Ceritasilat Novel Online

Pendekar Penyebar Maut 8

Eps 8 Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono

Baca online Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono

Cersil Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono.

"Mungkin lweekangmu memang lebih tinggi dari pada lweekangku! Meskipun aku percaya bahwa selisihnya juga tidak banyak...dan itu satu-satunya kelebihanmu dari pada saya. Tapi, apakah kemenangan dalam pertarungan itu Cuma ditentukan oleh lweekang saja? Itu hanya bisa terjadi pada zaman purbakala dahulu, dimana dalam setiap pertandingan orang-orang yang sedang bertarung bergantian memukul lawannya untuk menunjukkan kekuatan tubuhnya. Sekarang zamannya sudah berbeda. Apa gunanya kekuatan lweekangmu itu kalau aku bisa mengelakkannya? Paling paling kau hanya bisa menghancurkan benda-benda yang berada disekitarku saja seperti tadi...dan sementara itu dengan ginkangku aku bisa leluasa menyerangmu dengan pedangku. Mau kutusukkan matamu atau kuhunjamkan pada ubun-ubun kepalamu atau...dimana saja yang tak bisa kau lindungi dengan kekuatan lweekangmu."

"Yang Siauwhiap...! Mengapa kau diam saja? Ayolah...!"

Dari jauh Pendekar Li berteriak-teriak kembali.

"Jangan hiraukan orang itu! Pikirkan saja perkataanku tadi!"

Keh-sim Siauwhiap menggeram.

"Nah, coba sekarang kau pikirkan...apa sebabnya Keh-sim Siauwhiap sampai mau melayani engkau, menuruti kemauanmu di tempat ini?"

"Kau ingin mengetahui tempat dimana harta karun itu disimpan!"

Chin Yang Kun menjawab kaku.

"Benar. Itulah alasannya. Jadi bukan karena takut seperti dugaanmu tadi. Aku justru berjudi dengan maut serta menyabung nyawa untuk mendapatkan harta karun itu. Padahal seperti yang selalu kulakukan selama ini, harta itu hendak kubagi-bagikan kepada rakyat miskin. Belum pernah selama ini aku mengambil barang sedikitpun dari harta yang kubagikan kepada orang-orang miskin itu."

Bagaikan terbuka hati Chin Yang Kun sekarang setelah mendengar uraian yang panjang lebar dari Keh-sim Siauwhiap.

Pemuda itu dapat merasakan kebenaran kata-kata yang diucapkan oleh pendekar itu kepadanya.

Dan kini Chin Yang Kun percaya bahwa apa yang diceritakan oleh Keh-sim Siauwhiap di rumah Pendekar Li itu tentu benar.

Cerita dari Pendekar Li itulah yang kini harus diusutnya.

Jangan-jangan orang yang telah mengganti namanya menjadi Tan Hok itulah yang membohongi dia.

"Jadi...tuan tidak membunuh mereka?"

Akhirnya Chin Yang Kun bertanya, sekedar untuk mengusir kecanggungan yang terjadi diantara mereka.

"Tidak!"

"Lalu siapa yang membunuh mereka itu?"

Kali lagi Chin Yang Kun bertanya seolah-olah pada dirinya sendiri.

Suaranya terdengar sedih juga sangat penasaran.

Sambil menengadahkan kepalanya ke langit Keh sim Siauwhiap menyilangkan kembali kedua belah tangannya di atas dada.

Beberapa kali terdengar suara elahan napasnya, seakan-akan ikut memikirkan dan merasakan apa yang berkecamuk di dalam dada Chin Yang Kun.

"Maaf, anak muda. Sudah sekian lamanya kita berbicara, tapi aku belum sempat menanyakan namamu. Eh, bolehkah aku mengetahui namamu? Apakah kau salah seorang keluarga dari Pendekar Li itu? Atau kau...ah, benar...apakah kau salah seorang keluarga dari...dari lima orang bersenjata golok yang kesasar ke rumah Pendekar Li itu?"

Tanpa terasa Chin Yang Kun mengangguk.

"Aku...aku memang putera dari salah seorang yang bersenjatakan golok itu. Namaku adalah Yang Kun...Chin Yang Kun!"

"Chin Yang Kun...! Lalu mengapa engkau tadi menuduh aku yang membunuh ayahmu? Apakah kau juga berada di tempat itu ketika peristiwa tersebut terjadi?"

"Tidak!"

"Ehmm...lalu siapa yang mengatakan hal itu kepadamu?"

"Tan Hok..., eh. Pendekar Li."

"Ohh...dia rupanya. Kalau begitu tanyakan kepadanya, mengapa dia membohongimu? Aku yakin dia mengetahui peristiwa yang sesungguhnya, karena dialah pemilih rumah itu."

"Tapi mengapa dia menyatakan bahwa tuanlah pembunuh ayahku?"

"Orang itu sangat takut kepadaku. Berbulan-bulan dia bersembunyi di dusun ini untuk menghindari aku dan para pembantuku. Kukira engkau hanya diperalat oleh mereka untuk menghadapi aku, sebab mereka melihat kepandaianmu sangat tinggi."

"Kalau begitu aku akan meminta pertanggungan jawab Pendekar Li..."

Chin Yang Kun segera beranjak dari tempatnya. Tapi Keh-sim Siauwhiap segera menahannya.

"Eit, nanti dulu! kau belum mengatakan tempat di mana harta karun itu berada."

"Ah, benar...kau pergilah ke Pantai Karang di dekat Teluk Po hai! Tepat di waktu tengah malam besok akan ada suatu pertemuan di sana."

"Hei, tempat itu adalah tempat penyeberangan menuju ke pulau tempat tinggalku. Tapi mana mungkin besok? Tempat itu sangat berbahaya dalam enam tujuh hari ini, karena saat ini adalah musim pasang besar dan badai laut. Tiap nelayan tahu hal itu. Akupun tak bisa pulang dalam saat saat begini..."

"Tapi menurut penuturan Hong-Iui-kun Yap Kiong Lee, Hek-eng-cu dan anak buahnya akan datang ke sana besok malam,"

"Ohh...kau memperoleh berita ini dari Hong-Iui-kun Yap Kiong Lee rupanya. Tapi percayalah kepadaku. Pantai itu sangat berbahaya dalam beberapa hari ini. Mungkin Hek-eng-cu tidak tahu tentang hal itu."

"Lalu?"

Chin Yang Kun menatap Keh-sim Siauwhiap dengan tajam.

"Biarlah! Aku tidak perlu tergesa-gesa ke sana. Semuanya tentu akan menanti sampai badai itu berhenti dan laut menjadi surut kembali. Dan menurut pengalaman hal itu baru akan terjadi enam atau tujuh hari lagi. Sekarang aku akan melihat dulu caramu mengadili Pendekar Li. Siapa tahu aku dan para pembantuku masih diperlukan sebagai saksi? Kalau aku pergi, orang itu mungkin masih akan bisa mengarang cerita yang bukan-bukan untuk mengadu domba kita lagi. Biarlah aku berada disini dahulu. Siapa tahu aku diperlukan pula nanti?"

"Terima kasih! Tapi kumohon kau jangan ikut campur apabila terjadi apa-apa nanti."

Pemuda itu semakin yakin ketulusan hati Keh-sim Siauwhiap.

"Baik!"

Keh-sim Siauwhiap menyetujui. Kemudian teriaknya,"

Hong-kai! Lokai! Siang In! Siang Yen...! Kalian harap mundur semua...!"

Dengan patuh Tiat-tung Hong kai, Tiat-tung Lokai, dua orang gadis berbaju putih-putih yang dipanggil dengan sebutan Siang In (Sepasang Awan) dan dua orang gadis berpakaian serba hitam yang disebut Siang Yen (Sepasang Asap), menghentikan serangan mereka.

Berturut-turut mereka melompat mundur menjauhi lawan-lawannya.

Pertempuran berhenti.

Pendekar Li dan dua orang pembantunya saling memandang dan mengawasi lawan-lawan mereka yang mundur meninggalkan pertempuran dengan perasaan tak mengerti.

Dengan perasaan curiga mereka menoleh ke tempat Keh-sim Siauwhiap, tapi betapa terkejutnya mereka serentak melihat Chin Yang Kun sedang melangkahkan kakinya ke tempat mereka bersama-sama dengan Keh-sim Siauwhiap!

Mereka segera mengenal bahaya, tapi untuk lari terang tidak mungkin lagi.

Mereka Cuma bertiga dan berada di tempat yang lapang pula.

Dan disana ada Keh-sim Siauwhiap yang dapat bergerak seperti siluman.

"Bagaimana, Li-Taihiap?"

Hampir berbareng Jai hwa Toat-beng-kwi dan Pek-pi Siau-kwi bertanya, suaranya bergetar tanda hati mereka benar-benar merasa khawatir sekali.

Sebenarnya hati Pendekar Li pada saat itu juga tidak kalah khawatirnya dengan mereka.

Tapi orang tua itu masih dapat menyembunyikan perasaannya.

Malah dengan tenang ia masih bisa tersenyum dan membesarkan hati para pembantunya.

"Tenanglah...! Biarlah aku yang menyelesaikannya."

Mereka berdiri berhadap-hadapan.

Chin Yang Kun dan Pendekar Li!

Jai hwa Toat-beng-kwi dan Pek-pi Siau-kwi tampak dengan tegang berdiri di belakang Pendekar Li.Sedangkan Keh-sim Siauwhiap dan para pembantunya yang lain lain berada agak jauh dari mereka.

"Siauwhiap, apa yang telah terjadi sebenarnya? Mengapa Siauwhiap urung bertanding dengan anak muda itu? Mengapa sekarang mereka malah mau saling cakar-cakaran sendiri?"

Tiat-tung Lokai yang berada di sisi Keh-sim Siauwhiap itu berbisik keheranan.

"Heheh...benar! ada apa sih sebenarnya?"

Tiat-tung Hongkai menyambung pula. Keh-sim Siauwhiap memandang kedua orang tua itu dengan wajah murung. Ciri khas dari pendekar muda yang bertempat tinggal di Pulau Meng-to itu.

"Pemuda itu telah diperalat oleh Pendekar Li untuk menghadapi aku. Sekarang pemuda itu hendak meminta pertanggungan jawab Pendekar Li karena telah berani memperalatnya..."

"Lalu bagaimana urusan pemuda itu dengan kita?"

Tiat tung Lokai mengerutkan keningnya.

"Urusan...? Urusan apakah itu?"

Keh-sim Siauwhiap menatap bingung.

"Siauwhiap, pemuda itu telah membunuh tiga orang anggota Tiat-tung Kai pang beberapa hari yang lalu."

Salah seorang gadis berbaju hitam memberi keterangan.

"Hahh?"

Sekarang ganti Keh-sim Siauwhiap yang kaget.

"Benarkah?"

"Benar, Siauwhiap. Kebetulan aku berada di tempat itu pula saat itu. Mereka berkelahi di tempat penampungan para pengungsi. Mula-mula tiga orang anak buah Tiat tung Lokai berselisih dengan rombongan Kim-liong Piauwkiok. Lalu pemuda itu membantu anggota Kim-liong Piauw-kiok tersebut."

Gadis itu menerangkan terlebih jelas lagi. Pendekar itu terdiam sesaat, lalu sambil menghela napas panjang ia berkata kepada Tiat-tung Lokai.

"Lokai...! Biarlah urusan itu kita tunda dahulu untuk sementara. Sekarang biarlah pemuda itu menyelesaikan urusannya dengan Pendekar Li."

"Baik!"

Tiat-tung Lokai mengiyakan.

Sementara itu pembicaraan antara Chin Yang Kun dan Pendekar Li kelihatan semakin bertambah panas.

Berulang kali Chin Yang Kun mendesak lawannya agar menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di rumah bergenting merah malam itu.

Tapi Pendekar Li selalu mengatakan seperti apa yang telah dia ceriterakan kepada Chin Yang Kun di dalam kamar sore tadi, sehingga akhirnya justru Chin Yang Kun sendirilah yang menjadi bingung dan tak bisa memutuskan siapa sebenarnya yang telah berbohong kepadanya.

Selain menjadi bingung, pemuda itu juga menjadi mendongkol dan penasaran bukan main!

Tapi kepada siapa dia harus menumpahkan rasa kemendongkolannya itu ia tidak tahu.

"Kau berani bersumpah bahwa yang datang pada malam itu dan membunuh semua orang yang ada disana adalah benar-benar Keh-sim Siauwhiap? kau yakin benar akan hal itu?"

Akhirnya pemuda itu menjerit jengkel.

"Siapa lagi selain dia? Hanya Keh-sim Siauwhiap yang selalu mencari aku! Memburu aku! Dan hanya dialah satu-satunya jago silat di dunia yang mampu membunuh sekian banyak tokoh-tokoh dunia persilatan tanpa mengalami kesukaran. Kawan-kawanku adalah jago-jago silat kelas satu dan lima orang pendatang yang bersenjatakan golok itu juga bukan tokoh-tokoh sembarangan pula. Tapi dalam jangka waktu pendek, mereka telah dibunuh semua tanpa mereka sempat menyaksikan siapa yang telah membunuhnya. Nah, siapakah di dunia ini yang mampu bergerak seperti siluman selain Keh-sim Siauwhiap?"

Pendekar Li menjawab dengan tidak kalah kerasnya.

"Jangan banyak omong! Yang kumaksudkan dan kutanyakan adalah keyakinanmu! Apakah kau melihat dengan jelas wajah atau rupa Keh-sim Siauwhiap saat itu?"

Chin Yang Kun membentak saking mendongkolnya.

"Siapa yang dapat melihat dengan jelas pada waktu malam seperti itu? Apalagi gerakannya demikian cepat seperti setan?"

Pendekar Li ikut-ikutan menjawab dengan suara tinggi.

"Oooo...jadi kau pun juga belum yakin sekali, bukan? Tepatnya...kau hanya menduga saja, biarpun dugaanmu itu memang sangat masuk akal dan beralasan sekali!"

Suara Chin Yang Kun menurun dengan nada kesal.

"Yaa!"

Pendekar Li menyahut dengan nada yang tetap keras.

"Tapi...dugaan itu benar, bukan? Nah, sekarang tak usah kita ribut dan bertengkar yang tidak karuan! Tanyakan saja kepadanya, benar tidak dia pergi kerumahku malam itu?"

Chin Yang Kun terdiam tak bisa menjawab.

Meskipun hati pemuda itu sangat kesal dan mendongkol setengah mati, tapi kata-kata yang diucapkan oleh orang itu memang sangat beralasan dan tidak dapat dipersalahkan.

"Aku memang pergi ke rumahmu malam itu!"

Tiba-tiba Keh sim Siauwhiap tak dapat menahan mulutnya lagi.

Pendekar itu memang telah berjanji untuk tidak mencampuri urusan mereka.

Tetapi melihat Chin Yang Kun menjadi kebingungan dan tak bisa memutuskan sendiri perkara itu, maka Keh-sim Siauwhiap menjadi tak tega untuk berdiam diri terus menerus.

"Nah, kau dengar itu?"

Pendekar Li hampir bersorak.

"Tapi...aku tak membunuh mereka!"

Pendekar dari Pulau Meng-to itu lekas-lekas memberi keterangan.

"Ketika aku datang, mayat-mayat itu sudah bergelimpangan di sana."

"Aaa...itu alasan kuno! Anak kecilpun berkata begitu."

Pendekar Li mencemooh.

"Bangsat! Jagalah mulutmu"!"

Kini Keh-sim Siauwhiap yang tidak dapat mengendalikan diri malah.

Tangannya diangkat, siap untuk menghajar Pendekar Li.

Otomatis Tiat tung Lokai dan yang lain-lain menyebar, mengepung Pendekar Li dan kedua orang pembantunya!

"Tahaan...!"

Tiba-tiba Chin Yang Kun berseru. Tubuhnya yang jangkung itu melesat dengan cepat dan berdiri di antara mereka.

"Keh-sim Siauwhiap, biarkan mereka tetap hidup! Kematian mereka tidak akan menjernihkan suasana, tetapi justru akan lebih menggelapkan persoalan ini. Kalau engkau membunuh mereka, hal itu sama saja engkau telah membunuh saksi-saksi terpenting dalam perkara ini. Setiap orang justru akan mencurigai engkau, karena engkau salah seorang terdakwa yang telah membunuh beberapa orang saksi..."

"Lalu...apa maumu?"

"Biarlah mereka kita tinggalkan dulu di sini. Aku akan berusaha menyelidiki perkara ini sampai selesai dan menangkap para pelakunya."

"Baiklah, aku takkan membunuh mereka. Tapi tunggu dulu, kau jangan tergesa-gesa pergi dari tempat ini!"

"Ada apa...?"

Chin Yang Kun mengerutkan dahinya.

"Aku telah mengenal orang-orang ini untuk beberapa waktu lamanya. Aku telah mengetahui benar sifat dan watak mereka. Oleh karena itu aku berani bertaruh bahwa sepeninggal kita nanti mereka akan segera angkat kaki dan lari terbirit birit dari tempat ini, sehingga untuk selanjutnya kau akan mengalami kesukaran untuk menemukannya kembali."

"Kurang ajar! kau benar-benar menghina kami! kau sama saja mengatakan bahwa kami cuma sekumpulan orang-orang pengecut! Huh, benar-benar tak mau bercermin diri. kau lah sebenarnya yang pengecut! Berani berbuat tapi tak berani bertanggung jawab! Beraninya cuma dengan orang-orang yang lebih lemah!"

Pendekar Li naik pitam.

"Tutup mulutmu!"

Chin Yang Kun menghardik. Lalu pemuda itu menoleh ke arah Keh-sim Siauwhiap dan berkata.

"Lalu bagaimana maksudmu?"

"Hmm, apakah kau tak mempunyai barang bukti sedikitpun? Sebenarnya apa yang diceriterakan oleh orang itu banyak sekali kelemahannya. Asal kau mempunyai tanda atau barang bukti, kukira amat mudah untuk mendesaknya agar mau berceritera tentang apa yang sesungguhnya terjadi di dalam rumahnya itu."

"Aku sudah menceriterakan apa yang telah terjadi di rumahku malam itu! Dan aku tidak bohong! kau lah yang berbohong!"

"Diam!"

Chin Yang Kun membentak, lalu.

"Di mana segi kelemahannya? Coba sebutkan!"

"Dia mengatakan dengan yakin bahwa aku telah membunuh semua orang yang ada di dalam rumahnya itu. Tapi coba kau pikir...kalau orang-orang yang tak kukenal seperti lima orang bergolok itu saja telah aku bunuh semuanya, mengapa justru orang-orang yang kucari-cari seperti mereka ini malah kudiamkan saja? Bukankah hal itu tidak tidak masuk akal?"

"Siapa bilang tidak masuk akal? Mereka kau bunuh karena engkau tidak ingin ada orang luar yang tahu tentang masalah harta karun itu. Dan kau tidak membunuh aku dan kawan-kawanku karena akulah yang menyimpan potongan emas itu! Kalau aku mati, kau akan kehilangan jejak harta karun tersebut! Nah, apa katamu...?"

Pendekar Li cepat memotong ucapan Keh-sim Siauwhiap.

Pendekar dari Pulau Meng-to itu menjadi merah padam mukanya, tapi Chin Yang Kun yang sudah percaya seratus persen kepala kejujuran Keh-sim Siauwhiap segera menyabarkannya.

"Sudahlah! Biarkan saja dia mengoceh tidak keruan! Lalu apa kecurigaanmu yang lain?"

Keh-sim Siauwhiap menghela napas panjang.

"Aku tidak mencurigainya sebenarnya. Aku Cuma heran kenapa orang itu seolah-olah yakin benar bahwa akulah yang membunuh semua orang itu. Sekarang aku malah menjadi khawatir, jangan-jangan memang ada orang yang menyaru sebagai aku malam itu! Ah, andaikata kedatanganku di rumah tersebut bisa lebih awal lagi, mungkin aku dapat menyaksikan semuanya..."

"Janganlah engkau berpikir yang bukan-bukan! Marilah kita sekarang mengurus orang-orang ini saja! Nah, apa lagi segi kelemahan dari ceritera Pendekar Li tadi yang dapat kita pakai untuk mengusut kebenarannya?"

Chin Yang Kun mendesak.

"Banyak sekali sebenarnya. Tapi tanpa barang bukti maupun saksi juga tidak ada gunanya. Semuanya hanya akan berhenti pada kecurigaan-kecurigaan saja."

"Lalu...?"

Chin Yang Kun menyahut dengan kecewa.

"Sudahlah! Marilah kita tinggalkan tempat ini dahulu! Nanti kita rundingkan cara dan jalan keluar yang paling baik untuk mengusut persoalanmu ini."

Keh-sim Siauwhiap berkata perlahan, lalu dia mengajak semua pembantunya agar pergi meninggalkan orang-orang yang mereka kepung tersebut.

Dengan wajah penasaran Chin Yang Kun meninggalkan pula tempat itu.

"Wah, hampir saja aku menghadap Gia-lo-ong hari ini...!"

Pek-pi Siau-kwi menghela napas lega setelah semuanya pergi meninggalkan halaman itu.

"Benar, akupun juga demikian..."

Jai-hwa Toat beng-kwi berdesah keras seakan-akan melepaskan semua ketegangan hatinya. Lalu dengan tersenyum Hantu Cabul itu memandang pada Pendekar Li.

"Li-Taihiap, kau memang benar-benar hebat! kau dengan ketabahan hati itu benar-benar telah membuat pemuda itu menjadi bingung dan tak tahu siapa yang harus dipersalahkan. Sampai-sampai seorang pendekar besar seperti Keh-sim Siauwhiap ikut-ikutan menjadi salah tingkah dan tak tahu apa yang mesti ia kerjakan, hahaha..."

Tapi Pendekar Li tetap diam saja di tempatnya.

Orang itu seperti tak mengacuhkan pada sanjungan-sanjungan Jai-hwa Toat-beng-kwi.

Malah seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu, mulutnya tampak berkemak-kemik mengucapkan sesuatu yang tak didengar oleh kedua orang pembantunya.

"Heran! Sungguh heran...!"

Akhirnya keluar juga perkataan yang jelas dari mulutnya.

"Heran? Apakah yang heran?"

Hampir berbareng Jai hwa Toat-beng-kwi dan Pek-pi Siau-kwi bertanya. Kedua orang ini memandang Pendekar Li dengan wajah tak mengerti.

"Hei, mengapa kalian tidak melihat sesuatu yang aneh dalam peristiwa ini?"

Pendekar Li balik bertanya kepada dua orang pembantunya tersebut.

"Apanya yang aneh...?"

Jai-hwa Toat-beng-kwi memandang bingung. Pendekar Li menarik lengan kedua orang itu agar datang lebih dekat.

"Eh, bukankah sejak semula yang kita khawatirkan adalah kesaksian dari Keh-sim Siauwhiap itu? Kita tidak bisa mengelak lagi bila orang itu mengatakan apa yang sebenarnya terjadi di rumah itu. Tapi ternyata dia mengingkarinya...! Hehe, apakah Keh-sim Siauwhiap itu takut kepada bocah itu pula?"

"Oh ho...benar juga. Padahal dia ikut membunuh pula dua orang diantaranya. Malahan kalau aku tak salah dengar, kedua orang yang dibunuhnya itu justru orang she Chin sendiri!"

Jai-hwa Toat-beng-kwi akhirnya sadar juga pada keanehan dari peristiwa tersebut.

"Tapi keadaan itu justru amat menguntungkan kita. Biar saja, yang penting kita sudah selamat."

Pendekar Li tertawa gembira.

"Biarpun tanpa harta karun itu?"

Jai-hwa Toat-beng-kwi menatap Pendekar Li dengan tajamnya.

"Ah, biarkan saja harta karun itu. Disinipun kita sudah makmur dan kaya raya, mau apa lagi? Kita pikirkan harta yang belum keruan macamnya itu dengan enteng saja. Kita nikmati dulu apa yang telah kita peroleh ini dengan baik."

"Tapi...bagaimana kalau pemuda itu mendapatkan bukti atau saksi yang lain?"

Pek-pi Siau-kwi tiba-tiba menyela.

"Hah? Maksudmu..."

Pendekar Li tersentak kaget.

"Masih ada seorang lagi yang lolos dari kebuasan Keh-sim Siauwhiap pada malam itu!"

"Siapa?"

"Thio Lung! Pemilik Kim-liong Piauw-kiok. Sahabat kita itu ikut pula di antara kita pada malam mengerikan tersebut."

Pek-pi Siau-kwi menerangkan.

"Heh, betul...! Kita harus lekas lekas memberitahukan hal ini kepadanya."

Jai-hwa Toat-beng-kwi berteriak kaget.

"Ya, kalian benar! Mari kita berangkat ke Sin-yang untuk menemui saudara Thio!"

Pendekar Li menyetujui gagasan itu.

Jilid 20 Demiklanlah, setelah mempersiapkan segala sesuatunya, mereka berangkat ke kota Sin-yang malam itu juga.

Mereka ingin Iekas-lekas menemui sahabat mereka itu untuk memberi tahu agar berhati-hati bila menghadapi Chin Yang Kun.

Sementara itu Keh-sim Siauwhiap telah membawa Chin Yang Kun agak jauh dari rumah Pendekar Li itu.

Di tempat yang agak lapang, di tepian sungai mereka berhenti dan berdiri berhadapan.

Sedangkan Tiat-tung Hong kai dan yang lain lainnya mengambil tempat agak jauh dari kedua orang itu.

Mereka berdiri tenang mengawasi Keh-sim Siauwhiap serta siap apabila diperlukan.

"Nah, apa yang hendak kau katakan kepadaku lagi?"

Chin Yang Kun bertanya.

"Saudara Chin, apakah kau masih menduga bahwa akulah pembunuh ayah dan pamanmu?"

Chin Yang Kun mengerutkan dahinya sebentar, lalu menggelengkan kepalanya.

"Tidak!"

Katanya tegas.

"Untuk sementara kecurigaanku tidak kutujukan kepadamu. Aku percaya pada kata-katamu. Aku sudah lama mendengar tentang kau dan sepak terjangmu, dan aku berpendapat bahwa orang seperti engkau tidak mungkin membunuh wanita, apalagi anak-anak yang tak berdosa seperti anak dan isteri Pendekar Li itu."

"Terima kasih."

Keh-sim Siauwhiap menghembuskan napas lega dari dadanya "Sekarang marilah kita pikirkan, apa yang harus kau lakukan agar persoalanmu ini menjadi terang!

Terus terang aku sendiri juga ikut menjadi penasaran, karena dalam hal ini ternyata justru sayalah yang menjadi terdakwa pertamanya.

Padahal demi langit dan bumi aku tak pernah melakukannya sama sekali!"

"Coba kau katakan, apa yang harus aku lakukan agar persoalan ini menjadi terungkap dengan jelas?"

Chin Yang Kun yang tak ingin berbicara dengan panjang lebar lagi itu cepat memotong perkataan Keh-sim Siauwhiap.

Pendekar dari Pulau Meng-to itu menatap mata Chin Yang Kun sambil mengusap-usap dagunya yang licin.

"Jadi kau benar-benar tidak mempunyai barang bukti atau saksi yang dapat digunakan untuk menangkap si pembunuh itu?"

Chin Yang Kun menggeleng.

"Kalau begitu yang harus kau lakukan sekarang adalah mencari barang bukti atau saksi mata dalam peristiwa itu! Terutama yang harus kau dapatkan ialah seorang saksi mata, sebab untuk mendapatkan barang bukti terang sudah tidak mungkin lagi. Peristiwa tersebut sudah berlangsung satu tahun yang lalu, semua benda atau barang bukti yang berkaitan dengan peristiwa itu tentu sudah rusak atau hilang."

Keh-sim Siauwhiap memberi nasehat.

"Saksi mata yang melihat sendiri peristiwa itu? Hmm, bagaimana aku bisa mendapatkan orang semacam itu? Semuanya telah mati..."

Dengan tubuh lemah Chin Yang Kun berbisik perlahan.

"Apakah tidak ada seorangpun dari keluargamu atau sahabatmu, yang ikut dalam rombongan ayahmu itu, yang kira-kira masih hidup atau bisa dimintai keterangan?"

"Keluargaku...? Ahh, mereka sudah mati semua...ibuku...adikku...para pengawal dan pemikul tandu...Siang-hui-houw dan Hek...hei! Benar! Masih...masih ada! Namanya Hek-mou-sai, pengawal ayahku! Tapi"

Hmm, orang itu tak berada disana malam itu..."

Chin Yang Kun yang hampir bersorak itu kembali tertunduk lagi dengan lemah.

"Bagaimana?"

"Ada sebenarnya...tapi orang itu tidak ada disana pada waktu peristiwa tersebut terjadi. Orang itu mendapat tugas untuk menyelidiki jalan yang menuju ke kota Tie-kwan sejak sore hari..."

Keh-sim Siauwhiap tertunduk lesu pula.

"Kalau begitu kau terpaksa harus mencari saksi mata dari pihak lawan!"

"Pihak lawan...?"

"Ya! kau harus mencari salah seorang kawan dari Pendekar Li yang ikut berada di rumah itu ketika peristiwa tersebut terjadi! Tentu saja jalan ini akan lebih sukar, tapi kau dapat mencobanya. Ehm, apakah kau sudah tahu siapa-siapa saja kawan dari Pendekar Li yang ikut dalam pertempuran itu?"

"Menurut ceritera Pendekar Li...orang-orang itu adalah Jaihwa Toat-beng-kwi, Pek-pi Siau-kwi, Hui-chio Tu Seng, Thio Lung dan lain-lainnya. Pendekar Li tidak menyebutnya satu persatu..."

"Jai-hwa Toat-beng-kwi dan Pek-pi Siau-kwi terang sudah tidak mungkin. Kedua orang tersebut sudah tahu masalah ini. Hui-chio Tu Seng sudah mati. Hai! Tinggal Thio Lung sekarang...! Orang itu tidak terlihat di rumah Pendekar Li tadi. Benar! Sekarang kau harus lekas-lekas menghubungi orang itu di kota Sin-yang! Dia menjadi pengurus dari Kim-liong Piauwkiok di sana."

"Thio Lung? Baiklah, aku malah sudah mengenal beberapa orang dari para anggota Kim-liong Piauw-kiok itu. Bagus...! Aku akan pergi kesana sekarang juga."

Chin Yang Kun berkata dengan bersemangat.

"Silahkan...! Kami akan selalu membantumu!"

Keh-sim Siauwhiap mengangguk.

"Nanti dulu!"

Tiba-tiba Tiat-tung Lokai mencegat langkah Chin Yang Kun.

"Lokai...? Jangan!"

Keh-sim Siauwhiap berteriak.

"Siauwhiap, bagaimana...bagaimana dengan ketiga orang anak buahku yang mati itu?"

Pengemis tua itu seolah-olah meratap di depan Keh-sim Siauwhiap.

"Biarkanlah dia menuntut balas dahulu atas kematian seluruh keluarganya! Setelah itu kau boleh berhitungan dengan dia. Jadi semuanya biar memperoleh kesempatan!"

"Keh-sim Siauwhiap, ada apa"?"

Chin Yang Kun menoleh ke arah pendekar dari Pulau Meng-to dengan wajah tak mengerti.

Muka yang pucat dan tak bergairah itu melirik kepada Chin Yang Kun sekejap, lalu sambil bergumam sedih ia melangkah pergi.

"Balas membalas karena dendam...ohh, kapan semuanya itu akan berakhir? saudara Chin pergi untuk mencari musuhnya. Setelah bertemu musuh itu tentu akan kau bunuh juga. Tapi di dalam perjalananmu ketika mencari musuh itu kau telah kesalahan tangan membunuh orang pula.Kini sahabat dari orang yang kau bunuh itu datang pula untuk membalas dendam. Nah...lalu apa gunanya membalas dendam itu? Setiap manusia tentu mempunyai kesalahan, maka bukan kewajibannyalah untuk menghukum orang lain. Sudah ada sendiri. Kekuasaan tertinggi yang mengurus dan berhak menindaknya. Manusia tak perlu campur tangan..."

Suara itu makin lama makin perlahan, dan akhirnya lenyap terbawa angin.

Bagaikan orang yang lagi terbius oleh sesuatu yang tak dimengertinya, para pembantu Keh-Sim Siauwhiap melangkah pergi satu persatu meninggalkan tempat tersebut.

Dengan wajah tertunduk mereka mengikuti arah suara Keh sim Siauwhiap yang telah pergi jauh.

Sekarang tinggal Chin Yang Kun sendiri yang berdiri mematung di tempat itu.

Kata-kata yang keluar dari mulut pendekar ternama itu masih terngiang-ngiang di telinganya.

Balas-membalas karena dendam?

Apakah gunanya semua itu?

Paling-paling hanya untuk kepuasan hati saja, entah itu demi kehormatan dirinya, keluarganya, golongannya atau lainnya.

Nah, kalau jutaan manusia yang berada di dunia ini lalu bertindak sendiri sendiri hanya demi kepuasannya masing masing tanpa menghiraukan manusia lainnya, apakah jadinya kehidupan ini nantinya?

Dunia akan hilang peradabannya, manusia akan hilang kepribadiannya.

Manusia tak ubahnya dengan seekor binatang.

Siapa kuat, dialah yang menang...dialah yang benar!

Betulkah itu?

Chin Yang Kun menghela napas panjang sekali lalu dengan langkah gontai ia berjalan pula meninggalkan tempat itu.

Dan hatinya telah mulai goyah.

"Uhh, andaikata Liu toa-ko ada di sini..."

Pemuda itu bergumam sambil membayangkan wajah sahabatnya, Liu Twako.

Sahabatnya itu juga paling tidak suka akan kekerasan dan kemunafikan, meski dia sendiri hidup sebagai perwira yang selalu bergulat dengan peperangan.

Chin Yang Kun berjalan sambil menunduk, tiba-tiba telinganya mendengar desir angin lembut di mukanya dan ketika wajahnya tengadah ia menjadi kaget.

Keh-sim Siauwhiap yang tadi telah pergi meninggalkannya, kini telah berada di hadapannya lagi.

Dengan wajah masih tetap tampak murung pendekar itu memandang kepadanya.

"Saudara Chin, maaf aku telah mengganggumu lagi. Kata Tiat-tung Lokai, engkau kemarin berjalan bersama-sama dengan Souw Lian Cu. Betulkah? Lalu kemana gadis itu sekarang?"

Sesaat pipi Chin Yang Kun menjadi merah.

Untuk sekejap pemuda itu merasa seperti rahasia pribadinya telah diketahui orang.

Tapi setelah melihat wajah di depannya itu tidak menunjukkan sesuatu yang aneh, apalagi wajah yang murung itu justru tampak serius sekali, maka Chin Yang Kun segera sadar bahwa Keh-sim Siauwhiap tidak bermaksud untuk berolok-olok dengannya.

"Apa...apakah maksudmu menanyakan dia kepadaku?"

Agak bergetar juga suara Chin Yang Kun ketika menjawab pertanyaan itu, sehingga Keh-sim Siauwhiap malah merasa heran atas sikap itu.

"Begini...dia telah beberapa bulan meninggalkan Pulau Meng-to, dan sampai sekarang belum pulang. Padahal gadis itu agak merasa tidak senang hati ketika meninggalkan rumah."

"Ohh...dia telah lebih dahulu meninggalkan dusun ini tadi pagi. Mungkin...mungkin dia telah berangkat pulang malah. Apakah dia...adikmu?"

"Bukan! Dia puteri sahabatku...Saudara Chin, terima kasih! Aku berangkat dulu!"

Sekali menjejak tanah tubuh pendekar itu lenyap seperti tertiup angin!

Kecepatan bergeraknya benar benar tiada taranya, sehingga Chin Yang Kun yang baru saja berbicara dengan pendekar itu hampir-hampir tak mempercayai penglihatannya sendiri.

"Gadis itu bukan adiknya, tapi puteri dari sahabatnya. Lalu apa hubungannya gadis itu dengan Keh-sim Siauwhiap? Tunangannya"? Pemuda itu membatin. Lalu tiba-tiba seperti timbul perasaan tidak senang di dalam hati Chin Yang Kun terhadap Keh-sim Siauwhiap. Tapi apa yang menyebabkan perasaan tak senang itu, Ching Yang Kun sungguh tidak mengerti.

"Persetan dengan gadis itu!"

Tak terasa bibirnya mengumpat, sehingga ketika sadar pemuda itu menjadi malu sendiri.

Untunglah tak ada orang lain yang mendengarnya.

Dengan tergesa-gesa Souw Lian Cu pergi meninggalkan rumah bekas tempat tinggal kakek Piao Liang atau yang lebih terkenal dengan sebutan Kim-mou-sai-ong itu.

Gadis itu bermaksud mengejar orang-orang yang pergi ke Pantai Karang sekalian mau pulang ke Meng-to.

Ada sesuatu hal yang membuat Souw Lian Cu ingin lekas-lekas tiba di tempat penyeberangan ke Pulau Meng-to tersebut.

Selain ingin lekas-lekas bertemu dengan Keh-sim Siauwhiap dan mengatakan tentang harta karun itu, dia juga ingin bertemu dengan wanita ayu dari Bing-kauw yang menuduh Hong-lui-kun memperkosa Put-sia Niocu itu.

Souw Lian Cu sama sekali tidak mengira kalau pada saat itu Keh-sim Siauwhiap justru sedang berada di dusun tersebut.

Dia hanya mengira bahwa Keh-sim Siauwhiap cuma mengirim orang-orangnya seperti biasa untuk berurusan dengan pihak Tan-Wangwe.

Urusan tentang harta yang akan dibagi-bagikan kepada para penduduk miskin!

Souw Lian Cu memang tidak ingin menemui Tiat-tung Lokai atau yang lain-lainnya, apalagi harus membantu mereka dalam menghadapi Tan-Wangwe.

Sejak gadis itu berada di Pulau Meng-to, dia memang belum pernah ikut campur dalam urusan Keh-sim Siauwhiap.

Di tempat itu Souw Lian Cu hanya sekedar menumpang atau bersembunyi, karena dia belum mau pulang ke rumahnya sendiri.

Sampai di jalan raya Souw Lian Cu segera membuat rencana, apa yang mesti ia kerjakan agar dia dapat cepat tiba di Pantai Karang itu.

Waktunya tidak banyak lagi.

Besok malam ia sudah harus sampai disana.

Padahal orang orang itu telah lebih dahulu satu malam daripada dirinya.

Kalau mengambil jalan darat, dia harus melalui dusun dusun dan kota-kota kecil yang memutar.

Sebab untuk mengambil jalan memintas memang sukar sekali, selain harus menyusup hutan belukar yang sulit dilalui orang, dia harus melintasi bukit dan jurang yang belum pernah dikenal orang.

Padahal waktunya tinggal besok malam saja.

Maka apabila harus melalui jalan darat, terang dia akan terlambat dan jerih payahnya akan sia-sia.

Satu-satunya jalan yang tak banyak mempunyai resiko hanyalah melalui air.

Jika dari sungai yang mengalir di tepi dusun itu dia naik perahu yang pergi menuju ke Sungai Huang ho, disana dia dengan mudah bisa menumpang perahu yang berlayar ke arah pantai.

Dan kalau semuanya berjalan lancer, dia akan sudah tiba di Pantai Karang itu sebelum waktu tengah malam.

Hanya persoalannya sekarang adalah mencari perahu yang hari itu mau berangkat ke sungai Huang ho.

Adakah perahu dagang atau perahu muatan yang membawa segala macam hasil bumi dari dusun-dusun di lembah itu yang kebetulan mau berangkat ke sungai Huang ho?

Souw Lian Cu langsung menuju ke bandar yang berada tak jauh dari tempat tinggal Kim mouw-sai-ong.

Di sana banyak sekali perahu-perahu nelayan ataupun perahu-perahu dagang yang memuat segala macam hasil bumi dan kerajinan dari berbagai daerah, termasuk juga dari daerah itu sendiri.

Perahu-perahu dagang itu selain membeli hasil-hasil daerah setempat, juga sekalian menjual barang-barang yang dibawanya dari daerah lain.

Oleh karena itu selain sebagai bandar perahu, tepian sungai tersebut juga berfungsi sebagai pasar yang sangat ramai.

Maka kedatangan Souw Lian Cu di antara mereka benar-benar tidak menarik perhatian sama sekali.

Kalau ada satu dua orang yang memandangnya, hal itu cuma karena kecantikannya yang memang sangat mempesonakan atau karena tangannya yang bunting.

Souw Lian Cu masuk ke sebuah rumah makan yang cukup sederhana untuk mengisi perut sekalian mencari keterangan tentang perahu-perahu yang akan ditumpanginya.

Meskipun peralatannya kelihatan sangat sederhana, tetapi rumah makan itu ternyata sangat luas dan banyak langganannya.

Selain beberapa buah meja yang berderet-deret di empernya yang luas, ternyata di dalam masih banyak pula meja kursi yang saat itu telah dipenuhi oleh tamu.

Mereka terdiri dari orang-orang kota yang bekerja sebagai tukang dayung, nelayan, pedagang dan lain sebagainya.

Souw Lian Cu berdiri di dekat pintu masuk lalu melongok longokkan kepalanya untuk mencari meja yang kosong.

Beberapa orang pelayan yang sangat sibuk itu tak sempat lagi menyambutnya apalagi membawanya ke meja yang kosong.Karena agak lama belum juga dapat melihat tempat yang kosong, maka beberapa orang laki-laki mulai menggoda dirinya.

Tapi semuanya itu tidak dipedulikan oleh Souw Lian Cu.

"Disini masih ada satu tempat yang kosong, nona..."

"Atau duduk saja di kursiku ini. Biarlah, aku duduk di lantaipun tidak apa, hahah...!"

"Ah, tidak enak kalau harus begitu...bila yang lain duduk di kursi, kamu malah duduk di lantai. Mana ada aturan demikian?"

Kawannya menyahut.

"Lantas bagaimana kalau memang tidak ada tempat duduk yang lain?"

Yang lain menyambung.

"Biarlah dia duduk di...pangkuanku saja,"

Dengan tenangnya orang itu tadi menjawab.

"Hahahah...enakmu!"

Kawan-kawannya tertawa terbahakbahak.

"Hehehe...hihihi!"

Mata yang bersinar-sinar lembut itu tiba-tiba berkilat tajam.

Tapi sejenak kemudian mata itu kembali redup.

Agaknya gadis itu tak mau berselisih hanya karena tukang-tukang dayung yang kasar seperti mereka.

Sambil menghela napas Souw Lian Cu membalikkan badannya, mau keluar mencari rumah makan yang lain.

Tapi kalau memang sudah ditakdirkan untuk marah, tiba-tiba dari luar pintu muncul empat orang kasar lagi yang menghalangi jalannya.

Dengan lagak yang menjemukan empat orang itu pringas-pringis di depan Souw Lian Cu, memperlihatkan gigi-giginya yang besar dan kuning.

"Eeiit, nanti dulu...! Jangan buru-buru kabur dari sini, oh, burung hong-ku yang cantik!"

Keempat orang yang bertampang kasar itu melangkah maju bersama-sama dan mendesak Souw Lian Cu masuk ke dalam ruangan lagi.

Empat pasang tangan mereka yang kasar dan berjari-jari besar itu teracung ke depan, seolah-olah mau berebut dulu menggerayangi tubuh Souw Lian Cu.

"Diamlah, anak manis...! Jangan takut, kami tak akan menyakitimu...haha!"

"Hahaheheh...harap semua berhenti makan dulu! Sekarang acara kita diselingi sebentar dengan pertunjukan empat kucing besar memburu tikus kecil, hahahahehehihih...!"

Salah seorang laki-laki yang mula-mula menggoda Souw Lian Cu tadi berteriak sambil berdiri di atas kursinya.

Suasana dalam rumah makan itu menjadi ribut.

Orang orang kasar yang terdiri dari para tukang dayung, nelayan dan pekerja-pekerja pengangkut barang itu bukannya kasihan melihat gadis itu diganggu oleh rekan mereka, sebaliknya mereka bersorak gembira, seolah-olah mereka mendapat hiburan yang menyenangkan malah!

Semua orang berdiri dari tempat duduk mereka dan bertepuk tangan memberi semangat kepada empat orang kawan mereka yang mengepung Souw Lian Cu itu.

Langkah Souw Lian Cu terhenti ketika tiba-tiba punggungnya telah terantuk tiang rumah.

Otomatis gadis itu tak bisa mundur lagi.

Sebenarnya tak ada minat dalam hati Souw Lian Cu untuk melayani kekurangajaran mereka.

Mereka adalah orang-orang kasar yang telah terbiasa berbuat kasar, padahal sebenarnya mereka adalah orang-orang polos yang tidak tahu apa-apa.

Mereka hanya sekedar mengandalkan otot-otot mereka yang kokoh dan kekar!

Oleh karena itu dia tidak ingin melawan mereka, apalagi sampai harus menyentuh tubuh orang-orang itu.

Dia hanya mau menunjukkan sesuatu kepada orang-orang itu, bahwa ia bukanlah seorang gadis biasa yang mudah diganggu atau dipermainkan oleh orang orang kasar semacam mereka.

Tapi sebelum gadis itu mempertunjukkan kepandaiannya, dari ruangan yang sebelah dalam lagi muncul seorang pemuda tampan berpakaian mentereng indah!

Pemuda itu masih berusia amat muda, mungkin Cuma berselisih dua tiga tahun dengan Souw Lian Cu.

Pada pinggangnya yang sebelah kiri tergantung sebuah golok, dimana sarung goloknya dihiasi emas permata yang gemerlapan.

Dari dalam ikut muncul pula di belakang pemuda itu seorang gadis cantik molek yang pakaiannya tidak kalah mewahnya dengan pemuda yang lebih dulu muncul.

Berbeda dengan pemuda di depannya yang membawa golok pada pinggangnya, gadis itu hanya membawa sebuah kipas yang selalu digenggam di tangan kanannya.

Hanya saja kalau diperhatikan dengan lebih cermat, orang akan segera melihat bahwa kipas itu bukanlah sebuah kipas biasa yang terbuat dari kertas atau kayu, tetapi sebuah kipas khusus yang terbuat dari lempengan baja yang sangat kuat dan tajam!

"Jangan kurang ajar!"

Pemuda itu membentak orang-orang yang mengganggu Souw Lian Cu.

Seketika suara yang riuh itu berhenti!

Dengan wajah heran orang-orang kasar itu memandang ke dalam, ke arah sepasang muda-mudi yang berwajah elok tersebut.

Mulut mereka ternganga seperti melihat dewa yang turun ke bumi.

Orang-orang kasar itu memang tidak biasa melihat orang-orang kota yang berpakaian indah dan anggun seperti kedua muda-mudi itu, apalagi pakaian yang dihiasi dengan emas permata seperti itu!

"Ooohho...ada seorang dewa yang turun ke bumi untuk mempersunting seorang gadis dusun rupanya, haha-hehe...!"

Salah seorang dari empat orang kasar yang mengganggu Souw Lian Cu tertawa mengejek.

"Hahaheheh...kali ini kau terpaksa harus mengalah, Lo Houw (Macan Tua)!"

Kawannya menepuk punggung orang itu dengan tertawa pula.

"Lihat! Sebuah gelangnya saja bisa untuk membeli nyawa orang seisi warung ini, hohoho...!"

"Benar!"

Pemuda itu tiba-tiba berkata sambil melepaskan sebuah gelang dari tangannya, sebuah gelang emas yang harganya tentu sangat mahal sekali.

Mungkin bisa untuk membeli rumah makan itu beserta seluruh isinya.

"Gelang ini memang bisa untuk membeli kepala kalian semua! Oleh karena itu gelang ini akan kuberikan kepada kalian agar kalian tidak mengganggu gadis itu!"

"Koko, jangan...! kenapa gelang pemberian ayah itu kau berikan pada orang-orang kasar seperti mereka?"

Mendadak gadis cantik yang tidak lain adalah Tiau Li Ing itu berteriak mencegah maksud kakaknya.

"Biarlah, di rumah masih banyak yang lain,"

Pemuda itu berkata sambil tetap melemparkan gelang tersebut ke arah kerumunan orang-orang kasar itu.

"Nona! kau kemarilah...!"

Pemuda tampan itu berteriak ke arah Souw Lian Cu.

"Huraaa...!"

Seluruh orang yang berada di dalam rumah makan itu bersorak.

Tanpa memikirkan apa akibatnya, semua berloncatan dari kursinya dan berlari menerjang ke arah jatuhnya gelang emas tadi.

Bagaikan kerumunan semut yang merubung sebutir sisa makanan orang-orang itu tumpang tindih tak beraturan!

Mereka saling mencakar, menggigit, memukul, menendang orang yang terdekat, sehingga suasana rumah makan itu benar-benar kacau balau tidak karuan.

Mereka menghancurkan meja, kursi, barang pecah belah dan lain-lainnya.

Pemilik rumah makan itu beserta pelayannya juga sudah lupa kepada miliknya sendiri, mereka ikut tunggang-langgang berebut dengan orang-orang itu.Sementara itu Souw Lian Cu cepat-cepat menghindar dari kebuasan orang-orang kasar itu.

Dengan tenang gadis itu menyusup ke dalam, menemui dua orang kakak beradik yang kaya raya tersebut.

"Marilah, nona, silahkan masuk! Marilah duduk bersama di meja kami!"

Pemuda tampan itu menyapa dan mempersilahkan masuk.

Tapi Souw Lian Cu menjadi terkejut ketika berhadapan dengan gadis cantik yang berdiri di belakang pemuda itu.

Pikirannya segera melayang ke kuil Im-yang-kauw yang berada di lereng Bukit Delapan Dewa.

Kemudian wajah Chin Yang Kun yang sangat menyebalkan itupun melintas dalam ingatannya, tapi wajah yang terbayang dalam ingatannya itu tampak sedang kesakitan karena baru saja dilukai oleh paman gadis cantik yang kini berada di depannya ini.

Tung-hai Nungjin!

Souw Lian Cu segera mengenali gadis itu sebagai gadis cantik yang dahulu pernah datang bersama Tung-hai Nung-jin ke kuil di Bukit Delapan Dewa itu, karena pada waktu itu dia turut pula menyaksikan pertempuran antara Tung-hai Nung-jin tersebut dengan Tong Ciak Cu-si.

Tapi karena pada saat itu Souw Lian Cu menonton pertempuran tersebut bersama-sama dengan para anggota Im-yang-kauw yang lain, maka gadis cantik itu tak sempat melihatnya.

"Hei, kenapa...?"

Pemuda itu bertanya ketika melihat Souw Lian Cu agak tertegun melihat adiknya.

"Ini adikku..."

Pemuda itu memperkenalkan kepada gadis itu.

"Tidak apa-apa, Terima kasih...! terima kasih!"

Souw Lian Cu mengangguk-angguk.

Pemuda itu bersama dengan adiknya mengajak Souw Lian Cu masuk ke dalam.

Tapi baru saja mereka melangkah, dari dalam telah keluar seorang kakek kurus berpakaian mewah pula seperti kedua orang kakak beradik itu.

Dibelakang kakek kurus tersebut mengikuti tiga orang laki-laki berwajah kasar dan keras seperti penjahat.

"Eh, paman Phang Kui..."

Pemuda tampan itu tersenyum menyambut orang tua tersebut.

"Heh! Ada apa ramai-ramai ini? Mengapa orang-orang di luar itu pada ribut benar?"

"Paman, lihat tuh di luar...! Kiat Su koko baru saja mengobral perhiasannya lagi."

Tiau Li Ing mengadu kepada orang tua itu, yang tidak lain adalah Tung-hai Nung-jin.

Sedangkan tiga orang yang berdiri di belakang orang tua itu tidak lain adalah Tung-hai Sam-mo!

"Ah, cuma sebuah gelang emas saja, paman..."

Kakak si gadis yang bernama Tiau Kiat Su itu membela diri.

"Memang harta seperti itu tidak berarti banyak bagi kita. Tapi apakah kau tidak memikirkan akibatnya? Apakah kau tidak membayangkan bahwa orang-orang itu akan menyusahkanmu nantinya?"

"Bagaimana bisa orang-orang kasar seperti itu dapat menyusahkan aku, paman?"

"Kau ini memang belum dapat berpikir matang, Kiat Su. Sudahlah...sekarang marilah kita lekas-lekas pergi dari tempat ini sebelum orang-orang itu mengerumuni kita! Li Ing, Sam-mo...ayoh! kita kembali ke perahu!"

"Baik, susiok! sute, sumoi...mari kita pergi! Jangan membikin marah susiok!"

Orang tertua dari Tung-hai Sam-mo menoleh sebentar kepada Kiat Su dan Li Ing, lalu melangkah pergi diikuti oleh dua orang adik seperguruannya yang lain.

Kiat Su memandang Souw Lian Cu, kemudian tersenyum dan mengangkat pundaknya.

"Mereka adalah paman dan suhengku. Yang tua tadi pamanku, sedang tiga orang yang serem-serem itu murid ayahku. Mereka memang suka marah marah dan terlalu berhati-hati sekali. Marilah kau turut kami saja! Kalau ada disini terus, kau akan diganggu oleh orang-orang itu lagi. Marilah, nona...eh, maaf...bolehkah aku tahu namamu?"

"Terima kasih, namaku Souw Lian Cu. Biarlah aku meneruskan perjalananku sendiri saja. Silahkan saudara cepat-cepat meninggalkan rumah makan ini! Perkataan pamanmu tadi memang benar, orang-orang kasar itu akan menyusahkanmu nantinya."

"Koko, ayolah...! Paman tentu akan marah kalau kita terlalu lama disini nanti."

Li Ing ikut mendesak kakaknya.

"Ah, kalian ini sama saja dengan orang tua itu. Menyusahkan? Apanya yang menyusahkan? Apa berbahayanya orang-orang kasar seperti mereka?"

Souw Lian Cu saling pandang dengan Tiau Li Ing.

"Berbahaya memang tidak! Aku percaya saudara tidak akan membutuhkan banyak waktu untuk membasmi mereka. Sekali cabut saja golok yang berada di pinggang saudara itu, mereka akan bergelimpangan tak bisa bangun lagi! Tetapi apa akibatnya setelah itu? saudara akan dikejar-kejar dan dicari-cari oleh para petugas kerajaan, lalu para pendekar dan para jago silatpun kemungkinan besar juga akan menguber-uber saudara. Nah, apakah enaknya hidup demikian? Mungkin saudara memang tidak takut, tapi bukankah kehidupan saudara tidak akan bebas seperti burung di udara lagi? Setiap saat dan setiap waktu saudara harus selalu waspada, hati selalu waswas dan curiga, karena setiap saat orang yang menguber-uber saudara bisa datang. Padahal saudara belum mengenal para petugas kerajaan, pendekar atau yang lain, yang memburu saudara itu,,.."

Tiba-tiba saja Souw Lian Cu berkhotbah seperti pendeta di hadapan para muridnya, sehingga Kiat Su dan Li Ing menjadi terheran-heran.

"Nona Souw, kau...?"

Kiat Su ternganga mulutnya.

Kedua kakak beradik itu memang tidak menyangka sama sekali kalau gadis buntung yang baru saja mereka tolong, yang tadi kelihatan ketakutan ketika dikerumuni orang-orang kasar itu, dapat mengeluarkan kotbah seperti itu.

Memang setelah mendengarkan ucapan-ucapan gadis itu tadi, hati mereka menjadi sadar, tetapi yang masih sangat mengherankan mereka adalah ucapan-ucapan tersebut.

Mereka tak mengira bahwa ucapan-ucapan seperti itu keluar dari mulut seorang gadis dusun yang masih muda belia dan kelihatan sangat lemah ini.

Pantasnya ucapan-ucapan seperti itu tentu dikeluarkan oleh seorang dewasa, yang telah matang baik jiwa maupun pengalamannya.

Souw Lian Cu mengangguk sambil sekali lagi menyatakan rasa terima kasihnya, lalu bergegas meninggalkan ruangan itu pula.

Tinggallah kini kedua kakak beradik itu yang masih saling memandang dengan dahi berkerut.

"Koko, agaknya perbuatanmu kali ini benar-benar salah alamat! Aku berani bertaruh gadis itu tadi tentu bukan gadis sembarangan. Kelihatannya saja amat lemah, tapi kukira kepandaiannya tidak kalah dengan kepandaianmu."

"Tapi mengapa dia diam saja ketika diganggu oleh orang orang kasar itu?"

"Apakah kau sudah lupa pada perkataannya tadi? Ia tak ingin dikejar-kejar dan dimusuhi oleh banyak orang. Gadis itu ingin hidup bebas seperti burung di udara."

Kiat Su tercenung dan menundukkan kepalanya.

Dalam hati pemuda itu membenarkan ucapan gadis aneh tersebut.

Tapi begitu ia mau membuka mulut untuk mengajak adiknya meninggalkan tempat itu pula, tiba-tiba dari luar terdengar suara ribut-ribut orang-orang kasar tadi yang hendak memasuki ruangan itu.

"Ayo kita meminta lagi kepada pemuda itu. Ayoh...!"

"Yaa, kita minta saja kepadanya...!"

"Kalau tidak boleb kita sikat saja semuanya...!"

Kiat Su saling memandang dengan Li Ing.

Seperti mendapat aba-aba mereka berdua segera meloncat melalui jendela dan kabur dari tempat itu.

Keduanya segera berlari menuju perahu mereka yang berlabuh tidak jauh dari tempat itu.

"Nah, benar juga kata-kata gadis buntung itu."

Li Ing tertawa diantara langkah kakinya.

"Belum juga membunuh kita sudah berlari-lari dikejar orang, hi-hi...apalagi kalau kita sudah membasmi mereka tadi."

"Sudahlah, jangan banyak omong! Apakah kau sendiri juga tidak suka membunuh orang? Coba kau hitung, berapa banyak manusia tak berdosa yang telah menjadi korban kipasmu itu?"

Ternyata mereka berdua telah lama dinantikan oleh ketiga orang suhengnya itu.

Maka, setelah keduanya naik ke atas perahu, perahu itupun segera berangkat.

Beberapa orang kasar yang sudah berlarian sampai di pinggir sungai tampak mengacung-acungkan kepalan mereka sambil berteriak-teriak marah.

Sementara rombongan keluarga bajak laut dari Laut Timur itu berangkat meninggalkan dusun Ho-ma cun, Souw Lian Cu juga telah jauh meninggalkan tempat tersebut.

Gadis itu tak mau lagi berurusan dengan tukang tukang perahu yang kasar, oleh karena itu dengan nekad dia berlari menyusuri sungai tersebut ke arah hilir.

Dalam hati Souw Lian Cu berharap, siapa tahu malah ada perahu nelayan yang dapat ia tumpangi nanti.

Toh mesti banyak perahu yang berlayar di atas sungai itu.

Ternyata harapan Souw Lian Cu untuk memperoleh tumpangan perahu itu tak pernah terlaksana.

Memang banyak perahu yang lewat, tapi semuanya tentu sudah sarat dengan muatannya sendiri.

Atau kalau ada perahu nelayan yang Iewat mereka tak mau membawa Souw Lian Cu sampai ke muaranya, yaitu Sungai Huang ho!

Tujuan itu terlalu jauh bagi mereka, sehingga gadis itu terpaksa tidak jadi menumpang perahu-perahu nelayan tersebut.

Sungai itu mengalir menembus tengah-tengah hutan sekarang, maka Souw Lian Cu semakin sukar untuk mengikutinya.

Meskipun begitu ada keuntungannya juga.

Matahari yang telah mencapai puncaknya itu tak mampu membakar kepalanya sebab pohon-pohon besar yang tumbuh rindang di kanan kiri sungai itu telah memayunginya.

Aliran sungai itu membentuk sebuah telaga kecil di tengah tengah hutan lebat itu sebelum mengalir kembali ke tujuannya.

Telaga itu mempunyai garis tengah kira-kira lima atau enam puluh meter.

Memang tidak begitu lama!

Airnyapun juga tidak dalam, kira-kira cuma satu atau satu setengah meter saja.

Maka batu batu besar yang banyak terdapat di dalamnya tampak bertonjolan pada permukaan airnya.

Bagian tepi dari telaga kecil tersebut merupakan pasir landai yang agak luas, sehingga permukaan air telaga itu tidak terjangkau oleh rindangnya daun-daun pepohonan yang mengelilinginya.

Maka wajah matahari yang bersinar terik di tengah hari itu dapat langsung berkaca pada permukaannya.

Bersih dan terang menyilaukan!

Souw Lian Cu yang sudah merasa kelelahan itu langsung mencuci tangan dan kakinya di air yang dangkal tersebut.

Lalu sambil menghela napas segar gadis itu menjatuhkan dirinya di pasir yang empuk.

Dengan beralaskan kedua belah lengannya Souw Lian Cu berbaring melepaskan semua kepenatannya.

Sekarang baru terasa kalau perutnya belum diisi sejak pagi tadi.

Tapi di tengah-tengah hutan begini, ke mana dia dapat memperoleh makanan?

Souw Lian Cu jadi teringat pada rumahnya sendiri.

Rumah yang dihuninya dengan ayahnya, karena ibunya telah tiada di dunia ini semenjak ia masih berusia dua tahun.

Rumahnya itu juga dibangun di dekat sungai dan di daerah yang terpencil pula seperti tempat ini.

Hanya bedanya aliran sungai yang mengalir tak jauh dari rumahnya itu berasal dari sebuah air terjun yang letaknya juga tidak begitu jauh dari rumah tersebut.

Dia merasa tenang, tenteram, damai dan bahagia tinggal di rumah itu meskipun ia cuma hidup berdua saja dengan ayahnya.

Ayahnya sangat memanjakannya, sangat menyayanginya, sehingga kadang-kadang ia merasakan dirinya seperti seorang bayi yang harus selalu ditolong oleh ayahnya dalam segala hal.

Dan ketika pada suatu hari ia memprotes perlakuan ayahnya itu, dengan sedih ayahnya mengatakan bahwa semua itu dilakukan untuk menebus perasaan dosa dan perasaan bersalah ayahnya terhadap dia.

Sebagai seorang ayah, ayahnya itu merasa sangat berdosa besar terhadap Tuhan karena telah menerlantarkan anaknya sendiri hampir sepuluh tahun lamanya.

Biarpun hal itu juga bukan kesalahan ayahnya, sebab ayahnya sakit ingatan saat itu.

"Ayah..."

Souw Lian Cu berbisik menyebut nama ayahnya.

Matanya terpejam, seolah mau membayangkan wajahnya yang telah dia tinggalkan lagi dua tahun yang Ialu.

Wajah ayahnya itu tentu sangat sedih, karena dia tinggal kabur selama ini.

Memang, pertemuan antara Souw Lian Cu dan ayahnya itu ternyata tidak berlangsung lama.

Mereka bertemu kembali enam tahun yang lalu, saat Souw Lian Cu masih berusia sebelas tahun!

Dan empat tahun kemudian Souw Lian Cu telah kabur pula kembali dari rumahnya.

Jadi kedua orang ayah dan anak itu hanya bisa menikmati pertemuan mereka di rumah terpencil itu selama empat tahun saja.

Dalam tahun-tahun pertama pertemuan antara Souw Lian Cu dan ayahnya itu memang terasa sangat berbahagia, tenang dan damai.

Tapi kebahagiaan tersebut lantas menjadi goyah ketika Souw Lian Cu mulai mengetahui bahwa ayahnya ternyata menyimpan sebuah rahasia.

Mulai tahun yang ke empat, sejak gadis itu sering kali mendengar igauan ayahnya di waktu malam, Souw Lian Cu mulai mengerti bahwa ayahnya ternyata mempunyai hubungan batin lagi dengan seorang wanita.

Dan wanita yang selalu menjadi igauan ayahnya itu telah dikenal oleh Souw Lian Cu pula, karena wanita ayu itu telah beberapa kali melempar budi kepadanya.

Meskipun selama itu ayahnya tak pernah mengatakan bahwa dia akan kawin dengan wanita itu, tapi Souw Lian Cu benar benar tak menyukai keadaan ayahnya tersebut.

Gadis itu menganggap bahwa ayahnya telah mulai mengkhianati mendiang ibunya.

Dan hal ini benar benar amat dibencinya!

Maka ketika pada suatu hari ada seorang laki-laki datang membawa wanita ayu itu ke rumahnya, pikiran Souw Lian Cu menjadi pepat dan kesal bukan main.

Tanpa banyak cing-cong lagi gadis itu segera kabur meninggalkan rumahnya.

Gadis itu bahkan tak mau minta diri dahulu kepada ayahnya, karena gadis itu tak mau melihat atau menyaksikan pertemuan antara ayahnya dengan wanita tersebut.

Begitulah, tanpa membawa bekal uang ataupun pakaian Souw Lian Cu berkelana seorang diri menjelajah desa dan kota dengan hati sedih.

Berhari-hari ia tak makan secara teratur, karena ia hanya mengisi perutnya kalau secara kebetulan dia dapat memperoleh binatang buruan.

Untuk meminta makanan kepada penduduk ia malu, tapi kalau harus membeli makanan sendiri ia tidak mempunyai uang.

Jangankan untuk makan, sedangkan untuk berganti pakaian saja ia tak bisa!

Terpaksa bila pakaian sudah bau kecut, gadis itu pergi ke sungai yang sunyi untuk mencucinya.

Sebenarnya bisa saja gadis itu mempergunakan kepandaiannya yang sangat tinggi itu untuk mendapatkan uang atau pakaian, tapi karena sejak kecil dia memperoleh pendidikan budi pekerti baik, maka rasanya tak tega gadis itu melakukannya.

Dia merasa lebih baik menerima saja nasib yang sekarang sedang menimpanya.

Gadis itu seolah-olah sudah tak punya gairah lagi untuk hidup.

Apalagi jika mengingat pada ayahnya, satu-satunya keluarga yang masih dipunyainya, kini tentu sudah bersanding berbahagia dengan wanita yang datang itu!

Padahal apa yang dituduhkan oleh Souw Lian Cu kepada ayahnya itu sebenarnya tak benar sama sekali.

Andaikata saja gadis itu mau menunggu...Menunggu dan melihat, apa sebetulnya yang terjadi setelah laki-laki dan wanita itu bertemu dengan ayahnya, mungkin Souw Lian Cu benar benar akan menyesal bukan main!

Dan mungkin Souw Lian Cu tidak akan sesengsara itu keadaannya.

Sebaliknya gadis itu tentu akan segera menyadari kesalah-tafsirannya.

Tapi takdir memang menghendaki demikian.

Souw Lian Cu harus berpisah lagi dengan ayahnya, mengembara terlunta lunta tak ubahnya seorang gelandangan yang tiada sanak maupun saudara.

Tiap hari gadis itu cuma berjalan menyusup desa menjelajah kota tak tentu tujuan, sampai-sampai soal kesehatannyapun tak dia hiraukan sama sekali!

Jiwanya benar-benar sudah patah.

Semangat hidupnya juga telah hilang.

Maka tak heran kalau akhirnya Souw Lian Cu jatuh sakit.

Benar-benar sakit!

Bagaimanapun tinggi kepandaiannya, tapi karena jiwanya telah rapuh, apalagi ditambah jarang makan dan minum teratur, maka tetap saja tubuhnya itu tak kuat bertahan lagi.

Dan dalam keadaan sakit dan lemah itu Souw Lian Cu tetap berjalan, meskipun lambat dan tertatih-tatih.

Gadis itu tidak ingin mati di tengah-tengah masyarakat desa atau kota, sehingga nanti dikira seorang gelandangan atau pengemis yang mati kelaparan, tapi gadis itu ingin mati di tempat sunyi dan tak seorangpun manusia yang melihatnya.

Oleh karena itu Souw Lian Cu berjalan tersaruk-saruk ke daerah perbukitan dan hutan belantara.

Entah di hutan mana gadis itu tak tahu, tapi pada suatu hari ia dicegat oleh sekawanan perampok yang mau mengganggu dan memperkosanya.

Dalam keadaan biasa, biar sepuluh kali lipat kekuatan mereka, semuanya takkan menang melawan Souw Lian Cu.

Tapi karena keadaannya sudah benar-benar amat parah, maka jangankan untuk melawan sedang untuk menjaga agar tetap berdiri saja sudah amat sukar.

Oleh karena itu dengan mudah sekali kawanan perampok itu membelejeti pakaiannya hingga telanjang bulat dan berebutan untuk lebih dulu memperkosanya.

Tubuh Souw Lian Cu yang telanjang bulat itu ditarik ke sana ke mari untuk rebutan para perampok tersebut.

Pada saat yang gawat itulah datang Keh-sim Siauwhiap menolong gadis tersebut.

Secara kebetulan pendekar yang sangat terkenal itu lewat di tempat itu dan menolong Souw Lian Cu!

Saking marahnya seluruh kawanan perampok itu dibabat habis oleh Keh-sim Siauwhiap!

Tak seorangpun dibiarkan hidup.

Kelakuan mereka yang sangat biadab itu benar-benar tak diampuni oleh Keh-sim Siauwhiap.

Begitulah, akhirnya Souw Lian Cu dirawat dan dibawa pulang ke Pulau Meng-to oleh Kehsim Siauwhiap.

Di atas pulau kecil yang indah bagai sorga itu Souw Lian Cu tinggal bersama-sama para pembantu Keh-sim Siauwhiap yang semuanya adalah wanita dan masih gadis-gadis pula.

Dan anehnya, semua gadis-gadis pembantu Keh-sim Siauwhiap itu rata rata mempunyai latar beIakang atau pengalaman yang sama dengan Souw Lian Cu.

Mereka rata-rata sampai ke tempat itu karena ditolong dari lembah kesengsaraan atau diselamatkan dari maut oleh Keh-sim Siauwhiap!

Dan gadis-gadis itu sengaja dibawa oleh pendekar terkenal tersebut, karena mereka sudah tak mempunyai keluarga atau tempat tinggal lagi.

Di atas pulau tersebut, selain memperoleh pelajaran ilmu silat dari Keh-sim Siauwhiap sendiri, para gadis itu bertugas mengurus dan menyiapkan segala keperluan Keh-sim Siauwhiap yang jarang sekali keluar dari kamarnya.

Begitu jarangnya pendekar itu keluar dari kamarnya sehingga kalau mengajar silatpun hanya dari balik kerei penutup pintunya.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pendekar tampan yang punya nama besar itu menderita patah hati yang sangat parah sebelum pergi menyendiri di pulau tersebut.

Sebulan kemudian Souw Lian Cu telah sehat kembali seperti sediakala.

Tapi selama itu pula gadis itu tak pernah bertemu atau melihat Keh sim Siauwhiap.

Yang merawat dan menemaninya setiap hari hanyalah gadis-gadis para pembantu dari Keh-sim Siauwhiap itu saja.

Hanya kadang-kadang datang empat gadis kepercayaan Keh-sim Siauwhiap ke kamarnya, yaitu dua pasang gadis yang disebut Siang In dan Siang Yen oleh teman temannya.

Dan Souw Lian Cu cepat akrab pula dengan mereka.

Dari empat orang itulah Souw Lian Cu mengenal dan mengetahui siapakah sebenarnya orang yang telah menolong dirinya dari bahaya maut itu dan apa saja yang terjadi ketika dirinya diperebutkan oleh sekawanan perampok yang hampir saja akan memperkosanya itu.

Souw Lian Cu dibawa ke pulau itu dalam keadaan lemah dan kalut baik jiwa maupun raganya.

Hanya karena ketekunan Keh-Sim Siauwhiap saja gadis itu dapat hidup sehat kembali seperti sedia kala.

Biarpun luka yang sebenarnya, yaitu luka parah di relung hatinya, belum terobati sama sekali!

Maka tak heran bila sifatnya yang semula memang sudah amat pendiam itu menjadi semakin tampak tertutup, kaku dan murung!

Dan menjadi semakin lengkaplah penghuni pulau sorga itu dengan orang orang aneh yang bersifat kaku, tertutup dan menyendiri!

Tempat yang jauh dari dunia ramai itu terasa semakin cocok bagi Souw Lian Cu untuk bersembunyi dan mengubur kenangan masa lalunya yang tak pernah berbahagia.

Bayangan tentang ayahnya dihapuskannya sama sekali dari dalam ingatannya.

Kehidupan sehari-harinya dia lalui dengan tak bergairah, dingin dan hati yang kosong sama sekali, seolah-olah apa yang dia jalani di atas pulau tersebut cuma menunggu hari akhir yang akan datang menyambutnya.

Rasanya memang aneh sekali.

Mengherankan malah!

Masih semuda itu usia Souw Lian Cu, masih muda belia sekali malah, tapi perkembangan hati, jiwa dan perasaannya sudah demikian jauh dan dalam sekali.

Oleh karena itu, sorot mata dan sikapnya sudah tampak demikian dewasa dan matang sekali, benar-benar sangat bertolak belakang dengan umur dan wajahnya yang masih muda belia tersebut.

Sifat dan gaya hidup yang dilakukan oleh Souw Lian Cu itu ternyata juga tak diacuhkan atau diperdulikan oleh penghuni-penghuni pulau lainnya.

Biarpun setiap harinya mereka akrab satu sama lain, tapi mereka benar-benar tak mau tahu urusan pribadi masing masing.

Sehingga sepintas lalu kehidupan di atas pulau itu bagaikan sekumpulan robot atau boneka yang bekerja tolong-menolong satu sama lain, namun tak berhati dan berperasaan sama sekali.

Setahun sudah Souw Lian Cu tinggal di pulau mimpi itu dan selama itu pula Souw Lian Cu tidak pernah keluar dari pulau tersebut.

Souw Lian Cu tak pernah pergi ke daratan untuk mengurus segala macam urusan seperti yang dilakukan oleh gadis-gadis pembantu Keh-sim Siauwhiap lainnya.

Souw Lian Cu juga tidak pernah belajar silat seperti gadis-gadis itu, sehingga tak seorangpun mengetahui bahwa sebenarnya kepandaiannya sangat tinggi, mungkin tak berselisih banyak dengan Keh-sim Siauwhiap sendiri.

Anehnya meski sudah setahun di pulau tersebut, satu kali pun belum pernah Souw Lian Cu bertemu ataupun saling berbicara dengan Keh-sim Siauwhiap, orang yang menolongnya!

Masing-masing tenggelam dalam benteng kemurungannya sendiri-sendiri.

Hanya kadang-kadang saja Souw Lian Cu melihat Keh-sim Siauwhiap dari jauh, yaitu kalau pendekar besar itu sedang menemui tamunya.

Keduanya, Keh-sim Siauwhiap maupun Souw Lian Cu, seakan-akan sudah melupakan satu sama lain.

Seolah-olah pendekar itu juga sudah lupa sama sekali bahwa dia pernah menolong dan membawa gadis itu ke pulaunya.

Bagi Keh-sim Siauwhiap hal itu mungkin saja memang benar, mengingat begitu banyaknya gadis yang dia tolong dan dia bawa ke pulaunya itu.

Lain halnya dengan Souw Lian Cu.

Meskipun selama ini gadis itu hidup dengan hati kosong dan tak acuh pada keadaan sekelilingnya, tapi pertolongan dan budi baik pendekar berhati murung itu tak pernah dilupakannya.

Mungkin perasaannya itu tak berbeda juga dengan gadis-gadis lain yang berada di atas pulau tersebut.

Para gadis itu semula juga tak perduli dan tak mengacuhkan siapa pun juga.

Hanya ada setitik rasa terima kasih kepada penolong mereka itu.

Itu saja, lain tidak!

Tapi setelah beberapa tahun tinggal di tempat terasing itu dan mengetahui keadaan Keh-sim Siauwhiap yang sebenarnya, serta mengetahui pula akan sepak-terjangnya yang mulia, rata-rata perasaan terima kasih itu lalu berkembang atau bertambah dengan lain lain perasaan lagi.

Rata-rata semuanya menjadi hormat, kasihan, kagum, sayang, cinta, dan...tak ingin membiarkan atau melihat pendekar itu selalu bermuram durja!

Apa yang terasa di dalam hati gadis gadis pembantu Keh sim Siauwhiap itu ternyata kemudian juga timbul dan berkembang di dalam sanubari Souw Lian Cu.

Meskipun dalam setahun itu ia tak pernah bertemu atau bercakap cakap sendiri dengan Keh sim Siauwhiap, namun segala macam cerita dan dongeng tentang pendekar tersebut selalu didengarnya dari gadis gadis itu.

Rata-rata semua cerita yang didengar oleh Souw Lian Cu itu tentu berkisar tentang kepahlawanan, kebaikan budi atau kemuliaan hati Keh-sim Siauwhiap terhadap siapa saja, terutama kepada kaum lemah dan miskin.

Sehingga tanpa terasa bayangan yang amat menyenangkan dan mengagumkan seperti itu semakin lama semakin terpateri di hati Souw Lian Cu, dan akhirnya menimbulkan perasaan simpati yang mendalam.

Dan perasaan seperti itu ternyata semakin lama semakin erat membelit hati Souw Lian Cu, sehingga gadis yang semula amat pemurung dan tak bergairah hidup itu kini mulai tampak bercahaya kembali.

Ternyata perasaan cinta dan memikirkan orang lain itu justru membuatnya hidup dan bersemangat pula kembali.

Mulailah kini Souw Lian Cu berlatih silat lagi, biarpun secara diam-diam dan tak seorangpun tahu.

Lalu badannya yang semula telah menjadi kurus kering itu kini mulai tanpa berisi kembali, karena dengan timbulnya semangat di dalam jiwanya itu membuat dia mau memikirkan lagi keadaan tubuhnya.

Beberapa bulanpun telah berlalu pula kembali.

Sekarang keadaan Souw Lian Cu telah tiada bedanya dengan keadaan gadis-gadis yang lain.

Hanya yang sangat memberatkan hati gadis yang masih muda belia itu ialah belum adanya kesempatan untuk bertegur sapa dengan orang yang amat dikaguminya itu.

Sudah satu setengah tahunan dia berada di atas pulau tersebut, tapi ternyata ia belum juga memperoleh kesempatan untuk saling bertatap muka dengan pendekar itu.

Berbagai jalan telah ditempuh oleh Souw Lian Cu, sampai sampai gadis ini ikut menonton pula ketika pendekar itu mengajar silat.

Tapi ternyata pendekar itu hanya memberi aba aba dari balik pintu kamarnya.

Penasaran dan pegal sekali rasa hati Souw Lian Cu!

Tapi yang lebih menyakitkan dan membuatnya kesal adalah sikap Keh-sim Siauwhiap kepadanya selama satu setengah tahun ini.

Sudah sekian lamanya ia berdiam di pulau itu, tapi tiada perhatian sedikitpun dari pendekar tersebut kepadanya.

Kelihatannya pendekar murung itu benar-benar sudah lupa dan tak ingat lagi kepadanya.

Kadang kadang timbul maksud yang kurang baik dari Souw Lian Cu.

Suatu saat gadis itu ingin membuat gara gara atau membikin kerusuhan agar Keh-sim Siauwhiap mau sedikit memberi perhatian kepadanya.

Tapi setelah dipikir lebih panjang, Souw Lian Cu merasa tidak tega pula untuk melaksanakannya.

Perasaannya menjadi tidak tega bila membayangkan wajah tampan yang tak pernah senyum itu.

Akhirnya gadis itu hanya bisa menunggu saja, saat kapan dia bisa memperoleh kesempatan untuk saling berhadapan muka dengan pria yang amat menarik hatinya tersebut.

Dan kesempatan itu ternyata datang juga akhirnya!

Pada suatu hari secara tak sengaja ada sekelompok bajak laut yang terdampar ke pulau Meng-to.

Mereka berjumlah lebih dari dua puluh orang dan dipimpin oleh seorang bertubuh kecil pendek, tapi ternyata mempunyai kepandaian yang amat tinggi.

Pulau Meng-to yang saat itu baru ditinggalkan oleh Keh-sim Siauwhiap menjadi panik luar biasa.

Semua penghuni adalah wanita dan yang paling dapat diandalkan cuma Siang In dan Siang Yen.

Oleh karena itu mana mungkin mereka dapat menghadapi sekian banyak lawan yang buas-buas dan biasa berkelahi itu?

Sekejap saja empat orang Siang In dan Siang Yen telah terlibat dalam keroyokan belasan orang lawannya.

Mereka berempat tak punya kesempatan Iagi untuk menolong kawan-kawannya yang lain.

Padahal masih banyak anggota bajak laut yang bebas berkeliaran menjarah rayah harta benda mereka, sementara pemimpin bajak laut itu juga masih bertolak pinggang menonton anak buahnya.

Keadaan benar-benar amat gawat bagi penghuni pulau itu.

Dan pada saat yang gawat itulah kemudian muncul Souw Lian Cu sebagai malaikat penolong!

Mula mula Souw Lian Cu melumpuhkan terlebih dahulu anggota perampok yang tidak terikut dalam pertempuran.

Sebelum orang-orang itu merusak dan membuat kerusuhan di tempat tinggal mereka, satu persatu orang-orang tersebut ditotok roboh oleh Souw Lian Cu.

Setelah semuanya sudah dapat dikuasai, barulah Souw Lian Cu kembali ke arena pertempuran.

Tapi apa yang sekarang dilihat oleh Souw Lian Cu di arena pertempuran sungguh amat mengejutkannya.

belasan orang anggota perampok yang tadi mengeroyok Siang In dan Siang Yen, kini telah menggeletak bergelimpangan, agaknya sudah dapat dibereskan oleh empat orang gadis kepercayaan Keh-sim Siauwhiap itu.

Tapi yang sangat mengagetkan Souw Lian Cu adalah tujuh orang lelaki bersenjatakan rantai besi yang kini datang membantu kepala bajak laut tadi.

Kelihatannya tujuh orang tersebut baru saja tiba, dan kini bersama-sama dengan kepala bajak tadi tampak sedang mengepung Siang In dan Siang Yen!

Dari luar arena tampak betapa repotnya empat orang gadis itu menghadapi delapan orang lawannya.

Apalagi delapan orang itu bertempur dengan kotor dan kasar!

Selain cara bertempur mereka yang kasar dan buas, mulut merekapun tak henti-hentinya mengeluarkan perkataan perkataan yang kotor dan menjijikkan, sehingga sedikit banyak membuat hati empat orang gadis itu gemetar dan ngeri.

Pertempuran itu memang tidak berimbang.

Selain jumlahnya yang dua kali lipat, kepandaian dari masing-masing perompak itu hanya sedikit di bawah salah seorang dari gadis berbaju putih tersebut.

Jadi malah lebih tinggi sedikit dibandingkan dengan yang berbaju hitam!

Maka tidaklah heran kalau gadis gadis itu segera terdesak dan terkurung dengan hebat!

Demikianlah, akhirnya Souw Lian Cu terjun pula memasuki gelanggang pertempuran.

Mula-mula Siang In dan Siang Yen segera berteriak memperingatkan Souw Lian Cu, tapi serentak mereka melihat kehebatan ilmu kepandaian Souw Lian Cu, mereka menjadi tertegun dan melongo malah!

Mereka lupa sama sekali kalau sedang bertempur, sehingga tanpa ampun lagi Siang Yen dapat ditubruk dan diringkus oleh lawannya.

Tapi sekejap kemudian mereka berdua dapat terbebas kembali ketika tiba-tiba dua orang yang meringkusnya roboh berkelojotan tertusuk jari-jari Souw Lian Cu yang ampuh!

Akhirnya enam perompak yang masih tertinggal itu semua mengeroyok Souw Lian Cu.

Sedangkan Siang ln dan Siang Yen masih tetap berdiri mematung di tempat masing-masing.

Mereka berempat memandang ke arah Souw Lian Cu dengan pandang mata tak percaya.

Benar-benar tak percaya!

Satu setengah tahun mereka berkumpul bersama, tapi mereka benar-benar tak mengira kalau gadis cacat yang tampak lemah itu demikian lihainya.

Memang!

Apa yang dipertunjukkan oleh Souw Lian Cu pada saat itu memang sangat menakjubkan siapa saja yang melihatnya.

Termasuk juga Siang In, Siang Yen dan para perompak itu sendiri!

Tangannya yang hanya tinggal sebelah itu ternyata sungguh ampuh dan menggiriskan sekali.

Jangankan sampai menyentuh tubuh lawannya, baru angin pukulannya saja ternyata mampu melukai para perompak tersebut.

Maka tanpa membutuhkan waktu yang lama, keenam perompak itu segera jatuh bergelimpangan di atas tanah.

Senjata mereka yang berat-berat dan menakutkan itu ternyata tak ada manfaatnya sama sekali.

Dapat dibayangkan, bagaimana sikap dan sambutan para gadis-gadis penghuni pulau itu terhadap kemenangan Souw Lian Cu tersebut.

Bagaikan layaknya seorang ratu yang baru menang perang Souw Lian Cu disambut dengan hangat dan penuh kekaguman oleh rekan-rekannya.

Dan mulai saat itu semuanya sangat menghormat dan takut kepada gadis cacat tersebut.

Sementara itu Souw Lian Cu sendiri tidak bergembira dengan hasil kemenangannya tersebut.

Kemenangan kemenangan seperti itu sudah biasa ia peroleh dalam perantauannya.

Jangankan hanya perampok perampok seperti itu, jago silat yang berkepandaian lebih tinggipun pernah dia kalahkan.

Yang selalu ia sesalkan ialah tidak adanya Keh-sim Siauwhiap di atas pulau tersebut saat itu, sehingga sepak terjangnya yang hebat tadi tak dilihat oleh pendekar itu.

Maka tanpa menghiraukan sanjung-puji kawan-kawannya Souw Lian Cu pergi mengunci diri di dalam kamar seperti biasanya.

Dan para gadis pembantu Keh-sim Siauwhiap itupun tak berkecil hati mendapatkan sikap yang demikian dari Souw Lian Cu.

Mereka telah terbiasa dengan sikap Souw Lian Cu yang seperti itu!

Dengan tenang mereka bersama-sama mengurus para perompak yang telah mereka tundukkan itu.

Orang-orang kasar itu mereka ikat dan mereka kumpulkan menjadi satu di sebuah kamar yang kokoh, sambil menantikan kedatangan Keh-sim Siauwhiap.

Malamnya Souw Lian Cu tidak dapat tidur.

Pikirannya selalu tertuju pada Keh sim Siauwhiap saja.

Maka gadis itu lantas keluar dari kamarnya dan pergi ke tempat para perompak itu disekap.

Di depan kamar Souw Lian Cu berjumpa dengan Siang ln dan Siang Yen.

Keempat gadis itu dengan dibantu oleh beberapa orang lagi selalu menjaga para tawanan tersebut.

Mereka sadar bahwa kalau sampai lolos, para tawanan itu benar-benar sangat berbahaya.

Terutama kepala bajak dan orang-orang yang bersenjatakan rantai itu!

Setelah yakin bahwa para perompak itu tidak mungkin lolos lagi, maka Souw Lian Cu lalu ke luar.

Dengan langkah perlahan gadis itu berjalan menuju ke arah pantai.

Dia tak memperdulikan tiupan angin laut yang menerpa dengan suhu yang amat menggigilkan itu.

Makin lama makin jauh, sehingga akhirnya gadis itu sampai di bagian utara dari Pulau Meng-to.

Di sana pantainya berpasir sehingga dapat dipakai untuk menaikkan sampan atau menambat perahu.

Memang di tempat itulah perahu perahu milik Keh-sim Siauwhiap ditambatkan.

Souw Lian Cu menjatuhkan dirinya di atas pasir yang lembut.

Sambil memandang ke arah bintang-bintang yang bertaburan di langit, gadis itu kembali meneruskan lamunannya tentang Keh-sim Siauwhiap.

Tiba-tiba telinganya mendengar suara desir kaki yang menginjak pasir!

Souw Lian Cu segera bangkit dengan tangkasnya.

Meskipun begitu ketika kakinya berdiri tegak, orang itu telah berada tepat di depannya.

Bukan main terkejutnya Souw Lian Cu!

Ilmu mengentengkan tubuh orang itu benar-benar hebat sekali.

Sambil melangkah mundur Souw Lian Cu menatap orang itu dengan tajam.

Tubuh orang itu tampak gemuk sekali dengan pakaian yang lebar dan kedodoran, sehingga hampir seluruh tubuhnya tertutup pakaian.

Tapi yang amat mengejutkan Souw Lian Cu adalah kepala orang itu.

Kepala itu ditutup dengan keranjang anyaman dari bambu, sehingga wajahnya tak kelihatan sama sekali.

Tentu saja Souw Lian Cu merasa aneh dengan dandanan orang itu.

Gadis itu merasa seolah-olah orang yang baru datang itu memang sengaja menyembunyikan wajahnya dari dia.

Yang lebih mengejutkan lagi, begitu datang orang itu langsung menyerang dengan ganasnya.

Oleh karena itu tiada jalan lain bagi Souw Lian Cu selain mempertahankan diri dengan mati-matian.

Keduanya langsung terlibat dalam sebuah pertempuran yang dahsyat dan mengerikan.

Meskipun gemuk ternyata gerakan orang itu luar biasa gesitnya, ilmu silatnyapun amat hebat dan sukar diduga maksudnya.

Beberapa kali terpaksa Souw Lian Cu bergetar mundur setiap kali harus beradu lengan.

sepuluh jurus, dua puluh jurus, tiga puluh jurus, dan akhirnya lima puluh juruspun telah berlalu, tapi pertempuran tersebut belum juga menampakkan tanda tanda siapa pemenangnya.

Mereka saling bergantian mendesak lawannya, sehingga akhirnya Souw Lian Cu menjadi tidak sabar lagi.

Menurut pengamatan Souw Lian Cu, lawannya itu sengaja mengulur-ulur waktu.

Setiap gadis itu mendesak, dengan ginkangnya yang tinggi orang itu tentu meloncat berputar-putar menghindarkan diri.

Sebaliknya apabila Souw Lian Cu agak mengendur, orang itu tentu akan segera mencecarnya dengan hebat.

Souw Lian Cu meloncat ke belakang dengan cepat.

Lalu sebelum lawannya mengejar, gadis itu tampak mengerahkan tenaga saktinya.

Sekejap kemudian tampak dua macam asap tipis mengepul di atas ubun-ubunnya.

Yang satu berwarna merah dan yang lain berwarna putih.

Tampak lawannya meloncat mundur pula dengan kaget.

Tangannya menuding ke depan, sementara bibirnya terdengar berseru agak gagap.

"Aih, kau..., kau siapa? Apa...?"

Tapi sebelum orang itu dapat menyelesaikan pertanyaannya, Souw Lian Cu sudah menerjangnya dengan ganas.

Lengan Souw Lian Cu yang tinggal sebelah kanan saja itu terayun ke depan ke arah dada.

Asap tipis yang tadi tampak mengepul di atas ubun-ubun lenyap bersamaan dengan saat gadis itu mengayunkan lengannya.

Terdengar suara mendesir lembut dan secara tiba-tiba orang berkerudung keranjang bambu tersebut tampak menggigil tubuhnya.

"Ah!"

Orang itu berdesah sambil meIoncat mundur lagi sejauh-jauhnya.

Lalu dengan tergesa-gesa orang itu juga mengerahkan tenaga sakti andalannya.

Kedua belah telapak tangannya ia rangkapkan di depan dada seperti gerakan Buddha yang sedang menyembah, sehingga secara tiba-tiba pula dari dalam tubuhnya tersebar udara hangat ke sekelilingnya.

Kemudian kedua belah telapak tangan itu tampak mendorong ke arah Souw Lian Cu dengan dahsyatnya.

Souw Lian Cu bergeser ke kiri dengan cepat, kemudian sambil berputar kaki kirinya menghantam perut lawannya.

Berbeda dengan ketika menggerakkan lengan kanan tadi, sekarang kaki kiri yang menerjang ke perut lawan itu membawa angin panas yang seolah-olah mau membakar tubuh lawannya itu.

Tentu saja perubahan ini sangat mengagetkan orang berkerudung keranjang itu!

Apalagi serentak melihat asap tipis yang berwarna merah tadi juga ikut lenyap berbareng dengan gerakan kaki tersebut.

Orang itu mendoyongkan tubuhnya ke kiri, sehingga tendangan Souw Lian Cu yang mengarah ke perut tadi tidak mengenai sasaran.

Lalu bersamaan dengan itu orang berkerudung bambu tersebut mencengkeram pinggang kanan Souw Lian Cu dengan jari-jari tangan kanannya.

Terdengar suara berkerotok pada buku-buku jari tangan itu, menandakan orang tersebut mengerahkan semua kekuatannya!

Karena tak ada kesempatan untuk mengelak lagi, maka Souw Lian Cu segera memapaki cengkeraman tersebut dengan tangan kanannya.

Sekali lagi udara berubah suhunya!

Kalau angin yang menyertai kaki kiri tadi bersuhu dingin, sekarang lengan kanan itu membawa angin yang amat panas!

Dan perubahan hawa yang selalu berganti-ganti ini benar benar membingungkan lawan Souw Lian Cu itu.

"Taaaasss!"

Dua buah telapak tangan saling membentur di udara.

Kedua-duanya tergetar mundur empat lima langkah ke belakang!

Tergesa-gesa mereka melihat telapak tangan masing-masing.

Tapi setelah ternyata semuanya tidak mengalami cedera apa apa, mereka langsung terlibat lagi dalam pertempuran yang amat seru.

Dan untuk beberapa jurus orang berkerudung bambu itu terpaksa harus berhati-hati dengan pukulan lawannya yang aneh tersebut.

Tapi beberapa waktu kemudian orang berkerudung bambu itu agaknya telah bisa membaca keanehan ilmu silat Souw Lian Cu.

Buktinya sekarang pukulan Souw Lian Cu yang aneh itu tak bisa mengecoh lawannya lagi.

Malah kini Souw Lian Cu yang justru terdesak oleh serangan orang berkerudung itu.

Beberapa kali tampak pukulan orang berkerudung bambu yang diselang-seling dengan cengkeraman itu membingungkan Souw Lian Cu.

Dan pada suatu saat cengkeraman orang itu datang dengan sangat tak terduga sehingga Souw Lian Cu tak dapat mengelak lagi.

Tapi gadis itu dalam keadaan terpepet juga tak mau tinggal diam.

Jari telunjuknya yang ampuh itu membarengi serangan lawan dengan tutukan ke arah perut.

"Cuuss!"

"Breeet!"

Souw Lian Cu terdengar menjerit kecil kemudian roboh ketika cengkeraman tangan itu melumpuhkan seluruh sendi sendi tulangnya.

Tapi tusukan jari tangan gadis itu juga dengan telak mengenai perut lawannya.

Hanya yang sangat mengherankan orang itu seperti tidak merasakan apa-apa.

Pakaiannya yang robek tertusuk jari tangan Souw Lian Cu tadi hanya diusap-usapnya sebentar, lalu tidak dipedulikannya lagi.

Tentu saja Souw Lian Cu yang roboh di atas pasir itu menjadi kaget sekali.

Mungkinkah orang itu kebal tubuhnya?

Tapi semua keanehan itu segera terjawab ketika orang itu cepat-cepat membuka pakaiannya.

Badan yang gemuk itu tiba-tiba menjadi "kurus"

Begitu pakaiannya ditanggalkan!

Ternyata orang itu mengenakan baju rangkap enam atau tujuh buah dan tebal-tebal, sehingga badannya kelihaian gemuk luar biasa.

Begitu tebalnya lapisan baju tersebut sehingga tusukan jari Souw Lian Cu tadi tak dapat mencapai kulit yang berada di dalamnya.

Selanjutnya orang itu membuka pula anyaman keranjang yang menutupi kepalanya.

Souw Lian Cu dengan tegang menantikan rupa di balik keranjang bambu tersebut.

Dan ternyata gadis itu menjadi lemas setelah melihat siapa yang berada di balik kerudung anyaman bambu itu.

"Kau...?"

Gadis itu berdesah dengan suara gemetar.

"Ya!"

Jawab orang itu yang tidak lain adalah Keh-sim Siauwhiap sendiri.

Pendekar itu segera memunahkan totokan yang melumpuhkan Souw Lian Cu, kemudian duduk di dekat gadis itu.

Tentu saja keadaan yang tidak diduga-duga sebelumnya ini membuat Souw Lian Cu menjadi kikuk dan serba salah.

Berbagai macam perasaan berkecamuk di dalam dada gadis yang sedang dimabuk asmara tersebut.

Perasaan tegang, gembira, takut, malu, bahagia dan lain sebagainya.

Semuanya terasa memenuhi dadanya, sehingga gadis itu justru menjadi bisu dan tak berani bersuara sedikitpun!

"Nona...aku minta maaf karena telah mengejutkanmu!"

Pendekar itu membuka pembicaraan sambil memandang riak gelombang yang bergulung-gulung menghantam karang.

"Tak seharusnya aku mempermainkan orang yang telah membantu aku mempertahankan pulau ini dari tangan para perompak..."

"Kau...kau sudah tahu? Mereka memberitahukan padamu?"

Pendekar itu menggeleng.

"Tak seorangpun yang memberitahukan hal itu kepadaku. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri siang tadi. Secara kebetulan aku memang sudah pulang."

"Kalau begitu...mengapa kau tidak lekas-lekas keluar untuk mengusir perompak itu?"

"Aku kalah dulu dengan kau! Kedatanganku persis pada saat kau terjun memasuki gelanggang pertempuran..."

"Oh! Jadi kau melihat juga ketika aku melabrak mereka?"

Wajah Souw Lian Cu tampak gembira, sehingga suaranya seolah-olah mau bersorak.

Tentu saja gerak-gerik gadis itu tak lepas dari pengamatan Keh-sim Siauwhiap yang berpengalaman.

Tapi pendekar itu hanya mengira bahwa gadis yang merasa telah berjasa itu tentu ingin agar jasanya itu diketahui dan dihargai oleh dia sebagai penguasa tertinggi di pulau tersebut.

Sedikitpun pendekar yang bernama besar itu tidak menyangka dan tidak menduga bahwa bukan itu yang sebenarnya terkandung di dalam hati Souw Lian Cu.

Ada hal lain yang lebih dalam tapi benar benar tidak terlintas dalam benak Keh-sim Siauwhiap!

"Ya!

Dan...aku sungguh tidak mengira kalau nona mempunyai kepandaian setinggi itu."

Keh-sim Siauwhiap mengangguk.

"Tapi sampai kau melumpuhkan mereka semua, aku belum bisa menebak ciri-ciri perguruanmu. Maka aku lantas mengujimu di sini. Sebab bila aku langsung bertanya kepadamu, engkau tentu akan berdiam diri atau takkan mau menjawab."

Pendekar itu menghela napas panjang, lalu.

"Siang In dan Siang Yen setiap hari selalu bercerita kepadaku, bagaimana kau selalu diam, membisu dan menutup diri selama ini...! Nah, sekarang aku sudah tahu siapa sebenarnya engkau. Hanya yang belum kuketahui ialah, apakah hubunganmu dengan Hong gi hiap Souw Thian Hai? Apakah engkau adiknya? Ataukah engkau dari keluarganya yang lain?"

Souw Lian Cu sungguh amat kagum melihat ketajaman mata pendekar itu.

Hanya dengan melihat cara-caranya dia memainkan ilmu silat, pendekar itu langsung dapat menebak asal usul dari perguruannya.

Tapi untuk mengetahui lebih terang lagi alasan-alasan apa yang dipakai oleh Keh-sim Siauwhiap hingga tahu asal usul perguruannya, Souw Lian Cu mencoba untuk mengelak.

"Mmm, mengapa kau mempunyai anggapan bahwa aku datang dari perguruan yang sama dengan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai?"

Keh-sim Siauwhiap menatap Souw Lian Cu dengan tajamnya.

"Nona, engkau takkan bisa mengelabui aku lagi. Di dunia ini hanya ada satu orang saja yang mempunyai ilmu Tai-lek Pek-kong ciang, dan orang itu tidak lain adalah Hong-gi-hiap Souw Thian Hai! Dan menurut berita yang selalu kudengar, ilmu tersebut tidak pernah diajarkan kepada orang lain, melainkan hanya kepada keluarganya saja. Maka sekarang yang akan kutanyakan kepadamu ialah apakah hubunganmu dengan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai?"

Memang, Souw Lian Cu tak dapat mengelak lagi.

Tokoh besar seperti Keh-sim Siauwhiap itu memang sukar untuk dibohongi, apalagi tak enak rasanya membohongi orang yang amat dipujanya setinggi langit itu.

Oleh karena itu dengan suara perlahan dan kepala tertunduk Souw Lian Cu mengakui siapa sebenarnya dirinya.

"Aku memang keluarga dekat dengan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai. Dia adalah...ayahku! Namaku adalah Souw Lian Cu..."

"Hei? Anaknya...? Souw Thian Hai mempunyai anak sebesar kau ini? Ah...yang benar saja, nona! Umur Souw Thian Hai itu tak berbeda banyak dengan aku, dan aku dengan dia sudah saling mengenal dengan baik. Paling-paling usianya sekarang tentu baru tiga puluh atau lebih sedikit. Masa dia telah mempunyai puteri sebesar kau? Ataukah mungkin engkau hanya...hanya puteri angkatnya saja?"

Gadis itu agak tersinggung ketika menjawab.

"Aku adalah benar-benar puteri kandungnya! Ayahku memang masih terlalu muda ketika kawin dengan mendiang ibuku. Dan sekarang ayahku sudah berusia tiga puluh enam tahun, meskipun tampaknya masih sangat muda...!"

"Ooh..!"

Keh-sim Siauwhiap mengendorkan kata-katanya sambil mengangguk, sadar bahwa ucapan yang dia keluarkan tadi sedikit menyinggung perasaan gadis itu.

"Oh, maafkanlah aku kalau begitu...Tapi..., mengapa nona meninggalkan ayahmu sedemikian lamanya? Mengapa ketika itu kau kuketemukan di hutan dalam keadaan sakit parah? Mengapa kau lalu diam saja di pulau ini demikian lamanya? Mengapa kau tak memberitahukan kepadaku bahwa kau adalah puteri Hong-gi-hiap Souw Thian Hai? Dan...Mengapa kau tak lekas lekas pulang setelah sembuh dari sakitmu? Mengapa kau...?"

"Karena kau tak pernah memperhatikan aku!"

Tiba-tiba Souw Lian Cu menjerit penasaran, memotong pertanyaan-pertanyaan Keh-sim Siauwhiap yang membanjir keluar dari mulutnya itu.

Gadis itu lalu bangkit dari atas pasir dan berlari pergi.

Sekilas terdengar sedu-sedannya!

Tapi hanya dengan sekali lompat saja, pendekar itu telah berada di depan Souw Lian Cu.

Dengan kuat lengan pendekar itu mencengkeram kedua pundaknya.

"Tenanglah, Lian Cu...! Mengapa kau IaIu menjadi marah karena aku tak pernah memperhatikanmu? Bukankah kita...?"

Tetapi sekali lagi Keh-sim Siauwhiap tak dapat meneruskan perkataannya.

Gadis yang berada di depannya itu balas memandang dengan beraninya.

Di antara derai air mata yang mengalir di atas pipinya itu jelas terpancar ungkapan cinta yang amat mendalam, sehingga pendekar yang telah kenyang mengenyam pahitnya cinta itu menjadi kaget dan tak bisa berkata apa-apa.

Wajah tampan yang pucat dan muram itu segera tertunduk.

Perlahan-lahan tangan yang mencengkeram pundak Souw Lian Cu itu terlepas dan tergantung kaku di tempatnya.

Wajah yang sudah pucat dan muram itu semakin tampak kelam dan murung.

Dahi yang lebar itu juga tampak berkerut-kerut seolah menahan suatu beban yang amat berat.

Dan dari dalam dada yang bidang itu terdengar pula suara elahan napas yang panjang berkali-kali!

Dan semua gerak-gerik itu tak lepas dari pandang mata Souw Lian Cu!

Gadis itu segera tahu bahwa perasaan cintanya tak memperoleh sambutan seperti yang dia harapkan.

Seperti yang telah selalu ia dengar, pendekar murung itu tak pernah melupakan cinta pertamanya.

Hati yang sudah membeku itu tak pernah dapat mencair lagi...!

"Ooooh...!"

Souw Lian Cu berlari sambil menutupi mukanya dengan tangannya yang tinggal sebelah. Dengan hati hancur gadis malang itu mengambil sebuah perahu dan meluncur pergi meninggalkan Pulau Meng-to.

"Souw Lian Cu...!"

Keh-sim Siauwhiap berbisik lirih.

Tangannya teracung ke depan, seakan-akan mau menahan kepergian gadis itu.

Demikianlah, Souw Lian Cu pergi ke daratan Tiongkok kembali dan berkelana tak tentu tujuan pula.

Untunglah selama dia berada di Pulau Meng-to, Siang In dan Siang Yen selain memberi pakaian juga memberi beberapa buah perhiasan pula, sehingga beberapa buah kalung, cincin dan gelang emas itu dapat dia jual untuk biaya makan-minumnya selama berbulan-bulan.

Gadis itu pernah pula membantu seorang pembesar kerajaan di kota Kuang-Ti dalam membekuk seorang buruan negara, sehingga memperoleh hadiah yang tidak sedikit pula.

Begitulah selama berbulan-bulan gadis itu berkelana seorang diri untuk menghibur hatinya yang sedih dan pepat.

Dan selama itu pula gadis itu tak pernah lupa mengamalkan kepandaiannya yang hebat untuk menolong rakyat.

Sudah banyak sekali penjahat yang menjadi korban keampuhan tangan tunggalnya!

Dan sudah tak terhitung pula orang miskin dan menderita yang telah ditolongnya.

Apalagi ketika terjadi gempa bumi besar itu.

Mengingat akan gempa bumi itu, Souw Lian Cu lantas teringat kepada Yang Kun, pemuda yang ia jumpai di Hi-sancung dan membunuh orang Tiat-tung Kai-pang itu.

Pemuda pendiam, tetapi menurut dia sombong bukan main.

Entah apa yang menyebabkannya, tapi Souw Lian Cu amat benci sekali kepada pemuda yang berkepandaian sangat tinggi tersebut.

Mungkin yang membuatnya tidak suka adalah sinar mata pemuda itu.

Pemuda sombong itu selalu memandangnya dengan pandangan aneh dan mesra, sehingga ia menjadi risih dan kikuk.

Souw Lian Cu kemudian teringat juga ketika bersama-sama dengan Siang Yen mau kembali pulang ke Pulau Meng-to.

Tapi ternyata di tengah jalan ia berbalik pikiran dan pergi meninggalkan Siang Yen.

Gadis itu menjadi malu kalau nanti harus bertemu kembali dengan orang yang telah menolak cintanya.

Di tengah jalan ia melihat perkelahian antara orang-orang Bing-kauw dan Mo-kauw.

Lalu Souw Lian Cu menolong orang orang Bing-kauw yang lebih sedikit jumlahnya.

Tapi gadis itu ternyata harus berhadapan dengan ketua Mo-kauw sendiri yang kepandaiannya lihai bukan main.

Akhirnya dengan menderita luka dalam yang parah, Souw Lian Cu dibawa ke Kuil Delapan Dewa, kuilnya orang-orang dari Aliran Im-yang-kauw!

Di dalam kuil itu ternyata Souw Lian Cu bertemu kembali dengan Yang Kun yang dibencinya.

LaIu bersama-sama dengan dua orang tokoh puncak Im-yang-kauw, Souw Lian Cu dan Yang Kun, mengadakan perjalanan bersama ke Gedung Pusat Im-yang-kauw, yang jaraknya lebih dari dua hari perjalanan.

Apabila mengenangkan kembali saat-saat di dalam perjalanan itu, Souw Lian Cu menjadi amat kesal terhadap dirinya sendiri.

Karena di dalam perjalanan itu dia terpaksa tidak dapat terus-terusan membenci pemuda yang amat sombong itu.

Ternyata banyak pula segi kebaikan pemuda itu yang patut dihargai dan dikagumi.

Meskipun tentu saja kebaikan itu tidak sehebat dan setinggi kebaikan Keh-sim Siauwhiap, tokoh pujaannya!

"Bocah sombong itu memang lebih tampan dan jauh lebih muda dari pada Keh-sim Siauwhiap, tapi mana mampu dia menyaingi nama Keh-sim Siauwhiap yang amat harum dan tersohor itu?

Mana dapat pemuda itu berbuat kebajikan dan kebaikan seperti halnya sepak terjang Keh-sim Siauwhiap selama ini?"

Tanpa terasa Souw Lian Cu mulai membandingbandingkan kedua pemuda itu di dalam lamunannya.

"Krosaaaak! Jleeeg!"

"Ohh!"

Tiba-tiba Souw Lian Cu tersadar dari lamunannya.

Dengan tangkas tubuhnya yang sedang berbaring di atas pasir tepi telaga itu melenting berdiri.

Tapi sebentar kemudian hatinya yang kaget dan tegang itu menjadi tenang kembali.

Orang yang datang dengan tiba-tiba di pinggir telaga kecil di tengah hutan itu ternyata adalah Put-gi-ho dan Put-chih-to, orang yang telah ditolongnya tapi juga pernah menolongnya membawa ke Kuil DeIapan Dewa itu.

Sementara itu kedua orang Bing-kauw itu ternyata juga sangat kaget sekali melihat Souw Lian Cu berada di tempat itu.

Mereka berduapun ternyata juga tidak menduga kalau akan bertemu dengan Souw Lian Cu di tempat yang sangat terasing itu.

"Nona, kau...? Eh, mengapa...mengapa nona berada di tempat ini?"

Put-gi-ho yang tinggi kurus itu melongo.

"Ah, kalian lagi..."

Souw Lian Cu membuang napas kuat-kuat, kemudian kembali duduk diatas pasir lagi.

"Eeee...kenapa nona duduk pula lagi? Ayoh kita cepat-cepat pergi dari sini! Sebentar lagi di pinggir telaga ini akan ada pertempuran sengit Iagi..."

Put-gi-ho menarik lengan Souw Lian Cu dengan wajah pucat dan khawatir.

Tentu saja Souw Lian Cu menjadi bingung dan tak mengerti.

Sambil berjalan mengikuti dua orang anggota Aliran Bing-kauw itu dia bertanya.

"Apa katamu? Pertempuran? Pertempuran apa itu?"

Sambil mengajak Souw Lian Cu memanjat sebatang pohon yang rimbun daunnya, dua orang Bing-kauw itu memberi keterangan.

"Harap nona jangan marah! Kami minta nona bersembunyi dahulu di atas pohon ini sampai pertempuran itu selesai nanti!"

"Iya! Tapi pertempuran apa itu? Lekas kau katakan!"

"'Pertempuran seperti dahulu lagi. Orang orang dari aliran kami dengan Aliran Mo-kauw!"

Put-gi-ho menjelaskan.

"Maka kami ajak nona ke sini untuk bersembunyi karena kami tidak ingin dituduh membawa bala-bantuan dari luar..."

Put-chih-to ikut memberi keterangan.

"Ah, kalian ini orang-orang tua benar-benar seperti anak kecil saja, masih suka berkelahi! Lalu mana kawan kalian yang lain? Apakah cuma kalian berdua saja?"

"Hehe...tidak! Sebentar lagi yang lain akan datang..."

Put-chih-to yang gemuk itu tersipu-sipu.

"Nah, maafkanlah kami, nona...! Kami terpaksa akan berada di tepi telaga itu agar tidak dituduh mengingkari janji."

Kedua orang Bing-kauw itu segera terjun kembali ke atas tanah dan melangkah ke pinggir telaga.

Dan betul juga, tidak lama kemudian datang beberapa orang kawan mereka ke tempat itu.

Mereka datang dengan naik perahu yang kini mereka tambatkan di tepi sungai.

"Mereka akan tiba sebentar lagi,"

Salah seorang di antara mereka berkata kepada Put-giho dan Put-chih-to.

"Tadi mereka berada di belakang perahu kami."

"Lalu...bagaimana dengan suheng kita Put-pai-siu Hong jin? Apakah dia juga bisa datang ke tempat ini?"

Put-gi-ho menggoyang-goyangkan pundak orang itu dengan cemas.

"Jangan khawatir...! Dalam mabuknya kemarin Put-pai-siu Hong-jin suheng berkata bahwa dia tentu datang. Tapi dia harus berusaha mengelabuhi su-pek (uwa guru) Put-chienkang Cin-jin dahulu baru bisa berangkat ke sini..."

"Bagaimana kalau Put-sim-sian suheng tahu? Bukankah Put-sim-sian suheng selalu menjadi wakil Put-ceng-li Lojin suhu kalau beliau sedang tidak ada di rumah?"

"Jangan takut! Kalau dengan kita semua atau dengan adik-adik seperguruannya sendiri, Put-sim-sian suheng mungkin dapat bertindak dengan keras, tapi kalau menghadapi suhengnya, Put-pai-siu Hong-jin itu, hehe...tak mungkin dia berani berlaku kurang ajar!"

Orang itu menjawab dengan tertawa.

"Ah, kau ini! Jangan memandang begitu rendah terhadap Put-sim-sian suheng! kau tahu mengapa suheng kita itu diberi nama Put-sim sian (Dewa Tak Berperasaan)...?"

Put-chih-to merengut tak senang.

"Tentu saja. Tapi kau juga harus tahu, mengapa murid supek itu diberi nama Put-pai-siu Hong-jin (Si Gila Yang Tak Punya Malu)..."

Orang yang berbicara dengan Put-chih-to itu tak mau mengalah pula.

"Hei, sudahlah! Jangan berbantah saja! Lihatlah itu...mereka telah datang!"

Put-gi-ho membentak.

Sebuah perahu yang cukup besar merapat ke tepi sungai, lalu dari dalamnya tampak berloncatan belasan orang berjubah hijau dan dua orang berjubah biru.

Dengan sangat lincah dan gesit mereka melesat menghampiri orang-orang Bing-kauw yang telah berdiri menunggu.

Mereka berdiri berkelompok dan saling berhadapan dalam jarak empat meter.Kedua orang yang berjubah biru itu berdiri di depan kawan-kawannya, berhadapan langsung dengan Put-gi-ho dan Putchih-to yang juga berdiri di depan teman-temannya.

"Hmm, apakah kalian sudah datang semuanya?"

Put-gi-ho melangkah maju mewakili temantemannya. Kedua belah tangannya bertolak pinggang dan sepasang kakinya berdiri renggang.

"Benar! Inilah semuanya orang-orang kami, yang dahulu berhadapan dengan engkau dan kawan-kawanmu itu. Apakah engkau sekarang juga sudah siap?"

Salah seorang dari kedua orang yang berjubah biru melangkah maju pula untuk mewakili teman-temannya.

"Sekarang engkau tak boleh mengatakan lagi, bahwa pihak kami Iebih banyak dari pada pihakmu."

"Tidak usah cerewet! Kini tiba saatnya bagi kami untuk menebus kekalahan kami dahulu."

Put-gi-ho membentak.

Kemudian tanpa banyak pertanyaan lagi Put-gi-ho segera menerjang lawannya yang berjubah biru itu dan sekejap kemudian mereka berdua telah bertempur dengan seru sekali.

Orang Mo-kauw lainnya segera maju pula mencari lawan mereka masing-masing, sehingga sebentar kemudian di atas pasir lembut itu telah terjadi pertempuran besar yang amat hiruk-pikuk.

Put-chih-to juga sudah mendapatkan lawan yang seimbang, yaitu orang berjubah biru lainnya.

Demikianlah, pada waktu tengah hari yang panas itu, di tengah-tengah hutan lebat, terjadilah sebuah pertempuran ulangan yang seru antara kelompok anggota Aliran Mo-kauw dan kelompok anggota Aliran Bing-kauw, yang dahulu sudah pernah pula saling berhantam.

Kini mereka saling bertempur pula lagi untuk melanjutkan pertempuran mereka dahulu, yang terhenti serta terganggu oleh kedatangan Souw Lian Cu dan Ketua Aliran Mo-kauw.

Sementara itu Souw Lian Cu menonton pertempuran tersebut dari atas pohon yang tidak jauh dari arena pertempuran itu.

Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya gadis itu bersungut-sungut tiada habis-habisnya.

"Wah, orang-orang ini sungguh-sungguh sudah gila semua. Mana pertempuran yang sudah lama berlalu masih tetap dilanjutkan juga sekarang. Dan...Put-gi-ho serta Put-chih-to itu benar-benar orang yang tak tahu diri pula! Dahulu sudah dikalahkan oleh dua orang berjubah biru itu, kini masih juga berani melawannya lagi..."

Jilid 21 Memang benar juga apa yang telah dikatakan oleh Souw Lian Cu itu.

Dahulu, pada pertempuran mereka yang pertama, Put-gi-ho dan Put-chih-to juga melawan kedua orang berjubah biru itu.

Pada waktu itu Put gi-ho dan Put-chih-to hanya mampu bertahan selama tiga puluh jurus saja, kemudian menjadi bulan-bulanan pukulan dua orang berjubah biru tersebut.

Untunglah pada saat itu Souw Lian Cu datang menolong dan menyelamatkan mereka.

Kalau tidak, mereka tentu sudah mati dibunuh lawannya.

Ternyata demikian pula terjadi sekarang!

Dengan cepat kedua orang anggota Aliran Mo-kauw itu dapat menguasai Put-gi ho ataupun Put-chih-to.

Sementara itu para anggota Aliran Bing-kauw lainnya ternyata juga mengalami nasib seperti Put-gi-ho dan Put-chih-to pula.

Semuanya terdesak dengan hebat dan tinggal menunggu waktunya saja, sehingga Souw Lian Cu yang bertengger di atas pohon itu menjadi gemetar serta ingin terjun pula dari atas pohon itu untuk membantu Put-gi ho lagi seperti dulu.

Tapi sebelum niat itu ia laksanakan, tiba-tiba dari arah sungai muncul seorang lelaki setengah tua, bermuka merah dan tangannya menjinjing sebuah buli-buli arak.

Sebentar sebentar arak yang berada di dalam buli buli itu ia tuangkan ke dalam mulutnya, kemudian ia sembur-semburkan ke atas hingga membasahi kepalanya yang berambut amat jarang itu.

Langkahnya sebentar-sebentar berhenti, sementara tubuhnya selalu bergoyang-goyang seperti ayam terkena penyakit.

Sedangkan mulutnya yang amat lebar itu selalu bergumam dengan kata kata yang tak jelas, kadang-kadang seperti nyanyian, tapi di lain saat seperti umpatan atau makian!

"...Burung camar terbang di atas perahu.

Hihihi...!

Lalu...eh, lalu hinggap di tiang layar!...eit, keliru!

Keliru besar!

Masakan burung bisa terbang, aneh sekali!...Burunnggg...eeh, burung lagi!

Goblog benar, sih!...Gajah terbang di atas perahu, lalu hinggap di tiang layar!...Hehehihi...nah, sekarang baru benar, hohoho...aduh senangnya!...Gajah besar terbang di atas awan, lalu hinggap di atas genting...Bruoool!!

Hahahaha!"

Sementara itu Put-gi ho dan Put-chih-to tampak bergembira bukan main melihat kedatangan orang itu.

Meskipun mereka bersama kawan-kawannya yang lain sedang terdesak dengan hebat, tapi wajah mereka tampak berseri-seri penuh harapan.

Tentu saja lawan mereka, orang orang dari Aliran Mo-kauw itu menjadi heran sekali!

"Berhentiiii...!"

Orang yang baru saja tiba itu berteriak keras sekali, sehingga semua orang yang sedang asyik berkelahi itu berhenti pula dengan mendadak.

Termasuk juga para anggota Aliran Mo-kauw yang sudah berada di atas angin itu!

"Mengapa saudara menghentikan pertempuran besar ini?"

Salah seorang pemimpin orang Mo-kauw yang berjubah biru itu bertanya tak senang.

belasan orang kawannya yang telah dapat mendesak lawan mereka itu terpaksa berhenti karenanya!

Tapi orang yang tidak lain adalah Put-pai-siu Hong-jin itu, justru melangkah maju dengan mata mendelik!

Mulutnya yang berbau arak beras itu berteriak marah malah!

"Berhenti semua!

Hayo...mengaku!

Siapa yang tadi mengeluarkan...kentut?"

Terdengar suara tertawa yang tertahan di antara para pengikut Put gi ho dan Put-chih-to, sementara dua orang berjubah biru dan anak buahnya menjadi dongkol dan marah sekali.

"Kurang ajar! Kubunuh kau, babi konyol...!"

Dua orang berjubah biru itu segera menerjang Put pai-siu Hong-jin dengan sangat geramnya.

Tapi orang gila itu cepat mengangkat kaki kanannya tinggi tinggi ke belakang melampaui kepalanya, sehingga otomatis tubuhnya yang besar itu terjerembab ke tanah seperti sebatang pohon yang roboh.

Blug!

Kemudian dengan cepat merangkak pergi seperti monyet berlari.

Gerakannya benar benar konyol dan aneh!

Tapi yang sangat mengherankan, serangan kedua orang jago Aliran Mo-kauw tadi tak satupun yang mengenai sasarannya.

"Lihatlah baik-baik! Ilmu yang diperlihatkan oleh Put-pai-siu Hong-jin suheng itu adalah Cap-sha-cui-min (Tiga belas Pintu Mabuk) ciptaan su-pek Put chien-kang Cin-jin! Kita besok juga harus mempelajari ilmu silat yang aneh itu."

Put-gi-ho berkata kepada teman temannya.

"Dengan ilmu itu kita akan bisa mengelakkan serangan lawan yang bagaimanapun hebatnya..."

"Ah, bosan juga dong,...kalau harus mengelak terus menerus! Masakan bertempur cuma mengelak saja."

"Wah, kau ini...goblog benar! Tentu saja su-pek tidak cuma menciptakan yang itu saja. Ada bagian yang lainnya. Cap-sha-cui-min hanya bagian pertama dari Chuo mo ciang (Ilmu Menangkap Setan). Bahagian yang kedua dinamakan Koai-jing kun (Seribu Gerakan Aneh)!"

Put gi-ho menerangkan lagi.

"hei, mengapa kau tahu semua itu? Apakah kau sudah mulai mempelajarinya?"

Put-gi ho meringis kikuk.

"Sayang aku belum boleh mempelajarinya. Aku hanya sering menonton kalau suheng Put-swi-kui dan suheng Put-ming-mo sedang berlatih di hadapan suheng Pat-sim-sian..."

"Sudahlah, jangan cerewet saja! Lihatlah itu, suheng Put-pai-siu Hong-jin sudah menang di atas angin! Kedua orang Mo-kauw berjubah biru itu sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi."

Put-chih-to membentak kawan-kawannya.

Memang benar.

Dengan ilmunya yang gila dan aneh, Putpai-siu Hong-Jin tampak sedang mempermainkan dua orang lawannya.

Dua orang berjubah biru yang dalam urutan tingkat ilmu Aliran Mo-kauw menduduki tingkat ketiga itu benar-benar tidak berdaya menghadapi ilmu Chuo-mo-ciang (Ilmu Menangkap Setan) Si Gila Yang Tak Punya Malu itu!

"Heh-heh-heh...Dua ekor sangkar di dalam burung!...Eit, keliru tidak, yaa?

Wah, mana yang betul?

Dua ekor sangkar atau dua ekor burung?

Anu...wah, bangsat, keparat, monyet busuk...aku sudah lupa lagi!...Ada burung kecil di dekat ekor!...Lhaah, kini baru betul, haha-heheh...!

Oh, sungguh, menyenangkan!...Ada burung kecil di dekat ekor!...Hmm, enaknya burungnya kecil atau besar, ya?

Wah, yaa...terserah yang punya.

Hihihahah!

Dan kini ada dua ekor burung kecil sedang dipermainkan oleh seekor burung besar, heheh..."

Melihat kedua orang jago mereka kalah, semua orang Mo-kauw yang berada di tempat itu segera berloncatan maju.

Mereka mengepung dan mengeroyok Put-pai siu Hong-jin di tengah-tengah.

Beberapa orang anggota Bing-kauw ikut bergerak maju pula, tetapi Put gi-ho dan Put-chih-to segera melarang mereka.

"Apakah kalian minta dihajar sendiri oleh Put-pai-siu Hong-Jin suheng? Put-pai-siu Hong jin paling tidak suka diganggu kalau sedang bertempur dengan lawannya. Dia akan berteriak sendiri kalau mau minta pertolongan kita."

Ternyata kekhawatiran teman-teman Put-gi ho tadi memang tidak beralasan sama sekali.

Biarpun dikeroyok belasan orang lawan, ternyata Si Gila Yang Tak Punya Malu itu justru semakin memperlihatkan kelihaiannya.

Dengan leluasa orang sinting tersebut bergerak dan bergaya dengan ilmunya yang konyol tapi hebat bukan main itu.

Rupa, tubuh dan pakaiannya sudah tidak keruan macamnya lagi, karena dipakai untuk tiarap, terlentang, merangkak, masuk ke air telaga, berguling-guling dan memanjat pohon!

Tapi hebatnya satu persatu lawannya tampak berjatuhan tidak dapat bangun lagi, sehingga akhirnya sepeminuman teh kemudian semua lawannya telah menggeletak tak berdaya.

Semuanya roboh tertotok oleh tangannya yang membawa buli-buli arak tersebut.

"Bagus! Bagus! Sekarang semuanya sudah tertidur, hehheh...Kalau begitu akupun juga mau menemani tidur..."

Put-pai-siu Hong-jin bertepuk tangan, lalu ikut merebahkan diri di atas pasir di antara Iawan-lawannya.

Secara kebetulan tubuhnya berdampingan dengan tubuh salah seorang lawannya yang berjubah biru tadi, dan secara kebetulan pula orang itu tertotok jatuh dalam keadaan tertelungkup.

Put pai-siu Hong-Jin bangkit kembali dan merangkak mendekati orang itu.

Berkali-kali Si Gila Yang Tak Tahu Malu itu mengintip dan berputar-putar di sekeliling tubuh lawannya, seperti sedang mencari sesuatu di bawah tubuh yang tertelungkup itu.

Setelah yakin bahwa di bawah tubuh tersebut tiada apa-apanya, Put-pai-siu Hong-jin segera membalikkan tubuh orang berjubah biru itu.

Sambil mencongkel tubuh lawannya, mulutnya mengomel tidak keruan.

"Memalukan! Sungguh memalukan sekali...! Lelaki tidak boleh tidur tertelungkup, tahu? Itu sama saja menghina seekor kuda, sebab kuda tak bisa tidur terlentang, heh hehheh...Kalau manusia sudah tidak berbeda dengan kuda...wah, repot...repot!"

"Tutup mulutmu!"

Tiba-tiba dari dalam perahu Mo-kauw yang tertambat di tepi sungai itu berloncatan keluar tiga orang laki-laki berjubah coklat.

Rata rata umur mereka sekitar empat puluh lima tahunan.

Gerakan mereka sangat cepat sekali, sehingga begitu suara teriakan mereka berhenti, orangnyapun telah berdiri tegak di depan Put-pai-siu Hong-jin!

Tak heran, memang mereka bertiga adalah tokoh-tokoh tingkat dua dalam urutan tingkat ilmu Aliran Mo-kauw.

Mereka adalah murid-murid langsung Bhong Kim Cu dan Leng Siau, yaitu tokoh-tokoh tingkat pertama yang kini memangku jabatan sebagai kau Tai shih (Utusan Agama) dalam Aliran Mo-kauw.

Sebuah jabatan tertinggi setelah Mocu (Ketua Aliran Mo)!

"Sute, kalian berdua pergilah mengobati dan menyadarkan orang-orang kita itu!

Biarlah untuk sementara kuhadapi sendiri jago dari Bing-kauw ini,"

Yang tertua dari ketiga orang Mo-kauw berjubah coklat itu menoleh ke arah temannya.

"Baik! Tapi kami harap suheng berhati-hati menghadapinya. Kalau tak salah orang gila ini adalah Put-pai-siu Hong-jin yang terkenal itu""

Souw Lian Cu yang bersembunyi di atas pohon itu menjadi terkejut melihat perubahan suasana pertempuran yang mendadak tersebut.

Gadis itu benar-benar tidak mengira kalau masing-masing pihak ternyata mengerahkan tokoh-tokoh utama dari aliran mereka.

Jangan-jangan keduanya malah sudah mempersiapkan seluruh kekuatan mereka di tempat ini.

Tanpa terasa Souw Lian Cu menoleh ke kanan dan ke kiri, siapa tahu di dekatnya ada salah seorang dari tokoh-tokoh mereka?

Benar juga!

Seketika berdiri semua bulu roma Souw Lian Cu!

Tanpa setahu dia di belakangnya telah duduk seorang kakek tua berambut putih dan berjenggot putih, mengenakan jubah lebar berwarna putih pula.

Kakek tua itu amat sangat dikenalnya, karena kakek tua itulah yang dahulu melukainya.

Kakek itu tiada lain adalah Pek-i Liong-ong sendiri, ketua atau Mo-cu dari Aliran Mo-kauw!

"Nona, maaf aku dulu terpaksa melukaimu..."

Kakak tua itu berbisik perlahan.

"Tetapi sebenarnya bukan maksudku untuk melukaimu saat itu. kau lah yang mengagetkanku dengan pukulan Tai-lek Pek-khong-ciangmu itu, sehingga aku terpaksa menangkisnya dengan tenaga Pai-hud ciangku...Eh, nona...siapakah sebenarnya kau ini? Apakah hubunganmu dengan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai?"

Souw Lian Cu membalikkan tubuhnya dengan cepat. Matanya yang lembut itu kini menatap kakek tua yang duduk tenang di hadapannya.

"Aku adalah puterinya,"

Jawab gadis itu tegas.

"Ooooo...?!"

Mo-cu dari Aliran Mo-kauw itu mengangguk-anggukkan kepalanya dengan mulut ternganga.

"Tapi...bukankah ayahmu tak mempunyai hubungan dengan Aliran Bing-kauw. Mengapa engkau membantu orang-orang ini?"

"Aku tak membantu siapa-siapa...!"

Souw Lian Cu menjawab dengan kaku.

Bagaimanapun juga kakek tua ini pernah melukainya dengan parah.

Ingin sebenarnya gadis itu membalas dendam, tapi ia segera menyadari bahwa ia bukanlah lawan dari kakek itu.

Hanya ayahnya sajalah yang kiranya mampu menghadapinya.

"Tapi sudah dua kali ini kau kuketemukan bersama-sama dengan orang-orang Bing-kauw itu."

Pek-i Liong-ong memandang dengan tajam.

"Ya! Tapi kedua-duanya juga cuma kebetulan saja. Secara kebetulan dan tidak sengaja, aku selalu berada di tempat pertemuan kalian. Baik ketika aku kau lukai dulu itu, maupun sekarang ini..."

Souw Lian Cu menjawab semakin berani. Seperti juga tokoh tokoh persilatan yang pernah ia jumpai selama ini, agaknya Mo cu dari Aliran Mo-kauw itu juga kelihatan segan bila menyebut nama ayahnya.

"Baiklah, aku percaya kepadamu,"

Akhirnya kakek tua itu mengangguk.

Kemudian dengan pandang mata berkilat kakek tua itu melihat ke bawah, ke arena pertempuran.

Tampak para anggota Aliran Mo-kauw yang tertotok roboh tadi telah berdiri semua.

Dengan wajah pucat mereka berdiri menunduk di depan dua orang berjubah coklat yang menolong mereka.

Malahan dua orang berjubah biru yang tadi memimpin rombongan itu tampak berlutut ketakutan di depan salah seorang tokoh berjubah coklat tersebut.

Tapi dengan mendengus marah tokoh itu membalikkan tubuhnya dan menonton pertempuran antara suhengnya melawan Put-paisiu Hong-jin.

Sementara itu para anggota Bing-kauw yang datang bersama dengan Put-gi-ho dan Put-chih-to tampak diam saja di tempat masing-masing.

Mereka membiarkan saja dua orang berjubah coklat itu membebaskan teman-temannya.

Mereka percaya seratus persen pada kesaktian suheng mereka Putpai-siu Hong-jin, karena dalam Aliran Bing-kauw kesaktian Put-pai-siu Hong Jin adalah nomer tiga setelah Put chien-kang Cin jin dan Put-cengli Lojin, tokoh puncak mereka!

Maka kalau cuma melawan jago-jago tingkat dua dari Mo-kauw seperti tiga orang berjubah coklat itu saja mereka tak usah merasa khawatir.

Lain halnya kalau yang datang itu adalah Bhong Kim Cu atau Leng Siau, kau Tai shih (Utusan Agama)Aliran Mo-kauw!

Benar saja, belum ada lima belas jurus mereka bertempur, jago Aliran Mo-kauw berjubah coklat itu sudah mulai kebingungan menghadapi ilmu Put-pat-siu Hong-jin yang konyol dan aneh!

Akhirnya dua orang berjubah coklat lainnya ikut terjun pula ke arena, membantu suheng mereka yang kerepotan tersebut.

Kini mendapat lawan tiga orang berjubah coklat sekaligus memang tidak ringan bagi Put-pai-siu Hong jin!

Dibandingkan dengan ilmu kepandaian masing-masing lawannya, Put-pai-siu Hong-jin memang masih lebih tinggi setingkat.

Tapi kalau dengan selisih yang hanya satu tingkat tersebut dia harus menghadapi mereka bertiga sekaligus, memang sungguh amat berat bagi Put-pai-siu Hong-jin.

Mungkin kalau cuma melawan dua orang saja di antara mereka, Si Gila Yang Tidak Tahu Malu itu masih bisa mengimbanginya, atau bahkan memenangkannya.

Tapi tiga lawan sekaligus?

Berat sekali memang!

Salah-salah bisa kalah malah!

Benar saja.

Orang sinting itu mulai tampak kerepotannya.

Buli-buli arak yang setiap kali selalu ia tuangkan ke dalam mulutnya itu kini sudah tidak dapat ia lakukan lagi.

Celoteh-celoteh tidak keruan yang selalu terlontar dari mulutnya setiap ia melakukan gerakan, kini tidak begitu sering lagi ia teriakkan.

Sekarang mulut itu lebih sering menyerukan umpatan dan makian untuk mengiringi jurus-jurusnya yang gila!

"Kalau di rumah ada isteri cuma seekor, sungguh amat mudah mengurusnya, hihihi...Tapi bila tambah lagi yang dua ekor, masa depan benar benar sengsara!...Bangsat keparat!

Monyet busuk bau terasi!

Setaaaann...!

Sulit betul mengurus tiga ekor isteri piaraan...eh, tiga ekor manusia keparat ini!

Aduuuuuh...babi kau!"

Sebuah tendangan yang amat keras menghantam selangkangan Put-pai-siu Hong-jin, tepat pada kemaluannya, sehingga orang sinting itu terlontar jatuh ke dalam air telaga.

"Byuuur...!"

Sebentar kemudian tubuh yang kotor dan tak keruan macamnya itu tenggelam dan...tak keluar-keluar lagi!

Sejenak tiga orang lawannya terlongong-longong dan saling memandang satu dengan lainnya.

Matikah orang itu?

Agaknya memang demikian.

Mungkin tendangan yang mematikan tadi telah menghancurkan tulang selangkangannya!

Put-gi ho dan Put-chih-To segera bersiap-siap dengan semua kawannya.

Hati mereka menjadi kecut karena secara tak terduga jago mereka kalah, Put gi-ho memberi perintah untuk berkelahi sampai mati!

Tapi sebelum orang-orang Bing-kauw itu bergerak maju, tiba-tiba terdengar jeritan nyaring disertai suara debur air telaga yang muncrat ke mana-mana!

Put-pai-siu Hong-jin yang tadi terbenam ke dalam air tampak meloncat keluar dengan sinar mata beringas dan...tidak mengenakan pakaian barang selembar benang pun!

Dan pada selangkangnya tak terlihat apa-apa!

Tempat tersebut tampak bersih dan halus, sedikitpun tak tampak bekas-bekas luka atau bekas tendangan!

Tentu saja orang-orang Mo-kauw menjadi kaget dan heran.

Mengapa orang itu tak mengalami luka sedikitpun meski terkena tendangan dengan telak pada kemaluannya?

Apakah selain gila orang itu juga kebal?

"Bangsat keparat!

Babi!

Terasi berbau monyet...eit, monyet berbau babi!

Hei...?

Setaaan...mau memaki saja tidak bisa!

Goblog!

Sinting!...Hai, Put-gi-ho!

Mana yang betul, terasi bau monyet atau...monyet bau terasi?"

"Monyet bau terasi!"

Put gi ho menjawab cepat.

"Haa, benar! kau benar...hahaha...monyet bau terasi! kau benar-benar monyet berbau terasi, hehehe...eit, keliru! Maksudku...maksudku orang-orang inilah yang seperti monyet bau terasi!"

Put pai siu Hong-jin tertawa senang sekali, lupa bahwa dia tadi baru saja tercebur ke dalam air gara-gara didesak dan ditendang oleh lawannya itu.

"Dan orang orang ini sungguh sekawanan monyet yang sangat rusuh dan kotor! Masakan bertempur dari tadi yang diincar cuma selangkangankuuuuuu...saja! Heran benar aku! Apa sih keistimewaannya tempat itu? Paling-paling juga sama saja dengan yang lain, hehehe...Ataukah kalian orang-orang dari Aliran Mo-kauw ini menginginkan aku agar tidak dapat kawin lagi, begitu...? Wah!"

Put-pai-siu Hong jin melanjutkan kelakarnya sambil mendekap erat selangkangannya.

Tentu saja ulah Put-pai siu Hong-jin yang kurang ajar dan memalukan itu membuat risih dan kikuk lawan-lawannya.

Semuanya melangkah mundur dengan perasaan jijik.

Apalagi seorang gadis seperti Souw Lian Cu!

Dengan muka merah seperti udang direbus, gadis itu segera melengos tak mau melihat lagi ke arena pertempuran.

Untung saja tempat persembunyiannya agak sedikit jauh dari tempat itu.

"Bocah itu memang amat keterlaluan sekali!"

Pek-i Liong-ong yang berada di dekat Souw Lian Cu bergumam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Anehnya, sementara yang lain pada risih dan malu menyaksikan ulah kegilaan Put-pai-siu Hong-jin, orang-orang dari Bing-kauw sendiri ternyata justru menjadi sangat bergembira malah!

Mereka bersorak-sorak memberi semangat kepada jago mereka itu.

Bagi para anggota Aliran Bing-kauw, hal-hal seperti yang dilakukan oleh Put-pai siu Hong jin itu tidak terasa aneh lagi.

Mereka setiap hari telah terbiasa menonton kegilaan-kegilaan seperti itu, yaitu bila di gedung mereka sedang diadakan latihan-latihan ilmu Chuo-mo-ciang oleh tokoh-tokoh aliran mereka.

Semua pengikut Bing-kauw akan berbuat yang aneh-aneh pula bila sedang memainkan Ilmu Chuo mo-ciang, tidak peduli siapa dan apa kedudukannya!

Masing-masing akan bergaya dan berceloteh menurut seleranya sendiri-sendiri.

Dan selama ini yang paling gila dan paling konyol memang Put-pai-siu Hong-jin seorang!

Demikianlah, ketika orang sinting itu sudah mulai menyerang lagi dengan ilmunya yang konyol dan aneh, tiga orang tokoh Mo-kauw berjubah coklat itu masih belum bisa menghilangkan rasa kikuk dan jijiknya.

Maka untuk beberapa saat mereka bertigalah yang kini menjadi bingung dan didesak oleh Put-pai-siu Hong-jin.

Apalagi ketika cara bersilat orang sinting itu semakin menggila dan semakin ngawur!

Tahu kalau lawan-lawannya merasa jijik melihat pantat dan selangkangannya, Put-pai-siu Hong-jin justru semakin brutal memainkan bagian anggota tubuhnya tersebut.

Beberapa kali pukulan lawannya sengaja ia songsong dengan pantat atau selangkangannya yang tahan tendangan itu.

Tentu saja lawannya buru-buru menarik kembali pukulan mereka begitu hampir menyentuhnya!

Jijik rasanya!

Tapi dalam pertempuran yang kacau seperti itu, mana mampu ketiga orang Mo-kauw itu terus menerus menarik serangannya?

Maka sekali waktu terpaksa pula mereka menyentuhnya.

Dan konyolnya, Put-pai-siu Hong-jin tentu akan segera merem-melek seperti monyet mengisap tembakau bila tempat itu disentuh lawan!

Biarpun sentuhan itu kadang-kadang begitu kerasnya sehingga Put-pai-siu Hongjin terpaksa jatuh tunggang-langgang di atas pasir.

Melihat anak buahnya jatuh di bawah angin hanya disebabkan karena jijik dan segan menyentuh anggota tubuh lawannya, Pek i Liong-ong menjadi gusas sekali.

Dan kegusaran orang tua itu dapat dilihat oleh Souw Lian Cu.

"Kelihatannya kau mau membantu anak muridmu lagi seperti dulu..."

Gadis itu berbisik, matanya yang bulat Iebar itu menatap tajam. Pek-i Liong-ong menghela napas panjang.

"Tidak! Aku ke sini ini justru untuk mengawasi anak muridku. Aku tak ingin mereka berbuat keterlaluan sehingga menggagalkan jalan perdamaian yang baru dirintis oleh dua orang kau Tai-Shih (Utusan Agama) kami. kau tahu, apakah sebabnya aku bersembunyi di sini?"

Pek i Liong-ong menghentikan kata-katanya sebentar untuk melihat kesan pada wajah Souw Lian Cu, kemudian setelah dilihatnya gadis itu diam saja tak menjawab, orang tua itu segera menjawab sendiri pertanyaan tersebut.

"...Karena anak-anak Mo-kauw yang datang kemari itu pergi tanpa sepengetahuanku dan tanpa ijinku! Mereka akan ketakutan setengah mati bila aku keluar menemui mereka. Tapi meskipun aku tak menyukainya tindakan mereka ini, aku tetap merasa penasaran juga melihat mereka terdesak oleh orang Bing-kauw yang sinting dan gila-gilaan itu. Seharusnya kalau mereka bertiga mau berpikir tenang dan mengenyampingkan segala perasaan risih dan jijik di hati mereka, mereka takkan serepot itu keadaannya."

"Lalu apa yang hendak kau lakukan?"

Souw Lian Cu bertanya lagi, suaranya tetap keras biarpun tidak sekaku sebelumnya. Bagaimanapun juga baiknya orang tua itu sebenarnya, tapi dia pernah melukai tubuhnya hingga cukup parah.

"Sebenarnya aku tadi mau melerai mereka. Tapi dengan kedudukan orang-orangku yang berada di bawah angin seperti sekarang ini, aku jadi serba salah untuk melakukannya.Jangan-jangan aku cuma dikira mau membantu atau mau menolong muka anak buahku sendiri nanti. Oleh karena itu aku malah menjadi bingung sekarang. Mau melerai nanti disangka membantu, tidak melerai orang-orangku sedang kerepotan!"

Orang tua itu meremas-remas jari tangannya sendiri.

"Lalu apa hendak kau diamkan saja mereka, sehingga ada salah satu yang mati, begitu?"

"Hmmm,..."

"Mengapa tidak kau bantu dulu orang-orangmu itu dengan diam-diam agar bisa menang, sehingga setelah itu kau bisa dengan leluasa melerai mereka? Misalnya kau bisiki anak buahmu itu dengan ilmu coan-im-jib-bit bagaimana caranya lumpuhkan ilmu orang sinting itu..."

Pek-i Liong-ong tersenyum mendengar usul gadis cantik yang agak berbau kekanak-kanakan itu.

"Wah, kau ini masih muda sudah pelupa benar,"

Orang tua itu berkata.

"Maksudmu...?"

Souw Lian Cu bertanya tak mengerti.

"Bukankah tadi sudah kukatakan bahwa kepergian mereka kemari itu tidak dengan seijinku? Lalu apa jadinya kalau mereka yang kini sedang dalam keadaan terdesak itu mendengar suaraku? Apakah hal itu justru tidak berbahaya bagi mereka? Lain halnya kalau engkau mau menolong aku..."

"Hah? Maksudmu aku yang harus menjadi juru bicaramu dalam hal ini?"

"Tepat! Mau...?"

Souw Lian Cu terdiam.

Sekejap ia melirik ke arah pertempuran, tapi serentak terlihat olehnya tubuh Put-pai-siu Hong-jin yang telanjang bulat itu, ia segera memejamkan matanya.

Tapi yang sekejap itu sudah cukup baginya untuk dapat menilai keadaan pertempuran.

Tiga orang Mo-kauw berjubah coklat itu memang tampak sangat kacau gerakannya.

Mereka benar-benar repot harus melayani ilmu silat Put-pai-siu Hong-jin yang gila-gilaan itu.

Souw Lian Cu lalu teringat kepada utusan Mo-kauw yang beberapa waktu yang lalu berkunjung ke Kuil Delapan Dewa untuk mengusut kesalah-pahaman yang terjadi di antara dua buah aliran agama tersebut.

Masih terbayang juga di depan mata Souw Lian Cu-sikap dan tingkah laku kedua orang utusan itu ketika meminta keterangan kepada Tong Ciak Cu-si dan Toat-beng-jin.

Sikap yang amat sabar, tenang, dan penuh maksud-maksud damai.

"Bagaimana, nona?"

Pek-i Liong-ong mendesak.

"Baiklah, lekas katakan...!"

"Terima kasih!"

Orang tua itu tersenyum.

"Lekas kau katakan kepada orang orangku yang sedang terdesak itu untuk membuang jauh-jauh perasaan jijik mereka! Atau kalau mereka tak bisa berbuat itu, suruh saja mereka untuk mengambil senjata apa saja yang dapat mereka pergunakan untuk mengatasi rasa jijik tersebut! Kayu, ranting, batu, ikat pinggang atau yang lain! Terserah kepada mereka!"

Souw Lian Cu mengangguk, kemudian dengan sebat ia mengerahkan tenaga sakti Ang-pek Sinkang andalan keluarganya.

Sebuah ilmu lweekang yang amat dahsyat, yang khusus hanya dapat dipelajari dan dimiliki oleh keluarga Souw saja!

Sebab untuk mempelajari ilmu yang amat sulit itu dibutuhkan persiapan yang matang dan terarah sejak orang itu lahir.

Apalagi untuk menampung atau menghimpun tenaga sakti tersebut, harus diperlukan pula susunan jalan darah tersendiri, yang cara dan pengaturannya telah dimulai dan dilaksanakan sejak kelahirannya.

Beberapa saat kemudian dengan disertai oleh pandangan kagum ketua Mo-kauw Souw Lian Cu mulai berkemak-kemik membisikkan pesan-pesan Pek-i Liong-ong kepada tiga orang jago Mo-kauw berjubah coklat itu.

Sebuah bisikan jarak jauh yang hanya dapat diterima oleh orang yang dimaksudkan saja.

Sekejap kemudian tampak perubahan pada wajah ketiga orang tokoh Mo-kauw yang sedang bertempur seru melawan Put-pai-siu Hong jin itu.

Ketiga-tiganya menjadi kaget begitu mendengar suara wanita yang memberitahu bagaimana caranya mengatasi kesulitan mereka saat itu.

Tapi serentak mereka menyadari kebenaran dari pesan-pesan tersebut, maka merekapun lantas melaksanakannya dengan bersemangat.

Bagi yang bisa menghilangkan rasa jijiknya tak perlu mencari alat untuk senjata, tapi yang sukar untuk melepaskan perasaan tersebut lalu mengambil barang seadanya untuk senjata.

Ternyata apa yang mereka lakukan itu membawa hasil pula sedikit demi sedikit.

Lambat tapi pasti mereka bisa mengembalikan kepercayaan mereka pada kemampuan sendiri, sehingga mereka bertiga tidak kikuk dan ragu-ragu lagi.

Akibatnya memang segera dapat dilihat.

Sedikit demi sedikit mereka dapat mengurung dan menguasai pula kembali seperti keadaan mereka sebelum orang sinting itu membelejeti pakaiannya.

Sekarang ganti Put-pai-siu Hong-jin yang jatuh di bawah angin.

Si Gila Yang Tidak Tahu Malu itu benar-benar terkurung dan repot sekali sekarang.

Ketiga orang pengeroyoknya yang kini sudah tidak merasa ragu-ragu lagi itu mencecarnya hingga kalang kabut.

Meskipun dengan lweekangnya yang tinggi Put-pai-siu Hong-jin dapat menahan beberapa pukulan musuhnya,tapi kalau harus terus menerus demikian, ia tentu takkan bisa bertahan lebih lama lagi.

Akhirnya ia tentu akan roboh pula!

Dalam keadaan yang sulit itu, tiba-tiba Put-pai-siu Hong-jin mendengar suara bisikan pula di telinganya.

Suara bisikan yang dikirim orang dengan ilmu Coan-im-jib-bit pula.

Hanya yang amat mengejutkan tapi juga amat mengecutkan hati Put-pai-siu Hong-jin adalah suara orang itu, karena orang sinting itu segera mengenali suara tersebut sebagai suara suhunya!

Suara Put-chien-kang Cin Jin (Pendeta Yang Tidak Waras), bekas ketua Bing-kauw atau suheng dari Put-cengli Lojin sendiri.

"Hong jin, bocah gila...! Sekarang tahu rasa tidak kau? Itulah akibatnya kalau kau berani mengelabuhi suhumu sendiri. Kini kau benar-benar merasakan bagaimana enaknya dihajar orang, hihihi...Untung aku sudah curiga pada tingkah lakumu sejak semula, maka kuikuti kau sampai tempat ini. Dan aku benar-benar bisa menyaksikan muridku yang sering membuat onar itu dihajar orang, hihihahahihi..."

"Suhu...!"

Put-pai-siu Hong-jin menjerit tidak terasa.

"Huss, tutup paruhmu...eh, tutup mulutmu hihihahahihi!...eh, burung kecil di dekat ekor! Mengapa engkau kini terberak-berak dan terkencing-kencing dikeroyok tiga ekor burung besar? Huaahahah-hah hah-hah...!"

Put chien-kang Cin jin mengirimkan suaranya lagi dengan Coan-im-jib-bit.

"Suhu, tolonglah aku...!"

Put-pai-siu Hong-jin kembali berteriak seperti anak kecil.

"Eh! Apakah bekas ketua Bing-kauw itu benar-benar berada di sekitar tempat ini?"

Dengan tegang Pek-i Liong-ong menoleh ke kanan dan ke kiri.

"Apa? Bekas ketua Bing-kauw? Bukankah ketua Bing-kauw sekarang masih dipegang oleh Put ceng Ii Lojin?"

Souw Lian Cu menatap Pek-i Liong-ong dengan wajah bingung.

"Benar! Tapi yang kumaksudkan adalah Put-chien-kang Cin jin, guru dari orang sinting itu. Delapan tahun yang lalu dia menjabat sebagai ketua Aliran Bing-kauw, sebelum digantikan oleh Put-ceng-li Lojin, adik seperguruannya, seperti sekarang ini..."

"Oh, begitu...Tapi mengapa dia digantikan oleh Put-ceng-li Lojin, padahal dia masih hidup?"

Souw Lian Cu yang selalu ingin tahu itu mendesak.

Pek-i Liong-ong tersenyum meskipun mata dan telinganya tetap waspada memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu.

Orang tua itu masih bercuriga, kalau-kalau bekas ketua Bing-kauw yang amat lihai itu benar-benar berada di sekitar tempat tersebut.

"Pergantian ketua itu disebabkan oleh karena terjadi bentrokan antara Aliran pula seperti sekarang ini. Pada waktu itu Aliran Mo-kauw kami belum terurus rapi dan belum dipersatukan pula. Saat itu yang ada barulah Aliran Bing-kauw dan Aliran Im-yang-kauw.Perselisihan-perselisihan kecil yang selalu terjadi di antara anggota-anggota mereka, membuat kedua Aliran itu akhirnya bentrok satu sama lain. Bentrokan-bentrokan yang semakin panas di antara tokoh-tokohnya membuat kedua tokoh puncaknya, yaitu Kauwcu Bing-kauw Put-chien-kang Cin-jin dan Tai si-ong Im-yang-kauw yang lama, bertempur satu sama lain. Pertempuran itu disaksikan oleh seluruh anggota aliran masing-masing..."

Pek-i Liong-ong menghentikan ceritanya sebentar, sambil sekali lagi mengedarkan pandangnya ke segala penjuru. Setelah itu barulah dia meneruskannya.

"...Keduanya bertempur tanpa melibatkan seluruh anggota aliran mereka masing-masing, sebab telah diputuskan bersama bahwa perselisihan di antara kedua aliran mereka itu akan diselesaikan dengan pibu antara ketua masing-masing. Siapa yang kalah harus pergi dan membubarkan diri..."

"Lalu bagaimana?"

Sekali Iagi ketua Aliran Mo-kauw itu tersenyum.

"Bukankah sudah kau ketahui sendiri, tak satupun dari kedua aliran tersebut yang membubarkan diri sekarang?"

"Ya...tapi bagaimana kelanjutan dari pibu itu?"

Souw Lian Cu tetap belum mengerti apa yang dimaksudkan oleh Pek-i Liong-ong.

"Mereka tidak ada yang kalah atau menang! Seharian mereka bertempur tetap tak ada yang bisa menyelesaikan pertandingan tersebut. Biarpun masing-masing mempunyai ilmu yang dahsyat, keduanya tetap seimbang, sehingga akhirnya kedua-duanya sama-sama menderita..."

"Menderita? Apakah yang Lo-Cianpwe maksudkan?"

"Mereka berdua sama-sama terluka, sehingga pibu itu dianggap seri, tidak ada yang kalah maupun yang menang.Maka keputusan yang diambil pun juga tidak berat sebelah. Masing-masing tetap berdiri serta mengurus kepentingan mereka sendiri-sendiri. Karena ternyata ilmu mereka juga seimbang dan sama hebatnya, maka mulai saat itu, masing masing tidak boleh mengganggu lawannya. Kalau ada suatu perselisihan yang timbul harus segera dilaporkan ke atas agar bisa lekas-lekas diselesaikan,"

"Ah, mengapa tidak dari semula mereka berbuat begitu..."

Souw Lian Cu menghela napas sesal.

"Kalau pagi-pagi mereka berbuat demikian bukankah tidak usah terjadi pibu itu?"

Pek i Liong-ong memandang Souw Lian Cu dengan senyum lebar.

"Ah, kau ini seperti bukan orang persilatan saja...Justru karena masing-masing tidak mau kalah dan merasa Iebih kuat itulah yang menyebabkan bentrokan tersebut. Baru setelah kedua jago terlihai mereka masing-masing ternyata bertanding sama kuat, mereka menjadi sadar bahwa ilmu mereka ternyata juga tidak lebih baik dan lebih kuat dari pada yang lain."

"Ooooh!"

Souw Lian Cu berdesah.

"Lo-Cianpwe tadi mengatakan bahwa dua orang ketua yang pibu itu sama-sama terluka. Apakah luka mereka begitu parahnya sehingga kedua-duanya tak bisa menduduki kursi ketua lagi?"

Ketua Aliran Mo-kauw itu mengangguk.

"Kedua-duanya digotong pulang ketika selesai pibu. Tai-si-ong (Ketua Kuil Agung) dari Aliran Im-yang-kauw menjadi buta kedua biji matanya, sedangkan Kauwcu Aliran Bing-kauw menderita lumpuh kedua buah kakinya."

"Oooh...!"

"Hei?"

Tiba-tiba Pek-i Liong ong membelalakkan matanya.

Souw Lian Cu menjadi heran.

Sekilas gadis itu melirik ke arena pertempuran, lalu cepat-cepat melengos kembali.

Tapi yang sekilas itu sudah cukup untuk melihat apa yang terjadi di arena tersebut.

Ternyata Put-pai-siu Hong-jin yang tadi sudah terdesak kembali oleh ketiga orang lawannya, kini tampak bisa berbalik mendesak pula lagi!

Tentu saja keadaan itu sangat mengherankan Pek-i Liongong.

Ketua Aliran Mo-kauw ini sudah amat yakin bahwa anak muridnya tentu akan menang setelah bisa menghilangkan rasa kikuk dan jijik mereka.

Ternyata dugaannya keliru.

Put-pai-siu Hong-jin yang sudah kewalahan tadi kini tampak bangun kembali menyusun serangan-serangan yang berbahaya, seolah-olah mendapat tambahan semangat baru lagi.

Apakah sebenarnya yang terjadi?

Apakah Si Gila Yang Tidak Punya Malu itu telah memperoleh bantuan dari suhunya, Put chien-kang Cin-jin?

Memang benar!

Biarpun pada mulanya Put chien-kang Cinjin selalu mentertawakan muridnya, tapi setelah Put-pai-siu Hong-jin itu benar-benar tidak bisa berkutik lagi dan hampir dijatuhkan lawannya, ternyata orang tua itu tidak tega juga akhirnya.

Masih dengan nada berkelakar bekas ketua Aliran Bing-kauw itu memberi petunjuk kepada muridnya.

"Hihih...burung kecil yang goblog! kau pintar sekali berceloteh dengan nyanyian nyanyian dungu, tapi kau sendiri ternyata tak bisa memetik maknanya...Hoho, kau tadi baru saja menyanyikan lagu jorok. Burung kecil di dekat ekor! Heheheh...! Kenapa dalam keadaan terpepet seperti sekarang ini kau masih lupa juga untuk memanfaatkannya?"

"Maksud suhu...?"

Put-pai-siu Hongjin berbisik pula dengan ilmu Coan-im jib-bit.

"Kau masih bisa kencing tidak?"

Put-chien-kang Cin-jin membentak dengan ilmu itu pula.

"Yaa...masih, donggg...! Masakan pekerjaan anak kecil begitu saja tidak bisa? Suhu ini ada-ada saja! Memangnya burungku ini sudah rusak?"

Put-pai-siu Hongjin yang terkurung dengan hebat itu masih dapat melawak pula.

"Nah, kalau begitu buang dia sedikit demi sedikit!"

"Hwaduuuh, jangannn...! sakit dong nanti. Burung sudah enak-enak bertengger di tempatnya sendiri suruh membuang...suhu ini bagaimana sih...?"

Put-pai-siu Hongjin berteriak dengan tidak mempergunakan ilmu Coan-im-jib bit tanpa terasa, sehingga ketiga orang pengeroyoknya menjadi kaget sekali.

"Bocah sinting! bocah goblog! Yang dibuang itu airnya, bukan burungnya! Tahu? Asal kau tidak bisa berkutik lagi, buang dia sedikit sambil tetap bersilat, biar lawan-lawanmu mandi air neraka itu, hahahah...! Kutanggung mereka takkan berani mendekatimu lagi!"

"Kalau mereka mendekati lagi?"

"Ya...siram lagi dengan air nerakamu itu!"

"Lha...kalau air neraka itu sudah habis?"

"Wah, bodoh benar kau ini! Kalau sudah habis"ya lari! Mengapa mesti malu-malu segala?"

"Hehe, bagus sekali...! Ada burung kecil di dekat ekor, karena ngeri dan takut lalu terkencing-kencing! Huah hah hah...! Awaass aku mau kencingggg...!"

Kontan saja tiga orang Mo-kauw berjubah coklat itu segera berloncatan surut, ketika secara mendadak lawan mereka yang bertelanjang bulat itu membuang air ke arah mereka.

Dan begitu terbebas dari kurungan, Put-pai-siu Hong-jin lalu ganti menyerang mereka.

Dengan kegembiraan yang meluap-luap orang sinting itu ganti mencecar lawannya tanpa ampun.

Keadaan inilah yang kemudian dilihat oleh Pek-I Liong-ong dan membuat heran ketua Aliran Mo-kauw itu.

Padahal orang tua itu sudah amat yakin bahwa tiga orang anak buahnya tersebut tentu menang.

Ternyata tidak demikian, mereka kembali terdesak lagi oleh orang gila itu.

"Bagaimana sekarang, Lo-Cianpwe? Agaknya tiga orang anak buah Lo-Cianpwe itu memang bukan tandingan orang Bing-kauw itu."

Souw Lian Cu bertanya kepada Pek-I Liongong. Ketua Aliran Mo-kauw itu menggeram perlahan.

"Seharusnya mereka bertiga tidak kalah. Seharusnya mereka menang. Tapi entah apa yang menyebabkannya"

Mungkin bekas ketua Bing-kauw itu memang benar-benar datang dan memberi petunjuk kepada muridnya itu seperti kita."

"Lalu apa yang akan Lo-Cianpwe perbuat? Menolong mereka?"

Pek-I Liong-ong terdiam. Wajahnya yang penuh keriput ketuaan itu tampak berpikir keras. Alis matanya yang putih panjang seperti rambut kepalanya itu berkerut sehingga kelihatan bertemu satu sama lain.

"Sebentar...Aku tidak akan menolong mereka. Aku justru akan menghukum orang-orangku yang pergi tanpa seijinku itu. Tapi yang sedang kupikirkan sekarang adalah cara untuk melerai mereka. Bagaimana cara yang paling baik agar tidak menimbulkan salah pengertian..."

"Hmh! Hmh! Waduh...banyak benar semutnya pohon ini,"

Tiba-tiba terdengar suara orang menggerutu di atas mereka.

Pek-i Liong-ong dan Souw Lian Cu cepat menengok ke atas.

Mereka menjadi terkejut sekali ketika kira-kira empat atau lima meter di atas mereka, duduk dengan santai di atas dahan seorang kakek tua renta berkepala gundul.

Dengan tersenyum simpul kakek tua itu memandang ke arah mereka.

Kedua belah lengannya yang tergantung bebas di samping tubuhnya itu tampak memegang dua batang tongkat besi seperti yang biasa dibawa oleh orang yang cacat kakinya.

"Put-chien-kang Cin-jin...!"

Pek-i Liong-ong berdesah. Sedang Souw Lian Cu hanya terlongong-longong saja melihat kakek tua itu.

"Benar! Selamat bertemu, Pek-i Liong-ong...hihihihahaha! Sebenarnya sudah sejak tadi kita berada di atas pohon yang sama, cuma..."

Put chien kang Cin jin tidak meneruskan perkataannya. Dipandangnya wajah Pek-i Liong-ong yang terheran-heran itu beberapa saat lamanya dengan air muka yang berseri-seri.

""Cuma kau tidak usah heran, mengapa sampai kau tidak tahu kalau aku berada di sini, hihi...Soalnya aku telah lebih dulu berada di atas pohon ini dari pada kau,"

Katanya tanpa basa-basi, seperti kawan akrab saja.

"Ohh!"

Pek-i Liong-ong menghela napas lega, makanya dia tak tahu kedatangan orang itu.

"Aku telah mendengar semua percakapan kalian sejak tadi. Dan ternyata kita mempunyai pendapat yang sama untuk menyelesaikan urusan ini. Oleh karena itu aku lantas bersuara agar kalian tahu bahwa aku berada di sini, sehingga kita berdua bisa memikirkan bersama jalan keluar yang baik untuk menyelesaikan pertikaian ini."

Put-chien-kang Cin-jin melanjutkan lagi keterangannya. Sementara itu tubuhnya meluncur ke bawah, mendekati ketua Mo-kauw.

"Jadi maksud Loheng..."

Pek-i Liong-ong bergeser ke samping untuk memberi tempat kepada bekas ketua Aliran Bing-kauw tersebut.

"Seperti juga orang-orangmu itu, orang-orang dari aliran kami itu juga datang ke sini tanpa sepengetahuan Kauwcu Bing-kauw. Muridku yang kurang ajar itu juga pergi ke tempat ini tanpa seijinku.Untunglah aku tak dapat dikelabuhinya, sehingga aku bisa mengikutinya sampai di tempat ini. Kalau tidak, bagaimana nanti aku mempertanggungjawabkan kesalahan muridku itu di hadapan suteku, Put-ceng-li Lojin? Padahal suteku itu juga sedang pergi mengurus persoalan ini pula..."

"Kalau begitu mari kita bersama-sama melerai mereka!"

Pek-i Liong-ong mengajak.

"Marilah...!"

Lalu bagaikan berIomba kedua orang tokoh puncak Mo-kauw dan Bing-kauw itu meloncat dari dahan yang mereka duduki, ke bawah ke arah arena pertempuran.

Masing-masing mengerahkan kesaktian mereka!

Put-chien-kang Cin-jin yang sudah lumpuh kedua buah kakinya itu meluncur turun dari atas pohon bagaikan seekor burung walet menyambar mangsanya, cepatnya bukan main!

Hampir-hampir tidak dapat dipercaya bahwa seorang kakek tua renta, lumpuh pula kakinya, dapat bergerak sedemikian gesitnya.

Semakin mengherankan lagi ketika dua batang tongkat besi penyangga tubuhnya itu mendarat di atas pasir yang empuk, sedikitpun ujung tongkat yang kecil tersebut tidak ambles atau terbenam seperti halnya sebatang anak panah yang mengenai sasarannya!

Enteng bagaikan kapas, tubuh Put-chien kang Cin-jin bergoyang-goyang di atas kedua tongkatnya.

Benar-benar sebuah demonstrasi ginkang yang bukan main hebatnya!

Meskipun begitu, ketika bekas ketua Bing-kauw itu menatap ke depan hatinya benar-benar kaget sekali!

Ternyata ketua Aliran Mo-kauw tersebut telah berdiri tersenyum di depannya beberapa detik lebih awal!

Seketika hati tokoh tua dari aliran Bing-kauw itu bergetar.

"Ah, bagaimanapun juga Pek-ih Cin-kang warisan Bu-eng Sin-yok-ong ternyata memang tidak bisa ditandingi oleh siapapun juga,"

Akhirnya Put-chien-kang Cin-jin mengakui.

"LoHeng-terlalu memuji, padahal aku tadi hampir saja berputus-asa..."

Pek-i Liongong merendah.

Ternyata kedatangan kedua tokoh tersebut benar-benar mengagetkan orang-orang yang sedang berkumpul di tepi telaga itu.

Tanpa diminta lagi semuanya meloncat mundur dan bergegas menghampiri tokoh mereka masing-masing dengan wajah ketakutan.

Tiga orang berjubah coklat itu segera berlutut di depan Pek-i Liong-ong diikuti kawan-kawannya yang lain.

Dengan wajah pucat mereka membentur-benturkan dahinya ke atas pasir.

"Mo-cu...!"

Mereka berseru berbareng dan tak bisa berkata-kata lagi.

Semuanya diam dan tak berani mengangkat wajah mereka masing-masing.

Mereka bagaikan sekumpulan orang pesakitan yang menunggu keputusan hukumannya.

Orang-orang Bing-kauw juga tidak berbeda dengan orang orang Mo-kauw itu.

Merekapun dengan wajah ketakutan berdiri menunduk di depan bekas ketua mereka.

Hanya Put pai-siu Hong-jin seorang yang kelihatan tenang seperti tak ada masalah apa-apa.

Orang sinting itu justru pergi menyelam mencari pakaiannya di dalam telaga, padahal Put-gi-ho dan Put-chih-to sudah gemetar seluruh tubuhnya.

"Hong-jin...! Ayoh, pulang...!"

Put-chien-kang Cin-jin memanggil muridnya.

"Sebentar, suhu! Celanaku hilang, tak ada dalam air ini..."

"Sudahlah, tak usah dicari lagi. Ambil saja akan atau daun untuk menutup badanmu!"

"Wah, suhu...nih!"

Put-pai-siu Hong-jin terpaksa keluar dari dalam air sambil menggerutu.

Tangannya sudah menggenggam akar-akaran beserta tumpukan lumut untuk menutupi badannya.

Lalu sambil tersenyum-senyum dia masih bisa bergoyang pinggul menuju ke perahu mereka.

Put-chien-kang Cin-jin mengangguk ke arah Pek-I Liong ong sebelum mengajak para anggota alirannya ke perahu.

"Pek-I Liong-ong, aku berangkat dahulu. Biarlah semua urusan ini diselesaikan oleh petugas-petugas kami nanti..."

"Baik, Cin-jin..."

Ketua Aliran Mo-kauw itu menanti sampai perahu orang orang Bing-kauw itu pergi, lalu mengajak pula anak buahnya sendiri untuk meninggalkan tempat itu.

"Kalian pulanglah dahulu! Tinggalkan sebuah perahu untukku, nanti aku menyusul!"

"Baik, Mo-cu...!"

Ketiga orang berjubah coklat itu mengiyakan, kemudian dengan diikuti oleh kawan-kawannya yang lain mereka pergi meninggalkan tempat itu dengan perahu mereka.

Tidak lupa mereka meninggalkan sebuah perahu untuk Mo-cu mereka.

Telaga itu menjadi sunyi dan sepi kembali.

Tak seorangpun akan menyangka bahwa di tempat tersebut baru saja terjadi pertempuran yang seru dan menegangkan.

"Nona Souw, kau turunlah...!"

Pek-i Liong-ong berseru ke arah pohon dimana Souw Lian Cu tadi bersembunyi.

"Bukankah kau mau pergi ke sungai Huang-ho? Kalau kau mau, mari kita pergi bersama-sama! Akupun mau pergi ke sana juga."

"Pergi ke Sungai Huang ho? Eh, mengapa Lo-Cianpwe tahu aku akan pergi kesana?"

Souw Lian Cu meloncat turun dan menghampiri ketua Aliran Mo-kauw itu. Pek-i Liong-ong tersenyum.

"Nona tak usah merasa heran. Lohu memang telah lama mengikutimu, yaitu sejak engkau meloloskan diri dari keributan yang terjadi di rumah makan dan kemudian pergi meninggalkan dusun Ho-ma-cun ini. Oleh karena itu Lohu juga menyaksikan ketika kau beberapa kali ditolak untuk menumpang pada perahu-perahu yang sudah sarat dengan muatan mereka sendiri itu."

"Ah, celaka! Mengapa aku tidak mengetahuinya? Bukankah di sepanjang jalan itu sepi sekali. Tapi"

Ah, benar! Tentu saja aku takkan mungkin bisa melihatnya!"

Souw Lian Cu yang merasa terkejut itu tiba-tiba mengetuk-ngetuk dahinya sendiri dengan jari tangannya, seolah-olah baru teringat dengan siapa sekarang dia sedang berhadapan.

"Apa? Nona Souw, apa yang kau katakan?"

"Oh, tidak apa-apa...! siauwte Cuma menyesali kebodohanku sendiri, mengapa siauwte sampai melupakan bahwa orang yang mengikuti siauwte itu adalah pewaris Pek-in Ginkang dari mendiang Bu-eng Sin-yok-ong."

"Ahhh...nona Souw, kau itu bisa saja memukul hati orang. Kedengarannya saja kau ini menyanjung ilmuku, tapi bila hal itu dirasakan dengan mendalam kata-katamu itu justru menyakitkan sekali malah!"

Pek-i Liong-ong tersenyum kecut.

"Menyakitkan...? maaf, Lo-Cianpwe, apa yang kau maksudkan?"

Souw Lian Cu menjadi kaget. Pek-I Liong-ong membalikkan tubuhnya, lalu dengan menghela napas berat ia memberi keterangan.

"Nona...bila yang mengeluarkan pujian itu bukan kau, itu tidak menjadi apa. Tapi kalau yang memuji ilmuku tadi adalah orang dari keluarga Souw seperti engkau...wah, suasananya menjadi lain."

"Menjadi lain...? Lo-Cianpwe, siauwte benar-benar tidak mengerti kata-katamu."

Souw Lian Cu bertambah bingung. Ketua Aliran Mo-kauw itu kembali menatap ke depan, seakan-akan matanya yang tajam sedang merenungi aliran sungai yang pekat bergelombang itu.

"Nona, apakah kau belum pernah mendengar cerita dari ayahmu tentang dongeng Kakek Pelukis yang menundukkan Empat Datuk Besar Persilatan di zaman seratus tahun yang Ialu?"

"Kakek Pelukis menundukkan Empat Datuk Besar Persilatan? Maaf, Lo-Cianpwe...ayah belum pernah menceriterakannya kepadaku."

Souw Lian Cu memandang orang tua itu dengan wajah ragu.

"Lebih dari seratus tahun yang lalu, Empat Datuk Besar Persilatan yang sangat terkenal akan kesaktiannya dan belum pernah terkalahkan itu sebenarnya sudah pernah ditundukkan dan dibuat malu oleh seorang kakek pelukis yang bertempat tinggal di lereng Gunung Hoa-san. Biarpun kejadian itu tidak ada yang menyaksikan selain mereka sendiri, tetapi hal itu benar-benar tak pernah dilupakan oleh Empat Datuk Besar Persilatan beserta anak keturunan mereka. Dan...tahukah nona, siapakah kakek pelukis yang sangat sakti tersebut?"

Souw Lian Cu menggeleng dengan cepat.

"Dia adalah kakek Souw...nenek-moyangmu sendiri!"

Akhirnya Pek-i Liong-ong memberi keterangan.

"...Maka kaIau nona tadi memuji ilmu silatku, hal itu benar-benar tidak kena, karena ilmu silat keluargamu jauh lebih hebat dan lebih dahsyat dari pada ilmu silat warisan Empat Datuk Besar Persilatan seperti kepunyaanku ini..."

"Tapi...tapi ayahku tak pernah menceritakannya kepadaku. Mungkin...mungkin ayahku juga tak mengetahuinya pula, sebab segala macam dongeng tentang anak keturunan keluarga kami sudah dituturkan ayah kepadaku, Semuanya..."

Ketua Aliran Mo-kauw itu kembali tersenyum pahit.

"Hmm, itulah kebesaran jiwa keluarga Souw. Mendiang suhuku memang pernah berkata kepadaku, bahwa beliau amat sangat menghormati Kakek Pelukis ini meskipun sudah dikalahkan. Sebab selain pihak Empat Datuk Besar Persilatan sendiri yang mula-mula membuat gara gara dengan kakek itu, ternyata cara-cara yang dipakai oleh Kakek Pelukis tersebut untuk menaklukkan mereka benar-benar amat bijaksana. Sedikitpun tidak melukai hati maupun perasaan empat jago silat takterkalahkan itu. Kakek Pelukis tersebut justru menyadarkan bahwa mereka bukanlah malaikat yang tak terkalahkan!"

"Kalau begitu siauwte sungguh minta maaf kepada Lo-Cianpwe. Sungguh mati siauwte tak bermaksud menghina dengan ucapan-ucapan tadi. siauwte memang benar-benar kagum di dalam hati bila membayangkan kehebatan ilmu Lo-Cianpwe..."

"Sudahlah, nona Souw. Lohu juga tidak apa-apa. Lohu malah sangat bergembira sekali melihat kau mau melupakan kejadian yang tak mengenakkan hati antara kita itu. Dalam hati Lohu juga amat menyesal sekali telah melukai engkau. Beberapa hari lamanya Lohu mencari jejakmu, takut kalau pukulanku itu berakibat buruk terhadap jiwamu...maka betapa senang hatiku kau sehat wal-afiat ketika memasuki rumah makan di pinggir sungai itu."

"Oh, jadi selama ini Lo-Cianpwe selalu mencari saya?"

Pek-i Liong-ong mengelus-elus kumis dan jenggotnya yang putih panjang, lalu mengangguk.

"Benar!...Ah, kita omong saja di sini. Lihat! Matahari sudah condong ke barat. Kita bisa terlambat sampai di Pantai Karang nanti,"

Orang tua itu berkata dan bergegas melangkah ke perahu yang ditinggalkan oleh anak buahnya.

"Hah? Lo-Cianpwe tahu pula tentang harta-karun itu?"

Souw Lian Cu tersentak kaget, kemudian berlari mengikuti orang tua itu ke perahunya.

"Ya! Lohu mengetahui rahasia tersebut tanpa sengaja...Tetapi demi Tuhan kepergianku kali ini bukan untuk turut memperebutkan harta karun itu! Sama sekali tidak! kalau sekarang aku hendak pergi ke sana, hal itu bukan karena harta karun tersebut, tetapi karena keinginanku untuk menemui seseorang yang kutahu juga pergi ke tempat itu,"

Ketua Aliran Mo-kauw menjawab sabil melompat ke atas perahunya.

"Marilah, nona...!"

Tanpa segan-segan lagi Souw Lian Cu ikut melompat ke atas perahu.

"Terima kasih, Lo-Cianpwe""

Gadis itu mengangguk di depan orang tua tersebut untuk menyatakan rasa terima kasihnya.

Hanya matanya yang bulat bening itu masih mengawasi ketua Mo-kauw, seolah-olah masih menuntut keterangan yang lebih lengkap lagi dari orang tua tersebut.

Tampaknya Pek-I Liong-ong menangkap juga keinginan Souw Lian Cu yang terpancar lewat sinar matanya itu.

Maka sambil mendorong perahu kecil tersebut ke tengah, ketua Aliran Mo-kauw yang amat lihai itu memberi keterangan lagi.

"Kepergianku dari rumah kali ini memang khusus untuk menyelidiki sebab musabab terjadinya pertempuran dan perselisihan antara Bing-kauw, Im-yang-kauw dan Mo-kauw. Lohu tidak menginginkan perselisihan-perselisihan kecil itu semakin menjadi besar dan meruncing, sehingga akhirnya terjadi perang terbuka seperti yang terjadi delapan tahun yang lalu,"

Orang tua itu menghentikan kata-katanya sebentar untuk mengambil napas, kemudian ia melanjutkannya lagi.

"Oleh karena itu Lohu merasa belum puas juga meskipun sudah mengirim dua orang kauw-tai-sih kepercayaan kami. Sepeninggal mereka Lohu juga pergi untuk ikut menyelidiki pula. Suatu saat Lohu membayang-bayangi dua orang utusan kami tersebut dan ternyata jerih payahku itu membuahkan hasil pula. Ketika Lohu berkeliaran di sekitar Pat-sian-gai (Bukit Delapan Dewa), Lohu melihat dua orang yang sangat mencurigakan sedang diintip dan diikuti oleh putera seorang sahabatku..."

"Putera dari sahabat Lo-Cianpwe...?"

Souw Lian Cu memotong.

"Benar. kau kenal Yap Kiong Lee? Putera dari Yap Cu Kiat, ahli waris perguruan Sin Kun Bu Tek itu? Dialah yang membayangi dua orang yang mencurigakan itu."

"Ah, kenal sekali sih...belum. Baru kemarin siauwte melihat dan mengenal pendekar muda itu. Justru dari dialah siauwte mengetahui tentang Pantai Karang dan harta karun itu."

Lalu Souw Lian Cu bercerita tentang pengalamannya setelah mendapatkan luka akibat pukulan dari kakek itu, yaitu semenjak gadis itu digotong oleh Put-gi-ho dan Put-chih-to sampai dibawa oleh tokoh-tokoh Im-yang-kauw ke rumah Kam Lojin di dusun Ho-ma-cun.

Dimana di rumah kakek ahli obat itu dia bertemu dengan Honglui-kun Yap Kiong Lee, yang kemudian bercerita tentang Hek-eng-cu dan anak buahnya.

Pek-I Liong-ong mendengarkan cerita Souw Lian Cu dengan penuh perhatian.

Berkali-kali ketua Aliran Mo-kauw itu membelalakkan matanya atau menggeleng-gelengkan kepalanya ketika gadis itu menyebut tokoh-tokoh sakti yang dijumpainya.

Apalagi ketika gadis tersebut menyebut nama Kam Lojin, orang tua itu sampai ternganga karena rasa kagetnya.

Dan Souw Lian Cu merasakan pula kekagetan ketua Aliran Mo-kauw tersebut.

Maka begitu selesai bercerita, gadis itu segera menanyakannya pula.

"Kam Lojin berkata bahwa beliau masih mempunyai hubungan perguruan dengan Lo-Cianpwe, benarkah...?"

Pek-I Liong-ong cepat-cepat mengangguk.

"Dia adik seperguruanku. Dimana dia sekarang?"

"Entahlah. Kata Toat-beng-jin dan Tong Ciak Cu-si, beliau mau pergi mengembara lagi entah kemana."

"Hmmh!"

Pek-i Liong-ong menghela napas dalam-dalam, hatinya kelihatan berduka. Mata yang dilingkari keriput dan tampak tua itu sedikit berkaca-kaca.

"Adikku itu sejak muda memang suka bertualang, sehingga sampai lupa untuk berumah tangga pula. Tapi kepandaiannya bukan main hebatnya, semua kakak seperguruannya tak ada yang menang melawan dia. Mendiang guruku, Bu-eng Sin-yok-ong sangat sayang kepadanya..."

"Tapi orang tua itu sangat sederhana sekali. Hampir-hampir tidak kentara kalau dia mempunyai kepandaian yang maha hebat."

Souw Lian Cu menyahut dengan nada kurang percaya. Pek-i Liong-ong tersenyum pahit.

"Itulah salah satu dari kehebatannya yang membuat suhu semakin menyayanginya. Hatinya sangat baik, jujur, sederhana, tidak sombong dan sangat bijaksana! Padahal adik seperguruanku itulah satu satunya ahli waris guruku yang sebenarnya paling berhasil dalam menerima ilmu perguruan kami. Nona Souw, tahukah kau siapa sebenarnya Keh-sim Siauwhiap yang dalam empat atau lima tahun terakhir ini sangat terkenal di dalam dunia persilatan melebihi tokoh tokoh tua seperti Lohu ini?"

Tiba-tiba orang tua itu bertanya kepada Souw Lian Cu.

Souw Lian Cu tergagap.

Gadis itu mengetahui bahwa ketua Aliran Mo-kauw tersebut tidak bermaksud menggodanya, sebab Souw Lian Cu yakin tak seorangpun di dunia ini yang tahu tentang rahasia hatinya terhadap Keh-sim Siauwhiap selain pendekar itu sendiri.

Tapi meskipun demikian, pertanyaan yang mendadak tentang Keh sim Siauwhiap tersebut memang sungguh mengejutkannya.

Apalagi pertanyaan itu datang dari orang yang tak disangka-sangka seperti ketua aliran Mo-kauw tersebut!

Souw Lian Cu berpegang pada tiang layar dengan eratnya, seakan-akan mencari kekuatan agar supaya tubuhnya tidak menjadi gemetar karenanya.

Matanya yang lebar dan bening itu menatap kosong kepada Pek-i Liong-ong, lalu menunduk mengawasi gelombang air di bawah perahunya yang berbuih buih karena terbelah oleh lajunya perahu yang didorong oleh angin.

"Pendekar muda yang amat terkenal itu adalah murid kesayangan dari adik seperguruanku..."

Akhirnya ketua Aliran Mo-kauw itu menjawab sendiri pertanyaannya ketika dilihatnya Souw Lian Cu tidak berusaha untuk menjawabnya. Kembali gadis buntung itu tersentak kaget.

"Aah?! Dia murid dari Kam Lojin?"

Desahnya hampir tak kedengaran.

Souw Lian Cu benar-benar tak menyangka bahwa dua orang yang pernah menyelamatkan nyawanya itu ternyata adalah guru dan murid.

Tapi bagi Pek-i Liong-ong kekagetan Souw Lian Cu tersebut diartikan lain.

Ketua Aliran Mo-kauw itu menganggap Souw Lian Cu benar-benar kaget karena tidak menduga bahwa kesaktian adik seperguruannya, yang dipanggil dengan nama Kam Lojin itu sedemikian tingginya, sehingga pendekar ternama seperti Keh-sim Siauwhiap saja ternyata hanya seorang muridnya.

"Nah, kau dapat membayangkan betapa tingginya ilmu suteku itu..."

Pek-I Liong-ong berkata bangga.

Souw Lian Cu mengangguk-angguk tanpa terasa.

Lalu untuk beberapa saat Iamanya mereka berdua berdiam diri dan sibuk dengan jalan pikiran mereka sendiri-sendiri.

Pek-i Liong-ong berpikir tentang adik seperguruannya yang tak pernah jumpa, sedangkan Souw Lian Cu-sibuk melamunkan Keh-sim Siauwhiap yang dikaguminya.

Sementara itu angin sore mulai datang meniup, membuat perahu kecil yang mereka tumpangi itu semakin bertambah laju jalannya.

Dan mataharipun telah jauh pula condong ke arah barat, sehingga sebentar lagi tentu akan tertutup oIeh pucuk-pucuk pohon yang tumbuh rimbun di sepanjang tepian sungai.

Apabila tidak ada aral melintang, mungkin perahu itu sudah akan tiba di Sungai Huang-ho sebelum matahari terbenam.

Dan kalau cuaca masih tetap baik seperti sekarang, maka pada waktu tengah malam nanti mereka juga sudah akan tiba pula di pantai timur.

Kemudian dari muara tersebut mereka tinggal berjalan beberapa saat untuk mencapai Pantai Karang yang mereka tuju.

"Kalau siauwte tidak salah dengar, Lo-Cianpwe tadi mengatakan bahwa Lo-Cianpwe ikut membayang-bayangi dua orang yang mencurigakan yang saat itu sedang diintip dan diikuti oleh Hong-lui-kun Yap Kiong Lee...? Lalu...apakah mereka itu kemudian pergi ke sebuah perahu yang dinaiki oleh tokoh-tokoh dari Ban-kwi-to? Dan kemudian mereka bersama-sama berperahu ke arah hilir untuk bertemu dengan seorang aneh yang terkenal dengan nama Hek-eng-cu...? apakah...?"

"Hei, benar! Bagaimana kau tahu? Orang-orang yang mencurigakan itu memang...eh, kau tentu mendengar tentang hal itu dari Yap Kiong Lee, bukan? Benar, engkau tadi telah mengatakannya kepadaku..."

Ketua Aliran Mo-kauw yang semula terperanjat itu tiba-tiba tersenyum mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Dua orang yang mencurigakan itu memang sudah dinantikan oleh tokoh-tokoh Ban-kwi-to di atas perahu. Dan ketika mereka mengayuh perahu ke hilir aku terpaksa berlari-lari mengikuti mereka dari tepian sungai.Sesekali Lohu bisa menangkap percakapan mereka. Itulah sebabnya Lohu mengetahui serba sedikit tentang mereka dan rencananya...putera sahabatku itu! Sejak kedua orang yang mencurigakan itu naik ke atas perahu, aku tidak melihatnya lagi. Kemana gerangan bocah lihai itu?"

"Dia berada di atas perahu,"

Souw Lian Cu menjawab.

"Diatas perahu bersama orang-orang itu?"

Pek-i Liong-ong mengernyitkan keningnya seolah tak percaya.

Souw Lian Cu mengangguk lalu menceritakan pengalaman Yap Kiong Lee seperti yang diceritakan oleh pendekar muda itu kepadanya.

Pek-I Liong-ong mendengarnya dengan penuh perhatian.

Sekali-sekali tampak air mukanya berubah atau kadang-kadang kepalanya yang berambut putih itu menggeleng-geleng bila mendengar tentang keberanian dan kecerdikan Hong-lui-kun Yap Kiong Lee.

"Bocah itu memang cerdik dan lihai sekali..."

Akhirnya ketua Aliran Mo-kauw tersebut berkata.

""Tak heran Baginda Kaisar Han amat percaya kepadanya."

Semakin lama permukaan air sungai itu semakin tampak lebar dan luas.

Ombak atau gelombang airpun kelihatan semakin besar sehingga perahu kecil yang mereka tumpangi terasa bergoyang semakin keras pula.

Langit tampak kemerah-merahan seolah-olah sinar matahari yang hampir terbenam itu mencat semua gumpalan awan yang bertebaran memenuhi angkasa dengan warna kuning menyala.

"Lihat, sungai ini tampak semakin lebar! Dan...Lihat juga warna airnya itu! Nona Souw, sebentar lagi kita akan masuk ke sungai Huang-ho. Awas, kau berpeganganlah dengan kuat agar supaya gelombang dan pusaran air pada pertemuan kedua sungai ini tidak melemparkanmu ke dalamnya!"

Tiba-tiba Pek-I Liong-ong memperingatkan Souw Lian Cu.

Benarlah.

Tak lama kemudian terdengar suara gemuruh pertemuan antara sungai kecil itu dengan sungai Huang-ho yang besar.

Perahu mereka yang kecil itupun mulai bergoyang ke kanan dan ke kiri.

Sebentar-sebentar ujung perahu mereka seperti ditampar dari arah depan atau samping sehingga kemudi perahu bagaikan mau berbelok dengan paksa.

Tapi Pek-I Liong-ong memegangnya dengan kuat.

Aliran sungai kecil itu seperti berhenti dan tak bisa mengalir ke depan lagi.

Meskipun begitu gelombang airnya justru bertambah besar dan kuat, sehingga rasa-rasanya dibawah permukaan air yang tampak tenang ini seperti ada puluhan ekor ikan raksasa yang sedang bergulat dengan seru!

"Nona, tolong kendalikan kain layar kita itu!

Dia jangan boleh menerima hembusan angin yang terlalu kuat, juga jangan sampai kehilangan angin!

Dalam keadaan seperti ini kita hanya dapat mengandalkan tiupan angin saja!

Untunglah kali ini angin menolong kita...!

Biarlah Lohu yang mengendalikan kemudi perahu ini agar tidak terperosok ke dalam pusaran air yang berbahaya!"

Souw Lian Cu belum begitu mahir mengendalikan perahu layer.

Meskipun demikian karena dia pernah tinggal lama di Pulau Meng-to, maka sedikit banyak ia tahu pula cara mengemudikannya.

Gadis-gadis anak buah Keh-sim Siauwhiap sering bercerita kepadanya tentang cara-cara mengemudikan kain layar.

Meskipun perlahan, perahu kecil tersebut maju pula ke depan.

Dengan mahir Pek-I Liong-ong mengemudikannya lewat tempat-tempat yang aman.

Jika pada suatu saat perahu itu terseret oleh pusaran arus air, dengan cepat ketua Aliran Mo-kauw yang lihai itu mengeluarkan kesaktiannya.

Dengan pukulan jarak jauhnya yang dahsyat, pewaris ilmu perguruan mendiang Bu-eng Sin-yok-ong itu mampu menahan arus air dan memindahkan posisi perahu kecil tersebut dengan cepat.

Hembusan angin pukulannya yang mampu menyibak air itu benar-benar sangat menggiriskan!

Souw Lian Cu yang juga bukan gadis sembarangan itu terbelalak pula menyaksikannya.

Demikianlah, akhirnya perahu mereka lolos pula dari tempat berbahaya tersebut dan segera meluncur dalam arus sungai Huang-ho yang deras.

Dan pelayaran mereka kali ini berbeda sekali dengan pelayaran mereka tadi.

Kalau di sungai kecil tadi mereka dapat berperahu dengan tenang dan santai, kini perahu mereka terpaksa harus menari diantara goncangan-goncangan gelombang besar Sungai Huang-ho!

Perahu mereka yang kecil itu seolah hanya merupakan setangkai daun kering yang hanyut dalam ganasnya gelombang air Sungai Huang-ho yang terkenal sangat berbahaya.

Beberapa buah perahu besar dan kecil tampak terayun ayun pula di sekitar perahu Pek-I Liong-ong dan Souw Lian Cu.

Kebanyakan dari mereka adalah perahu-perahu dagang yang mengangkut hasil bumi dari daerah untuk dibawa kekota-kota yang membutuhkan.

Dan diantaranya juga ada perahu-perahu nelayan yang berusaha mencari ikan atau membawa hasil mata pencaharian mereka itu ke kota.

Tetapi selain itu ada pula perahu-perahu yang memang khusus hanya untuk berpesiar saja dari kota yang satu ke kota yang lain.

Memang, biarpun gelombangnya amat ganas, tetapi sungai Huang-ho memang merupakan arus lalu lintas air yang cukup padat pula.

Hampir setiap saat tentu terlihat berlalunya perahu besar atau kecil yang lewat.

Meskipun demikian, apa yang dilihat oleh Pek-I Liong-ong sore ini benar-benar lain dari biasanya.

"Heran benar...! Kenapa sore-sore begini banyak sekali perahu-perahu yang meninggalkan tempat berlabuhnya?"

Ketua aliran Mo-kauw itu terheran-heran.

Tentu saja Souw Lian Cu yang belum pernah berlayar di sungai Huang-ho itu menjadi heran pula mendengar kata-kata Pek-I Liong-ong itu.

Gadis itu segera menghubungkan peristiwa itu dengan adanya pertemuan di Pantai Karang tengah malam nanti.

"Apakah biasanya tidak seperti ini, Lo-Cianpwe?"

Pek-i Liong-ong menggelengkan kepalanya.

"Memang pada hari-hari panen hasil bumi atau pada hari-hari besar, sungai ini ramai juga. Tetapi pada hari-hari biasa seperti ini...memang sungguh mengherankan sekali!"

"Jangan-jangan mereka juga akan pergi ke Pantai Karang...??"

"Ah...masa berita itu begitu cepatnya beredar? Kukira bukan itu penyebabnya!"

Pek-i Liong-ong menyanggah.

"Tapi...ooh!"

Tiba-tiba Souw Lian Cu tidak jadi meneruskan perkataannya.

Matanya yang bulat bening itu memandang ke samping dengan terbelalak, lalu kepalanya cepat-cepat menyuruk di balik kain layar sehingga terlindung dari pandang mata orang-orang yang sedang berada di atas perahu besar yang saat itu kebetulan lewat.

Pek-I Liong-ong mengernyitkan alis sambil melirik ke perahu besar yang saat itu sedang melewati perahu mereka.

Dan ketua aliran Mo-kauw itu ikut terperanjat pula.

Dilihatnya seorang lelaki gemuk berkepala gundul sedang asyik makan daging ayam diatas geladak.

Dan ketua aliran Mo-kauw itu tidak akan lupa pada wajah bulat yang agak kehijau-hijauan tersebut!

"Ceng-ya-kang...!"

Desahnya sambil membalikkan badan agar tidak terlihat oleh tokoh kelima dari Ban-kwi-to itu.

Perahu besar itu melaju dengan cepat meninggalkan gelombang air yang menggoncangkan perahu-perahu kecil di sekitar tempat itu, termasuk juga perahu yang dipakai Souw Lian Cu dan Pek-I Liong-ong.

"Mengapa iblis gundul itu masih berada disini? Seharusnya dia sudah berada di Pantai Karang sekarang..."

Souw Lian Cu bergumam dengan keras setelah perahu besar itu jauh meninggalkan mereka.

"Sebab ia itu tentu segera berangkat dengan naik kapal setelah menemui Hong-lui-kun Yap Kiong Lee di bekas warung bubur Hao Chi pagi tadi."

Dan ketika Souw Lian Cu melihat Pek-i Liong-ong tampak kebingungan mendengar perkataannya, dia segera bercerita serba sedikit tentang peristiwa hebat yang terjadi di warung Hao Chi kemarin.

Dan ketua Aliran Mo-kauw itu segera mengangguk-anggukkan kepalanya pula begitu tahu masalahnya.

"Memang, seharusnya orang itu sudah tiba di sana saat ini..."

Orang tua itu menyahut dengan tenang. Souw Lian Cu menatap tokoh puncak Aliran Mo-kauw itu dengan tajam. Diperlihatkannya wajah orang tua yang tampak damai dan welas asih itu beberapa saat lamanya.

"Lo-Cianpwe, kau tadi berkata bahwa kepergian Lo-Cianpwe ke Pantai Karang itu hanya untuk menemui seseorang. Lalu apakah orang yang Lo-Cianpwe maksudkan itu iblis gundul tersebut?"

Pek-i Liong-ong menoleh dengan cepat.

"Bukan! Orang yang akan kutemui itu adalah Hek-eng-cu, pemimpin mereka. Kasak-kusuk yang dapat kusadap ketika mereka berunding di atas perahu itu menunjukkan bahwa orang berkerudung itu sedikit banyak mempunyai hubungan dalam perselisihan antar aliran ini. Oleh karena itu lohu akan bertanya kepadanya..."

Gelombang air terasa menghantam perahu mereka lagi ketika dari arah belakang meluncur dengan cepat sebuah perahu besar yang tampak kuat dan kokoh.

Perahu itu didayung oleh sepuluh orang laki-laki yang mempunyai perawakan tegap-tegap.

Dan dilihat dari cara mereka yang kaku dalam menggerakkan dayung, tapi sebaliknya tenaga yang mereka keluarkan ternyata bukan main dahsyatnya dapat diduga bahwa sepuluh orang itu bukan tukang dayung biasa.

Mereka tentulah sekelompok jago silat yang sedang menyamar.

Sementara di atas anjungan perahu yang besar itu tampak berdiri seorang pemuda tampan berpakaian sasterawan.

"Lohu seperti pernah melihat pemuda itu, tapi lupa siapa dia..."

Pek-i Liong-ong memejamkan matanya untuk mengingat-ingat wajah pemuda tampan berpakaian sasterawan tadi.

"Lo-Cianpwe, siauwte rasanya juga pernah melihatnya...tapi siauwte lupa juga sekarang,"

Souw Lian Cu ikut memeras ingatannya pula.

Tapi berjam-jam keduanya mengingat-ingat, tetap juga tak bisa mengingatnya.

Sementara itu hari telah mulai menjadi gelap.

Matahari telah terbenam dan di angkasa mulai terlihat bintang-bintang yang satu persatu menampakkan sinarnya.

Udara yang berhembus terasa berubah menjadi dingin pula.

Perahu-perahu yang bertebaran di atas sungai itu mulai memasang lampu penerangan pula, sehingga di antara gemerlapnya air yang berkilau-kilau ditimpa sinar bintang, lampu-lampu tersebut bagaikan kunang-kunang yang bersukaria di atas permukaan air.

"Nona Souw, tolong kau nyalakan lampu kita di atas pintu bilik perahu itu! Batu apinya berada di dalam.."

Pek-i Liong-ong berseru.

"Sebentar, Lo-Cianpwe, siauwte akan...ouwhh!"

"Brraak! Grobyagggg!"

Tiba-tiba perahu kecil mereka ditabrak oleh perahu lain dengan kuatnya dari belakang.

Souw Lian Cu terpelanting.

Begitu pula dengan Pek-i Liong-ong yang pada saat itu berdiri di ujung perahu!

Di tempat tersebut sentakannya justru berlipat ganda, sehingga Ketua Aliran Mo-kauw itu terlempar ke udara.

Perahu yang dinaiki oleh Souw Lian Cu dan Pek-i Liong-ong pecah menjadi beberapa bagian, kemudian tenggelam.

Sedangkan perahu yang menabrak mereka terpental ke atas, kemudian terbalik.

Sementara penumpangnya yang ternyata hanya seorang saja tercebur ke dalam sungai!

Untunglah bagi Souw Lian Cu, meskipun gadis itu sangat kaget sehingga tubuhnya terpelanting keluar perahu, tapi ia tetap tidak kehilangan ketangkasannya.

Dengan enteng tubuh yang ramping itu berjumpalitan beberapa kali di udara untuk menahan daya luncurnya, agar tidak lekas-lekas terbanting ke dalam gelombang air yang ganas itu.

Sementara dalam waktu yang sangat singkat dan amat terbatas itu Souw Lian Cu membuka matanya lebar-lebar untuk mencari alas berpijak, agar tubuhnya tidak segera tertelan oleh arus air yang menakutkan itu.

Diantara pekatnya malam gadis itu melihat tiang layar perahunya yang patah ketika terjadi tabrakan tadi.

Potongan kayu besar itu tampak timbul tenggelam di ataspermukaan air.

Dan...di atas potongan kayu itulah Souw Lian Cu mendaratkan sepasang kakinya!

Sedangkan apa yang diakukan oleh Pek-i Liong-ong ketika terlempar dari tempatnya benar-benar membuat takjub bagi siapa saja yang mungkin dapat menyaksikannya.

Seperti halnya ketika dia tadi mengemudikan perahu, kini dalam keadaan kritis orang tua itu terlebih hebat lagi dalam menunjukkan kesaktiannya!

Dengan meminjam tenaga sentakan yang melontarkannya dari ujung perahu, Pek-i Liong-ong melenting ke atas setinggi-tingginya, sehingga tubuhnya yang jangkung itu melayang enam atau tujuh meter dari permukaan air.

Lalu dengan mengembangkan baju luarnya yang lebar orang tua itu secara mentakjubkan turun perlahan-lahan seperti seekor capung terbang yang bermain di atas permukaan air.

Dan di saat tubuhnya melayang turun itulah Pek-i Liong-ong mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya.

Kedua belah telapak tangannya tampak menghantam ke depan dengan jari-jari terbuka dan angin pukulannya menderu dengan dahsyatnya!

"Brraaaak!

Byuuuur!"

Angin pukulan yang dilontarkan oleh Pek-i Liong-ong menerjang perahu lawan yang tadi terbalik, sehingga perahu sepanjang empat meter itu terangkat ke atas bagaikan disentak oleh sebuah tenaga raksasa yang tak kelihatan.

Dan di lain saat perahu tersebut telah terbanting lagi di atas permukaan air dalam keadaan terlentang seperti sediakala!

Sehingga ketika kedua kaki orang tua itu turun ke bawah, tubuh tersebut tidak jadi terjun ke dalam air, tapi mendarat di atas perahu lawan.

Dan begitu dirinya sudah dapat membebaskan diri dari malapetaka, Pek-i Liong-ong segera menolong Souw Lian Cu yang masih terkatung-katung pada tiang layar itu.

Selanjutnya mereka berdua segera bergotong-royong membuang genangan air yang berada di dalam perahu tersebut.

"Huh! Siapa yang mengemudikan perahu ini? Enak saja menabrak perahu orang!"

Souw Lian Cu menggerutu penasaran. Hampir saja gadis yang tak pandai berenang itu mengorbankan nyawanya gara-gara perahu sial itu.

"Kemana gerangan penumpangnya...?"

"Dia terlempar keluar dan tertelan oleh arus sungai yang ganas!"

Pek-I Liong-ong menjawab dengan hati mendongkol pula. Orang tua itu juga hampir membuang nyawa gara-gara perahu celaka itu.

"Oouuughhh...! Brrrrrr...!"

Tiba-tiba muncul sesosok tubuh di samping perahu mereka, membuat Souw Lian Cu dan Pek-I Liong-ong terkejut setengah mati!

belum juga hilang kekagetan mereka, sesosok tubuh tersebut telah menggapai tepian perahu dan meloncat ke dalam perahu, persis di depan mereka!

Kemudian sambil mengibas-ibaskan rambutnya yang basah, orang yang baru keluar dari dalam air tersebut berkata kearah Souw Lian Cu dan Pek-i Liong-ong.

Suaranya amat lantang dan nyaring!

"Tolong kalian kayuh perahu ini secepatnya...!

Nanti kalian ayah beranak ini akan kuberi hadiah satu tail emas!

Cepat...!"

Sejenak Souw Lian Cu dan Pek-i Liong-ong justru hanya berdiri diam saja tak bersuara.

Keduanya cuma saling memandang saja satu sama lain.

Selain hati mereka masih terkejut oleh kemunculan orang itu yang tiba-tiba, mereka juga sibuk memikirkan, apa maksud orang itu menyuruh mereka untuk berangkat dengan tergesa-gesa?

Malah berani memberi bayaran tinggi pula?

Siapakah sebenarnya orang itu?

Tapi kenapa naik perahu kecil dan tanpa lampu pula?

Ataukah dia orang pelarian dan merupakan buruan kerajaan?

Tapi kenapa dia mempunyai demikian banyak uang?

Masih banyak pertanyaan yang bergulung-gulung di dalam hati Pek-I Liong-ong dan Souw Lian Cu tentang orang yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka itu.

Baru setelah Pek-I Liong-ong dan Souw Lian Cu ingat, bahwa kemungkinan besar orang itu adalah seorang peminat harta karun yang sedang mengejar waktu pula, maka mereka menjadi waspada.

Agaknya orang itu segera menyadari pula akan keragu-raguan Souw Lian Cu dan Pek-i Liong-ong.

Maka dengan nada yang lebih sopan dan pelan, ia menjura kepada Pek-I Liongong yang ia anggap ayah dari Souw Lian Cu.

"Maaf, aku tadi telah menabrak perahu orang sehingga kini aku menjadi bingung dan gugup. Sekarang perahuku telah hilang. Mohon sudilah kalian menolongku untuk membawaku ke laut dengan segera! Aku mempunyai kepentingan yang sangat mendesak di sana. Kalau kalian mau, aku akan memberi imbalan satu tail emas. Bagaimana"? Tolonglah""

Ratap orang itu.

Jilid 22 Sekali lagi Souw Lian Cu menatap Pek-i Liong-ong, karena sebagai orang yang hanya ikut menumpang perahu, gadis itu merasa tak berhak untuk memutuskannya.

Sementara bagi Pek-i Liong-ong sendiri masalah itu ternyata juga tidak terlalu dipikirkan benar.

Mereka toh juga mau pergi ke pantai, apalagi perahu itu sebenarnya milik orang itu pula.

Maka ketua Aliran Mo-kauw itu juga balas menjura.

"Ahh...perahu kamilah yang tuan tabrak tadi. Oleh karena perahu kami tenggelam, maka kami lalu memakai perahu tuan ini sebagai ganti. Maka tak usah sungkan-sungkan lagi, marilah sekarang kita bersama-sama ke pantai...! Kebetulan kami ayah beranak ini memang mau pergi ke sana pula."

Orang tua itu berkata halus.

"Terima kasih...terima kasih!"

Orang yang basah kuyup itu membungkukkan tubuhnya berulang-ulang.

"Akulah yang bersalah karena menabrak perahu tuan, maka silahkan mengambil perahuku ini kalau tuan suka...!"

Begitulah, akhirnya Souw Lian Cu dan Pek-i Liong-ong mendapatkan seorang kawan lagi dalam perjalanan mereka.

Seorang kawan yang bersikap aneh dan mencurigakan!

Souw Lian Cu diam-diam memperhatikan orang itu dengan seksama, dari rambutnya yang digelung ke atas sampai pada dandanannya yang sederhana seperti seorang pengembara itu.

Orang itu berusia kira-kira tiga puluh dua atau tiga puluh tiga tahun.

Tubuhnya hanya sedang-sedang saja, tapi tampak tegap dan cekatan, seperti layaknya seorang prajurit.

Hanya yang amat mengherankan adalah gerak-geriknya yang kaku dan tegang seolah-olah sedang menghadapi bahaya besar.

Berkali-kali orang itu menoleh ke belakang atau menghela napas panjang, seakan-akan tidak sabar melihat jalannya perahu yang sangat lambat tersebut.

Padahal perahu itu meluncur dengan cepat sekali ke depan mendahului yang Iain-lainnya, sehingga kalau dipikirkan, keadaan perahu tersebut sudah amat berbahaya sebenarnya!

Selain sewaktu-waktu dapat terbalik perahu yang berlayar di sungai saat itupun bukan main banyaknya.

Apalagi bila diingat bahwa perahu itu melaju tanpa penerangan sama sekali!

Untunglah di langit tak banyak terlihat gumpalan awan, sehingga sinar bintang yang beribu-ribu jumlahnya itu dapat sedikit menyibak tirai kegelapan malam.

Meskipun tak jarang mereka terpaksa harus menerima umpatan dan makian orang karena perahu mereka hampir menghantam atau menyenggol perahu lain.

Untunglah Pek-i Liong-ong benar-benar seorang juru mudi yang hebat dan pandai!

Berkali-kali ketua Aliran Mo-kauw itu dapat menyelamatkan perahu mereka dengan amat mengagumkan, sehingga di mata orang yang melihatnya seolah-olah orang tua itu memang benar-benar seorang tukang perahu atau seorang pelaut yang amat berpengalaman!

Padahal tidak demikian sebenarnya...!

Bagi yang memperhatikan tentu akan segera tahu bahwa tokoh puncak Aliran Mo-kauw itu Iebih banyak mempergunakan kesaktiannya dari pada menggunakan keahliannya dalam mengemudikan perahu.

Hanya saja cara yang dipergunakan oleh tokoh sakti itu begitu halusnya sehingga jarang orang yang bisa menangkapnya, apalagi kegelapan malam itu amat membantu pula!

Dan ternyata orang yang menumpang perahu mereka itu amat kagum pula melihat ketangkasan Pek-i Liong-ong!

Orang itu juga menyangka bahwa Pek-i Liong-ong dan Souw Lian Cu memang benar-benar keluarga pelaut atau tukang perahu yang sudah sangat berpengalaman sekali.

"Ah, kalian ayah beranak ini memang betul-betul jagoan perahu yang hebat!"

Serunya gembira.

"Marilah! Kita tentu akan tiba di pantai tidak lama lagi! Dan aku...ooh!"

Tiba-tiba dengan gugup orang itu mengawasi perahu besar di hadapan mereka.

Perahu besar yang dinaiki oleh pemuda sasterawan dan sepuluh orang berperawakan tegap tangkas tadi!

"Eh, jangan terlalu dekat bila mendahului perahu itu!

Menyisihlah agak jauh!"

Orang itu berseru kepada Pek-i Liong-ong dengan tegang.

Tentu saja Pek-i Liong-ong dan Souw Lian Cu menjadi heran sekali.

Tapi ketua Aliran Mo-kauw itu mengabulkan pula permintaan tersebut.

Selain tidak ingin ribut-ribut dengan penumpang mereka, orang tua itu juga tidak ingin perjalanan mereka yang terbatas waktunya tersebut mendapat hambatan di jalan.

Maka dengan tangkas Pek-i Liong-ong membelokkan ujung perahunya ke samping, sehingga perahu tersebut lewat pinggir sungai, jauh dari perahu-perahu itu.

Tetapi di jalur tepi sungai ternyata lebih padat lalu lintasnya.

Di situ banyak perahu-perahu besar kecil, maupun sampan-sampan nelayan, yang lalu lalang menuju ke tempat tujuan mereka masing-masing!

Memang arus di bagian tepi tidak begitu besar dan berbahaya seperti halnya di tengah sungai.

Oleh karena itu untuk berjalan cepat di daerah yang padat itu terpaksa Pek-i Liong ong harus semakin meningkatkan "kebolehannya"

Dalam mengemudikan perahunya.

Seperti seekor ular air yang berenang di antara daun-daun ilalang yang mencuat di permukaan air, perahu tersebut meluncur berlenggak-lenggok di antara perahu perahu lainnya.

Sepandai-pandai tupai melompat sekali waktu akan jatuh pula.

Begitu juga halnya dengan Pek-i Liong ong!

Meskipun sudah mengerahkan segala kehebatannya dalam mengemudikan perahu, ternyata dalam kepadatan lalu-lintas di bagian pinggir sungai itu tetap saja ia menyerempet sebuah sampan kecil yang dikemudikan oleh seorang nelayan hingga terbalik.

Hampir saja Souw Lian Cu menjerit.

Begitu pula dengan penumpang mereka itu, Pek-i Liong-ong secara reflek malah sudah bergerak mau menolong nelayan yang terjerumus ke dalam air itu.

Tapi semuanya segera mengurungkan niat masing-masing!

Mereka justru ternganga melihat reaksi nelayan yang terjungkal dari sampannya tersebut.

Bagaikan seekor cengkerik meloncat, nelayan itu melenting tinggi ke atas dan berputar-putar sebelum akhirnya hinggap dengan enteng di atas perahu mereka.

Sedikitpun tidak ada goncangan ketika kaki orang itu mendarat di atas perahu mereka yang melaju pesat!

Souw Lian Cu dan Pek-i Liong-ong sampai melongo saking kagetnya meskipun dasar dari kekagetan mereka masing-masing sangat berbeda.

Souw Lian Cu merasa kaget karena sekali lagi dia menyaksikan sebuah pertunjukan ginkang yang maha hebat dari seorang nelayan di Sungai Huang-ho sehingga gadis yang juga tumbuh dari keluarga sakti menjadi heran pula dibuatnya.

Gadis itu benar-benar tak habis mengerti mengapa di dunia ini ternyata banyak orang yang mempunyai ilmu mengentengkan tubuh yang sangat hebat?

Pertama kali ia melihat kedahsyatan ginkang Keh-sim Siauwhiap.

Kemudian yang kedua kali ialah tokoh aneh yang bergelar Hek-eng-cu.

Selanjutnya berturut-turut ia menyaksikan kehebatan ginkang Put chien-kang Cinjin dan Pek-i Liongong.

Sekarang diatas sungai ini lagi-lagi ia melihat nelayan melompat berputar-putar tinggi di udara seakan-akan seekor burung terbang saja!

Sedangkan Pek-i Liong-ong merasa kaget karena tokoh puncak Aliran Mo-kauw itu segera mengenal gaya loncatan dari nelayan tersebut.

Gaya meloncat seperti yang dilakukan oleh nelayan itu amat sangat dikenalnya karena gaya tersebut adalah ciri gaya Pek-in Ginkang warisan Bu-eng Sin-yok-ong gurunya!

Tapi Pek-i Liong-ong tidak segera dapat mengenali siapa adanya nelayan yang mahir Pek-in Gin kang itu, karena nelayan yang berdiri beberapa langkah di depannya itu menutupi kepalanya dengan caping lebar sehingga sinar bintang tak dapat mencapai wajahnya yang gelap itu.

"Kau siapa?"

Pek-i Liong-ong menyapa dengan hati-hati. Nelayan itu menghela napas panjang sekali seolah ada beban berat yang menindih hatinya.

"Seharusnya aku yang rendah ini memanggil susiok-couw kepadamu karena memang demikianlah seharusnya urut-urutannya. Tapi karena kau pernah memhunuh ayah angkatku atau keponakan muridmu sendiri maka lebih baik aku tak memanggil apa-apa kepadamu..."

Akhirnya nelayan itu mengeluarkan suaranya yang kaku.

"Hah, kau Bu Seng Kun...anaknya Bu Kek Siang?"

"Benar! Tidak salah! Aku adalah putera Bu Kek Siang dan namaku yang sebenarnya adalah Chu Seng Kun bukan Bu Seng Kun!"

Nelayan itu menjawab sambil membuka topinya sehingga wajahnya yang tampan itu terlihat dengan jelas.

"Ooooooh...!"

Souw Lian Cu dan Pek-i Liong-ong berdesah hampir berbareng.

Keduanya benar benar tak menyangka dapat bertemu dengan pemuda itu di sini karena keduanya memang telah mengenal pemuda yang menyamar sebagai nelayan itu sebelumnya.

Souw Lian Cu tak mungkin bisa melupakan wajah itu, karena pemuda itu adalah kakak kandung Chu Bwe Hong, gadis yang pernah melepas budi kepadanya tapi juga yang membuatnya lari dari rumahnya sekarang ini.

Sementara bagi Pek-i Liong-ong, peristiwa menyedihkan yang menimpa ayah angkat pemuda itu memang merupakan beban batin yang maha berat baginya selama ini.

Beberapa tahun yang silam, sebelum dirinya menjadi ketua Aliran Mo-kauw, memang pernah terjadi perselisihan hebat di antara anak murid keturunan Bu-eng Sin-yok-ong.

Perselisihan itu terutama terjadi antara anak muridnya sendiri melawan anak murid mendiang suhengnya.

Dan pada suatu saat tanpa sepengetahuannya Bhong Kim Cu dan Leng Siau, muridnya yang kini menjabat sebagai kau Tai-shih dari Aliran Mo-kauw pergi menyerang ke kediaman ayah angkat Chu Seng Kun dan membunuhnya.

Sebenarnya peristiwa itu sangat memilukan hatinya tapi karena sudah terlanjur ia sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menghukum berat kedua orang muridnya itu.

Apalagi jika diingat bahwa perselisihan itu memang bukan hanya karena kesalahan kedua orang muridnya saja.

Tetapi bagaimana juga peristiwa itu memang sangat melukai hatinya.

"Bukankah kau sudah mengetahui masalah yang sebenarnya yang menyebabkan terjadinya peristiwa menyedihkan itu?"

Pek-i Liong-ong dengan sedih menatap muka Chu Seng Kun. Chu Seng Kun menghela napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya kembali dengan kuat, seolah mau melemparkan ganjalan yang menghimpit hatinya.

"Aku dan adikku memang sudah menyadari semuanya, kami memang tidak bisa menyalahkan siapapun dalam peristiwa itu. Malahan kalau mau dikaji, pihak kamilah yang lebih dulu bersalah karena telah menyebabkan kematian puteramu...Tapi...bagaimanapun juga ayah angkatku telah mati karena muridmu! Oleh sebab itu aku tetap tidak mau menyebut susiok-couw kepadamu, meskipun di dalam hati aku sudah tak ingin mengingat lagi peristiwa itu."

Pemuda itu berkata dengan nada kaku.

"Baiklah...baiklah! Kita tak usah memikirkannya lagi! Lohu menjadi sangat sedih pula karenanya..."

Pek-i Liong-ong berdesah dengan sedihnya.

"Lohu jadi teringat kepada mendiang anakku pula..."

Sementara itu perahu yang mereka tumpangi telah berada di jalur tengah sungai kembali, sehingga tempatnya menjadi lapang dan tak banyak berpapasan dengan perahu lain lagi.

Semuanya berdiam diri, sibuk dengan jalan pikiran masing masing.

Orang yang tadi tercebur ke dalam sungai dan kini juga ikut menumpang dalam perahu mereka itu tampak berdiam diri pula seperti mereka.

Hanya wajahnya saja yang kelihatan bengong mendengar pembicaraan Pek-i Liong-ong dengan Chu Seng Kun yang tidak keruan ujung pangkalnya itu.

"Maaf, Lohu telah menyerempet sampanmu sehingga terbalik..."

Akhirnya Pek-i Liong-ong memecahkan kesunyian itu.

"Tapi tak apalah...! Biarlah kita berperahu bersama-sama untuk sementara. Kemanakah tujuanmu? Ke pantai juga seperti kami?"

"Ke pantai juga boleh. Aku tak mempunyai tujuan yang tetap, karena aku sedang mencari seseorang di sekitar perairan sungai ini."

Chu Seng kun menjawab tanpa menoleh. Matanya yang tajam itu meneliti setiap perahu yang mereka lewati, seakan-akan memang sedang mencari seseorang yang dia maksudkan itu.

"Siapakah yang kau cari itu? bolehkah Lohu mengetahuinya? Siapa tahu aku melihatnya?"

Pek-i Liong-ong mengerutkan keningnya.

"Hek-eng-cu!"

"Hek-eng-cu?"

Pek-i Liong-ong, Souw Lian Cu dan orang yang ikut menumpang perahu mereka itu berseru kaget hampir berbareng.

"Ya! Mengapa...?"

Ganti Chu Seng Kun sekarang yang terkejut.

Satu-persatu dipandangnya ketiga orang yang berdiri di depannya.

Pek-i Liong-ong, Souw Lian Cu dan orang asing yang pakaiannya basah kuyup itu.

Sementara itu Pek-i Liong-ong dan Souw Lian Cu, yang baru saja berseru kaget itu juga tampak terheran-heran memandang kepada penumpang mereka yang basah kuyup tersebut.

Dalam hati mereka bertanya-tanya, mengapa orang itu juga tersentak kaget ketika mendengar nama Hek-eng-cu?

"Ah, tidak apa-apa..."

Pek-i Liong-ong yang menjadi curiga itu lekas-lekas menjawab pertanyaan Chu Seng Kun untuk menutupi kekagetannya.

"Lohu pernah pula mendengar nama yang pada akhir-akhir ini menjadi sangat terkenal itu. Hanya sayang sampai saat ini Lohu belum pernah mendapat kesempatan untuk menjumpainya. Tapi...siapa tahu kita nanti dapat berjumpa dengannya?"

Orang tua itu mengakhiri kata-katanya dengan tersenyum penuh arti kepada Souw Lian Cu.

"Benar! Siapa tahu kita nanti dapat bertemu dengan orang itu?"

Gadis itu mengangguk pula sambil mengedipkan matanya.

Agaknya Chu Seng Kun menangkap pula isyarat-isyarat yang diberikan oleh Pek-i Liong-ong tersebut.

Hanya ia sedikit ragu-ragu ketika memandang ke arah Souw Lian Cu karena dia merasa tidak mengenal gadis bertangan buntung itu.

Oleh karena itu dengan perlahan-Iahan ia melangkah mendekati Souw Lian Cu.

"Maaf, nona. Bolehkah aku mengenal namamu...?"

Sapanya halus. Souw Lian Cu tersenyum pula, dan setiap orang tentu akan memuji betapa cantiknya kalau gadis itu membuka mulutnya.

"Namaku Souw Lian Cu, Chu-Taihiap..."

Jawabnya dengan halus pula.

"Souw Lian Cu..?"

Chu Seng Kun berseru kaget. Matanya melirik sekejap ke arah lengan yang buntung itu.

"Apakah kau ini puteri saudara Souw...Souw Thian Hai?"

Souw Lian Cu mengangguk, mulutnya masih tetap tersenyum manis sekali.

"Wah, aku benar-benar sudah tak mengenalmu lagi. kau sudah demikian besar sekarang. Lalu dimanakah ayahmu itu sekarang?"

Chu Seng Kun tertawa gembira sambil menepuk-nepuk pundak gadis itu.

"Ayahku berada di rumah. Dia..."

"Hei? Berada di rumah...?"

Pemuda itu terkejut.

"Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan ayahmu, katanya sudah berbulan-bulan dia berada di tempat seorang keluarga bekas pangeran Chin! Dia malah menjadi pengawal pribadi putera pangeran Chin itu..."

"Ohh?"

Sekarang ganti Souw Lian Cu yang terhentak kaget.

"Ayahku menjadi pengawal pangeran Chin? Ah, di mana ayahku sekarang...?"

Gadis itu mengguncang guncang lengan Chu Seng Kun.

Tentu saja Chu Seng Kun menjadi bingung dan tak mengerti melihat sikap gadis itu.

Tadi gadis itu berkata bahwa ayahnya berada di rumah tapi setelah ia mengatakan bahwa beberapa hari yang lalu ia telah berjumpa dengan ayahnya, gadis itu malah menjadi kaget dan bertanya tentang ayahnya!

"Bagaimana ini...?"

Agaknya Souw Lian Cu mengetahui kebingungan Chu Seng Kun tersebut. Perlahan-lahan gadis itu melepaskan pegangannya.

"Ah, maaf, Chu-Taihiap...Aku sampai lupa diri,"

Katanya meminta maaf.

"Aku memang sudah lama sekali meninggalkan rumah. Maka aku menjadi kaget ketika Chu-Taihiap tadi mengatakan telah bertemu dengan ayahku beberapa hari yang lalu...Eh, dimanakah ayahku itu sekarang?"

"Lhoh, bagaimana sih engkau ini...?"

"Chu-Taihiap, sudahlah...panjang sekali kalau diceritakan. Nanti kita berbicara lagi tentang itu kalau ada waktu. Sekarang yang ingin kuketahui adalah...di mana ayahku itu?"

Chu Seng Kun tidak mendesak lagi.

Pemuda itu bisa meraba, tentu ada masalah apa-apa di antara gadis ini dengan ayahnya, sehingga gadis ini meninggalkan rumahnya dan berbulan-bulan tak berhubungan lagi dengan ayahnya tersebut.

"Sayang aku tak mengerti di mana ayahmu berada sekarang...Hanya ketika aku bertemu dengan dia di desa Hok-cung, dia pergi dengan putera pangeran Chin itu..."

Pemuda itu memberi keterangan.

Souw Lian Cu menjadi lemas kembali.

Berita tentang ayahnya yang telah bertahun-tahun dia tinggalkan itu membuat hatinya menjadi sedih.

Perasaannya tergugah, dan kini rasanya dia menjadi rindu sekali kepada ayahnya itu.

Chu Seng Kun menghela napas.

Pemuda itu dapat merasakan kesedihan yang diderita oleh gadis tersebut.

Maka untuk mengalihkan perhatian ia menoleh kepada laki-laki basah kuyup yang sedari tadi cuma diam saja itu.

"Hmm, siapakah saudara ini...? Apakah saudara juga satu rombongan dengan nona Souw Lian Cu?"

"Ah, benar...! Lohu juga sampai lupa menanyakannya. Sudah sekian lamanya berperahu bersama, kita belum juga saling mengetahui nama masing-masing..."

Pek-i Liong-ong tersentak pula dari lamunannya. Dengan sikap ramah ketua Aliran Mo-kauw itu menatap penumpangnya tersebut. Orang itu semakin tampak kegugupannya. Dengan gagap ia menjawab.

"Aku...aku...eh, namaku Liok Cwan..."

"Liok Cwan"?"

Chu Seng Kun dan Pek-i Liong-ongmenyebut nama itu dengan kening berkerut.

Keduanya seperti mau memeras ingatan mereka masing-masing, siapa tahu mereka pernah mendengar nama itu di dalam perbendaharaan hati mereka.

"Ya...ya, aku Liok Cwan...seorang pedagang dari Kotaraja Tiang An. Apakah tuan sudah pernah mendengar namaku?"

Chu Seng Kun menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Lalu apa maksud tuan pergi ke pantai malam-malam begini?"

Pemuda itu bertanya.

"Ough...oh, anu...anu...soal dagang tentu saja. Aku mau menemui seseorang...eh, maksudku...aku mau menemui langganan di sana."

"Ehmm!"

Semuanya berdiam diri lagi.

Sementara orang yang mengaku bernama Liok Cwan itu semakin kelihatan gelisah dan tidak tenang.

Beberapa kali orang itu mengusap muka dan lehernya dengan telapak tangan, seolah mau mengeringkan keringatnya yang bercampur dengan air sungai yang tadi membasahi tubuhnya.

Malam semakin dingin.

Sementara permukaan air pun semakin melebar, sehingga rasa-rasanya perahu mereka sedang berlayar di sebuah telaga yang panjang dan tak tentu ujungnya.

Tetapi dengan demikian perahu mereka malah dapat melaju dengan lebih tenang, karena gelombang air sungai juga tampak mereda.

Meskipun demikian Pek-i Liong ong masih harus tetap waspada pula dalam mengemudikan perahunya, karena ternyata di sekitar mereka masih tetap banyak perahu yang berlayar seperti mereka.

Chu Seng Kun mendekati Souw Lian Cu, kemudian duduk di sampingnya.

Liok Cwan berdiri jauh di ujung perahu, sementara Pek-I Liong-ong tampak sibuk memegang kemudi di buritan.

"Kau tidak merasa dingin, nona...?"

Chu Seng Kun membuka percakapan.

"Tidak!"

Souw Lian Cu menggeleng, lalu menundukkan kepala. Mereka berdiam diri kembali.

"Jadi...kau sudah lama sekali meninggalkan ayahmu? Ah, dia tentu kebingungan mencarimu. Mengapa kau tidak berusaha menemui ayahmu? Kulihat dia seperti sedang dalam kesukaran sekarang..."

Sekali lagi Chu Seng Kun mencoba menarik perhatian Souw Lian Cu, dan kali ini berhasil.

"Kesukaran? Apa yang Taihiap maksudkan?"

Gadis itu tersentak dari duduknya.

"Bukankah dia pergi bersama...ah, tidak!"

Tiba-tiba gadis itu membungkam mulutnya sendiri.

Sekilas matanya yang bening lembut itu berkilat tajam menatap Chu Seng Kun.

Sepintas lalu seperti akan marah tapi tak jadi.

Sebenarnya Souw Lian Cu mau mengatakan bahwa ayahnya tentu pergi bersama Chu Bwee Hong, adik perempuan Chu Seng Kun itu!

Sebelum dia pergi meninggalkan rumah dahulu dia melihat wanita ayu itu datang bersama seorang lelaki ke rumahnya.

Tapi Souw Lian Cu tak jadi mengatakannya.

"Mengapa nona...?"

Chu Seng Kun mendesak, tapi gadis itu tetap tak mau menyebutkannya, sehingga akhirnya Chu Seng Kun melanjutkan sendiri kata-katanya.

"Memang ayahmu pergi dengan pangeran Chin itu...dan...Inilah yang amat mengherankanku! Selamanya ayahmu tak mau menjadi pelayan orang, apalagi menjadi tukang pukuI seperti itu. Tentu ada apa-apanya dalam hal ini..."

"Apakah ayah tidak bertanya tentang aku ketika bertemu dengan Taihiap?"

"Ah, waktu itu kami bertemu dalam sebuah pertempuran yang luar biasa ributnya, sehingga tiada waktu untuk berbincang-bincang dengannya. Hanya yang kulihat waktu itu ialah ayahmu seperti sedang tertekan jiwanya karena harus melindungi seseorang tanpa dia kehendaki."

"Oh, ayah...!"

Gadis itu mengeluh dengan sedih.

Timbul perasaan sesalnya karena telah meninggalkan ayahnya.

Chu Seng Kun membiarkan gadis itu merenung untuk beberapa saat lamanya, sehingga suasana menjadi sunyi kembali seperti tadi.

Pek-i Liong-ong masih sibuk dengan tiang kemudinya, sedangkan Liok Cwan juga masih berdiri gelisah di ujung perahu.

"Nona...mengapa kau tega meninggalkan ayahmu sampai berbulan-bulan lamanya? Bukankah kalian bertemu dan berkumpul bersama juga belum lama? Apakah engkau tidak merasa kasihan kepada ayahmu? Bagaimana kalau saking sedihnya dia menjadi kambuh kembali penyakitnya...?"

Dengan lembut Chu Seng Kun menegur Souw Lian Cu, seperti menegur adiknya sendiri.

Dalam hati Chu Seng Kun merasakan, tentu ada suatu persoalan pelik yang membuat gadis ini pergi meninggalkan ayahnya.

Hanya yang belum bisa diketahui oleh pemuda itu adalah persoalan apakah itu?

Meskipun demikian Chu Seng Kun berusaha untuk menyadarkan Souw Lian Cu agar mau kembali kepada ayahnya.

Sebab bagaimanapun juga pemuda itu sudah merasa dekat sekali dengan Souw Thian Hai, ayah gadis ini.

Mereka bersahabat akrab sekali, karena Chu Seng Kun itulah yang dahulu merawat dan mengobati penyakit lupa ingatan Souw Thian Hai.

Malah tidak hanya itu saja hubungan baik yang terjadi di antara mereka karena tanpa diduga adik Chu Seng Kun yang bernama Chu Bwee Hong ternyata secara diam-diam jatuh cinta kepada Souw Thian Hai yang telah duda dan beranak satu itu.

Mungkin kalau tidak karena ulah Hek-eng-cu yang menculik adiknya itu mereka telah menikah dengan bahagia.

Diingatkan tentang penyakit ayahnya, Souw Lian Cu menjadi merah mukanya.

Dan Chu Seng Kun menjadi salah tafsir, pemuda itu mengira Souw Lian Cu telah benar-benar tergugah perasannya dan sudah teringat kembali kepada penderitaan ayahnya.

Tampaknya gadis itu mulai menyesali kelakuannya.

Maka dari itu Chu Seng Kun segera menyambung perkataannya.

"Nah, apakah engkau tidak merasa kasihan kepada ayahmu? Mengapa...?"

Tapi pertanyaan itu terhenti dengan tiba-tiba.

Dengan kaget Chu Seng Kun mengawasi Souw Lian Cu yang berdiri dengan mendadak.

Dengan muka merah dan mata berkilat kilat karena penasaran gadis itu menatap Chu Seng Kun.

"Mengapa? Mengapa...? Mengapa engkau hanya menyalahkan aku saja? Mengapa engkau tidak menyalahkan yang lain juga? Mengapa ayahku itu mesti kawin lagi dengan orang lain, misalnya?"

Gadis itu berseru dengan bibir gemetar dan hampir menangis, membuat Pek-i Liong-ong tersentak kaget melihat mereka.

Orang tua itu terlongong-longong mengawasi Chu Seng Kun dan Souw Lian Cu-silih berganti.

Begitu juga dengan Liok Cwan!

"Heh?

Mau kawin lagi...?

Kawin dengan siapa?"

Chu Seng Kun berdiri juga dengan tidak kalah terkejutnya. Otomatis pemuda itu lantas teringat kepada adiknya yang hilang.

"Dengan siapa lagi kalau tidak dengan enci Chu Bwee Hong, adikmu.,...?"

Souw Lian Cu menjawab keras, dengan muka masib tetap meradang.

"Whah? Apaaaa...? Adikku? Di mana dia sekarang?"

Chu Seng Kun berteriak dan meloncat untuk menyambar lengan Souw Lian Cu.

Tapi dengan tidak kalah gesitnya, Souw Lian Cu melejit ke belakang melewati atap perahu dan mendarat di dekat Pek-i Liong-ong.

Gerakannya yang amat ringan itu bukan main indahnya, sehingga Liok Cwan yang semula tidak menyangka bahwa gadis remaja itu bisa ilmu silat, menjadi ternganga mulutnya.

Tetapi Chu Seng Kun cepat mengejar pula dengan lebih tangkas lagi.

Meskipun bergerak kalah dulu, tetapi ternyata mereka mendarat di lantai perahu secara berbareng!

Mereka berdiri berhadap-hadapan lagi.

Saking tegang hatinya, Chu Seng Kun sampai pucat-pias wajahnya.

Memang dapat dimaklumi kalau Chu Seng Kun bersikap demikian.

Dua tahun lamanya pemuda itu mencari adiknya tanpa mengenal lelah.

Di dalam hati ia percaya bahwa pada suatu saat ia tentu dapat bertemu dengan adiknya tersebut.

Meskipun Hek-eng-cu, yaitu orang yang melarikan Chu Bwee Hong mengatakan bahwa adiknya telah mati, tetapi pemuda itu tetap tidak mempercayainya.

Chu Seng Kun percaya bahwa adiknya masih tetap hidup.

Maka begitu mendengar Souw Lian Cu menyebut nama adiknya, otomatis pemuda itu seperti orang kesetanan!

"Souw Lian Cu!

Apakah kau melihat Chu Bwee Hong?

Dimana dia sekarang?"

Chu Seng Kun berteriak keras tanpa mempedulikan Pek-i Liong-ong yang berdiri tak jauh dari tempatnya.

"Seng Kun! Ingatlah, kenapa kau ini...?"

Pek-i Liong-ong berseru memperingatkan. Chu Seng Kun menoleh. Wajahnya masih tetap tegang.

"Lo-Cianpwe, jangan khawatir"! Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin bertanya kepada gadis ini tentang adikku, Chu Bwee Hong. Adik perempuanku itu telah lenyap diculik oleh Hek-eng-cu dua tahun yang lalu dan sampai hari ini belum juga kembali..."

"Diculik oleh Hek-eng-cu dua tahun yang lalu?"

Sepasang mata Souw Lian Cu terbelalak dan wajahnya menjadi pucat seketika.

"Jadi...jadi lelaki yang datang ke rumahku bersama enci Bwee Hong itu adalah...Hek-eng-cu?"

Gadis itu berseru dengan suara serak.

Sekali lagi Chu Seng Kun menyambar lengan Souw Lian Cu, dan kali ini gadis itu tidak mengelak lagi.

Gadis itu telah menjadi lemas karena khawatir atas nasib ayahnya.

"Jadi...eh, jadi Hek-eng-cu telah membawa Bwee Hong ke rumahmu? Lalu...lalu bagaimana keadaannya? Di mana dia sekarang?"

Chu Seng Kun mengguncang lengan yang dipegangnya itu keras-keras.

Souw Lian Cu yang sekarang telah mulai merasakan adanya sesuatu hal yang tidak beres dalam persoalan ini segera bercerita tentang apa yang telah terjadi di rumahnya pada dua tahun yang lalu.

Semuanya ia ceritakan tanpa terkecuali, termasuk pula rasa tidak suka dalam hatinya berhubung ayahnya teIah jatuh cinta lagi kepada wanita lain selain ibunya.

"Oohh...!"

Chu Seng Kun berdesah dan menjadi lemas pula seperti Souw Lian Cu.

"Jadi...jadi kau juga tak tahu pula kemana Chu Bwee Hong pergi? Oh, kemana sebenarnya anak itu? Apakah dia benar-benar telah dibunuh oleh Hek-eng-cu...?"

Pemuda itu mengeluh sedih, kemudian menjatuhkan dirinya di atas bangku.

"Hmmh...adikmu diculik oleh Hek-eng-cu? Kenapa engkau tidak mencari orang itu dan mengambiInya kembali?"

Tiba-tiba Pek-i Liong-ong menggeram.

Bagaimanapun juga sikap yang ditunjukkan oleh Chu Seng Kun tadi kepadanya, tetapi kedua kakak beradik itu tetap keponakan muridnya juga.

Maka perbuatan Hek-eng-cu itu sedikit banyak juga membuat malu dirinya pula.

"Aku telah menemui orang itu. Tetapi selain kepandaiannya sangat tinggi, kawannyapun sangat banyak dan rata-rata ilmu mereka setingkat dengan aku. Bagaimana aku bisa menang melawan dia...?"

Chu Seng Kun menjawab hampir merintih.

"Begitukah...?"

Pek-i Liong-ong merah mukanya.

"Coba kau sebutkan, siapa saja teman temannya itu!"

Chu Seng Kun menghela napas.

"Song-bun kwi Kwa Sun Tek, enam orang Iblis dari Ban-Kwi-to dan...seorang jago lihai lagi yang belum kukenal namanya!"

Pemuda itu menyebutkan semua lawannya.

"Hmmh, baik...!"

Ketua Aliran Mo-kauw itu menggeram lagi.

"Seng Kun! Dengarlah! Kini kau bersiap-siaplah, karena sebentar lagi kita akan bertemu dengan Hek-eng-cu...! kau hadapilah musuhmu itu dengan tenang! Biarlah aku nanti yang membantumu menghadapi kawan-kawannya..."

"Hah? Jadi penjahat keji itu benar-benar berada di sekitar tempat ini?"

Chu Seng Kun terlonjak dari tempat duduknya.

"Benar! Tunggulah...!"

Pek-i Liong-ong menjawab tegas.

"Oh, Tuhan...terima kasih!"

Demikianlah, malam telah semakin larut dan perahu mereka juga semakin dekat dengan tempat tujuan. Suara debur ombak juga sudah mulai terdengar pula di telinga mereka.

"Nah, lihatlah itu! Lautan telah kelihatan dari tempat ini..."

Pek-i Liong-ong menunjuk ke kaki langit sebelah timur, di sana sebuah garis putih tampak membentang dari utara ke selatan.

Sebuah garis melengkung yang seolah-olah membatasi langit dan bumi.

Souw Lian Cu melangkah ke ujung perahu, kemudian memandang garis putih itu dengan takjub.

"Alangkah indahnya...!"

Gadis itu bergumam perlahan.

"Ya! Tapi sebentar lagi kita juga harus segera merapat ke pinggir, karena sangat berbahaya sekali membawa perahu kecil ini ke muara. Tempat itu benar-benar sangat berbahaya. Hanya perahu-perahu besar saja yang dapat melewatinya. itupun kalau cuaca sedang baik. Di muara itu terdapat pusaran-pusaran air yang mampu menghisap dan menelan perahu-perahu kecil seperti kepunyaan kita ini untuk kemudian dimuntahkan kembali di tengah-tengah laut sana,"

Tiba-tiba orang yang bernama Liok Cwan itu menyahut dengan wajah ketakutan, sehingga Souw Lian Cu yang sedang menikmati keindahan alam itu menjadi ngeri pula hatinya.

Tapi apa yang dikatakan oleh orang itu memang benar pula.

Beberapa saat kemudian perahu mereka telah mencapai dusun yang terakhir, yaitu sebuah dusun yang tumbuh di pinggir sungai seperti juga halnya dusun Ho-ma-cun yang siang tadi mereka tinggalkan.

Mereka melihat banyak sekali perahu-perahu dan sampan yang ditambatkan pada tonggak-tonggak kayu yang disediakan di tepian sungai.

Meskipun waktu telah larut malam, keadaan di tempat itu ternyata masih tampak hidup dan bergairah.

Warung-warung kecil yang bertebaran di sepanjang sungai juga masih tampak terbuka pintunya.

Sehingga sinar lampunya yang terang benderang menyorot keluar melalui pintu dan jendelanya, menyibakkan selubung kegelapan malam yang melingkupi dusun kecil tersebut.

Beberapa orang lelaki tampak hilir-mudik di sekitar warung-warung itu.

Dari jauh kelihatan seperti bayang-bayang hitam yang sekali-kali tampak menembus cahaya lampu yang keluar dari pintu warung.

Pek-i Liong-ong membelokkan perahunya ke pinggir, kemudian menambatkannya di tempat yang kosong.

Semuanya ikut turun, dan Liok Cwan bergegas datang mendekati Pek-i Liong-ong untuk memberikan bayaran emas yang telah ia janjikan tadi.

Tapi dengan tegas ketua Aliran Mo-kauw itu menolaknya.

"Ah, tidak usah. Berikan saja benda itu kepada fakir miskin yang lebih membutuhkan!"

"Fakir miskin...? Oh, ya...ya! Terima kasih! Akan saya laksanakan perintah tuan ini. Sekarang aku...aku mohon diri!"

Liok Cwan terbungkuk-bungkuk mengiyakan. Dan sebentar kemudian orang itu telah melangkah pergi dengan tergesa gesa dan menghilang dalam bayang-bayang kegelapan malam.

"Siapakah sebenarnya orang itu? Gerak-geriknya mencurigakan sekali...!"

Chu Seng Kun bergumam perlahan.

Pek-i Liong-ong melangkah menghampiri Chu Seng Kun dan berdiri di samping pemuda itu.

Matanya yang tajam berkilat itu menatap ke tempat gelap, di mana Liok Cwan tadi menghilang.

"Entahlah. Mungkin juga dia salah seorang yang tahu masalah harta karun itu dan sekarang datang untuk ikut memperebutkannya,"

Orang tua berkata perlahan pula.

"Harta karun? Harta karun apa itu?"

Chu Seng Kun bertanya heran.

"Jadi tujuan Lo-Cianpwe kemari ini untuk memperebutkan harta karun? Ah, lalu bagaimana rencana pertemuan kita dengan Hek-eng-cu itu?"

"Ahaa, bersabarlah...! Sebentar lagi kita juga akan bertemu dengan dia, sebab dialah yang nanti menjadi tokoh utama dalam masalah perebutan harta karun ini,"

Pek-i Liong-ong menjawab cepat. Lalu dengan cepat pula orang tua itu menceritakan serba sedikit tentang pertemuan di Pantai Karang tengah malam nanti.

"'Pantai Karang? Bukankah tempat itu adalah tempat penyeberangan ke Pulau Meng-to? Apakah dalam hal ini Kehsim Siauwhiap ikut terlibat juga?"

Pek-i Liong-ong tidak menjawab.

Orang tua itu hanya mengangkat pundaknya tanda tak mengerti lalu berjalan perlahan ke tempat yang agak gelap.

Chu Seng Kun dan Souw Lian Cu segera melangkah pula mengikutinya.

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 9

Baca Juga: Pendekar Sakti 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert