu Kaisar Chin Si Hong-te.

Banyak sekali tokoh-tokoh aliran ini yang ditarik oleh mendiang kakeknya untuk dijadikan pembantunya.

Aliran Im-yang atau Yin-yang ini beranggapan bahwa alam semesta terbentuk oleh unsur "wu-sing"

Atau unsur penggerak dan unsur "im-yang"

Atau daya negatif dan positif.

Kedua buah unsur itu mengakibatkan segala kejadian di alam dunia.

Aliran kepercayaan ini menggali serta mempelajari segala kejadian dan peristiwa yang terjadi di dalam masyarakat yang dihubungkan dengan perjalanan matahari, bulan, bintang, musim dan gejala-gejala aneh yang lain.

Oleh karena itu aliran ini banyak menghasilkan ahli-ahli nujum dan peramal yang sangat pandai.

Begitu hebat kepercayaan mendiang Kaisar Chin Si Hong-te terhadap para ahli nujum ini sehingga sekali waktu Kaisar itu pernah mengadakan perjalanan seorang diri mendaki gunung Tai-san yang sangat tinggi, hanya untuk mencari obat untuk hidup abadi.

Padahal gunung yang paling tinggi di seluruh daratan Tiongkok itu beribu-ribu lie jauhnya dari istana kerajaan.

Tapi dalam menyebarkan pengaruhnya, aliran Im-yang-kauw ini banyak mendapatkan saingan dari berbagai macam aliran kepercayaan yang lain, biarpun mereka itu tidak sehebat dan sebesar Im-yang-kauw.

Aliran-aliran itu diantaranya yang terbesar adalah aliran Mo (Mo-kauw) dan aliran Bing (Bing-kauw).

Dan seperti juga Im-yang-kauw, kedua aliran kepercayaan itu mulai menyebar pada abad kelima sebelum masehi.

Ketiga buah aliran besar ini saling berebut pengaruh di kalangan masyarakat sehingga karenanya mereka sering bentrok satu sama lain.

Demikianlah, karena tidak tahu apa yang seharusnya mereka lakukan, Yang Kun dan Seng Kun akhirnya berketetapan hati untuk tidak mencampuri urusan mereka.

Keduanya lalu duduk kembali dan menonton pertempuran itu.

Ternyata dugaan mereka tentang kepandaian gadis itu memang benar.

Biarpun dikeroyok oleh belasan orang Im-yang-kauw ternyata gadis tersebut masih dapat bergerak lincah seperti burung walet yang menyambar-nyambar.

Kipas bajanya yang kadang-kadang terbuka atau kadang-kadang tertutup itu terayun kesana kemari mengincar nyawa lawan dengan ganas.

Selain ganas permainan ilmu kipas gadis tersebut sungguh sangat aneh.

Begitu anehnya sehingga Yang Kun, Seng Kun maupun laki-laki pendek kecil itu menjadi bingung dan tidak bisa menebak asalusulnya.

Biasanya orang yang bersenjata kecil, pendek dan mudah rusak seperti yang dibawa oleh gadis itu tentulah seorang yang sangat mengandalkan ginkang atau lweekang yang sangat hebat.

Selain daripada itu biasanya ilmu silat kipas itu tentu dilakukan dengan gerakan yang lemas dan lemah lembut bagaikan seorang penari yang mahir dan berpengalaman.

Tapi apa yang mereka lihat sekarang sungguh sangat berlawanan sekali dengan semua kebiasaan tersebut.

Memang benar lweekang dan ginkang gadis itu sangat hebat, tetapi kehebatan tersebut ternyata tidak dipergunakan sebagai landasan untuk memainkan ilmu silat kipasnya secara ringan dan lemah gemulai!

Ternyata kehebatan itu dipakai untuk menunjang ilmu silat kipasnya yang kasar, ganas, keji serta penuh tipu muslihat yang lain.

Kipas yang terdiri dari lempengan-lempengan dari baja itu lebih banyak berfungsi sebagai sebuah kipas yang berjari banyak dari pada sebagai kipas biasa.

Sepintas lalu jari-jari kipas yang tajam bagai pisau belati itu seperti jari jari tangan si gadis yang bertambah panjang.

Yang Kun dan Seng Kun menggeleng gelengkan kepalanya.

Mereka sungguh sangat menyayangkan keadaan itu.

Seorang gadis yang demikian cantik, molek, kaya raya, dan tampaknya juga dari kalangan keluarga yang terhormat, ternyata hanya seorang pencuri yang mempunyai ilmu silat begitu ganas, keji dan licik!

Biarpun sangat hebat tetapi ilmu silat itu sungguh tidak cocok untuk gadis tersebut.

Ilmu silat seperti itu lebih pantas dipergunakan oleh seorang benggol penjahat atau seorang iblis yang tidak mengindahkan lagi norma-norma hukum dan susila!

"Aaaarrrghhhh...!"

Tiba-tiba Yang Kun dan Seng Kun dikejutkan oleh suara salah seorang pengeroyok yang berteriak setinggi langit sehingga dalam kesepian malam yang mencekam itu benar benar mendirikan bulu roma.

Lalu tampak orang-orang Im-yang-kauw itu saling berloncatan mundur.

Yang Kun dan Seng Kun tersentak berdiri dari tempat duduknya!

Apa yang mereka lihat sungguh sangat mengerikan!

Hampir-hampir mereka tidak mempercayai apa yang telah terpampang di depan mata mereka.

Seorang pengikut Im-yang-kauw yang berperawakan tinggi besar tampak berkelojotan di atas tanah dengan suara mengorok dari mulutnya.

Kedua belah tangannya tampak mendekap sela-sela pahanya yang telah basah oleh darah yang membanjir keluar.

Sementara itu di depannya berdiri gadis cantik itu dengan kaki terkangkang dan mulut tersenyum sadis.

Tangan kirinya tampak teracung ke depan, masih mencengkeram potongan alat kemaluan korbannya yang hancur!

Tampak darah menetes dari sela-sela jari tangannya tersebut!

"Hih!

Mengapa kalian malah mundur?

Ayoh...majulah!

Lihat!

Kalian akan kubunuh dengan cara seperti kawanmu ini!"

Gadis itu menggeram, membuat semua laki-laki pengepungnya meremang di dalam hati.

Kelihatannya gadis itu telah menjadi marah benar.

Matanya yang bulat besar itu tampak berkilat-kilat menatap para pengeroyoknya.

Hawa pembunuhan terasa mengembang di antara mereka.

"Cepat majulah!"

Gadis itu membentak.

Orang-orang Im-yang-kauw itu terkejut.

Dari terkejut mereka menjadi marah.

Dengan berteriak keras mereka kembali menyerbu berbareng.

Tapi kali ini agaknya gadis itu tidak ingin mengulur-ulur waktu lagi.

Begitu bergerak ia telah mengerahkan segala kemampuannya.

Kipas b janya menyambar-nyambar tidak mengenal ampun lagi.

Terdengar suara teriakan kesakitan saling susul-menyusul memenuhi udara malam yang dingin itu.

Dan beberapa saat kemudian tempat itu telah menjadi sebuah medan berdarah, yang sangat mengerikan.

belasan orang pengeroyokya tampak berkelojotan saling tumpang tindih tidak keruan.

Semuanya mendekap sela-sela pahanya.

Darah muncrat dan memercik membasahi seluruh arena bersama potongan-potongan daging yang berserakan.

Baunya amis memuakkan!

"Biadab!

Sungguh biadab!"

Chu Seng Kun bergumam dengan hati kecut.

"Siocia...! siocia...!"

Tiba-tiba dari dalam gelap muncul dua orang pelayan yang pergi mencari air tadi.

Dengan cemas mereka berlari menghampiri nona mereka.

Masing-masing membawa kantong kulit domba yang telah diisi dengan air.

Kedua orang pelayan itu tampak sangat cemas sekali, apalagi melihat demikian banyak orang yang terkapar sambil mengaduh-aduh di sekitar majikannya.

"A-a-apakah siocia terluka?"

Mereka bertanya khawatir.

Dengan tenang gadis itu menggeleng.

Dijulurkannya kedua lengan yang berlumuran darah itu kepada mereka.

Dan tanpa diperintah kedua orang pelayan itu segera mengurusnya.

Yang seorang cepat membasuh lengan yang terkena darah itu dengan air dan alat pembersih, sementara yang lain mengambil kipas baja itu siap membersihkannya pula dengan sikat.

Setelah itu masing-masing mengeluarkan minyak wangi yagn berbau harum untuk dioleskan pada lengan dan kipas yang baru saja mereka bersihkan tadi.

Semuanya itu dikerjakan oleh kedua orang pelayan tersebut dengan cepat dan terlatih.

"Siocia, seharusnya siocia tidak boleh memegang tubuh orang-orang itu dengan tangan telanjang begini. Mengotori saja..."

Pelayan yang berbaju kuning menggerutu. Dari dalam kantungnya ia mengeluarkan sepasang sarung tangan putih halus dan mengenakannya pada tangan majikannya.

"Kurang ajar! Bocah iblis!"

Laki-laki pendek kecil yang memimpin rombongan orang-orang Im-yang-kauw itu meloncat ke depan dengan garang.

Senjata tongkatnya yang besarnya lewat ukuran itu diayun ke depan, ke arah dimana gadis cantik tersebut berdiri bersama pelayannya.

Hembusan angin dahsyat melanda ketiga orang gadis yang berdiri berdampingan itu.

Agaknya orang pendek kecil itu ingin membalaskan dendam teman-temannya dalam sekali terjang.

Gadis cantik itu menyiapkan kembali kipas bajanya yang telah dibersihkan oleh pelayannya.

Tapi sebelum ia bergerak untuk menyongsong pukulan lawan, kedua orang pelayannya telah lebih dulu melangkah ke muka sambil mencabut pedangnya.

"A-kin! A-kun! Jangan sembrono!"

Gadis itu memperingatkan pelayannya.

"Traaaannngg!!"

Terlambat!

Kedua orang pelayan itu terlempar ke belakang dengan keras.

Lalu jatuh terbanting di atas permukaan tanah.

Pingsan!

Si gadis memburunya dengan tergesa-gesa.

Begitu melihat kedua orang pelayannya itu terluka dalam dan pingsan, ia menjadi marah sekali.

Dengan mengeretakkan gigi tangan kirinya mengeluarkan sebuah kipas lagi.

Bentuk dan bahannya serupa dengan kipasnya yang pertama, Cuma yang kini dikeluarkan dua kali lipat besarnya.

"Bangsat cebol! Engkau berani melukai pelayanku...! Hmm, akan kukorek keluar seluruh isi perutmu dan akan kusebar di atas jalan ini!"

Ancamnya dengan suara tandas.

"Tapi sebelum semua itu terlaksana, katakan dulu siapa dirimu!"

"Hahaha... bocah! kau kira aku takut dengan selorohmu itu? Hahaha...dengarlah, kau memang tidak percuma akan mati di tanganku! Engkau sekarang sedang berhadapan dengan salah seorang jago dari Ruang Pengadilan Im-yang-kauw!"

"Berhenti! Aku tidak perduli apakah kau ayam jago atau ayam betina! Yang kuperlukan adalah namamu, agar aku tahu siapakah yang telah menjadi korban kipas bajaku ini. Nah, jangan berbelit-belit! Lekas katakan!"

Bukan alang kepalang marahnya orang pendek kecil itu.

Begitu hebat kemarahan yang melibat dirinya sehingga orang itu justru terdiam tak mampu berkata sepatahpun.

Matanya yang sipit kecil itu mendelik, rambutnya seakan tegak berdiri di atas kepalanya.

"Bedebah! Bangsat! kau sungguh sangat menghina sekali pada Mo-tung Lo Bin (Si Tongkat Setan Lo Bin)!"

Akhirnya orang itu berteriak dengan suara serak.

Tanpa berkata apa-apa lagi orang Im-yang-kauw yang bernama Mo-tung Lo Bin itu mengayun tongkatnya mendatar ke arah pinggang lawan.

Suaranya menderu, sehingga Yang Kun dan Seng Kun yang berdiri belasan langkah dan tempat itupun merasakan hembusan anginnya.

Gelar Si Tongkat Setan yang diberikan orang kepadanya itu memang sungguh amat sesuai baginya.

Tapi gadis cantik itu tidak kalah pula sigapnya.

Sebelum tongkat itu dapat menyentuh ujung pakaiannya gadis itu telah meloncat tinggi ke atas sehingga serangan Mo-tung Lo Bin lewat di bawah kakinya.

Dan bersamaan dengan terputarnya tubuh Lo Bin yang terseret oleh ayunan tongkatnya sendiri, gadis itu menyabetkan kipas besarnya ke arah kepala lawan secara melintang.

Yang Kun menghela napas, llmu silat gadis itu benar-benar keji sekali.

Jurus serangan kipasnya selalu berbau pembunuhan yang sadis.

Ilmu dari golongan putih apabila menyerang dari atas kepala lawan biasanya tentu tertuju ke ubun-ubun, mata atau pelipis.

Sehingga biarpun serangan tersebut adalah serangan yang mematikan pula, tetapi tidak akan merusakkan tubuh lawan.

Berbeda dengan serangan yang kini sedang dilakukan oleh gadis itu.

Serangan melintang dengan daun kipas yang terbuka seperti itu sama saja bermaksud memotong kepala lawannya bagai membelah kayu!

Ternyata Mo-tung Lo Bin tahu bahaya itu.

Dan ia juga tahu bahwa akan percuma baginya kalau ingin menghindari serangan tersebut.

Dengan kedudukan lawan yang berada diatas kepalanya, praktis lawan itu sudah menguasai medan geraknya.

Satu-satunya jalan untuk mematahkan kurungan tersebut hanyalah dengan menangkis dan kemudian melibatnya dengan serangan beruntun.

Dan hal itu memang benar-benar dilakukan oleh Mo-tung Lo Bin.

Dengan gerakan Liong-bwe-chuo-goat (Ekor Naga Menangkap Bulan) Lo Bin memapaki kipas lawannya.

Ujung tongkatnya bagian belakang dia sontek keatas melalui bawah ketiaknya.

Gerakannya demikian bagus dan manis sambil membungkuk ke depan.

Dan seperti seorang pemain sulap saja, ujung tongkat yang muncul dari balik ketiaknya itu meluncur keatas memapaki kipas lawan.

"Traaaang!"

Kipas itu terpental ke samping, sementara gadis itu terpaksa berjumpalitan pula untuk mematahkan kekuatan Lo Bin yang sangat besar.

Dan begitu kakinya menginjak tanah gadis tersebut bermaksud menyerang lagi dengan kipasnya yang lain, tapi rangkaian serangan dari lawannya keburu menerjang lagi dengan hebatnya.

Terpaksa gadis itu menangkis dengan kedua buah kipasnya sambil berloncatan kekiri dan kekanan.

Tak ada kesempatan baginya untuk membalas serangan si pendek kecil dari Im-yang-kauw itu.

Malahan pada sabetan toya Lo Bin yang terakhir membuat gadis itu seperti kehilangan keseimbangannya, sehingga tongkat yang sangat berat itu menyerempet punggungnya.

Kontan gadis itu terjungkal ke atas tanah.

Gadis itu meregang sebentar lalu diam tak bergerak.

Pingsan.

Tubuh yang ramping dan molek itu tergolek miring diatas tanah yang kotor dan berbatu-batu.

Dari mulutnya yang mungil segar itu mengalir darah segar.

Yang Kun dan Seng Kun terkejut sekali.

Begitu juga Mo-tung Lo Bin sendiri!

Sejenak tokoh Im-yang-kauw tersebut justru seperti orang kehilangan akal malah.

Serangan beruntun yang dilakukan tadi sebenarnya ia maksudkan untuk membebaskan dirinya dari kurungan gadis itu.

Dengan serangannya yang menggebu susul-menyusul itu ia berharap agar gadis tersebut meloncat mundur dan memberi kesempatan padanya untuk melepaskan diri.

Jadi tidak terlintas sedikitpun dalam pikirannya bahwa gadis itu akan termakan oleh senjatanya.

Gadis muda itu demikian lihainya, sehingga tak mungkin rasanya kalau ia akan menang dengan begini mudah.

Tapi kenyataannya memang demikian.

Gadis itu kini telah menggeletak di depannya.

Terbetik juga suatu perasaan sesal dalam hati Mo-tung Lo Bin.

Bagaimanapun sombongnya gadis itu terhadapnya, tak seharusnya dia menghajarnya sampai demikian keras.

Apalagi sebagai seorang tokoh agama yang setiap harinya selalu mengumandangkan kebaikan dan kebajikan seperti dirinya itu.

Mo-tung Lo Bin segera mendekat, lalu membungkuk di hadapan korban tongkatnya itu.

Ia ingin memeriksa, apakah luka yang diderita oleh gadis tersebut kira-kira masih dapat ia obati.

Begitu tangannya terjulur ke depan, tiba-tiba...

"Aaaaarrrggghhhh...!"

Yang Kun sampai terlonjak saking kagetnya.

Tampak olehnya tubuh kecil dari Mo-tung Lo Bin terlempar tinggi ke udara.

Dari mulut orang itu terdengar suara mengorok keras sekali seperti orang disembelih.

Bersama dengan tubuhnya kelihatan pula sebuah benda kecil panjang yang berbelit-belit melayang mengikutinya.

Kemudian tubuh itu terhempas dengan keras di pinggir jalan, sedang benda panjang tadi telah terburai dan tercecer kemana-mana.

Tubuh Mo-tung Lo Bin tampak menggeliat beberapa kali, lalu mati!

Dan seperti perkataan yang pernah diucapkan oleh si gadis, perut tokoh Im-yang-kauw tersebut benar-benar telah terbuka dan...

Ususnya telah terburai keluar memenuhi medan itu.

Ternyata gadis itu tidak terluka sama sekali, apalagi pingsan.

Ternyata semua yang dilakukannya tadi hanyalah siasat belaka.

Siasat yang kotor dan licik!

Sehingga tokoh agama yang lihai seperti Mo-tung Lo Bin terperangkap oleh jebakannya.

Begitu jago Im-yang-kauw tadi lengah dan membungkuk kearahnya, gadis itu secepat kilat menyabetkan kipas bajanya ke perut lawannya.

Usaha Lo Bin untuk melenting menghindari sudah tidak keburu lagi, perutnya tersobek lebar oleh kipas lawannya sehingga terbuka menganga dan seluruh isi perutnya tumpah keluar.

Sekarang gadis itu tegak berdiri dengan tersenyum penuh kegembiraan.

"Anak iblis.."

Yang Kun bergumam dengan hati muak dan ngeri.

Tak terasa pemuda itu melangkah maju ke depan.

Hatinya yang terluka melihat kenyataan itu membuat dirinya menyesal bukan main.

Coba dia tadi tidak terpengaruh oleh wajah gadis yang cantik, tidak terpengaruh oleh keadaan si gadis yang dikasihani karena kudanya yang terluka dan tidak terpengaruh oleh sikap si gadis yang seakan-akan seperti orang baik dan tidak mengerti bahaya, tentulah dia dapat segera mengambil keputusan untuk menyelamatkan orang-orang Im-yang-kauw itu.

Sekarang semuanya telah terlanjur.

Rombongan dari Im-yang-kauw itu telah habis dibabat oleh si gadis yang kejam.

Melihat seorang pemuda mendekati dirinya, gadis cantik itu mempersiapkan kipasnya kembali.

Bibir yang tadi tersenyum kembali terkatup rapat.

Matanya yang bulat dan bersinar kejam itu menatap dengan waspada kepada Chin Yang Kun.

"Berhenti! Sebutkan dulu namamu sebab engkau juga mengalami nasib yang sama dengan orang itu!"

Gadis itu berteriak nyaring.

Yang Kun berhenti melangkah.

Hampir saja bentakan itu menyinggung perasaannya yang sudah terluka.

Tapi meskipun demikian tenaga sakti Liong-cu I-kangnya tanpa ia sadari telah tersalur dengan sendirinya ke seluruh urat-urat darahnya.

Dalam keremangan malam sinar matanya tampak mencorong mengawasi gadis cantik itu.

Tak terasa pula gadis itu melangkah mundur setindak.

"Mengapa diam saja? Hayo, cepat katakan namamu... dan apa kedudukanmu dalam Im-yang-kauw?"

Sekali lagi gadis itu membentak, sebab untuk mengusir perasaan ngerinya melihat pandangan mata Chin Yang Kun yang tajam itu.

Yang Kun mengerutkan dahinya.

Ternyata gadis itu menyangka bahwa dia adalah anggota dari Im-yang-kauw pula.

Oleh karena itu dalam sekejap terlintas pada pikirannya untuk memberi pelajaran kepada gadis itu dengan meminjam nama Im-yang-kauw pula.

Dan juga sekalian untuk memberi peringatan kepada si gadis agar tidak terlalu kejam dan memandang rendah agama yang sangat dimuliakan oleh keluarganya itu.

"Nona...,"

Katanya pelan tapi jelas.

"Perbolehkan juga aku mengetahui nama dan asalmu... sehingga apabila aku nanti sungguh-sungguh mati di tanganmu, aku si algojo dari Im-yang-kauw ini tidak akan merasa penasaran di alam baka,"

Sambungnya berbohong.

Chin Yang Kun mengambil nama sekenanya karena ia tidak tahu sama sekali siapa tokoh-tokoh yang sekarang duduk di dalam kepengurusan Im-yang-kauw.

Hanya karena ia bermaksud untuk menghukum dan memberi pelajaran kepada gadis itu maka ia berbohong sebagai algojo dari Im-yang-kauw.

Ia tidak memikirkan lebih lanjut apakah dalam aliran kepercayaan tersebut ada jabatan algojo atau tidak.

Tapi ucapan pemuda itu ternyata mengagetkan semua orang!

Chu Seng Kun tertegun di tempatnya.

Begitu pula gadis itu.

Mereka terbelalak matanya tidak percaya.

Masih terngiang di dalam telinga mereka tentang ceritera burung yang selalu menjadi bahan pembicaraan umum di kalangan persilatan.

Setiap orang tentu telah mendengar bahwa di dalam aliran Im-yang-kauw berkumpul jago-jago silat yang mempunyai kepandaian tidak lumrah manusia.

Selain sakti beberapa orang diantaranya juga merupakan ahli nujum atau peramal yang sangat terkenal di dunia kang-ouw.

Dan diantara sekian banyak tokoh sakti itu ada dua orang yang mempunyai kehebatan melebihi yang lain, sehingga namanya sangat terkenal dan ditakuti orang.

Kedua orang tokoh Im-yang-kauw itu adalah ketua dan...

algojonya!

Oleh karena itu tidak heran kalau pernyataan Chin Yang Kun yang mengaku sebagai algojo dari Im-yang-kauw tadi mengagetkan pendengarnya, termasuk Chu Seng Kun!

Pemuda ahli pengobatan ini sudah sering mendengar dongeng-dongeng tentang kehebatan kedua orang tokoh puncak Im-yang-kauw itu biarpun dia belum pernah melihat ataupun mengenalnya.

Tapi menurut cerita orang kedua orang tokoh tersebut usianya sudah tidak muda lagi.

Apalagi baru belasan tahun seperti pemuda yang kini berdiri di hadapan mereka itu.

Meskipun begitu Chu Seng Kun juga tidak berani gegabah untuk tidak mempercayainya.

Sebagai seorang ahli pengobatan dia tahu bahwa banyak orang-orang sakti di dunia ini yang mempelajari ilmu awet muda atau ilmu yang sejenis dengan itu.

Apalagi dia memang belum mengenal asal usul dari pemuda yang pernah ia selamatkan nyawanya itu dengan baik.

Siapa tahu pemuda itu memang sungguh-sungguh si algojo dari Im-yang-kauw yang bergelar Toat-beng-jin (Manusia Pencabut Nyawa) itu?

"...Toat-beng-jin.

Benarkah engkau Toat-beng-jin dari Im-yang-kauw?"

Gadis cantik itu menegaskan.

Suaranya sedikit gemetar.

Tak terasa kakinya juga melangkah mundur setindak lagi.

Seperti juga yang lain, gadis itu belum pernah bertemu dengan si algojo dari aliran Im-yang-kauw pula.

Diapun hanya mendengar tentang kehebatan orang itu dari cerita-cerita yang tersebar di dunia kang-ouw, sehingga ucapan Yang Kun yang mengaku sebagai Toat-beng-jin tersebut benar-benar mengagetkan dirinya.

Ketika dirinya memasuki gedung pusat Im-yang-kauw tempo hari tak seorangpun tokoh-tokoh sakti yang dijumpainya.

Juga tidak seorang penjagapun yang memperhatikan kedatangannya, sehingga dengan mudah ia memasuki gedung yang amat besar itu dan mengambil sebutir mutiara ya-Bengcu (mutiara yang dapat bersinar di dalam gelap) di sanggar pemujaan.

Seluruh penghuni gedung tersebut sedang dalam keadaan panik berlarian kesana kemari akibat gempa yang sedang melanda seluruh daerah itu.

Ternyata Yang Kun sendiri menjadi tersentak juga hatinya melihat sikap si gadis yang kaget dan agak takut-takut itu.

Toat-beng-jin?

Siapakah dia?

Mengerikan benar julukannya!

Kenapa gadis yang lihai dan sangat ganas itu kelihatan gemetar ketika mengucapkan nama tersebut?

Benarkah di dalam lm-yang-kauw terdapat seorang algojo yang bernama Toat-beng-jin?

Tetapi karena sudah terlanjur berbohong dan kepalang untuk mundur lagi, maka terpaksa Yang Kun mengangguk mengiyakannya.

Biarpun di dalam hati dia merasa bergetar juga.

Tidak biasanya ia berbohong, apalagi sampai memalsu nama orang.

Bukannya dia merasa takut, tapi ia sungguh tidak merasa enak di dalam hati.

"Benar..!"

Jawab pemuda itu sendat.

"Menyerahlah kau untuk kuikat lenganmu!"

Ternyata jawaban gadis cantik itu benar-benar di luar dugaan!

Perasaan kaget dan sedikit takut yang tadi terpancar pada sinar matanya kini ternyata sudah hilang.

Sekarang tampak wajah gadis itu kembali ganas seperti semula.

"Menyerah...? Huh! Menyerah... untuk akhirnya akan kau perkosa? Jangan harap! kau majulah, aku tidak takut pada nama besarmu!"

Gadis itu berteriak keras sekali. Yang Kun terperangah! Merah benar mukanya! Gila, omong apa pula gadis ini...? Kotor benar pikirannya! "A-apa... apa katamu? Si-siapa akan memperkosamu? kau"

Kau sungguh rusak jiwamu..!"

Sukar sekali rasanya pemuda itu mengeluarkan perkataannya.

Gadis itu semakin marah.

Dengan berteriak nyaring ia menyerang Yang Kun.

Kipas bajanya ia kebutkan ke arah muka Yang Kun dengan pengerahan tenaga sepenuhnya.

Tampak serangan angin yang sangat dahsyat menghembus menerpa tubuh pemuda itu, sehingga rambut dan pakaian yang dikenakannya berkibaran seperti dihembus oleh angin kencang.

Tapi Chin Yang Kun sekarang bukan lagi Chin Yang Kun yang lemah dan mudah dilukai seperti dahulu.

Chin Yang Kun sekarang adalah seorang pemuda yang kepandaiannya tentu telah melampaui kepandaian paman bungsunya, andaikata gurunya itu masih hidup.

Dan tenaga sakti Liong-cu I-kang yang kini mengeram di dalam tubuhnya adalah tenaga sakti yang dihimpun oleh seorang maha sakti selama seratus tahun lebih.

Maka dapat dibayangkan betapa hebat kekuatan pemuda itu sekarang.

Mungkin tokoh tokoh persilatan yang kini dapat disejajarkan dengan dirinya cuma beberapa orang saja jumlahnya.

Oleh karena itu biarlah di mata orang lain serangan tersebut tampak sangat hebat dan dahsyat, tetapi bagi Chin Yang Kun serangan gadis itu tidak lebih dari pada hembusan angin lalu saja.

Pemuda itu tetap berdiri tegak di tempatnya, sehingga Chu Seng Kun yang menonton di pinggir justru yang menjadi khawatir malah.

Apalagi ketika gadis cantik itu menyusuli serangannya dengan kipasnya yang lain.

Yang Kun mengerahkan separuh dari tenaga sakti Liong-cui-kang untuk melindungi tubuhnya.

Kini dia telah yakin dan mantap dengan kekuatan yang dipunyainya, oleh karena itu sekarang dia mulai berhati-hati dalam melontarkan kemampuannya tersebut.

Dia tidak ingin setiap kali harus melihat korban yang berjatuhan akibat pukulannya.

Hanya dalam tempo satu hari dia telah melihat kenyataan bahwa tak seorang jago silatpun yang mampu menahan Liong-cu I-kangnya, betapapun lihainya orang itu.

Dengan jurus Chan-san-li-chio-tiap (Puteri Pagi Menangkap Kupu), yaitu jurus kedua puluh satu dari Hok-te ciang-hoat, pemuda itu memapaki kedua buah kipas lawan yang melayang ke arah dirinya.

Seperti layaknya seorang penangkap kupu, sepuluh jari tangannya terulur ke depan membentuk sepasang jepitan yang sangat kuat.

Dan sepasang jepitan itu berusaha untuk menangkap kedua buah kipas yang terbang mengurung dirinya itu.

Bibir yang tipis itu merekah dengan manjanya seakan mau mengejek tingkah Yang Kun yang sembrono, mau menangkap kipas bajanya yang tajam bagai mata pedang itu.

"Traaaang!"

Terdengar suara nyaring seperti suara logam beradu yang sangat keras ketika kipas baja itu bertemu dengan jari-jari Yang Kun yang mengandung Liong-cu I-kang!

Dan sebuah pemandangan yang menarik hati kembali terpampang di depan mata Chu Seng Kun.

Lagi-lagi pemuda ahli pengobatan ini dikejutkan oleh kehebatan pemuda yang dulu hampir mati terkena racun yang ganas itu.

Tubuh cantik molek dari gadis itu terdorong mundur bagai didesak oleh sebuah tenaga raksasa, sehingga hampir saja terhempas ke dalam parit di pinggir jalan.

Tanpa mengerti sebab-musababnya gadis itu merasa kedua buah tangannya menjadi kesemutan dan kedua buah kipas bajanya...

terlempar ke atas tanah.

Dengan muka pucat gadis itu mengawasi Chin Yang Kun yang sedang berdiri mengamat-amati telapak tangannya.

Ternyata kali ini Yang Kun juga telah salah sangka dalam menilai kepandaian lawannya.

Meskipun gadis itu dapat ia rampas senjatanya serta dapat ia hempaskan ke belakang, tetapi ujung kipas yang dipegangnya ternyata masih sempat menggores dan melukai telapak tangannya.

Sehingga sepasang kipas lawan yang telah berhasil ia rebut terpaksa dilepaskannya kembali dan jatuh ke atas tanah.

Melihat Yang Kun terluka, Chu Seng Kun segera berlari mendatangi.

Pemuda itu tidak mempedulikan lagi apakah kawannya itu benar-benar Toat-beng-jin atau bukan.

Melihat telapak tangan itu mengalirkan darah otomatis jiwa tabibnya tergugah.

"Yang-hiante... apakah lukamu parah? Marilah ku..."

Chu Seng Kun tidak meneruskan kata-katanya. Matanya yang awas itu melihat sesuatu yang aneh pada darah yang menetes dari telapak tangan Yang Kun.

"Darahmu...eh, Yang-hiante...kau terkena racun!"

Terdengar suara tertawa puas dari gadis cantik itu.

"Pemuda itu memang sangat bodoh, hihihi...Biarpun kepandaiannya setinggi langit tetapi otaknya tolol dan pengalamannya nol...! Mana dapat dia menang dengan aku. Tangannya telah kemasukan racun getah Jamur Batu Karang yang kuoleskan pada kipas bajaku. Sebentar lagi tulang tulangnya akan retak, sehingga setiap gerakan yang bagaimana lemahpun akan membuat tulang-tulang dalam tubuhnya remuk dan berpatahan di dalam dagingnya. Nah...bukankah tidak lama lagi tubuhnya hanya merupakan onggokan daging yang tidak bertulang? Mengerikan sekali, bukan? Coba kalian lihat mayat-mayat itu!"

Gadis itu menunjuk ke arah mayat Mo-tung Lo Bin dan kawan-kawannya.

Chu Seng Kun mencengkeram buntalannya erat-erat.

Tak terasa kakinya melangkah mundur dua tindak ke belakang.

Sebuah pemandangan yang sangat mengerikan telah terjadi di depan matanya.

Mayat-mayat itu masih tetap utuh seperti semula.

Hanya bentuknya yang sekarang berubah menjadi sangat menakutkan.

Bagaikan boneka-boneka karet yang kempes tanpa udara, mayat-mayat itu peot-peot tidak karuan bentuknya.

Semuanya tidak dapat dikenal lagi wajahnya.

Kepala-kepala itu tidak bulat lagi bentuknya tapi seperti ban karet yang belum diisi dengan udara.

Bukan alang kepalang marahnya Chin Yang Kun.

Gadis cantik itu benar-benar luar biasa kejamnya.

"Perempuan keji! Engkau jangan keburu merasa puas dulu di dalam hati...! Awaslah! Sebelum aku akan mati, lebih dahulu aku akan mematahkan dulu kaki dan tanganmu, setelah itu aku akan membeset kulitmu sehingga terkelupas semuanya. Baru kemudian aku akan mencekik lehermu sampai akupun akan mati bersama-sama denganmu!"

"Yang-hiante... tenanglah! kau bersabarlah! Biarlah aku memeriksa tanganmu dahulu..."

Chu Seng Kun berusaha untuk mencegah kemarahan kawannya.

Rasa-rasanya berdiri semua bulu romanya mendengar ancaman itu.

Tapi kemarahan Chin Yang Kun sudah tidak bisa dibendung lagi.

Seluruh urat-uratnya tampak menegang, pertanda tenaga sakti Liong-cu I-kangnya telah siap-siaga penuh dalam tubuhnya.

Dan beberapa saat kemudian kepalan tangan kanannya telah meluncur ke depan dengan disertai suara yang sangat mengerikan dari sela-sela bibirnya.

Suara desis ular kobra kalau sedang marah!

Terpaksa Chu Seng Kun melangkah mundur kembali.

Gadis itu meloncat ke belakang.

Tapi betapa terkejutnya ketika kepalan tersebut masih saja mengejar tubuhnya.

Terpaksa ia membanting badannya ke samping!

Brukk!

Lalu melejit pula sekali lagi ke belakang dan...

tangan itu tetap berada di depan hidungnya!

Gadis itu mulai panik.

Bagaikan sebuah bayangan, kepalan tersebut selalu mengikuti dirinya.

Akhirnya gadis itu memberanikan diri untuk menangkisnya.

Tapi seperti kepala seekor ular berbisa, kepalan itu melingkar ke bawah menghantam dadanya.

"Buukk...!"

Seperti dihempas oleh gelombang pasang tubuh gadis itu terlempar tinggi ke udara, kemudian terbanting ke bawah ke arah batu-batu tajam yang berserakan di tepi jalan besar itu.

Ternyata tenaga dalamnya yang tampak hebat ketika melawan orang-orang Im-yang-kauw tadi benar-benar tidak ada artinya sama sekali begitu berhadapan dengan Liong-cu-i kang si remaja.

Untunglah ginkangnya cukup lumayan sehingga tubuh yang terbanting ke bawah itu tidak sampai menghantam batu!

Dengan bersalto beberapa kali tubuhnya bisa mendarat di atas kedua kakinya dengan ringan dan manis.

Gadis itu tampak pucat pasi wajahnya.

Bibirnya yang mungil dan berwarna merah itu juga tampak bergetar.

Baju pada bagian dadanya telah hancur, sehingga tampak lapisan Kim-pouw-san (Baju Mustika Emas) yang berwarna kuning emas di sana.

Sebuah baju pusaka yang tidak mempan segala macam senjata!

Pada mulanya Yang Kun sangat terkejut sekali menyaksikan gadis itu hanya terpental saja dan seperti tidak terpengaruh oleh daya keampuhan pukulannya.

Tapi serentak terlihat olehnya lapisan kuning yang melindungi dada gadis itu ia menjadi maklum.

"Perempuan ganas, ternyata engkau mengenakan sebuah baju mustika yang tidak tembus senjata, sehingga dapat terhindar dari kematian"! Tapi baju itu tentu tidak menutupi kaki dan tanganmu! Apalagi lehermu yang akan kucekik itu! Maka hati-hatilah... aku akan tetap melaksanakan ancamanku tadi!"

Ancam pemuda itu sambil meremas-remas jari tangannya.

Gadis itu tampak semakin pucat dan gemetar.

Semua kesombongan dan keganasan yang diperlihatkan tadi seperti hilang musnah dan tubuhnya.

Ilmu yang diperlihatkan oleh Chin Yang Kun tadi benar-benar sangat mencekam hatinya dan merontokkan seluruh keberaniannya.

Sungguh tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa lengan manusia bisa bergerak seperti ular, panjang pendek dan dapat ditekuk ke segala arah!

"Toat...beng-jin!

Ilmu...

a-apakah yang kau pergunakan tadi?"

Chin Yang Kun tertawa panjang sehingga wajahnya yang tampan itu semakin kelihatan ganteng dan menarik. Dia memang jarang-jarang tersenyum, apalagi tertawa.

"Nah, ternyata engkaupun punya perasaan takut juga. Kukira hatimu yang keras, kasar dan kejam itu sudah tidak mengenal takut lagi! Kukira perasaanmu telah mati... hemm... ternyata tidak! Nah, ketahuilah... ilmu yang baru saja kau lihat tadi adalah Kim coa-i hoat, ilmu andalan dari Toat-beng-jin yang terkenal!"

Yang Kun berbohong.

"Kim-coa i-hoat...! Kim-coa i-hoat...!"

Gadis itu bergumam sambil berpikir.

"Siocia...! Siocia...! Apakah yang telah terjadi?"

Tiba-tiba kedua orang pelayannya yang pingsan tadi telah bangkit dan berlari menghampiri.

Dan begitu mengetahui nonanya hampir saja mati dipukul Yang Kun, kedua pelayan itu segera mengambil senjata masing-masing dan berdiri menghadang di depan majikannya.

"Berani benar engkau menyakiti nona majikanku? Siapakah kau? Apakah kau belum tahu siapakah sebenarnya nonaku itu? kau..."

"A-Kin... A-Kun...!"

Gadis itu mencegah pelayannya untuk berbicara lebih jauh. Yang Kun memandang kedua orang pelayan tersebut dengan tenang.

"Mmm... mengapa aku mesti takut kepada nonamu itu? Aku justru akan menghukum majikanmu itu karena dia telah berani membunuh orang-orang lm-yang-kauw serta berani mencuri benda pusaka kami. Aku tidak peduli siapa pun dia... Nah... kalian minggirlah!"

"Tahaan...!"

"Apalagi...? Apakah kalian ingin kubunuh terlebih dahulu?"

Sementara itu si gadis cantik yang berdiri di belakang kedua orang pelayannya tampak semakin resah hatinya, lawannya tampaknya belum terpengaruh oleh racun getah Jamur Batu Karang yang ia oleskan pada kipas bajanya.

Hatinya mulai bertanya-tanya, adakah orang yang mengaku Toat-beng-jin ini telah kebal terhadap racunnya yang ganas itu?

Oleh karena itu ketika lawannya hendak mulai bergerak untuk membunuh pelayannya, ia segera merogoh kantong di balik bajunya.

"Toat-beng-jin! Inilah barang itu kukembalikan kepadamu"! Aku mengalah malam ini. Tapi lain waktu aku akan datang mencarimu kembali untuk membalas kekalahanku..."

Gadis itu melemparkan mutiara yang dulu dicurinya kepada Chin Yang Kun, kemudian mengajak kedua orang pelayannya, untuk pergi dari tempat itu bersama kuda-kuda mereka.

Yang Kun menjadi gelagapan.

Tangannya otomatis menerima mutiara pusaka sebesar kelereng itu.

Tapi hatinya menjadi bingung dan serba salah, tak tahu apa yang harus dikerjakan dengan benda pusaka yang bersinar biru cemerlang itu.

Ia hanya mengawasi saja dengan bengong kepergian lawannya.

"Yang-hiante coba kulihat lukamu itu..."

Tiba-tiba suara Chu Seng Kun menyadarkan Yang Kun.

"Oohh... terima kasih, Chu-Twako. Kukira...kukira aku tidak apa-apa dengan lukaku ini..."

"Memang... tapi siapa tahu ada sesuatu yang lain? Sudahlah, biarkanlah aku memeriksanya."

Yang Kun terpaksa menurut.

Tidak enak hatinya harus menolak kebaikan itu terus-menerus.

Chu Seng Kun memegang nadi Yang Kun, lalu memeriksa dan mengamat-amati luka pada telapak tangan itu.

la mendekatkan hidungnya dan berusaha mencium bau yang keluar dari luka tersebut.

Kemudian ia mengeluarkan sebuah botol yang berisi cairan putih dan meneteskan pada luka itu.

"Yang-hiante, engkau tadi mengatakan bahwa dirimu adalah Toat-beng-jin dari aliran Im-yang-kauw. Benarkah itu?"

Yang Kun hanya tersenyum.

"Chu-Twako, bagaimana menurut pengamatanmu? Adakah diriku ini cocok berperan sebagai Toat-beng-jin?"

Pemuda itu balik bertanya. Pemuda yang ahli dalam pengobatan itu menggeleng gelengkan kepalanya lalu melepaskan tangan Yang Kun yang telah selesai ia periksa.

"Entahlah, Yang-hiante... Aku juga bingung. Aku seperti ingin mempercayainya tapi juga seperti tidak... Kepandaianmu yang sangat aneh dan hebat itu seakan akan memang seperti kepandaian Toat-beng-jin yang pernah kudengar. Tapi kalau melihat umurmu yang masih muda ini aku rasa sangat bertentangan dengan berita yang tersebar di dunia kang-ouw tentang tokoh Toat-beng-jin itu."

"Lalu...?"

"Yang-hiante, racun ganas yang memasuki tubuhmu itu sebenarnya sangat keji sekali. Tak seorangpun di dunia ini yang mampu bertahan terhadap keganasannya,"

Kata pemuda ahli pengobatan itu sambil menghela napas panjang. Lalu dengan wajah heran seakan tidak percaya pada apa yang telah dilihatnya pemuda itu meneruskan kata-katanya.

"Tapi anggapan itu ternyata salah... Ternyata racun yang keji itu tidak bisa mencelakai tubuhmu. Setelah kuperiksa darahmu tadi, racun itu justru telah melebur menjadi satu dengan racun yang selama ini berada di dalam cairan darahmu. Sehingga racun yang terkandung di dalam darahmu sekarang menjadi bertambah hebat kekuatannya!"

Hening sejenak Chu Seng Kun menghentikan kata katanya, seolah ingin mencari kesan dari wajah Chin Yang Kun.

"Yang-hiante, oleh karena itu aku mempunyai dugaan bahwa pengakuanmu tentang diri Toat-beng-jin itu mungkin benar juga. Setidak-tidaknya engkau tentu mempunyai hubungan erat dengan nama itu. Entah muridnya, entah keluarganya! Dan pengakuanmu sebagai seorang putera kepala desa yang baru tamat belajar silat itu hanya untuk menutupi rahasiamu saja. Yang-hiante benarkah tebakanku ini?"

Chin Yang Kun mendengarkan semua perkataan temannya itu dengan perasaan geli sehingga wajahnya yang biasanya selalu gelap itu kini ramai dengan senyuman.

"Chu-Twako! Sambil omong-omong marilah kita kubur mayat-mayat yang berserakan ini. Nanti akan kujawab semua pertanyaan Chu-Twako itu."

Pemuda itu berkata sambil memungut sebuah tombak yang terletak di dekatnya. Lalu dengan senjata tersebut ia menggali sebuah lobang di pinggir jalan.

"Oh...benar! Marilah! Biarlah aku yang mengumpulkan mayat-mayat ini!"

Chu Seng Kun mengiyakan.

Disambarnya tongkat besar kepunyaan Mo-tung Lo Bin yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Kemudian dengan tongkat tersebut ia mengumpulkan mayat itu ke pinggir jalan.

"Uh! Ah! Uh!"

Tiba-tiba semak lebat yang berada di dekat lobang galian Yang Kun tampak bergoyang goyang.

Chu Seng Kun dan Chin Yang Kun saling pandang.

Keduanya menghentikan pekerjaannya lalu bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan.

"Siapa? Silahkan keluar...!"

Hampir berbareng mereka menyapa.

"Ah! Uh! Ahh...!"

Semak itu bergoyang semakin keras, tetapi tak seorangpun yang keluar.

Yang Kun sekali lagi menatap ke arah kawannya, minta pertimbangan.

Chu Seng Kun mengangguk, kemudian melangkah mendekati tempat itu.

"Agaknya ada seorang anak buah Im-yang-kauw yang terlolos dari keganasan kipas baja gadis cantik itu, biarpun juga mengalami luka parah..."

Pemuda itu berdesah perlahan.

Lalu disibakkannya ranting ranting semak tersebut dengan tongkat Mo-tung Lo Bin yang besar dan panjang.

Seorang laki-laki tua dengan rambut yang memutih tampak terbaring di sana.

Kaki tangannya terikat erat dengan tali.

Mulutnya juga tersumbat dengan kain.

"Hei?" 'Uh... Uh..."

Chu Seng Kun bergegas menolong orang itu. Tali pengikatnya dia potong dan kain yang dipakai untuk menyumbat ia lepaskan.

"Uh... uh... terima kasih... terima kasih!"

Orang tua itu menjura berulang ulang, sehingga jenggotnya yang putih panjang tampak melambai ke kiri dan ke kanan.

Lalu dengan muka ketakutan ia melihat tumpukan mayat yang telah dikumpulkan oleh Chu Seng Kun tadi.

"Mereka... mereka...?"

Bibirnya gemetar.

"Mereka sudah mati semua, kek. Apakah mereka itu teman kakek?"

Chu Seng Kun bertanya. Orang tua itu menggeleng kuat-kuat.

"B-bukan! bukan! Oh, iya... iya!"

Jawabnya gugup. Chu Seng Kun duduk di dekat orang tua itu. Dengan sabar ia tersenyum sambil berusaha untuk menenangkan hati orang tua tersebut.

"Tenanglah, kek. Jangan gugup! Jawablah perlahan-lahan...!"

Kakek itu menghela napas berulang-ulang. Akhirnya dapat juga dia menenteramkan hatinya sendiri. Lalu dengan memandang kepada pemuda yang menolongnya dia mulai bercerita.

"Tuan, saya"

Saya adalah seorang pengurus Im-yang-si (Kuil Im-yang) yang terletak di belakang bukit itu!"

Katanya sambil menunjuk ke arah bukit di sebelah kiri mereka.

"Dan mereka semua itu adalah para anggota perkumpulan kami yang baru saja datang dari Gedung Pusat. Mereka mengatakan bahwa mereka sedang mengejar seorang pencuri yang berani mengambil benda pusaka kami. Sebagai seorang anggota Im-yang-kauw tentu saja saya ikut membantunya. Tapi ketika kuketahui pencurinya seorang gadis kecil, aku menjadi sangat kasihan. Kuusulkan kepada mereka agar bocah itu tidak usah dihukum. Tapi mereka tidak setuju sehingga akhirnya terjadi perselisihan. Aku diikat dan ditaruh di sini agar supaya tidak mengganggu rencana mereka."

Chu Seng Kun mendengarkan ceritera itu dengan sungguh sungguh. Begitu penuturan itu selesai ia segera menoleh ke arah Chin Yang Kun lalu kembali mengawasi kakek tersebut.

"Kek, kalau begitu engkau tentu mengenal kawanku ini..."

Katanya menunjuk Chin Yang Kun. Orang tua itu menatap Yang Kun dengan kening berkerut, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Siapakah dia, tuan? A-aku belum pernah melihat..."

"Benarkah? Dia termasuk orang terpenting di dalam perkumpulan kalian. Dia adalah algojo dari Im-yang-kauw...!"

"Toat... Toat-beng-jin...?"

"Nah... kau masih ingat?"

Tak terduga orang tua itu menjadi sangat ketakutan. Bergegas dia merangkak ke hadapan Chin Yang Kun dan membentur-benturkan jidatnya di atas tanah.

"Oh, Lojin-ong...maafkan aku! Ampunkanlah diriku! Karena belum pernah ke Gedung Pusat maka aku orang tua ini tidak segera mengenal pada Lojin-ong..."

Ratapnya berkali-kali, membuat Yang Kun menjadi gelagapan.

"Kakek... kakek! kau... kau bangkitlah! A-aku... aku..."

"Jangan! Oh... jangan bunuh aku! Lojin-ong... maafkan aku! Ampunkanlah diriku...!"

Kakek itu menangis sambil membenturkan jidatnya semakin keras.

Chu Seng Kun dan Chin Yang Kun menjadi bingung.

Mereka sungguh tidak mengerti.

Semakin halus Yang Kun menyapa, orang tua itu semakin ketakutan.

Ternyata mereka berdua tidak mengetahui akan kebiasaan dari tokoh Toat-beng-jin.

Di kalangan orang Im-yang-kauw, Toat-beng-jin dikenal sebagai tokoh yang mempunyai sifat aneh.

Semakin tidak senang ia terhadap seseorang, justru semakin ramah pula sikap yang ia tunjukkan!

Oleh karena itu semakin halus Chin Yang Kun membujuk semakin keras pula tangis orang tua tersebut.

Sehingga akhirnya Chin Yang Kun menjadi jengkel juga dibuatnya.

"Diam! Siapa bilang aku Toat-beng-jin. Sungguh menyebalkan sekali! Ayoh... berdiri!"

Bentaknya.

Heran!

Begitu mendengar bentakan Yang Kun orang tua itu langsung bangun!

Hup!

Wajahnya yang kotor dan penuh air mata itu kelihatan berseri-seri.

Bibirnya yang keriput dan tertutup oleh jenggot dan kumis lebat itu tampak tersenyum lega.

"Terima kasih, Lojin-ong"

Oh, terima kasih, Lojin-ong! Lojin-ong sungguh sangat bijaksana! Ohh... Thian Yang Maha Agung...!"

Teriaknya penuh kegembiraan seperti anak kecil yang memperoleh kembali mainannya.

Lalu tanpa diperintah orang itu mengambil tongkat yang dibawa oleh Chu Seng Kun dan ikut sibuk membantu mengumpulkan mayat-mayat kawannya.

Yang Kun dan Seng Kun mengangkat pundak masingmasing, lalu saling pandang dengan mulut meringis.

"Yang-hiante... jadi kau ini bukan Toat-beng-Jin?"

Chu Seng Kun berbisik dan mendekati kawannya. Keduanya lalu duduk bersama di atas batu sambil menonton orang tua itu memasukkan mayat-mayat kawannya ke dalam lobang yang dibuat oleh Yang Kun.

"Saya memang hanya berbohong ketika berhadapan dengan gadis itu. Semula saya hanya ingin memberi pelajaran kepadanya. Dan saya mengarang sebuah nama sekenanya"

Eh, tak tahunya betul-betul ada!"

Yang Kun menjawab dengan perlahan pula, takut terdengar oleh orang tua yang sinting itu.

"Ternyata tebakanku salah...Yang-hiante tidak ada hubungan sama sekali dengan tokoh yang ternama itu. Eh, kalau begitu apa...apakah Yang-hiante ini sungguh-sungguh putera seorang kepala desa yang baru tamat belajar silat?"

"Bukan juga"

Chin Yang Kun menggelengkan kepalanya.

"Ohh... lalu?"

Yang Kun menghela napas panjang, lalu mengalihkan pandang matanya ke arah puncak bukit yang terlihat remang-remang di kegelapan malam.

Pikirannya melayang tinggi di udara mengingat semua peristiwa yang menimpa diri dan keluarganya.

Hingga beberapa saat lamanya ia berdiam diri tak menjawab pertanyaan itu.

"Yang-hiante, maafkan aku. Tak seharusnya aku terlalu mendesakmu. Setiap orang memang mempunyai urusan pribadi masing-masing..."

Chu Seng Kun segera menarik kata-katanya begitu melihat temannya tampak sedikit sukar mengeluarkan isi hatinya. Chin Yang Kun menolak dengan cepat.

"Ah... tidak apa apa, Chu-Twako. Tidak apa-apa... Engkau tidak bersalah sama sekali. Pertanyaan ChuTwako itu memang wajar sekali. Hanya aku sedang berpikir, mana yang perlu aku ceriterakan kepadamu, karena memang ada sebagian yang sampai sekarang harus aku rahasiakan..."

"Ah... sudahlah, Yang-hiante. Aku juga hanya bertanya sambil lalu saja. Lupakanlah...!"

"Tidak, Chu-Twako, mana berani aku bersikap begitu kepadamu. Chu-Twako mempunyai arti tersendiri bagiku. Tanpa adanya Chu-Twako aku sudah tidak mungkin hidup lagi di dunia. Aku tentu sudah mati termakan racun ubur ubur dan tikus laut."

Yang Kun cepat memotong perkataan Chu Seng Kun.

Lalu dengan nada rendah pemuda itu mengatakan siapa dirinya.

Biarpun di dalam pengakuannya kali ini ia masih tetap menyembunyikan nama keluarganya.

Ia masih tetap memakai she Yang seperti pengakuannya di depan Liu-Twakonya dahulu.

Jilid 09

"Chu-Twako, namaku yang sebenarnya memang Yang Kun...Dan sebelum berkelana di dunia kang-ouw aku tinggal bersama orang tuaku di suatu lembah yang terpencil di daerah Ho-pak. Aku belajar silat dari ayah dan paman-pamanku. Kami hidup bersama dengan aman dan damai. Bercocok tanam dan menanam gandum sendiri, mendirikan rumah sendiri. Hanya kadang-kadang aja sekali waktu ayah atau pamanku pergi ke kota untuk berbelanja kebutuhan kami yang tidak dapat kami hasilkan sendiri."

Yang Kun menghentikan ceriteranya sebentar untuk mengambil napas. Lalu.

"Chu-Twako... ternyata kebahagiaan kami itu tidak berlangsung lama. Pada suatu hari paman bungsuku kami dapatkan mati dibunuh orang. Aku tidak tahu siapa pembunuhnya. Kata ayah, musuh keluarga kami telah datang menemukan tempat persembunyian kami itu dan kini telah mulai dengan gerakannya untuk menumpas kami semua. Oleh karena itu ayah membawa kami semua meninggalkan lembah tersebut, pergi menghindar dari kejaran mereka.."

"Ah... masa! Mengapa tidak dilawan saja mereka? kau saja demikian lihainya, apalagi ayah dan pamanmu. Kukira tidak ada lagi yang mampu melawan keluargamu...!"

Chu Seng Kun memotong dengan nada tak percaya.

"Itulah... Chu-Twako! Akupun dulu berpendapat demikian. Tapi kata ayah lawan kami itu tidak hanya satu dua orang, mereka merupakan sebuah kekuatan besar yang mungkin terdiri dari ribuan orang."

"Hah? Ribuan orang?"

Chu Seng Kun tersentak kaget.

Yang Kun mengangguk.

Terbayang kembali peristiwa hebat yang sangat melukai hatinya itu.

Wajah ibunya yang selalu ketakutan di dalam perjalanan, wajah ayah dan pamannya yang tak pernah tidur dan beristirahat, serta wajah-wajah adiknya yang pucat pias menahan tangis dan lapar!

Dan wajah-wajah yang sangat dicintainya itu kini telah tiada.

Tak terasa air mata pemuda itu mengalir membasahi pipinya.

Tapi dengan cepat disekanya dengan lengan bajunya, sambil meminta maaf kepada Chu Seng Kun atas kelemahannya tersebut.

"Aku memahami kesedihanmu itu, Yang-hiante...Lalu di manakah keluargamu itu sekarang?"

Wajah Chin Yang Kun tertunduk semakin dalam. Suaranya hampir tidak terdengar ketika menjawab.

"Mereka semua telah pergi..."

"Pergi? Pergi ke...oh, Yang-hiante maksudmu... maksudmu...?"

Sekali lagi Yang Kun mengangguk. Matanya kembali berkaca-kaca.

"Satu persatu keluargaku dibantai secara menggelap oleh mereka..."

"Bangsat keji!"

Chu Seng Kun terlonjak dari tempat duduknya, sehingga kakek tua yang sedang sibuk menimbun lobang itu tersentak ketakutan.

"Ssssaya... s-saya..?!"

Kakek tersebut tergagap dengan tubuh gemetar. Chu Seng Kun menjadi tersipu-sipu.

"Oh, tidak apa-apa. kau teruskan pekerjaanmu...!"

Katanya sambil duduk kembali di samping Yang Kun.

Untuk beberapa saat orang tua itu masih tetap berdiri bengong, tapi begitu terlihat kedua orang pemuda itu kembali asyik berbicara satu sama lain, ia menjadi lega.

Perlahan-lahan ia mengambil alatnya kembali dan meneruskan pekerjaannya.

"Jadi... kau sekarang tinggal sebatangkara saja di dunia ini? Tapi kata Hong... eh, anu... kata orang kau bersama-sama dengan seseorang ketika ditolong dari penjara bawah tanah itu? Siapa dia? Orang tersebut mengaku sebagal gurumu pada saat itu."

Hampir saja Chu Seng Kun keseleo lidahnya menyebut Hongsiang (Kaisar Han).

Untunglah ia segera teringat pesan Baginda bahwa dia harus turut menutupi rahasia penyamaran Baginda.

Dan untuk beberapa saat lamanya pemuda itu menatap wajah Yang Kun.

kalau-kalau kata katanya tadi menimbulkan kecurigaan kawannya.

Tapi dilihatnya Yang Kun tidak bereaksi apa apa.

Pemuda itu kelihatannya masih terlibat dengan kesedihannya.

Chu Seng Kun menjadi lega hatinya.

Dengan sabar ia berdiam diri menanti jawaban Yang Kun.

"Dia adalah pembantu ayahku yang paling terpercaya. Dialah satu-satunya orang kami yang sekarang masih tinggal hidup. Besar sekali pengorbanannya terhadap keluargaku. Entah sekarang ada di mana dia..."

Akhirnya Yang Kun memberikan keterangannya.

"Yang-hiante, engkau tidak usah bersedih. Pada suatu saat nanti engkau tentu akan berjumpa pula dengannya. Bagaimanapun juga dia tentu akan mencari engkau pula..."

"Orang itu tidak mungkin mencari aku!"

Yang Kun memotong dengan cepat.

"Dia telah menganggap aku sudah mati. Bukankah aku diselamatkan oleh Liu-Twako dalam keadaan tak bernyawa?"

"Hmm...k alau begitu kitalah yang akan mencari dia!"

Ucap Seng Kun tegas.

"Kita...?"

Chin Yang Kun tersentak kaget.

"Benar! Aku akan membantu mencari orang itu. Tentu saja kalau engkau memperbolehkan..."

"Ah, Chu-Twako... mana aku berani menolak uluran tanganmu? Tapi... tapi..."

Yang Kun menyela dengan kikuk.

"Sudahlah Yang-hiante, kau tak perlu sungkan kepadaku. Anggap saja kita bekerja sama dalam hal ini. Kita sama-sama mencari seseorang. kau mencari orangmu itu, aku mencari adikku..."

"Ya! Ya! Tetapi..."

"Aku tahu! Jangan khawatir! Aku cukup memaklumi kesulitanmu. Engkau tentu akan mengatakan bahwa selain berusaha mencari orangmu engkau akan mengurus juga sesuatu yang tidak boleh diketahui oleh orang lain. Begitu bukan? Haha, Yang-hiante, percayalah kepadaku. Begitu aku tahu engkau sedang mengurus suatu rahasia aku tentu akan cepat-cepat menghindar untuk sementara dari sampingmu. Bagaimana...?"

"Terima kasih, Chu-Twako. kau sungguh sangat bijaksana."

Chu Seng Kun tersenyum, tapi hanya sebentar, karena wajah itu berubah menjadi tegang dan keruh kembali.

"Tapi omong-omong... eh... siapakah sebenarnya musuh keluargamu itu? Sudahkah kau menemukannya?"

Katanya berhati-hati. Perlahan-lahan Yang Kun bangkit dari tempat duduknya, lalu menoleh ke arah kakek tua yang sudah hampir menyelesaikan pekerjaannya itu.

"Itulah yang sampai sekarang masih tetap membingungkan aku, Chu-Twako! Sebelum meninggal ayah dan pamanku belum pernah memberitahukannya kepadaku, sehingga kini aku mendapatkan kesukaran untuk mengenal mereka."

Pemuda itu berkata kesal.

"Memang, dalam berkelana selama ini aku telah beberapa kali mencurigai orang! Malah di antaranya adalah orang yang kau sebut Hek-eng-cu dan Kwa Sun Tek itu!"

"Hah?"

"Ya... tapi kecurigaan itu menjadi kabur kembali. Aku tidak memperoleh bukti yang kuat untuk membuktikan keterlibatan mereka."

"Ohh...!"

Chu Seng Kun bernapas lega.

"Tapi... tapi apakah tidak ada petunjuk barang sedikitpun yang dapat kau pakai untuk melacak para pembunuh itu?"

Yang Kun menggelengkan kepalanya.

"Kalau toh ada hal itu tidak cukup kuat untuk membuktikan keterlibatan mereka,"

Keluhnya lirih.

"Lojin-ong..."

Tiba-tiba kakek yang telah selesai menimbuni lobang itu menghampiri mereka. Terpaksa kedua pemuda itu mengakhiri pembicaraan mereka.

"Chu-Twako, semula maksudku datang ke daerah ini hanya ingin melihat para perampok yang katanya sedang mengganggu penduduk desa Hok-cung. Tapi baru sampai disini perjalananku telah terhambat oleh beberapa peristiwa yang datang secara beruntun tadi... maka aku bermaksud..."

"Baik. Kita berangkat menuju desa Hok-cung sekarang!"

Seng Kun memutuskan.

"Lojin-ong, saya ikut!"

Kakek itu memohon kepada Chin Yang Kun.

"Hei, kek! Bukankah kau sudah bebas sekarang? Mengapa engkau tidak lekas-lekas kembali ke kuilmu? Mengapa malah ingin mengikuti kami?"

Chu Seng Kun menyela. Orang tua itu menjawab pertanyaan Chu Seng Kun tanpa berani beranjak dari tempatnya. Kepalanya tertunduk, sedikitpun tidak berani memandang Yang Kun.

"Sudah lama sebetulnya saya ingin mengabdi kepada Lojin-ong. Sejak pengangkatan Tai-si-ong (Raja Kuil Agung) baru, kira-kira empat tahun yang lalu saya sudah berusaha untuk menghadap Lojin-ong, tapi selalu tidak berhasil... Oleh karena itu kesempatan ini tentu tidak akan saya lewatkan begitu saja. Boleh tidak boleh saya akan ikut Lojin-ong!"

Jawabnya mantap.

"Kakek yang baik..."

Yang Kun berkata dengan halus. Tidak enak juga rasanya membohongi kakek itu terus terusan.

"Ketahuilah, sebenarnya aku ini..."

Tapi bukan main kagetnya Yang Kun ketika tiba-tiba kakek itu menangis meraung-raung kembali begitu mendengar ucapannya yang sopan dan halus tersebut.

"Lojin-ong, jangan bunuh aku! Ampunkanlah diriku yang tua ini! Aku sangat ingin menjadi pelayanmu! Jangan kau bunuh diriku!"

"Kurang ajar! Siapa mau membunuh dirimu? Ngaco! Hmmh...terserah! kau boleh mati sekarang atau mau ikut denganku!"

Yang Kun berteriak sambil meloncat pergi meninggalkan tempat itu.

Menghadapi ulah kakek sinting tersebut hatinya terasa jengkel bukan main.

Chu Seng Kun mengangkat pundak.

Lalu sambil tersenyum kecut ia juga berlari mengikuti kawannya.

* * * Malam semakin larut.

Udarapun terasa dingin sekali.

Tapi Yang Kun tidak memperdulikan semua itu.

Bagai seekor kijang ia berloncatan cepat sekali menyusuri jalan besar yang menuju ke desa Hok-cung.

Sementara tidak jauh di belakangnya, tampak Chu Seng Kun yang mewarisi Pek-in-ginkang dari Bueng Sin-yok-ong, menempel terus seperti bayangan saja!

Dan tak seorangpun dari kedua orang itu yang mau memikirkan keadaan si kakek tua lagi.

Sekejap saja dusun yang mereka tuju telah berada di depan mata.

Biar malam sudah mulai larut, ternyata suara gelak ketawa para perampok itu masih saja terdengar dengan ramainya.

Sinar obor yang mereka sulut kelihatan terang benderang menerobos rimbunnya daun dan pepohonan yang melingkari dusun kecil tersebut.

Dari jauh kadang-kadang terlihat beberapa orang sedang hilir mudik dengan obor besar di tangan mereka.

Yang Kun berhenti tidak jauh dari mulut jalan yang membelah desa itu.

Tampak tujuh atau delapan orang laki-laki kasar berdiri di mulut jalan tersebut, lengkap dengan senjata mereka masing-masing.

"Agaknya mereka menempatkan para pengawal juga di setiap mulut jalan. Kalau begitu mereka memang bukan perampok biasa. Mereka tentu pernah mendapatkan latihan latihan khusus."

Yang Kun berkata kepada Chu Seng Kun yang telah berdiri pula di sampingnya.

"Selain itu orang-orang ini sungguh berani sekali. Desa ini hanya beberapa puluh lie dari Kotaraja, meskipun begitu mereka seakan-akan tidak memperdulikan bahaya itu."

Chu Seng Kun mengiyakan.

Baca Juga: Mutiara Hitam 5

Baca Juga: Si Bangau Merah 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert