Eps 10 Pendekar Sakti - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Sakti - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Sakti - Kho Ping Hoo.
Tiba-tiba kedua tangannya bergerak dan tahu-tahu sepasang pedang telah di tangannya.Tanpa banyak cakap lagi gadis itu lalu menyerang Kwan Cu dengan sepasang pedangnya.
Melihat gerakan pedang ini, Kwan Cu makin heran.
Bukan ilmu pedang biasa saja, pikirnya.Cepat, kuat dan ganas sekali.
Gerakan ini mengigatkan dia akan ilmu silat dari tokoh-tokoh besar di kalangan Kang-ouw, tingkatnya tidak kalah oleh ilmu pedang dari Ang-bin Sin-kai sendiri!
Murid siapakah wanita ini?
ia cepat mengelak dan untuk mengimbangi serangan-serangan gadis itu, dia lalu mengeluarkan ilmunya yang didapat dari Im-yang Bu-tek Cin-keng.
Terjadilah keanehan, Im-yang Bu-tek Cin-keng memang hebat, begitu Kwan Cu mainkan ilmunya ini, semua gerakkan-gerakkan silat lawanya dapat ditiru dan dimainkan sama baiknya!
Gadis itu mengeluarkan seruan kaget dan membelalakkan mata dengan amat heran.
"Keparat, mengapa kau meniru-niru gerakan orang?"
Bentuknya dengan suaranya yang halus, akan tetapi ia tidak mengendurkan serangan-serangannya.
Kwan Cu yang memperhatikan wajah gadis itu setelah kini mendengarkan suaranya untuk kedua kalinya, menjadi berdebar hatinya.
Mungkinkah?
Tak salah lagi, inilah wajah Bun Sui Ceng!
Ia ingat betul wajah itu, sama benar dengan wajah yang diimpikan, dan ilmu pedang yang dimainkannya ini memang tepat kalau diturunkan oleh Kiu-Bwe Coa-Li, wanita sakti itu!
Pada saat gadis itu masih menyerang dan mencoba mendesak Kwan Cu dengan sepasang pedangnya, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dari seorang wanita.
"Siapa berani main gila di perahuku? Apakah belum mendengar nama Sin-jiu Siang-kiam Oei Hwa?"
Bentakan ini disusul oleh keluarnya seorang gadis dari pintu bilik.
Gadis itu otomatis menghentikan serangannya dan Kwan Cu menoleh ke arah pintu.
Ia melihat seorang gadis yang bertubuh langsing dan hampir sama dengan tubuh gadis yang menyerangnya.
Juga gadis yang baru muncul ini memegang sepasang pedang, akan tetapi pedangnya itu berwarna dua macam.
Yang kiri putih dan yang kanan hitam.
Wajahnya cantik sekali, pakaiannya mewah dan bedanya dengan gadis yang tadi menyerang Kwan Cu adalah sikap yang sangat genit dari gadis yang muncul dari pintu ini.
Matanya menggerling tajam penuh gairah pada Kwan Cu, bibirnya tersenyum manis.
Akan tetapi ketika ia mengerling kearah gadis yang menyerang Kwan Cu, sinar matanya berapi-api dan bibirnya cemberut.
Dari belakang Sin-jiu Siang-kiam Oei-Hwa ini muncul seorang laki-laki pula, seorang laki-laki tinggi besar yang berkulit muka kuning.
Menjadi kebalikan dari sikap Oei Hwa, laki-laki ini memandang kepada gadis penyerang Kwan Cu tadi dengan mata kagum dan kurang ajar sebaliknya memandang kepada Kwan Cu dengan marah.
"Kau siapakah, berani lancang naik keperahu Luan-ho Oei Liong? Apakah kau sudah tidak menyayangi kepalamu lagi?"
Tanyanya sambil menudingkan jari telunjuknya kepada Kwan Cu.
Pertanyaan yang diajukan oleh Oei Liong ini membuat gadis yang baru saja menyerang Kwan Cu itu menjadi kaget dan ia menoleh memandang ke arah Kwan Cu dengan bingung.
Ternyata bahwa pemuda ini bukan anggota bajak jadi siapakah gerangan pemuda tampan yang kelihatan bodoh akan tetapi telah berhasil mengelak dari seranggan-seranggan pedangnya ini?
Adapun Oei Hwa yang memandang ke arah gadis itu dengan marah, menyambung pertanyaan kakaknya sambil menudingkan telunjuknya yang runcing kepadanya.
"Dan kau ini, bocah lancang, siapa pulakah kau?"
Setelah Oei Hwa muncul, memang Kwan Cu makin yakin di dalam hatinya bahwa gadis yang disangkanya Sin -Jiu Siang-kiam Oei Hwa itu adalah pendatang dari luar dan kalau dia tidak salah sangka, tentulah gadis ini Bun Sui Ceng adanya!
"Luan-ho Oei Liong, soal namaku tidak penting.
Adapun kedatanganku ini adalah untuk mengambil kembali patung ini yang hendak kukembalikan ke kuil Kwan-im-bio dan memberi hajaran padamu atas kekurangajaran terhadap Ngo Lian Suthai!"
Kata Kwan Cu sambil tersenyum.
"Sin-jiu Siang-kiam Oei-Hwa, adapun tentang aku, soal namaku juga tidak penting. Kedatanganku sengaja hendak membasmi bajak sungai Luan-ho agar kalian tidak menganggu lagi kepada mereka yang berlalulintas di sungai ini!"
Kata gadis itu sambil melirik ke arah Kwan Cu. Pemuda inipun memandangnya dan keduanya tersenyum, merasa geli dan lucu serta gembira dapat mempermainkan pemimpin-pemimpin bajak itu.
"Keparat! Kalau begitu biar kuantar kau ke neraka!"
Oei Liong mencabut golok besarnya. Akan tetapi adiknya mencegah, kemudian Oei Hwa melangkah maju dan bertanya.
"Kalau kedatangan kalian ini sama-sama hendak memusuhi kami, mengapa datang-datang kalian bertempur di atas perahuku?"
Memang Oei Hwa jauh lebih cerdik daripada kakaknya dan gadis ini hendak menyelidiki lebih dulu keadaan dua orang penyerang yang tidak mau memperkenalkan nama itu.
Menghadapi pertanyaan ini, dan melihat betapa sepasang mata yang bening itu memandangnya penuh perhatian dan agak mesra, Kwan Cu menjadi bingung, lalu menjawab sekenanya saja.
"Kami...kami hendak berlatih dulu sebelum menghadapi kalian."
Gadis yang tadi menyerangnya itu memandangnya dengan sinar mata lucu, lalu menyambung sambil mengangguk-angguk.
"Betul, kawan yang baru datang ini hendak mempelajari beberapa petunjuk agar dapat dipergunakan menghadapi kalian kepala-kepala bajak yang sudah tiba masanya mampus!"
Kwan Cu menjadi geli dan gemas.
Ternyata gadis itu, kalau benar Sui Ceng, masih sama dengan dahulu, lincah jenaka dan suka mempermainkan orang.
Juga agak sombong seperti gurunya, Kui-bwe Coa-li sehingga datang-datang berani mengaku bahwa tadi ia telah memberi petunjuk kepadanya!
Oie Liong tak sabar lagi, dia membentak keras sambil menyerang Kwan Cu dengan golok besarnya.
Serangan ini hebat sekali datangnya dan mendatangkan angin keras.
Gadis yang tadi menyerangnya Kwan Cu melihat ini menjadi khawatir.
Setelah kini dia mengerti bahwa pemuda yang tadi diserangnya bukan penjahat, ia ingin menolongnya dari ancaman serangan golok yang diketahuinya amat lihai itu.
Ia hendak melompat dan menangkis serangan golok yang tertuju kepada Kwan Cu, akan tetapi Oei Hwa sudah mendahuluinya dan menyerang sambil membentak marah.
"Gadis liar, jangan berlagak!"
Terpaksa gadis itu menangkis dan terjadilah pertempuran yang hebat antara dua orang gadis yang sama cantiknya itu.
Sama-sama bersenjata siang-kiam (sepasang pedang) lagi.
Setelah bergerak, ternyata bahwa keduanya sama lincah dan gesit, akan tetapi setelah pertandingan berlangsung belasan jurus, segera kelihatan bahwa ilmu pedang dari Oei Hwa masih kalah jauh.
Ilmu pedang dari gadis itu benar-benat hebat sekali, ganas dan gerakannya sukar sekali diduga, ditambah pula dengan tenaga lweekangnya yang mengatasi Oei Hwa.
Oleh karena itu, sebentar saja Oei Hwa terdesak hebat.
Tentu saja Sin-jiu Siang-kiam ini terkejut dan heran sekali.
Belum pernah ia menghadapi seorang lawan yang begini lihai, padahal sudah ratusan kali ia bertempur menghadapi orang kang-ouw!
Di lain fihak, Luan-ho Oei-liong juga sibuk sekali menghadapi Kwan Cu.
Berkali-kali golok besarnya menyambar, membabat, menusuk dan membacok, akan tetapi pemuda yang bertangan kosong itu seakan-akan merupakan bayangan setan, selalu serangannya mengenai tempat kosong!
"Setan keparat!"
Bentaknya berkali-kali sambil memperhebat serangannya.
Akan tetapi sebentar saja, setelah beberapa kali Kwan Cu mempermainkannya dengan menjewer telinga, menyepak pantat, mencolok perut, Oei Liong menjadi kewalahan dan gentar sekali, mengira bahwa pemuda ini memang benar-benar iblis sendiri yang datang menganggunya.
Mana ada manusia memiliki kepandaian sehebat itu sehingga dengan tangan kosong dapat mempermainkannnya sedemikian rupa, padahal tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw takkan berani main-main terhadap golok besarnya?
Tiba-tiba Oei Hwa bersuit keras sekali, memberi tanda kepada kakaknya untuk melarikan diri.
Sebelum Kwan Cu dan gadis lihai itu mengerti apa maksud suitan itu, Oei Hwa dan Oei Liong melompat ke pinggir perahu terus terjun ke dalam air.
Pada saat itu, perahu besar itu bergoyang-goyang ke kanan kiri!
Ternyata bahwa Oei Hwa melihat anak buahnya datang ke perahu besar dengan sampan, maka ia memberi tanda kepada kakaknya untuk melarikan diri.
Kini, dengan bantuan anak buahnya, mereka berusaha menggulingkan perahu itu!
Akan tetapi tidak mudahlah untuk menggulingkan perahu sebesar itu.
Kwan Cu dan gadis itu terhuyung-huyung di atas perahu dan gadis itu menjadi gelisah sekali.
"Celaka!"
Serunya akan tetapi ketika ia memandang kepada Kwan Cu, ia melihat pemuda itu tersenyum saja seenaknya, seakan-akan digoyang-goyang seperti itu di atas perahu merupakan ayunan yang menyenangkan baginya.
"Mengapa kau cengar-cengir saja seperti monyet? Berbuatlah sesuatau, Tolol!"
Gadis itu membentak mengkal. Kemudian gadis itu melihat perahunya di pinggir perahu besar, tergolek-golek karena gerakan air yang diakibatkan oleh usaha para bajak laut.
"Hayo lompat ke dalam perahu itu!"
Ajaknya.
Kwan Cu tersenyum, karena betapapun galaknya sikap gadis itu, ternyata untuk melarika diri dan menyelamatkan diri masih teringat kepadanya sehingga mengajaknya lari bersama.
Gadis itu melompat terlebih dahulu.
Akan tetapi segera terdengar jeritnya dan air muncrat tinggi-tinggi.
Ternyata bahwa perahu itu adalah perangkap yang sengaja dipasang oleh Oei Hwa yang amat cerdik.
Sukar untuk menggulingkan perahu besar, Oei Hwa sengaja membawa perahu kecil itu, dipasang sedemikian rupa sehingga dari atas kelihatan sebagai jalan satu-satunya untuk melarikan diri, akan tetapi sebenarnya dia dan kakaknya berada di bawah perahu.
Begitu gadis itu meloncat, perahu kecil segera digulingkan dan ditarik tenggelam sehingga tentu saja gadis itu terjun ke dalam air!
Melihat ini Kwan Cu terkejut sekali.
Baginya sendiri, masih banyak jalan untuk membebaskan diri dari kepungan bajak, akan tetapi melihat bahaya yang mengancam gadis yang disangkanya Bun Sui Ceng itu, dia terpaksa melompat pula ke dalam air!
Baiknya Oei Liong tergila-gila oleh kecantikan gadis itu, sehingga sebelum Oei Hwa turun tangan, terlebih dulu Oei Liong menangkap gadis itu dan dibawa tenggelam sehingga gadis itu menjadi lelah dan pingsan karena banyak minum air!
Sebaliknya, Oei Hwa juga mempunyai maksud hati yang sama dengan kakaknya, ia tertarik oleh ketampanan wajah Kwan Cu, maka bagaikan seekor ikan duyung, nona ini menangkap kedua kaki Kwan Cu dan menyeretnya ke bawah permukaan air!
Oei Liong memeluk tubuh gadis tawanannya, dibawa berenang ke perahu, demikian pula Oei Hwa.
Pertama-tama, di atas perahu mereka menolong dua orang tawanannya itu.
Tubuh gadis itu dijungkirbalikkan sehingga banyak air sungai keluar dari mulutnya.
Akan tetapi anehnya, ketika Oei Hwa membalikkan tubuh Kwan Cu, tidak setetes pun air keluar dari pemuda ini!
Oei Hwa menggaruk-garuk kepalanya, apalagi ketika ia melihat perut pemuda yang tadinya kembung itu kini telah kempes kembali.
"Hwa-moi (adik Hwa), gadis ini cantik sekali, tidak kalah olehmu. Dia pantas menjadi isteriku!"
Kata Oei Liong tertawa girang dan dia cepat mempergunakan tambang pengikat layar untuk membelenggu kaki tangan gadis itu, sedangkan sepasang pedang gadis itu yang diambil oleh anak buahnya dia rampas.
Demikian pula Oei Hwa lalu membelenggu kaki tangan Kwan Cu.
"Hwa-moi, pemuda ini berbahaya sekali. Lebih baik lekas kita binasakan dia!"
Kata Oei Liong Adiknya melirik dengan pipi merah. Dalam pakaian basah kuyup dan rambut awut-awutan, warna merah di pipi itu membuat Oei Hwa kelihatan makin cantik.
"Kau memikirkan kepentingan dirimu sendiri saja, Twako. Pemuda ini kulihat seratus kali lebih baik dari padamu. Apa hanya kau saja yang memikirkan jodoh.?"
Oei Liong tertegun, kemudain tertawa bergelak-gelak sambil menudingkan telunjuknya kepada muka adiknya yang menjadi malu.
"Sudahlah, mari kita menghaturkan terimakasih kepada Dewa Air yng telah melindungi kita,"
Kata Oei Hwa.
Keduanya lalu maju dan berlutut di depan patung perunggu itu!
Kemudian, diantarkan oleh anak buah mereka, kakak beradik ini lalu menggotong tubuh Kwan Cu dan gadis tawanan itu ke pantai dan langsung dibawa ke dalam hutan, sarang mereka.
Hati mereka girang sekali karena mereka menemukan orang-orang muda yang menjadi tawanan itu lihai sekali, namun mereka mempunyai daya untuk membuat dua orang tawanan mereka itu tak berdaya, yakni dengan jalan meminumkan obat beracun!
Tiba-tiba sebelum mereka jauh meninggalkan pantai, seorang anak buah mereka menjerit dan menudingkan telunjuk ke tengah sungai.
Semua orang menenggok dan aneh sekali!
Perahu besar dimana patung perunggu itu disimpan perlahan-lahan tenggelam, seakan-akan di bawahnya bocor.
"Celaka, lekas cegah dia tenggelam!"
Teriak Oei Hwa dan Oei Liong. Semua anak buah bajak berperahu dan cepat menuju ke perahu besar itu, akan tetapi terlambat, perahu itu telah tenggelam bersama arca yang mengerikan itu! "Celaka!"
Sin-jiu Siang-kiam Oei Hwa membanting-banting kakinya melihat perahu tenggelam.
Ia tidak begitu menyayangkan perahunya yang besar dan indah itu tenggelam, terutama sekali yang membikin ia merasa menyesal adalah tenggelamnya patung perunggu yang berada di atas perahunya.
Tenggelamnya patung itu merupakan tanda bencana bagi dia dan kawan-kawannya!
"Sudahlah, Hwa-moi,"
Luan-ho Oei Liong menghibur adiknya.
"Untuk gantinya patung Dewa Air, aku sudah mendapatkan nona ini dan kau mendapatkan pemuda ganteng itu, bukankah mereka lebih baik? Mudah nanti kita mencari patung baru yang lebih baik."
Terhibur juga hati Oei Hwa ketika ia melirik ke arah Kwan Cu yang dipondongnya, maka ia lalu melanjutkan perjalanannya bersama kakaknya dan para bajak sungai, menuju ke hutan yang mereka jadikan sarang.
Malam hari itu bulan bersinar gemilang dan di dusun dalam hutan itu, para bajak mengadalkan perayaan pesta pernikahan dua orang pemimpin mereka.
Pesta diadakan di lapangan yang luas dan dua orang tawanan itu dibelenggu kaki tangannya, didudukkan di tengah lapangan.
Para bajak sungai hendak menyaksikan betapa dua orang calon pengantin itu hendak diberi obat yang disebut oleh pemimpin mereka sebagai obat pengantin!
Padahal obat itu adalah obat beracun yang akan membuat Kwan Cu dan nona tawanan itu mabuk dan kehilangan ingatan sehingga keduanya akan menurut segala kehendak Oei Liong dan Oei Hwa!
Kwan Cu saling lirik dengan nona di sebelahnya.
Diam-diam pemuda ini merasa geli karena nona ini cemberut dan memandangnya dengan muka marah.
Sedikitpun tidak kelihatan nona perkasa itu takut, maka diam-diam Kwan Cu menjadi kagum.
Baginya sendiri, tidak ada yang perlu ditakutkan, karena kalau dia mau, sesungguhnya dengan beberapa gerakan saja semua belenggu kaki tangannya akan mudah dia putuskan dan dengan mudah pula dia akan dapat menolong keselamatan mereka berdua.
Akan tetapi dia tidak mau melakukan hal ini dan akan menanti dan melihat lebih dulu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Kwan Cu mengganggap semua itu sebagai lelucon yang menggelikan belaka belaka, bahkan semua yang dihadapinya merupakan hiburan yang menggirangkan hatinya.
"Dasar kau yang menjadi biang keladi!"
Nona di sebelahnya menggerutu kepadanya.
Kwan Cu tersenyum dan memandang dengan mata jenaka.
Gadis itu makin marah, akan tetapi juga terheran-heran.
Dia sendiri memang berhati tabah dan keras, sedikitpun tidak sudi memperlihatkan kelemahan hati dan tidak mau kelihatan takut.
Akan tetapi tersenyum-senyum seperti pemuda itu, dengan pandangan mata demikian jenaka seakan-akan merasa gembira sekali, tak mungkin dapat ia lakukan!
Bagaimana dalam keadaan demikian berbahaya dan tidak berdaya, pemuda itu masih dapat tersenyum-senyum gembira?
"Kau cengar-cengir mau apakah?"
Bentaknya perlahan-lahan sambil melototkan matanya.
"Sungguh, kalau bukan kau tolol atau gila, agaknya aku yang sudah berubah ingatanku melihat orang tertawan dan berada dalam keadaan bahaya masih cengar-cengir seperti badut!"
"Mengapa tidak bergirang hati? Kau dengar sendiri tadi, kau dan aku hendak dikawinkan oleh Oei Liong dan Oei Hwa. Siapa yang tidak girang?"
Nona itu menjebikan bibirnya yang merah.
"Hm, kau girang hendak menjadi suami Oei Hwa, siluman wanita itu? Dasar mata keranjang! Huh, muak perutku melihat mukamu!"
Kwan Cu makin geli hatinya.
"Jadi kau tidak suka dikawin oleh Oei Liong, kepala bajak yang gagah dan bermuka kuning itu?"
"Siapa sudi? Lebih baik aku mati!"
"Aha, sudah tentu kau tidak suka karena kau sudah bertunangan! Bukankah kau tunangannya The Kun Beng?"
Nona itu membelalakan matanya dan mukanya berubah."Bagaimana kau bisa tahu? Siapakah kau?"
"Bun Sui Ceng, lupa lagikah kau kepadaku? Dahulu sudah seringkali kita bertemu."
"Heeee....?? Siapa kau?"
Gadis itu yang ternyata memang benar Bun Sui Ceng adanya, bertanya kaget.
"Aku selamanya takkan bisa lupa kepadamu, takkan lupa kepada mendiang ibumu yang berhati mulia. Aku adalah bocah gundul yang dulu pernah ditolong oleh ibumu."
"Kwan Cu ....?!? Kau Lu Kwan Cu...?"
Sui Ceng memandang dengan mata terbelak dan sinar matanya mencari-cari, menyelidiki ke seluruh kepala dan muka Kwan Cu, maka tertawalah gadis itu, tertawa geli sekali.
Kwan Cu mengerutkan kening, kalau tadi dia mentertawai gadis itu, sekarang dia ditertawai.
apanyakah yang menggelikan?
Apakah mukanya bercoreng hitam?
"Eh, Sui Ceng, kau cekikikan itu ada apakah?"
Tanyanya mendongkol.
Sui Ceng makin geli, mengigit bibirnya agar mulutnya tidak terbuka dalam ketawanya, karena dia tidak mungkin dapat menggunakan tangan untuk menutupi mulutnya.
Oleh gerakan bibir itu ia nampak lucu sekali.
"Alangkah lucunya keadaanku,"
Akhirnya ia dapat berkata.
"tak kusangka dapat bertemu dengan kau di sini, dalam keadaan ini pula. Hi, hi, hi Kwan Cu , kau masih dogol seperti dulu, dogol dan tolol, sungguh menggelikan hati sekali. Dan kau sekarang agaknya mata keranjang sekali, sehingga kau kelihatan gembira benar hendak dikawin oleh siluman wanita Oei Hwa itu."
"Kau keliru Sui Ceng. Aku bergirang bukan karena akan dipaksa menjadi suami Oei Hwa, melainkan bergirang karena kau dan aku keduanya akan menikah. Dan....melihat keadaan kita ini, aku merasa bahwa kitalah yang akan saling menikah, kau dengan aku dan aku dengan kau...bukankah ini menggembirakan sekali?"
Untuk sejenak Sui Ceng tertegun dan memandang dengan sinar mata bodoh lalu tiba-tiba mukanya menjadi merah sekali sampai ke telinga-telinganya.
"Kwan Cu, kalau aku tidak tahu bahwa kau adalah seorang yang dogol, tolol dan jujur, aku tentu akan menganggap ucapanmu itu kurang ajar sekali."
Kwan Cu tersenyum.
"Terus terang saja Sui Ceng, kau tentu lebih suka menikah dengan aku daripada dengan siluman muka kuning itu, bukan?"
"Tentu saja, orang bodoh! Akan tetapi, jangan kita mengoceh yang bukan-bukan. Lebih baik sekarang mencari jalan bagaimanakita dapat lepas dari bencana ini, atau bagaimana menanti sikap kalau mereka memaksa kita."
"Terserah kepadamu, aku akan menurut saja apa yang akan kau lakukan."
"Kalau mereka memaksa, aku akan memberontak dan melawan mati-matian, begitu mendapat kesempatan melepaskan diri dari belenggu ini."
Kwan Cu mengangguk-angguk.
"Aku pun begitu,"
Katanya. Hening sesaat dan mereka saling pandang.
"Kwan Cu, kau berubah sekali, maka tadi aku tidak mengenalmu. Dulu kau gundul dan buruk, seperti anak cacingan, sekarang....."
"Sekarang bagaimana.....?"
"Hemmmmm, harus kuakui bahwa kau sekarang telah menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah, pantas saja siluman wanita itu tergila-gila padamu."
Merah wajah Kwan Cu, merah karena girang.
"Aah, pujianmu itu berlebihan. Aku bukan apa-apa kalu dibandingkan dengan Kun Beng......"
"Kau sudah bertemu dengan dia? Aku belum pernah melihatnya sekarang."
"Aku pun belum. Akan tetapi sejak pertemuan tadi, aku sudah menduga bahwa kau tentulah Sui Ceng, kau masih lincah dan jenaka seperti dulu.......dan..... lebih cantik!"
Sui Ceng menundukan mukanya, kini agak kecewa menghadapi bahaya yang mungkin akan menamatkan nyawanya, nyawa mereka berdua.
"Sayang sekali, Kwan Cu. Tadinya aku hendak mendahului dan mawakili engkau, menjalankan pesan terakhir dari menteri Lu Pin yang agung. Ternyata agaknya riwayat kita akan tamat sampai di tempat ini....."
Gadis itu menghela napas berulang-ulang.
"Pesanan dari Lu-kong-kong? Pesan apakah....?"
Kwan Cu bertanya.
"Jadi kau belum sampai ke Goa Tengkorak?"
"Aku memang hendak menuju ke sana, akan tetapi tertunda karena peristiwa ini."
"Hemmm, sayang.....pesanan itu akan hilang begitu saja agaknya kau dan aku takkan terlepas dari ancaman ini. Kasihan Lu-Taijian...."
"Bagaimana bunyi pesan itu?"
"Kau harus pergi ke sana sendiri dan membacanya sendiri."
Percakapan mereka terhenti karena dengan iringan tambur dan gembreng, diiringkan pula oleh anak buah bajak sungai, nampak datang Oei Liong dan Oei Hwa, keduanya dalam pakaian pengantin!
"Ha-ha-ha-ha-ha....!"
Kwan Cu tertawa terkekeh-kekeh.
"Hush! kau cekakakan ada apakah? Girang barangkali melihat mempelai datang ?"
Sui Ceng menegur Kwan Cu makin geli.
"Lihat, alangkah lucunya mereka itu....! Mereka telah berpakaian pengantin dan kita masih dibelenggu begini macam, hendak kulihat apakah yang akan mereka lakukan selanjutnya?"
Sui Ceng benar-benar merasa heran melihat sikap pemuda ini yang sama sekali tidak susah atau takut.
Ia sendiri sejak tadi sudah mengerahkan seluruh tenaga untuk memutuskan belenggu, namun sia-sia belaka.
Kwan Cu tidak berusaha meloloskan diri, sebaliknya menanti kelanjutan perbuatan para bajak itu bagaikan seorang anak kecil hendak menikmati tontonan yang bagus.
Benar-benar pemuda aneh sekali!
Oei Liong dan Oei Hwa datang membawa cawan arak dan di tangan kiri masing-masing memegang seguci kecil penuh arak.
Inilah arak yang mengandung racun perampas ingatan orang!
"Manisku, sebelum kau memakai pakaian pengantin, lebih dulu minumlah arak ini sebagai tanda pemberian selamat dariku,"
Kata Oei Liong sambil memperlihatkan guci itu.
"Kau juga, Kanda. Minumlah arak ini sebagai tanda cinta kasihku,"
Kata Oei Hwa yang mukanya sudah merah itu dengan sikap genit sekali. Nona ini memang tadi sudah minum arak sampai mabuk sehingga tidak mengenal malu lagi.
"Aku tidak sudi!"
Jawab Sui Ceng membentak keras dan mengedikkan kepalanya.
"Sayang sekali kalau harus dipaksa, Manisku. Maafkan,terpaksa aku mempergunakan kekerasan."
Sambil berkata demikian, Oei Liong menggerakkan tangan menotokkan leher Sui Ceng yang tak dapat menggelakkan sehingga jalan darahnya terkena totokan yang lihai itu dan lemaslah dia tak berdaya lagi!
Oei Liong sudah siap untuk mendekati Sui Ceng dan membuka mulut gadis itu, ketika tiba-tiba terdengar suara orang-orang menjerit dan berlari-lari.
Ternyata bahwa yang berlari-lari itu adalah para bajak yang menjaga di luar dusun.
"Celaka....ada siluman mengamuk!"
Begitu terdengar teriakan-teriakan itu dan para bajak yang belari-lari itu mukanya pucat sekali dan tubuhnya menggigil.
Oei Liong terkejut dan terpaksa menunda niatnya untuk memaksa Sui Ceng minum arak itu.
Juga diam-diam Kwan Cu membatalkan niatnya untuk memutuskan belenggu.
Karena kalau sekiranya tidak ada gangguan itu, tentu dia telah memutuskan belengu dan memberikan hajaran kepada Oei Liong.
Ia tidak akan membiarkan saja Sui Ceng dipaksa minum arak yang memang dia curigai itu.
"Ada apakah ribut-rbut? Siapa yang kurang ajar, tidak tahu aturan sehingga berani mengganggu upacara pernikahan kami?"
Teriak Oei Liong dengan marah sekali.
Kepala bajak ini sudah mencabut golok besarnya, demikian pula Oei Hwa sudah mencabut sepasang pedangnya, keduanya dengan hati marah dan mendongkol lalu melompat menuju ke arah terjadinya ribut-ribut tadi.
Akan tetapi mereka tak perlu lari jauh dan tiba-tiba keduanya berdiri kaku seperti patung ketika melihat apa yang menyebabkan anak buah mereka ketakutan setengah mati itu.
Dari luar dusun, kelihatan bayangan besar berlompat-lompatan menuju ke tempat mereka dan di bawah sinar bulan purnama, kini bayangan itu kelihatan nyata sekali, yakni patung perunggu yang tadi tenggelam bersama perahu ke dasar sungai!
Terkena sinar bulan, patung itu seakan-akan hidup, sepasang matanya yang merah mengeluarkan sinar mengerikan.
Patung itu benar-benar bergerak, melompat-lompat dengan lompatan panjang ke tempat berkumpulnya para bajak itu.
Ketika terjadi ramai-ramai tadi, diam-diam Kwan Cu menggerakkan kedua kakinya yang terbelenggu dan dari belakang dia mengayun kakinya itu menendang ke arah leher Sui Ceng.
Tanpa sepengetahuan gadis itu, dia telah berhasil membuka totokan yang membuat gadis itu bebas kembali jalan darahnya.
Gadis ini merasa heran akan tetapi ia tak sempat untuk menyelidiki siapa yang telah membebaskannya karena pada saat itu ia pun memandang ke arah bayangan yang berlompatan itu dengan mata terbelak dan muka pucat.
Sui Ceng adalah seorang gadis yang gagah perkasa, akan tetapai melihat patung yang tadi sudah tenggelam bersama perahu itu muncul di darat dan hidup, bulu tengkuknya berdiri semua dan ia bergidik dengan hati merasa seram dan ngeri.
Jangankan Oei Liong, Oei Hwa dan Sui Ceng, sedangkan Kwan Cu sendiri yang semenjak kecilnya mengalami banyak sekali hal-hal yang aneh dan menyeramkan, pada saat itu duduk melenggong dengan mulut terbuka dan mata terbelalak memandang ke arah patung itu seakan-akan dia sendiri sudah berubah menjadi patung.
Semua bajak sungai, seorang demi seorang mengambil langkah seribu dan lari tunggang-langgang ke dalam hutan yang lebat ketika patung itu melompat-lompat menghampiri mereka.
Kini tinggal Oei Liong dan Oei Hwa sendiri yang masih berdiri di situ dengan tangan memegang senjata, akan tetapi tangan mereka serasa lumpuh saking takut yang mengamuk di dalam hati dan pikiran.
"Oei Liong dan Oei Hwa, kalian berdosa besar!"
Demikian patung itu mengeluarkan suara, suaranya besar dan nyaring sekali sehingga Kwan Cu yang tadinya seperti berubah menjadi patung, kini siuman kembali dari keadaannya.
"Kalian membiarkan kami tenggelam dan sekarang melakukan upacara pernikahan tanpa minta ijin. Karena dosa-dosa itu, kalian harus binasa....!"
Kemudian terdengar patung itu menggereng, dan melompat-lompat lagi menghampiri Oei Liong dan Oei Hwa !
Kakak beradik ini adalah orang-orang berhati kejam dan mereka takkan merasa ragu-ragu untuk menyembelih leher manusia.
Akan tetapi mereka itu amat percaya akan tahayul.
Kini menghadapi kemurkaan patung itu, mereka menjadi pucat sekali dan tanpa dikomando, keduanya lalu melompat dan melarikan diri!
Oei Liong sampai tersandung dan jatuh dua kali karena biarpun dia berkepandaian tinggi kedua kakinya mengigil dan membuat larinya kaku sekali!
"Ha, ha, ha, ha, ha!"
Kwan Cu tertawa geli setelah melihat semua bajak laut berlari pergi.
"Saudara yang baik, lekaslah kau keluar dari kurungan itu!"
Sui Ceng tertegun dan gadis ini pun sudah pucat sekali.
Ia membayangkan betapa hebatnya mati dalam tangan patung mengerikan ini.
Akan tetapi mengapa Kwan Cu mengajaknya bicara?
Terjadilah hal yang amat aneh.
Patung itu tertawa bergelak-gelak tanpa menggerakkan bibirnya, dan tiba-tiba patung itu terlempar ke atas dan jatuh berdebuk, bergulingkan di atas tanah dalam keadaan rusak karena terbentur batu.
Akan tetapi ketika terlempar dia meninggalkan seorang manusia yang ternyata bersembunyi di dalamnya!
Manusia ini tertawa bergelak-gelak dan ternyata dia adalah pemuda yang bertubuh tinggi besar, bermata lebar dan suaranya besar.
"Matamu tajam sekali, Kawan! Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku bersembunyi di dalamnya?"
Tanyanya sambil memandang kepada Kwan Cu. Kwan Cu menatap wajah pemuda tinggi besar itu dengan tajam, kemudian diapun tertawa terpingkal-pingkal.
"Ha, ha, ha, tidak tahunya saudara Kong Hoat yang bermain setan-setanan, pantas saja demikian lihai sehingga tikus-tikus itu melarikan diri."
Pemuda itu terkejut dan sekali dia melompat, dia telah berada di dekat Kwan Cu. Dengan cepat dia membuka belenggu yang mengikat tangan kaki Kwan Cu dan Sui Ceng, kemudian dia bertanya.
"Kau siapakah?"
"Lihat baik-baik, kawan. Lupa lagikah kau kepadaku? Bagaimana dengan keadaan Liok-te Mo-li, ibumu?"
Pemuda itu memang benar pemuda nelayan yang gagah perkasa, putra dari Liok-te Mo-li.
Mendengar suara Kwan Cu dan memandang dengan penuh perhatian, dia lalu teringat dan dengan girang sekali dia menepuk-nepuk pemuda itu.
"Ha,ha,ha, tidak tahunya saudara Lu Kwan Cu! Bagus, bagus, tidak percuma aku bermain gila seperti tadi. Kalau saja aku tahu bahwa kau yang mereka tawan, tentu aku akan mengejar mereka terus sampai mereka mampus ketakutan! Sekali lagi, bagaimana kau bisa tahu bahwa di dalam patung ada orang yang sembunyi?"
"Mudah saja. Kau boleh saja menyembunyikan tubuhmu, akan tetapi ketika kau melompat, kau tidak mungkin dapat menyembunyikan telapak kakimu."
Sui Ceng terheran-heran.
Dia sendiri biarpun memandang kepada patung yang hidup itu dengan mata melotot, tidak dapat melihat telapak kaki itu.
Kong Hoat tertawa-tawa lagi, kini bergelak-gelak keras dan dari kedua matanya keluar air mata bercucuran.
Melihat ini, Sui Ceng melongo dan tak dapat bicara apa-apa.
Benar-benar orang aneh sekali pemuda tinggi besar ini, aneh, seperti juga Kwan Cu.
"Ha, ha, ha, saudara Kwan Cu. Apakah kau tadi melihat betapa siluman wanita itu berlari-lari tunggang-langgang sampai terkentut-kentut?"
Sambil berkata demikian, Kong Hoat memukul-mukul pundak Kwan Cu dengan keras. Kalau bukan Kwan Cu yang dipukul, tentu pundak itu akan remuk tulang-tulangnya! Kwan Cu tertawa terbahak-bahak.
"Aku lebih memperhatikan Oei Liong yang berlari-lari tunggang-langgang sampai terkencing-kencing!"
Kwan Cu juga memukul-mukul pundak Kong Hoat.
Dalam sendau gurau ini, diam-diam kedua orang itu saling menguji kepandaian masing-masing dan sangat terkejut tahulah Kong Hoat bahwa tenaga dan kepandaian Kwan Cu jauh mengatasi kepandaiannya, maka dia menjadi makin kagum, menghormat, dan girang bukan main.
"Eh, sampai lupa aku. Siapakah Lihiap ini?"
Kwan Cu teringat dan dia memperkenalkan Sui Ceng.
"Saudara Kong Hoat, Nona ini pun bukan orang luar. Dia adalah nona Bun Sui Ceng, murid terkasih dari Kiu-Bwe Coa-li."
Mendengar ini seketika lenyap suara ketawa Kong Hoat. Ia cepat menjura dengan penuh hormat kepada Sui Ceng dan berkata.
"Aduh, alangkah bahagia hatiku dapat bertemu dengan murid dari wanita sakti itu. Bun-lihiap, siauwte adalah Kong Hoat, seorang nelayan bodoh."
Sui Ceng tertawa, semenjak tadi melihat pemuda kasar dan jujur ini, ia merasa kagum dan geli, terutama sekali melihat betapa tiap kali tertawa terpingkal-pingkal, Kong Hoat selalu mengucurkan air mata.
"Kong-enghiong, kau terlalu merendahkan diri. Kalau tidak ada kau yang menolong, aku dan dia ini entah sudah mati atau belum pada saat ini,"
Kata Sui Ceng sambil melirik ke arah Kwan Cu dengan pandang mata memandang rendah.
"Lebih baik aku sekarang segera mengejar untuk membasmi para bajak sungai itu."
"Tak perlu, lihiap. Tidak akan ada gunanya. Kalau kau mengejar, mereka akan lari cerai berai dan biarpun kau berhasil, tentu hanya beberapa orang saja yang dapat kau susul. Sebaliknya, kalau kau tidak mengejar, kurasa mereka semua akan datang kembali setelah melihat bahwa patung hidup itu sebetulnya hanya main-main belaka."
Kembali Kong Hoat tertawa sambil mengucurkan air mata.
"Sui Ceng, dia berkata benar. Mereka tadi melarikan diri hanya karena kaget dan takut setengah mampus terhadap patung itu. Saudara Kong Hoat, lebih baik kau ceritakan bagaimana kau bisa melakukan permainan tadi?"
Sui Ceng terpaksa menunda niatnya mengejar para bajak, karena ia sendiripun ingin sekali mendengar penuturan pemuda tinggi besar itu.
"Aku memang mendapat tugas dari ibuku yang menyelidiki keadaan bajak sungai yang dipimpin oleh Luan-ho Oei Liong dan Sin-jiu Siang -kiam Oei Hwa. Ibuku memang semenjak mudanya menjagoi di kalangan bajak, menguasai daerah sungai dan telaga, juga bahkan sudah menjelajahi sampai ke samudera. Akan tetapi ibu tak pernah melakukan kejahatan, apalagi merampok rakyat yang bermata pencaharian menjadi nelayan. Karena mendengar akan kejahatan bajak sungai yang dipimpin oleh dua saudara Oei itu, ibu lalu menyuruh aku untuk menyelidiki. Kebetulan sekali aku melihat kalian dikeroyok dan karena aku sendiri sangsi apakah aku akan dapat menghadapi dua orang saudara yang ternyata amat lihai ilmu silatnya itu, aku lalu terjun dan menyelam ke bawah perahu besar dan menenggelamkannya. Kemudian aku lalu mempergunakan akal, memakai patung itu untuk mengusir mereka dan menolong kalian bebas dari belenggu."
Setelah menuturkan pengalamannya, kembali nelayan muda yang gagah ini tertawa bergelak sambil mencucurkan air mata.
Sui Ceng geli sekali melihat keadaan pemuda ini dan karena melihat sikap Kong Hoat yang jujur dan polos, tanpa sungkan-sungkan ia lalu mencela.
"Saudara Kong Hoat, kau.....cengeng (mudah menangis) sekali!"
Kong Hoat tidak menjadi marah mendengar celaan ini, bahkan sambil tertawa dia menjawab.
"Bukan salahku, salahnya mataku yang gampang menangis. Karena mataku ini maka di tempatku aku dijuluki orang Nelayan Cengeng!"
Ucapan ini menambah kegelian hati Sui Ceng dan Kwan Cu sehingga tiga orang muda yang perkasa itu tertawa-tawa.
Tiba-tiba terdengar suara orang-orang berteriak dan para bajak sungai itu dengan berteriak dan para bajak sungai itu dengan dipimpin oleh Oei Liong dan Oei Hwa datang menyerbu!
"Nah, mereka benar-benar datang.
Tentu mereka sudah tahu akan tipuanku tadi.
Biar aku mengambil senjataku yang kusembunyikan di luar dusun ini!"
Kata Kong Hoat sambil berlari keluar dari dusun untuk mengambil senjatanya, yakni sebatang dayung yang panjang dan berat.
"Apakah kau bersenjata?"
Tanya Sui Ceng kepada Kwan Cu. Pemuda itu mengeleng kepalanya.
"Sepasang pedangku juga dirampas oleh keparat Oei Liong, akan tetapi jangan khawatir, dengan tangan kosong aku sanggup melayani mereka. Apalagi ikat pinggangku masih ada!"
Gadis ini meloloskan ikat pinggang sebelah luar yang berwarna merah dan sekali ia menggerakkan tangan, ikat pinggang itu bergerak-gerak seperti seekor ular merah yang menyambar-nyambar.
Diam-diam Kwan Cu kagum sekali dan teringatlah dia akan kelihaian ilmu dari Kiu-Bwe Coa-li, guru dari gadis ini.
Ia yakin bahwa dengan senjata ang-kin (sabuk merah) itu, Sui Ceng cukup kuat untuk menghadapi lawan-lawannya.
Ia sendiri tersenyum dan tahu bahwa gadis ini masih memandang rendah kepadanya, maka dia pikir tak perlu memamerkan kepandaian dan akan bergerak secara sembunyi saja.
Gerombolan bajak muncul dan meraka telah bersenjata lengkap "Dimana adanya keparat yang telah menipu kami dan menghina Dewa Sungai!"
Oie Liong berseru sambil mengangkat goloknya tinggi-tinggi.
"Aku di sini, siap untuk mengemplang pecah kepalamu!"
Tiba-tiba terdengar teriakan keras dan Kong Hoat muncul berlari-lari sambil menyeret dayungnya yang besar dan berat.
"Kepung! Bikin mampus keparat itu, tangkap dua orang mempelai!"
Seru Oei Liong dan Oei Hwa. Mereka ini menyerahkan pemuda nelayan bersenjata dayung itu kepada anak buah mereka, karena bagi mereka, lebih baik mereka berusaha menangkap kembali Kwan Cu dan Sui Ceng.
"Kwan Cu, mundurlah, biar aku yang menghadapi mereka dan menghajar mereka dengan sabukku!"
Kata Sui Ceng yang merasa khawatir kalau-kalau kepandaian Kwan Cu masih terlampau rendah untuk menghadapi dua orang kepala bajak itu dengan tangan kosong saja.
Kwan Cu tersenyum dan benar-benar melompat mundur di belakang Sui Ceng, lalu duduk di bawah pohon dengan sikap sebagai seorang yang hendak menonton pertunjukan bagus, akan tetapi diam-diam matanya mencari-cari batu-batu kecil dan kedua tangannya mengerayang mengumpulkan batu-batu ini.
Keadaan menjadi geger.
Puluhan orang bajak yang sudah dikumpulkan itu segera menyerbu, sebagian mengepung Kong Hoat dan sebagian pula membantu Oei Liong dan Oei Hwa yang mencoba untuk menangkap Kwan Cu dan Sui Ceng hidup-hidup.
Oei Hwa ketika melihat bahwa Kwan Cu tidakmau melawan, Bahkan duduk di bawah pohon hatinya girang bukan main dan mengira bahwa pemuda itu memang suka menjadi suaminya maka tidak melawan.
Ia mendahului semua orang melompat ke dekat Kwan Cu dan dengan sikap yang genit ia berkata.
"Calon suamiku, apakah kau tidak mengalami kekagetan tadi? Marilah kita menyingkir lebih dulu sementara kawan-kawan kita menangkap gadis yang masih berkepala batu ini dan membunuh orang kasar itu!"
"Cih, perempuan hina -dina!"
Sui Ceng memaki dengan marah dan sinar merah dari sabuknya meluncur ke arah leher Oei Hwa.
Kepala bajak ini kaget sekali dan cepat menangkis.
Akan tetapi inilah kesalahannya.
Ketika ditangkis, sabuk itu bahkan melibat pedang dan pedang itu pasti aka terampas kalau saja Oei Hwa yang menjadi kaget tidak cepat-cepat mempergunakan pedang yang kiri untuk menusuk dan membabat tangan Sui Ceng.
Terpaksa murid Kiu-bwe Coa-li ini melepaskan libatan sabuknya karena ia pun maklum akan kelihaian lawan.
Ia menarik sabuknya sambil tertawa menghina, kemudian ia menyerang lagi.
Terpaksa Oei Hwa melayaninya dan menyerang dengan sengit.
"Hwa-moi, jangan lukai dia. Ingat, dia calon So-somu (kakak ipar perempuan)!"
Kata Oei Liong yang maju pula membantu adiknya, bukan untuk membinasakan Sui Ceng, melainkan berusaha menangkapnya hidup-hidup.
Juga beberapa orang bajak yang kepandaiannya sudah tinggi ikut pula menyerbu.
Akan tetapi Oei Liong dan kawan-kawannya kecele sekali kalau dia mengira akan dapat menangkap hidup-hidup gadis perkasa itu.
Biarpun hanya bersenjata sehelai sabuk yang lemas, namun gadis ini lihai sekali.
Tadinya para bajak mengira bahwa betapapun pandainya gadis itu, tanpa senjata tajam, hanya memegang sehelai sabuk, tentu mudah ditawan, dan sabuk itu tentu tidak berbahaya.
Akan tetapi tak disangka-sangka, setiap kali sabuk yang berubah menjadi sinar merah itu melayang, ujungnya "mencium"
Tubuh seorang anggota bajak, orang itu tentu memekik ngeri dan roboh tak bernyawa lagi dalam keadaan tidak terluka sama sekali!
Ternyata bahwa inilah ilmu cambuk dari Kiu-bwe Coa-li yang selalu mengarah jalan darah kematian daripada lawan!
Dalam beberapa gebrakan saja, para bajak sungai yang tadinya berlomba ingin sekali berjasa dan menawan serta memeluk gadis cantik itu, dikagetkan oleh robohnya tujuh orang kawan mereka dalam keadaan tewas!
Gentarlah mereka semua dan tanpa ada perintah dari Oei Liong dan Oei hwa, sebagian besar sudah mundur tak teratur!
Di lain fihak, para bajak yang mengeroyok Kong Hoat, juga menemui "batunya".
Dayung di tangan nelayan muda ini benar-benar lihai dan kekuatannya seperti seekor gajah mengamuk.
Banyak kepala anak buah bajak pecah terpukul dayung, tulang-tulang iga patah-patah dan remuk kena sambaran senjata yang keras itu.
Para bajak menjadi kocar-kacir dan banyak pula yang tidak tahan menghadapi Kong Hoat lalu melarikan diri, hanya bergerombol di tempat yang jauh sambil menonton mereka yang masih bertempur.
"Pergunakan jala wasiat!"
Tiba-tiba Oei Hwa membentak keras, memberi perintah kepada aank buahnya.
Barulah para bajak itu ingat akan senjata yang ampuh itu.
Beramai-ramai mereka lalu mengambil jala-jala yang sengaja dibuat bukan untuk menjala ikan, melainkan untuk menjala manusia, yakni lawan yang tangguh.
Oei Liong sendiri bersama Oei Hwa lalu mencabut jala yang tipis dan dilipat-lipat serta diselipkan di punggung dan sekali Oei Liong menggerakkan tangan, sehelai jala melayang di atas kepala Sui Ceng.
Gadis ini cepat mengelak, akan tetapi sehelai jala lain yang berwarna hijau dan dilepaskan oleh Oei Hwa telah menyambar di atas kepalanya.
Sui Ceng terkejut sekali.
Kalau sampai dirinya tertutup oleh jala, semua ilmu silatnya takkan ada gunanya lagi, tentu akan rusak dan terhalang.
Maka ia melompat lagi mengelak, dan sebentar saja dia terdesak hebat.
Di lain fihak, Kong Hoat juga didesak hebat oleh para bajak yang kini mempergunakan jala untuk mengalahkannya.
"Kwan Cu, mengapa kau diam saja?"
Sui Ceng berseru gemas melihat pemuda ini masih enak-enak saja duduk di bawah pohon.
"Sebentar aku rampas jala-jala mereka,"
Kata Kwan Cu yang cepat mengeluarkan sulingnya, kemudian dia berlari menghampiri Sui Ceng karena selain dia lebih menghawatirkan keselamatan gadis ini, juga dalam pertempuran dua rombongan itu, Sui Ceng yang lebih berbahaya kedudukannya karena selain dikeroyok oleh para bajak, juga di situ ada Oei Liong dan Oei Hwa yang lihai.
Dengan gerakan yang kaku dibuat-buat, Kwan Cu menyerbu dengan sulingnya.
Ia tidak menyerang siapapun juga, hanya menanti dan ketika ada jala seorang bajak laut dilemparkan ke atas untuk menangkap Sui Ceng, tubuhnya berkelebat, sulingnya digerakkan ke arah jala dan tahu-tahu jala itu robek di tengah-tengahnya, tak dapat dipergunakan lagi.
Lain jala menyambar, Kwan Cu mengulur tangan kirinya dan tahu-tahu jala ini telah dirampasnya, disendal cepat dan putuslah tali jala yang dipegang oleh bajak itu!
Sui Ceng kagum dan memuji kecerdikan Kwan Cu, sungguhpun ia melihat bahwa semua itu bukan karena kepandaian Kwan Cu, melainkan karena kecerdikannya.
Ia segera meniru perbuatan Kwan Cu, menyambut setiap jala,disambar dan ditarik kuat-kuat sehingga tali jala menjadi putus!
"Kanda, mengapa engkau membantunya?
Dia membikin susah pada kami!"
Seru Oei Hwa dengan kecewa sekali.
"Kwan Cu, calon isterimu itu bawel sekali, perlu digampar mulutnya!"
Kata Sui Ceng gemas dengan suara menghina, dan ia cepat melompat ke arah Oei Hwa, Benar-benar mengirim pukulan atau tamparan pada muka Oei Hwa.
Dalam menampar ini, Sui ceng mempergunakan gerak tipu Yu-coan-hoa-jiu (Pukulan Menembus Bunga), maka biarpun tidak hebat datangnya, namun sukar dielakkan.
"Plak!"
Sebelah pipi Oei Hwa kena ditampar oleh Sui Ceng sehingga kelihatan bekas kemerah-merahan dan bibir yang terkena tamparan juga menjadi berdarah.
Sui Ceng tertawa girang dan puas, akan tetapi sebaliknya Oei Hwa menjadi marah sekali.
"Liong-ko, terpaksa aku harus menghancurkan kepala budak ini!"
Seru Oei Hwa marah sekali dan ia cepat melemparkan pedang di tangan kirinya ke arah Sui Ceng.
Lemparan pedang ini adalah ilmu timpuk yang disebut Kim-liong-touw-ka (Naga Emas membuka Pakaian) dan hebatnya buka main.
Pedang itu meluncur bagaikan kilat cepatnya, menyambar ke arah dada Sui Ceng.
Tentu saja Sui Ceng terkejut sekali karena ini benar-benar tak pernah disangka-sangkanya, dan tahu-tahu sudah ada "pedang terbang"
Menuju ke dadanya. Ia cepat melempar tubuh ke kiri akan tetapi tubuhnya masih akan terserempet pedang kalau tidak pada saat itu, pedang yang meluncur tadi tahu-tahu berbunyi "tring...!"
Dan menyeleweng ke pinggir!
Sui Ceng cepat memasang kuda-kuda dan Oei Hwa yang melihat timpukan pedang kirinya meleset, segera melompat maju dan memutar pedang di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya cepat mencabut lipatan jalanya.
Akan tetapi alangkah kaget dan herannya ketika melihat betapa jalanya itu sudah hancur dan robek-robek.
Semua itu adalah perbuatan Kwan Cu yang bekerja dengan cepat dan diam-diam, mengeluarkan ilmu kepandaiannya yang tinggi tanpa diketahui oleh siapapun juga.
Tadi ketika melihat Oei Hwa bergerak, dia sudah tahu bahwa nona ini hendak mempergunakan pedang untuk menimpuk, maka dia segera menyusul timpukan itu dengan batu kecil sehingga pedang tadi tidak dapat mengenai tubuh Sui Ceng.
Kemudian dengan gerakan seperti seorang yang mainkan ilmu silat secara ngawur, dia menggerakkan sulingnya ke sana ke mari dan dalam keadaan kacau balau itu dia telah berhasil merusak jala-jala dari Oei Hwa, Oei Liong, dan beberapa orang bajak lain yang berdekatan!
Setelah melihat bahwa keadaan Sui Ceng tidak berbahaya lagi, dia menenggok ke arah Kong Hoat.
Alangkah kagetnya keetika melihat pemuda kasar ini telah tertangkap oleh jala, dan pemuda ini mengamuk, memutar dayung di dalam jala itu sehingga para bajak tidak berani mendekat, hanya menambah jala untuk memperkuat kurungan sehingga sebentar saja tubuh Kong Hoat sudah dikurung oleh tujuh helai jala.
Ia benar-benar seperti seekor ikan buas tertangkap di dalam jala, bergerak-gerak dan meronta-ronta tanpa dapat keluar dari jala, akan tetapi juga mereka yang menangkapnya tidak berani turun tangan!
Kwan Cu cepat melompat dan dengan sulingnya dia menyontek jal-jala itu.
Para bajak menyerbu, akan tetapi dengan amat lincah dan gerakan lucu dibuat-buat seakan-akan gerakannya kaku, Kwan Cu mengelak dan memutari jala.
Ia seperti sedang main kucing dan tikus, dikejar-kejar oleh para bajak dan menggelilingi jala itu.
Akan tetapi, Kwan Cu diam-diam mempergunakan kepandaiannya.
Suling di tangannya yang dipegang ketika dia berlari-lari mengitari jala menjauhi para bajak, diam-diam telah merobek jala itu di sana sini sehingga tiba-tiba Kong Hoat merasa jala itu mengendur.
Ketika nelayan ini mempergunakan dayungnya mengangkat, ternyata jala-jala itu telah robek dengan mudah saja dia keluar dari situ.
"Jahanam keparat, rasakan pembalasanku!"
Seru nelayan ini dengan marah dan dayungnya mengamuk hebat sekali.
Kwan Cu kembali duduk di bawah dibawah pohon sambil menonton pertempuran.
Ia melihat Sui Ceng kini hanya dikeroyok dua oleh Oei Hwa dan Oei Liong, karena para anak buah bajak sudah pada mengundurkan diri, Tidak berani lagi menghadapi gadis perkasa itu.
Adapun Kong Hoat juga dijauhi oleh lawan-lawannya setelah dia berhasil menyapu roboh enam orang bajak lagi.
Melihat Sui Ceng di keroyok, Kong Hoat lalu berlari-lari sambil menyeret dayungnya, langsung membantu Sui Ceng.
Pertempuran terpecah dua, Sui Ceng menghadapi Oei Hwa sedangkan Kong Hoat mengamuk dan menyerang Oei Liong.
Hebat sekali pertempuran ini dan kepandaian mereka seimbang, hanya bedanya Kong Hoat lebih mengandalkan tenaga besar sedangkan Oei Liong lihai sekali permainan goloknya dan lebih cepat gerakkannya.
Adapun pertandingan antara Sui Ceng dan Oei Hwa tidak begitu ramai, karena memang tingkat kepandaian Sui Ceng jauh lebih tinggi daripada tingkat kepandaian Oei Hwa.
Setelah kini tidak dikeroyok lagi.
Sui Ceng menggerakkan sabuk merahnya demikian cepatnya sehingga Oei Hwa menjadi pening dan tak lama kemudian ia menjerit, terhuyung-huyung dan roboh telentang tak bergerak lagi.
Ujung sabuk di tangan Sui Ceng telah menotok jalan darah kematian di dadanya!
Melihat Kong Hoat terdesak oleh Oei Liong, Sui Ceng cepat menggerakkan sabuknya.
Pada saat itu, golok Oei Liong tengah menyambar dari atas untuk dibacokkan ke arah kepala Kong Hoat, akan tetapi alangkah terkejut hati Oie Liong ketika tiba-tiba dia merasa goloknya terlepas dari tangan dan ketika dia menengok, ternyata bahwa goloknya itu telah terampas oleh sabuk merah Sui Ceng.
Kecut hati kepala bajak ini dan dia lalu menjatuhkan diri berlutut minta-minta ampun.
Melihat ini, Sui Ceng ragu-ragu, akan tetapi Kong Hoat segera menggerakkan dayungnya dan sekali kemplang saja remuklah kepala Luan-ho Oei Liong.
"Saudara Kong Hoat, mengapa kau bunuh dia yang sudah tidak melawan?"
Tanya Sui Ceng dengan suara tidak puas, karena ia menganggap perbuatan Kong Hoat ini keterlaluan.
"Bun-lihiap, kejahatan seperti pohon liar dan untuk membasminya kita harus mencabut akarnya. Kalau kepalanya mati, anak buahnya masih ada harapan untuk kapok,"
Kata Kong Hoat.
Kata-kata ini segera terbukti karena para anak buah bajak yang melihat dua orang pemimpin mereka tewas, sisanya lalu melempar senjata dan berlutut.
Mereka khawatir kalau-kalau keluarga mereka yang tinggal di dusun itu dibasmi oleh tiga orang pendekar itu, maka cepat-cepat mereka memohon ampun.
"Sam-taihiap (Tiga Pendekar Besar), mohon sudi mengampuni kami."
Melihat bahwa kata-kata Kong Hoat ternyata benar, Sui Ceng lalu tersenyum dan berkata.
"Terserah kepadamu untuk meghadapi mereka, saudara Kong Hoat. Kau lebih mengerti bagaimana harus melayani mereka itu."
Kong Hoat lalu mengangkat dayungnya dan memalangkan dayung itu di depan dadanya, kemudian dia berkata.
"Kalian semua harus bersyukur bahwa dua orang kawanku yang gagah perkasa ini masih mengampuni jiwa anjingmu. Sekarang kalian harus dapat mengubah cara hidupmu. Kami takkan melarang kalau kiranya kalian membajak perahu-perahu pembesar pemerintah penjajah, atau minta sumbangan dari para hartawan. Akan tetapi, jangan bertindak sembarangan saja seperti yang dilakukan oleh dua orang pemimpinmu yang sudah tewas. Kalian kami bebaskan, akan tetapi hati-hati, kalau lain kali kami masih mendengar bahwa sepak terjangmu keterlaluan, pohon ini menjadi contohnya!"
Setelah berkata demikian, Kong Hoat menggerakkan dayungnya ke arah sebatang pohon.
Terdengar suara keras dan pohon itu tumbang karena patah dihantam oleh dayung itu.
Semua bajak menjadi pucat dan mengangguk-angguk menyatakan taat akan pesanan ini.
"Ketahuilah, bahwa kawan-kawanku ini adalah pendekar-pendekar berilmu tinggi, sedangkan aku sendiri biarpun tidak ternama akan tetapi kiranya kalian sudah mendengar nama ibuku, yakni Liok-te Mo-li!"
Mendengar nama ini, benar saja semua bajak itu menjadi gemetar seluruh tubuh mereka dan saling memandang dengan gelisah.
Nama Liok-te Mo-li siapakah yang tidak pernah mendengarnya?
Wanita sakti itu boleh dibilang menjadi ratu dari segala bajak air, karena selain sakti, juga pandai sekali dalam air dan ganasnya terhadap penjahat luar biasa.
"Hamba sekalian akan mentaati perintah dan tidak berani melanggarnya,"
Kata beberapa orang bajak itu.
"Nah, sekarang uruslah semua mayat ini dan ubah cara hidup kalian,"
Kata pula Kong Hoat.
Kemudian tanpa banyak cakap lagi, Kong Hoat, Sui Ceng dan Kwan Cu keluar dari dusun itu.
Setelah tiba di luar hutan, Kong Hoat lalu menjura kepada Sui Ceng dan Kwan Cu, katanya dengan sejujurnya.
"Ji-wi benar-benar hebat sekali, siauwte benar-benar tunduk atas kepandaian Ji-wi yang luar biasa tingginya. Mudah-mudahan saja kelak siauwte akan mempunyai keberuntungan untuk bertemu dengan Ji-wi. Selamat tinggal."
Setelah berkata demikian, nelayan muda itu menyeret dayung dan pergi situ.
Sui Ceng dan Kwan Cu berpandangan dan Kwan Cu tertawa "Kong Hoat benar-benar hebat dan mengagumkan.
Akan tetapi kau lebih-lebih luar biasa sekali, Sui Ceng.
Aku tunduk betul akan kepandaian."
"Akan tetapi kau lebih cerdik, Kwan Cu. Tadi aku benar-benar binggung sekali ketika dikurung oleh jala-jala itu. Baiknya kau datang dan memberi contoh yang amat baik. Aku percaya penuh bahwa dengan akalmu yang cerdik, kau akan mendapat kemajuan pesat dalam ilmu silat. Eh, kata guruku, kau mungkin sudah mempelajari Im-yang Bu-tek Cin-keng. Betulkah ini?"
Merah wajah Kwan Cu.
tadi dia sudah berhasil menyembuyikan kepandaiannya, maka kini dia hanya menggeleng-geleng kepalanya tanpa memberi jawaban.
Untuk menyimpangkan perhatian Sui Ceng dia tiba-tiba berkata.
"Sui Ceng, tadi kau kehilangan sepasang pedangmu, apakah kau tidak mau mengambilnya dulu? Bukankah tadi dirampas oleh Oei Liong?"
Sui Ceng benar saja lupa untuk bertanya-tanya lagi tentang Im-yang Bu-tek Cin-keng, sebaliknya ia menggeleng-geleng kepala dan berkata.
"Pedang-pedang itu pedang biasa saja, tanpa itu pun aku masih mempunyai ang-kin ini. Kalau pedang Liong-coan-kiam, barulah boleh disebut pedang baik!"
"Liong-coa-kiam? Pedang apakah itu dan milik siapa?"
Tanya Kwan Cu dengan suara girang karena dia berhasil mengalihkan perhatian Sui Ceng dari pertanyaan tentang Im-yang Bu-tek Cin-keng.
Sui Ceng kelihatan kaget dan menyesal bahwa dia telah terlanjur bicara tentang pedang itu.
"Pedang Liong-coa-kiam adalah pedang peninggalan Menteri Lu Pin untukmu, berada di Goa Tengkorak."
Kwan Cu teringat akan tugasnya mengunjungi Goa Tengkorak, Maka dia lalu berkata cepat.
"Aah, aku harus ke sana sekarang juga! Aku perlu bertemu dengan kong-kong Lu Pin."
Sudah bergerak bibir Sui Ceng untuk menceritakn tentang kematian Lu Pin, akan tetapi ditahannya bibir itu.
Memang, biarpun Sui Ceng pernah berkata akan pesan terakhir dari Menteri Lu Pin, namun Kwan Cu mengira bahwa kong-kongnya masih hidup, yakni menurut anggapan orang-orang di dalam istana.
"Kalau begitu kita berpisah di sini,"
Kata Sui Ceng. Kwan Cu nampak kecewa.
"Benar katamu, Sui Ceng. Kau.......kau tentu tidak sudi melakukan perjalanan bersamaku."
Sui Ceng tertawa melihat sikap pemuda ini.
"Bukan begitu, memang kita tidak mempunyai keperluan untuk melakukan perjalanan bersama. Bahkan aku mengajak kau berlomba, siapakah yang akan dapat memenuhi pesanan kong-kongmu itu lebih dahulu."
"Hm... kau tidak adil. Kau sudah tahu akan pesanan itu, sedangkan aku belum. Baiklah, aku segera akan menyusulmu, Sui Ceng. Kita pasti akan bertemu lagi kelak."
"Selamat berpisah,"
Kata Sui Ceng sambil memutar tubuhnya.
"Selamat berpisah sampai berjumpa kembali,"
Kata Kwan Cu tanpa memutar tubuh, bahkan memandang kepada gadis itu yang mulai berjalan pergi. Akan tetapi tiba-tiba Sui Ceng membalikan tubuhnya sambil berseru.
"Kwan..."
Ia terpaksa menghentikan panggilannya karena melihat bahwa pemuda itu ternyata belum pergi, masih berdiri memandangnya! Merah muka Sui Ceng melihat kenyataan ini.
"Ada apakah, Sui Ceng? Masih ada sesuatau yang harus kita bicarakan agaknya?"
"Aku lupa untuk bertanya tentang sikapmu tadi ketika kita masih dibelenggu,"
Berkata sampai di sini, wajah nona itu menjadi makin merah dan sepasang matanya menyinarkan cahaya penasaran.
"Kau bilang bahwa kau gembira sekali karena keaadan kita waktu itu menyatakan bahwa kita seakan-akan saling.......saling menikah? Mengapa? Mengapa kau gembira?"
Terbelalak lebar sepasang mata Kwan Cu yang bersinar tajam dan berpengaruh itu.
Perlahan-lahan kedua pipinya merah sekali.
Akan tetapi, pemuda ini semenjak bersumpah di depan Liyani, gadis raksasa itu bahwa dia mencintai seoang gadis yang bernama Bun Sui Ceng, dia sering kali melamun dan bermimpi tentang gadis ini.
Dan semenjak itu dia betul-betul merasa betapa dia mencintai Sui Ceng!
Terdorong oleh kejujurannya, pula karena dia melihat bahwa Sui Ceng juga seorang gadis jujur, dia lalu memberanikan diri, menekan hatinya yang berguncang, lalu berkata dengan gagahnya.
"Mengapa aku gembira dapat menikah dengan engkau? Sui Ceng, karena aku.......aku cinta kepadamu!"
Sui Ceng bengong.
Belum pernah selama hidupnya ia bertemu dengan seorang pemuda yang demikian terus terang, tanpa tedeng aling-aling lagi menyatakan isi hatinya, mengaku cinta padanya.
Akan tetapi ia lalu teringat akan sesuatu dan mukanya menyatakan kemarahan.
"Kwan Cu, bagus benar watakmu! Bukankaah kau sudah tahu bahwa aku ini tunangan The Kun Beng?"
"Memang aku sudah tahu,"
Kata Kwan Cu mengangguk.
"Dan kau masih berani menyatakan ci.......cinta ...padaku?"
"Mengapa tidak?"
"Kau mengkhianati Kun Beng yang kau anggap kawan sendiri!"
Kwan Cu mengangguk.
"Memang, akan tetapi kalau aku tidak berterus terang, bukankah itu berarti aku mengkhianati hati sendiri? Pula, terus terang saja kukatakan bahwa Kun Beng tidak berharga untuk menjadi suamimu!"
Makin terheranlah gadis itu dan untuk kedua kalinya ia bengong. Kemudian ia bertanya bibirnya tersenyum mengejek.
"Hm, dan kaupikir bahwa kaulah orang yang paling berharga untuk menjadi.........menjadi suamiku?"
Kwan Cu mengangguk.
"Memang, begitulah pikiranku."
Sui Ceng membanting-banting kakinya.
"Kau kurang ajar sekali, Kwan Cu. Kau besar mulut! Kalau ada pedang di tanganku, tentu kau akan kuserang!"
"Kau sudah melakukan hal itu di atas perahu."
"Ya, akan tetapi terganggu, belum sampai aku menusuk dadamu."
"Kau ingin sekali membunuhku?"
"Ya, kalau kau begitu sombong, begitu kurang ajar, dan begitu rendah hati memburukkan nama orang lain di depanku."
"Dengan ang-kinmu itu pun kau dapat melakukan pembunuhan terhadapku, Sui Ceng. Mengapa kau tidak lakukan hal itu?"
Sui Ceng tertegun.
"Selain sombong..... kau... kau..."
"Ya...."
"Kau juga tabah sekali. Kau orang aneh, agaknya kau sudah sudah miring otakmu."
Setelah berkata demikian, Sui Ceng lalu membalikkan tubuhnya dan lari meninggalkan Kwan Cu. Kwan Cu mengangkat kedua tangan, meraba-raba kepalanya sendiri dan menggerutu.
"Benar-benarkah sudah miring otakku? Mengapa aku begini tergila-gila setelah melihatnya? Ah.... jangan-jangan sudah miring benar-benar otakku...."
Sambil menggerutu dan mengeluh panjang pendek, Kwan Cu pergi dari situ, langsung menuju bukit di mana terdapat Goa Tengkorak, tempat bersembunyi kong-kongnya, yakni Menteri Lu Pin.
*** Di dalam Goa Tengkorak yang menyeramkan itu terdengar suara orang menangis.
"Kong-kong, aku bersumpah untuk membasmi keturunan An Lu Shan manusia jahanam itu!"
Terdengar orang yang menangis itu berkata dan suaranya lebih menyeramkan lagi karena bergema di dalam goa yang besar penuh tengkorak-tengkorak raksasa itu.
Orang ini adalah Lu Kwan Cu yang berhasil mendapatkan Goa Tengkorak di mana kong-kong angkatnya telah meninggal dunia.
Ketika memasuki goa, Kwan Cu belum mengetahui bahwa Menteri Lu Pin telah meninggal dunia, akan tetapi setelah dia membaca tulisan berukir di dinding, mencabut pedang Liong-coan-kiam, lalu menuju ke hio-louw, dia melihat makam kong-kongnya itu dan menangislah dia.
Hatinya amat terharu.
Mereka itu dua saudara yang gagah perkasa dan berjiwa pahlawan.
Lu Sin dan Lu Pin.
Dan keduanya merupakan orang-orang yang amat dijunjung tinggi dan dikasihani oleh Kwan Cu.
Kini keduanya tewas karena membela kebenaran, membela negara dan bangsa.
Dan hanya dia seoranglah yang berkewajiban membalas dendam, atau lebih tepat lagi berkewajiban melanjutkan cita-cita mereka berdua.
Kemudian Kwan Cu meninggalkan goa itu setelah menutupi goa itu dengan batu-batu dan alang-alang seperti yang dilakukan oleh Sui Ceng dulu.
Hati dan pikirannya penuh cita-cita, dan dia merasa sebagai seorang yang memanggul banyak macam tugas kewajiban.
Pertama-tama, dia akan membalas dendam kepada para pembunuh Ang-bin Sin-kai, yakni Hek-i Hui-mo, Jeng-kin-jiu, Toat-beng Hui-houw, Pek-eng Sianjin dan para pembantu mereka.
Ke dua, dia akan mencari keluar An Lu Shan dan akan membunuh mereka semua, sesuai dengan pesan kong-kongnya, Menteri Lu Pin.
Urusan ke tiga, dia juga harus mencari Kun Beng dan Swi Kiat, untuk memenuhi permintaan Gouw Kui Lan, gadis yang bernasib malang itu.
Berpikir tentang Kun Beng dan Swi Kiat, Kwan Cu teringat akan Bun Sui Ceng.
Hatinya berdebar kalau dia teringat akan pertemuannya dengan gadis itu beberapa hari yang lalu.
Sui Ceng benar-benar telah menjadi seorang gadis yang melampaui keindahan gadis dalam mimpinya.
Ia benar-benar jatuh hati kepada gadis itu, dan hatinya perih kalau teringat bahwa gadis itu telah ditunangkan dengan Kun Beng.
Bukan perih karena cemburu atau iri, melainkan karena dia mendapat kenyataan batwa Kun Beng bukanlah seorang pemuda yang patut menjadi suami Sui Ceng.
Bukankah Kun Beng telah melakukan hal yang amat rendah terhadap Gouw Kui Lan?
Tidak, Kun Beng tidak seharusnya menjadi suami Sui Ceng.
Dia akan mencegah terjadinya perjodohan itu!
Kasihan kepada Kui Lan, juga kasihan kepada Sui Ceng.
Dengan cepat Kwan Cu melakukan perjalanan menuju ke kota raja karena dia hendak menyelidiki betul-betul di mana dia dapat mencari Hek-i Hui-mo, Jeng-kin-jiu, dan musuh-musuh yang lain.
la teringat kepada Lu Thong, cucu kong-kongnya yang berhati khianat itu, ia akan mempergunakan kekerasan, memaksa Lu Thong mengaku di mana adanya Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu.
Juga dia akan mengunjungi An Kong putera An Lu Kui.
Kali ini dia akan membunuh orang ini, juga An Lu Kui, karena mereka ini adalah keluarga An Lu Shan.
Semenjak Kwan Cu menyerbu ke kota raja dan berhasil menolong Kui Lan keluar dari gedung An Kong, tembok kota raja dijaga makin keras.
Jangankan manusia biasa, seekor burung pun agaknya tak mungkin lewat di atas tembok kota raja tanpa terlihat oleh para penjaga yang banyak jumlahnya dan yang melakukan penjagaan secara bergilir .
Akan tetapi Kwan Cu bukanlah manusia biasa, juga bukan burung yang tidak mempunyai akal budi.
Dengan gerakannya yang amat gesit, Kwan Cu dapat melewati penjagaan dan melompat ke atas tembok, mempergunakan kegelapan malam sehingga dia dapat masuk ke kota raja tanpa terlihat oleh siapapun juga.
Ternyata bahwa kota raja telah terjadi perubahan besar.
Di antara mereka yang bersaingan merebutkan kedudukan, Si Su Beng kawan pemberontak An Lu Shan telah berhasil membunuh putera An Lu Shan yang dulu membunuh ayahnya sendiri.
Kemudian Si Su Beng berhasil menduduki tempat tertinggi.
Hal ini adalah berkat bantuan jago-jagonya, terutama sekali berkat bantuan Kiam Ki Sianjin, tosu yang berjuluk Pak-kek Sian-ong itu.
Biarpun diam-diam An Lu Kui dan kaki tangannya menaruh hati dendam karena pangeran yang terbunuh itu adalah keponakannya sendiri, namun An Lu Kui tidak berani berbuat sesuatu.
Hanya diam-diam dia mengumpulkan kawan-kawannya mencari jalan untuk merampas kembali kedudukan yang dipertuan di Kerajaan Tang yang sudah dirampasnya itu.
Malam itu gelap dan dingin sekali hawanya.
Kwan Cu pertama-tama segera menuju ke rumah gedung di mana tinggal An Kong pangeran botak putera An Lu Kui yang dulu pernah diserbunya ketika dia menolong Gouw Kui Lan.
Baginya An Kong juga keturunan atau keluarga An Lu Shan maka patut dibinasakan.
Lagi pula, manusia macam An Kong itu memang sudah pantas kalau menerima hukuman mati, karena hidupnya hanya mengotorkan dunia dan melakukan kejahatan dan kekejian belaka.
Dengan kepandaiannya yang tinggi, Kwan Cu berhasil mengintai ke dalam.
Di ruang tengah dia melihat An Kong tengah bercakap-cakap dengan dua orang perwira yang dikenalnya sebagai panglima-panglima pembantu An Lu Kui yang dulu pernah dikalahkan.
Mereka itu adalah Cang Kwan yang berwajah brewok dan Liong Tek Kauw, dua orang panglima yang memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi yang bagi Kwan Cu bukan apa-apa.
Melihat An Kong, bangkit amarah di dada Kwan Cu, karena tidak saja pangeran botak ini mengingatkan dia akan Kui Lan yang bernasib malang, akan tetapi dia juga teringat, akan keluarga Lu yang terbinasa karena kekejaman keluarga An.
"An Kong anjing botak, aku datang untuk mengambil nyawamu!"
Kata Kwan Cu sambil melayang ke bawah.
Tadi ketika mengintai, dia mempergunakan dua kakinya dikaitkan pada balok melintang di bawah genteng dan kini tubuhnya melayang bagaikan seekor garuda menyambar.
An Kong dan dua orang panglima itu terkejut sekali.
Pangeran botak ini cepat mencabut cambuk dan kebutannya, dan melihat bahwa yang datang adalah pemuda yang pernah merobohkannya dan merampas Kui Lan yang membuatnya tergila-gila, dia marah sekali.
"Bagus, kau datang mencari mampus!"
Serunya dan sebelum tubuh Kwan Cu tiba di atas lantai, kebutan dan cambuknya sudah menyambar dari kanan kiri.
Akan tetapi kali ini kedatangan Kwan Cu bukan untuk main-main atau menguji kepandaiannya.
la datang dengan maksud membunuhi musuh-musuh besar yang membuat Menteri Lu Pin sekeluarga terbinasa secara sia-sia.
Begitu melihat kebutan dan cambuk melayang dari kanan kiri, dengan sekelebatan saja dia sudah melihat dari pundak orang ke mana arah tujuan serangan ini.
Tingkat kepandaian pemuda ini setelah menguasai pelajaran dari Im-yang Bu-tek Cin-keng memang tak dapat diukur lagi tingginya.
Ia sudah mengatahui semua pokok dasar segala macam serangan ilmu silat, maka menghadapi serangan dari An-kong, dia telah tahu bagaimana untuk melayaninya.
Dengan tangan kirinya, dia menggunakan gerak tipu Kong-ciak-siu-po (Burung Merak Sambut Mustika), yakni sebuah jurus dari ilmu silat ciptaannya sendiri Kong-ciak-sin-na (Ilmu Silat Burung Merak).
Dalam sekejap mata sebelum An Kong tahu apa yang telah terjadi, cambuknya telah kena dirampas oleh tangan kiri Kwan Cu.
Pemuda sakti ini tidak berhenti sampai di situ saja, dan pada saat kedua kakinya sudah menginjak lantai, tangan kanannya bergerak melakukan pukulan Pek-in-hoat-sut, menghantam ke arah kebutan yang memukul dari kanannya.
"Krak!"
Terdengar kebutan itu patah berikut tulang lengan An Kong disusul oleh menjeritnya pangeran botak itu yang terlempar ke belakang dan roboh sambil mengerang-erang kesakitan.
"Kau kejam sekali! Ada permusuhan apakah antara kau dan aku maka datang-datang kau menjatuhkan tangan maut?"
Teriak An Kong sambil memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat.
Tidak saja dia terheran-heran dan amat kagum, akan tetapi dia juga amat ketakutan melihat sinar mata Kwan Cu yang tajam berpengaruh.
"Ingat saja apa yang sudah terjadi dengan keluarga Lu. Kau sebagai keluarga An harus mati."
Setelah berkata demikian, dari tempat dia berdiri, Kwan Cu mengarahkan pukulan kepada pangeran botak itu.
Biarpun jarak antara mereka ada dua tombak, dan tangan Kwan Cu tak pernah menyentuh dada An Kong, namun pangeran ini menjerit dan tewas pada saat itu juga karena hawa pukulan Pek-in-hoat-sut yang keluar dari pukulan tangan Kwan Cu telah menghancurkan isi dadanya!
Untuk sesaat, dua orang perwira pembantu An Lu Kui berdiri bengong dan tak dapat berkata-kata.
Akan tetapi melihat pangeran itu rebah miring tak bernapas lagi, mereka menjadi marah dan segera menyerbu dengan senjata di tangan.
Namun Kwan Cu tentu saja tidak gentar, dan dia pun tidak sudi melayani orang-orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan urusannya.
Sekali tubuhnya bergerak dua orang perwira itu roboh tertotok.
Mereka sendiri tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi.
Memang, dengan penglihatannya yang sudah luar biasa, pula karena dia memiliki gerakan cepat sekali, Kwan Cu telah mendahului mereka dan sebelum serangan mereka sampai dia telah menotok mereka dengan kedua tangannya.
Kwan Cu menyeret tubuh Cang Kwan, si panglima brewok, dijambaknya rambutnya dan diberdirikan, lalu dibebaskannya dari totokan.
"Hayo katakan, di mana adanya An Lu Kui ?"
Bentaknya setelah orang itu terbebas dari totokan.
Cang Kwan gemetar ketakutan.
Ia adalah seorang panglima yang sudah banyak pengalaman bertempur dan kepandaiannya boleh dibilang sudah menduduki tempat cukup tinggi.
Akan tetapi dalam tangan pemuda ini, dia tak lebih seperti seorang bocah yang bodoh dan canggung saja.
"An-ciangkun berada di gedungnya sendiri "
Jawabnya perlahan.
"Di mana itu? Hayo kauantar aku!"
Kwan Cu mengempit tubuh yang tinggi besar itu bagaikan seorang dewasa mengempit sebuah boneka, lalu tubuhnya berkelebat keluar dari ruang itu terus melayang naik ke atas genteng.
Atas petunjuk Cang Kwan, mereka tiba di atas sebuah gedung yang angker di dalam lingkungan bangunan-bangunan istana.
"Panggil An Lu Kui naik, lekas kalau minta nyawamu selamat!"
Kwan Cu mengancam perlahan. Karena sudah tidak berdaya dalam kempitan pemuda sakti ini, Panglima Cang Kwan lalu berteriak, suaranya parau memecah kesunyian malam.
"An-ciangkun, harap kau suka keluar, siauwte menanti di atas genteng. Penting sekali!"
Teriaknya. Hening sesaat kemudian terdengar suara orang dari bawah genteng, terheran-heran.
"Eh, eh, eh, bukankah di atas itu Cang-ciangkun? Mengapa tidak turun saja?"
Itulah suara An Lu Kui, dan tak lama kemudian nampak bayangan orang di bawah genteng.
Kwan Cu melemparkan tubuh Cang Kwan ke bawah dan dia sendiri lalu melompat menyusul.
Karena tadi sudah berjanji hendak mengampuni nyawa panglima itu, Kwan Cu mendahului, sampai di tanah dan dengan sebelah kaki dia menendang tubuh yang jatuh itu, mencegah tubuh itu terbanting hancur.
Akan tetapi tendangan ini cukup membuat Cang Kwan pingsan untuk beberapa lama.
Adapun An Lu Kui ketika melihat siapa orangnya yang datang bersama Cang Kwan, menjadi terkejut sekali dan hendak berlari masuk.
Namun dia kalah cepat dan dengan sebuah pukulan tangan kiri, Kwan Cu membuat An Lu Kui roboh terguling dengan tulang iga patah-patah!
"lnilah pembalasan dari keluarga Menteri Lu Pin yang telah binasa oleh keluargamu!"
Kata Kwan Cu.
Melihat panglima itu masih bergulat dengan maut, pemuda ini tidak tega dan sekali dia mengerahkan tenaga Pek-in-hoat-sut memukul ke arah An Lu Kui, panglima itu tewas tanpa banyak penderitaan lagi.
Tiba-tiba berkelebat empat sosok bayangan orang dan tahu-tahu Kwan Cu telah dikurung oleh empat orang kakek.
Tiga orang di antaranya adalah tosu-tosu yang berjenggot panjang.
Kwan Cu segera mengenal bahwa seorang di antara tiga tosu itu bukan lain adalah Kiam Ki Sianjin yang lihai, dan tosu ke dua dia masih ingat adalah Pek-eng Sianjin, ketua dari Kun-lun Ngo-eng yang pernah dibasmi oleh Pak-lo-sian Siangkoan Hai dan Ang-bin Sin-kai.
Yang seorang lagi adalah seorang hwesio berkepala gundul yang bertubuh gemuk.
la tidak kenal siapa adanya hwesio ini dan tidak kenal pula tosu ke tiga, akan tetapi sikap mereka menunjukkan bahwa mereka pun memiliki kepandaian tinggi.
"Eh, eh, eh, dia sudah membunuh An-ciangkunl"
Seru Kiam Ki Sianjin kaget.
"Anak muda, bukankah kau murid Ang-bin Sin-kai yang bernama Lu K wan Cu, yang dulu pernah menyerbu di istana ?"
Kwan Cu berdiri tenang dan tersenyum.
"Benar, Kiam Ki Sianjin. Kau dan kawan-kawanmu datang apakah hendak menangkap aku?"
Empat orang kakek itu saling pandang dan tertawa. Mereka kagum melihat sikap pemuda yang amat tenang dan tabah itu. Kiam Ki Sianjin juga tertawa.
"Bagus, bagus. Kau bahkan telah mewakili kami membunuh orang yang mempunyai hati khianat ini. Marilah ikut kami dan kita bicara dengan jelas di tempat terang."
Kwan Cu tidak mempunyai kepentingan dengan mereka, akan tetapi melihat Pek-eng Sian-jin, dia telah menjadi panas perutnya.
Inilah seorang di antara mereka yang mengeroyok gurunya, Ang-bin Sin-kai.
Hal ini dia dengar dari pujangga Tu Fu, maka seketika itu juga dia mempunyai niat hendak menewaskan tosu musuh besar gurunya itu pula.
Oleh karena itu, tanpa banyak kata lagi dia mengikuti empat orang kakek itu menuju ke sebuah bangunan yang paling tinggi di antara semua bangunan di situ.
Ruang depan bangunan ini amat lebar dan ke situlah Kiam Ki Sianjin mengajaknya pergi.
Kwan Cu mengikuti tanpa mengeluarkan sepatah pun kata akan tetapi matanya melirik ke arah Pek-eng Sianjin dengan penuh kebencian.
"Orang muda she Lu, apakah kau membunuh An-ciangkun atas suruhan Pangeran Lu Thong?"
Kiam Ki Sianjin bertanya setelah dia mempersilakan pemuda itu duduk menghadapi meja bundar yang terukir indah.
"Aku tidak mempunyai hubungan dengan Lu Thong. Aku membunuh An Lu Kui dan juga An Kong, karena aku sudah bersumpah untuk membasmi semua keluarga jahanam An Lu Shan dan kaki tangannya."
"Hm, kau benar sekali, orang muda. Memang keluarga An amat jahat dan palsu, karenanya kami juga memusuhi mereka. Keluarga An sudah kami lenyapkan semua, sayang sekali masih ada seorang yang sempat melarikan dirinya. Dialah keturunan terakhir dari An Lu Shan."
"Siapakah dia ?"
Kwan Cu mendesak karena dia memang tertarik mendengar bahwa masih ada keturunan An Lu Shan yang masih hidup.
"Namanya An Kai Seng, entah dia kini berada di mana. Akan tetapi dia adalah seorang yang berkepandaian tinggi dan mempunyai banyak kawan-kawan."
"Aku pasti akan mendapatkannya!"
Kata Kwan Cu tegas.
"Bagus, kau memang seorang patriot sejati. Memang penindas rakyat harus diberantas semua sampai habis!"
Kata Kiam Ki sianjin yang merasa diri amat cerdik telah dapat mempergunakan tenaga Kwan Cu secara tidak langsung untuk membasmi orang-orang yang mengancam kedudukan Si Su Beng, yakni raja baru yang menjadi majikannya!
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Si Su Beng berhasil merebut tahta dan menduduki tempat tertinggi di istana, memegang kekuasaan terbesar.
Karena maklum bahwa keluarga An Lu Shan tentu akan menaruh hati dendam, diam-diam Si Su Beng menyuruh Kiam Ki Sianjin mencari jalan untuk membasmi saja semua orang yang dapat mendatangkan ancaman bagi kedudukannya.
Kini bertemu dengan Kwan Cu, dengan cerdik Kiam Ki Sianjin sengaja mengobarkan api di dada Kwan Cu dan merasa diri amat pandai.
Akan tetapi, alangkah kagetnya ketika dia melihat Kwan Cu berdiri dan pemuda ini tertawa bergelak.
"Kiam Ki Sianjin, monyet tua! Lidahmu tak bertulang itu menyemburkan kata-kata yang tidak lebih harum dari pada kentut busuk! Orang macam kau ini tahu apa akan perjuangan membela rakyat? Kau sendiri menjadi kaki tangan raja penjajah, menindas rakyat. Tak malukah kau sebagai seorang Han? Hah, memualkan perutku benar! Aku sendiri tidak ada urusan denganmu, akan tetapi tunggu saja kau akan pembalasan rakyat! Penjajah pasti akan terusir semua dari tanah air dan kalau aku sudah menyelesaikan tugasku, aku pun akan membantu perjuangan rakyat mengusir penjajah asing dan memberi hukuman kepada pengkhianat-pengkhianat bangsa macam engkau ini!"
Kiam Ki Sianjin menjadi pucat mukanya, demikian pula kawan-kawannya, bukan karena takut kepada ancaman Kwan Cu, melainkan karena marah mendengar omongan yang setidaknya menikam ulu hati itu.
"Bangsat bermulut lancang! Kaukira bisa demikian enak saja menghina kami dan dapat keluar dengan kepala utuh dari sini? Kau mencari mampus sendiri!"
Kwan Cu tertawa mengejek.
"Siapa takut padamu? Aku bahkan hendak bicara lebih dulu dengan babi kurus Pek-eng Sianjin yang berdiri di sana itu!"
La melangkah maju dan menghadapi Pek-eng Sianjin yang berdebar-debar jantungnya.
"Pek-eng Sianjin, mengakulah apakah kau dahulu ikut pula mengeroyok suhu Ang-bin Sin-kai sehingga suhu mengalami kebinasaan?"
"Pinto (aku) pinto tidak tahu apa-apa "
Jawab tosu itu dengan gugup. Memang dia sudah mendengar akan kelihaian pemuda murid Ang-bin Sin-kai ini, maka dia sudah gentar sekali.
"Hm, ternyata kau bernyali tikus! Akan tetapi kau mengaku atau tidak, bagiku sama saja. Kau harus mampus, kau, Hek-i Hui-mo, Jeng-kin-jiu, Toat-beng Hui-houw, dan yang lain-lain!"
"Lu Kwan Cu, kau bermulut besar!"
Kiam Ki Sianjin membentak marah.
"Kau bersikap seakan-akan kau tuan rumah di sini. Kau tamuku dan kau harus tahu sopan santun. Orang muda macam engkau hendak membunuh tokoh-tokoh besar yang kau sebutkan tadi? Ha, ha, ha, kau seperti katak dalam sumur. Hendak kulihat sampai di mana kepandaianmu!"
Adapun Pek-eng Sianjin ketika mendengar dan melihat sikap Kiam Ki Sianjin, segera teringat bahwa dia telah berlaku pengecut sekali, maka dengan muka merah dia pun berkata.
"Anak muda, biarpun aku tidak ikut turun tangan ketika gurumu mampus, aku hadir pula di sana. Habis kau mau apakah?"
Sambil berkata demikian, Pek-eng Sianjin mencabut pedangnya dan bersikap gagah.
"Nanti dulu, Pek-eng Toyu, pinto yang menjadi tuan rumah dan pinto yang berhak memberi hajaran kepada pemuda kurang ajar ini!"
Kiam Ki Sianjin mencegah dan dia melangkah maju menghadapi Kwan Cu dengan sikap menantang.
"Lu Kwan Cu, apakah kau berani menerima tantanganku sebagai tuan rumah di sini? Mari kau layani aku barang sepuluh jurus atau kalau kau tidak berani, kau harus minta maaf kepada kami dan kau boleh pergi. Kami akan memberi ampun kepadamu mengingat bahwa kau sudah berjasa membinasakan keluarga An yang menjadi musuh kami pula."
Kwan Cu marah sekali, akan tetapi bibirnya tetap tersenyum. la bersikap tenang karena maklum bahwa dia menghadapi seorang yang berkepandaian tinggi.
"Kiam Ki Sianjin! Kita pernah bertemu sekali dan pedangmu telah kupatahkan. Apakah kau masih ada muka untuk mencoba kepandaianku pula? Ingat, kali ini bukan pedangmu yang akan kupatahkan, mungkin lehermu yang panjang itu! Urusanku dengan keluarga An tiada sangkut-pautnya denganmu, juga urusanku dengan Pek-eng Sianjin. Aku tidak hendak bermusuhan denganmu di sini, kecuali aku membantu perjuangan rakyat dan kau menjilati pantat raja asing! Akan tetapi kalau kau masih penasaran akan kepandaianmu sendiri yang masih dangkal, marilah, aku akan melayani segala macam lagu yang hendak kaunyanyikan!"
Kiam Ki Sianjin sudah maklum bahwa ilmu silat pemuda itu lihai sekali, bahkan dengan pedang hitamnya, dia tidak berhasil mengalahkan pemuda ini ketika dia bertemu untuk pertama kalinya dengan Kwan Cu di ruang pertemuan istana.
Maka kini dia berlaku cerdik dan dia hendak mencegah Kwan Cu mengeluarkan ilmu pukulan-pukulan yang aneh-aneh itu.
Ia menyambar sebuah meja pada kakinya dan berkata.
"Kita memang tidak ada alasan untuk saling bunuh. Mari kita mencoba-coba saja kepandaian menggunakan meja ini. Kau pilihlah sebuah meja sebagai senjata!"
Kiam Ki Sianjin sengaja memilih senjata yang aneh dan kaku ini karena sesungguhnya dia telah mempelajari dengan baiknya cara mempergunakan meja, bangku atau kursi sebagai senjata, yakni untuk menjaga serangan tiba-tiba pada saat dia tidak bersiap dengan senjata tajam.
la telah melatih diri dan menciptakan bermacam ilmu silat tinggi dengan perabot rumah tangga ini, maka sekarang dia hendak mempergunakan kesempatan baik ini untuk memuaskan penasaran hatinya, hendak membalas kekalahannya dengan senjata meja yang bagi orang lain tentu kaku akan tetapi baginya menguntungkan itu.
la sudah siap dengan sindiran-sindiran dan menyatakan bahwa lawannya takut kalau saja Kwan Cu akan menolak penggunaan senjata yang aneh itu.
Akan tetapi, Kwan Cu adalah seorang pemuda yang sudah menguasai segala macam ilmu silat pada pokok dasarnya yang dipelajari dari kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, maka sambil tersenyum dia menyambar sebuah meja pada kakinya pula dan berkata.
"Baik, Kiam Ki Sianjin. Aku menerima tantanganmu!"
Pemuda ini menoleh kepada Pek-eng Sian-jin dan berkata.
"Tosu siluman, biarlah kau bernapas lega untuk beberapa lama, karena nyawamu masih diperpanjang sebentar lagi!"
"Jangan banyak mengobrol, lihat senjataku!"
Kiam Ki Sianjin membentak sambil mengayun mejanya, mulai dengan serangan yang amat ganas dan hebat.
Kwan Cu terkejut.
Tak disangkanya bahwa dengan sebuah senjata seperti itu, Kiam Ki Sianjin dapat melakukan serangan yang benar-benar hebat sekali, tidak kalah hebatnya dengan serangan senjata tajam yang lain.
Ia cepat melompat untuk,menghindarkan diri, tidak berani menangkis sebelum mempelajari cara Kiam Ki Sianjin melakukan penyerangannya.
Meja itu mukanya bundar dan dengan memegangi kaki meja, Kiam Ki Sianjin melakukan serangan-serangan dari balik meja sehingga bagi Kwan Cu sulit pula untuk melihat pergerakan pundak dan paha lawannya!
Inilah yang dikehendaki oleh Kiam Ki Sianjin.
Ia dapat menduga bahwa Kwan Cu tentulah awas sekali dan dapat melihat arah serangan-serangannya sebagaimana pernah dia alami ketika dia mempergunakan pedang untuk menyerang pemuda itu.
Maka dia memilih meja yang bermuka bundar itu sehingga meja itu merupakan perisai dan dapat mengatur siasat serangannya!
Untuk belasan jurus, Kwan Cu hanya mengandalkan kegesitan tubuhnya mengelak ke sana ke mari.
Pukulan-pukulan dengan meja itu benar-benar hebat sekali, angin pukulannya sampai terasa oleh tiga orang kakek yang menonton pertempuran.
Bahkan beberapa batang lilin yang menyala di meja lain telah padam oleh tiupan hawa pukulan itu!
Kiam Ki Sianjin adalah seorang ahli silat yang sudah memiliki tingkat ilmu silat yang tinggi, tidak akan kalah tinggi kiranya oleh tingkat dari lima tokoh besar, sungguhpun namanya tidak begitu terkenal seperti nama mereka.
oleh karena itu, ketika dahulu dia dikalahkan oleh Kwan Cu, hatinya sakit dan penasaran bukan main.
la prihatin sekali karena kalah oleh seorang pemuda yang masih hijau, maka semenjak saat itu, dia lalu melatih diri dengan luar biasa rajinnya, bahkan memperpanjang waktu samadhinya dan memperhebat latihan napas untuk memperkuat tenaga lweekangnya.
Tidak aneh bahwa sekarang ketika menghadapi Kwan Cu, Kiam Ki Sianjin seakan-akan seorang dengan tenaga baru.
Dia memang sudah siap dan kini dengan penuh nafsu dia hendak membalas kekalahannya yang dulu.
Kwan Cu merasa kagum sekali.
Gerakan tosu tua itu menurutkan gerakan ilmu silat tinggi yang lihai.
Bagaimana seorang dapat mempergunakan meja dengan gerak-gerak tipu yang demikian teratur baik?
Tak salah lagi, kakek ini tentu sudah menciptakan ilmu silat yang sengaja dimainkan dengan perabot rumah tangga ini.
Kwan Cu yang cerdik tidak kekurangan akal.
Ia segera mengerahkan ginkangnya dan tiba-tiba tubuhnya bagaikan seekor burung saja, melayang ke atas dan tiap kali datang serangan meja dari Kiam Ki Sianjin, Kwan Cu mengelak dengan lompatan tinggi sehingga kepalanya hampir mengenai langit-langit!
Dari atas barulah dia dapat melihat kepala dan pundak lawannya dan dengan demikian, dia dapat melihat macam gerakan dari serangan lawannya itu.
Otaknya memang sudah menjadi tajam dan pengingat betul setelah dia membaca habis kitab Im-yang Bu-tek Cin-keng, maka sekali melompat, berarti satu kali dia mendapat sejurus ilmu silat meja itu.
Menghadapi kegesitan pemuda itu, Kiam Ki Sianjin menjadi penasaran dan juga kewalahan.
Mejanya tak pernah mengenai sasaran.
Ketika untuk ke sekian kalinya dia menyerang dan Kwan Cu mengelak sambil melompat ke atas, dia memburu dan cepat menghantam kedua kaki Kwan Cu yang masih berada di tengah udara.
"Roboh kau!"
Seru Kiam Ki Sianjin.
"Sabar, orang tua,"
Jawab Kwan Cu yang cepat menggerakkan kedua kakinya ke kanan kiri, dipentang untuk meluputkan kedua kaki itu dari pukulan meja yang dilakukan dengan cepat dan bertenaga.
Adapun meja yang dipegang oleh tangan kanannya, lalu dipukulkan ke bawah untuk melindungi tubuhnya yang melayang turun.
"Bagus sekali!"
Kiam Ki Sianjin tak terasa lagi memuji saking kagumnya melihat betapa dengan mudah pemuda itu lagi-lagi dapat menggagalkan serangannya.
Akan tetapi tiba-tiba Kiam Ki Sianjin mengeluarkan seruan tertahan ketika Kwan Cu secara mendadak membalas serangan-serangannya yang semenjak tadi hanya dielakkan oleh Kwan Cu.
Bukan berseru kaget dan heran karena hebatnya serangan pemuda itu, melainkan heran karena pemuda itu mainkan silat meja yang tadi dimainkannya!
Ilmu silat meja itu adalah ciptaannya sendiri, bagaimana pemuda ini dapat meniru sedemikian baiknya?
Apakah di waktu dia berlatih dalam kamarnya, pemuda ini diam-diam mengintainya?
Terpaksa Kiam Ki Sianjin menangkis meja lawan dengan mejanya.
Semenjak tadi, biarpun keduanya mempergunakan senjata meja yang demikian besar, belum satu kalipun juga dua meja itu bertemu.
Hal ini disengaja oleh Kwan Cu yang hendak mempergunakan ginkangnya untuk dapat meneliti dan mempelajari ilmu silat lawan yang aneh.
Sekarang setelah dia sendiri yang menyerang, lawannya menangkis keras.
Dua meja bertumbukan di udara.
"Krakkk!"
Dan meja di tangan Kiam Ki Sianjin jatuh ke atas lantai.
Ternyata bahwa kaki meja yang dipegang oleh kakek ini telah patah dan kini tertinggal di tangannya.
Juga sebuah kaki meja yang berada di tangan Kwan Cu patah, namun yang patah adalah kaki meja lain, bukan yang sedang dipegangnya sehingga "senjata"
Itu masih berada di tangannya.
Muka Kiam Ki Sianjin merah sekali.
la tahu bahwa dalam pertemuan meja tadi dengan cara yang amat cerdik dan tidak terlihat olehnya, Kwan Cu telah menggunakan tangan kirinya memukul meja dan berkat lweekang yang sudah matang pemuda itu berhasil mematahkan kaki meja yang dipegang oleh lawannya.
Sebenarnya, Kiam Ki Sianjin masih penasaran dan hendak mencoba lagi, akan tetapi karena sudah terang bahwa meja yang dipegangnya jatuh di atas lantai, maka dia merasa malu untuk mengambilnya kembali.
Terpaksa dia lalu tersenyum pahit dan berkata.
"Lu Kwan Cu enghiong, kau benar-benar hebat. Biarlah lain kali kalau ada kesempatan, pinto minta pengajaran darimu." . Kwan Cu memang tidak ada niat memusuhi kakek ini. Dia tidak suka bermusuhan dan tidak mau mencari perkara dengan orang-orang tanpa alasan dan sebab yang kuat. Maka dia pun menjura dan berkata sungguh-sungguh.
"Kiam Ki Sianjin, kepandaianmu benar-benar tinggi dan aku yang muda dan bodoh benar-benar kagum sekali. Sekarang aku mohon perkenanmu sebagai tuan rumah untuk berurusan dengan Pek-eng Sianjin. Dia masih mempunyai perhitungan yang harus dibayar lunas."
Kwan Cu lalu menoleh kepada Pek-eng Sianjin dan berkata mengejek.
"Pek-eng Sianjin, marilah kita keluar dari rumah orang supaya kita dapat membereskan perhitungan!"
Pek-eng Sianjin menjadi pucat wajahnya. Ia maklum bahwa kalau Kiam Ki Sianjin saja tidak dapat merobohkan pemuda ini, apalagi dia. Tanpa malu-malu dia lalu berka ta kepada Kwan Cu.
"Orang muda, kalau kau bermaksud membalas dendam atas kematian Ang-bin Sin-kai, kau telah berlaku ngawur saja kalau menantang pinto. Ketahuilah bahwa sesungguhnya pinto tidak menjatuhkan sebuah jari pun juga atas diri Ang-bin Sin-kai, dan yang membikin gurumu itu tewas hanyalah Hek-i Hui-mo, Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, dan Toat-beng Hui-houw. Kalau tidak percaya, kauboleh tanya kepada Kiam Ki Sianjin atau kepada siapapun juga."
Kwan Cu merasa ragu-ragu, dia tidak mau menurunkan tangan kepada orang yang benar-benar tidak berdosa.
"Kiam Ki Sianjin, benarkah keterangannya itu?"
"Memang begitulah sepanjang yang pinto dengar, akan tetapi pinto tidak menyaksikan sendiri, bagaimana pinto dapat menanggung?"
Jawab Kiam Ki Sianjin.
Sebetulnya, tosu ini biarpun tidak melihat sendiri, tahu bahwa memang benar Pek-eng Sianjin tidak ikut membunuh Ang-bin Sin-kai.
Akan tetapi sikap Pek-eng Sianjin dianggapnya amat pengecut dan memalukan, maka dia sengaja memberi jawaban bercabang.
"Betapapun juga, kau adalah kaki tangan para pembunuh suhu, akan tetapi aku mau percaya asal saja kau suka bersumpah bahwa kau tidak ikut mengeroyok suhu,"
Akhirnya Kwan Cu berkata sambil memandang tajam kepada Pek-eng Sianjin.
Pucatlah muka Pek-eng Sianjin.
Ia adalah seorang tokoh persilatan yang sudah ternama juga, kini kata-katanya tidak dipercaya oleh seorang bocah, inilah penghinaan yang amat besar.
Akan tetapi dia tidak mempunyai pilihan yang baik.
Kalau dia menolak untuk bersumpah, dia harus menghadapi Kwan Cu dan dia tahu kalau hal itu terjadi, dia akan mendapat malu dan hinaan lebih hebat lagi.
Biarlah sekarang dia menderita hinaan orang, masih ada waktu kelak untuk membalasnya, pikirnya.
Dengan muka sebentar pucat sebentar merah dia lalu berkata.
"Pinto bersumpah bahwa pinto tidak ikut mengeroyok Ang-bin Sin-kai, demi kehormatan dan nama baik pinto."
Kwan Cu tertawa bergelak, hatinya puas.
Memang manusia seperti Pek-eng Sianjin yang sudah dia ketahui kwalitasnya sebagai manusia bejat akhlak, harus diberi hajaran, biarpun dia tidak mendapat kesempatan menghajar jasmaninya, setidaknya dia telah memberi tamparan kepada batinnya.
"Pek-eng Sianjin, baik sekali kau mau bersumpah. Sebetulnya memang tak perlu kau bersumpah, karena aku dapat menduga bahwa kau takkan mampu dan berani mengeroyok mendiang guruku dengan kepandaianmu yang masih dangkal itu."
Kembali Kwan Cu tertawa. Menggigil tubuh Pek-eng Sianjin saking hebatnya gelora marahnya. Ia telah dipermainkan dan dihina secara hebat oleh pemuda ini, maka dengan mata bernyala-nyala dia berkata.
"Lu Kwan Cu, untuk membalas hinaanmu itu, aku menantangmu untuk mengadu kepandaian denganmu sebulan lagi di tempat kediamanku di Bukit Leng-san. Beranikah kau datang ke sana memenuhi tantanganku?"
Kwan Cu tersenyum menyindir.
"Kau kira aku tidak tahu bahwa di sana kau tentu akan menantikan dengan kawan-kawanmu untuk mengeroyok? Akan tetapi jangan khawatir, aku pasti datang tepat pada waktunya. Kau tunggu sajalah!"
Tanpa mengeluarkan kata-kata lagi, Pek-eng Sianjin lalu pergi dari tempat itu, juga sama sekali tidak menoleh kepada Kiam Ki Sianjin.
Hatinya mendongkol sekali karena Kiam Ki Sianjin sama sekali tidak membelanya ketika dia dihina oleh Kwan Cu.
Sebelum Kwan Cu pergi, hwesio gundul yang semenjak tadi memandang semua sepak terjang Kwan Cu, segera mengebutkan lengan bajunya dan menghadapinya sambil tersenyum.
"Nanti dulu, orang muda. Kau yang masih begini muda memiliki kepandaian tinggi dan watak yang sombong pula. Benar-benarkah pendengaran pinceng bahwa kau adalah murid Ang-bin Sin-kai si pengemis itu?"
Kwan Cu melirik.
Baru sekarang dia memperhatikan hwesio ini.
Tubuh hwesio ini pendek bundar, mulutnya selalu tersenyum dibuat-buat dan pakaian pendetanya terbuat daripada kain mahal dan mewah.
Sinarnya matanya memandang rendah sekali, karena memang sesungguhnya hwesio ini tidak percaya kalau pemuda sehijau ini memiliki kepandaian yang dapat mengalahkan Kiam Ki Sianjin.
"Losuhu siapakah dan ada maksud apa mengajak bicara kepadaku?"
Jawab Kwan Cu acuh tak acuh, akan tetapi dia menunda kepergiannya. Hwesio itu lalu merangkapkan kedua tangannya memberi hormat kepada Kiam Ki Sianjin sambil berkata.
"Kiam Ki Toyu, kau sebagai tuan rumah dan pinceng sebagai tamu, sudah seharusnya pinceng minta perkenanmu untuk bermain-main sebentar dengan pemuda ini. Sudah lama pinceng mendengar tentang kepandaian Ang-bin Sin-kai, sayang sekali sebelum mencoba kepandaiannya, dia telah keburu meninggal dunia. Sekarang, secara kebetulan bertemu dengan muridnya di sini, pinceng ingin sekali menguji warisan ilmu silat dari pengemis itu."
Tentu saja Kiam Ki Sianjin tidak keberatan, bahkan diam-diam dia merasa girang sekali.
Ia sudah tahu dan merasai kelihaian Kwan Cu, maka sekarang dia dapat melihat sampai di mana kehebatan hwesio ini, karena dalam waktu-waktu yang akan datang, dia mengharapkan bantuan hwesio ini.
Ia lalu memandang kepada Kwan Cu dan berkata.
"Orang muda she Lu, ketahuilah bahwa Losuhu adalah Bian Ti Hosiang dari Bu-tong-pai. Bian Ti Losuhu menyatakan hendak mengadakan sedikit permainan silat denganmu, apakah kau berani menghadapinya?"
Memang Kiam Ki Sianjin orangnya cerdik.
Kalau saja dia bertanya apakah Kwan Cu suka menghadapi hwesio itu, Kwan Cu tentu saja menyatakan tidak sudi, karena memang pemuda ini tidak ingin bertempur dengan orang-orang yang tiada urusan dengan dia.
Akan tetapi dia sengaja bertanya apakah Kwan Cu berani menghadapi tokoh Bu-tong-pai itu, maka tidak ada jalan lain bagi pemuda itu kecuali menerima!
"Orang sudah memaksa untuk memamerkan kepandaiannya, tentu saja aku yang muda berterima kasih akan diberi pelajaran,"
Jawab Kwan Cu sambil tersenyum dan memandang kepada Bian Ti Hosiang. Hwesio ini mencabut pedangnya dan berkata.
"Omitohud, hari ini pinceng benar-benar gembira dapat mencoba kepandaian mendiang Ang-bin Sin-kai. Lu-sicu, keluarkanlah pedangmu yang kausembunyikan di balik jubahmu itu."
Kwan Cu terkejut.
Ia memang membawa pedang Liong-coan-kiam, peninggalan dari kakeknya, Menteri Lu Pin, akan tetapi dia sengaja menyimpan pedang itu.
Ia telah mengambil keputusan untuk mempergunakan pedang itu hanya jika menghadapi musuh-musuh besarnya.
Tadi dalam menewaskan An Kong dan An Lu Kui, dia tidak perlu mengeluarkan pedang Liong-coan-kiam karena kepandaian mereka masih amat rendah baginya.
Kalau kelak dia bertemu dengan Hek-i Hui-mo, Jeng-kin-jiu, atau juga Toat-beng Hui-houw, barulah dia akan menggunakan Liong-coan-kiam.
Kini hwesio gemuk ini dapat mengetahui bahwa dia membawa-bawa sebatang pedang, hal itu menandakan bahwa mata hwesio ini tajam sekali.
Ia pun sudah pernah mendengar nama Bian Ti Hosiang dari mendiang Ang-bin Sin-kai, dan tahu bahwa dia kini berhadapan dengan tokoh ke dua dari Bu-tong-pai.
Maka dia lalu menjura sambil tertawa.
"Ah, tidak tahunya boanpwe (aku yang rendah) berhadapan dengan Bian Ti Ho-siang Locianpwe dari Bu-tong-pai. Kiam-hoat {ilmu pedang) dari Bu-tong-pai sudah tersohor di seluruh jagad, mana boanpwe berani mengimbangi ilmu pedang itu dengan ilmu pedang lain? Apalagi di antara boanpwe dan Locianpwe tidak terdapat permusuhan sesuatu, maka biarlah untuk main-main sebentar boanpwe mempergunakan ini."
Kwan Cu mencabut keluar sulingnya pemberian Hang-houw-siauw Yok-ong.
Sulingnya ini tidak dirampas oleh bajak sungai.
Mendengar kata-kata Kwan Cu, Bian Ti Hosiang diam-diam kagum akan sikap pemuda yang pandai membawa diri dan ternyata dapat bersopan santun, berbeda dengan kata-kata yang ditujukan kepada Pek-eng Sianjin tadi.
Akan tetapi, di samping kekagumannya, dia juga merasa tidak enak sekali.
Dia, tokoh ke dua dari Bu-tong-pai, yang dijuluki Pek-lek-kiam (Si Pedang Kilat), kini dihadapi oleh seorang pemuda yang hanya memegang sebatang suling bambu!
Ia ragu-ragu, akan tetapi Kiam Kl Sianjin segera tersenyum berkata.
"Bian Ti Suhu, dia telah memandang rendah kepadamu, mengapa tidak lekas-lekas mulai dan membabat putus sulingnya untuk menghancurkan kesombongannya?"
Bian Ti Hosiang teringat bahwa hal ini adalah kehendak pemuda itu sendiri.
Kalau dia bergerak cepat, dalam satu dua jurus saja pasti dia akan membabat putus suling itu dan hal ini saja sudah membuktikan akan keunggulannya.
Ia segera membentak keras untuk menimbulkan pengaruh lweekangnya.
"Lu-sicu, bersiaplah menghadapi pedangku!"
Bentakan ini disusul oleh sebuah tusukan ke arah dada Kwan Cu, akan tetapi tusukan ini dilakukan sedemikian rupa sehingga kalau pemuda itu menangkis, dia akan membabat suling sekuat tenaga.
Inilah gerak tipu Tian-kiam-kiat-ciang (Mengulur Pedang Memotong Tangan), sebuah tipu dari Ilmu Pedang Bu-tong Kiam-hoat yang lihai.
Namun siasat ini terhadap Kwan Cu tidak mempan sama sekali karena pemuda ini sudah tahu akan maksud lawan sungguhpun dia belum mengenal jurus ini.
Maka alangkah kagetnya hati Bian Ti Hosiang ketika tiba-tiba pemuda itu miringkan tubuh lalu menyusul dengan serangan balasan yang sama, yakni menggunakan Tian-kiam-kiat-ciang yang sama baiknya dengan gerakannya.
Bahkan pemuda yang bergerak belakangan ini, jauh lebih cepat dari dia.
Sulingnya ditusukkan ke dada, lalu sebelum pedang hwesio itu membabat suling, suling itu sudah lebih dulu digerakkan menyamping membabat pedang!
Sungguh lucu sekali kalau melihat tarikan muka hwesio gemuk itu ketika pedangnya yang hendak membabat suling kini bahkan didahului oleh suling itu.
Pedangnya tergetar ketika beradu dengan suling dan K wan Cu yang cerdik tentu saja tidak mau mengadukan sulingnya dengan mata pedang yang tajam.
Namun dalam pertemuan senjata ini, dia sudah mengukur kekuatan lawan dan tahulah dia bahwa dengan ilmu lweekang yang dia pelajari dari Im-yang Bu-tek Cin-keng dan yang sekarang sudah secara otomatis mendarah daging dengan tubuhnya, kekuatan lawannya cukup dia tandingi dengan lima bagian saja dari lweekangnya.
Maka dia menjadi lebih tabah menghadapi pedang lawan.
Bian n Hosiang menduga bahwa secara kebetulan saja pemuda aneh itu mempunyai gerak tipu yang sama atau hampir sama atau hampir sama dengan Tian-kiam-kiat-ciang, atau memang kebetulan pemuda itu pernah melihat atau mempelajari gerakan ini.
Maka dia lalu memutar pedangnya dan kini dia mengeluarkan gerak tipu dari ilmu pedang Hoa-khai-tiauw-yang (Bunga Mekar MenghadapMatahari).
Ilmu pedang ini boleh dibilang adalah ilmu pedang simpanan, dan tidak diajarkan kepada sembarang murid.
Hebatnya bukan main, juga amat indah, sesuai dan tepatlah julukan Pek-lek-kiam (Si Pedang Kilat) ketika dia memainkan Hoa-khai-tiauw-yang ini.
Pedang itu lenyap dan yang kelihatan hanyalah sinar kilat bergulung-gulung mengitari tubuh Kwan Cu.
Untuk sesaat Kwan Cu melengak.
Tak disangkanya bahwa ilmu pedang Bu-tong-pai memang benar-benar hebat luar biasa.
Cepat-cepat dia mempergunakan ginkangnya, bergerakan memutar menurut gerakan pedang lawan, akan tetapi lebih cepat lagi sambil kadang-kadang menyentuh pedang itu apabila terlalu mendekati tubuhnya.
Juga dengan gerakan Kong-ciak-sin-na (Ilmu Silat Burung Merak) dia dapat menyentil pedang dengan telunjuk tangan kirinya sehingga beberapa kali terdengar suara nyaring dan pedang di tangan Bian Ti Hosiang tergetar.
Hal ini dilakukan oleh Kwan Cu karena dia hendak melihat baik-baik bagaimana jalannya ilmu pedang yang amat indah itu.
Setelah menghadapi serangan belasan jurus, giranglah hati Kwan Cu karena dia segera dapat mengenal "jiwa"
Atau isi dari pada ilmu pedang yang dimainkan oleh pendeta itu.
Pokok dasar ilmu pedang itu adalah berdasarkan kedudukan Sha-kak-pouw (Kedudukan Kaki Segi Tiga) dan mengingatkan Kwan Cu akan gambar-gambar di goa Pulau Pek-hio-to yang juga di antaranya terdapat llmu Silat Segi Tiga.
Dengan girang dia lalu memuji.
"Bagus sekali ilmu pedangmu, Locianpwe!"
Akan tetapi, mulutnya memuji demikian, sulingnya lalu bergerak, membalas serangan hwesio itu dengan ilmu pedang yang sama betul seperti yang dimainkan oleh Bian Ti Hosiang pada saat itu!
Tadi Kwan Cu sudah diserang sampai delapan belas jurus.
Dia tidak tahu berapa banyak macamnya jurus-jurus ilmu pedang lawan, akan tetapi kini dia mempergunakan jurus-jurus yang tadi dia lihat dimainkan oleh kakek ini.
Bian Ti Hosiang menjadi pucat.
Ia mainkan jurus-jurus yang paling sulit, akan tetapi pemuda itu menghadapinya dengan jurus yang sama pula!
Memang gerakan pemuda itu tidak begitu sempurna dalam mainkan jurus ilmu pedangnya ini, namun harus diakui lebih cepat dan lebih kuat dari padanya!
"Eh, bocah!
Dari mana kau mencuri ilmu pedang partai Bu-tong-pai?"
Katanya tanpa menghentikan serangannya, bahkan membacok ke arah kepala Kwan Cu dengan gerak tipu Gunakan Kapak Membelah Kayu.
Kwan Cu mengelak dan membalas serangan itu dengan ilmu yang serupa, sambil menjawab.
"Gerakan ilmu pedang tidak dimonopoli oleh Bu-tong-pai sendiri. Siapapun boleh saja menggerakkan kaki tangan asalkan dia bisa!"
Sehabis berkata demikian, Kwan Cu lalu tiba-tjba mengubah ilmu silatnya dan kini sulingnya diputar cepat.
"Kau hanya bisa meniru-niru. Mana ilmu silat yang kaupelajari dari Ang-bin Sin-kai?"
Belum habis kata-kata itu, Bian Ti Hosiang terpaksa harus memutar pedang melindungi tubuhnya karena tiba-tiba suling di tangan pemuda itu lenyap dan dia merasa ada hawa dingin mengurungnya dari semua penjuru.
"Inilah ilmu pedang dari mendiang suhu!"
Kata Kwan Cu.
Memang benar, dia telah mainkan ilmu Pedang Hun-khai Kiam-hoat yang dulu pernah dia pelajari dari Ang-bin Sin-kai.
Akan tetapi setelah dia memiliki kepandaian aseli dari Im-yang Bu-tek Cin-keng, ilmu pedang itu berubah luar biasa sekali.
Ang-bin Sin-kai sendiri kalau masih hidup dan melihat cara Kwan Cu mainkan Hun-khai Kiam-hoat, tentu akan terheran-heran dan kagum sekali.
Dia sendiri takkan sanggup mainkan ilmu pedang itu seperti yang dilakukan oleh Kwan Cu.
Hal ini tak perlu diherankan.
Ilmu pedang tetap merupakan ilmu atau teori belaka.
Betapapun sulit dan hebatnya ilmu silat.
Kalau yang melakukan atau memainkan masih dangkal kepandaiannya, takkan berarti apa-apa, bahkan makin tinggi ilmu silatnya dimainkan oleh orang yang masih rendah pengetahuannya, makin kacaulah ilmu silat itu.
Sebaliknya, biarpun hanya mainan ilmu silat sederhana saja, kalau yang mainkan itu sudah memiliki kepandaian tinggi dan tenaga lweekang serta ginkang yang sempurna, ilmu silat sederhana itu akan berubah menjadi ilmu silat yang hebat.
Apalagi Hun-khai Kiam-hoat bukanlah ilmu pedang sembarangan, diciptakan oleh Ang-bin Sin-kai, tokoh besar dari timur yang sudah amat terkenal namanya.
Setelah membikin bingung Bian Ti Hosiang sampai tiga puluh jurus lebih untuk "memperkenalkan"
Kelihaian Ang-bin Sin-kai, Kwan Cu lalu menggunakan sulingnya menotok jalan darah di dekat siku hwesio itu sehingga tiba-tiba hwesio itu melompat mundur, tangan kanannya seperti lumpuh tak bertenaga lagi, akan tetapi jari-jari tangannya masih dapat mencengkeram gagang pedangnya sehingga tidak terlepas!
Dengan lweekangnya yang tinggi, dia telah dapat memulihkan pula jalan darahnya.
Ia menjadi merah mukanya.
Tahulah hwesio itu bahwa pemuda lawannya benar-benar tidak mempunyai keinginan bermusuhan, karena kalau saja lawannya mau, sambungan sikunya tadi bisa ditotok sampai terlepas "Omitohud!
Ilmu pedang dari Ang-bin Sin-kai benar-benar hebat, pinceng kagum dan takluk.
Lebih hebat lagi kau yang masih begitu muda sudah memiliki kepandaian yang tinggi, Lu-sicu,"
Katanya sambil merangkapkan kedua tangan di depan dada.
"Cianpwe terlalu memuji. Kalau Cianpwe tidak berlaku mengalah, mana boan-pwe Sanggup menandingi ilmu pedang dari Bu-tong-pai yang demikian lihai?"
Jawab Kwan Cu.
Untuk sikap orang yang demikian merendah, jujur dan baik, tentu saja dia tidak berani berlaku kasar.
Tiba-tiba tosu yang seorang lagi menggerakkan lengan bajunya dan sekali melompat dia telah berada di depan Kwan Cu.
Berbeda dengan Bian Ti Hosiang, tosu ini tidak minta perkenan dari Kiam Ki Sianjin, melainkan terus saja menantang Kwan Cu.
"Eh, anak muda. Kau diberi hati menjadi makin sombong. Cobalah kau menghadapi pinto untuk beberapa belas jurus."
Melihat cara tosu ini melompat, Kwan Cu maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang ahli lweekang yang telah memiliki ginkang luar biasa sekali.
Pemuda itu menghadap kepada Kiam Ki Sianjin dan bertanya.
"Kiam Ki Sianjin, siapakah adanya Totiang ini?"
Ia tidak mau langsung bertanya kepada tosu itu, karena untuk sikap yang kasar dan memandang rendah Kwan Cu juga mengimbanginya.
"Lu-sicu, dia ini adalah Bin Hong Siansu, tokoh terkenal dari Kim-san-pai."
Kwan Cu terkejut. Ia sudah lama mendengar akan kehebatan ilmu silat partai persilatan Kim-san-pai.
"Sudah lama aku mendengar bahwa Bin Kong Siansu ketua Kim-san-pai adalah seorang tua yang bijaksana yang patut menjadi locianpwe, tidak tahu ada hubungan apakah Totiang ini dengan Bin Kong Siansu?"
Melihat pemuda itu tidak langsung bicara dengan dia, Bin Hong Siansu menjadi mendongkol sekali. Ia membentak keras.
"Bin Kong Siansu adalah suhengku. Kulihat tadi kepandaianmu mengadalkan ginkang yang tinggi, marilah kita main-main sebentar dengan tangan kosong untuk menguji apakah kau dapat menandingi ilmu silat dari Kim-san-pai."
"Bin Hong Siansu, bukan aku yang menghendaki pertandingan, melainkan kau sendiri. Majulah!"
Kwan Cu menantang dan cara dia bicara berbeda dengan ketika dia menghadapi Bian Ti Hosiang, karena dia sudah merasa mendongkol melihat sikap tosu ini.
Bin Hong Siansu bertubuh jangkung kurus dan jenggotnya panjang sekali.
Dengan senyum mengejek dia lalu memasang kuda-kuda, kaki kirinya diangkat sedikit di depan tubuh, tangan kirinya dipentang jauh dan tangan kanan dikepal, ditaruh di pinggang.
Inilah pembukaan dari Ilmu Silat Hek-tiauw-hoat (Ilmu Silat Rajawali Hitam).
Kwan Cu tidak mengenal ilmu silat ini akan tetapi dengan tabah sekali pemuda ini lalu meniru pembukaan itu dan menanti penyerangan lawan dalam keadaan seperti itu!
Bin Hong Siansu melihat sikap pemuda ini menjadi amat mendongkol dan gemas.
Pembukaannya itu bukanlah kuda-kuda biasa, melainkan sikap penyerangan yang amat berbahaya.
Lawan yang menghadapinya dengan kuda-kuda biasa, betapapun tangguhnya, akan dapat dia serang dengan hebat dan jarang sekali serangannya ini gagal.
Akan tetapi pemuda ini secara main-main telah berani meniru pembukaan ilmu silatnya, tanda bahwa pemuda itu hendak mempermainkannya dan memandang rendah.
"Awas batok kepalamu!"
Bentaknya keras dan tiba-tiba tangan kirinya yang tadi dipentang melakukan serangan, memukul miring dari atas menuju kepala Kwan Cu.
Akan tetapi dengan diam-diam dan cepat sekali melebihi kecepatan pukulan pertama, kepalan tangan kananlah yang merupakan serangan penyebar maut, karena tangan kanan ini memukul ke arah ulu hati Kwan Cu, siap dibuka untuk mencengkeram apabila pukulan itu dielakkan atau ditangkis!
Kwan Cu belum tahu sampai di mana tingkat kepandaian tosu ini, akan tetapi dia dapat menduga bahwa kepandaian tosu ini cukup tinggi, maka dia tidak berani berlaku gegabah.
Serangan itu tidak disambutnya, melainkan dielakkannya sambil meloncat mundur sejauh satu tombak.
Akan tetapi, bagaikan bayangannya sendiri, tahu-tahu tosu itu telah meloncat pula dan menyerang terus lebih hebat dan cepat!
Kwan Cu terkejut.
Ginkang kakek ini benar-benar sudah lihai sekali, namun dia tidak gentar.
Ia mengelak terus dan bahkan menguji kecepatan kakek itu tanpa membalas serangan.
Maka berputaranlah dua orang itu, berloncat-loncatan ke sana ke mari.
Kwan Cu yang mengelak meloncat mundur atau ke samping, sedangkan Bin Hong Siansu yang menyerang tentu saja meloncat ke depan.
Namun jarak mereka masih saja sama, belum pernah satu kalipun serangan tosu itu mengenai tubuh Kwan Cu.
Bagi orang lain yang tidak memiliki kepandaian tinggi, apabila melihat mereka berdua, tentu mengira bahwa mereka hanya main loncat-loncatan saja, akan tetapi sesungguhnya, Kwan Cu dihujani serangan.
Akan tetapi, bagi Kiam Ki Sianjin dan Bian Ti Hosiang, mereka kagum sekali karena dalam gerakan-gerakan ini, terbukti bahwa ginkang dari pemuda itu memang lebih tinggi daripada ginkang Bin Hong Siansu.
Biarpun pemuda itu meloncat sambil mundur atau menyamping, namun tosu itu yang meloncat ke depan ternyata tak pernah berhasil menyerangnya!
Hal ini sudah merupakan sesuatu yang aneh dan luar biasa.
Bin Hong Siansu mempunyai julukan Bu-eng-sian (Dewa Tanpa Bayangan) dan dari julukannya saja sudah dapat diduga bahwa ginkangnya luar biasa tingginya.
Namun menghadapi pemuda itu Dewa Tanpa Bayangan ternyata kalah gesit!
"Bocah siluman, kau pengecut!"
Tiba-tiba Bin Hong Siansu menghentikan serangannya dan tidak mengejar lagi.
"Kalau kau memang laki-laki terimalah seranganku, jangan hanya melarikan diri!"
Kwan cu .tersenyum mengejek.
"Hanya sampai di situ sajakah keuletanmu? Kau ingin aku membalas dan menyambut seranganmu? Baik, terimalah!"
Dan pemuda itu lalu mulai menyerang Bin Hong Siansu kini dia tidak mau meniru-niru lagi melainkan cepat menggerakkan kedua tangan memainkan ilmu silatnya Pek-in-hoat-sut!
Melihat datangnya pukulan tangan kanan Kwan Cu lambat saja dan merupakan ilmu pukulan biasa Bin Hong Siansu mengeluarkan suara menghina dari hidungnya.
Memang dia belum pernah melihat Pek-in-hoat-sut, dan bukan dia saja, orang-orang kang-ouw juga jarang atau tidak pernah melihat ilmu silat ini.
Hanya Kiam Ki Sianjin seorang yang pernah melihat, bahkan merasai kelihaian ilmu pukulan itu.
Melihat datangnya pukulan lambat-lambat, Bin Hong Siansu lalu membentak keras dan menggunakan ujung lengan bajunya yang kiri mengebut tangan itu, mengarah urat nadi di pergelangan tangan lawan.
"Brettt!"
Terdengar suara kain pecah dan ujung lengan baju itu hancur, robekan kain beterbangan ke sana sini ketika ujung lengan baju itu mendekati lengan tangan Kwan Cu yang telah mengebulkan uap putih.
Bukan kepalang kagetnya tosu itu.
Ujung lengan bajunya belum menyentuh tangan pemuda itu, bagaimana bisa hancur dan robek-robek?
"Ilmu siluman...
Teriaknya dan dia menendang cepat-cepat dengan kakinya.
Akan tetapi, Kwan Cu sudah menjadi marah sekali mendengar hinaan dan melihat kesombongan tosu itu.
Ia mengubah ilmu silatnya dan kini menggunakan jurus ke dua puluh satu dari Kong-ciak-sin-na.
Tangan kanannya menotok ke arah kaki yang menendang, sedangkan tangan kirinya menyambar ke arah muka Bin tiong Siansu.
Tosu itu cepat menarik kembali kakinya, akan tetapi dia segera menjerit.
"Aduuuhhh... kurang ajar kau.... !"
Kiam Ki Sianjin dan Bian Ti Hosiang terdengar tertawa geli.
Apakah yang telah terjadi?
Ternyata bahwa tangan kiri pemuda itu telah mencengkeram dan mencabut sebagian dari jenggot yang panjang di dagu Bin Hong Siansu!
Biarpun dia marah sekali sehingga kepalanya terasa pening, namun tosu itu adalah seorang yang dapat melihat keadaan.
Kalau tadi lawannya mau, tentu tangan kirinya, bukan mencabut jenggot melainkan melakukan pukulan yang berbahaya dan dia takkan dapat mengelaknya.
Maka sambil menggigit bibirnya yang menjadi pucat, dia berkata.
"Ku telah menghinaku, lain kali Kim-san-pai akan mencarimu!"
Setelah berkata demikian, tosu itu menjura kepada Kiam Ki Sianjin dan berkata.
"Kiam Ki Toyu, urusan kita telah selesai dan kita akan saling bertemu lagi bulan lima hari ke lima belas sebagaimana yang sudah kita tentukan bersama. Selamat tinggal dan kau juga, Bian Ti Hosiang, sampai jumpa kembali di puncak Tai-hang-san."
Sekali lagi tosu ini memandang kepada Kwan Cu dengan mata mendelik, kemudian dia lalu melompat keluar dari ruangan itu dan lenyap di dalam gelap.
Bian Ti Hosiang juga merangkapkan kedua tangan di depan dada, berkata dengan suara tenang.
"Pinceng juga masih ada urusan lain, Kiam Ki Toyu, terima kasih atas segala perhatianmu. Sampai bertemu di Tai-hang-san pada waktu yang sudah ditentukan."
Hwesio ini berpaling kepada Kwan Cu dan berkata.
"Orang muda, pinceng telah mendapat pengalaman baru setelah bertemu denganmu, terima kasih!"
Lalu dia pun melompat keluar sambil menggerakkan lengan bajunya. Mendengar ucapan dua orang tokoh kang-ouw itu, Kwan Cu tertarik hatinya.
"Kiam Ki Sianjin, ada apakan di puncak Tai-hang-san pada bulan lima hari ke lima belas?" . Kiam Ki Sianjin merasa ragu-ragu untuk menjawab, kemudian dia tersenyum dan berkata.
"Akan ada musyawarah besar di antara tokoh-tokoh sedunia."
"Musyawarah tentang apa?"
"Akan diputuskan tentang pendirian semua partai mengenai permusuhan antara mereka yang membantu pemerintah dan yang membantu rakyat yang memberontak. Kau hehdak mencari Jeng-kin-jiu, Hek-i Hui-mo dan Toat-beng Hui-houw? Nah, di puncak itulah kau akan menjumpai mereka."
Berdebar hati Kwan Cu. Ia setengah percaya akan keterangan ini, akan tetapi dia tidak perlu menyelidiki kebenaran omongan itu.
"Terima kasih,"
Katanya sambil bertindak pergi.
"juga terima kasih atas keteranganmu tentang keturunan An Lu-Shan. Aku akan mencari An Kai Seng."
Kiam Ki Sianjin tertawa senang.
"Terima kasih kembali, Lu-sicu. Kau sudah berjasa untukku."
Tanpa mempedulikan kata-kata ini, Kwan Cu lalu melompat dan ketika dia sampai di tembok istana, dia mendengar suara ribut-ribut.
Mengertilah dia bahwa orang-orang telah menemukan mayat An Lu Kui dan An Kong.
*** Bun Sui Ceng sebenarnya telah lebih dulu sampai di kota raja daripada Kwan Cu.
Akan tetapi gadis ini tidak segera mencari keluarga An Lu Shan untuk dibasminya sebagaimana telah dipesankan oleh Menteri Lu Pin.
Dia seorang gadis yang amat hati-hati dan setelah kehilangan pedangnya, ia ingin mencari senjata dulu, akan tetapi bukan sembarang pedang.
Untuk keperluan ini, beberapa malam ia telah menggeledah rumah-rumah bangsawan di kota raja untuk mencari kalau-kalau di antara mereka ada yang mempunyai pedang pusaka.
Usahanya sia-sia belaka dan sampai lima hari ia tidak berhasil.
Hatinya kesal sekali dan pada hari ke lima itu, ia memasuki sebuah restoran besar.
Sambil makan masakan mahal yang dipesannya, ia mendengar dari seorang pelayan tua yang suka mengobrol tentang keadaan di kota raja, terutama sekali mengenai diri keluarga istana.
Terkejutlah Sui Ceng ketika mendengar bahwa putera An Lu Shan telah tewas dan kini yang menjadi orang paling berkuasa di kota raja adalah Si Su Beng.
Kemudian secara halus dan tidak kentara, Sui Ceng dapat memancing pelayan itu untuk bercerita tentang gudang senjata di mana tersimpan banyak senjata-senjata pusaka dari Kerajaan Tang.
Girang hati Sui Ceng bukan kepalang.
Malamnya ia lalu pergi masuk ke dalam istana dan berhasil mencuri sebatang pedang dari gudang senjata.
Pedang ini biarpun bukan pusaka yang ampuh, namun merupakan pedang panjang yang amat baik, terbuat daripada logam putih seperti perak.
Dengan girang ia lalu membawa pedang itu dan cepat didatanginya seorang tukang pandai pembuat pedang untuk membeli sarung pedang baru.
Ia bukan seorang bodoh dan tidak nanti ia mau menggunakan sarung pedang aselinya karena hal ini tentu hanya akan mendatangkan keributan belaka.
Setelah dimasukkan ke dalam sarung pedang baru, ia berani menggantungkan pedang itu di pinggangnya.
Pada keesokan harinya, kembali ia mendatangi rumah makan itu untuk mendengar berita.
Benar saja, pelayan tua itu sudah siap pula dengan cerita barunya, yakni tentang keributan di istana karena ada pedang yang tercuri.
Pelayan itu tidak mencurigai Sui Ceng, karena dia sudah dapat menduga bahwa gadis ini adalah seorang gadis pendekar yang sikapnya halus dan sopan, jadi terang seorang pendekar budiman.
Pula, tentang pencurian dari gedung senjata bukan merupakan hal yang aneh.
"Sudah sering kali terjadi senjata-senjata lenyap dari gedung senjata itu, Nona. Padahal jendela dan pintunya tidak terbuka."
Kemudian disambungnya dengan suara berbisik.
"Dan kabarnya, senjata-senjata itu kemudian terlihat dipergunakan oleh pemimpin-pemimpin pejuang rakyat!"
Kata-kata ini membuat Sui Ceng suka sekali kepada pelayan tua itu, karena ia maklum bahwa biarpun bekerja di rumah makan kota raja, di dalam hatinya kakek ini bersimpati terhadap perjuangan rakyat!
Tiba-tiba.
terdengar suara orang di pintu luar.
"He, pelayan, sediakan meja dan masakan yang paling enak di rumah makan ini. Perutku lapar sekali!"
Pelayan tua itu menengok dan dia tertegun, demikian pula Sui Ceng.
Yang datang itu bukanlah tamu kaya atau seorang bangsawan, melainkan seorang pemuda yang berpakaian seperti pengemis, celananya tambal-tambalan, bajunya sudah butut, rambutnya dipotong pendek dan berdiri bagaikan rambut landak, demikian pula jenggotnya dipotong pendek dan kelihatan keras seperti jarum-jarum.
Kalau pelayan itu tercengang melihat seorang berpakaian miskin seperti itu memesan masakan yang paling enak, adalah Sui Ceng tertegun melihat sikap orang ini.
Baru keadaan luarnya saja sudah aneh.
Orangnya begitu muda, wajahnya tampan sekali.
Akan tetapi rambut dan jenggotnya betul-betul mengerikan dan tak terasa pula Sui Ceng meraba pipi dan dagunya.
Melihat cambang seperti itu ia merasa mukanya gatal-gatal dan geli.
Akan tetapi sepasang mata pemuda aneh itu bersinar-sinar mengeluarkan cahaya, tanda bahwa dia memiliki kepandaian tinggi.
Pelayan tua itu, benar seperti dugaan Sui Ceng, adalah seorang yang simpati kepada perjuangan rakyat.
Melihat pemuda ini, setelah ragu-ragu sebentar, dia lalu cepat-cepat maju menghampiri dan dengan hormat dia menjura.
"Sicu, selamat datang dan silakan duduk. Aku akan segera memesankan masakan untukmu. Perlukah aku mengeluarkan arak wangi? Akan tetapi harganya agak mahal, seguci harganya...."
"Tak peduli berapa harganya keluarkan saja. Cukup ini untuk membayarnya?"
Pemuda itu merogoh sakunya dan mengeluarkan sepotong uang emas yang besarnya sama dengan tiga jari tangan.
Pelayan itu tertegun dan wajahnya berseri.
la tadinya khawatir kalau-kalau orang ini adalah seorang kang-ouw kasar yang akan makan tanpa membayar sehingga takut kalau terjadi keributan di situ.
Akan tetapi melihat uang emas ini, lenyap kecurigaannya dan cepat-cepat dia berkata.
"Sicu, simpan kembali uangmu. Aku percaya kepadamu. Memperlihatkan emas di muka umum, hanya memancing datangnya pencopet dan perampok."
Pemuda itu menyimpan emasnya dan tersenyum menyindir.
"Segala macam pencopet, maling dan perampok kecil siapakah yang takut? Nona itu biarpun hanya seorang gadis, tidak takut rampok, apalagi aku seorang jantan!"
Katanya sambil mengerling seleretan ke arah Sui Ceng lalu membuang muka lagi.
Sui Ceng mengerutkan kening dan tadinya mengira bahwa pemuda ini kurang ajar, akan tetapi karena pemuda itu tidak terus memandangnya, ia tidak jadi marah dan perhatiannya tercurah kepada pemuda aneh ini.
Tak lama kemudian, pelayan tua mengeluarkan hidangan yang serba enak.
Pemuda seperti pengemis itu lalu makan dan minum dengan lahapnya.
Pelayan tua melayani tamu-tamu lain yang duduk meja jauh dari tempat itu.
Sambil makan minum, pemuda pengemis itu mengegerutu seorang diri.
"Tunggu saja, jahanam she Lu! Kau boleh pergi bersembunyi akan tetapi besok pagi tentu kepalamu akan hancur oleh pukulanku! Tunggu saja, aku akan menenggak darahmu seperti ini!"
Ia minum arak dari cawannya.
"Aku akan menusuk matamu seperti ini!"
Dan ditusukkan sumpitnya pada bakso besar lalu dimasukkan ke dalam mulut.
Kalau saja pemuda aneh itu tidak menyebut nama orang she Lu, tentu Sui Ceng akan merasa geli dan lucu melihat perbuatan dan mendengar kata-katanya.
Akan tetapi she yang disebut oleh pemuda itu membuat hatinya berdebar.
Bukankah yang dimaksudkan oleh pemuda itu adalah Lu Kwan Cu?
Dengan hati tertarik sekali, setelah pemuda itu membayar makanan dan meninggalkaa restoran, gadis itu pun membayar dan cepat ia mengikuti pemuda itu.
Dari jauh ia melihat pemuda itu menuju ke luar kota raja melalui pintu barat dan segera berjalan masuk ke dalam sebuah kelenteng kuno yang sudah rusak yang berada di pinggir jalan.
Di depan kelenteng itu banyak sekali terdapat pengemis-pengemis dan melihat pemuda ini masuk, para pengemis tua muda lalu bangun berdiri dan memberi hormat.
Pemuda itu mengangguk ke kanan kiri lalu mengeluarkan uang perak pengembalian uang emasnya, 1alu melemparkan uang itu kepada mereka.
Para pengemis lalu membagi rata uang itu dengan wajah girang.
"Hm, siapakah dia? Sikapnya mencurigakan sekali, akan tetapi aku tidak dapat berbuat sesuatu sebelum dia melakukan apa-apa. Benarkah dia mengancam Kwan Cu? Aku harus mengawasi orang ini,"
Pikir Sui Ceng.
Malam itu kembali Sui Ceng menganggur saja.
Ia sudah mendapatkan pedang yang cukup lumayan, akan tetapi karena ia tertarik oleh pemuda jembel itu, ia menunda maksudnya untuk memasuki istana.
Ia pun sudah mendengar bahwa keluar An Lu Shan yang masih ada hanyalah Panglima An Lu Kui dan Pangeran An Kong.
Akan tetapi baginya, pemuda jembel itu lebih menarik untuk diselidiki, karena siapa tahu kalau-kalau pemuda jembel itu merupakan ancaman bagi Kwan Cu.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi Sui Ceng sudah berada di luar kota raja dan cepat-cepat ia bersembunyi ketika melihat pemuda jembel itu keluar dari kelenteng dan berjalan dengan gagah ke arah kota raja, dan langsung menuju ke restoran besar.
Sui Ceng mendahului dan masuk ke dalam restoran, memesan teh hangat.
Seperti kemarin, pemuda jembel itu memesan makanan dan arak.
Ketika pemuda jembel itu tengah makan minum, Sui Ceng yang sengaja duduk di pojok agak jauh, mendengar berita baru yang amat menggemparkan dari pelayan tua.
"Semalam terjadi hal yang amat aneh, An-ciangkun dan An-siauw-ongya telah dibunuh orang!"
Sui Ceng hampir melompat dari bangkunya.
"Kaumaksudkan An Lu Kui dan An Kong?"
Kakek itu mengangguk-angguk.
"Jangan keras-keras, Nona. Kalau terdengar orang lain kita celaka."
Tiba-tiba terdengar suara ketawa berkakakan. Ternyata pemuda jembel itu yang tertawa. Akan tetapi dia tidak menengok ke arah Sui Ceng yang duduk di belakang.
"Anjing-anjing penjilat mampus! Ha, ha, ha, kalau daging mereka itu dimasak, biarpun semangkok harganya seribu tail akan kubeli juga. Ha, ha, ha!"
Sui Ceng memberi tanda kepada pelayan tua untuk pergi dan ia lalu keluar dari restoran itu.
Akan tetapi gadis ini menyelinap dan bersembunyi di balik rumah, tidak berjauhan dari restoran itu.
Setelah melihat pemuda jembel itu berjalan keluar, dia mengikutinya dari jauh.
Pemuda itu berjalan terus, menuju ke timur dan setelah tiba di depan sebuah rumah gedung yang amat besar dan mentereng, dia lalu masuk ke dalam pekarangan rumah dengan langkah lebar dan muka berseri seakan-akan dia memasuki rumahnya sendiri!
Sui Ceng terheran-heran.
Ia melihat tiga orang pelayan memburu keluar dan membentak.
"Pengemis jembel, sudah berkali-kali kami katakan bahwa majikan kami sedang keluar. Hayo pergi sebelum kami menyeretmu keluar!"
Pengemis muda itu tertawa bergelak.
"Sekarang aku tidak percaya. Pergilah kalian!"
Sambil berkata demikian, tubuhnya berkelebat cepat dan tahu-tahu tiga orang pelayan itu terlempar tiga tombak lebih dan jatuh dengan kepala benjut dan tulang patah.
Mereka tak dapat berdiri lagi, mengaduh-aduh dan mengelus-elus kepala serta bagian tubuh yang terbanting keras.
Sui Ceng cepat menyelinap ke belakang gedung dan sekali ia menggerakkan tubuh, ia telah melayang naik ke atas genteng.
Ia hendak mengintai apa yang akan terjadi di rumah gedung itu dan ia merasa kagum melihat kelihaian pengemis muda itu yang sekali bergerak telah dapat melontarkan tiga orang pelayan yang tinggi besar itu!
"Dia lihai sekali.
Siapakah dia dan apa yang dicarinya di gedung ini?"
Tak lama kemudian Sui Ceng melihat dua orang mendatangi ke rumah itu dari dua jurusan.
Yang seorang adalah seorang pemuda yang gagah dan tampan, datang dari sebelah kiri rumah dan kedatangannya amat mencurigakan karena pemuda ini melompat turun dari sebuah pohon yang tumbuh di pinggir rumah!
Agaknya, seperti juga Sui Ceng, telah semenjak tadi pemuda itu mengintai di situ.
Orang ke dua adalah seorang laki-laki muda pula, tubuhnya nampak kuat dan dadanya bidang, kepalanya besar dan sikapnya angkuh.
Pemuda ini datang dari luar pintu dan di belakangnya ikut tiga orang pelayan yang jalan terpincang-pincang.
Pada saat itu, terdengar suara bentakan keras dan dari dalam rumah keluarlah pemuda jembel dengan sikap mengancam.
Mukanya menjadi keras dan menyeramkan dan dengan tindakan lebar dia langsung menghampiri pemuda yang baru datang dari luar.
Sui Ceng berdebar hatinya.
Apakah yang akan terjadi?
Siapakah tiga orang muda yang kelihatannya lihai-lihai dan yang sama sekali belum dikenalnya itu?
Gadis ini karena tahu bahwa orang-orang yang di bawah amat lihai, dengan hati-hati lalu mendekam di atas genteng dan mengintai dari wuwungan.
Orang yang melihat gadis itu mendekam di situ tentu akan merasa ngeri kalau-kalau ia akan jatuh dari tempat yang amat tinggi itu.
"Hm, inikah perampok jembel yang telah mengacau rumahku?"
Bentak pemuda yang bertubuh gagah. Pengemis muda itu kini sudah berdiri berhadapan dengan pemuda tuan rumah Mereka saling pandang seperti dua ekor jago berlaga hendak bertanding.
"Ha, ha, ha, kaukah yang bernama Lu Thong? Pantas saja, sesuai dengan mukamu yang seperti anjing, ternyata kau memang anjing penjilat, tidak malu menjilati darah keluarga sendiri dan pantat dari bangsat penjajah. Sekarang aku datang, mukamu yang seperti anjing itu harus dibikin rusak!"
Terdengar suara ketawa dan ternyata pemuda tampan yang tadi melayang turun dari atas pohon tertawa sambil mendekap mulutnya.
"Ha, tepat sekali makian itu....."
Katanya.
perlahan, akan tetapi cukup keras sehingga terdengar oleh pemuda jembel, tuan rumah yang bukan lain adalah Lu Thong sendiri, dan juga oleh Sui Ceng.
Akan tetapi oleh karena pemuda jembel dan Lu Thong sudah berhadapan mereka tidak menghiraukan ejekan pemuda tampan itu.
"Bangsat busuk, siapakah kau? Kau kira akan mudah saja berlagak di depan Lu Thong? Kau sudah bosan hidup agaknya!"
"Kau mau tahu namaku? Aku adalah Han Le, murid dari Ang-bin Sin-kai! Aku mendengar tentang nasib keluarga Menteri Lu Pin, akan tetapi kau sebagai keturunan terakhir bukannya bersakit hati terhadap penjajah, bahkan menjilat-jilat untuk mendapat sesuap nasi. Benar-benar anjing busuk!"
Kata pemuda pengemis itu yang bernama Han Le.
"Aha, kiranya Ang-bin Sin-kai masih mempunyai murid lain. Kau memang patut menjadi murid jembel itu. Agaknya dia telah memberi pelajaran kepadamu bagaimana caranya menjadi jembel busuk!"
Lu Thong memaki lalu menyerang dengan hebatnya.
Lu Thong adalah murid Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, dia memiliki tenaga besar sekali.
Akan tetapi karena dia pernah menerima ilmu pukulan yang hebat dari Ang-bin Sin-kai, yakni Ilmu Silat Kong-jiu Toat-beng (Dengan Tangan Kosong Mencabut Nyawa), dia segera mempergunakan ilmu silat ini untuk menyerang pemuda jembel yang mengaku sebagai murid Ang-bin Sin-kai.
Han Le cepat mengelak sambil memaki.
"Kau menggunakan Ilmu Silat Kong-jiu Toat-beng? Sungguh tidak tahu malu!"
Pemuda ini pun lalu mempergunakan ilmu silat itu untuk menghadapi lawannya.
Segera mereka bertempur hebat sekali.
Kepandaian mereka berimbang, demikian pula tenaga dan kegesitan mereka.
Sungguh hebat gerakan setiap serangan mereka sehingga Sui Ceng yang berada di atas genteng masih dapat merasai sambaran angin pukulan yang dahsyat.
Hati Sui Ceng berdebar.
Tanpa disengaja ia telah menyaksikan pertempuran antara murid-murid dua orang tokoh besar.
Memang, baik Lu Thong maupun Han Le telah mewarisi kepandaian guru mereka sehingga mereka itu kini seakan-akan mewakili Jeng-kin-jiu dan Ang-bin Sin-kai untuk melanjutkan pertempuran-pertempuran antara dua orang kakek itu yang dahulu dilakukan sering kali, akan tetapi keduanya sama kuat dan tidak ada yang pernah kalah.
Sayangnya, akhir-akhir ini Ang-bin Sin-kai terpaksa tewas karena keroyokan.
Kalau hanya Jeng-kin-jiu yang menyerangnya, agaknya sehari semalam keduanya tidak akan kalah atau menang.
Seratus jurus telah berlalu dan keduanya masih belum ada yang dapat mendesak lawan.
Dari atas genteng, sui Ceng tiada habisnya mengagumi pertempuran di bawah itu.
Memang jembel itu adalah seorang ahli lweekang dan ilmu silatnya selalu berdasarkan tenaga dalam yang dahsyat.
Sebaliknya, Lu Thong memiliki ilmu silat yang kuat sekali, dan dia adalah seorarg ahli gwakang yang telah mencapai tingkat tinggi sehingga dia dapat mengimbangi kepandaian lawannya.
Sistem yang dipergunakan oleh Lu Thong adalah tenaga keras menindih yang lemah, sebaliknya Han Le mempergunakan kehalusan dan kelemasan lweekang untuk memunahkan tenaga kasar.
Akan tetapi, biarpun kedua orang muda itu belum dikenalnya, sekali mendengar percakapan antara mereka tadi, simpati Sui Ceng terjatuh kepada pemuda jembel itu.
Betapa tidak?
Han Le adalah murid dari Ang-bin Sin-kai, seorang tokoh besar yang telah tewas sebagai seorang gagah pembela perjuangan rakyat.
Adapun Lu Thong adalah murid Jeng-kin-jiu yang telah membantu penjajah, apalagi kalau diingat bahwa Lu Thong, adalah cucu dari Lu Pin yang telah dibinasakan seluruh keluarganya oleh penjajah, kini pemuda mewah ini bahkan menjadi kaki tangan penjajah.
Tiba-tiba Han Le mengubah ilmu silatnya dan kini gerakannya amat aneh dan sukar diduga lebih dulu.
Benar saja, setelah pemuda jembel ini mengeluarkan ilmu silatnya yang amat aneh itu, Lu Thong terdesak hebat dan selalu menangkis atau mengelak, main mundur terus.
Sui Ceng merasa girang melihat ini dan yang lebih aneh lagi, pemuda tampan yang juga menonton seperti dia dan semenjak tadi tersenyum-senyum sekarang bertepuk tangan memuji.
"Bagus sekali! Ilmu silat seperti itu belum pernah aku melihatnya! Saudara sin-kai (pengemis sakti), terus hajar dia. Bunuh saja orang tidak berbudi itu"
Lu Thong yang terdesak hebat itu, tiba-tiba lalu berjongkok dan sekali dia menggerakkan kedua tangan ke depan sambil membentak.
"Hah!"
Kedua tangan itu mendorong ke depan dengan tubuhnya berjongkok.
Inilah semacam sinkang yang luar biasa sekali, yang merupakan kepandaian simpanan dari Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu.
Hebatnya pukulan ini luar biasa sekali.
Han Le merasa betapa dari dua tangan lawan itu menyambar tenaga yang bukan main hebatnya, yang mendorongnya dengan hebat.
Terkejutlah dia dan pemuda ini cepat melompat ke atas berpoksai di udara.
Biarpun dia dapat menggagalkan serangan lawan ini, namun tetap saja hawa pukulan itu membuat dia terlempar sampai tiga tombak lebih!
Pemuda tampan yang menjadi penonton melakukan gerakan berbareng dengan Sui Ceng.
Keduanya melompat dan menghadapi Lu Thong, terus menyerang tanpa bertanya lagi!
Pemuda tampan itu menyerang dengan pukulan hebat ke arah lambung Lu Thong dari sebelah kanan, sedang Sui Ceng yang menyambar bagaikan seekor burung garuda, memukul pula dari atas sebelah kiri dengan tangan kanannya menotok pundak!
Lu Thong terkejut sekali.
Gerakan dua orang ini tidak kalah cepatnya dari pada gerakan Han Le, maka diam-diam dia mengeluh dan secepat kilat dia menggulingkan diri, terus bergulingan sehingga terhindar dari pukulan-pukulan itu.
Kemudian dia melompat cepat dan dengan marah membentak.
"Kalian ini anjing-anjing pengecut hendak melakukan pengeroyokan. Jangan kaukira aku takut. Tunggu aku mengambil senjataku!"
Setelah berkata demikian, LuThong berlari memasuki gedungnya dan tak lama kemudian dia telah keluar lagi sambil menyeret sebuah toya yang besar, panjang dan hebat.
Sementara itu, Han Le memandang kepada Sui Ceng dan pemuda tampan itu dengan muka terheran.
Tak disangkanya bahwa dua orang ini memiliki ilmu silat, tinggi pula.
Memang dia sudah dapat menduga bahwa Sui Ceng, gadis yang dua kali dijumpainya di dalam restoran, adalah seorang kang-ouw, akan tetapi tak disangkanya bahwa gadis itu memiliki gerakan yang demikian cepatnya ketika tadi menyerang Lu Thong.
Adapun Sui Ceng dan pemuda tampan itu saling pandang, agaknya mereka seperti pernah saling bertemu, namun lupa lagi entah di mana dan bilamana.
Sebelum mereka keburu membuka mulut, Lu Thong sudah keluar pula dan dengan amat marahnya dia lalu menyerang HanLe.
Pemuda jembel ini mengelak dengan lompatan jauh sambil merogoh ikat pinggangnya yang tertutup oleh baju luar dan tahu-tahu di tangannya telah kelihatan sebatang pedang yang berkilauan cahayanya.
Ternyata bahwa dia telah membawa sebatang po-kiam (pedang pusaka) yang disembunyikan di belakang baju luarnya.
Pertempuran hebat terjadi lagi antara Han Le dan Lu Thong.
Kini bahkan lebih seru daripada tadi karena keduanya mempergunakan senjata.
Namun, seperti juga tadi, Lu Thong memperlihatkan bahwa dia benar-benar patut menjadi murid Jeng-kin-jiu Kak Thong Taisu, karena ilmu toyanya memang kuat sekali.
Sungguhpun permainan pedang Hun-khai Kiam hoat dari Han Le juga hebat, namun pertahanan Lu Thong tidak dapat di-bobolkan.
Beberapa kali Han Le mengeluarkan tipu-tipu yang amat aneh, bukan Hun-khai Kiam-hoat dan juga bukan dari cabang persilatan lain, amat aneh gerakannya dan tiap kali pemuda jembel itu mengeluarkan serangan yang aneh ini, Lu Thong menjadi bingung dan terpaksa melompat mundur sambil memutar toya menjaga diri.
la benar-benar tidak dapat menghadapi ilmu pedang yang aneh sekali, yang digerakkan dengan membuat lingkaran-lingkaran besar keci1, nampaknya kacau namun berisi tenaga yang kuat dan sinar pedangnya menyilaukan mata.
Akan tetapi, setelah lawannya mundur, Han Le tidak dapat melanjutkan ilmu pedangnya yang aneh ini dan kembali melawan dengan Hun-khai Kiam-hoat, seakan-akan dia memiki semacam ilmu pedang aneh yang belum dipelajarinya sampai hafal benar.
Sementara itu, pemuda tampan yang tadi ikut menyerang Lu Thong, kini setelah melihat Sui Ceng, memandang seperti orang terkena pesona.
Sampai lama dia tidak dapat berkata-kata, kemudian dengan hati berdebar dia melangkah maju, menghadapi Sui Ceng lalu menegur halus.
"Nona, kalau aku tidak salah duga, bukankah Nona ini nona Bun Sui Ceng murid dari Kiubwe Coa-li?"
Sui Ceng terkejut. Memang sejak tadi pun ia merasa sudah kenal pemuda ini, akan tetapi ia lupa lagi. Mendengar pemuda itu menyebut namanya, ia lalu berkata.
"Bagaimana saudara bisa tahu bahwa aku adalah Bun Sui Ceng murid Kiu-bwe Coa-li? siapakah saudara?"
Mendengar ini, tiba-tiba wajah yang tampan itu berseri gembira dan sepasang matanya bersinar-sinar, membuat wajah itu nampak makin tampan.
"Sekali bertemu aku sudah menduga! Apalagi menyaksikan cara kau menyerang bangsat she Lu itu! Nona, aku adalah The Kun Beng..."
Seketika itu juga, wajah Sui Ceng menjadi merah sekali sampai ke telinganya. Ia hanya dapat membuka mulut dan dari bibirnya keluar kata-kata.
"Ah... ahhh..."
Bagaimana ia takkan merasa jengah dan gugup bertemu dengan pemuda yang ternyata adalah tunangannya itu!
Kun Beng mengerti bahwa tunangannya itu tentu jengah dan malu-malu, maka dia cepat mencari jalan untuk menghilangkan perasaan tidak enak ini.
Katanya dengan wajah berseri.
"Ceng-moi, marilah kita membantu pemuda itu untuk membinasakan jahanam Lu Thong. Mari kita bertiga berlumba, siapa yang akan dapat merobohkan dia lebih dulu!"
Sambil berkata demikian, Kun Beng lalu mencabut senjatanya, yakni sebatang tombak pendek.
Sui Ceng berani lagi mengangkat muka dan memandang kepada pemuda itu.
Empat mata bertemu pandang dan keduanya mendapat kenyataan yang amat menyenangkan, yakni bahwa orang yang dipastikan menjadi jodoh masing-masing itu bukan tidak menyenangkan hati.
Kun Beng tersenyum, Sui Ceng tersenyum pula sambil mengangguk ia mencabut pedangnya.
Keduanya lalu melompat dan menyerbu Lu Thong yang masih bertempur ramai menghadapi Han Le.
Kepandaian Sui Ceng dan Kun Beng sudah amat tinggi, tidak kalah oleh tingkat kepandaian dua orang muda yang sedang bertempur itu atau setidaknya berimbang.
Maka menyerbunya dua orang ini membuat Lu Thong menjadi sibuk sekali.
Menghadapi pedang di tangan Han Le saja sudah berat baginya, apalagi kini ditambah oleh pedang Sui Ceng dan tombak Kun Beng.
Mereka bertiga adalah murid-murid dari tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw, maka betapapun tangguh ilmu toyanya, dia terdesak hebat sekali.
"Kalian curang! Main keroyokan!"
Bentaknya berulang-ulang sambil memutar toyanya dengan nekat.
"Membunuh seekor anjing jahat atau ular keji tak perlu ,menggunakan aturan lagi. Kau lebih jahat daripada anjing penjilat atau ular!"
Seru Kun Beng sambil mempercepat permainan tombaknya. Sui Ceng juga mempercepat gerakan pedangnya.
"Traaang! Traaang!"
Lu Thong mengeluh dan roboh.
Ia berhasil menangkis pedang dan tombak Sui Ceng dan Kun Beng, akan tetapi karena datangnya serangan itu cepat dan kuat sekali, toyanya terlepas, dari tangannya dan pada saat itu, Han Le dapat mengirim tendangan yang mengenai lututnya sehingga Lu Thong terlempar dan roboh dengan sambungan lutut terlepas!
Ia tak berdaya lagi dan meramkan mata sambil menggigit bibir, menanti datangnya senjata lawan yang akan menamatkan riwayatnya.
"Tahan dulu! Jangan bunuh dia!!"
Tiba-tiba terdengar suara orang berseru dan tahu-tahu ketika bayangan orang berkelebat, di depan Lu Thong telah berdiri seorang pemuda yang berpakaian sederhana dan bersikap tenang sekali.
Sui Ceng berubah air mukanya ketika mengenal bahwa pemuda yang datang ini bukan lain adalah Kwan Cu!
Akan tetapi, di depan tunangannya, ia diam saja karena merasa malu untuk menegur pemuda ini, apalagi kedatangannya demikian aneh, seakan-akan hendak membela Lu Thong, manusia yang dianggap tidak berbudi dan patut dibunuh itu.
"Hm, siapakah kau dan mengapa kau menahan kami yang hendak membunuh bangsat ini?"
Tanya Han Le penasaran dan sepasang matanya yang amat tajam menentang pandang mata Kwan Cu.
Akan tetapi yang dipandang tidak menjadi gentar, bahkan dengan suara bersungguh-sungguh dan kening dikerutkan dia berkata.
"Aku tahu bahwa sesungguhnya kalian berhak membunuhnya, karena dia memang telah tersesat dan melakukan hal yang amat tidak patut. Aku percaya bahwa kalian hendak membunuh dia karena kalian adalah pejuang-pejuang rakyat yang membenci penjajah yang menguasai tanan air kita. Akan tetapi ada satu hal yang kuminta kalian ingat, yakni bahwa pemuda ini adalah keturunan terakhir daripada Menteri Lu Pin!"
"Kau mengoceh! Justeru karena dia keturunan Menteri Lu Pin maka harus dibinasakan!"
Seru Han Le yang sudah marah sekali.
Pedangnya berkelebat membacok ke arah Lu Thong, akan tetapi tiba-tiba dia merasa ada sambaran angin dari sisinya dan pedang serta tangannya yang sedang menyerang Lu Thong itu terpental ke samping.
Bukan main marahnya pemuda jembel ini.
Ia cepat melompat dan membalikkan tubuh menghadapi Kwan Cu.
"Kau agaknya juga kaki tangan penjajah, patut dibikin mampus lebih dulu!"
Segera dia menyerang dengan pedangnya, mainkan ilmu Hun-khai Kiam-hoat yang amat berbahaya.
Kwan Cu mengelak cepat dan tertegun menyaksikan ilmu pedang pemuda jembel yang gagah perkasa ini.
Karena dia merasa tidak mungkin pemuda ini mainkan Hun-khai Kiam-hoat yang dikenalnya baik, dia sengaja mengelak terus sambil memperhatikan gerakan-gerakan pemuda itu.
Adapun Sui Ceng memandang dengan bengong.
Pemuda jembel itu mengaku sebagai murid Ang-bin Sin-kai, mengapa dengan Kwan Cu mereka tidak saling mengenal?
Bukankah Kwan Cu juga murid Ang-bin Sin-kai?
Gadis ini benar-benar merasa heran sehingga ia hanya berdiri seperti patung dan menonton mereka yang sedang bertempur.
Kun Beng juga tidak ingat lagi siapa adanya pemuda yang datang melindungi Lu Thong itu, maka dengan tersenyum dia lalu menggerakkan tombaknya dan berkata kepada Sui Ceng.
"Ceng-moi, biar aku binasakan dulu pengkhianat itu, kemudian kita membantu Han Le membikin mampus pengkhianat yang baru datang."
Cepat tombaknya bergerak menusuk dada Lu Thong.
"Trang!!"
Tombaknya terpental dan Kun Beng memandang kepada Sui Ceng dengan muka pucat dan mata terbelalak.
"Ceng-moi, mengapa kau menangkis tombakku? Apa artinya ini?"
"Dia itu adalah Lu Kwan Cu, murid dari Ang-bin Sin-kai, bukan pengkhianat. Kita dengarkan dulu apa yang hendak dia katakan maka dia mencegah kita membunuh pengkhianat ini."
Kun Beng terkejut dan cepat dia memandang kepada Kwan Cu yang dengan tangan kosong selalu mengelakkan diri dari serangan pedang Han Le.
"Lu Kwan Cu bocah gundul dahulu itu.... ??"
Tanyanya seperti kepada diri sendiri.
Sementara itu, Kwan Cu menjadi makin terheran-heran karena ketika Han Le yang pandai mainkan Hun-khai Kiam-hoat itu tidak berhasil merobohkannya, lalu tiba-tiba Han Le mengubah ilmu pedangnya, mengeluarkan ilmu pedang yang aneh, yakni dengan membuat lingkaran-lingkaran dengan pedangnya, mengurung tubuh Kwan Cu.
"Heeeeei .....! Berhenti dulu! Siapakah kau yang bisa mainkan Ilmu Pedang Hun-khai Kiam-hoat dan ilmu pedang menurut Ilmu Silat Thian-te-sin-coan {Lingkaran Sakti Langit Bumi) ini ?"
Han Le juga terkejut mendengar seruan Kwan Cu, akan tetapi pemuda ini sudah terlalu panas perutnya karena sebegitu jauh dia belum berhasil merobohkan pemuda yang bertangan kosong itu.
Tanpa menjawab dia mempercepat gerakan pedangnya.
Akan tetapi ia terkejut sekali karena lawannya bergerak mengikuti serangannya dan tiba-tiba saja lawannya itu mendahului gerakannya yang agaknya sudah dimengerti betul oleh lawannya, lalu tahu-tahu gagang pedangnya kena dicengkeram dan dirampas!
"Nanti dulu, kau siapakah?
Dari mana kau bisa mendapatkan Ilmu Pedang Hun-khai Kiam-hoat?
Dari mana pula kau bisa mainkan ilmu pedang berdasarkan Thian-te-sin-coan?
Hayo jawab!"
Muka Kwan Cu menjadi tegang.
Han Le kaget bukan kepalang melihat betapa lawannya dengan satu kali gebrakan saja setelah membalas serangan-serangannya telah berhasil merampas pedangnya.
Ia masih penasaran dan cepat tangan kanannya memukul dada Kwan Cu.
Pukulan ini dahsyat sekali dan hawa pukulan ini pun menurut petunjuk daripada ukiran-ukiran di dalam goa Pulau Pek-hio-to!
Kwan Cu cepat melompat ke belakang beberapa kaki jauhnya.
"Kau pernah apakah dengan suhu Ang-bin Sin-kai? Dan bagaimana kau bisa mainkan ilmu silat yang terdapat di Pulau Pek-hio-to?"
Kembali Kwan Cu mendesak. Mendengar ini, Han Le menjadi pucat dan dia berdiri seperti patung dengan mata terbelalak.
"Kau.....kau siapakah?"
"Aku murid Ang-bin Sin-kai, Lu Kwan Cu namaku."
Han Le mengeluarkan teriakan girang lalu dia menubruk dan berlutut di depan Kwan Cu, memeluk kedua kaki pemuda itu.
"Aduh, Suheng! Suheng Lu Kwan Cu yang sudah lama kucari-cari! Tidak kusangka dapat bertemu di sini. Harap Suheng mengampunkan kekurangajaranku "
Katanya. Kwan Cu memegang kedua pundak Han Le dan sekali dia menggerakkan tangannya, biarpun Han Le sudah mengerahkan lweekangnya, tetap saja pemuda jembel ini kena ditarik naik dan terpaksa berdiri.
"Hayo bilang, kau siapa? Jangan main-main!"
Seru Kwan Cu.
"Siauwte adalah murid Ang-bin Sin-kai pula. Setelah Suheng pergi, suhu mengambil aku bocah sengsara sebagai murid, kemudian suhu yang menyuruh aku menyusul Suheng ke Pek-hio-to!"
Kwan Cu tercengang dan tak dapat berkata-kata saking herannya.
"Kwan Cu, kau sudah lupa pulakah kepadaku?"
Tiba-tiba pemuda tampan yang dia lihat berdiri di dekat Sui Ceng berkata.
"Aku adalah The Kun Beng, murid Pak-lo-sian!"
Kwan Cu kembali berubah air mukanya dan dia memandang kepada Sui Ceng, hatinya tidak karuan rasanya.
"Dia ini Bun Sui Ceng yang dulu itu, dia tunanganku "
Kun Beng memperkenalkan.
"Koko !"
Sui Ceng menegur tunangannya itu. Hati Kwan Cu terpukul. Panggilan gadis itu dengan sebutan "koko"
Terhadap Kun Beng terdengar begitu manis dan mesra, juga amat menusuk jantungnya.
Ia memandang kepada Kun Beng dengan wajah dingin karena dia teringat akan nasib Gouw Kui Lan.
Tanpa berkata sesuatu Kwan Cu menghampiri Lu Thong, lalu dia cepat mengetuk dan mengurut kaki kakak angkatnya ini sehingga tersambung kembali lutut yang tadi terlepas.
"Suheng, mengapa kau mencegah siauw-te membunuhnya?"
Han Le bertanya.
"Dia ini patut dikasihani. Seluruh keluarganya telah musnah, dan dia tersesat karena berada di lingkungan orang-orang yang berhati khianat. Lu Thong, apakah kau sekarang sudah insyaf? Lihatlah mereka ini, mereka ini adalah orang-orang muda yang membantu rakyat. Kau sebagai seorang pemuda Han yang memiliki kepandaian tinggi, mengapa kau tidak dapat mencontoh mereka? Mengapa kau tidak mau menyumbangkan tenaga untuk tanah air dan bangsa? Ingatlah, kong-kong Lu Pin telah meninggal dunia dalam keadaan amat mengenaskan. Seluruh keluargamu terbinasa pula. Tidak ingatkah kau kepada ayah bundamu yang menjadi korban jahanam An Lu Shan?"
Menitik air mata dari kedua mata Lu Thong.
"Aku..... tadinya aku bermaksud mencapai kedudukan tinggi, sebagai kaisar aku akan lebih mudah membalas musuh-musuhku.... menjunjung tinggi nama keluargaku, mencuci noda mereka yang dianggap sebagai pemberontak....."
"Kau keliru! Mereka bukan pemberontak, akan tetapi mereka tewas sebagai pahlawan-pahlawan bangsa! Dan ke mana larinya cita-citamu yang terlalu muluk itu? An Lu Shan terbunuh oleh puteranya sendiri, kemudian puteranya terbunuh pula oleh Si Su Beng. Dan kau...... apakah kaukira akan dapat mengharapkan kurnia dari Si Su Beng?"
Pada saat itu, terdengar derap kaki banyak orang dan terdengar Sui Ceng berseru.
"Pasukan Gi-lim-kun (pasukan pengawal kaisar) datang menyerbu!"
Empat orang muda itu bersiap-siap.
Sui Ceng melintangkan pedangnya di depan dada.
Han Le memegang kembali pedangnya yang dia terima dari Kwan Cu.
Kun Beng memegang tombaknya erat-erat dan Kwan Cu juga bertolak pinggang dan sepasang matanya bersinar-sinar.
Setelah menepuk-nepuk lututnya dan merasa bahwa lututnya dapat digerakkan biarpun masih agak sakit, Lu Thong lalu mengambil toyanya yang tadi terlepas dari tangannya.
"Kau mau apa ?"
Bentak Sui sambil menodongkan pedangnya di dada Lu Thong. Akan tetapi yang ditodong tidak menghiraukannya dan masih terus mengambil toyanya.
"Hendak kulihat apakah yang akan mereka lakukan di sini,"
Katanya dengan suara dingin dan matanya mengeluarkan sinar yang amat berlainan dari tadi.
"Lu Thong, keturunan pemberontak, menyerahlah! Kami datang atas nama kaisar untuk menangkapmu!"
Terdengar teriakan komandan barisan Gi-lim-kun yang sudah datang di luar pekarangan rumahnya.
"Apa kataku, Lu Thong? Kaisar begitukah yang hendak kaubela dengan mempertaruhkan nyawa bangsamu?"
Kata Kwan Cu perlahan, akan tetapi cukup membakar isi dada Lu Thong.
Dengan muka merah dan mata melotot, toya dipegang erat-erat, Lu Thong berteriak kepada barisan yang terdiri dari tiga puluh orang itu.
"Anjing-anjing keparat! Dengarlah baik-baik. Sekarang baru terbuka mataku dan kulihat kepalamu semua bukan kepala manusia, melainkan kepala anjing-anjing penjilat. Dan aku Lu Thong keturunan Lu Pin dan Ang-bin Sin-kai Lu Sin, mulai sekarang tugasku ialah menghancurkan kepala-kepala anjing!"
Sambil berkata demikian, dia memutar toyanya dan berlari terpincang-pincang menyerbu barisan Gi-lim-kun.
Kwan Cu segera menyusulnya, setelah melirik ke arah Sui Ceng, Han Le, dan Kun Beng dengan pandang mata penuh arti.
Tiga orang muda ini saling pandang dan diam-diam mereka membenarkan, pembelaan Kwan Cu terhadap Lu Thong tadi, karena sekarang ternyata Lu Thong yang khianat telah sekaligus berubah menjadi Lu Thong yang mengandung penuh dendam terhadap penjajah yang sudah memusnahkan seluruh keluarga!
Mereka pun lalu berlari menyusul dan memutar senjata mengamuk dan menyerbu barisan Gi-lim-kun!
Mana bisa barisan Gi-lim-kun kuat menghadapi lima orang muda ini?
Mereka ini adalah orang-orang muda murid tokoh-tokoh yang sakti, yang memiliki kepandaian luar biasa sekali.
Biarpun barisan Gi-lim-kun terdiri dari ahli-ahli silat yang pandai, namun menghadapi serbuan lima orang muda ini, sebentar saja mereka menjadi kocar-kacir.
Mayat bergelimpangan yang amat mengerikan.
Yang paling hebat amukannya adalah Lu Thong.
Toyanya menyambar-nyambar dan sedikitnya ada lima orang anggauta Gi-lim-kun yang pecah kepalanya terkena pukulan toyanya!
Di antara mereka semua, hanya Kwan Cu seorang yang lain lagi sepak-terjangnya.
ia tidak tega menjadi alat ini, entah karena terdorong oleh keinginan mendapatkan harta, atau pun terkena tipu dan bujukan maka mereka menjadi barisan Gi-lim-kun.
Oleh karena itu, pemuda ini hanya bergerak dengan tangan kosong dan dia cukup puas asalkan dapat menotok roboh mereka itu tanpa membahayakan nyawa mereka.
Han Le agaknya juga tidak begitu kejam karena pedangnya hanya merobohkan orang dan melukainya tanpa mematikan lawan.
Sebaliknya, Sui Ceng benar-benar seperti gurunya.
Setiap kali pedangnya bergerak, seorang anggauta Gi-lim-kun menjerit kesakitan dengan lengan putus, kaki putus, bahkan ada yang lehernya putus!
Demikian pula Kun Beng mengamuk, akan tetapi pemuda ini tidak seganas Sui Ceng atau Lu Thong.
Akan tetapi, lima orang jago muda ini mengamuk di tengah-tengah kota raja dan hal ini bukanlah merupakan pekerjaan main-main yang mudah saja.
Tak lama kemudian, datanglah barisan baru yang jauh lebih kuat daripada barisan Gi-lim-kun yang sudah dapat diobrak-abrik, karena barisan ini adalah barisan Si-wi, yakni pengawal pribadi kaisar, dan dipimpin pula oleh Kiam Ki Sianjin, dan panglima-panglima yang berkepandaian tinggi!
Pertempuran berjalan makin hebat.
Kwan Cu yang mengetahui bahwa bagi empat orang kawannya, Kiam Ki Sianjin terlampau tangguh, cepat mencabut sulingnya dan menghadapi kakek ini.
Akan tetapi tetap saja empat orang kawannya menjadi terkurung seperti tadi, dan terpaksa bersilat cepat untuk melindungi tubuh daripada hujan senjata lawan yang amat banyak jumlahnya itu.
Akan tetapi, sebagai ahli-ahli silat tinggi, mereka otomatis tahu bagaimana caranya untuk melayani keroyokan yang demikian banyaknya.
Tanpa ada yang mengomando, mereka otomatis berkelahi berdekatan satu sama lain, bahkan lalu membuat lingkaran dengan punggung dihadapkan kepada kawan sendiri sehingga mereka merupakan lingkaran segi empat yang tak dapat diserang dari belakang!
Dengan jalan ini, Lu Thong, Sui Ceng, Kun Beng dan Han Le dapat mempertahankan diri dengan kuatnya dan kadang-kadang terdengar pekik orang dan terjungkalnya seorang anggauta Si-wi.
Namun, Sui Ceng amat kecewa tidak melihat Kwan Cu berada di lingkaran mereka itu.
Hal ini adalah karena Kwan Cu sengaja menghadapi Kiam Ki Sianjin, mencegah kakek ini ikut menyerang empat orang kawannya.
Sui Ceng mengira bahwa karena kepandaiannya tidak tinggi, kwan Cu sudah tertawan atau melarikan diri.
Ia menggigit bibir dengan gemas kalau memikirkan bahwa pemuda itu sudah melarikan diri meninggalkan kawan-kawannya.
Ia tidak tahu bahwa kepandaian Kwan Cu sudah tinggi sekali.
Kemenangan Kwan Cu atas Han Le tadi tidak membikin dia merasa heran karena sebagai murid-murid seguru, tentu saja Kwan Cu sudah mengetahui semua cara bersilat dari Han Le dan dapat memenangkannya!
Demikian pula Kun Beng sama sekali tidak mengira bahwa Kwan Cu memiliki kepandaian tinggi.
Hanya Han Le dan Lu Thong yang mengetahuinya baik-baik.
Lu Thong yang sudah pernah merasai kelihaian Kwan Cu, adapun Han Le lebih-lebih lagi.
Tidak saja dia sudah dapat menduga bahwa suhengnya yang sudah tinggal di Pulau Pek-hui-to itu telah mempelajari ilmu kesaktian yang luar biasa, juga tadi dia telah merasai sendiri kehebatan kepandaian suhengnya.
Makin lama kurungan makin rapat.
Pihak pengeroyok memang luar biasa banyaknya.
Roboh satu datang dua, roboh lima datang sepuluh.
Empat orang jago muda itu sudah bertempur tiga jam lebih dan mereka mulai lelah sekali.
Apalagi Lu Thong lututnya terasa sakit dan dia menjadi makin lambat gerakannya.
Akhirnya, sebuah tusukan tombak melukai pahanya dan dia terhuyung-huyung roboh.
Baiknya Han Le cepat menyambar tangannya dan menariknya ke dalam lingkaran, sehingga tubuh Lu Thong terlindung oleh tiga orang muda itu.
Di lain fihak, Kwan Cu yang tadinya menghadapi Kiam Ki Sianjin, sekarang ternyata telah dikeroyok tiga orang, yakni Kiam Ki Sianjin sendiri dan dua orang panglima yang lihai sekali ilmu goloknya.
Kwan Cu melayani mereka dengan gagah dan sedikit pun tidak terdesak, bahkan pada jurus ke lima puluh lebih, dia berhasil merobohkan seorang panglima dengan pukulan-pukulan Pek-in-hoat-sut.
Namun, sebagai gantinya datang pula dua orang panglima lain, sedangkan Kiam Ki Sianjin masih terus melawannya dengan amat kuatnya, dan kali ini agaknya tidak mudah bagi Kwan Cu untuk mengalahkan Kiam Ki Sianjin.
Sui Ceng, Kun Beng dan Han Le sudah lelah dan mulai terdesak.
Biarpun korban fihak musuh yang jatuh tak terhitung banyaknya, namun setiap kali ada yang jatuh, mereka yang jatuh diangkat pergi dan sebagai gantinya datang pengeroyok-pengeroyok lain yang masih segar dan memiliki kepandaian silat tinggi juga.
Tiga orang muda ini maklum bahwa kalau diteruskan, mereka pasti akan celaka semua.
Kini mereka tidak begitu mudah lagi menjatuhkan lawan, karena para pengeroyok kini terdiri dari orang-orang yang kepandaiannya sudah mencapai tingkat lumayan.
Kwan Cu maklum pula akan hal ini.
Tiba-tiba pemuda ini menyimpan sulingnya dan ketika dua orang panglima menyerang dari kanan kiri dan Kiam Ki Sianjin mendesak dari depan, dia melayani dua orang panglima yang bergolok itu dengan Ilmu Silat Kong-ciak-sin-na, sedangkan terhadap Kiam Ki sianjin dia melancarkan pukulan-pukulan Pek-in-hoat-sut.
Tosu itu sudah cukup mengenal kelihaian lengan tangan yang mengebulkan uap itu, maka cepat-cepat dia menjatuhkan diri untuk menyimpan napas dan mengerahkan lweekang agar dia cukup kuat menghadapi serangan ilmu pukulan Pek-in-hoat-sut, akan tetapi dua orang panglima yang belum mengenal Kwan Cu baik-baik, terus mendesak pernuda itu.
Dan sebelum mereka tahu bagaimana terjadinya, pundak mereka telah terkena cengkeraman IImu Silat Kong-ciak-sin-na dan golok mereka terlempar.
Kwan Cu tidak mau berlaku kepalang tanggung.
Ia mengangkat tubuh dua orang ini, yang seorang dia lemparkan ke arah Kiam Ki Sianjin dan menggunakan kesempatan itu untuk memutar-mutarkan orang ke dua dan membobolkan kepungan yang mengurung tiga orang kawannya yang masih melawan mati-matian.
"Kawan-kawan, mari kita pergi!"
Katanya setelah berhasil menyerbu dan memasuki kurungan.
Sui Ceng dan Kun Beng tertegun melihat bahwa Kwan Cu ternyata masih hidup dan berada di situ, dan diam-diam Sui Ceng merasa girang sekali.
Ternyata pemuda ini tidak melarikan diri seperti yang tadi ia khawatirkan.
Kemudian Kwan Cu melihat Lu Thong yang terduduk dan luka kakinya.
Cepat Kwan Cu melemparkan panglima itu kepada Kun Beng dan berkata.
"Kun Beng, kauterima ini dan pergunakan sebagai senjata mencari jalan keluar. Aku akan menggendong Lu Thong!"
Kun Beng menyambut datangnya tubuh panglima itu dengan tangan kiri dan sekali dia mengulur tangan, dia telah berhasil membekuk batang leher panglima itu yang masih hidup akan tetapi sudah tidak berdaya karena jalan darahnya telah ditotok oleh Kwan Cu.
"Lebih baik kalian juga menangkap seorang lawan untuk dijadikan senjata!"
Kata Kun Beng.
Sui Ceng dan Han Le mengerti apa yang dikehendaki oleh kawan ini.
Dengan cepat mereka mendesak maju dan sebentar saja Han Le dan Sui Ceng sudah dapat menangkap masing-masing seorang pengeroyok dan mengamuklah tiga orang ini, mencari jalan keluar, membobolkan kurungan sambil memutar-mutar tubuh lawan yang mereka pegang kakinya!
Dalam pengamukan ini, Sui Ceng, Han Le dan Kun Beng lagi-lagi kehilangan Kwan Cu.
Ke mana perginya pemuda itu?
Setelah mengempit tubuh Lu Thong dengan tangan kirinya, Kwan Cu melompat cepat melalui kepala para pengurung itu dan dia sengaja melarikan di dekat Kiam Ki Sianjin yang menyumpah-nyumpah marah melihat kawan-kawannya dibikin kocar-kacir oleh tiga orang muda itu.
"Bodoh, goblok! Menghadap tiga orang saja tidak becus menangkap dan mengalahkan."
Tosu ini memaki-maki anak buahnya.
"Locianpwe, mereka menggunakan kawan kami sebagai senjata untuk mengamuk,"
Jawab seorang perwira Si-wi.
"Bodoh! Bacok mampus saja semuanya, biar kawan sendiri kalau sudah mereka tangkap, perlu apa takut membacoknya?"
Demikianlah, para Si-wi itu lalu mengepung kembali dan kini mereka menggunakan senjata untuk menangkis dan membacok tiga orang muda itu sehingga senjata mereka tentu saja mengenai kawan sendiri yang diputar-putarkan oleh tiga orang muda perkasa itu.
Melihat kenekatan para pengeroyok ini, Sui Ceng dan kawan-kawannya terkejut.
Tentu saja mereka lalu melemparkan orang yang mereka pegang karena tubuh orang itu hancur terkena hujan senjata kawan-kawan sendiri dan mulailah menangkap lain orang untuk dijadikan senjata.
Biarpun mereka agak lambat maju, namun mereka dapat juga menipiskan kepungan dan keadaan mereka tidak terdesak seperti tadi.
Apalagi sekarang mereka tidak perlu melindungi Lu Thong seperti tadi.
"Eh, mana Kwan Cu...?"
Tanya Sui Ceng yang merasa heran sekali.
Tadi Kwan Cu berada di dalam kepungan, jadi di belakangnya, juga di belakang Kun Beng dan Han Le, karena Kwan Cu menghampiri Lu Thong yang berada di tengah-tengah.
Akan tetapi mengapa sekarang Kwan Cu dan Lu Thong sudah lenyap dari situ?
Juga kedua orang kawannya tidak tahu kemana perginya Kwan Cu mengempit tubuh Lu Thong, akan tetapi oleh karena mereka selalu menghadapi keroyokan musuh, mereka tidak sempat melihat Kwan Cu yang melompat cepat sekali melalui kepala mereka dan para pengeroyok!
Adapun Kwan Cu sebagaimana dituturkan di atas, sengaja lari membawa Lu Thong mendekati Kiam Ki Sianjin.
Tentu saja melihat pemuda itu mengempit tubuh Lu Thong, Kiam-Ki-Sianjin cepat mengejar dengan pedang di tangan.
"Bangsat Lu Kwan Cu, ternyata engkau hendak mati-matian membela pemberontak!"
Serunya. Kwan Cu tersenyum sindir.
"Kiam Ki Sianjin, dia ini adalah keturunan menteri Lu Pin, bagaimana aku takkan membelanya?"
Pemuda ini menyimpan sulingnya dan kini tahu-tahu tangannya telah memegang sebatang pedang yang bercahaya gemilang.
Inilah Liong-coan-kiam, pedang peninggalan Menteri Lu Pin yang sengaja diberikan kepadanya.
Kiam Ki Sianjin tertegun dan merasa agak jerih.
Baru sekarang dia melihat pemuda ini memegang pedang.
Biasanya, dengan tangan kosong atau paling-paling dengan sebatang suling di tangan, pemuda itu sudah terlampau tangguh baginya, apalagi sekarang memegang sebatang pedang mustika!
"Kiam Ki Sianjin, apakah kau tidak melihat siapa adanya pendekar-pendekar muda itu?
Lihatlah baik-baik, gadis perkasa itu adalah murid tunggal dari Kiu-bwe Coa-li, pemuda bertombak itu adalah murid terkasih dari Pak-lo-sian Siang-koan Hai, dan pemuda sederhana itu adalah suteku!
Aku tanggung bahwa kalau kau terus mengurung mereka, semua anak buahmu akan hancur lebur.
Dan bukan itu saja, kalau sampai mereka terluka, tentu para Locianpwe itu akan bersumpah membalas dendam kepadamu."
"Habis, apa kehendakmu?"
Tanya Kiam Ki Sianjin memandang tajam.
"Kalau kau hendak menghalangi mereka lari, kau tahu bahwa aku akan menyerangmu mati-matian dan mungkin sekali aku akan dapat menewaskan engkau. Akan tetapi kalau kau mau melepaskan mereka lari, kita kelak akan dapat bertemu pula dan aku takkan melupakan maksud baikmu ini."
Sampai beberapa lama Kiam Ki Sian-jin diam saja, matanya memandang ke arah tiga orang muda yang tengah mengamuk hebat mencari jalan keluar.
Memang sepak terjang mereka hebat sekali dan sekarang pun para anak buahnya sudah mulai kocar-kacir.
Akhirnya dia mengangguk dan Kwan Cu girang sekali.
"Terima kasih, Kiam Ki Sianjin. Kau ternyata berpemandangan jauh."
Ia lalu membawa Lu Thong melompat ke barat! "Sui Ceng, Kun Beng dan Sute! Lari melalui pintu barat!"
Tiga orang muda itu ketika mendengar seruan Kwan Cu yang tiba-tiba ini, menjadi terheran, akan tetapi mereka lalu memutar senjata memaksa para Si-wi yang masih berani mengeroyok untuk mundur dan larilah mereka ke barat.
Kwan Cu sudah tidak kelihatan lagi oleh mereka.
Aneh sekali, setelah mereka tiba di dinding sebelah barat, di situ tidak kelihatan ada musuh, maka mudah saja mereka melompati tembok itu.
Dan ternyata bahwa Kwan Cu sudah berada di bawah tembok sambil mengempit Lu Thong.
"Kau sudah di sini ?"
Tanya Kun Beng tak mengerti.
Juga Sui Ceng terheran, akan tetapi Han Le diam-diam makin kagum akan kepandaian suhengnya itu.
Kiam Ki Sianjin memenuhi janjinya.
Ia tidak memberi perintah kepada anak buahnya untuk mengejar, melainkan menyuruh mereka merawat kawan-kawan yang luka serta mengurus mayat mereka yang tewas.
Oleh karena itu, kawanan orang muda perkasa itu dengan mudah dapat melarikan diri keluar dari kota raja dan memasuki hutan sebelah barat.
Dengan Kwan Cu di depan, mereka berlari terus sampai jauh dari kota raja.
Kemudian mereka berhenti dan Kwan Cu segera mengambil saputangan untuk membalut luka di paha Lu Thong dan setelah mengurut serta menotok jalan darah di kaki pemuda ini, Lu Thong dapat berdiri dan berjalan pula, sungguhpun masih terasa amat sakit pahanya yang terluka itu.
"Kwan Cu, kau cerdik sekali, bisa mencarikan jalan keluar yang tak terjaga untuk kita,"
Kata Kun Beng memuji dan bibirnya tersenyum kalau dia mengingat betapa bodohnya pemuda itu diwaktu masih kecilnya.
"Kwan Cu, pertemuan kita dalam keadaan yang menguntungkan telah membuat kita bertemu sebagai sahabat, aku senang sekali akan hal ini. Sekarang, biarlah kita berpisah dan kelak aku mengharapkan sekali kedatanganmu untuk menghadiri..... pernikahan kami."
Sambil berkata demikian, pemuda yang tampan itu melirik ke arah Sui Ceng.
Gadis itu menjadi jengah dan malu, mengerling tajam dan menegur tunangannya dengan pandangan matanya itu.
Baca Juga: Pedang Kayu Harum 8
Baca Juga: Si Tangan Sakti 8