Eps 6 Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono
Baca online Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono
Cersil Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono.
Sambil berteriak Lam Hui melangkah memburu lawan lawannya.
"Berhenti!"
Tiba-tiba Ceng-ya-kang balas berteriak pula.
"Apakah engkau ingin menjadi mayat seperti orang itu?"
Sambungnya sambil menunjuk ke arah mayat Hao Chi.
Lam Hui berhenti tepat di atas mayat Hao Chi.
Matanya melotot mengawasi mayat yang berwarna kehijau-hijauan itu.Makin lama dia seperti mengenali ciri ciri kematian seperti yang kini berada di hadapannya.
Mulut tersenyum mau tertawa dengan kulit tubuh yang tetap segar berwarna kehijau-hijauan!
Kemudian Lam Hui kembali menatap ke arah Ceng-ya-kang.
Hatinya mendadak seperti tersiram air dingin ketika lapat-lapat seperti mengenal orang berkepala gundul di hadapannya itu.
"Tuan... apakah tuan berasal dari Ban-kwi-to...?"
Gumamnya tak jelas. Ceng ya kang mendengus dengan angkuhnya. Tanpa memperdulikan lagi pada Lam Hui dan kawan-kawannya, iblis ke lima dari Ban-kwi-to itu memberi perintah kepada anak buahnya.
"Buanglah mayat ini keluar! Kemudian aturlah kembali meja dan kursi yang berserakan itu ke tempat semula! Biarlah kutemui anjing Kaisar itu di sini..."
Dipandang rendah begitu rupa oleh lawannya, Lam Hui menjadi tersinggung.
Tapi nama Ban-kwi-to (Pulau Selaksa Setan) benar-benar membuat hatinya berkerut.
Apalagi ketika tiba-tiba ia melihat seorang anak buah si Gundul sendiri berteriak setinggi Iangit dan menggelepar di atas lantai begitu menyentuh mayat Hao Chi.
"Goblok! Dia terkena racun Kelabang Hijauku! Mengapa kalian tidak memakai alas tangan?"
Ceng-ya-kang berteriak nyaring, sehingga anak buahnya yang lain mundur ketakutan.
Begitu pula Lam Hui dan teman-temannya.
Tak terasa mereka mundur keluar pintu.
Orang itu hanya menggelepar sebentar di atas lantai, kemudian mati.
Perlahan-lahan kulit tubuhnya berubah menjadi kehijau-hijauan.
Bibirnya tertarik ke samping seperti orang mau tersenyum atau tertawa, seolah-olah pada saat-saat terakhir nyawanya akan keluar, ia melihat bidadari yang datang menjemputnya.
Sekali Iagi dada Yang Kun seperti berdentang dengan keras.
Bayangan wajah para pemikul tandu ibunya yang berkelojotan di atas tanah yang becek kembali menggoda hatinya!
Kematian para pemikul tandu itu benar-benar ia saksikan dengan jelas.
Persis kematian orang ini!
"Huh!"
Yang Kun menggeram tanpa terasa, seakan ingin mengeluarkan semua rasa geram, marah, serta lega yang menghimpit jantungnya.
Kejadian yang baru saja berlangsung di depan matanya tadi membuat Yang Kun merasa yakin bahwa racun si Kelabang Hijau inilah yang membunuh ibu serta adik-adiknya.
"Hmm, keparat! Kubunuh kau!"
Desah pemuda itu hampir tak terdengar saking tegang hatinya.
Ternyata semua gerak-gerik Yang Kun tersebut tak pernah terlepas dari pengawasan teman-temannya.
Oleh karena itu begitu terlihat dia melangkah maju dengan tangan terkepal, Toat-beng-jin dan Tong Ciak Cu-si segera menahannya.
"Yang-hiante, bersabarlah...! Mengapa engkau tidak bisa mengendalikan diri lagi? Tadi sudah kami katakan bahwa saat ini belum waktunya engkau mengumbar kemarahanmu, apapun alasannya! Kalau kau paksa juga, kemungkinan besar justru akan gagal dan kau malah kehilangan kesempatan untuk membalaskan sakit hatimu."
Tong Ciak membujuk.
"Tapi sekarang siauwte telah yakin seyakin-yakinnya, pasti orang itu yang membasmi keluargaku! Racun itulah yang membunuh ibuku! Dan seperti yang telah kita saksikan tadi, dialah si empunya racun aneh tersebut!"
"Benar! Memang benar dialah yang mempunyai racun inti kelabang hijau itu! Tap... siapa tahu bukan dia yang berbuat? Siapa tahu ada orang lain yang meminjam racunnya untuk membasmi... membasmi keluargamu?"
"Oleh karena itu siauwte ingin menanyakannya..."
Tong Ciak menghembuskan napasnya kuat kuat, seolah olah ingin menutupi rasa dongkolnya.
"Itulah yang kami khawatirkan sejak tadi! Kesehatanmu belum mengijinkan kau berhadapan dengan orang itu! Dalam keadaan sehat kami tidak perduli apa yang akan kau lakukan!"
"Ohh...!"
Bagai tersiram air dingin, api kemarahan yang berada di dalam dada Yang Kun surut kembali, kesadarannya menjadi pulih seperti sedia kala.
Benar, hatinya berkata.
Paman bungsunya pernah berkata, bahwa musuh keluarganya tidak hanya satu orang.
Mereka terdiri dari banyak orang!
Nah, mengapa sekarang ia harus tergesa-gesa terhadap orang ini?
Bukankah lebih baik ia mempergunakan orang ini sebagai umpan untuk memancing musuh-musuhnya yang lain?
"Baiklah."
Pemuda itu berjanji di dalam hati.
"Aku akan bersabar demi terlaksananya tugas yang diberikan oleh ayah dan paman. Ceng-ya-kang...! Hmm, aku tidak boleh lupa kepada nama ini, Ceng-ya-kang dari Ban-kwi-to! Akan kucari kelak nama ini, biar sampai di ujung langit sekalipun."
Memperoleh keputusan demikian Yang Kun menjadi lega dan tenang kembali.
Perlahan-lahan ia mundur kembali ke tempat semula.
Meskipun demikian matanya tetap memandang dingin ke dalam warung, di mana iblis beracun itu sedang duduk dikelilingi kelima anak buahnya yang masih hidup.
"A-a...anu t-tuan, ma...maafkanlah kami!"
Tiba-tiba dari arah belakang warung muncul lagi para pelayan pembantu Hao Chi, yang tadi diancam oleh Ceng ya kang untuk membuat masakan ayam.
Dengan tergesa dan ketakutan orang-orang itu membawa nampan-nampan berisi gorengan daging ayam ke meja iblis Gundul tersebut.
"Maaf kami... kami agak terlambat, sebab... sebab kami harus... kami harus mencarinya dahulu di rumah tetangga... sebab... kami tidak punya ayam sendiri!"
Iblis dari Ban-kwi-to itu tampak tertegun sebentar.
Sebenarnya ia telah melupakannya, tapi melihat gorengan ayam yang masih mengepul itu air liurnya otomatis menetes.
Dengan wajah gembira ia mengangguk dan menyuruh para pelayan tersebut pergi dari sana.
"Hehehe... bagus! Bagus! Biarlah masakan ini kupakai untuk menjamu anjing Kaisar itu,"
Katanya sambil menyambar sepotong paha ayam serta melahapnya.
Para penonton yang masih berdiri di halaman menoleh dengan serentak ke jalan, ketika seorang penunggang kuda tampak berhenti di pintu halaman.
Seorang lelaki muda berbadan tegap gagah dan berwajah keren, turun dari punggung kudanya yang juga tegap perkasa.
Lelaki tersebut kelihatan tertegun sebentar.
Matanya yang mencorong tajam itu menatap nyalang ke arah orang-orang yang berdiri bergerombol di halaman warung, agaknya ia merasa heran melihat banyak orang yang berdiri di sana.
Tapi serentak ia melihat Ceng ya kang sedang duduk di dalam warung bersama-sama anak buahnya, ia tampak tersenyum maklum.
Dengan langkah tenang, setelah menambatkan kudanya, lelaki gagah itu berjalan menuju warung.
Tak ada kesan apapun pada wajahnya yang putih bersih itu.
"Hehehe... selamat bertemu lagi, Hong-lui-kun Yap Kiong Lee!"
"Hem, kau berada di sini. Ceng ya kang!"
"Hehe... benar! Aku memang menunggumu di tempat ini. Sudah kusiapkan makanan untuk menjamu engkau. Marilah...!"
"Terima kasih!"
Hong-lui-kun menarik sebuah kursi dan duduk di depan Ceng-ya-kang.
"...Tapi biarlah aku memesan makananku sendiri. Tak usah kau..."
"Heheheh... tidak usah repot-repot lagi. kau tak mungkin bisa memesan masakan lain lagi selain ini. Pemilik warung ini telah kubunuh, heheh..."
Mata lelaki muda itu tampak berkilat sekejap, sehingga senyum di bibir Ceng-ya-kang juga ikut terhenti untuk beberapa saat. Tapi lelaki itu segera tersenyum kembali.
"Sudah kuduga. Dimanapun kau dan saudara-saudaramu dari Ban-kwi-to berada, di situ tentu segera terjadi kerusuhan atau pembunuhan! Kalian memang kumpulan iblis yang tidak berwatak manusia! Kalian lebih brutal dan lebih keji dari pada binatang!"
Iblis Gundul itu tidak marah dicaci-maki seperti itu. Tangannya yang gemuk itu justru menyambar lagi daging ayam di hadapannya.
"Hehheh... ayoh, makanlah! Nanti masih banyak waktu kalau kita ingin saling memaki,"
Katanya sambil tertawa serak. Sementara itu Toat-beng-jin dan Tong Ciak Cu-si yang berada tak jauh dan tempat itu kelihatan saling memandang satu sama lain.
"Tong-hiante! kau mengenai pemuda yang baru datang itu?"
"Ya! Aku mengenal dia dan keluarganya dengan baik. Bersama-sama dengan ayah dan adiknya yang kini menjadi panglima besar kepercayaan Kaisar Han, pemuda itu sering pergi ke Kotaraja, ketika lohu masih menjabat sebagai Panglima Pasukan Pengawal Istana, Siang-houw Nio nio, ibu pemuda itu, juga bukan orang sembarangan pula. Beliau masih terhitung bibi dari mendiang Kaisar Chin Si Hongte..."
"Ohh...!"
Toat-beng-jin dan Chin Yang Kun mengeluarkan suara kaget hampir berbareng, meski kekagetan mereka mempunyai dasar yang berbeda.
Tokoh lm yang-kauw itu agak kaget karena tak mengira bahwa pemuda gagah yang ia taksir tentu berkepandaian sangat tinggi itu, mempunyai latar belakang keluarga demikian hebat.
Sementara di dalam hati kakek itu juga merasa heran, kalau benar ibu pemuda itu masih keluarga Kaisar lama, mengapa kini pemuda itu bersama adiknya malah menjadi pembantu dari Kaisar Han?
Sedangkan kekagetan Chin Yang Kun lebih dititikberatkan pada kenyataan bahwa pemuda itu masih mempunyai hubungan keluarga dengan Kaisar Chin Si, sehingga berarti masih ada hubungan keluarga puIa dengan dirinya.
Tapi seperti juga dengan Toat-beng-jin, pemuda ini juga merasa heran, apa sebabnya pemuda gagah itu dikatakan sebagai "anjing Kaisar"
Oleh Ceng-ya-kang?
Apakah pemuda gagah itu mengkhianati keluarga ibunya dan membantu pihak musuh, yaitu pihak Kaisar Han?
Tiba-tiba Hong-Iui-kun Yap Kiong Lee tampak bangkit dari kursinya dengan tiba-tiba.
Wajahnya berubah menjadi dingin dan kaku ketika matanya menatap Iblis Gundul yang sedang menikmati ayam gorengnya.
"Ayohlah Ceng-ya-kang! Dimana saudara-saudaramu yang lain?"
Lblis Gundul itu berhenti mengunyah.
Matanya yang Iicik berwarna kehijau-hijauan itu mendelik seperti mata ular sanca.
Lalu dengan geram ia berdiri dan membanting sisa tulang yang dipegangnya ke atas meja.
"Bah! Jadi... engkaulah orang yang selalu membayang bayangi kami itu!"
Desahnya.
"Benar! Aku tahu bahwa kau dan saudara-saudaramu menginginkan pula Cap Kerajaan itu! Kalian telah aku curigai sejak kalian ikut menguber-uber keluarga Chin setahun yang IaIu. Hanya yang belum aku ketahui sampai sekarang, untuk siapa kalian bekerja kali ini. Aku cuma mendengar bahwa kau dan saudara-saudaramu selalu bersama-sama dengan orang aneh yang selalu menutupi mukanya dengan kerudung. Orang aneh itu bergelar Hek-eng-cu...!"
Tak terasa jari-jari Yang Kun mencengkeram lengan Toat-beng-jin yang berdiri di sampingnya.
Setiap perkataan yang diucapkan oleh Hong-lui-kun Yap Kiong Lee tadi bagai suara petir yang menggetarkan dadanya.
Dan getaran getaran itu seakan-akan membuka simpul kegelapan yang selama ini menutupi rahasia kehancuran keluarganya.
"Jadi... benar benar tidak salah lagi! Iblis Gundul ini adalah salah seorang dari para pembunuh yang selama berbulan bulan telah menguber uber keluarga itu."
Yang Kun bergumam di dalam hati.
Dan pemuda ini semakin yakin kalau pembunuh ibu, adik dan para pemikul tandu itu tentulah iblis ini pula!
Tapi lapat lapat Yang Kun masih teringat akan kata-kata pamannya, bahwa musuh keluarganya tidak hanya satu golongan saja.
Musuh yang menginginkan Cap Kerajaan tersebut lebih dari satu kelompok.
"Hmm. Kini semakin terang bagiku... Secara tak sengaja aku bisa memperoleh kepastian bahwa orang berkerudung itu benar-benar terlibat dalam peristiwa keji tersebut,"
Yang Kun menggeram.
"Yang-hiante, kau... kau kenapa?"
Toat-beng-jin yang merasa dicengkeram oleh Yang Kun tersebut berbisik perlahan di kuping pemuda itu.
Tapi Yang Kun seperti tidak mendengar bisikan tersebut.
Matanya yang dingin itu kini beralih menatap Hong-lui-kun Yap Kiong Lee.
Mulutnya berkemak kemik, seakan-akan mau mengucapkan sesuatu, tapi tak jadi sehingga yang terdengar hanyalah suara gumam yang tak jelas.
"Dan pemuda gagah yang disebut sebagai anjing Kaisar oleh Ceng-ya-kang ini tentulah dari kelompok lain yang menjadi saingan kelompok Hek-eng-cu. Hmh!!"
Geramnya.
Sebenarnyalah, secara tak sengaja kabut gelap yang semula menutupi rahasia pembantaian keluarga Chin Yang Kun mulai terungkap di muka pemuda itu sendiri.
Yang terang, motif atau latar belakang semua kejadian itu hanya berkisar pada perebutan "Cap Kerajaan."
Semua pihak berbondong bondong mendesak keluarga Chin Yang Kun, karena keluarga itulah yang selama ini memegang kunci rahasia dari benda pusaka tersebut.
Hanya yang masih harus diselidiki oleh pemuda itu sekarang adalah siapa atau kelompok mana yang telah membunuh paman bungsu, ayah serta pamannya yang lain itu?
Kelompok Hek-eng-cu ataukah kelompok Hong-lui-kun?
Ataukah masih ada kelompok yang lain lagi?
"Heh-heh heh...!"
Ceng-ya-kang tiba-tiba terdengar tertawa panjang.
"Apa yang kau tertawakan?"
Hong-lui-kun membentak.
"Heh heh, selama ini kami memang telah menduga bahwa orang she Liu itu (Kaisar Han) tentu menghendaki pula benda pusaka tersebut. Tanpa memegang Cap Pusaka Kerajaan itu kedudukannya tidak akan abadi. Maka begitu aku melihat Kim-sute (Yap Tai-Ciangkun) ikut mengintai para pelarian keluarga Chin setahun yang lalu, aku juga sudah yakin kalau Liu Pang telah mengirimkan pula orang-orangnya... heh heh... Tapi kalau sekarang kalian masih membayang bayangi kami dan beranggapan bahwa kami telah memperoleh benda pusaka itu... heh-heh... Kalian benar-benar salah besar!"
Ceng-ya-kang tertawa lagi terkekeh-kekeh. Tak terduga Hong-Iui-kun tetap tenang dan tidak tersinggung oleh ejekan iblis gundul tersebut. Wajahnya tetap tak berubah. Dingin dan kaku.
"Kami juga telah lama mengetahui, bahwa kalian belum menemukan Cap Kerajaan itu! Begitu pula para peminat yang lain! Kalau toh dalam beberapa hari ini aku selalu membayang bayangi kalian, hal itu disebabkan karena harta karun yang disembunyikan oleh bekas Perdana Mentri Li Su itu...! Siapa tahu cap yang hilang itu ikut terbawa dan tercampur menjadi satu dengan harta karun yang telah kalian temukan petanya itu?"
"Hah? Apa?"
Ceng ya kang berseru kaget. Jari-jarinya yang berkuku panjang itu mencengkeram pinggiran meja sehingga hancur.
"...Dari mana kau tahu rahasia itu?"
Memang tidak mengherankan jikalau iblis gundul itu tersentak kaget dan tercengang mendengar ucapan Hong-lui-kun yang terakhir tadi.
Tak seorangpun tahu bahwa secara tidak sengaja mereka mendapatkan peta yang tergambar pada potongan emas itu.
Potongan yang pertama mereka dapatkan secara tak sengaja dari saku Chin Yang Kun, ketika pemuda itu dapat mereka jebak di kota Tie-kwan setahun yang lalu.
Sedang potongan yang lain, yaitu potongan kedua, baru mereka dapatkan...
sehari yang lalu!
Maka sungguh sangat mengherankan sekali jika rahasia itu sudah dapat dicium oleh orang.
Dan agaknya Hong-Iui-kun sangat puas melihat keheranan lawannya.
Sambil mempermainkan jari-jari tangannya ia memandang ke atas, ke arah atap bangunan warung yang kecil itu.
"Janganlah heran! Secara kebetulan aku melihat apa yang dikerjakan oleh kedua temanmu ketika merampas barang itu dari tangan Tung-hai Nung-jin. Aku menjadi curiga saat itu, karena salah seorang dari temanmu itu pandai mempergunakan Ilmu Silat Mayat Mabuk, ilmu mana pernah kulihat di gedung Si Ciangkun di kota Tie-kwan setahun yang lalu, yaitu ketika aku bersama Yap Tai-Ciangkun menggerebeg gedung tersebut, karena Si Ciangkun telah terbukti mau berkhianat terhadap Kaisar Han!"
"Oh! Jadi kau melihatnya..."
"Benar! Dan selanjutnya akupun dapat mengintai pertemuan antara kalian itu. Aha, sungguh suatu pertemuan yang lengkap, sehingga aku dapat melihat semuanya."
Honglui kun Yap Kiong Lee menjawab. Sekejap matanya yang berkilat tajam itu menatap Ceng-ya-kang untuk mencari kesan. Lalu sekejap kemudian ia melanjutkan keterangannya.
"...Dan penemuanku sekali ini benar-benar amat berharga sekali! Setelah setahun aku bersama Yap Tai-Ciangkun berusaha mencari biang keladi kerusuhan di gedung Si Ciangkun itu baru kali inilah peristiwa itu agaknya mulai akan terungkap. Hmm, sayang aku hanya seorang diri..."
"Jadi... jadi kau sudah mengetahui semuanya?"
Dengan bibir agak tersenyum Hong-lui-kun menggelengkan kepalanya.
"Tahu semuanya sih... belum! Tapi setidaknya aku sudah dapat mengira-ira, hubungan apakah yang ada antara pengkhianatan Si Ciangkun yang kalian dalangi tersebut dengan kubu kalian mencari Cap Kerajaan. Semuanya tentu berkisar soal tahta singgasana kerajaan! Dan kini secara kebetulan kalian mendapatkan peta harta karun yang disembunyikan oleh mendiang Perdana Menteri Li Su..."
"Bangsat! Kalau begitu engkau harus kubunuh lebih dahulu...!!"
Tiba-tiba Ceng-ya-kang meloncat menerkam Hong-lui-kun Yap Kiong Lee.
"Ha... kau bermaksud membungkam mulutku, agar aku tidak membocorkan rahasia ini? Hmm, jangan harap kau bisa! Biar inti ludah kelabang hijaumu sudah mencapai kesempurnaan, tapi ilmu itu takkan dapat mengalahkanku."
Hong-Iui-kun meloncat ke samping dengan sigap. Lengan bajunya yang sebelah kiri ia pakai untuk mengebut ke depan, sehingga hawa beracun yang menyertai pukulan Ceng-ya-kang tersapu ke samping.
"Huh! Boleh kau coba! Cuh! Cuh! Cuh!"
Ceng-ya-kang yang gagal dalam serangan pertamanya itu berputar ke sebelah kiri, lalu tangan kanannya dengan jari-jari terbuka menghantam ke depan.
"Wuut!!"
Angin pukulan yang mengandung racun ular hijau berhembus menerjang Hong-lui-kun.
Dari sela sela bibirnya melesat gumpalan-gumpalan air ludahnya yang terkenal, Ludah Inti Kelabang Beracun!
Anak buah Iblis Gundul itu saling berloncatan keluar menyelamatkan diri.
Mereka tidak ingin mati konyol seperti temannya tadi.
Begitu pula para penonton yang berada di luar warung.
Tak terasa mereka juga melangkah surut, seakan akan takut kena percikan ludah yang ampuh luar biasa itu.
Ternyata Hong-lui-kun sendiri juga tidak berani memandang rendah percikan ludah beracun yang melesat bagai peluru itu.
Dengan lincah dan gesit tubuhnya melayang kesana kemari menghindarinya.
Gerakannya cepat luar biasa, sementara ujung lengan bajunya yang longgar itu mengebut beberapa kali menghalau hawa beracun yang menyerangnya.
Pertempuran antara dua tokoh persilatan itu makin lama makin seru.
Masing-masing mengeluarkan ilmunya yang hebat dan langka, melesat kesana kemari, berputar putar di antara meja dan kursi, sehingga rasa-rasanya warung yang kecil itu tidak bisa memuat lagi untuk pertarungan mereka.
Mereka hanya berdua, tapi pertempuran yang mereka lakukan rasa rasanya lebih dahsyat dan lebih hebat dari pertempuran beberapa orang tadi.
Yang amat mengherankan ialah meskipun mereka berputar putar dan melesat kesana kemari serta disertai angin pukulan yang menderu-deru, ternyata tak sebuah meja, bangku ataupun kursi yang berpindah dari tempatnya.
Pukulan maupun tendangan mereka seolah-olah tak mengandung tenaga.
Padahal Lam Hui dan kawan-kawannya yang berada di luar pintu melihat dengan jelas betapa gumpalan-gumpalan ludah beracun itu melesat menghantam meja, tiang rumah dan dinding hingga berlubang.
Sementara hawa pukulan beracun yang luput tampak mengotori udara di dalamnya.
Tapi sudah sekian lamanya mereka berkelahi, Hong-Iui-kun masih saja bertahan dan belum terlihat serangan serangannya yang berarti.
Anak murid keturunan Sin-kun Bu-tek yang sangat terkenal itu hanya melejit saja kian kemari dengan gin kangnya yang amat hebat!
"Lelaki gundul itu memang hebat!
Demikian sempurnanya dia mengatur dan mengontrol tenaga dalamnya, sehingga racun dalam setiap pukulannya dapat ia atur dan ia hemat dengan cermat sesuai dengan kebutuhan yang ia kehendaki.
Dengan cara demikian ia tidak menghambur-hamburkan begitu saja tenaga racunnya!"
Toat-beng-jin menggelenggelengkan kepalanya saking kagum.
"...Dan caranya dia menghimpun racun inti Kelabang Hijau dalam kelenjar ludahnya benar-benar tidak masuk akal! Begitu sempurna, sehingga tidak membahayakan dirinya sendiri. Padahal racun itu demikian ganas dan mematikan! Coba lihat, Tong-hiante! Serangga dan semut yang berada di jendela dan tiang itu! Mereka semua mati hanya karena di dekat mereka ada percikan ludah lelaki gundul itu. Padahal sedikitpun mereka tidak terkena air ludah tersebut..."
Tong Ciak tersenyum mengiyakan.
"Lojin-ong benar...! Tapi meskipun begitu iblis itu takkan dapat mengalahkan pemuda itu. Khabarnya mereka sudah beberapa kali bertemu dan berkelahi., tapi belum pernah satu kalipun iblis gundul tersebut keluar sebagai pemenang! Jangankan baru Ceng-ya-kang sendiri, sedang kakak kakak seperguruannya seperti Tee tok-ci dan mendiang Tiat siang-kwi saja takkan menang melawan pemuda itu."
Toat-beng-jin mengerutkan dahinya, sehingga alisnya yang putih tebal berjuntai itu bertemu satu sama lain.
"Benarkah...? Mengapa gerakan pemuda itu tampak biasa biasa saja?"
"Ah, dia sama sekali belum merasa perlu untuk unjuk gigi! Boleh Lojin-ong lihat, kalau dia nanti mengeluarkan ilmu silat andalan keluarganya...! Kutanggung tidak lebih dari sepuluh jurus, iblis gundul itu sudah akan lari terbirit-birit."
"Hah?!?"
"Lojin-ong tak percaya?"
"Ah, tentu saja lohu percaya!"
Toat-beng-jin tersenyum tersipu-sipu.
"Aku percaya, kalau sampai Tong Ciak Cu-si berkata begitu... hal itu tentu benar adanya!"
"Siauwte memang tidak berbohong. Silahkan saja nanti Lojin-ong melihatnya! siauwte percaya, begitu Lojin-ong melihat... Lojin-ong tentu akan segera berpikir, bahwa Im-yang-kun kita yang tertulis dalam lembaran kulit domba itu bukan satu-satunya ilmu yang tidak terlawan di dunia ini!"
"Ah, Tong-hiante ini bisa saja...Dari dulupun aku tak pernah mempunyai pendapat seperti itu."
Pertempuran kedua orang itu semakin lama semakin seru, Ceng-ya-kang yang merasa telah mengeluarkan semua pukulan beracunnya dan ternyata belum dapat juga menundukkan lawannya, menjadi marah sekali.
Tiba-tiba tangannya merogoh buntalan yang berada di balik bajunya yang longgar dan sekejap kemudian ia telah memegang bumbung bambu berwarna hijau.
Belum juga Hong-lui-kun dapat menebak apa isi dari bumbung bambu tersebut, mendadak benda itu telah dilemparkan oleh Ceng ya kang kepadanya.
Selain kaget, Hong-lui-kun menjadi curiga sekali!
Tak berani ia menangkis, apalagi menerimanya.
Dengan tangkas ia melejit ke samping untuk menghindari.
Tak terduga bumbung bambu itu meledak tepat di sebelahnya.
"Bummmm!"
Asap hijau tebal bergulung gulung menerjang dirinya. Baunya amis memuakkan! Sedetik kemudian kepala Hong-lui-kun Yap Kiong Lee terasa pusing.
"Kurang ajar!"
Umpat pemuda gagah itu sambil melompat jauh ke belakang.
Tapi bersamaan dengan saat kakinya menginjak tanah di luar rumah, sekali lagi sepotong bumbung bambu yang lain meledak pula di dekatnya.
Bumm!
Sekali lagi tubuh pemuda itu seakan-akan terbungkus asap hijau.
Ceng-ya-kang meloncat pula keluar memburu lawannya.
Para penonton yang sebagian besar adalah penduduk di sekitar tempat itu menjadi ketakutan dan berlari cerai-berai menyelamatkan diri.
Sehingga sekejap kemudian hanya tinggal Yang Kun berempat saja yang masih berada di sana.
"Gila!"
Hong-lui-kun mengumpat sambil terhuyung-huyung keluar dari gumpalan asap tebal tersebut.
Tetapi belum juga kaki pemuda itu dapat berdiri tegak, Ceng-ya-kang telah keburu datang dengan pukulan berikutnya.
Suara pukulan itu menCicit tajam, pertanda bahwa pukulan itu mengandung kekuatan lweekang yang maha dahsyat!
Apalagi di antara hawa pukulan yang meluncur tiba tersebut lapat-lapat tercium bau amis yang memuakkan!
Hong-Iui-kun sekali lagi mengumpat.
Kepalanya terasa berat sekali.
Semua yang dilihatnya seperti bergoyang goyang.Dan kakinya seperti lengket dengan tanah dan sukar untuk melangkah.
Padahal serangan lawan telah datang kembali dengan dahsyatnya!
"Hiyaaaat!!!"
Hong-Iui-kun berteriak dan meloncat tinggi ke atas, mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya untuk meloloskan diri dari pengaruh racun lawan.
Dengan kecepatan yang mengagumkan tubuhnya melenting tinggi bagai jengkerik raksasa yang marah.
Meskipun begitu ternyata ia belum dapat juga menghindari pukulan Ceng-ya-kang yang menerjang tiba.
"Desss!"
"Ouwghhh!!"
Tubuh yang tegap gagah itu meluncur semakin cepat dan terlontar sampai sepuluh tombak jauhnya.
Berjumpalitan sebentar di udara, lalu mendarat dengan kaki terlebih dahulu di atas tanah.
Ternyata biarpun terkena pukulan lawan, pemuda lihai itu masih bisa menunjukkan bahwa ia memang bukan tokoh sembarangan.
Beberapa kali Hong-lui-kun menggoyang-goyangkan kepalanya kekiri dan kekanan seolah-olah ingin menghilangkan sisa sisa rasa pening yang menggayuti dirinya.Setelah itu diambilnya sebutir obat anti racun yang selalu dibawanya dan ia telan dengan cepat, biarpun dia tahu obatnya itu hanya sekedar dapat menunda pengaruh racun lawan.
Sebab racun-racun hebat hasil ramuan jago racun seperti iblis-iblis Ban-kwi-to itu tentu hanya bisa diobati oleh mereka sendiri dengan obat-obat penangkal khusus buatan mereka pula.
Sementara itu Ceng-ya-kang tampak sangat puas atas kemenangannya, meskipun di dalam hati ada terselip juga sedikit perasaan heran dan kagum atas kekuatan lawannya.
Pemuda yang sejak dahulu selalu menjadi musuh bebuyutannya itu telah terkena Pukulan Kelabang Hijaunya, sehingga Iapisan baju bagian dadanya telah berlobang dan kelihatan kulit dadanya yang bertanda telapak tangan berwarna hijau.
Tetapi tidak seperti kebanyakan para korban pukulannya, tubuh pemuda itu tidak berubah menjadi kehijau-hijauan.
Tubuh yang tegap itu masih tetap tampak bersih dan segar.
Hanya noda bekas pukulan itu saja yang berwarna kehijau hijauan.
Malah kulit muka pemuda itu tampak semakin menjadi merah, sejalan dengan kemarahan yang agaknya sudah mulai terangkat didalam dadanya.
"Heh heh-heh... jangan harap kau bisa mengobati pukulan beracunku dengan segala obat obatan yang kau miliki! Di dunia ini hanya aku sendiri yang mempunyai obat pemunah racun kelabang hijau. heh he...! kau tunggulah, sebentar lagi kau akan mati perlahan-lahan dengan bibir tersenyum..."
Iblis Gundul itu tertawa terkekeh-kekeh untuk menutupi kekhawatirannya melihat Hong-lui-kun tidak segera binasa oleh racun yang diandalkannya itu.
"Wah, Tong-hiante kali ini salah perhitungan rupanya...!"
Toat-beng-jin yang melihat hasil pertempuran itu menggamit kawannya.
"Lihat! Pemuda Yang-hiante jagoi itu telah terkena pukulan Ceng-ya-kang!"
"Ah, Lojin-ong jangan buru-buru menilai duIu! Pemuda itu kan masih berdiri tegak di tempatnya."
"Yaa...tapi..."
"Alaaa... Lojin-ong ini suka benar berolok-olok! Pura pura tak mengetahui hal yang sebenarnya,"
Tong Ciak Cu-si lekas lekas memotong.
"Waah!?!"
Orang tua itu tersenyum kecut.
Sebenarnyalah, dengan luka yang dideritanya itu hati Hong-lui-kun Yap Kiong Lee tampak mulai panas.
Apalagi begitu mengetahui obatnya tidak mungkin bisa menolong dirinya.
Satu-satunya jalan yang harus dilakukannya hanyalah merebut obat pemunah lawan.
Dan usaha tersebut harus cepat-cepat ia laksanakan, sebelum racun yang mengeram dalam tubuhnya bobol dan melumpuhkan seluruh urat-uratnya.
"Ceng-ya-kang! kau lihatlah yang jelas! Seperti yang terjadi sejak dahulu, pukulan beracunmu tidak pernah bisa membinasakanku. Sekarang kau bersiaplah! Tumpahkanlah segala ilmu kepandaianmu, keluarkanlah semua racunmu! Kini giliranku untuk membunuh engkau...!"
Terdengar suara gemeretak tulang beradu ketika Hong-lui-kun mengerahkan Iwee kangnya melalui urat-urat di tubuhnya.
Kedua lengan yang bergantung bebas di samping tubuh itu perlahan-lahan diangkat ke depan, sejajar dengan tulang pundak, lalu lengan yang sebelah kanan ditarik ke belakang hingga menempel pundak.
Kemudian, dengan disertai hentakan yang keras penuh tenaga, lengan itu kembali lurus ke depan, sementara lengan yang sebelah kiri ganti ditarik ke belakang.
Dua buah kepalan tampak bergetaran di udara, dan...terdengar suara letupan kecil yang disertai kilatan cahaya terang, seakan-akan ada kilatan petir yang meledak di sana!
"Ohh?
Apa itu?"
Yang Kun dan Souw Lian Cu berseru hampir berbareng. Begitu pula dengan Toat-beng-jin. Orang tua itu tampak takjub pula melihatnya.
"Itulah Thian-lui gong-ciang! Karena ilmu itu pulalah pemuda itu memperoleh julukan Hong-lui-kun (Si Tinju Petir dan Badai)!"
Tong Ciak cepat menerangkan.
Ceng ya kang melangkah mundur dua tindak.
Agaknya iblis berkepala gundul itu menyadari pula kehebatan Thian-lui gong-ciang.
Dengan badan sedikit terbungkuk ke depan, iblis itu menyiapkan pula ilmu simpanannya.
Sekejap kemudian keduanya telah bertempur dengan hebatnya, Hong-lui-kun yang telah menyiapkan seluruh tenaga dalamnya itu meluncur ke depan dengan dahsyatnya.
Mula mula gerakan pemuda itu sangat cepat, tapi lambat laun menjadi lambat.
Tetapi sejalan dengan menurunnya kecepatan itu ternyata disertai meningkatnya kekuatan tenaga dalam yang tersalur pada setiap gerakan, sehingga Yang Kun dan ketiga orang temannya yang berada lima enam tombak jauhnya dari tempat itu ikut pula merasakan angin pukulan itu.
Tapi untuk beberapa saat Iblis Gundul dari Ban-kwi-to itu tampak masih bisa mengimbangi ilmu silat lawannya.
Dengan gerakan gerakan aneh, seperti layaknya seekor kelabang yang sedang marah, iblis itu berguling, melejit, meringkuk dan berlenggak-lenggok di atas tanah!
Sepasang kaki dan tangannya bergantian menyerang dan melontarkan segala macam racun untuk membunuh lawannya.
Kadang-kadang dari sela sela bibirnya yang tebal itu meluncur gumpalan gumpalan air ludah beracun yang sangat mematikan.
Dilihat sepintas lalu ilmu kepandaian iblis gundul tersebut memang sangat hebat dan mengerikan.
Halaman depan warung yang tidak begitu luas itu kini penuh dengan bermacam-macam racun yang bertebaran di mana-mana, sehingga Yang Kun dan teman-temannya terpaksa menyingkir pula ke halaman samping di mana kuda orang-orang yang sedang bertempur tersebut ditambatkan.
"Wah, untuk beberapa waktu lamanya warung ini akan menjadi tempat yang berbahaya!"
Toat-beng-jin bergumam.
"Benar! Racun yang berceceran itu dapat membunuh orang jika terinjak."
Tong Ciak menyahut.
"Duuaaaar!!"
Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras yang sangat mengagetkan, dan jambangan besar, tempat menyimpan air di dekat pintu masuk warung pecah berantakan terkena angin pukulan Thian lui-gong ciang Hong-lui-kun Yap Kiong Lee!
Airnya sampai berhamburan membasahi dan menggenangi sekitarnya.
Ceng-ya-kang yang sebenarnya menjadi sasaran pukulan sakti tersebut, tampak basah kuyup pula meskipun lolos dari bahaya.
Iblis berkepala gundul itu berguling guling menjauh dengan pakaian kotor penuh debu dan lumpur.
Dan...
hal ini benar benar membuat iblis itu naik pitam!
Kedua tangannya merogoh saku celananya dan keduanya telah menggenggam berpuluh-puluh...
kelabang hijau!
Lalu dengan menjerit keras iblis tersebut menggelundung cepat ke arah lawannya.
Dan dua tiga langkah dari tempat lawan, tubuh gemuk bulat itu melenting tinggi bagaikan katak menerkam lalat.
Hong-lui-kun tidak tinggal diam pula.
Melihat lawan telah menyerbu ke arah dirinya, tangannya segera menyongsong ke depan.
Serangkum udara panas meluncur dari telapak tangannya yang terbuka, menerjang ke arah tubuh Ceng yakang!
Dalam keadaan kritis ternyata ilmu Silat Kelabang Hijau dari tokoh kelima Ban-kwi-to itu menunjukkan pula kehebatannya!
Merasakan angin pukulan lawan menerjang ke arah perutnya, iblis itu segera menggeliat di udara beberapa kali.
Sehingga dari bawah gerak tubuh yang dia perlihatkan itu seperti gerakan seekor kelabang yang terkena sentuhan api panas!
Dan gerakan itu ternyata dapat membebaskan dia dari serangan Thian-Iui gong ciang!
Malah justru dalam saat yang demikian itu ia mampu membalas serangan tersebut dengan taburan kelabang hijau yang berada di telapak tangannya!
Bagai hujan lebat binatang melata berkaki banyak itu menyerbu ke arah Hong-Iui-kun Yap Kiong Lee.
Bau amis yang amat keras membuat pemuda tegap itu semakin merasakan pening yang amat sangat.
Tapi untuk menarik lengan dan sekali lagi melepaskan Thian lui-gong ciangnya sudah tidak ada waktu lagi.
Satu satunya jalan hanyalah mengerahkan Iweekangnya yang kuat untuk menahan dan sekaligus mengatasi serangan tersebut.
Seperti juga Ceng ya kang tadi, dalam keadaan kritis seorang jago silat berkepandaian tinggi secara otomatis tentu mengeluarkan kehebatannya!
Begitu pula halnya dengan Hong-lui-kun Yap Kiong Lee!
Karena tak punya kesempatan lagi untuk melepaskan pukulannya yang ampuh, maka dengan dilandasi oleh tenaga dalamnya yang kuat tubuhnya berputar seperti gasing dalam jurus Koai hong-hok tee (Angin Aneh Menaklukkan Bumi), yaitu salah satu jurus dari Tai hong ciang hoat (Ilmu Silat Angin Puyuh) ciptaan Sin-kun Bu tek.
Tubuh tegap itu berdiri dengan satu kaki, yaitu bertumpu pada tumit kaki kanannya.
Lalu sekejap kemudian berputar cepat sekali seperti gasing!
Dan secara tiba-tiba dari badan yang berpusing bagai kitiran itu keluar angin pusaran yang amat kuat, yang menghembus balik semua kelabang hijau tadi.
Bukan hanya itu saja!
Demikian kuatnya angin pusaran yang ditimbulkan oleh ilmu sakti tersebut sehingga bukan hanya binatang binatang kecil itu saja yang terdorong pergi, tapi tubuh gemuk dari Ceng-ya-kang itu pun tampik terpental ke samping dengan kerasnya.
Dan sebelum iblis gundul itu dapat memperbaiki posisinya, Hong-lui-kun telah menyusuIi dengan pukulan Thian lui gong ciangnya.
"Bummm!!!"
"Aduhh...!"
Ceng-ya-kang tampak terjengkang dan berguling guling sambil mendekap dadanya. Dari mulutnya, menetes darah segar.
"Bangsat! Cacing busuk...!"
Iblis itu mengumpat tak habis-habisnya.
"Nah! Apa kataku! kau masih tetap bukan lawanku...!Sekarang berikan obat pemunah racun kelabang hijaumu!"
Hong-lui-kun membentak. Tangan kanannya masih tetap bersiap siaga untuk melepaskan pukulan Thian lui gong ciang ke arah muka lawannya.
"Heh heh heh...! kau kira aku anak kecil yang mudah dibujuk? Huh, jangan kau harap! Lebih baik mati dari pada memberikan obat itu kepadamu. kau pun akan mati bersamaku..."
"Ooh... itu yang kau inginkan? Baik! kau kira aku tidak bisa mencari seorang tabib sakti yang dapat mengobati pengaruh racunmu ini? Hmm, agaknya kau tidak mengetahui kalau aku dengan mudah dapat menghubungi ahli waris Bu eng sin Yok ong dan minta obat pemunah racunmu ini."
Hong-Iui-kun tersenyum penuh kemenangan.
""Dan sementara itu kau telah kubunuh. Sehingga Hek-eng-cu, saudara-saudara seperguruanmu, serta kawan-kawanmu yang lain, tidak usah membagi harta karun serta kedudukan yang mereka peroleh denganmu. Haha... Sebab kau telah mati."
Hong-Iui-kun Yap Kiong Lee mengangkat tangan kanannya tinggi tinggi.
Siap untuk melancarkan pukulan Thian-lui-gong-ciangnya yang ampuh!
Matanya yang tajam mencorong seperti mata harimau marah itu menatap buas ke arah Ceng-yang-kang!
"Tunggu...!"
Iblis Gundul itu tiba-tiba mengangkat tangannya tanda menyerah.
"Huh, kau merubah pendirianmu? Engkau mau menyerahkan obat pemunah itu?"
Hong-lui-kun menggeram sambil menurunkan kembali tangannya.
"Benar! Asal kau melepaskan aku pergi dari sini..."
Memang, sebenarnya tak ada maksud sedikitpun di dalam hati Hong-lui-kun untuk membinasakan lawannya itu.
Kalau semula pendekar itu mengancam dengan geram untuk membunuh Ceng ya kang, hal itu hanyalah sebagai taktik saja agar iblis tersebut menyerahkan obatnya.
Dan taktik itu tampaknya benar-benar berhasil.
Terbukti iblis tersebut lalu menyerahkan obat pemunahnya.
Agaknya kata-kata Hong-lui-kun yang terakhir, yang menyinggung soal harta karun dan kedudukan tadi benar-benar tepat mengenai Iubuk hati Ceng-ya-kang!
Bagi seorang Iblis yang serakah dan gila kedudukan seperti Ceng-ya-kang itu, kenikmatan duniawi adalah di atas segala galanya.
Semuanya itulah yang selalu ia kejar selama ini.
Oleh karena itu apalah gunanya jerih payahnya selama ini jikalau ia harus mati dalam mempertahankan obat pemunahnya itu.
"Bagaimana?"
Iblis Gundul itu menegaskan lagi.
"Baik! Lekas kau serahkan obat itu...!"
Ceng-ya-kang mengerahkan sebuah pundi pundi kecil dari balik bajunya yang sebelah dalam.
Dengan hati-hati ia lalu mengambil sebotol pil berwarna putih dan menyerahkannya kepada Hong-lui-kun Yap Kiong Lee.
"Kebetulan isi botol ini persis tinggal tiga butir saja. Telanlah satu persatu setiap tiga jam dan racun yang mengeram di dalam tubuhmu akan lenyap."
Ceng-ya-kang menerangkan.
Hong-lui-kun menerima botol itu dan menelitinya beberapa saat lamanya sebelum memasukkannya ke dalam kantong bajunya.
Ceng ya kang yang sudah akan beranjak pergi itu tampak mengerutkan keningnya.
"Mengapa tidak segera kau telan agar racun dalam tubuhmu lekas lenyap?"
Tanyanya ragu-ragu.
"Kenapa mesti harus terburu-buru? Toh racunmu ini takkan bisa membunuhku sampai besok pagi..."
Hong-lui-kun menjadi curiga malah.
"Yaa... kau telah menelan pil buatanmu sendiri. Tapi siapa tahu...?"
"Ha ha... siapa tahu obat yang kau berikan ini adalah palsu? Dan kau berharap agar aku lekas lekas menelannya sehingga racun yang kutelan justru bertambah banyak dan... aku cepat mati? Hehe..."
Pendekar gagah itu tersenyum cerdik.
"Ceng-ya-kang...akupun bukan anak kecil yang lekas-lekas percaya kepada ucapan seorang iblis dari Ban kwi to seperti engkau ini."
"Lalu... lalu a-apa maksudmu...?"
Iblis Gundul itu kelihatan pucat dan takut.
"Jangan cepat-cepat pergi dari tempat ini! Akupun akan melukai tubuhmu dulu dengan jarum ulatku..."
"Jarum ulat...? Apakah itu?"
Ceng-ya-kang berbisik tak mengerti.
Jilid 15
"Ya, Jarum ulat! Aku mempunyai Jarum yang sangat lembut. Ayahku memberi nama jarum ulat, karena bentuknya yang melengkung kecil seperti ulat. Besarnya tak lebih dari pada ujung duri bunga mawar, tapi kemampuannya benar-benar hebat! Jarum lembut itu akan kumasukkan ke dalam salah sebuah dari urat darahmu. Karena bentuknya yang lentur dan melengkung, jarum tersebut akan bergerak mengikuti aliran darahmu menuju ke jantung. Semakin banyak dan keras engkau bergerak, semakin cepat pula jarum tersebut tiba di pusat jantungmu! Dan itu berarti saat kematianmu telah tiba. Tapi..."
"...Tapi...bagaimana...?"
Ceng-ya-kang ketakutan, seakan akan jarum yang mengerikan itu telah menyusup di daIam aliran darahnya. Sekali lagi Hong-lui-kun tertawa.
"Tapi pada saat yang tepat aku dapat mengambilnya kembali!"
Akhirnya pendekar muda itu meneruskan.
"Asalkan... ah, sudahlah! Bersiaplah sekarang! Aku akan menyerangmu dengan jarum itu..."
"Tungguu...!!"
Ceng-ya-kang menjerit.
"Baiklah! Akan kuberikan obat pemunah yang asli!"
Dengan tergesa-gesa iblis itu mengeluarkan pundi pundinya lagi dan mengambil sepotong akar kering sebesar jari tangan, warnanya putih bersih.
"Rebuslah akar ini dengan segelas air sampai mendidih, lalu minumlah! Ulangi lagi hal itu setiap hari, sampai yang ke lima, dan racun itu akan lenyap!"
Hong-lui-kun menerima potongan akar obat itu sambil berkata.
"Terima kasih! Tapi aku tetap meminta maaf kepadamu, sebab... besok pagi jam enam persis aku tetap meminta padamu untuk menemui aku di tempat ini, karena... jarum ulatku itu telah terlanjur kumasukkan ke dalam pembuluh darahmu!"
"Hah? kau...! Bangsat! Kapan kau...?"
Ceng-ya-kang berjingkrak kaget. Hong-lui-kun Yap Kiong Lee mengebut ngebutkan lengan bajunya yang longgar. Dengan sikap acuh tak acuh ia berkata.
"Lihatlah pergelangan tangan kirimu! Ingatkah kau ketika engkau menangkis pukulan Thian lui gong-ciangku tadi?"
Tergesa-gesa Ceng ya kang menyingsingkan lengan bajunya dan meneliti pergelangan tangannya dengan cermat.
Bukan main kagetnya ketika ia melihat setitik noda berwarna merah, tepat di atas pembuluh nadinya!
"Kau...?
Bangsat kejam!"
Iblis Gundul itu naik pitam. Tubuhnya yang gemuk tambun menerjang ke arah Hong-lui-kun. Tapi dengan mudah pendekar gagah itu mengelakkannya.
"Sabarr...! Apakah kau ingin agar jarum itu lekas lekas sampai di jantungmu?"
Hong-Iui-kun berteriak memperingatkan. Sambil menggeram marah iblis itu menghentikan gerakannya. Dengan mata menyala menahan geram ia menatap ke arah lawannya.
"Apa... apa maksudmu?"
Tanyanya serak.
"Jangan panik! Asal aku masih hidup besok, jiwamu juga akan tertolong."
"Kau masih tidak percaya kalau aku telah memberi obat pemunah yang asli?"
Lagi-lagi Hong-Iui-kun tersenyum penuh arti.
"Tentu saja, bung! Setiap orang memang harus berhati-hati apabila berhadapan dengan penghuni Ban kwi to. Tapi... jangan khawatir! Akupun takkan mengingkari janji! Asal aku masih bisa kemari besok pagi, kau tentu juga akan selamat."
"Hmmmh!!"
"Nah, sekarang kalian pergilah dari tempat ini dicium para penduduk itu melampiaskan kemarahannya kepadamu!"
"Baiklah! Besok pagi jam enam aku akan menunggu engkau di tempat ini."
Dengan tertatih-tatih Iblis Gundul itu mengajak anak buahnya pergi meninggalkan warung bubur yang porak poranda itu.
Sepeninggal kawanan iblis itu Hong-Iui-kun kembali meneliti akar obat yang diperolehnya.
"Kukira iblis gundul itu takkan berani main main denganku kali ini."
Gumamnya pelan.
Lalu dimasukannya akar itu ke dalam saku bajunya.
Sambil menghela napas Hong-lui-kun Yap Kiong Lee menatap ke sekelilingnya.
Dipandangnya para penduduk yang menonton dengan takut-takut di luar halaman.
Lalu matanya menebar lagi ke samping warung dan di tempat itu matanya bentrok dengan beberapa pasang mata tajam yang tidak lain adalah Chin Yang Kun dan kawan-kawannya.
Sekejap dahi Hong-Iui-kun tampak berkerut.
Salah seorang dari orang itu seperti pernah dikenalnya, tapi ia lupa!
Oleh karena orang itu, yang tidak lain adalah Tong Ciak Cu-si, diam saja tak bereaksi, maka Hong-lui-kun juga tidak memikirkannya lagi.
Ah...mungkin aku salah mengenali orang, gumamnya dalam hati.
Dengan hati-hati Hong-Iui-kun melangkah kembali ke dalam warung.
Di mana mana terlihat sisa-sisa racun yang berceceran.
Racun yang tadi telah dipergunakan oleh Cengya-kang ketika bertempur melawan dirinya.
Kemudian pendekar itu mendekati mayat Hao Chi dan anak buah Ceng-ya-kang yang masih terlentang di atas lantai.
Kedua sosok mayat itu telah mulai membusuk.
Perlahan-lahan kedua mayat itu ditarik dan diseret keluar dengan tali, lalu dibawa ke tempat yang bebas dari tebaran racun.
Seorang kakek tua berperawakan gagah tampak memasuki halaman diiringi oleh empat orang pembantunya.
Hong-lui-kun segera dapat menerka, bahwa orang tua tersebut tentulah salah seorang pemimpin desa itu.
Dan ternyata dugaannya memang benar!
"Maaf, Taihiap!
Lohu adalah kepala dusun ini!
Bolehkah Lohu bertanya sedikit?"
"Oh... tentu saja."
Hong-Iui-kun menjawab tak kalah sopannya.
"Apakah yang telah terjadi di tempat ini? Dan... itu mayat siapakah? Hei! itu mayat Hao Chi, pemilik warung ini!"
Kakek tua itu kaget sekali.
"Maaf, Cungcu (kepala kampung)! Saya tak bermaksud membuat keonaran di tempat ini. Saya sebenarnya kemari hanya untuk makan bubur, tapi... begitu datang kulihat telah terjadi suatu pembunuhan di warung ini. Seorang penjahat berkepala gundul telak membunuh si pemilik warung ini dan berkelahi dengan tamu lainnya. Terpaksa aku turun tangan untuk mengenyahkan orang itu."
Pendekar itu memberi keterangan.
"Tanyalah kepada para penduduk yang menyaksikan peristiwa tadi!"
Kepala kampung itu mengangguk-angguk, percaya karena ia juga telah mendapat laporan dari para pembantunya.
"Kalau begitu kami sangat berterima kasih kepada Taihiap. Biarlah kami yang akan menyelesaikan kedua mayat itu..."
"Terima kasih, Cungcu. Tapi perbolehkan aku memberi pesan sedikit. Yaitu, tutuplah tempat ini barang satu bulan. Jangan sekali kali diperbolehkan penduduk masuk pekarangan ini, karena tempat ini telah penuh dengan racun racun yang berbahaya. Dan... apabila membawa kedua mayat ini nanti, lakukanlah seperti yang telah kulakukan ini. Jangan sekali-kali menyentuh tubuh mayat ini...Nah, aku akan meneruskan perjalananku."
"Taihiap, tunggu dulu...! Mengapa Taihiap begitu tergesa-gesa? Kami persilahkan Taihiap untuk singgah lebih dahulu di rumahku..."
Hong-lui-kun menyatakan rasa terima kasihnya sambil meminta maaf karena ia tak dapat menerima undangan tersebut.
Pemuda itu mengatakan bahwa ia masih mempunyai banyak urusan lain yang harus ia selesaikan.
Lalu sambil menjura pemuda itu berjalan meninggalkan tempat tersebut.
Dengan tenang ia mengambil kudanya dan pergi ke arah barat.
Setelah kuda beserta penunggangnya itu telah lenyap di kelokan jalan, kepala dusun tersebut segera memerintahkan anak buahnya untuk menyeret kedua sosok mayat itu ke jalan raya.
Kemudian dengan suara lantang orang tua itu memperingatkan penduduknya, agar untuk sementara waktu tidak menginjakkan kaki mereka di halaman tersebut.
Kepada para keluarga Hao Chi dan pelayannya dipersilahkan untuk mengosongkan warung itu, dan mengungsi ke rumah saudara atau tetangga mereka.
Rumah dan pekarangan itu dinyatakan sebagai daerah berbahaya dan terlarang, sampai pengaruh racun yang berceceran di tempat tersebut dianggap telah hilang.
Sementara itu Toat-beng-jin dan teman-temannya diam diam keluar halaman, lalu meninggalkan tempat itu.
Sambil melangkah Tong Ciak Cu-si menggerutu tak habis-habisnya.
"Wah, hampir saja Hong-lui-kun tadi mengenal aku. Untung perawakan serta caraku berpakaian sudah banyak sekali perubahannya, sehingga ia tak mengenalku lagi."
"Tapi kulihat dia tadi memandang Tonghiante agak lama,"
Toat-beng-jin menyahut.
"Kelihatannya memang demikian. Agaknya orang itu seperti mengenali Tong Lo-Cianpwe, hanya mungkin dia belum bisa memastikan siapa sebenarnya Tong Lo-Cianpwe ini..."
Souw Lian Cu ikut menyatakan pendapatnya.
"Yaa... tapi omong-omong kali ini akulah yang paling sial!"
"Eh, mengapa Lo-Cianpwe bilang paling sial?"
Yang Kun bertanya.
"Habis, kalian semua sudah dapat menghabiskan bubur panas itu... sedang aku belum! Jadi sekarang perutku masih keroncongan, nih!"
Yang lain tersenyum menahan geli.
"Eh, omong-omong... mau ke mana kita sekarang?"
Toat-beng-jin mengalihkan pembicaraan.
"Tadi Tong Lo-Cianpwe telah berjanji akan ke tempat mendiang kakek Piao-Liang!"
Yang Kun mengingatkan.
"...Ya, tapi yang aku butuhkan sekarang adalah pengisi perut terlebih dahulu,"
Tong Ciak Cu-si masih menggerutu...Kalian telah melahap satu mangkuk bubur, sedang aku tidak! Padahal jatahku setiap pagi harus lima mangkok bubur..."
"Wah, Tong-hiante ini yang dipikirkan cuma makan saja...!"
Toat-beng-jin berkelakar.
"Tentu saja! Itu kan sumber tenaga buat kita..."
Jago Im-yang-kauw itu membela diri.
"Dengan perut kosong, bagaimana kita bisa memainkan lm-yang kun...?"
"Wah, kalau begitu kita harus masuk rumah makan lagi, nih!"
Souw Lian Cu yang sudah merasa kenyang itu memberengut. Toat-beng-jin tertawa, sementara Yang Kun hanya tersenyum saja melihat hal itu.
"Ha-ha ha... kelihatannya Tong-hiante ingin makan gratis lagi, ya? Tadi di warung Hao Chi kita belum sempat membayar, sekarang sudah mau masuk restoran lagi! Wah!"
"Eh, benar! Kita tadi belum membayar harga bubur yang kita makan..."
Souw Lian Cu terkejut.
"Benar! Tapi keadaan demikian ributnya. Kepada siapa kita harus membayarnya...?"
Tak terasa Chin Yang Kun menyahut.
Sesaat ia lupa bahwa ia dan gadis itu masih dalam keadaan "perang dingin"!
Baru setelah Souw Lian Cu mengerling tajam kepadanya, Yang Kun menyadari ketelanjurannya.
Otomatis muIutnya menjadi terdiam kembali, mukanya merah.
Di tikungan jalan mereka melihat rumah makan yang agak besar.
Meskipun hanya sebuah dusun, karena mempunyai bandar air sungai yang ramai, tempat itu tak ubahnya seperti sebuah kota kecil saja keadaannya.
Ada penginapan, pasar dan toko-toko kelontong yang berjajar-jajar di sepanjang jalan utamanya.
"Nah, sekarang lohu benar-benar mau makan di sini..."
Tong Ciak membelok ke arah rumah makan itu. Toat-beng-jin tersenyum mengikuti.
"Coba, ingin kulihat! Apakah Tong-hiante dapat melaksanakan niat itu, hehehe..."
Tokoh sakti bertubuh pendek itu berhenti melangkah.
"Wah! Apakah Lojin-ong bermaksud bahwa di tempat inipun akan terjadi keributan sehingga aku tak bisa makan pula kembali?"
"Ah, siapa tahu...? Kesialan itu sering kali datang dengan beruntun. Kalau sudah mendapatkan satu, yang lain segera menyusul..."
Toat-beng-jin tersenyum lebar. Tong Ciak Cu-si tampak termangu-mangu sebentar. Tapi sesaat kemudian dengan dada tengadah ia telah melangkah kembali ke restoran itu.
"Uh! Uh! Perduli amat! Biarlah kalau mau sial lagi...,...Lebih baik kuhabiskan saja sekalian semua kesialan itu pada hari ini. Itu lebih baik dari pada harus menunggu sampai lain hari,"
Ucapnya keras. Dan tanpa mengucapkan permisi lagi tokoh sakti bertubuh pendek itu melompati tangga yang berada di depan pintu, terus menerobos masuk. Tapi belum juga selangkah ia masuk...
"Siiiing! Siuttt!"
Sebatang tombak dengan mata yang berkilau saking tajamnya, tiba-tiba tampak melesat ke arah dadanya.
Begitu kuat dan cepat daya luncurnya, membuat jago sakti dari Im-yang-kauw itu terkejut bukan main.
Untunglah, sebagai seorang jago silat berkepandaian tinggi, Tong Ciak tak pernah kehilangan ketenangannya.
Apalagi sepanjang hidupnya, selama ini tokoh itu telah kenyang dengan segala macam pengalaman yang hebat-hebat.
Jadi biarpun merasa terkejut, tapi rasa terkejut itu tidak terlalu lama.
Hanya dalam waktu sedetik tokoh itu telah bereaksi dengan hebatnya.
Dengan sedikit merendahkan tubuhnya, Tong Ciak bergeser ke kiri, sementara tenaga sakti Soa-hu-sin kang yang berada di dalam tubuhnya secara otomatis bergerak melindungi badan.
Kemudian dengan jari-jari terbuka telapak tangan kanannya menepis ujung tombak yang telah berada di depan hidungnya!
"Taasss!"
KepaIa tombak itu patah seketika dan tangkainya terlempar ke atas dengan kekuatan yang bertambah menjadi berlipat ganda! "Braaaak! Gedubraaaaak! Brooooll!!"
Tangkai tombak yang terbuat dari besi pilihan itu menghajar tiang penglari yang menyangga genting dan atap restoran bahagian depan.
Terdengar suara kayu patah dan sekejap kemudian bangunan depan yang kokoh kuat itu runtuh ke bawah dengan hebatnya.
Padahal di sana berdiri...
Toat-beng-jin, Chin Yang Kun dan Souw Lian Cu!
"Yang-hiante!
Souw-Kouwnio...!
Awasss...!"
Toat-beng-jin berteriak memperingatkan kedua orang temannya itu.
Bencana itu datang begitu mendadak, sehingga orang tua tersebut tidak sempat untuk memikirkan keselamatan mereka.
Beberapa orang penduduk yang saat itu kebetulan lewat atau kebetulan berada di sekitar tempat itu serentak menjerit panik.
Mereka ngeri membayangkan nasib ketiga orang asing yang hampir tertimpa reruntuhan atap tersebut!
Tak ayal lagi mereka tentu akan menyaksikan tubuh-tubuh berserakan yang tertimbun oleh remukan bangunan yang runtuh itu.
"Gempa bumi lagi...!"
Seorang nenek tua menjerit ngeri sambil menutupi mukanya.
Agaknya perasaan ngeri yang dia alami ketika terjadi gempa bumi beberapa waktu yang lampau masih sangat membekas dalam hatinya.
Tetapi sekejap kemudian rasa kaget dan ngeri yang ada di dalam benak orang orang itu menjadi lenyap seketika dan diganti oleh perasaan kagum dan tak percaya.
Ternyata ketiga orang yang mereka khawatirkan itu dalam waktu yang hampir bersamaan mampu meloloskan diri dari bencana tersebut.
Orang pertama yang mereka sangka tentu akan menjadi korban reruntuhan itu, yaitu Toat-beng-jin, ternyata...
justru menjadi orang pertama yang bisa lolos dari bencana itu malah!
Ternyata kakek tua renta tersebut bukan main tangkasnya.
Bagaikan mempunyai sepasang per baja di bawah telapak kakinya, orang tua yang mereka anggap jompo itu melenting mundur dengan cepat sekali.
Begitu cepat gerak refleks kakinya, sehingga tubuh tuanya yang kurus kecil itu dalam tempo singkat telah berada dua-tiga tombak jauhnya dari tempat semula.
Sedang orang kedua yang mereka khawatirkan adalah Souw Lian Cu.
Selain Souw Lian Cu adalah seorang wanita, gadis itu ternyata telah cacat tangannya.
Ternyata kekhawatiran mereka kali inipun telah salah pula.
Gadis cantik yang buntung lengannya itu ternyata mampu bergerak lincah seperti burung camar di lautan.
Dengan tangkas gadis itu menjatuhkan diri pada telapak tangannya, dan di lain saat sepasang kakinya melenting ke atas cepat sekali, sehingga sekejap kemudian tubuhnya berputar menjauh seperti kincir angin yang tersapu badai!
Orang ketiga, Chin Yang Kun yang mereka anggap paling kuat, sehingga tentu dapat bergerak paling tangkas, ternyata justru tidak bisa bergerak dari tempatnya malah!
Luka dalam yang diderita oleh pemuda itu ternyata sangat mengganggu gerakannya, sehingga berbeda dengan kedua temannya yang bergerak gesit meloloskan diri, pemuda itu justru hanya bisa berdiri diam saja di tempatnya.
Tapi apa yang dipertunjukkan oleh Yang Kun selanjutnya benar-benar membuat semua orang ternganga dan tak habis mengerti!
Karena tak bisa berbuat lain selain bertahan, pemuda itu dengan nekad mengerahkan tenaga sakti Liong-cu I-kangnya!
Ia tak menghiraukan lagi rasa sakit di dadanya.
Sedetik kemudian terasa berhembus angin dingin yang memancar dari badannya, dan di lain saat baju longgar yang dikenakan oleh pemuda tersebut menggembung seperti balon yang mau meletus.
Pada saat itu pula atap gedung yang runtuh itu jatuh menimpa tubuhnya.
Suaranya menggelegar mengerikan.
Debu, pasir dan patahan-patahan kayu berhamburan memenuhi tempat itu sehingga untuk sesaat udara menjadi gelap!
"Yang-hiante...!"
Toat-beng-jin dan Tong Ciak berseru hampir berbareng.
"Yang Kunnnn..!"
Tak terasa Souw Lian Cu ikut berteriak khawatir.
Baru beberapa saat kemudian debu yang memenuhi tempat reruntuhan itu hilang ditiup angin.
Dan...
semua orang yang tadi merasa khawatir, kini menjadi ternganga mulutnya!
Suatu pemandangan yang sungguh-sungguh tidak masuk akal telah terjadi di depan mata mereka!
Di depan mereka, di tengah-tengah tumpukan kayu dan genting yang menggunung, mereka melihat Chin Yang Kun masih berdiri tegak seperti semula.
Tak sebutir kotoran maupun sepotong kayupun yang mengotori pakaiannya!
Dari sepatu sampai ujung rambutnya tampak bersih dan Iicin seperti semula.
Bagaimana hal itu bisa terjadi?
Sesungguhnyalah, tenaga sakti Liong-cu-i kang yang dikerahkan oleh Chin Yang Kun tadi memang bukan main hebatnya!
Buktinya, pakaian yang dikenakan oleh pemuda itu sampai menggembung seperti balon yang ditiup karena ikut terisi oleh Liong-cu-i kang!
Begitu ampuhnya tenaga sakti itu sehingga tubuh pemuda tersebut seperti ulat yang terlindung dalam kepompongnya!
"Yang-hiante, kau tidak apa-apa, bukan...?"
Toat-beng-jin bertanya sambil menarik si pemuda keluar dari reruntuhan itu.
"Siauwte tidak apa-apa... Cuma, lukaku mungkin telah terbuka kembali..."
Yang Kun menjawab agak tersipu.
Sekejap matanya melirik ke arah Souw Lian Cu.
Dalam suasana yang hiruk-pikuk tadi ia masih dapat mendengar teriakan khawatir dari gadis yang cantik tersebut.
Tapi ia menjadi sangat kecewa ketika gadis itu tampak acuh tak acuh kembali.
"Sesungguhnya Yang-hiante memang belum boleh menggunakan tenaga terlalu besar. Tapi tak apalah...! Yang terpenting Yang-hiante sekarang selamat. Tentang luka dalam itu... biarlah kami yang mengurusnya nanti."
Toat-beng-jin menghibur.
Sementara itu tanpa memperdulikan para penduduk yang datang ke tempat itu, Tong Ciak mendahului kawan-kawannya memasuki restoran.
Dengan mata merah tokoh sakti dari lm yang-kauw tersebut mencari orang yang melepas tombak maut tadi.
Ternyata Tong Ciak tidak mendapatkan kesukaran untuk mencarinya.
Begitu masuk tokoh itu telah dihadang oleh belasan orang lelaki di depan pintu.
Mereka berpakaian ringkas dan bersenjata lengkap, seperti layaknya jago-jago silat dari dunia kang ouw.
Salah seorang di antaranya, yang berdiri di tengah, tampak memegang tombak panjang yang bentuk dan bahannya persis dengan tombak yang tadi hampir saja membunuh dia.
"Atas nama Tuan Tan kami mengucapkan selamat datang kepada Cuwi semua...!"
Orang bertombak panjang itu menjura, diikuti oleh kawan-kawannya yang lain.
Tong Ciak cuma mengangguk dingin.
Sebentar dia menoleh, melirik ke arah teman temannya yang mengikutinya masuk, setelah itu matanya kembali menatap ke depan dengan kaku.
Peristiwa yang baru saja terjadi, yang hampir saja membunuh dia dan kawan-kawannya, benar-benar membuat hatinya marah bukan main.
Beberapa orang tamu tampak bergegas meninggalkan kursinya.
Dengan tergesa-gesa mereka membayar makanannya dan keluar dari pintu samping.
Mereka seakan akan sudah mencium bahaya yang akan terjadi di restoran itu!
Sudah beberapa kali mereka menyaksikan peristiwa perkelahian antara orang-orang asing yang baru datang di dusun mereka dengan para pengawal Tan-Wangwe.
Melihat lawannya cuma berdiri diam dan tidak menjawab ucapan selamat datangnya, orang bertombak panjang itu menyeringai.
Sekali lagi ia memberi hormat, seolah-olah tidak terpengaruh oleh sikap lawannya.
"Ah, maafkanlah kami...! Mungkin tata cara kami dalam menyambut tuan tadi agak sedikit keterlaluan! Tapi...itu memang tata cara kami. Kami hanya bermaksud untuk mengetahui dan membuktikan, dengan siapa kami sekarang sedang berhadapan. Sehingga untuk selanjutnya kami dapat bersikap serta menempatkan diri di hadapan tamu kami..."
"Huh!"
Tong Ciak mendengus dan masih tetap berdiam diri.
Tokoh sakti dari Im-yang-kauw itu menatap kaku ke arah lawan lawannya.
Dipandangnya mereka satu persatu, bagaikan seekor ayam jago yang sedang menilai kekuatan lawan sebelum bertanding di medan laga.
Lelaki bertombak panjang, yang tadi mengucapkan kata selamat datang, berusia sekitar empat puluhan tahun.
Berperawakan sedang, berkumis dan berjenggot tipis serta mengenakan baju longgar berkembang-kembang.
Dilihat dari sikapnya sejak tadi, dapat diduga kalau dialah yang memimpin rombongan itu.
Di sebelah kanan dan kirinya berdiri dua orang yang wajahnya sangat mirip satu sama lain.
Sama-sama berwajah bengis dan kejam.
Hanya kulit tubuh mereka yang agak berbeda, yang satu lebih gelap dari pada yang lain.
Mereka berdua sama-sama membawa sebuah tongkat besi yang diberi kaitan baja di sebelah ujungnya.
Lalu di sebelah kiri dari ketiga orang itu tampak berdiri seorang laki-laki gundul tak berbaju, sehingga otot-otot kekar yang bertonjolan di badannya kelihatan dengan nyata.
Sepasang mata yang terlindung oleg alis mata yang tebal dan lebat itu kelihatan hampir terpejam saking sipitnya.
Sementara bentuk tulang pipi dan rahangnya yang kokoh persegi itu mengingatkan orang pada bentuk tulang pipi Bangsa Mongol atau Manchu, jari jari tangannya yang kokoh seperti penjepit baja itu memegang cambuk dari kulit ular.
Dilihat sepintas lalu dapat diduga bahwa raksasa gundul ini adalah jago gwa kang yang sangat kuat!
Sedangkan belasan orang yang berdiri menebar di belakang keempat jagoan itu adalah pembantu-pembantu yang mereka bawa.
Tak ada yang kelihatan menonjol di antara orang orang tersebut, biarpun wajah mereka rata-rata tampak ganas dan kejam.
Beberapa saat kemudian Tong Ciak kelihatan mengambil napas panjang sekali, lali menghembuskannya kembali kuat kuat.
Setelah itu dengan wajah sedikit lebih cerah, ia mengangguk.
"Baiklah! Selamat berjumpa!"
Akhirnya tokoh Im yang kauw yang amat sakti itu menjawab.
"Tapi... terus terang saja, kami berempat ini belum merasa mengenal Cuwi semua. Oleh karena itu dapatkah Cuwi mengatakannya kepada kami? Siapakah cuwi ini? Dan siapakah Tuan Tan yang cuwi sebut tadi?"
Orang bertombak itu saling berpandangan dengan kawan-kawannya, seolah olah merasa aneh mendengar pernyataan Tong Ciak tersebut. Tapi beberapa saat kemudian orang bertombak itu tersenyum geli.
"Ah, tuan tak perlu berpura-pura di depan kami. Mungkin tuan memang benar-benar belum mengenal kami semua secara pribadi, tapi mengenal Tuan Tan... dan apakah kedudukan kami di dusun ini, kukira tuan telah bisa menebak..."
"Tuan Tan...? Menebak...? Apakah maksudmu...?"
Tong Ciak semakin tak mengerti kata-kata lawannya.
Dengan dahi berkerut jago sakti bertubuh pendek ini menoleh ke arah Toat-beng-jin yang berdiri di belakangnya.
Toat-beng-jin juga mengangkat pundaknya tanda tak mengerti pula.
"Mungkin orang-orang ini telah salah mengenali kita,"
Bisiknya perlahan.
"Baiklah, kami akan memperkenalkan diri kepada cuwi..."
Akhirnya orang bertombak itu memutuskan, setelah beberapa saat lamanya pihak Tong Ciak Cu-si tetap belum mau mengakui kalau mengenal mereka.
"Silahkan...! Kami akan mendengarkannya dengan baik."
"Kami semua ini adalah para pembantu Tuan Tan yang menjadi penguasa tak resmi di dusun Ho-ma-cun ini... saya adalah Tu Seng..."
Orang bertombak itu memperkenalkan diri.
"Ah, Hui chio (Si Tombak Terbang) kiranya...!"
Tong Ciak yang mempunyai banyak pengalaman itu berseru.
"Benar! Agaknya tuan sudah pula mendengar gelar yang diberikan oleh teman-teman kepadaku."
"Tentu saja. Nama saudara pernah menggetarkan kota Kiciu ketika saudara masih menjabat sebagai Kepala Pasukan Kerajaan di kota itu."
Tong Ciak yang dahulu adalah Kepala Pasukan Pengawal Istana itu mengenali orang tersebut.
"Heh?!?"
Hui Chiu Tu Seng tersentak kaget.
"Tuan siapa? Mengapa tuan mengenal masa laluku?"
"Sudahlah! saudara belum memperkenalkan nama teman teman saudara yang lain kepada kami..."
Tong Ciak Cu-si memotong.
"Baik! Tapi setelah itu kami juga ingin mengetahui nama tuan yang terhormat..."
Tong Ciak tersenyum dan saling pandang dengan Toat-beng-jin.
"Yang berada di sampingku ini adalah dua orang bersaudara dari lembah sungai Hoang-ho. Kalangan persilatan menyebut mereka Huang-ho Heng-te (Dua saudara dari Sungai Huang-ho). Sedang kawanku yang gundul ini datang dari daerah Mongol, namanya Togu. Dia biasa membunuh beruang hanya dengan memuntir kepalanya, maka orang kang ouw memanggilnya Si Pembunuh Beruang!"
Tu Seng memperkenalkan semua pembantu-pembantunya. Kemudian dengan rasa ingin tahu ia melanjutkan.
"Nah, sekarang beritahukan kepada kami! Siapakah nama serta gelar tuan? Siapa pula teman-teman tuan itu?"
"Hei! saudara ini aneh benar! saudara telah menyambut kami di sini. Tentu saja saudara sudah mengenal kami dengan baik..."
Tong Ciak balik berkata kepada Tu Seng.
"Ya, tapi..."
Orang bertombak itu menjawab dengan gagap.
"Sudahlah...! apa sih sebenarnya maksud kalian menanti dan menyambut kami disini? Kita toh belum saling mengenal dan berhubungan satu sama lain?"
Akhirnya Toat-beng-jin ikut pula berbicara. Tu Seng berpaling dan menatap Toat-beng-jin dengan dahi berkerut.
"Siapa pula tuan ini?"
Tanyanya penasaran.
"Meski kusebutkan namaku, kalian juga takkan mengerti! Lebih baik katakan saja maksud kalian yang sebenarnya... atau... kita tak usah saling mengurus kepentingan kita masing-masing."
"Huh!"
Tiba-tiba raksasa Mongol yang bernama Togu itu menggeram.
"Saudara Tu, tak usah bicara berbelit-belit dengan mereka! Membuang waktu saja! Tuan Tan sudah memberi wewenang kepada kita, jikalau mereka datang, kita diperintahkan untuk menyuruh mereka pulang! Kalau mereka membangkang dan tetap ingin mengganggu keluarga Tuan Tan, kita diperbolehkan menyikat mereka!"
"Saudara Tugu benar! Lenyapkan saja orang orang ini! Habis perkara!"
Salah seorang dari Huang-ho Heng-te yang berkulit gelap ikut berteriak.
"Baiklah! Tapi biarlah mereka memilih, melanjutkan maksud mereka atau membatalkan niat mereka...dan meninggalkan tempat ini."
Tu Seng cepat-cepat menenangkan kawan-kawannya yang mulai marah itu. Lalu dengan wajah kaku Tu Seng berkata ke arah Tong Ciak. Suaranya keras dan penuh ancaman.
"Nah! Tuan telah melihat sendiri kemarahan teman temanku. Oleh karena itu untuk menyingkat waktu, kami takkan bertanya lagi tentang cuwi semua. Kami tak perduli lagi...! tapi demi keselamatan cuwi, kuminta cuwi segera meninggalkan dusun kami ini!"
"Dan... ingatlah! jangan sekali-kali kalian menampakkan diri di hadapan kami! Sekali lagi aku melihat kalian... huh! jangan harap kaitan di ujung tongkatku ini mau mengampuni jiwa kalian!"
Salah seorang dari Huang-ho Heng-te turut membentak.
"Lekas pergi! Mau tunggu apa lagi?"
Togu berteriak pula sambil melangkah maju.
Sepasang alis Tong Ciak berkerut sehingga bertemu satu sama lain.
Begitu pula dengan Yang Kun dan Lian Cu!
Malahan...kedua remaja itu telah menjadi merah padam mukanya!
Mereka benar-benar tersinggung karena mendapat perlakuan seperti itu.
"Eh! Ada apa pula ini? Sabar...! sabarlah...!"
Toat-beng-jin melangkah maju, berusaha mendinginkan suasana yang telah meruncing itu.
Tapi maksudnya yang baik itu ternyata telah diartikan salah oleh lawannya.
Togu menyangka bahwa orang tua itu bermaksud untuk melawannya.
Maka kedatangannya langsung disambut oleh raksasa gundul tersebut dengan ayunan lengannya yang sebesar paha orang itu.
"Whuuut!"
"Eeit! Lhoh? Bagaimana, nih...? Sabarrrr...!"
Toat-beng-jin mengangkat kedua lengannya ke depan dengan telapak tangan terbuka untuk memberi tahu kepada Togu bahwa dia tak ingin berkelahi.
Tapi dengan tangkas raksasa Mongol itu berputar ke samping,lalu cambuk yang dipegangnya sejak tadi ia sabetkan ke arah lengan yang terjuIur ke depan itu.
Lagi-lagi raksasa ini telah salah mengartikan maksud Toat-beng-jin!
Raksasa ini mengira lawannya telah melancarkan pukulan jarak jauh kepadanya!
"Wuuuttt!
Thaaar!"
Cambuk yang digerakkan dengan tenaga raksasa itu menghantam, lalu membelit sepasang lengan Toat-beng-jin yang kurus.
Suara ledakan ujung cambuk itu sangat keras sekali, sehingga gedung itu seperti bergetar karenanya.
Dan di lain saat tubuh Toat-beng-jin yang kecil itu tampak terangkat dari tempatnya.
Kemudian seperti anak panah yang terlepas dari busurnya, tubuh kecil kurus yang terlontar oleh daya sentak ujung cambuk itu terlempar ke atas dan...menghantam genting dengan dahsyatnya!
"Brraak!!"
Genting itu jebol dan berlobang besar sekali sedang tubuh Toat-beng-jin yang menabraknya terus meluncur keluar lubang dengan derasnya.
Pecahan kayu dan genting berhamburan ke bawah membuat beberapa orang di antara anak buah Tu Seng berloncatan menghindar.
"Lo-Cianpwe!"
"Lo-Cianpwe...!"
Yang Kun dan Souw Lian Cu berteriak hampir berbareng.
Hampir saja mereka meloncat pula ke arah genting yang berlobang itu untuk menolong Toat-beng-jin yang lenyap dari pandang mata mereka.
Tapi dengan tangkas Tong Ciak segera menahan lengan mereka.
"Yang-hiante! Souw-Kouwnio! Biarlah! Jangan hiraukan Lojin-ong! Beliau tidak apa-apa..."
Pengurus Agama itu berbisik di dekat telinga mereka.
"Marilah kita layani saja orang-orang ini...!"
Togu tampak amat puas dengan apa yang baru saja ia lakukan itu. Dengan tertawa lebar ia memandang Tong Ciak yang masih tertegun mengawasi lobang genting di atas ruangan itu.
"Nah! Sudah kalian lihat nasib tua bangka yang bermaksud melawanku itu, bukan? Memang amat kasihan sekali! Tubuhnya tentu sudah remuk dan sukar dikenal lagi apabila mayatnya kita ambil dari atas genting itu..."
"Haha..."
Yang Kun terpaksa tertawa perlahan, tak kuasa menahan kegelian hatinya.
"Kurang ajarr...!!"
Raksasa itu mengumpat keras sekali.
"Monyet kecil, apa yang kau tertawakan?"
Selanjutnya tanpa memberikan suatu peringatan lagi Togu menerjang ke arah Chin Yang Kun dengan ganasnya.
Kepalan tangannya yang sebesar periuk nasi itu menghajar ke arah mulut yang mentertawakan dirinya tersebut.
Terdengar suara mengaung akibat kerasnya kepalan itu terayun.
Tong Ciak dan Souw Lian Cu cepat-cepat meIoncat ke samping untuk menjaga agar tidak ikut terkena sasaran pukulan itu.
"Awas, Yang-hiante! Hati-hatilah sedikit dalam mengerahkan tenaga saktimu! Jangan sampai kekuatanmu yang aneh itu membunuhnya...!"
Tokoh bertubuh pendek itu berteriak keras.
Tokoh Im-yang-kauw itu ternyata tidak mengkhawatirkan kesehatan Yang Kun, tetapi justru khawatir kalau pemuda itu sampai kesalahan tangan membunuh lawannya malah!
Tapi Yang Kun hampir tidak mendengar seruan itu.
Dia yang masih belum sembuh dari sakitnya itu sedang berusaha keras menghindari pukulan lawan.
Kakinya yang panjang itu menjejak lantai, sehingga tubuhnya yang jangkung terlontar ke atas dengan cepatnya.
Pukulan Togu lewat dengan deras di bawah kaki Yang Kun, sehingga tubuh raksasa itu nyelonong lewat pula.
Keadaan itu benar-benar tidak disia siakan oleh Yang Kun.
Dengan memutar badannya di atas udara Yang Kun berbalik mengulurkan tangan ke arah tubuh Togu yang lewat di bawahnya.
Hawa yang sangat dingin terasa memancar dari lengan yang terulur itu, sementara lapat-lapat terdengar suara mendesis dari bibir di atasnya.
"Cuuuusssss...!"
"Yang-hiante, jangan...!"
Tong Ciak berseru kaget.
"Saudara Togu...awas dibelakangmu!"
Huang-ho Heng-te berteriak bersama-sama, dan di lain saat tubuh dua bersaudara itu tampak melesat ke arena pula.
Ternyata Togu sendiri telah mencium bahaya itu pula.
Maka tanpa menoleh lagi, ia mengayunkan cambuknya ke belakang dengan kekuatan penuh.
"Wuuutt! Thaaarr!"
Yang Kun buru-buru menarik tangannya, ia takkan membiarkan cambuk itu membelit lengannya seperti Toat-beng-jin tadi.
Kemudian sambil mengerahkan Liong-cu i-kang ke arah lengan kiri, Yang Kun melompat ke depan lagi untuk memburu lawannya.
Tapi pada saat itu pula sepasang tongkat berkait dari Huang-ho Heng-te telah datang menyerbu, dari belakang.
Tongkat itu memukul ke arah pangkal lengannya, sementara kaitan baja yang dipasang pada ujungnya itu kelihatan meringis seperti taring yang siap menggigit pundaknya.
Sedang tongkat yang kedua datang beberapa detik lebih lambat.
Tongkat itu menyapu ke arah pinggang dari arah samping.
Keduanya digerakkan oleh tenaga dalam yang amat kuat.
Sebenarnya kalau Yang Kun mau meneruskan serangannya, yang ia tujukan ke arah Togu, dia pasti berhasil.
Tapi jikalau hal itu ia lakukan, ia tentu akan mendapat kesukaran dalam mengelakkan serangan Huang-ho Heng-te.
Oleh karena itu dengan amat terpaksa pemuda itu mengurungkan serangannya.
Lengan kirinya yang telah terulur ke depan itu ia tarik kembali, kemudian sambil bergeser ke samping dia memainkan Panglima Yi Po Mengatur Barisan, jurus ke tujuh belas dari Hok-te Ciang-hoat!
Sambil menarik lengan kirinya tadi, Yang Kun menundukkan tubuhnya, sehingga ayunan tongkat yang pertama melayang lewat di atas kepalanya.
Setelah itu tubuhnya bergeser ke samping dengan cepat sekali, sehingga tongkat yang kedua juga lewat di depan perutnya.
Tapi ketika badannya mau tegak kembali, tiba-tiba luka di dalam dadanya terasa menyengat kembali dengan hebatnya.
"Oouwghh...!"
Pemuda itu berdesah sambil mencengkeram dadanya.
Kejadian di atas, sejak penyerangan Togu ke arah Yang Kun sampai kedua orang bersaudara Huang-ho Heng-te menyerbu dengan tongkatnya berlangsung dalam tempo yang sangat cepat sekali.
Sehingga dipandang sepintas lalu, seolah-olah serangan tongkat Huang-ho Heng-te tadi dapat mengenai sasarannya.
"Yang Kun...!"
Tanpa terasa Souw Lian Cu berdesah perlahan.
"Hei?!?"
Tong Ciak Cu-si tersentak kaget pula.
Tokoh itu merasa kalau Yang Kun tadi bisa menghindari serangan serangan lawannya dengan baik, tapi kenapa pemuda itu kini mengaduh kesakitan?
Apakah pemuda itu terkena serangan gelap dari salah seorang musuhnya?
Hampir berbareng Tong Ciak dan Souw Lian Cu melesat datang menghampiri Chin Yang Kun.
Tetapi pemuda itu segera menolak ketika tokoh Im-yang-kauw tersebut bermaksud menolong dia.
Dengan air muka kesakitan, tetapi sinar matanya menunjukkan perasaan bahagia pemuda itu mengawasi Souw Lian Cu yang ikut datang di dekatnya.
Sudah dua kali gadis yang amat membencinya itu menunjukkan perasaan khawatir terhadap keselamatannya.
Sementara itu Souw Lian Cu yang tidak merasa kalau sedang diperhatikan oleh Chin Yang Kun, masih melihat dengan sibuk ke arah dada dan perut Yang Kun, mencari cari bagian mana dari tubuh pemuda itu yang terluka.
Tampaknya gadis itu amat bernafsu sekali untuk mengetahui dan memeriksa badan Yang Kun, tapi terhalang oleh perasaan malu di hatinya.
Oleh karena itu dengan tegang gadis tersebut hanya bisa meremas-remas tangannya sambil berulang-ulang menoleh kepada Tong Ciak Cu-si.
"Yang-hiante, apakah engkau terluka?"
Tong Ciak bertanya.
"Hahahaha...anak ingusan! kau tahu sekarang bahwa tidak mudah melawan kami,"
Salah seorang dari Huang ho Heng-te tertawa menghina.
"Pulang saja kembali ke pangkuan ibumu! Lihatlah! Kawan-kawanmu juga amat mengkhawatirkan keselamatanmu!"
Yang Kun menoleh dengan cepat.
Serasa ada bara api di dalam bola matanya yang mencorong bagai mata harimau itu.
Kulit mukanya yang putih juga berubah menjadi kemerahmerahan.
Kehadiran Souw Lian Cu di dekatnya membuat ia cepat sekali tersinggung oleh olok-olok tersebut.
Maka ketika sekali lagi Tong Ciak mengulurkan tangnnya untuk menolong dia, Yang Kun segera menolaknya dengan tegas.
"Tong Lo-Cianpwe, siauwte tidak terluka oleh senjata monyet-monyet itu! Sungguh!"
"Lalu... apakah luka dalam itu terasa sakit lagi?"
Chin Yang Kun mengangguk.
"Tapi sekarang sudah tidak terasa lagi..."
Sambung pemuda itu sambil melirik Souw Lian Cu.
"Kalau begitu kau beristirahatlah saja agar luka itu tidak semakin parah! Biarlah aku dan Souw-Kouwnio yang akan mengurus orang-orang itu..."
"Tidak! Saya tidak akan mundur. Monyet itu telah menghina aku..."
"Babi busuk yang mau mampus!"
Tiba-tiba Togu memaki keras sekali.
Raksasa ini benar benar tak tahan melihat pemuda yang tadi sudah hampir termakan oleh cambuknya itu masih dapat membual dan sangat meremehkan dia dan kawan-kawannya.
Apalagi kata makian "monyet"
Itu benar-benar menyinggung perasaannya.
"Anak ini memang ingin lekas-lekas menghadap Giam-loong (Dewa Kematian)!"
Huang-ho Heng-te berteriak. Sepasang tongkat berkaitnya menyambar ke depan disertai hembusan angina yang kuat, suatu tanda kalau tenaga yang mereka pergunakan juga bukan tenaga sembarangan.
"Tong Lo-Cianpwe! Souw-Kouwnio! Silahkan minggir! Biar kuhadapi sendiri orang-orang ini!"
Chin Yang Kun berseru. Dalam sekejap pemuda itu telah mengerahkan Liong-cu-ikangnya yang ampuh. Kemudian sambil meloncat ke samping pemuda itu mengibaskan lengannya yang penuh terisi tenaga sakti.
"Whuuussss!!"
Hembusan udara dingin yang bukan main kuatnya menerpa kearah lawan, sehingga senjata Huang-ho Heng-te yang terayun ke depan tadi melenceng ke samping dibuatnya.
Sementara kedua orang bersaudara itu tampak gelagapan seperti anak kecil yang terbenam di dalam air.
Ternyata bukan hanya para pengawal Tan-Wangwe itu saja yang terpengaruh oleh keampuhan Liong-cu I-kang!
Ternyata Tong Ciak Cu-si dan Souw Lian Cu yang berada di dekatnya juga merasakan kehebatan tenaga sakti tersebut.
Tong Ciak yang bermaksud mendekati Chin Yang Kun juga merasakan hembusan angin dingin yang mendorong ke arah tubuhnya, sehingga tokoh sakti itu menjadi terkejut sekali.
Otomatis Soa-hu-sinkangnya menebar melindungi tubuh.
Udara yang sama-sama dinginnya keluar dari badan Tong Ciak Cu-si, menyongsong hembusan udara dingin yang berasal dari tangan Chin Yang Kun!
"Cesssss!"
Untuk sesaat Souw Lian Cu yang juga ikut terdorong oleh tenaga Yang Kun tampak menggigil menahan dingin.
Pertemuan antara Liong-cu I-kang dan Soa-hu-sinkang yang sama-sama bersifat dingin itu menciptakan suasana yang luar biasa dinginnya, sehingga gadis yang belum sembuh dari sakitnya itu sangat menderita karenanya.
Untunglah keadaan itu hanya berlangsung dalam sekejap mata saja.
Bersamaan dengan tergempurnya kuda-kuda Tong Ciak Cu-si, serangan hawa dingin itu lenyap pula.
Tanpa terasa Tong Ciak dan Souw Lian Cu telah terdorong mundur beberapa langkah ke belakang!
Begitu sadar, tokoh sakti dari Im-yang-kauw itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Hatinya kagum bukan main!
Biarpun tokoh sakti itu juga belum mengerahkan seluruh tenaganya, tetapi pemuda itu juga belum pulih kesehatannya.
Sedang Souw Lian Cu yang terpaksa tidak dapat bertahan dari kekuatan yang dikeluarkan oleh Chin Yang Kun, menjadi semakin tidak senang dengan pemuda itu.
Dalam hati ia menganggap Yang Kun terlalu sombong dan bermaksud memamerkan kehebatannya!
Oleh karena itu sambil menggigit bibirnya keras-keras, gadis itu menatap ke depan dengan wajah keruh.
Sementara itu Huang-ho Heng-te tampak berdiri termangu mangu di tempatnya.
Mereka hampir tidak mengerti apa sebenarnya yang telah terjadi.
Tahu-tahu tongkatnya seperti terdorong ke samping dengan kuatnya.
Seolah-olah baru saja ada badai setan yang melanda mereka berdua.
Tapi beberapa saat kemudian, setelah kedua orang bersaudara itu menyadari apa sebenarnya yang terjadi, mereka menjadi pucat dan gemetar.
Sekarang mereka baru memaklumi bahwa terhindarnya pemuda itu dari reruntuhan tadi bukanlah sekedar hanya suatu kebetulan saja, tapi memang disebabkan oleh kepandaian dan kesaktian pemuda itu pula!
Mendadak saja keberanian mereka menjadi surut,apalagi ketika Yang Kun memandang mereka dengan bengis.
Serasa ada jilatan api dalam bola mata itu yang akan membakar mereka.
Togu dan Hui chio Tu Seng tercekat pula di dalam hati mereka.
Seperti juga dengan Huang ho Heng-te, sekarang mereka menyadari bahwa lawan yang mereka hadapi sekarang bukanlah lawan yang enteng!
Tanpa terasa mereka menatap kedua orang kawan si pemuda yang berdiri tenang di pinggir.
Rasa-rasanya mereka mengenal orang tua bertubuh pendek kekar itu pula!
Tapi mereka berjumlah banyak, dan hal ini membangkitkan kembali keberanian mereka.
Apalagi mereka berada di kandang sendiri.
Masih banyak teman-teman mereka yang akan menolong apabila mereka mendapat kesukaran.
"Tangkap mereka...!"
Hui-chio Tu Seng akhirnya berteriak ke arah anak buahnya.
Belasan orang bersenjata itu serentak berloncatan menyerang Yang Kun dan kawan-kawannya.
Ruangan restoran yang tidak begitu luas itu menjadi sesak dan riuh oleh perkelahian mereka yang tidak beraturan.
Segala macam senjata tajam yang berkilat-kilat saking tajamnya, tampak bersiutan mencari mangsa di antara keributan itu.
Hui-chio Tu Seng segera menghambur kearah Tong Ciak.
Tombaknya yang tajam itu meluncur ke depan, seolah terbang dari pegangannya.
Dia memilih Tong Ciak sebagai lawannya karena ia menganggap bahwa orang tua itulah yang terlihai diantara ketiga orang lawannya.
Dan di dalam hati ia juga ingin mengetahui siapa sebenarnya orang itu.
Tong Ciak menghindar dengan cepat ke kiri, lalu membalas pula dengan tidak kalah hebatnya!
Sepasang lengannya yang kuat itu berkelebat cepat menyerang dan menangkis gerakan tombak Tu Seng yang lincah dan cepat itu.
Di tempat lain Souw Lian Cu tampak bertempur melawan lima orang anak buah Tu Seng.
Meskipun kelima orang itu berkelahi dengan bersemangat dan ganas, Apalagi mereka berlomba-lomba untuk segera mengakhiri perlawanan si gadis, tapi tampak dengan jelas bahwa mereka bukan lawan yang seimbang bagi gadis cantik tersebut.
Biarpun hanya berlengan sebelah, tapi lengan yang putih mulus itu ternyata mampu melayani mereka dengan baik.
Malahan kadang-kadang lengan itu mampu menangkis senjata tajam lawannya.
Yang paling hebat dan seru adalah arena dimana Chin Yang Kun berkelahi!
Seluruh anak buah Tu Seng yang masih tersisa menghambur semua kearah pemuda itu.
Selain Togu dan Huang-ho Heng-te, ternyata lebih dari dua belas orang lagi menyerbu dan mengeroyoknya.
Terpaksa pemuda itu menggerakkan lagi segala kekuatannya untuk melayani mereka.
Beberapa kali tampak pemuda itu berdesis dan mendekap dadanya, terutama bila ia terpaksa harus menangkis senjata lawannya.
Luka yang diderita oleh Yang Kun itu memang sangat mengganggu perlawanannya.
Beberapa kali pemuda itu harus menarik atau mengurungkan serangannya hanya karena luka itu tiba-tiba saja terasa menyengat dadanya.
Atau kadang kadang tenaga yang telah ia persiapkan menjadi buyar ketika harus melewati daerah yang terluka.
Atau kadang-kadang pemuda itu harus mengurungkan serangannya, karena apabila ia teruskan justru akan sangat berbahaya bagi kesehatannya.
Oleh karena itu, biarpun berkepandaian sangat tinggi, Yang Kun kali ini benar-benar mengalami kerepotan.
Padahal musuh yang mengeroyoknya demikian banyaknya!
Untuk meminta tolong kepada Souw Lian Cu atau Tong Ciak, pemuda ini merasa malu.
Apalagi tadi ia sudah menolak ketika Tong Ciak bermaksud menolong dia.
Dalam keadaan terpepet Yang Kun menjadi nekad!
Tanpa memperdulikan lagi pada mati hidupnya, ia mengerahkan tenaga sakti Liong-cu I-kang sepenuh penuhnya!
Dan bersamaan dengan suara desis ular dari bibirnya, badannya memancarkan gelombang udara yang luar biasa dinginnya.
Begitu dingin sehingga untuk sekejap lawan lawannya seperti membeku tak bisa bergerak di tempat masing-masing!
Tapi sekejap kemudian Togu dan Huang-ho Heng-te segera dapat melepaskan diri dari pengaruh itu.
Selanjutnya, dengan berseru keras mereka melompat ke depan, menerjang Yang Kun dengan hebatnya.
Sepasang tongkat berkait dari dua bersaudara itu menghantam ke arah Yang Kun dengan kekuatan penuh.
Sedangkan Togu juga tidak mau kalah dengan temannya, cambuk kulit ularnya tampak melayang ke arah pinggang Yang Kun dengan ganas sekali.
Suaranya mengaung bagaikan suara angin topan bertiup.
Yang Kun memang sudah tidak memikirkan lagi mati hidupnya!
Ia telah merasa bahwa kekuatannya takkan dapat bertahan untuk beberapa lama lagi.
Oleh karena itu sebelum kekuatan itu habis ia ingin melumpuhkan dahulu lawan-lawannya!
Selagi yang lain belum mampu mengatasi pengaruh Liongcu-i-kangnya, Yang Kun mengumpulkan seluruh kekuatan tenaga saktinya ke arah lengan!
Dan berbareng dengan datangnya serangan Togu dan Huang ho Heng-te, pemuda itu melontarkan serangan ke depan.
Badai angin beracun yang luar biasa hebatnya terasa menghantam ke arah lawanlawannya!
Suaranya menderu menggiriskan!
"Wuuuussss!!"
"Dheeesss!"
"Huuaaaakk!"
"Aduuuuuh!"
Seperti diterjang oleh hembusan badai topan yang ganas, belasan anak buah Tu Seng yang mengeroyok Chin Yang Kun terpental kesana kemari.
Sekejap mereka berkelojotan sambil menggaruk-garuk tubuhnya yang gatal, lalu mati!
Tapi Yang Kun juga tidak bisa mengelakkan serangan Togu dan Huang ho Heng-te yang menghantam tubuhnya!
Dengan disertai suara keras tiga buah senjata itu menghajar dengan telak pada tubuhnya, sehingga di lain saat dari mulutnya tampak menyembur darah segar yang berwarna kehitamhitaman!
Dan...Huang ho Heng-te yang berada di dekatnya tak mampu menghindarkan diri lagi dari semburan darah tersebut.
Leher dan dadanya basah oleh darah Yang Kun!
"Waduh!
ToIonnggg...!"
Sambil mencengkeram leher dan dadanya Huang-ho Heng-te berguling-guling di atas lantai.
Jari jarinya sibuk mencakar-cakar kulitnya yang terkena darah beracun dari Chin Yang Kun.
Akhirnya setelah kulit itu terkoyak-koyak, keduanya mati dengan wajah mengerikan!
Togu yang berada di sebelah belakang Yang Kun terbelalak ngeri menyaksikan nasib kawan-kawannya itu.
Dengan tubuh gemetar raksasa yang biasanya sangat pemberani itu melepaskan tangkai cambuknya yang membelit pinggang Yang Kun kemudian dengan wajah ketakutan raksasa Mongol itu meloncat melarikan diri!
Yang Kun yang telah terluka parah itu menggeram.
Ia tak mau kehilangan musuhnya itu.
Tapi kakinya terasa kaku dan sukar untuk bergerak lagi.
Oleh karena itu dengan kekuatannya yang terakhir ia mengerahkan ilmu pamungkasnya, Kim-coa ih-hoat!
"Hiyaaat!"
Sambil membalikkan tubuh pemuda itu mengulurkan lengannya ke arah lawan yang telah berlari sejauh tiga meter dari tempatnya berdiri.
"Aughh...!!"
Raksasa itu berteriak mengerikan.
Badan yang sebesar kerbau itu tertarik kembali ke belakang dan di lain saat terlontar ke atas ke arah lobang genting yang tadi dibuat oleh tubuh Toat-beng-jin!
"Hei!
mengapa kau menyusul aku di ke sini?"
Tiba-tiba Toat-beng-jin muncul dari lobang itu seraya menangkap tubuh Togu, lalu dengan ringan orang tua itu melayang turun sambil membawa Togu ke bawah.
"Ohh... kau!?! K-kau belum m...mati? Auwghh...!"
Raksasa itu terbelalak begitu melihat siapa yang memondongnya, tapi sesaat kemudian tubuhnya tampak meronta, lalu mati.
Cengkeraman jari tangan Yang Kun tadi ternyata telah mematahkan tulang lehernya.
Tapi pada saat yang bersamaan Yang Kun juga jatuh terkulai dan menggeletak pingsan di atas lantai.
Dari mulutnya masih mengalir darahnya yang berbahaya itu.
"Yang-hiante!"
"Oh, Yang Kun...!"
Tong Ciak dan Souw Lian Cu menjerit berbareng. Keduanya bergegas datang, dan lawan yang mereka hadapi mereka tinggalkan begitu saja.
"Awasss! Jangan sentuh darahnya!!"
Toat-beng-jin berteriak memperingatkan kedua orang itu.
Toat-beng-jin lalu bergegas menotok beberapa jalan darah di badan Yang Kun dengan sebatang ranting, sehingga tidak berapa lama kemudian darah yang mengalir keluar itu berhenti.
Lalu bersama dengan Tong Ciak Cu-si, orang tua itu menyalurkan tenaga sakti yang mereka miliki ke tubuh Yang Kun.
Dan lima menit kemudian Yang Kun telah siuman kembali.
Sementara itu Tu Seng yang telah kehilangan banyak teman itu cepat-cepat meninggalkan restoran tersebut bersama anak buahnya yang tersisa.
Ia bermaksud melaporkan kejadian itu kepada Tuan Tan dan memperingatkan majikannya agar berhati-hati.
Ternyata lawan yang mereka tunggu adalah lawan yang sangat berbahaya.
Tu Seng tidak tahu bahwa dia telah salah alamat kali ini.
Sepeninggal Tu Seng dan kawan-kawannya, Toat-beng-jin memanggil pemilik restoran dan meminta tolong agar mengurus mayat-mayat yang berserakan di tempat itu.
"...Saudara telah menyaksikan sendiri, bahwa orang orang yang mengaku sebagai pembantu Tuan Tan itulah yang memulai peristiwa ini. Untunglah kami semua tak kurang suatu apa. Oleh karena itu, kalau saudara tidak terima dengan keadaan restoran yang rusak ini, saudara harap meminta ganti rugi kepada Tuan Tan..."
"...Dan jangan sekali-kali kau menyentuh darah itu!"
Tong Ciak menyambung perkataan Toat-beng-jin seraya menunjuk ke arah ceceran darah yang tadi keluar dari mulut Yang Kun.
Kemudian bersama-sama Souw Lian Cu dan Chin Yang Kun, kedua tokoh Im yang kauw itu keluar meninggaIkan tempat berdarah tersebut.
"Sekarang kita langsung ke rumah mendiang Sucouw saja."
Tong Ciak bersungut-sungut.
"Lohu memang benar-benar sial hari ini. Ingin menikmati sarapan pagi saja tidak kesampaian..."
"Hahaha... apa kataku! Kesialan itu memang sering datang dengan beruntun..."
Toat-beng-jin tertawa.
"Ini saja tentu belum selesai. Aku percaya sebentar lagi Tuan Tan tentu akan menemui kita bersama seluruh kekuatannya..."
"Heh?!?"
Tong Ciak berhenti melangkah.
"Ah, biar sajalah! Kuhabiskan sekalian mereka kalau berani datang."
"Ah!"
Toat-beng-jin berdesah, tapi tak berkata lebih lanjut.
Rumah kuno itu benar-benar sangat menyedihkan keadaannya.
Selain kotor bangunan itu sudah banyak yang rusak.
Genting dan dindingnya banyak yang telah pecah dan longsor.
Begitu pula dengan kayu-kayunya, telah banyak yang lapuk dan patah.
Bagian yang agak utuh hanyalah bangunan yang berdiri di pojok halaman belakang, yaitu bangunan yang dahulu merupakan bangunan yang diperuntukkan sebagai gudang, dapur maupun kandang binatang piaraan.
Biarpun juga tidak boleh dikatakan bersih, tapi bangunan yang disebut belakangan ini sedikit tampak kalau sering dijamah orang.
Daerah di sekitarnya tampak bekas-bekas tangan manusia yang menjamahnya.
Bekas-bekas goresan sapu tampak di atas tanah di sekitarnya, sementara di samping bangunan itu tampak terlihat sebuah lobang tempat sampah yang besar.
Malahan pada saat itu gundukan sampah kering yang berada di dalamnya tampak mengeluarkan asap tipis, agaknya baru saja dibakar orang.
Di depan rumah terdapat tali panjang yang direntang dari pohon kecil ke tiang kayu yang berada di pojok bangunan.
Beberapa buah baju dan celana tua tampak tergantung di atasnya.
Sedang di halaman sumur terlihat sebuah jambangan penuh terisi air, sementara ember untuk mengambil air yang terletak di dekatnya masih basah bekas dipakai orang.
"Hmm... sepi benar kelihatannya."
Tong Ciak Cu-si bergumam di antara langkahnya.
"Kemanakah kakek Kam itu...?"
"Mungkin sedang menyiapkan makanan di belakang. Lihat dapurnya berasap!"
Toat-beng-jin menunjuk ke arah dapur.
Dengan diikuti oleh ketiga orang kawannya Tong Ciak menyeberangi halaman tengah yang amat luas itu, menuju ke bangunan belakang, dimana kakek penunggu rumah tersebut tinggal.
Mereka melewati pohon-pohon rindang yang banyak bertebaran tak terurus di tempat itu.
Mereka langsung menuju ke arah dapur, dimana tadi mereka telah melihat asap yang mengepul di sana.
Tiba-tiba mereka berhenti melangkah.
Ada sesuatu yang membuat hati mereka merasa curiga.
Mereka seperti mendengar suara orang bertempur di tempat itu.
"Lojin-ong...! Apakah Lojin-ong mendengar suara itu?"
Tong Ciak menoleh. Toat-beng-jin mengangguk.
"Yaa... seperti orang bertempur dengan tangan kosong."
Tiba-tiba..."Braaak! Bluk!"
Salah satu sisi dari dinding dapur yang terbuat dari anyaman bambu itu terlepas dari tempatnya, dan dari dalam melayang sesosok tubuh terjatuh keluar.
Tapi dengan sigap orang itu melenting tegak kembali, sebelum beberapa orang tampak berloncatan keluar dari lobang dinding dan mengepungnya.
"Hong-lui-kun Yap Kiong Lee...!"
Tong Ciak berseru tertahan begitu melihat siapa yang terjatuh keluar itu tadi.
"Tiat-tung Lokai!"
Souw Lian Cu tanpa terasa juga menjerit lirih begitu matanya memandang kearah orang-orang yang mengepung pemuda itu.
Tapi meskipun perlahan, ternyata seruan mereka itu telah terdengar oleh orang-orang yang sedang berkelahi tersebut.
Bergegas mereka menoleh kearah rombongan Toat-beng-jin yang baru tiba.
Hong-lui-kun menatap dengan pandang mata asing, karena pemuda itu telah lupa sama sekali dengan Tong Ciak.
Telah lebih dari lima tahun mereka tidak saling bertemu, apalagi Tong Ciak sekarang memelihara kumis dan jenggot pula.
Sementara itu salah seorang dari para pengepung Hong-luikun yang berbadan bongkok dan memegang tongkat besi, tampak terkejut ketika melihat Souw Lian Cu.
Orang tua yang kira-kira berumur enam puluh tahun itu mengibaskan lengan bajunya yang penuh tambalan.
"Hei, Souw-Kouwnio!"
Sapanya ramah, meskipun matanya masih tetap tegang melirik ke arah Hong-lui-kun Yap Kiong Lee.
Souw Lian Cu melangkah tiga tindak ke depan.
Dengan wajah heran gadis itu memandang kakek pengemis yang ia panggil Tiat-tung Lokai (Pengemis Tua Bertongkat Besi).
"Lo-Cianpwe... ada apa ini? Mengapa Lo-Cianpwe mengepung dia?"
"Souw-Kouwnio, kau beristirahat sajalah di pinggir! Biarlah orang ini kubereskan terlebih dahulu. Dia berani menghalang-halangi perintah Keh sim Siauwhiap..."
"Omong kosong! Kalian hanya berbohong didepanku. Tak mungkin seorang pendekar ternama seperti Keh sim Siauwhiap memberi perintah untuk merampok harta benda orang lain."
Hong-lui-kun Yap Kiong Lee menangkis tuduhan tersebut.
"Huh! kau tahu apa tentang perjuangan kami!"
Tiat tung Lokai membentak.
"Perjuangan?"
Hong-lui-kun tersenyum.
"Ah, kalian ini benar-benar sudah terbalik jalan pikirannya. Perjuangan macam apa perbuatan merampok milik orang-orang lain itu?"
"Persetan! kau memang mau menghina kami...!"
Tiat tung Lokai berteriak.
Tongkat besi yang mengkilap kehitam-hitaman itu terayun ke depan dengan derasnya, lalu diikuti oleh para pengepung yang lain.
Mereka menyerang dengan senjata mereka masing-masing, yaitu tongkat besi yang bentuk maupun warnanya sama dengan kepunyaan Tiat tung Lokai!
Hanya besar kecilnya yang berbeda.
Mungkin hal itu untuk menunjukkan tinggi rendahnya kedudukan mereka masing-masing di dalam perkumpulan.
Dan tongkat Tiat tung Lo kai yang lebih kecil dan lebih pendek dari tongkat kawan-kawannya itu menunjukkan bahwa kedudukannya lebih tinggi daripada kedudukan mereka.
Hong-Iui-kun menghindar dengan cepat, lalu tanpa sungkan ia membalas pula dengan tak kalah kerasnya.
Sehingga beberapa saat kemudian di halaman kosong yang sepi itu terjadi pertarungan yang hebat.
Masing-masing tak mau mengalah, meskipun masing masing menyadari bahwa lawan yang mereka hadapi kali ini adalah lawan yang amat sakti.
Baik Hong-lui-kun maupun Tiat tung Lo kai dan kawan-kawannya sama-sama terkejut di dalam hati, masing-masing tidak menyangka bahwa lawan yang berada di depan mereka demikian kuatnya!
Terutama bagi Tiat tung Lokai dan kawan-kawannya!
Mereka sungguh terkejut setengah mati ketika menyadari betapa hebatnya kepandaian pemuda yang berani menghalangi rencana mereka itu.
Tiat tung Lo kai yang menjabat sebagai ketua Tiat tung Kai pang itu hamper tidak mau mengerti kenapa dirinya yang telah dibantu oleh empat orang pembantu utamanya belum juga bisa menundukkan lawan yang hanya seorang itu?
Mungkinkah kesaktian pemuda tersebut melebihi kesaktian Keh sim Siauwhiap yang pernah mengalahkan mereka?
Sedang rasa terkejut di hati Hong-lui-kun lebih dititikberatkan kepada bayangannya tentang tokoh yang bergelar Keh-sim Siauwhiap, yang mampu mengendalikan jago-jago sakti seperti kelima pengemis yang mengepungnya itu.
Kalau untuk menundukkan kelima orang yang menjadi anak buahnya saja demikian sukarnya, bagaimana pula kehebatan orang yang disebut dengan Keh-sim Siauwhiap itu?
Sementara itu Toat-beng-jin dan kawan-kawannya hanya dapat berdiri diam saja di tempat masing-masing.
Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, karena kedua duanya tidak mereka kenal.
Dan persoalan yang mereka perdebatkan pun juga tidak mereka ketahui.
"Souw-Kouwnio...! kau mengenal para pengemis itu?"
Akhirnya Tong Ciak membuka mulut untuk bertanya kepada Souw Lian Cu.
"I-i-i...ya!"
Gadis itu mengangguk dengan gugup.
"Siapakah mereka?"
"Aaa... mereka adalah sahabat-sahabat Keh-sim Siauwhiap. Mereka adalah orang-orang dari Tiat-tung Kai-pang!"
"Orang Tiat-tung Kai-pang?"
Yang Kun menyela dengan kaget, sehingga Tong Ciak dan Toat-beng-jin menatapnya dengan tajam.
Yang Kun memang amat kaget.
Ia menjadi teringat peristiwa di tempat pengungsian dulu, ketika ia secara tidak sengaja membunuh tiga orang Tiat-tung Kai-pang yang bermusuhan dengan orang Kim-liong Piauw-kok.
Pemuda ini selalu teringat akan peristiwa itu, karena pada saat itu pulalah ia bertemu dengan Souw Lian Cu untuk pertama kalinya dan pada saat itu pulalah ia menyadari kehebatan ilmu yang diturunkan oleh nenek buyutnya.
"Wah, urusannya tentu akan bertambah runyam kalau orang-orang ini mengetahui kalau aku yang telah membunuh teman-temannya..."
Pemuda itu membatin.
Tak terasa Yang Kun menoleh kearah Souw Lian Cu.
Kebetulan gadis cantik itu juga baru memandang Chin Yang Kun sehingga kedua pasang mata mereka bentrok satu sama lain dan...
keduanya buru-buru memalingkan mukanya dengan cepat.
Sementara itu Tong Ciak dan Toat-beng-jin yang sedari tadi mengawasi Souw Lian Cu tampak melangkah maju dengan tegang.
"Sahabat-sahabat Keh-sim Siauwhiap...? Eh, jadi... Souw-Kouwnio, kau... apakah kau juga datang dari Meng-to?"
Tong Ciak bertanya. Souw Lian Cu melirik sekejap kepada Yang Kun, kemudian mengangguk.
"Ooh!"
Tong Ciak dan Toat-beng-jin berdesah perlahan.
Di dalam arena, pertempuran semakin bertambah seru.
Hong-lui-kun yang dikeroyok lima orang tokoh pimpinan Tiat-tung Kai pang itu tidak menjadi kendor, bahkan semakin tampak bertambah garang malah!
Beberapa kali gerakan kaki dan tangannya yang selalu diikuti oleh tiupan angin yang menderu-deru itu membobol kepungan lawan yang rapat, meskipun sesaat kemudian kepungan itu menjadi rapat pula kembali.
Kelima tokoh puncak Tiat tung Kai-pang itu memang bukan tokoh tokoh sembarangan.
Diantara banyak perkumpulan pengemis yang tumbuh di dunia persilatan, perkumpulan pengemis Tiat tung Kai pang adalah perkumpulan yang paling tersohor dan paling banyak pengikutnya.
Mereka tersebar di mana-mana, di seluruh kota kota besar, baik di daerah selatan yang padat penduduknya maupun di daerah utara yang dingin dan kering tanahnya.
Begitu hebat dan besarnya, perkumpulan itu sehingga untuk mengurusnya terpaksa dibagi menjadi dua daerah, yaitu daerah selatan dan daerah utara.
Tiat tung Kai pang daerah selatan diketuai oleh Tiat tung Lo kai yang kini sedang bertempur itu sedangkan daerah utara diketuai oleh Tiat tung Hong-kai (Pengemis Sinting Bertongkat Besi)!
Masing-masing daerah mempunyai jago-jago yang berkepandaian tinggi.
Seperti keempat tokoh yang kini membantu Tiat tung Lokai tersebut!
Mereka adalah para pembantu utama dari Tiat-tung Lo kai, pengurus harian perkumpulan Tiat tung Kai pang daerah selatan.
Keempat orang itu lebih dikenal orang dengan sebutan Tiat-tung Su-lo (Empat orang tua dari perkumpulan tongkat besi).
Setiap orang dari Tiat-tung Su-lo mempunyai kepandaian sangat tinggi dan hanya berselisih sedikit dengan ketuanya, Tiat tung Lokai!
Oleh karena itu dapat dibayangkan betapa hebatnya kepandaian Hong-lui-kun Yap Kiong Lee yang mampu melayani keroyokan kelima tokoh sakti tersebut, tanpa sedikitpun kelihatan lelah ataupun terdesak!
"Gila!
Sungguh gila!
Pemuda ini memang keturunan iblis...!"
Tiat tung Lokai mengumpat-umpat di antara ayunan tongkatnya.
Sekali lagi tongkat besi dari kakek bongkok tersebut menyabet ke arah kaki Hong-Iui kun dalam Jurus Mengorek Sampah Mencari Tulang, sebuah jurus yang selalu dibangga banggakan oleh orang tua itu karena sangat luar biasa keampuhannya.
Selama hidupnya belum pernah ada seorang tokohpun yang mampu menghadapi jurus tersebut selain Kehsim Siauwhiap!
Tongkat itu bergetar seolah-olah menjadi beberapa buah tongkat saking kuatnya tangan yang menggerakkannya.
Lalu setelah sampai pada sasarannya, tongkat tersebut berputar dengan kencang dalam genggaman, seakan-akan tongkat itu benar-benar mengorek sampah untuk mencari tulang yang tertimbun di dalamnya.
Kali ini Hong-lui-kun agaknya tak mungkin bisa mengelak lagi, apalagi ketika keempat tongkat Tiat tung Su-lo ikut menghantam ke arah dada dan kepalanya.
Semua jalan untuk menghindar telah ditutup oleh tongkat lawan!
Dan kelima orang jago Tiat tung Kai-pang itu sudah mulai mengembangkan senyumnya, mereka telah membayangkan lawan yang ulet itu jatuh terkapar di depan kaki mereka.
"Nah, sekarang hatimu tentu menyesal sekali...mengapa dirimu sampai ikut campur dalam urusan ini, haha... Tapi penyesalan itu takkan berguna lagi! Sebentar lagi tubuhmu akan tergeletak di atas tanah tak berdaya."
Tiat tung Lokai tertawa gembira.
"Huh! Jangan bermimpi! kau lihatlah baik-baik... hiyaaat!"
Tiba-tiba Hong-Iui-kun menggeram bagai singa marah.
Entah dari mana pemuda itu mengambilnya, tahu tahu tangannya telah menghunus sepasang pedang pendek.
Dan cara memegangnyapun sangat aneh!
Tangkai pedang itu dipegang secara terbalik, sehingga mata pedang yang tajam itu melengket sejajar dengan lengannya dan terlindung oleh lengan bajunya yang lebar.
Cara memegangnya persis orang memegang belati!
Sepintas lalu seperti tak memegang apa apa.
Di lain saat pemuda itu meloncat ke atas, menghindari sabetan tongkat Tiat-tung Lo kai, sambil mengerahkan tenaga untuk menangkis keempat tongkat lainnya yang menerjang ke arah tubuh atasnya.
Terdengar suara gemerincing yang amat keras ketika sepasang pedang yang terlindung di balik lengan baju itu menghantam tongkat lawan, sehingga keempat tongkat itu terpental lepas dari genggaman para pemiliknya.
"Traaaang...!!!"
"Ochh...?!"
"Ahhh...?!?"
Keempat Tiat-tung Su-lo itu terbelalak seperti orang kehilangan akal.
Kejadian itu benar-benar mengejutkan mereka dan sedikitpun tidak terlintas dalam pikiran mereka bahwa kemenangan yang telah berada di depan mata tersebut berubah menjadi kekalahan yang amat memalukan.
Tenaga gabungan empat orang Tiat-tung Sulo yang selama ini amat ditakuti orang, kini ternyata telah ditaklukkan oleh seorang pemuda!
Bergegas keempat orang pengurus Tiat tung Kai-pang daerah selatan itu meloncat mundur.
Dengan mulut melongo mereka mengawasi tongkat mereka yang jatuh berserakan di atas tanah.
Di pihak lain, Tiat-tung Lo kai yang telah kehilangan sasaran tongkatnya, menjadi marah bukan main.
Tongkat yang berputar dalam genggamannya itu segera meluncur keatas mengejar lawan.
Gerakannya sangat enteng dan sederhana, tapi ternyata mengandung tenaga yang hebat sekali.
Itulah jurus Mencongkel Tanah Mencari Sisa-sisa Makanan yang ampuh!
Tapi Hong-lui-kun yang berada di atas dan baru saja mementalkan tongkat lawan itu tak berdiam diri begitu saja!
la tak ingin selangkangannya dihajar ujung tongkat Tiat tung Lo kai!
Maka sebelum senjata itu menyentuh pakaiannya, Hong-Iui-kun cepat berjumpalitan dan menukik ke bawah.
Sepasang pedang yang dipegangnya terayun menyilang, memapaki tongkat Tiat-tung Lo kai!
"Traanng!"
Tubuh bongkok dari Tiat tung Lo kai terpental dan terjerembab ke depan, sedang Hong-lui-kun tampak terhuyung-huyung sedikit setelah mendarat di atas tanah.
Dan di dekat mereka tampak potongan ujung tongkat besi Tiat-tung Lokai yang baru saja tergunting oleh sepasang pedang Hong-lui-kun Yap Kiong Lee.
Lagi-lagi semua orang dikejutkan oleh kehebatan ilmu silat pedang warisan Sin-kun Bu tek yang jarang diketahui orang, tak terkecuali Toat-beng-jin dan Tong Ciak!
Yang mereka ketahui selama ini, Sin-kun Bu-tek sangat terkenal dengan tangan kosongnya.
Dan tokoh sakti itu tak pernah mempergunakan senjata selama hidupnya!
"Tong-hiante, agaknya selain mempelajari ilmu warisan leluhurnya, pemuda itu juga belajar kepada orang lain..."
Toat-beng-jin bergumam.
"Mungkin...juga."
Setelah dapat mengalahkan lawannya, Hong-Iui-kun segera menyarungkan pedang pendeknya kembali. Ternyata pedang itu disembunyikan di bawah lengan bajunya.
"Nah! Apa kata kalian sekarang?"
Katanya datar.
"Hmh! jangan sombong dahulu! Kami memang mengaku kalah sekarang. Tapi bagaimanapun juga kami tidak akan mengurungkan rencana kami semula. Kami tidak datang sendirian ke desa ini. Keh-sim Siauwhiap telah mengirim beberapa orang untuk mengawani kami. Tunggulah...!"
Tiat-tung Lo kai menjawab dengan penasaran. Kemudian dengan terbungkuk-bungkuk orang tua itu mengajak Tiat-tung Su-lo meninggalkan tempat tersebut.
"Lo-Cianpwe...,."
Souw Lian Cu berlari mendekati ketua pengemis itu.
"Ooh...iya! Souw-Kouwnio!"
Tiat-tung Lokai menghentikan langkahnya.
Ia benar benar telah lupa bahwa di situ ada Souw Lian Cu, gadis yang selama ini sering kali ia lihat di Pulau Meng-to.
Gadis yang ia tahu sangat lihai dan sangat dekat hubungannya dengan Keh-sim Siauwhiap.
Tapi kakek bongkok itu segera mengerutkan dahinya.
"Souw-Kouwnio, pemuda itu telah menghina kita. Dan ia telah berusaha menggagalkan rencana Keh-sim Siauwhiap...Mengapa engkau berdiam diri dan tak mau membantu kami?"
Souw Lian Cu tersentak kaget. la tak menyangka mendapatkan pertanyaan demikian.
"Lo-Lo-Cianpwe...aku...aku sedang terluka dalam..."
Katanya gagap.
"Oh??!"
Kini orang tua itu yang terkejut.
"Luka dalam...? Mengapa nona tidak lekas-lekas pulang untuk berobat?"
"Lukaku bukan luka biasa. Hanya beberapa orang tertentu yang bisa mengobatinya. Dan di antaranya adalah kedua orang yang datang bersama aku itu..."
Souw Lian Cu menunjuk ke arah Toat-beng-jin dan Tong Ciak.
"Mereka adalah tokoh-tokoh tingkat atas dari Im-yang-kauw!"
"Im...yang...kauw?"
Kakek itu semakin kaget, kemudian bergegas meninggalkan Souw Lian Cu dengan tergesa-gesa. Souw Lian Cu menghela napas berat, lalu berjalan kembali ketempatnya semula.
"Nona, apa katanya? Rencana apakah sebenarnya yang akan dilakukan oleb Keh sim Siauwhiap di sini?"
Tong Ciak menyongsong Souw Lian Cu.
"Merampok Tan-Wangwe!"
Tiba-tiba Hong-lui-kun menjawab pertanyaan tersebut.
"Tapi aku tak mempercayainya. Tak mungkin pendekar ternama seperti Keh sim Siauwhiap mempunyai rencana seperti itu."
Ketika semuanya memandang dirinya, Hong-lui-kun segera tersadar bahwa ia belum saling mengenal dengan mereka.
"Oh, maaf...Cuwi ini siapa? Apa keperluan cuwi datang ke tempat kakek Kam ini?"
Tanyanya agak tersipu.
Chin Yang Kun yang sangat mengagumi sepak-terjang Hong-lui-kun sejak melihatnya pertama kali di warung Hao Chi itu cepat melangkah ke depan.
Dengan tenang pemuda itu menunjuk ke arah Tong Ciak Cu-si.
"Beliau itu adalah pemilik dari rumah dan pekarangan peninggalan Kim-mou Sai-ong ini. Oleh karena kebetulan sedang lewat di dusun ini, maka beliau bermaksud singgah sebentar untuk menemui penjaganya."
"Pemilik rumah ini...? Benarkah? Si-siapa...? hei, Tong Tai-Ciangkun rupanya!"
Tiba-tiba pemuda itu memekik kaget serentak mengenali wajah Tong Ciak Cu-si.
"Yap-Kongcu...!"
Tong Ciak terpaksa balas menyapa pula.
"Ah, Tong Tai-Ciangkun. siauwte benar-benar tak mengenalmu tadi. Coba saudara ini tak mengatakan bahwa engkau adalah pemilik rumah, aku sungguh takkan menyangkanya...Oh! Mari silahkan masuk! Kam-Lojin (kakek Kam) sedang keluar mencari obat untuk mengobati racun yang mengeram dalam badanku..."
Dengan amat ramah pendekar muda itu mempersilahkan mereka masuk ruangan dapur yang jebol dindingnya tersebut.
"Ah, Yap-Kongcu...lohu sekarang tidak menjabat sebagai Tai-Ciangkun lagi."
Tong Ciak membetulkan sebutan yang diucapkan oleh Hong-lui-kun kepadanya.
"Ah, benar...maaf...maaf!"
Karena tak ada kursi yang dapat mereka gunakan untuk duduk, maka masing masing mencari tempat duduk sendiri seadanya.
Sementara Hong-lui-kun sambil membersihkan bekas-bekas dinding dapur yang jebol, mempersilakan Tong Ciak beserta teman temannya untuk duduk menunggu Kam Lojin.
"Silahkan duduk...! Kukira sebentar lagi Kam Lojin tentu akan segera datang. Biarlah kubersihkan dahulu tempat ini..."
"Ah, Yap-Kongcu kuperkenalkan dulu dengan kawan-kawanku ini!"
Tong Ciak menarik lengan pemuda tersebut.
"Wah, siauwte menjadi tidak enak hati terhadap Tong Lo-Cianpwe. siauwte telah menyebabkan dinding bambu ini roboh..."
"Alaa...biarlah, Yap-Kongcu tak perlu merasa sungkan. Toh bangunan rumah ini memang sudah lapuk."
Kemudian tokoh Im-yang-kauw bertubuh pendek itu memperkenalkan teman-temannya kepada pemuda ahli waris Sin kun Bu-tek tersebut.
MuIa mula Souw Lian Cu, lalu Chin Yang Kun dan kemudian yang terakhir Toat-beng-jin!
"Oh...jadi Lo-Cianpwee yang berada di mukaku ini adalah Algojo dari perkumpulan Im yang kauw yang sangat terkenal itu?
Ah, Lo-Cianpwe...Siauwte sungguh amat beruntung sekali dapat berkenalan dengan Lo-Cianpwe."
Hong-Iui-kun cepat-cepat menjura dengan hormat.
"Nama besar Lo-Cianpwe sudah lama terdengar sampai di Kotaraja."
"Ah, penghormatan Siauw Taihiap ini justru membuat lohu menjadi malu malah. Seharusnya aku yang tua inilah yang harus mengagumimu. Siauw-Taihiap masih sangat muda tetapi telah mempunyai nama yang demikian cemerlang. Setiap orang mengatakan bahwa Kaisar Han sekarang mempunyai pembantu seekor singa yang garang. Tak sebuah kekuatanpun di dunia ini yang mampu meruntuhkan kekuasaan Kaisar Han selama singa itu masih hidup. Dan kata orang singa itu adalah...Yap-Kongcu!"
"Hahahah...khabar itu juga terlalu dibesar-besarkan pula. Seekor singa yang garang? Haha...dahsyat benar! Mana kuat aku mengenakan nama sehebat itu?"
Pemuda sakti itu tertawa terbahak-bahak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lo-Cianpwe..."
Tiba-tiba Hong-lui-kun menghentikan tertawanya, wajahnya menjadi serius.
"Lo-Cianpwe tahu? Apa sebabnya siauwte berada di sini...?"
Dahi Toat-beng-jin tampak berkerut sebentar dan matanya yang tajam menatap secara aneh. Tapi sesaat kemudian kepalanya mengangguk tegas, bibirnya tersenyum.
"Tahu! Mau berobat, bukan?"
"Hei! Lo-Cianpwe sudah tahu?"
"Haha...bukankah Yap-Kongcu tadi pernah mengatakan bahwa Kam Lojin sedang pergi mencari obat untuk mengobati badannya yang keracunan?"
Tong Ciak menyela.
"Kenapa Yap-Kongcu terkejut?"
"Wah, pikun benar aku ini."
Hong-Iui-kun mengetuk-ngetuk jidatnya dengan jari. Lalu sambil membuang napas berat pemuda sakti itu melanjutkan perkataannya.
"Benar! siauwte memang terkena racun. Dan siauwte kemari ini mau berobat kepada Kam Lojin...Nah...siapa bilang siauwte tak terkalahkan? Siapa bilang siauwte ini seekor singa yang garang? Hehe...bukankah berita tersebut terlalu dibesar besarkan orang? Lo-Cianpwe..."
Lalu tanpa diminta lagi Hong-Iui-kun Yap Kiong Lee menceritakan semua kejadian yang baru saja dia alami, yang sebagian diantaranya juga telah disaksikan sendiri sendiri oleh Toat-beng-jin dan kawan-kawannya.
* * * Seperti telah diceritakan di bagian depan, Kaisar Han yang cerdik itu telah memerintahkan orang-orang kepercayaannya untuk mencari cap kerajaan yang hilang.
Selain itu Baginda juga menyebar para anggota Sha cap-miwi yang terkenal kehebatannya, untuk mengadakan penyelidikan ke seluruh negara.
Sejak peristiwa penangkapan Si Ciang kun di kota Tie kwan setahun yang lalu, dimana telah terbukti bahwa ada kekuatan tersembunyi yang bermaksud memberontak terhadap negara.
Apalagi ketika sebulan yang lalu terjadi serbuan besar-besaran ke istana Kaisar, yang hampir saja berhasil menguasai Kotaraja, Baginda semakin yakin bahwa di dalam negara masih banyak golongan yang tidak menyukai kekuasaannya.
Kaisar Han sebenarnya bukanlah seorang yang haus kekuasaan ataupun kehormatan.
Kaisar Han yang dahulu adalah seorang petani dusun itu juga bukan seorang yang berambisi besar untuk menjadi seorang raja diraja.
Kaisar Han adalah seorang manusia yang sangat sederhana, dan tak suka pada sesuatu yang berbau gemerlapan.
Baginda hampir tak pernah mengenakan pakaian-pakaian kebesaran yang indah, dan selama lima-enam tahun ia berkuasa belum pernah Baginda memakai mahkota intan berlian yang disediakan.
Baju yang dipakai Baginda sehari hari tak bedanya dengan baju yang ia pakai sebelum ia menjadi Kaisar, yaitu pakaian seorang pendekar persilatan atau pakaian seorang petani dusun yang sederhana.
Dalam kehidupan sehari-harinya, Baginda juga melarang para punggawa atau hamba sahayanya bersikap terlalu berlebih lebihan dalam menghormatinya.
Tak jarang seorang penjaga atau seorang dayang istana hanya mengangguk atau tersenyum menundukkan kepala saja apabila berpapasan dengan Baginda.
Tapi di dalam tubuh yang amat sangat sederhana itu ternyata berakar watak ksatria dan cinta tanah air yang hebat!
Di dalam jiwa yang lemah lembut itu ternyata berisi tanggung jawab yang besar terhadap negaranya.
Dan rasa tanggung jawab yang amat besar terhadap kelangsungan hidup bangsanya inilah agaknya yang membuat dia mau duduk di atas singgasana!
Kaisar yang amat sederhana tapi berjiwa besar ini tak rela bila negaranya diperintah oleh seorang raja yang kejam dan lalim.
Dia rela terbelenggu di dalam lingkungan istana dan meninggalkan kehidupan bebasnya demi rakyat kecil yang dicintainya!
Begitulah.
Karena rasa kagum terhadap kebesaran jiwa Kaisar Han itulah Hong-lui-kun tanpa diperintah ikut pula berkelana mencari cap pusaka yang hilang!
Dan demi Yap Kim, adiknya, Yap Kiong Lee turut pula mencari kaum perusuh yang berniat memberontak!
Bersama para anggota Sha-cap mi-wi, pemuda sakti itu berkelana mencari berita ke seluruh pelosok negara.
Setiap bulan atau setiap saat yang telah ditentukan mereka pulang kembali ke Kotaraja untuk melaporkan hasil yang mereka peroleh, serta menentukan langkah langkah yang akan mereka tempuh selanjutnya.
Tapi hampir setahun lebih pendekar muda itu berkelana, berita tentang cap kerajaan itu belum juga mereka peroleh.
Yang mereka dapatkan dalam jangka waktu yang cukup panjang tersebut hanyalah berita tentang kaum perusuh yang berusaha menumbangkan kekuasaan Kaisar Han!
Itupun tidak banyak!
Mereka hanya tahu tentang pemusatan-pemusatan pasukan liar di beberapa daerah!
Celakanya, ketika kaum perusuh menyusup ke Kotaraja diantara kaum pengungsi, mereka tidak ada yang tahu sama sekali.
Hampir saja Kotaraja yang baru saja dilanda gempa bumi itu digilas rata oleh pasukan perusuh.
Untunglah para anggota Sha cap mi-wi kebetulan sedang pulang semua ke Kotaraja, sehingga kaum perusuh yang sudah hampir dapat menguasai istana itu dipukul mundur kembali.
Beberapa hari setelah usaha pemberontakan yang gagal tersebut, Hong-lui-kun Yap Kiong Lee kembali berkelana mencari cap kerajaan lagi.
Dia naik gunung turun gunung, masuk kota menjelajah desa, tanpa mengenal lelah.
Akhirnya jerih-payahnya itu memperoleh hasil pula, meskipun belum seperti yang ia harapkan.
Jilid 16 Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee berjalan dari Kotaraja ke arah timur, sekalian mengikuti pasukan Adiknya yang beberapa hari sebelumnya dikerahkan ke sana untuk mengejar sisa-sisa pasukan perusuh yang mundur ke arah timur.
Tapi di sebuah desa yang bernama Hok-cung, Yap Kiong Lee mendapatkan pasukan adiknya telah dapat memusnahkan pasukan lawannya.
Meskipun adiknya itu tidak dapat menangkap pimpinannya, sebab khabarnya pimpinan pemberontak itu telah diselamatkan terlebih dahulu oleh pengawal pribadinya yang lihai.
Dari Hok-cung, Yap Kiong Lee berjalan ke selatan, melewati jajaran pegunungan kecil yang membujur ke arah pantai timur.
Dia mendaki Bukit Delapan Dewa yang terkenal karena bangunan Kuil Im-yang-kauwnya itu, lalu bermaksud menyusuri sungai yang berada di kakinya.
Tapi di lereng bukit itulah dia dengan tidak sengaja melihat musuh lamanya, yaitu Song bun kwi Kwa Sun Tek!
Pemuda lihai putera ketua Tai-bong-pai itu bersama seorang temannya tampak sedang mempermainkan empat orang pengikut lm-yang kauw.
Yang tiga orang malahan telah dibunuhnya, sementara yang seorang lagi ia lepaskan supaya dapat memberi laporan kepada pemimpinnya.
Bukan main gembiranya Yap Kiong Lee!
Ternyata di tempat yang sunyi sepi itu ia malah dapat menemukan orang yang selama ini ia curigai sebagai pimpinan kaum pemberontak.
Padahal sudah setahun lamanya ia berusaha menemukan orang itu untuk menyelidiki keterlibatannya dalam kerusuhan yang terjadi di kota Tie-kwan tempo hari.
Di mana dalam pertempuran dengan kaum perusuh di gedung Si Ciangkun itu, ia melihat adiknya bertempur satu lawan satu dengan seorang musuh, yang mahir ilmu silat Tai-bong-pai!
Meskipun saat itu orang tersebut menutupi wajahnya dengan saputangan, tapi Hong-lui-kun Yap Kiong Lee yakin bahwa orang tersebut tentulah Song-bun-kwi Kwa Sun Tek.
Musuh lama dari Kaisar Han!
Maka ketika ia menyanggupi permintaan tolong Kaisar Han untuk ikut mencari siapa sebenarnya tokoh yang menggerakkan kaum perusuh itu, Hong-lui-Kun segera memusatkan pencariannya kepada Song-bun-kwi Kwa Sun Tek!
Tetapi pemuda iblis itu ternyata sukar sekali dicari.
Bagaikan hantu orang itu menghilang dan tak pernah kelihatan lagi!
Malah di gedung pusat Tai-bong-pai sendiri orang telah melupakannya.
Biarpun putera ketua mereka sendiri, tapi Song-bun-kwi telah lama diusir oleh ayahnya, sehingga anggota perguruannya sendiri juga tak mempedulikannya lagi.
Setelah membunuh tiga orang anggota Im-yang-kauw, Song-bun-kwi dan temannya lalu pergi meninggalkan Bukit Delapan Dewa.
Mereka melintasi bukit-bukit yang berada di sebelahnya, lalu turun ke lembah, dan akhirnya menuju ke tepian sungai yang mengalir di tempat itu.
Dengan sangat berhati-hati, Hong-lui-kun mengikuti saja ke mana mereka pergi.
Begitu pula ketika dua orang itu mendekati beberapa buah perahu yang berlabuh di tepi sungai tersebut.
Dua orang yang amat sangat dikenal oleh Yap Kiong Lee keluar dari sebuah perahu yang ditambatkan agak ke tengah.
Kedua orang itu berdiri di atas geladak, menyongsong Song bun kwi yang baru saja datang.
"Tee-tok-ci dan Ceng-ya-kang...!"
Hong-lui-kun bergumam perlahan.
"Ahh...jadi benar juga dugaanku selama ini. Si Ciangkun telah diperalat oleh Song-bun-kwi dan orang-orang Ban-kwi-to!"
Yap Kiong Lee menoleh kesana kemari, mencari jalan agar dapat mendekati perahu tersebut.
Tapi perahu itu jauh terpisah dari perahu-perahu yang lain, sehingga sukar untuk mendekatinya tanpa terlihat oleh mereka.
"Satu-satunya jalan hanyalah menyelam dan berenang ke sana. Tapi apakah arus sungai ini tidak besar? Walaupun bisa, tapi aku tidak mahir dalam berenang..."
Tapi karena hanya dengan jalan itu ia bisa mendekati lawannya, maka Hong-lui-kun nekad untuk menyelami sungai yang lumayan besarnya itu.
Berhati-hati ia beringsut ke hilir.
Lalu tempat yang terlindung oleh semak-semak, ia turun ke dalam air dan...menyelam!
Tiba-tiba dilihatnya perahu tersebut melepaskan ikatannya dan bergerak untuk berangkat.
Perlahan-lahan perahu itu berputar, kemudian hanyut ke hilir.
Seorang tukang perahu tampak berdiri di buritan mengendalikannya.
Hong-lui-kun tidak jadi berenang.
Sambil memegang patahan ranting berdaun rimbun di atas kepalanya, ia menanti lewatnya perahu tersebut di tempatnya.
Kemudian dengan hati-hati ia 'menempel' pada dinding perahu.
Ranting berdaun lebat yang dibawanya ia pakai untuk menutupi kepalanya yang tersembul di atas air.
Beberapa saat lamanya perahu itu berjalan, tapi Yap Kiong Lee belum juga mendengar percakapan mereka.
Suasana di dalam perahu masih tetap sunyi.
Tak ada suara sedikitpun selain suara kecipaknya air sungai yang menjilat dinding perahu.
Satu jam telah berlalu.
Yap Kiong Lee sudah mulai bosan dan kedinginan.
"Kurang ajar! Apa yang diperbuat orang orang itu? Mengapa diam saja sejak tadi."
Pemuda itu menggerutu di dalam hati.
Lalu dengan penasaran diraihnya tali yang tergulung di atasnya, yang terikat kuat pada pagar perahu.
Ia bermaksud menjenguk ke dalam.
Tetapi belum juga tali itu terjangkau oleh jarinya, tiba-tiba dari arah depan muncul sebuah perahu lain.
Perahu tersebut dengan cepat menyongsong perahu yang 'ditempelnya", Beberapa orang pendayung tampak bersemangat sekali dalam mengayunkan dayungnya.
"Ongya datang...!"
Mendadak Hong-lui-kun mendengar suara serak dari dalam perahu.
Agaknya suara orang tinggi besar yang datang bersama dengan Song-bun kwi tadi.
Yap Kiong Lie mengurungkan niatnya.
Dia justru semakin membenamkan tubuhnya.
Dari balik daun-daun yang menutupi kepalanya, ia mengintip ke arah perahu yang datang.
Beberapa puluh meter sebelum kedua perahu tersebut berpapasan, perahu yang datang dari depan tadi tampak berputar berbalik haluan, kemudian berhenti menantikan perahu yang dinaiki Song-bun-kwi Kwa Sun Tek.
Lalu keduanya berlayar berdampingan.
Yap Kiong Lee yang kebetulan berada di antara dua dinding perahu yang sedang berdempetan, dengan leluasa dapat mendengarkan percakapan mereka.
"Ongya...! Apakah ongya sudah terlalu lama menunggu, sehingga terpaksa menyusul kami kemari?"
Song-bun kwi yang cuma terlihat kepalanya saja dari tempat persembunyian Yap Kiong Lee itu membuka suara, menyambut seorang laki-laki misterius di atas perahu yang baru saja tiba.
"Uh! Uh! Uh!"
"Grobyag!!"
Tiba-tiba dari dalam perahu orang misterius tersebut terdengar suara berisik yang disertai suara manusia yang ditutup mulutnya dengan paksa.
Song-bun-kwi kelihatan tertegun di tempatnya.
Begitu pula Tee-tok-ci, Ceng-ya-kang dan orang bertubuh tinggi besar yang berdiri di belakangnya!
Hong-Iui-kun yang berada di dalam airpun ikut tegang dan berdebar-debar.
"Permainan apa sebenarnya yang sedang dilakukan oleh orang-orang ini? Song-bun-kwi yang telah diusir oleh perguruannya, iblis-iblis Ban-kwi-to yang biasa membuat kerusuhan dan...orang bertopeng yang selalu menyembunyikan wajahnya di balik kerudung hitamnya!!"
Pemuda itu menduga-duga di dalam hatinya.
"...Uh...uh!"
Sekali lagi terdengar suara berbisik itu.
"Hmh! kau mau diam atau tidak?"
Orang berkerudung itu menoleh ke dalam perahu dan menghardik.
"Ongya, siapakah dia?"
Orang bertubuh tinggi besar itu bertanya.
"Dia adalah murid Si Tua Bangka dari Bing-kauw yang kurang ajar itu!"
"Oh! Mengapa ongya menawannya..?"
"Hmh!"
Orang berkerudung itu mendengus tak menjawab.
Lalu badan yang terbungkus oleh mantel hitam tersebut tampak melayang, menyeberang ke perahu yang ditumpangi Song-bun-kwi dan kawan-kawannya.
Dengan mengangguk hormat Song-bun kwi segera mempersilahkan orang itu ke dalam perahunya.
"Silahkan duduk, ongya!"
"Terima kasih!"
Orang misterius yang dipanggil dengan sebutan ongya itu mengangguk.Lalu katanya kemudian.
"Kwa-heng, Wan-heng, Tee-tok-ci dan...Ceng-ya-kang! Marilah kalian kupersilahkan pula duduk bersamaku di sini! Banyak yang hendak kubicarakan dengan cuwi semua..."
Dari tempat persembunyiannya Hong-lui-kun mendengar suara kursi yang ditarik oleh orang-orang tersebut. Agaknya mereka duduk dalam satu meja.
"Hm, siapa pula orang ini? Kelihatannya semua orang sangat menghormatinya. Apakah dia yang memimpin kelompok perusuh itu?"
Pemuda ahli waris Sin-kun Bu-tek itu sibuk menduga-duga di dalam hati.
"Kuharap aku tidak salah tebak! Dan...kuharap aku benar benar telah menemukan buruanku itu sekarang!"
Dengan perasaan tegang Hong-lui-kun Yap Kiong Lee mendengarkan percakapan mereka.
"Kwa-heng...? Bagaimana dengan rencana yang hendak Kwa-heng lakukan bersama Wan-heng dulu itu? Apakah Kwaheng sudah melaksanakannya? Bagaimana pula perkembangannya?"
Orang misterius itu terdengar memulai percakapan mereka.Terdengar suara tertawa dari dua orang yang baru saja disebut namanya itu.
"Hahaha...! Ongya, semuanya benar-benar berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan dahulu. Dunia persilatan sudah mulai panas! Seluruh rencana yang telah kita laksanakan, sekarang sudah mulai membawa hasil. Masing masing perguruan dan golongan yang kita maksudkan telah mulai saling cakar dan saling curiga-mencurigai satu sama lain."
Orang she Wan yang datang bersama Song-bun-kwi tadi menjawab pertanyaan itu.
"Apakah para pemimpin mereka telah bertempur satu sama lain?"
"Belum, ongya! Tapi hamba kira hal itu segera akan terjadi takkan lama lagi..."
Song-bun kwi menerangkan.
"Masing-masing telah terbakar hatinya, sehingga mereka telah saling mempersiapkan diri..."
"Bagus! Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih! Kwa-heng dan Wan-heng memang hebat sekali! Jadi sekarang kita tinggal menanti saja...saat yang tepat! Kita bersama-sama akan bergerak, dan...eh, lalu bagaimana dengan cap kerajaan itu? Apakah kalian semua telah mencium jejaknya?"
Tiba-tiba orang berkerudung itu mengalihkan pembicaraannya.
Hong-lui-kun yang masih berada di bawah perahu itu menjadi tegang bukan main.
Cap kerajaan!
Mereka ternyata juga mencari benda keramat itu!
Maka dengan hati berdegup keras, pemuda itu menempelkan telinganya lekat-lekat ke dinding perahu, agar dapat lebih jelas mendengarkan perkataan mereka.
Hening sejenak.
Semuanya terdengar menghela napas panjang.
"Maaf, ongya...Mengenai hal yang satu ini kami semua masih menghadapi kegelapan. Tak seorangpun dari kami yang bisa mendapatkan berita tentang benda ini. Yang dapat kami ketahui hanyalah siapa-siapa yang saat ini juga sedang memburu benda keramat itu!"
Orang she Wan itu kembali menundukkan kepalanya.
"Hmm, siapakah selain kita yang menginginkan benda tersebut?"
"Kaisar Han dan...bekas Putera Mahkota Wangsa Chin!"
"Hah? Apa?!!"
Orang berkerudung itu terlonjak kaget, sehingga yang lain ikut-ikutan terperanjat pula.
"Ongya? Mengapa...? Ada yang salah?"
Song-bun-kwi segera berlutut di atas lantai perahu, kemudian diikuti pula oleh yang lain-lain.
"Ah, tidak! Tidak! Tidak apa-apa! Silahkan kalian duduk kembali...! Aku hanya tidak mengira kalau ternyata kelompok lain yang memburu cap kerajaan itu adalah bekas Putera Mahkota itu! Hmm...jadi orang itu belum mati juga."
"Memang belum mati! Malah hamba dengar justru bekas Putera Mahkota itulah yang memimpin penyerbuan yang berkedok pengungsi ke Kotaraja beberapa hari yang lalu."
Song-bun kwi menyahut dengan perasaan sedikit aneh.
Orang berkerudung yang tidak lain adalah Hek-eng-cu, yaitu seorang tokoh misterius yang mempunyai ambisi untuk menjadi raja dengan cara menghancurkan kekuasaan Kaisar Han itu, tidak berkata lebih lanjut.
Orang itu kelihatan termenung dan termangu mangu, sehingga para pembantunya menjadi semakin merasa heran.
Tak biasanya pemimpin mereka itu bersikap demikian.
Tapi untuk bertanya mereka tak berani, apalagi mereka tak bisa mengetahui apa yang tersirat dalam wajah yang tertutup kain kerudung itu.
"Ongya...! Tak perlu Ongya merasa khawatir, apalagi bersedih hati. Walaupun kami belum bisa mendapatkan cap kerajaan itu, tetapi kami telah memperoleh mustika yang tak kalah berharganya pula..."
Song-bun-kwi yang tidak tahan melihat keadaan tuannya itu segera mendekati. Hek-eng-cu menoleh dengan cepat. Wajah yang terlindung oleh topi dan kerudung hitam tersebut tampak menegang sebentar.
"Oh! Apa yang Kwa-heng maksudkan?"
Tanyanya singkat.
"Ongya!"
Orang she Wan yang berada di belakang Song-bun-kwi itu ikut mendekat pula.
"Apakah Ongya masih ingat ketika kita mendapatkan potongan emas yang berbentuk aneh di saku baju Chin Yang Kun dahulu itu? Ketika hamba dan Tee-tok-ci berhasil menjebak pemuda itu di kota Tie-kwan dan membawanya ke gedung Si Ciangkun?"
"Ya, aku ingat...! Lalu maksud Wan-heng?"
Ternyata goresan-goresan yang terpahat pada potongan emas itu menunjukkan sebuah peta penyimpanan harta karun mendiang Perdana Menteri Li Su yang bukan main besarnya!"
"Hah??"
Sekali lagi Hek-eng-cu tampak terkejut sekali.
"Benarkah...? Tapi kulihat goresan peta yang terlukis di situ seperti terpoton gpotong dan...tidak lengkap!"
"Ongya benar. Potongan emas itu memang terdiri dari dua bagian sebenarnya...Yang sepotong telah Ongya bawa. Sedangkan yang sepotong lagi..."
Orang berbadan gemuk besar itu tidak melanjutkan perkataannya.
"Yang sepotong lagi...?"
Hek-eng-cu menegaskan.
"Yang sepotong lagi baru saja hamba peroleh dari tangan Tung-hai Nung-jin pagi tadi!"
Song bun kwi menyambung perkataan kawannya.
"Heh, coba kulihat!"
Song-bun kwi merogoh saku bajunya, lalu menyerahkan potongan emas yang telah banyak membawa kurban itu.
"Inilah benda itu, Ongya.."
Orang berkerudung itu segera menyambar potongan emas yang berada di telapak tangan Song-bun kwi, lalu ditelitinya dengan seksama.
Lalu dengan tergesa gesa tangannya merogoh ke balik jubah hitamnya, dan di lain saat tangannya telah memegang potongan emas yang rupa dan bentuknya persis dengan potongan emas yang baru saja diberikan oleh pembantunya.
Dua buah potongan emas itu dilekatkan satu sama lain dan...persis benar!
"Ah!
Benar!
Kwa-heng!
Wan heng!
Tee-tok-ci!
Ceng ya kang...!
Lihatlah!
Peta itu benar-benar lengkap sekarang!"
Katanya sambil meletakkan potongan emas itu di atas meja sehingga semua orang bisa menyaksikannya.
"Hei! Aku tahu tempat ini!"
Tiba-tiba Ceng-ya-kang menjerit.
"Hah? Benarkah? Lekas kau sebutkan, Ngo-sute!"
Tee-tok-ci mencengkeram lengan adik seperguruannya.
"Benar, Ngo-sicu! Kalau engkau tahu, lekas katakan...!"
Orang she Wan itu ikut mendesak.
Semuanya menatap dan menanti perkataan yang akan diucapkan oleh orang kelima dari Ban-kwi-to itu.
Termasuk juga Hong-lui-kun Yap Kiong Lee, yang mendengarkan percakapan itu sejak tadi!
"Goresan ini bukan gambar peta..., tapi lukisan Pantai Karang di sebelah selatan Laut Po hai!"
Iblis gundul itu berkata tegas.
"Pantai Karang? Pantai tempat penyeberangan ke Pulau Meng-to itu?"
Tee-tok-ci dan Song-bun-kwi bertanya hampir berbareng.
"Betul! Lihatlah..! Bukankah di sebelah kiri ini adalah lukisan Batu Kepala Naga yang menjorok ke tengah laut itu! Dan...yang ini! Bukankah ini gambar Batu Kilin Mandi yang terkenal itu?"
"Hah, benar! Jadi...gambar garis-garis ini dimaksudkan sebagai laut, bukan kode kode sandi atau yang lain. Dan coretan coretan ini adalah lukisan-lukisan batu karang yang berada di tempat itu. Lalu...ah, Ngo-sute...kau benar! Lohu sering juga lewat di sana!"
Tee-tok-ci berteriak gembira.
"Hmm, untunglah aku mempunyai pembantu Tee-tok-ci dan Ceng-ya-kang, yang telah biasa mengarungi pantai-pantai sebelah timur. Coba kalau tidak! Siapa yang akan dapat mengenal gambar ini?"
Hek-eng-cu mengangguk-angguk senang.
"Sekarang tinggal terserah kepada kita, kapan kita akan berangkat mengambil harta karun itu." 'Wah..., semakin cepat kita berangkat, hamba kira akan semakin baik. Dalam urusan mencari rejeki ini, berlaku pepatah. Siapa cepat akan dapat! Siapa tahu sudah ada orang lain pula yang mengetahui rahasia ini?"
Song-bun kwi memberi saran.
"Kwa-heng benar...! Tapi kita tidak boleh berangkat ke sana bersama-sama..."
"Eh? Maksud Ongya...!"
Semuanya menatap Hek-eng-cu tak mengerti. Agaknya orang berkerudung hitam itu sudah mengira kalau akan mendapat pertanyaan seperti itu.
"Cuwi tidak usah kaget. Dalam saat-saat seperti sekarang ini, di mana terompet sangkakala sudah dekat untuk kita bunyikan, kita tidak boleh selalu menggerombol bersama-sama! Kita semua sudah tahu bahwa pihak lawan juga mempunyai orang-orang pilihan, yang tersebar di mana-mana. Oleh karena itu kita mulai sekarang harus berhati-hati. Siapa tahu salah seorang dari kita, entah cuwi entah aku, telah dicurigai atau diikuti oleh mereka! Andaikata benar demikian, jangan sampai sekali tepuk mereka dapat menangkap kita semua!"
Semuanya menundukkan kepala.
Sadar bahwa perkataan pemimpin mereka itu memang benar adanya.
Apa gunanya jerih payah mereka selama ini, kalau semuanya telah tertangkap musuh?
"Cuwi semua..., kukira tak seorangpun diantara kita yang belum mengetahui tempat yang disebutkan oleh Cengya-kang Loheng tadi.
Setiap orang sudah tahu tempat penyeberangan ke Pulau Meng-to itu.
Maka dari sini kita berpisah dulu.
Masing-masing mencari jalan sendiri-sendiri ke Pantai Karang itu.
Dan...dua hari lagi, tepat di waktu tengah malam kita berkumpul lagi di tempat itu!
Setuju...?"
"Baik, Ongya...!"
Semuanya menjawab hampir berbareng.
Sungguh sukar untuk digambarkan, bagaimana perasaan Hong-lui-kun yang dapat mendengarkan pembicaraan mereka sejak tadi.
Ada perasaan puas, senang dapat menemukan buruannya, sekaligus mengetahui rencana mereka.
Tetapi ada juga perasaan takut dan khawatir melihat perkembangan ternyata sudah sedemikian jauhnya.
Selain itu hatinya merasa tegang juga mendengar rencana orang-orang itu untuk mengambil harta karun di Pantai Karang!
"Wah, repot!
Mana yang harus kukerjakan terlebih dahulu?
Melapor kepada Hongsiang, mengikuti salah seorang dari mereka, atau...mencari bala bantuan yang terdekat untuk menghadapi mereka?"
Pemuda sakti itu kebingungan.
"Ongyaa...di depan ada perahu yang menghalangi jalan kita!"
Tiba-tiba orang yang bertugas di atas geladak berteriak keras. Hek-eng-cu beserta para pembantunya bergegas naik ke atas geladak.
"Ingat! Kita berpencar dan berjumpa kembali di Pantai Karang dua hari lagi."
Orang berkerudung itu menegaskan kembali.
Di depan kedua buah perahu mereka tampak sebuah perahu besar berhenti di tengah-tengah sampai dalam posisi melintang.
Melihat keadaannya, mudah diduga bahwa perahu besar tersebut sedang bermaksud menghadang mereka.
belasan orang laki-laki berpakaian ringkas tampak berjejer jejer di atas geladaknya yang luas.
"Orang Bing-kauw..."
Hek-eng-cu bergumam perlahan.
Song-bun-kwi saling memandang dengan orang she Wan yang berdiri di sampingnya, begitu pula Tee-tok-ci dan Ceng-ya-kang!
"Ongya, apakah maksudnya mereka menghadang kita?
Adakah mereka sudah mengetahui kalau kita yang mengadu domba mereka?"
Song-bun-kwi mengerutkan keningnya.
"...Atau mereka ingin memiliki pula peta harta karun itu?"
Ceng-ya-kang ikut menduga-duga pula. Sementara itu Hong-lui-kun Yap Kiong Lee ikut berdebar debar pula hatinya.
"Uhh! Uhh! Uhhhh!"
Tiba-tiba suara aneh dari dalam perahu yang sebelah kanan tadi terdengar lagi oleh Hong-lui-kun.
Malah sekarang terdengar lebih keras dari pada tadi.
Ternyata yang lain-lainpun mendengar suara itu pula, sehingga otomatis semuanya menoleh ke arah Hek-eng-cu.
"Ah, benar...Aku belum sempat menceritakannya kepada kalian semua,"
Orang berkerudung itu menerangkan.
"Ongya...?"
"Aku telah menangkap seorang anak murid Bing-kauw kemarin sore. Bocah itu secara tak sengaja telah melihat dan mendengarkan pembicaraanku dengan Tan-Wangwe dari dusun Ho ma cun. Aku takut anak itu membocorkan keterlibatan Tan-Wangwe dalam perjuangan kita ini kepada orang-orangnya Liu Pang, maka kutangkap dia...! Semula aku tak menduga kalau dia murid Put-ceng-li Lojin..."
Hek-eng-cu berhenti sebentar.
Suaranya ketika menyebut nama Put-ceng li Lojin terdengar sangat geram, menandakan kalau dia betul-betul amat membenci pada nama itu!
"...Tapi ketika beberapa orang Bing-kauw datang dan berusaha membebaskan anak itu, aku baru tahu kalau dia adalah murid tua bangka yang tak mengenal aturan itu.
Aku tak mau membuang-buang waktu melayani mereka, maka kubawa anak itu kemari.
Tak kusangka orang-orang Bingkauw itu masih saja membuntuti aku..."
"Oh...kalau begitu kita gempur saja mereka sekarang!"
Tee-tok-ci yang selalu haus darah itu menyeringai buas.
"Benar, Ongya! Kita sikat mereka agar tahu rasa!"
Ceng-ya-kang mendukung usul kakak seperguruannya.
"Tidak!"
Hek-eng-cu berkata tegas.
"Kita tidak perlu melayani mereka! Apa gunanya rencana yang telah kita buat itu kalau kita membunuh mereka di sini? Biarlah kekuatan mereka itu mereka pergunakan untuk saling baku hantam dengan Im-yang-kauw dan Mo-kauw besok!"
"Ah, maaf...kami benar-benar amat bodoh! Apa yang Ongya katakan itu memang betul sekali""
Tee tok-ci dan Ceng-ya-kang mengangguk-angguk.
"Oleh karena itu janganlah lupa...! Kita menyebar dari tempat ini, dan...bertemu kembali dua hari yang akan datang!"
"Baik, Ongya..."
Semuanya mengiyakan.
Kedua buah perahu yang ditumpangi Hek-eng-cu dan para pembantunya itu tampak semakin dekat dengan perahu orang-orang Bing-kauw.
Hek-eng-cu tidak berusaha untuk memberi perintah kepada pendayung-pendayung perahunya agar menghentikan dayungan mereka, sehingga kedua buah perahu itu masih tetap melaju dengan pesat.
Agaknya tokoh pemberontak itu memang sengaja mau membentur perahu lawan!
"Jangan takut!
Biarpun perahu mereka lebih besar dari pada perahu kita, tapi perahu mereka dalam posisi melintang.
Perahu itu takkan tahan menghadapi gempuran dua buah perahu kita...!
Nah, dalam keributan yang disebabkan oleh benturan kapal kita nanti, kita harus berpencar dan berusaha menyelamatkan diri kita masing-masing!
Jangan melawan kalau tidak terpaksa...!
Nah, marilah kita bersiap diri!"
Hek-eng-cu berteriak.
Sementara itu Hong-Iui-kun menjadi terkejut setengah mati begitu tahu maksud orang berkerudung yang ingin membenturkan perahu yang ditempelnya itu ke perahu lawan!
Tanpa membuang waktu lagi ia meraih gulungan tali yang terikat pada dinding perahu di atas kepalanya, lalu menariknya kuat-kuat, sehingga tubuhnya yang berada di dalam air itu terlontar ke dalam perahu.
Tepat di samping orang Bing-kauw yang ditawan oleh orang berkerundung itu!
"Penyelundup...!
Awas musuh!"
Salah seorang anak buah Hek-eng-cu yang melihat kedatangan Hong-Iui-kun tiba-tiba berteriak.
Bagaikan sebuah bayangan Hek-eng-cu terbang kembali ke perahunya.
Ketika dilihatnya ada seorang pemuda berada di dekat tawanannya, tanpa pikir panjang lagi ia melontarkan pukulan Pat-hong sin-ciangnya yang ampuh bukan alang kepalang!
Sekejap Hong-lui-kun merasa bagai digencet oleh kekuatan yang tak kelihatan dari segala arah.
Dan ketika matanya menatap ke arah mata lawan yang sedang terbang ke tempatnya, pemuda itu seperti melihat sinar matahari yang mencorong ganas, seolah-olah mau membakar tubuhnya!
Tapi herannya, angin yang tertiup ke arah tubuhnya demikian dingin membekukan!
ltulah pukulan Pat hong-sin ciang (Pukulan Sakti Delapan Penjuru), yang dahulu merupakan ilmu andalan Bit-bo-ong!
Ilmu yang sangat menggiriskan ini adalah gabungan antara tenaga dalam dan ilmu sihir!
Siapa saja yang menjadi sasaran dari ilmu ini akan menjadi kaku kedinginan dan sukar bergerak seperti orang tergencet dalam lumpur tanah liat!
Tapi Hong-lui-kun segera menyadari keadaannya yang gawat.
Dengan segala kemampuan yang ia dapatkan selama ini, ia meronta dan menghentakkan seluruh kekuatan ilmunya!
"Whuuaaah!"
Kemudian setelah berhasil membebaskan diri dari himpitan ilmu lawan, Hong-lui-kun segera mengayunkan lengannya ke depan, menyongsong pukulan Hek-eng-cu!
Kedua-duanya mengerahkan seluruh kemampuannya!
Dan pertemuan antara dua kekuatan raksasa itu bersamaan waktunya dengan membenturnya dua buah perahu Hek-eng-cu ke arah perahu Bing-kauw!
"Kkrrroaaaakk!"
"Dhuuuuaar!"
"Hwaduuh! Tolong...!"
Perahu Bing-kauw yang besar itu terbelah dengan suara yang menggiriskan menjadi tiga bagian!
Para penumpangnya terlempar berhamburan ke dalam sungai.
Dan sebentar kemudian terdengar jeritan ngeri dari orang-orang yang tidak bisa berenang.
Tapi kedua buah perahu kecil yang menabraknya ternyata juga tidak kalah parah keadaannya.
Begitu membentur, kedua perahu itu langsung terbalik dan menumpahkan seluruh isinya, kecuali Hek-eng-cu dan Hong-lui-kun Yap Kiong Lee!
Ternyata sebelum benturan tersebut terjadi, kedua tubuh mereka telah lebih dahulu terlempar ke udara akibat pertemuan tenaga pukulan mereka sendiri!
Keduanya tercebur ke dalam air dan hanyut bersama dengan yang lain!
Rasa sakit dan linu-linu membuat Hong-Iui-kun untuk beberapa saat menjadi permainan gelombang sungai.
Tapi sesaat kemudian setelah ia sadar bahwa ia dalam keadaan bahaya, pemuda itu segera mengerahkan semua sisa-sisa kekuatannya untuk berenang ke pinggir.
Tak terduga tubuh pemuda itu melanggar sesosok tubuh yang terikat kaki tangannya, hingga tentu saja orang tersebut tidak bisa menggerakkan badannya untuk berenang.
Ah, orang ini tentulah orang yang ditawan oleh orang misterius tadi, Hong-lui-kun berkata di dalam hatinya.
Melihat orang itu sudah pingsan, tanpa berpikir lebih lanjut Honglui-kun segera menyeretnya pula ke tepian.
Sementara itu tirai senja telah mulai turun menutupi daerah sekitar tempat kedua orang itu mendarat.
Dengan susah payah Hong-lui-kun yang kepayahan itu menyeret orang yang pingsan tersebut di atas pasir.
Lalu dengan mata yang berkunang kunang serta badan yang semakin lemas pemuda itu menggendong orang yang ditolongnya ke tempat yang aman.
Kakinya tersaruk-saruk menaiki tebing sungai yang tidak begitu tinggi lagi kemudian menjatuhkan dirinya di atas rumput tebal.
"Perawakan orang ini tidak begitu besar...Tapi tubuhnya kok berat nian, uhh...kiranya dagingnya demikian gemuk!"
Hong-Iui-kun menggerutu diantara sadar dan tidak sadar.
Meskipun tidak sampai merenggut nyawanya, tetapi ternyata pukulan Hek-eng-cu tadi membuat tubuh Hong-lui-kun menjadi lemah sekali.
Selain pukulan Pat hong-sin-Ciang lawan memang agak sedikit lebih unggul dari pada pukulan Thian-lui-gong ciangnya, kedudukan Hek-eng-cu yang menyerang dari atas tadi memang lebih menguntungkan posisinya!
Seakan-akan pukulan lawan menjadi berlipat ganda, karena ditunjang oleh berat badannya.
Dengan mata hampir terpejam, Hong-lui-kun masih ingat untuk mengendurkan ikat pinggang dan melepaskan bajunya.
Dan sebelum ia benar-benar menjadi pingsan, ia juga masih berusaha untuk melepas tali yang mengikat kaki tangan orang itu, sekalian melepas pula baju basah yang dikenakannya.Tapi pemuda itu menjadi terkejut bukan main...!
Suatu pemandangan yang belum pernah ia lihat selama hidupnya tampak terpampang di balik baju yang baru saja dibukanya!
Tapi pemandangan yang hebat itu tak dapat ia nikmati sampai puas, karena sesaat kemudian ia telah jatuh pingsan!
"Pe-perempuan...?!?"
Keluhnya terputus.
Sudah selayaknya kalau Hong-lui-kun menjadi amat terkejut begitu mengetahui siapa sebenarnya tawanan Hek-eng-cu yang baru saja ia selamatkan itu.
Keadaan tubuhnya yang sangat lemah itu menyebabkan Hong-lui-kun tak bisa mempergunakan panca inderanya dengan baik.
Pemuda itu benar benar tak mengira kalau orang yang ia tolong tersebut adalah seorang gadis yang sangat cantik.
Dan Hong-lui-kun yang kini pingsan semakin tidak mengira ataupun membayangkan, bahwa seseorang telah datang ke tempat itu selagi ia pingsan.
Dan orang itu adalah...
"Uhhh...benar-benar gila! Untunglah aku mengerahkan seluruh tenaga dalamku, kalau tidak...hmm, bisa-bisa aku sudah tidak ada lagi di dunia ini! Tak kusangka bocah itu memiliki tenaga dalam demikian kuatnya. Hmmh, siapa sebenarnya bocah itu? Adakah ia orang Bing-kauw pula?"
Tiba-tiba Hek-eng-cu keluar dari permukaan air dan kemudian berjalan tersaruk-saruk ke atas tebing.
Orang itu terbelalak kaget!
Tergesa gesa ia membetulkan letak topi dan kerudungnya ketika tiba-tiba ia melihat dua sosok tubuh tergolek di hadapannya!
Dan hatinya semakin terkejut sekali ketika mengenali wajah Hong-lui-kun yang pingsan!
Tapi rasa kaget itu segera lenyap begitu melihat pemandangan lain yang menyentuh nafsu birahinya.
Hek-eng-cu benar-benar tidak menyangka bahwa gadis yang semalam telah ditangkapnya itu memiliki tubuh yang demikian indahnya!
Semakin dipandang tubuh molek itu semakin mempesonakan Hek-eng-cu sehingga tanpa terasa darahnya mulai terbakar.
Pelan pelan kakinya melangkah mendekati.
Lalu sepasang tangannya mulai menggerayangi tubuh setengah polos itu dan jari-jarinya yang gemetar berusaha melepas pakaian yang masih tertinggal.
Dan sesaat kemudian terjadilah perbuatan yang sangat tercela dan terkutuk di atas tebing sungai itu...!
Entah berapa lama hal itu berlangsung, tapi gadis cantik yang merasa kesakitan itu tiba-tiba tersadar dari pingsannya.
Dan bisa dibayangkan betapa terperanjatnya dia begitu tahu ada orang yang sedang menindih dan memperkosanya!
Mungkin seribu letusan petirpun takkan bisa mengagetkannya seperti rasa kagetnya saat itu!
"Arrghhh..!!"
Gadis itu meronta dan menjerit sejadi jadinya.
Tangannya mencakar muka lawannya sehingga kerudung beserta topi Hek-eng-cu terlepas dari tempatnya.
Hek-eng-cu cepat cepat menutupi mukanya dan meloncat pergi dengan cepat sekali!
Orang berkerudung itu sudah tidak mempedulikan lagi, bagaimana sepeninggalnya gadis yang telah ia gagahi itu jatuh pingsan kembali.
Gadis itu pingsan lagi gara-gara tak kuat menanggung hantaman batin yang demikian beratnya!
Senja yang menyedihkan itu berangsur-angsur menjadi gelap dan bintang-bintang di langitpun mulai bermunculan.
Suasana benar benar sunyi dan sepi.
Pohon pohon yang rindang itu berdiri kaku tak bergerak.
Daun-daunnyapun tergantung diam di kelopaknya, seolah-olah tak ada angin yang berhembus di tempat itu.
Suara belalang dan cengkerik yang biasa meramaikan tepian sungai itu belum juga menampakkan lagunya.
Sedangkan gelombang air sungai yang biasa berkecipak menjilati tebing-tebing batu itu kini juga tampak mengalun tenang sekali.
Hampir-hampir tidak beriak sama sekali.
Suasana pada saat itu benar-benar lain dari kebiasaannya.
Seolah-olah alam ikut berduka cita atas musibah yang menimpa diri gadis cantik murid Put-ceng-li Lojin tersebut.
Perlahan-lahan Yap Kiong Lee membuka matanya.
Pemuda itu sedikit terperanjat begitu menyadari hari telah menjadi malam.
Bintang-bintang telah bertaburan memenuhi angkasa.
"Ohh...lama benar aku tak sadarkan diri,"
Katanya perlahan.
Untuk beberapa saat pemuda itu masih tetap saja berbaring di tempatnya.
Badannya masih terasa kaku dan lemas.
Terbayang dalam benaknya, peristiwa yang terjadi di gedung Si Ciang kun setahun yang lalu.
Yaitu ketika ia menemani adiknya menggerebeg rumah perwira yang bersekongkol dengan kaum perusuh itu.
Ketika adiknya hampir berhasil menangkap Song bun kwi, tiba-tiba saja datang orang berkerudung meloncat ke atas tembok, dan menolong putera ketua Tai-bong-pai tersebut.
Orang itu mengenakan mantel hitam yang kebal terhadap senjata dan orang itu mahir memainkan Bu eng Hwe-teng dan Pat hong-sin ciang warisan Bit -bo-ong!
"Ah, sekarang sudah mulai terang bagiku, siapa sebenarnya tokoh-tokoh pemberontak yang ingin meruntuhkan kekuasaan Kaisar Han.
Hanya yang belum dapat kuketahui ialah siapa tokoh misterius yang selalu berlindung di balik kedok hitam itu!
Yang terang, orang itu telah mewarisi kesaktian mendiang Bit-bo-ong yang maha hebat."
"Ahhh...aduuuh...!!"
Yap Kiong Lee meloncat berdiri dengan cepat.
Semua otot tubuhnya menegang, sehingga tubuh atasnya yang terbuka itu semakin tampak jantan dan gagah.
Matanya terbelalak menatap ke tubuh telanjang yang tergolek tak jauh dari tempatnya berdiri.
Sedang wajahnya yang tampan itu menjadi pucat sekali begitu melihat cairan darah yang mengalir di atas paha putih mulus itu!
"Aduuuh...ohh...keparat busuk!"
Gadis itu merintih kembali.
"Nonaaaa...?!?"
Yap Kiong Lee meloncat menghampiri gadis itu. Tiba-tiba gadis itu terbelalak ngeri menatap Yap Kiong Lee! Lalu wajah itu berubah menjadi buas! "Bangsat keji! Kubunuh kau!! Keparaaaat..."
Gadis itu menjerit histeris.
Jari jari yang berkuku runcing itu mencakar dengan ganas ke arah muka Yap Kiong Lee.
Sepasang kakinya yang berbentuk bagus itupun tak tinggal diam!
Beberapa kali tumit yang bulat kecil berwarna merah jambu itu nyaris menghantam muka dan dada Yap Kiong Lee!
Untunglah pemuda itu tak pernah kehilangan ketangkasannya.
Dengan gerakan-gerakan yang cepat dan manis ia selalu bisa lolos dan serangan si gadis yang membabi-buta.
Malah akhirnya pemuda itu dapat meringkus si gadis yang malang tersebut.
"Nona...nona...kau sadarlah! Jangan membabi-buta begitu...!"
"Lepaskan! Iblis keji...! Lepaskan!!"
Gadis itu menjerit-jerit, kemudian pingsan lagi dalam pelukan Yap Kiong Lee.
Dengan sangat berhati-hati sekali Yap Kiong Lee membaringkan tubuh telanjang itu di atas pasir yang kering.
Lalu dengan gemetar ia mencoba mengembalikan pakaian si gadis yang berserakan di atas rumput.
Hanya pemuda itu agak mendapatkan sedikit kesukaran ketika harus memasukkan lengan baju yang sebelah kiri, sebab jari-jari tangan kiri gadis itu mencengkeram sebuah topi berkerudung dengan amat kuatnya.
Meski dalam keadaan pingsan, ternyata jari jari itu tak dapat dibuka dengan paksa, seolah-olah tangan itu telah menjadi beku!
"Ahh...!"
Yap Kiong Lee tertegun.
Pemuda itu menatap dengan tajam kerudung hitam yang amat dikenalnya itu.
Lalu perlahan-lahan pandangannya beralih ke bawah ke arah paha putih mulus yang ternoda oleh darah itu.
Dan sesaat kemudian Yap Kiong Lee telah dapat menduga, apa sebenarnya yang terjadi di tempat itu sewaktu dia pingsan.
Keparat Hek-eng-cu itu telah datang ke tempat tersebut, kemudian mempergunakan kesempatan untuk memperkosa gadis itu selagi dia tidak sadarkan diri.
"Bangsat benar orang itu...!"
Yap Kiong Lee lalu duduk terpekur di samping tubuh molek itu.
Dipandangnya wajah cantik tersebut dengan seksama.
Meski sudah pingsan, wajah itu masih tetap juga menampakkan kesedihan dan penderitaan batinnya yang hebat!
Tanpa terasa Yap Kiong Lee menghela napas panjang sekali.
Hatinya benar-benar tersentuh.
Dan diam diam hatinya merasa menyesal dan ikut bersalah pula.
Tak seharusnya ia membawa gadis itu kemari, dan tak seharusnya pula ia membuka pakaian gadis itu sebelumnya.
Sekarang dia sendirilah yang menerima getahnya!
Gadis itu menyangka bahwa dialah yang telah memperkosanya...!
"Oh, Tuhan...bunuh sajalah aku!
Uh...hu...huu...!"
Begitu sadar lagi gadis itu meratap dan menangis sesenggukan.
Suaranya sangat memilukan, sehingga hati Yap Kiong Lee bagai dicopot rasanya.
Otomatis timbul rasa bencinya terhadap Hek-eng-cu!
"Bangsat keji!"
Pemuda itu menggeram marah.
"Kubunuh kau bila bertemu denganku...!"
"Hah...?!? kau...? Keparat, kubunuh kauuu...!"
Gadis itu bangkit dengan wajah buas, lalu sambil menjerit ia menubruk Yap Kiong Lee.
Sekali lagi gadis itu menyerang membabi-buta!
"Nona...tahan!
kau telah salah sangka...Aku tidak pernah berbuat buruk terhadapmu!"
Yap Kiong Lee berteriak pula, mencoba memberi keterangan.
Gadis itu tampak tertegun sebentar, tapi serentak melihat lagi tubuh atas Yap Kiong Lee yang telanjang, wajahnya kembali beringas pula.
Apalagi ketika sadar bahwa badannya yang tadi telanjang bulat itu kini telah tertutup pakaian kembali, kemarahannya semakin tambah berkobar kobar!
"Setan!
Iblis!
Ohh...kubunuh kau!"
Yap Kiong Lee terpaksa melayaninya dengan sungguh sungguh!
Bagaimanapun juga ilmu silat gadis itu tidak boleh dianggap rendah.
Pukulan dan tendangan kakinya amat kuat dan mantap, apalagi ditunjang oleh Iweekang yang tinggi pula.
Malah beberapa kali Yap Kiong Lee sempat dibuat bingung oleh jurus-jurus si gadis yang aneh dan membingungkan!
Kalau tidak waspada, salah-salah dirinya bisa terjungkal malah!
Untunglah ilmu yang dimiliki Yap Kiong Lee masih sedikit lebih matang dan lebih tinggi tingkatnya, apalagi gadis itu bersilat dengan kemarahan yang tak terkendalikan, sehingga bagaimanapun juga gerakan-gerakannya tidak terkontrol dengan baik lagi.
Oleh karena itu setelah Yap Kiong Lee yakin bahwa kata-katanya tak mungkin bisa menyadarkan lawannya, ia mulai membalas serangan-serangan yang ditujukan kepadanya.
Dan serangan-serangan balasannya itu benarbenar merepotkan lawannya.
Akhirnya gadis itu tertotok roboh oleh jari-jari Yap Kiong Lee yang ampuh!
Bertepatan dengan saat itu di atas tebing kelihatan beberapa sosok bayangan berdiri berjejer-jejer mengawasi Yap Kiong Lee dengan mata menyala.
Salah seorang di antaranya adalah wanita, yang dalam keremangan malam tidak begitu jelas raut wajahnya.
"Nah, apa kataku...bukankah Siau Put-sia berada di sini? Telah kudengar jeritannya tadi""
Wanita itu menunjuk ke bawah. Tubuhnya yang tinggi ramping itu bergoyang-goyang seperti pohon yang-liu (cemara) tertiup angin, sehingga Yap Kiong Lee menjadi terpesona dibuatnya.
"Hong-Cici...!!"
Lawan Yap Kiong Lee yang disebut dengan nama Siau Put-sia itu menjerit.
Orang orang yang berada di atas tebing itu segera berloncatan turun dan berpencar dalam posisi mengepung.
Dua orang di antaranya bergegas lari menghampiri Siau Putsia, untuk membebaskannya dari totokan Yap Kiong Lee.
"Siau-sumoi...!"
"Ji-suheng! Sam-suheng..."
Mata Siau Put-sia merah berkaca-kaca, siap untuk meledakkan tangisnya.
Benarlah, begitu bebas, gadis itu segera menubruk dan membenamkan kepalanya di dada wanita ayu tersebut.
Tangisnya benar-benar meledak tak terbendung Iagi!
Begitu sedihnya tangis itu sehingga semuanya menjadi heran dan curiga.
Tak biasanya gadis cantik yang amat lincah dan bengal itu menangis demikian memilukan!
"Put-sia, ada apa...?
Kenapa kau menangis demikian sedihnya?"
Alis yang sangat indah itu berkerut.
Jari jarinya yang halus itu juga membelai rambut Siau Put-sia, sehingga gadis malang itu semakin menjadi-jadi tangisnya.
Sementara itu bagaikan sebuah patung batu, Yap Kiong Lee berdiri tertegun di tempatnya.
Matanya terbelalak memandang wanita yang luar biasa cantiknya itu.
Semakin lama ia memandang, semakin yakin pula hatinya, bahwa wanita itu pernah dilihat dan dikenalnya!
Sebaliknya, wanita tersebut tidak menyadari kalau dirinya sedang diperhatikan oleh Yap Kiong Lee.
Ia sedang sibuk memusatkan perhatiannya kepada gadis yang menangis di dadanya.
Wanita itu menduga, tentu ada terjadi sesuatu yang hebat yang menimpa diri gadis ini sehingga menangis demikian sengsaranya.
"Put-sia...kau kenapa? Ayoh, katakan saja! Apakah laki-laki itu telah menggodamu...?"
Tanyanya dengan suara gemetar, seolah olah wanita itu sudah dapat menebak apa yang telah terjadi.
"Put-sia...??"
Tapi yang ditanya tidak menjawab, tangisnya justru semakin bertambah hebat.
"Kurang ajar...! kau apakan sumoiku?"
Tiba-tiba salah seorang suhengnya yang tadi memunahkan totokan Yap Kiong Lee, melompat ke depan dengan garangnya.
Tangannya terayun deras ke arah kepala pemuda itu.
Suaranya tajam mengaung, sehingga diam-diam Yap Kiong Lee tercekat di dalam hatinya, ia benar-benar berhadapan dengan lawan berat sekarang!
"Tunggu...!!!"
Pemuda itu mengelak dengan tidak kalah gesitnya.
"Jangan sembarangan menuduh orang! Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Malah akulah yang menolong gadis itu.."
"Bohong...!"
Orang yang menyerangnya berteriak pula.
"Lihat keadaan dirimu itu? Kenapa kau buka pakaianmu kalau kau tak bermaksud kurang ajar terhadap sumoiku? Huh! Jangan harap kau bisa menyelamatkan diri dari hukuman kami!"
"Plaaaak!"
Kedua tangan mereka yang penuh tenaga itu saling bertemu satu sama lain.
Yap Kiong Lee tergetar mundur dua langkah, sementara lawannya tampak terhuyung huyung beberapa langkah ke belakang dan hampir jatuh.
"Samte (adik ketiga)..."
Seorang lagi yang tadi juga menolong Siau Put-sia, datang memeluk orang itu. Tapi orang itu segera melepaskan pelukan kakak seperguruannya.
"Aku belum apa-apa, ji-suheng! Aku terlalu memandang remeh kekuatannya, sehingga aku cuma mengerahkan separuh bagian dari tenaga dalamku. kau minggirlah. Biarlah adikmu saja yang menghajar dia, agar dia tidak berani main-main lagi dengan Bing-kauw...!"
"Tapi kau berhati-hatilah...! Kulihat orang itu memang berkepandaian tinggi."
"Jangan khawatir, Ji-suheng, percayalah kepadaku!"
Adiknya berkata mantap.
"Bagaimanapun perkasanya dia, tak mungkin mengalahkan kebijaksanaan! Ibarat besi, meski kuat dan keras, akan tetap mencair melawan api..."
"Bagus. Samte! Tapi kebijaksanaan itu tidak cuma milik satu orang saja di dunia ini. Kalau dia membawa air, apipun tak ada gunanya lagi..."
"Ah, Ji-suheng! Bukankah banyak tanah di tempat ini?"
"Ya! Tapi kau lupa bahwa dia...adalah besi!"
"Ohh...?!"
Adik seperguruannya terdiam.
"Lalu bagaimana...?"
Kakak seperguruannya tersenyum.
"Ikuti sajalah aliran sungai...!"
"Baik!"
Sutenya mengangguk.
Kemudian dengan langkah perlahan orang itu maju ke depan Hong-lui-kun lagi.
Wajahnya sudah tidak merah padam seperti tadi.
Kini orang itu bersikap lebih sabar dan tenang.
tidak Kasar dan berangasan seperti sikapnya semula.
Orang itu benar-benar menuruti dan mengindahkan nasihat suhengnya.
Kini justru ganti Yap Kiong Lee yang menjadi bingung dan serba salah!
Selain merasa serba salah karena tidak dapat membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah, pemuda itu juga bingung mendengar percakapan kedua orang yang aneh-aneh dan seperti berbau filsafat itu.
Dia memang sering mendengar dan membaca filsafat filsafat kuno, biarpun tidak pernah mempelajarinya secara bersungguh-sungguh.
Apalagi sampai mendalaminya.
Meskipun demikian, paling tidak ia bisa berfilsafat serba sedikit.
Tapi mendengar percakapan mereka tadi sungguh-sungguh merasa pening!
Cara mereka mengungkapkan kata-kata filsafat yang seenaknya sendiri itu benar-benar memusingkan orang!
Yap Kiong Lee memang sudah pernah mendengar serba sedikit tentang Aliran Bing-kauw.
Baik tentang ajaran ajarannya maupun tentang ciri dan keanehan para penganutnya.
Pemuda itu juga tahu bahwa di dalam Aliran Bing-kauw banyak berkumpul tokoh-tokoh sakti yang jarang ada tandingannya di dunia kang-ouw.
Oleh karena itu dia mulai berpikir, apa yang sebaiknya ia lakukan dalam peristiwa seperti ini.
Sementara mereka saling bersitegang, wanita ayu itu membawa Siau Putsia ke tempat yang agak lapang dan bersih.
Tangis dara itupun sudah mulai reda, sehingga di antara isaknya sudah dapat diajak berbicara.
"Siau Put-sia...? Apakah sebenarnya yang terjadi padamu? Apakah pemuda yang bertelanjang dada itu benar-benar telah mengganggu engkau? Ayolah, anak manis...kau jawablah pertanyaan Cicimu ini! Benarkah dugaan Cicimu itu? Benar"?"
Wanita ayu itu mendesak dengan suara yang halus dan lembut.
Gadis itu mulai tersedu-sedu kembali.
Sukar benar rasanya menjawab pertanyaan yang sangat menyedihkan hatinya itu.
Oleh karena itu ia hanya mengangguk-angguk saja ketika Cicinya terus mendesak juga.
"Hah?!? Jadi kau benar-benar di...di...? Oh, manusia keji!"
"Ciciii...Uh-huuuu...uh-huuuuuu..."
Gadis itu kembali menangis keras keras.
Wajah cantik dari wanita ayu itu berubah menjadi pucat seperti kertas.
Matanya yang bulat cemerlang itu terbelalak ke depan, memandang ke arah pertempuran antara kawannya dengan laki-laki keparat yang telah memperkosa adiknya itu.
Lalu perlahan-lahan wajah itu berubah kemerah-merahan, sementara mulutnya yang berbentuk indah itu tampak merapat sehingga giginya terdengar saling beradu dan menimbulkan suara gemeretuk.
"Iblis keji! Hmm...bunuh dia!!"
Tiba-tiba bibir yang tipis itu berteriak dengan suara bergetar, tangannya menunjuk ke arah Yap Kiong Lee!
Bagaikan mendapatkan aba-aba, orang-orang Bing-kauw yang berada di tempat itu segera maju menyerang Yap Kiong Lee!
Dengan kemarahan yang meluap-luap mereka mengeroyok untuk segera dapat membunuh pemuda kurang ajar itu.
Tentu saja Yap Kong Lee menjadi repot bukan main.
Baru melawan dua orang kakak beradik seperguruan itu tadi saja belum tentu menang, kini harus pula melawan yang lain-lainnya.
Oleh karena itu hanya dalam tempo yang singkat ia telah terdesak dengan hebat!
Ilmu silat Aliran Bing-kauw yang sangat aneh aneh itu, benar-benar membingungkannya.
Untunglah ilmu yang ia pelajari sudah demikian mantap, serta pengalamannya pun sudah matang, sehingga bagaimana pun juga sulitnya ia masih bisa mempertahankan diri.
Sementara itu Siau Put-sia belum reda juga tangisnya.
Dengan sedih gadis itu masih terisak-isak di dalam dekapan wanita ayu tersebut.
Malahan dari sepasang mata Cicinya itu kini tampak mengalir pula air matanya yang bening.
"Sudahlah, Put-sia...! Berhentilah menangis! Aku tahu betapa sedihnya hatimu...Cici juga pernah..."
Wanita itu menghentikan kata-katanya dan menghela napas berat sekali.
Siau Put-sia cepat-cepat melepaskan pelukannya.
Dengan wajah sendu serta muka berurai air mata ia menatap Cicinya yang cantik bagai bidadari itu.
"Cici, kau...kau tidak marah kepadaku? kau...kau dapat memahami kesengsaraanku? Kau...kau...oh, tapi bagaimana dengan suhu nanti?"
Gadis itu mulai mau menangis lagi. Wanita ayu itu cepat meraih Siau Put-sia serta memeluknya lagi.
"Jangan takut! Apakah kau kira suhumu itu seorang yang bengis dan kejam?"
Wanita itu membujuk.
"Dengarlah...! Dahulu akupun mengalami juga perlakuan seperti yang kau alami ini. Padahal saat itu aku juga masih remaja puteri seperti engkau sekarang ini. Coba bayangkan, betapa sedihnya hatiku pada saat itu! Begitu sedihnya sehingga Cicimu memutuskan untuk bunuh diri saja. Untunglah suhumu datang menolong. Dengan penuh kelembutan dan kasih sayang beliau membimbing tanganku agar dapat tegak kembali dan menikmati lembutnya sinar matahari setiap pagi..."
"Cici...kau...kau?"
Siau Put-sia terbelalak mengawasi Cicinya.
"Jadi kau...dahulu itu..., juga diperkosa orang?"
"Benar! Memang demikian. Tapi kau lihat sekarang Cicimu masih bisa berbahagia dan menjadi orang tua yang baik, bukan...?"
"Ah, Cici...! kau ini berbicara seperti seorang nenek-nenek saja. Bukankah usia Cici terpaut tidak banyak denganku? Bukankah suhu membawamu pulang baru dua tahun yang lalu...? Cici ini bisa saja..."
Gadis itu mulai kelihatan cerah mukanya.
"Ya...tapi aku akan menjadi isteri suhumu sekarang! Dipandang dari jalur tingkatannya, aku sekarang akan menjadi orang tua...orang tua yang amat berbahagia..."
Wanita itu tersenyum sambil mengusap air mata yang tadi membasahi pipinya.
"Benarkah Cici merasa berbahagia di samping suhu? Ah, Cici tentu berbohong kepadaku."
Siau Put-sia menengadahkan mukanya.
"Aku sering melihat Cici duduk melamun..."
Wanita ayu itu tersentak kaget. Sekejap wajah yang molek itu tampak murung, tapi sesaat kemudian kelihatan berseri seri pula kembali.
"Ah, kau ini aneh-aneh saja. Tentu saja aku sering melamun, karena aku pun sering teringat keluargaku. Aku...eh, Put-sia, apa yang kau bawa itu?"
Wanita itu terkejut ketika melihat topi berkerudung hitam yang masih dalam cengkeraman Siau Put-sia.
"Ohh...ini...Ini...ini topi orang itu! Saya cengkeram dan lepas dari kepalanya ketika ia...memper...memperkosa aku."
Gadis itu kembali gemetar mau menangis.
Topi yang aneh itu buru-buru ia lepaskan, seolah-olah terpegang oleh gadis itu sebuah barang yang sangat menjijikkan.
Tapi lain halnya dengan wanita ayu tersebut.
Topi yang aneh itu cepat dipungutnya, kemudian dengan teliti dipandanginya benda tersebut dari segala arah.
Wajahnya berubah menjadi merah padam secara mendadak!
"Put-sia!
Benarkah lelaki itu tadi mengenakan topi dan kerudung ini?"
Serunya dengan tegang.
Wajah yang biasanya lembut dan tenang itu tampak menjadi ganas dan kejam, sehingga Put-sia menjadi ketakutan.
Belum pernah gadis itu melihat Cicinya berwajah demikian!
"Be...benar!"
"Bangsat keji! Akhirnya kujumpai juga engkau...!"
Jarak antara tempat mereka dan arena pertempuran mungkin lebih dari pada lima tombak, tapi meskipun begitu hanya dengan sekali lompat saja wanita ayu itu sudah dapat mencapainya!
Benar-benar membuat semua orang yang melihatnya menjadi kagum bukan main!
Dan begitu sampai, wanita itu Iangsung menghantamkan ujung sepatunya ke arah tengkuk Yap Kiong Lee!
Suaranya terdengar menCicit tajam, suatu tanda bahwa lweekang wanita ayu tersebut benar-benar sangat tinggi.
Padahal keadaan Yap Kiong Lee saat itu sudah amat parah.
Beberapa kali pemuda itu terpaksa jatuh berguling-guling karena harus menahan serangan lawannya yang bertubi-tubi, terutama serangan dua orang laki-laki yang menolong Siau Put-sia tadi!
Ilmu silat kedua orang itu benar-benar sangat tinggi, mungkin tidak kalah dengan ilmu silat adiknya Yap Tai-Ciangkun.
Maka ketika ujung sepatu tersebut datang menghunjam ke arah tengkuknya, Yap Kiong Lee sudah tak bisa berkutik lagi.
Seluruh anggota badannya sudah ia pergunakan untuk melayani para pengeroyoknya.
Yang dapat ia usahakan, hanyalah menggeser posisi tubuh saja, sehingga ujung tumit itu tidak jadi menghantam tengkuk tapi mengenai bahu kanannya!
"Dhieeek!!"
Tubuh yang sangat perkasa itu terlempar jauh dan berguling-guling.
Tapi sedetik kemudian tubuh tersebut sudah berdiri tegak kembali.
Ternyata tendangan yang amat keras itu tidak sampai membuatnya luka.
Dengan menggeram kuat pemuda itu telah bersiap-siap pula kembali.
"Kau...?"
Sapanya, begitu tahu siapa yang datang.
"Benar! kau masih ingat aku...? Gadis yang pernah kau buat sengsara ini?"
Yap Kiong Lee mengusap usap matanya dengan punggung tangan, seakan-akan tak percaya lagi pada penglihatannya.
Seorang gadis yang pernah ia buat sengsara?
Rasanya ia memang pernah mengenal gadis yang amat cantik ini, tapi...membuatnya sengsara?
Ah, selama hidupnya seperti belum pernah menyengsarakan seorang gadis.
Apalagi gadis yang luar biasa cantiknya seperti ini!
Tapi...tunggu!
Benar!
ingat dia sekarang!
Tujuh atau delapan tahun yang lalu ketika ia bersama ayahnya pergi ke sarang Iblis Ban-kwi-to untuk membebaskan adiknya Yap Kim yang saat itu ditawan oleh Ceng-ya-kang, ia berjumpa dengan beberapa orang muda-mudi berkepandaian silat tinggi, sahabat dari Kaisar Han sekarang.
Dan salah seorang di antaranya adalah wanita yang kini berada di hadapannya itu!
Malah kalau ia tak salah, wanita ayu ini adalah sahabat karib Ho Pek Lian, murid dari Kaisar Han itu!
Tapi hanya itu yang dia ingat.
Setelah peristiwa tersebut, rasanya ia tak pernah berjumpa lagi dengan gadis itu.
Oleh karena itu ia benar-benar bingung dan penasaran mendengar tuduhan yang tak masuk akal tersebut.
Menyengsarakannya?
Gila, sungguh gila, pemuda itu menggeram di dalam hatinya.
"Nah, kau sudah mengingatnya...?"
Tiba-tiba wanita itu mengagetkan Yap Kiong Lee dari lamunannya.
"Tunggu, nona...!"
"Nyonya!"
Wanita itu menghardik.
"Aku sekarang adalah isteri Ketua Bing-kauw!"
"Ohh...maaf!"
Yap Kiong Lee mengangguk.
"Tapi...tapi, aku...aku benar benar tak mengerti apa yang nyonya tuduhkan itu. Menyengsarakan...? Menyengsarakan yang bagaimana?"
"Kurang ajar! Pengecut! Lupakah kau pada peristiwa yang telah kau lakukan dua tahun yang lalu? Ketika kau membohongi aku dengan mengatakan bahwa temanku telah terluka parah? Tapi ternyata aku hanya kau peralat untuk memeras kawanku itu. Sehingga peti pusakanya dapat kau rampas. Meskipun begitu engkau tetap belum puas. Engkau masih juga membunuh dia dan...dan...dan menyengsarakan kehidupanku! kau benar-benar manusia berhati iblis!"
"Nona...eh, nyonya...apa...apa yang kau katakan itu? Aku benar-benar tak mengerti!"
Yap Kiong Lee menoleh kesana kemari dengan perasaan bingung.
"Huh, pengecut besar! kau tidak usah mungkir! Lihatlah ini!"
Wanita itu membentak sambil membanting topi berkerudung hitam yang tadi dibawa oleh Siau Put-sia.
"Nah, milik siapakah benda itu? Jawab!"
"Ohh!?"
Yap Kiong Lee terbelalak.
Hmm, benar-benar celaka pemuda itu menggerutu dalam hati!
Ternyata wanita itu juga pernah menjadi korban orang berkerudung itu.
Celakanya dia yang tak mengetahui apa-apa malah dituduh sebagai pelakunya.
Tapi untuk menjelaskan kepada mereka sekarang, apa sebenarnya yang telah terjadi, tentu takkan mereka percaya begitu saja.
Wanita itu sudah sangat yakin bahwa dialah yang telah menyamar sebagai orang berkerudung itu.
Oleh karena itu jalan satu-satunya hanyalah melarikan diri dulu untuk sementara dari hadapan mereka.
Dan selanjutnya ia harus bisa membuktikan bahwa bukan dirinyalah yang berbuat itu.
Atau paling tidak dia harus bisa mempertemukan orang-orang ini dengan orang berkerudung yang sesungguhnya.
Begitulah!
Setelah memperoleh keputusan demikian, Yap Kiong Lee segera bersiap siap untuk lolos dari tempat itu.
Selurub tenaga dalamnya ia kerahkan sepenuh penuhnya, sementara kaki dan tangannya telah siaga untuk memainkan ilmu Silat Angin Puyuh kebanggaannya!
Melihat gelagat tersebut si wanita ayu segera memberi aba aba kepada kawan-kawannya.
"Bunuh orang ini! Jangan biarkan dia lolos!"
Tanpa diulang lagi, orang-orang itu segera menyerang Yap Kiong Lee!
Tapi pemuda sakti yang telah bersiap siaga ini segera menyambut pula dengan hangat.
Sepasang tangannya tampak meluncur ke depan dalam pukulan Thian-lui gong-ciang yang maha dahsyat!
"Buuuumm!
Buuuuumm...!"
Bagaikan kilatan petir yang meledak, pukulan jarak jauh itu menyambar para pengeroyoknya.
Tapi ternyata orang-orang Bing-kauw tersebut juga tidak kalah cerdiknya.
Mereka sadar bahwa kekuatan perorangan mereka masih jauh di bawah Yap Kiong Lee.
Maka dari itu mereka enggan untuk beradu tangan seorang lawan seorang.
Dengan cerdik mereka menyongsong setiap pukulan lawan secara bersama-sama!
Akibatnya, pukulan Yap-Kiong Lee yang amat dahsyat itu menjadi pudar dan sedikitpun tak mempunyai pengaruh apa apa terhadap lawannya.
"Gila! Orang-orang ini kelihatannya sudah biasa terlatih untuk bertempur secara bersama-sama. Mereka dengan cepat bisa saling menyesuaikan diri dan saling melindungi!"
Pemuda ahli waris Sin kun Bu-tek itu menggerutu tak habis-habisnya.
Begitu juga keadaannya ketika pemuda itu memainkan ilmu Silat Angin Puyuhnya.
Dua orang kakak beradik seperguruan yang sejak semula sudah bertempur dengan dia itu segera merubah pula cara bersilat mereka.
Bagaikan orang tidak waras kedua orang itu mulutnya berceloteh tidak keruan sementara tingkahnya dalam bersilatpun bukan main anehnya!
Dalam tiupan angin yang membadai akibat kedahsyatan Ilmu Silat Angin Puyuh Yap Kiong Lee, kedua orang itu tampak terhuyung-huyung dan berjingkrak jingkrak bagaikan orang gila!
"Ada kuda sedang bunting, haha hihi..!
Tapi...meski bunting, tak ada anaknya!"
Yang muda tertawa terkekeh kekeh.
Sambil tertawa ia menirukan jalannya seekor kuda yang sedang bunting.
Cuma ketika lewat di samping Yap Kiong Lee, sepasang kakinya benar-benar menyepak ke arah kepala pemuda itu dengan ganas.
Untunglah pemuda itu cukup waspada.
Hampir saja kepalanya benar-benar terlepas kena sepakan kuda yang menggelikan tersebut.
Ketika Yap Kiong Lee segera membalas sepakan kuda itu dengan jurus Kan-seng-kai-pei (Memandang Bintang Menghaturkan Cawan), orang itu buru-buru meloncat mundur sambil berteriak-teriak ketakutan.
"Tolong-tolong! Dia mau membelejeti celana dalamku! Hoa...hoaaa...!"
Orang itu mundur sambil memegangi tali celananya, sementara kedua lututnya diangkatnya bergantian.
Hanya anehnya, setiap lutut itu diangkat, tentulah persis dan bertepatan dengan datangnya pukulan Yap Kiong Lee.
Sehingga seperti tidak disengaja, gerakan lutut itu selalu memunahkan serangan lawan!
"Hihihi haaaha...kuda bunting!
Hohoho...!
Lihat!"
Tiba-tiba kakak seperguruan orang itu berjingkat-jingkat pula mendekati.
"Kuda jantan yang membuntingimu telah datang, he-hehehe"!"
Sambil berjingkat hidungnya mendengus-dengus, pantatnya megal-megol.
Dari arah samping gayanya itu persis seekor kuda jantan yang sedang mabuk birahi.
Anehnya, setiap pantat itu tertuju kearahnya, Yap Kiong Lee merasakan hembusan angin tajam yang amat kuat melanda dirinya!
Begitu kuatnya sehingga dapat menahan angin pukulan Thianlui gong ciang!
"Gila!
Benar-benar dunia sudah gila!
Ilmu silat apa pula ini...?"
Yap Kiong Lee kebingungan.
Pemuda itu tidak tahu bahwa kedua orang lawannya ini adalah murid langsung dari ketua Bing-kauw sendiri, Putcengli Lojin!
Oleh karena itu tidaklah heran kalau mereka sangat lihai dan mewarisi ilmu-ilmu aneh dari alirannya.
Put-ceng-li Lojin mempunyai empat orang murid, dan semuanya telah mewarisi seluruh ilmunya yang aneh-aneh!
Muridnya yang pertama adalah Put sim-sian (Dewa Tak Berperasaan), seorang jago silat yang tak pernah keluar dari pintu perguruannya, oleh karena itu sering mewakili tugas-tugas gurunya bila sedang berhalangan.
Murid kedua dan ketiga adalah orang-orang yang kini sedang bertempur melawan Yap Kiong Lee.
Mereka adalah Put-swi-hui (Hantu Tak Berdosa) dan Put ming-mo (Setan Tak Bernyawa).
Sedang murid yang terakhir adalah Put-sia Niocu atau gadis yang dipanggil dengan sebutan Siau Put-sia itu tadi.
Selain mereka, Aliran Bing-kauw masih mempunyai seorang "sesepuh"
Yang hampir tak pernah keluar dari gua pertapaannya.
Dia adalah Put chien-kang Cin-jin (Pendeta Yang Tidak Waras), kakak seperguruan Put-ceng-li Lojin sendiri.
Dan Pendeta Yang Tidak Waras ini juga mempunyai seorang murid yang tidak kalah gilanya dengan dia sendiri, namanya Put-pai siu Hong jin (Si Gila Yang Tak Punya Malu)!
"Hehe...seekor kuda ingin membuntingi singa!
Hoho...bisa tidak, yaa...?"
Put-swi-kui yang megal-megol itu tertawa pringas-pringis (Honglui-kun yang perkasa itu mereka ibaratkan seekor singa).
Tiba-tiba tubuh yang megaI megol itu melesat ke atas dan menubruk ke arah punggung Yap Kiong Lee.
Gerakan itu dilakukan seperti hanya sambarangan saja dan kelihatannya cuma main-main belaka!
Tapi bukan main terperanjatnya Yap Kiong Lee ketika mendadak sepasang kaki dan tangan orang itu mencakar ke arah pelipisnya dan menendang ke arah pinggangnya!
Gerakannya cepat bukan kepalang dan kekuatannyapun benar-benar susah diukur.
Tahu-tahu serangan orang itu telah menempel pada kulitnya!
Repotnya lagi, bersamaan dengan datangnya serangan Putswi-kui tersebut, Si Kuda Bunting Put-ming-mo juga melancarkan cengkeraman maut ke arah ulu hati Yap Kiong Lee.
Sambil menyerang tak lupa mulutnya berceloteh.
"Hihi-ha ha...mengapa kawin saja tak bisa? Apa salahnya kuda mengawini singa? Toh sama-sama binatangnya? Hihi"! Ayolah kubantu! Hahahhah...Si Kuda Bunting membantu jantannya untuk kawin lagi! Haha-hoho...rusak! Rusak! Dunia benar-benar sudah rusak!"
Dapat dibayangkan, betapa gawatnya keadaan Yap Kiong Lee saat itu.
Serangan Put swi-kui sudah menempel pada kulitnya!
Padahal tanpa diduga-duga Put-ming-mo juga menyerang ulu hatinya!
Dan yang terang pemuda itu sudah tidak punya kesempatan lagi untuk mengelak.
Oleh karena itu satu-satunya jalan cuma bertahan dan berusaha melindungi diri dengan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya!
Selain itu, guna menghindari akibat yang lebih parah, Yap Kiong Lee menggeliatkan tubuhnya sedikit agar serangan lawan tidak langsung mengenai pelipis dan ulu hatinya.
"Hhhilee!!"
"Heeek!"
Yap Kiong Lee terjerembab dan berguling-guling di atas tanah.
Sekejap ia meringis kesakitan, kepalanya terasa pening dan dadanya terasa ngilu!
Celakanya, belum juga dia sempat berdiri, lawan-lawannya yang lain telah datang pula menggempurnya.
"Bangsat! Orang-orang tidak waras ini benar-benar telah memaksa aku untuk mempergunakan pedang..."
Dan sesaat kemudian, sebat dan cepat bagaikan kilat, Yap Kiong Lee menghunus sepasang pedang pendeknya, lalu menyongsong gempuran orang-orang tersebut keras lawan keras! "Breees! Croooot!"
"Hwuaah! Aduuuuh!"
"Ohhh...kantung nasiku!"
"Lhuh? Ke mana lenganku...?"
Sekali lagi Yap Kiong Lee terlempar berguling-guling ke tepi sungai!
Tapi di lain pihak para pengeroyoknyapun tampak jatuh bergelimpangan tergores pedang pendeknya.
Sepasang pedang pendek yang tersembunyi di balik lengan baju itu sungguh tak diduga oleh lawan-lawannya.
Untunglah pemuda itu tak bermaksud membunuh mereka.
Dan dalam kesempatan selagi mereka terpukau oleh kejadian tersebut, Yap Kiong Lee cepat-cepat menghambur ke dalam sungai.
Byuuur!
Selamatlah dia...
"Kejar dia...!"
Wanita ayu itu menjerit.
Tapi dengan sangat tangkas Yap Kiong Lee segera menyelam dan berenang ke seberang.
Kemahirannya bermain dalam air sejak kecil sungguh amat menguntungkannya.
(Sejak kecil hingga dewasa, Yap Kiong Lee dan adiknya tinggal di tengah-tengah telaga bersama ayahnya.
Malah bekas gedung perkumpulan Thian-kiam pang yang dipimpin oleh Yap Cu Kiat, ayahnya, juga didirikan di tengah-tengah telaga tersebut.) Beberapa saat kemudian pemuda itu telah mendarat di seberang.
Sambil melambai-lambaikan tangannya ia berteriak ke arah lawan-lawannya yang berdiri mendongkol di tepinya yang lain.
"Kalau ingin mengejar aku, pergilah ke Pantai Karang dua hari lagi! Kutunggu kalian di sana, tepat di waktu tengah malam...!"
Ada beberapa orang Bing-kauw yang mencoba untuk berenang pula ke seberang, tapi baru beberapa langkah sudah kembali lagi. Sungai yang dalam dan lebar itu terlalu deras arusnya.
"Kurang ajar!"
Wanita ayu itu menghentak-hentakkan kakinya ke tanah, hatinya mendongkol sekali. Untunglah kedua orang murid suaminya, Put swi-kui dan Put-ming-mo segera membujuknya.
"Sudahlah, subo...Biarlah dia lolos kali ini. Lain kali kita takkan lengah lagi. Kalau kata-katanya benar, dua hari lagi kita dapat menangkapnya di Pantai Karang. Cuma kita harus waspada dan hati-hati menghadapinya. Kalau dia sampai berani menantang kita seperti itu, tentu dia sangat yakin bahwa dia akan menang. Mungkin dia akan mempersiapkan teman-temannya untuk menghadapi kita."
Put-swi-kui, yang ketika bertempur dengan Yap Kiong Lee tadi bersikap seperti orang gila, kini ternyata dapat mengeluarkan ucapan yang baik dan urut.
"Benar! Toh Siauw-sumoi juga sudah dapat kita selamatkan..."
Put-ming mo menambahkan. Orang ini benar-benar tidak menyangka bahwa persoalannya tidak hanya sesederhana itu! Wanita itu tampak kesal bukan main.
"Cici..."
Tiba-tiba Put-sia Nio cu menyentuh lengannya.
"Oh, Put-sia..."
Wanita ayu itu memeluk Put-sia Niocu, demikian pula sebaliknya.
Keduanya, saling berpelukan untuk beberapa saat lamanya, seakan-akan mereka ingin saling menghibur kedukaan hati masing-masing.
Tapi sikap mereka tersebut membuat yang lain menjadi bingung dan tak habis mengerti.
Semuanya mengerutkan dahi dengan mulut meringis.
Mereka sungguh tak habis pikir, apa sih yang ditangisi oleh perempuan-perempuan itu?
Huh, dasar wanita..., gerutu mereka di dalam hati!
Cuma persoalan begitu saja dipikir sampai mendalam.
Pakai menangis pula lagi.
Kenapa sih?
Toh...Siau Put-sia telah selamat?
Apalagi yang mesti dipikirkan?
Kalau toh misalkan perbuatan orang itu mereka anggap suatu penghinaan, mengapa mesti susah-susah juga?
Cari saja pemuda kurang ajar itu dan...bunuh!
Habis perkara!
"Cici...?
Apakah dia...?"
Put-sia Niocu melepaskan pelukan kakaknya.
Wajahnya yang cantik tapi sendu itu menatap dengan penuh pertanyaan.
Lama juga wanita itu tak menjawab.
Tapi ketika wajah sendu yang berada di hadapannya itu terus mendesak, ia mengangguk pula akhirnya.
Air mata yang semula hanya menggenangi pelupuk mata, menetes turun di atas pipinya yang licin.
"Benar, Put-sia...! Laki-laki berkerudung itu pulalah yang menodaiku..."
Ucapnya Iirih.
Put-swi-kui dan adik seperguruannya Put ming-mo mengajak kawan-kawannya untuk mengurus yang terluka.
Yang hanya terluka kecil mereka obati dengan obat bubuk atau mereka olesi dengan cairan obat, sedang yang terluka agak parah mereka balut dan digotong oleh teman-temannya yang lain.
Kemudian mereka naik kembali ke atas tebing dan selanjutnya pergi meninggalkan tempat itu.
"Put-swi-kui dan Put-ming-mo ikut aku ke Pantai Karang! Yang lain boleh pulang membawa yang luka dan melapor kepada Put-ceng-li Lojin...!"
Wanita ayu itu memberi aba-aba.
Tempat itu kembali sepi.
Malam semakin terasa dingin.
Anginpun seakan-akan juga bertiup lebih kencang, sehingga kabutpun seolah-olah juga dipaksa untuk turun lebih cepat pula.Yap Kiong Lee yang basah kuyup dan tak berbaju itu juga merasa dingin.
Sambil terbungkuk-bungkuk memeluk dada ia melangkah mengikuti derasnya aliran sungai itu.
Ketika terlihat olehnya secercah sinar api di kejauhan, ia menjadi gembira bukan main.
Dengan berlari-lari kecil, kakinya melangkah mendekati.
Api itu kelihatannya amat dekat, tapi sudah sekian lamanya ia berlari ternyata belum juga sampai.
Baru setelah naik turun jurang dan bukit kecil, sumber api itu kelihatan dengan nyata.
Dan kenyataan itu benar-benar sangat menggembirakan hatinya.
Sebuah dusun kecil tampak ramai dan terang benderang dengan obor-obor yang menyala di segala tempat.
Suara tambur dan gembreng terdengar menggema memeriahkan suasana malam yang dingin.
Terdengar suara sorak-sorai gembira di antara riuhnya suara tambur dan gembreng yang ditabuh.
"Ah, ada keramaian di sana..."
Yap Kiong Lee tersenyum gembira, Iangkahnya menjadi lebih cepat.
Tapi Iangkahnya berhenti dengan mendadak.
Lapat-lapat ia mendengar suara orang bertempur tidak jauh dari tempat itu.
Malah di antara dencingnya suara senjata ia mendengar suara tertawa yang dikenalnya.
"Oh, suara Ceng-ya-kang..."
Berindap-indap Yap Kiong Lee mendekati tempat itu, sebuah padang rumput, terletak di antara sungai dan dusun tersebut.
Dari jauh ia telah melihat beberapa orang bertempur dengan seru.
Dalam keremangan malam bayangan mereka tampak berkelebatan seperti ayam berlaga.
Sesekali teriakan mereka menguak memecahkan kesepian malam.
Tapi belum juga Yap Kiong Lee dapat datang terlebih dekat, terdengar suara mengaduh beberapa orang yang kesakitan, kemudian...sepi!
Dan begitu Yap Kiong Lee tiba di tempat itu, yang ia dapatkan hanyalah mayat-mayat bergelimpangan sementara di kejauhan didengarnya suara derap kaki kuda yang berlari pergi.
"Uh! Uh!"
"Hei! Ada yang masih hidup..."
Yap Kiong Lee berdesah.
Pemuda itu melompat datang.
Bau amis yang amat keras merangsang hidungnya, membuat pemuda itu semakin berhati-hati dalam setiap langkahnya.
Apalagi ketika dilihatnya mayat-mayat itu berwarna kehijau-hijauan.
"Uh! Uh!"
Yap Kiong Lee berjongkok.
Dalam keremangan malam ia melihat orang tersebut merintih sambil mendekap dadanya.
Dari sela-sela jari tangannya tampak mengalir darah.
Tidak seperti mayat-mayat yang lain, kulit orang itu tidak berwarna kehijau-hijauan.
"Coba kulihat lukamu..."
Yap Kiong Lee membungkuk.
"Sia...siapakah tu...tuan...? Oh, to...longlah aku! Bawalah aku ke rumah! Biarlah Kam Lojin yang mengobati lukaku..."
Yap Kiong Lee menotok beberapa jalan darah di sekeliling luka itu, sehingga darah yang mengalir menjadi berhenti. Kemudian sambil memanggul tubuh itu Yap Kiong Lee bertanya.
"Dimana rumahmu?"
"Di pinggir dusun itu...Rumah bes...besar bercat kuning..."
Yap Kiong Lee berlari menyeberangi padang berumput tebal itu.
Beberapa kali ia berpapasan dengan kelompok kuda yang sedang memakan rumput.
Kelihatannya tempat itu merupakan sebuah peternakan kuda.
Yap Kiong Lee melihat sebuah rumah besar bercat kuning di pinggir dusun.
Rumah itu dikelilingi kandang-kandang kuda yang amat banyak.
Rumah itu sebenarnya merupakan rumah yang amat besar dan bagus, sayang di bagian samping dan belakang tampak retak-retak, mungkin diakibatkan oleh gempa bumi yang terjadi beberapa waktu berselang.
Empat orang lelaki yang berjaga-jaga di depan rumah menyuruh Kiong Lee berhenti.
"Siapa...?"
Salah seorang di antaranya bertanya.
"Lo Sam...aku! Aku...aku terluka!"
Orang yang berada di atas pundak Kiong Lee menjawab.
"Hei...? Twako? Kenapa engkau?"
Tiba-tiba keempat orang itu kaget. Berebutan mereka menolong orang yang terluka itu, sehingga hampir melupakan Yap Kiong Lee.
"Eh, sahabat...marilah masuk!"
Salah seorang yang mendadak teringat kepada pemuda itu segera mempersilahkannya masuk.
Rumah itu menjadi gempar seketika.
Beberapa orang segera berlari ke belakang, memberi tahu pemilik rumah.
Yap Kiong Lee duduk diam di tempatnya.
Matanya mengawasi hiasan hiasan dari kertas yang dipasang di pendapa rumah tersebut.
Beberapa orang perempuan tampak sibuk di beranda tengah.
Kelihatannya mereka sedang merayakan sesuatu di rumah besar ini.
Seorang pelayan datang memberi seperangkat pakaian kepada Yap Kiong Lee, dan tentu saja diterima dengan senang hati oleh pemuda tersebut.
Bergegas ia mengganti pakaiannya yang basah dan bersamaan dengan itu dari dalam rumah keluar pemilik rumah yang mengenakan pakaian yang gemerlapan.
Di sampingnya mengikuti seorang tua yang membuat Kiong Lee mengejap-ngejapkan matanya karena tak percaya apa yang dilihatnya.
"Kam Lo-Cianpwe...!"
Desahnya perlahan.
"Eh? Yap-Siauwhiap (Pendekar Muda Yap)..."
Orang tua itu tak kalah kagetnya.
Orang tua yang tak lain adalah Kam Siong Ki, murid bungsu mendiang Bu eng Sin-yok ong itu segera datang mendekati Yap Kiong Lee.
Sambil menggandeng lengan, kakek sakti itu berbisik di telinga Yap Kiong Lee.
"Eh, Yap-Siauwhiap...! Jangan panggil aku Kam Lo-Cianpwe! Aku cuma dikenal sebagai orang tua yang bisa mengobati orang di daerah ini. Dan aku tak ingin orang-orang di sini mengetahui siapa sebenarnya aku ini. Biarlah mereka tetap menyangka demikian..."
Sekali lagi kakek sakti yang tak ingin dikenal orang itu menatap muka Yap Kiong Lee, lalu perlahan-lahan tangannya menarik lengan pemuda ke depan, menghampiri pembaringan yang dipergunakan untuk menidurkan orang yang terluka tadi.Orang yang ada di tempat itu segera menyisih memberi jalan.
Dan si pemilik rumah yang ikut memeriksa orang yang terluka itu bangkit menyongsong pula.
"Kam Lojin (Kakek Kam), dia baru saja berkelahi dengan para pencuri kuda di dekat sungai. Keenam orang kawannya telah tewas terkena racun pencuri-pencuri itu."
Pemilik rumah itu memberi keterangan.
"Biarlah aku periksa lukanya..."
Kakek Kam menyahut dan memperkenalkan Yap Kiong Lee sebagai keponakannya.
"Ah, sungguh kebetulan sekali saudara Yap yang menolong orangku. Kam Lojin ini sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri. Itulah sebabnya beliau kami undang ke sini untuk menghadiri pernikahan anak lelakiku malam ini. Sungguh tak kusangka pencuri pencuri kuda itu mempergunakan kesempatan selagi kami sekeluarga sedang sibuk mempersiapkan perayaan ini."
Yap Kiong Lee membalas penghormatan tuan rumah tapi dia tidak berkata sepatahpun.
Pemuda itu tak ingin menakut-nakuti tuan rumah dengan mengatakan bahwa yang mencuri kuda mereka bukanlah pencuri biasa, melainkan seorang iblis dari Ban-kwi-to.
Hanya kepada Kam Song Ki pemuda itu mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Kam Lojin memeriksa luka orang itu dan mengobatinya.Biarpun banyak mengeluarkan darah, tapi luka itu tidaklah berbahaya.
Hanya merupakan luka luar saja.
Oleh karena itu setelah diberi obat dan dibalut, Kam Lojin hanya menyuruhnya beristirahat saja untuk beberapa hari.
"Loya, utusan dari pihak pengantin perempuan telah tiba."
Tiba-tiba seorang pelayan masuk memberi laporan.
"Katanya pengantin laki-laki telah ditunggu kedatangannya...,!"
"Hah? Mana mereka? Wah, celaka...aku belum siap."
Pemilik rumah itu gugup.
Sekali lagi rumah itu menjadi ribut.
Mereka bergegas mempersiapkan pengantin lelaki dengan segala upacaranya, sehingga semuanya melupakan kehadiran Yap Kiong Lee di tempat itu.
Kakek Kam yang ikut menjadi wakil pihak pengantin lelaki juga tak punya waktu lagi untuk mendampinginya.
Tapi Yap Kiong Lee menyadari kesibukan mereka.
Sedikitpun pemuda sakti itu tidak berkecil hati karenanya.
"Ayoh! kau ikut sekalian dalam rombongan pengantin ini...,!"
Kam Song Ki mengajak Kiong Lee sebelum iring-iringan itu berangkat.
"Ah, terima kasih Lo...eh, Lojin!"
Pemuda itu menolak.
"Wah, kalau begitu kau mampirlah di rumahku kalau ada waktu. kau carilah aku di dusun Ho-ma cun...sepuluh lie dari tempat ini."
"Baik!"
Begitu rombongan pengantin itu berangkat, Yap Kiong Lee juga berpamit untuk meneruskan perjalanannya.
Mula mula orang yang berada di dalam rumah itu melarangnya, begitu juga orang yang ditolongnya itu.
Tapi karena Yap Kiong Lee bersikeras juga untuk berangkat, mereka terpaksa melepaskannya.
Yap Kiong Lee berjalan menyusuri jalan besar yang membelah dusun kecil itu.
Ia bermaksud menengok keramaian itu pula.
Beberapa orang laki perempuan tampak berbondong bondong bersama anak-anak mereka.
Tampaknya mereka juga ingin menonton keramaian yang diadakan oleh Kepala Kampung mereka, sehubungan dengan hajatnya mengawinkan anak perempuannya yang sulung.
Keramaian itu tentulah sebuah keramaian yang diadakan secara besar besaran, mengingat besannya adalah Lo-Wangwe, peternak kaya di dusun mereka.
Rumah kepala kampung itu persis berada di perempatan jalan, dan tempat tersebut telah padat dengan penonton yang ingin menyaksikan pertunjukan wayang.
Karena panggung tempat pertunjukan itu didirikan di pinggir jalan, maka praktis para penontonnya menjadi tersebar memenuhi jalan raya.
Sementara para pedagang kecil memanfaatkan keramaian itu dengan menjajakan dagangannya di tepian jalan.
Yap Kiong Lee membaurkan dirinya di antara penonton yang bertebaran di tengah jalan.
Sambil menyilangkan kedua lengannya di dada, pemuda itu bersandar pada gerobag kecil yang diparkir di tepi jalan.
Gerobag itu tertutup semua pintu dan jendelanya, mungkin pemiliknya ikut pula bercampur di antara penonton.
Sedangkan kedua ekor keledai penariknya dibiarkan mengorek-ngorek kotak tempat makanan yang disediakan di depannya.
Upacara perkawinan telah selesai dilakukan.
Sepasang pengantinnya telah dipersandingkan di atas kursi yang disediakan.
Para tamu mulai menikmati makanan yang disuguhkan, sementara di ruangan depan juga telah dimulai dipertunjukkan tari tarian rakyat yang amat mempesonakan.
Pihak tuan rumah memang sengaja mendatangkan para penari itu dari kota.
Semakin malam penonton semakin banyak, apalagi ketika acara tari-tarian sudah selesai dan pertunjukan wayang telah mulai dipertontonkan.
Para penonton mulai berdesak-desakan berebut tempat di depan panggung sehingga suasana menjadi hingar-bingar dan ramai bukan main!
Apalagi ketika para pemain wayangnya telah mulai mempertunjukkan kebolehannya di atas panggung, para penonton mulai bersuit-suit dan bertepuk tangan dengan riuhnya.
Yap Kiong Lee tetap saja bersandar pada gerobag itu.
Ia enggan untuk ikut berdesakan di antara mereka.
Sambil menonton, sesekali ia memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di dekatnya.
Siapa tahu ia berjumpa dengan seseorang yang telah dikenalnya.
Tiba-tiba pemuda itu tersentak kaget.
Sekilas matanya melihat Tee-tok-ci dan Ceng-ya-kang di antara kerumunan orang di depannya.
Tapi ketika ia menegaskan lagi, kedua orang itu telah hilang dan tak kelihatan lagi bayangannya
Jilid 17 Sesaat Yap Kiong Lee menjadi termangu-mangu.
Benarkah apa yang dilihatnya tadi?
Ataukah semuanya itu hanya karena bayangannya sendiri saja?
Ingin benar rasanya dia mencari serta membuktikannya.
Tapi bagaimana mungkin?
Kedua orang itu dapat bergerak gesit dan cepat seperti iblis, padahal di situ berjubel demikian banyak orang!
Dan misalkan orang itu benar-benar ada di antara mereka, akibatnya justru akan sangat berbahaya.
Karena kalau kedua iblis itu menjadi marah dan merasa terganggu kebebasannya, keduanya bisa menjadi pembunuh-pembunuh yang sadis.
Bisa saja keramaian yang demikian meriahnya ini berubah menjadi arena berdarah yang mengerikan!
"Uh...uh!"
Mendadak gerobak yang dipakai untuk bersandar Yap Kiong Lee itu bergoyang-goyang.
Dari dalam terdengar suara keluhan lirih wanita, yang nada suaranya persis seperti orang yang baru bangun dari tidur.
Setelah itu terdengar pula suara laki-laki yang menyahut dengan perlahan pula.
Dan beberapa saat kemudian kedua buah suara itu terlibat dalam bisikan mesra yang amat panas, sehingga Yap Kiong Lee yang mendengarkannya menjadi merah padam mukanya.
Gerobak itu bergoyang semakin lama semakin keras serta disertai suara tertawa yang semakin lama juga semakin keras, sehingga akhirnya para penonton yang berada di sekitarnya menjadi heran dan merinding.
Beberapa orang di antaranya mulai menyingkir dengan takut-takut.
Mereka takut kalau kalau dari dalam gerobak itu tiba-tiba muncul sesosok hantu yang menakutkan.
Mendadak suara tertawa itu berhenti dengan tiba-tiba dan sekejap kemudian terdengar suara gedubrakan yang keras, disertai suara maki-makian kotor yang mendirikan bulu roma!
Dan sesaat kemudian terdengar perang mulut yang seru diikuti dengan suara gedebag gedebug orang berkelahi.
Semua penonton yang berada di dekat gerobak itu segera menyingkir ketakutan.
Tinggal Yap Kiong Lee yang masih tertegun di tempatnya.
Dengan sikap waspada pemuda itu bersiap-siap untuk menjaga segala kemungkinan yang terjadi.
"Grobyaak! Bluuuk...!"
Pintu gerobak itu jebol.
Daun pintunya yang terbuat dari kayu tebal terlempar dengan keras ke depan, menimpa keledai penariknya!
Tentu saja binatang itu menjadi kaget dan kesakitan, sehingga otomatis kakinya meloncat ke depan sekuat kuatnya!
Bagai dihentak oleh tenaga raksasa, gerobak kecil itu melayang ke depan, menerjang kerumunan penonton yang memadati jalan raya tersebut.
belasan orang penonton langsung menggeletak, terkapar luka parah!
Sebagian besar anak-anak dan wanita!
Penonton-penonton lainnya langsung berlari cerai berai, berusaha menyelamatkan diri mereka masing-masing.
Beberapa orang wanita dan anak-anak kembali menjadi korban lagi, mereka jatuh terinjak-injak penonton lainnya.
Teriakan-teriakan ketakutan, jeritan-jeritan putus-asa dan panik, serta tangisan anak anak yang terlepas dari orang tuanya, berkumandang bersahutan, mengalahkan ributnya suara tambur dan gembreng yang ditabuh oleh para pemain wayang!
Suasana yang kacau itu membuat si keledai semakin menggila.
Bersama dengan gerobak yang dihelanya, binatang itu berputar-putar menerjang kemana saja, menceraiberaikan para penduduk yang memadati jalan raya tersebut.
Korban bergelimpangan, baik yang disebabkan oleh amukan keledai tersebut, ataupun yang disebabkan karena terinjak-injak penonton lainnya!
Dan suasana menjadi makin kacau dan mengerikan ketika dari dalam gerobak yang terguncang guncang itu berjatuhan segala macam botol-botol, bumbung bambu, guci-guci, kantong kulit dan sebagainya!
Benda benda tersebut pecah begitu jatuh atau terinjak, dan dari dalamnya keluar segala macam binatang beracun seperti ular, kalajengking, kelabang, lebah, ulat dan lain-lainnya!
Binatang-binalang itu langsung menyerang dan menggigit pula karena kaget dan takut!
Korbanpun berjatuhan pula lagi!
Apalagi ketika beberapa buah di antara guci-guci itu ternyata berisi bubuk-bubuk atau cairan-cairan beracun yang mematikan!
Benda-benda berbahaya itu menyiram tanah memercik ke mana-mana, mengenai orang-orang yang menginjaknya!
Bau amis, bacin dan busuk bertebaran menyelimuti seluruh tempat pertunjukan itu.
Belasan penonton Iangsung tergeletak begitu menyedot hawa atau udara beracun tersebut!
Mayat-mayat bergelimpangan, berserakan memenuhi arena pertunjukan!
Para tamu yang berada di halaman rumah Kepala Kampung juga tak luput dari musibah tersebut, ketika gerobak maut itu menabrak pagar dan berputar-putar di antara jajaran kursi yang tersedia.
Tapi sebelum gerobak itu sempat menerobos pagar, dua sosok bayangan lelaki perempuan tampak melayang keluar dari gerobak.
Keduanya berkejaran, meloncat ke sana ke mari sambil sesekali berhenti untuk saling mengadu kepalan.
Mulutnya yang kotor itu tetap saling mencaci dan memaki juga.
Dan bersamaan dengan saat gerobak maut itu mengobrak-abrik para tamu, sepasang iblis lelaki perempuan itu juga meloncat kearah panggung wayang, dan membubarkan para pemainnya.
"Lelaki busuk! Lelaki lemah tak berdaya! Kurus berpenyakitan...! Kubunuh kau!"
"Huh! Perempuan tua! Perempuan gembrot seperti kerbau! Perempuan jelek...!"
"Oh, kau berani berkata begitu...? Suami macam apa itu? Awas, akan kukuliti kulitmu dan akan kumakan jantungmu!"
"Hei, siapa sudi jadi suamimu? Kapan kita menikah? Huh, enaknya...!"
"Bangsattt...! Kubunuh kau! Kubunuh kaaauuuu...!"
Si iblis wanita yang bertubuh gemuk besar itu menyerang kalang-kabut!
Jari-jari tangannya yang berkuku panjang itu menaburkan pasir beracun yang ganas.
Akibatnya beberapa orang pemain wayang yang belum sempat pergi menjadi korban pula.
"Wah, suami-isteri Im-kan Siang-mo (Sepasang Iblis dari Neraka) dari Ban-kwi-to..."
Yap Kiong Lee bergumam marah.
Pemuda itu terpaksa bertengger di atas pohon di pinggir jalan untuk menghindari arus penonton yang kacau balau tadi.
Dari tempat itu ia dapat melihat dengan jelas amukan gerobak yang ditarik keledai tersebut.
Gemetar sudah tangannya untuk menghentikan gerobak tersebut, tapi mengingat arena itu sudah penuh dengan racun dan binatang-binatang berbahaya, apalagi selain Im-kang Sian-mo tampak juga adanya Tee-tok-ci dan Ceng-ya-kang pula, maka ia mengurungkan niatnya untuk sementara.
Terlalu berbahaya baginya!
Sebentar saja tempat pesta yang amat meriah itu berubah menjadi arena berdarah yang sangat mengerikan!
Mengingatkan orang pada zaman peperangan besar beberapa tahun yang Ialu.
Mayat bergelimpangan di jalan, jerit tangis memilukan dan suasana yang porak-poranda!
Yang amat mengherankan Yap Kiong Lee ialah mengapa tak seorangpun dari pihak tuan rumah maupun besannya, yang keluar untuk turun tangan mengatasi huru-hara tadi.
Sampai pada Kakek Kam yang ia tahu sangat sakti itupun juga tidak kelihatan batang hidungnya.
Baru setelah gerobak beserta keledainya terjerumus di dalam parit dalam dan Sepasang Iblis Im-kan Siang-mo berkelebat pergi, orang tua itu tampak berlari-lari keluar rumah.
"Awas! Semua orang jangan menyentuh benda-benda yang terkena racun iblis tadi! Tanah, pohon, kayu, kursi, meja dan sebagainya...!"
Kakek itu memperingatkan semua orang yang masih selamat.
Sementara itu melihat Kam Song Ki sudah keluar, Yap Kiong Lee segera berkelebat pergi, menyusul Sepasang Iblis Neraka tadi.
Hampir saja pemuda itu kehilangan jejak buruannya.
Sepasang iblis itu lenyap ditelan kegelapan malam ketika tiba di tepian sungai.
Kedua orang itu bagaikan hantu yang secara tiba-tiba menghilang begitu saja.
Tepian sungai itu banyak ditumbuhi semak-semak lebat yang menjorok sampai ke tebingnya.
Oleh karena itu Yap Kiong Lee menyelusurinya dengan hati-hati sekali, siapa tahu kedua tokoh Ban-kwi-to tersebut bersembunyi di dalamnya.
Dan ternyata dugaannya memang benar.
Sepasang telinganya segera menangkap gemerisiknya daun yang diinjak orang.
Seorang laki-laki gemuk berkepala gundul tampak melintas di hadapannya.
Ceng-ya-kang!
Hm, iblis itu lagi.
Yap Kiong Lee menggeram di dalam hati.
Bukankah iblis gundul itu telah membawa pergi kuda-kuda curian itu?
Mengapa sekarang dia berada di tempat ini lagi?
Mengapa orang itu tidak lekas-lekas pergi ke Pantai Karang?
Ada urusan apa dia disini?
Yap Kiong Lee semakin meningkatkan kewaspadaannya.
Untunglah baju pemberian peternak kuda tadi berwarna agak gelap, sehingga sangat menolong dia dalam kegelapan malam itu.
Dengan leluasa dia menyusup-nyusup mengikuti iblis Ban-kwi-to tersebut.
Tiba-tiba Ceng-ya-kang berhenti di bawah pohon siong tua yang berada di dekat tebing yang menjorok ke tengah sungai.Sekejap kemudian dari atas pohon meluncur turun seorang kakek bertubuh kecil, yang tidak lain adalah Tee-tok-ci.
Mereka saling berbisik satu sama lain, sehingga Yap Kiong Lee tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.
Sementara itu Yap Kiong Lee malah mendengar suara caci-maki Im-kan Siang-mo di atas tebing yang menjorok ke tengah sungai itu.
"Nah! Bagaimana sekarang...perempuan busuk? Kendaraan kita telah tiada. Benda-benda kesayangan kita yang kita kumpulkan selama bertahun-tahun ikut lenyap pula."
Bouw Mo-ko memarahi isterinya.
"Hei? Mengapa engkau malah menyalahkan saya? Bukankah engkau kusirnya? Kalau gerobak sampai tak bisa dikendalikan dan menabrak kesana kemari, bukankah itu karena kegoblogan si kusir?"
"Benar memang...! tapi bagaimana aku bisa mengendalikan gerobak, kalau engkau terus-menerus memukul dan mau membunuh aku?"
"Nah! Itulah kegobloganmu...! laki-laki kurus...lemah! mengapa engkau tidak bisa berkelahi sambil mengendalikan gerobak?"
"Bangsat! Apa kau juga bisa? Huh, perempuan jelek yang mau menang sendiri saja!"
"Apa katamu? Keparat! Kubunuh kauuuuu...!"
Sepasang suami-isteri itu saling berbaku hantam kembali.
Baca Juga: Suling Emas 3
Baca Juga: Pendekar Kelana 2