Eps 9 Pendekar Sakti - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Sakti - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Sakti - Kho Ping Hoo.
Seperti sikap Bu-eng Sian-hiap ketika menonton pertempuran antara Kwan Cu dengan An Lu Kui bersama dua orang pembantunya, kini Kiam Ki Sianjin juga menonton saja, enggan membantu dua orang hwesio itu yang memang tidak disukainya.
Namun diam-diam dia amat memperhatikan gerakan pemuda aneh itu dan makin lama kedua mata tosu ini makin terbelalak lebar karena selama hidupnya belum pernah dia menyaksikan ilmu silat demikian anehnya seperti yang dimainkan oleh pemuda pemegang suling itu!
Kiam Ki Sianjin adalah seorang kang-ouw yang ulung dan banyak pengalaman.
Telah banyak dia melihat ilmu silat tinggi-tinggi dan aneh-aneh.
Bahkan dia dapat mengenal ilmu silat dari lima tokoh besar dunia persilatan, yakni ilmu-ilmu silat dari Ang-bin Sin-kai, Pak-lo-sian Siangkoan Hai, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, Hek-i Hui-mo Thian Seng Hwesio, dan Kiubwe Coa-li .
Akan tetapi belum pernah dia melihat ilmu silat yang di mainkan oleh pemuda ini.
Tadi dia mendengar seruan An Lu Kui bahwa pemuda ini adalah murid dari Ang-bin Sinkai dan memang betul, gerakan Ilmu Silat Sam-hoan-ciang dari Ang-bin Sin-kai.
Akan tetapi setelah dia perhatikan, ternyata banyak sekali perbedaannya.
Pemuda ini bergerak seenaknya saja seperti bukan orang main silat, lebih patut disebut main-main saja, seperti seorang pemuda tidak becus main silat yang pura-pura mau bermain silat.
Akan tetapi, semua gerakannya tepat sekali menghindarkan diri dari serangan kedua lawannya dan biarpun gerakannya ketolol-tololan, namun bukan main hebatnya.
Apalagi setelah dia memperhatikan dan melihat betapa pemuda itu kini bersilat tepat seperti ilmu silat yang dimainkan oleh kedua lawannya, Kiam Ki Sianjin menjadi bengong!
Tiap kali diserang oleh Mo Beng Hosiang, pemuda iti melayani hwesio tangan kilat itu dengan ilmu silat yang mirip sekali dengan Pek-lek-sin-jiu!
Adapun apabila Mo Keng Hosiang yang menyerang, juga pemuda ini menghadapinya dengan ilmu silat seperti yang dimainkan oleh Ruyung Pemecah Gunung itu.
"Iblis muda dari manakah dia? Ilmu silat apa yang telah dia pelajari?"
Demikian Kiam Ki Sianjin bertanya-tanya di dalam hatinya sendiri.
Tosu yang cerdik itu sengaja tidak mau turun tangan lebih dulu, bukan saja karena dia memang tidak suka membantu dua orang hwesio kepercyaan putera mahkota yang diam-diam dimusuhi pula oleh muridnya, Si Su Beng, akan tetapi juga dia hendak mempelajari lebih dulu gerakan pemuda itu untuk mengukur sampai di mana tingkat kepandaiannya agar nanti kalau dia harus menghadapi pemuda itu, dia sudah dapat mengetahui cara bagaimana harus melawannya.
Adapun Kwan Cu, setelah beberapa puluh jurus menghadapi keroyokan dua orang hwesio itu, diam-diam terkejut.
Baru kali ini dia menjumpai lawan-lawan yang benar-benar tangguh.
Biarpun dengan mudah dia dapat menghadapi semua serangan mereka dan dapat menyelamatkan diri tanpa banyak kesukaran, namun untuk membalas menyerang, juga bukan hal yang mudah.
Setiap pukulan sulingnya dapat ditangkis oleh tangan yang keras dan kuat dari Mo Beng Hosiang, adapun senjata yang aneh dari Mo Keng Hosiang juga cukup tangguh untuk menangkis setiap serangannya sulingnya.
Ketika dia mempelajari ilmu silat dari Im-yang Bu-tek Cin-keng di pulau berdaun putih, Kwan Cu telah mempelajari pula semua ilmu-ilmu silat tinggi yang terukir di dinding-dinding goa.
Ilmu silat itu hampir meliputi seluruh pokok dasar ilmu silat tinggi yang ada di dunia persilatan.
Dari latihan-latihan ini, dimatangkan oleh kepandaian pokok dasar persilatan yang dipelajarinya dari kitab rahasia itu, Kwan Cu telah dapat menggabung semua ilmu silat itu dan dengan sendirinya menciptakan berbagai ilmu silat yang aneh-aneh.
Diantaranya, dia telah dapat mengatur ilmu silat tangan kosong berdasarkan lweekang dan khikang, disertai hawa di dalam tubuh menurut latihan siulian dari kitab itu.
Ilmu silat ini dia beri nama Pek-in-hoat-sut (Ilmu Sihir Awan Putih).
Ia memberi nama ilmu sihir, karena di dalam gerakan ilmu silat ini bangkit tenaga batin yang amat kuat sehingga kedua lengannya dapat mengebulkan uap putih seperti mega putih.
Uap putih inilah yang mempunyai pengaruh menolak segala serangan yang dilakukan berdasarkan tenaga dari ilmu hitam atau segala macam hoat-sut (ilmu sihir).
Selain ini, masih banyak sekali ilmu-ilmu silat yang aneh dan tinggi yang diciptakan oleh Kwan Cu.
Akan tetapi maklumlah, dia masih muda sekali dan belum banyak pengalaman bertempur sehingga ketika menghadapi dua orang hwesio yang tangguh itu, dia masih belum mendapat jalan bagaimana harus mengalahkan mereka.
Menghadapi ketangguhan mereka, timbullah niat dalam hati Kwan Cu untuk mencoba ilmu-ilmu silat yang diciptakannya sendiri.
Maka ketika dia mengelak dari serangan lawan-lawannya, dia lalu menyelipkan sulingnya kembali di ikat pingganya, lalu dia mengeluarkan seruan tinggi dan nyaring.
Maka berubahlah ilmu silatnya.
Kini dia tidak mau meniru ilmu silat dari kedua lawannya untuk menjaga diri, melainkan langsung mengerahkan tenaga dalam dan mainkan Pek-in-hoat-sut.
Bukan main hebatnya akibat dari permainan ilmu silatnya ini.
Dengan dua kali sampokan lengannya yang mengebulkan uap putih, Mo Beng Hosiang tertangkis tangannya dan memekik kesakitan, sedangkan Mo Keng Hosiang berseru terkejut karena senjatanya terpental dan terputus tengah-tengahnya!
Kemudian, dua kali lagi pukulan Kwan Cu diikuti oleh jerit kesakitan dan terpentallah tubuh kedua orang hwesio itu sampai ke dinding ruangan dan mereka rebah tak bergerak lagi karena pingsan!
Akan tetapi, Kwan Cu sendiri setelah mengeluarkan empat kali gerakan itu, terhuyung-huyung dan cepat dia mengatur pernapasannya sehingga keadaannya sebentar saja sudah pulih kembali.
Tahulah dia bahwa dalam penggunaan tenaga luar biasa ini, karena kurang pengalaman, dia telah mengerahkan terlalu keras sehingga menguras hawa di dalam tubuhnya sendiri!
Oleh karena itu, dia sekarang maklum bahwa ilmu silatnya Pek-in-hoat-sut tidak boleh di buat main-main dan harus dilakukan dengan sewajarnya dan tidak dipaksa.
Akan tetapi dia girang sekali melihat hasilnya sungguhpun dia agak menyesal karena khawatir kalau-kalau dua orang hwesio itu tewas.
"Hebat.......... Hebat.........! Entah ilmu silat iblis apakah yang telah kau pergunakan tadi. Anak muda, kau benar-benar lihai sekali. Amat aneh kalau Ang-bin Sin-kai mempunyai murid seperti engkau."
"Kiam Ki Sianjin, aku memang murid dari mendiang suhu Ang-bin Sin-kai."
Kata Kwan Cu sederhana.
Setelah dapat mengalahkan dua orang lawannya yang tangguh tadi, besarlah hati Kwan Cu.
Dia sedang mencari musuh-musuh besar suhunya yang amat tangguh, yakni di antaranya Jeng-kin-jiu dan Hek-i Hui-mo, orang tokoh besar yang sama sekali tak boleh dipandang rendah.
Maka sekarang, selain untuk membei hajaran kepada orang-orang yang bermaksud mencelakakan kong-kongnya ini, juga dia hendak menguji kepandaiannya sendiri.
"Hm, biarlah, aku tidak peduli kau murid dari siapa. Akan tetapi coba kau menghadapi pedangku, kita main-main sebentar, anak muda."
Baru saja ucapan ini habis dikeluarkan dan tangannya bergerak sedikit kebelakang, tahu-tahu tosu ini telah memegang sebatang pedang yang bukan sembarang pedang, karena pedang itu hitam seluruhnya!
"Hm, orang tua.
Siapa percaya omonganmu?
Kau bilang main-main akan tetapi mengeluarkan pedang.
Dan kau pun bermaksud mencelakakan kong-kong, maka dengan demikian berarti bahwa kau juga musuh.
Tak perlu kau mempergunakan kata-kata hendak main-main, marilah kita mengadu kepandaian, hendak kucoba lihainya Dewa Utara!"
"Bagus, terimalah ini!"
Seru Kiam Ki Sianjin sambil melompat maju dan menusukkan pedang hitamnya ke arah ulu hati Kwan Cu.
Akan tetapi, melihat gerakan ini dan mengerling sekilas ke arah pundak tosu itu, Kwan Cu sudah dapat menduga bahwa serangan ini tidak akan dilanjutkan dan hanya merupakan pancingan belaka, maka dia sengaja berdiri tegak, tidak mengelak maupun menangkis sama sekali!
Sikap pemuda ini mengherankan hati Kiam Ki Sianjin, akan tetapi karena sudah kepalang, dia melanjutkan serangannya.
Memang benar dugaan Kwan Cu, serangannya yang dia namakan gerak tipu Menggertak Bintang Menghancurkan Bulan ini, serangan pedang ke ulu hati lawan tadi hanya gertakan belaka, akan tetapi sebetulnya pada saat pedangnya sudah mendekati, dia menariknya kembali dan berbareng tangan kirinya menghantam ke arah kepala lawan sambil mengjukan kaki kirinya ke depan!
Kalau lawan dapat terpikat, tentu akan mengelak atau menangkis serangan pedang sehingga tidak menduga akan datangnya pukulan tangan kiri yang tiba-tiba dan amat berbahaya itu.
Pukulan tangan kiri ini memang hebat sekali, baru hawa pukulannya saja sudah cukup untuk menggulingkan seorang lawan yang kurang kuat.
Di dalam pukulan ini, Kiam Ki Sianjin menggunakan tenaga yang disebut Soan-hong-kang (Tenaga Angin Puyuh).
Namun Kwan Cu sudah bersiap sedia menghadapi ini.
Ia sudah dapat menduga bahwa serangan susulanlah yang berbahaya.
Menghadapi pukulan yang mendatangkan hawa pukulan dingin ini, dia hendak mencoba tenaga pukulan Pek-in-hoat-sut, maka dia tidak mau mengelak, sebaliknya lalu mengangkat lengan kanan yang telah mengeluarkan uap putih untuk menangkis.
"Dukkk....!"
"Ayaaaaaaa, lihai sekali!"
Kiam Ki Sianjin berseru sambil mudur dua langkah, karena pertemuan lengan itu telah membikin gempur kuda-kudanya.
Juga Kwan Cu merasa lengan kanannya tergetar hebat dan dia pun mundur sampai dua langkah.
Bukan main hebatnya pukulan Soan-hong-kang dari Kiam Ki Sianjin tadi.
Akan tetapi diam-diam Kwan Cu menjadi girang bukan main.
Ia tadi hanya mengerahkan setengahnya lebih dari tenaga Pek-in-hoat-sut, kira-kira hanya enam bagian.
Kalau dia mengerahkan seluruh tenaganya, dia yakin bahwa dia tentu akan dapat membuat tosu itu terpental jauh.
Hal ini amat membesarkan hatinya dan dia tersenyum lebar.
Tentu saja dengan pengertian bahwa ilmunya lebih tingi dari lawannya ini, dia menjadi tabah sekali.
"Totiang (panggilan untuk tosu), kau belum menyaksikan semua pukulanku ini, bagaimana sudah tahu kelihaiannya? Nah, cobalah kau tahan!"
Setelah berkata demikian, Kwan Cu membalas serangan tosu itu dengan Ilmu Silat Pek-in-hoat-sut, kini dia tambah tenaganya kira-kira tujuh bagian.
Benar saja, Kiam Ki Sianjin terkejut sekali.
Ia melihat betapa kedua lengan tangan pemuda itu mengebulkan uap asap putih yang mendatangkan hawa panas luar biasa.
Angin pukulan itu saja sudah menggetarkan tubuhnya.
Maka dia lalu menangkis sambil mengerahkan seluruh tenaganya.
Tangan kirinya mempergunakan tenaga Soan-hong-kang, sedangkan tangan kanannya mainkan pedang hitamnya dengan cepat sekali.
Namun harus dia akui bahwa dia terdesak hebat, karena pedang hitamnya itu sebelum mengenai tubuh lawan, telah bertolak kembali oleh hawa pukulan aneh dari lengan beruap putih itu!
Sampai tiga puluh jurus Kwan Cu sambil tersenyum-senyum girang mainkan ilmu Pek-in-hoat-sut.
Hatinya makin besar karena dengan ilmu silat ini saja, kalau dia mau mengerahkan tenaga sepenuhnya, dia percaya akan dapat menang dari tosu ini.
Akan tetapi pengalamannya tadi telah membuat dia kapok, tidak berani lagi dia mengerahkan terlalu banyak tenaga, khawatir kalau-kalau dia kehabisan hawa dalam tubuh.
"Kurang cukup lihai, Totiang? Nah, ini ilmu silatku yang lain!"
Pemuda ini dengan gembira mengejek dan tiba-tiba saja ilmu silatnya berubah hebat sekali.
Kalau tadi gerakannya tenang bertenaga, kini gerakannya lincah dan seperti tidak karuan.
Ia melompat-lompat, menubruk dan kedua kakinya bukan menendang, melainkan mencakar!
Namun kedua tangannya yang dibuka seperti cakar pula, mencengkeram sana-sini dengan kekuatan dan kecepatan luar biasa sekali.
Inilah ilmu silat ciptaanya sendiri yang dikarangnya menurut lukisan-lukisan pada dinding.
Banyak sekali pelajaran ilmu silat yang merupakan Kin-na-hoat, yakni ilmu silat mencengkeram yang dipergunakan untuk merampas senjata musuh.
Karena banyaknya ilmu silat macam ini, dia lalu memilih dan menciptakannya menurut gerakan seekor burung merak, maka ilmu silat ciptaannya yang aneh ini bernama Kong-ciak-sin-na atau Ilmu Mencengkeram Burung Merak!
Kembali Kiam Ki Sianjin tertegun.
Kalau selama hidupnya dia belum pernah menyaksikan Ilmu Silat Pek-in-hoat-sut yang tadi dimainkan oleh pemuda ini dan yang telah membuatnya repot sekali, adalah ilmu silat yang dimainkan lawannya sekarang ini, jangankan melihat, bahkan dalam mimpi pun belum pernah dia menyaksikannya!
Ia dapat menduga bahwa ini adalah semacam ilmu mencengkeram, akan tetapi Kin-na-hoat macam apa!
Gerakannya kacau-balau, namun pemuda itu seakan-akan kini mempunyai empat tangan.
Kedua kakinya merupakan dua tangan pula karena pemuda itu melompat tinggi dan baik kaki mau pun tangannya mencakar-cakar dan mencengkeram ke arah mata, hidung, tenggorokan, ulu hati dan mencoba untuk merampas pedangnya!
Kiam Ki Sianjin bingung dan kelabakan.
Ia lalu menjadi penasaran dan mencoba untuk membabat pinggang pemuda itu ketika lawannya sedang melompat tingi.
Akan tetapi, kaki Kwan Cu mencengkeram kearah pundaknya sedemikian cepatnya sehingga kalau Kiam Ki Sianjin melanjutkan babatannya, sebelum pedang mengenai tubuh lawan tentu pundaknya sudah akan terkena cengkeraman kaki atau semacam tendangan yang aneh gerakannya.
Kiam Ki Sianjin menarik kembali tangannya untuk membabat kaki yang menyerangnya, akan tetapi tiba-tiba tangan Kwan Cu mencengkeram pergelangan tangannya dan di lain saat, pedangnya telah terampas!
Kwan Cu tertawa dan melompat berjumpalitan ke belakang, lalu berdiri sambil tersenyum-senyum dengan pedang hitam di tangan.
"Pedang busuk!?"
Katanya dan sekali dia menekuk tiga jarinya pada pedang itu, terdengar suara nyring dan pedang itu telah patah tengahnya! "Terimalah kembali senjatamu!"
Seru Kwan Cu sambil melontarkan potongan pedang itu kepada pemiliknya.
Kiam Ki Sianjin melihat dua sinar hitam berkelebat menuju ke tenggorokan dan dadanya.
Ia cepat mengelak sambil melompat ke samping untuk menghindarkan diri dari senjatanya sendiri.
Akan tetapi ketika dia mengangkat muka, ternyata pemuda itu telah lenyap dari depannya!
"Setan......!
Iblis....!"
Berkali-kali Kiam Ki Sianjin berkata seorang diri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ia harus akui bahwa selamanya dia belum pernah menghadapi lawan yang sedemikian pandainya dan dia mengaku bahwa di dunia persilatan muncul seorang pendekar muda yang amat sakti.
Maka dia berjanji hendak memperdalam ilmu silatnya karena dia merasa bahwa dia telah tertinggal jauh sekali.
*** Hati Kwan Cu girang dan puas sekali ketika dia meninggalkan ruangan besar tempat orang-orang penting berkumpul itu.
Tanpa disengaja dan dicari, dia telah dapat menemukan sebuah peta berikut penjelasan dari An Lu Kui dan kawan-kawannya tentang tempat persembunyian Menteri Lu Pin.
Hal ini sudah amat membesarkan hatinya karena selain dia mendengar makin jelas tentang kegagahan sepak terjang kong-kongnya itu, juga dia mendapat kesempatan untuk mencari kong-kongnya dan melindungi orang tua yang baik hati itu.
Selain daripada itu, dia pun mendapat kesempatan untuk menguji kepandaiannya pada orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi.
Akan tetapi di samping kepuasan ini juga dia maklum bahwa kini tidak saja dia menghadapi musuh besar yang lihai dan yang telah menewaskan suhunya, melainkan juga mendapat musuh-musuh besar yang mengancam keselamatan kong-kongnya.
Malam itu dia tidak terus keluar dari lingkungan istana, akan tetapi masih mencari-cari dan menyelidiki, karena dia ingin sekal menyelidiki keadaan di situ dan juga ingin mencari pangeran botak putera An Lu Kui untuk menolong wanita yang terancam oleh pangeran mata keranjang itu.
Malam sudah amat larut dan bulan tua mulai menampakkan diri di antara mega-mega hitam.
Kwan Cu sudah mulai putus asa mencari tempat kediaman Pangeran An Kong karena keadaan di situ sunyi belaka.
Ia pikir bahwa pangeran botak itu mungkin sekali berada di luar istana dan hal ini membuat dia menyesal sekali mengapa tadi siang dia tidak mengikuti pangeran itu, dan tidak menanyakan keterangan kepada Lu Thong.
Ia menyesal karena dipikirnya bahwa wanita itu takkan tertolong lagi.
Akan tetapi tiba-tiba dia mendengar suara wanita menangis perlahan.
Cepat bagaikan seekor burung, dari atas genteng Kwan Cu melompat ke bawah dan mengintai ke dalam sebuah kamar dari rumah gedung yang berada di sebelah selatan kelompok bangunan istana itu.
Hatinya berdebar girang dan juga warna merah menjalari mukanya ketika dia melihat siapa adanya orang yang berada di dalam kamar itu.
Di dalam kamar itu amat terang dan keadaan perabot kamarnya mewah sekali.
Bahkan dari luar jendela saja sudah dapat tercium bau yang amat harum, tanda bahwa penghuni kamar adalah seorang pesolek yang mewah.
Di atas meja yang indah terdapat guci arak yang menyiarkan bau harum pula, arak baik yang amat mahal.
Wanita yang menangis terisak-isak dengan suara perlahan karena takut, adalah seorang gadis berusia kurang lebih delapan belas tahun, berwajah cantik akan tetapi pucat sekali.
Rambutnya terlepas dan terurai menutupi sebagian mukanya yang berkulit halus, pakaiannya kusut.
Gadis ini duduk di atas sebuah bangku sambil menangis sedih.
Di depannya, juga duduk di atas bangku sambil kadang-kadang minum arak dari cawan emasnya, kelihatan pangeran botak An Kong dengan mata bersinar-sinar dan mulut tersenyum-senyum.
"Kui Lan, mengapa kau begitu keras hati dan keras kepala? Mengapa kau berduka? Ingatlah, bukan sembarang wanita dapat masuk ke kamar ini dan lebih-lebih lagi bukan sembarang wanita dapat menjadi biniku, walaupun hanya bini muda. Aku amat sayang kepadamu, Kui Lan, kau cantik jelita dan halus gerak-gerikmu, aku sayang dan kasihan kepadamu. Tahukah kau bahwa kalau bukan kau, lain gadis yang berkeras menolak kehendakku, akan kusuruh algojo menyiksanya? Atau aku akan mempergunakan kekerasan. Akan tetapi kepadamu aku tidak mau berlaku demikian, Kui Lan. Aku cinta padamu dan aku ingin kau membalas cintaku itu."
Jawaban Kui Lan gadis itu, hanya suara tangis yang lebih menyedihkan hati.
Kwan Cu sudah mendidih darahnya menyaksikan keadaan ini, akan tetapi dia masih bersabar, hendak didengar dan dilihatnya lebih lanjut apa yang akan terjadi, karena dia belum mengerti duduknya perkara.
"Kui Lan, kalau kau mau menyambut cinta kasihku, kalau kau mau berlaku manis kepadaku, percayalah, ada kemungkinan kau kuangkat menjadi isteriku yang sah! Menurutlah, Kui Lan, bungaku yang manis,"
Kata pula An Kong dengan suara membujuk setelah dia menenggak habis arak di dalam cawannya.
Kini gadis itu menurunkan kedua tangan yang menutupi mukanya.
Kwan Cu mendapat kenyataan bahwa gadis itu memang luar biasa cantiknya.
"Siauw-ong-ya....."
Gadis itu berkata dengan suara gemetar namun terdengar merdu dan halus.
"aku tidak menghendaki semua kedudukan tinggi itu. Tidak kasihankah kau kepadaku, Siauw-ong-ya. Kau sudah tahu bahwa aku....... bahwa di sana ada The Kun Beng..... bahwa aku harus bersetia kepadanya karena....... Aku cinta padanya....... Siauw-ong-ya kembalikanlah aku kepada orang tuaku atau......... atau kau bunuh saja aku agar aku dapat bersetia kepada The Kun Beng sampai matiku, sesuai dengan sumpahku......."
Mendengar ini, Kwan Cu terkejut sekali.
The Kun Beng.......
Ia ingat betul nama ini dan terbayanglah wajah seorang bocah tampan dan manis budi, murid ke dua dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai.
Sekaligus terbayang pula semua pengalamannya dengan murid Pak-lo-sian ini ketika dia masih kecil dan perhatiannya makin membesar terhadap gadis yang mengaku cinta kepada The Kun Beng ini.
Sebaliknya, An Kong nampak marah sekali.
Pemuda botak ini bangkit berdiri dengan kasar sehingga bangku yang didudukinya terguling, menimbulkan suara berisik.
Mukanya menjadi makin merah, sebagian karena pengaruh arak dan sebagian lagi karena pengaruh kemarahannya.
"Kau benar-benar keras kepala dan menggemaskan! Bagaimana kau berani menyebut-nyebut nama The Kun Beng, pemuda liar murid iblis tua Siangkoan Hai itu? Apa kaukira aku takut kalau kau menyebut-nyebut namanya? Apa kau kira aku tidak tahu akan riwayatmu yang kotor dengan pemuda itu? Kui Lan! Boleh jadi kau mencinta pemuda iblis itu karena tertarik oleh ketampanannya, akan tetapi kau goblok sekali. Kau pun tahu bahwa dia tak mungkin dapat menjadi suamimu karena dia sudah bertunangan dengan Bun Sui Ceng, gadis liar itu!"
Kembali Kwan Cu terkejut dan hatinya berdebar keras, mukanya berubah.
Kun Beng bertunangan dengan Sui Ceng?
Terbayanglah wajah Sui Ceng yang manis dan teringat kembali dia akan pembohongan terhadap gadis raksasa Liyani ketika dia menuturkan bahwa dia mencinta Bun Sui Ceng!
Ataukah hal itu bukan suatu kebohongan?
Apakah benar-benar dia mencinta Sui Ceng?
Tak mungkin!
Akan tetapi mengapa dia merasai hatinya berdebar dan telinganya panas mendengar bahwa Sui Ceng sudah bertunangan dengan Kun Beng?
Kembali Kui Lan mengucurkan air mata.
"Biarpun semua itu benar belaka, Siauw-ong-ya namun aku cinta kepada Kun Beng dan aku bersumpah takkan menjadi isteri laki-laki lain, biarpun aku tiada harapan untuk menjadi isterinya."
"Perempuan bodoh! Bagaimana kau masih bersetia kepada seorang laki-laki yang berlaku demikian kejam terhadapmu? Dia telah merusak namamu, telah mengkhianati suhengnya sendiri, telah melakukan perbuatan terkutuk kepadamu, telah menyeretmu ke dalam lumpur kehinaan........"
"Cukup. Siauw-ong-ya! Biarpun apa yang akan terjadi, aku akan bersetia sampai mati kepadanya. Dia tetap merupakan laki-laki tunggal yang boleh menguasai hati, jiwa dan ragaku. Bunuhlah aku kalau kaukehendaki!"
Marahlah An Kong mendengar ini.
Ia melompat dan tahu-tahu sudah berdiri di depan Kui Lan.
Ia mengulur tangan menangkap pergelangan tangan wanita itu, akan tetapi Kui Lan sigap mengelak.
Kwan Cu yang tadinya sudah siap hendak melompat masuk, tertegun melihat betapa gadis itu sedikitnya mengerti ilmu silat, karena gerakannya ketika mengelak menunjukkan bahwa dia mengerti ilmu menjaga diri.
Akan tetapi, kepandaian gadis itu tidak seberapa karena di lain saat, tangannya sudah tertangkap oleh An Kong.
"Kui Lan, aku cinta kepadamu. Marilah kita minum arak bersama, Manis!"
Kembali suaranya melembut karena sesungguhnya dia tidak tega untuk bersikap kasar terhadap gadis ini.
Ia menarik Kui Lan ke meja dan melepaskan pegangannya, lalu menuangkan arak ke dalam cawannya yang kosong.
"Minumlah, Manis, mari kita habiskan isi cawan ini seorang setengah. Minumlah, Sayang......."
Akan tetapi, Kui Lan mempergunakan tangan kanannya yang tidak terpegang untuk menyampok lawan.
Gerakan ini tidak saja membuat cawan itu terlepas dari pegangan An Kong, bahkan guci arak yang berdiri di atas meja pun terguling dan pecah.....
Arak yang putih harum mengalir keluar membasahi meja.
Habislah kesabaran An Kong.
"Kau menghendaki kekerasan, bunga liar? Baik, baik aku akan melayani kehendakmu!"
Setelah berkata demikian, An Kong hendak memeluk, akan tetapi Kui Lan menampar mukanya sehingga terpaksa dia menggunakan tangan kiri menangkap tangan yang menampar itu.
Pada saat mereka bergulat, terdengarlah suara tenang akan tetapi berpengaruh.
"An Kong, anjing berwajah manusia, lepaskan dia!"
An Kong terkejut sekali.
Cepat dia melepaskan Kui Lan dan melompat sambil membalikkan tubuhnya.
Di lain saat dia telah mencabut sepasang senjatanya, yakni kebutan di tangan kiri dan joan-pian di tangan kanan.
Ketika dia memandang, teryata bahwa yang berada di dalam kamarnya itu adalah pemuda berpakaian sederhana yang siang tadi dia lihat di rumah makan dan yang dihinanya kemudian dia dicegah oleh Lu Thong, suhengnya.
Memuncak kemarahannya dan dengan gemas dia membentak.
"Jembel busuk, bagaimana kau berani memasuki kamarku?"
Kwan Cu tersenyum mengejek.
"An Kong, semua yang mengelilingi dirimu, pangkat dan kedudukan, pakaian yang mewah, kamar yang indah, kesemuanya ini hanya merupakan selimut yang menyembunyikan watak aselimu yang rendah dan hina-dina. Orang macam kau masih berani memaki aku?"
"Bangsat bermulut kotor! Kau telah mengetahui namaku, tidak tahukah kau bahwa aku murid dari Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, tokoh besar dari selatan? Siapakah kau yang begitu berani mati mengantarkan nyawa sendiri kesini?"
"Aku bernama Kwan Cu dan gurumu itu sudah lama aku kenal. Tak perlu kau memperkenalkannya kepadaku lagi."
An Kong sudah tak dapat menahan kesabarannya lagi, sambil berseru keras dia lalu menyerang dengan joan-pian di tangan kanannya, diikuti oleh sambaran kebutannya yang menotok jalan darah Kwan Cu di bagian iga.
Kwan Cu maklum bahwa kepandaian An Kong cukup tinggi kalau dibandingkan dengan ahli silat-ahli silat tingkat biasa, namun baginya tentu saja bukan apa-apa.
Dengan mudah dan sigap dia miringkan tubuh mengelak dari sambaran joan-pian, adapun serangan kebutan ke arah iganya itu dapat dia sampok dengan jari-jari tangannya.
Secepat kilat Kwan Cu melanjutkan gerakan menyerang, dia menyampok muka pemuda botak itu dengan telapak tangannya.
An Kong terkejut sekali melihat cepatnya gerakan lawan dan bagaimana lawannya dapat menyampok serangan kebutannya yang terkenal lihai sekali itu.
Cepat dia mempergunakan kebutannya untuk menangkis tamparan pada mukanya ini dengan maksud untuk melukai tangan Kwan Cu.
Akan tetapi, alangkah heran dan kagetnya ketika kebutannya itu pada saat beradu dengan tangan lawannya, lalu terpental kembali dan menyabet ke arah mukanya sendiri!
An Kong mengeluarkan teriakan tertahan dan cepat melompat mundur sambil berjungkir balik beberapa kali.
"Ha, An Kong, lihatlah baik-baik. Cambukmu lebih mengerti bahwa orang macam kau harus dihajar!"
Kata Kwan Cu yang tidak mau memberi hati lagi, terus pemuda ini menyerang dengan pukulan-pukulan tangan miring yang dipelajarinya dari lukisan-lukisan di dinding goa.
Ini merupakan ilmu silat tangan kosong lain macam lagi yang telah dipahaminya, yakni ilmu silat yang dimainkan dengan kedua tangan miring dan jari-jari tangan terbuka.
Kwan Cu menamakan ilmu silatnya ini Heng-pai-hud-jiu (Ilmu Silat Memuja Budha Tangan Miring).
Namun gerakan kakinya masih mengambil sistem dari Ilmu Siat Sam-hoan-ciang (Ilmu Silat Tiga Lingkaran) yang dia pelajari dari suhunya, Ang-bin Sin-kai.
Menghadapi serangan-serangan aneh ini, An Kong tidak berdaya dan dia terdesak mundur terus.
Biarpun pemuda botak ini mengerahkan kepandaian dan tenaga, mencoba menyerang lawan dengan sepasang senjatanya, namun tubuh lawannya seperti bayangan saja yang tak dapat diserang dengan senjata.
Kwan Cu yang sudah tahu akan semua gerakan lawan, tahu pula ke mana arah mana senjata itu menyambar tentu saja lebih tahu dapat mempersiapkan diri mencari kedudukan yang kosong lalu menyerang tanpa mempedulikan sambaran senjata yang tentu takkan dapat mengenai tubuhnya yang sudah mengambil tempat yang kosong itu.
Adapun Kui Lan, gadis itu, berdiri dengan mulut ternganga.
Ia tahu betul akan kelihaian An Kong yang memiliki kepandaian setingkat dengan The Kun Beng.
Akan tetapi bagaimana pemuda aneh itu dapat menghadapinya dengan tangan kosong, bahkan dalam beberapa gebrakan saja telah mendesak An Kong sedemikian rupa?
Kwan Cu belum pernah menghadapi peristiwa seperti yang dia lihat di dalam kamar tadi.
Hal ini menimbulkan kebenciannya terhadap An Kong dan kerena kali ini dia menghadapi musuh dengan hati benci, maka dia tidak main-main lagi dan menyelesaikan pertempuran itu secepat mungkin.
Ketika lawannya sudah terdesak hebat di pojok kamar, Kwan Cu cepat memasukkan tangannya menghantam pinggang An Kong.
Pemuda botak ini menjerit keras dan kedua senjatanya terlepas dari tangannya, lalu dia terhuyung-huyung dan roboh pingsan.
Dari mulutnya keluar darah!
Pada saat itu terdengar pintu kamar diketok orang dan suara yang keras memanggil.
"Kong-ji (anak kong), kau belum tidur?"
Itulah suara An Lu Kui, pikir Kwan Cu.
Ia mendengar pula tindakan kaki banyak orang, maka tahulah dia bahwa An Lu Kui tidak datang sendiri.
Cepat ia melompat ke depan gadis itu.
Kui Lan melangkah mundur dengan wajah makin pucat.
Sepasang matanya yang bening memandang kepada Kwan Cu penuh kecurigaan.
Ketika Kwan Cu mengulurkan tangan dengan maksud mengajak gadis itu lari keluar dari tempat itu, Kui Lan mundur lagi sambil menggeleng-geleng kepala dan berkata.
"Tidak....... tidak......... jangan kausentuh aku."
Bukan main gemasnya Kwan Cu mendengar ucapan ini.
Mukanya menjadi merah sekali.
Ia tahu bahwa gadis ini telah menjadi ngeri hatinya melihat laki-laki, setelah mengalami kekagetan dari An Kong.
Hm, apakah dia menganggap aku seorang laki-laki mata keranjang?
Hatinya gemas dan dia berkata dengan kaku.
"Nona, kamar ini sudah terkurung, aku tak perlu banyak cakap. Pendeknya, kau ingin keluar dari sini atau tidak?"
"Tentu saja!"
Jawab Kui Lan cepat dan gadis ini lalu menggerakkan kaki melompat ke arah jendela yang masih tertutup.
Kwan Cu maklum akan maksud gadis itu, yakni hendak keluar.
Akan tetapi, melihat gerakan gadis itu yang tidak begitu kuat, dia khawatir sekali dan sebelum gadis itu sampai di jendela, dia telah menyambar dan tahu-tahu dia telah memeluk pinggang yang ramping itu, terus dipondongnya tanpa mempedulikan betapa gadis itu meronta-ronta dalam pondongannya.
Kwan Cu mencabut suling dan melompat ke arah jendela, sekaligus menendang daun jendela terbuka sambil memutar sulingnya.
Baiknya dia melakukan hal ini karena begitu jendela terbuka, beberapa batang golok telah menyerang ke arah jendela.
Akan tetapi golok-golok ini tertangkis oleh putaran sulingnya sehingga beterbangan mencelat ke sana-sini dan ada pula yang patah menjadi dua!
Kemudian Kwan Cu meloncat ke atas genteng.
An Lu Kui dan beberapa orang perwira menyusul, akan tetapi dua orang yang terdepan, roboh kembali ke bawah genteng karena tendangan Kwan Cu yang telah siap sedia.
An Lu Kui yang sudah tahu akan kelihaian Kwan Cu, tidak berani mengejar, hanya berteriak-teriak memberi tanda kepada para pengawal istana untuk mengejar pemuda itu, kemudian dia segera memasuki kamar puteranya.
Alangkah kagetnya ketika dia melihat keadaan An Kong, maka dia segera menolongnya.
Adapun Kwan Cu dengan gadis itu masih berada di dalam pondongannya, berloncat-loncatan dari genteng ke genteng sampai dia tiba di dinding tembok yang mengelilingi kelompok bangunan istana.
Para pengawal telah siap sedia dan segera mengeroyok pemuda itu.
Akan tetapi mereka ini tentu saja hanya merupakan makanan empuk sekali bagi Kwan Cu.
Dengan menggerakkan kedua kaki dan tangan kanannya, beberapa orang pengawal terlempar jauh dalam keadaan pingsan menimpa kawan-kawan lain sehingga para pengeroyok menjadi gentar.
Ketika mereka memanndang, ternyata pemuda itu bagaikan seekor burung garuda, telah melompat naik ke atas dinding yang demikian tingginya.
Barisan anak panah dari dalam dan luar tembok menhujankan anak panah mereka ke arah bayangan Kwan Cu, namun pemuda itu terlalu gesit bagi mereka.
Apalagi dengan tangan kanannya mengebut ke sana ke mari, anak-anak panah itu runtuh semua dan sebentar saja Kwan Cu telah melompat turun di luar tembok dan menghilang ke dalam kegelapan.
Gempar seluruh istana.
Belum pernah istana diserbu oleh seorang pengacau sedemikian lihainya dan nama Lu Kwan Cu menjadi buah tutur semua orang.
Ketika Lu Thong mendengar akan hal ini, diam-diam dia mengeluh dan berkali-kali menyayangkan bahwa pemuda sedemikian saktinya tidak mau bekerja sama dengan dia!
*** Kita tinggalkan dulu Lu Kwan Cu yang menolong Kui Lan dan membawa lari gadis itu dari dalam istana.
Marilah kita menengok keadaan Menteri Lu Pin, menteri yang amat setia dan berjiwa patriot.
Di sepanjang lembah Sungai Fen-ho, di sebelah selatan kira-kira lima puluh lie dari kota Tai-goan, di antara kedua pegunungan besar yakni Pegunungan Tai-hang dan Pegunungan Lu-liang, terdapat daerah pegunungan yang liar.
Banyak bukit-bukit kecil di daerah ini dan di antaranya terdapat sebuah bukit yang penuh batu karang, akan tetapi anehnya di atas batu-batu karang ini tumbuh pula pohon-pohon besar.
Di atas bukit ini, di tempat yang amat tersembunyi dan tertutup oleh batu-batu karang raksasa yang menjulang tinggi, tempat yang amat sunyi dan sepi seperti mati, terdapat sebuah goa batu karang.
Goa ini luar biasa besarnya dan amat gelap sehingga orang akan merasa ragu-ragu untuk memasukinya, karena goa semacam ini biasanya menjadi tempat persembunyian binatang-binatang buas.
Bahkan di dalam dongeng, goa-goa besar seperti ini biasanya ditempati oleh naga-naga atau siluman-siluman buas!
Apalagi kalau orang memberanikan diri memasuki goa ini, mungkin dia akan jatuh pingsan saking kaget dan takutnya.
Agak ke sebelah dalam dari goa ini yang diterangi oleh cahaya matahari dari lobang-lobang di atas goa, terdapat pintu raksasa yang amat tebal dan berat.
Sepuluh orang biasa saja belum tentu dapat mendorong pintu itu sampai terbuka.
Di belakang pintu raksasa ini terdapat ruang yang luas dan tinggi dan hebatnya di sepanjang dinding ruangan luas ini kelihatan barisan tengkorak-tengkorak yang tinggi besar, berdiri berderet-deret dengan mulut terbuka yang dahsyat itu menyeringai memperlihatkan gigi yang besar-besar.
Tengkorak-tengkorak ini dahsyat dan menyeramkan sekali karena amat besar dan tinggi.
Tinggi tengkorak-tengkorak itu sedikitnya ada tiga kali tinggi manusia biasa.
Bukan main seramnya keadaan di situ.
Tengkorak-tengkorak raksasa itu seakan-akan hidup.
Mata mereka yang bolong itu seperti melirik-lirik dan gigi yang besar-besar itu seperti berbunyi menggerut-gerut.
Bahkan kedua lengan besar-besar itu seperti bergerak-gerak hendak menerkam siapa saja yang berani memasuki ruangan itu.
Inilah Gua Tengkorak yang dijadikan tempat sembunyi oleh Menteri Lu Pin.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Menteri Lu Pin ditolong oleh Ang-bin Sin-kai dari kepungan para pasukan An Lu Shan, kemudian Ang-bin Sin-kai menunjukkan tempat sembunyi yang baik bagi adiknya itu, yakni di goa ini.
Tadinya goa ini menjadi tempat bertapa dari Ang-bin Sin-kai selama bertahun-tahun dan di situ memang banyak terdapat tulang-tulang rangka bekas tulang binatang-binatang purbakala.
Setelah Menteri Lu Pin bersembunyi di situ, menteri yang juga seorang ahli seni ukir yang amat pandai, dalam waktu senggangnya lalu membuat tengkorak-tengkorak dari tulang-tulang binatang purba dan didirikan disitu sebagai penjaga goa!
Tengkorak-tengkorak raksasa inilah yang menolongnya dari bencana, karena siapa saja yang berhasil membuka pintu raksasa, akan terkejut dan ketakutan, lalu mundur kembali.
Siapa orangnya yang takkan gentar menghadapi tengkorak-tengkorak raksasa yang demikian dahsyat dan mengerikan?
Di dalam persembunyian itu, Menteri Lu Pin tidak tinggal diam dan enak-enak saja.
Ia mengadakan hubungan dengan para pemimpin pemberontak atau pejuang rakyat yang menentang pemerintahan An Lu Shan dan kawan-kawannya.
Tiga orang panglimanya yang setia kerap kali datang ke goa itu untuk menerima petunjuk-petunjuk, mendatangi patriot-patriot yang dikenal baik oleh Lu Pin, menerima harta pusaka yang diambil sedikit demi sedikit untuk membiayai pasukan-pasukan pejuang!
Akhirnya, harta pusaka itu habis di pergunakan oleh para pejuang dan yang tinggal hanyalah sebatang pedang pusaka Kerajaan Tang yang disebut Liong-coan-kiam.
Lu Pin merasa puas dan senang sekali betapapun juga, dia masih sempat melakukan bakti terhadap negara.
Kalau tadinya para pemimpin pejuang masih suka datang untuk merawat dan mencarikan makan baginya, kini kakek ini tidak memperbolehkan mereka datang.
"Kalian berjuanglah. Usirlah penjajah dari tanah air dan tolonglah rakyat jelata daripada penindasan. Itulah kewajiban orang-orang gagah di dunia ini. Tentang aku....... jangan kalian pedulikan. Aku sudah tua dan kalau untuk mencari makan saja, di bukit ini masih banyak buah-buah dan sayur-sayur yang dapat kumakan. Tinggalkan aku seorang diri,"
Katanya.
Dan semenjak itu, benar saja kakek ini hidup sebagai seorang pertapa, seorang diri di tempat sunyi itu.
Kalau dia merasa lapar, dia keluar dari goanya untuk mencari buah-buah yang dapat mengenyangkan perut.
Pintu raksasa itu dapat dibuka dari dalam dengan mudah, karena ada alat pembukanya.
Pada suatu hari, karena makanan yang disediakan di dalam goa telah habis, kakek Lu Pin hendak keluar dari goa untuk mencari buah-buah baru.
Seperti biasa, sebelum membuka pintu raksasa, lebih dulu dia mengintai dari lubang kecil yang sengaja dibuatnya untuk mencari tahu keadaan di luar goa.
Alangkah kagetnya ketika dia melihat betapa di luar goa itu telah penuh orang-orang yang berpakaian sebagai tentara dan mendengar pula ringkik kuda di luar goa.
Ia dapat mengerti bahwa mereka ini adalah pasukan dari pemberontak An Lu Shan, maka segera dia menutup itu dan kembali ke dalam goa, duduk dekat hio-louw besar sekali sambil bersamadhi untuk menenteramkan hatinya.
Ia maklum bahwa fihak pemberontak telah menemukan tempat persembunyiannya, akan tetapi diam-diam kakek ini tertawa memikirkan bahwa kedatangan mereka itu tentu bukan semata-mata untuk menangkapnya, melainkan lebih banyak tertarik untuk merebut kembali harta pusaka Kerajaan Tang.
Dan harta pusaka itu telah habis dia pergunakan untuk membiayai perjuangan rakyat!
Benar saja dugaan Menteri Lu Pin.
Yang datang itu adalah barisan penyelidik dari An Lu Shan yang terus-menerus mencari Lu Pin dan harta pusaka kerajaan yang dibawanya lari.
Melihat keadaan goa ini, para penyelidik itu menjadi curiga.
Biarpun mereka belum dapat memastikan bahwa orang yang dicari-carinya berada di dalam goa, namun keadaan goa yang tersembunyi ini hendak mereka selidiki.
Di antara pemimpin pasukan ini, terdapat beberapa orang perwira yang kuat dan berkepandaian tinggi.
Dengan mempersatukan tenaga, mereka dapat juga akhirnya membuka pintu raksasa.
Akan tetapi segera mereka melompat mundur kembali dengan muka pucat sekali dan tubuh menggigil ketika mereka menyaksikan barisan tengkorak besar-besar menyambut mereka di belakang pintu!
Dan anehnya pintu raksasa itu tertutup sendiri!
Hal ini sebetulnya terjadi karena memang pintu itu dipasangi alat oleh Menteri Lu Pin dan apabila terbuka, dapat tertutup kembali.
Untuk kakek itu, mudah saja membuka pintu dari luar karena ada rahasianya dari luar.
"Goa siluman...."
Berkata seorang perwira ketakutan.
"Goa tengkorak raksasa...... siapa tahu di dalamnya terdapat siluman atau raksasa hidupnya?"
Kata yang lain.
"Agaknya tak mungkin tempat seperti ini didiami oleh manusia,"
Kata pula suara lain.
Akan tetapi mereka tetap tidak mau meninggalkan goa itu dan menjaga di luar goa, agak jauh di tempat aman, sampai dua pekan lamanya!
Tentu saja kakek Lu Pin yang sudah tua dan lemah tubuhnya itu, tidak dapat menahan lagi.
Setiap hari dia mengintai dari lobang dan melihat betapa goa itu tetap terjaga, tahulah dia bahwa dia akan mati kelaparan di dalam goa.
Namun dia tidak gentar menghadapi maut dan di dalam keadaan tersiksa ini, teringatlah dia akan Lu Kwan Cu.
Seluruh keluarganya telah musnah, kecuali Lu Thong.
Ia mendengar dari para pemimpin pejuang rakyat bahwa cucunya itu bahkan menerima kedudukan dari pemberontak An Lu Shan.
Hal ini amat menyakitkan hatinya.
"Thian Yang Agung, mengapa dalam keluarga hamba terlahir manusia seperti itu? Rusak dan hancurlah nama keluarga Lu oleh binatang Lu Thong itu...."
Berpikir sampai disini, seringkali kakek ini menangis sedih.
Kemudian dia teringat kepada Lu Kwan Cu, cucu angkatnya.
Kepada anak inilah harapannya disandarkan dan sekarang, dalam menghadapi maut, kakek ini mengerahkan sleuruh tenaga terakhir untuk mengukir beberapa huruf di dinding goa.
Dengan tangan-tangan gemetar dan tubuh lemas dia mengukir huruf-huruf pesan terakhir untuk Lu Kwan Cu ini, kemudia setelah ukiran huruf-huruf itu selesai, dia roboh tak sadarkan diri lagi sampai maut merenggut nyawanya!
Pada saat bekas Menteri Lu Pin yang setia itu menghembuskan napas terakhir di dalam Goa Tengkorak, di luar goa terjadi hal yang lebih hebat lagi.
Tiga orang tinggi besar berpakaian seperti petani sedang dikeroyok hebat oleh puluhan orang pasukan penyelidik An Lu Shan.
Mereka ini bukan lain adalah tiga orang panglima yang dahulu mengawal Menteri Lu Pin.
Sudah berbulan-bulan mereka tidak datang dan kini mereka sengaja datang hendak mengunjungi kakek Lu Pin.
Alangkah kaget dan cemas hati mereka melihat puluhan orang anggauta pasukan musuh sedang menjaga di situ!
Tanpa banyak tanya lagi, tiga orang panglima yang kini sudah berganti berpakaian seperti petani itu lalu mencabut sejata dan menyerang pasukan musuh.
Mereka mainkan golok besar mereka dan sekali lagi mereka mengamuk seperti ketika dahulu mereka mengamuk membela Lu Pin dari kepungan bala tentara musuh.
Banyak anggauta tentara lawan mandi darah menjadi korban golok besar mereka.
Akan tetapi selain fihak musuh terlalu banyak jumlahnya, juga disitu berkumpul pula para perwira-perwira barisan pemberontak An Lu Shan yang berkepandaian tinggi, maka tiga orang panglima itu sebentar saja telah terkurung dan terdesak hebat.
Telah ada beberapa luka di tubuh mereka terkena senjata musuh, namun mereka mengamuk terus laksana tiga ekor naga sakti.
Pada saat nyawa tiga orang panglima gagah yang setia terancam maut, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Anjing-anjing pengkhianat, rebahlah kalian!"
Bentakan ini disusul munculnya seorang gadis cantik gagah sekali.
Usianya masih sangat muda, baru belasan tahun.
Pakaiannya sederhana dan ringkas, pedangnya tergantung dipinggang sebelah kiri.
Namun gadis muda ini benar-benar hebat sekali sepak terjangnya.
Begitu ia muncul, terdengar jeritan-jeritan di sana-sini dan kelihatan robohnya banyak anggauta tentara An Lu Shan yang mengeroyok tiga orang panglima itu.
Padahal gadis itu tidak mencabut senjata sama sekali dan hanya mempergunakan kedua tangan dan kakinya saja.
Melihat hal ini, para perwira yang tadi mendesak tiga orang panglima pengikut Lu Pin itu, terpecah menjadi dua dan empat orang perwira segera menyambut kedatangan gadis itu.
Melihat gerakan yang tangkas dan kuat dari para perwira, gadis ini lalu mencabut senjatanya, sebatang pedang panjang yang berkilauan cahayanya tertimpa cahaya matahari.
Namun empat orang perwira musuh itu ternyata cukup tangguh sehingga biarpun dengan susah payah, mereka masih dapat menghadapi amukan gadis cantik ini.
Akan tetapi tiba-tiba entah darimana datangnya, muncul seorang nenek tua yang memegang cambuk.
Sekali cambuknya berbunyi di udara, empat orang perwira yang mengeroyok gadis itu berseru kaget dan senjata golok mereka terbang pergi dari tangan mereka.
Ternyata bahwa cambuk itu mempunyai sembilan cabang dan kini dengan sekali gerakan saja telah dapat membelit dan merampas senjata empat orang itu sekaligus!
Gadis itu berseru gembira dan dua kali pedangnya bergerak, robohlah dua orang perwira dengan kepala terpisah dari tubuhnya.
Yang dua lagi tidak sempat melarikan diri, karena cambuk nenek itu mengejar mereka dan ujung-ujung cambuk yang seperti ular itu menotok jalan darah kematian di punggung mereka, membuat mereka roboh tak bernyawa lagi.
Kemudian gadis dan nenek itu mengamuk.
Banyak sekali tentara di fihak musuh tewas, termasuk para perwira yang mengeroyok tiga panglima pengikut Lu Pin.
Hanya sedikit saja yang dapat melarikan diri, karena biarpun banyak yang melompat ke atas kuda dan membalapkan kuda mereka, namun gadis cantik itu mengeluarkan panah tangan dan berkali-kali tangannya bergerak.
Setiap gerakan melayangkan sebatang anak panah dan robohlah seorang penunggang kuda.
Dari puluhan orang pasukan itu, hanya ada tujuh orang saja yang sempat melarikan diri dan terbebas daripada maut.
Siapakah gadis dan nenek yang sakti itu?
Bukan lain nenek itu adalah Kiu-bwe Coa-li, nenek sakti tokoh besar dari selatan.
Gadis itu adalah muridnya, yakni Bun Sui Ceng, bocah perempuan yang dulu amat lincah itu dan kini telah berubah menjadi seorang gadis yang amat cantik dan perkasa.
Tiga orang panglima itu memandang semua sepak terjang yang hebat dari nenek dan gadis itu dengan bengong dan kagum.
Kemudian mereka menjura dengan hormat dan seorang di antara mereka berkata.
"Banyak terima kasih atas budi pertolongan Suthai dan Lihiap. Kalau tidak ada pertolongan Ji-wi, tentu kami sudah menjadi korban keganasan anjing pemberontak itu. Mohon tanya siapakah Suthai dan Lihiap yang gagah perkasa."
Kiu-bwe Coa-li mengerak-gerakkan cambuknya dengan sikap tidak sabar.
"Sudahlah, cukup segala penghormatan ini. Pinni (aku) bukan menteri, juga bukan kaisar. Lebih baik lekas tunjukkan saja di mana adanya Lu Pin bekas menteri itu!"
Melihat sikap yang amat galak dari Kiu-bwe Coa-li, tiga orang panglima itu terkejut sekali.
Mereka maklum bahwa di dunia kang-ouw banyak sekali terdapat orang-orang aneh dan maklum pula bahwa tokoh-tokoh sering kali mengejar harta-harta pusaka.
Siapa tahu kalau-kalau nenek sakti yang galak ini pun mencari Menteri Lu Pin dengan maksud kurang baik.
Mereka adalah patriot-patriot sejati yang gagah, yang siap mengorbankan nyawa untuk membela tanah air dan bangsa, siap pula membela Menteri Lu Pin yang amat mereka junjung tinggi.
"Suthai menanyakan Lu-taijin ada maksud apakah?"
Tanya seorang di antara mereka.
Bun Sui Ceng memandang khawatir.
Ia sudah maklum akan watak gurunya yang keras dan tidak mau dibantah oleh siapapun juga.
Benar saja, nenek sakti itu mengerutkan kening dan pecutnya bergerak-gerak di tangannya.
"Kau peduli apa dengan urusanku? Hayo katakan di mana dia berada dan habis perkara!"
Namun tiga orang panglima itu adalah orang-orang yang setia.
Jangankan baru gertakan seorang nenek tua yang sakti, biarpun maut mengancam nyawa, mereka takkan sudi membuka rahasia persembunyian Menteri Lu Pin.
"Kalau Suthai tidak memberitahukan maksud Suthai menjumpai Lu-taijin, maafkan kami tidak dapat memberitahukan di mana tempat tinggalnya."
Baru saja pembicara itu menutup mulutnya terdengar bunyi "tar", nyaring sekali dan cambuk di tangan nenek itu menyambar turun ke atas kepala tiga orang panglima tadi! "Suthai, jangan.....!"
Bun Siu Ceng melompat maju dan mengangkat kedua tangannya seakan-akan melindungi kepala tiga orang panglima itu.
"Mereka adalah pejuang-pejuang rakyat, jangan dibunuh!"
"Pejuang atau bukan, mereka kurang ajar dan harus dibunuh, habis perkara!"
Jawab Kiu-bwe Coa-li dengan suara menyeramkan. Sui Ceng cepat menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya dan berkata dengan suara memohon.
"Suthai, ampunkan kesalahan mereka. Mereka tidak tahu siapa adanya Suthai. Biarlah teecu (murid) yang bicara dengan mereka."
Cambuk berekor sembilan itu masih bergetar di tangan Kiu-bwe Coa-li dan dipegang di atas kepalanya. Akan tetapi, perlahan-lahan cambuk itu turun dan nenek itu berkata penuh penyesalan.
"Hm, kau anak nakal! Siapa peduli akan menteri dan kaisar? Dasar kau yang mencari-cari perkara!"
Namun jawaban ini sudah cukup bagi Sui Ceng. Setiap kali gurunya menyebutnya "anak nakal"
Itu berarti bahwa gurunya memenuhi permintaannya.
Dengan girang dia lalu melompat bangun dan menghadapi tiga orang panglima yang memandang dengan mata terbelalak, masih kaget dan takut melihat sikap Kiu-bwe Coa-li yang aneh dan galak.
"Sam-wi Lo-pek (Paman Bertiga), sesungguhnya guruku ini tidak peduli sama sekali tentang di mana adanya Lu-taijin. Hanya atas desakanku saja beliau terpaksa mencari tempat persembunyian Lu-taijin. Harap Sam-wi jangan mencurigai kami. Biarpun kami sudah mendengar bahwa Lu-taijin membawa harta pusaka besar, namun kami bukan sebangsa perampok dan kunjungan kami hanya sekedar ingin bertemu karena aku ingin sekali bicara dengan orang tua yang mulia dan gagah perkasa itu."
Merahlah wajah tiga orang panglima itu mendengar ini. Mereka segera menjura dalam sekali dan seorang di antara mereka berkata.
"Maaf, maaf! Mohon maaf sebanyaknya bahwa kami yang sudah menerima pertolongan, sebaliknya telah berani mati untuk mencurigai Ji-wi. Kebetulan sekali kami pun baru saja tiba dengan maksud mengunjungi Lu-taijin yang sudah lama kami tinggalkan di sini. Akan tetapi ketika tadi kami melihat pasukan pemberontak berkumpul di sini, kami menjadi khawatir dan segera menyerbu mereka. Lu-taijin berada di dalam goa itu, Lihiap. Marilah kita bersama masuk ke dalam untuk menemuinya, karena kami sudah sangat ingin melihat keadaannya."
Biarpun tiga orang panglima itu bergerak cepat memasuki goa, tetap saja Kiu-bwe Coa-li dan Sui Ceng dapat mendahului mereka.
Dan alangkah heran dan kaget hati tiga orang itu ketika melihat betapa dengan tangan kirinya saja Kiu-bwe Coa-li dapat mendorong pintu raksasa itu sehingga terbuka, nampaknya tanpa mengerahkan tenaga sedikit pun juga.
Mereka mengeluarkan lidah saking kagumnya.
Mereka bertiga yang bertenaga besar masih tak dapat mendorong pintu itu terbuka dan biasanya mereka hanya masuk dengan mempergunakan alat pembuka pintu yang tersembunyi di luar pintu itu.
Lima orang ini memasuki pintu dan Kiu-bwe Coa-li nampak tertegun sejenak melihat tengkorak-tengkorak raksasa itu.
Biarpun ia seorang nenek sakti yang sudah ratusan kali menghadapi bahaya maut dan kejadian yang aneh-aneh dan menyeramkan, namun selama hidupnya baru pertama kali ini ia menyaksikan tengkorak-tengkorak yang demikian menyeramkan.
Adapun Bun Sui Ceng yang masuk di belakang gurunya, mengeluarkan seruan tertahan dan merasa bulu tengkuknya berdiri!
Tak terasa pula dia memegang tangan gurunya.
"Apa kau takut?"
Tanya Kiu-bwe Coa-li tak puas sambil menoleh dan memandang kepada muridnya.
Bun Sui Ceng cepat melepaskan pegangan tangannya dan menggeleng, kini mengangkat dada dan mengedikkan kepalanya yang manis.
Mereka masuk terus ke dalam dan tiba-tiba tiga orang panglima itu menjerit berbareng.
"Lu-taijin.......!"
Tergopoh-gopoh mereka berlari menghampiri tubuh kakek yang sudah menggeletak miring di bawah dinding goa itu, tangan kiri memegang pedang Liong-coan-kiam, sedangkan tangan kanan memegang alat pengukir.
"Lu-taijin.....!"
Kembali tiga orang berseru sambil beramai-ramai mengangkat tubuh kakek itu yang sudah lemas dan dingin. Melihat sekelebatan saja, Kiu-bwe Coa-li tahu bahwa kakek itu sudah tak bernyawa lagi.
"Tak perlu ribut-ribut, dia sudah mati,"
Katanya.
"Mari kita pergi, Sui Ceng, untuk apa berdiam di sini lebih lama lagi setelah orangnya yang ingin kau temui itu meninggal dunia?"
Akan tetapi muridnya tidak menjawab dan ketika Kiu-bwe Coa-li memandang, ia melihat muridnya itu tengah membaca ukir-ukiran yang berada di dinding tepat di mana kakek tadi menggeletak mati.
Kiu-bwe Coa-li melangkah maju dan ikut membaca huruf-huruf yang diukir amat indahnya itu.
"Lu Kwan Cu"
Kau cucu tunggal setelah seluruh keluargaku dibakar oleh pemberontak An Lu Shan.
Lu Thong tak termasuk hitungan.
Kepadamu kuharapkan agar kau membinasakan seluruh keluarga An Lu Shan, bukan untuk membalaskan kesengsaraan keluarga, melainkan kesengsaraan rakyat dan negara!
Pedang Liong-coan-kiam kuberikan kepadamu.
Sekali lagi, bebaskanlah rakyat daripada angkara penjahat besar An Ku Shan sekeluarganya!
Kong-kongmu, LU PIN "Hebat, sampai nyawanya meninggalkan raga, beliau tetap seorang patriot sejati bagi nusa dan bangsanya,"
Kata Sui Ceng dan ketika Kiu-bwe Coali memandang, ia melihat mata muridnya itu berlinang air mata.
"Hm, hm, hm, kau telah terpengaruh oleh semangat kakek itu, Sui Ceng. Mari kita kembali ke gunung, untuk apa menyeret diri ke dalam kancah permusuhan?"
Gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Suthai. Biarpun Suthai di mulut berkata demikian, akan tetapi teecu telah tahu akan perasaan hati Suthai. Bukankah dahulu Suthai juga menjadi marah dan mencoba untuk membasmi kaki tangan An Lu Shan? Teecu akan membantu untuk memenuhi cita-cita Lu-taijin yang mulia, hendak teecu basmi penjahat-penjahat yang menindas rakyat itu,"
Katanya dengan gagah. Kiu-bwe Coa-li menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mereka itu kuat sekali, Sui Ceng. An Lu Shan dibantu oleh orang-orang pandai dan agaknya sudah menjadi takdir bahwa negara kita harus berada di dalam kekuasaan mereka. Lagi pula, bukankah menurut pesan Lu-taijin, yang diserahi tugas adalah Lu Kwan Cu? Heran aku, siapakah Lu Kwan Cu itu?"
Tiba-tiba Sui Ceng tersenyum.
Gadis ini memang luar biasa, mudah menangis dan mudah pula tersenyum.
Ia teringat akan Kwan Cu, bocah gundul itu dan tak terasa pula tersenyum geli kalau mengingat betapa tugas seberat itu diserahkan kepada bocah gundul setolol itu!
"Suthai, tidak ingatkah Suthai akan anak laki-laki yang menjadi sebab keributan dahulu?
Semua tokoh besar memperebutkan dia, gara-gara kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng yang palsu!"
Berubah wajah nenek sakti itu.
"Ah..... dia......??"
Ia mengerutkan kening dan berkata.
"Sui Ceng, bocah itu bukan bocah biasa dan siapa tahu kalau-kalau dia sudah mendapatkan kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng!"
Sui Ceng kembali tersenyum geli.
"Mana mungkin begitu, Suthai? Di waktu gurunya, Ang-bin Sin-kai, tewas oleh keroyokan kaki tangan An Lu Shan, Kwan Cu tidak muncul dan sudah lama dia tidak memperlihatkan diri. Bagaimana dia bisa melakukan tugas sepenting ini? Biarlah aku mewakilinya, karena tugas ini bukan hanya tugasnya, melainkan tugas setiap orang gagah yang membela negara dan bangsanya."
Diam-diam Kiu-bwe Coa-li bangga dan girang melihat sikap muridnya.
Tidak percuma ia mempunyai murid yang hanya seorang ini, karena memang muridnya ini berjiwa gagah.
Dia sendiri jemu untuk berurusan dengan segala keruwetan dunia, apalagi ia memang merasa kecewa ketika tidak berhasil membinasakan tokoh-tokoh yang mengkhianati bangsa.
"Baiklah, Sui Ceng. Kau boleh melakukan tugas ini, akan tetapi kau berhati-hatilah. Dan jangan lupa bahwa kau harus mencari Pak-lo-sian Siangkoan Hai, maksudku sebetulnya, kau harus mencari pemuda murid iblis utara itu, The Kun Beng."
Merah sekali wajah Sui Ceng. Ia mengerti akan maksud gurunya, akan tetapi untuk mendapatkan penjelasan yang lebih nyata, ia pura-pura bertanya.
"Mengapa teecu harus mencari dia, Suthai?"
"Bocah bodoh! Seorang anak harus mentaati kehendak orang tuanya. Aku sendiri sebagai gurumu, tidak bisa berkata apa-apa, karena dalam hal perjodohan, orang tuamulah yang lebih berhak. Biarpun ibumu sudah tida ada, akan tetapi pesannya harus ditaati. Bukankah ibumu sudah mengikatkan tali perjodohan antara kau dan The Kun Beng murid kedua dari Pak-losian Siangkoan Hai? Nah, kaucarilah dia agar perjodohan dapat dilangsungkan segera. Tentu saja kau harus memberi tahu kepadaku apabila pernikahan akan dilangsungkan."
Warna merah makin menjalar luas sampai membikin merah kedua telinga gadis itu.
"Aahh, Suthai......! Perlu benarkah itu? Antara dia dan aku tidak ada hubungan sedikit pun juga. Bahkan semenjak kanak-kanak sampai sekarang, aku tak pernah melihat dia!"
"Biarpun begitu, Sui Ceng. Jodoh itu sudah ditakdirkan oleh Thian dan disahkan oleh orangtua. Apakah sukarnya mencari murid dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai? Dia tentu lihai sekali seperti suhunya."
Sui Ceng cemberut.
"Biarpun dia lihai dan baik, teecu tidak peculi, Suthai. Mana ada wanita mencari laki-laki? Kalau dia memang sudah diikatkan dengan teecu, mengapa bukan dia yang mencari teecu? Mengapa harus teecu yang mencarinya? Teecu tidak sudi!"
Kiu-bwe Coa-li tertawa, suara ketawanya aneh sekali.
"Bodoh, lupa bahwa kita berdua menyembunyikan diri di gunung dan tak seorang pun tahu di mana kita berdua? Andaikata dia mencari, apa kau kira dia bisa menemukan kita? Sudahlah, kau boleh berangkat dan hati-hatilah, jangan kau berpikiran singkat. Ingat semua nasihat dan pelajaran yang selama ini kaudapatkan dariku."
Kiu-bwe Coa-li meraba kepala muridnya dengan sentuhan mesra. Menghadapi sikap yang tidak seperti biasanya dari gurunya, terharulah hati Sui Ceng dan gadis ini lalu memeluk gurunya sambil menangis.
"Jaga baik-baik dirimu, Suthai. Tak lama lagi teecu tentu akan menyambangi Suthai di puncak gunung."
Pada saat itu, tiga orang panglima sedang sibuk mencoba untuk memindahkan hio-louw (tempat abu hio) yang amat besar, akan tetapi sia-sia belaka.
Hio-louw itu beratnya seribu kati lebih dan tidak dapat mereka angkat!
Mendengar suara mereka "ah-ah-uh-uh-uh!"
Mengerahkan tenaga, Kiu-bwe Coa-li menengok.
"Eh, eh, eh, tidak mengurus jenazah baik-baik melainkan mengangkat-angkat hio-louw besr itu, apa-apaan kalian ini?"
Kiu-bwe Coa-li menegur mereka. Mendengar ini, tiga orang itu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Kiu-bwe Coa-li.
"Suthai yang mulia, tolonglah kami. Lu-taijin dahulu berpesan bahwa apabila beliau meninggal dunia, agar supaya jenazahnya dikubur di bawah hio-louw. Tidak tahunya hio-louw ini demikian beratnya sehingga kami bertiga tidak kuat memindahkannya."
"hm, hm, hm, orang-orang lemah seperti kalian ini mana bisa berhasil melawan pasukan-pasukan An Lu Shan?"
Kata Kiu-bwe Coa-li mengejek, akan tetapi ia bertindak menghampiri hio-louw itu.
Dengan tangan kanannya dia memegang telinga hio-louw dan sekali sentak, hiolouw itu terangkat naik dan diturunkannya lagi di tempat yang agak jauh dari tempat semula!
Tiga orang itu saling pandang dan mereka menghaturkan terima kasih sambil berlutut.
Kemudian mereka cepat menggali lubang di bawah hio-louw itu.
Kiu-bwe Coa-li mengambil pedang Liong-coan-kiam dari tangan jenazah Lu Pin, memandang pedang itu dan mengangguk-angguk kagum.
"Pedang pusaka yang baik,"
Katanya.
"Suthai, pedang itu adalah pedang untuk Kwan Cu,"
Kata Sui Ceng, mengira bahwa gurunya menginginkan pedang tadi.
"Untuk apa pedang macam ini bagiku?"
Kata Kiu-bwe Coa-li dan sekali ia menggerakkan tangan yang memegang pedang, pedang itu meluncur seperti anak panah dan tertancap sampai ke gagangnya pada dinding batu karang yang diukir oleh Lu Pin!
Pedang itu tertancap di tengah-tengah tulisan-tulisan itu dan sukarlah bagi orang biasa untuk mencabutnya kembali!
"Aku pergi, Sui Ceng,"
Kata nenek itu dan tanpa menanti jawaban tubuhnya sudah berkelebat lenyap dari situ.
Tiga orang panglima yang sedang menggali lubang, melihat kepergian nenek itu, menjadi bingung sekali.
Mereka keluar dari lubang dan menjatuhkan diri berlutut di depan Sui Ceng.
"Lihiap, harap kau jangan pergi dulu. Siapa yang akan mengembalikan hio-louw itu di tempat semula?"
Sui Ceng ragu-ragu, akan tetapi melihat kepada mayat Menteri Lu Pin yang wajahnya masih membayangkan keagungan, ia mengangguk.
Tiga orang itu bekerja keras dan setelah lubang itu cukup dalam dan dengan penuh penghormatan dan di antar oleh tangis, mereka mengubur jenazah Menteri Lu Pin.
Sui Ceng lalu mengerahkan tenaganya akan tetapi hanya setelah mempergunakan kedua tangannya, gadis ini dapat memindahkan hio-louw yang memang amat berat.
Tiga orang panglima itu juga membaca tulisan yang diukir di dinding, lalu mereka menyatakan kepada Sui Ceng bahwa mereka di dalam perjuangan hendak pula mendengar-dengar kalau-kalau ada pemuda yang dimaksudkan oleh mendiang Lu-taijin itu.
Setelah itu, mereka lalu keluar dari goa.
Sui Ceng berkata.
"Mari kita tutup goa ini dengan batu-batu agar tidak ada sembarang orang dapat memasukinya dan mengganggu goa ini."
Setelah berkata demikian, gadis ini melempar-lemparkan batu-batu besar menutupi mulut goa. Tiga orang itu tertegun.
"Akan tetapi...... bagaimana kalau pemuda yang bernama Lu Kwan Cu itu datang ke sini? Bagaimana dia akan dapat masuk?"
Sui Ceng tertawa.
"Kalau dia sanggup menunaikan tugas yang diberikan kepadanya, apa susahnya untuk membongkar batu-batu ini dan membuka goa?"
Terpaksa tiga orang itu lalu membantu dan sebentar saja goa itu telah tertutup oleh batu-batu yang bertumpuk sehingga tidak kelihatan dari luar.
Kemudain tanpa banyak cakap lagi Sui Ceng lalu melompat pergi diikuti oleh pandang mata tiga orang panglima itu yang merasa takjub dan kagum sekali.
*** "Turunkan aku......!
Lepaskan aku.....!
lepaskan, kau laki-laki kurang ajar!"
Gadis dalam pondongan Kwan Cu itu meronta-ronta dan memaki-maki minta dilepaskan dari pondongan.
Namun Kwan Cu tidak mempedulikannya, sama sekali tidak menjawab bahkan membiarkan saja kedua tangan gadis itu memukul-mukuli dadanya.
Ia merasa betapa pukulan tangan gadis itu cukup antep dan keras, namun baginya tidak terasa sama sekali.
Diam-diam Kwan Cu merasa mendongkol sekali, maka dia sengaja tersenyum sambil berlari terus dengan cepatnya, keluar dari kota raja.
Akhirnya gadis itu tidak dapat melanjutkan makiannya karena ia merasa lelah, hanya menangis sambil menyembunyikan mukanya di atas dada pemuda yang membawanya lari.
Setelah tiba jauh dari tembok kota raja, Kwan Cu masuk ke dalam hutan dan menurunkan gadis itu di bawah sebantang pohon.
Malam telah berganti pagi dan keadaan yang suram sejuk itu menyatakan kepadanya akan kecantikan wajah dan keindahan bentuk tubuh gadis yang telah ditolongnya.
Kwan Cu tersenyum.
"Nah, disini kau boleh memaki-maki dan menjerit sekerasmu. Para pengejar dari istana telah tertinggal jauh dan keadaan kita tidak terancam bahaya lagi."
"Kau..... kau laki-laki kasar, kurang ajar dan sombong! Kau berani memondongku, laki-laki sopan tidak akan sudi menyentuh kulit tubuh seorang gadis yang tidak dikenalnya. Kalau ada kakakku disini, kau tentu akan dihancurkan kepalamu!"
Gadis itu memaki lagi dengan sepasang matanya bersinar-sinar, menyaingi bintang pagi yang masih berkedip-kedip di angkasa. Kwan Cu tersenyum lebar.
"Kaumaksudkan kakakmu Gouw Swi Kiat? Murid dari Pak-losian Siangkoan Hai? Aha, dia takkan marah-marah seperti kau, bahkan akan mengucapkan terima kasih kepadaku. Wahai gadis manis, tahukah kau mengapa aku menolongmu?"
"Mengapa lagi kalau kau tidak tertarik oleh kecantikan seorang gadis muda? Laki-laki di mana-mana sama saja, gila kecantikan dan lupa daratan, lupa perikemanusiaan menjadi budak nafsu binatang!"
Berkerut kening Kwan Cu. Hatinya tersinggung sekali.
"Hmmm, entah karena memang watakmu yang galak dan kasar ataukah karena kau sudah mengalami banyak penderitaan maka kau dapat mengeluarkan tuduhan sekeji itu. Dengarlah, perempuan, aku menolongmu karena empat hal. Pertama-tama aku benci melihat An Kong si pangeran botak yang mata keranjang itu. Ke dua karena aku mendengar bahwa kau adalah kekasih The Kun Beng, seorang kenalanku yang baik. Ketiga karena kau adalah adik dari Swi Kiat seorang sahabatku pula, dan keempat karena aku melihat muka si tua Siangkoan Hai dan murid-muridnya. Kaukira aku mempunyai maksud lain apa lagikah? Kalau kau tidak suka, sudahlah, biarkan aku pergi. Terima kasih atas segala makian dan tuduhanmu yang keji!"
Setelah melontarkan kata-kata ini dengan suara gemas, Kwan Cu lalu membalikkan tubuhnya dan hendak pergi. Ia mengkal sekali.
"In-kong ......... (tuan penolong), perlahan dulu........."
Kwan Cu mengangkat alis dan menoleh.
Ia tertegun melihat gadis itu berdiri memandangnya dengan mata sayu dan di atas kedua pipi yang halus itu nampak butiran-butiran air mata!
Benar-benar heran sekali, bagaimana gadis ini yang tadi marah-marah sekarang berbalik menangis?
Sikap dan watak wanita benar-benar merupakan teka-teki besar bagi Kwan Cu.
"Ada apalagi kau memanggil aku? Mengapa pula memakai sebutan In-kong? Aku tidak menolongmu. Apakah kurang cukup makian-makianmu tadi?"
Makin deras keluarnya air mata dari sepasang mata yang bening itu.
"Benar-benarkah kau...... tidak akan menggangguku seperti yang kusangka semula?"
Kwan Cu tersenyum pahit, lalu menggeleng-geleng kepalanya.
"Kau memang manis dan mudah menggugah hati laki-laki untuk mengganggumu. Akan tetapi karena kau sudah terlalu banyak menderita yang diakibatkan oleh sinar mata keranjang pria kau lalu menganggap bahwa semua laki-laki gila nafsu dan mata keranjang. Tidak Nona, aku Lu Kwan Cu selama hidupku tidak akan mempergunakan kekerasan mengganggu wanita."
Gadis ini terkejut mendengar nama ini, karena tadi di dalam kamar An Kong, ia sama sekali tidak memperhatikan nama ini.
"Jadi kau ini Kwan Cu murid Ang-bin Sin-kai yang sering di sebut-sebut oleh Kun Beng? Ah, maafkan aku..... maafkan aku yang sedang menderita ini...."
Tiba-tiba gadis itu menubruk maju dan berlutut di depan Kwan Cu. Pemuda ini menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum. Lalu dia mengangkat tubuh gadis itu sambil memegang kedua pundaknya.
"Sudahlah, Nona, tak perlu semua penghormatan ini dan kau janganlah terlalu berduka, tidak baik untuk kesehatanmu."
Mendengar ucapan ini, gadis itu lalu memeluk dan menjatuhkan mukanya di dada Kwan Cu seakan-akan seorang adik yang minta hiburan dari seorang kakak yang menyayanginya.
"Nasibku amat buruk....."
Keluhnya sambil menangis.
Kembali Kwan Cu menggeleng kepala berkali-kali.
Aneh sekali watak gadis ini, pikirnya.
Tadi ditolong dan dipondong begitu saja, memaki-maki dan meronta-ronta, mengatakan dia kurang ajar dan tidak sopan.
Sekarang atas kehendak sendiri bahkan memeluknya dan mendekapkan muka di dadanya.
Alangkah anehnya.
Akan tetapi timbul hati kasihan di dalam hatinya menyaksikan gadis itu terisak-isak di dadanya.
"Tenanglah, diamlah, Nona. Mengapa kau begini berduka?"
Tanpa terasa, darah Kwan Cu panas juga.
Dia seorang pemuda yang belum pernah berdekatan dengan seorang wanita, apalagi bersentuhan kulit atau lebih-lebih lagi memeluk tubuh seorang gadis yang demikian cantik.
Otomatis tangannya mengelus-elus rambut yang hitam panjang dan halus itu, sedangkan hatinya berdebar tidak karuan.
Rabaan tangan penuh kasih dan iba dirambutnya agaknya terasa oleh gadis itu.
Dengan kaget ia menjauhkan dirinya, memandang kepada Kwan Cu, akan tetapi kini sinar ketakutan dan curiga telah lenyap dari matanya.
"Apakah kau kenal baik dengan Kun Beng dan kakakku Swi Kiat?"
Tanya gadis itu.
"Aku hanya bertemu dengan mereka sewaktu aku masih kecil. Dahulu kakakmu itu seorang anak yang berangasan, berbeda dengan Kun Beng yang halus dan ramah. Akan tetapi dahulu aku tidak tahu bahwa Swi kiat mempunyai seorang adik perempuan yang bernama Kui Lan."
Gadis itu, Gouw Kui Lan, tersenyum pahit.
"Memang kakakku selalu ikut dengan gurunya dan aku tinggal di rumah bersama orang tuaku. Akan tetapi sekarang kedua orang tuaku telah meninggal dunia dan aku hidup berdua dengan Kiat-ko. In-kong, aku hendak minta pertolonganmu, kauusahkanlah perdamaian antara Kiat-ko dan Kun Beng."
"Eh, mengapakah? Apakah mereka itu berselisih?"
Kui Lan mengangguk dan menarik napas panjang, lalu duduk di atas akar pohon.
"Duduklah, In-kong. Mereka tidak hanya berselisih, bahkan Kiat-ko telah bersumpah untuk mencari dan membunuh Kun Beng.... Dan aku tidak rela melihat Kun Beng terbunuh olehnya. Aku...... aku cinta kepada Kun Beng."
Merah muka Kwan Cu mendengar pengakuan yang dianggapnya amat ganjil dari mulut gadis ini.
"Aku sudah mendengar ketika kau bicara dengan pangeran botak An Kong. Akan tetapi, mengapakah mereka bermusuhan? Mereka adalah saudara sepergururan, bagaimana mereka bias bermusuhan sedemikian hebat sehingga kakakmu bersumpah untuk membunuh sutenya sendiri?"
Sampai beberapa lama Kui Lan ragu-ragu, kemudian ia menghela napas dan berkata.
"Kun Beng seringkali membicarakan engkau, dan memujimu sebagai seorang yang aneh dan berbudi. Oleh karena itu, tiada salahnya kalau aku menceritakan semua peristiwa yang kualami kepadamu, apalagi karena aku hendak minta tolong kepadamu untuk mengakurkan mereka kembali."
Kui Lan lalu bercerita, menurutkan pengalamannya dengan singkat, akan tetapi agar lebih jelas bagi kita, marilah kita mengikuti sendiri semua pengalamannya itu.
Swi Kiat dan Kui Lan adalah putera-puteri dari keluarga Gouw yang bertempat tinggal di dalam Propinsi Hok-kian.
Sesungguhnya ayah dari kedua orang anak ini adalah bekas seorang perwira Kerajaan Tang yang telah mengundurkan diri karena tidak suka melihat kaisar dan para pembesar lainnya melakukan korupsi besar-besaran dan bukan merupakan pemimpin dan pelindung rakyat, bahkan sebaliknya merupakan pemeras-pemeras berwewenang yang lebih jahat daripada perampok-perampok tulen.
Bekas perwira she gouw ini membawa keluarganya pindah ke dalam dusun dan uang simpanan yang tidak seberapa dia membeli tanah dan hidup sebagai petani yang berbahagia dan tenteram.
Ia di segani di dusunnya karena selain luas pengertiannya, juga dia memiliki kepandaian silat yang bagi orang-orang dusun sudah amat tinggi sehingga dusun itu menjadi aman.
Tidak ada orang jahat berani memperlihatkan aksinya setelah Gouw-ciangkun ini tinggal di situ.
Pada suatu hari, Swi Kiat dan adiknya bermain-main di halaman depan rumahnya.
Ketika itu Swi Kiat baru berusia lima tahun dan Kui Lan berusai tiga tahun.
Sebagai putera seorang petani, Swi Kiat memang amat rajin.
Kalau dia tidak membantu para pekerja di ladang, baik hanya untuk mengawasi atau pun membantu sedikit-sedikit sesuai dengan kemampuan tenaganya yang masih kecil, tentu dia membantu pekerjaan ibunya.
Pada hari itu, Swi Kiat bertugas menjaga adiknya yang masih kecil dan mengajaknya bermain-main.
Pada saat mereka bermain-main, tiba-tiba kelihatan seorang kakek kecil pendek yang berpakaian sederhana.
Entah darimana datangnya kakek ini karena tahu-tahu telah berada di luar pekarangan rumah dan duduk di atas rumput, memandang ke arah dua orang anak yang bermain-main itu.
Swi Kiat dan Kui Lan melihat pula orang itu, akan tetapi tidak memperhatikannya karena hanya mengira bahwa kakek itu seorang dusun lain yang duduk beristirahat.
Padahal sebetulnya kakek ini bukan lain adalah Pak-lo-sian Siangkoan Hai, seorang tokoh besar yang baru namanya saja sudah cukup hebat untuk membuat penjahat-penjahat mengangkat kaki seribu!
"Engko Kiat, ambilkan bunga itu....."
Kata Kui Lan merengek-rengek.
"Mengapa kau minta bunga yang buruk di atas pohon itu? Lebih baik kucarikan bunga teratai di empang atau bunga mawar di kebun belakang, lebih bagus dan mudah mengambilnya,"
Jawab kakaknya.
"Tidak mau, aku mau bunga yang di atas pohon itu!"
Kui Lan tetap merengek.
"Baiklah, baiklah, tapi jangan kau menangis,"
Swi Kiat marah-marah, akan tetapi dia lalu naik ke atas pohon itu untuk mencarikan bunga bagi adiknya.
Dalam usia lima tahun, Swi Kiat telah mulai berlatih silat dan tubuhnya digembleng oleh ayahnya sehingga dia memiliki tenaga dan kegesitan yang lebih daripada anak-anak biasa.
Bagaikan seekor monyet, dia memanjat pohon itu dan megambilkan tiga tangkai bunga.
Akan tetapi, sebelum dia turun, tiba-tiba dia merasa seluruh tubuhnya sakit dan gatal-gatal.
Alangkah kagetnya ketika anak ini melihat bahwa dia telah dikeroyok oleh ratusan ekor semut merah karena tanpa disengaja dia tadi telah menyentuh sarang mereka.
Swi Kiat memiliki ketabahan besar dan biarpun dia sibuk sekali mengusir semut-semut yang menggigit di badannya, dia tidak mengeluarkan keluhan hanya berseru.
"Semut..... semut.......!"
Ia merayap turun sambil menggaruk sana menepuk sini.
Gigitan semut-semut merah itu sakit dan gatal luar biasa sehingga anak ini tidak dapat tahan lagi.
Ketika dua tangannya sibuk mengusir semut, keseimbangan tubuhnya kacau dan dia terpeleset dari atas dahan!
Anak itu tentu akan mengalami bencana hebat karena dia terjatuh dari dahan yang tinggi sekali.
Akan tetapi sebelum tubuhnya terbanting di atas tanah, tiba-tiba terdengar suara orang.
"Bodoh sekali.....!"
Dan tahu-tahu tubuh Swi Kiat telah ditangkap oleh sebuah lengan yang pendek kecil sehingga dia tidak sampai terbanting ke atas tanah.
Kakek yang tadi duduk di luar pekarangan, tahu-tahu telah berada di situ dan dapat menyambut tubuh Swi Kiat dengan amat mudah.
Swi Kiat masih sibuk mengusiri semut dan menggaruk ke sana ke mari.
Biarpun semut-semut itu sudah pergi, namun gatal-gatal masih hebat sekali sehingga anak ini tidak mempedulikan kakek yang telah menolongnya.
Tiba-tiba kakek itu menggerakkan tangannya dan pundak Swi Kiat ditampar.
Aneh sekali, seketika itu juga lenyaplah rasa gatal dan sakit bekas gigitan semut, sungguhpun di sana-sini masih nampak merah-merah bekas gigitan.
Swi Kiat memandang dengan mata terbelalak, barulah dia teringat bahwa kakek ini telah menolongnya, maka serta-merta dia menjatuhkan diri berlutut.
"Kakek yang baik, terima kasih atas pertolonganmu."
Pak-lo-sian Siangkoan Hai senang sekali melihat Swi Kiat.
Ia dapat melihat bahwa anak ini bertulang baik dan bakatnya luar biasa.
Juga melihat betapa dalam penderitaan anak itu tidak mengeluh sama sekali, membuktikan bahwa anak itu memiliki ketabahan dan ketenangan.
Tiga tangkai kembang masih selalu di pegangnya, ini pun menyatakan bahwa dia memiliki dasar setia.
Swi Kiat lalu memberikan kembang itu kepada Kui Lan yang menerimanya dan terus bersembunyi di belakang kakaknya, karena ia takut melihat kakek kecil pendek yang suaranya nyaring itu.
"Anak yang tangkas, kalau hendak mengambil bunga di atas pohon, mengapa susah-susah memanjat pohon yang banyak semutnya?"
Kata Siangkoan Hai tertawa.
"Eh, kakek yang aneh. Kembang berada di atas pohon, kalau tidak memanjat naik, habis bagaimana mengambilnya?"
Tanya Swi Kiat heran. Siangkoan Hai tertawa makin keras.
"Banyak jalannya. Kau bias menyambit tangkai kembang sehingga kembang-kembang itu turun sendiri ke bawah, atau kau dapat melompat dan mengambilnya tanpa menyentuh dahan pohon yang banyak semutnya."
Swi Kiat berpikir sejenak, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata.
"Membicarakannya mudah, akan tetapi siapa dapat melakukan hal itu?"
Memang Swi Kiat seorang anak yang keras hati dan tidak mau kalah begitu saja kalau tidak melihat buktinya.
"Kau tidak percaya kepadaku? Lihat baik-baik!"
Pak-lo-sian Siangkoan Hai mengambil segenggam batu kerikil dan sekali tangannya bergerak, lima butir kerikil melayang ke arah pohon dan..... tak lama kemudian, lima tangkai bunga melayang ke bawah.
"Hebat sekali kepandaianmu menyambit, kakek yang baik. Akan tetapi, bagaimana dengan jalan ke dua?"
Siangkoan Hai tertawa makin keras dan tiba-tiba tubuhnya yang pendek kecil melayang ke arah pohon.
Gerakan tubuhnya hampir tak dapat diikuti oleh pandangan mata karena tiba-tiba dia sudah turun kembali dan ditangannya terdapat sepuluh tangkai bunga!
Bunga-bunga ini dia berikan kepada Kui Lan yang tertawa-tawa gembira.
Anak ini belum dapat menghargai dan mengagumi semua perbuatan kakek itu yang dianggapnya aneh.
Yang membikin dia gembira adalah pemberian bunga-bunga yang banyak itu.
"Luar biasa sekali!"
Tiba-tiba terdengar suara Gouw-ciangkun datang berlari-lari dari luar pekarangan, terus menjura dengan hormat kepada Siangkoan Hai.
"Ayah, kakek ini lihai sekali, aku ingin belajar ilmu kepandaian dari padanya,"
Kata Swi Kiat sambil memandang kepada Pak-lo-sian Siangkoan Hai dengan mata kagum.
"Locianpwe benar-benar amat mulia, sudi mengajak main-main anak-anakku yang bodoh dan nakal,"
Kata Gouw-ciangkun.
"Memang puteramu ini berjodoh dengan aku, biarlah dia menjadi muridku,"
Kata Pak-lo-sian Siangkoan Hai.
Gouw-ciangkun adalah seorang bekas perwira dan ahli silat, maka dia tahu akan perlunya anak-anaknya mempelajari ilmu silat.
Mendengar ucapan kakek yang kecil pendek ini, dia lalu menjura dan berkata.
"Banyak terima kasih atas budi Locianpwe, akan tetapi bolehkah kiranya siauwte mengetahui nama Locianpwe yang mulia?"
Pak-lo-sian Siangkoan Hai berwatak keras dan sombong, akan tetapi dia jujur dan baik hati.
Ia tidak menjawab pertanyaan Gouw-ciangkun, karena baginya perkenalan tiada artinya dan bersopan-sopan juga bukan kegemarannya, dia bahkan bertanya kepada Swi Kiat.
"Eh, bocah tangkas. Sukakah kau menjadi muridku?"
Swi Kiat memang cerdik. Dia sudah yakin betul bahwa kakek ini seorang luar biasa maka dia segera menjatuhkan diri berlutut.
"Suhu, teecu merasa gembira sekali."
Siangkoan Hai tertawa dan menoleh kepada Gouw-ciangkun.
"Puteramu sudah setuju, aku tiada banyak waktu. Selamat tinggal!"
Tiba-tiba saja dia berkelebat dan tahuh-tahu kakek itu dan juga Swi Kiat tidak kelihatan pula bayangannya.
Gouw-ciangkun terkejut bukan main.
Ia girang bahwa puteranya mendapatkan guru yang demikian lihai, akan tetapi dia juga gelisah karena tidak tahu siapakah gerangan guru anaknya itu.
Maka biarpun kakek itu sudah tidak kelihatan, dia tetap berseru keras.
"Locianpwe, mohon kau sudi meninggalkan nama!"
Entah darimana datangnya, terdengar amat jauh akan tetapi jelas sekali, ada jawaban.
"Orang menyebutku Pak-lo-sian!"
Mendengar ini, Gouw-ciangkun tertegun dan berdiri seperti patung.
Ia girang bukan main dan juga kaget karena sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa kakek kecil pendek itu adalah tokoh besar dari utara yang karena kesaktiannya mendapat julukan Dewa Utara!
Demikianlah, Swi Kiat semenjak hari itu mengikuti suhunya dan tak lama kemudian gurunya mengambil murid seorang anak lain yakni The Kun Beng.
Hanya sekali setahun, kadang-kadang sampai dua tahun, Swi Kiat datang mengunjungi orang tuanya atas perkenan suhunya yang mengajaknya merantau jauh.
Kehidupan keluarga Gouw aman dan tenteram sampai terjadinya sebuah peristiwa beberapa belas tahun kemudian.
Kui Lan telah berusia tujuh belas tahun dan ia merupakan seorang gadis yang amat cantik jelita, bagaikan bunga mawa yang sedang mekar semerbak.
Gadis ini pun mempelajari ilmu silat akan tetapi hanya dibawah pengajaran ayahnya sendiri yang tentu saja kalah jauh apabila dibandingkan dengan tingkat kepandaian Siangkoan Hai.
Setiap kali Swi Kiat mengunjungi orang tuanya, pemuda ini tentu memberi petunjuk-petunjuk kepada adiknya sehingga Kui Lan memperoleh kemajuan pesat.
Tentu saja kini tingkat kepandaian Swi Kiat jauh melampaui ayahnya sehingga orang tua itu menjadi amat bangga dan girang.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, semenjak Gouw-ciangkun tinggal di dusun, keadaan di situ aman dan tenteram, tidak ada penjahat yang berani memperlihatkan aksinya.
Apalagi setelah Kui Lan menjadi dewasa dan memiliki kepandaian silat tinggi, orang-orang makin menaruh hormat dan segan terhadap keluarga Gouw ini.
Akan tetapi, pada suatu hari, dusun ini kedatangan serombongan orang-orang kasar yang ternyata adalah gerombolan perampok ganas yang melarikan diri dari utara karena mereka diobarak-abrik oleh Swi Kiat dan Kun Beng!
Kepala rampok yang memimpin gerombolan ini bernama Ang Hok yang berjuluk Tok-hui-coa (Si Ular Terbang Berbisa).
Berkat penyelidikannya, Ang Hok mendapat keterangan bahwa seorang di antara dua pemuda murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang perkasa itu adalah putera Gouw-ciangkun yang tinggal di dusun Keng-kin-bun di sebelah utara kota raja.
Dengan hati mengandung dendam, Tok-hui-coa Ang Hok lalu melarikan diri membawa anak buahnya yang belum tewas menuju dusun itu untuk membalas dendamnya kepada keluarga Gouw!
Pada senja hari itu, Gouw-cingkun ditemani oleh isterinya dan Gouw Kui Lan, tengah makan malam sehabis bekerja keras sehari penuh, mengepalai buruh tani di sawah.
Mereka makan sambil bercakap-cakap dan seperti biasa yang dipercakapkan mereka tentulah Swi Kiat.
"Tahun baru kurang tiga pekan lagi,"
Kata Gouw-ciangkun.
"tentu Swi Kiat akan pulang."
"Dulu Kiat-ko bilang bahwa sekarang dia jarang ikut merantau suhunya, karena kakek itu sekarang selalu bertapa di puncak gunung. Bahkan Kiat-ko sering kali mendapat tugas untuk membasmi perampok-perampok dan membantu perjuangan rakyat terhadap pemberontak An Lu Shan,"
Kata Kui Lan menyambung. Mereka bicara dengan asyik sekali. Tiba-tiba mereka terganggu oleh suara gemuruh di luar rumah, suara banyak orang datang berkumpul di situ. Lalu terdengar bentakan keras.
"Inilah rumah keluarga Gouw! Bakar habis, bunuh semua orang!"
Gouw-ciangkun cepat menyambar goloknya, sedangkan Kui Lan juga buru-buru lari ke kamarnya mengambil pedang.
Akan tetapi pada saat itu, rumah bagian depan telah di bakar dan pintu depan telah didorong roboh oleh Tok-hui-coa Ang Hok.
Di belakang ikut masuk anak buahnya yang sebanyak dua puluh orang.
"Penjahat-penjahat rendah darimanakah berani kurang ajar di rumah kami?"
Gouw-ciangkun membentak marah dan menggerakkan golok menghadang mereka.
"Ha, ha, ha, ha, ha! Inikah Gouw-ciangkun yang menjadi ayah dari si laknat Gouw Swi Kiat? Keluarga Gouw, bersiaplah untuk terima binasa!"
Kata Tok-hui-coa Ang Hok sambil maju menyerbu, mainkan ruyungnya yang besar dan berat.
Gouw-ciangkun dapat menduga bahwa mereka itu tentulah penjahat-penjahat yang merasa sakit hati terhadap puteranya, maka tanpa banyak cakap lagi dia lalu menyambut serangan lawan dan mengamuk.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika dia merasa telapak tangannya panas dan sakit ketika goloknya bertemu dengan ruyung itu.
Ternyata bahwa tenaga kepala perampok itu besar sekali.
Sebentar saja Gouw-ciangkun telah dikeroyok oleh banyak orang.
"Penjahat-penjahat anjing, jangan kurang ajar!"
Tiba-tiba Kui Lan membentak sambil melompat keluar dari kamarnya dengan pedang di tangan.
Seorang anggauta perampok yang telah menghampiri nyonya Gouw dengan golok di tangan, tiba-tiba diserangnya dan penjahat itu menjerit dengan dada tertembus pedang!
"Ibu, menyingkirlah ke dalam kamar!"
Seru Kui Lan sambil memutar pedangnya, membantu ayahnya yang terkepun dan terdesak.
Adapun Tok-hui-coa Ang Hok ketika melihat munculnya seorang gadis yang demikian gagahnya, menjadi seperti linglung dan dia memandang tanpa berkedip.
"Ha, ha, ha, tak kusangka di sini terdapat setangkai bunga cilan yang harum! Kawan-kawan, keroyok dan binasakan anjing tua ini, biar aku memetik kembang itu!"
Katanya kemudian dan dengan ruyung diputar cepat dia menyambut Kui Lan.
Biarpun Gouw-ciangkun gagah, akan tetapi dia telah mulai tua dan tenaganya terbatas.
Lagi pula selama menjadi petani, jarang sekali dia melatih ilmu silatnya dan juga tidak pernah bertempur, maka gerakannya kaku sekali.
Bagaimana dia dapat menghadapi keroyokan belasan orang perampok itu?
Memang benar bahwa dia telah berhasil merobohkan tiga orang pengeroyok setelah mengamuk nekat dan mati-matian, akan tetapi akhirnya tubuhnya menjadi korban keganasan para perampok, dihujani pukulan senjata tajam sehingga dia roboh mandi darah.
Adapun Kui Lan, mana ia dapat melawan Tok-hui-coa Ang Hok yang sudah kawakan dan penuh tipu muslihat pertempuran?
Baru dua puluh jurus saja pedang di tangan gadis ini sudah terlempar jauh dan sebelum Kui Lan dapat mengelak, ia telah diringkus dan sebuah totokan di pundak membuatnya tidak berdaya lagi.
"Ha, ha, ha, kawan-kawan. Bunuh semua orang di dalam rumah dan bakar habis rumahnya!"
Teriak Ang Hok sambil lari keluar memondong tubuh Kui Lan.
Para perampok itu tentu saja tidak mau menyia-nyiakan waktu baik ini.
Mereka merampok dulu habis-habisan, baru membunuh nyonya Gouw dan membakar rumah itu.
Kemudian, dalam perjalanan mereka menyusul kepala mereka, mereka terlebih dulu merampok habis dusun itu dan melakukan permbunuhan keji.
Dalam keadaan lumpuh tertotok jalan darahnya, Kui Lan dibawa pergi oleh Tok-hui-coa Ang Hok ke arah pegunungan batu karang dimana banyak terdapat goa-goa yang besar.
Di goa-goa itulah sarang para perapok yang baru datang dari utara ini.
Di sepanjang jalan terdengar suara Ang Hok tertawa-tawa menyeramkan.
Kepala rampok yang usianya kurang lebih empat puluh tahun, bertubuh tegap dan berwajah menyeramkan ini merasa girang sekali.
Sekali ini hasil pekerjaannya memang hebat.
Tidak saja dia dapat membalas dendam dan menghabiskan keluarga Gouw untuk membalas sakit hatinya terhadap Gouw Swi Kiat, juga dia berhasil mendapatkan seorang gadis yang cantik jelita seperti Kui Lan yang telah dipondongnya itu.
Hampir pingsan Kui Lan mengalami perlakuan yang kasar dan tidak senonoh oleh kepala rampok ini, akan tetapi apa dayanya?
Selain kalah pandai dalam ilmu silat, juga ia telah dibikin tidak berdaya, semua urat-urat ditubuhnya lemas dan tenaganya lenyap.
Baiknya sebelum Ang Hok melakukan hal-hal yang lebih hebat lagi, datanglah anak buahnya, tertawa-tawa sambil memanggul hasil-hasil rampokan.
Ang Hok meninggalkan Kui Lan dan keluar dari dalam goa, menemui anak buahnya.
"Kawan-kawan sekalian. Bunga yang kupetik itu benar-benar cantik dan aku telah mengambil keputusan untuk menjadikan isteriku. Bersiaplah untuk merayakan pesta pernikahanku malam nanti!"
Kawan-kawannya bersorak gembira.
Memang hal itu merupakan hal baru yang mengherankan.
Biasanya kepala rampok itu mengganggu anak bini orang dan setelah bosan lalu dioperkannya kepada anak buahnya.
Baru kali ini agaknya kepala rampok itu jatuh hati terhadap seorang wanita!
Kawanan perampok itu lalu mendatangi dusun-dusun dan memaksa orang-orang dusun untuk menyediakan hidangan untuk meramaikan pesta pernikahan kepala mereka.
Kasihan sekali orang-orang dusun ini, karena mereka dengan hati berat dan terpaksa harus melakukan segala perintah ini.
Suasana di pegunungan batu karang pada malam hari itu ramai sekali dan para perampok menari-nari dan minum sampai mabuk.
Akan tetapi, tiba-tiba di sana-sini terdengar jeritan orang dan beberapa orang perampok roboh tak bernyawa lagi.
Seorang pemuda yang tampan dan gagah sekali tahu-tahu telah berdiri di situ dan kedua tangannya bergerak-gerak.
Setiap kali tangannya bergerak, sebutir benda hitam melayang dan mengenai seorang perampok yang tak dapat menghindarkan diri lagi, terus saja roboh dan mati!
Geger keadaan di situ.
Orang-orang dusun melihat kesempatan baik ini, cepat-cepat melarikan diri, pulang ke rumah masing-masing di bawah gunung.
Adapun para perampok menjadi amat marah dan sebentar saja pemuda itu telah dikepung oleh perampok-perampok yang memegang senjata tajam di tangan.
Tok-hui-coa Ang Hok sendiri sudah menghadapi pemuda itu dengan ruyungnya yang berat.
Sepasang matanya yang besar itu menjadi merah.
Bukan main marahnya melihat pesta pernikahannya diganggu orang, apalagi orang itu hanya seorang pemuda saja.
Akan tetapi, begitu dia mencabut ruyung dan melompat ke depan pemuda itu, barulah dia melihat siapa adanya orang ini dan terkejutlah dia bukan main.
Pemuda itu dikenalnya sebagai The Kun Beng, orang kedua yang telah mengobrak-abrik sarangnya di utara, yakni sute (adik seperguruan) dari Gouw Swi Kiat!
Tanpa banyak cakap lagi, Ang Hok lalu berseru.
"Kawan-kawan, keroyok....."
Dia sendiri pun lalu memutar ruyungnya dan mengemplang kepala pemuda itu.
Memang benar, pemuda ini adalah The Kun Beng, murid kedua dari Pak-lo-sian Siangkoan Hai yang sudah kita kenal ketika masih kecil.
Pemuda ini telah dewasa, wajahnya tampan sekali.
Mukanya berkulit putih halus, berbentuk bulat dengan sepasang alis hitam melengkung panjang menghias sepasang mata yang tajam berapi-api.
Akan tetapi biarpun matanya membayangkan pengaruh dan keberanian, mulutnya selalu tersenyum manis membayangkan kelembutan hatinya.
Kun Beng berdua dengan Swi Kiat memang telah mengobrak-abrik sarang Ang Hok yang mereka dengar amat jahat.
Mereka berhasil mengobrak-abrik sarang, membunuh banyak perampok, akan tetapi Ang Hok tak dapat mereka tewaskan karena kepala rampok ini keburu melarikan diri.
Lalu dua orang pendekar muda itu berpencar.
Kun Beng berkewajiban untuk mengejar Ang Hok dan membasmi orang-orang jahat ini sampai ke akar-akarnya, adapun Swi Kiat hendak pergi membantu perjuangan para petani yang terkurung dan terancam oleh barisan dari pemerintah penjajah.
Ini semua merupakan tugas yang diberikan oleh guru mereka.
Demikianlah, di satu fihak Swi Kiat menuju ke barat untuk melakukan tugas membantu barisan pejuang rakyat, adapun Kun Beng terus mengejar Ang Hok ke selatan, Swi Kiat berjanji hendak menyusul ke selatan setelah tugasnya selesai.
Akan tetapi alangkah terkejutnya hati Kun Beng ketika tiba di dusun Keng-kin-bun pada malam hari itu, dia melihat rumah terbakar dan tangisan penduduk yang demikian memilukan hati.
Cepat dia mencari keterangan dan begitu mendengar bahwa di dekat situ terdapat gunung batu karang yang dijadikan sarang oleh gerombolan kejam, dia segera berlari secepat terbang menyusul ke tempat itu.
Dengan hati penuh kegeraman, dia melihat bahwa gerombolan itu bukan lain adalah sisa-sisa perampok yang telah dibasminya, sedang merayakan pesta pernikahan Ang Hok dengan seorang gadis dusun yang diculiknya!
Segera pemuda ini menghujankan senjata rahasianya yakni batu-batu hitam biasa yang dipungutnya di mana saja.
Memang, disamping ilmu silatnya yang tinggi, Kun Beng terkenal dengan kepadaiannya mempergunakan batu-batu kecil sebagai senjata rahasia.
Ia melontarkan batu-batu bundar itu seperti seorang bermain gundu, akan tetapi jangan dikira bahwa batu-batu itu tidak berbahaya karena sentilan jari tangannya dapat membuat batu-batu itu berubah menjadi peluru yang dapat menembus tubuh manusia!
Demikianlah, setelah kini Ang Hok sendiri bersama anak buahnya maju mengeroyoknya, Kun Beng tertawa mengejek dan mengeluarkan senjatanya yang telah banyak dikenal dan ditakuti oleh para penjahat, yakni sepasang tombak pendek.
Sekali tangkis saja, dua batang golok penjahat terlepas dari pegangan dan orang-orangnya roboh terpukul tombak yang gerakannya demikian cepat tak dapat diikuti oleh pandangan mata mereka.
Ang Hok maklum bahwa kepandaian pemuda ini memang lihai sekali, maka sambil berteriak-teriak mendorong anak buahnya untuk mengurung lebih rapat, dia lalu melompat dan lari ke dalam goa.
Disambarnya tubuh Kui Lan dan dibawanya lari turun gunung!
Kun Beng marah sekali.
Tombaknya digerakkan cepat dan sebentar saja belasan orang pengeroyoknya telah roboh malang-melintang dalam keadaan tak bernyawa lagi.
Kemudian pemuda perkasa ini lalu melompat dan mengejar Ang Hok.
Karena ilmu lari cepat dari Ang Hok memang sudah tinggi, maka biarpun Kun Beng belum kehilangan bayangan kepala rampok itu, masih saja dia belum dapat menyusulnya sampai fajar menyingsing dari timur.
Ang Hok bukan seorang bodoh.
Ia tidak mau turun gunung, sebaliknya dia bahkan berputar-putar di sekitar pegunungan yang banyak batu karangnya itu sehingga dia dapat bersembunyi.
Akan tetapi mata pemuda pengejarnya awas sekali dan kemanapun juga dia lari, selalu dapat dikejarnya.
Akhirnya Ang Hok nekat dan lari masuk ke dalam hutan batu karang penuh dengan rawa-rawa berbahaya.
Tiba-tiba, ketika melintasi sebuah tempat yang tertutup rumput setengah kering, kepala rampok ini memekik keras dan tubuhnya amblas sampai kepinggang.
Ternyata bahwa dia telah menginjak rawa berlumpur yang tertutup atau di tumbuhi oleh rumput!
Ia meronta-ronta, namun gerakannya ini bahkan membuat tubuhnya tenggelam makin dalam sampai sebatas dada!
"Tolong......
tolong...........!"
Betapapun kejam dan ganas adanya Tok-hui-coa Ang Hok, dan betapapun berani dan tabahnya, menghadapi maut yang mencengkeramnya sedikit demi sedikit, mulut maut yang menelan nyawanya lambat-lambat itu, timbul ngeri dan takutnya.
Kui Lan biarpun telah setengah lumpuh akibat totokan, namun ia masih sadar dan ia pun merasa ngeri ketika tubuhnya ikut amblas sampai pinggang.
Ketika Ang Hok meronta-ronta, dia terbawa pula tenggelam sehingga sampai di pundak.
Bahkan kedua lengannya yang lemas ikut pula tenggelam, berbeda dengan Ang Hok yang kini mengangkat kedua tangan ke atas dengan jari-jari tangan terbuka dan terpentang lebar.
Tadinya Kun Beng telah kehilangan jejak Ang Hok, akan tetapi pekik mengerikan serta jeritan minta tolong itu menariknya ke tempat itu.
Ia melihat betapa Ang Hok dan gadis itu terbenam di dalam lumpur dan rawa itu sebetulnya kurang lebih empat tombak lebarnya.
"Tolonglah aku.......!"
Jerit Ang Hok ketika dia melihat pemuda itu muncul di pinggir rawa.
Akan tetapi Kun Beng tentu saja tidak mau mempedulikannya, bahkan memutar otak bagaimana dia dapat menolong gdais itu yang sebentar lagi tentu terbenam sampai lenyap.
"Tolonglah...... Taihiap..... tolonglah aku......"
Kembali Ang Hok menjerit-jerit.
"Aku tak dapat menolongmu, pula agaknya inilah hukuman Thian kepadamu atas segala kejahatanmu, Tok-hui-coa,"
Kata Kun Beng dengan suara dingin.
"Kalau aku dapat menolong juga, bukan kau yang kutolong, melainkan nona itu yang menjadi korbanmu."
Tanpa disadarinya Kun Beng mengeluarkan kata-kata yang salah sehingga Ang Hok tiba-tiba menjadi beringas dan tertawa bergelak.
"Kau tidak mau menolongku dan bermaksud menolong nona ini? Ha, ha, ha, lihat kalau kau tidak mau segera menolongku, sebelum aku mati terbenam, lebih dulu aku akan menekannya ke bawah Lumpur!"
Sambil berkata demikian, kepala rampok ini lalu menaruh tangannya yang berlumpur di atas kepala Kui Lan.
Memang, kalau dia mau, sekali tekan saja akan tamatlah riwayat hidup gadis ini, kepalanya akan terbenam di dalam lumpur dan akan mati.
Bingung sekali hati Kun Beng.
Keparat, pikirnya, sekarang dia hendak memaksaku dengan dengan mengancam nyawa gadis itu.
Akan tetapi pemuda ini melihat bahwa kalau dia menolong kepala rampok ini, tentu keadaan gadis itu akan terlambat dan akan mati juga.
Diam-diam dia lalu menggenggam erat-erat sebutir batu hitam.
"Dia akan mati, mati tersiksa. Kalau aku turun tangan membunuhnya, lebih baik baginya, bagiku dan juga bagi gadis itu,"
Pikir Kun Beng dan secepat kilat tangannya menyambar.
"Tak!"
Sebelum dia tahu apa yang terjadi, kepala Ang Hok telah terkena sambaran batu dan dia tewas pada saat itu juga.
Batu ini memasuki kepalanya dan kini dengan lemas dia terkulai, perlahan-lahan diisap oleh lumpur, seakan-akan di bawah lumpur terdapat siluman-siluman yang menarik kedua kakinya ke bawah!
Kini lumpur telah sampai di bawah leher Kui Lan.
Kun Beng tidak mau membuang banyak waktu lagi.
Tubuhnya melompat dan melayang di atas permukaan rawa, kedua tangannya diulur ke depan.
Karena tangan gadis itu sudah terbenam dan yang kelihatan hanya kepala, leher dan pundaknya, Kun Beng tak dapat berbuat lain kecuali menyambar baju di pundak gadis itu dan di dalam lompatannya yang kuat dan cepat, dia menarik baju itu.
"Breeeettt!"
"Celaka!"
Seru Kun Beng yang sudah berada di seberang rawa.
Karena kuatnya gadis itu terbenam dan kuatnya dia menarik baju, dia tidak berhasil membetot tubuh gadis itu karena pakaiannya yang di sambar tadi robek-robek!
Ketika dia menoleh, ternyata bahwa pakaian sebelah atas dari gadis itu telah lenyap dan "terbang", kini berada di tangannya, pakaian yang penuh lumpur.
Dengan muka merah dan bingung, Kun Beng melemparkan pakaian itu.
Akan tetapi tiba-tiba dia menjadi girang karena betapapun juga, sebelah tangan gadis itu telah keluar dari dalam lumpur, terbawa oleh betotannya tadi.
Adapun Kui Lan yang telah banyak mengalami penderitaan dan kekagetan semenjak tertawan oleh kepala rampok tadi, kini menjadi makin bingung dan malu sehingga kepalanya terkulai dan ia jatuh pingsan!
Sekali lagi Kun Beng melompat, kini menambah tenaga lompatannya.
Ia berhasil menyambar lengan Kui Lan dan memabawa gadis itu ikut melayang.
Akan tetapi tenaga lompatannya tertahan oleh berat tubuh gadis itu, apalagi karena lumpur yang menahan tubuh gadis itu ternyata banyak melenyapkan tenaga lompatan Kun Beng.
Hal ini membuat Kun Beng dan Kui Lan melayang turun sebelum sampai di seberang lumpur itu!
Akan tetapi, kepandaian Kun Beng ternyata sudah hebat sekali.
Pemuda ini dengan tenang menahan napas, lalu berseru keras sekali dan tahu-tahu tubuhnya mumbul kembali dalam keadaan berpoksai (membuat salto) dan dengan memondong tubuh Kui Lan yang penuh lumpur, dia berhasil melompat ke seberang lumpur, di atas tanah yang keras!
Pemuda itu menarik napas panjang dengan hati lega.
Ia menoleh ke arah lumpur dan bergidik.
"Berbahya sekali."
Pikirnya.
Kalau sampai dia terjatuh ke dalam lumpur itu bersama gadis yang dipondongnya, tentu mereka berdua akan tewas.
Ia menoleh ke arah Ang Hok dan ternyata penjahat itu telah tenggelam, hanya kelihatan sedikit rambutnya saja.
Ketika dia memandang ke bawah, ke arah tubuh gadis yang dipondongnya, mukanya menjadi merah sekali.
Ternyata bahwa tubuh bagian atas dari gadis itu sama sekali tidak tertutup oleh pakaian lagi!
Akan tetapi dia merasa lega bahwa tubuh itu diselimuti oleh lumpur tebal sehingga gadis itu seakan-akan memakai pakaian warna abu-abu yang amat pas dan ketat mencetak bentuk tubuh tubuhnya yang menggairahkan hati.
Kun Beng lalu membawa lari gadis itu, kembali ke dalam goa di mana tadi dipergunakan oleh gerombolan perampok sebagai sarang.
Ternyata di dalam goa itu terdapat segala macam keperluan, sampai-sampai di situ tertimbun beras dan makanan.
Kui Lan membuka matanya perlahan dan serentak gadis ini meloncat bangun begitu melihat bahwa ia terbaring di atas pasir di dalam goa.
Hatinya berdebar keras dam alangkah kagetnya ketika ia menengok ke bawah melihat betapa dada dan punggungnya sama sekali tidak tertutup oleh pakaian.
Kemudian ia melihat seorang pemuda duduk di atas batu membelakanginya, nampaknya tengah melamun.
Pemuda itu adalah pemuda tampan dan gagah yang tadi menolongnya.
"Keparat!"
Desis mulut Kui Lan melihat pemuda ini karena ia teringat akan keadaannya yang setengah telanjang.
Tanpa pikir panjang lagi ia lalu menerjang dengan kepalan tangannya.
Akan tetapi, bagaikan mempunyai mata di belakang kepala, pemuda itu mengelak dan berdiri lalu menoleh sambil tersenyum.
"Nona, mengapa kau menyerangku?"
"Kau.... orang yang tidak tahu malu! Kau telah berani menghinaku, berani..... merobek pakaianku. Hayo kembalikan pakaianku!"
Biarpun hatinya berdebar tidak karuan dan darahnya panas mengalir di seluruh tubuhnya, terutama di mukanya yang tampan, Kun Beng berkata.
"Sabarlah, Nona. Aku tahu perasaanmu, akan tetapi harap kau jangan malu-malu. Biarpun pakaianmu sudah hilang, akan tetapi tubuhmu tertutup lumpur tebal. Bukankah itu sama pula dengan pakaian untuk sementara ini? Aku sengaja menanti sampai kau siuman agar kita dapat bicara secara baik-baik."
"Kau..... kau kurang ajar!"
Seru Kui Lan dan kini ia cepat-cepat mempergunakan kedua lengan untuk disilangkan menutupi dadanya.
Pergerakan ini membuat lumpur yang kering rontok sehingga nampak kulit yang putih.
Kun Beng cepat membalikkan tubuh membelakangi gadis itu.
"Nona, aku sekarang sudah lega melihat kau tidak apa-apa. Sekarang aku akan pergi untuk mencarikan pakaian agar kau dapat memakainya. Akan tetapi pesanku, jangan sekali-kali kau banyak bergerak dan jangan melenyapkan lumpur itu, karena betapapun juga, lumpur itu merupakan pakaian yang indah dan cukup sopan."
Setelah berkata demikian, Kun Beng berkelebat dan lenyap dari goa itu.
Kui Lan tertegun.
Bukan main cepatnya gerakan pemuda itu, pikirnya, luar biasa sekali.
Alangkah gagahnya dan tangkasnya karena kalau tidak memiliki kepandaian tinggi, bagaimana dapat menolongnya dari cengkeraman penjahat dan dapat mengeluarkannya dari lumpur itu?
Dan alangkah....
tampannya!
Berpikir sampai disini, Kui Lan menjatuhkan diri duduk di atas batu dan tiba-tiba ia menjadi pucat.
Baru sekarang ia teringat akan keadaan rumah dan orang tuanya.
"Ayah...... ibu........!"
Gadis ini berbisik dengan muka pucat sekali.
Ia belum tahu dengan jelas bagaiman nasib ayah bundanya, karena ketika terjadi pengeroyokan, ia tidak sempat melihat keadaan ayahnya.
Kui Lan melompat bangun dan lari keluar dari goa.
Akan tetapi, ia segera melompat ke dalam kembali setelah ingat bahwa ia berada dalam keadaan setengah telanjang!
Ia bingung sekali.
Menurutkan perasaannya, ingin sekali ia terbang kembali ke dusunnya melihat keadaan orang tuanya.
Akan tetapi keadaannya tidak mengijinkannya.
Tiba-tiba terdengar suara orang memanggil dari luar goa.
"Kui Lan, pakailah pakaian ini."
Dan dari luar goa lalu dilemparkan segulung pakaian yang diterima oleh gadis itu dengan girang.
Cepat-cepat gadis ini menanggalkan semua pakaian yang masih menempel di tubuhnya karena pakaian yang sudah terbenam lumpur itu betul-betul membuat sekuruh tubuh terasa gatal-gatal dan kaku sekali.
Setelah ia memakai pakaian yang dilempar masuk oleh Kun Beng, ternyata pakaian itu pas betul dengan tubuhnya dan cukup pantas biarpun hanya pakaian wanita petani.
"Terima kasih, kau baik betul......"
Kata gadis itu dari dalam goa.
"Tak usah berterima kasih, Kui Lan. Apakah kau sudah selesai berpakaian?"
Tanya pemuda itu dan tiba-tiba terasalah dalam hati Kui Lan betapa pemuda itu suaranya kini amat lemah lembut dan halus sedangkan panggilan namanya begitu saja juga jauh berbeda dengan tadi.
Akan tetapi gadis ini kembali teringat akan orang tua dan rumahnya, maka ia cepat melompat keluar dari goa itu.
Kun Beng telah berdiri di depan goa dan mereka kini berhadapan.
"Aduh, pantas sekali kau memakai pakaian itu!"
Pujinya dengan pandang mata kagum. Kui Lan menunduk dengan muka merah.
"Jangan kau mengejek, ini hanya pakaian gadis petani sederhana saja."
"Bahkan kesederhanaannya menonjolkan kecantikan yang wajar."
Kun Beng memuji lagi.
Pemuda ini memang sengaja memuji dan hendak menghibur hati gadis yang cantik ini.
Karena ketika dia mencarikan pakaian untuk Kui Lan tadi, dia mendengar betapa ayah bunda dari gadis ini telah dibunuh secara mengerikan oleh kawanan perampok, sedangkan rumahnya terbakar musnah!
Berdebar hati Kui Lan mendengar pujian-pujian itu.
Ia mengangkat muka dan memandang kepada pemuda itu.
Memang tampan, tampan dan gagah sekali, pikinya.
Dua pasang mata bertemu dan keduanya memandang penuh arti, sungguhpun berbeda sekali.
Kun Beng memandang dengan penuh keharuan dan iba hati terhadap gadis itu, sebaliknya Kui Lan memandang dengan penuh kagum, terima kasih dan ......
suka.
Ya, hati gadis ini telah jatuh begitu bertemu pandang dengan Kun Beng.
"Kau..... siapakah namamu?"
Tanyanya setelah menunduk lagi karena pertemuan pandang itu membuat ia merasa malu-malu.
"Namaku The Kun Beng, pemuda perantau. Dan aku sudah tahu akan namamu, Kui Lan bukan? Aku mendengar dari orang-orang dusun itu."
Kui Lan teringat kembali kepada orang tuanya, ia cepat meloncat dan berkata.
"Aku harus pulang......!"
Akan tetapi tiba-tiba ia merasa terkejut dan marah sekali karena Kun Beng telah menangkap lengan kanannya.
"Eh, kau mau apakah? Lepaskan tanganku!"
Bentaknya. Kun Beng melepaskan pegangannya dan pandang matanya makin sayu.
"Kui Lan, kuminta supaya kau jangan kembali ke dusunmu."
Gadis itu membuka matanya lebar-lebar.
"Mengapa aku kaularang pulang dan apa maksud dan kehendakmu pula menahanku?"
"Marilah kita duduk di tempat teduh itu, Kui Lan dan kita bicara dengan tenang."
Tanpa sungkan-sungkan lagi Kun Beng lalu memegang tangan gadis itu dan menggandengnya, seperti laku seorang kakak terhadap seorang adiknya.
Melihat sikap yang sungguh-sungguh dari Kun Beng dan pemuda ini sama sekali tidak kelihatan hendak berbuat kurang ajar, hati Kui Lan mulai berdebar gelisah.
Pasti ada apa-apa yang hebat, pikirnya.
Otomatis ia teringat akan orang tuanya maka dengan wajah pucat ia lalu memegang lengan pemuda itu tanpa menanti sampai di tempat teduh dan mengguncang-guncang lengan itu.
"Taihiap...... katakanlah, apa yang terjadi dengan dusunku.......? Dengan orang tuaku........??"
Kun Beng mengerutkan alisnya.
"Sabar dan tenanglah, Kui Lan. Mari kita duduk di tempat yang teduh dan kau harus mendengar dengan tenang."
"Tidak, tidak! lekas kau katakan sekarang juga, atau...... lebih baik aku pulang!"
Ia hendak pergi, akan tetapi kembali Kun Beng menangkap lengannya. Pegangan tangan pemuda itu demikian kuatnya sehingga takkan ada gunanya kalau kiranya gadis itu memberontak.
"Apa boleh buat, Kui Lan. Dengarlah, kawanan perampok itu telah banyak mendatangkan bencana di kampungmu, merampoki rumah-rumah, membakar dan membunuh."
"Ayah dan ibu.....?"
Kun Beng mengangguk perlahan.
"Ayah bundamu tewas dan rumahmu dibakar oleh mereka....."
Kui Lan semalam mengalami hal-hal yang menggoncangkan batinnya, dan tubuhnya masih lemah sekali.
Kini mendengar warta yang hebat ini, seketika ia menjadi pucat, terhuyung dan tentu akan roboh kalau Kun Beng tidak cepat-cepat memeluk dan memondongnya.
Pemuda ini memang sudah dapat menduga lebih dulu, maka cepat dia menotok jalan darah di leher gadis itu agar goncangan hebat tidak merusak ingatan gadis itu.
Ia sengaja melarang gadis itu ke kampungnya, karena kalau gadis itu melihat sendiri bencana yang menimpa keluarganya, akan lebih fatal akibatnya.
Untuk menjaga ini pula, ketika dia mencarikan pakaian untuk Kui Lan, dia sengaja menyeret mayat-mayat perampok dan melempar mereka ke dalam rawa lumpur sehingga mereka semua terkubur di situ, agar tidak kelihatan lagi oleh gadis itu musuh-musuh besarnya yang telah menghancurkan keluarganya.
Kemudian dia lalu membawa tubuh Kui Lan kembali ke dalam goa.
Kui lan mengalami pukulan batin dan tubuhnya mulai panas sekali.
Ketika ia siuman dari pingsan, ia mengigau, memanggil-manggil ayah bundanya dan berkali-kali ia roboh pingsan.
Kun Beng mersakasiha sekali dan pemuda ini merawatnya baik-baik.
Selama tiga hari Kui Lan berada dalam keadaan setengah sadar setengah pingsan, namun berkat perawatan yang penuh perhatian dari Kun Beng, krisis berbahaya telah lewat dan ia mulai sadar kembali.
Panasnya berangsur-angsur berkurang dan kini ia merasa letih dan lemah.
Ketika ia membuka matanya pada pagi hari ketiga, ia melihat Kun Beng duduk di dekatnya sambil memegang sebuah mangkok bubur.
"Makanlah Kui Lan. Bubur ini akan menguatkan tubuhmu,"
Katanya halus.
Kui Lan untuk sejenak merasa nanar dan dikumpulkannya ingatannya, mengenangkan semua peristiwa yang telah terjadi.
Kemudian ia menangis sambil sambil menutupkan kedua tangan dimukanya, teringat ia akan ayah bundanya yang tewas.
"Tenang, Manis. Jangan menurutkan perasaan hati,"
Kun Beng menghibur.
"Aku......sebatang kara ...."
Kui lan mengeluh.
"Apa kaukira aku bukan orang?"
Tanpa disengaja Kun Beng berkata demikian, maksudnya hanya untuk menghibur.
Kui Lan bangun duduk, akan tetapi meramkan mata karena pusing.
Kun Beng cepat menjaga pungungunya dan menempelkan mangkok pada bibir gadis itu.
"Minumlah bubur ini dulu."
Tanpa membuka matanya, Kui Lan makan bubur itu, atau lebih tepat meminumnya.
Habislah bubur hangat itu dan ia merasa peningnya hilang dan tubuhnya segar.
Dibukanya kembali matanya, dan dipandangnya muka pemuda yang berlutut di dekatnya.
"Berapa lamakah aku tak sadarkan diri?"
"Kau terkena demam, selama tiga hari dan kau tidak ingat apa-apa, setiap hari hanya mengigau saja,"
Kata Kun Beng tersenyum.
"Syukurlah sekarang kau telah sehat kembali."
"Tiga hari? Dan selama itu..... kau telah menjaga dan merawatku di sini?"
Merah muka Kun Beng ketika gadis itu memandangnya sedemikian rupa. Ia mengangguk, akan tetapi segera dibukanya mulutnya.
"Apa artinya itu? Kau perlu ditolong dan di sini terdapat banyak bahan makanan."
"Ahh .... The-taihiap.... kau baik sekali..."
Kembali Kui Lan menangis saking terharu dan juga bersyukur bahwa dalam penderitaannya yang hebat, ia bertemu dengan seoarang pendekar muda yang demikian gagah perkasa dan budiman.
"Hushh, sudahlah, memang sudah kewajibanku untuk menolongmu,"
Kata Kun Beng sambil menepuk-nepuk pundak gadis itu. Tiba-tiba Kui Lan memegang lengan Kun Beng erat-erat.
"Katakan, Taihiap, mengapa kau menolongku? Mengapa kau rela mengorbankan waktu dan tenaga untukku?"
Mata gadis itu memandang tajam dan kini terlihat sinar mata yang ganjil dan yang membuat Kun Beng berdebar hatinya.
Gadis itu memang cantik sekali dan menarik hatinya yang masih muda dan membuat darahnya yang masih panas itu bergolak.
"Mengapa? Karena kau perlu ditolong, karena aku kasihan padamu......."
"Taihiap, kau ....kau suka kepadaku?"
Makin merah muka Kun beng.
Pertanyaan seperti ini tak disangkanya akan keluar dari mulut gadis itu.
Akan tetapi dia maklum gadis itu masih lemah hatinya, masih amat perasa hatinya, dan sekali-kali tidak boleh dibikin kecewa atau berduka.
Untuk sekedar menghibur hati gadis itu, harus dibikin senang hatinya, dan pula memang dia suka kepada Kui Lan.
Laki-laki manakah yang tidak akan suka melihat gadis yang demikian cantik manis, dan juga yang harus dikasihani nasibnya?
"Tentu saja, Kui lan.
Aku suka sekali padamu,"
Jawabnya sambil tersenyum manis. Dengan mata basah Kui Lan memandang kepada pemuda itu, suaranya tergetar penuh haru ketika ia mengajukan pertanyaan penuh mendesak.
"Dan cinta kepadaku?"
Bukan main bingungnya hati Kun Beng.
Cinta?
Ini lain lagi halnya.
Ia tidak berani memastikan apakah dia cinta kepada gadis ini.
Apakah suka itu cinta?
Ia memang suka dan kasihan, akan tetapi apakah ini boleh disamakan dengan cinta?
Ia masih terlalu hijau untuk mengetahui soal-soal pelik ini.
Semenjak Kun Beng sudah pandai mempertimbangkan sesuatu, pertunangannya dengan Bun Sui Ceng murid Kiu-bwe coa-li seperti yang telah ditetapkan oleh gurunya membuat dia sering kali termenung mengenangkan wajah Sui Ceng.
Wajah seorang anak perempuan yang lincah, gembira dan juga manis sekali.
Wajah ini lambat-laun menjadi bayang-bayang dalam mimpi dan biarpun dia tidak pernah bertemu dengan tunangannya itu, namun dia menggambarkan di dalam angan-angannya seorang gadis yang gagah perkasa, berwajah cantik manis dan mencocoki hatinya setiap gerak-geriknya.
Ia berkeras hati menentukan bahwa dia mencintai Sui Ceng, tunangannya itu.
Bukankah sudah semestinya begitu?
Akan tetapi, bagimana dia harus menjawab gadis yang sedang menderita hebat ini?
Wajahnya yang agak pucat yang kini basah dengan air mata, suara yang mengandung harap dan permohonan itu, ah, tidak sanggup Kun Beng mengecewakan Kui Lan.
Pula, dia hanyalah seorang pemuda yang masih lemah pertahanan imannya menghadapi rayuan seorang wanita yang demikian cantiknya, yang dari pandang matanya merayu-rayu mengharapkan jawaban bahwa dia juga mencintai.
Akhirnya, tanpa mengeluarkan sepatah katapun Kun Beng mengangguk-anggukkan kepalanya!
Kui Lan mengeluarkan keluh perlahan, suaranya yang menyatakan keharuan dan kebahagiaan hatinya.
Ia lalu menubruk pemuda itu dan menyatakan keharuan dan kebahagiaan hatinya.
Ia lalu menubruk pemuda itu dan menyadarkan muka pada dada Kun Beng.
Pemuda ini merasa betapa air mata yang hangat menembus baju membasahi kulit dadanya.
Sampai lama mereka berada dalam keadaan ini dan semenjak saat itu mereka tenggelam dalam gelombang asmara, bagaikan dua orang yang amat berbahaya.
Kurang pandai sedikit saja menguasai kemudi biduk akan terguling tertelan buih-buih onmbak yang berupa nafsu-nafsu hewani dalam diri setiap manusia!
Sampai dua hari lagi mereka berdua berada di dalam goa itu.
Pada hari kedua, di waktu senja, bayangan seorang pemuda bertubuh tegap bermuka gagah berlari-lari naik di pegunungan batu karang itu.
Gerakannya amat gesit dan cepat, tanda bahwa dia telah memiliki ilmu ginkang yang luar biasa.
Memang, setiap orang ahli silat tinggi yang melihatnya berlari-lari seperti itu akan mengetahui bahwa dia adalah seorang ahli dalam ilmu lari cepat Liok-te-hui-teng (Terbang di Atas Bumi).
Pemuda ini bukan lain adalah Gouw Swi Kiat, putera dari keluarga Gouw yang terbasmi oleh perampok, atau kakak dari Gouw Kui Lan.
Wajahnya muram dan berduka, karena pemuda ini telah tiba di dusunnya dan melihat kehancuran keluargannya.
Ketika dia bertanya tentang adik perempuannya, penduduk di dusunnya tidak ada yang dapat memberitahukannya, hanya menyatakan bahwa ketika terjadi keributan, Kui Lan dilarikan oleh kepala rampok yang bersarang di atas pegunungan batu karang itu dan yang tadinya hendak dijadikan isteri oleh kepala rampok.
"Kemudian datanglah seorang pemuda gagah yang membunuh semua perampok itu, dan tentang adikmu, entah bagaimana nasibnya. Kami sekalian tak seorang pun berani naik ke sana,"
Demikian orang-orang dusun menutup penuturannya.
Mendengar ini, Swi Kiat lalu langsung menuju ke gunung itu.
hatinya sedih bukan main, juga geram dan marah.
Kalau saja para perampok itu masih hidup, biarpun sampai ke ujung dunia, pasti akan dikejar dan dibunuhnya semua.
Setalah mencari ke sana ke mari, akhirnya dia pun tiba di luar goa bekas sarang perampok dan lapat-lapat terdengar olehnya orang bercakap-cakap.
Swi Kiat cepat menyelinap diantara batu-batu karang dan tanpa mengintai ke dalam, dia memasang telinga mendengarkan percakapan itu dari luar goa.
Alangkah terkejutnya dan herannya ketika dia mengenal suara adiknya!
"Taihiap, sungguh aneh dan lucu kalau kita renungkan keadaan kita.
Aku yang telah menyerahkan jiwa ragaku kepadamu dengan penuh keikhlasan dan cinta kasih, belum pernah mendengar riwayatmu, bahkan belum mengenal betul keadaanmu.
Sebaliknya kau pun yang sudah dapat dikatakan menjadi suamiku, belum mengetahui betul keadaanku..."
Suara ini terdengar demikian manja dan mesra, dan Swi Kiat yang mengenal betul suara adiknya, menjadi ragu-ragu.
Betul-betulkah itu Kui Lan yang bicara?
Mengapa bicara seperti itu dan bicara kepada siapakah?
Karena ingin tahu sekali, Swi Kiat dengan amat hati-hati mengintai dan alangkah herannya ketika dia melihat benar-benar adiknya dengan pakaian seperti petani wanita sedang rebah di atas lantai goa, merebahkan kepalanya di atas pangkuan seorang pemuda yang bukan lain adalah The Kun Beng, sutenya sendiri!
Swi Kiat mengejap-ngejapkan matanya, merasa seperti dalam sebuah mimpi.
Akan tetapi dia mendengar Kun Beng yang menjawab kata-kata adiknya tadi.
"Kui lan, pertemuan kita memang kehendak Thian. Aku kasihan sekali kepadamu dan aku bersedia mengorbankan nyawa untuk menolong dan membelamu."
"Terima kasih, Taihiap. Kau memang laki-laki yang paling mulia di atas dunia ini."
Kun Beng duduk seperti orang melamun, wajahnya nampak tidak gembira dan berkali-kali dia menghela napas dan seperti tidak merasa sesuatu sungguhpun tangan kirinya mengelus-elus rambut kepala gadis itu.
"Sayang sekali iblis menggangu kita, Kui Lan, sehingga kita tidak berdaya dibuatnya, sehingga kita lupa.... dan kita melakukan pelanggaran yang hebat.... aku menyesal sekali."
"Tidak, Taihiap! Tidak demikian, aku tidak menyesal. Aku memang sudah rela menyerahkan jiwa raga kepadamu. Hanya kau seorang di dunia ini yang akan dapat menguasai hatiku. Aku....aku girang dan bangga dapat menjadi...."
Sebelum Kui Lan mengatakan "istrimu", lebih dulu Kun beng memutuskan omongannya. Pemuda ini paling takut dan tidak suka mendengar pengakuan Kui Lan sebagai isterinya.
"Kui lan, aku berdosa besar. Aku telah mempergunakan kesempatan untuk menggangu seorang gadis sebatangkara......"
"Aku tidak sebatangkara, Taihiap. Bukankah ada kau di sini?"
"Maksudku, hidup seorang diri di dunia ini tanpa sanak tanpa saudara, sebatangkara seperti aku pula."
"Salah!"
Kui Lan tertawa kecil.
"Aku mempunyai rahasia, Taihiap. Sesunguhnya aku masih mempunyai seorang saudara, yakni kakakku yang menjadi seorang pendekar besar seperti engkau pula, Kakakku adalah murid dari Pak-lo-sia Siangkoan Hai, seorang......"
"Apa katamu ? Siapakah nama kakakmu itu?"
Kun Beng bertanya kaget sekali dan melompat bangun sehingga Kui Lan juga ikut bangun.
"Mengapa kau sepucat ini, Taihiap? Kakakku adalah Gouw Swi Kiat."
"Aduhai, Kui Lan. Mengapa tidak kau katakan hal ini dulu-dulu kepadaku? Celaka.......!kukira kau.."
"Kaukira apa, Taihiap?"
Kui Lan benar-benar gugup dan bingung.
"kukira kau seorang gadis dusun biasa saja yang bernasib malang dan.....dan...kalau aku tahu bahwa kau adalah adik dari suhengku, akau takkan.....takkan berani..."
"Jadi kau ini sute dari Kiat-ko? Dia tidak pernah menceritakan halmu."
"Memang suhu melarang kami membicarakan tentang keadaan suhu dan murid-muridnya. Aduh, Kui Lan, bagaimana bisa terjadi hal seperti ini? Kau adik dari Gouw-suheng, dan aku.....aku telah...."
Tiba-tiba terdengar suara di luar goa dan Kun Beng cepat melompat. Akan tetapi dia didahului oleh masuknya seorang pemuda yang datang-datang terus memaki-maki.
"Kui Lan, kau gadis tak tahu malu! kau mencemarkan nama keluarga kita! Sute, kau pun seorang berjiwa rendah, kau harus mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu!"
Kalau saja yang muncul itu seorang siluman atau iblis yang bermuka mengerikan belum tentu mereka akan sekaget itu. Apalagi Kun Beng yang menjadi pucat dan dengan suara perlahan dia hanya bisa berkata.
"Suheng..."
"Kiat-ko.."
Keluh Kui lan yang sudah mencucurkan air mata melihat kakaknya itu,"Mengapa kau baru datang? Ayah dan ibu..."
Wajah Swi Kiat menjadi makin muram.
"Ayah dan ibu dibunuh orang dan kau bahkan main gila dengan seorang laki-laki. Tak malukah engkau?"
"Kiat-ko, jangan berkata demikian keji! Ayah ibu dibunuh perampok dan para perampok itu telah terbalas oleh The-Taihiap ini. Dan aku.....aku cinta padanya. Kiat-ko, kami....kami saling mencinta....harap kauampunkan kami...."
Melihat adiknya ini, kemarahan hati Swi Kiat mereda. Ia menarik napas panjang lalu menghadapi Kun Beng dengan muka keras.
"Sute, kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Kau harus menikah dengan adikku dan kau harus segera memberi laporan kepada suhu, membatalkan pertunanganmu dengan Bun Sui Ceng!"
Muka Kun Beng menjadi pucat dan tubuhnya gemetar.
"Suheng, tak kusangka bahwa Kui Lan adikmu....tak mungkin aku membatalkan pertunangan itu,suhu akan marah sekali."
"Apa kau bilang? Tidak peduli suhu marah, kau harus berani menghadapi akibat perbuatanmu sendiri. Kau harus menjadi suami Kui Lan!"
Kun Beng menggeleng kepalanya "Tidak ada niatku untuk menjadi suaminya, Suheng. Memang kami telah lupa dan terbujuk iblis, akan tetapi..."
"Apa? Kau tidak cinta padanya?"
"Aku....terus terang saja aku suka dan kasihan sekali kepada adikmu. Agaknya karena nasibnya yang malang, dan karena tadinya aku sendiri tidak tahu bahwa engkau adalah kakaknya, aku...aku kasihan dan dia....dia menderita sakit, kurawat..dan...dan keadaan yang sunyi ini, ditambah cinta kasih adikmu kepadaku, membuat aku lupa..."
"Keparat! Lekas kaukatakan bahwa kau bersedia membatalkan pertunanganmu dengan Bun Sui Ceng dan bersedia menikah dengan Kui Lan. Kalau tidak, aku akan lupa bahwa kau adalah suteku dan aku akan habiskan perhitungan ini dengan senjata!"
Swi Kiat yang berwatak keras menjadi merah mukanya dan dia sudah mencabut keluar senjatanya, yakni sebuah kipas yang amat lihai kalau dimainkan oleh murid Pak-Lo-sian Siang-Koan Hai ini.
"Apa boleh buat, Suheng. Aku.....aku tidak bisa melakukan sesuatu yang berlawanan dengan suara hati. Aku malu terhadap suhu, dan pula....aku tidak ingin menjadi suami Kui Lan..."
"Keparat pengecut!"
Swi Kiat cepat menyerang sutenya dengan kipas ditangannya.
Serangan ini ditujukan ke arah ulu hati Kun Beng, sebuah serangan yang dapat mendatangkan maut apabila mengenai sasaran.
Kipas ini di bagian gagang dan rangkanya terbuat daripada gading gajah, sedangkan permukaanya terbuat daripada kulit harimau, tidak saja dapat dipergunakan untuk menampar dan memukul, juga amat berbahaya karena ujung-ujung gagangnya dapat dipergunakan untuk menotok jalan darah.
Kun Beng cepat mengelak sambil berkata.
"Suheng, jangan kau serang aku! Aku sudah menerima salah dan berdosa, jangan menambah dosaku, jangan menambah dosaku dengan mengangkat tangan melawanmu...."
Akan tetapi Swi Kiat tidak peduli, bahkan mendesak lebih hebat lagi.
"Kiat-ko...jangan kau serang dia....!"
Kui Lan menjerit sambil menangis.
Gadis ini hatinya hancur ketika tadi mendengar penolakan Kun Beng.
Dari sikap pemuda itu, tahulah ia kini bahwa sebetulnya Kun Beng sudah bertunangan, dan bahwa sesungguhnya pemuda itu tidak cinta kepadanya, hanya suka dan kasihan.
Rasa suka yang timbul karena hati kasihan, dan bahwa perbuatan Kun Beng terhadap dirinya lebih banyak dikuasai oleh nafsu semata, bukan oleh cinta kasih yang murni.
Hatinya perih sekali dan juga sakit, akan tetapi sekarang melihat Kun Beng diserang oleh kakaknya, ia menjadi khawatir.
Betapapun juga, ia masih cinta sekali kepada Kun Beng dan cintanya itu takkan mudah hilang begitu saja.
Seruan Kui Lan menambah kemarahan di hati Swi Kiat yang menyerang lebih hebat lagi dengan gerak tipu Khai-san-coan-hoa (Buka Kipas Menembus Bunga) dan dilanjutkan dengan gerak tipu Khai-san-koan-jit (Buka kipas menutup matahari).
Inilah tipu-tipu yang amat hebat dari ilmu kipas Im-yang-san-hoat.
Melihat serangan-serangan ini, Kun Beng terkejut sekali karena maklum bahwa kakak seperguruannya bukan main-main lagi, melainkan menyerang untuk mengarah nyawanya!
"Suheng, ingatlah akan hubungan kita, ingatlah Suhu!"
Kun Beng berseru kembali sambil sibuk mengelak ke sana ke mari atas serangan-serangan maut yang dilancarkan oleh suhengnya.
"Mampuslah, bedebah!"
Swi Kiat maju mendesaknya.
Karena cepatnya Swi Kiat menyerang kipas maut di tanganya telah berhasil menyerempet pundak kiri Kun Beng yang mengeluh sambil terhuyung ke belakang, mukanya pucat dan dia telah menderita luka cukup parah di dekat sambungan tulang.
"Kiat-ko.....! Jangan bunuh dia...!"
Kui lan menubruk kakaknya.
Pada saat itu, Kun beng sudah naik darah dan sambil meringis kesakitan pemuda ini juga sudah mencabut senjatanya, yakni tombak pendek.
Dengan senjata ini, dia membalas serangan suhengnya, karena dia merasa telah dilukai.
Tusukan tombaknya ke arah dada itu dielakkan oleh Swi kiat, akan tetapi karena pada saat itu Kui Lan memberot bajunya dari belakang, gerakkannya terhalang dan tombak di tangan Kun Beng menyerempet pinggir lengannya.
"Brett!"
Baju itu robek sedikit dan kulit lengan terluka, walaupun tidak parah namun cukup banyak mengeluarkan darah.
"Kiat-ko, sudahilah pertempuran ini.....! The-taihiap, cukuplah.... kasihanilah aku....!"
Kui Lan mengis dan memeluk kakaknya.
Tentu saja Swi Kiat menjadi terhalang dan kesempatan ini dipergunakan oleh Kun Beng untuk melompat keluar dari goa dan melarikan diri.
Melihat hal ini, Kui Lan menjatuhkan diri di atas lantai goa dan menangis tersedu-sedu.
Tadinya Swi Kiat hendak mengejar bayangan Kun beng, akan tetapi melihat keadaan adiknya dia tidak tega meninggalkannya dan dia belutut di depan adiknya dan mendekap kepalanya.
"Kiat-ko....,ayah dan ibu..."
Kui Lan terisak-isak.
Mengingat akan ayah bundanya, tak terasa Swi Kiat juga mencucurkan air mata.
Kakak beradik itu menangisi nasib mereka dan kematian orang tuanya, dan keduanya melirik keluar goa di mana nampak bayangan Kun Beng berlari-lari cepat sekali, merupakan bayangan hitam dikala senja itu, seperti seekor kalong yang besar sekali terbang pergi.
"Kiat-ko, dia sudah pergi..."
Kata-kata ini merupakan ratapan hatinya yang merasa perih sekali.
"Aku akan mengejarnya,"
Kata Swi Kiat.
"Kiat-ko, jangan kau bunuh dia. Betapapun juga, aku cinta padanya, aku rela berkorban bagaiman juga untuknya. Aku akan setia sampai mati kepada The Kun Beng..."
Swi Kiat sudah mengerti bahwa hubungan antara adiknya dan sutenya sudah sedemikian rupa sehingga mereka harus menjadi suami isteri, baik dengan jalan kasar maupun halus dia harus mengusahakan hal itu.
"Aku akan mengejarnya, Kui lan. Jangan khawatir, aku takkan membunuhnya. Andaikata aku bermaksud membunuhnya juga, belum tentu aku sanggup karena kepandaiannya tidak kalah oleh kepandaianku. Aku akan mengusahakan agar dia suka kembali kepadamu, suka menjadi suamimu."
Setelah berkata demikian, Swi Kiat melepaskan pelukannya dan secepat kilat tubuhnya berkelabat keluar, berlari mengejar Kun Beng yang sudah tidak kelihatan bayangannya lagi.
Kui Lan yang ditinggal seorang diri di dalam goa menangis terguguk.
Ia tidak tahu bahwa semenjak tadi, semenjak terjadi pertempuran antara Kun Beng dan Swi Kiat, terdapat bayangan orang lain yang mengintai dan mendengarkan semua peristiwa itu.
Jangankan Kui Lan yang kepandaianya masih rendah sehingga pendengarannya tidak dapat menangkap gerakan orang yang amat ringan itu, bahkan Kun Beng dan Swi Kiat yang mencurahkan seluruh perhatian untuk pertempuran itu, tidak mengetahui akan adanya bayangan ini.
Bukan main kagetnya hati Kui Lan ketika tiba-tiba di belakangnya berdiri seorang pemuda yang yang berkepala botak dan berpakaian mewah sekali.
Orang itu tersenyum kepadanya dan sepasang matanya memandang kagum sehingga Kui Lan merasa seakan-akan orang muda itu hendak menelannya bulat-bulat dengan sinar matanya.
"Siapa kau....?"
Tegur Kui Lan kaget sambil melompat bangun.
Orang itu masih muda, berwajah cukup menarik, hanya kepalanya saja botak.
Pakaiannya amat indah dan mudah dilihat bahwa dia seorang bangsawan, baik dari gerak-geriknya maupun dari pakaiannya, terutama dari pakaiannya, karena bangsawan manapun juga memakai kalau memakai pakaian butut akan lenyap sifat kebangsawannya.
"Aku bernama An Kong, seorang pangeran,"
Kata pemuda itu sambil menjura hormat, akan tetapi mulutnya tersenyum dan matanya melirik ceriwis.
"Nona Kui Lan, aku tanpa sengaja telah mendengar semua urusanmu. Kau harus dikasihani, nasibmu buruk sekali. Kau telah dikhianati oleh pemuda keparat itu dan kini kakakmu bermusuhan dengan sutenya sendiri. Orang bernasib malang dan cantik jelita sepertimu ini, siapakah yang tidak menaruh hati kasihan? Hanya orang jahat seperti The Kun Beng itu saja yang tega melukai hatimu. Kau harus ditolong, maka ikutlah aku, nona. Kau akan mengalami hidup berbahagia di istanaku. Jangan kaupedulikan lagi pemuda keparat itu dan kakakmu yang berhati keras. Marilah!"
Sambil berkata demikian , Pangeran An Kong lalu mengulur tangan menagkap pergelangan tangan Kui Lan.
Kui Lan cepat menarik tangannya, namun terlambat.
Pemuda itu gerakkannya cepat sekali dan sebelum ia dapat memberontak, ia diangkat dan dipondong!
Kui Lan terkejut dan menjerit, akan tetapi sebuah totokan yang tepat telah membuat ia tidak kuasa lagi membuka mulut.
Bagaimana pemuda itu dapat tiba di situ?
Sebetulnya, karena Swi Kiat membantu para pejuang rakyat dan membebaskan mereka dari kepungan, pihak pemerintah menjadi marah sekali.
An Kong adalah putera dari An Lu Kui, dan pemuda ini secara kebetulan dapat melihat Swi Kiat.
Karena dia pun sedang membantu usaha ayahnya berlomba mencari jasa dan kedudukan di kerajaan, diam-diam dia lalu mengikuti perjalanan Swi Kiat.
Hanya dia saja yang sanggup melakukan hal ini, karena An Kong adalah murid dari Jeng-kin-Jiu Kak Thong Taisu dan dia memiliki kepandaian tinggi.
Diam-diam dia mengikuti jejak Swi Kiat, tidak berani menurunkan tangan.
Ia maklum akan kelihaian murid Pak-lo-sian Siangkoan Hai.
Ia hendak mencari tahu lebih dulu di mana tempat tinggal pemuda itu sehigga dia dapat membawa kawan-kawannya untuk menangkapnya.
Demikianlah, dia mengikuti Swi Kiat terus sampai tiba di pegunungan itu dan secara kebetulan sekali dia melihat pertempuran antara Kun Beng dan Swi Kiat.
An Kong adalah seorang pemuda mata keranjang maka begitu melihat Kui Lan, hatinya menjadi tertarik sekali.
Apalagi dia mendapat kenyataan bahwa Kui Lan adalah adik Gouw Swi Kiat, maka tentu saja hal ini amat baik sekali baginya.
Ia dapat menangkap Kui Lan, selain untuk memenuhi hasrat hatinya, juga hal ini berarti sebuah pukulan hebat bagi Swi Kiat!
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Kui Lan dibawa ke istana oleh An Kong dan hampir saja Kui Lan menjadi korban keganasan dan kekejian bangsawan rendah ini kalau saja tidak datang Lu Kwan Cu yang menolongnya.
Semua itu diceritakan oleh Kui Lan kepada Kwan Cu yang mendengarkan dengan penuh perhatian.
Tentu saja cerita Kui Lan tidak sejelas yang di atas, hanya terbatas pada apa yang diketahui oleh gadis itu.
Namun Kwan Cu sudah dapat menduga apa yang terjadi seluruhnya.
*** Kwan Cu menarik napas panjang ketika dia mendengar penuturan itu.
"Kasihan sekali kau, Kui Lan. Dan terlalu Kun Beng. Tak kusangka dia akan tersesat sejauh itu."
"Dia tidak tersesat, semua yang terjadi adalah kesalahanku. Aku sudah setengah menduga bahwa dia tidak cinta kepadaku, akan tetapi cinta kasih membuat aku buta dan akulah yang menyeretnya sehingga dia melakukan semua hal atas diriku sebagaimana yang kukehendaki."
"Begitukah?"
Tanya Kwan Cu dan diam-diam pemuda itu berdebar hatinya, bukankah Kun Beng itu tunanngan Sui Ceng?
Dan sekarang Kun Beng melakukan hal itu kepada Kui Lan, berarti Kun Beng tidak berharga lagi menjadi calon suami Sui Ceng.
"Memang akulah yang bersalah. The-taihiap tidak berdosa, dan aku tidak menyesal. Biarpun dia tidak mau menjadi suamiku, namun aku tetap akan bersetia kepadanya sampai mati."
Terharu hati Kwan Cu mendengar ucapan ini. Ia mengelus-elus kepala Kui Lan seperti sikap seorang kakak terhadap adiknya.
"Kau anak baik, Kui Lan. Sayang sekali kau terlalu lemah iman, tidak dapat menguasai hati menolak godaan iblis yang berupa napsu. Akan tetapi, hal itupun buka salahmu karena pada waktu itu, kau baru saja menderita tekanan batin yang hebat sehingga imanmu menjadi lemah."
Dengan mata basah Kui Lan lalu berkata.
"Taihiap, sukakah kau menolongku mencari mereka itu dan mendamaikan mereka? Kalau sampai mereka saling bermusuhan, baik kakakku atau The-Taihiap yang tewas, aku akan kehilangan orang-orang yang paling kucinta dan kematian seorang di antara mereka akan membawa nyawaku pula."
Kwan Cu mengangguk-angguk.
"Baiklah, Kui Lan. Mereka itupun sahabat-sahabatku, kalau aku dapat menemukan mereka, tentu akan kuusahakan sedapat mungkin untuk mencegah mereka saling membunuh."
"Terimakasih, Lu-taihiap, terima kasih. Budimu takan kulupakan selama hidupku."
Kwan Cu tersenyum.
"Kau memang anak baik dan perasaanmu halus sekali. Aku pun seorang yang hidup sebatangkara, biarlah kau kuanggap adikku sendiri."
Bukan main girangnya hati Kui Lan mendengar ini.
"Terimakasih kepada Thian bahwa kau telah tergerak hatimu untuk menolongku, Koko yang baik. Tadinya aku sudah bingung sekali kemana aku harus pergi dalam keadaan seorang diri ini, akan tetapi setelah kau mengangkatku sebagai adikmu, aku tidak khawatir lagi karena kau tentu akan membawaku kemanapun kau pergi."
Kwan Cu tertegun.
Berdiri seperti patung tak mengeluarkan kata-kata lagi.
Gadis ini cerdik sekali dan dapat mempergunakan kesempatan dengan amat cepatnya.
Hal itu tak pernah disangka-sangkanya dan dia merasa betul, sebagai adiknya, Kui Lan tentu akan ikut dengan dia, atau setidaknya dia harus dapat mencarikan tempat yang layak bagi Kui Lan!
"Kui Lan, kau seorang gadis dan kepandainmu juga belum cukup, mana bisa melakukan perjalanan jauh yang masih tidak ada ketentuan tujuannya?"
"Dengan kau di sampingku, aku takut apakah?"
Kata Kui Lan sambil tersenyum.
"Tentu saja aku akan melindungimu, akan tetapi kalau kita melakukan perantauan bersama, akan menimbulkan tiga macam kerugian."
"Kerugian? Coba sebutkan apa itu!"
Kui Lan berkata dengan muka cemberut, akan tetapi bahkan menambah kemanisannya.
"Pertama akan mendatangkan kesan buruk karena orang-orang akan menganggap tidak pantas seorang gadis melakukan perantauan bersama seorang pemuda."
"He, bukankah kau ini kakakku sendiri? apanya yang tidak pantas bagi seorang gadis melakukan perjalanan bersama kakaknya?"
"Kui Lan, pandangan mata dan pendengaran telinga orang-orang kang-ouw amat tajam, mereka akan tahu bahwa kita bukanlah saudara kandung dan tentu akan timbul sangkaan yang tidak-tidak yang kesemuanya hanya akan merusak nama baik kita. Hal yang kedua, kalau kau ikut aku, perjalanan tak dapat dilakukan cepat-cepat dan bagaimana aku dapat menyusul mereka? Ke tiga, andaikata tersusul, dan kau berada di dekatku, tentu mereka akan naik darah karena kau yang menjadi pokok pertentangan mereka. Maka lebih baik kau jangan terlihat oleh mereka."
Menghadapi alasan-alasan yang amat kuat ini, Kui lan menghela napas dan mengangkat pundak, katanya tak berdaya.
"Habis, apakah kau mau meninggalkan aku seorang diri di hutan ini?"
"Tentu saja tidak, adik Kui Lan. Aku mengenal sebuah tempat yang amat cocok bagimu, di mana kau boleh tinggal denagn hati tentram dan aku dapat meninggalkan engkau dengan tenang pula. Kau boleh tinggal di tempat itu dengan aman sampai aku dapat menemukan Swi Kiat dan Kun Beng."
"Di mana tempat itu?"
Kui Lan ragu-ragu karena pada dewasa itu agaknya tak mungkin mendapatkan tempat yang aman bagi seorang gadis muda seperti dia, yang sudah banyak mengalami ganguan-ganguan dari orang jahat.
"Di dusun Kau-Ling sebelah utara kota Tan-Shan ada sebuah Kwan-im-bio (Kelenteng Dewi Kwan Im) yang besar dan para nikouw (pendeta wanita) yang berada di situ terkenal sebagai pendeta pendeta yang saleh beribadah. Kau boleh tinggal di sana untuk sementara waktu dengan hati aman dan tentram."
Kui Lan mengangguk-angguk menyatakan persetujuannya, maka berangkatlah dua orang muda ini menuju ke kota Tan-shan yang letaknya di sebelah timur laut dari kota raja.
Menurut pendapat Kui lan, mereka telah melakukan perjalanan cepat sekali karena gadis ini sepanjang jalan telah mempergunakan ilmu lari cepat yang pernah ia pelajari dari ayahnya.
Akan tetapi tidak demikian menurut anggapan Kwan Cu.
Kalau pemuda ini tidak melakukan perjalanan bersama Kui Lan, dalam waktu satu hari saja dia tentu akan sampai di dusun Kau-ling.
Sekarang bersama Kui Lan, dalam waktu lima hari barulah mereka tiba di dusun itu dan langsung menuju Kwan-im-bio.
"Taihiap datang......!"
Seru beberapa orang nikouw yang kebetulan berada di pekarangan depan kuil itu untuk melakukan tugas menyapu dan lain-lain.
Agaknya mereka merasa gembira sekali melihat kedatangan pemuda ini dan tahulah Kui Lan bahwa Kwan Cu telah dikenal baik oleh semua nikouw yang sudah tua-tua itu.
"Selamat datang, Taihiap. Kebetulan sekali Taihiap berkenan mengunjungi tempat kami karena kedatangan Taihiap memang amat diperlukan,"
Kata seorang nikouw tua yang pekerjaannya sebagai nikouw penyambut tamu.
"Ada terjadi apakah, suthai? Dan di mana Ngo Lian Suthai? Teecu mohon bertemu dengan beliau,"
Kata Kwan Cu.
"Ngo Lian Suthai terluka oleh Luan-ho Oei-Lioang (Naga Kuning dari Sungai Luan) dan keadaannya payah."
Kwan Cu terkejut sekali.
"Suthai maksudkan Luan-ho Oei-Liong si bajak laut yang merajalela di sungai Luan-ho?"
Kwan Cu memang pernah mendengar nama ini dan biarpun dia belum pernah bertemu dengan orangnya, namun sudah lama dia mempunyai niat untuk memberi hajaran kepada bajak yang dikabarkan orang amat ganas ini.
"Benar dia, Taihiap."
"Akan tetapi mengapa demikian? Apakah Ngo Lian Suthai melakukan pelayaran di Sungai Luan?"
Nikouw tua itu menggeleng kepalanya yang gundul halus.
"Marilah kita duduk di ruang tamu, Taihiap. Di sana kita akan bicara dengan leluasa."
"Perkenankan teecu (murid) menjumpai Ngo Lian Suthai sendiri agar teecu mendapat keterangan lebih jelas."
"Menyesal sekali, Taihiap. Dalam keadaan seperti sekarang ini, Ngo Lian Suthai tidak boleh banyak bicara dan bergerak. Beliau harus istirahat. tentu saja kau boleh bertemu dengan Ngo Lian Suthai, akan tetapi tidak baik kalau mengajaknya bercakap-cakap. Hal itu akan mengganggu kesehatannya."
Terpaksa Kwan Cu membenarkan pendapat ini dan dengan menggandeng tangan Kui Lan, dia mengikuti nikouw itu ke ruang tamu.
"Siapakah Siocia ini, Taihiap?"
Nikouw tua itu bertanya sambil memandang kepada Kui Lan dengan sepasang matanya yang bening.
"Dia ini adalah Gouw Kui Lan adik angkatku. justru kedatanganku ini untuk minta pertolongan Ngo Lian Suthai agar suka menerima adikku sementara waktu tinggal di sini."
"Tentu saja boleh, Taihiap. Jangan khawatir, Nona, kau boleh tinggal disini seperti di dalam rumahmu sendiri."
"Terima kasih, Suthai, Tentu saja sambil menanti datangnya saudaraku, aku akan membantu pekerjaan yang dapat kulakukan di dalam bio ini,"
Kata Kui Lan sambil memandang ke sekeliling. Tempat itu memang menyenangkangkan sekali, selain bersih, juga dikelilingi oleh tanaman bunga, nampaknya aman dan penuh kedamaian.
"Sekarang ceritakanlah, Suthai. Apa yang terjadi dengan Ngo Lian Suthai?"
Nikouw tua itu lalu menuturkan apa yang telah terjadi lima hari yang lalu sebelum Kwan Cu dan Kui Lan tiba di depan kuil itu.
Ngo Lian Suthai adalah nikouw berusia enam puluh tahun yang menjadi ketua dari Kwan-im-bio.
Selain seseorang ahli batin yang patuh akan semua isi kitab dari Dewi Kwan Im, juga Ngo Lian Suthai memiliki kepandaian ilmu silat yang cukup tinggi, karena dia adalah murid dari Bu-tong-pai.
Lebih dari dua puluh tahun Ngo Lian Suthai memimpin para nikouw di Kwan-im-bio itu dan selama itu, kuil menjadi lebih terkenal dan mendapatkan banyak penyumbang.
Kuil itu dibangun sehingga merupakan kuil terbesar di daerah utara.
Selain perabot-perabot yang berada dalam kuil terdiri dari barang-barang berharga sumbangan para penderma, juga di situ terdapat patung-patung yang sukar didapat, di antaranya terdapat sebuah patung setengah badan yang amat besar.
Tinggi patung itu sama dengan tinggi seorang manusia biasa akan tetapi karena hanya setengah badan, maka ukuran badannya dua kali lebih besar dari ukuran badan manusia.
Patung itu terbuat daripada perunggu dan indah sekali.
Hanya bentuknya amat menyeramkan, karena biarpun dia merupakan sebuah patung pendeta laki-laki yang berpakaian sebagai pendeta biasa, namun di kepalanya terdapat sepasang tanduk seperti tanduk kerbau dan mulutnya bercaling seperti mulut babi!
Jarang ada orang yang mengerti apakah arti patung ini dan patung dewa atau iblis manakah gerangan.
Akan tetapi Ngo Lian Suthai yang mendapatkan dan membawa patung itu dapat menceritakan dengan jelas.
Patung ini dibuat oleh seorang pendeta Budha yang pandai, dan arti daripada patung ini adalah untuk menggambarkan betapa pada waktu itu banyak terdapat orang-orang yang mengaku pendeta dan berpakaian seperti pendeta, namun sebenarnya masih mempunyai akhlak yang bejat.
Oleh karena itu, untuk menyindir bahwa kepala pendeta macam itu masih terisi pikiran-pikiran busuk, maka kepala patung di tumbuhi sepasang tanduk, dan karena banyak di antara pendeta itu mengeluarkan kata-kata yang tidak selayaknya seorang suci pada mulut patung itu dipasangi caling!
Jadi singkatnya patung itu adalah untuk memperingatkan kepada para pendeta atau orang yang menganut penghidupan suci, agar supaya digunduli dan jubahnya merupakan jubah pendeta, namun isi hati dan pikirannnya masih kotor.
Patung yang amat indah dan sukar didapat ini oleh Ngo Lian Suthai ditaruh di ruang tengah sehingga setiap anak muridnya dapat melihatnya tiap hari, merupakan patung peringatan yang mengerikan hati setiap muridnya.
Pada suatu hari, lima hari yang lalu sebelum Kwan Cu datang, di dalam bio kedatangan seorang tamu, seorang laki-laki tinggi besar bermuka kuning yang membawa golok besar terselip di punggungnya.
Laki-laki itu sikapnya kasar sekali, akan tetapi nikouw itu menyambutnya, karena mengira bahwa orang itu hendak bersembahyang minta berkah dari Kwan Im Pouwsat (Dewi Kwan Im, yakni Dewi Welas Asih).
"Di mana Ngo Lian Suthai? Aku hendak bicara dengan dia!"
Laki-laki tinggi besar itu berkata dengan kasar dan matanya jelalatan ke dalam.
"Congsu siapakah dan ada keperluan apa hendak bertemu dengan Ngo Lian Suthai?"
Tanya nikouw tua penyambut itu.
"Beritahukan bahwa Luan-ho Oei-Liong datang hendak bertemu,"
Kata laki-laki itu. Mendengar nama kepala bajak ini, terkejutlah nikouw tua itu.
"Baik-baik, silahkan Congsu duduk menanti sebentar, pinni (aku) akan melaporkan kepada Ngo Lian Suthai,"
Katanya dan cepat-cepat masuk ke belakang utuk melaporkan hal itu kepada ketuanya.
Akan tetapi Luan-ho Oei-Liong tidak sabar lagi.
Ia segera bertindak masuk ke ruang tengah di mana terdapat patung besar dari perunggu itu sambil tersenyum puas dia lalu mengangkat patung itu dengan kedua tangannya, terus diangkat keluar dan diletakkan di ruang tamu.
Semua nikouw yang melihat itu menjadi gempar.
Mereka tidak berani mencegah, apalagi setelah melihat betapa dengan mudahnya laki-laki kasar itu mengangkat dan memindahkan patung.
Patung itu beratnya hampir seribu kati dan selain Ngo Lian Suthai, tidak ada yang kuat mengangkatnya.
Tak lama kemudian, dari dalam keluarlah seorang nenek yang berpakaian pendeta serba putih, memegang sebatang tongkat hitam yang panjang dan kecil.
Nenek ini gerak-geriknya lemah-lembut, demikian pula wajahnya membayangkan sifat yang mulia akan tetapi sepasang matanya amat berpengaruh.
Ketika ia melirik ke arah patung perunggu yang sudah berdiri di ruang tamu, ia menggerakkan alisnya yang sudah hampir putih itu dan memandang Luan-ho Oei-liong.
"Congsu, pinni telah keluar, ceritakan apakah maksud kedatanganmu dan mengapa pula kau memindahkan patung itu?"
Melihat sikap yang halus dan sinar mata yang berpengaruh itu, Luan-ho Oei-liong yang bermuka kuning berubah sikapnya, tidak sekasar tadi dan dia menjura memberi hormat.
"Ngo Lian Suthai, telah lama siauwte mendengar namamu yang besar sebagai seorang gagah yang berhati mulia dan pemurah. Oleh karena itu, hari ini aku sengaja datang untuk memberi hormat dan untuk mohon pertolonganmu."
"Pertolongan apakah yang dapat diberikan oleh pinni yang tua dan lemah ini kepada Congsu yang muda dan gagah perkasa?"
"Hanya pertolongan sedikit saja, Suthai, yakni harap Suthai memberikan patung perunggu ini kepadaku, atau kalau Suthai berkeberatan aku bersedia membelinya,"
Jawab kepala bajak itu sambil menunjuk ke arah patung yang berdiri di ruang itu. Ngo Lian Suthai nampak heran sekali,"Patung ini? Untuk apakah kau membutuhkan patung ini, Congsu?"
"Terus terang saja, Ngo Lian Suthai patung ini hendak kupergunakan untuk tumbal dan jimat penunggu perahu sehingga pengaruh jahat akan merasa takut untuk menggangu kami. Pendeknya, patung ini akan kami sembah sebagai juru pelindung keselamatan."
Ngo Lian Suthai mengerutkan keningnya.
"Salah sekali, Congsu. Patung ini adalah lambang kejahatan dan kepalsuan, tidak seharusnya dipuja-puja. Maaf, untuk keperluan itu terpaksa pinni tidak dapat memberikan patung ini kepadamu."
Berubah air muka kepala bajak itu mendengar ucapan ini, akan tetapi dia masih tersenyum menyeringai.
"Sebetulnya keinginan memiliki patung ini atas desakan adikku perempuan Sin-jiu Siang-kiam (Sepasang Pedang Tangan sakti) yang bernama Oei Hwa. Dialah yang selalu merasa khawatir akan marabahaya yang dapat menimpa kami, maka mendesak agar supaya aku datang ke sini minta atau membeli patung ini, Suthai. Harap kau orang tua suka mengalah dan menolong kami."
Ngo Lian Suthai tentu saja sudah mendengar nama Sin-jiu Siang-kiam Oei Hwa, nama seorang gadis cantik jelita akan tetapi berwatak seperti siluman, yang kabarnya memiliki kepandaian amat tinggi, lebih tinggi dari Luan-ho Oei-liong, kakaknya.
Maka ucapan kepala bajak tadi boleh dibilang selain memperkenalkan adiknya, juga merupakan ancaman halus.
Namun pendeta wanita itu tidak merasa gentar karena hatinya sudah bersih dari perbuatan menyeleweng, maka rasa takut pun lenyap dari lubuk hatinya.
"Menyesal sakali, Congsu. Patung ini buatan sucouw (kakek guru) yang membuatnya dengan maksud membuat peringatan kepada mereka yang menyeleweng daripada garis-garis kehidupan manusia sesuai kehendak Thian. Pinni amat membutuhkan untuk memberi peringatan kepada murid pinni khususnya dan masyarakat umumnya."
"Ngo Lian Suthai, kalau begitu percuma saja kau berjubah pendeta dan memakai nama sebagai orang suci!"
Tiba-tiba Luan-ho Oei-liong berkata marah. Sudah habis kesabarannya.
"Dengan alasan yang mana kau dapat berkata begitu, Congsu?"
Ngo Lian Suthai masih bersikap tenang, sabar dan bibirnya tersenyum ramah.
"Kau berpura-pura menjadi orang suci, akan tetapi masih pelit dan kikir. Jangankan menolong orang lain, memberikan patung yang bahkan akan kubeli saja kau tidak rela! Mana sifat-sifat kesucianmu?"
Ngo Lian Suthai mengeleng-gelengkan kepala dan berkata sungguh-sungguh.
"Congsu, tidak ada manusia yang benar-benar suci, kalau pun ada yang mengaku suci, itu hanya pura-pura dan bohong belaka. Pinni sendiri seorang manusia berdosa yang berusaha untuk memperbaiki diri dan menjauhkan segala macam nafsu keduniaan. Memberi itu sifatnya bermacam-macam, demikianpun menolong. Pemberian atau pertolongan yang mendatangkan keburukan, apalagi mendatangkan kejahatan dan penyelewengan, bukanlah pertolongan atau pemberian lagi namanya. Patung ini lambang kejahatan, seharusnya dianggap sebagai peringatan bukan untuk dipuja-puja. Kalau pinni memberikan kepadamu untuk kau puja-puja, hal itu berarti bahwa pinni bahkan menolong kau berbuat sesat. Dan ini adalah dosa besar, Congsu. Kewajiban pinni bukan menolong manusia menjadi sesat, sebaliknya bahkan mengulur tangan untuk mencegah mereka berbuat keliru dalam hidupnya. Sekali lagi menyesal sekali, pinni tidak dapat memberikan patung ini."
"Biarpun dibeli mahal?"
Luan-ho Oei-liong mendesak sambil bangkit berdiri dari bangkunya.
"Patung ini hanya dapat dibeli dengan budi pekerti yang baik dan kesadaran. Kalau Congsu sudah sadar betul dan dapat memperbedakan baik dan buruk, mengejar kebajikan meninggalkan kejahatan, barulah patung ini patut kaubawa agar kau selalu ingat betapa buruknya kejahatan dan kepalsuan seperti digambarkan pada diri patung ini."
Merah sekali wajah kepala bajak yang berkulit muka kuning itu. Ia mencabut goloknya dan membentak.
"Nikouw tua bangka yang sombong dan bosan hidup. Kalau begitu hendak kubeli dengan golokku!"
Setelah berkata demikian, Luan-ho Oei-liong lalu menyerang nenek tua itu dengan goloknya, disabetnya ke arah leher!
Memang kepala bajak ini sudah mendengar bahwa nenek itu memiliki kepandaian silat yang lihai, maka dia mendahului menyerangnya.
"Omitohud, untuk membasmi kejahatan, terpaksa pinni melayanimu, Luan-ho Oei-liong !"
Kata nikouw tua itu yang cepat mengangkat tongkatnya menangkis sambaran golok itu.
Ngo Lian Suthai adalah ahli lweekang, akan tetapi ketika ia menangkis sambaran golok, ia merasa tanggannya gemetar.
Ia telah tua sekali dan selama menjadi kepala nikouw di Kwan-im-bio, ia tidak pernah bertempur dan hanya melatih ilmu silat untuk menjaga kesehatan jasmani saja.
Maka tenaganya banyak berkurang dan memang tenaga dari bajak laut itu besar sekali.
Para nikouw yang berada di situ tak seorang pun berani maju karena mereka maklum bahwa kepandaian bajak laut itu hebat sekali, jauh melebihi kepandaian mereka yang tidak seberapa.
Akan tetapi Ngo Lian Suthai memang patut dipuji.
Biarpun sudah amat tua, ia masih gesit dan tongkatnya merupakan benteng pertahanan yang sukar ditembus.
Kepala bajak itu menjadi penasaran dan gemas, goloknya diputar makin cepat dan serangan yang dilakukan sambil mengerahkan seluruh tenaganya.
Kalau saja pertempuran itu terjadi tiga puluh tahun yang lalu, belum tentu Luan-ho Oei-liong dapat menahan nikouw ini.
Akan tetapi sekarang nikouw itu sudah kehabisan tenaga dan hanya dapat bertarung sampai tiga puluh jurus.
Ia mulai lemah dan setiap kali menangkis serangan, tongkatnya terpental ke belakang.
Akhirnya, kepala bajak laut itu berhasil membacok ke arah pundak kiri, akan tetapi dia membalikkan goloknya sehingga bagian yang tidak tajam yang memukul pundak.
Namun pukulan itu bahkan lebih hebat akibatnya, karena tidak saja meremukkan tulang pundaknya, juga mendatangkan luka di dalam dada!
Ngo Lian Suthai terguling dan pingsan.
"Ha, ha, ha, Ngo Lian Suthai, kau mencari penyakit sendiri. baiknya aku Luan-ho Oei-liong bukanlah orang yang kejam. Kalau aku mempergunakan mata golokku, bukankah tubuhmu sudah putus menjadi dua?"
Sambil berkata demikian, kepala bajak ini menyambar patung perunggu dan dibawanya lari keluar dari bio.
Para nikouw sibuk mengangkat ketua mereka ke dalam kamar untuk dirawat lukanya.
Namun luka itu parah sekali sehingga setelah siuman, Ngo Lian Suthai tak dapat bangun dan dengan suara tenang dan perlahan nikouw tua itu menyatakan bahwa nyawanya takkan dapat ditolong lagi.
"Paling lama aku akan dapat bertahan sampai satu bulan,"
Katanya sambil tersenyum.
"Hal ini tidak mengapa, hanya sayang sekali patung itu akan tersenyum dan setan yang menjadi penghuni di dalamnya akan bersorak kemenangan karena dia dipuja-puja oleh manusia-manusia sesat."
Demikian peristiwa yang diceritakan oleh nikouw tua penyambut tamu kepada Kwan Cu.
Pemuda ini menjadi marah sekali, kemudian dia mendapat perkenan untuk menemui Ngo Lian Suthai di dalam kamarnya.
Pendeta wanita yang sudah tua itu nampak berbaring di atas dipan sederhana dan pundaknya di balut.
Mukanya pucat sekali dan tubuhnya lemah, akan tetapi begitu melihat Kwan Cu, ia tersenyum dan mengangkat tangan memberi salam.
"Ah, Lu-taihiap, kau datang? Kau baik-baik saja, bukan?"
Kwan Cu terharu.
Ia telah mengenal nenek ini ketika dia melakukan perjalanan melewati dusun ini dan mampir karena tertarik akan keharuman nama Kwan-im-bio dan nama Ngo Lian Suthai yang dihormati banyak orang banyak.
Sekali pandang saja Kwan Cu dapat melihat bahwa nenek itu mengalami luka hebat di dalam dadanya dan tak dapat ditolong pula, kecuali kalau di situ ada Hang-houw-siauw Yok-ong Si Raja Obat.
"Teecu menyesal sekali mendengar malapetaka yang menimpa diri Suthai."
Kata Kwan Cu.
"Bukan malapetaka, orang muda. Segala sesuatu yang telah ditentukan Thian pasti akan terjadi, kita tak mampu menolak atau menawarnya. Kau datang dengan siapa?"
Tanya nenek itu sambil memandang ke arah Kui Lan. Nona itu lalu maju dan berlutut, sedangkan Kwan Cu memperkenalkan.
"Nona ini adalah Gouw Kui Lan, adik angkat teecu. Kedatangan teecu ini pun hendak mohon pertolongan Suthai agar sudi menerima Kui Lan tinggal untuk sementara waktu di sini, sampai teecu dapat menemukan kakaknya."
"Boleh, boleh, jangan khawatir. Tinggalkan dia di sini, tentu akan kami jaga baik-baik. Akan tetapi, kalau kau hendak pergi Taihiap, dapatkah kau menolongku mencari Luan-ho Oei-liong di Sungai Luan-ho?"
"Untuk membalaskan sakit hati Suthai padanya? Teecu tentu akan mencari dia dan menghajarnya!"
Kata Kwan Cu gemas.
"Bukan begitu, Taihiap. Pinni tidak merasa sakit hati kepada siapapun juga. Yang penting adalah patung itu hendaknya kau suka merampasnya kembali. Mata biasa tak dapat melihatnya, akan tetapi pinni tahu bahwa patung itu telah dijadikan tempat tinggal pengaruh jahat atau boleh disebut siluman. Oleh karena itulah maka pinni tidak menghendaki patung itu terjatuh kedalam tangan orang lain, apalagi orang-orang yang sesat. Hal ini akan menimbulkan bahaya dan kejahatan akan merajalela. Kalau sudah terkejar olehmu hancurkan saja patung itu."
"Baiklah, Suthai. Teecu akan pergi mencari Luan-ho Oei-liong untuk memenuhi perintah Suthai."
Nenek itu menarik napas lega. Adapun Kui Lan lalu maju kedepan dan berkata lembut.
"Suthai, dalam keadaan seperti ini, amat tidak baik kalau Suthai terlalu banyak bicara. Biarkan teecu merawat dan menjaga Suthai."
Ngo Lian Suthai tersenyum dan memegang lengan gadis itu, lalu melirik ke arah Kwan Cu.
"Lu-Taihiap, terimakasih kau sudah membawa anak baik ini ke sini. Ternyata ia akan merupakan perawat yang berhati mulia."
Kwan Cu merasa bahwa dia sudah terlalu lama mengganggu nenek itu, maka dia lalu bermohon diri dan berpesan kepada Kui Lan agar hati-hati tinggal di tempat itu, menanti sampai dia dapat menemukan Swi Kiat.
Kemudian pemuda itu meninggalkan Kwan-im-bio dan cepat menuju ke utara karena terlebih dahulu, sebelum mencari Swi Kiat dan Kun Beng, dia hendak memenuhi permintaan Ngo Lian Suthai, yakni mencari kepala bajak dan merampas kembali patung setan itu.
*** Sungai Luan-ho setelah melewati kota Ceng-tek dan mendekati laut, menjadi makin lebar dan besar.
Ada bagian-bagian yang merupakan sungai besar sekali sehingga pantai di seberang nampak amat jauh, seakan-akan samudera kecil saja.
Perahu-perahu nelayan nampak di sana-sini, akan tetapi itu hanyalah perahu-perahu nelayan miskin tanpa layar.
Ada pula yang mempunyai layar, akan tetapi layar yang butut dan penuh tambalan.
Mereka ini boleh berlayar dengan hati tenang, akan tetapi tidak ada perahu besar para saudagar berani melintasi daerah ini, karena nama Luan-ho Oei-liong sudah amat terkenal.
Kalaupun ada yang melintas, tentulah perahu-perahu saudagar yang sudah mendapat izin dari kepal bajak laut itu, setelah membayar uang "pajak!"
Di bagian timur dekat laut, memang terdapat banyak sekali perahu-perahu basar para saudagar dan dari penghasilan memunggut "pajak"
Inilah Luan-ho Oei-liong menjadi kaya raya.
Siapa tidak mau membayar pajak, tentu kapalnya akan dirampok habis-habisan.
Semua nelayan memandang kepada Kwan Cu dengan mata kaget dan takut ketika pemuda ini bertanya dimana dia dapat bertemu dengan bajak air Luan-ho Oei-liong.
Mereka mengira bahwa pemuda ini adalah sahabat bajak itu dan tentu saja seorang penjahat.
Akan tetapi Kwan Cu tersenyum melihat salah sangka ini dan berkata.
"Kawan-kawan harap jangan salah lihat. Aku bukan sahabat kepala bajak itu, melainkan seorang yang mempunyai kepentingan untuk bertemu dengan dia. Tunjukkan saja di mana tempat tinggalnya agar aku dapat menjumpainya."
Biarpun merasa amat heran, namun semua nelayan tahu belaka di mana orang dapat bertemu dengan kepala bajak yang menjadi raja Sungai Luan-ho itu.
"Congsu harap menurutkan aliran air sungai ini dan setelah melalui kota Ceng-tek, di dalam hutan-hutan pohon pek kiranya Congsu akan dapat bertemu dengannya. Kalau dia tidak berada di darat dalam hutan itu, tentulah dia berada di perahunya dan sedang berlayar,"
Kata seorang di antara mereka.
Kwan Cu mengucapkan terima kasih dan segera melanjutkan perjalanan menurutkan aliran air sungai.
Benar saja, di dalam hutan yang besar di mana sungai itu mengalir terdapat rumah-rumah para bajak air yang merupakan sebuah pedusunan kecil.
Para bajak menyambut Kwan Cu dengan pandangan curiga.
"Mengapa kau mencari ketua kami?"
Tanya seorang di antara mereka.
"Aku datang untuk membayar pajak kepadanya,"
Jawab Kwan Cu sambil tersenyum.
"Karena aku utusan para saudagar di kota raja yang hendak mengirim barang melalui sungai Luan-ho, tentu saja untuk hubungan pertama ini kali aku harus bertemu dengan dia sendiri."
Para bajak itu memang telah dipesan kepalanya bahwa mereka tidak boleh sekali-kali mengganggu para pembayar pajak yang bahkan harus dilindungi, maka mendengar bahwa Kwan Cu adalah "langganan"
Baru segera mereka memberi keterangan.
"Ketua kami sedang berada di perahunya, di sebelah timur hutan ini. Akan tetapi beliau sibuk dan pada waktu sekarang kiranya akan marah kalau ada orang mengganggunya."
"Aku tidak mengganggunya, bahkan mendatangkankan keuntungan baginya. Tak mungkin dia akan marah,"
Kata Kwan Cu tersenyum.
"Kalau kalian takut mengantarku, berilah pinjam sebuah sampan dan aku akan menjumpainya sendiri."
Para bajak itu melihat Kwan Cu hanya seorang pemuda yang kelihatan lemah dan tidak membawa senjata, tidak bercuriga apa-apa, bahkan lalu menggeluarkan sebuah sampan berikut dayungnya untuk dipinjamkan kepada Kwan Cu.
Tentu saja untuk ini Kwan Cu harus lebih dulu mengeluarkan sepotong uang emas sebagai hadiahnya.
Agar tidak menimbulkan kecurigaan, Kwan Cu mendayung perahunya dengan tenaga biasa.
Akan tetapi setelah perahunya dibantu oleh aliran air meninggalkan hutan-hutan itu jauh di belakangnya, dia mendayung cepat sekali dan tak lama kemudian sampailah perahunya di bagian sungai yang airnya melimpah-limpah dan amat lebarnya, seperti samudera kecil.
Dan di tengah-tengah samudera kecil itu dia melihat kapal-kapal atau perahu-perahu besar dengan layar hitam.
Itulah tandan dari perahu bajak sungai!
Jauh di utara, di kaki langit, nampak mega putih menjulang tinggi seperti uap dari kawah berapi.
Sinar senja mendatangkan pemandangan yang amat indahnya dan air sungai mengalir tenang.
Kwan Cu tertarik oleh sebuah perahu yang paling besar dan dicat paling mewah di antara perahu-perahu yang nampak layar hitamnya di sana-sini.
Ke arah perahu besar inilah dia mendayung biduknya.
Ia mendayung perahunya dari sebelah kanan perahu besar itu dan perahu itu sedemikian besarnya sehingga dia tidak melihat adanya lain sampan yang datang dari kiri perahu, yang didayung oleh seorang gadis dengan kecepatan luar biasa pula.
Yang mendebarkan hati Kwan Cu adalah sebuah patung besar sekali, dari perunggu, yang berdiri di atas perahu dengan megahnya.
Tak salah lagi, itulah patung yang dirampas dari kuil Kwan-im-bio!
Dengan gerakan lincah Kwan Cu melompat ke arah perahu besar, sedikitpun tidak menimbulkan goncangan pada perahu itu.
Hal ini sudah menunjukkan betapa tinggi ginkangnya, sungguh kepandaian yang dimiliki ahli-ahli silat tinggi di masa itu.
Dengan hati tertarik Kwan Cu mendekati patung itu.
Di atas perahu sunyi saja dan ada terdengar suara perlahan dari percakapan orang yang agaknya berada di dalam bilik di atas perahu itu.
Patung itu memang hebat.
Terbuat dari pada perunggu dan ukiranya halus sekali.
Sepasang mata dan tanduknya merah dan seakan-akan mata itu mengeluarkan sinar yang ganjil.
Mengingat kata-kata Ngo Lian Suthai bahwa di dalam patung ini tersembunyi pengaruh jahat, Kwan Cu bergidik.
Tiba-tiba perahu bergoncang sedikit dan ketika Kwan Cu menoleh, dia melihat seorang gadis yang cantik jelita telah berdiri di belakangnya.
Gadis ini sikapnya gagah sekali, bertubuh langsing padat dan usianya paling banyak baru delapan belas tahun.
"Hm, tentu inilah Sin-jiu Siang-kiam Oei Hwa adik dari kepala bajak itu,"
Pikir Kwan Cu ketika melihat gadis itu membawa sepasang pedang yang gagangnya kelihatan tersembul di balik punggungnya.
Sebaiknya, gadis yang baru saja lompat naik dari sampan itu, terkejut melihat Kwan Cu.
Akan tetapi ia segera membentak.
"Maling-dina, kau boleh mampus lebih dulu!"
Kata-kata itu disusul oleh tonjokan tangannya yang kecil mungil, menuju ke arah dada Kwan Cu.
Pemuda ini cepat-cepat mengelak dan diam-diam dia kagum sekali karena pukulan itu mendatangkan angin pukulan yang antep dan berbahaya.
Hm,lihai sekali, pikirannya.
Pukulan tadi membuktikan adanya tenaga lweekang yang tak boleh dipandang ringan.
Sebaliknya ketika gadis tadi melihat cara Kwan Cu mengelak, dia tertegun.
Elakan itu demikian capat dan mudah, sewajarnya seakan-akan orang menghadapi pukulan biasa saja.
Baca Juga: Suling Naga 12
Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 4