Eps 6 Pendekar Sakti - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Sakti - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Sakti - Kho Ping Hoo.
Pek-eng Sianjin tahu bahwa tempat tinggalnya kedatangan orang pandai yang tentu sudah mengetahui akan semua peristiwa yang belum lama terjadi.
Memang dia sudah merasa tidak enak sekali dengan tertawanya Pak-lo-sian dan juga Kun-lun Sam-lojin, dan tentu saja dia dapat menduga bahwa kedatangan kakek pengemis ini tentulah ada hubungannya dengan orang-orang kang-ouw yang tertawan itu.
Maka dia lalu memberi tanda rahasia kepada tiga orang saudaranya dan serentak empat orang ini mengepung dan menyerang tubuh Ang-bin Sin-kai yang masih berdiri di atas meja dengan kedua kaki di atas mangkok.
Yang diserang dengan amat tenang hanya menggerakkan kedua kakinya dan melayanglah empat buah mangkok berisi sayuran ke arah empat penyerangnya!
Ketika Pek-eng Sianjin dan tiga orang saudaranya melihat mangkok melayang ke arah mereka, cepat mereka memukulkan dengan pedang dan alangkah kaget hati mereka ketika telapak tangan mereka terasa sakit dan panas walaupun mangkok-mangkok itu dapat dipukul pecah.
Mereka mendesak maju mengurung meja, namun dengan mangkok-mangkok di atas meja, Ang-bin Sin-kai melayani mereka dengan menendangi mangkok-mangkok itu ke arah empat pengeroyoknya.
Sementara itu, Hang-hong-siauw Yok-ong juga melayang turun, akan tetapi raja obat ini sama sekali tidak ikut bertempur.
Bahkan dia tertawa geli melihat cara Ang-bin Sin-kai melayani empat orang lawannya dan untuk beberapa lama menonton sambil tertawa-tawa.
Kemudian dia menotoki roboh semua orang muda yang tadi melayani Pek-eng Sianjin dan saudara-saudaranya.
Tubuh para orang muda itu oleh Yok-ong dikumpulkan di sudut ruangan yang lebar itu, dibaringkan saja berjajar di atas lantai, lalu dia mencar-cari lagi anak-anak muda yang lain yang memang banyak terculik oleh lima orang jahat itu.
Kwan Cu setelah melihat suhunya dikeroyok oleh empat orang lawan di dalam ruangan itu, lalu melompat turun ke bagian belakang.
Tugasnya ialah menolong orang-orang yang tertawan di situ, akan tetapi di manakah tempat untuk menyimpan para tawanan?
Ketika dia tengah mencari, tiba-tiba dia mendengar suara orang bernyanyi.
Ia mengenal suara Pak-losian Siangkoan Hai, maka cepat-cepat dia menghampiri tempat dari mana suara itu datang dari dalam sebuah sumur yang amat dalam dan gelap.
"Pak-lo-sian Locianpwe........!"
Kwan Cu memanggil dari atas sumur. Suara nyanyian itu berhenti dan tak lama kemudian terdengar suara tertawa.
"Ha-ha-ha, bocah gundul. Bukankah kau murid Ang-bin Sin-kai? Lekas kau mencari tambang yang panjang dan masukkan ujungnya ke dalam sumur. Ujung yang lain kau ikatkan kepada tiang agar aku dapat naik!"
"Baik, Locianpwe, tunggulah sebentar."
Kwan Cu lalu berlari-lari ke belakang untuk mencari tambang yang cukup panjang. Ia bertemu dengan beberapa "murid"
Kun-lun Ngo-eng yang segera menyerangnya.
Akan tetapi, sebetulnya para murid ini hanya mengerti ilmu silat kembangan saja dan mereka itu bertempur seperti orang-orang yang digerakkan oleh mesin, maka sebentar saja Kwan Cu sudah dapat meloloskan diri dari kepungan.
Anak gundul yang cerdik ini dapat melihat sikap mereka yang aneh, maka dia menjadi curiga dan tidak mau memukul atau merobohkan mereka, hanya menangkis saja yang membuat mereka terpental mundur, lalu dia dapat menemukan tambang yang panjang dan cepat dia membawa tambang itu ke tempat di mana terdapat sumur tadi.
"Locianpwe, tangkap tambang!"
Serunya ke dalam sumur sambil mengulur tambang itu ke dalam sumur yang amat gelap itu.
Ia tidak mengikatkan ujung tambang pada tiang, melainkan memeganginya dan membelit-belitkan pada kedua tangannya.
Tak lama kemudian tambang itu bergerak-gerak dan dengan cepatnya tubuh Pak-lo-sian Siangkoan Hai merayap naik melalui tambang bagaikan seekor kera saja.
Ketika tiba di atas dan melihat betapa tambang itu dipegangi oleh Kwan Cu, Pak-lo-sian tertawa memuji.
Akan tetapi Kwan Cu berkata.
"Cepat, Locianpwe, di kamar belakang sebelah kiri teecu mendengar suara Kun Beng memaki-maki. Agaknya dia dalam bahaya!"
Memang ketika mencari tambang tadi, Kwan Cu mendengar suara Kun Beng yang sedang memaki-maki Jeng-eng Mo-li.
Bocah gundul ini tidak berani menolong karena dia dapat menduga bahwa orang kelima dari Kun-lun Ngo-eng boleh jadi sekali berada di kamar itu dan dia maklum bahwa kepandaiannya sendiri masih jauh untuk menghadapi lawan tangguh.
Mendengar ini, Pak-lo-sian Siangkoan Hai lalu melompat dan lenyap dari situ.
Sebagaimana dituturkan di bagian depan, dengan tepat sekali Pak-lo-sian Siangkoan Hai dapat menyelamatkan Kun Beng dari bahaya terkena obat bius yang berbahaya.
Adapun Jeng-eng Mo-li setelah berlari keluar dan melihat empat orang saudaranya mengeroyok Ang-bin Sin-kai namun kelihatan amat terdesak, segera membantu.
"Ha-ha-ha! Kini lengkap Kun-lun Ngo-mo (Lima Iblis Kun-lun-san)! Bagus, bagus!"
Sambil berkata demikian, Ang-bin Sin-kai menggerakkan kakinya.
Terdengar teriakan kaget dan tubuh Ui-eng Suthai terlempar ke arah Yok-ong yang kini berada di sudut, menjaga orang-orang muda yang semua telah ditotoknya dan kini dibaringkan di atas lantai berjajar, belasan orang jumlahnya.
Sambil meniup sulingnya, Yok-ong tadi menonton pertandingan antara Ang-bin Sin-kai dikeroyok lima orang.
Nampaknya dia gembira sekai dan sulingnya ditiup keras, menyanyikan lagu perang sehingga sesuai sekali dengan jalannya pertempuran.
Karena inilah maka Ang-bin Sin-kai mendongkol sekali dan sengaja menendang seorang lawannya ke arah Yok-ong.
Melihat tubuh wanita jahat itu melayang ke arahnya, Yok-ong tidak menghentikan suara sulingnya, hanya mengangkat kaki kirinya dan sekali mendupak, tubuh Ui-eng Suthai telah dikirim kembali ke tengah medan pertempuran!
Pak-lo-sian Siangkoan Hai sebelum membawa Kun Beng ke tempat itu, lebih dulu menolong dan membebaskan Seng Te Siansu dan Seng Jin Siansu, dua orang tokoh Kun-lun-pai yang ditawan di dalam sebuah kamar besi.
Kemudian beramai-ramai mereka menuju ke ruang tengah di mana terjadi pertempuran antara Ang-bin Sin-kai dikeroyok lima.
Pak-lo-sian marah sekali ketika mendengar dari Kun Beng tentang kejahatan Kun-lun Ngo-eng.
Apalagi ketika tiba di ruang itu dia melihat muridnya yang pertama, Swi kiat, rebah bersama orang-orang muda lain dengan muka pucat.
"Harus kubikin mampus kelima Kun-lun Ngo-eng!"
Katanya penuh geram.
Kebetulan sekali Ang-bin Sin-kai yang sedang mempermainkan lima orang lawannya, melihat betapa Pak-lo-sian Siangkoan Hai masuk dari sebuah pintu, diikuti oleh Kun Beng dan dua orang kakek Kun-lun-pai, segera berkata.
"He, Pak-lo-sian, mari kau ikut main-main!"
Serunya dan kembali seorang pengeroyok, kini Hek-eng Sianjin, terlempar tubuhnya terkena dorongannya.
Tubuh Hek-eng Sianjin berputar-putar di tengah udara dan melayang menuju ke tempat Pak-lo-sian Siangkoan Hai berdiri.
Kakek sakti dari utara ini yang sudah merasa amat gemas dan marah kepada lima orang jahat itu, mengulur tangan kanannya dan sekali sambar dia telah dapat menangkap leher Hek-eng Sianjin, kemudian sambil berseru.
"Mampuslah kau!"
Tubuh itu dia lemparkan ke arah dinding.
Terdengar suara keras dan kepala Hek-eng Sianjin pecah beradu dengan dinding batu yang keras.
Tubuhnya menggeletak di bawah tembok dan darah mengalir membasahi lantai.
Yok-ong menghentikan tiupan sulingnya dan berkata memuji.
"Memang begitulah seharusnya menghukum orang jahat. Kalau tidak dihabiskan jiwanya, iblis yang mengeram di dalam tubuhnya takkan mau pergi!"
Akan tetapi baru saja dia menutup mulutnya, Ang-bin Sin-kai telah menangkap lengan Ui-eng Suthai yang ternyata masih dapat mengeroyok juga setelah tadi dipergunakan sebagai bal oleh Yok-ong dan Ang-bin Sin-kai, kemudian sambil membetot dia melemparkan tubuh Ui-eng Suthai ke arah Yok-ong !
"Ini bagianmu!"
Seru Ang-bin Sin-kai lantang.
"Eh, eh, eh, aku tidak biasa menghancurkan kepala orang!"
Kata Yok-ong gugup karena tidak tersangka bahwa dia harus menewaskan seorang di antara Kun-lun Ngo-eng.
Dia seorang Raja Obat, kesukaannya menyembuhkan orang sakit dan mencegah orang tercengkeram dan terbawa oleh Giam-lo-ong (Raja Maut).
Bagaimana dia dapat membunuh orang?
Maka setelah tubuh Ui-eng Suthai itu melayang ke dekatnya, dia lalu mendorongnya kembali sehingga tubuh wanita itu terpental ke arah Pak-lo-sian Siangkoan Hai!
Pak-lo-sian Siangkoan Hai dapat menduga bahwa muridnya, yakni Swi Kiat, tentu menjadi korban perempuan ini karena perempuan kedua Kun-lun Ngo-eng, yakni Jeng-eng Mo-li, dilihatnya tadi menggoda Kun Beng.
Maka marahnya tak dapat dikendalikan lagi dan melihat perempuan ini, dia mengangkat kaki kanannya menendang ke arah lambung Ui-eng Suthai.
Wanita ini menjerit ngeri dan tubuhnya terlempar ke arah dinding, terbentur keras dan roboh di atas tubuh Hek-eng Sianjin dalam keadaan tak bernyawa pula.
Yang membunuhnya adalah tendangan tadi karena Pak-lo-sian tidak mau berlaku kepalang dan telah mengerahkan seluruh tenaga dalam tendangannya.
Mana Ui-eng Suthai kuat menahan tendangan itu?
Pak-lo-sian Siangkoan Hai telah menewaskan dua orang jahat itu, menjadi makin buas.
Ia memang paling benci kepada orang-orang jahat, apalagi setelah dia melihat keadaan orang-orang muda itu, terutama sekali keadaan muridnya yang tersayang.
Sambil mengeluarkan seruan keras dia melompat maju dan menyerang tiga orang lain yang masih dipermainkan oleh Ang-bin Sin-kai.
Bagaimana tiga orang itu dapat bertahan menghadapi serangannya?
Sedangkan menghadapi Ang-bin Sin-kai seorang saja mereka telah menjadi sibuk dan terdesak hebat.
Kini Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang kepandaiannya setingkat dengan Ang-bin Sin-kai ikut pula menyerbu, tentu saja mereka tak dapat mempertahankan diri lagi.
Jeng-eng Mo-li yang mula-mula menjadi korban dari kipas hitam di tangan Pak-lo-sian.
Kipas ini menyambar bagaikan seekor burung gagak liar, dan biarpun Jeng-eng Mo-li berusaha sedapat mungkin untuk menangkis dengan pedangnya, namun sia-sia belaka.
Pedangnya patah menjadi dua dan kepalanya terkena totokan gagang kipas.
Terdengar jerit mengerikan dan tubuh Jeng-eng Mo-li roboh, kemudian ketika Pak-lo-sian menendangnya, tubuh itu terlempar ke sudut ruangan, bertumpuk dengan tubuh Ui-eng Suthai dan Hek-eng Sianjin!
Pek-eng Sianjin menjadi pucat ketakutan dan dia mencoba untuk bertahan.
Ilmu pedangnya memang paling kuat di antara saudara-saudaranya, maka dia masih dapat mempertahankan diri.
Akan tetapi Ang-eng Sianjin tak dapat menangkis lagi.
Ketika Pak-lo-sian Siangkoan Hai menggunakan kipasnya untuk menyerang, dia berusaha melompat pergi, namun kipas itu seperti ada matanya dan hidup.
Dengan kecepatan luar biasa kipas itu mengikutinya dan tahu-tahu belakang lehernya terkena pukulan.
Terdengar suara keras dan patahlah tulang lehernya sehingga dia pun roboh tak bernyawa lagi.
Pak-lo-sian menendangnya pula sehingga mayatnya bertumpuk dengan mayat saudara-saudaranya.
Habislah keberanian Pek-eng Sianjin setelah melihat empat orang adik seperguruannya tewas dalam keadaan mengerikan itu.
Timbul kegetiran hatinya dan dalam keadaan ketakutan, dia lalu berlutut dan melempar pedangnya.
"Pinto (aku) Pek-eng Sianjin mohon ampun dan minta hidup."
Katanya dengan bibir gemetar.
Mendengar ini, Yok-ong mengluarkan suara ejekan dari hidungnya.
Tokoh besar ini merasa jemu dan muak melihat sikap pengecut dari Pek-eng Sianjin ini, maka dia lalu membalikkan tubuh dan menghampiri para anak muda yang masih rebah tertotok olehnya.
Ia mulai memeriksa keadaan mereka dan mempersiapkan obat-obat untuk menolong orang-orang muda yang telah menjadi boneka hidup oleh obat pembius dari Kun-lun Ngo-eng.
"Dia harus mampus!"
Seru Seng Te Siansu dan Seng Jin Siansu yang merasa sakit hati mengingat akan kematian adik seperguruan mereka, yakni Seng Giok Siansu.
Adapun Pak-lo-sian Siangkoan Hai dengan wajah beringas sudah mendekati Pek-eng Sianjin dan tanpa banyak cakap lagi dia mengangkat kipasnya untuk menotok kepala ketua Kun-lun Ngo-eng itu agar nyawanya menyusul adik-adiknya memasuki pintu neraka.
Akan tetapi Ang-bin Sin-kai berseru.
"Pak-lo-sian, tahan!"
Pak-lo-sian Siangkoan Hai menoleh kepada kakek pengemis itu. Kedua matanya merah dan masih menyinarkan kemarahan besar.
"Mengapa kau menahanku, Ang-bin Sin-kai? Tidakkah sepatutnya anjing macam ini dilenyapkan dari muka bumi?"
"Nanti dulu, Pak-lo-sian. Aku akan merasa menyesal sekali kalau kau sampai membunuh seorang yang sudah menyerah. Pembunuhan macam itu tak patut dilakukan oleh orang gagah."
Kemudian pengemis sakti ini bertanya kepada Pek-eng Sianjin.
"Berdasarkan apakah kau mohon ampun dan minta hidup? Apakah kau sudah bertobat dan takkan melakukan kejahatan lagi?"
"Pinto sudah bertobat dan berjanji akan hidup melalui jalan benar,"
Jawab Pek-eng Sianjin dengan suara sungguh-sungguh karena timbul harapan akan mendapat ampun.
"Bohong!"
Bentak Pak-lo-sian Siangkoan Hai sambil mengangkat lagi kipasnya.
"Omongan manusia macam ini tak boleh dipercaya, karena mulutnya, seperti juga pikiran dan hatinya, telah dikuasai oleh iblis. Ia harus mati!"
"Benar sekali, dia harus mati!"
Kata pula Seng Te Siansu dan Seng Ji Siansu, membenarkan pendapat ini. Ang-bin Sin-kai mengangkat tangan dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ingatlah ujar-ujar guru besar Khong Hu Cu dalam kitab Lun Gi bahwa kejahatan barulah disebut kejahatan sesungguhnya apabila orangnya tidak berusaha untuk mengubah atau memperbaiki kejahatan atau kesalahannya itu! Pek-eng Sianjin telah berjanji akan mengubah cara hidupnya dan melakukan kebaikan untk menebus dosa-dosanya, maka dia berhak hidup."
"Ang-bin Sin-kai, kau gegabah sekali! Beranikah kau menanggung bahwa dia kelak tidak akan berbuat kejahatan? Kalau dia kelak berbuat jahat, bukankah itu sama halnya dengan kau sendiri yang berbuat kejahatan?"
Bentak Pak-lo-sian marah. Ang-bin Sin-kai tertawa bergelak.
"Pak-lo-sian, aku adalah seorang laki-laki sejati, sekali bicara takkan kutelan kembali! Tentu saja aku berani bertanggung jawab, akan tetapi apakah kepalamu yang putih itu sudah sedemikian bodoh?"
Ia tidak melanjutkan keterangannya, melainkan berkata kepada Pek-eng Sianjin.
"Kau tadi berjanji akan mengubah jalanhidupmu dan melakukan kebaikan, apakah kau berani bersumpah?"
Pek-eng Sianjin mengangguk.
"Nah, kalau begitu bersumpahlah, biar kami menjadi saksi."
"Kalau aku, Pek-eng Sianjin, tidak bertobat dan melakukan kejahatan, biarlah aku dan semua keturunan atau anak muridku, binasa oleh orang-orang gagah!"
Baru saja Pek-eng Sianjin menutup mulutnya, Ang-bin Sin-kai tertawa bergelak dan berkata.
"Nah, kau pergilah!"
Sambil berkata demikian, kedua tangan Ang-bin Sin-kai bergerak cepat dan tahu-tahu jari tangan kirinya menotok punggung dan jari tangan kanan memencet pinggang ketua Kun-lun Ngo-eng itu.
Pek-eng Sianjin menjerit kesakitan dan tubuhnya bergulingan di atas lantai.
Setelah dia dapat mengumpulkan tenaga dan napas, sambil meringis menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya, ternyata bahwa tubuhnya teah menjadi bongkok dan kedua tangan kakinya tak mungkin dapat dipergunakan untuk memukul orang lagi!
Ia telah kehilangan dasar-dasar tenaganya dan menjadi orang biasa yang bertubuh lemah!
"Ha, ha, ha, Ang-bin Sin-kai, kau benar-benar lihai dan cerdik sekali!"
Kata Pak-lo-sian Siangkoan Hai karena dia tahu bahwa Pek-eng Sianjin tak dapat berlaku jahat lagi, biarpun ingin melakukan kejahatannya, namun tenaganya sudah habis dan dia tidak merupakan orang berbahaya lagi.
Juga kedua orang tosu dari Kun-lun-pai, mengangguk-angguk memuji dan merasa lega melihat hajaran yang di berikan kepada Pek-eng Sianjin.
"Hemmm, dia tak dapat diobati lagi dan akan tinggal menjadi orang bercacad selama hidupnya,"
Kata Yok-ong sambil menggeleng-geleng kepalanya. Sementara itu, sambil meringis menahan kesakitan Pek-eng Sianjin memandang kepada Ang-bin Sin-kai dan berkata penuh dendam.
"Ang-bin Sin-kai, ternyata kau kejam sekali dan tidak percaya kepada sumpahku. Kau telah membuat aku menderita selama hidupku. Baik, kau tunggu saja kelak tentu akan ada orang yang membalaskan sakit hatiku ini, kalau tidak kepadamu, tentu kepada murid-muridmu!"
Setelah berkata demikian, Pek-eng Sianjin lalu berjalan terpincang-pincang pergi dari tempat itu. Terdengar Pak-lo-sian Siangkoan Hai tertawa bergelak.
"Pengemis bangkotan, kau mencari penyakit! Kalau tadi kau membiarkan dia kubunuh, tentu dia sudah menjadi setan dan takkan bisa lagi mengeluarkan ancaman lagi. Sekarang kau harus berhati-hati, karena kau menambah adanya seorang yang berbahaya."
"Biarlah,"
Jawab Ang-bin Sin-kai tenang.
"kalau dia memenuhi ancamannya, tak bisa lain berarti dia melanggar sumpahnya sendiri."
Semua orang lalu mencurahkan perhatiannya kepada Yok-ong yang mulai mengeluarkan kepandaiannya mengobati para orang muda yang masih tergeletak di tempat itu.
Seorang demi seorang diurutnya bagian belakang kepala, lalu diberi minum sebutir pil putih yang sudah dicairkan dengan arak obat.
Setiap orang anak muda yang mengalami pengobatan ini, lalu muntah-muntah dan keluarlah arak hitam yang membuat mereka seperti boneka hidup.
Kemudian sadarlah mereka dan setelah dibebaskan dari totokan, ramailah di situ karena mereka mulai menangis sedih!
Juga Swi Kiat mengalami pengobatan.
Karena pemuda ini sudah memiliki dasar yang kuat dan sudah berlatih lweekang secara mendalam, sebentar saja kesehatannya sudah pulih kembali.
Dia memandang kepada suhunya lalu berlutut dan biarpun tidak terdengar menangis, namun mukanya menjadi merah dan dari kedua matanya melompat keluar dua titik air mata.
"Swi Kiat, tak usah kau memikirkan hal yang sudah lewat. Memang pengalaman pahit ini membuat kau kehilangan dasar kekuatan dalam tubuhmu, akan tetapi kalau kau giat berlatih, kau akan mendapatkan kembali tenagamu,"
Kata gurunya dengan suara mengandung keharuan.
"Teecu bersumpah takkan mendekati wanita selama hidup teecu!"
Suara ini terdengar keras dan mengandung kebencian besar terhadap wanita, yang ditimbulkan oleh Ui-eng Suthai.
Setelah semua orang menerima tiga butir pil putih dari Yok-ong, lalu kedua orang tokoh Kun-lun-pai diberi tugas untuk mengurus semua anak muda dan mengantar mereka kembali ke rumah dan dusun masing-masing.
Setelah pengobatan itu beres semua, barulah Ang-bin Sin-kai teringat kepada muridnya.
"Eh, mana Kwan Cu?"
Tanyanya sambil memandang ke sana-sini dan baru dia merasa khawatir karena ternyata bahwa semenjak tadi tidak kelihatan Kwan Cu di tempat itu.
"Muridmu yang gundul itu?"
Kata Pak-lo-sian Siangkoan Hai.
"Tadi dia menolongku keluar dari sumur."
Tidak hanya Ang-bin Sin-kai yang merasa khawatir, bahkan Pak-lo-sian Saingkoan Hai dan juga Hang-houw-siauw Yok-ong ikut mengkhawatirkan keadaan anak itu.
Jangan-jangan anak itu mengalami bencana yang tidak mereka ketahui.
Beramai-ramai mereka lalu pergi ke tempat di mana tadi Kwan Cu menolong Pak-lo-sian Siangkoan Hai.
"Kwan Cu.....!"
Ang-bin Sin-kai berseru keras sekali sambil mengerahkan khikangnya sehingga suaranya dapat terdengar dari tempat jauh di sekitar tampat itu.
Tak lama kemudian, setelah gema panggilan itu lenyap, tiba-tiba terdengarlah jawaban Kwan Cu.
"Teecu berada di sini, Suhu!"
Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang diikuti oleh Swi Kiat dan Kun Beng lalu Ang-bin Sin-kai dan Hang-houw-siauw Yok-ong, saling pandang dengan heran karena suara Kwan Cu itu tidak dapat ditentukan dari mana datangnya.
"Eh, Kwan Cu, kau di manakah?"
Kembali Ang-bin Sin-kai bertanya.
"Teecu di sini, Suhu. Di bawah sini, tunggulah sebentar, teecu akan segera keluar!"
Barulah semua orang tahu bahwa Kwan Cu berada di dalam sumur di mana tadinya Pak-lo-sian Siangkoan Hai terkurung!
Oleh karena dia berada di bawah, maka suaranya terdengar bergema ke atas dan tidak dapat ditentukan dari mana datangnya.
"Ha-ha-ha-ha-ha! Ang-bin Sin-kai, muridmu itu benar-benar lucu dan aneh! Mengapa dia memasuki neraka ini? Ha-ha-ha, benar-benar anak ajaib, akan tetapi di samping kebodohannya harus kupuji ketabahan hatinya. Agaknya dia turun mempergunakan tambang yang tadi dipakai untuk menolongku."
Kata Pak-lo-sian sambil menunjuk ke arah tambang yang ujungnya diikatkan pada tiang dan ujung yang lain menjulur masuk ke dalam sumur kecil yang gelap sekali itu.
Semua orang kini memandang ke arah sumur, menanti munculnya Kwan Cu bocah gundul yang aneh itu.
Memang betul, Kwan Cu telah memasuki sumur itu.
Bocah ini selain mempunyai pikiran yang aneh-aneh, juga amat tabah dan cerdik.
Ia tahu bahwa suhunya sanggup menghadapi para pengeroyoknya, apalagi tadi dilihatnya ada Yok-ong yang sekarang ditambah pula dengan Pak-lo-sian, dia tidak khawatir kalau orang-orang tua itu takkan dapat menolong semua korban Kun-lun Ngo-eng, maka ketika dia melihat sumur kecil yang gelap itu, timbul keinginan hatinya hendak memeriksa di bawahnya!
Tadi dia mendengar Pak-lo-sian bernyanyi-nyanyi di bawah sumur, tentu di sana tempatnya enak, maka dia merasa penasaran kalau belum melihat apakah sebetulnya yang berada di dalam sumur itu.
Sebelum memasuki sumur, lebih dulu dia mengambil alat pembuat api yang terletak di atas meja dalam ruangan yang berdekatan, kemudian setelah mengikatkan ujung tambang pada tiang dan membawa alat pembuat api itu, dia lalu merayap turun melalui tambang.
Ketika kakinya menyentuh dasar sumur, mula-mula yang terinjak olehnya adalah benda keras.
Ia melepaskan tambang dan meraba-raba benda itu yang ternyata adalah tulang-tulang manusia!
Dari rabaan ini Kwan Cu dapat menduga bahwa itu tentulah tulang-tulang, namun dia tidak mengira bahwa tulang-tulang yang diinjaknya tadi adalah tulang rangka manusia.
Dengan tenang dia lalu menyalakan alat pembuat api dan membakar lilin yang memang sengaja dibawanya dari atas.
Matanya menjadi silau karena tempat yang gelap pekat itu tiba-tiba menjadi terang.
Pertama-tama yang ditemui penglihatannya adalah tulang-tulang itu dan biarpun dia memiliki ketabahan luar biasa, dia merasa seram juga ketika mendapat kenyataan bahwa yang diraba-rabanya tadi adalah tulang-tulang manusia yang masih utuh semua, lengkap dengan kepalanya.
Di bawah penerangan lilin, Kwan Cu memeriksa rangka itu dan mendapat kenyataan bahwa kepala rangka itu telah pecah!
Ia lalu memeriksa keadaan di sekitarnya.
Tempat itu lebarnya kira-kira tujuh kaki dan ketika dia memeriksa ke sana ke mari, dia melihat benda putih di sudut kiri.
Ketika diambilnya, ternyata bahwa benda itu adalah sebuah kitab yang sudah tidak ada sampulnya lagi.
Berdebar hati anak ini, karena setiap melihat kitab, dia teringat akan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang di cari-carinya.
Ia meleletkan lilin di atas tanah yang lembab, lalu duduk dan membuka-buka kitab itu.
Hampir saja dia berseru kegirangan karena melihat huruf-huruf yang tertulis di kitab itu ternyata adalah huruf-huruf kuno yang sama dengan huruf-huruf di dalam kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang palsu yang dulu diperebutkan oleh lima orang tokoh besar!
Segera anak ini membaca kitab itu dan kegembiraannya bertambah ketika dia medapat kenyataan bahwa inilah kitab sejarah peninggalan Gui-siucai yang dicuri orang dari gua tempat tinggal mendiang Gu-siucai itu!
Mendapatkan kitab ini, segera dia hendak naik kembali sambil membawa kitab, akan tetapi tiba-tiba dia teringat bahwa Pak-lo-sian Siangkoan Hai tadi pun berada di tempat ini!
Dan sampul kitab itu sudah lenyap, siapa tahu kalau-kalau Pak-lo-sian Siangkoan Hai juga melihat kitab ini?
Berbahaya sekali kalau terjadi hal seperti itu, karena kalau dia tiba di atas membawa kitab itu, tentu Pak-lo-sian Siangkoan Hai takkan tinggal diam dan tentu akan berusaha merampasnya!
Ia teringat betapa tokoh-tokoh besar yang lain seperti Kiu-bwe Coa-li juga mencari kitab ini, maka akan besarlah bahayanya kalau dia membawa kitab itu.
Ia tidak memerlukan membaca seluruh isi kitab sejarah ini, hanya perlu mengetahui tentang rahasia Im-yang Bu-tek Cin-keng dan tempat kitab itu, pikirannya bekerja cepat dan dia segera mengambil keputusan untuk membaca bagian itu saja di tempat tersembunyi ini.
Ia cepat membuka-buka kitab itu dan matanya bergerak-gerak mencari tulisan mengenai Im-yang Bu-tek Cin-keng.
Akhirnya usahanya berhasil karena di tengah-tengah buku, di halaman ke dua puluh empat, dia menemukan tulisan tentang kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng!
Setelah pandang matanya berlari-lari membaca bagian ini, lalu dia membaca berulang-ulang bagian yang terpenting, yang berbunyi seperti berikut.
"Kitab ini terkutuk dan menjadi alat perusak dunia apabila terjatuh ke dalam tangan orang jahat. Sebaliknya menjadi kitab suci yang akan membangun kebajikan apabila terjatuh ke dalam seorang manusia berbudi. Tertulis oleh manusia dewa dan ketika pada saat terakhir terjatuh ke dalam tangan Liu Pang (kelak menjadi Kaisar Kao Tsu) dan khawatir kalau-kalau kitab rahasia ini terjatuh ke dalam tangan orang jahat, Liu Pang menyembunyikannya ke dalam tempat rahasia di atas pulau kosong. Ketika menyembunyikan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, dia menuju ke kota di mulut Sungai Yalu, lalu naik perahu yang dibawa oleh air sungai itu ke laut. Dari sini menuju ke kanan, melalui pulau-pulau besar dan di antara pulau-pulau itu terdapat sebuah pulau kecil yang bentuknya bulat, ditumbuhi oleh pohon-pohon berdaun putih. Di sinilah kitab itu disimpan. Dia yang berjodoh tentu akan mendapat tuntunan tangan Thian Yang Maha Kuasa untuk mendapatkan kitab ini."
Hanya bagian itulah yang dibaca berkali-kali oleh Kwan Cu, terutama sekali dia mengingat-ingat keterangan tentang disimpannya kitab itu.
Hatinya berdebar girang dan dia terkejut sekali ketika mendengar suara gurunya memanggilnya.
Ia cepat menjawab dan karena khawatir akan ditemukannya kitab itu oleh orang lain, dia lalu membakar kitab itu dengan lilinnya!
Orang-orang yang menanti di atas sumur, tiba-tiba melihat asap keluar dari sumur itu.
Tentu saja semua orang menjadi heran dan terutama Ang-bin Sin-kai merasa khawatir sekali.
"Eh, Kwan Cu! Apa yang terjadi? Ada kebakaran di dalam?"
Tanyanya hilang sabar.
"Teecu sekarang juga keluar, Suhu,"
Jawab Kwan Cu dari dalam dan setelah melihat betapa kitab itu terbakar habis, anak ini lalu merayap naik melalui tambang.
Begitu dia muncul di permukaan sumur, Kun Beng tertawa bergelak, dan orang-orang lain juga tersenyum geli.
Ternyata bahwa muka Kwan Cu tanpa disadarinya telah menjadi hitam penuh angus.
Hal ini terjadi karena kitab itu agak basah dan ketika di bakar, maka menimbulkan asap hitam yang menghanguskan mukanya!
"Eh, Kwan Cu, apakah kau berubah menjadi setan bumi?"
Tanya Ang-bin Sin-kai berkelakar, karena melihat muridnya yang terkasih ini.
Sebaliknya, Pak-lo-sian Siangkoan Hai memandang penuh kecurigaan kepada Kwan Cu.
Kakek ini maklum bahwa di dalam kepala yang gundul itu terdapat hal-hal rahasia yang banyak sekali dan yang di antaranya ingin dia ketahui, apalagi yang berkenaan dengan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng!
"Kwan Cu, apakah yang kau bakar di dalam sumur tadi?"
Tanyanya penuh kecurigaan.
"Di dalam gelap sekali, Locianpwe, maka teecu membakar kayu-kayu kering dan lain-lain yang berada di sana yang dapat di bakar."
"Kau menemukan apa di sana?"
Tanya pula Pak-lo-sian Siangkoan Hai dengan pandangan mata tajam.
"Sama seperti yang telah ditemukan Locianpwe tentunya,"
Jawab Kwan Cu cerdik.
"Apakah yang dapat teecu ketemukan di sana selain yang telah dilihat oleh Locianpwe?"
Jawaban ini menyimpang. Ang-bin Sin-kai tahu akan hal ini, juga Pak-lo-sian dapat menduga bahwa tentu ada "apa-apanya"
Yang disembunyikan oleh bocah gundul ini. Ang-bin Sin-kai tertawa dan berkata kepada Kwan Cu.
"Kwan Cu, sudahlah jangan kau layani obrolan Pak-lo-sian, takkan ada habisnya. Mari kita pergi."
Sambil berkata demikian, Ang-bin Sin-kai melompat keluar, diikuti oleh Kwan Cu. Setelah tiba di luar, Ang-bin Sin-kai bertanya dengan sungguh-sungguh.
"Kwan Cu, kau menyembunyikan sesuatu dari Pak-lo-sian. Apakah itu?"
"Suhu, sebetulnya teecu teleh menemukan kitab sejarah dari Gui-siucai di dalam sumur itu! Dan teecu telah membakarnya menjadi abu."
Saking kaget dan herannya, Ang-bin Sin-kai menahan larinya dan berdiri memandang muridnya.
"Kaubakar.....?"
Kwan Cu tersenyum.
"Tentu saja setelah teecu membaca tentang kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng!"
Berubahlah wajah Ang-bin Sin-kai dan dia nampak agak gelisah.
"Tunggu kau di sini, jangan pergi sebelum aku kembali!"
Belum juga Kwan Cu sempat bertanya, Ang-bin Sin-kai telah melompat dan lenyap dari depan muridnya.
Ia cepat berlari kembali ke rumah besar tempat tinggal Kun-lun Ngo-eng dan mengintai di atas ruangan di mana tadi Pak-lo-sian Siangkoan Hai berada.
Ia bergerak hati-hati sekali karena dia maklum bahwa jika Pak-lo-sian berada di situ, banyak sekali kemungkinan kakek sakti dari utara itu akan tetap saja mendengar kedatangannya.
Akan tetapi, ternyata dugaannya tidak salah.
Ia tidak melihat Pak-lo-sian Siangkoan Hai di situ.
Dua orang tokoh Kun-lun-pai sedang mengatur untuk mengantar para pemuda dan pemudi sedangkan Hang-houw-siauw Yok-ong tidak nampak di situ lagi.
Yang ada hanyalah Swi Kiat dan Kun Beng yang berdiri dekat sumur dan melihat ke dalam sumur itu.
Tak salah lagi, tentu Pak-lo-sian Siangkoan Hai sedang menyelidiki di dalam sumur karena merasa curiga kepada Kwan Cu!
Memang tepat sekali dugaan ini.
Tadi setelah Ang-bin Sin-kai dan Kwan Cu pergi, Pak-losian mengambil sampul buku dari sakunya dan ketika melihat bahwa sampul itu bertuliskan huruf-huruf besar; BUKU SEJARAH KUNO, dia cepat pergi ke dalam sumur dan memeriksa dengan membawa lilin!
Ang-bin Sin-kai cepat kembali ke tempat di mana dia meninggalkan muridnya tadi.
Ia mendapatkan Kwan Cu tengah duduk di bawah pohon dan menyuling!
"Eh, dari mana kau mendapat suling itu?"
Tanya Ang-bin Sin-kai dengan hati berdebar karena dia mengenal suling bercahaya hijau itu adalah suling Hang-houw-siauw Yok-ong! "Dari Yok-ong Locianpwe,"
Jawab Kwan Cu. Lalu dia menceritakan bahwa tadi Yok-ong lewat di situ dan memberikan suling itu kepadanya sambil berkata.
"Kau anak baik. Di antara semua murid-murid tokoh besar, agaknya hanya kau yang ada harapan. Kausimpan suling ini dan mudah-mudahan kelak kita dapat bertemu pula."
Ang-bin Sin-kai menarik napas lega.
Ternyata Raja Obat itu memiliki pandangan mata yang amat tajam, pikirnya.
Hanya Raja Obat itu saja yang dapat melihat bahan baik dalam diri Kwan Cu yang diejek dan dihina oleh lain-lain tokoh besar.
"Kwan Cu, ternyata dugaanku benar. Pak-lo-sian sedang memeriksa dalam sumur dan kalau dia melihat abu kitab yang kaubakar, tentu dia akan berusaha menyusul kita dan akan menggunakan kekerasan. Hayo kita pergi cepat-cepat, aku segan berurusan dengan kakek yang berkepala keras itu!"
Oleh karena ingin menghindarkan kejaran Pak-lo-sian, Ang-bin Sin-kai lalu menggendong Kwan Cu, dibawa pergi ke puncak sebuah gunung yang berada di sebelah timur puncak Kun-lun-san, sebuah puncak gunung yang liar, penuh hutan belukar dan jarang sekali didatangi manusia.
"Perjalanan yang kau hadapi penuh bahaya, muridku. Tidak saja kau melakukan perjalanan jauh, akan tetapi juga kau akan menghadapi tokoh-tojoh besar yang selalu tidak mau tinggal diam sebelum dia dapat merampas kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng. Oleh karena itu, kita tinggal dulu di tempat sunyi ini dan kau harus berlatih giat untuk mempertinggi kepandaianmu. Mulai hari ini, kita takkan turun gunung sebelum kau menguras habis kepandaian yang kumiliki."
Demikianlah, mulai hari itu, Ang-bin Sin-kai mengarahkan seluruh perhatiannya untuk mendidik dan menggembleng Kwan Cu.
Sebaliknya Kwan Cu juga berlatih dengan giat sekali.
Tak pernah kelihatan anak ini menganggur, biarpun suhunya sedang beristirahat, dia selalu melatih diri dengan ilmu-ilmu silat yang baru dia pelajari dari suhunya.
Bertahun-tahun dia dan suhunya seakan-akan terasing dari dunia luar dan hidup di tengah-tengah hutan, di puncak bukit yang amat tinggi.
Mereka hanya makan buah-buahan dan kadang-kadang binatang hutan yang mereka tangkap.
Di waktu makan masakan sederhana itu dan mendengar gurunya mengeluh panjang pendek karena gurunya itu sudah amat rindu akan arak dan masakan enak Kwan Cu menjadi terharu sekali.
"Suhu, sungguh teecu tidak mengerti mengapa suhu sampai menyiksa diri hanya untuk melatih ilmu kepada teecu. Ah, budi yang begini besar, dan apa teecu akan dapat membalasnya?"
Mendengar ucapan ini, lenyaplah keluh kesah dari bibir Ang-bin Sin-kai dan dia berseri.
"Kwan Cu, pembalasaan yang kuharapkan hanya kalau kau kelak dapat menjadi seorang gagah yang menjunjung tinggi prikebajikan, dapat berbuat banyak terhadap orang-orang lain. Akan tetapi, kau tak mungkin dapat menjadi seorang gagah tanpa tandingan kalau kau tidak dapat menemukan Im-yang Bu-tek Cin-keng! Kepandaianku belum cukup untuk menjagoi di seluruh dunia dan tetap saja kalau kau hanya menerima latihan dari aku, kau sewaktu-waktu akan bertemu dengan orang jahat yang lebih pandai dari padamu! Oleh karena itu, pelajaran yang kau terima dariku ini anggaplah sebagai bekal bagimu untuk mencari kitab itu. Aku sendiri sudah terlalu tua untuk ikut mencarinya, kau akan mencari sendiri, muridku, dan karenanya, aku mana bisa rela membiarkan kau pergi menempuh perjalanan sukar itu sebelum memiliki kepandaian yang boleh diandalkan?"
Mendengar ini makin kuatlah hati Kwan Cu dan makin giatlah dia.
Ia menjadi terharu sekali ketika gurunya pada suatu hari pergi turun gunung seorang diri dan ketika kembali membawa pakaian-pakaian baru untuknya!
Suhunya sendiri tak pernah berganti pakaian, kecuali kalau pakaian yang menempel pada tuubuhnya itu sudah hancur betul-betul.
Atas kehendak gurunya yang ingin melihat dia berpakaian pantas, kini Kwan Cu memakai pakaian yang cukup baik dan sepatu yang baru pula, pemberian suhunya yang amat mengasihinya.
Beberapa tahun kemudian, kepandaian Kwan Cu sudah cukup tinggi.
Ia sudah berusia lima belas tahun, akan tetapi setiap kali gurunya menyuruh dia menggunduli kepalanya!
Ia kelihatan seperti seorang hwesio kecil yang bertubuh sedang dan padat, penuh berisi tenaga yang luar biasa.
Wajahnya yang tampan menjadi makin halus dan kemerahan, berkat dari hawa gunung yang sejuk dan latihan-latihan silat yang tiada henti-hentinya.
*** Kembali beberapa bulan yang telah lewat.
Pada suatu hari Kwan Cu berlatih seorang diri.
Hari masih pagi sekali dan suhunya masih belum bangun dari tidurnya di dalam sebuah gua.
Akhir-akhir ini, suhunya nampak malas dan bangunnya pun kalau matahari telah naik tinggi.
Tubuh suhunya nampak makin kurus dan kakek ini beberapa kali mengeluh dan menyatakan bahwa dia telah menjadi amat tua.
"Aku sudah sangat tua, Kwan Cu tiada nafsu lagi untuk melakukan sesuatu. Keinginanku satu-satunya hanya bertemu sekali lagi dengan adikku Lu Pin yang tercinta,"
Demikianlah berkali-kali kakek pengemis yang sakti ini mengeluh.
Pagi hari itu Kwan Cu melatih silat Sin-ci-tin-san (Jari Sakti Menggetarkan Gunung), yakni ilmu silat yang paling lihai yang pernah dia pelajari dari gurunya.
Ilmu silat ini dilakukan dengan menggunakan jari-jari tangan, merupakan ilmu tiam-hoat (menotok) yang luar biasa lihainya yang merupakan ilmu pukulan dengan jari tangan yang luar biasa kuatnya.
Sudah berbulan-bulan dia melatih ilmu silat ini, akan tetapi hasilnya masih kurang memuaskan hatinya.
Pada pagi hari ini, setelah pada malam tadi mendapat wejangan dari gurunya yang membentangkan semua kouw-koat (teori silat) dari pada ilmu pukulan Sin-ci-tin-san ini, dia melatih diri sebaiknya.
Yang dijadikan sasaran adalah pohon-pohon kecil yang tumbuh di situ.
Setelah bersilat dengan ilmu silat Sin-ci-tin-san, dia kelihatan lincah sekali.
Tubuhnya mencelat kesana kemari, kedua tangannya terbuka dengan dua jari tangan, yakni telunjuk dan jari tengah, ditusukkan kesana ke mari dan sepasang kakinya melakukan langkah-langkah yang amat teratur.
Kemudian dia mulai menyerang pohon-pohon yang besarnya sama dengan tubuhnya sendiri.
Dan bukan main hebatnya kepandaian anak muda yang baru lima belas tahun usianya ini.
Tiap kali jari tangannya baik yang kanan maupun yang kiri, menusuk ke batang sebuah pohon, terdengar suara "krak"
Dan pohon itu patah lalu tumbang berikut semua daunnya!
Kalau orang lain yang melihat hal ini, tentu menjadi kagum sekali.
Akan tetapi aneh, wajah Kwan Cu kelihatan tidak puas, bahkan kecewa.
Mulutnya berkali-kali berkata.
"Tidak baik, tdak baik! Gwakangku lebih besar keluarnya daripada tenaga lweekang!"
Kembali dengan tangan kirinya dia menusuk sebatang pohon yang segera patah dan tumbang.
"Kau terlalu terburu nafsu, Kwan Cu. Nafsumu itu yang memperbesar tenaga sehingga tidak seimbang dengan tenaga dalam!"
Terdengar orang bicara dan ketika Kwan Cu menengok, ternyata bahwa suhunya sudah berdiri di belakangnya. Kwan Cu berlutut.
"suhu, mohon petunjuk dari suhu yang mulia."
Ang-bin Sin-kai tersenyum.
"Dalam menghadapi segala macam hal, terutama sekali menghadapi perlawanan dari musuh yang tangguh, pantangan terutama adalah timbulnya nafsu yang menguasai diri sendiri. Dalam keadaan seperti itu, kau harus dapat menguasai dirimu seluruhnya, dari semua urat-urat besar sampai urat-urat saraf, pikiran dan hati. Kau harus dapat mengatur semua panca indramu, dan sadar serta tak sadar serta waspada betul-betul. Kekuatan yang nampak tenaganya seperti pukulanmu pada pohon itu, hanya boleh digunakan untuk menakut-nakuti anak kecil atau membikin gentar lawan yang bodoh. Akan tetapi sama sekali tidak ada gunanya kalau kau menghadapi lawan yang tangguh. Segala yang tenang, tidak bergerak dan diam itulah yang betul-betul kuat."
"Mohon suhu mmemberi penjelasan tentang Sin-ci-tin-san, karena sesungguhnya teecu belum dapat melakukannya dengan baik."
Ang-bin Sin-kai menghampiri sebatang pohon dan dia menggunakan sebatang jarinya menusuk pohon itu seperti yang dilakukan oleh Kwan Cu tadi.
Pohon itu tidak bergerak sedikitpun juga, bahkan tidak ada sehelai pun daun yang rontok.
Akan tetapi ketika Ang-bin Sin-kai menggunakan telapak tangan mendorongnya perlahan ternyata bahwa pukulan atau lebih tepat tusukan jarinya tadi telah membuat hancur batang pohon dibalik kulitnya dan sekali dorong perlahan saja pohon itu tumbang!
"Dalam pukulan Sin-ci tin-san, kau harus mengerahkan tenaga lweekang.
Akan tetapi, kau harus tenang dan jangan sampai pikiran dan hati dikuasai nafsu, tenaga lweekang itu akan berubah menjadi tenaga gwakang yang kasar."
Demikianlah, Kwan Cu digembleng terus oleh suhunya sehingga setahun kemudian dia telah memiliki tenaga lweekang yang kuat sekali, ginkang yang memungkinkan dia berlari seperti terbang, serta ilmu silat yang lihai.
Suling yang didapat dari Yok-ong ternyata merupakan senjata yang ampuh.
Suling ini terbuat daripada baja hijau dan kuatnya bukan main.
Ang-bin Sin-kai melatih ilmu pedang tunggalnya yang membuat dia menjagoi dunia kangouw puluhan tahun yang lalu, yakni ilmu pedang Hun-kai Kiam-hoat (Ilmu Pedang Memecah dan Membuka).
Ilmu pedang ini dilatih oleh Kwan Cu menggunakan sulingnya dan ternyata cocok sekali.
Selain pandai mainkan suling sebagai pedang, juga pemuda ini pandai sekali meniup lagu-lagu merdu dari sulingnya, juga kepandaian ini dia dapat dari Ang-bin Sin-kai yang tahu akan teori meniup suling sungguhpun ia sendiri kurang berbakat.
Sebaliknya Kwan Cu amat berbakat dan dia dapat meniup banyak lagu-lagu yang dikenal oleh gurunya.
Dua tahun kemudian, setelah berusia delapan belas tahun, Kwan Cu di panggil gurunya.
"Muridku, sekarang kiranya sudah cukup kepandaianmu untuk kaupakai bekal dalam perjalanmu mencari Im-yang Bu-tek Cin-keng. Kau pergilah menurutkan petunjuk yang kaubaca dalam kitab sejarah. Berhati-hatilah, muridku, aku hanya memberi bekal doa restu kepadamu. Kuharap saja kelak kalau kau sudah mendapatkan ilmu silat yang paling lihai dari Im-yang Bu-tek Cin-keng, aku masih belum mati dan dapat menyaksikan kelihaianmu. Nah, pergilah, Kwan Cu."
Kwan Cu yang berlutut didepan suhunya merasa berat untuk berpisah dan meninggalkan, suhunya yang kini nampak tua sekali.
"Semenjak dahulu memang teecu bercita-cita mencari kitab itu. Akan tetapi suhu sudah amat tua dan siapakah yang akan melayani suhu kalau teecu pergi?"
Katanya ragu-ragu.
"Kwan Cu, apakah kau akan memanjakan gurumu seperti memanjakan seorang kakek tua renta yang kekanak-kanakan? Aku masih kuat dan aku tidak membutuhkan pelayan orang."
"Akan tetapi..... kalau teecu rindu kepada suhu dan hendak bertemu, kemanakah teecu harus mencari suhu?"
"Aku akan ke kota raja mencari Lu Pin adikku, setelah itu, aku takkan jauh dari tempat kau mencari kitab itu, Kwan Cu karena aku hendak tinggal di pantai Laut Po-hai!"
Setelah mendapat wejangan dan nasehat-nasehat yang kiranya cukup berharga untuk dia bawa sebagai bekal menempuh hidup dan perjalanan seorang diri, akhirnya Kwan Cu lalu mulai turun gunung dan mulai dengan perjalanannya yang amat jauh, yakni ke pantai sebelah timur dari Tiongkok.
Ia melakukan perjalanan cepat melalui propinsi-propinsi Cing-hai, Kang-su, Shen-si, lalu mengikuti sepanjang tapal batas Mongolia, terus menuju Timur.
*** Baru sekarang Kwan Cu merasa betapa sunyinya hidup seorang diri dan melakukan perjalanan tak berteman.
Ia rindu kepada suhunya yang baginya merupakan penganti ayah bundanya.
Namun hati Kwan Cu memang kuat dan keras, sebentar saja dia telah melenyapkan rasa sunyi itu dan memaksa hati bergembira.
Suling pemberian Yok-ong yang kini menjadi senjatanya, juga merupakan kawan yang palingsetia.
Tiap kali dia beristirahat di mana saja, dia selalu meniup sulingnya.
Suara sulingnya inilah yang menghibur hatinya, biarpun dia berada di dalam hutan yang sunyi, apabila dia meniup suling maka lenyaplah rasa sunyi dalam hati.
Perjalanan yang dilakukan oleh pemuda ini bukanlah perjalanan dekat, sedikitnya ada empat ribu kilo meter!
Apa pula perjalanan ini banyak melalui gunung-gunung dan hutan-hutan liar yang sukar dilalui.
Akan tetapi Kwan Cu sekarang telah merupakan seorang pemuda yang berkepandaian tinggi dan perjalanan yang sukar dapat dilakukan dengan cepatnya.
Ginkangnya sudah terlampau tinggi untuk dapat dihalangi oleh jurang-jurang lebar atau jalan-jalan menanjak.
Semenjak turun gunung, dia tidak lagi mencukur rambutnya dan kini dia benar-benar merupakan pemuda yang gagah dan tampan sekali, dengan sepasang mata bersinar tajam namun jujur dan bibirnya selalu tersenyum membayangkan hati yang lapang dan tabah.
Ia mengikat rambutnya dengan sapu tangan agar rambut itu tidak turun menutupi mukanya.
Kurang lebih setengah tahun dia melakukan perjalanan, kadang-kadang berhenti untuk meenikmati pemandangan alam di gunung-gunung yang aneh atau mengagumi bangunan-bangunan indah di kota-kota besar.
Ia melakukan perjalanan cepat dan selalu berusaha menghindarkan diri dari setiap bentrokan sesuai dengan nasehat dari suhunya.
Memang beberapa kali dia dihadang oleh perampok yang hendak merampas pakaiannya, akan tetapi Kwan Cu tidak mau melayani para perampok itu dan setiap kali dia hanya membuat para perampok berdiri bengong seperti patung karena pemuda yang hendak dijadikan korbannya itu tiba-tiba saja tertawa dan berkelebat melenyapkan diri dari depan mata mereka!
Enam bulan lebih kemudian dia tiba di perbatasan utara dari propinsi Ho-pei dan teringatlah dia akan pengalaman-pengalamannya ketika dia dan Gui-siucai ditawan oleh panglima An Lu Shan.
Keadaan di sekitar daerah ini sekarang sudah amat berubah, tidak seperti dahulu lagi.
Kwan Cu merasa heran betapa daerah ini ramai sekali, penuh oleh tentara yang bermacam-macam pakaiannya dan bermacam-macam pula bangsanya.
Ia melihat tentara-tentara dari suku bangsa Hui, Daur dan Mongol.
Mereka semua berpakaian perang dan bersenjata lengkap, berbaris kesana kemari seakan-akan menantikan daatangnya perang besar!
Di setiap tanah lapang, dia meyaksikan barisan-barisan besar berbaris rapi berlatih perang-perangan.
Kwan Cu menjadi makin kagum dan heran karena setiap anggota tentara dapat mainkan senjata mereka dengan gerakan ilmu silat yang tinggi.
Biarpun hanya beberapa jurus saja mereka itu mainkan senjata masing-masing, tombak, golok atau pedang, namun gerakan ini terang sekali adalah gerakan ilmu silat yang diajarkan oleh seorang ahli silat tinggi!
Tentu saja pemuda yang sama sekali gelap terhadap keadaan dalam negeri dan tentang situasi pemerintahan ini, tidak mengerti bahwa pada waktu itu, Panglima An Lu Shan sedang mengerahkan seluruh tenaga suku-suku bangsa yang berada di Tiongkok Timur laut, untuk membentuk sebuah barisan yang besar sekali dengan maksud menyerang ke selatan dan merampas kedudukan kaisar!
An Lu Shan mulai dengan persiapannya untuk memberontak.
Yang paling mengherankan hati Kwan Cu adalah keadaan di dalam dusun dan kota di daerah itu.
Tak pernah ia bertemu dengan laki-laki berpakaian preman.
Semua laki-laki berpakaian tentara dan menjadi anggota tentara.
Hanya anak-anak dan wanita saja yang berpakian biasa.
Sebaliknya, semua orang memandang kepadanya dengan mata terheran-heran pula karena sesungguhnya Kwan Cu merupakan satu-satunya laki-laki dewasa di tempat itu yang berpakaian preman.
Akan tetapi hal ini tidak lama, karena tiba-tiba datang seorang komandan pasukan yang dengan langkah lebar menghampiri Kwan Cu.
"He, orang muda! Kau masih enak-enakan saja di sini? Hayo ikut aku mendaftarkan diri supaya segera masuk tempat latihan!"
Sambil berrkata demikian, komandan itu memegang pergelangan tangan Kwan Cu erat-erat.
Kalau dia menghendaki, dengan mudah Kwan Cu akan dapat melepaskan tangannya.
Akan tetapi dia tidak mau mrnimbulkan keributan maka sambil tersenyum ia berkata.
"Sobat apakah maksudmu? Aku tidak mengerti sama sekali. Ketahuilah aku seorang perantau yang datang dari jauh dan tidak tahu peraturan di sini. Harap kau jelaskan."
"Setiap orang laki-laki di daerah ini harus menjadi tentara, hanya ini saja dan tidak ada penjelasan lain!"
"Mengapa harus? Aku bukan orang sini dan aku tidak mau menjadi tentara,"
Kata Kwan Cu.
Sementara itu mendengar suara ribut-ribut, di tempat itu telah berkumpul banyak tentara dan Kwan Cu dikurung!
"Anak muda, sudahlah jangan banyak rewel.
Ketahuilah bahwa setiap orang yang tidak mau menjadi tentara dan membela tanah air dianggap pengkhianat dan akan menjadi penghuni gua maut!"
Kwan Cu menjadi penasaran sekali akan tetapi tetap saja dia masih lebih merasa heran dari pada marah.
"Apakah gua maut itu? Dan mengapa pula ada cara memaksa orang menjadi tentara? Sungguh mati aku tak mengerti sama sekali!"
Komandan itu tertawa.
"Oya, aku lupa bahwa kau bukan orang sini. Kau mau melihat gua maut? Mari, mari ikut!"
Sambil berkata demikian komandan itu tertawa-tawa dan menarik lengan Kwan Cu diikuti oleh para anggota yang juga tertawa-tawa geli.
Masih saja Kwan Cu bersabar dan membiarkan dirinya ditarik seperti kerbau oleh komandan itu yang membawanya pergi keluar kota.
Dusun itu berada di lereng bukit dan jalannya naik turun melalui hutan-hutan.
Di pinggir sebuah hutan di luar kota, Kwan Cu dibawa ke sebuah bukit kecil dan dari jauh sudah kelihatan sebuah goa yang merupakan trowongan besar dan di sebelah dalamnya nampak anak tangga.
Di depan goa itu di jaga oleh seorang tentara berbangsa Monggol yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa, memegang sebatang tombak besar dan panjang lagi berat.
Komandan yang menarik tangan Kwan Cu bicara dalam bahasa Monggol kepada penjaga itu yang tertawa bergelak-gelak,membuka mulutnya dan lebar dan cambangnya yang menjuntai ke bawah itu ikut bergerak-gerak lucu.
"Nah, inilah gua maut siapapun juga yang menjadi pengkhianat dimasukkan dalam goa ini dijerumuskan ke dalam sumur maut dan didiamkan sampai mati di situ. Nah, sekarang pilihlah."
Dari dalam goa itu lapat-lapat dengan rintihan dan tangisan sehingga terbangkit semangat Kwan Cu untuk menolong mereka mereka itu akan tetapi, dia teringat bahwa dia berurusan tentara pemerintah dan dia tidak mau menimbulkan keributan hebat.
Maka dia lalu mengangguk daan berkata.
"Aku menurut saja,"
Terdengar suara gelak ketawa dan komandan itu bersama para tentara yang mengikutinya, beramai-ramai menghantar Kwan Cu kembali ke dusun untuk mendaftarkan pemuda itu sebagai calon tentara.
Akan tetapi baru saja mereka keluar dari hutan dan turun dari bukit di mana terdapat Gua Maut itu, tiba-tiba mereka ribut-ribut dan mereka mencari-cari seperti seorang wanita kehilangan gelangnya.
Tanpa diketahui oleh seorang pun, tiba-tiba saja pemuda yang tadi berada di tengah-tengah mereka telah lenyap!
"Eh, dimana dia?"
"Aneh sekali, tak mungkin dia melarikan diri!"
"Aku tadi masih melihat dia berjalan sambil tersenyum-senyum."
"Dia bisa menghilang, tentu dia siluman!"
Ramailah orang-orang itu bicara sambil mencari-cari Kwan Cu, namun pemuda itu tidak kelihatan lagi bayangannya.
Sebenarnya, dengan kepandaiannya, Kwan Cu tadi mempergunakan kesempatan selagi orang tidak memeganginya, dia melompat ke atas dan dengan bantuan cabang pohon di atasnya, dia melarikan diri cepat dan ringan sekali sehingga tidak menimbulkan suara apa-apa.
Ia ingin sekali menyelidiki keadaan gua maut itu dan akan berusaha menolong orang-orang yang mengeluarkan suara rintihan dan tangisan tadi.
Kalau tentara negeri menghukum orang bersalah atau orang jahat, dia takkan mau campur tangan.
Akan tetapi tadipun dia akan dimasukkan ke dalam gua itu hanya karena dia menolak menjadai tentara.
Kalau demikian, tentu banyak sudah orang-orang yang dimasukkan ke dalam gua maut itu tanpa dosa!
Jika begini keadaannya, dia harus menolong mereka itu.
Setelah senja mendatang, Kwan Cu menyembunyikan diri di belakang rumpun alang-alang dan mengintai ke arah gua itu.
Ia akan bertindak tanpa menimbulkan keributan.
Dilihatnya penjaga raksasa yang tadi masih saja berdiri seperti patung di depan gua, memegangi tombaknya dan nampaknya angker dan menakutkan.
Kwan Cu tidak mau segera turun tangan.
Ia akan menanti sampai malam tiba, karena dengan begitu akan lebih mudah baginya membawa orang-orang yang dihukum di dalam gua itu melarikan diri.
Ketika dia masih menanti sambil mengintai dibalik rumpun alang-alang, tiba-tiba dari jauh datang serombongan orang ke tempat itu.
Alangkah kagetnya hati Kwan Cu ketika dia melihat bahwa yang datang itu, dengan langkah cepat, adalah seorang Hwesio bertubuh gendut bundar berjubah hitam, bermisai panjang, berkulit hitam dan di tangan kiri memegang tasbih sedangkan tangan kanannya memegang tongkat Liong-thouw-tung.
Kwan Cu masih mengenal Hwesio ini yang bukan lain adalah Hek-i Hui-mo Thian Seng Hwesio, tokoh barat yang amat lihai dan jahat, Hwesio yang sudah merampas kitab palsu Im-yang Bu-tek Cin-keng dan bahkan yang dia duga telah mencuri pula kitab Gui-Siucai yang kemudian dia ketemukan berada di dalam sumur kering di atas Kun-lun-san!
Di sebelah hwesio ini berjalan pula dua orang panglima dan mereka ini bukan lain adalah An Lu Shan sendiri dan adiknya, An Lu Kui!
Berdebar hati Kwan Cu melihat ketiga orang ini.
Baiknya dia berlaku sabar, karena kalau tadi dia turun tangan dan harus berhadapan dengan mereka ini, berbahaya sekali!
Kepada An Lu Shan dan An Lu Kui, dia tak usah merasa jerih, akan tetapi Hek-I Hui-mo adalah seorang tokoh besar yang tingkat kepandaiannya sudah menandingi tingkat gurunya!
Ia melihat penjaga yang seperti raksasa itu memberi hormat melihat kedatangan tiga orang itu, kemudian An Lu Shan dan kedua orang kawannya memasuki gua dan lenyap ditelan kegelapan.
Lalu terdengarlah suara An Lu Shan dari dalam gua, seakan-akan berkata-kata di depan banyak orang.
Kwan Cu mengerahkan tenaga pendengarannya dan lapat-lapat dia mendengar An Lu Shan membujuk orang-orang yang tertahan di dalam gua itu untuk menyerah dan menurut serta membantu perjuangannya!
Kwan Cu tidak mengerti akan maksud semua kata-kata itu, hanya dia tahu bahwa orang-orang yang ditahan itu tentulah orang-orang yang tidak mau tunduk dan kini An Lu Shan hendak membujuk mereka, disertai ancaman bahwa kalau mereka tidak mau menurut, pada besok pagi gua itu akan di tutup untuk selamanya!
Kwan Cu tidak berani bergerak dari tempat sembunyinya.
Tak lama kemudian, tiga orang tokoh besar itu lalu keluar lagi dari gua dan pergi dengan cepat, setelah memberi pesan kepada penjaga supaya berhati-hati.
Malam tiba dan langit hanya diterangi oleh cahaya bulan bintang.
Tak lama kemudian datang pula serombongan penjaga terdiri dari lima orang yang mengawani raksasa itu.
Kwan Cu bersiap untuk bergerak dan melakukan usahanya menolong para tawanan.
Ketika para penjaga itu tengah bercakap-cakap, tiba-tiba terdengar suara suling yang merdu.
Mereka terkejut sekali.
Bagaimana di dalam hutan ini bisa terdengar suara suling begitu dekat?
Seorang di antara mereka bangkit berdiri dan menghampiri suara itu.
Akan tetapi tiba-tiba dia roboh tak berkutik lagi, terkena totokan jari tangan Kwan Cu yang lihai.
Penjaga-penjaga yang lain setelah lama menanti kawan mereka tidak juga kembali, mulai gelisah dan memanggil-manggil.
Penjaga yang tinggi besar itu tertawa dan berkata dalam bahasa Han yang kaku.
"Barangkali peniup suling itu adalah seorang perempuan cantik dan si A-sam tentu sedang bersenang-senang dengan dia!"
Dua orang penjaga lalu pergi menyusul kawannya, akan tetapi mereka ini setelah tiba di sebuah tikungan juga roboh tak berkutik ketika tangan Kwan Cu menyambar.
Tiga orang penjaga lain menjadi gelisah karena sekarang dua orang kawannya lagi sudah lama pergi tidak muncul kembali.
"Ah, tentu ada apa-apa!"
Kata seorang diantara mereka.
"lebih baik kita memberi tanda rahasia agar kawan-kawan yang lain datang kesini. Hatiku tidak enak..."
Akan tetapi sebelum dia dapat melepaskan tanda, tiba-tiba dari atas pohon menyambar turun bayangan orang.
Sinar hijau menyambar-nyambar dalam cahaya bulan dan terdengar teriakan susul menyusul ketika tiga orang penjaga termasuk si penjaga raksasa itu roboh tertotok oleh suling di tangan Kwan Cu.
Pemuda ini segera mengambil obor yang tadi dipasang di depan pintu gua dan berlari masuk.
Ternyata bahwa gua itu dalamnya amat luas dan panjang merupakan terowongan yang amat gelap.
Di sepanjang terowongan itu dipasang anak tangga dan ketika Kwan Cu berjalan kurang lebih sepuluh tombak jauhnya, anak tangga itu berhenti dan di depannya nampak sebuah lubang.
Hem, agaknya lubang inilah yang di sebut sumur maut oleh komandan yang mengancamnya siang tadi, pikir Kwan Cu.
Dengan obornya dia mencoba untuk melihat ke bawah, akan tetapi sia-sia karena sinar obor tak dapat menerangi sinar obor di bawah.
Terdengar suara-suara orang dibawah dan Kwan Cu cepat bertanya.
"Saudara-saudara yang tertawan di bawah, aku datang untuk menolong!"
Sejenak suara orang-orang di bawah itu berhenti, kemudian terdengar jawaban.
"Bagaimana kau dapat menolong kami?"
Inilah suara laki-laki yang mengandung semangat kegagahan.
"Berapa banyak kawanmu?"
Tanya Kwan Cu.
"Yang masih hidup ada empat puluh satu orang, yang sudah menjadi mayat belasan orang dan yang sudah hampir mati dua puluh orang lebih!"
Kwan Cu bergidik dan bulu tengkuknya berdiri. Sejak dari tadi diapun telah mencium bau yang tidak enak, tidak tahunya di dalam sumur itu telah banyak orang yang sudah mati.
"Berapa dalamnya sumur ini?"
Tanyanya pula.
"Kurang lebih lima tombak!"
Kwan Cu berpikir sebentar. Kalau hanya lima tombak, dia sanggup melompat dari dalam sumur itu ke atas sambil menggendong tubuh seorang.
"Dasarnya tanah keras atau lembek?"
"Tanah keras atau basah. Bagaimana kau hendak menolong kami?"
"Kalian minggirlah semua, biarkan ruang di bawah bagian tengah kosong, aku hendak melompat turun!"
Kata Kwan Cu.
Kemudian pemuda ini lalu menancapkan obor di pinggir sumur dan setelah mengatur pernapasannya dan menyelipkan sulingnya di pinggang, Kwan Cu lalu melompat ke dalam sumur, tepat di tengah-tengah dan berseru.
"Awas, aku datang!"
Kedua kakinya menginjak tanah padas yang basah dan di dalam gelap, hanya diterangi sedikit sekali oleh cahaya obor di atas sumur, dia melihat bayangan-bayangan orang yang di dalam gelap nampak hitam menakutkan.
"Taihiap, kau sungguh gagah. Akan tetapi, setelah setelah kau dapat melompat masuk ke tempat ini, bagaimana selanjutnya kau dapat menolong kami?"
Tanya suara yang tadi bicara ketika Kwan Cu masih berada di atas.
Orang ini tubuhnya tinggi kurus, namun wajahnya tak dapat terlihat jelas.
Hanya suaranya mengandung kegagahan dan Kwan Cu dapat menduga bahwa tentu orang ini seorang gagah di dunia kang-ouw yang menjadi korban dari An Lu Shan.
"Aku dapat menggendong kalian seorang demi seorang dan melompat keluar dari sumur ini,"
Jawabnya sederhana. Terdengar seruan kagum dan tidak percaya.
"Taihiap, dapatkah kau melompat setinggi ini dan menggendong seorang pula?"
Tanya seorang yang tinggi itu.
"Akan kucoba!"
Kata Kwan Cu.
"Dan para penjaga, di manakah mereka?"
"Sudahlah, kalau kita hanya mengobrol saja, aku khawatirkan penjaga-penjaga lain akan datang dan rencana kita gagal,"
Kata Kwan Cu habis sabarnya.
"Taihiap, biarlah aku kaukeluarkan dulu. Dengan menggunaklan ikat pinggang disambung-sambung, dapat aku membantu mereka keluar dari sini."
Pikiran ini baik juga dan Kwan Cu lalu menyambar tubuh orang yang jangkung itu dan melompat dengan kuat dan cepat sekali.
Ia mengerahkan ginkangnya dan tanpa banyak susah dia dapat mencapai pinggiran sumur.
Ketika orang itu yang ternyata seorang laki-laki setengah tua, melihat bahwa orang yang menolongnya hanya seorang pemuda berusia belasan tahun, dia menjadi bengong dan merasa kagum sekali.
Akan tetapi dia maklum bahwa sekarang bukan waktunya untuk banyak melakukan peradatan, dengan cepat dia menyambung-nyambung ikat pinggang yang memang sudah lama dia kumpulkan dengan maksud kalau dia berhasil keluar dari sumur, dia akan menolong kawan-kawannya.
Kini pertolongan mengeluarkan para korabn itu dilakukan dengan dua jalan, yakni Kwan Cu masih tetap naik turun untuk mengangkat seorang demi seorang, terutama yang sudah lemah dan tidak kuat merayap melalui tambang buatan, dan ada pula yang merayap melalui ikat pinggang yang disambung-sambung dan yang kini dilepas ke bawah oleh orang tinggi kurus itu.
Akhirnya, setelah bekerja mati-matian, lima puluh enam orang yang masih kuat dan yang sudah lemah dapat dikeluarkan semua dari sumur itu.
"Mari cepat keluar dari gua!"
Mengajak Kwan Cu tanpa mempedulikan ucapan terima kasih dari semua orang itu.
Mereka ini ternyata adalah orang-orang lelaki yang masih kuat dan muda-muda.
Tak salah lagi, sebagian besar di antara mereka tentulah orang-orang yang tidak mau dipaksa menjadi tentara oleh An Lu Shan.
Yang paling menarik, semua orang ini adalah semua orang Han aseli.
Mengapa mereka tidak mau menjadi tentara pemerintah sendiri?
Hal ini benar-benar membingungkan hati Kwan Cu, namun dia tidak mengambil pusing.
Semua orang mengikuti Kwan Cu keluar dari gua itu.
Yang lemah sekali digendong oleh yang kuat dan sebentar saja mereka telah dapat melarikan diri jauh dari gua, bersembunyi di dalam hutan.
"Nah, sekarang aku akan pergi dan selanjutnya harap kalian mencari jalan sendiri,"
Kata Kwan Cu. Orang yang tinggi kurus tadi melangkah maju dan menjura .
"Taihiap benar-benar hebat sekali. Entah bagaimana kami dapat membalas budi Taihiap. Tentang kawan-kawanku ini, biarlah aku yang memimpin mereka meloloskan diri ke selatan. Aku tahu jalan yang aman. Akan tetapi, agar kami dapat selalu mengingat-ingat siapakah Taihiap ini dan murid siapakah?"
"Aku bernama Kwan Cu dan selebihnya tak perlu ku ceritakan. Hanya kalau kalian hendak berterima kasih, ingatlah bahwa aku adalah murid Ang-bin Sin-kai!"
Setelah berkata demikian, Kwan Cu lalu melompat pergi dan lenyap dari pandangan mata orang-orang itu.
*** Kalau sekiranya Kwan Cu mendengar bahwa An Lu Shan mempersiapkan barisan besar untuk memberontak terhadap pemerintah di selatan, agaknya pemuda ini tentu akan berusaha untuk menghalangi pengkhianatan ini.
Akan tetapi, pemuda ini tidak mau terlalu lama tinggal di situ setelah dia melihat bahwa Hek-i Hui-mo berada di tempat itu.
Ia ingin mempercepat usahanya mencari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng dan tidak mau bentrok dengan lawan-lawan berat sehingga mengacaukan usahanya.
Pemuda ini melakukan perjalanan cepat sekali dan tiada hentinya, hanya beristirahat untuk makan dan tidur sebentar saja.
Ia berusaha sedapat mungkin agar tidak bertemu dengan orang lain, atau lebih tepat lagi agar jangan sampai ada urusan yang menghambat perjalanannya.
Dua pekan kemudian, setelah bertanya-tanya kepada orang di mana letak sungai Yalu, tibalah dia di kota Ang-tung, kota yang berada di tepi Sungai Yalu, yakni di bagian sungai itu memuntahkan airnya di Laut Kuning.
Kota Ang-tung amat besar dan ramai, karena kota ini merupakan pusat perdagangan yang menghubungkan pedalaman Tiongkok dengan pedagang-pedagang dari Korea.
Banyak sekali perahu nelayan dan pedagang berada di pinggir sungai dan pemandangan di situ amat indahnya.
Akan tetapi ketika Kwan Cu mencari perahu nelayan untuk di sewanya, tak seorangpun sanggup menyewakan perahunya, biarpun dengan bayaran tinggi.
"Laut di selatan tidak aman, kongcu,"
Kata seorang nelayan tua.
"selain sekarang muncul ikan-ikan buas yang besar dan yang sering kali mengganggu perahu nelayan, juga bajak-bajak laut sekarang banyak sekali. Kami semua adalah tukang-tukang perahu yang hanya sanggup membawa barang-barang dagangan dengan berlayar di tepi pantai, atau kalau mencari ikan juga, tidak terlalu jauh dari pantai. Kalau kongcu menghendaki menyewa perahu untuk dipakai memasuki laut bebas, kiranya akan bisa kongcu dapatkan di perkampungan nelayan Kim-le-pang."
"Di mana letaknya perkampungan Kim-le-pang itu, lopek?"
Tanya Kwan Cu dengan girang.
"Tidak jauh, kurang lebih lima belas li di sebelah timur kota ini."
Tanpa membuang banyak waktu Kwan Cu lalu menuju ke timur dan mencari perkampungan Kim-le-pang yang diceritakan oleh nelayan tua itu.
Benar saja, di pantai laut dekat dusun itu banyak sekali terdapat perahu-perahu kecil dan para nelayan sedang bekerja sibuk.
Ada yang menjemur ikan-ikan kering, ada pula yang menjemur jala-jala yang rusak.
Ada pula yang menjahit layar atau membetulkan perahu yang bocor.
Mereka ini nampak miskin dan sederhana, namun sebagian besar bertubuh tegap dan kuat, dengan kulit yang kehitaman karena setiap hari terbakar oleh matahari.
Ketika Kwan Cu menghampiri para nelayan ini, mereka tidak mengacuhkannya, sama sekali tidak kelihatan tertarik atau ingin menawarkan perahu mereka.
Dapat diduga bahwa nelayan-nelayan ini tinggi hati dan angkuh.
Memang mereka ini adalah sekelompok peranakan suku bangsa Han.
Meraka berdarah Hui dan Han, dan merupakan suku bangsa yang hidupnya mengandalkan penghasilan dari laut.
Mereka adalah pelaut-pelaut tulen yang lebih leluasa hidup di atas perahu dari pada di darat.
Melihat sikap mereka yang acuh tak acuh, Kwan Cu merasa tak enak hati.
Akan tetapi oleh karena dia memang membutuhkan perahu untuk disewa, dia lalu menghampiri mereka dan menjura sambil bertanya.
"Saudara-saudara, harap maafkan kalau aku mengganggu kalian."
Seorang kakek yang mulutnya menggigit huncwe kecil panjang dan matanya sipit, berpaling kepadanya dan tanpa melepaskan huncwenya dia berkata.
"Kalau tidak mengganggu, tak perlu minta maaf. Kalau memang hendak mengganggu, mengapa pakai minta maaf segala?"
Merah muka Kwan Cu mendengar ucapan yang jujur dan kasar ini. Ia dapat menduga bahwa dia berhadapan dengan orang-orang sederhana, jujur, dan keras hati.
"Lopek, sebetulnya aku bukan bermaksud hendak mengganggu. Akan tetapi siapa tahu kalau kedatanganku ini saja sudah merupakan gangguan bagimu."
Kini kakek itu menghentikan pekerjaannya menambal layar, dan sambil mencabut huncwenya dia menghadapi Kwan Cu, memandangnya dari atas terus ke bawah, lalu bertanya.
"Kau mau apakah?"
"Aku mencari perahu yang disewakan."
"Dengan orangnya?"
"Kalau mungkin, lebih baik lagi."
"Ke mana?"
Kwan Cu merasa tidak enak dengan percakapan yang singkat-singkat ini, akan tetapi apa boleh buat, orang ini agaknya lebih suka bicara singkat.
"Hendak menyeberangi laut, mencari pulau-pulau di dekat pantai."
"Tak mungkin! Tidak ada perahu disewakan!"
Jawab kakek itu sambil menancapkan huncwenya di mulut lagi.
"Lopek, aku tidak hendak menyewa perahumu kalau kau tidak menyewakannya. Akan tetapi aku akan menyewa perahu siapa saja yang suka menyewakan kepadaku,"
Kata Kwan Cu agak keras karena dia merasa mendongkol sekali. Lalu pemuda ini memandang ke sekelilingnya dan berteriak.
"Hei, saudara-saudara. Siapakah yang suka menyewakan perahunya kepadaku untuk menyeberangi laut mencari pulau? Aku berani membayar berapa saja yang dimintanya!"
Mendengar pemuda ini berteriak-teriak, para nelayan lalu berlari-lari mendatangi. Mereka sebentar saja mengurung Kwan Cu dan kakek itu sambil melepaskan huncwenya berkata kepada orang banyak.
"Dengarkan orang gila ini! Dia hendak menyewa perahu menyeberangi laut mencari pulau. Agaknya dia sudah bosan hidup. Ha-ha-ha!"
Ramailah suara para nelayan ketawa mengikuti kakek itu.
"Dengar!"
Kwan Cu membentak!
"kalau kalian begitu pengecut dan takut, biarlah aku menyewa perahunya saja.
Tak usah aku diantar oleh penakut-penakut macam kalian.
Biarkan aku menyewa perahu saja, berilah perahu yang baik dan kuat dan aku akan membayar mahal!"
"Kau akan membayar dengan apa?"
"Dengan emas. Lihat , aku mempunyai sekantong emas!"
Kwan Cu lalu memperlihatkan sekantong emas yang dia dapat "ambil"
Dari rumah gedung seorang bangsawan kaya raya ketika dia tiba di kota besar.
Memang, pemuda ini yang tahu bahwa dia harus memiliki emas untuk menyewa perahu, telah mencuri uang emas sekantong dari hartawan itu pada malam hari!
"Hah, apa artinya emas?
Tidak mengenyangkan perut!"
Kakek itu berkata dan semua nelayan mengangguk menyatakan setuju.
"mengacaukan saja!"
Kwan Cu tertegun dan penasaran.
"Habis, apa yang kau kehendaki sebagai pembayaran sewa perahu?"
"Apapun pembayaran yang kau janjikan, anak muda, di dusun kami tidak ada orang yang begitu gila untuk memberikan perahunya padamu, karena kalau perahu di berikan padamu, berarti perahu itu akan lenyap tenggelam di laut bersamamu!"
Kwan Cu mendongkol sekali.
"Tak kusangka orang-orang yang kelihatan kuat dan gagah seperti kalian ini, hatinya kecil dan penakut. Pula selain penakut tidak ramah dan tidak menolong orang. Hemmm, kecewa sekali aku datang ke tempat ini."
Setelah berkata demikian, Kwan Cu hendak pergi dari situ, di dalam hatinya mengambil keputusan untuk mencuri saja sebuah perahu dan meninggalkan uang emasnya sebagai pembayaran!
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar seorang pemuda nelayan berkata kepada kakek itu.
"Lo-pek-pek, mengapa tidak kau suruh dia menyewa perahu nenek gila?"
Mendengar ucapan ini, semua orang ketawa.
"Cocok sekali! Memang pantas kalau pemuda yang nekat dan bosan hidup ini berlayar dengan nenek gila atau puteranya yang berotak miring!"
Terdengar suara di antara gelak ketawa, Kwan Cu terheran, orang-orang ini tadinya pendiam dan berwajah keras, akan tetapi setelah disebutnya nama nenek gila ini semua orang tertawa geli!
Ia tertarik sekali dan menahan tindakan kakinya.
"Di manakah dia si nenek gila itu? Apakah betul-betul dia mempunyai perahu dan sekiranya dia mau menyewakan perahunya, biarpun gila akan kucoba datangi."
Kakek nelayan itu menggelengkan kepalanya.
"Anak muda, biarpun urusanmu tidak ada sangkut pautnya dengan kami dan kenekatanmu juga tidak merugikan kami, akan tetapi melihat sikapmu yang halus ini aku merasa kasihan juga. Memang di sini ada seorang nenek gila dan puteranya yang setengah gila pula. Akan tetapi, mereka ini berbahaya sekali dan terasing hidupnya. Kalau kau mencoba mendekati mereka, aku khawatir kalau-kalau kau akan mati sebelum menyeberangi laut."
Makin tertarik hati Kwan Cu.
"Biarlah, di mana mereka tinggal? Akan kucoba menghubungi mereka."
Kakek itu mengangkat pundaknya.
"Benar kata mendiang ayah dahulu bahwa orang-orang selatan memang aneh sekali wataknya. Kau mau tahu? Pergilah ke pantai sebelah barat kampung ini dan kau akan melihat sebuah pondok menyendiri di pantai yang ada hutannya. Di sana mereka tinggal."
"Terima kasih, Lopek. Selamat tinggal!"
Setelah mengucap demikian, Kwan Cu mempergunakan kepandaiannya meloncat pergi.
Bengonglah semua nelayan ketika melihat betapa sekali berkelebat saja pemuda itu telah meloncat amat jauhnya dan sebentar pula lenyap dari pandangan mata!
Kwan Cu melanjutkan perjalanannya dengan cepat, menuju ke hutan pinggir pantai seperti yang ditunjukkan oleh kakek nelayan itu.
Benar saja, dia melihat sebuah pondok kecil yang berbentuk segi empat di pinggir hutan, dekat pantai.
Keadaan di situ amat sunyi karena di sekitar tempat itu tidak ada rumah lain.
Juga di pekarangan yang kotor dari rumah itu tidak kelihatan seorang pun manusia.
Keadaan benar-benar sunyi sekali.
Kwan Cu menghampiri pondok itu dan keadaan di situ nampak menyeramkan.
Tidak ada perabot rumah di situ, hanya ada dua buah batu karang yang besar di dalam rumah.
Di antara batu karang ini, terdapat pula batu yang licin dan lebih besar, agaknya itulah kursi dan meja dari tuan rumah.
Ia dapat melihat semua ini Karena rumah itu tidak ada daun pintunya.
Demikianpun jendelanya di kanan kiri rumah tidak ada daun jendelanya, tinggal terbuka saja pintu dan jendelanya.
Sampai lama Kwan Cu menanti, akan tetapi sudah jelas bahwa di dalam rumah itu tidak ada orangnya.
Ia mencari-cari di depan dan belakang rumah, namun tidak kelihatan bayangan orang.
Bahkan di pantai juga tidak kelihatan ada perahu.
Namun jelas ada tanda-tanda bahwa tempat itu memang ditinggali orang, karena di sana-sini terdapat bekas-bekas orang, seperti tapak-tapak kaki, mangkok-mangkok pecah, dan pecahan-pacahan jala, bahkan ada berserakan tulang-tulang ikan di sana-sini.
Juga ada tempat api di sudut dalam rumah itu.
Kwan Cu sampai merasa kesal menanti di luar rumah, kemudian karena melihat di dalam rumah itu ada hiasan-hiasan dinding berupa gambar-gambar dan tulisan-tulisan sajak, dia memberanikan diri memasuki ambang pintu.
Alangkah tertariknya ketika dia melihat lukisan-lukisan yang cukup indah, dan sajak-sajak tulisan dari pujangga ternama.
Hanya orang yang mengerti kesusastraan dengan baik saja yang mau menggantungkan lukisan dan sajak-sajak seindah itu, pikirnya.
Makin tertariklah dia kepada penghuni rumah yang dikatakan gila oleh para nelayan itu.
Siapakah mereka dan bagaimana mereka nanti menyambutnya?
Akan tetapi, menanti-nanti datangnya penghuni rumah ini merupakan ujian berat bagi Kwan Cu karena ditunggu-tunggu sampai menjelang senja, belum juga penghuninya kelihatan kembali!
Apakah mereka sudah meninggalkan rumah ini dan tidak akan kembali lagi?
Ataukah barangkali para nelayan itu mempermainkannya?
Akan tetapi tidak mungkin, karena tanda-tanda bahwa rumah ini masih ditinggali orang, ternyata dari adanya hiasan-hiasan dinding itu.
Kalau mereka pergi takkan kembali lagi tentu lukisan-lukisan itu mereka bawa.
Maka dia mengambil keputusan untuk menanti terus, dan kalau perlu dia akan bermalam di situ sampai besok pagi Senja telah berganti malam dan bulan sepotong muncul di langit timur.
Kwan Cu berdiri di depan jendela dan termenung, mengharapkan datangnya tuan rumah.
Tiba-tiba dia melihat sesuatau yang amat menarik perhatiannya, di depan jendela itu ada semacam tumbuh-tumbuhan yang tadinya tidak menarik perhatiannya.
Tetumbuhan ini batangnya hitam dan daun-daunnya tidak berapa banyak, berbentuk lonjong bundar dan tulang-tulang daunnya nampak jelas sekali, kehitaman membayang pada daun yang putih itu.
Tidak ada yang aneh pada tetumbuhan ini, juga tidak kelihatan bunga atau buahnya.
Akan tetapi yang amat menarik perhatian Kwan Cu, adalah kejadian yang bukan main anehnya.
Tadinya daun-daun itu tidak bergerak sama sekali karena memang tidak ada angin yang dapat meniup daun-daun itu.
Angin dari laut tertahan oleh bangunan rumah sehingga daun-daun itu terlindungi dari pada hembusan angin.
Akan tetapi, ketika malam tiba dan beberapa ekor jengkerik datang, dan jangkerik-jangkerik itu menempel pada daun, mereka lalu jatuh ke bawah dan mati!
Kwan Cu terheran-heran dan membungkuk untuk melihat lebih jelas keadaan jangkerik-jangkerik itu, dan apa yang dilihatnya?
Jangkerik-jangkerik itu telah hangus badannya!
Kwan Cu berdiri seperti patung, terkejut dan terheran-heran.
Ia berlaku hati-hati dan tidak berani menjamah daun-daun itu, sungguhpun hatinya ingin sekali karena dia ingin tahu mengapa jangkerik-jangkerik itu bisa mati hangus begitu tersentuh pada daun-daun itu.
Maka ketika ada beberapa ekor jangkerik terbang lalu, dia menyambar dengan tangannya dan menangkap tiga ekor jangkerik.
Setelah itu, dia melemparkan jangkerik-jangkerik itu satu persatu menempel pada pohon dan akibatnya......
benar-benar hebat!
Binatang-binatang kecil itu lalu jatuh dan mati hangus pula!
"Hebat,"
Pikir Kwan Cu.
"daun mujijat apakah ini?"
Akan tetapi pada saat itu, dari atas tanah merayap tiga ekor ulat berwarna hijau.
Ulat-ulat itu besarnya sama dengan ibu jari tangan manusia dan dengan gerakan yang menggelikan ulat-ulat itu merayap ke batang pohon kecil yang berdaun mujijat itu.
Kwan Cu menduga bahwa tiga ekor lalat yang berjalan beriring-iringan ini tentu akan mengalami nasib serupa dengan para jengkerik, akan tetapi aneh.
Kali ini ulat-ulat itu merayap dengan amat aman dan selamat, bahkan ketiga-tiganya lalu memilih daun yang segar digerogoti dengan rakusnya!
Memang betul bahwa begitu ada ulat yang menempel pada sehelai daun, semua daun pohon itu serentak bergoyang-goyang dan bangkit seperti tadi, akan tetapi ulat-ulat itu tidak jatuh, bahkan merasa enak diayun-ayun oleh daun yang dimakan dan menambah kelezatan makannya.
Sebentar saja masing-masing ulat telah menghabiskan sehelai daun!
"Luar biasa sekali!"
Pikir Kwan Cu.
"ada daun yang aneh, kini muncul ulat-ulat yang hebat pula!"
Ia menjadi amat gembira dan lupa akan segalanya, lupa bahwa telah amat lama dia menanti di situ.
Perhatiannya tertuju sepenuhnya pada ulat-ulat yang kini sudah mulai menggerogoti lain daun yang segar.
Tiba-tiba terdengar suara melengking yang tinggi sekali sehingga menyakitkan anak telinga.
Kwan Cu melihat sinar-sinar kecil menyambar ke arah pohon tadi dan alangkah kagetnya ketika melihat betapa ulat-ulat itu telah tertancap pada daun, di tubuh setiap ulat tertancap sebatang jarum putih yang halus sekali dan ada kepalanya merupakan titik bulat.
Ulat-ulat itu tertancap dan tertusuk seperti disate, kini tak dapat melepasakan diri dari daun itu, hanya menggeliat-geliat!
Bukan main heran dan kagetnya hati Kwan Cu.
Orang yang dapat melepaskan jarum dari jarak jauh mengenai ulat-ulat itu dengan demikian tepatnya, tentulah seorang yang memiliki kepandaian luar biasa tingginya dalam ilmu melepas am-gi (senjata-gelap)!
Dan hanya orang yang lihai sekali ilmu silatnya saja yang dapat melakukan hal itu.
Ia tertarik dan hendak mengulur tangannya hendak mencabut jarum itu untuk di periksanya.
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara melengking mengerikan dan menyambarlah angin yang dahsyat dari luar jendela.
Entah dari mana datangnya, tahu-tahu di depan jendela muncul bayangan seorang nenek berpakaian putih dan berwajah pucat seperti mayat dan yang mengulurkan tangan kanannya yang berbentuk seperti cakar burung!
Nenek itu sambil mengeluarkan suara lengkingan tinggi mencakar ke arah dada Kwan Cu.
Pemuda ini terkejut sekali dan cepat melompat mundur dengan muka pucat.
Serangan tadi benar-benar berbahaya dan melihat cara nenek ini menyerang, agaknya nenek ini adalah seorang ahli ilmu silat Eng-jiauw-kang (Ilmu silat Cengkeraman Garuda).
Cengkeraman itu tidak saja dapat merobek kulit daging bahkan akan dapat menghancurkan batu karang yang keras!
"Suthai, harap maafkan teecu,"
Kata Kwan Cu cepat-cepat.
"teecu telah beralaku lancang berani memasuki rumah suthai."
Melihat cara nenek itu berpakaian, dia mengira bahwa nenek itu tentulah seorang pertapa, maka dia menyebut suthai.
"Apakah kau mau mencuri daun-daun Liong-cu-hio (Daun mustika naga) ini?"
Tanya nenek itu dan sepasang matanya terputar-putar dan mulutnya menyeringai. Suaranya tinggi dan kecil seperti suling ditiup.
"Tidak, tidak, suthai. Teecu mana berani mencuri daun-daun mujijat itu? Bahkan menyentuh pun teecu tidak berani, setelah melihat betapa daun-daun itu dapat menghanguskan tubuh binatang-binatang jangkerik."
Nenek itu tertawa dengan suara menyeramkan.
"HI-hi-hi-hi-hi! Kau telah melihatnya, bukan? Hi-hi-hi, kau mengetahui kelihaiannya? Kalau kau menyentuh daunnya, tanganmu akan menjadi hangus, hi-hi-hi!"
Kemudian nenek itu memandang kepada ulat-ulat yang masih tertancap oleh jarum-jarumnya.
"Hah, ulat-ulat menjemukan. Hanya binatang ini saja yang sanggup makan Liong-cu-hio dengan enaknya. Akan kubasmi semua ulat ini!"
Ia mencabuti jarum-jarumnya dan melepaskan ulat-ulat itu dari jarum-jarum, terus memasukkan tiga ekor ular itu ke dalam mulutnya yang ompong!
Dengan enaknya dia mengunyah tubuh ulat-ulat yang kehijauan itu dan ada air yang kehijauan mengalir di pinggir bibirnya terus ke dagu.
Kwan Cu bergidik menyaksikan kejadian yang amat mengerikan hati ini.
Tak terasa pula dia menelan ludahnya melihat betapa nenek itu makan ulat hidup demikian enaknya, bukan sekali-kali karena dia ingin dan timbul seleranya, dia ingin muntah dan terpaksa menelan ludah untuk menahan keinginannya itu.
"Kau ingin makan ulat ini?"
Tanya nenek itu kepada Kwan Cu. Pemuda itu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak, tidak, terima kasih banyak, suthai. Teecu sudah makan tadi di dusun Kim-le-pang."
Nenek itu kembali memandangnya dengan mata yang aneh.
"Kau nelayan?"
"Bukan, suthai. Teecu adalah seorang perantau yang sengaja datang ke tempat ini untuk berusaha menyewa sebuah perahu."
"Mau menyewa perahu mengapa datang kesini? Apakah kau tidak mendengar bahwa siapa yang memasuki rumahku ini harus mati?"
Setelah berkata demikian, dengan gerakan yang amat gesit, nenek itu melompat dari jendela, memasuki rumah itu dan langsung menyerang Kwan Cu!
Serangannya ini tak salah lagi adalah Eng-jiauw-kang seperti yang pernah Kwan Cu pelajari dari suhunya.
Maka dengan cepat dia melompat mundur sambil mengelak.
"Suthai, maafkan teecu. Teecu datang bukan dengan maksud buruk. Harap maafkan kelancangan teecu."
"Hi, hi, hi, kau dapat mengelak dari seranganku? Hendak kulihat sampai berapa lama kau dapat bertahan!"
Setelah berkata demikian, nenek itu terus mendesak dengan serangan-serangannya yang lihai.
Terpaksa Kwan Cu melayaninya dan pemuda inipun lalu mengeluarkan ilmu silatnya untuk mengimbangi serangan nenek itu.
Kalau dia hanya mempertahankan diri, banyak bahayanya dia akan terluka.
Kedua tangan nenek itu benar-benar berbahaya sekali, kukunya panjang dan tangannya amat kuatnya, tanda bahwa tenaga lweekang nenek itu sudah tinggi.
"Hi-hi-hi, kau dapat melawanku, benar-benar mengagumkan! Eh, ilmu silatmu hampir sama dengan Pai-bun-tui-pek-to!"
Kwan Cu terkejut.
Memang dalam menghadapi serangan nenek itu, dia tadi bermain ilmu silat Pai-bun-tui-pek-to yang mempunyai daya tahan kuat sekali.
Bagaimana nenek aneh ini dapat mengenal ilmu silatnya?
"Memang teecu mainkan Pai-bun-tui-pek-to, Suthai.
Teecu belajar dari Ang-bin Sin-kai guruku!"
Ucapan ini sengaja dia keluarkan dengan harapan kalau-kalau nenek itu sudah mengenal suhunya dan dapat menghentikan serangannya. Akan tetapi, tiba-tiba nenek itu menyerang makin hebat lagi.
"Bagus, hendak kulihat sampai di mana kepandaian murid Ang-bin Sin-kai si pengemis jembel!"
Menghadapi serangan Eng-jiauw-kang yang dilakukan dengan gerakan lincah dan cepat sekali, Kwan Cu menjadi kewalahan dan terpaksa dia mengeluarkan sulingnya.
Kini dia mainkan ilmu pedang Hun-kai Kiam-hoat dengan sulingnya, juga dia membalas dengan serangan yang hebat sekali.
Tiba-tiba terdengar bentakan keras dan muncullah seorang pemuda tinggi besar dari pintu yang tak berdaun itu.
Pemuda ini membawa sebatang dayung yang panjang dan lebar.
"Ibu, siapakah sahabat yang gagah perkasa ini?"
Tanya pemuda itu sambil memukulkan dayungnya pada tanah sehingga tergetarlah rumah itu.
Kwan Cu terkejut sekali.
Pemuda ini memiliki tenaga gwakang yang demikian besarnya, kalau dia ikut maju, dia akan menghadapi dua orang lawan yang sama sekali tak boleh dipandang ringan!
Akan tetapi, tiba-tiba nenek yang aneh itu tertawa berkikikan dan menghentikan serangannya.
"Kong Hoat, inilah pemuda yang ada harapan,"
Katanya kepada pemuda yang ternyata adalah puteranya dan bernama Kong Hoat itu.
"Dia inilah murid Ang-bin Sin-kai, jago tua yang amat kukagumi."
Kwan Cu cepat menoleh dan dia melihat seorang pemuda tinggi besar yang berwajah gagah sekali, usianya hanya lebih dua tahun dari padanya, akan tetapi mempunyai potongan tubuh yang lebih besar darinya.
Ia kagum sekali melihat pemuda ini yang tertawa-tawa seperti orang yang gembira selalu.
Dengan amat hormat, Kwan Cu menjura kepada pemuda itu dan kepada nenek yang tadi menyerangnya.
"Aku yang bodoh bernama Lu Kwan Cu, murid dari Ang-bin Sin-kai. Harap dimaafkan apabila tanpa mendapat ijin, aku berani memasuki rumah ini. Kedatanganku sebetulnya atas petunjuk para nelayan di dusun Kim-le-pang, karena aku mencari sewaan sebuah perahu. Besar harapanku akan mendapat pertolongan dari Ji-wi yang mulia."
"Kau mencari perahu, sahabat? Untuk dipakai kemanakah?"
Tanya Kong Hoat sambil memandang tajam.
Suara pemuda ini besar dan parau dan pandangan matanya amat jujur.
Kwan Cu merasa tidak enak kalau berbohong akan tetapi dia pun tidak mungkin dapat menceritakan rahasia dan cita-citanya.
"Sesungguhnya, aku bermaksud untuk menyeberangi laut dan akan melakukan perantauan ke pulau-pulau yang berada di tengah laut. Aku mendengar dari guruku bahwa pulau-pulau itu mengandung rahasia-rahasia yang menarik hati, dan sebagai seorang pemuda, aku amat tertarik dan ingin sekali menyaksikan dengan mata sendiri."
Kong Hoat melemparkan dayungnya ke sudut lalu pergi duduk di atas sebuah batu karang yang berada di dalam rumah.
"Aneh, aneh sekali! Tahukah kau bahwa pulau-pulau itu didiami oleh makluk-mahluk aneh yang amat berbahaya? Jangankan kau seorang diri yang masih muda, ibuku sendiripun tak berani pergi ke pulau-pulau itu."
"Siapa yang pergi kepulau-pulau itu, sama halnya dengan mencari kematian sendiri. Hi-hi-hi, murid Ang-bin Sin-kai, kau benar-benar lucu dan aneh, lebih aneh dari pada Ang-bin Sin-kai sendiri. Kau mati sih tidak apa, akan tetapi sayang sekali karena kau masih muda dan juga tampan dan gagah. Batalkan saja kehendakmu itu."
Mendengar ucapan ini, Kwan Cu maklum bahwa nenek itu sama sekali tidak gila, apalagi puteranya, biarpun pakaian puteranya itu tidak karuan dan amat bersahaja, yakni celana pendek sebatas lutut dan baju yang hanya sebatas siku saja lengannya.
"Terima kasih atas nasihatmu, Suthai dan kau juga, saudara. Akan tetapi, justru keanehan dan bahaya itulah yang menarik hatiku untuk mengunjunginya. Kalau sekiranya Ji-wi tidak merani mengantar, aku akan meminjam perahu Ji-wi saja atau menyewanya, dan aku akan mendayungnya seorang diri ke tempat itu."
Kong Hoat bangkit berdiri dan membanting-banting kedua kakinya di atas tanah. Kembali terasa tanah bergoyang-goyang saking kerasnya tenaga bantingan kaki pemuda tinggi besar ini.
"Itulah, itulah! Sudah berkali-kali aku rindu akan perantauan yang banyak bahayanya, akan tetapi ibu...."
"Kong Hoat! Siapa yang melarang kau pergi? Pergilah kalau kau memang sudah tega meninggalkan ibumu mati kesunyian."
Kong Hoat tertawa dan aneh sekali!
Biarpun mulutnya tertawa, namun kedua matanya mengeluarkan air mata bercucuran!
Kwan Cu berdiri bengong melihat keanehan ini?
Kalau tidak gila, mengapa dia tertawa sambil mengucurkan air mata?
"Ibu, kau lucu sekali.
Kau melepaskan anakmu, akan tetapi mengikat kedua kakiku dengan omongan itu.
Aku mana bisa meninggalkan ibu?
Biar mati aku tidak mau meninggalkan ibu tercinta!"
Dan kini nenek itulah yang menangis terisak-isak lalu menghampiri puteranya yang segera di peluknya.
"Kong Hoat, Kong Hoat, kau puteraku yang paling baik..."
Terharu hati Kwan Cu menyaksikan cinta kasih seorang ibu dan bakti seorang putera terhadap ibunya.
"Saudara Kwan Cu, kalau kau nekat hendak melakukan perjalanan berbahaya itu, kaupakailah perahuku."
"Aku akan meyewanya, di sini aku membawa sekantong uang emas untuk menyewa perahu itu..."
Tiba-tiba nenek itu melompat dan menyerangnya dengan cengkeraman tangannya. Kwan Cu cepat mengelak dan Kong Hoat berseru.
"Ibu jangan...!"
Ibunya menarik kembali seranganya dan pemuda tinggi besar itu berkata kepada Kwan Cu.
"Saudara, kau menghina kami! Baiknya aku ingat bahwa kau bermaksud baik, kalau tidak tentu aku akan membantu ibu membunuhmu karena kau telah menghina kamu orang-orang miskin".
"Maaf, maaf, aku tidak bermaksud menghina...."
Kata Kwan Cu kaget sekali.
"Kami tahu, dan karena itu sudahlah jangan bicara lagi tentang sewa perahu. Aku memberikan perahu kami kepadamu dan habis perkara! besok pagi-pagi, kau boleh berangkat dan malam ini biarlah kita bercakap-cakap sambil menanti datangnya fajar. Berangkat di waktu fajar menyingsing baik sekali, angin tenang dan tidak ada ombak. Aku pun baru saja kembali mencari ikan dan mari kita makan ikan yang kudapat dari laut."
Kwan Cu tidak berani banyak omong lagi, khawatir kalau-kalau kesalahan bicara lagi.
Kong Hoat lalu berlari keluar dan tak lama kemudian dia kembali membawa seekor ikan yang sebesar paha.
Ikan ini aneh sekali, badannya seperti ikan biasa yang bersisik besar-besar warna merah, akan tetapi kepalanya bulat dan kedua matanya berhimpitan di atas sedangkan mulutnya berada di bawah.
Kepala ikan ini seperti kepala kucing, akan tetapi warna aneh, mengingatkan orang akan muka atau kepala seekor binatang suci Kilin.
"Ha, Kong Hoat, anak baik. Jadi kau berhasil menangkapnya?"
"Setelah berjuang mati-matian dari pagi sampai malam, ibu,"jawab Kong Hoat sambil tertawa bergelak dan kembali dari kedua matanya bercucuran air mata! Kwan Cu menjadi bengong.
"Eh, saudara Kong Hoat, maafkan aku. Apakah kau mau artikan bahwa sehari semalam kau berlayar mencari ikan hanya untuk menangkap seekor ikan aneh ini?"
Kong Hoat dan ibunya saling pandang, kemudian tertawa bergelak-gelak dan kelihatan geli sekali.
"Saudara Kwan Cu, nasibmu memang baik maka datang-datang kau mendapat suguhan ikan ini. Ketahuilah, ikan seperti ini di seluruh laut kuning barangkali hanya ada beberapa puluh ekor saja. Disebutnya ikan Kilin dan selain sukar didapatkan, juga amat sukar ditangkap. Hampir aku mati kehabisan napas dalam air ketika aku berusaha menangkapnya, padahal dia telah terkena tusukan tombakku."
"Mengapa kau mati-matian menangkapnya? Apakah karena dagingnya enak sekali?"
Kembali ibu dan anak itu tertawa bergelak.
"Ah, orang kota hanya memikirkan tentang kelezatan makanan, sama sekali tidak memikirkan khasiatnya,"
Mendengar ini merahlah wajah Kwan Cu "Maafkan aku yang bodoh,"
Kata Kwan Cu.
"Sesungguhnya bukan karena aku terlalu temaha akan makanan enak, hanya karena aku sama sekali belum mengerti ikan. Harap Ji-wi (kalian berdua) sudi memberi penjelasan tentang ikan Kilin ini dan segala keanehanya."
Setelah tertawa geli tanpa maksud menghina tamunya, pemuda tinggi besar itu lalu berkata.
"Saudara Kwan Cu, ketahuilah bahwa ikan Kilin ini terdapat di sekitar Laut Po-hai terus ke timur. Akan tetapi, jarang sekali ikan Kilin mau berenang ke pinggir pantai dan merupakan hal yang amat langka bagi seorang nelayan untuk mendapatkan ikan ini. Oleh karena itu ketika beberapa lama yang lalu aku melihat seekor ikan Kilin berenang di pinggir perahu, aku terkejut dan tidak pernah dapat tidur nyenyak sebelum aku berhasil menangkapnya."
"Kalau begitu memang ikan yang aneh dan sukar didapat,"
Kata Kwan Cu sambil tersenyum melihat sikap pemuda nelayan itu yang bercerita dengan gaya lucu.
"Akan tetapi, apakah khasiat dari daging ikan ini?"
Pemuda yang bernama Kong Hoat itu menengok kepada ibunya dan bertanya,"Bolehkah aku menceritakannya ibu?"
Nenek yang berwajah mengerikan itu mengangguk.
"Boleh saja, dia adalah seorang pemuda gagah yang berbakat baik dan sebagai murid Ang-bin sin-kai, dia bahkan berhak merasai daging ikan Kilin. Kau berceritalah sementara aku mengurus ikan ini."setelah berkata demikian, nenek itu lalu mengangkat ikan tadi, dibawanya ke dapur. Adapun Kong Hoat tertawa -tawa, lalu berkata kepada Kwan Cu.
"Saudara yang baik, maafkan kalau tadi aku ragu-ragu karena aku harus minta ijin dari ibuku lebih dulu sebelum membuka rahasia tentang ikan itu."
"Tidak apa, saudara Kong Hoat. Aku bahkan kagum sekali melihat sikapmu kepada ibumu, sebagai sikap seorang hauw-ji(anak berbakti) tulen!"
"Mendiang susiok (paman guru),"
Kata Kong Hoat tanpa memperdulikan pujian Kwan Cu.
"adalah seorang ahli dalam ilmu berenang dan menyelam.Dari susiok inilah aku mendengar bahwa untuk dapat menjadi ahli dalam air, maka obat yang paling baik adalah ikan Kilin. Dagingnya dapat menguatkan tubuh dan lemaknya apabila dimakan, membuat kulit kita tahan akan tekanan air dingin dan gigitan air garam. Tulang-tulang siripnya kalau dikeringkan dan dijadikan bubuk, dapat menjadi obat yang mujarab sekali bagi kita sehingga tulang-tulang kaki tangan kita menjadi amat kuat untuk memukul air dalam berenang. Lemaknya dapat dijadikan minyak dan apabila kita menggunakan minyak ini untuk membasahi kulit, maka tubuh kita akan menjadi licin sehingga memudahkan kita bergerak di dalam air. Yang hebat adalah paru-parunya, karena paru-paru ini merupakan obat sehingga kita akan kuat bertahan lama-lama di dalam air tanpa kehabisan napas."
Akan tetapi Kwan Cu tidak tertarik oleh semua ini.
Memang dia tidak tertarik akan kepandaian di dalam air.
Sebagai seorang yang biasa merantau di darat, tentu saja dia tidak begitu tertarik seperti Kong Hoat yang memang semenjak kecil bermain-main di dekat air selalu.
Betapapun juga, ketika daging ikan Kilin disuguhkan, Kwan Cu makan beberapa potong dan merasa betapa daging itu mendatangkan hawa hangat di dalam perut dan dadanya.
Tahulah dia bahwa memang daging ini mengandung khasiat yang amat baik bagi peredaran darahnya, sehingga dia menjadi girang dan menghaturkan terima kasihnya.
Kini mereka bercakap-cakap bertiga.
Dalam percakapan ini tahulah Kwan Cu bahwa wanita tua itu adalah seorang tokoh kang-ouw yang amat terkenal dan yang pernah disebut-sebut namanya oleh suhunya, yakni yang disebut-sebut Liok-te Mo-li (Iblis Wanita Bumi).
Adapun Kong Hoat adalah putera tunggalnya yang dididik ilmu silat olehnya semenjak kecil sehingga pemuda itu pun memiliki kepandaian yang tinggi.
"Saudara Kwan Cu, sungguh amat mengherankan hati kami. Kau yang begini muda mempunyai keinginan mengarungi samudra, berkelana dengan perahu di daerah yang terkenal amat berbahaya ini, sebenarnya kau mencari apakah?"
Tanya Kong Hoat.
Kwan Cu tersenyum.
Ia merasa tidak enak untuk membohong kepada orang-orang yang jujur dan baik ini, akan tetapi untuk berkata terus terang bahwa ia mencari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, dia pun tidak berani.
Suhunya sudah memesan kepadanya dengan sungguh-sungguh agar dia jangan sekali-kali menceritakan kepada siapapun juga tentang kitab itu.
Maka dia berkata.
"Saudara yang baik, sebagai seorang pemuda aku hanya ingin meluaskan pengetahuanku saja, hendak melihat apakah yang terdapat di sebelah sana samudera yang luas ini."
Kong Hoat memandang kepadanya dengan kagum dan dari pandangan mata ini tahulah Kwan Cu bahwa sebetulnya pemuda itu ingin pergi seperti dia.
Tak terasa pula fajar telah menyingsing dan Kwan Cu segera berdiri lalu berpamit kepada tuan rumah.
"Nanti dulu, kau boleh mempergunakan dayung simpananku yang paling baik,"
Kata Kong Hoat yang segera berlari ke belakang. Tak lama kemudian dia kembali membawa sebatang dayung berwarna hitam yang panjang dan berat.
"Dayung ini jauh lebih baik dari pada lima batang dayung biasa."
Kata Kong Hoat gembira.
"Kau seorang pemuda gagah perkasa, amat cocok memegang dayung ini, saudara Kwan Cu."
Kwan Cu menerima dayung itu dan ternyata bahwa dayung itu terbuat dari pada baja hitam yang kuat sekali.
Selain dapat digunakan sebagai dayung, juga dapat dipergunakan sebagai senjata yang boleh diandalkan.
"Terima kasih saudara Kong Hoat. Kau baik sekali dan mudah-mudahan saja aku akan mendapat kesempatan membalas budimu yang baik ini."
Kata Kwan Cu girang.
Kong Hoat lalu memberikan perahunya kepada Kwan Cu, bahkan membantu Kwan Cu mengangkat perahu itu ke pinggir dan menurunkannya di air.
Matahari baru nampak sinarnya yang kemerahan di permukaan laut, akan tetapi raja siang itu sendiri belum memperlihatkan dirinya yang agung.
"Ingat, saudara Kwan Cu, dalam bulan ini angin bertiup dari selatan menuju ke utara dan ombak yang paling dahsyat terdapat di mulut Laut Po-hai. Bagian barat tidak berbahaya akan tetapi kalau kau memasuki Laut Po-hai hati-hati jangan kau membiarkan perahumu mendekati kepulauan yang berada di sebelah utara dekat mulut Sungai Yalu, karena di situ terdapat pulau-pulau aneh yang amat berbahaya, selain itu, terdapat pula batu-batu karang yang sukar dilalui perahu. Itu semua masih belum hebat, karena sebelum tiba di daerah berbahaya itu, kau akan berhadapan dengan ikan-ikan hiu yang amat liar dan ganas."
"Terima kasih atas segala nasihatmu, saudara Kong Hoat, akan kuingat baik-baik semua nasihat itu,"
Jawab Kwan Cu. Tiba-tiba nenek tua Liok-te Mo-li datang berlari-lari. Tangannya membawa bungkusan kuning dan ia berkata kepada Kwan Cu.
"Kau seorang pemuda yang berani, dan sebagai tamuku, sudah semestinya kalau aku memberi sedikit bekal. Nah, kau terimalah beberapa helai daun Liong-cu-hio (Daun Mustika Naga) ini untuk bekal di tengah pelayaranmu yang berbahaya itu."
Sambil berkata demikian, nenek itu memberikan bungkusan kuning kepada Kwan Cu.
Kwan Cu menerimanya sambil menghaturkan terima kasih.
Akan tetapi ketika dia teringat akan nama daun itu sebagai daun ajaib, yang membunuh jangkrik-jangkrik malam tadi, dia menjadi ngeri.
"Maaf, suthai, biarpun teecu berterima kasih sekali, akan tetapi tolonglah menerangkan kepada teecu yang bodoh tentang khasiat daun-daun ini untuk teecu. Terus terang saja teecu masih merasa ngeri apabila melihat keliahaian daun ini. Sekarang suthai memberi bekal ini, bagaimanakah teecu harus mempergunakannnya?"
Liok-te Mo-li tertawa berkikikan.
"Memang, siapa orangnya yang takkan merasa ngeri?
Memegang saja tanganmu akan menjadi hangus!
Akan tetapi ada daya penolaknya, anak muda, sebelum kau memegang daun-daun ini, kau basahi kedua tanganmu dengan air laut lebih dulu.
Air garam itu mempunyai daya untuk menolak racun yang keluar dari daun-daun itu.
Pada saat kau menghadapi bahaya dari ikan-ikan buas, kau lemparkan saja daun-daun ini ke air dan karena air laut menutupi racun daun, tentu ikan-ikan itu tidak mengetahui akan bahayanya daun-daun ini dan mereka akan menelannya mentah-mentah.
Dan kalau mereka kemasukan daun-daun ini di dalam perutnya, ha-ha-ha, kau akan melihat pesta yang hebat akan tetapi terhindar dari ancaman ikan-ikan itu.
Nah, selamat kau akan berlayar, anak muda.
Apabila bertemu dengan gurumu, katakan bahwa Liok-te Mo-li masih hidup dan mengharapkan dapat bertemu dengan dia."
Sambil tertawa-tawa nenek itu lau berlari pergi meninggalkan Kwan Cu dan Kong Hoat.
"Selamat saudara Kwan Cu. Ternyata ibuku amat suka kepadamu, kalau tidak demikian tidak mungkin kau akan diberi daun Liong-cu-hio itu. Kau tahu, dia amat sayang kepada daun-daun aneh itu dan agaknya dia rela mengorbankan nyawa untuk menjaga daun-daun itu. Sekarang atas kehendak sendiri ia memberi daun-daun kepadamu, itu pertanda bahwa kita memang berjodoh. Harap kau berhasil dengan usahamu, saudaraku yang baik."
Kwan Cu terkejut dan memandang dengan mata mengandung penuh pertanyaan kepada pemuda tinggi besar itu.
Kong Hoat tertawa bergelak dan kembali kedua matanya mengucurkan air mata!
"Jangan heran, kawanku.
Kami bukanlah orang jahat dan juga orang-orang terlalu bodoh.
Ibu dan aku sudah dapat menduga bahwa kau tentu mencari sesuatu atau setidaknya mengandung maksud tertentu sehingga kau berani berlayar menuju ke pulau-pulau aneh itu.
Kalau tidak demikian, sungguh hanya seorang yang miring otaknya yang mau pergi berlayar ke sana tanpa tujuan tertentu.
Dan kami tahu betul bahwa kau tidak berotak miring, bahkan cerdik sekali."
"Akan tetapi, alasan itu tidak cukup untuk membuat kalian menduga bahwa kau pergi dengan tujuan sesuatu,"
Kwan Cu membantah.
"Sahabat baik, kau kira kami orang-orang yang tidak bertelinga? Sudah biasanya bahwa tempat-tempat yang aneh dan berbahaya terdapat barang-barang yang aneh dan berbahaya pula. Mustika yang paling baik adalah mustika naga. Gigi yang baik adalah gigi harimau, dan tanduk yang paling kuat adalah tanduk di mulut gajah. Kami sudah mendengar bahwa di pulau-pulau yang amat aneh dan berbahaya itu terdapat barang-barang aneh dan amat berharga. Aku sendiri kalau tidak ditahan oleh ibuku, sudah lama menyelidiki keadaan pulau-pulau aneh itu."
Ketika mengeluarkan kata-kata ini, Kong Hoat nampak kecewa sekali. Akan tetapi dia segera menyambungnya.
"Apapun juga yang kupikirkan, memang ibu lebih benar. Kepandaianku belum cukup untuk dapat kupergunakan menyelidiki pulau-pulau yang berbahaya itu, berbeda dengan kau, saudara Kwan Cu. Kepandaianmu amat tinggi, bahkan lebih tinggi daripada kepandaian ibu sendiri, maka hanya kaulah yang kiranya akan dapat mendatangi pulau itu dengan berhasil."
"Kau terlalu memuji, saudara Kong Hoat.Akan tetapi biarlah pujianmu itu kuangggap sebagai doamu dan terima kasih banyak atas keramahanmu dan juga sampaikan terima kasihku kepada ibumu mudah-mudahan kita akan dapat bertemu kembali kelak."
Setelah berkata demikian, Kwan Cu mulai mendayung perahunya ke tengah,dipandang oleh Kong Hoat yang berdiri bagaikan raksasa muda, dengan kedua kakinya dipentang lebar dan kedua tangannya di pinggang.
Pemuda ini merasa iri hati dan ingin sekali dia dapat mengggantikan Kwan Cu berlayar menuju pulau-pulau yang penuh rahasia itu.
*** Dayung pemberian Kong Hoat memang baik sekali.
Dayung ini panjang berat dan ujungnya lebar serta cekung sehingga sekali saja mendayung, perahu bergerak maju dengan pesatnya.
Kwan Cu merasa gembira sekali dan setelah beberapa kali menggerakkan dayungnya, perahunya meluncur bagaikan anak panah terlepas dari busurnya.
Pemandangan indah sekali.
Permukaan air bagaikan kaca, diam tak bergerak dan berkilauan, berwarna hijau kemerahan karena sinar matahari yang merah terbayang di permukaan air.
Air yang diterjang oleh kepala perahunya pecah menjadi dua seperti sutera digunting.
Tenaga dayungnya demikian kuat sehingga air pecah oleh perahunya tidak mengeluarkan suara.
Perahunya meluncur cepat tanpa bergoyang, enak dan nyaman sekali.
Kehidupan di laut nampak mati tiada seekor pun burung laut terbang di atas air, tiada seekor pun ikan nampak bergerak di permukaan laut.
Benar -benar hening dan sunyi menimbulkan suasana yang menyeramkan, seakan-akan laut itu berubah menjadi alam maut yang tiada ujungnya.
Namun Kwan Cu tidak merasa takut.
Biarpun dia tidak pernah berlayar dan tidak pernah berada di laut, hatinya berdebar penuh ketegangan.
Ia teringat bahwa dia dianggap sebagai "anak laut"oleh Ang-bin Sin-kai dan Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, dua kakek yang menemukan dia terlempar oleh ombak samudra.
Agaknya kenangan inilah yang membuat Kwan Cu selalu berdebar aneh apabila dia teringat akan laut.
Kini setelah dia mendapatkan dirinya terapung di atas laut seorang diri di dalam perahunya, dia merasa seakan-akan dia telah kembali ke alam asalnya dari mana dia datang!
Setelah matahari mulai nampak di permukaan laut, merupakan bola besar berwarna merah yang bernyala-nyala, kehidupan mulai tampak.
Air yang tadinya "tidur"mulai bergerak sedikit dan di kanan kirinya mulai kelihatan air itu berkeriput.mulai terdengar suara mencicit dari burung-burung laut yang berterbangan di atas air, menyambar-nyambar ke air mencari mangsa pengisi perut.
Mulai terdengar air berkecipak kalau ada ikan yang mulai "mandi"
Cahaya matahari di permukaan air.
Mulai kelihatan kehidupan di dalam air melalui sinar matahari, karena kini makin banyaklah kelihatan ikan berenang ke sana ke mari seperti kesibukan orang-orang yang bangun dari tidur dan mulai dengan pekerjaan masing-masing.
Melihat semua ini, Kwan Cu tertarik sekali dan dia menghela napas berulang-ulang.
Ia ingat akan ajaran-ajaran dari Gui Tin atau Gui-siucai yang sudah meninggal dunia.
Gurunya itu dahulu seringkali mengajarkanya tentang filsafat hidup, tentang ujar-ujar para cerdik pandai di jaman dahulu.
Alam itu kekal abadi karena hidup bukan untuk diri pribadi Ucapan di atas itu dari Nabi Lo Cu dan kini Kwan Cu menyaksikan betapa hebatnya dan besarnya alam dunia.
Hidup dekat dengan masyarakat, yakni dengan sesama manusia, ucapan ini takkan ada artinya atau setidaknya takkan kelihatan isi atau inti sarinya.
Ini dikarenakan manusia memang hidup penuh nafsu dan selalu melakukan sesuatu dengan tujuan demi kepentingan diri pribadi.
Mementingkan diri pribadi inilah sumber dari pada segala malapetaka yang terjadi di antara manusia.
Kini, setelah berada seorang diri di atas lautan, Kwan Cu terbuka matanya dan dia melihat, dan mengakui kebesaran alam yang kekal abadi, melihat pula apa maksud kata-kata pujangga atau Nabi Lo Cu tentang alam yang hidup bukan untuk kepentingan diri pribadi.
Lihat saja matahari itu.
Dia muncul dan tenggelam sesuai dengan tugasnya yang sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa.
Dia melakukan tugasnya, semata-mata untuk memberi atau menjadi kegunaan bagi setiap yang membutuhkannya, sedikit pun tidak pernah meminta, itulah sang matahari.
Lihatlah lautan bebas, pusat kehidupan, tidak saja pusat kehidupan berjuta macam ikan dan benda hidup lainya, juga pusat kehidupan manusia dan makluk di darat.
Dari laut datangnya zat kehidupan, karena dari lautlah datangnya air di darat.
Akan tetapi, seperti matahari sifatnya, laut pun tak pernah meminta, hanya memberi sifat alam yang suci.
Alam memberi, memberi dan memberi, tak pernah meminta.
Segala sesuatu di alam ini, dapat di pergunakan oleh manusia, bahkan setelah manusia mati, bumi masih memberi tempat untuk menyelimuti jenazahnya!
Melihat burung beterbangan di angkasa dan ikan-ikan berenang di dalam air dengan bebas dan senangnya, tersenyumlah Kwan Cu.
Mengapa justeru burung diberi sayap sehingga pandai terbang di angkasa sedangkan ikan diberi kesanggupan hidup di dalam air?
Alangkah besar perbedaan antara kedua jenis binatang ini dan mereka ini keduanya adalah makluk hidup!
Alangkah besar kekuasaan Thian, alangkah indahnya alam dan isinya, alangkah gaib dan penuh rahasia mujijat yang luar biasa hebatnya adalah pekerjaan Thian.
Dan dia, seorang manusia, seorang makluk jenis lain pula, kini saksi segala keindahan itu.
Sambil menikmati kehebatan pembukaan kebesaran alam di depan matanya Kwan Cu melanjutkan gerakan dayungnya, menuju ke arah kelompok pulau terdekat yang nampak dari situ sebagai bayang-bayang membiru.
Hatinya diliputi kesegaran semangat dan kegembiraan.
Dorongan aneh membuat dia demikian girang sehingga pemuda ini sambil mendayung perahunya lalu bernyanyi!
Menjelang tengah hari belum juga perahunya tiba di kelompok pulau yang sudah kelihatan semenjak pagi tadi.
Kwan Cu terheran-heran.
Pulau-pulau itu tidak juga berubah.
Apakah perahunya tidak bergerak maju?
Tidak mungkin, pikirnya.
Memang karena di seluruh penjuru perahu hanya kelihatan air belaka, nampaknya perahu itu tidak bergerak.
Akan tetapi kalau dilihat air yang terpecah oleh kepala perahunya, jelas kelihatan bahwa perahunya bergerak dengan pesat ke depan.
Inilah keanehan pertama yang dialami oleh pemuda ini.
Sebetulnya kelompok pulau-pulau itu masih amat jauh.
Hanya sinar matahari yang menipunya sehingga kelihatannya amat dekat kelompok pulau itu .
Ia merasa penasaran dan mengerahkan tenaganya, mendayung lebih cepat lagi, ke arah kelompok pulau itu.
Ia memang tidak tahu di mana letaknya pulau yang dijadikan tempat menyimpan kitab rahasia Im-yang Bu-tek Cin-keng karena di dalam kitab sejarah penginggalan Gui-suicai hanya ditulis bahwa kitab rahasia itu disimpan di dalam sebuah pulau kosong, kecil berbentuk bundar yang ditumbuhi pohon-pohon berdaun putih, yang terdapat di antara pulau-pulau besar di lautan ini.
Akan tetapi, Kwan Cu mengambil keputusan untuk mengunjungi semua pulau yang berada di situ dan akhirnya tentu dia akan dapat mencari pulau kecil bundar yang ditumbuhi oleh pohon-pohon berdaun putih itu.
Akan tetapi setelah matahari condong ke barat, terjadi keanehan kedua.
Kalau tadi kelompok pulau-pulau itu tak pernah juga kelihatan makin dekat biar pun dia telah mendayung perahunya secara cepat sekali selama setengah hari, kini tiba-tiba kelompok pulau itu bahkan menghilang dari pandangan mata!
Kwan Cu menghentikan gerakan dayungnya dan memandang ke sekeliling dengan bingung.Tak salah lagi tadi kelompok pulau itu berada di depan, mengapa sekarang tiba-tiba lenyap?
Hal ini pun akibat permainan matahari yang membuat kepulauan itu lenyap ditelan uap putih yang membubung naik dari laut sehingga pandang mata pemuda itu tak dapat menembusnya dan membuat kelompok kepulauan itu tidak kelihatan olehnya.
Kwan Cu teringat akan kata-kata Kong Hoat tentang keanehan lautan ini maka dia tersenyum dan berkata.
"Memang aneh sekali. Akan tetapi biarlah, aku harus melanjutkan dan mengambil jurusan yang berlawanan dengan matahari, siapa tahu kalau-kalau kepulauan tadi akan mucul pula setelah puas menggodaku."
Pemuda yang tabah ini lalu mendayung terus dan mulau berpeluh karena matahari telah membakar kulitnya.
Tiba-tiba terdengar suara yang aneh dan gemuruh yang mengerikan dari arah kiri.
Kwan Cu yang tidak bisa berlayar, tidak tahu suara apakah itu.
Ia menghentikan gerakan dayungnya, akan tetapi setelah dia memandang ke sekelilingnya dia tidak melihat sesuatu, hanya nampak awan-awan hitam di arah selatan dan timur.
Kembali terdengar suara itu, kini lebih hebat lagi dan Kwan Cu merasa seakan-akan suara itu timbul dari dasar laut.
"Hebat! Suara siapakah itu? Suara Hai-liong-ong (Naga Raja Laut) ataukah suara makhluk lain yang hebat? Hem, benar-benar luar biasa hebat alam ini, besar dan berkuasa!"
Ia merasa dirinya amat kecil tak berarti dan lambat-laun timbul juga kengerian dalam hatinya, sesungguhpun tak boleh dibilang bahwa Kwan Cu merasa takut.
Namun, dia merasa lebih tenang andaikata Ang-bin Sin-kai gurunya berada di situ bersamanya pada saat itu.
Ia teringat akan suhunya dan diam-diam ia tertawa dengan hati penuh kasih sayang kepada suhunya itu.
Suhunya seorang manusia aneh yang kuat dan hebat seperti lautan ini.
Kembali terdengar suara gemuruh dan kini suara ini terdengar begitu hebat sehingga Kwan Cu tidak tahan untuk tidak menengok ke belakang.
Tiba-tiba anak muda ini memandang dengan mata terbelalak ke arah kiri.
Dari tengah lautan yang tidak bertepi itu dia melihat sesuatu yang tinggi dan panjang datang bergulung kepadanya.
Sesuatau yang nampak belang-belang putih hitam, seperti seekor naga.
"Naga laut..."
Bisiknya sambil menahan napas.
"Hai-liong-ong..."
Kata suara hatinya penuh kengerian.
Memang hebat sekali penglihatan pada waktu itu.
Dari arah kiri, datang benda itu, makin lama makin panjang dan besar, dan biarpun benda itu masih jauh, telah datang angin bertiup keras, membuat air di depan perahu bergelombang.
Gelombang makin besar dan tiba-tiba Kwan Cu merasa terkejut sekali karena berbareng dengan suara gemuruh seperti derap kaki ribuan ekor kuda di samping suara lengking tinggi panjang seperti suara ribuan batang suling yang ditiup secara aneh seperti kalau Yok-ong meniup suling, perahunya terangkat tinggi-tinggi dan permukaan laut tiba-tiba naik tinggi sekali, lalu turun lagi seperti kalau di daratan terjadi gempa bumi yang hebat.
Dan kini benda panjang seperti naga itu telah datang dekat, membawa bunyi gemuruh dan tahulah Kwan Cu dengan hati tidak karuan rasanya bahwa yang disangka naga itu sebenarnya adalah gelombang laut hebat!
"Celaka!"
Serunya dan dia mencoba untuk menahan keseimbangan perahunya dengan dayung.
Akan tetapi, di dalam tangan samudra yang besar kuat dan hebat tenaganya itu, tenaga Kwan Cu merupakan tenaga seekor semut bagi seorang raksasa.
Perahu berikut Kwan Cu masih memegang dayung terputar-putar, membuat kepala pemuda itu menjadi pening sekali.
Namun dia masih dapat berlaku tenang dan cepat Kwan Cu melemparkan dayungnya ke dalam perahu, dan dengan kedua tangan dia memegangi ombak laut dan satu-satunya harapan baginya adalah perahunya itu.
Biarpun perahunya akan terbalik, tetap saja perahu kayu itu takkan tenggelam dan akhirnya tentu akan terapung juga.
Kalau dia tidak terlepas dari perahu, dia masih ada harapan untuk menyelamatkan dirinya.
Tiba-tiba, sebuah gelombang atau lebih tepat disebut anak gelombang yang nakal memegang perahu dan melontarkannya ke atas bagikan seorang anak kecil melontarkan sebutir batu kerikil saja.
Perahu terlempar ke atas.
Dayungnya terlempar keluar dan karena dayung itu terbuat dari baja, maka benda ini jatuh lebih dulu, ditelan gelombnag dan agaknya akan menjadi tontonan bagi penghuni laut.
Adapun Kwan Cu yang ikut terlempar ke atas, hampir saja direnggutkan keluar dari perahu pula.
Baiknya dia berlaku gesit dan cepat, kedua tangannya memeluk perahu sekuat tenaga dan agaknya hanya maut saja yang kuasa merenggutnya terlepas dari perahu itu!
Mati hidup aku harus bersama perahuku ini, pikirnya nekat.
Perahu bersama Kwan Cu terhempas kembali ke dalam air, disambut oleh gelombang, diputar-putarkan, dipermainkan, dikocok ke sana ke mari dengan hebatnya.
Kwan Cu masih memeluk perahu, kadang-kadang ia berada di atas perahu, kadang-kadang dia berada di bawah perahu dan hanya dapat menahan napas lalu berusaha membalikkan tubuhnya sehingga berhasil di atas perahu, kadang-kadang dia dan perahunya lenyap ditelan gelombang dan timbul pula di tempat lain.
Siksaan ini dibarengi dengan bunyi-bunyian yang luar biasa dan yang membuat pemuda itu merasa seakan-akan dia telah berada di dasar neraka.
Satu keanehan terjadi.
Ketika dia dipermainkan oleh gelombang menderu, tiba-tiba dia teringat akan sesuatau dan seakan-akan terbayang dalam ingatannya suatu pengalaman yang hampir sama dengan pengalaman yang sedang dia alami sekarang ini.
Tiba-tiba saja teringatlah dia betapa dia pernah menjadi permainan gelombang dan ombak seperti ini, teringat pula betapa orang-orang sekapal telah tenggelam ditelan gelombang, betapa kapal itu karam dan membawa pula dua orang yang kini terbayang di depan matanya.
"Ayah...! Ibu...!"
Tiba-tiba Kwan Cu memekik keras.
Kini terbayanglah seorang laki-laki dan seorang wanita dan baru sekarang dia tahu bahwa wajah-wajah ini adalah wajah-wajah ayah bundanya yang tewas dalam amukan gelombang!
Tahulah dia sekarang mengapa dia ditemukan oleh Ang-bin Sin-kai dan Jeng-kin-jiu dan dianggap sebagai "anak laut".
Ayah bundanya tewas di lautan dan agaknya dia sendiripun akan mengalami nasib yang sama.
"Ayah....Ibu....tolonglah anakmu..."
Ia berbisik. Kemudian timbul marahnya kepada gelombang dan laut.
"Kakek laut tak mungkin kau dapat menewaskan aku!"
Pekiknya nyaring sambil memeluk perahu itu erat-erat.
Sebagai jawaban, sebuah gelombang yang besar mengangkat perahunya dan melemparkan perahu itu ke atas jauh dari situ.
Kwan Cu ikut terlempar, akan tetapi kini terbangun semangatnya untuk melawan gelombang yang sudah menewaskan kedua orang tuanya, timbul semangatnya untuk berjuang menghadapi kekuatan alam ini, untuk hidup.
"Kakek gelombang, setelah membunuh orang tuaku, tak mungkin kau dapat membunuhku pula. Orang tuaku akan mencegahmu!"
Teriaknya berkali-kali.
Kwan Cu bagaikan gila.
Biarpun dia diterima oleh gelombang lain, dilemparkan dan diterima kembali seperti sebuah bal dalam sebuah permainan serombongan anak-anak nakal, dia tetap bersemangat, bahkan kini dia tidak merasa takut sedikitpun juga.
Rasa takutnya berubah menjadi kegembiraan!
"Kakek laut, mari kita bermain-main!"
Serunya berkali-kali.
"Mari kita berkelahi sebagai laki-laki kalau kau memang jantan!"
Demikianlah, biarpun sedang dipermainkan oleh gelombang laut dan taufan menghebat, sedikitpun Kwan Cu tidak merasa takut, sebaliknya dia menantang dan merasa gembira.
Hal inilah yang sesungguhnya menolong nyawanya.
Orang-orang yang menghadapi maut, kalau dia dapat berlaku tenang dan tak putus asa, akalnya akan bertambah dan dia tidak menjadi gugup.
Demikianpun Kwan Cu, kegembiraan dan semangatnya membuat dia tahan menderita, bahkan tenaganya menjadi besar dan kini dia mulai mempergunakan kaki tangannya untuk memukul dan mendorong ombak, mencari jalan bagi perahunya agar meluncur ke tempat yang aman.
Memang, kalau diperhatikan di antara gelombang yang menghebat itu, terdapat air yang tenang yakni air yang berada diantara dorongan dua gelombang yang membalik.
Kwan Cu berjuang mati-matian dengan hati gembira, sambil menantang-nantang gelombang dan akhirnya dia berhasil mendorong perahunya ke tempat yang agak aman, yakni yang gelombangnya tidak begitu besar.
Ia berhasil membalikkan perahunya dan duduk di dalam perahu.
Memang betul di situ masih ada ombak menyerang, akan tetapi dengan kedua tangannya di pinggir perahu menekan-nekan dan mendorong-dorong air, dia dapat mencegah perahunya berputar dan dapat beristirahat sejenak setelah menjadi permainan ombak yang membuat tenaganya habis dan tubuhnya lelah sekali.
Ia tidak tahu bahwa gelombang tadi telah membawa perahunya ke tengah laut dan telah membawa dia jauh sekali dari tempat di mana dia bertemu dengan taufan.
Juga Kwan Cu tidak merasa lagi bahwa dia tadi telah berhadapan dengan maut dalam waktu yang amat lama.
Tiba-tiba saja seperti datangnya, taufan berhenti, laut tenang sekali.
Kwan Cu tidak tahu bahwa gelombang tadi sebetulnya hanya "lewat"
Saja dan kini taufan yang mengamuk itu masih mengamuk hebat di tempat lain.
Setelah air laut menjadi tenang, tenang pula hati Kwan Cu dan barulah pemuda ini tahu bahwa amukan taufan tadi begitu lama sehingga waktu itu telah menjelang senja!
Hal ini dapat dia duga dari keadaan matahari yang telah tenggelam di barat, meninggalkan sinar melayu dan di timur sudah nampak bulan pudar seperti wajah seorang dara jelita yang sedang sakit dan pucat.
Langit bersih sekali, laut tenang dan benar-benar mengherankan.
Tiba-tiba Kwan Cu menjadi muak dan tak tahan pula dia muntah-muntah di luar perahu.
Tadi di waktu di ombang-ambingkan oleh gelombang, dia merasa gembira, kini setelah keadaan menjadi tenang, dia bahkan merasa tidak enak dan mual sekali.
Akan tetapi, tidak banyak yang dimuntahkan karena semenjak malam tadi, semenjak makan daging ikan Kilin bersama Kong Hoat dan ibunya, dia tidak makan apa-apa lagi.
Perutnya mulai berkeruyuk minta isi, akan tetapi di tengah laut itu, dari mana dia bisa mendapatkan makan?
Ia teringat akan daun Liong-cu-hio pemberian Liok-te Mo-li.
Tak terasa tangannya meraba punggung dan dia girang sekali ketika mendapat kenyataan bahwa bungkusan pakaiannya masih terikat di punggung dan bahwa bungkusan daun mujijat itu pun masih berada di situ, sungguhpun kesemuanya itu basah kuyup seperti tubuh dan pakaiannya yang dipakainya.
Tiba-tiba, bagaikan sebuah layar hitam dibuka yang tadinya menyembunyikan sesuatu yang dirahasiakan, dia melihat bayangan sebuah pulau yang penuh dengan pohon-pohon tinggi besar.
Ia menjadi girang bukan main.
Di sanalah terdapat makanan, pikirnya.
Dengan penuh semangat, Kwan Cu lalu mempergunakan kedua tangannya untuk digerakkan seperti dayungnya.
Perahu meluncur ke depan, menuju pulau itu, makin terheran-heranlah Kwan Cu.
Ketika tadi untuk pertama kalinya dia melihat pulau itu, pohon-pohon yang telah kelihatan amat besar dan karenanya dia menjadi dan mengira bahwa pulau itu tentulah sudah dekat, akan tetapi, biarpun perahunya jelas mendekati pulau dan daratan makin nampak nyata, ternyata bahwa pulau itu masih jauh dan kini pohon-pohon telah kelihatan begitu besar sampai-sampai Kwan Cu beberapa kali menggosok kedua matanya.
"Apakah aku bermimpi? Ataukah mataku yang sudah tidak beres lagi? Kalau tidak bermimpi dan mataku tidak rusak, tentu otakku yang sudah menjadi berubah dan tidak waras lagi!"
Tidak mengherankan kalau Kwan Cu berkata demikian, karena apa yang dilihatnya memang sukar untuk dapat diterima oleh akal sehat.
Setelah perahunya makin dekat, dia melihat daratan yang luar biasa luasnya dan yang paling hebat adalah pohon-pohon yang dari jauh sudah nampak besar-besar tadi.
Kini setelah dekat, pohon-pohon itu ternyata luar biasa besarnya dan biarpun Kwan Cu sudah banyak merantau dengan suhunya serta sudah sering kali memasuki hutan-hutan besar liar di mana tumbuh pohon-pohon besar yang sudah ratusan tahun usianya, namun selama hidupnya belum pernah dia menyaksikan pohon-pohon sebesar yang tumbuh di pulau itu!
Makin dekat, makin heranlah dia karena nampak kehijauan yang tinggi seperti alang-alang!
Pulau setan apakah yang berada di hadapanku itu?
Akan tetapi tidak dapat lama dia mengagumi dan mengherankan pemandangan di atas pulau yang ternyata luas sekali itu, karena cuaca telah menjadi gelap dan kini yang nampak hanyalah pohon-pohon raksasa yang kelihatan tinggi besar dan hitam menyeramkan dengan latar belakang langit yang pucat.
Kwan Cu sudah lelah sekali, bukan karena kehabisan tenaga karena pemuda yang sudah mendapat gemblengan hebat dari Ang-bin Sin-kai ini telah dapat mengatur pernapasannya sehingga tenaganya telah kembali pulih lagi.
Akan tetapi, perutnya yang lapar dan perih itulah yang membuatanya lemas dan letih kalau saja dia tadi tidak muntah-muntah, agaknya dia takkan begitu letih.
Sudah seringkali dia berpuasa, tiga hari tiga malam tidak makan saja baginya belum apa-apa.
Cuaca makin gelap dan hanya dengan bayangan pohon-pohon besar sebagai petunjuk, Kwan Cu terus mengayuh perahunya dengan kedua tangannya ke darat.
Namun air laut yang berkeriput itu tidak dapat menerima sinar bulan dengan baik sehingga nampak air menghitam, hanya berkilau di sana-sini.
Tiba-tiba perahu Kwan Cu tertahan oleh sesuatu yang berat.
Kwan Cu mendorong air agar perahunya menyingkir dari penghalang itu.
Ia mengira bahwa perahunya tentu terhalang oleh batu karang yang tidak dapat dilihatnya dalam kegelapan itu.
Akan tetapi langkah kagetnya ketika tiba-tiba "batu karang"
Itu bergerak-gerak! Karena tertarik hatinya, Kwan Cu mengulur tangannya untuk mendorong "batu karang"
Yang dapat bergerak-gerak itu. Hampir dia berteriak ketika jari-jarinya menjamah benda yang lunak, seperti.......seperti tubuh seorang makhluk.
"Tentu ikan yang terdampar ke pantai,"
Pikirnya menetapkan hatinya yang berdebar.
"Ooleihaaaaiii...!!"
Terdengar "batu karang"
Atau "ikan"
Itu berteriak keras sekali.
Kwan Cu tersentak kaget sehingga hampir saja dia terjungkal ke dalam air.
Ia kemarin malam sudah merasa heran sekali menyaksikan ikan Kilin yang ditangkap oleh Kong Hoat, karena selamanya belum pernah melihat ikan seaneh itu.
Akan tetapi sekarang, mendengar seekor ikan besar bisa mengeluarkan suara "ooleihaaaiii.....!"
Dengan suara seperti manusia, benar-benar membuat dia merasa ragu-ragu apakah benar-benar dia belum menjadi gila!
Dengan hati-hati kembali dia kembali mendekatkan tangannya ke depan.
Kini menghadapi sesuatu yang begini aneh, dia untuk sementara lupa kepada pulau itu dan belum ingin mendarat sebelum menyelidiki lebih dulu sebetulnya ikan macam apakah yang bisa mengeluarkan suara seperti itu.
"Hayalieee...!"
Kwan Cu menarik kembali tangannya seperti dipagut ular dan merasa bulu tengkuknya berdiri satu demi satu.
Bukan main!
Tak mungkin ada ikan bisa mengeluarkan suara seperti itu.
Akan tetapi rasa keingintahuannya melebihi rasa ngerinya.
Ia mendorong air sehingga perahunya maju dan kini dia menggunakan kedua tangannya untuk menangkap ke depan.
Ia berlaku hati-hati sekali dan menggerak-gerakkan kedua tangannya dengan sikap siap sedia kalau-kalau "ikan"
Itu, akan menggigitnya tentu dia akan cepat memukul.
Akan tetapi, keheranannya memuncak ketika kedua tangannya dengan tepat sekali kena memegang dua buah telinga manusia yang besar sekali.
Saking kagetnya, Kwan Cu tidak melepaskan kedua buah telinga itu, sebaliknya dia memandang ke depan dengan mata terbelalak sambil mengerahkan seluruh tenaga pandangan matanya.
Kebetulan sekali bulan agak terang cahayanya.
Ia mula-mula melihat sepasang mata lebar yang mengkilap.
Kemudian, kelihatanlah olehnya sebuah kepala manusia yang besarnya empat atau lima kali kepala manusia biasa!
Kepala ini gundul dan sedikit rambut kepala diikat.
Kulit muka dan kepala hitam sekali, dan inilah yang membuat kepala ini tidak kelihatan di dalam gelap!
"Seorang manusia!"
Pikir Kwan Cu dengan girang.
Di tempat yang aneh seperti itu, pertemuan dengan seorang manusia, bagaimanapun anehnya manusia itu, amat menggirangkan hatinya.
Untuk sesaat dia lupa bahwa manusia berkulit hitam ini mempunyai kepala yang luar yang luar biasa sekali besarnya.
"Saudara siapakah? Dan mengapa malam-malam berada di laut? Apakah saudara sedang mandi? Maaf kalau perahuku menganggumu."
Demikianlah pemuda itu bicara dengan gembira sambil melepaskan pegangan kedua tangannya pada telinga orang.
Sebaliknya, muka yang besar itu memandang kepada Kwan Cu dengan mata terbelalak lebar dan mulutnya yang berbibir lebar itu mengeluarkan kata-kata yang sama sekali asing bagi telinga Kwan Cu.
Ketika kepala ini bicara, kadang-kadang nampak deretan gigi yang besar dan putih berkilat dari balik bibir tebal.
Mendengar ucapan orang orang itu, teringatlah Kwan Cu bahwa orang ini tentulah seorang dari suku bangsa yang tidak mengerti bahasa Han dan yang mempunyai bahasa daerah sendiri.
Maka ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata.
"Maaf, aku tidak mengerti bahasamu dan kau agaknya tidak mengerti pula apa maksud kata-kataku. Maafkan aku tidak mengganggu lebih lama, karena aku hendak mendarat."
Sambil berkata demikian, Kwan Cu menggunakan jari telunjuknya untuk menuding ke arah darat.
Setelah itu, pemuda ini lalu menggunakan tangan untuk mendayung perahunya ke pinggir.
Akan tetapi, tiba-tiba orang yang terbenam di air sampai lehernya itu, menggerakkan leher dan tahu-tahu sepasang lengan yang besar dan panjang sekali timbul dari permukaan air dan diletakkan di atas perahu Kwan Cu.
Sepasang lengan yang hitam dan besar panjang itu mempunyai tenaga yang amat kuat sehingga ketika menindih perahu-perahu kecil itu tertindih hampir tenggelam!
Kwan Cu terkejut sekali, bukan oleh tenaga tindihan ini, melainkan oleh besar dan panjangnya lengan yang berotot besar itu.
Baru dia teringat akan besarnya kepala di permukaan air.
Sampai lama dia melihat kepala dan lengan orang hitam itu dan dengan bulu tengkuk berdiri dia membayangkan betapa tingginya orang ini.
Seorang raksasa yang belum pernah didengarnya dalam buku dongeng, apalagi dilihatnya!
Kemudian dia melihat bahwa pergelangan dua tangan itu terbelenggu oleh rantai baja yang kuat, dan mendengar suara orang itu, tahulah dia bahwa orang itu minta tolong kepadanya agar suka membuka belenggu itu.
Teringatlah Kwan Cu akan sebuah dongeng yang dibacanya dari buku kuno, dongeng yang terjadi di tanah barat.
Di dalam dongeng itu diceritakan betapa seorang anak laki-laki membebaskan seorang jin dari belenggu, akan tetapi setelah dibebaskan, jin itu bahkan hendak memakan anak itu.
Dongeng itu singkatnya begini.
Seorang bocah nelayan menjala ikan di laut.
Tersangkut di dalam jalanya bukannya ikan-ikan besar, melainkan pundi-pundi yang tertutup mulutnya.
Karena ingin tahu apa isinya, dibukanya sumbat mulut pundi-pundi itu.
Apa isinya?
Bukan emas permata atau harta benda, melainkan asap hijau yang bergulung ke atas kemudian membentuk ujud yang mengerikan, yakni seorang jin raksasa.
Kemudian jin raksasa itu hendak menjadikan anak itu sebagai mangsanya.
Anak itu mendapat akal dia berpura-pura heran dan tidak percaya bahwasannya seorang raksasa begitu besar bisa masuk ke dalam pundi-pundi yang demikian kecilnya.
Dikatakannya kalau raksasa itu mau membuktikan bahwa benar-benar ia dapat masuk ke dalam pundi-pundi, baru dia mau percaya bahwa raksasa itu seorang jin dan dia mau dimakan tanpa perlawanan.
Jin raksasa itu tertawa bergelak dan berubah menjadi asap, lalu masuk ke dalam pundi-pundi itu.
Anak itu cepat mengambil sumbat dan menutup pundi-pundi kembali seperti tadi sehingga jin itu tidak dapat keluar, kemudian dibuangnya pundi-pundi itu ke dalam laut kembali!
Kwan Cu teringat akan dongeng itu.
Raksasa yang terbenam di dalam laut ini apakah seorang jin pula?
Kalau nanti raksasa ini hendak memakannya, tidak ada akal baginya untuk menyelamatkan diri.
Akan tetapi aku bukan anak penakut, pikirnya.
Kalau dia bermaksud jahat, aku sanggup melawannya.
Orang tinggi besar yang bertenaga kuat seperti dia ini, belum tentu mempunyai kecerdikan.
Bukankah dia begitu bodoh sehingga setelah kedua tangannya dibelenggu, dia mandah tinggal di dalam air dan tidak bisa keluar dengan jalan kaki di darat?
Ia bodoh sekali dan kasihan, sebagai manusia terhadap manusia lain, aku harus menolongnya.
Bukankah dia juga seorang manusia?
Dengan berpikir demikian, Kwan Cu mulai berusaha untuk membuka belenggu tangan raksasa itu.
Ia melihat betapa bibir yang tebal itu tersenyum ramah ketika dia mulai berusaha membuka belenggu.
Agaknya orang hitam besar ini gembira melihat Kwan Cu sudah mengerti akan kehendaknya dan mau melepaskannya daripada belenggu.
Akan tetapi, dalam usahanya mengerahkan tenaga, perahu yang diinjaknya bergoyang-goyang sehingga tenaga Kwan Cu buyar, kedua kakinya harus mempunyai landasan yang kuat dan keras.
Tanpa banyak pikir lagi dia lalu melompat turun dari perahu ke air.
Akan tetapi, segera pemuda ini gelagapan dan kena minum banyak air!
Kwan Cu cepat mengerakkan tangan menangkap pinggir perahunya dan cepat mengayun tubuhnya naik kembali ke dalam perahu.
Ia menyumpah-nyumpah, memaki-maki diri sendiri.
"Bodoh! Tolol! Mengapa aku lupa bahwa raksasa ini bertubuh tinggi sekali? Dia boleh jadi tidak tenggelam, ke air hanya sampai ke lehernya, akan tetapi bagiku tentu terlalu dalam."
Hampir saja dia tenggelam di dalam air yang ternyata masih amat dalam itu!
Kwan Cu memutar otaknya.
Rantai besi yang mengikat tangan raksasa itu cukup kuat.
Ia percaya akan dapat mematahkannya kalau saja dia mendapat landasan kaki yang kuat.
Dari atas perahu amat sukar, kalau terlapau banyak dia mengerahkan tenaga, perahu yang diinjaknya itu bergoyang dan meluncur pergi.
"Mari kita mendarat!"
Katanya berulang-ulang kepada kepala itu sambil menuding ke pantai.
"Disana akan kulepaskan belenggumu. Kau akan bisa berjalan ke sana?"
Akan tetapi raksasa itu hanya mengeleng-gelengkan kepalanya sambil memperlihatkan sepasang lengannya yang terbelenggu, seakan-akan hendak berkata bahwa dengan kedua tangan terbelenggu, tak mungkin dia berjalan ke darat.
Alangkah gobloknya, Kwan Cu menyumpah-nyumpah dengan gemas.
Akhirnya dia mendapat akal.
Raksasa itu berdiri di dalam air dengan teguh dan kokohnya seperti batu karang.
Mengapa dia tidak menggunakan tubuh raksasa ini sebagai landasan kakinya?
Setelah berpikir demikian, dia melompat dari dalam perahu, menubruk ke arah raksasa itu dan bergantung pada pundak yang lebar itu, kedua kakinya hanya sampai di perut!
Cepat Kwan Cu menginjakkan kedua kakinya pada pinggang raksasa itu tanpa mempedulikan protes dari si raksasa dan kini kedua tangannya dapat bekerja baik.
Ketika dia mengerahkan tenaga beberapa lamanya, akhirnya terlepaslah belenggu itu!
"Yoleihi, yoleihi!"
Raksasa itu berkata keras berkali-kali dan kelak tahulah Kwan Cu bahwa raksasa itu bermaksud menyatakan terima kasih kepadanya.
Setelah itu, raksasa hitam itu lalu berenang ke tepi pantai dengan gerakan kedua lengannya yang kuat.
"Tolol, dia begitu tinggi, mengapa tidak mau berjalan kaki saja ke pantai ketika tangannya terbelenggu tadi, sebaliknya menanti tangannya bebas untuk dapat berenang ke darat? Tolol sekali orang itu."
Sambil bersungut-sungut ini, Kwan Cu mendayung perahunya ke darat dan setelah dia tiba di darat, barulah dia melihat kenyataan yang membuat pemuda ini menghentikan makiannya terhadap si raksasa, sebaliknya dia tiada hentinya memaki diri sendiri sebagai orang bodoh dan tolol dengan hati geli.
Ternyata bahwa raksasa itu setibanya di darat, sibuk menggunakan sepasang tangannya yang kuat untuk melepaskan belenggu yang mengikat pergelangan kedua kakinya.
Itulah sebabnya mengapa tadi dia berdiri saja di laut dan tidak berdaya sama sekali.
Untuk berjalan ke darat, kedua kakinya terikat, untuk berenang, sepasang lengannya terbelenggu!
Ketika Kwan Cu mendarat dan menarik perahunya ke pantai, raksasa itu masih sibuk menarik-narik belenggu yang mengikat kakinya.
Melihat ini, Kwan Cu lalu mendekati dan menggunakan tangannya membantu.
Sekali renggut saja, terlepaslah belenggu itu.
"Yoleihi, yoleihi...! Dasa alihee teelu..."
Kata raksasa itu dengan pandang mata kagum sekali.
Ia menyatakan terima kasih dan kagum akan kekuatan Kwan Cu yang dengan sekali renggut telah berhasil mematahkan kakinya.
Akan tetapi Kwan Cu tidak memperhatikan kata-kata raksasa ini karena dia memang tidak mengerti artinya sama sekali.
Sebaliknya dia kini mengagumi apa yang dilihatnya di dalam cahaya bulan.
Pertama-tama dia kagum sekali melihat raksasa hitam yang kini sudah berdiri di hadapannya dengan kedua kaki terpentang.
Biarpun dia telah dapat menduganya, namun melihat tubuh raksasa ini kurang lebih dua setengah atau tiga kali manusia biasa dengan lengan berbulu dan otot-otot memenuhi tubuh yang bidang dan kuat sekali.
Rambutnya hanya sedikit, diikat di tengah-tengah kepala dan pakaian yang menutup tubuh hanyalah sehelai cawat dan ikat pingang, terbuat dari pada kain yang tebal.
Selain bentuk tubuhnya yang besar dan tinggi, selebihnya tidak ada yang luar biasa, melainkan sama saja dengan orang biasa.
Raksasa itu memandang kepada Kwan Cu dengan ramah, kemudia dia mengulur tangannya dan memegang tangan pemuda ini.
Kwan Cu terkejut dan teringat akan dongeng tentang jin, akan tetapi dia tidak takut lagi.
Di darat dia tak usah takuti raksasa ini dan dia lalu teringat bahwa raksasa itu terbelenggu di tengah laut tentu ada sebabnya.
Atau lebih tepat, tentu ada orang lain yang melakukan hal itu.
Dengan demikian besar sekali kemungkinannya bahwa di pulau yang aneh ini tentu terdapat makhluk lain yang jahat, karena hanya orang jahat saja yang mau melakukan siksaan terhadap raksasa ini dengan membelenggu kaki tangannya dan membiarkan dia terbenam di dalam laut.
Dari pada bertemu dan dimusuhi oleh orang-orang jahat itu, lebih baik dia ikut dengan raksasa yang tersenyum ramah kepadanya ini.
Maka berjalanlah Kwan Cu sambil digandeng tangannya oleh raksasa itu.
Di sepanjang jalan, tiada hentinya Kwan Cu mengagumi segala sesuatu yang serba besar di pulau itu.
Dari pohon-pohonnya, tanaman-tanamannya, sampai rumput dan batu, bahka katak yang dilihatnya berlompatan di dalam hutan, serba besar, kurang lebih tiga kali ukuran biasa!
Yang mengherankan hatinya, biarpun tubuhnya besar, akan tetapi suara raksasa ini tidak lebih keras daripada suara manusia biasa, sungguhpun lebih besar dan parau.
Adapun raksasa itu tidak kalah herannya dari pada Kwan Cu sendiri.
Ia memandang kepada "orang kecil"
Ini dan sering tertawa bergelak dengan nada geli, membuat Kwan Cu menjadi mendongkol juga.
"Kau mentertawakan aku, sebaliknya kau pun akan menjadi tontonan yang menggelikan kalau kau tiba di duniaku. Kau dan aku mana lebih tahu tantang kebaikan dan keburukan? Yang besar mencela terlalu kecil, yang kecil bilang terlalu besar, memang demikian sifat manusia, tak dapat menerima kekuasaan alam yang serba gaib."
Biarpun Kwan Cu berfilsafat dengan seribu kata-kata, mana raksasa itu dapat mengerti?
Sebaliknya, ketawanya makin terbahak-bahak, seakan-akan kata-kata dan bahasa Kwan Cu amat aneh dan menggelikan, seperti suara burung hantu yang aneh sekali.
Akan tetapi, ketika melihat betapa Kwan Cu tidak tertinggal oleh langkahnya yang lebar, raksasa itu makin terheran.
Langkah raksasa itu sedikitnya tiga kali lebar langkah orang biasa, namun karena Kwan Cu mempergunakan ilmu lari cepat, dia sama sekali tidak tertinggal.
Raksasa itu penasaran, melepaskan tangan Kwan Cu dan berjalan lebih cepat, namun tetap saja Kwan Cu dapat berjalan di sebelahnya tanpa sukar sedikitpun juga.
Raksasa itu mulai berlari, namun sambil tertawa geli Kwan Cu tetap dapat menyusulnya, bahkan kalau dia mau dengan mudah Kwan Cu dapat meninggalkannya!
Akhirnya tibalah mereka di sebuah dusun yang berada di tengah pulau.
Dari jauh sudah kelihatan api penerangan dan terdengar oleh Kwan Cu suara tangis orang riuh rendah seperti sebuah dusun yang sedang dirundung kemalangan hebat.
Raksasa itu tertawa geli dan berkata-kata kepada Kwan Cu, akan tetapi tentu saja Kwan Cu tidak mengerti sama sekali.
Diam-diam Kwan Cu menjadi girang sekali bahwa di tempat itu terdapat dusun dan orang-orang, juga wanita-wanita seperti yang dapat dia dengar suara tangisnya.
Kalau begitu tentulah ada sekelompok suku bangsa tinggal di tempat ini dan hal ini menjadi hiburan baginya karena selain dapat bertemu dengan sesama manusia, dia tentu akan mudah mendapat makan dan siapa tahu kalau-kalau mereka akan dapat memberi petunjuk di mana adanya pulau berpohon putih yang dicari-carinya.
Dusun itu mempunyai banyak pondok-pondok kayu yang besar-besar dan kokoh kuat.
Modelnya sederhana saja namun pembuatannya cukup kuat dan baik, tidak berbeda jauh dengan rumah-rumah model Tiongkok pesisir timur.
Akan tetapi, pada malam hari itu, agaknya sebagian besar dari rumah-rumah itu ditinggalkan penghuninya dan ternyata mereka berkumpul di dalam sebuah rumah yang amat besar dan berada di tengah-tengah dusun itu.
Melihat bangunan induk ini, Kwan Cu menjadi bengong.bukan main besar dan kokoh kuatnya bangunan ini, tiada ubahnya istana kaisar sendiri, hanya bedanya bangunan ini seluruhnya terbuat dari pada kayu yang besar-besar.
Juga lampu-lampu gantung yang dipergunakan sebagai penerangan pada setiap rumah di dusun itu terbuat dari pada kayu.
Sebagai pengganti kaca dipergunakan semacam kulit ikan yang tipis dan dapat di tembusi oleh sinar api.
Nyala api tetap terang, dan ternyata bahwa orang pun mempergunakan minyak untuk lampu-lampu ini!
Raksasa membawa Kwan Cu langsung ke sebuah ruangan lebar di mana berkumpul semua orang-orang laki perempuan yang kesemuanya adalah raksasa bertubuh tinggi besar.
Mereka ini duduk bersimpuh, ada pula yang berlutut menghadapi sebuah meja besar di mana dipasang lilin seperti orang melakukan semacam sembahyangan.
Ketika raksasa itu muncul di bawah penerangan lampu besar, semua orang menengok dan terjadilah sesuatu yang mengherankan hati Kwan Cu.
Pemuda ini melihat orang laki-laki serentak mundur, bahkan ada yang melarikan diri, ada pula yang menjatuhkan diri berlutut kepada raksasa hitam yang baru datang.
Orang-orang wanita menjadi pucat dan menjerit-jerit ketakutan seperti melihat setan!
Terdengarlah pekik-pekik ketakutan dan suara orang kalang kabut.
Raksasa itu mengangkat kedua tangannya dan berkata-kata dengan suara yang berpengaruh seakan-akan menghibur.
Setelah dia selesai berkata-kata, semua orang berlutut dihadapannya dan dari rombongan wanita, berlari keluar seorang gadis raksasa yang bertubuh tinggi ramping dan berwajah halus dan boleh dibilang cantik, biarpun kulitnya kelihatan kehitaman dan tubuhnya juga tinggi besar.
Namun jika dibandingkan dengan yang lain, ia termasuk kecil dan masih muda sekali.
Sambil menangis, gadis raksasa ini menubruk raksasa itu dan keduanya berpelukan.
Kini semua orang yang berada di situ nampak girang, senyum timbul di wajah mereka yang rata-rata membayangkan kejujuran.
Tiba-tiba seorang wanita menjerit sambil menunjukkan telunjuknya ke arah Kwan Cu.
Keadaan menjadi geger setelah semua orang melihat pemuda kecil kate ini.
Agaknya baru sekarang mereka melihat Kwan Cu dan terdengar suara-suara diiringi suara ketawa geli.
Orang-orang perempuan tertawa terkekeh dan orang-orang lelaki tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk ke arah Kwan Cu.
Kwan Cu menjadi mendongkol sekali.
Ia membanting-banting kedua kakinya dan dalam kegemasannya lupalah dia akan perutnya yang lapar.
"Sudahlah, sudahlah, aku bukan badut! Kalau kalian tidak suka melihat aku, aku pun tidak sudi berada disini terlalu lama."
Sambil berkata demikian, dia hendak pergi dari situ.
Tidak sudi dia dijadikan bahan tertawaan oleh semua orang itu hanya karena dia bertubuh normal!
Akan tetapi raksasa hitam yang agaknya jadi kepala mereka itu, mengulur tangan mencegah dia keluar, kemudia raksasa ini mengangkat tangan memberi tanda kepada semua orang supaya berhenti tertawa dan bicara panjang lebar.
Agaknya dia menceritakan pengalamannya dan menceritakan betapa Kwan Cu telah menolongnya.
Hal ini dapat diduga ketika semua orang kini memandang ke arah Kwan Cu dengan kagum sekali.
Dan tiba-tiba gadis raksasa yang tadi memeluk raksasa hitam itu, berlari mendekati Kwan Cu, menggunakan kedua lengannya yang berkulit hitam halus dan panjang itu untuk memeluk Kwan Cu lalu.....mencium hidungnya!
Hampir saja Kwan Cu berlari keluar saking malu dan jengahnya.
Ia memberontak dengan halus, melepaskan diri dari pelukan gadis raksasa itu dan berdiri dengan muka merah sampai ke telinganya!
Ia melihat semua orang tertawa-tawa.
Kini orang-orang wanita yang berpakaian cukup sopan, yakni dengan semacam kain berkembang tebal di selimutkan dari pundak menutup leher sampai kelutut, datang mengerumuninya.
Ia sudah merasa ngeri dan khawatir kalau-kalau semua wanita ini akan memeluk dan menciuminya.
Akan tetapi dia merasa lega sekali ketika ternyata mereka hanya mendekatinya, meraba-raba tangan dan kakinya, bahkan ada yang melepaskan kalung dan gelang dari emas tulen dan memberikan perhiasan itu kepadanya sebagai tanda kagum!
Sambil tersenyum dan menggelengkan kepala Kwan Cu menolak semua hadiah itu dengan halus.
Raksasa hitam yang ternyata adalah raja suku bangsa ini lalu memberi perintah dan bubarlah semua orang.
Mereka sibuk bekerja dan pada malam hari itu juga di ruangan ini diadakan pesta untuk menghormat raja dan Kwan Cu!
Pemuda ini mendapat kenyataan bahwa tidak semua raksasa berkulit hitam arang seperti kepalanya.
Ada yang agak putih walaupun bagi bangsa Han masih termasuk hitam, bahkan wanita-wanitanya rata-rata mempunyai kulit yang hitam-hitam manis.
Meja sembahyang yang tadi dipasang di tengah ruangan, dibawa pergi dan sebagai gantinya dipasang meja besar yang mewah.
Ketika orang sibuk menghias meja ini, Kwan Cu melompat dari tempat duduknya karena dia melihat di antara kain-kain berwarna yang dipergunakan untuk menghias meja makan yang panjang dan lebar itu, terdapat sajak-sajak yang tulisannya sama dengan tulisan yang dipergunakan dalam kitab sejarah Gui-siucai atau dalam kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng.
Ia membaca sajak kuno itu dan cepat berpaling kepada raksasa hitam yang juga memandangnya dengan heran.
Ketika Kwan Cu menunjuk kepada sajak-sajak itu seakan-akan bertanya, raja-raja raksasa itu lalu membaca sajak-sajak tadi, akan tetapi dengan bahasa yang sama sekali asing bagi Kwan Cu.
Kemudian Kwan Cu lalu membaca sajak itu keras-keras dan kini giliran raja raksasa itu untuk memandangnya dengan bingung.
Kwan Cu mendapat akal baik, lalu dia menggunakan jari tangannya untuk menggurat-gurat meja yang halus.
Sambil mengerahkan lweekangnya dia dapat menulis beberapa huruf dari tulisan kuno itu yang berbunyi.
"Apakah kau dapat membaca tulisanku ini?"
Raja raksasa terkejut sekali nampaknya lalu berteriak keras.
Semua orang yang sibuk membereskan tempat itu, pada lari mendatangi dan mereka semua, laki-laki dan perempuan dapat membaca tulisan tangan Kwan Cu di atas meja itu.
Mereka bersorak-sorak girang dan raja itu lalu memberi perintah.
Seorang diantara mereka berlari mengambil alat tulis berupa pisau runcing dan lembaran kulit pohon yang di dalamnya putih dan halus.
Dengan pisau itu, memang amat mudah dan enak untuk menuliskan huruf di sebelah dalam lebaran kulit pohon.
"Tentu saja kami dapat membaca tulisanmu. Agaknya tulisan kami sama, hanya suara bacaannya yang bikin berbeda."
Raja itu menulis dan bukan main girangnya hati Kwan Cu.
Pesta dimulai dan daging panggang yang dihidangkan membuat hati Kwan Cu berdebar girang, membuat dia mengilar akan tetapi juga baru melihat saja dia sudah merasa kenyang!
Daging-daging yang dihidangkan di hadapannya begitu besar dan berbau sedap.
Kini dia dapat "bercakap-cakap"
Dengan rakyat hitam itu melalui tulisan huruf kuno, dan dia mendapat penjelasan dan penuturan yang amat menarik hati seperti berikut.
Kalau dia yang membacanya, nama raja raksasa itu adalah Lakayong, dan raja ini adalah seorang duda dengan puterinya bernama Liyani, yakni gadis raksasa yang menangis sambil memeluknya tadi, atau juga gadis yang telah memeluk dan mencium Kwan Cu setelah mendengar bahwa pemuda ini telah menolong ayahnya!
Suku bangsa raksasa itu menurut mereka disebut bangsa Kuyu, keturunan dari bangsa raksasa yang sudah di sangka lenyap dari daratan tiongkok.
Mereka hidup sampai beberapa keturunan di atas pulau besar yang kosong itu.
Lakayong diangkat sebagai raja oleh karena dia mempunyai tenaga paling besar dan menurut tradisi mereka, setelah diadakan pertandingan dan Lakayong tak dapat dikalahkan, maka dia diangkat menjadi raja.
Jago-jago lain dijadikan pembantu-pembantunya.
Di antara pembantu-pembantunya terdapat dua orang raksasa lain yang dalam kepandaian bertempur dan kehebatan tenaga, hanya kalah sedikit oleh Lakayong.
Mereka ini bernama Wisang dan Kasang yang oleh Lakayong diangkat menjadi pembantu-pembantunya yang paling berkuasa.
Akan tetapi, sudah lama dua orang ini merasa iri kepada Lakayong, dan diam-diam mengandung maksud untuk merebut kedudukan.
Apalagi ketika dua orang itu bergantian mengajukan pinangan terhadap Liyani ditolak oleh gadis itu, mereka makin menaruh hati dendam.
Bangsa Kuyu mempunyai kebiasaan yang aneh dan yang sudah menjadi tradisi mereka.
Yakni tiap kali bulan muncul, mulai bulan timbul tiga perempat sampai bulat, setiap raja selalu mandi di laut seorang diri, katanya untuk menerima berkah dari Dewa bulan demi kebahagiaan bangsanya.
Pada malam hari kemarin, seperti biasa Raja Lakayong mandi di laut memenuhi peraturan tradisi dan minta bekah bagi rakyatnya, tiba-tiba dia diserang oleh dua orang pembantunya, yaitu Wisang dan Kasang.
Kalau saja mereka bertempur di darat, agaknya biarpun dikeroyok dua, Raja Lakayong takkan kalah.
Akan tetapi pertempuran di air melelahkan.
Ia sudah mulai tua sedangkan lawannya masih muda dan pandai berenang.
Akhirnya dia kalah, dibelenggu kaki tangannya dan dilemparkan ke laut agar mati tenggelam atau dimakan ikan liar.
Kemudian Wisang dan Kasang berlari ke darat, memberi tahu kepada semua orang bahwa ketika sedang mandi di laut, Raja Lakayong telah diserang ikan besar dan bahkan mereka berdua telah berusaha untuk menolong namun tidak berhasil, sebaliknya menderita luka-luka.
Padahal luka-luka mereka itu adalah karena pukulan Raja Lakayong yang melawan hebat sebelum dia dikalahkan!
Semua orang menjadi berduka, terutama sekali Layani dan upacara sembahyang segera dilakukan sampai sehari semalam.
Adapun kedua orang itu, Wisang dan Kasang, tidak kelihatan lagi.
Hal ini karena mereka masih amat akan percaya tahyul dan mereka beranggapan bahwa sebelum sehari semalam, arwah orang yang mati masih berkeliaran untuk menuntut balas pada musuh-musuhnya!
Karena itu, selama sehari semalam mereka tidak berani keluar dan bersembunyi di dalam sebuah gua yang gelap agar arwah dari Raja Lakayong tidak dapat mencari mereka!
Ini pula sebabnya ketika raja Lakayong muncul pada malam hari itu, kedua penghianat itu tidak kelihatan di situ.
Demikianlah penuturan Raja Lakayong pada Kwan Cu.
"Baiknya Dewa Air masih melindungiku,"
Raja Lakayong menutur selanjutnya.
"sehingga ombak membawaku ke tempat yang dangkal dan dalam keadaan yang setengah mati aku dapat berdiri di dalam air yang tiba sebatas leher. Aku berdiri kuat-kuat agar tidak terguling, karena sekali aku terguling, aku akan mati. Kebetulan sekali kau datang, sahabat baik, dan aku tertolong."
"Di mana adanya dua orang yang jahat itu? Aku ingin sekali memukul kepala mereka!"
Tulis Kwan Cu dengan gemas. Lakayong tertawa bergelak.
"Kamu mengagumkan sekali, saudara kecil yang gagah,"
Tulisnya.
"Akan tetapi kau tidak tahu kalau Wisang dan Kasang amat kuat dan tangkas. Di seluruh dusun ini, hanya aku yang mampu menandingi mereka, itupun tak mudah aku lakukan. Mereka kuat sekali, apa daya orang kecil seperti kau?"
Ketika kedua orang itu bercakap-cakap dalam bentuk tulisan, maka semua tulisan itu di baca semua orang ganti berganti dan yang mendapat kesempatan pertama tentu saja Liyani yang memandang kepada Kwan Cu dengan kagum sekali.
"Kau kecil dan lemah, akan tetapi kau gagah perkasa. Aku suka kepadamu,"
Tulis gadis itu dengan tulisan tangannya yang halus. Kwan Cu merasa mendongkol karena raja Lakayong agaknya memandang rendah kepadanya.
"Biarpun aku kecil, aku berani menghadapi keroyokan mereka berdua!"
Tulisnya.
Tentu saja tulisan ini menimbulkan kegemparan besar setelah semua orang membacanya.
Seorang laki-laki tinggi besar dan kelihatan kuat dan kasar sekali menudingkan telunjuknya kepada Kwan Cu dan berkata-kata dengan keras.
"Dia bilang apa?"
Kwan Cu menulis. Akan tetapi Raja Lakayong menggelengkan kepalanya, seakan-akan segan untuk "menerjemahkan"
Kata-kata itu. Kwan Cu merasa penasaran dan menunjukkan kata-kata pertanyaannya itu kepada Liyani. Gadis ini segera menuliskan jawabannya tanpa mempedulikan ayahnya yang tampaknya melarangnya.
"Dia seorang kuat, dan berkata bahwa bangsa kami selalu jujur dan tidak mau membual, seorang laki-laki yang berani mengeluarkan ucapan membual harus berani pula membuktikannya omongannya itu."
Membaca jawaban itu, Kwan Cu melompat berdiri.
Orang-orang tidak bisa mengikuti gerakannya yang cepat seperti burung terbang.
Tahu-tahu semua orang melihat pemuda kecil itu berdiri di depan raksasa muda yang menegurnya tadi dan bertolak pinggang seperti menantang.
Raksasa muda tertawa dan mendorong dada Kwan Cu, agaknya hendak menyuruh Kwan Cu duduk kembali.
Dorongannya itu sedikitnya ada delapan ratus kati beratnya, menyambar ke arah dada Kwan Cu seperti gajah menyeruduk.
Akan tetapi dengan sedikit saja miringkan tubuh, Kwan Cu sudah dapat mengelak dan secepat kilat dia dari samping menekan siku yang mendorong dan membarengi menggunakan kaki untuk menendang belakang lutut raksasa itu.
Terdengar raksasa itu berteriak dan tak dapat bertahan lagi ia jatuh tersungkur dengan hidung lebih dulu!
Orang-orang tertegun melihat hal ini, bahkan Raja Lakayong sendiri seperti orang yang tak percaya akan apa yang dilihatnya, sebaliknya Liyani bertepuk tangan memujinya.
Raksasa itu bangun kembali dengan penasaran, dari hidungnya yang panjang mengalir darah.
Setelah memandang dengan mata yang terbelalak, dia lalu menyerang, kini dengan kedua tangan dipentang lebar dan kemudian memukul kepala Kwan Cu dari kiri dan kanan.
Serangan itu dahsyat sekali, akan tetapi bagi Kwan Cu gerakan orang ini amat lambat, mudah saja baginya untuk melangkah mundur sehingga kembali serangan itu mengenai angin kosong.
Raksasa itu terheran ketika kedua tangannya memukul angin, maka dengan bernafsu ia menubruk, kini dengan tubuh membungkuk seperti seekor lembu jantan hendak menyeruduk.
Kwan Cu berpikir, bahwa kalau ia tidak memperlihatkan kelihaiannya, tentu ia akan dipandang rendah oleh orang-orang ini.
Maka ia menanti kesempatan baik.
Ketika lawannya menyeruduk, menyerang dengan kedua tangan dan kepala, ia bergerak cepat sekali, melompat dengan ringan sekali melalui atas kepala lawannya!
Semua orang tertegun, akan tetapi raksasa muda itu kebingungan karena tiba-tiba saja ia kehilangan lawannya.
"Bocah cilik, jangan lari kau sembunyi!"
Teriakannya dengan bahasa yang tidak di mengerti oleh Kwan Cu.
Akan tetapi orang yang berada di situ mengerti dan menjadi geli sekali karena Kwan Cu yang disangka bersembunyi itu sebenarnya telah berada di belakang raksasa muda itu!
Kwan Cu tidak mau membuang waktu lagi, dengan gerakan yang cepat sekali dia menggunakan jari tangannya untuk menotok kaki bagian belakang lutut.
Ia melihat urat besar dan seketika itu juga raksasa itu jatuh berlutut.
Kwan Cu menyerang terus, kini menotok punggungnya dan aneh sekali bagi semua orang dan raja Lakayong karena dengan tiba-tiba raksasa muda itu terguling jatuh dan menangis keras!
Semua orang menjadi gempar dan raksasa itu dikerubung dan ditanyai, akan tetapi ia tidak menjawab melainkan tetap bergulingan dan menangis karena ia telah ditotok jalan darahnya yang membuat semua badan menjadi sakit dan air matanya mengucur keluar tanpa dapat dicegah lagi, ternyata Kwan Cu telah menggunakan Ilmu Silat Sin-ci-tin-san (Satu Jari Merobohkan Gunung)!
Liyani segera menghampiri Kwan Cu.
Pemuda ini takut kalau akan dicium lagi maka dia berlaku waspada, siap mengelak kalau-kalau akan dipeluk.
Akan tetapi Liyani menghampirinya dengan membawa tulisannya yang ketika ia baca berbunyi.
"Kau apakan dia"
Kwan Cu tersenyum dan membalasnya dengan tulisan "Tidak apa-apa, hanya memberi pelajaran kepadanya, kau minta menarik lagi kata-kata yang memandang rendah kepadaku dan aku akan menyembuhkannya!"
Gadis itu sambil tersenyum gembira berlari-lari kearah raksasa yang masih menangis bergulingan seperti anak kecil itu, dan menyampaikan pesan Kwan Cu.
Raksasa itu berkaok-kaok yang diterjemahkan oleh Liyani.
"Dia sudah kapok dan minta ampun."
Kwan Cu merasa kasihan.
Ia menghampiri pemuda raksasa itu, lalu menepuk dan mengurut punggungnya!
lenyaplah rasa sakit.
Raksasa itu membungkuk kepada Kwan Cu lalu beranjak pergi dari situ dengan malu.
Kwan Cu duduk lagi di dekat Raja Lakayong yang memandangnya sambil mengurutkan kening, lalu menulis.
"Kau menggunakan ilmu hoat-sut (ilmu sihir), aku tidak suka akan ilmu curangmu itu, lebih baik menghandalkan tenaga dan berkelahi dengan jujur."
Kwan Cu dapat memaklumi jalan pikiran raksasa sederhana dan jujur ini. Maka ia lalu menulis dengan panjang lebar.
"Tidak ada kecurangan caraku dalam bertempur, aku lebih menggunakan otak dari pada tenaga. Kalau aku disuruh bertempur menghadapi dia yang jauh lebih besar, apakah itu jujur dan adil namanya? Sama saja seekor kelinci disuruh menghadapi harimau! Tenagaku jauh lebih kecil, maka aku harus menggunakan akal. Aku tadi juga menggunakan pukulan akan tetapi pukulan dengan tenaga sekecilnya yang ditujukan pada bagian yang menyakitkan."
"Tubuhnya kuat, tak mungkin dengan tenaga kecil dapat menimbulkan rasa sakit."
Bantah Lakayong.
"Kau keliru."
Jawab Kwan Cu.
"di bawah kulit tersembunyi bagian-bagian yang lemah. Kalau kau tidak percaya, coba kau gunakan salah satu jari tanganmu mengetok bagian lututmu ini sendiri."
Sambil berkata demikian Kwan Cu meraba sambungan lutut raksasa itu.
Sambil tersenyum Raja Lakayong mengetokkan jarinya pada bagian itu dan dia berseru kesakitan dan secara otomatis kakinya bergerak ke depan seperti orang menendang karena tersentuh uratnya yang amat perasa.
Dengan rasa terheran-heran raksasa itu mengetuknya berkali-kali dan akhirnya Kwan Cu melarangnya karena hal itu dapat berbahaya sekali.
"Jika kau menggunakan pukulan menghantam lawan, mungkin ia tak kan raboh, akan tetapi agak ke bawah kau memukul mengenai sambungan lututnya, pasti ia roboh. Apakah akal ini dapat dikatakan curang?"
Lakayong kagum sekali. Lalu ia minta penjelasan lebih lanjut.
"Mungkin aku akan menghadapi seorang di antara dua orang penghianat itu. Mereka masih muda dan kuat, sedangkan aku sudah tua. Aku kalah tenaga dan aku perlu mengetahui rahasia tubuh ini,"
Katanya.
Kwan Cu lalu memberi penjelasan sambil memberi contoh, yaitu lebih tepat memukul sambungan siku daripada mengenai lengan, lebih baik memukul sambungan pundak daripada mengenai dada, dan memberi petunjuk berbahaya yaitu leher, ulu hati, lambung dan lain-lain.
Raja Lakayong menjadi girang sekali dan hampir sampai pagi ia menerima petunjuk dari Kwan Cu.
"Di mana adanya dia orang jahat itu?"
Tanyanya.
"Mereka bersembunyi, akan tetapi tidak ada orang yang akan sembunyi terus-menerus, mereka tidak berani meninggalkan pulau dan besok ia akan menghadap juga."
"Apa yang akan kau lakukan terhadap mereka?"
"Kau akan melihat sendiri besok,"
Jawab Lakayong sambil tertawa.
"Yang sudah pasti, mereka akan menghadapi keputusan yang jujur, sesuai dengan kebiasaan kami."
Adapun Liyani yang suka kepada Kwan Cu, tiada bosannya mengajarkan bahasa mereka kepada Kwan Cu.
Dengan bantuan tulisan mereka yang dimengerti oleh Kwan Cu, dibantu pula oleh otaknya yang cerdik, sebentar saja Kwan Cu sudah dapat mengerti beberapa ucapan terpenting dalam percakapan sehari-hari.
Maka mulailah dia bercakap-cakap dengan Liyani dan Lakayong sehingga mereka menjadi gembira sekali.
Melihat Suling yang berada di buntalan Kwan Cu, Liyani bertanya benda apakah gerangan yang aneh itu.
Kwan Cu tersenyum lalu meniup sulingnya.
Berserabutan orang-orang yang tadinya udah pulang ke pondok masing-masing untuk melihat apakah yang dapat berbunyi demikian aneh dan merdu.
Adapun Liyani saking gembiranya lalu menari di hadapan Kwan Cu.
Sebuah tarian yang menurut Kwan Cu amat melanggar kesusilaan karena gadis itu menari dengan pinggang bergerak, semacam tari perut !
Atas kehendak Raja Lakayong, pertemuan yang menggembirakan itu dibubarkan untuk memberi kesempatan pada tamunya untuk mengaso.
Kwan Cu mendapat kamar yang bersih di dalam gedung besar itu berdekatan dengan kamar Raja Lakayong dan kamar puterinya.
Lakayong sebentar saja sudah tidur mendengkur.
Juga Kwan Cu yang merasa lelah sekali, tidur melenyapkan keletihannya setelah makan kenyang dan merasa tubuhnya enak dan segar.
Lebih dulu ia mengganti pakaiannya yang basah kuyub dengan pakaian yang sudah dia panggang di dekat api unggun sehingga menjadi kering.
Pada keesokan harinya dia bangun dari tidurnya karena suara ketawa terkekeh-kekeh di dalam kamarnya.
Ia membuka matanya dan cepat meloncat turun dari pembaringan kayu ketika melihat yang tertawa-tawa itu adalah Liyani yang sudah memasuki kamarnya.
Gadis itu telah membuka buntalannya dan sedang melihat-lihat pakaiannya.
Celana dan bajunya dipegang gadis itu sambil tertawa-tawa, seperti seorang gadis remaja memegang dan merasa geli melihat pakaian anak kecil!
Memang, celana sutra dari pemuda itu ketika dipegang tergantung oleh tangan Liyani hanya kelihatan seperti celana anak kecil saja!
Ketika melihat Liyani mulai membuka bungkusan kuning yang berisi daun Liong-cu-hio, Kwan Cu melompat dan merampas bungkusan itu.
"Jangan sentuh ini!"
Katanya dalam bahasa Kuyu yang kaku.
Mata yang bening itu terbelalak lebar.
Setelah melihat gadis itu di pagi hari, Kwan Cu harus mengaku bahwa Liyani memiliki kecantikan yang khas dari bangsanya.
Kulitnya yang kehitaman itu tidak membosankan dan bibirnya yang tebal itu nampak penuh dan manis.
"Mengapa tidak boleh?"
Tanyanya heran, kejujurannya membuat ia tidak merasa tersinggung.
"Karena benda yang terbungkus kain ini sangat berbahaya, sekali tanganmu menyentuhnya, akan mejadi hangus tanganmu itu."
Liyani menjadi terkejut sekali dan melangkah mundur.
"Kau orang aneh, barang-barangmu juga aneh. Akan tetapi aku .... aku suka padamu, suka sekali padamu."
Setelah berkata demikian gadis itu keluar dari kamar, meninggalkan Kwan Cu yang berdiri dengan muka merah sekali.
Pemuda ini baru berumur enam belas tahun dan selama hidupnya belum pernah berpikir tentang cinta kasih antara laki-laki dan wanita.
Tadinya mengira bahwa rasa suka yang dinyatakan berkali-kali oleh gadis raksasa itu adalah rasa suka yang terdapat dalam hati orang bersahabat, namun melihat sinar mata gadis itu yang aneh sekali, membuat dia merasa jengah dan tidak enak hati!
Wanita-wanita pelayan datang membawa air pencuci muka, air minum dan makanan, menyediakan semua itu sambil tertawa-tawa seakan-akan menghadapi sesuatau yang lucu.
Kwan Cu mendongkol sekali dan berpikir bahwa dia tidak betah terlalu lama tinggal di pulau raksasa ini karena dia maklum bahwa tubuhnya yang jauh lebih kecil dari pada penduduk di situ akan membuat dia kelihatan sebagai makluk yang aneh dan menggelikan.
Ia tidak suka menjadi bahan ketawaan.
Namun, minuman yang disediakan amat enak, menghangatkan perutnya sedangkan makanan itu lezat sekali, semacam kue yang manis.
Tak lama kemudian datanglah Raja Lakayong yang nampak sehat dan gembira sekali.
"Saudara kecil yang baik, apakah kau enak tidur?"
Tanyanya. Kwan Cu mengucapkan terima kasihnya dalam bahasa Kuyu yang kaku.
"Saudara Kwan Cu, marilah kau ikut aku melihat bagaimana kami mengadakan pengadilan,"
Kata Lakayong sambil mengandeng tangan Kwan Cu.
Ketika mereka tiba di luar, ternyata Raja itu tidak datang seorang diri, melainkan bersama tujuh orang laki-laki yang bertubuh tinggi besar dan nampaknya kuat sekali.
Mereka ini adalah pembantu-pembantu dari Lakayong.
Baca Juga: Jodoh Rajawali 15
Baca Juga: Petualang Asmara 4