Ceritasilat Novel Online

Pendekar Sakti 8

Eps 8 Pendekar Sakti - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Sakti - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Sakti - Kho Ping Hoo.

Tak terasa lagi dua titik air mata meloncat keluar dan membasahi pipi Kwan Cu.

Inilah kitab rahasia Im-yang Bu-tek Cin-keng yang aseli!!

Dapat kita bayangkan betapa girang dan terharunya hati Kwan Cu setelah dia mendapat kenyataan bahwa kitab kuno yang dia dapatkan di atas pulau ini betul-betul adalah kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang aseli.

Kitab itu diperebutkan oleh tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw, bahkan dicari-cari oleh pembesar.

Dia sendiri semenjak dahulu telah merindukan kitab ini, telah ditempuhnya jalan yang amat jauh dan berbahaya.

Sekarang, secara kebetulan sekali kitab itu telah berada di tangannya!

Sampai lama sekali Kwan Cu menjatuhkan diri berlutut, bibirnya bergerak-gerak.

Ia menghaturkan terima kasihnya kepada Thian Yang Maha Kasih, kepada arwah Gui-siucai yang telah membuka rahasia kitab itu kepadanya.

Kemudian dengan amat hati-hati dia mulai mempelajari isi kitab.

Ia harus berlaku hati-hati sekali karena sutera yang tertulis dengan huruf kuno itu sudah amat tua.

Baru di buka lembar pertama saja, bagian pinggir yang tersentuh tangannya menjadi hancur!

Bukan itu saja, bahkan bagian tengah lembaran itu yang bergerak ketika dia buka telah menjadi robek-robek.

Maka dia mengambil keputusan untuk mempelajari selembar demi selembar, sama sekali tidak berani membuka lembar berikutnya kalau lembar yang dibuka itu belum dihafalnya benar-benar.

Juga dia berlaku amat sopan dan menghormat isi kitab itu yang dianggapnya sebagai kitab suci, untuk menghormat manusia sakti yang menciptanya.

Tiap kali hendak membaca kitab itu, dia terlebih dulu berlutut sebagai pernghormatan, dan menjelang malam hari, dia berlutut lagi menghaturkan terima kasih atas segala pelajaran yang telah diterimanya pada hari itu.

Hal ini dia lakukan setiap hari!

Pelajaran yang dia dapatkan dari lembaran-lembaran pertama adalah uraian tentang tenaga yang menggerakkan seluruh dunia, yakni tenaga Im dan Yang (Positive dan Negative) .

Tentang dua tenaga yang bertentangan namun yang apabila bersatu mendatangkan kekuatan dan daya penggerak di seluruh permukaan bumi ini.

Ia mendapat uraian yang amat jelas dan terperinci, disertai contoh-contoh.

Kemudian, pada lembar-lembar berikutnya, diterangkan dengan seluasnya tentang unsur tenaga alam yang terdiri dari ngo-heng (lima zat).

Kitab itu bukanlah kitab biasa dan untuk mempelajari isinya dibutuhkan kecerdikan yang luar biasa dan bakat yang amat besar.

Kwan Cu mengerahkan seluruh tenaga otaknya dan mencurahkan seluruh perhatiannya.

Tidak satu pun dilewatkannya, tidak sebaris pun kalimat dialpakannya.

Semua dia telan bulat-bulat dan diolah di dalam otaknya yang memang cerdik.

Baiknya dia berlaku hati-hati, karena ternyata kemudian olehnya betapa setiap kali dia membalikkan lembar berikutnya, lembar yang terdahulu tergencet dan menjadi hancur!

Jelasnya, setiap lembar yang sudah dipelajarinya takkan mungkin dibacanya kembali karena sudah rusak.

Orang lain takkan dapat membaca kitab itu setelah dia membaca habis, karena kitab itu akan merupakan kitab rusak yang hampir menjadi debu.

Pelajaran-pelajaran berikutnya merupakan uraian-uraian tentang cara mempergunakan tenaga-tenaga Im dan Yang di dalam tubuh sehingga hawa di dalam tubuh yang merupakan tenaga tersembunyi dapat dikuasai dengan baik.

Terdapat pula pelajaran tentang samadhi dan mengatur pernapasan, tentang cara mengugah panca indera di dalam batin sehingga panca indera di tubuh menjadi kuat dan tajam.

Semua pelajaran ini di sertai penjelasan-penjelasan terperinci tentang sebab-sebab dan akibatnya, sehingga amat jelas bagi Kwan Cu.

Pernah dia menerima latihan samadhi dan pengerahan tenaga lweekang dari Ang-bin Sin-kai, akan tetapi pelajaran itu hanya merupakan pelajaran yang sudah mati, yang dilakukannya sebagai tiruan atau jiplakan belaka.

Sekarang baru dia mengerti mengapa segala macam tenaga yang tersembunyi di dalam tubuh itu dapat timbul.

Sampai setahun lebih Kwan Cu jarang sekali keluar dari dalam guanya kalau tidak sangat lapar perutnya.

Jarang pula dia tidur kalau tidak sudah amat mengantuk tak tertahankan lagi matanya.

Tubuhnya menjadi kurus kering dan matanya cekung.

Setelah makan waktu setahun lebih, barulah selesai bagian melatih samadhi dan pernapasan yang selain dipelajari teorinya, juga dipraktekkan setiap saat.

Kemudian mulailah kitab itu mengurai tentang ilmu silat!

Bukan main hebatnya.

Di situ dibentangkan tentang ilmu-silat-ilmu silat yang sudah ada dan dimiliki manusia, ilmu silat-ilmu silat tinggi yang dibuat partai-partai persilatan menjadi termasyhur, seperti ilmu silat dari Go-bi-pai, Kun-lun-pai, Hoa-san-pai, Bu-tong-pai dan lain-lain.

Akan tetapi, yang diajarkan di situ hanya rahasia pokok dan dasar dari semua ilmu silat itu.

Ternyata pula bahwa lukisan-lukisan di dinding gua-gua dan terowongan itu adalah ilmu-ilmu silat dari berbagai cabang persilatan ini, memperlihatkan perbedaan-perbedaan yang ternyata hanya pada variasi dan kembangan belaka.

Adapun pada dasarnya semua gerakan ilmu silat adalah serupa dan berasal dari satu sumber!

Untuk memperdalam pengertiannya, Kwan Cu meneliti semua lukisan di dinding gua-gua dan terowongan-terowongan itu, mempelajarinya dengan penuh perhatian.

Setelah dia mulai dapat menangkap apa yang disebut pokok dasar gerakan ilmu silat tinggi, matanya terbuka dan amat mudahlah baginya untuk mempelajari ilmu-ilmu silat itu.

Ia mempraktekkannya dengan melatih diri, meniru semua gerakan ilmu silat dari berbagai cabang itu dan alangkah girangnya ketika dia dapat mainkan ilmu silat-ilmu silat itu dengan amat mudahnya!

Tanpa disadarinya, dia telah maju sekali dalam gerakan yang terdorong oleh tingginya tenaga lweekang dan khikang, serta tanpa terasa latihan napas telah membuat ginkangnya istimewa sekali.

Pada suatu hari, selagi dia melatih seorang diri di dekat pantai laut pulau kosong yang berpohon putih itu, tiba-tiba dia mendengar suara gaduh seperti dahulu pernah didengarnya ketika dia mula-mula naik naik perahu melintasi lautan ganjil itu.

Ia tidak mempedulikan suara ini dan terus saja berlatih silat berganti-ganti gerakan dan dia mainkan pelbagai ilmu silat tinggi dari Kun-lun-pai dan Bu-tong-pai.

Tiba-tiba datang angin bertiup keras sekali, dibarengi suara mendesis hebat dan air laut di tepi pantai bergelombang seakan-akan Hai-liong-ong (Raja Naga Laut) sendiri hendak keluar dari dasar laut!

Namun, Kwan Cu seperti tidak mendengar semua ini dan tidak merasai sambaran angin pohon yang demikian hebatnya, yang membuat pohon-pohon besar di pulau itu menjadi doyong.

Orang biasa saja apabila kebetulan berada di situ, pasti akan melayang terbawa angin badai yang luar biasa kuatnya.

Akan tetapi, Kwan Cu tetap bersilat dengan penuh semangat, sama sekali tidak merasa betapa pakaiannya sedikit demi sedikit mulai meninggalkan tubuhnya karena terbawa oleh angin dan saking kerasnya angin, pakaiannya itu mulai robek-robek dan melayang entah kemana perginya.

Tanpa di ketahui oleh Kwan Cu, air laut mulai naik ke gelombang besar membuat air makin mendekati tempat dia bermain silat!

Akhirnya setelah air menyentuh kakinya, barulah pemuda ini terkejut, seakan-akan air itu menyerangnya.

Otomatis dia melompat untuk mengelak dan otomatis pula dia menendang ke arah air.

Air itu muncrat dan terpental saking kerasnya tenaga tendangannya.

Pemuda itu kini melihat ombak besar mendarat di pantai.

Makin gembiralah hati Kwan Cu.

Seperti Ang-bin Sin-kai gurunya yang suka bercanda dengan laut, dia kini menghadapi ombak, bahkan dia menerjang maju melawan ombak!

Hebat sekali pemuda ini.

Setiap kali ombak besar menyerangnya, bukan dia terdorong roboh, bahkan air yang terdampar kepadanya dan yang dipukul atau ditendangnya, menjadi buyar!

Akan tetapi, makin lama makin hebatlah air menaik sehingga terpaksa Kwan Cu main mundur, terdesak oleh air yang makin lama makin dalam, siap untuk menelan tubuhnya.

Pula, baru sekarang dia merasa betapa tubuhnya sudah setengah telanjang, karena pakaiannya telah robek sana sini dan ujungnya sudah hilang semua entah terbang kemana!

Angin bertiup makin keras dan ketika dia memandang ke arah laut, Kwan Cu membelalakkan matamya.

Laut menjadi demikian buas, dan airnya berombak-ombak tinggi disertai uap yang hitam menggelapkan langit di atas laut.

Mulai takutlah hati Kwan Cu menghadapi kekuasaan alam yang luar biasa ini.

Air kini naik makin tinggi seakan-akan hendak menelan pulau itu.

Kwan Cu melompat-lompat mundur dan tiba-tiba dia terkejut setengah mati ketika tanah yang diinjaknya bergoyang-goyang, miring ke sana ke mari seakan-akan pulau itu berubah menjadi sebuah perahu yang mengambang!

"Aduh, akan kiamatkah dunia?"

Serunya kaget dan dia lalu berlari-lari ke guanya.

Dalam berlari ini, beberapa kali dia terhuyung-huyung dan tentu dia sudah jatuh kalau saja ginkangnya tidak luar biasa baiknya.

Sambil melompat ke kanan kiri mengimbangi goyangan tanah yang makin menghebat, akhirnya bisa juga dia sampai di dalam guanya.

Ia melihat betapa semua pohon bergoyang-goyang dan daun-daun putih rontok, namun tidak sebatang pun tumbang.

Ia tahu bahwa akar-akar pohon berdaun putih itu banyak dan amat dalam, maka tidak mengherankan apabila pohon-pohon itu demikian kuat menghadapi serangan angin yang demikian dahsyatnya.

Sampai sehari semalam Kwan Cu berdiam di dalam guanya, serasa mabuk dan beberapa kali dia mau muntah-muntah, baiknya dia cepat mengerahkan hawa di dalam tubuhnya untuk menekan perut sehingga isi perutnya tidak terlalu tergoyang oleh "gempa bumi"

Yang tiada habisnya itu seakan-akan pulau akan meletus setiap saat!

Gua itu sendiri dindingnya sampai retak-retak, sehingga pemuda itu khawatir kalau-kalau gambar-gambar di dinding itu akan rusak dan pelajarannya terhalang karenanya.

Demikian besar perhatian Kwan Cu terhadap pelajarannya sehingga dalam keadaan sehebat itu, dia sama sekali tidak mengkhawatirkan keselamatan dirinya, sebaliknya mengkhawatirkan kalau-kalau pelajarannya akan terhalang atau tertunda.

Akhirnya gempa bumi itu reda dan suara ombak yang bergemuruh juga melenyap.

Air tadinya telah sampai di kaki gua di mana Kwan Cu berlindung, hal ini amat mengejutkan hati Kwan Cu karena kejadian ini berarti bahwa air laut telah naik tinggi sekali.

Matahari bersinar kembali, tanah di mana dia berada tidak goyang lagi.

Kwan Cu segera keluar setelah menaruh peti kitab dan buntalan pakaiannya yang semenjak kemarin dia peluk saja, terutama peti kitab itu.

Ia melihat bekas-bekas air laut di mana-mana basah belaka.

Akan tetapi, tak sebatang pun pohon tumbang, hal ini membanggakan hati pemuda ini.

Alangkah kuatnya pohon berdaun putih.

Aku harus menjadi seorang manusia sekuat dia!

Tidak tumbang oleh gelombang hidup yang betapa berat sekalipun.

Akan tetapi, ketika dia tiba di pantai, dia melihat perahunya telah lenyap.

Bukan itu saja, bahkan pulau-pulau kecil yang tadinya dia lihat banyak sekali berada di kanan kiri pulaunya, kini telah berubah arahnya.

Ia menengok ke sana ke mari dan alangkah terkejutnya bahwa guanya sekarang juga berubah letaknya.

Biasanya, matahari terbit menghadapi guanya, berarti bahwa guanya menghadap ke timur, akan tetapi sekarang, matahari terbit dari belakang gua.

Hal ini hanya mempunyai satu arti, yaitu bahwa guanya itu telah berubah letaknya, kini menghadap ke barat!

Ataukah matahari yang sekarang muncul dari barat dan tenggelam di timur?

Tak boleh jadi, pikirnya.

Ia lalu teringat akan goncangan-goncangan pada pulaunya, maka berdebarlah hatinya.

Apakah tidak bisa jadi kalau pulaunya itu yang "pindah"?

Pulaunya hanyut terbawa ombak yang mengamuk?

Dugaan Kwan Cu yang tidak dipercayanya sendiri itu sesungguhnya tepat.

Memang pulaunya itu telah hanyut!

Pulau ini terlepas dari dasar laut, dan hanya karena pohon-pohon berdun putih itu akarnya sampai dalam sekali, berpuluh meter panjangnya, yang menolong pulau itu dari kebinasaannya.

Dengan pohon-pohon yang masih tegak di atas pulau, maka tanah pulau itu pun tidak dapat pecah-pecah dan masih merupakan pulau atau "perahu besar"

Dari tanah dan pohon dan dengan kuatnya dapat melawan badai, seungguhpun terpaksa harus pindah tempat karena dorongan ombak yang kuat sekali.

Dan bukan baru satu kali itu saja pulau itu berpindah tempat, sudah berkali-kali apabila datang taufan hebat mengamuk seperti tadi.

Sesungguhnya karena keistimewaan pulau ini belaka yang membuat Liu Pang menyembunyikan Im-yang Bu-tek Cin-keng di pulau itu.

Calon kaisar ini maklum bahwa hanya di atas pulau itu saja maka kitab rahasia ini dapat disimpan dengan sentosa.

Ketika Kwan Cu memperhatikan pulau-pulau di sekitarnya, dia menjadi berdebar tegang.

Pulau-pulau itu sekarang kelihatan gundul dan bersih, dan jumlahnya jauh berkurang dari semula, seakan-akan banyak di antaranya telah lenyap ditelan ombak.

Segera ingatannya melayang kepada para raksasa, Lakayong dan puterinya Liyani, teringat pula pada Malita dan Malika dan bangsa katai itu.

Bagaimana dengan nasib mereka?

Karena perahunya telah lenyap, Kwan Cu segera merobohkan sebatang pohon berdaun putih yang dia tahu amat kuat batangnya, membuangi cabang-cabang dan ranting-ranting serta daun-daunnya, lalu mempergunakan batang pohon itu sebagai perahu!

Kepandaiannya telah meningkat amat tinggi dan dengan berdiri di atas batang pohon itu yang mengambang di permukaan air, dia dapat mempergunakan cabang pohon sebagai dayung dan mendayung cepat sekali sambil berdiri!

Mula-mula dia mencari pulau tempat tinggal bangsa katai, dan setelah dia berkeliling dengan bingung karena kedudukan pulaunya telah berubah, akhirnya dia mendapatkan pulau bangsa katai itu.

Ia mendarat dengan dada berdebar tegang dan tenggorokan seakan-akan tersumbat sesuatu dan kedua mata pedas menahan jatuhnya air mata, Kwan Cu melihat betapa pulau itu telah musnah sana sekali.

Bangunan-bangunan kecil hancur dan hanya tinggal bekas-bekasnya saja, semua tersapu bersih oleh air yang mengamuk.

Kwan Cu memeriksa semua pulau dan hatinya makin terharu karena tidak seorangpun manusia katai selamat.

Agaknya semua telah hanyut oleh air dan sudah jelas nasib mereka, pasti semua terendam ke dasar laut atau ke dalam perut-perut ikan-ikan besar.

Akan tetapi ketika dia melongok ke dalam sebuah gua, tiba-tiba dia melihat pemandangan yang membuat air matanya tercucur keluar.

Di dalam gua itu dia melihat Malita dan Malika, dua orang puteri katai kakak beradik itu saling peluk, dengan tubuh mereka terikat pada batu karang yang kuat, dalam keadaan sudah tak bernyawa lagi!

Agaknya mereka dalam serangan ombak yang menenggelamkan pulau, telah berdaya untuk menolong diri dengan mengikatkan diri sendiri pada batu karang dan saling berpelukan, akan tetapi mereka tewas karena tenggelam di dalam air yang menaik tinggi sampai menutupi semua pulau itu!

"Malita.........

Malika.......

kasihan kalian ....."

Kata Kwan Cu yang segera melepaskan tubuh mereka dari ikatan.

Tubuh kedua orang gadis katai itu tidak kaku, akan tetapi sudah dingin sekali.

Tiba-tiba dia mendengar suara burung mayat yang beterbangan di pantai sebelah selatan.

"Tentu di sana terdapat korban lain,"

Pikirnya.

Ia lalu berlari menuju ke pantai itu dengan maksud mengumpulkan korban-korban untuk dikubur bersama.

Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika dari jauh dia melihat tubuh seorang raksasa terbujur di pantai!

Dan ketika dia berlari cepat tiba di tempat itu, dia terbelalak memandang kepada jenazah seorang wanita raksasa yang bukan lain adalah Liyani!

"Liyani......!"

Kwan Cu cepat melompat dan berlutut untuk memeriksa.

Tubuh yang sudah hampir telanjang itu ternyata telah tak bernapas lagi, mati seperti Malita dan Malika.

Dengan hati tidak karuan rasa, teringatlah Kwan Cu akan pengalamannya ketika dia berada di pulau raksasa.

Gadis raksasa ini suka kepadanya, dan sekarang, gadis yang baik hati ini telah tewas dalam keadaan yang amat memilukan hati.

"Liyani...... agaknya kau dan bangsamu juga musnah oleh amukan laut mengganas......!"

Kwan Cu segera memondong tubuh Liyani yang tinggi besar itu tanpa sukar, karena semenjak mempelajari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, tenaga pemuda ini sudah meningkat luar biasa sekali.

Lalu dia membawa pulang tiga jenazah itu dengan perahu ke pulaunya.

Ia menggali lubang dalam dan lebar, kemudian menurunkan tiga jenazah yang jauh sekali ukuran tubuhnya itu ke dalam lubang.

Sampai lama dia memandang kepada tiga mayat itu.

Ia melihat betapa keadaan Malita dan Malika masih cantik, pakaian mereka masih rapi dan rambut mereka masih tergelung indah.

Akan tetapi keadaan Liyani amat memilukan hati.

Hampir telanjang dan rambutnya terlepas, agaknya sudah lama ombak mempermainkannya sehingga dari pulau raksasa yang begitu jauh dia terdampar ke pulau bangsa katai.

Kwan Cu teringat akan tusuk konde yang dahulu dia terima dari Liyani, maka cepat dia berlari ke dalam guanya, mengambil tusuk konde itu dari buntalan pakaiannya dan kembali ke dalam lubang kuburan.

Dengan hati penuh belas kasihan, dia merapikan rambut Liyani digelungnya baik-baik dan sedapat-dapatnya lalu di pasangnya tusuk konde itu di rambut gadis raksasa ini.

Tiga orang gadis yang sudah menjadi mayat itu diletakkan telentang berjajar, Liyani di sebelah kiri.

Malita di tengah dan Malika di sebelah kanan.

Ketika dia hendak menutupi lubang itu dengan tanah, hatinya tidak tega, maka dia cepat mengumpulkan daun-daun putih yang rontok dan banyak sekali terdapat di pulau itu, dan dengan daun-daun ini dia menutupi tiga jenazah itu sampai tidak kelihatan lagi.

Setelah timbunan daun itu cukup tebal, barulah dia menutupnya dengan tanah sampai bergunduk tinggi dan di tanamnya sebatang pohon berdaun putih yang masih kecil di atas gundukan tanah kuburan ini.

Baiknya pulau berpohon putih itu tidak terbinasa oleh taufan dan ombak laut.

Kalau terjadi demikian, biarpun andaikata Kwan Cu dapat menyelamatkan diri, dia tentu akan kelaparan pula.

Namun ternyata bahwa semua binatang di pulau itu hanya mengalami kekagetan saja, dan mereka sempat menyembunyikan diri ke dalam gua-gua yang banyak terdapat di pulau itu.

Semenjak saat itu, Kwan Cu, lebih prihatin.

Kedukaan dan keharuan hatinya melihat dua bangsa manusia yang aneh sekali itu yakni bangsa raksasa dan bangsa katai, termusnah oleh kekuasaan alam, membuat dia makin yakin akan kekuasaan alam yang dalam sekejap mata dapat memusnahkan dua bangsa manusia.

Apakah daya manusia terhadap kekuasaan alam?

Kurang apakah kehebatan dan kekuatan bangsa raksasa itu?

Namun mereka tidak berdaya menghadapi bencana yang dilakukan olah alam maha kuasa.

Kurang bagaimana sederhana dan suci kehidupan bangsa katai itu?

Mereka jauh lebih mulia dan suci hidupnya apabila dibandingkan dengan manusia biasa, dan kalaupun mereka pernah membuat dosa, agaknya dosa itu tidak sebesar dosa yang biasa di lakukan oleh manusia seperti bangsa Kwan Cu, akan tetapi kalau alam menghendaki, bangsa yang suci ini pun dapat di musnahkan!

Kenyataan ini membuat Kwan Cu makin tunduk kepada kekuasaan alam yang berada dalam tangan Thian Yang Maha Kuasa dan Sakti.

Apalagi ketika dia makin tekun mempelajari ilmu dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, terbukalah matanya.

Kitab ini tidak saja mengajarkan ilmu silat-ilmu silat yang tinggi-tinggi, bahkan memberi pelajaran tentang pokok-pokok dasar semua ilmu silat dan pergerakan tubuh manusia dalam pertempuran, akan tetapi juga berisi filsafat-filsafat kebatinan yang amat tinggi.

Filsafat kebatinan ini condong kepada aliran Lo Cu yang menyatakan bahwa makin tinggi kepandaian seseorang makin terbukalah matanya bahwa semua yang di sebut "kepandaian"

Itu sebenarnya hanya kosong belaka!

Makin terbuka mata orang akan kekuasaan alam, makin terasalah olehnya betapa kecil tak berarti adanya dirinya, betapa menggelikan dan tiada harganya segala macam kepandaian yang dimiliki manusia!

Oleh karena itu, makin dalam pengetahuan Kwan Cu, makin lama dia mempelajari ilmu dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, makin sederhana jiwanya dan makin pendiam wataknya.

Ia merasa seakan-akan dia bukan sedang mempelajari ilmu kepandaian, melainkan mempelajari ilmu pengertian untuk menemukan diri sendiri dan untuk mengenal sifat-sifat manusia yang ada pada dirinya.

Tanpa disadarinya, dia telah mendapatkan ilmu yang amat tinggi, mendapatkan dasar-dasar dari segala pergerakan ilmu silat yang kesemuanya harus bersandarkan kepada tenaga Im dan Yang.

Namun dengan sadar dia kini melihat betapa semua pengetahuannya adalah kosong belaka dan membuat dia tidak berani menyombongkan kepandaian, karena segala kepandaian manusia dipelajari dari otak, sedangkan siapakah penggerak otak manusia?

Kalau Yang Maha Kuasa mencabut tenaga dan kegunaan otak, habislah semua yang dianggap oleh manusia sebagai "kepintaran"

Itu!

Bahkan lebih hebat lagi kalau Yang Maha Kuasa menghendaki napas yang keluar masuk tanpa disengaja oleh manusia, akan lenyaplah ujud yang disebut manusia!

Apakah mahluk yang begini lemah, yang mengandalkan hidup dan keadaannya dari pengaruh alam, patut menyombongkan diri dan menganggap diri sendiri pandai?

Menggelikan sekali!

Sang waktu lewat cepat sekali tanpa terasa oleh manusia.

Setiap lembar dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, dipelajari oleh Kwan Cu sedikitnya seminggu berikut prakteknya dan dua tahun kemudian, tamatlah buku ini di pelajarinya.

Itu pun baru merupakan setengah daripada kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, yakni bagian latihan tenaga lweekang dan bagian ilmu silat saja, karena ketika dia menamatkan bagian ilmu silat dan hendak mulai membuka lembaran atau bagian ilmu perang, ternyata bahwa bagian ini telah lengket menjadi satu dan kalau dipaksa dibuka, lembaran-lembaran itu akan hancur!

Di bagian paling bawah terdapat lembaran tentang ilmu pengobatan, juga halaman-halaman ini tidak dapat dibuka.

Namun, setelah menamatkan bagian ilmu silat, Kwan Cu sudah tiada nafsu lagi untuk mempelajari bagian lain.

Untuk apakah bagian segala pengetahuan tentang ilmu perang?

Ia benci akan perang yang hanya merupakan penyembelihan antara sesama manusia, lepas daripada persoalan yang menimbulkan perang itu sendiri.

Adapun tentang ilmu pengobatan, memang tadinya dia ada hasrat untuk mempelajarinya dan menjadi agak kecewa melihat bagian ini tidak mungkin dibaca.

Akan tetapi pengetahuannya yang mulai mendalam tentang garis-garis hidup membuat dia berpikir bahwa betapapun pandai seseorang mengobati orang sakit, kalau Thian tidak menghendaki, si sakit itu takkan tertolong juga!

Sembuh tidaknya seorang penderita penyakit memang tergantung dari pengobatan, hal ini dia percaya sepenuhnya.

Namun baginya, mati hidupnya seorang sama sekali bukan tergantung dari pengobatan.

Kalau Thian menghendaki nyawa seseorang, biarpun seribu orang dewa datang menolong, orang itu pasti akan mati juga!

Karena kini kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng sudah tak dapat dipergunakan lagi, yakni bagian depan setelah dia baca telah menjadi hancur dan robek-robek sedangkan bagian belakang telah lengket-lengket tak dapat dibuka, maka Kwan Cu lalu mengubur kitab itu berikut petinya, di dekat makam tiga orang gadis, yakni Liyani, Malita dan Malika.

Juga di atas "kuburan"

Kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng ini dia taruhi tanda batu karang besar.

Kemudian dengan telunjuknya dia mencoret-coret batu karang itu dan.......

Bukan main hebatnya, ternyata bahwa di atas batu karang yang keras itu telah terdapat tulisan tangan yang amat jelas.

Tulisan itu berbunyi seperti berikut.

"Teecu Lu Kwan Cu telah menerima petunjuk dan selamanya teecu akan mentaati semua pelajaran yang teecu terima serta bersumpah untuk mempergunakan segala pelajaran demi kebaikan dan perikemanusiaan."

Kurang lebih sebulan kemudian, nampak pemuda itu membawa buntalannya, menyeret sebuah perahu buatannya sendiri, menuju ke air laut yang tenang.

Ia meluncurkan perahu ke air, melompat ke dalam perahu dan memegang dayung, lalu mendayung perahu itu ke tengah samudera.

Tak lama kemudian, dia menghentikan gerakan tangannya yang mendayung perahu, menengok ke arah pulau itu.

Semua kelihatan jelas, bahkan pohon yang tumbuh di atas makam Liyani, Malita dan Malika kini sudah tinggi.

Juga batu karang yang ditulisinya itu kelihatan dari perahunya.

Segala pengalaman selama tiga tahun di atas pulau itu terbayanglah.

Basah kedua mata Kwan Cu dan dia cepat menyusutkan dengan ujung lengan bajunya yang sudah kumal.

Kemudian dia menarik napas panjang dan mendayung perahunya lagi.

Tak lama kemudian, dia memasangkan layar yang dibuatnya dari pakaiannya yang di sambung-sambung, dan meluncurlah perahu itu cepat sekali menuju ke utara, ke daratan tanah Tiongkok.

Tak seorang pun di daratan Tiongkok tahu bahwa pada saat itu, seorang pemuda yang telah mewarisi kepandaian luar biasa dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, seorang pendekar yang sakti, sedang menuju ke daratan Tiongkok, dan akan terjadilah sejarah baru dalam dunia kang-ouw!

*** Sebaliknya, Kwan Cu yang kini sudah berusia dua puluhan itu sama sekali tidak tahu bahwa selama dia pergi, yakni kurang lebih empat tahun dari daratan Tiongkok, di Tiongkok telah terjadi perubahan besar sekali.

Telah terjadi hal-hal yang amat hebat!

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, pada masa itu, Kaisar Kerajaan Tang adalah Kaisar Hian Tiong yang terkenal sebagai seorang yang amat doyan pelesir, mencari kesenangan dan hiburan bagi diri sendiri belaka, sama sekali tidak mempedulikan pemerintahannya, apalagi keadaan rakyatnya.

Oleh karena itu, secara sembrono sekali kaisar ini mengangkat An Lu Shan sebagai panglima besar di utara, dan sama sekali dia tidak menaruh dugaan atau kecurigaan terhadap An Lu Shan.

Bahkan sampai pada saat An Lu Shan telah membentuk pasukan yang besar dan mempunyai niat memberontak, kaisar ini masih enak-enak saja berpelesiran di istananya yang indah, dikelilingi oleh selir-selirnya yang banyak jumlahnya dan yang rata-rata amat cantik jelita dan muda-muda!

Bukan sampai di situ saja kelalaian Kaisar Hian Tiong.

Bahkan ketika An Lu Shan mulai menggerakkan tentaranya ke selatan, kaisar ini masih tinggal enak-enakan saja di dalam istananya.

"Bentuk pasukan, hancurkan pemberontakan bodoh itu, apa sih sukarnya?"

Katanya acuh tak acuh, seakan-akan yang dihadapinya hanya persoalan kecil belaka.

Para menteri yang jujur dan setia tergopoh-gopoh menghadap kaisar untuk memperingatkan junjungan ini daripada mabuk dan mimpinya, akan tetapi kaisar tetap tinggal enak-enak, bahkan mencaci para menteri itu sebagai pengecut-pengecut besar!

Menteri Lu Pin yang dianggap menteri tertua yang paling setia dan disegani oleh kaisar, lalu didatangi oleh para menteri dengan desakan agar Menteri Lu Pin suka memberi peringatan kepada kaisar.

Menteri Lu Pin lalu menghadap kaisar dan diterima oleh Kaisar Hian Tiong dengan ucapan menyindir.

"Apakah kau yang terkenal sebagai menteri jujur, setia dan keturunan panglima gagah perkasa, juga berhati pengecut seperti mereka itu dan hendak menakut-nakuti aku?"

Merahlah wajah Lu Pin mendengar sabda kaisar ini. Ia memberi hormat dengan berlutut sambil berkata.

"Harap Sri Baginda sadar dari keadaan Sri Baginda yang tidak sewajarnya ini. Sesungguhnya para perdana menteri dan panglima itu memberi nasihat amat baik kepada Paduka. Demikianpun hamba datang menghadap ini bukan karena hamba berhati pengecut, melainkan karena hamba melihat datangnya bahaya besar yang mengancam keselamatan negara kita. Sadarlah Paduka dari mimpi, keadaan kita benar-benar terancam bahaya besar dan tentara An Lu Shan si pemberontak jahat itu telah menyerang makin jauh ke selatan."

Marah sekali Kaisar Hian Tiong mendengar ini. Ia menggebrak meja dan menudingkan jari tangannya ke arah pintu.

"Pergi! Pergilah! Hendak kulihat sampai di mana kebisaan An Lu Shan! Mustahil kalau para barisan penjaga kita dapat dia bobolkan!"

Dengan hati terpukul, Menteri Lu Pin keluar dari ruangan itu dan menuturkan kepada para menteri lainnya atas kegagalannya dengan suara penuh kekecewaan dan kedukaan.

Tidak senanglah hati para menteri itu ketika mendengar bahwa kaisar tetap saja tenggelam dalam mimpi buruk.

Keadaan sudah amat berbahaya dan kalau para pemberontak sampai berhasil memasuki kota raja, tentu mereka sekeluarga sekarang takkan selamat pula.

Hal ini yang melemahkan semangat mereka.

Ketika para mata-mata An Lu Shan datang menghubungi mereka, sebagian besar para menteri ini lalu menerima uluran tangan para pemberontak.

Demi keselamatan seluruh keluarga dan harta benda serta kedudukan mereka, para menteri ini tidak segan-segan untuk berkhianat dan memihak pemberontak.

Diam-diam mereka memberi kesanggupan kepada An Lu Shan bahwa apabila tentara pemberontak itu memasuki kota raja, mereka diam-diam akan mengadakan bantuan dari dalam agar pembobolan benteng kota raja dipermudah!

Menteri Lu Pin dapat membuka rahasia mereka ini.

Dengan hati amat berang, menteri yang setia ini lalu menghadap kaisar dan membeberkan semua rahasia para menteri yang berkhianat.

Marahlah kaisar dan baru kaisar sadar akan keadaan yang memang amat berbahaya.

Segera dia memeritahkan pasukan pengawal untuk menangkap-nangkapi para menteri dorna itu dan menghukum penggal kepala sekeluarga mereka!

Setelah melakukan hal ini, kaisar lalu menggerakkan barisan untuk mempertahankan kerajaan.

Akan tetapi, hal ini benar-benar merupakan pengobatan yang amat terlambat bagi penyakit yang berat.

Dengan di hukumnya para menteri, keadaan menjadi makin kalut dan lemah.

Kalau saja Kaisar Hian Tiong dari dahulu sadar pada waktu para menteri itu belum memiliki hati khianat, agaknya keadaan masih dapat diharapkan akan tertolong.

Terlambatlah semua usaha kaisar ini.

Barisan pemberontak An Lu Shan telah menerobos dan memasuki kota raja!

Pertahanan kaisar hancur luluh!

Dalam kekacuan yang menghebat ini, Menteri Lu Pin menjadi tujuan pertama dari An Lu Shan.

Tentu saja An Lu Shan telah mendengar bahwa Menteri Lu Pin yang menggagalkan rencananya menghubungi para menteri, dan bahwa Menteri Lu Pin yang membuka rahasia para menteri pengikutnya sehingga para menteri dorna itu sekeluarga di jatuhi hukuman mati oleh kaisar.

Maka begitu memasuki kota raja, An Lu Shan memerintahkan semua anak buahnya untuk pertama-tama mencari Menteri Lu Pin dan membunuh serta membasmi seluruh keluarganya!

Akan tetapi, atas desakan keluarganya, Manteri Lu Pin siang-siang telah melarikan diri, mengungsi dikawal oleh pasukan panglima yang setia.

Diam-diam Menteri Lu Pin mengumpulkan harta benda sepeti besar dari istana, bukan dengan niat hendak mempergunakan harta benda itu untuk dirinya sendiri, melainkan dia bercita-cita besar hendak melarikan harta benda itu agar jangan terjatuh ke dalam tangan pemberontak serta kelak dapat dia pergunakan untuk membiayai pasukan yang akan dipimpinnya untuk memukul mundur para pemberontak itu!

Kota raja diduduki, dan sungguh malang nasib keluarga Menteri Lu pin.

Semua keluarga, dari yang tua sampai anak bayi, dikumpulkan dan dibakar hidup-hidup oleh An Lu Shan!

Bahkan Lu Seng Hok, puteri Lu Pin atau ayah dari Lu Thong sekeluarganya juga dibasmi dalam pembersihan ini, tidak terkecuali para bujang pelayan!

Hanya Lu Thong seorang yang dibawa pergi Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, yakni gurunya, yang tidak ikut jadi korban.

Lu Pin mendengar tentang berita ini dan di sepanjang jalan, kakek ini menangis keras, bukan semata menyedihi kebinasaan seluruh keluarganya.

Kakek ini memang berjiwa patriot dan amat setia kepada pemerintah, maka sambil menangis dan dia bersembahyang dan bersumpah bahwa dia akan menuntut balas kepada pemberontak An Lu Shan!

Melihat kesetiaan ini, tiga orang panglima besar yang mengawalnya bersama pasukan kecil, ikut pula menangis.

Akan tetapi, An Lu Shan ternyata bukan orang bodoh dan sebentar saja dia telah mendengar kemana larinya Menteri Lu Pin yang dibencinya itu.

Segera dia mengirim pasukan besar untuk melakukan pengejaran kepada Lu Pin dan rombongannya!

Tiga hari kemudian, benar saja pasukan gerak cepat ini berhasil menyusul rombongan Menteri Lu Pin.

Pertempuran hebat terjadilah.

Pasukan pengawal Menteri Lu Pin melakukan perlawanan mati-matian, namun jumlah pasukan pengejar jauh lebih besar sehingga banyak di antara mereka roboh.

Akhirnya hanya tiga orang panglima besar itu saja yang masih sempat menggendong Menteri Lu Pin dan membawa peti harta dan melarikan diri.

Namun tentu saja para pengejar yang sudah mendengar bahwa menteri tua itu membawa sepeti harta benda yang tak ternilai harganya, melakukan pengejaran cepat sekali.

Tiga orang panglima ini memiliki kepandaian tinggi, maka mereka berhasil membawa pergi Menteri Lu Pin.

Namun, kalau mereka sampai tersusul, menghadapi pengeroyokan yang demikian banyaknya, mana mereka mampu mempertahankan diri?

Sehari semalam mereka telah melarikan diri, terus dikejar oleh barisan pemberontak.

Akhirnya, pada esok paginya, ketika mereka tiba di daerah pegunungan yang amat liar, kuda-kuda yang ditunggangi oleh tiga orang panglima yang membawa lari Menteri Lu Pin, roboh dan tewas saking lelahnya.

Padahal para pengejar sudah dekat dan suara teriakan mereka telah terdengar riuh rendah.

"Kita terpaksa melawan mati-matian!"

Berkata tiga orang panglima yang gagah berani itu. Menteri Lu Pin mengalirkan air mata.

"Sudah terlalu banyak orang menjadi korban karena aku seorang, padahal bukan maksudku untuk menyelamatkan badan yang sudah tua dan tidak berharga ini. Sam-wi Ciangkun (Tiga Panglima), harap Sam-wi membawa pergi harta ini dan usahakanlah agar supaya dapat dibentuk pasukan baru guna menumpas penjahat An Lu Shan dan membalaskan sakit hati kerajaan kita. Biarkan aku mereka tangkap, aku tidak takut mati."

Namun tiga orang panglima itu menolak.

"Harta benda ini tiada artinya bagi kami bertiga. Tanpa adanya Taijin yang bijaksana untuk mengatur, bagaimana dapat dibentuk pasukan besar? Tidak, Taijin, kalau sudah semestinya kita mati, biarlah kita mati bersama di tempat ini! Namun kami berjanji bahwa penjahat-penjahat itu takkan mudah begitu saja untuk merenggut nyawa kita!"

Sambil berkata demikian, tiga orang panglima itu mencabut golok besar mereka dan menanti dengan penuh semangat.

Maka datanglah para pengejar itu dan mereka menyerbu bagaikan taufan mengamuk!

Tiga orang panglima perang itu menjaga Menteri Lu Pin yang berdiri di tengah-tengah.

Mereka merupakan benteng segitiga yang amat kuat dan para pemberontak yang terdekat, segera terjungkal mandi darah terlanggar golok mereka yang tajam dan kuat.

Hebat sekali perang tanding yang tidak seimbang ini.

Datangnya pemberontak seperti semut dan tak lama kemudian, tiga orang panglima itu sudah lelah sekali.

Mereka mulai menerima bacokan yang mendatangkan luka, namun mereka tetap mengamuk bagaikan banteng-banteng terluka!

Pada saat yang amat berbahaya bagi Menteri Lu Pin dan tiga orang pengawalnya, tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan kaget dan kacau-balaulah kepungan para pemberontak.

Tak lama kemudian, nampaklah tubuh para pemberontak terpental dan terlempar ke sana ke mari, seakan-akan ada seorang raksasa kuat yang menangkap-nangkapi dan melempar-lemparkan tubuh mereka.

Ketika Menteri Lu Pin memandang, dia menjadi amat terharu melihat bahwa yang mengamuk dan memaki-maki para pemberontak itu bukan lain adalah Lu Sin atau Ang-bin Sin-kai kakaknya sendiri!

"Anjing-anjing pemberontak yang busuk!

Kalian berani menganggu adikku yang tercinta?"

Berkali-kali Ang-bin Sin-kai memaki dan setiap kali tangannya diulur, tentu dua tiga orang pemberontak ditangkapnya dan dilemparkannya sampai jauh.

Adapula yang ditendang bagaikan seorang menendang bal karet saja.

Tubuh para pemberontak terapung dan jatuh dengan kepala pecah atau tulang patah.

Keadaan amat kacau-balau dan para pemberontak menjadi gentar dan ngeri melihat sepak terjang Ang-bin Sin-kai yang saat itu kelihatan amat menyeramkan.

Kakek pengemis itu yang biasanya bermuka merah, kini menjadi makin merah mukanya, kedua matanya bersinar-sinar, rambutnya terurai dan jenggotnya melambai-lambai dalam gerakannya yang kuat dan cepat, pakaiannya robek sana-sini.

Dua orang perwira pemberontak ketika melihat kakek pengemis ini, menjadi amat penasaran.

Kakek pengemis itu kurus dan tua, bertangan kosong pula, masa tidak dapat merobohkannya?

Mereka melompat turun dari atas kuda dan dengan pedang di tangan, kedua orang perwira itu menyerang Ang-bin Sin-kai yang masih saja mengamuk dan melempar-lemparkan para pemberontak yang berada di hadapannya.

Ketika dua pedang dari kanan kiri itu menyambar dekat, tiba-tiba dia membuat gerakan seperti seekor burung garuda hendak terbang kedua lengannya di pentang ke kanan kiri dan sungguh hebat, tahu-tahu dia telah dapat mencekik batang leher kedua perwira pemberontak itu, dan pedang mereka terpental ketika beradu dengan jari-jari tangan kakek ini.

Ang-bin Sin-kai maklum bahwa untuk mengundurkan para pemberontak, dia harus menjatuhkan pimpinan mereka, maka ketika dia melihat bahwa yang terpegang oleh kedua tangannya adalah perwira-perwira pemberontak, tanpa ragu-ragu lagi dia lalu membenturkan kepala mereka satu kepada yang lain!

Terdengar suara keras dan Ang-bin Sin-kai melemparkan kedua tubuh perwira pemberontak yang kepalanya sudah pecah itu ke atas sampai tinggi.

"Lihat pemimpin-pemimpinmu ini, hai anjing-anjing pemberontak! Siapa berani mati hendak mengukur tenaga dengan Ang-bin Sin-kai, boleh lekas maju!"

Suara ini dikeluarkan dengan keras dan menyeramkan.

Tentu saja para pemberontak menjadi makin ketakutan ketika melihat bahwa dua orang pimpinan mereka sudah tewas.

Apalagi ketika mereka mendengar nama Ang-bin Sin-kai yang sudah amat terkenal, tanpa pikir panjang lagi mereka lalu melarikan diri.

Suara derap kaki kuda menjauh dan tak lama kemudian tempat itu menjadi sunyi, kecuali suara keluhan para anggauta pemberontak yang tergeletak di sana-sini.

Tiga orang panglima pengawal Menteri Lu Pin menjadi kagum sekali, mereka lalu memandang kepada Ang-bin Sin-kai dan menjura sebagai tanda terima kasih.

Namun Ang-bin Sin-kai tidak memperhatikan mereka, melainkan datang mengehampiri Menteri Lu Pin dan tersenyum pahit dan berkata.

"Inilah jadinya kalau kau membantu kaisar lalim!"

Menteri Lu Pin sejak tadi telah basah matanya, mendengar ucapan ini, dia mengedikkan kepala dan berkata keras.

"Twako, aku bukan berjuang untuk kaisar, melainkan untuk tanah air dan bangsa! An Lu Shan telah berkhianat dan merusak negara, semua bukan semata kesalahan kaisar, namun para petugas juga mempunyai bagian dalam kesalahan itu. Aku bersumpah hendak membalas dendam kepada An Lu Shan, aku sengaja pergi membawa harta benda di dalam peti ini untuk membentuk pasukan baru agar dapat mengusir penjajah khianat itu dari kota raja!"

"Adik Pin, suaramu seperti harimau ompong tak berkuku yang meraung-raung! Kau yang begini lemah bagaimana bisa mengusir An Lu Shan dengan pasukannya yang dibantu oleh orang-orang pandai?"

Kata Ang-bin Sin-kai.

"Kita sama lihat saja nanti!"

Jawab Menteri Lu Pin gagah.

"Biarpun aku seorang lemah, seorang seniman bodoh, namun semangatku masih, Sin-ko. Soal orang-orang pandai, ada kau di sini, takut apakah?"

Melihat sikap adiknya, Ang-bin Sin-kai menjadi terharu sekali.

"Orang bodoh, kau kira aku tidak tahu akan semua yang terjadi? Aku amat kagum kepadamu, Adikku. Kau patut menjadi teladan semua pembesar dan pemimpin rakyat. Kau tidak tahu bahwa semenjak kau keluar dari kota raa, aku selalu mengikuti kau secara diam-diam. Aku telah mendengar pula tentang nasib keluargamu. Ah, adikku yang gagah, kau menderita demikian hebat akan tetapi masih bersemangat membela negara, sungguh aku pengemis hina-dina merasa bangga dan juga malu kepada diri sendiri."

"Sin-ko, jangan kau berkata begitu......."

Menteri Lu Pin mencucurkan air mata saking terharunya.

Ia menghampiri kakek pengemis itu dan kedua orang kakak beradik ini berpelukan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

Dari kedua mata Ang-bin Sin-kai berlinang dua butir air mata.

Inilah adik kandungnya, menteri setia yang berjiwa patriot aseli!

Dan adiknya ini padahal seorang lemah yang tidak mengerti ilmu silat!

Sedangkan dia, seorang yang semenjak kecil mempelajari kepandaian silat, tidak mengacuhkan sama sekali tentang keselamatan tanah air!

Pada saat berpelukan dengan Menteri Lu Pin, terbangunlah semangat dalam dada Ang-bin Sin-kai.

Tak patut dia disebut seorang gagah apabila dia tidak dapat berbuat seperti adiknya ini, tidak dapat mengorbankan diri untuk rakyat dan negara.

Ia tahu bahwa An Lu Shan mendapat bantuan dari orang-orang pandai, di antaranya Hek-i Hui-mo sendiri menjadi sekutu An Lu Shan.

Siapakah akan dapat menghadapi mereka kalau tokoh-tokoh seperti dia tidak mau turun tangan?

"Adik Pin, kau betul.

Harta ini harus kau simpan baik-baik dan dengan diam-diam kau dapat mengerahkan kesatuan yang kuat, atau setidaknya dengan harta ini kau dapat membantu pengerahan para pasukan rakyat gerilya.

Aku tahu sebuah tempat persembunyian yang amat baik, Adikku.

Pergilah ke timur, di sebelah bukit ini terdapat pegunungan dan setelah kau menyebrangi sungai kecil, kau akan melihat hutan pohon pek dan di sebelah selatan hutan itulah terdapat sebuah gua besar yang penuh dengan tulang-tulang binatang purbakala yang besar-besar.

Gua itu lebar sekali, aku telah mempergunakannya sebagai tempat bertapa.

Kaubawalah harta ini dan kau bersembunyilah di gua itu.

Gua itu tertutup oleh serumpun pohon bunga cilan yang lebat sekali, takkan terlihat dari luar.

Aku sendiri akan segera ke kota raja dan akan kuhajar An Lu Shan dan kaki tangannya.

Selamat berpisah adikku!"

Bukan main girangnya hati Menteri Lu Pin mendengar ini.

Memang dia amat kecewa melihat kakaknya yang sakti ini di kala terjadi perang, tidak muncul sama sekali.

Memang mereka sekeluarga adalah keturunan patriot ternama, sudah selayaknya kalau kakaknya pun bersikap sebagai seorang pahlawan bangsa.

"Terima kasih, Sin-ko. Semoga perjuanganmu berhasil,"

Jawabnya.

Dua orang kakak beradik ini kembali berpelukan, disaksikan oleh tiga orang panglima yang memandang dengan penuh penghormatan dan kekaguman.

Mereka menjadi saksi dari pertemuan dua orang kakak beradik yang berjiwa gagah, namun yang keadaannya amat berlainan, seorang kakek pengemis dan seorang menteri setia, namun keduanya gagah perkasa dalam bidang masing-masing.

Mereka lalu berpisah dan tiga orang panglima itu melanjutkan kawalan mereka terhadap Menteri Lu Pin, menuju ke tempat yang ditunjuk oleh Ang-bin Sin-kai.

Benar saja seperti petunjuk dari Ang-bin Sin-kai, mereka mendapatkan gua besar itu yang amat lebar dan di situ penuh dengan tulang-tulang besar putih dan kuat.

Selain ini juga di sebelah ruangan kecil di dalam gua itu mereka mendaparkan sebuah hiolouw (tempat hio atau tempat abu hio) yang amat besar dan kuno.

Hiolouw ini biasanya dipergunakan oleh Ang-bin Sin-kai untuk membakar dupa dan akar-akar untuk mengusir hawa busuk dari dalam gua.

Melihat tulang-tulang berserakan itu, Menteri Lu Pin tertarik sekali hatinya.

Dia adalah seorang ahli ukir yang kenamaan dan pandai, melihat tulang-tulang ini dia merasa tertarik dan gembira.

Tulang-tulang itu merupakan bahan untuk diukir yang baik sekali.

Setelah membereskan dan membersihkan tempat itu, Menteri Lu Pin lalu menyuruh tiga orang panglima pengawalnya untuk mulai menghubungi para pejuang rakyat.

Mereka ditugaskan untuk memperkuat pasukan-pasukan rakyat yang melakukan perlawanan terhadap pemberontak An Lu Shan.

Mereka disuruh membawa sebagian daripada harta istana itu untuk membiayai dan membantu pergerakan rakyat dan sewaktu-waktu datang ke gua itu memberi laporan.

Adapun Menteri Lu Pin yang hidup seorang diri di dalam gua, mendapatkan makanan dari buah-buahan yang tumbuh di sekitar tempat itu, dan di dalam waktu senggang, dia mulai membuat ukir-ukiran pada tulang-tulang besar tadi.

Menteri Lu Pin tinggal sampai bertahun-tahun di situ dan dia telah menciptakan ukir-ukiran berupa tengkorak-tengkorak manusia yang luar biasa besarnya, semuanya dibuatnya daripada tulang-tulang itu sehingga tengkorak-tengkorak atau rangka-rangka manusia raksasa itu seperti tulen, terbuat daripada tulang-tulang!

Ia mengatur dan menyambung-nyambung tulang-tulang ini, didirikan di sepanjang terowongan gua, berjajar seperti barisan raksasa yang menjaga gua, namun raksasa yang sudah menjadi rangka yang amat menyeramkan!

Memang, Menteri Lu Pin membuat ini bukan saja untuk menimbulkan daya khayalnya menjadi kenyataan, akan tetapi juga dengan maksud agar para penjahat yang iseng-iseng dan kebetulan masuk ke situ, akan menjadi ketakutan dan mundur kembali setelah melihat rangka-rangka raksasa yang benar-benar menyeramkan sekali itu.

Adapun Ang-bin Sin-kai setelah berpisah dari Menteri Lu Pin, segera menuju ke kota raja dengan hati panas sekali.

Dari orang-orang kang-ouw dia sudah mendengar bahwa tidak saja An Lu Shan memiliki barisan yang berjumlah besar dan terlatih baik sekali serta memiliki ilmu perang yang luar biasa, juga pemberontak ini dibantu oleh orang-orang pandai.

Ia sudah mendengar siapa-siapa yang membantu para pemberontak itu, yaitu yang sudah dia kenal adalah Hek-i Hui-mo Thian Seng Hwesio, pendekar gundul yang berjubah dan berkulit hitam dari Tibet yang lihai itu.

Ke dua, Pek-eng Sianjin ketua dari Kun-lun Ngo-eng yang pernah dia hajar di puncak Kun-lun-san.

Ketiga, Toat-beng Hui-houw siluman tua berkuku panjang yang lihai, yang pernah pula dia hajar ketika dia berada di dapur istana kaisar.

Dan yang membuat hati Ang-bin Sin-kai merasa sakit dan penasaran adalah ketika dia mendengar bahwa di samping tokoh-tokoh itu dan lain-lain ahli silat ternama, juga Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu terpikat oleh bujukan An Lu Shan dan membantu pemberontak itu menggulingkan kedudukan Kaisar Hian Tiong!

Tadinya sebelum dia bertemu dengan Menteri Lu Pin, mendengar semua berita ini dia hanya tersenyum.

"Tua bangka-tua bangka itu sudah gila rupanya sudi mengikat diri dengan urusan perang, urusan yang paling busuk di antara semua urusan keduniaan,"

Pikirnya.

Akan tetapi kini setelah dia bertemu dengan adiknya itu, pandangannya berubah.

Ia menjadi marah sekali ketika matanya terbuka betapa orang-orang itu, terutama sekali Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, seakan-akan membantu pemberontak untuk menindas rakyat jelata.

Apalagi ketika dia mendengar di sepanjang jalan, betapa kejam perlakuan para anggauta pemberontak terhadap rakyat, hatinya menjadi makin panas.

Kemarahan hati kakek sakti ini memuncak ketika tiba di kota raja, dia mendengar berita bahwa sebelumnya, semenjak kota raja diduduki oleh An Lu Shan, berturut-turut datang beberapa tokoh kang-ouw untuk menyerang An Lu Shan.

Ia mendengar bahwa Pak-lo-sian Siangkoan Hai sudah datang menyerbu istana, akan tetapi kakek sakti dari utara ini terpaksa melarikan diri karena tidak kuat menghadapi keroyokan Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu yang di bantu oleh Hek-i Hui-mo dan tokoh-tokoh lain!

Juga Kiu-bwe Coa-li wanita sakti yang ganas itu sudah datang dengan maksud memberi hajaran kepada mereka, namun wanita sakti ini bahkan terluka dan terpaksa mundur pula.

Kalau dua orang sakti ini hanya terluka dan dapat melarikan diri, adalah beberapa orang tokoh kang-ouw lainnya tewas dalam usaha mereka membalaskan sakit hati rakyat ini.

Yang tewas adalah Pouw Hong Taisu ketua Thian-san-pai bersama beberapa orang muridnya, tiga tokoh Kun-lun-pai yakni Seng Te Taisu, Seng Jin Taisu dan Seng Giok Siansu, dan masih banyak pula tokoh-tokoh besar yang telah mengorbankan nyawa dalam perjuangan itu.

"Terkutuk!"

Ang-bin Sin-kai mengerutkan keningnya.

"Biadab benar An Lu Shan dan kaki tangannya!"

Dengan amarah meluap-luap, begitu tiba di kota raja, Ang-bin Sin-kai langsung menyerbu ke istana dan di dalam isatana, setelah merobohkan para penjaga yang hendak mencegah masuk, dia berseru keras sekali.

"Anjing pemberontak An Lu Shan, keluarlah untuk terima binasa!"

Tentu saja keadaan menjadi gempar sekali di halaman istana itu.

Para penjaga dan pengawal menyerbu dari luar dan dalam istana, dan sebentar saja Ang-bin Sin-kai dikeroyok sedikitnya seratus orang penjaga!

Namun pada saat itu, Ang-bin Sin-kai sedang marah luar biasa, maka para penjaga ini seakan-akan nyamuk-nyamuk yang melawan api pelita.

Siapa saja yang menyerbu dekat, tentu roboh tak bernyawa pula oleh pukulan, tamparan atau tendangan kaki Ang-bin Sin-kai.

Dalam kemarahannya, setiap gerakan kaki tangan kakek ini merupakan tangan maut yang menjangkau nyawa lawan.

Suara hiruk-pikuk, suara senjata terlempar dan orang memekik, memenuhi halaman istana itu, gaduh bukan main.

Mayat-mayat para penjaga sudah malang melintang dan bertumpuk-tumpuk memenuhi tempat itu, karena dalam waktu cepat sekali Ang-bin Sin-kai sudah menewaskan sedikitnya tiga puluh orang penjaga!

Sambil mengamuk, Ang-bin Sin-kai tetap berseru-seru keras.

"Pengecut An Lu Shan, anjing pemberontak tak kenal budi, keluarlah untuk terima hukuman!"

Tiba-tiba terdengar bentakan keras sekali kepada para penjaga.

"Mundur semua!"

Mendengar bentakan ini, para penjaga lalu mengundurkan diri dan menarik mayat-mayat kawan yang bergeletakan di situ.

Ang-bin Sin-kai memandang dengan mata merah dan dia melihat Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu muncul dari pintu samping istana, diikuti oleh Hek-i Hui-mo, Toat-beng Hui-houw, Pek-eng Sianjin dan banyak orang kang-ouw ternama lagi.

Jeng-kin-jiu yang bertubuh bundar gendut tertawa bergelak lalu berkata.

"Ha, ha, ha, kukira siapa, tidak tahunya sahabat baikku setan tua dari timur yang datang main-main di sini dengan para penjaga! Ah, Ang-bin Sin-kai, sahabat baik, apakah kau terlalu banyak minum arak sehingga jadi mabuk dan membunuh orang banyak seperti membunuh semut saja?"

Hubungan antara dua orang tokoh besar ini biasanya erat dan mereka sudah biasa bicara mian-main tanpa banyak peraturan.

Biasanya Ang-bin Sin-kai menghadapi kelakar si gendut itu dengan gembira.

Akan tetapi kali ini dengan mata terbelalak penuh kebencian dia membentak.

"Jeng-kin-jiu, kau tahu bahwa aku Ang-bin Sin-kai tidak sudi mempunyai sahabat anjing-anjing penjilat! Aku tidak mempunyai sahabat anjing penjilat pemberontak seperti An Lu Shan seperti engkau!"

Kembali Jeng-kin-jiu tertawa bergelak.

Sudah biasa dia menerima makian-makian dari Ang-bin Sin-kai, maka kata-kata yang pedas itu tidak membuat dia marah.

Akan tetapi Hek-i Hui-mo yang memang mempunyai rasa benci terhadap Ang-bin Sin-kai, menjadi marah sekali.

"Pengemis busuk, kau mempunyai kepandaian apakah berani bersikap sombong di hadapanku?"

Setelah berkata demikian dia melangkah maju dan mengayun lengan kanan memukul ke arah kepala Ang-bin Sin-kai.

Pukulan ini kelihatannya seperti pukulan orang biasa saja, akan tetapi sebetulnya pukulan ini mengandung tenaga lweekang yang akan dapat menghancurkan batu karang, apalagi kepala manusia!

Melihat ini, Ang-bin Sin-kai mengerahkan tenaga dan menggunakan lengannya menyampok pukulan itu sambil berseru.

"Aku tidak ada urusan dengan kau!"

Dua batang lengan tangan yang sama kuatnya bertemu, mengeluarkan suara "duk!"

Dan keduanya terhuyung mundur empat langkah! Ternyata bahwa keduanya mempunyai tenaga berimbang.

"Nanti dulu, Hek-i bengyu,"

Kata Jeng-kin-jiu mencegah Hek-i Hui-mo menyerang terus.

"Biar kita dengar dulu maksud kedatangan Ang-bin Sin-kai."

Kemudian setelah hwesio hitam yang bertubuh bulat seperti dia sendiri itu mundur dengan marah Jeng-kin-jiu lalu menghadapi Ang-bin Sin-kai dan berkata dengan suara sungguh-sungguh.

"Sahabatku yang baik, agaknya kau telah mabuk arak murah sehingga dalam mabukmu kau marah-marah. Jangan kau membolak-balikkan kenyataan, Sahabat. An Lu Shan bukanlah pengkhianat, demikianpun kami bukan penjilat-penjilat. Kau sudah tahu bahwa Kaisar Hian Tiong adalah seorang kaisar lalim yang tidak mempedulikan kesengsaraan rakyat yang hidup untuk kesenangan diri sendiri. Perjuangannya suci dan kami tentu saja membantunya. Apakah kau hendak membela kaisar lalim itu demi mengingat adik kandungmu yang menjadi menteri?"

"Jangan mengeluarkan omongan berbau busuk!"

Ang-bin Sin-kai membanting-banting kaki.

"Matamu sudah buta atau telingamu sudah tuli, siapa orangnya tidak mendengar tentang kebusukan An Lu Shan dan anak buahnya?"

Jeng-kin-jiu menjadi habis sabar dan mulai kurang senyumnya.

"Ang-bin Sin-kai, habis apa yang kau kehendaki?"

Tantangnya.

"Pertama-tama, keluarkan cucuku Lu Thong agar dia jangan terseret ke dalam jurang kehinaan dan mencemarkan nama keluargaku. Ke dua, suruh An Lu Shan keluar untuk menerima hukuman di tanganku!"

Terdengar seruan-seruan marah di antara kawan-kawan Jeng-kin-jiu, akan tetapi si gendut ini memberi isyarat dengan tangan menyabarkan kawan-kawannya.

Kemudian dia tertawa bergelak menghadapi Ang-bin Sin-kai yang sudah marah sekali.

"Ang-bin Sin-kai, kalau kita bicara tentang buta dan tuli, kaulah orangnya. An Lu Shan adalah seorang pahlawan gagah perkasa yang dapat menghargai orang-orang gagah. Kau lihat saja betapa adikmu Lu Pin itu telah mengkhianati rencana baik, telah mengkhianati banyak menteri sehingga mereka dihukum sekeluarga mereka olah Kaisar Hian Tiong yang lalim! Sudah sepatutnya kalau Lu Pin sekeluarganya dihukum mampus. Akan tetapi apa yang dilakukan oleh An-ciangkun terhadap muridku Lu Thong? Biarpun dia adalah cucu dalam dari Lu Pin, namun melihat kegagahannya, terutama memandang mukaku, muridku itu tidak saja diampuni, bahkan dianugerahi pangkat dan kedudukan! Berkat kebijaksanaan An-ciangkun, cucumu Lu Thong itu telah menjadi seorang yang dimuliakan dan sekarang kau datang untuk menghina An-ciangkun? Sungguh buta dan tuli, dimana keadilan dan kebijaksanaanmu?"

Mendengar berita ini, bukan luluh kemarahan Ang-bin Sin-kai, bahkan bagaikan api yang disiram minyak, berkobar makin hebat.

Dua kali dia membanting kakinya dan tanah di sekitarnya sejauh lima kaki tergetar oleh tenaga bantingan kaki ini!

"Bangsat kau, Kak Thong Taisu!

Kau telah menyeretnya menjadi anjing penjilat pemberontak An Lu Shan pula?

Kalau begitu, sebelum menghancurkan An Lu Shan, kepalamu harus kupecahkan lebih dulu!"

Setelah berkata demikian, dia menubruk maju dan melakukan serangan hebat.

"Sombong dan gila!"

Seru Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu sambil menangkis.

Segera dua orang kakek yang sudah pernah bertempur mati-matian dengan keadaan seimbang itu kini mulai bertempur lagi mati-matian.

Bukan main hebatnya pertempuran ini yang biarpun dilakukan dengan tangan kosong, namun sekali saja pukulan mengenai tubuh lawan, berarti merenggut nyawanya.

Hek-i Hui-mo tidak mau tinggal diam.

Ia menggerakkan sepasang senjatanya, yakni tasbih di tangan kiri dan Liong-touw-tung di tangan kanan, menyerang Ang-bin Sin-kai dengan gemas.

Kepandaian Hek-i Hui-mo semenjak dia berhasil mendapatkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng palsu, telah meningkat hebat sekali.

Maka serangan-serangannya juga membuat Ang-bin Sin-kai terkejut karena serangan ini benar-benar jauh lebih berbahaya daripada gerakan-gerakan hwesio ini pada waktu dahulu, bahkan masih lebih lihai daripada serangan yang dilancarkan Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu!

Akan tetapi, dia bukanlah tokoh besar dari timur kalau gentar menghadapi keroyokan dua orang ahli silat yang kepandaiannya berimbang dengan tingkat kepandaiannya sendiri itu.

Dengan gerakan cepat amat lincah, mengandalkan ginkangnya yang tinggi, dia menghindarkan diri dari serangan-serangan itu dan masih sempat membalas tak kalah hebatnya.

Pek-eng Sianjin, ketua dari Kun-lun Ngo-eng, sebagaimana diketahui telah mendendam sakit hati kepada Ang-bin Sin-kai, karena empat orang saudara seperguruannya tewas dalam pertempuran ketika Ang-bin Sin-kai menyerang ke sarangnya.

Kini melihat Ang-bin Sin-kai telah di keroyok oleh dua orang tokoh besar itu, dia merasa mendapat kesempatan untuk membalas dendam.

Sambil berseru keras, dia lalu melompat maju menggerakkan pedangnya dan menyerang dengan hebat.

Namun, Pek-eng Sianjin ternyata tidak bijaksana dengan perbuatannya ini.

Ia tidak mengukur kepandaian sendiri yang masih kalah jauh.

Baru saja dia maju, tiba-tiba dia berteriak keras dan tubuhnya terlempar dua tombak lebih, pedangnya terlepas dan jatuh tak jauh dari tubuhnya.

Ternyata bahwa hawa pukulan Ang-bin Sin-kai saja sudah cukup untuk membuat dia terpental, seakan-akan seekor nyamuk mendekati kitiran angin.

Baiknya dia tidak terkena tangan Ang-bin Sin-kai, hanya keserempet hawa pukulan saja, karena kalau sampai terjadi demikian, kiranya nyawanya akan menyusul nyawa empat orang adik seperguruannya yang tewas terlebih dulu!

Berbeda dengan Pek-eng Sianjin, Toat-beng Hui-houw yang kepandaiannya juga sudah amat tinggi, berani menyerbu dan dengan masuknya kakek seperti iblis yang berkuku panjang ini, tentu saja keadaan Ang-bin Sin-kai menjadi amat terdesak.

Di antara tiga orang pengeroyoknya, hanya Toat-beng Hui-houw saja yang kepandaiannya masih agak rendah apabila di bandingkan dengan kepandaian sendiri.

Akan tetapi Jeng-kin-jiu dan Hek-i Hui-mo benar-benar hebat.

Apalagi Hek-i Hui-mo, serangan-serangannya benar-benar amat luar biasa.

Menghadapi seorang di antara dua tokoh ini saja, belum dapat di pastikan bahwa Ang-bin Sinkai akan menang.

Apalagi sekarang dikeroyok tiga!

Namun Ang-bin Sin-kai dalam pertempuran ini mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaga.

Segala pengalamannya yang berpuluh tahun itu dia keluarkan dan pergunakan dalam pertempuran ini, maka dia masih dapat mempertahankan diri sampai seratus jurus!

Hal ini benar-benar membuat ketiga orang pengeroyoknya terheran-heran dan kagum bukan main, namun mereka mendesak makin hebat dan akhirnya robohlah Ang-bin Sin-kai!

Kepalanya terpukul oleh tasbih dari tangan kiri Hek-i Hui-mo, dadanya terkena hawa pukulan Jeng-kin-jiu, sedangkan kuku panjang Toat-beng Hui-houw yang beracun melukai lambungnya.

Ang-bin Sin-kai terhuyung-huyung lalu jatuh terkulai.

Kalau orang lain yang terkena pukulan-pukulan itu, biarpun hanya terkena satu di antaranya, tentu sudah roboh tak bernyawa lagi.

Pukulan tasbih di kepala itu dapat memecahkan batok kepala, pukulan Jeng-kin-jiu ke dada itu, biarpun hanya hawanya saja, dapat melukai isi dada, apalagi kuku panjang dari Toat-beng Hui-houw itu mengandung racun ular yang berbahaya sekali.

Ang-bin Sin-kai biarpun tidak tewas di saat itu juga, dia maklum bahwa luka-lukanya tak dapat diobati lagi.

Namun dia tidak menjadi gentar, bahkan tertawa geli sambil berkata.

"Syukurlah aku mati di tangan kalian, bukan di tangan para anjing pemberontak! Namun aku mati sebagai putera bangsa, Ang-bin Sin-kai biarpun mungkin takkan diingat orang lagi, namanya tidak busuk dan rusak. Akan tetapi kalian..... ha, ha, ha, kalian akan mati sebagai anjing-anjing perusak dan nama kalian akan membusuk sampai ratusan tahun! Jeng-kin-jiu, kau menjadi pucat..... dan ngeri? Ha, ha, ha, tunggu saja kalau Kwan Cu pulang, kau.... kalian ini..... akan merasai pembalasannya...."

Bicara sampai disini, putuslah napas Ang-bin Sin-kai dan lenyaplah sifat-sifat kegagahannya, karena setelah mati, dia tidak berbeda dengan orang lain, yakni sebuah mayat yang dingin dan tidak berdaya.

Setelah melihat pengemis tua ini mati, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu teringat akan hubungan mereka yang dahulu, maka dia menjadi tidak tega hati.

Ia menyuruh orang-orangnya untuk merawat dan mengubur jenazah kakek sakti itu baik-baik.

Demikianlah, jatuhnya pemerintahan Kaisar Hian Tiong membawa korban banyak sekali, tidak hanya para pembesar dan rakyat jelata, bahkan banyak pula tokoh-tokoh kang-ouw binasa.

Penuturan Jeng-kin-jiu kepada Ang-bin Sin-kai tentang diri Lu Thong memang betul.

An Lu Shan adalah seorang cerdik sekali.

Ia tahu bahwa Jeng-kin-jiu amat lihai, demikian pula muridnya, yakni pemuda Lu Thong yang sebetulnya adalah cucu dari Menteri Lu Pin sendiri.

Setelah bertemu dengan pemuda ini, An Lu Shan dapat melihat sifat-sifat Lu Thong yang suka akan kemewahan dan sombong sekali, maka dia lalu mengampuni pemuda ini dan bahkan mengangkatnya sebagai seorang pangeran dan diberi kedudukan tinggi sebagai kepala daerah di kota Ciang-bun.

Adapun Jeng-kin-jiu, Hek-i Hui-mo dan lain-lain tokoh besar, diberi kedudukan sebagai guru-guru dan penasihat-penasihat di istana.

Hal ini pun merupakan kecerdikan dari An Lu Shan yang ingin tinggal dekat dengan oprang-orang sakti ini sehingga dia selalu terlindung oleh mereka.

Tokoh-tokoh ini tidak sadar bahwa sebenarnya mereka diperalat dan dijadikan pengawal-pengawal pribadi tanpa mereka ketahui!

*** Biarpun An Lu Shan telah berhasil merebut kedudukan Kaisar Hian Tiong, namun ternyata bahwa rakyat di mana-mana tidak mau terima begitu saja.

Pemberontakan terjadi di mana-mana di kalangan rakyat jelata.

Di sana-sini rakyat melakukan perlawanan terhadap barisan An Lu Shan sehingga An Lu Shan boleh di bilang tak dapat tidur nyenyak!

Ia sudah melakukan usaha-usaha untuk menumpas perlawanan rakyat ini, akan tetapi bagaimana dia dapat memadamkan gelora dalam hati rakyat yang tidak sudi melihat dia menduduki singgasana kaisar?

Tadinya Jeng-kin-ji, Hek-i Hui-mo dan lain-lain tokoh besar membantu usaha ini menumpas perlawanan rakyat di beberapa tempat.

Akan tetapi setelah beberapa tahun perlawanan rakyat bukannya mereda bahkan makin menghebat, diam-diam Jeng-kin-jiu dan yang lain-lain sadar dan terkejut.

Barulah mereka tahu bahwa sebenarnya rakyat tidak suka kepada pemberontakan An Lu Shan!

Apalagi ketika kaum persilatan juga membantu perlawanan dan perjuangan rakyat ini, diam-diam Jeng-kin-jiu menjadi gentar.

Ia lalu berunding dengan Hek-i Hui-mo dan yang lain-lain dan berkata.

"Kalau begini, kita telah menempatkan diri ke dalam kedudukan amat berbahaya. Sebelum menghebat keadaan ini, lebih baik kalau kita mengundurkan diri dan mencuci tangan daripada kekeruhan ini."

Memang mereka merasa ngeri kalau teringat akan ucapan Ang-bin Sin-kai bahwa kelak mereka akan mati sebagai pengkhianat-pengkhianat bangsa dengan nama busuk ratusan tahun lamanya!

Setelah mengadakan permufakatan, mereka lalu menghadap An Lu Shan dan menyatakan bahwa kini setelah kerajaan digulingkan, mereka hendak kembali ke tempat pertapaan masing-masing.

Tentu saja An Lu Shan menjadi amat kecewa, akan tetapi dia pun tidak berani menahan tokoh-tokoh besar ini, bahkan untuk memikat hati mereka, dia lalu memberi bekal berupa harta benda yang amat besar jumlahnya dan dengan demikian dia dapat menarik janji mereka bahwa sewaktu-waktu apabila ada kesulitan menimpa kerajaan, orang-orang pandai ini bersedia untuk membantunya.

Sepeninggal orang-orang sakti ini, An Lu Shan lalu memberi perintah kepada anak buahnya untuk melakukan kekerasan berlipat ganda kepada pemberontak.

Mereka yang tertangkap, lalu disiksa di tempat umum agar rakyat dapat melihatnya.

Keganasan dan kekejaman terjadi di mana-mana dan biarpun rakyat menjadi takut sekali, namun hal ini menumbuhkan kebencian yang amat mendalam terhadap An Lu Shan.

Pada suatu hari, di kota Thian-cin, pagi-pagi sekali keadaan di tanah lapang telah ramai sekali.

Tanah lapang ini menjadi markas pasukan An Lu Shan yang melakukan "operasi"

Dan berpindah-pindah.

Di kota mana saja mereka tiba, mereka mendirikan tenda dan mulai menangkap-nangkapi orang-orang yang mereka cap sebagai pemberontak untuk menerima hukuman yang mengerikan di tempat terbuka.

Dalam hal ini, tentu terjadi hal-hal yang amat kotor, para petugas ini mendatangi orang-orang biasa, mengancam akan menangkapnya sebagai pemberontak.

Apabila yang diancam ini mempunyai harta, tentu dia tidak segan-segan untuk mengeluarkan emas dan perak untuk menyogok agar dirinya selamat.

Ada pula yang sengaja menangkap keluarga di mana terdapat gadisnya yang cantik sehingga dengan jalan mengancam, keluarga itu terpaksa menyerahkan gadis itu kepada pembesar setempat supaya keluarga itu bebas daripada siksa dan kebinasaan!

Masih banyak lagi hal-hal kotor terjadi dan dilakukan oleh orang yang bermoral rendah., baik oleh anak buah An Lu Shan maupun oleh pembesar-pembesar setempat yang telah mempunyai hubungan baik dengan kepala-kepala pasukan yang beroperasi itu.

Penduduk Thian-cin dipaksa meninggalkan rumah untuk menonton hukuman yang akan dijalankan di tempat terbuka, di lapangan rumput dekat markas pasukan itu.

Hal itu di sebut sebagai hari istimewa karena menurut pengumuman kepala pasukan, yang akan menjalani hukuman adalah pemimpin-pemimpin gerombolan yang tertawan, yang jumlahnya ada sepuluh orang.

Penduduk berbondong datang ke tempat itu, bukan karena memang suka melihat orang tersiksa, melainkan dipaksa oleh anggauta-anggauta pasukan supaya datang menonton, dan juga karena ingin tahu siapakah gerangan sepuluh orang yang dianggap sebagai pemimpin-pemimpin pejuang rakyat itu.

Di tengah-tengah lapangan itu, sepuluh orang laki-laki diikat kepada tiang-tiang dan mereka ini benar-benar tidak patut di sebut pemimpin-pemimpin pejuang karena pakaian mereka seperti orang-orang sastrawan, dan mereka kelihatan lemah.

Wajah mereka pucat-pucat dan mereka tergantung kepada tiang dengan kepala menunduk.

Di belakang tiang itu, berjajar barisan yang berpakaian seragam bersikap garang, sedangkan para penonton berdiri berjejal di tempat yang agak jauh, menghadapi sepuluh orang itu.

Kemudian datanglah sepuluh orang prajurit yang membawa cambuk panjang.

Mereka ini rata-rata bertubuh tinggi besar dan nampak kuat sekali.

Sambil memutar-mutar cambuk mereka menyeringai dan masing-masing menghampiri korbannya, siap menanti komando dari pemimpin mereka.

Seorang perwira pasukan maju ke depan, menghadapi para penonton dan berkata keras-keras.

"Lihatlah, begini nasib para pengacau! Pukul mereka ini masing-masing lima puluh kali!"

Teriaknya dan mulailah menghitung.

"Satu.....!"

Sepuluh orang algojo itu mengayun cambuk.

"Tar.....!"

Hampir berbareng sepuluh batang cambuk itu jatuh di tubuh sepuluh orang tawanan.

Jerit mengerikan terdengar dan baju mereka robek-robek.

Darah mengalir dari kulit di mana cambuk itu menyabet.

Wajah para penonton menegang.

Mana mungkin sepuluh orang ini di sebut pemimpin-pemimpin gerombolan?

Mereka begitu lemah.

Sebenarnya, mereka ini sastrawan-sastrawan yang memiliki hati anti kepada An Lu Shan.

Perasaan mereka itu terdengar oleh mata-mata dan mereka ditangkap.

Juga ada sebagian di antara mereka yang tidak punya uang untuk memberi sogokan sehingga mereka menjadi korban fitnah belaka.

"Dua......!"

Komandan itu memberi aba-aba.

Akan tetapi sebelum sepuluh orang algojo itu menjatuhkan cambuk untuk kedua kalinya, tiba-tiba berkelebat bayangan yang cepat sekali dan berteriaklah sepuluh orang algojo itu dengan terkejut karena tahu-tahu cambuk mereka terlepas dari tangan!

Mereka cepat memandang dan seorang pemuda tampan yang berpakaian sederhana telah berdiri di situ, di kedua tangannya kelihatan sepuluh batang cambuk itu.

Wajah pemuda yang tampan sekali ini kelihatan berkerut ketika dia berkata.

"Jangan pukul mereka yang tidak berdosa! Lepaskan mereka ini."

Sambil berkata demikian, tanpa menanti jawaban, pemuda ini kembali menggerakkan tubuhnya dan dalam sekejap mata saja sepuluh orang tawanan itu telah terlepas dari ikatan tangan mereka!

Semua orang menjadi melongo karena pemuda itu hanya berlari dari tiang ke tiang, tidak kelihatan dia melepaskan tali, akan tetapi ternyata ikatan tangan orang-orang itu telah putus semua!

Para prajurit menjadi gempar.

Beberapa orang perwira datang menghampiri pemuda itu dengan golok terhunus.

"Kau siapakah berani mati mengacau disini? Apa kehendakmu?"

Biarpun bersikap galak, namun para perwira ini tidak berani sembarangan turun tangan karena mereka telah menyaksikan sendiri kelihaian pemuda aneh ini.

"Aku datang untuk mewakili orang-orang itu, kasihan mereka yang bertubuh lemah, tentu takkan kuat menerima lima puluh kali cambukan. Kalau memang kalian haus akan hiburan menyiksa orang, biarlah aku yang mewakili hukuman mereka. Ikatlah aku dan cambuklah sesukamu, agar hatimu yang buas akan puas."

Para perwira itu saling pandang dengan mata terbelalak.

Tadinya mereka mengira bahwa pemuda ini tentulah dari barisan rakyat yang memberontak, tidak tahunya pemuda ini adalah seorang yang tidak waras otaknya.

"Kau betul-betul hendak mewakili mereka menerima hukuman cambuk? Mereka ada sepuluh orang, masing-masing menerima lima puluh cambukan, apakah kau bersedia menerima lima ratus kali cambukan?"

Tanya seorang perwira.

Pemuda itu menoleh ke arah penonton dan pandang matanya bertemu dengan pandangan mata seorang berpakaian sastrawan yang pakaiannya sudah banyak tambalan namun matanya mengandung pengaruh luar biasa sekali.

Sastrawan tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya kepada pemuda itu dan berubah giranglah wajah pemuda yang tadinya amat keruh dan muram.

"Boleh, boleh, sesukamulah!"

Katanya kepada para perwira itu dengan wajah berseri, akan tetapi kembali wajahnya muram dan berduka ketika dia menyambung kata-katanya.

"Aku memang sudah patut menerima hukuman lima puluh kali cambukan atas dosa-dosaku!"

"Lima ratus kali, bukan lima puluh kali!"

Bentak komandan itu.

"Sesukamulah, mau lima ratus atau seribu kali. Akan tetapi yang patut kuterima sebagai hukumanku adalah lima puluh kali!"

Jawab pemuda itu yang menghampiri sebuah di antara tiang-tiang dan memeluk tiang di belakang tubuhnya.

Komandan itu menjadi cemas dan geli.

Tak perlu bersitegang dengan seorang gila pikirnya.

Lebih baik dia memperlihatkan kepada rakyat yang menonton bahwa dia adalah seorang yang "bijaksana"

Dan yang berlaku adil.

"Rakyat semua!"

Serunya memandang kepada penonton.

"Orang muda ini dengan sesuka sendiri mewakili hukuman yang hendak dijatuhkan kepada sepuluh orang ini. Kami berlaku adil dan menerima permintaannya. Hai, kalian sepuluh orang yang bernasib baik, kalian kami bebaskan, akan tetapi sebagai gantinya, kalian harus membayar denda setiap orang lima puluh tail perak. Kami beri waktu tiga hari lamanya!"

Sepuluh orang itu saling pandang seperti tidak percaya akan pendengaran sendiri.

Tadinya mereka sudah mengira bahwa mereka pasti akan mati di tiang siksaan itu.

Dengan mata penuh terima kasih akan tetapi juga belas kasihan karena mengira pemuda ini berotak miring, mereka memandang kepada pemuda ini.

"Saudara yang baik, sudah yakinkah kau akan menolong kami sepuluh orang? Cambukan lima ratus kali akan merenggut nyawamu."

Kata seorang di antara bekas tawanan itu. Namun pemuda ini menggerakkan tangan menyuruh mereka pergi sambil berkata.

"Pergilah, pergilah! Untuk apa mengganggu aku yang mau menjalani hukumanku?"

Sepuluh orang itu lalu minggir dan berdiri di antara para penonton akan tetapi tentu saja mereka tidak mau pergi sebelum menonton apa yang akan terjadi atas diri pemuda yang aneh itu.

"Hayo, pukul aku!"

Teriak pemuda ini.

Komandan menunjuk seorang algojo yang paling kuat tubuhnya dan memberi tanda supaya menjalankan hukuman cambuk itu.

Algojo ini segera menghampiri pemuda yang amat aneh itu dan wajahnya menyeringai gembira.

Sekali ini dia menghadapi pengalaman yang aneh.

Ia sudah merasa bosan menyiksa orang-orang yang lemah dan yang jatuh pingsan dengan tiga kali cambukan saja.

Akan tetapi, pemuda ini, yang berotak miring dan yang dengan secara aneh sekali dapat merampas cambuknya tadi, benar-benar merupakan seorang hukuman yang luar biasa.

Pemuda ini dengan gerakan yang tidak dapat dilihat, telah dapat merampas cambuk sepuluh orang algojo dan cambuk-cambuk itu lalu dilemparkan ke tanah dengan sikap acuh tak acuh.

Ketika para algojo mengambil cambuk masing-masing dari tanah, ternyata bahwa gagang cambuk yang terbuat daripada kayu telah hancur sama sekali, tinggal cambuknya saja!

Tentu saja hal itu membuat semua orang merasa khawatir dan gentar, akan tetapi setelah sekarang pemuda itu dengan suka rela mau menerima hukuman, benar-benar merupakan hal yang amat luar biasa dan menggembirakan.

Dengan lagak gagah algojo yang terpilih untuk menjalankan hukuman itu mengangkat cambuk tak bergagang itu tinggi-tinggi di atas kepala, mengayun-ayunkannya beberapa kali kemudian dengan sekuat tenaga dia menimpakan ujung cambuk ke arah dada pemuda yang kini kedua tangannya telah diikatkan pada tiang oleh seorang algojo lain.

"Tar.....!"

Semua penonton menahan napas, mengharapkan sesuatu yang aneh.

Mereka itu semua mengharapkan cambuk itu akan putus atau stidak-tidaknya, cambukan itu takkan terasa oleh pemuda aneh yang seperti gila lakunya ini.

Akan tetapi, semua orang menahan napas dan merasa amat kecewa.

Baju pemuda itu robek dan cambuk itu meninggalkan tanda merah pada kulitnya.

Pemuda itu mengrutkan kening dan nampaknya berduka sekali, akan tetapi harus diakui bahwa dia agaknya sama sekali tidak merasakan perihnya bekas cambuk.

Bahkan dia meramkan kedua matanya, menahan jatuhnya air mata dan bibirnya bergerak-gerak seperti berdoa.

Cambuk itu menari-nari di atas tubuhnya, mengenai mukanya yang tampan, pakaiannya mulai robek di sana-sini.

Di antara hujan cambukan, terdengar pemuda itu berkata perlahan sambil, meramkan kedua matanya.

"Suhu, semoga Suhu puas melihat hukuman yang teecu terima dengan segala kerelaan hati. Biarlah Suhu menganggap ini sebagai hukuman teecu yang meninggalkan Suhu sehingga Suhu teraniaya oleh orang-orang jahat....."

Tak seorangpun di antara para penonton maupun para prajurit An Lu Shan mengerti apa maksud kata-kata itu.

Hanya seorang saja yang mengerti, yakni sastrawan tua yang pakaiannya tambal-tambalan itu.

Sastrawan ini memandang tajam, kemudian dia menghela napas dan berkata perlahan.

"Dia benar-benar menerima hukuman dengan suka rela. Ah...... orang inilah harapan rakyat.....! Benar-benar dia agaknya yang mewarisi isi kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng!"

Memang benar, pemuda yang seperti gila dan bersikap aneh, yang sekarang seperti gila dan bersikap aneh, yang sekarang menerima cambukan dengan mata meram dan tiada sakit sedikit pun keluhan keluar dari bibirnya, bukan lain adalah Lu Kwan Cu!

Siapakah sastrawan berbaju tambal-tambalan itu yang berdiri di antara para penonton dan yang agaknya mengerti akan sikap aneh dari Kwan Cu?

Dia ini bukan lain adalah pujangga besar, pecinta rakyat jelata, pujangga yang namanya tetap harum sampai ribuan tahun lamanya, yakni Tu Fu!

Untuk mengetahui bagaimana Kwan Cu bisa dapat berada di tempat itu dan bagaimana pula pujangga Tu Fu dapat menonton pelaksanaan hukuman itu, marilah kita mundur dulu beberapa hari yang lalu.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Lu Kwan Cu meninggalkan pulau berpohon putih dan dengan perahu buatannya sendiri, dia menuju ke barat, ke daratan Tiongkok.

Ia teringat akan pesan suhunya Ang-bin Sin-kai, bahwa suhunya itu hendak bertapa di pantai Laut Po-hai.

Maka dia menujukan perahunya ke pantai ini.

Kesukaran-kesukaran di dalam pelayaran itu dapat di tempuh dengan amat mudah, karena sekarang dia bukanlah Kwan Cu pada empat tahun yang lalu.

Kepandaiannya telah meningkat puluhan kali, bahkan ratusan kali tanpa dia sadari dan dia kini benar-benar telah menjadi seorang yang sakti.

Setelah mendarat di pantai Laut Po-hai, dia mencari-cari gurunya, akan tetapi hasilnya nihil.

Kemudian dia bertemu dengan para nelayan di dekat pantai, dan dari mereka inilah dia mendengar tentang pemberontakan An Lu Shan dan tentang perubahan hebat yang telah terjadi selama empat tahun itu.

Kwan Cu mendengarkan semua itu tanpa perhatian.

Ia tidak tertarik sama sekali tentang semua kejadian itu, karena memang pemuda ini setelah mempelajari ilmu dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, pandangannya telah luas sekali, tidak sempit dan tidak mudah di kuasai oleh nafsu dan pertimbangan otak sendiri.

Ia telah terbuka mata hatinya tentang kekuasaan Thian, dan dia percaya sepenuhnya bahwa peristiwa di dunia ini, sesungguhnya dilakukan oleh manusia, namun keputusan terakhir di tangan Thian.

Oleh karena ini, betapapun janggal terdengarnya oleh orang lain, Kwan Cu percaya pula bahwa berhasilnya pasukan pemberontak An Lu Shan juga merupakan penentuan dari Yang Maha Kuasa!

Hanya satu hal yang terpikir olehnya di saat dia mendengar itu, bahwa suhunya tentu pergi ke kota raja.

Suhunya adalah kakak dari Menteri Lu Pin yang menjadi kakek angkatnya pula, pada peristiwa pengoperan kekuasaan itu tentu setidaknya mendatangkan akibat kepada Menteri Lu Pin.

Mustahil kalau Ang-bin Sin-kai diam saja dan tidak menengok keadaan kota raja.

"Pasti Suhu berada di kota raja dan tidak aneh kalau aku mendapatkan dia di dapur isatana, siapapun juga kaisarnya yang menempati istana itu,"

Pikir Kwan Cu dengan geli mengenangkan kesukaan gurunya menyikat habis hidangan kaisar di dalam istana.

Maka berangkatlah Kwan Cu langsung menuju ke kota raja.

Di dalam perjalanan, dia mendengar pula tentang usaha rakyat menentang pemerintah An Lu Shan dan melihat betapa keadaan memang benar-benar berubah tidak mempengaruhi ketenangan batinnya.

Ia melakukan perjalanan cepat tanpa menarik perhatian orang lain.

Bagi orang lain, dia hanya seorang pemuda tampan sederhana yang berpakaian buruk, menggendong sebuah buntalan dan di samping pakaian butut itu, suling pemberian Hang-houw-sian Yok-ong adalah harta satu-satunya.

Beberapa kali dia bertemu dengan rombongan pengusngsi yang menuju ke selatan, menjauhi pasukan-pasukan An Lu Shan yang terkenal buas dan kejam.

Terutama sekali mereka yang memiliki anak-anak gadis, banyak yang mengungsi ke selatan, sejauh mungkin.

Ketika dia telah tiba di dekat kota Thian-cin, dia melihat pula serombongan pengungsi terdiri dari para petani yang kehilangan tanah dan kehilangan pekerjaan.

Berbondong-bondong mereka berjalan kaki menuju ke selatan, mencari hidup baru.

Mereka berjalan dengan kaki lemas karena memang telah melakukan perjalanan jauh, dan wajah mereka semua nampak muram.

Ketika Kwan Cu bertemu dengan rombongan ini, tiba-tiba di antara para pengungsi, terdengar seorang tua bernyanyi dengan suara yang lantang.

"Seekor babi gemuk memimpin negara mana negara bisa kuat dan rakyat bisa bahagia? Akan tetapi srigala utara lebih jahat lagi. Tak saja rakyat diabaikan, bahkan dicekik mati. Negara kacau, selalu timbul pengkhianatan bangsa. Penasaran......! Penasaran.......! Sayang sekali dua saydara Lu menjadi korban. Menteri setia ditumpas habis sekeluarga, pendekar gagah korbankan nyawa dengan sia-sia. Penasaran.....! Penasaran.......! Berkali-kali orang itu mengucapkan nyanyian ini sampai seorang di antara para pengungsi menegurnya.

"Tu-siucai, harap kau diam jangan bernyanyi seperti itu. Apakah kau ingin kita semua di tangkap dan dihukum mati?"

Mendengar teguran ini, si penyanyi tidak menjawab, hanya berkata seorang diri dengan suara keras.

"Didalam dunia memang banyak orang yang berhati pengecut dan penakut. Bagaimana kehormatan bangsa bisa dapat dipertahankan? Aku pergi mengungsi bukan karena takut kepada pemberontak An, melainkan karena tidak kuat melihat keadaan lebih lama lagi, muak perutku dan ingin muntah saja mulutku."

Orang yang menegurnya tadi hendak menegur lagi dengan muka merah, akan tetapi tiba-tiba dia berseru kaget dan memandang dengan mata terbelalak lebar.

Ternyata bahwa si penyanyi yang ditegurnya tadi, tanpa di lihat bagaimana terjadinya tahu-tahu telah lengap dari tengah-tengah rombongan itu.

Tidak saja si penegur itu yang menjadi kaget, bahkan orang-orang lain juga menjadi bengong seperti melihat setan di tengah hari.

"Di mana dia? Kemana perginya Tu-siucai?"

Terdengar suara susul menyusul.

"Dia menghilang begitu saja!"

Ramailah rombongan itu akan tetapi karena mereka khawatir akan pengejaran pasukan An Lu Shan, mereka akhirnya melanjutkan perjalanan itu sambil tiada hentinya membicarakan peristiwa yang aneh itu.

Apakah betul penyanyi tadi dapat menghilang?

Sebenarnya penyanyi itu adalah pujangga Tu Fu, seorang sastrawan yang berbatin kuat berpikiran tajam dan berbakat luar biasa, namun bertubuh lemah.

Mana bisa dia menghilang begitu saja.

Ketika dia bicara dengan penegurnya tadi, tahu-tahu berkelebat bayangan yang hampir tak dapat dilihat oleh pandangan mata dan tahu-tahu Tu Fu merasa tubuhnya dibawa melompat cepat sekali melewati kepala orang-orang dalam rombongan pengungsi itu!

Sastrawan ini terpaksa meramkan mata karena angin meniup keras ke arah mukanya.

Ketika dia membuka mata, ternyata dia telah berdiri di dalam hutan, jauh dari rombongan pengungsi yang tidak kelihatan lagi.

Di hadapannya berdiri seorang pemuda sederhana yang menjura sambil berkata.

"Siauwte mohon maaf sebanyaknya kepada Tu-siucai yang terhormat karena siauwte telah berani berlaku lancang membawa Siucai ke sini."

Tu Fu biarpun seorang sastrawan namun pengalamannya sudah banyak dan luas sekali, bahkan dia mengenal semua tokoh-tokoh kang-ouw yang paling terkenal.

Kini dia menghadapi Kwan Cu dengan senyum di bibir dan matanya memandang kagum.

"Seorang muda yang gagah perkasa dan lihai sekali. Siapakah namamu dan murid siapakah kau?"

"Siauwte seorang tak berarti, Bu-pun-su (Tiada Kepandaian), dan tidak ada sesuatu yang berharga untuk diceritakan. Akan tetapi, dua saudara Lu yang Siucai nyanyikan tadi, amat menarik hati siauwte. Bolehkah siauwte mengetahui siapakah adanya mereka itu? Apakah mereka itu Lu Sin dan Lu Pin?"

Tu Fu tertawa.

"Orang muda yang aneh, kau lebih aneh daripada Ang-bin Sin-kai Lu Sin! Baiklah, Bu-pun-su (Tiada Kepandaian), aku akan menyebutmu Bu-pun-su saja, sebutan yang merupakan pujian tertinggi sungguh pun aku masih belum tahu apakah kau patut mendapat sebutan itu. Memang benar, yang kunyanyikan tadi adalah menteri setia Lu Pin dan pendekar perkasa Ang-bin Sin-kai Lu Sin."

"Apakah yang terjadi dengan mereka?"

Kwan Cu bertanya dan biarpun dia telah menekan goncangan hatinya, namun dia tetap saja berdebar-debar.

Di dalam dunia ini, manusia yang dipandang dan yang selalu dikenangnya hanya Ang-bin Sin-kai seorang, maka sesuatu yang terjadi kepada kakek sakti ini tentu saja menggerakkan hatinya.

Orang-orang yang memiliki kepandaian istimewa, hampir selalu mempunyai tabiat aneh.

Demikian pula sastrawan Tu Fu.

Biarpun dia tidak mempunyai kepandaian ilmu silat tinggi, namun ketabahan hati dan keangkuhannya tidak kalah oleh tokoh-tokoh kang-ouw yang manapun juga.

Kekerasan hati dan keteguhan semangatnya laksana baja yang tak dapat dibengkokkan.

Ketika dia mendengar pertanyaan Kwan Cu yang terdengar seperti tuntutan, dia mengedikkan kepalanya dan memandang tajam sambil berkata.

"Orang muda, ada hubungan apa antara kau dan Ang-bin Sin-kai? Ada hubungan apa pula antara kau dengan keluaraga Lu?"

"Sudah siauwte katakan bahwa siauwte seorang tidak berharga, tak perlu dibicarakan tentang diri siauwte."

"Hm, anak sombong. Jangan coba merendahkan diri di depan air! Kauceritakan apa hubunganmu dengan Ang-bin Sin-kai, kalau tidak jangan harap mendengar sesuatu tentang dia dari mulutku!"

Kwan Cu menghela napas kewalahan. Ia maklun bahwa dia menghadapi seorang yang berwatak keras dan bersemangat baja, maka dia mengalah dan berkata.

"Ang-bin Sin-kai adalah guruku."

Mendengar ini sastrawan Tu Fu mencak-mencak, membanting-banting kaki dan menudingkan telunjuknya ke arah muka Kwan Cu.

"Bu-pun-su, murid macam apa engkau ini? Sudah bertahun-tahun Ang-bin Sin-kai tewas dalam penasaran dan sekarang tiba-tiba kau muncul menanyakan apa yang terjadi dengan dia? Apa gunanya air bagi tetumbuhan yang mati mengering dan apa gunanya obat bagi si sakit yang sudah tak bernapas lagi? Guru dalam bahaya dan berjuang mati-matian mempertahankan nama baik negara dan bangsa kau bersembunyi tidak memperlihatkan diri. Sekarang guru sudah tewas di tangan orang jahat, kau pura-pura muncul dan tanya-tanya apa yang telah terjadi dengan gurumu? Kau sudah sepantasnya mendapat hukuman! Kalau aku menjadi gurumu, kau kuhukum lima puluh kali cambukan pada tubuhmu!"

Kwan Cu menjura lagi.

"Siucai yang terhormat, sudilah kiranya menceritakan apa sebenarnya yang telah terjadi dengan guruku Ang-bin Sin-kai yang tercinta."

"Ang-bin Sin-kai adalah seorang pendekar besar yang gagah perkasa dan berjiwa besar, tidak seperti engkau yang katanya menjadi muridnya. Melihat tokoh-tokoh kang-ouw membela pemberontak An Lu Shan, dia menjadi penasaran dan menyerbu kota raja. Akan tetapi dia tidak kuat menghadapi tokoh-tokoh besar seperti Jeng-kin-jiu, Hek-i Hui-mo dan lain-lain karena dikeroyok. Suhumu benar-benar seorang patriot sejati, seorang pahlawan gagah perkasa."

Bukan main sedihnya hati Kwan Cu mendengar akan nasib suhunya itu.

Tak terasa pula dua titik air mata meloncat keluar dari sepasang matanya.

Ia terharu sekali akan nasib gurunya yang amat dia cinta, setua itu masih terlibat urusan dunia dan terpaksa mengorbankan nyawa untuk nama dan kehormatan negara.

Hatinya mulai diliputi rasa sakit hati dan dendam terhadap para pembunuh suhunya, akan tetapi kesadarannya timbul ketika dia teringat bahwa kesemuanya itu adalah kehendak Thian yang tak dapat di cegah lagi.

Hatinya menjadi dingin lagi dan dia berkata perlahan.

"Mengapa Suhu begitu lemah menurutkan nafsu hati? Apakah Suhu tidak tahu bahwa semua itu sudah menjadi kehendak alam yang berkuasa?"

Mendengar ini, kembali Tu Fu mencak-mencak dan membanting-banting kaki.

"Wahai semua mahluk yang kebetulan berada di dekat tempat ini. Dengarlah kalian kata-kata seorang pemuda hijau yang berlagak menjadi ahli filsafat besar! Seorang pemuda masih berbau minyak dan param berani mencela gurunya, Ang-bin Sin-kai yang kuhormati?"

Merah muka Kwan Cu mendengar ini. Ia menjawab perlahan karena entah mengapa, dia merasa segan dan tunduk menghadapi orang tua ini yang mempunyai pengaruh luar biasa.

"Siucai yang baik, siauwte mana berani mencela guru? Siauwte hanya menyatakan dengan sebenarnya bahwa memang kesemuanya adalah kehendak Thian Yang Maha Kuasa. Apakah daya manusia menghadapi kehendak dan keputusan Thian? Kita hanya bisa menerima, mengapa suhu tidak melihat kenyataan ini?"

Tu Fu makin marah-marah.

"Inilah namanya memanggang daging dengan api bernyala, matang dan gosong luarnya, sedangkan di sebelah dalamnya masih mentah! Demikian pula hasilnya kalau orang memberi pelajaran terlalu dalam kepada seorang pemuda yang masih hijau dan goblok! Akibatnya menjadi seorang pemuda berlagak ahli filsafat padahal masih mentah! Pengetahuan mendalam tanpa pengalaman matang seperti mangkok berkembang tanpa isi. Apa gunanya? Hanya untuk pameran belaka! Bu-pun-su, kau bermimpi dalam sadar. Jalan Tuhan memang luar biasa dan tak dapat di mengerti oleh manusia dan memang sudah menjadi kewajiban manusia untuk menyerahkan seluruh hasil dan keputusan kepada Thian dengan penuh iman dan kepercayaan. Akan tetapi jangan kau lupa bahwa manusia juga berhak untuk berikhtiar, untuk berusaha demi kebenaran, keadilan, dan kebaikan. Penyerahan secara membuta tanpa disertai ikhtiar, itu bahkan berarti penghinaan namanya! Kau dilahirkan bertanah air, berbangsa, bukankah itu kehendak Thian pula? Kalau kau tidak dapat membela tanah air dan bangsa, membiarkan tanah air dan bangsa dihina dan diinjak-injak oleh kaki orang lain, patutkah kau disebut seorang anak bangsa? Hm, kau memang pantas dicambuk lima puluh kali!"

Tu Fu marah-marah dan masih banyak kata-kata pedas dilontarkan kepada pemuda itu.

Kwan Cu tertegun.

Semua kata-kata yang dikeluarkan dari mulut sastrawan tua ini merupakan hal baru baginya, menancap di ulu hatinya dan terasa betul-betul olehnya.

Ia terlalu diayun oleh lamunan Nabi Lo Cu yang memang sukar ditangkap artinya.

"Siucai yang bijaksana, siapakah sebenarnya kau yang kenal baik kepada suhuku dan yang dapat mengeluarkan buah pemikiran sedemikian baiknya?"

"Bu-pun-su murid murtad, belum pernahkah gurumu menyebut nama Tu Fu si sastrawan miskin?"

Kwan Cu terkejut sekali mendengar nama ini.

Tentu saja dia sudah pernah mendengar nama ini, bukan satu dua kali bahkan telah berkali-kali, karena dahulu, gurunya yang pertama, yakni Gui-siucai, berkali-kali menyebut nama Tu Fu ini dengan penuh kekaguman.

Gui Tin menyebut nama Tu Fu sebagai pujangga dan sastrawan yang paling besar di samping sastrawan Li Po, seorang sastrawan patriot yang berjiwa besar.

Tidak itu saja, bahkan gurunya, Ang-bin Sin-kai sering menyatakan kekagumannya kepada Tu Fu.

Kini melihat sendiri orangnya dan mendengar ucapannya yang amat berkenan di dalam hatinya, sekaligus tunduklah hati Kwan Cu.

Ia merasa berhadapan dengan seorang yang setingkat dengan gurunya bahkan melebihi gurunya dalam hal ilmu filsafat dan kebatinan.

Maka serta merta dia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Tu Fu.

Dengan amat terharu dia berkata.

"Locianpwe, teecu telah berlaku kurang hormat mohon maaf sebanyaknya. Sekarang teecu melihat betapa besar dosa teecu terhadap suhu Ang-bin Sin-kai, oleh karena itu mohon petunjuk dari Locianpwe bagaimana selanjutnya teecu berlaku, karena sesungguhnya teecu tidak tahu harus berlaku bagaimana."

"Pertama-tama kau harus di hukum lima puluh kali cambukan,"

Kata Tu Fu dengan wajah sungguh-sungguh.

"Orang muda seperti engkau ini mudah terharu, mudah berduka dan mudah gembira. Siapa bisa percaya bahwa kau benar-benar sadar bahwa tindakan suhumu itu baik dan sempurna? Di kota ini Thian-cin, tak jauh dari sini , orang-orang baik-baik dan tidak berdosa sedang ditangkapi dan dihukum cambuk. Kalau kau bisa mencegah perlakuan sewenang-wenang itu dan mewakili mereka kau akan dapat melanjutkan usaha suhumu membasmi pengkhianat-pengkhianat bangsa yang amat berbahaya bagi keselamatan negara dan bangsa."

Mendengar ini, bangkit semangat Kwan Cu.

"Mari, Locianpwe, akan teecu perlihatkan bahwa kepercayaan Locianpwe terhadap murid Ang-bin Sin-kai takkan sia-sia belaka."

Tanpa menanti jawaban Kwan Cu menyambar tubuh sastrawan itu dan dibawanya lari cepat sekali ke kota Thian-cin di mana sedang berlangsung penghukuman cambuk atas diri sepuluh orang sastrawan yang didakwa menjadi pemimpin para gerombolan pengacau yang sesungguhnya adalah pejuang-pejuang rakyat.

Kwan Cu menrunkan tu Fu di antara para penonton sedangkan dia sendiri sebagaimana telah dituturkan di bagian depan turun tangan merampas cambuk, mencegah di lanjutkannya hukuman itu dan dengan suka rela dia menerima cambukan-cambukan sebagai hukuman kepada dirinya yang membiarkan gurunya tewas di tangan orang-orang jahat.

Demikianlah sebabnya mengapa Kwan Cu dapat datang di Thian-cin bersama sastrawan Tu Fu dalam saat yang amat tepat sehingga dia dapat menolong sepuluh orang hukuman itu dan sebaliknya dengan suka rela dia menerima cambukan-cambukan dari algojo yang tidak mengenal kasihan.

Biarpun para penonton merasa amat ngeri menyaksikan pemuda yang dianggapnya setengah gila dicambuki, namun diam-diam mereka merasa heran sekali, mengapa pemuda ini meramkan mata dan sama sekali tidak pernah mengaduh, biarpun pakaiannya robek-robek dan tubuhnya serta mukanya penuh dengan gurat-gurat merah bekas cambuk.

Suara cambuk mereka memecah di udara lalu disusul menjepretnya ujung cambuk memecah pakaian Kwan Cu dan menimpa kulit dadanya, susul-menyusul sampai puluhan kali.

Tiba-tiba di antara para penonton terdengar suara.

"Cukup, Bu-pun-su sudah lima puluh kali kau menerima hukuman!"

Inilah suara dari sastrawan besar Tu Fu yang menghitung jumlah cambukan itu sampai lima puluh kali.

Pujangga ini benar-benar merasa kagum terhadap Kwan Cu yang demikian jujur dan setia kepada sumpahnya.

Juga dia merasa kagum akan kesadaran pemuda itu yang merasa berdosa terhadap Ang-bin Sin-kai dan untuk kedosaannya menebus dengan lima puluh kali cambukan, padahal kalau dipikir benar-benar, pemuda itu tidak berdosa apa-apa, karena ketika gurunya ditewaskan orang, dia benar-benar tidak tahu.

Baru saja ucapan ini dikeluarkan oleh Tu Fu, tiba-tiba algojo yang mencambuk tubuh Kwan Cu itu menjerit keras dan cambuknya terlepas dari pegangan karena telapak tangannya berdarah!

Ternyata bahwa ketika cambukan yang ke lima puluh satunya tiba, Kwan Cu mengerahkan tenaga sedemikian rupa sehingga tenaga cambukan itu membalik dan melukai telapak tangan si pemegang cambuk sendiri.

Demikianlah lihainya Kwan Cu yang sudah dapat menyalurkan tenaga itu sehingga membalik melukai pecut.

Getaran tenaga yang membalik itu membuat telapak tangan algojo terobek kulitnya sehingga dia melepaskan cambuk, mengaduh-aduh sambil memegangi tangan kanannya yang berdarah!

Komandan pasukan mengira bahwa algojo itu saking lelahnya merasa sakit tangannya.

Ia sudah amat mendongkol melihat pemuda itu dicambuk lima puluh kali masih belum apa-apa, maka segera dia memberi aba-aba kepada sembilan orang algojo yang lain untuk turun tangan.

Sembilan batang cambuk berputar di atas kepala dan jatuh bertubi-tubi ke tubuh Kwan Cu.

Akan tetapi, kembali terdengar jerit kesakitan susul menyusul, sembilan batang cambuk itu terlempar dan sembilan orang algojo memegang tangan kanan yang berdarah pula!

Geger keadaan di situ.

Para anggauta pasukan mencabut senjata, para penonton kagum dan juga ketakutan.

Apalagi ketika Kwan Cu dengan sekali renggut saja mematahkan ikatan tangannya, keadaan menjadi makin kacau.

Para perwira bala tentara An Lu Shan segera memberi aba-aba dan membawa anak buahnya maju mengepung.

Ratusan orang mengepung seorang saja, dapat dibayangkan betapa hiruk-pikuk dan kacau balaunya.

Akan tetapi, barisan belakang terpaksa mundur kembali ketika mereka tiba-tiba tertimpa kawan-kawan sendiri yang dilempar-lemparkan dari depan bagaikan daun-daun kering tertiup angin.

Terdengar pekik kesakitan di sana-sini dan tak lama kemudian, anggauta-anggauta pasukan menjadi bingung sekali karena pemuda aneh itu tidak kelihatan lagi, dan demikian pula para perwira mereka tidak terdengar lagi komadonya.

Ketika mereka memandang, alangkah terkejutnya mereka sepuluh orang perwira telah terikat erat-erat di sepuluh buah tiang yang tadinya disediakan untuk menyiksa para tawanan!

Adapun pemuda luar biasa itu, entah pergi kemana karena tidak kelihatan bayangannya lagi.

Semenjak peristiwa itu, nama Bu-pun-su terkenal di kalangan pasukan-pasukan An Lu Shan.

Nama ini mendatangkan rasa gentar dalam hati mereka, karena selama menghadapi para pejuang rakyat, belum pernah ada yang selihai pemuda aneh itu.

Setelah memperlihatkan kepandaiannya ketika dikepung oleh barisan itu dan berhasil membebaskan diri dari kepungan tanpa terlihat oleh siapapun juga, Kwan Cu membawa sastrawan Tu Fu keluar dari Thian-cin dan dia menghaturkan terima kasih atas segala petunjuk pujangga itu.

Ia benar-benar tunduk kepada sastrawan ini, hanya ada sedikit perbedaan perasaan antara dia dan Tu Fu.

Kalau pujangga itu lahir batin membenci semua pasukan An Lu Shan yang telah menggulingkan kerajaan dan seperti juga lain-lain pejuang ingin sekali membasmi habis An Lu Shan dan seluruh pengikutnya, adalah Kwan Cu tidak dapat menaruh rasa benci kepada para anggauta pasukan.

Oleh karena ini ketika dia dikepung dia tidak menewaskan lawan, hanya memberi hajaran dan melempar-lemparkan mereka saja!

Setelah Kwan Cu mendengar dari Tu Fu bahwa pada saat akan tewas, Ang-bin Sin-kai menyebut-nyebut namanya, dia menjadi amat terharu dan timbullah kebenciannya kepada mereka yang telah membunuh gurunya.

Ia mendengar dari Tu Fu yang agaknya mengerti akan segala peristiwa itu bahwa tokoh-tokoh besar yang mengeroyok Ang-bin Sin-kai sehingga tewas adalah Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, Hek-i Hui-mo Thian Seng Hwesio, Toat-beng Hui-houw, dan Pek-eng Sianjin.

Nama-nama ini dicatat oleh Kwan Cu di dalam hatinya dan dia mengambil keputusan untuk mencari mereka seorang demi seorang.

Yang membuat dia merasa amat heran dan juga mendongkol adalah ketika dia mendengar bahwa Jeng-kin-jiu juga ikut mengeroyok suhunya.

Ia tahu bahwa antara suhunya dan Jeng-kin-jiu, terdapat hubungan yang amat erat, bagaimana kedua orang tokoh ini sampai saling bermusuhan?

Dia sendiri masih mempunyai hubungan amat erat dengan Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, karena namanya pun adalah pemberian dari hwesio gendut itu.

Oleh karena ini maka orang pertama yang hendak adalah Jeng-kin-jiu.

Ia berpisah dari Tu Fu yang seperti biasa hendak merantau.

Kwan Cu langsung menuju ke kota raja.

Di sepanjang perjalanan, setiap kali bertemu dengan pasukan-pasukan An Lu Shan yang menindas rakyat, pemuda ini pasti menolongnya, memberi hajaran kepada pasukan itu, mengancam perwiranya.

Semua ini dia lakukan tanpa memperlihatkan diri, hanya menuliskan ancaman di dalam kamar markas pasukan dengan cara mengukir dinding batu dengan telunjuknya yang berbunyi singkat.

KALAU MASIH BERANI MENINDAS RAKYAT, AKU AKAN DATANG MENGAMBIL NYAWA!

BU PUN SU Banyaknya kejadian yang amat tidak adil dan kekejaman-kekejaman dari fihak pasukan terhadap rakyat, membuat hati Kwan Cu makin lama makin panas terbakar.

Tadinya dia mengira bahwa anggauta-anggauta pasukan itu hanya memenuhi perintah saja dan segala dosa dia timpakan kepada para pemimpin kaki tangan An Lu Shan.

Akan tetapi, makin lama menjadi kenyataan baginya bahwa rata-rata anggauta pasukan pemberontak An Lu Shan memang kasar dan kejam, ganas dan menindas rakyat jelata.

Namun seberapa bisa, Kwan Cu masih berusaha menghindarkan diri agar jangan sampai membunuh orang, dengan memberi ancaman seperti yang dia ukirkan pada dinding-dinding markas pasukan pemberontak.

*** Karena melakukan perjalanan cepat biarpun banyak ganguan di jalan untuk menolong rakyat dari gangguan pasukan-pasukan An Lu Shan, beberapa pekan kemudian sampailah Kwan Cu di kota raja.

Ia teringat ketika bersama gurunya datang di kota raja dan keadaan sekarang kelihatannya tiada perubahan sama sekali.

Ia menuju ke jalan di mana dahulu berdiri rumah gedung dari Menteri Lu Pin.

Ternyata bahwa rumah itu kini telah berubah bentuk, bahkan rumah ini agaknya masih baru.

Tidak ada tanda-tanda atau bekas dari rumah yang lama.

Kwan Cu berjalan terus lalu memasuki rumah makan yang besar, agaknya rumah makan ini pun baru karena seingatnya dahulu tidak ada rumah makan ini di jalan besr itu.

Ia disambut oleh seorang pelayan yang memandangnya dengan mata curiga, maklumlah, pakaian Kwan Cu yang amat bersahaja itu tentu saja menimbulkan kecurigaan karena rumah makan yang besar ini biasanya hanya dimasuki oleh hartawan-hartawan dan para bangsawan belaka.

Kwan Cu tidak mempedulikan sikap pelayan ini.

Di dalam perjalanannya, dia mendapat kenyataan bahwa dia memang perlu sekali membawa bekal uang untuk makan dan biaya-biaya lainnya, maka dia telah mengambil cukup banyak emas dari kamar harta seorang pembesar kaya raya ketika dia memberi ancaman kepada pembesar yang terkenal sebagai penindas kaum tani itu.

Rumah makan itu banyak tamunya dan sebagian besar adalah orang-orang muda dengan pakaian mewah.

Mereka bercakap-cakap sambil makan dan suara ketawa mereka memecah di ruang makan itu.

Orang-orang ini tidak menarik perhatian Kwan Cu, hanya seorang laki-laki berkepala botak yang berusia kurang lebih tiga puluh tahun cukup menarik, laki-laki ini sedang bicara dengan suara yang dalam, lantang dan bertenaga, sedangkan banyak pemuda berpakaian mewah mendengarkan ceritanya sambil tertawa-tawa.

Diam-diam Kwan Cu merasa geli karena dia tahu bahwa laki-laki botak itu di waktu bicara mengerahkan tenaga khikangnya yang lumayan juga sehingga suaranya terdengar nyaring sekali.

Pelayan rumah makan mempersilakan Kwan Cu duduk di depan meja yang terletak di pojok, agak jauh dari tamu-tamu lain.

Padahal di dekat tamu-tamu itu masih ada beberapa tempat yang kosong.

Namun Kwan Cu tidak ambil peduli dan segera dia memesan beberapa makanan.

Sambil menanti makan, Kwan Cu duduk melamun sambil memandang keluar jendela rumah makan.

Dilihatnya seorang pelayan mengusir pergi tiga orang pengemis.

Seekor anjing kurus makan tulang yang hitam.

Pengemis-pengemis itu berjalan dengan kaki lemas, seorang di antaranya terpincang-pincang.

Melihat ini, diam-diam Kwan Cu menghela napas panjang.

Bukan saja para pengemis itu mengingatkan dia akan gurunya, Ang-bin Sin-kai, juga pemandangan itu membuat dia melihat perbedaan yang amat menyolok antara kehidupan tiga orang manusia dan manusia-manusia lain yang tengah makan sambil berkelakar itu.

Pengemis-pengemis itu tiada ubahnya seperti anjing kurus itu, bahkan mungkin lebih kelaparan lagi.

Dia lalu melambaikan tangan kepada pelayan yang tadi menyambutnya.

Pelayan itu datang dengan muka angkuh.

"Tolong bikin tiga mangkok masak bihun lagi dan berikan kepada tiga orang pengemis itu. Aku yang akan bayar."

Pelayan itu mengerutkan keningnya, akan tetapi dia tentu saja tidak dapat membantah kehendak seorang tamu. Ia mengangguk-angguk, kemudian membuka mulut.

"Pesanan Tuan akan kamu layani, akan tetapi untuk memberikan kepada para jembel itu, harap Tuan berikan sendiri."

"Mengapa begitu?"

Tanya Kwan Cu dengan suara sabar.

"Oleh karena kalau kami yang memberikan, mereka akan menjadi keenakan dan biasa, dan setiap hari tentu akan datang ke sini mengharapkan pemberian seperti itu!"

Kwan Cu menahan sabar dan menekan kegemasan dalam hatinya.

"Baiklah, biar aku yang memberikan sendiri."

"Hei, A-kiu......!"

Tiba-tiba laki-laki botak itu memanggil pelayan yang sedang bicara dengan Kwan Cu. Pelayan itu cepat meninggalkan Kwan Cu tanpa pamit, setengah berlari, menghampiri meja si botak.

"Ada apakah memanggil hamba, An-siauw-ongya (Pangeran Muda she An)?"

Katanya membungkuk-bungkuk.

"Bagaimana sih kerjaanmu? Banyak lalat busuk tidak kauusir dari sini?"

Sambil berkata demikian, si botak melirik ke arah Kwan Cu.

"Membikin bau saja!"

Pelayan itu mengerti akan sindiran ini dan dia tersenyum-senyum, lalu mendekati meja mereka dan bicara bisik-bisik, menceritakan bahwa pemuda asing itu memesan masakan untuk tiga orang pengemis.

Terdengar suara ketawa meledak.

Kwan Cu melirik dan melihat mereka semua memandang ke arahnya sambil bisik-bisik.

Pendengaran Kwan Cu amat tajam dan dari mejanya dia dapat mendengar semua percakapan mereka yang membicarakan dia.

Bahkan dia mengerti pula bahwa yang dimaksudkan dengan lalat busuk adalah dia sendiri!

Akan tetapi kesabaran Kwan Cu memang luar biasa sekali.

Sedikit pun dia tidak merasa mendongkol atau marah, bahkan merasa kasihan melihat betapa pemuda-pemuda itu menyia-nyiakan waktu muda begitu saja.

Orang muda botak yang di sebut An-siauw-ongya itu bangkit berdiri dari bangkunya, diikuti oleh kawan-kawannya.

Akan tetapi Kwan Cu seperti tidak melihatnya, meletakkan mangkok yang sudah kosong ke atas meja dan menepuk pundak pelayan itu sehingga pulih kembali keadaan tubuh pelayan ini yang menjadi amat pucat dan ketakutan.

"Nah, aku terima kalah,"

Kata Kwan Cu.

"Ternyata kau memang sudah biasa makan masakan busuk dan rumah makan ini memang hanya menjual masakan yang sudah bau. Terimalah pembayaran ini."

Ia melemparkan beberapa potong uang perak ke atas meja.

"Pengemis liar dari mana berani main gila dan mengacau di kota raja?"

Pangeran Muda An yang botak itu membentak dan mencabut keluar sepasang senjatanya yang aneh.

Melihat senjata itu, diam-diam Kwan Cu merasa heran karena hanya orang berilmu silat tinggi saja yang bersenjata seperti itu.

Tangan kanan pangeran botak itu memegang sebuah joan-pian (ruyung lemas) yang terbuat daripada logam hitam diuntai, sedangkan tangan kirinya memegang sebuah hudtim (pengebut yang biasa digunakan oleh pendeta).

Kwan Cu sudah bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan, kalau-kalau orang botak itu dan kawan-kawannya hendak menyerangnya.

Akan tetapi pada saat itu, terlihat tiga orang pengemis yang tadi dia beri makanan, datang bersama seorang laki-laki muda yang berpakaian mewah sekali.

Melihat pakaiannya, terang bahwa orang muda ini seorang berpangkat pula.

Pangeran An yang botak itu tadinya tidak melihat kedatangannya tamu baru ini dan kemarahannya membuat mukanya menjadi merah sekali.

Dengan gerekan istimewa, kebutan di tangan kirinya menyambar ke arah meja yang menghalang di depannya.

Ujung kebutan itu melilit kaki meja dan sekali dia menggerakkan tangan, meja kosong itu terbang ke kiri dan empat buah kakinya menancap pada dinding dan menempel di situ.

Amat aneh dan lucu meja itu kini menempel miring dengan empat kaki pada dinding!

Kwan Cu terkejut.

Terang bahwa si botak ini memamerkan kepandaiannya dan harus dia akui bahwa hal itu hanya dapat dilakukan oleh orang yang memiliki kepandaian serta lweekang yang sudah tinggi tingkatnya.

Akan tetapi sebelum si botak turun tangan, orang muda berpakaian mewah yang baru masuk itu mengeluarkan suara ketawa mengejek dan berkata.

"Terlalu banyak orang pandai sekarang sehingga di mana saja melihat orang memamerkan tenaga!"

Sambil berkata demikian, dia melangkah ke arah dinding di mana meja itu menancap empat kakinya.

Dengan gerakan perlahan dia memegang meja itu dan sekali renggut ke bawah, meja itu telah terlepas dari dinding.

Ketika Kwan Cu memandang ke arah dinding, dia menjadi makin keheranan dan tertegun karena ternyata bahwa pemuda berpakaian mewah yang datang ini bahkan lebih tinggi kepandaiannya daripada si botak tadi.

Dengan sekali gentak saja sudah dapat mematahkan empat kaki meja yang rata dengan dinding sehingga seakan-akan lubang dinding yang ditusuk oleh kaki meja, kini telah disumbat rapat dan rata dengan permukaan dinding.

Pemuda botak ketika memandang kepada orang yang baru datang ini, menjadi berubah air mukanya.

Ia menyimpan kembali sepasang senjatanya dan berkata sambil tersenyum pahit.

"Eh, kiranya Suheng tidak menginginkan keributan. Biarlah siauwte meninggalkan pengemis kurang ajar ini kepada Suheng."

Sehabis berkata demikian, pemuda botak ini sambil tertawa-tawa mengejek, lalu meninggalkan ruangan rumah makan, diikuti oleh kawan-kawannya yang kelihatan takut sekali terhadap pemuda baju mewah yang baru datang.

Kini perhatian Kwan Cu tertuju kepada pemuda pakaian mewah ini.

Makin dia pandang, makin dikenalnya muka pemuda ini.

Ia merasa yakin bahwa dia pernah bertemu dengan pemuda ini, hanya dia lupa lagi di mana dan bilamana.

Tiga orang pengemis tadi kini berdiri di luar pintu dan jelas sekali bahwa di antara tiga orang pengemis itu dan pemuda ini pasti ada hubungan dan dapat diduga pula bahwa kedatangan pemuda ini pun atas pemberitahuan tiga orang pengemis itu.

Makin heranlah hati Kwan Cu.

Agaknya keadaan di kota raja ini penuh dengan rahasia.

Siapa tahu kalau-kalau tiga orang pengemis itu memang mata-mata yang menyamar dan bekerja untuk kepentingan pemuda mewah ini.

Tentu pemuda ini pun tinggi pangkatnya, kalau tidak demikian, tidak nanti pemuda botak yang disebut pangeran muda itu menyebutnya suheng (kakak seperguruan) dan sikapnya begitu mengalah.

Sementara itu, pemuda berpakaian mewah ini juga memandang kepada Kwan Cu dengan penuh perhatian.

Sepasang matanya memandang dan mulutnya tersenyum setengah mengejek.

Melihat sinar mata dan senyum itu, timbul rasa tidak suka di hati Kwan Cu.

Pemuda yang bersikap halus namun mempunyai watak dasar yang sombong sekali, jauh lebih sombong dari pemuda botak tadi, pikirnya.

Hanya kesombongannya tersembunyi di balik kehalusan yang disengaja dan kelicinan yang luar biasa.

Terhadap orang seperti ini aku harus berlaku hati-hati sekali, pikir Kwan Cu.

"Kiranya benar sekali laporan Sam-lokai (Tiga Pengemis Tua) bahwa kota raja kedatangan seorang pemuda luar biasa, seorang tamu agung yang menyembunyikan keadaan sebenarnya. Ah, Kwan Cu, sudah lupakah kau kepadaku?"

Kata pemuda itu sambil tersenyum dan menghampiri Kwan Cu. Kwan Cu hampir melompat dari bangkunya. Baru sekarang dia teringat siapa adanya orang ini.

"Lu Thong......!"

Serunya. Lu Thong memperlebar senyumnya, lalu memberi tanda agar supaya Kwan Cu jangan banyak bicara di tempat terbuka itu.

"Kita masih bersaudara, bukan? Nah, marilah kau ikut dengan aku ke rumahku, di sana kita dapat bicara dengan enak dan leluasa."

Akan tetapi, melihat senyum pemuda yang dulu amat sombong dan jahat itu, Kwan Cu menjadi makin curiga dan benci.

"Aku tidak mau pergi bersama murid orang yang telah menewaskan guruku secara keji,"

Jawabnya. Lu Thong mainkan alisnya.

"Aha, kau sudah mendengar tentang hal yang mentertawakan itu? Kwan Cu, kita kesampingkan dulu urusan orang-orang tua itu. Kau mau mendengar keterangan yang sejelasnya tentang semua keadaan selama kau menyembunyikan diri sampai bertahun-tahun? Nah, keterangan itu hanya bisa kaudapatkan dari aku. Marilah kau mampir ke rumahku, ataukah kautakut?"

Keangkuhan hati Kwan Cu tersentuh dengan tantangan ini, maka dengan gagah dia menjawab.

"Siapa takut? Kau mau bisa berbuat apakah terhadap aku? Baik, aku ikut denganmu, hendak kulihat apa yang hendak kaulakukan."

Lu Thong tertawa girang dan memberi tanda kepada tiga orang pengemis tua yang masih berdiri di luar pintu.

Tiga orang pengemis itu lalu berlari pergi dengan cepat sekali dan kembali Kwan Cu tertegun.

Kiranya para pengemis yang tadi menimbulkan belas kasihannya, bukanlah pengemis sembarangan!

Lu Thong membawa Kwan Cu pergi ke sebuah gedung yang mentereng di bagian barat kota.

Tadi ketika pemuda mewah ini bercakap-cakap dengan Kwan Cu di dalam rumah makan, para pelayan tidak ada yang berani mendekat.

Di sepanjang jalan pun, semua orang yang bertemu dengan Lu thong, memberi hormat dengan sopan sekali, bahkan serombongan tentara yang kebetulan lewat, cepat bersikap tegak dan memberi hormat pula.

Diam-diam Kwan Cu memuji bahwa pemuda ini telah dapat mengangkat diri dalam kedudukan yang tinggi.

Ia merasa heran sekali mengapa kakek angkatnya, Menteri Lu Pin yang terbinasa sekeluarga, keadaanya jauh berbeda dengan cucunya ini.

Akan tetapi dia tidak banyak bertanya, hanya mengikuti Lu Thong dengan diam-diam.

Ketika memasuki rumah gedung itu, banyak pelayan menyambut kedatangan Lu Thong dan Kwan Cu dengan penuh penghormatan.

Di antara para penyambut, terdapat lima orang wanita muda yang cantik jelita dan dengan sikap biasa seakan-akan hal itu tidak ada keanehannya, Lu Thong memperkenalkan lima orang itu sebagai selir-selirnya!

"Aku belum menikah dan masih menanti datangnya jodoh yang cocok,"

Katanya tertawa.

"karena itu, mereka inilah yang menghiburku dan dan mengusir kesepian dari anak malang yang hidup sebatang kara ini."

Kwan Cu hanya mengerutkan keningnya, akan tetapi tidak berkata sesuatu, juga tidak mempedulikan sinar mata para wanita muda yang ditujukan kepadanya dengan sikap genit.

Juga dia melihat tiga orang pengemis tadi kini telah ikut menyambut dengan pakaian bagus dan sikap hormat sambil tertawa-tawa.

"Mari kita bicara di dalam taman bunga, saudara Kwan Cu. Di sana hawanya lebih enak dan leluasa."

Kwan Cu harus mengakui, bahwa taman bunga ini indah sekali.

Tidak saja di situ penuh dengan tanaman bunga beraneka warna dan dihias pula dengan sebuah kolam ikan yang penuh ikan emas dan bunga teratai, juga di tengah-tengah taman bunga itu dibuat tanah lapang yang amat bersih dan lega, agaknya tempat berlatih ilmu silat.

"Kau hidup mewah dan senang sekali, Lu Thong,"

Kata Kwan Cu sambil memandang ke sekeliling tempat itu.

Ia mendapat kenyataan bahwa baik rumah gedung itu maupun taman bunganya, dikelilingi oleh tembok yang tinggi sekali dan di atas tembok dipasangi kawat berduri.

"Akan tetapi kau juga menjaga tempatmu ini dengan amat kuat seperti takut akan kedatangan musuh."

Lu Thong tertawa dan mengajak Kwan Cu duduk menghadapi meja yang telah penuh dengan hidangan-hidangan mewah dan guci arak berukir yang penuh dengan arak wangi.

"Duduklah, saudaraku. Matamu benar-benar awas dan kau dapat menduga tepat. Memang di kota raja sekarang tidak aman, kekacauan hebat timbul, tidak saja untuk para pembesar dan penduduk, bahwa di dalam istana sendiri terjadi kekacauan dan persaingan hebat."

"Seperti halnya suhumu Jeng-kin-jiu yang mengeroyok dan menewaskan suhuku,"

Kata Kwan Cu dengan pandang mata tajam.

"Jangan kau persalahkanaku dalam urusan itu. Suhu juga merasa amat menyesal dan sekarang suhu tidak mau lagi menginjak kota raja karena merasa menyesal telah ikut terseret dalam permusuhan."

"akan tetapi muridnya bahkan hidup mewah di sini, sungguhpun seluruh keluarganya telah musnah........"

Kwan Cu menyindir.

"Kau tidak tahu, Kwan Cu. Kong-kong (kakek) Lu Pin sebenarnya masih hidup."

Berubah wajah Kwan Cu.

"Benarkah? Di mana beliau?"

"Itulah soalnya, Kwan Cu. Kong-kong telah dapat melarikan diri membawa harta benda istana yang besar sekali harganya, dan sampai sekarang tak seorang pun mengetahui di mana adanya kong-kong Lu Pin. Oleh karena itulah, biarpun semua keluarga terbinasa, aku terpaksa harus mencari kedudukan setelah ditolong oleh suhu dan diberi ampun oleh mendiang Panglima An Lu Shan."

Kembali Kwan Cu tertegun.

"Apa? Pemberontak itu sudah meninggal dunia?"

"Huuusss, jangan keras-keras kau bicara, Kwan Cu. Panglima An Lu Shan adalah seorng panglima gagah perkasa dan bahkan telah menjadi kaisar yang bijaksana. Kalau tidak demikian, tidak nanti aku diangkat menjadi pangeran dan dianggap sebagai putera angkatnya sendiri."

"Hemmm, begitukah.....?"

Kata Kwan Cu sambil merapatkan bibirnya.

Akan tetapi di dalam hatinya dia merasa muak sekali terhadap pemuda ini.

Seluruh keluarganya, termasuk ayah bundanya, dan semua orang, telah dibinasakan oleh An Lu Shan dan dia sendiri mau diangkat menjadi puteranya!

Alangkah rendahnya watak pemuda ini.

"Kau agaknya tidak tahu sama sekali tentang keadaan di sini, Kwan Cu."

"Memang aku tidak tahu, bukankah kau mengajak aku kesini untuk menceritakan semua itu?"

Kwan Cu bertanya. Lu Thong kembali tersenyum, senyum yang mengandung ejekan dan rahasia, senyum yang membayangkan kecerdikannya dan yang membuat Kwan Cu bersikap waspada.

"Baiklah, kuceritakan semuanya dengan jelas keadaan di kota raja."

Maka berceritalah Lu Tong.

Sebagaimana diketahui, Kaisan Hian Tiong yang lalim itu dengan cara amat sembrono telah mengangkat An Lu Shan, seorang Panglima Tartar menjadi panglima di tiga kota timur laut dan berkedudukan di Ho-pei.

Hal ini sudah dibantah oleh banyak menteri, terutama sekali ditentang oleh Menteri Lu Pin.

Akan tetapi kaisar tidak mempedulikan semua teguran itu yang diajukan dengan alasan bahwa amat berbahaya mengangkat panglima asing dengan kekuasaan besar.

Akhirnya, benar saja An Lu Shan memberontak dengan sejumlah tentara tidak kurang dari lima belas laksa orang yang telah dilatih sempurna sekali dalam hal ilmu pedang, lalu pemberontak ini memukul ke selatan!

Kaisar yang tidak becus mengurus pemerintahan ini tidak berdaya sama sekali.

Para pejabat dan panglimanya hanya mengutamakan kesenangan dan pelesiran saja seperti kaisarnya.

Memang, keadaan Kaisar Hian Tiong amat lemah.

Kaisar ini sendiri seakan-akan menjadi boneka saja yang selalu menuruti kehendak seorang isterinya yang amat cantik, yakni Yang Kui Hui yang tersohor cantik jelita dan genit.

Oleh karena pertahanan amat lemah dan bala tentara An Lu Shan memang istimewa, lagipula dibantu oleh orang-orang pandai, kerajaan dapat dirampas oleh An Lu Shan dan kaisar sendiri lalu melarikan diri mengungsi ke Se-cuan.

An Lu Shan dan kaki tangan, keluarga serta pembantu-pembantunya terdiri dari orang-orang kasar.

Sekali mendapatkan tahta kerajaan, laksana orang-orang kelaparan menghadapi hidangan-hidangan lezat.

Mereka menjadi mata gelap dan terjadilah perebutan kekuasaan.

Dalam keributan ini, An Lu Shan telah dibunuh oleh puteranya sendiri.

Keributan merajalela, tidak saja di dalam istana terjadi perebutan kekuasaan, bahkan hal itu menjalar sampai di luar istana.

Banyak sekali orang-orang berkuasa saling memperngaruhi dan menanam bibit permusuhan dan persaingan yang dalam sekali dengan diam-diam.

Adapun fihak tentara Kerajaan Tang, masih bersetia dan selalu melakukan perlawanan pembalasan.

Ketika bala tentara Tang mengawal kaisar dan isterinya mengungsi, mereka mendesak kepada kaisar untuk merelakan Yang Kui Hui, karena mereka menganggap bahwa permaisuri inilah yang menjadi biang keladi sehingga pemerintah menjadi lemah dan mudah terjatuh ke dalam tangan pemberontak.

Dengan hati sedih kaisar tak dapat menolak desakan ini sehingga akhirnya, di tengah jalan Yang Kui Hui di hukum mati oleh tentara Tang sendiri!

Telah dituturkan di bagian depan betapa Menteri Lu Pin dapat melarikan diri membawa harta benda Kerajaan Tang.

Keluarganya, termasuk semua pelayan, telah dihukum mati oleh An Lu Shan, sedangkan Menteri Lu Pin sendiri selalu dikejar-kejar dan dicari-cari oleh karena An Lu Shan maklum bahwa menteri itu membawa lari sejumlah harta negara yang amat besar.

Telah dituturkan pula betapa Menteri Lu Pin ditolong oleh Ang-bin Sin-kai dan dapat bersembunyi di dalam gua yang selanjutnya di sebut Gua Tengkorak, karena bekas menteri ini membuat tengkorak-tengkorak raksasa dari tulang-tulang binatang purbakala yang banyak terdapat di dalam gua itu.

Hanya Lu Thong yang selamat dan terbebas dari hukuman An Lu Shan.

Bahkan ketika pemuda ini datang ke kota raja bersama gurunya, yakni Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, An Lu Shan telah memaafkannya dan mengambilnya sebagai anak angkat, diberi gelar pangeran dan diberi kedudukan istimewa.

Semua ini diceritakan oleh Lu Thong dengan jelas sekali, dan sebagai penutup ceritanya, dia berkata.

"Demikianlah, saudara Kwan Cu. Betapapun juga, An Lu Shan telah bersikap baik terhadap aku, dan setelah dia terbunuh oleh puteranya sendiri, di dalam istana terdapat persaingan hebat secara diam-diam. Mereka saling menjaga agar persaingan itu tidak mengacaukan bala tentara. Akan tetapi memang benar-benar terdapat persaingan yang luar biasa hebatnya, yakni antara tiga golongan. Golongan pertama adalah pangeran mahkota yang telah membunuh An Lu Shan beserta pengikutnya, golongan kedua adalah tangan kanan An Lu Shan yang bernama Si Su Beng. Adapun golongan ketiga adalah Pangeran An Lu Kui, adik dari An Lu Shan."

"Hm, diakah? Aku pernah bertemu dengan panglima kasar itu,"

Kata Kwan Cu yang teringat akan pengalamannya dahulu ketika dia menghajar An Lu Kui, dalam pondongan Ang-bin Sinkai.

"Ya, memang dia dan tadi kau telah bertemu dengan puteranya yang bernama An Kong."

"Pemuda botak hidung belang tadi?"

Tanya Kwan Cu.

"Dan dia itu sutemu?"

Lu Thong menarik napas panjang.

"Suhu selalu tidak bisa melepaskan orang yang memiliki bakat baik. Dia itu sebagai murid ke dua."

"Lu Thong, sebetulnya semua ceritamu itu tidak menarik hatiku, karena tiada sangkut pautnya dengan aku? Apakah maksudmu membawaku ke sini? Aku datang ke kota raja untuk mencari Jeng-kin-jiu, di manakah gurumu itu?"

"Kwan Cu, benar-benarkah kau hendak membalaskan sakit hati karena suhumu tewas oleh suhuku?"

Tanya Lu Thong mengerutkan kening.

"Bukan hanya oleh suhumu, melainkan oleh keroyokan tokoh-tokoh besar yang bersikap pengecut."

"Kwan Cu, kau keliru. Gurumu Ang-bin Sin-kai itu memang salah sekali, hendak membalaskan sakit hati karena kakek Lu Pin dihukum sekeluarganya oleh An Lu Shan. Dia tidak dapat melihat keadaan, sedangkan suhu beserta lain orang telah membantu pemerintah baru, untuk apa membela pemerintah lama yang sudah runtuh?"

Kwan Cu hendak membantah, akan tetapi Lu Thong segera melanjutkan kata-katanya dengan suara membujuk.

"Kwan Cu, sudahlah jangan kita bicarakan tentang urusan orang-orang tua itu. Kita masih muda dan masih banyak harapan untuk maju. Ingatlah bahwa kau adalah keturunan Lu pula, sungguhpun hanya cucu angkat dari kong-kong Lu Pin. Keturunan Lu hanya kau dan aku saja dan kalau saja kau suka membantuku, kita dapat mengangkat nama keluarga kita!"

"Apa maksudmu?"

"Dengar baik-baik, Kwan Cu. Kini golongan-golongan berkuasa sedang bersaing, bermaksud saling menjatuhkan. Kalau saja kita berdua dapat mengatasi mereka dan tahta kerajaan jatuh ke dalam tangan kita, bukankah hal itu baik sekali?"

"Apa?"

Kwan Cu membelalakkan matanya.

"Kau bercita-cita menjadi kaisar?"

"Apa salahnya? Nenek moyangku adalah orang-orang besar yang sudah banyak sekali jasanya terhadap negara. Sudah sepatutnya kalau turunannya mendapat anugerah besar. Apa sukarnya menjadi raja? Agaknya aku takkan seburuk Kaisar Hian Tiong yang lemah! Aku mendengar dari suhu bahwa kaulah orangnya yang kiranya akan berhasil menemukan kitab rahasia Im-yang Bu-tek Cin-keng. Nah, marilah kita bekerja sama, saudaraku yang baik."

Berubah muka Kwan Cu ketika Lu Thong menyebut nama kitab itu.

"Tidak, tidak! Aku tidak mau mengotorkan pikiranku dengan segala perkara kerajaan ini. Kau mau menjadi raja, sesukamulah. Aku tidak butuh, yang kubutuhkan hanya pemberitahuan di mana adanya Jeng-kin-jiu agar aku dapat membuat perhitungan dengan dia!"

Mendengar suara Kwan Cu yang tegas ini, berubahlah sikap Lu Thong dan wajahnya yang tadi kelihatan manis budi menjadi keras.

Senyumnya masih menghias mukanya yang tampan, akan tetapi kini senyum itu masam dan penuh ejekan.

"Kwan Cu, agaknya benar kata suhu bahwa kau sudah mempelajari ilmu dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, maka kau berani menetang suhu!"

"Tidak, Lu Thong, aku seorang yang tidak ada kepandaian (Ba Pun Su),"

Jawab Kwan Cu tenang.

Dengan bibir tetap tersenyum mengejek, Lu Thong memberi isyarat kepada para selirnya yang telah datang dengan tindakan kaki menggiurkan dan agaknya mereka hendak menghibur tamu.

Para selir ini dengan heran dan kecewa mengundurkan diri, kemudian ketika Lu Thong bertepuk tangan tiga kali, muncullah tiga orang pengemis tua yang sekarang telah berganti pakaian sebagai panglima-panglima!

Agaknya tepukan tangan itu merupakan isyarat, karena tiga orang tua ini begitu datang lalu mengurung Kwan Cu dan ketika tangan bergerak, tangan mereka telah mencabut pedang yang berkilauan!

anugerah besar.

Apa sukarnya menjadi raja?

Agaknya aku takkan seburuk Kaisar Hian Tiong yang lemah!

Aku mendengar dari suhu bahwa kaulah orangnya yang kiranya akan berhasil menemukan kitab rahasia Im-yang Bu-tek Cin-keng.

Nah, marilah kita bekerja sama, saudaraku yang baik."

Berubah muka Kwan Cu ketika Lu Thong menyebut nama kitab itu.

"Tidak, tidak! Aku tidak mau mengotorkan pikiranku dengan segala perkara kerajaan ini. Kau mau menjadi raja, sesukamulah. Aku tidak butuh, yang kubutuhkan hanya pemberitahuan di mana adanya Jeng-kin-jiu agar aku dapat membuat perhitungan dengan dia!"

Mendengar suara Kwan Cu yang tegas ini, berubahlah sikap Lu Thong dan wajahnya yang tadi kelihatan manis budi menjadi keras.

Senyumnya masih menghias mukanya yang tampan, akan tetapi kini senyum itu masam dan penuh ejekan.

"Kwan Cu, agaknya benar kata suhu bahwa kau sudah mempelajari ilmu dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, maka kau berani menetang suhu!"

"Tidak, Lu Thong, aku seorang yang tidak ada kepandaian (Ba Pun Su),"

Jawab Kwan Cu tenang.

Dengan bibir tetap tersenyum mengejek, Lu Thong memberi isyarat kepada para selirnya yang telah datang dengan tindakan kaki menggiurkan dan agaknya mereka hendak menghibur tamu.

Para selir ini dengan heran dan kecewa mengundurkan diri, kemudian ketika Lu Thong bertepuk tangan tiga kali, muncullah tiga orang pengemis tua yang sekarang telah berganti pakaian sebagai panglima-panglima!

Agaknya tepukan tangan itu merupakan isyarat, karena tiga orang tua ini begitu datang lalu mengurung Kwan Cu dan ketika tangan bergerak, tangan mereka telah mencabut pedang yang berkilauan!

"Lu Thong, apa kehendakmu?"

Tanya Kwan Cu dan pandangan matanya mulai keras dan tajam.

"Kehendakku?"

Jawab Lu thong menyindir.

"Sudah kukatakan tadi bahwa aku menghendaki kau membantuku untuk mencapai cita-citaku."

"Aku tidak sudi!"

"Kau tetap bocah bodoh yang keras kepala seperti dulu! Sebetulnya banyak hal yang kau hutang dariku, Kwan Cu. Pertama-tama, kau menyatakan hendak memusuhi suhuku, ini sudah merupakan dosa-dosa, namun aku masih mengampuni kalau kau bekerja sama. Kedua kalinya, kalau memang telah mendapatkan kitan Im-yang Bu-tek Cin-keng, kau harus menyerahkan kitab itu padaku! Ketiga kalinya, masih ingatkah kau betapa dahulu ketika kita masih sama-sama kecil, kau tidak mampu mengalahkan aku dan suhumu berkata bahwa kelak kita harus mengadu kepandaian lagi? Nah, karena sekarang kau berkeras kepala, perkenalkanlah tiga orang sahabatku ini. Mereka ini adalah Pek-lek-kiam Sam-sin-kai (Tiga Pengemis Sakti Berpedang Kilat)! Mereka adalah orang-orang gagah di dunia kang-ouw namun mereka dapat melihat mulianya cita-citaku sehingga mereka mau membantuku. Masa seorang manusia macam engkau berani menolak ajakanku yang baik?"

Bukan main panasnya hati Kwan Cu mendengar ucapan yang amat menghina dan merendahkannya itu.

"Banyak anjing-anjing penjilat yang akan melonjorkan kaki depan melihat orang melemparkan tulang kepadanya, akan tetapi aku tidak termasuk golongan ini, Lu Thong. Sudahlah, aku tidak ada waktu banyak untuk melayani obrolanmu."

Setelah berkata demikian Kwan Cu hendak pergi meninggalkan taman bunga itu, akan tetapi tiba-tiba tiga orang pengemis sakti itu menghadang dengan pedang di tangan.

"Kalian mau apa?"

Bentak Kwan Cu. Lu Thong memberi isyarat dengan tangan dan seorang di antara tiga pengemis tua itu menjawab.

"Hendak mencoba kepandaian seorang manusia sombong seperti engkau!"

Ucapan ini di tutup oleh berkelebatnya tiga batang pedang yang menyambar laksana kilat.tidak percuma mereka mendapat julukan Pedang Kilat, karena gerakan pedang mereka benar-benar amat cepat sehingga pedang itu lenyap tidak kelihatan dan nampak hanya sinarnya saja yang berkilauan seperti kilat menyambar.

Ini kalau dilihat oleh mata orang lain, namun bagi mata Kwan Cu gerakkan itu tidak seberapa hebat.

Bahkan dengan kepandaiannya yang luar biasa, yakni penglihatan dan pengertian tenatng pokok dasar segala pergerakan orang dalam bersilat, dia telah lebih dulu dapat menduga kemana tiga batang pedang itu hendak menyerangnya!

Oleh karena itu, dia melakukan gerakan cepat sekali dan mendahului mereka.

Ia maklum bahwa serangan mereka itu akan disusul oleh gerakan lain.

Hal ini dapat dia lihat dari pergerakan pundak dan pandangan mata mereka, maka sebelum tiga orang itu sempat melanjutkan serangannya setelah Kwan Cu mengelak cepat, pemuda ini sudah dapat mendahului mereka dengan ketokan-ketokan telapak tangan yang dimiringkan ke arah pangkal lengan.

"Plak! Plak! Plak!"

Tiga kali jari-jari tangannya yang dibuka itu menyentuh pangkal lengan kanan lawan dan terdengarlah jeritan susul-menyusul, kemudian tiga batang pedang terlempar ke atas, ketiga orang Pengemis Sakti Berpedang Kilat itu mengaduh-aduh sambil memegangi pangkal lengan kanan dengan tangan kirinya.

Adapun pedang yang tadi mereka pegang, tentu saja terpental jauh karena tangan mereka tiba-tiba menjadi kaku dengan jari-jari terbuka, seakan-akan terkena aliran listrik yang maha kuat!

Untuk sesaat Lu Thong tertegun melihat hal yang tak diduga-duganya ini, akan tetapi di lain saat dia telah melompat dengan senjatanya di tangan.

Seperti main sulap saja melihat dia tiba-tiba memegang sebatang toya yang panjangnya ada lima kaki dan kedua ujung toya itu berkilauan karena memang ujungnya terbuat daripada emas.

Bagaimana tiba-tiba saja pemuda ini bisa memegang sebatang toya panjang yang tadinya tidak kelihatan dia bawa?

Ternyata bahwa toya itu dibuat istimewa, bersambung-sambung dan dapat di tekuk-tekuk sehingga dapat di gulungkan di pinggang, tertutup oleh baju luar.

"Kwan Cu, ternyata selama kau tidak muncul, kau telah memiliki kepandaian yang lumayan. Hendak kulihat apakah kau cukup kuat menahan seranganku!!"bentak Lu Thong sambil mengayun toyanya. Kwan Cu dapat merasai angin sambaran toya ini dan teringatlah dia akan Jeng-kin-jiu, tokoh besar selatan yang terkenal sebagai ahli gwakang dan memiliki tenaga seperti gajah. Menurut penuturan Ang-bin sin-kai, untuk masa itu, tingkat kepandaian Jeng-kin-jiu sudah tinggi sekali dan dialah satu-satunya ahli gwakang yang dapat mengatur tenaga sehingga dapat menggunakan tenaga sampai seribu kati kuatnya! Kwan Cu maklum bahwa Lu Thong tentu telah mewarisi tenaga dan kepandaian suhunya, maka dia berlaku amat hati-hati. Karena kepandaian yang dia dapatkan dari Im-yang Bu-tek Cin-keng, serta pelajaran ilmu-ilmu silat yang banyak macamnya yang dia pelajari dari lukisan-lukisan di dinding goa-goa pulau pohon berdaun putih, dia tahu cara bagaimana harus menghadapi serangan toya yang bertenaga besar ini. Dengan lincahnya dia mengelak ke sana ke mari menghindarkan diri dari sambaran toya yang datang bertubi-tubi. Setelah menghadapi toya Lu Thong beberapa belas jurus saja, bukan main gembiranya hati Kwan Cu karena dia telah dapat mengerti akan pokok dasar gerakan permainan toya itu. Ia diam-diam merasa kagum, heran dan juga berterima kasih sekali akan pelajaran-pelajaran dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, oleh karena ilmu toya dari Jeng-kin-jiu yang demikian hebatnya, baru belasan jurus saja sudah dapat dia tangkap inti sarinya! Kalau dia mau, dia akan dapat meniru setiap gerakan dan serangan Lu Thong! Namun, dia tahu pula bahwa dalam hal tenaga gwakang, dia tidak dapat mengimbangi tenaga Lu Thong, sedangkan ilmu toya itu harus dilakukan dengan tenaga gwakang, baru sempurna jalannya. Maka Kwan Cu segera mencabut sulingnya dan mulailah dia melakukan serangan balasan. Ia dapat menghadapi Lu Thong dengan enak saja karena sekarang dia dapat melihat jelas cara lawan bergerak, bahkan dia telah tahu kemana toya akan menyambar hanya dengan memperhatikan gerak pundak dan paha lawan saja! Sebaliknya Lu Thong menjadi heran bukan main. Pukulannya selalu mengenai tempat kosong. Kalau Kwan Cu menggunakan ginkang untuk mengelak dari pukulannya, hal ini takkan mengherankan. Yang membuat dia tiada habis heran adalah cara Kwan Cu mengelak. Sebelum toyanya bergerak menyambar, lawannya itu sudah melangkah ke arah yang berlawanan dengan maksud pukulan toyanya, seakan-akan Kwan Cu sudah tahu lebih dulu bagaian mana yang hendak diserang. Kemudian Kwan Cu mainkan sulingnya dan terkejutlah Lu Thong. Serangan suling Kwan Cu sama benar gerakannya dengan serangan toyanya, hanya bedanya kalau dia menyerang dengan gwakang untuk menghancukan kepala atau mematahakan tulang, adalah Kwan Cu mempergunakan sulingnya untuk menotok jalan darah yang berbahaya. Pertempuran ini benar-benar berat sebelah. Lu Thong terdesak hebat dan tidak kuat menghadapi lawannya lebih lama lagi. Setiap serangannya dapat dielakkan lebih dulu oleh lawannya yang berbalik menyerangnya, kadang-kadang dengan ilmu silatnya, akan tetapi tiba-tiba diubah lagi dengan ilmu silat lain yang sama sekali tak dikenalnya! Akhirnya, setelah kepalanya pening dan tenaganya mulai berkurang, sebuah totokan dari Kwan Cu tepat mengenai iganya. Lu Thong merasa seluruh tubuhnya lemas, kedua tangannya menggigil dan terlepaslah toya dari pegangan. Kwan Cu menyusul dengan sebuah totokan pula ke arah pundak, kini untuk membebaskan totokan pertama tadi lalu melompat ke belakang, berdiri tegak dan berkata.

"Lu Thong, melihat muka Kong-kong Lu Pin, aku masih mengampuni nyawamu. Harap kau insyaf dan berubah menjadi manusia baik-baik sesuai dengan darah keluargamu. Selamat tinggal!"

Sebelum Lu Thong dapat menjawab, sekali berkelebat Kwan Cu telah lenyap dari situ.

Lu Thong menarik napas panjang dan membanting di atas bangku.

Ia tidak mempedulikan tiga orang pembantunya yang berdiri dengan muka kesakitan di situ, bahkan lalu memberi isyarat dengan tangannya agar tiga orang itu meninggalkannya seorang diri.

"Dia benar-benar hebat. Tentu Im-yang Bu-tek Cin-keng telah berada di tangannya,"

Pikir Lu Thong penasaran.

Ia tidak menyusahkan keadaan dengan suhunya yang terancam oleh Kwan Cu, juga tidak memikirkan kata-kata Kwan Cu tadi.

Yang dipikirkan hanya cita-citanya saja.

Sayang Kwan Cu yang sakti tidak mau membantunya, pikirnya.

Bagaimana, seorang pemuda yang sudah lemah imannya ini dapat mendengarkan nasihat Kwan Cu?

Sampai berhari-hari Lu Thong bermurung saja.

Hiburan kelima orang selirnya yang cantik-cantik tidak mengubah kekesalan hatinya.

Setiap hari dia memutar otak, mencari jalan baik.

*** Pada malam hari itu, sebuah bayangan yang amat gesit melompat-lompat di atas genteng-genteng tebal dari kompleks bangunan istana yang megah.

Tak seorang pun manusia menyangka bahwa malam hari itu ada orang yang berloncat-loncatan di atas gentang bangunan itu.

Memang, biarpun penjagaan daerah istana ini amat ketat, namun tidak ada seorang pun kepala jaga menyuruh anak buahnya menjaga di atas genteng.

Siapakah orangnya yang dapat menembus penjagaan sehingga dapat berlari-lari di atas genteng?

Penjagaan seluruh pintu istana amat kuat dan daerah istana itu sendiri dikelilingi oleh dinding yang tebal dan tinggi seklai, apalagi musuh dijaga oleh penjaga-penjaga yang berdiri di sepanjang tembok!

Seekor burung pun takkan dapat lewat tanpa terlihat oleh barisan penjaga.

Namun, bukan iblis atau dewa yang berlompat-lompatan di atas genteng, melainkan seorang manusia biasa.

Bukan lain adalah Kwan Cu, pemuda yang telah memiliki ilmu kepandaian luar biasa yang membuatnya menjadi seorang sakti.

Tidak sukar baginya untuk melewati penjagaan yang kokoh kuat itu, karena gerakannya memang cepat sekali.

Dari balik sebatang pohon, dia dapat melompat ke atas dinding tembok tanpa terlihat oelh penjaga, karena gerakannya itu luar biasa cepatnya.

Mungkin juga ada penjaga yang melihat bayangan berkelebat, akan tetapi tentu dia mengira bahwa itu hanyalah bayangan pohon yang tersinar oleh lampu penerangan di luar tembok.

Kwan Cu sudah melakukan penyelidikan di luar istana dan mendapat keterangan bahwa memang Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu dan tokoh-tokoh lain yang telah membunuh Ang-bin Sin-kai tidak berada di kota raja.

Akan tetapi dia belum mau meninggalkan kota raja, pertama-tama karena dia hendak menyelidiki di dalam isatana dulu.

Siapa tahu kalau-kalau di antara musuh-musuh besarnya itu ada yang bersembunyi di dalam istana.

Ia ingin menyelidiki dan sekalian ia teringat akan ucapan Pangeran An Kong, putera An Lu Kui.

Ia mendengar bahwa pangeran itu hendak melakukan perbuatan jahat terhadap seorang wanita yang disebutnya bunga liar.

Tergerak hatinya untuk sekalian menyelidiki keadaan pangeran botak itu dan kalau perlu menolong wanita tadi.

Dia pernah dibawa oleh suhunya ke istana, akan tetapi ketika dia datang dengan suhunya, mereka langsung menuju ke dapur istana dan tidak pernah menyelidiki keadaan istana dari atas genteng.

Oleh karena itu, Kwan Cu tidak tahu betul akan letak istana itu.

Ia hanya mencari-cari dari atas genteng dan mengintai ke bawah setiap kali dia melihat ada ruangan di bawah genteng.

Di bawah genteng bangunan-bangunan istana yang tinggi itu, terdapat langit-langit yang tebal, maka agak sukarlah baginya untuk memeriksa keadaan di bawah.

Apalagi banyak sekali terdapat loteng, karena rumah-rumah di situ sebagian besar bertingkat.

Seringkali dia harus mempergunakan kakinya untuk bergantung dengan kepala di bawah dan mengintai dari celah-celah tiang genteng.

Namun, dia hanya mendapatkan orang-orang berpakaian mewah sedang berpesta, dikelilingi oleh wanita-wanita cantik yang bermain tetabuhan, bernyanyi atau menari.

Ada pula orang-orang berpakaian perwira sedang melakukan tugas menjaga, agaknya para pengawal istana.

Tiba-tiba dia melihat sebuah bangunan yang berada di ujung timur dan di ruangan besar nampak lampu dinyalakan besar.

Beberapa orang laki-laki tengah duduk menghadapi meja panjang, seakan-akan orang sedang mengadakan rapat.

Tertarik hati Kwan Cu dan dia segera menuju ke bangunan itu.

Ia selalu berlaku hati-hati sekali maka ketika dia tiba di tempat yang agak gelap, dengan gerakan ringan sekali bagaikan daun kering tertiup angin, pemuda sakti ini, melayang turun, lalu jalan perlahan menuju ke tempat itu.

Dari balik jendela dia mengintai ke dalam.

Benar saja, di dalam ruangan yang amat lebar itu dia melihat lima orang laki-laki yang sedang bercakap-cakap dengan perlahan, agaknya membicarakan sesuatu yang amat penting.

Tiga orang di antaranya berpakaian seorang panglima tinggi, sedangkan yang dua orang adalah hwesio-hwesio setengah tua yang kelihatannya kuat dan bertubuh tegap.

Ketika Kwan Cu melayangkan pandangan matanya, dia mengenal seorang di antara tiga panglima itu.

Orang itu bukan lain adalah An Lu Kui, adik dari An Lu Shan.

Geli dirinya memikirkan betapa dahulu dia pernah mempermainkan panglima ini, atau lebih tepat gurunya yang mempermainkannya, karena dia memukul panglima ini dalam pondongan Ang-bin Sinkai.

Panglima itu masih nampak tegap dan gagah, biarpun sudah kelihatan agak tua.

Air mukanya menunjukkan seorang yang penuh cita-cita dan teringatlah penuturan Lu Thong bahwa An Lu Kui termasuk seorang di antara tiga golongan yang ingin memperebutkan kedudukan raja di tempat itu!

Dua orang panglima yang lainnya itu dia tidak kenal, akan tetapi dia dapat menduga bahwa nereka pun memiliki kepandaian silat inggi.

Juga dua orang hwesio setengah tua itu dia tidak kenal.

Kalau saja dia tidak melihat An Lu Kui di situ, tentu Kwan Cu sudah pergi lagi.

Akan tetapi kehadiran An Lu Kui menarik perhatiannya untuk mendengar percakapan mereka.

"Apakah Ji-wi Suhu (bapak pendeta berdua) telah menyampaikan pesanku kepada putera mahkota?"

Terdengar An Lu Kui bertanya kepada dua orang hwesio itu.

Kwan Cu maklum bahwa yang disebut putera mahkota tentulah putera dari An Lu Shan yang telah membunuh ayahnya sendiri itu.

Maka dia mendengarkan dengan penuh perhatian.

Seorang di antara dua hwesio itu menganguk-angguk.

"Sudah, Ong-ya,"

Kwan Cu merasa geli mendengar sebutan ini. Sebutan itu biasanya ditujukan kepada seorang pangeran muda.

"Apa pendapat beliau?"

Tanya An Lu Kui.

"Beliau merasa bahwa memang perlu diadakan perundingan ini, karena harta yang dibawa oleh Menteri Lu Pin itu memang amat banyak dan berguna sekali untuk kerajaan."

Mendengar jawaban hwesio itu, berdebar hati Kwan Cu. Mereka membicarakan tentang kongkongnya, Lu Pin, untung tadi dia mendengarkan ucapan ini.

"Dan beliau memberi kekuasaan penuh kepada Ji-wi untuk membicarakan hal itu dengan kami?"

Tanya An Lu Kui. Hwesio itu mengangguk.

"Itulah sebabnya maka beliau memutus pinceng (saya) berdua sengaja untuk merundingkan soal ini dengan Ong-ya dan dengan Si-ciangkun (Panglima Si)."

"Bagus,"

Kata An Lu Kui.

"Memang dalam menghadapi para pemberontak yang makin kuat dan dalam mengatur rencana mencari Lu Pin, kita harus bersatu padu dan mengerahkan seluruh tenaga. Herannya mengapa sampai sekarang Panglima Si Su Beng tidak datang."

"Pinto (aku, sebutan pendeta To) datang!"

Tiba-tiba terdengar suara dari jauh dan diam-diam Kwan Cu terkejut.

Orang yang dapat mendengar percakapan ini dari jauh dan sekaligus mengirim jawaban, adalah seorang berkepandaian tinggi yang mahir menggunakan Ilmu Coan-im-jip-bit (Mengirim Suara Dari Jauh).

Maka cepat pemuda ini menyelinap dan bersembunyi di tempat yang gelap.

Tak lama kemudian, menyambar angin dan tiba-tiba seorang tosu (Pendeta Agama To) setengah tua yang berjenggot panjang telah berada di ruang itu.

Mata tosu ini tajam dan memandang di sekelilingnya, kemudian dia berkata kepada semua yang berada di dalam ruangan.

"Kalian amat sembrono, membicarakan urusan penting harus berhati-hati dan menyelidiki lebih dulu kalau-kalau ada orang lain ikut mendengar!"

Setelah berkata demikian, tubuh tosu ini berkelebat ke atas genteng agaknya untuk menyelidiki apakah betul-betul tidak ada orang lain yang bersembunyi.

Kwan Cu makin terkejut dan cepat dia menyelinap ke belakang bangunan, berlindung di dalam gelap.

Ia mendengar suara An Lu Kui perlahan kepada hwesio itu.

"Dia itulah orang baru dari Si Su Beng yang bernama Kiam Ki Sianjin, benar-benar lihai sekali!"

Tak lama kemudian, kembali bayangan tosu itu melayang turun dan berkata.

"Keadaan aman tidak seekor burung pun pinto lihat di atas genteng!"

An Lu Kui tertawa bergelak.

"Kiam Ki Totiang terlalu curiga! Di tempat ini, siapakah yang berani mati melakukan pengintaian? Mari, Totiang silakan duduk. Karena Totiang belum lama datang, agaknya belum kenal dengan dua orang sahabat ini. Mereka ini adalah Mo Beng Hosiang yang berjuluk San-tian-jiu (Si Tangan Kilat) dan Mo Keng Hosiang yang berjuluk Hun-san-pian (Ruyung Pemecah Gunung). Ji-wi Suhu, inilah pembantu dan penasihat, juga guru dari Panglima Si Su Beng, yang bernama Kiam Ki Sianjin yang berjuluk Pak-kek Sian-ong (Dewa Kutub Utara)."

Kiam Ki Sianjin mengangguk-angguk dan membalas penghormatan dua orang hwesio itu.

"Hm, hm, hm, apakah bukan Bu-eng Siang-hiap (Sepasang Pendekar Tanpa Bayangan) yang tersohor? Bagus, bagus, dalam kerajaan ada sepasang naga yang menjaga, takut apalagi?"

Pujian ini sekaligus merupakan ejekan dan sikap memandang rendah.

Hal ini terasa oleh Mo Beng Hosiang yang berwatak keras, maka biarpun dia sudah mendengar nama besar Kiam Ki Sianjin, dia pura-pura bertanya.

"Pinceng (saya) sudah mendengar nama Pak-lo-sian (Dewa Kutub Utara) Siangkoan Hai yang namanya menggegerkan dunia, tidak tahu dengan Toyu (Sahabat) masih ada hubungan apakah?"

Wajah Kiam Ki Sianjin merengut, akan tetapi tiba-tiba dia tertawa untuk menyembunyikan ketidaksenangannya mendengar nama Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

Kiam Ki Sianjin ini adatnya memang sombong, dia pernah mencari Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang dianggap mengembari namanya.

Mereka berdua, kedua tokoh yang memakai julukan Dewa Utara ini, bertempur hebat.

Setelah hampir satu hari mereka bertempur, akhirnya Kiam Ki Sianjin terpaksa meninggalkan lawannya yang ternyata amat lihai dan yang tidak mampu dirobohkan itu.

Semenjak itu dia merasa benci sekali kepada Pak-lo-sian Siangkoan Hai.

Maka kini mendengar ucapan Mo Beng Hosiang, dia merasa tersindir.

Siapa tahu kalau hwesio gundul ini sudah mendengar akan pertempuran itu.

Suara ketawa dari Kiam Ki Sianjin amat aneh, meninggi merendah seperti suara kuda liar meringkik.

Namun tenaga khikangyang terkandung dalam suara itu seakan-akan menggetarkan tiang-tiang ruangan itu.

"Gunung dan bukit biarpun sama-sama menonjol tidak dapat dikatakan sama. Naga dan ular biarpun berbentuk serupa tetap ada perbedaan. Mana Pak-lo-sian bisa dipersamakan dengan pinto?"

Jawabnya ini sudah menyatakan betapa sombongnya tosu ini yang menganggap diri sendiri gunung dan Pak-lo-sian hanya bukit, atau yang mengumpamakan diri sendiri naga dan Pak-lo-sian hanya ular biasa!

Di antara mereka ini, sebagaimana telah dituturkan oleh Lu Thong kepada Kwan Cu, memang terdapat persaingan.

Bu-eng Siang-hiap dan dua orang hwesio gundul itu, adalah pengikut setia dari pangeran mahkota yang pada waktu itu boleh dibilang paling berkuasa, sedangkan Kiam Ki Sianjin adalah guru dari pemberontak Si Su Beng yang sudah lama mengilar dan ingin sekali merampas kedudukan.

Tentu saja sudah ada perasaan dendam dan bermusuhan di dalam hati mereka satu terhadap yang lain.

Kini hanya atas usul An Lu Kui yang juga mempunyai kekuasaan dan pengaruh besar, mereka mau datang berkumpul untuk merundingkan cara menghancurkan rakyat yang memberontak di sana-sini dan untuk mencari Menteri Lu Pin bersama harta benda yang dibawa pergi oleh bekas menteri itu.

Tak mengherankan apabila di dalam percakapan mereka, terdengar ucapan-ucapan yang menyindir dan saling memandang rendah.

Mo Beng Hosiang yang berwatak keras, mendengar ucapan Kiam Ki Sianjin yang menyombongkandiri, menjadi tak senang.

"Memang nama besar Pak-lo-sian menjulang tinggi seperti gunung dan dahsyat seperti naga!"

Katanya sambil memandang kepada Kiam Ki Sianjin dengan mata menantang.

Sudah terang sekali bahwa ucapan ini sengaja dikeluarkan untuk menekan kesombongan Kiam Ki Sianjin karena kedudukan tosu itu menjadi terbalik, bukan seperti gunung dan naga melainkan seperti bukit dan ular!

Melihat suasana sudah mulai panas antara dua orang kepercayaan dari dua golongan itu, diam-diam An Lu Kui menjadi girang.

Sebagai golongan ke tiga tentu saja dia suka melihat perpecahan antara dua wakil golongan saingannya itu.

Akan tetapi dia pun merasa khawatir kalau-kalau dua orang itu akan bertempur.

Pada masa itu, dia justeru membutuhkan tenaga golongan-golongan saingannya ini untuk mencapai cita-citanya, yakni pertama-tama menindas pemberontakan rakyat, kedua untuk mencari Lu Pin dan harta pusaka kerajaan.

Setelah dua hal ini tercapai dan beres, barulah dia akan mencari jalan untuk menggulingkan kedudukan dua golongan saingannya itu.

Dari sini saja dapat dilihat bahwa An Lu Kui benar-benar cerdik sekali.

Ia melompat di antara kedua orang itu dan menjura sambil berkata.

"Di waktu rumah tangga aman dan tentram, saudara-saudara saling bercakaran masih tidak mengapa, akan tetapi kalau rumah tangga sedang terancam bahaya kebakaran, semua saudara harus bersatu padu memadamkan api! Demikianlah ujar-ujar kuno yang baik sekali kita ingat selalu. Oleh karena itu, harap Ji-wi sudi bersabar dan mengingat bahwa kedatangan kita berkumpul di sini adalah untuk merundingkan hal-hal yang penting demi keselamatan negara."

An Lu Kui masih merupakan orang yang berpengaruh karena dia adalah paman dari putera mahkota. Maka Mo Beng Hosiang segera menjura dan berkata kepada Kiam Ki Sianjin.

"Kiam Ki Toyu harap sudi memaafkan pinceng kalau ada kata-kata pinceng yang kurang tepat."

Kiam Ki Sianjin sambil tertawa.

"Tidak apa, tidak apa! Mo Beng Suhu belum mengenal pinto dengan baik, tentu masih belum percaya."

Suasana damai dan persahabatan dapat ditimbulkan pula berkat ketangkasan dan kecerdikan An Lu Kui. Semua orang lalu duduk menghadapi meja panjang.

"Silakan Ang-ciankung menguraikan rencananya,"

Kata Kiam Ki Sianjin yang mempergunakan ujung lengan bajunya yang lebar untuk mengebut mukanya, mengusir hawa panas.

Padahal malam hari itu, udara amat dinginnya.

Tosu yang sombong ini masih saja hendak mendemonstrasikan kelihaiannya!

Ingin dia menonjolkan diri dan memperlihatkan bahwa dia bukanlah "orang biasa!"

Melihat sikap tosu ini, diam-diam Kwan Cu menjadi geli hatinya.

Dianggapnya tosu ini bersikap ketolol-tololan, akan tetapi melihat gerakan tosu tadi, dia dapat menduga bahwa memang tosu ini memiliki kepandaian yang tinggi sekali.

"Menurut hasil penyelidikan para mata-mata kita,"

An Lu Kui mulai bicara.

"pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan oleh para petani makin merajalela. Semua ini adalah karena pimpinan dan dorongan dari orang-orang di dunia kang-ouw yang masih bersetia kepada pemerintah Tang yang sudah kita hancurkan. Akan tetapi, agaknya mereka itu, biarpun mendapat pimpinan orang-orang pandai, takkan banyak berdaya kalau saja tidak ada sumber uang yang membiayai segala keperluan mereka. Mereka terdiri dari petani-petani miskin dan untuk mencukupi keperluan mereka sehari-hari, bukanlah biaya yang ringan. Kemudian mata-mata kita mendapat berita bahwa selain para hartawan yang masih setia kepada Kerajaan Tang menyumbang uang, terutama sekali biaya-biaya itu ditutup oleh sumber uang yang amat besar, yakni bukan lain dari bekas Menteri Lu Pin sendiri!"

"Ah, tentu harta pusaka kerajaan itu yang dipergunakannya!"

Teriak Kiam Ki Sianjin.

"Memang! Anjing Lu Pin itu menghamburkan harta yang dibawanya lari itu untuk membiayai pemberontakan,"

Kata An Lu Kui marah.

"Keparat jahanam!"

Mo Beng Hosiang ikut memaki.

"Kalau begitu berarti bahwa semua pemberontakan rakyat itu adalah atas anjuran Lu Pin yang menjadi biang keladinya."

An Lu Kui mengangguk-angguk.

"Begitulah kiranya. Memang, semenjak dahulu pun sudah diketahui oleh semua orang bahwa Menteri Lu Pin adalah menteri yang paling setia kepada Kerajaan Tang. Seluruh keluarganya telah binasa dalam membela Kerajaan Tang dan sampai sekarang pun dia masih ingin menegakkan Kerajaan Tang. Oleh karena itu, kurasa untuk memadamkan pemberontakan ini, cara yang terbaik adalah mencari sampai dapat menteri setan itu. Kalau dia sudah dibinasakan, harta pusaka Kerajaan Tang dapat dirampas, kiraku dengan sendirinya tanpa dipukul, para pemberontak itu akan mengundurkan diri."

"Akan tetapi, di manakah kita bisa mendapatkan anjing she Lu itu?"

Tanya Mo Keng Hosiang atau Si Ruyung Pemecah Gunung.

"Benar, di mana kita bisa mencari dia? Sudah bertahun-tahun orang-orang kita mencarinya dengan sia-sia. Agaknya dia telah mampus dan hartanya jatuh ke dalam tangan pemberontak."

Kata Mo Beng Hosiang.

"Tadinya aku pun mengira bahwa anjing she Lu itu sudah mampus,"

Kata An Lu Kui.

"akan tetapi baru-baru ini aku mendapat berita lain yang menyatakan bahwa dia telah bersembunyi ke dalam sebuah goa dan dari situlah dia mengatur dan merencanakan semua pemberontakan para petani."

Mendengar ini, tidak saja kedua hwesio dan Kiam Ki Sianjin menjadi amat tertarik, bahkan Kwan Cu yang mendengar di luar juga amat tertarik.

Hati pemuda ini berdebar-debar dan baru sekaranglah terbuka matanya betapa gagah dan mulia adanya kong-kong angkatnya, Menteri Lu Pin.

Ketika dia mendengar dari sastrawan Tu Fu, dia memang sudah merasa amat bangga akan kong-kong angkatnya itu.

Akan tetapi selama ini, pikirannya penuh oleh keadaan suhunya yang meninggal dunia dikeroyok orang, maka hal menteri setia itu hampir tidak dia pikirkan lagi.

Akan tetapi sekarang, mendengar semua penuturan ini, tergerak hatinya dan dia merasa amat kagum terhadap Menteri Lu Pin.

Seluruh keluarganya sudah musnah, dia sendiri yang sudah tua sampai terlunta-lunta, dikejar-kejar, namun menteri tua yang amat setia itu masih saja berjuang melawan penjajah!

"Kong-kong benar-benar luar biasa, aku harus dapat mencarinya dan membelanya."

Kata Kwan Cu di dalam hati dan dia memperhatikan lagi keadaan di dalam, ingin sekali tahu di mana tempat persembunyian kakek angkatnya itu.

"Di goa manakah dia bersembunyi?"

Teredengar Kiam Ki Sianjin bertanya.

Suaranya tinggi dan mengandung penuh gairah, karena siapakah orangnya di dalam istana itu yang tidak menjadi gairah hatinya mendengar bahwa tempat sembunyi Lu Pin telah diketemukan?

Bukan karena mereka terlalu membenci menteri ini, tetapi semata-mata karena menteri itu membawa harta pusaka kerajaan!

Inilah yang merupakan daya penarik luar biasa.

Harta yang terdapat di dalam istana itu telah menjadi rebutan dan sebentar saja sudah habis.

Kini semua hati dan mata yang selalu membayangkan harta dunia, ditujukan kepada harta pusaka yang dibawa pergi oleh Menteri Lu Pin.

"Inilah yang masih harus diselidiki,"

Jawab An Lu Kui sambil mengeluarkan segulung kertas.

"Menurut penyelidikan, dia bersembunyi di dalam sebuah goa rahasia yang terdapat di Bukit Tengkorang Raksasa. Akan tetapi di dalam peta tidak terdapat bukit yang bernama demikian dan nama ini pun baru saja muncul menjadi sebutan orang. Akan tetapi menurut hasil penyelidikan, bukit ini adanya di antara Pegunungan Tai-hang dan Pegunungan Lu-liang, agaknya tidak jauh dari lembah Sungai Fen-ho yang mengalir di situ."

An Lu Kui lalu membuka gulungan kertas itu di atas meja dan enam orang itu lalu melihat dengan penuh perhatian.

"Pembantuku ini, Cang-ciangkun, telah memimpin pasukan penyelidik. Cang-ciangkun, coba kau jelaskan lagi bagaimana hasil penyelidikanmu itu,"

Kata An Lu Kui kepada seorang di antara dua orang panglima yang semenjak tadi tidak ikut bicara.

Panglima perang yang di sebut Cang-ciangkun itu adalah seorang perwira yang bertubuh tinggi besar, berwajah keren dan penuh brewok.

Ia menarik bangkunya lebih dekat ke meja, lalu menunjuk ke arah peta itu dengan telunjuknya.

"Pasukan penyelidik yang kupimpin telah sampai di bagian ini. Dis epanjang jalan kami mencari keteangan dan dari beberapa orang tua petani kami mendengar bahwa daerah ini dahulu sering didatangi oleh seorang pengemis tua yang aneh."

"Ang-bin Sin-kai......."

Kata Kiam Ki Sianjin perlahan. An Lu Kui mengangguk membenarkan.

"Kemudian kami tiba di lembah Sungai Fen-ho dan di situlah kami mendengar adanya goa rahasia di Bukit Tengkorak Raksasa dan menurut keterangan beberapa orang petani yang kami paksa, seringkali daerah ini didatangi oleh orang-orang yang kelihatannya gagah dan membawa-bawa pedang dan tombak. Biarpun tak seorang pun yang pernah mendatangi Goa Tengkorak atau Bukit Tengkorak Raksasa, namun agaknya yang suka datang itu adalah para pemimpin pemberontak, karena setelah mereka pergi lagi, menurut petani itu, mereka membawa barang-barang buntalan yang kelihatannya berat."

Kiam Ki Sianjin mengangguk-angguk.

"Sangat boleh jadi...."

Akan tetapi tiba-tiba dia menahan kata-katanya dan secepat kilat dia melompat ke arah jendela.

Memang pada saat itu, Kwan Cu amat memperhatikan dan ingin sekali dia melihat peta di atas meja itu, maka saking tertariknya, dia melakukan gerakan yang menimbulkan suara.

Sedikit suara ini ternyata telah dapat ditangkap oleh pendengaran Kiam Ki Sianjin yang amat tajam.

Ketika Kiam Ki Sianjin melompat ke dekat jendela terus keluar dari situ dengan gerakan Monyet Tua Melompati Cabang, lebih dulu Kwan Cu telah melompat pergi dan sebelum Kiam Ki Sianjin masuk kembali, pemuda ini telah mendahului masuk dari pintu depan.

Dengan tenang dia berjalan menuju ruangan itu, disambut oleh An Lu Kui dan kawan-kawannya dengan mata terbelalak.

"Siapa....... kau.........?"

An Lu Kui bertanya.

Maksudnya hendak membentak marah, akan tetapi melihat cara pemuda itu masuk begitu saja tanpa mereka ketahui, membuat dia terheran-heran dan gugup.

Apalagi ketika pada saat dia mengajukan pertanyaan itu, tubuh pemuda ini berkelebat ke arah mereka!

An Lu Kui dan kawan-kawannya bersiap menyambut, akan tetapi tiba-tiba tubuh pemuda itu terapung ke atas kepala mereka terus ke atas lalu tiba-tiba sebelum menyentuh langit-langit, tubuh itu berjungkir balik dan kini bagaikanseekor capung beterbangan di dalam kamar, tubuh pemuda itu menukik ke bawah lalu tahu-tahu gulungan peta itu telah dirampasnya!

An Lu Kui hendak menubruk, akan tetapi terlambat karena Kwan Cu sudah melompat pula dari atas meja melalui kepalanya dan kini pemuda itu telah berdiri di tengah ruangan sambil tersenyum-senyum dan peta itu dia masukan ke dalam saku dengan sikap amat tenang!

Untuk sejenak, An Lu Kui dan kawan-kawannya tercengang, karena sesungguhnya gerakan pemuda tadi luar biasa sekali.

Tiada ubahnya seekor capung atau burung yang amat ringan dan gesit.

Kalau tidak menyaksikan dengan mata sendiri sukarlah untuk mempercayai kejadian itu.

"Siapa kau yang berani mati bermain gila di sini?"

Kembali An Lu Kui membentak dan kini panglima ini mencabut sepasang tombaknya yang lihai. Kwan Cu tersenyum dan menjawab.

"An-ciangkun, apakah baik kabarmu? Kau sudah kelihatan tua, akan tetapi tetap saja ganas dan galak!"

Mendengar ini, An Lu kui tercengang dan tidak jadi menyerang, sebaliknya Cang Kwan panglima brewokan itu membentak.

"Bangsat kecil, siapakah kau yang sudah bosan hidup?"

"Bangsat besar, aku bernama Lu Kwan Cu. Kalian tadi membuka mulut besar hendak menangkap kong-kongku Lu Pin? Jangan bermimpi, Kawan!"

"Bohong besar!"

Seru Liong Tek Kauw panglima kedua pembantu An Lu Kui.

"Aku tahu betul keadaan Menteri Lu Pin dan dia tidak mempunyai cucu yang bernama Lu Kwan Cu!"

Kwan Cu tersenyum lagi.

"Tentu kau seorang panglima pengkhianat dan penjilat maka kau tahu baik akan keadaan kong-kongku. Akan tetapi aku tidak peduli akan kata-katamu itu, pengkhianat. Pendeknya jangan kalian bermimpi untuk menangkap Menteri Lu Pin yang setia dan gagah berani, pahlawan bangsa tidak seperti kalian ini, katak-katak busuk yang berbahaya."

"Tangkap dia!"

Tiba-tiba An Lu Kui berseru keras.

"Dia adalah bocah gundul murid Ang-bin Sin-kai! Aku ingat sekarang, dia memang telah diakui cucu oleh Lu Pin!"

Sambil berkata demikian, An Lu Kui lalu menyerang dengan sepasang tombaknya. Kwan Cu mengelak tangkas sambil menyindir.

"Hm, kau sudah ingat betapa dahulu aku pernah membagi beberapa kali tamparan kepadamu, An-ciangkun?"

"Bangsat, mampuslah kau!"

Seru An Lu Kui sengit dan tombaknya melakukan gerakan menyilang dari kanan kiri, hendak menggunting leher pemuda itu.

Akan tetapi, hanya dengan merendahkan tubuh sedikit saja, Kwan Cu sudah dapat membebaskan diri dari ancaman dan sepasang tombak itu melayang melalui atas kepalanya.

Cang Kwan dan Liong Tek Kauw dua orang panglima pembantu An Lui Kui dengan marah maju menyerang dengan golok besar mereka yang menyambar-nyambar menyilaukan mata ketika terkena cahaya lampu yang terang.

"Rebahlah kalian!"

Bentak Kwan Cu dan tahu-tahu ketika dua batang golok itu sudah dekat dengan tubuhnya dari kanan kiri, dia melompat ke belakang dan sebelum dua orang panglima itu dapat menarik kembali golok mereka, dua kali berturut-turut Kwan Cu menotok dengan telujuknya dan aneh sekali!

Dua orang panglima itu roboh dan terus bergulingan sambil mengaduh-aduh, kemudian mereka tak bergerak lagi, rebah dengan tubuh lemas tak berdaya di dekat dinding.

Kwan Cu tidak mau membuang banyak waktu.

Ketika dia melihat An Lu Kui tercengang, dia menggerakkan kakinya, melompat sambil menendang dua kali ke arah tangan panglima itu.

Terdengar suara keras ketika sepasang tombak itu terlepas dari pegangan An Lu Kui dan terlempar jauh ke atas lantai mengeluarkan suara nyaring.

An Lu Kui masih mencoba untuk mengelak ketika tangan Kwan Cu menyambar, namun terlambat, pundaknya kena di tepuk dan panglima ini jatuh duduk dengan tubuh lemas dan setengah tubuhnya sebelah kanan terasa lumpuh!

Pada saat itu, angin pukulan menyambar dari depan dan belakang.

Kiranya dua orang hwesio itu sudah turun tangan.

Tadi mereka hanya menonton saja karena memang sebetulnya di dalam hati mereka, dua orang hwesio ini tidak suka kepada An Lu Kui dan mencurigainya.

Akan tetapi, setelah melihat An Lu Kui dan dua orang pembantunya telah roboh, mereka tidak mau tinggal diam dan segera menyerang.

Mo Beng Hosiang Si Tangan Kilat menyerang dengan kedua tangannya yang dibuka jari-jarinya, melakukan pukulan hebat sekali, sesuai dengan julukannya.

Adapun Mo Keng Hosiang Si Ruyung Pemecah Gunung telah menyerang dengan ruyungnya yang aneh.

Joan-pian (ruyung lemas) itu merupakan rantai pendek yang ujungnya di pasangi bola baja sebesar kepalan tangan dan digerakkan dengan ayunan keras menghantam punggung Kwan Cu.

Pemuda ini terkejut sekali melihat datangnya serangan yang memang hebat sekali ini.

Dengan tangan kirinya dia menangkis pukulan Mo Beng Hosiang sehingga hwesio itu terhuyung ke belakang.

Hampir saja bola baja di ujung joan-pian yang dipakai menyerang oleh Mo Keng Hosiang mengenai sasarannya, yakni punggung Kwan Cu.

Pemuda ini yang maklum menghadapi lawan-lawan tangguh, cepat mencabut sulingnya sambil mengelak dengan gerakan Kong-ciak-kai-peng (Merak Membuka Sayap) sehingga serangan senjata Mo Keng Hosiang lewat di atas punggung dan kepalanya.

Sekaligus Kwan Cu menyerang Mo Beng Hosiang yang sudah maju lagi itu dengan sulingnya.

Mo Beng Hosiang bukan seorang lemah, dia memiliki ilmu pukulan yang di sebut Pek-lek-sin-jiu (Tangan Geledek Sakti).

Menghadapi pukulan suling yang biarpun dilakukan perlahan namun telah dapat dia duga kehebatannya itu, dia cepat menampar dengan tangan kanannya.

Jari-jari tangan kanan ini menegang dan kaku seperti baja.

Tamparannya dilakukan keras sekali dengan maksud membuat suling itu remuk atau terlepas dari pegangan Kwan Cu.

Namun pemuda ini telah memiliki kepandaian yang tak dapat di ukur tingginya.

Baru melihat sekali saja dia sudah tahu kemana tamparan itu di arahkan, maka sebelum tamparan datang, sulingnya sudah di tarik ke bawah dan tangan kirinya yang tadi di pentang, memukul ke depan sambil tubuhnya diputar sedemikian rupa dan cepat sekali sebelah kakinya menendang ke arah Mo Keng Hosiang!

Bukan main hebatnya serangan ini dan amat indah pula gerakannya sehingga terdengar pujian.

"Bagus sekali!"

Yang memuji ini adalah Kiam Ki Sianjin yang berdiri menonton saja.

Baca Juga: Petualang Asmara 9

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert