Ceritasilat Novel Online

Pendekar Sakti 7

Eps 7 Pendekar Sakti - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Sakti - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Sakti - Kho Ping Hoo.

Kwan Cu berjalan bersama Lakayong menuju ke sebelah Barat di mana terdapat sebuah telaga yang berbentuk bundar dan nampaknya dalam sekali.

Air telaga yang biru itu kelihatan tenang, akan tetapi kadang-kadang nampak berombak dan sekali-kali muncullah kepala seekor binatang yang membuat Kwan Cu terheran-heran dan merasa ngeri.

Kepala binatang yang muncul di permukaan air telaga itu amat menyeramkan bentuknya seperti seekor singa, liar dan buas, akan tetapi kepala itu besar sekali dan tubuhnya agak panjang karena ekornya yang berambut merah berada jauh di belakangnya.

Apakah ini yang disebut naga?

Ataukah singa air?

Lakayong mengajak Kwan Cu duduk di dekat telaga, di atas batu-batu hitam yang licin dan agaknya sering kali diduduki oleh Raja ini.

Para pembantu yang tujuh orang itu duduk di sebelah kiri.

"Sudah siapkan mereka?"

Tanya Lakayong pada orang-orangnya.

"Mereka sedang menuju ke sini,"

Jawab pembantunya dengan hormat.

Betul saja, tak lama kemudian nampak dua raksasa muda yang bertubuh kuat sekali.

Mereka berjalan berdampingan seperti dua ekor gajah muda menuju ketempat itu.

Setiba mereka di depan Lakayong, dua orang itu lalu berbungkuk dengan hormat.

"Kalian sudah mendengar keputusanku!"

Kata Lakayong dengan kata dingin.

"Karena di antara kamu tidak ada yang mengaku merencanakan pengkhianatan itu, kalian harus menyatakan kemenangan dengan bertanding di atas batu jamur. Yang kalah menjadi mangsa singa telaga, yang menang akan berhadapan dengan aku sendiri!"

"Kami mengerti!"

Jawab dua orang itu dengan gagah dan mata mereka memandang ke arah Kwan Cu penuh kebencian sehingga pemuda ini menjadi kaget.

Tujuh orang pembantu segera menyediakan sebuah perahu besar dan dua orang raksasa muda itu menunggang perahu menuju tengah-tengah telaga.

Kwan Cu melihat bahwa di tengah telaga itu terdapat sebuah batu karang yang bentuknya aneh seperti jamur besar.

Tahulah dia bahwa dua raksasa muda itu harus bertanding di atas batu karang itu.

"Apakah mereka yang bernama Wisang dan Kasang?"

Tanyanya kepada Lakayong. Raja raksasa itu mengangguk dengan tersenyum.

"Benar, merekalah pengkhianat-pengkhianat itu. Sayang sekali, mereka sebetulnya merupakan dua orang muda yang paling cakap yang gagah di antara suku bangsa kami."

"Masih lebih baik mempunyai pembantu kurang cakap akan tetapi jujur daripada pembantu cakap akan tetapi khianat,"

Kata Kwan Cu.

"Kau betul sekali, saudaraku, cocok dengan pendirianku. Oleh karena itulah maka aku menjatuhkan hukuman itu kepada mereka. Diam-diam Kwan Cu mengagumi kesederhanaan dan kejujuran orang-orang ini. Mana ada hukuman seperti itu, yang menjadi pesakitan sama sekali tidak di tangkap, dibiarkan bebas begitu saja. Namun tetap saja mereka datang menyerah! Dan alangkah anehnya hukuman itu. Keduanya disuruh bertanding dan yang menang akan mendapat kesempatan bertanding dengan raja Lakayong! "Bagaimana kalau dengan pertandingan kedua nanti kau kalah?"

Tanya Kwan Cu.

"Aku kalah? Tak mungkin. Apalagi setelah mendapat petujuk darimu tentang bagian-bagian tubuh yang lemah, biarpun dikeroyok dua oleh mereka, aku akan dapat merobohkan mereka,"

Kata Lakayong sambil ketawa gembira.

"Akan tetapi, andaikata kau tetap kalah?"

Kwan Cu mendesak.

"Kalau aku kalah? Tak bisa lain tentu pemenangnya akan menjadi Raja dan menikah dengan Liyani."

Kwan Cu tertegun.

Alangkah sederhananya peraturan itu dan menunjukkan bahwa raja raksasa ini sama sekali tidak berlaku sewenang-wenang.

Bukanlah kalau dia mau dengan mudah saja dia bisa saja suruh tangkap dan bunuh dua pengkhianat itu?

Akan tetapi, mendengar bahwa Liyani akan diperistri oleh seorang pemenang, Kwan Cu menjadi penasaran.

"Bukankah Liyani sudah menolak pinangan mereka?"

"Karena Liyani puteriku maka dia berhak menolak pinangan siapa saja yang dia tidak suka. Akan tetapi, ia tak akan boleh menolak pinangan seorang raja."

Percakapan berhenti dan kini dua orang raksasa muda itu sudah tiba di batu karang yang disebut batu jamur.

Dengan otot-otot kaki tangan mengembung lalu merayap naik keatas batu karang itu.

Tidak sembarang orang dapat merayap sepereti itu karena batu karang itu bentuknya seperti jamur dan terjal.

Selain sukar, juga amat berbahaya karena Kwan Cu melihat betapa singa-singa telaga telah siap sedia menanti dengan mulut memperlihatkan gigi-gigi tajam di sekitar batu jamur itu!

Sekali saja kaki terpeleset dan jatuh ke air, tak kan ada pertolongan lagi.

Setelah kedua orang itu, Wisang dan Kasang, berhasil naik ke atas, mereka berdiri berhadapan seperti dua orang jago berlagak.

Siap untuk mulai pertandingan.

Penduduk dusun itu semua datang untuk menyaksikan pertandingan ini, dan dari gerak dan suara mereka Kwan Cu dapat menduga bahwa para penonton itu saling bertaruh untuk jago masing-masing.

Matahari telah tinggi dan kini semua orang laki-laki perempuan telah berkumpul di pinggir telaga termasuk Liyani mengambil tempat duduk di samping Kwan Cu.

Adapun raja Lakayong duduk di sebelah kanan pemuda itu.

Raja ini kelihatan gembira sekali.

Pertandingan di atas batu jamur jarang sekali diadakan dan semenjak dahulu sudah beberapa keturunan, batu jamur itu hanya dipergunakan untuk bertanding bagi calon-calon raja.

Akan tetapi dalam pertandingan calon raja, di sekeliling batu terdapat perahu-perahu besar sehingga kalo ada yang kalah dan jatuh ke bawah, dia tak akan dimakan singa telaga dan melompat ke perahu.

Berbeda dengan pertandingan sekarang ini, karena pertandingan sekarang ini bersifat hukuman, maka setelah kedua orang ini naik, Lakayong memberi perintah supaya perahu besar yang membawa dua orang raksasa muda tadi ke batu jamur, disingkirkan!

Dengan demikian berarti bahwa siapa yang kalah akan terkubur di dalam perut singa telaga!

Kemudian Lakayong lalu memberi isyarat dengan mengangkat tangan dan mulailah kedua orang raksasa itu bertanding!

Kwan Cu memandang dengan penuh perhatian.

Ia tidak tahu bahwa dua orang raksasa muda yang sedang bertanding menanam kebencian hebat kepadanya.

Sebelum dua orang raksasa itu menghadap raja tadi, malamnya mereka telah mendengar dari raksasa yang dikalahkan oleh Kwan Cu tentang semua kejadian.

Mereka tahu bahwa yang menolong raja adalah pemuda itu, sehingga boleh dibilang bahwa yang mendatangkan malapetaka dan yang menggagalkan rencana mereka adalah Kwan Cu.

Apalagi ketika mereka mendengar bahwa biarpun kecil, pemuda asing itu memiliki kepandaian bertempur yang mengherankan, kedua orang raksasa muda itu menjadi makin benci dan iri hati.

Pertempuran yang terjadi di atas batu jamur itu ramai sekali.

Keduanya sama kuat dan sama tangguh.

Pukul-memukul, tendang-menendang dan dorong-mendorong, berusaha sekuat tenaga agar lawannya terlempar jatuh dari atas batu jamur.

Memang amat mengerikan dan menegangkan nampaknya.

Permukaan batu yang rata itu tidak berapa lebar dan sekali telah terlempar atau tergelincir ke bawah berarti maut menjadi bagiannya!

Kwan Cu melihat betapa kedua orang raksasa muda itu lebih banyak menggunakan tenaga daripada otak.

Mereka memiliki kekuatan dan tubuh yang terlindung oleh otot-otot tebal itu menjadi kebal.

Pukulan dan tendangan lawan seperti tidak terasa dan dorongan tak cukup kuat untuk dapat merobohkan tubuh yang kokoh kuat itu.

Diam-diam Kwan Cu menjadi geli menyaksikan cara mereka bertempur itu.

Seperti dua orang anak-anak yang bergulat saja.

Kalau dia yang maju, dia percaya bahwa dalam beberapa gerakan saja dia akan dapat mengalahkan mereka.

Para penonton bersorak-sorak, menyoraki jago masing-masing.

Ada kalanya Wisang tertindih, ada kalanya Kasang terdesak, akan tetapi keduanya sama kuatnya sehingga pertandingan makin lama makin seru dan mengerikan.

Liyani tertawa-tawa gembira dan gadis ini nampaknya senang sekali menyaksikan pertandingan antara dua raksasa itu.

Raja Lakayong memandang penuh perhatian dan berkali-kali menganggukkan kepala sambil berkata perlahan kepada Kwan Cu.

"Kau betul, saudaraku. Mereka itu tidak mempergunakan otak dan mereka hanya memukul dan menendang bagian-bagian anggota badan yang mudah untuk dijadikan sasaran saja. Kalau mereka itu menyerang ke arah anggota tubuh lawan yang lemah seperti yang kau ajarkan kepadaku, tentu pertandingan akan selesai dengan cepat. Ah, aku girang sekali karena terbuka mataku bagaimana harus mengalahkan mereka tanpa menghabiskan tenaga!"

Akan tetapi pemuda itu tak segembira Lakayong, bahwa Kwan Cu memandang ke arah pertempuran dengan kening berkerut.

Matanya yang tajam dapat melihat hal-hal yang aneh dalam pertempuran itu.

Banyak sekali kesempatan-kesempatan dan lowongan baik sekali dilewatkan begitu saja oleh Wisang dan Kasang.

Kesempatan yang cukup untuk mereka pergunakan dalam merobohkan lawan.

Benar-benarkah mereka begitu bodoh dan buta?

Tak mungkin, hanya ada satu jawaban untuk memecahkan jawaban ini, yaitu bahwa kedua orang itu tidak berkelahi sesungguh hati!

"Mereka hanya main-main saja!"

Katanya penuh curiga.

"Mereka tidak berkelahi dengan sesungguhnya!"

Lakayong tertawa dengan bergelak."Kau lucu sekali, sahabatku.

Orang berkelahi mati-matian dan maut sewaktu-waktu dapat merengut nyawanya dan kau bilang bahwa mereka itu hanya main-main saja?

Ha,ha ha!"

"Jangan kau menertawakan daku, Raja Lakayong, aku berani bertaruh bahwa sampai matahari tenggelam tak seorang pun di antara mereka yang akan kalah."

Akan tetapi Lakayong tidak percaya dan demikianlah, pertempuran dilakukan dengan hebatnya.

Orang-orang wanita sudah menjadi bosan karena benar saja, setelah senja tiba, belum juga ada yang kalah dan menang.

Seorang demi seorang mereka pergi, bahkan Liyani juga pergi dari situ karena mereka ini harus melakukan tugas pekerjaan mereka.

Bahkan banyak pula penonton laki-laki pada pergi.

Yang masih tinggal di sini adalah hanya Raja Lakayong, Kwan Cu dan tujuh orang pembantu saja.

Tak lama kemudian pelayan-pelayan datang membawa makanan dan minuman untuk Raja, Kwan Cu dan tujuh orang pembantu itu dan mereka makan di pinggir telaga sambil menonton pertempuran yang masih saja berjalan ramai itu.

Akhirnya matahari terbenam dan sebagai penggantinya, bulan bertahta di angkasa raya.

Raja Lakayong malu dan menepuk-nepuk lalu merangkul pundak Kwan Cu dengan tangan kirinya sambil berkata.

"Dugaanmu tidak meleset, saudara kecil. Benar saja sampai bulan muncul, belum ada yang kalah. Mereka berdua sama berani dan sama kuat. Sayang sekali mereka harus dihukum."

Kwan Cu tidak menjawab.

Ia tahu bahwa percuma saja apabila dia berkukuh menyatakan bahwa dua orang itu tidak bertempur sesungguhnya.

Ia tahu bahwa Raja ini terlalu jujur sehingga tidak mengerti tentang kepalsuan dan pura-pura, maka tidak dapat pula tidak dapat membedakan pertempuran pura-pura dan pertempuran sesungguhnya.

"Pertempuran terpaksa ditunda sampai besok pagi, dewa bulan tidak suka menyaksikan manusia berkelahi,"

Kata Lakayong yang memberi isyarat dengan tangannya.

Pembantu-pembantunya mendayung perahu besar dan kedua raksasa yang bertempur itu diperintahkan menghentikan dan menunda pertandingan itu untuk diulang kembali besok pagi.

Dua orang raksasa itu kelihatan letih sekali.

Tubuh mereka yang tinggi besar itu penuh peluh sampai berkilauan dan kelihatan lemas.

Mereka dibawa ke pinggir telaga dan Lakayong berkata.

"Besok dimulai lagi pertandingan kalian pada waktu matahari muncul. Sekarang kalian boleh beristirahat."

Raja ini lalu memberi perintah agar dua orang jago ini dihidangi makanan yang lezat kemudian dia mengajak Kwan Cu kembali ke dusun.

Dugaan bahwa Wisang dan Kasang bertanding dengan pura-pura adalah tepat, karena menurut dua orang raksasa muda ini sengaja bertempur dengan main-main, tidak bermaksud saling mengalahkan.

Berbeda dengan kawan-kawannya, dua orang raksasa ini agak lebih cerdik.

Mereka maklum bahwa kalau di antara seorang dari mereka menang dan harus menghadapi Lakayong, tetap saja si pemenang itu akan kalah oleh sang Raja yang kuat itu.

Oleh karena ini mereka berunding dan mendapat akal.

Mereka takkan saling mengalahkan sehingga mereka akan dapat menghadapi Lakayong berdua!

Sementara itu, didalam rumah Raja Lakayong, Kwan Cu bercakap-cakap dengan Raja itu dikawani oleh Liyani.

"Mereka benar-benar mengagumkan, kuat sekali,"

Kata Raja Lakayong.

Kwan Cu merasa tidak ada gunanya dan semenjak tadi memutar otak untuk memecahkan masah itu.

Ia juga merasa ngeri kalau membayangkan betapa dua orang raksasa muda yang kuat itu akhirnya akan menjadi mangsa singa telaga.

"Raja Lakayong, kau bilang sayang sekali kalau sampai dua orang itu tewas, bukan? Mengapa tidak mengampuni dan menggunakan tenaga mereka sebagai pembantu yang cakap?"

"Mengampuni tidak mungkin. Sudah menjadi kebiasaan kami menghukum orang-orang bersalah."

"Bukan mengampuni sama sekali. Maksudku jangan menyuruh mereka bertanding di batu jamur itu, agar kita dapat menyaksikan dari dekat. Mereka harus diberi keinsyafan bahwa kau lebih kuat dari mereka dan kita harus mencari akal untuk menundukkan mereka."

"Bagaimana maksudmu, saudaraku yang baik"

Tanya Lakayong. Begini,"

Jawab Kwan Cu yang sudah merencanakan sebuah akal yang baik.

"Besok pagi suruhlah mereka bertanding di tempat yang terbuka dan kita menyaksikan dari dekat. Yang menang biarlah kulawan sebagai gantimu dan aku akan memberi hajaran kepadanya sampai ia tunduk betul. Atau boleh juga kau turun tangan memberi hajaran. Kalau mereka sudah yakin betul bahwa mereka tiada harapan untuk menangkan kau, kurasa mereka tidak begitu bodoh dan nekat untuk memberontak."

Lakayong mengangguk-angguk menyatakan persetujuannya.

Memang dia sendiri adalah seorang yang berhati penuh kasih sayang terhadap rakyatnya, maka tentu saja dia akan merasa lebih girang kalau saja dapat menyelamatkan nyawa kedua orang raksasa muda itu, sungguhpun kedua raksasa itu sudah pernah berusaha untuk menbunuhnya.

Rakyatnya membutuhkan orang-orang kuat seperti Wisang dan Kasang dan dia akan lebih suka mempunyai mantu di antara kedua raksasa muda itu dari pada pemuda yang lain di antara penghuni pulau itu.

"Baiklah, besok akan kucoba rencanamu itu."

Kemudian mereka berpaling kepada Liyani sambil bertanya.

"Liyani, kau menolak pinangan kedua orang muda itu. Sebetulnya siapakah yang paling baik di antara mereka berdua? Menurut pandanganmu, siapa diantara Wisang dan Kasang? Bagaimana dengan Wisang?"

Biarpun pertanyaan seperti ini yang dilakukan oleh ayahnya di depan orang lain tentu akan membikin malu kepada seorang gadis biasa, namun Liyani tidak merasa malu, bahkan tersenyum manis, lalu menjebirkan bibirnya lalu mengejek.

"Wisang ? Dia orang kasar, aku tidak suka kepadanya."

"Kalau Kasang bagaimana?"

Mendesak ayahnya.

"Dia cukup halus dan baik, akan tatapi..."

Berkata demikian, Liyani mengerling kepada Kwan Cu, membuat hati pemuda cilik ini menjadi berdebar bingung.

"Akan tetapi kenapa?"

Lakayong mendesak pula.

"Dia pernah kalah oleh Ayah. Aku hanya mau menjadi isteri seorang yang lebih kuat dan pandai dari pada kau, Ayah,"

Katanya dengan sikap manja dan kembali gadis ini tersenyum dan mengerling kepada Kwan Cu.

Celaka dua belas, pikir Kwan Cu.

Benar-benar gadis berkepala batu yang pikirannya aneh.

Mana bisa Kasang menangkan Lakayong?

Semua pemuda di pulau itu tak dapat menangkan Lakayong dan sekarang gadis ini bersikap manis kepadanya karena biarpun dia seorang bertubuh kecil, dia telah memperlihatkan kepandaian dan agaknya gadis raksasa ini mengharapkan bahwa dia akan dapat mengalahkan ayahnya!

Adapun Lakayong ketika mendengar jawaban puterinya itu, tertawa bergelak dan berkata.

"Anak bodoh! Agaknya kau tak kan dapat menikah sebelum aku menjadi orang tua dan lemah!"

Liyani tidak menjawab, lalu tak lama kemudian ia meninggalkan ayahnya dan Kwan Cu, berjalan pergi ke kamarnya sambil bernyanyi-nyanyi dengan suara merdu.

"Dia seorang anak baik, seorang gadis yang menjadi kembang di antara rakyatku semua,"

Kata Lakayong memuji puterinya.

"Sayang dia keras kepala. Kalau dia menjadi istri Kasang, tentu dia akan mempunyai seorang putera yang gagah perkasa."

"Biarlah besok kita menundukkan lebih dulu dua orang muda itu dan barulah mencari akal agar supaya puterimu itu suka menerima tunangan Kasang,"

Kata Kwan Cu. Lakayong memandang dengan muka kagum dan bersyukur.

"Agaknya dewa-dewa mengirim kau datang untuk menolong kami, saudara kecil. Biarpun semua akal dan caramu belum dijalankan aku percaya bahwa kau yang telah memperlihatkan kesaktian akan berhasil. Aku berterimakasih kepadamu."

"Tidak apa, Raja Lakayong. Sebaliknya aku pun telah kau terima sebagai tamu dengan sikap yang ramah-tamah. Ini saja membuat aku bersyukur sekali. Kau dan rakyatmu adalah orang-orang jujur, satu sifat yang kukagumi di antara sifat-sifat yang baik, maka aku bersedia untuk membantu kalian."

"Kalau saja aku dapat melakukan sesuatu untuk membalas budimu, aku akan merasa girang sekali, saudara Kwan Cu."

Hampir saja Kwan Cu membuka rahasianya tentang pulau kecil di mana tersimpan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang dicarinya, akan tetapi dia masih sempat menahan lidahnya.

"Memang ada sesuatu yang hendak kutanyakan kepadamu dan mengharap kalau-kalau kau dapat membantuku, akan tetapi biarlah hal itu kutunda dulu dan akan kuceritakan kalau urusanmu ini sudah beres,"

Jawabnya.

Kemudian mereka mengaso.

*** Pada keesokkan harinya, pagi-pagi sekali Kwan Cu sudah bangun dari tidurnya.

Seperti kemarin, dia telah melihat Liyani berada di kamarnya.

Ia merasa menyesal mengapa kamar-kamar besar di rumah ini semuanya tiada pintunya, kalau ada akan ditutupnya rapat-rapat agar jangan ada orang masuk begitu saja.

Melihat seorang gadis berada di kamarnya, biarpun gadis itu seorang gadis raksasa membuat Kwan Cu merasa jengah dan kikuk sekali.

"Nona Liyani, kau sudah berada di sini?"

Tanya Kwan Cu dengan kikuk sekali.

Biasanya dia menyebut tanpa nona segala, akan tetapi pagi hari ini karena merasa jengah dan malu mendapatkan gadis itu di dalam kamarnya, maka tanpa terasa dia menyebut "Nona".

Padahal di dalam bahasa Kuyu tidak terdapat sebutan Nona dana dalam gugupnya dia meyebut "siocia"

Yang berarti Nona.

"Eh, saudara Kwan Cu, apakah artinya siocia?"

Tanya Liyani sambil memandang dengan matanya yang lebar bening.

"Oh, ya, aku lupa. Itu bahasaku, dipergunakan untuk menyebut seorang gadis yang belum menikah,"

Jawabnya. Liyani mengangguk-angguk sambil tersenyum.

"Lucu sekali kedenganrannya. Apa-apa yang ada padamu lucu dan menyenangkan. Melihat cara kau tidurpun kelihatan lucu dan menyenangkan."

Kwan Cu terheran.

"Lucu? Bagaimana sih tidurku?"

Tanyanya ingin tahu.

"Kau tidur begitu anteng seperti... seperti seorang wanita."

"Seperti wanita? Apa maksudmu?"

"Atau seperti seorang anak kecil. Kau tidur berbeda dengan orang laki-laki dewasa di sini. Kau sama sekali tidak mendengkur, bahkan napasmu demikian halus. Seperti anak-anak."

"Hmmm....."

Kwan Cu merasakan kemendongkolannya yang sudah sering kali dia rasakan semenjak dia datang di situ dan merasa dirinya menjadi bahan tertawaan.

"Memang.... Aku masih anak-anak, anak kecil yang tidak ada sifat jantan,"

Katanya dengan sebal sambil melompat turun dari pembaringan yang terlalu panjang dan terlalu lebar untuknya itu.

Ia berdiri dan terpaksa mendongak untuk memandang wajah gadis itu karena kalau mereka berdua berdiri berhadapan, tinggi tubuhnya hanya sampai pada pinggang gadis itu, bahkan lebih rendah lagi!

Liyani dapat merasai suara kecewa dan mendongkol dalam kata-kata Kwan Cu maka sambil tersenyum ia membungkuk dan meraba kedua pundak pemuda ini.

"Tidak, saudara yang baik. Kau sama sekali tidak seperti anak kecil. Kau biarpun keecil sekali, namun gagah dan mengagumkan, bahkan ayah berkata bahwa agaknya kau masih keturunan dewa."

"Gila!"

Kata Kwan Cu makin gemas.

"Akupun tidak percaya,"

Kata Liyani tertawa.

"Kau manusia biasa, hanya dari bangsa yang bertubuh kecil. Akan tetapi kau gagah dan baik, aku suka sekali padamu. Eh, saudaraku yang baik. Menurut perkiraanmua siapakah yang akan menang di antara Wisang dan Kasang?"

"Kau mengharapkan siapa yang menang?"

Tanya Kwan Cu.

Liyani cemberut dan Kwan Cu menjadi geli.

Lenyap kemendongkolannya yang tadi.

Lucu sekali melihat gadis tinggi besar seperti itu masih bersikap manja seperti seorang anak kecil atau seorang gadis manja.

"Belum menjawab pertanyaanku, kau sudah balas bertanya. Jawablah dulu."

Kwan Cu menjawab terus terang.

"Kurasa biarpun ini hari mereka bertanding sehari penuh, takkan ada yang akan kalah atau yang menang. Kedua orang itu agaknya hanya bertanding pura-pura belaka, karena kemarin mereka bertempur di tempat yang agak jauh, maka tidak kentara. Sekarang mereka akan bertanding di lapangan terbuka, tentu akan kelihatan kalau mereka masih berpura-pura."

"Menurut pandanganmu..... siapakah yang lebih baik diantara kedua orang itu?"

Diam-diam Kwan Cu merasa geli dalam hatinya.

Gadis ini sedang melakukan pemilihan dan kepercayaannya kepadanya begitu besar sehingga minta nasehat dan pertimbangannya dalam hal memilih jodoh!

"Hmm.......

Bagaimanakan aku dapat mengatakan hal itu?

Aku belum kenal mereka dan menurut keadaan luarnya, memang mereka itu sama muda, sama tangkas dan sama kuat.

Sukarlah mengatakan yang mana lebih baik."

Katanya terus terang dengan hati-hati.

"Wisang orangnya kasar. Pernah ia akan mengejar dan hendak memaksaku berlaku manis kepadanya,"

Kata gadis itu cemberut.

"Kalau begitu agaknya Kasang lebih menarik hatimu,"

Kata Kwan Cu memancing.

"Memang dia lebih baik dari pada Wisang, akan tetapi sekarang ia pun kelihatan kasar bagiku."

"Apakah ada orang yang lebih baik dan halus dari padanya?"

Kwan Cu memancing karena siapa tahu kalau-kalau ada pemuda lain yang lebih menarik hati gadis aneh ini.

"Semua pemuda di dusun ini kasar-kasar belaka, kalau tidur mendengkur seperti binatang, sikapnya kasar menyakitkan hati, tidak ada yang halus menyenangkan seperti engkau!"

Gadis itu menarik napas panjang.

Kwan Cu terkejut dan merasa kawatir sekali.

Celaka, bagaimanakah pendirian gadis aneh ini?

"Aku kelihatan halus karena aku kecil sekali.

Lihat, aku tidak setinggi pinggangmu."

Liyani menarik napas panjang, nampak kecewa sekali.

"Itulah! Kalau kau mempunyai tubuh sebesar kami, takkan susah payah aku memilih calon jodohku."

Berdebar hati Kwan Cu. Benar benar gila gadis ini, pikirnya dan dia mulai merasa takut berdua saja dengan gadis ini.

"Akan tetapi biarpun kecil kau baik sekali, saudara Kwan Cu. Aku suka kepadamu."

Sambil berkata demikian dengan jari-jari tangannya, gadis itu menyentuh bahu Kwan Cu. Pemuda ini sudah kebingungan, baiknya pada saat itu datang pelayan membawa air pencuci muka dan makanan pagi.

"Baginda menanti di kebun belakang dan orang-orang sudah berkumpul untuk meyaksikan pertandingan,"

Kata pelayan itu.

Setelah pelayan itu keluar, Kwan Cu mencuci muka.

Ia merasa lega sekali ditinggal pergi Liyani, seakan-akan terlepas dari mulut harimau!

Dengan cepat dia makan, kemudian dia pun pergi menuju ke belakang rumah di mana terdapat sebuah kebun yang besar sekali.

Benar saja, di situ banyak orang.

Liyani duduk di dekat ayahnya dan ketika Kwan Cu datang, gadis itu memegang tanganya dan menarik duduk di dekatnya.

Wisang dan Kasang sudah berdiri berhadapan.

Ketika mereka melihat betapa Kwan Cu duduk di dekat Liyani, mereka memandan dengan mata penuh kebencian.

Pemuda cilik ini benar-benar memanaskan perut mereka.

Pertama-tama pemuda cilik itulah yang menggagalkan rencana mereka membunuh Lakayong, kemudian sekarang agaknya pemuda itu hendak merebut hati Liyani.

Akan tetapi mereka tidak dapat terus memandang Kwan Cu, karena Raja Lakayong sudah memberi aba-aba dan keduanya segera mulai pertandingan dengan hebat.

Otot-otot tubuh mereka bergerak-gerak dengan keduanya saling serang bagaikan dua ekor harimau bertarung.

Akan tetapi, belum lama mereka bertanding, tahulah Kwan Cu bahwa benar-benar kedua orang ini main gila dan tidak bertempur sesungguhnya.

Raksasa-raksasa bodoh yang menonton di situ, termasuk raja Lakayong dan puterinya, benar-benar memang kena diakali.

Kwan Cu menjadi gemas sekali dan selagi dia berpikir-pikir dan mencari tahu apakah gerangan maksud kedua orang raksasa muda ini dengan perkelahian pura-pura itu, tiba-tiba kedua orang yang bertarung berhenti.

Wisang menjura kepada Lakayong dan berkata.

"Aku dan Kasang mempunyai kekuatan dan kepandaian yang sama, tak mungkin ada yang kalah atau menang. Karena itu, sudah sepatutnya kalau kami berdua menghadapi raja bersama. Kalau kami kalah, biarlah kami mati di bawah pukulan tangan raja!"

Tahulah kini Kwan Cu akan maksud mereka.

Jadi mereka telah bermufakat untuk tidak merobohkan lawannya agar mereka dapat menghadapi Raja yang kuat itu bersama!

Dalam marahnya Kwan Cu melompat ke tengah lapangan dan berkata dengan suara kaku.

"Kalian ini orang-orang curang dan jahat! Apa kalian aku tidak tahu bahwa kalian sengaja tidak mau menjatuhkan lawan? Kalian tidak sungguh-sungguh bertempur, sengaja hendak mengeroyok Raja yang sudah tua!"

Wisang dan Kasang menjadi pucat dan saling memandang, kemudian mereka menghadapi Kwan Cu dengan mata mendelik.

"Saudara Kwan Cu, kalau mereka ingin menghadapi aku, biarlah. Akan kulawan mereka berdua. Orang-orang ini memang perlu dihajar!"

Kata Raja Lakayong dengan gagah dan dia sudah berdiri dengan tegapnya.

Memang tubuh Raja ini luar biasa sekali, masih sekepala lebih tinggi dari pada dua orang raksasa muda itu, bahkan otot-ototnya lebih besar dan nampaknya kuat sekali.

Semua orang menyatakan pujian kepada mereka yang gagah ini.

Akan tetapi Kwan Cu merasa khawatir.

Dua orang raksasa muda ini dapat menipu mereka, ini menandakan bahwa mereka lebih cerdik dari orang-orang itu.

Siapa tahu kalau-kalau mereka itu sudah mempunyai akal untuk menjatuhkan raja yang biarpun nampak kuat namun jauh lebih tua itu.

"Tidak! Tidak patut dua orang muda mengeroyok orang yang sudah lebih tua."

Wisang menjadi marah sekali. Ia membanting kaki tangannya dan tergetarlah tanah yang diinjaknya saking kuatnya tenaga kakinya ini.

"Jahanam kecil, cacing busuk yang mau mampus! Kau siapakah berani mencampuri urusan bangsa kami? Kau berani membuka mulut, apakah kau berani pula menghadapi kami secara laki-laki yang memiliki keberanian dan kekuatan, tidak seperti perempuan yang hanya bisa mempergunakan mulutnya?"

Panas dada Kwan Cu mendengar hinaan ini. Ia menjura kepda Raja Lakayong sambil berkata.

"Raja Lakayong saudaraku yang baik, perkenankanlah aku menghadapi mereka ini memberi hajaran kepada merreka sebagai wakilmu."

Tanpa menanti jawaban, KwanCu lalu menghadapi dua orang raksasa itu sambil berkata.

"Kalian majulah dan aku akan menghadapi kalian berkelahi dengan sesungguhnya, tidak berpura-pura seperti tadi!"

Wisang tertawa bergelak. Suaranya keras dan parau sehingga menggetarkan anak telinga.

"Huaa-ha-ha-ha! Kau anak kecil kupencet denga ibu jariku saja pasti akan gepeng! Kau menantang kami berdua?"

"Manusia sombong, pantas saja puteri Liyani tidak suka kepadamu, kau kasar dan sombong. Jangankan baru kalian berdua, biarpun kau mengubah dirimu menjadi sepuluh, aku takkan mundur setapak!"

"Setan kecil kau sudah bosan hidup!"

Teriak Wisang dan segera mengerakkan kepalan tangannya yang besarnya seperti kepala Kwan Cu itu, menonjok ke arah kepala pemuda kecil ini.

Akan tetapi Kwan Cu cepat mengelak dan sekali dia melompat sambil mengerakkan kaki, kaki kanannya menyambar ke perut Wisang yang besar.

"Ngekkkk!"

Tubuh Wisang yang besar itu terpental ke belakang dan dia jatuh terduduk sambil kedua tangannya memegangi perut.

"Aduh... aduh... bangsat kecil.... Aduh...."

Ia mengaduh-aduh karena tiba-tiba perutnya merasa mulas sekali.

Semua orang yang menonton termasuk Raja Lakayong sendiri, menjadi melongo dan memandang terheran-heran, tak dapat mengeluarkan ucapan saking herannya.

"Bagus, bagus! Bukankah dia hebat sekali, Ayah?"

Terdengar Liyani bersorak sambil bertepuk tangan.

Suara ini menyembuhkan rasa sakit di perut Wisang.

Raksasa muda ini segera bangkit berdiri lagi dan kedua matanya seakan-akan mengeluarkan sinar berapi.

Giginya berkerot dan kemarahannya memuncak.

Ia memandang kepada Kwan Cu sedemikian rupa sehingga Kwan Cu seakan-akan dia hendak ditelan bulat-bulat oleh raksasa itu.

"Majulah, majulah kalian berdua. Akan kuberi pelajaran bagaimana caranya berkelahi dengan sunguh-sunguh,"

Kata Kwan Cu mengejek.

Sambil menggereng keras, Wisang menubruk maju, diikuti oleh Kasang yang juga merasa penasaran melihat Kwan Cu mengejek mereka.

Akan tetapi, bagaikan seekor burung walet cepatnya, Kwan Cu mengelak dan sekali tubuhnya berkelebat, dia terlepas dari ancaman tubrukan dua orang raksasa itu.

Beberapa kali Wisang dan Kasang menubruk, karena kegemasannya, mereka hendak menangkap dan meremas tubuh yang kecil itu.

Namun dengan sengaja Kwan Cu mengeluarkan kepandaiannya dengan mengandalkan ginkangnya yang sudah tinggi, mudah saja dia mengelak dari semua tubrukan yang dilakukan dengan kuat sekali namun baginya amat lambat itu.

Setelah menubruk berkali-kali hanya mengenai angin saja dan mendengar betapa Liyani menyoraki dan menertawai mereka dan para penonton mulai mengeluarkan seruan pujian, panaslah hati Wisang dan Kasang.

Kedua jago raksasa ini maklum bahwa lawan yang kecil itu gesit sekali sukar untuk ditangkap maka mereka merubah siasat mereka.

Kini mereka tidak lagi menubruk, melainkan menendang dan memukul.

Maksud mereka, sekali saja pukulan atau tendangan mengenai tubuh yang kecil itu, tentu pemuda kecil itu akan terlempar jauh dengan tulang remuk!

Akan tetapi betapa besar tenaga mereka, gerakan mereka amat lamban dan mereka bertempur hanya mengunakan tenaga tanpa mempergunakan otak.

Mana bisa mengenai tubuh Kwan Cu yang sudah menerima latihan Ginkang dari Ang-bin Sin-kai?

Menghadapi serangan-serangan itu Kwan Cu bersilat dengan ilmu silat Pai-bun-tui-pek-to (Mengatur Pintu Menolak Ratusan Golok).

Gerakannya lincah dan gesit dan dengan tertawa-tawaa dia mengejek.

Pemuda ini mengatur sedemikian rupa sehingga dia berada di tengah-tengah dan kedua lawannya berada di kanan kirinya atau kadang-kadang di depan dan belakangnya.

Ia sengaja tidak segera merobohkan mereka.

Kalau dia mau, banyak sekali lowongan untuk memukul roboh dua orang raksasa itu.

Akan tetapi Kwan Cu tidak mau melakukan hal ini.

Ia memang hendak menghajar kedua orang itu agar tunduk betul-betul dan kelak tidak akan menimbulkan keributan lagi menggangu Raja Lakayong yang baik.

Ia mengelak sambil kadang-kadang mengirim pukulan ke arah perut, dagu atau dada, cukup keras membuat dua orang raksasa itu mengaduh-aduh akan tetapi tidak cukup keras merobohkan mereka.

Bahkan dalam kegembiraaannya timbul kenakalan pada Kwan Cu.

Beberapa kali dia melompat tingi dan mengunakan jari tangan untuk menjewer telinga yang lebar, menarik hidung yang besar atau mencubit pipi yang lebar sambil tertawa-tawa.

Di permainkan secara begini dan mendengar suara tertawa Liyani makin geli, ditambah pula surak sorai para penonton dan suara ketawa Raja Lakayong yang merasa kagum, heran dan juga geli, dua orang raksasa muda ini seakan-akan menjadi gila dibuatnya.

"Iblis kecil, akan kuhancurkan kepalamu!"

Kata Wisang geram. Bahkan Kasang yang tidak segalak Wisang, kini sudah menjadi marah sekali dan membentak.

"Setan cilik, ku patahkan batang lehermu!"

"Ha-ha-ha-ha! Mau pecahkan kepala dan batang leher?"

Kata Kwan Cu menghadapi dua orang raksasa yang berada di kanan kirinya sambil tertawa mengejek.

"Ini kepalaku, ini leherku. Pecahkanlah, patahkanlah kalau bisa. Ha-hahaaa!"

Wisang menyergap maju dengan tangan kanan memukul.

Kasang menubruk dengan tangan kanan mencengkeram.

Kwan Cu diam saja berdiri seenaknya, seakan-akan tidak melihat adanya bahaya yang mengancam dari kanan kiri!

Liyani menjerit ngeri, semua menahan napas karena serangan itu sudah dekat sekali.

Agaknya tiada jalan keluar bagi Kwan Cu dan alangkah ngerinya kalau pukulan dan cekikan kedua orang muda itu betul-betul mengenai kepala dan leher pemuda yang kecil itu!

Akan tetapi, ketika dua orang raksasa itu sudah dekat sekali tangannya pada tubuhnya tiba-tiba Kwan Cu tertawa geli dan tubuhnya, berkelebat lenyap dari situ.

Ia telah mempergunakan gerakan yang disebut Tui-teng-kui-cauw (Melompat Mundur Pulang ke Sarang), sebuah cabang dari gerakan Yan-cu-kui-cauw (Burung Walet Pulang ke Sarang).

Kegesitan tubuhnya seperti burung walet saja dan ketika ia tiba-tiba lenyap dari tengah-tengah, kedua orang raksasa itu tiada ampun lagi saling gebuk dengan serunya.

Kepalan tangan Wisang menghantam kepala Kasang, sedangkan tangan kanan Kasang kena mencengkeram jidat Wisang.

"Bluk! Blek!"

Terdengar suara keras, disusul oleh jeritan mereka.

"aduh celaka!"

Keduanya terhuyung-hunyung ke belakang, memegangi kepala dan jidat yang terpukul oleh tangan masing-masing.

Liyani tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perut saking gelinya.

Lakayong tertawa terbahak-bahak dan di antara para penonton lebih ramai lagi, sampai-sampai ada yang tertawa demikian gelinya sehingga dia terjungkal dari batu yang didudukinya!

Dapat dibayangkan betapa marahnya Wisang dan Kasang.

Setelah kepala mereka yang terasa pening berputar-putar itu sembuh, mereka memandang Kwan Cu.

"Nah, begitulah caranya orang berkelahi betul-betul. Tidak seperti tadi hanya pura-pura dan main-main saja,"

Kwan Cu mengejek.

Dua orang muda raksasa itu tanpa berkata apa-apa lalu menyerang lagi, kini makin ganas dan marah.

Inilah yang dikehendaki Kwan Cu.

Makin marah mereka, makin mudahlah baginya untuk mempermainkan mereka dan makin sering kedua orang itu saling pukul dan saling tendang.

Bahkan satu kali Kwan Cu berlaku berani luar biasa.

Ia membiarkan dirinya terpegang oleh Wisang!

Semua menahan napas dan kembali terdengar Liyani menjerit cemas, bahkan terdengar Lakayong berteriak.

"Jangan bunuh dia!"

Akan tetapi tentu saja Wisang menjadi marah sekali tidak mau mendegar larangan ini dan dia bergerak hendak mencekik leher Kwan Cu!

Melihat kesempatan ini, Kasang menubruk maju dan ikut memegang Kwan Cu.

Pendeknya dilihat begitu saja agaknya Kwan Cu sudah tidak ada harapan untuk terlepas lagi.

Akan tetapi, sebenarnya memang pemuda ini segaja membiarkan dirinya terpegang.

Begitu merasa bahwa kedua raksasa itu sudah memeganginya dia cepat bergerak dan kedua kakinya menendang ke atas dengan tubuh terjungkir balik, kaki kirinya menendang kearah mata wisang dan kaki kanan ke arah mata Kasang!

Dua orang raksasa itu memekik kesakitan dan mata kanan mereka telah menjadi biru, sakitnya bukan main!

Untuk sedetik pegangan mereka mengendur karena sebelah tangan mereka otomatis meraba mata yang terluka.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Kwan Cu untuk memberontak dan melepaskan diri, terus melompat pergi.

Kini dengan mata meram, saking sakit dan marahnya, kedua orang muda raksasa itu menubruk maju dan dengan sendirinya ketika dua tangan mereka mencengkeram, mereka saling cekik dan saling cengkeram, mencari lawan sambil mencengkeram dan memukul sekenanya.

Maka benar-benar berkelahilah mereka satu dengan yang lain dan terdengar mereka teraduh-aduh.

Kwan Cu menganggap bahwa permainannya sudah cukup.

Ia melompat ke atas berdiri dengan kaki kiri di pundak Wisang dan kaki kanan di pundak Kasang menjambak rambut ke dua raksasa itu dan mengerahkan tenaga, menarik rambut itu mengadukan kepala mereka satu kepada yang lain.

"Dukkkkkkkk!!"

Dua orang kepala yang besar sekali itu saling tumbuk, disusul oleh jerit mereka.

"Aduuuuuuuh!"

Dan ketika Kwan Cu melompat turun, tubuh kedua orang raksasa itu terputar lalu roboh tak bergerak lagi.

Mereka jatuh pingsan dan kepala mereka ini tumbuh benjol yang besar dan biru!

Ramailah sorak sorai para penonton.

Liyani memandang ke arah Kwan Cu dengan sinar mata yang menakutkan hati Kwan Cu.

Raja Lakayong menghampiri Kwan Cu dan tiba-tiba raja ini berkata.

"Saudara Kwan Cu, cobalah kita bermain-main sebentar!"

Sambil berkata demikian raja ini bergerak memukul ke arah Kwan Cu.

Pemuda ini terkejut sekali.

Pukulan raja ini mendatangkan angin keras tanda bahwa tenaganya besar sekali.

Ia mengelak dan melompat mundur sambil berseru.

"Eh, eh, eh eh, raja Lakayong saudaraku, mengapa kau menyerbuku?"

"Aku kagum melihat kegagahanmu. Puaskanlah hatiku, saudaraku, aku ingin sekali mencoba kepandaianmu sendiri,"

Kata Lakayong sambil menyerang terus dengan cepat.

Gerakan raja ini jauh lebih kuat dan cepat dari pada gerakan kedua orang raksasa muda itu.

Kwan Cu dapat memaklumi isi hati Raja ini.

Sebagai seorang yang menghargai kepandaian dan kegagahan, melihat seorang gagah lain, tentu saja Raja ini menjadi gatal tangan dan belum merasa puas kalau belum menguji kepandaiannya dengan tangan sendiri.

Pendeknya, Raja ini ingin mencoba kepandaiannya atau yang lajimnya di negerinya disebut pibu (mengadu kepandaian)!

Maka Kwan Cu segera melayaninya dengan hati-hati sekali.

Ia menjadi girang ketika mendapat kenyataan bahwa Raja ini telah mentaati pelajarannya dan kini semua pukulan dan tendangannya ditujukan ke arah bagian tubuh yang berbahaya.

Kalau Raja ini yang tadi menghadapi Wisang dan Kasang, ada kemungkinan dua orang raksasa muda itu akan tewas dalam pertempuran.

Pukulan Raja ini keras sekali dan kepala raksasa muda itu agaknya akan pecah jika terkena pukulan dahsyat ini.

Namun, semua gerakan pukulan Lakayong tiada bedanya gerakan Wisang dan Kasang, sama sekali dilakukan dengan ngawur, mengandalkan tenaga saja, sama sekali tidak menuruti teori ilmu berkelahi yang baik.

Karena itu, kalau dia mau Kwan Cu dapat merobohkannya dengan mudah saja.

Akan tetapi dia tidak tega untuk melakukan hal ini, karena kalau mengalahkan Lakayong dengan mudah, sedikitnya akan turunlah penghargaan Raja mereka ini.

Ia sengaja membiarkan dirinya terdesak dan setelah pertempuran berjalan agak lama, cepat sekali dia menggunakan ilmu silat Sin-ci-tin-san, menotok jalan darah thian-hu-hiat dari lawan.

Tiba-tiba Lakayong merasa betapa tubuhnya lemas tak berdaya sama sekali sehingga dia roboh perlahan, Kwan Cu cepat menyusuli dengan totokan lain dan boleh kembalilah kesehatan Raja itu.

Untuk sesaat, Lakayong dapat duduk dengan mata terbelalak heran.

Kemudian dia mengangkat kedua tangan, berdiri dan memeluk Kwan Cu sambil berkata jelas.

"Saudara Kwan Cu hebat sekali. Aku dapat dikalahkan dengan mudah!"

Para penonton terheran-heran, lalu bersorak memuji Kwan Cu.

"Hidup calon raja kita!"

Mereka bersorak-sorak.

Liyani berlari menghampiri Kwan Cu dan tanpa terduga-duga, gadis ini berlutut sehingga tingginya sama dengan Kwan Cu, memeluk dan menciumnya seperti dulu!

Kwan Cu memberontak melepaskan diri dengan muka pucat.

Ia tadi merasa kaget setengah mati karena orang-orang itu menyorakinya sebagai calon raja.

Lebih kaget bukan main ketika Liyani menciuminya dan kekagetannya menjadi-jadi ketika tiba-tiba Liyani yang memegang tangannya berkata keras.

"Dia inilah calon jodohku!"

Mau rasanya Kwan Cu melarikan diri dari tempat itu. Semua kejadian ini membuatnya menjadi bingung setengah mati. Ia lalu berkata kepada semua orang.

"Tidak, tidak! Aku bukan calon raja dan calon jodoh Liyani. Jodohnya adalah Kasang karena Kasang lebih kuat daripada Raja !"

Semua orang terdiam dan melongo. Juga Liyani dan Lakayong. Akan tetapi Kwan Cu berkata.

"Aku tidak mungkin menjadi calon raja karena aku harus pergi dari sini. Dan aku tidak bisa jadi calon jodoh Liyani karena aku....... aku orang kecil, tidak sesuai dengan jodohnya."

"Itu bukan alasan!"

Liyani membantah.

"Hanya dengan alasan yang jujur dari bangsaku aku mau menerima penolakan ini!"

"Alasan jujur yang bagaimanakah?"

"Pertama, kalau kau mau menyatakan bahwa kau membenciku, aku tidak keberatan kau menolakku. Ke dua, hanya kalau kau sudah mempunyai calon jodoh atau bahkan sudah mempunyai jodoh perempuan lain, baru aku mau mencari lain jodoh."

Kwan Cu menjadi makin bingung dan ia menggaruk-garuk bagian belakang telinganya.

Ia berada dalam keadaan yang teramat sulit.

Untuk menyatakan bahwa ia membenci Liyani, selain hal itu tidak sesuai dengan hatinya yang sama sekali tidak membenci gadis raksasa ini, juga amat berbahaya karena tentu semua orang di situ akan memusuhinya.

Untuk mengaku bahwa dia sudah punya calon jodoh atau isteri, tidak mungkin pula.

Akan tetapi, alasan kedua ini sebetulnya lebih ringan dan lebih aman.

Setelah berpikir-pikir dia menjawab tanpa ragu-ragu.

"Aku tidak membencimu, Liyani. Dan aku memang belum punya jodoh. Akan tetapi aku sudah mempunyai calon jodoh, seorang gadis di negeriku."

Tiba-tiba Liyani menangis! Kwan Cu menjadi bingung sekali.

"Jangan berduka, Liyani. Kita tidak cocok menjadi jodoh, aku sudah mempunyai calon jodoh yang besarnya sama dengan aku. Jodohmu adalah pemuda tinggi besar yang gagah seperti Kasang."

"Calon jodohmu itu.... Apakah kau suka kepadanya?"

Tanya Liyani sambil menyusut air matanya.

"Tentu saja, aku...suka sekali padanya,"

Jawab Kwan Cu menelan ludah.

"Dan dia... apakah suka padamu"

"Tentang itu... barang kali dia suka, belum kutanyakan."

"Cantikkah dia?"

"Cantik sekali, yaitu menurut pandangan mataku."

"Siapa namanya?"

Tak disangkanya bahwa Liyani begitu nekat dan terus bertanya dengan teliti. Bagaimana harus dijawabnya? Ia tadi membohong dan kini dia tidak dapat menjawab.

"Siapa namanya?"

Liyani mendesak.

"Namanya...apa perlunya kusebut-sebutkan namanya? Kau takkan mengenalnya."

"Kalau begitu kau bohong!"

Kwan Cu terkejut. Pikirannya diputar-putar dan terbayanglah wajah Bun Sui Ceng murid Kiubwe Coa-li. Agaknya gadis cilik itu saja yang patut menjadi jodohnya.

"Namanya Bun Sui Ceng!"

Akhirnya dia berkata dan mukanya menjadi merah sekali ketika dia berkata demikian. Kembali Liyani menangis makin keras.

"Sekarang tak ada lagi orang yang patut menjadi jodohku, hanya kau yang bisa mengalahkan ayah!"

"Siapa bilang? Kasang bisa mengalahkan ayahmu,"

Kata Kwan Cu yang mendapat siasat baik sekali.

Pada saat itu, Kasang dan Wisang sudah siuman kembai dan mereka ikut mendengarkan percakapan itu.

Mendengar betapa Kasang dipuji-puji oleh Kwan Cu dan hendak dijodohkan dengan Liyani, dia (Wisang) menggereng keras dan tiba-tiba menyerang Kasang!

Serangan itu hebat sekali dan dilakukan selagi Kasang tidak bersiap, maka kalau pukulan yang ditujukan ke arah kepala itu mengenai sasaran, amat berbahayalah bagi Kasang.

Kwan Cu yang melihat hal ini, cepat melompat dan sebelum pukulan Wisang itu mengenai Kasang, tubuh Wisang terpental ke belakang dan dia roboh tak dapat bangun kembali.

Tulang pundaknya telah patah dan biarpun Kwan Cu merasa kasian, namun pukulannya tadi memang dia sengaja dan dia tidak mau mengobati atau menyambung tulang pundaak itu, karena kalau Wisang tidak dibikin cacat, kelak tentu dia akan mengacau lagi.

Kini Wisang biarpun akan sembuh, tenaga tangan kanannya akan lenyap dan dia tidak berbahaya lagi.

Adapun Lakayong yang mendengar omongan Kwan Cu, menjadi heran dan bertanya.

"Saudara Kwan Cu, betul-betulkah Kasang dapat mengalahkan aku?"

"Tentu saja, akan tetapi tidak sekarang, boleh dicoba besok pagi. Dia sekarang menjadi muridku dan dia akan kuberi pelajaran sehari ini."

Setelah Kwan Cu mendapat kesempatan bertemu dengan Lakayong seorang diri, dia menceritakan siasatnya.

Dalam pertempuran tadi, dia mendapat kenyataan bahwa sifat-sifat Kasang memang lebih baik dari pada Wisang dan rencana pembunuhan raja itu pun tentu Wisang yang mengaturnya.

"Liyani suka kepada Kasang, maka harap besok kau suka mengalah pada Kasang agar puterimu suka menerima pinangannya. Kau melakukan ini demi kebahagiaan puterimu, apakah kau tidak suka?"

Tanya Kwan Cu.

Mengertilah Lakayong dan dia mengangguk-angguk.

Kwan Cu sebenarnya tidak memberi pelajaran apa-apa kepada Kasang, hanya nasehat-nasehat agar pemuda ini tidak mengacau lagi dan agar besok menghadapi Lakayong, dia tahu bahwa raja itu sengaja mengalah.

Kasang berterima kasih sekali dan mengaku bahwa dia memang kena bujukan Wisang yang jahat.

Demikianlah atas rencana Kwan Cu yang disetujui dan dibantu pelaksanaannya oleh raja Lakayong dan Kasang, pada keesokkan harinya, bertempat di kebun itu, hanya disaksikan oleh Liyani seorang saja, dilakukan pertandingan antara Kasang dan Lakayong.

Dalam pertandingan yang kelihatan hebat ini namun yang sesungguhnya hanya main-main belaka, akhirnya Raja Lakayong kena ditubruk dan ditangkap oleh sepasang lengan Kasang yang kuat.

Lakayong mencoba untuk melepaskan diri, akan tetapi tidak dapat dan akhirnya mengaku kalah sambil berkata.

"Ah,benar-benar setelah menjadi murid saudara Kwan Cu kau hebat sekali, Kasang. Aku menerima kalah!"

Kasang lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Rajanya dengan wajah berseri.

"Mohon ampun sebanyaknya atas segala kedosaanku,"

Katanya.

"Dalam kesempatan ini untuk kedua kalinya kuulangi pinanganku terhadap Liyani."

Lakayong berpaling kepada puterinya.

"Liyani, kau sudah mendengar sendiri pinangan Kasang yang gagah perkasa. Nah, seperti biasa terserah kepadamu keputusannya."

Terdengar sedu sedan di leher gadis itu.

"Terserah kepada ayah saja aku hanya menurut."

"Bagus! Kasang, calon menantuku, kami menerima tunanganmu!"

Kata Raja itu gembira sekali.

Liyani memandang kearah Kwan Cu lalu menangis dan berlari pergi.

Kwan Cu menghaturkan selamat kepada Kasang dan Lakayong dan kedua orang itu sebaliknya tiada hentinya mengucapkan terima kasih mereka, karena dengan akal dan siasat Kwan Cu belaka maka gadis yang keras kepala itu dapat ditundukkan.

"Sekarang aku mohon diri hendak melanjutkan pelayaranku,"

Kata Kwan Cu. Lakayong mengerutkkan kening.

"Kalau mungkin, kami tidak ingin berpisah denganmu lagi, saudaraku yang baik. Akan tetapi kalau kami memaksa, itu tidak adil namanya. Kau hendak pergi kemanakah?"

"Aku hanya ingin berkelana saja dan aku mendengar ada sebuah pulau kecil bundar yang ditumbuhi pohon-pohon berdaun putih. Tahukah kalian tentang pulau itu dan di mana letaknya?"

Lakayong dan Kasang memandang dengan mata terbelalak lebar.

"Apa?"

Seru Raja raksasa itu.

"Kau hendak mencari pulau bayangan?"

Kwan Cu memandang heran."Pulau bayangan? Apa maksudmu? Aku hanya mendengar bahwa pulau itu kecil, berbentuk bundar dan ditumbuhi pohon-pohon berdaun putih. Tahukah kalian akan pulau itu?"

"Benar, yang kaumaksudkan tentu Pulau Bayangan! Saudaraku yang baik harap kau batalkan saja niatmu itu. Kami sudah sering kali berperahu di sekitar kepulauan ini dan sering kali tiba-tiba melihat pulau yang kau maksudkan itu. Akan tetapi apabila kami mendekatinya, tiba-tiba dia menghilang! Pulau itu aneh dan jauh dan kami mengambil kesimpulan bahwa pulau itu tentu bukan berada di sekitar sini, melainkan berada di seberang laut jalan maut."

"Di manakah laut jalan maut itu? Aku akan mencari ke sana."

Kasang mengeluarkan seruan kaget, dan Lakayong menjadi pucat.

"Jangan, saudara Kwan Cu. Jangan sekali-kali kau melintasi batas laut itu. Sudah banyak saudara-saudara kami tewas di sana. Laut itu adalah batas yang tak boleh dilalui manusia, di situ banyak terdapat keajaiban yang merupakan tangan maut. Siapapun juga tak mungkin dapat melalui batas itu. Lebih baik kau mengunjungi pulau-pulau kosong yang banyak terdapat di sekitar sini."

"Tidak, Raja yang baik. Aku akan mencobanya, betapapun besar bahaya yang akan aku hadapi."

Lakayong menarik napas panjang.

"Kau orang aneh, mungkin kau akan berhasil menjelajahi pulau itu. Akan tetapi hati-hatilah, memang benar-benar berbahaya sekali di daerah itu. Aku sendiri pernah mencobanya, namun terpaksa aku kembali setelah tiba di batas laut itu. Bukan main ganasnya. Letaknya di sebelah timur pulau kami ini, tepat dari mana matahari muncul."

"Terima kasih dan selamat tinggal, Raja Lakayong, dan kau juga, saudara Kasang. Yang baik-baiklah kau menjaga Liyani."

Setelah berkata demikian Kwan Cu lalu pergi ke pantai mencari perahunya, diikuti oleh Lakayong dan Kasang.

Ketika penduduk mendengar tentang kepergian Kwan Cu, berbondong-bondong mereka mengantar sampai ke pantai.

Akan tetapi di antara sekian banyaknya orang, tidak nampak bayangan Liyani.

Kwan Cu menurunkan perahunya di air dan dia telah menerima dua buah dayung yang baik dari Raja Lakayong sebagai pengganti dayungnya ketika perahunya diserang oleh taufan beberapa hari yang lalu.

Orang-orang di pantai melambaikan tangan, Raja Lakayong menghapuskan dua butir air mata yang menitik turun ke atas pipinya.

Semua orang terharu, terutama sekali Lakayong dan Kasang yang sudah merasa betapa besar jasa pemuda kecil itu bagi mereka.

"Selamat tinggal, saudara-saudaraku yang baik. Kita yieee.... (selamat tinggal)....."

Kata Kwan Cu sambil mendayung perahunya ke timur.

Karena dia mempergunakan tenaga, maka sebentar saja dia meninggalkan pulau besar yang mendatangkan pengalaman-pengalaman aneh kepadanya itu.

Tiba-tiba terdengan seruan suara nyaring.

"Saudara Kwan Cu...!"

Kwan Cu menoleh dan alangkah herannya ketika dia melihat sebuah perahu layar besar yang dikendarai oleh.... Liyani! "Eh, kau Liyani. Hendak pergi kemanakah kau?"

Tanyanya heran.

"Aku sengaja menantimu di sini, aku hendak pergi bersamamu!"

Baiknya Kwan Cu ingat bahwa dia berada di dalam perahu, kalau tidak tentu dia akan melompat ke belakang dan berjungkal ke dalam air saking kagetnya.

"Ikut pergi bersamaku?? Kau gil.....eh, apa maksudmu?"

"Kau telah menipuku! Apa kau kira aku tidak tahu bahwa dalam pertandingan antara ayah dan Kasang, ayah sengaja berlaku mengalah dan semua itu adalah rencanamu belaka? Kau menghendaki dan memaksa aku menerima Kasang sebagai jodohku mengapa?"

Kwan Cu menelan ludah.

Hebat benar gadis ini, pikirnya.

Ia mendekatkan perahunya ke perahu besar Liyani, mengikatkan tali di kepala perahu gadis itu, lalu melompat masuk ke dalam perahu besar, berdiri menghadapi gadis raksasa itu.

"Dengarlah baik-baik, Liyani. Tuduhanmu tadi kuterima dan aku minta maaf. Memang aku sengaja melakukan hal itu. Ketahuilah. Kau tidak mungkin ikut dengan aku. Kita tidak sesuai dan di negeriku, kau hanya akan menjadi tontonan dan buah tertawaan seperti ketika aku berada di pulaumu, bahkan kau akan mengalami gangguan-gangguan yang tidak mengenakkan hati. Aku memang ingin melihat kau menjadi isteri Kasang, karena dia pemuda baik dan cocok menjadi jodohmu. Apa lagi, ayahmu pun menghendaki demikian. Adapun aku....sudah kukatakan bahwa aku mempunyai calon jodohku sendiri."

"Bun Sui Ceng....??"

Kwan Cu tertegun. Nama gadis murid Kiu-bwe Coa-li itu malah masih teringat oleh Liyani! Apa boleh buat, ia menganggung membenarkan.

"Kau tidak bohong?"

Kwan Cu menggeleng kepala.

"Berani kau bersumpah?"

Kwan Cu melongo.

"Bersumpah? Bersumpah bagaimana?"

"Bersumpah bahwa kau benar-benar suka kepada gadis yang bernama Bun Sui Ceng itu, bahwa kau benar-benar menghendaki dia menjadi jodohmu."

Kwan Cu menjadi bingung sekali.

Ia mencoba untuk membayangkan wajah Sui Ceng yang manis dan tergeraklah hatinya.

Mengapa tidak?

Sui Ceng merupakan gadis yang memang disukanya, tidak saja gadis itu memang baik terhadapnya, bahkan ibu gadis itu, yakni Pek-cilan Thio Loan Eng, adalah manusia pertama yang berlaku baik kepadanya.

"Aku bersumpah bahwa aku suka kepada Bun Sui Ceng dan bahwa aku menghendaki ia menjadi jodohku."

Kata Kwan Cu dan ketika dia mengucapkan kata-kata ini, dia berlaku sungguh-sungguh. Liyani menangis. Lalu gadis ini berdiri dengan muka menengadah ke langit dan kedua tangannya di pentang lebar.

"Dengarlah, dewa awan, dewa matahari dan dewa laut. Kalian menjadi saksi atas sumpah saudara Kwan Cu! Kalau dia melanggar sumpahnya, biarlah kalian yang menghukumnya dan biarlah saudara Kwan Cu selama hidupnya takkan mendapat jodoh!"

Suara gadis ini demikian menyeramkan sehingga Kwan Cu merasa bulu tengkuknya berdiri.

"Kau terimalah ini sebagai tanda mata dariku. Selama hidup aku takkan melupakanmu saudara Kwan Cu."

Biarpun bagi Liyani tusuk konde itu kecil saja, namun bagi Kwan Cu merupakan benda sebesar pisau belati. Ia menerimanya dan berkata dengan terharu.

"Terima kasih, Liyani, dan akupun takkan melupakanmu, takkan melupakan kau, ayahmu, dan semua orang yang berada di atas pulaumu."

Setelah berkata demikian, Kwan Cu melompat kembali ke dalam perahunya, melepaskan ikatan dan mendayung perahunya, terus ke arah timur.

Ketika dia menengok, dia melihat Liyani masih berdiri di perahunya sambil memandang ke arahnya.

Dilihat dari jauh, Liyani tidak kelihatan besar lagi, melainkan nampak sebagai dara biasa yang bertumbuh tunggi semampai pinggang ramping dan bentuk tubuh yang indah.

Kwan Cu melambaikan tangan, di balas oleh Liyani dan pemuda ini menghela napas panjang lalu mendayung cepat perahunya tanpa menoleh lagi.

*** Kwan Cu terus mendayung perahunya dengan cepat menuju ke timur.

Matahari telah naik tinggi melewati kepalanya.

Ia melihat pulau-pulau yang gundul di sebelah kiri, akan tetapi ia tidak mau mendarat.

Ingin dia segera tiba di daerah laut maut yang diceritakan oleh Lakayong.

Akan tetapi, dia melihat laut yang amat tenang dan yang agaknya tidak ada batasnya itu.

Kalau dia melihat ke timur, yang nampak hanyalah air belaka dan jauh di sebelah timur air laut bertemu dengan kaki langit sehingga sukar dibedakan mana batasnya, karena warna laut dan langit hampir sama.

Malam tiba dan baiknya bulan purnama muncul berseri.

Kwan Cu terus saja mendayung dan akhirnya karena lelah, menjelang tenggah malam setelah bulan purnama naik tinggi, dia tidur pulas di dalam perahu membiarkan perahunya itu berdiam tak bergerak di atas air yang tenang.

Untung baginya bahwa tadi orang-orang di pulau raksasa memberi bekal kue manis yang besar sekali kepadanya, sebesar dua kepalanya, sehingga tidak menderita kelaparan.

Untuk minumnya, diapun telah membawa bekal seguci minuman yang rasanya wangi dan tawar, tidak seperti arak namun dapat menghangatkan perut.

Kwan Cu tertidur sampai lama sekali.

Ia baru sadar ketika perahunya bergoyang-goyang.

Ketika dia membuika matanya ternyata bulan purnama sudah lenyap dan sebagai gantinya, matahari mengintip di kaki langit sebelah timur, memancarkan cahaya kemerahan yang menimbulkan pemandangan indah sekali.

Namun Kwan Cu tak mungkin dapat menikmati keindahan alam itu karena ketika dia melihat ke bawah, ke pinggir perahunya untuk mengetahui mengapa perahunya bergoyang-goyang, dia terkejut bukan main.

Di sekeliling perahunya kelihatan banyak sekali ikan besar-besar, sebesar perahunya, berenang ke sana ke mari dan setiap kali tubuh ikan melanggar perahunya, perahu itu bergoyang-goyang!

"Celaka..."

Pikir Kwan Cu.

Ikan itu banyak sekali dan kalau dia mengunakan dayung memukul dan mengusir, tentu ikan itu akan marah.

Kalau sampai ikan-ikan itu menyerbu perahunya, akan celakalah dia.

Juga untuk mendayung perahu tak mungkin karena dayungnya tentu akan melanggar tubuh ikan yang terdekat.

Keadaannya seperti seekor domba yang dikurung oleh puluhan ekor harimau yang siap menerkam setiap saat.

"Celaka, bagaimana baiknya sekarang?"

Kwan Cu diam saja sambil duduk di dalam perahunya, memegang dayung siap akan memukul ikan yang akan menyerbu perahunya.

Akan tetapi ikan-ikan itu hanya berenang ke sana ke mari, kadang-kadang sengaja menyenggol perahu sehingga perahu itu bergoyang-goyang hampir terbalik.

"Kurang ajar, mereka sengaja mempermainkan aku,"

Pikir Kwan Cu.

Teringatlah dia akan daun Liong-cu-hio yang berada di dalam bungkusan kainnya.

Ia teringat ketika Liok-te Mo-li, nenek yang aneh itu memberi bekal daun-daun ini kepadanya, nenek itu berkata bahwa kalau dia diserang dan diancam oleh ikan-ikan buas dia dapat mempergunakan daun-daun itu untuk menyelamatkan diri.

Dengan perlahan dia membuka bungkusannya membasahi kedua tangan dengan air laut, lalu mengambil dua helai daun itu.

Ia merasa heran sekali daun-daun itu sama sekali tidak mengering, masih segar seperti ketika habis dipetik.

"Mudah-mudahan Liok-te Mo-li tidak berbohong,"

Pikir Kwan Cu dan dia melemparkan sehelai daun ke kanan dan sehelai pula ke kiri sambil mengerahkan tenaga.

Daun-daun itu meluncur dan jatuh di air.

Setelah tiba di air dan terapung, daun-daun itu bergerak-gerak seperti benda hidup.

Kwan Cu tidak heran melihat ini, karena dulu pun sudah melihat betapa daun-daun itu bergerak-gerak setiap kali tersentuh sesuatu.

Ia memandang penuh perhatian dan harapan.

Maka terjadilah sesuatu yang amat hebat.

Seekor ikan yang berada paling dekat dengan daun itu, tadinya tidak mengacuhkannya sama sekali, akan tetapi begitu daun itu bergerak-gerak dia cepat menyambar dan menelannya.

Akan tetapi, begitu daun itu tertelan olehnya, seketika itu juga tubuhnya terapung dalam keadaan mati!

Perutnya yang putih itu nampak tersembul di permukaan air.

Sudah menjadi kebiasaan liar dari ikan-ikan itu, apabila melihat seekor ikan lain mati, mereka segera menyerbu untuk makan dagingnya.

Akan tetapi, tiap kali ikan menggigit segumpal daging dari ikan yang mati itu, ikan ini pun terapung dalam keadaan mati pula!

Namun ikan-ikan itu bodoh sekali dan yang lain-lain serentak berpesta, menyerbu yang sudah mati sehingga sebentar saja air penuh dengan bangkai ikan.

Kwan Cu bergerak memandang ke belakangnya dan di sebelah kiri perahu dia meyaksikan pemandangan yang sama.

Di situpun ikan-ikan berpesta pora, yang hidup menyerbu yang mati untuk terkena bisa daun Liong-cu-hio sehingga menjadi bangkai pula tanpa dapat menggelepar lagi.

"Hebat...!"

Kwan Cu berseru dengan hati ngeri.

Ia bergidik melihat betapa bangkai ikan makin banyak saja terapung di permukaan laut.

Agaknya semua ikan di tempat itu akan mati terkena bisa yang jahat.

Kini tahulah dia akan arti ucapan Liok-te Mo-li bahwa dia akan menyaksikan "pesta"

Yang mengembirakan kalau melemparkan daun itu ke laut.

Kwan Cu segera mendayung perahunya cepat-cepat, pergi dari tempat itu.

Ia merasa ngeri, juga merasa malu kepada diri sendiri.

Ia anggap perbuatannya tadi rendah dan pengecut.

Kalau dia tahu bahwa akibat daun itu akan demikian hebat, tentu dia akan mencari jalan lain untuk menyelamatkan diri dari keadaannya yang terancam tadi.

"Aku takkan mempergunakan daun-daun iblis lagi,"

Pikirnya.

"Terlalu keji"

Dengan cepat dia mendayung perahunya ke arah matahari yang mulai nampak di permukaan laut sebelah timur.

Ia mendayung perahunya cepat sekali, namun belum juga kelihatan adanya pulau di sebelah sana, bahkan dia tidak melihat adanya lautan yang disebut jalan maut itu.

Apakah ikan-ikan itu yang dianggap berbahaya oleh Lakayong?

Tak mungkin, pikirnya.

Sungguhpun ikan-ikan tadi baginya besar sekali dan membahayakan perahunya, namun bagi Lakayong dengan perahunya yang besar, ikan-ikan itu hanya merupakan ikan-ikan kecil saja yang tak mengancam keselamatan perahu raksasa itu.

Sehari penuh dia mendayung dan pada malam harinya dia tertidur lagi di dalam perahu, membiarkan perahunya terapung di atas air yang masih tenang.

Pada keesokkan harinya, dia mendegar suara mendesis-desis seperti mendengar ada ribuan ekor ular menyerangnya.

Kwan Cu terbangun dari tidurnya dan melihat bahwa matahari telah naik agak tinggi dari permukaan laut sebelah timur.

Ia memandang ke kanan kiri dengan heran tidak tahu apakah yang menimbulkan suara mendesis itu.

Tiba-tiba dia melihat awan atau uap hitam yang bergerak mendatang dari arah utara menuju ke tempat di mana perahu berada.

Makin lama uap itu makin besar dan sebagian uap menutup matahari sehingga pandangan mata pemuda itu menjadi gelap.

Kemudian dia melihat sesuatu yang mengejutkan hatinya.

Beberapa ekor burung laut beterbangan ketakutan dan di antaranya ada yang terbang menerjang uap itu, lalu jatuh dalam keadaan hangus!

Bukan main kagetnya.

Suara mendesis-desis makin keras dan ternyata bahwa suara itu keluar dari asap atau uap hitam ini.

Uap ini melayang di atas permukaan laut hanya kurang lebih dua kaki dari atas kaki, seakan-akan ada hawa air laut yang menahannya.

Ketika uap hitam itu sudah dekat degan perahunya, Kwan Cu mengerakkan dayungnya menyentuh uap, segera menjadi hangus ujungnya!

Pemuda ini kaget setelah mati dan cepat dia menjerembab di dalam perahu, bertiarap sehingga tubuhnya menempel pada perahu dengan telungkup.

Kemudian semua menjadi gelap karena uap itu telah melayang diatas perahunya.

Kwan Cu mengatur napas dan mengarahkan lweekangnya untuk melawan hawa napas ini.

Suara mendesis-desis membisingkan telinganya dan membuat kepalanya pening.

Akhirnya suara mendesis menjauh tak lama kemudian suara itu lenyap, hawa panas pun lenyap.

Baru Kwan Cu berani membuka mata dan menggerakkan leher menengok ke atas.

Udara bersih dan ternyata bahwa uap hitam yang mengerikan itu telah lewat.

Baiknya uap itu melayang agak tinggi dari permukaan laut, kalau lebih rendah tentu perahunya akan hangus, berikut tubuhnya.

Setelah yakin bahwa tidak ada bahaya lagi, Kwan Cu duduk dan pada saat itu juga dia merasakan getaran yang luar biasa hebatnya pada perahu yang didudukinya.

Kiranya perahu ini terpegang oleh gerakan air yang luar biasa kuatnya dan Kwan Cu melihat sesuatu yang amat ganjil.

Air laut yang dimasuki oleh perahunya itu bergerak mengalir dengan kekuatan yang dasyat sekali.

"Inilah agaknya batas yang disebut jalan maut itu,"

Pikir Kwan Cu dengan hati berdebar.

Akan tetapi ketabahan dan ketenangannya tidak lenyap.

Ia mencoba sedapat mungkin dengan keduanya untuk menahan perahunya supaya tidak terbalik.

Dengan memukul dan menekan ke kanan kiri perahu, dia berhasil menjaga keseimbangan berat perahunya di bawa hanyut cepat sekali oleh aliran air itu.

Memang amat aneh.

Di laut yang kelihatan begitu tenang, bagaimana ada semacam sungai banjir?

Entah ke mana perahunya dihanyutkan, Kwan Cu tidak ingat lagi.

Ia bekerja keras menjaga agar perahunya tidak terbalik dan perahunya meluncur bukan main cepatnya, jauh lebih cepat daripada kalau dia mempergunakan tenaga.

Hal ini dapat dia rasai pada sambaran angin dari depan.

Juga ketika ada air yang terkena pukulan dayungnya memercik ke atas mengenai lengan dan mukanya, dia merasa betapa air itu dingin sekali seperti salju!

Sampai matahari tenggelam, masih saja perahunya terbawa hanyut dengan kecepatan yang makin lama makin pesat.

Ia melihat pulau-pulau kecil di kanan kiri, agak jauh, dan penglihatan ini menambah kenyataan betapa cepatnya air mengalir itu membawa perahunya.

Akan tetapi, alangkah herannya ketika dia melihat bahwa "sungai"

Yang tidak kelihatan ini agaknya memutari pulau-pulau itu.

Tak lama kemudian, malam tiba dan cahaya bulan tak cukup terang sehingga pulau-pulau kecil itu pun lenyap tak dapat terlihat lagi.

Semalam itu masih terus bekerja.

Ia tak berani mengurangi tenaganya karena sekali saja dia melepaskan dayung, perahunya mungkin akan terbalik dan kalau hal ini terjadi, berbahayalah keadaannya.

Tubuhnya sudah terasa letih sekali, bukan hanya pengerahan tenaga sehari semalam tanpa ada hentinya, juga karena dia tidak mendapatkkan kesempatan untuk mengisi perut sama sekali.

"Celakalah kali ini,"

Pikir Kwan Cu.

"Kalau terus menerus begini, sampai berapa lama aku dapat bertahan?"

Menghadapi keadaan yang berbahaya ini, Kwan Cu teringat akan nasehat Lakayong.

Benar juga rakasasa itu.

Daerah inilah yang disebut daerah maut, atau jalan maut, karena memang luar biasa berbahayanya.

Baru perjumpaan dengan uap berbisa tadi saja sudah amat berbahaya, dan sekarang terdapat aliran air yang begini dasyat.

Menjelang pagi, tenaga Kwan Cu sudah mulai lemas.

Hampir-hampir dia tak dapat menahan lagi.

Akan tetapi, tiba-tiba perahunya tidak begitu laju lagi dibawa hanyut, tanda bahwa tenaga aliran sungai yang tidak kelihatan itu mengecil.

Ketika dia memandang ke depan dalam suasana pagi yang masih suram, dia tahu mengapa terjadi hal itu.

Kirannya di depan membentang panjang pulau-pulau kecil yang hitam, dan tentu aliran itu tertahan oleh pulau-pulau sehingga buyar tenaganya dan perahunya pun terlepas dari pegangan aliran itu.

Dengan mengarahkan sisa tenaganya, Kwan Cu mendayung perahu ke kiri dan akhirnya dia berhasil melepaskan perahu sama sekali daripada aliran air yang mulai melemah itu.

Ia membiarkan perahunya terapung dan ketika dia memandang ke kanan, kini nampaklah aliran sungai itu, agak kekuning-kuningan di antara air laut yang biru, yakni air laut yang tenang dan diam.

Kwan Cu mengeleng-geleng kepala.

Benar-benar suatu yang aneh sekali.

Dari manakah timbulnya air kuning itu yang begitu saja muncul di tengah laut?

Apakah dari dasar laut muncul sumber air itu?

Ah, alangkah hebat, berkuasa, dan aneh adanya alam ini, yang bagi tangan Thian merupakan permainan kecil belaka.

Hal pertama-tama dilakukan oleh Kwan Cu adalah minum air minuman manis yang masih ada sisanya, kemudian dia makan sisa kuenya yang mulai mengeras dan kurang enak.

Tangannya gemetar, tanda bahwa urat-uratnya sudah amat letih.

Sementara itu, matahari mulai naik tinggi dan pulau-pulau yang masih menahan aliran air kuning dan yang menyelamatkannya itu mulai kelihatan.

Hati pemuda ini berdebar.

Apakah pulau bundar kecil yang dicarinya itu berada diantara pulau-pulau itu?

Siapa tahu kalau memang Im-yang Bu-tek Cin-keng benar-benar berada di atas sebuah di antara pulau-pulau itu, pikirnya penuh harapan.

Ia mulai mendayung perahunya mendekati pulau-pulau itu, hendak menyelidik dan mencari-cari apakah di situ terdapat pulau yang di tumbuhi pohon-pohon berdaun putih.

Akan tetapi dia merasa tangannya lelah, tidak kuat lagi untuk mendayung lama-lama.

"Aku harus beristirahat dulu, harus tidur. Akan tetapi tidur di dalam perahu amat berbahaya, jangan-jangan perahuku akan hanyut pula ketika aku sedang tidur."

Mengigat ini, hatinya menjadi ngeri dan Kwan Cu mengerahkan tenaga untuk mendayung perahu itu ke arah sebuah pulau terdekat agar dia dapat tidur di darat.

Pulau itu kecil saja, akan tetapi ternyata merupakan sebuah pulau yang subur, dengan pohon-pohon kecil kehijauan.

Kwan Cu tidak ada tenaga lagi untuk menyelidiki keadaan pulau itu, karena tubuhnya sudah amat letih.

Setelah dia menyeret perahu ke darat, dia lalu menjatuhkan diri di atas rumput dan sebentar saja pulaslah dia!

*** Kwan Cu yang sedang tidur pulas itu tidak tahu bahwa menjelang tengah hari, sebuah perahu yang kecil sekali mendarat di pesisir itu dan dari perahu itu melompat keluar dua orang gadis yang gesit sekali gerakannya.

Dua orang gadis muda ini cantik-cantik sekali, pakaiannya terbuat daripada semacam sutra halus yang mencetak bentuk tubuh dengan ketat.

Rambut mereka diikat ke belakang, rambut yang hitam dan bergoyang-goyang di belakang panggung.

Dua orang gadis cantik ini berlari-lari, akan tetapi tiba-tiba memandang ke arah perahu Kwan Cu dengan mata terbelalak dan kulit muka mereka yang kemerah-merahan dan halus itu, tiba-tiba menjadi pucat sekali dan keduanya berdiri terpaku pada tanah yang mereka injak, seakan-akan telah berubah menjadi dua patung batu yang indah.

Kemudian mereka lalu bicara perlahan sambil mencabut pedang dari belakang punggung, siap menghadapi segala macam bahaya.

Gerakan mereka lincah dan cepat sekali, sehingga pencabutan pedang itupun hampir tak dapat diikuti oleh pandangan mata saking cepatnya.

Kemudian mereka berlompat-lompatan ke arah perahu yang tadi ditarik ke darat oleh Kwan Cu.

Setelah mereka tiba di dekat perahu, barulah dapat dimengerti mengapa mereka menjadi begitu kaget dan kelihatan takut.

Ternyata bahwa kedua orang gadis itu kecil sekali setelah berada di dekat Kwan Cu yang kelihatan besar bukan main.

Dua orang gadis itu kelihatan seperti anak-anak berusia lima enam tahun, padahal melihat bentuk tubuh dan wajah mereka, tentu mereka telah berusia sedikitnya tujuh belas tahun!

"Perahu raksasa!"

Kata seorang di antara mereka yang mempunyai tanda hitam seperti titik pada pipi kanannya dan yang menambah kemanisan wajahnya.

Gadis ke dua memandang ke kanan kiri, dan tiba-tiba menjerit perlahan sambil menudingkan telunjuknya ke arah tubuh Kwan Cu yang masih tidur pulas di bawah sebatang pohon kecil.

Gadis dengan tahi lalat di pipinya menengok sambil melompat seperti seekor burung walet membalikkan tubuh, dan ia pun mengeluarkan jerit tertahan.

Bagi mereka, tubuh Kwan Cu kelihatan besar sekali, seperti seorang raksasa!

Keduanya bicara perlahan dan dengan gerakan cepat akan tetapi ringan sekali, dua orang gadis itu berlari-lari menghampiri Kwan Cu dengan pedang siap di tangan.

Biarpun kecil tubuh mereka, namun mereka mempunyai ketabahan besar, karena kini mereka berani menghampiri raksasa itu sama sekali tidak melarikan diri ketakutan.

Hal ini tidak mengherankan kalau kita mengetahui siapa adanya dua orang gadis itu.

Mereka ini adalah dua orang puteri raja yang sudah meninggal dunia dari suku bangsa katai yang hidup di sebuah di antara pulau-pulau di daerah itu, dan kedua orang gadis ini sekarang dianggap sebagai pemimpin mereka, karena di antara mereka, dua orang gadis ini di anggap sebagai orang-orang yang memiliki kepandaian paling tinggi.

Ini dapat di buktikan dari gerakan mereka yang benar-benar ringan dan cepat sekali, seakan-akan mereka mempunyai sepasang sayap seperti burung yang gesit sekali.

Ketika mereka tiba di dekat Kwan Cu yang masih tidur pulas saking lelahnya, gadis bertahi lalat di pipinya mencabut keluar sehelai sapu tanggan merah dari balik baju di dadanya, sedangkan gadis ke dua lalu menurunkan tali temali yang seperti sebuah jala ikan dari punggungnya.

Biarpun ia sedang tidur pulas, kalau sekiranya yang datang mendekatinya itu orang-orang biasa, agaknya Kwan Cu akan mendengar juga karena telinganya telah terlatih baik.

Akan tetapi yang datang adalah dua orang gadis yang memiliki ilmu meringankan tubuh luar biasa sehingga daun-daun kering yang mereka injak pun tidak menimbulkan suara apa-apa.

Hal ini bukan karena hanya ilmu mereka sudah tinggi, akan tetapi juga karena mereka memakai sepatu yang bahannya lemas dan empuk sekali.

Gadis bertahi lalat di pipinya itu dengan gerakan cepat lalu meloncat ke dekat kepala Kwan Cu yang kelihatan besar sekali dan sekali ia mengerakkan tangan, sapu tangan merah itu melayang dan menyambar muka Kwan Cu.

Pemuda ini merasa bahwa ada sesuatu yang halus menutupi mukanya.

Ia cepat membuka matanya, akan tetapi dari sapu tangan merah ini keluar keharuman luar biasa yang membuat dia tidak kuasa membuka mata saking mengantuknya dan dalam sekejap dia tertidur pulas kembali!

Gadis kedua yang berwajah gembira, cepat bergerak, melemparkan jalanya menyelimuti tubuh Kwan Cu.

Dengan gerakan cekatan ia lalu membelit tubuh Kwan Cu dengan jala itu mengikat sana sini dan sebentar saja dibantu oleh gadis pertama, tubuh Kwan Cu sudah terbungkus jala itu dan kelihatan seperti seekor ikan besar masuk ke dalam jala yang kuat!

"Pergilah kau memanggil kawan-kawan untuk membawa raksasa ini pulang,"

Kata gadis bertahi lalat kepada adiknya.

Gadis ke dua sambil tertawa-tawa gembira lalu meloncat dengan cepat dan berlari-lari ke arah perahunya dan berlayar pergi.

Adapun gadis pertama lalu duduk di dekat Kwan Cu, memeriksa bungkusan besar dari Kwan Cu yang tadi oleh pemuda itu diletakkan di dekatnya.

Ia membuka bungkusan itu dengan wajah tertarik.

Wajahnya yang cantik kemerah-merahan, rambutnya bergerak ke kanan kiri ketika ia dengan susah panyah membuka bungkusan yang berat itu.

Akhirnya ia dapat membuka bungkusan dan setiap lembar pakaian Kwan Cu diperhatikannya dengan baik-baik, karena bahan pakaian itu sangat asing dan kasar baginya.

Ketika melihat bungkusan kuning, ia membukanya.

Bungkusan itu adalah bungkusan daun Liong-co-hio yang berbahaya!

Akan tetapi ketika membuka bungkusan itu, gadis itu segera melompat kaget sambil mengeluarkan suara keras.

Di cabutnya saputangan merah yang tadi yang berhasil menidurkan Kwan Cu, lalu kedua tangannya digosok-gosokkan kepada saputangan itu.

Setelah menyimpan kembali saputangannya, ia duduk dan memegang daun-daun itu!

Sungguh mengherankan, daun yang dapat menghanguskan setiap tangan orang yang menyentuhnya kini berada di tangan gadis ini tanpa mendatangkan akibat apa-apa.

Ternyata saputangan merah itu mengandung obat penawar yang luar biasa sekali.

Gadis itu belum pernah melihat Liong-cu-hio, akan tetapi penciumannya amat tajam.

Dan baunya saja ia dapat mengenal racun yang berbahaya dari daun itu.

Setelah puas memeriksa daun itu, ia membungkusnya kembali.

Kemudian matanya memandang ke arah suling pemberian Hang-houw-siauw Yok-ong yang selalu dibawa oleh Kwan Cu.

Di dalam tangan gadis itu, suling ini merupakan sebatang suling yang terbuat dari pada bambu besar untuk bangunan.

Gadis itu tetawa berkikikan seorang diri, kelihatan geli sekali melihat suling sebesar itu.

Ia mengangkat suling ini dan mencoba untuk membunyikannya.

Akan tetapi oleh karena tangannya terlalu pendek sehingga tak dapat mencapai lubang-lubang pada suling, ketika ia meniup, suling itu hanya mengeluarkan bunyi senada saja.

Pada saat gadis itu membungkus kembali semua barang-barang Kwan Cu dari pantai datang berlarian banyak orang.

Ternyata bahwa gadis ke dua tadi sudah datang lagi dan kini ia dikawani oleh dua puluh orang gadis-gadis dan wanita-wanita muda yang rata-rata memiliki kecantikan yang menarik hati.

Akan tetapi mereka inipun kecil-kecil seperti dua gadis tadi.

Ramailah keadaan di situ ketika semua wanita itu mengagumi Kwan Cu dan memandangnya dengan terheran-heran.

Kemudian mereka bekerja sama, menyeret tubuh Kwan Cu ke pantai dan dengan susah payah karena tubuh Kwan Cu berat sekali, mereka menaikkan Kwan Cu ke dalam perahu pemuda itu, lalu beramai-ramai mendorong perahu ke laut.

Kepala perahu itu diikat dengan tambang yang tersedia di perahu Kwan Cu, diikatkan pada sepuluh buah perahu-perahu kecil.

Kemudian mereka mendayung perahu-perahu itu dan menarik perahu Kwan Cu pergi dari pulau itu.

Orang-orang pendek ini tinggal di sebuah pulau yang berbukit, tak jauh dari pulau kosong di mana Kwan Cu ditawan.

Mereka mendarat dan menyeret Kwan Cu ke darat, terus menariknya ke dusun mereka yang penuh dengan rumah-rumah kecil.

Kwan Cu di biarkan berbaring di atas tanah dan pada saat itu, Kwan Cu siuman kembali dari keadaan setengah mabuk karena pengaruk saputangan merah tadi.

Ia menggerakkan kaki tangannya dan merasa betapa tubuhnya terikat oleh tali-tali yang kuat.

Ketika ia memandang, ternyata dia berada di dalam sebuah jala yang aneh.

Kwan Cu terkejut dan terheran-heran.

Mimpikah aku?

Demikianlah dia berpikir.

Tiba-tiba dia mendengar suara di dekat mukanya dan ketika dia memandang ke depan, hampir saja dia berteriak saking kaget dan herannya.

Ia melihat dua orang gadis kecil sekali yang cantik menarik.

Gadis pertama yang manis dengan tahi lalat di pipi melakukan gerakan seperti orang bersilat, siap untuk menyerangnya, juga gadis ke dua yang cantik bersiap-siap.

Kemudian dia melihat gadis pertama mencabut keluar sehelai saputangan merah dari balik bajunya, maka terciumlah bahu yang amat harum.

Teringatlah Kwan Cu bahwa ketika dia hendak bangun, dia pun mencium bahu ini, maka dia dapat menduga bahwa saputangan itulah yang membuat dia pingsan.

Ia mempergunakan kecerdikannya dan tidak jadi meronta untuk melepaskan diri.

Ia diam saja sambil memandang penuh perhatian.

Benar saja, ketika melihat bahwa raksasa yang tertawan itu tidak memberontak, dua orang gadis itu tidak jadi menyerang hanya memandang penuh kewaspadaan.

Kwan Cu menggerakkan matanya memandang ke depan dan dia terheran-heran.

Dia dirubung oleh banyak orang, akan tetapi anehnya, semua orang kecil yang berada di situ adalah wanita-wanita belaka!

"Mimpikah aku?

Setelah bertemu dengan raksasa-raksasa apakah aku sekarang berubah pula seperti raksasa dan orang-orang wanita ini sebetulnya orang biasa?

Atau sudah gilakah aku?"

Demikian Kwan Cu berpikir dengan bingung.

Memang, kalau di bandingkan, keadaannya terbalik sama sekali dengan keadaannya beberapa hari yang lalu.

Lakayong memiliki tubuh yang tiga kali lebih besar tubuhnya dan sekarang, dia menjadi tiga kali lebih besar daripada wanita-wanita ini.

"Kalian siapakah? Dan mengapa aku ditawan?"

Ia mencoba bertanya dengan suara halus agar tidak menimbulkan rasa takut pada orang-orang wanita itu.

Akan tetapi ketika gadis cantik bertahi lalat di pipinya itu menjawabnya, Kwan Cu menjadi bingung sekali karena dia tidak mengerti sedikit pun juga akan maksud kata-katanya.

Suara gadis itu merdu dan halus, akan tetapi ucapannya bagi telinga Kwan Cu hanya terdengar tidak karuan seperti berikut.

"Karika yiyi kaduka nana...."

Celaka, kembali aku bertemu dengan orang-orang aneh, pikir Kwan Cu.

Bentuk tubuh yang kecil itu, bahasa yang aneh itu, tidak sangat mengheran hati Kwan Cu karena setelah bertemu dengan Lakayong dan rakyatnya, dia tahu bahwa di dunia ini terdapat manusia-manusia yang aneh.

Yang amat mengherankan hatinya adalah bahwa semua orang katai yang berada di situ hanya wanita-wanita belaka!

Apakah ini dunia wanita?

Kwan Cu teringat akan pengalamannya ketika bertemu dengan Lakayong dan rakyatnya.

Bahasa yang dipergunakan oleh Lakayong juga jauh berbeda dengan bahasanya sendiri, jangankan yang di pergunakan oleh bangsa raksasa itu, bahkan yang di pergunakan di daratan Tiongkok sendiri ada puluhan atau ratusan macam!

Akan tetapi, biarpun bahasanya berlainan tulisannya semua sama!

Inilah yang memudahkan seseorang di Tiongkok untuk melakukan perhubungan dengan orang-orang di daerah lain.

Ketika dia berada di pulau raksasa, dia dapat berhubungan dengan menggunakan tulisan kuno.

Siapa tahu kalau orang-orang kecil ini pun dapat membaca tulisannya.

Setelah berpikir demikian, Kwan Cu lalu mengeluarkan telunjuknya dari jala, diikuti oleh pandang mata para wanita itu.

Kwan Cu lalu menuliskan tulisan huruf kuno seperti yang pergunakan oleh Lakayong.

Wanita-wanita kecil itu menghampirinya dan melihat corat-coretnya, namun mereka tidak mengerti artinya.

Kwan Cu lalu menghapus coretan di tanah itu dan kini dia mencoret tanah dengan tulisan yang lebih muda usianya dari pada tulisan yang dipergunakan oleh Lakayong.

"Dapat membaca ini?"

Tanya dalam tulisan itu. Usahanya berhasil! Wanita-wanita itu saling pandang dan gadis bertahi lalat mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu mencoret tanah di dekat tulisan Kwan Cu.

"Aku dapat membaca tulisanmu, kau siapakah dan datang dari mana?"

Bukan main girangnya hati Kwan Cu ketika dia membaca tulisan halus dan kecil itu, akan tetapi yang dapat dibacanya dengan jelas.

"Biarkan aku duduk dan lepaskan jala ini, aku akan bercerita."

Tulisannya karena amat sukarlah menulis sambil berbaring miring seperti itu.

Ia tidak mau melepaskan diri dengan kekerasan, karena kawatir kalau-kalau akan dicurigai.

Gadis yang menjadi pemimpin itu berunding dengan adiknya dan dengan wanita-wanita lain.

Kemudian mereka lalu mendekati dan dari luar mereka mengikat kedua tangan Kwan Cu di belakang tubuh, juga mengikat kedua kaki pemuda itu erat-erat!

Kwan cu merasa geli sekali dan tangan-tangan yang halus dan kecil itu bergerek amat cepat, jari-jari yang kecil seakan-akan mengitik-itiknya, akan tetapi dia menahan tawanya dan menenangkan diri.

Ia dapat menduga bahwa wanita-wanita ini tidak percaya kepadanya dan akan membelenggunya lebih dulu sebelum melepaskannya dari jala itu.

Dugaanya tepat.

Setelah dua kaki tangannya dibelenggu, lalu jala itu di buka.

Ia diperbolehkan bangun duduk bersandar pada batu karang yang bentuknya seperti pilar.

Di sini ia di ikat lagi, tali yang panjang dibelit-belitkan pada lengan dan dadanya, terus di ikatkan pada batu karang itu.

Yang lebih hebat, gadis kedua yang lincah itu sekali melompat telah berdiri di pundak kirinya, membawa sehelai tali yang lalu dikalungkan dua kali pada lehernya!

Biarpun hanya longar saja, lehernya di ikat pada pilar itu.

Satu akal yang cerdik sekali!

Kwan Cu duduk bersila dan bersandar pada tiang batu karang.

Dia mencoba-coba dengan urat-urat tangannya untuk mengetahui sampai di mana kekuatan tali yang mengikatnya.

Ia mendapat kenyataan bahwa kalau dia mau, mudah saja baginya untuk merengut putus tali itu.

Gadis bertahi lalat pada pipinya itu lalu mengunakan telunjuknya menuliskan huruf-huruf di atas tanah di depan Kwan Cu.

"Aku bernama Malita dan ini adikku Malika. Kami berdua yang mengepalai bangsa kami di pulau ini. Kau menjadi tawanan kami dan jangan coba untuk memberontak, karena biarpun besar kalau kami mau, dengan mudah kami akan membunuhmu dengan senjata-senjata kami yang berbisa. Kau seorang laki-laki dan pada waktu ini, kami benci dan tidak percaya kepada semua laki-laki. Akan tetapi kau datang dari bangsa raksasa, kau siapakah dan menagapa kau datang ke daerah kami?"

Kwan Cu membaca tulisan itu dan tersenyum.

Nama-nama yang aneh tetapi cukup manis, pikirnya.

Akan tetapi pernyataan bahwa mereka ini membenci laki-laki, membuat Kwan Cu menjadi heran sekali.

Ia ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, akan tetapi kedua tangannya di ikat di belakang tubuhnya, bagaimana dia dapat menulis?

Tentu saja dia dapat melepaskan tangannya, akan tetapi hal ini tentu akan membikin mereka takut dan curiga.

Maka dia menjawab dengan mulutnya.

"Bagaimana aku dapat menulis jawabannya kalau tanganku terikat?"

Sambil berkata demikian, ia melirik ke arah tali yang mengikat dadanya. Malita dan Malika bicara, agaknya mereka berunding kemudian Malita menulis lagi.

"Wajahmu tampan dan gagah, kau berbeda dengan laki-laki bangsa kami. Agaknya kau bukan orang jahat. Akan tetapi kau tetap laki-laki dan kami sudah tidak percaya lagi kepada semua mahluk jantan. Maka, kami akan melepaskan tangan kananmu agar kau dapat menulis, akan tetapi awas, sekali saja kau memberontak, kau akan binasa!"

Kwan Cu tersenyum ramah dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

Malita lalu mencabut pisau lalu memutuskan ikatan tangan kanan Kwan Cu.

Setelah tali itu putus dan Kwan Cu membebaskan tanganya Malita cepat mencabut pedang dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya mengeluarkan saputangan merahnya.

Kwan Cu bergidik.

Ia lebih takut kepada saputangan yang harum itu dari pada pedang di tangan Malita.

Juga Malika mencabut pedangnya dan melompat berdiri.

Wanita-wanita yang berdiri agak jauh dari tempat itupun juga bersiap sedia, semua mencabut pedang dan bersikap seperti orang bersiap untuk bertempur.

Melihat cara mereka mencabut pedang dan bergerak, Kwan Cu menjadi kagum karena mereka itu terang sekali memiliki kepandaian silat yang tinggi!

Orang-orang ini kecil dan lemah, akan tetapi sebaliknya dari pada rakyat Lakayong yang bertenaga besar dan lamban, mereka ini agaknya amat cekatan dan cerdik.

Kwan Cu lalu mulai menulis di atas tanah.

"Aku seorang perantau yang bernama Kwan Cu. Aku tiba di daerah ini tanpa sengaja dan aku tidak bermaksud buruk. Biar pun aku seorang laki-laki, akan tetapi aku tak pernah menggangu orang, apalagi orang wanita. Kalian percayalah kepadaku."

Kedua orang gadis itu saling pandang dan kini beberapa orang wanita datang pula untuk ikut membaca tulisan Kwan Cu.

Mereka bicara dengan ribut dan melihat sikap mereka, Kwan Cu dapat menduga bahwa mereka ini sebagian besar tidak percaya akan tulisannya tadi.

"Kami sudah cukup sering tertipu oleh laki-laki yang manis mulut tetapi berhati palsu,"

Tulis Malita.

"Karena itu, kau tentu akan maklum bahwa kami tidak bisa sembarangan saja percaya kepadamu. Apa yang kau cari di tempat ini?"

"Aku mencari sebuah pulau kecil bundar dan ditumbuhi pohon-pohon berdaun putih. Harap kalian melepaskan aku dan aku tak akan mengganggu kalian, akan kulanjutkan perantauanku. Bahkan kalau ada sesuatu yang dapat kulakukan untuk kalian, akan kubantu kalian karena aku adalah seorang sahabat."

Kembali orang-orang wanita itu ribut-ribut ketika membaca tulisan ini.

Mereka agaknya masih ragu-ragu untuk mempercayai kata-kata ini.

Tiba-tiba terdengar ribut-ribut dan Kwan Cu yang terheran-heran melihat seorang laki-laki kecil berlari-lari, dikejar oleh banyak wanita.

Laki-laki itu memegang tongkat besar dan beberapa orang pengejarnya telah kena dihajar roboh.

Malita marah sekali dan dengan pedang di tangan dia melompat dengan gerakan yang menurut pandangan Kwan Cu hampir menyerupai gerakan Ouw-liong-coan-tah (Naga Hitam Tembuskan Menara), semacam gerakan melompat dari ilmu silat tinggi!

Akan tetapi sebelum Malita dapat menyusul laki-laki yang sudah pergi jauh, Kwan Cu telah mendahuluhinya.

Pemuda ini menggunakan tangan kanannya yang bebas untuk mencengkeram segenggam tanah dan dilemparkan tanah itu ke arah laki-laki pendek yang melarikan diri.

Laki-laki itu berteriak roboh dan pingsan, terpukul oleh segenggam tanah yang baginya merupakan segumpal tanah yang besar!

Orang-orang wanita segera memburu ke tempat itu dan sebentar saja laki-laki itu digiring pergi dalam keadaan terbelenggu erat-erat.

Malita kembali menghampiri Kwan Cu.

Sikapnya agak berubah tidak segalak tadi dan senyumnya menghias wajahnya yang cantik.

Juga para wanita lainnya kini memandang Kwan Cu dengan sikap manis.

"Kenapa kau merobohkan orang jahat itu?"

Tanya Malita dengan tulisannya.

"Sudah kukatakan bahwa aku tidak bermaksud buruk. Aku melihat dia seorang laki-laki begitu kejam untuk merobohkan beberapa orang wanita, maka aku turun tangan,"

Jawab Kwan Cu.

"Kau pandai melempar am-gi (senjata rahasia), agaknya kau memiliki kepandaian. Apakah kau benar-benar berniat baik dan tidak memusuhi kami?"

"Aku selalu berada di fihak benar, dan aku bersumpah takkan menggangu wanita. Kalau aku berniat buruk, apa kalian kira aku takkan dapat melepaskan ikatan ini? Katakanlah kepadaku bahwa kalian percaya kepadaku dan kalian akan melihat bahwa aku sangup melepaskan ikatan ini."

Malita terkejut akan tetapi ia tersenyum dan menulis.

"Kau raksasa yang aneh, gagah dan bersifat halus. Mengherankan sekali. Aku percaya kepadamu."

Setelah membaca ini, Kwan Cu tertawa girang dan sekali dia mengerahkan lweekangnya, terdengar suara keras dan semua ikatannya putus!

Malita, Malika dan semua wanita masih sangsi.

Mereka berdiri menjauhi Kwan Cu, siap dengan pedang di tangan!

Kwan Cu tersenyum, berdiri dan menggeliat, diawasi oleh semua wanita kecil-kecil itu dengan pandang mata kagum.

Kemudian Kwan Cu duduk kembali sambil menulis di tanah.

"Nah, marilah kita bicara dengan baik. Kalian ini benar-benar aneh sekali. Mengapa aku hanya melihat wanita saja dan laki-laki satu-satunya yang kulihat tadi menjadi tawananmu? Mengapa pula kalian membenci laki-laki dan bukankah kalian ini pun puteri-puteri dari seorang ayah laki-laki pula?"

Membaca tulisan ini, kembali semua wanita ribut-ribut, bahkan ada yang mengucurkan air mata dan menangis dan mengharukan sekali.

Kwan Cu menjadi semakin terheran, akan tetapi Malita menerima sebuah gulungan kertas berikut alat tulis.

Ia lalu menulis panjang lebar untuk menceritakan keadaan bangsanya kepada pemuda raksasa itu.

Semenjak beberapa keturunan, bangsa katai ini merupakan bangsa yang keadaannya terbalik dengan banga-bangsa manusia lainnya.

Yang berkuasa adalah wanitanya.

Hal ini adalah karena dahulu muncul seorang wanita sakti yang memiliki kepandaian tinggi.

Wanita ini membenci laki-laki dan ia hanya mau menurunkan kepandaiannya kepada murid-murid wanita, dengan menyuruh murid-murid itu bersumpah bahwa kepandaian mereka tidak boleh diturunkan kepada laki-laki.

Demikianlah maka para wanitanya rata-rata memiliki kepandaian silat yang tinggi dan biar pun dalam tenaga mereka kalah oleh laki-laki, namun apabila berkelahi, selalu para wanita yang menang.

Juga para penjaga keamanan dan para prajurit terdiri dari wanita.

Yang laki-laki sebaliknya hanya bertugas di sawah dan laki-lakilah yang bertugas mencari makanan.

Mereka selalu memilih pimpinan mereka atas dasar pemilihan umum, dan biasanya yang dicalonkan sebagai pemimpin tentulah wanita.

Akan tetapi, walapun jarang terjadi, pernah pula seorang laki-laki dicalonkan untuk menjadi pemimpin, di mana tentu saja kalau sudah memenuhi syarat-syarat yang berat yang ditentukan oleh bangsa wanita ini.

Karena dalam hal ini, bukan kepandaian silat saja yang menjadi syarat utama, melainkan pengetahuan yang luas dan kecerdikan yang lebih daripada orang lain.

Raja atau kepala terakhir yang dipilih adalah ayah dari Malita dan Malika, seorang yang sudah banyak pengalaman karena sudah pernah merantau jauh keluar pulau.

Di bawah pimpinan ayah ke dua orang gadis ini, rakyat orang katai hidup makmur, karena memang pemimpin ini pandai sekali, ditambah oleh bantuan dua orang puterinya yang memiliki kepandaian silat istimewa.

Malita dan Malika adalah murid-murid terpandai dari ahli waris ilmu silat yang diturunkan oleh nenek sakti, dan setelah guru kedua orang gadis ini meninggal dunia, boleh dibilang yang memiliki kepandaian tertinggi di pulau ini adalah Malita dan Malika.

Setelah raja itu meninggal dunia, otomatis yang ditunjuk menjadi ratu adalah Malita.

Akan tetapi, setelah ayah Malita menjadi raja, timbul pemberontakan di dalam hati orang-orang laki yang di pimpin oleh enam orang laki-laki yang menjadi pembantu raja.

Mereka inilah yang mula-mula mencetuskan permintaan bahwa sudah sepatutnya kalau laki-laki menjadi raja dan laki-laki pula yang berkuasa!

Malita dan Malika marah sekali dan terjadilah pertempuran hebat antara laki-laki yang di pimpin oleh enam orang pemberontak itu melawan Malita dan Malika yang memimpin barisan wanita.

Celakanya, sebagian besar orang-orang lelaki, baik yang sudah menjadi suami maupun yang belum menikah, terkena bujukan enam orang ini dan ikut pula memberontak.

Akan tetapi, laki-laki itu kesemuanya, hanya mengandalkan tenaga yang lebih besar, namun dalam hal mempermainkan senjata, mereka kalah jauh.

Hanya enam orang itu saja yang secara diam-diam telah mempelajari ilmu silat, dapat melakukan perlawanan hebat.

Akhirnya, banyak laki-laki menjadi korban dalam peperangan itu dan banyak pula yang tertawan.

Namun, enam orang laki-laki itu dapat melarikan diri ke sebuah pulau kosong yang mempunyai gua-gua di batu-batu karang.

Enam orang laki-laki itu bersembunyi di dalam gua diikuti tiga puluh orang lebih laki-laki yang masih setia kepada mereka.

Malita dan Malika sudah berusaha beberapa kali memimpin barisan wanita untuk mengalahkan, menawan atau membunuh para pemberontak itu, namun alangkah terkejutnya ketika ia melihat bahwa tidak saja pertahanan mereka amat kuat dengan adanya gua-gua yang panjang dan gelap, juga tambah hari kepandaian mereka tambah hebat.

Apalagi enam orang laki-laki yang dipimpin oleh seorang yang bernama Kahano, seorang laki-laki berjenggot yang merupakan kepala juga guru dari mereka, kepandaian mereka amat hebat dalam beberapa hari ini, seakan-akan mereka menemukan guru yang pandai!

Tadinya, Malita dan Malika berdua saja dengan mudah mendesak dan hampir mengalahkan enam orang laki-laki pemimpin pemberontak itu, akan tetapi beberapa pekan kemudian ketika mereka mencoba untuk menyerang para pemberontak, enam orang laki-laki itu maju dan menghadapi Malita dan adiknya.

Dan bukan main lihainya .......enam orang ini terutama sekali Kahano!

Mereka bersenjata pedang pendek dan permainan pedang ini mempunyai bentuk dan gaya baru yang luar biasa sekali.

Hampir-hampir saja Malita dan Malika kalah!

Namun akhirnya, karena anak buah Kahano yang lain-lain agaknya baru saja mempelajari ilmu silat, Malita dapat memukul mundur semua laki-laki itu dan mereka berlari-lari dan masuk ke dalam gua, sehingga kembali gerakan Malita gagal.

Untuk meyerbu ke dalam gua amat berbahaya sekali karena Kahano dan anak buahnya menghujankan anak panah dari dalam gua!

"Nah, inilah yng menggelisahkan hati kami, saudara Kwan Cu."

Tulis Malita akhirnya setelah menceritakan semua hal yang terjadi di pulau itu dengan tulisan-tulisan yang kecil-kecil.

"Oleh karena itulah kami amat bercuriga dan membenci kaum laki-laki yang ternyata telah memberontak dan berhati palsu. Laki-laki yang kau robohkan tadi adalah seorang diantara para tawanan kami yang mencoba melarikan diri. Kami benar-benar gelisah sekali. Kepandaian Kahano demikian cepatnya maju dan lihai sekali, kalau semua laki-laki yang ikut dengan dia mendapat latihan dan memiliki kepandaian seperti dia, tentu kami akan kalah!"

Kwan Cu tersenyum, lalu dia pun minta kertas dan menuliskan banyak kata-kata di situ.

"Saudara Malita, Malika dan semua wanita yang berada di sini, maafkan kalau aku menyatakan sesuatu yang mungkin akan terasa janggal oleh kalian. Di duniaku, fihak laki-lakilah yang berkuasa dan fihak laki-laki yang mengatur seluruhnya."

Para wanita ribut-ribut setelah membaca ini dan hampir saja mereka menyerang Kwan Cu kalau saja tidak dicegah oleh Malita.

"Kau laki-laki memang mau menang sendiri saja!"

Tulis Malita dengan coretan cepat, mengandung kemendongkolan hati.

"Mendiang ibuku dulu pernah bercerita bahwa dahulu pernah kaum laki-laki kami memegang kekuasaan dan bagiamana keadaan nasib kami kaum wanita? Kaum lelaki enak-enak saja, kami wanita yang bekerja keras. Bukan itu saja, kami diperlakukan seperti barang permainan, mudah di tukar dan diperjualbelikan. Laki-laki mempunyai isteri berapa saja sesuka hatinya! Bahkan raja di kala itu mempunyai isteri lebih dari tiga puluh orang! Apa begitu pula keadaan di duniamu?"

Diam-diam Kwan Cu harus mengakui bahwa memang di dunianya hampir-hampir begitulah keadaannya.

Memang banyak orang-orang lelaki, tidak semua dan ada kecualinya tentu, yang menganggap wanita sebagai barang permainan dan yang memandang rendah sekali kepada kaum wanita.

Bahkan dia pun telah mendengar tentang kaisar dan para pembesar yang mempunyai selir tidak hanya tiga puluh orang wanita, bahkan lebih banyak lagi.

Ia harus berlaku cerdik untuk dapat membereskan persoalan pertempuran antara kaum laki-laki dan kaum wanita dari bangsa katai ini.

Kwan Cu menulis lagi.

"Sama sekali tidak begitu. Kaum laki-laki di negaraku selalu memperlakukan baik sekali terhadap wanita. Tak seorangpun laki-laki mau mengganggu wanita, menikah hanya dengan seorang isteri saja, hidup damai dan rukun, bekerja sama demi kebahagiaan suami isteri dan anak-anaknya. Laki-laki bertenaga lebih besar dan karenanya pekerjaan-pekerjaan berat yang memerlukan tenaga harus dilakukan oleh kaum lelaki, sebaliknya pekerjaan halus dan kerajinan tangan dilakukan oleh pihak wanita."

Mendengar ini, para wanita saling pandang dan di antaranya ada yang mengucurkan air mata saking terharu hatinya.

"Alangkah bahagianya hidup kami kalau keadaan kami bisa seperti yang kau ceritakan itu,"menulis Malita.

"Akan tetapi sayang, kaum laki laki bangsa kami lain lagi, dan itulah sebabnya maka dahulu kaum wanitanya memberontak dan mempelajari ilmu kepandaian agar dapat menguasai laki laki sehingga kami dapat mencegah perlakuan sewenang sewenang."

"Kenapa tidak bisa diatur begitu? Kalian harus berusaha dan aku akan membantu kalian sehingga di pulau ini akan tercapai keadaan makmur dan damai seperti yang kuceritakan tadi."

Wanita-wanita itu nampak girang dan wajah mereka berseri-seri.

Diam-diam Kwan Cu harus akui bahwa wanita-wanita cilik ini rata rata memiliki wajah yang amat cantik menarik, terutama sekali Malita dan Malika, yang kecantikannya tidak kalah oleh wanita wanita di kota raja di negaranya.

"Akan tetapi, biarpun kami amat berterima kasih kepadamu, kami sangsi apakah kita akan dapat mengalahkan Kahano yang sudah tua itu mempunyai niat yang amat buruk. Pertama-tama dia menghendaki agar aku dan adikku Malika menjadi isterinya dan dia mau menjadi raja di sini!"

Ketika menuliskan hal ini, muka Malita menjadi merah saking marah dan jengahnya.

"Dan yang amat mengkhawatirkan, kepandaiannya makin lama makin maju pesat sekali setelah dia berada di pulau kecil itu. Agaknya di pulau pohon putih itu dia mendapatkan seorang guru yang pandai."

Mendengar ini, berdebar hati Kwan Cu.

"Pulau pohon putih? Di manakah itu?"

"Itulah pulau yang kini menjadi tempat tinggal mereka. Pulau itu di tumbuhi pohon-pohon putih, dan di situ terdapat banyak sekali gua-gua yang panjang dan aneh. Sebetulnya pulau itu menjadi tempat penguburan raja-raja kami, bahkan nenek sakti yang pernah menurunkan ilmu silat pada kami, juga berasal dari pulau itu dan di kubur di sana pula."

Kwan Cu menyembunyikan rasa girangnya.

Itulah gerangan pulau yang di maksudkan dalam buku sejarah Gui Tin di mana tersimpan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng?

"Mari antarkan aku ke sana, akan kutawan semua laki-laki yang berada di sana.

Akan ku tangkap Kahano yang memberontak itu!"

Katanya gagah sambil berdiri. Akan tetapi Malita nampak ragu-ragu. Apalagi Malika yang lebih berwatak keras dari pada kakaknya. Gadis ini berdiri dan mencabut pedangnya.

"Raksasa,"

Tulisnya di tanah menggunakan ujung pedangnya.

"kau mudah saja bicara seakan-akan kau benar-benar akan dapat menangkan Kahano dan kawan-kawannya. Sekarang begini saja, aku dan kakakku Malita hendak menguji kepandaianmu. Biarpun kau besar sekali dan tentu tenagamu amat besar, akan tetapi kalau tidak memiliki kepandaian, apa gunanya?"

Malika menegur adiknya dengan kerling mata tajam, kemudian ia menulis.

"Maafkan adikku yang nakal dan kasar, saudara Kwan Cu. Akan tetapi, ada pula benarnya kata-kata itu. Kami tidak mau membiarkan kau yang bermaksud baik itu mengalami kegagalan dan celaka di tangan Kahano yang lihai. Maka, maukah kau kuuji kepandaianmu?"

Kwan Cu mengangguk, dan tanpa banyak cakap, dia bersiapa sedia, berdiri menghadapi dua orang gadis itu dengan hati-hati.

Ia dapat menduga bahwa kedua orang gadis yang kecil ini memiliki ginkang yang amat tinggi dan karenananya tentu memiliki kepandaian yang tak boleh dipandang ringan.

Malita dan Malika bersiap dengan pedang mereka, kemudian Malika berseru dan menyerbulah kedua orang gadis itu dengan hebatnya.

Malita melompat dan tubuhnya melayang tinggi sehingga ia dapat menusukkan pedangnya ke arah dada Kwan Cu, adapun Malika yang cerdik menggunakan pedangnya untuk membabat kedua kaki Kwan Cu yang besar.

Benar saja dugaan Kwan Cu, gerakan dua orang gadis ini cepat sekali dan cara penyerangan mereka menggunakan teori silat yang tinggi.

Kwan Cu menggunakan Pai-bun-tui-pek-to untuk menghadapi serangan dua orang gadis kecil ini.

Baiknya pemuda ini telah memiliki pandangan mata yang awas dan karena tubuhnya jauh lebih besar, maka langkahnya pun lebar sekali bagi Malita dan Malika.

Sekali saja Kwan Cu melangkah, dia telah menghindarkan diri jauh-jauh dari dua pedang kecil yang menyerangnya.

Akan tetapi bagaikan dua ekor nyamuk yang gesit sekali, Malita dan Malika terus mendesak dan mengejarnya dengan pedang mereka.

Kwan Cu memperhatikan gerakan-gerakan mereka dan diam-diam dia terkejut sekali.

Ilmu pedang mereka itu benar-benar lihai, dan kalau saja mereka merupakan dua orang gadis dengan tubuh sebesar dia, tentu dia takkan sanggup menghindarkan diri dari serangan mereka itu.

Gerakan pedang mereka selain amat cepat, juga gerakannya mempunyai perubahan yang tak terduga-duga, begitu indah dan juga kuat sekali.

Tubuh mereka seakan-akan telah menjadi satu dengan pedang dan bagaikan dua kunang-kunang di waktu malam gelap, dua orang gadis itu menyambar-nyambarnya dari segala jurusan.

Kwan Cu menjadi bingung.

Untuk membuktikan bahwa dia dapat membantu mereka ini dan mengalahkan para pemberontak, dia harus dapat menunjukkan kepandaiannya dan dapat mengalahkan Malita dan Malika.

Akan tetapi, dengan tangan kosong saja, tak mungkin dia dapat mengalahkan mereka tanpa melukai mereka ini.

Ia tentu akan dapat mempergunakan Ilmu silat Sin-ci-tin-san yang lihai, akan tetapi apakah tubuh mereka yang kecil-kecil ini akan dapat menahan hawa pukulan Sin-ci-tin-san?

Makin lama, Malita dan Malika mendesaknya makin hebat sehingga Kwan Cu terpaksa menahan desakan mereka dengan Ilmu Silat Sam-hoan-ciang.

Ilmu silat ini biarpun hanya terdiri dari tiga bagian pukulan, namun membuat dia dapat bertahan kuat dan hawa pukulan yang ditimbulkan dari gerakan kedua tangannya merupakan perisai yang menangkis semua serangan lawan.

Malita dan Malika tak dapat mendekatinya lagi karena di sekitar tubuh pemuda itu bertiup angin pukulan yang membuat tubuh mereka terpental mundur kembali setiap kali mereka hendak menyerang.

Kwan Cu masih tidak puas dan sambil tersenyum dia lalu mengeluarkan sulingnya yang tadi dia ambil dari buntalan pakaian dan dia selipkan di ikat pinggangnya.

Malita memandang heran.

Apakah pemuda raksasa yang aneh dan lihai ini hendak menyuling sambil bertempur?

Akan tetapi, keheranannya bertambah ketika Kwan Cu bukannya menggunakan benda itu untuk menyuling melainkan mempergunakannya untuk bertempur!

Dengan sulingnya ini, Kwan Cu mulai memainkan gerakan-gerakan ilmu pedang Hun-kai Kiam-hoat yang dia pelajari dari Ang-bin Sin-kai.

Ia bermaksud mengalahkan dua orang gadis cilik ini dengan merampas pedang mereka.

Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika dua orang gadis itu agaknya tidak gentar menhadapi sulingnya dan agaknya sudah dapat menduga lebih dulu kemana sulingnya akan bergerak sehingga mereka dapat mempertahankan diri dengan baik.

Melihat gerakan mereka, Kwan Cu merasa yakin bahwa mereka telah mengenal ilmu pedangnya, karena ke manapun juga dia hendak menggerakkan suling, keduanya sudah bersiap sedia dan setiap elakan demikian tepatnya.

Untung bagi Kwan Cu bahwa dua orang lawannya yang kecil itu tenaganya kecil pula sehingga baru hawa pukulannya saja sudah cukup untuk menangkis serangan-serangan mereka.

Namun diam-diam pemuda ini merasa kagum dan girang.

Ilmu pedang yang di perlihatkan oleh Malita dan Malika benar-benar hebat dan agaknya memang di tempat ini menjadi sumber ilmu-ilmu silat tinggi.

Tak salah lagi, tentu kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng berada di pulau yang di jadikan tempat sembunyi kaum pemberontak itu.

Ia menjadi girang dan penuh harapan.

Memang tujuan dari pada perantauannya ke tempat-tempat aneh ini adalah untuk mendapatkan ilmu silat tinggi dan sekarang dia telah menyaksikan orang-orang kecil yang memiliki ilmu silat mengherankan.

Bagaimanakah dua orang gadis ini seakan-akan mengenal ilmu pedangnya yang dia pelajari dari Ang-bin Sin-kai?

Ia harus menyelidiki semua ini.

Setelah mengambil keputusan untuk mengalahkan dua orang gadis ini karena dia telah puas menyaksikan ilmu pedang mereka, tiba-tiba Kwan Cu berseru keras sambil meyembunyikan sulingnya di balik lengan baju, kini dia bersilat ilmu silat Sin-ci-tin-san, akan tetapi bukan mempergunakan tangan, melainkan mempergunakan ujung lengan bajunya!

Serangan yang amat dahsyat ini benar-benar membuat Malita dan Malika kewalahan sekali.

Seharusnya, ilmu silat ini di mainkan dengan jari tangan yang melakukan serangan menotok, akan tetapi oleh karena Kwan Cu tak ingin mencelakai dua orang gadis ini, dia mempergunakan ujung lengan baju sebagai gantinya.

Ia telah memperhitungkan dengan tepat dan mendapat akal bagaimana harus mengalahkan lawan-lawannya.

Sambaran pukulan yang dilakukan oleh ujung lengan bajunya mengandung tenaga lweekang yang berat, maka benar sebagaimana perhitungannya, ketika ujung pedang kedua orang gadis ini beradu dengan ujung lengan baju, mereka berteriak kesakitan karena telapak tangan mereka menjadi panas.

Kwan Cu mempergunakan lweekangnya untuk mengubah ujung lengan baju yang tadinya keras kaku menjadi lembek.

Sekejap mata saja dua pedang itu telah terlibat ujung lengan baju dan sekali dia menggerakkan kedua tangannya, pedang-pedang itu terampas olehnya.

Malita dan Malika menghentikan gerakan mereka dan dengan menjura Malita menulis di atas dengan ujung sepatunya.

"Kami menyerah kalah dan percaya penuh akan kelihaianmu."

"Kalian memiliki ilmu pedang yang hebat sekali,"

Jawab Kwan Cu sambil mengembalikan dua batang pedang kecil itu.

"Akan tetapi, Kahano dan kawan-kawannya lebih berbahaya lagi. Kalau menghadapi mereka, kau harus mempergunakan kedua tanganmu, dan untuk menjaga agar jangan kau terluka oleh senjata mereka yang mengandung racun berbahaya, kedua tanganmu harus digosok lebih dulu dengan obat kami,"

Kata Malita.

Setelah mendapat kenyataan bahwa pemuda raksasa itu benar-benar lihai, Malita dan kawan-kawannya menjadi amat gembira dan penuh harapan.

Malita lalu mengadakan pesta perjamuan untuk menghormati raksasa muda yang akan menolong mereka itu.

Dalam kesempatan ini, Kwan Cu mempelajari bahasa mereka yang bagi telinganya terdengar amat kaku.

Malita dan Malika mengajak Kwan Cu berunding bagaimana harus mengadakan penyerangan terhadap pemberontak.

"Yang terberat untuk dihadapi hanya enam orang di bawah pimpinan Kahano itu,"

Kata Malita sambil menjelaskan dengan tulisan bagian kata-kata yang tidak atau belum dimengerti oleh Kwan Cu.

"untuk anak buah mereka, serahkan saja kepada kami dan kawan-kawan. Asal kau sudah dapat mengalahkan dan menawan enam orang itu, tentu akan beres. Akan tetapi sukarnya, mereka itu menyembunyikan diri dalam gua-gua yang panjang dan gelap dan pertahanan mereka di situ kuat sekali. Setiap kali kami mau menyerbu masuk, kami dihujani anak panah dan senjata rahasia dari dalam gua."

"Kita lihat saja dulu, keadaan mereka di sana, baru nanti mencari akal,"

Kata Kwan Cu sambil makan hidangan yang enak akan tetapi aneh bagi lidahnya.

Ia merasa agak malu-malu ketika melihat betapa semua wanita itu menonton dia makan hidangan yang bagi mereka amat banyak itu.

Hm, alangkah gembulku dalam pandangan mereka, pikir Kwan Cu.

Malam hari itu Kwan Cu bermalam di dusun mereka.

Karena tidak ada rumah atau kamar yang cukup besar bagi Kwan Cu, terpaksa pemuda ini bermalam di luar rumah-rumah kecil itu, di udara terbuka.

Namun dia mendapat hiburan yang luar biasa sekali.

Ketika hari mulai gelap dan dia sudah membaringkan tubuhnya di bawah pohon untuk mengaso dan mengenangkan semua pengalamannya yang aneh-aneh itu, tiba-tiba nampak banyak sekali obor menerangi tempat itu.

Berbarengan dengan munculnya obor-obor ini, terdengar suara tetabuhan yang amat merdu namun aneh sekali iramanya.

Suara tetabuhan ini lalu disusul oleh nyanyian bersama yang membuat Kwan Cu merasa heran, karena dalam suara nyanyian bersama ini, dia mendengar suara laki-laki yang besar!.

Obor-obor itu makin mendekat dan Kwan Cu melihat sesuatu yang membuat dia terkejut dan juga gembira, karena tak diduga-duganya bahwa para pemegang obor itu adalah wanita-wanita dan juga laki-laki bangsa katai itu.

Mereka nampak begitu rukun dan damai, sedangkan di antara mereka nampak pula banyak anak-anak kecil yang dalam pandangan Kwan Cu luar biasa lucunya, seperti bayi-bayi berjalan!

Malita dan Malika memimpin rombongan ini dan menurut tafsiran Kwan Cu tak kurang dari lima puluh orang wanita-wanita muda dan dua puluh orang laki-laki muda yang datang membawa obor itu.

Pakaian mereka seragam, yang wanita merah dan yang laki-laki biru.

Agaknya mereka dalam keadaan dan suasana berpesta riang gembira.

Kwan Cu bangun dan duduk bersandarkan pohon.

Malita menghampirinya dan bersama Malika, ia menjura tanda menghormat Kwan Cu yang membalasnya dengan anggukan kepala dan senyum ramah.

"Nasihatmu baik sekali, saudara Kwan Cu. Lihat, laki-laki yang tadinya menjadi tawanan kami, sekarang telah kami bebaskan dan setelah kami menjelaskan tentang nasihatmu agar kami hidup rukun dan damai saling mengalah dan saling melindungi, mereka menerima dengan gembira dan menyatakan hendak membantu kami menumpas Kahano dan kawan-kawannya."

"Bagus sekali! Tidak ada berita lebih menggirangkan daripada ini,"

Kata Kwan Cu.

Adapun orang-orang lelaki yang berada disitu, lalu bersama maju dan berlutut di depan Kwan Cu dengan mata memandang kagum dan juga agak takut-takut.

Kwan Cu melihat betapa kaum lelaki di situ memang bersemangat kecil dan jelas sekali nampak sifat rendah diri dan kalah pengaruh oleh kaum wanitanya.

Namun harus diakui bahwa mereka pun memiliki bentuk yang tampan dan menarik serta potongan tubuh yang bagus.

Anak-anak kecil kelihatan lucu sekali ketika mereka memandang kepada "raksasa muda"

Itu dengan mata terbelalak ketakutan.

"Kami sengaja mengumpulkan orang-orang untuk menghiburmu sebagai penghormatan,"

Kata Malita, kemudian ia memberikan tanda dengan tangannya.

Tetabuhan dibunyikan makin gencar dan dari rombongan itu keluarlah belasan orang gadis dengan pakaian indah, menari-nari di depan Kwan Cu dengan gerakan lemah gemulai.

Kwan Cu terpesona.

Belum pernah dia menyaksikan tari-tarian yang demikian indahnya, ditarikan oleh gadis-gadis yang biarpun bentuk tubuhnya sudah menunjukkan kepenuhan dan kedewasaan, namun tingginya hanya sampai di pahanya saja!

Seakan-akan dia melihat boneka-boneka hidup menari dengan indahnya.

Ini semua menggirangkan hati Kwan Cu, tetapi yang paling menggembirakan adalah sikap laki-laki dan wanita yang berada di situ, saling pandang antara suami isteri, penuh cinta kasih dan pengertian, tertawa-tawa dan tiada ubahnya dengan pasangan-pasangan di dusun-dusun di negaranya, dimana hidup petani-petani yang sederhana akan tetapi selalu hidup rukun dengan keluarganya.

"Pesta seperti biasanya kami lakukan setahun sekali,"

Kata Malita kepada Kwan Cu tanpa mempergunakan tulisan karena Kwan Cu yang berotak cerdik luar biasa itu sebentar saja sudah menguasai bahasa percakapan yang mudah-mudah. Untuk merayakan apakah?"

Tanya Kwan Cu sambil menikmati gerak tarian para gadis cantik yang berputar-putar di hadapannya menurutkan irama lagu.

"Untuk merayakan dewi bulan dan dalam kesempatan itu, memberikan kesempatan kepada para calon dara untuk memilih calon jodohnya."

Kwan Cu tertegun.

Sampai lama dia tidak dapat berkata-kata.

Hm, benar-benar dunia nyata di pulau ini.

Bahkan dalam hal memilih jodoh, wanitalah yang berhak memilih!

"Jadi laki-laki tak berhak memilih jodohnya?"

Tanyanya. Sepasang mata Malita memancarkan sinar penasaran.

"Laki-laki memilih? Hm, akan rusaklah semua kalau laki-laki yang diberi kekuasaan memilih jodohnya. Laki-laki selalu memilih jodohnya berdasarkan kecantikan wanita dan keindahan bentuk tubuh! Laki-laki seakan-akan buta dalam hal memilih jodoh. Kalau mereka memilih, tentu takkan dapat terbentuk rumah tangga bahagia. Mereka memilih yang cantik-cantik untuk akhirnya bercekcok di kemudian hari karena ternyata pilihannya tidak mencocoki wataknya sendiri. Kemudian bagaimana? Mereka itu, laki-laki buta itu, akan mencari-cari wanita lain!"

Kwan Cu tersenyum.

"Malita, agaknya kau masih belum dapat melenyapkan kebencianmu terhadap laki-laki."

Malita tersenyum juga menjadi sabar kembali.

"Bukan semata-mata terdorong kebencian, melainkan berdasarkan kenyataan. Sifat buruk laki-lakilah yang memancing kebencian di dalam hati wanita."

"Kurasa tidak akan terjadi seperti penuturanmu itu apabila pemilihan laki-laki berdasarkan cinta kasih."

Kata Kwan Cu.

Tiba-tiba gadis bertahi lalat di pipinya itu tertawa berkikikan sambil menutupi mulutnya, seakan-akan mendengar sesuatu yang amat menggelikan hatinya.

Tentu saja Kwan Cu menjadi melongo karena dia tidak mengerti apa gerangan yang ditertawakan oleh Malita.

"Eh, kau tertawa begitu geli ada apakah?"

Tanyanya tak senang karena berada di tengah-tengah orang-orang katai ini, kembali datang perasaan tidak sedap dalam hati Kwan Cu merasa bahwa dia akan kembali jadi buah tertawaan.

"Apakah di antara bangsa raksasa terdapat juga perasaan cinta kasih yang membikin gila orang?"

Tanya Malita.

"Tentu saja ada. Apa kau kira kami bangsa yang kau sebut raksasa bukan manusia yang mempunyai perasaan dan hati?"

"Bukan demikian maksudku, saudara Kwan Cu yang baik. Melihat kau dan kepandaianmu tadinya kukira bahwa bangsamu adalah manusia yang sudah pandai dan tidak bodoh serta lemah sehingga mudah pula dikuasai oleh perasaan palsu yang disebut cinta kasih. Akan tetapi ternyata ternyata sama saja dengan kami, masih dapat dipengaruhi oleh perasaan palsu itu."

"Bagaimana kau berani menyatakan bahwa cinta kasih itu adalah sesuatu perasaan yang palsu?"

Tanya Kwan Cu penasaran.

"Cinta kasih yang timbul dalam hati wanita memang murni dan suci, akan tetapi cinta kasih dalam dada seorang laki-laki hanya palsu belaka! Cinta kasih seorang laki-laki hanya berdasarkan nafsu, berdasarkan rasa tertarik dan suka kepada wajah yang indah, bentuk tubuh yang menggairahkan! Sebaliknya, cinta kasih yang timbul yang timbul dalam hati wanita berdasarkan watak yang baik dan budi bahasa yang halus, bukan semata-mata karena wajah yang tampan dan gagah!"

Kwan Cu kembali tertegun.

Baru kali ini dia mendengar filsafat seperti ini sungguhpun dia memang jarang sekali mendengar atau tak pernah membaca tentang filsafat cinta kasih.

Namun dia penasaran sekali karena sebagai seorang laki laki dia merasa laki-laki direndahkan oleh ucapan itu.

"Tak mungkin!"

Bantahnya.

"Tidak semua laki-laki hanya mendasarkan cintanya pada nafsu dan keindahan. Ada pula laki-laki yang berpribudi dan bijaksana."

"Seribu satu saudara Kwan Cu. Seribu orang hanya ada satu! Aku berani bertaruh bahwa seorang laki laki takkan suka mencinta seorang wanita yang buruk rupa atau cacad tubuhnya. Eh, apakah kau sendiri sudah mempunyai seorang wanita yang kau kasihi?"

Kwan Cu tak dapat menjawab, wajahnya memerah. Ia teringat akan sumpahnya di depan gadis raksasa Liyani bahwa dia mencinta Bun Sui Ceng! Akan tetapi di depan Malita dia tidak menyatakan sesuatu.

"Saudara Kwan Cu, andaikata kau sudah mempunyai seorang gadis yang kau cinta, aku berani memastikan bahwa gadis itu tentulah seorang yang cantik manis, bukan seorang gadis yang tidak ada hidungnya! Aku tidak percaya akan ada seorang laki laki yang mencinta seorang gadis yang hidungnya lenyap atau rusak."

Setelah berkata demikian, Malita tertawa mengejek.

"Kau mau menang sendiri saja,"

Kwan Cu merasa perutnya panas.

"aku juga merasa yakin bahwa tidak ada seorang gadis yang menjadi seorang laki laki yang hidungnya rusak seperti yang kau katakan tadi."

"Siapa bilang tidak mungkin? Banyak wanita yang mencinta sepenuh hati suaminya yang buruk rupa, yang bopeng, yang pincang dan sebagainya. Cintanya suci murni, karena seperti kukatakan tadi, cinta kasih seorang wanita berdasarkan kesetiaan, berdasarkan watak baik dan kecocokan hati dan pikiran, bukan seperti laki laki yang buta cinta, hanya suka kepada apa yang baik menarik, akan tetapi mudah pula bosan setelah melihat wanita lain yang lebih menarik!"

Kwan Cu menjadi panas, akan tetapi dia sempat menahan gelora hatinya dan hampir saja dia tertawa.

Untuk apakah berdebat urusan cinta dengan gadis ini?

"Sesukamulah, Malita.

Hanya kalau kau dan kawan kawanmu mau menuruti nasehatku, dalam menetapkan perjodohan, harus ada persetujuan kedua fihak, baik dari si wanita maupun dari si lelaki, baik dari fihak wanita maupun dari fihak laki-laki jangan sekali kali ada paksaan.

Dengan demikian, kiranya baru akan dapat dibentuk rumah tangga yang damai."

Pesta penghormatan itu berjalan sampai menjelang tengah malam.

Tiba-tiba banyak sekali obor padam dan terdengar pekik di sana-sini.

Kwan Cu terkejut sekali melihat beberapa orang laki-laki yang tadi memegang obor, terjungkal roboh dan keadaan menjadi panik.

Di bawah penerangan bulan, kelihatan bayangan yang gesit di sana-sini dan anak panah-anak panah yang kecil menyambar-nyambar.

Kwan Cu dan Malita melompat bangun.

"Mereka datang menyerbu!"

Seru Malita marah sambil mencabut pedangnya.

"Biar aku menghadapi mereka!"

Kwan Cu berseru dan pemuda ini berlari cepat dengan lompatan-lompatan jauh menuju ke arah para penyerbu.

Memang benar dugaan Malita, banyak sekali orang katai datang dari arah pantai sambil menghujankan anak panah kepada orang-orang yang sedang berpesta.

Kahano yang mendengar bahwa pulau itu kedatangan raksasa dan bahwa para wanita tengah mengadakan pesta di malam itu, dan terutama sekali mendengar betapa para laki-laki yang tertawan kini telah berbaik dengan para wanita, menjadi marah dan memimpin semua orang menyerbu.

Kwan Cu yang berlari mendatangi, tiba-tiba disambut oleh puluhan batang anak panah yang kecil-kecil namun cukup berbahaya datangnya.

Pemuda ini cepat mencabut sulingnya dan memutarnya seperti pedang sehingga semua anak panah yang kecil-kecil itu tersampok runtuh.

Ia maju terus dan para pemberontak itu ketika menyaksikan betapa raksasa ini amat tangguh, menjadi ketakutan dan berlari cerai-berai!

Akan tetapi, pada saat itu, Malita dan Malika dan kawan-kawannya telah datang menyerbu dan pertempuran yang hebat terjadilah.

Kwan Cu menyerang ke sana ke mari dengan sulingnya.

Ia tidak mau membunuh, hanya menggunakan tenaganya untuk membuat senjata-senjata lawan terlempar sambil berseru berkali-kali.

"Malita, jangan bunuh mereka, tawan saja!"

Menghadapi amukan raksasa ini, orang-orang katai yang sudah panik itu menjadi makin kacau balau.

Apalagi memang kepandaian para wanita itu hebat dan mereka biarpun menerima latihan ilmu silat tinggi yang aneh dari Kahano, namun masih belum dapat mengatasi kepandaian para wanita.

Sebentar saja mereka dikalahkan, terluka dan tertawan.

Kwan Cu sengaja mencegah mereka itu melarikan diri, akan tetapi setelah dia menjaga di pantai dan menangkap setiap orang katai yang hendak melarikan diri, dan pertempuran selesai, ternyata bahwa betapapun juga.

Kahano dan lima orang kawannya telah melarikan diri dari pulau itu!

Malita dan kawan-kawannya girang sekali melihat betapa semua anak buah Kahano telah dapat tertawan, sungguhpun Malita masih penasaran karena Kahano dan lima orang kawannya yang menjadi biang keladi kekacauan itu dapat melarikan diri.

Pada malam hari itu juga, Malita dan kawan-kawannya lalu memberi nasihat kepada semua tawanan, dibantu oleh orang-orang lelaki yang sudah insyaf dan baik kembali.

Para tawanan itu setelah mendapat penerangan bahwa semenjak hari itu tidak akan ada tindas-menindas antara laki-laki dan wanita, bahwa akan diadakan kerja sama yang baik menurut nasihat Kwan Cu raksasa muda itu, menjadi terharu.

Mereka tadinya kena hasutan Kahano hanya karena mereka menganggap pihak wanita terlalu menindas dan merendahkan mereka yang bertenaga lebih besar.

"Setiap pelanggaran atau kejahatan, setiap penindasan dan kekejaman, baik dilakukan wanita maupun laki-laki, akan diadili dan yang melakukan dihukum!"

Demikian Malita menutup penerangannya, sesuai dengan nasihat dan penerangan Kwan Cu yang memasukkan aturan-aturan bangsanya kepada bangsa katai ini.

Dan pada keesokan harinya, diantar oleh Malita, Malika dan sepuluh orang prajurit wanita, Kwan Cu naik perahunya menuju ke pulau yang dijadikan tempat sembunyi Kahano dan lima orang kawannya.

Melihat pulau itu dari perahunya, Kwan Cu berdebar hatinya.

Tak salah lagi, inilah pulau yang ditunjuk di dalam buku sejarah Im-yang Bu-tek Cin-keng disimpan.

Ia melihat pulau yang kecil dan bundar bentuknya dan dari jauh sudah kelihatan pohon-pohon yang keputih-putihan, batu-batu karang yang menjulang tinggi dan gua-gua di batu karang yang bermulut hitam gelap.

"Itulah Pek-hio-to (pulau daun putih) yang dijadikan tempat sembunyi Kahano dan kawan-kawannya,"

Kata Malita kepada Kwan Cu.

Kwan Cu di dalam kegembiraan dan ketegangan hatinya tidak menjawab, melainkan mendayung makin cepat lagi ke arah pulau itu sehingga perahunya meluncur cepat sekali dan para wanita itu memandang dengan kagum.

Pulau kecil itu ternyata paling tinggi letaknya di antara semua pulau-pulau kecil yang berada di sekitar daerah itu.

Kelihatannya seperti bukit kecil yang berwarna putih.

Setelah Kwan Cu mendaratkan perahunya, dia dan semua wanita katai melompat turun ke pantai.

Malita mengeluarkan sehelai saputangan warna putih dari balik bajunya dan memberikan saputangan itu kepada Kwan Cu.

"Seperti sudah kukatakan kemarin, Kahano dan kawan-kawannya menggunakan bisa ular di ujung senjata mereka. Bisa itu amat berbahaya, dan kalau kulit tanganmu sampai terluka, nyawamu akan terancam bahaya. Akan tetapi kalau kau menggosok-gosok kedua tanganmu dengan sapu tangan yang sudah mengandung obat penawar ini, kau tidak usah takut mengahdapi ujung senjata mereka."

Kwan Cu menerima saputangan itu sambil mengucapkan terima kasihnya lalu dia menggosok-gosokkan kedua telapak tangan dengan saputangan itu.

Aneh sekali, terasa panas dan gatal-gatal tangannya, akan tetapi Malita menyuruh dia menggosok-gosok terus sampai lenyap rasa gatal-gatal itu.

Benar saja, lama-lama lenyap rasa gatalnya, tinggal rasa panas-panas hangat pada telapak tangannya.

Ia mengembalikan saputangan putih kepada Malita dan diam-diam dia merasa kagum.

Agaknya gadis ini seorang ahli tentang racun dan senjata yang berbahaya sehingga perlu membawa saputangan-saputangan yang aneh dari berbagai warna.

Ia masih teringat sapu tangan merah yang dapat membuat dia mabuk dan tertidur.

"Di mana tempat mereka bersembunyi?"

Tanya Kwan Cu sambil mengajak Malita dan kawan-kawannya naik ke tengah pulau.

Mata pemuda ini memandang ke sekeliling dan dia melihat bahwa pulau itu memang aneh sekali dan menyeramkan keadaannya.

Pohon-pohon yang tumbuh di situ tidak banyak akan tetapi daun-daunnya berwarna putih belaka, juga rumput-rumput banyak yang berwarna putih.

Pulau ini mengingatkan dia akan daerah utara kalau sedang dilanda musim salju.

Gua-gua yang banyak terdapat di bukit karang itu nampak menghitam, amat jelas di antara daun-daun yang putih itu.

"Sukar untuk mengatakan di mana mereka bersembunyi. Gua-gua di sini banyak sekali dan di antaranya terdapat lima buah gua yang merupakan terowongan bersambung satu kepada yng lain,"

Jawab Malita sambil memimpin rombongan itu kepada sebuah gua yang gelap.

"Nah, gua ini yang terbesar, akan tetapi dari gua ini orang dapat mencapai gua-gua di lain bagian."

Kwan Cu melihat bekas tapak-tapak kaki kecil di sekitar mulut gua dan tahu bahwa memang orang-orang katai itu menyembunyikan diri di dalam gua.

Akan tetapi agaknya sia-sia kalau hendak mengejar, karena orang-orang itu dari dalam gua yang gelap tentu akan melihat kedatangannya dan mereka dapat melarikan diri melalui mulut gua yang lain.

Selain itu, gua itu memang cukup besar bagi orang-orang katai, namun bagi dia agaknya dia hanya dapat masuk dengan jalan merangkak!

Ini berbahaya sekali!

Akhirnya dia mendapat akal.

"Kumpulkan kayu-kayu bakar dan daun-daun kering di mulut gua yang berhubungan satu dengan yang lain itu, tutup empat mulut gua dengan kayu bakar dan daun kering, biarkan yang satu ini saja terbuka. Setelah penuh dengan kayu bakar , bakar semua tumpukan itu agar asapnya memenuhi gua dan terowongan. Asap itulah yang akan memaksa mereka keluar dari gua melalui mulut gua ini dan aku akan menjaga di sini."

Mendengar siasat ini, Malita mengangguk-angguk dengan kagum.

Ia lalu mengatur, memecah kawan-kawan menjadi empat bagian untuk melakukan tugas menutup dan membakar mulut gua.

Adapun Kwan Cu lalu bersembunyi di belakang batu karang, menjaga kalau-kalau para pemberontak itu muncul dari gua besar itu.

Tempat sembunyi Kwan Cu adalah di balik pohon yang berada di dekat gua dan pemuda ini bersandar pada batu karang itu.

Tiba-tiba tangannya menyentuh batu karang yang hitam itu dan mendapatkan bagian-bagian yang halus teraba oleh tangannya.

Ia memandang dan melihat ukiran-ukiran seperti huruf di dinding batu karang di luar gua.

Akan tetapi coretan atau ukiran itu tak dapat dibaca karena telah tertutup oleh tanah yang mengeras, merupakan kulit dari batu karang itu.

Kwan Cu mengerahkan tenaga dan mempergunakan tangan untuk menarik keluar kulit batu karang itu.

Sebagian dari pada kulit yang terjadi dari tanah mengeras itu terlepas dan ternyata bahwa huruf itu adalah huruf LIU.

Berdebar hati Kwan Cu karena huruf ini mengingatkan dia akan bunyi kitab sejarah yang dia dapatkan di dalam sumur di Kun-lun-san, yakni kitab sejarah peninggalan Gui-siucai yang menyatakan bahwa kitab rahasia Im-yang Bu-tek Cin-keng disimpan di sebuah pulau kosong oleh LIU PANG yang akhirnya menjadi raja.

Ia segera mengerjakan kedua tangannya untuk melepaskan kulit batu karang yang menutup huruf-huruf selanjutnya.

Sementara itu, Malita, Malika dan kawan-kawan mereka sudah mulai bekerja, menutupi empat mulut gua yang lain dengan kayu-kayu dan daun-daun kering, lalu membakar semua itu.

Asap yang tebal bergumpal-gumpal memasuki gua dan terus memasuki terowongan itu!

Karena amat tertarik oleh ukiran huruf di dinding sebelah luar gua, Kwan Cu lupa bahwa dia sedang bertugas menanti munculnya Kahano dan kawan-kawannya, dan dia tidak ingat lagi bahwa sudah beberapa lama dia bekerja mencoba untuk melepaskan kulit batu karang yang sudah amat keras dan menjadi satu dengan batunya.

Setelah dengan susah payah bekerja sehingga kuku-kuku jari tangannya sampai pecah-pecah, akhirnya Kwan Cu dapat membaca empat huruf yang berbunyi LIU SIN TONG TANG (Guna Anak Ajaib Liu).

Hampir saja Kwan Cu berjingkrak saking girangnya.

Tak salah lagi, yang dimaksudkan dengan anak ajaib she Liu itu tentu bukan lain adalah Liu Pang, karena anak yang kelak menjadi kaisar patut disebut atau menyebut diri sendiri anak ajaib.

Ia makin dekat dengan rahasia kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang sudah lama dicari-carinya.

Akan tetapi pada saat itu asap telah memasuki terowongan dan bahkan sudah ada asap yang keluar dari mulut gua yang dijaga oleh Kwan Cu.

Tak lama kemudian terdengarlah batuk-batuk dan berlari-lari keluarlah enam orang katai dari dalam gua itu.

Gerakan mereka gesit sekali dan keenam-enamnya memegang sebatang pedang kecil yang nampaknya tidak berbahaya, akan tetapi yang sesungguhnya mengandung bisa putih yang amat berbahaya pada ujungnya.

Enam orang itu bukan lain adalah Kahano beserta lima orang kawannya.

Kwan Cu yang mendengar suara mereka, lalu memandang.

Ia melihat seorang katai yang usianya sudah agak tua, dengan kumis dan jenggot putih tebal menutupi mulutnya.

Lima orang yang lain berkepala gundul dan biarpun mereka masih muda-muda, namun wajah mereka buruk rupa dan nampak kejam-kejam.

Kwan Cu teringat akan penuturan Malita bahwa lima orang yang menjadi murid Kahano adalah pemuda-pemuda jahat yang di benci oleh para gadis karena sikap mereka yang kurang ajar.

Yang menarik perhatian adalah saputangan yang mengikat kepala mereka.

Saputangan itu berwarna kuning dan bentuknya sama, seakan-akan menjadi tanda pengenal bagi golongan mereka.

"Tak salah lagi, dialah Kahano dan kawan-kawannya,"

Pikir Kwan Cu.

Hati pemuda ini sedang gembira sekali berhubung ditemukannya huruf-huruf yang menyatakan bahwa dia benar-benar berada di pulau yang di cari-carinya.

Ia melompat keluar dan dengan dua kali lompatan saja dia sudah tiba di depan enam orang yang sedang mengatur napas untuk menghilangkan pengaruh asap yang menyerangnya di dalam terowongan dan gua.

Cara mereka mengatur napas membuat Kwan Cu terkejut, karena itulah peraturan dari ilmu lweekang yang sangat tinggi.

Adapun Kahano dan kawan-kawannya ketika melihat kedatangan Kwan Cu menjadi marah sekali.

"Hm, jadi kaukah yang memimpin mereka dan melakukan akal ini?"

Tanya Kahano dan Kwan Cu kembali tertegun karena kini Kahano mempergunakan bahasa yang biasa di pergunakan oleh penduduk Tiongkok di bagian utara! "Kau bisa bahasa daratan Tiongkok?"

Tanya Kwan Cu terheran-heran.

"Tentu saja bisa, karena kau pun seorang yang berasal dari sana,"

Jawab Kahano.

"Oleh karena itu, mengingat hubungan antara orang kang-ouw, kuharap kau tidak mencampuri urusan kami dan jangan kau mengganggu kami."

Memang benar bahwa sebetulnya Kahano adalah seorang keturunan Jepang-Tiongkok yang sudah lama merantau di daratan Tiongkok daerah utara, di perbatasan Mongol.

Ketika merantau di sana, dia telah mempelajari ilmu silat dan di dunia kang-ouw terkenal sebagai orang yang kurang baik.

Kadang-kadang dia ikut dengan serombongan pemain akrobat dan bermain sebagai seorang pelawak yang cocok sekali dengan keadaannya yang pendek kecil itu.

Setelah dia merasa bosan di daratan tiongkok, dia mengambil keputusan untuk kembali ke Jepang dengan naik perahu.

Akan tetapi perahunya terserang oleh taufan hebat dan akhirnya dia terdampar dalam keadaan pingsan di atas pulau bangsa katai itu.

Ia dianggap sebagai bangsa sendiri oleh mereka dan Kahano yang cerdik itu pura-pura bisu, sehingga dia tidak dicurigai.

Setelah dia dapat mempelajari bahasa orang-orang katai itu, barulah dia bicara dan mendongeng bahwa dia adalah seorang yang terpilih oleh dewata sebagai calon pemimpin mereka, akan tetapi dengan syarat menjadi bisu untuk beberapa tahun!

Dongengnya ini dipercaya oleh sebagian orang lelaki, akan tetapi tidak dipercaya oleh kaum wanitanya sehingga di antara mereka timbul pertentangan semenjak Kahano berada di situ.

Akan tetapi, ternyatalah oleh mereka bahwa Kahano pandai sekali ilmu silat dan bukan merupakan laki-laki yang lemah.

Melihat kecantikan Malita dan Malika, Kahano yang sudah agak tua itu tergila-gila dan timbullah satu kehendak rendah.

Ia ingin menjadi raja dari bangsa itu dan mengambil Malita dan Malika sebagai isteri-isterinya!

Mula-mula kehendak atau cita-cita ini dipendamnya saja karena kedudukan ayah kedua gadis ini kuat sekali sebagai raja yang terkasih dan bijaksana.

Akan tetapi sedikit demi sedikit dia menanam rasa penasaran dan memberontak dalam hati kaum laki-laki sehingga dia berhasil mempunyai pengikut yang banyak juga.

Kemudian meninggallah raja, ayah dari kedua orang dara jelita itu dan kesempatan ini dipergunakan oleh Kahano untuk memberontak.

Ketika Kwan Cu mendengar Kahano dari daratan Tiongkok, dia lalu menjadi marah.

"Kahano, kalau kau bukan penduduk aseli, maka dosamu lebih besar lagi. Kau telah menghasut orang-orang untuk memberontak dan maksudmu menjadi raja dan mengambil puteri-puteri itu sebagai isteri, telah menunjukkan betapa rendah martabatmu. Lebih baik kau dan pengikut-pengikutmu ini menyerah saja. Aku yang akan menanggung bahwa kalian tak akan dihukum asal saja kalian suka berjanji untuk selanjutnya tidak akan melakukan kekacauan lagi. Ketahuilah bahwa sekarang kaum perempuan bangsa katai ini telah insyaf, bahwa cara satu-satunya unruk mencapai perdamaian antara kaum laki-laki dan wanita, adalah dengan kerja sama dan persamaan hak, seperti yang terjadi di negara kita."

Kahano tertawa bergelak. Biarpun orangnya kecil, ternyata suara ketawanya besar.

"Ha, ha, ha, orang muda sombong. Kau dapat membodohi mereka ini, akan tetapi apa kaukira aku tidak tahu bagaimana perangai kaum laki-laki di daratan Tiongkok? Apa kaukira aku tidak tahu betapa ayah bunda yang kelaparan menjual anak-anak gadisnya kepada orang-orang kaya, tuan-tuan tanah tua, hanya untuk ditukar dengan makanan? Memang sudah semestinya begitu. Orang perempuan memang dilahirkan cantik dan di takdirkan untuk menjadi alat penghibur laki-laki. Mereka mahluk lemah yang harus menurut dan taat kepada laki-laki, akan tetapi di pulau ini terjadi sebaliknya. Aku hendak mengubah aturanmu itu, sesuai dengan aturan bangsamu, apakah kau masih berani mati untuk merintangi kehendakku? Siapakah kau ini berani mati mencampuri urusan orang lain?"

"Aku bernama Lu Kwan Cu dan aku sekali-kali bukan bermaksud mencampuri urusan orang lain. Akan tetapi sudah menjadi tugasku untuk membela orang-orang tertindas dan melenyapkan pengacau-pengacau keamanan seperti engkau ini!"

Kahano mengutuk dan memberi aba-aba kepada lima orang pembantunya.

Enam orang katai itu lalu bergerak dengan teratur sekali, mengurung Kwan Cu dari enam jurusan.

Melihat gerak kaki mereka, diam-diam Kwan Cu memuji.

Mereka ini memiliki gerakan kaki yang amat teratur dan gesit sekali, dan sikap mereka menyatakan bahwa mereka adalah ahli-ahli silat tinggi.

Setelah Kahano berseru keras, enam orang itu mulai menyerang.

Pedang pendek mereka bergerak dengan cepat dan serangan mereka tidak di lakukan secara sembarangan, melainkan secara teratur sekali, susul-menyusul seakan-akan memang keenam orang itu sudah berlatih lebih dulu untuk maju berenam dengan ilmu silat tertentu yang harus di lakukan oleh enam orang!

Kwan Cu terkejut dan cepat mengelak.

Akan tetapi, biarpun dia dapat mengelak dari serangan pertama tahu-tahu orang kedua sudah menyusul serangan dari belakang, dan ketika dia membalikkan tubuh sambil mengelak ke kiri, orang di sebelah kanan telah menyusul serangan ke tiga.

Dengan begitu, setiap serangan selalu datang dari arah belakangnya dan setiap serangan merupakan serangan yang amat berbahaya.

"Lihai sekali!"

Serunya tanpa terasa lagi.

Ia merasa gentar untuk menghadapi mereka dengan tangan kosong, maka cepat dia mencabut sulingnya, senjata satu-satunya yang selalu berada di tubuhnya.

Dengan suling ini, dia lalu mainkan ilmu pedang Hun-kai Kiam-hoat.

Ia menangkis dengan keras dan membalas serangan enam orang pengeroyoknya.

Akan tetapi, segera terjadi hal yang amat mengherankan, juga mengecilkan hati Kwan Cu.

Tiba-tiba Kahano berseru dan kini enam orang itu kesemuanya membalasnya dengan serangan yang mirip dengan ilmu pedangnya pula!

Bahkan lebih hebat lagi, agaknya enam orang itu setengah dapat menduga ke mana pedangnya akan bergerak selanjutnya, seakan-akan keenam orang itu pernah mempelajari Hun-kai Kiam-hoat, sesungguhpun belum mahir betul.

Menghadapi keroyokan yang dilakukan dengan ilmu silat yang sama dengan ilmu pedangnya, Kwan Cu menjadi bingung sekali.

Apalagi senjatanya hanya sebatang yang kosong dan tidak dapat dia gerakkan dengan tenaga besar, maka biarpun dia dapat menangkis setiap serangan lawan, namun dia tidak kuasa membuat lawannya itu melepaskan pedangnya.

Kwan Cu terkurung makin hebat dan pada saat-saat tertentu dengan aba-aba yang di keluarkan oleh Kahano, enam orang itu mengubah gerakan mereka dan tiba-tiba saja maju menubruk berbareng dengan dahsyat sekali!

Biarpun Kwan Cu sudah berusaha mengelak sambil memutar sulingnya, namun bajunya terobek oleh tiga ujung pedang kecil.

Pemuda ini berubah air mukanya.

Ia maklum bahwa ujung pedang mereka itu mengandung racun yang berbahaya dan sekali kulit tubuhnya tergurat ujung pedang, banyak kemungkinan nyawanya akan melayang!

Lebih hebat lagi, selagi pemuda ini kebingungan, tiba-tiba Kahano melompat ke atas dan sebuah tendangan yang cepat sekali mengenai pergelangan tangan Kwan Cu yang memegang suling.

Pemuda ini merasa pergelangan tangannya kaku.

Memang Kahano dahulu adalah pemain akrobat, loncatannya tinggi dan tendangannya tepat mengenai urat besar sehingga Kwan Cu tidak kuasa memegang sulingnya lagi yang terlempar jauh.

"Ha, ha, ha! Lu Kwan Cu bocah sombong. Baru sekarang kau mengenal kelihaian Kahano!"

Si katai berjenggot ini tertawa bergelak saking girangnya.

Lima orang kawannya mendesak makin hebat, mendapat tambahan semangat melihat hasil tendangan pemimpin mereka yang lihai.

Kwan Cu segera dapat menenteramkan hatinya.

Ia teringat bahwa di antara anggauta tubuhnya, yang berani menghadapi ujung pedang enam orang lawannya hanya kedua tangannya yang sudah diberi obat oleh Malita.

Ia teringat pula betapa tenaga keenam orang ini kecil saja, terbukti pula dari tendangan tadi.

Tendangan Kahano itu tidak mengandung tenaga besar, dan hasil yang baik itu hanya karena tepatnya tendangan itu mengenai urat besar di pergelangan tangannya.

Teringat akan hal ini, Kwan Cu berseri wajahnya dan dia tersenyum.

"Kahano, kaulah yang sombong. Sekarang akan kau rasai kelihaian Lu Kwan Cu!"

Sambil berkata demikian, Kwan Cu menggerakkan tangannya dengan jari-jari terpentang.

Ia bersilat dengan ilmu silat Sin-ci-tin-san yang mengandung tenaga lweekang dan gwakang amat besar sehingga baru saja sambaran hawa pukulannya saja sudah dapat merobohkan lawan.

Di samping itu, dia pun menggerakkan kedua kakinya menurutkan gerakan ilmu silat Sam-hoan-ciang sehingga dia seakan-akan mempunyai muka tiga dan gerakan-gerakan kakinya selalu membentuk segitiga dan tidak dapat di serang dari belakang oleh lawan-lawannya.

Tepat betul gerakan Kwan Cu ini.

Begitu dia mainkan ilmu silat Sin-ci-tin-san, enam orang pengeroyoknya menjadi bingung sekali.

Mereka agaknya dapat pula menduga gerakan-gerakan selanjutnya dari Sin-ci-tin-san, akan tetapi oleh karena ilmu silat ini di lakukan mengandalkan lweekang yang tinggi dan tenaga yang besar, tentu saja mereka tidak dapat menirunya!

Hal ini merupakan keuntungan bagi Kwan Cu yang mendesak terus selagi enam orang itu kebingungan, tidak tahu harus berbuat bagaimana menghadapi pukulan-pukulan sepuluh jari tangan Kwan Cu yang baru hawa pukulannya saja sudah membuat tubuh mereka tergetar!

Melihat hasil serangannya, Kwan Cu mengamuk makin hebat.

Ia dengan heran sekali melihat betapa enam orang ini pun seakan-akan mengenal ilmu silat Sin-ci-tin-san, karena mereka dapat menduga gerakan-gerakan selanjutnya dari ilmu silat ini, bahkan mereka mencoba untuk menyerangnya dengan meniru gerakan itu.

Ilmu silat apakah yang mereka miliki ini sehingga semua ilmu silatnya dapat dikembari oleh mereka?

Kalau dia berlaku lambat, tentu mereka akan dapat menguasai diri dan kalau sekali ini dia tidak mampu mengalahkan mereka, agaknya itu akan menjadi tanda bahwa dialah sebaliknya yang akan kalah dan mendapatkan bencana besar!

"Robohlah kalian!"

Kwan Cu berseru untuk memperkuat pengaruh dan lweekangnya, dan kedua tangannya bergerak cepat sambil mengerahkan tenaga sekuatnya.

Yang paling dia desak adalah Kahano, maka ketika kedua tangannya bergerak, terdengar Kahano menjerit, disusul oleh dua orang kawannya.

Ternyata bahwa pukulan Kwan Cu tadi hanya setengah dapat dielakkan mereka, akan tetapi hawa pukulannya masih menghantam Kahano dan dua orang kawannya, yakni seorang yang berada di belakangnya dan seorang pula yang berada di kanannya.

Pedang pendek Kahano terlepas dari pegangan dan si katai brewok ini terpukul dadanya sehingga dia terlempar ke belakang dengan dada menderita luka dalam.

Orang yang berada di belakang Kwan Cu lebih hebat lagi.

Tangan kanan Kwan Cu, atau lebih tepat jari-jari tangan kanannya, telah dapat menampar kepala orang itu sehingga si katai gundul ini terlempar bagaikan seekor anjing dilemparkan dan dia roboh tak dapat bangun kembali.

Orang yang berada di kanannya, hanya terkena langgar telunjuk Kwan Cu, namun karena tepat mengenai tangannya yang memegang pedang, pedang itu pun terlepas dari pegangan dan dia menjerit-jerit kesakitan sambil mundur dan memegangi tangan kanan dan tangan kirinya.

Ternyata bahwa tulang-tulang tangan kanannya itu telah patah-patah.

Tiga orang lain yang berada di depan Kwan Cu, ketika melihat ini, terbang semangat mereka dan timbul watak pengecut.

Mereka melempar pedang dan berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepala yang gundul itu, minta ampun!

Memang, sudah terlalu lama kaum laki-laki di pulau katai itu diperlakukan seperti wanita sehingga rata-rata memiliki watak penakut dan berhati kecil.

Kwan Cu tertawa bergelak dengan puas dan mengambil sulingnya.

Berhasillah tugasnya mengamankan pulau itu.

Akan tetapi, tiba-tiba dia melihat bayangan beberapa orang berkelebat dekatnya dan lenyaplah suara ketawanya ketika dia melihat apa yang telah terjadi pada saat dia tertawa tadi.

Ketika dia memandang, enam orang laki-laki katai itu telah kehilangan kepala mereka dan kini tubuh mereka tergeletak dengan leher terputus dan darah mengalir deras dari leher-leher yang tak berkepala lagi itu.

Dengan kening berkerut Kwan Cu memandang tajam kepada Malita, Malika dan beberapa orang wanita lain yang sudah berdiri di situ dengan pedang di tangan.

Malita dan Malika menyusut darah yang menempel di pedang mereka, menggunakan pakaian yang menempel pada mayat-mayat itu.

"Mengapa kalian lakukan ini? Alangkah kejamnya!"

Seru Kwan Cu tak senang. Malika menghadapinya dengan sikap menantang. Gadis ini memang berwatak keras dan pemberani. Ia menentang pandang mata Kwan Cu tanpa takut sedikitpun juga, lalu berkata.

"Kau bilang kami kejam? Kalau mengingat betapa enam orang iblis ini hendak membuat kami kaum perempuan menjadi barang permainan yang hina-dina, hukuman penggal kepala masih terlampau murah untuk mereka!"

Kwan Cu menghela napas, lalu berkata.

"Sudahlah, Malika, dan kau juga Malita. Yang sudah lalu biarlah lenyap. Memang mereka ini jahat sekali dan patut dihukum mati, akan tetapi apakah perbuatan ini merupakan tanda bahwa kalian kaum wanita kini hendak berkuasa lagi dan melupakan kerja sama yang baik?"

"Tidak, sama sekali kami tidak akan mengulangi kesalahan besar yang dilakukan oleh nenek moyang kami. Kami sudah berjanji kepadamu dan janji kami selalu kami pegang teguh. Kami akan melakukan pemilihan raja baru dengan adil, kaum laki-laki pun berhak memilih. Dan kami tak kan memandang-mandang lagi apakah ia laki-laki atau wanita, akan tetapi siapa saja yang bersalah akan dihukum dan yang tertindas akan dibela, baik ia laki-laki maupun wanita! Dan semua ini, kebahagiaan yang akan kami hadapi ini, semua berkat pertolonganmu yang amat berharga, saudara Kwan Cu yang budiman!"

"Semua berkat pertolonganmu,"

Semua wanita berkata pula dan tiba-tiba, dipimpin oleh Malita dan Malika, semua orang wanita yang berada di situ menjatuhkan diri berlutut di depan Kwan Cu sambil menangis riuh-rendah!

Kwan Cu tertegun, kebingungan, kemudian dia menghela napas dan berkata dalam hatinya.

"Perempuan, perempuan....perempuan namamu dan di manapun sama saja, paling mudah menangis!"

Berpikir sampai di sini, timbul pikiran lain yang membantahnya.

"Ah, Kong Hoat putera Liok-te Mo-li itu terang seorang laki-laki, akan tetapi dia pun suka menangis."

Pikiran kedua mengejek.

"Ah, Kong Hoat memang dasar cengeng!"

Demikianlah, menghadapi tangis karena berterima kasih dan gembira dari banyak wanita kecil-kecil ini, Kwan Cu malahan melamun, teringat yang bukan-bukan. Akan tetapi, dia sadar kembali dan berkata.

"Sudahlah, untuk apa menangis? Kalian membikin aku merasa sedih dan jangan-jangan aku akan ikut menangis pula. Malita dan Malika, kalian pada saat ini boleh dibilang menjadi pemimpin bangsamu, jangan melakukan upacara yang berlebih-lebihan ini. Aku bertindak sebagai seorang manusia yang harus menolong manusia lain sedapat mungkin. Aku hanya ada satu permintaan, yakni kalau sekiranya kalian tidak keberatan."

Malita menyusut air matanya dan bangkit berdiri sambil tersenyum manis sekali.

"Apakah permintaanmu itu, saudaraku yang baik? Apa saja yang menjadi permintaanmu, pasti akan kami turuti. Kau ingin menjadi pemimpin kami? Kami setuju sepenuhnya! Kau ingin memilih seorang jodoh di antara kami? Kiranya tak seorangpun dara akan menolakmu siapapun dia adanya!"

Setelah mengucapkan kata-kata ini, sadarlah Malita bahwa ia bicara terlalu banyak, maka merahlah mukanya.

"Jangan main-main, Malita. Aku bukan Kahano! Tiada lain hanya ini. Perbolehkanlah aku tinggal di pulau ini seorang diri, entah berapa tahun sampai aku merasa bosan dan pergi meninggalkan pulau ini. Selama aku berada di sini, harap kalian jangan menggangguku, karena aku bermaksud hendak bersamadhi dan menjauhkan diri dari keramaian dunia di tempat ini. Tempat ini amat menarik hatiku."

Malita dan kawan-kawannya saling pandang dengan heran.

"Kau memang orang aneh, seorang sakti yang berbudi tinggi. Hal itu bukan merupakan permintaan karena tentu tak seorangpun merasa keberatan kalau kau tinggal di pulau ini."

"Nah, kalau begitu selamat berpisah. Kalian pulanglah dan aturlah pemerintahanmu sebaik-baiknya dan tinggalkan aku di sini. Jangan ingat lagi kepadaku, karena akupun takkan mengganggu kalian di sana."

Mendengar keputusan ini, terkejutlah Malita.

"Mengapa begitu keras, saudara Kwan Cu? Setidaknya, perkenankanlah kami kadang-kadang mengunjungimu di sini untuk melihat apakah kau tidak kekurangan sesuatu di sini,"

Kata Malita.

"Dan sudah tentu kami yang akan menjaga makananmu setiap harinya,"

Kata Malika. Akan tetapi Kwan Cu menggeleng kepala dan menggoyang-goyang tangannya.

"Jangan! Kulihat pulau ini mengandung pohon-pohon yang berbuah dan kulihat tadi beberapa ekor binatang hutan yang kiranya akan dapat menjadi bahan makanan bagiku. Aku ingin seorang diri saja di sini, tanpa mendapatkan gangguan dari siapapun juga. Kecuali....."

Sambungnya ketika meliha sinar mata pada wajah mereka.

"kecuali kalau ada sesuatu yang hebat menimpa kalian, tentu saja aku selalu bersiap sedia untuk menolong kalian. Nah, pergilah, mayat-mayat ini tinggalkan saja, biar aku nanti yang akan menguburnya di tempat ini."

Terpaksa Malita memberi tanda kepada kawan-kawannya untuk pergi dari situ dengan wajah kecewa sekali. Akan tetapi, belum lama ia berjalan ia segera membawa kawan-kawannya, datang lagi dan berlutut.

"Ada apa lagi?"

Tanya Kwan Cu tak senang.

"Saudara Kwan Cu, biarpun kami tak berani melanggar laranganmu dan tidak akan mengganggumu di tempat ini, setidaknya berjanjilah bahwa sewaktu-waktu kau akan datang mengunjungi kami agar kami dapat melihat bahwa kau masih berada di dekat kami."

Kwan Cu tersenyum. Ia tidak boleh terlalu keras agar mereka ini jangan menduga yang bukan-bukan sehingga akan pecah rahasia sebenarnya dari keinginannya berada seorang diri di tempat itu.

"Baiklah, kelak kalau kau dan adikmu menikah, beritahulah aku dan aku akan datang menyaksikan pernikahan itu!"

Bertitik air mata di pipi Malita, bahkab Malika juga menangis sesenggukan karena terharu.

Mereka lalu pergi dari situ, menuju ke perahu-perahu kecil milik Kahano dan kawan-kawannya sambil menoleh beberapa kali ke arah raksasa muda yang masih berdiri bertolak pinggang melihat sampai mereka pergi jauh dan tidak kelihatan lagi.

*** Setelah menggali lubang dan mengubur jenazah Kahano dan lima orang kawannya, Kwan Cu segera menghampiri gua yang dijadikan tempat bersembunyi para pemberontak tadi.

Ia memeriksa dinding gua dengan sepasang obor yang dibuatnya dari pada rumput kering dan alangkah girangnya ketika dia mendapat kenyataan bahwa dinding-dinding itu sebagaimana telah diduganya semula, terhias oleh gambar-gambar manusia sedang bersilat!

Gambar-gambar ini ukirannya bagus dan jelas sekali sehingga melihat gambar-gambar ini saja orang sudah dapat mempelajari ilmu silat yang terlukis di situ!

"Hm, dari sini kiranya mereka itu mempelajari ilmu silat mereka yang aneh!"

Pikirnya.

Gambar-gambar itu benar-benar hebat sekali karena amat banyak dan mengandung gerakan dari hampir semua ilmu silat yang pernah dia pelajari dan yang pernah dia dengar dari suhunya, Ang-bin Sin-kai.

Manusia gaib siapakah yang dapat membuat lukisan-lukisan pelajaran ilmu silat seperti ini?

Sampai sehari penuh Kwan Cu memeriksa gambar-gambar itu dan masih juga belum habis.

Ternyata bahwa seluruh terowongan yang menembus kegua-gua lain juga terhias gambar-gambar seperti itu, namun anehnya, semua lukisan itu menggambarkan orang bersilat tangan kosong!

Tidak ada sebuah pun gambar orang bersilat dengan senjata di tangan.

Ada yang bersilat seorang seorang diri, ada yang bertempur, ada pula yang di keroyok dua, tiga, sampai dikeroyok puluhan orang!

Agaknya lukisan dititik beratkan kepada tokoh yang dikeroyok, karena kedudukan tokoh ini jelas sekali, teratur baik setiap gerak kaki atau tangan.

Menghadapi sebaris lukisan yang menggambarkan cara bagaimana seorang laki-laki dikeroyok oleh puluhan orang, Kwan Cu terkejut.

Bukan main hebatnya kedudukan orang yang dikeroyok itu, jauh lebih kuat dari pada ilmu silat Pai-bun-tui-pek-to yang dia pelajari dari Ang-bin Sin-kai.

Saking girangnya, Kwan Cu sampai lupa makan lupa tidur, setiap hari dia melihat dan mempelajari gambar-gambar yang terlukis di dinding gua dan terowongan itu.

Kemudian teringatlah dia akan maksud dan kedatangannya di pulau ini sesungguhnya, yakni mencari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng.

Hatinya berdebar keras.

Betapapun jelas adanya ukiran-ukiran ini yang dengan sendirinya telah merupakan pelajaran yang hebat sekali, namun tanpa buku petunjuk atau guru yang membimbing, ilmu-ilmu silat tinggi itu bisa dipelajari dengan cara yang keliru!

"Bukan tak mungkin bahwa Im-yang Bu-tek Cin-keng adalah kitab yang merupakan kouw-koat (teori ilmu silat) dari semua lukisan ini."

Pikirnya.

Setelah berpikir demikian, Kwan Cu merangkak keluar dari gua kecil itu dan baru dia merasa betapa tubuhnya sakit-sakit semua karena dia mempelajari dan melihat semua lukisan di dinding itu sambil merangkak!

Ternyata bahwa sudah dua hari dua malam dia berada di gua itu tanpa berhenti untuk makan atau tidur.

Kini dia merasa perutnya lapar sekali.

Maka pergilah dia ke dalam hutan yang penuh dengan pohon-pohon itu.

Keadaan di situ memang aneh.

Semua pohon mempunyai daun yang keputih-putihan, sungguhpun daun-daun itu berbeda corak dan ukurannya.

Dan diantara pohon-pohon itu, ada pula yang mengandung buah-buahan yang biarpun ada yang berwarna merah, namun merahnya juga pucat seperti dikapur.

Kwan Cu berlaku hati-hati sekali.

Niarpun perutnya amat lapar dan mulutnya amat haus, namun dia tidak berlaku sembrono.

Buah-buahan itu asing baginya dan siapa tahu kalau-kalau di tempat aneh ini terdapat buah-buah yang mengandung bisa.

Sebelum makan buah itu, dia menciumnya lebih dulu dan menancapkan suling pemberian Hang-houw-siauw Yok-ong ke dalam buah itu.

Gurunya pernah memberi tahu bahwa suling itu selain dapat dipergunakan sebagai senjata, juga dapat di pergunakan untuk menguji apakah dalam sesuatu benda terdapat bisa yang berbahaya.

Kalau suling yang kehijauan itu berubah hitam seperti hangus, itulah tanda bahwa buah itu mengandung racun.

Setelah dilihatnya bahwa suling itu tidak hangus, barulah dia berani mencoba makan.

Ternyata buah itu wangi dan manis, sehingga hatinya girang sekali.

Juga di situ terdapat banyak binatang hutan yang rupanya seperti kijang, maka dia tidak khawatir lagi akan makanan untuk perutnya.

Betapapun tertarik hatinya untuk mempelajari semua lukisan orang bersilat di dalam gua yang kecil gelap itu, namun Kwan Cu tidak mau melihatnya lagi.

Hatinya tetap bahwa dia harus lebih dulu mencari kitab rahasia Im-yang Bu-tek Cin-keng, karena itulah tujuan utamanya datang mencari pulau ini.

Berhari-hari dia mencari.

Semua gua, dari yang besar sampai yang paling kecil dia masuki, namun dia tidak mendapatkan tempat disimpannya kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng.

Bahkan sebulan telah berlalu dia belum juga bisa menemukan kitab itu.

Namun Kwan Cu adalah seorang pemuda yang keras hati dan tak mudah patah semangat.

Ia yakin bahwa kitab itu tentu belum ditemukan oleh Kahano, karena kalau Kahano telah mempelajari ilmu silat dari kitab itu, tak mungkin dia akan dapat mengalahkannya.

Ang-bin Sin-kai, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, Hek-i Hui-mo, Pak-lo-sian Siangkoan Hai, Kiu-bwe Coa-li dan masih banyak tokoh-tokoh sakti dari dunia kang-ouw, semua ingin memiliki kitab itu.

Hal ini saja sudah membuktikan bahwa kitab itu tentulah mengandung pelajaran ilmu yang bukan main tingginya.

Kemajuan ilmu silat Kahano dan kawan-kawannya yang diherankan oleh Malita, tentulah karena Kahano dan kawan-kawannya mempelajari sebagian daripada gambar-gambar lukisan dinding itu.

Beberapa pekan telah lewat pula dan tahu-tahu sudah tiga bulan Kwan Cu tinggal di pulau kosong itu.

Dan belum juga dia menemukan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang dicari-carinya, biarpun sudah beberapa kali dia memasuki gua-gua yang banyak itu dan memeriksa di balik batu-batu karang yang besar.

Selama seratus hari ini, Kwan Cu belum lagi mempelajari ilmu silat yang di lukis di dinding, karena kemauannya amat keras hendak menemukan kitab rahasia itu lebih dulu.

Ia percaya penuh akan kebenaran kitab sejarah peninggalan Gui Tin dan biarpun sudah seratus hari mencari dengan sia-sia kepercayaannya ini tidak berkurang, bahkan dia menjadi makin penasaran dan Pada suatu hari, ketika dia mencari seekor kijang untuk dipanggang dagingnya, tiba-tiba dia melihat bayangan putih berkelebat cepat di atas tanah.

Hampir saja dia tidak dapat melihat apakah yang berkelebat itu, karena gerakan bayangan ini cepat luar biasa.

Akan tetapi, ketika dia mengejar ke arah itu, dia melihat seekor binatang yang rupanya seperti kelinci berbulu putih, berlari cepat sekali.

Ia menjadi tertarik.

Belum pernah dia melihat binatang seindah itu bulunya.

Putih bersih seperti kapas dan keempat kakinya yang pendek-pendek itu amat cepat larinya.

Ia mengejar sambil mengerahkan ginkangnya, dan biarpun dia tidak atau belum dapat menangkap binatang putih itu namun binatang itu pun tidak dapat memperbesar jaraknya.

Binatang itu nampak kebingungan sekali dan segera berlari ke arah bukit batu karang yang di tumbuhi oleh pohon-pohon berdaun putih yang tidak berbuah.

Kwan Cu mengejar terus.

Ketika binatang itu tiba di bawah sebatang pohon di puncak bukit, pohon yang terbesar, tiba-tiba saja binatang itu lenyap!

"Eh, ibliskah dia?

Bagaimana bisa menghilang begitu saja sedangkan di sini, kecuali pohon-pohon besar ini, tidak ada tetumbuhan lainnya?"

Pikir Kwan Cu penasaran.

Pemuda ini mencari-cari dengan pandangan matanya, dan akhirnya dia melihat sebuah lubang di dekat pohon itu, lubang yang berada di tengah antara dua batang akar yang menonjol keluar dari permukaan tanah.

"Hm, jadi dia bersembunyi di sini,"

Pikir Kwan Cu sambil tersenyum gembira.

Ia mempergunakan pedang kecil yang dahulu menjadi senjata Kahano dan disimpannya karena dia memang membutuhkan senjata untuk menolong sesuatu yang diperlukan.

Dengan pedang yang kecil seperti pisau ini, dia menggali lubang itu dan merenggut putus dua akar yang menjepit lubang.

Makin dalam dia menggali lubang itu makin besar.

Kegembiraan Kwan Cu membesar pula.

Ini merupakan pengalaman baru baginya.

Bagaimana seekor binatang yang begitu kecil bisa membuat sarang begini besar?

Kurang lebih tiga kaki dalamnya dia menggali dan tiba-tiba, ketika dia mengayun pedang itu ditancapkan pada tanah untuk memperdalam galian, terdengar suara keras dan pedang itu patah!

Kwan Cu terkejut dan heran sekali.

Dengan jari-jari tangannya dia menggali tanah dan ternyata bahwa pedangnya tadi telah memukul dinding besi yang mengeluarkan cahaya kehitaman dan kelihatannya kuat sekali!

"Apakah ini.....?"

Katanya makin heran.

Ia lalu makin bersemangat, mempergunakan patahan pedang untuk menggali tanah di sekitar pedang besi itu dan ternyata bahwa dinding ini merupakan sebuah peti besi segi empat yang lebarnya ada satu kaki lebih.

Di samping peti besi ini terdapat lubang lain yang kecil, agaknya binatang itu mempergunakan peti besi yang kuat ini untuk perisai dan tentu dia bersembunyi di dalam sebuah lubang yang digalinya tepat di bawah peti itu.

Namun Kwan Cu tidak ingat lagi akan kelinci atau binatang berbulu putih yang tadi dikejar-kejarnya.

Seluruh perhatiannya kini tercurah kepada peti besi ini.

Hatinya berdebar-debar dan diam-diam dia dia berdoa kepada Thian semoga peti inilah yang akan memberi jalan kepadanya mendapatkan kitab rahasia Im-yang Bu-tek Cin-keng!

Ia membawa peti besi itu ke guanya.

Memang selama tiga bulan berada di situ, Kwan Cu telah memilih sebuah gua yang paling besar, gua yang tidak merupakan terowongan dan sinar matahari dapat masuk ke dalamnya, sebagai tempat tinggalnya, dimana dia mengaso dan tidur.

Setelah makan buah-buahan yang dia simpan di dalam gua itu, Kwan Cu mulai mendekati peti besi dan setelah diperiksanya keadaan di luarnya sambil membersihkan tanah yang melengket di situ, dia tidak mendapatkan sesuatu tulisan.

Lalu dia membuka tutup peti besi itu dengan amat hati-hati.

Hampir saja dia bersorak girang ketika melihat betapa isi peti itu memang sebuah kitab yang sudah kuning.

Jelas kelihatan bahwa ktiab itu terbuat daripada sutera putih yang sudah menguning saking tuanya dan seakan-akan apabila dipegang, kitab itu akan hancur menjadi debu!

Dengan kedua tangan gemetar, Kwan Cu mengulurkan tangan hendak mengambil kitab itu, akan tetapi tiba-tiba mukanya menjadi pucat dan dia menarik kembali tangannya.

Keringat dingin membasahi jidatnya, karena dia teringat akan kehebatan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang palsu.

Baru kitab palsu itu saja oleh Panglima An Lu Shan telah dipasangi racun yang amat berbahaya sehingga menewaskan seorang tokoh yang berilmu tinggi seperti Hek-mo-ong!

Apalagi kitab ini kalau benar-benar kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, tentulah yang aselinya!

Siapa tahu kalau-kalau penyimpannya, yakni Liu Pang, juga mempergunakan akal seperti yang telah di lakukan oleh An Lu Shan?

Kwan Cu mengeluarkan sulingnya dan beberapa kali dia menggosok-gosokkan sulingnya itu di atas kitab tua itu.

Akan tetapi tidak terjadi sesuatu pada suling itu dan legalah hati Kwan Cu.

Ia sudah yakin bahwa kitab itu tidak dipasangi racun jahat, namun ketika dia menjamah dan mengeluarkan kitab itu dari peti, tetap saja kedua tangannya gemetar dan wajahnya tegang sekali.

Siapa orangnya yang takkan merasa seperti itu apabila mendapatkan kitab yang diinginkan oleh seluruh tokoh besar di daratan Tiongkok?

Kwan Cu harus berlaku hati-hati.

Kitab itu sudah tua sekali dan lembaran-lembarannya yang terbuat daripada sutera itu sudah lapuk.

Maka dia meletakkan kitab itu di dalam peti lagi dan hanya berusaha membuka halaman pertama, karena pada kulit muka tidak terdapat tulisan apa-apa.

Setelah halaman pertama dibuka, dia melihat huruf-huruf kuno yang sudah amat dikenalnya, yakni huruf-huruf yang dipergunakan pula untuk menuliskan Im-yang Bu-tek Cin-keng yang palsu dan yang Gui-siucai telah mengerjakannya sampai hafal betul.

Dan huruf-huruf ini juga berbunyi.

IM-YANG BU-TEK CIN-KENG!

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 3

Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert