Pendekar Penyebar Maut 4

Eps 4 Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono

Baca online Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono

Cersil Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono.

"Tapi menurut pembicaraan Hek-eng-cu dan Kwa Sun Tek tadi, perampok ini justru datang dari Kotaraja. Mereka menyerbu istana kira-kira dua atau tiga hari yang lalu..."

Yang Kun mengatakan apa yang didengarnya dari kedua tokoh sesat itu.

"Hah? Kalau demikian itu pemberontakan namanya..."

"Benar! Chu-Twako, hatiku rasanya jadi ingin sekali bertemu dengan Liu-Twako."

Chu Seng Kun tersenyum penuh arti. Untunglah suasana sangat gelap di sekitar mereka, sehingga senyum itu tak terlihat oleh siapapun juga.

"Yang-hiante, lalu apa yang akan kita kerjakan sekarang? Menggasak para penjaga ini atau langsung masuk menemui pimpinan mereka?"

"Bagaimana kalau kita masuk dulu secara rahasia agar kita bisa menilai keadaan sebaik-baiknya?"

Chin Yang Kun mengajukan usul.

"Bagus sekali! Itu memang jalan yang terbaik. Dan untuk dapat memperoleh gambaran yang lebih lengkap dan luas, sebaiknya kita masuk secara berpencar. Yang-hiante masuk dari sebelah utara, aku masuk dari sebelah selatan. Kita masing-masing harus berusaha mengumpulkan keterangan sebanyak-banyaknya agar kita dengan mudah dapat menentukan apa yang mesti kita lakukan nantinya. Kita bertemu di tempat mereka berkumpul dan bersuka-ria. Bagaimana, Yang-hiante?"

"Setuju! Mari kita berangkat!"

Jawab Yang Kun tegas.

Keduanya lalu berpisah.

Yang Kun berlari ke arah utara, sedang Chu Seng Kun menyelinap ke arah selatan.

Sebentar saja mereka telah lenyap ditelan kegelapan malam.

Yang Kun melangkah perlahan-lahan menyusuri selokan kecil yang mengalir di tepi dusun.

Lalu dengan tenang ia mendekati tembok halaman seorang penduduk yang hanya diterangi oleh lampu minyak, sehingga di antara rimbunnya tanam-tanaman di sekitarnya sinar itu hampir tidak berarti sama sekali.

Melihat tempat itu sepi sekali dan tak seorang penjagapun yang kelihatan Yang Kun segera meloncat ke atas tembok.

Matanya yang tajam lalu mengawasi seluruh halaman rumah yang luas di bawahnya.

Tampak olehnya halaman yang remang-remang karena cahaya beberapa buah lampu minyak yang ditaruh di beberapa tempat itu benar-benar sangat bersih dan terawat rapi.

Suatu tanda bahwa penghuni rumah itu adalah seorang yang berkecukupan serta suka akan kebersihan.

Yang Kun meloncat turun, kemudian berlari menyelinap di antara pohon-pohon perdu dan bergegas melintasi halaman samping.

Pemuda itu lalu berhenti sebentar di dekat kandang kuda.

Agak lama ia berdiri di tempat itu.

Hatinya merasa bergetar.

Perasaannya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres, yang mungkin dapat membahayakan jiwanya di sekitar halaman itu.

Tapi ia tidak dapat mengetahui, bahaya apakah itu?

(Seperti telah diceriterakan di bagian depan, secara tidak sengaja Yang Kun telah berlatih semacam ilmu yang biasa disebut orang Lin-cui Sui-hoat ketika sedang mengobati kakinya di istana.

Ilmu kesaktian ini didasarkan pada ketajaman perasaan dan kesempurnaan panca indera manusia.

Sehingga apabila ilmu ini telah dipelajari dengan sempurna, orang akan mampu mencium dengan perasaannya, segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya atau yang bakal terjadi di sekitarnya, tanpa melibatkan kelima panca-inderanya secara langsung!) Ketika Yang Kun akan berkonsentrasi seperti yang dahulu biasa ia lakukan di istana apabila ingin mendengarkan suara hantu seruling, tiba-tiba telinganya mendengar desah napas seseorang di tempat penimbunan rumput.

Secepat kilat Yang Kun menjejakkan kakinya ke atas tanah dan di lain saat tubuhnya telah melayang ke tempat itu.

Hampir saja kakinya menginjak tubuh seseorang ketika Yang Kun mendaratkan kakinya di tumpukan rumput tersebut.

Untunglah dengan sangat cekatan pemuda itu segera menggeser kakinya ke samping lalu meloncat selangkah lagi ke depan.

"Bangsat! Anjing busuk! Apakah kau tidak bisa menunggu giliranmu sebentar lagi...?"

Dari dalam tumpukan rumput itu tiba-tiba muncul tubuh seorang laki-laki kasar, bertelanjang bulat mengumpat-umpat ke arah Yang Kun.

Badannya yang kekar berbulu lebat itu tampak berkilat-kilat karena peluh.

Sebelum Yang Kun menjawab makian itu, dari dalam timbunan rumput telah muncul lagi sesosok tubuh wanita, juga bertelanjang bulat, berdiri dengan menangis tersedu sedu.

"Diam kau, perempuan!!"

Laki-laki itu menghardik. Tangan kirinya tampak melayang.

"Plaaakk!"

Wanita itu tersungkur kembali ke dalam tumpukan rumput. Lalu dengan beringas ia menghadapi Chin Yang Kun dengan bertolak pinggang.

"Kau belum enyah juga? Babi kotor! Apakah ingin kuremukkan dahulu kepalamu hingga hancur? Hah? kau!"

Mendadak laki-laki itu menghentikan sumpah serapahnya.

Baru tersadar kalau yang dia hadapi bukan kawannya.

Tiba-tiba terdengar suara derit pintu dibuka orang.

Yang Kun menjadi terkejut dan agak panik.

Dilihatnya pintu samping rumah besar itu terbuka perlahan-lahan.

Karena tidak ingin usahanya gagal.

Yang Kun menjadi mata gelap.

Kedua tangannya yang penuh tenaga Liong-cu i-kang itu terayun ke depan dengan dahsyatnya.

Laki-laki kasar itu berusaha mengelak, tapi mana mampu ia lolos dari tangan yang penuh sinkang tersebut?

"Prakkk!!"

Tanpa sempat berteriak lagi laki-laki yang sedang memperkosa wanita itu terlempar dengan kepala hancur berantakan!

"Hei, Lo-go (Buaya Tua)...!

Sudah selesai?

Lekaslah!

Mengapa kau hanya berteriak-teriak saja sejak tadi?

Apakah kuda binal itu belum dapat kau tundukkan juga, he...?"seorang lelaki tampak melongok keluar dari pintu yang dibuka tadi.

Dalam saat yang begitu mendesak Yang Kun sudah tidak dapat berpikir banyak lagi.

Sambil terjun ke dalam timbunan rumput ia berteriak kasar, menirukan suara laki-laki yang baru saja dibunuhnya tadi.

"Diam kau, bangsat...!"

Tak terduga karena tergesa-gesa pemuda itu jatuh persis di atas tubuh si wanita yang malang tadi dan tanpa dia sengaja pula tangannya memegang persis pada buah dada wanita tersebut.

kontan saja perempuan itu menjerit kaget!

Mendengar jerit perempuan itu orang yang melongok tadi segera tertawa tergelak-gelak.

"Setan kuburan! Buaya tua itu benar-benar seekor kuda gila...!"

Serunya sambil menutup pintunya kembali.

Lalu terdengar suara ketawanya yang kasar bercampur dengan ketawa teman-temannya yang lain.

Yang Kun menjadi lega kembali.

Tapi ia segera tersipu-sipu ketika wanita yang ditindihnya itu mendorong dadanya dengan keras.

Dengan muka merah ia melepaskan pegangannya dan meloncat berdiri.

Dan ia semakin kikuk sekali ketika melihat wanita itu bangkit sambil berusaha menutupi tubuhnya yang telanjang dengan kedua belah tangannya.

"Aku... aku... oh, maafkan... aku tak sengaja! Sungguh...!"

Pinta pemuda itu dengan hati tak karuan rasanya.

Dan ketika wanita yang ternyata masih sangat muda itu mulai menangisi nasibnya, Yang Kun makin menjadi bingung dan tidak tahu apa yang mesti dikerjakan.

Maklumlah, selama ini pemuda yang masih hijau itu memang selalu tinggal di daerah terpencil serta belum pernah berhubungan dengan wanita, apalagi melihat seorang gadis bertelanjang bulat sedemikian dekatnya.

Maka tak heran kalau keadaan seperti itu benar-benar sangat menggoncangkan jiwanya.

Keadaan Yang Kun masih juga seperti orang linglung ketika gadis malang itu sambil menangis melangkah ke arah mayat laki-laki yang tadi dengan biadab telah memperkosanya.

Yang Kun juga masih terpaku diam ketika melihat gadis itu mencabut pedang lelaki tersebut dan kemudian dengan buas mencacah cacah tubuh yang sudah tidak bernyawa itu.

Barulah ia menjadi tersentak kaget setengah mati ketika gadis itu membalikkan ujung pedang tersebut dan menusukkannya ke dalam lambungnya sendiri.

"Nonaaaa...!?"

Serunya sendat.

Dengan sigap Yang Kun menyambar tubuh si gadis yang terhuyung-huyung mau jatuh.

Darah segar tampak menyembur dari luka akibat pedang itu.

Tanpa sadar pemuda itu memeluk tubuh yang telanjang tersebut.

"Nona... mengapa kau mengambil jalan yang sependek ini? Bukankah..."

Gadis itu menggeliat sebentar, lalu membuka matanya.

"Ti...ada gunanya a-aku hidup...Ke-ke-luargaku telah mereka bu-bunuh s-semuanya.,! A-aku juga sudah ti-tidak la...layak untuk h-hidup lagi! Me-mereka... te...telah meng...hina diriku ohhh...!"

Kepala itu jatuh terkulai, nyawanya melayang.

"Keparat busuk...! Kalian benar-benar harus dilenyapkan!"

Yang Kun menggeram dengan marah.

Hati-hati tubuh itu diletakkan oleh Yang Kun di atas timbunan rumput, lalu dengan hati-hati pula tubuh yang telanjang tersebut ditutup dengan baju luarnya yang lebar.

Kemudian dengan mengangguk kaku pemuda itu menggeram di hadapan mayat yang malang tersebut.

"Kau beristirahatlah dengan tenang, nona... Akan kubalaskan sakit hatimu ini. Percayalah!"

Dengan wajah yang menyeramkan Yang Kun menoleh ke arah pintu yang tadi dibuka oleh kawan si pemerkosa itu.

Lalu perlahan-lahan kakinya melangkah mendekatinya.

Di depan pintu itu tiba-tiba Yang Kun berhenti.

Hatinya terasa bergetar kembali.

Malah sekarang terasa lebih keras dari pada tadi.

Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, tapi tidak ada barang sesuatunya yang mencurigakan.

Halaman itu tetap sepi.

Hanya yang membuat pemuda itu merasa agak aneh ialah suasana di dalam rumah tersebut.

Semula dari dalam rumah besar itu terdengar suara percakapan dari beberapa orang teman penjahat yang dibunuhnya tadi, tapi sekarang di dalam rumah itu juga tampak sunyi.

Tentu saja keadaan itu menambah keresahan di hati Yang Kun.

Dugaannya bahwa ada sesuatu yang aneh telah terjadi di sekitarnya semakin kuat.

Berindap-indap Yang Kun mendekati pintu tersebut dan membukanya perlahan-lahan.

Ternyata pintu itu tidak dikunci dari dalam.

"Hah?!?"

Yang Kun ternganga di depan pintu.

Di dalam rumah tampak beberapa sosok tubuh bergelimpangan tidak teratur.

Ada yang tertelungkup di atas meja, ada yang terlentang di atas meja, ada yang terlentang di atas kursi dan ada yang terkapar di atas lantai.

Semuanya dalam keadaan pingsan dan tertotok lumpuh seluruh anggota badannya!

Tanpa mengurangi kewaspadaan Yang Kun memasuki ruangan dan memeriksa tubuh-tubuh yang bergelimpangan tersebut.

Dua orang diantaranya, yang tertelungkup diatas meja, masih tampak bergoyang-goyang lengannya di bawah meja, suatu tanda bahwa peristiwa yang membuat mereka berkeadaan seperti itu belum lama berlalu.

Yang Kun semakin meningkatkan kewaspadaannya.

Ternyata apa yang dia rasakan sejak dia memasuki halaman tadi benar-benar tidak salah.

Ada orang lain yang memasuki tempat ini pula dan telah membereskan semua penjahat itu selagi ia sibuk mengurus gadis malang tersebut.

Yang Kun memeriksa kamar kamar yang lain.

Keadaannya sama saja, di sana juga terdapat tubuh-tubuh bergelimpangan di antara makanan dan minuman yang berserakan pula.

Mereka tergeletak dalam posisi yang aneh-aneh.

Ada yang bersandar di dinding dengan mulut masih menggigit makanan, ada yang terduduk di atas kursi dengan tangan masih memegang cangkir, malah ada empat orang yang terkapar di atas lantai dalam posisi memperebutkan guci arak!

Dan ada beberapa benda di tempat itu yang masih kelihatan bergoyang goyang, tanda bahwa peristiwa ini juga baru saja terjadi.

Yang Kun berlari memasuki kamar belakang kalau kalau orang tersebut masih berada di sana.

Tapi kamar belakang juga sepi, tak seorangpun yang kelihatan di tempat itu.

Di dapur Yang Kun malahan mendapatkan keluarga tuan rumah telah menjadi mayat.

Seorang laki-laki tua dengan istrinya yang berwajah mirip sekali dengan gadis yang bunuh diri itu!

Di atas tumpukan kayu juga tampak beberapa mayat anak anak yang semuanya menderita luka bekas siksaan.

Untuk sesaat kepala Yang Kun menjadi pening.

Bayangan wajah ibu dan adik-adiknya berkelebat di depan matanya.

Dendam yang selama ini tersekap di dalam tubuhnya menyala kembali dengan hebatnya.

Pemuda itu menggeretakkan giginya.

Tiba-tiba terdengar suara gemerisik di luar rumah.

Bergegas pemuda itu meloncat keluar.

Tapi di luar tetap sunyi sepi.

Hanya di pekarangan sebelahnya terdengar suara maki-makian beberapa orang perampok yang sedang mabuk.

Agaknya di sana juga sedang dikunjungi oleh kawanan perampok seperti halnya di tempat ini.

Dengan perasaan berang Yang Kun melesat ke pekarangan sebelah.

Tapi ketika meloncati tembok halaman, hati pemuda itu terasa berdesir kembali.

Perasaannya mengatakan bahwa ia telah didahului orang lagi.

Benarlah!

Di rumah itupun ia mendapatkan para perampok telah tertotok pingsan, berserakan di segala tempat!

Yang Kun berlari keluar kembali, lalu dengan gesit ia melesat ke rumah sebelahnya lagi.

Dan seperti yang terjadi di kedua tempat itu, di sinipun telah terjadi hal yang sama.

Para perampok yang bercokol di tempat itu juga telah pingsan tertotok oleh orang yang mendahuluinya!

Begitulah, setiap kali Yang Kun melongok ke rumah penduduk yang ia curigai ada kawanan perampoknya, ia hanya menemukan tubuh tubuh yang bergelimpangan di atas lantai.

Gila!

Macam apa pula orang itu?

Gerakannya demikian gesit dan kepandaiannya begitu hebat, pemuda itu membatin.

Kawanan perampok itu sedemikian banyaknya dan satu atau dua orang di antaranya tentu juga mempunyai kepandaian pula, tapi hanya dalam tempo yang sangat singkat sudah dapat dilumpuhkan oleh orang misterius tersebut.

Dan tanpa menimbulkan suara ribut pula!

Sungguh menakjubkan!

Sementara itu Chu Seng Kun yang menyelidiki dari arah selatan juga telah mengalami peristiwa yang mendebarkan.

Pemuda yang berkepandaian tinggi itu menyelinap di antara pohon-pohon rindang yang memagari pinggiran desa sebelah selatan.

Hampir di setiap tempat ia melihat kelompok para perampok bersuka ria dengan makan dan minum, dilayani oleh para wanita penduduk desa, sementara para suami dan anak anak mereka menonton dengan wajah ketakutan di antara rumah rumah mereka yang hampir roboh digoyang gempa itu.

"Kurang ajar! Ini terang bukan perampok lagi. Kekuatan yang demikian besar seperti ini terang membutuhkan waktu lama untuk menghimpunnya. Dan untuk memimpin pasukan besar seperti ini tentulah harus orang yang hebat serta disegani pula oleh mereka."

Chu Seng Kun bergumam di antara langkahnya "Lalu... siapakah pemimpin itu?"

Chu Seng Kun segera meloncat ke atas pohon dan bersembunyi di antara daun daun yang rimbun ketika sampai di sebuah rumah besar yang berada di pinggir jalan besar yang menghubungkan desa itu dengan desa sebelahnya.

Rumah tersebut terang benderang dengan sinar obor yang ditaruh di segala tempat.

belasan anggota perampok tampak hilir-mudik sambil bersuka-ria dengan cara masing-masing.

Rumah yang berada di seberang jalanpun tak kalah ramainya.

Selain ramai tempat itu juga kelihatan dijaga ketat oleh pengawal-pengawal bersenjata tombak.

Para wanita yang melayani di tempat itu juga lebih banyak dan masih muda-muda, biarpun seperti di tempat lain rata-rata wajahnya mereka juga tampak suram serta sangat menderita.

Beberapa di antaranya malah kelihatan pucat dan putus-asa.

Tak heran jikalau Yang Kun, kawannya yang masih muda itu sampai bertekad untuk menolong para penduduk itu, demikian pikir Chu Seng Kun di dalam hati.

Sambil berlindung di antara rimbunnya daun Chu Seng Kun merambat dari dahan ke dahan, sehingga akhirnya ia dapat mencapai di atas rumah di seberang jalan.

Lalu tubuhnya melorot turun ke atas genting.

Kemudian dengan sangat hati-hati ia membuka sebuah genting untuk dapat mengintai ke dalam.

Semua itu dikerjakan oleh Chu Seng Kun tanpa menimbulkan kecurigaan para perampok yang bertebaran di bawahnya.

Dengan Pek-in-ginkangnya yang sangat tinggi tak sepotong dahanpun tampak bergoyang ketika diinjaknya dan tak selembar daunpun kelihatan tanggal dari kelopaknya ketika tersenggol badannya.

Seperti seekor kucing hitam tubuhnya yang jangkung itu bertengger di atas genting yang telah dibukanya, dan kedua buah matanya yang tajam itu mengawasi ke dalam ruangan yang dijaga ketat pada bagian luarnya tersebut.

Mula-mula terlihat oleh Chu Seng Kun beberapa orang gadis duduk di dekat pintu masuk.

Dengan wajah tunduk mereka bersimpuh di hadapan seorang pemuda yang duduk di atas kursi kebesaran.

Gadis-gadis itu juga tampak pucat dan takut.

Sesekali mereka tampak melirik dengan takut ke arah laki-laki muda yang kelihatan sedih di atas kursinya itu.

Chu Seng Kun tergetar hatinya.

Kelihatannya pemuda itulah yang memimpin semua perampok di desa ini.

Seorang pemuda halus berusia tiga-puluh tahun dengan pakaian sutera yang sangat mahal!

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendatangi ruangan tersebut.

Para pengawal yang berada di depan pintu kelihatan sibuk memberi jalan.

"Pangeran...! Ah, mengapa pangeran masih juga memikirkan hal itu? Pangeran..."

Seorang laki-laki kurus berwajah keras dan kasar menyapa pemuda tersebut sambil memasuki ruangan.

Sarung pedangnya yang panjang tampak terayun-ayun di pinggang kirinya.

Pemuda yang duduk lesu di atas kursinya itu menoleh sekejap, lalu kembali merenung seperti semula.

"Sam-mo (Iblis ke Tiga), pergilah! Jangan ganggu aku!"

Katanya perlahan.

Tapi seperti seorang hamba yang sudah hapal akan watak tuannya, orang yang dipanggil Sam-mo itu tetap datang mendekat dan berdiri di samping kursi kebesaran itu.

Dengan wajah penuh senyuman orang itu menjura.

"Perjuangan kita kali ini memang menemui kegagalan, pangeran. Tapi bukan berarti bahwa kita tidak mempunyai kesempatan lagi di masa datang. Kalau dipikirkan kembali, gerakan yang kita lakukan beberapa hari yang lalu memang terlalu tergesa gesa. Kita kurang teliti memperhitungkan kekuatan Kaisar Han yang berada di Kotaraja. Ayahanda pangeran belum memperhitungkan jago-jago Sha-cap mi-wi yang ternyata sangat hebat itu!"

Kali ini Chu Seng Kun benar-benar terkejut sekali.

Pangeran?

Pangeran dari mana, tanyanya dalam hati.

Sejak semula ia dan Yang Kun memang telah bercuriga pada kekuatan yang sangat besar ini, tapi ia benar-benar tidak menyangka kalau kekuatan itu dipimpin oleh seorang pangeran.

Apabila demikian kekuatan ini memang telah dipersiapkan oleh seseorang untuk melakukan pemberontakan kepada pemerintahan Kaisar Han!

Chu Seng Kun menjadi semakin bergairah untuk mengetahui tentang orang-orang ini.

Matanya dengan tajam mengawasi orang orang yang berada di dalam ruangan tersebut.

"Kau melupakan sesuatu, Sam-mo..."

Pemuda yang dipanggil dengan sebutan pangeran itu terdengar menukas kata-kata pembantunya yang baru saja tiba tersebut.

"Ayahanda memang tergesa-gesa dalam melancarkan serangan itu. Tetapi hal itu karena sangat terpaksa. Menurut penyelidikan yang dilakukan oleh Siang-houw Nio Nio Lo-Cianpwe, ada kekuatan lain yang lebih besar dari kekuatan kita juga sedang bersiap-siap untuk menggulingkan kekuasaan Kaisar Han. Kekuatan yang sangat besar itu dipimpin oleh seorang manusia aneh yang selalu menyembunyikan wajahnya di balik topi bertutup sutera tipis. Siang-houw Lo-Cianpwe tidak bisa menebak siapakah orang tersebut, hanya di dalam kalangan persilatan orang aneh itu dipanggil dengan nama Hek-eng-cu... Nah, karena ayahanda tidak ingin didahului oleh orang itu, terpaksa beliau mengerahkan kekuatan kita selekasnya. Sungguh menyesal sekali kita telah gagal dan kekuatan kita menjadi bercerai berai seperti sekarang..."

Pemuda itu menghela napas berulang-ulang. Tampak benar betapa sedihnya dia. Sebaliknya, orang yang dipanggil dengan sebutan Sam-mo itu tampak menyeringai kurang senang.

"Pangeran..!"

Ucapnya perlahan.

"Seharusnya ayahanda pangeran harus lebih berhati-hati jikalau mau mengambil keputusan."

"Hah? Apa maksudmu? kau ingin...?"

Pemuda itu tersentak marah. Tapi dengan cepat orang itu menyabarkannya.

"Jangan tergesa gesa marah, pengeran...! Hamba tidak bermaksud apa-apa. Hamba hanya ingin memberi peringatan tentang sesuatu hal yang mungkin telah dilupakan oleh ayahanda pangeran."

Katanya sambil membungkuk hormat.

"Hmh! Lekas katakan apa yang kau maksudkan!"

Pemuda itu membentak. Orang yang dipanggil dengan nama Sam-mo itu tersenyum, kakinya melangkah mendekati pemuda tersebut, lalu berbisik perlahan.

"Seharusnya ayahanda pangeran tidak boleh percaya seratus persen kepada wanita tua itu. Kita semua telah tahu bahwa dia adalah ibu dari Yap Tai-Ciangkun, panglima besar yang diandalkan oleh Kaisar Han! Siapa tahu ada hubungan rahasia antara ibu dan anak itu? Kelihatannya saja wanita tua itu berada di pihak kita, tapi siapa tahu ia membantu musuh? Dengan mendorong-dorong kepada ayahanda pangeran agar lekas-lekas menggerakkan pasukan, selagi kita belum siap benar, berarti sama saja dengan menjerumuskan kita pada kehancuran. Maaf, pangeran jangan menjadi marah dahulu...! Hamba harap pangeran merenungkan dulu kata-kata hamba ini, baru kemudian kita perbincangkan lagi"!"

Orang itu menutup ucapannya dengan membungkuk hormat sekali, ketika dilihatnya pemuda tersebut menatap dirinya dengan mata merah.

Pangeran muda itu kembali menghela napas panjang.

Mukanya tertunduk lagi seperti semula.

Dengan acuh ia menggerakkan tangannya.

"Tinggalkan aku sendiri, Sam-mo! Jangan ganggu aku lagi!"

"Baiklah, pangeran...!"

Orang itu menjawab halus. Tapi sebelum dia pergi, dari luar mendadak terdengar suara nyaring dari penjaga pintu yang memberitahukan kedatangan seseorang untuk menghadap.

"Orang ke dua dari Tung-hai Sam-mo datang menghadap...!"

"Ji-ko...I"

Sam-mo menoleh ke arah pintu.

Seorang laki-laki berperawakan tegap dan memelihara kumis dan jenggot tebal tampak memasuki ruangan.

Sama dengan adik seperguruannya, Ji-mo (Iblis ke Dua) juga menyandang pedang panjang di pinggang kirinya.

Wajahnya yang tertutup kumis dan jenggot itu tampak ganas dan kejam.

"Maaf, hamba mengganggu sebentar, Pangeran..."

Katanya membungkuk di ambang pintu.

"Ji-mo (Iblis ke Dua), ada apa...?"

Pangeran itu memandang dengan dahi berkerut.

"Pangeran..."

Iblis itu mendekat dan menjura dengan hormat.

"Kita harus lekas lekas menentukan sikap, karena orang yang kita kirim ke Kotaraja telah mengirim berita bahwa pasukan Yap Tai-Ciangkun sudah berangkat untuk menumpas pasukan kita disini. Diperkirakan tengah hari besok mereka sudah akan tiba di tempat ini. Twako sekarang sedang berkeliling desa untuk mempersiapkan semua teman teman."

"Apa? Begitu cepatnya Yap Tai-Ciangkun mengirim pasukan? Apakah suasana di Kotaraja sudah pulih dan baik kembali?"

Pangeran itu bangkit dari tempat duduknya dengan tegang.

Kedua telapak tangannya mencengkeram pegangan kursi kebesarannya hingga hancur.

Lapat-lapat tercium bau sangit bagai bau kayu terbakar!

Sejenak orang-orang yang berada di dalam ruangan itu tersentak kaget.

Begitu pula dengan Chu Seng Kun yang berada di atas genting.

Ternyata pangeran yang masih muda itu mempunyai lweekang yang cukup tinggi pula!

Tak heran sikapnya demikian keras dan sedikit sombong!

"Demikianlah khabar yang dikirimkan kepada kita, pangeran!"

Jawab Iblis ke Dua dengan tegang pula.

"Kurang ajar...! Lalu bagaimana dengan pasukan ayahanda pangeran yang mundur ke arah barat? Apakah kita sudah mengetahui beritanya?"

"Belum! Tapi menurut pendengaran orang kita tersebut pasukan ayahanda pangeran untuk sementara akan tetap aman, sebab ayahanda pangeran telah membawa pasukan itu ke arah Pegunungan Kun-lun yang luas. Sangat sukar bagi pasukan Yap Tai-Ciangkun untuk mengejarnya."

"Lalu... berapa besar kekuatan pasukan yang dikirim oleh Yap Tai-Ciangkun ke tempat ini? Adakah mereka lebih besar dari pada pasukan kita?"

"Tidak begitu banyak, pangeran! Pasukan itu tidak lebih dari seribu orang, hanya separuh dari kekuatan kita disini. Tapi mereka membawa peralatan yang lebih lengkap dan bahan makanan yang sangat banyak untuk persediaan mereka. Ada lebih dari dua puluh kereta besar yang mereka pakai untuk membawa bahan makanan itu. Agaknya mereka telah bertekad untuk mengejar kita sampai dapat!"

"Bah! Gila betul! Berarti tiada pilihan lain bagi kita selain bertempur menghadapi mereka. Tak ada gunanya kita lari atau menghindar dari mereka. Mereka akan tetap membuntuti kita dan akhirnya kita toh akan terpaksa berhadapan juga dengan mereka. Kemungkinan kita akan berada di pihak yang lemah malah! Dengan mudah pasukan yang mempunyai persediaan makan lebih dari cukup itu akan menangkap pasukan kita yang lelah dan kelaparan!"

"Lalu... apa yang mesti kita perbuat sekarang, pangeran?"

Ji-mo dan Sam mo bertanya hampir berbareng.

"Pergilah kalian berdua menyusul Toa-mo. Siapkan seluruh kekuatan kita malam ini juga. Besok pagi akan kita atur persiapan untuk menyongsong pasukan musuh!"

"Baik!"

Kedua orang itu menjawab, lalu bergegas mereka meninggalkan ruangan tersebut.

Chu Seng Kun melihat pangeran itu dengan gelisah dan tegang berjalan mondar-mandir di dalam ruangan.

Hampir saja ia meninggalkan genting itu ketika tiba-tiba pangeran tersebut berseru ke arah penjaga.

"Pengawal! Panggil Hong-gi-hiap Souw Thian Hai kemari! Lekas!"

Bukan main terkejutnya Chu Seng Kun mendengar seruan pangeran itu.

Pemuda itu sampai lupa bahwa dirinya sedang berada di atas genting dan sedang mengintai orang.

Sehingga tanpa terasa ia bergerak dan menyentuh genting yang baru saja ia buka tadi.

Terdengar suara gaduh ketika genting tersebut lepas dan meluncur turun ke bawah, kemudian jatuh serta pecah berantakan diantara kumpulan pengawal yang sedang makan minum bersama.

"Babi! Bangsat! Anjing!"

Para pengawal itu menyumpah-nyumpah.

"Siapa berada di atas? Turun!"

Pangeran itu dengan kaget juga berteriak.

Hampir tak terikuti oleh pandangan mata biasa pangeran itu bergerak menyambar kursi kebesarannya, lalu dilontarkan ke atas ke arah di mana Chu Seng Kun berada.

Terdengar suara gemuruh, lalu diikuti suara ribut yang hebat ketika kursi tersebut menghantam genting dan langit langit kamar, sehingga atap di mana Chu Seng Kun tadi mendekam bagaikan meledak hancur berkeping keping.

Para pengawal dan para wanita yang berada di tempat itu bergegas menyelamatkan diri dari reruntuhan kayu dan genting yang berjatuhan ke arah mereka.

Chu Seng Kun terpaksa meloncat pula menyelamatkan diri.

Rasa kaget ketika mendengar disebutnya nama Hong-gi-hiap Souw Thian Hai tadi masih melekat di hatinya, sehingga ia menjadi salah langkah ketika bermaksud untuk melarikan diri.

Bukannya meloncat kembali ke atas pohon, tapi kakinya justru meloncat turun ke atas tanah.

Tentu saja sebelum dia menyadari kekeliruannya, para perampok itu dengan sigap telah mengepungnya.

"Mata mata musuh! Mata-mata musuh! Tangkap!"

Teriak mereka bersama-sama.

Berbagai macam bentuk senjata meluncur menyerang Chu Seng Kun!

Terpaksa pemuda itu mengerahkan Pek-in ginkang untuk mengelak ke sana ke mari, kemudian dengan Kim-hongkun dia balas menyerang para pengepungnya dengan hebat.

Terdengar beberapa orang diantara pengepungnya berteriak kesakitan sambil melepaskan senjata mereka, ketika secara aneh kedua tangan dan kaki Seng Kun dapat menerobos pertahanan mereka serta melukai tubuh mereka.

Tapi para perampok itu semakin banyak yang datang, sehingga tempat tersebut menjadi penuh sesak oleh mereka.

Chu Seng Kun tampak berkeringat juga akhirnya.

Rasa rasanya sukar pula untuk melepaskan diri dari kepungan itu.

Apalagi para perampok yang baru saja banyak minum arak itu menyerang dengan nekad, tanpa merasa takut sedikitpun.

Mula mula Chu Seng Kun hanya berusaha melumpuhkan mereka tanpa melukai badan mereka.

Tapi setelah beberapa saat lamanya, mereka ternyata tidak juga jerih, padahal korban serangannya telah bertumpuk-tumpuk berserakan di sekitar tempat itu.

Bagaikan kawanan semut yang ganas mereka tetap merubung dirinya, kemanapun dia pergi.

Beberapa saat kemudian justru dirinya yang mendapat luka karena sambaran pedang salah seorang diantara mereka malah!

Akhirnya pemuda itu menjadi marah.

Dengan berteriak keras tubuhnya melenting tinggi ke atas.

Sekejap terdengar suara gemeretak tulangtulangnya ketika pemuda itu mengerahkan tenaga sakti Pai-hud ciangnya yang hebat!

Lalu begitu tubuhnya turun kembali, terasa oleh para pengepungnya itu seakan-akan udara di sekitar mereka menjadi hangat bagai dihembus oleh udara panas.

Dan sebelum orang orang itu sadar, kaki dan tangan Chu Seng Kun yang penuh lweekang tersebut telah menghantam ke arah mereka.

"Plak! Plak! Blukk! Blukk!"

"Aduuh!"

"Auughh!"

"Ohhhh!"

Bagai rumput alang alang dilanda air bah, beberapa orang di antara para pengepung itu tercabut dari tempatnya dan berpelantingan menimpa kawan-kawannya, sehingga untuk sesaat lamanya Chu Seng Kun terlepas dari kepungan mereka.

Tapi sebelum pemuda tersebut dapat memanfaatkan suasana yang kacau balau itu, dari luar telah meloncat tiga sosok bayangan menghadang di depannya.

Ketiga sosok bayangan tersebut mengambil tempat di sekitar tubuhnya, agaknya menjaga agar dia tidak dapat melarikan diri.

Chu Seng Kun memperhatikan mereka dengan seksama dan ternyata dua di antara mereka telah ia lihat di dalam ruangan tadi.

Ji-mo dan Sam-mo dari Tung-hai Sam mo!

Dan oleh karena yang datang sekarang adalah tiga orang, pemuda itu segera bisa menebak bahwa yang lain tentulah Toa-mo.

Mereka bertiga kini telah lengkap berada di hadapannya!

"Berhenti!"

Ketiga orang iblis dari Laut Timur itu berteriak berbareng.

Wajah mereka yang bengis dan kasar itu memperlihatkan kemarahan yang tertahan.

Melihat sikap mereka, Chu Seng Kun merasa bahwa akan percuma saja bila ia ingin memberi keterangan kepada mereka.

Apapun yang akan dia katakan tentu tidak akan mereka percaya.

Tampaknya ketiga Iblis yang ganas itu hanya ingin berkelahi dan membunuh, lain tidak!

Oleh karena itu Chu Seng Kun tidak berkata sepatahpun.

Dia justru mempersiapkan seluruh tenaga Pai-hud ciangnya.

Dan sebelum mereka berkata lebih lanjut, kedua belah lengannya telah terayun ke depan dengan dahsyatnya.

"Wuuuuussss...!"

Serangkum angin hangat menerpa ketiga orang lawannya dan membuat hawa malam yang dingin itu menjadi terasa nyaman dan nikmat.

Begitu nyamannya sehingga ketiga orang lawannya itu seperti sedang dibelai-belai oleh tangan-tangan yang halus.

Mata mereka menjadi berat dan rasa-rasanya tadi kepingin tidur.

Tetapi sesaat kemudian ketika tangan Chu Seng Kun yang penuh lweekang itu telah berada di dekat tubuh mereka, mereka baru menjadi sadar dan kelabakan setengah mati.

Mereka baru sadar ketika dalam kenyamanan suasana itu tiba-tiba dada mereka seperti ditindih oleh barang yang beratnya ribuan kati, sehingga pernapasan mereka rasa-rasanya menjadi tersumbat dan sukar untuk bernapas.

Darah mereka bergolak dan otomatis lweekang mereka meronta untuk mengadakan perlawanan.

Dan sungguh untung bagi mereka bahwa pada saat-saat terakhir mereka bertiga mampu menghimpun lweekang masing-masing dan melontarkannya secara berbareng!

"Bummmmm...!"

Dua buah himpunan lweekang bertemu di udara dan menimbulkan suara menggelegar seperti ombak menghantam gunung karang.

Chu Seng Kun terdorong mundur dua langkah ke belakang, sementara ketiga lawannya jatuh terguling-guling beberapa meter jauhnya.

Ketiga orang iblis dari Laut Timur itu melenting berdiri dengan cepatnya.

Mula-mula wajah mereka menunjukkan perasaan heran dan takjub melihat kekuatan pemuda yang berada di hadapannya itu, tapi sejenak kemudian wajah mereka berubah menjadi gelap dan penuh nafsu membunuh.

"Bangsat! Anjing busuk yang mau mampus. Setan mana yang mengirim engkau ke mari?"

Toa-mo mengumpat umpat.

"Hai, orang asing! Apa yang ditugaskan oleh Yap Tai-Ciangkun kepadamu? Menyelidiki kekuatan kami di sini?"

Ji mo yang garangpun ikut berteriak.

Ketika Chu Seng Kun tetap diam dan bahkan telah mempersiapkan lagi serangannya, mereka tidak berani lagi banyak omong.

Toa-mo segera memberi isyarat kepada saudaranya untuk membentuk barisan Ang-cio hi-tin.

"Siapapun adanya dia kita tidak peduli! Karena dia berani memasuki daerah kita, kita harus membungkam mulutnya untuk selama-lamanya. Siapkan Ang-cio hi-tin! Lekas!"

Ketiga iblis tersebut cepat mencabut pedang mereka yang aneh.

Kecuali Ji-mo yang memegang dua buah pedang, yang lain memegang sebuah pedang di tangan kanan mereka masing-masing.

Masing-masing menempatkan dirinya di belakang kakak seperguruannya yang tertua secara berurutan.

Chu Seng Kun melangkah setindak ke belakang melihat formasi lawan yang aneh itu.

Dalam perantauannya selama ini ia belum pernah melihat atau mendengar bentuk barisan seperti itu.

Dipandangnya senjata lawan yang panjang seperti gergaji sambil membayangkan moncong dari ikan cucut yang pernah ia lihat.

"Ang-cio hi-tin! Barisan Cucut Merah! Apakah itu? Adakah itu sebuah nama ilmu silat andalan mereka yang mereka mainkan secara bersama? Dimanakah letak kehebatannya?"

Tapi Chu Seng Kun tidak memperoleh banyak waktu lagi untuk berpikir.

Ketiga iblis itu telah meloncat ke arah dirinya dan menyerang dengan pedang gergajinya!

Seng Kun melangkah ke samping dengan tergesa-gesa untuk menghindari serangan itu, tapi karena ia tidak membawa senjata apapun, maka untuk selanjutnya ia hanya bisa mengelak saja kesana kemari, sedikitpun tidak berani menangkis.

Padahal serangan lawan hampir tidak pernah berhenti dan memberi peluang bagi dirinya untuk mengambil napas.

Tentu saja keadaan itu sungguh membuat ia menjadi repot sekali!

Beberapa kali senjata gergaji itu hampir saja mengenai tubuhnya.

Untunglah Pek-in Ginkang yang ia kerahkan masih mampu menolongnya.

Tapi keadaan seperti itu terang tidak bisa berlangsung lama, apalagi ketika lapat-lapat ia mencium bau amis dari senjata yang aneh tersebut.

Pemuda itu melirik ke sekelilingnya, mencari senjata yang dapat ia pakai untuk menahan serangan lawan.

Dan ia menjadi gembira ketika beberapa jauh dari tempatnya berdiri tergeletak sebuah golok besar yang tadi ditinggalkan oleh para pengepungnya.

Maka sambil mengelak dari cecaran lawannya ia beringsut sedikit demi sedikit ke arah tempat tersebut.

Tapi Toa-mo tampaknya mencium maksudnya itu.

"Singkirkan golok itu!"

Teriaknya ke arah anak buahnya yang menonton di pinggir arena, sementara pedang gergajinya semakin menekan lawannya.

Gila.

Chu Seng Kun menyumpah di dalam hati.

Tampak beberapa orang perampok mengambil golok yang diincarnya itu.

Terpaksa pemuda itu mengerahkan tenaga Pek-hudciangnya untuk mencari tempat-tempat lowong dari ketiga orang musuhnya.

Tapi Ang-cio hi-tin tersebut memang benar-benar hebat!

ertahanan dari pedang sepasang yang dipegang oleh Ji-mo sungguh kuat sekali, padahal kedua buah pedang yang dipegang oleh Toa-mo dan Sam-mo selalu menyerang secara bergantian.

"Hahahaha... orang asing! Kini baru terbuka matamu, bukan? Haha...jangan harap kau bisa lolos dari tangan kami! Satu kali goresan saja dari pedang kami, kau akan berjingkrak-jingkrak seperti monyet kena terasi... dan... ginkangmu yang hebat itu tidak akan bisa lagi menolongmu."

Ji-mo yang bersuara lantang itu terkekeh kekeh gembira.

"Eh, pemuda tampan! Sudahkah engkau mendengar Racun Ubur-ubur Laut yang bisa bikin gatal itu? Hihihihi...itulah dia kalau engkau ingin merasakannya! Terimalah sebuah goresan saja dari pedang kami, hohoho...!"

Sam-mo yang bertubuh kecil itu ikut mengolok-olok. Dari belakang ia mengayunkan pedangnya dari samping tubuhnya.

"Racun Ubur-ubur Laut? Bukankah racun tersebut adalah racun yang hampir membunuh Yang Kun, temanku itu? Kalau begitu apakah orang ini pula yang melukainya...?"

Dengan kaget Chu Seng Kun berdesah di dalam hati.

"Chu-Twako!"

Tiba-tiba terdengar suara memanggil dari luar arena.

"Serahkan orang itu kepadaku! Dialah yang hampir membunuh aku dahulu...!"

Dan sebelum gema suara itu hilang, dari semak-semak di belakang mereka melayang sesosok tubuh ke tengah-tengah arena.

Di lain saat di dalam arena telah bertambah dengan seorang pemuda lagi, Chin Yang Kun!

Kali ini giliran dari Tung-hai Sam-mo yang dibuat kaget setengah mati.

Tapi rasa kaget itu segera berubah menjadi perasaan gembira bukan main begitu melihat siapa yang datang.

"Hahaha-hohoho... anak setan! Benar-benar ajaib! Dicari cari kemana-mana tidak ketemu tidak dicari malah datang sendiri! Hohoho...Sudah digariskan oleh takdir bahwa kau memang harus mampus di tangan kami. Nah, lekas berikan benda itu kepada kami!"

Sam-mo yang sejak dahulu masih juga takabur itu tertawa berkepanjangan.

"Benar, engkau agaknya selama ini juga mencari kami untuk mengembalikan benda berharga kepunyaan pendekar Li itu..."

Toa-mo menyambung perkataan adiknya.

"Dan...jangan sampai kami melukai engkau lagi dengan pedang ini,"

Ji-mo ikut berbicara.

Ketiga orang iblis itu benar-benar tidak memandang dengan sebelah mata kepada Chin Yang Kun.

Mereka masih meremehkan pemuda itu sebagaimana pada pertemuan mereka setahun yang lalu, dimana pada saat itu mereka dapat melukai dan menawan pemuda tersebut tanpa kesulitan.

"Yang-hiante, iblis inikah yang dulu melukai engkau...?"

Chu Seng Kun menyambut kedatangan kawannya dengan gembira.

"Benar!"

Pemuda itu mengangguk.

"Oleh karena itu biarkanlah aku membalaskan sakit hatiku itu."

Yang Kun berkata mantap.

"Tapi kuminta Yang-hiante tidak membunuh mereka! Toh dahulu Yang-hiante juga tidak sampai mati di tangan mereka..."

Chu Seng Kun yang sangat mengetahui siapa adanya Chin Yang Kun sekarang benar-benar merasa khawatir jikalau pemuda itu akan menyebar kematian di tempat tersebut.

Yang Kun menoleh sekejap kepada temannya lalu dengan sedikit mengangguk dia kembali mengawasi lawannya.

"Asal mereka tidak terlalu mendesakku, aku juga tidak akan membunuh mereka,"

Katanya.

"Aku hanya ingin membalas perlakuan yang pernah mereka lakukan kepada diriku..."

Kedua orang pemuda itu berbicara seenaknya seakan-akan Tung-hai Sam-mo yang mereka bicarakan itu tidak berada di hadapan mereka.

Mereka berbicara seolah-olah mereka berdua telah yakin benar bahwa mereka pasti dapat menundukkan lawan-lawannya dengan mudah!

Tak heran jika iblis itu menjadi marah bukan main.

Seakan berdiri semua rambut di kepala mereka mendengar kata-kata yang bernada meremehkan tersebut!

Apalagi perkataan itu dikeluarkan oleh dua orang yang mereka anggap berkepandaian di bawah kemampuan mereka.

"Gila! Benar-benar gila...!"

Toa-mo mencak-mencak.

"Bocah! Apakah engkau telah lupa bahwa kau tadi nyaris mampus di tangan kami? Dan... kau bocah yang dulu juga mau mampus pula! Apakah kau juga telah melupakan pengalamanmu ketika kami seret dari luar kota Tie-kwan sampai ke tempat tinggal pendekar Li itu?"

Teriaknya sambil melotot ke arah dua pemuda itu berganti-gantian.

Tapi sedikitpun kedua pemuda itu tidak menggubris kemarahan iblis tersebut.

Keduanya justru saling memandang dengan senyum dikulum.

Hampir meledak rasanya dada ketiga iblis yang biasa ditakuti orang itu.

"Hiyaaaaaat...!"

Ketiga-tiganya berteriak berbareng.

Dengan formasi Ang-cio hi-tin yang pernah mereka pakai untuk menundukkan Chin Yang Kun, Tung-hai Sam-mo kembali menyerang pemuda tersebut.

Pedang gergaji yang berada di tangan Toa-mo meluncur cepat ke arah tenggorokan Yang Kun.

Gerakan mereka persis gerakan seekor ikan cucut yang sedang menerjang mangsanya.

Biarpun hanya Toa-mo yang menyerang, tetapi ternyata kedua orang adiknya juga ikut melayang bagai menempel di badan Toa-mo!

Tetapi Chin Yang Kun yang mereka hadapi sekarang bukanlah Chin Yang Kun beberapa tahun yang lalu.

Selain kepandaiannya telah maju berlipat ganda, pemuda tersebut memang telah mempersiapkan diri jika sekali waktu bertemu kembali dengan musuh lamanya itu.

Dan kini cita-citanya tersebut telah terlaksana, tanpa terduga ia dapat berhadapan muka dengan mereka!

Tapi untuk menjajagi kekuatan mereka bila bandingkan dengan kekuatannya sekarang, Yang Kun tidak lekas-lekas menginjak tempat kelemahan barisan itu.

Beberapa saat lamanya ia masih berusaha mengelak kesana kemari dengan sesekali juga melontarkan serangan balasan.

Kadang-kadang terbersit juga pada pikiran Yang Kun untuk mengadu kekuatan tenaga dalamnya yang ampuh itu dengan kekuatan gabungan mereka yang dulu mampu menggempur dan menggencet dirinya.

Tapi ia menjadi ragu-ragu.

Ia telah berjanji dengan Chu Seng Kun tadi bahwa ia tidak akan membunuh mereka.

Ia takut kalau tenaga Liong-cu I-kangnya itu tidak mampu mereka tahan, sehingga mereka menjadi lumat karenanya.

Selain itu ia telah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia akan membalas perlakuan mereka dahulu dengan mempergunakan racun mereka sendiri.

Agar mereka juga tahu bagaimana rasanya Racun Ubur-ubur laut itu!

Oleh karena itu pertempuran satu lawan tiga tersebut masih berlangsung dengan sengitnya.

Tung-hai Sam-mo yang marah dengan garang berusaha meringkus lawannya yang masih muda, sementara lawannya itu masih juga meloncat loncat mengitari barisan mereka.

"Memecah Karang memotong jalan...!"

Toa-mo meneriakkan jurus yang harus mereka lakukan.

"Melepas Sirip berbalik jalan!"

Sambungnya lagi.

Tidak mengherankan kalau selama ini barisan mereka itu belum pernah menemukan lawan.

Gerakan mereka memang benar-benar gesit dan tangkas.

Sepintas lalu hampir tak terlihat lowongan sedikit pun pada pertahanan mereka.

Mereka melenting, meloncat, menerkam dan menghindar secara berbareng.

Mereka bagaikan terdiri dan satu perasaan saja.

Tenaga yang mereka lontarkan juga bukan main kuatnya, karena dalam barisan itu tenaga mereka juga terkumpul menjadi satu.

Setiap serangan dan tangkisan yang dilakukan oleh salah seorang dari mereka tak ubahnya kekuatan gabungan dari mereka bertiga!

Untunglah Hok-te Ciang-hoat dari Chin Yang Kun telah disempurnakan oleh neneknya sehingga kehebatannya sudah menjadi berlipat ganda pula.

Oleh karena itu meski Ang-cio hi-tin demikian hebatnya, pemuda itu tetap bisa melayaninya dengan tangkas, tanpa mengalami kesulitan sama sekali.

Tentu saja keadaan itu membuat Chu Seng Kun yang tadi juga menghadapi barisan itu menggeleng-geleng kagum.

Sungguh bukan main pesatnya kemajuan yang dicapai oleh temannya itu.

"Moga-moga hati dan jiwanyapun berkembang ke arah yang baik dan lurus. Pemuda dengan kepandaian seperti dia sungguh sangat berbahaya apabila sampai berjalan di jalan yang gelap dan kotor..."

Pemuda ahli pengobatan itu berdoa dalam hati.

Ketika sekali lagi Yang Kun mampu meloloskan diri dari serangan lawannya yang hebat dan ganas, Chu Seng Kun menggeleng-gelengkan kepalanya.

Ilmu silat kawannya ini benar-benar hebat, katanya dalam hati.

Mungkin dia sendiri tidak bisa berbuat seperti itu.

Dan hebatnya pemuda itu seperti belum mengeluarkan seluruh kepandaiannya!

Kadangkadang tampak pemuda itu seperti masih mau menjajagi kepandaian Tung-hai Sam-mo!

belasan jurus telah berlalu pula.

Sekarang kelihatan kalau Tung-hai Sam-mo mulai dijalari oleh kegelisahan.

Lawan yang dulu pernah mereka kalahkan itu kini ternyata telah berubah menjadi sangat perkasa.

Jangankan mengalahkannya, sedang untuk melindungi diri dan mempertahankan barisan merekapun kini tampaknya mulai susah.

Gerakan tangan dan kaki lawan mereka semakin tampak membingungkan serta sulit diduga!

Agaknya Chin Yang Kun sudah dapat menyelami gaya permainan ketiga iblis tersebut.

Beberapa kali pemuda itu seperti sudah dapat membaca maksud dan arah dari gerakan mereka.

Sehingga setiap jurus yang mereka keluarkan tentu akan dipotong dan dibikin kocar-kacir sebelum jurus itu selesai mereka lakukan.

Dan agaknya kegelisahan Tung-hai Sam-mo ini terasa pula oleh anak buah mereka yang berada di pinggir arena.

Mereka tampak mulai ribut dan siap untuk turun tangan membantu pemimpin mereka itu.

"Nah! Apakah kalian belum juga mengaku kalah dan meletakan pedang itu?"

Yang Kun mengejek. Ternyata ketiga iblis itu sudah mata gelap! Rasa malu dan penasaran membuat mereka gelap mata dan tak mempedulikan lagi keselamatan mereka! Mereka menyerang membabi-buta.

"Tahan...!"

Yang Kun berseru, hingga ketiga orang lawannya terpaksa menghentikan amukan mereka.

"Agaknya kalian belum sadar kalau kalah. Kalian belum percaya kalau aku masih menyayangi jiwa kalian. Huh, kalau aku mau, tanpa bergerak ke tempat lainpun kalian takkan bisa mencelakakan diriku..."

"Babi sombong...! coba buktikan ucapanmu,"

Toa-mo berteriak makin marah. Bersama kedua adiknya ia kembali menerjang Chin Yang Kun. Yang Kun tertawa gembira.

"Baik, lihatlah...!"

Pemuda itu melingkar ke samping untuk menghindari terkaman ujung pedang Toa-mo.

Lalu ketika dilihatnya iblis itu masih juga memburunya pemuda itu cepat-cepat melangkah mundur lima tindak ke belakang.

Melihat gerakan itu Toa-mo yang sedang marah menjadi tertawa dan menghentikan serangannya.

"Hahaha... anak muda, kau tadi bilang tidak akan bergerak dari tempatmu. Lalu mengapa kau sekarang malah berlari mundur sambil terkencing-kencing begitu?"

Sekejap Yang Kun seperti mau marah, tetapi di lain saat matanya menjadi redup kembali.

"Hm, jangan bergembira dahulu...! aku memang belum mulai..."

"Persetan! Kalau begitu mengapa engkau tidak lekas lekas memulainya? Masih menunggu saat yang baik bagi kematianmu? Ayoh!"

Tiga orang iblis dari Laut Timur itu memasang kuda-kuda berdasarkan barisan Ang-cio hi-tin mereka.

Toa-mo yang berdiri di depan menyilangkan tangan kirinya di depan dada, sementara tangan kanannya yang memegang pedang terjulur lurus ke atas.

Ji-mo yang berdiri di belakangnya tampak menyilangkan juga kedua bilah pedangnya diatas kepala, sementara kedua kakinya ditekuk rendah sekali.

Sedang Sammo yang berada di ujung belakang dari barisan itu tampak memegang tangkai pedangnya dengan kedua buah telapak tangannya, seperti layaknya seorang tukang kayu yang ingin membelah tonggak pohon dengan kapaknya!

Itulahpembukaan dari jurus Ikan Cucut Menunggang Ombak!

Sebuah jurus yang kaya dengan variasi dan kembangan!

Jurus itu biasa mereka pergunakan untuk menghadapi musuh yang lihai dan sukar mereka hadapi.

Karena dengan jurus yang kaya dengan perubahan tersebut mereka cepat dapat menyesuaikan diri dengan gaya dan gerakan lawan apabila mereka secara tak terduga menemukan lawan yang berat.

Dan itu berarti ketiga iblis tersebut mulai berhati-hati dalam menghadapi Chin Yang Kun.

Agaknya mereka mulai berpikir kalau-kalau lawannya kali ini memang telah maju pesat sejak pertemuan mereka dahulu.

Siapa tahu pemuda ini telah memperoleh seorang guru yang pandai?

Sebaliknya, pemuda yang secara diam diam sudah menyiapkan sebuah cara untuk menundukkan Ang-cio-hi tin itu dengan tenang mengerahkan sebagian dari tenaga Liongcu-i-kangnya.

Tampaknya pemuda itu juga tidak mau meremehkan barisan Cucut Merah lawannya.

Dahulu ia pernah pula merasakan bagaimana hebatnya barisan tersebut.

Apalagi dalam perang tanding seperti kali ini mereka tentu akan mengerahkan segala kemampuan yang mereka miliki untuk menjaga nama baiknya selama ini.

Oleh karena itu tentu tidak mudah pula bagi pemuda tersebut untuk begitu saja menjalankan rencananya.

Mereka tentu akan melindungi tempat kelemahan mereka itu dengan ketat sekali.

Sementara itu suasana di luar arena terjadi sedikit kegaduhan ketika dari dalam rumah besar yang dijaga ketat itu keluar seorang pemuda berpakaian sutera indah.

Pemuda itu berjalan tegap diikuti oleh seorang laki-laki gagah bertubuh tinggi besar.

"Siauw-ongya...! Siauw-ongya..!"

Para perampok itu berteriak teriak menyambut pemuda berpakaian indah tersebut.

Semula, baru mendengar nama Hong-gi-hiap Souw Thian Hai disebut oleh pangeran itu saja Chu Seng Kun sudah merasa kaget setengah mati.

Kini begitu melihat siapa yang benar-benar datang di belakang pangeran itu, Chu Seng Kun rasanya malah seperti sedang bermimpi dan hampir-hampir tidak mempercayai apa yang telah dilihatnya.

Laki-laki tampan bertubuh tinggi besar itu sungguh sungguh Hong-gi-hiap Souw Thian Hai yang sangat dikenalnya!

Sementara itu empat orang jago yang telah siap untuk bertarung di dalam arena itu telah mulai berlaga.

Mereka tidak mempedulikan sama sekali keributan kecil yang disebabkan oleh kedatangan pangeran itu.

Masing-masing telah dicekam suasana tegang di antara mereka sendiri.

Masing-masing tidak mau melepaskan mata dan perhatian kepada lawan yang berada di depannya.

Dan pertempuran mereka kali ini benar benar hebat luar biasa.

Tung-hai Sam-mo yang menyadari bahwa mereka kini sedang berhadapan dengan seorang jago muda berkepandaian tinggi, benar-benar mengerahkan segala kemampuan mereka dalam Barisan Cucut Merah itu.

Mereka bertiga bergerak dengan lincah dan gesit secara berbareng, sehingga sepintas lalu mereka seperti bukan terdiri dari tiga orang manusia tetapi seperti lengket menjadi satu jiwa saja.

Mereka meloncat, menerjang, menghindar dan menjatuhkan diri dengan manis sekali seperti tiga orang pemain akrobat yang sedang memainkan gaya dan gerakan ikan cucut di lautan.

Mereka menyerang dan bertahan dengan rapi sekali.

Mereka agaknya juga telah menyadari tempat kelemahan mereka, sehingga dalam pertempuran mereka itu mereka sungguh sungguh memperkuat tembok pertahanan dari barisan mereka tersebut.

Sedangkan Chin Yang Kun yang kali ini ingin membuktikan ucapannya bahwa ia sebenarnya mampu menundukkan Ang cio-hi-tin juga berusaha sekuat tenaga untuk membuktikannya.

Biarpun karena alasan-alasan yang telah disebutkan di muka pemuda itu tidak mau mengeluarkan ilmu pemberian nenek buyutnya.

Ternyata Hok te Ciang-hoat yang telah disempurnakan itu telah lebih dari cukup untuk menghadapi Barisan Cucut Merah ketiga iblis tersebut.

Gerakan tangan dan kakinya yang kuat dan cepat itu ternyata mampu menahan dan membendung gerakan ikan cucut yang dilakukan oleh ketiga iblis tersebut!

Sehingga lambat laun ikan yang ganas itu semakin terpojok dan sulit bergerak seperti layaknya seekor ikan yang terperangkap di dalam jarring!

Kemanapun mereka akan bergerak rasa rasanya selalu membentur kekuatan lawan yang melingkupinya.

Akhirnya beberapa saat kemudian justru ketiga orang itulah yang terkurung dan tidak bisa bergerak lagi dengan leluasa.

Hok te Ciang-hoat dari Chin Yang Kun yang hebat itu mengurung dan mendesak mereka.

"Setan! Ibliiis...!"

Toa-mo yang suka mengumpat itu berteriak penasaran.

"Hei, kau memaki siapa?"

Yang Kun dengan tenang membalas seloroh itu.

"Apakah engkau memaki dirimu sendiri? Haha... sungguh baru kali ini aku mendengar ada orang memaki julukannya sendiri! Benar benar tidak aturan!"

"Anjing! Babi! Cacing busuk...! Kubunuh kau!"

Toa-mo meralat makiannya.

"Hahaha... cobalah kalau bisa! Tapi sementara itu aku akan membuktikan bahwa Ang-cio hi-tin kalian ini benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa kepadaku meski aku hanya berdiri diam saja di suatu tempat...!"

"Bangsaaaat...! kau sungguh sombong sekali! Lekas kau lakukan... Iekaaaas...!"

Kemarahan Tung-hai Sam-mo benar-benar telah mencapai ubun-ubun.

Dengan Ang-cio hi-tin mereka menerjang Chin Yang Kun tanpa perhitungan lagi.

Dalam benak mereka hanya ada satu keinginan yaitu lekas-lekas menggasak pemuda sombong itu dan mencincangnya sampai lumat.

Begitu bernafsunya mereka sehingga mereka tidak begitu memperhatikan lagi pertahanan mereka!

Dan inilah yang dikehendaki Chin Yang Kun.

Di antara amukan mereka yang membabi-buta ia melihat banyak lowongan yang terbuka.

Maka tanpa menanti waktu lebih lama lagi Yang Kun melejit ke depan, menerobos pertahanan lawan dan menurunkan kakinya di samping tubuh Ji-mo.

Ji-mo segera menyongsong dengan pedang gergajinya.

Tapi pemuda itu dengan mudah mengelakkannya, lalu dengan sedikit mengerahkan Liong-cu I-kang pada jari-jarinya pemuda itu menjentik pedang lawan.

"Tingggg!"

Pedang itu membalik dengan keras dan benar saja menyobek leher Ji-mo sendiri.

Untuk saat itu segera membuang diri ke belakang, biarpun oleh karena hal itu ia menjadi terhuyung-huyung keluar dari dalam barisan!

Otomatis bentuk barisan tersebut menjadi rusak.

Dan kalau saja Chin Yang Kun pada saat itu mau meneruskan serangannya, tak pelak lagi barisan tersebut akan hancur.

Tapi Yang Kun ternyata tidak mempergunakan kesempatan baik itu.

Pemuda itu hanya melangkah ke depan mengikuti gerakan kaki Ji-mo yang goyah.

Tampaknya ia benar-benar ingin membuktikan ucapannya tadi, bahwa ia mampu membuat barisan yang sangat dibangga-banggakan itu tak berkutik sama sekali terhadap dirinya!

Pemuda itu berusaha menempel terus di sebelah Ji mo yang malang.

Kedua Iblis yang lain segera menyesuaikan diri.

Mereka segera mendekati Ji-mo guna menyusun lagi barisan mereka.

Mereka belum menyadari bahwa lawannya sudah menginjak titik kelemahan mereka.

Mereka baru merasa terkejut ketika mereka bertiga sama sekali tidak bisa menyerang pemuda itu.

Mereka menjadi kikuk dan tak bisa menyerang lawan yang berada di samping perut dan cucut mereka!

Bagai seekor belatung ketiga iblis itu melejit kesana kemari, berusaha dengan sekuat tenaga menghindari tempelan Chin Yang Kun.

Tapi seperti seekor lintah pemuda itu tetap melekat di samping mereka.

"Nah, kalian lihat! Bukankah barisan kalian ini sudah tidak berguna lagi...? Baik moncong maupun sirip ekor kalian tidak mampu menyentuh tubuhku! Satu-satunya jalan hanyalah mempergunakan pedang Ji-mo. Tapi seperti kalian lihat tadi, begitu Ji-mo ikut menyerang... barisan ini tidak punya pertahanan lagi! Sekali terjang Ang-cio hi-tin ini akan hancur!"

Yang Kun berseru diantara langkahnya.

"Kurang ajar! Monyet busukkk...!"

Tung-hai Sam-mo semakin naik pitam. Mereka menyerang semakin ngawur. Kini tidak lagi dalam formasi Ang-cio hi-tin. Mereka menyerang berserabutan.

"Heeiiitt!"

Yang Kun menjejakkan kakinya ke atas tanah dan tubuhnya melenting tinggi melampaui kepala lawannya sehingga ketiga orang musuhnya untuk sekejap seperti kehilangan sasaran.

Dan sebelum ketiga orang itu menyadari keadaannya, Yang Kun sekali lagi menyerang mereka.

Dengan jurus liongongsao-te (Raja Naga Menyapu Tanah) kaki pemuda itu dari atas menyapu tiga kepala lawan yang berada dibawahnya.

Angin tajam yang meniup di atas mereka segera menyadarkan ketiga iblis tersebut dari kebengongannya.

Secara berbareng mereka bertiga menjatuhkan diri di atas tanah, kemudian berguling menjauhkan diri.

Mereka bergerak dengan sangat tangkas dan sigap.

Meskipun begitu ternyata gerakan mereka masih terlalu lamban bagi Chin Yang Kun!

Pemuda itu dengan gesit telah mendahului dan memotong gerakan tersebut.

Bagai kilat menyamber kedua belah tangan Chin Yang Kun menyambar ke arah lawannya dan sebelum semua orang tahu apa yang telah terjadi, ketiga iblis dari Laut Timur itu telah kehilangan pedang masing-masing.

Semuanya telah berpindah ke tangan Chin Yang Kun!

Dan sebelum ketiga iblis itu mampu berdiri dengan tegak, pedang yang berada di tangan pemuda itu kembali meluncur ke arah pemiliknya masing-masing dengan dahsyat.

Tiada waktu atau kesempatan sama sekali bagi Tung-hai Sam-mo untuk mengelak.

Semuanya berlangsung dalam tempo yang sangat cepat.

Jangankan untuk menggerakkan badan, sedang untuk mengejapkan mata saja rasa-rasanya sudah tidak keburu lagi!

Maka di lain saat terdengar suara jeritan mereka ketika pedang-pedang itu menghujam ke dalam paha mereka masing-masing.

"Nah! Inilah pembalasanku! Kalian rasakan juga racun ubur-ubur laut kalian itu...!"

Yang Kun berseru diantara suara lolongan mereka.

"Hmm... sungguh kejam!"

Tiba-tiba terdengar suara desah seseorang dari pinggir arena.

Chin Yang Kun cepat membalikkan tubuhnya.

Dengan tajam matanya menatap laki-laki muda yang mengeluarkan suara itu.

Seorang laki-laki muda dengan pakaian bersih dan indah!

Beberapa orang pengawal tampak melingkarinya.

Dan salah seorang di antaranya, yang bertubuh tinggi besar benar-benar membuat pemuda itu tersentak kaget bukan kepalang!

Beberapa saat lamanya Yang Kun seperti tidak percaya pada penglihatannya!

Beberapa kali pemuda itu mengejap ngejapkan matanya, persis seperti yang dilakukan pula oleh Chu Seng Kun!

Kedua-duanya sama-sama terkejut setengah mati!

Hanya kekagetan mereka kali ini mempunyai dasar yang berlainan.

Bagi Chu Seng Kun, selain tidak menyangka bahwa ia akan dapat bertemu muka dengan sahabat lamanya yang telah lama tidak pernah jumpa, pemuda itu juga merasa kaget melihat sahabat itu kini berbalik memusuhi pemerintahan Kaisar Han!

Sementara bagi Chin Yang Kun, perasaan kaget itu lebih didasarkan pada rasa gembiranya dapat bertemu dengan salah seorang yang dianggapnya telah membantai seluruh keluarganya.

Pada waktu ibu dan adik-adiknya mati diracun orang di tengah hutan itu, si pembunuh meninggalkan surat agar ia pergi ke tepi sungai Huang-ho untuk menemui orang itu.

Dan di dalam gubug yang telah ditentukan itu ia menjumpai orang ini!

Saat itu ia dapat menangkap orang ini, sayang karena kelalaiannya orang ini dapat melarikan diri.

Dalam waktu yang singkat, wajah Yang Kun yang semula cerah karena dapat membalas dendam terhadap Tung-hai Sam-mo, berubah menjadi keruh kembali.

Hatinya tampak bergolak dengan hebat.

Bayangan ibu dan adik-adiknya yang mati keracunan kembali menggoda hatinya.

Tapi sebelum pemuda itu berbuat lebih lanjut, laki-laki muda yang dikawal oleh musuh besarnya itu telah melangkah ke depan.

Dengan garang ia menunjuk ke arah Tung-hai Sammo yang bergulingan di atas tanah karena menderita gatal di sekujur tubuhnya itu.

"Souw-Taihiap... Bawa mereka ke pinggir dan obatilah!"

Perintah laki-laki muda yang dipanggil Siauw-ongya oleh para pengikutnya itu.

Pengawal berperawakan tinggi besar yang dipanggil dengan nama Souw-Taihiap itu melangkah maju tanpa berkata sepatahpun.

Wajah yang sebenarnya sangat ganteng itu tampak sangat dingin dan kaku, sedikitpun tidak memancarkan perasaan yang terkandung di dalam hatinya.

Dengan langkah ringan ia mendekati Tung-hai Sam-mo bergulingan di tengah-tengah arena, menotoknya beberapa kali kemudian menyeret mereka kepinggir dan menyerahkan kepada pengawal-pengawal yang lain.

Semua itu ia kerjakan dengan cepat dan tangkas sehingga semua orang baru sadar ketika semua itu telah selesai dikerjakannya.

"A Hai... eh saudara Souw! Selamat berjumpa!"

Chu Seng Kun yang sudah sekian lamanya berdiri mematung itu menyapa dengan suara bergetar.

Oleh karena sedikit gugup pemuda itu sampai memanggil dengan namanya saja.

Sebuah nama yang dipakai oleh Souw-Taihiap itu ketika masih menderita sakit ingatan dahulu.

Pengawal itu tergagap dan menoleh dengan cepat!

Matanya yang dingin itu terbelalak, seperti orang yang sedang tersentak dari sebuah lamunan yang mengecewakan.

Sekejap mata ia memancarkan sinar kegembiraan yang besar, tapi sedetik kemudian sinar itu menjadi layu kembali.

Malahan beberapa kali tampak oleh Chu Seng Kun, sahabat lamanya itu menghela napas berulang ulang.

"Saudara Chu..."

Sahabat itu akhirnya berdesah perlahan.

"...sayang kita terlambat berjumpa sehingga kita terpaksa harus berdiri berseberangan... Aku... ahh, sudahlah!"

"Saudara Souw! Apa... apakah maksudmu? Apakah yang terjadi? kau...?"

Pemuda ahli pengobatan itu terbelalak bingung menyaksikan sikap sahabatnya yang aneh.

"Saudara Chu, sungguh panjang kalau diceritakan. Sekarang lebih baik kalian meninggalkan tempat ini, sebelum..."

"Souw-Taihiap, mengapa berhenti? Ringkus juga kedua mata-mata Kaisar Han itu! Jangan biarkan lolos!"

Siauw-ongya yang berpakaian indah itu memberi perintah lagi. Wajah pendekar itu tampak menegang sebentar kemudian tertunduk lesu kembali. Matanya yang sayu itu menatap jauh ke depan.

"Orang ini adalah temanku. Dia bukan penjahat atau mata-mata. Biarkanlah dia pergi..."

Ucapnya datar.

"Huh! Apakah Souw-Taihiap sudah mulai membangkang terhadap perintahku?"

Siauw-ongya itu menegur tak senang.

"Apakah Souw-Taihiap sudah melupakan...?"

"Baik! Akan kutangkap dia!"

Pendekar itu berteriak dengan penuh penasaran. Suaranya menggeledek, menggetarkan pucuk-pucuk pohon yang tinggi. Lalu dengan enggan ia menunduk ke arah Chu Seng Kun.

"Saudara Chu... maafkan aku! Aku benar-benar seorang yang tidak tahu membalas budi! Dengan sangat terpaksa hari ini aku harus menangkap kalian..."

"Bangsat! Pembunuh keji! Lihatlah mukaku..."

Yang Kun yang sejak tadi juga hanya berdiam diri itu tiba-tiba berteriak keras. Kakinya yang panjang itu meloncat dengan tangkas ke muka.

"Yang-hiante, tunggu...! Jangan...!"

Chu Seng Kun berteriak khawatir.

Tapi dengan tegak dan dada tengadah Chin Yang Kun telah berdiri di depan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai.

Matanya menyala seakan mau membakar tubuh lawan yang berada di mukanya.

Kedua tangannya terkepal di depan dadanya, siap untuk melontarkan Liong-cu I-kangnya yang ampuh.

"Pembunuh licik! Apakah kau masih mengenal aku?"

Geramnya menahan marah. Hong-gi-hiap cuma melirik sekejap, sedikitpun tidak terpengaruh oleh sikap Chin Yang Kun yang ganas dan mengandung nafsu membunuh itu.

"Hmm, aku belum pernah melihatmu, apalagi mengenalmu. Siapakah engkau? Mengapa engkau menuduh aku sebagai pembunuh licik?"

Hong-gi-hiap balik bertanya. Lalu sambungnya lagi dengan nada agak ragu.

"Apa... apakah ada salah seorang dari keluargamu yang telah kubunuh?"

"Kau memang telah melupakanku. Tapi aku tidak akan pernah lupa pada pembunuh ibu dan adik-adikku!"

Chin Yang Kun menjawab tegas. Hong-gi-hiap Souw Thian Hai menghela napas dengan berat sekali, kepalanya tertunduk semakin dalam. Kelihatan betapa sedih hatinya.

"Engkau mungkin benar! Hampir sepuluh tahun aku kehilangan ingatanku, dan selama itu pula aku tak sadar pada apa yang telah kukerjakan. Mungkin pada saat itu pulalah aku telah kesalahan tangan membunuh keluargamu..."

Sementara Chu Seng Kun menjadi semakin bingung menyaksikan keadaan tersebut.

Belum juga hilang rasa kaget dan herannya, kini ditambah lagi dengan sikap Yang Kun yang aneh terhadap Hong-gi-hiap Souw Thian Hai, sahabat lamanya!

"Yang-hiante, bersabarlah...!

mengapa pula kau ini?"

Serunya melerai. Kemudian melihat kawannya itu tidak dapat juga disabarkan, ia baru menghadapi Hong-gi-hiap Souw Thian Hai.

"Saudara Souw, kawanku ini agaknya telah mencurigai engkau, bahwa kau telah membunuh keluarganya... saudara Souw, benarkah engkau meracuni wanita dan anak-anak setahun yang lalu? Tepatnya di hutan sebelah utara kota Tie-kwan?"

Hong-gi-hiap menoleh dengan cepat. Matanya yang mencorong itu tampak berkilat merah. Kelihatannya ia tersinggung mendengar tuduhan itu.

"Setahun yang lalu...? saudara Chu, jikalau aku sampai berbuat jahat ataupun perbuatan tidak baik yang lain pada sepuluh atau lima tahun yang lalu, mungkin semua orang akan percaya, karena pada saat itu aku menderita sakit lupa ingatan. Tapi setelah penyakit tersebut kau sembuhkan pada lima tahun berselang... apakah semua orang masih mempercayainya juga kalau aku berbuat sekeji itu? Dan harap direnungkan baik-baik, pernahkah Hong-gi-hiap Souw Thian Hai mempergunakan racun? Kukira, kalau hanya untuk membunuh orang saja kedua tanganku ini sudah lebih dari cukup. Tak perlu aku mempergunakan senjata ataupun tetek bengek seperti racun itu...!"

Chu Seng Kun mengangguk-anggukkan kepalanya.

Ia percaya seratus persen pada kata-kata itu, karena ia tahu betul macam apa Hong-gi-hiap Souw Thian Hai itu.

Apa yang baru saja diucapkan oleh pendekar sakti itu memang benar adanya.

Lain halnya dengan Chin Yang Kun!

Selain selama ini dia memang belum pernah mendengar ataupun melihat sepak terjang Hong-gi-hiap Souw Thian Hai, pemuda itu memang benar-benar telah dibutakan oleh dendam yang menyala di dalam hatinya.

Ucapan yang panjang lebar dari pendekar sakti itu justru ditafsirkan sebagai kata-kata hinaan terhadap dirinya.

"Bangsat! Betapa sombongnya engkau...!"

"Hah? Apa-apaan ini? Souw-Taihiap, mengapa tidak lekas lekas turun tangan juga?"

Tiba-tiba Siauw-ongya itu berteriak tak sabar.

"Cepat ringkus mereka!"

Jilid 10

"Saudara Souw ingatlah! Jangan kau indahkan perintah gila itu! Mari kita bersama-sama meninggalkan tempat ini!"

Chu Seng Kun berteriak memperingatkan sahabat lamanya itu. Dan ketika Hong gi hiap tidak juga bergerak dari tempatnya. Chu Seng Kun berganti siasat.

""Atau kita lawan saja orang itu dan kita bubarkan para perampok yang mengganggu rakyat ini! saudara Souw...?"

"Kurang ajar! Tutup mulutmu!"

Siauw-ongya itu membentak.

Kakinya menjejak tanah dan tubuhnya meluncur ke arah Chu Seng Kun.

Kedua buah tangannya dengan telapak tangan terbuka menghantam lurus ke muka, mengarah ke wajah pemuda ahli pengobatan itu.

Serangkum hawa panas melesat dari kedua belah telapak tangannya, membelah udara malam yang dingin mencekam itu.

Pada saat yang sama, Chin Yang Kun yang juga sudah tidak tahan lagi menahan luapan dendamnya, telah maju menerjang Hong-gi-hiap Souw Thian Hai!

Maka di lain saat dengan disaksikan oleh ratusan pasang mata, berlangsunglah suatu pertempuran sengit antara tokoh-tokoh persilatan berkepandaian tinggi.

Begitu dahsyatnya pertempuran mereka, sehingga para perampok yang memagari arena itu terpaksa berlarian mundur menjauhkan diri.

Masing masing mencari perlindungan diantara pohon pohon dan reruntuhan rumah yang berserakan di sekitar tempat itu.

Mereka menjadi ketakutan ketika melihat beberapa orang kawan mereka jatuh terkapar di atas tanah akibat terkena angin pukulan mereka yang nyasar.

Bukan hanya itu saja!

Tanah, pasir dan batu kerikil yang tersepak oleh kaki kaki orang sakti itu ternyata juga mampu menembus kulit mereka dan merusak benda benda di sekitar arena tersebut.

Oleh karena itu dapat dibayangkan, betapa dahsyatnya pertempuran mereka itu.

Chu Seng Kun yang melayani pangeran muda itu benar benar dibuat terkejut oleh kesaktian lawannya.

ilmu silat lawan yang bersifat keras dan cepat itu benar-benar hebat luar biasa.

Apalagi setiap gerakannya selalu ditunjang oleh hawa panas yang keluar dari tubuh pangeran itu ketika mengerahkan Iwee kangnya!

Dan hawa panas ini benar-benar sangat mengganggu konsentrasi Chu Seng Kun, karena hawa panas itu keluar dari badan lawan seperti tak habis habisnya, sehingga lambat laun hawa panas tersebut seperti mau membakar udara di sekitar mereka.

"Gila! Ilmu apa pula ini?"

Geram Chu Seng Kun sambil meringis kesakitan ketika lengannya menangkis pukulan lawan.

Lengan lawannya seperti berubah menjadi bara api yang menyengat kulitnya ketika saling berbenturan.

Sedangkan di arena yang lain tampak Chin Yang Kun sedang berusaha keras untuk menguasai lawannya.

Masih terbayang bayang di dalam benak pemuda itu ketika mereka bertemu dan bertempur di dalam gubug kosong di tepi sungai setahun yang lalu.

Lawannya, yagg ternyata adalah seorang pendekar besar itu mempunyai bermacam-macam ilmu silat aneh.

Salah satu di antaranya adalah ilmu silat yang dilakukan dengan separuh badan.

Untunglah dengan Hok te Ciang hoatnya yang belum disempurnakan itu ia mampu menundukkan orang itu.

Sekarang ilmu silatnya telah dibenahi dan disempurnakan oleh neneknya.

Selain dari pada itu ia juga telah menerima warisan Liong-cu i-kang dan Kim coa ih-hoat!

Maka betapapun selama ini orang itu juga telah menyempurnakan ilmunya, Yang Kun masih beranggapan bahwa ilmunya masih lebih tinggi dari pada ilmu lawannya.

Yang Kun tampak semakin bernafsu.

Ia tidak ingin lawannya terlepas seperti dulu lagi.

Dengan Hok-te Cianghoatnya yang hebat ia mengurung Hong gi hiap Souw Thian Hai.

Beberapa kali dapat mendesak dan menggempur ilmu silat lawan tapi sejauh itu ia belum dapat menjatuhkannya.

Sedangkan Hong gi hiap sendiri, biarpun selalu terdesak dan terkurung oleh pukulan Yang Kun tapi pada saat yang sulit ternyata masih selalu bisa menyelamatkan diri.

Dan hal itu tentu saja sangat menjengkelkan Chin Yang Kun!

Rasanya dalam keadaan terjepit pendekar besar itu masih punya jurus-jurus cadangan yang aneh-aneh untuk meloloskan diri.

Dan yang lebih menjengkelkan lagi, meski sedang repot mempertahankan diri, pendekar itu masih selalu mencari kesempatan untuk menoleh ke arah pertempuran yang lain.

Sehingga dalam pandangan semua orang, meski pendekar itu kelihatan terdesak dan mengalami kesulitan, tapi sebenarnya justru berada di atas angin.

Perbuatannya yang seolah-olah sedang mengalami kerepotan itu hanyalah suatu siasat untuk menjajagi kekuatan lawannya.

Tentu saja keadaan itu membuat Chin Yang Kun tersinggung dan marah sekali!

Apalagi ketika berkali-kali lawannya memang selalu dapat lolos dari lubang jarum, pemuda itu menjadi semakin marah dan merasa terhina.

la merasa seakan-akan lawannya itu memang sedang bermain main untuk menggoda dirinya.

"Yang-hiante, tahaaaan...! Jangan kau lawan orang itu! kau... kau... dia...!"

Chu Seng Kun berteriak di antara kesibukannya sendiri melawan Siauw-ongya itu.

Tapi teriakan Seng Kun itu justru semakin menambah kemarahan Chin Yang Kun.

la merasa dipandang rendah kepandaiannya.

la merasa bahwa kawannyapun menyangsikan kemampuannya untuk menghadapi Hong-gi-hiap Souw Thian Hai!

"Kurang ajar!"

Pemuda itu menggeretakkan giginya dan di lain saat ia telah menyambar sebuah golok yang tergeletak di atas tanah.

Dan sekejap kemudian pemuda itu telah mengubah cara bersilatnya.

Sementara itu Chu Seng Kun yang sedang terkurung oleh hawa panas lawannya tampak berusaha memperbaiki keadaannya.

Dengan Kim-hong-kun hoat warisan nenek moyangnya, pemuda menghadapi ilmu silat lawan yang keras dan cepat.

Sementara secara perlahan-lahan ia mengerahkan Pai-hud-sin kang untuk melindungi badannya dari pengaruh sinkang lawannya yang aneh.

Beberapa waktu kemudian keadaannya berangsur-angsur menjadi baik.

Ternyata baik Kim hong-kun hoat maupun Pai hud sin kangnya mampu mengimbangi ilmu yang aneh tersebut.

Udara disekelilingnya tidak terasa begitu panas lagi, sehingga tubuhnya menjadi lega dan dapat berkonsentrasi kembali.

Chu Seng Kun lalu berusaha mengamati ilmu silat lawan yang hebat tersebut.

Biarpun gerakan-gerakannya terasa asing, tapi pemuda itu merasa pernah melihatnya.

Cuma di mana ia pernah menyaksikannya, ia telah lupa sama sekali.

Begitu pula dengan sinkang lawan yang berhawa panas itu, rasa rasanya ia pernah mendengarnya pula.

Ketika Siauw-ongya itu berputar ke samping untuk memukul pelipisnya.

Chu Seng Kun tidak berusaha untuk mengelakkannya.

Pemuda itu justru memapakinya dengan jurus Merentang Sayap di Atas Kepala, salah sebuah jurus Kim hong kun hoat yang hebat.

Kedua buah lengannya secara serentak merentang ke samping dengan kuatnya, hingga ketika lengan itu membentur pukulan lawan terdengar suara berdentang bagai besi menghantam baja.

"Duuuuukkk!!"

Mereka sama-sama tergetar, mundur beberapa langkah ke belakang.

Dan untuk beberapa saat mereka hanya berdiri saling pandang, masing-masing masih mencoba mengamati diri untuk mengukur kekuatan lawan.

Ternyata tenaga mereka berimbang, begitu pula ilmu silat mereka!

Chu Seng Kun menoleh ke samping.

Dilihatnya Yang Kun masih bertempur dengan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai dan sepintas lalu sahabat mudanya itu seperti di atas angin.

Tapi meskipun demikian Chu Seng Kun tetap juga khawatir terhadap keselamatan Yang Kun.

Yang Kun masih sangat muda, pengalamannyapun belum banyak.

Meski dilihatnya anak muda itu mempunyai ilmu silat tinggi, tapi yang dihadapinya sekarang adalah Hong-gi-hiap Souw Thian Hai, seorang pendekar sakti yang selama itu belum pernah menemukan tandingan.

Jadi kalau pendekar sakti itu kini sampai terdesak oleh serangan Yang Kun, hal itu benar-benar sangat mengherankan.

Tentu ada apa apanya dalam hal ini.

"Hah, ternyata kepandaianmu sangat tinggi. Tak heran engkau berani melawan kami""

Tiba-tiba Siauw-ongya itu menggeram keras, sehingga Chu Seng Kun tersentak dari lamunannya.

"...Tapi bagaimanapun juga kalian takkan lepas dari tangan kami!"

"Siauw-ongya, biarkanlah kami yang membekuknya..."

Empat orang pengawal yang tadi mengelilingi pangeran muda itu maju ke depan. Pangeran itu menoleh dengan dahi berkerut. Sejenak kelihatan ragu-ragu. tapi akhirnya mengangguk.

"Baik! Lakukanlah! Tapi kuharap kalian berhati-hati! Orang ini mempunyai kepandaian yang lumayan..."

Empat orang pengawal itu meloncat ke arena.

Masing masing menggenggam golok besar di tangan kanan dan membawa perisai besi di tangan kiri.

Mereka berempat meloncat berbareng, dengan gaya yang sama dan mendarat di depan Chu Seng Kun secara berbareng pula.

Gerakannya tangkas dan sigap serta indah dipandang mata.

Suatu tandabahwa merekapun bukanlah orang-orang lemah dalam dunia persilatan.

Tapi sebelum mereka mulai bergebrak, tiba-tiba Hong gi hiap Souw Thian Hai tampak melejit datang.

Ternyata kali inipun pendekar itu mampu meloloskan diri dari kurungan Chin Yang Kun.

Padahal pemuda itu sudah mempergunakan sebuah golok untuk mengurung pendekar tersebut.

"Berhenti!"

Pendekar sakti itu berteriak. Tubuhnya yang besar itu berdiri bertolak pinggang di antara kedua pihak yang akan berlaga. Matanya yang mencorong dingin itu menatap ke arah Siauw-ongya.

"Pangeran, sekali lagi kumohon kepadamu untuk membebaskan saja mereka. Aku berani menanggung bahwa mereka bukanlah mata-mata seperti yang dituduhkan oleh Tung-hai Sam-mo. Aku yakin benar akan hal ini. Orang ini adalah sahabat lamaku..."

"Souw-Taihiap..."

Pangeran itu menjawab tidak kalah garangnya.

"Sejak kapan Souw-Taihiap mulai menyanggah perintahku? Apakah mulai saat ini Souw-Taihiap akan mengingkari janjinya! Sekali lagi kukatakan, orang ini harus ditangkap. Nah, silahkan Souw-Taihiap mengerjakannya...!"

Wajah pendekar besar itu tampak merah padam.

"Pangeran! Agaknya pangeran juga telah melupakan sesuatu. Dalam perjanjian yang kita buat itu hanya menyebutkan bahwa aku hanya bertanggung jawab atas keselamatan pangeran! Itu saja, lain tidak."

"Tapi...bukankah mereka juga bermaksud mencelakai diriku? Mereka datang sebagai mata-mata musuh, padahal musuh itu akan membasmi kita semua. Lalu apa bedanya semua itu?"

Pangeran itu berkata marah.

"Tentu ada bedanya, pangeran. Karena pangeran bermaksud merebut takhta, maka musuh pangeran tentu banyak sekali. Selain Kaisar Han dan pembantu pembantunya, tentu masih ada juga yang lain, yaitu orang orang yang menginginkan juga singgasana itu. Dan semua orang itu tentu akan selalu berusaha keras membunuh pangeran. Nah, apakah saya harus membunuh mereka itu semua? Padahal semua yang dikhawatirkan itu belum terjadi"?"

"Tetapi"?"

"Sudahlah, pangeran! Aku hanya akan bertindak kalau pangeran benar-benar di dalam bahaya. Selainnya hal itu aku akan berdiam diri saja."

Hong-gi-hiap Souw Thian Hai berkata tegas.

"Huh! Baiklah! Jika demikian biarlah kami menangkapnya sendiri! Pengawal, kerahkanlah semua teman temanmu untuk meringkus mata-mata ini!"

Pangeran itu berseru.

"Baik!"

Jawab para pengawal, diikuti suara gemuruh para perampok.

"Tahaaaan...!"

Hong-gi-hiap berteriak keras untuk menghentikan orang orang itu.

"Biarkan mereka pergi!"

Bukan main berangnya Siauw-ongya itu!

"Hong-gi-hiap Souw Thian Hai!

kau benar-benar menjengkelkan!

kau bilang kalau tidak akan turut campur, tapi sekarang menghentikan pasukanku.

Apa maksudmu sebenarnya?"

"Orang ini bukan mata-mata! Dan orang ini juga tidak bermaksud membunuh pangeran! Mengapa pangeran tetap saja akan meringkusnya?"

"Jangan turut campur! Tentang mata-mata atau bukan, biarkanlah aku nanti yang menyelidiki. Pokoknya ini saya curigai, maka aku akan menangkap dia untuk diurus benar tidaknya!"

"Hahahahahaaa,.!"

Tiba-tiba terdengar suara tertawa Chin Yang Kun yang sangat keras.

"Kalian ini benar-benar kerbau sombong yang tidak tahu aturan. Memperbincangkan nasib orang lain seperti anaknya sendiri, tanpa menanyakan pendapatnya lebih dahulu."

"Yang-hiante? Apa maksudmu?"

Chu Seng Kun tergagap kaget.

"Chu-Twako, maafkanlah aku. Biarkanlah aku berkata kepada mereka."

"Yang-hiante...! Tapi kuharap...kau jangan..."

Yang Kun meloncat setombak ke depan. Tanpa merasa gentar sedikitpun ia bertolak pinggang diantara musuh-musuh yang mengepungnya.

"Hai, dengarlah kau!"

Serunya lantang sambil menunjuk ke arah Siauw-ongya.

"Aku tidak peduli, apakah kau benar-benar pangeran atau bukan. Yang terang kedatanganku kemari hanya mempunyai satu maksud, yaitu menumpas...ya, menumpas para perampok gila yang mengganggu wanita dan penduduk di sini! Maka aku sungguh-sungguh tidak peduli apa yang kalian perdebatkan tadi. Apapun yang akan kalian putuskan, aku tetap akan menghajar kalian semua,...!"

Pemuda itu berhenti sebentar, kemudian menoleh dengan cepat ke arah Hong-gi-hiap Souw Thian Hai.

"...Dan kau, Hong-gi-hiap Souw Thian Hai! Aku baru tahu sekarang bahwa nama dan gelarmu demikian muluk serta megah. kau pun tidak usah berlagak baik hati kepadaku. Bagaimanapun juga aku akan tetap menuntut kematian ibu dan adikku! Nah, siapa yang ingin kubereskan lebih dulu, majulah...!!"

"Bocah sombong! Aku ingat sekarang, kiranya engkaulah pemuda gila yang menyerang aku tanpa alasan di gubug kosong itu. Lalu menyeret tubuhku melalui hutan di tepi Sungai Huang-ho..."

Secara mendadak Chu Seng Kun mengerahkan Pek in Gin kangnya.

Tubuhnya melesat tinggi, lolos dari penjagaan empat pengawal yang tadi mau menyerangnya.

Lalu dengan ringan mendarat di samping Hong-gi-hiap Souw Thian Hai.

"Saudara Souw... saudara tidak usah melayani kemarahan temanku itu. Ia telah dibutakan oleh dendamnya dan hal itu memang bisa dimaklumi. Segala sanggahan ataupun keterangan saudara Souw tentu tidak akan diterima olehnya. Oleh karena itu demi kebaikan semua pihak, kuharap saudara Souw mengalah kali ini. Biarkanlah hatinya menjadi dingin lebih dahulu, baru nanti kita beri keterangan yang sebenarnya..."

Bisik pemuda ahli pengobatan itu kepada Hong-gi-hiap Souw Tian Hai.

"Baiklah, Chu-Twako. Aku memang tidak bermaksud melawannya. Sejak tadi aku memang selalu mengalah."

"Terima kasih, saudara Souw. Marilah kita berdiri di pinggir sekarang! Kita lihat sepak terjang temanku itu."

Perlahan-lahan kedua sahabat lama itu bergerak ke tepi, menyisih dari para perampok yang berduyun-duyun mengepung tempat tersebut.

Oleh karena ada Hong-gi-hiap Souw Thian Hai disisinya, tak seorangpun anggota perampok yang mengganggu Chu Seng Kun.

"...Tapi kita jangan terlalu jauh dari pertempuran. Bagaimanapun juga aku terikat untuk melindungi keselamatan pangeran itu."

Hong-gi-hiap berkata pelan.

"Tidak! Akupun ingin sekali melihat pertempuran ini. Sebuah pertempuran yang tentu sangat mengerikan sekali keadaannya..."

"Mengerikan? Apa maksud saudara Chu?"

Chu Seng Kun menghela napas berulang ulang.

Dipandangnya Chin Yang Kun yang kini berada sendirian di tengah-tengah arena.

Pemuda sakti itu tampak memegang sebuah golok besar, matanya yang tajam tampak memandang berkeliling, ke arah lautan senjata yang mengepungnya.

"Saudara Souw, ketika bertempur melawanmu tadi, mungkin dia belum mengeluarkan ilmunya yang mengerikan... Lihat sajalah nanti kalau dia sudah marah atau sudah kewalahan menghadapi pengepungnya! Golok itu justru akan dibuangnya dan dia akan mengeluarkan ilmunya yang sangat mengerikan."

"Mengerikan...?"

Hong-gi-hiap berdesah perlahan, dahinya berkerut.

Sementara itu suasana panas benar-benar telah membakar hati setiap orang di tempat itu.

Mereka seperti tidak punya pilihan lain selain bertempur dan membunuh untuk menghilangkan rasa sesak dan panas di dada mereka.

Mereka seperti lupa pada keadaan mereka.

Lupa bahwa mereka hampir tidak istirahat sepanjang hari.

Lupa bahwa malampun telah menjelang pagi dan semalam suntuk mereka tidak tidur sama sekali.

Dan begitu salah seorang telah memulai menggerakkan senjatanya, maka seperti kawanan lebah yang marah, yang lain pun ikut mengayunkan senjata mereka.

Dan disertai suara hiruk pikuk yang memekakkan telinga pertempuran itupun meledak dengan dahsyatnya!

Chin Yang Kun yang marah itupun tidak mau sungkan sungkan lagi, Hok te To hoat (ilmu Golok Menaklukkan Bumi) yang telah disempurnakan oleh neneknya ia keluarkan sepenuh hati.

Dengan disokong oleh liong-cu i-kangnya yang tinggi, golok itu bergerak bagai malaikat yang haus darah.

Kemanapun golok itu pergi korban pasti berjatuhan!

Tak seorangpun dari para perampok itu yang mampu menahan kekuatan Liong-cu i kang yang tersalur lewat golok tersebut.

"Mundur...! jangan terlalu dekat dengan pemuda iblis itu! Kepunglah dia dari kejauhan! Persiapkan anak panah!"

Siauw-ongya yang belum mau turun tangan itu berteriak mengatur anak buahnya.

Orang-orang itu berloncatan mundur menjauhi Chin Yang Kun.

Mereka berdiri berjajar mengepung dari kejauhan.

Sebagian dari mereka mengeluarkan busur dan anak panah yang telah diolesi racun pada ujungnya.

Yang Kun tegak berdiri di antara korban-korban yang berserakan di tanah.

Dipandang sepintas lalu keadaannya sungguh sangat mengerikan.

Kulit lengan serta pakaian yang dipakainya penuh dengan percikan darah korbannya.

Golok yang dijinjingnyapun sudah tak berupa golok pula.Dari pangkal sampai ujung telah dibasahi oleh darah segar yang masih menetes-netes.

Pemandangan dalam arena pertempuran itu memang sangat menggiriskan hati.

puluhan mayat yang tumpang tindih tampak bergelimpangan memenuhi halaman rumah, sementara bau amis dari darah yang berceceran semakin terasa menusuk hidung.

Pemuda itu benar-benar telah menjadi malaikat pencabut nyawa yang menyebar maut!

"Huh, pengecut!

Mengapa kalian mundur ketakutan?

Bukankah aku hanya sendirian, sedang kalian ratusan jumlahnya?"

Chin Yang Kun menantang sambil mengacun gacungkan senjatanya.

"Lepaskan panah!"

Siauw-ongya itu berseru.

Sebentar kemudian terdengar suara jepretan panah hampir bersamaan dan...untuk sekejap udara malam yang gelap itu tampak semakin kelam dengan ratusan anak panah yang terlepas dari busurnya.

Dan sesaat kemudian Yang Kun telah disibukkan oleh anak panah yang datang dan segala penjuru.

Pemuda itu memutar goloknya dengan kencang sehingga hujan panah tersebut tak sampai mengenai tubuhnya.

Tapi anak panah itu seperti tak habis-habisnya!

Benda itu meluncur datang tak putus putusnya, dan ini sangat menyukarkan pemuda itu.

"Bidik juga kakinya!"

Siauw-ongya itu memerintahkan kembali.

Yang Kun semakin menjadi repot.

Dia harus memutar goloknya lebih kencang dan lebih merata.

Dan ini sungguh sangat memeras tenaga!

Satu dua batang anak panah mulai lolos dari putaran goloknya, menghantam tubuh serta melukai kulitnya.

Untunglah, bagaimanapun juga Liong-cu i-kang masih tetap melindungi dia, meski tidak sepenuhnya.

Tiba-tiba pancaindera Yang Kun yang peka itu mendengar desing suara panah yang lain dari pada desing anak panah lainnya.

Gaung suara anak panah tersebut serasa lebih nyaring dari yang lain.

Tapi karena panah yang datang demikian banyaknya mana mampu dia membedakannya.

Tahu-tahu mata goloknya seperti membentur benda keras, sehingga untuk sekejap daya putarnya seperti tertahan.

Dan akibatnya sungguh sangat hebat!

Beberapa batang anak panah kembali lolos dari putaran golok, sehingga kini betul betul melukai badannya!

Darah mulai mengalir dari tubuh Chin Yang Kun.

Darah beracun yang sangat berbahaya bagi orang lain!

Darah yang keluar dari luka itu benar-benar makin menggelapkan pikiran Chin Yang Kun.

Dengan tenaga Liongcu i-kang sepenuhnya pemuda itu membuang golok ke arah lawan, diikuti oleh teriakannya yang merontokkan jantung!

Apa yang dilakukan oleh Yang Kun ini sungguh di luar dugaan semua orang!

Kehebatan Liong-cu I-kang yang tersalur lewat teriak kemarahan itu benar benar menggoyahkan keseimbangan badan pendengarnya.

belasan orang yang berdiri di baris depan tampak terjerembab ke atas tanah dengan muka kesakitan.

Mereka merasa seperti ada ledakan petir yang mengguncang isi dada mereka.

Begitu sakit rasanya sehingga mereka tidak dapat segera bangun.

Malah beberapa orang diantaranya tampak bergulingan kesana kemari sambil mendekap dadanya.

Sementara itu belasan orang pemegang panah yang telah siap untuk melepas panah juga tidak luput dari pengaruh teriakan itu.

Tiba-tiba mereka juga terhuyung sehingga busur yang mereka tarik terlepas tak tentu arahnya.

Akibatnya beberapa batang diantaranya justru mengenai teman mereka sendiri.

Dan yang paling mengerikan adalah golok yang dilepas oleh Chin Yang Kun!

Golok itu melesat bagai kilat menyambar, suaranya mengaung tinggi menggetarkan udara malam.

Dan ketika benda itu menerjang ke arah para pengepung, tak seorang pun sempat bergerak untuk mengelakkannya.

Golok itu menghajar dada seorang perampok hingga tembus, lalu membabat putus dua buah lengan perampok lain, kemudian menembus lagi tubuh dua orang di belakangnya dan akhirnya baru berhenti ketika menghantam sebatang pohon hingga tumbang.

Semua akibat dari perbuatan Chin Yang Kun tersebut berlangsung seketika dan tidak lebih dari pada sekejap mata saja.

tetapi pengaruhnya sungguh membuat semua orang tergetar hatinya.

Termasuk Hong-gi-hiap, Chu Seng Kun serta orang yang disebut siauwongya oleh anak buahnya itu.

"Saudara Chu, kata orang tenaga sakti Im-yang-kang dari tokoh tokoh Im yang kauw itu tiada duanya di dunia ini."

Hong-gi-hiap Souw Thian Hai berkata kepada Chu Seng Kun.

"Tapi melihat tenaga dalam pemuda ini, kata kata itu kukira sudah tidak cocok lagi."

"Ahh... saudara Souw terlalu merendahkan diri. Ang-pek-sin kang (Tenaga Sakti Merah dan Putih) dari saudara Souw sendiri juga tiada lawannya di dunia ini..."

"Benar... orang juga mengatakan demikian pula. Tapi setelah aku menyaksikan sinkang pemuda ini aku sungguh mulai ragu-ragu pula terhadap keampuhan Ang-pek-sinkang yang kumiliki... saudara Chu, siapakah sebenarnya pemuda ini?"

Chu Seng Kun menggeleng dengan cepat.

"Entahlah! Aku mengenal dia karena Kaisar Han..."

"Kaisar Han?"

"Benar! Baiklah nanti saya ceritakan setelah keadaan sudah tenang... dan tentu saja saya juga ingin mendengar cerita tentang... keadaan saudara Souw."

Pemuda ahli pengobatan itu menjawab sambil tersenyum.Air muka pendekar sakti itu mendadak menjadi gelap.

"Saudara Chu, riwayatku kali ini sungguh sangat menyedihkan. Lebih berat rasanya daripada penderitaan yang kualami ketika aku hilang ingatan dahulu..."

Katanya lemah.

Sementara itu pertempuran sadis dalam arena telah dimulai lagi.

Siauw-ongya yang kini telah turun tangan dengan membawa busur dan anak panah, yang anak panahnya tadi sempat membuat jebol pertahanan Chin Yang Kun, tampak sudah memerintahkan lagi untuk melepas anak panah.

"Jangan takut! Dia sudah terluka oleh panah beracun kalian. Sebentar lagi tentu jatuh ke atas tanah. Ayoh, bidikkan panah kalian ke segala bagian dari tubuhnya!"

Kemarahan Chin Yang Kun benar-benar telah sampai puncaknya.

Dan seperti apa yang tadi telah diramal oleh Chu Seng Kun, Yang Kun benar benar telah mulai mempersiapkan ilmunya yang mengerikan, Kim-coa ih hoat atau Baju ular Emas.

Pertama-tama pemuda itu melepas baju atas yang kotor oleh darah, sehingga beberapa anak panah yang tadi menancap di tubuhnya ikut tercabut pula keluar.

Tak sepatah katapun keluhan yang keluar dari mulutnya.

Kalau toh bibir yang terkatup itu mengeluarkan bunyi mendesis, hal itu bukan karena menahan sakit, tapi karena pemuda itu sedang mengerahkan Liong-cu I-kangnya yang ampuh!

Dalam keremangan sinar obor tampak kulit badan pemuda itu berubah menjadi mengkilap kekuning-kuningan persis seperti kulit ular yang terbalut minyak.

Kemudian matanya yang tajam itu juga berubah mencorong seperti mata harimau marah!

Dan ketika hujan panah itu kembali menyerang dengan derasnya, pemuda itu segera memutar lengannya untuk menangkis.

Terdengar gemeretak suara anak panah berpatahan ketika lengan yang penuh berisi lweekang itu menyongsong derasnya anak-anak panah yang datang.

Tak sebatang panahpun yang mampu melukai kulit lengan tersebut, seolah-olah kulit itu kini telah berubah menjadi baja yang tahan segala senjata!

Semuanya ternganga!

Begitu pula dengan orang yang disebut Siauw-ongya itu!

Baru terbuka pikiran mereka sekarang kalau pemuda yang mereka hadapi itu ternyata bukan pemuda sembarangan.

Tapi kesadaran mereka itu ternyata benar-benar telah terlambat!

Ketika pemuda yang mereka kepung itu tampak menyedot udara segar sebanyak-banyaknya dan kemudian menghantam dengan telapak tangan terbuka ke arah mereka, mereka semua masih juga ternganga di tempat mereka.

Sedikitpun mereka belum menyadari bahaya yang tertuju ke arah mereka.

Baru setelah terasa ada serangkum hawa dingin menerjang ke badan mereka, mereka baru tergagap sadar dari lamunan masing-masing.

Tapi kesadaran itu sudah tidak ada gunanya!Pukulan jarak jauh dari pemuda itu keburu datang menghajar mereka.

"Duuaaaaaaar!"

Disertai teriak kesakitan mereka, beberapa orang pengepung itu terlempar menimpa kawan-kawannya.

Beberapa saat lamanya orang itu berkelojotan sambil menggaruk-garuk tubuhnya, kemudian mati.

Kulit tubuhnya berubah menjadi kehitam-hitaman.

"Pukulan beracun!"

Siauw-ongya itu tersentak kaget.

"Hei?"

Hong-gi-hiap tersentak pula. Lalu katanya sambil menoleh ke arah Chu Seng Kun yang berada di dekatnya.

"Saudara Chu, inikah ilmu yang kau maksudkan tadi?"

Chu Seng Kun mengangguk.

"...Tapi itu bukan pukulan beracun,"

Pemuda itu menerangkan.

"Darahnyalah yang mengandung racun, sehingga tenaga sakti yang dikeluarkannyapun menjadi beracun pula..."

"Bisa begitu?"

Hong-gi-hiap heran.

"Ah...sungguh berbahaya!"

Sementara itu Siauw-ongya tampak meloncat ke tengah tengah arena diikuti keempat orang pengawalnya. Agaknya dia tidak ingin lagi melihat anak buahnya menjadi korban terus terusan.

"Saudara Chu... celaka. Pangeran itu maju ke gelanggang sekarang. Wah, bagaimana ini? Apakah aku harus bertempur juga dengan pemuda itu?"

Tiba-tiba Hong-gi-hiap berseru tertahan. Hatinya cemas bukan main. Bukan karena takut tapi karena tak ingin ia berkelahi dengan pemuda yang menarik perhatiannya tersebut.

"Sudahlah, biarkanlah dulu mereka berkelahi. Pangeran itupun bukan orang sembarangan, apalagi di sana ada empat orang pengawal yang siap membelanya mati matian."

Chu Seng Kun menenangkan hati Hong gi hiap Souw Thian Hai.

Dalam arena, Yang Kun telah bersiap siap menghadapi Siauw-ongya dan pengawalnya.

Tubuhnya yang berminyak itu semakin berkilat-kilat di bawah sinar obor, sementara mulutnya yang terkatup itu masih berdesis perlahan-lahan.

"Heittt!"

Pangeran itu menyerang dengan busurnya.

Tangkainya yang panjang diayun mendatar seperti pedang, yang dituju adalah leher.

Suaranya gemuruh, menandakan kalau benda tersebut digerakkan dengan tenaga dalam yang tinggi.

Bersamaan dengan itu, keempat orang pengawal yang bersenjata golok dan perisai tampak menyerang juga.

Secara berbareng mereka menusukkan ujung golok mereka yang lancip ke arah betis Yang Kun.

Sedang perisai yang berada di tangan kiri mereka taruh di atas kepala sebagai tembok pertahanan.

Mendapat serangan atas dan bawah seperti itu Yang Kun tetap bersikap tenang.

Dengan jurus Panglima Yi Po Mengatur Barisan ia mengulur tangan kirinya ke arah busur lawan yang datang, Lalu sambil melangkah tiga tindak ke kanan ia berusaha menyambar busur tersebut, sedang lengan kanannya yang bebas segera menghantam ke lengan Siauw-ongya agar melepaskan pegangannya.

Tentu saja pangeran itu tidak mau kehilangan busurnya.

Begitu melihat tangan lawan terulur ke arah senjatanya, ia segera mengubah arah serangannya.

Busur besar itu ditariknya ke belakang, lalu dengan ujungnya yang tumpul busur itu ia sodokkan kembali ke arah dada lawan.

Sedang keempat pengawal yang telah kehilangan sasaran karena lawan melangkah pergi, segera mengubah pula serangannya.

Golok yang tidak jadi mendapatkan sasaran itu bergegas pula mengejar mangsanya.

Dan yang mereka tuju tetap kaki lawan!

Karena selalu diserang pada bagian atas dan bawah.

Yang Kun menjadi kewalahan, sedikitpun tidak punya peluang untuk membalas.

Untuk mengadu tenaga juga tidak mungkin.

Selain mereka semua memakai senjata, sasaran merekapun selalu terpencar, sehingga kalau mau mengadu tenaga Yang Kun harus membagi bagi pula tenaga dalamnya.

Dan hal itu sangat berbahaya sekali!

Ya...

kalau tenaga itu dapat mengatasi tenaga lawan, kalau tidak, sama saja dengan menggali lubang untuk mengubur diri sendiri!

Agaknya antara pangeran dan keempat pengawal itu sudah terlatih dalam menghadapi musuh secara bersama-sama.

Buktinya serangan maupun pertahanan bersama mereka selalu terjalin dengan cepat dan rapi.

Sehingga sangat sukar bagi Yang Kun untuk mendapatkan tempat lowong untuk menyerang.

Beberapa jurus telah berlalu dan Yang Kun masih saja berada di pihak yang terdesak.

"Ilmu silat dan tenaga dalam pemuda itu memang sangat tinggi, tapi kulihat ia belum berpengalaman sama sekali."

Hong gi hiap berdesah perlahan.

"Dengan kepandaiannya itu sebenarnya ia akan mampu menindih lawannya. Tapi kulihat ia belum bisa menggunakan kelebihannya tersebut... Eh...?"

Pendekar sakti itu tiba-tiba mendongak dan menajamkan pendengarannya. Tentu saja Chu Seng Kun menjadi terheran heran dibuatnya.

"Ada apa saudara Souw...?"

"Eh, saudara Chu, apakah engkau mendengar sesuatu? Aku seperti mendengar suara terompet di kejauhan..."

"Terompet?"

Chu Seng Kun ikut ikutan memasang telinga.

"Kenapa aku tidak mendengarnya...?"

Pemuda itu mendongakkan kepalanya, berusaha menembus rimbunnya daun dan menatap ke arah langit yang mulai dijalari warna kemerah-merahan. Tapi tetap saja ia tak mendengar suara itu.

"Ahh...sudahlah! Mungkin aku cuma salah dengar tadi!"

Hong-gi-hiap berkata lagi. Lalu pendekar itu mengawasi jalannya pertempuran antara pangeran dan Yang Kun lagi.

"Ah, pemuda itu masih saja belum dapat memanfaatkan ilmunya!"

Memang.

Apa yang dikatakan oleh pendekar sakti itu memang benar.

Dalam dunia persilatan orang yang mempunyai tingkat kepandaian seperti Chin Yang Kun memang sulit dicari.

Tapi pengalaman bertempurpun sangat diperlukan dalam ilmu silat.

Sebab dengan pengalaman orang akan bisa mengenal dan mengetrapkan ilmunya baik-baik.

Meskipun demikian karena ilmu yang dipelajari itu memang bukan ilmu sembarangan, apalagi dipelajari oleh seorang pemuda yang bertulang baik seperti Chin Yang Kun, maka perbawanya juga tetap menggiriskan lawan.

Hal itu dapat dibuktikan di dalam pertempuran yang berat sebelah itu.

Biarpun lawan mampu mendesaknya sedemikian rupa, tapi mereka toh tetap tidak dapat menyentuh dia barang sekalipun.

Akhirnya hati sang pangeran itu menjadi penasaran sekali.

Tanpa mempedulikan lagi akibatnya, pangeran itu mengerahkan Iweekangnya yang ampuh.

Sehingga tidak lama kemudian, diantara ayunan busur dan gerakan tangannya, tersebar hawa panas yang makin lama terasa membakar tubuh mereka semua.

Termasuk Yang Kun dan keempat orang pengawal itu!

Pada mulanya Yang Kun merasakan pula pengaruh hawa panas itu, tapi serentak dia meningkatkan tenaga sakti Liong-cu i-kangnya, maka pengaruh hawa panas itu segera lenyap!

Tapi tidak demikian halnya dengan keempat pengawal yang berada di sekitarnya.

Karena tenaga dalam mereka terbatas maka justru merekalah yang menderita tekanan hawa aneh tersebut.

Sehingga saking tak tahan mereka saling berloncatan mundur menyelamatkan diri.

Akibatnya tinggal pangeran itu sendiri yang bertempur melawan Chin Yang Kun.

"Hmm, pangeran itu agaknya telah mengeluarkan lagi Iwee kangnya yang berhawa panas. Tadi aku-pun hampir terjebak dengan keanehannya itu..."

Chu Seng Kun berbisik kepada Hong-gi-hiap.

"Tidak aneh..."

Hong gi hiap menukas.

"Ilmu hanya berpengaruh terhadap lawan yang mempunyai Iweekang lebih rendah. Jika berhadapan dengan lawan yang mempunyai sinkang lebih tinggi, keanehan tersebut sudah tidak ada gunanya lagi. Yang lebih berbahaya dari pangeran itu justru ilmu silatnya, yaitu ilmu Silat Angin Puyuh..."

"Hah?!? Ilmu Silat Angin Puyuh?"

Chu Seng-Kun terbelalak.

"Bukankah ilmu itu kepunyaan Yap Lo-Cianpwe sebagai keturunan dari Sin-kun Bu tek? Ohh... makanya aku seperti mengenalnya tadi..."

"Benar! Pangeran itu adalah murid dari Yap Lo-Cianpwe."

"Murid Yap Lo-Cianpwe??"

Tabib muda itu semakin kaget.

Dipandangnya lelaki gagah di sampingnya.

Hatinya merasa ragu ragu, tapi tak mungkin rasanya sahabat itu berbohong kepadanya.

Tapi untuk percaya begitu saja, rasa-rasanya juga berat pula.

Bukannya ia tak percaya kepada sahabat itu, tapi baginya kata-kata tersebut benar-benar sukar dipercaya.

Khabarnya, Yap Cu Kiat atau lebih terkenal dengan sebutan Yap Lo-Cianpwe itu adalah keturunan langsung dari salah seorang Datuk Besar Persilatan yang hidup pada zaman seratus tahun yang lalu.

Datuk yang bergelar Sin kun bu-tek (Kepalan Sakti Tanpa Tanding) itulah yang menciptakan Ilmu Silat Angin Puyuh tersebut.

Ilmu itu hanya diberikan kepada keluarga terdekat saja, tak mungkin diberikan kepada orang lain.

Maka tak mungkin rasanya kalau ilmu tersebut sampai diberikan oleh Yap Cu Kiat kepada pangeran itu.

Apalagi pangeran itu ternyata adalah seorang pemberontak yang ingin menumbangkan kekuasaan Kaisar Han!

Biarpun Yap Cu Kiat adalah seorang tokoh besar persilatan, tapi selama ini ia tidak pernah turut campur dalam soal pemerintahan.

Baik pada zaman Kaisar lama maupun pada zaman Kaisar sekarang!

Jadi tak mungkin rasanya kalau pendekar tua sampai mendidik seseorang untuk memberontak kepada Kaisar Han.

Apalagi kedua orang putera pendekar itu sendiri, yaitu Hong-Iui-kun Yap Kiong Lee dan adiknya Yap Kim (Yap Tai-Ciangkun), adalah pembantu-pembantu utama dari Kaisar tersebut.

Agaknya Hong-gi-hiap Souw Thian Hai merasakan keragu-raguan sahabatnya itu.

"Sebenarnyalah apa yang kukatakan itu, saudara Chu. Sudah beberapa saat lamanya aku hidup bersama rombongan mereka. Malah bukan hanya Yap Lo-Cianpwe saja guru dari pangeran itu. Masih ada yang lain, di antaranya adalah Beng Tian Lo-Cianpwe dan Siang houw Nio nio..."

"Hah? Gila? Benarkah...?"

Chu Seng Kun melonjak saking kagetnya. Hong-gi-hiap tersenyum.

"Nanti aku ceriterakan..."

Katanya.

Chu Seng Kun termangu-mangu.

Beng Tian Lo-Cianpwe!

Tak seorangpun yang akan melupakan nama besar itu.

Nama seorang jenderal besar pada zaman Kaisar Chin Si beberapa tahun yang lalu.

Jenderal besar yang selalu setia kepada tugasnya!

Jujur dan berwibawa!

Kepandaiannyapun sangat tinggi.

Tak salah lagi, sinkang berhawa panas itu tentu Hwi-hiat Yang kang dari jenderal besar tersebut"

Seng Kun berpikir di dalam hati.

Dan Siang-houw Nio nio juga bukan tokoh sembarangan.

Setahun yang lalu khabarnya dapat menyusup ke istana dan hampir saja bisa membunuh Kaisar Han.

Pendekar wanita ini meskipun isteri dari Yap Cu Kiat, tapi karena masih ada hubungan keluarga dengan Kaisar lama, maka sangat membenci Kaisar Han.

Begitu bencinya wanita itu kepada Kaisar Han, yang dia anggap menjadi sebab runtuhnya Dinasti Chin, sehingga ia rela bermusuhan dengan putera kandungnya sendiri.

Chu Seng Kun menoleh ke arah Hong-gi-hiap Souw Thian Hai, tapi melihat sahabat itu sedang memusatkan perhatiannya ke arah gelanggang, ia tak jadi bertanya lebih lanjut.

Dengan menghela napas iapun memandang ke arena.

Tampak kedua jago itu telah berlaga kembali.

Masing masing bertempur tanpa menggunakan senjata.

Agaknya busur yang dibawa oleh pangeran tadi juga telah dibuangnya, sehingga sekarang mereka berkelahi dengan tangan kosong.

Meski dengan tangan kosong ternyata pertempuran itu justru kelihatan lebih dahsyat dari pada perkelahian mereka tadi.

Kalau tadi semua orang hanya menyaksikan ketangkasan, kecepatan dan kekuatan ilmu silat masing-masing, sekarang semua orang dibuat kagum oleh kedahsyatan dan keanehan ilmu mereka yang tinggi.

Begitu hebat dan tinggi ilmu kedua orang itu sehingga pengaruhnya terasa pula oleh para penonton yang berada jauh di sekitar mereka.

Hawa panas dan dingin silih berganti mempengaruhi udara di sekitar tempat berlangsungnya pertandingan.

Kalau pangeran itu sedang berada di atas angin, udara terasa berubah menjadi pengap dan panas, sehingga mereka semua seperti berada di dalam tungku perapian yang menyala.

Sebaliknya kalau Yang Kun yang berada di atas angin udara segera berubah menjadi dingin menggigilkan, sehingga semua yang berada di tempat itu merasa seperti diselimuti oleh kabut es yang membekukan.

Tapi suasana aneh seperti di atas tidak berlangsung lama.

Bagaimanapun hebatnya ilmu silat Angin Puyuh dari pangeran tersebut ternyata tidak dapat juga mengatasi Hok te Ciang hoat Chin Yang Kun!

Apalagi selama mereka bertempur sang pangeran tidak berani beradu tangan maupun kepalan barang sekalipun.

Mungkin pangeran itu telah merasa bahwa dirinya belum cukup kuat untuk menahan pukulan beracun dari lawannya.

Akhirnya pangeran itu menjadi sadar pula bahwa bagaimanapun juga ia takkan mampu memenangkan pertempuran tersebut.

Maka sambil berteriak nyaring ia mencabut pedang yang berada di pinggangnya.

Mendengar aba-aba itu empat pengawal yang sedari tadi menonton di pinggir segera meloncat kembali ke tengah arena.

Dengan cepat mereka memotong gerakan Chin Yang Kun, sehingga desakan yang dilancarkan kepada pangeran itu menjadi terputus di tengah jalan.

Tentu saja Yang Kun menjadi marah sekali.

Dengan berdiri tegak pemuda itu mengerahkan Liong-cu i-kang sepenuh penuhnya!

Sementara itu Hong-gi-hiap tampak menghela napas lega.

Otot badannya yang sudah menegang itu mengendor pula kembali.

"Nah, begitulah seharusnya. Pemuda itu terang masih terlalu kuat baginya. Tanpa bantuan pengawal tak mungkin ia bisa menahan serangan yang hebat itu."

Tapi Chu Seng Kun segera menyentuh lengan Hong-gi-hiap.

"Jangan keburu lega dulu. Lihatlah gerakan kawanku itu! Kalau saudara Souw tidak lekas-lekas menyelamatkan pangeran itu, sebentar lagi saudara Souw akan menyesal seumur hidup. Sungguh!!"

"Hah? Apa? Ohh...!"

Tiba-tiba pendekar sakti itu meleset bagai kilat ke tengah arena.

Orang yang harus ia lindungi keselamatannya sedang dalam bahaya!

Dan bersamaan dengan saat itu pula di luar dusun terdengar suara terompet dan sorak sorai yang gegap-gempita seakan mau merobohkan desa tersebut!

"Siauw-ongya!

Siauw-ongya!

Pasukan pemerintah telah datang!"

Para penjaga yang berjaga-jaga di mulut jalan tampak berlarian datang.

Suasana menjadi gempar.

Tapi yang sedang berada di tengah tengah gelanggang hampir tidak mendengar keributan itu.

Keadaan pertempuran mereka sendiri juga telah mencapai titik gawat.

Yang Kun pada saat terakhir telah melontarkan pukulan udara kosongnya ke arah Siauw-ongya!

Sebuah pukulan yang penuh berisi tenaga sakti liong-cu i-kang!

Perbawanya sungguh sangat menggiriskan hati, hingga sulit rasanya pangeran itu untuk meloloskan diri.

Dengan semangat yang hampir putus-asa pangeran itu berusaha menghindar.

Kedua kakinya menjejak tanah sekeras kerasnya sehingga tubuhnya terlontar tinggi ke udara, meskipun demikian usaha itu ternyata tidak seratus persen berhasil.

Mula-mula empat orang pengawal yang berusaha menolong tuannya tampak terpental ke kanan dan ke kiri.

Perisai yang mereka gunakan untuk menahan pukulan Yang Kun terhantam pecah berantakan.

Sementara tubuh mereka yang kekar-kekar itu terhempas keras ke tanah dengan kulit berubah kehitam hitaman.

Beberapa saat lamanya mereka menggelepar seperti ikan di dalam jaring dan selanjutnya mati dengan wajah mengerikan.

Sedikit hambatan dari empat orang pengawal ternyata tidak mempengaruhi maksud Yang Kun dalam menghajar Iawan pokoknya.

Bersama dengan hancurnya perisai pengawal tadi Yang Kun menghentikan aliran Iwee kangnya sesaat.

Dan dalam waktu yang sesaat itu terjadilah suatu pemandangan yang mendirikan bulu roma!

Tampak tangan Yang Kun yang terulur itu memanjang dengan cepat, mengejar tubuh Siauw-ongya yang berada di udara.

Begitu panjangnya lengan itu sehingga hampir mencapai dua kali lipat lengan biasa.

Oleh karena itu dengan mudahnya lengan tersebut menjangkau tubuh Siauw-ongya.

Tapi pada saat yang sangat gawat bagi pangeran itu, tiba-tiba datang segulung asap tipis berwarna putih dan merah, menerjang ke arah lengan Yang Kun yang memanjang tersebut.

Lalu terdengar suara ledakan kecil, seperti suara cambuk yang meletup!

"Taasss!"

Dan lengan yang panjang itu mengkerut kembali dengan cepat!

Tampak oleh Chu Seng Kun, Yang Kun terhuyung huyung mundur dengan wajah pucat.

Dari sudut bibirnya menetes darah yang kehitam-hitaman, darah yang khas dari pemuda tersebut.

Sedangkan di hadapannya berdiri tegak Hong-gi-hiap Souw Thian Hai, memanggul Siauw-ongya yang pingsan.

Pendekar itu tampak kesakitan pula.

Telunjuk kirinya sibuk menotok di beberapa bagian lengan kanannya yang kehitam-hitaman.

Kemudian dengan tergesa gesa pendekar sakti itu meloncat menghindar dari tempat yang hingar-bingar tersebut.

"Saudara Chu, bawa kawanmu yang terluka itu keluar dari tempat ini! Sebentar lagi akan terjadi perang besar di dusun ini!"

Teriaknya sebelum hilang dari pandang mata.

"Pengecut! Jangan lari"!"

Yang Kun yang terluka itu berteriak marah.

Dengan agak sempoyongan pemuda itu berlari mengejar Hong-gi-hiap.

Chu Seng Kun terkejut, apalagi ketika dijalan sudah terdengar sorak-sorak perajurit yang bertempur.

Pendudukpun sudah terlihat berlarian kesana kemari mencari tempat perlindungan.

Wanita dan anak-anak tampak menjerit-jerit ketakutan mencari suami dan ayah mereka.

"Yang-hiante, tunggu!"

Chu Seng Kun berlari pula dari tempat itu.

* * * Perang!

Bagaimanapun macam dan bentuknya perang adalah tragedi yang paling buruk dalam hidup kebudayaan manusia.

Dari dulu hingga sekarang perang adalah sama saja, semuanya tak ada keuntungannya, yang ada hanya kerugian, kerusakan dan kehancuran!

Kehancuran dalam bidang apa saja, baik bidang kejiwaan maupun bidang kebendaan!

Maka tak seorangpun di dunia ini yang suka akan perang.

Perang hanya akan merampas kebebasan hidup mereka!

Perang hanya akan memunahkan hasil kerja yang telah mereka timba dengan darah dan keringat mereka.

Perang hanya akan menjauhkan ketenteraman hidup mereka.

Pendeknya, perang hanya berarti penderitaan dan kesengsaraan!

Meski begitu, perang ternyata selalu berulang, dari zaman ke zaman.

Seakan-akan perang itu memang sebagian dari kegiatan hidup manusia.

Seakan akan semua masalah dalam kehidupan ini akan dapat diselesaikan dengan perang.

Sehingga bagaimanapun juga perang akan selalu ada.

Mungkin semuanya itu akan berhenti kalau kehidupan juga telah tiada!

Pasukan Yap Tai-Ciangkun yang diperkirakan tengah hari baru akan tiba itu ternyata sudah muncul bersamaan dengan terbitnya matahari di ufuk timur.

Biarpun pasukan itu jumlahnya lebih sedikit, tetapi karena datang secara mendadak, apalagi pihak lawan belum bersiap sama sekali, maka dengan mudah dapat menguasai medan pertempuran.

Sementara itu, Yang Kun yang berusaha mengejar Hong gi hiap Souw Thian Hai ternyata mengalami banyak hambatan di jalan.

Pemuda itu tidak menyangka bahwa Hong-gi-hiap bisa melontarkan pukulan sedemikian dahsyatnya, sehingga bisa melukai bagian dalam tubuhnya.

Semakin kuat ia mengerahkan tenaganya semakin terasa pula sakit di dalam dadanya.

Beberapa kali pemuda itu harus berhenti berlari untuk mengambil napas!

Dan rasa sesak itu semakin mengganggu ketika beberapa kali pula ia harus meloloskan diri dari kepungan Yap Tai-Ciangkun yang datang.

Apalagi kalau ia harus menghadapi perwira-perwira yang punya kepandaian lumayan.

Rasanya luka itu semakin menganga saja di dalam rongga dadanya.

Lambat laun Yang Kun makin sukar mengerahkan tenaga saktinya.

Oleh karena itu ketika berhadapan dengan beberapa orang perwira Kepercayaan Yap Tai-Ciangkun, Yang Kun mulai mendapatkan luka luka pada tubuhnya.

Dan biarpun beberapa orang diantara lawannya menjadi korban pula dari pukulan dan darahnya yang beracun, tetapi kalau diteruskan pemuda itupun takkan bisa bertahan lebih lama lagi.

Celakanya, karena suasana di tempat itu memang kelewat ribut, maka sudah sekian lamanya pula Chu Seng Kun belum juga muncul.

Untunglah pada saat yang gawat itu datang juga sebuah pertolongan yang tak disangka sangka!

"Lojin-ong...

oh...

Lojin-ong!"

Dari dalam gelap tiba-tiba muncul kakek tua anggota Im-yang-kauw itu. Dengan berlari lari kecil orang tua itu menghambur ke arah pertempuran.

"Lojin-ong! Jangan takut, hambamu datang membantu,"

Serunya lantang.

Kedatangan kakek itu justru membuat Yang Kun menjadi kelabakan.

Dia sendiri dalam keadaan repot, kalau harus melindungi pula orang tua tersebut keadaan mereka tentu akan semakin runyam.

Benarlah, begitu bergerak kakek itu nyelonong begitu saja di antara berkelebatnya senjata.

Yang Kun terbelalak, ingin ia menolong tapi dadanya seperti terbakar secara mendadak dan badannya justru terbanting ke atas tanah.

"Lojin-ong..."

Yang Kun tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.

Matanya menjadi gelap, lalu ia tak ingat apa-apa lagi.

Pemuda itu tak tahu pula berapa lama ia pingsan.

Hanya ia menjadi heran ketika siuman kembali tubuhnya justru telah berada di atas gendongan kakek sinting itu.

Sepatunya terasa basah dan telinganya seperti mendengar gemericiknya air mengalir.

Dan dikejauhan masih terdengar pula suara pertempuran yang riuh.

Agaknya kakek itu tahu juga kalau Yang Kun sudah sadar.

"Lojin-ong, parit yang dalam inilah satu-satunya jalan paling aman untuk menghindar dari mereka,"

Katanya gembira biarpun napasnya kelihatan tersengal.

"Kek, lepaskan tanganku! Biarkan aku turun dan berjalan sendiri...!"

Yang Kun berkata dengan perasaan tak enak.

"Ah, tak apalah! Lojin-Ong tak perlu sungkan kepadaku. Lojin-ong masih sakit,"

Kakek itu menolak. Yang Kun akan memaksa turun juga, tetapi tiba-tiba lukanya terasa menyengat lagi sehingga niat itu cepat ia urungkan.

"Kek, ke mana kita akan pergi...?"

Pemuda itu bertanya sekedar untuk menutupi rasa rikuhnya.

"Hmm, ke mana lagi? Tentu saja ke kuil kita sendiri yang ada di belakang bukit itu. Di sanalah hambamu selama ini bertapa...!"

Mereka menyusuri parit itu sampai ke pinggang bukit.

Dan di tempat yang landai tersebut mereka naik ke daratan.

Kakek yang sudah tua itu tampak semakin tersengal-sengal.

Meski begitu wajahnya selalu ramai dengan senyuman.

Kelihatan sekali kalau hatinya gembira bukan main dapat menolong Chin Yang Kun.

"Lojin-ong, tempat ini sangat aman sekali... Bolehkah hambamu ini beristirahat sebentar untuk melepaskan lelah di sini? Nanti kalau sudah terang tanah kita dapat melanjutkan perjalanan melalui punggung bukit itu... heh-heh!"

"Silahkan, kek... silahkan!"

Yang Kun menjawab cepat.

"Engkau tentu lelah sekali."

"Wah, memang benar... habis badan sudah tua...k epandaian silatpun tiada punya."

Orang tua itu mengeluh sambil menurunkan tubuh Yang Kun ke atas tanah.

"Coba hamba mempunyai kepandaian seperti Lojin-ong atau Tai si-ong, sepuluh orangpun akan mampu hamba panggul naik ke puncak bukit itu tanpa berhenti."

Kakek itu menyandarkan tubuhnya ke sebuah batu, lalu mengipas-ngipaskan tangan ke arah leher untuk mengusir keringat yang meleleh.

Tampak benar kalau dia baru saja mengerahkan tenaganya secara berlebihan.

"Heh...heh... tak usah setinggi Lojin-ong atau Tai-si-ong, bisa sejajar dengan Pangcu-si (Pengurus Perkumpulan) atau Kauwcu-si (Pengurus Keagamaan) saja sudah senang sekali rasanya..."

"Pangcu-si... Kauwcu-si? Maaf kek, siapakah mereka itu?"

Kakek tua itu terbelalak sebentar, lalu tersenyum tersipu-sipu.

"Ah, Lojin-ong benar-benar suka menggoda orang... Masakan dengan anak buah sendiri tidak tahu. Bukankah sampai sekarang Song Kang Cu-si dan Tong Ciak Cu-si masih memangku jabatan mereka itu?"

Yang Kun menghela napas berkali-kali.

"Itulah repotnya kalau kakek masih tetap juga tidak percaya kepadaku..."

Katanya kesal.

"Sudah kukatakan sejak semula bahwa aku ini bukan Toat-beng-jin! Tapi kakek tidak percaya juga..."

Yang Kun menatap orang tua itu lekat lekat, maksudnya agar orang itu tahu kalau dia bersungguh-sungguh dalam ucapannya.

Tapi benar-benar celaka!

Wajah yang semula ramai dengan senyuman itu tiba-tiba saja berubah keruh dan sedih, mata yang berkeriput itu menjadi merah berkaca kaca...

"Maaf kek. Mungkin pengakuanku ini sangat melukai hatimu... Tapi... sebenarnyalah..."

Yang Kun segera menghentikan kata-katanya.

Tampak olehnya kakek tua itu mulai menyeka air mata yang bercucuran di atas pipinya.

Tapi Yang Kun telah bertekad untuk menghentikan kesalahsangkaan ini.

la tak ingin semuanya ini menjadi berlarut-larut, sehingga akhirnya ia sendiri pulalah yang nanti akan mendapatkan kesukaran.

"Kakek, coba bayangkan...! Bagaimana akan repotnya nanti dan betapa akan malu ku... apabila..."

Tapi belum juga kata-kata itu habis, kakek sinting yang sedari tadi sudah siap menangis itu keburu membanting tubuhnya ke atas tanah dan berguling-guling kesana kemari sambil melolong-lolong.

"Lojin-onggg... ohhh... Lojin-ong, kukira Lojin-ong benar benar telah memaafkanku. Kukira Lojin-ong telah menerima aku sebagai hambamu... oh, ternyata... ternyata tidak! Lojin-ong masih tetap mau membunuhku! Oohh...!"

Suaranya sangat keras sehingga mengagetkan burung-burung yang mulai keluar dari sarangnya.

Tentu saja Yang Kun menjadi kelabakan lagi.

Matanya nyalang menoleh kesana kemari, takut kalau ada orang lewat yang mendengarnya.

Siapa tahu pula di dekat mereka ada musuh atau orang jahat?

Kan repot nanti!

"Kek, lekaslah kau diam!

Didengar orang bisa celaka kita!"

Pemuda itu berseru gugup.

"Biarlah! Ada orang atau tidak, aku toh tetap akan dihukum mati, hoa-hoa...! Dan aku tidak mau mati sambil tertawa seperti semua kurban Toat-beng-jin selama ini! Hoa-hoaha...hoa...!"

Kakek itu menangis bertambah keras.

Dan lagaknya pun semakin bertambah gila.

Kalau semula hanya bergulingan, kini ditambah pula dengan menyobeki pakaiannya!

"Kurang ajar!

Kambing tua berotak udang...!"

Yang Kun berteriak saking jengkelnya, sehingga luka di dalam dadanya terasa perih kembali.

"Ohh, bangsat tua...kau benar benar menjengkelkan hatiku!"

Kemudian keluhnya lirih sambil mendekap dada.

Sebaliknya, mendengar Yang Kun mengumpat-umpat, kakek itu justru menghentikan ulahnya yang konyol.

Masih dengan terlentang di atas tanah orang tua itu menatap Yang Kun dengan ragu-ragu.

Lalu perlahan-lahan wajahnya menjadi cerah kembali.

Apalagi ketika dilihatnya wajah Yang Kun semakin masam dan keruh, kontan ia bangkit dan berlari menubruk kaki si pemuda.

"'Oh, Lojin-ong... terima kasih! Hambamu tahu bahwa engkau akan mengampuni juga...! Hei?"

Tiba-tiba kakek sinting itu berseru kaget. Kakek itu menaruh jarinya di depan mulut lalu bergegas menyeret tubuh Yang Kun ke dalam semak.

"Awas! Ada orang datang!"

Bisiknya ke telinga Yang Kun.

Yang Kun diam saja.

Hatinya masih merasa jengkel bukan main!

Celakanya, kakek sinting itu seperti tak tahu kalau Yang Kun sedang jengkel.

Enak saja dia melenggut ketiduran di dalam semak persembunyian mereka, membuat jumlah kerut merut di dahi Yang Kun semakin bertambah banyak.

Apalagi ketika sekian lamanya dinanti, orang yang dimaksudkan itu belum lewat juga.

"Hei, kambing tua...! Mana orang itu? Mengapa sudah sekian lama tidak juga terdengar langkahnya?"

Yang Kun bertanya mendongkol. Benar-benar sinting! Kakek itu justru amat gembira sekali dimaki sebagai kambing tua. Dengan tersenyum simpul ia menjawab seenaknya.

"Entahlah, mungkin masih jauh! Akupun belum mendengar langkahnya..."

Ingin rasanya pemuda itu menggantung kakek konyol itu, kemudian mencabuti kumis dan jenggotnya selembar, biar sedikit tahu rasa!

Tapi bila melihat kembali ke arah tubuhnya yang kurus, lemah dan kelihatan memelas itu tak tega pula hati Yang Kun untuk berbuat kasar.

Apalagi mengingat bagaimana kakek tua itu telah bersusah payah menggendong dirinya sampai ke tempat tersebut, hatinya terasa menjadi dingin kembali.

"Lalu... apa maksudmu mengatakan ada orang datang dan kemudian menyeretku ke semak-semak begini?"

"Tidak ada maksud dari kambing tua... eh, maksud hamba...hamba tidak bermaksud apa-apa. Anu...hamba memang tidak atau mendengar suara langkahnya, tetapi... hamba merasa pasti akan ada orang yang datang sebentar lagi. Soalnya perasaan hamba telah mengatakan hal itu..."

Orang tua itu agak takut juga melihat sinar mata Yang Kun yang seram.

"Perasaan...? Merasa...? Sungguh gila!"

Yang Kun menggeram.

"Eh? memangnya kenapa? Apakah hamba salah omong, Lojin-ong...?"

Orang tua itu heran.

"Bukankah manusia dibekali dengan akal, budi dan perasaan oleh Thian? Nah, kalau kita mempergunakan ketiga hal itu secara bersungguh sungguh, kita tak usah terlalu mengandalkan kelima panca indera kita seperti telinga, mata dan hidung ini..."

Sambung kakek itu sedikit penasaran.

"Jadi maksud kakek... oh..."

Yang Kun segera menutup mulutnya.

Kini telinganya benar benar mendengar langkah kaki orang yang datang ke tempat itu.

Gila, benar juga kata kakek sinting ini, pemuda itu membatin.

Atau hanya kebetulan saja?

Yang Kun sungguh sungguh menahan napas ketika dari jauh terlihat dua orang berjalan menyusuri parit.

Salah seorang diantaranya tampak memanggul sesuatu di pundak kanannya.

Mereka tampak mengayun langkahnya dengan pelan, tapi sekejap kemudian ternyata mereka telah melayang tiba, sehingga tanpa berjanji Yang Kun dan kakek sinting itu saling pandang dengan sinar mata kagum.

Tapi kekaguman kakek itu segera berubah menjadi kekagetan begitu tahu dengan jelas siapa yang datang!

"Put-gi-ho (Burung Bangau Tak berbudi), kita menanti sebentar di sini!

Biarlah matahari naik agak lebih tinggi.

Tak enak rasanya berkunjung ke tempat orang terlalu pagi..."

Salah seorang diantara kedua orang itu, yaitu yang bertubuh gemuk, berkata sambil meletakkan pantatnya di atas batu yang tadi dipakai bersandar si kakek sinting.

Temannya, yang bertubuh tinggi kurus dan dipanggil dengan nama Put-gi-ho mengangguk.

Tubuh wanita yang tadi dipanggul di atas pundaknya, ia letakkan di atas rumput.

"Put-chih-to (Jalan Tidak Lurus), kau benar! Kita memang harus berhati-hati! Apalagi kita membawa kawan mereka yang terluka sedang kita sendiri dengan mereka selalu berselisih.Salah-salah bisa terjadi salah paham nanti."

Kalau semula kakek sinting tersebut yang kaget, kini ganti Yang Kun yang terkejut melihat tubuh wanita yang terletak di atas rumput itu.

"Gadis buntung!"

Pemuda itu berseru dalam hati.

"Hmm, mengapa dia sampai terluka? Bukankah kemarin pergi bersama-sama dengan kedua gadis anak buah Keh sim Siauwhiap itu? lalu kemana kedua kawannya tersebut?"

Yang Kun dan kakek sinting tak terasa saling memandang lagi. Ternyata masing-masing telah mengenal salah seorang dari ketiga orang yang ada di depan mereka itu.

"Lojin-ong mengenal gadis buntung yang terluka itu?"

Kakek tersebut berbisik di telinga Yang Kun.

"Tidak!"

Yang Kun berbisik pula.

"Aku hanya pernah bertemu dengan dia di perkampungan pengungsi. Lalu... siapakah kedua orang yang membawanya itu? Mengapa namanya demikian aneh-aneh?"

Kakek itu tersenyum lagi.

"Ah, Lojin-ong bergurau pula.."

Bisiknya malu-malu.

"Bukankah mereka sering berselisih dengan kaum kita? Kini...lihatlah dandanan mereka!"

Yang Kun mengawasi dandanan kedua orang tersebut.

Mereka tampak berdandan secara biasa cuma mereka tidak bersepatu dan rambutnya yang panjang tidak digelung seperti kebanyakan orang, tapi hanya diikat dengan tali di atas kepala.

Sehingga sepintas lalu rambut tersebut menyerupai ekor kuda.

Yang Kun kembali menoleh ke arah kakek sinting.

La merasa tidak ada keanehan pada dandanan mereka.

"Ah, masa Lojin-ong sudah lupa pada dandanan seperti itu? Namanya saja sudah pakai Put semua, bukankah mereka orang orang Bing-kauw (Aliran Bing)?"

Bisik kakek itu penasaran.

Pemuda itu menatap si kakek dengan dahi berkerut.

Hampir saja dia marah.

Untung hati kecilnya segera sadar kembali.

Memang benar.

Mendiang paman bungsunya memang pernah mengatakan tentang hal itu.

Di masyarakat memang banyak aliran agama atau kepercayaan yang berkembang, di antaranya adalah Bing-kauw tersebut.

Tetapi karena baru kali ini ia menjumpai atau melihat mereka, maka ia tidak segera mengetahuinya.

Sementara kedua orang Bing-kauw itu tampak berbicara satu sama lain.

"Put gi-ho, mengapa tidak kita bawa saja gadis ini ke gedung pusat Im-yang-kauw sekalian? Mengapa hanya kita bawa ke kuil di belakang bukit itu? Apakah engkau takut?"

Put-chih-to bertanya.

"Hmh!"

Put gi-ho mendengus.

"Apakah engkau pernah mendengar kalau aku takut kepada mereka? Aku tidak pernah takut kepada siapapun, biar terhadap Tai si ong atau Toat-beng-jin mereka! Aku hanya ingin melaksanakan anjuran isteri Kauwcu (Ketua Aliran Agama) kita yang baik budi itu... Siapapun dilarang membuat kerusuhan atau memancing-mancing kerusuhan dengan aliran lain. KUIL ITU BUKAN KANDANG KUDA. SEBAB KANDANG KUDA ADA DI MULUT LETAKNYA!"

"Benar! Maafkan aku, aku hanya ingin mengetahui pendapatmu saja,"

Put-chih-to berkata pula.

"Aku juga sangat menghargai anjuran isteri Kauwcu tersebut. Apalagi kalau diingat bahwa pendapat orang tidak ada yang sama KUDA PUTIH ADALAH HITAM!"

Yang Kun menatap kakek sinting dengan bingung.

Selain nama mereka sangat aneh, ucapan ucapan yang mereka keluarkanpun aneh-aneh pula.

Kuil itu bukan kandang kuda, kuda putih adalah hitam!

Apakah artinya semua itu?

Agaknya kakek itu melihat juga kebingungan Yang Kun.

Dengan menahan ketawa ia berbisik.

"Mereka menyebut nama Lojin-ong... Lojin-ong tidak perlu bingung! Kita tak perlu mendengarkan ucapan-ucapan mereka yang aneh, karena hal itu sudah menjadi ciri khas mereka. Ini saja belum! Kalau Lojin-ong nanti berjumpa dengan Put ceng li Lojin, wah kutanggung bisa sakit kepala nanti."

"Put-ceng-li Lojin (Si Orang Tua Yang Tak Punya Aturan)? Siapakah dia?"

Kakek sinting itu merengut dengan mendadak.

"Lojin-ong mau menggoda aku lagi.."

Desahnya pelan.

"Setiap orang kan tahu, kalau Put-ceng-Ii Lojin adalah ketua Bingkauw..."

Yang Kun diam, tak ingin dia berbantah lebih lanjut dengan kakek sinting itu.

la mengalihkan pandangannya ke tubuh gadis buntung yang tergeletak di atas rumput.

Biarpun dalam keadaan tak sadar gadis itu tampak cantik bukan main.

Di bawah sinar matahari pagi yang cerah pipi yang putih halus itu kelihatan membara kemerah-merahan seperti buah tomat yang siap untuk dipetik.

Sayang mengapa lengan kiri itu mesti buntung?

Ya, mengapa lengan itu mesti tidak ada?

Apa yang menyebabkannya?

Adakah cacat itu memang terjadi sejak kecil?

Ataukah lengan itu dipatahkan orang?

Yang Kun memandang tubuh indah itu sepuas-puasnya.

Alangkah kasihan dia!

lngin rasanya pemuda itu memberikan lengannya, agar kecantikan itu menjadi sempurna sekali...

"Put gi ho, untung benar kita mendapatkan pimpinan seperti isteri Kauwcu itu. Sejak dia berada di Rumah Suci mendampingi Kauwcu, perkumpulan kita semakin besar dan teratur..."

"Dan beliau demikian cantiknya. Alangkah bahagianya Kauwcu!"

"Ssst! Matahari sudah demikian panasnya, ayoh kita berangkat!"

Kedua orang Bing-kauw itu mengangkat tubuh gadis itu kembali lalu berangkat meneruskan perjalanan mereka.

Sedang Yang Kun dan kakek sinting mengawasi saja langkah mereka hingga mereka tak bisa melihat lagi.

"Kek, agaknya tujuan mereka sama dengan kita..."

"Benar! Lojin-ong, marilah kita juga lekas-lekas pergi ke sana! Agaknya ada sesuatu yang penting..."

Kakek itu berkata sambil mendekati Yang Kun untuk menggendongnya kembali.

"Biarlah aku berjalan sendiri, kek! Asal tidak terlalu cepat kukira aku bisa juga berjalan."

"Lojin-ong..."

"Sudahlah, kek! Marilah kita berangkat!"

Pemuda itu berkata sambil mengangkat tubuhnya untuk berdiri.

Lalu dengan perlahan ia mulai melangkahkan kakinya.

Mula mula perlahan, akhirnya dapat juga melangkah sedikit cepat.

Kakek sinting itu membuntuti terus dengan perasaan khawatir, tapi ketika dilihatnya pemuda itu bisa juga berjalan sendiri, iapun lalu berjalan di sampingnya dengan perasaan lega.

"Heran! Ada juga perwira kerajaan yang berkepandaian tinggi sehingga mampu melukai Lojin-ong,"

Kakek itu berkata sambil mengawasi Chin Yang Kun.

"Hmm!"

Yang Kun menggeleng dengan cepat.

"Bukan perwira perwira itu yang melukai aku""

"Bukan mereka? Lalu siapa...?"

"Hong gi hiap Souw Thian Hai!"

"Hah??"

Kakek itu tersentak sehingga terbatuk batuk. Keduanya berhenti melangkah.

"Ada apa kek? Kenapa engkau begitu kaget mendengar nama itu?"

Kakek itu membersihkan mulut dan jenggotnya dengan telapak tangannya sebelum menjawab pertanyaan itu.

"Jadi Lojin-ong telah bertempur dengan pendekar muda itu? Ah..."

Kakek itu menghela napas berkali-kali. Tentu saja pemuda itu semakin terheran-heran.

"Apa sih yang aneh?"

Tanyanya tak mengerti. Kakek Sinting itu mengangguk-angguk dengan pandang mata jauh.

"Ah, kalau begitu khabar yang tersebar selama ini benar juga adanya. Dia memang benar benar hebat!"

"Kek, apa yang kau katakan?"

"Lojin-ong, mungkin karena Lojin-ong selalu berdiam di Kuil Agung yang berada di Gedung Pusat, maka tidak pernah mendengar atau mengetahui segala sesuatu yang terjadi di luaran. Maksud hamba... yang terjadi di dunia persilatan!"

"Hmmm... lalu?"

Sambil melangkah perlahan-lahan kakek itu bercerita.

Sejak Empat Datuk Besar Persilatan telah tiada, puluhan tahun lamanya dunia kang-ouw hanya dipenuhi dengan cerita tentang keganasan dan sepak terjang para tokoh dunia hitam yang bermunculan bagai jamur di musim hujan.

Mereka menteror dan mengganggu penduduk tanpa rintangan.

Mereka seperti mendapat kesempatan karena pemerintah sibuk dengan perang saudara dan perang perbatasan, sementara tidak seorang pendekarpun yang muncul untuk menghadapi mereka.

Biarpun Empat Datuk Besar itu yang mempunyai keturunan dan anak murid, tapi tidak ada di antara mereka yang menonjol atau sesakti nenek moyang mereka tersebut.

Malah banyak di antara mereka yang menjadi korban keganasan tokoh-tokoh hitam itu.

Oleh karena itu semakin lama semakin tampak kalau dunia semakin dikuasai oleh para penjabat.

Mereka malang-melintang dan meraja lela di antara penduduk dengan kejamnya.

Begitu hebat kekuatan dan kekuasaan mereka sehingga dengan enaknya mereka membagi-bagi daerah Tiongkok yang luas itu menjadi beberapa daerah kekuasaan.

Dan setiap daerah dikuasai oleh seorang raja tak bermahkota, seorang yang terlihai dalam daerah itu.

Dan raja tak bermahkota ini selalu berganti ganti setiap waktu, sebab dalam kamus mereka siapa yang terlihai adalah yang menjadi raja.

Akhirnya pada belasan tahun yang lalu, secara hampir berbareng, di setiap daerah itu muncul seorang tokoh hitam yang untuk waktu lama tiada punya lawan lagi.

Sehingga dalam waktu bertahun-tahun mereka menjadi raja yang tak tergoyahkan di daerah masing-masing.

Mereka adalah Su-go (Buaya Sakti) Mo Kai Ci, yang berkuasa di daerah perairan sungai, rawa, telaga dan tempat tempat perairan lainnya.

Tokoh ini menguasai segala penjahat yang beroperasi di daerahnya, sehingga dapat dibayangkan betapa besar dan hebat kekuasaannya.

Dan dapat dibayangkan pula betapa hebat ilmu kepandaiannya sehingga ia mampu menaklukkan ratusan bahkan ribuan penjahat yang malang-melintang di daerahnya yang luas.

Tokoh yang kedua adalah San hek houw (Si Harimau Gunung).

Tokoh ini tidak kalah lihainya dengan Sin go Mo Kai Ci, kalau tidak lebih lihai malah.

Tokoh yang berwajah dan berwatak kasar ini menguasai dusun dusun, hutan dan gunung serta kota kota yang tidak dijaga oleh pasukan kerajaan.

Tokoh ini ke mana mana selalu memakai baju kulit binatang dan membawa sepasang harimau kumbang!

Tokoh yang ketiga, yaitu tokoh yang jarang sekali muncul di tempat ramai, tapi ternyata adalah tokoh yang paling lihai di antara mereka, adalah Tung-hai-tiauw (Rajawali Laut Timur).

Tokoh yang berkepandaian sangat tinggi ini hampir tidak pernah terlihat di daratan Tiongkok, karena daerah kekuasaannya memang berada di Lautan Timur yang luas.

Mereka bertiga sering di sebut Sam Ok (Si Tiga Jahat) oleh para penduduk.

Dan memang mereka itulah yang menjadi dewanya tokoh hitam selama bertahun-tahun!

Tetapi keadaan seperti itu ternyata tidak kekal pula.

Kira-kira enam atau tujuh tahun yang lalu dari dunia hitam muncul pula seorang iblis lagi, yang kesaktiannya ternyata jauh lebih dahsyat dari pada ketiga Sam Ok tersebut.

Iblis itu mengaku masih keturunan Bit-bo ong yang hidup sezaman dengan Empat Datuk Besar itu.

Dan sebagai buktinya iblis tersebut mengenakan segala perlengkapan dan ciri ciri kebesaran dari Si Raja Kelelawar juga.

Dengan cepat dan mudah iblis itu menaklukkan Sin-go Mo Kai Ci dau San hek-houw, kemudian mengobrak-abrik sarang Tung-hai-tiauw di Lautan Timur.

Setelah ketiga Sam Ok itu dapat ditaklukkan, Bit-bo-ong tiruan itu mengangkat dirinya menjadi raja diraja dari semua tokoh golongan hitam.

Tapi hal itupun ternyata belum memuaskan iblis yang serakah tersebut.

Dengan mengerahkan seluruh kau mnya, iblis itu memberontak terhadap Kaisar Chin Si Hong te.

Tentu saja hal itu membuat Kaisar Chin repot bukan main, sebab pada saat itu juga pemerintahannya sedang menghadapi rongrongan pemberontakan Chu Siang Yu dan Liu Pang.

Sedangkan untuk menghadapi pemberontakan Chu Siang Yu yang dibantu oleh pasukan asing dan pemberontakan Liu Pang yang disokong oleh seluruh rakyat saja Kaisar Chin mengalami kesukaran, apa lagi harus ditambah dengan pemberontakan kaum Hitam.

Maka tak heran kalau akhirnya Kaisar Chin terpaksa harus melepaskan Singgasananya.

Bit -bo-ong tiruan sempat duduk di singgasana emas itu selama empat puluh hari.

Tapi pada hari yang ke empat puluh satunya, kekuatan pemberontak Chu Siang Yu telah menjebol benteng Kotaraja dan mengenyahkannya.

Bagaimanapun saktinya iblis itu, tapi menghadapi ribuan bahkan laksaan manusia, mana dia mampu?

Iblis itu meloloskan diri dari Kotaraja diikuti oleh para pembantu utamanya yang terdiri dari tokoh tokoh golongan hitam.

Dan istana kerajaan ganti dikuasai oleh Chu Siang Yu.

Tapi keadaan itupun tak berlangsung lama, karena beberapa hari kemudian Barisan Para Pendekar yang dipimpin oleh Liu Pang telah memasuki Kotaraja pula.

Perang besarpun terjadi.

Keduanya sama-sama mempunyai kekuatan yang maha besar.

Tapi karena pasukan Chu Siang Yu baru saja mabuk kemenangan, maka mereka menjadi lengah.

Apalagi mereka juga baru saja berselisih dengan pasukan asing yang membantu mereka, maka akhirnya pasukan Chu Siang Yu tidak dapat menahan amukan pasukan Liu Pang.

Dan Kotarajapun berpindah tangan lagi!

Sekarang Liu Pang yang berkuasa dengan gelar Kaisar Han.

Nah!

Pada saat negara ribut seperti itulah di dunia persilatan muncul seorang pendekar muda yang mempunyai kesaktian seperti dewa.

Sayang pendekar muda itu menderita sakit lupa ingatan, sehingga segala gerak geriknya amat membingungkan orang.

Kadang kadang membantu pihak ke satu, kadang kadang membantu pihak yang lain, atau kadangkala justru memusuhi semua pihak!

Dengan kepandaian kata-katanya, akhirnya Liu Pang bisa menarik pendekar itu menjadi pembantunya.

Dan untuk selanjutnya, dalam setiap pertempuran, tak seorangpun mampu bertahan terhadap pendekar muda itu.

Semua digilasnya, termasuk Bit bo ong tiruan dan kawan-kawannya yang melarikan diri itu!

Kakek sinting itu mengakhiri ceriteranya dengan menghela napas berulang ulang.

"Demikianlah Lojin-ong... Pendekar muda yang hebat itu khabarnya bernama Hong-gi-hiap Souw Thian Hai! Oleh karena itu betapa kaget hati hamba tadi mendengar Lojin-ong telah dilukai oleh pendekar itu!"

Yang Kun hampir tidak mendengar kata kata terakhir dari kakek sinting tersebut, sebab dia sendiri sedang sibuk berpikir tentang ceritera yang menyinggung persoalan keluarganya itu.

Hanya sekarang pemuda itu mendengar ceritera yang sudah sering ia dengar dari mulut pamannya itu dalam versi yang berbeda!

Paman pamannya tidak pernah mengatakan bahwa sang pek hu yang bergelar Bit -bo-ong itu adalah seorang raja penjahat yang sangat dibenci orang.

Paman pamannya selalu mengatakan bahwa pek hunya adalah seorang pahlawan penyelamat Dinasti Chin mereka.

Pada waktu berita kematian Kaisar Chin Si Hong-te terdengar oleh keluarga dan seluruh punggawa kerajaan, semuanya menjadi bingung dan khawatir, karena pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Chu Siang Yu dan Liu pang telah berada tak jauh dari Kotaraja.

Pada saat yang genting seperti itulah menurut penuturan pamannya sang pek hu tampil ke depan untuk mengambil alih tugas berat tersebut.

Tapi karena musuh yang datang memang terlalu kuat, apalagi pada saat itu tentara kerajaan sudah terpecah belah, maka laju pasukan pemberontak sudah tak bisa dibendung lagi, Kotaraja jatuh!

Pek hu serta pembantu pembantunya mati di tangan salah seorang pimpinan pasukan musuh yang bernama Hong-gi-hiap Souw Thian Hai!

Souw Thian Hai!

Lagi-lagi Souw Thian Hai, pemuda itu menggeretakkan giginya.

Dahulu telah membunuh pek hunya, sekarang membunuh ibu dan adik-adiknya pula!

Sungguh menyesal ketika ia dapat meringkus orang itu di tepi Sungai Huang-ho, tidak segera membunuhnya.

Suatu saat aku akan membunuhnya pula, pemuda itu berkata di dalam hati.

Bukan karena kematian pek-hunya, tetapi karena kematian ibu dan adik-adiknya!

Soal kematian pek-hunya itu sudah lumrah dalam peperangan besar.

Orang tidak bisa menyalahkan setiap pribadi yang melakukan pembunuhan dalam pertempuran.

Kalau toh dia ingin mencari orang yang menjadi penyebab semua itu dan ingin membalas dendam, ia harus menimpakan semua itu kepada penanggung jawabnya, yaitu Kaisar Han.

Sementara itu si kakek sinting tampak ketakutan melihat air muka Yang Kun yang menyeramkan itu.

Dalam pandangannya air muka itu seperti berubah menjadi muka raksasa yang seram dan mau menelan dirinya.

"Lojin-ong, hamba takut...! Jangan memandang hamba seperti itu!"

Ratapnya gelisah. Yang Kun tersentak dari lamunannya. Dengan membuang napas pemuda itu melemparkan pandangannya ke depan, ke arah kuil yang telah sayup-sayup terlihat di kejauhan sana.

"Kek, lihat! Kedua orang itu telah kembali!"

Tiba-tiba pemuda itu berseru kaget.

"Hah? Mana? Oh... benar! Marilah kita bersembunyi lagi. Lojin-ong!"

Kakek itu menggandeng tangan Yang Kun dengan tergesa, dan di Iain saat mereka telah bersembunyi di balik pohon-pohon yang rimbun.

"Telah kukatakan sejak tadi, kita harus menahan diri agar tidak terjadi salah paham. Bagaimanapun juga gadis itu telah menolong kita dari cengkeraman kematian, sehingga kita harus melaksanakan kata-kata yang diucapkannya sebelum pingsan. Gadis itu menghendaki agar dia dibawa ke kuil Im yang kauw. Tapi dalam kuil itu engkau ternyata tidak bisa menahan dirimu...!"

Put gi ho yang tinggi kurus itu mengomeli kawannya.

"Habis mereka juga keterlaluan, sih.!"

"Yaa... tapi kejadian ini tentu mengakibatkan suasana menjadi buruk, dan kemungkinan besar akan timbul penumpahan darah yang tak terelakkan!"

Bayangan kedua orang Bing-kauw itu hilang di kelokan jalan.

"Hmh, agaknya telah terjadi peristiwa besar di dalam kuil itu,"

Yang Kun membuka mulutnya.

"Demikianlah agaknya..."

Kakek itu menjawab dengan gelisah. Mukanya yang penuh keriput tampak pucat sekali. Lalu.

"Lojin-ong, hamba sungguh khawatir sekali. Jangan jangan telah terjadi sesuatu yang tak diinginkan di dalam kuil kita itu. Lojin-ong"

Mari...marilah kita cepat cepat ke sana!"

Yang Kun segera menggelengkan kepalanya.

"Kakek, kau berjalanlah lebih dahulu! Aku akan segera menyusul..."

Pemuda itu berkata sambil mendekap dadanya yang sakit.

"Ba-baik, ba-baik, Lo-sin-ong! Hamba menurut...,!"

Orang tua itu mengangguk-angguk, lalu berlari sempoyongan menuju ke arah kuilnya.

Yang Kun kemudian melangkah perlahan-lahan.

Luka dalam itu terasa sangat melemahkan badannya, maka sambil berjalan seenaknya pemuda itu memandang jauh ke sekelilingnya.

Siapa tahu secara tak sengaja ia dapat melihat atau memergoki kawannya yang ahli dalam pengobatan itu?

Tadi malam ia merasa bahwa temannya itu berlari mengejar di belakangnya, tapi entah apa sebabnya sampai mereka berpisah jalan.

"Untuk selanjutnya aku harus lebih berhati-hati bila berhadapan dengan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai. Orang itu benar-benar lihat sekali!"

Gumamnya lemah.

Lapat lapat pemuda itu masih dapat membayangkan peristiwa itu.

Saat pukulannya yang mengandung tenaga sakti Liong-cu i-kang sepenuhnya, hampir mengenai tubuh pangeran yang telah putus-asa itu.

Saat itu tiba-tiba ia merasa seperti ada hawa tajam yang memotong ke arah lengannya.

Ketika matanya melirik tampak segulung asap tipis yang terdiri dari dua warna, berhembus ke arah dirinya, sementara di belakang asap itu meluncur sesosok tubuh yang segera dikenalnya sebagai Hong-gi-hiap Souw Thian Hai!

Tak ada kesempatan sama sekali baginya untuk menarik serangannya itu dan kemudian ia pergunakan untuk menyongsong serangan Hong-gi-hiap.

Meskipun begitu ia percaya akan kekuatan pertahanan Liong-cu i kang yang ampuh.

a benar-benar mengerahkan segala kemampuannya ketika pukulan Hong-gi-hiap tersebut membentur kedua lengannya!

Tapi ternyata kali ini ia sungguh-sungguh salah perhitungan.

Kekuatan Iweekang lawannya ternyata bukan main hebatnya!

Liong cu-i kang yang demikian ampuh serta sudah ia kerahkan sepenuhnya, ternyata masih dapat ditembus oleh kekuatan lawan dan melukai dadanya.

"Tapi aku berdiri di pihak yang bertahan."

Ia menghibur dirinya sendiri.

"Coba kalau kita saling berhadapan muka, mungkin akibatnya akan lain. Aku tidak percaya kalau Iweekangnya lebih kuat dari pada Liong-cu I-kang!"

Yang Kun melihat kesibukan yang luar biasa ketika ia mulai menginjakkan kakinya di halaman kuil tersebut.

Beberapa orang tampak berlarian melintasi halaman samping dan tengah yang luas.

Mereka seperti sedang menyiapkan sesuatu yang genting dan besar.

Jilid 11 Yang Kun berjalan di antara arca dan patung yang banyak berdiri di kanan kiri jalan masuk tersebut, kemudian berdiri termangu-mangu di muka pintu gerbang masuk yang besar dan terbuat dari kayu tebal itu.

Pemuda itu sekali lagi merasa seperti ada kesibukan besar di belakang pintu tebal di hadapannya.

Seakan-akan ia merasakan seluruh penghuni kuil yang tentu berjumlah lebih dari lima puluh orang itu berlutut di halaman tengah menanti kedatangannya.

Ah, sungguh sebuah pikiran gila, Yang Kun mengumpat di dalam hati.

Seperti si kakek sinting saja, suka meramal!

Yang Kun segera melangkah ke depan lalu mendorong pintu perlahan.

Tak terduga pintu itu terbuka sendiri dengan cepat dan...

"Selamat datang di kuil kami, Lojin-ong...!"

Terdengar suara gemuruh memenuhi halaman tengah kuil yang luas itu.

Dan seperti yang tadi telah dibayangkan oleh Yang Kun, halaman tengah dari kuil tersebut penuh dengan para pengikut Im-yang-kauw.

Semuanya berlutut ke arah pintu di mana ia sekarang sedang berdiri.

Sedangkan di dekat pintu itu tampak si kakek sinting juga berlutut ke arahnya.

Yang Kun berdiri mematung di tengah-tengah pintu seperti orang yang kehilangan akal.

Lalu dipandangnya orang-orang yang berlutut di halaman dan si Kakek sinting berganti-ganti.

Hmm, semua ini tentu ulah si kakek yang kurang ajar ini, Yang Kun menggeram di dalam hati.

"Lojin-ong, marilah...! Semua penghuni kuil yang kupimpin ini telah lama menunggu Lojin-ong."

Sapa orang tua itu sambil mempersilahkannya masuk.

"Gila! Sandiwara apa pula ini? Kakek, kau jangan bergurau, di hadapan begini banyak orang. Aku akan benar-benar menjadi marah kalau begini!"

Yang Kun berseru marah. Pemuda itu sungguh-sungguh berang. Mukanya menjadi merah padam, kedua buah tangannya terkepal erat-erat di samping tubuhnya.

"Lojin-ong, mana kami berani bersandiwara maupun bergurau di hadapan Lojin-ong?"

Kakek sinting itu mendekat dengan suara gemetar.

"Benar! Bagaimana kami berani berbuat begitu terhadap Lojin-ong?"

Puluhan orang Im-yang-kauw yang berlutut di halaman itu kembali bersuara gemuruh.

"Hah?!?"

Yang Kun terlonjak di tempatnya.

"Kalian kalian... huh, gila! Kalian semua sudah gila! Sudahlah, aku mau pergi saja dari tempat ini! Aku tidak mau tinggal bersama dengan orang-orang sinting dan gila!"

"Lojin-onggg...!"

Tiba-tiba kakek sinting itu menubruk kaki Yang Kun, sehingga pemuda yang sedang terluka dalam itu hampir saja terguling jatuh.

"Lojin-ong, kau jangan pergi meninggalkan kami! Saat ini kami benar-benar sangat membutuhkan Lojin-ong...!"

"Benar! Kami sekarang benar-benar sangat membutuhkan kehadiran Lojin-ong di sini.,"

Sekali lagi orang orang Im-yang-kauw itu berteriak gemuruh.

"Nah, Lojin-ong telah mendengar sendiri permintaan mereka. Oleh karena itu kabulkanlah permintaan kami ini. Lihatlah ke ruang samping itu! Salah seorang di antara kawan kita telah mati dibunuh oleh dua orang Bing-kauw itu!"

"Benar, Lojin-ong. Kami membutuhkan nasehat Lojin-ong, apa yang mesti kami kerjakan berkenaan dengan peristiwa ini?"

Orang-orang itu bergemuruh pula.

"Persetan! Aku tidak perduli!"

Yang Kun berkata tegas sambil berusaha lolos dari rangkulan kakek sinting.

"Oh, Lojin-ongggg,...!"

Kakek sinting itu meratap.

"...Kalau Lojin-ong tetap juga mau pergi, lebih baik aku membunuh diri saja sekarang. Tak ada gunanya pula hidup, kalau Lojin-ong membenci kami!"

Sambungnya pula sambil mencabut sebilah pisau kecil dari pinggangnya.

"Benar! Tak ada gunanya pula kami hidup kalau para pimpinan kami sendiri telah meninggalkan kami!"

Orang-orang Im yang kauw itu berteriak gemuruh sambil mencabut senjata mereka masing-masing, lalu secara bersama-sama mereka mengangkat senjata masing rnasing di atas kepala dan kemudian menghujamkannya ke dalam tubuh masing-masing.

Mula mula Yang Kun tetap tidak peduli, ia telah benar benar marah.

Tapi menyaksikan sedemikian banyak orang sungguh-sungguh mengayunkan senjatanya untuk membunuh diri, hatinya berdentang pula dengan hebatnya!

"Hentikaann...!!"

Pemuda itu berteriak sekeras-kerasnya.

Tanpa sadar ia mengerahkan tenaga sakti Liong-cu I-kangnya, sehingga tanpa sadar pula ia membuat lukanya semakin bertambah parah.

Huaaak!

Darah hitam tampak menyembur dari mulutnya yang terbuka, lalu pemuda itu terjerembab pingsan.

Beberapa orang tampak terpelanting karena terkena getaran suara Yang Kun, sementara yang lain tampak terlongong-longong dengan tangan lemas pula seakan seluruh tenaga mereka telah tersedot habis oleh getaran suara teriakan Yang Kun tadi.

Tapi dengan demikian seluruhnya telah selamat dari bencana bunuh diri massal.

Kakek sinting itu segera menolong Yang Kun, lalu memerintahkan beberapa orang untuk menyiapkan sebuah kamar khusus bagi pemuda tersebut, yaitu sebuah kamar kosong yang terletak di pojok belakang, di dekat ruang semadi.

Sebuah kamar yang sepi dan tenang bebas dari kesibukan penghuni kuil yang lain.

Para penganut Im-yang-kauw dan penghuni itu lalu bubar untuk kembali ke tempat masing-masing.

Beberapa orang diantara mereka tampak menuju ke ruang samping di mana terdapat seorang teman mereka yang terbunuh beberapa saat yang lalu, karena berkelahi dengan dua orang tamu yang datang ke tempat mereka membawa seorang gadis cantik.

Matahari merangkak semakin tinggi.

Di dalam kuil Im-yang-kauw itu masih tampak kesibukan yang luar biasa.

Kakek sinting itu beberapa kali memimpin upacara sembahyang, kemudian pada waktu lewat tengah hari kakek itu memanggil beberapa orang pembantunya dan orang-orang yang tadi pagi terlibat langsung dalam perkelahian melawan kedua orang Bing-kauw itu.

Lama sekali mereka berbincang mengenai persoalan tersebut.

Lalu menjelang sore hari tampak belasan anggota Im-yang-kauw pergi meninggalkan kuil itu menuju ke Gedung Pusat mereka yang berada di kota Sin-yang.

Sedangkan beberapa orang yang lain tampak mempersiapkan segala sesuatu bagi keamanan kuil dan sekitarnya.

Mereka tampak mengeluarkan senjata-senjata mereka yang selama ini jarang mereka pakai.

Sementara itu di dalam kamar pojok belakang Yang Kun juga baru saja siuman dari pingsannya.

Pemuda itu melirik ke sekelilingnya, dan ia menjadi kaget begitu sadar ia berada di tempat yang asing.

Dengan tergesa pemuda itu bangkit dari tempat tidurnya, tapi...

"Aduuuuh...!"

Pemuda itu terlentang kembali sambil mendekap dadanya. Dua orang penjaga melangkah masuk dengan tergopoh gopoh. Dengan pandang mata khawatir mereka berdiri di hadapan Yang Kun.

"Lojin-ong... adakah yang perlu kami bantu? Apa... apakah luka Lojin-ong terasa sakit kembali?"

Mata pemuda itu berkilat memandang kedua penjaga tersebut. Kemudian dengan sekali sambar pemuda itu telah mencengkeram leher baju mereka.

"Kurang ajar! Kalian juga ikut ikutan memanggil aku Lojin-ong! Lojin-ong... Lojin-ongggg...! Gila! Kalian lihat mukaku! Apakah wajah ini sudah demikian tua dan keriput sehingga kalian panggil Lojin-ong? Jawabbb...!"

Yang Kun berteriak sambil menuding mukanya sendiri.

"Lojin... eh, anu... hamba mana bera...berani...!"

Kedua penjaga itu menjawab dengan tubuh menggigil.

"Nah! Apa sebabnya kalian ikut ikutan pula menyangka aku sebagai Lojin-mo (OrangTua Setan)?"

Yang Kun mengguncang tubuh mereka.

"Lojin mo? Ahh mana aku berani me...menyebut begitu? K-kami m-menyebut Lojin... eh, maaf... kami menyebut Lojin... ong, bukan Lojin mo!"

Kedua orang itu menjawab semakin takut. Sungguh-sungguh takut sekarang! "Hah, siapa bilang? Bukankah baru saja kalian mengucapkannya?"

"Tapi... t-tapi.,."

"Bah! Awas, kalian telah menyebut Lojin-mo, bukan Lojin-ong! Akan kulaporkan kepada Lojin-ong nanti!"

Yang Kun memancing.

"Jangan! Jangan! Kami... oh!"

Tiba-tiba mereka menutup mulut mereka dengan telapak tangan, sadar bahwa mereka telah kelepasan omong.

"Nah, apa kataku... kalian juga ikut bersandiwara pula! Kalian sebetulnya juga sudah tahu kalau aku bukan Lojin-ong!"

Yang Kun bernapas lega seraya melepaskan tangannya dan mendorong mereka ke belakang.

"Pergilah..!"

"Tetapi Lojin-..."

"Heii, kalian mau menyebut Lojin-mo lagi?"

"Tidak! Tidak...!"

"Nah, kalau begitu pergilah sekarang! Panggil kemari kakek sinting yang menjadi biangkeladi semua lelucon ini! Lekas! Akan ku..."

Yang Kun tidak melanjutkan perkataannya.

Ujung perasaannya yang terlatih tanpa sengaja itu seperti mengisyaratkan sesuatu bahwa ada orang datang mendekati tempat itu dengan jalan mengendap endap.

Tapi ketika pemuda itu berusaha menangkap suara tersebut dengan telinganya, tak sesuatupun yang terdengar!

Gila, perasaannya mulai meramal lagi, pemuda itu mengumpat di hati!

Tapi...

"Hihi, Lojin-ong! Maaf, hambamu datang terlambat. Habis, hamba harus mengurus kuil ini dahulu,"

Kakek sinting itu mendadak muncul di ambang pintu.

Dengan membungkuk, ia melangkah ke tengah ruangan.

Tapi serentak melihat wajah Yang Kun yang kusut itu melotot kepadanya, kakek tersebut lalu menjura berkali-kali sambil meminta maaf.

"Maafkan hamba, Lojin-ong. Seharusnya hamba tidak boleh terlalu mengganggu Lojin-ong. Dan hamba sebenarnya sudah berusaha agar tidak menimbulkan suara tadi, tapi agaknya gelombang perasaan kita memang sama dan sejalan, sehingga perasaan Lojin-ong tersentuh juga...! Oleh karena itu hamba terpaksa muncul pula."

Gelombang perasaan?

Sejalan!

Huh!

Omong kosong apa pula itu?

Tapi tiba-tiba Yang Kun terdiam.

Sejak ia belajar menenangkan pikiran dan perasaan hati di dalam istana itu, ia seperti mempunyai kelebihan dalam mencium suasana yang belum terlihat maupun terdengar oleh indera tubuhnya.

Seperti ketika ia dapat merasakan adanya penjahat yang memasuki kompleks istana tempo hari padahal Liu-Twakonya yang Iihai itu belum mendengar sama sekali.

Juga yang terjadi beberapa saat yang lalu.

Perasaannya seperti sudah memberi isyarat, sehingga apa yang terjadi kemudian benar benar seperti yang telah terbayangkan sebelumnya.

Gila!

Lambat laun aku bisa sinting seperti kakek ini nanti, pemuda itu menggeram dalam hati.

Tampaknya kakek itu merasakan juga apa yang sedang bergejolak di dalam pikiran Yang Kun.

Oleh karena itu sebelum pemuda itu membuka mulutnya, ia telah lebih dahulu mengalihkan pembicaraan mereka.

"Lojin-ong, kau jangan terlalu menurutkan perasaan marahmu. Sebab dengan berbuat begitu, sama saja Lojin-ong mempercepat proses luka yang ada di dalam dadamu. Coba Lojin-ong periksa kembali luka itu! Kerahkan sedikit saja tenaga sakti ke dalam dada! Sekarang tentu lebih sakit dari pada tadi..."

Bagai dihentak rasanya dada Yang Kun mendengar peringatan itu.

Sebagai seorang ahli silat yang berkepandaian tinggi ternyata ia masih melupakan juga hal yang sangat penting tersebut.

Maka dengan tergesa gesa ia menggerakkan sedikit tenaga dalamnya ke arah dada.

Benarlah!

Dengan mulut meringis menahan sakit Yang Kun menarik kembali tenaga saktinya ke arah tan-tian (pusat).

hampir saja pemuda itu tak kuasa menahan perasaan sakit yang menyengat di dalam dada.

Untunglah pemuda itu segera menghentikan arus tenaganya, kalau tidak, mungkin ia telah jatuh pingsan untuk kedua kalinya.

"Nah... benar bukan?"

Kakek itu menegaskan sambil mendekati tempat tidur Yang Kun.

"...Berbaring sajalah yang tenang, hamba akan berusaha mengobatinya! Biasanya luka dalam yang diakibatkan oleh tenaga sakti yang membalik seperti ini, sangat mudah disembuhkan dengan Im-yang-kang golongan kami. Itulah sebabnya gadis buntung itu minta dibawa ke Kuil Im-yang-kauw...!"

"Gadis itu...!"

Yang Kun tersentak kaget.

"Kakek, di manakah dia?"

Pemuda itu mencengkeram lengan orang tua tersebut.

Orang tua itu tersenyum.

Perangainya ternyata telah sedikit berubah setelah berada di antara anak buahnya.

Sekarang telah tidak begitu sinting dan konyol lagi.

Sikapnya juga tidak lagi gemetar dan ketakutan terhadap Chin Yang Kun.

Cuma anggapannya terhadap diri pribadi Yang Kun tetap belum berubah, kakek itu masih menganggap Yang Kun sebagai Toat-beng-jin!

"Lojin-ong, kau tak usah khawatir!

Gadis itu berada di kamar sebelah!

Tubuhnya juga terluka dalam seperti Lojin-ong.

Hamba sedang berusaha untuk mengobatinya pula.

Nah, sekarang kami harap Lojin-ong beristirahat dahulu.

Besok pagi sebelum matahari terbit, hamba akan datang kemari untuk memulai pengobatan tersebut,"

Kakek itu berkata sambil terus memohon diri.

Sudahlah, biarkan saja orang tua itu bersandiwara, Yang Kun berdesah di dalam hati.

Nanti akan terbuka juga kedoknya!

Maka dengan perasaan tenang pemuda itu memejamkan matanya untuk istirahat.

Seorang penjaga telah memukul lonceng dua kali berturut turut ketika Yang Kun terjaga dari tidurnya.

"Ah, sudah lewat tengah malam."

Pemuda itu bergumam.

"Sungguh enak sekali! Aku tertidur sejak sore tanpa terganggu..."

Pemuda itu bangkit lalu duduk di tepi tempat tidurnya.

Matanya nyalang mengawasi kamarnya yang gelap, agaknya lampu kamar itu telah dibawa keluar oleh penjaga atau penjaga penjaga itu memang sengaja tidak menaruh lampu di dalam kamarnya.

Tapi dari sela-sela lobang angin dan jendela, Yang Kun melihat sorot sinar bulan yang terang benderang.

"Hem... terang bulan agaknya!"

Pemuda itu berdesah pula perlahan.

Perlahan-lahan pula Yang Kun turun dari tempat tidurnya.

Sinar bulan yang putih cemerlang itu seolah olah menarik hati pemuda itu untuk keluar menikmatinya.

Pintu itu mengeluarkan suara bergerit ketika Yang Kun menguakkannya, tapi dua orang penjaga yang tertidur di samping tangga tak bergerak sedikitpun.

Mereka masih terdengar mendengkur perlahan, meskipun kedua tangan mereka tak pernah lepas dari tangkai tombak masing-masing.

Sambil menghirup udara segar sebanyak banyaknya Yang Kun menuruni tangga di samping kamarnya, kemudian melangkah perlahan ke halaman samping yang penuh dengan tanaman bunga beraneka warna.

Tak dia sangka orang-orang Im-yang-kauw itu pandai juga mengatur halaman, sehingga kuil yang megah dan besar ini menjadi semakin semarak dan menarik.

Yang Kun berdiri diantara jajaran patung yang banyak terdapat diantara pohon-pohon bunga.

Matanya memandang redup, mengagumi segala keindahan yang tergelar luas di hadapannya.

Bunga bunga yang indah, tanah berlekuk diantara bukit-bukit menghijau dan hamparan lembah yang berumput.

Semuanya benar benar mentakjubkan.

Kuil itu dibangun di lereng bukit yang landai, menghadap ke arah timur, sehingga Yang Kun yang berdiri di halaman samping, benar-benar dapat melepaskan seluruh pandangannya ke bawah.

Ke arah hamparan lembah hijau yang terbentang luas dan jauh sampat ke tepi langit.

Sementara di tengah-tengah jalur lembah yang berkelok-kelok itu tampak sebatang sungai kecil, yang apabila dilihat dari tempatnya berdiri seperti seekor ular putih yang melingkar-lingkar di dalam sarangnya.

Pemuda itu menatap lagi lebih teliti.

Di tepi sungai tersebut tampak bangunan-bangunan rumah penduduk yang bergerombol dalam sebuah dusun kecil dan bertebaran di sepanjang alirannya.

Beberapa orang yang memperoleh giliran tugas jaga tampak melintas di dekat Yang Kun.

Mereka berjalan mengelilingi setiap sudut kuil untuk menjaga keamanannya.

Semuanya mengangguk hormat ketika melewati pemuda itu.

"Selamat malam, Lojin-ong...!"

Mereka menyapa halus sambil berjalan terus tanpa berhenti.

Yang Kun hanya mengangguk tak acuh.

Hati dan perasaannya sedang tenggelam dalam arus keindahan alam yang terpampang di sekitarnya.

Perlahan-lahan pemuda itu melangkah menaiki tangga batu yang menuju ke tempat yang lebih tinggi, ke tempat dimana didirikan sebuah patung besar setinggi manusia.

Patung seorang kakek tua berjenggot panjang sedang meniup suling.

Patung itu terbuat dari perunggu dan benar-benar terawat bersih.

Dari tempat itu Yang Kun bisa memandang ke seluruh bangunan kuil.

Dan agaknya maksud dari ditempatkannya patung tersebut disana memang agar bisa dilihat oleh semua orang.

Sambil menebarkan pandangannya Yang Kun menghela napas berkali-kali.

Sungguh takjub hatinya melihat semua itu.

Sinar bulan yang putih cemerlang, tampak seperti hamparan perak yang menyepuh setiap benda yang disentuhnya, batu batuan,rumput, daun-daun dan air sungai yang mengalir.

Semuanya mengkilap keputih-putihan!

Tak heran kalau seorang pujangga sering terhanyut untuk menciptakan syair atau Iagu tentang keindahan seperti itu.

Tak terasa pemuda itu juga berdendang lirih sekedar untuk ikut mengagumi semuanya itu, Sinar bulan di antara bintang, Membasahi padang di antara ilalang.

Hamparan perak luas membentang, Alas tidur menentang awan.

Dua sejoli bergandeng tangan, Mempererat tali kasih dalam pandangan Bagai tak ada batu rintangan, Naik jenjang sorga idaman.

Saking asyiknya, alunan irama itu makin lama makin tinggi, sehingga menggema mengarungi udara di sekitar bangunan kuil tersebut.

Tidak begitu keras sebenarnya, tapi karena suasana malam itu memang sangat sunyi dan desau angin pegunungan yang tajam ikut pula mendorong dan menggetarkan alunan suara yang keluar dari mulutnya, maka suara itu jelas sekali kedengarannya.

Selesai berdendang pemuda itu semakin tenggelam dalam suasana malam yang mengesankan tersebut.

Dipandangnya patung perunggu di depannya, terasa patung itu ikut tersenyum melihat keasyikannya.

Ah, betapa tampannya kakek dalam patung itu ketika masih muda!

Tak terasa Yang Kun melangkah mendekati patung tersebut.

Dengan sikap hormat ia memperhatikan patung itu dari dekat sekali.

Wajahnya, ikat kepalanya, baju longgar yang dikenakannya, jari jari tangan yang memegang suling dan suling itu sendiri!

Semuanya dari perunggu, sehingga dalam keremangan sinar bulan memang persis seperti manusia yang bernyawa.

Tapi ketika Yang Kun memperhatikan lebih lanjut terasa ada sesuatu yang berbeda pada batang suling tersebut.

Kalau yang lain berwarna kemerahmerahan seperti batu bata, suling itu sendiri berwarna mengkilap kehitam-hitaman.

Dan pemuda itu menjadi terperanjat ketika tangannya mencoba memegang, benda tersebut terasa goyah dan bergerak.

Perlahan-Iahan Yang Kun menarik suling tersebut dari tempatnya.

Ternyata suling itu benar-benar suling sungguhan, jadi bukanlah bagian dari patung perunggu tersebut.

Suling itu memang sengaja diletakkan pada genggaman tangan si patung yang berlubang.

Ternyata suling tersebut terbuat dari besi baja yang amat kuat, panjangnya hampir menyamai panjang lengannya.

Tak secercah debupun yang melekat pada batang suling itu, suatu tanda bahwa benda tersebut selalu dibersihkan pula.

Secara iseng pemuda itu menempelkan suling tersebut pada bibirnya, dan sekejap kemudian terdengar alunan suaranya yang bening melengking dalam lagu seperti tadi...

Malam terasa semakin dingin.

Kabut pagi juga telah mulai turun.

Namun demikian pemuda itu tidak merasa dingin sama sekali.

Badannya malah terasa nyaman luar biasa, sehingga luka yang dideritanya seperti sudah hilang dari tubuhnya.

Luka tersebut bagai larut terbawa oleh getaran suara suling yang menggema di atas bukit dan lembah.

Begitu rampung, Yang Kun menghempaskan tubuhnya perlahan di atas rumput sambil menarik napas panjang sekali.

Tapi pemuda itu kembali terlonjak berdiri ketika tarikan napasnya tersebut dijawab oleh belasan bahkan puluhan tarikan napas yang lain.

Gila!

Ketika Yang Kun memandang ke bawah, tampak puluhan penghuni kuil itu telah keluar semua dan berlutut ke arah dirinya.

Di halaman samping, halaman tengah, halaman belakang, semuanya penuh orang-orang Im-yang-kauw yang berlutut ke arah dirinya!

"Sucouw...!"

Orang-orang tersebut berdesah perlahan.

Pemuda itu justru terdiam bagai patung.

Rasa kaget dan bingung malah membuat pemuda itu termangu-mangu seperti orang yang kehilangan akal.

Akhirnya seperti seorang gadis yang bangun pagi kesiangan, pemuda itu tergagap dari lamunannya dan bergegas turun dari tempat tersebut.

Tanpa menoleh ke kanan atau ke kiri ia langsung kembali ke kamar melewati orang-orang itu.

Tanpa menutup pintunya lagi Yang Kun memasuki kamarnya, kemudian menghempaskan diri ke atas pembaringan.

Dan...

"Kurang ajar! kau... kau mau apa?"

Tiba-tiba terdengar jeritan seorang wanita di sampingnya.

Bagai orang disengat lebah, Yang Kun melompat turun kembali dengan gugup.

Begitu gugupnya pemuda itu sehingga ia meloncat terlalu keras, akibatnya kakinya menghajar rak buku dengan kuatnya.

"Braak!"

Rak buku setinggi dua meter itu roboh dengan suara yang hiruk-pikuk! Sedangkan pemuda itu sendiri tersungkur pula ke lantai.

"Aduuuuh...!"

Yang Kun menyeringai sambil mendekap dadanya yang sakit.

Terdengar suara langkah kaki berlari lari mendatangi tempat itu.

Dan sekejap kemudian kakek sinting dan beberapa orang pembantunya telah masuk ke kamar dengan membawa lampu.

Mereka semuanya tampak siap siaga menghadapi sesuatu yang gawat.

Agaknya pengalaman yang terjadi dalam kuil mereka kemarin, sehingga salah seorang anggota mereka menjadi korban, membuat mereka berhati-hati sekali.

Tapi mereka tidak mendapatkan siapapun di dalam kamar itu selain kedua orang tamu mereka.

Yaitu Lojin-ong yang tadi baru saja mempesonakan mereka dengan lagu dan tiupan sulingnya, dan si Gadis Buntung yang terluka dalam itu.

"Ohh, Lojin-ong... ada apa ini! Mengapa Lojin-ong menggeletak di sini? Apakah... oh, nona sudah siuman pula?"

Kakek Sinting itu menyapa kedua orang itu bergantian.

"Kalian siapa"? Mengapa aku berada di sini? Dan... si"siapakah... pemuda ku-kurang ajar itu?"

Gadis tersebut bertanya garang.

Biarpun wajahnya pucat, tapi sikap gadis itu masih menunjukkan sikap seorang pendekar wanita yang galak.

Tampak beberapa kali ia mengawasi tubuh dan pakaiannya, kalau-kalau ada sesuatu yang tak beres di sana.

Tapi wajahnya tampak menjadi lega begitu terasa tak ada sesuatu yang perlu dicurigai.

"Ah, tak apa-apa... tak apa-apa! Marilah kita berbicara yang baik! Nona tidak perlu bercuriga kepada kami."

Kakek itu menerangkan, lalu bersama para pembantunya ia menolong Yang Kun berdiri.

"Ohh... kau!"

Tiba-tiba gadis itu menggeram begitu melihat dengan jelas siapa yang tadi telah begitu berani naik ke atas pembaringannya.

"Ohh... sabar... sabar!"

Kakek itu menengahi.

"Maaf, nona... maafkanlah aku! Karena tergesa-gesa, apalagi baru semalam di sini, maka aku telah salah masuk kamar tadi. Sekali lagi... maafkan, bukan maksudku mau kurang ajar kepadamu. Sungguh!"

Yang Kun meminta maaf dengan suara parau.

"Hmh!"

Gadis itu mendengus.

"Ah, sungguh sial benar nasibku! Dua kali aku bertemu dengannya, tapi selalu saja dalam suasana yang tak mengenakkan hati."

Yang Kun menyesali nasibnya yang sial.

Mereka keluar bersama-sama dan duduk di kursi yang telah disediakan.

Dengan dada masih dipenuhi oleh berbagai macam perasaan curiga gadis itu duduk menghadapi mereka.

"Nona..."

Kakek itu membuka pembicaraan.

"Lebih dulu kami akan memperkenalkan diri kami. Kami semua ini... adalah penganut-penganut Im-yang-kauw."

Katanya sambil mengedarkan pandangannya ke arah para pembantunya, termasuk juga Chin Yang Kun!

(Karena tak ingin berbantah lagi, maka pemuda itu diam saja tak bereaksi) "...Dan bangunan besar ini adalah kuil kami, tempat kami semua melaksanakan dan mengamalkan ajaran-ajaran yang kami peroleh."

Kakek itu menghentikan keterangannya sebentar. Lalu.

"Kemarin kami mendapat kunjungan dua orang tamu dari Bing-kauw, yang bernama Put-gi-ho dan Put-chih-to. Mereka datang membawa tubuh nona yang pingsan karena menderita sebuah luka dalam yang hebat. Sebenarnya kedatangan mereka kemari hanya untuk memenuhi dan melaksanakan pesan yang telah nona berikan kepada mereka. Mereka mau memenuhi pesan itu karena mereka telah berhutang nyawa kepada nona. Tapi karena nona keburu pingsan, maka keterangan yang mereka peroleh dari nona itu ternyata belum begitu jelas dan terang bagi mereka, sehingga hal itu menyebabkan terjadinya kesalahpahaman di antara mereka dan penghuni kuil ini. Salah seorang pimpinan kuil ini telah menjadi korban dalam perselisihan itu. Sekarang mayatnya telah kami tempatkan di ruangan samping..."

"Oh.,..?!"

Gadis itu terbelalak sambil menutupi mulut dengan telapak tangannya.

"...Aku... aku tak mengira, kalau akan sampai terjadi demikian. Aku sungguh berdosa kalau begitu!"

Serunya dengan wajah penuh rasa sesal.

Semuanya juga menghela napas menyesali peristiwa itu.

Tapi bagaimanapun juga semuanya telah terlanjur terjadi dan mereka tak dapat menyalahkan siapa-siapa.

Begitu juga terhadap gadis buntung yang belum pernah mereka kenal sebelumnya itu!

Keadaanlah yang membuat semua itu terjadi tanpa dapat mereka kendalikan lagi.

"Sungguh suatu kebetulan yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya, bahwasanya antara salah seorang dari kedua orang Bing-kauw itu dengan kawan kami yang mati, telah ada permusuhan sebelumnya. Sehingga ketika mereka datang ke kuil ini, pertempuranpun tak dapat dielakkan lagi..."

Kakek sinting itu memberi keterangan lebih lanjut.

Gadis Buntung itu semakin tampak merasa bersalah.

Wajahnya yang pucat itu tertunduk dalam, hilang sudah semua kegalakannya tadi.

Dengan suara serak gadis itu menyesali keadaannya.

"Betapa malangnya orang itu... hanya karena memikirkan kepentingan diri sendiri, aku telah menyebabkan dia mati secara sia-sia. Maka... sungguh tidak berbudi kalau aku masih mengharapkan pertolongan..."

"Oh, nona tak perlu menyesali diri. Kami tahu maksud nona minta dikirim ke kuil Im-yang-kauw... karena memang hanya lweekang kepunyaan kamilah yang sanggup memulihkan kesehatan nona. Kudengar tenaga sakti Pai-hud sinkang kepunyaan mendiang Bu Eng Sin-yok-ong dengan disertai ilmu tusuk jarumnya, juga dapat untuk mengobati luka dalam seperti itu. Tapi untuk mencari anak muridnya memang bukanlah hal yang mudah, karena..."

"Yang melukai siauwte (aku yang rendah) justru muridnya...,"

Gadis itu menukas dengan cepat.

"Hah? Yang melukai nona adalah murid Bu Eng Sin-yok ong...?"

Kakek itu berseru kaget, Yang Kun juga tak kalah kagetnya.

Pikiran pemuda itu langsung tertuju ke arah temannya, Chu Seng Kun!

Menurut penuturan Liu-Twako, kawannya itu adalah Cicit murid dari tokoh besar tersebut.

Benarkah kawannya yang baik hati itu yang melukai gadis ini?

Tapi kelihatannya gadis itu tidak ingin memperpanjang persoalannya lagi.

Dengan wajah yang semakin memucat ia berdiri menjura kepada semua orang yang berada di tempat tersebut.

Lalu dengan berdiri tegak gadis itu menghadap ke arah kakek tua itu kembali.

"Lo-Cianpwe, karena terlalu bodoh dan miskin pengalaman, maka siauwle benar benar tidak tahu dengan siapa siauwte sekarang berhadapan. Oleh karena itu, siauwte sungguh amat menyesal dan meminta maaf yang sebesar besarnya..! Tetapi, biarpun tidak tahu, siauwte yakin bahwa sekarang siauwte tentu sedang berhadapan dengan salah satu diantara kelima tokoh besar Im-yang-kauw yang terkenal itu. Maka siauwte kira tidaklah keliru alamat apabila siauwte sekarang berkeinginan untuk memaparkan semua isi hati siauwte pada Lo-Cianpwe..."

Katanya merendah.

Kakek itu berdiri pula dengan tersipu-sipu.

Beberapa kali matanya yang keriput itu melirik kepada Yang Kun, seolah olah semua perkataan yang dikeluarkan oleh gadis tersebut amat mengganggu perasaannya.

"Ah, nona tak perlu sungkan sungkan kepada kami. Di sini memang ada salah seorang dari kelima Tokoh pimpinan kami itu, beliau..."

Kakek itu melirik sekali lagi kepada Yang Kun.

Tapi begitu dilihat olehnya pemuda itu melotot dengan muka beringas, kakek itu tak berani meneruskan ucapannya.

Sebagai gantinya, kakek tersebut lalu membelokkan kata katanya.

"Tapi... baiklah! Nona dapat mengatakan kepadaku, apa yang menjadi keinginan nona..."

Tentu saja gadis itu menjadi bingung melihat sikap yang aneh tersebut. Tapi karena kakek itu telah mempersilahkan dia untuk bicara, maka gadis tersebut tak memikirkan pula hal ini lebih lanjut.

"Lo-Cianpwe, nama siauwte adalah Souw Lian Cu. Karena terlalu usil mencampuri urusan orang, maka siauwte terpaksa berhadapan dengan Ketua Mo-kauw..."

"...Dengan Pek-i Liong ong (Raja Naga Berjubah Putih)?"

Kakek Sinting itu menegaskan.

"Lalu apa sebabnya tubuh nona yang terluka itu dibawa kemari oleh orang Bing-kauw?"

"Itulah persoalannya, Lo-Cianpwe... Pada suatu hari siauwte melihat perkelahian yang tidak seimbang antara para pengikut Bing-kauw dan para pengikut Mo-kauw. Sebenarnya dalam hati siauwte tidak ingin mencampuri urusan mereka, tapi melihat dua orang anggota Bing-kauw hendak dibunuh oleh para pengikut Mo kauw, siauwte menjadi tidak tega. siauwte menolong kedua orang tersebut, sehingga siauwte menjadi bentrok dengan mereka. Kebetulan sekali ketua mereka datang pula ke tempat itu, maka siauwte terpaksa berhadapan dengan dia pula..."

"Dan nona Souw dilukainya..."

Kakek sinting memotong, kemudian sambungnya lagi.

"Karena nona teringat bahwa yang bisa mengobati luka dalam seperti itu hanya lweekang golongan kami, maka nona meminta tolong kepada dua orang Bing-kauw itu agar segera membawa nona kemari""

Gadis itu menjura kembali dengan hormat.

"Benar, Lo-Cianpwe. Tapi tak siauwte sangka keadaan bisa berkembang menjadi begini menyedihkan, sehingga sekarang siauwte tak mempunyai keberanian lagi untuk meminta pertolongan Lo-Cianpwe. Dengan tulus hati siauwte sekarang justru minta agar diberi hukuman yang setimpal..."

"Ah, nona... mana ada aturan begitu? Dalam hal ini nona Souw tidak bersalah sama sekali. Sejak dahulu orang-orang Bing-kauw dan Mo-kauw memang sering berselisih dengan golongan kami, sehingga persoalan seperti ini masih belum apa-apa bila dibandingkan dengan peristiwa lima tahun yang lalu. Bentrokan yang terjadi antara Im-yang-kauw dan Bing-kauw pada lima tahun yang lalu begitu hebat sekali, sehingga antara ketua kami yang lama dan ketua Bing-kauw yang lama sampai terlibat dalam sebuah pibu yang maha dahsyat! Coba kalau pada saat itu suasana negara tidak sedang tenggelam dalam kekalutan dan kekeruhan akibat pemberontakan, kejadian tersebut tentulah akan menggegerkan dunia persilatan..."

Kakek itu cepat-cepat memotong pula.

Gadis itu mendengarkan keterangan tersebut dengan mengangguk-angguk.

Tampak betapa hatinya merasa sedikit terhibur dengan keramahan yang diterimanya dari tuan rumah itu.

"Nona Souw, kami tak pernah mengecewakan tamu kami. Nona jauh jauh telah sampai di tempat kami, maka kami juga akan berusaha pula sekuat tenaga untuk mengobati luka itu. Sekarang fajar sudah hampir menyingsing, lebih baik nona masuk kembali ke kamar dan beristirahat dulu barang sejenak...!"

"Terima kasih, Lo-Cianpwe. Tapi kalau diperbolehkan, siauwte ingin menengok jenazah itu dahulu..."

"Oho, tentu saja boleh. Biarlah salah seorang dari kami mengantarkan nona kalau begitu..."

Maka dengan diantar oleh salah seorang dari mereka, gadis itu melangkah menyeberangi halaman tengah menuju ke ruang samping.

Sedangkan yang lain segera membubarkan diri pula untuk kembali kepada tugas masing-masing.

Sekarang tinggal Yang Kun dan kakek sinting yang masih berada di tempat itu.

Tapi pemuda tersebut segera bangkit pula dari tempat duduknya, lalu melangkah perlahan ke kamarnya sendiri tanpa mengacuhkan si kakek sinting.

"Lojin-ong...!"

Kakek itu mengejar dengan tergopoh-gopoh.

Tampak sikapnya telah kembali pula seperti semula, konyol serta ketolol-tololan.

Pemuda itu berhenti dengan mendadak.

Tubuhnya berbalik dengan cepat, sehingga kakek itu hampir saja menabraknya.

"Kakek tua, dengarlah! Apakah engkau menghendaki aku berbuat kurang ajar serta tak sopan kepadamu?"

Yang Kun menggeram dengan mata melotot.

"Kalau kau memang menghendaki demikian... nah, panggil aku dengan sebutan Lojin-ong lagi! Akan kuhitung sampai hitungan ketiga..., satu... dua..."

Pemuda itu berhenti sebentar, lalu.

"Tiga!"

"'Huh! Mengapa engkau tidak berani juga?"

Yang Kun menghardik. Kakek sinting itu meringis seperti kucing mencium terasi.

"Ba-baiklah...!"

Katanya terpaksa.

"Saudara memang seorang pemuda yang hebat. Mungkin saudara inilah pemuda yang dimaksudkan oleh Sucouw kami itu... Dan dalam beberapa hari ini mata perasaanku memang telah menangkap pula isyarat isyarat tentang kedatangan saudara..."

"Sucouw..."

Pemuda itu berdesah perlahan, pikirannya segera terbayang pada orang orang yang berlutut kepadanya tadi malam. Kakek itu tersenyum melihat Yang Kun tidak segera tahu apa yang ia maksudkan.

"Saudara, marilah kita kembali dulu ke kamarmu! Nanti akan kuterangkan semuanya kepadamu..."

Dengan hati masih ragu-ragu dan bimbang.

Yang Kun mengikuti kakek itu ke kamarnya.

Kakek itu bersikap kembali seperti ketika berada di antara anak buahnya, keren dan berwibawa!

Bayangan wajah yang konyol dan ketolol-tololan itu lenyap pula dari mukanya.

Dan kini muka itu tampak kaku serta dingin, malahan matanya yang semula kocak itupun berubah menjadi tajam, sekilas orang tua itu menoleh.

Yang Kun menjadi kaget dan meremang bulu tengkuknya!

Mata itu berkilat seperti cahaya petir menyambar!

Ayam jantan telah mulai berkokok bersahut-sahutan ketika keduanya memasuki kamar.

Dengan suara pelan tapi tegas, kakek itu mempersilakan Yang Kun duduk, kemudian dia sendiri berjalan kearah almari besar yang berada di sudut kamar.

Dari dalam almari kakek itu mengeluarkan lembaran lembaran kulit domba, yang saking tuanya sampai berwarna coklat kehitam-hitaman.

Lembaran-lembaran kulit itu digulung satu persatu dan terikat oleh tali yang kuat.

Kakek tua itu meraupnya menjadi satu, lalu dibawanya ke atas meja yang berada di depan Yang Kun.

"Saudara... em, maaf... bolehkah lohu (aku yang tua ini) mengetahui nama saudara? Nama saja, tak usah yang lain! Lohu memahami, seperti juga gadis itu, saudara tentu merasa keberatan pula untuk menceritakan asal-usul saudara. Lohu dapat membaca hal itu lewat pandang mata saudara, itulah sebabnya tadi lohu juga tidak menanyakan kepada gadis itu..."

Kakek tersebut bertanya tanpa memandang kepada Yang Kun, tangannya asyik melepas tali pengikat gulungan kulit itu.

"Aku yang muda bernama Yang Kun..."

Pemuda itu memperkenalkan dirinya. Suaranya sedikit bergetar, bagaimanapun juga sikap kakek itu benar-benar mencerminkan sikap seorang Lo-Cianpwe sekarang.

"Yang-hiante, kau tentu merasa heran melihat sikap para anggota kami tadi malam. Yaitu ketika Yang-hiante selesai mendendangkan sebuah lagu dan meniup seruling itu...!"

Kakek tersebut berkata lagi sambil menunjuk suling yang sampai sekarang ternyata masih berada dalam genggaman Yang Kun.

"Ohh!? Maaf... maafkan aku!"

Pemuda itu kaget begitu menyadari kekeliruannya. Dengan tergesa-gesa diletakkannya benda tersebut di atas meja.

"Saking terburu-buru, siauwte sampai lupa mengembalikan suling ini di tempat semula,"

Katanya terbata-bata. Kakek itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Air mukanya tetap dingin ketika berkata.

"Tak apalah! Kami semua memang telah mengikhlaskannya untuk Yang-hiante miliki. Lihatlah!"

Kakek itu menyorongkan selembar kulit yang sudah dibuka kepada Yang Kun.

Pemuda itu terpaksa menerimanya dengan wajah masih penuh tanda tanya.

Benda tersebut lalu diletakkannya di atas meja, kemudian dia perhatikan lembaran kulit itu dengan seksama.

"Yang-hiante tentu kaget melihat tulisan yang berada di atas kulit itu, seperti juga yang kami alami tadi malam ketika Yang-hiante menyanyikan lagu itu serta mengiringinya dengan tiupan suling."

Kakek itu berkata lagi.

Memang benar.

Begitu Yang Kun membaca tulisan kuno yang tertulis dengan indah pada kulit tersebut, seketika menjadi tertegun.

Perlahan-lahan dibacanya tulisan itu dari atas sampai di bawah.

Sinar bulan di antara bintang, Membasahi padang di antara ilalang Hamparan perak luas membentang, Alas tidur menentang awan.

Dua sejoli bergandeng tangan, Mempererat tali kasih dalam pandangan.

Bagai tak ada batu rintangan, Naik jenjang sorga idaman.

"Hei, ini... ini..."

Yang Kun tergagap.

"Benar! Ini naskah asli dari lagu yang Yang-hiante nyanyikan itu,"

Kakek itu menerangkan.

"Tapi itu belum lengkap. Itu baru lembar pertama. Ini masih ada sebelas lembar lagi, lihatlah...! Tiap tiap lembar berisi dua bait pula seperti lembar pertama, sehingga kalau dijumlah semuanya ada dua belas kali dua, yaitu dua puluh empat bait. Kalau setiap bait berisi empat baris kalimat, maka seluruhnya akan terdiri dari dua puluh empat kali empat, yaitu sembilan puluh enam baris kalimat..."

"Oh?! Lalu... lalu apa maksud kakek memperlihatkan naskah yang lengkap dari lagu yang kunyanyikan itu?"

"Begini..., Yang-hiante!"

Kakek itu memperbaiki duduknya.

"Gulungan kulit domba ini adalah warisan dari nenek moyang kami, yaitu pendiri Im-yang-kauw yang pertama. Sebenarnya jumlah kulit domba ini tidak hanya dua belas, tapi tiga belas lembar... Yang-hiante, ketahuilah! Selama berpuluh-puluh tahun ini tak seorangpun dari anggota aliran kami yang bisa melagukan isi dari kulit domba ini. Sebenarnya kami semua tahu bahwa tulisan dalam kulit domba ini adalah lagu, tapi karena tak seorangpun yang mengetahui nada lagunya, maka kami cuma dapat menghapalnya saja selama ini. Dan semua hal tersebut menyebabkan kami tidak bisa melatih diri secara sempurna."

"Melatih diri secara sempurna? Apakah itu?"

Kakek itu menatap Yang Kun dengan tajamnya, kemudian dengan menarik napas dalam dalam ia memberi keterangan lagi secara lebih jelas.

"Baiklah! Akan kujelaskan semuanya! Akhirnya Yang-hiante toh akan menjadi orang kami pula..."

"Aku...? Apa maksudmu?"

Pemuda itu semakin tak mengerti.

"Sudahlah! Nanti Yang-hiante akan mengetahuinya juga. Sekarang kumohon untuk mendengarkan lebih dahulu keteranganku...!"

Kakek itu memberi penjelasan.

"Begini Yang-hiante...! Ketahuilah, selain bait bait pantun dalam kulit domba itu merupakan sebuah lagu yang indah, sesungguhnya setiap kalimat dalam pantun tersebut adalah jurus rahasia dari pada ilmu silat kami! Ilmu Silat Im-yang-kauw!"

"Ohhh..."

Yang Kun berdesah.

"...Jadi, sembilan puluh enam baris kalimat yang tertulis dalam dua belas lembar kulit domba ini adalah jurus jurus rahasia ilmu silat Im-yang-kauw?"

Tegas pemuda itu pula.

"Benar! Aneh sekali, bukan?"

Kakek itu menjawab.

"Tapi sebenarnya tidaklah aneh. Pendiri Im-yang-kauw kami adalah seorang sastrawan pandai, maka setiap huruf dan kalimat yang dia gubah di dalam lagu itu adalah sari pelajaran ilmu silat yang sangat dalam. Semuanya tinggal tergantung kepada kita, apakah kita bisa menangkap maksud beliau atau tidak..."

"Hmm... jadi setiap orang yang ingin mempelajari ilmu silat tersebut harus mencari sendiri makna dari setiap huruf yang terlukis dalam kulit domba ini?"

Yang Kun bertanya. Hatinya semakin merasa tertarik.

"Ya! Seharusnya memang demikian! Tapi kenyataannya, irama ini hanya beberapa orang saja dari anggota Im-yang-kauw yang berbuat demikian. Yaitu menelaah dan mempelajari sendiri makna dari pantun dan lagu tersebut. Sebagian besar dari kami biasanya hanya mencontoh saja dari buku tulisan salah seorang nenek moyang kami juga, yang selama ini kami anggap paling berhasil dalam mempelajari isi lagu tersebut."

"Ah, mengasyikkan juga kalau begitu. Dapat kubayangkan, betapa anehnya ilmu silat dari orang-orang yang berusaha mencari sendiri makna dari lagu tersebut. Nama jurus mereka sama, tetapi gerakan mereka berbeda, tergantung selera mereka masing-masing."

"Yang-hiante, bayanganmu itu memang betul. Tapi meskipun berbeda, ternyata perbedaan tersebut tidaklah banyak..."

Pemuda itu memandang orang tua di hadapannya.

"Lalu..., masih adakah para anggauta Im-yang-kauw yang nekad mempelajari ilmu tersebut dengan cara mencari sendiri makna dari lagu itu sekarang?"

Ia bertanya.

"Masih ada juga! Tapi di antara jutaan pengikut Im yang kauw sekarang... hanya dua orang yang berbuat demikian. Itupun yang seorang hanya melanjutkan usaha kakek gurunya..."

"Hanya dua orang saja? Ah... lalu siapakah mereka itu?"

Kakek itu tidak segera menjawab. Beberapa kali ditatapnya muka Yang Kun yang penuh minat dan perhatian terhadap ceritera itu.

"Yang pertama adalah Tong Ciak Cu-si, pengurus keagamaan kami yang baru. Dia menggantikan pengurus lama yang kini telah terpilih sebagai Tai si ong (Kepala Kuil Agung). Tong Ciak Cu-si inilah yang meneruskan usaha kakek gurunya dalam mempelajari isi lagu tersebut. Sekarang Tong Ciak Cu-si telah sampai pada tahap terakhir, yaitu lembar ke tiga belas dari kulit domba itu. Nah, itulah sebabnya tadi kukatakan bahwa gulungan kulit domba tersebut berjumlah tiga belas, bukan dua belas. Lembar terakhir sekarang dibawa oleh Tong Ciak Cu-si..."

"Lalu... siapakah orang yang ke dua?"

Sekali lagi kakek itu terdiam untuk beberapa saat lamannya sehingga pemuda tersebut menjadi penasaran dibuatnya.

"Siapakah orang yang kedua itu?"

Desak pemuda itu lagi.

"Yang ke dua adalah Toat-beng-jin!"

"Kurang ajar! kau mau menggoda aku lagi? Kubunuh kau...!"

Yang Kun berteriak marah. Kakek itu meloncat ke tengah kamar dengan tangkas. Gerakannya ringan bukan main, sehingga Yang Kun yang berada di dekatnya hampir hampir tak merasakan hembusan anginnya.

"Yang-hiante, sabarlah! Aku yang tua ini tidak mengolok-olok lagi! Apa yang kukatakan tadi adalah yang sebenarnya. Orang ke dua itu memang Toat-beng-jin! Dengarlah! Toat-beng-jin, bukan kau!!"

"Ohh! Maafkan aku...!"

Pemuda itu kembali ke tempat duduknya dengan lemah.

"Maafkan aku... aku benar benar keterlaluan!"

Kakek itu kembali duduk pula.

"Tak apalah..."

Katanya.

Pemuda itu benar-benar merasa tak enak di dalam hati.

Sejak pertemuan mereka kemarin, ia selalu membentak bentak dan memperlakukan kakek tua itu seperti seorang pesuruh saja.

Padahal kakek itu demikian baik dan ramah.

Ah, jangan-jangan ia telah salah menduga terhadap kakek tua ini, Yang Kun membatin.

Jangan-jangan kakek tua ini justru salah seorang dari kelima tokoh lm yang kauw itu!

Yah, siapa tahu?

"Lalu di mana kedua orang itu kini berada?"

Yang Kun bertanya sekedar untuk menghilangkan kekakuan di antara mereka. Tapi jawaban yang dia peroleh benar-benar mengagetkan hatinya.

"Di sini!"

"Hah? Di dalam kuil ini?"

"Benar!"

"Oh! Lalu... di mana mereka sekarang?"

"Ada di luar pintu!... Tong-hiante, silahkan masuk!"

Tiba-tiba kakek itu menoleh ke arah pintu.

Dengan diiringi suara tertawa perlahan pintu kamar itu terbuka lebar lebar, sehingga cahaya matahari yang remang-remang menerobos masuk.

Seorang laki-laki pendek kekar dengan kumis dan jenggot terpotong rapi tampak melangkah masuk.

"Haha, Lojin-ong! Baru sebulan kita berpisah, rasanya ilmu Lojin-ong makin bertambah hebat saja..."

Orang itu tertawa pendek.

"Ah, Tong-hiante ini bisa saja memuji orang. Kukira kalau berbicara soal ilmu kepandaian, mana ada di antara penganut Im-yang-kauw kita ini yang mampu melebihi kepandaian Tong Ciak Cu-si? Dalam sejarah Im-yang-kauw selama ini, baru Tong Ciak Cu-si saja yang berhasil menekuni ilmu kita sampai ke lembar tiga belas. Padahal usia Tong Ciak Cu-si masih muda..."

Kakek tua yang ternyata adalah Toat-beng-jin sendiri itu tersenyum, matanya menatap rambut kepala Tong Ciak Cu-si yang hitam dan belum banyak ditumbuhi uban itu.

"Ah, perkataan Lojin-ong ini sepintas lalu seperti tidak ada salahnya, tapi di dalam kenyataannya hal itu belum tentu benar,"

Kata Tong Ciak Cu-si sambil duduk pula di antara mereka.

"Contoh yang mudah saja yaitu antara Lojin-ong dan aku dipandang sepintas lalu ilmu silatku tentu lebih tinggi dari pada ilmu silat Lojin-ong, karena aku telah sampai ke lembar tiga belas sementara Lojin-ong baru sampai ke lembar sebelas. Tetapi kalau dipandang dari sudut yang lain, kepandaian yang kumiliki ternyata benar-benar masih sangat jauh kalau dibandingkan dengan kepandaian Lojin-ong..."

"Eh??"

Tanpa terasa Yang Kun mengeluarkan suara dengusan.

Pada mulanya Yang Kun memang belum mempunyai dugaan apa-apa tentang kakek tua itu, tapi setelah beberapa saat yang lalu kakek itu rnemperlihatkan sikap dan kepribadiannya sendiri yang asli ia mulai punya gambaran tentang tokoh aneh tersebut.

Meskipun dalam gambarannya itu ia juga hanya bisa menduga secara samar samar saja.

Maka begitu tahu siapa sebenarnya kakek sinting itu, Yang Kun sudah tidak begitu kaget lagi.

Yang agak mengagetkan pemuda itu malah bukan kenyataan tentang siapa adanya kakek sinting tersebut, tetapi justru tentang ketiga belas lembar kulit domba dan cara-cara mempelajarinya yang aneh.

Apalagi ketika dia ikut mendengarkan percakapan kedua tokoh Im-yang-kauw itu!

"Ehh, mengapa...

mengapa kalau dipandang dari sudut yang lain, Tong Ciak Cu-si masih berada di bawah Toat-beng-jin?"

Begitu terpikatnya Yang Kun terhadap percakapan mereka tentang ilmu silat, sehingga tanpa sadar ia ikut memotong pembicaraan mereka.

Tong Ciak memandang Yang Kun beberapa saat lamanya, kemudian menoleh ke arah Toat-beng-jin.

"Lojin-ong, siapakah dia? Pemuda inikah yang Lojin-ong maksudkan itu?"

"Demikianlah, Tong-hiante. Kalau aku tidak salah, memang dialah pemuda yang tersirat dalam ramalan itu. Sebulan yang lalu aku pernah mengatakan kepada Tong-hiante bahwa aku telah dibayangi oleh firasat itu, maka aku yang tua ini akan mencarinya. Nah, setelah aku mengelilingi hampir ke seluruh pelosok negeri, bertemulah aku dengan dia di balik bukit ini..."

"Aha... selamat kalau begitu!"

Tong Ciak Cu-si menyalami Toat-beng-jin dengan wajah gembira. Kemudian dengan kepala tegak tokoh terlihai dari Im-yang-kauw itu menghadapi Chin Yang Kun.

"Hiante (saudara muda), marilah kita berkenalan! Lohu bernama Tong Ciak. Di dalam kepengurusan Im-yang-kauw, lohu menjabat sebagai Kauwcu-si."

Yang Kun membalas pula dengan menjura, ia tidak ingin dikatakan sebagai pemuda yang tidak tahu kesopanan.

"Nama siauwte adalah Yang Kun..."

"Haha... bagus! Yang-hiante, kalau tak salah engkau tadi menanyakan sesuatu kepadaku. Apakah itu?"

"Ah, terima kasih! siauwte tadi sangat penasaran mendengar ucapan Tong Ciak Cu-si. Semula Tong Ciak Cu-si mengatakan bahwa ilmu silat Tong Ciak Cu-si lebih tinggi dari pada ilmu silat Toat-beng-jin, tapi akhirnya Tong Ciak Cu-si mengatakan pula bahwa kalau dipandang dari sudut lain, ilmu silat Toat-beng-jin malah berkali-kali lebih hebat dari pada ilmu silat Tong Ciak Cu-si! Wah, bagaimana bisa begitu?"

Tong Ciak Cu-si tersenyum lebar. Sambil mempersilahkan Yang Kun agar duduk kembali orang itu mengangkat pundak ke arah Toa beng-jin berkali-kali.

"Ha-ha-ha... duduklah, Yang-hiante! Akan kuterangkan hal itu kepadamu..."

"Ah, sudahlah! Jangan didengarkan omongan Tong Ciak Cu-si itu!"

Toat-beng-jin segera menengahi mereka.

"...Paling paling Tong Ciak Cu-si tentu akan membual tentang kepandaian seseorang yang beraneka macam dan hebat-hebat!"

"Ah, Lojin-ong jangan marah. Bukankah semuanya itu benar belaka?"

Tong Ciak Cu-si cepat berkata pula.

"Yang-hiante, marilah kukatakan kepadamu, agar engkau tidak penasaran lagi!"

Orang itu memperbaiki letak duduknya, kemudian dengan muka bersungguh sungguh ia meneruskan keterangannya.

"Yang-hiante... kalau orang hanya berbicara soal ilmu silat saja, maka sesungguhnyalah dalam Im-yang-kauw kami itu akulah yang terunggul. Tak seorangpun melebihi aku, termasuk pula Tai-si-ong dan Lojin-ong ini!"

Tong Ciak mulai dengan ceritanya.

"Tapi kalau yang dibicarakan itu tentang kepandaian seseorang secara menyeluruh artinya selain kepandaian ilmu silat juga kepandaian lweekang, ginkang dan lain lainnya, maka hanya Toat-beng-jin sajalah dalam Im-yang-kauw yang patut mendapat gelar nomer satu!"

"Nah, bukankah kata kataku tadi benar! Tong Ciak Cu-si tentu akan membual!"

Toat-beng-jin menyela.

"Biarlah Yang-hiante mengetahuinya sekalian."

Tong Ciak menyambung ceritanya, sedikitpun tidak ambil pusing terhadap kata kata Toat-beng-jin.

"Dalam hal tenaga dalam, misalnya. Setiap jago-jago persilatan tahu belaka, bahwa Im-yang-kang (Tenaga Sakti Im dan Yang) dari golongan kami adalah satu satunya inti pelajaran ilmu Iweekang yang tak bisa diukur kedalamannya. Semakin tekun dan berbakat orang yang mempelajarinya, semakin tinggi dan hebat pula yang diperolehnya..."

"Im-yangkang memang satu satunya lweekang yang tidak mempunyai batas akhir untuk dipelajari...!"

Toat-beng-jin menyambung cerita Tong Ciak tanpa sadar.

"Nah, ucapan Lojin-ong itu benar!"

Tong Ciak tersenyum geli sehingga Toat-beng-jin buru-buru menutup mulutnya dengan mata melotot.

"Im-yang-kang memang satu-satunya ilmu menghimpun tenaga sakti di dunia ini yang tidak mengenal batas puncak!... Dan apabila Yang-hiante menanyakan juga kepada kami, siapakah di antara kami yang telah mencapai tingkat tertinggi dalam Im-yang-kang... beliau itu adalah..."

Orang itu menghentikan ucapannya lagi, tapi matanya melirik ke arah Toat-beng-jin dengan penuh arti.

"Huh, Tong Ciak Cu-si "ngecap' lagi! Yang-hiante, jangan kau percaya bualannya itu!"

Toat-beng-jin berseru dengan suara mendongkol.

"Lo-Cianpwe, kali ini siauwte memang kurang begitu percaya pada ucapan Tong Ciak Cu-si,"

Yang Kun menyetujui kata-kata Toat-beng-jin.

"Hei? Mengapa Yang-hiante tidak percaya padaku?"

Tong Ciak penasaran.

"Maaf, Tong Ciak Cu-si. Meskipun kepandaian siauwte tidak begitu tinggi, tapi siauwte cukup mengerti bahwa seorang yang belajar ilmu silat tak mungkin dapat meniti ke jenjang yang tinggi tanpa mengikutsertakan semua unsur yang menunjangnya. Contohnya, bagaimanapun hebat mutu sebuah ilmu silat, tapi kalau gerakan-gerakannya tidak ditunjang oleh Iwee kang dan ginkang yang sepadan, artinya sesuai dengan kehebatan ilmu silat tersebut, sama halnya dengan seekor harimau buas yang tak punya gigi...! Nah, oleh karena itulah siauwte kurang mempercayai ucapan Tong-Cu-si tadi. Apabila Tong Ciak Cu-si sudah dapat mempeIajari isi kulit domba ini sampai ke lembar yang ketiga belas, maka sungguh tidak mungkin kalau Iwee kang dan gin kang Tong Ciak Cu-si berkali-kali lebih rendah dari lweekang dan ginkang Toat-beng-jin yang baru belajar sampai ke lembar yang ke sebelas,"

Jawab Chin Yang Kun tegas.

"Hura! Tahu rasa kau sekarang!"

Toat-beng-jin bertepuk senang. Kauwcu-si dari Im-yang-kauw itu tampak sedikit tersipu sipu.

"Yang-hiante, pendapatmu itu memang betul. Tapi apa yang kukatakan tadi juga tidak salah,"

Katanya membela diri. Kemudian begitu dilihatnya pemuda itu menatap dia dengan pandang mata bingung, ia segera menjelaskan apa yang ia maksudkan.

"Baiklah, aku akan menjelaskannya kepada Yang-hiante, biarpun hal ini sebenarnya menyangkut rahasia kaum kami,"

Kata Tong Ciak sambil menoleh kepada Toat-beng-jin.

"Lebih dari seratus tahun yang lalu... salah seorang dari murid Im-yang-kauw telah berbuat suatu kesalahan besar sehingga ia diusir dan dipecat dari keanggotaan Im-yang-kauw. Sebenarnya orang itu harus dihukum mati karena kesalahannya, tapi oleh karena gurunya yang pada saat itu menjabat sebagai Tai-si-ong sangat menyayanginya, maka dia hanya diusir dari kuil. Ia tidak boleh sama sekali menginjak lantai kuil dimana ia selama ini dibesarkan. Selain itu, ia tidak diperbolehkan pula mempergunakan semua ilmu kepandaian yang ia peroleh dalam kuil tersebut."

"Ah, Tong-hiante berani pula mengungkat-ungkat rahasia lama. Apakah Tong-hiante tidak takut kuwalat pada kakek gurumu itu?"

Toat-beng-jin memotong cerita itu.

"Lojin-ong, mendiang Sucouw Kim-mo Sai ong telah menebus kesalahannya itu selama tiga turunan, dan hal itu sudah sesuai dengan keputusan gurunya. Maka kalau saya sekarang sebagai keturunan beliau yang ke empat, telah diperkenankan kembali ke kuil Im-yang-kauw lagi, mengapa saya harus takut menceritakan peristiwa? Semuanya telah dimaafkan, tak perlu ada yang ditakutkan lagi."

"Hai, Tong-hiante benar. Semuanya telah berlalu dan sekarang sudah tidak ada persoalan apa-apa lagi. Tong-hiante memang benar. Akulah yang benar-benar sudah pikun...maafkanlah!"

Toat-beng-jin buru-buru mengakui kekeliruannya. Sementara itu Yang Kun sudah tidak sabar lagi menunggu kelanjutan cerita itu.

"Tong Ciak Cu-si... apakah nenek moyang Tong Ciak Cu-si yang bergelar Kim-mou Sai-ong itu adalah tokoh pendiri Soa-hu-pai (Partai Danau Pasir) yang terkenal sebagai salah seorang dari Empat Datuk Besar itu?"

Tong Ciak cepat mengangguk.

"Betul! Pada saat itu Sucouw baru berusia dua puluh lima tahun dan oleh para pimpinan Im-yang-kauw, ia sebenarnya telah disebut-sebut sebagai calon terkuat untuk menggantikan gurunya sebagai Tai-siong."

Tong Ciak berhenti sebentar untuk mengambil napas.

"Tapi nasi telah menjadi bubur, keputusan para pimpinan Im-yang-kauw untuk mengusir Sucouw tidak dapat diganggu gugat lagi. Terpaksa dengan perasaan hancur Sucouw pergi meninggalkan kuil yang dihormatinya itu. Beliau telah mengakui kesalahannya, dan untuk itu beliau akan menebusnya dengan mengasingkan diri di tempat sepi selama hidup."

Tong Ciak mengambil napas lagi.

"...Beliau mempunyai bakat ilmu silat yang luar biasa. Semuda itu usianya, ternyata beliau telah mampu mempelajari ilmu yang tertera pada kulit domba itu. Biarpun cara yang ditempuh oleh beliau dalam mempelajari ilmu tersebut sama dengan yang ditempuh oleh rata-rata anggota Im-yang-kauw yang lain, yaitu mencontoh dari buku tulisan itu... tapi ketika beliau sudah berada di tempat pengasingannya, beliau menciptakan ilmu silat yang lain, meskipun dasar gerakannya masih beliau ambilkan dari catatan dalam buku tulisan itu. Beberapa puluh tahun kemudian beliau mendirikan perguruan tersendiri dan mulai menerima murid. Kesaktian beliaupun telah terkenal di seluruh negeri. Meskipun begitu, dalam menurunkan ilmunya, beliau tak pernah menyinggung nyinggung ilmu silat yang beliau peroleh dari Im-yang-kauw. Beliau tetap hanya mengajarkan ilmu ciptaan beliau sendiri..."

"Dan hal itulah yang menjadi awal mula dari malapetaka yang menimpa generasi Aliran Im-yang-kauw selanjutnya..."

Akhirnya Toat-beng-jin ikut pula menambahkan. Kelu juga lidahnya karena tak ikut berbicara dalam cerita yang menarik tersebut.

"Sepeninggal Kim-mou Sai-ong, Tai-si-ong jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Agaknya peristiwa yang menimpa murid beliau itu benar-benar sangat melukai hatinya. Sepeninggal beliau, barulah setiap orang menyadari akan kekurangan mereka, yaitu tak seorangpun di antara tokoh tokoh Im-yang-kauw saat itu yang hapal akan lagu dalam kulit domba. Satu-satunya orang yang mengerti lagu itu hanyalah mendiang Tai-si-ong tersebut dan... Kim-mou Sai-ong, muridnya! Tapi untuk memanggil kembali murid yang telah diusir itu benar-benar tidak mungkin. Maka... untuk selanjutnya, nada lagu dari pantun tersebut menjadi hilang musnah sampai ke generasi generasi berikutnya..."

Toat-beng-jin yang kini telah menjadi bersemangat itu memberi keterangan pula kepada Yang Kun.

"...Yang-hiante, itulah sebabnya ketika engkau dapat menghapal dan menyanyikan lagu tersebut secara fasih, kami semua segera teringat kepada Sucouw kami!"

"Semua cerita Lojin-ong itu memang betul."

Tong Ciak membenarkan.

"Nah, Yang-hiante, sekarang akan kujelaskan, apa hubungan dari cerita ini tadi dengan pernyataanku yang tidak kau percaya itu. Yang-hiante tadi tidak percaya kalau lweekang Toat-beng-jin berkali-kali lebih tinggi dari pada lweekangku. Sesungguhnya, apa yang kukatakan itu adalah benar... Cobalah pikirkan, Toat-beng-jin mempelajari ilmu itu sejak muda, sehingga kalau dihitung sampai saat ini telah lebih dari lima puluh tahun lamanya. Sedangkan aku mengenal ilmu tersebut baru lima tahun yang lalu, yaitu saat aku kembali ke kuil untuk memenuhi pesan mendiang Sucouw. Sebelumnya, aku hanya mengenal ilmu-ilmu perguruan Soahu-pai saja. Aku hanya mengenal Soa-hu sinkang (Tenaga Sakti Danau Pasir), dan Soa-hu lian-ciang (Pukulan Bunga Teratai dari Danau Pasir)! Untunglah Soa-hu lian-ciang ciptaan Sucouw itu segala sesuatunya sangat mirip Im-yang-kun (Pukulan Im dan Yang) yang tertulis dalam kulit domba ini, sehingga ketika Tai-si-ong memperlihatkan gulungan kulit domba ini kepadaku, dengan mudah aku mempelajari dan menyelesaikannya! Aku sungguh sangat berterima kasih sekali kepada mendiang Sucouw, ternyata Soa-hu lian-ciang itu sebenarnya adalah hasil pengamatan beliau sendiri dari makna lagu yang tertera pada kulit domba ini. Cuma karena tempat di mana beliau itu mengasingkan diri adalah di permukaan sebuah danau pasir yang panas, maka gerakan gerakan kaki pada Soa-hu lian-ciang disesuaikan dengan keganasan tempat tersebut. Lain halnya dengan Soa hu-sin kang. Lweekang itu benar-benar asli ciptaan Sucouw, sedikitpun tidak ada hubungannya dengan Im-yang-kang. Kalau ada sediikit pengaruh unsur Im juga, hal itu disebabkan karena Sucouw ingin menandingi tenaga sedot yang panas dari rawa pasir tersebut,"

Tokoh Im-yang-kauw itu mengakhiri kisahnya.

"Nah, sekarang Yang-hiante sudah tahu, bukan? Apa sebabnya aku tadi berkata begitu? Im-yang-kang yang kupelajari benar benar masih rendah sekali, belum ada seperSepuluhnya Toat-beng-jin."

"Tapi... bukankah Tong Ciak Cu-si mempunyai Soa-hu sinkang yang tinggi?"

Yang Kun masih merasa penasaran.

"Benar, tetapi Soa-hu sinkang itu hanya cocok untuk memainkan Soa-hu lian-ciang saja. Memang bisa pula untuk memainkan Im-yang-kun, tapi pengaruhnya tentu tidak sehebat Im-yang-kang, sebab bagaimanapun juga Im-yang-kang memang merupakan paduannya sendiri."

"Tong Ciak Cu-si, lalu..."

"Yang-hiante, sudahlah! Lihat matahari telah terbit, dan janjiku untuk mengobati lukamu belum juga terlaksana. Nanti kita berbicara lagi, sekarang marilah kau buka bajumu...!"

Toat-beng-jin memotong perkataan Yang Kun.

"Lojin-ong benar. Biarlah aku juga beristirahat dahulu. Semalam suntuk aku berjalan dari gedung pusat kesini, rasanya lelah juga..."

Tong Ciak berkata pula.

"Eh, Tong-hiante, kapankah utusan dari sini itu sampai di Gedung Pusat?"

"Kemarin, menjelang makan malam... sebenarnya Tai-siong tidak memperbolehkan aku berangkat, toh Lojin-ong sudah berada disini. Tapi aku benar-benar tidak enak hati, peristiwa seperti ini kan termasuk dalam tugasku. Maka begitu selesai sembahyang malam, aku memaksa untuk minta diri kepada Tai-si-ong! Bagaimana, Lojin-ong? Adakah sesuatu yang harus segera dilakukan berhubung dengan kejadian ini?"

Kauwcu-si dari Im-yang-kauw itu bertanya sambil berjalan ke arah pintu.

"Entahlah, Tong-hiante. Aku juga belum sempat memikirkannya. Nanti sajalah kita berbicara lagi, sekarang silahkan Tong-hiante beristirahat dahulu biar segar...!"

Pintu kamar itu ditutup kembali oleh Tong Ciak Cu-si dari luar.

"Marilah, Yang-hiante... kita mulai dengan pengobatan lukamu itu."

Toat-beng-jin mengajak.

Tetapi pemuda itu masih tetap terdiam di kursinya, sama sekali tidak beringsut dari tempat tersebut.

Pemuda itu malah menatap Toat-beng-jin dengan tajamnya, sedikitpun tidak merasa takut apalagi gemetar mendengar kesaktiannya yang maha hebat itu.

Tentu saja kakek itu menjadi bingung melihat sikap Yang Kun yang aneh tersebut.

"Yang-hiante, ada apakah...? apa ada sesuatu yang salah?"

Tanyanya khawatir. Dengan menarik napas panjang, Yang Kun bangkit dari tempat duduknya.

"Lo...Lo-Cianpwe...,"

Sapanya kaku, sukar juga rasanya untuk mengubah panggilannya terhadap kakek tua itu.

"Terima kasih atas pertolongan yang Lo-Cianpwe berikan kepada saya. Suatu saat siauwte tentu akan membalas budi yang sangat besar itu. Lo-Cianpwe, sekarang siauwte mohon diri. Kukira luka ini sudah tidak begitu mengganggu lagi..."

Setelah menjura kepada Toat-beng-jin, pemuda itu melangkah perlahan ke arah pintu. Tapi sebelum tangannya meraih daun pintu, Toat-beng-jin telah memburunya.

"Yang-hiante... kau berhentilah dahulu, aku ingin berbicara sebentar!"

Yang Kun membalikkan tubuhnya dengan cepat. Matanya yang dingin seram itu kembali mengawasi Toat-beng-jin yang datang.

"Lo-Cianpwe ingin memberi pesan sesuatu kepadaku?"

"Oh, tidak... tidak!"

Orang tua itu tergagap.

"Ah, Yang-hiante... agaknya ada sesuatu persoalan yang sangat mengganggu hatimu dan tampaknya persoalan tersebut adalah persoalan yang menyangkut diriku. Yang-hiante... benarkah dugaanku ini?"

"Ah... Lo-Cianpwe, mana aku berani? Hal itu..."

"Sudahlah... marilah kita duduk kembali. Agaknya ada suatu kesalah pahaman diantara kita."

Kakek itu menarik lengan Yang Kun ke arah kursi. Lalu katanya lagi.

"Yang-hiante, agaknya kau masih merasa sakit hati karena sandiwara menjengkelkan yang kulakukan terhadapmu kemarin, bukan...? memang, lohu merasa pula bahwa lohu agak keterlaluan memperlakukan Yang-hiante... Lohu benar-benar menyesal sekarang, maukah Yang-hiante memaafkanku...?"

Yang Kun tetap berdiri di dekat kursinya.

Ia memang masih merasa mendongkol terhadap perlakukan kakek tua itu kepadanya.

Kakek itu telah mempermainkan dia seenaknya, padahal ia merasa belum pernah berlaku tidak pantas terhadap kakek itu sebelumnya.

"Lo-Cianpwe, kurasa kita memang belum pernah saling mengenal sebelumnya. Oleh karena itu kurasa pula siauwte belum pernah berbuat salah terhadap Lo-Cianpwe. Tapi mengapa Lo-Cianpwe begitu tega mempermainkan diriku sedemikian rupa? Lo-Cianpwe... untunglah aku masih ingat akan budi yang Lo-Cianpwe berikan kepada saya, kalau tidak... hm, jangan dikira Yang Kun silau oleh nama seseorang yang setinggi langit!"

Pemuda itu menggeram menahan marah. Toat-beng-jin merasa kaget bukan main. Sungguh tak ia sangka sama sekali bahwa pemuda itu menjadi marah sedemikian rupa.

"Yang-hiante, maafkanlah lohu...! marilah! silahkan duduk, akan kujelaskan kepadamu semuanya...! Setelah itu, kau boleh menimbang-nimbang, apakah perbuatanku itu kau nilai keterlaluan atau tidak..."

"Hmmm..."

Baca Juga: Si Bangau Merah 1

Baca Juga: Kasih Diantara Remaja 2

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger