Ceritasilat Novel Online

Asmara Berdarah 3

Eps 3 Asmara Berdarah - Kho Ping Hoo

Baca online Asmara Berdarah - Kho Ping Hoo

Cersil Asmara Berdarah - Kho Ping Hoo.

"Engkau benar, kanda. Untunglah bahwa dia telah mewariskan ilmu itu kepada kita dan setelah kita melatih diri dengan sempurna, kini tiba saatnya bagi kita untuk membalas dendam kepada Pendekar Lembah Naga Cia Sin Liong!"

"Mau keturunannya, atau muridnya, akan kita gempur dan basmi sampai habis seakar-akarnya!"

Mereka berdua lalu menjatuhkan diri berlutut di depan tumpukan tiga bongkah batu itu memberi hormat, kemudian sejenak mereka bersamadhi di tempat itu seperti orang mohon berkah.

Ketika akhirnya mereka bangkit berdiri, wajah mereka penuh semangat dan dengan langkah tegap mereka melanjutkan perjalanan menuju ke Istana Lembah Naga.

Ketika mereka keluar dari hutan dan melihat bangunan kuno menjulang tinggi di depan, mereka berhenti lagi.

Bagaimanapun juga, wajah mereka nampak tegang dan agaknya mereka gentar juga melihat istana tua yang kokoh itu, Seolah-olah melambangkan kekokohan dan kekuatan para penghuninya.

Kemunculan mereka itu bukan dari depan istana, melainkan dari samping kanan, maka mereka tidak melihat bahwa pada saat itu ketua Pek-liong-pai dan isterinya sedang berdiri di serambi depan.

Sebaliknya, empat anggauta Pek-Liong-Pang yang bertugas di sebelah kanan istana itu, melihat kemunculan kakek dan nenek yang berpakaian sederhana berwarna kuning itu.

Tentu saja mereka merasa heran dan cepat mereka menunda pekerjaan mereka.

Dua orang di antara mereka menghampiri dan melihat bahwa yang datang adalah dua orang tua, dua murid Pek-liong-pai cepat memberi hormat.

Itulah satu di antara ajaran yang mereka dapatkan di perguruan Pek-liong-pai, yaitu menghormat orang yang lebih tua.

"Maaf, lopek berdua hendak mencari siapakah?"

Tanya seorang di antara dua murid Pek-liong-pai itu.

Kakek dan nenek itu memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik, kemudian si kakek bertanya, suaranya terdengar asing dan kaku, tanda bahwa dia adalah seorang asing.

"Kami mencari Pendekar Lembah Naga Cia Sin Liong!"

Dua orang murid tingkat tiga dari Pek-liong-pai itu saling pandang dengan kaget dan heran.

Kakek dan nenek ini mencari kakek guru mereka yang telah meninggal dunia!

"Tapi...

beliau telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu..."

Kini kakek dan nenek itu saling pandang dengan wajah membayangkan kekecewaan.

Kakek itu lalu menoleh ke arah istana tua dan bertanya.

"Lalu, siapa yang tinggal di dalam istana itu?"

"Yang tinggal di situ adalah suhu dan subo..."

"Siapakah mereka?"

Tanya si nenek dengan cepat.

"Suhu adalah ketua Pek-liong-pai, perkumpulan kami..."

"Apa hubungannya dengan Pendekar Lembah Naga?"

Diberondong pertanyaan-pertanyaan itu, dua orang murid Pek-liong-pai mengerutkan alisnya.

Kakek dan nenek ini jelas orang asing, akan tetapi sungguh tidak sopan mengajukan pertanyaan bertubi-tubi seperti hakim memeriksa pesakitan saja.

Akan tetapi demi kesopanan terhadap orang yang jauh lebih tua, mereka menjawab juga.

"Suhu adalah putera beliau."

Dua pasang mata tua itu memancarkan sinar yang mengejutkan hati dua orang murid Pek-liong-pai itu.

"Jadi kalian adalah cucu murid Pendekar Lembah Naga Cia Sin Liong si jahanam?"

Teriak si nenek marah.

Dua orang laki-laki yang usianya mendekati tiga puluh tahun itu terkejut akan tetapi mengangguk.

Tiba-tiba nampak sinar berkelebat ketika kakek dan nenek itu menggerakkan tongkat mereka ke depan.

Dua orang murid Pek-liong-pai terkejut sekali dan berusaha menghindarkan diri dari serangan kilat itu.

Namun, gerakan mereka jauh kalah cepat.

"Kekkk! Kekk!"

Dua orang murid Pek-liong-pai itu terjengkang roboh dan tewas seketika dengan lubang tepat di tenggorokan mereka yang mengucurkan darah hitam!

Mereka roboh dan tewas tanpa berkelojotan lagi.

Sungguh mengerikan dan hebat bukan main serangan kakek dan nenek itu.

Dua orang murid lain yang melihat betapa dua orang saudara seperguruan mereka roboh dan tidak bangkit kembali, menjadi kaget dan merekapun cepat lari menghampiri ke tempat itu.

Ketika mereka melihat kenyataan yang mengejutkan bahwa dua orang saudara mereka itu telah tewas dengan mata mendelik dan leher berlubang, tentu saja keduanya marah bukan main.

"Kenapa kalian membunuh dua orang sute kami?"

Bentak seorang di antara mereka.

"Mampuslah!"

Kakek itu membentak dan kembali dua batang tongkat kakek dan nenek itu menyambar ke depan.

Akan tetapi, dua orang murid Pek-liong-pai itu selain lebih tangkas dari pada dua orang sute mereka yang tewas, juga mereka telah siap sedia karena sudah tahu bahwa kakek dan nenek itu adalah orang orang yang memusuhi mereka, maka sambaran tongkat itu dapat mereka elakkan dengan cara melempar tubuh ke belakang.

Akan tetapi kakek dan nenek itu menyerang terus dengan gerakan yang amat dahsyat.

Mereka hanya mampu mengelak beberapa kali dan ketika terpaksa mereka menangkis, terdengar suara nyaring dan tulang lengan mereka patah bertemu tongkat.

Seorang di antara mereka sempat mengeluarkan pekik melengking untuk memperingatkan semua murid Pek-liong-pai sebelum mereka berdua roboh, sekali ini bukan oleh tusukan ujung tongkat, melainkan karena tamparan tangan kiri kakek dan nenek itu.

Tamparan itu hebat bukan main karena sama sekali tidak dapat dielakkan lagi dan robohlah mereka dengan tubuh utuh.

Kepala mereka yang kena ditampar dan tanpa kelihatan terluka, mereka roboh dan tewas seketika.

Hanya nampak tanda menghitam di pelipis mereka bekas tangan kakek dan nenek itu.

Ternyata isi kepala mereka telah terguncang dan rusak oleh tenaga tamparan yang amat ampuh itu!

Akan tetapi pekik melengking yang dikeluarkan oleh seorang di antara dua murid Pek-liong-pai sebelum mereka tewas tadi, mengejutkan semua murid Pek-liong-pai.

Pada waktu itu, di Lembah Naga terdapat tidak kurang dari empat puluh orang murid, terdiri dari tingkat pertama, kedua dan ketiga.

Akan tetapi pada saat itu, sebagian dari mereka bekerja di sawah ladang, ada pula yang berburu binatang sehingga pada pagi hari itu, yang berada di sekitar istana hanya ada dua puluh lima orang termasuk empat yang tewas itu.

Dan di antara dua puluh lima orang ini, yang tingkat satu dan hanya menanti dinyatakan lulus hanya ada tiga orang, selebihnya adalah murid-murid tingkat dua dan tiga.

Kakek dan nenek itu menyeringai penuh ejekan ketika mereka melihat dua puluh orang murid Pek-liong-pai yang rata-rata mengenakan pakaian putih itu berdatangan dari segenap penjuru ada yang masih membawa cangkul, sapu dan lain-lain.

Biarpun sudah melihat bahwa empat orang saudara mereka tewas dan pembunuhnya tentu kakek dan nenek itu, namun mentaati ajaran dan perintah guru mereka, dua puluh orang lebih murid-murid Pek-liong-pai itu tidak sembrono turun tangan mengeroyok, melainkan mengepung saja agar kakek dan nenek pembunuh itu tidak dapat melarikan diri.

Tiga orang murid tingkat pertama yang berada di situ bertindak sebagai pemimpin.

Mereka berdiri menghadapi kakek dan nenek itu, dan seorang di antara mereka yang usianya sudah hampir empat puluh tahun, melangkah maju dan memberi hormat.

"Siapakah locianpwe berdua dan apa kesalahan adik-adik seperguruan kami maka jiwi locianpwe (dua orang gagah) turun tangan membunuh mereka dan kami terpaksa menuntut agar jiwi suka menyerah dan menghadap ketua kami?"

Kakek dan nenek itu saling pandang dan mereka kelihatan bergembira!

Kakek itu tertawa bergelak sambil mengelus jenggotnya yang jarang akan tetapi cukup panjang, tangan kanan memegang tongkat yang didirikan di depan kakinya, sedangkan nenek itupun tersenyum dan tangan kirinya bertolak pinggang.

"Ha-ha-ha, adinda yang baik, lihat, mereka ini semua sudah mengenakan pakaian berkabung, seolah-olah mereka sudah tahu bahwa hari ini mereka akan mati semua! Hayo kita berlomba, siapa yang dapat membunuh musuh paling banyak!"

Setelah berkata demikian, nampak dua sinar berkelebat dan dua batang tongkat itu telah menyambar secepat kilat ke arah dua orang murid pertama Pek-liong-pai!

Hebat bukan main serangan itu, akan tetapi kini yang diserang adalah murid-murid Pek-liong-pai yang sudah hampir tamat.

Tentu saja dua orang itu sudah memiliki tingkat kepandaian yang cukup tinggi, dan biarpun mereka kaget sekali, mereka berhasil menghindarkan diri dengan loncatan ke belakang.

Maklum bahwa kakek dan nenek itu memiliki kepandaian yang amat tinggi, maka tiga orang murid pertama itu mencabut pedang mereka dan seorang di antara mereka memberi komando.

"Kurung dan tangkap mereka untuk dihadapkan kepada suhu!"

Suheng ini masih memperingatkan para sutenya agar jangan sembarangan turun tangan, membunuh kakek dan nenek itu!

Terjadilah perkelahian yang amat hebat.

Kakek dan nenek itu mengamuk dengan tongkat dan tangan kiri mereka.

Entah mana yang lebih ampuh.

Tongkat itu tidak dapat ditangkis.

Senjata penangkis tentu patah dan kalau ujungnya mengenai tubuh, tentu tembus dan yang terkena tewas seketika.

Akan tetapi tangan kiri mereka juga hebat bukan main, membawa getaran aneh yang tidak dapat ditangkis, hanya dapat dialakkan saja, itupun oleh para murid Pek-liong-pai yang cukup gesit.

Para murid itu mempergunakan senjata seadanya.

Yang memegang cangkul mempergunakan alat ini untuk senjata, ada yang menggunakan pedang mereka, ada pula yang terpaksa mengeroyok dengan tangan kosong.

Dan akibatnya sungguh mengerikan.

Kakek dan nenek itu menyebar maut sehingga dalam waktu singkat saja, di antara dua puluh lima orang murid, dikurangi empat orang yang tewas terlebih dahulu, kini tinggal sepuluh orang lagi saja!

Lima belas orang murid sudah menggeletak tanpa nyawa, berserakan di tempat itu, termasuk seorang murid pertama!

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

"Tahan senjata..."

Bentakan ini demikian penuh wibawa dan memiliki getaran khikang yang amat kuat sehingga kakek dan nenek itu terkejut dan mereka meloncat ke belakang, melintangkan tongkat di depan dada lalu menatap ke depan.

Cia Han Tiong dan isterinya, Ciu Lian Hong, telah berdiri di situ dengan muka pucat dan mata terbelalak.

Ketua Pek-liong-pai itu merasa ngeri melihat belasan orang muridnya telah tewas dan mayat mereka malang-melintang memenuhi tempat itu, sedangkan yang sepuluh orang lagi kelihaten pucat dan gentar.

Diapun memandang ke arah kakek dan nenek itu yang juga memandang kepadanya dengan sinar mata tajam penuh selidik.

Mereka menduga-duga siapa adanya laki-laki berusia empat puluh tahun lebih yang gagah perkasa dan mempunyai wibawa yang amat kuat ini.

"Apakah engkau ketua Pek-liong-pai?"

Kakek itu bertanya, matanya mengeluarkan sinar berapi.

Sinar mata yang penuh kebencian, pikir Han Tiong.

Dia mengangguk.

"Benar, dan siapakah jiwi locianpwe? Andaikata ada murid kami yang bersalah, mengapa jiwi begitu tega untuk membunuh begini banyak orang? Permusuhan apakah yang ada antara jiwi dengan Pek-liong-pai?"

Pertanyaannya tidak mengandung kemarahan, akan tetapi tegas dan penuh nada teguran.

"Ha-ha-ha, masih begini muda sudah menjadi ketua. Siapakah namamu dan benarkah engkau putera mendiang Pendekar Lembah Naga Cia Sin Liong?"

Kakek itu bertanya lagi. Han Tiong mengerutkan alisnya.

"Benar, locianpwe. Nama saya adalah Cia Han Tiong dan Pendekar Lembah Naga adalah mendiang ayah saya."

"Bagus! Cia Han Tiong, jangan salahkan murid-muridmu dan kami tidak mempunyai permusuhan apapun dengan Pek-liong-pai. Salahkan saja nenek moyangmu dan terutama ayahmu yang dahulu membunuh nenek guru kami, yaitu bibi dari guru kami. Nama nenek guru kami itu adalah Hek-hiat Moli, pendatang dari Sailan. Kami sebagai keturunan perguruannya melanjutkan usaha guru kami untuk mencari Pendekar Lembah Naga dan membalas dendam."

"Akan tetapi, ayah telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu! Kenapa jiwi lalu membunuhi murid-murid kami yang tidak berdosa...?"

"Hemm, puluhan tahun kami melatih diri, hidup sengsara agar dapat berbakti, kemudian melakukan perjalanan yang amat jauh dari selatan, apakah semua itu harus sia-sia saja karena kematian ayahmu? Ayahmu boleh mati, akan tetapi masih ada puteranya dan cucu-cucu muridnya!"

Cia Han Tiong mengerutkan alisnya.

Hatinya diliputi penyesalan besar.

Mendiang ayahnya tidak pernah bercerita tentang musuh-musuhnya di waktu dahulu, akan tetapi dia merasa yakin bahwa memang benar ayahnya tentu dahulu pernah menewaskan nenek guru dari dua orang ini.

Dan diapun yakin pula bahwa nenek guru mereka yang memakai julukan Hek-hiat Moli (Iblis Betina Darah Hitam) tentulah bukan orang baik-baik dan tidak mengherankan kalau ayahnya membunuhnya dalam perkelahian.

Makin terasa olehnya betapa buruknya hidup dalam kekerasan.

Sampai turuntemurun, dendam masih mengikatnya!

Dia menarik napas panjang.

Harus diakhiri ikatan karma ini.

Manusia selalu dikejar ikatan karma karena ulah sendiri.

Kini, saatnya untuk menentukan apakah karma itu akan terus mengejarnya dan anak cucunya, sepenuhnya berada di telapak tangannya.

Akan tetapi, apakah dia harus menyerahkan saja nyawanya?

Kakek dan nenek ini memiliki sinar mata penuh kebencian, tentu mereka tidak akan puas kalau hanya dia yang menyerahkan diri.

Mereka tentu akan membunuh pula isterinya, semua muridnya, bahkan putera tunggalnya tentu akan mereka cari untuk dibunuh!

Tidak, dia harus mempertahankan keluarganya.

Dia harus membela diri dan melindungi keluarga dan para muridnya.

"Orang yang dibebani dendam terkutuk! Siapakah namamu?"

Akhirnya Han Tiong bertanya, suaranya penuh wibawa. Kakek itu tertawa.

"Nama kami tidak ada gunanya kau ketahui. Akan tetapi agar engkau ingat bahwa kami datang untuk membalas dendam nenek kami Hek-hiat Moli, biarlah engkau dan dunia kang-ouw mengenal kami sebagai Hek-hiat Lomo dan Hek-hiat Lobo! Ha-ha-ha, akan tetapi apa gunanya? Sebentar lagi kalian semua akan menyusul mereka yang sudah mampus lebih dahulu!"

Cia Han Tiong melangkah maju.

"Hek-hiat Lomo, marilah kita bereskan perhitungan lama secara jantan. Marilah engkau dan aku menentukan dengan nyawa kita dan urusan dendam ini kita habiskan di sini, tidak perlu menyangkut orang lain."

"Enak saja engkau hendak menyelamatkan keluarga dan murid-muridmu. Tidak, kalian semua harus mampus di tangan kami, barulah kami merasa puas dan terlepas dari beban batin selama puluhan tahun!"

Nenek yang diberi nama Hek-hiat Lobo itu berkata dengan suara melengking-lengking.

Ciu Lian Hong yang sejak tadi diam saja, kini melangkah maju mendekati suaminya dan berkata.

"Marilah kita hadapi mereka!"

Dengan sikap gagah nyonya inipun mempersiapkan diri.

Akan tetapi suaminya menggeleng kepala dan menyuruhnya mundur dengan sikap halus.

"Jangan engkau mencampuri, biarkan aku saja yang membereskan persoalan ini,"

Katanya.

"Ha-ha-ha, ketua Pek-Liong-Pang. Tidak perlu sungkan dan malu. Kami datang berdua dan kami sudah mempersiapkan segalanya, termasuk pengeroyokan murid-muridmu. Nah, kerahkanlah semua tenagamu di sini, kami tidak akan takut, tidak akan mencelamu kalau kau melakukan pengeroyokan!"

Kata Hek-hiat Lomo.

Akan tetapi Cia Han Tiong adalah seorang pendekar lengkap, seorang yang menjunjung tinggi kehormatan.

"Kami bukan pengecut yang suka main keroyokan mengandalkan banyak orang. Kalian hanya datang berdua, kelau setuju, biarlah kulayani kalian satu demi satu."

"Kami datang berdua dan kami maju bersama. Kau boleh mengerahkan semua keluarga dan muridmu!"

Hek-hiat Lobo membentak dan nenek ini sudah menerjang dahsyat menggunakan tongkatnya yaug meluncur ke arah dada ketua Pek-Liong-Pang itu.

Suaminya, Hek-hiat Lomo, juga menyerang dengan tongkatnya.

Menghadapi serangan beruntun yang dilakukan dua orang itu secara dahsyat dan susul menyusul, Han Tiong mengebutkan kedua lengan bajunya menangkis ujung tongkat sambil meloneat ke belakang.

"Plakplak... brettt!"

Ujung lengan bajunya dapat menyampok terpental kedua senjata lawan, akan tetapi ujung lengan baju kiri yang menangkis senjata di tangan Hek-hiat Lomo itu terobek.

Kedua pihak terkejut.

Kakek dan nenek itu dapat merasakan betapa kuat tangkisan ujung lengan baju tadi.

Mereka bergerak dengan hati-hati dan kini mengambil posisi di kanan kiri lawan dan tongkat mereka membuat gerakan-gerakan aneh dan mengeluarkan suara berdesing seperti senjata tajam saja.

Melihat gerakan mereka yang teratur, Han Tiong dapat menduga bahwa kedua orang ini memang telah mempelajari cara bersilat berdua merupakan semacam ilmu silat berpasangan.

Ilmu ini amat kuat karena keduanya dapat bekerja sama secara teratur dan rapi, dapat saling bantu dan saling melindungi secara otomatis.

Mengertilah dia mengapa mereka tidak mau maju satu demi satu, melainkan ingin maju bersama.

"Sing..."

Cia Han Tiong memang pantang membunuh, akan tetapi menghadapi lawan-lawan tangguh itu, untuk dapat membela diri dengan baik diapun mencabut pedangnya.

Sebetulnya pendekar ini tidak pernah mempergunakan pedang dan pedang yang dibawanya itu lebih merupakan hiasan saja.

Akan tetapi, sekali ini dia membutuhkannya.

"Hiaaaat..."

Hek-hiat Lomo sudah menusukkan tongkatnya dari kanan.

"Ihhh..."

Hek-hiat Lobo juga menyerang dari kiri dengan totokan ke arah leher.

"Wuuutt... sing... trangtrang..."

Pedang berkelebat membentuk sinar terang dan menangkis kedua tongkat.

Akan tetapi, begitu kedua tongkat terpental, kakek dan nenek itu menggerakkan tangan kiri dan ternyata serangan tangan kiri mereka yang menyambar itu tidak kalah ampuhnya dibandingkan tongkat mereka!

Han Tiong cepat menggeser kaki dua kali, mengelak dan menggunakan ujung lengan baju kiri untuk menangkis.

Kini tahulah dia bahwa yang paling berbahaya adalah tangan kiri kedua lawan itu.

Inti penyerangan mereka terletak di kedua tangan kiri sedangkan tongkat-tongkat itu lebih bertugas mengacau kedudukan lawan dan mengalihkan perhatian agar tangan kiri mereka lebih banyak memperoleh kesempatan untuk "mencuri!

kelengahan lawan.

Maka diapun segera mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang yang amat kuat di tangan kirinya untuk menjaga diri dan balas menyerang.

Terjadilah sebuah pertandingan yang amat seru.

Akan tetapi, dua orang kakek dan nenek itu memiliki gerakan silat yang luar biasa dan asing bagi Han Tiong.

Yang berbahaya sekali dan tak terduga-duga datangnya adalah serangan kaki mereka.

Kaki mereka itu dapat menyelingi serangan tongkat dan tangan dengan tendangan-tendangan aneh yang dilakuken dalam berbagai posisi.

Tendangan langsung, miring ke belakang, bahkan tendangan lutut.

Cara menendang gaya Sailan ini tidak dikenal Han Tiong.

Berbeda dengan gaya tendangan dari selatan yang menggunakan sepanjang kaki dengan pengerahan kekuatan dan dilakukan dengan cepat dari jarak agak jauh, tendangan kakek dan nenek ini dapat dilakukan deri jarak dekat, menggunakan lutut dan tiba-tiba datangnya.

Betapapun juga, kematangan Han Tiong dalam ilmu silatnya membuat dia selalu dapat mengelak dan membalas dengan serangan-serangan dahsyat pula sehingga sering membuat kedua lawannya terkejut dan kesatuan gerakan mereka membuyar.

Ciu Lian Hong merasa penasaran ketika suaminya menyuruhnya mundur tadi.

Apalagi kini melihat suaminya dikeroyok dua dan nampak terdesak, ia merasa semakin penasaran.

Karena merasa khawatir akan keselamatan suaminya, akhirnya Ciu Lian Hong tak dapat lagi menahan kemarahannya.

"Kakek nenek iblis curang!"

Bentaknya dan nyonya itupun meloncat ke depas, sambil menyerang Hek-hiat Lobo dengan tamparan tangan kanannya.

"Plakk..."

Tubuh nyonya itu nyaris terpelanting ketika tamparannya ditangkis oleh Hek-hiat Lobo dengan amat kuatnya.

"Heh-heh, bagus engkau datang menyerahkan nyawamu!"

Nenek itu terkekeh lalu menyerang Ciu Lian Hong dengan tongkatnya.

Nyonya ini mengelak dan berloncatan ke sana-sini, akan tetapi ujung tongkat itu terus mengejarnya."

"Tranggg..."

Sinar pedang berkelebat dan ternyata Han Tiong telah menangkis tongkat yang mengancam keselamatan isterinya itu.

"Hongmoi, mundurlah! Biar kuhadapi sendiri..."

"Tidak! Aku harus membantumu!"

Teriak Lian Hong.

Han Tiong khawatir akan keselamatan isterinya, maklum bahwa tidak mungkin Lian Hong dicegah.

Dia menyerahkan pedang di tangannya kepada isterinya lalu berbisik cepat.

"Pergunakan pedang ini dan mainkan Thai-kek Sin-kun hanya untuk membela diri saja!"

Dua orang musuh mereka itu tertawa, lalu menyerang lagi, si kakek menyerang Han Tiong yang bertangan kosong sedangkan nenek itu memutar tongkatnya lalu menyerang Lian Hong.

Nyonya ini maklum akan kelihaian lawan.

Maka iapun cepat menggerakkan pedangnya dan bersilat dengan Ilmu Thai-kek Sin-kun, sesuai dengan pesan suaminya.

Ilmu ini dapat dimainkan dengan pedang dan ilmu silat ini memang mengandung daya tahan yang amat hebat.

Ketika Lian Hong memutar pedangnya memainkan Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun, tongkat lawannya tidak mampu menembus benteng pertahanan yang kokoh kuat itu.

Betapapun jugat tenaga lawan lebih besar dan ilmu kepandaian nenek itu memang jauh lebih tinggi tingkatnya, maka biarpun Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun amat kokoh kuat, tetap saja Lian Hong terdesak dan tangannya yang memegang pedang terasa panas dan nyeri setiap kali pedangnya bertemu tongkat.

Sejak tadi Lian Hong hanya membela diri saja, sesuai dengan petunjuk suaminya, tidak pernah membalas karena ia mencurahkan seluruh perhatian dan tenaganya untuk bertahan.

Akan tetapi, lama kelamaan nyonya ini merasa penasaran.

Ia didesak dan dihimpit dan biarpun ilmu silat itu ternyata mampu melindunginya sehingga selama hampir lima puluh jurus ia belum pernah terpukul, akan tetapi kalau hanya bertahan terus, akhirnya pasti ia akan kalah juga.

Rasa penasaran membuat Lian Hong kini menyelingi pertahanannya dengan serangan balasan.

Dan inilah kesalahannya!

Tadi Han Tiong melihat betapa tingkat kepandaian isterinya masih kalah jauh dibandingkan lawan, maka dia sengaja memberikan pedangnya dengan pesan agar isterinya memainkan Thai-kek Sin-kun untuk melindungi dirinya.

Dengan demikian, walaupun isterinya takkan menang, setidaknya isterinya akan dapat melindungi diri sendiri sampai dia berhasil mengalahkan Hek-hiat Lomo kemudian membantu Lian Hong.

Akan tetapi tak disangkanya sama sekali bahwa kakek itu benar-benar amat lihai.

Kini, tanpa memegang pedang, sebetulnya Han Tiong dapat mengeluarkan ilmu-ilmunya yang sakti.

Sayang, hatinya yang bersih sama sekali tak menghendaki membunuh lawan.

Dia merasa bahwa pihaknya yang berhutang.

Maka dia hanya membela diri dan balasan serangannya mempergunakan batasbatas agar jangan sampai dia membunuh lawan.

Hal ini mengurangi daya serangannya dan sedemikian jauhnya dia masih belum mampu mengalahkan lawan.

Dan tiba-tiba saja Lian Hong yang sudah penasaran itu mulai membalas dengan serangan hebat kepada Hek-hiat Lobo!

"Haiiittt..."

Lian Hong menusukkan pedangnya dengan cepat dan kuat ke arah perut nenek itu.

"Iiihhh..."

Nenek itu meloncat dan terhuyung ke belakang.

Nenek yang sudah berpengalaman ini memang licik sekali.

Tadi ia sudah hampir putus asa menghadapi daya tahan yang kokoh kuat dari ilmu silat lawannya.

Ia merasa penasaran dan kehabisan akal.

Ia tahu bahwa ia menang segala-galanya dari lawan, Akan tetapi semua ilmu sudah ia keluarkan namun belum juga ia mampu membobolkan sinar pedang yang membentuk benteng pertahanan lawan itu.

Ketika ia melihat lawan tiba-tiba mulai menyerang, ia menjadi girang sekali.

Begitu lawan menyerang, ia melihat lubang terbuka dalam benteng pertahanan itu!

Akan tetapi ia tidak tergesa-gesa, bahkan memancing lawan agar menyerang terus sehingga akan terbuka lubang dan kesempatan yang lebih besar.

Maka ia pura-pura terkejut, berseru sambil terhuyung ke belakang seolah-olah ia terdesak hebat oleh serangan lawan tadi.

Dan Lian Hong terkena jebakan ini!

Melihat betapa nenek itu terhuyung oleh serangannya, Lian Hong menjadi girang sekali, mengira bahwa serangannya ini berhasil.

Ia lalu mendesak dan mengirimkan serangan susulan dengan pedangnya, menubruk ke depan dan menyabetkan pedangnya ke arah leher nenek itu dari samping.

"Hongmoi, mundur..."

Tiba-tiba terdengar Han Tiong berseru keras sekali dan dia hendak meloncat ke depan mencegah isterinya.

Akan tetapi, Hek-hiat Lomo menghadang dengan totokan tongkatnya.

Dan juga, seruannya sudah terlambat karena isterinya yang sudah merasa girang melihat kemenangannya di depan mata itu tidak mau menahan serangannya.

"Wuuuttt... srettt..."

Pedang itu menyambar leher Hek-hiat Lobo yang mengelak dan ketika ia menggerakkan kepala, ikatan rambutnya yang penuh uban itu terlepas dan gumpalan rambutnya bergerak seperti hidup, tahu-tahu sudah membelit dan menangkap pedang lawan.

Lian Hong mengerahkan tenaga untuk menarik pedangnya, namun sukar sekali dan selagi ia bersitegang, mendadak tongkat di tangan nenek itu meluncur di bawah lengan Lian Hong dan menotok dada, tepat di dekat ketiak.

"Tukkk..."

Nyonya itu mengeluh lirih, terkulai dan roboh tak dapat berkutik lagi.

Han Tiong mengeluarkan geraman yang menggetarkan seluruh tempat itu, menerjang kakek yang menghalang dengan tongkat.

Karena marah dan khawatir melihat isterinya roboh, dia kini mengeluarkan ilmu simpanannya yang disebut Kenglun Taipun, melakukan sebuah jurus aneh, tubuhnya melayang ke depan, kedua lengannya dikembangkan dan dari dua tangannya keluar hawa panas menyambar-nyambar.

"Tukk! Desss..."

Tubuh Hek-hiat Lomo terjengkang dan Han Tiong terguncang tubuhnya terkena totokan tongkat.

Akan tetapi dia menerjang terus dan meloncat ke arah isterinya yang rebah miring.

Hek-hiat Lobo yang melihat suaminya terjengkang, mengeluarkan suara pekik melengking dan menyambut Han Tiong dengan tusukan tongkat dibarengi hantaman telapak tangan kiri.

Hebat bukan main serangan nenek yang tingkat kepandaiannya tidak di bawah suaminya ini.

"Tukk! Plak! Desss..."

Tubuh Hek-hiat Lobo juga terpelanting dan terguling-guling ke dekat tubuh suaminya.

Keduanya dengan susah payah bangkit duduk, muka mereka pucat sekali, napas mereka memburu dan dari mulut dan hidung mereka keluar darah.

Maklum bahwa mereka telah terluka parah dalam pertemuan tenaga sakti melawan ketua Pek-Liong-Pang tadi, keduanya lalu duduk bersila menghimpun hawa murni dan menanti datangnya pukulan maut dari lawan.

Mereka tahu bahwa dalam keadaan seperti itu, melarikan diri tidak mungkin, apalagi melawan!

Han Tiong sendiripun terluka, akan tetapi untung baginya bahwa tenaga Thian-te Sin-ciang yang ampuh melindungi tubuhnya sehingga biarpun dalam tubuhnya terguncang hebat dan dari mulutnya mengalir darah segar pula, namun totokan-totokan dan hantaman tangan kiri lawan yang amat ampuh tadi tidak sampai mengakibatkan luka parah.

Dia tidak memperdulikan lagi kedua orang lawannya, melainkan berlutut di dekat tubuh isterinya.

Dia mengangkat dan memangku tubuh yang lunglai itu dan biarpun tubuh itu masih hangat, dia tahu bahwa isterinya telah tewas!

"Hongmoi...

aihhh, Hongmoi...

engkau menjadi korban kekerasan keluargaku..."

Dia meratap dan mengeluh, penuh rasa duka dan terharu.

Kalau tadi para murid Pek-liong-pai tidak berani turun tangan menghadapi musuh tanpa perintah suhu mereka, kini melihat subo mereka tewas dan kedua orang musuh itu agaknya sudah terluka parah tinggal menyusulkan pukulan maut saja, mereka lalu bergerak menyerang kakek dan nenek itu untuk membalaskan kematian subo dan lima belas orang saudara seperguruan mereka.

Tentu saja sebagai dua orang yang pandai, kakek dan nenek itu tahu akan bahaya yang mengancam diri mereka.

Mereka sudah terluka parah dan mengerahkan tenaga sinkang untuk melawan berarti membunuh diri sendiri.

Akan tetapi, sebelum mati lebih baik mereka merobohkan lagi beberapa orang lawan yang tingkat kepandaiannya belum tinggi.

Mereka lalu bangkit berdiri, terengah-engah menyeringai, bertopang pada tongkat mereka.

"Hah, majulah kalian, Heh-heh..."

Hek-hiat Lomo menantang.

Isterinya juga siap di sebelahnya, tidak berani dan tidak kuat lagi membuka suara.

Para murid Pek-Liong-Pang terkejut dan menjadi agak gentar, menunda serangan mereka dan kini maju mengepung, siap dengan senjata mereka.

"Tahan..."

Tiba-tiba untuk kedua kalinya, Han Tiong membentak.

Semua muridnya terkejut, menahan senjata dan menoleh ke arah pendekar itu.

Dengan lembut Han Tiong menurunkan tubuh isterinya, merebahkan mayat yang masih hangat itu di atas tanah, lalu dia bangkit berdiri, mengusap darah dari tepi bibirnya, lalu melangkah maju menghampiri kakek dan nenek itu, sejak tadi matanya menatap wajah mereka dengan tajam.

Hek-hiat Lomo dan Hek-hiat Lobo memandang dengan muka pucat, maklum bahwa nyawa mereka berada di tangan pendekar ini karena melawan pendekar ini tidak mungkin lagi bagi mereka yang sudah terluka parah.

Tiba-tiba Hek-hiat Lomo terkekeh.

Dia tertawa untuk menutupi rasa ngeri dan takutnya.

"Heh-hehheh, orang she Cia! Kami sudah kalah olehmu. Mau bunuh lekaslah lakukan itu. Kami tidak merasa rugi, nyawa kami ditukar nyawa isterimu dan lima belas orang muridmu!"

Sinar berapi-api penuh kemarahan memancar dari sepasang mata pendekar ini, dan kedua tangannya mengepal tinju.

Terdengar bunyi berkerotokan ketika dia mengerahkan tenaga dan dua orang tua itu merasa semakin serem.

Mereka tahu betapa dahsyatnya tenaga yang tersembunyi di dalam kedua tangan itu sehingga sekali saja tangan itu bergerak, mereka takkan mampu mempertahankan nyawa mereka lagi.

Juga para murid Pek-Liong-Pang memandang terbelalak, ingin sekali melihat guru mereka menurunkan tangan maut membunuh dua orang musuh besar itu.

Akan tetapi pukulan yang dinanti-nantikan itu tak kunjung datang.

Bahkan pendekar itu menoleh ke arah mayat isterinya, membalik memandang kakek dan nenek itu, lalu bicara, suaranya menggetar penuh duka.

"Hek-hiat Lomo dan Hek-hiat Lobo, setelah kalian membunuh isteriku dan lima belas orang muridku, keuntungan apakah yang kalian peroleh dari kematian mereka? Dan apakah dengan kematian mereka itu nenek guru kalian yang tewas oleh mendiang ayahku itu dapat hidup kembali?"

Mendengar pertanyaan aneh ini, kakek dan nenek itu saling berpandangan dengan bimbang, kemudian kakek itu yang menjawab.

"Tentu saja nenek guru kami tidak dapat hidup kembali, dan keuntungan yang kami dapat adalah rasa puas bahwa dendam kami sudah terbalas sebagian!"

"Benarkah itu? Benarkah kalian merasa puas? Ataukah akan timbul dendam lain karena kalian gagal membunuhku dan dengan sekali pukul aku akan dapat membunuh kalian?"

"Sudahlah, kami sudah kalah dan gagal, engkau boleh membunuh kami, kami tidak merasa takut!"

Akan tetapi Han Tiong menggeleng kepala dan menarik napas panjang lalu menundukkan mukanya.

"Tidak, aku tidak akan mau memperpanjang dan menyambung karma buruk ini. Biarlah isteriku dan lima belas orang muridku menjadi penebus hutang mendiang ayahku dan kubikin putus rantai karma yang membelenggu diriku. Harap kalian dapat menghabiskan permusuhan sampai di sini saja."

Kakek dan nenek itu kembali saling pandang seperti tidak percaya akan apa yang mereka dengar.

"Kau... kau tidak akan membunuh kami...?"

Nenek itu bertanya, suaranya mengandung isak tertahan karena ia terlepas dari ketegangan hati seorang yang menghadapi maut yang nampaknya tak terelakkan lagi mengancam dirinya tadi.

Han Tiong mengangguk dan menarik napas panjang.

"Benar, kalian boleh pergi..."

Kakek dan nenek itu merasa terharu sekali.

Baru saja mereka membunuh isteri dan lima belas orang murid pendekar ini, akan tetapi pendekar ini mengampuni mereka!

Selama hidup mereka belum pernah mendengar yang seganjil ini, apalagi mengalaminya.

Jantung mereka seperti ditusuk-tusuk rasanya dan sekarangpun mereka mulai merasa menyesal sekali.

Peristiwa pembunuhan ini akan menghantui mereka selama hidup dengan penyesalan.

Kalau pendekar ini merasa dendam dan hendak membalas atas pembunuhanpembunuhan itu, tentu tidak akan terdapat penyesalan di hati mereka.

Akan tetapi kini sikap pendekar itu akan membuat mereka selama hidup menyesal sekali telah melakukan pembunuhan di hari ini.

Mereka lebih suka kalau dibunuh saja.

Keduanya menjura dengan muka pucat dan mata basah.

"Cia-taihiap, kami berhadapan dengan seorang mulia, kami takluk dan merasa menyesal sekali..."

Kata kakek itu.

"Pergilah kalian... pergilah..."

Kata Han Tiong, lalu dia menghampiri mayat isterinya, dipondongnya jenazah itu dan dibawanya pulang.

Para muridnya juga mengangkat mayat saudara-saudara mereka mengikuti suhu mereka dari belakang.

Kakek dan nenek itu mengikuti iring-iringan jenazah yang amat menyedihkan itu dengan muka pucat dan pandang mata sayu, kemudian tertatih-tatih merekapun pergi meninggalkan Lembah Naga.

Setelah belasan jenazah itu dimasukkan peti dan para murid Pek-Liong-Pang berkumpul dan berkabung, suasana menjadi amat menyedihkan.

Sisa para murid cepat memberi kabar kepada saudara-saudara seperguruan mereka dan setiap kali ada murid Pek-Liong-Pang datang, meledaklah ratap tangis di antara mereka.

Hampir tiga puluh orang murid Pek-Liong-Pang berkumpul di malam terakhir itu.

Besok pagi, enam belas peti mati itu akan dikebumikan.

Dalam kesempatan ini, para murid kepala menyatakan rasa penasaran hati mereka terhadap sikap suhu mereka kepada kakek dan nenek yang memusuhi Pek-Liong-Pang dan yang menyebar maut itu.

"Suhu, teecu sekalian tetap merasa penasaran mengapa suhu membiarkan kakek dan nenek iblis itu pergi. Sepatutnya mereka dibunuh untuk membalaskan kematian subo dan enam belas murid Pek-Liong-Pang. Karena suhu mengampuni dan membebaskan dua iblis itu, apakah arwah subo dan sute tidak penasaran?"

Demikian seorang murid tua yang sudah lulus dan baru saja tiba, mewakili saudara-saudara seperguruannya menyampaikan rasa penasaran hati mereka.

Para murid lainnya mengangguk setuju dan semua mata ditujukan kepada pendekar itu.

Dalam beberapa hari ini, Cia Han Tiong seolah-olah bertambah tua sepuluh tahun.

Dia memandang para muridnya yang duduk bersila di depannya, dekat dengan peti-peti jenazah yang berjajar.

"Subo kalian dan para murid Pek-Liong-Pang tewas dalam perkelahian, bahkan pihak kita yang melakukan pengeroyokan. Mereka, juga subo kalian, tewas karena memang kalah pandai. Bukankah kalah menang adalah wajar saja dalam perkelahian? Juga luka atau tewas merupakan rangkaian dan akibat dari kekerasan yang dilakukan kedua pihak. Apa yang harus dibuat penasaran lagi?"

"Akan tetapi, suhu. Mereka yang datang menyerang, bukan kita yang mulai perkelahian itu."

"Mereka datang bukan tanpa sebab. Mereka datang sebagai akibat dari sebab lama, yaitu terbunuhnya nenek guru mereka oleh mendiang sukong kalian."

"Tapi, suhu. Mereka datang menyebar maut membunuh! Setelah suhu mengalahkan mereka, mengapa suhu melarang teecu sekalian membunuh mereka untuk membalas dendam, malah suhu membebaskan mereka. Sungguh bisa membuat orang mati penasaran!"

Kata seorang murid yang berwatak keras.

Han Tiong tersenyum duka dan timbul niatnya untuk mengajak para muridnya membuka mata melihat betapa pahit Kadang-kadang kenyataan hidup itu adanya.

"Kalian dengar dan camkanlah baik-baik. Kalian bilang bahwa mereka datang membalas dendam dan membunuh, dan kalian menganggap mereka itu jahat. Akan tetapi kalian juga ingin membunuh mereka untuk membalas dendam. Lalu apa bedanya antara mereka dengan kita kalau kita juga ingin membunuh karena dendam? Membunuh adalah perbuatan jahat, apapun alasannya, apalagi membunuh dengan dasar dendam dan kebencian. Andaikata kita membunuh mereka berdua apakah enam belas jenazah ini akan dapat hidup kembali? Tidak, tidak ada gunanya sama sekali kalau kita membunuh mereka, bahkan kita menanam lagi bibit permusuhan baru. Mungkin bibit ini kelak berbuah dengan datangnya keturunan mereka yang akan membalas dendam kepada kita atau keturunan kita."

Hening sejenak.

Semua kata-kata itu meresap di dalam hati sanubari para murid Pek-Liong-Pang karena mata mereka kini terbuka dan baru melihat kenyataan yang hebat.

"Lihatlah,"

Ketua Pek-Liong-Pang itu melanjutkan.

"bukankah setiap peristiwa yang menimpa diri kita hanya merupakan pemetikan buah saja dari pohon yang kita tanam sendiri, sedangkan setiap perbuatan kita seperti menanam bibit yang kelak menjadi pohon dan berbuah yang harus kita petik sendiri pula? Karena itu, kita tidak perlu penasaran memetik buah pohon tanaman sendiri, dan kalau menanam bibit, tanamlah yang baik! Kalau aku menerima malapetaka ini sebagai pemetikan buah dari pohon lama tanaman ayah, kemudian aku tidak menanam bibit baru, berarti aku telah mamatahkan belenggu mata rantai karma yang akan mengikat aku dan keluargaku."

"Akan tetapi suhu, dapatkah manusia hidup bebas dari karma?"

Tanya seorang murid.

"Setiap perbuatan yang didorong oleh nafsu dan pamrih, tentu mengikatkan diri kita kepada karma. Karma adalah hukum rangkaian sebabakibat. Harus diketahui bahwa sebabnya berada di telapak tangan kita sendiri. Jadi, terputus atau bersambungnya karmapun berada di tangan kita sendiri. Dendammendendam, hutangpihutang budi atau dendam, menciptakan mata rantai karma yang amat kuat. Kalau setiap tindakan atau perbuatan kita dilandasi cinta kasih yang berarti wajar tanpa pamrih, perbuatan itu akan habis sampai di situ saja, bukan merupakan akibat maupun sebab, tanpa dipengaruhi karma. Pamrih timbul karena kita mengharapkan jasa bagi kita dan kutuk bagi orang lain yang merugikan diri kita. Maka, murid-muridku, hiduplah bebas dari dendam dan hutangpihutang budi, dan kalian akan bebas dari karma."

Malam sudah larut.

Tengah malam baru lewat dan para murid mengganti lilin yang tinggal sedikit dengan lilin-lilin baru.

Han Tiong sendiri menyalakan hio (dupa lidi) harum sehingga ruangan itu dipenuhi asap dupa harum.

Keadaan menjadi amat hening ketika mereka tidak bicara lagi, keheningan yang mencekam, penuh duka dan keseraman.

Tiba-tiba terjadi hal aneh yang membuat mereka semua merasa terkejut sekali.

Ada angin bertiup dari arah kiri ruangan sehingga api lilin-lilin besar di atas meja sembahyang bergoyang seperti hendak padam, menimbulkan banyak bayangan hitam menari-nari di atas dinding putih.

Juga asap dupa beterbangan ke arah kanan.

Ini bukan angin biasa, pikir mereka.

Sebelum mereka sempat bertanya-tanya, tiba-tiba saja ada angin bertiup dari arah yang berlawanan.

Kini api lilin tenang kembali, seperti dihimpit dua tenaga atau tertiup dari dua arah, membuat api tergetar-getar.

Asap dupa yang tertiup dari dua arah menjadi berputaran seperti anak-anak domba kebingungan diancam dua ekor harimau dari dua jurusan.

Han Tiong tahu akan hal ini, akan tetapi dia bersikap tenang, bahkan lalu menggeser duduknya di belakang peti jenazah isterinya, tepat di belakang menghadap ke meja sembahyang.

Pendekar ini dapat menduga bahwa tentu akan muncul orang-orang pandai yang belum diketahuinya siapa dan apa maksud kunjungan mereka di saat seperti itu.

Dia tidak mengharapkan tamu luar.

Para muridnya sudah dipesan agar mengundang murid-murid Pek-Liong-Pang saja dan kalau mungkin mencari Cia Sun puteranya, dan agar peristiwa itu tidak dikabarkan kepada orang luar.

Dia tidak ingin malapetaka yang menimpanya itu diketahui dunia kang-ouw.

Dan rahasia ini mungkin saja dipegang rapat mengingat bahwa Lembah Naga adalah sebuah tempat terpencil yang jarang dikunjungi orang luar.

Akan tetapi, mengapa kini muncul orang-orang pandai?

Para murid Pek-Liong-Pang tidak ada yang mengira bahwa peristiwa angin ganjil itu dilakukan orang pandai.

Mereka saling pandang dan merasa ngeri, menyangka bahwa hal itu tentu dilakukan oleh mahluk-mahluk halus, atau mungkin oleh arwah-arwah yang mati penasaran itu.

Mereka merasa ngeri dan bulu tengkuk mereka meremang.

Tiba-tiba saja ada suara terkekeh.

Para murid Pek-Liong-Pang tersentak kaget dan memandang terbelalak kepada seorang kakek yang tiba-tiba saja muncul di depan meja sembahyang.

Kakek itu usianya tentu sudah enam puluh tahun lebih.

Tubuhnya tinggi besar dan mukanya hitam kasar, matanya bundar besar.

Seorang kakek dengan wajah angker, mengingatkan orang akan tokoh jaman Samkok yang bernama Thio Hwi!

Mukanya penuh cambang bauk yang terpelihara rapi sehingga dia nampak bersih, dan pakaiannya seperti jubah pendeta, akan tetapi cukup mewah dan mahal.

Sepatunya baru mengkilap.

"Ha-ha-ha... Menyembunyikan rasa takut di balik filsafat dan kebajikan, itu namanya pengecut. Si gembel membela si pengecut, itu namanya berhati lemah. Aku ikut berduka cita atas malapetaka yang menimpa keluarga Cia!"

Berkata demikian, kakek ini lalu menjura ke arah meja sembahyang.

Han Tiong sudah cepat bangkit berdiri.

Selama beberapa hari ini dia telah minum obat dan merawat diri sehingga luka tidak parah yang dideritanya dalam perkelahian melawan Hek-hiat Lomo dan Lobo itu sudah sembuh.

Kini dia melihat munculnya orang aneh dan mendengar kata-kata tadi, dapat menduga bahwa kekek ini muncul bukan sebagai sahabat.

Ketika kakek itu menjura ke arahnya, dia terkejut dan cepat mengerahkan sinkang dan balas menjura untuk menangkis serangan jarak jauh itu.

Akan tetapi, betapa kagetnya ketika dia merasa kehebatan tenaga sakti yang menyambar kepadanya.

Dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya, akan tetapi tetap saja tidak mampu menahan dorongan kuat yang membuatnya merasa dadanya terhimpit sesak!

Selagi Han Tiong hendak menghentikan adu tenaga ini dengan jalan menghindar dengan loncatan ke samping, tiba-tiba terdengar suara terkekeh lain lagi di sebelah belakangnya.

Para murid Pek-Liong-Pang juga melihat seorang kakek lain yang tahu-tahu sudah berada di belakang suhu mereka.

Kakek inipun sudah tua, sudah enam puluh tahun lebih usianya.

Tubuhnya tinggi kurus, tangan kirinya memegang sebuah tongkat bambu dan di punggungnya tergantung sebuah ciuouw (guci arak).

"Heh-hehheh... Dasar orang hutan liar! Mana tahu akan filstafat yang indah? Tahunya hanya mengandalkan kekuatan memaksakan kehendaknya. Keluarga Cia yang gagah perkasa dan budiman, mana bisa dibandingkan dengan orang gunung yang buta huruf?"

Sambil berkata demikian, kakek tinggi kurus yang bajunya penuh tambalan inipun menjura dari belakang Han Tiong dan pendekar ini merasa betapa ada tenaga mukjizat mendorong kekuatannya sendiri dari belakang dan menolak tenaga dorongan kakek tinggi besar itu.

Sementara itu, seorang murid Pek-Liong-Pang yang tidak tahu akan adanya adu tenaga sakti itu, mengira bahwa dua orang kakek itu memang tamu yang hendak bersembahyang, Lalu menyalakan beberapa batang hio dan dengan sikap hormat menyerahkan dupa lidi membara itu kepada kedua orang kakek, masing-masing tiga batang.

Agaknya murid yang tak tahu gelagat ini menganggap bahwa dua orang kakek itu adalah sahabatsahabat suhunya, kerena dia memang tahu bahwa di dunia kang-ouw terdapat banyak sekali orang-orang yang berwatak aneh.

Dia tidak menyadari bahwa di antara kedua orang kakek itu diam-diam telah terjadi adu tenaga sakti yang seru!

Dua orang kakek itu tersenyum-senyum menerima tiga batang hio.

Kakek bercambang bauk lalu bersembahyang di depan meja dan asap dari tiga batang hio yang dipegangnya itu tiba-tiba meluncur ke depan dan mengeluarkan suara mendesis seperti tiga ekor ular yang hendak menyerang Han Tiong dan kakek gembel!

Barulah para murid Pek-Liong-Pang terkejut.

Juga Han Tiong terkejut sekali, dan dia siap mengelak atau menangkis serangan asap hio itu.

Akan tetapi pada saat itu, asap dari tiga batang hio di tangan kakek gembel juga meluncur ke depan, menyambut tiga jalur asap pertama.

Terjadilah pemandangan yang amat yang amat menarik, aneh dan menegangkan.

Dari satu pihak terdapat tiga jalur asap dan kini enam jalur asap itu bergulung, saling belit, saling dorong, seperti enam ekor ular sakti bermain-main di angkasa!

Pengendalinya adalah dua orang kakek itu yang berdiri memegangi tiga batang hio.

Anehnya, bara api pada hiohio itu amat besar nyalanya seperti ditiup terus-menerus sehingga tak lama kemudian hiohio itupun habis terbakar dan padam.

Ular-ular asap itupun membuyar dan pertandingan berhenti.

"Ha-ha-ha! Si gembel pemabok ternyata semakin kuat saja!"

Kakek tinggi besar tertawa gembira.

"Dan engkau orang gunung liar semakin binal saja!"

Kakek gembel itupun tertawa.

"Kau masih menganggap kelemahan orang she Cia ini benar?"

Tanya kakek tinggi besar.

"Tentu saja! Hidup haruslah bebas, baru dapat menikmati hidupnya!"

Kata kakek gembel.

"Huh! Hidup tanpa adanya sesuatu yang mengikat, lalu apa artinya? Tiada isi, hampa belaka!"

Kata kakek tinggi besar.

"Itu pendapatmu! Hidup harus bebas dari pendapat..."

"Ha-ha, gembel mabok! Ucapanmu itupun merupakan suatu pendapat, bukan?"

Wajah kakek gembel itu berobah merah dan sejenak dia seperti kebingungan.

"Sudahlah!"

Dia mengetukkan tongkat bambunya di atas lantai.

"Kita bukan nenek-nenek bawel yang suka berdebat. Kalau engkau ingin mengadu kepandaian, hayoh! Di manapun dan kapanpun akan kulayani. Sudah lama tongkatku tidak pernah menggebuk anjing tinggi besar dari gunung!"

Akan tetapi kakek tinggi besar yang disindir itu hanya tertawa.

"Engkau tahu bahwa ucapanmu itu hanya gertak sambal! Akupun tahu bahwa aku takkan mudah mengalahkan engkau gembel busuk. Kita sudah semakin tua, tiada gunanya membuang tenaga sia-sia. Mari kita berlomba membuktikan kebenaran filsafat lemah pengecut dari orang she Cia ini!"

"Baik, bagaimana caranya?"

"Kita didik murid menurut cara masing-masing, engkau boleh mencontoh filsafatnya dan aku sebaliknya. Tiga tahun kemudian kita adu murid kita!"

"Baik!"

Kedua orang kakek itu lalu berkelebat lenyap! Cia Han Tiong cepat menjura dan mencoba menahan.

"Jiwi locianpwe, harap duduk dulu..."

"Ha-ha!"

Terdengar suara kakek gembel.

"Kau mau tahu. Aku hanya gembel tua Ciusian Lokai (Pengemis Tua Dewa Arak)!"

"Dan aku adalah Gobi Sanjin (Orang Gunung Gobi)!"

Terdengar suara kakek tinggi besar.

Suara mereka terdengar dari jauh sekali, dan dari dua jurusan!

Cia Han Tiong duduk kembali, menarik napas panjang dan menghapus keringatnya.

"Suhu, siapakah dua orang aneh itu?"

Tanya seorang murid. Han Tiong menarik napas panjang dan mengerutkan alisnya.

"Sungguh aku seorang yang harus malu melihat kepandaian sendiri tiada artinya dibandingkan mereka itu. Melihat sinkang mereka, agaknya mereka memiliki tingkat yang tak kalah tingginya dibandingkan tingkat mendiang ayahku sendiri! Dan mereka itu jauh lebih lihai dari pada Hek-hiat Lomo dan Hek-hiat Lobo! Namun, baik kedua Lomo dan Lobo maupun kedua kakek tadi, sama sekali tak terkenal di dunia kang-ouw! Terbuktilah kini bahwa di dunia ini banyak sekali terdapat orang pandai, jauh lebih pandai dari pada orang yang terkenal!"

"Apakah maksud kedatangan mereka itu, suhu?"

"Entahlah. Entah ada hubungannya dengan kemunculan Hek-hiat Lomo dan Hek-hiat Lobo itu atau tidak. Akan tetapi, kalau orang-orang sakti seperti mereka muncul, biasanya tentu akan terjadi hal-hal yang penting."

Setelah mengubur peti-peti jenazah itu, Han Tiong lalu membubarkan Pek-Liong-Pang!

Dia mengambil keputusan untuk mengundurkan diri.

Peristiwa yang terjadi baru-baru ini membuka matanya bahwa memperkuat diri sendiri dan kelompoknya berarti mengundang datangnya lawan yang tak mau kalah kuat.

"Kalian jalanlah sendiri-sendiri dan peganglah teguh semua ajaran yang telah kalian peroleh di sini. Akan tetapi jangan lagi sebut-sebut namaku atau Pek-Liong-Pang. Pek-Liong-Pang sudah bubar dan segala perbuatan kalian adalah urusan pribadi yang harus kalian pertanggungkan sendiri. Kalau ada yang bertemu dengan Cia Sun, beritahukan segalanya dan suruh dia pulang. Selanjutnya, aku tak mau diganggu dengan persoalan-persoalan dunia lagi."

Tentu saja para murid menjadi berduka.

Akan tetapi mereka mengenal watak suhu mereka yang keras.

Beberapa hari kemudian, Lembah Naga menjadi sunyi ditinggalkan semua murid Pek-Liong-Pang.

Cia Han Tiong hidup menyendiri sebagai seorang pertapa!

Sui Cin yang menyamar sebagai seorang pemuda gembel, merasa cocok dan senang sekali melakukan perjalanan bersama Hui Song.

Pemuda ini berandalan, jenaka, gembira dan nakal, suatu sifat yang cocok dengan wataknya sendiri.

Ketika ia melakukan perjalanan bersama Sim Thian Bu menuju ke telaga setelah gagal nonton pertemuan para pendekar yang urung diadakan, mula-mula iapun merasa cocok.

Sim Thian Bu seorang pemuda ganteng pesolek yang pandai memikat hati.

Akan tetapi, baru sehari melakukan perjalanan bersama, ia sudah melihat bahwa keramahan pemuda itu pura-pura dan pandang matanya, tutur sapanya, semakin berani mengarah cabul.

Maka, pada malam harinya ketika mereka bermalam di rumah penginapan, diam-diam Sui Cin meninggalkan tanpa pamit.

Ia lalu menyamar sebagai pemuda gembel yang merantau sendirian, bebas gembira sampai ia bertemu dengan Hui Song.

Seperti telah kita ketahui, Sui Cin yang menyamar sebagai pemuda gembel melakukan perjalanan dengan Hui Song menuju ke kota raja.

Ia mengatakan hendak mencari encinya!

Dan Hui Song juga pergi ke kota raja dengan dalih hendak menyelidiki Hwa-I Kai-Pang yang bekerja sama dengan pasukan pemerintah.

Padahal sesungguhnya dia ingin sekali berkenalan dengan enci dari pemuda gembel itu yang ternyata adalah dara yang pernah dijumpainya dan yang amat menarik hatinya itu.

Di sepanjang perjalanan, keduanya merasa cocok sekali.

Akan tetapi setiap kali malam tiba, Sui Cin tidak pernah mau diajak bermalam di rumah penginapan, melainkan mengajak bermalam di kolongkolong jembatan atau di emper-emper toko!

Ketika Hui Song memprotes, Sui Cin menjawab.

"Song-twako, engkau tahu bahwa aku sudah biasa hidup sebagai pengemis. Maka, akupun lebih leluasa tidur di kolong jembatan dari pada di kamar hotel. Kalau engkau mau tidur di hotel, silakan. Aku di emper toko sini saja."

Hui Song terpaksa menurut biarpun dia mengomel karena dia tahu bahwa pemuda ini bukan gembel aseli melainkan putera Pendekar Sadis yang kaya raya dan suka membagi-bagi uang pada para gembel!

Dia tidak tahu bahwa Sui Cin sendiri jarang tidur di tempat kotor itu.

Kalau sekarang ia memilih tidur di emper adalah untuk menghindari tidur sekamar dan seranjang dengan Hui Song!

Pada suatu malam mereka terpaksa tidur di bawah pohon dalam sebuah hutan.

Kota raja sudah dekat dan hawa udara malam itu dingin sekali.

Melihat betapa pemuda gembel itu tidur meringkuk kedinginan, Hui Song membesarkan api unggun.

Akan tetapi agaknya masih belum cukup dapat mengusir dingin, bahkan dalam tidurnya Sui Cin agak menggigil.

Karena khawatir kalau-kalau pemuda gembel itu jatuh sakit, Hui Song melepaskan (Lanjut ke

Jilid 09) Asmara Berdarah (Seri ke 08 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 09 jubahnya dan menyelimuti tubuh Sui Cin yang sudah tidur nyenyak.

Akan tetapi, pemuda gembel itu masih kelihatan meringkuk kedinginan sedangkan Hui Song sendiri setelah menanggalkan jubahnya juga merasa dingin sekali.

Maka dia lalu merebahkan dirinya dekat Sui Cin dan untuk mengurangi rasa dingin bagi mereka berdua, dia lalu merangkul tubuh Sui Cin merapatkan diri.

Benar saja, dia merasa hangat dan nyaman.

Juga Sui Cin mengeluarkan suara lega.

Akan tetapi hanya sebentar saja karena tiba-tiba Sui Cin meronta dan siku lengannya menyodok ke belakang.

"Hekk..."

Hui Song merasa dadanya sesak karena tersodok siku dan dia memandang terbelalak kepada Sui Cin yang sudah meloncat berdiri.

Pemuda gembel itu bertolak pinggang dan memandang kepadanya dengan marah sekali.

"Apa... apa yang kau lakukan tadi?"

Bentaknya. Hui Song bangkit duduk termangu-mangu, keheranan.

"Apa...? Mengapa...? Aku tidak apa-apa..."

Jawabnya bingung.

"Kenapa engkau... memelukku tadi?"

Hui Song mengangkat alis dan pundaknya.

"Agar kita berdua tidak kedinginan. Cin-te, engkau sungguh aneh, apa salahnya kalau aku memelukmu?"

Baru Sui Cin sadar akan keadaannya, akan penyamarannya. Iapun duduk dekat api unggun.

"Maaf, Song-twako. Engkau mengagetkan aku yang sedang tidur dan... dan engkau mengingatkan aku akan pengalaman tidak enak beberapa bulan yang lalu ketika tadi engkau merangkul aku."

"Pengalaman apakah, Cin-te? Kurasa tidak ada salahnya dua orang laki-laki yang sudah bersahabat saling merangkul."

Hui Song mengomel karena dadanya masih terasa memar.

"Ada seorang pria yang juga merangkulku... ihh, aku masih jijik dan ngeri membayangkan perbuatannya itu!"

"Aih, engkau seperti wanita saja, Cin-te. Apa salahnya laki-laki itu merangkulmu kalau memang dia sahabatmu?"

"Dia bukan hanya merangkul, akan tetapi... hendak... mencium dan mengajakku melakukan... hal yang tidak senonoh..."

Sui Cin tidak membohong ketika menceritakan ini karena memang dalam penyamarannya sebagai seorang pemuda gembel, pernah ada seorang gembel pria lainnya yang berbuat seperti itu kepadanya sehingga ia menjadi marah, menghajar gembel itu sampai babak belur dan pingsan baru meninggalkannya.

"Ahh..."

Kini Hui Song terbelalak, kemudian menepuk pahanya sambil tertawa geli.

Sui Cin melirik dengan hati mendongkol.

"Kenapa kau mentertawakan aku?"

Bentaknya.

"Aku tidak mentertawakan kau, Cin-te. Aku hanya merase geli sendiri. Aku sudah pernah mendengar tentang pria yang suka berjina dengan pria lain, juga tentang wanita yang lebih suka bercinta dengan sesama wanita. Akan tetapi, wah, sialan benar! Apakah engkau menyamakan aku dengan pria itu?"

"Bukan begitu, akan tetapi pengalaman itu membuat aku merasa geli setiap kali ada pria memelukku. Itulah sebabnya mengapa aku tadi terkejut sekali."

"Maaf... maaf... aku tidak tahu dan tidak sengaja..."

"Sudahlah, asal mulai sekarang engkau jangan sekali-kali lagi mengulang perbuatan itu."

"Aku tidak berani..."

Hui Song tertawa.

"Awas kalau kau ulangi lagi, aku akan bilang kepada enciku bahwa engkau adalah soorang pemuda kurang ajar yang sukanya kepada sesama pria."

"Wah, gawat! Sungguh mati, aku tidak berani lagi. Eh, Cin-te, siapakah nama encimu itu?"

Sui Cin tidak segera menjawab, membesarkan nyala api unggun.

"Enci akan marah kalau aku lancang memperkenalkan namanya. Engkau tanya sendiri saja kalau sudah bertemu dengannya."

Pada keesokan harinya, mereka memasuki pintu gerbang kota raja.

Ketika Hui Song bertanya di mana adanya enci sahabatnya itu, Sui Cin menjawab.

"Soal enciku mudah. Akan tetapi aku ingin sekali mengikutimu dan melihat bagaimana caranya engkau menyelidiki Hwa-I Kai-Pang itu."

Terpaksa Hui Song mengajak Sui Cin melakukan penyelidikan.

Setelah mereka mendapat keterangan di mana adanya gedung perkumpulan Hwa-I Kai-Pang, mereka segera menuju ke sana.

Gedung itu besar dan megah, sungguh tidak pantas menjadi pusat perkumpulan para pengemis.

Dan di pintu gerbang nampak pengemis-pengemis muda yang bertampang serem melakukan penjagaan dengan lagak seperti pasukan tentara menjaga pintu gerbang saja.

Dan nampak pula beberapa kali orang-orang berpakaian seperti pejabat pemerintah naik kereta memasuki halaman gedung itu sebagai tamu.

Sui Cin sudah tidak sabar dan hendak menyerbu saja, akan tetapi Hui Song mencegahnya.

"Kita datang bukan untuk menyerbu, melainkan untuk menyelidiki rahasia mereka. Nanti malam saja kita kembali dan melakukan pengintaian."

Malam itu sunyi dan dingin.

Setelah makan malam Hui Song dan Sui Cin berangkat menuju ke gedung perkumpulan pengemis Hwa-I Kai-Pang.

Gedung itu megah dan besar, dikelilingi tembok tinggi dan satu-satunya pintu masuk pekarangan hanya pintu gerbang yang terjaga ketat siang malam itu.

Akan tetapi, tidak sukar bagi Hui Song dan Sui Cin untuk memasuki pekarangan belakang dengan meloncati pagar tembok bagian belakang.

Agaknya Hwa-I Kai-Pang begitu percaya akan kebesaran nama dan pengaruh mereka sehingga menganggap mustahil ada orang yang bosan hidup berani memasuki pekarangan mereka tanpa ijin, maka bagian belakang tidak dijaga.

Bagaikan dua ekor kucing, Hui Song dan Sui Cin menyelinap dan naik ke atas genteng bangunan bersembunyi di balik wuwungan.

Tak lama kemudian mereka sudah membuka genteng mengintai ke bawah, ke dalam sebuah ruangan di bagian belakang gedung itu.

Ruangan itu luas dan melihat gambar-gambar orang bersilat yang berada di atas dinding, juga adanya rak penuh bermacam senjata di sudut, mudah diduga bahwa ruangan itu tentu sebuah lianbuthia (ruangan berlatih silat).

Di sebuah sudut ruangan nampak empat orang duduk seenaknya di atas lantai.

Keadaan empat orang kakek itu menyeramkan.

Keempatnya mengenakan baju tambal-tambalan dan berkembang-kembang seperti baju pengemis akan tetapi kainnya masih baru.

Yang menyeramkan adalah wajah dan sikap mereka.

Seorang yang duduk hampir rebah bertubuh gendut dengan perut seperti gentong, kepala botak dan rambutnya dikuncir lucu seperti ekor babi.

Alisnya tebal, mata hidung dan mulutnya besar-besar.

Orang kedua di sebelah kirinya adalah seorang kakek tinggi kurus yang rambutnya panjang riapriapan, kepalanya memakai kopyah pendeta, tangan kanan memegang pipa tembakau berbentuk ular.

Dia nampak kurus sekali bersanding kakek pertama yang kegerahan membuka bajunya, atau mungkin juga karena perutnya terlalu gendut, kancing bajunya tak dapat ditutup.

Orang ketiga lebih menyeramkan lagi.

Tubuhnya tinggi besar nampak kuat.

Mata kirinya ditutup dengan penutup mata berwarna hitam.

Rambutuya sedikit, hampir gundul dan wajah yang bermata satu ini membayangkan kebengisan yang kejam.

Orang keempat berwajah buruk, dengan mulut yang moncong bentuknya, punggungnya bongkok dan dia memegang sebatang tongkat bulat.

Agaknya mereka sedang bercakap-cakap dengan santai, menghadapi arak wangi dan sepiring ayam panggang utuh berada di antara mereka.

Hui Song dan Sui Cin yang mengintai merasa heran.

Melihat pakaian mereka berempat itu, agaknya tak salah lagi bahwa empat orang itu tentu tokoh-tokoh Hwa-I Kai-Pang.

Akan tetapi sikap dan wajah mereka sama sekali tidak pantas menjadi tokoh gembel.

Lebih patut kalau menjadi kepala-kepala rampok!

"Kurang ajar sekali, kini di Cinan muncul dua orang muda yang berani menentang kita!"

Si perut gendut, berkata sambil mengembangkan lengan kanan.

"Kalau mereka tidak lari dan kuketahui tempatnya, tentu keduanya takkan kuampuni lagi, akan kupatahkan kaki tangan mereka dan kukeluarkan isi perut mereka!"

Kata si mata satu dengan suara penuh geram.

Kakek yang mengisap huncwenya mengepulkan asap sehingga tercium bau yang harum memuakkan.

"Hemm, sebaliknya diselidiki benar-benar siapa pemuda gembel yang membagi-bagi uang itu. Sungguh kedengaran aneh sekali."

"Kalian tak perlu khawatir,"

Kini kakek buruk rupa yang memegang tongkat berkata.

"Kewajiban kita hanyalah menjaga kota raja dan sekitarnya, bekerjasama dengan pasukan pemerintah, mencegah pengaruh buruk mendekati sri baginda. Peristiwa di Cinan itu membuktikan adanya kerja sama yang baik antara anak buah kita dengan pasukan pemerintah. Itu sudah cukup menguntungkan kita. Rakyat melihatnya dan kita tentu semakin ditaati sebagai pembantu pemerintah."

"Akan tetapi, Lo-eng (Pendekar Tua), dua pemuda itu kabarnya lihai sekali. Kalau tidak dicari dan dibasmi, bisa berbahaya, kelak hanya akan mendatangkan kesulitan,"

Kata si gendut.

Mendengar percakapan itu, Sui Cin mengepal tinju.

Ingin ia turun dan mengamuk, menghajar mereka, terutama si perut gendut.

Akan tetapi agaknya Hui Song dapat merasakan gerakannya.

Pemuda itu menyentuh tangannya dan berbisik.

"Hati-hati ada orang datang!"

Tiba-tiba ada dua bayangan berkelebat.

Sui Cin terkejut bukan main karena bayangan itu memiliki gerakan yang amat cepat dan ringan, tanda bahwa mereka mempunyai kepandaian yang cukup tinggi.

Untung Hui Song telah mengetahui kedaaan mereka lebih dulu sehingga ia tak jadi turun tangan.

Bagaikan dua ekor burung, bayangan dua orang itu sudah melayang turun memasuki ruangan itu.

Empat orang yang sedang bercakap-cakap itu terkejut dan berlompatan bardiri, siap menggempur musuh.

Sepasang orang muda yang mengintai di atas melihat betapa gerakan mereka hebat, membayangkan kepandaian tinggi.

Akan tetapi ketika empat orang itu mengenal kakek dan nenek yang muncul seperti iblis itu, wajah mereka menjadi girang.

Kakek bertongkat yang menjadi ketua Hek-I Kaipang, yaitu yang menamakan diri Hwa-I Lo-eng, cepat menjura dengan hormat.

"Aih, kiranya Kui-kok Pangcu berdua yang datang berkunjung! Selamat datang dan silakan duduk!"

Juga tiga orang kakek yang menjadi pembantu-pembantunya memberi hormat.

Kakek dan nenek itu adalah Kui-kok Lomo dan isterinya Kui-kok Lobo, sepasang suami isteri yang berpakaian putihputih dan bermuka pucat seperti mayat itu.

Mereka adalah tokoh-tokoh Cap-sha-kui dan karena Cap-sha-kui juga sudah diperalat oleh Liu-thaikam, seperti halnya Hwa-I Kai-Pang, maka tentu saja mereka terhitung rekan dan saling mengenal.

Melihat betapa kakek dan nenek yang bermuka putih pucat itu masih berdiri saja, ketua Hwa-I Kai-Pang kembali mempersilakan mereka duduk.

"Jiwi, silakan duduk."

"Nanti dulu, Kaipangcu, kami menanti munculnya tamu lain!"

Lalu Kui-kok Lobo melambaikan tangan ke atas sambil membentak.

"Apakah kau masih juga belum mau turun?"

Sui Cin terkejut sekali, mengira bahwa ialah yang disuruh turun karena nenek bermuka pucat itu memandang ke arah tempat ia bersembunyi.

Tentu saja ia tidak takut dan hendak turun.

Akan tetapi kembali Hui Song mencegahnya dan memegang lengannya.

Dan pada saat itu terdengarlah bunyi ledakan cambuk disusul melayangnya seorang nenek bongkok kurus ke dalam ruangan itu.

Kiranya Kui-bwe Coali, satu di antara Cap-sha-kui yang dimaksudkan oleh kakek dan nenek iblis itu!

"Hihik, matamu masih tajam sekali Lobo?"

Kui-bwe Coali berkata dengan nada mengejek.

"Coali, untuk mengetahui kehadiranmu, tak memerlukan ketajaman mata, cukup mencium bau yang amis seperti ular itupun cukuplah, Ha-ha-ha!"

Kui-kok Lomo mengejek.

"Huh! Hidung kerbau ini masih besar kepala juga!"

Nenek iblis itu balas memaki.

Tidaklah aneh sikap antara para iblis Cap-sha-kui ini.

Memang mereka adalah datuk-datuk sesat yang kasar.

Akan tetapi Hwa-I Lo-eng girang sekali kedatangan tamu-tamu lihai ini.

Dengan hormat dia mempersilakan mereka duduk di ruangan tanpa kursi itu.

Lantai mengkilap bersih, maka mereka lalu duduk di lantai begitu saja.

Ketua pengemis itu membunyikan genta kecil dan muncullah lima orang gadis cantik menyuguhkan arak dan daging.

"Ha-ha! Para pelayanmu cantik-cantik, Lo-eng!"

Kata Kui-kok Lomo sambil mencolek pinggul seorang di antara mereka.

Hui Song dan Sui Cin memandang dengan heran.

Perkumpulan pengemis akan tetapi mempunyai pelayan-pelayan yang terdiri dari Gadis-gadis cantik yang berpakaian indah seperti perkumpulan orang-orang bangsawan atau hartawan saja!

Akan tetapi sepasang orang muda ini tetap mengintai dengan hati-hati karena mereka kini maklum bahwa datuk-datuk sesat dari Cap-sha-kui ternyata bersekongkol dengan Hwa-I Kai-Pang dan agaknya mereka diperalat oleh pemerintah!

Betapapun aneh kedengarannya, namun agaknya kenyataannya begitulah karena bukankah tadi ketua Hwa-I Kai-Pang menyebut tentang adanya kerja sama antara mereka dan pemerintah?

Sambil makan minum, Kui-kok Lomo menceritakan maksud kedatangannya.

"Sebagai sesama rekan, kami membuka rahasia kami. Kami menerima tugas untuk membunuh Jenderal Ciang."

"Ah... Beliau adalah panglima kedua di kota raja! Bukan hal mudah untuk mendekatinya, apalagi membunuhnya!"

Kata kakek yang mengisap pipa tembakau.

Hui Song dan Sui Cin juga kaget bukan main!

Dan mereka merasa bingung.

Para datuk sesat ini bekerja sama dengan pemerintah, akan tetapi mengapa iblis muka pucat mendapat tugas membunuh Jenderal Ciang, panglima kedua dari kerajaan?

Sungguh sukar dimengerti.

Akan tetapi mereka mendengarkan terus.

"Kami mengerti akan beratnya tugas kami, karena itulah kami datang ke sini mengharapkan bantuan kawan-kawan yang tentu lebih tahu akan kebiasaan-kebiasaan panglima itu sehingga kami dapat turun tangan pada saat yang tepat,"

Kata Kui-kok Lobo.

"Sebaiknya, kalau kita bekerja sama!"

Tiba-tiba Kui-bwe Coali berseru.

"Kalian membantuku membunuh Menteri Kebudayaan Liang, baru kemudian aku membantu kalian menyingkirkan Ciang-goanswe. Dengan majunya kita bertiga, mustahil kita takkan berhasil membunuh jenderal itu!"

Suami isteri itu saling pandang dan mengangguk setuju.

Membunuh Menteri Liang merupakan pekerjaan amat mudah kalau dibandingkan dengan tugas mereka membunuh Jenderal Ciang.

Dan bantuan Kiu-bwe Coali tentu saja amat berharga.

"Bagus, kami setuju dengan kerja sama itu,"

Kata Kui-kok Lomo.

"Nah, sekarang kita minta bantuan kawan-kawan dari Hwa-I Kai-Pang bagaimana sebaiknya untuk dapat menyerang Menteri Liang!"

Kata Kui-bwe Coali.

"Mencari kesempatan baik untuk menyerang Menteri Liang jauh lebih mudah dari pada Jenderal Ciang!"

Kata Hwa-I Lo-eng yang tentu saja lebih banyak mengenal keadaan para pembesar di kota raja.

Apalagi dia sudah banyak menerima tugas mengamati dan memata-matai para pembesar yang menjadi lawan Liu-thaikam termasuk Jenderal Ciang dan Menteri Liang.

"Ceritakan yang jelas, pangcu,"

Kata Kiu-bwe Coali dengan girang karena merasa betapa tugasnya akan menjadi ringan setelah mendapat bantuan rekan-rekannya.

"Begini . Menteri Liang mempunyai suatu kegemaran, yaitu berlayar dan memancing ikan di Telaga Emas di sebelah selatan kota raja. Sebulan dua tiga kali dia pergi ke telaga itu dan saat itulah terbaik untuk turun tangan. Pertama, dia berada di luar kota raja dan kedua, biasanya dia tidak disertai banyak pengawal. Nah, cuwi tinggal bersiapsiap saja, kalau dia pergi ke telaga itu, cuwi turun tangan. Kami sendiri sudah banyak dikenal, tentu saja tidak mungkin dapat membantu turun tangan sendiri. Akan tetapi, di sini ada saudara Bhe Hok ini yang merupakan tokoh baru dan belum banyak dikenal di daerah telaga itu, maka dialah yang akan membantu cuwi mengamati dan memata-matai lebih dahulu sehingga akan tahu keadaan pembesar itu kalau sampai di telaga."

Ketua perkumpulan pengemis itu menunjuk kepada kakek berperut gendut yang ikut hadir di situ dan kakek gendut ini mengangguk-angguk sambil terkekeh girang menerima tugas penting ini.

Ketua Hwa-I Kai-Pang itu bicara lirih ketika mengatur siasatnya, sama sekali tidak tahu bahwa semua percakapan itu didengarkan oleh Hui Song dan Sui Cin!

Pagi itu amat indahnya di tepi telaga.

Masih sunyi karena hari masih amat pagi, belum ada orang datang ke tempat itu.

Sui Cin sejak tadi sudah berada di tepi telaga seorang diri dan ia terpesona oleh keindahan pemandangan pagi hari itu.

Pagi yang cerah.

Sinar matahari masih lemah, kuning emas membentuk garis-garis mengkilap di permukaan air telaga yang tenang dan halus seperti sutera kehijauan berkeriput.

Kicau burung-burung di antara daun-daun pohon menambah meriahnya suasana.

Langit bersih, hanya ada awan putih berkelompok-kelompok membentuk beraneka macam mahluk khayali.

Indah sekali awan-awan itu, tak pernah diam mati melainkan setiap detik berobah dengan halus, seperti permukaan air telega yang selalu bergerak menimbulkan perobahan-perobahan.

Seperti mengalirnya air kehidupan yang setiap saat berobah.

Hening sekali.

Keheningan yang agung menyelimuti seluruh telaga dan sekitarnya, keheningan total di mana Sui Cin juga termasuk.

Keheningan yang terasa benar pada saat itu oleh Sui Cin.

Keheningan yang menenteramkan, sama sekeli bukan rasa kesepian yang menggelisahkan.

Dara itu sejak tadi berdiri tak bergerak, seperti patung, memiliki keindahan tersendiri walaupun ia menjadi bagian dari keindahan total itu.

Seorang dara yang menjelang dewasa, cantik jelita dan manis dalam kesederhanaannya.

Pakaiannya sederhana, bersahaja dan lebih diutamakan sebagai pelindung tubuh dari pada sebagai hiasan seperti kebanyakan wanita.

Rambutnya yang hitam panjang itu terurai ke belakang hanya diikat sutera hijau, Agak awut-awutan karena tak diminyaki dan kurang sisiran, juga karena dipermainkan angin pagi sejak tadi.

Anak rambut terjuntai di dahi dan pelipis menjadi penambah manis.

Wajah yang berkulit halus dan berbentuk ayu itu tidak dilapisi bedak.

Akan tetapi kulit muka itu sudah halus putih dan kedua pipinya segar kemerahan.

Tiba-tiba patung cantik jelita itu bergerak, menggerakkan kepalanya dan dua gumpalan rambut itu bergerak pula, yang satu pindah dari punggung ke dada.

Terdengar tawa kecil dan sekilat deretan gigi rapi berkilauan tertimpa cahaya matahari, mata yang jelita itu agak menyipit ketika ia tertawa kecil.

Yang memancingnya tertawa kecil sehingga sadar dari lamunannya adalah tingkah dua ekor burung gereja yang sedang berkasih-kasihan.

Yang jantan selalu mengejar, yang betina lari, jinak-jinak merpati seperti menggoda tapi akhirnya menyerah dan ketika yang jantan hinggap di atas punggungnya, yang betina terpeleset sehingga keduanya jatuh tunggang-langgang ke bawah.

Akan tetapi sebagai burung yang memiliki sayap dengan indahnya mereka dapat menghindarkan diri dari kejatuhan itu dan di lain saat sudah berkejaran lagi sambil berteriak-teriak bersenda-gurau dalam bahwa mereka.

Sui Cin sama sekali tidak tahu bahwa selagi ia terpesona oleh keindahan pemandangan di telaga, ada sepasang mata orang lain juga terpesona, bukan oleh keindahan telaga melainkan keindahan dirinya.

Seorang pria yang sejak tadi menyembunyikan diri di balik semak-semak sambil mengamati setiap gerak-geriknya.

Setelah memperoleh banyak keterangan penting dalam pengintaian mereka di Hwa-I Kai-Pang, Hui Song dan Sui Cin lalu mengadakan perundingan.

Mereka bersepakat untuk mencegah usaha jahat kaum sesat yang hendak membunuh Menteri Liang dan Jenderal Ciang.

Juga dalam percakapan rahasia antara para datuk sesat itu mereka tahu bahwa para kaum sesat itu diperalat oleh Liu-thaikam.

Dua orang pembesar yang hendak dibunuh adalah musuh-musuh Liu-thaikam karena mereka merupakan pembesar-pembesar jujur yang dapat membahayakan kedudukannya.

Juga kini Hui Song dan Sui Cin tahu mengapa kaum sesat melindungi kaisar.

Bukan karena kesetiaan Liu-thaikam, melainkan karena pembesar korup ini merasa aman dengan berkuasanya kaisar muda yang mempercayanya itu.

Melindungi dan mempertahankan kaisar muda ini berarti melindungi dan mempertahankan kedudukannya sendiri.

Semua ini mereka ketahui dari percakapan antara para datuk sesat malam itu.

Hui Song lalu membagi pekerjaan.

Dia minta agar Sui Cin yang dikenalnya sebagai pemuda gembel lihai itu melakukan pengamatan di telaga yang disebut Telaga Emas, sedangkan Hui Song sendiri akan menghubungi Menteri Liang dan Jenderal Ciang.

Mereka lalu berpisah.

Sui Cin yang sudah merasa bosan menyamar sebagai pemuda gembel setelah kini berpisah dari Hui Song lalu berganti pakaian menjadi dara cantik sederhana seperti biasa dan pagi itu ia sudah menikmati keindahan alam di tepi telaga.

Kini ia mengerti mengapa telaga itu dinamakan Telaga Emas.

Memang tiap pagi sinar matahari merobah air telaga menjadi keemasan.

Ia tidak perlu melakukan pengamatan sambil bersembunyi.

Kini ia merupakan seorang gadis perantau yang sedang berkelana dan melancong ke telaga ini.

Cukup wajar dan ia dapat pesiar sambil memasang mata.

Andaikata Kui-bwe Coali muncul dan nenek iblis ini menyerangnya, iapun tidak takut!

Akan tetapi ketika pagi itu ia datang ke tepi telaga, keadaan di situ amat sepi dan yang muncul bukan Kiu-bwe Coali atau tokoh sesat lainnya, melainkan seorang pemuda tampan pesolek yang sudah dikenalnya, yaitu Sim Thian Bu!

Ia sama sekali tidak tahu bahwa pemuda ini sejak tadi telah mengamati semua gerak-geriknya dari tempat tersembunyi.

Sim Thian Bu tiba-tiba muncul dan dengan ramah berseru gembira.

"Nona Ceng! Aih, akhirnya kita saling berjumpa juga. Memang kita ada jodoh! Aku memang tempo hari mengajakmu pesiar ke telaga ini, akan tetapi di tengah perjalanan engkau pergi. Tak kusangka kita justeru saling jumpa di Telaga Emas ini. Bukankah ini jodoh namanya?"

Tentu saja Sui Cin merasa kaget melihat munculnya pemuda ini dan iapun agak tertegun mengingat bahwa ia pernah meninggalkan pemuda ini malam-malam tanpa pamit.

Akan tetapi iapun teringat akan sikap kurang ajar pemuda ini, bahkan sekarangpun pemuda ini berkali-kali bicara tentang jodoh!

"Saudara Sim, pergilah dan jangan ganggu, aku ingin sendirian,"

Katanya singkat.

Akan tetapi pemuda tampan pesolek itu tersenyum dan memandang ke kanan kiri.

Tempat itu sangat sepi pada saat itu.

Permukaan telagapun masih sunyi, hanya ada sebuah perahu kecil nampak jauh di tengah telaga dengan seorang saja di dalamnya, agaknya seorang nelayan yang kesiangan.

Sim Thian Bu sama sekali tidak memperdulikan nelayan dengan perahunya yang jauh itu.

"Nona Ceng, kenapa sikapmu begitu terhadapku? Bukankah kita sudah berkenalan dan menjadi sahabat baik? Pertemuan yang tidak kita sangka-sangka ini tandanya bahwa kita berjodoh. Marilah kita pelesir dan bersenang-senang berdua, nona. Jangan kau tinggalkan aku lagi. Aku... sejak pertemuan pertama itu, aku sudah tergila-gila padamu, nona..."

"Tutup mulutmu!"

Sui Cin membentak marah.

"Ahhh..."

Salahkah kalau seorang pemuda seperti aku tergila-gila dan jatuh cinta kepada seorang gadis sepertimu?

Engkau yang salah, siapa suruh engkau begini cantik manis menggairahkan?"

Wajah Sui Cin yang putih halus itu menjadi merah.

Belum pernah selama hidupnya ada laki-laki bicara seperti itu kepadanya.

Rasa malu dan marah, membuatnya sukar bicara.

Akan tetapi sebagai seorang gadis bebas yang jujur, harus diakuinya bahwa ucapan pemuda itu tak dapat disebut kurang ajar.

Bukankah Sim Thian Bu mengeluarkan isi hatinya secara jujur?

Pendapat ini menyabarkan hatinya dan iapun tersenyum.

"Saudara Sim, pergilah dan jangan menggangguku kalau kau tidak ingin kuanggap sebagai musuh."

Thian Bu tersenyum lebar, dan matanya dipicingkan, memandang dengan gaya lucu memikat, kemudian dia bertepuk tangan tertawa.

"Ha-ha! Aku mengerti sekarang. Engkau belum dapat menerima cintaku karena engkau belum mengenal kepandaianku, bukan? Seorang dara pendekar tentu hanya mau bergaul dengan seorang pemuda yang lihai pula ilmu silatnya. Nah, di sini merupakan tempat yang baik sekali untuk menguji kepandaian, nona Ceng. Silakan!"

Pemuda itu memasang kuda-kuda dengan gaya dibuat-buat.

Sui Cin tersenyum mengejek.

Bagaimanapun juga, terasa olehnya ketidak-wajaran dalam sikap Thian Bu.

Hui Song juga nakal dan jenaka, akan tetapi selalu menjaga kesopanan dan tidak pernah menyinggung perasaan.

Sebaliknya, dalam kata-kata, pandang mata dan senyum Sim Thian Bu terkandung suatu sikap cabul dan kurang ajar yang membuat Sui Cin merasa ngeri dan juga marah.

"Aku tidak ingin mengujimu melainkan menghajarmu!"

Hardiknya dan Sui Cin sudah menerjang maju dengan tamparan-tamparan kedua tangannya.

"Heiittt... perlahan dulu..."

Wah, jangan galakgalak, nona manis!"

Thian Bu mengelak, bahkan berusaha menangkap pergelangan tangan Sui Cin.

Tentu saja Sui Cin tidak sudi ditangkap dan ia menarik kembali tangannya lalu menerjang dengan dahsyat mempergunakan pukulan dan tendangan.

"Aih, engkau bersungguh-sungguh, manis?"

Thian Bu mengejek dan diapun mengelak, menangkis dan membalas tak kalah dahsyatnya.

Sim Thian Bu sudah tahu bahwa dia berhadapan dengan puteri Pendekar Sadis yang lihai sekali, maka dia tidak berani memandang ringan dan segera mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya.

Sebaliknya, baru sekarang Sui Cin benar-benar berkenalan dengan ilmu kepandaian pemuda itu dan diam-diam ia terkejut karena ternyata Thian Bu amat lihai!

Melihat ketangguan lawan, Sui Cin lalu mainkan Ilmu Silat Hok-mo Sin-kun (Silat Sakti Penakluk Iblis) dari ibunya.

Ilmu silat ini amat cepat dan ganas dan jarang ada orang mampu menandinginya.

Akan tetapi ternyata Thian Bu dapat melawan dengan baik, bahkan keceriwisan pemuda itu membuat Sui Cin merasa malu, kikuk dan gugup.

"Ha-ha, manis. Bagaimanapun, engkau harus menyerahkan diri padaku!"

Pemuda itu menyerang sambil main colek ke arah dada dan dagu Sui Cin secara kurang ajar sekali.

Kini barulah dara itu sadar dengan orang macam apa ia berhadapan.

Seorang pemuda cabul yang agaknya biasa menggoda, mempermainkan dan menghina wanita.

Ia sudah mendengar tentang seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) dan kini ia menduga bahwa tentu pemuda yang disangkanya pendekar ini sebetulnya adalah seorang penjahat cabul!

"Bangsat jai-hwa-cat!"

Sui Cin memaki.

"Heh-heh, baru sekarang engkau tahu? Ha-ha-ha!"

Thian Bu tidak marah dimaki begitu, malah tertawa-tawa dan mempercepat gerakannya.

Kini Sui Cin benar-benar kaget.

Kiranya pemuda tampan yang tadinya dianggap seorang pendekar yang berkunjung pada pertemuan para pendekar di Bukit Perahu itu, ternyata benar seorang jai-hwa-cat seperti pengakuannya tadi.

Seorang penjahat cabul!

Berarti kaki tangan kaum sesat yang menyusup dan kini muncul pula di tepi telaga.

Tentu ada hubungannya dengan usaha pembunuhan Menteri Liang.

"Jahanam busuk, manusia palsu! Engkau tentu kaki tangan kaum sesat!"

Bentaknya dan dengan tenaga sakti Thian-te Sin-ciang ia menerjang.

Kemarahan membuat tenaga dara ini menjadi berlipat ganda.

Sim Thian Bu memang berwatak sombong dan selalu memandang rendah orang lain.

Maka dia kurang waspada dan terjangan dahsyat Sui Cin itu ditangkis seenaknya saja.

"Dess..."

Akibatnya, tenaga Thian-te Sin-ciang yang dahsyat itu melanda ke arah Thian Bu dan membuatnya terlempar ke belakang dan terbanting keras!

Akan tetapi pada saat Sui Cin berhasil membuat lawan terjengkang, pada saat itu ada angin keras menyambar dari arah kiri.

Sui Cin yang tadinya siap menyusulkan pukulan pada Thian Bu, cepat memutar tubuh hendak menangkis.

"Plakk!"

Tongkat itu tertangkis, akan tetapi bukan mental malah meluncur ke samping dan menotok punggung Sui Cin.

"Tukk!"

Dara itu merasa betapa tubuhnya menjadi lemas dan iapun roboh terkulai.

Sejak tadi, perahu kecil yang nampak dari jauh tadi sudah bergerak menuju ke pantai itu.

Kakek sendirian yang duduk di perahu kecil itu bukan nelayan karena dia duduk sambil memainkan sebuah alat Yang-kim (semacam siter).

Ketika kakek itu melihat robohnya Sui Cin, dia menghentikan permainan musiknya.

Kakek penabuh Yang-kim ini adalah Shantung Lo-kiam.

Seperti telah kita ketahui, kakek sasterawan pendekar ini pernah muncul pula dalam pertemuan antara para datuk sesat.

Dia ikut mendengar rencana kaum sesat untuk membunuh Menteri Liang yang sejak lama menjadi sahabat baiknya, maka dia selalu mengamati.

Hari itu dia mendengar bahwa Menteri Liang akan pesiar di Telaga Emas.

Oleh karena itulah maka dia menanti di situ untuk ikut melindunginya.

Ketika pagi hari itu dia melihat seorang gadis yang tidak dikenalnya dirobohkan orang, tentu saja pendekar tua ini tidak tinggal diam dan segera mendayung perahunya ke pantai.

"Siancai..."

Di tempat hening seperti ini masih saja ada kejahatan!"

Shantung Lo-kiam meloncat naik ke darat sambil membawa alat musik Yang-kim yang tadi ditabuhnya.

Melihat munculnya seorang kakek tua renta membawa Yang-kim, orang yang merobohkan Sui Cin dengan totokan itu memandang galak.

Dia adalah seorang kakek yang perutnya gendut sekali.

Dan kakek ini pernah dilihat oleh Sui Cin ketika ia mengintai di gedung Hwa-I Kai-Pang bersama Hui Song.

Kakek inilah yang bernama Bhe Hok, tokoh Hwa-I Kai-Pang baru yang menjadi pembantu ketua perkumpulan pengemis ini.

Dia cukup lihai dengan tongkatnya dan juga licik sehingga ketika Sui Cin lengah tadi karena berhasil membuat Sim Thian Bu terjengkang, dara itu berhasil ditotoknya.

"Hemm, tua bangka bosan hidup dari mana berani mencampuri urusan kami?"

Bentak kakek berperut gendut itu.

"Bhe-lopek, dia adalah Shantung Lo-kiam, musuh kita!"

Tiba-tiba Sim Thian Bu berseru.

Ternyata pemuda ini tidak terluka parah, tadi hanya terjengkang karena dahsyatnya tenaga dara itu.

Mendengar nama ini, kakek perut gendut terkejut dan cepat dia menyerang dengan tongkatnya, menghantam ke arah kepala lawan.

Shantung Lo-kiam mengangkat alat musiknya menangkis.

"Trang... cringg..."

Terdengar suara nyaring ketika tongkat bertemu Yang-kim.

Dua orang kakek itu lalu berkelahi dengan seru.

Sementara itu, sambil tersenyum licik, Sim Thian Bu menyambar tubuh Sui Cin yang lemas, memanggulnya dan membawanya lari dari situ.

Perkelahian antara dua orang kakek itu terjadi cepat dan seru, akan tetapi si gendut segera mengerti bahwa kakek yang menjadi lawannya itu terlalu kuat baginya.

Melihat Sim Thian Bu sudah melarikan gadis tadi, diapun meloncat dan melarikan diri memasuki hutan di tepi telaga.

Kakek pemegang Yang-kim itu tidak mengejar, melainkan mencari-cari dengan pandang matanya.

Ketika dia tidak melihat ke mana dara tadi dilarikan, dia hanya menggelenggeleng kepala dan menarik napas panjang, kemudian diapun melompat kembali ke dalam perahunya dan mendayung perahunya ke tengah telaga.

Dia memiliki tugas yang dianggapnya lebih penting dari pada mencari dara yang dilarikan orang itu.

Orang-orang mulai berdatangan ke tepi telaga.

Nelayan dan pelancong.

Keadaan tenang dan biasa saja seolah-olah tidak pernah dan tidak akan terjadi sesuatu yang luar biasa di tempat itu.

Kemudian, saat yang ditunggu-tunggu dengan hati tegang oleh orang-orang yang bersembunyi, tibalah.

Sebuah kereta yang dikawal enam orang perajurit datang ke tepi telaga.

Dengan pengawalan ketat, seorang laki-laki berpakaian pembesar bergegas menuruni kereta dan masuk ke dalam sebuah perahu besar yang memang sudah siap di pantai itu.

Itulah Menteri Kebudayaan Liang, pejabat tinggi yang gemar memancing ikan di telaga itu.

Perahu itu berlayar ke tengah telaga.

Peristiwa ini tidak menarik perhatian orang yang asyik dengan kesibukan masing-masing dan sebentar saja perahu besar yang kini berada di tengah telaga itu sudah dilupakan orang.

Sementara itu, kesibukan-kesibukan rahasia terjadi di sekitar tempat itu.

Sebuah perahu hitam dengan bilik tertutup didayung cepat oleh dua orang, meluncur ke tengah telaga menuju perahu besar Menteri Liang.

Setelah perahu hitam tiba dekat perahu besar, mendadak tiga orang berlompatan naik ke atas perahu besar dengan kecepatan luar biasa.

Mereka itu adalah Kiu-bwe Coali, Kui-kok Lomo dan Kui-kok Lobo!

Serentak mereka menyerbu pembesar yang asyik duduk memegang tangkai pancing itu.

"Tartartar..."

Pembesar Liang, bersiaplah engkau untuk mampus!"

Kiu-bwe Coali yang memegang tugas membunuh pembesar itu menerjang sambil menggerakkan cambuknya yang berekor sembilan.

Sinar hitam menyambar ke arah pembesar itu dari belakang.

Kakek dan nenek Kui-kok itupun sudah berhantam melawan enam orang perajurit pengawal dan terkejutlah mereka ketika mendapatkan kenyataan bahwa pera pengewal itu ternyata rata-rata memiliki ilmu silat tinggi.

Dan terjadilah perkelahian hebat antara suami isteri Kui-kokpang itu melawan pengeroyokan enam orang pengawal istimewa.

Akan tetapi yang paling kaget adalah Kiu-bwe Coali.

Ketika cambuknya menyambar, tiba-tiba Menteri Kebudayaan Liang itu menggerakkan tangkai pancingnya ke belakang.

"Wuuuttt..."

Ayaaaa... aduuuhh..."

Kiu-bwe Coali berteriak kesakitan.

Tali pancing yang panjang itu menangkis dan membelit cambuk, membuat sembilan ekor cambuk itu lumpuh dan ujung tali kail masih menyambar dan mengait pangkal lengan kiri nenek iblis itu, masuk ke dalam daging tua!

Bukan main nyerinya, kiut-miut rasanya dan nenek itu cepat mencengkeram dan membikin putus tali pancing sehingga mata kail itu tertinggal di daging pangkal lengannya.

Pembesar itu sudah bangkit berdiri dan membalikkan tubuh.

Kiranya dia seorang pemuda tampan yang tertawa gembira, dengan nada mengejek.

"Wah, tak kusangka pancingku mendapat seekor ikan siluman ekor sembilan!"

Kiu-bwe Coali memandang dengan mata mendelik dan kemarahannya memuncak ketika ia melihat bahwa orang yeng memakai pakaian pembesar ini adalah seorang pemuda, sama sekali bukan Menteri Kebudayaan Liang.

Ia dan teman-temannya telah tertipu dan terjebak.

Ada orang yang sengaja menyamar dan menggantikan pembesar itu untuk menyambut serangan mereka.

"Kita tertipu!"

Teriaknya mengingatkan dua orang kawannya.

"Dia bukan Menteri Liang!"

Kemudian ia menggerakkan senjatanya dan menyerang pemuda itu dengan ganas.

Pemuda itu adalah Hui Song.

Seperti kita ketahui, pemuda ini membagi tugas dengan Sui Cin.

Dia sendiri mengunjungi Menteri Liang dan melaporkan bahaya yang mengancam keselamatan menteri itu.

Lalu diatur jebakan.

Hui Song menyamar dan menggantikan sang menteri dalam kereta menuju ke perahu di telaga, dikawal oleh enam orang jagoan yang menyamar sebagai perajurit-perajurit biasa.

Padahal mereka adalah perwira-perwira pilihan!

Akan tetapi enam orang pengawal itu masih kewalahan menghadapi amukan kakek dan nenek Kui-kokpang, sedangkan Hui Song sendiri mendapat kenyataan betapa lihainya nenek bercambuk ekor sembilan ini.

Dia dapat menduga bahwa nenek ini tentulah seorang tokoh Cap-sha-kui yang berjuluk Kiu-bwe Coali.

Diam-diam dia harus mengakui kelihaian nenek ini.

Masih untung mereka berkelahi di atas perahu, bukan di darat.

Kabarnya nenek ini pandai memanggil dan mengerahkan ular-ular untuk mengeroyok lawan.

Kedua pihak yang berkelahi mengharapkan bantuan masing-masing.

Para penyerbu tentu saja merasa heran sekali mengapa dua orang kawan yang boleh mereka andalkan itu tidak juga muncul.

Mereka telah bertemu dengan Sim Thian Bu yang sudah berjanji membantu, Bahkan pemuda cabul itu hendak melakukan pengamatan bersama seorang tokoh Hwa-I Kai-Pang yang bernama Bhe Hok itu.

Tentu saja para iblis Cap-sha-kui tidak tahu bahwa Bhe Hok tidak kuat menandingi Shantung Lo-kiam sehingga melarikan diri sedangkan Sim Thian Bu setelah memperoleh mangsa, lupa akan janjinya.

Di lain pihak, Hui Song juga terheran-heran mengapa pemuda gembel yang menjadi sahabatnya itu, Sui Cin, tak kunjung muncul untuk membantunya.

Tiba-tiba terdengar suara Yang-kim dan muncullah seorang kakek lihai yang bukan lain adalah Shantung Lo-kiam.

Begitu naik ke atas perahu di mana sedang terjadi perkelahian itu, kakek ini segera membantu enam orang pengawal yang terdesak.

Melihat betapa para penjahat itu terjebak oleh seorang pemuda perkasa yang menyamar sebagai Menteri Liang yang dibantu oleh enam orang pengawal pilihan, kakek ini tertawa.

"Ha-ha-ha! Para tokoh Cap-sha-kui terjebak seperti tiga ekor tikus dalam perangkap, Ha-ha-ha."

Dan diapun menggerakkan senjatanya yang sesungguhnya, yaitu sebatang pedang sedangkan Yang-kim di tangan kirinya hanya dipergunakan sebagai perisai.

Dan ternyata, sesuai dengan julukannya, yaitu Lo-kiam (Pedang Tua), begitu memainkan pedangnya, kakek ini memperlihatkan kelihaiannya.

Tiga orang tokoh Cap-sha-kui merasa terkejut bukan main melihat munculnya Shantung Lo-kiam yang sudah mereka ketahui kelihaiannya.

Munculnya kakek ini tentu saja menambah kekuatan lawan dan membahayakan diri mereka.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara berdesir nyaring dan segera terasa getaran perahu disusul teriakan para anak buah perahu besar.

"Perahu terbakar..."

Hui Song, enam orang pengawal dan Shantung Lo-kiam terkejut melihat betapa ujung perahu terbakar.

Mereka meloncat ke tepi dan melihat sebuah perahu kecil tak jauh dari situ.

Ada dua orang yang berada di dalam perahu itu, seorang kakek kurus memegang tongkat dan seorang pemuda remaja yang berdiri tegak di atas perahu.

Pemuda ini memegang sebuah busur dan dialah yang tadi melepaskan anak panah berapi yang membakar perahu besar.

Melihat peristiwa ini, tiga orang datuk Cap-sha-kui bergerak cepat.

Merekapun meloncat meninggalkan lawan dan melihat perahu kecil itu mereka lalu berlompatan turun dari perahu besar menuju ke perahu kecil itu.

Kui-kok Lomo dan Lobo dapat hinggap di atas perahu kecil itu.

Perahu terguncang dan lompatan Kiu-bwe Coali tidak tepat.

Nenek ini tentu terjatuh ke air kalau saja pemuda itu tidak cepat mengulur tangan kiri menyambar ujung baju si nenek dan sekali tarik dengan sentakan, Tubuh nenek itu tertahan dan dapat turun ke atas perahu dengan selamat!

Gerakan pemuda yang memegang busur ini sungguh cekatan dan amat kuatnya sehingga diam-diam Hui Song harus mengakui bahwa pemuda itu merupakan lawan yang amat tangguh.

Ketika para pengawal dan Hui Song hendak mengejar, tiba-tiba pemuda di atas perahu kecil itu kembali meluncurkan dua buah anak panah berapi yang tepat mengenai layar dan bilik perahu besar sehingga terjadi kebakaran besar.

Sementara itu tiga orang tokoh Cap-sha-kui sudah bergerak mendayung perahu tanpa diperintah lagi sehingga perahu kecil itu meluncur pergi dengan cepatnya.

Terpaksa Hui Song, para pengawal dan Shantung Lo-kiam sibuk membantu para anak buah perahu memadamkan api dan membiarkan perahu kecil yang membawa lima orang sesat itu melarikan diri.

Dengan kecepatan luar biasa, perahu kecil yang didayung oleh orang-orang kuat itu sebentar saja lenyap.

Hui Song kecewa sekali.

Dia tadinya mengharapkan untuk dapat menangkap seorang di antara mereka agar rahasia kejahatan Liu-thaikam dapat terbongkar.

Tanpa adanya bukti, sukar untuk menjatuhkan pembesar korup yang amat dipercaya oleh kaisar itu.

Kalau ada bukti dan saksi, barulah kejahatan pembesar itu dapat terbongkar dan diketahui oleh kaisar.

Para pengawal dan anak buah perahu besar ternyata sudah mengenal baik kakek pembawa Yang-kim itu dan mereka semua bersikap hormat.

Memang kakek ini tidak asing bagi para pembantu dan keluarga Menteri Liang yang menjadi sahabat baiknya.

Hui Song segera maju memberi hormat kepada Shantung Lo-kiam.

"Terima kasih atas bantuan locianpwe."

Kakek itu tersenyum dan memandang kagum kepada pemuda itu.

"Orang muda, aku Shantung Lo-kiam, sejak dahulu adalah sahabat baik Menteri Liang maka tidak aneh kalau aku membela beliau. Akan tetapi engkau seorang muda sudah berani menghadapi para datuk sesat dari Cap-sha-kui, sungguh amat mengagumkan. Siapakah engkau, orang muda?"

Mendengar bahwa kakek ini adalah Shantung Lo-kiam yang terkenal sebagai seorang pendekar angkatan tua, Hui Song menjadi kagum.

Dia menjura dan memperkenalkan diri.

"Saya bernama Cia Hui Song, locianpwe."

"She (marga) Cia? Adakah hubungannya dengan keluarga Cia dari Cin-Ling-Pai?"

Hui Song agak meragu.

Akan tetapi ketika dia menghadap Menteri Liang, terpaksa dia memperkenalkan diri sehingga enam orang pengawal itu telah mengetahui keadaan dirinya.

Kini seorang dari mereka menyela.

"Locianpwe, Cia-taihiap ini adalah putera ketua Cin-Ling-Pai."

"Ah, pantas begini gagah perkasa!"

Kakek itu memuji kagum, kemudian dia menarik napas panjang.

"Sayang para penjahat itu dapat melarikan diri..."

"Siapakah pemuda yang melepas anak panah dan kakek bertongkat dalam perahu kecil tadi, locianpwe? Saya melihat pemuda itu lihai sekali,"

Tanya Hui Song.

"Aku sendiri belum pernah bertemu dengan kakek itu, akan tetapi aku yakin bahwa tentu dia yang kini memimpin para tokoh sesat dan dialah agaknya yang bernama Siangkoan Lojin dan berjuluk Si Iblis Buta."

"Ahhh..."

Enam orang perwira pengawal itu terkejut mendengar nama ini. Akan tetapi Hui Song tidak mengenalnya.

"Dan pemuda itu?"

Tanyanya.

"Entahlah,"

Jawab Shantung Lo-kiam.

"Akan tetapi aku pernah mendengar bahwa dia mempunyai seorang putera yang kabarnya telah mewarisi semua kepandaiannya. Mungkin juga pemuda tadi puteranya. Sayang, kalau kita tadi dapat menawan seorang saja di antara mereka, tentu akan memperoleh banyak keterangan."

Hui Song teringat akan sahabatnya yang tidak pernah muncul.

"Locianpwe, saya mempunyai seorang kawan, seorang pemuda gembel yang berada di sini terlebih dulu untuk mengamati. Dia cukup lihai, dan kalau dia tadi membantu, mungkin kita berhasil. Akan tetapi saya merasa heran sekali mengapa dia tidak muncul. Apakah barangkali locianpwe tadi ada melihatnya?"

Kakek itu mengingat-ingat lalu menggeleng kepala.

"Seorang pemuda gembel? Tidak ada aku melihatnya. Pagi tadi di sini aku hanya melihat seorang gadis cantik berkelahi melawan seorang pemuda dan seorang tokoh Hwa-I Kai-Pang gendut. Aku turun tangan membantunya, akan tetapi iblis Hwa-I Kai-Pang itu melarikan diri dan nona itu ditawan dan dilarikan si pemuda. Sayang aku tidak dapat mengejar, karena aku harus menanti datangnya Menteri Liang."

"Siapakah pemuda itu dan siapa pula gadis yang dilarikannya itu, locianpwe?"

Tanya Hui Song dengan alis berkerut dan hati terasa tidak enak.

"Aku tidak mengenal mereka akan tetapi harus diakui bahwa mereka berdua bukan orang muda sembarangan. Gadis itu lihai dan roboh karena dibokong dan dikeroyok. Pemuda itupun lihai sekali dan melihat gerak-geriknya, sepatutnya dia seorang pendekar. Akan tetapi pandang matanya cabul. Aku sedang menanti Menteri Liang untuk melindunginya, maka menyesal sekali aku tidak sempat melakukan pengejaran terhadap pemuda yang melarikan gadis itu."

Hui Song merasa semakin tidak enak hatinya.

Dia teringat akan enci dari Sui Cin.

Dia sendiri tidak tahu mengapa dia menghubungkan peristiwa itu dengan encinya Sui Cin.

Akan tetapi ketidakmunculan pemuda gembel itu membuat hatinya merasa gelisah.

"Biar saya yang akan mencarinya, locianpwe,"

Katanya sambil menanggalkan jubah menteri yang menutupi pakaiannya sendiri, kemudian diapun meloncat ke atas sebuah perahu nelayan yang berdekatan dan minta kepada nelayan itu untuk mengantarnya ke pantai.

Kini banyak perahu mendekati perahu pembesar itu dan Shantung Lo-kiam bersama enam orang perwira pengawal tadi tidak berani menahan Hui Song karena mereka maklum bahwa sudah menjadi kewajiban seorang pendekar seperti puteri ketua Cin-Ling-Pai itu untuk menolong gadis yang diculik penjahat.

Bagaimana dengan nasib Sui Cin?

Apakah yang menimpa diri gadis pendekar itu?

Ia tidak pingsan ketika roboh tertotok oleh tongkat Bhe Hok tokoh baru Hwa-I Kai-Pang, hanya lemas dan ia sama sekali tidak dapat meronta ketika dirinya dipanggul dan dilarikan Sim Thian Bu.

Baru sekarang terbukti bahwa pemuda ini sama sekali bukan seorang pendekar gagah perkasa seperti yang disangkanya dalam pertemuan pertama mereka di Bukit Perahu.

Sim Thian Bu ini seorang penjahat, seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) yang cabul dan keji.

Sui Cin sejak kecil digembleng ayah bundanya menjadi seorang gadis yang selain berilmu tinggi, gagah perkasa juga tidak pernah mengenal rasa takut.

Akan tetapi sekali ini ia merasa ngeri juga terjatuh ke dalam tangan seorang jai-hwa-cat dalam keadaan tak berdaya sama sekali.

Ia pernah mendengar dari ibunya tentang jai-hwa-cat yang suka memperkosa wanita.

Akan tetapi iapun teringat akan pesan dan nasihat ibunya bagaimana harus menghadapi bahaya seperti itu.

Pertama ia harus tenang dan tidak panik.

Dalam keadaan tidak berdaya melakukan perlawanan dengan kekerasan ia harus pura-pura menyerah.

Menurut ibunya, jai-hwa-cat akan menjadi lunak hatinya apabila korbannya menyerah dan dalam cengeraman nafsu, penjahat itu akan menjadi lengah.

Saat itulah paling tepat untuk tiba-tiba menyerangya.

Ia pernah bertanya kepada ibunya bagaimana kalau ia diperkosa dalam keadaan tertotok atau terbelenggu.

Ibunya menjawab bahwa kalau tiada jalan lain menghindarkan malapetaka itu, satu-satunya jalan hanya mematikan rasa dan menutup pikiran.

Kelak masih banyak kesempatan untuk membalas perbuatan terkutuk itu berikut bunganya yang berlipat ganda.

Bagaimanapun juga, membayangkan betapa ia harus membiarkan dirinya diperkosa orang tanpa dapat melawan, hampir membuat Sui Cin menungis.

Ia diam-diam menghimpun hawa murni.

Kalau saja totokan itu dapat ia punahkan, tentu sekali pukul kepala pemuda yang memondongnya ini akan pecah dan ia akan dapat membunuhnya dengan mudah.

Sekali ini, ia akan melanggar pesan ayahnya.

Ia takkan segan-segan membunuh jai-hwa-cat ini!

Akan tetapi tiba-tiba pemuda itu berhenti berlari, menurunkannya ke atas tanah, kemudian menotok jalan darah di punggungnya, membuat ia terkulai kembali dengan lemas dan pemuda itu sambil tersenyum-senyum bahkan membelenggu kaki tangannya dengan tali sutera halus yang amat ulet dan tidak akan mungkin terputuskan.

Agaknya jai-hwa-cat ini sudah berpengalaman dan sudah mempersiapkan segalanya.

"Ha-ha-ha! Menghadapi seorang gadis lihai sepertimu harus berhati-hati!"

Kata pemuda itu sambil mencolek dagu Sui Cin yang hanya dapat memandang dengan mata mendelik.

Tapi mata itu tak basah dengan air mata.

Pemuda itu kini memondongnya dan membawa dirinya lari dengan amat cepatnya.

Sambil melarikan gadis itu, di dalam otak pemuda itupun terjadi kesibukan.

Sim Thian Bu bukan seorang pemuda ceroboh dan bodoh yang hanya menurutkan dorongan nafsunya saja.

Tidak, dia tidak bodoh karena dia adalah murid utama dari Siangkoan Lojin alias Si Iblis Buta!

Karena kecerdikannya itulah dia merupakan satu-satunya murid datuk itu yang dapat mewarisi hampir semua ilmu kepandaian Si Iblis Buta.

Dan karena kecerdikannya dia diberi tugas untuk menyusup sebagai seorang pendekar ke Bukit Perahu.

Dia begitu cerdik sehingga selama ini, biarpun dia mempunyai kesukaan memperkosa wanita dan membunuhnya, dia tidak dicurigai dan tidak dikenal kejahatannya.

Bahkan dalam pertemuannya yang pertama dengan Sui Cin dan Cia Sun, Sim Thian Bu begitu cerdiknya mengelabuhi mata mereka.

Yang membunuh tiga orang muda dan seorang gadis yang lebih dulu diperkosanya adalah dia sendiri.

Akan tetapi dengan cerdik dia mampu memaksa seorang laki-laki kasar, seorang penjahat rendahan biasa, untuk mengakui perbuatan itu lalu membunuh diri.

Dengan demikian, di dalam pandangan Sui Cin dan Cia Sun dalam pertemuan iiu, dia bukan saja bebas dari tuduhan, bahkan dia menjadi seorang pendekar!

Ketika bertemu Sui Cin yang cantik jelita, jenaka dan segar, tentu saja jai-hwa-cat ini merasa tertarik sekali dan bangkitlah nafsunya.

Andaikata Sui Cin adalah seorang gadis biasa, tentu pada seat itu juga dia kerjakan!

Akan tetapi Sui Cin adalah seorang gadis yang amat lihai, apalagi puteri Pendekar Sadis!

Maka Sim Thian Bu mempergunakan siasat lain.

Mula-mula dia hendak menjatuhkan hati dara itu dengan rayuannya untuk memikat hatinya, Mengandalkan ketampanan wajahnya dan kematangan pengalamannya menghadapi wanita.

Akan tetapi Sui Cin adalah seorang dara pendekar yang tidak mudah terpikat rayuan.

Usahanya gagal sama sekali ketika dara itu meninggalkannya begitu saja pada suatu malam.

Hatinya kecewa, penasaran dan juga marah.

Kedatangannya di Telaga Emas sehubungan dengan tugas rahasia yang diterima dari suhunya untuk melakukan pengintaian di telaga itu, bersama seorang tokoh Hwa-I Kai-Pang.

Maka, bukan main girang hatinya ketika dia melihat Sui Cin di situ.

Pertemuan yang sama sekali tidak disengaja, bahkan tidak disangka-sangkanya.

Dan diapun tidak mau membuang kesempatan baik itu untuk menjumpainya, sampai terjadi perkelahian dan akhirnya, dengan bantuan Bhe Hok tokoh gendut Hwa-I Kai-Pang, dia berhasil merobohkan dan melarikan Sui Cin.

Tentu saja dia sudah lupa sama sekali akan tugasnya membantu suhunya setelah dia berhasil melarikan dara yang membuatnya tergila-gila itu.

Dan kini dia memutar otak mencari akal.

Dia tahu ke mana harus membawa gadis itu.

Ke dalam sebuah gua rahasia yang menjadi satu di antara tempat-tempat persembunyian suhunya.

Tempat itu kosong dan di situ dia takkan terganggu oleh siapapun.

Tempat sepi terpencil yang aman baginya.

Dia tidak mungkin memperlakukan gadis ini seperti para korban lainnya, yaitu memperkosa dan mempermainkannya sampai puas lalu membunuhnya untuk merahasiakan perbuatannya.

Tidak!

Gadis ini terlalu penting untuk sekedar dinikmati lalu dibunuh.

Dia harus dapat memanfaatkan gadis ini, memperoleh keuntungan sebanyaknya.

Gadis ini adalah puteri Pendekar Sadis!

Baru mengingat nama ini saja dia sudah merasa ngeri.

Kalau dia memperkosa lalu membunuh Sui Cin seperti yang dilakukannya terhadap wanita-wanita lain, kemudian hal itu terdengar oleh Pendekar Sadis, dia tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya.

Terlalu mengerikan!

Akan tetapi, kalau dia bisa menjadi suami Sui Cin, mantu Pendekar Sadis?

Amboi...!

Betapa hebatnya!

Dia akan menjadi terkenal, ditakuti, dan lebih lagi, dia mendengar bahwa keluarga Pendekar Sadis amat kaya raya, hidup di Pulau Teratai Merah.

Ketika Sim Thian Bu tiba di lembah sunyi itu, di mana gua tempat persembunyian gurunya berada, hari sudah menjelang senja.

Dia berhenti di tepi jurang, merebahkan tubuh Sui Cin di atas tanah berumput, lalu membebaskan totokannya.

Sui Cin dapat bergerak kembali akan tetapi karena kedua kaki tangannya terbelenggu kuat, tetap saja ia tidak berdaya.

Ia hanya memandang marah, lalu memaki.

"Jahanam busuk!"

Thian Bu tersenyum.

"Nona Ceng, kenapa engkau tidak mau melihat kenyataan? Aku cinta padamu, nona. Sungguh, sejak pertemuan kita yang pertama, aku sudah jatuh hati dan tergila-gila kepadamu. Aku sungguh-sungguh, bukan main-main dan hidupku baru akan berbahagia kalau engkau dapat menjadi isteriku yang sah."

"Lebih baik aku mati!"

Sui Cin membentak marah.

"Nona, pikirlah baik-baik. Sekali aku melemparmu ke jurang ini, engkau akan tewas dengan tubuh hancur dan tidak seorangpun akan dapat menemukanmu. Atau engkau lebih suka diperkosa dan dihina lalu dibunuh? Ingatlah, engkau masih muda. Tidakkah lebih baik engkau menjadi isteriku yang terhormat? Kurang apakah diriku? Masih muda dan cukup tampm, memiliki ilmu silat yang cukup, dan amat mencintamu."

Pura-pura menyerah mencari kelengahannya, pikir Sui Cin.

Biarpun dadanya seperti mau meledak saking marahnya, ia menekan kemarahannya dan berkata halus.

"Tentu saja aku tidak ingin begitu, akan tetapi beginikah sikapmu yang katanya mencinta? Lepaskan dulu belenggu-belenggu ini, baru kita bicara dan kupertimbangkan usulmu."

Akan tetapi Thian Bu tersenyum dan menggeleng kepala.

"Hemm, lihat, bukankah di samping semua kelebihanku, masih ditambah kenyataan bahwa aku cerdik sekali dan tidak tertipu muslihatmu? Kecerdikanku membikin aku semakin berharga untuk menjadi suamimu. Nona, engkau bersumpahlah dulu bahwa engkau takkan melawan dan menentangku, bahwa engkau akan suka menjadi isteriku, kemudian kita akan bersatu badan sebagai suami isteri, barulah aku akan melepaskan belenggu. Maaf, semua itu hanya untuk menjamin dan meyakinkan hatiku."

Sui Cin membuang muka, menahan mulutnya yang ingin memaki-maki.

Melihat sikap gadis itu, Thian Bu melakukan siasatnya yang pertama, yaitu membujuknya dengan jalan menakuti-nakutinya.

"Nona, benarkah engkau begitu tega, memilih mati dan menghancurkan hatiku dari pada hidup berbahagia bersamaku?"

"Jahanam keparat, tidak perlu banyak cerewet lagi. Mati jauh lebih mulia dari pada hidup bersama seorang manusia berwatak iblis macammu ini. Bunuhlah, siapa takut mati?"

"Hemm, perempuan sombong. Hendak kulihat sampai di mana keberanianmu!"

Dia lalu memondong tubuh Sui Cin dan dibawanya ke tepi jurang.

"Lihat, lihat dasar jurang tak terukur dalamnya yang akan menerima tubuhmu ini!"

Dan tiba-tiba dia melepaskan tubuh Sui Cin dengan kepala lebih dulu ke dalam jurang!

Tubuh itu melayang ke bawah dan Sui Cin memejamkan mata, menutup mulutnya rapatrapat agar jangan menjerit.

Tiba-tiba tubuhnya berhenti meluncur dan ternyata pemuda itu telah menangkap kedua kakinya sehingga tubuhnya tergantung dengan kepala di bawah.

Keadaan ini mengingatkan ia akan latihan samadhi sambil berjungkir balik ketika ia mempelajari ilmu menghimpun tenaga istimewa dari ayahnya.

Maka, begitu tubuhnya tergantung membalik seperti itu, dari pusarnya terhimpun hawa panas dan sebentar saja aliran darahnya sudah menjadi lancar dan normal kembali, bekas totokan pemuda jahat itu lenyap sama sekali.

Ia percaya bahwa kalau saat itu ia mengerahkan tenaga dan melakukan ilmu Hokte Sinkun, tenaganya akan mampu mematahkan belenggu sutera dan sekalian menendang lawan.

Akan tetapi, biarpun berhasil, tidak urung tubuhnya akan terjatuh ke dalam jurang dan ini berarti bunuh diri!

Tidak, ia tidak sebodoh dan senekat itu.

"Bagaimana, nona? Apakah engkau memilih aku melepaskan kakimu dan tubuhmu meluncur ke bawah, kepalamu menimpa batu di dasar jurang itu sampai remuk-remuk?"

Suara Sim Thian Bu penuh ejekan dan ancaman.

Sui Cin juga searang yang cerdik.

Ia tahu bahwa semua ini dilakukan jai-hwa-cat itu hanya untuk menggertaknya.

Satu-satunya cara untuk menghentikan siksaan ini hanya memperlihatkan bahwa ia tidak takut.

"Pengecut busuk! Kau kira aku takut? Lepaskan dan aku akan terbebas dari binatang busuk macam kamu ini!"

Thian Bu merasa mendongkol sekali.

Kalau dia tidak merasa sayang akan kecantikan gadis ini dan mempunyai rencana yang amat menguntungkan dirinya terhadap Sui Cin, tentu sudah dilemparkannya tubuh itu ke dalam jurang.

Belum pernah selama hidupnya ada wanita berani menolaknya, bahkan sebagian besar wanita atau gadis yang diculiknya, dapat ditundukkan dengan rayuan dan ketampanannya.

Akan tetapi, gadis puteri Pendekar Sadis ini tidak mempan dengan dirayu, dan tidak takut diancam, membuat dia kehilangan akal.

Tanpa banyak cakap lagi dia lalu meloncat dan membawa Sui Cin ke dalam sebuah gua besar yang tertutup semak-semak belukar.

Diam-diam Sui Cin memperhatikan tempat ini.

Sebuah gua tersembunyi.

Tidak mungkin akan ditemukan orang luar karena mulut gua yang tidak berapa besar itu tersembunyi di balik semak-semak belukar yang penuh duri dan pantasnya hanya menjadi sarang ular-ular dan binatang-binatang buas.

Setelah menguak semak-semak belukar dan nampak mulut gua, pemuda itu membawa Sui Cin memasuki gua dan menutupkan kembali semak-semak di depan gua.

Setelah masuk ke dalam gua, ternyata gua itu berlorong lebar yang membawanya ke dalam ruangan yang cukup luas.

Akan tetapi keadaan di situ kotor dan tidak terawat, tanda bahwa tempat itu sudah lama tidak didatangi orang.

Ruangan dalam gua itu seperti ruangan rumah saja, di mana terdapat meja-meja tua, bangku-bangku dan juga sebuah dipan kayu yang masih kokoh kuat.

Sim Thian Bu menurunkan tubuh Sui Cin dan mengikat kaki dan tangan dara itu, menelentangkannya di atas dipan.

"Ha-ha-ha, nona manis. Dengar baik-baik, aku mengajakmu hidup bersama sebagai suami isteri, akan tetapi engkau selalu monolak. Dan engkau bahkan memilih mati dari pada hidup sebagai isteriku yang terhormat dan tercinta. Kebandelanmu ini membuat aku bingung dan sebaiknya kalau engkau kupaksa menjadi isteriku, baru kita bicara lagi, Ha-ha-ha!"

Sim Thian Bu tersenyum-senyum dan memandang penuh nafsu kepada tubuh gadis yang sudah ditelentangkan di atas dipan dalam keadaan kaki tangan terikat itu.

Dia menanggalkan bajunya dan nampaklah dadanya yang bidang.

Pemuda ini memang selain memiliki wajah tampan pesolek, juga memiliki bentuk tubuh yang baik.

Sayangnya bahwa tubuh yang demikian baik dihuni oleh batin yang bobrok dan kejam.

Melihat betapa pemuda itu mulai membuka baju, Sui Cin menjadi pucat dan ia merasa betapa tengkuknya dingin sekali saking ngeri dan takutnya.

Ia dapat menduga apa yang akan dilakukan pemuda bejat ahlak ini kepada dirinya dan mulailah ia meronta-ronta, mengerahkan tenaga untuk melepaskan diri dari ikatan kaki tangannya.

Gerakannya ini membuat dipan itu bergoyang-goyang dan keempat kakinya berdetak-detak.

Akan tetapi, pada saat itu sambil terkekeh Sim Thian Bu yang menanggalkan bajunya itu menubruk dan memeluknya.

"Aih, jantung hatiku, engkau hendak lari ke mana sekarang?"

Melihat pemuda itu sudah menindihnya dan wajah pemuda itu demikian dekat dengan wajahnya, Sui Cin terbelalak dan menjerit.

"Jangan... Kau bunuh saja aku..."

"Ha-ha, bunuh engkau? Aih, sayang dong..., Engkau cantik manis..."

Sim Thian Bu hendak mencium akan tetapi Sui Cin mengelak dan miringkan mulutnya, kemudian ia teringat akan akal yang pernah didengarnya dari ibunya.

Suaranya terdengar gemetar ketika ia berkata lirih.

(Lanjut ke

Jilid 10) Asmara Berdarah (Seri ke 08 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 10

"Akan tetapi jangan begini... ah, kalau tiada jalan lain... aku bersedia... tapi jangan begini... lepaskan dulu belenggu ini agar kita dapat melakukannya secara wajar..."

Sim Thian Bu menjadi girang sekali.

"Engkau... engkau mau...?"

Dia bertanya sambil menatap wajah dara itu. Sui Cin mengeraskan hatinya dan mengangguk.

"Tapi, lepaskan belenggu-belenggu ini... sungguh tidak enak dalam keadaan terbelenggu begini..."

Ia sudah siap.

Begitu belenggu dibuka, ia akan mengirim serangan kilat yang mematikan kepada pemuda jahanam itu.

"Baik..."

Kata Sim Thian Bu dengan girang dan pemuda itu turun dari atas tubuh Sui Cin yang ditindihnya.

Tangannya meraih ke arah belenggu kaki, dan Sui Cin sudah menanti dengan jantung berdebar tegang.

Akan tetapi, jari-jari tangan pemuda itu tidak melepaskan belenggu, melainkan meraba kaki dan kini wajah pemuda itu menoleh, memandangnya dangan tersenyum mengejek.

Jari tangan itu kini malah membuka sepatu dari kaki Sui Cin, dan melihat gelagatnya, pemuda itu bukan hendak membuka tali belenggu, melainkan hendak melucuti pakaian gadis itu.

"Heh-heh, engkau puteri Pendekar Sadis, sungguh cardik dan licik. Kau kira aku tidak dapat merasakan betapa tubuhmu menegang penuh kekuatan dan betapa engkau akan menyerbu begitu aku membuka kaki tanganmu? Heh-heh, memang hendak kulepaskan, akan tetapi bukan belenggu kaki tanganmu, melainkan saluruh pakaianmu, Ha-ha-ha!"

Tangan pemuda itu kini sudah mencengkeram kain celana Bui Cin.

"Jangan... ah, jangan..."

Kini gadis itu memohon dengan suara lemah karena hilanglah harapannya dan dia hampir pingsan menghadapi bayangan yang amat mengerikan dari malapetaka yang akan menimpa dirinya.

"Sim Thian Bu! Mundur kau! Apa yang hendak kau lakukan ini?"

Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras dan tahu-tahu di ambang pintu telah muncul seorang pemuda bertubuh tinggi tegap yang melihat wajahnya masih muda sekali, paling banyak berusia delapan belas tahun, akan tetapi wajah itu nampak dingin dan sepasang mata mencorong, sedangkan tubuhnya tinggi tegap melebihi orang dewasa umumnya.

Sim Thian Bu yang tadinya sudah siap untuk merobek dan merenggut pakaian Sui Cin, terkejut dan menoleh lalu mundur dua langkah, matanya terbelalak nampak ketakutan akan tetapi mulutnya tersenyum membujuk.

"Ah, kiranya suheng yang datang. Suheng, maafkan aku dan biarkan aku menyelesaikan urusan pribadiku ini dulu, nanti akan kulayani suheng bicara kalau memang suheng datang membawa keperluan yang harus kubantu."

"Sim Thian Bu, aku bertanya tadi. Apa yang akan kau lakukan ini?"

Sim Thian Bu memandang pemuda remaja itu dengan sinar mata mengandung kemarahan, akan tetapi agaknya dia merasa jerih terhadap pemuda remaja itu, dan diapun tersenyum lebar.

"Aih, engkau masih terlalu muda untuk mengetahui urusan ini, suheng. Dia ini seorang kekasihku dan kami hendak main-main sebentar. Apakah suheng ingin melihat kami bermain cinta?"

Sui Cin sudah ingin memaki untuk menyangkal ucapan jai-hwa-cat itu, akan tetapi ia diam saja dan memandang heran.

Sungguh mengherankan memang keadaan pemuda remaja yang baru tiba.

Usianya paling banyak delapan belas tahun, akan tetapi mengapa jai-hwa-cat yang usianya dua puluh lima tahun ini menyebutnya suheng dan bersikap jerih terhadap pemuda remaja itu?

Ah, kalau pemuda remaja itu benar suheng dari Sim Thian Bu, tentu ia akan lebih celaka lagi dan tidak mempunyai harapan sama sekeli untuk dapat lolos.

Menghadapi Sim Thian Bu yang lihai dan cerdik itu saja ia sudah tidak berdaya dan kini berada di ambang malapetaka yang mengerikan, apalagi kalau kini datang suheng si jahanam itu yang tentu saja lebih jahat dan lebih lihai, walaupun usianya jelas lebih muda.

Ia memandang dan mendengarkan penuh perhatian, ingin melihat perkembangan kemunculan pemuda remaja itu dengan waspada.

Siapa tahu kemunculan ini bahkan menolongnya.

"Kekasihmu? Dibelenggu?"

Pemuda itu berkata dan kulit di antara kedua alisnya yang tebal berkerut, pandang matanya yang tajam mencorong itu ditujukan ke arah tubub Sui Cin, penuh selidik.

Kemudian dia berkata lagi, suaranya bernada memerintah.

"Lepaskan belenggu kaki tangannya!"

Sim Thian Bu nampak terkejut dan marah.

"Akan tetapi, suheng, ia itu punyaku, dan aku berhak melakukan apa saja terhadap dirinya. Aku belum mau membebaskannya, hendak main-main dulu dengan gadis ini..."

"Lepaskan kataku!"

Suara itu mengandung wibawa yang amat besar dan terasa pula oleh Sui Cin betapa kuatnya khikang terkandung dalam suara itu.

Sim Thian Bu juga merasakan ini, akan tetapi agaknya dia masih penasaran.

"Suheng, engkau keterlaluan mendesakku..."

Sim Thian Bu terpaksa menghentikan kata-katanya karena tiba-tiba saja pemuda itu sudah menerjangnya.

Luar biasa cepatnya gerakan pemuda remaja itu.

Seperti terbang saja tubuhnya tahu-tahu menyambar dan meluncur ke arah Sim Thian Bu dan tangannya menampar.

Melihat ini Sim Thian Bu terkejut dan cepat mengelak sambil menggerakkan tangan untuk menangkis.

"Plakk!"

Entah bagaimana.

Walaupun jai-hwa-cat yang tangguh itu sudah mengelak dan menangkis, tetap saja pundaknya terkena tamparan dan tubuhnya terpelanting seperti disambar pukulan yang amat kuat.

"Suheng..."

Teriaknya dan diapun meloncat bangun, lalu hendak balas menyerang pemuda remaja itu.

"Plak! Plak!"

Kembali tubuh Sim Thian Bu terjengkang, kini lebih keras lagi.

Sui Cin memandang heran dan kagum.

Dara ini dapat melihat betapa pemuda remaja itu menguasai gerakan jai-hwa-cat, sehingga biarpun Thian Bu yang menyerang, akan tetapi sebaliknya dia yang roboh karena serangannya telah dihadang di tengah jalan dan sebaliknya, Balasan pemuda remaja itu tidak mampu dihindarkannya.

Kini pemuda remaja itu agaknya sudah marah.

Sejak tadi dia tidak mengeluarkan kata-kata lagi, akan tetapi sinar mata yang mencorong itu kini berapi.

Dengan gerakan ringan sekali kedua kakinya melakukan gerakan srat-sret-srat-sret, tubuhnya tahu-tahu sudah berada dekat Thian Bu dan kini kaki tangannya bergerak secara aneh.

Hebatnya, setiap sambaran tangan atau kakinya tentu mengenai sasaran!

Terdengarlah suara plak-plok dan bak-buk ketika tubuh Thian Bu menjadi sasaran pukulan dan tendangan pemuda remaja itu sehingga tubuh Thian Bu terguling-guling dan tidak sempat bangun karena setiap kali merangkak hendak bangun sudah disambut oleh tamparan atau pukulan lain!

Akhirnya terdengar Thian Bu mengeluh.

"Suheng... ampunkan aku..."

Pemuda remaja itu berhenti bergerak, menatap wajah jai-hwa-cat yang sudah bengkak-bengkak dan matang biru itu.

"Kau tahu, aku benci laki-laki yang memperkosa wanita. Lain kali kubunuh kau!"

Hanya itu kata-katanya dan tiba-tiba tubuhnya melayang ke dekat dipan dan dua kali dia menggerakkan tangannya dan Sui Cin merasa betapa belenggu kaki tangannya putus semua dan ia dapat bergerak lagi!

Tentu saja begitu dapat bergerak, meledaklah semua kemarahan dan ketakutan yang tadi menghimpit di dada dara itu.

"Haiiiiittt..."

Ia mengeluarkan suara melengking tinggi dan tubuhnya sudah meluncur ke depan.

Dengan pengerahan sinkang sekuatnya ia sudah menggerakkan tangannya, menghantam ke arah kepala Sim Thian Bu dalam serangan maut!

"Dukk!"

Sim Thian Bu sendiri tidak mampu menghindarkan diri karena tubuhnya masih nyeri semua dan kepalanya pening, akan tetapi tiba-tiba pemuda remaja itu bergerak dan pemuda inilah yang menangkis pukulan Sui Cin tadi.

Tangkisan itu kuat bukan main, terasa oleh Sui Cin dan lengannya tergetar hebat.

Ia terdorong mundur tiga langkah dan matanya menatap tajam kepada wajah pemuda remaja yang menangkis pukulannya tadi.

Ia menjadi serba salah.

Mau marah teringat bahwa pemuda inilah yang telah menyelamatkannya dari malapetaka yang nyaris menimpanya.

Tidak marah, ia kecewa dan penasaran karena niatnya membunuh atau setidaknya menghukum Thian Bu dihalangi.

Sejenak mereka saling pandang dan di dalam pandang mata pemuda remaja itu kini terdapat kekaguman.

Agaknya baru dia tahu bahwa dara yang tadi hendak diperkosa Thian Bu itu adalah seorang gadis yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Hal ini dapat dirasakan ketika dia menangkis dan ternyata pukulan gadis itu mengandung sinkang yang amat hebat sehingga lengannya sendiri tergetar delam pertemuan tenaga itu.

Jelas bukan gadis sembarangan!

"Aku...

aku harus menghajar jahanam busuk itu!"

Sui Cin akhirnya berteriak marah.

Pemuda itu menggeleng kepala, sikapnya tenang dan pandang matanya tetap dingin.

"Suteku sudah kuhajar sendiri."

Katanya singkat saja.

"Tapi... tapi dia hendak memperkosaku, dia penjahat jai-hwa-cat terkutuk!"

Kembali pemuda itu menggeleng kepalanya.

"Baru hendak, tapi belum. Pergilah, nona."

Sui Cin menjadi bingung, seperti kehilangan akal menghadapi pemuda remaja yang tidak banyak cakap dan bersikap dingin serius ini.

Kalau dia berkeras dan sampai ia bentrok dengan pemuda ini, berarti ia yang bocengli (tak tahu aturan).

Bukankah ia baru saja diselamatkan dari bencana yang bahkan melebihi maut?

Dan kalau pemuda ini membela Thian Bu, hal itu wajar saja karena memang Thian Bu itu sutenya!

Bagaimana ada sute seperti itu dan suheng seperti ini?

Bumi dan langit bedanya.

Sui Cin mengepal tinju, kehilangan akal, akhirnya ia mendengus dan menyambar sepasang sepatunya, kemudian sekali berkelebat ia sudah meloncat keluar dari dalam gua itu!

Kini pemuda remaja itu menghadapi Thian Bu yang sudah merangkak bangun dan duduk di atas dipan di mana dia tadi hendak memperkosa Sui Cin.

Dia menyusuti darah dari ujung bibirnya dan kelihatan takut walaupun pada sinar matanya terdapat rasa marah dan dendam yang disembunyikan.

"Sute, kuulangi. Sekali lagi aku melihatmu memperkosa wanita, kubunuh engkau! Ada urusan penting engkau tinggalkan di telaga, malah engkau sibuk hendak melakukan perbuatan memalukan. Pergilah!"

Pemuda itu menundingkan telunjuknya ke pintu gua dengan nada dan sikap mengusir.

Sim Thian Bu mengangkat muka memandang sejenak, lalu bangkit dan tertatih-tatih berjalan keluar tanpa berani membantah.

Setelah Thian Bu pergi, pemuda remaja itu menjatuhkan dirinya di atas dipan, duduk termangu-mangu dan mengepal kedua tangannya.

Dia seperti orang berpikir mendalam penuh rasa penasaran, lalu memukulkan tinju kanannya pada telapak tangan kiri sendiri sampai terdengar bunyi nyaring, kemudian dia menutupi muka dengan kedua tangan penuh penyesalan.

Siapakah pemuda remaja ini?

Dia adalah pemuda yang muncul di telaga, berperahu bersama seorang kakek kurus bertongkat.

Dialah pemuda lihai yang melepas anak panah berapi membakar perahu besar di mana terjadi perkelahian dan dia yang monolong sehingga tiga orang tokoh Cap-sha-kui dapat lolos.

Dialah pemuda yang dikagumi Hui Song yang dapat menduga bahwa pemuda itu amatlah tangguh dan lihai.

Dan tepat seperti dugaan Shantung Lo-kiam ketika dia bercerita kepada Hui Song, pemuda ini adalah putera tunggal Siangkoan Lojin Si Iblis Buta.

Siangkoan Lojin mempunyai riwayat yang cukup menarik.

Sejak muda, orang she Siangkoan ini memang hidup di kalangan sesat.

Akan tetapi di waktu dia masih muda, dia yang sudah merasa tidak suka akan perbuatan jahat yang kejam.

Seringkali dia menentang para paman gurunya, bahkan gurunya sendiri sehingga akhirnya dia dianggap murtad.

Sebagai hukuman kaum sesat yang kejam, kedua matanya dibikin buta oleh guru dan para paman gurunya sendiri dengan jalan meracuninya.

Semenjak itu, baru berusia dua puluh tahun, dia telah menjadi seorang buta.

Biarpun matanya tidak cacat dan masih terbuka seperti orang biasa, namun dia tidak dapat melihat apa-apa lagi.

Hukuman yang membuat cacat ini diterima dengan sabar dan tabah.

Akan tetapi, di dalam hatinya terkandung rasa penasaran yang amat hebat.

Dia berlatih silat terus dengan tekun sehingga kepandaiannya menonjol, bahkan setelah berusia kurang lebih lima puluh tahun, kepandaiannya sudah melampaui para paman gurunya!

Sementara itu, suhunya telah meninggal dunia dan pada suatu hari, dendam yang terpendam selama puluhan tahun itu baru memperoleh pelepasan, Siangkoan Lojin memberontak dan lima orang paman gurunya yang dahulu ikut membutakan matanya dibunuhnya semua satu demi satu!

Dan di kalangan kaum sesat, siapapun yang berani menentangnya lalu dibunuhnya.

Mulailah nama Siangkoan Lojin si kakek buta ini ditakuti orang.

Dan terjadi perobahan pada diri kakek ini.

Kalau di waktu mudanya dia menentang kejahatan para gurunya, setelah kini cacat, dia malah ingin menjadi pemimpin kaum sesat!

Hal ini mungkin timbul karena derita batinnya.

Dia menentang kejahatan dan matanya menjadi buta, maka kini dia bahkan hendak menjadi kepala semua penjahat!

Setelah berusia setengah abad dan diakui sebagai seorang jagoan yang amat ditakuti di antara golongan sesat, dia lalu mengambil seorang gadis dari kalangan sesat pula untuk menyambung keturunan.

Dan isterinya itu ternyata dapat memberi keturunan padanya, seorang anak laki-laki yang diberi nama Siangkoan Ci Kang.

Tentu saja hati kakek buta ini menjadi girang bukan main.

Semenjak lahir, Ci Kang digemblengnya.

Bahkan untuk mandi bayi itupun dia beri ramuan obat agar jasmani anak itu menjadi kuat dan kebal.

Dan gemblengan penuh ketekunan dari Siangkoan Lojin tidak sia-sia.

Anak itu ternyata memiliki bakat yang amat hebat dan setelah berusia delapan belas tahun, anak itu telah mewarisi seluruh ilmu kepandaian ayahnya!

Dia bahkan lebih lihai dari pada ayahnya karena dia lebih muda, menang kuat dan menang daya tahannya, menang cepat.

Ternyata Siangkoan Ci Kang bukan hanya menuruni ilmu kepandaian ayahnya, melainkan juga menuruni wataknya!

Sejak kecil, sejak dia belajar membaca dan mulai membaca kitab-kitab kuno, Ci Kang menumbuhkan pendiriannya di batinnya yang berlawanan dengan kenyataan yang ada pada keluarganya.

Dia, seperti para pendekar dan para budiman dalam kitab-kitab yang dibacanya, tidak suka akan kejahatan!

Dia tahu bahwa ayahnya adalah seorang tokoh kaum sesat yang ditakuti dan disegani, dan hal inilah yang membuatnya seringkali termenung dan merasa penasaran.

Bahkan setelah dewasa, dia berani pada suatu hari menyerang ayahnya dengan kata-kata mencela mengapa ayahnya terjun ke dalam dunia hitam dan menjadi pemimpin kaum sesat.

"Hemm, kau tahu apa?"

Ayahnya menjawab dengan senyum kecut.

"Engkau tahu mengapa mata ayahmu menjadi buta? Karena akupun ingin menjadi orang bersih macam engkau sekarang ini! Aku ingin menentang kejahatan dan akibatnya aku kehilangan kedua mataku! Kuharap engkau dapat mengerti bahwa menjadi orang baik hanya mengundang datangnya malapetaka dan kerugian saja. Semenjak kehilangan mata, aku mengambil keputusan untuk menjadi tokoh sesat, akan tetapi tidak kepalang tanggung dan harus menjadi nomor satunya!"

Ci Kang merasa tidak puas akan keterangan ayahnya ini.

Dia menyelidiki di antara tokoh sesat dan mendengar bahwa ayahnya dibikin buta oleh guru dan para paman gurunya sendiri karena menentang kaum sesat.

Akhirnya setelah lihai, ayahnya membalas dendam, membunuh lima orang susioknya sendiri, kemudian bangkit menjadi pemimpin kaum sesat.

Hal ini membuat hati Ci Kang Kadang-kadang berduka.

Terjadi konflik dalam batinnya antara pendirian dan perasaan hatinya yang menentang kejahatan, terutama sekali kekejamankekejaman, dan kenyataan bahwa ayahnya adalah tokoh utama kaum setat!

Tentu saja, sebagai putera Siangkoan Lojin, dia tidak dapat lari dari kenyataan ini dan beberapa kali dia harus turun tangan membantu ayahnya kalau ayahnya atau teman-teman sekaum bertemu dengan lawan atau kalau sedang melaksanakan tugas, seperti yang dilakukannya di Telaga Emas itu.

Akan tetapi selamanya dia sendiri tidak pernah melakukan perbuatan jahat yang berupa kekejaman kepada orang lain.

Konflik-konflik batin yang dideritanya sejak dia mengerti itu membentuk suatu watak yang aneh pada Ci Kang.

Dia menjadi seorang pemuda yang pendiam, dingin, keras seperti baja dan Kadang-kadang membawa mau sendiri, tak perduli, dan aneh!

Ketika Ci Kang diajak ayahnya ke telaga itu dan dengan kegagahannya dia berhasil membebaskan tiga orang tokoh Cap-sha-kui, ayahnya memarahi tiga orang tokoh itu yang gagal membunuh panglima Liang.

"Kalian sungguh tolol dan harus malu menjadi tokoh Cap-sha-kui kalau melaksanakan pekerjaan membunuh seorang menteri saja gagal, bahkan digagalkan oleh seorang pemuda yang menyamar sebagai menteri itu."

Demikian Siangkoan Lojin mengomel setelah mereka semua berhasil melarikan diri dan berada di tempat persembunyian.

"Bukankah seharusnya lebih dulu melakukan pengamatan dan pengintaian?"

"Maaf, Lojin. Sesungguhnya, kami bertiga sama sekali tidak tahu bahwa Menteri Liang telah diganti oleh seorang pemuda lihai, dan semua ini adalah kesalahan gembel gendut ini yang bertugas sebagai pengamat. Kami telah dijanji oleh Hwa-I Kai-Pang yang hendak membantu dengan penyelidikan, dan perkumpulan gembel itu telah mengutus si gendut yang tidak teliti ini!"

Kata Kui-kok Lomo dengan nada suara jengkel sambil menuding ke arah Bhe Hok, tokoh Hwa-I Kai-Pang yang gendut itu.

Siangkoan Lojin mengerutkan alisnya yang putih.

Tentu saja dia tidak dapat melihat tudingan telunjuk Kui-kok Lomo ke arah orang gendut itu, akan tetapi dia dapat mengerti bahwa orang itu hadir pula di situ.

"Hemm, siapakah engkau utusan Hwa-I Kai-Pang?"

Bentaknya.

Bhe Hok adalah seorang bekas penjahat yang kejam dan tabah, akan tetapi berhadapan dengan kakek buta itu dia merasa gentar sekali.

Dia sudah mendengar bahwa kakek buta ini amat lihai dan juga tidak segan-segan membunuh pembantu yang bersalah.

Maka, biarpun orang itu tidak dapat melihat, dia segera memberi hormat.

"Saya bernama Bhe Hok, Lojin. Dan sayalah yang diutus oleh para pimpinan Hwa-I Kai-Pang untuk membantu dalam usaha penyergapan di telaga itu. Saya bertugas mengamati dan memata-matai telaga itu sampai Menteri Liang muncul. Akan tetapi, sebelum menteri itu muncul, secara tak disangka-sangka, saya terlibat dalam perkelahian yang disebabkan oleh... oleh murid Lojin sendiri."

Iblis buta itu mendengus.

"Hemm, kau maksudkan Thian Sin Bu?"

"Benar, Lojin. Ketika saya sedang melakukan pengintaian, di pantai telaga saya melihat Sim-sicu sedang berkelahi melawan seorang gadis yang amat lihai. Karena saya melihat murid Lojin itu terdesak, saya lalu muncul dan membantunya, menotok roboh gadis itu. Akan tetapi tiba-tiba muncul Shantung Lo-kiam dan saya lalu berkelahi melawan jago pedang itu sedangkan murid Lojin pergi melarikan gadis yang sudah roboh tertotok itu! Karena ditinggal sendiri, terpaksa saya juga melarikan diri karena Lo-kiam itu lihai sekali. Kalau saja Sim-sicu tidak muncul berkelahi dengan gadis itu, atau kalau saja dia tidak pergi meninggalkan saya dan melarikan gadis itu, tentu kami berdua akan dapat menjatuhkan Shantung Lo-kiam dan keadaan akan menjadi lain."

"Hemmm..."

Terpaksa Siangkoan Lojin tidak jadi marah kepada orang Hwa-I Kai-Pang itu karena ternyata muridnya sendiri yang menjadi biang keladi kegagalan usaha itu.

"Ci Kang, engkau hendak ke mana?"

Tiba-tiba kakek buta itu menegur ketika telinganya menangkap gerakan orang ke pintu.

Dia mengenal gerakan puteranya yang ringan dan menegur.

Akan tetapi Ci Kang sudah tiba di luar tempat itu dan terdengar jawabannya dari luar.

"Ayah, aku mau mencari angin segar."

Dan diapun sudah jauh sekali sehingga ayahnya tidak sempat lagi untuk mencegahnya.

Siangkoan Lojin mengenal keanehan watak puteranya maka diapun lalu melanjutkan percakapannya dengan tiga orang tokoh Cap-sha-kui itu.

"Sudahlah, kegagalan membunuh Menteri Liang biar menjadi pelajaran baik bagi kalian semua. Lain kali kita dapat mencari jalan lain untuk melenyapkannya. Sekarang yang penting bagaimana melaksanakan tugas kedua. Lomo dan Lobo, bukankah kalian sudah mempunyai rencana untuk membunuh jenderal itu?"

"Sudahlah, Lojin. Kami akan melaksanakannya sebaik mungkin, dibantu oleh Ular Betina ini."

"Dalam melaksanakan tugasku, biarpun kalian membantu, telah mengalami kegagalan. Kalau aku membantu kalian sampai berhasil, lain kali kalian harus membantuku pula sampai aku berhasil membunuh menteri itu."

Kiu-bwe Coali mengomel.

Demikianlah, seperti diceritakan di bagian depan, Siangkoan Ci Kang ternyata melakukan pengejaran terhadap murid ayahnya.

Biarpun murid ayahnya itu jauh lebih tua dari padanya, namun Sim Thian Bu termasuk murid terakhir sehingga menyebut suheng kepadanya.

Dia sudah tahu akan kejahatan Thian Bu, sudah mendengar bahwa sutenya itu adalah seorang jai-hwa-cat keji.

Ingin dia mempergoki sutenya dan menghajarnya, akan tetapi Thian Bu yang cerdik itu selalu dapat lolos dan merahasiakan kejahatannya.

Kini, mendengar betapa sutenya telah melarikan seorang gadis, dia menjadi marah dan segera melakukan pengejaran.

Dia tentu saja dapat menduga ke mana sutenya membawa pergi gadis culikannya itu.

Ke mana lagi kalau bukan ke dalam gua rahasia tempat persembunyian ayahnya?

Hanya di sanalah tempat aman bagi sutenya itu untuk melakukan segala macam kejahatan tanpa diketahui orang!

Dan ternyata dugaannya memang benar.

Dan dia datang pada saat yang tepat.

Kalau Sim Thian Bu tidak berniat memperisteri Sui Cin dan melakukan bujukan-bujukan dan ancaman-ancaman, melainkan langsung saja diperksanya seperti yang biasa dia lakukan, tentu kedatangan Ci Kang terlambat dan gadis itu telah ternoda, mungkin jejaknya telah disingkirkan oleh Thian Bu yang licik.

Kemudian, setelah menyelamatkan Sui Cin dan mengusir sutenya sehabis menghajarnya babak belur, Ci Kang duduk sendirian di dalam gua itu sambil termenung.

Hatinya semakin sakit dan menyesal sekali.

Perbuatan keji dari sutenya tadi mengingatkan dia bahwa pria amat cabul dan keji itu adalah sutenya, murid ayahnya dan bahwa ayahnya adalah seorang gembong penjahat yang kini menjadi antek pemerintah yang lalim.

Sedih hatinya.

Dia sudah banyak membaca tentang pembesar-pembesar lalim yang mempergunakan penjahat-penjahat, dan dia selalu menganggap, betapa jahatnya pembesar seperti itu dan betapa rendah dan hinanya penjahat yang menjadi anteknya.

Akan tetapi kini dia dihadapkan kenyataan bahwa ayah kandungnya sendiri menjadi penjahat antek pembesar lalim!

Siapa yang takkan hancur dan sedih hatinya?

Baru setelah gua itu mulai gelap, tanda bahwa senja telah mendatang, Ci Kang keluar dari dalam gua, menutupi lagi mulut gua dengan semak belukar, kemudian melangkah pergi dengan gontai dan hilang semangat.

Pemuda ini semakin murung dan wajahnya semakin dingin.

"Haiii... nona... Perlahan dulu, nona..."

Sui Cin sudah tahu bahwa ada seorang pemuda berlari-lari mengejarnya, bahkan dara ini sudah tahu pula siapa pemuda itu.

Akan tetapi ia pura-pura tidak dengar atau tidak perduli, melainkan melanjutkan perjalanannya menunggang kuda kecilnya dengan santai.

Ia bahkan tidak memegang kendali kuda, dibiarkan kudanya berjalan seenaknya dan ia melindungi kepalanya dengan sebuah payung yang dikembangkan dan dipanggulnya.

Iapun duduk miring di atas punggung kudanya, seenaknya sambil menikmati keindahan pemandangan alam pegunungan di sekitarnya.

Jalan itu kasar dan sunyi, sinar matahari membakar panas, maka terasa nyaman berlindung di bawah payung.

"Prak-plok-prak-plok-prak..."

Suara kaki kuda berirama dan nyaring karena kuda itu mengenakan sepatu atau tapal kaki baru.

Hui Song merasa penasaran sekali.

Dari jauh dia mengenal gadis berpayung menunggang kuda itu.

Siapa lagi kalau bukan gadis yang pernah membuatnya tak mampu tidur nyenyak, gadis yang membuatnya tergila-gila, gadis perkasa yang pernah membantunya ketika dia dikeroyok oleh tiga orang tokoh Cap-sha-kui yang bernama Tho-tee-kui, Koai-pian Hek-mo dan Hwa-hwa Kuibo?

Maka dia lalu lari mengejar dan bukan main girangnya melihat kenyataan bahwa dugaannya memang benar, terutama sekali karena sekarang gadis itu tidak membalapkan kuda kecil yang lihai itu untuk meninggalkannya.

Seperti kita ketahui, Sui Cin telah terlepas dari malapetaka ketika ia terculik Sim Thian Bu dan tortolong oleh Siangkoan Ci Kang.

Setelah pergi, ia lalu kembali ke dusun di mana ia menitipkan kudanya, dan kini ia melakukan perjalanan berkuda dengan niat pulang ke selatan, ke tempat tinggal orang tuanya di Pulau Teratai Merah.

Sungguh tidak disangkanya sama sekali bahwa ia bertemu dengan Hui Song di tengah perjalanan, atau lebih tepat tersusul oleh pemuda itu.

Ia sengaja membiarkan kudanya berjalan terus dan kini dengan napas agak terengah-engah Hui Song berjalan di sebelah kanan kuda itu sambil tersenyum menoleh dan memandang wajah di bawah payung itu.

Sejenak kedua mata pemuda itu terbelalak keheranan, akan tetapi dia lalu tersenyum lagi dan nampak gembira sekali.

"Huh, apa maksudmu teriak-teriak seperti orang kesurupan dan lari-lari seperti orang dikejar setan?"

Sui Cin menegur sambil tersenyum mengejek.

"Aku tidak kesurupan, memang gila, tergila-gila dan aku bukan dikejar setan melainkan dikejar ketakjuban. Sungguh tak pernah kusangka sebelumnya bahwa yang bernama Sui Cin adalah seorang gadis yang cantik jelitanya melebihi semua bidadari di kahyangan!"

Kedua pipi itu menjadi merah, dan mata itu mengeluarkan sinar berapi.

Entah mana yang lebih besar dan yang lebih memerahkan pipi, kemarahan ataukah kebanggaan mendengar pujian itu.

Juga ia merasa terkejut karena ternyata Hui Song dapat menduga bahwa ia adalah Sui Cin si "pemuda gembel"

Itu. Kini tidak perlu berpura-pura lagi.

"Hemm, baru sekarang engkau tahu?"

Pancingnya.

Ia tidak menghentikan kudanya dan terpaksa Hui Song berjalan-jalan di samping kuda itu yang kelihatan tidak senang kerena ada orang yang mengganggu ketenangannya di tempat sunyi indah itu.

"Memang baru sekarang! Wah, kalau aku tahu sejak dulu..."

"Lalu mau apa?"

"Tidak apa-apa. Sungguh engkau pandai sekali menyamar dan kau bilang mempunyai seorang cici."

"Akulah cicinya!"

"Ha-ha, dan engkau adiknya pula, pemuda gembel yang membagi-bagi uang kepada para gembel lain. Sungguh luar biasa! Dan engkau menjanjikan kepadaku untuk memperkenalkan aku kepada cicimu. Nah, sekarang perkenalkan. Kau tahu namaku, akan tetapi apakah namamu juga masih sama? Sui Cin?"

Sui Cin mengangguk.

"Eh, bagaimana engkau tiba-tiba saja dapat menduga bahwa aku adalah pemuda gembel itu pula?"

"Nanti dulu, apakah engkau begitu kejam membiarkan aku berjalan-jalan bersama kudamu yang mempunyai empat kaki sedangkan aku hanya mempunyai dua kaki?"

"Hemm, engkaupun boleh menggunakan kedua tanganmu sebagai kaki!"

"Sialan! Kau suruh aku merangkak?"

"Kalau kau mau!"

"Sudahlah, kasihanilah padaku. Aku capek dan kepanasan, mari kita berhenti dulu di bawah pohon sana itu, tempatnya teduh dan di situ banyak rumput. Kalau engkau tidak kasihan padaku, sedikitnya engkau kasihan kepada kudamu dan membiarkan dia istirahat dan makan rumput."

Sui Cin tak membantah lagi, lalu menepuk bahu kudanya yang segera membelok ke kiri menuju ke arah pohon rindang.

Di sini ia turun, menutup payungnya dan membiarkan kudanya makan rumput sedangkan ia sendiri duduk di atas akar pohon yang menonjol di atas tanah, berhadapan dengan pemuda itu.

Sejenak mereka saling berpandangan dan sekali ini Hui Song yang menundukkan mukanya karena malu akan tetapi juga girang sekali.

"Nah, engkau belum menjawab pertanyaanku tadi."

"Mengenalimu? Mudah sekali. Ketika aku melihatmu dari jauh, aku segera teringat akan encinya Sui Cin, gadis yang pernah membantuku melawan tiga orang tokoh Cap-sha-kui itu, maka aku mengejarnya. Begitu tiba di dekat kuda dan melihat wajahmu, aku terkejut dan segera timbul keyakinan di hatiku bahwa engkau adalah Sui Cin pemuda gembel itu."

"Hemm, mengapa begitu yakin? Bagaimana kalau aku encinya?"

"Memang mungkin ada persamaan antara seorang enci dan seorang adiknya, akan tetapi sinar mata dan senyum bibir itu tidak mungkin ada keduanya di dunia ini... eh, maaf, maksudku... aku sudah mengenal benar sinar mata dan senyum itu, jadi begitu melihatnya aku segera mengenalmu, Sui Cin. Maaf, rasanya janggal menyebutmu nona, setelah sekian lamanya menyebutmu Cin-te! Sekarang, agaknya tidak mungkin lagi menyebut Cin-te (adik laki-laki Cin), maka kusebut saja namamu."

"Memang benar, Song-ko. Aku bernama Sui Cin dan tidak mempunyai adik maupun kakak. Memang sudah menjadi kebiasaanku di waktu merantau, aku suka menyamar sebagai seorang pemuda. Kebetulan aku bertemu denganmu dalam penyamaran itu dan berkenalan, tentu saja aku terpaksa menyamar terus."

Tiba-tiba Hui Song tertawa bergelak.

Sui Cin mengerutkan alisnya, merasa ditertawakan dan ia menjadi marah.

"Mau apa kau tertawa-tawa seperti gila?"

Hui Song menahan ketawanya.

"Aku teringat akan ceritamu tentang banci itu... Ha-ha, bisa saja engkau mencari alasan mengapa engkau marah-marah ketika aku mendekatimu. Ingat ketika aku merangkulmu karena kuanggap biasa antara laki-laki dan kau marah-marah dan..."

Wajah dara itu menjadi merah sekali.

"Sudahlah, tak perlu diungkit-ungkit kembali. Sekarang, mau apa sih engkau mengejarku?"

Hui Song bersikap sungguh-sungguh walaupun kini wajahnya cerah dan gembira sekali.

Memang harus diakuinya bahwa sejak berpisah dari Sui Cin si pemuda gembel, dia merasa kehilangan dan kesepian.

"Sebenarnya aku tidak mengejarmu, melainkan mencari jejak Sui Cin pemuda itu."

"Mau apa?"

Hui Song tersenyum malu-malu.

"Pertama... eh, untuk bertanya bagaimana dia tidak muncul di pantai telaga, dan kedua... anu... aku ingin menagih janji karena dia berjanji hendak memperkenalkan aku kepada encinya."

"Mata keranjang!"

"Bukan begitu, Sui Cin. Janji tetap janji! Sekarang katakanlah, mengapa engkau tidak muncul di pantai? Aku mendengar penuturan Shantung Lo-kiam bahwa ada seorang gadis diculik penjahat. Entah bagaimana, aku teringat akan encinya Sui Cin, maka akupun lalu melakukan pengejaran dan pencarian. Dan ternyata aku beruntung sekali, menemukan Sui Cin sahabatku bersama encinya sekaligus. Sui Cin, benarkah engkau yang dikabarkan oleh Shantung Lo-kiam itu?"

Sui Cin mengangguk.

"Benar. Aku melakukan pengamatan di pantai seperti yang telah kita rencanakan, dan karena aku sudah berpisah darimu, aku mengenakan pakaian wanita kembali agar lebih mudah mengamati. Di situ aku bertemu dengan Sim Thian Bu yang tadinya tidak kusangka seorang penjahat karena dia pernah mau ikut menghadiri pertemuan antara para pendekar tempo hari. Kiranya dia seorang jai-hwa-cat dan kami segera berkelahi. Aku lengah ketika muncul seorang di antara tokoh Hwa-I Kai-Pang itu, yang perutnya gendut, dan aku tertotok roboh. Lalu muncul kakek itu, yang membawa Yang-kim..."

"Shantung Lo-kiam..."

"Kakek itu menyerang si gendut dan mereka berkelahi. Aku yang sudah tertotok lalu dilarikan oleh jahanam Sim Thian Bu. Aku dilarikan menuju ke sebuah gua tersembunyi dan... dan... si jahanam keparat itu hampir saja menggangguku!"

Hui Song mengepal tinju.

"Keparat! Lalu bagaimana?"

"Untung muncul seorang pemuda... anehnya, pemuda itu adalah suheng dari Sim Thian Bu walaupun usianya paling banyak delapan belas tahun sedangkan Sim Thian Bu sudah dua puluh lima tahun lebih. Pemuda itu melarang, akan tetapi jahanam itu membantah dan akhirnya jahanam itu dihajar babak-belur oleh pemuda yang amat lihai itu. Kemudian aku dibebaskan dan begitu kaki tanganku bebas, tentu saja aku menyerang Sim Thian Bu yang sudah dihajar parah. Akan tetapi pemuda itu menangkis dan ternyata dia amat kuat..."

Hui Song terbelalak heran.

"Nanti dulu, apakah pemuda itu wajahnya masih amat muda akan tetapi matanya mencorong, pakaiannya sederhana dan tubuhnya tinggi tegap?"

"Benar jubahnya kasar belang-belang agaknya dari kulit harimau..."

"Ah, benar dia! Menurut dugaan Shantung Lo-kiam, dia tentu putera Siangkoan Lojin Si Iblis Buta!"

"Apa? Datuk itu?"

Sui Cin bertanya kaget.

"Kalau begitu, Sim Thian Bu adalah murid Si Iblis Buta?"

"Mungkin sekali, dan itulah sebabnya dia menyebut suheng kepada pemuda itu, karena kalah tingkat."

"Tapi kalau pemuda itu putera Iblis Buta, kenapa dia menolongku dan menghajar sutenya sendiri?"

Hui Song termenung.

"Entahlah, sungguh teka-teki yang membingungkan."

Hening sejenak.

Kemudian Sui Sin yang mulai merasa biasa berhadapan dengan Hui Song sebagai seorang wanita, bertanya.

"Bagaimana dengan usahamu menyelamatkan Menteri Liang?"

"Berhasil dengan baik,"

Katanya dan diapun lalu menceritakan bahwa dia telah menemui Menteri Liang, menceritakan semua rencana kaum penjahat dan betapa dia lalu pada saat yang ditentukan menyamar sebagai Menteri Liang dan menggantikan menteri itu pergi ke telaga.

Diceritakan betapa yang muncul adalah Kui-kok Lomo, Kui-kok Lobo dan Kiu-bwe Coali yang menyerangnya akan tetapi dia dan para pengawal istimewa dapat menanggulangi, bahkan sudah hampir berhasil dibantu oleh Shantung Lo-kiam untuk mengalahkan mereka.

"Sayang muncul pemuda aneh itu bersama kakek kurus yang menurut dugaan Shantung Lo-kiam adalah Si Iblis Buta bersama puteranya. Pemuda itu lihai sekali, menggunakan panah api membakar perahu dan dia berhasil menyelamatkan tiga tokoh Cap-sha-kui itu sehingga kami tidak berhasil mencegah mereka meloloskan diri."

Sui Cin mendengarkan dengan heran dan kagum.

Sungguh tokoh muda yang menolongnya itu amat aneh.

Membantu para penjahat, akan tetapi juga menentang kejahatan sute sendiri.

"Dan selanjutnya, apa yang akan kau lakukan, Song-ko?"

"Masih banyak yang hendak kulaksanakan, akan tetapi aku ingin melakukannya bersamamu, Sui Cin, karena itulah maka aku mengejar dan mencarimu."

"Aku baru saja terlepas dari bencana dan aku ingin pulang, sudah terlalu lama meninggalkan ayah ibu."

"Ah, betapa inginku ikut bersamamu pergi menghadap dan berkenalan dengan orang tuamu, secara langsung bertemu muka dengan Pendekar Sadis yang namanya sudah kukenal sejak kecil! Akan tetapi, tugas masih mengikatku, Sui Cin. Engkau tentu tahu bahwa keselamatan Menteri Liang masih terancam..."

"Engkau bukan pegawai negeri dan perlindungan terhadap seorang menteri dapat dilakukan oleh pasukan keamanan!"

"Engkau benar. Akan tetapi kita tahu bahwa juga Jenderal Ciang terancam. Kalau kita tidak membantu, padahal sumber keterangan itu dari kita, tentu pihak pemerintah aken merasa curiga akan kebenaran berita itu. Apalagi kalau di belakang para penjahat itu terdapat pembesar yang amat berpengaruh dan berkuasa. Kita harus membongkar semua kejahatan itu dan menentang kelaliman, berulah tidak percuma kita belajar silat sejak kecil dan menjadi keturunan para pendekar."

"Uwaahhh! Agaknya engkau hendak membanggakan kedudukanmu sebagai putera pendekar, putera ketua Cin-Ling-Pai, ya?"

Sui Cin mengejek sambil tersenyum.

"Tidak demikian, adikku yang baik. Akan tetapi, kalau orang tua kita sudah berjuang sebagai pendekar dan memperoleh nama harum, bukankah sudah menjadi kewajiban kita anak-anak mereka untuk menjunjung tinggi nama itu dengan perbuatan gagah dan baik pula? Selain itu, bukankah di lubuk hati kita sudah terdapat perasaan menentang kejahatan?"

Sui Cin mengibaskan tangan kirinya.

"Sudahlah, cukup dengan kuliahmu itu. Sekarang apa kehendakmu setelah engkau bertemu denganku di sini?"

"Cin-moi, aku merasa berbahagia sekali bertemu denganmu di sini, baik sebagai pemuda gembel maupun sebagai seorang gadis. Bagaimanapun juga, di antara kita masih terdapat ikatan yang amat dekat, setidaknya ikatan saudara seperguruan. Ingat bahwa ayahmu juga merupakan seorang murid Cin-Ling-Pai yang amat membanggakan, dan engkaupun menguasai banyak ilmu-ilmu tingkat tinggi dari Cin-Ling-Pai."

"Sudahlah jangan memuji-muji, maksudmu bagaimana?"

"Kita masih saudara seperguruan, dan kita bardua sudah mengalami bersama kejahatan yang dilakukan oleh komplotan busuk antek-antek pembesar lalim itu. Maka, jika engkau tidak keberatan, Cin-moi, marilah kita lanjutkan kerja sama ini untuk menentang mereka. Setidaknya, sampai urusan ini selesai dan aku akan menemanimu kembali ke tempat tinggal orang tuamu, memberi kesempatan kepadaku untuk belajar kenal dengan mereka."

Sui Cin termenung.

Bagaimanapun juga, ia merasa suka kepada pemuda ini dan sudah menikmati perjalanan bersama yang penuh petualangan itu.

Rasanya tidak enak juga kalau kini membiarkan Hui Song bekerja sendiri menempuh bahaya besar menghadapi komplotan yang lihai itu.

Akhirnya ia mengangguk.

"Baiklah, aku akan membantumu sampai usaha pembunuhan terhadap Jenderal Ciang itu digagalkan."

Wajah yang cerah itu makin berseri dan sepasang mata pemuda itu bersinar-sinar ketika dia meloncat bangun dengan girang.

"Wah, terima kasih, Cin-moi! Aku memang tahu bahwa engkau adalah seorang pendekar wanita sejati!"

"Simpan pujian-pujianmu untuk lain kali, jangan dihabiskan sekarang. Yang penting, sekarang apa yang harus kita lakukan?"

"Untuk sementara ini, Menteri Liang sudah dapat diselamatkan dan tentu akan selalu dikawal ketat."

"Dan kalau engkau memberi tahu kepada Jenderal Ciang lalu pembesar itu selalu dikawal pasukan-pasukan yang kuat, penjahat-penjahat itu mampu berbuat apakah? Perlu apa kita harus bersusah payah lagi, Song-ko?"

"Engkau tahu, urusan ini bukan sekedar kejahatan biasa, melainkan komplotan yang menjadi antek dari Liu-thaikam, pembesar dalam istana yang korup dan jahat itu. Aku sudah menemui Jenderal Ciang dan beliau tidak merasa heran mendengar beritaku bahwa ada tokoh-tokoh sesat yang hendak membunuhnya, karena dia tahu betapa Liu-thaikam membencinya. Liu-thaikam harus ditumbangkan kekuasaannya, demikian kata Jenderal Ciang. Kalau tidak, pembesar keji itu akan semakin berani dan mungkin saja keselamatan kaisar sendiri kelak akan terancam oleh kejahatan Liu-thaikam dan antek-anteknya."

"Apa susahnya? Laporkan saja kejahatan Liu-thaikam kepada sri baginda kaisar agar dia ditangkap dan dihukum, habir perkara."

"Enak saja kau bicara, Cin-moi! Ketahuilah, menurut penuturan Jenderal Ciang, kedudukan thaikam itu amat tinggi dan celakanya, kaisar amat percaya kepadanya. Bahkan dia merupakan orang pertama yang dipercaya sri baginda kaisar. Melaporkannya begitu saja kepada kaisar bahkan akan mencelakakan si pelapor karena kaisar tidak akan percaya. Karena itulah, maka Ciang-goanswe minta bantuan dan kerja samaku untuk menghadapi para penjahat itu, memancing mereka agar turun tangan dan kita akan menghadapi mereka sehingga tidak sampai gagal seperti ketika para penjahat menyerbu Menteri Liang. Kita harus dapat menangkap hidup-hidup agar para penjahat itu dapat membuat pengakuan di depan kaisar sebagai saksi. Hanya dengan demikian maka kaisar akan percaya betapa jahat dan palsunya kepala thaikam itu dan dapat menjatuhkan hukuman. Nah, maukah engkau membantu agar usaha penting ini berhasil?"

"Bagaimana rencana jenderal itu?"

"Ciang-goanswe diam-diam memerintahkan agar seorang sahabatnya yang menjadi guru silat di kota Paofan, merayakan hari ulang tahunnya dan mengundangnya, juga mengundang para tokoh persilatan, baik dari golongan sesat maupun dari golongan bersih. Sebagai seorang bekas piauwsu dan juga sebagai guru silat, tidak terlalu menyolok kalau dia memberi kesempatan kepada para tokoh silat untuk menghadiri pestanya. Akan disiarkan berita bahwa pesta itu dihadiri oleh Jenderal Ciang sehingga komplotan itu tentu akan mendengarnya dan dapat dipastikan bahwa mereka akan turun tangan menyerang Jenderal itu di tempat pesta. Nah, di sinilah kita turun tangan pula menentang dan menangkap mereka, bersama dengan para pengawal yang diam-diam diselundupkan ke tempat itu."

"Bagus sekali, mari kita berangkat!"

Kata Sui Cin penuh semangat.

Gadis ini memang sejak kecil suka berkelahi, apalagi berkelahi menghadapi para penjahat dan dalam urusan menentang kejahatan, ia tidak pernah mengenal takut.

Sui Cin menunggang kudanya lagi, memakai payung karena panas matahari masih menyengat.

Hui Song berjalan di samping kuda, wajahnya berseri dan semangatnya berkobar.

Setelah kini didampingi Sui Cin, semangat pemuda ini semakin besar dan diapun tahu bahwa dia telah jatuh cinta kepada gadis ini, bahkan mungkin cintanya itu sudah bersemi ketika dia menganggap gadis ini seorang pemuda gembel.

Ang-kauwsu (guru silat Ang) memang mempunyai banyak kenalan.

Sebelum menjadi guru silat yang tinggal di kota Paofan, di waktu mudanya dia pernah bakerja sebagai kepala piauwau (pengawal barang) yang cukup terkenal di kota raja.

Sebagai piauwau, tentu saja dia banyak mengenal dunia hitam, mengenal para penjahat karena hal ini amat penting bagi pekerjaannya.

Karena bersahabat dan suka memberi hadiah, maka para penjahat tidak akan mengganggu kiriman barang-barang di bawah bendera piauwkiok yang dipimpinnya.

Kini usianya sudah enam puluh tahun dan ketika dia diundang oleh Jenderal Ciang yang sudah dikenalnya dan diberitahu tentang komplotan yang hendak membunuhi para pembesar yang setia, dia segera menyatakan kesetiaannya untuk membantu jenderal itu menumpas para penjahat.

Tentu saja hanya dengan cara mengadakan pesta ulang tahun ke enam puluh dan mengundang semua golongan sebagai pancingan agar para penjahat itu melihat kesempatan hadirnya Ciang-goanswe di situ dan berani turun tangan.

Dia sendiri tidak berani mencampuri karena begitu mendengar bahwa komplotan itu terdiri dari orang-orang Cap-sha-kui, nyali guru silat ini sudah terbang dan mukanya menjadi pucat ketakutan.

Siapa orangnya takkan ngeri mendengar nama Cap-sha-kui?

Berita tentang pesta ulang tahun Ang-kauwsu telah tersiar luas.

Diberikan bahwa Ang-kauwsu mengadakan pesta besar-besaran dan meriah, bahkan mengundang orang-orang penting, juga Jenderal Ciang dari kota raja akan hadir dalam pesta itu.

Juga diberitakan bahwa Ang-kauwsu membuka kesempatan kepada semua kawan di rimba raya untuk datang tanpa adanya surat undangan karena sukar menyampaikan surat undangan kepada mereka.

Berita ini cukup bagi kaum sesat bahwa Ang-kauwsu tidak melupakan mereka dan bahwa semua orang tokoh sesat akan diterima sebagai tamu terhormat kalau menghadiri pesta itu.

Tentu saja yang dimaksudkan dengan tokoh adalah mereka yang memiliki kepandaian cukup tinggi untuk menjadi tamu kehormatan Ang-kauwsu.

Sejak pagi pada hari yang ditentukan, ruangan besar yang merupakan tempat darurat, yaitu halaman depan rumah yang dibangun untuk tempat pesta, mulai dibanjiri tamu dari berbagai golongan.

Tidaklah sukar untuk menduga siapakah tamu-tamu dari golongen bersih dan siapa pula tamu dari golongan sesat karena sebagian besar dari para kaum sesat itu bersikap kasar dan congkak, Juga aneh-aneh pakaian dan sikap mereka.

Karena para undangan itu terdiri dari orang-orang dari kaum persilatan, maka tidak diadakan penggolongan tempat duduk bagi wanita dan pria.

Biarpun wanita, kalau wanita kang-ouw, tidak merasa canggung duduk di antara kaum pria.

Ada belasan orang wanita di antara para undangan itu yang duduknya berpencaran.

Di antara mereka terdapat seorang gadis yang sikapnya menonjol karena selain wajahnya angker dan galak, juga dara ini amat cantik dan datangnya sendirian saja ke dalam pesta itu.

Akan tetapi ketika ia memperkenalkan diri kepada tuan rumah sebagai seorang murid yang mewakili Cin-Ling-Pai, ia menjadi pusat perhatian orang di sekitarnya.

Cin-Ling-Pai, nama yang sudah amat terkenal.

Akan tetapi banyak pula yang merasa heran mengapa Cin-Ling-Pai diwakili oleh seorang gadis yang masih begitu muda, cantik jelita dan halus pula gerak-geriknya.

Yang dapat menunjukkan bahwa ia seorang ahli silat hanyalah sepasang pedang yang tergantung di punggung dan wajahnya yang angker itu.

Dara itu berusia sembilan belas tahun, pakaiannya ringkas namun cukup mewah dan bersih, sepatunya mengkilap, wajahnya manis sekali, dengan mulut yang kecil dan dagu yang meruncing, Matanya tajam galak dan rambutnya hitam dan lebat sekali, digelung ke atas merupakan sanggul yang besar dan diikat sutera kuning.

Kalau rambut itu dilepas sanggulnya, mungkin panjangnya sampai ke lutut.

Sepasang pedang panjang tipis melintang di kanan kiri pundak, tergantung pada punggung dan ini menambah kegagahannya.

Ketika Ang-kauwsu mendengar bahwa gadis cantik ini adalah wakil Cin-Ling-Pai yang memberi selamat kepadanya, dia lalu mengantar tamu ini ke sebuah meja di mana telah duduk tiga orang tamu lain, dua wanita dan seorang pria yang menjadi kenalan baiknya karena mereka itu adalah keluarga piauwsu di kota Paofan.

Dara Cin-Ling-Pai itu dipersilakan duduk dan gadis itu nampak lega karena memperoleh teman duduk yang cukup sopan dan yang usianya sekitar tiga puluhan, belum tua benar.

Ia memperkenalkan diri sebagai Tan Siang Wi dan segera bercakap-cakap dengan tiga orang semeja itu.

Tak jauh dari meja di mana Tan Siang Wi duduk, terdapat pula tiga orang pria sedang duduk bercakap-cakap.

Sukar dikatakan apakah mereka itu golongan sesat ataukan golongan bersih.

Pakaian mereka cukup rapi, dan jelas menunjukkan pakaian ahli-ahli silat karena ringkas dan sikap merekapun gagah.

Seorang di antara mereka sudah tua, jenggot kumis dan alisnya sudah putih namun tubuhnya masih tegap dan nampak kuat.

Dua orang lainnya yang duduk di kanan kirinya berusia empat puluh tahun lebih, rambut mereka dikuncir tebal dan wajah mereka nampak gagah dengan jenggot terpelihara rapi.

Akan tetapi, sikap tiga orang ini agak congkak dan hal ini dapat nampak pada pandang mata mereka yang ditujukan kepada para tamu yang hadir.

Bahkan setiap kali ada tamu datang, terutama tamu yang menunjukkan bahwa mereka ini datang dari golongan hitam, mereka bertiga bicara dan tertawa-tawa.

Pandang mata mereka yang ditujukan kepada tamu baru itu ketika tertawa-tawa menunjukkan bahwa tentu tamu baru itu yang menjadi bahan ketawa mereka.

Demikian pula ketika Tan Siang Wi muncul, mereka berbisik-bisik dan melirik ke arah gadis itu, tersenyum-senyum menyeringai dengan sikap kurang ajar sekali.

Karena Siang Wi tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, dara inipun tidak perduli.

Akan tetapi setelah ia duduk bersama tiga orang tamu dan kebetulan duduknya menghadap ke arah meja tiga orang itu, mulailah Siang Wi mengerutkan alisnya.

Ia melihat betapa tiga orang itu, terutama dua orang termuda, selalu memandang kepadanya dan sengaja mainkan mata mereka seperti lagak laki-laki yang hendak menggoda wanita.

Tentu saja Siang Wi menjadi mendongkol dan mula-mula ia memang membuang muka saja dan tidak mau balas memandang.

Akan tetapi, telinganya mulai dapat menangkap percakapan mereka itu di antara berisiknya suara para tamu lain.

Marahlah gadis ini.

Tan Siang Wi adalah murid tunggal dari Bin Biauw, isteri ketua Cin-Ling-Pai.

Seperti kita ketahui, Bin Biauw atau nyonya Cia Kong Liang ini adalah puteri bekas datuk sesat Tung-hai-sian, seorang Bangsa Jepang.

Setelah berbesan dengan ketua Cin-Ling-Pai, Tung-hai-sian mencuci tangan dan tidak lagi berkecimpung di dalam dunia sesat.

Puterinya, Bin Biauw, biarpun puteri seorang datuk sesat, adalah seorang gadis yang baik sehingga dapat menjatuhkan hati Cia Kong Liang.

Akan tetapi setelah kini mempunyai seorang murid, ternyata muridnya ini sedikit banyak mewarisi watak Tung-hai-sian.

Tan Siang Wi ini berwatak keras sekali, tidak pernah mau mengalah, agak tinggi hati dan angkuh walaupun ia selalu bertindak gagah dan menentang kejahatan.

Selain mewarisi ilmu dari Bin Biauw, ia juga menerima petunjuk-petunjuk dan ilmu silat dari ketua Cin-Ling-Pai sendiri maka dapat dibayangkan betapa lihainya Siang Wi.

Kelihaiannya membuat dara ini semakin tinggi hati, terutama terhadap golongan sesat yang dianggap musuhnya.

Tangannya berobah ganas kalau ia berurusan dengan kaum sesat dan sedikitpun ia tidak mau mengalah atau memberi hati.

Maka, selama satu dua tahun saja memasuki dunia kang-ouw, gadis ini telah dijuluki orang Toatbeng Sianli (Dewi Pencabut Nyawa) karena ganasnya terhadap musuh-musuhnya.

Agaknya karena kenyataan yang sudah didengarnya bahwa sukongnya, yaitu Bin Mo To di Cengto, adalah seorang bekas datuk sesat, gadis ini hendak membuktikan kepada semua orang di dunia bahwa dia adalah murid isteri ketua Cin-Ling-Pai, jadi seorang pendekar, bukan orang sesat!

Terdapat kecondongan hati kita untuk selalu menutupi kekurangan dan menonjolkan kelebihan kita.

Kita selalu ingin disebut baik.

Keinginan seperti ini selalu timbul karena kenyataan yang kita lihat bahwa keadaan kita adalah sebaliknya dari pada baik.

Hanya orang yang berkulit hitam sajalah yang selalu ingin disebut putih.

Hanya orang yang bodoh sajalah yang selalu ingin dianggap pintar, dan hanya orang yang melihat betapa kotor dirinya sajalah yang selalu ingin dianggap bersih dan baik.

Kita lupa bahwa justeru keinginan-keinginan untuk dianggap lain dari pada kenyataan ini yang seringkali mendorong kita untuk melakukan hal-hal yang buruk dan bodoh.

Kalau kita sadar akan kekotoran kita, maka kita akan berusaha membersihkannya, bukan dengan cara menyembunyikan atau menutupinya.

Kalau kita sadar bahwa kita bersih, maka kita akan menjaga agar kebersihan itu tidak ternoda kekotoran, bukan lalu menjadi tinggi hati dan merasa bersih dan baik sendiri karena perasaan demikian itu sudah menodai kebersihan itu sendiri.

Mengapa kita Kadang-kadang merasa ngeri untuk menghadapi dan melihat kenyataan apa adanya, betapa buruk dan kotor sekalipun kenyataan itu?

Menutupi kenyataan, melarikan diri dari kenyataan, jelas tidak akan dapat merobah keadaan itu.

"Ha-ha-ha!"

Seorang di antara tiga pria itu tertawa lagi sambil menyumpit dan makan kue yang mulai dihidangkan.

Wajah mereka mulai merah oleh arak.

"Agaknya Cin-Ling-Pai sudah kehabisan jago jantan maka mengeluarkan jago betina, Heh-heh!"

Ucapan itu sebenarnya lebih merupakan kelakar di antara mereka sendiri karena diucapkan perlahan dan dimaksudkan untuk mereka dengar sendiri, dan ketiganya tertawa bergelak sambil melontarkan pandang ke arah meja Siang Wi.

Akan tetapi karena mencurahkan perhatian ke arah mereka, Siang Wi dapat menangkap kata-kata itu dan marahlah gadis ini.

Ia tidak mampu lagi mengendalikan dirinya dan sekali melompat, ia telah meloncati mejanya dan tahu-tahu, seperti seekor burung saja ia sudah hinggap di atas lantai dekat meja tiga orang itu!

"Kalian tadi bilang apa?"

Bentaknya sambil berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang dan mata tajam penuh kemarahan menatap mereka.

Tiga orang itu terkejut.

Tak mereka sangka bahwa gadis itu akan dapat mendengar ucapan yang menghina Cin-Ling-Pai tadi, juga mereka terkejut melihat gadis itu demikian gesitnya meloncati meja dan kini berdiri di depan mereka dengan sikap mengancam.

"Eh, kami bilang apa? Tidak ada sangkut-pautnya denganmu!"

Seorang di antara mereka menjawab dan melanjutkan jepitan sumpitnya pada kue di atas piring.

"Bagus! Kalian menghina Cin-Ling-Pai dan masih berani bilang tidak ada sangkut-pautnya denganku? Biarpun Cin-Ling-Pai diwakili seorang wanita setidaknya jauh lebih gagah dari pada kalian ini banci-banci pengecut yang tidak berani mengakui perbuatannya!"

Para tamu yang duduk di sekitar tempat itu menjadi kaget dan merekapun menoleh dengan penuh perhatian dan wajah mereka tertarik sekali.

Dalam pertemuan antara para orang-orang kang-ouw sudah lumrah apabila terjadi keributan dan perkelahian.

Mereka bahkan sebagian besar mengharapkan terjadinya hal ini, karena dalam pertemuan para ahli persilatan, terasa kurang sedap dan kurang bumbu kalau tidak terjadi keributan dan perkelahian.

Tiga orang itu sebenarnya bukan orang-orang sembarangan.

Kakek yang berjenggot putih itu adalah seorang tokoh kang-ouw yang terkenal yang berjuluk Huangho Lo-eng (Pendekar Tua Sungai Kuning) bernama Pui Tek.

Adapun dua orang laki-laki gagah di sampingnya adalah dua orang muridnya, juga amat terkenal sebagai Huangho Sianghouw (Sepasang Harimau Sungai Kuning).

Mereka bukan penjahat dalam arti kata memiliki pekerjaan jahat seperti perampok atau bajak, akan tetapi karena orang-orang takut kepada mereka, maka dengan mudah mereka memperoleh hasil dari hadiah yang mereka terima dari para pedagang demi keselamatan dan keamanan.

Mereka adalah semacam tukang-tukang pukul yang disegani.

Guru mereka, Huangho Lo-eng Pui Tek pernah dalam suatu perkelahian dikalahkan oleh Cia Kong Liang ketua Cin-Ling-Pai.

Walaupun bukan merupakan permusuhan pribadi dan tidak ada dendam secara terbuka, namun kekalahan itu membuat Pui Tek mendongkol dan tidak suka kepada Cin-Ling-Pai, menganggap ketua Cin-Ling-Pai yang memang keras wataknya itu terlalu sombong.

Dengan sendirinya, kedua orang muridnya juga tidak suka kepada Cin-Ling-Pai, maka tidak heranlah kalau mereka tadi mengeluarkan kata-kata yang nadanya tidak bersahabat terhadap Cin-Ling-Pai sehingga membuat Siang Wi menjadi marah sekali.

Kini, di depan meja mereka berdiri seorang gadis Cin-Ling-Pai yang bertolak pinggang dan memaki mereka banci pengecut di depan begitu banyak orang.

Tentu saja wajah tiga orang itu menjadi merah sekali dan kemarahan mulai memenuhi hati mereka.

Akan tetapi, bagaimanapun juga mengingat akan julukan Pui Tek yang masih memakai Lo-eng (Pendekar Tua), dua orang harimau itu tentu saja lebib condong merasa diri mereka pendekar dari golongan bersih dari pada sebagai golongan hitam, maka ada rasa harga diri pada mereka yang membuat mereka merasa malu kalau harus ribut-ribut dan berkelahi melawan seorang gadis yang masih remaja, yang usianya tentu belum ada dua puluh tahun.

Mereka adalah jagoan-jagoan di sepanjang Sungai Kuning, tentu memalukan kalau harus berkelahi melawan seorang dara remaja.

Akan tetapi didiamkan sajapun tidak mungkin setelah gadis itu memaki mereka sebagai banci pengecut.

"Bocah perempuan kurang ajar, makanlah ini!"

Bentak orang yang menyumpit kue itu dan sekali tangan kanan yang memegang sumpit bergerak, kue sepotong yang disumpitnya itu meluncur ke arah muka Siang Wi dengan kecepatan kilat!

"Capp!"

Dara itu menggerakkan tangan kanan dan menjepit ke arah kueh itu.

Dengan tepat sekali telunjuk dan jari tengah tangan kanannya telah menjepit kueh itu dan ia melakukan ini sambil tersenyum mengejek.

"Makanlah sendiri!"

Dara itu membentak dan tiba-tiba tangannya bergerak.

Kueh itu meluncur cepat ke arah muka orang yang menyambit tadi.

Orang itu cepat menggerakkan sumpit untuk menjepit kembali, akan tetapi begitu bertemu sumpit, kue itu hancur dan tentu saja hancuran kue itu menyambar dan mengenai muka orang itu.

Ternyata sebelum membalas dengan timpukan, Siang Wi telah lebih dulu menggunakan tenaga jari tangan membikin kue itu remuk bagian dalamnya.

Hancurnya kue menyerang mata, hidung dan mulut, membuat orang itu repot membersihkan mukanya sambil memaki-maki!

Orang kedua yang melihat saudaranya mendapat malu, sudah bangkit dan membentak marah.

"Bocah perempuan, berani kau menghina orang?"

Dan sekali kepalanya bergerak, rambut yang dikuncir tebal itu menyambar ke depan, mengeluarkan suara bersuitan dan memukul ke arah leher Siang Wi.

Sungguh merupakan serangan yang aneh akan tetapi juga berbahaya karena thouwcang (kuncir) yang digerakkan dengan tenaga sinkang ini tak kalah ampuhnya dibandingkan dengan senjata keras.

Orang itu sungguh terlalu memandang rendah kepada Siang Wi maka dia berani selancang itu menyerang dengan kuncirnya.

Kalau tidak begitu tentu dia tidak berani bergerak secara sembrono seperti itu.

"Wuuuuttt..."

Kuncir itu meluncur lewat ketika Siang Wi merendahkan tubuh mengelak dan begitu kuncir menyambar lewat, tangan kiri Siang Wi mencuat dan tahu-tahu kuncir itu sudah dapat dicengkeramnya!

Sekali sentakan, terpaksa kepala orang itu tertunduk dan Siang Wi sudah mengangkat lututnya untuk menghajar muka orang!

Tentu sedikitnya hidung orang itu akan berdarah kalau saja saudaranya tidak cepat menubruk dengan pukulan tangan ke arah punggung Siang Wi.

"Huh, pengecut curang!"

Bentak Siang Wi yang terpaksa melepaskan orang pertama dengan mendorongnya mundur, kemudian sambil meloncat dara itu membalik dan menangkis pukulan orang kedua.

(Lanjut ke

Jilid 11) Asmara Berdarah (Seri ke 08 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11

"Dukk!"

Dua tenaga besar bertemu dan akibatnya, orang berjenggot itu menyeringai kesakitan dan meloncat ke belakang.

Tak disangkanya pertemuan lengan itu membuat lengannya kesakitan dan seperti lumpuh saking kuatnya lengan kecil milik nona itu.

Kini tahulah dua orang Harimau Sungai Kuning itu bahwa lawannya, biarpun wanita, biarpun masih muda sekali, ternyata memiliki ilmu kepandaian yang cukup hebat.

Kini para tamu menjadi semakin gembira, dan tuan rumah, yaitu Ang-kauwsu yang juga melihat pertikaian itu diam saja karena diapun ingin melihat kesudahannya.

Guru silat ini juga memiliki penyakit yang sama dengan orang-orang dari kalangan persilatan, yaitu suka melihat adu silat.

Pula, diam-diam diapun merasa tidak senang melihat sikap para jagoan Huangho yang terkenal kasar dan banyak lagak itu tadi menghina utusan Cin-Ling-Pai.

Dia mengharapkan jagoan-jagoan sombong itu menemui batunya walaupun hatinya khawatir melihat bahwa di situ terdapat pula Huangho Lo-eng yang dia tahu amat lihai sekali.

"Budak perempuan kurang ajar! Berani engkau menghina kami di tempat umum? Hayo cepat berlutut minta maaf kalau tidak ingin menerima hajaran kami!"

Bentak seorang di antara dua jagoan yang mukanya terkena hancuran kue tadi.

Bagaimanapun juga, dia dan kawannya masih sungkan melawan seorang gadis, apalagi sekarang mereka berdua telah memegang senjata andalan mereka, yaitu sebatang tombak besar gagang panjang.

Kalau dara itu mau minta maaf, berarti muka mereka telah tercuci, atau kalau dara itu tetap hendak melawan, berarti mereka sudah memberi kesempatan kepadanya untuk minta maaf.

Seorang seperti Siang Wi, mana mengenal minta maaf?

Hatinya terlalu keras untuk mau mengalah, apalagi terhadap orang-orang yang sudah berani menghinanya dan menghina Cin-Ling-Pai.

Ia tersenyum mengejek dan mukanya menjadi semakin dingin, sepasang matanya mengeluarkan sinar kilat.

"Dua monyet busuk, dengarlah baik-baik. Kalian yang telah menghina Cin-Ling-Pai dan kalau kalian kini berlutut minta ampun, barulah nonamu hendak mempertimbangkan apakah kalian dapat diampunkan. Kalau tidak, aku akan menghajar kalian!"

Ucapan ini sungguh amat hebat.

Bukan hanya menantang terang-terangan di depan orang banyak itu, bahkan menghina.

Mana bisa Huangho Sianghouw, dua jagoan itu mau menerima begitu saja?

"Bocah setan, engkau bosan hidup!"

Teriak seorang di antara mereka dan golok besar bergagang panjang itu menyambar dahsyat ke leher Siang Wi.

Tentu saja dara perkasa itu tidak sudi lehernya dibabat begitu saja.

Ia cepat mengelak sambil membalikkan tubuh menendang meja di depannya.

Kakek Huangho Lo-eng yang duduk di belakang meja itu cepat menghindar dengan loncatan gesit ke kanan sehingga dia tidak sampai terkena tumpahan makanan dan arak.

Akan tetapi dia bukan hanya meloncat begitu saja, melainkan cepat meraih dan dia sudah berhasil menangkap kaki meja dan menaruh meja itu di samping.

Gerakan ini saja membuktikan kecepatan dan kelihaian jago tua ini.

Kini terdapat ruang agak luas bagi Siang Wi yang menghadapi dua orang lawannya.

Dua orang harimau itu mulai menyerang dengan golok gagang panjang mereka.

Semua orang memandang dengan tegang dan juga agak khawatir karena Siang Wi tidak mau mempergunakan pedangnya.

Dara ini tadi memang melolos sepasang pedangnya, akan tetapi bukan dicabut untuk melawan, melainkan ia letakkan di atas mejanya sendiri agar sepasang senjata itu tidak mengganggu gerakannya, kemudian ia kembali ke hadapan dua orang lawannya, melawan dengan tangan kosong.

"Anak itu terlalu sembrono!"

"Terlalu sombong bisa merugikannya."

"Tapi, ia kelihatan lihai sekali."

Demikianlah para penonton saling berbisik melihat betapa dara itu menghadapi Huangho Sianghouw dengan tangan kosong, padahal kedua orang lawan itu menggunakan senjata tajam yang bergagang panjang.

Dua orang jagoan itu sendiri merasa kikuk dan sungkan.

"Bocah gila, hayo pergunakan pedangmu!"

Bentak mereka.

"Melawan dua ekor monyet tua macam kalian tidak perlu pakai pedang!"

Jawab Siang Wi yang memang tinggi hati.

Dua orang itu tak dapat lagi menahan kemarahan hati mereka.

Keduanya lalu menyerang dengan golok mereka.

Senjata itu mengeluarkan suara bercuitan dan berdesing-desing, dan terbentuk dua gulungan sinar lebar yang menyambar-nyambar.

Akan tetapi, para tamu menjadi bengong ketika mereka melihat betapa dara itu menggerakkan tubuhnya dan seperti seekor burung walet saja gesitnya beterbangan di antara sambaran kedua golok itu!

Bukan main indahnya gerakan dara itu dan tak terasa lagi keluar pujian dari mulut para tamu yang sudah tinggi ilmunya.

Hui Song dan Sui Cin baru saja menyelinap ke dalam rombongan tamu, memilih tempat di sudut.

Mereka mempergunakan kesempatan selagi keadaan menjadi kacau karena perkelahian itu, di mana semua tamu mencurahkan perhatiannya ke arah perkelahian untuk menyelinap masuk dan tanpa menemui tuan rumah mereka sudah mengambil tempat duduk di sudut yang agak tersembunyi oleh satu di antara tiangtiang penyangga bangunan darurat itu.

Mereka juga tertarik menonton ke arah perkelahian.

"Hemm, berani benar gadis itu menghadapi pengeroyokan dua orang lawan yang bersenjata panjang dengan tangan kosong saja."

Kata Sui Cin setelah melihat dengan teliti dan mendapat kenyataan bahwa dua orang bersenjata golok panjang itu tak boleh dipandang ringan.

"Sumoi takkan kalah,"

Kata Hui Song lirih dan Sui Cin terkejut.

"Sumoimu...?"

Ia memandang lebih teliti dan kini iapun mengenal gerakan kaki dan tangan gadis itu, walaupun Kadang-kadang gerakan itu berobah aneh.

Masih ada dasar-dasar ilmu silat Cin-Ling-Pai dalam gerakan silat gadis itu, akan tetapi sudah bercampur dengan ilmu silat lain yang tidak dikenalnya.

Memang sesungguhnyalah.

Setelah menikah dengan Cia Kong Liang, Bin Biauw mendapat banyak petunjuk dari suaminya dan iapun mempelajari dasar-dasar ilmu silat Cin-Ling-Pai yang kokoh kuat.

Maka, ketika ia melatih Siang Wi, tentu saja dasar-dasar ilmu silat Cin-Ling-Pai juga diajarkan, bahkan Siang Wi juga menerima gemblengan dari ketua Cin-Ling-Pai sendiri.

"Ya, namanya Tan Siang Wi,"

Jawab Hui Song sederhana.

Dia tidak merasa girang bertemu dengan sumoinya.

Pemuda ini tahu benar bahwa sumoinya itu sudah sejak lama sekali menaruh perhatian kepadanya dan dalam sikap dan gerak-gerik dara yang pendiam itu terdapat tanda-tanda bahwa Siang Wi mencintanya.

Hal inilah yang membuat dia merasa tidak enak kalau bertemu dengan sumoinya.

Diapun menyayang sumoinya ini, akan tetapi sumoinya berwatak keras, terlalu berani dan agak angkuh.

Dia tidak mencinta sumoinya, maka merasa semakin tidak enak setelah tahu bahwa sumoinya itu jatuh cinta kepadanya.

"Hemm, ia cantik dan gagah!"

Sui Cin memuji. Memang gadis itu manis sekali, terutama pinggangnya amat ramping.

"Ya, tapi keras hati dan galak."

Sui Cin menahan senyum dan mengerling ke arah wajah pemuda itu, akan tetapi Hui Song tidak sedang bergurau melainkan memandang ke arah perkelahian dengan wajah serius dan tegang.

Bagaimanapun juga, memang Sui Cin benar.

Terlalu sembrono menghadapi dua lawan tangguh yang bersenjata panjang itu dengan tangan kosong.

"Haaaiiiittt..."

Tiba-tiba Siang Wi memekik, tangan kanan memukul gagang tombak lawan yang menyerang dari kanan sedangkan kaki kiri mendahului lawan kedua, menendang ke arah dada.

"Bukk... plakkk!"

Lawan pertama terpental goloknya sedangkan lawan kedua tidak mampu menghindar.

Serangan atau gerakan Siang Wi memang hebat, seperti seekor burung rajawali mementang sayap, kedua lengannya berkembang dan kaki kirinya menendang ke depan selagi tubuhnya masih melayang.

Orang yang kena tendang dadanya itu terbanting roboh dan sebelum orang kedua hilang kagetnya, kaki kanan menggantikan kaki kiri yang turun untuk menyambar ke depan.

"Desss..."

Orang kedua juga terbanting karena perutnya dicium ujung sepatu Siang Wi.

Dua orang itu meringis kesakitan dan merayap bangun, sementara itu Huangho Lo-eng yang melihat betapa dua orang muridnya dirobohkan seorang gadis muda, mukanya berobah merah sekali.

Dia sudah bangkit berdiri, mengebutkan ujung jubahnya dan melangkah maju menghampiri Siang Wi.

Akan tetapi sebelum guru dan dua orang muridnya ini sempat bicara atau bergerak, tiba-tiba muncul seorang pemuda tampan yang segera menghadapi tiga orang itu sambil menjura.

"Sam-wi-enghiong, saya mewakili tuan rumah menyampaikan permohonan maaf, harap samwi menyudahi urusan ini sampai di sini agar tidak mengganggu jalannya pesta."

Kemudian pemuda itu membalik dan menghadapi Siang Wi sambil menjura pula.

"Nona, harap suka mundur dan mengakhiri keributan ini."

Tanpa setahu orang, pemuda itu berkedip.

Sejenak Siang Wi terbelalak.

Tentu saja dia mengenal suhengnya!

Akan tetapi sebelum dia menegur, Hui Song mengedipkan mata, dan Siang Wi yang cukup cerdik itu maklum bahwa suhengnya tidak ingin dikenal orang.

Maka iapun mengangguk dan kembali ke mejanya, menggantung kembali siang-kiamnya di punggung dan duduk tenang, bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Tentu saja Huangho Lo-eng masih penasaran.

Dua orang muridnya dirobohkan seorang anak perempuan di tempat pesta, hal ini sungguh amat menyakitkan hati dan menjatuhkan pula martabat dan nama besarnya, maka dia harus turun tangan membersihkan noda itu.

Akan tetapi, kini muncul pemuda yang mewakili tuan rumah minta agar keributan jangan dilanjutkan.

Selagi kakek ini merasa serba salah, tiba-tiba terdengar seruan di luar.

"Paduka Jenderal Ciang telah tiba..."

Mendengar ini, semua orang menengok keluar dan Ang-kauwsu sendiri bersama beberapa orang penyambut bergegas lari keluar untuk menyambut datangnya tamu agung ini.

Seorang jenderal adalah seorang perwira yang berpangkat tinggi, apa lagi datang dari kota raja, maka tentu saja merupakan seorang tamu agung yang paling terhormat.

Hui Song dan Sui Cin sudah duduk kembali dan mereka berdua menandang penuh kewaspadaan.

Seperti sudah mereka rencanakan ketika keduanya pergi menghadap Jenderal Ciang, mereka berdua bersama belasan orang pengawal pilihan menyelundup ke tempat pesta dan akan berjagajaga kalau ada orang melakukan serangan gelap.

Sementara itu sang jenderal sendiri datang dikawal enam orang pengawal pilihan yang dipercaya.

Agaknya belum puas dengan semua ini, Jenderal Ciang juga mengenakan lapisan baja di balik baju kebesarannya sehingga tubuhnya akan kebal terhadap serangan senjata tajam.

Saat yang sudah dinanti-nantikan banyak orang ini tiba!

Tentu saja terjadi ketegangan hebat di dalam dada mereka yang memiliki kepentingan dengan kedatangan jenderal ini.

Seperti telah mereka sepakati, Sui Cin memasang mata memandang ke kiri dan Hui Song ke kanan, siap untuk turun tangan kalau melihat orang yang hendak melakukan serangan gelap kepada jenderal itu.

Tadipun mereka sudah memasang mata mencari-cari, akan tetapi mereka tidak melihat adanya tokoh-tokoh Cap-sha-kui yang mereka kenal, walaupun ada beberapa orang dari Hwa-I Kai-Pang mereka lihat menyelinap dalam pakaian biasa atau menyamar sebagai orang biasa, bukan pengemis.

Mereka merasa yakin bahwa di antara banyak tamu itu terdapat tokoh-tokoh kaum sesat yang lihai.

Akan tetapi, tidak terjadi sesuatu ketika jenderal itu datang sampai diantar oleh tuan rumah menuju ke kursi kehormatan di panggung yang agak tinggi.

Sementara itu, Siang Wi yang tadi memandang ke arah suhengnya, merasa heran dan alisnya berkerut ketika ia melihat suhengnya berbisik-bisik dengan seorang gadis yang cantik jelita!

Mereka berbisik-bisik demikian akrabnya dan perasaan tidak senang memenuhi hati gadis yang jatuh cinta ini.

Perasaan cemburu membakar dadanya dan biarpun tadi ia mengerti akan isyarat suhengnya dan iapun berdiam diri, kini perasaan cemburu membuat ia cepat bangkit berdiri, meninggalkan teman-teman semeja dan langsung saja menghampiri Hui Song dan Sui Cin yang duduk di sudut, di belakang tiang.

"Suheng, siapakah ia ini?"

Tanyanya menuding ke arah muka Sui Cin dengan alis berkerut dan mulut cemberut mata menantang.

"Ssttt... diamlah, sumoi..."

Hui Song berbisik kaget, lalu menarik tangan sumoinya sehingga gadis itu terduduk di kursi kosong dekatnya.

"Kau ikut menjaga keselamatan jenderal itu, jangan banyak tanya..."

"Tapi... tapi siapa perempuan ini...?"

Siang Wi masih berbisik dan matanya mengerling ke arah Sui Cin dengan wajah membayangkan ketidakpuasan.

"Diam kau, cerewet!"

Sui Cin balas menghardik dengan suara berbisik.

Siang Wi terkejut setengah mati dan mukanya menjadi pucat lalu merah seperti dibakar.

Hatinya panas mendengar ada orang berani bersikap seperti itu menghardiknya dengan kasar.

Tentu saja ia hendak membalas akan tetapi pada saat itu terdengar ledakan-ledakan keras dan apipun berkobar!

"Kebakaran!

Kebakaran..."

Para tamu menjadi panik dan semua orang bangkit berdiri, ada yang mulai lari ke sana-sini, berdesakdesakan dan keadaan menjadi semakin kacau-balau ketika terjadi perkelahian di sana-sini.

Sui Cin dan Hui Song sudah meloncat ke tengah, mendekati Jenderal Chiang.

Ternyata para pengawal sudah mulai berkelahi melawan beberapa orang di antara tamu dan kini dari luar bermunculan tokoh-tokoh Cap-sha-kui!

Sui Cin mengenal Koai-pian Hek-mo, Hwa-hwa Kuibo, Kiu-bwee Coa-li, Kui-kok Lomo, Kui-kok Lobo dan Tho-tee-kwi.

Mereka ini tadi menerjang maju seperti berlomba hendak membunuh Jenderal Ciang.

Akan tetapi para pengawal, baik yang enam orang maupun yang belasan orang yang menyamar, menyambut mereka.

Betapapun juga, saking lihainya para penyerang, masih ada senjata rahasia menyambar dan mengenai dada sang jenderal, akan tetapi karena pembesar itu memakai perisai di balik bajunya, senjata itu mental kembali.

Sebelum para penyerang yang jumlahnya ada dua puluh orang itu dapat mengepung sang jenderal, Hui Song, Sui Cin dan diikuti pula oleh Siang Wi sudah tiba di situ.

Hui Song dan Sui Cin yang bertangan kosong mengamuk melindungi Jenderal Ciang yang juga sudah mencabut pedang panjangnya.

"Goanswe, mari keluar!"

Hui Song berteriak sambil menggandeng tangan jenderal itu dengan tangan kirinya.

"Sui Cin, engkau di sebelah kirinya."

Dara itupun menggamit tangan kiri jenderal itu dengan tangan kanannya.

"Sumoi, kau lindungi kami keluar!"

Teriak pula Hui Song kepada sumoinya.

Siang Wi tidak tahu apa yang terjadi, akan tetapi dengan patuh ia mentaati perintah suhengnya.

Ia mencabut sepasang pedangnya melindungi mereka berdua yang berusaha untuk membawa Jenderal Ciang keluar dari tempat itu.

Akan tetapi, Huangho Lo-eng sudah meloncat menghadapi Siang Wi.

"Hemm, bocah sombong, sekarang tiba saatnya aku membalas kekalahan dua muridku!"

Katanya dan kakek ini menerjang ke depan.

Melihat ini, Hui Song menjadi marah.

Kakek ini tidak perduli akan keributan dan hanya mengingat keperluan sendiri saja, keperluan dendam!

Demikian pula Sui Cin juga marah melihat lagak kakek ini.

Mereka berdua seperti telah bersepakat saja, tiba-tiba menerjang maju dan menampar ke arah Huangho Lo-eng.

Kakek itu terkejut ketika merasa ada angin menyambar dari kanan kiri, maklum bahwa dia diserang oleh dua orang secara hebat sekali.

"Uhhhh!"

Dia mengerahkan tenaga ke dalam dua lengannya dan menangkis sambil mendorong.

"Desss..."

Akibatnya, tubuh kakek itu terjengkang dan menimpa meja kursi.

Dia memandang dengan bengong, melongo melihat bahwa yang merobohkan dia adalah seorang pemuda dan seorang gadis lain yang kini kembali menggamit Jenderal Ciang untuk keluar, dilindungi oleh Siang Wi yang memutar sepasang pedangnya.

Beberapa orang penjahat, agaknya anggauta Hek-I Kaipang karena di antaranya terdapat Bhe Hok si gendut, hendak mencegah Hui Song membawa jenderal itu keluar.

Siang Wi menyerang mereka dan dara inipun dikeroyok.

Maklum akan besarnya bahaya bagi sang jenderal kalau tidak cepat-cepat keluar, Hui Song dan Sui Cin cepat menarik tangan jenderal itu menyelinap di antara banyak orang, menangkis semua serangan dan akhirnya merekapun berhasil keluar.

Setelah tiba di luar, Jenderal Ciang mengeluarkan terompet dan ditiupnya terompet itu berkali-kali.

Bagaikan datangnya air bah, bermunculanlah barisan pendam yang memang sudah sejak tadi dipasang oleh jenderal yang berpengalaman itu di sekeliling tempat itu dan tempat itupun sudah terkurung rapat!

Jenderal Ciang dengan dikawal oleh Hui Song dan Sui Cin, kini berdiri di atas batu besar, berteriak dengan suara lantang.

"Hentikan semua perkelahian di dalam! Semua penyerbu agar menyerah!"

Akan tetapi, para penjahat yang tadi menyerbu dan hendak membunuh jenderal itu, malah semakin mengamuk karena mereka merasa penasaran sekali bahwa rencana yang sudah mereka atur dengan rapi itu menemui kegagalan.

Dan karena tempat itu penuh dengan orang-orang dunia persilatan, maka begitu terjadi pertempuran, orang-orang itupun banyak pula yang terseret dan berkelahi sendiri!

Tentu saja orang-orang dari golongan sesat membantu rekan-rekan mereka tanpa mereka ketahui sebabsebab perkelahian, dan orang-orang yang merasa dirinya pendekar atau yang menentang kaum sesat segera pula melawan mereka.

Hal ini membuat tokoh-tokoh lihai seperti Cap-sha-kui itu memperoleh kesempatan banyak untuk merobohkan dan membunuh orang.

"Kalian sudah dikepung ratusan orang pasukan! Kalau tidak menyerah dan melempar senjata, akan diambil tindakan kekerasan!"

Kembali terdengar suara jenderal itu.

Ketika para tokoh sesat yang mengamuk di dalam itu tidak mau juga mentaati perintahnya, Jenderal Ciang lalu mengeluarkan aba-aba memerintahkan pasukannya menyerbu ke dalam.

Hui Song, Sui Cin, dan Siang Wi juga ikut menyerbu bersama pasukan karena Hui Song ingin menangkap hidup-hidup beberapa orang tokoh sesat untuk dijadikan saksi tentang pengkhianatan Liu Kim atau Liu-thaikam.

Ketika para perajurit menyerbu, suasana menjadi semakin kacau dan geger.

Dan pada saat itu, terdengar suara melengking panjang dari luar tempat pesta yang berobah menjadi tempat pertempuran itu.

Suara lengkingan panjang dari luar ini disusul oleh ledakan-ledakan benda yang dilempar dari luar.

Begitu meledak, benda-benda yang dilempar dari luar itu mengeluarkan asap hitam yang tebal sehingga suasana menjadi semakin kacau.

"Cepat lolos dari atas..."

Terdengar teriakan suara yang nyaring, mengatasi suara kegaduhan itu.

Mendengar seruan ini, enam orang tokoh Cap-sha-kui berloncatan naik ke atas atap yang sudah dibuka dari atas.

Hui Song, Sui Cin dan Siang Wi melihat pula hal ini dan melihat bahwa di atas berdiri bayangan dua orang, seorang kakek tinggi kurus bertongkat dan seorang pemuda tinggi tegap.

Pemuda itulah yang membantu enam orang Cap-sha-kui lolos dengan menyambar tangan mereka dan menariknya ke atas setelah mereka itu berloncatan dan hampir tidak mencapai tempat yang amat tinggi itu.

Apalagi atap itu adalah atap darurat terbuat dari bambu sehingga tidak begitu kuat dan ada bahayanya mereka akan terjeblos lagi ke bawah.

Untung ada pemuda itu yang menyambut mereka dan menarik mereka keluar.

"Kejar..."

Hui Song yang merasa penasaran itu lalu berlompatan keluar diiringkan sumoinya dan Sui Cin dan dari luar mereka lalu berloncatan naik ke atas atap, Hui Song tidak begitu bodoh untuk menyusul naik dari lubang atap itu selagi musuh-musuh yang lihai itu berada di luar lubang karena tentu mereka itu akan mudah menyambutnya dengan serangan berbahaya.

Ketika tiga orang muda perkasa itu tiba di atas atap, sebagian dari tokoh-tokoh Cap-sha-kui berloncatan ke atas genteng rumahrumah lain, sedangkan di atas atap itu masih terdapat kekek kurus, pemuda itu dan Kiu-bwe Coali bersama ketua Kui-san-kok dan isterinya.

"Penjahat-penjahat keji, kalian hendak lari ke mana?"

Hui Song membentak dan segera menyerang ke arah pemuda tinggi tegap itu.

"Kau...? Kau seorang tokoh sesat...?"

Sui Cin juga berseru ketika ia mengenal pemuda itu sebagai pemuda yang pernah menyelamatkannya dari malapetaka ketika ia akan diperkosa Sim Thian Bu.

Akan tetapi ia hanya meloncat mendekat, tidak berani menyerang seperti yang dilakukan Hui Song.

Sementara itu, Siang Wi juga sudah mencabut sepasang pedangya kembali dan menyerang Kiu-bwe Coali.

"Sing... singg... tarrr..."

Sepasang pedang yang menyambar-nyambar itu tertahan oleh ledakan pecut ekor sembilan di tangan nenek ular yang lihai itu.

Sementara itu, pemuda yang ternyata adalah Siangkoan Ci Kang, menyambut serangan Hui Song dengan tenang, menangkisnya dari samping.

"Dukk!"

Tangkisan itu tepat menyambut pukulan Hui Song dan akibatnya, keduanya terjeblos ke dalam atap yang menjadi jebol di bawah kaki mereka!

Hui Song terkejut bukan main dan cepat melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik beberapa kali baru dia dapat mencegah tubuhnya terjatuh ke bawah, ke dalam ruangan di mana masih terjadi pertempuran.

Dan ketika Siangkoan Ci Kang terjeblos dan tubuhnya terjatuh ke bawah, tiba-tiba saja kakek tinggi kurus itu menggerakkan tongkatnya dan tongkat itu dapat mengait kaki pemuda itu dan menempelnya sehingga pemuda itu terhindar dari jatuh ke bawah.

Bukan main cepatnya gerakan kakek tinggi kurus itu ketika tiba-tiba dia menggerakkan tongkat lagi.

Tongkatnya menyelonong di antara Kiu-bwe Coali dan Siang Wi dan ketika sebatang pedang di tangan kiri Siang Wi bertemu tongkat, gadis ini berteriak kaget karena ada getaran, hebat membuat tangannya hampir saja melepaskan pedang.

Terpaksa iapun melangkah mundur dan kesempatan ini dipergunakan oleh kakek itu untuk berseru.

"Kita pergi!"

Hui Song menahan napas dan tidak mau mengejar ketika melihat kakek tinggi kurus, pemuda perkasa, Kiu-bwe Coali dan sepasang suami isteri Kui-san-kok itu berloncatan pergi.

Dia tahu betapa lihainya mereka itu, terutama pemuda dan kakek tinggi kurus.

Mereka berdua itu ditambah tiga orang tokoh Cap-sha-kui sungguh merupakan lawan yang terlalu berat bagi dia, Sui Cin dan Siang Wi.

Juga Sui Cin diam saja karena ia masih tertegun melihat betapa pemuda yang pernah menyelamatkannya itu ternyata adalah seorang tokoh sesat dan agaknya tepat seperti yang pernah diceritakan Hui Song kepadanya.

Kakek tinggi kurus yang matanya terbuka tanpa berkedip itu tentulah yang bernama Siangkoan Lojin alias Si Iblis Buta dan pemuda itu tentulah puteranya.

Akan tetapi Siang Wi yang sudah hilang kagetnya, melihat mereka melarikan diri, segera berseru.

"Iblis-iblis busuk, kalian hendak lari ke mana?"

Dan iapun meloncat ke depan dan melakukan pengejaran.

"Sumoi, jangan kejar..."

Hui Song berseru sambil meloncat ke depan untuk mencegah sumoinya.

Mendengar suara suhengnya yang setengah membentak, Siang Wi terkejut dan menahan kakinya.

Pada saat itu, serombongan perajurit yang berada di bawah melepaskan anak panah ke arah para penjahat yang melarikan diri.

Akan tetapi, mereka itu hanya mengebutkan tangan dan semua anak panah runtuh ke bawah!

Sebentar saja, para penjahat itu telah berhasil meloloskan diri.

Dengan bantuan pemuda itu dan ayahnya yang buta, kembali enam orang tokoh Cap-sha-kui dapat lolos dari kepungan pasukan yang kuat!

Hui Song merasa kecewa, akan tetapi dia teringat bahwa di bawah masih terdapat banyak penjahat, terutama orang-orang Hwa-I Kai-Pang yang menyamar.

Merekapun dapat dijadikan saksi, pikirnya, maka dia lalu mengajak Sui Cin dan Siang Wi untuk kembali ke dalam ruangan di mana masih terjadi pertempuran hebat.

Akan tetapi, tanpa adanya para tokoh Cap-sha-kui, akhirnya para penjahat itu dapat dirobohkan dan ditangkap.

Sui Cin, Hui Song dan Siang Wi masing-masing berhasil menangkap seorang penjahat anggauta Hwa-I Kai-Pang, bahkan Hui Song menotok roboh Bhe Hok, tokoh Hwa-I Kai-Pang gendut bertongkat yang cukup lihai itu.

Sui Cin juga menampar seorang anggauta Hwa-I Kai-Pang sehingga roboh pingsan dan Siang Wi yang berpedang itu merobohkan seorang tokoh sesat dengan membacok pahanya sampai hampir buntung.

Jenderal Ciang memerintahkan agar semua tawanan itu dikumpulkan untuk dibawa ke kota raja.

Gerobak-gerobak tawanan dipersiapkan dan semua tawanan, kecuali Bhe Hok si gendut, dijebloskan ke dalam Gerobak-gerobak kerangkeng dengan dibelenggu kaki tangan mereka.

Hui Song yang menemui Jenderal Ciang dan minta agar tawanan yang satu ini tidak dimasukkan gerobak kerangkeng, melainkan hendak dikawalnya sendiri ke kota raja.

Usul ini timbul dalam hati Hui Song ketika membayangkan kemungkinan tokoh sesat akan berusaha membebaskan para tawanan.

Padahal, para tawanan itu merupakan saksi-saksi penting sekali, terutama Bhe Hok yang tahu akan semua persekutuan busuk di istana, seperti yang pernah dia dengar bersama Sui Cin ketika di gedung Hwa-I Kai-Pang diadakan pertemuan dan percakapan antara para tokohnya, termasuk Bhe Hok itu.

"Sumoi, kalau engkau lebih dahulu pergi ke Cin-ling-san, tolong beritahukan ayah bahwa setelah selesai urusan di kota raja, aku akan pergi berkunjung ke Pulau Teratai Merah, baru akan pulang ke Cin-ling-san."

Hui Song berkata kepada sumoinya.

Wajah yang manis itu nampak semakin keruh dan matanya mengerling ke arah Sui Cin.

Ia belum tahu siapa adanya dara yang bersama suhengnya ini, akan tetapi dari pertempuran tadi ia melihat bahwa Sui Cin adalah seorang gadis yang memiliki ilmu kepandaian tinggi pula.

"Akan tetapi, aku..."

Ia merasa sungkan dan malu untuk menyatakan keinginannya agar dapat selalu bersama suhengnya.

"Engkau pergilah lebih dulu dan aku akan menyelesaikan tugas kami berdua yang sudah melibatkan diri kami sejak lama."

Kembali Siang Wi memandang kepada Sui Cin dengan alis berkerut.

Hui Song cukup mengenal watak sumoinya dan ia kini tahu pula betapa hati sumoinya tidak senang karena dia melakukan perjalanan berdua dengan seorang gadis lain.

"Sumoi, engkau belum berkenalan. Nona ini adalah nona Ceng Sui Cin, puteri dari Pendekar Sadis Ceng Thian Sin."

Sepasang mata itu terbelalak, akan tetapi lalu menyipit kembali dan sang alisnya berkerut lebih dalam, wajahnya dibayangi kekhawatiran yang lebih besar.

Kiranya gadis cantik dan lihai ini adalah puteri pendekar yang namanya sudah amat dikenalnya itu.

Sungguh merupakan saingan yang amat kuat!

Akan tetapi, sebagai murid isteri ketua Cin-Ling-Pai, iapun cukup tahu akan peraturan, maka cepat ia menjura ke arah Sui Cin.

"Kiranya enci adalah puteri Ceng-locianpwe yang terkenal itu. Maaf kalau aku bersikap kurang hormat karena belum mengenalmu."

Sui Cin tertawa geli dan mengibaskan tangannya.

"Wah, sudahlah, di antara kita tidak perlu banyak memakai sungkan-sungkan lagi."

Hui Song juga tersenyum, lega melihat sikap Siang Wi yang menghormat dan geli melihat sikap wajar Sui Cin.

Diapun tertawa.

"Sumoi, nona Ceng ini baru berusia enam belas tahun, jadi, sebaiknya kalau engkau menyebutnya adik, bukan enci."

Setelah berpamit dari sumoinya dan juga dari Jenderal Ciang yang sibuk mengatur sendiri pasukannya membawa para tawanan, Hui Song lalu mengajak Sui Cin pergi sambil menggiring si gendut Bhe Hok pergi ke kota raja melalui jalan memotong.

Sui Cin tetap menunggang kudanya, Bhe Hok berjalan di belakang kuda dan Hui Song berjalan di belakangnya.

Sui Cin dan Hui Song tidak merasa khawatir kalau-kalau tawanan itu akan lari atau akan memberontak karena Hui Song sudah monotok jalan darah di kedua pundaknya yang membuat kedua lengan si gendut itu tidak dapat digerakkan lagi, Tergantung lumpuh di kanan kiri tubuhnya.

Hui Song dan Sui Cin membawa tawanan itu ke markas Jenderal Ciang begitu mereka tiba di kota raja dengan selamat.

Para perwira di markas itu sudah mengenal Hui Song, maka mereka menyambut pemuda itu dan dengan gembira mendengarkan penuturan Hui Song tentang peristiwa pertempuran di rumah Ang-kauwsu.

Si gendut Bhe Hok dimasukkan delam kamar tahanan dan dijaga dengan ketat.

Sesuai dengan permintaan Hui Song, si gendut yang menjadi tawanan penting ini diperlakukan dengan baik.

Hui Song sendiri mengancam bahwa kalau si gendut tidak mau membuat pengakuan di depan kaisar nanti apabila dibutuhkan, dia akan disiksa.

"Terutama, engkau akan dibiarkan kelaparan sampai satu bulan lamanya, akan tetapi kalau engkau mengaku, aku akan mintakan ampun untukmu, dan engkau akan mendapatkan makan enak, mungkin dibebaskan."

Tidak ada siksaan yang lebih menakutkan bagi si gendut Bhe Hok dari pada kelaparan!

Baginya, makan enak sekenyangnya merupakan kenikmatan nomor satu di dunia dan tanpa itu, hidup tidak ada artinya lagi.

Maka, mendengar ancaman Hui Song itu, dia sudah mengangguk-angguk seperti burung kakak tua diberi hidangan.

Kemudian, tepat seperti yang sudah dikhawatirkan oleh Hui Song, datang berita mengejutkan bahwa pasukan Jenderal Ciang yang membawa rombongan tawanan menuju ke kota raja, di tengah perjalanan pada senja hari itu telah dihadang dan diserang oleh gerombolan penjahat, namun sebagian besar para tawanan dapat dibebaskan oleh para penyerang, sedangkan yang tidak dapat dibebaskan, telah kedapatan mati di dalam gerobak masing-masing!

Tidak ada sisa seorangpun!

Ternyata para penjahat yang lihai itu telah membunuh teman-teman sendiri yang tertawan, tentu dengan maksud agar tawanan-tawanan itu tidak sampai membocorkan rahasia.

Rahasia besar bahwa Liu-thaikam yang berada di balik semua kejahatan ini!

Begitu memasuki benteng dengan wajah muram, Jenderal Ciang lalu menemui Hui Song dan hatinya menjadi lega mendengar bahwa Bhe Hok, satu-satunya tawanan yang tinggal, kini sudah aman berada di dalam kamar tahanan.

"Harus dijaga keras agar dia jangan sampai mendengar bahwa tidak ada tawanan lain kecuali dia, bahwa dialah satu-satunya saksi di depan sri baginda kaisar."

Kata jenderal itu kepada Hui Song.

"Kalau dia mendengar akan nasib para tawanan yang tidak sempat dibebaskan, tentu dia akan ketakutan dan tidak mau mengaku."

Hui Song lalu mendatangi Bhe Hok.

Dengan sikap tenang dan wajar dia menanyakan bagaimana perlakuan para penjaga tahanan terhadap dirinya.

"Engkau adalah tawananku, maka akulah yang bertanggung jawab atas dirimu. Tawanan-tawanan lain yang ditawan oleh pasukan dipisahkan dan keadaan mereka tidaklah begitu menyenangkan dibandingkan dengan keadaanmu."

"Apakah... apakah Hwa-I Lo-eng juga... tertangkap?"

Bhe Hok bertanya dengan penuh keinginan tahu.

Hui Song sudah mendengar berita mengejutkan lain bahwa ketua Hwa-I Kai-Pang itu ternyata telah kedapatan tewas di dalam gedung perkumpulan itu, tidak lama setelah rombongan Jenderal Ciang tiba.

Dan dia tahu apa artinya itu.

Agaknya para tokoh jahat, tentu saja atas perintah Liu-thaikam, telah melakukan persiapan agar rahasianya tidak terbuka, dengan jalan membunuhi semua tawanan, juga ketua Hwa-I Kai-Pang dibunuh agar pemerintah tidak akan menangkap dan memaksanya mengaku!

"Dia?

Tentu saja dia ditangkap karena anak buahnya banyak yang terlibat.

Akan tetapi, pemeriksaan akan dilakukan secara terpisah dan satu-satu.

Maka engkau tidak perlu khawatir, mengakulah saja seperti apa adanya.

Kalau engkau menyesali pengkhianatanmu dan mengaku terus terang tentang persekongkolan di bawah pimpinan Liu-thaikam, tentu engkau akan mendapat keringanan."

"Apa? Apa... Liu-thaikam...? Aku tidak... tidak mengerti..."

Hui Song tersenyum.

"Ah, tidak perlu engkau berpura-pura lagi. Kami sudah mendengar semua tentang persekutuan itu, tentang bagaimana Hwa-I Kai-Pang dipergunakan oleh Liu-thaikam, juga tentang Cap-sha-kui menjadi antek-antek pembesar itu di bawah pimpinan seorang datuk yang bernama Siangkoan Lojin berjuluk Iblis Buta. Kami sudah tahu semua, dan engkau hanya tinggal membuat pengakuan saja sejujurnya. Ingat, kalau engkau membohong dan tidak mau mengaku, kamipun sudah mengetahui persoalannya dan akibatnya engkau akan disiksa."

Bhe Hok mengangguk-angguk meyakinkan sehingga legalah hati Hui Song.

Pengakuan si gendut ini di depan sri baginda kaisar berarti berhasilnya tugasnya membongkar persekutuan jahat di dalam istana yang dikepalai oleh Liu-thaikam.

Sementara itu, Jenderal Ciang mengadakan hubungan dengan dua orang menteri yang pandai dan yang termasuk sebagai menteri-menteri setia yang juga dianggap sebagai saingan dan ditentang oleh Liu-thaikam.

Mereka adalah Menteri Ting Hoo dan Cang Ku Ceng.

Di dalam sejarah tercatat bahwa dua orang menteri ini kelak akan menjadi pembantu-pembantu yang amat setia dan pandai dari Kaisar Cia Ceng pengganti Kaisar Ceng Tek.

Jenderal Ciang mengadakan perundingan dengan dua orang menteri ini dan pada keesokan harinya, dengan usaha kedua orang menteri ini, sri baginda kaisar berkenan menerima Jenderal Ciang yang diikuti pula oleh Menteri Liang dan kedua orang menteri Ting dan Cang itu.

Tentu saja sri baginda kaisar menjadi terkejut sekali ketika mendengar pelaporan Jenderal Ciang tentang persekutuan yang hendak membunuh Menteri Liang dan Jenderal Ciang apalagi ketika dengan terus terang jenderal itu mengatakan bahwa persekutuan itu dipimpin oleh Liu-thaikam sendiri!

"Mustahil!"

Sri baginda kaisar berseru sambil menepuk lengan kursi.

"Dia adalah seorang pembantuku yang paling setia. Dan apa sebabnya dia hendak membunuh kalian berdua? Tentu ada permusuhan pribadi!"

Ketika mendengar betapa kaisar agaknya malah berpihak kepada thaikam itu, Jenderal Ciang menjadi pucat wajahnya.

Menteri Liang yang berlutut itu lalu berkata.

"Mohon beribu ampun, sri baginda. Sesungguhnya, tidak terdapat permusuhan apapun antara hamba dan Liu-thaikam, akan tetapi sebenarnya dia menganggap hamba dan Jenderal Ciang dan banyak hamba paduka yang lain sebagai saingannya karena hamba sekalian tidak mau tunduk kepadanya. Itulah sebabnya mengapa dia hendak membunuh hamba."

"Dan sudah banyak pembesar dibunuhnya, sri baginda. Dia tidak segan-segan mempergunakan para penjahat sebagai antek-anteknya. Ketika hendak membunuh Menteri Liang dan hamba, dia malah memperalat datuk-datuk sesat seperti Cap-sha-kui, dan juga mempergunakan orang-orang Hwa-I Kai-Pang yang juga ikut bersekongkol dan menjadi anteknya."

Alis Sri Baginda Kaisar Ceng Tek berkerut, hatinya tidak senang.

"Jenderal Ciang, kami tahu bahwa engkau adalah seorang jenderal yang gagah dan setia, dan juga Menteri Liang adalah seorang menteri lama yang setia. Tahukah kalian betapa hebat dan berbahayanya semua cerita kalian ini? Kalau tidak benar, ini merupakan fitnah yang akan dapat membuat kalian terpaksa harus dihukum seberat-beratnya!"

"Hamba bersedia dihukum kalau pelaporan hamba tidak benar, sri baginda!"

Kata sang jenderal.

"Hamba juga bersedia menyerahkan nyawa kalau hamba menjatuhkan fitnah kepada siapapun juga,"

Sambung Menteri Liang dengan suara tegas.

Mulailah Kaisar Ceng Tek merasa bimbang.

Sebetulnya, sudah lama banyak pembesar yang mencoba untuk menyadarkannya akan kepalsuan Liu-thaikam, akan tetapi karena thaikam itu selalu bersikap baik dan menyenangkan hatinya, juga karena tidak pernah ada bukti penyelewengannya, kaisar merasa terlalu sayang kepada pembantu itu untuk melakukan penyelidikan secara mendalam.

Pula, kaisar yang masih amat muda itu, baru sembilan belas tahun usianya, merasa banyak dibantu oleh Liu-thaikam.

Sewaktu dia melakukan perjalanan keluar dari istana secara diam-diam, thaikam itulah yang membantunya, dan urusan dalam istana dapat diselesaikan semua oleh thaikam itu dengan baik.

"Bagaimana kalian dapat memastikan bahwa laporan kalian ini bukan fitnah belaka?"

Kaisar mendesak.

"Penyerangan terhadap Menteri Liang di telaga disaksikan banyak orang, dan penyerangan terhadap hamba di dalam pesta Ang-kauwsu lebih banyak saksinya,"

Jawab Jenderal Ciang.

"Kalian adalah pejabat-pejabat pemerintah. Tidak aneh kalau dimusuhi oleh kaum penjahat. Akan tetapi apa buktinya bahwa Liu-thaikam yang berdiri di belakang semua itu?"

Inilah pertanyaan yang dinanti-nanti oleh Jenderal Ciang.

Dengan suara lantang namun tetap hormat dia menjawab.

"Sri baginda, hamba telah menangkapi sebagian dari para penjahat, akan tetapi ketika hamba menggiring para penjahat itu ke kota raja, di tengah perjalanan para datuk sesat menghadang, merampas tawanan dan membunuh mereka yang tidak dapat mereka rampas. Akan tetapi, masih ada seorang tokoh Hwa-I Kai-Pang yang berhasil hamba bawa sebagai saksi. Kalau paduka berkenan, hamba dapat menyuruhnya membuat pengakuan di depan paduka."

Jenderal itu berhenti sebentar, kemudian menyambung.

"Selain itu, juga hamba dibantu oleh seorang pendekar muda yang pernah menyelamatkan paduka ketika paduka diserang oleh orang-orang Kang-Jiu-Pang, yaitu putera ketua Cin-Ling-Pai bersama seorang temannya, pendekar wanita Ceng Sui Cin."

"Hemm, bawa mereka semua menghadap!"

Kaisar memerintah, Jenderal Ciang lalu memberi isyarat kepada para penjaga di luar dan tak lama kemudian muncul Hui Song dan Sui Cin mengiringkan Bhe Hok sebagai tawanan.

Mereka menjatuhkan diri berlutut dan tubuh Bhe Hok gemetar ketakutan.

Jenderal Ciang memperkenalkan dua orang muda pendekar itu dan kaisar masih ingat kepada Hui Song yang gagah.

"Hai, engkau orang muda yang gagah perkasa itu! Urusan apalagi yang membawamu terlibat dan kini dihadapkan di siin?"

Kaisar menegur, suaranya ramah.

"Ampun, sri baginda. Hamba melihat persekutuan busuk mengancam para pembesar setia, dan kerena persekutuan itu membahayakan pula keselamatan paduka, maka hamba berdua nona Ceng ini membantu Jenderal Ciang untuk membuka rahasia ini dan menghaturkannya kepada paduka."

Kaisar teringat lagi akan tuduhan terhadap thaikam yang disayangnya, maka alisnya berkerut lagi, hatinya kesal dan diapun berkata kepada Jenderal Ciang.

"Nah, suruhlah saksi bercerita. Awas, kalau dia berbohong, kalian semua takkan bebas dari hukuman!"

Ucapan kaisar itu untuk mengancam mereka yang memusuhi Liu-thaikam, akan tetapi malah membuat si gendut Bhe Hok semakin ketakutan dan tidak berani berbohong.

Dia berlutut dan tidak berani berkutik sampai dihardik oleh Jenderal Ciang.

"Penjahat Bhe, lekas membuat pengakuan apa adanya dan jangan berbohong."

"Hamba... hamba bernama Bhe Hok dan hamba menjadi seorang di antara para pembantu Hwa-I Lo-eng ketua Hwa-I Kai-Pang. Bersama rekan-rekan dari Cap-sha-kui, hamba menjadi anggauta kelompok yang dipimpin oleh Siangkoan Lojin dan hamba semua bekerja untuk Liu-taijin. Hamba menerima tugas untuk membantu tokoh-tokoh Cap-sha-kui, pertama-tama untuk membunuh Menteri Liang, kemudian membunuh Jenderal Ciang. Hamba membuat pengakuan sebenarnya, berani disumpah dan berani mempertanggung-jawabkan kebenaran pengakuan hamba."

Wajah kaisar sudah menjadi merah sekali.

Haruskah dia mempercaya pengakuan seorang penjahat macam ini?

"Tangkap dan seret ketua Hwa-I Kai-Pang ke sini!"

Bentaknya.

Baca Juga: Si Bangau Merah 11

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert