Pendekar Penyebar Maut 5

Eps 5 Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono

Baca online Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono

Cersil Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono.

Tak enak juga hati Yang Kun untuk tidak menuruti permintaan kakek itu. Bagaimanapun juga ia telah berhutang nyawa kepadanya.

"Nah, sekarang lohu akan bercerita..."

Kakek itu mulai dengan penuturannya, begitu Yang Kun telah mau duduk kembali di atas kursinya.

Dalam Aliran Im yang kauw selain para pengikutnya belajar tentang keagamaan dan ilmu silat, mereka juga ada yang belajar tentang ilmu meramal dan ilmu perbintangan, Sebuah ilmu yang agak berbau kebatinan, yang sejak dahulu secara turun-temurun diwariskan oleh pendiri Aliran Im-yang-kauw kepada anak muridnya yang berbakat.

Dan untuk waktu sekarang, anak murid Im yang kauw yang paling berbakat serta paling berhasil dalam mendalami ilmu tersebut adalah Toat-beng-jin.

ltulah sebabnya, mengapa Tong Ciak tadi mengatakan bahwa jika dipandang dari berbagai sudut, ilmu kepandaiannya masih sangat jauh apabila dibandingkan dengan kepandaian Toat-beng-jin yang beraneka macam itu.

Beberapa bulan yang lalu, berkali-kali dalam setiap semadinya Toat-beng-jin memperoleh isyarat bahwa pada suatu saat di dunia persilatan akan muncul seorang pemuda berkepandaian tinggi, tapi sangat berbahaya dan tidak boleh terlalu didekati.

Meskipun demikian dalam isyarat tersebut juga ditunjukkan bahwa pemuda itu juga pada hari tuanya mempunyai "peruntungan baik"

Dalam dunia keagamaan.

Isyarat-isyarat tersebut oleh Toat-beng-jin dikatakan kepada para pimpinan Im-yang-kauw, termasuk pula kepada Tong Ciak Cu-si.

Dan oleh para pimpinan itu diputuskan untuk sedapat-dapatnya mencari pemuda tersebut, dan kalau bisa agar membujuknya sekalian supaya menjadi penganut Im yang kauw.

Tujuannya adalah agar supaya hari depan aliran mereka menjadi besar dan terpandang karena ikut terangkat oleh "nasib peruntungan baik" (hok-kie) pemuda itu.

Dengan keyakinan seperti itulah akhirnya satu bulan yang lalu Toat-beng-jin mulai berkelana di dunia kang-ouw untuk mencari pemuda yang tersirat dalam isyarat yang diterimanya itu.

Karena kepandaiannya dalam membaca isyarat dan ramalan yang ia terima setiap waktu, maka dengan mudah Toat-beng-jin menemukan Yang Kun, yaitu pemuda yang dimaksudkan dalam isyarat tersebut.

Oleh karena itu, pada pertemuan mereka yang pertama, ketika Toat-beng-jin tahu bahwa pemuda tersebut memakai atau menyaru sebagai Toat-beng-jin, dia tidak menjadi marah ataupun tersinggung sama sekali.

Orang tua itu justru merasa senang bukan main dan setiap saat malah berusaha sekuat tenaga agar pemuda tersebut menyukai dan memakai terus nama dan gelar itu.

Orang tua itu rela dan ikhlas nama serta gelarnya dipakai oleh pemuda tersebut, sebab ia yakin dengan jalan itu Yang Kun akan menjadi tertarik dan kemungkinan besar akan terus menyukai Im-yang-kauw.

Demikianlah, orang tua itu berceritera dengan terus terang dan apa adanya.

Kakek itu tak ingin ada ganjalan barang secuilpun diantara mereka, yang mungkin dapat menjadi bibit pertentangan di kemudian hari.

Sementara itu bagi Yang Kun cerita yang diuraikan oleh Toat-beng-jin tersebut ternyata dapat mendinginkan hatinya yang terbakar.

Sebagian besar dari perasaan dongkolnya telah larut oleh kenyataan bahwa semua tingkah laku kakek itu bukan disebabkan oleh maksud-maksud jahatnya, tapi oleh karena besarnya rasa pengabdian kakek itu terhadap agamanya.

Oleh karena itu ketika melihat kakek itu memandang kepadanya seakan minta pertimbangan, Yang Kun mengangguk sambil menarik napas panjang.

"Baiklah, Lo-Cianpwe... Kukira semuanya telah terjadi dan kita tak perlu menarik panjang urusan itu sehingga menjadi berlarut-larut. Sudahlah, kita putus sekian saja!"

Katanya menegaskan. Kemudian sambil beranjak dari kursinya pemuda itu meneruskan.

"Sekarang siauwte benar-benar mau memohon diri..."

"Eeeee... nanti dulu! Yang-hiante, kau..."

Kakek itu segera menahan lengan Yang Kun dan mendudukkan kembali di kursinya. Kemudian katanya dengan nada yang dalam.

"Yan hiante, lohu percaya kalau engkau sudah memaafkan perbuatanku yang keterlaluan itu. Tapi... lohu juga masih melihat bahwa hatimu masih juga merasa terluka oleh peristiwa tersebut, sehingga meskipun engkau sudah tidak akan menarik panjang urusan ini, tapi engkaupun sudah tak ingin berhubungan lagi dengan kami..."

Yang Kun menatap Toat-beng-jin beberapa saat.

Tampak betapa menyesalnya orang tua itu terhadap peristiwa yang telah terjadi.

Tapi memang sebenarnyalah bahwa Yang Kun sudah tidak ingin lagi berada di antara para penganut Im-yang-kauw itu.

Bukannya ia masih mendendam terhadap mereka, tetapi karena ia ingin lekas-lekas menyelesaikan urusannya sendiri.

Ia tidak ingin terlibat secara berkepanjangan dengan urusan-urusan mereka.

Oleh karena itu untuk menenangkan hati Toat-beng-jin, Yang Kun menjura sambil berusaha menampilkan sebuah senyuman di bibirnya.

"Lo-Cianpwe, janganlah berpikir yang bukan-bukan. Sesungguhnyalah bahwa semuanya telah siauwte lupakan. Sungguh! Hanya karena siauwte mempunyai urusan yang tidak boleh ditunda-tunda lagi maka siauwte terpaksa harus cepat-cepat meninggalkan tempat ini."

"Tapi engkau masih terluka..."

"Jangan khawatir! Aku sudah tidak merasakannya lagi sekarang..."

Pemuda itu menukas dengan cepat, biarpun rasa pedih itu masih terasa juga.

Dengan langkah yang tegap Yang Kun keluar dari tempat itu, meninggalkan Toat-beng-jin termangu-mangu sendiri.

Kakek yang telah kenyang memakan garam kehidupan itu masih melihat betapa pemuda itu meringis menahan sakit, biarpun hanya sekilas saja.

"Pemuda yang keras hati!"

Orang tua itu berkata di dalam hatinya.

"Dia... aku telah gagal menarik dirinya."

Matahari benar-benar telah menumpahkan seluruh sinarnya ke halaman kuil yang luas itu.

Beberapa orang tampak menyiapkan sesuatu untuk upacara keagamaan yang hendak dilakukan setiap pagi hari.

Sementara di ruangan samping tampak belasan penganut Im-yang-kauw bersembahyang bersama di depan peti jenasah.

Yang Kun tidak ingin menarik perhatian orang-orang itu, maka ia melangkah menyusuri lorong di depan kamarnya ke arah kiri untuk mencapai pintu yang menuju ke halaman samping.

Dari sana Yang Kun berjalan ke halaman depan melalui jalan setapak yang dibuat di antara tanaman bunga, yang semalam telah ia lalui ketika menikmati keindahan alam itu.

Tapi ketika melalui jalan dimana patung orang tua bersuling itu didirikan, Yang Kun dikagetkan oleh suara orang yang menghardik dirinya dengan keras.

"Berhenti!"

Yang Kun segera mempersiapkan diri.

Ia benar-benar terkejut, sebab sebelumnya ia telah meningkatkan kewaspadaannya, namun demikian ternyata ia tak mendengar kehadiran orang itu sama sekali.

Dan ketika ia menoleh ke atas, tampak di dekat patung perunggu itu berdiri seorang gadis cantik molek memegang sebuah kipas besi di tangan kanannya.

Sementara disampingnya juga berdiri seorang lelaki kurus berusia kira-kira lima puluhan tahun, dengan dandanan yang tidak kalah mewahnya dengan gadis tersebut.

Orang itu memandang ke langit dengan acuh tak acuh.

"Paman, inilah pemuda yang dimaksudkan oleh ketiga suhengku itu. Aku sudah mengenalnya, karena aku pernah bertempur dengannya. Paman...hati-hatilah, pemuda ini mempunyai kepandaian yang sangat aneh!"

Gadis cantik itu memperingatkan orang tua yang berada di sampingnya.

"Cuh!"

Laki-laki kurus itu berludah, sehingga serta merta muka Yang Kun menjadi merah padam.

Otomatis Liong-cu-ikang bekerja dengan sendirinya.

Tapi tiba-tiba tubuhnya terhuyung ke samping dan hampir saja pemuda itu terjungkal ke atas tanah.

Dadanya bagai dihantam dengan palu yang ribuan kali beratnya!

"Aduhh...

lukaku!"

Pemuda itu berdesis menahan sakit.

Gadis cantik dan lelaki kurus itu saling memandang dengan perasaan heran.

Mereka malah menjadi curiga, jangan-jangan pemuda dihadapan mereka itu memasang sebuah perangkap buat mereka.

Oleh karena itu mereka justru melangkah mundur setindak dan bersiap-siap untuk menghadapi segala kemungkinan.

Kedua orang itu datang dari lingkungan orang-orang yang telah terbiasa hidup di alam kekerasan dan kemunafikan.

Maka tak mengherankan kalau mereka selalu merasa takut dan bercuriga terhadap siapa saja.

Jangankan terhadap lawan atau orang yang belum mereka kenal, sedang terhadap kawan atau saudara mereka sendiripun mereka selalu waspada dan tidak percaya.

Karena dalam kamus mereka, tiada seorang makhlukpun di dunia ini yang dapat menolong atau menjaga kelangsungan hidup mereka selain diri mereka sendiri.

Kalau toh mereka itu saling berkawan atau hidup bersama dalam satu kelompok, hal itu bukan didasarkan pada azas hidup yang suci bersih berdasarkan cinta kasih antar sesama, tetapi langkah mereka itu lebih dititikberatkan pada pamrih pribadi yang telah mereka hitung segala untung ruginya bagi kepentingan diri mereka masing masing.

Memang, betapa menyedihkan sebenarnya hidup dalam dunia seperti itu.

Mereka takkan pernah merasakan ketenteraman hidup dan kedamaian hati dalam arti yang sesungguhnya.

Hidup mereka hanya dipenuhi oleh perasaan takut, khawatir terhadap keselamatan diri mereka, sehingga mereka selalu curiga dan tidak percaya pada segala hal yang berada di sekeliling mereka.

Kalau toh orang seperti mereka kadang kala tampak gembira dan senang, Hal itu hanya sebuah kegembiraan palsu belaka, sebab dalam lubuk hati mereka yang paling dalam tentu masih terselip rasa takut atau khawatir, betapa kecil sekalipun.

Seperti juga halnya kedua orang yang mencegat Yang Kun di dekat patung perunggu itu.

Mereka cepat menjadi curiga dan takut kalau kalau ulah Yang Kun itu hanya sebuah jebakan yang akan membahayakan keselamatan mereka, padahal ulah pemuda yang demikian itu benar benar karena disebabkan oleh rasa sakit yang tiba-tiba mengentak dadanya akibat penyaluran Liong-cui kang itu.

Yang Kun bersandar pada dinding taman sambiI mendekap dadanya.

Beberapa saat lamanya ia berbuat demikian sehingga kedua orang itu menjadi tidak sabaran lagi.

Lelaki kurus itu segera melangkah ke depan, tangannya menuding ke arah muka Yang Kun.

"Engkau jangan berbuat yang aneh aneh untuk mengelabuhi kami! Lekas kau serahkan benda itu kepada kami!"

Bentaknya.

"Benda apa?"

Yang Kun berdesah diantara rasa sakit yang masih menyengat-nyengat dadanya. Pemuda itu benar-benar tak mengerti dan menjadi bingung oleh pertanyaan tersebut.

"Hmm, kurang ajar! Lekas berikan! Jangan paksa aku Tung-hai Nung-jin (Petani dari Lautan Timur) berlaku keras kepadamu!"

Lelaki kurus itu membentak lagi.

"Kurang ajar!"

Yang Kun mengutuk di dalam hati.

Hampir saja pemuda itu tidak bisa mengendalikan diri.

Untung ia segera teringat akan lukanya.

Meskipun demikian matanya telah berubah menjadi merah dan beringas.

Orang yang bergelar Tung-hai Nung-jin agaknya tahu kalau lawannya tersinggung.

Tapi ia tidak perduli dari mula ia memang telah menduga kalau pemuda tersebut tentu tidak akan memberikan benda itu.

"Cepat keluarkan!"

Serunya keras. Telapak tangannya telah siap di depan dada dengan jari-jari terbuka.

"Bangsat! Benda apa yang kau maksudkan?"

Yang Kun membentak pula saking marahnya.

"Huh! Masih berpura-pura pula..."

Gadis cantik itu ikut membentak.

Ah!

Yang Kun menjadi ingat sekarang.

Benda yang dimaksud itu tentu mutiara ya-Bengcu, yang dahulu oleh gadis itu telah diberikan kepadanya.

Wah, bila demikian, iapun telah berbuat suatu keteledoran pula.

Seharusnya ia menyerahkan benda berharga itu kepada pemiliknya, mumpung tokoh-tokoh tingkat atas Im-yang-kauw seperti Toat-beng-jin dan Tong Ciak Cu-si berada di tempat ini.

Pemuda itu segera merogoh saku bajunya dan mengeluarkan benda bersinar biru cemerlang itu, kemudian mengamat-amatinya di atas telapak tangannya.

"Hmm, kau ingin mengambil kembali mutiara ini?"

Tanyanya kepada gadis cantik itu.

Sejenak kedua orang lawannya terbelalak, lalu saling memandang satu sama lain.

Tampak mata Tung-hai Nung-jin yang sipit itu berkelap-kelip seperti orang yang baru bangun dari tidur.

"Gila! Bukan benda itu yang kami maksudkan, biarpun mutiara itu juga akan kami minta kembali sekarang! Keluarkan potongan emas itu!"

Gadis itu menghardik dengan kerasnya. Kelihatannya mereka tidak perduli sama sekali kalau suara mereka akan didengar oleh para penghuni kuil yang lain.

"Potongan emas...?"

"Benar! Potongan emas yang kau peroleh di rumah Pendekar Li itu?!"

"Potongan emas?"

Yang Kun mengingat ingat di dalam hati.

"Ya, potongan emas seperti ini...!"

Tung-hai Nung-jin mengeluarkan sebuah potongan emas sebesar jari tangan.

"Ohh... itu!"

Pemuda itu teringat kembali.

Tapi sesaat kemudian Yang Kun menjadi termangu-mangu.

Ternyata ia telah melupakan sama sekali benda tersebut, sehingga iapun telah lupa dimana ia telah menyimpan benda yang ia peroleh secara tak sengaja itu selama ini.

Yang Kun menyimpan benda itu asal menaruh saja di dalam buntalannya, karena ia memang tidak mengetahui kegunaannya selain sebagai emas saja.

Padahal buntalan itu telah hilang sejak ia tertangkap oleh tabib palsu yang menjebak dia dan Hek-mou sai di kota Tie-kwan setahun yang lalu.

"Benda itu telah kalian bawa sendiri, mengapa masih menanyakan padaku?"

Pemuda itu menjadi curiga pula, jangan jangan kedua orang ini termasuk kelompok orang yang telah menahan dia di ruang bawah tanah itu.

"Anak babi, engkau jangan berputar-putar seperti orang gendeng! Benda ini adalah merupakan potongannya yang lain, jadi bukan benda yang telah berada di tanganmu itu! Nah, cepat...babi kotor!"

Jilid 12 Yang Kun sudah tak bisa mengekang lagi kemarahannya, orang itu benar benar bermulut kotor, memaki orang seenaknya.

Tanpa menghiraukan lagi rasa sakit pada lukanya, Yang Kun meloncat menerjang Tung-hai Nung-jin.

Kedua telapak tangannya yang terbuka itu menabas ke arah pundak lawan dalam jurus Menatap Lantai Menyembah Raja, jurus ke sebelas dari Hok te To hoat.

Oleh karena tidak membawa golok maka kedua belah sisi telapak tangan itu dia ayun sebagai golok.

Itulah salah satu keistimewaan Hok te To hoat!

Ada beberapa jurus yang dapat dimainkan dengan tangan kosong pula seperti halnya Hok-te Ciang hoat, meskipun perbawanya tentu saja tidak sehebat aslinya.

Melihat pemuda itu telah menyerang dirinya, Tung-hai Nung-jin segera mengelak.

Tubuhnya yang kurus itu menggeliat ke belakang seakan mau jatuh terlentang!

Tapi bersamaan dengan gerakannya itu kaki kanannya tidak tinggal diam begitu saja.

Dengan secara mendadak kaki itu diangkatnya ke atas, ke arah perut lawan yang berayun di depannya.

Sekejap Yang Kun tergagap oleh serangan lawannya.

Ternyata kemarahannya tadi membuat dia kurang berhati-hati, sehingga dia kurang memperhitungkan gerakan lawan.

Terpaksa dengan mengerahkan sedikit tenaga pemuda itu menjejakkan kakinya ke tanah, hingga tubuhnya melayang ke samping dengan manis.

Yang Kun terhindar dari kaki Tung-hai Nung-jin, tapi pengerahan tenaga itu membuat lukanya semakin terasa pedih.

Dengan sedikit terbatuk-batuk pemuda itu bersiap kembali menghadapi lawannya.

Sementara itu tampaknya Tung-hai Nung-jin juga sudah tidak sabar pula.

Meskipun mereka tidak takut kepada para penghuni kuil itu, tapi kalau mereka itu maju beramai ramai, bagaimanapun juga akan mengganggu urusannya.

Maka tanpa sungkan-sungkan lagi ujung bajunya yang longgar itu meluncur menghantam ke arah Yang Kun.

Terdengar suara angin bersiutan menyertai gerakannya tersebut.

Terpaksa Yang Kun mengelak pula ke samping, karena untuk mengerahkan tenaganya lagi ia tidak berani.

Kemudian dari arah samping ia mencengkeram ujung baju lawan yang berkibaran seperti kupu-kupu, maksudnya kalau dia dapat meraihnya, lengan itu akan segera diputarnya ke belakang, sehingga dengan mudah dia dapat menghantam tengkuk lawan dengan sisi telapak tangannya.

Tapi lawannya ternyata juga bukan orang sembarangan.

Tung-hai Nung-jin adalah tokoh kedua di antara kawanan bajak laut di Lautan Timur setelah Tung-hai-tiauw (Rajawali Lautan Timur).

Enam-tujuh tahun yang lalu, ketika mendiang Bit-bo ong palsu mengajak San hek houw dan Sin go Mo Kui Ci menyerbu kedudukan Tung-hai-tiauw, Tung-hai Nung-jin mampu membuat kedua pembantu Bit-bo ong tersebut merasa kewalahan.

Seperti sudah dapat membaca apa yang akan dimaksudkan oleh Yang Kun, Tung-hai Nung-jin membiarkan ujung lengan bajunya dicengkeram oleh lawan.

Tapi bertepatan dengan terpegangnya lengan baju tersebut, ia menekuk sikunya secepat kilat ke arah dada Yang Kun.

Sementara kakinyapun tidak tinggal diam.

Dengan gerakan memutar kaki kanannya menyapu kaki lawan.

Gerakan ini dilakukan sambil mendesak maju.

Tak ada jalan lain bagi Yang Kun selain menangkis siku lawan.

Serangan itu cepat sekali datangnya, dan untuk mengelak sapuan kaki dengan meloncat mundur juga percuma, sebab orang itu menyapu sambil mendesak maju.

Maka tiada jalan lain terpaksa harus mengerahkan tenaga untuk menangkis serangan itu.

"Desssss!"

"Huaakk...!"

Tenaga Yang Kun membalik dihantam oleh arus tenaga sakti Tung-hai Nung-jin!

Bagaimanapun juga luka dalam itu sangat mengganggu Yang Kun dalam mengerahkan tenaga dalamnya, hingga tidak saja luka itu menjadi bertambah parah, tetapi tenaga dalam yang hanya setengah setengah itu justru menambah kekuatan lawan yang menghantam tubuhnya.

Oleh karena itu bagai layangan putus, Yang Kun terlempar ke belakang dengan memuntahkan darah segar dari mulutnya.

Tung-hai Nung-jin mengebutkan lengan bajunya untuk menghalau semburan darah yang memercik ke tubuhnya, meskipun begitu toh masih tetap ada juga setetes darah yang memercik mengenai lengannya.

"Kurang ajar!"

Umpatnya sambil mengambil sapu-tangan untuk membersihkan noda darah tersebut.

Tapi laki-laki itu menjadi terkejut sekali ketika bekas noda darah itu menjadi hitam dan terasa gatal bukan main.

Dan rasa kaget itu semakin menjadi jadi begitu melihat noda hitam tersebut berkembang semakin besar.

Tanpa ayal lagi laki-laki itu segera mengambil pisau dan secepat kilat mengorek noda hitam yang mengerikan itu.

"Bangsat, iblis setan...!"

Umpatnya lagi tapi dengan nada lega begitu dagingnya yang bernoda hitam itu telah terkorek keluar semua, rasa gatal pun juga hilang seketika.

Dengan mata menyala tetapi juga ada sedikit rasa ngeri, Tung-hai Nung-jin menatap korbannya yang terkapar pingsan di atas tanah.

Dipandangnya darah yang menetes keluar dari mulut pemuda itu.

Darah itu berwarna kehitam-hitaman, sama sekali berbeda dengan warna darah biasa.

"Gila! Bocah ini benar benar penjelmaan iblis, setan dan demit...!"

Katanya sambil membungkuk.

Kemudian dengan hati-hati agar tidak sampai menyentuh darah maut itu, Tung-hai Nung-jin memeriksa saku Yang Kun.

Tapi biarpun telah mencari kesana kemari, ia tetap tidak bisa mendapatkan potongan emas yang dicarinya itu.

"Hmm, bocah ini berani benar mempermainkan aku..."

Orang itu mengangkat tangannya ke atas, siap untuk menghabisi nyawa Yang Kun.

"Tahaaan...!"

Tiba-tiba dari arah kuil terdengar suara nyaring menghentikan gerakan itu.

Dan sekejap kemudian di depan mereka telah berdiri dua orang laki-laki.

Yang seorang sudah tua dengan kumis dan jenggot panjang yang telah memutih, sedangkan yang seorang lagi agak lebih muda dengan perawakan pendek kekar.

"Hmm, kalian siapa? Mengapa menghentikan gerakanku?"

Tung-hai Nung-jin menoleh dengan perasaan tak senang.

"Hei, lucu benar tuan ini...! Kami adalah penghuni kuil ini, seharusnya kamilah yang bertanya pada tuan..."

Lelaki pendek yang tidak lain adalah Tong Ciak Cu-si itu mengerutkan dahinya.

"Benar, siapakah sebenarnya tuan ini...?"

Orang tua berjenggot putih yang tidak lain adalah Toat-beng-jin itu ikut bertanya. Matanya yang sipit dan hampir tertutup oleh alis mata itu melirik ke arah gadis cantik yang berdiri agak ke belakang.

"Persetan! Aku tidak perduli kalian siapa, pokoknya cepat sebutkan nama kalian!"

Tung-hai Nung-jin membentak lagi. Toat-beng-jin saling pandang dengan Tong Ciak Cu-si, lalu sambil tersenyum Tong Ciak Cu-si menjawab.

"Lohu adalah Tong Ciak! Lohu menjabat sebagai Kouw Cu-si dalam lm yang kauw. Sedang orang tua yang berada di sebelahku ini adalah Toat-beng-jin, algojo dari aliran kami..."

"Bohoooong...!"

Tiba-tiba gadis cantik itu berseru.

"Paman, orang ini berbohong. Yang bernama Toat-beng-jin bukan dia, tapi pemuda yang pingsan itulah...!"

"Biar saja!"

Tung-hai Nung-jin mendengus.

"Siapapun dia aku tidak peduli! Aku juga belum pernah mendengar nama itu dan aku juga tidak ingin mengenalnya lebih lanjut...!"

Sambungnya dengan nada angkuh.

"Yaa, paman memang benar. Tidak ada gunanya paman mengenal nama-nama seperti itu, terlalu merepotkan paman saja..."

Gadis cantik itu mengangguk-angguk. Toat-beng-jin menatap Tong Ciak Cu-si dengan mulut meringis.

"Nah, Tong-hiante, tahu rasa kau sekarang..! Apa hiante kira nama kita ini sudah cukup berharga untuk diperkenalkan pada orang lain? Hihi... benar benar celaka!"

"Wah... ini... ini., ah, sesungguhnya bukan maksudku untuk menyombongkan nama."

Tong Ciak Cu-si menjadi tersipu sipu.

"Yaah, sudahlah..."

Toat-beng-jin berdesah.

"Anggap saja kita ini memang orang yang tak tahu diri... tapi... kini perbolehkan kami bertanya kepada tuan,"

Lanjutnya sambil menghadap ke arah Tung-hai Nung-Jin kembali.

"'Siapakah nama besar tuan, dan apakah maksud tuan ke tempat kami sehingga tuan melukai tamu kami itu?"

"Hmm, aku adalah Tung-hai Nung-jin dan gadis ini adalah keponakanku. Kalian tidak perlu tahu maksud kedatanganku kemari, karena aku hanya butuh bertemu dengan bocah ini!"

Orang itu berkata kaku.

"Tapi pemuda itu adalah tamu kami, dan karena dia masih berada di lingkungan kami maka kami wajib bertanggung jawab terhadap keselamatannya."

Tong Ciak segera menukas dengan keras pula. Tung-hai Nung-jin maju melangkah dengan mata melotot.

"Telah berkali-kali kukatakan, aku tidak peduli siapapun juga! Nah, pergilah! Jangan membuang nyawa di hadapanku..."

Tong Ciak menggeram dengan dahsyat. Kemarahannya sudah tak bisa dibendung lagi.

"Tong-hiante, kau bersabarlah...!"

Toat-beng-jin menarik lengan kawannya. Tapi Tong Ciak sudah tidak bisa ditahan lagi, tangan Toat-beng-jin yang memegangnya segera dilepaskannya.

"Lojin-ong, sekali ini kuminta jangan halang-halangi aku. Sungguh! Akan kulabrak mulutnya yang tak sopan itu!"

Teriaknya keras.

"Cuhh!"

Tung-hai Nung-jin meludah lagi.

"Congkaknya...huh, seperti biasa menaklukkan langit saja!"

"Bangsat! Lihat serangan..."

Tong Ciak melangkah dengan cepat ke depan, sehingga saking cepatnya kaki itu seperti mengambang saja di atas permukaan tanah.

Sedangkan lengannya yang pendek-pendek itu berputar-putar tidak kalah cepatnya di atas kepala, sehingga sepintas lalu lengan itu seperti berubah menjadi berpuluh-puluh pula jumlahnya.

Dan berhareng dengan gerakannya itu tiba-tiba berhembuslah angin dingin yang sangat kuat ke sekitarnya.

"Membasahi Badan di Antara Ilalang!"

Toat-beng-jin bergumam dengan takjub begitu melihat jurus yang dikeluarkan oleh temannya itu.

"Jurus kedua dari lembar pertama kuIit domba, tapi gerakan kakinya telah diubah...hmm, ini tentulah Soa hu-lian-ciang ciptaan Kim-mou Sai-ong itu!"

Jika Toat-beng-jin saja demikian takjubnya, apalagi orang lain seperti Tung-hai Nung-jin!

Orang berperawakan kurus itu benar benar terperanjat setengah mati!

Dia sungguh tak menyangka sama sekali bila di atas daratan ia akan menjumpai ilmu silat yang demikian hebatnya.

Sejak muda ia memang jarang sekali menginjakkan kakinya di daratan Tiongkok.

Oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau dia tidak mengenal Toat-beng-jin maupun Tong Ciak Cu-si.

Meskipun, demikian dia juga bukan tokoh sembarangan pula.

Di antara ribuan bahkan mungkin laksaan anggota bajak laut, yang tersebar di Lautan Timur yang maha luas, antara daratan Tiongkok, pulau pulau es di utara dan Kepulauan Jepang serta pulau-pulau kecil lainnya di daerah selatan, tidak seorangpun yang tidak mengenal nama Tung-hai Nung-jin atau Si Petani Lautan Timur.

Sebutan itu saja sudah merupakan papan nama yang menakutkan dan menggiriskan setiap penghuni lautan dan pantai-pantai di sekitarnya.

Oleh karena itu keterkejutannya tadi hanya berlangsung sebentar saja, karena di lain saat ia telah melejit dengan tangkasnya ke arah samping, lalu secepat kilat berputar ke belakang lawan malah.

Langkah kakinya benar-benar aneh dan cepat bukan main, seperti main petak saja, sehingga seorang tokoh sakti seperti Toat-beng-jin sampai melongo dan menggeleng-gelengkan kepala dibuatnya.

"Pantas orang ini demikian sombongnya, ilmunya memang sungguh hebat! Hehe..., tapi sekarang dia mendapatkan lawan yang cocok,"

Tokoh sakti itu berkata di dalam hatinya.

Memang benar ucapan yang dikeluarkan oleh Toat-beng-jin itu.

Kedua orang yang kini sedang bertempur itu agaknya sama-sama mengandalkan cepatnya gerakan sebagai inti dari ilmu silat mereka.

Dan hal itu memang tidak aneh!

Mereka berdua sama-sama berasal dari daerah yang sejenis.

Tung-hai Nung-jin berasal dari daerah yang setiap harinya selalu bergaul dengan air, sehingga ilmu yang ia pelajari harus pula sesuai dengan tempat di mana ia selalu berada.

Badan atau tubuhnya haruslah seenteng kapas agar supaya ia tetap bisa bergerak lincah di atas permukaan air.

Oleh karena itu tidaklah heran kalau gerakannya cepat bukan main, karena lambat sedikit saja niscaya tubuhnya akan kelelap dan tenggelam ke dalam air.

Begitu pula Tong Ciak Cu-si!

Meskipun dalam bentuk yang berbeda tetapi sifat dari tempat tinggal mereka adalah sama.

Sebelum terjun ke dunia persilatan, Tong Ciak Cu-si bertempat tinggal di sebuah danau atau rawa pasir yang ganas.

Dikatakan ganas, karena pasir lembut bercampur air itu sangat panas dan selalu bergerak tak menentu.

Benda betapapun kecilnya akan terhisap masuk dan tak mungkin dapat dicari kembali, sebab selain amat luas, danau pasir itupun mempunyai kedalaman yang tak mungkin dijajagi!

Oleh karena itu, seperti halnya Tung-hai Nung-jin, Tong Ciak Cu-si juga mendapatkan ilmu yang sesuai dengan sifat tempat tinggalnya.

Gerak kaki Tong Ciak Cu-si haruslah sigap dan cepat agar supaya kaki itu tidak terlanjur amblas dan terhisap oleh putaran pasir yang ganas.

Sebab sekali kaki itu terbenam sampai di lutut jangan harap orang itu bisa mencabutnya dari daya hisap pasir panas tersebut.

Maka pertempuran yang terjadi kaIi ini sungguh suatu pertempuran yang amat menarik untuk dilihat.

Gerakan gerakan mereka cepat seperti kilat, sehingga sukar sekali diikuti oleh pandang mata biasa.

Keduanya berkelebat berputar-putar saling membelit dan berpencar dalam kecepatan tinggi, hingga orang tidak bisa melihat jelas yang mana Tung-hai Nung-jin dan yang mana Tong Ciak Cu-si!

Keduanya berubah menjadi bayang-bayang hitam yang bergulat dengan seru.

Toat-beng-jin dan gadis cantik itu terpaksa mundur beberapa langkah ke belakang.

Angin pukulan kedua orang itu begitu dahsyatnya sehingga dalam radius beberapa meter di sekeliling mereka seperti sedang terjadi serangan angin puting-beliung yang bergemuruh mengerikan.

Tiga puluh jurus telah berlalu dan belum juga salah seorang di antara mereka kelihatan kalah, sehingga badai angin yang mereka timbulkan juga semakin menjadi-jadi.

Keadaan taman bunga itu menjadi rusak dan porak poranda, sementara para penghuni kuil yang sudah berkumpul di tempat itu hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala saja.

Tiba-tiba terdengar suara benturan yang amat keras, dan sesosok tubuh terlempar keluar dari arena pertempuran.

Otomatis pertempuran itu menjadi berhenti dan badai anginpun segera lenyap pula.

Toat-beng-jin melangkah ke depan dengan tergesa gesa, diikuti oleh para penghuni kuil yang lain.

Dengan hati tegang mereka bergegas untuk segera ingin tahu siapa yang terlempar dari arena tersebut.

Orang yang terlempar itu tampak berjungkir balik di udara sebelum menginjakkan kakinya di tanah.

Meskipun begitu ketika kaki itu mendarat di atas tanah, tubuhnya masih tetap terhuyung sedikit, suatu tanda bahwa benturan tadi benar-benar menggoncangkan tubuhnya.

Dan begitu muka itu menengadah kembali, semua orang menjadi lega, termasuk pula Si Kakek Tua Pencabut Nyawa Toat-beng-jin!

Karena orang tersebut adalah Tung-hai Nung-jin!

"Penyu kotor bau busuk...!"

Umpat orang itu tak habis-habisnya.

Memang tidaklah mengherankan kalau orang itu mengumpat tak habis-habisnya.

la sebagai tokoh sakti yang selama ini hampir tak pernah terkalahkan, selain oleh Tung-hai-tiauw (Rajawali Lautan Timur), benar-benar merasa terpukul oleh kenyataan yang ia hadapi sekarang.

Dia sungguh tidak mengira sama sekali bahwa dalam penampilannya yang pertama di atas daratan Tiongkok, ia telah menemukan seorang lawan yang amat tangguh.

Lebih tangguh dari yang ia duga sebelumnya sehingga ia harus menelan pil pahit karenanya!

Ternyata dalam pertempurannya selama lebih dari tiga puluh jurus tadi, ia sungguh-sungguh dapat diibaratkan sebagai anak burung yang sedang belajar terbang, tapi sudah berani mengarungi samudra bersama kawanan burung yang lain.

Memang, bagi para penonton yang tidak dapat melihat dengan jelas jalannya pertempuran itu akan menganggap bahwa pertempuran tersebut adalah pertempuran yang seimbang.

Tapi bagi dirinya sendiri yang langsung menghadapi tokoh Im-yang-kauw itu benar-benar merasa betapa ilmunya yang dibangga-banggakan itu tak mampu mengimbangi kehebatan ilmu lawan.

Dari mula mereka bergerak sudah dapat ia rasakan bahwa gerakan kaki tangannya yang selama ini ia bangga-banggakan sebagai gerak kilat yang tidak mungkin dapat dilampaui kecepatannya oleh siapapun juga, ternyata menemukan lawan yang jauh lebih cepat malah.

Tenaga saktinya yang sejak dahulu juga sangat dibangga-banggakan sebagai tenaga sakti yang jarang menemukan lawan seimbang, Kini ternyata harus mengakui pula keunggulan tenaga lawannya sehingga dalam benturan yang melibatkan seluruh tenaga sakti mereka, tubuhnya terlempar keluar arena tanpa dapat dicegah Iagi.

Oleh karena itu Tung-hai Nung-jin tidak lekas-lekas menerjang lawannya kembali.

Lebih dahulu ia membenahi diri serta mempersiapkan segala kemampuannya.

Setelah siap barulah ia melangkah maju mendekati Tong Ciak Cu-si kembali.

Sementara itu melihat ada kesempatan untuk menolong Yang Kun, Toat-beng-jin segera beranjak mendekati tempat di mana pemuda itu tergeletak lalu menggotongnya ke pinggir.

Dengan pertolongan beberapa orang anak buahnya, Toat-beng-jin menotok dan mengurut tubuh Yang Kun di beberapa tempat, sehingga luka tersebut tidak menjadi semakin parah atau membahayakan.

"Nah, gotonglah pemuda ini ke kamarnya...!"

Orang tua itu memberi perintah kepada anak buahnya, kemudian ia sendiri kembali menonton ke arah pertempuran yang telah siap meletus lagi.

"Berhenti! Jangan kalian bawa anak itu ke mana-mana! Dia adalah tawananku! Tak seorang pun boleh membawa pergi dia."

Tung-hai Nung-jin berteriak memperingatkan.

Orang-orang yang menggotong Yang Kun saling pandang dengan bingung, tak tahu apa yang mesti mereka kerjakan.Mereka memang benar-benar tidak tahu persoalan apa yang sedang mereka hadapi sebenarnya.

"Jangan hiraukan orang itu! Laksanakan perintah Lojin-ong! Biarkanlah aku yang akan menghadapinya!"

Tiba-tiba Tong Ciak berteriak pula tak kalah kerasnya.

Dengan langkah tegap dan dada membusung tokoh sakti dari Im-yang-kauw itu melangkah di antara anak buahnya dan Tung-hai Nung-jin!

"Penyu busuk berkaki pendek!"

Tung-hai Nung-jin menggeretakkan giginya.

"Jangan buru buru berbesar hati dan besar kepala karena dapat melemparkan aku keluar arena. Pertempuran yang sesungguhnya baru akan dimulai. Bersiaplah!"

Dengan muka merah karena menahan berang, tokoh bajak laut berbadan kurus itu melepas jubah dan baju atasnya yang gemerlapan, sehingga dada yang ceking tapi terbalut oleh otot otot kenyal itu menjadi terbuka dan dapat dilihat oleh semua orang.

Gulungan bajunya ia lemparkan kepada keponakannya, lalu tangannya mencabut senjata yang tadi tertutup oleh jubahnya yang lebar.

Senjata yang menyerupai mata pacul itu besarnya hanya selebar telapak tangan, gagangnyapun tampak pendek sekali.

Tapi ketika Tung-hai Nung-jin menarik gagang itu ke atas maka terciptalah sebuah pacul kecil bergagang panjang, karena gagang yang pendek tersebut ternyata dapat diperpanjang dan diperpendek.

"Nah penyu berkaki pendek... keluarkanlah senjatamu!"

Tantangnya sambil memasang kuda-kuda.

Sejak lawannya itu melepas jubah dan baju, Tong Ciak beserta para penganut Im-yang-kauw yang lain telah terbelalak keheranan.

Mereka tercengang-cengang memandang ulah Tung-hai Nung-jin yang aneh tersebut, mereka seolah-olah melihat seekor banteng aduan yang sedang bersiap untuk turun ke gelanggang, dimana segala macam hiasan dan penutup badan ditanggalkan dulu sebelum masuk gelanggang aduan.

Tapi Tung-hai Nung-jin tampak serius dan tidak terlihat sama sekali kalau ia mau berolok olok.

Oleh karena itu Tong Ciak Cu-si juga meningkatkan kewaspadaannya.

Tokoh Im-yang-kauw ini tak ingin terjebak karena kelalaiannya sendiri.

Maka perlahan-lahan tangannya diangkat dan disilangkan di depan dadanya, sementara kedua kakinya tertekuk ke depan, sehingga tubuhnya yang pendek itu hampir-hampir seperti sedang berjongkok.

"Hmm! Seranglah aku, jangan sungkan-sungkan, karena selama ini lohu tak pernah memegang senjata! Seperti yang kau katakan, seekor penyu hanya mengandalkan kekerasan tubuhnya, ia tak pernah membawa senjata untuk melawan musuhnya "

"Penyuuu...,"

Bajak laut itu tidak meneruskan makiannya.

"Betul! Penyu itu sekarang sedang bersiap-siap untuk menghajar seekor belut kurus yang tidak tahu diri,"

Tong Ciak melanjutkan.

Kini keadaan menjadi berbalik.

Kalau tadi adalah si pendek Tong Ciak yang tidak bisa mengekang kemarahannya, kini ganti Tung-hai Nung-jin yang terbakar oleh sikap yang ditunjukkan lawannya.

Dengan suara menggeledek pimpinan bajak itu mengayunkan paculnya ke arah kepala Tong Ciak!

"Lihat serangan!"

Pacul kecil itu terayun deras dengan disertai hembusan angin tajam, membuat rambut dan ujung pakaian Tong Ciak berkibar-kibar saking kuatnya.

Tapi dengan cepat pula kuda-kuda separuh jongkok itu bergeser ke belakang tanpa menggerakkan atau merubah posisi badan sama sekali.

Baru setelah mata pacul yang tajam itu menghantam tanah di depannya, tangan yang semula bersilang itu dengan cepat mematuk ke arah tangan lawan yang memegang tangkai pacul!

Gerakan tangan itu bukan main cepatnya sehingga dipandang sepintas lalu justru seperti tidak bergerak malah.

Cuma anginnya saja yang bersiut keras, menandakan kalau gerakan itu ditopang oleh tenaga dalam yang tinggi.

Tentu saja Tung-hai Nung-jin tak ingin lengannya dipatuk oleh jari-jari lawan, tapi untuk menarik tangannya yang memegang pacul itu terang tidak mungkin.

Sebab gerakan yang demikian terang akan kalah cepat dengan gerakan lawan, kecuali kalau tangannya melepaskan tangkai pacul itu terlebih dahulu.

Tapi jika ia berbuat demikian, berarti ia akan kehilangan senjatanya.

Dan hal itu sungguh sangat memalukan, masa dalam satu jurus ia harus melepaskan senjata itu.

Maka, jalan satu-satunya hanyalah menangkis jari jari itu dengan tangan kirinya yang bebas.

Dan hal itu benar benar dilakukan oleh Tung-hai Nung-jin.

Begitulah, dengan suara keras tangan kirinya memotong ke depan, ke arah lengan Tong Ciak yang terjulur ke ujung gagang paculnya.

"Tasssss!"

Dua buah lengan yang sama-sama penuh berisi tenaga sakti berbenturan dengan amat kuatnya dan keduanya sama sama tergetar mundur beberapa tindak.

Tapi sekali lagi tampak kalau tenaga Tung-hai Nung-jin masih belum dapat mengimbangi Soa-hu-sinkang Tong Ciak Cu-si.

"Setan...!"

Tung-hai Nung-jin menggeram marah. Kemudian pacul itu ia lintangkan di depan dada dan sambil memasang kuda-kuda yang amat rendah ia mengerahkan seluruh tenaga saktinya.

"Hah!"

Dan tiba-tiba"

Brol!

Dari seluruh pori-pori kulitnya menetes air keringat yang amat banyak.

Semakin lama semakin banyak sehingga akhirnya air keringat itu mengucur menetes-netes bagai air hujan yang mengalir dari atas genting!

Dan begitu orang itu bergerak, maka air keringat yang berbau kecut itu berhamburan memercik ke mana-mana.

Sungguh menjijikkan!

Tapi justru itulah salah satu dari keistimewaan ilmu Silat Ban-seng-kun, andalan Tung-hai Nung-jin!

Jangan dikira butiran-butiran air keringat itu tidak ada gunanya.

Malah butiran-butiran air keringat itulah yang sering membuat pusing lawan.

Selain baunya yang kecut menjijikkan, butiran air keringat itu terlepas dari badan karena terdorong oleh sinkang yang tinggi.

Maka tidaklah mengherankan apabila tetesan air keringat itu mampu melobangi baju dan kulit musuh.

Tong Ciak Cu-si yang baru sekali ini melihat keanehan seperti itu segera melangkah ke samping untuk mengambil jarak, agar supaya ia punya kesempatan untuk menilai gerakan lawan apabila lawan menyerang dengan mendadak.

"Hmm, jadi inilah sebabnya, mengapa ia melepas bajunya... Tapi kalau cuma soal keringat itu, aku tak perlu merasa khawatir. Toh aku punya Soa-hu-sinkang yang mempunyai sifat menolak. Asal aku mengerahkan sinkang itu sekuat tenaga niscaya tetesan keringat itu takkan sampai mengenai tubuhku. Yang harus aku perhatikan justru senjatanya yang aneh itu, siapa tahu ada rahasia tersembunyi di dalamnya."

Tong Ciak Cu-si berkata di dalam hati.

Demikianlah, kedua-duanya telah menyadari kehebatan masing-masing.

Oleh karena itu masing-masing tidak mau bertindak ceroboh.

Masing-masing terlalu hati-hati sekali, sehingga pertempuran mereka kali ini tentulah merupakan sebuah pertempuran yang alot dan lama.

Benarlah!

Begitu mereka saling gebrak, maka cara mereka menyerang maupun mengelak sedemikian hati-hatinya sehingga meskipun beberapa jurus telah berlalu, mereka tetap belum dapat melepaskan serangan yang berarti.

Baru setelah pertempuran mereka menginjak pada jurus ke Sepuluh, masing-masing sudah sedikit mengenal gaya pertempuran lawan, sehingga pada jurus-jurus selanjutnya pertempuran itu menjadi semakin hidup dan berbahaya.

Luncuran luncuran mata pacul yang berkelebat kesana kemari mengejar nyawa itu tampak semakin cepat dan mengerikan.

Dilihat dari luar arena seperti bayangan bianglala yang saling berbelit di atas permukaan air laut.

Sementara tetesan air keringat yang berhamburan dari badannya tampak gemerlapan ditimpa sinar mentari pagi.

Tapi gerakan Tong Ciak juga tidak kalah hebatnya.

Meskipun tidak memakai senjata, tapi kedua pasang lengan dan kakinya yang pendek-pendek itu bergerak seperti baling-baling cepatnya sehingga sambaran pacul Tung-hai Nung-jin yang berkelebatan di kanan kirinya itu tak pernah bisa menyentuh ujung bajunya.

Begitu pula dengan percikan air keringat yang mengucur tak henti-hentinya itu, tak tetetespun yang dapat mengenai kulit maupun pakaiannya.

Semuanya tersapu buyar dihembus Soa-hu-sinkang sebelum butiran butiran air menjijikkan itu mampu mendekati tubuhnya.

Dua puluh juruspun telah berlalu lagi dan biarpun sudah memegang senjata ternyata Tung-hai Nung-jin tetap tak bisa merebut kemenangan.

Semakin lama justru semakin tampak permainan paculnya banyak mengalami hambatan.

Beberapa kali gerakan paculnya terputus dan terhambat oleh cegatan cegatan tangan Tong Ciak yang menerobos cepat bagai kilat.

Bagaimanapun juga Soa-hu-sinkang yang diciptakan oleh Kim-mou Sai-ong berdasarkan lembaran kulit domba itu masih jauh lebih tinggi mutunya dari pada Ban-seng-kun (Pukulan Selaksa Bintang) Tung-hai Nung-jin.

Toat-beng-jin dan para pengikut Im-yang-kauw yang lain melihat pula keadaan yang menguntungkan bagi Kauwcu-si mereka itu.

Dengan hati tegang tapi gembira mereka menonton pertempuran tingkat tinggi yang jarang bisa mereka saksikan selama hidup.

Diam-diam mereka juga semakin mantap dan bangga terhadap Im-yang-kun yang mereka pelajari, biarpun yang mereka ketahui dan mereka terima sekarang baru bagian kulitnya saja.

Sedang Toat-beng-jin yang selama ini juga telah berusaha mendalami ilmu itu menurut keyakinannya sendiri, sesekali tampak mengangguk-anggukkan kepalanya pula.

Orang tua itu mengagumi gerakan-gerakan Tong Ciak dalam memainkan Soa-hu lian ciang.

Biarpun belum pernah melihat gerakan gerakan itu tetapi orang tua itu seakan-akan sudah sangat mengenalnya, sebab bagaimana pun juga ilmu itu tercipta dari sumber yang sama dengan ilmunya, yaitu lagu yang tertulis padu gulungan kulit domba itu!

Begitulah, beberapa saat kemudian pertempuran itu semakin tampak berat sebelah.

Meskipun bertangan kosong, ternyata sepasang tangan Tong Ciak yang gesit itu secara pasti dapat mengurung gerak pacul lawan yang ganas.

Sehingga tanpa dapat dicegah lagi gerakan gerakan pacul itu semakin lama semakin ngawur dan tidak terkontrol lagi.

Pada suatu saat, ketika Tong Ciak meloncat keatas untuk menghindari serangan pacul yang menghantam ke arah kakinya, Tung-hai Nung-jin memburunya dengan sabetan yang berbahaya ke arah perut.

Sementara itu butiran-butiran keringat orang itu juga melesat bagai peluru-peluru kecil yang mengikuti lajunya mata pacul tersebut.

Para penonton menahan napas, begitu pula Toat-beng-jin!

Serangan itu benar-benar sangat berbahaya!

Sungguh tak mereka sangka, dalam keadaan terdesak orang bertubuh kurus itu mampu membalas dengan serangan yang begitu bagus.

Maka dengan hati berdebar dan mata melotot mereka memandang ke arah Tong Ciak Cu-si, mereka ingin menyaksikan cara bagaimana jago mereka itu menghindarinya.

Tapi semuanya menjadi pucat ketika Tong Ciak sama sekali tidak berusaha menghindar dari sambaran pacul yang tinggal sejengkal lagi dari perutnya itu.

Seolah-olah tidak sadar akan bahaya yang mengancamnya, Tong Ciak justru mengayunkan sisi telapak tangannya ke arah kepala lawan.

Sekejap orang menjadi bertanya-tanya, apa sebenarnya maksud tokoh bertubuh pendek tersebut.

Benarkah dia tidak menyadari bahaya itu?

Ataukah dia memang ingin mengadu jiwa?

Atau ada maksud lain yang tersembunyi?

Tapi sungguh janggal rasanya kalau tokoh sakti seperti dia sampai tidak tahu kalau ada bahaya yang mengancamnya.

Dan semakin janggal lagi rasanya kalau tokoh itu mempunyai kehendak untuk mengadu jiwa, toh dia sudah berada di atas angin saat itu.

Oleh karena itu satu satunya kemungkinan terakhir, yaitu memang ada sesuatu maksud tersembunyi di balik segala keanehan yang dia lakukan itu.

Agaknya Tung-hai Nung-jin juga berpikir demikian.

Nalurinya yang telah ditempa oleh berbagai macam pengalaman merasakan pula adanya keanehan itu, sehingga mata pacul yang telah menembus pakaian lawan itu cepat cepat ia lepaskan begitu saja.

Lalu dengan tergesa ia membuang tubuhnya ke belakang untuk menghindari pukulan yang tertuju ke arah kepalanya.

Kemudian dengan gerak tipu Trenggiling Turun Gunung ia menjauhi lawannya.

"Brett..."

Mata pacul yang tajam itu benar-benar membabat perut Tong Ciak dengan dahsyatnya.

Apalagi ketika tangan Tung-hai Nung-jin telah melepaskan pegangannya, daya luncur dari senjata itu semakin tampak menggiriskan.

Dengan disertai suara kain robek senjata itu melayang jauh keluar halaman kuil, meninggalkan serpihan-serpihan kain yang berhamburan di udara.

Sementara itu, Tong Ciak Cu-si yang ternyata tidak mengalami luka sedikitpun tampak menggeliat di udara, kemudian tubuhnya meluncur turun mengejar ke arah larinya Tung-hai Nung-jin.

Semua gerakan yang ia perlihatkan itu ia lakukan selama berada di udara, sedikitpun tak menyentuh tanah, sehingga Toat-beng-jin yang sedari tadi selalu mengikuti semua gerakannya menjadi melongo.

"Ohh... sungguh-sungguh hebat! Ini...ini tentulah jurus yang tertera pada lembar kedua belas atau ketiga belas! Aku... aku sama sekali tak mengenalnya!"

Kakek itu bergumam dengan terbata bata.

Sesungguhnyalah, karena ingin lekas-lekas mengakhiri pertempuran itu, Tong Ciak telah mengeluarkan jurus Berasa Mabuk di Atas Awan yaitu jurus yang dipetik dari syair lagu pada lembar yang kedua belas.

Itulah sebabnya Toatbeng jin yang baru sampai pada lembar kesebelas sama sekali tidak mengenalnya.

Tung-hai Nung-jin yang berguling-guling menjauh untuk menghindari serangan lawan tampaknya semakin terpojok.

Tak ada kesempatan lagi baginya untuk memperbaiki kedudukannya.

Kedua tangan Tong Ciak seperti berubah menjadi ribuan banyaknya dan semuanya tampak mengurung dan memburu dia.

Sehingga sekejap kemudian salah satu dari bayangan tangan itu dapat memasuki pertahanannya dan menghajar dadanya.

"Dukkkk!"

"Huaaaak!"

Tung-hai Nung-jin terpental dan roboh di samping keponakannya. Dari mulutnya mengalir darah segar.

"Pamannn..."

Gadis cantik itu lekas-lekas berjongkok di sampingnya dengan wajah pucat.

"Jangan khawatir, lukaku tidak parah! Berdirilah!"

Tung-hai Nung-jin membesarkan hati keponakannya, lalu dengan tertatih tatih ia juga bangkit sambil menyeka darah yang menempel di sudul bibirnya.

Kemudian dengan berpegangan pada lengan gadis itu, Tung-hai Nung-jin menghadapi Tong Ciak.

"Baiklah, kali ini aku mengaku kalah. Biarlah, pada lain kesempatan aku akan menemui tuan kembali..."

Katanya dengan meringis karena menahan sakit.

"Nona Li Ing, marilah kita pergi...!"

"Bagaimana dengan potongan emas itu, paman? Nanti ayah marah..."

"Biarlah! Lain kali saja kita kembali..."

Tung-hai Nung-jin membalikkan tubuhnya, lalu dengan diikuti oleh keponakannya ia melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Toat-beng-jin segera meloncat menghampiri Tong Ciak Cusi.

"Hebat! Tong-hiante, kau benar-benar hebat! Eh, apakah jurusmu yang terakhir tadi adalah jurus yang kau ambil dari kulit domba itu juga?"

Tong Ciak tersenyum kemalu-maluan.

"Ah, Lojin-ong terlalu memuji. Jurus tadi memang berasal dari lembar yang ke dua belas, yaitu dari syair lagu bait pertama baris kedua yang berbunyi Berasa mabuk di atas awan...Tapi aku sebenarnya belum merasa puas pada gerakanku tadi. Seharusnya aku benar benar mematikan perasaan tatkala menggeliat di udara, sehingga bagaikan orang yang sedang mabuk aku benar-benar tidak mengacuhkan segala sesuatu yang berada di sekitarku. Tapi saat itu ternyata aku masih merasa takut pada ayunan cangkul Tung-hai Nung-jin, menyebabkan gerakan selanjutnya menjadi tersendat. Akibatnya, hampir saja orang itu lolos dari tanganku...,"

Demikianlah, kedua tokoh Im-yang-kauw itu segera memerintahkan anak buahnya untuk membenahi tempat yang rusak akibat pertempuran tadi.

Kemudian sementara Toat-beng-jin ikut bekerja, Tong Ciak menaiki tangga yang menuju ke tempat patung perunggu.

Dengan hormat sekali tokoh bertubuh pendek itu berlutut di depan patung.

"Kim mou Sai-ong Sucouw, terimalah hormat dari cucu muridmu...Moga moga semua jurus Soa-hu lian-ciang yang kubawakan tadi tidak mengecewakan Sucouw...,"

Katanya menunduk.

"Tong-hiante, marilah kita masuk kembali kedalam kuil!"

Terdengar suara Toat-beng-jin dari bawah.

Matahari merangkak semakin tinggi, sehingga panas yang dimuntahkan juga terasa semakin menyengat.

Toat-beng-jin bersama-sama Tong Ciak Cu-si memasuki kamar yang dipergunakan untuk merawat Yang Kun.

"Lojin-ong, luka dalam pemuda ini benar benar parah sekarang... Eh, kenapa dia tadi sampai berada di halaman samping itu? Apakah ia bermaksud melarikan diri dari kuil ini?"

Tong Ciak berbisik ketika telah berada di depan pembaringan Yang Kun. Toat-beng-jin menghela napas dan mengangguk.

"Ya... dia merasa tersinggung oleh perbuatan aku, sehingga dia bermaksud meninggalkan kuil kita. Sebenarnya aku telah meminta maaf padanya, tapi ia telah berketetapan hati untuk pergi dari sini. Dan... aku tak bisa lagi menahannya! Akhirnya terjadilah peristiwa itu..."

Kedua orang tokoh Im-yang-kauw itu mengawasi Yang Kun yang masih belum siuman dari pingsannya.

Tampak oleh mereka wajah pemuda itu amat pucat, pernapasannyapun tidak teratur, malah terkadang kelihatan tersengal-sengal.

"Tong-hiante, pemuda ini mempunyai watak yang keras hati. Jika kita menunggu dia siuman, kemungkinan besar kita justru tidak akan dapat mengobatinya. Dia tentu akan menolak maksud kita untuk mengobatinya. Oleh karena itu lebih baik kita berusaha mengobatinya sekarang juga. Dengan tenaga kita berdua kukira hasilnya akan lebih baik, tapi..."

Toat-beng-jin menghentikan perkataannya sebentar, lalu.

"...Tapi kita harus berhati-hati terhadap darahnya yang mengandung racun mematikan!"

"Hah...!"

Tong Ciak Cu-si terlonjak. Toat-beng-jin tersenyum.

"Tong-hiante... ketahuilah...! Pemuda yang kita cari ini mempunyai banyak keanehan pada tubuhnya. Pertama, pemuda ini mempunyai lweekang yang sangat tinggi, melebihi Iweekang seorang ahli silat yang telah belajar selama seratus tahun. Kedua, tanpa ia sadari ia hapal akan isi gulungan kulit domba kita di luar kepala. Ketiga, darah yang mengalir dalam tubuhnya ternyata mengandung racun ganas. Tapi anehnya, sedikitpun ia tak terpengaruh oleh keadaan itu. Seakan-akan ia telah kebal terhadap racun, atau... agaknya ia memang beracun sejak lahir seperti halnya binatang ular dan kelabang!"

"Bagaimana Lojin-ong mengetahui semua itu...? Oh, maaf! Pikun benar aku ini...! Tentu saja dengan Lin cui Sui hoat (ilmu Tidur di Atas Permukaan Air), Lojin-ong akan mengetahui segalanya..."

"Tong-hiante, engkau jangan beranggapan seperti itu, karena anggapan seperti itu benar benar salah sama sekali! Mahir Lin cui Sui-hoat itu bukan berarti mengetahui segalanya. Di kemudian hari Tong-hiante akan kecewa apabila masih mempunyai anggapan demikian, apalagi jika Tong-hiante juga berniat mempelajarinya."

Tong Ciak berdiri diam tak bersuara, hanya kepalanya saja yang mengangguk-angguk mendengar keterangan Toat-beng-jin itu.

"Sudahlah, Tong-hiante... lohu mengetahui semuanya tentang pemuda ini bukan karena lohu mahir Lin-cui Sui hoat, tapi karena lohu sudah mengikutinya sejak tiga hari yang lalu, yakni dari tempat pengungsian orang-orang Hisan-cung. Di dusun itu pemuda ini telah membunuh tiga orang pengikut Tiat-tung Kai-pang dan melukai dua orang gadis pembantu Keh sim Siauwhiap dari Pulau Meng-to. Kemudian di dekat mata air baru yang muncul di seberang dusun Hok-cung ia melukai Hek-eng-cu pula. Sehingga ketika pemuda ini menyelinap ke tengah-tengah para perampok yang menduduki dusun Hok-cung, Iohu mendahului langkahnya, menotok pingsan para penjaga yang akan dilaluinya, agar supaya tidak banyak kurban yang jatuh akibat pukulan beracunnya. Tapi tak kusangka ketika berhadapan dengan pemimpin perampok, pemuda ini justru mendapat luka yang parah malah!"

"Ohh.!"

Tong Ciak terlongong-longong.

Tokoh Im-yang-kauw bertubuh pendek ini memang tidak menyangka sama sekali kalau pemuda itu sedemikian hebatnya.

Membunuh pengikut Tiat-tung Kai-pang, lalu melukai pembantu Keh-sim Siauwhiap terus melukai lagi Hek-eng-cu!

Sungguh menakjubkan, padahal semuanya adalah orang-orang kuat dan telah punya nama di dunia persilatan.

Terutama Keh-sim Siauwhiap dan Hek-eng-cu!

Kedua buah nama yang terakhir itu adalah dua di antara tiga nama yang sangat populer dan menjadi buah bibir kaum persilatan selama lima tahun terakhir ini.

Seperti telah diketahui, sejak selesainya perang besar yang menumbangkan kekuasaan Kaisar Chin lima tahun yang lalu, di dunia persilatan muncul tiga orang jago muda yang kepandaiannya benar benar amat menakjubkan.

Ketiganya malang melintang di dunia kang-ouw seperti malaikat saja karena kesaktiannya yang hebat seperti dewa, sehingga selama ini belum pernah terdengar mereka menemukan tanding.

Mereka itu adalah Hong gi hiap Souw Thian Hai, Keh-sim Siauwhiap dan Hekeng cu.

Ketiga buah nama ini selalu menjadi pembicaraan orang dan sangat ditakuti dimanapun mereka.

Ketenaran nama mereka benar benar menghapus dan mengungguli ketenaran jago-jago tua yang selama ini hanya terdengar namanya saja, karena jago-jago tua itu tak pernah menampakkan diri mereka di dunia kang-ouw.

Mereka Iebih suka menyepi di tempat pertapaannya atau mengurung diri di tempat tinggaInya yang terpencil.

"Pemuda ini telah melabrak para pembantu Keh-sim Siauwhiap dan melukai Hek-eng-cu, tapi kenapa pemimpin perampok yang menduduki desa Hok cung bisa melukainya? Apakah pemimpin perampok itu lebih lihai dari pada Hek-eng-cu?"

Tong Ciak akhirnya bertanya kepada Toat-beng-jin.

"Sebab pemimpin perampok itu mempunyai seorang pengawal yang hebat!"

"Heh? Siapakah dia...?"

"Hong-gi-hiap Souw Thian Hai!"

"Hah...?!?"

Tong Ciak terperanjat.

"Entahlah, aku pun tak tahu, apakah sebabnya pendekar muda itu sampai menjadi anggota perampok."

Toat-beng-jin menerangkan.

"Apakah mungkin ingatannya terganggu kembali?"

"Terganggu? Eh, Tong-hiante... apakah Tong-hiante pernah bertemu atau mengenal dia sebelumnya?"

Tong Ciak bangkit dari kursinya. Sambil memeluk dada ia melangkah berputar putar di dalam kamar. Matanya menatap langit-langit sementara ingatannya tampak melayang layang ke masa lalu.

"Lojin-ong... Lojin-ong tentu belum lupa akan cerita masa laluku sebelum aku kembali diterima sebagai warga Im-yang-kauw,"

Katanya dengan menghela napas panjang sekali.

"Dahulu aku adalah seorang Kepala Pengawal Istana yang mendapat kepercayaan penuh dari Kaisar Chin Si Hong-te untuk menjaga keamanan seluruh kompleks istana beserta semua isi dan keluarga kerajaan yang berada di dalamnya. Bersama Beng Tian Goanswe (Jendral Beng Tian) sebagai panglima bala tentara kerajaan, aku dikenal sebagai Sepasang Singa dan Harimau Kerajaan,"

Tokoh bertubuh pendek itu menghentikan lagi ceritanya, seakan-akan ingin mengenang kembali masa kejayaannya dahulu.

"Suatu saat aku mendapat perintah yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku, yaitu perintah untuk mengawal seorang tawanan penting keluar Kotaraja. Sebelum berangkat Baginda Kaisar memesan dengan sangat agar aku melindungi tawanan itu baik-baik, karena Baginda telah memperoleh khabar bahwa Barisan Para Pendekar yang dipimpin oleh Liu Pang (Kaisar Han sekarang) akan berusaha membebaskan tawanan itu..."

"Bukankah tawanan itu adalah Menteri Ho Ki Liong?"

Toat-beng-jin menyela. Tong Ciak terbelalak sebentar lalu mengangguk.

"Benar!... Nah, ternyata peringatan yang diberikan oleh Baginda itu benar benar terjadi di tengah perjalanan. Barisan kami dicegat oleh sekawanan pendekar yang dipimpin oleh murid wanita Liu Pang yang bernama Ho Pek Lian. Tapi dengan mudah para perajuritku mengalahkan mereka. Hampir saja kawanan pencegat itu tertangkap semua ketika secara tak terduga kusir kereta yang membawa tawanan kami itu memberontak dan mengamuk. Bagai orang gila kusir itu menghajar siapa saja yang berada di depannya, termasuk aku sendiri..."

Tong Ciak tidak meneruskan ceritanya, lalu matanya yang lebar itu memandang ke arah Toat-beng-jin.

"Lojin-ong tahukah Lojin-ong...siapakah kusir yang mengamuk itu?"

"Tentu saja Hong-gi-hiap Souw Thian Hai!"

Toat-beng-jin menjawab cepat.

"Eh, mengapa Lojin-ong dapat menerka begitu tepat?"

"Haha... hal itu bukanlah suatu teka-teki yang sulit! Dan yang terang tidak perlu menggunakan Lin cui Sui-hoat segala. Haha... bukankah Tong-hiante hendak bercerita tentang Hong-gi-hiap Souw Thian Hai tadi? Nah, mengapa aku harus mencari jawaban yang lain...?"

"Oh, iya! Lojin-ong benar juga."

Kemudian kedua tokoh tinggi Im-yang-kauw itu terdiam dan tenggelam dalam arus pikiran masing masing.

"Sudahlah! Kita tak usah bersusah-susah memikirkan orang lain. Pendekar sakti seperti Souw Thian Hai, apalagi sudah terkenal dengan julukannya Hong-gi-hiap (Pendekar Gila Yang Berbudi), tentulah seorang yang mempunyai watak yang aneh-aneh."

Toat-beng-jin akhirnya berkata.

"Tentu ada maksudnya mengapa ia sampai bergabung dengan para perampok seperti itu. Seperti juga Yang-hiante ceritakan tadi, setiap orang juga tidak tahu apa sebabnya ia menyamar sebagai kusir kereta...Tong-hiante, sekarang marilah kita lekas-lekas mengobati pemuda ini saja, nanti keburu dia siuman kembali!"

"Ah, Lojin-ong benar...! Marilah!"

Tong Ciak tergagap seperti orang yang baru saja diingatkan pada sesuatu yang sangat penting.

Demikianlah, dengan hati-hati agar mereka berdua tidak terkena racun yang berada di dalam darah Yang Kun, kedua tokoh Im-yang-kauw itu berusaha mengobati luka si pemuda dengan Im-yang-kang mereka.

Sementara itu, tanpa mereka ketahui di luar kuil telah terjadi pula suatu keributan yang mengakibatkan beberapa orang mereka menjadi kurban lagi.

Telah diceritakan sebelumnya bahwa Tung-hai Nung-jin bersama keponakannya telah pergi meninggalkan kuil dengan menanggung kekalahan yang memalukan.

Tokoh bajak laut yang semula amat yakin dengan kemenangannya karena selama ini ilmunya hampir tak pernah mendapatkan lawan yang berarti, ternyata dalam langkah pertamanya di daratan Tiongkok kali ini sudah membentur batu karang yang amat keras.

Tokoh dari Lautan Timur itu melangkah lemas, diikuti oleh keponakannya yang cantik tapi berwatak ganas itu.

"Kekalahan seperti itu saja mengapa mesti disesali!"

Tiba-tiba terdengar suara orang menegur dari pinggir jalan.

Tung-hai Nung-jin dan keponakannya cepat berbalik dengan tangan telah berada di atas tangkai senjata masing masing.

Dengan tajam mereka memandang ke arah laki-laki muda berpakaian putih-putih dan laki-laki bertubuh besar berjenggot lebat yang berdiri tenang di bawah pohon siong tua di pinggir jalan.

Mereka belum begitu jauh dari bangunan kuil.

"Saudara berbicara dengan kami?"

Tung-hai Nung-jin menggeram menahan marah. Agaknya pengalamannya tadi membuat tokoh ini bersikap lebih hati-hati sekarang.

"Hmm, tidak keliru! Merasa tersinggung?"

Laki-laki yang berbaju putih menjawab seenaknya.

Gila!

Tokoh bajak laut yang garang itu kini benar-benar mengumpat di dalam hati.

Jantungnya seolah-olah terbakar dengan mendadak!

Biasanya dialah yang selalu bersikap demikian terhadap orang lain.

Sungguh tidak ia sangka kekalahan yang dideritanya tadi seakan-akan menjadi titik tolak dari keruntuhannya, sehingga semua orang seperti meremehkan dirinya.

"Kau memang bosan hidup!"

Teriaknya keras menyertai paculnya yang melayang ke depan ke arah muka lawan.

"Pamannn..!"

Keponakannya berusaha mencegah, tapi mana mau orang yang sedang marah itu berhenti? "Hahaha... gadis cantik, jangan khawatir! Pamanmu yang sudah lemah ini tidak akan kubunuh, asalkan..."

Laki-laki berbaju putih yang tidak lain adalah Song-bun kwi Kwa Sun Tek itu tidak meneruskan kata-katanya.

"Bangsat! Laki-laki ceriwis! kau ingin berlaku kurang ajar kepadaku?"

Gadis cantik itu melotot.

"Jangan bermimpi! Kipas besiku ini akan mengirim nyawamu ke alam baka..."

"Hahaha... Wan Lo-Cianpwe, lihatlah gadis ini! Sungguh cantik dan garang! Sayang kita sedang mengemban tugas dari Ongya, kalau tidak... wah, enak juga rasanya bermain main dengan nona yang begini cantik."

Song-bun-kwi berseru sambil mengelak dari sambaran pacul.

"Ah, Kwa-sicu ini sungguh suka sekali bergurau. Mana mau gadis demikian manisnya bergaul dengan orang tua seperti aku? Kalau aku sih lebih suka meminta potongan emas yang disimpan oleh pamannya itu, hehe..."

"Tentu saja, Wan Lo-Cianpwe! Kita ke sini kan juga untuk benda tersebut."

Pacul Tung-hai Nung-jin menyambar-nyambar bagai elang mencuri mangsa, meski begitu Song-bun kwi tampak masih enak-enakan.

Laki-laki muda berbaju putih itu mengelak kesana kemari sambil mengobrol, seakan serangan lawannya yang bertubi-tubi itu tak berbahaya sama sekali baginya.

Baru setelah mata pacul yang tajam itu menggores lengan bajunya hingga sobek, Song-bun-kwi terkejut.

"Huh! Tak kusangka engkau mempunyai kepandaian juga barang sedikit. Tak heran tokoh Im-yang-kauw yang berbadan pendek tadi mengalami kesukaran untuk menundukkanmu."

Song bun kwi menggeram pelan sambil mengamat amati lengan bajunya yang sobek.

"Tetapi hati-hatilah... kini engkau berhadapan dengan orang Tai-bong-pai. Sekali saja engkau salah langkah, maka nyawalah taruhannya.,...!"

"Cuh!"

Tung-hai Nung-jin meludah, untuk menunjukkan kepada lawan bahwa dia juga tidak merasa gemetar atau takut sedikitpun. Baju luarnya yang longgar itu ia lepaskan perlahan-lahan.

"Paman, kau baru saja terluka."

Gadis cantik itu sekali lagi menahan tangannya.

"Biarlah keponakanmu saja yang menghadapinya...,"

"Li Ing, kau minggirlah! kau lihat saja pamanmu...!"

Melihat lawannya telah melepaskan bajunya, Song bun kwi tidak berani bermain-main pula.

Tadi secara sembunyi sembunyi telah ia saksikan kepandaian orang itu ketika melawan tokoh Im-yang-kauw yang bernama Tong Ciak.

Maka iapun segera melepaskan ikat pinggang yang melilit perutnya.

Sebuah ikat pinggang yang terbuat dari kulit ular yang ulet, di mana pada ujungnya dipajangi alat pengikat yang terbuat dari besi baja!

Dan sesaat kemudian pagi yang indah itu telah diributkan pula dengan suara pertempuran mereka yang sangat seru.

Masing-masing menampilkan kepandaian mereka yang hebat dan dahsyat.Seperti ketika melawan Tong Ciak Cu-si, Tung-hai Nung-jin mengayun paculnya dalam ilmu Ban-seng-kun yang luar biasa itu.

Senjata panjang itu berkelebat cepat di udara dan bergerak gesit di segala tempat, sehingga dari jauh seperti bintang berekor yang beralih tempat dari sudut ke sudut langit.

Sedang Song-bun-kwi Kwa Sun Tek juga bersilat dengan tidak kalah garangnya.

Ikat pinggang kecil yang lemas itu dalam tangannya menjadi senjata pembunuh yang amat mengerikan.

Alat pengikat yang terbuat dari besi baja itu tampak menyambar nyambar ganas disertai suara mengaung yang menggiriskan.

Jangankan hanya manusia yang terdiri dari kulit dan daging, sedang batu karang yang keraspun hancur tersabet oleh ikat pinggang itu.

Pertempuran itu berlangsung dengan dahsyatnya sehingga debu di sekitar mereka menjadi berhamburan, mengepul tinggi di udara, membuat kaget beberapa orang pengikut Im-yang-kauw yang mau pergi ke sungai untuk mencari air.

Dengan tergesa-gesa empat orang Im-yang-kauw berlari ke tempat pertempuran.

Masing-masing menyiapkan tongkat pemikul airnya, kalau-kalau diperlukan nanti.

"Hei! Hei! Berhenti! Jangan berkelahi di tempat suci ini...!"

Teriak mereka beramai-ramai.

Tapi pertempuran itu mana mungkin dapat dihentikan lagi sebelum salah seorang dari mereka terkalahkan.

Masing masing tentu tidak mau menarik diri dan menghentikan serangannya, karena hal itu berarti memberi kesempatan kepada lawan untuk menyerang dirinya secara mudah.

"Hahaha... sudahlah! Biarkanlah mereka bertempur sampai selesai!"

Orang yang dipanggil dengan nama Wan-Lo-Cianpwe itu tertawa.

"Tapi tempat ini adalah tempat suci dan masih termasuk wilayah kuil kami..."

Salah seorang penganut Im-yang-kauw itu menerangkan.

"Ah, kalian lebih baik melihat saja di sini bersama aku...! Jangan membuat jengkel kami!"

Wan Lo-Cianpwe mengerutkan keningnya.

"Kurang ajar! Kalian ini memang orang-orang liar yang tak tahu kesopanan!"

Kata pengikut Im-yang-kauw itu. Tongkat yang dipegangnya meluncur deras ke arah pertempuran, maksudnya untuk memisahkan kedua jago yang sedang berkelahi itu.

"Hei! Telah kukatakan tadi, jangan ganggu mereka! Mengapa kalian tetap tidak mau mengindahkan perkataanku itu?"

Orang she Wan yang datang bersama dengan Song-bun-kwi itu berseru marah.

Lengannya yang besar dan berbulu lebat itu memukul dengan tangan terbuka ke arah tongkat yang meluncur.

Terdengar suara hembusan angin yang kuat, yang meluncur keluar dari telapak tangan yang terbuka itu.

Dan di Iain saat terdengar suara letupan kecil yang mengakibatkan patahnya batang tongkat itu menjadi beberapa bagian.

"Krek! Krakk!"

Pelempar tongkat itu dan teman temannya melongo menyaksikan hebatnya pukulan lawan.

Orang bertubuh besar itu hampir tidak menggerakkan kakinya dan jarak antara dia dengan tongkat itu masih terpaut sekitar sepuluh langkah, tapi hawa pukulannya ternyata sudah mampu mematahkan tongkat pemikul air.

Maka dapat dibayangkan betapa tingginya ilmu silat orang itu.

Tetapi mengingat mereka masih berada di kandang sendiri, apalagi terdiri dari banyak orang, maka keempat orang Imyang kauw itu segera menghapus rasa ketakutan di hati mereka.

Dengan garang salah seorang dari mereka melangkah maju.

"Kurang ajar! Bagaimanapun hebatnya kepandaianmu, tapi sekarang kau sedang berada di wilayah kami. kau tidak dapat bertindak sesuka hatimu sendiri... Nah, sekarang hentikan pertempuran mereka! Kalau tidak kami akan bertindak sesuai dengan peraturan yang berlaku di sini."

"Hmmh!"

Orang she Wan itu menggeram semakin marah.

"Orang bermata buta! Meski pun kini aku sedang berada di wilayah kalian, tetapi kalian juga harus tahu siapa pula aku ini..!"

"Kami tidak peduli pada siapa pun...!"

"Kalian sama sekali juga tidak peduli kalau aku dan kawanku itu orang Bing-kauw?"

Orang bertubuh besar itu mulai memasang aksi.

Benar juga.

Ucapan orang itu yang mengaku sebagai anggota Aliran Bing-kauw, benar-benar mengejutkan empat orang Im-yang-kauw tersebut.

Peristiwa menyedihkan yang mengakibatkan matinya salah seorang dari kawan mereka pada hari kemarin masih sangat membekas di dalam hati mereka.

Untung pada saat itu secara kebetulan Toat-beng-jin segera tiba di kuil mereka, sehingga luapan kemarahan mereka dapat segera dibendung oleh pemimpin mereka itu.

Coba kalau tidak, mungkin mereka telah pergi meluruk ke pusat perkumpulan Aliran Bing-kauw dan mengamuk di sana.

Kini secara tiba-tiba ada orang yang bersikap sombong yang mengaku sebagai anggota Aliran Bing-kauw di depan mereka, maka dari itu tidak heran kalau kemarahan mereka tiba-tiba saja juga meledak tanpa dapat dikendalikan lagi.

Hampir berbareng keempat orang tersebut melesat menerkam ke arah laki-laki yang mengaku sebagai orang Bing-kauw tersebut.

"Bangsat! Kemarin kawanmu sudah berani membunuh pimpinan kuil kami, sekarang kalian masih berani berkeliaran di sini...Lihat serangan!"

"Hahahe... kerucuk-kerucuk (orang dari tingkat rendahan) macam kalian ini masih juga berani berlagak di depanku..."

Sungguh mengagumkan sekali gerakan orang yang bertubuh besar itu.

Demikian berat badannya tapi gerakannya ternyata gesit sekali.

Sekali menjejakkan kaki tubuh yang sebesar gajah itu melesat ke atas, melampaui kepala lawanlawannya, lalu dengan enteng serta tidak mengeluarkan suara kakinya mendarat di belakang para penyerangnya.

Kemudian dari tempat itu ia membalas serangan lawan dengan jari jarinya yang terbuka seperti tadi.

"Wuuuuuuus..."

Keempat orang Im-yang-kauw terkejut setengah mati, mereka tidak mengira kalau gerakan lawan begitu enteng dan gesit.

Oleh karena itu mereka menjadi kelabakan begitu musuh telah berada di-belakang mereka dan kini justru sudah mengirim pukulan jarinya yang menggiriskan itu.

Dan kelalaian mereka ini sungguh mencelakakan diri mereka.

Tak ada kesempatan lagi bagi mereka untuk mengelakkannya.

Orang itu hanya berjarak kurang lima langkah dari tempat mereka berdiri, sedang batang tongkat yang berjarak sepuluh langkahpun telah hancur dilanda pukulan orang itu.

Satu-satunya jalan hanya mengerahkan tenaga sakti mereka masing-masing untuk bertahan.

"Hah! Sss"

Ouughhh..!"

Jari jari orang she Wan itu tidak sampai menyentuh punggung lawannya, tapi keempat orang lm-yang-kauw itu merasa seperti disodok oleh benda tumpul yang amat keras, sehingga pemusatan tenaga mereka menjadi buyar dan tersungkur ke depan tak berdaya.

Blukk!!

Tak ampun lagi mereka berempat terjerembab ke atas tanah dan tak bisa bangun kembali.

Dari mata, telinga, hidung dan mulut mereka mengeluarkan darah.

Hanya seorang saja yang agaknya masih diberi kesempatan untuk hidup oleh orang yang mengaku datang dari Bing-kauw tersebut.

"Ohh... kau... kau be-berani membunuh ka-kami...?"

Orang yang masih bernapas itu merintih.

"Hahaha... mengapa tidak berani? Tak seorangpun yang kami takuti di dunia ini, apalagi seperti kalian...! Bukankah kedua orangku kemarin telah datang pula ke tempat ini untuk mengobrak-abrik kuilmu? Haha, kini kau pun masih kuberi kesempatan untuk melaporkan kejadian ini. Nah, pergilah!"

"B-baik-lah...! kau...kau jangan pergi dahulu! Kebetulan Lo...Lojin-ong... a-ada di...sini, ka-kalian akan t-tahu rasa... nanti! Ough...!?!"

Dengan lemah orang itu merangkak pulang ke kuilnya.

"Hahahaha... kau laporkan kepada setan manapun aku tidak peduli. Kepada Lojin-ong atau kepada Siauw jin ong. terserah... ha-ha"!"

Orang she Wan itu tertawa gelak gelak.

Sementara itu pertempuran antara Tung-hai Nung-jin dengan Song-bun-kwi sudah mencapai titik puncaknya.

Kedua tokoh silat berkepandaian tinggi itu telah mengeluarkan segala macam ilmu silat andalan mereka.

Masing masing telah mengeluarkan semua kemampuannya, karena masing-masing juga tahu bahwa lawan yang mereka hadapi kali ini benar benar bukan lawan sembarangan.

Sayang karena Tung-hai Nung-jin sudah mengalami luka terlebih dahulu, maka lambat laun tenaganya mulai terganggu.

Pada setiap benturan tenaga yang terjadi, rasanya luka yang dideritanya tampak semakin bertambah parah.

Keadaan itu dilihat pula oleh Tiauw Li Ing, keponakan Tung-hai Nung-jin yang berwajah molek tapi berwatak sadis itu.

Dengan cepat gadis itu menyembuyikan sepasang kipas besinya di balik ujung lengan bajunya yang lebar, lalu perlahan-lahan ia melangkah mendekati pertempuran.

"Dukkk!"

Kedua buah lengan mereka kembali saling beradu di udara, dan sekali ini Tung-hai Nung-jin tampak terhuyung-huyung mau jatuh.

Wajahnya kelihatan pucat sekali.

Dan meskipun keringat maut yang keluar dari tubuhnya masih saja mengalir dengan derasnya, tapi warna keringat itu telah berubah menjadi kemerahan.

"Phang-susiok (paman Phang)...!"

Li lng berlari mendekati.

"Gila! Setan! Ilmu orang ini benar-benar tidak boleh dipandang enteng. Perguruan Tai bong pai memang hebat! Sayang aku sudah terluka lebih dahulu, kalau tidak... huh jangan harap Pukulan Pengisap Darahnya dapat melukai diriku!"

Katanya sambil melepaskan tangan Tiauw Li Ing yang memegang lengannya.

"Li Ing, kau minggirlah!"

"Paman, lukamu..."

"Ha-ha ha ha..., asal kalian berikan potongan emas itu kepada kami, kami akan mengampuni nyawamu,"

Sekali lagi orang she Wan itu tertawa gelak-gelak.

"Bangsat busuk majulah kalian berbareng, Tung-hai Nung-jin tidak akan mundur selangkahpun! Dan... dengarlah, aku tidak akan menyerahkan benda itu kepada kalian! Cuh!!"

Tung-hai Nung-jin tak mau kalah teriak.

Kemudian tanpa memberi peringatan lagi paculnya menyambar ke depan dengan dahsyatnya.

Tapi Song-bun kwi juga telah bersiap-siap sejak tadi.

Maka begitu terlihat olehnya tangkai pacul itu bergerak ke arahnya, iapun segera melejit ke samping dengan gesitnya.

Dan sebelum lawannya menyusuli lagi serangannya, putera ketua Tai-bong-pai itu telah mengubah cara bersilatnya.

Kalau semula tokoh Tai-bong pai itu bersilat dengan gerakan-gerakan yang kuat dan mantap, kali ini gerakannya berubah menjadi sebaliknya.

Tubuhnya yang berdiri tegak itu bergerak kaku seperti boneka wayang di atas panggung, kadang-kadang malah bergoyang-goyang seperti mau jatuh terjerembab ke atas tanah.

Ilmu silat Tung-hai Nung-jin sendiri adalah ilmu silat yang aneh dan mengerikan, tapi melihat ilmu silat Song-bun kwi tokoh bajak laut itu tetap saja merasa seram di dalam hatinya.

Dengan dahi berkerut jago dari Lautan Timur itu mengamat-amati ilmu silat Song-bun kwi tanpa berkedip "Hiiiiii..."

Tiba-tiba tubuh yang bergerak kaku itu meluncur ke arah Tung-hai Nung-jin dengan kepala terlebih dahulu.

Tentu saja gerakan yang mendadak ini benar-benar sangat mengejutkan tokoh bajak laut tersebut.

Apalagi serangan dengan kepala seperti itu benar-benar amat aneh dan baru kali ini dilihatnya.

Selain terasa aneh rasanya juga membingungkan pula!

Tapi Jago silat dari Lautan Timur itu tak mempunyai banyak waktu untuk menduga-duga maksud gerakan lawan, karena sekejap kemudian serangan itu telah berada di depan matanya.

Otomatis pacuI yang telah siap di atas kepala itu diayun ke depan untuk menghantam kepala yang meluncur datang.

"Wuut!"

Pacul itu membelah udara dengan derasnya.

"Duukk!"

Pacul tersebut menghantam dengan kuat sekali! Tetapi bukan kepala lawan yang terkena mata pacul, melainkan tanah yang berada di depan Tung-hai Nung-jin sendiri.

"Gila!"

Tung-hai Nung-jin mengumpat. Matanya nyalang mencari kepala lawan yang lenyap secara mendadak.

"Hi-hi-hi... jangan bingung! Aku ada di sini!"

Tiba-tiba terdengar suara Song-bun-kwi di belakangnya.

Tanpa menoleh lagi Tung-hai Nung-jin menyabetkan paculnya ke belakang.

Tapi sekali lagi pacul itu menemui tempat kosong, karena lawannya dengan sigap telah menjatuhkan diri dengan terlentang di atas tanah seperti sesosok mayat yang terkapar di pekuburan!

Sekali lagi Tung-hai Nung-jin terperanjat menyaksikan keanehan dan kehebatan ilmu lawan.

Kembali paculnya menghantam ke arah tubuh yang tergeletak kaku tersebut.

"Dukk!"

Tubuh itu menggelinding ke kanan dengan cepat sehingga sekali lagi pacul itu menghantam tanah.

Debu berhamburan menggelapkan udara di sekitar tempat itu.

Dan di lain saat, sebelum asap debu itu lenyap disapu angin, tiba-tiba terdengar suara teriakan Tung-hai Nung-jin yang menyayat hati.

"Aaaaaaaa...!"

"Phang-susiok...!"

Tiauw Li Ing melesat ke depan menyongsong tubuh pamannya.

"Li Ing... lu-lukaku b-benar parah sekarang... sayang benda itu terpaksa harus kita... kita be...berikan""

Tung-hai Nung-jin menatap keponakannya dengan terengah engah. Tangannya merogoh dan mengeluarkan potongan emas dari saku celananya.

"Nih! kau... kau be...berikan kepadanya...!"

"Tidak! Biarlah aku yang menghadapinya sekarang!"

Gadis itu berkata tegas. Perlahan-lahan kepala pamannya ia letakkan di atas rumput. Tapi Tung-hai Nung-jin lekas-lekas menyambar lengan gadis itu.

"Li Ing, kau jangan terlalu sembrono! Dia bukan lawanmu, apalagi dia masih ada kawannya. biarlah kita mengalah saja hari ini. Lain kali kita datang lagi dengan ayahmu beserta seluruh kekuatan kita... heh heh..."

"Tapi..."

Gadis itu masih penasaran.

"Sudahlah! Be-berikanlah saja benda ini...!"

"Hahaha... bagus, pamanmu itu memang benar. Mari, berikan benda itu kepada kami! Dan..., kami akan menepati janji, kalian boleh pergi dengan bebas!"

Song-bun kwi yang hamper tidak pernah tertawa itu ikut membujuk.

Gadis itu berdiri termangu mangu sambil memegang potongan emas itu erat-erat.

Barulah sesaat kemudian kepalanya yang molek itu mengangguk.

"Baiklah! Kuberikan benda ini kepadamu... Tapi ingat! Sebulan lagi kami akan mencari kalian untuk mengambilnya kembali!"

Dengan sebat gadis itu melemparkan potongan emas tersebut ke batu karang yang berada di depannya.

"Kraash!"

Potongan emas yang lunak itu menancap ke batu karang dengan kuatnya.

"Ambillah...!"

Geramnya.

"Wan Lo-Cianpwe, kita harus cepat cepat meninggalkan tempat ini pula. Jangan sampai siasat yang kita lakukan ini keburu ketahuan orang-orang Im-yang-kauw."

Song bun kwi mengajak kawannya, setelah kedua korbannya tadi lenyap dari pandangan mereka.

Dengan tangkas tubuhnya yang kurus itu melesat menghampiri batu karang.

Lalu mencabut potongan emas yang tertancap di sana dengan dua buah jarinya saja.

"Hahaha"

Ongya kita benar-benar beruntung.

tanpa diduga telah memperoleh dua buah potongan emas yang berisi peta tempat penyimpanan harta karun.

Agaknya perjuangan kita kali ini memang benar-benar akan berhasil!"

"Tentu saja, Kwe-hiante! Hahaha... marilah kita segera pergi dari sini! Sebentar lagi para penghuni kuil itu tentu akan berdatangan kemari, dan pemuda bekas majikanku itu bisa menggagalkan rencana kita kalau dia melihat serta mengenalku nanti."

"Ah, dia tentu berbaring saja di tempat tidurnya. Bukankah ia telah terluka parah oleh pukulan Tung-hai Nung-jin tadi? Nah, sudahlah... marilah ouugh, aduuhh...!"

Tiba-tiba Song-bun-kwi berteriak tinggi sambil membanting potongan emas yang dipegangnya.

"Kwa-sicu, ada apakah...?"

Kawannya tersentak kaget.

"Setan busuk iblis kuntianak...!"

Song-bun-kwi mengumpat-umpat dengan kasar sekali.

Tangannya dengan cekatan mengambil pisau, lalu memotong kedua buah jarinya yang tadi memegang potongan emas itu.

Dengan mata melotot orang she Wan itu melihat potongan jari kawannya yang jatuh di atas tanah.

Potongan jari tersebut warnanya sudah berubah menjadi kebiru-biruan, sedang tulang yang berada di dalamnya sudah remuk bagai tepung.

"Gila! Racun apa pula itu?"

Katanya serak.

"Wan Lo-Cianpwe. lihat...! Hampir saja tulang-tulangku remuk menjadi tepung kalau aku tidak cepat cepat memotong jari tanganku! Sungguh ganas sekali gadis itu!"

Song-bun-kwi menggerutu sambil membalut lukanya. Beberapa kali ia mengamati-amati jari tangan kanannya yang kini tinggal tiga buah jari saja.

"Sudahlah, Kwa-sicu... kau tak usah terlalu menyesali jari tanganmu itu. Anggap saja sebagai pengorbanan terhadap perjuangan kita. Lihat! Jari-jari tangankupun sudah tidak utuh pula lagi! Semuanya kukorbankan demi suksesnya sandiwara yang diperintahkan oleh ongya kita, yaitu untuk memancing pengakuan dari mulut Chin Yang Kun tentang Cap Kerajaan itu. Ah... Kwa-sicu, engkau tentu belum melupakan peristiwa yang terjadi di gedung Si Ciangkun setahun yang lalu, bukan? Yaitu ketika pertemuan kita itu diketahui oleh pasukan pemerintah, sehingga kita lalu dikepung oleh Yap Tai-Ciangkun?"

"Wan Lo-Cianpwe memang benar...! Marilah kita segera meninggalkan tempat ini!"

Song-bun-kwi mengiyakan.

Lalu dengan saputangan diambilnya potongan emas yang ia banting tadi.

Dan sekejap kemudian mereka telah lenyap diantara rimbunnya pepohonan yang tumbuh di lereng bukit tersebut.

Sementara itu kedatangan orang Im-yang-kauw yang terluka parah itu sungguh-sungguh sangat mengagetkan semua penghuni kuil lainnya.

Orang-orang yang kebetulan berada di pendapa segera berlarian menolong dan mengangkatnya masuk.

Beberapa orang diantara mereka segera berlari ke dalam, melaporkan hal itu kepada Toat-beng-jin dan Tong Ciak Cu-si.

Kedua tokoh Im-yang-kauw yang baru saja selesai mengobati Chin Yang Kun itu bergegas pula mengikuti anak buahnya, setelah lebih dahulu menyuruh salah seorang untuk menunggu Yang Kun.

Dengan berlari lari kecil mereka melintasi halaman tengah lalu meloncat ke pendapa di mana orang yang terluka parah itu dibaringkan.

Salah seorang yang berada di tempat itu segera memberi laporan, bagaimana mereka melihat dan menolong kawan mereka yang terluka itu serta membawanya ke pendapa.

Sayang karena lukanya amat parah, sampai kini orang itu belum bisa memberi keterangan apa apa.

Sambil mengangguk-angguk Toat-beng-jin dan Tong Ciak Cu-si memeriksa luka yang diderita oleh anak buahnya tersebut.

Begitu selesai keduanya tampak saling memandang dengan dahi berkerut.

"Lagi lagi korban pukulan tenaga sakti yang ampuh..."

Tong Ciak Cu-si bergumam.

"Benar... semacam Pek-khong ciang (Pukulan Udara Kosong),"

Toat-beng-jin mengangguk.

"Hanya entah... tokoh sakti mana yang telah berbuat ini?"

Maka begitu orang itu dapat membuka kembali matanya dan dapat diajak berbicara kembali, Toat-beng-jin bergegas menanyakan seluruh persoalannya.

Dan meskipun dengan tersendat-sendat orang itu akhirnya bisa juga menceriterakan semua kejadian yang telah ia alami bersama ketiga kawannya.

"Kurang ajar! Biarlah aku yang pergi ke sana untuk melabrak mereka!"

Tiba-tiba Tong Ciak melesat keluar pendapa dan berlari menuruni bukit.

"Tong-hiante. tunggu...!"

Toat-beng-jin melesat keluar pula.

"...Kita berangkat ke tempat itu bersama-sama...!"

Bagaikan sepasang burung walet yang sedang mandi cahaya matahari pagi, kedua jago Im-yang-kauw tingkat atas itu berkejaran, menuruni lereng dan jurang yang curam dengan ginkang mereka yang hebat.

Mereka sengaja mengambil jalan memintas sekalipun daerah yang mereka lalui sangat terjal dan berbahaya.

Tapi tempat itu telah sepi.

Tak seorangpun yang tampak di sana selain ketiga sosok mayat dari anak buah mereka yang mati itu.

Mereka memang melihat bekas-bekas dari pertempuran tersebut, tapi orangnya sudah tidak tampak lagi di sana.

"Iblis pengecut!"

Tong Ciak Cu-si memaki dengan hati kesal.

"Tong-hiante... sudahlah! Mari kita urus mayat-mayat kawan kita ini dahulu!"

"Sebentar, Lojin-ong...! Belum puas rasanya kalau belum menemukan orang itu!"

Tong Ciak menyahut penasaran, lalu tubuhnya yang pendek itu melesat lagi ke depan dan menghilang di balik rimbunnya daun.

Toat-beng-jin hanya mengawasi saja kepergian kawannya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Tong Ciak Cu-si ini memang bersemangat sekali! Agaknya dia benar-benar merasa penasaran dan marah..."

Sambil menyeret dan mengumpulkan mayat-mayat itu, Toat-beng-jin mengamat-amati bekas-bekas pertempuran di sekitarnya.

Tampak oleh orang tua itu bekas-bekas sepatu yang melesak dalam ke dalam tanah, suatu tanda bahwa lweekang dari orang orang yang bertempur tadi sangatlah tingginya.

Selain itu tampak beberapa bongkah batu karang yang pecah atau terbelah akibat gempuran senjata.

Begitu pula semak-semak dan tanaman yang tumbuh di tempat itu, semuanya rusak, seperti baru saja dilanda angin topan yang maha dahsyat.

"Huh, kurang ajar benar!"

Terdengar suara umpatan. Dan sesaat kemudian bayangan Tong Ciak Cu-si telah berkelebat tiba.

"Ketemu?"

Toat-beng-jin menyapa. Tong Ciak mengepalkan tinjunya kuat kuat, sehingga buku buku tangannya mengeluarkan suara gemeretak.

"Tidak! Pengecut-pengecut itu telah melarikan diri,..!"

Ia menggeram dan menggeleng keras keras.

"Lojin-ong, menurut pendapat Lojin-ong...apakah mereka sungguh-sungguh orang Bing-kauw?"

Toat-beng-jin berdiri tegak.

Matanya yang hampir tertutup oleh alis yang berjurai panjang keputihan itu, menatap ke puncak bukit dengan pandang mata kosong.

Lalu dengan diikuti oleh tarikan napasnya yang berat orang tua itu menjawab pelan.

"Entahlah! Aku tidak bisa menerkanya... Hanya dalam hati aku merasa bahwa kita harus berhati-hati dan tidak boleh gegabah dalam mengurus persoalan ini."

"Lalu... bagaimana kita akan menyelesaikan persoalan yang semakin meruncing ini? Belum juga orang kita yang terbunuh kemarin dimakamkan, sekarang orang... Bing-kauw telah membunuh lagi."

Toat-beng-jin kelihatan resah juga hatinya. Beberapa kali ia mengusap-usap jenggotnya yang panjang.

"Menurut penuturan orang kita yang terluka parah itu, lawan dari Tung-hai Nung-jin adalah seorang yang bertubuh kurus dan berpakaian putih-putih. Sedangkan orang yang melukai dia dan membunuh kawan-kawannya adalah seorang laki-laki tinggi besar berbulu lebat pada lengan dan dadanya. Hmmm... Tong-hiante, pernahkah engkau mendengar atau melihat tokoh Bing-kauw yang berperawakan seperti itu?"

Tong Ciak mengerutkan dahinya untuk mengingat-ingat, tapi rasa-rasanya ia memang belum pernah melihat tokoh Bing-kauw yang mempunyai ciri badan seperti itu.

"Aku belum pernah berkenalan dengan tokoh tokoh Bing-kauw sampai sekarang,"

Jawabnya pelan.

"...Meskipun begitu selama ini rasanya aku belum pernah mendengar seorang tokoh Bing-kauw yang mempunyai ciri demikian. Tapi...?"

"Tapi... apa, Tong-hiante?"

"Tapi siapa tahu orang itu baru saja masuk menjadi anggota Aliran Bing-kauw dan menjadi tokoh baru di sana?"

Toat-beng-jin membanting pandangannya ke tanah. Dengan lesu ia mengangguk-angguk.

"Mungkin juga! Orang aneh seperti Put ceng li Lojin memang sukar diduga maksud dan perbuatannya. Apalagi ia seorang tokoh yang tidak pernah mengindahkan segala peraturan umum..."

"Memang benar."

Tong Ciak mengangguk pula membenarkan.

"Orang tua itu memang selalu melakukan perbuatan yang berlawanan dengan adat-istiadat umum... Berita terakhir yang aku dengar, kakek yang sudah mau masuk ke liang kubur itu kini kawin lagi dengan seorang gadis remaja dan mempunyai seorang anak."

Toat-beng-jin tersenyum geli, sehingga matanya yang sipit itu semakin hilang tersembunyi dalam kerumunan bulu mata dan alisnya yang lebat.

"Kalau aku tak salah umur Put-ceng li Lojin itu sembabat dengan umurku... Tapi kemauan manusia memang tidak sama satu sama lain dan umur bukanlah merupakan ukurannya...!"

Orang tua itu memberi komentar.

"Lojin-ong...! Tong Ciak Cu-si...!"

Dari jauh tiba-tiba terdengar suara anak buah mereka yang ikut pula mengejar ke tempat itu.

"Oh, mereka telah datang! Sungguh kebetulan, biarlah mereka membawa mayat-mayat ini ke kuil..."

Toat-beng-jin berdesah lega. Kemudian mereka berdua segera meninggalkan tempat itu, setelah lebih dahulu menyongsong kedatangan orang-orang tersebut.

"Kami tidak mendapatkan lagi pembunuh-pembunuh itu di tempat ini. Mereka telah pergi melarikan diri. Kami hanya menemukan mayat-mayat kawan kita... Nah, bawalah pulang mayat-mayat itu! Kami akan berangkat lebih dahulu."

Demikianlah, Toat-beng-jin dan Tong Ciak merundingkan persoalan yang menimpa perkumpulan agama mereka bersama-sama.

Apa yang harus mereka lakukan dan mereka tempuh sehubungan dengan musibah yang menimpa kuil cabang mereka di Bukit Delapan Dewa tersebut!

"Tong-hiante!

Baiklah, semuanya ternyata masih sangat gelap bagi kita.

Oleh karena itu kita lebih baik pulang ke Gedung Pusat terlebih dahulu dan mengadakan musyawarah dengan Tai-si-ong dan para Penasehat Agama yang lain..."

Tokoh bertubuh pendek itu tampak kecewa bukan main.

Sebenarnya ia bermaksud untuk secara langsung menemui Put-ceng-li Lojin dan menanyakan tentang persoalan itu kepadanya.

Tapi karena Toat-beng-jin telah memutuskan demikian, ia sebagai orang yang mempunyai kedudukan lebih rendah terpaksa harus menurut.

Dalam Aliran Im-yang-kauw, jabatan Lojin-ong (Ketua Agama Yang Sangat Dihormati) yang kini diduduki oleh Toat-beng-jin, adalah jabatan yang paling tinggi dan paling disegani oleh semua pengikutnya.

Sebab dengan kedudukan itu Toat-beng-jin berhak menghukum siapa saja dari para anggota Im-yang-kauw yang dirasakan bersalah.

Itulah sebabnya mengapa di dunia persilatan Toat-beng-jin dikenali sebagai Algojo dari Aliran im-yang-kauw!

"Lalu bagaimana dengan sepasang remaja yang sedang kita rawat lukanya itu?"

Akhirnya tokoh yang bertubuh pendek itu bertanya kepada Toatbeng jin.

"Yaaahh... oleh karena kita belum selesai secara menyeluruh dalam mengobati mereka, kita terpaksa harus membawanya pula... Bagaimana pendapat Tong-hiante?"

"Ah, saya sih hanya menurut perintah Lojin-ong saja.,."

"Baiklah kalau begitu. Hari ini dan malam nanti kita beristirahat! Besok pagi kita pulang kembali ke Gedung Pusat!"

Toat-beng-jin berkata tegas. '"Dan... mayat-mayat anggota kita itu?"

"Kita pasrahkan saja kepada mereka sendiri untuk mengurusnya."

Mereka berdua lalu pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat.

Mereka bersila dan bersemadi untuk memulihkan kekuatan mereka, agar tenaga mereka menjadi segar kembali.

Ketika matahari telah terbenam dan bulan yang penuh itu menggantikannya di angkasa.

Yang Kun merasa bahwa lukanya telah menjadi ringan.

Perlahan-lahan pemuda itu turun dari pembaringannya.

Dibukanya jendela kamarnya, sehingga sinar bulan yang terang benderang itu menyegarkan isi kamarnya dan melapangkan seluruh urat-urat di dadanya.

"Uuuuuhhh... betapa segarnya! Agaknya lukaku sudah menjadi baik kembali!"

Desaknya lega. Ketika pemuda itu membuka pintu dan bermaksud keluar, seorang penjaga yang berdiri tak jauh dari kamarnya segera menghampiri.

"Saudara Yang. Tong Ciak Cu-si berpesan bahwa kau belum boleh pergi ke mana-mana, sebab luka itu masih harus diobati dua tiga kali lagi..."

Katanya halus.

"Hah, sekarang kau tidak memanggilku dengan Lojin-ong lagi!"

Pemuda itu berkata di dalam hati. Oleh karena itu ia menjawab dengan tersenyum pula.

"Jangan khawatir! Aku tidak akan pergi terlalu jauh dari kamarku. Aku hanya ingin menikmati indahnya sinar bulan yang cemerlang ini... Emm, boleh bukan?"

Penjaga itu ikut tersenyum pula.

"Ah... kelihatannya Yang-sicu ini suka benar pada bulan purnama. Kemarin malam..."

"Hmmm, tentu saja aku menyukai bulan, karena aku dilahirkan persis pada saat bulan sedang bersinar dengan cemerlang."

Yang Kun memotong. Lalu.

"...Dan sejak zaman purba, sinar bulan yang gilang gemilang itu selalu membuat cerita-cerita indah, yang sukar dilupakan... eh, benar... mengapa ketika aku selesai meniup suling kemarin, semua penghuni kuil ini berlutut kepadaku?"

Tiba-tiba pemuda itu membelokkan percakapan itu.

Orang itu tampak berdesah perlahan.

Mukanya yang bersih dan belum terlalu tua itu tengadah ke arah bulan, seakan ingin turut pula menikmati semua keindahan yang dikatakan oleh pemuda yang berada di hadapannya.

"Yang-sicu, kata para leluhur kami, orang terakhir yang bisa menyanyikan lagu itu adalah Kim-mou Sai-ong Sucouw, yang patungnya telah kau lihat kemarin itu. Maka tak heran kalau kami semua berlutut kepadamu ketika engkau dapat menyanyikan lagu itu pula. Seakan-akan engkau memang telah dikirim oleh Sucouw kepada kami untuk mengajarkan nada lagu tersebut."

"Eh... bukankah Tong Ciak Cu-si kalian itu masih cucu murid dari Kim mou Sai-ong? Apakah beliau juga tidak bisa menyanyikan lagu tersebut?"

Jilid 13

"Tidak!"

Penjaga itu menggeleng keras-keras.

"Kim mou Sai-ong Sucouw telah berbuat suatu kesalahan yang menyebabkan beliau diusir oleh gurunya dari kuil Im-yang-kauw. Dan untuk seterusnya Kim mou Sai ong Sucouw tidak boleh mempergunakan atau menurunkan ilmu yang didapatkan dari kuiI kami. Nah, karena Kim-mou Sai ong Sucouw baru menerima murid setelah keluar dari Im yang kauw maka tak seorangpun muridnya yang mendapatkan iImu yang beliau dapatkan dari kuil kami."

"Oh, begitu!"

"Benar! Maka betapa heran dan kagetnya kami ketika Yang sicu dapat... eh Yang sicu, dari mana engkau bisa menyanyikan lagu tersebut? Maksudku, siapakah yang mengajarkannya kepadamu?"

Tiba-tiba orang itu menangkap lengan Yang Kun serta mengguncangnya dengan keras.

Baru setelah pemuda itu meringis, orang itu menjadi sadar bahwa Yang Kun masih sakit dan telah mengguncangnya terlalu keras.

"Oh, maaf!"

Katanya meminta maaf.

"Apanya yang aneh sehingga semua orang menjadi kaget ketika aku menyanyikan lagu tersebut? Bukankah itu hanya lagu biasa, maksudku lagu yang biasa dinyanyikan oleh para gembala dan para penduduk kampung yang jauh dari kota? Nenekku mengatakan demikian ketika mengajarkannya kepadaku..."

Akhirnya Yang Kun berkata.

"Nenekmu?... Ma-maaf, Yang sicu, si-siapakah nenekmu itu...?"

Orang itu menjadi tegang hatinya, sehingga kini berganti Yang Kun yang melongo keheranan melihat kegugupan penjaga tersebut.

Beberapa saat lamanya pemuda itu justru berdiam diri saja.

Pikirannya kembali melayang kepada nenek buyutnya yang telah mati, Lambat laun perasaannya merasakan keanehan itu pula.

Mengapa neneknya dapat pula menyanyikan lagu tersebut?

Adakah neneknya itu kenal pada Kim mou Sai-ong?

Tiba-tiba teringat oleh pemuda itu akan pesan yang diberikan oleh nenek buyutnya sebelum meninggal.

"Saudara..., apakah bukit ini bernama Bukit Delapan Dewa?"

Yang Kun bertanya, tangannya mencengkeram lengan penjaga itu.

"Betul!"

Orang itu menjawab heran.

"Oh! Lalu di manakah dusun Ho-ma-cun itu?"

"Eh, mengapa Yang sicu menanyakan dusun di dekat sungai itu? kau punya kenalan di sana?"

"Ohh!"

Yang Kun semakin tegang hatinya.

"Benar! Kenalkah saudara kepada seorang gembala tampan yang sangat terkenal pada sekitar seratus tahun yang lalu? Namanya adalah Piao Liang!"

"Piao Liang...? Hei! Itu adalah nama dari Kim-mou Sai-ong Sucouw!"

Penjaga itu mengerutkan dahinya.

"Hah? Jadi...?"

Yang Kun tersentak kaget.

Penjaga itu turun ke halaman, lalu melangkah ke halaman samping, sehingga pemandangan di bawah bukit yang indah itu terlihat dengan nyata.

Yang Kun melangkah pula mengikutinya.

"Yang sicu, lihat! Dusun yang berada di paling ujung itulah yang dinamakan dusun Homa-cun. Di sanalah Kim-mou Sai-ong Sucouw dilahirkan dan sekarang di sana pula beliau dimakamkan. ltulah sebabnya patung perunggu itu tidak ditaruh di Gedung Pusat Selain beliau adalah orang yang pernah bersalah terhadap agama, memang patung itu lebih cocok kalau didirikan di dekat tempat kelahirannya."

Yang Kun berdiri diam tak bergerak di tempatnya.

Matanya memandang sayu ke arah dusun Ho ma-cun yang telah ditunjukkan oleh penjaganya itu.

Beberapa buah lampu tampak berkelap-kelip dari rumah penduduk yang belum menutup pintunya.

"Hmm, aku telah mendapatkan tempat tinggal gembala tampan yang dimaksudkan oleh nenek buyut. Selanjutnya aku tinggal membawa abu nenek itu kemari untuk disemayamkan di samping makam kakek Piao Liang..."

Pemuda itu bergumam di dalam hati.

"Yang sicu, apa yang sedang kau pikirkan? Eh, mengapa secara tiba-tiba kau bertanya tentang Sucouw dan dusun kelahirannya? Apa...apakah engkau mempunyai hubungan keluarga dengan Sucouw?"

Penjaga itu bertanya lantang, sehingga mengejutkan Yang Kun dari lamunannya.

"Ah... tidak!"

Pemuda itu menjawab sedikit gugup.

"Seorang kawan wanita dari mendiang Kim-mou Sai-Ong telah titip pesan kepadaku..."

"Seorang kawan wanita dari mendiang Kim mou Sai ong Sucouw...? Apa...?"

Penjaga itu terbelalak tak percaya.

Orang itu menatap Yang Kun dengan mata tak berkedip.

Berkali kali kepalanya menggeleng tak percaya.

Bagaimana mungkin seorang kawan wanita dari mendiang Sucouwnya yang hidup lebih dari seratus tahun yang Ialu bisa bertemu dengan pemuda itu?

Masakan ada seorang manusia yang berusia lebih dari satu setengah abad?

Lalu macam apa pula wujud dari orang itu?

Yang Kun tidak memperdulikan keheranan penjaga itu.

Dengan tenang ia melanjutkan Iamunannya yang terputus tadi.

Matanya memandang ke bawah, ke arah lembah yang bermandikan cahaya bulan.

"Si-siapakah... kawan wanita dari mendiang Sucouw itu? A-apa... pesannya?"

Penjaga itu akhirnya dapat membuka mulutnya. Yang Kun menoleh sekilas. Setelah berdiam diri beberapa saat lamanya, baru ia menjawab pertanyaan tersebut.

"Wanita itu adalah... nenekku! Nah, sekarang saudara tentu tidak akan heran lagi, bukan? Mengapa aku sampai dapat menyanyikan lagu keramat itu?"

Pemuda itu tersenyum.

"Ohh!"

Penjaga itu melangkah mundur.

"Nenek dari Yang sicu..? Lalu... siapakah nama beliau itu?"

"Beliau she Chin dan namanya adalah Hoa!"

Tiba-tiba terdengar suara Tong Ciak Cu-si di belakang mereka.

"...Yang-hiante, benar bukan?" '"Ohh... Tong Ciak Cu-si kiranya...!"

Yang Kun dan penjaga itu menyapa hampir berbareng.

"Marilah! Agaknya Tong Ciak Cu-si juga ingin menikmati segarnya sinar bulan ini..."

"Ah... tidak!"

Tokoh sakti bertubuh pendek itu tersenyum.

"Sebenarnya aku sama sekali tidak tertarik pada suasana malam yang gemerlapan ini, karena pikiranku lagi sibuk memikirkan persoalan-persoalan yang menimpa Im-yang-kauw, tapi percakapan kalian yang telah menyangkut nama kakek guruku itulah yang menarik langkahku kemari...,"

Tokoh itu berhenti sejenak, lalu.

"Eh, Yang-hiante... apakah pesan Chin Hoa Lo-Cianpwe itu kepadamu? Bolehkah aku mengetahuinya juga?"

Yang Kun tampak berpikir sebentar.

Sebenarnya ia agak ragu-ragu untuk mengatakan hal itu kepada orang lain, tapi begitu teringat bahwa tokoh sakti di depannya itu adalah ahli waris langsung dari kakek Piao Liang dan tidak seharusnya dia menyembunyikan persoalan tersebut dari padanya, maka Yang Kun akhirnya mengatakan pula apa isi pesan itu.

"Nah, Tong Lo-Cianpwe... begitulah pesan nenek Chin Hoa itu kepadaku. Oleh karena itu perbolehkanlah pada suatu hari nanti aku menanam abunya di samping makam kakek Piao Liang."

"Ah, Yang-hiante... untunglah dengan masuknya aku kembali ke dalam Im-yang-kauw, maka semua kesalahpahaman dan semua kedukaan yang telah diperbuat oleh mendiang kakek guruku itu telah dibersihkan kembali. Sehingga apabila pada saat ini Yang-hiante ingin melaksanakan pesan tersebut, maka sudah tidak akan ada rintangannya lagi."

Yang Kun menatap Tong Ciak dengan bingung, ia tak begitu bisa menangkap maksud dari perkataan itu.

"Mengapa demikian?"

Tanyanya. Tong Ciak Cu-si tampak berkerut-kerut dahinya.

"Apakah Yang-hiante tidak diberi tahu oleh nenekmu?"

"Tidak!"

Tokoh sakti itu justru terdiam begitu mendengar jawaban pemuda tersebut.

Matanya merenung ke arah wajah bulan yang bulat besar itu, sedang jari-jari tangannya tampak mengelus-elus jenggot pendeknya yang terawat rapi.

"Yang-hiante..., kukatakan tadi bahwa engkau sangat beruntung karena aku telah berada di Im-yang-kauw kembali, karena apabila hal ini terjadi sebelumnya... hm... jangan harap orang-orang Im-yang-kauw akan menyetujui maksudmu itu. Mereka tentu akan merintangi keinginanmu itu habis habisan, sebab... nenek Chin Hoa itulah yang menyebabkan kakek guruku diusir oleh gurunya!"

"Hah?!?"

Pemuda itu terlonjak saking kagetnya.

"Begitulah! Tapi semuanya telah berlalu, tak perlu kita mengungkat-ungkat peristiwa itu lagi! Nah, Yang-hiante... marilah kita masuk ke kamar! Udara tampak semakin dingin, dan hal itu tak baik bagi kesehatanmu. Marilah...!"

Kemudian mereka bertiga masuk kembali ke dalam rumah.

Tak seorangpun di antara mereka bertiga yang tahu kalau sebenarnya mereka sedang diintai oleh sesosok bayangan yang kini masih bertengger di atas bubungan rumah.

Dan begitu semuanya telah hilang di balik pintu, bayangan yang berpakaian hitam hitam itu tampak meloncat turun tanpa menimbulkan suara gemerisik sedikitpun.

"Kukira memang kuil inilah yang dimaksud oleh Put gi ho dan Put-chih-to. Baiklah, aku akan masuk dan menyelidikinya!"

Bayangan hitam itu bergumam.

Tubuh yang kecil ramping itu segera melenting kembali ke depan dengan cepatnya dan di lain saat ia telah berindap indap di halaman samping.

Beberapa kali bayangan itu melongok ke dalam setiap melewati sebuah kamar, agaknya ada sesuatu yang dicarinya.

Tetapi beberapa kali pula kepala yang berbentuk kecil berambut hitam panjang itu selalu menggeleng dan berdesah kecewa.

Ketika sampai di luar ruang tempat menyimpan mayat tiba-tiba bayangan ini bergegas menyelinap ke dalam semak lebat yang tumbuh di bawah jendela.

Selain di dalam kamar banyak orang, dari arah belakangpun terdengar suara percakapan orang yang sedang menuju ke tempat itu pula.

Bayangan itu menjadi berdebar-debar begitu melihat siapa yang datang.

Otomatis ia menahan napas dan mengerahkan ginkangnya agar tidak mengeluarkan suara atau gerakan yang mencurigakan, karena yang datang ternyata adalah orang bertubuh pendek yang tadi telah ia lihat ketika memasuki halaman kuil ini.

Di samping orang pendek itu tampak melangkah dengan tenang seorang kakek tua berjenggot putih panjang sampai ke dada.

"Lojin-ong, mengapa baru sekarang Lojin-ong, mengatakan hal itu kepadaku? Mengapa tidak kemarin malam begitu siauwte tiba dari Gedung Pusat? Bukankah siauwte bisa menangkap gadis kejam itu untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya yang mencuri mutiara ya Bengcu dan membunuh Mo-tung Li Bin dan kawan-kawan? Kini gadis itu telah lolos dari tangan kita, bagaimana kita harus mencarinya lagi?"

Orang bertubuh pendek itu terdengar berkata dengan penuh penasaran.

Orang tua yang tidak lain adalah Toat-beng-jin itu berhenti melangkah.

Dengan wajah berseri seri ia memandang temannya yang sedang marah dan penasaran.

Jari-jarinya mengelus jenggotnya.

Mereka hanya beberapa langkah saja dari tempat di mana bayangan hitam tadi bersembunyi.

"Tong-hiante... sungguh beruntung sekali lm-yang-kauw mempunyai anggota yang sangat bersemangat seperti engkau."

Kata orang tua itu pelan.

"Tapi entah mengapa dalam hal yang menyangkut diri gadis itu, aku seperti mempunyai suatu perasaan yang aneh, sehingga aku takut menceritakan kepada Tong-hiante kemarin... aku takut Tong-hiante akan mentertawakan diriku! Seperti juga apa yang kurasakan pada saat ini. Saat ini aku merasa seperti dimata-matai oleh seseorang, sehingga rasanya hatiku ini menjadi khawatir dan was-was..."

"Ah, Lojin-ong ini terlalu mengada-ada saja, haha...Siapa orangnya yang berani memata-matai Toat-beng-jin? Hahaha... perasaan Lojin-ong yang telah dipengaruhi oleh Lin cui sui hoat sungguh tidak bisa membuat hati tenteram saja!"

"Nah, apa kataku! Tong-hiante tentu tidak akan percaya dan akan mentertawakan katakataku!"

Orang tua itu menghela napas sambil melangkah kembali.

"Padahal perasaanku benar-benar mengatakan demikian! Ada seseorang yang sedang mengintai kita. Tapi aku tak tahu, siapakah dia dan di mana ia berada...!"

Bayangan hitam yang bersembunyi di bawah jendela menjadi gemetar begitu tahu siapa sebenarnya orang yang baru saja lewat di depannya itu.

Gila, orang tua itu benar benar berilmu iblis, umpatnya di dalam hati.

"Sudahlah, Lojin-ong... Kalau memang apa yang dirasakan oleh Lojin-ong itu benar, kita juga tidak takut. Nah, kita telah sampai di ruangan samping. Silahkan Lojin-ong masuk!"

Bayangan hitam di bawah jendela itu mengawasi terus kedua orang yang masuk ke ruang mayat itu, lalu perlahan-lahan dan hati-hati sekali bayangan itu melongok pula ke dalam melalui lobang kecil yang berada di jendela.

"Hei! Mengapa ada empat mayat di sana?"

Bayangan itu melongok lebih dekat lagi, sehingga sinar lampu dari dalam sempat menerangi wajahnya yang cantik bagai bulan purnama.

"Tetapi mengapa Put gi-ho dan Put-chih-to mengatakan hanya melukai seorang saja? Lalu mayat-mayat siapakah yang lain itu?"

Gumamnya dalam hati. Belasan orang yang berada di dalam ruangan itu segera berdiri dan menjura begitu kedua tokoh pimpinan Im-yang-kauw pusat tersebut memasuki ruangan.

""Lojin-ong!"

"Tong Ciak Cu-si!"

Kedua orang itu segera mengambil tempat duduk di antara mereka, sementara Toat-beng-jin cepat mengedarkan pandangannya di antara orang orang yang sedang berada di tempat tersebut.

"Dimanakah saudara Ciong Hu Ki...?"

Orang tua itu bertanya. Seorang laki-laki setengah baya tampak melangkah maju dan menjura kepada dua orang itu.

"Lojin-ong memerlukan saya?"

Sahutnya lantang.

"Begini, Ciong-sicu... Ternyata perkembangan dari peristiwa ini menjadi sedemikian cepatnya, sehingga urusan yang semula akan saya atasi sendiri dengan Tong Ciak Cu-si, kini tak berani lagi kami putuskan sendiri. Kami besok pagi akan pulang kembali ke Gedung Pusat untuk merundingkan musibah ini dengan Para Penasehat dan Tai-si-ong."

Orang tua itu berhenti sejenak.

"Kalau semula peristiwa ini hanya diawali karena kesalahpahaman, kecil yang mengakibatkan kematian pimpinan kuil di sini, sekarang suasana agaknya telah berubah menjadi lain. Kelihatannya ada pihak lain yang memanfaatkan keadaan ini demi kepentingan golongan mereka. Tegasnya,ada suatu pihak yang mengail di air keruh...!"

"Mengail di air keruh? Apa maksud Lojin-ong? Bukankah semuanya telah jelas bahwa orang-orang Bing-kauw telah mengumumkan perang dengan kaum kita? Kemarin mereka telah membunuh pimpinan kuil di sini dan sekarang belum juga urusan itu kita selesaikan mereka telah membunuh tiga orang kita lagi. Nah, bukankah itu sudah jelas? Apa yang mesti kita rundingkan lagi? Hancurkan saja mereka! Tunggu apa lagi?"

Wakil pimpinan kuil yang bernama Ciong Hu Ki itu memotong ucapan Toat-beng-jin dengan berapi api. Toat-beng-jin mengangkat tangannya ke atas sambil tersenyum kecut.

"Ciong sicu, sabarlah...! Aku tahu perasaan kalian, tapi berilah kami waktu untuk mengurusnya lebih dahulu. Masih banyak waktu bagi kita untuk menggilas mereka kalau dalam penyelidikan kami nanti mereka memang benar-benar bersalah."

"Ada tiga orang lagi yang terbunuh?"

Gadis yang bersembunyi di bawah jendela itu berdesah perlahan.

"Ah apakah Put gi-ho dan Put-chih-to telah bentrok lagi dengan mereka, sehingga korban telah bertambah pula lagi? Ahh, rasanya... tak mungkin! Aku baru saja berjumpa dengan Put-gi-ho dan Put-chih-to kemarin sore."

Dengan hati-hati gadis cantik itu melangkah mundur dan pergi meninggalkan tempat persembunyiannya.

Melalui tempat tempat yang gelap ia bergeser ke depan, ke arah pendapa!

Dan di bagian pojok pendapa yang gelap yang tidak terjangkau oleh Iampu dan yang terlindung dari sorot sinar rembulan, gadis ini menjejakkan kakinya ke tanah.

Tubuhnya yang kecil ramping itu melambung tinggi ke udara dan di lain saat telah hinggap di atas genting pendapa yang terlindung oleh rimbunnya daun cemara.

Gadis itu membuka sebuah genting dan mengintai ke dalam.

Beberapa orang kelihatan sedang duduk-duduk santai sambil berbincang bincang.

"Orang Bing-kauw yang membunuh tiga orang teman kita tentu seorang tokoh Bing-kauw yang berkedudukan tinggi. Orang itu mampu mengalahkan Tung-hai Nung-jin. Padahal kita sudah menyaksikan sendiri kesaktian bajak laut dari Lautan Timur itu ketika melawan Tong Ciak Cu-si. Kepandaiannya hanya sedikit di bawah Tong Ciak Cu-si kita! Maka paling tidak orang Bing-kauw tersebut tentu pembantu pembantu utama dari Put-ceng-li Lojin sendiri..."

Salah seorang dari orang yang duduk di pendapa itu membuka mulutnya.

"Katanya kedua orang itu mudah sekali dikenal. Yang satu berperawakan kurus tinggi berpakaian sutera putih, sedang yang lain berperawakan tinggi besar dengan bulu-bulu yang tumbuh lebat pada lengan dan mukanya. Nah, adakah salah seorang dari kalian yang pernah melihat atau mengenalnya?"

Temannya ikut pula mengambil suara. Terdengar suara menggeremeng yang tak jelas di antara mereka.

"Tinggi kurus dan gemuk besar...?"

Gadis yang berada di bawah jendela itu bergumam sendirian.

"Kelihatannya memang seperti Put-gi-ho dan Put-chih-to. Tapi... Put gi-ho tak pernah mengenakan baju putih, apalagi yang dari kain sutera mahal. Dan Put-chih-to itu biarpun gemuk tapi tidak dapat dikatakan tinggi besar. Kurang ajar! Agaknya memang ada orang yang ingin mengail di air keruh. Tapi... siapa? Apakah orang orang dari Aliran Mo-kauw lagi?"

Gadis itu berpikir dengan keras.

Seperti telah diceriterakan di bagian depan bahwa antara ketiga aliran kepercayaan yaitu lm-yang kauw, Bing-kauw dan Mo-kauw sering terjadi perselisihan dan persengketaan yang kadang kadang juga disertai dengan perkelahian dan pertempuran di antara para anggotanya.

Terutama antara penganut Bing-kauw dan Mo-kauw!

"Hmm, aku harus lekas lekas pulang dan melaporkan hal ini kepada suhu.

Suhu harus segera bersiap-siap apabila orang orang Im-yang-kauw ini benar benar akan mendatangi Rumah Suci (Pusat Aliran Bing-kauw)."

Gadis cantik itu bergumam lalu perlahan sambil melangkah mundur dan melayang turun dari atas genting.

Gadis itu menyelinap di balik pohon cemara dan bersiap siap untuk meninggalkan tempat itu ketika tiba-tiba pintu halaman kuil tersebut diketuk orang dari luar.

Lalu belasan orang yang tadi duduk-duduk di dalam pendapa tampak bergegas keluar diikuti pula oleh orang-orang yang berada di luar pendapa, sehingga otomatis gadis cantik itu tidak berani keluar melalui halaman depan.

Oleh karena itu dengan mengendap-endap gadis itu menyusup kembali ke belakang kuil melalui jalan yang dilaluinya tadi.

Di ruangan yang dipakai untuk menyimpan mayat tadi masih kelihatan banyak orang, cuma dua orang tokoh Im-yang-kauw pusat saja yang kini sudah tidak kelihatan di antara mereka.

Tanpa mengurangi kewaspadaan gadis itu melesat menyeberangi tanaman rumput yang memisahkan ujung bangunan samping dan bangunan belakang, lalu dengan gesit tubuhnya melambung kembali ke atas genting yang gelap.

Tapi belum juga kakinya dapat berdiri tegak, dari bayang bayang daun yang menjorok di atas genting terdengar desah suara wanita yang menyapa kedatangannya.

"Nona mencari siapa...?"

Gadis cantik berbaju hitam itu menoleh dengan cepat.

Dan hatinya menjadi tegang ketika melihat seorang gadis yang cantik sekali melangkah keluar dari bayang-bayang daun.

Sinar bulan yang terang benderang itu menerangi tubuhnya yang tinggi semampai.

Matanya yang redup tapi berkilat tajam itu menatap dalam-dalam kepadanya, membuat hati menjadi bergetar juga rasanya.

"Nona siapa?"

Gadis berbaju hitam itu bertanya kaget, apalagi serentak dilihatnya lengan kanan gadis yang berada di depannya tersebut buntung.

Agaknya gadis buntung itu telah terbiasa melihat kekagetan setiap orang yang mengetahui cacatnya.

Oleh karena itu sedikitpun ia tidak menjadi tersinggung apalagi menjadi marah.

"Maaf, akulah yang bertempat tinggal di tempat ini, maka sudah sewajarnyalah jika aku pula yang bertanya terlebih dahulu kepada nona""

Gadis buntung itu menjawab tenang.

Tak enak juga rasanya bagi gadis berbaju hitam itu menghadapi ketenangan lawannya.

Tapi untuk berterus terang mengatakan siapa dirinya, rasanya juga kurang pada tempatnya pula.

Suasana kuil pada saat itu sedang dilanda permusuhan terhadap Bing-kauw, apalah jadinya nanti apabila dia murid Put-ceng-li Lojin dari Bing-kauw?

Maka seolah-olah tidak mendengar pertanyaan itu, ia menjura dengan tergesa, kemudian meloncat ke bawah kembali dengan cepat.

"Maaf, aku sangat terburu-buru! Biarkanlah aku pergi...!"

Serunya perlahan.

"Eeit! Nanti dulu...!"

Gadis bertangan buntung itu mencegah.

Lengan kanannya yang masih utuh itu tampak melayang ke depan dengan cepat, meraih ujung pakaian gadis berbaju hitam yang mencurigakan tersebut.

Tapi dengan gerakan yang sangat aneh gadis berbaju hitam itu mengelak.

Tubuhnya yang ramping itu melejit lebih cepat ke depan seperti kuda yang dilecut pada punggungnya, begitu tangan Iawannya hampir mencapai ujung bajunya!

Padahal gerakan tersebut dia lakukan ketika tubuhnya masih melayang di udara, jadi tak ada sesuatu benda atau barangpun yang bisa dipakai sebagai landasan kakinya.

Sekejap gadis buntung itu menjadi termangu oleh kehebatan lawannya, sehingga ia sedikit terlambat ketika menyadari bahwa lawannya telah menginjakkan kakinya di atas tanah.

Terburu-buru ia mengejar.

Tapi belum juga ia meloncat turun dari atas genting, dari bawah tiba-tiba meluncur belasan jarum-jarum kecil yang mengarah kepada dirinya.

Terpaksa gadis itu mengurungkan niatnya untuk mengejar.

Lebih dahulu ia mengelak dan mengebut serangan jarum itu dengan saputangannya yang lebar.

Baru setelah jarum jarum tersebut dapat ia runtuhkan semuanya, ia melayang turun dari atas genting.

Tapi bayangan gadis yang mahir berloncatan di udara itu telah lenyap.

Di bawah ia justru menjumpai Toat-beng-jin dan Tong Ciak Cu-si.

"Oh, nona Souw! Engkau belum tidur juga?"

Dengan terkejut orang tua itu menegur. Lalu dengan dahi berkerut ia melanjutkan.

"Apakah yang terjadi? Bukankah kesehatan nona belum pulih kembali?"

"Maafkan siauwte, Lo-Cianpwe...! Bukannya siauwte mau melalaikan nasehat Lo-Cianpwe, tapi aku menjadi tidak enak hati ketika mataku secara tak sengaja melihat berkelebatnya seorang asing di halaman samping dari kuil ini. Maka aku lantas menyongsongnya! Tak kusangka orang itu lihai sekali, sehingga siauwte kehilangan jejaknya."

Souw Lian Cu menerangkan.

"Hah?!?"

Toat-beng-jin terperanjat, kemudian menoleh kepada Tong Ciak yang berada di sampingnya.

"Tong-hiante, bagaimana...? Perasaanku benar, bukan? Ada seseorang yang datang ke kuil ini mengintai kita!"

Tong Ciak mengangguk-angguk.

"Nona Souw... lalu ke mana larinya orang itu?"

Tanyanya kemudian.

"Dia meloncat turun dari atas genting ketika kukejar, tapi ternyata aku tidak bisa menemukannya kembali..."

"Hmm, kalau begitu..., marilah kita berpencar mencarinya!"

Toat-beng-jin berkata.

"Marilah! Tapi kuharap nona Souw lebih berhati-hati bila mendapatkannya, kesehatan nona belum mengijinkan bila dipakai untuk bertempur mati-matian."

Tong Ciak menyahut.

"Baiklah, terima kasih!"

Mereka lantas berpencar.

Dan agar supaya keadaan tidak menjadi ribut dan gaduh, sehingga akan lebih menyukarkan pencarian mereka, maka mereka menyusup kesana kemari tanpa menimbulkan kecurigaan penghuni kuil lainnya.

Tapi meskipun sudah berusaha dengan keras, gadis berbaju hitam yang dipergoki oleh Souw Lian Cu tadi ternyata tidak mereka ketemukan.

Gadis itu seperti lenyap ditelan bumi.

Ketika mereka melayangkan pandangan mereka ke sekitar kuil, mereka juga tidak melihat sebuah bayanganpun yang melintasi tanah berumput di sana.

"Gila! Ke manakah orang itu? Tak mungkin rasanya..."

"Lojin-ong! Tong Ciak Cu-si! Di depan kuil ada tamu dari Mo-kauw yang ingin bertemu..."

Tiba-tiba dari arah pendapa terdengar suara orang mencari mereka.

"Huh! Ada apa pula dengan orang Mo-kauw itu malam malam kemari?"

Tong Ciak yang sedang penasaran itu menggeram.

"Aku benar-benar bisa membunuh orang hari ini...!"

"Tong-hiante! kau bersabarlah! kau jangan terpancing oleh situasi yang belum jelas seperti ini! Salah salah kau bisa menyesal nanti!"

Toat-beng-jin memperingatkan rekannya yang agak pemarah itu.

Tong Ciak menatap orang tua yang berada di sampingnya itu, dan begitu dilihatnya orang tua tersebut berbicara dengan serius dan juga balas memandang pada dirinya dengan tajam berwibawa, maka hatinya bagai tersentuh dengan tiba-tiba.

Ah, benar juga, ia berpikir di dalam hati.

Orang tua ini mempunyai mata batin yang sangat tajam, siapa tahu dia memang telah mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang peristiwa ini.

Maka dengan menghela napas berat tokoh bertubuh pendek itu mengangguk.

"Maafkan aku, Lojin-ong! Aku memang terlalu mudah marah..."

"Tidak apa, Tong-hiante. kau memang masih muda, itu sudah biasa dan wajar. Nah, marilah kita ke depan untuk menemui mereka! Marilah, nona Souw! kau pun boleh ikut bersama kami, siapa tahu orang itu Pek-i Liong-ong yang melukai dirimu?"

"Terima kasih, Lo-Cianpwe."

Gadis itu menjawab dengan bersemangat. Ketiga orang itu lalu berlari ke depan, sehingga tempat itu menjadi sepi kembali.

"Mereka sudah pergi ke depan. Biarlah aku pergi pula meloloskan diri melalui pintu belakang. Terima kasih atas bantuanmu!"

Tiba-tiba terdengar suara lirih dari kamar Chin Yang Kun.

Suara gadis berbaju hitam tadi!

Dan beberapa saat kemudian pintu kamar Chin Yang Kun tampak terkuak sedikit, dan di lain saat dari dalam kamar tampak sesosok bayangan hitam melesat keluar dengan cepat sekali.

Bayangan itu dengan gesit menerobos semak-semak yang tumbuh di halaman belakang dan sebentar kemudian telah terlihat melompat tembok pagar.

Lalu hilang di dalam keremangan malam.

Bagaimana gadis itu sampai berada di kamar Chin Yang Kun?

Apakah gadis yang lihai dan cerdik itu telah memanfaatkan keadaan Yang Kun yang belum segar benar itu untuk menyembunyikan diri dari kejaran tokoh-tokoh sakti itu?

Setelah melepaskan jarum-jarumnya yang lihai untuk menahan kejaran Souw Lian Cu, gadis itu menyelinap melalui lorong yang berada di muka kamar Chin Yang Kun.

Tak terduga dari halaman samping muncul Toat-beng-jin dan Tong Ciak, agaknya juga bermaksud ke ruangan belakang, sehingga langkah gadis itu menjadi terhenti.

Untung mereka belum melihatnya.

Oleh karena tak ada tempat yang baik untuk berlindung di sekitarnya, maka dengan nekad gadis itu membuka pintu kamar yang berada di sampingnya, dan cepat ia menerobos masuk!

Ternyata kamar tersebut adalah kamar Chin Yang Kun!

Dan pemuda yang baru saja memasuki kamarnya itu masih tampak duduk di tepi pembaringannya.

Melamun.

Tentu saja kedatangan gadis asing sangat mengagetkannya.

Apalagi ketika dengan tergesa-gesa gadis itu menaruh jari telunjuknya yang runcing itu di muka mulutnya.

"Ssst!"

Lalu selagi Yang Kun masih juga terlongong-longong oleh kejadian yang mendadak tersebut, gadis itu telah meloncat ke atas pembaringannya, kemudian dengan kasar menyentakkan lengannya, sehingga tanpa dapat ditahan lagi tubuh Yang Kun terlentang di atas kasur.

Selanjutnya, sebelum Yang Kun tersadar juga dari keterkejutannya yang membingungkan itu, si gadis telah memeluk dan menyelimuti tubuh mereka berdua dengan selimut yang tersedia.

Hanya bedanya, gadis itu menyelimuti seluruh badannya, sementara Yang Kun masih kelihatan kepalanya.

"Jangan kurang ajar dan berpikir yang bukan-bukan, apalagi mempunyai pikiran kotor! Awas, pisauku telah menempel di ulu hatimu! Sekali engkau bergerak yang mencurigakan nyawamu akan melayang!"

Bibir merah yang bersuara merdu itu berbisik di telinganya.

Sebenarnya pemuda itu agak merasa tersinggung, apalagi ketika pisau yang ditekan pada ulu hatinya itu terasa menggores kulitnya.

Hampir saja, dia bergerak untuk melawan!

Tapi niat itu segera batal ketika dilihatnya wajah yang hampir menyentuh ujung hidungnya itu memandang kepadanya dengan muka polos.

Sekilas pemuda itu seperti menatap bulan purnama yang sedang memancarkan sinarnya yang gilang-gemilang, sehingga untuk sejenak dia menjadi terpesona dan terhanyut oleh tatapan mata yang indah berpendar-pendar itu.

Apalagi ketika tubuh yang lembut dan hangat itu terasa menempel ketat di badannya.

Seperti terkena oleh aliran magnit yang sangat kuat, tubuhnya menjadi gemetar dan darahnya terasa semakin cepat mengalir di dalam urat-uratnya.

Otomatis tangannya bergerak ke depan dan mengelus pinggul yang membusung di sampingnya.

"Plaak!"

Tiba-tiba telapak tangan gadis itu menampar pipi Yang Kun.

"Kurang ajar! Engkau mau apa? Lepaskan tanganmu!"

Gadis itu berbisik marah.

"Aku... aku..."

Pemuda itu tergagap kaget dan sadar dari keadaannya penuh gairah tadi, lalu.

"Gila! kau juga cantik sekali, sih...!"

Gumamnya mendongkol sambil mengusap pipinya yang kemerah-merahan. Kemudian dengan gusar ia bangkit dari tempat tidurnya.

"Berhenti!"

Gadis itu menarik lengan Yang Kun, sehingga yang belakangan ini terjatuh kembali di atas pembaringan.

"Apa maumu sebenarnya?"

Yang Kun menjadi marah juga akhirnya. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menuju kamar mereka.

"Diam! Ada orang datang! Tetaplah engkau berbaring di sini! Kalau nanti ada orang masuk dan bertanya kepadamu, katakanlah bahwa engkau tidak melihat apapun di sini. Awas! kau ingatlah baik baik! Jangan berbuat sesuatu yang mencurigakan! Nah...!"

Gadis itu menghardik seraya menyelimuti dirinya kembali seperti tadi. Pisaunya menempel pula di ulu hati Yang Kun.

"Tok! Tok! Tok!"

"Siapa...?"

Yang Kun segera menyapa ketika pisau tersebut menekan dadanya.

Pintu itu segera dibuka dari luar.

Gadis cantik bertangan buntung itu tampak berdiri di muka pintu, sehingga Yang Kun yang tidak menduganya benar-benar menjadi terkejut sekali!

Coba kalau gadis yang berada di bawah selimutnya itu tidak mencengkeram lengannya, ia pasti sudah melompat menyongsongnya.

"Nona Souw... apa... apa maksudmu kemari?"

Ia bertanya dengan gugup.

"Huh!"

Souw Lian Cu melengos, agaknya ganjalan hatinya terhadap Yang Kun tak pernah bisa hilang dari benaknya.

"Apakah kau melihat seorang gadis berpakaian hitam-hitam masuk ke mari?"

Hening sejenak.

Yang Kun tidak mampu menjawab pertanyaan tersebut.

Kedatangan gadis buntung yang sangat menarik hatinya itu memang tidak terduga sama sekali olehnya, apa lagi dalam keadaan kikuk seperti itu.

Oleh karena itu tidak heran bila jawaban-jawaban yang telah dipersiapkan tadi menjadi hilang lenyap dari otaknya.

Beberapa saat lamanya Yang Kun hanya melotot tertegun mengawasi Souw Lian Cu.

Hatinya menjadi bingung, apa yang mesti diperbuatnya.

Menunjukkan gadis yang berada di bawah selimutnya itu apa tidak!

Sesaat terbesit pikirannya untuk menghukum gadis.

"kurang ajar"

Yang kini sedang memeluk dirinya itu.

Tapi di lain pikiran lalu berkelebat untuk melarangnya, bukankah hal itu akan berarti membuat gadis buntung tersebut menjadi semakin benci padanya?

Bagaimana tanggapan gadis itu apabila melihat dirinya berpeluk-pelukan dengan seorang gadis di atas tempat tidur?

Bukankah gadis itu akan benar-benar mencap dirinya sebagai seorang laki-laki yang suka tidur dengan wanita yang bukan isterinya?

Tapi kesempatan untuk membalas dendam atas perlakuan gadis kurang ajar ini tak boleh disia-siakan.

Maka ketika Souw Lian Cu membentak lagi karena ia tidak segera menjawab pertanyaannya, Yang Kun berlagak kaget.

Dengan tenang pemuda itu bangkit perlahan-lahan, lalu duduk di atas pembaringannya, sehingga otomatis gadis yang berada di dalam selimutnya terpaksa ikut-ikutan bergeser mengikutinya.

Tubuh indah itu meringkuk seperti udang di belakang pantatnya.

Dan ketika secara sambil lalu pemuda itu melirik, tampak paha dan pinggul si gadis binal tersebut menjulang tinggi di sampingnya.

Dan meskipun tertutup oleh selimut yang rapat, tapi pemandangan itu sungguh amat mempesonakannya.

Gila, pemuda itu mengumpat dalam hati, gadis ini memang benar benar hebat!

"Gadis berbaju hitam...?

Sebentar...akan kuingat-ingat dahulu..."

Pemuda itu berlagak dengan memegangi kepalanya, sehingga gadis dalam selimut itu menjadi mendongkol bukan main.

"Kurang ajar! Apa maumu...?"

Gadis itu menggeram perlahan.

"Kubunuh engkau nanti!"

"Kau bilang apa? Katakan yang jelas! Jangan pringas pringis!"

Souw Lian Cu melotot.

"Kumaksudkan... aku seperti mendengar langkahnya... dan sekilas aku juga seperti melihat bayangannya."

Yang Kun segera menyahut.

Tangannya dengan tenang mengelus-elus bukit dan lereng yang tersembul di sampingnya, seolah-olah mengelus-elus pinggul dan pahanya sendiri.

Entahlah, mendadak saja timbul niatnya untuk menggoda gadis itu.

Dapat dibayangkan bagaimana perasaan gadis yang melingkar dalam pengapnya selimut itu.

Rasa kesal, gemas, mengkal dan mungkin banyak perasaan yang lain lagi.

Apalagi ketika dirasakannya tangan pemuda itu mulai menggerayangi paha, pinggul tanpa ia dapat berbuat apa-apa untuk mengelakkannya.

"Sungguh? Lalu kemana bayangan itu berkelebat pergi?"

Souw Lian Cu menegaskan. Sedikitpun gadis ini tidak sadar kalau sedang dipermainkan oleh Yang Kun.

"Ehmmm... berkelebat ke arah belakang"

Yang Kun menjawab sekenanya.

"Bagus! Terima kasih!"

Gadis cantik bertangan buntung itu berseru sambil menutup pintu kembali dan berkelebat lenyap ke halaman belakang.

"Plak! Plak! Plok!"

Yang Kun menerima tiga kali tamparan lagi begitu Souw Lian Cu telah lenyap dari depan pintu.

"Bandot tua berotak cabul! Berani benar kau mempergunakan kesempatan untuk meraba-raba pinggul dan pahaku, yaa...,? Berani benar kau...?"

"Eh! Gadis buntung itu datang kembali...!"

Yang Kun berpura-pura menoleh ke arah pintu dengan kaget, sehingga tanpa berpikir panjang lagi gadis binal itu menyusup kembali ke dalam selimutnya.

Tapi setelah sekian lama dinanti, tak seorang yang muncul di depan kamar, apalagi ketika diintipnya pemuda itu tampak tersenyum-senyum sendirian, yakinlah gadis itu bahwa sekali lagi ia telah dipermainkan orang.

"Plak! Plak!"

Lagi lagi Yang Kun memperoleh hadiah tamparan. Cuma kali ini tidak di atas pipi, tapi diatas dada dan bahunya.

"Pemuda cabul! Pemuda kurang ajar! Pemuda tidak tahu aturan! Tidak sopan...!"

Gadis itu mencecar dengan umpatan dan makiannya.

Yang Kun mengelak, lalu meloncat turun dari tempat tidurnya.

Bisa hancur badannya kalau dia tidak lekas-lekas menghentikan ulah gadis yang tidak tahu aturan itu.

"Berhenti! Enak saja kau menyakiti tubuhku. Lihat! Siapa yang kurang ajar? Siapa yang tidak tahu aturan? Siapa yang tidak sopan?"

Yang Kun berdesis marah.

"...Kau atau aku?"

Ternyata gadis itu tidak kalah gertak.

Dengan ringan tubuhnya yang indah itu mencelat ke hadapan Yang Kun.

Lalu sambil bertolak pinggang telunjuk jari tangan kanannya menuding-nuding muka pemuda dihadapannya.

Bibirnya yang mungil lancip itu berkicau tak henti-hentinya, sehingga Yang Kun yang sedianya mau marah itu justru tidak kebagian tempat malah!

"Kurang ajar!

Apa katamu?

kau bilang aku tidak tahu aturan?

kau bilang aku tidak sopan santun?

Begitu?

Wah, jaga mulutmu!

Jangan kau biarkan dia mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hatiku!

Salah-salah aku bisa sungguh sungguh membunuh kamu nanti..."

"Hei, gadis tak..."

"Hah?!? Masih mau membantah? Apakah ingin kutampar lagi mukamu yang jelek itu? Atau kupatahkan dulu lehermu sehingga kau tidak dapat berkutik pula? Atau...?"

"Kurang ajar! Gadis gi..."

"Apa? kau masih saja memaki aku kurang ajar? Kapan aku kurang ajar terhadap nenek moyangmu? Bukankah kau yang kurang ajar mengelus-elus pahaku? Kini mulutmu yang berbau jengkol itu malah menuduhku yang bukan-bukan. Minta ditampar lagi, yaaa..."

"Gadis tak tahu aturan...!"

"Tak tahu aturan... hidungmu!! kau lah yang tidak tahu aturan sama sekali! Ada seorang wanita mendapat kesukaran, kau justru malah menggoda dan menghinanya! Aturan mana itu?"

"Kau...?"

"Seharusnya kau sebagai laki-laki justru harus menolongnya, tidak mengambil kesempatan untuk menggerayangi malah... Huh! Laki-laki apa itu? Enak yaa... Pegang-pegang tubuh orang?"

"Aku..."

Yang Kun termangu-mangu seperti orang bisu.

"Apa lagi? Masih penasaran? Kurang ajar! Seharusnya akulah yang masih penasaran atas kekurangajaranmu... enak saja mengelus pinggul orang!"

"Bukankah... bukankah kau sendiri yang memulai...?"

"Bandot tua bermulut lancang! kau malah menuduhku yang memulainya? Engkau menuduh aku yang mulai merayumu? Engkau... menuduh aku menggerayangi lebih dulu tubuhmu yang berkeringat menjijikkan itu? Huh, pemuda yang tak mengenal sopan santun! Pemuda yang tak tahu diri...!"

Dapat dibayangkan betapa mendongkolnya pemuda itu.

"Diam! Awas, kalau engkau tidak diam, aku akan berteriak keras-keras sehingga semua orang akan datang ke tempat ini!"

Akhirnya Yang Kun memuntahkan kekesalannya. Benar juga! Gadis yang menggemaskan itu segera menghentikan kicauannya dengan rasa gusar. Ancaman tersebut benar-benar merisaukannya.

"Baiklah... baiklah! aku akan pergi dari sini. Terima kasih atas bantuanmu."

Gadis itu beranjak dari tempatnya, lalu keluar meloloskan diri dari tempat tersebut. Yang Kun menghempaskan dirinya ke tempat tidur kembali. Kali ini benar-benar merasa mendongkol bukan main hatinya.

"Gadis cantik tapi tak punya aturan sama sekali...!"

Geramnya agak keras. Tapi bukan main terperanjatnya dia ketika dari jauh terdengar suara lapat-lapat jawaban gadis itu dalam ilmu mengirim suara dari tempat jauh (coan-im jib-bit).

"Memangnya kau tahu siapa aku? Aku adalah murid dari seorang tua yang tak pernah memperdulikan segala macam aturan di dunia ini. Orang kang-ouw menyebut diriku Put-sia Niocu (Perawan Yang Tak Tahu Adat)...!"

"Ooh... lagi-lagi orang dari aliran Bing-kauw!"

Yang Kun menghela napas.

Demikianlah malam semakin larut dan pemuda itu segera merebahkan diri pula di atas tempat tidurnya.

Beberapa saat lamanya ia masih membayangkan bahwa baru saja tadi disampingnya tergolek gadis cantik yang memeluk dirinya dengan ketat.

Kasur serta selimut yang dipakainya masih terasa hangat.

"Orang orang dari kalangan persilatan memang aneh aneh..."

Pemuda itu membatin.

"Gadis itu demikian cantiknya... tapi karena menjadi murid Put-ceng-li Lojin, wataknya menjadi aneh dan tidak mengenal sopan santun dan adat-istiadat umum. Hmm, enak saja masuk ke kamar orang. Naik ke tempat tidur dan memeluk laki-laki penghuninya malah...!! aturan dari mana itu?"

Pemuda itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

Apalagi ketika teringat bagaimana gadis itu tidak mau mengakui atau menyadari kesalahannya, tapi sebaliknya malah menjadi marah dan menyalahkan orang lain.

Sungguh amat sayang sekali!

Sementara Yang Kun sibuk dengan pikirannya ternyata di pendapa depan kuil itu telah terjadi sesuatu pula yang tak kalah tegangnya.

Tamu yang datang ternyata adalah tokoh-tokoh pimpinan Aliran Mo-kauw sendiri.

Mereka terdiri dari orang tua berseragam hitam-hitam ringkas, tapi di luarnya mereka menggunakan jubah hitam pula yang sangat tebal dan lebar.

Di belakang kedua orang itu mengiringkan seorang laki-laki berusia setengah baya, dengan seragam ringkas berwarna coklat-coklat serta menutup pula dengan jubah lebar berwarna coklat tua.

Sementara di belakangnya lagi berdiri tiga orang berseragam biru-biru, berjubah biru dan usianya juga lebih muda lagi.

Mereka berenam tampak terperanjat sekali ketika Toat-beng-jin dan Tong Ciak Cu-si keluar menemui mereka.

"Oh, Toat-beng-jin dan Tong Ciak Cu-si ada disini kiranya..."

Salah seorang dari orang yang berjubah hitam itu menyapa.

"Hei! Tumben benar saudara Bhong Kim Cu dan saudara Leng Siau datang ke kuil kami yang sepi ini. Mari... mari, silahkan duduk!"

Toat-beng-jin yang agaknya telah mengenal mereka menyahut dan mempersilahkan mereka untuk duduk.

"Terima kasih! Wah, kami hanya merepotkan tuan rumah saja, malam malam berkunjung kemari..."

Orang yang dipanggil dengan nama Bhong Kim Cu itu berbasa-basi.

Seperti telah diketahui bahwa Aliran Mo ini muncul lebih kurang dua atau tiga ratus tahun sebelum cerita ini terjadi, yaitu sekitar 500 tahun sebelum Masehi.

Adapun guru besar mereka yang pertama adaIah Mo Ti, yang hidup antara tahun 490-403 sebelum Masehi.

Dengan meminjam nama guru besar mereka itulah para penganut aliran itu menamakan aliran kepercayaan mereka dengan sebutan Mo kauw.

Biarpun antara kedua aliran itu, yaitu antara aliran Im-yang-kauw dan Aliran Mo kauw, sebenarnya boleh dikatakan sejalan dalam ajaran ajarannya, tapi dalam praktek penyebarannya ternyata terdapat perbedaan yang menyolok di antara mereka.

Kedua buah aliran kepercayaan ini sama sama mengajarkan dan menuntun manusia ke arah kebahagiaan dan kesempurnaan hidup manusia di alam semesta yang maha luas ini.

Hanya bedanya, kalau Aliran Im-yang-kauw dalam praktek sehari-harinya banyak bergulat dengan dunia mistik dan hal hal aneh yang sering terjadi di alam semesta, Aliran Mo-kauw lebih bersifat kenyataan dan berdasarkan logika-logika yang masuk akal.

"Eh, angin apakah kiranya yang meniup Loheng berdua sampai kemari? Tentu bukan untuk mencari aku dan Tong Ciak Cu-si, bukan...?"

"Sebenarnya memang tidak... Tapi dengan adanya Toat-beng-jin dan Tong Ciak Cu-si disini sungguh suatu kebetulan sekali bagi kami... Kami berdua dengan para murid ini tidak usah jauh jauh pergi ke Gedung Pusat Im-yang-kauw untuk menemui saudara berdua..."

Bhong Kim Cu tersenyum.

"Maaf... ada urusan apakah kiranya?"

Tong Ciak ikut ambil suara.

Kedua tokoh Mo-kauw berjubah hitam itu saling memandang satu sama lain, lalu seperti mendapatkan sebuah aba-aba keduanya menghela napas bersama-sama.

Yang bernama Leng Siau yang sejak kedatangannya tadi belum pernah mengeluarkan suara tampak beringsut maju.

"Jiwi Loheng (saudara berdua), sebenarnya urusan ini adalah urusan yang sangat sepele. Tapi karena kami rasa kalau tidak lekas lekas diselesaikan akan bisa berkembang menjadi besar dan berlarut-larut, maka kami berdua terpaksa mewakili Mo cu (Ketua Aliran Mo) untuk menyelesaikannya."

Orang she Leng itu berkata.

"Ah, kami menjadi semakin tidak sabaran untuk mendengarkannya. Leng Loheng, silahkan cepat cepat mengatakannya kepada kami...!"

Tong Ciak mendesak.

Kemudian jago Im yang kauw yang terkenal keras dan pemarah ini melirik ke samping, di mana Souw Lian Cu tampak berdiri di antara para penghuni kuil lainnya.

Jangan jangan urusan itu adalah urusan yang menyangkut diri gadis buntung itu, pikirnya.

Sementara itu Souw Lian Cu masih tetap berdiri tenang di tempatnya.

Tadi begitu melihat bahwa yang datang bukan Pek-i Liong-ong sendiri, hatinya sudah menjadi tenang dan tidak merasa tegang lagi.

Meskipun begitu karena yang datang itu ternyata juga bukan tokoh rendahan, maka gadis itu tetap berminat untuk menyaksikan apa yang bakal terjadi.

"Karena kurangnya pengertian dan kurangnya mereka mendalami ajaran agama yang diperolehnya, maka banyak di antara para pengikut kami bentrok dan berselisih dengan para pengikut dari aliran lain. Perselisihan itu terutama sering terjadi antara para pengikut kami dengan para penganut Aliran Bing-kauw. Hanya kadang-kala saja sering juga kami dengar persengketaan mereka dengan para pengikut Im-yang-kauw..."

Leng Siau memulai ceritanya.

Matanya yang berkilat tajam sebagai tanda bahwa lweekangnya benar-benar sangat tinggi tampak beredar mengawasi pihak tuan rumah.

Lalu setelah beberapa kali mengedarkan pandangannya, tokoh sakti dari Aliran Mo-kauw tersebut meneruskan penuturannya.

"Perselisihan-perselisihan seperti itu terang tidak baik dan sangat bertentangan dengan ajaran-ajaran yang kita kumandangkan selama ini...Oleh sebab itulah pihak kami selalu menahan diri dan berusaha mengalah sebisa-bisanya. Beberapa kali orang Bing-kauw selalu membuat gara gara, dan... beberapa kali pula kami selalu menghindar dan mengalah, sehingga biarpun sering bentrok tetapi semua itu hanya terbatas pada perselisihan-perselisihan yang kecil dan ringan saja. Tak pernah perselisihan itu menjadi berlarut larut, apalagi sampai terjadi korban. Tapi..."

Sekali lagi Leng Siau menghentikan perkataannya, matanya dengan tenang menatap Tong Ciak dan Toat-beng-jin lekat-lekat.

Beberapa saat lamanya dia berdiam diri sehingga Tong Ciak menjadi semakin tidak sabar menunggunya.

"Tapi... bagaimana, Leng Loheng?"

Desaknya. Leng Siau mengalihkan pandangannya ke atas ke arah langit langit pendapa yang tinggi dan terbuat dari kayu pilihan itu, seolah-olah ia ingin mencari pegangan untuk mengeluarkan isi hatinya.

"Maaf! Mungkin jiwi Loheng benar-benar belum mengetahui peristiwanya..."

Tokoh Mo-kauw itu lekas-lekas menambahkan melihat kekagetan tuan rumah.

"Leng Loheng, jangan berbelit belit lagi! Lekas katakan, apa yang mengejutkan kalian itu!"

Toat-beng-jin yang biasanya sangat tenang itu menjadi tegang pula.

"Ji wi Loheng..., silahkan duduk dan menenangkan hati dahulu agar kita tidak menjadi saling bersalah paham nanti. Tentu akan lohu ceritakan peristiwa yang sangat melukai perasaan kami itu. Tapi marilah kita bicarakan secara perlahan-lahan!"

Bhong Kim Cu ikut menenangkan hati kedua tokoh Im-yang-kauw tersebut.

"Ahh...!"

Akhirnya kedua tokoh Im-yang-kauw itu duduk pula kembali dengan menghela napas berat, ketenangan yang diperlihatkan oleh kedua orang tamunya itu bagai air dingin yang menyejukkan hati mereka, sehingga ketegangan yang menggantung di dada mereka seperti larut pula karenanya.

"Nah, silahkan Bhong Loheng dan Leng Loheng menceritakannya kepada kami...!"

Toat-beng-jin menatap penuh perhatian.

"Baiklah! Kami akan bercerita..."

Bhong Kim Cu mengangguk.

Kemudian berceriteralah kedua tokoh Mo-kauw itu bergantian.

Mereka saling melengkapi keterangan temannya, sehingga cerita yang mereka paparkan menjadi semakin lengkap dan jelas.

Begitu pandainya mereka bercerita sehingga Tong Ciak yang biasanya selalu mengumbar perasaan, kali ini tampak diam saja terpaku di tempatnya.

Sejak munculnya aliran kepercayaan Mo-kauw di Tiongkok pada abad kelima sebelum Masehi hingga sekarang, para pengikut dan penganut aliran ini belum pernah bersatu dalam suatu wadah atau organisasi yang teratur.

Orang-orang mereka yang berjumlah jutaan dan tersebar di seluruh daerah Tiongkok itu masing masing berdiri sendiri-sendiri dalam melakukan kegiatannya.

Hanya di beberapa tempat saja terbentuk perkumpulan-perkumpulan, itupun hanya sebuah perkumpulan kecil yang didirikan oleh satu dua orang penganut yang sedikit punya pengaruh diantara teman temannya.

Dan diantara masing-masing perkumpulan kecil tersebut juga tidak ada hubungan pula satu sama lain, masing-masing berdiri sendiri.

Dan diantara perkumpulan-perkumpulan kecil itu yang paling terkenal dan punya anggota banyak adalah Liong-Ipang (Perkumpulan Jubah Naga) pimpinan Ouwyang Kwan Ek, murid kedua mendiang Bu-eng Sin-yok-ong.

Oleh karena itu tidaklah mengherankan ketika beberapa tahun yang lalu diadakan pertemuan besar para penganut Mo-kauw di seluruh negeri.

Tokoh-tokoh Liong-I-pang banyak yang dipilih sebagai tenaga pengurus dalam persatuan yang mereka bentuk.

Ketua Liong-i pang Ouwyang Kwan Ek yang bergelar Pek-i Liong-ong malah terpilih sebagai Mo-cu (Ketua Aliran Mo-kauw) yang pertama.

Sedang kedua murid utamanya, Bhong Kim Cu dan Leng Siau, diangkat sebagai Siang-Shih-kauw (Sepasang Utusan Agama) yaitu orang yang bertanggung jawab untuk menyebarluaskan pengaruh aliran kepercayaan Mo-kauw di dalam masyarakat.

Demikianlah, bertahun-tahun mereka hidup dengan aman dan damai.

Biarpun sering berselisih dengan aliran lain, tapi perselisihan itu bukan perselisihan yang berarti.

Semuanya dapat mereka atasi dengan musyawarah.

Belum pernah sekalipun persengketaan yang telah terjadi itu sampai menimbulkan korban benda ataupun manusia.

Tapi peristiwa yang terjadi di pusat perkumpulan mereka beberapa hari yang lalu justru benar-benar diluar dugaan mereka.

Sekelompok pendatang yang mengaku dari Kuil Bukit Delapan Dewa, yaitu kuil dari penganut aliran Im-yang-kauw telah membuat keributan dan keonaran yang sangat melukai hati mereka.

Padahal saat itu di pusat perkumpulan mereka sedang dalam keadaan kosong.

Artinya Pek-I Liong-ong dan semua orang wakilnya sedang pergi meninggalkan Gedung perkumpulan mereka.

Yang ada di gedung mereka hanyalah para anggota dan pengurus harian, yang kepandaiannya masih sangat rendah, sehingga tidak ada yang mampu menghadapi para pendatang tersebut.

Kelompok pendatang tadi masuk ke gedung dengan paksa, membunuh belasan penjaga yang ada di sana dan merusak bangunan yang mereka cintai dan mereka hormati!

Tidak hanya itu saja.

Ada yang sangat melukai hati dan memerahkan telinga mereka.

Orang-orang itu menurunkan papan nama yang mereka pasang di halaman depan dan menghancurkannya.

Kemudian yang paling brutal adalah pengrusakan yang mereka lakukan terhadap ruang sembahyang, di mana abu cikal-bakal pendiri aliran Mo-kauw disimpan!

"Nah, begitulah ceriteranya..."

Kedua tokoh Mo-kauw tersebut mengakhiri penuturannya.

Tak ada sedikitpun tanda-tanda kemarahan yang masih membekas di wajah mereka berkenaan dengan peristiwa memalukan yang menimpa perkumpulan mereka tersebut.

Pembawaan mereka tetap sabar tenang, benar-benar seperti sedang menghadapi sebuah masalah yang ringan dan sepele saja.

Tapi kesan seperti itu justru amat mendebarkan bagi jago jago tingkat atas seperti Toat-beng-jin dan Tong Ciak!

Karena hanya orang-orang yang sudah betul betul dapat dikatakan mencapai kesempurnaan saja yang bisa bersikap seperti itu.

Kalau misalnya peristiwa serupa menimpa Im-yang-kauw, mungkin mereka sudah tidak tahan lagi, terutama Tong Ciak Cu-si.

"Oleh karena itu jiwi Loheng-tentu sudah bisa memakluminya sekarang, kenapa malam-malam begini kami terpaksa datang merepotkan Kuil Delapan Dewa ini... Kami hanya ingin meminta keterangan dari pemimpin kuil di sini, saudara Han Su Sing dan Hu Ki, yang memimpin para pendatang dan perusak gedung perkumpulan kami itu!"

Leng Siauw mengakhiri ucapannya dengan tandas dan tegas.

"Hei?!? Apa?! Aku...?"

Tiba-tiba Ciong Hu Ki yang duduk di belakang Toat-beng-jin mencelat berdiri.

"Heh, pembohong! Enak saja menuduh orang! Kapan aku dan Han suheng pergi ke sana?"

Lalu dengan wajah tak percaya ia menghadap ke arah Toat-beng-jin dan Tong Ciak Cu-si.

"Lojin-ong... Tong Ciak Cu-si! lni...ini bagaimana? Ini... terang fitnah! Aku dan Han-suheng tak... tak pernah meninggalkan kuil kita ini, apalagi sampai ke gedung perkumpulan Mo-kauw yang jauh itu. Lojin-ong dapat bertanya kepada semua penghuni kuil ini."

Leng Siau dan Bhong Kim Cu saling memandang dan mengerutkan keningnya.

"Ah, maaf... kami belum mengenal saudara. Bolehkah kami mengetahui gelar saudara?"

Bhong Kim Cu bertanya.

"Dialah salah seorang yang namanya telah Loheng sebutkan tadi."

Tong Ciak menyahut.

"Oh! Siapa...?"

"Ciong Hu Ki! Wakil pimpinan kuil Delapan Dewa ini."

"Ohhh...!"

Kedua tokoh Mo-kauw itu membuang napas hampir berbareng.

Mata mereka yang bersorot tajam itu tampak berkilat sekejap, membuat hati Toat-beng-jin dan Tong Ciak kembali bergetar.

Bhong Kim Cu tampak menggeser duduknya, lalu menoleh ke belakang, kearah para pengikutnya yang sedari tadi hanya berdiam diri saja di tempat masing-masing.

"Coba katakan, Hwa Siu! saudara inikah yang dahulu memimpin para pendatang itu?"

Salah seorang pengikutnya yang berjubah hijau tampak berdiri dari kursinya. Dengan suara ragu ia menjawab pertanyaan Bhong Kim Cu tadi.

"Maafkan Siauwte, Bhong Tai-shih (Utusan Bhong). Peristiwa itu terjadi pada waktu tengah malam, sehingga kami tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Tapi perawakan salah seorang dari mereka memang tinggi kurus seperti saudara ini... cuma pada saat itu pakaian yang dipakai tidak kelabu seperti ini, tetapi putih bersih dan mengkilap seperti sutera."

"Tinggi kurus berpakaian sutera putih bersih..."

Tanpa terasa Toat-beng-jin bergumam. Begitu juga dengan Tong Ciak. Keduanya segera teringat penuturan anak buahnya yang dilukai orang dilereng bukit siang tadi.

"Maaf, Loheng mengatakan apa?"

Bhong Kim Cu yang tidak begitu jelas mendengar perkataan yang digumamkan oleh Toat-beng-jin itu menegas. Orang tua itu tidak segera menjawab, sebaliknya ia malah bertanya kepada tamunya.

"Bhong Loheng, apakah pimpinan para pendatang yang mengaku sebagai Han Su Sing dan Ciong Hu Ki itu yang satu mempunyai bentuk tubuh tinggi kurus seperti dia..."

Toat-beng-jin memandang ke arah Ciong Hu Ki.

"...Dan yang lain tinggi besar berbulu lebat pada tangan dan mukanya?"

"Benar...!"

Bhong Kim Cu mengangguk. Lalu matanya melirik ke arah rombongan tuan rumah yang tersebar di dalam pendapa itu, tapi tak dilihatnya seorang bertubuh tinggi besar berbulu lebat di antara mereka.

"Ah! Mengapa kami tak melihat saudara Han Su Sing disini? Apakah ia sedang pergi?"

Toat-beng-jin menarik napas dalam dalam.

"Bhong Loheng... Leng Loheng, saudara berdua sungguh bijaksana sekali dalam mengurus persoalan ini. Meskipun dada saudara hampir terbakar oleh kemarahan, tapi saudara berdua tak pernah mengungkapkannya di hadapan kami, sehingga kami menjadi kagum dan malu terhadap saudara."

Tokoh Mo-kauw itu menatap Toat-beng-jin dengan dahi berkerut, sedikitpun tak tahu apa yang dimaksudkan jago Im-yang-kauw dengan kata pujian itu.

"Apakah maksud Loheng?"

Tanyanya pelan. Toat-beng-jin bangkit dari kursinya, lalu diikuti oleh Tong Ciak dan yang lain-lain.

"Marilah Bhong Loheng dan Leng Loheng. Mari kita lihat saudara Han Su Sing! Dia ada di ruangan samping."

Ajak orang itu kepada tamunya.

"Marilah! Bukankah jiwi ingin bertemu dengan dia?"

Katanya lagi begitu melihat tamunya masih ragu-ragu.

"Biarlah kami berada disini saja."

Leng Siau mewakili teman-temannya.

"Kalau saudara Han Su Sing merasa keberatan untuk menemui kami, biarlah kami tak usah menemuinya. Dengan adanya jiwi disini kukira sudah lebih dari cukup bagi kami."

Agaknya Toat-beng-jin melihat keragu-raguan dan kecurigaan tamunya, dan hal itu tentu saja dapat ia maklumi.

Oleh karena itu ia menoleh ke arah Tong Ciak yang berdiri di sampingnya.

Dan ketika pengurus agama itu menganggukkan kepalanya, diapun segera duduk kembali di tempatnya.

"Ciong Hu Ki! Ajaklah beberapa orang kawanmu untuk membawa Han Su Sing kemari!"

Perintahnya kepada wakil kepala kuil itu.

"Lojin-ong?!? Ja-jangan...!"

Orang itu menjadi pucat mukanya.

"Loheng, sudahlah...! tak usah repot..."

Leng Siau menjura. Tapi Toat-beng-jin tetap menyuruh Ciong Hu Ki pergi mengambil Han Su Sing.

"Bhong Loheng! Leng Loheng! Biarlah! Masalah ini bukan masalah kecil. Masalah yang terjadi ini kalau tidak kita selesaikan sampai jernih tentu akan menjadi berlarut-larut. Karena jiwi Loheng tidak mau kubawa ke ruangan samping, biarlah kami saja yang membawanya ke pendapa ini. Akan aku tunjukkan kepada saudara berdua kejanggalan-kejanggalan yang terjadi dalam peristiwa ini."

"Kejanggalan...? Jadi maksud Loheng ada orang lain yang...?"

Bhong Kim Cu tidak melanjutkan perkataannya.

"Begitulah!"

Toat-beng-jin mengangguk.

Lalu sambil menanti Ciong Hu Ki yang pergi mengambil Han Su Sing, orang tua itu bercerita tentang peristiwa yang baru saja menimpa anak buah kuil Delapan Dewa di siang hari tadi.

Bagaimana dua orang asing yang bertubuh tinggi kurus berbaju putih serta kawannya yang tinggi besar berbulu lebat telah menganiaya dan membunuh tiga orang anggota Im-yang-kauw.

"Kedua orang itu mengaku sebagai penganut aliran Bing-kauw! Tapi kukira pengakuan mereka itupun juga tidak benar. Mereka tentu berbohong. Tampaknya mereka itu sengaja ingin mengadu domba kita."

Toat-beng-jin menutup ceritanya.

"Nah sekarang akan saya buktikan bahwa para pendatang yang merusak gedung Mo-kauw itu telah berbohong pula..."

"Lojin-ong...!"

Tiba-tiba dari ruang dalam terdengar suara Ciong Hu Ki.

"Nah... Han Su Sing telah tiba!"

Toat-beng-jin menoleh ke arah pintu.

Tapi orang-orang Mo-kauw yang berada di pendapa itu menjadi terkejut bukan main ketika melihat yang keluar dari pintu dalam tersebut ternyata bukanlah orang besar berbulu lebat, tetapi...

sebuah peti mati besar yang digotong oleh Ciong Hu Ki dan kawan-kawannya!

Peti mati itu oleh Ciong Hu Ki diletakkan di tengah-tengah pendapa, persis di depan meja tamu.

Kemudian tutupnya ia buka sehingga mayat Han Su Sing yang gemuk pendek itu terlihat jelas oleh semua orang yang hadir.

"Toat-beng-jin Loheng! Permainan apakah yang kau pertunjukkan di hadapan kami ini...?"

Bhong Kim Cu dan Leng Siau cepat berdiri dengan kening berkerut. Matanya melirik ke sekitarnya dengan rasa curiga.

"Leng Loheng! Bhong Loheng! Lihatlah! Mayat yang berada di depan kita ini adalah Han Su Sing, ketua kuil Delapan Dewa. Biarpun gemuk dan besar tetapi tubuhnya sangat pendek serta tidak berbulu...! Nah, bukankah orang yang datang serta merusak gedung Mo-kauw itu hanya berbohong dan mengaku-aku saja?"

"Hmh!"

Kedua tokoh Mo-kauw itu menggeram berbareng.

Sepasang mata mereka yang berkilat-kilat itu masih tampak curiga dan tidak percaya pada keterangan lawannya.

Mereka bercuriga jangan-jangan pihak tuan rumah Cuma sedang memasang sebuah siasat saja.

Sekali lagi Toat-beng-jin seperti dapat menebak apa yang sedang dipikirkan oleh tamunya.

Maka dengan lantang iapun berdiri di depan mereka.

"Bhong Loheng! Leng Loheng! Sebenarnya aku tidak ingin memperlihatkan mayat orang kami ini. Karena seperti juga yang terjadi di gedung perkumpulan kalian, di tempat kami sendiripun telah terjadi musibah yang amat memalukan kami pula. Tapi karena kami ingin lekas-lekas menjernihkan masalah ini agar tidak semakin menambah beban kami, maka kami memaksa diri untuk memperlihatkan mayat ini kepada jiwi. Kami berharap dengan menunjukkan mayat Han Su Sing ini, kalian akan segera memaklumi bahwa kalian telah tertipu oleh orang yang menyamar sebagai orang-orang kami."

Leng Siau melangkah ke depan mendekati peti mati. Tanpa meninggalkan kewaspadaan dia membungkuk dan mengamatamati mayat yang berada di dalam peti.

"Hm, benarkah orang ini yang bernama Han Su Sing?"

Ia menegaskan.

Kecurigaan dan ketidakpercayaan tamunya itu benar-benar memanaskan perut Tong Ciak.

Tanpa menghiraukan isyarat yang diberikan oleh Toat-beng-jin, tokoh Im-yang-kauw yang bertubuh pendek kekar itu telah meloncat maju.

"Maaf Leng Loheng..."

Katanya dengan muka kemerahan.

"Mengapa kami mesti berbohong? Apakah Im yang kauw sudah sedemikian lemahnya sehingga tokoh-tokohnya telah berubah menjadi penakut dan pengecut yang tidak berani beradu dada dengan orang lain?"

Kauwcu-si dari Im-yang-kauw itu menghentikan kata katanya sebentar untuk mengambil napas.

Ternyata hatinya yang tersinggung itu telah mulai membara dan menyesakkan dadanya, sehingga rasanya terlalu sukar untuk mengeluarkan isi yang terkandung di dalamnya.

"Semuanya ini kami lakukan di hadapan Loheng, karena kami sangat menghargai dan mengagumi cara-cara Loheng dalam menangani masalah yang menimpa perkumpulan Loheng itu. Biarpun dari rumah jiwi LoHeng-telah membawa bara api kemarahan di dalam dada, tapi sejak menginjakkan kaki di kuil kami, jiwi Loheng selalu bersikap tenang dan sabar. Sedikitpun jiwi Loheng tidak pernah memercikkan bara-bara api itu ke dada kami, yang akan membuat kami ikut terbakar pula...jadi apa yang kami lakukan ini benar-benar bersih. Tapi bila hal yang seperti ini masih Loheng anggap tidak benar... yah apa boleh buat! Tong Ciak bukanlah seorang pengecut yang mudah dihina!"

"Ahh... Tong Ciak Cu-Si, harap bersabar dahulu!"

Dengan gugup Bhong Kim Cu mencelat pula ke depan, berdiri di antara Leng Siau dan Tong Ciak.

"Maafkanlah Leng-sute! Dia tidak bermaksud menghina siapapun juga. Dengarlah! Kami semua memang belum pernah melihat ataupun mengenal saudara Han Su Sing, maka sudah sewajarnya kalau kami bercuriga dalam hal ini. Coba, kalau hal seperti ini terjadi pula pada Tong Ciak Cu-si, kukira Tong Ciak Cu-si juga tidak akan percaya begitu saja terhadap omongan kami."

Toat-beng-jin menyentuh tangan Tong Ciak Cu-si dari belakang.

"Tong-hiante, kata kata yang diucapkan oleh Bhong Loheng itu benar belaka..."

Bisiknya perlahan.

"Benar, saudara Tong... maafkanlah aku. Aku tidak bermaksud untuk menuduh atau menghina siapapun juga. Aku hanya benar-benar ingin memastikan apakah mayat yang berada di dalam peti mati itu sungguh-sungguh mayat dari saudara Su Sing. Sebab kami memang benar-benar belum pernah melihat ataupun mengenal orang itu sebelumnya."

Leng Siaupun ikut menjura kepada Tong Ciak.

Sikapnya tidak berubah, tetap tenang dan tegas seperti semula.

Sedikitpun juga tidak tampak terpengaruh oleh kemarahan Tong Ciak Cu-si!

Sikapnya benar-benar sikap seorang pendekar yang telah begitu yakin terhadap dirinya.

Sehingga untuk yang ketiga kalinya perasaan Toat-beng-jin menjadi tergetar karenanya.

"Kedua orang ini adalah orang ke dua setelah Pek i Liong ong dalam urusan tingkat jabatan Mo-kauw, tentu saja kesaktiannya tidak boleh dipandang ringan. Tentu saja mereka merupakan pasang lawan yang sangat berat bagi Im-yang-kauw apabila mereka sampai berselisih jalan."

Orang tua itu berpikir di daIam hati.

Akhirnya Tong Ciak mau juga duduk kembali, mereka lalu meneruskan kembali pembicaraan yang hampir saja membuat mereka bentrok satu sama lain itu.

Dan Toat-beng-jin bercerita pula tentang peristiwa yang sedang dihadapi Im-yang-kauw saat ini, Toat-beng-jin juga mengatakan kecurigaan kecurigaannya tentang dua orang yang mengaku sebagai Han Su Sing dan Ciong Hu Ki tersebut.

"Aku percaya bahwa yang menyamar sebagai Han Su Sing dan Ciong Hu Ki itu tentulah orang yang telah menyaru pula sebagai orang Bing-kauw membunuh orang-orang kami."

Toat-beng-jin mengeluarkan pendapatnya.

"Tapi... apa maksudnya mereka mengadu domba kita? Sebelum terjadi perusakan terhadap gedung perkumpulan kami, Mo cu kami juga telah bentrok dengan orang-orang Bing-kauw yang dibantu oleh seorang gadis buntung..."

Bhong Kim Cu berkata pula.

"Hmm, agaknya memang benar apa yang diduga oleh Toat-beng-jin Loheng tadi. Kejadian-kejadian beruntun yang menimpa Mo-kauw dan Im-yang-kauw dalam beberapa hari ini rasanya memang sangat aneh. Kelihatannya peristiwa peristiwa itu memang berkaitan satu sama lain dan agaknya juga dikendalikan oleh orang yang sama pula. Agaknya ada orang yang menginginkan terjadinya pertumpahan darah antara Mo-kauw, Bing-kauw dan Im-yang-kauw!"

Leng Siau ikut mengutarakan pendapatnya pula.

"Lalu... siapakah orang itu?"

Tong Ciak bergumam.

"Itulah yang harus kita selidiki dan kita cari bersamasama...!"

Toat-beng-jin menjawab dengan tersenyum.

"Betul! Kunci dari masalah adu domba ini hanya terletak pada orang berbaju putih dan orang berperawakan tinggi besar berbulu lebat. Oleh karena itu... asal kita bisa meringkus kedua orang misterius itu, semuanya akan menjadi beres."

Leng Siau melanjutkan.

"Dan... kita akan segera mengetahui, apa yang menjadi latar belakangnya sehingga tiga buah aliran itu mereka adu domba."

Bhong Kim Cu mengangguk-angguk.

Sementara itu Souw Lian Cu yang berdiri di antara para penghuni kuil lainnya, tampak sedikit gelisah ketika namanya disebut sebut dalam pembicaraan itu.

Untunglah tidak seorangpun diantara para tamu tersebut yang memperhatikannya.

Dan agaknya Toat-beng-jin, Tong Ciak dan orang-orang Im-yang-kauw lainnya juga tidak mau repot-repot mengatakan tentang beradanya gadis buntung tersebut di kuil mereka.

Mungkin mereka tidak ingin memperburuk lagi suasana yang telah menjadi baik itu.

Demikianlah, pertemuan malam itu diakhiri dengan pulangnya para tokoh Mo-kauw dari kuil Delapan Dewa tersebut, dengan suatu tugas bersama untuk mencari keterangan, siapakah sebenarnya kedua orang yang menyamar sebagai Han Su Sing dan Ciong Hu Ki itu.

Udara malam terasa semakin dingin menyentuh kulit.

Angin malam yang bertiup Iemah itu juga terasa lembab, sehingga tanaman yang memenuhi halaman tengah kuil itu tampak mengkilap basah ditimpa sinar bulan yang condong ke barat.

Ujung-ujung daun yang bergantungan itu terasa menggigilkan ketika menyentuh wajah dan lengan.

Toat-beng-jin dan Tong Ciak tampak berjalan perlahan, menerobos pohon-pohon bunga yang tumbuh lebat di halaman tersebut.

Di belakang mereka tampak Souw Lian Cu mengikuti dengan kepala tertunduk.

Beberapa kali mereka harus menunduk atau menyingkirkan ranting pohon yang menghalangi jalan mereka.

"Nona Souw..."

Toat-beng-jin yang berjalan paling depan membuka suara.

"Yaa? Lo-Cianpwe memanggil saya?"

Gadis buntung itu mengangkat mukanya.

"Nona Souw. maaf... bolehkah kami bertanya sesuatu kepadamu?"

"Tentu saja! Mengapa Lo-Cianpwe masih... menaruh sungkan pula kepadaku?"

"Ah, bukan begitu nona Souw... Soalnya kami sebenarnya tidak ingin mencampuri urusan pribadi nona. Seperti juga telah nona ketahui, sampai saat ini kami tak pernah bertanya siapa sebenarnya nona ini. Dari mana, murid siapa...atau puteri siapa? Dan sampai sekarangpun kami tetap tidak peduli! Nona membutuhkan pertolongan kami... dan karena kami merasa mampu menolong maka kamipun segera memberi pertolongan. Itu saja!"

Orang tua itu berkata tegas.

"Tetapi... kali ini kami terpaksa mau bertanya sedikit kepada nona... Sebab hal yang akan kami tanyakan kepada nona ini agaknya mempunyai sangkut paut pula dengan masalah penting yang sedang kami hadapi."

Souw Lian Cu menghentikan langkahnya, sehingga otomatis Toat-beng-jin dan Tong Ciak turut berhenti pula.

Mereka berdiri berhadapan dibawah pohon cemara yang besar dan berdaun rimbun.

Meskipun demikian karena bulan bersinar dengan amat terangnya, maka ketiga-tiganya dapat saling memandang dengan jelas sekali.

"Lo-Cianpwe, apakah...apakah yang ingin Lo-Cianpwe tanyakan?"

Gadis itu menatap orang tua itu dengan wajah tegang.

Toat-beng-jin menarik napas dalam-dalam, seolah-olah ingin mengambil ancang-ancang untuk mengeluarkan isi hatinya.

Lalu sambil menatap gadis cantik yang berada di depannya, ia mengatakan apa yang ingin diketahuinya.

"Nona Souw, ketika Put gi ho dan Put-chih-to membawamu kemari, mereka mengatakan bahwa nona terluka oleh pukulan Pek-i Liong ong. Kedua orang Bing-kauw itu mengatakan bahwa nona membantu mereka ketika terjadi pertempuran antara mereka dengan para pengikut Mo-kauw. Sekarang yang ingin kami ketahui ialah... apakah nona mengetahui sebab sebab dari perselisihan mereka itu? Maaf, aku mengajukan pertanyaan ini karena kami curiga, jangan-jangan penyebab dari perselisihan mereka juga karena ulah dua orang yang menyaru sebagai Han Su Sing dan Ciong Hu Ki itu!"

Souw Lian Cu menundukkan kepalanya kembali, sehingga gumpalan rambut yang gemuk hitam diatas kening jatuh menutupi dahinya yang licin.

Sepasang matanya yang bulat lebar itu tampak mengejap-ngejap, mengakibatkan bulu mata yang lentik itu kelihatan bergetar dalam gemilang sinar bulan.

"Entahlah, Lo-Cianpwe... Sesungguhnya aku memang belum pernah mengenal masing-masing dari mereka. Hanya karena aku kasihan melihat orang-orang itu dikeroyok oleh banyak orang, maka aku berusaha menolong mereka. Ternyata lawan mereka adalah orang-orang Mo-kauw, sehingga saya terpaksa berhadapan dengan ketuanya. Untunglah saya...eh, sebentar... saya ingat sesuatu! Betul! Sebelum saya pingsan, salah seorang dari orang Bing-kauw yang kutolong tersebut sempat menyebut tentang dua orang..."

"Apa... apa katanya?"

Tong Ciak menegasi.

"Nona Souw, apa yang dikatakannya...?"

Toat-beng-jin menjadi tegang pula.

"Mereka seperti menyebut tentang dua orang misterius yang berusaha menculik isteri Kauwcu (Ketua Agama) mereka..."

"Dan dua orang itu bertubuh tinggi kurus berbaju putih dan tinggi besar berbulu lebat?"

Toat-beng-jin mendesak. Souw Lian Cu menggeleng.

"Mereka tidak menjelaskannya..."

"Ah... aku yakin, tentu orang itu pula!"

Tong Ciak menggeram.

"Mungkin juga...!"

Toat-beng-jin mengangguk.

"Baiklah, kita selidiki nanti!"

Ketiga orang itu lalu melangkah kembali ke belakang menuju kamar masing-masing untuk beristirahat. Sebelum berpisah Toat-beng-jin berpesan kepada Souw Lian Cu.

"Nona, lukamu masih membutuhkan satu kali pengobatan lagi. Padahal sebelum terang tanah aku dan Tong Ciak Cu-si harus berangkat pulang ke Gedung Pusat. Hmm, bagaimana kalau engkau turut kami kesana? Setelah melaporkan semua kejadian ini ke sidang agama nanti, aku dan Tong Ciak Cu-si bermaksud akan menyelesaikan pengobatan itu."

Gadis itu tampak ragu ragu sebentar.

"Terima kasih, Lo-Cianpwe. Jiwi Lo-Cianpwe sangat sibuk sekarang. Maka saya tak berani mengganggu pula lagi. Biarlah saya..."

"Eeee...nanti dulu! Jangan tergesa-gesa mengambil keputusan. Dengarlah, nona! Kami berdua sebenarnya telah mengambil keputusan untuk membawa nona tadi. Sebab kami tetap akan merasa penasaran sebelum dapat mengobati nona sampai sembuh betul. Tapi keinginan kami itu tentu saja tak dapat dilaksanakan begitu saja tanpa mendapatkan persetujuan dari nona sendiri. Oleh sebab itulah kami menanyakan pendapatmu tadi."

Ketika Souw Lian Cu masih tampak sungkan untuk menjawab, biarpun dalam hati sudah tidak mempunyai keberatan lagi, Toat-beng-jin segera menepuk bahunya.

"Sudahlah! Besok pagi kita berangkat bersama-sama! Sekarang beristirahatlah!"

Gadis itu mengangguk, Ialu pergi meninggalkan tempat itu.

Sebelum menaiki tangga, lebih dahulu matanya mengamati keadaan di sekitarnya.

Semua pintu telah tertutup, kecuali pintu kamar Yang Kun.

Agaknya pemuda itu belum tidur pula.

Pintu tersebut tampak bergoyang-goyang hampir tertutup ketika angin bertiup sedikit keras.

Dengan cepat Souw Lian Cu berjalan melewati pintu tersebut.

Sekejap ia menoleh ke dalam.

Tampak pemuda itu melingkar memeluk bantal di pembaringannya.

Mukanya yang tampan itu keIihatan tersenyum-senyum menghadap ke arah pintu sehingga sepintas lalu seperti mengajak senyum padanya.

"Hmm, tanggal lima bulan depan tinggal berapa pekan Iagi! Awas, akan kuberi hajaran di Meng-to nanti!"

Gadis itu menggigit bibir dengan gemas.

Sesungguhnyalah, Yang Kun memang belum tidur sama sekali.

Bayangan gadis cantik yang baru saja memeluk dirinya masih selalu menggoda pikirannya.

Oleh karena itu ia masih mendengar pula ketika Souw Lian Cu melewati kamarnya.

Ketika terdengar suara ayam berkokok pertama kalinya, Toat-beng-jin dan Tong Ciak telah mengajak kedua orang muda-mudi itu berangkat.

"Eh, mengapa Yang-hiante belum juga kelihatan?"

Toat-beng-jin yang telah siap untuk berangkat itu bertanya heran.

"Lojin-ong, bukankah kita kemarin belum memberitahukan rencana keberangkatan kita kepadanya? Wah, benar..!"

Tong Ciak berseru, kemudian dengan tergesa-gesa melangkah ke kamar Yang Kun.

"Yang-hiante! kau sudah bangun...?"

"Oh! Tong Lo-Cianpwe mau pergi ke mana?"

Yang Kun bergegas membuka pintunya yang tidak terkunci, lalu dengan heran pemuda itu memandang kepada Tong Ciak, Toat-beng-jin dan Souw Lian Cu yang telah bersiap-siap di depan kamarnya.

Masing-masing tampak menjinjing buntalan mereka.

"Yang-hiante. Kami lupa memberitahukan kepadamu kemarin, bahwa kami ingin membawa engkau beserta kami ke Gedung Pusat pagi ini. Ada sesuatu hal yang harus kami laporkan kepada Dewan Penasehat Agama dan Tai-si ong dengan segera. Padahal kami belum selesai mengobatimu. Oleh karena itu lohu dan Lojin-ong memutuskan untuk mengajak engkau saja ke sana pagi ini. Nanti setelah segala urusan itu sudah selesai, kami berdua dengan mudah mau menyelesaikan pengobatan yang belum rampung tersebut. Bagaimana...?"

Tong Ciak mengutarakan maksudnya.

"Kami berdua belum merasa puas bila belum dapat menyembuhkan luka dalammu itu. Kami baru akan mengijinkan kau pergi apabila luka itu telah lenyap dari tubuhmu."

Toat-beng-jin ikut menekankan.

"Baik, Lo-Cianpwe..."

Yang Kun mengangguk setelah lebih dahulu melirik kearah gadis bunting yang sangat menarik hatinya itu.

Tapi Souw Lian Cu dengan tak acuh memalingkan mukanya ke halaman, kearah Ciong Hu Kid an anak buahnya yang juga telah bersiap-siap untuk melepas keberangkatan mereka.

"Nah, kalau begitu lekaslah engkau bersiap!"

Tong Ciak berkata.

Kemudian dengan diantar oleh Ciong Hu Ki sampai di pintu gerbang rombongan kecil tersebut berangkat menuruni bukit, menuju kearah dusun di pinggir sungai yang terlihat oleh Yang Kun kemarin.

Demikianlah, dengan sisa-sisa sinar bulan yang masih bergantung di puncak-puncak pohon, rombongan kecil yang terdiri dari empat orang berkepandaian tinggi itu turun dengan hati-hati kearah lembah.

Mereka bermaksud mengitari jajaran kelompok Bukit Delapan Dewa itu dahulu sebelum menuju kearah Utara.

Memang jalan yang mereka tempuh tersebut akan lebih panjang dan lebih jauh akan tetapi jalan itu adalah jalan yang terbaik serta mudah dilalui.

Selain melalui tanah-tanah datar jalan tersebut juga selalu melintasi perkampungan penduduk yang padat, sehingga apabila mereka membutuhkan sesuatu mereka dengan mudah akan mendapatkannya dengan segera.

Apalagi jika diingat bahwa dua orang diantara mereka masih menderita sakit.

Ternyata bekas-bekas amukan gempa bumi itu masih terlibat di sepanjang jalan yang mereka lalui.

Tanah-tanah yang retak, longsor, maupun pohon-pohon besar yang tumbang, banyak mereka jumpai di lereng-lereng bukit tersebut.

Bahkan kadang-kadang mereka juga menjumpai gubug-gubug kosong yang telah roboh dan ditinggalkan penghuninya.

"Sungguh mengherankan sekali! Getaran gempa itu demikian dahsyatnya di daerah yang terpencil ini, tapi mengapa kuil kita tadi masih tetap utuh seperti tak pernah dijangkau oleh getaran gempa tersebut? Seharusnya kuil kita yang bertengger di samping bukit tersebut mendapat goncangan yang lebih kuat dari pada yang berada di tanah datar."

Toat-beng-jin bergumam diantara langkahnya.

"Benar, Lojin-ong! Lohu juga heran. Gedung Pusat kita yang besar dan megah itu juga hanya mengalami kerusakan ringan pula. Padahal bangunan lain disekitarnya pada roboh dan hancur dalam sekejap mata."

Tong Ciak menyahut pula.

"Mungkin ini merupakan perlambang bagi kejayaan Im-yang-kauw kita."

Orang tua berjenggot putih itu berkata lagi.

Matanya yang hampir tertutup oleh alisnya yang lebat itu menoleh sekejap kearah Chin Yang Kun, pemuda yang mereka incar selama ini.

Pemuda yang menurut pengamatan mereka mempunyai peruntungan bagus bagi kejayaan aliran kepercayaan mereka.

"Agaknya memang demikian halnya..."

Tong Ciak menengadahkan kepalanya dengan muka berseri-seri.

Jilid 14 Demikianlah, bersama dengan semakin tipisnya cahaya bulan yang menerangi bumi, di ufuk timur telah mulai berkembang sinar matahari yang hangat kemerah-merahan.

Mula-mula cuma seperti bara api yang membakar gumpalan awan yang menutupinya.

tapi lambat laun bara itu semakin bertambah besar sehingga sinarnya secara perlahan-lahan pula mampu mengusir kegelapan yang mencekam bumi.

Sedikit demi sedikit cahayanya yang kemerah-merahan itu membakar ujung-ujung daun yang paling tinggi, lalu perlahan-lahan merambat ke bawah sehingga akhirnya seluruhnya bagai tersepuh oleh kilauan emas yang kemerah-merahan.

Butiran-butiran embun yang semula membuka di setiap ujung-ujungnya tampak mulai mencair, kemudian menguap bersama-sama ke atas, sehingga lambat laun pohon-pohon tersebut seperti terbungkus oleh kabut tipis yang menyilaukan.

Semakin tinggi matahari meninggalkan cakrawala, semakin tebal pula kabut yang menutupi permukaan bumi.

Apalagi ketika rumput-rumput yang basah dengan embun itu mulai terjamah pula oleh jangkauan sinarnya.

Keempat orang itu sudah mencapai lembah sungai dan berjalan di antara rumah penduduk yang padat.

Seorang wanita tua yang telah turun dari rumah untuk menyapu halaman memandang mereka dengan heran.

Begitu pula beberapa orang penduduk yang pergi ke ladang masing masing.

Orang-orang itu menatap rombongan kecil tersebut tanpa berkedip.

"Heran! Orang-orang itu memandang kita seperti belum pernah melibat orang sebelumnya. Agaknya bencana alam yang hampir memusnahkan seluruh milik mereka itu telah membuat mereka tidak bersahabat lagi"

Tong Ciak berdesah di antara langkahnya. Toat-beng-jin menarik napas panjang.

"Biarlah! Kita tak usah memperhatikannya! Nanti kita menyewa perahu saja di desa Ho-ma-cun, biar tidak terlalu menarik perhatian orang..."

"Desa Ho-ma-cun...?"

Tiba-tiba Yang Kun menukas.

"Benar! Ada apa...?"

Si Pendek Tong Ciak terheran heran.

"Kakek Piao Liang..."

"Ohh.. .itu!"

Tong Ciak tersenyum.

"Kakek guruku memang berasal dari dusun itu, biarlah nanti kuperlihatkan bekas tempat tinggalnya. Toh kita akan melewatinya juga. Apalagi rumahnya persis di pinggir jalan besar yang menuju ke arah sungai."

Toat-beng-jin dan Souw Lian Cu memandang Tong Ciak dan Yang Kun dengan heran, tapi keduanya tidak bertanya lebih lanjut.

Mereka meneruskan langkahnya tanpa berbicara lagi.

Toat-beng-jin paling depan, kemudian Tong Ciak Cu-si, baru kedua orang remaja yang tidak pernah berbicara satu sama lain itu.

Sebenarnya ingin juga rasanya pemuda itu mengajak omong Souw Lian Cu.

Tapi melihat gadis tersebut berwajah keruh, apalagi tampaknya sangat membenci dirinya, Yang Kun terpaksa menutup mulutnya.

Hanya sesekali ia melirik ke arah gadis ayu yang melangkah tak jauh darinya itu.

Dalam hati pemuda itu berharap kalau-kalau si gadis mau menyapa dirinya.

Tapi harapan itu tak pernah terlaksana.

Jangankan menyapa, sedang menolehpun hampir tak pernah dilakukannya.

Mata yang indah itu selalu menatap tajam ke depan, sekejappun tak pernah menoleh ke samping atau ke belakang, seakan-akan Yang Kun yang berada di dekatnya itu tak pernah ada.

Kalau toh gadis itu membuka mulutnya, kata-kata yang keluar tentu hanya ditujukan kepada Toat-beng-jin atau Tong Ciak Cu-si.

"Ah, sudahlah...!"

Akhirnya Yang Kun berdesah di dalam hati.

"Setiap orang tentu saja berhak untuk bersikap sekehendak hatinya sendiri. Kenapa aku mesti penasaran? Membuang-buang waktu saja!"

Kemudian pemuda itu memperlambat langkahnya, sehingga beberapa saat kemudian dirinya sudah sedikit jauh tertinggal di belakang.

Sambil menggendong tangannya di belakang mulutnya bersiul-siul ke kanan dan ke kiri, seolah-olah sedang menikmati cerahnya pagi bersama-sama dengan burung-burung yang mulai beterbangan di sekeliling mereka.

Sesekali dengan wajah gembira ia melempar burung kecil yang bertengger di atas dahan dengan batu.

Ternyata gadis ayu itulah yang kini menjadi penasaran.

Ingin rasanya ia menoleh untuk melihat apa saja yang dikerjakan oleh pemuda itu sehingga lagaknya demikian riangnya.

Suara siulan yang semakin lama semakin jauh tertinggal di belakang itu benar-benar membuat perasaannya menjadi kesal.

Tapi sungguh malu rasanya kalau ia harus memalingkan kepalanya.

Kedua orang tua yang berjalan di depan itu asyik berbicara satu sama lain.

Sedikitpun tidak mengetahui apa yang sedang bergejolak di dalam hati kedua remaja yang berjalan di belakang mereka.

Mereka cuma memperingatkan ketika mereka ketahui Yang Kun sedikit jauh tertinggal di belakang mereka.

"Yang-hiante...! Jangan terlalu jauh di belakang kami! kau bisa sesat jalan nanti!"

"Ah... jiwi Lo-Cianpwe tidak usah khawatir. Aku tidak akan pergi ke mana mana..."

Akhirnya rombongan itu sampai juga di desa Ho-ma cun, yaitu sebuah desa yang berada di paling ujung dari lembah tersebut.

Matahari telah mulai menyengat punggung mereka.

Dan dusun besar yang menjadi pangkalan perahu perahu nelayan tersebut tampak hidup di pagi hari itu.

Orang-orang tampak hilir-mudik di jalan besar membawa barang bawaan mereka masing masing.

Ada yang membawa peralatan perahu dan jala, ada yang kembali menjinjing keranjang ikan.

Beberapa buah warung makanan dan minuman juga tampak sibuk dengan langganannya, sementara belasan orang penjaja makanan kecil juga kelihatan bertebaran di tepi jalan.

Pagar kecil yang berada di simpang jalan menuju ke sungai juga tampak ramai para pedagang dan pembelinya.

"Nah, rumah kecil yang berada di sana itulah rumah mendiang Kim-mou Sai-ong Sucouw atau kakek Piao Liang...!"

Tong Ciak menunjuk ke sudut jalan.

Chin Yang Kun memandang ke depan.

Di atas sebuah pekarangan luas dan tak terurus ia melihat sebuah rumah kecil berbentuk kuno.

Semua pintu dan jendelanya tampak tertutup rapat dan banyak yang telah dimakan rayap.

Serambi bagian depan malah sudah penuh dengan tanam tanaman menjalar.

Halamannyapun telah penuh dengan semak-semak berduri.

"Apakah sudah tidak ada seorangpun yang tinggal di sana?"

Yang Kun bertanya dengan dahi berkerut.

"Lohu menaruh seorang penjaga sebenarnya..."

Tokoh Im-yang-kauw bertubuh pendek itu menghela napas berat.

"...Tapi oleh karena orang tersebut sudah amat tua, apalagi hanya sendirian, dia tak mempunyai kemampuan lagi untuk mengurusi rumah dan halaman yang begitu luasnya. Lihatlah...!"

Tong Ciak menunjuk ke arah belakang rumah, di mana berdiri sebuah kandang domba yang telah dirombak menjadi tempat tinggaI.

Biarpun rumah itu juga tidak bersih, tetapi dapat dilihat kalau di sana tentu ada penghuninya.

Apalagi ketika dari belakang rumah terlihat asap mengepul dari sela-sela gentingnya.

"Hmm, Tong-hiante terkenang pada Kim-mou Sai-ong Sucouw rupanya..."

Toat-beng-jin tersenyum.

"Benar, Lojin-ong! Apakah tidak lebih baik kita singgah sebentar untuk makan pagi di sana?"

"Tentu saja. Tapi aku takut membikin orang tua itu menjadi sibuk karenanya. Sungguh kasihan. Lebih baik kita makan saja di warung, baru setelah itu kita pergi ke sana untuk menengok dia...!"

"Begitu juga baik. Ayoh, kita masuk ke warung bubur Hao Chi kalau begitu! Biarpun harus antri, tapi buburnya sungguh enak..."

Tong Ciak tertawa.

"Marilah..."

Mereka berempat memasuki warung Hao Chi yang berada di pojok pasar.

Warung itu sebenarnya cukup luas, mungkin dapat menampung sekitar tiga puluh orang pembeli.

Meski begitu ketika mereka masuk ternyata semua kursi telah terisi.

"Wah! Kita terlambat datang agaknya..."

Tong Ciak mengeluh.

"Kita mencari warung bubur yang lain saja..."

Toat-beng-jin berkata.

"Aduuhh... Tong Tai-Ciangkun kiranya! Mari! Mari silahkan masuk! Di dalam masih ada kursi,"

Tiba-tiba seorang lelaki gemuk berwajah riang keluar menyambut mereka.

"Husss! Hoa Chi...! Aku kan tidak menjabat Tai-Ciangkun lagi!"

Tong Ciak mengawasi pemilik warung yang sudah amat dikenalnya itu.

"Oh. maaf... maaf! Marilah masuk Tong... Tong Taihiap!"

"Hmm, masih juga pakai Taihiap segala!"

Tong Ciak melangkah masuk mengikuti pemilik warung.

"Marilah, Lojin-ong! Mari nona Souw... Yang-hiante!"

"Hai! Hai! Hao Chi! Mengapa orang-orang itu masih memperoleh kursi juga? kau bilang bahwa tempatmu telah penuh sehingga kami harus duduk di atas bangku seperti ini!"

Mendadak dari sudut ruangan berdiri seorang lelaki tinggi besar berteriak teriak ke arah pemilik warung bubur.

"Lam sicu... ini... ini..."

Pemilik warung itu menjadi pucat dan gemetar.

"Berikan kursimu itu kepada kami! Biarlah orang yang baru datang ini ganti duduk di bangku kami!"

Orang tinggi besar itu berteriak kembali.

Kawan-kawannya yang semula juga ikut duduk di bangku tersebut turut berdiri pula di sampingnya.

puluhan orang yang sedang makan minum di tempat itu menonton peristiwa tersebut dengan tegang.

"Tapi... tapi..."

Hao Chi semakin gugup. Tong Ciak melangkah maju. Kemudian dengan tenang tokoh Im-yang-kauw yang berkepandaian sangat tinggi itu menepuk bahu si pemilik warung.

"Tenanglah, Hao Chi. Luluskan saja permintaan mereka! Biarlah kami duduk di bangku mereka. Tidak apa-apa. Jangan takut!"

"Tong-hiante benar...! Biarlah kami duduk saja di bangku mereka."

Toat-beng-jin tersenyum. Tokoh tua ini tersenyum melihat kesabaran Tong Ciak Cu-sinya kali ini.

"Tapi... tapi... mana aku berani..."

"Sudahlah! Biarlah kami semua duduk di bangku mereka."

Tong Ciak menukas, lalu melangkah menuju ke tempat si tinggi besar, diikuti Toat-beng-jin dan sepasang remaja itu.

Ternyata hal itu justru sangat mengagetkan si tinggi besar dan kawan-kawannya.

Mereka benar-benar tak mengira kalau orang-orang yang baru datang itu demikian mudahnya mereka kuasai.

Mereka menjadi salah tingkah malah ketika keempat orang yang baru datang tersebut mendatangi ke tempatnya.

Tapi si tinggi besar dan kawan-kawannya itu tentu saja tak mau kalah gertak.

Dengan senyum memandang rendah mereka bertolak pinggang.

"Nah, begitu! Kalian datang belakangan. Sudah seharusnya kalau harus duduk pula di sini menggantikan kami..."

Si tinggi besar membuka mulut dangan nada sinis.

Ketika nona Souw dan Yang Kun melangkah ke depan, Tong Ciak cepat-cepat menahan lengan mereka.

Orang tua itu mengisyaratkan kepada muda mudi itu agar bersabar.

Kemudian dengan penuh hormat tokoh Im-yang-kauw bertubuh pendek itu menjura.

"Sicu benar...! Memang kamilah yang seharusnya duduk di bangku itu... Maafkanlah Hao Chi... Eh! Anu... bolehkah kami berkenalan dengan cuwi semua?"

Ucapnya halus.

"Tuan-tuan ini adalah para... pengawal Tan-Wangwe (hartawan Tan), pemilik separuh dari perahu yang tertambat di atas sungai itu."

Hao Chi membisiki Tong Ciak.

"Benar! Kami adalah orang-orang kepercayaan Tan-Wangwe."

Orang she Lam yang tinggi besar itu membenarkan ucapan Hao Chi.

"Namaku adalah Lam Hui, tapi orang-orang di daerah ini biasa memanggilku Houw ho (Si Harimau Air). Sedang kawan-kawanku ini juga bukan orang sembarangan. Mereka adalah Ngo-kui sui (Lima Siluman Air), dahulu adalah orang kepercayaan Sin-go Mo Kai Ci, datuk para bajak sungai!"

Agaknya selain Hao Chi memang tidak ada seorangpun di warung itu yang mengenal Tong Ciak, apalagi Toat-beng-jin!

Sebaliknya, semua orang yang berada di warung itu amat mengenal siapa keenam orang kepercayaan Tan-Wangwe tersebut.

Tetapi hal itu memang tidak aneh!

Selain kedua tokoh Im-yang-kauw itu jarang sekali berkunjung ke daerah mereka, para penduduk di lembah itupun jarang sekali yang pernah bepergian jauh dari lembah mereka itu.

Selama ini yang mereka kenal hanya para jagoan Tan-Wangwe yang rata-rata memang mempunyai kepandaian yang melebihi manusia biasa.

"Tapi Lam-sicu..., beliau ini adalah..."

"Sudahlah Hao Chi, kau tidak usah menyombongkan namaku! Sekarang aku juga seorang rakyat biasa seperti kalian,"

Tong Ciak lekas-lekas memotong perkataan Hao Chi. Tokoh bertubuh pendek ini memang tidak ingin dikenal orang.

"Kini lekaslah kau antar tamumu ini ke dalam! Aku dan kawan-kawanku sudah lapar sekali..."

"Baik, Tong... Tong Tai... Tong-sicu! Marilah, tuan...!"

"Eh, sebentar...! Aku juga ingin mengenal namanya."

Orang she Lam itu curiga.

"Siapakah nama mereka?"

"Ah, namaku Ciak dari marga Tong! Sedang orang tua di sampingku ini adalah pamanku. Dan kedua muda-mudi ini adalah kemenakanku. Kami baru saja berkunjung ke kuil Delapan Dewa yang berada di atas bukit itu."

Tong Ciak cepat menjawab.

"Sekarang kami sedang dalam perjalanan pulang kembali ke Liang yang."

"Apa maksud kalian mengunjungi kuil Im-yang-kauw itu?"

Yang Kun mengerutkan keningnya. Hatinya mulai tidak sabar. Tapi Tong Ciak segera melangkah menengahinya.

"Kami semua adalah penganut lm-yang-kauw..."

Tong Ciak pura-pura merasa tidak senang atas pertanyaan Lam Hui tersebut.

"...Tentu saja kami berbicara dan berunding tentang agama kami."

"Ahh, ternyata kalian adalah pendeta pendeta dari Im-yang-kauw!"

Sekali lagi Lam Hui tersenyum meremehkan, kecurigaannyapun lenyap.

"Tak heran sikapmu demikian tenang dan berani. Para penganut Aliran Im-yang-kauw rata rata memang mempunyai bekal iImu yang lumayan. Aku kenal baik dengan Han Su Sing, kepala kuil di atas bukit itu..."

"Ohh..."

Tong Ciak menjura lagi, seolah-olah sikapnya semakin mengindahkan lawannya. Dan hal ini membuat orang she Lam itu semakin besar kepala.

"Sudahlah! Sekarang kalian duduk saja di sini menggantikan kami. kami akan duduk di dalam!"

Dengan lagak seorang jagoan Lam Hui melangkah pergi diikuti kawan-kawannya.

"Eh! O iya... tolong salamku kepada Tai-si-ong dan Lojin-ongmu apabila kalian nanti menghadap pimpinan kalian itu."

"Hei, tuan sudah mengenal pimpinan pusat kami itu?"

Tong Ciak bertanya heran. Matanya saling memandang dengan Toat-beng-jin.

"Tentu saja. Memang ada apa? Hoho, kalian tidak usah takut!"

Orang she Lam itu menoleh dan membelalakkan matanya.

"Aku takkan melaporkan kejadian ini kepada mereka."

Saking herannya mendengar 'ucapan' itu, Tong Ciak dan Toat-beng-jin justru hanya tertegun saja di tempatnya.

Terlebih-lebih Lojin-ong atau Toat-beng-jin!

Mereka benar-benar tidak menyangka akan ditakut-takuti oleh seseorang dengan nama mereka sendiri!

Benar-benar konyol!

"Lojin-ong mengenal mereka?"

Akhirnya Tong Ciak bertanya kepada Toat-beng-jin. Orang tua itu menggeleng. Bibirnya yang tertutup kumis itu tersenyum masam.

"Dia takkan sekurang ajar itu kalau sudah benar-benar mengenal aku..."

Desahnya mendongkol.

"Hehe... orang sombong itu hanya bermaksud menggertak kita. Tapi kali ini gertakannya benar-benar tidak lucu!"

Yang Kun tertawa lirih.

Semuanya ikut tersenyum, cuma Souw Lian Cu yang tidak!

Gadis itu diam saja di tempatnya.

Matanya yang bulat besar penuh pesona itu melayang jauh ke luar halaman, seakan menghindar dari tatapan mata Yang Kun yang tidak disukainya.

"Sudahlah! Biarlah orang itu merasa puas atas kesombongannya. Kita tidak perlu melayaninya. Marilah kita duduk dan melanjutkan niat kita sendiri untuk melahap bubur panas di sini!"

Toat-beng-jin berkata seraya melangkah ke bangku panjang yang ditinggalkan oleh para pengawal Tan-Wangwe tadi.

Bangku yang mereka duduki sebenarnya tidak terlalu pendek, tapi karena mereka berempat, apalagi salah seorang di antara mereka adalah wanita, maka bangku itu terasa amat sempit bagi mereka.

Hampir saja Souw Lian Cu tidak jadi meletakkan pantatnya ketika ia harus duduk bersebelahan dengan Chin Yang Kun.

Tapi oleh karena tidak ada tempat yang lain lagi, maka dengan hati berat ia terpaksa duduk juga di sana.

la berusaha mengambil jarak sejauh mungkin, sehingga hanya separuh saja pantatnya yang berada di atas pinggir bangku.

Meskipun begitu, karena tempatnya memang sangat terbatas, lengan mereka terpaksa bersinggungan juga.

Gadis itu mengumpat di dalam hati!

Apalagi ketika dilihatnya Yang Kun tidak berusaha bergeser barang sedikitpun juga!

pemuda itu justru senyum-senyum seperti orang putus lotere.

Hao Chi mengantarkan sendiri bubur pesanan mereka.

Dengan terbungkuk-bungkuk pemilik warung tersebut meminta maaf berulang-ulang.

Tentu saja kelakuannya itu sangat mengherankan orang-orang yang berada di tempat itu.

Apalagi orang yang telah lama mengenalnya.

Tidak biasanya Hao Chi gendut bersikap demikian takut dan menghormat kepada seseorang.

"Wah, kini semua orang memperhatikan kita""

Tong Ciak berdesah.

"...Bubur ini menjadi liat rasanya dalam mulutku. Sukar benar kutelan...!"

"Ah... Tong-hiante, kau ini ada-ada saja! Ayohlah! Cepat habiskan mangkukmu! Kalau terlambat, kau tidak akan sempat lagi menghabiskannya...!"

Toat-beng-jin menukas.

"Benar...! Hatiku rasanya kok tidak enak..."

Yang Kun tiba-tiba menyela, seolab tahu dan merasakan pula perasaan kakek yang pintar meramal itu. Belum juga pemuda itu menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba Souw Lian Cu menuding ke arah jalan.

"Lo-Cianpwe, lihat...! Ada orang datang lagi!"

Semuanya menoleh ke halaman.

Tampak enam-tujuh orang berkuda memasuki halaman warung dan menambatkan kuda masing-masing di pagar samping.

Orang-orang itu bersama-sama kudanya tampak lusuh dan kotor, seakan-akan baru saja datang dari perjalanan yang jauh dan panjang.

Dengan langkah lesu dan gontai mereka berjalan memasuki warung tersebut.

Tak seorangpun yang berbicara.

Semua diam.

Seluruh tamu yang sedang makan minum di warung Hao Chi mengawasi kedatangan orang-orang asing tersebut, termasuk Hao Chi pula.

Malah beberapa orang diantara mereka telah mulai dijalari perasaan khawatir melihat tampang para pendatang yang seram dan galak-galak itu.

Apalagi ketika orang-orang itu mulai berdesakan di muka pintu mengawasi mereka.

Mata yang liar dan kemerah-merahan itu seakan-akan mau menelan mereka.

"Hmm! Di mana pemilik warung ini?"

Salah seorang diantara orang orang itu berseru dengan suara serak.

Dengan sigap orang itu meloncat melangkah di depan teman-temannya.

Tubuhnya yang gemuk bulat dengan kepala yang gundul kelimis itu seperti sebuah bola yang menggelinding ke depan.

Kulitnya yang pucat kehijau-hijauan semakin menambah keseraman wajahnya.

"Ah, Lojin-ong benar...!"

Tong Ciak berbisik setelah mengetahui siapa yang datang.

"Warung kecil ini benar-benar dalam bahaya bila Hao Chi tidak bisa melayani mereka."

"Tong-hiante mengetahui siapa mereka?"

Toat-beng-jin berbisik pula.

"Lojin-ong adalah seorang tokoh yang sangat ternama. Setiap orang kang-ouw tentu pernah mendengar nama Toat-beng-jin. Sayang Lojin-ong tidak pernah keluar ke dunia persilatan, sehingga Lojin-ong tidak pernah berkenalan dengan tokoh-tokoh kang ouw..."

Tong Ciak menjawab.

"Sebenarnya orang berkepala gundul ini bukan tokoh sembarangan pula. Dia adalah salah seorang dari Tujuh Iblis Ban-kwi-to yang bergelar Ceng-ya-kang. Kepandaiannya sangat tinggi, terutama racun kelabangnya...!"

"Eh! Dia...? Tong-hiante, biarpun aku tak pernah keluyuran di dunia kang ouw tapi aku pernah pula mendengar nama itu,"

Kakek itu menukas cepat.

"Wah, kenapa orang itu keluyuran sampai kemari? Hati-hatilah, kudengar semburan ludahnya mampu membunuh lawan seketika!"

Yang Kun belum pernah mengenal orang berkepala gundul itu.

Tapi ia pernah mendengar nama tersebut dari Chu Seng Kun.

Sahabatnya itu pernah mengikuti perjalanan Hek-eng-cu yang dikawal oleh para pembantunya.

Dan salah seorang di antara pengawal tersebut adalah si Gundul itu.

Yang pernah dikenal dan dilihat oleh Yang Kun adalah Tee-tok-ci dan Jeng-bin Siang-kwi, saudara seperguruan si Gundul.

Mengingat nama Tee-tok-ci, perasaan Yang Kun sedikit bergolak.

Teringat ketika tokoh beracun itu berpura-pura menjadi tabib palsu untuk menjebak dirinya.

Lalu teringat pula ketika iblis tersebut menyiksa dirinya dengan tikus-tikusnya yang buas.

Agaknya perubahan dari wajah Yang Kun itu dilihat oleh Toat-beng-jin.

"Biarkanlah! Kita tidak usah turut campur dengan urusan orang lain. Kita ke sini hanya untuk mengisi perut. Dan... urusan kita sendiri sudah sangat banyak dan sangat mendesak. Kita tak perlu menambah urusan itu dengan masalah-masalah yang lain..."

Orang tua itu memberi peringatan kepada kawan-kawannya seraya menunduk lebih dalam, agar tidak mudah dikenali orang.

Sementara itu Hao Chi tampak bergegas keluar menemui orang-orang itu.

Melihat tampang tamunya yang galak dan seram, ia segera menyadari dengan siapa ia sedang berhadapan.

Dengan sikap yang menghormat serta wajah yang penuh dengan senyuman ia mempersilahkan mereka masuk.

"Aduh, celaka...! Kami benar benar tidak tahu kalau hari ini tuan-tuan mau berkunjung ke warungku, sehingga kami tidak mempersiapkan kursi yang cukup..."

"Huh! Tak usah berbasa-basi! Lekas siapkan meja dan kursi buat aku dan kawan-kawanku! Potonglah ayam sebanyak-banyaknya, dan hidangkan kepada kami! Jangan membantah! Kami semua sangat lapar, oleh karena itu kami tak segan segan untuk membunuh siapa saja yang menghalang halangi kami."

Ceng ya Kang berteriak memotong perkataan Hao Chi.

"Tapi..."

"Apa katamu? Mau membantah?"

"Kami hanya menjual bubur. Kami tidak... kami tidak punya ayam. Bagaimana kami dapat menghidangkannya...?"

Hao Chi menjawab terbata-bata.

"Tidak perduli! Lekas kerjakan!"

Beberapa orang tamu tampak mulai meninggalkan meja mereka. Melalui pintu samping mereka keluar meninggalkan warung itu.

"Tuan...! Sungguh mati kami tidak mempunyai persediaan daging ayam..."

Hao Chi mulai ketakutan.

"Apaaa..??"

"Aku... eh, kami...tidak..."

"Kurang ajar! Nih rasakan! Cuh...!"

Ceng ya kang meludah.

"Aduhh... ohh! Mati aku!"

Ludah yang hanya segumpal itu melayang cepat menembus leher Hao Chi, sehingga pemilik warung itu terjengkang ke belakang dengan leher berlubang seperti terkena pisau.

Darah merah yang agak bercampur kehijau-hijauan tampak menyembur dari luka yang menganga tersebut.

Sementara tubuh yang gemuk itu berkelojotan seperti ayam disembelih, lalu diam tak bergerak.

Mati.

Para tamu menjadi gempar.

Mereka lari berserabutan meninggalkan mejanya.

Tinggal beberapa orang saja yang tinggal, termasuk rombongan Chin Yang Kun.

Para pembantu Hao Chi hanya tertegun saja di tempat masing-masing.

Dengan mulut ternganga mereka mengawasi majikan mereka yang telah terbujur menjadi mayat.

Tubuh itu berwarna kehijau-hijauan.

Mulutnya tertarik ke samping seperti orang mau tersenyum atau tertawa.

Hampir saja Souw Lian Cu tidak bisa mengendalikan hatinya.

Tangannya yang tinggal sebelah itu telah bergerak untuk melabrak mereka, tapi dari samping Toat-beng-Jin memberi isyarat agar bersabar lebih dahulu.

Agaknya ada sesuatu yang dinantikan oleh jago tua yang amat sakti itu.

Terpaksa gadis itu mengekang kemarahannya.

Tapi tidak demikian halnya dengan Chin Yang Kun!

Mayat Hao Chi yang tergolek kehijau-hijauan dengan muka yang seakan-akan tersenyum itu mengingatkan dia pada ibu dan adik-adiknya.

Masih jelas terbayang di kepalanya seluruh peristiwa di hutan lebat yang tumbuh di lereng Bukit Ular itu.

Keadaan mayat ibu dan adiknya persis mayat Hao Chi yang kini terlentang di depannya.

Dengan wajah kaku Yang Kun berdiri.

Isyarat dari Toat-beng-jin tidak diacuhkannya.

Buku-buku tangannya gemeratak menahan arus Liong-cu-i kang dan rasa sakit pada lukanya juga tidak diacuhkannya.

Yang terbayang di depan matanya hanya mayat ibunya yang amat sangat dicintainya.

Tentu saja keadaan pemuda itu sangat mengagetkan teman-temannya, Otomatis Tong Ciak dan Toat-beng-jin bangkit pula dari duduknya.

Tapi sebelum pemuda itu melangkah lebih lanjut, tiba-tiba dari ruang dalam muncul kelima orang pengawal Tan-Wangwe tadi.

Dengan muka merah seperti orang yang lagi diganggu kesenangannya mereka mendekati Ceng-ya-kang.

Wajah itu semakin meradang ketika melihat mayat Hao Chi yang menggeletak di atas lantai.

"Ha, siapa membuat ribut di sini?"

Geram Lam Hui. Ceng-ya-kang melangkah maju. Matanya yang bulat agak kehijau-hijauan itu memandang Lam Hui tak kalah galaknya.

"Kau menanyakan aku?"

Jawab iblis itu tak kalah dinginnya.

"Bangsat! Siapakah kau? Berani benar kau membikin rusuh di daerah kami?"

Dengan wajah kelam penuh nafsu membunuh Ceng-ya-kang maju lagi selangkah, sehingga Lam Hui terpaksa surut pula ke belakang.

Kawan-kawan Ceng-ya-kang yang berada di belakang tampak menyebar ke samping diikuti oleh anak buah Lam Hui.

Kedua pihak tampaknya sudah mulai bersiap-siap untuk menjaga segala kemungkinan.

Melihat situasi demikian seakan Toat-beng-jin mendapat jalan untuk menahan Chin Yang Kun.

Dengan sigap orang tua itu melangkah di depan Yang Kun.

"Yang-hiante, ada apa? Mengapa sikapmu tiba-tiba menjadi aneh? Apakah kau mengenal para pendatang itu?"

Yang Kun menggertakkan giginya untuk menahan perasaan sakit yang menyengat lukanya. Wajahnya masih tetap tegang ketika menjawab pertanyaan Toat-beng-jin.

"Lo-Cianpwe, seluruh keluargaku dibunuh orang! Namun pembunuhnya aku tidak tahu. Tapi mayat ibu serta adik-adikku keadaannya persis mayat pemilik warung itu. Kulit tubuh mereka juga kehijau-hijauan seperti kulit mayat itu. Mulutnyapun juga tersenyum seperti itu. Nah, siapa tahu orang itu adalah pembunuh ibuku?"

"Huh??"

Hampir berbareng Toat-beng-jin, Tong Ciak dan Souw Lian Cu berseru kaget.

Ketiga-tiganya memandang wajah Yang Kun yang kelam.

Memang, bagi mereka keadaan dan asal usul pemuda itu masih sangat gelap.

Meski begitu mereka benar benar tidak menyangka kalau pemuda di hadapan mereka tersebut telah sebatangkara.

Ingin benar rasanya mereka mengetahui lebih lanjut riwayat pemuda itu.

Tapi karena Yang Kun tidak mau berbicara lagi, maka merekapun terpaksa diam pula.

"Lalu apa yang akan hiante kerjakan?"

Tong Ciak menyela.

"Siauwte akan bertanya kepada orang gundul itu! Jika dia memang benar orang yang membunuh ibuku... huh, akan kucincang dia sampai lumat!"

Ancam pemuda itu penuh dendam.

"Tapi engkau masih belum sembuh. Padahal orang itu bukan orang sembarangan. Kehebatannya mempergunakan racun telah engkau lihat sendiri. Dengan segumpal ludah saja ia mampu membinasakan Hao Chi."

Toat-beng-jin memperingatkan.

"Siauwte tidak perduli!"

"Tapi itu konyol namanya!"

Tiba-tiba Souw Lian Cu berkata tandas.

"Apa gunanya membalas dendam kalau tidak berhasil dan jiwa sendiri malah menjadi kurban? Apa kata leluhurmu yang telah mati nanti? Dan siapa pula yang akan melampiaskan dendam yang belum terlaksana itu? Siapa? Huh, jangan bertindak bodoh! Pergunakanlah otakmu!"

Entah mengapa gadis itu seperti mau marah-marah melihat Yang Kun yang sakit tersebut akan maju menghadapi Ceng ya kang yang amat berbahaya itu.

Agaknya perasaannya telah tersentuh sehingga kebenciannya terhadap pemuda itu menjadi agak berkurang begitu mendengar riwayatnya yang menyedihkan.

Riwayat pemuda itu hampir-hampir seperti riwayatnya sendiri.

Ibunya juga dibunuh orang secara kejam.

Untung ayahnya telah membalaskan sakit hati itu.

Agaknya kata kata Souw Lian Cu yang pedas itu justru sangat mengena di hati Yang Kun.

Buktinya pemuda itu mengendorkan lagi urat-uratnya.

Dengan menghela napas berat ia menatap gadis yang ia tahu sangat tidak menyukainya itu.

Dan kesempatan ini benar-benar tidak disia-siakan oleh Toat-beng-jin untuk menasehati.

"Nona Souw benar...! Yang-hiante tidak boleh terlalu memperturutkan hati yang panas karena salah-salah urusanmu justru menjadi runyam malah. Iblis gundul itu mempunyai kepandaian tinggi. Biarpun kemungkinan tidak setinggi kepandaianmu, tapi kini engkau sedang terluka. Ya kalau engkau menang. Kalau kalah? Itupun kalau dia memang benar-benar pembunuh keluargamu, kalau bukan? Apakah urusan tidak bertambah menjadi berbelit lagi? Yang-hiante""

"Yang-hiante..."

Tong Ciak ikut berbicara.

"Iblis gundul itu sangat terkenal di dunia kang ouw. Kalau engkau sudah sembuh, sangat mudah bagimu untuk menyelidiki dan mencari dia..."

Sementara itu antara rombongan Ceng-ya-kang dan Lam Hui ternyata telah terlibat dalam sebuah pertempuran yang sengit.

Masing-masing memperoleh lawan sendiri-sendiri.

Tetapi oleh karena rombongan Ceng-ya-kang terdiri dari tujuh orang, maka Ceng-ya-kang sendiri tampak berdiri bebas di pinggir, menonton serta berjaga-jaga apabila kawan-kawannya membutuhkan pertolongan.

Lam Hui tampak bertempur dengan seorang tinggi kurus berambut panjang.

Mereka sama sama mempergunakan golok, dan ilmu golok mereka juga sama-sama ganasnya.

Masing-masing lebih menitikberatkan pada kekuatan tenaga dari pada keindahan jurusnya.

Sehingga sepintas lalu pertempuran itu dapat diibaratkan sebagai dua ekor kerbau yang berlaga dari pada dua orang jago silat yang bertempur.

Suara langkah dan napas mereka seperti akan merobohkan warung itu.

Dan setiap senjata mereka beradu, suaranya berdentang memekakkan telinga.

Tapi kekuatan mereka benar-benar seimbang, dalam tempo singkat amat sukar untuk menentukan siapa yang akan kalah atau menang.

Sedangkan anak buah Lam Hui, yaitu kelima anggota Ngokui-shui tampak berpencar melawan musuh masing-masing.Mereka berlima bersenjatakan ruyung (penggada) bersegi delapan, sementara kelima lawannya memegang beraneka macam senjata.

Kelima pasangan itu juga bertempur dengan kekuatan seimbang.

Masing-masing pasangan seperti mau berlomba untuk lekas-lekas membereskan lawannya dan membantu temannya yang lain.

Tapi karena kemampuan mereka rata-rata seimbang maka pertempuran mereka benar benar sengit bukan main.

Mereka saling tindih-menindih berganti-ganti.

Setelah yakin bahwa kawan-kawannya tidak mungkin dikalahkan, Ceng-ya-kang sambil meringis mendekati para pelayan warung yang sejak tadi berdiri membisu bagai kawanan patung batu.

"Hei, mengapa kalian masih tetap berdiri di sini? Ingin kubunuh juga seperti kawanan itu?"

Bagai sedang menghadapi buntu para pelayan itu menggigil ketakutan.

Salah seorang di antaranya malah sudah bersimpuh di lantai, kakinya yang gemetaran sudah tak kuat lagi menyangga tubuhnya yang gemuk.

"Ampun tuan...! Ampunilah kami! Anakku amat banyak... masih kecil-kecil pula..."

"Nah! Kalau begitu mengapa kalian tidak lekas-lekas mengerjakan perintahku tadi?"

"Pe-perintah... yang... yang mana, tuan...?"

"Menyembelih ayam, kataku! Goblog!!"

Ceng-ya-kang berteriak, sehingga pelayan gemuk yang bersimpuh tadi menjadi pingsan saking kagetnya. Dengan ketakutan terpaksa kawan-kawannya menggotong dia pergi.

"Awas! Kalau dalam seperempat jam kalian tidak datang membawa ayam, kubunuh seisi dusun ini! Mengerti?"

"Mengerti, tu-tuan..."

Iblis gundul itu tersenyum puas.

Ditariknya sebuah kursi, lalu duduk menonton pertempuran.

Entah dimana ia mengambil, tahu-tahu tangannya telah memegang sebuah guci arak.

Sambil menyaksikan teman-temannya yang berkelahi sesekali ia menuangkan isi guci itu ke dalam mulutnya.

Pertempuran semakin bertambah hebat dan kacau, sehingga para tamu yang masih berada di dalam ruangan itupun terpaksa keluar pula.

Toat-beng-jin dan kawan-kawannya terpaksa keluar pula untuk menghindar.

Mereka mencampurkan diri dengan para penonton yang lain.

"Hmm! Meski Kaisar telah berganti, ternyata keadaan masih juga demikian rusuhnya. Kesewenang-wenangan masih meraja-lela dimana-mana..."

Tong Ciak yang bekas pengawal Kaisar itu bergumam. '"Tentu saja, Tong-hiante. Selama masih ada manusia yang mengumbar nafsunya, dunia ini tak mungkin menjadi aman dan damai."

Toat-beng-jin yang berdiri di sebelahnya menyahut.

"Jika demikian halnya, mengapa kita ini tidak berusaha membantu terciptanya dunia yang aman dan damai seperti itu?"

Tiba-tiba Souw Lian Cu ikut berbicara.

"Maksud nona...?"

Toat-beng-jin mengerutkan keningnya.

"Mengapa kita semua hanya diam saja menyaksikan kesewenang-wenangan yang terjadi di depan kita? Mengapa Io Cianpwe mencegah siauwte untuk turun tangan membantu pemilik warung itu?"

Tong Ciak tampak tersenyum melihat semangat gadis cantik yang baru menginjak masa remaja tersebut.

Sedang Yang Kun tampak mengangguk-anggukkan kepalanya, agaknya pendapatnya sama dengan pendapat gadis itu.

"Lalu aku mesti harus berbuat bagaimana, nona? Menghajar mereka? Haha, agaknya nona melupakan sesuatu, meskipun Lohu mempunyai jabatan sebagai Algojo di Im-yang-kauw, tapi lohu adalah seorang tokoh agama penganjur kebaikan dan kesucian! Apa jadinya kalau aku sendiri selalu berbuat kekerasan? Apa bedanya perbuatanku itu dengan perbuatan mereka?"

Orang tua yang bergelar Toat-beng-jin itu menegaskan dengan panjang lebar.

"Tetapi... bukankah maksud dan tujuan kita baik? Kukira kekerasan yang kita lakukan berbeda sifatnya dengan kekerasan yang mereka perbuat."

Yang Kun ikut mengeluarkan pendapatnya. Kakek sakti itu menatap Yang Kun sejenak, kemudian tertawa lirih.

"Aha, agaknya Yang-hiante mempunyai pendirian yang sama dengan nona Souw..."

"Aku... aku... maksudku, sikap Lo-Cianpwe itu benar benar sangat membuat penasaran di hati kami."

Yang Kun membela diri dengan muka berubah merah.

"Alaa... Sudahlah, Yang-hiante,"

Tong Ciak Cu-si menengahi mereka.

"Kalau berbicara soal kebenaran, kesalahan atau kesewenang-wenangan, apalagi tentang mana yang salah atau yang benar, bisa lekas tua kita nanti. Pengertian tentang itu sangatlah dalam dan luas, tak selesai dalam dua-tiga hari bila kita perbincangkan. Pendapat nona Souw serta Yang-hiante untuk memberantas atau menghancurkan tindak kesewenang-wenangan di dunia ini memang benar. Tapi dalam hal ini pendapat Lojin-ong juga tidak salah. Soalnya setiap orang mempunyai keyakinan dan cara yang berbeda dalam melaksanakannya. Ibarat orang mau membunuh ular, ada yang memakai tongkat pemukul, ada yang memakai perangkap, tapi ada juga yang hanya memakai tangan kosong belaka. Jadi, mestikah hal seperti itu diperdebatkan? Bukankah setiap orang bebas untuk memilih cara masing masing?"

"Tapi..."

Souw Lian Cu masih mau membantah.

"Sudahlah, nona...! Nanti kalau kita punya waktu, kita berbicara lagi mengenai soal ini. Lihatlah! Pertempuran mereka telah mencapai saat-saat yang menentukan!"

Toat-beng-jin memandang ke arah pertempuran.

Benarlah.

Pertempuran sengit yang melibatkan beberapa jago silat tersebut ternyata telah menuju pada titik titik penyelesaian.

Selain Lam Hui yang masih bertempur satu lawan satu dengan lawannya, yang lain ternyata telah mengelompokkan diri dan bertempur dalam satu barisan.

Ngo kui-shui yang semula berkelahi secara perseorangan ternyata sekarang telah berkumpul menjadi satu dalam suatu barisan yang kuat.

Kemampuan perseorangan di antara mereka ternyata masih di bawah dari rata-rata kepandaian lawannya, sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk bertempur secara bersama-sama.

Memang benar, setelah mereka berlima bertempur dalam satu barisan, mereka dapat saling membantu dan menyerang musuh dengan lebih teratur.

Mereka menyerang dan bertahan secara rapi.

Akibatnya sungguh berat bagi kelima lawannya.

Pertahanan bersama Ngo-kui-shui sekarang benar-benar sukar ditembus.

Padahal serangan bersama yang dilakukan oleh Lima Siluman Air itu semakin gencar dan berbahaya.

Maka beberapa jurus kemudian orang-orang yang datang bersama Ceng-ya-kang itu menjadi repot dan terdesak dengan hebat.

Beberapa orang di antara mereka malah sudah menderita luka tersabet ruyung lawannya.

Sementara itu Lam Hui yang bertubuh lebih besar dan kekar dari pada lawannya, ternyata secara pasti juga dapat menindih musuhnya.

Ayunan goloknya yang kuat dan keras itu semakin tak dapat ditahan oleh lawannya.

Beberapa kali tampak si Tinggi Kurus terhuyung-huyung bila beradu tenaga.

Sehingga tak lama kemudian anak buah Ceng-ya-kang itupun terjatuh di bawah angin.

Ceng-ya-kang yang menonton di tepi arena menjadi marah bukan main.

Kulit mukanya yang pucat kehijau-hijauan itu semakin tampak hijau gelap.

Tubuhnya yang tambun gemuk tampak bergetar.

Lalu sambil membanting guci araknya yang telah kosong hingga berkeping-keping, ia bangkit dari kursinya.

Dengan mata menyala ia mendekat ke arah pertempuran.

Yang Kun dan Souw Lian Cu menjadi tegang sekali.

Beberapa kali kedua remaja itu menoleh ke arah Toat-beng-jin, seolah menunggu reaksi atau perintah orang tua sakti itu.

Tapi Toat-beng-jin seakan tak mengacuhkan keadaan di sekitarnya.

Dengan tenang matanya masih mengawasi langkah iblis berkepala gundul itu.Sedikitpun tak ada tanda tanda kalau dia ingin membantu para pengawal Tan-Wangwe, atau paling tidak mencegah iblis beracun itu membunuh lawan lawannya.

"Lo-Cianpwe...!"

Dengan bibir bergetar saking tegangnya Yang Kun mendesak maju, diikuti Souw Lian Cu. Tanpa menoleh orang tua sakti itu menempelkan jari telunjuknya di atas bibir.

"Ssst! Jangan tergesa-gesa! Orang itu takkan membunuh Lam Hui dan kawan-kawannya. Tunggulah! Sebentar lagi akan tiba seorang yang akan mencegah perbuatannya..."

Bisiknya perlahan.

Memang benar.

Belum lagi Ceng-ya-kang melangkah lebih jauh, dari arah ujung jalan desa terdengar suara langkah kaki kuda berderap mendekati tempat itu.

Iblis berkepala gundul itu tampak tertegun sebentar, kepalanya menoleh ke arah pintu halaman.

LaIu setelah meneliti suara itu sejenak, iblis tersebut kemudian berteriak ke arah kawan-kawannya yang sedang bertempur.

"Awas, hati-hati! Anjing Kaisar itu datang lagi!"

Tong Ciak dan Toat-beng-jin saling memandang dengan wajah penuh tanda tanya.

"Anjing Kaisar? Siapakah yang dimaksudkannya?"

Pengurus Agama bertubuh pendek itu berbisik perlahan.

"Entahlah...!"

Toat-beng-jin menggeleng.

Kawan-kawan Ceng-ya-kang tampak berloncatan mundur menjauhi lawannya.

Mereka berkumpul di samping Ceng-ya-kang tanpa mengurangi kewaspadaan masing-masing.

Senjata mereka tetap teracung ke arah lawan mereka.

"Huh! Bangsat perusuh! Jangan lari!"

Baca Juga: Jodoh Rajawali 16

Baca Juga: Jodoh Rajawali 11

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger