Eps 2 Asmara Berdarah - Kho Ping Hoo
Baca online Asmara Berdarah - Kho Ping Hoo
Cersil Asmara Berdarah - Kho Ping Hoo.
Kakek ini sekarang kelihatan mengerikan.
Kayu cendana hitam yang dijadikan tongkat itu berkilap tertimpa sinar bulan purnama dan kedua matanya yang melek terus itu kelihatan putih menyeremkan.
Rambutnya yang putih seperti benangbenang perak berkibar tertiup angin malam yang membuat hawa menjadi dingin sekali.
Kini bermunculanlah banyak orang dari tempat di mana tadi mereka setengah sembunyi begitu muncul kakek buta.
Di antara mereka, banyak yang belum pernah bertemu dengan Siangkoan-lojin, baru mendengar namanya saja dan sepak terjangpya, maka kini mereka muncul dengan muka diliputi ketakutan setelah melihat betapa kakek buta itu dengan bengis memarahi dua orang datuk utama dari Cap-sha-kui itu.
Ada dua puluh satu orang termasuk Siangkoan-lojin yang hadir.
Mereka ini masing-masing mempunyai anak buah yang cukup banyak, akan tetapi anak buah mereka tidak diperbolehkan naik ke lereng itu, hanya menanti di bawah, di dalam hutanhutan.
Selain tidak berani membawa anak buah, juga anak buah mereka masih kurang pandai untuk dapat mencapai tempat yang amat sukar didatangi itu.
Tempat itu dikelilingi jurang yang curam dan di sebelah utara terdapat sebatang sungai yang liar airnya dan banyak batu-batu karang sehingga amat berbahaya kalau naik perahu melewatinya.
Pula, dari sungai yang agak ke bawah itu, tidak mudah pula untuk mendaki ke atas tebing walaupun sungai itu dan dataran ini tidak jauh lagi dan suara gemercik air bermain-main dengan batu-batu karang itu dapat terdengar dari tempat pertemuan rahasia itu.
Diahat dari atas, sungai yang ditimpa sinar bulan purnama nampak seperti jalan perak yang berkilauan.
"Hanya ada dua puluh dua orang semuanya?"
Tiba-tiba Siangkoan-lojin bertanya dan pertanyaan ini membuat semua orang mulai menghitung-hitung dan merekapun tertegun ketika mendapat kenyataan bahwa jumlah mereka semua memang dua puluh dua orang.
Bagaimana seorang buta dapat menghitung orang begitu banyak dengan tepat?
Padahal, mereka yang dapat melihat saja tidak dapat menghitung dengan cepat dan mudah!
Tentu saja, tokoh-tokoh seperti Koai-pian Hek-mo, Hwa-hwa Kuibo, apalagi tiga orang tokoh utama Cap-sha-kui seperti Kui-kok Lomo dan Kui-kok Lobo, juga Tho-tee-kwi, tidak merasa heran.
Mereka sudah tahu bahwa kakek yang buta ini memiliki perasaan yang amat peka, pendengaran dan penciuman yang melebihi seekor kijang atau anjing.
Dengan mengandalkan telinga dan hidungnya saja dia sudah dapat menghitung jumlah orang yang hadir, dengan mengikuti gerak-gerik mereka dengan telinganya, dan mencium bau yang berlainan dengan hidungnya.
Bahkan dalam perkelahian, kakek yang tidak dapat melihat lagi itu dapat mengandalkan ketajaman pendengarannya sehingga setiap gerakan lawan dapat diketahuinya dengan seksama, bahkan lebih cepat dari pada daya tangkap penglihatan mata yang Kadang-kadang kabur.
"Benar, lojin. Yang hadir ada dua puluh dua orang."
Kata Kiu-bwee Coa-li.
"Hemm, dan berapa orang dari Cap-sha-kui?"
"Ada tujuh orang, lojin."
Kui-kok Lobo yang kini ikut bicara karena iapun hendak memberitahukan raja datuk itu bahwa iapun hadir.
"Tujuh orang? Siapa dia?"
Siangkoan-lojin bertanya, alisnya yang putih berkerut.
"Koai-pian Hek-mo, Hwa-hwa Kuibo, Kiu-bwee Coa-li, Tho-tee-kwi, Kui-kok Lomo, aku sendiri dan lojin..."
Terdengar kakek itu mengeluarkan suara bentakan melengking dan semua orang terkejut.
Kui-kok Lomo hendak memperingatkan isterinya, namun terlambat karena tahu-tahu kakek buta itu telah mencelat ke depan, tongkatnya menyambar dan Kui-kok Lobo menjerit lalu roboh terlentang, ujung tongkat menempel di lehernya.
Kiranya kakek buta itu belum membunuhnya, baru merobohkan dan menempelkan ujung tongkat di leher nenek itu!
"Mulut lancang!
Kau samakan aku dengan cacing-cacing Cap-sha-kui?"
Kui-kok Lobo terkejut dan baru teringat akan kebodohannya, wajahnya yang sudah pucat sekali itu berobah menjadi kehijauan.
"Lojin, ampunkan aku..."
Ia meratap.
"Lojin, harap maafkan ia,"
Kata pula Kui-kok Lomo dengan kaget ketika melihat nyawa isterinya terancam maut tanpa dia dapat menolongnya itu.
Iblis buta itu mendengus dengan nada mengejek.
"Kalau aku tidak mengampuninya, apakah sekarang ia masih tinggal hidup? Perempuan lancang, engkau menyesal telah bersalah kepadaku?"
"Aku menyesal,"
Kata Lobo sambil bertunduk.
"Nyatakan penyesalanmu dengan mencium ujung sepatuku!"
Kata pula Iblis Buta.
Semua orang terkejut dan memandang dengan hati tegang dan wajah pucat.
Itulah penghinaan yang amat hebat!
Akan tetapi, hampir mereka tidak percaya akan pandang mata mereka sendiri ketika melihat nenek berwajah mayat yang biasanya amat galak dan kejam itu kini berlutut dan mencium ujung kaki sepatu Si Iblis Buta!
"Sekali lagi!"
Bentak iblis itu dan Lobo dengan taat mencium satu kali lagi, membuat semua orang menahan napas saking herannya.
"Sudah, mundurlah dan mari kita lanjutkan pertemuan ini,"
Kata kakek buta itu dengan sikap dan suara seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.
"Kita berkumpul di sini untuk mengadakan pertemuan dan membicarakan keadaan yang menyangkut keamanan pekerjaan kita semua. Kalian tahu bahwa besok hari para pendekar mengadakan pertemuan di Puncak Bukit Perahu dengan acara pokok menentang dan beruseha menumpas kita semua."
Hening sejenak setelah Iblis Buta berhenti bicara, kemudian, bagaikan bendungan air yang bobol, mereka itu serentak berteriak-teriak.
"Hancurkan manusia-manusia sombong itu!"
"Bunuh semua pendekar!"
"Serang mereka pada pertemuan itu!"
Si kakek buta mengangkat tongkatnya ke atas dan suara gaduh itu berhenti.
"Mengadakan perlawanan memang harus, akan tetapi menghadapi para pendekar kita harus berhati-hati karena di antara mereka terdapat orang-orang yang sakti. Tidak mungkin menggunakan kekerasan dan harus diatur sebaik-baiknya. Sekarang, sebelum kita mengatur siasat lebih lanjut, aku ingin mendengarkan pelaporan kalian masing-masing tentang keadaan di daerah kalian masing-masing dan tentang gerakan para pendekar."
Dengan suara yang dialeknya berbeda-beda, mereka yang hadir mulai bercerita satu demi satu, didengarkan penuh perhatian oleh Siangkoan-lojin.
Seorang yang datang dari daerah kota raja melapor.
"Lojin, anak buah kami membayangi kaisar yang sedang lolos dari istana melakukan perjalanan seorang diri menyamar sebagai orang biasa. Diam-diam dia dibayangi dan dilindungi oleh dua orang perwira istana yang juga menyamar sebagai orang biasa. Kami ragu-ragu untuk turun tangan. Harap lojin memberi petunjuk."
"Jangan ganggu kaisar! Jangan mengganggu seujung rambutnya. Aku sendiri akan membunuh siapa yang berani mengganggunya!"
Tiba-tiba kakek buta itu berseru.
Para tokoh Cap-sha-kui yang sudah mengerti, tidak merasa heran, akan tetapi tidak demikian dengan para tokoh lain.
Seorang yang bertubuh cebol dan berkepala botak, yang matanya merah dan sikapnya menjilatjilat lalu maju bertanya.
"Maaf, lojin yang mulia. Akan tetapi kami sungguh belum mengerti. Apakah kita semua sekarang harus menjadi kaki tangan dan pembantu kaisar? Bukankah pekerjaan kita semua selalu bertentangan dengap pemerintah?"
"Dengarkan kalian semua. Selama istana dikuasai oleh Liu-thaikam seperti sekarang ini, kita dapat hidup aman. Kita dapat bekerja sama dengan para pejabat di manapun juga asal kita mau membagi hasil kita dengan mereka. Dan selama Kaisar Ceng Tek yang muda ini menduduki tahta, Liu-thaikam dapat menguasainya. Kalau kaisar kita ganggu, berarti kita mengganggu Liu-thaikam, dan kalau sampai Liu-thaikam kehilangan kekuasaannya, kita tidak mempunyai sahabat lagi di pemerintahan, berarti kita menjadi orang yang selalu diburuburu oleh para petugas pemerintah. Jadi, kita harus melindungi kaisar agar Liu-thaikam tetap dapat berkuasa dan kitapun tidak akan dimusuhi pemerintah, mengerti?"
Semua orang mengangguk.
"Aihh, kalau begitu, kita harus menyelamatkan kaisar. Pada saat ini ada pihak lain yang mempunyai niatan buruk, menculik kaisar dalam penyamarannya."
Iblis Buta mengerutkan alianya.
"Bukankah kau katakan bahwa ada dua pangawal rahasia yang melindungi kaisar?"
"Akan tetapi, lojin. Sekali ini yang mengancam keselamatan kaisar adalah orang-orang Kang-Jiu-Pang (Perkumpulan Kepalan Baja)!"
Kata pula si cebol berkepala botak. Iblis Buta mendengus.
"Perkumpulan keras kepala yang tidak mau bergabung dengan kita! Heh, Koai-pian Hek-mo dan Hwa-hwa Kuibo, sanggupkah kalian mengerahkan teman-teman di muara Huangho untuk melindungi kaisar dan mengenyahkan Kang-Jiu-Pang yang hendak merusak itu?"
Koai-pian Hek-mo dan Hwa-hwa Kuibo sudah tahu siapa adanya Perkumpulan Kepalan Baja itu, dan mereka merasa bangga mendapatkan kepercayaan Iblis Buta di depan para tokoh, maka mereka berdua serentak menyatakan sanggup.
"Bagus, setelah selesai urusan kita di sini, kalian harus dengan cepat pergi melakukan tugas dan keselamatan kaisar kuserahkan kepada kalian,"
Kata pula kakek buta.
Memang bagi kakek ini, keselamatan Kaisar Ceng Tek amatlah penting.
Dia mengenal Liu Kim atau Liu-thaikam dengan baik, bahkan terjadi semacam kerja sama antara mereka.
Beberapa kali thaikam itu minta bantuan Siangkoan-lojin untuk mengenyahkan musuh-musuh rahasianya, yaitu para pembesar yang menentangnya dan yang menghendaki kaisar terbebas dari kekuasaannya.
Tugas itu dilaksanakan oleh Siangkoan-lojin, yang menyuruh anak buahnya, dengan mudah dan baik.
Beberapa orang musuh itu lenyap secara aneh dan tak ditemukan mayat-mayat mereka.
Tentu saja Iblis Buta memperoleh kepercayaan dan sebaliknya, iblis ini melalui kaki tangannya juga memperoleh restu berupa surat-surat ijin dari thaikam itu untuk membuka bermacam usaha seperti usaha rumah pelacuran, perjudian dan sebagainya lagi.
"Ada dua tugas yang agak berat namun penting sekali,"
Sambungnya lagi.
"Demi keamanan kita semua, ada dua orang pembesar yang harus dilenyapkan. Yang seorang adalah Menteri Liang, yaitu Menteri Kebudayaan yang istananya berada di kota raja. Kuserahkan tugas ini kepada Kiu-bwee Coa-li, tentu saja kalau nenek itu berani!"
Mendengar demikian, Kiu-bwee Coa-li membunyikan cambuknya.
"Tartartarr.. Lojin anggap saja bahwa nyawa orang she Liang itu sudah berada di tanganku. Kapan aku harus membunuhnya, lojin? Sekarang juga aku berangkat!"
"Hemm, nenek sombong, jangan tergesa-gesa dan jangan terlalu membual. Kalau engkau gagal, aku akan menghukummu! Jangan sembrono, di samping menteri yang lemah itu terdapat seorang selirnya dan seorang anak perempuannya yang cukup lihai karena mereka itu murid-murid Shantung SamLo-eng."
"Heh-hehheh, lojin. Jangankan baru murid-muridnya, biar mereka bertiga sendiri hadir, aku tidak akan takut,"
Kiu-bwee Coa-li yang memang berwatak sombong itu tertawa.
"Baik, akan tetapi tunggu sampai urusan kita selesai, baru kau boleh berangkat melaksanakan tugasmu. Sekarang pembesar kedua yang harus dienyahkan, dia adalah Ciang-goanswe (Jenderal Ciang), panglima nomor dua di kota raja. Siapa berani memegang tugas ini?"
Semua orang melongo, Ciang-goanswe adalah seorang jenderal besar.
Sebagai panglima nomor dua, dia memimpin laksaan orang pasukan!
"Akan tetapi...
mana mungkin membunuh seorang panglima yang menguasai ratusan ribu orang pasukan?
Siapa sanggup dan mungkin dapat berhasil melakukan tugas ini tanpa bantuan pasukan besar pula, lojin?
Dan mengerahkan pasukan besar berarti pemberontakan dan perang..."
Pertanyaan ini keluar dari mulut seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih yang nampak gagah perkasa akan tetapi juga menyeramkan karena mukanya penuh dengan cambang bauk yang lebat dan hitam.
Sepasang matanya besar dan gerek-geriknya kasar akan tetapi pada mulutnya terbayang sifat yang kejam dan suka mempergunakan kekerasan.
Agaknya pertanyaan yang diajukan ini berkenan di hati semua orang, karena terdengar bisik-bisik dan suasana menjadi gaduh sampai Iblis Buta mengangkat tongkatnya ke atas.
Suasana kembali tenang dan sunyi.
"Kalian semua bodoh kalau berpendirian demikian. Memang, Ciang-goanswe adalah seorang panglima yang memimpin ratusan ribu orang tentara. Akan tetapi, diapun seorang manusia biasa dan tidaklah mungkin kalau selamanya dia berada di antara ratusan ribu pasukannya! Sekali waktu tentu dia akan menyendiri, dengan keluarganya saja, dan penjagaan atas gedungnya tidak akan sekuat penjagaan di istana. Kalau orang berpikiran cerdik, tidak seperti kalian yang tolol, tentu akan dapat menemukan dia dalam keadaan jauh dari para pasukannya. Nah, karena pentingnya tugas ini, kuserahkan saja kepada sepasang Kui-kok Lomo dan Lobo. Sanggupkah kalian?"
Suami isteri tua itu saling pandang.
"Kami sanggup."
Akhirnya Kui-kok Lomo berkata.
"Bagus! Itulah tugas yang perlu kalian kerjakan. Setelah urusan kita di sini beres, kalian lakukan tugastugas itu dan kemudian hasilnya laporkan kepadaku. Sekarang, setelah selesai urusan yang menyangkut kaisar, siapa lagi yang ada laporan?"
Dia berhenti sebentar, menengok ke kanan kiri, bukan untuk memandang melainkan untuk mendengarkan dan menyambung.
"Bukankah kalian sebelum berkumpul di sini sudah menyelidiki tentang pertemuan para pendekar? Siapa saja yang akan hadir dan apakah kalian sudah bertemu dengan beberapa orang di antara mereka?"
Tiba-tiba kakek itu mengayunkan tongkatnya ke kiri.
"Blarrrrr..."
Ujung batu karang yang menonjol di situ, yang tadi pernah diraba-rabanya, pecah berantakan dan melayang ke arah api unggun yang baru saja dibikin oleh seorang di antara mereka.
Api unggun itu padam dan kayunya terlempar ke mana-mana, dan ada beberapa orang yang terkena kayu terbakar dan pecahan batu karang.
Akan tetapi karena mereka semua adalah golongan orang yang pandai, tidak ada yang sampai terluka parah.
Semua orang terkejut dan semakin kagum karena si buta itu ternyata hebat luar biasa, dapat mengetahui adanya api unggun dan dapat memadamkannya secara demikian luar biasa.
"Bodoh! Apa artinya pertemuan rahasia kalau kau menyalakan api unggun yang akan menciptakan sinar yang nampak dari jauh dan mengeluarkan bau yang dapat tercium dari tempat jauh?"
Bentaknya.
"Ampun, lojin, maksudkan hanya untuk mengusir nyamuk..."
"Kalau aku tidak tahu begitu, tentu batu itu menghancurkan benakmu dan bukan memadamkan api saja,"
Kata pula Iblis Buta.
"Nah, siapa membuat laporan?"
"Aku bertemu dengan seorang gadis remaja dan seorang pemuda yang amat lihai. Bahkan aku banyak kehilangan ular-ularku ketika melawan mereka. Sungguh, belum pernah seumur hidupku bertemu dengan gadis dan pemuda yang semuda itu namun selihai itu. Masing-masing dari mereka saja mampu menandingiku dan mungkin aku dapat mengalahkan mereka satu demi satu, akan tetapi menghadapi pengeroyokan mereka, terpaksa aku harus melarikan diri. Hebat, dan aku tidak sempat mengenal ilmu mereka, tidak pula tahu siapa mereka. Pasti mereka hendak menghadiri rapat pertemuan para pendekar."
Berita ini amat tidak menggembirakan Si Iblis Buta, juga para tokoh sesat di situ merasa gelisah.
Kalau dua orang muda dapat menandingi Kiu-bwee Coa-li itu berarti bahwa di pihak para pendekar terdapat orang-orang lihai sekali, padahal mereka masih begitu muda!
"Aku sempat bertemu dengan suami isteri setengah tua yang menjadi murid Bu-Tong-Pai, dan aku berhasil membunuh mereka yang juga hendak menghadiri pertemuan para pendekar,"
Kata pula seorang tokoh lain yang suaranya mirip bunyi tikus, mencicit.
Ada pula yang melapor telah berhasil melukai seorang peserta pertemuan para pendekar, ada lagi yang melaporkan telah membunuh beberapa orang calon peserta dengan cara meracuni mereka.
Pendeknya, laporan-laporan itu amat menyenangkan si Iblis Buta dan dia mengangguk-angguk sambil berkali-kali menyatakan senang hatinya.
"Bagus, bagus... biarkan mereka tahu bahwa kita tidak tinggal diam dan kita bukanlah golongan lemah!"
Tiba-tiba si cebol botak yang tadi pernah bicara, maju ke depan sambil menyeret sebuah buntalan.
"Lojin, semua yang dihasilkan kawan-kawan itu masih tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan yang kuhasilkan!"
Katanya menyombong dan dengan sikap menjilat.
Iblis Buta mengerutkan alisnya dan telinganya yang lebih lebar dari pada telinga biasa itu nampak memperhatikan sekali.
Kalau orang mau memperhatikan daun telinganya, di waktu dia mencurahkan pendengarannya itu, akan melihat betapa daun telinganya sedikit bergerak-gerak.
"Jangan banyak cakap, buat laporan singkat yang betul!"
Katanya.
"Lojin, dalam perjalanan ke sini, aku menghadang keluarga pelancong. Kubunuh ayah ibunya, kuperkosa anak gadisnya dan harta rampasan yang kuperoleh juga lumayan. Lalu muncul seorang pendekar dari selatan yang mengaku anak murid Kong-thong-pai. Jumlah mereka ada tiga orang. Aku berhasil melukai seorang, membunuh seorang dan menawan yang seorang lagi."
"Kenapa ditawan?"
"Ha-ha, ia seorang gadis cantik dan maksudku untuk mempersembahkannya kepadamu, lojin. Sayang, yang terluka dapat melarikan diri."
"Mana tawanan itu?"
Si cebol botak lalu melepaskan buntalan dan di dalamnya ternyata terdapat seorang gadis yang cukup cantik dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya.
Gadis itu berpakaian pendekar dan ia segera menggulingkan tubuhnya dan biarpun kaki tangannya terbelenggu, ia berusaha untuk memberontak.
"Hemm, kiranya para iblis kaum sesat berkumpul di sini! Tunggu saja, kalian akan dihancurkan oleh para pendekar..."
Tiba-tiba suaranya terhenti dan tubuhnya mengejang dan tewaslah wanita perkasa itu ketika Iblis Buta menggerakkan tongkatnya menuding ke arahnya.
Tidak ada yang melihat bagaimana hanya dengan menudingkan tongkat ke arah wanita itu orangnya lalu mengejang dan mati.
Akan tetapi para tokoh Cap-sha-kui dapat melihat sinar halus menyambar ke arah leher si gadis dan ternyata dari ujung tongkat itu menyambar senjata rahasia berupa jarum halus sekali yang menyambar tanpa bunyi, hanya mendatangkan cahaya berkilat halus dan hampir tak nampak.
Si cebol botak terkejut bukan main melihat betapa Iblis Buta membunuh korban yang dipersembahkannya itu.
"Tapi... tapi... kenapa...?"
Teriaknya gagap.
"Manusia tolol! Engkau malah membuka rahasia kita dan membiarkan pihak musuh mengetahui segalanya? Gadis pendekar itu tadi mendengarkan semua percakapan kita! Dan siapa tahu ada temannya yang membayangimu sampai ke sini. Bukankah yang seorang kau biarkan lolos?"
"Tapi dia terluka..."
"Apa Kau kira tidak ada orang lain yang dapat mendengarkan pelaporannya? Tolol, engkau malah mengkhianati kami!"
Tiba-tiba kakek itu menudingkan tongkatnya lagi.
Si cebol botak itu cukup lihai.
Melihat demikian, dia dapat menduga bahwa Iblis Buta hendak membunuhnya seperti yang telah dilakukannya terhadap gadis tadi, maka cepat meloncat ke belakang, bersembunyi di belakang tubuh Kiu-bwee Coa-li untuk kemudian melarikan diri.
Dan memang benar Iblis Buta tidak menyerangnya dengan jarum halus.
Akan tetapi si cebol botak itu salah duga kalau dia akan dapat melarikan diri dengan mudah.
Sebelum dia tahu apa yang akan terjadi, terdengar suara meledak dan cambuk di tangan Kui-bwee Coali bergerak melilit kakinya dan sekali menggerakkan cambuknya, tubuh si cebol botak itu terlempar ke depan kaki Iblis Buta.
"Brukkkk!"
Si cebol terbanting dan dia terbelalak ketakutan.
Akan tetapi sambil mendengus Iblis Buta menggerakkan tongkatnya.
Hanya terdengar suara "tuk!"
Perlahan ketika ujung tongkat menyentuh tengkuk si cebol botak, akan tetapi akibatnya hebat sekali.
Tubuh si cebol botak itu bergulingan, dari mulutnya terdengar suara merintih-rintih, kaki tangannya berkelojotan, dan dari mulut, hidung dan telinganya keluar darah segar!
Akan tetapi yang lebih mengerikan lagi, semua orang yang berada di situ tertawa-tawa geli dan gembira, seolah-olah mereka sedang menonton pertunjukan lawak yang menyegarkan!
Demikianlah watak mereka ini.
Padahal yang sedang sekarat dan tersiksa oleh rasa nyeri hebat itu adalah seorang rekan mereka sendiri!
Kita dapat dengan mudah melihat betapa kejamnya hati mereka itu.
Akan tetapi kalau kita mau bersikap waspada dan mengamati diri sendiri, sekali waktu kita akan terkejut dan mungkin juga merasa ngeri betapa di dalam batin kitapun bisa terdapat kekejaman seperti itu.
Betapa mudahnya bagi kita untuk mentertawakan dengan hati geli melihat orang yang sedang disiksa oleh kenyerian, Bahkan sekali waktu kita seperti merasa terhibur dan diperingan penderitaan batin kita kalau melihat orang lain juga menderita!
Namun, karena kita tidak pernah mau mengamati diri sendiri, kita tidak tahu akan sifat yang mengerikan dalam diri kita ini, yang tiada bedanya dengan apa yang diperlihatkan oleh para tokoh hitam itu!
Dan, tanpa melakukan pengamatan kepada diri sendiri, tidak akan mungkin kita dapat melihat kekotoran diri sendiri.
Dan, tanpa melihat kekotoran diri sendiri, tidak akan mungkin kita dapat merobahnya, tidak akan mungkin diri menjadi bebas dari pada kekotoran itu.
Bahkan ketika si cebol botak masih berkelojotan dalam sekarat, percakapan mereka lanjutkan, seperti orang yang bercakap-cakap sambil melihat tontonan taritarian dan mendengarkan nyanyian.
"Sekarang kita harus melakukan persiapan. Kita mendekati Puncak Bukit Perahu dari selatan, dan kalau kita melihat bahwa kekuatan mereka itu tidak berapa besar, kita kurung dan serbu mereka! Kita hajar mereka habis-habisan biar mereka tahu diri! Coba sebutkan berapa jumlah pengikut kalian masing-masing yang sudah siap untuk dapat dipergunakan besok pagi?"
Kata pula Iblis Buta.
Mereka semua menyebutkan jumlah pengikut yang sudah siap dan ternyata jumlahnya tidak kurang dari dua ratus orang!
Mendengar ini, wajah Iblis Buta berseri.
"Cukup, lebih dari cukup. Tugas anak buah hanya untuk menyerbu dan mengacaukan saja, dan kita yang akan berpestapora membunuhi mereka. Besok pagi-pagi kita harus sudah siap bersembunyi di dalam hutan selatan puncak, membiarkan mereka berkumpul semua seperti tikus-tikus dalam sebuah lubang, tinggal membasmi saja!"
Tiba-tiba Iblis Buta itu mengangkat tongkatnya dan mengisyaratkan agar semua orang diam.
Dia sendiri lalu melangkah ke kanan, mendekati tebing dari mana dapat kelihatan sungai yang liar itu Dia miringkan kepala, memasang telinga ke arah anak sungai itu.
Semua orang ikut memandang dan tidak melihat sesuatu, juga yang mereka dengar hanya gemerciknya air sungai.
Akan tetapi agaknya Iblis Buta itu mendengar sesuatu yang tidak terdengar oleh orang lain.
Dan semua orang saling pandang dengan gelisah dan jantung berdebar karena memang benar, lapat-lapat kini merekapun mulai dapat mendengar suara Yang-kim.
Yang-kim adalah semacam siter yang memakai senar-senar kawat berbunyi nyaring melengking dan kini di antara gemercik suara air itu terdengar suara Yang-kim dimainkan orang!
Dan tak lama kemudian nampaklah pemain Yang-kim itu!
Di bawah sinar bulan purnama yang seperti perak, nampak sebuah perahu meluncur perlahan di atas air yang liar itu.
Sungguh mengejutkan sekali bagaimana orang dapat naik perahu enak-enakan main Yang-kim di atas air yang demikian liar dan banyak dihalangi batu-batu menonjol.
Dan pemain Yang-kim itu adalah seorang kakek.
Tidak nampak jelas bentuk mukanya, akan tetapi dari atas dapat dilihat bahwa jenggot kakek itu panjang sampai ke dada dan suara Yang-kimnya demikian nyaring, tidak seperti Yang-kim biasa sehingga suaranya dapat menusuk-nusuk anak telinga para tokoh hitam yang melihat dan mendengarkan dari atas tebing.
Mula-mula Yang-kim itu memainkan lagu perlahan dan lambat, nada suaranya satu-satu memasuki telinga demikian nyaringnya sehinga lama-lama menjadi tajam menusuk.
Makin lama nada-nada suara itu makin cepat berlomba dan akhirnya menyerbu ke dalam telinga seperti badai mengamuk.
Beberapa orang tokoh sesat yang kurang kuat sinkangnya sudah menjadi lemas dan mengeluh sambil menutupi telinga, akan tetapi suara itu seolah-olah dapat menembus tangan yang dipakai menutupi telinga.
Bahkan tokoh-tokoh Cap-sha-kui seperti Koai-pian Hek-mo dan Hwa-hwa Kuibo sudah duduk bersila melakukan siulian (samadhi) untuk memperkuat sinkangnya menahan daya serangan suara Yang-kim itu.
Tokoh-tokoh seperti sepasang suami isteri dari Kui-san-kok dan juga si raksasa baju hijau yang sudah memiliki tingkat kepandaian dan tenaga sinkang amat tinggi, tidak terpengaruh oleh suara itu.
Apalagi si Iblis Buta sendiri, dia tidak terpengaruh dan tentu saja dia marah melihat betapa suara Yang-kim itu telah membuat anak buahnya menderita.
Akan tetapi, diapun tahu bahwa pemain Yang-kim itu berada jauh di bawah tebing sehingga diapun tidak dapat mendekatinya.
Akan tetapi, kakek buta ini memang hebat bukan main.
Dari suara Yang-kim itu dia dapat menentukan di mana letak perahu yang ditumpangi pemain Yang-kim itu.
Tiba-tiba dia menggerakkan tongkatnya bergerak ke kiri.
"Krakkk..."
Ujung sebongkah batu besar pecah dan patah, kemudian sekali dia menyontekkan ujung tongkatnya, pecahan batu yang besarnya satu meter persegi itu telah meluncur ke bawah tebing, dan tepat sekali mengarah perahu di mana kakek berjenggot panjang masih bermain Yang-kim!
Memang hebat sekali Siangkoan-lojin ini.
Pendengarannya sedemikian tajamnya, tidak kalah oleh ketajaman pandang mata sehingga dalam keadaan buta itu dia tidak kalah "awas"
Dibandingkan orang yang tidak buta.
Para tokoh Cap-sha-kui menjenguk ke bawah dan dengan mata terbelalak dan wajah berseri memandang ke arah bongkahan batu besar yang meluncur dengan cepatnya menuju ke arah perahu kecil itu.
Mereka menduga bahwa tentu perahu itu bersama penghuninya akan hancur lebur tertimpa batu yang demikian besar dan beratnya dari tempat yang demikian tingginya.
Akan tetapi, kakek berjenggot itu agaknya sama sekali tidak menjadi gugup melihat datangnya bongkahan batu besar yang berupa tangan maut menjangkaunya itu.
Dengan tenang saja dia menggerekkan tangan kirinya ke atas sedangkan tangan kanannya masih tetap memainkan Yang-kim!
(Lanjut ke
Jilid 05) Asmara Berdarah (Seri ke 08 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 05
"Blarrrr..."
Nampak debu mengepul dan bongkahan batu karang itu pecah berantakan dan terpental jauh, menimpa air mengeluarkan suara gaduh.
Perahu kecil meluncur terus dan suara Yang-kim terus terdengar makin menjauh, seolah-olah tidak pernah terganggu.
Iblis Buta yang memperhatikan semua peristiwa itu dengan telinganya, menarik napas panjang.
"Hemm, Gara-gara si tolol ini!"
Katanya sambil menggerakkan kaki menyepak dan tubuh penjahat cebol botak yang sudah tak bergerak lagi itupun kena ditendangnya dan melayang menuruni tebing yang curam!
"Dia yang memancing datangnya orang pandai memata-matai tempat ini.
Kita harus cepat bergerak menuju ke Puncak Bukit Perahu.
Tunggu komandoku, jangan sembarangan bergerak.
Kalau aku sudah turun tangan, barulah kalian boleh menyerbu.
Sebelum aku turun tangan, jangan ada yang mendahuluiku.
Mengerti?"
Bagaimanapun juga, peristiwa dengan penabuh Yang-kim itu mengecutkan hati para tokoh hitam karena mereka maklum bahwa kakek berjenggot panjang itu benar-benar lihai.
Kalau banyak yang seperti itu di antara para tokoh pendekar, berarti mereka akan menghadapi lawan yang tangguh.
Bagaimanapun juga, mereka adalah orang-orang lihai yang biasanya mengandalkan kekuatan sendiri.
Apalagi mereka mempunyai anak buah yang banyak dan di tengah mereka terdapat pula Iblis Buta yang mereka percaya.
Maka, biarpun peristiwa tadi mengecutkan hati mereka, bukan berarti bahwa mereka menjadi takut.
Pada keesokan harinya, Puncak Bukit Perahu telah dikurung oleh kurang lebih dua ratus orang gerombolan kaum sesat yang dipimpin oleh orang-orang pandai yang semalam telah mengadakan pertemuan rahasia itu.
Mereka semua telah mengurung dan bersembunyi, siap menyerbu dengan senjata masing-masing, dan mereka tinggal menanti komando atau munculnya Iblis Buta yang hendak turun tangan paling dulu.
Akan tetapi, Iblis Buta yang mereka tunggu-tunggu itu tidak muncul sampai matahari naik tinggi dan keadaan puncak itupun sunyi-sunyi saja.
Akhirnya, mereka melihat bayangan kakek bertongkat itu di puncak dan mendengar suara kakek itu menyumpah-nyumpah!
Karena melihat kakek itu sudah tiba, para gerombolan segera menyerbu ke atas dipimpin oleh kepala masing-masing, sambil berteriak-teriak buas.
Akan tetapi, setelah mereka tiba di atas puncak, mereka termangu-mangu melihat kakek buta itu marah-marah dan mengamuk dengan tongkatnya, menumbangkan pohon-pohon dan meremukkan batu-batu.
Ternyata puncak itu kosong dan tidak nampak seorangpun pendekar di situ!
Tahulah Iblis Buta Siangkoan-lojin bahwa rahasia penyerbuan itu telah bocor, bahwa para pendekar telah tahu akan rencana penyerbuan sehingga mereka itu menghindarkan bentrokan dan tidak jadi berkumpul di puncak itu!
Dan teringatlah dia akan kakek berjenggot panjang pemain Yang-kim semalam.
Teringat pula dia akan si cebol botak yang menjadi biang keladi kegagalan ini.
Kini para tokoh menghadap Siangkoan-lojin.
"Sekarang, setelah kita gagal di sini karena rahasia telah dibocorkan orang, kita tidak boleh gagal dalam tugas lain yang semalam telah kuberikan kepada kalian. Kita turun dari sini dan berangkat melakukan tugas masing-masing. Semua yang tidak kuberi tugas khusus agar waspada di tempat masing-masing dan kalau ada gangguan dari para pendekar, agar dapat bersatu-padu menghadapi mereka. Jangan cekcok dan bentrok sendiri seperti yang sudah-sudah. Kalau terjadi peristiwa penting, laporkan kepadaku. Sementara itu, boleh kita berpencar dan kalau bertemu dengan para pendekar, hajar dan hadang mereka!"
Setelah menerima perintah ini, merekapun bubaran meninggalkan Puncak Bukit Perahu.
Koai-pian Hek-mo dan Hwa-hwa Kuibo pergi bersama untuk melaksanakan tugas mereka ke Cinan menghadapi perkumpulan Kang-Jiu-Pang yang kabarnya mempunyai niat buruk terhadap kaisar yang sedang melakukan perjalanan sendiri.
Kiu-bwee Coa-li juga pergi sendirian untuk melaksanakan tugasnya yang berbahaya, yaitu pergi dalam usahanya membunuh Menteri Kebudayaan Liang di kota raja.
Kemudian sepasang suami isteri kakek nenek dari Kuisenkok itupun pergi berdua untuk pergi membunuh Jenderal Ciang yang merupakan tugas paling berat.
Tokoh-tokoh yang lain juga bubaran dan sebentar saja puncak itu menjadi sunyi kembali.
Memang tidak mengherankan kalau para tokoh itu menjadi bingung dan Iblis Buta menjadi marah-marah.
Mereka sudah mendapatkan keterangan jelas bahwa pada hari itu para pendekar mengadakan pertemuan di Puncak Bukit Perahu, akan tetapi kenapa para pendekar itu tidak muncul dan tempat itu sunyi, tidak ada seorangpun pendekar datang ke tempat itu?
Padahal, menurut penyelidikan beberapa orang anggauta gerombolan, sejak dua hari yang lalu sudah ada beberapa orang pendekar naik ke puncak.
Memang dugaan Iblis Buta itu tepat sekali.
Para pendekar yang tadinya hendak menghadiri pertemuan para pendekar di puncak itu, malam tadi telah mendengar bahwa pertemuan itu dibatalkan dan semua orang diberi tahu bahwa golongan hitam, dipimpin oleh Cap-sha-kui sendiri bersama munculnya Iblis Buta, nama yang amat menggemparkan kalangan pendekar ketika disebut, telah mulai bergerak, bahkan bermaksud untuk mengepung dan menyerbu.
"Kita tidak menghendaki bentrokan secara terbuka,"
Demikian pemberitahuan itu melalui anak buah perkumpulan Pek-ho-pai (Perkumpulan Bangau Putih) yang para anggautanya terdiri dari murid-murid Siauw-Lim-Pai.
"Apalagi jumlah mereka amat banyak dan kita sendiri tidak mengadakan persiapan untuk melakukan pertempuran massal. Maka terpaksa pertemuan dibatalkan dan hendaknya para sahabat, dengan kelompok masing-masing mengadakan usaha perorangan untuk menentang para penjahat dan membendung menjalarnya pengaruh mereka."
Pek-ho-pai adalah perkumpulan orang-orang gagah para murid Siauw-Lim-Pai yang mempelopori pertemuan para pendekar itu.
Nama Pek-ho-pai dikenal dan dihormati para pendekar maka undangan perkumpulan ini mendapatkan banyak sambutan.
Pek-ho-pai dipimpin oleh Hwa Siong Hwesio, seorang tokoh tingkat tinggi dari Siauw-Lim-Pai dan karena dia seorang tokoh Siauw-Lim-Pai ahli Ilmu Silat Pek-ho-kun (Silat Bangau Putih), maka diapun mendirikan perkumpulan Pek-ho-pai itu melihat berkembangnya para muridnya dan untuk mengikat para murid itu ke dalam sebuah perkumpulan agar mudah diawasi dan dapat dikendalikan.
Perkumpulan ini berada di kota Paoting dan karena Hwa Siong Hwesio sendiri sudah terlalu tua, sudah mendekati sembilan puluh tahun usianya, Maka perkumpulan itu diserahkan kepengurusannya kepada murid-murid kepala.
Akan tetapi ketika Hwa Siong Hwesio mendengar akan kekacauan yang terjadi di mana-mana, apalagi mendengar bahwa Cap-sha-kui gentayangan seperti iblis-iblis keluar dari neraka, dia merasa prihatin dan segera mengusulkan diadakannya pertemuan para pendekar untuk membicarakan urusan yang menyangkut keamanan rakyat jelata itu.
Akan tetapi, pada malam hari itu, perkumpulan Pek-ho-pai kedatangan seorang tamu, seorang kakek berjenggot panjang yang membawa Yang-kim di punggungnya.
Kakek inilah yang menyampaikan berita rencana para tokoh sesat yang mengadakan pertemuan rahasia, rencana untuk mengurung dan menyerbu Puncak Bukit Perahu pada saat para pendekar sedang berkumpul.
Dan kakek berjenggot ini yang memberitahukan betapa kuatnya kedudukan para penjahat itu karena selain Cap-sha-kui yang diduga telah datang dengan lengkap, disertai anak buah mereka, juga muncul Iblis Buta yang amat tinggi ilmu kepandaiannya itu.
Mendengar berita mengejutkan ini, para murid kepala Pek-ho-pai lalu menyebar murid-murid mereka untuk menghadang dan memberi tahu para pendekar yang berkunjung ke Puncak Bukit Perahu bahwa pertemuan dibatalkan dan membagi-bagikan selebaran mengenai pembatalan itu.
Karena usaha ini, maka ketika para kaum sesat itu datang menyerbu, mereka mendapatkan tempat kosong!
Siapakah kakek berjenggot panjang membawa Yang-kim itu?
Kakek inilah yang nampak dari atas tebing oleh para datuk sesat, yang memainkan Yang-kim di atas perahunya dan yang diserang oleh Iblis Buta dari atas tebing.
Dia adalah seorang pendekar tua yang suka berkelana seorang diri, di antara para pendekar dia disebut Shantung Lo-kiam (Pendekar Pedang Tua Dari Shantung).
Dia orang termuda dari Shantung SamLo-eng (Tiga Pendekar Tua Shantung), dua orang suhengnya telah meninggal dunia dan dia sendiri sudah berusia delapan puluh tahun.
Setelah tinggal seorang diri, dia suka berkelana dan sudah bertahun-tahun tidak banyak lagi mencampuri urusan duniawi, bahkan menanggalkan pedangnya dan menggantikannya dengan Yang-kim karena sejak dahulu, Shantung SamLo-eng selain terkenal ilmu pedang mereka, juga terkenal sebagai sasterawan-sasterawan.
Akan tetapi, ketika melihat betapa dunia kaum sesat bergolak dan penjahat-penjahat itu bangkit, mengancam keamanan dan keselamatan rakyat, Shantung Lo-kiam terpaksa keluar juga, dan biarpun masih membawa Yang-kimnya, namun diam-diam pedangnya digantungnya lagi di balik jubahnya dan dialah yang mengikuti gerak-gerik para penjahat sehingga secara kebetulan dia dapat mengetahui tentang pertemuan rahasia para penjahat itu.
Diapun mendengar akan undangan pertemuan para pendekar, maka setelah dia mengetahui rahasia para tokoh sesat, cepat-cepat dia mengunjungi Pek-ho-pai karena ketua Pek-ho-pai, yaitu Hwa Siong Hwesio, adalah seorang sahabat baiknya.
Demikianlah, pertemuan para pendekar dibatalkan demi keamanan, akan tetapi, para pendekar semakin waspada karena tahu bahwa Cap-sha-kui sudah bergerak, bahkan Iblis Buta yang tadinya hanya dikenal namanya saja, kini kabarnya turun tangan sendiri memimpin para gerombolan kaum sesat!
Seperti juga para pendekar lainnya yang berkunjung ke Puncak Bukit Perahu untuk menghadiri pertemuan para pendekar, Sui Cin yang sudah memisahkan diri dari Cia Sun, ketika berada di lereng bawah puncak, bertemu pula malam itu dengan seorang murid Pek-ho-pai.
Ketika itu, Sui Cin sedang duduk seorang diri menanti datangnya pagi sambil membuat api unggun di bawah pohon, untuk mengusir nyamuk yang mengganggunya.
Tiba-tiba berkelebat bayangan orang dan pendekar wanita ini tetap tenang saja.
Ia tahu bahwa ada orang datang, akan tetapi karena ia tidak tahu siapa orang itu dan entah kawan atau lawan, maka ia bersikap tenang saja dan diam-diam mencurahkan seluruh kewaspadaannya berjaga diri.
"Nona, apakah nona seorang calon pengunjung pertemuan di Puncak Bukit Perahu?"
Tiba-tiba terdengar suara orang dan muncullah orang yang tadi bayangannya berkelebat itu dari balik batang pohon.
Kiranya dia seorang laki-laki setengah tua, berusia empat puluhan tahun dan bersikap gagah, pakaiannya serba putih.
Pertanyaannya diajukan dengan suara sopan akan tetapi sikapnya ragu-ragu karena dia masih belum yakin benar apakah gadis remaja ini juga hendak mengunjungi pertemuan para pendekar.
Di lain fihak, Sui Cin tidak mengaku begitu saja kepada orang yang belum dikenalnya.
Ia harus berlaku hati-hati, karena siapa tahu kalau-kalau orang ini termasuk fihak lawan.
"Apakah hubungannya keadaan diriku dengan engkau?"
Ia balas bertanya, pandang matanya penuh selidik dan penuh tantangan. Laki-laki itu menjura.
"Kalau nona termasuk seorang calon pengunjung, kami datang membawa berita penting. Saya adalah anggauta Pek-ho-pai dan menerima perintah suhu untuk menyampaikan berita kepada para calon pengunjung."
"Berita apakah itu?"
Sui Cin tertarik.
"Maaf, harap nona sudi memperkenalkan diri lebih dulu agar jangan sampai saya keliru melaksanakan tugas."
Sui Cin tersenyum.
Dia dapat memaklumi keadaan orang yang menjadi utusan ini.
Ia sudah mendengar bahwa Pek-ho-pai merupakan perkumpulan yang mempelopori pertemuan itu dan ia sudah mendengar pula bahwa Pek-ho-pai adalah perkumpulan yang merupakan cabang dari Siauw-Lim-Pai.
"Akupun boleh meragukan dirimu!"
Katanya dan tiba-tiba saja gadis ini sudah meloncat dari belakang api unggun dan langsung mengirim serangan-serangan kilat kepada orang itu!
Orang berpakaian putih itu terkejut setengah mati melihat betapa hebatnya serangan Sui Cin.
Maka diapun cepat melindungi dirinya, menggunakan ilmu silatnya untuk mengelak dan menangkis, juga balas menyerang karena tanpa balas menyerang dia dapat celaka menghadapi lawan yang gerakannya amat cepatnya ini.
Akan tetapi, tentu saja Sui Cin tidak menyerang sungguh-sungguh, hanya memancing saja.
Kalau ia sungguh-sungguh menyerang, tentu dengan mudah ia akan dapat merobohkan lawannya.
Setelah ia melihat gerakan laki-laki itu yang membentuk kedua tangannya seperti paruh atau kepala burung bangau, menggunakan kelima ujung jari untuk mematuk atau menotok, baru ia percaya dan iapun melompat ke belakang.
"Engkau benar murid Siauw-Lim-Pai. Nah, ketahuilah bahwa aku hanya kebetulan lewat dan mendengar tentang pertemuan para pendekar itu, maka aku ingin nonton. Namaku Ceng Sui Cin dan aku sama sekali bukan pendekar, hanya gadis biasa saja."
Tentu saja omongan ini tidak diperdulikan oleh murid Pek-ho-pai itu karena dari beberapa jurus serangan tadi saja tahulah dia bahwa gadis itu memiliki ilmu silat yang hebat dan memiliki kecepatan gerak yang luar biasa.
Diapun tidak mengenal nama itu, akan tetapi sebagai peninjau, gadis inipun perlu diberi tahu.
"Maaf, nona. Saya diberi tugas memberitahukan kepada semua pengunjung bahwa pertemuan para Pendekar dibatalkan dan semua tamu diharap suka meninggalkan tempat ini sekarang juga karena Cap-sha-kui dan gerombolannya yang berjumlah besar sekali, didampingi pula oleh si Iblis Buta, besok akan mengurung dan menyerbu tempat ini."
Tentu saja Sui Cin terkejut mendengar berita itu, apaiagi mendengar sebutnya nama Si Iblis Buta.
"Ah, kenapa tidak kita lawan saja?"
Teriaknya penasaran.
Yang datang berkumpul adalah para pendekar!
Masa begitu mendengar bahwa tempat itu akan diserbu oleh golongan hitam, lalu para pendekar disuruh kabur begitu saja?
"Saya tidak dapat menerangkan banyak, nona.
Akan tetapi demikianlah perintah suhu.
Katanya tidak dikehendaki bentrokan terbuka, dan pihak musuh yang sudah lebih dahulu mempersiapkan diri, tentu jauh lebih banyak dan lebih kuat.
Nah, selamat tinggal, nona.
Saya harus memberi tahu para calon pengunjung yang lain."
Orang itu melompat dan menghilang dalam gelap.
Untuk beberapa lamanya Sui Cin duduk kembali dan termenung.
Ia tidak tahu persoalannya dan ia datang ke situ hanya untuk nonton saja.
Ayah bundanya juga sudah memesan dengan keras agar tidak mencampuri urusan orang lain, dan jangan melibatkan diri ke dalam keributan.
Kini, mendengar bahwa tempat ini hendak diserbu oleh para penjahat, tentu saja iapun tidak boleh mencampuri.
Apa lagi ia sendiri belum tahu tindakan yang akan diambil oleh para pendekar.
Sayang bahwa ia telah berpisah dari Cia Sun sehingga tidak ada yang dapat diajak berunding.
Selagi ia termenung, tiba-tiba berkelebat bayangan orang lagi.
Karena tadinya membayangkan betapa tempat itu akan diserbu musuh, maka sekali ini berkelebatnya bayangan orang membuat Sui Cin terkejut dan iapun otomatis meloncat berdiri dan siap melawan siapa saja yang akan menyerangnya.
Akan tetapi orang itu tertawa ramah.
"Ha-ha, nona Ceng, apakah aku membuatmu terkejut? Maafkanlah kalau begitu, aku tidak sengaja mengejutkan hatimu."
Ceng Sui Cin memandang dengan hati lega.
Wajah yang tampan itu berseri dan senyum itu ramah sekali.
Iapun tersenyum dan seluruh urat syarat yang tadi sudah menegang kini kembali mengendur dan hatinya lega.
"Aih, kiranya engkau, saudara Sim Thian Bu."
Lalu ia teringat akan berita dari murid Pek-ho-pai tadi.
"Apakah engkau juga sudah mendengar akan berita yang dibawa murid Pek-ho-pai tadi?"
Pemuda yang baru datang itu adalah Sim Thian Bu.
Wajahnya yang tadinya tersenyum berseri itu nampak terheran mendengar ucapan Sui Cin.
"Murid Pek-ho-pai? Berita tentang apa? Aku belum mendengarnya, nona."
"Baru saja dia datang ke sini. Aku sudah mengujinya dan ternyata dia benar murid Pek-ho-pai karena dia mahir Ilmu Silat Bangau Putih. Dia membawa berita bahwa pertemuan para pendekar besok hari itu dibatalkan."
"Dibatalkan?"
Sim Thian Bu nampak terkejut dan kecewa.
"Aih, jauh-jauh aku datang untuk menghadiri pertemuan dan belajar kenal dengan para pendekar... wah, nona, kenapa dibatalkan?"
"Karena besok tempat ini akan dikurung dan diserbu oleh para penjahat..."
"Hemmm..."
"Kaum sesat itu berjumlah banyak sekali, dipimpin oleh Cap-sha-kui sendiri."
"Benarkah...?"
"Bukan itu saja. Malah kabarnya Iblis Buta akan datang pula."
"Hebat! Kenalkah nona kepada datuk-datuk itu?"
"Tidak, hanya namanya saja yang kukenal."
"Kalau begitu, nona juga akan pergi dari sini, tidak jadi menghadiri pertemuan para pendekar?"
"Ya, pertemuan itu tidak jadi, untuk apa dihadiri dan ditunggu?"
"Memang sebaiknya kalau kita pergi saja sekarang juga meninggalkan tempat ini, nona."
"Kita...?"
"Ya, kita. Apa salahnya kalau kita pergi bersama? Bukankah kita sudah saling berkenalan dan berarti kita adalah sahabat?"
Sui Cin tersenyum.
"Hemm, tidak selalu kenalan berarti sahabat."
Sim Thian Bu juga tersenyum.
"Akan tetapi aku ingin bersahabat denganmu, nona."
"Kenapa?"
"Karena engkau lihai..."
"Hemm, bagaimana engkau tahu aku lihai?"
"Mana mungkin engkau tidak lihai kalau engkau puteri Pendekar Sadis?"
Sui Cin diam sejenak, memandang wajah orang itu.
Wajah yang tampan menarik, tubuh yang tegap dengan pakaian yang bersih dan rapi, seperti pakaian seorang sasterawan muda yang kaya.
Untuk bercakap-cakap, pemuda ini lebih menarik dari pada Cia Sun walaupun tentu saja terhadap Cia Sun ia sudah menaruh kepercayaan penuh yang agaknya terpengaruh oleh kenyataan bahwa Cia Sun adalah putera tunggal Cia Han Tiong, kakak angkat atau juga kakak seperguruan ayahnya.
Sebaliknya, pemuda yang bernama Sim Thian Bu ini baru dikenalnya, belum diketahuinya benar keadaannya walaupun kelihatannya pantas menjadi seorang pendekar pula.
"Hati-hati berhadapan dengan manusia, anakku,"
Demikian antara lain ibu kandungnya sering memberi nasihat.
"Di dunia ini penuh dengan manusia yang palsu, yang pada lahirnya nampak baik dan dapat dipercaya, akan tetapi sesungguhnya adalah manusia jahat yang berbahaya, seperti harimau bertopeng domba."
Ia tidak akan kehilangan kewaspadaan, pikirnya dan biarpun ia merasa suka bergaul dengan pemuda tampan yang berwajah gembira dan pandai bicara ini, namun ia belum menyerahkan seluruh kepercayaannya dan diam-diam bersikap waspada.
"Kalau kita pergi dari sini, ke mana tujuanmu?"
Ia bertanya sambil mengemasi selimut yang tadi dipakainya untuk melewatkan malam di tempat itu dan membuntal semua pakaiannya.
"Ke Mana? Ha-ha, nona, sudah kuberitahukan bahwa aku adalah seorang perantau yang tidak mempunyai tujuan tertentu ke mana akan pergi. Ke mana saja, asal dapat meluaskan pengalaman memperlebar pengetahuan. Kabarnya, di sebelah selatan, hanya perjalanan satu hari, terdapat sebuah telaga yang amat indah. Bagaimana kalau kita melancong ke sana? Tentu saja kalau nona suka."
Pemuda itu memang pandai mengatur kata-katanya sehingga menyenangkan hati Sui Cin.
Di dalam ucapannya itu terkandung bujukan, akan tetapi jelas bukan paksaan dan menyerahkan keputusannya kepada Sui Cin dan mementingkan perasaan gadis itu.
"Baik, kita pergi ke sana,"
Kata Sui Cin.
Ia mengambil keputusan untuk barsenang-senang dahulu sebelum pulang ke Pulau Teratai Merah yang telah ditinggalkan selama berbulan-bulan itu.
Cin-an adalah sebuah kota besar yang terletak di Lembah Huangho di Propinsi Shantung.
Daerah ini memiliki tempat-tempat peristirahatan atau tempat rekreasi yang indah-indah karena tanahnya memang subur.
Di luar kota Cinan, di pantai Sungai Huangho yang airnya berlimpah-limpah, terdapat sebuah kebun yang luas.
Di sini selain terdapat pohon-pohon kembang yang beraneka ragam dan warna, Juga terdapat gunung-gunungan dan sebuah telaga buatan yang kecil di tengah-tengah kebun di mana orang dapat berperahu, memancing ikan, berenang-renang dan sebagainya.
Setiap hari ada saja orang mengunjungi kebun ini dan terutama sekali para pembesar dan orang kaya menggunakan tempat ini untuk pelesir dan menghibur hati di atas perahu mereka, minum-minum sambil mendengarkan musik, nyanyian dan menonton terian para penyanyi dan penari yang sengaja mereka bawa untuk bersenang-senang.
Akan tetapi pada hari itu, di kebun itu agak sepi.
Hanya nampak beberapa orang berjalan-jalan di sana-sini, ada pula yang sedang duduk di perahunya memancing ikan, ada pula yang berjalan-jalan di sekeliling telaga.
Beberapa buah perahu kecil yang didayung oleh dua orang hilir-mudik di atas permukaan air sambil bercakap-cakap dan minum arak.
Seorang pelukis tua di atas gunung-gunungan asyik melukis telaga dengan perahu-perahunya dan seorang penyair sedang corat-coret dengan alis berkerut, Menyatakan kesan dan perasaan hatinya berbentuk huruf-huruf tersusun indah.
Agaknya sang penyair ini belum juga dapat menemukan rangkaian huruf yang memuaskan hatinya.
Berkali-kali dia merobek lagi kertas yang ditulisnya dan akhirnya diapun bangkit berdiri, mulutnya berkemak-kemik menggulung sajak yang dikarangnya dan kakinya melangkah menaiki gunung-gunungan di mana sang pelukis tengah melukis dengan asyiknya.
Tak lama kemudian, penyair itu telah berdiri di belakang sang pelukis, tanpa mengeluarkan suara gaduh agar tidak mengganggu pekerjaan orang, dia memandang lukisan yang mulai berbentuk itu.
Tiba-tiba wajahnya berseri dan seperti tanpa disadarinya dia berkata lirih sambil memandang ke arah lukisan itu.
"... gerakan air dan awan berobah setiap saat tanpa bekas, tanpa tujuan..."
Penyair itu bertepuk tangan dengan girang.
"Ah, benar sekali. Di dalam lukisan terkandung sajak, di dalam syair terkandung lukisan, keduanya tak dapat dipisahkan!"
Akan tetapi setelah mengeluarkan ucapan yang nadanya gembira ini, dia berbisik.
"Dua orang bercaping lebar yang sedang memancing ikan, itulah mereka."
Si pelukis memandang ke arah pemukaan telaga di mana terdapat dua orang setengah tua sedang sibuk memancing.
Caping mereka yang lebar menyembunyikan muka mereka, dan dari bawah caping itu, mata mereka Kadang-kadang ditujukan ke arah seorang pemuda yang sedang mendayung perahu seorang diri sambil minum arak!
Dua orang bercaping lebar itu memiliki bentuk tubuh yang tegap, dan pandang mata mereka tajam, juga di balik jubah mereka terdapat sebatang pedang.
Kini pelukis itu membenahi barang-barangnya, menggulung lukisannya dan bersama si penyair lalu menuruni gunung-gunungan menuju ke tepi telaga.
Mereka berjalan perlahan sambil bercakap-cakap dan keduanya nampak akrab sekali, mungkin karena keduanya seniman.
Usia mereka sebaya, kurang lebih lima puluh tahun dan mereka mengenakan pakaian sasterawan yang sederhana.
Orang-orang takkan mencurigai dua orang laki-laki ini karena tempat itu memang biasa dikunjungi para seniman.
Akan tetapi kalau orang memandang kepada dua orang kakek sederhana itu dengan penuh perhatian dan melihat ke arah tangan mereka, orang itu akan terkejut karena ada sesuatu yang tidak wajar pada tangan mereka.
Tangan seniman biasanya halus dan lembut, akan tetapi tangan kedua orang seniman tua ini, dari pergelangan sampai ke ujung jari-jari tangan, nampak kebiruan!
Bagi ahli silat, hal ini menjadi tanda bahwa kakek-kakek seniman ini pernah mempelajari ilmu pukulan yang ampuh!
Memang demikianlah.
Dua orang kakek ini bukan orang-orang sembarangan melainkan tokoh-tokoh dari Kang-Jiu-Pang!
Kang-Jiu-Pang (Perkumpulan Kepalan Baja) didirikan oleh seorang kakek gagah perkasa bernama Song Pak Lun dan perkumpulan itu berpusat di Cinan.
Song Pak Lun adalah bekas perwira tinggi yang ikut didepak keluar karena menentang kebijaksanaan Liu-thaikam.
Dia tidak mendendam karena dikeluarkan, melainkan sebagai seorang patriot yang mencinta negaranya, dia merasa prihatin melihat betapa pemerintah dikendalikan oleh pembesar lalim seperti Liu-thaikam yang dapat menguasai kaisar muda yang belum berpengalaman.
Maka diapun selalu bersikap menentang.
Dalam usianya yang enam puluh tahun itu, Song Pak Lun masih penuh semangat dan dia memiliki banyak murid yang menjadi anggauta Kang-Jiu-Pang.
Ketika dia mendengar bahwa kaisar dalam penyamaran sedang berpelesir meninggalkan istana dan diam-diam hanya dikawal oleh dua orang perwira pengawal, dia lalu mengerahkan para pembantu utamanya untuk bertindak.
Kaisar harus ditawan, diculik, demiklan keputusannya.
Sebagai seorang bekas perwira, tentu saja Song Pak Lun hanya dapat mempergunakan cara militer untuk berusaha menolong pemerintah.
Dia hendak menawan kaisar muda itu dan memaksa kaisar, kalau perlu dengan ancaman nyawa, agar kaisar suka menghukum atau memecat Liu-thaikam!
Dan kini muncul kesempatan yang amat baik baginya untuk melaksanakan maksud itu.
Kebetulan kaisar muda itu melakukan perjalanan ke daerah Cinan, menyamar sebagai seorang pemuda biasa!
Dua orang pria bercaping lebar itu memang dua orang perwira pengawal pribadi kaisar.
Mereka adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi dan memperoleh kepercayaan Liu-thaikam yang diam-diam mengutus dua orang pengawal untuk melindungi keselamatan kaisar.
Tentu saja Liu-thaikam amat setia kepida kaisar!
Liu-thaikam setia kepada kaisar, sebetulnya dia mempertahankan kesenangan yang diperolehnya dari kaisar.
Karena kalau kaisar celaka, berarti dia sendiripun celaka!
Dan bentuk kesenangan yang diperoleh seseorang bukan hanya terbatas pada kesenangan lahiriah berupa harta benda, pangkat tinggi dan kedudukan, melainkan dapat saja berupa kesenangan batiniah berupa nama terhormat dan sebagainya.
Kita kembali kepada pemuda yang sedang duduk seorang diri dalam perahunya sambil minum arak, menikmati pemandangan indah dan hawa yang sejuk bersih menyegarkan di pagi hari itu.
Pemuda itu berpakaian seperti seorang sastrawan, berwajah tampan akan tetapi ada bayangan sifat manja dan malas di balik ketampanannya.
Pemuda berusia sembilan belas tahun ini adalah Kaisar Ceng Tek!
Semenjak diangkat menjadi kaisar dalam usia lima belas tahun, empat tahun yang lalu, kaisar muda ini tidak pernah memperlihatkan minat yang besar terhadap pemerintahan.
Dia lebih senang menghibur diri dengan permainan silat, atau membaca kitab kuno, bergaul dengan para seniman, dan setelah usianya makin dewasa mulailah dia suka bergaul dengan wanita.
Liu-thaikam yang tahu akan kesukaan ini, dalam usahanya untuk menguasai hati kaisar, tentu saja menyediakan segala sesuatu yang diinginkan kaisar itu.
Gadis-gadis cantik, seniman-seniman pandai, sehingga kaisar muda itu makin tenggelam ke dalam kesenangan tanpa memperdulikan urusan pemerintah.
Dan satu di antara kesenangannya adalah merantau dan bertualang seperti seorang pemuda biasa, menanggalkan pakaian kebesaran dan mahkota yang berat itu, meninggalkan upacara-upacara kerajaan yang membosankan, meninggalkan urusan-urusan pemerintahan yang ruwet-ruwet, meninggalkan semua itu agar diurus oleh Liu-thaikam.
Sedangkan dia sendiri bebas lepas di udara seperti burung, terbang melayang sekehendak hatinya!
Kaisar Ceng Tek, sebagai seorang yang paling berkuasa tentu dapat melepaskan diri atau mencoba untuk melepaskan diri sewaktu-waktu dari belenggu itu.
Akan tetapi apa yang dilakukannya bukanlah membebaskan diri dari belenggu melainkan hanya suatu pelarian sementara saja karena pada hakekatnya dia masih mempergunakan haknya sebagai kaisar, berarti masih ingin menikmati hasil dari kekuasaannya.
Dan akibat dari pelarian ini adalah kekacauan!
Roda pemerintahan dikendalikan oleh orang lain yang melakukannya demi ambisi pribadi, demi penumpukan harta benda.
Pada pagi hari itu, Kaisar Ceng Tek duduk dalam perahu kecil sambil tersenyum-senyum gembira, mengira bahwa tidak ada seorangpun yang mengetahui keadaan dirinya.
Dia tidak tahu bahwa tidak jauh dari perahunya, dua orang tukang pancing setengah tua itu tak pernah melepaskannya dari pengamatan dan pengawalan.
Juga dia tidak tahu bahwa ada beberapa pasang mata orang lain yang selalu memperhatikan gerak-geriknya dan bahwa pada saat itu dia menjadi pusat perhatian banyak orang dan berada dalam keadaan terancam.
Ketika itu, si penyair dan si pelukis yang sebetulnya adalah dua orang tokoh Kang-Jiu-Pang yang lihai, yang merupakan pembantu-pembantu utama dari ketua Kang-Jiu-Pang dan yang bertugas memimpin usaha penculikan kaisar, telah naik sebuah perahu kecil, mendayungnya sambil minum arak dan si penyair bernyanyi-nyanyi kecil membacakan sajaknya.
Perahu mereka mendekati dua orang kakek yang sedang memancing ikan itu dan tiba-tiba perahu mereka itu menabrak perahu dua orang tukang pancing yang bercaping dan yang tidak menyangka-nyangka itu.
"Heiii..."
Seorang di antara mereka berteriak, akan tetapi tiba-tiba saja sikap dua orang kakek seniman itu berobah.
Mereka sudah meloncat dan menggunakan dayung mereka menghantami ke arah dua orang kakek bercaping.
"Heiiiittt!"
"Hyaaattt..."
Dua orang bercaping itupun meloncat, mengelak dan mencabut pedang yang tersembunyi di balik jubahnya.
Si pelukis menggunakan jangkar perahu untuk mengait perahu lawan dan kini dua perahu itu bergandeng dan mereka berempat mulai berkelahi dengan seru.
Dua orang seniman itu menggunakan dayung, dibantu tangan yang melancarkan pukulan-pukulan ampuh dengan tangan baja mereka, sedangkan dua orang tukang pancing itu menggunakan pedang.
Dua buah perahu yang digandeng dengan jangkar dan talinya itu bergoyang-goyang keras dan setiap saat perahu-perahu itu dapat saja terguling.
Kaisar Ceng Tek yang perahunya berada tak jauh dari situ, terkejut mendengar suara gaduh dan makin kagetlah dia melihat empat orang laki-laki sedang saling serang dengan hebatnya.
Dia adalah seorang pemuda yang suka bertualang.
Karena tidak tahu persoalannya, mengira bahwa perkelahian itu tidak ada sangkut-pautnya dengan dirinya, sang kaisar bangkit berdiri di perahunya dan menonton dengan gembira!
Satu di antara kesukannnya adalah menyaksikan pertandingan silat dan kini dia disuguhi pertandingan yang seru dan menarik di atas dua buah perahu yang digandeng menjadi satu, antara empat orang kakek yang agaknya memiliki ilmu silat yang hebat.
"Ceppp..."
Perahu kecil itu terguncang dan sang kaisar hampir saja terpelanting.
Dia cepat duduk dan berpegang kepada tepi perahu sambil menggerakkan dayungnya mencegah agar perahunya tidak terguling.
Kiranya setelah dia duduk, dia melihat betapa sebatang anak panah yang besar telah menancap di badan perahunya dan gagang anak panah itu diikat sehelai tali dan kini perahunya bergerak, ditarik oleh sebuah perahu lain di depan yang ditumpangi oleh dua orang laki-laki bertubuh tegap!
"Heiii, apa-apaan ini?
Lepaskan perahuku!"
Sang kaisar berteriak marah.
"Tenanglah saja, sri baginda!"
Terdengar suara di belakangnya.
Kaisar Ceng Tek cepat menengok dan ternyata di sebelah belakang perahunya terdapat tiga buah perahu lain yang masing-masing didayung oleh dua orang laki-laki tegap dan nampak gagah.
Ternyata yang berusaha menculiknya ada empat perahu dengan delapan orang, tidak termasuk dua orang kakek yang sedang bertanding melawan dua orang bercaping itu.
Kaisar Ceng Tek bukanlah seorang anak kecil.
Dia tahu bahwa dirinya sudah berada dalam kekuasaan para penculiknya.
Tidak ada jalan meloloskan diri karena mereka itu sudah mengenal siapa dia.
Untuk berteriak-teriak, selain belum tentu akan ada yang berani menolong, juga betapa mudahnya bagi para penculiknya itu untuk membunuhnya kalau mereka kehendaki.
Jalan satu-satunya hanyalah menyerah saja sambil melihat bagaimana perkembangannya.
Dia juga tahu bahwa mereka tentu tidak berniat membunuhnya, karena kalau demikian halnya, perlu apa mereka itu bersusah-susah hendak menawannya?
Tidak nampak ada petugas jaga di tempat itu, maka tidak ada yang diharapkannya untuk dapat menolongnya dari orang-orang ini.
Kini perahu sang kaisar telah ditarik ke pinggir telaga dan dua orang meloncat ke dalam perahu kecil itu.
"Harap paduka menyerah saja dan menurut kehendak kami dari pada paduka harus dipaksa dengan kekerasan,"
Kata seorang di antara mereka yang tertua, berusia lima puluh tahun lebih dan memegang pedang.
"Mari kita mendarat."
Kaisar Ceng Tek mengangkat bahu, bersikap tenang biarpun jantungnya berdebar penuh ketegangan, bahkan ada sedikit kegembiraan karena petualangannya ini sungguh amat menarik, lalu diapun melangkah keluar dari perahu dan mendarat.
Akan tetapi, pada saat delapan orang itu mendarat semua, tiba-tiba terdengar suara bentakan nyaring.
"Tikus-tikus bosan hidup!"
Tiba-tiba saja, seperti setan, muncul seorang wanita yang mukanya berkedok hitam tipis, menyembunyikan bentuk mukanya dan yang tampak hanya sepasang mata yang liar, hidung kecil dan mulut lebar yang giginya besar-besar putih.
Begitu muncul, tangan kirinya bergerak dan sinar-sinar halus menyambar ke arah orang-orang Kang-Jiu-Pang itu.
"Awas senjata rahasia!"
Teriak orang tertua.
Para anggauta Kang-Jiu-Pang yang rata-rata memiliki kepandaian cukup tinggi itu cepat berloncatan mengelak.
Akan tetapi pada saat itu terdengar suara ketawa mengejek.
"Ha-ha-ha, orang-orang Kang-Jiu-Pang hendak berlagak!"
Dan muncul pula seorang kakek tinggi besar bermuka hitam kasar dan penuh brewok.
Kakek ini memegang sebatang pecut baja yang panjang dan pada ujungnya terdapat paku besar.
Mata kakek ini bulat, hidungnya besar dan mulutnya lebar.
Pakaiannya jorok dan kotor.
Melihat munculnya dua orang ini, delapan orang Kang-Jiu-Pang terkejut bukan main.
Mereka segera mengenal kakek Koai-pian Hek-mo dan nenek Hwa-hwa Kuibo, dua orang datuk kaum sesat di muara Huangho dan mereka juga merasa heran karena tidak biasa dua orang datuk sesat ini turun tangan mengacaukan dunia.
"Jiwi locianpwe, harap jangan mencampuri urusan dalam Kang-Jiu-Pang. Urusan ini tidak ada sangkut-pautnya dengan jiwi atau dengan golongan jiwi!"
Kata orang tertua dari Kang-Jiu-Pang dengan sikap hormat untuk menghindarkan bentrokan dengan dua orang datuk kaum sesat ini.
Dan memang, mereka sedang melaksanakan tugas yang tidak ada hubungannya dengan golongan manapun, sehingga tidak perlu menimbulkan perkelahian yang hanya akan menghalangi pekerjaan mereka.
"Ha-ha-ha!"
Koai-pian Hek-mo tertawa mengejek, sehingga nampak giginya yang kuning kotor.
"Kalian hendak menculik kaisar dan masih bilang urusan dalam? Ha-ha, kami memang tidak ada sangkut-pautnya, akan tetapi Liu-thaikam tentu tidak akan membiarkan begitu saja!"
Mendengar ucapan ini, terkejutlah orang-orang Kang-Jiu-Pang itu.
Kiranya Liu-thaikam sudah bertindak sedemikian jauhnya sehingga berani mempergunakan datuk-datuk kaum sesat untuk menjadi antek-antek dan kaki tangannya!
Maka, sambil mengeluarkan seruan marah, para murid Kang-Jiu-Pang lalu menerjang maju, menyerang kakek dan nenek iblis itu!
Dua orang kakek dan nenek iblis itu tertawa mengejek.
Karena orang-orang Kang-Jiu-Pang itu, sesuai dengan nama perguruannya, sudah melatih kedua tangan mereka yang berwarna gelap, maka mereka biasanya berkelahi mengandalkan kedua tangan itu.
Melihat ini, Koai-pian Hek-mo dan Hwa-hwa Kuibo yang mempertahankan gengsi mereka sebagai datuk kaum sesat, tidak mempergunakan senjata mereka.
Nenek itu tidak mencabut pedangnya, dan Koai-pian Hek-mo malah menyimpan cambuk bajanya dan mereka menyambut serangan tujuh orang murid Kang-Jiu-Pang dengan tangan kosong pula.
Para murid Kang-Jiu-Pang memiliki sepasang tangan yang terlatih, kuat dan antep pukulan mereka.
Akan tetapi sekali ini mereka menghadapi dua orang lawan yang memiliki tingkat kepandaian jauh lebih tinggi, maka biarpun tujuh orang mengeroyok dua orang, tetap saja para murid Kang-Jiu-Pang itu kewalahan dan beberapa orang di antara mereka sudah beberapa kali jatuh bangun terkena serempetan tangan atau kaki dua orang iblis itu.
Adapun murid tertua yang tadi menjadi wakil pembicara, tidak ikut mengeroyok, melainkan dengan pedang di tangan menjaga sang kaisar yang menonton dengan heran dan kagum.
Dia merasa heran mengapa orang-orang yang kelihatannya seperti pendekar-pendekar gagah menculiknya, dan kini dua orang yang seperti iblis jahat malah melindunginya, dan dia kagum melihat kelihaian dua orang iblis itu.
Murid Kang-Jiu-Pang yang menjaga kaisar melihat kenyataan betapa para sutenya tidak akan menang menghadapi dua orang datuk kaum sesat itu.
Dia adalah seorang yang cerdik.
Begitu mendengar bahwa mereka berdua itu adalah kaki tangan Liu-thaikam, diapun maklum bahwa tentu saja mereka berusaha mati-matian melindungi kaisar.
Kalau terjadi apa-apa dengan kaisar hal itu berarti akan amat merugikan thaikam itu, bahkan mungkin akan meruntuhkan kekuasaannya yang hanya sementara itu.
"Berhenti, atau kubunuh kaisar..."
Tiba-tiba dia membentak dan menodongkan pedangnya yang ditempel pada leher kaisar muda itu.
Sang kaisar hanya terbelelak dan pucat karena kedua pergelangan tangannya sudah ditangkap oleh tangan kiri murid Kang-Jiu-Pang itu sedangkan lehernya ditempeli pedang yang tajam.
Tak mungkin melepaskan diri dari cengkeraman tangan kiri yang amat kuat itu.
Koai-pian Hek-mo dan Hwa-hwa Kuibo terkejut dan mereka terpaksa meloncat mundur dan dengan mata terbelalak kehabisan akal mereka melihat betapa kaisar telah ditodong oleh seorang murid Kang-Jiu-Pang.
Nekat menyerbu akan membahayakan nyawa kaisar dan kalau sampai terjadi sesuatu menimpa kaisar, mereka akan takut akan kemarahan Iblis Buta.
Akan tetapi pada saat itu murid Kang-Jiu-Pang yang menodong kaisar tiba-tiba mengeluh dan terguling pingsan, pedangnya terlepas dari pegangan.
Entah dari mana datangnya, tahu-tahu muncul seorang pemuda yang tadi melemparkan sebuah batu kerikil kecil yang tepat mengenai tengkuk murid Kang-Jiu-Pang dan membuatnya roboh pingsan itu dan pemuda ini sekarang berdiri di dekat kaisar dengan sikap hormat dan berkata lembut.
"Harap paduka jangan khawatir, sri baginda."
Melihat betapa kaisar telah terlepas dari ancaman bahaya, Koai-pian Hek-mo dan Hwa-hwa Kuibo menjadi girang sekali, dan mereka juga marah kepada para murid Kang-Jiu-Pang yang tadi sudah membuat mereka terkejut dan bingung.
Keduanya lalu mencabut senjata masing-masing lalu mengamuk.
Kasihan para murid Kang-Jiu-Pang itu.
Melawan dua orang iblis ini dalam keadaan tangan kosong saja mereka sudah kewalahan, apalagi harus melawan mereka yang menggunakan senjata keistimewaan mereka.
Koai-pian Hek-mo menggerakkan cambuk bajanya yang berujung paku itu dan dalam waktu belasan jurus saja empat orang pengeroyok roboh dan tewas dengan kepala berlubang tertusuk paku.
Juga Hwa-hwa Kuibo mengamuk dan tiga orang pengeroyok lainnya tewas oleh bacokan dan tusukan pedangnya.
Nenek ini merasa tidak puas karena dalam perkelahian ini, korbannya kalah banyak oleh Koai-pian Hek-mo, maka tangan kirinya bergerak dan belasan batang jarum beracun meluncur dan menancap ke leher dan dada murid Kang-Jiu-Pang yang masih pingsan, yaitu yang tadi menodong kaisar dan dirobohkan oleh pemuda yang baru datang.
Dengan demikian, mereka berdua telah membunuh delapan orang murid Kang-Jiu-Pang itu, seorang empat!
Kini dua orang kakek dan nenek iblis itu memandang kepada pemuda yang telah menyelamatkan kaisar dan keduanya tertegun kagum.
Seorang pemuda yang tampan dan ganteng!
Karena dua orang ini memang memiliki watak cabul dan keduanya suka kepada pemuda ganteng, maka wajah mereka berseri dan nenek berkedok itu tersenyum-senyum, mulutnya yang lebar terbuka dan nampaklah deretan gigi putih yang besar-besar.
Pemuda itu memang ganteng.
Tubuhnya tinggi besar dan tegap, dengan dada bidang dan pinggang kecil, tubuh yang membayangkan kekuatan dahsyat, wajahnya yang tampan itu berseri dan cerah, agaknya gembira selalu.
Bibirnya yang berbentuk bagus dan gagah itu selalu tersenyum dan sepasang mata yang jernih dan tajam itupun selalu berseri gembira.
Akan tetapi pakaian pemuda ini sembarangan saja, kedodoran dan agaknya dia jauh dari pada pesolek.
Biarpun pakaiannya sederhana kedodoran, namun pakaian itu tidak dapat menyembunyikan tubuhnya yang padat berisi dan kuat.
Pemuda berusia dua puluh satu tahun ini memang amat menarik, merupakan seorang pemuda tampan gagah yang agaknya selalu bergembira.
Ketika tadi dia menyelamatkan kaisar dan melihat betapa sepasang iblis itu membunuhi delapan orang musuh, dia hanya mengerutkan alisnya yang hitam tebal tanpa menghilangkan senyumnya.
Dia hanya berkewajiban menyelamatkan kaisar, dan urusan antara delapan orang itu dengan dua iblis ini bukanlah urusannya dan dia tidak ingin mencampuri.
Pada saat itu, dua orang pengawal rahasia kaisar, yaitu dua orang perwira yang tadi menyamar sebagai dua orang tukang pancing kemudian diserang oleh dua orang tokoh Kang-Jiu-Pang yang menyamar sebagai dua orang seniman, datang berlarian dengan pakaian basah kuyup.
Mereka kelihatan gembira sekali melihat kaisar dalam keadaan selamat dan mereka berdua lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki kaisar.
"Hamba berdua menghaturkan selamat kepada paduka yang telah terbebas dari ancaman bahaya berkat pertolongan orang-orang gagah ini,"
Kata seorang di antara mereka.
Kaisar Ceng Tek merasa jengkel melihat penyamarannya dikenal orang.
Rahasianya telah terbuka dan tidak ada gunanya lagi berpura-pura, maka diapun mengerutkan alisnya bertanya.
"Kalian siapa?"
"Hamba berdua adalah perwira pengawal yang diutus oleh Liu-taijin untuk melindungi paduka. Ampunkan, hamba yang hampir gagal melindungi paduka."
"Sudahlah, ceritakan apa yang telah terjadi!"
Kata kaisar tak sabar.
"Hamba berdua menyamar sebagai tukang-tukang pancing melindungi paduka. Tiba-tiba ada dua orang, agaknya tokoh-tokoh yang menyamar pula, menabrakkan perahunya kepada perahu hamba dan terjadilah perkelahian. Ternyata mereka berdua itu hanya menghalangi hamba berdua agar tidak dapat mencegah ketika kawan-kawan mereka menculik paduka dan menarik perahu paduka. Hamba berdua melawan mati-matian sampai perahu kami semua terguling. Mereka lalu melarikan diri sambil berenang ketika melihat betapa usaha kawan-kawan mereka gagal. Dan hamba berdua sempat menyaksikan betapa paduka diselamatkan oleh tiga orang gagah ini."
Kaisar ini menghadapi kakek dan nenek itu dan diam-diam hatinya bergidik.
Dua orang ini seperti iblis saja.
"Siapakah kalian?"
Tanyanya singkat.
Biarpun dua orang itu adalah datuk-datuk kaum sesat yang biasanya bersikap tidak acuh dan tidak memperdulikan sopan santun, kini setelah mereka tahu bahwa mereka berhadapan dengan kaisar, keduanya merasa canggung dan juga gentar.
Mereka saling pandang, merasa tidak enak kalau harus memperkenalkan julukan mereka yang menyeramkan.
Apaiagi nenek itu, merasa tidak sanggup untuk menjawab dan dengan pandang matanya di balik kedok, ia menyerahkan saja jawabannya kepada rekannya!
Hampir saja Koai-pian Hek-mo memaki melihat kelicikan nenek itu, akan tetapi dia tidak berani sembrono lalu menjura.
"Kami berdua ingin membantu usaha Liu-thaikam yang hendak melindungi paduka dan mereka ini adalah orang-orang Kang-Jiu-Pang yang memberontak. Kami berdua sekarang juga akan menyerbu ke sarang Kang-Jiu-Pang dan akan kami basmi sampai habis semua anggautanya!"
Kaisar mengerutkan alisnya.
Dia tidak senang dengan bunuh-bunuhan ini, dan tadipun melihat delapan orang itu terbunuh, dia sudah merasa muak, biarpun delapan orang itu tadi berusaha untuk menculiknya.
Maka tanpa mengeluarkan komentar diapun lalu menoleh kepada pemuda tampan yang pakaiannya nyentrik itu.
"Dan engkau siapa?"
Pemuda itu menjura dengan sikap hormat.
"Hamba adalah pelancong yang kebetulan lewat dan melihat paduka, yang tadinya tidak hamba sangka adalah sri baginda dan baru hamba ketahui setelah mendengarkan percekcokan mereka, terancam bahaya, hamba merasa berkewajiban untuk menyelamatkan paduka dari ancaman bahaya."
Kaisar semakin jengkel.
Orang-orang ini adalah orang-orang kang-ouw yang dia tahu berwatak aneh-aneh.
Orang-orang Kang-Jiu-Pang yang seperti pendekar-pendekar itu, ternyata malah menculiknya.
Dua kakek dan nenek iblis yang kelihatan kejam ini malah menyelamatkannya, dan pemuda yang pakaiannya tidak karuan inipun agaknya enggan memperkenalkan nama.
Ah, diapun tidak ingin berkenalan dengan segala macam petualang itu.
Maka diapun berpaling kepada dua orang perwira pengawal.
"Mari, antar aku pulang, aku lelah sekali!"
Tanpa banyak cakap dan tanpa menoleh lagi kepada kakek dan nenek iblis, juga kepada pemuda tampan itu, kaisar lalu meninggalkan tempat itu, diiringkan oleh dua orang pengawalnya.
Setelah kaisar pergi, nenek itu terkekeh.
"Huhhuh, begitu sajakah kaisar? Tak mengenal budi! Eh, orang muda, engkau tadi sudah membantu kami, sungguh engkau merupakan sahabat yang baik!"
"Kaisar tidak minta dilindungi, kenapa engkau mengomel?"
Koai-pian Hek-mo mencela nenek itu, kemudian dilanjutkan kepada si pemuda.
"Orang muda yang gagah, siapakah engkau dan dari perguruan mana? Aku suka sekali bersahabat denganmu!"
"Jangan percaya omongannya! Paling-paling engkau akan dijadikan teman tidurnya!"
Hwa-hwa Kuibo mengejek.
"Wah, masih jauh lebih baik dari pada menjadi pacar nenek seperti tua bangka ini!"
Koai-pian Hek-mo membalas dan keduanya berdiri berhadapan dengan sikap beringas.
Pemuda itu tersenyum.
"Ha-ha, sungguh lucu sekali kalian ini. Kalau aku tidak salah, engkau tentulah Koai-pian Hek-mo dan engkau ini Hwa-hwa Kuibo, dua orang datuk muara Huangho yang terkenal itu, bukan?"
"Bagus engkau sudah mengenal namaku, orang muda. Engkau ikutlah aku dan menjadi muridku yang terkasih!"
Kata Koai-pian Hek-mo sambil menatap wajah yang tampan itu.
"Engkau menjadi muridku saja, dan apapun yang kau minta tentu terlaksana."
"Wah, bingung aku. Kalian berdua sama-sama hebat, sama-sama lihai, berat hatiku memilih yang mana. Tentu aku akan senang sekali menjadi murid kalian. Bagaimana kalau kalian berebut saja? Bertanding untuk menentukan siapa yang berhak menjadi guruku? Yang menang itulah guruku!"
Kata si pemuda sambil tertawa.
"Bagus!"
Hwa-hwa Kuibo berseru dan nenek yang agaknya sudah ingin sekali segera dapat memiliki pemuda yang mengairahkan hatinya itu tanpa banyak cakap lagi sudah menyerang Koai-pian Hek-mo dengan pedangnya!
Kakek itupun menjadi marah dan cepat dia menangkis dengan pecut bajanya dan balas menyerang.
Dua orang kakek dan nenek ini sudah saling serang dengan hebat dan mati-matian untuk memperebutkan pemuda tampan yang menarik hati itu tanpa menyelidiki lebih dulu siapa adanya pemuda yang baru saja mereka jumpai itu.
Ada dua puluh jurus lewat mereka saling serang dan baru mereka melihat bahwa pemuda yang menjadi sebab perkelahian mereka itu ternyata sudah tidak ada lagi di situ, telah pergi dengan diam-diam tanpa mereka ketahui karena mereka hanya mencurahkan perhatian untuk mencari kemenangan!
"Celaka, kita tertipu!"
Bentak Koai-pian Hek-mo sambil meloncat mundur.
"Engkau tua bangka, kenapa tidak mau mengalah sampai dia pergi tanpa kuketahui siapa namanya dan di mana tempat tinggalnya?"
"Bagaimanapun juga, dia tadi telah membantu kita. Tentu dia seorang di antara sahabat dan kelak kita tentu akan bertemu lagi. Mari kita lanjutkan tugas panting kita!"
"Tapi aku belum kalah!"
Tantang si nenek.
"Akupun belum!"
"Mari kita lanjutkan!"
"Hushhh! Ingin kulaporkan kepada lojin bahwa engkau tidak mentaati perintah?"
"Sialan! Mulut runcing!"
Si nenek mengomel, akan tetapi hatinya gentar juga.
Paling ngeri kalau orang sudah menyebut lojin dan iapun tidak berani lagi banyak cakap.
Mereka lalu mempergunakan ilmu berlari cepat menuju ke Cin-an untuk mengunjungi sarang Kang-Jiu-Pang.
Menjelang senja, kakek dan nenek iblis itu tiba di luar pintu gerbang sarang Kang-Jiu-Pang.
Sebagai rumah perkumpulan persilatan, tempat itu dikelilingi tembok tebal seperti benteng dan di luar pintu gerbang yang besar itu terjaga oleh beberapa orang pemuda anggauta Kang-Jiu-Pang.
Ketika dua orang datuk kaum sesat itu tiba di situ, mereka tidak berani sembarangan bergerak.
Keduanya sudah lama mengenal perkumpulan ini dan maklum bahwa perkumpulan itu dipimpin oleh Song Pak Lun yang lihai sekali, terutama sekali kedua "tangan baja!
yang telah dilatihnya secara sempurna itu.
Juga mereka tahu bahwa perkumpulan ini memiliki murid atau anggauta yang puluhan orang jumlahnya.
Maka, keduanya lalu menghampiri pintu gerbang, hendak mengambil tindakan secara terbuka karena bagaimanapun juga, mereka merasa berada di pihak pemerintah yang menghadapi pemberontak, jadi tentu saja mereka berdua merasa mendapat angin.
Ternyata bahwa kedatangan mereka itu sudah dinanti oleh tuan rumah.
Buktinya, ketika mereka tiba di depan pintu gerbang, tiba-tiba saja muncul seorang laki-laki tua, berusia kurang lebih enam puluh tahun, gagah perkasa dan bertubuh kokoh kuat dan sikapnya tenang dan angker.
Inilah Song Pak Lun sendiri, ketua Kang-Jiu-Pang yang agaknya tidak ingin menerima tamu yang sudah membunuh delapan orang anak buahnya itu di dalam rumah, melainkan hendak menerimanya di luar tembok pintu gerbang!
Di sampingnya berjalan dua orang kakek yang tadi menyamar sebagai pelukis dan penyair, yang berhasil menyelamatkan diri untuk membawa berita yang amat pahit itu, ialah bahwa bukan saja tugas anak buah Kang-Jiu-Pang untuk menculik kaisar itu gagal, bahkan delapan orang anak buah perkumpulan mereka tewas secara mengerikan dalam tangan dua orang datuk sesat.
Sejenak kedua pihak hanya saling pandang saja.
Song Pak Lun tidak memperlihatkan kedukaan atau kemarahan berhubung dengan kematian murid-muridnya dan kegagalan usahanya.
"Sejak kapan Koai-pian Hek-mo dan Hwa-hwa Kuibo menjadi antek pembesar lalim Liu-thaikam?"
Demikian sambutan Song Pek Lun ketika kedua orang iblis itu nampaknya tidak sabar lagi.
Kakek dan nenek itu melirik ke depan dan kanan kiri, melihat betapa ketua Kang-Jiu-Pang itu diikuti oleh murid-murid kepala dan juga semua murid yang jumlahnya tidak kurang dari lima puluh orang.
Semua murid atau anggauta Kang-Jiu-Pang itu kelihatan marah dan mendendam kepada mereka berdua.
Dengan sikap tenang mengejek Koai-pian Hek-mo melolos pecut bajanya dan memutar-mutar senjata itu dengan sikap menantang sekali, lalu dia berkata.
"Dan sejak kapan Kang-Jiu-Pang menjadi gerombolan pemberontak?"
"Hemm, sejak kapan datuk-datuk kaum sesat bersikap sebagai patriot sejati?"
Kembali Song Pak Lun bertanya.
"Orang she Song, tidak usah banyak membuka mulutmu yang busuk!"
Tiba-tiba Hwa-hwa Kuibo yang memang wataknya galak itu memaki.
"Engkau memusuhi kaisar atau tidak, itu bukan urusan kami. Akan tetapi ketahuilah, kami menerima tugas dari Siangkoan-lojin untuk melindungi kaisar dan untuk membasmi Kang-Jiu-Pang. Nah, sekarang terserah kepadamu, hendak menyerahkan nyawa dengan baik-baik ataukah kami harus menggunakan kekerasan!"
Sambil berkata demikian, nenek itu mencabut pedangnya.
Wajah Song Pak Lun menjadi pucat sebentar, lalu berobah merah sekali, sepasang matanya lebar terbelalak dan seperti mengeluarkan api.
Tadi dia terkejut mendengar disebutnya narna Siangkoan-lojin.
Kiranya Iblis Buta itu benar-benar telah keluar dari sarangnya untuk mengacau dunia?
Dan dia marah mendengar kesombongan nenek itu.
"Kami adalah orang-orang gagah dan sampai matipun kami menjunjung kegagahan. Kalau kami mengandalkan banyak orang mengeroyok kalian, kami akan merasa malu walaupun memperoleh kernenangan. Hek-mo dan Kuibo, majulah hadapi aku satu lawan satu, kalau aku kalah, aku akan menyerahkan nyawa dan akan membubarkan Kang-Jiu-Pang, akan tetapi kalau kalian kalah, kami akan menggunakan kepala kalian untuk menyembahyangi arwah delapan orang murid kami."
Koai-pian Hek-mo tertawa mengejek, akan tetapi Hwa-hwa Kuibo yang lebih cerdik dan sudah tahu akan kelihaian ketua perkumpulan ini, berseru.
"Kami datang berdua sebagai utusan, mati hidup harus kami lakukan berdua. Karena itu, kami berdua akan maju bersama, dan engkau boleh memilih seorang jagoan lagi dari perkumpulan pemberontak ini untuk membantumu melawan kami berdua!"
Diam-diam Koai-pian Hek-mo meraaa girang karena kecerdikan temannya ini menempatkan mereka di atas.
Diapun tahu bahwa orang paling lihai dari Kang-Jiu-Pang adalah ketua itu sendiri.
Melawan ketua itulah yang berat.
Kalau mereka berdua maju bersama, tentu terpaksa ketua itu memilih seorang muridnya untuk membantu.
Dan kepandaian seorang murid tidak ada artinya bagi mereka berdua.
Kalau pembantu itu sudah roboh maka berarti mereka berdua akan mengeroyok sang ketua dan tentu mereka akan dapat menang!
Song Pak Lun juga merasa tersudut dengan alasan Hwa-hwa Kuibo yang bukan tidak masuk akal ini.
Seorang di antara dua seniman tua tadi melangkah maju dan berkata.
"Pangcu, biarlah saya yang membantu pangcu menandingi mereka."
Akan tetapi Song Pak Lun menggeleng kepala.
Dua orang seniman itu adalah murid-murid pertama yang memiliki ilmu kepandaian paling tinggi di antara murid-muridnya.
Akan tetapi tingkat mereka belum ada tiga perempatnya dan diapun tahu bahwa kalau dia membiarkan seorang di antara mereka maju, hal itu hanya berarti membiarkan mereka maju mengantar nyawa saja.
Tidak, usahanya telah gagal dan dia harus menghadapi kegagalannya secara jantan.
Kalau perlu dia akan mengorbankan nyawa.
Tidak boleh dia membiarkan seorang murid lain terbunuh lagi sesudah ada delapan orang yang tewas.
"Aku akan maju sendiri menghadapi Hek-mo dan Kuibo!"
Katanya dengan tegas.
"Tidak adil seorang melawan dua orang! Akulah yang akan membantu ketua Kang-Jiu-Pang!"
Tiba-tiba terdengar suara orang disusul berkelebatnya bayangan orang dan dua orang iblis itu terkejut ketika mengenal yang datang ini adalah pemuda tampan yang pernah mereka perebutkan!
Pemuda itu dengan pakaiannya yang sederhana kedodoran sehingga nampak aneh, dengan senyumnya yang ramah dan sepasang matanya yang bersinar tajam telah berdiri di situ sambil memandang kepada dua orang datuk sesat.
"Kau... ah, jangan lancang, orang muda, bukankah engkau ingin menjadi muridku?"
Hwa-hwa Kuibo yang agaknya sudah tergila-gila kepada pemuda itu membujuk dengan suara merayu.
"Tunggulah, aku membasmi Kang-Jiu-Pang ini lebih dulu, baru engkau ikut denganku bersenang-senang!"
Pemuda itu tertawa.
"Sayang seribu sayang, Kuibo, tapi kedokmu amat mengerikan hatiku. Bukalah dulu kedokmu agar aku dapat melihat bagaimana macamnya mukamu."
Pemuda itu agaknya sengaja mengeluarkan ucapan ini untuk menggoda dan mengejek, karena tidak ada yang lebih memanaskan hati Hwa-hwa Kuibo dari pada kalau orang bicara tentang mukanya dan kedoknya.
"Bocah keparat, kucabut lidahmu!"
Bentak nenek itu dengan marah.
Sementara itu, Song Pak Lun memandang tajam kepada pemuda yang baru datang, dan ketika murid kepala di belakangnya membisikkan bahwa perwida inilah yang pernah membantu dua orang iblis itu menyelamatkan kaisar dan merobohkan seorang murid Kang-Jiu-Pang, tentu saja hatinya penuh curiga dan kemarahan.
Tidak mungkin pemuda yang sudah membantu dua orang iblis itu kini bendak membantu Kang-Jiu-Pang menghadapi mereka.
Ini tentu pura-pura, atau siasat pihak lawan.
Kaum sesat terkenal curang dan tidak segan mempergunakan akal-akal licik.
"Kang-Jiu-Pang tidak pernah mengharapkan bantuan orang luar, dan engkau orang muda malah masih ada perhitungan yang belum beres dengan kami!"
Bentaknya. Pemuda itu menoleh kepadanya dan menarik napas lalu menjura.
"Maaf, pangcu. Aku pernah merobohkan muridmu karena melihat murid-muridmu hendak mengganggu kaisar. Akan tetapi setelah kuselidiki tadi, baru aku tahu apa dasarnya. Walaupun aku sendiri tidak menyetujui caramu, akan tetapi baru kuketahui bahwa Kang-Jiu-Pang bukan golongan jahat. Maka, untuk menebus kesalahanku, aku hendak membantu Kang-Jiu-Pang."
"Hemm!"
Ketua yang keras hati itu mencela.
"Kalau tidak ada campur tanganmu, tentu usaha kami telah berhasil dan murid-murid kami tidak ada yang tewas. Kami tidak dapat menerima bantuan orang yang telah mencelakakan kami!"
Pemuda itu agaknya maklum bahwa dalam saat seperti itu, banyak bicara tidak ada gunanya.
Ketua Kang-Jiu-Pang itu agaknya bukan hanya bertangan baja, akan tetapi juga berwatak baja yang keras.
Diapun menggerakkan kedua pundaknya.
"Terserah, kalau tidak boleh membantu akupun tidak akan membantu kalian. Akan tetapi, aku sendiri masih mempunyai perhitungan dengan dua iblis ini yang harus kubereskan sekarang juga. Hei, Koai-pian Hek-mo dan Hwa-hwa Kuibo, kutantang kalian untuk maju melawan aku. Kalau kalian tidak berani, akan kusudahi perkara ini kalau kalian suka membuntungi lengan kanan masing-masing dan memberikannya kepadaku!"
Mendengar ucapan yang nadanya memandang rendah sekali ini, ketua Kang-Jiu-Pang dan semua anak buahnya terkejut.
Bahkan kakek dan nenek iblis itu sendiri terbelalak, lebih kaget dari pada marah.
Ada seorang muda berani mengeluarkan ucapan seperti itu!
Sungguh kurang ajar, terlalu menghina.
Pemuda itu memang sengaja mengeluarkan kata-kata yang nadanya memandang rendah untuk memaksa dua orang iblis itu menandinginya, atau setidaknya seorang di antara mereka agar lawan ketua Kang-Jiu-Pang menjadi ringan.
Dan usahanya ini berhasil baik.
Dua orang datuk sesat itu marah sekali, merasa amat dipandang rendah.
Terdengar suara menggereng keras seperti seekor harimau terluka dan terdengar suara meledak nyaring ketika pecut baja di tangan Koai-pian Hek-mo (Lanjut ke
Jilid 06) Asmara Berdarah (Seri ke 08 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 06 menyambar dahsyat ke arah kepala pemuda itu.
Ujung pecut baja yang panjang itu dipasangi paku besar dan kini paku itu meluncur ke arah pelipis si pemuda yang dianggap sombong dan bermulut besar.
"Eh, luput..."
Pemuda itu mengejek sambil menggerakkan kepalanya mengelak.
"Wuuuuttt... singgg..."
Paku di ujung pecut itu lewat beberapa senti saja di pinggir kepala pemuda yang kelihatannya begitu tenang dan menghadapi kakek iblis itu sambil tersenyum-senyum.
"Tartartartarrr..."
Pecut itu meledak-ledak dan menyambar-nyambar, akan tetapi pemuda itu tetap tenang saja, menghindar ke kanan kiri dengan gerakan yang indah dan mantap.
Demikian yakin dia akan dirinya sendiri sehingga gerakannya tidak nampak gugup, namun ujung pecut yang kelihatannya seperti akan mengenai dirinya itu selalu luput.
"Wah, tidak kena lagi, Hek-mo!"
Dia berulang-ulang mengejek.
Song Pak Lun bukanlah seorang yang bodoh.
Biarpun dia keras hati dan memiliki harga diri yang tinggi, namun dia cukup cerdik.
Dia tadi telah menolak bantuan pemuda itu, dan kalau kini pemuda itu berkelahi melawan Koai-pian Hek-mo, hal itu adalah urusan mereka berdua sendiri, tidak ada sangkut-pautnya dengan Kang-Jiu-Pang.
Akan tetapi tentu saja hal ini amat menguntungkan dirinya karena dengan terlibatnya Hek-mo dalam perkelahian melawan pemuda itu yang dia lihat memiliki gerakan cukup hebat, maka kini dia hanya tinggal menghadapi Hwa-hwa Kuibo seorang, jadi tidaklah begitu berat jika dibandingkan dengan melawan dua orang datuk sesat itu bersama.
"Hwa-hwa Kuibo, lihat seranganku!"
Bentaknya dan diapun sudah menerjang maju dengan tamparan tangannya.
Kedua tangan ketua Kang-Jiu-Pang ini, dari siku ke bawah, telah berobah warnanya menjadi persis warna besi baja dan mengkilat pula.
Ketika tangan kiri itu menampar, bunyinya berdesing dan amat panas ketika menyambar ke arah muka Hwa-hwa Kuibo.
Nenek ini maklum akan ampuhnya tangan baja ketua Kang-Jiu-Pang itu, maka iapun cepat mengelak dan membalas dengan tusukan pedangnya ke arah lambung lawan.
"Tranggg..."
Nenek berkedok itu terkejut bukan main.
Ternyata ketua Kang-Jiu-Pang itu berani menangkis pedangnya dengan tangan kosong dan ketika pedang itu bertemu dengan tangan kanan Song Pak Lun, terdengar bunyi nyaring seolah-olah pedangnya bertemu dengan logam dan mengeluarkan percikan bunga api, bahkan tangan kanan yang memegang pedang itu terasa tergetar hebat!
Barulah ia tahu sekarang bahwa nama Song Pak Lun sebagai ketua perkumpulan Tangan Baja sungguh bukan nama kosong belaka dan nenek inipun lalu memutar pedangnya dan mengeluarkan semua ilmunya untuk menghadapi lawan yang tangguh ini.
Terjadi perkelahian yang amat seru dan mati-matian di antara mereka, ditonton oleh para anggauta Kang-Jiu-Pang dengan hati tegang.
Akan tetapi, ketegangan karena perkelahian antara ketua Kang-Jiu-Pang melawan Hwa-hwa Kuibo mengendur banyak ketika mereka itu menyaksikan perkelahian antara Koai-pian Hek-mo dan pemuda tampan yang tersenyum-senyum itu.
Bahkan, para anggauta Kang-Jiu-Pang Kadang-kadang tak dapat menahan gelak tawa mereka melihat kelucuan pemuda itu menghadapi lawannya di samping mereka menjadi terheran-heran, bahkan demikian kagum sampai bengong.
Pemuda itu benar-benar memiliki gerakan yang amat lincah.
Dia tidak mengandalkan kecepatan ketika menghadapi pecut baja lawan, melainkan mengandalkan gerak kaki yang demikian indah dan mantap, kedua kakinya bergerak ke depan belakang, kanan dan kiri demikian indah dan mantapnya sehingga tubuhnya dapat selalu menghindar dari sambaran ujung pecut baja.
Kadang-kadang dia mentertawakan lawannya.
"Wah, luput lagi, Hek-mo. Pakumu sudah usang, ganti saja dengan yang baru."
"Sing..."
Wirrr... singgg..."
"Nah, tidak kena lagi! Gerakanmu terlalu lemah! Apa kau belum makan? Kalau lapar jangan bertanding silat, nanti masuk angin..."
"Wuuuuttt... sing..."
"Apa kubilang, luput lagi..."
"Keparat!"
Kakek itu memaki dan memutar cambuk bajanya lebih cepat lagi.
Cambuk itu sendiri lenyap bentuknya, berobah menjadi gulungan sinar yang menyambar-nyambar dengan dahsyatnya.
Akan tetapi, tiba-tiba pemuda itu membentak, suaranya demikian keras mengejutkan.
"Perlahan dulu!"
Kakek itupun terkejut dan rasa kaget ini mengurangi kecepatan gerakannya dan tahu-tahu ujung cambuknya yang dipasangi paku itu telah tertahan dan terjepit oleh dua jari tangan kiri pemuda itu, yaitu ibu jari dan telunjuknya!
Semua orang memandang kagum.
Sungguh amat berani perbuatan pemuda ini, menjepit ujung cambuk yang demikian ampuhnya dengan jari tangan!
Akan tetapi Koai-pian Hek-mo sendiri kaget dan marah, juga diam-diam maklum bahwa biarpun masih muda, lawannya ini benar-benar tak boleh dipandang ringan!
Dia mengerahkan tenaga membetot untuk melepaskan ujung cambuknya dari jepitan tangan pemuda itu, namun ujung cambuk itu tertahan kuat-kuat di dalam jepitan!
Sinkang yang amat kuat, pikir Hek-mo.
Pantas saja pemuda ini tadi berani mengeluarkan kata-kata sombong, kiranya bukan bual belaka dan memang pemuda ini "berisi".
Dia mengerahkan tenaga lagi sambil menarik dan tiba-tiba.
"Singggg..."
Pemuda itu melepaskan jepitan jarinya!
Tentu saja paku di ujung cambuk itu meluncur amat cepatnya ke arah orang yang menariknya.
"Uhhh..."
Hampir saja muka Hek-mo termakan oleh paku di ujung cambuknya sendiri kalau dia tidak cepat mengangkat tangannya ke atas dan mengelak.
Mukanya yang hitam berobah agak pucat.
Nyaris dia menjadi korban senjatanya sendiri.
"Nah, apa kubilang? Jangan main-main dengan segala pecut dan paku yang tiada gunanya, salah-salah hidungmu sendiri terpaku!"
Pemuda itu mengejek dan beberapa orang anggauta Kang-Jiu-Pang bersorak.
Kini wajah Hek-mo berubah merah.
Baru belasan jurus saja dan dia hampir celaka.
Hatinya menjadi penasaran sekali.
"Orang muda, beritahukan namamu agar aku tahu dengan siapa aku bertanding!"
Pemuda itu tersenyum.
"Eh, kenapa tanya-tanya nama segala? Apakah kau hendak menarik aku sebagai mantu? Wah, jelas kutolak kalau mukanya seperti mukamu, Hek-mo. Tapi, biarlah agar engkau tidak mati penasaran dan tahu siapa yang mengalahkanmu, aku she Cia bernama Hui Song!"
"Dari perguruan mana?"
"Cerewet! Memangnya kita ini kong-kauw (ngobrol) atau sedang bertanding? Hayo lanjutkan permainan cambuk bajamu yang jelek itu!"
Pemuda yang bernama Cia Hui Song itu mengejek.
"Bocah sombong!"
Koai-pian Hek-mo memaki dan memutar cambuknya.
"Tar-tar-tarrr!"
Lalu cambuk meluncur ke bawah, mengarah ubun-ubun kepala Cia Hui Song.
Akan tetapi, sekali ini Hui Song tidak mengelak, melainkan menggerakkan tangan kirinya ke atas kepala dan ketika paku di ujung cambuk itu meluncur turun, dia menggunakan jari tangannya untuk menjentik.
"Tringgg..."
Dan paku itu terpental ke arah penyerangnya!
Tentu saja Koai-pian Hek-mo terkejut sekali dan menghujankan serangan.
Akan tetapi terdengar suara nyaring tangtingtangting ketika Hui Song menyambut paku itu dengan jentikan jari-jari tangan bahkan diapun lalu membalas dengan tamparan-tamparan yang sedemikian kuatnya sehingga angin pukulannya saja membuat rambut dan baju lawannya berkibarkibar dan dalam beberapa gebrakan saja Hek-mo terhuyung dan terdesak.
Kini baru benar-benar Hek-mo terkejut dan maklum bahwa kalau dilanjutkan, akhirnya dia akan celaka di tangan bocah yang menjadi lawannya itu.
Tentu saja dia merasa amat penasaran dan malu.
Dia memperebutkan bocah ini dengan Hwa-hwa Kuibo untuk menjadi muridnya dan siapa kira, bocah ini malah memiliki kepandaian sedemikian hebatnya sehingga dia hanya ingin menjadi gurunyapun tidak mampu menandinginya!
Sementara itu, Hwa-hwa Kuibo dengan pedangnya juga kewalahan dan kerepotan menghadapi sepak terjang ketua Kang-Jiu-Pang dengan sepasang tangan bajanya itu.
Tangan kanannya yang memegang pedang juga terasa lelah sekali karena setiap kali bertemu dengan tangan baja lawan, pedangnya terpental dan tangannya tergetar.
Maka, ketika Koai-pian Hek-mo berteriak.
"Kuibo, mari kita pergi!"
Iapun tidak menanti sampai ajakan itu diulang dua kali.
Iapun tahu bahwa kalau dilanjutkan perkelahian ini, lambat laun ia akan kalah melawan ketua Kang-Jiu-Pang.
Cepat tangan kirinya mengebut dan jarum beracun menyambar ke arah lawan.
Song Pek Lun maklum akan bahayanya Jarum-jarum itu, maka diapun cepat mengelak mundur sambil menggunakan kedua tangannya yang kebal seperti besi baja itu untuk menyampoki Jarum-jarum sehingga senjata-senjata rahasia itu runtuh semua ke atas tanah.
Kesempatan itu dipergunakan oleh Hwa-hwa Kuibo untuk meloncat dan melarikan diri, mengejar Koai-pian Hek-mo yang sudah lari terlebih dahulu tanpa dikejar oleh Cia Hui Song yang hanya berdiri bertolak pinggang sambil tertawa melihat lawannya mengambil langkah seribu.
Pemuda itu lalu menghadapi Song Pak Lun dan menjura.
"Song-pangcu, sekali lagi maafkan salah duga yang membuat aku pernah merobohkan muridmu karena aku hanya bermaksud menolong kaisar yang terancam dan ditodong oleh muridmu. Dan kuharap saja pangcu cepat-cepat bersama seluruh anggauta Kang-Jiu-Pang meninggalkan tempat ini. Perbuatan para anggauta Kang-Jiu-Pang dianggap sebagai pemberontak. Aku tidak akan merasa heran kalau sebentar lagi datang pasukan untuk menangkap atau membasmi Kang-Jiu-Pang."
Song Pak Lun menarik napas panjang.
"Kami mengerti dan bagaimanapun juga, terima kasih atas bantuanmu. Orang muda, engkau she Cia dan ilmu silatmu tinggi. Entah apa hubunganmu dengan Cia-taihiap, ketua Cin-Ling-Pai?"
Hui Song tersenyum dan mukanya menjadi merah.
"Aku tidak pernah memamerkan dan memperkenalkan orang tuaku, akan tetapi baiklah kepadamu aku berterus terang bahwa dia adalah ayahku."
"Ahh..."
Para anggauta Kang-Jiu-Pang berseru kaget.
Kiranya pemuda ini adalah putera ketua Cin-Ling-Pai!
Pantas saja demikian lihai!
"Aku mengerti bahwa kami tidak akan menyebut dan menyeret namamu ke dalam urusan kami, Cia-taihiap,"
Kata ketua Kang-Jiu-Pang itu.
"Terima kasih, aku yakin akan kebijaksanaan pangcu. Aku sendiri tidak takut terseret, hanya ayah tentu akan marah sekali kalau sampai Cin-Ling-Pai terlibat. Nah, selamat berpisah, pangcu, harap saja engkau dan semua anggautamu dapat meloloskan diri dari kejaran pasukan pemerintah!"
Cia Hui Song lalu pergi dan Song Pak Lun dengan tergesa-gesa lalu berkemas.
Tak lama kemudian, pada hari itu juga, seluruh anggauta Kang-Jiu-Pang pergi meninggalkan Cinan berikut keluarga mereka.
Ketika pasukan pemerintah datang menyerbu, mereka hanya menemukan sarang yang kosong karena semua burungnya telah terbang pergi entah ke mana.
Cia Hui Song adalah putera ketua Cin-Ling-Pai.
Pada waktu itu, yang menjadi ketua Cin-Ling-Pai adalah seorang pendekar gagah perkasa bernama Cia Kong Liang yang telah berusia lima puluh tahun.
Para pembaca kisah Pendekar Sadis tentu telah mengenal nama Cia Kong Liang ini.
Pendekar ini menikah dengan seorang gadis gagah perkasa putera seorang datuk sesat yang sudah mencuci tangan dan merobah jalan hidupnya di atas jalan bersih.
Ayah mertuanya adalah Tung-hai-sian Bin Mo To yang tinggal di Ceng-tao di Propinsi Shantung.
Julukannya ketika masih menjadi datuk adalah Tung-hai-sian (Dewa Lautan Timur) dan dia adalah seorang Bangsa Jepang yang nama aselinya Minamoto.
Tung-hai-sian hanya mempunyai seorang anak perempuan yang berjiwa gagah dan tidak suka melihat ayahnya menjadi datuk kaum sesat.
Puterinya ini yang bernama Biauw dan memakai she Bin, akhirnya menikah dengan Cia Kong Liang yang pada waktu itu adalah putera ketua Cin-Ling-Pai.
Cia Kong Liang hidup rukun dan saling mencinta dengan Bin Biauw dan mereka mempunyai seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Cia Hui Song ini sudah berusia dua puluh satu tahun.
Setelah ayahnya meninggal dunia, Cia Kong Liang membangun kembali Cin-Ling-Pai sebagai ketuanya dan semenjak itu, di bawah pimpinannya dan dibantu oleh isterinya, Cin-Ling-Pai menjadi semakin kuat dan terkenal.
Dalam mendidik dan melatih murid-murid Cin-Ling-Pai, Cia Kong Liang bersikap keras sehingga di antara murid-muridnya banyak yang jadi.
Tentu saja puteranya sendiri digemblengnya dengan tekun sehingga Cia Hui Siong telah mewarisi ilmu-ilmu Cin-Ling-Pai dari ayahnya, bahkan mewarisi juga ilmu-ilmu dari ibunya yang memiliki ciri khas.
Pemuda ini sejak kecil berada di Cin-Ling-Pai yang berpusat di Pegunungan Cin-ling-san, dan memiliki watak yang lincah gembira sekali, jauh berbeda dengan ayahnya yang sejak mudanya berwatak keras, pendiam dan serius, bahkan agak angkuh dan tinggi hati.
Agaknya Hui Song menuruni watak ibunya yang lincah gembira, dan memiliki jiwa petualang karena sejak kecil anak ini suka bermain-main sendiri di tempat-tempat sepi dan berbahaya sehingga seringkali mendapat teguran dan hukuman keras dari ayahnya.
Akan tetapi dia tidak pernah merasa jera, apalagi karena dilindungi ibunya sehingga akhirnya ayahnya merasa bosan sendiri dan membiarkan puteranya tumbuh menjadi seorang pemuda yang wataknya riang gembira, bengal dan juga aneh, mengenakan pakaian seenaknya saja tak pernah kelihatan rapi.
Kehadirannya di Puncak Bukit Perahu adalah untuk mewakili ayahnya dan Cin-Ling-Pai.
Akan tetapi seperti juga para pendekar lain yang mendengar berita dari para murid Pek-ho-pai bahwa pertemuan itu dibatalkan, diapun meninggalkan tempat itu dan sebelum pulang ke Cin-Ling-Pai dia melancong dulu sampai ke Cinan di mana secara kebetulan dia dapat menyelamatkan kaisar kemudian berbalik membantu Kang-Jiu-Pang menghadapi dua orang kakek dan nenek iblis.
Setelah memberi nasihat kepada Kang-Jiu-Pang agar cepat-cepat meninggalkan Cinan, Hui Song sendiri segera pergi dari kota itu.
Diapun merasa khawatir kalau-kalau pihak pemerintah tahu bahwa dia adalah putera ketua Cin-Ling-Pai.
Bantuannya terhadap Kang-Jiu-Pang tadi sungguh berbahaya kalau diingat dua orang iblis itu ternyata adalah kaki tangan pemerintah pula!
Dia sendiri masih merasa bingung akan segala peristiwa yang dialaminya.
Kaisar akan diculik oleh kumpulan pendekar Kang-Jiu-Pang, sedangkan orang-orang macam Koai-pian Hek-mo dan Hwa-hwa Kuibo malah melindungi kaisar.
Apakah dunia ini sudah terbalik?
Apakah kini para pendekar memusuhi kaisar dan para penjahat malah membelanya?
Memang pemuda ini tidak begitu memperdulikan urusan pemerintahan, maka diapun tidak tahu akan apa yang terjadi di istana, tidak tahu bahwa para datuk sesat itu sebetulnya bukan mengabdi kepada kaisar melainkan kepada pembesar lalim yang memperoleh kesempatan menguasai pemerintahan melalui kaisar muda yang lemah.
Pada keesokan harinya, Hui Song telah pergi jauh dari Cinan menuju ke selatan.
Dia harus pulang ke Cin-ling-san untuk melaporkan kepada ayahnya tentang kegagalan atau pembatalan pertemuan para pendekar itu, juga tentang keanehan yang dialaminya di Cinan.
Sebelum dia turun tangan membantu Kang-Jiu-Pang, dia telah melakukan penyelidikan kilat di Cinan tentang perkumpulan itu dan mendapat kenyataan bahwa Kang-Jiu-Pang adalah perkumpulan pendekar yang dihormati dan dipuji oleh rakyat.
Itulah mengapa dia tanpa ragu-ragu cepat pergi ke Kang-Jiu-Pang dan melihat perkumpulan itu didatangi oleh dua iblis, diapun segera membantu.
Siang hari itu matahari amat terik dan semalam Hui Song telah melakukan perjalanan tanpa berhenti, maka dia merasa lelah dan duduklah pemuda ini mengaso di luar sebuah hutan.
Melibat adanya sebuah gubuk di tepi jalan, diapun lalu naik ke gubuk kecil itu untuk berteduh.
Di bawah naungan daun-daun pohon dan atap gubuk sederhana, yang menciptakan tempat teduh dan sejuk dengan adanya semilirnya angin, membuat mata mengantuk sekali.
Hui Song segera tertidur setelah dia merebahkan diri terlentang di atas anyaman bambu di gubuk itu.
Dia tertidur amat nyenyak dan nikmatnya.
Kita condong beranggapan bahwa segala kenikmatan yang dapat kita rasakan dalam kehidupan ini haruslah diadakan dan sarananya berada di luar diri kita.
Kalau mau makan enak haruslah membeli masakan-masakan yang mahal harganya, kalau mau tidur nyenyak haruslah berada di dalam kamar yang lengkap dan dengan perabot serba halus dan mahal, dan sebagainya.
Pendeknya syarat mutlak untuk menikmati hidup adalah adanya benda-benda berharga yang hanya bisa didapatkan dengan uang.
Akan tetapi, benarkah demikian adanya?
Kita melihat petani sederhana yang sehabis bekerja keras di ladang dapat menikmati makanannya yang sederhana, dengan kenikmatan yang tidak dibuat-buat.
Mengapa demikian?
Karena badannya sehat dan batinnya tenteram, karena dia sehat lahir batin.
Kesehatannya bekerja dengan wajar, membuat perutnya lapar setelah dia kelelahan dan ini menciptakan selera dan nafsu makan yang membuat apa saja menjadi nikmat terasa olehnya.
Kita melihat petani yang sama pada waktunya akan dapat tidur nyenyak, hanya bertilamkan tikar atau bahkan rumput saja, juga hal ini dapat terjadi karena dia sehat lahir batinnya.
Sebaliknya, kitapun dapat melihat orang yang kaya raya tanpa banyak kerja menjadi malas, makan tidak terasa enak biarpun menghadapi hidangan yang mahalmahal dan banyak macamnya.
Kita melihat orang kaya yang sama gelisah di atas tempat tidurnya yang empuk dan bertilamkan sutera di dalam sebuah kamar seperti istana, sukar dapat memejamkan mata dan tidak dapat lagi menikmati rasanya tidur nyenyak.
Tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh menimpa dahinya.
"tuk!"
Hanya sebuah benda kecil menimpa dahi, akan tetapi cukuplah untuk menggugah Hui Song dari tidurnya.
Sebagai seorang pendekar yang terlatih, begitu terbangun diapun sudah waspada dan siap menghadapi bahaya yang mengancam.
Badannya sudah peka seperti badan binatang liar yang hidup di hutan, seperti burung yang selalu waspada biarpun dalam keadaan sedang tidur.
Suara tidak wajar dari belakang gubuk itu cukup membuat Hui Song sadar sepenuhnya.
"Brakkkkk..."
Gubuk itu jebol, ambrol dan runtuh dan seperti seekor burung saja, Hui Song berhasil melesat ke luar dari dalam gubuk sebelum dia ikut terbanting dan tertindih.
Ketika dia turun ke atas tanah dan membalikkan tubuhnya, dia melihat di situ telah berdiri tiga orang tua yang tertawa-tawa.
Mereka ini bukan lain adalah Koai-pian Hek-mo, Hwa-hwa Kuibo dan seorang kakek lagi yang tubuhnya amat menyeramkan.
Seorang kakek yang tinggi besar seperti raksasa, dan melihat perawakan ini, biarpun baru satu kali bertemu dengan makhluk ini, Hui Song yang sudah banyak mendengar tentang para iblis di dunia sesat, segera dapat menduga bahwa dia berhadapan dengan seorang pentolan Cap-sha-kui yang kabarnya memiliki ilmu kepandaian amat mengerikan, yaitu Tho-tee-kui!
Maka, diapun bersikap waspada walaupun mulutnya bergerak membuat senyum mengejek ke arah Hek-mo dan Kuibo yang tertawa-tawa itu.
"Wah, kiranya Koai-pian Hek-mo dan Hwa-hwa Kuibo. Apakah kalian belum puas mendapat hajaran tempo hari dan sekarang datang mencariku untuk minta tambahan?"
Mendengar ejekan ini Koai-pian Hek-mo dan Hwa-hwa Kuibo menjadi marah sekali.
"Bocah sombong, kami datang menagih hutang berikut bunganya!"
Kata Hwa-hwa Kuibo sambil menubruk maju dan menggerakkan tangan kiri mencengkeram ke arah kepala Hui Song.
"Plakk!"
Hui Song menangkis sambil tertawa.
"Tak tahu malu! Engkau yang hutang belum bayar memutar-balikkan fakta!"
Tangkisan itu dilakukan dengan pengerahan tenaga Thian-te Sin-ciang dan akibatnya nenek bertopeng itu terpelanting.
Akan tetapi dari samping, kakek Koai-pian Hek-mo sudah menyerangnya.
Kakek inipun tidak menggunakan pecut bajanya.
Agaknya mereka berdua memang sudah sepakat untuk maju mengeroyok Hui Song dan karena pemuda itu tidak bersenjata, merekapun merasa lebih leluasa untuk mengeroyok pemuda itu dengan tangan kosong agar mereka merasa lebih puas memberi hajaran kepada pemuda ini.
Serangan Hek-mo dari samping cukup dahsyat, dengan pukulan keras ke arah lambung.
Namun dengan mudah Hui Song dapat mengelak.
"Memang sudah lama aku tahu kalian ini tua bangka-tua bangka yang curang dan pengecut! Tapi jangan kira aku takut menghadapi pengeroyokan kalian berdua. Nah, terimalah ini untuk penyegar!"
Berkata demikian, Hui Song menggerakkan kedua lengannya dengan cepat sekali.
Kedua lengan itu membuat gerakan yang berlawanan, yang kiri mengandung tenaga keras dan yang kanan mengandung tenaga lemas, kedua tangannya berbareng menyambar ke arah Hek-mo dan Kuibo dengan jurus sakti dari Im-yang Sin-kun!
"Plakk!
Plakk...
Ihhh..."
Kakek dan nenek itu terhuyung dan hampir terpelanting ketika menangkis pukulan sakti ini dan mereka terkejut bukan main.
Akan tetapi karena mereka maju berbareng, hati mereka besar.
Mereka merasa penasaran sekali kalau secara maju bersama tidak mampu mengalahkan pemuda ini, maka mereka mengerahkan semua tenaga dan kepandaian mereka.
Tidak percuma Hui Song menjadi putera tunggal ketua Cin-Ling-Pai yang telah digembleng dengan keras sejak dia masih kecil dan sekarang dia sudah mewarisi semua ilmu ayah dan ibunya sehingga tingkat kepandaiannya hanya berselisih sedikit saja dibandingkan dengan ayahnya sendiri.
Maka tentu saja dia dapat bergerak dengan amat sigapnya dan biarpun dikeroyok oleh dua orang tokoh Cap-sha-kui, pemuda ini dapat mengimbangi permainan mereka, bahkan dia nampak lebih unggul karena selain menang tenaga sinkang, juga ilmu silatnya yang banyak macamnya, aneh-aneh dan terdiri dari ilmu-ilmu yang tinggi itu membingungkan kedua orang pengeroyoknya.
Melihat betapa dua orang rekannya itu sampai lima puluh jurus belum juga mampu mengalahkan lawan yang masih begitu muda, si raksasa berjubah hijau compang-camping menjadi tidak sabar lagi.
Tadinya dia nonton sambil duduk di atas batu besar di dekat pohon.
Kini dia bangkit berdiri dan sekali dia menggerakkan kakinya, terdengar suara hiruk-pikuk dan batu sebesar perut kerbau itu sudah ditendangnya sampai terlempar cukup jauh!
"Kalian berdua mundurlah dan biarkan aku merobek tubuhnya menjadi dua potong!"
Katanya.
Dua orang rekannya merasa girang dan cepat meloncat ke belakang.
Mereka berdua merasa kehilangan muka kalau sampai mereka tidak dapat mengalahkan pemuda itu, apalagi kalau sampai mereka harus mengeluarkan senjata.
Kini, Tho-tee-kui sudah menyuruh mereka mundur, berarti mereka berdua belum sampai kalah!
Hui Song berdiri tegak memandang kepada raksasa yang sudah berdiri di depannya.
Memang hebat sekali kakek itu.
Dia sendiri bukan seorang yang kecil pendek, sebaliknya dia termasuk seorang pemuda yang memiliki tubuh cukup tinggi beser.
Akan tetapi, berhadapan dengan Tho-tee-kwi, tingginya hanya sampai di bawah pundak raksasa itu dan lengan raksasa itu besarnya sama dengan betisnya!
Tho-tee-kwi menyeringai sambil memandang pemuda itu.
"Orang muda, engkau boleh juga dapat dapat menandingi mereka berdua. Sayang engkau harus mampus di tangan Tho-tee-kong!"
"Hemm, kiranya inikah yang berjuluk Setan Bumi? Tho-tee-kwi, aku mendengar bahwa engkau adalah seorang datuk sesat yang tidak pernah turun tangan sendiri mencampuri urusan dunia ramai, apakah sekarang engkaupun sudah ikut-ikutan menjadi kaki tangan golongan tertentu untuk mengacau dunia?"
Hui Song mengejek, tidak tahu siapa sebenarnya yang mempergunakan tenaga para datuk sesat ini sehingga kini Cap-sha-kui yang terkenal datuk-datuk besar yang tidak pernah turun tangan sendiri itu nampak berkeliaran di mana-mana.
"Ha-ha, orang muda, menurut keterangan dua orang rekanku, engkau pernah membantu mereka dan menyelamatkan kaisar, akan tetapi sekarang engkau membalik menentang kami. Mengingat engkau pernah berjasa, aku memberi kesempatan kepadamu untuk bersatu dengan kami dan menjadi sahabat kami. Akan tetapi, kesempatan ini hanya kuberikan satu kali saja,"
Kata Tho-tee-kwi yang sebenarnya lebih suka kalau dapat bersahabat dan bekerja sama dengan pemuda yang dia sudah lihat memiliki kepandaian yang tinggi itu.
"Bekerja sama dengan datuk-datuk kaum sesat? Dengan Cap-sha-kui? Wah, engkau hendak menarikku sehingga Tiga Belas Setan akan menjadi Empat Belas Setan? Tak usah, ya! Terima kasih. Penawaranmu kutolak dan kalian menjemukan hatiku. Pergilah agar aku bisa tidur lagi, kalian mengganggu tidurku saja."
Berkata demikian, Hui Song teringat bahwa kalau tadi tidak ada tahi tikus menjatuhi dahinya, tentu dia sudah celaka ketika gubuk itu ditendang runtuh oleh raksasa ini.
"Engkau sia-siakan kesempatan baik dan engkau memilih tidur selamanya? Baiklah, kucabut saja nyawamu!"
Berkata demikian, kedua lengan yang besar itu menyambar ke depan, kaki kanan dihentakkan dan bumipun tergetar hebat.
Seperti terjadi gempa bumi saja ketika raksasa itu menghentakkan kakinya dan pada saat itu, kedua tangannya yang besar-besar telah menyambar dengan serangan pertamanya, yang kanan mencengkeram ke arah kepala Hui Song, sedangkan yang kiri menyambar ke arah perut.
Serangan itu dilakukan oleh kedua tangan yang mengandung kekuatan dahsyat.
Hui Song mengenal serangan berbahaya.
Dia tahu bahwa kakek raksasa yang menjadi lawannya ini adalah seorang yang memiliki tenaga kasar yang kuat sekali sehingga mengadu tenaga kasar dengan orang ini sama saja dengan mencari penyakit.
Maka diapun bersikap cerdik, mengandalkan kegesitannya dan mengelak sambil menusukkan jari tangannya untuk menotok ke arah jalan darah dekat siku ketika lengan itu meluncur lewat.
Akan tetapi, ternyata di samping kekuatannya yang dahsyat, raksasa itupun memiliki gerakan cepat.
Sikunya telah ditekuk dan lengan itu menebas ke bawah untuk membabat tangan lawan, dilanjutkan dengan cengkeraman untuk menangkap pergelangan tangan pemuda itu dan tiba-tiba kakinya dibanting lagi dibarengi dengan tamparan dahsyat ke arah kepala Hui Song!
Bantingan kaki itu sungguh membuat Hui Song terkejut dan kehilangan keseimbangan sehingga ketika tangan yang besar menampar, elakannya agak lambat dan pundaknya kena serempet tangan yang lebar dan kuat itu.
"Desss..."
Tubuh Hui Song terpelanting, akan tetapi karena pemuda ini tadi dengan cepat telah mengerahkan ilmu Tiat-po-san, semacam ilmu kebal yang dipelajarinya dari ayahnya, Maka tamparan yang menyerempet pundaknya itu tidak mendatangkan luka.
Hanya saking kerasnya tenaga tamparan, tubuhnya terpelanting dan Hui Song cepat mengerahkan keringanan tubuh untuk menjaga tubuhnya agar tidak sampai terbanting jatuh.
Dengan jungkir balik dia dapat turun lagi ke atas tanah menghadapi lawannya yang tangguh itu sambil mengatur langkah-langkah Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun.
Ilmu ini ampuh sekali untuk melawan musuh yang pandai dan dengan ilmu ini berarti Hui Song tidak memandang rendah lawannya.
Lawannya adalah seorang di antara pentolan-pentolan Cap-sha-kui yang amat lihai maka diapun harus bersikap hati-hati sekali.
Ketika lawannya membanting kaki lagi, diapun mengerahkan sinkang dan dari dalam perutnya keluar tenaga melalui mulut dan dia berseru.
"Hehh!"
Dan lenyaplah pengaruh bantingan kaki yang tadi menggetarkan tubuhnya itu sehingga dia dapat menghadapi serangan lawan dengan tenang dan balas menyerang dengan pukulan-pukulan Thian-te Sin-ciang.
Dia harus menyelingi Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun yang dipergunakan untuk melindungi tubuhnya itu dengan Jurus-jurus ampuh dari Ilmu Silat San-in Kun-hoat dan Im-yang Sin-kun dan setiap kali memukul dia mengerahkan tenaga Thian-te Sin-ciang karena maklum bahwa tubuh lawan yang seperti raksasa itu amat kuat dan kebal.
Terjadilah perkelahian yang amat seru dan hebat dan biarpun pemuda itu lebih banyak bertahan dari pada menyerang namun tidak mudah bagi si raksaaa untuk mendesaknya.
Diam-diam Tho-tee-kui terkejut dan penasaran sekali, sebaliknya Hui Song mengeluh di dalam hatinya karena dia harus mengakui bahwa baru sekali ini dia bertemu dengan lawan yang benar-benar tangguh sekali.
Kakek dan nenek iblis yang melihat betapa rekannya yang lebih lihai dari pada mereka itupun sekian lamanya belum juga mampu merobohkan pomuda itu, menjadi semakin penasaran dan marah.
Tak disangka oleh mereka bahwa pemuda yang tadinya mereka perebutkan untuk menjadi murid dan kekasih, ternyata memiliki tingkat kepandaian yang demikian hebatnya sehingga rekan mereka yang amat lihai seperti Tho-tee-kui pun tidak mampu mengalahkannya.
Seperti telah bersepakat lebih dulu, keduanya lalu menerjang memasuki arena perkelahian itu dan mengeroyok Hui Song.
Dasar watak penjahat, Tho-tee-kwi yang disohorkan sebagai pentolan Cap-sha-kui itupun diam-diam enak-enak saja melihat dua orang rekannya membantu dan mereka bertiga yang terkenal sebagai datuk-datuk besar kaum sesat tidak merasa sungkan atau malu mengeroyok seorang pemuda yang sama sekali belum terkenal di dunia persilatan!
"Ihh, bangkotan-bangkotan tebal muka, main keroyokan seperti bajingan-bajingan kecil saja!"
Tiba-tiba terdengar bentakan dan muncullah seorang dara remaja yang segera terjun pula ke dalam arena perkelahian itu, membantu Hui Song dan mengamuk dengan menggunakan senjata aneh, yakni sebuah payung butut!
Akan tetapi jangan dipandang rendah payung butut itu karena gagangnya terbuat dari baja dan payung butut hanyalah kainnya saja akan tetapi rangkanya yang baja itu masih utuh dan ujungnya runcing-runcing!
Begitu terjun, gadis ini menyerang Hwa-hwa Kuibo dan Koai-pian Hek-mo dengan ganas dan kalang-kabut!
"Eh, engkau...?"
Teriak Hwa-hwa Kuibo dengan kaget dan Koai-pian Hek-mo juga terkejut sekali.
Mereka berdua mengenal gadis yang pernah menghalangi mereka dan nyaris merobohkan mereka di kuil Dewi Laut!
Gadis itu memang Ceng Sui Cin, siapa lagi kalau bukan ia yang mengamuk dengan payung butut itu?
"Ya, aku!"
Kata Sui Cin tertawa mengejek.
"Aku akan menyelesaikan pekerjaanku yang belum selesai ketika kita saling bertemu di kuil Dewi Laut itu. Sekarang, jangan harap kalian akan dapat lolos dari jari-jari payung bututku, hihi!"
Tho-tee-kui juga kaget bukan main melihat munculnya seorang dara remaja dengan payungnya yang begitu mengamuk membuat dua orang rekannya kalang-kabut dan dua orang rekannya itu cepat-cepat mengeluarkan senjata mereka, Hek-mo mengeluarkan pecut bajanya dan Kuibo mencabut pedangnya.
Tentu saja di samping merasa kaget dan juga heran menyaksikan munculnya seorang gadis yang aneh pakaiannya dan lihai ilmu silatnya itu, Hui Song juga merasa girang sekali.
Apalagi mendengar ucapan-ucapan gadis itu yang jenaka dan mempermainkan lawan, dia merasa gembira.
"Benar, nona manis. Hajar mereka! Lutung muka hitam itu kurang ajar sekali, hadiahi pukulan payungmu pada ubun-ubun kepalanya dan nenek topeng tikus itu lucuti saja topengnya dan tusuk telinganya sampai tembus!"
Sepasang mata Sui Cin berkilat dan iapun menahan senyum geli. Tapi dengan galak ia menghardik.
"Kurang ajar, apa maksudmu menyebutku nona manis segala? Mau ceriwis dan kurang ajar engkau, ya?"
"Lhoh! Disebut nona manis kok marah, bagaimana sih? Apa lebih suka kalau kusebut engkau nona jelek dan galak?"
"Plak-plak... dukkkk!"
Nyaris Hui Song terkena pukulan ketika dia bicara lalu kesempatan itu dipergunakan oleh Tho-tee-kwi untuk mendesak hebat.
"Rasakan kau hampir mampus!"
Sui Cin mengejek.
"Aku tidak sudi disebut nona manis, juga tidak mau disebut nona jelek dan galak!"
Pada saat ia bicara tentu saja perhatiannya kurang tercurah kepada dua orang lawannya sehingga seperti juga Hui Song, ia terdesak oleh pecut baja dan pedang lawan.
Akan tetapi karena ilmu silatnya memang hebat dan jauh lebib lihai dibandingkan dua orang pengeroyoknya, begitu memutar payungnya, ia mampu menggagalkan semua serangan itu dan balas mendesak lagi.
Hati Hui Song semakin gembira.
Dia melirik dan melihat bahwa gadis itu masih muda sekali, baru sekitar lima belas atau enam belas tahun usianya, pakaiannya seperti gelandangan akan tetapi bersih, wajahnya manis dan gerakannya lincah, mulutnya selalu tersenyum dan sinar matanya bengal.
Seorang gadis yang panas dan hidup, cocok dengan dia, pikirnya.
"Wah, lalu menyebut apa? Baiklah, kusebut nona yang setengah manis setengah galak... wuuuuttt..."
Dia terpaksa melempar tubuh ke belakang dan tidak berani banyak cakap lagi karena kakek raksasa itu telah mendesaknya lagi dan tentu akan selalu menggunakan kesempatan selagi dia bicara untuk merobohkannya.
Setelah kini kedua orang muda itu tidak lagi bicara, mereka dapat menghadapi lawan dengan baik dan tiga orang datuk sesat itupun maklum bahwa keadaan tidak menguntungkan bagi mereka.
Selain itu, kini mereka sudah dapat mengenal dengan samar-samar ilmu silat mereka dan diam-diam mereka bertiga merasa gentar.
Mereka mengenal gerakan-gerakan ilmu silat tinggi dari Cin-Ling-Pai!
"Kita pergi!"
Tiba-tiba raksasa itu berseru dan dia mengeluarkan gerengan hebat sambil menghentakkan kakinya.
Sui Cin sendiri sampai kaget setengah mati dan tergetar kaki dan hatinya, maka iapun meloncat ke belakang.
Kesempatan itu dipergunakan oleh dua orang pengeroyoknya untuk meloncat jauh dan melarikan diri bersama raksasa itu yang kini agaknya menyimpan kekuatannya sehingga ketika melarikan diri tidak terdengar derap kakinya yang biasanya berat itu.
Hui Song tidak mengejar lawannya.
Selain tidak mempunyai permusuhan pribadi, juga dia tahu betapa besar bahayanya mengejar seorang datuk sesat seperti Tho-tee-kwi itu yang tentu untuk menyelamatkan diri tidak segan-segan mempergunakan caracara yang keji dan curang.
Sui Cin juga tidak mengejar karena ia ingin mengenal pemuda itu lebih lanjut.
Ia merasa tertarik sekali karena dalam perkelahian tadi iapun mengenal dasar-dasar gerakan ilmu silat pemuda itu yang mengingatkan ia kepada Cia Sun.
Seingatnya, paman gurunya, Cia Han Tiong, hanya mempunyai seorang putera saja.
Akan tetapi pemuda ini agaknya lihai sekali, tidak kalah oleh putera ketua Pek-liong-pai itu.
Ah, tidak salah lagi, tentu pemuda ini murid utama Pek-liong-pai dan saudara seperguruan Cia Sun!
Di lain fihak, Hui Song juga memandang kepada Sui Cin dengan penuh kagum.
Diapun tadi melihat gerakan-gerakan ilmu silat dara itu dan banyak mengenal jurus-jurusnya.
Betapa mengagumkan bahwa seorang dara remaja semuda ini telah mampu menandingi dan bahkan mengungguli pengeroyokan dua orang datuk seperti Koai-pian Hek-mo dan Hwa-hwa Kuibo!
Diapun menduga-duga.
Dia tahu bahwa ilmu-ilmu silat dari Cin-Ling-Pai diwarisi banyak orang dan tersebar luas, terutama sekali di antara murid-murid Cin-Ling-Pai sendiri dan murid-murid Pek-liong-pai di Lembah Naga.
Juga banyak para locianpwe bekas tokoh besar Cin-Ling-Pai telah hidup terpisah dari Cin-Ling-Pai dan mereka tentu telah menurunkan ilmu-ilmu itu kepada murid-murid dan cucu-cucu murid mereka.
Tidak aneh kalau ada orang dapat memainkan ilmu-ilmu silat Cin-Ling-Pai, Akan tetapi melihat kehebatan gadis remaja ini, jelas bahwa ia bukanlah seorang murid sembarangan.
Siapakah gadis ini?
Mereka berdiri berhadapan, dalam jarak tiga meter, saling pandang penuh selidik tanpa malu-malu atau sungkan-sungkan karena keduanya memiliki keterbukaan yang sama.
Dua pasang mata yang sama tajamnya, sama kocak dan bersinar gembira, saling pandang seperti pedagang kuda menaksir kuda yang hendak dibelinya, dari ubun-ubun sampai ke ujung kaki, kemudian dua pasang mata itu saling bertaut pandang.
Pandang mata pemuda itu penuh kagum dan agaknya dia merasa sayang untuk mengedipkan matanya, seolah-olah tidak mau lagi melepaskan pemandangan yang amat indah itu sebentarpun juga.
Sui Cin cemberut, menganggap pemuda itu tidak mau kalah dan ingin beradu kekuatan mata, Maka iapun tidak mau berkedip dan sepasang matanya terbelalak tajam.
Sebagai seorang ahli silat, sejak kecil ia sudah digembleng oleh ayah bundanya untuk mempertajam panca inderanya, terutama sekali mat.
Dengan air garam yang dicampur ramuan lain setiap pagi ia memercikkan air ke matanya yang terbuka tanpa berkedip dan dengan latihan seperti itu, pandang matanya menjadi tajam.
Ia mampu mengikuti gerakan senjata lawan, dan ia mampu bertahan tidak berkedip sampai berjam-jam!
Akan tetapi, pandang mata pemuda yang penuh kagum itu, yang mengandung kejenakaan, seperti menggelitiknya dan membuatnya tidak mungkin dapat bertahan lebih lama lagi, apa pula setelah ia merasa darahnya naik dan api kemarahannya berkobar.
Jari tangannya menuding ke arah mata pemuda itu dan mulutnya membentak.
"Kau melihat apa? Matamu melotot seperti mata iblis!"
Dibentak demikian, Hui Song baru sadar bahwa sejak tadi dia memandang dengan bengong.
Dia dapat merasakan keadaan yang lucu di antara mereka, maka diapun tersenyum lebar.
"Masih cengar-cengir lagi, seperti monyet!"
Sui Cin makin marah karena merasa ditertawakan.
Orang yang sedang dikuasai nafsu amarah memang penuh prasangka buruk.
Orang cemberut disangka menentang, orang bicara disangka menantang, orang diam disangka tidak mengacuhkan, orang tertawa dianggap mengejek.
Serba susahlah kalau hati diracuni nafsu amarah.
Akan tetapi, karena Hui Song sudah tertarik sekali kepada dara remaja yang amat cantik manis dan tinggi ilmu silatnya ini, kemarahan Sui Cin itu baginya malah membuat dara itu nampak lebih manis dan lucu.
Makian Sui Cin membuatnya tertawa bergelak!
"Ha-ha-ha, sungguh lucu engkau, nona.
Siapa yang menyuruh engkau begini....
eh, hebat?
Bukan salahku kalau aku memandang sampai melotot mengagumi kehebatanmu!"
Dia tidak mau mengucapkan sebutan cantik jelita yang sudah berada di ujung lidahnya, takut kalau-kalau dara itu lebih marah lagi kepadanya dan menganggapnya ceriwis.
"Apa hebat? Apa maksudmu dengan kata hebat itu?"
Tanya Sui Cin, akan tetapi suaranya masih marah. Kini terpaksa Hui Song berterus terang.
"Engkau hebat... karena engkau begini cantik jelita dan ilmu-ilmumu tinggi sekali. Dan aku melolot seperti mata iblis karena engkau juga melotot memandangku, akan tetapi matamu melotot jernih seperti mata... bidadari."
"Engkau laki-laki... cabul..."
Sui Cin membentak dan payungnya sudah bergerak cepat, menusuk ke arah perut pemuda itu!
"Wuuutt...
singgg...
Heeiiittt..."
Hui Song cepat melempar dirinya ke belakang, berjungkir balik tiga kali baru berdiri kembali dan matanya semakin terbelalak.
"Wah, tahan dulu, nona. Engkau ini bagaimana, sih? Tadi engkau membantuku menghadapi iblis-iblis Cap-sha-kui sehingga boleh dibilang engkau menyelamatkan nyawaku, akan tetapi kenapa sekarang engkau malah hendak membikin aku menjadi... sate, kau tusuk perutku dengan payung ajaibmu itu?"
"Manusia ceriwis, cabul, sialan!"
Sui Cin menyerang terus dan kini Hui Song mendapatkan kegembiraan lain, yaitu dia memperoleh kesempatan untuk menguji kepandaian orang yang dikagumi ini dan yang juga mengherankan hatinya melihat Jurus-jurus yang amat dikenalnya sebagai Jurus-jurus keluarga Cin-Ling-Pai.
Akan tetapi, karena dia tahu benar betapa hebat dan berbahayanya ilmu silat dara itu, dan bahwa watak keras dara itu membuat serangan-serangannya tidak main-main lagi, Diapun tidak berani memandang rendah dan terpaksa dia mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk menandangi Sui Cin.
Dengan hati penuh kagum dan heran pemuda ini segera memperoleh kenyataan bahwa dara itu sedemikian lihainya sehingga tidak mungkin dia bertahan terus tanpa balas menyerang, karena hal itu amat berbahaya.
Maka diapun cepat mainkan Thai-kek Sin-kun untuk bertahan diri dan Kadang-kadang membalas serangan lawan dengan tamparan-tamparan Thian-te Sin-ciang.
Di lain plhak, Sui Cin terkejut melihat betapa pemuda ini benar-benar amat mahir dalam dua ilmu silat keluarganya itu, bahkan mungkin sekali lebih mahir dari pada ia sendiri.
Sampai lima puluh jurus mereka berkelahi dan belum juga ujung payungnya dapat menyentuh pemuda yang lincah itu.
"Tahan dulu..."
Tiba-tiba Hui Song berseru sambil meloncat ke belakang.
Sui Cin menghentikan gerakannya, akan tetapi payungnya masih melintang di dada, siap untuk menyerang lagi.
Mukanya merah, dahi dan lehernya agak basah oleh peluhnya dan matanya bersinar-sinar.
"Belum ada yang kalah kenapa berhenti?"
Bentak Sui Cin penasaran. Hui Song tersenyum dan wajahnya bersungguh-sungguh.
"Terus terang saja, selama hidupku baru tadi aku bertemu lawan tangguh ketika iblis-iblis Cap-sha-kui mengeroyokku, dan sekarang ternyata engkau merupakan lawan yang lebih tangguh lagi dari pada mereka. Nona, kita sama-sama mengetahui bahwa kita berdua adalah saudara seperguruan, sama-sama menjadi murid Cin-Ling-Pai..."
"Aku bukan murid Cin-Ling-Pai!"
Bentak Sui Cin.
"Apa Kau kira hanya putera ketua Cin-Ling-Pai saja yang mampu bersilat?"
Sepasang mata pemuda itu berseri gembira dan senyumnya melebar, sinar kebengalan kembali membuat matanya bersinar-sinar dan wajahnya berseri, mulutnya tersenyum.
Sui Cin sendiri tersenyum di dalam hati dan mengaku bahwa tidak mungkin marah-marah terlalu lama kepada wajah yang begitu gembira.
"Wah, aku mengaku kalah satu nol. Engkau ternyata mengenalku sebagai putera ketua Cin-Ling-Pai sedangkan aku sama sekali tidak pernah dapat menduga siapa adanya dirimu. Bagaimanapun juga, aku merasa yakin bahwa orang tuamu mempunyai hubungan dengan Cin-Ling-Pai. Nona yang baik, aku memang putera tunggal ketua Cin-Ling-Pai, namaku Cia Hui Song, usiaku dua puluh satu tahun dan aku belum bertunangan, apalagi menikah!"
Geli juga hati Sui Cin mendengar kata-kata ini.
Mulutnya yang tadinya cemberut itu kini membentuk senyum, walaupun senyum itu masih merupakan senyum mengejek.
"Siapa perduli apakah engkau masih perjaka ataukah sudah duda, sudah kakek berusia dua puluh satu atau lima puluh satu!"
Jawabnya, kemudian ia meninggalkan pemuda itu tanpa berkata apa-apa lagi.
Melihat dara yang dikaguminya itu pergi, Hui Song terkejut.
"Eh, nanti dulu nona, aku belum berkenalan..."
Akan tetapi Sui Cin mempercepat langkahnya dan kini ia mengerahkan ginkangnya berlari cepat seperti terbang.
Melihat ini, Hui Song penasaran dan diapun mengerahkan tenaga dan kepandaiannya, mengejar sekuat tenaga.
Dua orang muda itu berkejaran seperti sedang berlomba lari.
Kembali keduanya merasa kagum karena ternyata dalam hal ilmu berlari cepat merekapun memiliki tingkat yang seimbang!
Sui Cin mulai merasa lelah dan iapun cepat mengambil jalan memutar menuju ke tempat di mana tadi ia meninggalkan kudanya.
Melihat kudanya yang kecil itu masih enak-enak makan rumput di bawah pohon, ia lalu mencengklaknya dan membalapkan kudanya!
"Heiii, tunggu..."
Hui Song penasaran sekali dan terus mengejar.
Tadinya dia memandang rendah ketika melihat gadis yang dikejarnya itu menyambung larinya dengan naik kuda.
Kuda sekecil itu, mana mampu lari cepat, pikirnya.
Akan tetapi dia menjadi kaget dan penasaran sekali ketika melihat betapa kuda katai itu ternyata dapat berlari cepat dan kuat sekali, bahkan tidak kalah ketimbang larinya kuda besar!
Dan kuda itu napasnya kuat sekali sehingga ketika napasnya sendiri sudah seninkemis, kuda itu masih terus membalap.
Akhirnya Hui Song terpaksa mengalah, berhenti berlari kalau dia tidak mau napasnya putus.
Dia berhenti dan mengamang-amangkan tinjunya dengan gemas ketika melihat Sui Cin menoleh dan mentertawakannya dengan suara ketawa nyaring memanaskan hati!
Cinta asmara memang sesuatu yang amat aneh.
Pada dasarnya memang ada daya tarik yang amat kuat antar lawan jenis, antara pria dan wanita dan daya tarik ini adalah alamiah, sesuai dengan kekuatan Im dan Yang, dua kekuatan yang saling berlawanan, saling tarik, yang membuat bumi berputar, yang membuat segala sesuatu menjadi hidup berkembang.
Seorang pria, setelah memasuki masa remaja dan akil balikh, akan tertarik melihat seorang wanita, atau sebaliknya.
Hal ini sudah wajar.
Kelenjar-kelenjar dalam tubuh bekerja, otak yang penuh ingatan bekerja, dan tentu saja, rasa tertarik itu diperkuat dengan adanya selera sehingga menimbulkan pilihan-pilihan menurut selera masing-masing.
Dan ini tentu saja penting sekali karena kalau selera kaum pria serupa, tentu setiap orang wanita akan diperebutkan oleh banyak pria, atau juga sebaliknya.
Pertemuan pertama antara pria dan wanita, terutama yang cocok dengan selera masing-masing, menimbulkan kesan pertama.
Akan tetapi, hal ini tidak atau jarang sekali berarti timbulnya rasa cinta asmara.
Rasa cinta asmara biasanya timbul setelah masing-masing bergaul dan berdekatan, setelah masing-masing mengenal keadaan satu sama lain.
Betapapun juga, pertemuan pertama merupakan goresan awal yang bukan tidak mungkin berlanjut dengan perkenalan dan saling mencinta.
Bunga-bunga api asmara suka berpijar di sudut kerling mata dan di ujung senyum bibir, dan apabila memperoleh bahan bakarnya, bunga api yang berpijar itu akan membakar hati.
Dan kalau dua hati sudah saling mencinta, tidak ada kekuatan apapun di dunia ini yang akan dapat mengalahkannya.
Dengan kekerasan, badan boleh dipisah, akan tetapi terikatnya dua hati yang saling mencinta akan dibawa sampai mati.
Setelah kuda kecil yang membawa pergi Sui Cin lenyap tak dapat diikuti pandang mata lagi, Hui Song menjatuhkan diri di bawah pohon, di atas rumput gemuk, melepaskan lelah.
Peluhnya membasahi badan dan dengan hati mengkal dia menyusut peluh dari muka dan lehernya.
Hatinya mendongkol dan kecewa sekali.
Tentu saja dia tidak dapat mengatakan apakah dia suka kepada dara itu, apalagi mencinta.
Tidak, belum sejauh itu lamunannya.
Dia hanya merasa amat tertarik dan ingin sekali mengenal dara itu, ingin tahu siapa adanya dara remaja yang usianya tentu paling banyak enam belas tahun itu, yang demikian lihainya, demikian manisnya, dan demikian bengalnya!
Dia merasa tertarik melihat kesederhanaan dara itu, dengan pakaiannya yang bersahaja namun bersih, pakaian yang agak nyentrik dengan payung bututnya yang dapat dijadikan senjata ampuh.
Dia menduga-duga siapa gerangan dara itu, anak atau murid siapa?
Dia pernah mendengar dari ayahnya bahwa banyaklah pendekar-pendekar sakti yang masih ada hubungan dengan Cin-Ling-Pai, di antaranya yang amat terkenal adalah ketua Pek-liong-pai di Lembah Naga jauh di utara sana, kemudian Pendekar Sadis yang tinggal di Pulau Teratai Merah.
Hanya itu yang diketahuinya, dan dia tidak pernah mendengar tentang keadaan mereka, apalagi tokoh-tokoh lain yang tidak diceritakan oleh ayahnya, akan tetapi yang menurut ayahnya banyak terdapat di dunia ini.
Tidaklah mengherankan kalau ada ahli ilmu silat keluarga Cin-Ling-Pai, akan tetapi kalau yang menguasai ilmu itu seorang dara yang masih demikian muda akan tetapi sudah sedemikian mahirnya, tidak kalah oleh dia sendiri sebagai putera tunggal ketua Cin-Ling-Pai, maka hal itu tentu saja membuat dia penasaran dan harus dia ketahui siapa gerangan dara itu!
"Bocah bengal!
Awas kalau aku bertemu lagi denganmu!"
Dia mengepal tinju dan cemberut, akan tetapi lalu dia tersenyum lebar.
Kalau bertemu, apa yang akan dilakukannya?
Dan mana mungkin dia marah-marah kepada dara selucu itu?
Dan bagaimanapun juga, kalau tidak muncul dara itu yang membantu, bukan tidak mungkin dia celaka di tangan tiga orang iblis Cap-sha-kui tadi.
Kalau bertemu lagi, apa yang akan dilakukannya terhadap dara itu?
"Aku akan mengucapkan terima kasihku!"
Akhirnya dia menjawab pertanyaan dalam hatinya sendiri.
Hui Song bangkit berdiri dan melanjutkan perjalanannya dan tiba-tiba saja, secara aneh sekali, dia merasakan suatu kelainan pada dirinya.
Lain dari biasanya.
Ada apa dengan hati ini, pikirnya.
Dia merasa kesepian!
Dunia nampak begini kosong dan sunyi sekali, tidak menggembirakan lagi.
Mengapa begini?
Dia mengepal tinju dan alisnya berkerut, suatu hal yang hampir tidak pernah terjadi pada dirinya yang selalu bergembira.
Hati Hui Song murung karena kecewa oleh ulah Sui Cin yang meninggalkannya begitu saja tanpa memberi kesempatan untuk saling berkenalan.
Yang membuat hatinya semakin penasaran adalah bahwa dara itu sudah mengenalnya sebagai putera ketua Cin-Ling-Pai sedangkan dia sendiri, mendugapun belum dapat siapa adanya dara itu!
Dengan murung dia melanjutkan perjalanan, bermaksud untuk pulang ke Cin-ling-san dan menemui orang tuanya, bukan hanya untuk melaporkan tentang pertemuan yang gagal di Puncak Bukit Perahu, akan tetapi terutama sekali dia hendak mencari keterangan dari ayahnya tentang tokoh-tokoh kang-ouw yang ada hubungannya dengan keluarga Cin-Ling-Pai, yang menguasai ilmu-ilmu silat Cin-Ling-Pai agar dia dapat menduga siapa adanya gadis manis itu.
Pada keesokan harinya, tibalah dia di kota Cinan yang besar dan ramai.
Kota ini ramai sekali terutama karena letaknya di tepi sungai Huangho.
Dari kota ini, melalui sungai, orang dapat mengunjungi kota-kota besar, bahkan sampai di kota raja.
Para saudagar dan pelancong hilir mudik mengunjungi kota Cinan sehingga kota ini menjadi makmur dan tokotoko serba lengkap dan besar.
Tidak ada orang menaruh terlalu banyak perhatian terhadap diri Hui Song, seorang pemuda biasa yang pakaiannya bersahaja, kebesaran dan ada tambalan di sana-sini walaupun cukup bersih.
Tidak ada seorangpun dapat menyangka bahwa pemuda tinggi besar yang berwajah gembira ini adalah seorang pendekar muda yang berilmu tinggi, putera tunggal ketua Cin-Ling-Pai, nama yang pernah menggemparkan dunia persilatan puluhan tahun yang lalu.
Hui Song adalah seorang pemuda yang berjiwa sederhana dan gembira.
Biarpun dia putera ketua Cin-Ling-Pai dan dalam melakukan perjalanan itu dia membawa bekal uang secukupnya, Namun dia selalu makan di pasar, di warung-warung kecil dan tidurnyapun kebanyakan di kuil-kuil kosong atau di hutan, dan kalau terpaksa tidur di rumah penginapan, diapun memilih rumah penginapan yang kecil sederhana dan tidak banyak tamunya.
Hari telah siang ketika dia memasuki Cinan.
Pertama-tama yang dilakukannya adalah melakukan penyelidikan tentang Kang-Jiu-Pang.
Dia mendengar bahwa pasukan pemerintah menyerbu pusat perkumpulan itu dengan tuduhan memberontak, akan tetapi tidak ada seorangpun anggauta Kang-Jiu-Pang yang tertangkap karena sarang itu sudah kosong tak tampak seorangpun anggauta Kang-Jiu-Pang.
Mendengar ini, Hui Song tersenyum gembira.
Dia bersimpati kepada perkumpulan orang-orang gagah ini yang dengan cara mereka sendiri hendak membersihkan pemerintah dari tangan pembesar korup.
Sayang usaha mereka itu terlalu kasar, hendak mengganggu kaisar sehingga usaha mereka gagal dan mereka bahkan kehilangan beberapa orang anggauta yang tewas oleh amukan iblis-iblis Cap-sha-kui.
Hatinya gembira mendengar betapa orang-orang Kang-Jiu-Pang mentaati nasihatnya dan semua telah melarikan diri sebelum pasukan pemerintah menyerbu.
Dengan langkah ringan dan hati senang diapun memasuki pasar di kota itu untuk mencari pengisi perutnya yang sudah terasa lapar.
Begitu memasuki pasar, Hui Song tertarik oleh suara ribut-ribut di lapangan terbuka di luar pasar yang ramai pula dengan orang-orang berjualan dan orang-orang yang datang berbelanja.
Di luar pasar ini dijual sayur-mayur yang diletakkan di dalam keranjangkeranjang atau diletakkan di atas tikartikar yang dibentangkan di atas tanah begitu saja.
Keramaian yang terjadi di luar pasar ini bukan keramaian biasa karena Hui Song melihat banyak orang berpakaian gembel berlari-larian dengan wajah gembira sekali.
Hatinya tertarik dan diapun melangkah mendekat ke tempat di mana para gembel itu berkerumun merubung sesuatu.
Dan diapun terheran melihat seorang pemuda remaja yang juga berpakaian tambal-tambalan berdiri di tengah-tengah rubungan para gembel itu.
Pemuda ini berwajah kotor penuh debu sehingga sukar dikenali wajahnya, penuh keringat pula, akan tetapi sepasang matanya bersinar-sinar gembira.
Di sebelahnya terdapat sebuah karung yang terisi logam penuh!
Dan pemuda remaja ini sedang membagi-bagikan uang kepingan itu kepada para gembel, begitu royalnya dia menyebar uang seperti orang membuang pasir saja!
Tentu saja hal ini menggegerkan orang sepasar karena sungguh merupakan penglihatan luar biasa jika seorang pemuda remaja gembel membagi-bagikan uang yang sedemikian banyaknya kepada kaum gembel dengan sikap seorang hartawan besar yang sudah kebanyakan uang rupanya.
Kini bukan hanya para gembel yang antri untuk menerima bagian pemberian, bahkan mereka yang miskin dan kebetulan berada di pasar, baik untuk berjualan maupun untuk berbelanja, tidak malu-malu untuk ikut pula antri.
Pemuda remaja itu kelihatan gembira sekali, membagi-bagikan uang sambil tertawa-tawa.
Akan tetapi, tiba-tiba semua orang yang sedang antri itu nampak ketakutan dan mereka bubaran meninggalkan tempat itu.
Juga para gembel cepat-cepat meninggalkan tempat itu walaupun mereka belum memperoleh bagian.
Agaknya semua orang merasa ketakutan secara tiba-tiba seperti ada bahaya yang mengancam keselamatan mereka.
Sejak tadi, Hui Song berdiri dengan mata terbelalak penuh kekaguman.
Juga di dalam hatinya timbul rasa heran dan juga terharu melihat seorang pemuda gembel membagi-bagikan uang secara begitu royalnya.
Sungguh penglihatan itu amat tidak lumrah dan seperti dunia sudah terbalik.
Orang-orang kaya paling sayang uang dan amat pelit mengeluarkan uangnya, sebaliknya seorang gembel malah membagi-bagikan uang seperti orang membuang pasir saja.
Tentu saja hal inipun menimbulkan kecurigaan hatinya.
Benarkah pemuda itu seorang gembel?
Kalau benar demikian, apakah benar uang yang dibagi-bagikan itu uangnya sendiri ataukah uang curian?
Biar bagaimanapun juga, Hati Hui Song tertarik sekali dan sudah timbul semacam rasa suka di hatinya terhadap pemuda gembel itu.
Diapun melihat betapa semua orang bubaran dan melarikan diri dengan wajah seperti dicekam rasa takut.
Lapangan depan pasar itu menjadi berkurang ramainya.
Hanya mereka yang berjualan dan berbelanja saja yang masih berada di situ, akan tetapi wajah merekapun membayangkan rasa takut.
Sebaliknya, pemuda gembel yang membagi-bagikan uang itu nampak kecewa.
Uangnya di dalam karung masih ada cukup banyak, masih seperempat karung dan orang-orang yang antri dan belum kebagian sudah keburu pergi bubaran.
Diapun mengangkat muka memandang dan mencari-cari dengan pandang matanya.
Ketika mencari-cari ini, tiba-tiba saja, tanpa disengaja, sepasang mata gembel muda itu bertemu dengan pandang mata Hui Song.
Hui Song terkejut sekali.
Dia merasa seperti pernah mengenal pemuda gembel itu, akan tetapi dia sudah lupa lagi kapan dan di mana.
Akan tetapi, begitu bertemu pandang, dia merasa yakin bahwa dia pernah mengenal gembel muda itu!
Dia mengingat-ingat, akan tetapi sementara itu, gembel muda itu membuang muka dan memandang ke arah jalan masuk ke lapangan depan pasar itu.
Hui Song juga memandang ke sana dan tahulah dia sebab dari pada bubarnya semua orang tadi.
Dua orang kakek itu usianya tentu sudah ada enam puluh tahun.
Pakaian mereka jelas menunjukkan bahwa mereka adalah dua orang pengemis karena pakaian itu penuh dengan tambal-tambalan, hanya lucunya, baju penuh tambalan itu masih baru, bahkan kain kembang yang dipakai untuk menambal juga masih baru!
Keduanya memegang tongkat dan biarpun mereka itu jelas berpakaian pengemis, akan tetapi sikap mereka ketika melangkah memasuki lapangan terbuka di depan pasar itu tiada ubahnya dua orang pembesar tinggi atau dua orang perwira tinggi yang sedang berjalan.
Kepala diangkat tinggi lurus, dada membusung dan langkahnya jelas dibuat-buat agar supaya nampak gagah!
Tongkat itu dipegang seperti pembesar memegang tongkat komando saja.
Sungguh aneh, akan tetapi amat lucu dalam pandangan Hui Song sehingga dia tersenyum lebar menahan tawa.
Baginya, dua orang itu lebih mirip dua orang badut yang sedang berlagak di atas panggung.
Akan tetapi, jelaslah bahwa semua orang yang bubaran tadi adalah karena munculnya dua orang kakek pengemis ini.
Sekarangpun, mereka berjalan seperti orang-orang yang berkuasa, Dan pandang mata semua orang di situ yang ditujukan kepada mereka mengandung bayangan rasa takut, seperti orang-orang yang memandang dua ekor harimau ganas yang dilepas di tempat umum.
Siapakah adanya dua orang kakek pengemis yang begitu besar pengaruhnya sehingga semua orang menyingkir ketakutan begitu mereka muncul?
Mereka itu adalah dua orang tokoh perkumpulan Hwa-I Kai-Pang (Perkumpulan Pengemis Baju Kembang).
Dahulu, ketika Hwa-I Kai-Pang masih dipimpin oleh orang gagah perkasa yang budiman, perkumpulan ini terkenal sebagai perkumpulan yang bersih.
Dahulu perkumpulan ini hanya bertujuan untuk mendidik para pengemis, mengajarkan kepandaian tertentu agar mereka itu dapat terjun ke dalam masyarakat dengan bekerja dan meninggalkan kebiasaan mereka mengemis.
Juga mereka yang memiliki ilmu silat tentu bertujuan untuk membela kepentingan kaum lemah yang tertindas.
Akan tetapi akhir-akhir ini, setelah dipimpin oleh seorang lihai yang berambisi dan dipengaruhi oleh kaki tangan Liu-thaikam, berubah pulalah keadaan perkumpulan itu.
Hwa-I Kai-Pang kini dipimpin oleh seorang tokoh yang berjuluk Hwa-I Lo-eng (Pendekar Tua Baju Kembang).
Julukannya saja pendekar, akan tetapi sepak terjangnya sama sekali tidak depat dinamakan bijaksana atau budiman.
Apalagi setelah dia dapat dibujuk oleh orang-orangnya Liu-thaikam, maka keadaan perkumpulan itu berobah sama sekali.
Liu Kim atau Liu-thaikam adalah seorang yang amat cerdik.
Dia tahu bahwa dia sendiri tidak memiliki kekuatan apapun.
Kalau dia dapat memiliki kekuasaan dan pengaruh, hal itu adalah karena kaisar yang muda itu amat percaya kepadanya dan memang dia seorang yang pandai melaksanakan pekerjaan.
Segala perintah pekerjaan yang diserahkan kepadanya tentu terlaksana dengan beres dan baik.
Akan tetapi, diapun seorang yang suka sekali menumpuk harta sehingga untuk memuaskan nafsu yang tak kunjung padam itu dia melakukan korupsi besar-besaran.
Hal ini tentu saja menimbulkan tentangan dari panyak pembesar yang setia dan jujur.
Untuk melindungi dirinya, kekayaan dan kedudukannya, maka Liu-thaikam sengaja menyuruh kaki tangannya untuk menghubungi orang-orang pandai di luar istana.
Dengan menggunakan kekayaannya yang amat besar, dia berhasil menarik orang-orang pandai dari golongan hitam untuk menjadi antek-anteknya.
Bahkan akhir-akhir ini dia berhasil memperalat Cap-sha-kui.
dan tentu saja dia secara mati-matian melindungi kaisar karena kaisar muda itulah yang menjadi pohon emasnya!
Kalau sampai kaisar muda itu diganti, berarti dia akan kehilangan kedudukannya, dan mungkin kekayaannya akan dirampas, juga mungkin saja nyawanya pula!
Itulah sebabnya mengapa dia mati-matian menjaga keselamatan kaisar dan hal ini bahkan menambah rasa sayang kaisar kepadanya karena perlindungan yang diberikannya itu hanya diartikan sebagai suatu kesetisan besar dari kepala thaikam itu kepada kaisar.
Bukan hanya Cap-sha-kui yang terkena bujukan dan dapat dibeli oleh Liu-thaikam, akan tetapi juga perkumpulanperkumpulan kuat lainnya.
Satu diantaranya adalah Hwa-I Kai-Pang yang kini berpusat di Cinan dan sebagian membuka cabang di kota raja.
Karena mendengar bahwa perkumpulan pengemis ini amat kuatnya, dan memiliki pengaruh yang luas di kalangan para pengemis, Liu-thaikam lalu menyuruh kaki tangannya untuk menghubungi ketuanya, yaitu Hwa-I Lo-eng dan dengan pengaruh harta dan juga kedudukan, ketua yang julukannya gagah ini terjatuh dan dia membawa seluruh anggauta perkumpulan untuk menjadi kaki tangan yang setia dari Liu-thaikam.
Kepercayaan dari orang penting berarti kekuasaan dan kekuasaan merupakan milik yang amat berbahaya.
Sudah banyak terbukti dalam sejarah sejak jaman dahulu sampai kini, kebanyakan orang setelah memiliki kekuasaan menjadi mabok kekuasaan dan menyalah-gunakan kekuasaannya.
Kekuasaan biasanya membuat orang menjadi tinggi hati, Sombong dan ingin memamerkan kekuasaannya dan kalau hal ini teriadi, maka timbullah perbuatan sewenang-wenang dari orang yang mengumbar kekuasaannya.
Dan orang-orang yang mabok (Lanjut ke
Jilid 07) Asmara Berdarah (Seri ke 08 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 07 kekuasaan ini menunjukkan bahwa dia adalah orang yang lemah batinnya, hilang perikemanusiaannya, bahkan bukan seperti manusia lagi melainkan hanya merupakan alat pelampiasan nafsu yang memperhambanya.
Demikian pula keadaan para anggauta Hwa-I Kai-Pang.
Semenjak mereka menjadi kaki tangan Liu-thaikam, kurang lebih setahun yang lalu, mereka semua merasa seolah-olah mereka telah menjadi pasukan khusus pembesar itu yang besar sekali kekuasaannya dan mereka hendak memaksakan segala macam keinginan hati mereka kepada rakyat tanpa ada rakyat berani melawan karena kepandaian mereka yang tinggi.
Juga tidak ada pembesar berani menentang mereka setelah mengetahui bahwa para pengemis baju kembang itu adalah antek-antek Liu-thaikam!
Makin besar kepala sajalah mereka ini, terutama sekali di Cinan, mereka seolah-olah lebih berkuasa dari para petugas keamanan kota sendiri.
Manyiksa dan membunuh orang mudah saja mereka lakukan tanpa tuntutan, dengan dalih bahwa yang mereka siksa atau bunuh itu adalah orang-orang yang bermaksud memberontak terhadap pemerintah.
Demikianlah keadaan para anggauta Hwa-I Kai-Pang yang mudah dikenal dari pakaian, tongkat dan gaya mereka.
Maka, tidaklah mengherankan apabila orang-orang melarikan diri ketakutan ketika ada dua orang anggauta Hwa-I Kai-Pang muncul di pasar itu.
Biasanya, para tokoh kaipang ini hanya menyuruh anak buah mereka saja yang masih muda-muda.
Kalau kini ada dua orang tokoh tua maju sendiri, tentu akan terjadi hal-hal yang mengerikan, setidaknya tentu akan ada orang terbunuh.
Hui Song belum pernah mendengar tentang Hwa-I Kai-Pang, maka diapun merasa heran dan tidak tahu mengapa dua orang kakek pengemis ini ditakuti orang dan apa yang akan dilakukan kakek itu.
Pada saat itu, ada seorang pengemis muda, paling banyak tiga belas tahun usianya, agaknya anak gembel ini tidak dapat menahan keinginan hatinya untuk memperoleh pembagian uang.
Dia berlari menghampiri pemuda gembel yang membagi-bagikan uang itu, lalu mengulurkan tangan memberi isyarat minta-minta.
Pemuda remaja itu memandang heran, tersenyum gembira dan memberikan uang logam segenggam sambil berkata, suaranya lantang gembira.
"Bagus, nih kuberi banyak sebagai hadiah keberanianmu. Engkau tidak seperti mereka yang pengecut dan penakut."
Mata anak itu terbelalak ketika melihat segenggam uang logam di tangannya.
Belum pernah dia mempunyai uang sebanyak itu!
Dia bergembira dan lupa akan kemunculan dua orang kakek pengemis tadi, sambil tersenyum lebar dia menjura berkali-kali kepada pemuda remaja gembel itu sambil berkata.
"Terima kasih, kak, terima kasih, kak!"
Lalu dia lari dengan wajah berseri.
Akan tetapi, tiba-tiba larinya terhenti karena ada tubuh orang menghadang di depannya.
Anak itu mengangkat mukanya memandang dan tiba-tiba mukanya menjadi pucat ketakutan ketika dia melihat bahwa yang menghadangnya adalah seorang di antara dua kakek pengemis baju kembang tadi.
"Aku... aku tidak mencuri... aku tidak melakukan kesalahan..."
Anak itu membela diri ketika melihat pandang mata kakek yang bengis itu.
"Plakkk!"
Tangan kakek itu bergerak dan tubuh anak gembel itu terpelanting, uang yang digenggamnya terlempar ke mana-mana dan iapun menangis sambil memegangi kepalanya yang terasa nyeri seperti akan pecah rasanya.
Pipi kirinya bengkak dan matang biru karena tamparan yang amat keras tadi.
"Masih kecil sudah menjadi tukang tadah, kelak hanya akan menjadi maling atau perampok saja. Lebih baik kupatahkan dulu kedua lenganmu!"
Kata si kakek pengemis.
Banyak orang menonton peristiwa itu dan kakek pengemis kedua berdiri dengan tongkat melintang dan pandang mata menantang seolah-olah ingin sekali melihat siapa yang akan berani menghalangi mereka berdua.
"Ampun... aku tidak berani lagi, ampun..."
Anak itu meratap ketakutan ketika kakek pengemis yang memiliki tahi lalat besar pada dagunya itu melangkah maju menghampirinya dengan air muka bengis dan sadis.
"Ulurkan lenganmu! Cepat!"
Bentaknya.
"Tidak... tidak... ampunkan aku..."
Anak itu meratap.
Dia sudah mendengar akan kekejaman pengemis-pengemis baju kembang ini dan mendengar bahwa kedua lengannya aken dipatahkan, tentu saja anak itu menjadi ketakutan.
"Apa? Engkau berani membantah? Apakah engkau ingin kupatahkan lehermu sebaiknya dari pada kedua lenganmu?"
"Ohhh... ampunkan aku..."
Karena diancam hendak dipatahkan lehernya, anak itu menjadi semakin ketakutan dan tiba-tiba melarikan diri.
"Berani engkau melarikan diri? Engkau layak dibunuh!"
Kakek itu membentak sehingga si anak gembel menjadi semakin panik.
Larinya dipercepat dan tiba-tiba dia menabrak seseorang yang cepat memegang pundaknya.
"Aduh, ampun..."
Anak itu menggigil dan mengangkat muka memandang.
Akan tetapi ternyata yang ditabraknya itu bukanlah kakek pengemis, melainkan seorang pemuda tinggi besar yang memandang kepadanya sambil tersenyum.
"Jangan takut, pergilah dari sini!"
Kata pemuda itu yang bukan lain adalah Hui Song!
Anak gembel itu pulih kembali semangatnya dan diapun cepat melarikan diri meninggalkan tempat berbahaya itu, hampir tidak percaya bahwa kedua lengannya masih utuh.
Dia dapat lolos demikian mudahnya.
Tentu saja dua orang tokoh Hwa-I Kai-Pang itu menjadi marah bukan main.
Belum pernah ada orang berani mencampuri urusan mereka, apalagi menentang mereka.
Pemuda berbaju kedodoran itu sungguh lancang sekali.
Menyuruh bocah itu pergi sama saja dengan menantang mereka, maka mereka berdua berloncatan ke depan pemuda itu dengan tongkat melintang di depan dada dan pandang mata penuh ancaman.
"Siapakah engkau, begini berani mampus menentang kami?"
Bentak kakek pengemis yang bertahi lalat di dagunya itu. Hui Song tersenyum mengejek.
"Siapa adanya aku tidaklah penting, karena aku hanya orang biasa saja. Akan tetapi kalian inilah yang aneh luar biasa. Kalian ini jelas dua orang kakek, akan tetapi memakai pakaian kembang-kembang, begitu penuh aksi mengalahkan pemuda-pemuda remaja, dan kalian hendak mematahkan lengan anak kecil. Sungguh luar biasa sekali, tidak lumrah manusia. Siapakah kalian?"
Dua orang kakek itu saling pandang dengan muka merah.
Belum pernah ada manusia sekurang ajar ini terhadap Hwa-I Kai-Pang.
Kakek kedua yang mukanya hitam melotot dan membentak.
"Bocah kurang ajar! Apakah matamu sudah buta? Engkau berhadapan dengan dua orang tokoh Hwa-I Kai-Pang!"
Agaknya kakek ini hendak menggertak dengan menggunakan nama perkumpulannya yang tersohor ditakuti orang.
Akan tetapi, pemuda tinggi besar yang berwajah cerah itu hanya tersenyum, sedikitpun tidak nampak kaget mendengar nama Hwa-I Kai-Pang.
"Hemmmm, kalau namanya seperti perkumpulan pengemis, akan tetapi kalau melihat tindakannya, patutnya perkumpulan tukang pukul. Apakah kalian ini pengemis merangkap tukang pukul?"
"Lancang mulut! Kami adalah pembantu pemerintah, menjaga keamanan!"
Bentak si tahi lalat.
"Menjaga keamanan dengan mematah-matahkan lengan anak kecil?"
Hui Song mengejek.
"Anak itu telah menjadi tukang tadah. Gembel muda itu telah mencuri uang sedemikian banyaknya maka dibagi-baginya dan siapa yang menerima pembagiannya berarti tukang tadah barang curian."
"Wah, wah, baru sekarang aku melihat pengemis berlagak menjadi jaksa dan sekaligus hakimnya!"
Tiba-tiba pengemis muda yang tadi membagi-bagi uang, berkata dengan suara nyaring sekali.
"Hayaaa... ceriwis dan cerewet amat sih seperti tiga nenek-nenek tua bertengkar saja. Kenapa tidak genjot saja dan habis perkara?"
Ucapan ini entah ditujukan kepada pihak pengemis ataukah kepada Hui Song, atau kepada ketiganya.
Akan tetapi, ucapan itu agaknya mengenai sasaran karena dua orang pengemis itu sudah berteriak marah dan tongkat di tangan mereka bergerak menyerang Hui Song dengan gerakan cepat dan kuat.
"Hemm, kalian adalah orang-orang jahat, tak salah lagi!"
Hui Song berkata sambil mengelak dengan sigapnya, kemudian balas menyerang dengan tamparan-tamparan tangannya.
Dua orang kakek itu menangkis dengan tongkat mereka dan Hui Song membiarkan lengannya tertangkis tongkat-tongkat itu.
"Plak! Plak!"
Dua orang kakek pengemis itu terhuyung dan mereka merasa terkejut sekali mendapat kenyataan betapa pemuda itu memiliki kekuatan sinkang yang amat besar, jauh lebih kuat dari pada mereka.
Merekapun mendesak lagi dengan permainan tongkat mereka yang cukup hebat.
Namun kini Hui Song melayani mereka sambil tersenyum-senyum mengejek.
"Kalian berdua tukang pukul gembel tentu sudah banyak memukul orang, maka biarlah sekarang aku membalaskan mereka yang pernah kau pukul!"
Hui Song berkata dan tangan kirinya bergerak secepat kilat, disusul tangan kanannya.
"Takk! Takk!"
Kepala dua orang pengemis itu tak terhindarkan lagi terkena jitakan jari-jari tangannya.
Dua orang kakek ini terhuyung dan mengelus kepala mereka yang menjadi benjol-benjol itu sambil meringis kesakitan.
Hui Song memang mempermainkan mereka.
Kalau jitakan di kepala tadi dia lakukan dengan pengerahan sinkang, tentu kepala dua orang itu sudah retak dan mereka akan tewas seketika.
Akan tetapi dia hanya menggunakan tenaga biasa saja, cukup membuat kepala yang dilindungi itu menjadi benjol sebesar telur ayam.
"Bagus... bagus... hantam terus..."
Terdengar suara orang bersorak dan ternyata yang bersorak itu adalah Sui Cin yang menyamar sebagai gembel muda yang membagi-bagi uang tadi.
Siapa lagi gembel muda yang membagi-bagi uang itu kalau bukan Ceng Sui Cin?
Biarpun ia selalu menyamar sebagai gembel muda atau gadis perantau yang tidak mewah, namun sesungguhnya dara ini kaya raya.
Orang tuanya, Pendekar Sadis yang tinggal di Pulau Teratai Merah, adalah orang yang memiliki harta benda amat besar, terutama setelah pendekar sakti ini menjadi ahli waris dari Harta Karun Jenghis-Khan.
Maka, sesungguhnya tidaklah terlalu mengherankan kalau Sui Cin dapat menghambur-hamburkan uang receh itu seperti orang membuang pasir saja.
Ketika Hui Song muncul, seketika Sui Cin mengenal pemuda tinggi besar lihai yang menjadi putera ketua Cin-Ling-Pai ini dan hatinya merasa gembira.
Terutama sekali karena ia sudah menyamar sebagai seorang gembel muda dan ia merasa yakin bahwa putera Cin-Ling-Pai itu tidak akan mengenalnya dalam penyamaran.
Kini, melihat betapa pemuda yang lincah jenaka itu menghadapi dua orang kakek pengemis galak dan mempermainkan mereka, hatinya menjadi gembira dan iapun bersorak.
Orang-orang di depan pasar itu lari menjauhkan diri melihat perkelahian yang dilakukan oleh dua orang kakek Hwa-I Kai-Pang, takut terlibat dan terseret.
Akan tetapi bagaimana mungkin gembel muda yang menjadi biang keladi kemarahan orang-orang Hwa-I Kai-Pang itu malah bersorak-sorak melihat dua orang tokoh pengemis itu terkena pukulan lawan?
Ini sama dengan mencari mati namanya!
Mendengar sorakan pemuda gembel itu, Hui Song tertawa.
Kembali dia bertemu dengan seorang muda yang hebat, pikirnya.
Seorang gembel yang bukan saja menghamburkan uang untuk memberi sedekah seperti menghamburkan pasir, Akan tetapi juga yang memiliki nyali cukup besar untuk berani mentertawakan dan mengejek dua orang kakek pengemis yang galak dan yang agaknya ditakuti semua orang itu.
Memperoleh dukungan gembel muda itu, Hui Song makin hebat mempermainkan dua orang kakek pengemis itu.
Jitakan pertama masih terasa oleh mereka berdua ketika tendangannya membuat mereka roboh dan karena yang ditendang itu pinggul mereka, maka akibatnya tidak membuat mereka lumpuh melainkan hanya nyeri yang memaksa mereka meringis kesakitan lagi.
Tentu saja mereka menjadi semakin marah karena merasa dipermainkan.
Sebagai ahli-ahli silat tinggi mereka mengenal orang pandai, dan mereka juga maklum bahwa mereka bukanlah lawan pemuda itu.
Akan tetapi tentu saja mereka merasa malu untuk mundur atau mengaku kalah.
Dengan kemarahan meluap merekapun menyerang lagi, kini serangan mereka yang didorong luapan amarah menjadi membabi-buta.
Dan tentu saja lebih mudah lagi bagi Hui Song untuk melayani dan mempermainkan mereka.
Beberapa kali kaki atau tangannya membuat dua orang lawan itu jatuh bangun dengan muka matang biru dan tubuh babak bundas.
Tiba-tiba terdengar suara gaduh dan dari luar masuklah banyak orang ke dalam lapangan depan pasar.
Orang-orang yang tadinya masih berani nonton perkelahian itu dari jarak jauh, kini pergi untuk tidak kembali.
Mereka ketakutan melihat munculnya belasan orang anggauta Hwa-I Kai-Pang bersama sepasukan penjaga keamanan kota yang terdiri dari dua puluh orang lebih dan pasukan ini bersenjata lengkap, golok dan tombak!
Tanpa banyak cakap lagi, tiga puluh orang lebih itu dengan kacau-balau mengurung, menyerbu dan menyerang Hui Song!
Tentu saja Hui Song harus mempergunakan semua kelincahannya untuk menghadapi pengeroyokan orang yang demikian banyaknya.
Di dalam hatinya, dia merasa penasaran dan juga heran.
Kawanan pengemis Hwa-I Kai-Pang ini jelas bukanlah golongan baik-baik, terlalu kejam dan sewenang-wenang terhadap rakyat.
Orang-orang seperti ini biasanya digolongkan penjahat-penjahat, akan tetapi mengapa kini pasukan pemerintah malah membantu mereka?
Dua kali sudah dia menemui hal-hal yang aneh.
Pertama kali, datuk-datuk sesat macam Cap-sha-kui melindungi kaisar, dan kedua kalinya, kini pasukan pemerintah membantu gerombolan seperti orang-orang Hwa-I Kai-Pang dan menyerang rakyat baik-baik!
Dia merasa penasaran sekali dan biarpun dia tidak ingin membunuh orang, kini dia menambah tenaga dalam tamparan-tamparannya sehingga dalam waktu singkat, enam orang sudah dia robohkan dengan tulang lengan, kaki atau pundak patah-patah, membuat mereka tidak mampu melakukan pengeroyokan lagi.
Bagaimanapun juga, jumlah pengeroyok itu teramat banyak dan para anggauta Hwa-I Kai-Pang itu rata-rata memiliki ilmu silat yang tinggi maka Hui Song merasa repot juga.
Kalau dia mau melarikan diri, tentu tidak begitu sukar baginya karena sekali mempergunakan ginkang dan meloncat keluar lalu lari, kiranya mereka itu tidak akan mampu menyusulnya.
Akan tetapi, yang membuat dia merasa malu untuk lari adalah sorakan dan teriakan pemuda gembel tadi.
"Hayo, gasak saja tikus-tikus itu! Ha-ha-ha, robohkan mereka semua satu demi satu, baru gagah namanya!"
Teriakan-teriakan ini membuat hati Hui Song mendongkol.
Kurang ajar, pikirnya, enak saja pemuda gembel itu membikin dia menjadi tontonan tanpa bayar.
Dan kata-katanya membuat dia merasa malu kalau harus melarikan diri, takut dianggap penakut dan tidak gagah!
Teriakan Sui Cin itu tidak hanya membuat Hui Song mendongkol, akan tetapi juga membuat para pengeroyok menjadi marah.
Mereka yang tidak dapat ikut mengeroyok pemuda itu karena jumlah mereka yang terlalu banyak, kini membalik dan mengepung Sui Cin sambil mengacung-acungkan senjata, siap untuk mangeroyoknya.
Melihat ini, Hui Song tertawa.
"Rasakan kamu sekarang!"
Teriaknya ke arah pemuda gembel itu, akan tetapi diam-diam dia mendekati dan siap untuk melindunginya kalau ternyata pemuda gembel itu hanya baik hati dan bengal saja akan tetapi tidak becus menjaga diri dari serangan banyak orang bersenjata.
Akan tetapi, pemuda ini terbelalak kaget ketika melihat si pemuda gembel, sambil tersenyum mengejek, menggerak-gerakkan kedua tangannya dan uang-uang logam yang digenggamnya beterbangan ke depan, meluncur seperti peluru-peluru ke arah orang-orang yang datang hendak mengeroyoknya.
Terdengar teriakan-teriakan mengaduh dan empat orang melemparkan senjata mereka, terpincang-pincang berusaha mencabut uang logam yang menancap hampir lenyap ke dalam paha atau betis mereka.
"Aduh... aduhh... kakiku..."
Mereka berteriak-teriak dan berloncatan.
Darah mengalir membasahi celana mereka.
Sui Cin tertawa-tawa dan bertepuk tangan gembira.
"Ha ha hi hi hi, kalian seperti sekumpulan monyet menari-nari he he he he!"
Para perajurit lainnya marah dan menyerbu.
Akan tetapi mereka disambut oleh hujan uang logam yang kalau mengenai tubuh mereka amat tajam dan runcing seperti senjata rahasia piauw saja.
Uang logam itu menembus pakaian dan kulit, menyusup ke dalam tulang.
Tentu saja mereka yang terkena sambaran senjata rahasia yang istimewa itu.
Melihat kelihaian pemuda gembel itu, Hui Song menjadi girang bukan main.
Tak disangkanya pemuda gembel bengal seperti itu ternyata lihai sekali.
Sui Cin sendiri girang melihat hasil sambitan-sambitannya.
"Ha ha ha, uang ini benar-benar serba guna, dapat diberikan orang-orang baik untuk membeli makanan penahan kelaparan, dapat pula dipergunakan untuk menghajar orang-orang jahat."
Ketika tanpa disengaja sebuah di antara uang logam yang disambit-sambitkan itu tepat mengenai tulang kering seorang pengeroyok sehingga orang itu berjingkrak-jingkrak saking nyeri dan kiut-miut rasa tulang keringnya, Sui Cin menjadi gembira bukan main dan sambil masih tertawa-tawa dara inipun kini membidikkan sambit-sambitannya ke arah tulang kering kaki para pengeroyok itu.
Makin banyak yang terkena sambaran uang logam tulang kering kakinya, makin banyak pula yang berjingkrak seperti orang-orang menari dengan gaya yang lucu dan makin terbahaklah Sui Cin.
Akan tetapi kini pasukan pemerintah datang semakin banyak dan karena banyaknya pengeroyok, Sui Cin tidak dapat mengandalkan lagi uang-uang logam itu dan diserbu dari belakang, terpaksa iapun berloncatan dan melakukan perlawanan seperti Hui Song, dengan tangan kosong.
Setiap kali menyamar sebagai pemuda gembel, ia selalu meninggalkan payungnya.
Payung dan kuda cebolnya itu hanya dipergunakan kalau ia berpakaian sebagai wanita saja.
Dan sekarang kuda dan payungnya itu dititipkannya di tempat yang aman.
Hui Song menjadi semakin kagum melihat betapa selain pandai mempergunakan uang logam sebagai senjata rahasia yang ampuh, ternyata pemuda gembel itupun lihai sekali ilmu silatnya sehingga dengan tangan kosong berani menyerbu banyak pengeroyok yang mempergunakan senjata tajam.
Akan tetapi kekagumannya kini bercampur dengan keheranan karena dia segera mengenal gerakan-gerakan jurus ilmu silat yang dimainkan pemuda itu.
Lagi-lagi seorang ahli silat keluarga Cin-Ling-Pai, pikirnya.
Hatinya penasaran sekali dan tiba-tiba saja diapun teringat.
Pantas dia merasa pernah bertemu dengan pemuda ini.
Mata itu!
Senyum itu!
Kebengalan itu dan akhirnya ilmu silat itu.
Sama benar dengan dara remaja nyentrik yang pernah dijumpainya!
Akan tetapi gembel ini adalah seorang pemuda.
Tentu saudaranya!
Ataukah saudara seperguruan?
"Heii, sobat muda yang baik, tidak benar melanjutkan perlawanan terhadap pasukan pemerintah.
Hayo kita pergi!"
Kata Hui Song ketika melihat betapa pasukan pemerintah semakin banyak berdatangan dan melakukan pengeroyokan.
Sui Cin juga merasa tidak enak kalau melanjutkan amukannya melihat betapa kini tempat itu penuh dengan perajurit pemerintah.
Ayahnya tentu akan marah bukan main kalau mendengar bahwa ia bermusuhan dengan pasukan pemerintah karena hal ini hanya dapat diartikan bahwa ia telah menjadi pemberontak!
Maka, mendengar ucapan Hui Song, iapun tertawa dan meloncat sambil membawa dua genggam uang logam.
Hui Song juga meloncat jauh dan ketika para pengeroyok melakukan pengejaran, Sui Cin melempar-lemparkan uang logam dua genggam itu sehingga para pengeroyok dan pengejar menjadi jerih.
Dengan mudah mereka berdua lari meninggalkan kota Cinan dan keluar dari pintu gerbang sebelah utara.
Hui Song mengerahkan ilmunya berlari cepat, akan tetapi dengan kagum dan heran dia mendapat kenyataan betapa gembel muda itu dapat mengimbangi kecepatannya!
Perkelahian dikeroyok banyak lawan itu membuat keduanya puas benar.
Kedua orang itu memang suka sekali bersilat, apalagi menghadapi pengeroyokan banyak orang di mana mereka berdua dapat melampiaskan hati sepuasnya dengan menghajar para lawannya.
Dan mengingat akan kelucuan pemuda gembel itu merobohkan lawan dengan melempar-lemparkan uang logam, keduanya berlari sambil tertawa-tawa.
Setelah mereka tiba di dekat hutan jauh di luar kota, dan tidak melihat adanya pengejar, berhentilah mereka terengah-engah akan tetapi masih tertawa gembira.
Begitu melihat wajah pemuda gembel itu yang tertawa-tawa, hati Hui Song sudah tertarik sekali dan dia merasa amat suka kepada pemuda itu.
Mereka berdua merasa lelah, bukan hanya karena perkelahian tadi, akan tetapi juga karena berlari cepat dan ditambah lagi karena tertawa-tawa dan mereka berdua menjatuhkan diri di atas rumput tebal di bawah pohon.
Sui Cin menurunkan buntalannya dari atas punggungnya dan berkata sambil tersenyum.
"Aah, perkelahian yang amat menyenangkan!"
"Dan engkau hebat sekali, sobat muda!"
Kata Hui Song dengan sungguh-sungguh.
"Engkau masih begini muda, akan tetapi engkau telah memiliki kedermawanan besar dan memiliki kepandaian yang amat mengagumkan, terutama... eh, ilmu menyambit dengan uang logam tadi!"
"Hemm, kebisaanku apa artinya kalau dibandingkan dengan kelihaianmu?"
Sui Cin berkata sejujurnya karena iapun kagum akan kepandaian pemuda putera ketua Cin-Ling-Pai ini.
Ia sudah banyak mendengar tentang ketua Cin-Ling-Pai dari ayahnya.
Menurut penuturan ayahnya, ketua Cin-Ling-Pai bernama Cia Kong Liang, pendekar yang telah mewarisi ilmu silat keluarga Cin-Ling-Pai, seorang yang menurut ayahnya berwatak keras dan agak tinggi hati.
Dari penuturan ayahnya, ia dapat menduga bahwa ayahnya tidak begitu suka kepada ketua Cin-Ling-Pai yang tinggi hati itu.
Dan Cia Kong Liang ini menikah dengan puteri bekas datuk sesat.
Mungkin karena pengaruh cerita ayahnya itulah hati Sui Cin masih belum percaya bahwa Hui Song dan sedang meraba-raba apakah pemuda ini juga tinggi hati seperti ayahnya.
"Sobat muda, aku tidak hanya memuji kosong saja. Jarang aku memuji orang, akan tetapi aku sungguh kagum kepadamu. Engkau mengingatkan aku akan..."
"Nanti saja kita lanjutkan percakapan kita. Sekarang perutku lapar, apakah engkau mau makan bersamaku?"
Hui Song tertegun karena pembicaraannya diputus seperti itu.
"Lapar? Makan? Ah... tentu saja, akupun lapar,"
Katanya gembira karena melihat kelucuan ini.
Sui Cin membuka buntalan pakaiannya, akan tetapi tidak dibukanya semua, hanya sedikit saja untuk mengambil bungkusan kertas tebal dari dalamnya, lalu menutup kembali buntalan pakaiannya, seolah-olah ia tidak ingin Hui Song melihat isi buntalannya.
Dan memang tentu saja ia tidak menginginkan pemuda itu melihat bekal pakaian wanita yang disimpan di dalam buntalannya itu.
Untuk mengalihkan perhatian pemuda itu yang mengamati gerak-geriknya, Sui Cin bertanya.
"Sobat, makanan apakah yang paling kau sukai?"
"Aku...?"
Hul Song tersenyum sehingga wajahnya yang gagah itu berseri.
"Aku suka makan... kodok!"
"Hah? Katak? Katak buduk?"
Sui Cin menggoda, berlagak kaget dan membelalakkan matanya.
Sejenak Hui Song terpesona.
Mata itu demikian lebar dan indahnya, mengingatkan dia kepada dara yang galak tempo hari.
"Ha-ha-ha, tentu saja bukan katak buduk yang beracun. Melainkan katak swike yang terdapat di sawah, atau katak hijau, atau kalau ada sih katak batu yang besar-besar dan lembut dagingnya itu!"
Sui Cin tersenyum mengejek.
"Di hutan begini, mana ada yang menjual swike? Bahkan restoranpun harus yang besar kalau mau mencari makanan itu. Nih, adanya hanya nasi capjai, kalau engkau lapar boleh makan bersama aku. Boleh saja makan sambil membayangkan kodok batu, atau kalau tidak ada kodoknya, batunya juga boleh kan?"
"Ha-ha-Ha-ha! Engkau sungguh lucu sekali!"
Hui Song tertawa bergelak.
Sui Cin membuka bungkusan kertas dan ternyata di dalamnya terdapat bungkusan dengan daun lebar yang ketika dibuka terisi capjai dan nasi.
"Nah, silakan makan,"
Kata Sui Cin.
"Tapi... tidak ada mangkok tidak ada sumpit, bagaimana harus makan?"
Hui Song bertanya.
"Alaaaa, aksi dan genit amat sih! Tidak ada mangkok, kan ada daun ini? Tidak ada sumpit katamu? Sumpit hanya dua batang, sedangkan kita mempunyai lima batang sumpit alam, untuk apa kalau tidak dipergunakan?"
Berkata demikian, langsung saja Sui Cin menggunakan lima sumpit alam alias lima jari tangan kanannya untuk menjumput nasi dan sayur lalu dimakannya dengan lahap.
Melihat ini, Hui Song terbelalak, memandang tangannya.
Ingin dia mengatakan bahwa tangannya harus dicuci dulu, akan tetapi karena malu dikatakan aksi dan genit, diapun nekat dan menggunakan tangannya itu, tanpa dicuci atau dibersihkan, untuk menjumput makanan dengan kaku dan makan.
Mereka berdua makan dengan tangan begitu saja dengan makanannyapun berada di atas daun, seperti dua orang dusun yang amat bersahaja.
Diam-diam Hui Song semakin kagum kepada pemuda remaja gembel ini yang agaknya sudah terbiasa hidup serba kekurangan dan dapat menyesuaikan diri dengan kesederhanaan yang begitu polos dan tidak dibuat-buat.
Dan mengingat bahwa pemuda ini tadi menghamburkan uang sedemikian banyaknya seperti pasir!
Padahal, kalau dia mau mempergunakan uang sekarung itu untuk diri sendiri, tentu dia akan dapat makan enak di restoran, dengan mangkok perak dan sumpit gading sekalipun!
Makin kagumlah dia.
Dia sendiripun suka hidup ugal-ugalan atau tidak berbasabasi, biasa berkelana dan suka akan kebebasan hidup sederhana, akan tetapi belum pernah dia makan menggunakan lima sumpit alamnya, maka makannyapun tidak kelihatan selahap dan seenak pemuda gembel itu.
Tiba-tiba dia teringat akan sesuatu dan makanan itu berhenti di tenggorokannya.
"Ada apa?"
Sui Cin bertanya sambil memandang wajah Hui Song yang tiba-tiba berobah itu.
"Apakah ada tulang melintang di kerongkonganmu?"
Pertanyaan itu lucu dan mengundang kembali kegembiraan hati Hui Song akan tetapi tidak dapat mengusir dugaan yang menyelinap di dalam pikirannya.
Bahkan pertanyaan yang tiba-tiba itu membuat mulutnya mengucapkan isi hatinya.
"Apakah... apakah makanan ini sisa makanan yang kau dapatkan dari rumah makan?"
Dugaan itu timbul ketika dia teringat bahwa pemuda remaja itu seorang pengemis dan bukankah sudah menjadi kebiasaan para pengemis untuk mengemis sisa makanan dari restoran-restoran?
Teringat bahwa yang ditelannya adalah sisa makanan yang dikumpulkan dari restoran itulah yang membuat lehernya seperti tercekik tadi.
Mendengar pertanyaan itu, seketika wajah Sui Cin menjadi merah.
Dengan gerakan marah ia lalu membuang bungkusan makanan yang sedang mereka makan itu sehingga isinya tumpah berserakan di atas tanah.
Hampir Sui Cin menangis, akan tetapi ditahannya karena ia teringat bahwa ia sedang menyamar sebagai seorang pemuda sehingga akan janggallah kalau menangis.
Hui Song terkejut bukan main.
"Ada apakah? Mengapa... ah, maafkan aku, bukan maksudku untuk menghina."
Katanya gagap setelah dia sadar bahwa dia telah salah bicara tadi.
Sungguh watak yang aneh sekali, pikirnya.
Seorang gembel muda membagi-bagi uang dan kini marah-marah ketika ditanyakan apakah makanannya didapat dari mengemis sisa makanan.
Di mana bisa didapatkan seorang gembel seperti ini?
Dan pakaiannya memang gembel, mukanya penuh debu.
"Aku bukan pengemis!"
Sui Cin berkata dengan suara agak ketus. Hui Song mengangguk-angguk.
"Aku lupa bahwa engkau pernah membagi-bagi banyak uang. Tentu engkau seorang Sintouw (Maling Sakti)..."
"Aku bukan maling!"
Bentakan Sui Cin lebih keras lagi, mengejutkan hati Hui Song.
Keduanya diam dan termenung sambil memandang makanan yang berserakan di atas tanah.
Tentu saja makanan itu kotor dan tidak dapat dimakan lagi, padahal perut mereka masih lapar.
Jelas nampak kekecewaan membayang di wajah kedua orang muda itu.
Tiba-tiba, agaknya melihat masakan itu tidak dapat diraih padahal demikian dekatnya, terdengar bunyi perut berkeruyuk saling sahut.
Keduanya mengangkat muka saling pandang dan seketika kebekuan di antara mereka mencair.
"Perutmu berkeruyuk!"
Hui Song berkata menahan senyum geli.
"Perutmu juga!"
Jawab Sui Cin dan keduanya tertawa geli.
"Salahmu!"
Sui Cin mengomel akan tetapi wajahnya kini berseri kembali.
"Dugaanmu yang keji membuat aku marah dan membuang makanan kita. Sekarang kita lapar dan aku hanya tinggal mempunyai roti tawar kering saja."
"Roti tawar amat enak dimakan ketika perut lapar."
"Memang."
"Dan dapat mengenyangkan perut,"
Kata pula Hui Song.
"Memang."
Biarpun membenarkan ucapan pemuda itu, namun Sui Cin belum juga mengeluarkan roti tawar yang tersimpan dalam buntalannya dan ia nampak termenung.
Hui Song memandang heran.
"Kalau kita lapar sekali... dan roti tawar itu cukup enak..."
Tiba-tiba Sui Cin mengangkat mukanya dan memotong.
"Engkau suka swike...?"
Tentu saja Hui Song terkejut mendapat pertanyaan mendadak seperti serangan pedang runcing ditusukkan ke jantungnya itu.
"Apa...?"
"Engkau suka swike, terutama kodok batu...?"
Kembali Sui Cin bertanya dan ia menoleh ke kiri, memandang ke puncak bukit di mana nampak beberapa ekor burung pipit beterbangan.
Hui Song memandang dengan mata terbelalak kepada wajah yang kotor berdebu itu, alisnya berkerut, takut kalaukalu pemuda gembel ini mempunyai keistimewaan lain lagi yang tidak menguntungkan, yaitu otaknya miring!
Orang yang tidak beres ingatannya harus disetujui saja kata-katanya, tidak boleh dibantah, demikian pikirnya.
Maka diapun mengangguk pasti.
"Ya, ya... aku suka sekali."
"Kalau begitu tunggu di sini sebentar, jangan pergi ke mana-mana!"
Dan sebelum Hui Song sempat menjawab, Sui Cin telah meloncat dan berkelebat lenyap dari situ, Seperti terbang cepatnya ia berlari ke arah puncak bukit yang sejak tadi dipandanginya itu.
Hui Song bengong saja mengikuti bayangan itu sampai lenyap ditelan rimbunnya pohon-pohon dan semak-semak.
Tak lama kemudian, sambil tertawa-tawa pemuda gembel itu datang lagi.
Kedua tangannya memegang kaki belakang empat ekor katak yang besar-besar dan gemuk-gemuk!
Keempat katak itu bergantung tak bergerak, dan dari kaki belakang sampai kepala, panjangnya tidak kurang hampir dua kaki!
Seperti katak raksasa saja!
Kulitnya hitam-hitam kehijauan, lorek-lorek indah.
Sui Cin melemparkan empat ekor katak yang sudah mati itu ke atas tanah di depan Hui Song sambil tertawa gembira.
Hui Song juga tertawa.
"Wah, engkau pintar sekali menangkap katak-katak raksasa ini,"
Katanya sejujurnya.
"Engkau tidak tahu katak apa ini? Bukan katak raksasa. Inilah katak batu yang tulen! Terpaksa kupecahkan kepalanya dengan batu karena kodok batu ini liar dan ganas sekali!"
"Tapi yang biasa kubeli di restoran dagingnya lunak."
"Memang dagingnya lunak, akan tetapi kodok-kodok ini liar dan ganas. Hayo bantu aku membersihkannya. Potong kepalanya, ujung keempat kakinya. Akan tetapi jangan buang kulitnya. Kodok batu kulitnya tipis dan tidak ulet, enak dimakan bersama dagingnya. Babkan kalau kulitnya dilepas, dagingnya yang terlalu lunak itu akan hancur kalau dimasak. Nah, begitu. Mari kita cuci di sumber air sana. Aku melihatnya tadi ketika kembali ke sini."
Sui Cin membawa buntalannya dan dibantu oleh Hui Song, mereka berdua menuju ke sumber air untuk mencuci empat ekor katak besar itu.
Mereka melakukan kerjaan ini sambil bercakap-cakap gembira, seolah-olah mereka telah menjadi sahabat baik sejak lama, padahal mereka bahkan belum saling berkenalan!
"Kenapa kodok batu yang dagingnya lunak kau namakan kodok liar dan ganas?"
Hui Song bertanya.
"Kodok batu termasuk kodok yang cerdik dan ganas. Engkau tahu apa yang dimakannya?"
"Tentu nyamuk, serangga lain atau lumut dan ujung daun..."
"Salah sama sekali! Engkau melihat burung-burung yang beterbangan di atas itu? Nah, itulah makanannya!"
"Tak mungkin! Mana bisa kodok yang berada di darat makan burung yang terbang di atas?"
"Kodok batu adalah pengail yang amat pandai dan sabar. Dia memancing burung itu untuk turun dan menyambar umpannya."
"Apa umpannya dan bagaimana cara memancing burung?"
"Umpannya dirinya sendiri. Seekor kodok batu yang kelaparan dan ingin makan burung, sengaja rebah terlentang di atas batu, kalau perlu sampai berjam-jam, tanpa bergerak sehingga siapapun akan menyangka dia sudah mati. Bangkai kodok itu menarik perhatian burung yang terbang turun untuk menyantapnya, akan tetapi begitu burung itu mematuk perutnya, seperti ikan menyambar umpan di mata kail, kodok batu itu akan menyergap dan menangkapnya dengan empat kaki dan menggigitnya. Nah, bukankah kodok batu itu liar dan ganas?"
Hui Song mendengarkan dengan penuh kagum.
Ternyata pemuda gembel ini banyak sekali pengetahuannya.
Ketika membersihkan tubuh katak itu, dia mendapat kenyataan bahwa kulit yang lorek-lorek itu memang tipis dan halus.
"Heran, kodok yang liar dan ganas pemakan burung tapi kulitnya demikian tipis,"
Katanya.
"Ya, dan kulitnya enak untuk dimakan, maka kodok batu selalu dimasak berikut kulitnya. Kulit katak hijau, biarpun lebih kecil dan pemakan nyamuk dan serangga, lebih ulet dan karena itu, kulit katak hijau tidak ikut dimasak. Mudah saja mengupas kulit katak. Kalau kepalanya sudah dipotong, sekali pencet saja tubuhnya akan keluar dari kulitnya. Tapi bodoh kalau membuang kulit katak hijau, karena kalau digoreng, rasanya enak sekali, tidak kalah oleh goreng kulit atau usus ayam!"
"Ha-ha-ha, sobat muda, agaknya engkau juga ahli tentang masakan!"
"Ahli makan sudah jelas, kalau ahli masak... hemm, harus dibuktikan lebih dulu. Sayang kita tidak mempunyai alat untuk masak, tidak mempunyai bumbu kecuali garam yang selalu kubawa dalam buntalan pakaian. Daging kodok batu ini kalau dimasak dengan taoco, wah, gurih sekali. Kalau dimasak dengan jahe, hemm, sedap! Dan kalau dimasak dengan tape beras atau sedikit arak merah, lezat sekali."
Hui Song makin kagum dan mulutnya menjadi basah karena bangkit seleranya oleh keterangan tentang masakan-masakan sedap itu.
"Dan bagaimana kalau digoreng?"
"Kurang tepat. Daging kodok batu terlalu lunak kalau digoreng bisa hancur. Untuk gorengan, lebih enak daging kodok hijau biasa. Dan daging katak ini terpaksa kita panggang saja, dengan diberi sedikit garam. Habis tidak mempunyai alat masak dan bumbunya sih."
"Panggang daging kodok batu dimakan dengan roti tawar... hemm, enak sekali!"
Kata Hui Song.
"Memang! Akan tetapi daging ini takkan matang kalau kita hanya omong-omong saja. Hayo cepat kumpulkan kayu bakar dan bikin api untuk panggang daging kodok ini!"
Tak lama kemudian, tercium bau panggang yang gurih dan segera mereka makan lagi, roti tawar dengan panggang kodok.
Ternyata memang lezat dan mereka makan lebih lahap dan gembira dari pada tadi.
"Hemm, belum pernah aku makan selezat ini!"
Hui Song mengaku sejujurnya sambil mengelus perutnya setelah mereka selesai makan dan minum air tawar yang segar.
"Bukan main sedapnya! Sobat, engkau sungguh luar biasa sekali. Pandai engkau membuat masakan, seperti seorang wanita saja engkau!"
Sui Cin sedang mencuci kedua tangannya maka kepalanya menunduk sehingga Hui Song tidak melihat betapa muka yang kotor berdebu itu berobah merah sekali.
"Biarpun lezat, daging kodok batu ini cukup amis. Kalau diberi air jeruk di waktu makan amisnya akan berkurang. Maka tangan harus dicuci bersih betul, baru hilang bau amisnya. Aku memang mempelajari ilmu memasak."
"Ah, pantas kalau begitu? Siapa gurumu memasak?"
"Guruku...? Ia... enciku sendiri."
Tiba-tiba Hui Song meloncat bangkit dan memandang pemuda gembel itu dengan sepasang mata tajam penuh selidik akan tetapi mulutnya tersenyum.
"Ha! Aku tahu siapa encimu!"
"Eh?"
Pemuda gembel itu memandang heran.
"Benarkah? Kalau tahu, siapa nama enciku dan dari mana ia datang?"
"Wah, itu aku belum tahu. Akan tetapi, maksudku, aku sudah mengenalnya, sudah pernah bertemu dengannya. Malah ia telah menyelamatkan aku, membantuku ketika aku dikeroyok oleh tiga orang dari Cap-sha-kui. Dan tadi di pasar engkaupun membantuku, jadi kalian adik dan enci selalu membantuku. Sungguh aku patut untuk berterima kasih kepada kalian. Adik yang baik, ketika aku bertemu dengan encimu, ia tidak sempat memperkenalkan diri. Maukah engkau memberi tahu, siapa nama encimu dan siapa pula orang tua atau gurunya? Aku melihat betapa ilmu silatmu dan ilmu silat encimu sesumber dengan ilmu silatku."
Sui Cin diam-diam merasa geli dan wataknya yang bengal membuat ia ingin mempermainkan pemuda ini.
"Mana aku tahu bahwa engkau benar-benar pernah bertemu dengan enciku? Kalau benar pernah bertemu, hayo ceritakan bagaimana wajahnya dan apa keistimewaannya?"
"Ah, mudah sekali itu. Mana bisa aku melupakannya?"
Kata Hui Song sambil menatap tajam wajah pemuda gembel itu.
"Rambutnya hitam sekali, gemuk dan panjang, dengan anak rambut halus menutupi bagian atas dahinya yang halus. Wajahnya bulat telur dengan dagu agak meruncing, potongan wajahnya manis, sepasang matanya lebar dan jeli, kedua ujungnya agak naik dan seperti ditambah guratan hitam, bulu matanya lentik panjang, hidungnya kecil mancung dan bibirnya merah basah, bentuknya manis sekali, kalau tertawa ada lesung pipit di pipi kirinya, kulit mukanya putih halus seperti salju..."
"Eh, kau ini menggambarkan wajah enciku akan tetapi kenapa matamu terbelalak memandang aku?"
Pemuda gembel itu menegur, merasa sungkan dan tidak enak sekali melihat sepasang mata itu tanpa berkedip terus-menerus memandanginya.
"Habis, wajah encimu itu seperti pinang dibelah dua dengan wajahmu!"
Kata Hui Song sambil tersenyum lebar.
"Teruskan, teruskan..."
"Pendeknya, encimu itu seorang dara remaja yang belum pernah kulihat keduanya di dunia ini. Tubuhnya ramping padat, pakaiannya aneh-aneh dan nyentrik, selalu membawa payung butut yang dapat menjadi senjata yang ampuh, naik seekor keledai... eh, kuda yang mirip keledai karena kecil dan pendeknya..."
"Cukup, engkau memang sudah mengenalnya."
Kata pemuda gembel itu, menyembunyikan perasaan girang dan juga malu di hatinya.
Bagaimana ia tidak akan merasa girang akan tetapi juga jengah mendengar orang memuji-muji kecantikannya di depannya secara begitu terbuka sehingga kecantikannya diperinci?
"Memang aku sudah mengenalnya, bahkan kami sudah berkelahi bahu-membahu melawan tiga orang tokoh Cap-sha-kui!
Sayang aku belum mengenal namanya.
Maka, sobat muda yang baik, kau beritahukanlah aku siapa nama encimu dan bagaimana pula keadaan keluargamu."
"Nanti dulu, sobat. Engkau sendiri belum memperkenalkan diri. Terus terang saja, aku dan enciku tidak biasa memperkenalkan diri kepada orang lain. Maka, sebaiknya engkau bercerita tentang dirimu sebelum aku memperkenalkan enciku."
Hui Song adalah seorang pemuda yang lincah jenaka, bahkan suka sekali menggoda orang, wataknya agak berandalan.
Akan tetapi diapun cerdik dan dia tahu bahwa dia berhadapan dengan putera atau murid orang pandai yang masih ada hubungannya dengan Cin-Ling-Pai, maka diapun tidak segan-segan untuk bersikap hormat dan mengalah, walaupun dia merasa jauh lebih tua dari pada gembel muda ini.
"Baiklah, sobat muda. Aku bernama Cia Hui Song. Ayahku adalah ketua Cin-Ling-Pai dan aku adalah putera tunggal. Tadinya aku mewakili Cin-Ling-Pai untuk menghadiri pertemuan para pendekar yang diadakan di Puncak Bukit Perahu. Pertemuan itu gagal dan tidak jadi, maka aku hendak kembali ke Cin-Ling-Pai. Di tengah perjalanan aku bertemu dengan tokoh-tokoh Cap-sha-kui dan aku dikeroyok, nyaris celaka kalau tidak muncul encimu yang lihai dan yang membantuku sehingga kami berhasil mengusir tiga orang iblis itu. Nah, itulah keadaanku."
Sui Cin mengangguk-angguk.
"Aih, kiranya putera ketua Cin-Ling-Pai! Pantas saja demikian lihainya. Siapa tidak mengenal pendekar sakti Cia Kong Liang yang berilmu tinggi, kedudukannya setinggi langit menjadi ketua perkumpulan besar yang amat terkenal di seluruh dunia, yaitu Cin-Ling-Pai? Sungguh merupakan kehormatan besar sekali bagiku untuk dapat mengenalmu, Cia-taihiap!"
Sui Cin yang mendengar dari ayahnya tentang ketinggian hati ketua Cin-Ling-Pai, lalu berdiri dan memberi hormat, sengaja menyebut taihiap kepada pemuda itu untuk menguji apakah pemuda itupun memiliki kecongkakan seperti ayahnya.
"Aihh, adik yang baik, minta ampun jangan menyebutku taihiap!"
"Kenapa? Bukankah engkau seorang pendekar besar, putera tunggal ketua Cin-Ling-Pai yang dihormati dan disegani orang-orang gagah di seluruh dunia?"
"Wah, tidak kuat aku menerima sebutan itu. Selama hidup belum pernah aku disebut orang taihiap, dan aku tidak pernah merasa menjadi taihiap. Apalagi pendekar besar, menjadi pendekar yang paling kecilpun aku bukan! Karena engkau jauh lebih muda dari aku, sebut saja aku kakak atau paman juga boleh!"
Sui Cin tertawa.
Hatinya senang sekali.
Pemuda ini sama sekali tidak congkak.
Apakah berita tentang ketinggian hati ketua Cin-Ling-Pai itu tidak benar?
Kalau benar bapaknya berhati congkak, mengapa putera tunggalnya demikian ramah, polos, jenaka dan rendah hati malah?
"Baiklah, aku akan menyebutmu kakek.
Bagaimanapun, engkau hanya lebih tua beberapa tahun saja dari pada aku."
"Beberapa tahun? Engkau paling banyak berusia empat belas tahun!"
"Aku sudah enam belas tahun... eh, hampir! Song-twako, engkau paling banyak berusia dua puluh empat tahun."
"Aku baru dua puluh satu tahun, karena tinggi besar, mungkin nampak lebih tua,"
Kata Hut Song.
"Dan sekarang ceritakanlah keadaan kalian..."
"Nanti dulu, Song-twako. Aku belum tahu benar akan keadaanmu. Apakah... apakah engkau sudah menikah?"
Hui Song tertawa.
"Ha-ha-ha, apakah aku kelihatan seperti orang yang sudah menikah? Belum, adik yang baik. Aku belum menikah dan mungkin takkan menikah!"
"Eh, kenapa? Semua orang menikah kalau sudah berusia dua puluh tahun lebih."
"Apakah itu suatu keharusan? Aku tidak mau kalau dipaksa menikah, kecuali kalau memang hatiku ingin."
"Sebagai putera tunggal ketua Cin-Ling-Pai, tentu sejak kecil engkau sudah ditunangkan dengan puteri seorang yang berkedudukan tinggi dan terkenal pula."
Hui Song tersenyum lebar dan menggeleng kepala.
"Tidak, aku belum bertunangan dan tidak akan ditunangkan di luar keinginanku. Nah, sekarang ceritakanlah, siapa nama encimu?"
"Hei, Song-twako. Engkau berhadapan dan berkenalan dengan aku, kenapa yang kau tanyakan hanya enciku melulu?"
Hui Song tertawa menutupi rasa malunya.
"Baiklah, aku tanyakan namamu dahulu. Siapa namamu, adik yang baik?"
"Namaku Ceng Sui Cin..."
Hui Song bangkit berdiri dan matanya terbelalak, wajahnya berseri.
"She Ceng? Ah, sudah kuduga dalam hatiku. Engkau putera Pendekar Sadis Ceng Thian Sin yang amat terkenal itu!"
"Hemmm... engkau sudah tahu banyak tentang ayahku?"
Sui Cin bertanya, matanya memandang penuh selidik.
Kalau benar pemuda ini sudah banyak mengetahui tentang keadaan ayahnya, tiada gunanya lagi permainannya menyamar sebagai adik Sui Cin yang bernama Sui Cin itu!
Akan tetapi hatinya lega ketika melihat pemuda itu menggeleng kepala.
"Tentu saja aku tahu tentang ayahmu dari penuturan ayahku. Akan tetapi yang kuketahui hanya bahwa ayahmu Ceng Thian Sin berjuluk Pendekar Sadis dan memiliki kepandaian amat hebat. Selanjutnya aku tidak tahu apa-apa tentang beliau karena ayah tidak menceritakan lebih banyak lagi, agaknya ayah memang tidak tahu banyak tentang ayahmu."
Memang tinggi hati ketua Cin-Ling-Pai itu, pikir Sui Cin.
Bagaimanapun juga, ayahnya mempunyai hubungan dekat sekali dengan Cin-Ling-Pai, akan tetapi ketua Cin-Ling-Pai itu tidak banyak bercerita tentang ayahnya kepada puteranya.
Hal ini saja sudah membuktikan bahwa ketua Cin-Ling-Pai itu adalah seorang yang congkak, tinggi hati.
Akan tetapi, begaimanapun juga, keadaan ini melegakan hatinya.
Ia lebih senang keadaan keluarganya tidak diketahui oleh Hui Song karena dengan demikian ia boleh mempermainkan pemuda itu sesuka hatinya.
"Sekarang ceritakan, siapa nama encimu itu, Cin-te (adik Cin)?"
Sui Cin tersenyum.
"Song-twako, terus terang saja, aku tidak berani melanggar pantangan enci. Kalau aku menceritakan tentu aku akan ditamparnya. Ia galak sekali lho. Sebaiknya kelak saja kalau engkau berjumpa lagi dengannya, tanyakan sendiri, Song-twako."
Hui Song mengerutkan alisnya, akan tetapi dia sendiri sudah pernah berjumpa dengan dara itu dan tahu akan watak yang aneh dan keras, maka diapun tidak terlalu menyalahkan Sui Cin kalau takut dengan encinya yang galak itu.
Karena memang wataknya terbuka dan ramah, Hui Song dapat membuang kekecewaannya.
Bagaimanapun juga dia telah berkenalan dan bersahabat dengan adik dara itu, inipun sudah merupakan suatu hal yang amat menguntungkan.
Dan kalau dia sudah berkenalan dan bersahabat dengan adiknya, maka jalan menuju ke arah perkenalan dengan encinya tentu saja jauh lebih dekat dan mudah.
Dan bagaimanapun juga, dia merasa bangga hati dapat berkenalan dengan seorang putera dari Pendekar Sadis yang amat terkenal dan sudah lama dikaguminya itu.
"Cin-te, apakah sekarang engkau hendak pulang ke rumah orang tuamu? Di manakah mereka tinggal?"
Tanyanya.
"Kami tinggal jauh di selatan, di Pulau Teratai Merah. Akan tetapi aku belum mau pulang, aku hendak pergi ke kota raja untuk... eh, untuk mencari enciku di sana."
"Ah, bagus sekali! Aku hendak pergi ke kota raja. Kita dapat jalan bersama kalau begitu."
Hui Song berseru gembira. Sui Cin tersenyum menggoda.
"Eh, katanya tadi bilang hendak ke Cin-Ling-Pai? Mengapa sekarang tiba-tiba hendak pergi ke kota raja?"
Mendengar nada suara yang mentertawakan ini, Hui Song tertawa.
"Wah, terus terang saja, memang aku ingin sekali dapat segera bertemu dan berkenalan dengan encimu. Akan tetapi, sesungguhnya, selain keinginanku berkenalan dengan encimu, juga ada hal-hal penting yang mendorong aku pergi ke kota raja melakukan penyelidikan."
Sui Cin merasa tertarik.
"Hal-hal penting apakah, twako?"
"Aku mengalami dua hal yang amat aneh di Cinan. Pertama kali ketika aku melihat kaisar dalam penyamaran dilindungi oleh datuk-datuk Cap-sha-kui, dan kedua kalinya melihat gerombolan ganas seperti Hwa-I Kai-Pang itu bekerja sama dengan pasukan pemerintah. Bukankah hal itu penting dan aneh sekali? Aku ingin menyelidiki keanehan itu di kota raja. Pasti terjadi apa-apa yang luar biasa di kota raja, kalau tidak demikian, tidak mungkin para penjahat keji bersekutu dengan pemerintah."
Sui Cin mengangguk-angguk.
"Engkau benar. Tidak terpikirkan olehku tentang keanehan kerja sama antara penjahat dan petugas keamanan itu. Kalau begitu, mari kita berangkat dan kita selidiki bersama, twako."
"Baiklah, dan akupun akan membantumu mencari encimu di kota raja,"
Kata Hui Song dan Sui Cin hanya tertawa saja.
Istana tua di Lembah Naga itu dahulu merupakan tempat yang amat sunyi, akan tetapi semenjak pendekar sakti Cia Han Tiong mendirikan perkumpulan Pek-liong-pai (Partai Naga Putih), tempat terpencil itu tidaklah begitu sunyi lagi.
Di kanan kiri gedung istana tua itu kini didirikan bangunanbangunan pondok di mana murid-murid Pek-liong-pai tinggal dan tempat itu kini terawat baik dan bersih.
Para murid atau anggauta Pek-liong-pai selain belajar ilmu silat di tempat itu, juga mereka bekerja dengan rajin, menjaga baik-baik tempat itu dan ada pula yang bertani, memelihara ternak dan sebagainya.
Banyak sudah murid yang tamat belajar lalu meninggalkan Lembah Naga, terjun ke dunia ramai sebagai pendekar-pendekar budiman sehingga mereka inilah yang memperkenalkan dan mengharumkan nama Pek-liong-pai di dunia kang-ouw.
Karena sepak terjang para murid lulusan Pek-liong-pai yang gagah perkasa, apalagi mendengar bahwa Pek-liong-pai didirikan oleh putera Pendekar Lembah Naga yang namanya pernah menggemparkan dunia persilatan, maka nama perkumpulan itupun mendatangkan rasa hormat dan segan di hati para pendekar, dan ditakuti oleh para penjahat.
Dalam mengajarkan ilmu-ilmunya, Cia Han Tiong ketua Pek-liong-pai bersikap sangat keras dan berdisiplin.
Setiap orang murid yang mengajukan permohonan belajar di situ akan mengalami ujian dulu, diteliti watak dan bakatnya.
Setelah belajar, sebelum dinyatakan tamat, murid ini sama sekali tidak boleh meninggalkan lembah.
Pendekar ini maklum bahwa pelajar silat masih mentah sajalah yang tidak mampu menguasai dirinya dan suka bertindak sewenang-wenang mengandalkan ilmu silatnya dan hal ini selain amat berbahaya, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain, juga akan menyeret nama Pek-liong-pai ke dalam lumpur.
Ketika dia mendirikan Pek-liong-pai, belasan tahun yang lalu, ayah ibunya masih hidup.
Ayahnya, mendiang Cia Sin Liong adalah seorang pendekar sakti yang pernah menggegerkan dunia kang-ouw dan berjuluk Pendekar Lembah Naga, Juga mendiang ibunya adalah seorang pendekar wanita yang lihai.
Menjelang hari akhirnya, Cia Sin Liong dan isterinya hidup tenang di lembah itu, lebih banyak bersamadhi dan menyendiri.
Akan tetapi pendekar sakti ini merestui niat puteranya untuk mendirikan perkumpulan agar ilmu keluarga mereka tidak musnah, bahkan pendekar sakti Cia Sin Liong membantu puteranya untuk memberi gemblengan ahlak kepada para murid Pek-liong-pai, dengan mempelajari budi pekerti dan ilmu kesusasteraan.
Setelah kemudian suami isteri Pendekar Lembah Naga meninggal dunia dalam usia tua, Han Tiong melanjutkan pendidikan budi pekerti itu dengan tekun dan berdisiplin.
Semua anak murid Pek-liong-pai diharuskan bersumpah untuk tidak membunuh orang lain.
"Tiada gading yang tidak retak, tidak ada manusia tanpa cacad di dunia ini,"
Demikian antara lain dia menasihatkan murid-murid Pek-liong-pai.
"Dan kita sendiripun adalah manusia, maka kitapun tidak terlepas dari pada cacad-cacad itu. Setiap orang manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, memiliki kebaikannya dan keburukannya masing-masing. Orang yang sedang tersesat atau melakukan perbuatan yang kita sebut jahat, hanyalah merupakan manusia yang sedang dihinggapi penyakit. Bukan jasmaninya yang sakit, melainkan batinnya. Akan tetapi, seperti juga penyakit badan, maka penyakit batin inipun dapat sembuh. Orang yang hari ini sakit, besok atau lusa bisa sembuh, orang yang ini hari melakukan peebuatan sesat, besok atau lusa bisa bertobat. Sebaliknya orang yang sedang sehat, jangan sekali-kali tekebur karena sewaktu-waktu bisa saja dia dihinggapi penyakit batin itu. Jadi, sebagai seorang pendekar yang mengetahui ini semua, yakin bahwa diri sendiripun sewaktu-waktu bisa saja sakit, kita tidak boleh meremehkan dan memandang rendah kepada orang-orang yang sedang sakit batinnya. Yang kita berantas adalah penyakit batinnya itu, bukan orangnya. Sebaliknya kita menyadarkan mereka, dan itu berarti mengusahakan pengobatan. Kalau perlu memang kita dapat menggunakan ilmu silat kita untuk menundukkannya, menghajarnya, agar dia jera. Akan tetapi ingat, seorang yang bagaimana jahatnyapun adalah seorang manusia, sama dengan kita, maka tidak berhaklah kita untuk membunuhnya."
"Akan tetapi, suhu,"
Ada seorang murid yang memberanikan diri untuk membantah.
"bagaimana kalau ada orang jahat yang sesudah dihajar berkali-kali, belum juga mau bertobat dan masih saja melanjutkan kejahatannya?"
Cia Han Tiong tersenyum lebar.
"Ada juga penyakit badan yang sukar diobati. Akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa kita lalu boleh membunuh saja orang sakit yang tidak mudah diobati itu! Cepat atau lambatnya dia bertobat tergantung dari keadaan badannya, tergantung dari berat ringannya penyakitnya. Tidak ada istilah bosan dalam usaha pengobatan, baik pengobatan terhadap penyakit badan maupun penyakit batin."
"Maaf, suhu,"
Seorang murid lain membantah.
"bagaimana kalau kita bertemu dengan orang jahat, atau yang suhu sebut sebagai orang yang sedang sakit batinnya, dan orang itu menyerang dan hendak membunuh kita? Apakah kita harus membiarkan diri sendiri terbunuh olehnya karena kita tidak boleh membunuhnya?"
"Jangan kalian salah paham,"
Han Tiong menjawab.
"yang dinamakan membunuh hanyalah perbuatan yang kita sengaja lakukan karena kebencian di hati. Menjaga dan melindungi diri sendiri dari kehancuran dan kematian merupakan suatu keharusan dalam hidup. Kalau untuk membela diri, untuk melindungi diri, baik terhadap ancaman maut di tangan binatang atau manusia, terpaksa kita merobohkan penyerang itu sampai dia tewas, bukan pembunuhan yang kita lakukan dengan sengaja, maka hal itu tidaklah buruk. Aku tidak melarang perbuatan tidak disengaja seperti itu. Akan tetapi, sedapat mungkin, cegahlah serangan yang dapat mematikan lawan."
Demikianlah antarsa lain gemblengan batin yang diberikan oleh Cia Hen Tiong terhadap murid-muridnya.
Oleh karena itu, para murid yang dinyatakan lulus kemudian terjun ke dalam dunia ramai sebagai seorang pendekar Pek-liong-pai, dengan pakaian putih mereka, selalu mendatangkan kagum di dunia kang-ouw.
Para pendekar menghormati nama Pek-liong-pai yang menentang kejahatan tanpa rasa benci perorangan kepada pelakupelaku kejahatan itu sendiri.
Jarang sekali terjadi seorang penjahat tewas di tangan murid Pek-liong-pai, walaupun dengan ilmu silatnya yang tinggi murid Pek-liong-pai itu menekan si penjahat untuk menghentikan kejahatannya.
Cia Han Tiong dan isterinya hanya mempunyai seorang putera, yaitu Cia Sun.
Seperti juga para murid lain dari Pek-liong-pai, Cia Sun juga digembleng oleh ayahnya, bahkan penggemblengan terhadap dirinya lebih hebat tentu saja sehingga dalam usia dua puluh tahun saja Cia Sun telah mewarisi semua ilmu kepandaian ayahnya.
Juga dia mewarisi watak ayahnya yang pendiam, halus penuh perasaan, berwibawa, jujur dan setia, seorang kuncu atau budiman lahir batin seperti yang dimaksudkan dalam pelajaran Nabi Khong Cu.
Pada pagi hari yang cerah itu, Cia Han Tiong dan isterinya bercakap-cakap sambil duduk di serambi depan istana kuno yang menjadi tempat tinggal mereka.
Pagi itu cerah sekali dan hawanya segar, membuat orang merasa tubuhnya sehat dan batinnya tenteram.
Cia Han Tiong sudah berusia empat puluh tujuh tahun kurang sedikit, akan tetapi dia masih kelihatan gagah perkasa dan wajahnya membayangkan watak yang budiman, halus peramah.
Tubuhnya yang tegap membayangkan tenaga yang kuat dan patutlah kalau dia menjadi ketua Pek-liong-pai yang gagah perkasa.
Isterinya, Ciu Lian Hong, sudah berusia empat puluh dua tahun, masih nampak muda dan cantik.
Mereka bercakap-cakap dan membicarakan putera mereka yang pergi mewakili Pek-liong-pai menghadiri pertemuan para pendekar di Puncak Bukit Perahu.
(Lanjut ke
Jilid 08) Asmara Berdarah (Seri ke 08 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 08
"Mudah-mudahan tidak terjadi keributan di selatan sana,"
Kata Cia Han Tiong kepada isterinya.
"Aku tidak ingin melihat Cia Sun terlibat dalam permusuhan yang tiada hentinya antara golongan hitam dan golongan putih. Kalau dia terlibat, berarti seluruh Pek-liong-pai akan terlibat pula."
Isterinya menarik napas panjang.
"Aku selalu menghargai pendirianmu, suamiku, dan memang aku dapat melihat bahwa kekerasan tidak mungkin dapat melenyapkan kekerasan. Akan tetapi, golongan hitam dan golongan putih merupakan dua golongan yang berdiri saling berhadapan dan saling bertentangan. Mana mungkin mencegah kedua golongan yang saling bertentangan itu untuk tidak bentrok dan bermusuhan?"
"Aaah, itulah yang Kadang-kadang menyedihkan hati sekali. Golongan hitam dianggap melakukan kejahatan dengan menggunakan kekerasan. Kemudian golongan putih menentang mereka dengan kekerasan pula. Kalau keduanya sudah menggunakan kekerasan, maka sukarlah untuk dinilai siapa yang lebih baik dan siapa yang lebih buruk. Seyogianya mereka yang menamakan dirinya golongan putih itu melenyapkan dulu perasaan dendam dan benci dari hati mereka sehingga tindakan mereka bukan dilandasi kebencian melainkan dilandasi cinta kasih..."
"Cinta kasih? Cinta kasih terhadap kaum sesat yang jahat seperti iblis...?"
Isterinya bertanya, kaget sendiri akan kenyataan sikap suaminya yang dianggap tak masuk akal ini.
Suaminya menggeleng kepala.
"Bukan terhadap golongan tertentu. Melainkan cinta kasih antara manusia. Dan manusia itu siapa saja, tidak memilih golongan. Dengan dasar ini, maka mereka yang merasa bersih itu bertindak dengan dasar menyadarkan, membersihkan, membimbing ke arah yang benar."
Ciu Lian Hong bangkit berdiri.
Pusing ia kalau sudah bicara tentang kehidupan dengan suaminya.
Pandangan suaminya berbeda dengan umum, karena itu Kadang-kadang membingungkannya.
"Ah, kalau saja Cia Sun pulang..."
Katanya dan iapun berdiri di depan serambi, memandang ke depan, jauh ke arah hutan yang membentang luas di depan istana Lembah Naga.
Suaminya juga bangkit lalu menghampiri isterinya, berdiri di samping isterinya.
"Hongmoi, aku tahu bahwa engkau ingin sekali melihat Sunji menikah dan engkau ingin sekali menimang cucu. Biarlah kalau dia pulang aku akan bicara mengenai hal itu dan secepatnya aku akan mencari adik Ceng Thian Sin di Pulau Teratai Merah..."
Ciu Lian Hong menoleh kepada suaminya.
"Jangan dulu, suamiku. Biarkanlah anak kita itu meluaskan pengalamannya. Siapa tahu dia akan bertemu sendiri dengan calon jodohnya. Dalam perjodohan, kita tidak boleh memaksa dan memperkosa hatinya. Biarkan dia memilih jodohnya sendiri. Setujukah engkau, suamiku?"
Berkata demikian, isteri yang mencinta suaminya itu menaruh tangannya di pundak suaminya, menggelendot dan bersandar pada pundak suaminya yang kuat dengan sikap manja dan mesra.
Han Tiong menahan senyumnya dan menarik napas panjang sambil merangkul isterinya yang tercinta.
Selalu isterinya mengatakan demikian kalau dia bicara tentang niat hatinya menjodohkan Cia Sun dengan puteri Ceng Thian Sin.
Siapa lagi nama anak perempuan Ceng Thian Sin, anak perempuan yang ketika kecilnya sudah nampak bengal dan berwatak keras itu?
Ceng Sui Cin, ya, begitulah namanya.
Pernah anak itu ikut ayahnya ketika berkunjung kira-kira sepuluh tehun yang lalu!
Dan dia tahu betul mengapa isterinya kelihatan tidak setuju dan tidak rela menjodohkan Cia Sun dengan Ceng Sui Sin.
Bukan karena anak perempuan itu sendiri karena mereka berdua belum tahu bagaimana keadaan anak perempuan itu sekarang setelah dewasa.
Akan tetapi, isterinya itu terutama sekali merasa enggan untuk berbesan dengan Pendekar Sadis!
Hal ini tidaklah aneh karena di waktu masih gadis dulu, hubungan antara Lian Hong dan Thian Sin erat sekali.
Bahkan dia tahu benar betapa Thian Sin pernah mencinta Lian Hong setengah mati, dan seolah-olah terjadi perebutan di dalam hatinya antara dia dan Thian Sin terhadap Lian Hong.
Dia bersedia mengalah, akan tetapi akhirnya ternyata bahwa Lian Hong memilih dia dan menjadi isterinya, sedangkan Ceng Thian Sin menikah, atau lebih tepat, hidup bersama sebagai suami isteri dengan Toan Kim Hong.
Satu di antara sebab yang membuat Lian Hong memilihnya adalah karena Thian Sin berwatak kejam, bahkan menjadi Pendekar Sadis yang ditakuti orang.
Hubungan itulah, dan watak Thian Sin yang kejam sebagai pendekar yang berjuluk Pendekar Sadis itulah yang membuat Lian Hong kini berkeberatan untuk menjodohkan puteranya dengan puteri Pendekar Sadis.
Jadi, bukan gadis itu yang memberatkan hatinya, melainkan ia tidak mau berbesan dengan Thian Sin!
Pada pagi hari itu, dari luar hutan yang menjadi batas terakhir dari Lembah Naga, nampak seorang kakek dan seorang nenek berjalan memasuki hutan.
Kakek dan nenek itu tentu sudah berusia enam puluh tahun lebih dan melihat keadaannya, mereka itu seperti seorang kakek dan seorang nenek petani biasa saja.
Keduanya berjalan dibantu oleh tongkat mereka.
Kakek itu bertongkat hitam dan si nenek bertongkat putih.
Baju mereka longgar dan kepala mereka dilindungi caping lebar dari kulit bambu.
Ketika mereka tiba di tengah hutan itu dan melihat ada gundukan besar dari tiga batu bertumpuk, mereka berhenti, termenung sejenak.
"Benar di sinilah tempat itu, kanda?"
Tanya si nenek dengan suara halus dan penuh kemesraan sambil memandang gundukan tiga bongkah batu bertumpuk itu.
Kelau menggunakan tenaga orang biasa, agaknya akan dibutuhkan puluhan orang untuk mengangkat dan menumpuk tiga buah batu besar yang amat berat itu.
"Benar, adinda. Di sinilah. Lihat di permukaan batu paling bawah, bukankah di situ masih ada tulisannya?"
Jawab si kakek.
Mereka berdua memandang tulisan huruf asing di atas permukaan batu paling bawah.
TEMPAT GUGURNYA BIBI GURU HEK-HIAT MOLI "Tidak salah lagi, suhu kita yang menumpuk tiga bongkah batu ini untuk memperingati kematian nenek guru Hek-hiat Moli.
Ahh, tenaga suhu sudah begini hebat akan tetapi tidak mampu mengalahkan musuh,"
Kata lagi si nenek.
"Jangan keliru. Pada waktu itu, suhu hanya memiliki tenaga yang kuat saja akan tetapi belum menyempurnakan Ilmu Im-kan Sin-hoat (Ilmu Sakti Akhirat), dan sekarang setelah berhasil menyempurnakan ilmu itu, suhu kehabisan tenaga dan meninggal dunia sebelum dapat mencari ke sini."
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 17
Baca Juga: Jodoh Rajawali 18