Eps 7 Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono
Baca online Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono
Cersil Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono.
Kali ini malah lebih seru lagi dari pada tadi.
Kalau semula perkelahian mereka Cuma sesaat-sesaat, yaitu mereka lakukan sambil berlari-lari, sekarang mereka benar-benar saling berhadapan beradu dada.
Mereka tidak berlari-lari.
Mereka sungguh-sungguh bertempur habis-habisan sekarang!
"Hei!
Hei!
Berhenti...!"
Tee-tok-ci dan Ceng-ya-kang berteriak berbareng.
Tapi mana mau kedua manusia sinting itu berhenti?
Mereka hanya melirik sekejap, lalu melanjutkan pertempuran mereka lagi.
Biarpun mereka tahu bahwa yang datang adalah kedua orang suhengnya sendiri, tapi kedua orang itu tetap tidak ambil pusing!
Tentu saja Tee-tok-ci dan Ceng-ya-kang menjadi marah dan merasa diremehkan sekali.
Maka tanpa berpikir panjang lagi keduanya langsung terjun ke arena dan ikut bertempur diantara mereka.
Tee-tok-ci menghadapi Hoan Moli, sedangkan Ceng-ya-kang menahan Bouw Mo-ko!
"Kurang ajar!
Toa-suheng, menyingkirlah...!
Jangan kau halang-halangi aku!
Akan kubunuh suamiku itu!"
"Huh! Bunuh saja perempuan jelek itu, Toa suheng! Jangan sungkan-sungkan lagi! Aku sudah bosan mendengar ocehannya..."
Bouw Mo-ko tak mau kalah suara.
"Diam kau, cacing kurus!"
Ceng-ya-kang membentak sambil menangkis serangan Bouw Mo-ko.
"Kalau tak mau diam akan kuludahi mukamu yang tak sedap itu!"
"Heh! Kalian berdua ini benar-benar seperti anak kecil yang tak tahu diri saja. Kalau kalian memang tidak cocok dan saling membenci satu sama lain...huh, mengapa kalian tidak bercerai saja?"
Tee-tok-ci ikut pula menghardik.
"Nah...itu dia! Aku setuju!"
Bouw Mo-ko berteriak.
"Diammm...! kau memang ingin mencoba ludahku, yaa...? Hmm, cuh...cuh!"
Ceng-ya-kang menyemburkan ludah inti racunnya.
Dengan tergesa-gesa Bouw Mo-ko memiringkan mukanya.
Meskipun begitu ternyata gerakannya itu belum dapat membebaskannya dari serangan suhengnya.
Gumpalan ludah yang meluncur kearah wajah itu memang dapat ia hindari, tapi percikan-percikan yang mengikutinya ternyata masih bertaburan mengenai topinya.
Terdengar suara berkeratak seperti suara hujan yang menimpa genting, ketika topi itu terlempar ke atas dengan lobang-lobang kecil pada setiap permukaannya.
Dengan wajah pucat Bouw Mo-ko meloncat mundur.
Dan sebelum bentrokan diantara mereka berlangsung kembali, Tee-tok-ci tampak mengeluarkan alat tiupnya yang terkenal itu.
"Semuanya berhenti...! kalau tidak, peluitku ini akan kubunyikan...dan kalian semua akan menjadi santapan tikus tikus sungai."
Ancamnya serius.
"Kalian semua ini memang benar-benar tak tahu diri! saudara seperguruan yang hanya tinggal enam orang saja...tak mau rukun juga. Mana bisa dihargai orang?"
Tiba-tiba terdengar suara wanita yang datang.
Yap Kiong Lee yang berada di tempat persembunyiannya terkejut pula di dalam hati.
Dari tempat gelap, cuma beberapa langkah saja dari persembunyiannya, muncul sepasang wanita kembar yang dandanannya sangat menyolok dan berlebih-lebihan.
"Wah, lengkap sudah mereka kali ini. Tadi Tee-tok-ci, lalu Ceng-ya-kang, kemudian...Imkan Siang-mo, sekarang...Jeng-bin Siang-kwi! Sayang iblis yang nomer dua, Tiat-siang-kwi, sudah meninggalkan dunia..."
"Sam-sumoi dan Su-sumoi..."
Tee-tok-ci menyapa perlahan.
"Kalian semua ini benar-benar teledor dan tak berhati-hati! Sudah sekian lamanya diintai musuh tidak juga merasakan...!"
Jeng-bin Sam-ni mengomel marah.
"Hah?"
"Apa? Diintai musuh...?"
Semuanya terkejut bukan main.
Tak terkecuali Tee-tok-ci, orang tertua dan terlihai di antara berenam saudara seperguruan itu.
Mereka memandang tak percaya kepada Jeng-bin Siang-kwi yang kembar tersebut.
Tapi melihat kesungguhan nada suara sepasang wanita itu mereka toh menjadi berdebar-debar pula akhirnya.
Dengan mata mendelik mereka memandang ke sekeliling tempat tersebut.
Sementara itu Yap Kiong Lee yang berada di tempat persembunyiannya ternyata tidak kalah terperanjatnya dari pada mereka.
Otomatis tenaga saktinya menyebar ke seluruh urat-urat darahnya, siap untuk dikerahkan sewaktu waktu.
Tapi sebelum pemuda itu keluar dari tempat persembunyiannya, dari bawah tebing tiba-tiba muncul lima orang tua berseragam pengemis.
Mereka rata-rata berusia lima atau enam puluh tahun dan masjng-masing memegang sebuah tongkat besi sepanjang lengan mereka sendiri.
Biarpun mengenakan baju lusuh dan penuh tambalan, tetapi sikap dan wajah mereka sedikitpun tidak mencerminkan wajah seorang peminta minta.
Dan bersamaan dengan munculnya kelima orang pengemis tersebut dari arah pobon siong dimana Tee-tok-ci tadi bersembunyi, mendadak juga muncul dua orang gadis cantik pula.
Kedua orang gadis cantik itu mendaratkan kaki mereka dengan manis di depan keenam iblis Ban-kwi-to tersebut.
Yang satu berwajah cerah dan bersanggul tinggi, sementara yang lain agak kurus serta pucat!
Umur mereka sekitar dua puluh tiga atau dua puluh empat tahun dan...sama-sama cantiknya!
Sekali lagi Yap Kiong Lee dibuat terkejut oleh kedatangan mereka.
Tapi bukan karena kecantikan mereka yang mempesonakan itu yang mengagetkannya, tapi kenyataan bahwa ia telah mengenal merekalah yang membuatnya terperanjat.
Yang berwajah cerah dan amat cantik itu adalah Ho Pek Lian, murid dari Kaisar Han.
Sedangkan yang berwajah pucat dan kurus, tapi berbau wangi, adalah Kwa Siok Eng, puteri ketua Tai-bong-pai!
Setahun yang lalu kedua orang gadis itu bersama dengan Chu Seng Kun, telah pergi berkelana untuk mencari Chu Bwe Hong yang Ienyap diculik orang!
"Hah?!?"
Tiba-tiba Yap Kiong Lee menepuk dahinya.
"Ingat aku sekarang! Wanita ayu...wanita ayu yang bersama-sama dengan orang Bing-kauw itu...hah, bukankah...bukankah dia adalah Chu Bwe Hong? Wah, benar! Masa aku sampai lupa juga?"
Pemuda itu sibuk sendiri dengan pikirannya.
Sementara itu suasana tegang dan mencekam telah menyelimuti perjumpaan yang tak disangka-sangka tersebut.
Tee-tok-ci segera membelalakkan matanya begitu melihat siapa yang datang.
"Hoho hihi...selamat berjumpa nona-nona cantik! Lohu sungguh tak mengira sama sekali kalau dapat bertemu dengan musuh-musuh lama di sini. Haha, nona dulu sungguh beruntung dapat lolos dari lorong jebakan di bawah tanahku..."
"Ya...! Dan sekarang giliran kami untuk membalas perlakuanmu itu."
Ho Pek Lian menjawab.
"Hihi-hohoho...mau membalas? Ooo...jangan harap! Dulu kalian selamat karena ada Yap Lo-Cianpwe dan puteranya yang sakti (Yap Kiong Lee). Tapi kini kalian cuma ditemani pengemis-pengemis kelaparan seperti ini. Hihi hahaah...!"
"Bangsat!"
Tiba-tiba salah seorang dari pengemis itu membentak.
"Kami tidak ada hubungannya sama sekali dengan kedua orang nona ini...! Kami adalah utusan utusan dari Keh-sim Siauwhiap. Jangan ngawur...!"
"Ohh, begitu! Wah...jika demikian bakalan ramai, nih! Tiga pihak saling berhadapan dan sebentar lagi kita bisa main bunuh-bunuhan, eh-eh-eh...! Bukankah begitu, koko...?"
Hoan Mo-li yang tadi baru saja berhantam dengan suaminya, kini menggelendot manja.
"Hmm, tentu saja...kita dapat saling berlomba nanti siapa yang paling banyak membunuh orang di tempat ini."
Bouw Mo-ko tersenyum senang.
Ho Pek Lian dan Kwa Siok Eng juga saling pandang dengan bibir tersenyum, sedikitpun mereka tidak gentar menghadapi tokoh-tokoh iblis dari Bankwi-to yang berdiri lengkap di depan mereka.
Ho Pek Lian tampak menghunus pedangnya, sementara Kwa Siok Eng mengeluarkan ikat pinggangnya yang panjang.
"Tee-tok-ci! Ayuh! Apakah kita akan langsung saja menyelesaikan hutang-piutang kita itu disini...?"
Kwa Siok Eng yang kelihatan pucat dan lemah lembut itu menantang.
"Eh? Oh...hoho, tentu saja!"
Kakek berperawakan kecil itu sedikit tertegun malah, melihat keberanian si gadis.
"Tapi...eh, tunggu sebentar! Aku akan bertanya terlebih dahulu kepada para tukang korek sampah itu..."
"Manusia bermuka tikus yang menjijikkan! biarpun kami seorang pengemis tapi tak pernah mengorek sampah seperti katamu itu. Kami justru sudah terbiasa memberi ampun kepada musuh-musuh kami. Hanya sekali ini...mungkin kami tidak akan memberikannya kepadamu."
Salah seorang dari pengemis itu menggeram marah.
"Heh? Oh...hohoho, agaknya kalian juga mempunyai keberanian pula. Tapi agaknya kalian belum mengenal siapa kami ini, heheh...heheh!"
"Persetan! Siapapun adanya kalian, kami kaum Tiat-tung Kai-pang tidak pernah takut!"
"Wah, celaka...! Kali ini korban kita benar-benar Cuma seorang pengemis! Dan...hanya dari Tiat-tung Kai-pang pula! Huh! Rugi...benar-benar rugi!"
Hoan Mo-li yang sangat cerewet itu membuka mulutnya lagi.
"Babi kurang ajarrrr...! kalian sungguh menghina Tiattung Lokai!"
Pengemis yang marah tadi meloncat maju.
"Lo-Cianpwe, hati-hati..."
Ho Pek Lian memperingatkan orang itu.
"Mereka adalah iblis-iblis dari Ban-kwi-to!"
"Ooh!"
Pengemis itu berhenti melangkah. Ternyata nama Ban-kwi-to itu sedikit menggetarkan dadanya juga. Tee-tok-ci tertawa melihat keragu-raguan orang.
"Nah! Mengapa kalian mengintai dan memata-matai kami, hah?"
Tanyanya keras.
"Siapa...siapa memata-matai kalian? Huh! Kamilah yang lebih dahulu berada di tempat ini, baru kemudian...kalian! lihat sampan-sampan kami di tepi sungai itu! Kalau kami datang belakangan, bukankah kalian akan mendengar suara kami?"
Jawab Tiat-tung Lokai marah, biarpun tidak segarang tadi.
Bagaimanapun juga nama Ban-kwi-to tetap mengecutkan hatinya.
Bukan kepandaian atau kesaktiannya yang menakutkan dia tetapi kehebatan racun mereka!
"Kami tidak peduli, kau datang lebih dulu atau datang belakangan.
Tapi yang jelas kalian telah mengintai kami.
Untunglah aku melihatnya..."
Jeng-bin Su-nio mendengus.
"Dan...hal itu sudah merupakan alasan bagi kami untuk membunuh kalian secepatnya."
Jeng-bin Sam-ni menambahkan.
"Benar! Benar sekali...!"
Suami-isteri Im-kan Siang mo bertepuk gembira.
"Nah! Apa yang mesti kalian tunggu lagi? Ayoh, siapa yang ingin mati duluan? Cuh! Cuh!"
Ceng-ya-kang yang sejak semula hanya berdiam diri itu tiba-tiba meluncur ke depan, menyerang Tiat-tung Lokai dengan semburan ludahnya yang ampuh!
Tiat-tung Lokai mengelak sambil memutar tongkatnya di depan dada, untuk menghalau percikan ludah itu.
Tokoh ini sering mendengar bahwa salah seorang dari iblis Ban-kwi-to ada yang gemar mempergunakan air ludah untuk membunuh lawannya.
"Hai! Hai! Ngo-suheng...!"
Hoan Mo-li meloncat ke depan sambil menjerit, diikuti oleh Bouw Mo-ko, suaminya.
"Biar aku dulu yang membunuh dia...!"
"Eh, enaknya...! Aku dulu, dong...!"
Bouw Mo-ko segera menyela tak mau kalah.
"Ngo-suheng, berikan saja dia padaku!"
"Kurang ajar, kau mau berebut lagi denganku? Baik! Marilah kita tentukan dulu, siapa yang lebih jago diantara kita...! Heiitt!"
Kedua orang suami-isteri itu kembali berkelahi lagi. Tapi Tee-tok-ci segera meniup peluitnya, sehingga kedua orang itu segera menghentikan perkelahian mereka pula.
"Huh, manusia sinting! Kenapa kalian lanjutkan juga perselisihan itu?"
Kakek bertubuh kecil itu membentak marah.
"Habis kami tak punya lawan yang lain lagi, sih"! Satusatunya lawan kita telah diambil oleh Ngo-suheng."
Hoan Mo-li yang gendeng itu menjawab sekenanya.
"Hah, kalian benar-benar buta! Tidakkah kalian lihat di tepi sungai itu masih ada empat ekor tukang korek sampah yang lain?"
"Apa? Masih...hei, benar! Koko, lihatlah! Disana masih ada yang lain...!"
Hoan Moli bersorak gembira.
Sepasang iblis itu langsung berebutan menghambur ke arah lawan, yaitu empat orang pengemis yang tidak lain adalah Tiat-tung Su-lo!
Mereka segera terlibat dalam pertempuran yang seru dan kasar.
"Wah, terus bagaimana dengan kita ini, Cici...?"
Ho Pek Lian saling pandang dengan Kwa Siok Eng.
"Kenapa mesti bingung? Marilah kita yang sama-sama wanita ini bermain-main berpasangan!"
Jeng-bin Sam-ni dan adiknya Jeng-bin Su-nio melangkah ke depan sambil tersenyum.
Ho Pek Lian juga tersenyum.
Tapi senyumnya mendadak hilang ketika tiba-tiba dilihatnya sepasang iblis kembar itu menaburkan sesuatu dari tempat bedaknya.
Baunya sangat harum dan bubuk lembut berwarna putih itu melayang tertiup angin!
Belum juga Ho Pek Lian dan Kwa Siok Eng dapat menduga apa sebenarnya maksud sepasang iblis kembar itu menaburkan bedaknya, kedua tokoh Ban-kwi-to tersebut sudah menyusuli gerakannya dengan mengayunkan kaki mereka ke depan.
Kaki Jeng-bin Sam-ni terarah ke pusar Ho Pek Lian, sedangkan kaki Jeng-bin Su-nio tertuju ke ulu hati Kwa Siok Eng!
Ho Pek Lian dan Kwa Siok Eng tidak mau mendesak lawannya, maka tendangan itu sengaja tidak dielakkan oleh mereka berdua.
Dengan mengerahkan lweekang ke lengannya, mereka menyongsong tendangan-tendangan tersebut dengan pukulan!
"Dhuuukkk!
Dhuuuukk!"
"Ciiiitt! Ciiittt!"
"Auuuuuuhgh...!"
Sepasang iblis kembar itu terpental ke belakang, kemudian jatuh berguling-guling.
Sebaliknya Ho Pek Lian dan Kwa Siok Eng tampak terdorong mundur sambil memekik kesakitan.
Sambil menyeringai menahan sakit keduanya berusaha mencabut jarum-jarum kecil yang menembus lengan mereka.
Sungguh tak disangka sama sekali oleh mereka, bahwa bersamaan dengan beradunya kepalan tadi, dari ujung sepatu lawan meluncur jarum rahasia yang mengenai lengan mereka.
Serangan itu demikian mengejutkan, sehingga keduanya tak mampu lagi untuk mengelak.
Sementara itu Jeng-bin Siang-kwi segera bangkit kembali dengan tangkas.
Meskipun terpental keduanya ternyata tidak mengalami luka apa-apa.
Melihat senjata rahasianya dapat mengenai sasaran hatinya gembira bukan main.
Dengan tertawa gembira keduanya meloncat ke depan dan menyerang lawannya yang sudah tidak berdaya itu.
Yap Kiong Lee tertegun seperti patung batu ditempatnya.
Pemuda itu sungguh tak mengira kalau Ho Pek Lian dan Kwa Siok Eng dapat terkecoh demikian mudahnya.
Terluka pada gebrakan pertama!
Sungguh tak masuk di akal!
Padahal sebagai murid Kaisar Han, Ho Pek Lian tentu mempunyai kepandaian sangat tinggi.
Begitu juga dengan Kwa Siok Eng.
Gadis puteri Ketua Tai-bong-pai itu malah memiliki kesaktian yang lebih hebat lagi malah.
Tapi hanya dalam satu gebrakan mereka telah dapat dilukai oleh Jeng-bin Siang-kwi.
Malahan sekarang jiwa mereka justru terancam oleh lawannya.
Betapa mengherankan!
Sementara itu pertempuran antara Im-kan Siang-mo dan Tiat-tung Su-lo, benar-benar merupakan sebuah pertempuran yang sangat acak-acakan tapi juga sangat mengerikan!
Dua orang melawan empat orang!
Lazimnya, karena melawan empat orang musuh, suami-isteri itu masing-masing tentulah mengambil dua orang sebagai lawannya.
Atau kalau lawan terlalu kuat, mereka tentu memilih berpasangan untuk melawan keempat orang musuhnya sekaligus.
Itu yang lazim!
Tapi pertempuran yang terlihat kali ini benar-benar lain dari pada yang lain.
Ternyata suami-isteri yang tak pernah akur setiap harinya itu masih saja meneruskan persaingan dan perselisihan mereka dalam pertempuran ini.
Dasar orang-orang dari golongan sesat, bukannya mereka saling melindungi atau saling menolong, tapi justru saling berebut dan saling menjatuhkan malah.
Suami-isteri itu berlomba-lomba untuk dapat membunuh lawan sebanyak-banyaknya.
Oleh karena itu mereka saling berebut lawan, masing-masing ingin melawan sendiri keempat orang musuh mereka.
Kalau yang satu hamper dapat membunuh lawannya, yang lain justru merintanginya.
Kalau perlu justru menyerang suami atau isterinya malah!
Oleh karena itu pertempuran mereka tersebut amat tepat kalau dikatakan sangat acak-acakan, tapi juga sangat mengerikan!
Untung bagi Tiat-tung Su-lo, persediaan racun dan binatang-binatang piaraan kedua suami-isteri itu kini amat terbatas, sebab seluruh harta benda mereka hilang dan hancur bersama gerobak mereka.
Coba kalau tidak demikian, mereka tentu sudah mengalami kesukaran sejak tadi.
Tee-tok-ci yang menonton di pinggir arena tampak tersenyum lega.
Semua saudaranya berada di atas angin.
Ceng-ya-kang yang bertempur melawan ketua Tiat-tung Kaipang daerah selatan juga telah dapat mengurung lawannya.
Tongkat besi yang dipegang oleh Tiat-tung Lokai tidak dapat menahan lagi semburan semburan ludah Ceng-ya-kang sepenuhnya.
Beberapa kali pengemis tua itu jatuh bergulingguling menghindari serangan lawannya.
Hampir seluruh batang jarum itu terbenam ke dalam daging, sehingga sukar sekali rasanya bagi Ho Pek Lian dan Kwa Siok Eng untuk mencabutnya.
Apalagi mereka tidak mempunyai banyak waktu!
Belum juga mereka sempat mencabutnya barang sebatang, Jeng-bin Siang-kwi telah datang menyerang lagi.
Kali ini sepasang iblis kembar itu menyerang dengan kuku-kukunya yang panjang seperti cakar.
Kuku yang tajam meruncing tersebut mencakar ke arah leher dan muka.
Lapat-lapat tercium bau harum semerbak, seperti bau bunga mawar yang sedang mekar.
"Awas, Pek Lian! Kukunya mengandung racun mawar hitam...!"
Kwa Siok Eng berteriak.
Tanpa mempedulikan lagi pada jarum-jarum yang menancap pada lengannya Ho Pek Lian meloncat ke belakang mengikuti Kwa Siok Eng, sehingga kuku-kuku yang mencakar ke arah dirinya menjadi luput.
Lalu dengan gesit kakinya melangkah ke samping, dan pedang yang berada di tangannya ia tusukkan ke depan, mengarah ke pinggang Jeng-bin Samni.
Sementara ia lihat Kwa Siok Eng juga sedang menyabetkan ikat pinggangnya kearah leher Jeng-bin Su-nio.
Tapi tiba-tiba Ho Pek Lian menjadi bingung.
Mendadak lawannya, Jeng-bin Sam-ni, berubah menjadi dua, sehingga tusukan pedangnya ia hentikan pula dengan mendadak.
Matanya ia kejap-kejapkan, tapi pandangannya tetap tidak berubah.
Malah sekarang tidak Cuma Jeng-bin Sam-ni yang berjumlah dua orang, tapi semua benda yang dilihatnya juga berubah menjadi dua buah pula.
Ia lihat kawannya, Kwa Siok Eng, juga berubah menjadi dua!
Ternyata keanehan yang membingungkan itu menimpa pula pada Kwa Siok Eng.
Puteri ketua Tai-bong-pai itu juga mengalami keadaan yang sama dengan Ho Pek Lian.
Semua benda yang dilihatnya seperti berubah menjadi dua pula, sehingga otomatis serangan ikat pinggangnya juga berhenti di tengah jalan.
Kedua gadis itu belum menyadari, bahwa semua itu adalah karena pengaruh bedak wangi yang tadi ditebarkan oleh Jeng-bin Siang-kwi.
Bedak wangi itu dinamakan Seribu Wajah.
Apabila seseorang menyedotnya melalui lobang pernapasan, maka racunnya akan mengganggu system urat syaraf pada mata orang itu, sehingga pandang matanya menjadi terganggu.
Semakin banyak racun yang disedot, semakin parah pula gangguan yang diakibatkan.
Bedak ini pulalah yang mengangkat nama Jeng-bin Siang-kwi di dunia persilatan selama ini.
Dan senjata andalan mereka terburu-buru mereka keluarkan, karena mereka tahu dengan siapa kini mereka berhadapan.
Kalau cuma berkelahi secara wajar, tak mungkin mereka dapat menang melawan kedua orang gadis lihai tersebut.
Untuk melawan puteri ketua Tai-bong-pai itu saja mungkin mereka berdua akan mengalami kesukaran.
"Hi-hi-hi...Kalian berdua telah terkena dua macam racun kami. Bedak seribu wajah dan jarum bulu merak! Bukankah kepala kalian terasa pening sekarang? Nah, sebentar lagi lengan kalian yang terkena jarum itu juga akan lumpuh!"
Jeng-bin Sam-ni tertawa gembira.
"Kurang ajar! Wanita keji!"
Ho Pek Lian menjerit marah.
Gadis itu tak mempedulikan lagi rasa pening di kepalanya.
Dengan sekuat tenaga ia menabas salah satu dari bentuk Jeng bin Sam-ni dengan pedangnya.
Wuuuut!
Dan wanita iblis itu tak berusaha untuk mengelakkannya, sehingga pedang dengan telak memotong pinggangnya!
"Lhoh...?"
Ho Pek Lian membelalakkan matanya.
Tadi ia merasa bahwa pedangnya benar-benar telah mengenai pinggang lawan, tapi...mengapa tubuh yang terpotong itu masih tetap berdiri utuh di depannya?
"Hi-hi-hi...ayohh!
seranglah kami sepuasmu!"
Jeng-bin Sam-ni tertawa mengejek.
"Cici...? bagaimana ini...?"
Ho Pek Lian berteriak bingung.
"Adik Lian! kau hanya menyerang bayangannya!"
Kwa Siok Eng yang cerdas itu menerangkan.
"Kalau ingin mengenai...tebaslah semuanya!"
Sambil menerangkan Kwa Siok Eng sendiri juga menyerang Jeng-bin Su-nio.
Ikat pinggangnya yang panjang itu melecut kearah dua bayangan Jeng-bin Su-nio sekaligus!
Bau dupa yang sangat wangi keluar dari tubuhnya, menyertai tenaga sakti Hio-yan Sinkang yang ia kerahkan!
Benar juga!
Kedua bentuk bayangan itu meloncat menghindarkan diri, dan kemudian secara berbareng membalas serangan Kwa Siok Eng.
Sekejap kemudian mereka telah terlibat kembali dalam pertempuran yang sangat seru.
Kwa Siok Eng dengan ikat pinggangnya melawan dua buah bayangan Jeng-bin Su-nio dengan racun-racunnya!
Oleh karena setiap menyerang harus mengenai kedua buah bayangan itu sekaligus, maka sebentar saja Kwa Siok Eng menjadi mandi keringat.
Demikian juga halnya dengan Ho Pek Lian.
Murid dari Kaisar Han ini terpaksa harus mengerahkan tenaga dua kali lipat untuk melawan Jeng-bin Sam-ni.
Celakanya, tenaga dalamnya tidak setinggi Kwa Siok Eng, sehingga sebentar saja kepalanya semakin menjadi pening, dan...bayangan tubuh lawan tiba-tiba tampak bertambah banyak.
Tidak hanya dua...tiga"
Atau empat, tetapi...belasan!
lebih celaka lagi, lengan kirinya yang terkena jarum tadi mendadak tak bisa digerakkan sama sekali.
Lumpuh!
Tak lama kemudian Kwa Siok Eng menyusul pula, lengannya juga tak dapat digerakkan!
Dalam keadaan gawat bagi semua orang itu tiba-tiba terdengar bentakan yang menggeledek menulikan telinga.
Dan mendadak saja, tanpa seorangpun tahu dari mana datangnya, di depan Tee-tok-ci telah berdiri membelakangi pertempuran, seorang pria gagah berjubah abu-abu!
Pakaiannya sangat bersih dan baik seperti potongan seorang terpelajar (siucai).
Cuma karena membelakangi pertempuran, wajahnya tak dapat dilihat oleh Ho Pek Lian dan Kwa Siok Eng.
"Keh-sim Siauwhiap!"
Tiat-tung Lokai dan Tiat-tung Su-lo tiba-tiba menjura. Otomatis pertempuran menjadi terhenti.
"Lokai! Su-lo! Kalian lanjutkan tugas kalian. Biarlah orang-orang ini aku yang mengurusnya..."
Keh-sim Siauwhiap memberi perintah kepada para pengemis itu. Tiat-tung Lokai dan keempat pembantunya membungkuk kembali dengan hormat, lalu melangkah pergi kearah sampan mereka.
"Baik, Siauwhiap...!"
Tapi Hoan Mo-li menjadi penasaran sekali. Tak rela rasanya melepas mangsa yang telah berada di depan mulutnya itu. Tubuhnya yang gendut itu berkelebat menghadang mereka.
"Hei! Berhenti...!"
Bentaknya.
"Lokai! Su-lo! Berjalanlah terus! Jangan hiraukan dia!"
Keh-sim Siauwhiap berseru.
"Huh! Coba saja menerobos aku kalau bisa..."
Wanita gendut itu bersiap-siap.
Sesaat kemudian suaminya juga datang mendampinginya.
Tiba-tiba...ya, tiba-tiba saja, karena seperti juga tadi, tak seorangpun mengetahui bagaimana pendekar muda itu bergerak, tahu-tahu pendekar tersebut telah berada di depan Im-kan Siang-mo!
Sepasang tangannya yang sedari tadi selalu terlipat di atas dadanya, mendadak meluncur ke depan dengan luar biasa cepatnya.
"Dhees! Dhieess!"
Sepasang Iblis Neraka itu terlempar ketika berusaha menangkisnya.
Setelah itu dengan cepat pula pendekar muda tersebut kembali ke depan Tee-tok-ci dan...tetap membelakangi arena!
Sedangkan kelima orang pengemis itu dengan tenang melanjutkan langkah mereka, seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa di depan mereka.
Mereka naik ke atas sampan dan cepat-cepat meninggalkan tempat itu.
Yap Kiong Lee menggeleng-gelengkan kepalanya.
Hatinya kagum bukan main melihat kehebatan ginkang orang itu.
"Bukan main cepatnya...! Kiranya Bu-eng Hwe-Teng Bokanlah satu-satunya ginkang nomer wahid di dunia ini..."
Desahnya di dalam hati.
Ternyata Tee-tok-ci dan saudara-saudaranya merasa kecut juga di dalam hati.
Selama hidup belum pernah mereka menyaksikan ilmu ginkang demikian sempurnanya.
Seperti siluman saja.
"Nah, Tee-tok-ci...Bawalah semua saudaramu pergi meninggalkan tempat ini! Dan jangan coba-coba kalian mengganggu orangku lagi!"
"Keparat!"
Ceng-ya-kang yang berada dibelakang Keh-sim Siauwhiap tiba-tiba menerjang.
Tanpa memberi peringatan lebih dahulu, tokoh kelima dari Ban-kwi-to itu menyerang dengan senjata rahasianya.
Tujuh buah paku baja yang mengandung racun kelabang hijau melesat dari tangannya, menuju ke tujuh jalan darah terpenting di punggung Keh-sim Siauwhiap.
Melihat Ceng-ya-kang sudah memulai, Tee-tok-ci dan Jengbin Siang-kwi juga tidak mau kalah.
Mereka menyerang Kehsim Siauwhiap dari segala jurusan.
Tee-tok-ci yang secara tiba-tiba telah memegang sebatang cambuk, tampak menyabetkan cambuknya ke arah leher lawan.
Sedangkan Jeng-bin Siang-kwi tampak menyerang ke arah perut dan pinggang dengan kuku-kuku mereka.
Yap Kiong Lee membelalakkan matanya, takut tak bisa melihat dengan jelas gerakan-gerakan mereka.
"Taihiap...awasss!"
Ho Pek Lian yang masih berkunang kunang itu menjerit tanpa terasa.
"Traak! Dhug! Tesss!"
"Oohh...!?!?"
Entah bagaimana kejadiannya, tahu-tahu Keh-sim Siauwhiap telah lolos dari kepungan iblis-iblis Bun-kwi-to itu.Dengan membelakangi mereka, pendekar muda tersebut telah berdiri di pinggir tebing sungai, tiga tombak dari tempatnya semula.
Kedua tangannya tampak memegang tujuh buah paku dan potongan ujung cambuk!
Perlahan-lahan benda-benda itu dibuangnya ke tengah sungai.
Tee-tok-ci saling pandang dengan adik-adiknya.
Dengan wajah pucat dan tubuh gemetar mereka mengawasi punggung Keh-sim Siauwhiap.
Kemudian masing-masing menunduk, melihat senjata yang mereka pergunakan.
Tee-tok-ci melihat ujung cambuknya yang telah putus, Jeng-bin Siang-kwi memandang kuku-kukunya yang patah ujungnya dan Ceng-ya-kang menatap paku-pakunya yang belum sempat ia lontarkan!
Mereka benar-benar terantuk batu kali ini.
"Kalian belum juga pergi dari tempat ini?"
"Hmm, baiklah...Kami mengaku kalah kali ini. Tapi suatu saat kami akan mencari tuan untuk membalas kekalahan ini."
Tee-tok-ci menggeram.
"Jangan khawatir. Aku tak pernah lari dari orang-orang yang mencariku. Pergilah ke Meng-to sepuluh hari lagi! Aku akan menjamu semua musuh-musuhku pada hari itu."
"Baik! Kami akan kesana untuk minta pengajaran..."
Cengya kang menjawab mewakili saudara-saudaranya.
Tee-tok-ci melesat pergi diikuti saudara-saudaranya, termasuk Im-kan Siang-mo yang terluka.
Yap Kiong Lee menjadi gugup dan kelabakan.
Di suatu pihak dia ingin terus mengikuti para iblis itu, tapi di lain pihak ia juga ingin bertemu dengan gadis-gadis itu barang sebentar.
Dan belum juga ia dapat mengambil keputusan, Keh-sim Siauwhiap tiba-tiba terbang ke depan melintasi sungai meninggalkan mereka.
"Taihiap...!"
Ho Pek Lian berseru memanggil.
Tapi yang dipanggil tetap berjalan terus seolah tak mendengarnya.Kakinya melangkah enteng di atas permukaan air, seakan akan diatas sungai itu terhampar permadani yang tak kelihatan.
"Bukan main! Bukan main...! Hanya dengan beralaskan papan kecil ia mampu berjalan di atas permukaan air. Siapakah sebenarnya dia?"
Yap Kiong Lee sekali lagi menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Saudara Yap, beritahukanlah kepada gadis-gadis itu bahwa racun yang masuk ke dalam tubuh mereka akan punah apabila diobati dengan cairan merah yang selalu dibawa oleh nona Kwa Siok Eng."
Tiba-tiba telinga Yap Kiong Lee mendengar suara Keh-sim Siauwhiap yang dikirim melalui ilmu Coan-im-jib-hit.
"Gila!"
Yap Kiong Lee tersentak kaget. Ternyata orang itu tahu pula kalau dia bersembunyi disana.
"Hmm, siapakah dia? Mengapa sudah tahu namaku pula?"
"Cici, lengan kiriku tak bisa digerakkan lagi. Lumpuh. Padahal kepalaku semakin terasa pening, mataku berkunangkunang, sehingga engkau menjadi ber puluh buah banyaknya bila kupandang. Oh, Cici...kita keracunan."
"Benar, Lian-moi...kita memang terkena racun iblis-iblis itu. Sayang kita bukan seorang ahli pengobatan. Oh, coba kalau Seng Kun toa-ko ada disini...Oh, Tuhan...masih hidupkah dia?"
"Nona Ho...! Nona Kwa...! maaf, aku yang datang..."
Yap Kiong Lee keluar dari persembunyiannya, dan melangkah mendekati kedua gadis yang kena racun itu. Tentu saja kedatangannya benar benar amat mengejutkan mereka.
"Yap-Twako...!"
Ho Pek Lian berseru.
"Yap-Kongcu...!"
Kwa Siok Eng ikut pula menyapa.
"Yap-Twako! Sungguh kebetulan sekali. Mengapa engkau sampai pula di tempat ini? Oh, Tuhan...Terima kasih...Terima kasih! Engkau agaknya memang belum menghendaki jiwa kami."
Ho Pek Lian menengadahkan mukanya ke langit dengan wajah gembira.
"Sudahlah, nona...Panjang sekali kalau diceritakan. Yang paling perlu sekarang adalah mengobati racun yang masuk ke dalam tubuh nona dulu."
"Apakah Yap-Kongcu mempunyai obatnya?"
Kwa Siok Eng bertanya ragu.
"Eh, benar...Apakah Twako mempunyai obat pemunahnya?"
Ho Pek Lian kembali merasa khawatir.
"Oo...tentu saja! Hmm, nona Kwa...dimana botol kecil yang berisi cairan merah itu? Botol yang nona peroleh ketika nona memasuki sarang Tee-tok-ci beberapa tahun yang lalu?"
"Hei, benar! Mengapa aku sampai melupakannya? Yap-Kongcu, engkau benar! Inilah dia botol itu! Aku tak pernah meninggalkan dia barang sekejappun. Heran, mengapa aku sampai melupakannya?"
Kwa Siok Eng mengeluarkan sebuah botol kecil dari dalam saku bajunya.
"Nah, itu dia! Sekarang lebih dahulu hirup udara yang keluar dari dalam botol ini!"
Yap Kiong Lee mengambil botol itu dari tangan Kwa Siok Eng dan membuka tutupnya, lalu mendekatkan mulut botol tersebut ke hidung pemiliknya.
Setelah Kwa Siok Eng mengisapnya berkali-kali, Yap Kiong Lee ganti membawa botol itu ke hidung Pek Lian.
"Nah, sekarang rasa pening itu sudah hilang, bukan? Kini tinggal mengobati tangan yang lumpuh..."
Yap Kiong Lee menyingkap lengan baju Kwa Siok Eng, sehingga jarum-jarum yang menembus pada kulit gadis itu kelihatan dengan nyata.
Kemudian dengan hati-hati Yap Kiong Lee mencabutnya satupersatu, baru setelah itu bekasnya diolesi dengan cairan merah yang berada di dalam botol.
Begitu pula yang dilakukan oleh Yap Kiong Lee terhadap Ho Pek Lian, sehingga akhirnya kedua-duanya terbebas dari maut.
"Terima kasih, Yap-Twako."
"Terima kasih, Yap-Kongcu."
"Sebentar, nona...aku tidak mempunyai banyak waktu disini. Aku harus lekas-lekas mengikuti para iblis Ban-kwi-to tadi. Ada sebuah tugas dari Baginda Kaisar yang harus aku selesaikan, yang berhubungan dengan para iblis tersebut."
Yap Kiong Lee segera berkata, ketika dilihatnya kedua gadis itu mau mengajaknya mengobrol.
"Tapi..."
"Sudahlah! Lain kali saja kita mengobrol! Sekarang dengarkan saja omonganku!"
Pemuda itu berhenti sebentar untuk mengambil napas.
"Nona Kwa! Bukankah setahun yang lalu nona bersama dengan nona Ho dan saudara Chu, pergi mencari nona Bwe Hong yang hilang?"
"Be-benar, Yap-Kongcu! Apa...apakah kau melihatnya?"
"Eh?Jadi nona belum dapat menemukan dia?"
Yap Kiong Lee ganti bertanya.
"Be-belum!"
Tiba-tiba gadis itu menunduk sedih.
"Kami malah telah kehilangan Chu Twako pula..."
"Berbulan-bulan kami mencarinya, kami serasa telah putus-asa, tapi mereka tak pernah kami ketemukan juga."
Ho Pek Lian menyambung perkataan temannya. Yap Kiong Lee seperti ikut pula merasakan kesedihan mereka itu.
"Dengarlah, nona...! Aku memang benar-benar telah bertemu dengan nona Bwe Hong!"
"Hah?"
"Hei? Betulkah?"
Kedua orang gadis itu mencengkeram lengan Yap Kiong Lee erat-erat, seakan-akan mematahkannya. Mata yang indah itu terbelalak seakan tak percaya.
"Nona itu katanya telah menjadi isteri Put-ceng-li Lojin dari Bing-kauw sekarang. Aku secara tak sengaja telah bertemu dengan dia beberapa jam yang lalu, dan pada mulanya aku benar-benar tak mengenalnya...Kini dia beserta rombongannya sedang menuju ke Pantai Karang di dekat teluk Po-hai."
"lsteri Put-cengli Lojin...?"
Kedua gadis itu menyela dengan mulut ternganga.
"Apakah dia sudah gila?"
Yap Kiong Lee melepaskan pegangan gadis-gadis itu, lalu menjura memberi hormat.
"Nah, aku pergi sekarang! Aku takut tak bisa menemukan jejak para iblis itu lagi."
Sekali berkelebat Yap Kiong Lee lenyap dari hadapan Ho Pek Lian dan Kwa Siok Eng.
Pemuda itu berlari-lari ke arah mana iblis tadi menghilang.
Kini tinggal kedua orang gadis itu yang saling memandang satu sama lain, seolah-olah tak percaya pada apa yang mereka alami.
"Enci Bwe Hong kawin dengan Tua Bangka yang Tak Tahu Aturan itu? Ohh...Cici, benarkah itu? Ah, tidak mungkin! Enci Bwe Hong cantik seperti bidadari...huh, apakah dia menjadi gila dan dunia ini sudah tidak ada lelaki lain lagi?"
Ho Pek Lian mengguncang-guncang lengan Kwa Siok Eng dengan hati penasaran. Kwa Siok Eng tidak segera menjawab. Beberapa kali ia menghela napas berat.
"Lian-moi, dalam hati aku juga tidak mempercayainya. Aku sudah sangat mengenal calon iparku itu luar dalam. Tak mungkin rasanya dia berbuat seperti itu...tapi, rasa-rasanya Yap-Kongcu juga tak mungkin membohongi kita pula. Yap-Kongcu adalah seorang pendekar besar, kepercayaan Kaisar pula serta kakak dari Yap Tai-Ciangkun pula. Tak mungkin dia omong sembarangan..."
"Lalu...bagaimana Cici?"
"Marilah kita buktikan kebenarannya! Kita pergi ke Pantai Karang sekarang!"
"Ayoh!"
Ho Pek Lian menjawab tak sabar.
Sementara itu di tempat lain, Yap Kiong Lee sedang sibuk berputar-putar mencari jejak buruannya.
Ternyata waktu yang hanya sebentar tadi telah membuat dia kehilangan jejak mereka.
Hampir saja pemuda itu berputus-asa, ketika tiba-tiba ia mendengar suara telapak kaki kuda di arah peternakan kuda itu.
Bergegas Yap Kiong Lee berlari kesana dan ternyata...benar juga!
Di atas padang rumput itu dilihatnya Ceng-ya-kang bersama enam orang kawannya, sedang memacu kuda masing-masing.
Tidak ada jalan lain bagi Yap Kiong Lee untuk dapat mengejar mereka selain turut mencuri seekor kuda pula seperti mereka.
Dan diatas tanah peternakan tersebut memang amat banyak kuda-kuda yang berkeliaran.
Yap Kiong Lee memilih seekor yang tegap dan gagah, kemudian menaikinya.
Sambil berjanji di dalam hati, bahwa pada suatu saat ia akan mengembalikannya kepada yang empunya, Yap Kiong Lee memacu kuda tersebut untuk mengejar Ceng-ya-kang.
Semalam suntuk mereka berkuda naik gunung turun bukit, menyusuri aliran sungai, menuju ke arah timur laut.
Dalam perjalanan Yap Kiong Lee selalu mengambil jarak agar tidak diketahui oleh orang-orang yang dibuntutinya, sementara di dalam hatinya selalu bertanya-tanya, dimana sebenarnya para iblis Ban-kwi-to yang lain?
Ternyata yang sedang ia buntuti sekarang hanyalah Ceng-ya-kang dan anak buahnya yang tadi mendayung perahu.
Tee-tok-ci dan yang lain-lain tak kelihatan sama sekali.
Pada saat fajar mulai menyingsing, mereka memasuki dusun Ho-ma-cun.
Dusun yang dikatakan oleh kakek Kam Song Ki sebagai desa tempat tinggalnya.
Yap Kiong Lee bertanya kepada salah seorang petani yang sedang mengerjakan sawahnya, dimana gerangan rumah kakek Kam atau yang lebih dikenal dengan Kam Lojin itu?
Dan begitu tahu bahwa rumah tersebut tidak demikian jauh lagi dari tempat itu, Yap Kiong Lee tidak segera meninggalkan tempatnya berdiri.
Sambil beristirahat ia menonton petani itu mengayunkan cangkulnya.
"Ah...pagi yang segar!"
Pemuda itu merentangkan lengannya sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Biarlah aku beristirahat disini sebentar. Kukira mereka juga takkan segera melanjutkan perjalanan ini. Mereka tentu mampir di warung untuk mencari sarapan pagi."
Petani itu meletakkan cangkulnya. Dengan heran ia mengawasi Yap Kiong Lee yang tidak segera meninggalkan tempat itu.
"Tuan mau kemana...?"
Tanyanya ingin tahu.
"Oh! Aku adalah keponakan Kam Lojin yang ingin menjenguk dia. Tapi hari masih demikian pagi, lebih baik aku melepaskan lelah dahulu disini. Boleh, bukan?"
"Ah, tentu...tentu saja boleh."
Petani itu menjawab dengan tersipu-sipu.
"Tapi...tapi harap tuan berhati-hati di dusun kami. Banyak orang di tempat kami yang tak suka kepada orang asing, terutama para anak buah Tan-Wangwe,"
Lanjut orang itu polos.
"Hei, begitukah? Ah, biarlah. Asal aku baik-baik membawa diri, tak mungkin mereka mengganggu aku."
Yap Kiong Lee tersenyum.
"Hei, mengapa paman berhenti mencangkul? Silahkan paman bekerja! Atau...apakah beradanya aku disini telah mengganggu pekerjaan paman?"
"Ah, tidak...tidak!"
Petani itu segera mengambil cangkulnya kembali dan mengayunkannya ke tanah. Yap Kiong Lee tersenyum melihat betapa tanah yang gembur itu amat mudah sekali dicangkul.
"Wah, tanah paman sungguh subur sekali..."
Pemuda itu memuji.
"Oo...bukan...bukan! sawah ini bukan kepunyaanku! Tak seorangpun di seluruh lembah yang mempunyai sawah sendiri. Sejak kedatangan Tan-Wangwe di dusun Ho-ma-cun, seluruh daerah yang ada di lembah sungai ini jatuh dalam cengkeramannya. Eh...eh, maaf...maksudku...maksudku, daerah ini telah dibeli semuanya!"
Dengan wajah ketakutan petani itu memperbaiki kata-katanya yang "terlanjur"
Lepas dari mulutnya tadi.
"Eh? Ada apa paman? Jangan takut, aku bukan kerabat Tan-Wangwe. Aku benar-benar orang asing disini, aku datang dari Kotaraja."
"Ohh...anu...eh...bukan...bukan itu...!"
Petani itu terbelalak, memandang ke arah seberang jalan dengan wajah pucat.
Yap Kiong Lee menoleh dan...matanya ikut terbelalak!
Tampak Tiat-tung Lokai dan Tiat-tung Su-lo berjalan tergesa-gesa ke arah mereka.
Dan ketika pemuda itu memandang kepada si petani lagi, keheranannya semakin tambah memuncak.
Petani itu membuang paculnya dan lari terbirit birit.
"Tidak! Tidak...! aku tidak apa-apa...!"
Jeritnya ketakutan. Belum juga Yap Kiong Lee tahu apa yang sebenarnya terjadi, tiba-tiba dilihatnya Tiat-tung Lokai dan Tiat-tung Su-lo telah berkelebat mengejar petani itu.
"Tangkap dia! Dia tentu mata-mata Tan-Wangwe yang mau melaporkan kedatangan kita."
Ketua Tiat-tung Kai-pang daerah selatan itu berteriak.
Apa dayanya seorang petani dusun biasa melawan jago silat seperti mereka.
Belum juga ada sepuluh meter ia berlari, para pengemis itu telah datang menangkapnya.
Petani itu menggeliat-geliat dan melonjak-lonjak ketakutan, mengira bahwa dia telah ditangkap oleh para pengawal Tan-Wangwe.
"Lepaskan dia!"
Tiba-tiba Yap Kiong Lee membentak.
Agaknya Tiat-tung Lokai telah menduga sebelumnya, bahwa Yap Kiong Lee tentu akan membantu petani itu.
Dari jauh mereka telah melihat kedua orang itu saling berbincang dan bercakap-cakap sebelum mereka datang.
"Pegang dulu orang ini!"
Orang tua itu mendorong si petani kearah Tiat-tung Su-lo.
"Biar kuhadapi temannya yang sombong itu."
Tiat-tung Lokai berdiri menghadapi Yap Kiong Lee.
"Anak muda, kelihatannya kau mempunyai bekal kepandaian juga, sehingga berani membentak kami. Tapi engkau benar-benar akan menyesal nanti, kalau tahu siapa sebenarnya yang kau hadapi kali ini."
"Menyesal? Eh, mengapa saya mesti menyesal? Saya hanya ingin mencegah, agar Lo-Cianpwe tidak menyakiti petani yang tidak tahu apa-apa itu. Aku tahu bahwa Lo-Cianpwe adalah Tiat-tung Lokai yang terkenal itu."
"Ho...jadi kau sudah tahu siapa aku? Kalau begitu kau memang benar-benar bernyali besar. Tapi aku tahu, keberanianmu itu tentu disebabkan oleh karena kau merasa berada di daerah sendiri, hingga sewaktu-waktu kau dapat meminta bantuan teman-temanmu yang berkumpul di tempat Tan-Wangwe."
"Maksud Lo-Cianpwe...?"
"Maksud kami? He-he...maksud kami tetap akan kami laksanakan. Pihak kami juga tidak takut menghadapi kawan-kawanmu yang banyak itu. Harta benda Tan-Wangwe yang tidak halal itu akan tetap kami ambil dan akan kami bagikan kepada para penduduk yang membutuhkan. Nah, kau mau apa?"
"Tapi...tak mungkin rasanya kalau Keh-sim Siauwhiap memberi perintah seperti itu."
Yap Kiong Lee menatap tak percaya.
"Huh, kau tahu apa tentang Keh-sim Siauwhiap?"
Yap Kiong Lee mengusap dagunya yang licin, sementara sepasang matanya menatap kosong ke depan.
Benar, ia membatin.
Ia memang belum mengenal pendekar itu.
Yang ia kenal dan ia ketahui barulah ceritera tentang kesaktian dan sepak-terjang pendekar itu di dunia persilatan.
Meskipun khabarnya pendekar itu suka mengganggu harta benda para hartawan, tapi semuanya dilakukan demi menolong rakyat miskin.
Jadi tak mungkin rasanya kalau pendekar itu sampai memerintahkan anak buahnya untuk merampok.
Masih terngiang-ngiang di dalam telinganya, pesan-pesan yang bernada bersahabat dari pendekar itu tadi malam.
"Ah, Lo-Cianpwe...sudahlah! aku takkan mencampuri urusan Keh-sim Siauwhiap dan Tan-Wangwe. Tapi aku minta dengan sangat agar petani itu dilepaskan!"
Akhirnya pemuda itu mengambil keputusan.
"Kurang ajar! kau bilang tidak akan mencampuri urusan kami, tapi kau meminta agar kami melepaskan tawanan kami. Huh, apa bedanya itu?"
Tiat-tung Lokai berteriak sambil mempersiapkan tongkat besinya.
Tapi Yap Kiong Lee telah berketetapan hati untuk membebaskan petani tersebut, meskipun dalam hati sebenarnya ia tak ingin bentrok dengan mereka.
Apalagi iapun tak ingin berlama-lama di tempat itu.
Maka dia segera mengerahkan segenap kemampuannya, dan sekejap kemudian ia telah bergerak mendahului lawannya!
Tubuhnya yang tegap gagah itu mendadak melenting tinggi ke atas, melampaui kepala Tiat-tung Lokai dengan cepat sekali.
Dan sebelum ia mendaratkan kakinya di dekat Tiat-tung Su-lo yang menjaga si petani, Yap Kiong Lee melontarkan pukulan Thian-lui-gong-ciangnya!
"Bummmm!"
Tanpa ampun lagi keempat orang itu terjengkang ke belakang, dan sebelum semuanya menyadari apa yang terjadi, Yap Kiong Lee telah menyambar si petani dan membawanya ke atas punggung kudanya, dan di lain saat kuda tersebut sudah melompat pergi meninggalkan mereka.
"Kejar dia!"
Begitu sadar Tiat-tung Lokai berteriak marah.
Tapi sebentar saja kuda itu telah hilang dari pandangan mereka, membuat mereka semakin marah dan mendongkol.
Yap Kiong Lee memperlambat langkah kudanya.
Mereka telah memasuki jalan besar yang menjadi jalan utama dusun Ho-ma-cun.
"Tuan...biarlah aku turun di sini saja. Rumahku sudah tidak jauh lagi dari sini,"
Pinta petani itu dengan suara gemetar. Peristiwa tadi benar-benar amat menakutkan bagi dirinya.
"Baiklah, paman, kau pulanglah! Ingatlah, kau tidak perlu takut kepada siapapun! Para pengemis yang menangkapmu tadi bukanlah anak buah Tan-Wangwe, tapi justru orang-orang dari pihak lawan Tan-Wangwe."
Petani itu mengangguk-angguk sambil mengucapkan terima kasih, lalu melangkah pulang dengan cepat sedangkan Yap Kiong Lee segera meneruskan perjalanannya pula.
Perlahan-lahan ia mengendarai kudanya memasuki jantung dusun yang amat ramai itu.
Dilihatnya orang-orang yang berlalu lalang di pinggir jalan dengan seksama, siapa tahu Ceng-ya-kang dan kawan-kawannya berada diantara mereka?
Toko-toko dan warung-warung makanan telah mulai ramai pula dengan pembelinya, sehingga pemuda itu juga harus menambah lagi kewaspadaannya.
Tiba-tiba di depan warung bubur Yap Kiong Lee melihat banyak orang berkerumun.
Oleh karena sangat tertarik, ia membelokkan kudanya kesana.
Siapa tahu orang-orang Bankwi to yang biasa membikin keributan itu ada disana.
Ternyata dugaannya betul.
Begitu masuk ke halaman warung, semua orang telah memperhatikannya.
Dan di dalam warung itu sendiri ia melihat Ceng-ya-kang beserta anak buahnya telah duduk menunggu dia.
Karena sudah terlanjur, maka Yap Kiong Lee juga tidak mau kalah gertak.
Dengan tenang ia memasuki warung tersebut, dan duduk di hadapan Ceng-ya-kang.
* * * "Sudahlah, Yap-Kongcu.
Cerita selanjutnya telah kami saksikan sendiri tadi pagi.
Tak usah engkau melanjutkannya...!"
Tong Ciak memotong ceritera yang dituturkan oleh Yap Kiong Lee.
"Hei, dimana Lo-Cianpwe menyaksikannya?"
Hong-lui-kun Yap Kiong Lee mengerutkan dahinya.
"Ha-ha-ha...! Kami semua berada di halaman warung itu pula, bercampur dengan para penonton yang lain."
Toat-beng-jin tertawa.
"Oleh karenanya kami dapat menyaksikan sepak terjang Yap-Siauwhiap dari awal hingga akhir."
"Cuma yang kami herankan ialah mengapa Yap-Kongcu tidak segera menghentikan perlawanan Ceng-ya-kang, sehingga akibatnya justru Yap-Kongcu sendiri yang menderita rugi. Soalnya menghadapi iblis-iblis beracun yang suka mengobral racun seperti mereka, kita harus lekas-lekas melumpuhkannya. Kalau tidak...nah, justru kita sendirilah yang termakan oleh racun mereka!"
Tong Ciak memberi komentar lagi. Yap Kiong Lee mengangguk.
"Memang benar perkataan Lo-Cianpwe tadi. Tapi...selain iblis itu memang lihai, siauwte memang juga tidak tega untuk membunuhnya. Bagaimanapun juga iblis itu dahulu adalah sahabat dari Kim-sute."
"Eh...ya! lalu bagaimana dengan jam enam pagi besok? Apakah Yap-Kongcu benar-benar akan menemui dia di warung bubur itu lagi?"
Yap Kiong Lee tertawa terbahak-bahak, sehingga Chin Yang Kun dan Souw Lian Cu yang sedari tadi selalu merengut saja menjadi ikut-ikutan tersenyum.
"Ha-ha-ha...mungkin Lo-Cianpwe sudah menduga sejak semula, bahwa perbuatanku itu sebenarnya hanya gertak sambal belaka, agar iblis itu sungguh-sungguh memberikan obat pemunah racunnya yang asli, ha-ha-ha..."
"lalu...?"
Tong Ciak menegaskan.
"Lo-Cianpwe! Guruku tak pernah mempunyai jarum Ulat, apalagi memberikannya kepadaku. Semuanya itu hanyalah karanganku saja, agar dia ketakutan dan benar-benar memberikan obatnya yang asli kepadaku. Ternyata tipu muslihatnya itu memang benar-benar berhasil. Hal itu dapat dibuktikan ketika akar obat yang diberikan kepadaku itu siauwte serahkan kepada Kam Lo-Cianpwe...untuk diperiksa."
"Wah, celaka!"
Tiba-tiba Tong Ciak memekik dengan nada sesal, sehingga sangat mengagetkan teman-temannya yang lain.
"Jadi...jadi Kam Lojin yang selama lebih dari lima tahun kusuruh menunggu rumah ini, sesungguhnya..., adalah Song Ki Lo-Cianpwe yang terkenal itu? Sungguh bodoh dan berdosa sekali aku! Mataku benar benar buta, tak bisa melihat permata di depan hidungku..."
"Loya..."
Terdengar suara halus dan tahu-tahu di ambang pintu telah berdiri seorang kakek tua renta menjinjing keranjang obat-obatan.
Biarpun sudah amat tua, tetapi badannya masih kelihatan kuat dan kokoh.
Dengan pandang mata heran orang tua itu mengawasi tamu-tamunya yang memenuhi ruangan kecil itu.
Lalu dengan hormat kakek sakti itu menjura kepada Tong Ciak, majikannya.
"Loya...!"
Sapanya sekali lagi.
Semuanya bergegas berdiri, tak terkecuali Tong Ciak Cu-si.
Dengan khidmat mereka menghormat kepada orang tua itu, sehingga Kakek Kam yang belum menyadari keadaannya menjadi kaget dan bingung.
"Kam Lo-Cianpwe...! Maaf kami mengganggu ketenangan rumah ini."
Toat-beng-jin yang sudah tua itu membuka suara mewakili teman-temannya.
Kakek tua itu tidak segera menjawab.
Matanya yang sipit tertutup keriput itu berkilat-kilat memandang ke arah Yap Kiong Lee.
Pemuda ahli waris dari perguruan Sin-kun Bu-tek itu segera maju dengan tersipu-sipu.
"Maaf, Lo-Cianpwe. siauwte sudah menceriterakan semuanya kepada mereka."
"Ohh..."
Akhirnya Kam Song Ki menunduk, lalu dengan halus mempersilahkan para tamunya untuk duduk kembali.
"Silahkan! Silahkan cuwi semua duduk! Silahkan Tong Loya!Maaf, aku tak mempunyai tempat duduk yang baik...!"
"Kam Lo-Cianpwe, jangan membuatku malu di depan begini banyak orang. Sekarang siauwte sudah tahu, siapa sebenarnya Lo-Cianpwe. Dan hal itu benar benar membuat siauwte merasa amat malu dan berdosa sekali. Oleh karena itu sekarang tidak ada lagi sebutan Loya atau pelayan penunggu rumah lagi. Yang ada sekarang adalah Tong Ciak dan Kam Lo-Cianpwe!"
Pengurus bagian keagamaan dari lm-yang-kauw itu menyesali kebodohannya.
"Baiklah...baiklah! Sekarang memang sudah saatnya bagiku untuk meninggalkan dunia ini dan mengembara lagi entah ke mana. Sudah terlalu lama aku beristirahat."
"Kam Lo-Cianpwe...!"
Tong Ciak berseru.
"Maaf, Tong-sicu. Aku memang sudah merencanakan hal ini berbulan-bulan yang lalu, bukan karena apa-apa. Sungguh kebetulan Tong-sicu berkunjung kemari, sehingga aku tak perlu mencarimu untuk menyerahkan kembali rumah ini. Dan aku sungguh amat berterima kasih sekali atas kemurahan hati Tong-sicu memberi tempat berteduh padaku."
"Kam Lo-Cianpwe...!"
"Sudahlah, Tong-sicu. Marilah, lebih baik kau perkenalkan tamu-tamuku ini kepadaku!"
"Ba-baik, Kam Lo-Cianpwe!"
Karena merasa tak mungkin dapat lagi menahan maksud orang tua itu, maka Tong Ciak tak ingin mempersulit pula.
Satu-persatu ia memperkenalkan teman temannya.
Ketika ia menyebutkan nama Toat-beng-jin, Kam Song Ki segera menjura dan memotong.
"Ah, kiranya Toat-beng-jin Loheng adanya...Kudengar dalam Aliran Im-yang-kauw terdapat sebuah ilmu yang ditulis dalam lembaran kulit domba, namanya Im-yang Kun-hoat, benarkah?"
"Ah, pengetahuan Lo-Cianpwe sungguh luas sekali. Apa yang Lo-Cianpwe dengar itu memang benar. Tapi ilmu tersebut bukanlah sebuah ilmu yang sangat baik, apalagi jika diperbandingkan dengan Kim-hong Kun-hoat warisan Bu eng yok-ong."
Toat-beng-jin berkata merendah.
"Ah, Toat-beng-jin LoHeng-terlalu merendahkan diri. Padahal mendiang Kim-mou-Sai-ong juga mengakui kehebatan ilmu tersebut. Malah katanya ilmu yang dipelajari oleh datuk besar itu juga bersumber pada lembaran kulit domba tersebut. Bukankah begitu, Tong-sicu?"
Kam Song Ki menoleh dan menanyakan hal itu kepada Tong Ciak.
"Be-benar!"
Terpaksa tokoh bertubuh pendek itu mengiyakan.
"Nah, marilah...! Sebelum aku pergi, aku akan mengobati Yap-Kongcu dahulu."
Tapi ketika terpandang oleh orang tua itu wajah Chin Yang Kun yang pucat, ia menjadi tertegun. Tergesa gesa ia melangkah mendekati si pemuda.
"Eh, kelihatannya Siauw sicu ini sedang menderita luka dalam..."
"Hei! Benar! Mengapa kita sampai melupakannya?"
Sekali lagi Tong Ciak berteriak mengagetkan teman-temannya.
"Wah! Tong Lo-Cianpwe ini mengejutkan orang saja! Ada apa,sih...?"
Souw Lian Cu menggerutu.
"Ah, maaf...maaf! Anu...maksudku..., mengapa kita sampai melupakan bahwa Kam Lo-Cianpwe ini adalah murid mendiang Hu-eng Sin-yokong? Mengapa kita tidak meminta tolong sekalian, agar beliau mau mengobati luka nona Souw dan luka Yang-hiante? bukankah luka itu akan segera sembuh dan tidak usah bertele-tele lagi seperti sekarang?"
"Hmm, betul juga."
Toat-beng-jin mengangguk membenarkan.
Lalu tokoh sakti dari Im yang kauw ini segera mengatakan hal itu kepada Kam Song Ki.
Kam Song Ki juga tidak berkeberatan.
Tapi ketika orang tua itu mencari tahu, siapa yang melukai kedua muda-mudi tersebut, ia menjadi kaget setengah mati.
Jawaban yang ia terima dari Toat-beng-jin sungguh membuatnya tertegun.
Tapi perasaan kaget itu ternyata tidak hanya dimonopoli oleh Kam Song Ki saja.
Diam-diam Souw Lian Cu sendiri juga menjadi terkejut bukan main.
Sebelumnya gadis itu memang tidak tahu atau lebih tepatnya, gadis itu tidak pernah mempedulikan siapa yang melukai pemuda yang dipandang sangat sombong itu.
"Yang melukai saudara ini Hong-gi-hiap Souw Thian Hai? Hah? Dan yang melukai nona itu Pek-i Liong-ong dari Mo kauw?"
Kam Song Ki berseru kaget.
"Benar, Lo-Cianpwe. Mengapa...?"
Tong Ciak menjawab dengan tergesa-gesa. Kam Song Ki menundukkan kepalanya. Beberapa saat kemudian barulah ia menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya.
"Pek-i Liong-ong itu adalah suhengku..."
Jawabnya pelan.
"Ohh...!?!"
Souw Lian Cu yang baru menderita kaget itu tertunduk kehilangan semangat.
Harapan yang semula telah mekar di dalam hatinya kembali hilang begitu tahu si kakek itu adalah sute dari Pek-I Liong-ong sendiri.
Agaknya Kam Song Ki melihat juga kekecewaan yang tersimpul pada wajah gadis cantik itu.
Maka kakek tua itu segera melanjutkan ucapannya.
"Baiklah! Kalau yang melukai Nona Souw itu memang benar suhengku sendiri, malah menjadi kewajibanku untuk mengobatinya. Anggap saja pertolonganku ini sebagai tebusan dari kesalahan suhengku itu."
Demikianlah, hari itu Kam Song Ki benar-benar sibuk sekali.
Seorang diri ia harus mengobati Yap Kiong Lee, Chin Yang Kun dan Souw Lian Cu.
Biarpun tidak semahir gurunya, Bu-eng Sin-yok-ong, tapi kalau Cuma mengobati luka dalam seperti itu ia masih bisa juga.
Ketika senja telah mulai turun, semuanya telah dapat ia selesaikan.
Yang Kun dan Souw Lian Cu masih harus beristirahat di atas pembaringan sampai besok pagi, sementara Yap Kiong Lee sudah bebas untuk pergi kemana mana.
Malam itu semuanya terpaksa menginap di dalam rumah induk serta membersihkannya.
Lumayan buat tidur mereka.
"Tadi malam aku seperti mendapat firasat bahwa Tong-sicu akan berkunjung kemari. Itulah sebabnya setelah ikut membantu membereskan akibat kerusuhan di pesta pengantin, aku langsung pulang kemari. Untung badan yang telah rapuh ini masih kuat juga untuk berlari."
Kam Song Ki berceritera sebelum mereka berangkat tidur.
"Ah, Lo-Cianpwe ini suka benar bergurau."
Tong Ciak segera memotong perkataan kakek itu.
"Siapakah orangnya di dunia ini yang mampu berlari lebih kencang daripada Lo-Cianpwe? Sedangkan Bit-bo-ong yang mahir Bu eng Hweteng saja tak mampu mengejar, apalagi yang lain!"
"Benar...! siauwte yang berangkat lebih dulu dan...naik kuda, toh masih tetap kalah cepat juga."
Yap Kiong Lee tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Wah, Yap-KongCu-sih...anak muda, suka mampir mampir!"
Kam Song Ki membantah dengan nada bergurau. Semuanya tertawa, sampai cangkir teh yang dipegang oleh Toat-beng-jin miring tak terasa, dan isinya tumpah membasahi jenggotnya putih panjang itu.
"Eeeh?!"
Tiba-tiba Kam Song Ki menjadi bersungguh sungguh.
"Toat-beng-jin Loheng, siapa sebenarnya kedua anak muda itu? Maksudku asal usulnya...?"
"Maksud Lo-Cianpwe...kedua anak muda yang terluka dalam itu? Ah, mengapa Lo-Cianpwe bertanya demikian? Apakah Lo-Cianpwe sudah mengenal mereka?"
Kam Song Ki menggeleng dengan cepat.
"Bukan! Bukan itu yang kumaksudkan,..."
"Lalu...? Ooh...maaf Lo-Cianpwe. Kalau Lo-Cianpwe bertanya tentang asal usul kedua anak muda itu..., hem...sungguh menyesal kami juga tidak tahu. Mereka selalu menyembunyikan keadaan mereka selama ini."
"Uh, heran! Mengherankan benar!"
Kam Song Ki mengetuk-ngetuk dahinya.
"Kam Lo-Cianpwe? Ada apa dengan mereka?"
Yap Kiong Lee menjadi heran juga melihat kelakuan orang tua itu.
"Begini. Tadi ketika aku memeriksa denyut nadi Nona Souw, aku menemukan suatu keanehan pada sistim peredaran darahnya. Bahagian kanan dan bahagian kiri dari tubuhnya sama sekali berbeda tekanannya. Bahagian kanan, tekanan darahnya Iebih kuat dan alirannya juga lebih cepat dari pada yang sebelah kiri. Sehingga ketika kusuruh mengerahkan tenaga, anggota badannya yang sebelah kanan amat panas, sementara yang sebelah kiri amat dingin. Ketika secara sambil lalu kutanyakan asal usulnya, dia diam saja dan...meneteskan air mata!"
Kakek itu menghentikan kata-katanya sebentar untuk melihat kesan para pendengarnya, sesaat kemudian baru ia melanjutkan perkataannya.
"Loheng, Tong-sicu...kelihatannya gadis itu memendam sebuah rahasia tentang kesedihan yang sangat mendukakan hatinya. Padahal kalau melihat tenaga dalamnya yang aneh tadi, terang kalau dia bukan orang sembarangan. Paling tidak tentu keturunan atau anak murid orang sakti!"
"Menurut penuturannya sendiri tadi pagi, dia tinggal bersama Keh sim Siauwhiap di Pulau Meng-to. Mungkin juga dia adalah murid atau keluarga dari pendekar yang amat terkenal itu?"
Tong Ciak menduga-duga.
"Mungkin betul juga dugaan Tong Lo-Cianpwe itu."
Yap Kiong Lee mengangguk-angguk.
"Apakah Lo-Cianpwe tidak memperhatikannya ketika aku sedang bercerita panjang lebar pagi tadi? Hmm..., kulihat wajahnya berubah hebat ketika siauwte mulai menyebut nama Pantai Karang yang merupakan pintu gerbang penyeberangan ke Pulau Meng-to. Beberapa kali kulirik wajah gadis itu kelihatan sedih mendengarkan ceritaku."
Kam Song Ki cepat-cepat mengangkat dan menggerak gerakkan tangannya tanda tak setuju.
"Tidak! Tidak! Eh...anu, maksudku dia bukan murid atau keluarga dari Keh-sim Siauwhiap. Bukan..."
Katanya sedikit ragu-ragu.
"Maksud Kam Lo-Cianpwe? Apakah Lo-Cianpwe mengenal Keh-sim Siauwhiap dan keluarganya?"
Yap Kiong Lee bertanya heran.
"Ya...ya...aku sangat mengenalnya."
"Hah? Tapi gadis itu memang benar-benar mengenal anak buah Keh-sim Siauwhiap. Tadi pagi dia saling menyapa dengan Tiat-tung Lokai...Dari pembicaraan mereka dapat ditarik kesimpulan bahwa gadis itu memang tinggal di pulau itu."
"Entahlah! Tapi aku yakin bahwa Keh-sim Siauwhiap tak punya hubungan apa-apa dengan gadis itu."
Kam Song Ki juga merasa heran. Hening sejenak. Masing-masing berpikir dan menduga-duga di dalam hati sendiri.
"Hmm. kalau begitu memang penuh rahasia dan sangat aneh asal-usul gadis itu."
Toat-beng-jin menghela napas.
"Jadi...jadi hal itukah yang membebani perasaan Kam Lo-Cianpwe tadi?"
"Benar! Tapi tidak cuma itu saja..."
"Maksud Lo-Cianpwe?"
"Seperti sudah kita ketahui tadi bahwa keadaan gadis itu sangat aneh dan penuh rahasia, bukan? Tapi ternyata...pemuda itu jauh lebih aneh dan mengerikan lagi dari pada keadaan gadis itu!"
"Maksud Lo-Cianpwe...saudara Yang Kun?"
"Ya!...Keadaan tubuh pemuda itu benar-benar sangat aneh dan mengerikan. Darahnya sangat beracun. Racun asli dari tubuhnya, bukan karena terkena racun dari luar! Aneh sekali, bukan? Masa ada manusia beracun di dunia ini?"
Orang tua itu kelihatan sangat heran dan penasaran.
"Padahal ketika kuperiksa...tenaga saktinya hebat bukan main! Mungkin orang-orang tua seperti kita yang telah bergelut dengan ilmu silat selama puluhan tahun, masih harus pikir pikir dulu kalau bentrok dengan dia! Sungguh!"
"Apakah Lo-Cianpwe juga menanyakan pada dia tentang asal-usulnya?"
Tong Ciak yang sedikit banyak telah mengenal keadaan Yang Kun itu bertanya.
"Ya! Tapi seperti juga dengan gadis itu, ia tidak mau mengatakannya. Dia cuma mengatakan bahwa dia sudah tak mempunyai keluarga lagi. Seluruh keluarga dan kerabatnya telah habis dibantai orang."
"Memang demikian juga yang dia katakan kepada kita..."
Toat-beng-jin mengiyakan.
Semuanya terdiam kembali.
Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri.
Yap Kiong Lee tampaknya ingin bertanya tentang sesuatu hal kepada Kam Song Ki, tapi melihat orang tua itu seperti sedang memikirkan sesuatu, hatinya menjadi ragu-ragu.
Sebenarnya Yap Kiong Lee ingin menanyakan, siapa sebenarnya Keh-sim Siauwhiap itu.
Mengapa pendekar itu kelihatannya telah mengenal dia?
Apakah hubungannya pendekar itu dengan Kam Song Ki?
Tapi semua pertanyaan itu tak kunjung keluar dari mulutnya, sehingga pertemuan itu bubar cuma bergulung-gulung saja dalam hatinya.
"Besok saja kalau ada waktu Iuang akan kutanyakan..."
Pemuda itu berkata di dalam hati. Tapi esok paginya orang tua itu telah pergi! Di atas pembaringannya dia meninggalkan pesan bahwa ia akan berkelana kembali menurutkan langkah kakinya.
"Orang seperti Kam Lo-Cianpwe itu memang takkan betah tinggal terlalu lama di suatu tempat. Padahal usianya sudah lebih dari delapan puluh tahun. Tapi karena pandai ilmu pengobatan dan kepandaiannya sangat tinggi, maka tubuhnya masih kokoh kuat untuk berkelana kemana saja."
Tong Ciak berkata seperti kepada dirinya sendiri.
Toat-beng-jin dan Yap Kiong Lee yang berada di sampingnya tidak menyahut.
Keduanya hanya berdiam diri saja, seolah menyesalkan kepergian orang tua yang terlalu cepat itu.
"Lalu...apa rencana kita sekarang, Tong Cusi?"
Algojo tua dari Im-yang-kauw itu akhirnya membuka mulut.
"Tentu saja pulang ke Gedung Pusat. Masalahnya sekarang cuma kedua anak muda itu ikut kita lagi atau tidak? Mereka sudah sembuh dan tidak membutuhkan pertolongan kita lagi,"
Tong Ciak menjawab.
"Lalu bagaimana dengan rencana kita untuk menarik dia ke perkumpulan kita itu?"
Tong Ciak menghela napas.
"Lojin-ong, apa gunanya kita memaksa kalau dia sendiri tak mempunyai minat sama sekali kepada aliran kita? Kita tak usah tergesa gesa. Biarlah dia berpikir dan menentukan pilihannya sendiri. Sekarang hatinya masih diliputi dendam, sehingga tak mempunyai waktu untuk memikirkan masalah yang lain. Kita nantikan saja perkembangannya kelak setelah hatinya menjadi dingin kembali. Pokoknya kita berdua telah menanamkan pengertian dalam dadanya, macam apa Aliran Im-yang-kauw kita."
"Wah, Tong Cusi benar. Memang tak ada gunanya kita memaksakan kehendak kita!"
Kedua orang tokoh lm-yang-kauw itu lalu mempersiapkan segala sesuatunya sebelum mereka berangkat. Sementara Yap Kiong Lee juga bersiap-siap untuk meninggalkan tempat itu bersama kudanya.
"Yap-Kongcu hendak pergi kemana?"
Tong Ciak mendekati Yap Kiong Lee yang sedang sibuk membenahi kudanya.
"Menemui Ceng-ya-kang dulu di warung Hao Chi."
"Hahaha...!"
Tong Ciak yang jarang-jarang tertawa itu terkekeh kekeh geli.
"Maksudku...setelah Yap-Kongcu menemui dia?"
"Entahlah, Lo-Cianpwe. Mungkin ke Pantai Karang..."
Akhirnya Yap Kiong Lee berangkat mendahului yang lain. Kudanya yang tegar itu melangkah pelan ke jalan besar, menuju ke bekas Warung Hao Chi.
"Tong Lo-Cianpwe..., pergi ke manakah Yap-Twako tadi?"
Tiba-tiba Souw Lian Cu keluar dan mendekati Tong Ciak Cu-si.
"Ooh, Nona Souw...Sudah baikkah kesehatanmu? Syukurlah! Anu...Yap-Kongcu telah berangkat meneruskan perjalanannya."
Tokoh bertubuh pendek itu menerangkan.
Matanya yang tajam itu menatap wajah gadis di depannya lekat-lekat, agaknya ingin menjenguk isi hati gadis yang sangat misterius itu.
Souw Lian Cu tidak menyadari kalau sedang diperhatikan orang.
Matanya yang bulat indah itu menatap redup dan kosong ke depan, ke arah mana Yap Kiong Lee tadi pergi.
Wajahnya pucat dan rambutnya kusut.
Meskipun demikian kecantikannya yang khas dan masih asli itu ternyata tidak menjadi surut, tapi justru semakin tampak menonjol malah.
"Lo-Cianpwe, di manakah Kam Lo-Cianpwe? Apakah dia masih tidur?"
"Dia sudah pergi, nona. Dia meninggalkan rumah ini sebelum kita semua bangun."
Toat-beng-jin keluar menghampiri mereka. Tangannya menjinjing buntalan.
"Ooh...?!"
Gadis itu terhenyak.
"Siauwte belum mengucapkan terima kasih padanya."
"Ah...tak perlu, nona. Bagi Kam Lo-Cianpwe mengobati orang itu sudah ia anggap sebagai kewajibannya."
Toat-beng-jin tersenyum.
"Lalu apa rencana nona sekarang? Pulang atau terus ikut kami? Sekarang kami tidak bisa memaksa lagi, karena nona sekarang sudah sembuh."
"Benar, Nona Souw...Engkau sudah sembuh sekarang, dan tidak memerlukan lagi pengobatan kami. Nona kini bebas untuk menentukan tujuan nona..."
Tong Ciak ikut memberi keterangan.
"Baik, Lo-Cianpwe! siauwte memang bermaksud untuk pergi pula sekarang. siauwte ingin lekas-lekas pulang ke Pulau Meng-to. Tapi lebih dulu terimalah rasa terima kasih siauwte yang sebesar besarnya atas budi baik Lo-Cianpwe berdua, yang sudi merawat siauwte sehingga siauwte masih bisa hidup sampai sekarang."
Gadis itu menekuk kedua kakinya dan berlutut di depan Tong Ciak dan Toat-beng-jin.
"Hai! Hai! Bangunlah...!"
Tergopoh-gopoh Tong Ciak membangunkan si gadis.
"Terima kasih Jiwi Lo-Cianpwe, siauwte mohon permisi..."
Tanpa menantikan keluarnya Chin Yang Kun lagi, Souw Lian Cu meninggalkan rumah bersejarah tersebut.
Toat-beng-jin dan Tong Ciak mengawasinya sampai hilang dari pandangan mereka.
Sebenarnya banyak hal-hal yang ingin mereka ketahui dari gadis itu, tapi keduanya enggan untuk menanyakannya, khawatir akan melukai perasaan gadis yang sangat aneh tersebut.
"Seorang gadis yang aneh! Siapakah sebenarnya dia?"
Tong Ciak bergumam.
Sementara itu Chin Yang Kun juga sudah bangun pula.
Sambil mengucak-ucak matanya pemuda itu melompat dari tempat tidurnya.
Tubuhnya terasa amat enteng dan segar.
Dadanya tak terasa sesak dan sakit lagi.
Dan ketika ia mencoba mengerahkan tenaga saktinya, semuanya berjalan baik dan lancar.
Malah rasanya lebih baik lagi dari pada dahulu.
Sinar matahari telah menerobos lobang-lobang jendelanya.
Di atas meja kecil di dekat pembaringan telah tersedia pula secangkir teh.
"Wah...terlambat bangun aku rupanya!"
Yang Kun berkata perlahan.
Chin Yang Kun berdiri tegak di tengah ruangan.
Kedua lengannya ia silangkan di depan dada.
Berkonsentrasi.
Dia ingin mencoba Liong cu-i-kang dan Kim-coa ih-hoatnya!
Apakah semuanya sudah lancar kembali seperti dahulu?
Sekejap kemudian mulutnya berdesis seperti ular merah.
Dan sesaat kemudian hawa dingin meniup dari dalam perutnya, menebar memenuhi ruang tidur yang besar itu.
Makin lama udara dingin itu semakin bertambah menggigilkan, sehingga cangkir teh yang berada di atas meja itu seperti bergetar dan menguapkan asap.
"Ah, ternyata tenagaku benar-benar sudah pulih kembali. Kini akan kucoba mengerahkan kim coa ih-hoat...!"
Yang Kun menarik kaki kirinya lurus ke belakang, sementara kaki kanannya tetap berada di tempatnya.
Cuma kaki kanan itu ia tekuk ke bawah, agar lebih kuat untuk menyangga tubuhnya.
Kedua lengannya tetap ia silangkan di depan dada.
Kemudian matanya yang telah berubah tajam mencorong itu menatap ke depan, ke arah jendela yang jaraknya sekitar tiga meter dari tempatnya berkonsentrasi.
Tiba-tiba...
"Hiyaaaaaat!"
Telapak tangan kiri pemuda itu tiba-tiba terayun deras ke depan, menimbulkan desiran suara angin yang mendesis.
"Wuuuuusss...!"
Tapi anehnya, meski lengan itu telah terulur penuh ke muka, telapak tangan itu masih tetap saja meluncur jauh ke depan, menjangkau kancing jendela serta membukanya.
Padahal jarak jendela itu tidak kurang dari tiga meter jauhnya!
Jilid 18
"Oh"
Bukan main segarnya udara pagi...!"
Yang Kun berseru sambil menghirup udara segar yang masuk dari jendela yang baru saja dibukanya.
"Wah...dan bukan main pula hebatnya ilmu Yang-hiante tadi!"
Toat-beng-jin dan Tong Ciak Cu-si yang telah berdiri di ambang pintu itu memuji.
"Sudah sehat benarkah kau, Yang-hiante?"
"Ah, Jiwi Lo-Cianpwe! Jiwi tentu telah menyaksikan permainan siauwte yang jelek tadi, bukan?"
"Hei! Siapa berani bilang jelek? Oh, kalau ilmu seperti itu masih juga dikatakan jelek...hmm, orang itu tentu buta! Hehehe..."
Toat-beng-jin menggoyang-goyangkan tangannya.
"Lo-Cianpwe...? Mana yang lain?"
Yang Kun mengalihkan pembicaraan yang tak mengenakkan hatinya itu.
"Sudah berangkat semua. Tinggal kita ini..."
Tong Ciak tersenyum.
Tapi Chin Yang Kun tidak ikut tersenyum.
Pemuda itu justeru tertegun.
Tiba-tiba seperti ada yang hilang di dalam dadanya.
Bergegas tubuhnya meloncat keluar, menjenguk ke setiap kamar yang malam tadi dipakai oleh Kam Song Ki, Yap Kiong Lee dan..., Souw Lian Cu!
Di kamar yang terakhir ini ia terpaku untuk beberapa lama, seolah-olah dunia ini menjadi sunyi dengan mendadak.
"Yang-hiante, engkau mencari siapa? Ada apa...?"
Toat-beng-jin yang tua itu datang menghampiri.
"Ah, Lo-Cianpwe...mengapa mereka tak pamit kepadaku?"
Desah Yang Kun lesu.
"Pamit? Eh...oh...anu, mungkin mereka segan untuk membangunkan Yang-hiante."orang tua itu memandang heran. Mengapa mesti pamit segala? Bukankah mereka sama sama tamu di rumah itu? Dan bukankah mereka itu bukan saudara atau sahabat akrab satu sama lain? Mengapa pemuda ini merasa kecewa tak dipamiti oleh mereka? Sungguh aneh sekali! Dipandang begitu rupa oleh Toat-beng-jin, membuat Chin Yang Kun segera sadar akan kejanggalan dirinya. Maka dengan kikuk pemuda itu cepat cepat memperbaiki kekeliruannya.
"Anu...eh, maksud siauwte...siauwte belum sempat berterima kasih kepada...kepada Kam Lo-Cianpwe,"
Katanya gagap.
"Ooh, tak usahlah. Mungkin bagi Kam Lo-Cianpwe hal seperti itu cuma dia anggap sebagai kewajiban saja."
Toat-beng-jin membesarkan hati Yang Kun.
"Tapi...Siauwte juga akan berangkat saja sekarang. Terima kasih atas bantuan dan budi Jiwi Lo-Cianpwe, yang mau bersusah susah merawat siauwte sehingga siauwte sekarang dapat sehat kembali. Pada suatu saat nanti siauwte akan berkunjung ke tempat Lo-Cianpwe untuk minta sedikit ilmu kepandaian."
"Ah, jangan bergurau! Mana mampu harimau memberi pelajaran kepada naga. Tapi meskipun demikian aku selalu berharap akan kedatangan Yang-hiante di Gedung Pusat kami."
"Tong Lo-Cianpwe! Toat-beng-jin Lo-Cianpwe! siauwte mohon diri..."
Chin Yang Kun berlutut di depan mereka sebentar, untuk menyatakan rasa terima kasihnya.
Dan sebelum kedua tokoh Im-yang-kauw itu datang membangunkannya, Chin Yang Kun telah melesat pergi dengan cepat sekali.
Sebentar saja telah lenyap dari pandang mata orang tua itu.
"Anak-anak muda sekarang banyak yang berwatak aneh!"
Sekali lagi Tong Ciak bergumam. Toat-beng-jin tersenyum.
"Mungkin watak Tong Ciak Cu-si dulu juga takkan kalah anehnya!"
Orang tua itu memberi komentar sambil pergi membawa buntalannya.
* * * Seperti orang bingung Chin Yang Kun berjalan bolak-balik mengitari dusun Ho-ma cun yang besar dan ramai itu.
Di dalam hatinya Chin Yang Kun berharap semoga dapat berjumpa dengan Souw Lian Cu.
Tetapi sampai matahari naik sepenggalan, gadis yang dia harapkan itu tetap tak diketemukannya.
"Betul-betul goblog! Mengapa aku tadi lupa bertanya kepada Tong Ciak Cu-si, kemana sebenarnya tujuan gadis itu?"
Sesal Chin Yang Kun di dalam hati.
Akhirnya bosan juga Chin Yang Kun berjalan kian kemari.
Dengan tubuh Iemas dan pikiran lesu, pemuda itu menjatuhkan dirinya di bawah pohon Pek yang tumbuh lebat di pinggir sungai.
Dipilihnya sebuah batu besar yang bagian bawahnya terendam aliran sungai.
Sambil merenungi bayangan wajahnya yang terpantul di atas permukaan air, Chin Yang Kun mencoba untuk mengenang kembali saat-saat dia berkumpul dengan Souw Lian Cu.
Perkenalan mereka belumlah dapat dikatakan lama, kalau toh hubungan mereka selama itu boleh disebut berkenalan.
Soalnya, meskipun mereka setiap hari selalu makan minum bersama, berjalan bersama dan menghadapi bahaya bersamasama, tetapi mereka tak pernah berbicara atau saling menyapa satu sama lain.
Mereka berdua lebih cenderung untuk saling menghindari dan saling membenci.
Tapi sebenarnya Chin Yang Kun tidak merasa membenci Souw Lian Cu.
Di dalam hati kecilnya, pemuda itu justru merasa suka dan bersimpati.
Tetapi"
Gadis itulah yang membenci Chin Yang Kun dan selalu menghindarinya!
Sehingga lambat laun timbul juga perasaan tak puas di hati Yang Kun.
Akibatnya, pemuda itu sering kali balas menggoda dan membuat dongkol Souw Lian Cu.
Tapi sebenarnya hal itu dilakukan oleh Chin Yang Kun hanya sekedar untuk membalas perlakuan Souw Lian Cu kepadanya.
"Ah! Gila! Tak seharusnya aku terlalu memikirkan gadis cacat itu. Aku bertemu dengan dia baru beberapa hari yang lalu. Aku belum mengenalnya dengan baik. Ya kalau dia orang baik-baik, kalau tidak? Ya kalau dia masih perawan, kalau sudah bersuami atau bertunangan? Aaaah...!"
Chin Yang Kun berdesah berulang-ulang.
Chin Yang Kun bangkit berdiri.
Dilihatnya matahari telah naik tinggi.
Beberapa buah perahu nelayan telah mulai berdatangan kembali dari tempat pekerjaan mereka.
Mereka merapat kembali ke bandar mereka untuk beristirahat siang.
"Hah, aku harus dapat melupakannya. Harus! Urusanku sendiri masih sangat banyak, tugas yang diberikan oleh mendiang ayah dan paman-pamanku masih bertumpuk. Aku harus segera menyelesaikannya!"
Akhirnya Chin Yang Kun menetapkan keputusannya.
Dibuangnya segala macam pikiran yang memberatkan dirinya itu jauh-jauh.
Kini dengan dada sedikit lapang Chin Yang Kun berjalan menyusuri sungai itu.
Sambil melangkah pemuda itu membuat rencana.
Pertama tama ia harus mencari para pembunuh keluarganya.
Yang kedua, ia harus mencari Cap Kerajaan yang ternyata diperebutkan oleh banyak orang pula.
Ketiga, dan ini yang paling memberatkan perasaan hati Yang Kun, yaitu menegakkan kembali Dinasti Chin!
Tugas yang ketiga ini yang selalu ditekankan oleh ayahnya dan juga kemudian oleh nenek buyutnya, benar-benar sangat berat untuk dilaksanakan oleh Chin Yang Kun.
Pemuda itu sedikitpun tak mempunyai minat untuk menjadi penguasa, apalagi menjadi raja.
Sejarah keluarganya yang bergelimang dalam kancah permusuhan, perebutan pengaruh dan kekuasaan, yang akhirnya justru memusnahkan mereka sendiri itu benar-benar sangat dibencinya.
Pemuda itu lebih suka hidup tentram dan damai sebagai rakyat biasa.
"Ah, tugas yang terakhir itu biar kupikir nanti sajalah..."
Pemuda itu menghela napas.
"Sekarang yang mula-mula harus kulakukan adalah mencari para pembunuh itu! Dan lobang yang harus aku masuki, agar dapat bertemu dan mendapatkan mereka adalah...Ceng ya kang! lblis itulah satu-satunya petunjuk yang kuperoleh."
Mengingat nama Ceng-ya-kang pemuda itu Iantas teringat pada ceritera Yap Kiong Lee.
Dan begitu mengingat ceritera Yap Kiong Lee, Yang Kun juga lantas teringat pula ceritera sahabatnya, Chu Seng Kun!
Menurut ceritera Yap Kiong Lee kemarin, iblis gundul itu menjadi anggota sebuah kelompok yang bermaksud akan menggulingkan kekuasaan Kaisar Han.
Kelompok itu dipimpin oleh seorang aneh bernama Hek-eng-cu.
Dan menurut cerita dari Chu Seng Kun, orang berkerudung hitam ini sudah bersiap diri menyusun sebuah kekuatan besar yang ditempatkan di mana-mana.
Dalam ambisinya untuk menjadi Kaisar, tokoh misterius itu juga telah berusaha untuk mendapatkan pusaka Cap Kerajaan.
Jadi kemungkinan besar memang kelompok itulah yang dimaksudkan oleh ayah dan paman-pamannya.
Sebuah kekuatan besar yang memusuhi keluarganya dan mau merampas Cap Kerajaan, Chin Yang Kun berkata di dalam hati.
"Kini sudah terang bagiku, siapa lawan yang mesti kuhadapi."
Yang Kun melangkah sambil menggeram. Tangannya meraih sebatang ranting kemudian meremasnya hingga hancur, lalu dibuangnya ke sungai.
"Kecopakk!"
"Eeii...kurang ajar! Mengintip orang sedang mandi, kau yaa"...?"
"Haah?!??"
Chin Yang Kun terperangah, lalu cepat-cepat menghindar ketika dilihatnya seorang wanita muda sedang merendam diri di tepian sungai yang dangkal.
Tapi belum juga pemuda itu sempat melangkah lebih jauh lagi, dari atas pohon tiba-tiba meloncat turun seorang Iaki-laki tampan menghadang di depannya.
Pakaian orang itu sangat baik dan bersih, sementara wajahnya yang tampan itu juga dirawat dengan baik.
Terlalu baik malah, sehingga berkesan sebagai seorang yang sangat pesolek.
Usianya sudah tidak muda lagi, tapi matanya masih bersinar nakal dan genit.
"Ahaa...pengintip perempuan yang goblog! Tidak begitu caranya mengintip wanita yang sedang mandi! Hahaha...kau ini benar-benar pemuda canggung yang masih ingusan!"
Datang-datang orang itu sudah mengolok-olok Chin Yang Kun. Tentu, saja Chin Yang Kun menjadi marah.
"Aku tidak mengintip!"
Bentaknya keras. Tapi orang itu justru tertawa semakin terpingkal-pingkal. Apalagi ketika tampak olehnya wajah Chin Yang Kun yang merah padam.
"Hoho, tidak usah malu. Aku dulu juga begitu. Ketika mengintip yang pertama kalinya, aku juga ketahuan tetanggaku, hoho...Aku menjadi malu bukan main, saking maluku, aku jadi mata gelap! Kubunuh tetanggaku yang sial itu!"
"Keparat! Aku tidak sekotor pikiranmu!"
Chin Yang Kun benar-benar naik pitam.
Tangannya diulur ke depan untuk mencengkeram baju orang bermulut kotor itu.
Ternyata orang itu juga gesit sekali.
Tubuhnya berputar tiga kali ke kanan, dan serangan Yang Kun menemui tempat kosong.
"Hohoho...ternyata engkau juga kalap seperti aku dulu. Hanya sayang yang kau ketemukan sekarang bukan tetanggaku itu, tapi seorang hantu pencabut nyawa, hehe...!"
"Aku tidak peduli hantu atau bukan, tapi kalau kau tak mencabut kata-katamu yang kotor itu, kau akan kulempar ke dalam sungai!"
Yang Kun memukul dengan tangan kiri ke arah kepala.
Lagi-lagi orang itu mengelak dengan berjongkok.
Cuma kali ini dia tidak tinggal diam dan membiarkan dirinya diserang terus-menerus oleh Yang Kun.
Mendadak dari bawah orang itu menotok jalan darah tia-teng-hiat di ketiak Yang Kun.
Bersamaan dengan itu dari mulutnya juga menyembur asap putih bergulung gulung, persis seorang perokok yang menyemburkan asap dari pipanya.
Chin Yang Kun meloncat ke belakang, sehingga totokan dan semburan asap itu luput dan tak mengenai dirinya.
Meskipun demikian hati pemuda itu menjadi kaget juga.Ternyata lawannya seorang yang berwatak licik dan berbahaya.
Sekilas tercium bau yang memabokkan pada asap tadi.
Orang itu tidak mengejar Chin Yang Kun.
Sambil tertawa dia menimang-nimang sebuah hun-cwe (pipa tembakau) panjang yang berasap pada ujungnya.
"Haa...kau terkejut?"
Katanya.
Sikapnya sangat memandang rendah sekali.
Diam-diam Chin Yang Kun mengerahkan Liong-cu i-kangnya, sehingga tulang-tulang di badannya terdengar berkerotokan.
Sekejap orang yang memegang huncwe itu mengerutkan dahinya, lalu melangkah setindak ke belakang ketika tiba-tiba dirasakannya ada hawa dingin yang menghembus ke arah dirinya.
Senyumnya hilang.
Dengan perasaan tegang ia menatap Chin Yang Kun.
"Hah!"
Sambil membentak Yang Kun memukul ke perut lawan.
la mengerahkan sepertiga dari seluruh tenaga saktinya.
Perbawanya sungguh menggiriskan.
Untunglah orang itu telah bercuriga sejak tadi.
Maka begitu Chin Yang Kun memukul dengan disertai hembusan angin dingin, cepat-cepat ia menjejakkan kakinya ke atas tanah.
Tubuhnya segera melayang tinggi keatas melewati kepala Chin Yang Kun.
Sambil melayang tak lupa orang itu menyedot pipa huncwenya, dan kemudian sebelum kakinya turun di belakang Chin Yang Kun, pipa tembakau yang panjang itu menyabet ke arah tengkuk lawannya.
"Wuuut!"
Chin Yang Kun melangkah setindak ke depan, sehingga sabetan pipa itu melayang lewat, kemudian tubuhnya berputar dengan cepat.
Berbareng dengan mendaratnya kaki lawan di atas tanah, Chin Yang Kun mengirim pukulan lagi ke arah pinggang!
Sekali lagi pemuda itu cuma mengerahkan sepertiga dari tenaga saktinya.
Sebenarnya orang itu dapat mematahkan serangan Chin Yang Kun dengan menarik sikunya ke belakang.
Tapi orang itu ternyata tak mau melakukannya.
Sekali lagi dia tak mau adu tenaga dengan membenturkan siku itu ke arah pukulan Yang Kun.
Orang itu benar-benar berhati-hati sekali, sehingga akhirnya justru Chin Yang Kun yang menjadi kesal dan tak sabar.
Maka ketika dengan tubuh miring orang itu meloncat menjauh, Yang Kun cepat mengerahkan Kim-coa ih-hoatnya.
"Haiiit!"
Lengan itu bertambah panjang sejengkal jauhnya, sehingga lawan yang merasa telah terbebas dari jangkauan Yang Kun itu menjadi kaget setengah mati!
Ternyata pukulan yang telah dihindari itu masih saja mengejarnya!
Dengan muka pucat orang itu bergegas melangkah Iagi ke belakang.
Tapi sungguh hampir pingsan rasanya ketika lengan itu masih saja mengikutinya!
Hampir saja orang yang bersenjata huncwe itu berteriak.
Tapi sebelum ada suara yang keluar dari mulutnya, tubuhnya telah terangkat ke atas, dan di lain saat badannya telah terlempar ke dalam sungai.
"Byuuuur!"
"Hei, ada apa di sini? Apakah yang terlempar ke arah sungai tadi? Apakah...oohh, kau! Tukang ngintip...!"
Tiba-tiba seorang wanita bermuka cantik dan manis datang menghampiri Chin Yang Kun.
Pakaiannya berwarna hitam, rambutnya disanggul tinggi seperti seorang puteri Istana.
Usianya mungkin sudah lebih daripada tiga puluh tahun, tapi oleh karena selalu dirawat dengan baik, maka kelihatannya seperti seorang gadis remaja saja.
Chin Yang Kun mengenali wanita yang baru saja tiba itu sebagai wanita yang tadi dilihatnya sedang berendam di dalam sungai.
Mengingat wanita itu yang membikin gara-gara hingga ia sampai berkelahi dengan seseorang, maka Chin Yang Kun segan untuk melayani.
Tanpa mengeluarkan perkataan sepatahpun ia melesat pergi meninggalkan tempat itu.
"Tunggu!"
Wanita ini berkelebat cepat mendahului Chin Yang Kun dan menghadang di mukanya. Terpaksa pemuda itu berhenti melangkah. Ditatapnya wanita cantik itu dengan seksama.
"Maaf, apa maumu? Mengapa menghentikan langkahku?"
Yang Kun bertanya dengan suara kaku.
"Hei, mengapa malahan engkau yang menjadi marah? Seharusnya akulah yang menjadi marah. Engkau mengintip aku, lalu kawanku yang menegurmu kau lemparkan ke dalam sungai, bagaimana ini? Apakah kau mau main pukul dan ingin mau menang sendiri?"
"Huh! Siapa yang mengintip engkau? Jangan terlalu sombong dan besar perasaan!"
"Apa? kau maki aku sombong? kau maki aku besar perasaan? Kurang ajar! kau memang layak diberi pelajaran...!"
Wanita itu berseru marah.
Telapak tangannya menampar ke arah pipi Chin Yang Kun.
Tapi dengan mudah pemuda itu mengelakkannya, lalu tubuhnya melejit ke samping dan berusaha lari meninggalkan tempat itu.
Tapi wanita itu tak mau melepaskannya begitu saja.
Dengan lincah ia mengejar.
Lalu dari belakang, tangan kanannya menghantam ke arah punggung Chin Yang Kun.
Chin Yang Kun terpaksa meloncat ke kiri.
Tapi secara tak terduga kaki lawannya melayang ke atas, menghantam ke selangkangannya, sehingga akibatnya Chin Yang Kun terpaksa berjungkir balik ke belakang lagi.
Dan belum juga kakinya berdiri tegak, wanita itu sudah mengejar pula dengan tendangan berantainya.
Mau tak mau Chin Yang Kun terpaksa mengelak mundur lagi.
Repotnya bukan main!
Kini Chin Yang Kun benar-benar hilang kesabarannya!
"Berhenti!
Atau...kulempar pula kau ke sungai!"
Pemuda itu menghardik.
"Eee, mengancam...? Coba saja kalau mampu!"
"Siau-kwi...! Berhenti!"
Tiba-tiba orang yang tercebur ke dalam sungai tadi muncul dan berteriak ke arah wanita itu. Wanita cantik yang dipanggil dengan nama Siau kwi itu benar-benar mematuhi perintah tersebut.
"Ada apa? Mengapa kau melarang aku membunuh dia?"
Protesnya penasaran.
"Jangan gegabah! Dialah yang telah membunuh Togu dan Huang-ho Heng-te..."
Orang itu berseru sambil mengebut-ngebutkan bajunya yang basah. Pipa tembakaunya yang panjang itu ia ketuk-ketukkan pada pahanya supaya kering.
"Haah?"
Siau-kwi terbelalak.
"Kau tidak main-main?"
"Aku tidak main-main, Pek pi Siau kwi (Hantu Cantik Berlengan Seratus)..."
"Bagaimana kau mengetahuinya?"
"Sudahlah! kau turut saja kata kataku!"
Laki-laki bersenjata huncwe itu menarik lengan Pek-pi Siau kwi.
"Saudara, maafkan kekasaran kami tadi. Kami cuma bermaksud... mencoba orang yang telah mampu membunuh dua orang jago kami. Ternyata saudara memang lihai sekali. Ooh, ya...bolehkah kami mengetahui nama dan gelar saudara?"
Chin Yang Kun mengendorkan urat-uratnya yang tegang.
Namun demikian ia tetap selalu waspada.
Bagaimanapun juga ia belum mengenal mereka dengan baik.
Apalagi mereka ternyata adalah kawan dari orang yang terbunuh di restoran itu.
Kalau sekarang mereka bersikap halus dan mau mengalah, hal itu cuma disebabkan karena mereka takut atau segan pada kepandaiannya.
Lain tidak!
Maka dia harus tetap berhati-hati.
"Jadi...jiwi ini kawan-kawan dari orang yang terbunuh itu?"
Chin Yang Kun menegaskan.
"Maaf, aku terpaksa membunuh mereka, karena merekalah yang mengepung aku dan mendesakku! Tentang nama...panggil saja aku Yang Kun! Tak punya gelar atau nama besar yang lain! Apakah kalian mau membalas dendam?"
"Ah, tidak! Tidak! Mana aku berani? Kami justru ingin berkenalan atau"
Bersahabat, kalau boleh!"
Orang yang bersenjata huncwe itu berkata hati-hati.
"Hai, kau ini bagaimana sih? Sudab gila kau barangkali? Kawan sendiri telah dibunuh, kau malah mengajaknya bersahabat..."
Pek-pi Siau-kwi menarik lengan kawannya.
"Kaulah yang gila dan buta! Apa gunanya melawan orang yang berkepandaian melebihi kita? Ingin bunuh diri? Sudahlah kau turut saja aku..."
Laki-laki itu mencubit tangan kawannya.
"Dan lagi kawan-kawan kita sendirilah yang membuat kesalahan, bukan saudara ini..."
"Sudahlah, kalian jangan bercekcok. Temanmu yang mati itu memang telah salah mengenali aku dan kawan-kawanku. Temanmu menyangka kami akan menyerang Tan-Wangwe, padahal sama sekali tidak! Buat apa kami menyerang orang yang tak kami kenal?"
"Wah, kau dengar itu? saudara Yang ini bukan anggota rombongan Keh-sim Siauwhiap."
Laki-laki itu menoleh kepada Pek-pi Siau-kwi.
"Ooo, tahu aku sekarang. Jadi kalian ini sedang menunggu rombongan Keh-sim Siauwhiap. Oleh karena itu ketika teman kalian melihat rombonganku, mereka menyangka bahwa rombongan Keh-sim Siauwhiap telah tiba. Begitukah?"
"Betul!"
Laki-laki bersenjata huncwe itu mengangguk.
"Ahh...kalau begitu kasihan sekali kematian orang-orang itu. Mereka mati karena kesalah-pahaman. Aku sungguh berdosa sekali..."
Chin Yang Kun menyesali diri.
"Ah, Yang sicu tidak bersalah. Kawan-kawankulah yang terlaIu bodoh dan buta."
"Terima kasih. Tetapi akupun ikut bersalah dalam hal ini. Coba aku lebih sabar sedikit dan merundingkannya dengan baik, kukira kesalahpahaman itu takkan sampai terjadi."
Ketiga orang itu berdiam diri untuk beberapa saat, seolah olah mengenangkan nasib orang yang telah meninggal dunia itu.
"Yang-sicu..!"
Akhirnya laki-laki bersenjata huncwe itu menyapa perlahan.
"Maukah Yang-sicu kubawa ke tempat kawan-kawanku? Marilah kita jernihkan kesalahpahaman antara kita ini di sana! Biarlah mereka mengetahui atau menyadari kesalahan mereka dan biarlah mereka meminta maaf kepada Yang sicu.."
"Benar, saudara Yang,..., Kalau saudara Yang mau ke tempat kami dan menerangkan sendiri kesalahpahaman ini, kukira semuanya akan menjadi beres. Tak ada lagi dendam mendendam di antara kita."
Pek-pi Siau-kwi ikut membujuk Chin Yang Kun.
Urat-urat Chin Yang Kun kembali tegang untuk sesaat.
Ada dua kemauan yang saling bertentangan di dalam hatinya.
Keinginan untuk meluluskan permintaan orang itu, dan membereskan semua kesalahpahaman mereka, serta keengganan untuk mendatangi tempat yang berbahaya itu, demi keselamatan dirinya.
Agaknya laki-laki itu dapat membaca pikiran Chin Yang Kun.
Oleh karena itu dengan lantang ia berkata.
"Apakah Yang-sicu belum mempercayai aku? Kalau umpamanya Yang-sicu memang tidak percaya kepadaku, lalu apa yang harus ditakutkan pada diriku ini? Tadi aku baru saja saudara kalahkan. Padahal aku adalah kepala dari semua pengawal Tan-Wangwe. Nah, kalau kepalanya saja dapat saudara tundukkan, lalu apa yang mesti ditakuti pada anak buahnya?"
"Bagaimana saudara Yang...?"
Pek-pi Siau-kwi ikut mendesak.
"Baiklah! Mari kita berangkat!"
Chin Yang Kun mengangguk dengan dada tengadah.
"Terima kasih!"
Pek pi Siau-kwi dan laki-laki itu saling melirik, kemudian sambiI tersenyum penuh arti mereka menyatakan rasa terima kasih.
Bertiga mereka berjalan menyusuri tepian sungai itu ke arah bandar yang berada di pinggir dusun.
Orang orang di atas perahu yang lewat ataupun para pejalan kaki yang kebetulan berpapasan dengan mereka, tentu menyapa dan memberi hormat kepada Pek pi Siau-kwi dan lelaki pemegang huncwe itu.
"Jiwi sangat dihormati orang di dusun ini. Hmm, siapakah sebenarnya jiwi ini? Siapa pula Tan-Wangwe itu? Mengapa saudara sampai bentrok dengan Keh-sim Siauwhiap yang terkenal itu?"
Sambil berjalan Chin Yang Kun bertanya tentang mereka. Laki-laki itu tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan tersebut secara langsung.
"Ah...mengapa terburu-buru? Sebentar lagi saudara tentu akan mengerti sendiri."
Mereka melewati bandar tempat menambat perahu di pinggir dusun.
Tempat itu sangat ramai dan penuh dengan sampan dan perahu.
Beberapa orang pengawal atau tukang pukul yang bersenjata golok tampak menyongsong mereka.
Salah seorang dari mereka segera membungkuk.
"Tan-Wangwe telah menunggu tuan berdua sejak tadi,"
Katanya memberi Iaporan.
"Apakah rombongan Keh-sim Siauwhiap telah tiba?"
"Belum..."
Beberapa waktu kemudian mereka sampai ke sebuah rumah yang besar, luas, indah dan sangat megah.
Bangunan itu didirikan menghadap ke arah sungai, sehingga kesan kemegahannya sungguh amat menonjol dengan ruang pandangan yang sangat luas.
Pagar temboknya disusun dari bata merah setinggi dua meter lebih, meskipun begitu toh tetap tidak bisa menutupi bangunan gedungnya yang tinggi.
Di pintu gerbang masuk mereka disongsong pula oleh para penjaga yang berseragam lengkap, lalu diantar melalui halaman depannya yang amat luas.
Para penjaga itu berhenti di bawah tangga pendapa dan mempersilahkan mereka naik ke atas.
Laki Iaki bersenjata huncwe itu mendahului naik tangga, diikuti oleh Pek pi Siau kwi dan Chin Yang Kun.
Di atas pendapa mereka telah dinantikan oleh para jagoan pengawal yang dikumpulkan Tan-Wangwe, di antaranya Hui-chio Tu Seng, Houw-ho Lam-hui dan Ngo kui-shui!
Ketika orang-orang itu melihat kedatangan Chin Yang Kun, mereka langsung berpencar dan menghunus senjata masing masing.
"Berhenti! tidak ada lawan di sini, semuanya adalah kawan! Kalian mundurlah...!"
Laki-laki berhuncwe itu meloncat ke depan dan berteriak keras.
"Jai-hwa Toat beng-kwi (Hantu Cabul Pencabut Nyawa)...! Pek pi Siau-kwi! Itulah pemuda yang telah membunuh kawan-kawan kita...!"
Hui-chio Tu Seng balas berteriak.
"Kalian keliru! Duduklah! Mari kita bicarakan dengan hati dingin!"
Orang bersenjata huncwe yang dipanggil dengan sebutan Jai-hwa Toat-beng-kwi itu menarik lengan Hui-chio Tu Seng dan kawan-kawannya ke kursi.
Lalu sambil berbisik lirih Jai-hwa Toat-beng kwi menepuk bahu Hui chio agar menuruti saja segala perintahnya.
Sementara itu Lam Hui menatap Chin Yang Kun dengan rasa tak keruan.
Menurut Hui chio, pemuda itulah yang telah membunuh Togu dan Huang ho Heng-te dengan ilmu yang amat mengerikan.
Sebuah ilmu siluman yang bisa memanjangkan dan memendekkan anggota badan!
Padahal kepandaiannya masih berada di bawah ketiga orang yang telah mati itu.
Oleh karena itu betapa kecut hatinya bila ia teringat akan lagaknya dulu ketika bertemu dengan pemuda itu di warung Hao Chi.
"Mari! Marilah duduk, Yang sicu...!"
Jai-hwa Toat-beng kwi mempersilahkan Chin Yang Kun.
Dengan wajah tenang tanpa perasaan khawatir sedikitpun Chin Yang Kun duduk di atas kursi yang disediakan untuknya.Lalu dengan tenang pula, pemuda itu menatap orang-orang yang berada di sekitarnya satu persatu.
Ketika pandangannya jatuh pada Lam Hui, orang bertubuh tinggi besar yang semula sangat garang itu tiba-tiba menggigil.
Rasanya mata itu mencorong menyilaukan bagi Lam Hui, seperti sorot matahari yang menimpa mukanya.
"Saudara Tu Seng, Lam Hui dan Ngo kui shui..."
Jai-hwa Toat-beng-kwi berdiri dan mengawasi kawan-kawannya.
"Sekarang aku mau bertanya kepada kalian...siapa sebenarnya lawan yang sedang kita tunggu tunggu itu?"
Hui chio Tu Seng, Houw-kho Lam Hui dan Ngo kui-shui saling memandang dengan bingung.
Mereka benar benar tak mengerti, apa maksud Jai-hwa Toat-beng-kwi bertanya tentang hal yang telah mereka ketahui bersama itu?
Bukankah semua sudah tahu bahwa mereka sedang menantikan kedatangan Keh-sim Siauwhiap?
"Ayoh, katakan!
Mengapa diam saja?
Katakan, siapa lawan yang kita tunggu tunggu itu!"
"Jai hwa Toat-beng-kwi, kau ini aneh benar. Bukankah kau juga sudah tahu kalau kita sedang menantikan Keh-sim Siauwhiap?"
Tu Seng menjawab.
"Nah, ternyata kalian masih ingat juga. Lalu, apa yang akan kalian perbuat kalau ada rombongan lain yang bukan rombongan Keh sim Siauwhiap lewat di dusun ini? Hanya sekedar lewat saja! Apakah rombongan itu akan kalian hantam juga?"
"Huh, apa gunanya kita menghantam mereka? Cuma mencari kesulitan sendiri saja. Baru berhadapan dengan Kehsim Siauwhiap saja kita sudah kehilangan kawan, mengapa kita harus menambahnya dengan musuh-musuh yang lain?"
Hui-chio Tu Seng menjawab tegas. Jai hwa Toat beng-kwi tersenyum, lalu melangkah mendekati Tu Seng. Matanya menatap jago tombak itu lekat lekat.
"Lalu...mengapa kau menyerang juga rombongan Yang sicu ini? Apakah kalian sudah yakin kalau mereka itu rombongan dari Keh-sim Siauwhiap?"
"Ini...ini...aku tak tahu...!"
Tu Seng menjawab dengan gagap.
"Nah, ketahuilah sekarang. Yang sicu ini bukan orangnya Keh-sim Siauwhiap! Jadi kalian kemarin telah keliru sangka...,"
"Tapi...tapi...apa buktinya kalau dia bukan orangnya Kehsim Siauwhiap?"
"Naah, ternyata kalian masih dapat berpikir juga sekarang. Tapi mengapa kemarin kalian tak punya pikiran untuk membuktikan terlebih dahulu, siapa sebenarnya dia? Kalian langsung main labrak saja, dan akibatnya...kalian sendiri yang rugi. Ternyata yang kalian tabrak adalah gunung karang..."
Jai-hwa Toat-beng kwi kembali ke kursinya.
Meskipun banyak yang belum puas, tapi tak seorangpun yang berani bersuara.
Mereka memendam saja perasaannya, hanya kadang-kadang saja mereka melirik ke arah Chin Yang Kun.
Akhirnya tak enak juga perasaan pemuda itu kalau cuma berdiam diri saja.
Perlahan-lahan ia bangkit dari tempat duduknya.
"Cuwi sekalian...! Aku tahu bahwa cuwi belum percaya kepadaku. Tapi sebenarnyalah apa yang dikatakan oleh Jai-hwa Toat-beng-kwi tadi, aku bukan anak buah Keh sim Siauwhiap. Aku memang tidak mempunyai bukti. Tapi aku dapat membuktikannya bila Keh-sim Siauwhiap berada di sini. Nah, sekarang terserah kepada cuwi semua. Percaya atau tidak. Tidak percaya pun aku juga tidak peduli. Aku siap menghadapi siapa saja!"
Tak seorangpun berani berkutik, Ngo kui-shui memandang Lam Hui, Lam hui yang tinggi besar itu memandaug Hui-chio dan Jai-hwa Toat-beng-kwi.
Tapi dua orang pentolan pengawal ini juga diam saja menundukkan muka.
"Nah...memang sebaiknya begitu!"
Tiba-tiba Pek-pi Siau-kwi memecahkan kesunyian tersebut.
"Memang sebaiknya Yang-sicu berada di tempat ini dahulu untuk membuktikan bahwa dia bukan anak buah Keh-sim Siauwhiap. Nanti setelah Keh-sim Siauwhiap datang. Yang-sicu dapat pergi...dengan bebas."
"Hahaha...benar! Benar! Aku sepakat!"
Jai-hwa Toat-beng-kwi bersorak.
"Hei! Hei! Ini...aku..."
Chin Yang Kun berusaha untuk mencegah keputusan itu.
"Sudahlah, Yang-sicu. Duduk sajalah yang baik, kami akan menjamu Yang-sicu seperti kami menjamu tamu kehormatan kami...Hei, pelayan! Keluarkan meja jamuan selengkap-lengkapnya!"
Jai-hwa Toatbeng-kwi berteriak ke dalam.
"Ah!"
Chin Yang Kun berdesah kikuk.
Dan seperti telah dipersiapkan sebelumnya, dari dalam lantas terlihat beberapa orang gadis keluar membawa nampan berisi segala macam makanan.
Dengan cekatan mereka menata meja itu tanpa bersuara.
Sekejap saja semuanya telah siap.
"Bagus! Bagus...! Ada tamu agung rupanya! Marilah...kalau begitu aku Tan Hok akan ikut menikmati jamuan ini..."
Dari dalam tiba-tiba muncul seorang lelaki gagah berpakaian sangat indah.
Usianya sekitar empat puluh lima tahun.
Rambut di atas pelipisnya telah memutih.
Begitu juga yang berada di atas ubun-ubunnya.
Sebatang pedang panjang tergantung pada pinggangnya.
"Tan-Wangwe...!"
Semuanya berdiri menyambut orang itu.
"Silahkan! Silahkan...! Jangan sungkan-sungkan! Ah, siapakah tamu kita kali ini?"
Jai hwa Toat-beng-kwi menyongsong Tan-Wangwe dan membawanya ke dekat Chin Yang Kun, lalu memperkenalkannya satu sama lain.
"Yang-sicu, beliau ini adalah pemilik rumah ini. Beliau bernama Tan Hok atau Tan-Wangwe..."
Chin Yang Kun membungkuk sambil merangkapkan kedua belah telapak tangannya di depan dada, tapi mulutnya tetap diam tak bersuara.
Sebaliknya ketika namanya disebut oleh Jai-hwa Toat-beng kwi dan diperkenalkan kepada tamu rumah, Tan-Wangwe menyambutnya dengan sangat hormat dan gembira sekali.
"Ooh, Yang Siauwhiap rupanya...! Aku telah mendengar tentang kehebatanmu dari Huichio Tu Seng kemarin. Katanya seorang diri engkau dapat mengalahkan dan membunuh Togu dan Huang ho Heng-te. Aku benar-benar sangat kagum kepadamu. Ilmu kepandaianmu tentu tinggi sekali.."
"Dan...Tan-Wangwe paling suka berteman dengan jago silat yang berkepandaian tinggi!"
Pek-pi Siau-kwi yang sedari tadi cuma diam saja, tiba-tiba menyahut.
"Benar. Aku memang sangat senang dan menghargai orang-orang yang hebat...seperti Yang Siauwhiap ini pula! Maka dari itu aku akan bergembira pula hari ini apabila dapat bersahabat dengan Yang Siauwhiap!"
"Hei, mengapa pula sampai tak bisa! Marilah kita makan dan minum untuk merayakan persahabatan kita ini...!"
Jai-hwa Toat-beng-kwi segera berseru sambil menyambar cawan arak yang berada di depannya.
Yang Iain-lain segera mengikutinya pula.
Terpaksa Chin Yang Kun melayani kegembiraan mereka.
Apalagi sejak kemarin ia memang belum makan sama sekali.
Ia menerima saja setiap mereka menawari makanan dan minuman, sehingga akhirnya ia menjadi mabuk dan kekenyangan.
Pemuda itu bangkit dari kursinya, lalu dengan sempoyongan ia berjalan ke dalam rumah.
"Marilah kubantu pergi ke kamarmu, Yang-sicu..."
Pek-pi Siau-kwi meloncat mendekati.
Tangannya meraih ke arah pinggang Chin Yang Kun!
Meskipun sedang dalam keadaan mabuk ternyata pemuda itu tetap sulit sekali untuk didekati orang.
Beberapa kali Pek-pi Siau kwi berusaha menyambar lengan atau pinggang Chin Yang Kun, untuk membantunya pergi ke kamar, tapi selalu tak berhasil.
Biarpun sempoyongan, gerakan kaki dan tangannya masih sangat gesit dan cepat bukan main!
"Ja-jangan dekati a-aku!
Aku mau...mau tidur sesebentar.
Si-siapa y-yang mendekati aku akan kubunuh seperti...seperti ini!
Hiaaat!"
Pemuda itu mencengkeram ke arah ubun-ubun Pek-pi Siaukwi tapi karena sempoyongan sasarannya menjadi berubah ke arah pundak.
Meski pun demikian serangan tersebut juga tidak kalah berbahayanya dengan sasaran semula.
Kalau kena, tak pelak lagi wanita cantik itu tentu akan menjadi cacat badan seumur hidupnya.
Oleh karena itu Pek-pi Siau kwi juga tidak berani sembrono melayani serangan itu.
Wanita itu mengerahkan segala kemampuannya, lalu dengan cepat memiringkan tubuhnya ke kanan sehingga cengkeraman Chin Yang Kun mengenal tempat kosong.
Kemudian sebelum pemuda itu sempat menarik lengannya, Pek pi Siau kwi bergegas menabas lengan tersebut dengan sisi telapak tangannya.
Tapi entah karena sedang mabuk atau karena memang sudah tak sempat lagi, Chin Yang Kun tak berusaha mengelakkan serangan tersebut.
Sebaliknya pemuda itu justru membarenginya dengan sapuan kakinya ke arah kuda-kuda lawan.
Pek pi Siau kwi menyangka bahwa Chin Yang Kun memang benar-benar sudah mabuk, maka hatinya menjadi gembira bukan main.
Wanita itu sudah membayangkan bahwa sekejap lagi pergelangan tangan Chin Yang Kun akan terlepas persendiannya dan selagi pemuda itu merasakan kesakitan, ia akan segera mencengkeram lengan tersebut dan kemudian membantingnya ke atas lantai!
Blug!
Dan semuanya akan bertepuk tangan untuknya.
Tapi apa yang terjadi selanjutnya benar-benar membuat wanita itu hampir pingsan karenanya.
Pada benturan pertama, bukanlah Chin Yang Kun yang terlepas persendian tulangnya, tapi Pek pi Siau-kwi sendirilah yang menjerit setinggi langit.
Serasa remuk seluruh tulang lengan wanita itu ketika membentur lengan Chin Yang Kun yang keras bagai besi baja.
Dan selagi rasa sakit itu masih mencengkam tubuhnya, wanita itu menjerit pula sekali lagi ketika mendadak tubuhnya terangkat ke atas, kemudian terbanting kembali ke lantai dengan kerasnya!
Serasa ada seribu bintang yang tiba-tiba datang mengerumuninya.
Pusing!
Selesai menyapu kaki lawan Chin Yang Kun sendiri lalu sempoyongan menabrak meja, sehingga meja yang penuh terisi makanan dan minuman itu terguling jatuh menumpahkan seluruh isinya.
Seguci arak yang masih penuh terlontar dari meja itu dan pecah ketika menimpa kepala Chin Yang Kun.
Isinya tumpah membasahi tubuh Chin Yang Kun dari ujung rambut sampai ke dalam sepatunya.
"Heheh...segar! Segar sekali! Mmm...mandi arak wangi memang segar sekali!"
Pemuda itu tertawa terkekeh-kekeh sambil menjilati arak yang mengalir di atas bibirnya.
Kaki yang belum dapat berdiri tegak itu tiba-tiba melangkah kembali ke tempat Pek-pi Siau-kwi masih terbaring kesakitan.
Tangannya terkepal, siap untuk memberi pukulan terakhir.
Jai-hwa Toat-beng kwi dan kawan-kawannya terlonjak kaget dari kursinya melihat bahaya yang akan menimpa sekutu mereka itu.
Seperti mendapat aba-aba mereka melesat bersama-sama ke arah Pek-pi Siau kwi.
Jai-hwa Toat-beng-kwi yang tak pernah lekang dari huncwenya, melemparkan senjata andalannya itu ke arah Chin Yang Kun.
Begitu juga yang dilakukan oleh Hui-chio Tu Seng!
Orang yang sangat terkenal karena tombak terbangnya itu melontarkan senjatanya berbareng dengan Jai-hwa Toat-beng-kwi.
Dan kedua senjata tersebut melesat bagai kilat, menyongsong langkah Chin Yang Kun.
"Siuuuuuuut! Siuuuuuuut!"
"Ceeep! Ceeep!"
Semuanya ternganga.
Dua buah senjata yang melesat dengan dahsyat itu ternyata disambar dengan amat mudah oleh Chin Yang Kun, seakan-akan benda berbahaya itu cuma barang mainan baginya.
Hanya karena kakinya memang sempoyongan sejak tadi, maka begitu berhasil menangkap senjata yang terlontar dengan kekuatan tinggi itu, Chin Yang Kun langsung terjengkang dan berguling-guling di atas Iantai.
Tapi itupun hanya sekejap, karena sesaat kemudian tubuh pemuda itu telah melenting ke atas, terus menerkam ke arah orang-orang yang mendatanginya.
Dan orang-orang yang mau menolong Pek-pi Siau kwi itu juga bersiap-siap menghadapi pula.
"Wuuuut! Siuuuut! Plak!"
"Blug! Blug!"
Tujuh orang pengawal pilihan dari Tan-Wangwe itu berjatuhan bagaikan buah kelapa yang dipungut dari tangkainya.
Mereka terkapar bergelimpangan di lantai dengan mulut mengaduh-aduh kesakitan.
Sungguh menakjubkan!
Seorang diri, sedang mabuk pula...tapi dalam satu gebrakan telah mampu menjatuhkan semua musuh-musuhnya.
"Nah! lni...hik hik, ini cuma peringatan sa-saja untuk k-kalian, hik! Lain kali...ja-jangan dekati aku lagi! Eh, Tan-Wangwe...ayoh antarkan aku ke kamarmu!"
"Ba-baik! Baik!"
Tan Hok tersentak kaget.
Wajahnya pucat, seolah-olah tak percaya pada kejadian itu.
Orang orang yang dia kumpulkan untuk menghadapi Keh-sim Siauwhiap ternyata telah disikat oleh pemuda itu dalam satu gebrakan.
Sungguh tak masuk di akal.
Setelah mengantar Chin Yang Kun ke kamarnya, Tan Hok bergegas keluar kembali menemui para pengawalnya.
Orang orang itu segera ditolongnya.
Ngo-kui shui yang lweekangnya paling rendah terpaksa harus minum obat, karena pukulan Chin Yang Kun ternyata mengandung racun.
"Gila! Anak itu kepandaiannya sungguh dahsyat!"
Tan Hok berkata heran.
"Aku juga merasa heran. Dulu ayahnya tak sehebat dia. Maka ketika kemarin Tuan Tan menugaskan aku untuk membawanya kemari, aku menjadi salah hitung. Tadi siang tubuhku telah dilemparkannya ke dalam sungai seperti ini tadi."
Jai-hwa Toat-beng-kwi bersungut-sungut.
"Baiklah! Sekarang kita teruskan rencana kita itu. Kita harus bisa mempergunakan kelihaiannya itu untuk melawan Keh-sim Siauwhiap. Sekarang biarlah aku sendiri yang membujuknya."
Tan Hok berbisik ke telinga Jai-hwa Toat-beng-kwi.
Tan Hok lalu berlari kembali ke dalam rumah.
Ia melayani sendiri keperluan Chin Yang Kun.
Dengan tekun hartawan itu menunggui sendiri di dekat pembaringan Chin Yang Kun.
Kemudian diajaknya berbicara dan mengobrol.
Oleh karena Chin Yang Kun masih dalam keadaan mabuk, maka kata-kata yang keluar dari mulutnyapun juga tak beraturan dan asal bicara saja.
Apa yang terpikir langsung keluar dari mulutnya.
Sama sekali pemuda itu tak memikirkan, di mana dia kini sedang berada.
Di tempat kawan atau lawan, berbahaya bagi keseIamatannya atau tidak.
Yang dirasakan oleh Chin Yang Kun pada saat itu cuma tubuhnya terasa enteng dan ringan sekali, seakan-akan ia mau terbang dibawa angin.
"Tan Hok, kau benar-benar kaya sekali...hik."
Pemuda itu memanggil nama si tuan rumah dengan enaknya, seolah-olah memanggil pelayannya saja.
"Rumahmu...hik...rumahmu bagus sekali, perabotannyapun bukan main indahnya. Semuanya terbuat dari emas...Tapi...hik...kenapa sepi sekali? Di mana keluargamu? Maksudku...isteri dan anak-anakmu? Yang kulihat sedari tadi cuma para pelayan dan...hik...para pengawalmu saja."
Tiba-tiba terdengar suara Tan Hok menghela napas berat.
Beberapa saat lamanya orang kaya itu tak menjawab pertanyaan Chin Yang Kun, sehingga Chin Yang Kun yang belum sadar dari mabuknya itu menjadi heran.
"Eh, kau kenapa? Mengapa diam saja? Ooh, kau sedang sedih hahaha...hik! Ayoh...dong, jawab...! Takut dengan Keh-sim Siauwhiap? Haha...jangan khawatir! Asal aku...hik-hik...masih berada di sini semuanya tanggung beres."
Sekejap air muka Tan Hok tampak berseri gembira, tapi sekejap kemudian kembali sedih pula lagi.
Perlahan-lahan orang tua itu bangkit berdiri, lalu melangkah ke arah gambar yang tergantung pada dinding kamar.
Diambilnya gambar itu dan dibawa ke pembaringan Chin Yang Kun, dan diperlihatkan kepada pemuda tersebut.
"Keluargaku telah meninggal semua. Mertuaku, isteriku, anak-anakku dan para pelayan dari keluargaku! Inilah gambar mereka..."
Katanya sedih.
Chin Yang Kun menerima gambar itu serta melihatnya dengan teliti.
Tampak Tan Hok bersama isterinya berdiri di belakang sepasang orang tua, yang duduk di atas kursi mewah.
Di samping mereka berdiri empat orang anak kecil berpakaian indah dan anggun.
Gambar itu diambil di depan sebuah gedung yang sangat indah mirip istana.
"Ahh, kelihatannya tuan memang keturunan orang kaya atau keturunan bangsawan."
Chin Yang Kun memberi komentar setelah puas melihat gambar itu.
"Rumah yang ada di dalam gambar ini tentulah sebuah istana atau semacamnya itu."
"Saudara Yang sungguh sangat teliti. Benar. Gedung yang ada di dalam gambar itu memang sebuah istana kecil tempat tinggal mendiang Perdana Menteri Li Su."
"Oh, kalau begitu tuan Tan ini masih kerabat dari Perdana Menteri itu? Haha, aku...hik hik...aku tahu sekarang. Keluarga tuan tentu dibunuh oleh pasukan Liu Pang, bukan?"
Tan Hok menggeleng.
"Bukan...!"
Jawabnya tegas.
"Hei? Bukan? Ah, lalu siapa kalau bukan mereka? Keh-Sim Siauwhiap?"
Chin Yang Kun yang sudah agak sembuh dari mabuknya itu merasa heran.
"Ah, panjang sekali ceritanya..."
Tan Hok tertunduk lesu sambil menghela napas berulang-ulang.
"Kematian keluargaku sungguh amat sengsara sekali. Kematian mereka cuma disebabkan oleh perebutan pusaka warisan keluarga. Aku mempunyai warisan pusaka yang ternyata juga diinginkan oleh banyak orang, di antaranya adalah Keh-sim Siauwhiap. Tapi semuanya dapat kutanggulangi, selain...eh, panjang sekali ceritanya,"
"Ohh? Bolehkah aku mendengarkan ceritamu itu? Tampaknya Tuan Tan mempunyai nasib yang sama dengan nasib keluargaku."
Chin Yang Kun bertanya dengan nada sedih pula. Mendadak pemuda itu juga teringat kepada ayah, ibu dan paman-pamannya yang terbunuh pula.
"Baiklah, nanti aku ceritakan kepada Yang Siauwhiap. Tapi marilah kita minum-minum dahulu, agar Yang Siauwhiap merasa lebih segar lagi!"
Tan Hok berkata sambil menuangkan arak ke atas cawan.
"Lihat! Matahari sudah hampir terbenam dan sebentar lagi bulan segera akan muncul. Siapa tahu malam ini Keh-sim Siauwhiap benar-benar datang, sehingga kita tak mempunyai kesempatan lagi untuk minum bersama."
"Baik! Marilah...,!"
Chin Yang Kun yang mulai tertarik dan bersimpati kepada Tan Hok itu segera menyambar cawan yang disuguhkan kepadanya.
Mereka lalu makan minum lagi sepuas-puasnya, sehingga rasa pusing yang semula telah hilang dari kepala Chin Yang Kun kini kembali menggayuti kepala pemuda itu lagi.
"Nah, kau...kau berceritalah! Matahari telah ber...hik...bersembunyi sekarang. Bulan s-segera mmm...muncul, hik! Nanti tak ada kesempatan I-lagi kalau Keh-sim Siauwhiap ddd...datang."
Chin Yang Kun yang telah mabuk lagi itu mengguncang-guncang lengan Tan Hok. Mulutnya yang berbau arak keras itu berkata serak dan gagap.
"Baiklah, Yang Siauwhiap...Aku akan bercerita..."
Tan Hok yang ternyata tidak ikut mabuk itu berdiri perlahan.
Kemudian sambil melipat lengannya di bawah punggung dia mulai berceritera.
Sebelum para pemberontak sampai ke Kotaraja, Perdana Menteri Li Su telah berusaha menyelamatkan seluruh harta dan keluarganya dengan berbagai cara.
Selain menyuruh belasan orang anak cucunya pergi meninggalkan Kotaraja dengan menyamar dan membawa harta sebanyak-banyaknya, Perdana Menteri Li Su juga menyelundupkan seluruh harta karun yang tak ternilai banyaknya.
Harta karun itu diselundupkan melalui iring-iringan pengungsi yang terdiri dari wanita dan anak anak.
Ternyata iring-iringan pengungsi itu tak pernah mencapai tujuannya.
Mereka hilang entah di mana, seperti juga anak cucu Perdana Menteri Li Su yang lain.
Semuanya tidak ada yang bisa menerobos kebuasan para pemberontak yang telah menguasai hampir seluruh negeri itu.
Semua anak cucu Perdana Menteri Li Su yang menyamar telah dibantai habis dan seluruh harta yang dibawanya juga habis untuk rebutan.
Hanya seorang yang tidak mengalami perlakuan seperti itu, yaitu Tan Hok dan keluarga yang dibawanya.
Menantu Perdana Menteri Li Su itu dapat menyelamatkan diri bersama keluarganya, dan hidup mengasingkan diri di daerah padang ilalang yang sunyi.
Dengan harta yang mereka bawa itu mereka membangun sebuah rumah di tempat terpencil tersebut.
Mereka hidup bebas di tempat terasing itu selama bertahun-tahun tanpa mengalami gangguan dari siapapun.
Malapetaka mengerikan yang menghabiskan seluruh keluarga itu justru karena ulah Tan Hok sendiri.
Ternyata biarpun sudah mendapatkan harta kekayaan yang sangat banyak dari mertuanya, Tan Hok masih selalu teringat pada harta karun yang diselundupkan oleh mendiang mertuanya itu.
Beberapa kali ia keluar dari tempat persembunyiannya, mengembara seperti seorang pendekar untuk mencari berita tentang harta karun yang hilang itu.
Berbulan-bulan, bertahun tahun Tan Hok mencari, tapi tak didapatkan juga harta itu.
Berkali-kali Tan Hok menyusuri daerah pantai sebelah timur, karena khabarnya iring-iringan pengungsi itu mengambil jalan menyusuri pantai timur.
Sehingga di daerah yang sering ia kunjungi itu namanya menjadi terkenal dan disegani orang.
Akhirnya setelah kira-kira tiga tahun ia berkelana, Tan Hok bisa memperoleh berita tentang harta karun itu.
Salah seorang prajurit yang mengawal iring-iringan itu ternyata masih hidup, biarpun tubuhnya cacat.
Prajurit itu sebelum mati telah membuat sebuah peta pada sepotong emas yang ia dapatkan dari tumpukan harta karun tersebut.
Peta itu ia wariskan kepada anak laki-laki yang bekerja sebagai nelayan.
Nah, pada suatu hari nelayan muda itu diketemukan oleh Tan Hok di tepi pantai bersama perahu dan teman-temannya.
Perahu mereka baru saja dirampok ketika berlabuh di tempat itu.
Para perampok tersebut mengambil semua harta mereka, termasuk hasil jerih payah mereka di laut.
Yang paling disayangkan oleh nelayan muda itu ialah terbawanya sebagian dari benda warisan ayahnya yang berada di dalam buntalannya.
Tan Hok menjadi curiga dan merasa aneh ketika mengetahui bahwa benda warisan yang dimaksudkan oleh nelayan itu adalah potongan emas.
Sungguh mengherankan bila nelayan miskin seperti mereka mempunyai emas, apalagi berupa potongan yang cukup besar pula.
Oleh karena itu malam harinya Tan Hok menculik nelayan muda tersebut serta memaksanya untuk bercerita tentang potongan emas yang dibawa oleh perampok itu.
Karena takut nelayan itu mengatakan apa adanya, juga sisa potongan emas yang masih tertinggal di rumahnya.
Akhirnya Tan Hok membeli potongan emas itu dari tangan si nelayan dan membawanya pulang.
Potongan emas yang ada gambar petanya itu ia simpan dengan baik.
Sekarang tinggal mencari potongannya yang lain.
Ternyata rahasia penemuannya itu tidak tersimpan dengan baik.
Entah bagaimana, ternyata Keh-sim Siauwhiap yang tinggalnya di atas pulau yang tak jauh dari pantai tersebut, tahu pula tentang rahasia itu.
Keh-sim Siauwhiap yang mempunyai kegemaran mencari harta lalu membagi-bagikan kepada fakir miskin itu segera mencari Tan Hok.
Dan itulah awal permusuhan antara mereka.
Pertama tama Keh-sim Siauwhiap mengirim orang orangnya untuk menggeledah seisi rumah Tan Hok.
Biarpun mereka tak mendapatkan benda yang mereka cari, tapi orang-orang Keh-sim Siauwhiap itu mengambil apa saja yang mereka ketemukan di rumah Tan Hok.
Padahal pada saat itu Tan Hok sedang mengembara, mencari potongan emas lainnya.
Baru setahun kemudian Tan Hok pulang.
Hatinya marah sekali melihat rumahnya telah dirampok orang.
Seorang diri Tan Hok pergi ke Pulau Meng-to untuk meminta kembali sebagian hartanya yang dirampok oleh anak buah Keh-sim Siauwhiap.
Dalam perjalanannya ternyata Tan Hok juga menjumpai banyak orang-orang yang sakit hati dan ingin pergi membalas dendam kepada Keh-sim Siauwhiap.
Malahan beberapa orang di antaranya adalah kenalan dan sahabat baik Tan Hok sendiri.
Mereka itu adalah Thio lung beserta adik-adik seperguruannya dari Kim-liong Piauw-kok.
Lalu Tiat-i Su jin dari kota Tie-an, Jai-hwa Toat beng-kwi, Pek pi Siau-kwi dan lain lain.
Bersama-sama dengan orang-orang itu serta masih banyak lagi yang belum dikenalnya, Tan Hok menemui Keh-sim Siauwhiap di Pulau Meng-to.
Ternyata di tempat itu mereka disambut pula dengan meriah oleh Keh-sim Siauwhiap dan sahabat-sahabatnya.
Lalu terjadilah perang tanding yang amat hebat.
Keh-sim Siauwhiap mengatakan, siapapun dapat meminta kembali barangnya apabila bisa mengalahkannya.
Tapi dari sekian banyak orang itu ternyata tak seorangpun yang mampu menjatuhkan Keh sim Siauwhiap.
Jangankan Keh-sim Siauwhiap, sedang melawan anak buah atau sahabat-sahabatnya saja jarang yang bisa memperoleh kemenangan.
Tan Hok pulang dengan tangan hampa.
Hatinya terasa sakit dan penuh dendam.
Tapi apa daya?
Untunglah tidak semua hartanya kena rampok, sehingga ia dapat berdiri tegak kembali seperti semula.
Dia lalu berusaha memperdalam dan mempertinggi ilmu silatnya.
Ilmu Pedang Jit-seng Kiam hoatnya ia tekuni siang malam, sehingga akhirnya ia mampu menguasai ilmu itu melampaui tingkat kepandaian mendiang gurunya.
Sementara itu keinginan hatinya untuk mendapatkan potongan emas yang lain semakin besar pula.
Malahan maksud hatinya itu dikatakannya pula kepada sahabat sahabatnya.
Siapa tahu sahabat-sahabatnya tersebut dapat menolong atau tahu tempatnya.
Benarlah.
Pada suatu hari Jai-hwa Toat-beng kwi membawa Pek-pi Siau-kwi ke rumah Tan Hok.
Penjahat cabul itu mengatakan bahwa tiga jago silat dari pantai timur, yang digelari orang dengan nama Tung-hai Sam-mo, sedang mencari Tan Hok untuk meminta potongan emas itu.
Pek pi Siau-kwi mendengar berita itu dari seorang pemilik penginapan yang pernah mereka tumpangi.
Demikianlah, Tan Hok kemudian mengundang sahabat sahabatnya untuk menghadapi Tung-hai Sam-mo.
Tan Hok tidak berani main-main menghadapi Tung-hai Sam-mo, karena Tung-hai Sam-mo adalah murid kesayangan Tung-hai-tiau (Rajawali Lautan Timur) maharaja bajak laut yang sangat terkenal akan kekejamannya, kesaktiannya dan banyak pengikutnya.
Dahulu bersama dengan mendiang San-hekhouw (Harimau Gunung) dan Sin go Mo-kai-ci, Tung-hai tiau disebut sebagai Sam Ok (Si Tiga Jahat Dunia)!
Semua sahabat-sahabat Tan Hok, seperti Jai hwa Toatbeng-kwi, Pek-pi Siau-kwi, Hui-chio dan Thio Lung sudah berkumpul di rumahnya.
Rumah yang dibangun oleh Tan Hok di tengah-tengah padang ilalang yang sunyi dan terpencil!
Mereka berkumpul dan bersiap-siap untuk menghadapi Tunghai Sam-mo.
Begitulah.
Malam yang naas dan mengerikan bagi keluarga Tan Hok itupun terjadilah!
Kejadian itu berlangsung kira-kira satu setengah tahun yang lalu.
Malam maut yang menghabiskan seluruh keluarga Tan Hok!
Malam itu Tan Hok bersama para sahabatnya menunggu kedatangan Tung-hai Sam mo dengan perasaan tegang.
Di luar rumah udara sangat dingin sekali.
Bulan yang tinggal sepotong itupun tidak mau menampakkan wajahnya sehingga malam yang sunyi dan sepi itu semakin tampak gelap dan kelam.
Sekelam hati orang-orang yang telah bersiap sedia untuk mengadu nyawa di dalam rumah itu.
Tapi hingga lewat tengah malam Tung-hai Sam-mo belum juga menampakkan batang hidungnya, sehingga orang-orang yang sejak sore telah menunggu kedatangannya, menjadi gelisah sekali.
Terutama adalah orang-orang yang memperoleh tugas di bagian luar rumah!
Suasana yang sepi, udara malam yang kelewat dingin, nyamuk keparat yang menggigiti kulit mereka, embun malam yang membasahi rambut dan wajah mereka, serta kejemuan yang mulai mengikis dinding hati dan kesabaran mereka, itu semua membuat mereka menjadi manusia yang sangat berbahaya dan ganas!
Maka dari itu ketika di dalam kegelapan malam menjelang pagi itu ada lima bayangan manusia yang datang memasuki halaman rumah tersebut, mereka langsung menggempurnya tanpa menanya lebih dahulu siapa mereka.
"Pertempuran yang terjadi saat itu adalah pertempuran yang terdahsyat yang pernah saya alami""
Tan Hok melanjutkan ceriteranya.
"Mereka hanya empat orang, karena salah seorang di antaranya cuma pelayan mereka yang telah tua dan sakit-sakitan. Tapi meskipun hanya empat orang, kepandaian mereka ternyata hebat sekali. Terutama orang yang buntung lengan kanannya. Jai-hwa Toat-beng-kwi yang melayani orang itu sampai kewalahan dibuatnya. Padahal orang buntung itu cuma memainkan goloknya dengan tangan kiri..."
"Rumah terpencil di tengah padang ilalang...Lalu lima orang tapi yang satu adalah kakek pelayan yang tua dan sakit-sakitan...Yang satu lagi buntung lengan kanannya dan membawa golok!"
Chin Yang Kun yang mendengarkan penuturan Tan Hok itu sibuk mengingat-ingat di dalam hati, sehingga cerita Tan Hok selanjutnya tak begitu ia perhatikan lagi.
Tapi karena otak pemuda itu masih dipenuhi hawa arak, maka jalan pikirannya juga tidak jernih lagi.
Oleh karena itu meskipun pemuda itu merasa ada sesuatu yang aneh pada ceritera itu, yaitu seolah-olah ia merasakan bahwa ayahnyalah yang sedang bertempur melawan Tan Hok dan kawan-kawannya, tapi otaknya yang beku itu seakan tak bisa memikirkan dan menyadarinya.
Sementara itu dengan tak mengurangi kewaspadaannya, Tan Hok melanjutkan ceritanya.
"Belum juga pertempuran itu dapat dilihat kalah menangnya, tiba-tiba dari jauh terdengar suara siulan nyaring mendatangi rumahku. Pikir kami, mereka itu tentulah rombongan dari orang-orang yang bertempur dengan kami itu. Tapi dugaan kami tersebut ternyata keliru sama sekali. Ternyata yang datang adalah Keh-sim Siauwhiap dan anak buahnya. Begitu datang Keh-sim Siauwhiap langsung menanyakan potongan emas itu kepadaku. Ketika kujawab bahwa benda itu takkan kuberikan kepada siapa pun juga, maka Keh-sim Siauwhiap menjadi marah besar. Tanpa memilih buIu pendekar ternama itu membabat semua orang yang berada di tempat itu, yaitu para pendatang yang kami sangka Tung-hai Sam-mo, kawan-kawanku, isteri dan anak anakku! Semuanya dibantai habis oleh Keh-sim Siauwhiap dan anak buahnya. Untunglah aku, Jai-hwa Toat-beng kwi, Pek-pi Siau-kwi, Hui-chio dan Thio Lung dapat pergi meloloskan diri dari malapetaka itu..."
Tan Hok berhenti sebentar dan menghela napas sedih sekali.
"Orangnya buntung lengan kanannya...memegang golok..., membawa pelayan tua sakit-sakitan...larut malam...di rumah terpencil...!"
Chin Yang Kun masih saja menundukkan mukanya sambil berpikir keras. Kini sama sekali ia tak mendengarkan ceritera Tan Hok.
"Kami memang bisa menyelamatkan diri dari kebuasan Keh-sim Siauwhiap, tapi aku ternyata tak mampu menyelamatkan benda yang diperebutkan itu. Semula benda itu kutitipkan kepada salah seorang pelayanku. Tak tahunya aku lupa sama sekali ketika semuanya bingung untuk menyelamatkan diri..."
Tan Hok meneruskan ceritanya.
"Ketika keesokan harinya aku kembali, kulihat pelayan itu juga sudah mati, dan...potongan emas itu juga hilang. Aku benar benar putus-asa. Tapi untunglah kawan-kawanku mau membesarkan hatiku. Dengan sisa-sisa harta yang masih ada padaku, aku mengembara sampai ke dusun Ho-ma-cun ini. Aku membuat rumah lagi dan berdagang segala macam di tempat ini. Usahaku berhasil dan aku menjadi kaya raya kembali."
Tan Hok menghentikan ceritanya untuk mengambil napas.
Matanya menatap Chin Yang Kun yang masih saja menunduk dengan kening berkerut itu.
Tan Hok mengira pemuda itu mendengarkan ceritanya dengan sungguh-sungguh.
Oleh karena itu dengan tergesa-gesa ia melanjutkan pula ceriteranya.
"Tak kusangka keparat Keh-sim Siauwhiap itu masih saja mencariku. Dikiranya aku masih menyimpan potongan emas itu. Beberapa hari yang lalu ia memerintahkan seorang anak buahnya kemari untuk meminta benda itu lagi. Kalau tak kuberikan ia akan mendatangi rumahku dalam dua tiga hari ini...Dan malam ini adalah malam yang terakhir!"
Tan Hok menutup ceritanya dengan menggeram marah dan penasaran.
Sementara itu keadaan Chin Yang Kun yang mabuk itu sudah menjadi semakin membaik.
Sejalan dengan berkurangnya pengaruh arak yang membelenggu otaknya, bertambah pula kesadarannya sedikit demi sedikit.
"...Karena tangan kanannya buntung, ia memainkan goloknya dengan lengan kiri...Semuanya ada lima orang, tapi yang satu adalah pelayannya...sudah tua dan sakit-sakitan,"
Pemuda itu bergumam perlahan. Matanya memandang kosong ke depan, sementara dahinya yang lebar itu selalu berkerut-kerut karena sedang berpikir keras.
"Hai!!"
Tiba-tiba Chin Yang Kun berteriak keras sekali, sehingga Tan Hok hampir terjatuh dari kursinya karena kaget.
Dari atas pembaringannya tiba-tiba Chin Yang Kun melompat turun.
Tangannya menyambar leher baju Tan Hok dengan cepat sekali, sehingga yang belakangan ini tak mampu lagi mengelakkan diri atau menangkisnya.
Maka di Iain saat tubuh Tak Hok yang agak gemuk itu telah terangkat dari lantai.
Ternyata ilmu silatnya benar-benar tak mampu melindunginya.
"Katakan lekas! Apakah orang yang buntung lengannya itu berkumis dan berjenggot lebat? Apakah lengan yang buntung itu masih baru balutannya? Apakah kakek pelayan itu sakit batuk? Apakah keempat orang yang bertempur dengan kalian itu bersenjatakan golok semuanya? Apakah...apakah rumah terpencil itu berada tidak jauh dari kota Tie kwan? Apakab rumah itu...eh, rumah itu bergenting merah?"
Bagaikan air hujan, pertanyaan itu meluncur dengan derasnya dari mulut Chin Yang Kun.
Karena kaget, bingung dan takutnya, Tan Hok malah tak bisa menjawab apa-apa.
Orang kaya itu cuma dapat mengangguk-angguk saja dalam cengkeraman tangan Chin Yang Kun.
"Lalu...siapakah yang membunuh mereka?"
Sekali lagi pemuda itu berteriak. Kali ini agaknya kesadarannya telah benar benar pulih kembali.
"Keh...Keh-sim Siauwhiap!"
Tan Hok menjawab gagap.
"Kurang ajar! Keh-sim Siauwhiap! Awas pembalasanku!"
Chin Yang Kun menggeram dengan gigi berkerotan. Suaranya sungguh sangat menakutkan. Lalu tubuh Tan Hok dilepaskannya begitu saja, sehingga orang itu sempoyongan mau jatuh.
"Siauwhiap...kau dapat menunggu pembunuh biadab itu di sini! Dia mengatakan bahwa dia akan mengunjungi rumah ini untuk mengambil potongan emas itu,"
Akhirnya Tan Hok ikut memaki pula, sekedar untuk menutupi atau mengurangi rasa kikuk yang disebabkan oleh keadaannya yang runyam tadi.
Jika dipandang sepintas lalu, keadaan Tan Hok tadi memang benar-benar tak masuk di akal.
Sebagai seorang jago silat kelas satu dan mempunyai banyak pengalaman pula, tak seharusnya dia ditangkap dan dikuasai oleh Chin Yang Kun dengan demikian mudahnya.
Di dalam kalangan persilatan Ilmu Pedang Jit-seng Kiam hoatnya selalu ditakuti lawan dan disegani kawan.
Buktinya tokoh penjahat lihai seperti Jai-hwa Toat-beng kwi dan Pek-pi Siau kwi tunduk pula kepadanya.
Tetapi apabila dipikirkan lagi lebih mendalam, hal seperti itu memang tidaklah mengherankan.
Dalam dunia persilatan memang berlaku sebuah hukum, siapa lebih cerdik dan encer otaknya, serta pandai dan tangkas menilai setiap keadaan yang dia hadapi, dialah yang akan menjadi pemenangnya!
Tentu saja yang dimaksudkan adalah jago-jago silat yang mempunyai tingkat kepandaian seimbang, atau tingkat kepandaian mereka terpaut tidak begitu banyak.
Dapat diibaratkan sebagai dua orang jago silat yang mempunyai guru sama, ilmu sama dan kemampuan tubuh sama!
Belum tentu dengan kondisi yang semua sama seperti itu lantas tidak ada yang kalah atau menang bila mereka dipertandingkan.
Niscaya jago silat yang lebih cerdik dan punya otak yang lebih encerlah yang akan memperoleh kemenangan.
Sebab jago silat yang cerdik akan selalu bisa mencari keuntungan dalam setiap kesempatan, betapapun kecilnya, kemudian memanfaatkannya untuk mendapatkan kemenangan.
Hal itu dapat dibuktikan tadi oleh Yang Kun ketika mengecoh dan mengalahkan lawan-lawannya dalam tempo yang amat singkat!
Pertama, ketika Chin Yang Kun melemparkan Jai-hwa Toat beng-kwi ke dalam sungai.
Padahal seperti halnya Tan Hok, hantu cabul itu mempunyai kepandaian yang amat tinggi pula.
Jelek-jelek dia adalah tangan kanan San-hek houw pada Sepuluhan tahun yang silam.
Tapi pagi tadi hantu cabul itu sangat meremehkan kemampuan Chin Yang Kun, sehingga dia menjadi lengah.
Dan kelengahan tersebut tak disia-siakan oleh pemuda yang sangat cerdik dan berbakat itu.
Coba hantu cabul itu mau berhati-hati dan melawan dengan penuh kewaspadaan belum tentu Chin Yang Kun mampu menundukkannya dalam sepuluh atau lima belas jurus!
Begitu juga halnya yang dialami oleh Pek-pi Siau kwi dan beberapa orang kawannya di dalam pendapa tadi.
Mereka juga lengah karena terlalu meremehkan orang yang telah sempoyongan karena mabuk.
Mereka kurang memperhatikan pertahanan tubuh sendiri, sehingga mereka kecolongan setelah lebih dulu terpedaya oleh kecerdikan Chin Yang Kun.
Padahal untuk melawan mereka semua bagi Chin Yang Kun benar benar sangat berat.
Biarpun mungkin dapat menang, tapi kemenangan itu tentu ia dapatkan dengan memeras keringat dan mengerahkan segenap kekuatannya.
Demikian pula yang terjadi pada Tan Hok tadi.
Coba perasaannya belum dipesonakan oleh kehebatan-kehebatan Chin Yang Kun ketika menundukkan Pek-pi Siau-kwi dan teman-temannya di pendapa itu, mungkin ia tidak mudah terkecoh oleh serangan mendadak Chin Yang Kun tadi.
Tapi karena nyalinya belum-belum sudah gentar, ditambah pula dengan keteledorannya sendiri, maka untuk sesaat ketangkasannya seperti hilang dari tubuhnya.
Dan waktu yang hanya sesaat itu telah dilihat dan dipergunakan oleh Chin Yang Kun!
Akibatnya seperti orang yang kena sihir, Tan Hok dengan mudahnya diringkus oleh Chin Yang Kun.
Padahal dibandingkan dengan yang lain, kepandaian Tan Hok adalah yang paling unggul.
Dalam keadaan biasa mungkin tak mudah bagi Chin Yang Kun untuk mengalahkannya.Apalagi dalam keadaan dirinya mabuk seperti tadi.
Tiba-tiba seorang penjaga masuk dengan tergesa-gesa.
Air mukanya tampak tegang ketika memberi laporan kepada Tan Hok.
"Tuan...mereka sudah datang!"
"Siapa? Keh-sim Siauwhiap?"
Tan Hok terkejut. Benar-benar terkejut dia! Penjaga itu mengangguk dengan gugup.
"Ya...ya!"
"Di mana Jai-hwa Toat beng-kwi dan yang lain-lain?"
"Semua telah berada di halaman depan menemui mereka,"
"Bagus!"
Tan Hok tersenyum.
Hilang semua kekhawatirannya dan kini timbul pula kembali rasa kepercayaannya pada diri sendiri.
Sekejap diliriknya pemuda yang berada di dekatnya, tapi betapa kagetnya ketika Chin Yang Kun sudah tidak ada lagi di dalam kamar itu.
"He, ke mana dia...?"
"Tuan...tuan maksudkan pemuda yang bersama Tuan Tan tadi? Bu...bukankah dia telah melompat keluar jendela sejak tadi?"
Penjaga itu menjawab.
"Wah!"
Tan Hok segera berlari keluar dan diikuti pula oleh penjaga itu.
Keduanya lari menerobos halaman tengah dan kemudian meloncat menaiki tangga pendapa bagian belakang.
Dan tempat itu telah terdengar suara percakapan mereka, sehingga Tan Hok segera mengerahkan ginkangnya untuk melintasi Iantai pendapa yang luas.
Tan Hok membuka pintu pendapa, lalu matanya menatap ke halaman depan.
Di dalam penerangan cahaya obor dan lampu halaman, dilihatnya Jai hwa Toat-beng-kwi dan kawan-kawannya tengah berhadapan dengan tujuh orang tamu, yang terdiri dari lima orang pengemis Tiat-tung Kaipang dan dua orang gadis berpakaian serba hitam.
Tapi Tan Hok tak melihat Chin Yang Kun di antara mereka, begitu pula dengan Kehsim Siauwhiap!
Agaknya pendekar dari Pulau Meng-to itu belum mau menampakkan dirinya.
Tan Hok bergegas turun ke halaman, menyibakkan para penjaga yang telah mengepung tempat itu.
Jai hwa Toat beng kwi dan kawan-kawannya juga melangkah ke samping untuk memberi jalan, sehingga Tan Hok dapat langsung berhadapan muka dengan para tamunya.
"Haha...Pendekar Li, akhirnya keluar juga kau!"
Salah seorang tamunya yang tidak lain adalah Tiat tung Lokai menyapa kedatangan Tan Hok dengan tersenyum.
"Pendekar Li? Mengapa para pengemis itu memanggilnya Pendekar Li?"
Chin Yang Kun yang ternyata bersembunyi di atas genting pendapa itu berkemak-kemik dengan bingung.
Tadi pemuda itu bergegas meloncat keluar begitu mendengar Keh-sim Siauwhiap telah datang.
Tapi sesampainya di halaman depan dia hanya melihat Tiat-tung Lokai, Tiat-tung Su-lo dan...dua orang gadis yang dulu pernah berkelahi dengan dia di tempat para pengungsi!
Karena tidak ingin bentrok lagi dengan gadis-gadis tersebut, apalagi Keh-sim Siauwhiap ternyata juga belum tiba maka dia segera bersembunyi di atas genting.
Dari tempat tersebut dia akan segera mengetahui kalau Keh-sim Siauwhiap datang.
"Hmm, apa maksud kalian maIam-malam datang ke rumahku? Siapakah kalian?"
"Hahaha...kau tidak usah berpura-pura dan berbelit-belit di depanku. kau tidak usah mengganti namamu dengan Tan Hok segala. Di manapun kau bersembunyi kami tentu mengetahuinya. Nah, lekaslah kau berikan benda itu...!"
"Benda apa yang kau maksudkan?"
"Kurang ajar...! Engkau masih juga mau melawan? Haha, baiklah...kelihatannyapun masih mengandalkan pengawal-pengawalmu yang banyak ini,"
Tiat tung Lokai menyiapkan tongkat besinya.
"Su-Io! Hajar mereka!"
Teriak orang tua itu.
Tiat tung Su-lo cepat melangkah ke depan dan Ngo kui-shui segera menghadang mereka.
Lalu terjadilah pertempuran dahsyat di antara mereka, empat melawan lima!
Tiat-tung Su-lo memegang tongkat besi sementara Ngo-kui-shui bersenjatakan ruyung besar bersegi delapan.
Mereka bertempur dengan keras dan kasar!
"Nah, sekarang siapa yang akan melawan aku?
Apakah kau sendiri, Pendekar Li?"
Tiat tung Lokai menantang.
"Tidak perlu! Biarlah aku saja yang menghadapi tongkat besimu..."
Hui-chio Tu Seng meloncat ke depan dan melintangkan tombaknya di depan Tiat-tung Lokai.
"Hahah...bagus! Hui-chio Tu Seng rupanya. Ayoh! Tapi berhati-hatilah menghadapi ilmu tongkatku! Aku takut kau takkan tahan menghadapinya..."
Hui chio tidak menjawab ejekan itu, tapi langsung menikamkan ujung tombaknya ke dada lawan.
Wuut!
Tiat tung Lokai cepat menangkisnya dengan tongkat besi.
Traang!
Dan bunga api memercik ke udara.
Selanjutnya mereka bertempur dalam tempo yang sangat cepat dan seru!
Dua orang gadis berpakaian serba hitam itu menghunus pedang dari pinggang masing-masing, lalu maju pula ke tengah arena.
Keduanya telah bersiap siap untuk turun tangan.
Tapi dari pihak Pendekar Li atau Tan Hok, maju pula Pek-pi siau-kwi dan Lam Hui.
Kedua orang pengawal pilihan dari Pendekar Li ini juga sudah mencabut senjata masing-masing, yaitu pedang dan golok.
Tanpa banyak omong lagi mereka berempat langsung juga bergebrak dengan sengit!
Pendekar Li melangkah ke samping, mencari tempat yang lapang untuk mengawasi pertempuran tersebut.
Jai hwa Toat beng kwi mengikuti pula di sampingnya.
Sambil menonton mereka memperhatikan seluruh halaman di depan mereka.
Di pojok pojok yang gelap atau di bawah atap-atap bangunan yang agak terlindung!
"Mengapa Keh-sim Siauwhiap belum juga menampakkan dirinya?
Apakah yang dikatakan oleh cecunguk cecunguk itu sebelum aku datang?
Apakah Keh-sim Siauwhiap memang belum datang?"
Pendekar Li bertanya kepada Jai hwa Toat beng-kwi. Hantu cabul itu menggeram menahan marah.
"Katanya...bangsat itu baru akan muncul setelah dia yakin bahwa benda itu benar-benar tidak diberikan kepadanya. Hmmm...eh, di mana pemuda itu?"
"Yang Kun? Entahlah, akupun mencarinya pula. Dia sudah lebih dulu keluar ketika mendengar laporan penjaga kepadaku. Memang dialah satu-satunya andalan kita untuk menghadapi Keh-sim Siauwhiap. Bocah itu memang lihai bukan main! Arak yang kuberi obat pemabuk itu hampir-hampir tidak berpengaruh sama sekali terhadap dirinya. Hampir saja aku dibunuhnya di dalam kamar tadi."
"Aku juga heran, dulu ayah dan pamannya tidak seberapa kepandaiannya. Dengan mudah kita menaklukkan mereka. Eeh, Li Tai hiap...benarkah anak itu putera orang she Chin itu?"
"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri dia menangisi mayat ayahnya, ketika aku kembali ke rumah untuk mencari pelayan yang kutitipi potongan emas itu. Malahan kutunggu dia sampai selesai menguburkan mayat ayah dan pamannya.Maka dari itu aku lantas mengenalinya ketika kemarin aku menyelidiki sendiri ke rumah Kam Lojin..."
Pendekar Li menjawab dengan yakin.
"Wah, apabila demikian anak itu sungguh sangat berbahaya bagi kita."
Jai-hwa Toat-bengkwi menyahut dengan perasaan khawatir.
"Jangan takut! Rahasia itu hanya kita dan Keh-sim Siauwhiap sendiri yang mengetahuinya. Nah, kalau kedua orang itu sudah dapat kita adu satu sama lain, apa yang mesti ditakutkan lagi? Siapa saja yang akan mati di antara mereka berdua tidak menjadi masalah lagi bagi kita."
Kedua orang itu lalu berdiam diri kembali, matanya mengawasi jalannya pertempuran.
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara teriakan Hui-chio Tu Seng yang bertempur dengan Tiat-tung Lokai di tempat yang agak gelap di pojok halaman.
Pendekar Li dan Jai-hwa Toat-beng-kwi bergegas menghampiri, tapi sudah terlambat!
Tampak oleh mereka Hui-chio Tu Seng sudah terhuyung-huyung ke belakang sambil mendekap perutnya yang tertusuk oleh tombaknya sendiri.
Darahnya mengucur dengan deras dari sela-sela jarinya.
Sekejap orang itu menoleh ke arah Pendekar Li yang datang, tapi sesaat kemudian tubuhnya telah terjerembab ke tanah dan...mati!
"Hahaha...ayo siapa lagi yang akan melawanku?
kau Pendekar Li...?"
"Lewati dulu mayatku!"
Jai hwa Toat-beng-kwi menyerang dengan tangkai huncwenya.
"Traang!"
Tiat-tung menangkis dengan tongkat yang dibawanya.
Mereka sama-sama tergetar mundur, hanya kakek pengemis itu menjadi kaget ketika telapak tangannya terasa panas bagai terkelupas kulitnya.
Gila!
Ketua Tiat-tung Kai-pang bagian selatan itu mengumpat di dalam hati.
Kelihatannya dia memperoleh lawan berat kali ini.
Memang.
Jai hwa Toat-beng-kwi tidak bisa dipersamakan dengan Hui chio Tu Seng.
Hantu cabul ini selain mempunyai kepandaian yang lebih tinggi, orangnyapun lebih licik dan berbahaya.
Huncwenya yang biasa untuk mengisap tembakau itu kadang kadang tidak berisi tembakau yang nikmat untuk diisap, tapi berisi racun memabukkan yang sangat berbahaya bagi lawannya.
Dan lobang pipanya yang panjang ini kadang kala tidak hanya berisi kerak tembakau saja tetapi sering kali juga berisi jarum-jarum beracun yang sangat mematikan.
Maka dari itu Tiat tung Lokai juga tidak ingin terjebak oleh senjata lawan yang aneh tersebut.
Dari mula bergerak pengemis tua itu selalu mengambil jarak dengan Jai-hwa Toat-beng-kwi.
Selain ia lebih beruntung dengan senjatanya yang lebih panjang, iapun dapat selalu berjaga-jaga terhadap serangan mendadak hantu cabul itu.
Siapa tahu hantu cabul tersebut secara tiba-tiba meniupkan asap pipanya, atau siapa tahu hantu cabul itu mendadak melepaskan jarumnya?
Oleh karena itu pertempuran mereka benar-benar alot dan hati-hati sekali.
Sementara itu di kalangan lain, yaitu di dalam arena Tiat-tung Su-lo, agaknya pertempuran juga sudah akan berakhir.
Ngo kui-shui yang baru saja terluka oleh pukulan Chin Yang Kun itu memang bukanlah lawan yang seimbang bagi Tiat-tung Su-lo.
Biarpun jumlahnya lebih banyak tapi tingkat kepandaian mereka memang masih berada di bawah Tiat-tung Su-lo.
Sudah berkali-kali terlihat beberapa orang di antara anggota Ngo kuishui terkena hantaman tongkat besi lawannya.
Sedangkan di kalangan yang lain lagi, keadaannya juga sama saja.
Lam Hui yang tinggi besar dan juga memegang golok raksasa itu ternyata juga tidak berdaya menandingi kegesitan gadis yang jauh lebih kecil dan kelihatan lemah itu.
Tubuhnya yang besar itu justru kelihatan sangat kaku danlamban untuk menghadapi ketrampilan dan kelincahan lawannya.
Beberapa kali ia menjadi salah tingkah, sehingga akhirnya tubuh yang kokoh kuat itu malah menjadi bulan-bulanan lawan.
Yang agak berimbang dan setanding adalah perkelahian antara Pek-pi Siau-kwi melawan gadis berbaju hitam lainnya.
Gaya pertempuran mereka sama, yaitu sama-sama gesit, sama-sama lincah dan sama-sama menggunakan pedang.
Cuma bedanya, ilmu pedang Pek-pi Siau-kwi tampak ganas dan penuh tipu muslihat, sementara ilmu pedang lawannya lebih bersifat lembut, indah tapi kokoh dan mantap!
Oleh karena itu dalam waktu singkat pertempuran di antara mereka sulit diramalkan siapa yang akan menjadi pemenangnya.
"Aduuh...!"
Tiba-tiba Lam Hui yang sedari tadi telah jatuh di bawah angin itu berteriak kesakitan.
Pedang lawannya telah menggores sepanjang lengan kanannya, sehingga golok yang dia pegang terlepas dari tangannya.
Otomatis pertempuran berhenti, karena Iawannya juga tidak berusaha untuk mengejar dia.
Sebaliknya gadis itu justru pergi bergabung dengan kawannya yang bertempur melawan Pek-pi Siau-kwi.
Sehingga hantu cantik itu kini harus melawan dua orang sekaligus.
"Kurang ajar!"
Pendekar Li mengumpat-umpat.
Tapi sebelum pemilik rumah itu terjun ke dalam arena pertempuran, lagi-lagi terdengar teriakan Ngo-kui-shui yang silih berganti.
Satu persatu anggota Ngo kui-shui itu berjatuhan ke tanah dibantai Tiat-tung Su-lo.
"Gila...!"
Sekali lagi Pendekar Li mengumpat keras sekali.
"Kubunuh kalian semua!"
Orang kaya itu menghunus Jit-seng-kiamnya (Pedang Tujuh Bintang).
Dalam keremangan sinar obor tampak tujuh buah permata yang menempel pada batang pedang itu gemerlapan seperti bintang pagi.
Lalu sambil berteriak keras pedang itu diayun ke depan sehingga mengeluarkan suara mendesing yang keras sekali.
Perbawanya sungguh menakutkan.
Pendekar Li meloncat ke samping Pek pi Siau-kwi.
Pedangnya yang gemerlapan itu menyontek ke atas, ke arah pedang gadis berbaju hitam yang sebelah kiri, sedang tangan kirinya menyambar pergelangan tangan gadis lainnya.
Sekali gebrak Pendekar Li menyerang kedua orang lawan dari Pek-pi Siau-kwi sekaligus!
Gerakannya memang cepat dan sigap, suatu pertanda kalau ilmunya sudah matang dan mantap.
Ternyata kedua orang gadis berbaju hitam itu mengenal bahaya pula.
Mereka segera mengelak dengan meloncat mundur, karena keduanya tahu bahwa tenaga mereka masih kalah jauh bila dibandingkan dengan tenaga dalam Pendekar Li.
Benturan-benturan di antara mereka hanya akan melemahkan kekuatan mereka saja.
Satu-satunya jalan bila mau berhadapan dengan Pendekar Li hanyalah dengan kegesitan mereka saja.
Celakanya pihak tuan rumah dibantu oleh Pek-pi Siau-kwi yang mempunyai kelincahan setaraf dengan mereka, sehingga sedikit banyak hantu cantik itu dapat membantu Pendekar Li untuk mencegat gerakan gerakan mereka.
Benarlah, sebentar kemudian kedua gadis itu telah terdesak dengan hebat.
Untunglah Tiat-tung Su-lo sudah selesai membereskan lima orang lawannya, sehingga ketika mereka melihat kesukaran yang dialami oleh kedua orang temannya tersebut, mereka segara datang menolong.
Kini pertempuran menjadi lebih seru lagi.
Dua orang melawan enam orang!
Tapi Jit-seng-kiam-hoat dan Pendekar Li memang hebat sekali.
Hampir semua unsur gerakannya yang cepat dan mantap itu mengambil dasar segi empat.
Baik gerakan gerakan kakinya maupun gerakan-gerakan pedangnya.
Memang ilmu pedang tersebut diciptakan oleh penciptanya berdasarkan kedudukan Bintang Tujuh yang selalu muncul di langit pada lewat tengah malam itu.
Sementara itu pertempuran antara Tiat-tung Lokai melawan Jai-hwa Toat-beng-kwi, semakin lama semakin seru.
Meskipun hanya satu lawan satu, tapi pertempuran mereka tidak kalah ramainya dengan pertempuran antara Pendekar Li yang dibantu oleh Pek-pi Siau-kwi dengan Tiat tung Su-lo yang dibantu oleh dua orang gadis berbaju hitam-hitam itu.
Tiat tung Lokai yang sudah tua dan banyak pengalaman itu bertempur dengan hati-hati sekali.
Tongkat besinya menyambar-nyambar ke arah lawan untuk menahan agar lawannya tidak terlalu dekat dengan dirinya.
Tongkat yang tidak begitu besar itu menghantam, memotong, menolak dan menyapu lawan dengan keras dan kuat!
Ternyata lawannya, Jai-hwa Toat-beng-kwi, tidak kalah pula cerdiknya.
Karena tak bisa bertempur dalam jarak dekat, sehingga huncwenya tak bisa ia pergunakan dengan baik, maka hantu cabul itu segera mengobral asap mautnya.
Malahan sering-sering, di antara asap tembakaunya yang bergulung-gulung itu, Jai-hwa Toat beng kwi menyelipkan serangan jarum rahasianya.
Ternyata cara yang dilakukan oleh Jai-hwa Toat beng-kwi ini memang benar-benar menyulitkan Tiat-tung Lokai.
Bagaimanapun juga, hembusan asap dan luncuran jarum-jarum rahasia itu ternyata lebih jauh dan lebih luas daya jangkaunya dari pada tongkat besi Tiat-tung Lokai.
Sehingga lambat laun pengemis tua itu terpaksa hanya sibuk untuk menghalau dan mengelakkan serangan asap dan jarum rahasia tersebut, sedikit pun tak ada kesempatan lagi untuk membalas.
Tentu saja keadaan tersebut membuat Tiat-tung Lokai terjatuh di bawah angin.
"Hehehe...pengemis tua yang malang, kini giliranmu untuk menghadap kepada Giam loong. kau tadi telah membunuh temanku, sekarang akulah yang ganti membunuhmu..."
"Persetan kau...aduuh!"
Sedikit saja pengemis itu memecah perhatiannya, sebatang jarum yang dilepaskan oleh Jai hwa Toat-beng kwi menancap di atas sikunya.
Tentu saja hal itu membuat Tiat-tung Lokai semakin mendongkol dan marah, sehingga gerakannyapun semakin ngawur dan sia-sia.
"Heheh.,,...kau jangan terlalu bernafsu begitu, pengemis tua! Ingatlah tubuhmu yang sudah waktunya pensiun itu! Belum-belum sudah kehabisan napas kau nanti..., atau janganjangan tubuhmu tak mau menuruti perintahmu lagi nanti! heheh...semangat besar, tapi tenaga...apa daya! Huah-hahah...!"
Jai-hwa Toat beng-kwi tertawa terbahak-bahak untuk memanasi perut lawannya.
"Babi! Anjing! Keparat...aduuh!"
Jilid 19 ORANG tua itu terluka lagi.
Gerakannya yang ngawur dan tak terkontrol itu mengakibatkan banyak lobang kelemahannya sehingga dengan mudah Jai hwa Toat beng kwi memasukkan jarum-jarumnya.
Kini sudah ada empat jarum lagi yang menembus kulitnya, dua buah di dada dan dua buah lagi di dekat pusarnya.
Racun yang terkandung pada jarum keciI itu memang bukan jenis racun yang amat ganas, tapi meskipun demikian racun itu juga bukan racun yang tidak berbahaya.
Hanya daya kerjanya saja yang lamban, padahal pengaruh yang diakibatkannya juga sama saja.
Orang yang terkena racun tersebut apabila tidak lekas Iekas diobati, otot-otot tubuhnya akan semakin melemah, sehingga akhirnya orang itu akan menjadi lumpuh dan tak bisa bergerak sama sekali.
"Pengemis malang...! Lihat! Sudah ada lima jarum rahasiaku yang terbenam dalam dagingmu! Nah, mulai sekarang tidak kulawanpun sebenarnya kau sudah akan terjatuh sendiri. Badanmu sedikit demi sedikit akan menjadi lemah dan akhirnya kau akan tergelimpang tak berdaya dengan sendirinya, heheh..."
"Bangsat..."
"Ssst!"
Jai-hwa Toat-beng-kwi buru-buru memberi tanda agar lawannya tidak berteriak lagi.
"Kau jangan banyak bicara lagi, karena hal itu hanya akan mempercepat kematianmu saja! Menyerahlah saja kepadaku, nanti akan kuberi jalan kematian yang lebih enak, hehe...!"
Ternyata nasib yang amat buruk itu tidak hanya menimpa Tiat tung Lokai saja, karena di arena yang lain kawan-kawannya juga mengalami nasib yang tidak kalah buruknya.
Tiat tung Su-lo yang lihai itu bersama-sama dengan sepasang gadis berbaju hitam, ternyata juga sedang didesak habis-habisan oleh kedua orang lawannya.
Kepandaian Pek-pi Saukwi memang tidak begitu mengejutkan, yang amat merepotkan justru ilmu pedang Jit-seng kiam-hoat dari Pendekar Li itu.
Ujung pedang yang dihiasi dengan batu permata itu selalu berkelebat mencegat permainan gabungan mereka.
Langkah-langkah kaki yang berbentuk empat persegi itu selalu dapat membendung serangan-serangan yang dilancarkan dari mana saja.
Lambat-laun mereka berenam seperti terjerat dalam kotak kotak segi empat yang tak ada habis-habisnya!
Darah mulai menetes dari lobang-lobang luka yang diakibatkan oleh pedang lawan.
Chin Yang Kun yang berada di atas genting menonton pertempuran itu dengan tenangnya.
Dia tidak mempunyai kepentingan sama sekali dengan mereka.
Oleh karena itu ia juga tidak mau terlibat dalam pertempuran tersebut.
Yang ia cari dan ia nantikan hanyalah Keh sim Siauwhiap, orang yang menurut penuturan Tan Hok atau Pendekar Li adalah pembunuh ayah dan pamannya!
Ia percaya, sebentar lagi pendekar yang sangat ternama itu tentu akan muncul untuk menolong anak buahnya.
Jika ia turut campur dan membantu salah satu pihak, kemungkinan besar pendekar tersebut malah takkan keluar dari persembunyiannya.
Benarlah!
Panca indera dan perasaannya yang amat terlatih itu mendadak seperti mendengar langkah beberapa orang di luar pintu gerbang halaman, dan sebentar kemudian pintu besar yang tertutup rapat itu telah didobrak dari luar.
"Brraak! Grobyaag!"
"Lam-Pangcu (Ketua Perkumpulan Daerah Selatan)...! Jangan khawatir, aku datang menolongmu!"
"Siang-sumoi (kedua orang adik seperguruan)...! Lihatlah, kami telah datang!"
Dari luar pintu, tiba-tiba masuk seorang pengemis dan dua orang gadis manis berbaju serba putih.
Pengemis itu berusia kira-kira lima puluh tahun, bermata kocak dengan rambut putih terurai acak-acakan sampai ke bahu.
Tangannya menggenggam sebatang tongkat besi yang bentuk dan ukurannya, persis dengan kepunyaan Tiat-tung Lokai.
Begitu datang pengemis tua berambut acak-acakan itu langsung terjun membantu Tiat-tung Lokai.
Tongkat besinya yang panjang terayun datar menghantam perut Jai-hwa Toat-beng kwi.
Dilihat sepintas lalu gerakan tongkatnya amat mirip dengan gaya permainan tongkat Tiat-tung Lokai.
Hanya tenaga dan kecepatannya saja yang berbeda.
Gaya permainan tongkat pengemis yang baru tiba ini tampak lebih lamban tetapi tenaga atau kekuatan yang ditimbulkan, ternyata jauh lebih kuat dan lebih dahsyat dari pada kekuatan Tiat-tung Lokai.
Oleh karena itu ketika Jai-hwa Toat-bengkwi mencoba untuk menangkis serangan tersebut, menjadi terkejut setengah mati.
Huncwe yang dipegang oleh hantu cabul itu terpental dan hampir saja terlepas dari tangannya.
Untunglah dia cepat-cepat melompat meraihnya kembali.
Tapi untuk beberapa saat lamanya hantu cabul tersebut hanya berdiri tertegun di tempatnya, seolah-olah ia tak percaya pada kenyataan itu.
Dan kesempatan itu dipakai oleh lawannya untuk menolong Tiat-tung Lokai.
"Lam-Pangcu, kau tidak apa apa bukan!"
Pengemis berambut acak-acakan itu bertanya.
"Ah, untung saja Pak-Pangcu (Ketua Perkumpulan Daerah Utara) segera datang, kalau tidak...yah, mungkin saja aku sudah tak ada lagi di dunia ini. Eh, di mana Keh-sim Siauwhiap...?"
Tiat-tung Lokai memijit-mijit lengan dan dadanya dan berusaha mengeluarkan jarum yang terbenam di tempat itu.
Sementara itu dua orang gadis berbaju putih yang datang bersama-sama dengan ketua Tiat tung Kai-pang bagian utara itu langsung menghambur ke arena pertempuran yang lain.
Sepasang gadis berbaju putih itu menghunus pedangnya dan menyerang Pendekar Li dan Pek-pi Siau-kwi.
Pedang mereka menusuk dan kemudian memotong jalur pengepungan yang dilakukan oleh kedua orang itu terhadap kawan-kawan mereka sehingga kepungan itu menjadi patah dan tak berfungsi lagi.
Tiat-tung Su-lo dan kedua orang gadis berbaju hitam-hitam itu meloncat mundur dan berpencar.
Semuanya menghela napas lega, seolah-olah batu yang menghimpit mereka telah hilang.
"Siang su-ci, terima kasih...!"
Sepasang gadis berbaju hitam itu mengangguk.
"Maaf, sumoi...kami datang terlambat."
Mereka lalu berdiri bahu membahu menghadapi Pendekar Li dan Pek-pi Siauw-kwi.
Begitu pula dengan Tiat-tung Lokai dan ketua Tiat-tung Kaipang daerah utara yang bergelar Tiat-tung Hong-kai itu!
Kedua orang Tiat-tung Kai-pang tersebut juga berdiri bahu membahu di hadapan Jai-hwa Toat beng kwi!
Dan tanpa mereka kehendaki bersama sebelumnya pertempuran itu terhenti untuk sementara.
Perkembangan yang terjadi di halaman itu membuat Chin Yang Kun merasa berdebar debar juga di dalam hatinya.
Perimbangan kekuatan itu sekarang kelihatannya menjadi berubah lagi.
Tampaknya pihak tuan rumah atau pihak dari Pendekar Li jatuh di bawah angin lagi sekarang.
Bala bantuan lawan yang baru tiba itu kelihatannya terdiri dari orang orang kuat yang berkepandaian tinggi.
Dan hal ini benar-benar menggelisahkan hati Chin Yang Kun, karena bila orang orang itu sudah dapat menguasai pihak Pendekar Li, alamat Keh-sim Siauwhiap takkan muncul sendiri di tempat itu.
"Aku harus memaksa orang itu keluar dari persembunyiannya,"
Pemuda itu menggeram di dalam hatinya.
"Asal semua anak buahnya itu dapat kukuasai, mustahil dia takkan keluar..."
Memperoleh keputusan demikian, Chin Yang Kun segera bersiap siap untuk terjun dalam arena pertempuran tersebut.
Dikerahkannya seluruh kekuatan Liong-cu-ikang ke seluruh tubuhnya.
Sementara itu orang-orang yang saling berhadapan di halaman rumah depan itu telah berbaku hantam kembali dengan dahsyatnya.
Jai-hwa Toat-beng-kwi dikeroyok oleh dua orang ketua Tiat tung Kai pang, sedangkan Pendekar Li yang dibantu oleh Pek-pi Siau-kwi dikeroyok delapan orang, yaitu Tiat-tung Su-lo, dua orang gadis berbaju hitam-hitam dan dua orang gadis berbaju putih-putih.
Bagaimanapun juga lihainya Pendekar Li, menghadiri jago jago silat kelas satu seperti delapan orang itu, kewalahan juga akhirnya.
Mula-mula Pek-pi Siau-kwi dahulu yang jatuh terkena senjata lawan, kemudian baru Jai-hwa Toat-beng-kwi.
Hantu cabul itu harus mengakui kelihaian permainan tongkat gabungan lawannya.
Tapi sebelum orang kaya itu jatuh pula terkena serangan para pengeroyoknya, Chin Yang Kun keburu datang menolongnya.
Pemuda itu melesat turun sambil melancarkan pukulan jarak jauhnya.
"Buuuum!"
Mereka berloncatan menghindarkan diri dari pukulan itu, sehingga angin pukulan tersebut menghantam tanah berpasir yang mereka pijak.
Debu berhamburan ke mana-mana.
Sesaat halaman itu menjadi gelap, sehingga rasa-rasanya tak seorangpun bisa melihat kedatangan Chin Yang Kun di tengah-tengah kepulan debu tersebut.
Baru beberapa saat kemudian mereka dapat melihat dengan jelas setelah debu yang memenuhi tempat itu habis larut terbawa angin.
"Yang Siauwhiap...! Akhirnya kau datang juga."
Pendekar Li menyambutnya dengan hati lega.
"Huh...kau lagi!"
Dua orang gadis berbaju serba hitam itu tersentak kaget.
Otomatis pertempuran menjadi terhenti untuk beberapa saat.
Semua mata memandang Chin Yang Kun yang kedatangannya seperti hantu malam yang tersembul dari dalam tanah begitu saja.
"Siapakah dia? Apakah nona mengenalnya...?"
Salah seorang dari Tiat tung Su-lo bertanya kepada gadis berbaju hitam.
"Sumoi, kau kenal pemuda itu?"
Gadis berbaju putih itu ikut pula bertanya.
"Suci...dialah pemuda yang kemarin kuceriterakan itu."
"Yang membunuh anggota Tiat-tung Kai-pang dan merebut pedangmu...?"
"Betul!"
"Sungguh kurang ajar! Lo-Cianpwe, awas...! Pemuda inilah yang membunuh anak buah Lo-Cianpwe di tempat pengungsian itu!"
"Heh? Diakah orangnya..? Bangsat!"
Tiat-tung Lokai mengumpat marah.
"Su-lo! Bunuh dia! Jangan diberi ampun orang yang telah berani membunuh anggota perkumpulan kita!"
"Baik, Pangcu!"
Sementara itu Pendekar Li beserta Jai-hwa Toat-beng-kwi dan Pek-pi Siau-kwi merasa terkejut bercampur gembira mendengar pemuda andalan mereka itu ternyata justru sudah bermusuhan dengan orang-orangnya Keh-sim Siauwhiap.
Dengan begitu rencana yang telah mereka susun menjadi semakin licin jalannya.
Tidak usah mereka dorong lagi pemuda itu tentu akan bertanding mati-matian dengan Keh-sim Siauwhiap.
"Lihat serangan!"
Salah seorang dari Tiat-tung Su-lo berteriak ketika empat orang tokoh pengurus Tiat-tung Kaipang itu menyerbu kearah Chin Yang Kun.
"Huh, ternyata kau juga hanya seorang pengikut dari orang she Li itu! Lo-Cianpwe, awas...! Dia lihai sekali!"
Gadis berbaju hitam-hitam itu meloncat maju pula sambil memperingatkan para pengemis tersebut.
Sekaligus diserang oleh enam orang lawan, sedikitpun Chin Yang Kun tidak merasa gentar.
Dengan mudah pemuda itu mengelakkan serangan serangan para pengeroyoknya.
Malah kadang-kadang pemuda itu mencoba menepiskan serangan tongkat atau pedang lawannya dengan lengan telanjangnya.
Dan akhirnya setelah yakin kekuatan tangannya mampu menahan senjata lawan, Chin Yang Kun menjadi semakin berani pula.
Tebasan pedang lawannya ia tangkis begitu saja dengan lengannya!
Melihat kesaktian Chin Yang Kun, kedua orang gadis berbaju putih itu segera terjun pula ke dalam arena.
Ayunan pedang mereka yang lebih galak dan lebih mantap dari pada sumoi mereka yang berbaju hitam itu menyambar-nyambar dengan ganas dan selalu mengarah ke tempat-tempat yang mematikan.
Tapi Chin Yang Kun tetap tak terpengaruh ataupun tergoyahkan oleh serangan-serangan itu.
Meskipun sekarang dia dikeroyok delapan orang, tapi mereka tetap tak mampu mendekatinya.
Tubuhnya yang terlindung oleh Liong cu-i-kang itu bagaikan kebal terhadap segala macam senjata dan pukulan.
Malahan perbawa hawa dingin yang tersebar dari pengaruh tenaga sakti Liong-cu i-kang, membuat lawan lawannya menjadi sesak serta menggigil kedinginan.
"Lam-Pangcu! Pak-Pangcu...! Anak ini mempunyai ilmu siluman!"
Akhirnya salah seorang dari Tiat-tung Su-lo berteriak karena tak tahan.
"Heh? Hem, kurang ajar...! Pak-Pangcu, mari kita labrak bersama-sama anak itu!"
Tiat-tung Lokai mengajak rekannya, Tiat tung Hong-kai!
Tiat tung Hong-kai mengangguk ragu, tapi tidak segera beranjak dari tempatnya, pengemis yang dianggap gila oleh kebanyakan orang itu belum juga mempercayai apa yang telah dia lihat di depan matanya.
Dalam hati Tiat tung Hong-kai benar-benar belum dapat menerima seorang pemuda belasan tahun yang belum hilang wajah kekanak-kanakannya mampu menahan pukulan tongkat besi dan sabetan pedang tanpa menderita luka sedikitpun.
Padahal lawannya terang bukan tokoh-tokoh sembarangan.
Tiat-tung Su-lo adalah pengurus pusat Tiat-tung Kaipang bagian selatan.
kepandaiannyapun hanya di bawah ketua perkumpulannya.
Sedang dua pasang gadis berbaju putih dan hitam itu adalah pembantu-pembantu utama dari Keh-sim Siauwhiap sendiri, kepandaiannya justru lebih tinggi bila dibandingkan dengan Tiat tung Su-lo.
Tapi meskipun begitu mereka berdelapan masih terdesak juga menghadapi pemuda itu.
Sungguh tak masuk akal!
Kini Lam-Pangcu dari Tiat-tung Kai pang malah sudah terjun pula ke dalam gelanggang.
Sembilan orang yang mengeroyok Chin Yang Kun sekarang.
Tapi lagi-lagi tambahan bala bantuan tersebut seperti tidak ada artinya pula bagi pemuda itu.
Kepandaian atau kesaktian pemuda itu seperti tak ada batasnya.
Setiap lawan yang mengeroyoknya bertambah, kekuatan dan kesaktiannya seperti ikut bertambah pula.
Akhirnya Tiat-tung Hong-kai sadar juga dari rasa ketidakpercayaannya yang keliru itu.
Pemuda yang berada di hadapannya itu memang benar benar seorang pemuda yang lain dari pada yang lain.
Pemuda itu benar benar seorang pemuda yang berkepandaian sangat tinggi.
Mungkin tidak kalah tingginya dengan kepandaian Keh-sim Siauwhiap yang juga sangat hebat itu.
Oleh karena itu tanpa rasa sungkan sungkan lagi Tiat tung Hong-kai segera terjun pula membantu kawan-kawannya, sehingga sekarang mereka berSepuluh orang mengeroyok pemuda sakti tersebut.
Setelah ikut terjun sendiri dalam arena pertempuran, barulah pengemis gila itu benar-benar terbuka hatinya.
Sekarang dia sungguh sungguh percaya dan mengakui bahwa pemuda itu memang lihai bukan main!
Biarpun mereka berjumlah banyak tetapi seluruh badan pemuda itu seperti terlindung dalam perisai besi yang kokoh kuat, sehingga tak sebuah senjatapun yang mampu menembusnya.
Sebaliknya, Chin Yang Kun juga tak mudah untuk mengalahkan para pengeroyoknya itu.
Selain mereka berjumlah banyak, kepandaian merekapun juga tidak rendah.
Mereka bertempur bahu-membahu dan saling melindungi, sehingga Hok-te Ciang-hoat yang dikeluarkan oleh pemuda itu tidak bisa berbuat banyak terhadap mereka.
Berkali-kali orang yang akan menjadi kurban pukulannya selalu dapat diselamatkan oleh yang lainnya.
Kalau Chin Yang Kun mengerahkan seluruh tenaganya dalam pukulannya mereka tentu menyambutnya secara beramai-ramai pula.
Lima belas jurus telah berlalu dan pertempuran itu belum juga menampakkan tanda-tanda akan berakhir.
Pendekar Li dan dua orang kawannya, mendadak seperti tersadar dari rasa kagum dan rasa heran mereka melihat pertempuran yang berlarut-larut itu.
Mereka bertiga segera menyadari bahwa pemuda itu bukanlah seorang dewa yang selalu menang dalam setiap pertempuran.
Oleh karena itu mereka harus ikut pula turun tangan untuk membantu menyelesaikan pertempuran tersebut.
Maka setelah memberi tanda kepada Jai-hwa Toat bengkwi dan Pek-pi Siau-kwi agar mengikuti dirinya, Pendekar Li terjun pula ke dalam gelanggang pertempuran.
Pendekar Li langsung mencegah Tiat tung Hong-kai, orang yang ia anggap paling berbahaya di antara mereka.
Sedang Jai-hwa Toat-beng kwi cepat memilih sepasang gadis berbaju putih sebagai lawannya.
Hantu cabul itu membiarkan Pek-pi Siau-kwi sendirian melawan Tiat-tung Lokai!
Kini tinggal Tiat-tung Su-lo dan seorang gadis berbaju hitam itulah yang menghadapi Chin Yang Kun.
Maka tak heran kalau sebentar saja mereka sudah didesak habis-habisan oleh pemuda itu.
Malahan sebentar kemudian salah seorang dari gadis berbaju hitam itu tampak terpental jatuh terkena pukulan Chin Yang Kun.
Beberapa saat kemudian diikuti pula oleh dua orang dari Tiat tung Su-lo, mereka juga menggeletak tak berdaya terkena tendangan Chin Yang Kun.
"Cici...lepaskan tanda peringatan ke atas!"
Gadis berbaju hitam yang masih sehat itu menoleh, lalu berteriak memperingatkan gadis berbaju putih yang sibuk berunding dengan Jai-hwa Toat-beng-kwi.
"Hehe...kau mau memanggil bala bantuan lagi? Eee, nanti dulu...! Kita belum puas bertanding..."
Jai-hwa Toat-beng-kwi menyahut sambil memperhebat serangannya, sehingga kedua orang lawannya tak punya kesempatan untuk melepas tanda peringatan itu.
Hal itu memang bisa terjadi karena kekuatan kedua belah pihak memang berimbang.
Kekuatan dan kemampuan dua orang gadis itu secara bersama-sama berimbang dengan kekuatan dan kemampuan Jai-hwa Toat-beng-kw!
Malah dalam beberapa hal kemampuan Hantu Cabul itu agak lebih menang bila dibandingkan dengan lawannya.
Oleh karena itu tidak heran kalau kedua orang gadis itu tak mampu berbuat lain selain harus bertempur dengan konsentrasi penuh ketika Jai hwaToat-beng kwi memperhebat serangannya.
Sedangkan pertempuran antara Pendekar Li dan Tiat-tung Hong-kai tidak kalah pula serunya.
Sebagai seorang ketua perkumpulan besar seperti Tiat-tung Kai pang, apalagi Tiat-tung Kai pang bagian utara yang lebih besar dan lebih banyak anggotanya dari pada bagian selatan, Tiat-tung Hong kai benar benar mempunyai kepandaian yang amat tinggi, lebih tinggi dari pada Tiat-tung Lokai!
Tetapi lawannya sekarang adalah Pendekar Li, seorang jago silat yang telah mempunyai nama besar pula seperti dirinya, sehingga pertempuran diantara mereka memang sungguh seru sekali.
Sulit untuk dapat memastikan dengan segera, siapa yang lebih unggul di antara keduanya.
Begitu pula dengan pertempuran antara Pek-pi Siau-kwi dengan Tiat-tung Lokai.
Sebenarnya dalam keadaan biasa kepandaian Tiat-tung Lokai masih sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan kepandaian Pek-pi Siau-kwi, tapi karena pengemis tua itu telah terkena lima buah jarum Jai-hwa Toat-beng-kwi maka kekuatan dan kelincahannya sudah banyak berkurang.
Malahan sejalan dengan semakin kuatnya daya pengaruh racun jarum itu ke dalam tubuh Tiat-tung Lokai, Pek pi Siau-kwi semakin mempunyai banyak kesempatan untuk menundukkan orang tua itu.
Tetapi seperti juga dengan kedua orang kawannya yang lain, hantu cantik itu harus berjuang dahulu untuk waktu yang lama agar bisa mengalahkan lawannya.
Yang paling celaka dan paling menderita dalam pertempuran itu adalah orang-orang yang terpaksa harus menghadapi Chin Yang Kun!
Karena tidak berimbang, maka satu persatu orang-orang yang mengeroyok pemuda itu jatuh terkapar di atas tanah.
Mula mula yang jatuh adalah salah seorang dan gadis berbaju hitam itu, kemudian yang kedua adalah dua orang dari Tiat-tung Su-lo.
Sekarang tinggal tiga orang yang melayani Chin Yang Kun, tapi sebentar kemudian merekapun terpaksa mengikuti jejak kawan-kawannya pula.
Terpental bergelimpangan di atas tanah!
Selesai membereskan para pengeroyoknya Chin Yang Kun mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya tapi Keh-sim Siauwhiap belum juga muncul.
Apakah pemilik Pulau Meng-to itu belum mengetahui kalau anak buahnya sedang di dalam kesukaran?
Tiba-tiba Chin Yang Kun menoleh ke arah gadis berbaju putih yang sedang bertempur melawan Jai hwa Toatbeng-kwi.
Sebelum roboh gadis yang berbaju hitam tadi telah menyuruh gadis berbaju putih itu untuk melepaskan tanda peringatan ke atas.
Apakah tanda itu dimaksudkan untuk memanggil atau memberi tahu kepada Keh-sim Siauwhiap?
Memperoleh pikiran demikian Chin Yang Kun segera melesat menghampiri mereka.
Tanpa memberi peringatan lagi tangannya segera bekerja.
Mula mula tangan kirinya justru menangkis pukulan Jai hwa Toat beng kwi yang tertuju ke arah tengkuk lawan setelah itu tangan kanannya sebat bagai kilat mencengkeram lengan salah seorang dari kedua gadis itu.
Gadis itu bergerak dengan tidak kalah gesitnya.
Dengan mudah serangan Chin Yang Kun yang datang dengan secara tiba-tiba itu dapat ia elakkan.
Tapi gadis itu lupa bahwa di dekatnya masih ada Jai hwa Toat-beng kwi yang segera memanfaatkan kelengahan gadis tersebut.
"Wuus!"
Gadis itu terbatuk batuk dengan hebatnya.
Ternyata Jai hwa Toat-beng kwi memanfaatkan kesempatan itu dengan meniupkan asap pipanya ke wajah gadis tersebut.
Lalu sebelum gadis itu dapat membebaskan diri dari pengaruh asap huncwe, sekali lagi Chin Yang Kun menyambar.
Dan kali ini lambaian tangannya benar-benar berhasil!
Sekali angkat gadis itu telah terlempar jauh.
"'Nah, lepaskan tanda peringatanmu itu! Panggil Keh-sim Siauwhiap kemari!"
Chin Yang Kun berteriak lantang. Suaranya yang dilandasi Liong-cu I-kang itu membuat orang orang yang berada di tempat itu menjadi tertegun dan tergetar hatinya. Sekejap semuanya berhenti bergerak.
"Saudara...aku sudah berada di sini sejak tadi,"
Tiba-tiba terdengar suara halus.
Semua orang memandang ke atas tangga pendapa.
Dalam keremangan cahaya obor tampak seorang laki-laki muda berdiri tenang di tengah-tengah pintu pendapa yang besar.
Biarpun tidak jelas tetapi dengan dandanannya yang rapi itu Keh-sim Siauwhiap kelihatan tampan dan menarik.
Pakaiannya yang lebar dan anggun itu menyebabkan dia lebih tampak sebagai seorang pelajar dari pada sebagai seorang jago silat yang ditakuti orang.
"Keh sim Siauw-hia...!"
Semua mulut hampir berbareng mengucapkan kata-kata itu.
Cuma nada dan cara menyebutkannya yang berlainan.
Kawan-kawan dari Keh-sim Siauwhiap sendiri menyebutkan nama itu dengan wajah dan suara bersyukur, sementara pihak dari Pendekar Li menyebutkannya dengan suara kaget serta khawatir.
Tapi dari semuanya itu yang paling mengagetkan adalah reaksi dari Chin Yang Kun sendiri!
Begitu tahu orang yang berada di ambang pintu pendapa itu adalah Keh-sim Siauwhiap, pemuda itu segera berlari meninggalkan lawan lawannya, lalu meloncat menaiki tangga yang tinggi itu.
Matanya telah berapi-api seakan akan mau melumatkan orang yang telah berani membunuh orang tuanya itu.
Sebaliknya, seperti orang yang mau menghindarkan diri, Keh-sim Siauwhiap mendadak terbang lewat di atas kepala Chin Yang Kun dan turun di halaman.
Kemudian tubuhnya yang tegap itu melesat menghampiri anak buahnya yang tergeletak berserakan di tengah-tengah halaman.
Gerakannya cepat bukan main, sehingga tak seorangpun dapat melihat gerakan kakinya.
Pendekar itu seolah-olah terbang begitu saja!
"Sebentar, anak muda!
Aku akan melihat kawan-kawanku dahulu.
Setelah itu baru aku dapat menemui engkau dengan bebas dan leluasa,.."
Keh-sim Siauwhiap berkata diantara langkahnya.
Chin Yang Kun berdiri tertegun di tengah-tengah anak tangga.
Matanya menatap kagum seolah-olah tak percaya kepada laki-laki yang kini tampak berlutut di halaman mengobati anak buahnya itu.
Hampir-hampir Chin Yang Kun tak percaya bahwa di dunia ini ada seorang manusia dapat bergerak sedemikian cepatnya.
Rasa-rasanya orang itu bukanlah seorang manusia, tetapi...seekor burung!
Tetapi bayangan tubuh ayahnya yang mandi darah dan pamannya yang terluka parah membuat pemuda itu menggeretakkan giginya kembali.
"Pembunuh keji! Jangan lari kau..!"
Chin Yang Kun menjerit.
Pemuda itu melompat turun dari atas tangga, lalu menyerbu Keh-sim Siauwhiap kembali.
Dari jauh Chin Yang Kun sudah melancarkan pukulan Tiat gong ciangnya (pukulan udara kosong atau pukulan jarak jauh).
Suaranya menderu serta memancarkan hawa dingin yang hebat, sehingga Keh sim Siauwhiap dan orang-orang yang berada di tempat itu terkejut juga dibuatnya.
Orang-orang itu segera menyingkir.
Tangan Keh-sim Siauwhiap yang cekatan itu sudah bisa mengobati empat orang pengemis yang tergabung dalam Tiat tung Su-lo itu.
Kini tinggal dua orang lagi yang terluka dan harus lekas-lekas diobati, yaitu dua orang gadis berbaju hitam-hitam itu.
Seperti para pengemis tadi, kedua orang gadis itu terluka karena pukulan beracun Chin Yang Kun.
Tapi sebelum pendekar itu sempat memeriksa luka si gadis, pukulan Chin Yang Kun sudah tiba.
Karena tidak ada waktu lagi, terpaksa Keh-sim Siauwhiap mengungkit tubuh yang tergeletak tersebut dengan sepatunya sehingga melayang ke atas.
Lalu sambil berjumpalitan menjauh, Keh sim Siauwhiap menyambar tubuh yang terluka itu.
"Buuum!"
Tanah dan pasir bekas tempat berpijak Keh-sim Siauwhiap tadi bertebaran ke udara.
Tapi Keh sim Siauwhiap bersama gadis itu telah tiada lagi di tempat itu.
Pendekar dari Pulau Meng-to itu telah mendaratkan kakinya beberapa langkah dari sana dan meletakkan gadis yang dibawanya di atas tanah.
Tangannya cepat mengurut di bagian yang luka, setelah itu tangannya merogoh ke dalam baju dan mengeluarkan sebutir pil berwarna putih.
Tapi sebelum pil tersebut sempat dimasukkan ke dalam mulut si gadis, pukulan Chin Yang Kun keburu datang lagi.
Keh-sim Siauwhiap bergegas menyambar gadis itu lagi.
Bagaikan burung walet tubuhnya meluncur jauh ke dekat tangga dan kemudian meletakkan tubuh gadis tadi di sana.
"Buuuum!"
Sekali lagi debu dan pasir beterbangan terkena pukulan Chin Yang Kun!
Tapi kali inipun tidak menemui sasarannya lagi.
Dengan geram pemuda itu melihat lawannya telah berada di dekat tangga dan baru melolohkan sesuatu kepada gadis yang terluka itu.
Chin Yang Kun mengerahkan lagi Liong-cu i-kangnya, kemudian tubuhnya meloncat lagi kearah Keh-sim Siauwhiap.
Tapi Chin Yang Kun kecele lagi!
Begitu tubuhnya mulai bergerak mau meloncat, Keh-sim Siauwhiap sudah terlebih dahulu melesat ke tempat gadis berbaju hitam lainnya.
Gadis itu juga tergeletak luka di atas tanah.
Seperti juga yang telah dia lakukan terhadap gadis yang pertama, Keh-sim Siauwhiap dengan cekatan segera memeriksa luka-luka gadis itu.
Setelah diurut beberapa kali, gadis itu diberi sebutir pil berwarna kuning.
Tapi seperti juga tadi, pukulan Chin Yang Kun kembali datang dengan menderu-deru, sehingga pil tersebut gagal untuk dimasukkan ke dalam mulut.
Keh-sim Siauwhiap sambil membawa tubuh gadis itu melenting tinggi ke udara, kemudian meluncur ke dekat tangga lagi dengan manisnya.
Sambil meletakkan tubuh itu berdampingan dengan tubuh gadis yang pertama, pendekar dari Pulau Meng-to itu memasukkan pil kuning tadi ke dalam mulut si gadis!
"Nah, aku sudah selesai mengobati mereka.
Kini aku sudah leluasa untuk menghadapi engkau.
Nah, saudara...coba katakan!
Apa sebabnya kau menuduh aku seorang pembunuh keji?
Dan kulihat ilmu silatmu hebat bukan main, tapi mengapa kau sudi menjadi pembantu dari Pendekar Li itu?"
Dengan tenang Keh-sim Siauwhiap menghadapi Chin Yang Kun.
Wajahnya yang tampan tapi amat pucat itu tampak tak bergairah sama sekali ketika menatap Chin Yang Kun.
Pendekar Li segera meloncat ke depan Chin Yang Kun.
Sambil bertolak pinggang putera mendiang Perdana Menteri Li Su tersebut berdiri menghadapi Keh-sim Siauwhiap.
"Keh-sim Siauwhiap! Apa sebenarnya kemauanmu sehingga kau selalu memburu aku kemanapun aku pergi?"
Tanyanya penasaran.
"Bukankah benda itu milikku sendiri? Bukankah sudah wajar kalau aku memiliki harta warisan orang tuaku? Kenapa kau selalu ingin merebutnya?"
Wajah yang amat pucat itu mencoba untuk tersenyum, tapi gagal.
Agaknya sudah lama pendekar yang namanya menjulang ke langit itu tidak pernah tersenyum.
Buktinya wajah itu bukannya tersenyum, tapi lebih tepat dikatakan meringis!
"Pendekar Li, sepintas lalu apa yang kau katakan itu tampaknya benar.
Tapi kalau caramu menilai tidak hanya sesempit itu, artinya tidak hanya dari sudut kepentinganmu saja, kukira engkaupun akan segera menyadari sendiri kekeliruanmu.
Coba kau pikirlah yang lebih jauh lagi...!
Siapakah sebenarnya pemilik harta karun yang tersimpan dalam peta itu?"
"Bukankah harta itu milik ayahku? Mendiang Perdana Menteri Li Su? Beliaulah yang mengumpulkannya..."
"Benar sekali! Dialah yang mengumpulkannya. Bagus! Tapi katakan...dari mana ayahmu itu mengumpulkan harta sebanyak itu? Coba katakan...!"
"Ini...aku...aku tak tahu."
Pendekar Li menjawab kikuk.
"Nah, kau sukar menjawabnya, bukan? Kalau begitu marilah kubantu kau menjawabnya. Dengarlah...! Mendiang Perdana Menteri Li Su mengumpulkan harta benda sebanyak itu dari hasil kerja paksa dan memeras keringat rakyat. Selain itu bersama-sama dengan pejabat-pejabat korup yang lain, ayahmu mencuri dan menggerogoti kekayaan negara untuk kepentingan diri sendiri. Nah, sekarang katakan...! sudah semestinya atau tidak kalau harta itu dikembalikan kepada rakyat kecil lagi? Dan sudah wajar atau tidak bila harta karun itu dibagikan kepada fakir miskin?"
Pendekar dari Pulau Meng-to itu mendesak Pendekar Li dengan pertanyaannya yang bertubi-tubi.
Pendekar Li terdiam tak bisa menjawab.
Wajahnya merah padam, bibirnya gemetar tapi tak sepatah katapun yang keluar dan mulut itu.
Lambat laun dapat juga bibir itu berbicara, tapi ternyata yang keluar hanyalah umpatan-umpatan kasar.
"Persetan...! Aku tidak peduli dari mana asal usul harta karun itu! Yang kuketahui hanyalah harta itu kepunyaan mendiang ayahku, karena itu aku harus memilikinya...!"
"Hmm, jangan bermimpi! kau tak mungkin dapat memilikinya."
Keh-sim Siauwhiap mendengus.
"Heh? Apa...? Apa maksudmu? kau mau merampasnya dari tanganku?"
Pendekar Li melangkah setindak ke depan.
Kedua orang pengawalnya, Jai-hwa Toat-beng-kwi dan Pek-pi Siau-kwi, segera maju pula mendampinginya.
Mereka berdiri di kanan kiri Pendekar Li, siap untuk membantu majikan mereka itu.
Melihat itu Tiat-tung Hong kai dan Tiat-tung Lokai segera ikut bergerak pula ke depan.
Kedua orang tua ini bersiap-siap pula untuk membantu Keh-sim Siauwhiap.
"Benar, Pendekar Li. Aku memang bermaksud merampas harta itu bila kau tak mau menyerahkannya dengan baik-baik. Harta itu akan kukembalikan kepada rakyat yang berhak. Nah, kini lebih baik kau tak usah banyak omong. Berikan potongan emas yang berisi peta itu!"
Keh-sim Siauwhiap mulai serius.
"Hahaha...alasan kuno! Merampas harta untuk dibagikan kepada fakir miskin! Hahaha!"
Pendekar Li tertawa mengejek.
"Ho, siapa percaya omonganmu? Apakah harta itu tidak akan kau simpan sendiri? Hahah..."
"Diam! Lekas serahkan! Atau...aku harus membunuhmu dahulu, baru nanti kugeledah tempat tinggalmu ini?"
Keh sim Siauwhiap menghardik, tangannya telah diangkat, siap untuk melancarkan serangan maut.
"Berhentiii...!"
Tiba-tiba Chin Yang Kun yang berada di belakang rombongan Pendekar Li itu berteriak keras sekali. Tangannya mendorong ke arah punggung Pendekar Li dan Jai hwa Toat-beng-kwi.
"Ayoh, menyingkirlah kalian dari depanku!"
Pendekar Li dan kedua orang pembantunya terpaksa melompat ke samping ketika tiba-tiba terasa ada hembusan angin dingin yang menyerang punggung mereka.
Kebetulan ketiga-tiganya melompat mendekati tempat Tiat-tung Lokai dan Tiat-tung Hong-kai berdiri.
Maka tanpa diberi komando lagi mereka segera bergebrak dengan sengitnya.
Ketika Keh sim Siauwhiap melangkah lagi ke depan untuk membantu anak buahnya, Chin Yang Kun segera mencegatnya.
"Keh-sim Siauwhiap, jangan hiraukan mereka! Biarlah mereka bertempur sendiri!"
Pendekar dari Pulau Meng-to itu menghentikan langkahnya. Wajahnya yang pucat tak bergairah itu menoleh. Dahi yang selalu tampak berkerut itu kelihatan berkilat-kilat ditimpa sinar obor yang suram.
"Apa maksud saudara...?"
Tanyanya datar. Chin Yang Kun mendekat lagi. Dengan sinar mata penuh dendam pemuda itu menggeram.
"Kau tak perlu terlalu mendesak atau membunuh orang itu! Tidak ada gunanya...Dia tak membawa potongan emas itu!"
"Hmh? Lalu...maksud saudara, saudarakah yang membawanya?"
Mata yang redup itu mulai berkilat, sehingga Chin Yang Kun agak tergetar juga memandangnya.
"Aku juga tidak..."
Chin Yang Kun menggeleng. Mata yang dingin itu semakin berkilat. Kerut-merut pada dahi itu juga semakin bertambah banyak.
"Lalu siapa...?"
Mereka berdiri berhadapan, tak lebih dari lima langkah jauhnya.
Chin Yang Kun dan Keh-sim Siauwhiap!
Sama-sama masih muda, tapi juga sama-sama mempunyai kepandaian yang tidak lumrah manusia.
Keduanya saling menatap bagai ayam aduan yang siap mau berlaga.
"Siapa...?"
Keh-sim Siauwhiap bertanya lagi, kini suaranya sedikit lebih keras.
"Hek-eng-cu...? Mata itu terbelalak sekejap, tapi kemudian meredup kembali.
"Jangan mengada-ada! Orang itu tak mungkin tahu tentang persoalan ini. Dia hanya sibuk dengan rencana pemberontakannya saja."
Chin Yang Kun tersenyum mengejek.
"Benar. Semula dia memang tak tahu menahu tentang peta harta karun itu. Tapi dia dan kawan-kawannya secara tak sengaja telah menemukannya. Lengkap. Dua potong emas itu sekaligus!"
"Hei, di mana mereka menemukan benda itu? Dan...bagaimana kau juga tahu tentang masalah dua potong emas itu?"
Keh-sim Siauwhiap menatap tajam. Kini pendekar itu mulai percaya pada omongan Chin Yang Kun.
"Yang sepotong mereka merampasnya dari tanganku dan yang sepotong lagi mereka merampas dari tangan Tung-hai Sam-mo. Nah, jelas bukan? Kini mereka telah berangkat ke tempat yang ditunjukkan dalam peta itu. Besok malam...tepatnya pada saat tengah malam, mereka akan sudah berkumpul di tempat tersebut untuk mengambil harta karun itu..."
"Hah...?"
Wajah yang pucat itu tampak menegang, lalu dengan cepat kakinya bergeser ke depan, mendekati Chin Yang Kun.
Tapi sebaliknya Chin Yang Kun juga bergeser pula ke samping dengan gesitnya, sehingga mereka tetap berdiri berhadapan dalam jarak lima langkah.
Sementara itu pertempuran antara Pendekar Li dan dua orang ketua partai pengemis tersebut benar-benar ramai bukan main!
Kepandaian dari Pendekar Li memang lebih tinggi daripada kepandaian Tiat tung Hong-kai serta Tiat-tung Lokai.
Oleh karena itu sebentar saja Pendekar Li yang dibantu oleh kedua orang pembantunya itu dapat mendesak lawannya.
Tapi ketika dua orang gadis berbaju putih datang menolong Tiat-tung Hong kai, maka pertempuran itu menjadi agak berimbang.
Salah seorang dari gadis berbaju putih itu bersama-sama dengan Tiat-tung Hong-kai, mengeroyok Pendekar Li.
Sedangkan gadis yang satunya lagi bersama dengan Tiat-tung Lokai menghadapi Jai-hwa Toat-beng-kwi dan Pek-pi Siau-kwi.
Meskipun begitu tampaknya kedudukan Pendekar Li agak sedikit lebih baik dari pada lawannya.
"Yang Siauwhiap, marilah kita selesaikan mereka dengan segera, sebelum bala bantuan mereka datang lagi...!"
Pendekar Li masih juga sempat berteriak ke arah Chin Yang Kun.
Agaknya orang ini merasa takut apabila Chin Yang Kun terlalu banyak omong dengan Keh-sim Siauwhiap.
Sementara itu Keh-sim Siauwhiap sendiri dalam keadaan tegang masih tetap mendesak Chin Yang Kun dengan pertanyaannya yang gencar.
"Saudara, benarkah ceritamu itu...? Benarkah?"
"Mengapa aku mesti berbohong kepadamu? kau dapat bertanya juga kepada Hong-Iui-kun Yap Kiong Lee, apakah kata-kataku tadi bohong atau tidak! Hmm, kenal tidak kau dengan Hong-lui-kun Yap Kiong Lee?"
Chin Yang Kun menjawab pertanyaan lawannya dengan keras pula.
"Gila!"
Keh-sim Siauwhiap mengumpat. Tapi pendekar itu semakin percaya seratus persen pada kata-kata Chin Yang Kun.
"Tentu saja aku kenal padanya. Tapi...eh, mengapa dia juga tahu tentang masalah peta ini?"
"Hehehe...kau jangan mengira bahwa hanya engkau sendirilah yang mengetahui tentang rahasia peta itu. Setiap orang kini sudah tahu belaka akan rahasia harta karun tersebut! kau datang ke tempat yang ditunjukkan dalam peta itu besok tengah malam...hehe, kau akan melihat banyak orang yang berebut untuk mengambil harta itu!"
Mata Keh-sim Siauwhiap terbelalak karena hatinya semakin tegang.
Tiba-tiba tubuhnya melesat ke depan, kedua belah tangannya menerkam pundak Chin Yang Kun.
Gerakannya sungguh amat mendadak dan cepatnya bukan main, sehingga tak seorangpun tahu bagaimana caranya ia bergerak!
Tahu-tahu kedua belah tangan itu tinggal beberapa jengkal saja dari sasarannya!
Chin Yang Kun mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mengelak.
Memang sejak semula pemuda itu sudah bersiap-siaga!
Dari Hong-lui-kun Yap Kiong Lee dia telah mendengar bahwa ginkang Keh-sim Siauwhiap benar-benar tiada taranya di dunia ini.
Meskipun demikian ternyata Chin Yang Kun tetap saja agak terlambat.
Memang, Keh-sim Siauwhiap gagal mencengkeram pundak Chin Yang Kun.
Tapi cengkeraman tersebut hanya selisih beberapa senti saja dari pundaknya, sehingga bajunya yang lebar itu menjadi hancur pangkal lengan bajunya akibat jeriji Keh-sim Siauwhiap yang luput mencengkeram dagingnya.
Dan kelambatan yang mengakibatkan rusaknya lengan baju itu membuat Chin Yang Kun menjadi marah sekali.
"Berhenti!"
Pemuda itu berteriak dengan Liong-cu i-kangnya, sehingga rasa-rasanya malam yang cerah penuh bintang itu tiba-tiba ada petir menyambar dengan dahsyatnya.
Beberapa orang penjaga yang berjaga jaga di sekeliling halaman itu langsung menggeletak karena tak tahan.
Orang orang yang sedang asyik bertanding itu juga menghentikan gerakan mereka dengan mendadak.
Yang lweekangnya sedikit rendah tampak sempoyongan mau jatuh.
Masing masing berusaha dengan sekuat tenaga agar selaput pendengarannya tidak pecah.
Tapi sekejap kemudian Jai-hwa Toat-beng-kwi telah memulai lagi pertempurannya itu.
Hantu cabul itu tidak menyia-nyiakan kesempatan selagi lawannya, Tiat-tung Lokai, belum bisa mengatasi pengaruh teriakan Chin Yang Kun tadi.
Untunglah gadis berbaju putih, yang berada di samping Tiat-tung Lokai, mengetahui siasat licik tersebut.
Dengan marah sekali pedangnya menghantam huncwe Jai-hwaToatbeng-kwi!
Dan pertempuran yang tertunda itu berkobar pula kembali dengan hebatnya.
Keh-sim Siauwhiap menatap mata Chin Yang Kun lekat lekat.
Rasanya mata itu semakin lama semakin tampak mencorong seperti mata seekor naga di kegelapan malam.
Diam-diam pendekar dari Pulau Meng-to itu sedikit merinding juga hatinya.
Tak ia sangka ia kan bertemu dengan seorang pemuda hebat di rumah Pendekar Li ini.
Tadi secara mendadak ia benar-benar telah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menyerang pemuda itu.
Ia sudah amat yakin bahwa serangannya akan berhasil, karena selama ini ia belum pernah gagal dengan serangan seperti itu.
Tapi kenyataannya sungguh memalukan.
Biarpun dia dapat mencengkeram lengan baju pemuda itu hingga hancur, tapi sebagai seorang pendekar ternama mukanya benar-benar terasa panas karena malu.
Dia yang telah mencuri kesempatan ketika menyerang tadi ternyata mengalami kegagalan!
"Mengapa saudara menyuruh aku berhenti untuk menyerangmu?"
Keh-sim Siauwhiap membuka mulut untuk mengurangi rasa kikuknya.
Pendekar ini bertanya seolah-olah dia tadi memang sudah benar-benar mau memulai pertempuran, padahal sebetulnya dia tadi ingin menangkap Chin Yang Kun untuk memaksa agar pemuda itu lekas-lekas mengatakan tempat dimana harta karun itu berada.
Pemuda yang sebenarnya telah mulai marah karena bajunya terobek itu tersenyum mengejek.
"Kita belum selesai berbicara, mengapa engkau tadi tiba-tiba menyerangku? Huh! Aku telah berbicara banyak dan aku telah menjawab pertanyaan-pertanyaanmu, kini ganti aku yang akan bertanya kepadamu dan engkau kuharap menjawab pula pertanyaanku dengan baik!"
"Aku belum selesai dengan pertanyaanku..."
Keh-sim Siauwhiap memotong.
"Persetan! kau telah menyerang aku...Itu berarti kau telah selesai! Tapi kalau kau memang masih ingin bertanya lagi, akupun juga masih bersedia menjawabnya. Tapi...nanti setelah aku selesai bertanya kepadamu. Bagaimana...?"
"Baik! Cepatlah kau bertanya, aku akan menjawabnya bila aku dapat!"
"Sebentar...!"
Chin Yang Kun berdesah melalui hidungnya.
Matanya memandang ke langit seolah-olah ingin menghitung ribuan bintang yang pada saat itu tampak bertaburan di sana.
Lalu sambil melangkah perti menjauhi arena itu pemuda tersebut berkata pelan.
"Ikutilah aku...!"
Wajah yang pucat itu tampak kemerah-merahan karena merasa dipermainkan.
"Mau kemanakah kau? Mengapa tidak lekas kau sebutkan pertanyaanmu itu?"
Keh-sim Siauwhiap menggeram marah.
Baru sekali ini saja sejak namanya menjadi terkenal dan ditakuti orang, Keh-sim Siauwhiap menemui orang yang berani bertingkah di depannya.
Sudah berani bertingkah orang itu tak mengenal rasa takut pula, seolah-olah yang dihadapinya Cuma seorang dari tingkat rendahan saja!
Memang bisa dimaklumi bila Keh-sim Siauwhiap sampai merasa tersinggung menghadapi tingkah Chin Yang Kun tersebut.
Selama lima-enam tahun ini pendekar dari Pulau Meng-to itu selalu dihormati, disegani dan ditakuti orang.
Nama Keh-sim Siauwhiap sudah begitu termashurnya hingga tak seorangpun berani bertingkah atau mempermainkannya!
Dan citra seperti itu sudah merasuk mendarah daging dalam jiwa Keh-sim Siauwhiap, sehingga pendekar itu merasa tersinggung melihat tingkah polah Chin Yang Kun yang seenaknya sendiri itu.
"Anak muda! Engkau masih ingin berbicara dengan baik baik atau tidak? Kalau masih, lekas katakan kemauanmu...! Kalau tidak, hmm...jangan menyesal...!"
Keh-sim Siauwhiap sekali lagi menggeram.
Kedua belah tangannya kelihatan terkepal dan siap untuk turun tangan!
Mata yang semula redup dan tak bergairah itu kini tampak mencorong marah ketika menatap punggung Chin Yang Kun yang berjalan menjauhinya.
Tetapi Chin Yang Kun seperti orang yang tak mengenal bahaya!
Tanpa memperdulikan kemarahan maupun ancaman Keh-sim Siauwhiap terhadapnya, pemuda itu tetap berjalan ke pojok pendapa tanpa menoleh.
Dengan tidak kalah garangnya pemuda itu justru membentak.
"Apakah kau ingin agar setiap orang mendengar tempat harta karun itu? Hmm...baik!"
Chin Yang Kun berhenti melangkah lalu badannya berputar menghadap Keh-sim Siauwhiap dengan cepat sekali.
Dalam keremangan malam itu tatapan matanya tidak kalah mencorongnya dengan sinar mata Keh-sim Siauwhiap ketika berteriak.
"Baik! Kalau begitu aku akan berteriak sekeras-kerasnya di sini, supaya seluruh dunia tahu tempat itu! Dengarrrr...! Tempat itu berada di""
"Tutup mulutmu!"
Tiba-tiba Keh-sim Siauwhiap menjerit dengan tidak kalah kerasnya. Kemudian pendekar itu melesat bagai kilat ke depan Chin Yang Kun. Suaranya gemetar ketika berkata.
"Keparat! kau benar-benar...gila! Baik, aku mengalah. Mari kira pergi dari tempat ini!"
"Hmh!"
Chin Yanug Kun mendengus atau membuang napas kuat-kuat dari hidungnya.
"Tapi kau jangan dekat-dekat denganku..!"
"Mengapa...?"
"Untuk menjaga diri! Ginkangmu terlalu cepat bagiku! Aku khawatir kau akan menyerangku Iagi dengan mendadak seperti tadi."
Chin Yang Kun menjawab sambil melangkahkan kakinya.
"Dan...kau takut tak bisa mengelak atau menghindarinya?"
Keh-sim Siauwhiap mengejek.
"Benar! Aku memang takut dan khawatir tak bisa mengelakkan seranganmu. Dan hal itu berarti..."
Chin Yang Kun tidak meneruskan perkataannya.
"Berarti apa?"
Keh-sim Siauwhiap tersenyum bangga.
"Berarti bahwa aku...terpaksa harus membunuhmu!"
"Hah? Apa katamu?"
Pendekar dari Pulau Meng-to itu tersentak kaget.
Matanya berkilat marah.
Otomatis langkahnya berhenti.
Chin Yang Kun berhenti pula.
Tubuhnya yang jangkung itu segera bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan.
"Mengapa? Apakah engkau tersinggung mendengar kata kataku tadi? Jangan terburu nafsu! Masih banyak waktu untuk kita bertanding nanti. Urusan kita atau pembicaraan kita itu selesaikan dahulu..."
Desahnya pelan.
"Tapi...apa maksud perkataanmu tadi?"
Keh-sim Siauwhiap penasaran. Benar-benar penasaran sekali! "Aku hanya ingin mengatakan yang sebenarnya."
Chin Yang Kun menjawab.
"Kalau aku sudah terpepet dan tak bisa mengelak lagi, apa yang mesti kukerjakan selain"
Menyongsong seranganmu itu dengan seluruh tenagaku pula? Dan hal inilah yang sebenarnya kutakutkan dan kukhawatirkan! Aku takut kau takkan kuat menahan gempuran lweekangku..."
Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Keh-sim Siauwhiap mendengar kata-kata yang sombong luar biasa itu!
Hanya karena ia masih membutuhkan keterangan tentang tempat harta karun itu saja yang membuat pendekar tersebut tidak segera mencekik leher Chin Yang Kun.
"Dan kalau kau mati..."
Pemuda itu masih meneruskan perkataannya yang menyakitkan itu.
""Aku akan kehilangan jejak pembunuh ayahku lagi! Maaf! Maaf...aku tidak bermaksud menyombongkan diri, aku hanya mengatakan apa yang kupikirkan dalam benakku saja, lain tidak""
"Bocah sombong...!"
"Kau tidak percaya? Boleh coba!"
Chin Yang Kun menantang.
"Kaulihat tiang pojok pendapa itu? Tiang itu ada sepuluh meter jaraknya dari tempat ini. Nah, apakah kau mampu menghantamnya hingga roboh dari sini? Ingat, hanya dengan tangan kosong saja...! Kalau dengan bantuan kerikil, batu atau lainnya...aku percaya engkau dapat melakukannya. Tapi dengan tangan kosong dan hanya mengandalkan lweekang saja, apakah kau mampu?"
"Kurang ajar! Bocah sombong, apakah...kau juga mampu?"
Pucat pias wajah Keh-sim Siauwhiap saking tak kuat menahan perasaannya.
"Tentu saja! Lihatlah...!"
"Yang Siauwhiap...! Menunggu apa lagi? Bereskan saja Keh-sim Siauwhiap itu!"
Pendekar Li yang sibuk melawan Tiat-tung Hong-kai itu berteriak.
Chin Yang Kun tidak memperdulikan teriakan itu.
Ia baru menghimpun tenaga sakti Liong-cu i-kangnya!
Dengan posisi badan lurus kaki kirinya ia lempar ke belakang sejauhjauhnya, sehingga tubuhnya yang jangkung itu seakan-akan seekor ular yang tiarap di atas tanah.
Kaki kanannya tertekuk rendah sekali sebagai tiang tumpuan seluruh berat badannya.
Kedua belah telapak tangan pemuda itu dirangkap di depan mukanya seolah-olah orang menyembah.
Dan sebentar kemudian dari mulut pemuda itu terdengar suara desis ular yang makin lama semakin keras.
Dan sejalan dengan suara desis ular tersebut, tiba-tiba Keh-sim Siauwhiap merasakan hembusan udara dingin yang semakin terasa menggigilkan.Lalu sesaat kemudian kedua belah telapak tangan tadi tiba-tiba mendorong ke depan, ke arah tiang pendapa yang terbuat dari kayu besi sebatang paha orang dewasa itu!
"Ssssssssssss...!"
"Kraaak! Broooool!"
Tiang kayu itu patah di tengah dan dengan mengeluarkan suara hiruk-pikuk pojok pendapa itu runtuh ke bawah.
Orang-orang yang sedang bertempur di halaman itu seketika berhenti semua, dengan air muka heran mereka mengawasi Chin Yang Kun dan Keh-sim Siauwhiap yang berdiri berhadapan.
"Yang Siauwhiap, ada apa...?"
Pendekar Li berseru dengan dahi berkerut.
"Jangan pikirkan aku! Selesaikan saja urusanmu sendiri! Aku sedang mencoba kekuatan dengan Keh-sim Siauwhiap..."
Chin Yang Kun berteriak pula menjawab.
"Benar! Pemuda itu berkata benar. Marilah kita selesaikan dulu pertempuran kita! Jangan mengurusi yang lainnya!"
Tiat-tung Hong-kai berkata sambil mengayunkan tongkatnya ke tengkuk Pendekar Li.
Pendekar Li terpaksa mengelak, kemudian dengan pedangnya ia membalas pula serangan itu.
Gerakan tersebut lalu diikuti oleh yang lainnya sehingga sebentar kemudian mereka telah bertempur kembali dengan serunya.
Sementara itu Keh-sim Siauwhiap benar-benar merasa terpukul hatinya melihat kekuatan lweekang Chin Yang Kun yang luar biasa dahsyatnya itu.
Dalam hati pendekar itu terpaksa mengakui kehebatan lweekang lawannya.
"Keh-sim Siauwhiap, bagaimana...?"
Chin Yang Kun minta pertimbangan.
"Hebat sekali! kau memang benar benar hebat!"
Seret sekali rasanya kata-kata itu keluar dari tenggorokan Keh-sim Siauwhiap, sehingga hampir hampir suara itu hanya dapat dia dengar sendiri saja.
Segala macam perasaan dongkol, marah, penasaran, terhina, tapi juga sekaligus kagum, seperti bergabung menjadi satu, sehingga terasa memenuhi rongga dadanya dan menyumbat tenggorokannya!
"Maaf, sebenarnya bukan sifat saya menyombongkan diri di muka orang lain,"
Chin Yang Kun berkata lagi. Agaknya pemuda itu merasakan juga apa yang kini sedang berkecamuk di dalam hati lawannya.
"Tetapi semua itu terpaksa kulakukan demi untuk meyakinkan kau, serta untuk menarik perhatianmu pula, agar kau mau bersungguh-sungguh dan tidak terlalu memandang enteng kepadaku. Aku ingin agar kau menanggapi dengan serius persoalan persoalan atau pertanyaan yang akan kuajukan kepadamu nanti, bukan hanya sekedar sebuah persoalan sepele yang datang dari seorang anak kemarin sore yang belum punya nama di kalangan persilatan!"
Chin Yang Kun menghentikan kata-katanya.
Dengan tenang dipandangnya Keh-sim Siauwhiap yang berdiri tidak jauh darinya.
Beberapa saat kemudian, setelah dilihat oleh pemuda itu mata yang mencorong dari Keh sim Siauwhiap telah meredup kembali, ia berbalik dan melangkahkan kakinya menuju ke pohon rindang yang tumbuh di pinggir halaman depan tersebut.
"Marilah ke bawah pohon itu. Kita berbicara di sana."
Pemuda itu berkata di antara langkahnya.
"Yang-Siauwhiap, mau kemanakah kau...? Jangan terlalu memberi hati kepada Keh sim Siauwhiap! Bunuh saja dia, habis perkara!"
Lagi-lagi Pendekar Li berteriak di belakang mereka.
"Tutup mulutmu, pengecut! Ayoh, selesaikan dulu urusan kita ini!"
Tiat tung Hong-kai membentak. Tongkat besinya dengan galak menyambar nyambar mencari sasaran.
"Bangsat! kau pengemis tua ini memang sudah bosan hidup rupanya!"
Pendekar Li menjadi marah bukan main.
Dengan ganas pedangnya menghujam ke arah tenggorokan lawan, tapi ujung pedang itu segera berputar setengah lingkaran ketika tampak Tiat-tung Hong-kai mengelak ke kiri.
Kini ujung pedang tersebut berusaha mencocok sepasang mata pengemis tua itu.
Tiat tung Hong kai berusaha menangkis dengan tongkatnya, tapi sudah tak keburu lagi.
Satu-satunya jalan hanyalah menjatuhkan diri ke belakang, tapi itu pun tak berani ia lakukan sebab di belakangnya berdiri Jai hwa Toatbeng-kwi yang sedang bertempur dengan Tiat tung Lokai.
Kalau melakukannya, itu sama saja ia menyerahkan diri untuk dihantam oleh Hantu Cabul tersebut.Untunglah dalam keadaan sulit seperti itu, datang pertolongan dari gadis berbaju putih.
Dengan berteriak keras gadis itu melompat dan menangkis ujung pedang yang sudah nyaris mencocok mata itu dengan pedangnya.
Traaang!
Biarpun harus terhuyung-huyung, tapi jiwa Tiat-tung Hong-kai selamat.
"Wah, terima kasih nona. Marilah kita hadapi lagi orang ini bersama-sama...!"
Demikianlah, mereka lantas terlibat dalam pertempuran yang sengit kembali.
Begitu juga halnya dengan arena yang lain.
Jai-hwa Toat-beng-kwi tampak bertanding dengan seru melawan Tiat-tung Lokai yang dibantu oleh sepasang gadisberbaju hitam yang agaknya telah sembuh dari luka-lukanya.
Sedangkan Pek-pi Siau-kwi tampak masih bertanding seimbang dengan gadis berbaju putih lainnya.
Sementara itu Chin Yang Kun dan Keh-sim Siauwhiap sudah berada di bawah pohon yang rindang itu.
Mereka berdiri berhadap-hadapan sejauh lima langkah, karena seperti kata-katanya tadi, Chin Yang Kun takut kalau mereka berdiri terlalu dekat.
"Nah, lekaslah kau katakan saja semua kemauanmu, aku akan mendengarkannya dengan sungguh-sungguh!"
Keh-sim Siauwhiap mendahului berkata.
"Terima kasih!"
Chin Yang Kun mengangguk. Lalu.
"Pertama-tama ingin kuajak tuan untuk mengingat-ingat sebuah peristiwa yang terjadi kira-kira setahun yang lalu. Peristiwa itu berlangsung di suatu daerah terpencil di luar kota Tie-kwan. Tepatnya di rumah Pendekar Li yang dibangun di tengah-tengah padang ilalang. Sebuah rumah bergenting merah...masih ingatkah kau?"
"Setahun yang lalu...di rumah Pendekar Li...yaa...ya aku masih ingat. Lantas bagaimana?"
Keh-sim Siauwhiap mengangguk-angguk.
"Bagus! Terima kasih! Sekarang kulanjutkan..."
Chin Yang Kun menatap lawannya dengan air muka tegang.
"Peristiwa itu terjadi pada waktu lewat tengah malam, sudah menjelang pagi malah."
"Lewat tengah malam...menjelang pagi...lalu terus bagaimana?"
"Pada saat itu di rumah tersebut sedang berlangsung sebuah pertempuran seru, antara para pembantu Pendekar Li melawan lima orang tak dikenal yang kesasar memasuki rumah itu. Kelima orang tak dikenal itu semuanya membawa golok dan salah seorang diantaranya ternyata Cuma pelayan mereka saja. Pelayan itu sudah amat tua dan menderita sakit."
Chin Yang Kun menghentikan kata-katanya sebentar. Lalu sambungnya lagi.
"Nah, pada saat sedang berlangsung pertempuran sengit itulah datang lagi seorang laki-laki tak dikenal ke rumah itu untuk mencari Pendekar Li. Laki-laki tak dikenal itu datang untuk meminta sebuah benda pusaka yang berwujud potongan emas kepada Pendekar Li. Karena benda itu tak diberikan oleh Pendekar Li, maka laki-laki tak dikenal itu lantas mengamuk! Semua orang yang berada di rumah dibunuhnya tanpa pandang bulu, termasuk wanita, anak-anak dan...sekaligus lima orang lelaki yang sebelum kedatangannya telah bertempur dengan pihak tuan rumah!"
Pendekar dari Pulau Meng-to itu mendengarkan ceritera Chin Yang Kun dengan sungguh-sungguh.
Tapi semakin panjang cerita itu semakin banyak pula kerut-merut di dahi Keh-sim Siauwhiap!
Dan akhirnya ketika ceritera itu selesai, pendekar yang amat disegani dan dihormati orang itu justru terlongong-longong mengawasi Chin Yang Kun, seperti seorang murid bodoh yang kebingungan karena belum bisa menangkap keterangan atau mata pelajaran yang diberikan oleh gurunya.
Sebaliknya pemuda yang baru saja selesai menceritakan riwayat kematian ayah dan pamannya itu kelihatan sulit mengendalikan emosinya.
Dengan mata merah dan jari-jari tangan terkepal pemuda itu membalas tatapan mata Keh-sim Siauwhiap.
Suaranya terdengar gemetar ketika mulutnya berbicara."Nah, Keh-sim Siauwhiap...bagaimana dengan ceritera itu?
kau tentu sudah menangkap apa yang kumaksudkan, bukan?"
"Menangkap? Menangkap yang mana yang kau maksudkan? Eh, maaf...aku benar benar belum tahu apa yang kau maksudkan dalam cerita itu. Sebenarnya...sebenarnya aku juga sudah dapat menebak arah dan tujuan dari ceritamu itu, tapi karena ada sebagian yang tak kumengerti, maka aku jadi bingung menangkap maksud dari ceritamu itu."
"Jangan berbelit-belit! Lekas katakan pendapatmu!"
Chin Yang Kun menggeram.
"Baiklah...!"
Pendekar yang bernama besar itu menghela napas panjang.
Lalu sambil melipat tangannya di depan dada pendekar itu memutar tubuhnya membelakangi Chin Yang Kun, agaknya hatinya mulai tersentuh dan tidak tega melihat ketegangan dan kesedihan yang terpancar dalam sinar mata pemuda itu.
Seraya melihat anak buahnya yang sedang bertempur dengan Pendekar Li, Keh-sim Siauwhiap berkata.
"Aku dapat menduga siapa yang kau maksudkan dengan"orang tak dikenal, yang datang pada waktu lewat tengah malam di rumah Pendekar Li, untuk meminta benda pusaka yang berwujud sebuah potongan emas itu...! Hmm...orang itu...aku, bukan? Benar! Orang itu memang aku, aku masih ingat itu! Dan aku tidak akan ingkar! Tapi kalau dikatakan bahwa saat kedatanganku itu bertepatan dengan sedang berlangsungnya pertempuran antara lima orang bersenjata golok melawan Pendekar Li...itu tidak benar! Aku yakin betul hal itu. Ketika aku datang ke rumah itu, yang kutemukan hanyalah mayat-mayat yang bergelimpangan dimana-mana. Aku tak melihat siapapun disana selain mayat-mayat itu. Jangankan melihat lima orang bersenjata golok, sedangkan Pendekar Li dan kawan-kawannya pun tak kutemui dalam rumah tersebut."
"Bohong!"
Tiba-tiba Chin Yang Kun berteriak tinggi, memotong ucapan Keh-sim Siauwhiap.
"Kau sengaja berbohong! kau tidak berani mengakui perbuatanmu! kau takut menerima pembalasan dari orang-orang yang telah kau bunuh! Pengecut...!"
Tiba-tiba Keh-sim Siauwhiap berputar dengan cepat.
Cepat sekali malah!
Sehingga Chin Yang Kun menjadi terkejut sekali dan segera bersiap-siap penuh.
Apalagi ketika pemuda itu melihat mata lawannya telah berkilat-kilat menunjukkan kemarahannya.
"Anak muda! kau benar-benar anak kurang ajar dan tak tahu diuntung! Coba, lihat...siapakah aku ini? kau sudah mengenalnya, bukan? Kalau kau belum pernah melihatku, setidak-tidaknya telingamu tentu sudah pernah mendengar nama dan sepak terjangku, bukan? Nah, kini perbandingkanlah sendiri dengan dirimu! Siapakah engkau dan siapakah Keh-sim Siauwhiap itu? Apakah yang pernah kau perbuat di dunia persilatan dan...apakah yang sudah kau sumbangkan pada dunia ini? Lalu kau cobalah memperbandingkan dengan apa yang pernah diperbuat dan disumbangkan oleh Keh-sim Siauwhiap itu? Maaf...jauh sekali, bukan? Nah, sekarang cobalah pergunakan otakmu, mengapa orang seperti Keh-sim Siauwhiap itu mau melayani engkau seperti sekarang ini? Menuruti segala kemauanmu, kau bentak-bentak seenakmu sendiri, padahal dimana-mana setiap orang sangat menghargai dan menghormati Keh-sim Siauwhiap?"
Keh-sim Siauwhiap yang sedang marah itu menghentikan kata-katanya sebentar.
Melihat lawannya yang masih muda itu tertegun dan berdiam diri saja di tempatnya, Keh-sim Siauwhiap menghela napas berulang-ulang.
Tapi apabila teringat kembali, betapa anak muda itu memaki-maki dan mengumpat dia, hatinya menjadi panas lagi.
"Apakah kau menganggap Keh-sim Siauwhiap takut kepadamu? Takut pada kehebatan lweekangmu yang dahsyat itu? Hmmm...kau benar-benar sangat keliru kalau mempunyai anggapan demikian."
Pendekar itu menghentikan lagi kata katanya.
Baca Juga: Petualang Asmara 4
Baca Juga: Pendekar Remaja 4