Kasih Diantara Remaja 2

Eps 2 Kasih Diantara Remaja - Kho Ping Hoo

Baca online Kasih Diantara Remaja - Kho Ping Hoo

Cersil Kasih Diantara Remaja - Kho Ping Hoo.

Ciu-ong Mo-kai lalu mendatangi uwak Lui yang sudah sangat tua dan tidak dapat keluar dari kamar untuk berpamit.

Uwak Lui sudah amat tua, sudah tujuh puluh lebih usianya dan sakit-sakitan saja.

Kemudian kakek pengemis itu turun gunung, diantar oleh dua orang murid berikut Siauw-ong sampai di daerah berbatu yang mengelilingi gedung di puncak itu.

Dua bulan setelah Ciu-ong Mo-kai pergi meninggalkan puncak Min-san, uwak Lui meninggal dunia karena sakit tua.

Dapat dibayangkan betapa sedih hati dua orang anak yatim piatu itu ditinggal mati oleh uwak Lui yang mereka anggap sebagai nenek dan pengganti orang tua sendiri.

Bi Eng menangis sampai jatuh pingsan, berbeda dengan Han Sin yang menanggung kesedihan itu dengan tenang-tenang saja dan tidak kelihatan dari luar bahwa dia merasa amat berduka.

Tanpa banyak cakap pemuda ini, dibantu dua orang pelayan, mengurus jenazah uwak Lui dan mengubur dengan upacara sederhana.

Jenazah uwak Lui dikubur tak jauh dari makam Cia Sun dan isterinya.

Ucapan terakhir yang dipesankan oleh uwak Lui dengan suara pelo dan tidak jelas, amat mengharukan dan berkesan dalam-dalam di hati Han Sin dan Bi Eng.

Pesan itu masih saja bergema di dalam telinga mereka .

"....Anak-anakku... ingatlah..... jangan kalian berpisah satu dari yang lain.... selama-lamanya..... Han Sin.... jaga baik-baik adikmu.... kalian.... ah, kalian.... cari gadis bertahi lalat di.... mata kaki kiri.... awas terhadap gadis yang.... di dekat telinganya ada tanda merah.... kalian bukan.... bukan..... ahhh....."

Sampai di situ habis napas uwak Lui dan kedua orang muda itu menghadapi rahasia atau teka-teki yang sama sekali tidak mereka mengerti maksudnya.

Setelah penguburan selesai dan dua orang kakak beradik itu meninggalkan kuburan di mana mereka berkabung, Siauw-ong masih juga belum mau meninggalkan kuburan.

Malam itu malah Siauw-ong tidak pulang.

Agaknya monyet kecil ini amat berduka atas kematian uwak Lui.

Pada keesokan harinya, ketika Han Sin dan Bi Eng keluar dari ruangan dalam hendak mencari Siauw-ong, mereka melihat monyet kecil ini datang berloncat-loncatan sambil membawa sebuah gulungan kertas kuning.

Binatang ini cecowetan sambil mengacung-acungkan gulungan kertas itu.

"Siauw-ong, benda apakah yang kaubawa itu?"

Tanya Han Sin sambil berjongkok dan menerima gulungan kertas dari tangan Siauw-ong.

Bi Eng memandang dengan heran dan tertarik.

Kakak beradik ini lalu duduk di bangku dan Han Sin membuka gulungan kertas kuning itu.

Kertas itu amat tebal dan kuat, kiranya bukan terbuat dari pada kertas biasa, mungkin dari kulit kayu atau kulit binatang yang amat kuat dan sudah tua sekali.

Ketika dibuka gulungannya, di situ terdapat sebuah peta dengan tanda-tanda dan huruf-huruf di sana-sini.

Dengan tertarik sekali Han Sin dan Bi Eng memeriksa.

Alangkah terkejut hati mereka ketika membaca huruf-huruf kecil di ujung kiri peta itu yang berbunyi .

PENINGGALAN LIE UNTUK CIA "Koko, tak salah lagi.

Inilah surat wasiat Lie Cu Seng yang pernah disebut-sebut suhu,"

Kata Bi Eng, berdebar girang dan perasaannya menegang. Namun Han Sin tetap tenang. Sambil mengamati penuh ketelitian, ia menjawab.

"Agaknya dugaanmu betul, Eng-moi. Inilah surat wasiat yang diperebutkan orang. Akan tetapi kita tidak ikut memperebutkan karena memang surat ini menjadi hak kita. Baca saja, bukankah di situ disebutkan bahwa surat wasiat pahlawan Lie Cu Seng ini memang diperuntukkan keluarga Cia? Agaknya betul dugaan suhu dulu bahwa pahalawan Lie sebelum gugur meninggalkan surat ini untuk kong-kong Cia Hui Gan yang kemudian menurunkannya kepada ayah kita."

Ia memandang lagi dengan teliti lalu berkata perlahan.

"Hemmm, di pegunungan Lu-liang-san lembah sungai Huang-ho......"

Bi Eng memegang pundak kakaknya.

"Koko, kau hendak apakan surat wasiat ini?"

Han Sin menggulung surat itu, memasukkannya ke dalam saku bajunya, lalu menoleh dan memegang kedua lengan adiknya.

"Adikku yang baik, setelah di sini tidak ada siapa-siapa lagi yang menjadi tanggungan kita, sekarang tiba saatnya bagi kita untuk turun gunung, memasuki dunia ramai."

Untuk sejenak gadis itu tidak dapat menjawab. Hanya sepasang matanya terbelalak memandang kakaknya, sinar bahagia dan seri gembira memancar dari muka yang manis itu.

"Turun gunung....?"

Ucapan ini merupakan pelepasan rindu yang sudah bertahun-tahun dipendamnya yaitu rindu akan dunia ramai yang banyak ia dengar akan tetapi belum pernah dilihatnya itu.

"Ahh.......! Sin-ko, turun gunung ke dunia ramai.....?"

Tak terasa lagi dua butir airmata yang bening mengalir di kedua pipi merah itu.

Han Sin tersenyum.

Melihat adiknya bergembira seperti ini, sudah cukup bahagia rasa hatinya.

Ia mengusap pipi adiknya lalu membelai rambut yang terurai ke jidat yang halus itu.

"Tentu saja turun gunung menemui manusia-manusia lain dunia ramai. Kita kan bukan dilahirkan untuk menjadi pertapa-pertapa di puncak ini sampai kita menjadi kakek-kakek dan nenek-nenek?"

Mendengar ini, Bi Eng tertawa dan saking girangnya gadis ini meloncat, merangkul leher kakaknya, lalu melepaskannya lagi dan menari-nari kegirangan, tari monyet yang sering ia tarikan dulu.

Melihat ini, sambil mengeluarkan bunyi cecowetan girang, Siauw-ong juga mulai menari-nari di dekat nonanya!

"Sin-ko, jangan kau sebut-sebut lagi tentang kakek-kakek dan nenek-nenek.

Tak tahan aku mengenangkan bagaimana kau berubah menjadi seorang kakek-kakek, hi hi hi!"

Han Sin tersenyum.

"Apa kau suruh aku menjadi ular yang tiap kali berganti kulit?"

Kemudian ia teringat akan sesuatu dan tersenyum. Wanita di manapun juga memang pantang memikirkan usia tua.

"Akan tetapi aku percaya, kau selamanya akan seperti sekarang, cantik jelita manis mungil, tak pernah bisa jadi tua."

Bi Eng kembali merangkul pundak kakaknya dengan gaya manja.

"Sin-ko, jangan memuji-muji. Adikmu ini bocah gunung mana bisa disebut cantik? Nanti akan kautemui banyak gadis cantik jelita seperti puteri-puteri dalam gambar itu di kota-kota besar dan kau akan melihat betapa buruknya rupa adikmu."

Memang Bi Eng amat sayang kepada kakaknya.

Tidak saja sayang, juga ia amat taat kepada kakaknya yang dalam anggapannya adalah satu-satunya orang yang paling mulia, paling pandai dan paling...

segala di dunia ini.

Bahkan, setelah ia belajar ilmu silat tinggi dari Ciu-ong Mo-kai dan tahu bahwa kakaknya jauh lebih pandai masih saja memenuhi hatinya.

Mereka segera berkemas dengan gembira.

Han Sin lalu panggil dua orang pelayan yang setia itu dan berkata.

"Kedua paman yang baik, kami akan membawa Siauw-ong turun gunung. Kami hendak merantau, hendak mengenal dunia. Entah kapan kami kembali, malah kembali atau tidak masih belum dapat ditentukan sekarang. Oleh karena itu, dari pada barang-barang di sini rusak tidak karuan, kalau paman-paman membutuhkan, boleh paman ambil dan pakai. Kami tidak membutuhkan lagi."

Dia orang pelayan itu mengucurkan air mata. Mereka amat sayang kepada Han Sin dan Bi Eng yang mereka kenal semenjak masih bayi.

"Kongcu..... Siocia....., hendak ke manakah? Dunia ini sedang kacau, di mana-mana terdapat banyak penjahat. Bagaimana kalau jiwi (kalian berdua) sampai diganggu orang jahat?"

Kata seorang di antara mereka dengan penuh kekhawatiran. Bi Eng menjawab.

"Justru karena banyak terjadi kejahatan itulah aku dan koko hendak turun gunung, hendak membasmi orang-orang jahat dan menolong orang-orang yang perlu ditolong!"

Mendengar ini, Han Sin tersenyum saja. Di dalam hatinya ia tidak setuju akan kata-kata "basmi"

Ini, akan tetapi karena terlampau sayang kepada Bi Eng ia tidak mau mengecewakan hati adiknya yang sedang bergembira itu.

"Kami akan menjaga diri baik-baik, paman."

Setelah bersembahyang di depan kuburan ayah bundanya dan kuburan uwak Lui, dua orang kakak beradik itu lalu turun gunung.

Mereka berjalan perlahan saja, dan hati-hati.

Bi Eng yang sudah memiliki ginkang yang tinggi berkat latihan Ciu-ong Mo-kai, tidak mau mempergunakan ilmu lari cepat karena takut kakaknya tertinggal.

Malah ia selalu menggandeng tangan kakaknya ketika melalui daerah berbatu yang amat sukar dilewati, menjaga kalau-kalau kakaknya itu jatuh!

Adapun Siauw-ong selalu "membonceng"

Di pundak Han Sin. Melihat tingkah monyet ini, Bi Eng marah.

"Siauw-ong! Kau pemalas. Ayoh turun, masa kau membikin lelah Sin-ko, enak-enakan duduk di pundak. Apa kau sudah tak punya kaki untuk jalan sendiri?"

Siauw-ong yang agaknya mengerti, lalu melompat turun.

"Biarlah,"

Kata Han Sin sabar.

"Dia agaknya takut karena baru pertama kali ini turun gunung."

Mendengar kata-kata ini, Bi Eng berdebar hatinya.

Tentu saja Siauw-ong takut, bahkan dia sendiri yang tak pernah kenal takut, kini menjadi berdebar penuh ketegangan hati.

Seperti apa macamnya dunia ramai?

Seperti apa macamnya kota-kota besar dan penduduknya?

Karena ini, ia tidak menegur lagi ketika mereka tiba di kaki gunung.

Monyet kecil itu kembali melompat ke atas punggung Han Sin.

Dusun-dusun dan penduduknya yang dilalui ketika mereka menuruni puncak, tidak menarik perhatian Bi Eng, karena memang sudah sering kali ia melihat dusun-dusun itu.

Penduduk dusun-dusun sebagian besar mengenal Han Sin dan Bi Eng yang mereka sebut Cia-kongcu (tuan muda Cia) dan Cia-Siocia (nona Cia) Mereka semua menyambut dua orang kakak beradik ini dengan ramah, mengingat bahwa dua orang muda ini adalah keturunan Cia-enghiong yang sudah banyak dan kerap kali menolong penduduk dusun sekitar Min-san.

Han Sin dan Bi Eng melanjutkan perjalanan menuju ke timur, karena menurut pengetahuan Han Sin dari kitab-kitabnya, Lu-liang-san terletak di sebelah timur.

"Kita harus menyelidiki tentang isi surat wasiat,"

Katanya kepada adiknya.

"Karena ayah menerima surat wasiat ini, tentu menjadi kewajiban kita untuk menyelidiki, apakah gerangan yang tersimpan dalam tempat rahasia itu sampai-sampai orang sakti memperebutkan surat ini. Aku mendapat perasaan bahwa agaknya karena surat ini maka ayah ibu terbunuh orang."

Ketika mereka sudah jauh dari kaki bukit Min-san, di sebuah jalan gunung yang sunyi dan kasar, dari depan mereka melihat seorang perempuan tua yang duduk di dalam kereta dorong dan kereta ini didorong oleh seorang pemuda sebaya Han Sin yang wajahnya tampan dan pakaiannya sederhana.

Melihat sikap dan pakaian wanita dan pemuda itu berbeda dengan penduduk dusun, segera Han Sin dan Bi Eng tertarik.

"Kenapa perempuan itu tidak berjalan sendiri? Apa dia sakit?"

Kata Bi Eng.

"Ssstt, membicarakan orang jangan keras-keras,"

Cegah Han Sin.

Wanita ini memang kelihatan seperti orang sakit.

Kepalanya dilibat sehelai saputangan putih dan kelihatan lemah.

Sebaliknya, pemuda yang tampan itu kelihatan gagah dan sehat, bersemangat dan biarpun peluhnya sudah membasahi muka dan leher, mulutnya tersenyum dan mukanya terang.

"Yan Bu, berhenti dulu!"

Terdengar perempuan itu berkata dan ternyata suaranya berbeda dengan keadaannya yang kelihatan lemah.

Suaranya nyaring dan tajam.

Pemuda yang dipanggil Yan Bu itu berhenti dan menyusuti peluhnya.

Adapun wanita tua itu tanpa turun dari kereta, menatap ke arah Han Sin dan Bi Eng dengan tajam sekali, pandangannya penuh selidik.

Yang ia pandang terutama adalah gerakan kaki kedua orang muda itu.

"Aneh, wajahnya sama benar. Akan tetapi orang-orang lemah itu pasti sekali bukan mereka. Yan Bu, mari jalan lagi."

Pemuda itu menurut, hanya melepas kerling sekilas ke arah Han Sin dan matanya penuh kekaguman ketika ia melirik ke arah Bi Eng, akan tetapi ia segera tundukkan muka dan mendorong kereta itu, tanpa menoleh lagi.

Wanita di dalam kereta dorong mash terus melirik ke arah kakak beradik itu terutama sekali kepada Han Sin yang menggendong Siauw-ong di punggungnya.

Yang lucu adalah Siauw-ong.

Agaknya monyet ini girang melihat orang di dalam kereta dorong, maka ia mengangkat tangan kanan lambai-lambaikan seperti orang memberi salam!

Han Sin dan Bi Eng masih terus memandang sampai menoleh.

Terutama sekali kereta dorong itu menarik perhatian mereka karena belum pernah mereka menyaksikannya.

Setelah berpisah jauh, perempuan tua dan pemuda pendorong kereta itu menjadi bahan pembicaraan, terutama sekali Bi Eng yang masih heran.

"Melihat cara pemuda itu mendorong kereta, tentu ia kuat sekali, koko. Kenapa wanita itu didorong dalam kereta? Apa dia lumpuh? Dan orang sakit-sakitan seperti dia itu, mau apa datang ke tempat ini?"

"Entahlah, moi-moi. Akan tetapi menurut cerita suhu, memang banyak terjadi hal-hal aneh di dunia ini dan banyak pula manusia-manusia yang aneh wataknya. Biarlah kita anggap mereka itu orang-orang aneh pertama yang kita jumpai."

Ucapan Han Sin ini biarpun hanya merupakan hiburan bagi adiknya yang ingin mengetahui segala, ternyata memang tepat.

Tentu saja mereka tidak pernah menduga bahwa memang orang di dalam kereta itu bukan manusia sembarangan.

Dia itu bukan lain adalah Ang-jiu Toanio!

Dan pemuda yang mendorong kereta itu adalah puteranya, putera sulungnya yang bernama Phang Yan Bu.

Pernah diceritakan betapa Ang-jiu Toanio kehilangan anak perempuannya, yaitu anak bungsunya yang dirampas oleh Kalisang.

Orang mongol aneh yang membawa-bawa harimau Ang-jiu Toanio mengejar terus namun tidak berhasil mendapatkan kembali puterinya itu.

Dengan hati hancur dan mengandung penasaran ia terpaksa pulang ke I-kiang dan memperdalam ilmu silatnya karena merasa bahwa kepandaiannya masih kurang tinggi sehingga menghadapi orang Mongol yang merampas anaknya ia tidak berdaya.

Ia hidup bersama puteranya, yaitu Phang Yan Bu dan semenjak itu nyonya ini sering kali terserang penyakit jantung yang membuat kadang-kadang amat lemah.

Yan Bu adalah seorang anak yang amat berbakti.

Iapun memiliki bakat baik sekali dalam ilmu silat.

Dalam usia lima belas tahun saja ia sudah mewarisi kepandaian ibunya, kemudian oleh ibunya ia dikirim kepada Yok-ong Phoa Kok Tee yang amat terkenal di dunia kang-ouw.

Yok-ong (Si Raja Obat) ini adalah seorang tua yang mengasingkan diri di pegunungan, tidak mempunyai tempat tinggal tertentu.

Pekerjaannya hanya mencari daun-daun dan akar-akar obat, kemudian ia merantau dari gunung ke gunung, dari kota ke kota dan selalu mengulurkan tangan mengobati orang-orang yang terserang penyakit.

Ketika Yan Bu berusia lima belas tahun, pada suatu hari Yok-ong Phoa Kok Tee singgah di I-kiang mengunjungi murid keponakannya.

Ang-jiu Toanio adalah murid sutenya (adik seperguruannya), yaitu Koai-sin-jiu (Si Tangan Sakti Aneh) Bhok Kim yang tewas dalam pertempuran melawan Hoa Hoa Cinjin.

Begitu bertemu dengan murid keponakannya yang sudah berpisah belasan tahun ini, Phoa Kok Tee terkejut.

"Kau menderita luka di jantungmu karena banyak berduka!"

Katanya kaget. Ang-jiu Toanio menjatuhkan diri berlutut dan menangis.

"Susiok, selama belasan tahun ini teecu telah menerima banyak penghinaan dan sakit hati."

Sambatnya, kemudian ia menuturkan tentang kematian suaminya oleh Cia Sun dan kehilangan puterinya yang dirampas oleh orang Mongol bernama Kalisang.

"Suami dibunuh orang tanpa bisa membalas karena pembunuhnya sudah keburu meninggal dunia, anak dirampas orang untuk dijadikan mangsa harimau. Ah, teecu sendiri begini lemah berpenyakit, bagaimana sakit hati dapat dibalas?"

Mendengar penuturan itu, Yok-ong Phoa Kok Tee menarik napas panjang.

"Dari dulu sudah kukhawatirkan ketika aku melihat cara hidup suamimu yang hartawan dan berlebihan. Sebagai seorang tuan tanah, suamimu terlalu memeras rakyat kecil dan aku tidak bisa terlalu salahkan pendekar muda Cia Sun itu kalau sampai bentrok dengan suamimu. Memang kalah atau mati hidup dalam pertempuran seperti itu, sukar untuk berbicara tentang sakit hati. Kau yang mempunyai anak bayi, mengapa membawa-bawa anakmu yang kecil itu untuk mencari musuh? Kejadian tentang anakmu benar-benar amat menyesalkan hati dan orang Mongol itu patut dibasmi. Biar kucatat namanya dan kalau sampai bertemu dengan dia, aku akan berusaha melenyapkan manusia keji itu. Sekarang biarkan aku memeriksa penyakitmu."

Sebagai seorang yang sudah mendapat julukan Yok-ong (Raja Obat), dengan menekan urat nadi saja, tahulah Yok-ong Phoa Kok Tee bahwa tidak ada obat lagi bagi nyonya ini kecuali banyak beristirahat lahir batin.

Akan tetapi ia memberi juga obat penguat jantung sambil berkata.

"Kau tidak boleh banyak berduka, tidak boleh mengandung pikiran benci dan mendendam. Tidak baik untuk penyakitmu."

Mendengar ini, Yan Bu menjatuhkan diri berlutut sambil menangis dan minta-minta kepada Yok-ong supaya mengobati ibunya.

"Susiok-couw, tolonglah ibuku yang tercinta. Obatilah ibu sampai sembuh."

Melihat kesungguhan hati anak itu, Phoa Kok Tee tertarik dan kagum.

"Anak ini baik sekali, kau beruntung mempunyai anak seperti dia ini."

Karena tertarik dan suka melihat bocah berbakti itu, Phoa Kok Tee berkenan mewariskan ilmu goloknya yang tinggi tingkatnya kepada Yan Bu.

Selama dua tahun ia memberi pelajaran ilmu silat kepada Yan Bu yang dengan amat cepat menguasai semua itu dan mendapatkan kemajuan pesat.

"Yan Bu, jagalah baik-baik ibumu. Terus terang saja, ibumu itu mempunyai watak yang kurang baik, terlalu ganas dan keras hati. Ini adalah kesalahan suteku sendiri yang tidak dapat menuntunnya dengan baik, malah menurunkan watak yang keras dan mau menang sendiri. Kau seorang anak baik yang dapat membedakan mana keliru mana benar, jangan kau mengecewakan sebagai muridku,"

Pesan Raja Obat itu kepada muridnya sebelum ia pergi meninggalkan I-kiang.

Semenjak itu, Yan Bu menjadi seorang pemuda yang lihai ilmu silatnya, akan tetapi ia selalu bersikap sederhana.

Malah iapun sudah mempelajari beberapa macam ilmu pengobatan dari gurunya.

Makin dewasa, makin terbukalah matanya dan harus ia akui bahwa ibunya memang berwatak keras luar biasa dan ternyata ibunya tidak mau menurut nasehat Yok-ong.

Diam-diam ibunya masih menaruh hati dendam kepada keluaraga Cia dan kepada Hoa Hoa Cinjin yang sudah membunuh guru ibunya, Koai-sin-jiu Bhok Kim.

Ketika ia berusia dua puluh tahun, ibunya berkata.

"Yan Bu, mari kau ikut aku pergi ke Min-san!"

Yan Bu sudah tahu bahwa Min-san adalah tempat tinggal keluarga Cia. Ia mengerutkan kening dan bertanya.

"Ibu, perlu apakah kita pergi ke sana? Bukankah musuh besar kita, Cia Sun, sudah tewas?"

"Masih ada anak-anaknya!"

Bentak ibunya. Yan Bu adalah seorang anak yang amat berbakti dan tidak berani membantah kehendak ibunya yang amat dikasihani dan disayangnya.

"Ibu masih belum sehat benar, melakukan perjalanan begitu jauh apakah tidak melelahkan?"

Ibunya maklum bahwa anaknya ini agak lemah hatinya, maka ia berkata ketus.

"Yan Bu, apa kau sudah lupa bahwa ayahmu mati dibunuh orang? Selain mencari sisa keluarga Cia untuk menagih hutang, juga aku hendak mencarikan warisan untukmu. Ibu tidak lama lagi hidup di dunia dan aku ingin melihat kau kelak menjadi seorang yang makmur hidupmu. Di sana terdapat sebuah surat wasiat peninggalan Lie Cu Seng. Kalau bisa kita dapatkan......."

Yan Bu tidak berani membantah lagi dan berangkatlah ibu dan anak ini menuju ke Min-san.

Karena mengkhawatirkan keselamatan ibunya, Yan Bu membuat sebuah kereta dorong dan membujuk ibunya suka duduk di kereta itu yang selalu didorongnya tanpa mengenal bosan dan lelah.

Jarang memang mencari seorang pemuda yang begitu berbakti seperti Yan Bu.

Demikianlah, sudah diceritakan betapa anak dan ibunya ini di jalan bertemu dengan Cia Han Sin dan Cia Bi Eng.

Ang-jiu Toanio tercengang melihat persamaan wajah antara pemuda yang membawa monyet itu dengan Cia Sun.

Akan tetapi setelah melihat cara berjalan pemuda itu menunjukkan bahwa pemuda itu adalah seorang pemuda dusun yang tidak mengerti ilmu silat, kecurigaannya lenyap dan ia melanjutkan perjalanannya dengan puteranya, mendaki puncak Min-san.

Dapat mendorong kereta ibunya mendaki puncak Min-san ini saja sudah membuktikan bahwa ilmu kepandaian Yan Bu memang sudah mencapai tingkat tinggi.

Ginkangnya amat mengagumkan sehingga dalam melalui batu dan jurang, ia dapat melompatinya sambil masih mendorong kereta!

Dan hebatnya, semua ini ia lakukan dengan senyum dan wajah berseri, sedikitpun tidak pernah mengeluh.

Ang-jiu Toanio agaknya tidak perdulikan kelelahan puteranya, malah melengut dalam kereta.

Ketika membuka mata dan melihat bahwa mereka sudah tiba di daerah berbatu di sekeliling puncak dan atap rumah gedung keluarga Cia sudah tampak, wanita ini membuka lebar-lebar matanya dan berseru.

"Cepatlah, Yan Bu, cepat! Aku sudah ingin sekali bertemu dengan adikmu!"

Tentu saja Yan Bu terheran-heran mendengar ucapan ibunya ini. Pernah ibunya bercerita kepadanya bahwa adik perempuannya yang masih bayi dirampas oleh Kalisang dan hendak dijadikan makanan harimau.

"Ibu, apa Kalisang penjahat itu berada di rumah itu?"

Tanyanya penuh gairah. Ingin ia membalas dendam kepada orang Mongol jahat yang sudah merampas adiknya itu. Ang-jiu Toanio agaknya sadar bahwa ia tadi telah bicara tanpa dipikir lagi.

"Cepatlah dan jangan banyak bertanya."

Tak lama kemudian mereka tiba di depan rumah gedung itu.

Dua orang pelayan laki-laki tua yang sedang sibuk mengangkut-angkuti barang dari gedung itu, menyambut kedatangan mereka.

Dua orang pelayan ini adalah pelayan keluarga Cia dan mereka memenuhi pesan Han Sin, mengangkuti barang-barang yang berada di gedung.

Barang-barang itu tidak banyak karena sebagian besar sudah dijuali untuk biaya hidup keluarga itu selama uwak Lui memelihara kedua orang anak keluarga Cia.

Karena tidak betah lagi tinggal di puncak tanpa kawan, dua orang pelayan itu hendak membawa semua sisa barang turun gunung dan hidup di dusun.

Melihat datangnya seorang wanita tua bersama seorang pemuda, dua orang pelayan itu segera menyambut dengan heran.

Akan tetapi belum juga mereka membuka mulut, Ang-jiu Toanio sudah melompat ke depan mereka dan membentak.

"Di mana adanya anak-anak dari keluarga Cia?"

Dua orang pelayan itu tentu saja tidak senang melihat sikap tidak tahu aturan dari tamu ini, akan tetapi mereka sudah cukup lama ikut keluarga Cia dan sudah banyak melihat orang-orang kang-ouw yang aneh.

Seorang di antara mereka yang tak dapat mengendalikan kemendongkolan hatinya menjawab.

"Mereka sudah tiga hari ini turun gunung. Toanio mencari mereka mau apakah?"

Tangan kiri Ang-jiu Toanio bergerak dan pelayan itu sudah dicengkeram bajunya di bagian dada.

"Banyak cerewet! Hayo katakan mereka pergi ke mana?"

Pelayan itu makin penasaran.

"Toanio mengapa begini tidak tahu aturan? Kongcu dan Siocia sudah pergi, mana aku tahu ke mana?"

"Keparat, kau berani bicara begini terhadap aku?"

Tangan kanan Ang-jiu Toanio menampar.

"Ibu....!"

Yan Bu mencegah namun terlambat. Terdengar suara "plak!"

Disusul jerit mengerikan dan pelayan itu terlempar dan roboh tak bernyawa lagi.

Di kepala bagian pelipisnya nampak tanda tapak lima jari tangan merah.

Dua orang pelayan itu sudah berpuluh tahun ikut Cia Sun, setidaknya mereka telah kenal akan kegagahan dan menerima pula warisan sifat gagah dari majikan mereka.

Pelayan yang seorang lagi melihat kawannya dibunuh, segera maju dan menudingkan telunjuknya.

"Menggunakan kepandaian untuk menindas pelayan-pelayan lemah, sungguh tak tahu malu!"

Melihat sikap pelayan ke dua ini, Ang-jiu Toanio makin marah dan ia sudah bergerak maju. Akan tetapi Yan Bu memegang lengan ibunya.

"IBU, sabarlah, ibu ingat, kemarahan tidak baik bagi kesehatanmu."

Baru saja Yan Bu berkata demikian, Ang-jiu Toanio sudah terhuyung-huyung sambil menekan dada kirinya.

Memang tadi dalam kemarahannya ia lupa akan pantangannya, maka tiba-tiba ia merasa dada kirinya sakit sekali.

Cepat-cepat Yan Bu memondong ibunya dan mendudukkannya ke dalam kereta.

Pemuda yang berbakti ini lalu mengurut-urut punggung ibunya sehingga keadaan Ang-jiu Toanio berangsur baik.

"Kau tanyai dia, ke mana perginya anak-anak keluarga Cia,"

Kata nyonya itu sambil terengah-engah. Yan Bu menghampiri pelayan ke dua yang memandang kejadian itu dengan heran.

"Toapek, harap kau sudi memaafkan ibuku yang sedang marah. Kami perlu sekali mencari anak-anak keluarga Cia. Harap kau sudi memberi keterangan ke manakah gerangan perginya kongcu dan Siocia keluarga Cia."

Pelayan itu tadinya sudah nekat dan bersedia dibunuh oleh nyonya galak itu menyusul kawannya, sekarang menghadapi pemuda yang demikian berbakti dan sopan, ia menarik napas panjang.

"Kawanku ini memang berkata benar. Kami mana tahu ke mana perginya kongcu dan Siocia? Mereka hanya bilang hendak turun gunung tidak kembali lagi, mereka baru tiga hari pergi bersama Siauw-ong."

Yan Bu membelalakkan matanya.

"Kau maksudkan Siauw-ong itu seekor monyet kecil?"

"Betul, betul..... bagaimana kongcu bisa tahu?"

Akan tetapi Yan Bu sudah lari kepada ibunya.

"Ah, ibu. Ternyata merekalah anak-anak keluarga Cia!"

Serunya.

"Mereka siapa?"

"Dua orang yang kemaren dulu kita jumpai di jalan, yang membawa monyet."

Mulut Ang-jiu Toanio celangap.

"Apa.....? Mereka.....??"

Ia teringat betapa wajah pemuda yang menggendong monyet itu sama benar dengan Cia Sun. Akan tetapi gadis itu.... dan cara mereka berjalan.....

"Yan Bu, ayoh kejar mereka!"

Katanya kemudian dan di lain saat, pemuda itu sudah mendorong kereta dan cepat berlari menghilang dari puncak, diikuti pandang mata terheran-heran oleh pelayan yang kemudian dengan sedih terpaksa merawat mayat kawannya yang terbunuh secara mengerikan.

Sambil mencangkul tanah membuat kuburan, mulutnya tiada hentinya bicara seorang diri.

"Keji....! Sungguh kejam orang-orang kang-ouw yang pandai silat. Semoga kongcu dan Siocia diselamatkan dari pada kekejaman mereka...."

Doa dari pelayan ini memang perlu sekali bagi Han Sin dan Bi Eng, karena memang dua orang muda ini turun gunung untuk menghadapi bahaya yang selalu mengancam keselamatan mereka.

Mereka ini boleh diumpamakan dua ekor burung muda yang baru saja meninggalkan sarang, baru belajar terbang dan tidak tahu dari mana kemungkinan datangnya bahaya, belum mengenal apa-apa dan belum tahu bahwa dibalik segala keindahan yang mereka lihat bersembunyi bahaya-bahaya maut yang selalu mengintai.

Beberapa hari kemudian setelah menuruni puncak Min-san, dua orang kakak beradik ini terhalang perjalanan mereka oleh sebatang sungai yang jernih airnya.

Inilah sungai Cia-leng yang mengalir ke selatan untuk kemudian menggabungkan airnya dengan sungai Yang-ce-kiang yang besar.

Karena tidak pandai berenang dan di situ amat sunyi tidak tampak sebuahpun perahu, terpaksa Han Sin dan Bi Eng lalu membuat alat penyeberang dengan batang-batang bambu yang mereka jajar-jajar dan ikat dengan akar-akar pohon.

Dengan hati-hati mereka lalu menggunakan getek atau rakit istimewa ini untuk menyeberangi sungai yang tenang airnya dan jernih itu.

Siauw-ong amat gembira melihat banyak ikan-ikan berenang di dekat perahu.

Beberapa kali ia menyambar dengan tangannya, mengira ikan-ikan itu dekat, akan tetapi sebetulnya jauh di bawah sehingga selalu ia hanya menangkap air saja.

Akhirnya Siauw-ong menjadi marah dan terjun ke air!

"Siauw-ong, hati-hati.....!"

Kata Bi Eng cemas.

"Jangan khawatir, dia pandai berenang. Lihat!"

Kata Han Sin.

Betul saja.

Monyet kecil itu ternyata pandai menyelam, malah ketika ia muncul kembali, di kedua tangannya sudah mencengkeram empat ekor ikan yang menggelepar-gelepar.

Bi Eng bersorak girang.

"Bagus, Siauw-ong. Kau hebat sekali!"

Cepat ia menerima ikan itu dan terus menggunakan sebatang pisau kecil yang dibawahnya untuk membelek perut ikan dan membersihkannya.

Setelah mereka tiba di seberang, Bi Eng lalu memanggang empat ekor ikan itu tanpa bumbu apa-apa.

Akan tetapi baunya amat sedap dan menimbulkan selera.

Siauw-ong sudah tidak sabar dan beberapa kali hendak menyambar ikan di pemanggangan kalau saja tidak dibentak oleh Bi Eng.

Setelah ikan-ikan itu matang, mereka bertiga makan ikan panggang dengan enaknya.

Perjalanan mereka tidak mudah, akan tetapi hati mereka selalu gembira.

Tentang makanan, mereka tidak kuatir.

Kalau ada orang menjual makanan, mereka cukup membawa bekal sekantung emas peninggalan uwak Lui, hasil dari penjualan sebagian barang perhiasan.

Seandainya kehabisan bekal, Bi Eng masih menyimpan hiasan rambut dari batu kemala dan dua buah gelang emas bertabur intan peninggalan ibunya.

Kalau tidak ada dusun, mereka sudah puas makan buah-buahan atau Bi Eng menangkap binatang-binatang kecil seperti kijang atau kelinci dengan menggunakan batu-batu yang ia sambitkan.

Kepandaiannya dalam menyambit dengan batu cukup tinggi berkat kekuatan lweekangnya.

Empat pekan kemudian Han Sin dan Bi Eng tiba di kaki sebuah bukit yang kelihatannya menyeramkan.

Kaki bukit itu, berbeda dengan gunung-gunung lainnya, amat sunyi tidak ada dusunnya.

Di puncaknya kelihatan hutan-hutan besar yang menyeramkan, akan tetapi di antara pohon-pohon kelihatan atap rumah-rumah besar, bahkan tampak pula pagar tembok seperti benteng.

"Koko. Lihat. Ada orang-orang lain yang mempunyai rumah di puncak gunung seperti kita. Mari kita lihat ke sana!"

"Rumah di puncak gunung saja apa sih anehnya, moi-moi. Perjalanan kita masih jauh. Akan tetapi untuk menuju ke timur, terpaksa kita harus melalui bukit ini. Baiknya kita mencari jalan lain supaya tidak melalui rumah-rumah di atas itu."

Bukit yang menghalang perjalanan mereka itu adalah bukit Cin-ling-san.

Dan orang-orang yang tinggal di puncak Cin-ling-san bukanlah orang-orang sembarangan.

Mereka itu adalah tosu-tosu dari Cin-ling-pai, sebuah partai yang cukup besar, mempunyai banyak anggauta dan kuat kedudukannya.

Memang, sebelum kerajaan Beng roboh, ketidak puasan rakyat dan orang-orang gagah menimbulkan banyak pemberontakan dan di sana sini tumbuh perkumpulan-perkumpulan rahasia yang dibentuk oleh orang-orang gagah di dunia kang-ouw.

Yang terkenal di antaranya adalah Cin-ling-pai, Pek-lian-pai, Sin-tung Kai-pang dan masih banyak perkumpulan-perkumpulan lain.

Cin-ling-pai adalah perkumpulan rahasia yang terdiri dari tosu-tosu pemeluk aliran Im-yang-kauw.

Cin-ling-pai ini diketuai oleh seorang tosu tua yang terkenal sebagai seorang ciang-bun-jin yang cakap mengatur perkumpulan sehingga semua anak buahnya amat berdisiplin dan taat, bernama Giok Thian Cin Cu, seorang kakek ahli kebatinan yang sudah berusia enam puluh tahun lebih namun masih nampak muda dan sehat.

Giok Thian Cin Cu tidak pelit dalam kepandaian silatnya.

Dia menurunkan ilmu silatnya kepada para anggauta Cin-ling-pai sehingga para tosu Cin-ling-pai terkenal amat lihai.

Tentu saja kedudukan para tosu itu disesuaikan dengan tingkat kepandaian mereka yang juga merupakan tingkat kedudukan mereka sebagai murid Giok Thian Cin Cu.

Ada murid kepala, murid dalam dan murid luar.

Murid dalam adalah mereka yang secara langsung dilatih oleh Giok Thian Cin Cu sendiri sedangkan murid luar adalah para tosu yang dilatih oleh murid-murid kepala.

Betapapun juga tidak ada seorang tosu anggauta Cin-ling-pai yang tidak berkepandaian tinggi!

Karena kedudukan yang amat kuat inilah maka setelah kerajaan bangsa Boan (Mancu) berdiri, yaitu kerajaan Ceng, kerajaan baru inipun tidak berani mengganggu Cin-ling-pai.

Partai-partai atau perkumpulan-perkumpulan rahasia gurem (yang kecil-kecil) sudah dibasmi oleh bala tentara Mancu, akan tetapi mereka tidak berani mengganggu Cin-ling-pai, malah dengan secara pandai sekali pembesar-pembesar Ceng mendekati dan membaiki Cin-ling-pai untuk sedapat mungkin menarik mereka ini menjadi pembantu atau setidaknya pendukung pemerintah baru.

Giok Thian Cin Cu cukup maklum kerajaan baru ini amat kuat dan tidak mungkin dilawan, maka ia memberi perintah kepada anak muridnya agar jangan membuat ribut dan memancing permusuhan dengan pemerintah.

Akan tetapi bagaimanapun juga, tosu tua ini berpesan dengan keras agar anak muridnya, jangan sekali-kali membantu pemerintah baru dan biarlah perkumpulan hidup menyendiri, jangan sampai diperalat oleh pemerintah penjajah.

Sikap Giok Thian Cin Cu ini sama benar dengan sikap banyak partai besar yang tidak diganggu oleh pemerintah Ceng.

Oleh karena ini, pemerintah Mancu lalu mencari akal, menggunakan siasat adu domba di antara partai besar ini agar kedudukan mereka menjadi lemah.

Pelbagai cara dan tipu muslihat licin dijalankan untuk membakar api permusuhan di antara mereka agar siasat adu domba ini berhasil baik.

Pada waktu Han Sin dan Bi Eng tiba di kaki gunung Cin-ling-san, keadaan di antara partai-partai besar sudah mulai genting dan panas.

Malah partai Cin-ling-pai sudah menaruh curiga terhadap partai-partai lain yang disangkanya berkhianat dan membantu pemerintah Ceng.

Penjagaan markas mereka diperkuat dan mereka semua sudah siap siaga menghadapi pertempuran dengan siapapun juga yang dianggap mengganggu dan merupakan ancaman bagi pendirian Cin-ling-pai.

Tentu saja gerak-gerik Han Sin dan Bi Eng di kaki gunung sudah diketahui oleh tosu-tosu Cin-ling-pai dan menarik perhatian mereka.

Kehati-hatian Han Sin yang mencari jalan lain untuk melewati gunung itu malah mendatangkan curiga kepada para tosu penjaga.

Kalau saja Han Sin menurut kehendak Bi Eng dan langsung naik ke gunung itu lalu menyatakan maksudnya hendak melewati gunung, kiranya para tosu malah tidak menaruh curiga dan tidak akan mengganggu.

Akan tetapi ketika melihat betapa dua orang muda bersama seekor monyet kecil itu mencari jalan yang sunyi dan menjauhi bangunan rumah-rumah Cin-ling-pai, mereka menjadi bercuriga sekali dan mengira bahwa dua orang muda itu memata-matai dan menyelidiki keadaan Cin-ling-pai.

Betapa heran dan kagetnya hati Han Sin dan Bi Eng ketika mereka sedang mendaki bukit itu melalui jalan hutan yang kecil, tiba-tiba dari depan mendatangi tosu-tosu dalam barisan yang teratur rapi.

Sikap para tosu itu keren sekali dan mereka menghadang perjalanan Han Sin dan Bi Eng.

Di depan sendiri berdiri tiga orang tosu yang rambutnya digelung menjadi lima dan paling belakang berdiri belasan orang tosu, berjajar seperti pasukan.

Mereka ini mempunyai gelung kecil-kecil dan banyak, ada yang tujuh ada yang delapan sehingga mereka kelihatan lucu.

Bi Eng tertawa, tak tertahankan lagi geli hatinya melihat kepala tosu-tosu itu demikian aneh gelungnya.

"Heran, kenapa gelung rambut mereka begitu banyak?"

Katanya di antara tawa.

"Bi Eng, jangan bicara sembarangan."

Han Sin mencegah adiknya, akan tetapi karena Bi Eng bicara dengan keras, semua tosu mendengarnya dan mendelik kepadanya.

Bi Eng dan Han Sin tentu saja tidak tahu bahwa gelung-gelung itu merupakan tanda kedudukan para tosu Cin-ling-pai.

Banyaknya gelung menunjukkan tinggi rendahnya kedudukan.

Tosu bergelung tujuh adalah murid-murid tingkat ke tujuh, yang bergelung lima adalah murid-murid tingkat ke lima dan begitu seterusnya.

Makin sedikit gelungnya makin tinggi tingkatnya dan tiga orang tosu paling depan adalah murid-murid tingkat empat, termasuk murid-murid "luar"

Yang paling tinggi tingkatnya. Hanya tosu gelung tiga, dua, dan satu adalah murid-murid "dalam"

Atau murid langsung dari Giok Thian Cin Cu.

"Eh, orang-orang muda, siapa kalian dan mengapa lancang mengambil jalan ini tanpa minta perkenan dari kami lebih dulu?"

Tanya seorang di antara tiga tosu gelung empat itu, yang mukanya burik (bopeng).

Pertanyaan ini diajukan dengan sikap memandang rendah dan tanpa sopan santu.

Han Sin menerimanya dengan tenang-tenang saja akan tetapi tidak demikian dengan Bi Eng.

Dengan mata bersinar marah gadis ini menjawab.

"Kalian ini berpakaian seperti pendeta tapi bersikap seperti perampok, mau apakah menghadang perjalanan kami? Orang lewat di gunung ini harus minta perkenan darimu, apakah kalian ini termasuk setan-setan penjaga gunung?"

"Eng-moi....!"

Han Sin menegur adiknya yang surut kembali ketika ditegur oleh kakaknya. Bi Eng bersungut-sungut dan membela diri.

"Biarlah Sin-ko. Sikap mereka kurang ajar dan keterlaluan, dikiranya aku takut kepada mereka? Cih!"

Sementara itu, Siauw-ong yang melihat sikap Bi Eng memusuhi para tosu itu, tentu saja membela nonanya.

Ia dari pundak Han Sin lalu membuat panas hati para tosu itu dengan ejekan-ejekan, menyengir-nyengir mencebi-cebi dan kedua tangannya dikepal dan diacung-acungkan seperti orang menantang berkelahi!

"Eng-moi, biar orang berlaku kasar kepada kita, jangan membalas dengan kekerasan.

Biar orang menyerang kita, kita jangan menggunakan kekerasan,"

Han Sin menegur adiknya yang tunduk terhadap peringatan kakaknya ini, biarpun hatinya mendongkol bukan main terhadap tosu-tosu itu.

Adapun para tosu itu yang biasanya amat ditakuti dan disegani orang, ketika melihat sikap Bi Eng dan monyet kecil, menjadi marah.

Bala tentara kaisar asing masih menaruh hormat dan segan kepada mereka, masa bocah perempuan ini berani bersikap galak?

Datang-datang mereka dimaki perampok dan setan penjaga gunung, tentu saja para tosu menjadi marah dan memandang dengan mata mendelik.

"Suheng, biar siauwte menangkap bocah-bocah gunung ini, tentu mereka ini mata-mata partai lain yang sengaja hendak menyelidik dan mencari perkara!"

Berkata dua orang tosu gelung lima yang melompat maju.

Ketika tosu-tosu gelung empat mengangguk, dua orang tosu gelung lima yang bertubuh gemuk-gemuk ini melangkah lebar menghampiri Han Sin dan Bi Eng, lalu menudingkan telunjuk mereka yang besar.

Seorang di antara mereka membentak.

"Kalau orang baik-baik, lekas berlutut minta maaf atas kelancangan kalian, terangkan nama dan tujuan!"

Bi Eng hampir tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi.

Siauw-ong yang melihat sinar mata nonanya, maklum bahwa ia berhadapan dengan musuh-musuh, maka sambil mengeluarkan suara pekik dahsyat monyet kecil ini melompat maju.

Cepat bukan main gerakannya sehingga di lain saat ia telah menangkap lengan yang diacungkan itu dan menggigit telunjuk yang menuding.

"Auuu.... aduuuuhh...! Tosu gemuk yang digigit telunjuknya itu marah sekali dan tangan kirinya dikepal terus menghantam kepala monyet kecil itu. Akan tetapi Siauw-ong bukanlah sembarang monyet. Jelek-jelek iapun "murid"

Ciu-ong Mo-kai maka begitu kepalan menyambar, ia telah berpindah ke pundak tosu yang kedua.

Sebelum tosu ini tahu apa yang terjadi, rambutnya sudah dijambak-jambak dan gelungnya yang lima buah banyaknya itu terlepas dan awut-awutan!

Lebih celaka lagi, kuku-kuku tangan Siauw-ong mencakar dan berdarahlah telinganya.

"Binatang jahat!"

Seru mereka berdua dan dengan pukulan-pukulan berat mereka menyerang monyet itu.

Siauw-ong berlompatan ke sana ke mari sambil menyeringai dan mengejek.

Ketika monyet itu meloncat turun ke atas tanah, payah juga kedua orang tosu itu mengejar dalam usaha mereka memukul dan menangkap, karena mereka harus membungkuk-bungkuk dan tubuh yang gemuk itu betul-betul membuat gerakan mereka kurang leluasa.

Siauw-ong memiliki gerakan yang amat cepat dan lincah.

Monyet ini menari-nari dan mulai menggunakan pukulan-pukulan ilmu silat yang aneh karena ilmu silat yang ia tiru-tiru dari Bi Eng itu bercampur dengan gerakan asli monyet itu.

Namun harus diakui kehebatannya karena berkali-kali ia telah dapat menampar, menendang, mencakar bahkan menggigit pakaian dua orang tosu itu sampai robek-robek.

Bi Eng tak dapat menahan kegembiraan hatinya.

Gadis itu tertawa-tawa terkekeh sambil bertepuk-tepuk tangan.

"Bagus, Siauw-ong, bagus! Cakar mukanya, pukul perutnya yang gendut-gendut itu. Hi hi hi!"

"Siauw-ong, mundur!"

Bentakan Han Sin ini ternyata berpengaruh sekali karena sambil cecowetan takut Siauw-ong lalu meloncat ke atas pundak Han Sin. Bi Eng kecewa.

"Koko, mengapa tidak biarkan Siauw-ong menghajar mereka? Agaknya orang-orang macam inilah yang dikatakan orang-orang jahat oleh suhu."

"Diamlah, adikku, biar aku yang menghadapi mereka,"

Kata Han Sin yang melangkah maju dan menjura kepada dua orang tosu yang masih mencak-mencak saking marahnya.

Tubuh mereka sakit-sakit, kulit lecet-lecet karena cakaran Siauw-ong dan pakaian mereka robek-robek sedangkan rambut awut-awutan.

Han Sin menjura dan berkata.

"Harap cuwi taisu memaafkan monyetku ini dan maklum bahwa monyet tentu saja tidak sesopan manusia."

Kata-kata ini keluar dari hati jujur tanpa terkandung sesuatu, namun para tosu itu mengira Han Sin mengejek mereka dan memaki mereka menyatakan bahwa mereka sebagai manusia-manusia juga tidak sopan seperti monyet.

"Eh, bocah-bocah kurang ajar. Kalian berani main gila terhadap tosu-tosu Cin-ling-pai? Ayoh lekas berlutut minta ampun, baru kami masih pikir-pikir untuk meringankan hukumanmu,"

Kata tosu yang mukanya bopeng.

Biarpun Han Sin seorang pemuda aneh yang amat sabar dan rendah hati namun ia keturunan orang gagah dan dalam pelajaran-pelajaran di kitabnya terdapat pantangan untuk orang berlaku merendah dan menjilat.

Bagaimana ia bisa berlutut minta ampun tanpa kesalahan?

Hal serendah dan sehina ini tentu saja tak mungkin ia mau melakukan.

Hanya orang bersalah yang wajib minta ampun terhadap siapapun juga.

Selagi ia ragu-ragu, Bi Eng mendamprat tosu itu.

"Pendeta bopeng! Terhadap manusia macam kau, mana bisa kakakku berlutut minta ampun? Kami tidak bersalah apa-apa, kalian yang sengaja menghadang perjalanan kami. Ayoh, minggir dan biarkan kami meneruskan perjalanan kalau kalian memang tidak mempunyai niat busuk."

"Bocah bermulut lancang! Kalau tidak mau minta ampun, terpaksa pinto menggunakan kekerasan menangkap kalian!"

Si tosu bopeng lalu mengulur tangan hendak mencengkeram pundak Bi Eng.

Akan tetapi sambil mengeluarkan suara tertawa mengejek, Bi Eng mengelak dan begitu kaki kirinya yang kecil bergerak, ujung sepatunya yang keras telah mencium tulang kering tosu itu, mengeluarkan bunyi "tak!"

Yang keras.

Tosu Bopeng itu megap-megap menahan sakit sambil berjingkrak dengan sebelah kaki.

Tulang keringnya retak terkena tendangan tadi, sakitnya bukan alang kepalang, sampai menusuk ke jantung.

Kawannya, tosu bergelung lima yang kedua, marah sekali.

"Berani kau merobohkan tosu Cin-ling-pai?"

Katanya sambil menubruk maju dengan sikap beringas.

Han Sin kuatir sekali melihat ini, takut kalau adiknya mengalami celaka.

Mana adiknya bisa menang menghadapi tosu yang begini galak dan beringas?

"Harap taisu jangan celakai adikku....!"

Katanya memohon sambil mengangkat tangan untuk menahan serangan tosu itu.

Tosu kedua yang botak kepalanya dan empat gelungnya amat kecil-kecil karena rambutnya hanya sedikit ini, maka ia robah cengkeramannya ke arah Bi Eng dan memukul lengan pemuda itu untuk merobohkannya.

"Plakk....!"

Aneh sekali.

Tosu yang bergelung empat ini, begitu tangannya bertemu dengan lengan Han Sin yang diangkat untuk mencegahnya menyerang Bi Eng, tiba-tiba menjerit, tubuhnya terpental dan ia roboh dengan tulang lengannya patah!

Ia menyeringai kesakitan dan memandang kepada Han Sin dengan heran dan terkejut sekali.

Bi Eng tidak tahu bahwa tosu itu roboh oleh tangkisan kakaknya.

Ia terkejut sekali melihat Han Sin maju, takut kalau kakaknya terluka.

Maka ia lalu menerjang maju dan berkata keras.

"Tosu-tosu bau! Jangan ganggu kakakku yang tidak bisa ilmu silat. Kalau mau berkelahi, lawanlah aku!"

Siauw-ong yang melihat sikap nonanya ini lalu melompat turun dan berdiri di dekat Bi Eng sambil angkat dada, lalu tangan kanannya menepuk-nepuk dadanya dengan sikap menantang sekali.

Semua tosu mengira bahwa robohnya tosu gelung empat tadi karena serangan gelap dari Bi Eng, malah si tosu sendiri mulai ragu-ragu apakah betul ia roboh dan patah lengannya oleh pemuda lemah itu.

Apa lagi ketika semua tosu melihat betapa dalam usahanya mencegah Bi Eng, Han Sin maju tergesa-gesa sampai kakinya tersandung batu yang membuat ia jatuh terjungkal!

Bi Eng menjerit, menghampiri kakaknya.

"Koko, kau jatuh? Sakitkah?"

Dengan muka merah Han Sin merayap bangun sambil menggeleng kepalanya.

"Tidak apa-apa, moi-moi. Janganlah kau mencari perkara dengan para taisu ini....."

Sementara itu, para tosu Cin-ling-pai sudah memuncak marahnya.

Dua orang tosu gelung lima sudah dihina seekor monyet, dua orang tosu gelung empat sudah dikalahkan oleh seorang gadis cilik, kemana mereka harus menaruh muka kalau tidak bisa membalas kekalahan ini?

Tosu tingkat rendahan tidak berani lancang maju, hanya memperlihatkan sikap waspada dan mengurung, sedangkan tosu gelung lima yang masih ada tiga orang bersama seorang tosu gelung empat, maju bersama, sikapnya mengancam.

Di pihak Bi Eng, nona inipun berdiri dengan sikap gagah, memasang kuda-kuda dan di sebelahnya, Siauw-ong juga memasang kuda-kuda sambil meringis-ringis memperlihatkan giginya yang runcing!

Han Sin menarik napas panjang pendek, tidak berdaya mencegah pertempuran yang akan terjadi ini.

Ia amat kuatir, apa lagi ketika melihat empat orang tosu itu tiba-tiba mencabut pedang dari punggung mereka.

"Cih, tak tahu malu!"

Bi Eng memaki dengan suara menyindir.

"Empat orang tosu tua bangka hendak mengeroyok, malah menggunakan senjata tajam. Gagah amat!"

Memang sengaja ia menyindir karena diam-diam ia bingung juga melihat empat orang lawan hendak mengeroyoknya dengan pedang di tangan, biarpun di dalam hatinya sama sekali ia tidak takut.

Mendengar ini, empat orang tosu itu saling pandang dengan muka merah.

Mereka jadi tidak berani maju, karena memang amat memalukan kalau empat orang tosu Cin-ling-pai yang sudah terkenal gagah perkasa harus maju mengeroyok seorang gadis cilik yang bertangan kosong.

"Suheng, biar siauwte menghajarnya!"

Kata tosu gelung lima sambil melangkah maju.

Akan tetapi baru saja ia maju, Siauw-ong sudah menyerangnya dengan cakaran dan gigitan, bukan sembarangan melainkan dengan gerakan teratur, gerakan yang dipengaruhi gerakan-gerakan ilmu silat!

"Binatang ini harus dimampuskan dulu!"

Seru tosu gelung lima itu dan pedangnya kini berkelebatan menyambar, menghujankan serangan kepada tubuh monyet yang kecil itu.

Akan tetapi Siauw-ong gesit luar biasa.

Setelah tosu Cin-ling-pai ini memegang pedang, memang ia hebat sekali.

Kepandaian khas dari para tosu Cin-ling-pai memang dalam penggunaan pedang yang menjadi senjata khusus ketua mereka Giok Thian Cin Cu.

Maka menghadapi sambaran pedang yang berputar-putar dan berkelebatan seperti kilat menyambar-nyambar itu, Siauw-ong menjadi kecil hatinya, tidak dapat menyerang kembali.

Akan tetapi, bagi tosu itupun merupakan hal yang luar biasa sukarnya untuk mengenai tubuh si monyet.

Bukan main lincahnya, meloncat ke sana ke mari dan selalu bacokan-bacokan dan tusukan-tusukan hanya mengenai angin belaka!

Ini masih belum seberapa kalau si monyet tidak mengeluarkan suara seperti orang mentertawakan dan mengejek.

Tosu gelung lima itu menjadi makin marah, seperti bernyala api sinar matanya, berbusa mulutnya dalam nafsu besarnya untuk mencacah-cacah tubuh monyet nakal ini.

Si tosu sudah senen-kemis napasnya karena selalu ia membacok dan menusuk angin.

Juga Siauw-ong nampak lelah biarpun gerakan-gerakannya tidak menjadi lambat.

Hal ini amat mencemaskan hati Bi Eng.

Biarpun ia harus mengakui bahwa ilmu pedang tosu itu lihai, namun setelah melihat tosu itu menyerang Siauw-ong, dalam hati kecilnya ia sanggup menghadapi tosu ini dengan kosong saja.

Ia dapat mengelak selincah Siauw-ong untuk menghindarkan diri dari hujan senjata dan di samping ini, tidak seperti Siauw-ong, ia melihat kesempatan-kesempatan dan lowongan-lowongan untuk menyerang kembali.

"Siauw-ong, mundurlah!"

Serunya kepada monyet itu yang cepat melompat ke belakang, langsung naik ke pundak Han Sin sambil meleletkan lidah dan memanjangkan hidungnya kepada tosu tadi.

Beberapa orang tosu di belakang menahan ketawa mereka.

Betapapun gemas dan mendongkol hati mereka, didalam hati mereka geli juga melihat kenakalan monyet yang ternyata amat lihai itu.

Masa suheng mereka yang bertingkat lima tidak mampu mmbacok leher monyet dalam puluhan jurus tadi?

Benar-benar aneh sekali.

Padahal, suheng mereka itu menghadapi seekor harimau ganas sekalipun, pedangnya tentu akan dapat membunuh harimau itu tidak lebih dari dua puluh jurus.

Tosu itu biarpun napasnya sudah senen-kemis, akan tetapi saking marahnya dipermainkan oleh monyet itu, begitu melihat Bi Eng, maju, ia lalu menyerang dengan tusukan yang ganas.

"Moi-moi, awas!"

Han Sin berteriak ngeri.

Namun gerakan Bi Eng tidak kalah gesitnya oleh Siauw-ong.

Ia dengan mudah mengelak.

Tosu itu kini tidak mau gagal lagi, ia menggerakkan pedang cepat sekali dan mengirim serangan bertubi-tubi.

Kini para tosu melihat hal yang aneh dan lucu.

Gadis cantik jelita itu mulai berloncat-loncatan, persis seperti gerakan-gerakan monyet cilik tadi, begitu cepat, begitu lucu dan selalu dapat menghindarkan ancaman pedang!

Tidak seperti Siauw-ong tadi yang hanya bisa mengelak tanpa dapat membalas menyerang.

Bi Eng sekarang mempergunakan setiap lowongan untuk balas menyerang lawannya sehingga tosu itu makin sibuk dan serangan-serangannya mengendur.

"Sute, lepaskan pedangmu. Mari kubantu kau menangkap gadis liar ini!"

Seru tosu gelung empat yang menjadi penasaran sekali melihat bahwa sutenya ini tak lama lagi tentu akan dirobohkan gadis cilik itu.

Ia teringat bahwa andaikata sutenya dapat merobohkan gadis cilik itu yang bertangan kosong, hal ini tidak akan mengharumkan nama Cin-ling-pai yang sudah terkenal.

Maka lebih baik menangkap gadis ini dan kakaknya untuk diseret kepada suhu-suhu mereka dan menanti keputusan.

Asal dapat menangkap mereka berdua dan monyet itu, sudah tertebuslah kekalahan-kekalahan tadi dan nama baik Cin-ling-pai takkan tercemar.

Tosu gelung lima itu girang sekali mendengar suhengnya hendak membantu.

Ia lalu menyimpan pedangnya dan melompat ke belakang sambil terengah-engah.

"Biar kuganti kau, sute!"

Kata seorang kawannya, tosu gelung lima lain lagi yang maju mengawani si tosu gelang empat.

Dua orang tosu ini tanpa banyak cakap lalu menyerbu dan berusaha menangkap atau menotok jalan darah Bi Eng.

Bi Eng mengelak cepat dan serangan-serangan ini dan ia menjadi terdesak.

Tingkat kepandaian tosu-tosu itu sebetulnya sudah amat tinggi dan Bi Eng baru belajar silat dua tahun saja, mana dia bisa melawan mereka?

Hanya karena semenjak kecil ia belajar menari-nari dengan monyet yang gesit maka ia memiliki kegesitan luar biasa, ditambah lagi biarpun hanya belajar dua tahun namun ia belajar langsung dari tangan seorang sakti seperti Ciu-ong Mo-kai, maka tadi ia dapat menghadapi pedang tosu tingkat lima dan empat, gadis ini benar-benar hanya dapat mengelak dan berloncatan ke sana ke mari menggunakan kegesitannya dalam tari monyet, sama sekali tidak mampu membalas serangan lawan.

Tiba-tiba terdengar suara Han Sin yang membuat gadis itu girang sekali.

"Eng-moi, Pek-in-koan-goat (Awan Putih Tutup Bulan) ke kiri!"

Setelah mendengar seruan ini, barulah terbuka mata Bi Eng dan secara membuta ia lalu melakukan gerakan yang disebutkan oleh kakaknya itu.

Dua orang tosu itu terkejut sekali karena tiba-tiba gerakan Bi Eng berubah dan tahu-tahu telah menyerang mereka dengan dahsyat.

Mereka terpaksa mengelak sambil melompat mundur, baru berani menyerang lagi dari kanan kiri.

"Hui-in-ci-tiam (Awan Terbang Keluarkan Kilat)!"

Lagi-lagi Han Sin berseru sambil memandang pertempuran itu dengan penuh perhatian.

"In-mo-sam-bu (Payung Awan Tiga Kali Menari)!"

Seruan-seruan ini adalah gerak tipu yang paling tepat untuk dimainkan dalam keadaan seperti Bi Eng.

Han Sin memang tidak pernah melatih diri dengan ilmu silat, akan tetapi ilmu silat Liap-hong Sin-hoat telah ia pelajari teorinya sampai hafal benar, sampai sempurna sehingga ia dapat melihat bagaimana gerak tipu itu harus dimainkan sungguhpun kalau dia sendiri disuruh main, tentu gerakan-gerakan kaki tangannya kaku dan tidak biasa.

Bi Eng percaya penuh kepada kakaknya yang memang ia anggap manusia paling pintar di dunia ini, maka secara membuta ia dengan girang mentaati seruan-seruan itu dan berturut-turut ia mainkan Hui-in-ci-tiam disusul Im-mo-sam-bu yang mempunyai tiga jurus gerakan.

Makin girang hatinya ketika dalam jurus kedua dari gerak tipu ini, jari-jari tangannya telah mengenai sasaran dengan tepat, yaitu di iga kiri tosu gelung lima.

Akan tetapi selama hidupnya Bi Eng belum pernah menotok orang.

Ketika ia berlatih dengan suhunya, yang menjadi korban percobaan ilmu totokannya adalah Siauw-ong dan karena ia kasihan kepada monyetnya, ia selalu hanya menotok urat ketawa monyet itu untuk tidak menyiksanya.

Kini setelah jari-jari tangannya menyentuh kulit tosu itu, ia menjadi jijik dan geli maka otomatis jari tangannya lalu mencari urat ketawa dan di lain saat tosu gelung lima itu berjingkrakan ke belakang sambil memegangi perutnya dan tertawa terpingkal-pingkal.

"Hah hah hah hah heh heh heh heh....!"

Melihat sutenya dipukul lawan, tosu gelung empat kaget dan cepat mendekati sutenya, akan tetapi sutenya itu ternyata tidak luka malah tertawa-tawa seperti orang kemasukan setan.

Ia menepuk pundak sutenya dan membentak.

"Sute, tidak melanjutkan serangan kok malah ketawa-tawa. Bagaimana sih kau ini?"

"He he he.... pinto (aku)....... hah hah hah hah!"

Tosu gelung lima itu terkekeh-kekeh dan bergelak-gelak, tak dapat lagi menahan ketawanya sampai perutnya terasa kaku dan sakit.

Melihat keadaan ini, barulah tosu tingkat empat itu kaget dan maklum bahwa ketawa sutenya ini bukanlah sewajarnya.

Ia mencoba untuk memulihkan jalan darah sutenya, akan tetapi tidak berhasil.

Ilmu totok yang dipergunakan oleh Bi Eng berbeda dengan ilmu totok Cin-ling-pai, maka tosu yang baru bertingkat empat itu tidak sanggup mengobati sutenya.

Sementara itu, Bi Eng dan Siauw-ong berloncat-loncatan saking girangnya melihat hasil pertempuran itu.

Bi Eng girang dan bangga dan Siauw-ong mentertawai tosu yang masih terbahak-bahak dan terkekeh-kekeh sampai keluar air matanya itu.

Han Sin hanya menggeleng-geleng kepalanya dengan kening dikerutkan.

"Eng-moi, kau tidak boleh bertempur lagi,"

Katanya keren.

"Koko, ini merupakan latihan yang baik sekali, bukan?"

Kata Bi Eng girang. Han Sin menggeleng kepalanya.

"Ayoh kau bebaskan dia yang kau totok tadi!"

Perintahnya.

"Totok ia punya in-tai-hiat dan tepuk urat di tengkuknya."

Bi Eng tersenyum mengangguk.

"Aku juga belum lupa cara pembebasannya, koko, akan tetapi baik sekali kau ingatkan agar jangan keliru."

Dengan langkah lebar ia lalu menghampiri tosu gelung lima yang masih terpingkal-pingkal itu. Cepat ia menotok jalan darah in-tai-hiat lalu berkata kepada Siauw-ong.

"Siauw-ong, kau tepuk tengkuknya tiga kali!"

Ia sendiri tidak sudi harus menepuk-nepuk tengkuk tosu itu.

Siauw-ong yang mengikuti nonanya menurut, meloncat dan menepuk tosu itu tiga kali dengan telapak tangannya.

Tosu itu gelayaran (terhuyung-huyung) hampir jatuh akan tetapi ketawanya berhenti.

Tubuhnya terasa lemas dan ia jatuh duduk dengan napas terengah-engah.

Pada saat itu, dari atas puncak datang serombongan tosu lain dan semua tosu yang berada di situ bernapas lega.

Kiranya yang datang ini adalah serombongan tosu yang terdiri dari tosu-tosu tingkat empat, tiga dan dipimpin oleh tiga orang tosu tingkat dua!

Kali ini tiga ekor monyet cilik ini pasti akan tertawan, pikir mereka.

Tiga orang tosu tingkat dua itu adalah murid-murid langsung dari Giok Thian Cin Cu.

Di Cin-ling-pai hanya terdapat dua orang tingkat satu, dan tiga orang tosu tingkat dua yang sekarang memimpin pasukan ini.

Tosu tingkat tiga hanya ada lima orang, jadi tosu-tosu tingkat satu dua tiga yang langsung dipimpin oleh Giok Thian Cin Cu sendiri hanya ada sepuluh orang tosu.

Ilmu kepandaian mereka ini tentu saja amat tinggi.

Apalagi Giok Thian Cin Cu sendiri yang selalu bertapa di puncak jarang keluar, bahkan dua orang muridnya, tosu tingkat pertama, juga jarang keluar, merupakan tosu-tosu tua terhormat yang untuk segala macam urusan dalam mewakili suhu mereka.

Semua urusan luar diserahkan kepada tiga orang tosu tingkat dua ini yang memang tinggi kepandaiannya, dibantu oleh lima orang tosu tingkat tiga.

"Ada apakah ribut-ribut di sini?"

Terdengar suara keren dari tosu gelung dua yang mukanya merah. Sambil bertanya demikian, sepasang mata yang tajam itu menyapu ke arah Bi Eng, Han Sin dan Siauw-ong.

"Sam-wi suhu harap suka turun tangan membersihkan muka kita yang dihina orang!"

Kata tosu tingkat empat tadi.

Kemudian ia menceritakan betapa dua orang muda dan monyetnya itu melanggar wilayah mereka kemudian mengeluarkan kata-kata kasar, malah sudah merobohkan beberapa orang tosu.

Tiga orang tosu tingkat dua itu mendengarkan penuturan ini dengan sabar.

Akan tetapi mereka mengerutkan kening dan pandang mata mereka terheran ketika mendengar bahwa gadis cilik itu telah merobohkan beberapa orang tosu, di antaranya malah mengalahkan tosu tingkat empat!

Hampir mereka tak dapat percaya.

Gadis itu paling banyak berusia tujuh belas tahun, dengan kepandaian macam apakah bisa mengalahkan tosu Cin-ling-pai tingkat empat?

Tiga orang tosu tingkat dua itu memiliki kedudukan yang tinggi di Cin-ling-pai, merupakan komandan-komandan semua pasukan Cin-ling-pai, tentu saja mereka tidak memandang mata dan tidak mau ribut mulut dengan orang-orang muda seperti Han Sin dan Bi Eng, apalagi dengan seekor monyet kecil!

Tosu muka merah memberi isyarat kepada tiga orang tosu tingkat tiga.

"Tawan mereka dan bawa ke puncak, biar nanti kami selidiki murid siapa mereka ini berani mengacau di Cin-ling-pai!"

Tiga orang tosu tingkat tiga itu menjadi merah mukanya.

Mereka adalah murid-murid Giok Thian Cin Cu sendiri, biarpun hanya bertingkat tiga, namun mereka ini adalah tosu-tosu muda yang langsung dilatih oleh Giok Thian Cin Cu.

Masa sekarang mereka bertiga disuruh menangkap dua orang muda dan seekor monyet?

Menghadapi yang tiga ini, seorang di antara merekapun sudah cukup, masa harus maju bertiga?

Benar-benar pekerjaan yang merendahkan kedudukan mereka.

Akan tetapi karena yang memerintah adalah ji-suheng mereka, tentu saja tiga orang tosu ini tidak berani membangkang dan dengan muka merah mereka maju serempak.

Melihat majunya tiga orang tosu muda yang kelihatan kuat dan galak, Bi Eng tetap tersenyum mengejek dan sama sekali tidak memperlihatkan rasa takut.

Akan tetapi Han Sin khawatir sekali, takut kalau-kalau adiknya bertempur lagi, bukan takut adiknya kalah.

Ini belum tentu, akan tetapi takut kalau-kalau adiknya akan mencelakai orang.

Ia cepat melangkah lebar menghadang datangnya tiga orang tosu itu sambil berkata.

"Sam-wi totiang jangan terlalu mendesak kami. Biarlah kami melanjutkan perjalanan kami!"

Tiga orang tosu ini memang merasa segan kalau harus melawan gadis cilik dan monyet.

Setidaknya kalau melawan pemuda ini, tidak terlalu memalukan.

Mereka melihat Han Sin maju, lalu berebut untuk mendahului kawan menangkap pemuda ini.

Tosu terdepan lalu mengerahkan lweekangnya mendorong Han Sin dari jarak dua meter, maksudnya merobohkan Han Sin tanpa menyentuh tubuhnya memamerkan lweekangnya, setelah pemuda itu roboh baru ditawan.

Ia menggunakan pukulan jarak jauh dengan gerak tipu To-tiu-thai-san (Merobohkan gunung Thai-san).

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika tenaga lweekangnya itu membalik dan menyerang dirinya sendiri, membuat ia roboh terguling-guling!

Melihat seorang tosu melakukan gerakan mendorong lalu roboh sendiri terjengkang dan terguling-guling.

Bi Eng tertawa dan mengejek.

"Apa-apaan ini, tosu badut main komidi!"

Tosu kedua kaget sekali dan iapun cepat melakukan pukulan jarak jauh yang lebih hebat.

Ia menggunakan gerakan Pek-lui-pai-san (Geledek menolak gunung) juga sebuah gerak tipu dari ilmu silat Im-yang-kun warisan gurunya.

Ia tidak mendorong melainkan memukul ke arah dada Han Sin.

Seperti tadi, pemuda ini melakukan gerakan mengangkat lengan untuk menangkis karena takut dipukul dan akibatnya hebat.

Tosu itu terlempar jauh dan untuk beberapa menit tak dapat bernapas karena hawa pukulannya sendiri yang membalik membuat napasnya sesak.

Tosu ke tiga menjadi bengong dan ragu-ragu, tidak berani dekat dan semua tosu memandang dengan mata terbelalak.

Apa lagi tiga orang tosu kelas dua yang memimpin pasukan itu.

Mereka hampir tak dapat percaya akan kejadian itu.

PADA saat itu terdengar suara aneh menyeramkan, suara melengking tinggi seperti burung rajawali, makin lama makin keras sampai membikin sakit telinga.

Bi Eng yang sudah belajar ilmu silat tinggi, cepat menahan napas dan mengerahkan lweekang.

Akan tetapi tetap saja ia merasa kepalanya pening dan harus cepat-cepat menutupi kedua telinga dengan telunjuknya.

Siauw-ong termangu-mangu saja, agaknya alat pendengarannya berbeda dengan manusia sehingga ia tidak terpengaruh suara yang penuh mengandung tenaga lweekang dan khikang ini.

Di antara para tosu, mereka yang masih rendah kepandaiannya, yaitu gelung enam dan tujuh, banyak yang jatuh bergelimpangan!

Han Sin terheran-heran melihat ini karena dia sendiri tidak merasakan sesuatu, hanya mendengar suara yang aneh dan melengking tinggi rendah tidak karuan.

Tiga orang tosu kelas dua dari Cin-ling-san berubah air mukanya dan mereka segera menjura ke arah datangnya suara dan si muka merah berseru.

"Kami para tosu Cin-ling-pai telah menanti kedatangan Cinjin!"

Suara lengking itu lenyap, disusul suara ketawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha ha ha! Para tosu Cin-ling-pai tahu diri. Aku datang!"

Angin bertiup dan entah dari mana datangnya, tahu-tahu di situ telah berdiri seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih, bertubuh tinggi besar dengan muka penuh berewok hitam, matanya besar-besar dan menakutkan.

Pakaiannya seperti seorang pembesar saja biarpun tidak ada tanda pangkatnya, sepasang lengannya yang besar dan penuh urat-urat itu bertolak pinggang, kakinya dipentang dan sikapnya jumawa sekali.

Ia menoleh ke kanan kiri memandang dengan mulut tersenyum mengejek dan memandang rendah, kemudian ketika melihat Bi Eng, senyumnya melebar dan matanya berseri.

Ia menatap terus wajah Bi Eng sambil tangan kanannya mengelus-elus jenggotnya lalu mengangguk-angguk.

"Cantik....... cantik manis...... sungguh menggiurkan......!"

Katanya.

Bi Eng mendongkol bukan main.

Gadis ini membuang muka dan cemberut.

Akan tetapi Han Sin berkedip kepadanya, memberi tanda supaya adiknya itu jangan mencari perkara.

Biarpun bukan ahli silat, pemuda ini sekali pandang saja maklum bahwa yang baru datang ini adalah seorang jagoan kelas berat yang lihai sekali.

Buktinya para tosu Cin-ling-pai kelihatan takut-takut.

Tosu muka merah lalu melangkah maju setindak sambil menjura.

"Kami telah mendapat kehormatan besar dari kunjungan Cinjin. Tidak tahu ada perintah apakah dari Cinjin yang perlu kami sampaikan kepada twa-suheng?"

Ucapan ini terdengar amat menghormat, akan tetapi mengandung sindiran bahwa tamu terhormat itu cukup bicara dengan mereka saja dan semua pesan akan disampaikan kepada twa-suheng, yaitu murid-murid tingkat pertama.

Jadi sama saja dengan mengatakan bahwa kedudukan twa-suheng Cin-ling-pai masih lebih tinggi dari pada tamu ini.

Kakek tinggi besar itu mengeluarkan suara jengekan dari hidungnya.

Dia ini bukan lain adalah Ban Kim Cinjin, seorang kakek berilmu tinggi yang menjadi kaki tangan kerajaan Ceng.

Dia masih terhitung sute (adik seperguruan) Hoa Hoa Cinjin, maka kepandaiannya luar biasa sekali.

Di dunia kang-ouw tidak ada orang yang belum mengenal namanya, nama yang ditakuti karena kakek ini terkenal jahat dan cabul.

Tentu saja ia dapat menangkap sindiran dalam kata-kata si tosu muka merah, maka ia berkata, suaranya keras nyaring.

"Tosu-tosu Cin-ling-pai terkenal sombong, tidak kukira sesombong ini! Kalau suhu kalian si Giok Thian Cin Cu terlalu angkuh menemuiku, masih tidak apa karena dia seorang ciang-bun-jin. Akan tetapi hanya tosu-tosu bau tingkat dua yang menemui aku, sungguh-sungguh tidak pandang mata. Aku mewakili kerajaan untuk berunding dengan Cin-ling-pai, karena mengingat persahabatan kami hendak minta bantuan Cin-ling-pai mencari surat wasiat peninggalan pemberontak Lie Cu Seng. Masa hanya disambut oleh tosu-tosu pemakan nasi yang tiada gunanya?"

Dapat dibayangkan betapa besar kemarahan para tosu Cin-ling-pai mendengar maki-makian ini.

Siapapun adanya kakek ini, betapa lihaipun Ban Kim Cinjin, tidak semestinya menghina Cin-ling-pai sampai demikian hebatnya.

Tiga orang tosu tingkat dua dari Cin-ling-pai adalah tiga orang gagah yang dijuluki Cin-ling Sam-eng (Tiga Orang Gagah dari Cin-ling-san).

Mereka juga murid-murid terpilih dan tersayang dari Giok Thian Cin Cu, sudah mewarisi ilmu-ilmu silat Im-yang-kun dan Cin-ling-kun.

Yang tertua dan bermuka merah bernama Hap Tojin, seorang ahli ilmu pedang Cin-ling Kiam-hoat yang jarang bandingannya, yang kedua, tosu bermuka hijau adalah Hee Tojin yang terkenal sebagai seorang ahli lweekang yang amat kuat di samping ilmu silatnya yang juga lihai sekali, dan orang ketiga yang bermuka hitam adalah Tee Tojin yang keistimewaannya adalah ilmu ginkang yang luar biasa.

Digabung menjadi satu, tiga orang ini sudah merupakan wakil Cin-ling-pai yang tidak mengecewakan dan karenanya dipercaya oleh Giok Thian Cin Cu untuk membereskan segala macam urusan yang menyangkut kepentingan perkumpulan mereka.

Sambil menahan kemarahan, Hap Tojin si muka merah lalu melangkah maju dan menjura lagi.

"Harap Cinjin jangan mengeluarkan ucapan seperti itu. Kami sesaudara yang berada di sini sudah mendapat perintah dari suhu untuk membereskan semua urusan. Jangankan hanya seorang diri seperti Cinjin, biarpun andaikata Kaisar Ceng mengirim utusan sebarisan, kiranya cukup dirundingkan dengan kami semua yang berada di sini. Kalau Cinjin ada urusan untuk disampaikan, harap katakan saja dan kami dapat memutuskan."

Merah muka Ban Kim Cinjin, matanya bersinar-sinar marah.

"Sombong! Kalau aku tetap hendak naik ke puncak berunding sendiri dengan Giok Thian Cin Cu, kalian mau apa?"

"Tidak bisa, Cinjin. Kalau kami diamkan saja, kami akan mendapat teguran keras dari suheng. Kecuali kalau Cinjin bisa melewati pasukan Cin-ling-pai, baru kiranya dapat sampai di puncak,"

Kata Hap Tojin.

Begitu mendengar ucapan ini, para tosu bergerak merupakan bentuk-bentuk tin (barisan) yang teratur rapi.

Semua tosu menghunus pedang dan terbentuklah barisan sebanyak tujuh lapis.

Inilah barisan Cin-ling-tin yang amat kokoh kuat, terdiri dari tosu-tosu gelung tujuh di depan, lalu di belakangnya tosu-tosu gelung enam dan makin ke belakang makin kuat kedudukannya karena anggauta-anggauta barisannya lebih lihai dari pada yang di depan.

Ban Kim Cinjin mengangkat kepala dan tertawa bergelak.

"Ha ha ha! Cin-ling-pai berkali-kali unjuk gigi. Baiklah, kali ini hendak kucoba betapa kuat barisannya!"

Tubuh kakek ini berkelebat ke depan dan kembali terdengar bunyi melengking rajawali yang dahsyat, dibarengi serbuannya ke depan, menyergap barisan terdepan.

Barisan ini terdiri dari tiga belas orang tosu gelung tujuh yang memegang pedang.

Begitu kakek itu mengeluarkan bunyi lengking, barisan ini sudah kacau karena mereka menjadi lumpuh semangat dan tergetar jantungnya.

Akan tetapi dengan gagah para tosu Cin-ling-pai maju juga dan menyerbu Ban Kim Cinjin.

Kakek ini tidak memegang senjata, akan tetapi begitu ia menggerakkan kedua tangannya, ternyata kedua tangan ini lebih ampuh dari pada senjata tajam.

Beberapa gebrakan saja kakek ini menerjang seperti seekor burung rajawali menyambar korban, robohlah berturut-turut lima orang anggauta pasukan tosu itu dengan kepala remuk atau dada pecah!

Darah berhamburan dan jerit terdengar mengerikan.

Tosu-tosu lain dalam barisan itu tidak kenal takut dan pantang mundur, mereka terus menyerbu menggantikan kawan-kawan yang tewas.

Akan tetapi mereka ini seperti nyamuk-nyamuk melawan nyala api, begitu maju mereka bertemu dengan pukulan-pukulan tangan sakti yang membuat mereka rebah tak bernyawa lagi.

Sebentar saja, dari tiga belas orang tosu gelung tujuh ini, hanya tinggal tiga orang lagi yang belum tewas.

Bi Eng memandang kagum dan heran melihat kehebatan ilmu silat kakek itu.

Siauw-ong bersembunyi di belakang nonanya, ngeri melihat begitu banyak darah muncrat keluar.

Sedangkan Han Sin berdiri dengan muka pucat.

Tak tahan ia melihat pembunuhan besar-besaran seperti ini.

Tanpa dapat dicegah oleh Bi Eng lagi, pemuda ini lalu lari ke depan menuju ke medan pertempuran.

"Koko..... jangan....!"

Bi Eng juga mengejar ke depan untuk menahan atau melindungi kakaknya.

Ia cukup mengerti bahwa kakaknya itu biarpun amat pintar, namun adalah seorang pemuda lemah yang tidak pernah melatih diri dalam ilmu silat.

Mendatangi tempat yang demikian berbahaya, benar-benar seperti mengantar nyawa.

Han Sin tidak perdulikan cegahan adiknya.

Hatinya tidak kuat menahan melihat pembunuhan besar-besaran itu, apa lagi kalau ia lihat betapa kakek ganas itu maju terus hendak melabrak barisan-barisan berikutnya dan para tosu Cin-ling-pai agaknya juga tidak mau mengalah.

Ia angkat kedua tangannya sambil berteriak-teriak keras.

"Cuwi totiang, hentikan pertempuran! Lo-enghiong yang gagah, harap hentikan pembunuhan-pembunuhan ini!"

Ia terus berlari menghampiri Ban Kim Cinjin, dan terus mengangkat kedua tangan untuk memegang tangan kakek itu dalam usahanya mencegah kakek itu melancarkan pembunuhan dengan kedua tangan mautnya.

Melihat pemuda ini datang sambil mengangkat tangan, berlari-lari kaku, Ban Kim Cinjin menjadi marah dan mengira pemuda itu hendak membela para tosu Cin-ling-pai.

"Bocah lancang, pergilah!"

Serunya sambil menggaplok pundak Han Sin dengan perlahan untuk merobohkan pemuda itu.

"Plak!"

Tubuh Han Sin terlempar, akan tetapi kakek itu sendiri terjengkang ke belakang. Mukanya pucat dan napasnya terengah-engah. Ia merasakan tenaganya tadi seperti bertemu dengan baja yang keras.

"Jangan pukul kakakku! Bangsat, berani kau pukul kakakku!"

Bi Eng dengan marah menyambar sebatang pedang dari tosu Cin-ling-pai yang terjatuh ke atas tanah, kemudian ia menyerang Ban Kim Cinjin dengan sebuah tusukan.

"Moi-moi, jangan.....!"

Han Sin mencegah adiknya sambil merayap bangun.

Ia tidak terluka dan tidak merasa sakit sama sekali.

Namun terlambat.

Pedang di tangan Bi Eng sudah menusuk dan kakek itu menggerakkan tangan menangkis.

Bi Eng menjerit, pedangnya terpukul patah oleh tangan kakek sakti itu dan gadis itu terhuyung lalu roboh.

Ban Kim Cinjin merasa lega mendapatkan bahwa tangannya masih tidak kehilangan keampuhannya.

Ia tadinya sangsi apakah tenaganya tiba-tiba lenyap maka ketika mendorong pemuda lemah itu dia sampai terjengkang.

Kini ia marah dan menggunakan separuh tenaganya untuk memukul Han Sin yang sudah datang lagi.

Han Sin sedang sibuk hendak menolong Bi Eng, maka ia tidak bisa menjaga datangnya pukulan yang tepat mengenai dadanya.

"Blekk....!"

Kembali Han Sin terpelanting dan terguling-guling sampai tiga tombak lebih, akan tetapi ia dapat bangun lagi karena tidak merasa sakit.

Hebatnya, kakek itu mengeluarkan seruan kesakitan dan terguling roboh, dari mulutnya muntahkan darah segar!

Saking herannya, sampai ia lupa akan sakitnya dan dengan beringas ia meloncat bangun, kemudian menubruk Han Sin, mengerahkan seluruh tenaganya menghantam kepala Han Sin.

Pemuda itu mendengar angin pukulan dahsyat mengancam kepalanya, segera mengangkat tangan kiri untuk menangkis.

"Dukkk....!"

Kini Han Sin hanya jatuh lagi terduduk, akan tetapi kakek itu seperti daun kering tertiup angin, mencelat sampai empat meter dan jatuh di atas tanah dengan mata mendelik dan nyawa putus!

Bukan main kagetnya Han Sin.

Ia berlari menghampiri kakek itu dan melihat kakek itu sudah mati, tiba-tiba pemuda itu menangis!

"Apa yang kulakukan....

ah, Thian Yang Maha Kuasa....

apa yang telah kulakukan.....??"

Bagaimana seorang tokoh besar kang-ouw seperti Ban Kim Cinjin yang sudah amat tinggi tingkat kepandaiannya itu bisa tewas ketika memukul dan tertangkis oleh Han Sin?

Sedangkan yang lain-lain, para tosu gelung tiga yang kepandaiannya jauh lebih rendah kalau dibandingkan dengan Ban Kim Cinjin, ketika memukul Han Sin mereka hanya terpental dan roboh saja akan tetapi tidak sampai mati?

Hal ini memang ada sebabnya.

Dengan latihan samadhi yang istimewa, yang dipetiknya dari kitab-kitab kuno dan dilatihnya tanpa petunjuk seorang ahli-ahli, secara keliru Han Sin telah melatih siulian semenjak ia kecil sampai belasan tahun lamanya.

Latihan ini ia lakukan tanpa mengenal bosan dan lelah, bahkan dilakukan siang malam tak kenal waktu.

Kekeliruannya ini tentu akan mencelakakan, dapat membuat orang menjadi gila atau kemasukan pengaruh iblis lalu mempelajari ilmu hitam kalau saja Han Sin tidak memiliki dasar watak yang memang bersih dan baik.

Sebaliknya dari pada mencelakakan, kekeliruan ini malah mendatangkan hawa sinkang yang mujizat di dalam tubuh pemuda ini.

Sinkang ini demikian kuat sehingga sukar untuk diukur lagi kehebatannya, tanpa disadari oleh si pemilik.

Karena Han Sin tidak tahu mempergunakan hawa sinkang ini, maka hawa sinkang itu bekerja dan bergerak menurut jalan pikirannya.

Kalau ia mengangkat tangan dan pikirannya ditujukan hendak menangkis pukulan atau mencegah serangan orang, secara otomatis, hawa sinkang itu menjalar ke seluruh tangannya yang menangkis dan di situ bersembunyi hawa pukulan yang mujizat.

Akan tetapi karena tidak dipergunakan untuk menyerang, hawa sinkang itu hanya bersifat menahan belaka.

Maka tergantung dari kekuatan lawan yang ditangkis.

Kalau lawan itu mempunyai tenaga pukulan tiga ratus kati, maka ketika tertangkis tenaga pukulan seberat itu akan membalik dan memukul penyerangnya sendiri.

Tosu-tosu tingkat tiga dari Cin-ling-pai ketika memukul Han Sin tidak mengerahkan tenaga sepenuhnya, paling banyak tenaga dorongnya hanya tiga ratus kati, itupun dilakukan dengan pukulan jarak jauh karena mereka memang tidak berniat membunuh Han Sin.

Maka akibatnya pun tidak sangat hebat bagi mereka, hanya terjengkang dan terlempar oleh hawa pukulannya sendiri yang membalik ketika membentur hawa sinkang yang keluar dari lengan Han Sin.

Sebaliknya, Ban Kim Cinjin yang sudah marah sekali, menggunakan pukulan sepenuh tenaganya, sedikitnya ada seribu kati lebih.

Maka begitu terbentur lengan Han Sin dan pukulan itu membalik, mana kakek itu kuat menerimanya?

Isi dadanya remuk dan nyawanya melayang!

Han Sin sampai saat matinya Ban Kim Cinjin, masih belum sadar akan kekuatannya sendiri.

Masih belum mengerti bahwa di dalam tubuhnya bersembunyi kekuatan mujizat.

Ia hanya tahu bahwa kakek itu mati setelah memukul dan ditangkisnya, maka ia menjadi kaget bukan main.

Hatinya yang sudah merasa ngeri melihat banyak terjadi pembunuhan, yang mendatangkan rasa kasihan di dalam hatinya yang mulia dan welas asih, tentu saja menjadi hancur ketika melihat ada orang sampai mati karena beradu lengan dengannya.

Ia merasa menjadi pembunuh dan karena perasaan inilah ia menangis sedih.

Para tosu Cin-ling-pai ketika melihat Ban Kim Cinjin tewas, menjadi terkejut sekali.

Bagaimana pun juga, Ban Kim Cinjin adalah seorang utusan kerajaan Ceng.

Kalau yang membunuh kakek ini tosu-tosu Cin-ling-pai, hal itu masih tidak hebat karena para tosu Cin-ling-pai yang gagah tentu saja akan mempertanggung jawabkan perbuatan mereka.

Akan tetapi sekarang yang membunuh kakek itu adalah dua orang muda yang tidak terkenal, maka karena matinya di Cin-ling-san, tentu saja para tosu Cin-ling-pai yang akan didakwa membunuh Ban Kim Cinjin.

Inilah hebat!

Bukan saja Ban Kim Cinjin utusan kaisar Ceng, malah ia itu sute dari Hoa Hoa Cinjin!

Dalam pikiran para tosu, mereka mengira bahwa Ban Kim Cinjin mati oleh Han Sin dan dibantu secara menggelap oleh Bi Eng, sama sekali mereka belum bisa menerima kalau ada dugaan pemuda itu dapat membunuh Ban Kim Cinjin hanya dengan jalan menangkis pukulannya.

"Tangkap pembunuh-pembunuh ini!"

Seru Cin-ling Sam-eng, tiga orang tosu Cin-ling-pai kelas dua itu.

Mereka sendiri menubruk maju untuk menangkap Han Sin dan Bi Eng.

Han Sin melompat maju, mengangkat dadanya dengan sikap gagah, dan suaranya luar biasa sekali, nyaring dan berpengaruh sehingga sekian banyaknya tosu yang menerjang maju tiba-tiba berhenti dan terpaksa mendengarkan.

Bahkan Bi Eng sendiri sampai bengong memandang kakaknya yang tiba-tiba mempunyai suara demikian hebat pengaruhnya.

"Nanti dulu! Cuwi totiang adalah orang-orang beribadat, orang-orang yang menjalani kesucian dan mengutamakan tata susila dan kebajikan. Apakah patut menghina seorang perempuan?"

Hap Tojin ketawa dingin untuk melenyapkan rasa jengahnya mendengar teguran ini.

"Hemm, kalian sudah membunuh seorang utusan kaisar di sini, kalau tidak mau tangkap, bukankah kesalahannya akan ditimpakan kepada kami?"

"Cinjin ini tewas karena menyerangku, kalau mau bilang tentang pembunuhan, adalah aku yang membunuh. Adik perempuanku ini apa sangkut pautnya dengan kematiannya? Akulah yang bertanggung jawab dan kalau mau tangkap, boleh tangkap aku, jangan ganggu adikku."

Semua tosu ragu-ragu mendengar ini.

Cin-ling Sam-eng juga merasai kebenaran ucapan pemuda ini biarpun mereka masih tidak percaya kalau kematian Ban Kim Cinjin adalah karena perbuatan pemuda yang kelihatan lemah ini.

"Kalau kau yang bertanggung jawab semua, biarlah kami lepaskan adikmu. Kamipun bukan orang-orang yang suka mengganggu perempuan. Nah, ayoh ikut kami ke puncak."

Bi Eng menjadi pucat dan meloncat maju.

"Tidak boleh! Tidak boleh kakakku ditangkap!"

Serunya marah dan gadis ini kembali menyambar sebatang pedang di atas tanah, siap untuk melakukan pertempuran besar-besaran melindungi kakaknya.

Juga Siauw-ong kembali meringis-ringis menantang perang.

"Eng-moi, mundur! Kali ini kau harus menurut kata-kataku dan jangan menurutkan kekerasan hati. Kau pergilah dulu dengan Siauw-ong, lanjutkan perjalananmu dan tunggu aku di pantai sungai Wei-ho. Aku akan menyusulmu setelah urusan ini selesai. Aku percaya ketua Cin-ling-pai akan dapat mempertimbangkan urusan ini dengan adil."

Pandang mata Han Sin berpengaruh dan luar biasa sekali, dari sepasang matanya mencorong keluar sinar yang biarpun Bi Eng adiknya sendiri merasa bergidik dan takut.

Ia maklum bahwa kakaknya bersungguh-sungguh dalam hal ini dan akan menjadi marah kalau dia tidak mau menurut.

Dengan muka pucat dan isak tertahan ia menggandeng tangan Siauw-ong, lalu membalikkan tubuh pergi dari situ sambil berkata.

"Sin-ko, aku menanti-nantimu di pinggir sungai Wei-ho!"

Sebentar saja Bi Eng dan Siauw-ong lenyap dari situ.

Han Sin menjadi lega hatinya.

Dengan perginya Bi Eng yang ia tahu amat keras hatinya dan berani, ia merasa dadanya ringan dan urusan yang ia hadapi itu terasa lebih mudah dibereskan.

Ia tersenyum kepada Cin-ling Sam-eng.

"Cuwi totiang, mau tangkap aku sebagai pembunuh, tangkaplah!"

Cin-ling Sam-eng maju bersama, takut kalau pemuda ini yang amat aneh dan mencurigakan diam-diam mempunyai kepandaian tinggi dan turun tangan lagi.

Sebelum Han Sin bergerak, mereka sudah menubruknya dan dilain saat tubuh Han Sin sudah mereka belenggu dengan sebuah rantai besi yang besar.

Rantai itu diikatkan kedua tangannya yang ditekuk ke belakang, terus dilibatkan ke leher dan dada, membuat Han Sin tak dapat berdaya sedikitpun.

Pemuda ini sama sekali tidak melakukan perlawanan, tersenyum saja.

Baju pada lengan kiri dan celananya sedikit robek ketika ia tadi terjatuh menerima serangan-serangan Ban Kim Cinjin.

Para tosu mengiringkan Cin-ling Sam-eng yang membawa Han Sin ke atas dan beramai-ramai mereka membawa kawan-kawan yang terluka dan tewas tidak lupa membawa pula jenazah Ban Kim Cinjin ke atas.

Tempat yang tadi menjadi medan pertempuran itu kini sunyi kembali.

Hanya darah yang membasahi rumput di sana-sini menjadi bukti bahwa di situ tadi telah dilayangkan beberapa nyawa manusia.

Hati Han Sin sudah tenang kembali, tidak seperti tadi ketika pada mula-mula ia melihat Ban Kim Cinjin tewas karena tangkisan tangannya.

Diam-diam ia memutar otak dan merasa heran sendiri.

Bagaimana seorang yang demikian menyeramkan dan lihai seperti Ban Kim Cinjin, yang demikian mudah membunuh beberapa orang tosu Cin-ling-pai, bisa tewas hanya karena ia tangkis pukulannya.

Bagaimana hal ini mungkin terjadi?

Dia tidak pernah belajar silat, hanya hafal teori ilmu pukulan Liap-hong Sin-hoat.

Selain itu tidak belajar apa-apa lagi kecuali membaca isi kitab-kitab kuno dan melatih siulan untuk membersihkan pikiran dan menjernihkan hati.

Biarpun latihan-latihannya membuat pemuda ini mempunyai watak yang penuh welas asih dan sabar, namun tidak menghilangkan jiwa patriotnya yang diturunkan oleh leluhurnya.

Apalagi kitab-kitab kuno, para pujangga dan bijaksanawan semenjak jaman dahulu selalu mengutamakan cinta negara dan bangsa.

Oleh karena itu, di dalam hati kecil Han Sin juga terpendam rasa tidak suka kepada bangsa Mancu yang telah menjajah negara dan tanah airnya.

Kalau ia teringat akan hal ini, teringat pula bahwa Ban Kim Cinjin adalah utusan kaisar Ceng karena itu berarti kaki tangan pemerintah penjajah, kecemasan bahwa ia telah menjadi sebab kematian orang itupun berkurang.

Pemuda ini yakin sepenuh hatinya bahwa dia tidak akan menghadapi malapetaka di puncak bukit itu, di depan para ketua Cin-ling-pai.

Orang tak bersalah takkan kalah, demikian pelajaran di dalam kitab-kitabnya.

Ah, Han Sin masih terlalu hijau, belum terbuka matanya bahwa di dunia ini banyak sekali terdapat orang-orang yang menyeleweng dari pada kebenaran, orang yang tidak mengenal atau sengaja tidak mau mengenal keadilan, yang tidak perduli akan kebajikan, hanya menurunkan nafsu hati berdasarkan keuntungan untuk diri sendiri!

Dengan dada lapang dan pikiran ringan pemuda ini menurut saja digiring ke puncak dalam keadaan terbelenggu seperti seorang penjahat besar.

Dia toh tidak salah, pikirnya.

Dia dan adiknya melewati gunung itu dan dihadang serta diganggu oleh para tosu, kemudian diapun bermaksud baik ketika mencegah Ban Kim Cinjin agar kakek itu tidak melakukan pembunuhan besar-besaran.

Betul kakek itu telah binasa karena tangkisannya, namun ia tidak sengaja bermaksud hendak membunuh orang.

Demikian sambil berjalan Han Sin berpikir dan hatinya tenteram.

Pada masa itu, ketua Cin-ling-pai yaitu Giok Thian Cin Cu, merupakan seorang di antara tokoh-tokoh terbesar di dunia persilatan.

Kakek ini jarang memperlihatkan diri, apalagi kepada dunia ramai, bahkan para anggauta Cin-ling-pai sendiri jarang ada yang melihatnya karena kakek ini selalu menyembunyikan diri di dalam kamar pertapaannya.

Selain bertapa dan memperdalam keahliannya dalam ilmu silatnya yang terkenal, yaitu Im-yang-kun dan Cin-ling-kun yang menjadi ilmu silat wasiat dari para tosu Cin-ling-pai, kakek inipun dengan diam-diam sedang melatih diri dengan semacam ilmu silat baru yang amat hebat.

Tiga tahun yang lalu di dalam perantauannya Giok Thian Cin Cu bertemu dengan paman gurunya yang paling muda dan yang masih hidup di antara gurunya dan paman-paman gurunya, yaitu seorang pendeta aneh yang sudah disebut setengah dewa berjuluk Hui-kiam Koai-sian (Dewa Aneh Berpedang Terbang)!

Hui-kiam Koai-sian ini dari nama julukannya saja sudah dapat diketahui bahwa dia adalah seorang manusia aneh ahli pedang.

Lebih dari dua puluh lima tahun yang lalu dia masih menjagoi kalangan kang-ouw, akan tetapi tiba-tiba ia melenyapkan diri dan semenjak itu namanya tak pernah disebut orang.

Oleh karena hal itu telah puluhan tahun, maka lambat laun namanya lenyap dan jarang ada orang kang-ouw mengenal namanya, kecuali tokoh yang tua-tua.

Dapat dibayangkan betapa girang hati Giok Thian Cin Cu ketika pada suatu hari, dalam perantauannya, di daerah Telaga Barat yang amat sunyi, ia bertemu dengan Susioknya ini.

Hui-kiam Koai-sian yang melihat sinar mata murid keponakannya itu mengeluarkan cahaya dan wajahnya mengandung kebijaksanaan, menjadi girang karena maklum bahwa murid keponakan ini telah memperoleh kemajuan pesat, baik di bidang ilmu silat maupun di bidang kerohanian.

Apalagi ketika mendengar bahwa murid keponakan ini telah menjadi ketua Cin-ling-pai yang ia dengar tidak sudi tunduk kepada pemerintah Mancu, ia makin bangga.

Dalam kegirangannya, ia berkenan menurunkan ilmu pedangnya, yaitu Lo-hai-hui-kiam (Pedang Terbang Pengacau Lautan).

Tentu saja dalam waktu pertemuan yang amat singkat, Hui-kiam Koai-sian hanya menurunkan teori-teorinya saja dengan pesan agar ilmu ini jangan dipergunakan sebelum dilatih sampai sempurna.

Sepulangnya ke puncak Cin-ling-san, Giok Thian Cin Cu lalu menyembunyikan diri di dalam kamarnya dan diam-diam secara rahasia ia melatih ilmu pedang baru itu.

Melatih sampai tiga tahun belum sempurna betul, padahal dilakukan oleh seorang ahli silat selihai Giok Thian Cin Cu, betul-betul dapat dibayangkan.

Agar perhatiannya untuk mempelajari ilmu baru ini tidak terganggu, Giok Thian Cin Cu lalu menyerahkan semua urusan kepada kedua orang muridnya yang menjadi murid kepala, yaitu It Cin Cu dan Ji Cin Cu, sedangkan urusan di luar Cin-ling-pai, diserahkan kepada Cin-ling Sam-eng, murid-muridnya yang bertingkat dua.

Adapun dua orang murid kepala itu, It Cin Cu dan Ji Cin Cu, adalah dua orang tosu berusia empat puluh tahunan yang pendiam.

Kepandaian mereka sudah mencapai tingkat tinggi.

It Cin Cu lebih banyak mewarisi ilmu pedang suhunya sedangkan Ji Cin Cu lebih banyak mewarisi ilmu lweekang.

Biarpun ada perbedaan ini, namun pada umumnya ilmu silat mereka setingkat dan di masa itu kiranya hanya sedikit orang yang akan mampu mengatasi mereka.

It Cin Cu tinggi kurus bertahi lalat di pipi kanannya, sedangkan Ji Cin Cu orangnya gemuk pendek seperti arca Buddha maka ia mendapat julukan Siauw-bin-hud (Arca Buddha Tertawa) karena memang air mukanya ramah sekali dan selau tersenyum.

Sebaliknya It Cin Cu bermuka muram dan angker maka ia mendapat julukan Thio-te-kong (Malaikat Bumi).

Biasanya, Cin-ling Sam-eng selalu dapat membereskan semua urusan luar tanpa mengganggu kedua orang suhengnya ini.

Maka berkerutlah jidat It Cin Cu ketika tiga orang sute ini menghadap mereka dan minta mereka memutuskan sebuah urusan luar.

Apa lagi ketika mendengar bahwa tiga orang sutenya ini minta keputusan akan diri seorang pemuda mata-mata yang mengacau Cin-ling-san.

"Sute, urusan mata-mata saja kenapa kalian bertiga tidak bisa membereskan sendiri?"

Tegurnya dengan keren.

"Suheng, urusan ini bukan hanya mengenai diri pemuda yang mencurigakan itu, akan tetapi menyangkut pula diri Ban Kim Cinjin yang datang sebagai utusan kerajaan Ceng,"

Kata Hap Tojin yang kelihatan takut menghadapi suheng yang memang amat keren dan galak itu.

Siauw-bin-hud Ji Cin Cu tersenyum lebar, lebih lebar dari biasanya karena memang ia selalu tersenyum.

Ia menggerakkan tangan kanannya tak sabar.

"Urusan dengan kerajaan bangsa Mancu itupun tidak penting, masa kalian tidak bisa membereskan setelah kalian tahu pendirian kita yang tidak mau tahu menahu tentang urusan negara dengan pemerintah Mancu?"

"Bukan demikian soalnya, ji-suheng."

Kata pula Hap Tojin. Terhadap Ji Cin Cu yang ramah dan jarang marah, ia lebih berani.

"Soalnya ialah pemuda itu dengan adik perempuannya telah membunuh mati Ban Kim Cinjin di daerah kita."

Dua orang murid kepala Cin-ling-san melengak dan memandang heran.

Adanya mata-mata di daerah Cin-ling-san bukan hal aneh karena pada masa itu memang banyak sekali persaingan dan permusuhan dengan partai-partai lain yang tumbuh seperti jamur di musim hujan.

Juga datangnya utusan dari pemerintah Ceng bukan hal yang mengherankan.

Akan tetapi Ban Kim Cinjin terbunuh oleh orang-orang muda?

Ini amat menarik.

Biarpun kepandaian Ban Kim Cinjin tidak bisa disamakan dengan kelihaian suhengnya, Hoa Hoa Cinjin, namu kakek itu adalah seorang tokoh besar yang berkepandaian tinggi.

Sekarang terbunuh orang lain di daerah mereka, dan kalau sampai Hoa Hoa Cinjin tidak mau terima dan meluruk ke situ, hal ini akan menjadi cukup penting dan berbahaya!

"Dua orang muda kakak beradik membunuh Ban Kim Cinjin katamu?"

Tanya It Cin Cu memandang tajam.

"Soalnya tidak jelas,"

Hap Tojin menerangkan dengan muka merah karena memang ia masih ragu-ragu.

"Ban Kim Cinjin memaksa hendak naik menemui suhu. Tentu saja kami melarang dan terjadi pertempuran. Beberapa orang sute rendahan kami telah roboh oleh kakek itu. Tiba-tiba pemuda itu maju mencegah dan ia dipukul oleh Ban Kim Cinjin. Kesudahannya, malah Ban Kim Cinjin yang tewas secara aneh, tanpa dipukul oleh pemuda itu. Siauwte sendiri dan saudara-saudara semua tidak tahu siapakah yang membunuhnya, apakah pemuda yang kelihatan lemah dan telah kami tawan, apakah adiknya yang sudah pergi ataukah ada orang lain yang bersembunyi dan membantu mereka dengan diam-diam."

Dengan jelas Hap Tojin lalu menceritakan semua kejadian itu dan kedua orang suhengnya mulai tertarik.

Apalagi ketika mendengar bahwa pemuda itu seperti orang yang tidak mengerti ilmu silat dan betapa pemuda itu menanggung jawab semua kesalahan dan menyuruh adik perempuannya pergi.

Ini benar-benar aneh dan menarik.

"Bawa dia ke sini!"

Kata It Cin Cu tidak sabar lagi.

Hap Tojin keluar dan tak lama kemudian ia kembali ke dalam ruangan itu sambil mengiringkan Han Sin yang masih dibelenggu.

Dua orang murid kepala Cin-ling-pai itu memandang ke depan dan melihat seorang pemuda taruna yang tampan dan halus gerak-geriknya, sedikitpun langkahnya tidak membayangkan keahlian silat, pakaiannya robek dan tubuh bagian atas terbelenggu.

Namun pemuda itu wajahnya tidak memperlihatkan sesuatu, malah tersenyum tenang dan mengangkat dada.

Ketenangan yang wajar tidak dibuat-buat sehingga dua pasang mata murid kepala Cin-ling-pai yang amat tajam itu diam-diam memandang kagum.

Han Sin melangkah maju ke depan dua orang tosu itu dan menjura dengan hormat tapi kaku karena tubuhnya diikat.

It Cin Cu menunjuk ke sebuah bangku dan Han Sin lalu menduduki bangku itu.

Sebagai seorang pendeta, It Cin Cu tetap memakai sopan-santun, biarpun ia hanya menunjuk karena tentu saja ia tidak memandang kepada seorang pemuda seperti ini.

"Congsu, siapakah nama, murid siapa dan apa perlunya congsu berdua adik datang menimbulkan keributan di Cin-ling-san?"

Tanyanya singkat dan bernada keras.

Han Sin kecewa.

Di dalam kitab-kitabnya yang mengandung pelajaran kebatinan, orang diajar bersopan-santun, lemah lembut dan ramah terhadap sesama manusia.

Apalagi yang sudah menjadi pendeta, tentu lebih-lebih bersikap halus, tidak sekasar tosu tinggi kurus yang bertahi lalat di pipi kanannya itu.

Namun Han Sin tetap bersikap tenang dan sabar, ingat akan pelajaran di dalam kitab-kitabnya bahwa "yang baik harus ditiru dan yang keliru dinasehati".

"Totiang, aku yang bodoh she Cia bernama Han Sin datang dari Min-san di sebelah barat. Guruku adalah seorang siucai miskin bernama Thio-sianseng. Adapun aku dan adikku sebetulnya sama sekali tidak bermaksud menimbulkan keributan di Cin-ling-san. Kami hanya lewat saja akan tetapi dicegat dan diserang oleh para tosu di Cin-ling-san."

Han Sin memang tidak mau menyebut nama Ciu-ong Mo-kai sebagai gurunya, karena selain ia merasa tidak patut menyebut murid kakek sakti itu, juga bukankah Ciu-ong Mo-kai berpesan bahwa kalau menghadapi kesukaran ia harus menyebut namanya untuk mencari keselamatan?

Dia tidak merasa menghadapi kesukaran karena yakin bahwa dia tidak bersalah.

Perlu apa mesti menggunakan nama besar Ciu-ong Mo-kai untuk menakut-nakuti orang dan untuk mencari selamat?

Ia anggap hal ini tidak patut dan malah merendahkan nama besar pengemis sakti itu.

Tentu saja para tosu tidak pernah mendengar nama Thio-sianseng.

Dan makin rendah pandangan mereka terhadap pemuda tampan ini.

Akan tetapi tidak demikian dengan dua orang murid kepala Cin-ling-san.

Sikap Han Sin yang penuh kehalusan dan sopan-santun itu membuat mereka diam-diam makin curiga.

Bocah seperti ini sudah pasti bukan bocah sembarangan yang berandalan dan lancang.

"Kenapa kau membunuh Ban Kim Cinjin?"

Tanya It Cin Cu pula. Han Sin menggerakkan pundaknya.

"Aku sendiripun tidak tahu bagaimana aku bisa membunuhnya,"

Jawab pemuda ini dengan jujur.

"Agaknya dia mempunyai penyakit jantung yang berat. Begitu dia menyerangku, eh, tahu-tahu dia terjungkal dan mati. Di dalam hatiku, jangankan membunuh manusia, membunuh seekor ayampun kalau bisa jangan sampai kulakukan itu."

It Cin Cu dan Ji Cin Cu saling pandang.

"Sute,"

Kata It Cin Cu kepada Ji Cin Cu.

"Coba kau periksa tubuh Ban Kim Cinjin!"

Siauw-bin-hud Ji Cin Cu melengeh dan biarpun tubuhnya gemuk pendek, begitu tubuh itu digerakkan tahu-tahu ia telah berada di luar pintu.

Han Sin sampai terbelalak memandang keanehan ini.

Apakah tosu gendut itu bisa terbang?

Tak lama Ji Cin Cu masuk lagi, juga cepat seperti tadi.

Memang si gendut ini hendak memperlihatkan kepandaiannya kepada Han Sin untuk melihat reaksi pemuda itu.

Melihat pemuda itu dengan muka wajar terheran-heran, diam-diam ia makin tidak mengerti.

"Suheng, isi dadanya remuk terkena hawa pukulan lweekang yang hebat. Tenaga pukulan yang merusak isi dada itu kiranya tidak lebih rendah dari pada tenaga kita berdua disatukan. Hebat sekali! Bocah ini tentulah bukan pembunuhnya,"

Kata Ji Cin Cu. Kembali It Cin Cu mengerutkan kening.

"Bocah she Cia, apakah selain adikmu, masih ada orang lain yang datang bersamamu di bukit ini?"

Han Sin mengangguk.

"Memang ada!"

Semua orang kaget.

It Cin Cu dan Ji Cin Cu mengepal tangan, siap mendengar siapakah yang datang bersama anak muda ini, tentulah seorang sakti, yang sudah terkenal.

Dengan muka sejujurnya Han Sin meneruskan jawabannya.

"Selain aku dan adikku masih ada Siauw-ong."

Di antara semua tosu yang hadir, kiranya yang lebih banyak pengalamannya di dunia luar dan mengenal semua orang-orang gagah, hanyalah Cin-ling Sam-eng.

"Hap-sute, kenalkah kau seorang locianpwe berjuluk Siauw-ong?"

Tanya It Cin Cu kepada Hap Tojin, orang tertua dari Cin-ling Sam-eng. Hap Tojin menggeleng kepala.

"Ada Kim-i Tok-ong (Raja Racun Baju Sulam) ada Ban-jiu Touw-ong (Raja Copet Tangan Selaksa) ada Hui-thian Mo-ong (Raja Setan Terbang) dan banyak tai-ong tai-ong (sebutan kepala perampok) yang siauwte kenal, akan tetapi Siauw-ong (Raja Muda) tidaklah pernah dipergunakan orang kang-ouw sebagai nama julukan. Siauwte tidak mengenal nama ini,"

Jawab Hap Tojin. It Cin Cu menoleh kepada Han Sin.

"Siauw-ong yang kau sebut itu adalah cianpwe dari golongan dan partai manakah?"

Han Sin maklum bahwa jawabannya tadi telah mendatangkan salah paham, diam-diam ia menjadi geli.

Akan tetapi kesopanan melarang dia mentertawakan mereka itu.

Dengan muka masih tenang dan sikap tidak berubah ia menerangkan.

"Siauw-ong dari golongan monyet atau munyuk, bukan golongan lutung hitam, tidak berpartai. Dia adalah monyet kecil yang kami pelihara semenjak kecil."

Mendengar keterangan ini, terdengar suara ketawa kecil di antara para tosu yang dibikin kecele. Mereka tadi sudah tegang hendak mendengar siapa adanya "locianpwe"

Itu, tidak tahunya seekor kera!

It Cin Cu memutar matanya penuh teguran dan suara ketawa itu berhenti seketika.

Akan tetapi suara ketawa yang paling keras datang dari mulut Ji Cin Cu, dan It Cin Cu tidak mau menegur sutenya ini di depan orang banyak.

Ia berlaku tenang serius.

"Selain kera itu, siapa lagi yang ikut datang?"

"Tidak ada lagi, totiang,"

Jawab Han Sin.

It Cin Cu mengerutkan kening.

Inilah aneh, pikirnya.

Apakah ada orang luar biasa yang tidak dikenal pemuda ini yang diam-diam membantunya dan membunuh Ban Kim Cinjin?

Hal itu bukan urusan Cin-ling-pai, akan tetapi karena pembunuhan dilakukan di Cin-ling-san dan Ban Kim Cinjin adalah utusan kerajaan Ceng, itulah amat berbahaya.

Tiba-tiba ia mengulurkan tangan kanan menepuk pundak Han Sin.

Sebelum tangannya menyentuh pundak, Han Sin merasa datangnya angin pukulan yang hebat.

Pemuda ini terikat kedua tangannya, tak dapat ia menangkis.

Akan tetapi begitu tangan itu menyentuh pundaknya, It Cin Cu berseru perlahan dan menarik kembali tangannya.

Ia merasai pundak yang empuk seperti kapas akan tetapi yang dibawahnya mengandung tenaga menyedot luar biasa kuatnya sehingga tenaga pukulannya amblas!

Inilah lweekang yang amat tinggi tingkatnya.

Ia membelalakkan matanya dan membentak.

"Anak muda, jangan kau main-main! Siapa gurumu?"

Han Sin memang tidak tahu akan peristiwa yang terjadi tadi.

Tanpa ia sadari, sinkang di tubuhnya secara otomatis mengalir ke pundak membangkitkan tenaga penolakan yang luar biasa.

Inilah karena kematangan latihan samadhinya, yang membuat ia seperti dalam keadaan samadhi di setiap detik.

Bahkan ketika ia tidur, pernapasannya masih tetap saja lambat dan halus seperti dalam keadaan siulian.

Ia tidak tahu apa yang telah terjadi ketika tosu tadi menepuk pundaknya.

"Sudah kuterangkan tadi, totiang, guruku Thio-sianseng yang mengajarku membaca, menulis, dan menggambar,"

Jawabnya, suaranya tetap dan pandang matanya memancarkan kejujuran.

Ketika menentang pandang mata pemuda itu, lagi-lagi It Cin Cu dan Ji Cin Cu terkejut karena melihat sinar mata yang membuat mereka tidak tahan lama-lama memandang.

"Kau telah membunuh utusan kerajaan di daerah kami. Terpaksa kami harus menyerahkan kau kepada pemerintah Ceng untuk mencuci bersih tangan kami. Masukkan dia di Can-tee-gak (Ruangan Dalam Neraka)!"

Perintahnya kepada para sutenya.

Cin-ling Sam-eng lalu menggusur tubuh Han Sin, dibawa ke sebelah belakang bangunan, lalu menurunkan pemuda itu dengan sehelai tambang ke dalam sebuah jurang.

Yang disebut Can-tee-gak itu adalah sebuah jurang yang amat terjal dan sekali orang dimasukkan ke situ, jangan harap akan dapat keluar lagi tanpa pertolongan.

Jangankan dalam keadaan terikat badannya, biarpun bebas kaki tangannya, teramat sukarlah untuk dapat keluar dari situ.

Tempat ini memang disediakan untuk menghukum para anak murid yang melanggar peraturan.

Memang Cin-ling-pai amat keras dan berdisiplin, maka para anak muridnya juga tidak ada yang pernah menyeleweng.

KETIKA diturunkan di dalam jurang itu, Han Sin masih tenang saja.

Ia mendapatkan dirinya di dalam ruangan yang merupakan dasar jurang.

Baiknya tanah di situ kering dan lebarnya ada empat lima meter.

Di belakang dan depan dinding batu yang amat tinggi, di kiri kanan jurang yang lebih dalam lagi.

Sukar bagi seorang manusia untuk melarikan diri dari tempat ini, kecuali kalau dia bisa terbang.

Han Sin menarik napas panjang, duduk menyandarkan punggung di dinding batu.

Dia memang tidak mempunyai pikiran untuk lari.

Mengapa lari?

Tentu aku ditahan hanya untuk sementara waktu selagi para tosu ini mengadakan perundingan untuk memutuskan urusan ini, pikirnya.

Hawa di situ enak, angin gunung menghembus melalui kanan kiri dinding batu, segar dan sejuk membuat dia mengantuk.

Tak lama kemudian pemuda ini tertidur sambil bersandar batu.

Tepat dugaan Han Sin.

Di puncak Cin-ling-san, dua orang tosu murid kepala bersama sutenya mengadakan perundingan mengenai peristiwa yang cukup penting bagi Cin-ling-pai itu.

"Gadis itu ilmu silatnya lihai juga, dan aneh gerakan-gerakannya. Akan tetapi tenaganya belum seberapa dan ilmu silatnya itupun belum matang benar,"

Demikian Hap Tojin menerangkan kepada It Cin Cu dan Ji Cin Cu.

"Monyet kecil itupun hanya gesit saja, apa sih anehnya pada diri seekor monyet kecil? Pemuda itu biarpun sikapnya amat aneh, namun terang dia tidak mengerti ilmu silat. Ini dapat dilihat dari gerak-geriknya, malah ia terguling roboh ketika berlari dan kakinya tersandung batu. Masa seorang ahli silat bisa roboh begini? Akan tetapi, suheng, sekali tangkis dia bisa menewaskan Ban Kim Cinjin! Bukankah hal ini aneh di atas aneh!"

"Ajaib sekali!"

Seru Ji Cin Cu yang tersenyum-senyum terus. It Cin Cu mengerutkan kening.

"Tidak bisa lain, tentu ada orang pandai yang diam-diam menggunakan kesempatan itu membunuh Ban Kim Cinjin. Tak mungkin kalau hanya untuk menolong pemuda itu ia harus membunuh Ban Kim Cinjin, tentu dia sengaja membunuh di daerah ini agar kita bentrok dengan pemerintah Ceng. Inilah hebat."

"Kenapa susah-susah, twa-suheng?"

Kata Ji Cin Cu.

"Pemuda itu sudah kita tangkap, tinggal serahkan saja dia kepada pemerintah Ceng sebagai pembunuh Ban Kim Cinjin. Bukankah itu beres dan tangan kita tercuci bersih?"

Ucapan ini agaknya memuaskan Cin-ling Sam-eng, mereka mengangguk-angguk membenarkan. Akan tetapi It Cin Cu menggeleng kepala perlahan.

"Gampang diomongkan, susah dilaksanakan."

"Kenapa begitu, suheng?"

Tanya Hap Tojin.

"Apa sih susahnya membawa pemuda she Cia itu ke kota raja?"

"Apa kalian kira pemerintah Ceng begitu bodoh seperti anak kecil? Mereka mempunyai banyak orang-orang lihai. Kalau kita menyerahkan pemuda itu kepada mereka sebagai pembunuh Ban Kim Cinjin dan mereka mendapat kenyataan bahwa pemuda itu tolol tidak mengerti ilmu silat, apakah mereka mau percaya bahwa pemuda itu membunuh Ban Kim Cinjin? Jangan-jangan malah kita makin dicurigai!"

Semua tosu melengak mendengar ini dan baru terbuka mata mereka bahwa memang hal ini amat sukar dilaksanakan.

Siapapun orangnya, mereka sendiri juga, tak mungkin bisa percaya seorang pemuda yang kesandung batu saja roboh bisa membunuh seorang tokoh besar seperti Ban Kim Cinjin.

Ji Cin Cu mengangguk-anggukkan kepala sambil berkata.

"Heh heh, kau betul, twa-suheng. Kau betul, heh heh heh. Habis, apakah kita harus melaporkan hal ini kepada suhu dan minta keputusan suhu?"

It Cin Cu menarik napas panjang.

"Suhu sedang sibuk meyakinkan ilmu pedang yang baru. Sudah dua bulan suhu tidak keluar kamar, dan beliau melarang kita mengganggu. Apa kau tidak ingat? Masa untuk urusan kecil ini kita harus mengganggunya? "Tidak, itu aku tidak berani."

"Habis, bagaimana kita harus menyelesaikan urusan ini?"

Hap Tojin kuatir.

"Tidak ada lain jalan. Kau kubur dengan diam-diam jenazah Ban Kim Cinjin dan pura-pura tidak tahu bahwa kakek itu pernah menginjakkan kaki di bukit Cin-ling-san. Toh tidak ada orang lain tahu akan pembunuhan itu."

Semua orang menganggap keputusan ini baik sekali.

"Dan bagaimana dengan orang she Cia itu?"

Tanya Ji Cin Cu.

"Biar untuk sementara kita tahan dulu di sini, perlahan-lahan kita mencari keputusan yang baik,"

Jawab suhengnya.

Segera para tosu Cin-ling-pai bekerja.

Jenazah Ban Kim Cinjin dimasukkan ke dalam peti mati yang tebal dan kuat.

Karena mereka semua adalah orang-orang beribadat, maka tentu saja tidak melanggar peraturan.

Jenazah itu sebelum dikebumikan, mereka sembahyangi lebih dulu.

It Cin Cu bersembahyang sambil berkata keras.

"Ban Kim Cinjin, kau tahu sendiri bahwa kematianmu bukan disebabkan oleh Cin-ling-pai, oleh karena itu untuk menyingkirkan salah mengerti antara kami dengan kawan-kawanmu, terpaksa kami mengubur kau dengan diam-diam. Harap rohmu mendapat tempat yang baik."

Hio yang mengebul asap putih ditancap dan semua tosu ikut bersembahyang lalu membaca doa.

Pada saat itu secara tiba-tiba muncul empat orang.

Mereka ini adalah tiga orang pengemis tua dan seorang gadis yang cantik jelita.

Tadinya para tosu kaget mengira bahwa yang datang adalah Bi Eng yang membawa teman-teman untuk menolong Han Sin, akan tetapi setelah mereka datang dekat, ternyata gadis itu bukan Bi Eng.

Dia seorang gadis yang berpakaian indah dan mewah, mukanya bulat telur, berkulit putih halus, rambutnya yang hitam panjang itu di gelung ke atas secara istimewa dan indah seperti gelung para puteri keraton.

Cantik manis bukan kepalang gadis ini, hanya sepasang matanya memancarkan sinar galak dan bibir yang manis itu membayangkan kekerasan hatinya.

Seorang gadis muda yang angkuh, ini mudah sekali dilihat.

Tiga orang pengemis itu usianya lima puluhan tahun lebih.

Pakaian mereka tambal-tambalan, anehnya biarpun tambal-tambalan dan butut, mereka itu pakaiannya sama, seragam!

Tidak hanya potongan dan warnanya, bahkan tambal-tambalannya pun sama, sekain sewarna.

Di tangan mereka terlihat tongkat yang aneh pula karena bentuknya seperti ular kering, terbuat dari logam hitam yang kelihatannya berat.

Lucunya, tiga orang pengemis tua itu, kaki kirinya bersepatu butut akan tetapi kaki kanan telanjang!

Tadinya para tosu tidak memandang mata kepada empat orang yang baru muncul ini, akan tetapi ketika It Cin Cu, Ji Cin Cu dan Cin-ling Sam-eng melihat tongkat mereka yang berbentuk ular, mereka ini menjadi terkejut dan menduga-duga.

Cin-ling Sam-eng memang bertugas di luar, maka tanpa minta perkenan dari kedua orang suhengnya, mereka bertiga segera berdiri dan menyambut empat orang tamu itu.

Hap Tojin menjura dan berkata.

"Sam-wi Lo-enghiong ada keperluan apakah menaiki puncak? Mohon maaf kami para tosu Cin-ling-pai tidak dapat menyambut sebagaimana mestinya karena kami sedang berkabung."

Ia menuding ke arah peti mati. Tiga orang kakek pengemis itu memandang ke arah peti dan seorang di antara mereka yang matanya buta sebelah kiri, melangkah setindak dan bertanya.

"Siapakah yang mati itu, harap saja bukan Giok Thian Cin Cu si orang tua."

Tak senang hati para tosu Cin-ling-pai mendengar pengemis mata satu ini menyebut julukan ketua mereka begitu saja, agaknya memandang rendah saja.

Hap Tojin yang sudah banyak mengenal orang kang-ouw, memandang penuh perhatian kepada si mata satu, lalu menjura dan menjawab.

"Bukan ketua kami yang kembali ke alam asal. Lo-enghiong ini apakah bukan Tok-gan Sin-kai, yang terkenal di antara para orang gagah dari Coa-tung Kai-pang (Perkumpulan pengemis tongkat ular) dari utara?"

Pengemis mata satu itu tertawa.

"Awas sekali mata tosu-tosu Cin-ling-pai. Kalian bertiga ini tentulah Cin-ling Sam-eng."

"Kami bertiga yang bodoh, murid-murid Cin-ling-pai yang rendah tingkatnya mana berani menggunakan julukan Sam-eng? Tok-gan Sin-kai, seingat kami, antara Cin-ling-pai dan Coa-tung Kai-pang tidak pernah ada urusan apa-apa, sekarang kau datang ke sini ada keperluan apakah?"

"Kami datang mencari Ban Kim Cinjin!"

Pernyataan ini membuat wajah para tosu menjadi pucat.

Dan dalam pikiran It Cin Cu dan Ji Cin Cu timbul dugaan yang membuat muka mereka merah.

Apakah tidak boleh jadi kalau pengemis mata satu ini yang diam-diam membunuh Ban Kim Cinjin kemudian pura-pura datang untuk menelanjangi mereka?

"Di mana Ban Kim Cinjin?

Dia naik ke sini, bertempur dengan kalian lalu lenyap,"

Desak pula Tok-gan Sin-kai dengan suara garang.

"Ketahuilah, kami bertiga mengantar nona Thio ini yang mewakili ayahnya, Thio-ciangkun, bersama Ban Kim Cinjin menjadi utusan kaisar. Ban Kim Cinjin berjalan lebih dulu karena tidak ingin mengagetkan kalian tosu-tosu Cin-ling-pai dengan kunjungan banyak orang. Di mana dia?"

Kecurigaan It Cin Cu dan Ji Cin Cu lenyap, dan kini mereka malah kaget sekali.

Celaka, pikir mereka sebelum mayat Ban Kim Cinjin dikubur, datang utusan-utusan kaisar ini.

Kalau sampai rahasia terbuka, tak dapat tiada pasti akan timbul keributan.

Cin-ling Sam-eng juga mempunyai pikiran seperti itu.

Hap Tojin lalu berkata sambil tersenyum.

"Coa-tung Kai-pang telah bersekutu dengan pemerintah baru, itu bukan urusan kami orang-orang Cin-ling-pai. Kenapa kami harus mencelakakan utusan kaisar?"

Tiba-tiba gadis yang pendiam dan kelihatan galak itu menggerakkan kakinya.

Ringan bagaikan burung walet tubuhnya melayang ke dekat peti mati dan sebelum ada orang menduga apa yang hendak dilakukannya dan sebelum mereka sempat mencegah, gadis itu telah mengayunkan tangan kirinya ke arah peti mati.

"Brakk!"

Tutup peti mati itu pecah terbuka dan kelihatanlah mayat Ban Kim Cinjin membujur kaku di dalam peti mati.

Nona itu mengeluarkan seruan tertahan dan meloncat mundur dekat tiga orang pengemis tadi, wajahnya yang cantik berobah bengis.

Sungguh mengherankan orang kalau melihat kejadian itu.

Tangan nona manis itu berkulit halus dan putih, agaknya tak pernah bekerja kasar, bagaimana sekali gempur saja tutup peti mati yang demikian tebalnya sampai pecah?

Benar-benar ia menunjukkan bahwa lweekang nona itu sudah tinggi tingkatnya dan kepandaiannya pun hebat.

Semua orang tosu menahan napas saking tegang hatinya.

Dipukulnya peti mati itu bukan merupakan hinaan bagi mereka karena di dalam peti mati adalah mayat Ban Kim Cinjin.

Akan tetapi, terbukanya peti mati itu sekali gus membuka rahasia mereka yang hendak menyembunyikan tentang kematian Ban Kim Cinjin.

Tiga orang pengemis itu bersinar-sinar matanya karena marah.

"Hemm, tidak kusangka tosu-tosu Cin-ling-pai pandai membohong dan curang!"

Seru pengemis mata satu. Matanya yang sebelah kanan berkilat menyapu ke arah Cin-ling Sam-eng, penuh ancaman. Hap Tojin mengeluarkan suara ketawa nyaring untuk menindas hatinya yang tadi terguncang.

"Tok-gan Sin-kai, jangan sembarangan saja kau membuka mulut memaki orang! Sejak kapan kami orang-orang Cin-ling-pai membohong?"

"Tosu tua bau!"

Tok-gan Sin-kai marah sekalidan melangkah maju.

"Tadi mulutmu sendiri yang menyangkal membunuh Ban Kim Cinjin. Di dalam peti mati itu mayat siapa lagi kalau bukan mayat Cinjin? Apa mulutmu yang bau masih hendak bilang mayat itu tidak mati?"

Sambil berkata demikian, Tok-gan Sin-kai menggerakkan tongkat ularnya yang dengan gerakan berputaran menghantam kepala Hap Tojin.

"Sratt!"

Sebatang pedang telah berada di tangan Hap Tojin dan sekali pedangnya berkelebat, tongkat ular sudah ditangkisnya.

"Traanggg!"

Bunga api berpijar dan ternyata kini bahwa tongkat itu terbuat dari logam yang amat kuat.

Hap Tojin terkejut sekali di dalam hatinya ketika merasa telapak tangannya panas dan sakit-sakit akibat benturan senjata itu.

"Pengemis tua, jangan kau memaki sembarangan!"

Hap Tojin juga sudah marah karena pengemis itu mulai mendamprat.

"Memang di dalam peti mati itu mayat Ban Kim Cinjin, siapa yang pernah menyangkal itu? Akan tetapi matinya bukan karena kami orang-orang Cin-ling-pai. Kalau kami bermusuh kepadanya dan membunuhnya, masa kami sudi bersusah payah mengurus penguburannya dan menyembayanginya?"

Ucapan ini masuk akal dan agak menyabarkan hati Tok-gan Sin-kai.

Ia lalu melangkah maju menghampiri mayat di dalam peti itu.

Biarpun Ban Kim Cinjin adalah seorang tokoh besar yang memiliki kedudukan tinggi juga di antara para pembantu pemerintah Ceng, namun karena bukan seorang tokoh partainya, pengemis mata satu ini juga tidak banyak menaruh hormat.

Dengan sembarangan saja ia memeriksa tubuh Ban Kim Cinjin, membuka bajunya dan melihat di bagian dada itu biru-biru menghitam, tanda bahwa matinya terkena pukulan hebat.

"Cin-ling Sam-eng, apa kau mau bilang bahwa orang ini mati sendiri tanpa sebab?"

Ia mengejek sambil mundur lagi dua langkah.

"Tok-gan Sin-kai, dia mati dipukul orang. Cuma saja, siapa orangnya, itu kami masih sedang menyelidiki."

"Hemm, omongan bayi! Dia adalah utusan pemerintah dan datang ke sini untuk memenuhi tugas. Tahu-tahu dia mati di sini, di antara para tosu Cin-ling-pai dan kau mau bilang bahwa kau tidak tahu siapa yang memukulnya sampai mati?"

Dua orang pengemis yang lain mengeluarkan suara ejekan, dan gadis manis itu, yang tadi disebut Thio-Siocia (nona Thio) puteri Thio-ciangkun, berkata dengan nyaring dan keren.

"Tosu-tosu Cin-ling-pai kalau sudah membunuh, berlakulah sebagai orang gagah! Sudah berani membunuh mengapa takut mengaku dan menjelaskan sebab-sebabnya? Kami melihat sendiri tadi Cinjin bertempur dikeroyok beberapa orang tosu."

"Cin-ling-pai tidak mempunyai anggauta pengecut tukang bohong. Kami selalu menjaga diri dengan pedang, tak pernah menggunakan pukulan curang. Andaikata Ban Kim Cinjin mati ditangan kami, tentulah matinya tertusuk pedang, Kami tahu Ban Kim Cinjin dibunuh orang akan tetapi belum tahu siapa pembunuhnya. Kalau kalian pecaya kepada kami, boleh kalian membawa pergi mayat Ban Kim Cinjin dan pergi dari sini dengan baik-baik. Kalau tidak percaya, terserah hendak berbuat apa. Aku Hap Tojin mewakili Cin-ling-pai sudah habis bicara!"

Ia lalu berdiri dengan pedang melintang di dada akan tetapi menjura dengan hormat, ini tandanya ia menghormati para tamu akan tetapi tidak mau mengalah atau tunduk begitu saja.

"Bagus! Memang sudah lama aku mendengar nama besar Cin-ling Sam-eng yang tersohor gagah dan angkuh. Hendak kulihat sampai di mana kehebatannya!"

Sambil berkata demikian, Tok-gan Sin-kai lompat menyerang Hap Tojin.

"Pengemis buta jangan main gila di Cin-ling-san!"

Seru Hap Tojin sambil memutar pedangnya menangkis.

Di saat itu, berkelebat dua bayangan yang cepat mengurung pengemis mata satu itu, ternyata Hee Tojin dan Tee Tojin sudah maju membantu saudaranya itu.

"Tahan dulu, harap jangan menurutkan nafsu marah. Urusan ini baik dirundingkan secara damai!"

Yang bicara adalah It Cin Cu yang bersama Ji Cin Cu semenjak tadi hanya duduk diam mendengarkan saja.

Mendengar seruan suheng mereka, Cin-ling Sam-eng melompat mundur menahan senjata dan berdiri memandang kepada Tok-gan Sin-kai dengan mata melotot.

Adapun Tok-gan Sin-kai ketika mendengar suara yang berpengaruh inipun tidak berani sembarangan turun tangan, lalu berdiri menghadapi It Cin Cu dan Ji Cin Cu yang sudah melangkah maju dengan tenang.

It Cin Cu menjura kepada pengemis mata satu itu, lalu berkata, suaranya tenang.

"Tok-gan Sin-kai lo-sicu harap maafkan sute-sute kami yang berdarah panas. Biasanya, urusan mengenai Cin-ling-pai memang sudah kami serahkan kepada ketiga orang sute kami ini, akan tetapi mengingat bahwa urusan kali ini bukan kecil dan amat pentingnya, terpaksa pinto berdua ikut-ikut."

Tok-gan Sin-kai balas menjura. Kalau dua orang ini adalah suheng-suheng (kakak-kakak seperguruan) Cin-ling Sam-eng, maka mereka ini bukanlah orang sembarangan.

"Ucapan totiang lebih menarik hati, memang bukan maksud kami datang ke Cin-ling-san untuk berkelahi. Tidak tahu siapakah totiang dan ada petunjuk apakah?"

"Sam-wi losicu dan nona jauh-jauh datang dan kami tidak dapat menyambut secara sewajarnya, harap banyak maaf. Seperti cu-wi (tuan sekalian) melihatnya, kami sedang menjalankan upacara sembahyang dan memang pada kematian Ban Kim Cinjin ini terselip hal-hal yang amat aneh. Bukan bohong ketika para sute tadi mengatakan bahwa kami sendiri merasa berhadapan dengan teka-teki sulit dan masih meraba-raba dan menduga-duga siapa sebenarnya pembunuh Ban Kim Cinjin."

Kemudian dengan suara tenang dan sabar It Cin Cu menceritakan peristiwa yang telah terjadi di Cin-ling-san. Sebagai penutup ceritanya ia berkata.

"Untuk penyelidikan, kami sengaja menahan bocah she Cia itu dan mengurungnya di Can-tee-gak."

Mendengar ini, nona cantik yang tadi diperkenalkan sebagai Thio-Siocia puteri dari Thio-ciangkun (perwira Thio) melompat dan sekali tangannya menyambar, ia telah menangkap seorang tosu terdekat.

Tosu itu mencoba untuk menangkis, akan tetapi sekali totok tubuhnya lumpuh dan leher bajunya sudah dicengkeram oleh nona yang gagah ini!

"Ayoh, antar aku ke Can-tee-gak!"

It Cin Cu tersenyum kecil dan Ji Cin Cu tertawa lebar.

"Hayaa, sute, kau benar-benar sial!"

Katanya kepada tosu yang ditangkap oleh nona Thio yang sebenarnya bernama Thio Li Hoa.

Nona ini adalah murid terkasih dari ketua Coa-tung Kai-pang (perkumpulan pengemis tongkat ular) dan selain mewarisi ilmu silat ketua Coa-tung Kai-pang, iapun sudah mewarisi kepandaian tunggal ayahnya, Thio-ciangkun.

Maka biarpun tiga orang pengemis tongkat ular adalah terhitung suheng-suhengnya, namun dalam ilmu silat, kiranya dia tidak akan kalah oleh mereka.

It Cin Cu memandang kepada Thio Li Hoa dengan mata tajam.

"Nona Thio, kau sungguh tidak memandang kami. Setelah kami berterus terang, mengapa menggunakan kekerasan? Tanpa mengeluarkan kepandaianmu, kami tentu bersedia mengantarmu membuktikan kebenaran ceritaku tadi."

Mendengar ini, Li Hoa menjadi merah mukanya, akan tetapi dasar ia keras hati, ia hanya mendengus dan melepaskan cekalannya.

Tosu itu ketika dilepaskan, lalu roboh terkulai dengan lemas.

Ji Cin Cu mendekati dan sekali menepuk, tosu itu sudah sembuh kembali.

Melihat ini, diam-diam Li Hoa memuji.

Tak disangkanya, tosu gemuk pendek yang selalu tertawa itu demikian lihainya.

"Nona Thio, ketahuilah. Can-tee-gak berada di sebelah belakang puncak ini. Kau jalan dari sini ke belakang sampai dua li, membelok ke kiri setengah li dan tibalah kau di jurang Can-tee-gak. Dengan kepandaianmu, kau tentu akan dapat menuruni jurang itu dan memeriksa bocah she Cia yang menjadi tangkapan kami itu. Nah, tanpa diantarpun tentu nona tidak takut pergi seorang diri, bukan?"

Ucapan Ji Cin Cu yang disertai suara ketawa ini memang dia sengaja.

Tadi tosu itu diam-diam merasa mendongkol melihat kekasaran nona ini yang menghina seorang sutenya, maka ia sekarang sengaja memanaskan hati untuk membalas biar nona itu pergi sendiri mencari Cia Han Sin di tempat tahanannya.

Ia tahu bahwa tidak mudah menuruni Can-tee-gak, maka sengaja ia berkata bahwa tentu nona itu tidak takut.

Memang Li Hoa berwatak keras.

Mana dia kenal takut?

Apalagi setelah orang berkata demikian tentu saja ia malu kalau tidak berani pergi sendiri.

Ia tersenyum mengejek, tubuhnya berkelebat dan terdengar suaranya.

"Kau lihat saja apakah aku tidak dapat menyeretnya ke sini!"

"Sumoi, biar aku menemanimu,"

Kata seorang pengemis sambil menggerakkan kaki hendak mengejar. Namun bayangan gadis itu yang sudah tidak kelihatan lagi menjawab dari jauh.

"Tidak usah, suheng, jangan bikin aku ditertawai orang!"

Pengemis itu menggeleng kepala, menarik napas panjang lalu memandang kepada Ji Cin Cu dengan mata melotot.

"Ha ha ha ha!"

Ji Cin Cu yang dipelototi tertawa bergelak.

"Nona itu jauh lebih berani dari suheng-suhengnya. Kagum, kagum.....!"

It Cin Cu lalu mempersilakan tamu-tamunya mengambil tempat duduk dan dia lalu melanjutkan upacara sembahyang yang tadi tertunda.

Peti mati ditutup lagi dan upacara dilanjutkan dengan penuh khidmat sehingga tiga orang pengemis tua itu merasa tidak enak untuk mengganggu.

Namun diam-diam mereka tidak bisa duduk diam dan hati mereka kebat-kebit kalau mengingat sumoi mereka yang pergi seorang diri hendak mengambil tawanan yang akan mereka paksa untuk mengaku siapa adanya pembunuh Ban Kim Cinjin.

Setelah upacara sembahyang selesai, It Cin Cu lalu minta kepada Tok-gan Sin-kai untuk menceritakan apakah sebetulnya tugas mereka dan usul apa gerangan yang diajukan oleh pemerintah Ceng kepada Cin-ling-pai.

Dengan suara tinggi dan memperlihatkan sikap bangga sebagai utusan pemerintah Ceng, Tok-gan Sin-kaiyang kini setelah Ban Kim Cinjin tewas boleh dibilang menggantikan kedudukannya sebagai pemimpin rombongan, lalu berkata.

"Karena ternyata bahwa pemerintah baru telah diperkenankan oleh Thian (Tuhan) memimpin rakyat, sudah sepatutnya kalau para orang gagah membantu pemerintah baru ini mengenyahkan segala kekacauan dan membantu penertiban di kalangan rakyat. Ada beberapa gelintir manusia tak tahu diri coba memberontak dan membangkang, aahh, tak lama lagi tentu mereka ini akan digilas hancur. Cin-ling-pai selama ini tidak memperlihatkan sikap bermusuhan dengan pemerintah baru, hal ini amat menggirangkan hati Thio-ciangkun yang bertugas menertibkan para perkumpulan orang gagah di dunia kang-ouw. Akan tetapi, totiang, sikap diam tidak bermusuhan saja masih belum sempurna. Untuk mempererat hubungan dan kerja sama demi kepentingan rakyat jelata, sudah sepatutnya kalau Cin-ling-pai menggunakan kekuasaan dan nama besarnya untuk membantu usaha pemerintah. Dan adalah harapan besar dari Thio-ciangkun agar Cin-ling-pai suka mencari surat wasiat Lie Cu Seng yang lenyap di tangan mendiang Cia Sun si pemberontak di Min-san."

Tok-gan Sin-kai berhenti bicara dan matanya yang tinggal satu itu memandang wajah It Cin Cu dan Ji Cin Cu bergantian dengan sinar mata penuh selidik dan tajam.

Namun wajah It Cin Cu yang keren itu tidak memperlihatkan bayangan isi hatinya, tetap keren dan tenang, sedangkan wajah Siauw-bin-hud Ji Cin Cu tetap tersenyum-senyum seperti orang kegirangan, tidak ada perubahan apa-apa.

Padahal dibalik "kedok"

Muka ini, di dalam dada dua orang tosu Cin-ling-pai ini timbul gelombang hebat mendengar ucapan Tok-gan Sin-kai.

Mereka tahu bahwa dengan cara licin memutar, pemerintah Ceng telah minta bukti dari Cin-ling-pai bahwa perkumpulan ini tidak menentang pemerintah Ceng dan suka melakukan perintahnya.

Kalau memang pemerintah baru ini menghendaki surat wasiat itu, mengapa harus minta bantuan Cin-ling-pai dan tidak mengerahkan kaki tangannya sendiri yang banyak dan lihai-lihai?

Akan tetapi It Cin Cu yang berwatak jujur, tidak sanggup menjawab dan diam saja.

Sebaliknya, Ji Cin Cu yang selalu tertawa itu ternyata memiliki otak yang lebih cerdik.

Sambil tertawa-tawa ia mengutarakan isi hatinya ini dengan cara memutar pula.

"Lo-sicu, kami dari Cin-ling-pai memang tidak mempunyai maksud bermusuh dengan siapapun juga, apa lagi dengan pemerintah yang berkuasa. Juga orang-orang bodoh seperti kami, yang setiap hari hanya menyucikan diri dan sedapat mungkin menjauhi urusan dunia, mana ada kesanggupan dan kemampuan untuk mencari surat wasiat yang demikian pentingnya? Kalau lo-sicu sudah tahu bahwa surat wasiat itu berada di tangan Cia-enghiong di Min-san, bukankah kau orang tua tinggal datang ke sana dan mengambilnya saja?"

Nama besar Cia Sun sebagai keturunan pahlawan dan juga sebagai seorang pendekar besar, biarpun kepandaiannya belum begitu hebat, sudah terkenal di seluruh dunia dan mendapat penghormatan besar dari pada para ciang-bun-jin (ketua) partai dan orang-orang gagah.

Maka Ji Cin Cu juga menyebutnya Cia-enghiong (pendekar Cia), tidak seperti Tok-gan Sin-kai yang menyebut si pemberontak tadi.

Tok-gan Sin-kai tersenyum pahit dan menjawab.

"Tidak semudah itu, Ji Cin Cu totiang! Memang kami sudah menyelidik ke Min-san, akan tetapi puncak itu kosong dan kabarnya dua orang anak keturunan Cia Sun sudah turun gunung. Tentu surat wasiat itu mereka bawa pergi."

Tiba-tiba hati It Cin Cu dan Ji Cin Cu berdebar, akan tetapi dua orang tosu yang sudah tinggi kepandaiannya ini dapat menekan perasaan mereka dan wajah mereka tidak berubah sama sekali.

Akan tetapi dari pandang mereka masing-masing tahu apa yang terkandung di hati mereka.

Bocah yang aneh itu she Cia dan datang bersama seorang adik perempuannya, apakah tidak mungkin mereka itu anak-anak dari pendekar Cia Sun?

Kalau benar demikian halnya, mereka sebagai orang-orang gagah yang amat mengagumi Cia Hui Gan dan Cia Sun, tentu saja tidak akan membiarkan pemuda itu terjatuh ke dalam tangan kaki tangan pemerintah Ceng!

Karena pikiran ini, mereka lalu bersikap tenang dan diam, namun berjanji dalam hati untuk melindungi pemuda itu kalau benar dia keturunan Cia Hui Gan dan Cia Sun.

Dengan amat nyaman Han Sin yang di"hukum"

Di Can-tee-gak (Ruangan Dalam Neraka) bukannya mengeluh dan berkuatir, malah tidur nyenyak sekali.

Tempat itu yang diapit batu karang tinggi merupakan terowongan untuk angin gunung maka tubuhnya serasa dikipasi dan sejuk sekali.

Setelah kenyang tidur, tiba-tiba ia bangun ketika telinganya mendengar suara yang amat dikenalnya.

Suara cecowetan.

"Siauw-ong, kau di mana?"

Tegurnya.

Tak salah lagi, itulah suara monyetnya.

Akan tetapi ia tidak melihat monyet itu dan suara monyetnya terdengar dari atas.

Tahulah ia bahwa tentu Siauw-ong berada di atas jurang.

Tiba-tiba ia menjadi gelisah.

Kalau Siauw-ong muncul, tentu muncul pula Bi Eng.

Bukankah monyet itu tadi pergi mengikuti adiknya?

Dan kalau Bi Eng kembali, tentu adiknya yang berwatak keras dan berani itu akan bentrok dengan para tosu Cin-ling-pai.

"Siauw-ong! Eng-moi! Kalian pergilah dari sini, biar nanti aku menyusul!"

Serunya ke atas.

Akan tetapi tidak terdengar jawaban kecuali gema suaranya sendiri.

Malah suara Siauw-ong tidak terdengar lagi.

Ia menarik napas lega.

Mudah-mudahan mereka mau menuruti permintaanku dan melarikan diri, pikirnya.

Pemuda ini sama sekali tidak tahu bahwa ketika ia tadi tertidur, seorang gadis yang cantik telah menuruni jurang itu melalui seutas tambang.

Dengan gerakan lincah melebihi seekor kera gadis itu, Thio Li Hoa, telah menuruni Can-tee-gak untuk melihat sendiri kebenaran cerita tosu-tosu Cin-ling-pai tentang seorang pemuda she Cia yang sudah membunuh Ban Kim Cinjin.

Gadis ini memang cerdik sekali, melebihi para suhengnya, maka begitu mendengar seorang pemuda bershe Cia, timbul kecurigaannya.

Tidak semata-mata ia hendak menyelidiki kebenaran cerita para tosu itu, melainkan ia menaruh dugaan bahwa mungkin sekali pemuda dan adik perempuannya itu adalah keturunan Cia Sun yang sudah turun gunung.

Cia Sun seorang pendekar besar, tidak aneh apabila mempunyai seorang putera yang berkepandaian tinggi.

Kalau ia dapat menemui pemuda itu dan mendahului orang lain merampas surat wasiat Lie Cu Seng, bukankah ini baik sekali?

Seluruh orang pandai di dunia kang-ouw mengilar untuk mendapatkan surat wasiat itu, apa lagi dia!

Terpincuk oleh harta terpendam?

Cih, siapa memikirkan harta terpendam?

Sesungguhnya, bukan harta terpendam, melainkan kitab rahasia yang hebat, kitab pelajaran ilmu silat yang luar biasa dan tiada keduanya di dunia ini.

Itulah kitab pelajaran peninggalan Tat Mo Couwsu yang paling dirahasiakan, yang kabarnya terjatuh ke dalam tangan Lie Cu Seng namun belum ada seorangpun manusia sempat mempelajari isinya.

Kitab yang tiada bandingannya di dunia lebih berharga dari pada harta dunia yang paling mahal, yang dibuat rindu oleh semua tokoh kang-ouw!

Inilah yang membuat gadis cerdik ini tergesa-gesa mencari Cia Han Sin karena ia menduga bahwa pemuda ini tentulah putera Cia Sun dan membawa surat wasiat.

Ketika Li Hoa berhasil menuruni dasar jurang Can-tee-gak, ia melihat seorang pemuda sedang tidur pulas dengan duduk bersandar pada batu karang.

Hatinya terkesiap dan jantungnya berdebar ketika ia melihat Han Sin.

Tak disangkanya ia akan menjumpai seorang pemuda setampan ini dan segagah ini.

Dalam tidur, biarpun dalam keadaan terbelenggu dan berada di dasar jurang dalam, bibirnya masih tersenyum dan pada wajah yang amat tampan itu seujung rambutpun tidak kelihatan tanda gelisah atau ketakutan.

Melihat wajah pemuda ini, diam-diam Li Hoa merasa denyut jantungnya menjadi cepat sekali dan kedua pipinya menjadi panas.

Aneh, mengapa aku menjadi begini?

Demikian pikir gadis itu dengan heran.

Ketika itu, Han Sin menggerakkan sebelah kakinya dan cepat ringan bagaikan seekor burung walet, gadis itu sudah melompat dan menyelinap bersembunyi ke balik sebuah batu disebelah kanan pemuda itu.

Ia mengintai dari tempat sembunyinya dan diapun mendengar suara cecowetan seekor monyet dari atas jurang.

Ketika pemuda itu memanggil-manggil nama monyet itu dan nama adik perempuannya, hati Li Hoa girang bukan main.

Ketika ayahnya menyuruh orang menyelidik ke Min-san, diapun mendengarkan laporan penyelidik-penyelidik itu bahwa Min-san sudah ditinggal pergi oleh putera dan puteri Cia Sun yang turun gunung membawa seekor monyet.

Tak salah lagi, inilah putera Cia Sun dan tentu dia inilah yang membawa pergi surat wasiat itu!

Aku harus cepat turun tangan, jangan sampai didahului oleh para tosu Cin-ling-pai, pikirnya, Maka keluarlah ia dari tempat persembunyiannya.

Akan tetapi pada saat itu, Han Sin berseru girang dan dari atas meluncur turun bayangan hitam kecil yang merosot dengan amat cepatnya.

Li Hoa kaget sekali.

Dia sendiri tidak akan dapat meluncur turun melalui tambang secepat itu.

Kalau lawan yang datang ini, tentu hebat kepandaiannya.

Akan tetapi setelah dekat, ternyata yang meluncur itu adalah seekor monyet yang kecil yang kini sudah tergantung-gantung di atas kepala Han Sin.

"Siauw-ong, kau turun juga? Mana nonamu?"

Tegur Han Sin yang masih belum melihat bahwa kini Li Hoa sudah berdiri di belakang batu.

Siauw-ong lebih awas.

Monyet ini mengeluarkan bunyi nyaring dan cepat meloncat turun, lalu membalikkan tubuh menghadapi Li Hoa dengan mulut meringis memperlihatkan taring-taringnya.

Baru sekarang Han Sin menengok dan ia kaget bukan main.

Matanya melongo memandang wajah gadis yang cantik bukan main ini.

Bagaimana di tempat ini ada seorang gadis sedemikian cantik manisnya?

Tentu seorang dewi dari kahyangan, pikirnya.

Kalau manusia biasa, mana bisa seorang gadis selemah itu menuruni tempat ini?

"Siauw-ong, mundur kau!

Jangan kurang ajar!"

Bentaknya keras melihat sikap Siauw-ong hendak menyerang nona itu.

Siauw-ong tidak berani membantah perintah tuannya, lalu melompat mundur dan duduk di atas pundak Han Sin, mengeluarkan bunyi sedih melihat tubuh pemuda itu dibalut rantai-rantai besi yang amat besar dan kuat.

Li Hoa melangkah maju dan Han Sin segera mencium bau harum yang keluar dari pakaian gadis itu yang indah dan mewah.

Melihat dandanan dan sanggul yang indah luar biasa itu, Han Sin tidak sangsi lagi bahwa ini tentulah seorang dewi.

Ia seringkali membaca dongeng-dongeng tentang dewi dan dewa, maka cepat ia berlutut, dan mengangguk-anggukan kepalanya sambil berkata.

"Hamba Cia Han Sin yang penuh dosa mohon ampun bahwa hamba tidak dapat menyambut kedatangan dewi yang bijaksana!"

Ia mengira akan mendengar jawaban yang merdu dan berpengaruh seperti layaknya suara seorang dewi, akan tetapi alangkah herannya ketika ia sebaliknya mendengar suara ketawa kecil cekikikan karena geli hati.

Celaka, pikirnya, teringat akan dongeng-dongeng dalam buku-bukunya, kalau dewi tidak pernah tertawa seperti ini, kecuali siluman!

Dia siluman.....!

Ia memberanikan hati dan mengangkat muka, akan tetapi tidak melihat gadis itu tertawa lagi, melainkan melihat wajah yang keren, cantik sekali, dan agung.

Memang watak Li Hoa tidak periang dan gadis ini keras hati serta angkuh.

Tapi melihat sikap Han Sin tadi, ia tidak dapat menahan kegelian hatinya dan tertawa.

Baiknya ia cepat dapat menguasai hatinya lagi sehingga ketika pemuda itu mengangkat muka, ia sudah dapat menggigit bibirnya dan memandang tajam dengan muka merah.

"Tak usah main gila, aku bukan dewi segala macam!"

Bentaknya ketus.

"... kau bukan.... bukan....."

Kata Han Sin gagap karena masih bingung oleh jalan pikirannya sendiri tadi.

"Bukan apa?"

Bentak Li Hoa lebih ketus lagi. Han Sin tak dapat menjawab. Tak mungkin ia melanjutkan kata-katanya yang kurang kata-kata "siluman betina"

Tadi. Ia hanya menjawab.

"Aku tidak menyangka di tempat ini dapat bertemu dengan nona, maka aku menjadi kaget dan bingung. Harap nona suka memaafkan sikapku tadi,"

Katanya dan mukanya menjadi merah saking jengah mengingat sikapnya tadi.

Gadis itu mendengus kecil lalu duduk di atas sebuah batu di depan Han Sin.

Mata yang jeli itu memandang penuh selidik, dan ia berhasil menyembunyikan kekagumannya melihat potongan tubuh dan wajah pemuda itu.

"Aku turun ke sini untuk memeriksamu. Siapa namamu?"

Sampai lama Han Sin tidak dapat menjawab.

Ia terheran-heran.

Yang menangkapnya adalah tosu-tosu Cin-ling-pai dan tadi ia hanya melihat banyak sekali tosu-tosu tua muda, tidak seorangpun ada wanitanya.

Bagaimana sekarang tahu-tahu muncul seorang gadis secantik bidadari datang untuk memeriksa perkaranya?

Saking tercengang dan heran, ia sampai tidak mendengar pertanyaan tadi.

"Hei! Siapa namamu?"

Li Hoa mengulang. Han Sin sampai menjumbul (tersentak), tapi dengan senyum tenang ia menatap wajah penanyanya.

"Ah, sampai kaget aku. Kenapa sih nona yang belum mengenal aku sudah membentak-bentak seperti orang marah? Apakah ada sesuatu yang menjengkelkan hatimu, nona?"

Han Sin memang berhati mulia dan halus. Melihat orang marah-marah itu ia salah duga dan mengira nona ini sedang mengandung kejengkelan, maka ia berusaha menghibur malah.

"Jangan banyak cerewet. Jawab, siapa namamu?"

Li Hoa membentak, makin keras karena marah dan mengira Han Sin mempermainkannya. Han Sin menarik napas panjang.

"Kasihan, semuda ini sudah banyak mengalami kejengkelan hati. Bisa lekas tua....."

"Plak! Plak!"

Dua tamparan tangan Li Hoa jatuh di pipi kanan kirinya.

Di pipi yang putih itu tampak membekas merah lima jari tangan Li Hoa.

Tentu pedas dan sakit rasanya, akan tetapi Han Sin hanya tersenyum saja.

Dia seorang pemuda yang berani, tenang dan kuat menderita.

"Terima kasih, nona,"

Katanya dengan senyum dikulum.

Tak kuat Li Hoa menghadapi senyum itu, apalagi pancaran sinar mata yang tajam luar biasa dari pemuda aneh ini, jantungnya berdenyut dan pipinya menjadi merah, lebih merah dari pipi Han Sin yang sudah mulai menghilang tapak jarinya.

"Habis kau.... kau kurang ajar sih...."

Katanya perlahan seperti pernyataan menyesal bahwa ia sudah memukul orang yang begini halus. Han Sin mengangkat alisnya.

"Maaf, aku tidak bermaksud kurang ajar. Baiklah, kujawab pertanyaanmu tadi. Namaku Cia Han Sin, dan kau siapa, nona?"

"Kau putera Cia Sun?"

Tanya lagi Li Hoa tanpa menjawab pertanyaan orang.

"Eh, bagaimana kau bisa tahu? Apa kau kenal orang tuaku? Sayang ayah sudah meninggal, kalau belum aku dapat menanyakan namamu kepadanya."

Li Hoa tidak memperdulikan ucapan orang, hatinya terlampau girang mendapat kenyataan bahwa dugaannya tadi benar. Nafsunya untuk mendapatkan surat wasiat tak dapat ditahannya lagi.

"Orang she Cia, kau tentu membawa surat wasiat Lie Cu Seng, betul tidak?"

Suaranya sampai menggetar saking tegang hatinya.

Han Sin bukannya tidak tahu bahwa orang-orang kang-ouw menghendaki surat wasiat itu dan iapun mengerti bahwa dia harus merahasiakannya.

Akan tetapi melihat seorang gadis cantik dan muda seperti gadis ini juga ikut memperebutkannya, ia menjadi penasaran.

Ia tertawa masam dan menjawab.

"Eh nona! Kenapa kau tahu segala? Tahu ayahku, tahu tentang surat wasiat segala. Benar-benar kau hebat, siapa sih kau?"

"Namaku Li Hoa, she Thio. Cia Han Sin, tahukah kau bahwa jiwamu terancam karena kau membawa-bawa surat wasiat itu? Semua orang jahat di dunia menghendakinya. Kaupun dikurung di sini karena kau menyimpan surat itu. Kau berikanlah kepadaku dan aku akan bantu kau melarikan diri dari tempat ini."

Tiba-tiba sikap Li Hoa menjadi manis sekali, ramah dan kerling matanya memikat.

Kini Han Sin tertawa sungguh-sungguh.

Ha ha ha, begini baru manis kau, Li Hoa.

Orang secantik engkau memang seharusnya ramah tamah, baru patut.

Akan tetapi kau tadi bilang bahwa orang-orang jahat di dunia menghendaki surat itu, kurasa kau keliru.

Bukan hanya orang-orang jahat, malah orang-orang baik dan cantik seperti engkau sekalipun menghendakinya!"

WAJAH Li Hoa menjadi merah akan tetapi ia tersenyum. Dia dipuji-puji orang, tentu saja hatinya senang, biarpun dia seorang gadis yang keras hati.

"Aku tidak menghendaki harta benda, aku hanya ingin menolongmu supaya kau terhindar dari gangguan orang jahat."

"Eh, kenapa kau begini baik hati? Kita baru saja bertemu,"

Kata Han Sin sambil tertawa, pandang matanya tidak percaya dan curiga.

"Sudahlah, kau dibaiki orang tidak mengerti. Kelak kuceritakan semua. Sekarang lebih baik kuambil dulu surat itu darimu."

Setelah berkata demikian, tangan Li Hoa digerakkan dan menggeledahi pakaian di tubuh Han Sin.

Sepuluh buah jari tangan yang runcing halus dan kecil-kecil itu seperti sepuluh ekor ular menggelitik tubuh Han Sin.

Pemuda ini tidak tahan lagi dan tertawa terkekeh-kekeh.

"Ha ha hi hi, ah gelinya. Aduhh.... aduh geli, jangan kau kitik-kitik aku, nona.....!"

Li Hoa makin jengah dan segera menghentikan geledahnya.

Ternyata dia tidak mendapatkan surat itu biarpun kedua tangannya sudah menggeledah ke sana-sini hingga menyentuh tubuh pemuda itu.

Memikirkan perbuatannya tadi, diam-diam ia merasa lucu dan malu, juga jantungnya berdebar makin keras.

Selama hidupnya belum pernah jari-jari tangannya menyentuh kulit tubuh seorang pemuda seperti ini.

"Kau tidak mau memberikan, sih. Awas, akan kukitik-kitik lagi kau sampai tidak kuat dan mati kaku kalau kau tidak memberitahu kepadaku di mana kau simpan surat wasiat itu."

Han Sin menahan tawanya dan menggeleng-geleng kepalanya.

"Nona.....eh, Li Hoa, kau anak baik, kalau adikku melihatmu tentu dia senang. Sayang kita berkenalan dalam keadaan seperti ini. Dengarlah, surat yang kau maksudkan itu tidak mungkin kuberikan kepada lain orang, karena memang menjadi hak milikku sebagai warisan ayah. Selain itu, kuberitahukan juga kepadamu, tak mungkin kau bisa mengambilnya."

"Masa? Coba kau beritahukan di mana. Aku pasti dapat mengambilnya. Kau kira aku begitu bodoh dan lemah?"

Tantang Li Hoa, hatinya girang sekali.

Kiranya pemuda ini seorang yang tolol, pikirnya.

Tampan dan kelihatan cerdik pandai, akan tetapi sesungguhnya tolol dan lemah.

Maka ia memperlihatkan sikap seramah itu, sungguh berlawanan dengan tabiatnya yang biasanya keras dan kaku.

Menghadapi seorang pemuda tolol harus menggunakan siasat halus, pikirnya.

Dia sama sekali tidak mengira bahwa Han Sin sama sekali tidak tolol, melainkan seorang yang amat jujur dan terlalu percaya kepada orang karena bagi dia yang selalu hidup dalam kitab-kitab sucinya, manusia di dunia ini kesemuanya baik-baik belaka, malah ia belum begitu percaya ada orang bisa berhati jahat!

Tiba-tiba pemuda itu tertawa bergelak.

"Tidak.... tidak.... kau takkan berani mengambilnya, Ha ha ha!"

"Aku tidak berani? Asal tidak di neraka, aku akan menempuh api menyeberang laut, aku akan berani mengambilnya,"

Jawab Li Hoa agak mendongkol. Dia gadis paling berani di dunia ini menurut pendapatnya, masa pemuda ini bilang dia takkan berani? "Aku tidak bisa memberitahukan, aku.... aku... ah, memalukan!"

Gadis itu melengak. Apakah pemuda ini sudah miring otaknya. Ia mendongkol dan merasa dipermainkan, akan tetapi ia masih ragu-ragu dan memaksa diri berlaku manis.

"Han Sin yang baik, kau beritahukanlah, aku pasti akan berani mengambilnya. Ini demi kebaikanmu sendiri, tahu? Kalau harta benda itu terjatuh ke dalam tanganku, aku Thio Li Hoa bersumpah akan menyerahkan semua harta itu ke tanganmu. Aku sudah cukup kaya, aku tidak butuh lagi harta dunia."

Han Sin memandangnya.

"Li Hoa, aku tahu kau anak baik. Aku percaya kepadamu. Akan tetapi sudah kukatakan, surat itu warisan ayah, tak boleh diberikan kepada orang lain. Selain itu, juga.... juga takkan dapat kau mengambilnya, karena kusimpan.... kusimpan...."

"Di mana....??"

Li Hoa berteriak tak sabar lagi.

"Di dalam... di dalam celana.... kuikatkan dibalik celanaku. Nah, kau memaksa aku mengaku sih, bukannya aku tak tahu malu. Apa kau berani mengambilnya? Kurasa tidak mungkin kau gadis baik-baik dan sopan."

Tadinya mata gadis itu membelalak lebar, kemudian ia menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali, di lain saat Li Hoa sudah tertawa bergelak, akan tetapi hanya sebentar saja.

Sementara itu, melihat gadis itu tidak mengganggu Han Sin, monyet Siauw-ong sejak tadi memandang gerak-gerik mereka dan ikut tertawa dan melonjak-lonjak girang tiap kali melihat dua orang itu tertawa.

Sekarangpun ia tertawa sambil berloncat-loncatan.

"Han Sin, kau benar. Aku tidak berani mengambilnya. Akan tetapi akupun tidak percaya kepadamu, kau tentu bohong."

"Selama hidupku, aku Cia Han Sin tidak pernah bohong dan tidak akan mau membohong!"

Bentak Han Sin marah.

"Kalau betul tidak bohong, tunjukkan buktinya. Seorang laki-laki harus berani membuktikan kebenaran omongannya!"

"Mana bisa? Kedua tanganku dirantai."

"Tunggulah, akan kubebaskan kau!"

Kata Li Hoa dan "srett!"

Pedangnya telah ia cabut.

Melihat pedang ini, Siauw-ong mengeluarkan pekik kaget dan tiba-tiba ia menyerbu, meloncat tinggi dengan tangan kiri berusaha merampas pedang dan tangan kanan mencengkeram ke arah leher Li Hoa.

Kaget sekali gadis ini menyaksikan gerakan yang begitu cepat dan lincah, juga tidak secara ngawur, melainkan gerakan seorang ahli silat!

Biarpun ia sudah mengelak ke kiri, namun ujung lengan bajunya kena disambar dan robek!

Boleh jadi gadis ini seorang ahli silat tinggi, murid kesayangan ketua Coa-tung Kai-pang, akan tetapi monyet inipun bukan monyet sembarangan.

Dia seorang "murid"

Tak langsung dari Ciu-ong Mo-kai Tang Pok yang ilmunya tidak kalah oleh Coa-tung Sin-kai ketua dari Coa-tung Kai-pang!

"Siauw-ong, jangan kurang ajar.

Mundur kau!

Nona itu bukan hendak membunuhku, melainkan hendak menolongku.

Mundur!"

Benar saja, Siauw-ong mentaati perintah ini dan dia melompat mundur, akan tetapi sepasang matanya yang kecil masih memandang tajam penuh curiga ke arah Li Hoa. Gadis ini kagum sekali.

"Eh, Han Sin. Monyetmu ini ternyata lebih setia dari pada manusia biasa. Kepandaiannya pun lumayan. Coba kau berdiri membelakangiku, biar kuputuskan rantai ini."

Dengan tenang dan penuh kepercayaan, pemuda itu berdiri lalu membelakangi Li Hoa.

Gadis itu makin terharu.

Benar-benar seorang pemuda yang hebat, penuh keberanian, jujur dan amat baik hati, terlalu baik hati.

Kalau dia mau, bukankah sekali tabas saja ia akan dapat menewaskan pemuda itu.

Pedangnya diangkat, sinar berkelebat disambung bunyi nyaring dan ternyata rantai itu telah putus oleh sabetan pedang di tangan Li Hoa!

Siauw-ong memekik dan meloncat-loncat kegirangan sedangkan Han Sin lalu meloloskan rantai yang sudah putus itu dari tubuhnya.

Ia menarik napas dan memandang kagum kepada Li Hoa.

"Li Hoa, melihat adikku yang bisa belajar silat aku heran. Sekarang ternyata kaupun seorang gadis muda sudah memiliki kepandaian silat dan begini kuat, benar-benar aku menjadi makin heran. Untuk apa sih gadis-gadis cantik jelita belajar silat dan menjadi kuat dan kasar seperti laki-laki. Bukankah lebih baik kalau gadis cantik halus lembut dan lemah gemulai?"

"Jangan ngaco! Lekas kau ambil surat itu kalau memang kau tidak membohongiku!"

Kata Li Hoa tidak sabar lagi.

"Akan tetapi hanya untuk bukti bahwa aku tidak bohong, sama sekali bukan hendak kuberikan kepadamu atau kepada siapapun juga,"

Kata Han Sin sambil membalikkan tubuh membelakangi Li Hoa lalu merogoh ke dalam celananya.

Dalam sebuah saku yang dipasang pada balik celananya, di situlah selama ini ia menyimpan peta kuno itu.

Ketika ia membalikkan tubuh lagi menghadapi Li Hoa, ia sudah memegang peta itu dengan wajah berseri.

"Aku Cia Han Sin tak pernah membohong. Inilah wasiat itu!"

Tiba-tiba tangan kiri Li Hoa menyambar dan peta itu sudah direbutnya.

Terdengar suara kertas robek dan ternyata peta itu sudah robek menjadi dua potong, sepotong di tangan Li Hoa dan yang sebelah lagi di tangan Han Sin.

"Eh, kau... kenapa kau merampasnya?"

Teriak Han Sin marah. Li Hoa tersenyum, pedangnya bergerak menodong di depan dada Han Sin.

"Tolol, memangnya kau kira nonamu suka bercanda denganmu? Berikan yang sebelah lagi, kalau tidak ujung pedangku akan menembusi dadamu!"

Melihat ini, Siauw-ong marah dan menyerang akan tetapi Han Sin mencegahnya.

"Jangan Siauw-ong! Nona ini hanya main-main!"

Siauw-ong mundur lagi. Binatang ini memang paling taat dan takut kepada Han Sin.

"Li Hoa, jangan kau begini. Apa kau tidak malu?"

"Tutup mulut, berikan potongan yang di tanganmu itu!"

Han Sin tertawa getir.

Ia kecewa.

Baru sekarang terbuka matanya bahwa gadis ini memang benar-benar menghendaki surat wasiat, bahwa sikap yang ramah tadipun hanyalah pura-pura sebagai siasat merampas surat wasiat.

Kembali ia dikecewakan orang.

Ia tertawa-tawa keras.

"Ha ha ha, Li Hoa, tidak ada gunanya potongan peta ditanganmu itu. Itu hanya corat-coret tidak ada artinya. Penjelasannya berada di tanganku ini. Dan kau takkan bisa mendapatkannya, biarpun kau akan menusuk mampus dadaku."

Setelah berkata demikian, dengan hati gemas Han Sin meremas peta di tangannya itu.

Ia tidak sengaja hendak merusak peta itu karena tidak tahu bahwa ia akan dapat melakukannya.

Akan tetapi begitu ia mengerahkan tenaga karena marah dan kecewanya, mengalirlah tenaga ke dalam jari-jari tangan yang memegang peta, terdengar suara aneh dan......

tahu-tahu potongan peta di tangannya itu menjadi hancur berkeping-keping tak mungkin bisa dibaca atau disambung lagi.

Ia menyebar kepingan kertas itu ke atas dan sambil tertawa ia melihat kepingan itu diterbangkan oleh angin, sebagian jatuh di atas rambut kepala Li Hoa dan menambah kecantikannya.

"Ha ha ha, kau lihat tidak, Li Hoa? Potongan di tanganmu itu tidak ada artinya sama sekali!"

Li Hoa buru-buru melihat potongan peta itu dan benar saja, di situ hanya terdapat gambar sebagian gunung dan lembah, tidak ada huruf-hurufnya sama sekali.

Bagaimana orang dapat mengenal gambar sebelah gunung tanpa tanda-tanda yang jelas.

Diapun kaget melihat pemuda itu sekali remas dapat menghancurkan kertas yang tipis dan lunak.

Tanpa memiliki lweekang yang tinggi, mana bisa melakukan hal itu?

Meremas hancur sepotong batu yang keras masih lebih mudah dilakukan dari pada meremas hancur sepotong kertas yang lunak dan ulet.

Akhirnya ia menyimpan potongan itu ke dalam saku bajunya lalu berkata.

"Han Sin, kau benar-benar tolol. Kau tidak mau memberikan peta itu kepadaku, sebaliknya malah merusaknya. Setelah rusak di tanganmu, bagaimana kau akan dapat memenuhi kehendak ayahmu supaya kau mencari rahasia peta itu?"

Han Sin memang jujur. Biarpun gadis cantik ini sudah menipunya, dia tidak merasa sakit hati, tidak menaruh dendam.

"Bukan aku yang tolol, Li Hoa, mungkin kau sendiri. Apa aku mau merusaknya sebelum semua isi peta itu pindah ke dalam ingatanku? Bagiku sama saja, ada peta atau tidak."

Li Hoa memandang tidak percaya.

Han Sin menjadi penasaran.

Dia sejak kecil hanya hidup berdua dengan adiknya dan tiga orang pelayan.

Belum pernah mempunyai teman lain dan sekarang bertemu dengan Li Hoa, dia merasa senang.

Sebagai seorang manusia biasa, tentu saja pemuda ini masih mempunyai sifat ingin dipuji kepandaiannya.

Maka cepat ia berjongkok di atas tanah.

"Kau lihat, bukankah bagian yang ada padamu itu seperti ini?"

Jari telunjuknya mencorat-coret di atas tanah dan mata Li Hoa membelalak kaget.

Memang, persis sekali gambar itu dengan gambar pada peta yang ia rampas!

Diam-diam ia menjadi girang sekali.

Kalau begitu, asal dia bisa menawan pemuda ini, perlahan-lahan ia dapat membujuknya untuk menggambar kembali peta yang tadi sudah diremasnya sampai hancur.

Memang Li Hoa menghendaki peta kertas, akan tetapi kalau peta kertas sudah rusak, peta di dalam otak pemuda inipun boleh juga.

Ia tersenyum manis sekali ketika berkata.

"Han Sin, kau kira aku ini orang macam apakah? Aku tadi hanyalah ingin mencoba kepandaianmu saja. Untuk apa bagiku peta ini? Kau lihatlah baik-baik!"

Ia lalu mengeluarkan peta sepotong tadi dan dirobek-robeknya sampai hancur. Tidak dapat ia meremasnya seperti yang dilakukan Han Sin tadi. Pemuda itu menjadi girang sekali.

"Ah, kiranya aku tadi salah sangka. Memang aku tahu kau baik sekali, Li Hoa."

"Sekarang kau ikutlah aku keluar dari neraka ini. Biar aku yang membujuk para tosu supaya kau dibebaskan."

Han Sin mengangguk-angguk.

"Memang akupun tidak percaya para tosu itu akan mengurungku selama hidup di tempat ini."

Ia memandang ke atas, lalu menggeleng-geleng kepala.

"Tempat begini tinggi, bagaimana aku bisa keluar dari sini?"

"Bukankah sudah kupasangi tambang? Monyetmu tadipun bisa turun melalui tambang."

"Monyetku tentu bisa, akan tetapi aku bukan monyet."

"Eeh, kau jadinya mau menyamakan aku dengan monyet?"

Li Hoa cemberut dan hendak menampar pipi pemuda itu, akan tetapi ia teringat bahwa tadipun ia sudah menampar dua kali, maka sebagai gantinya, jari tangannya mencubit pundak orang.

"Aduh, cubitanmu sama sakitnya dengan tamparanmu."

Han Sin tertawa dan memandang wajah gadis yang kemerahan itu.

"Aku tidak hendak memakimu, hanya terus terang saja, kau dan Siauw-ong tentu bisa memanjat naik, akan tetapi aku... ah, aku tidak bisa."

Entah mengapa, setelah bercakap-cakap dengan pemuda itu beberapa lamanya di dasar Can-tee-gak, timbul perasaan mesra dalam hati Li Hoa.

Tanpa ia sadari, rupanya ia telah jatuh cinta kepada pemuda ini, biarpun suara hatinya sendiri itu ia bantah keras-keras terdorong oleh wataknya yang keras.

Ia berusaha bersikap kasar dan memperlihatkan kekejaman terhadap Han Sin, namun beberapa kali ia jatuh.

"Tak usah banyak cakap, ayoh ku bantu!"

Dengan cepat Li Hoa lalu menyambar lengan orang dan tak lama kemudian dengan bantuan gadis itu, Han Sin memanjat tambang itu ke atas.

Li Hoa berada di bawahnya dan gadis inilah yang menahan tubuhnya sampai akhirnya mereka berdua tiba di atas jurang.

Siauw-ong yang mengikuti dari belakang juga melompat dengan girangnya, lalu ia meloncat ke atas pundak Han Sin, telunjuknya menuding-nuding ke bawah gunung, agaknya hendak mengajak pemuda itu pergi selekasnya.

"Nonamu di mana, Siauw-ong?"

Tanya Han Sin yang tak pernah melupakan Bi Eng.

Siauw-ong mengeluarkan suara cecowetan sambil menunjuk ke bawah puncak.

Pada saat itu, tiga orang pengemis tua nampak berlari mendatangi dengan wajah gelisah.

Mereka itu setelah menanti beberapa lamanya belum melihat kembalinya Li Hoa, menjadi gelisah dan menyatakan perasaannya kepada It Cin Cu dan Ji Cin Cu.

Ji Cin Cu tertawa dan berkata.

"Jangan-jangan Thio-siocia celaka pula di tangan bocah aneh itu. Lebih baik sam-wi losicu menengoknya di Can-tee-gak."

Maka pergilah tiga orang tokoh Coa-tung Kai-pang itu ke jurang Can-tee-gak dan kebetulan sekali pada saat mereka tiba di situ, Li Hoa dan Han Sin serta Siauw-ong juga sudah sampai di tepi jurang dengan selamat.

Tentu saja Tok-gan Sin-kai dan kawan-kawannya menjadi lega dan girang.

Sebelum mereka sampai bicara, Li Hoa sudah mengedipkan matanya lalu berkata.

"Sam-wi suheng, saudara ini memang tidak mengerti ilmu silat dan tidak mungkin dia yang membunuh Ban Kim Cinjin. Akan tetapi karena dia tersangkut dalam pembunuhan itu, biar, kita melindungi dia turun gunung dan kita pancing orang yang melakukan pembunuhan."

Tiga orang kakek itu mengangguk-angguk.

Tentu saja mereka sama sekali tidak pernah menyangka bahwa dalam urusan dengan pemuda ini sumoi mereka telah menyimpan rahasia, yaitu rahasia surat wasihat Lie Cu Seng.

Mereka menganggap kata-kata sumoi mereka itu memang cocok dengan keadaan, maka mereka lalu menyetujuinya bulat-bulat.

Hanya Han Sin yang melongo dan tidak tahu mengapa tiba-tiba nona itu bicara tentang kematian Ban Kim Cinjin dan sama sekali tidak menyinggung soal peta.

Pula dia tidak kenal siapa adanya tiga orang pengemis itu.

"Nona Li Hoa, setelah kau menolongku keluar dari jurang, biarlah aku tidak mengganggu kau lebih lama. Aku hendak menyusul adikku. Aku tidak kenal dengan tiga orang lo-enghiong ini. Adapun tentang Ban Kim Cinjin, dia seorang jahat yang banyak membunuhi tosu Cin-ling-pai. Kematiannya entah sebab apa, mungkin..... aku yang membunuhnya, tapi itupun amat aneh..... ah, biarlah aku pergi."

"Cia-twako, kalau kau pergi seorang diri, apa kau kira para tosu di sini akan membiarkan kau pergi begitu saja? Kau harus ikut dengan kami."

Pada saat itu, terdengar suara orang dan muncullah It Cin Cu, Ji Cin Cu dan ketiga Cin-ling Sam-eng.

Melihat pemuda she Cia sudah naik dan bercakap-cakap dengan empat orang tamunya, mereka segera menghampiri.

"Nona Thio, bukankah keterangan kami tadi benar? Mengapa bocah ini kau bawa naik?"

Tegur It Cin Cu.

Diam-diam para tosu tadi seperginya tiga orang pengemis yang menyusul Li Hoa, berunding dan mereka mengambil keputusan untuk melindungi Cia Han Sin.

Setelah mempunyai dugaan bahwa pemuda itu keturunan Cia Sun, mereka tidak bisa memeluk tangan begitu saja, menyerahkan pemuda keturunan pahlawan yang mereka kagumi itu terjatuh ke dalam kaki tangan pemerintah Ceng.

"Kami hendak membawanya sebagai pembunuh Ban Kim Cinjin,"

Kata Tok-gan Sin-kai dengan suara geram. Ji Cin Cu tertawa.

"Ha ha, nanti dulu, sobat. Pembunuhan atas diri Ban Kim Cinjin terjadi di tempat kami. Kalau kami tidak bisa membereskan sendiri perkara ini, apa akan dikatakan oleh orang-orang kang-ouw? Apakah kami orang-orang Cin-ling-pai sudah tidak becus mengurus persoalan ini? Tidak, bocah ini tidak boleh kalian bawa turun gunung."

Serentak tiga orang pengemis tua itu mengangkat tongkat ular mereka melintang ke depan dada, dan Tok-gan Sin-kai berseru keras.

"Tosu-tosu Cin-ling-pai, apakah kalian berani memberontak?"

"Omongan busuk! Siapa memberontak? Adalah kalian ini pengemis-pengemis kelaparan hendak mengacau Cin-ling-pai!"

Bentak Hap Tojin yang bermuka merah.

Memang tosu tertua dari Cin-ling Sam-eng ini sudah tidak bisa menahan sabar lagi.

Ikut campurnya dua orang suhengnya sudah menimbulkan rasa tidak puas di hatinya karena biasanya semua urusan Cin-ling-pai cukup dibereskan oleh dia bertiga yang sudah terkenal dengan julukan Cin-ling Sam-eng.

Sekarang ditambah oleh sikap para tamunya itu membuat darahnya menjadi panas.

Li Hoa menjadi khawatir sekali.

Ia makin curiga dan menduga bahwa para tosu ini tentulah sudah tahu bahwa Han Sin adalah putera Cia Sun dan karenanya hendak menahan pemuda itu dengan maksud menyelidiki rahasia surat wasiat Lie Cu Seng.

Maka ia mengejek dan berkata untuk memanaskan hati suheng-suhengnya.

"Kami utusan pemerintah dan kalian menghalangi maksud kami membawa tawanan, bukankah itu sama halnya dengan memberontak?"

It Cin Cu cepat berpikir.

Bahayanya bentrok dengan pemerintah Ceng memang besar, akan tetapi bahaya itu hanyalah bahaya lahir yang dapat mereka lawan dan dapat mereka usahakan penolakannya.

Kalau sampai mereka mendiamkan saja putera Cia Sun ditangkap kaki tangan pemerintah penjajah, dalam hal ini terdengar oleh para orang gagah, bahayanya lebih hebat lagi, yaitu nama Cin-ling-pai akan diseret ke dalam lumpur.

Tentu suhunya takkan mendiamkan saja hal ini.

Maka It Cin Cu lalu berkata singkat.

"Terhadap anjing-anjing penjilat kaki tangan pemerintah Ceng kami tak pernah ada urusan, juga tidak mau kami disuruh merangkak di depan mereka. Pendeknya, bocah she Cia ini adalah tawanan kami dan tak seorangpun boleh merampasnya!"

Sejak tadi Han Sin hanya mendengarkan dengan mulut melongo. Setelah sekarang ia tahu akan duduknya perkara, mukanya menjadi pucat dan memandang kepada Li Hoa dengan mata terbelalak.

"Kau..... kau kaki tangan pemerintah Ceng.... Ah.... celaka, aku tertipu! Siapa sudi kau tolong? Lebih baik kembali ke jurang!"

Han Sin lalu melarikan diri dan karena jalan turun ke bawah dihadang oleh para pengemis, ia lalu turun dari lain jurusan menuju ke belakang gunung.

Li Hoa tak dapat menjawab atas seruan ini, akan tetapi Tok-gan Sin-kai menudingkan tongkatnya, menggerakkannya sedikit dan berseru.

"Bocah she Cia, berhenti kau!"

Dan dari ujung tongkatnya itu menyambar sinar kuning ke arah Cia Han Sin.

Pemuda itu berteriak kesakitan dan roboh terguling ke dalam sebuah jurang di sebelah kirinya.

Ternyata pundaknya telah terkena paku Coa-ting (Paku Tulang Ular) yang merupakan senjata rahasia ampuh dan berbisa dari kaum Coa-tung Kai-pang.

Bersama dia, Siauw-ong juga turut terguling masuk jurang.

"Pengemis busuk!"

Hap Tojin berseru marah dan pedangnya berkelebat menyambar ke arah Tok-gan Sin-kai yang cepat ditangkis oleh tongkat pengemis mata satu ini.

Di lain saat terjadilah pertempuran hebat di atas puncak itu.

Tok-gan Sin-kai dan seorang sutenya yang berhidung merah menghadapi It Cin Cu dan Ji Cin Cu, sedangkan seorang pengemis lagi bersama Li Hoa menghadapi keroyokan Cin-ling Sam-eng.

Tak seorangpun di antara mereka dapat mengurus keadaan Han Sin lagi karena pihak lawan merupakan lawan-lawan berat dan seorang saja di antara kedua belah pihak itu meninggalkan gelanggang, berarti pihaknya akan terancam kekalahan.

Ke mana perginya Bi Eng?

Kenapa Siauw-ong kembali sendiri ke Cin-ling-san mencari Han Sin?

Seperti telah diketahui, Bi Eng terpaksa dengan hati berat meninggalkan kakaknya di puncak Cin-ling-san, pergi bersama Siauw-ong setelah Han Sin memerintahkannya pergi lebih dulu dan menanti di tepi sungai Wei-ho.

Tidak karuan rasa hati gadis ini ketika ia menuruni bukit Cin-ling-san Tak terasa lagi Bi Eng mengucurkan air mata.

Ingin sekali ia melompat dan lari mendaki gunung itu kembali untuk melihat kakaknya dan kalau perlu membelanya mati-matian.

Namun suara perintah kakaknya masih bergema di telinganya dan ia tidak berani membantah lagi.

Pandang mata kakaknya demikian pasti, tak boleh dibantah lagi.

Betapapun juga, ketika ia tiba di kaki gunung hatinya tidak kuat dan tiba-tiba ia berhenti berjalan, lalu menyandarkan diri di pohon dan menangis.

"Sin-ko..... bagaimana dengan keadaanmu.....?"

Bisiknya sambil terisak-isak.

Siauw-ong mendekati nonanya dan ikut menangis cecowetan, sambil menarik-narik lengan gadis itu diajak kembali ke atas gunung.

Telunjuk tangan monyet itu menuding-nuding ke atas, kadang-kadang ia mencak-mencak dengan kaki dibanting-banting ke atas tanah menyatakan kemarahannya dan tantangannya kepada para tosu di atas.

"Tidak bisa, Siauw-ong. Kalau aku kembali tentu koko akan marah. Dia begitu baik, tidak boleh marah kepadaku....."

Kata Bi Eng.

Kemudian ia mendapat pikiran baik.

Kalau dia sendiri yang kembali, tentu kakaknya akan marah.

Akan tetapi kalau Siauw-ong yang kembali, biarpun marah, kakaknya itu takkan marah kepadanya.

Dan kakaknya perlu kawan, perlu pembantu.

"Siauw-ong, kau kembalilah kesana. Kau cari Sin-ko sampai dapat dan kau ajak dia turun gunung. Aku akan pergi lebih dulu."

Baca Juga: Asmara Berdarah 3

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 14

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger