Eps 8 Pedang Kayu Harum - Kho Ping Hoo
Baca online Pedang Kayu Harum - Kho Ping Hoo
Cersil Pedang Kayu Harum - Kho Ping Hoo.
Mereka sudah berdiri berdampingan dan memasang kuda-kuda yang sama, dengan pedang di tangan kanan melintang di depan dada, tangan kiri diangkat ke atas kepala dengan jari-jari disatukan menuding ke langit, lutut kaki kanan ditekuk depan kaki kiri, mata mereka menatap tajam kepada Keng Hong.
Keng Hong maklum bahwa dua orang kakek ini amat lihai ilmu pedangnya.
Kalau tidak demikian masa mereka mendapat julukan Hoa-san Siang-sin-kiam?
Mereka merupakan murid-murid utama dari Hoa-san-pai dan berkedudukan tinggi.
Untuk dapat menimbulkan kesan baik dan membuktikan kesanggupannya, dia harus dapat mengalahkan mereka.
Akan tetapi mengalahkan mereka tanpa melukai, karena kalau hal ini terjadi tentu akan menimbulkan lagi perasaan bermusuh.
Dia mengerti pula bahwa sekali ini, dia bertanding melawan dua orang lihai di bawah pengawasan mata yang tajam dari ketua Hoa-san-pai dan tujuh orang murid kepala yang lain, maka sudah tentu saja dia tidak berani main-main dan berpura-pura karena hal ini kalau sampai ketahuan tentu menimbulkan kesan seolah-olah dia memandang rendah Hoa-san-pai.
Jalan satu-satunya harus mengalahkan mereka dengan ilmu pedang yang lebih tinggi, dan hanya Siang-bhok-kiam sajalah yang kiranya akan dapat menundukkan Sepasang Pedang Sakti ini.
"Maafkan saya!"
Katanya dan tangannya meraba ke dalam jubahnya.
Di lain saat dia sudah mencabut Siang-bhok-kiam dan yang tampak hanya sinar hijau berkelebat berbareng tercium bau yang harum.
"Siang-bhok-kiam....!"
Terdengar bisikan-bisikan yang hampir berbareng keluar dari mulut murid-murid Hoa-san-pai sehingga bisikan yang dilakukan banyak mulut murid-murid Hoa-san-pai sehingga bisikan yang dilakukan banyak mulut itu menjadi tidak lirih lagi.
Setelah sinar hijau lenyap, yang tampak hanya sebatang pedang kayu di tangan Keng Hong, dan sebagus-bagusnya pedang kayu, tentu tidaklah seindah dan segagah pedang baja.
Namun, begitu melihat pedang itu terpegang di tangan Keng Hong dan melihat pemuda itu membuat gerakan kuda-kuda pembukaan, Siang-sin-kiam mengikuti dengan pandang mata tajam dan penuh kewaspadaan.
Gerakan kuda-kuda Keng Hong adalah gerakan pemubukaan Ilmu Pedang Siang-bhok Kiam-sut yang luar biasa.
Kedua kaki pemuda itu, terpentang dengan lutut di tekuk ke depan, Pedang Kayu Harum mula-mula menuding ke langit dari atas kepala lalu perlahan-lahan melingkari leher terus turun menuding bumi di depan kaki, sedangkan tangan kiri membentuk lingkaran dan berakhir di depan dada dengan sikap menyembah, tangan miring dan jari terbuka rapat.
"Cia Keng Hong, jaga serangan kami!"
Coa Kiu berseru keras dan tiba-tiba dia dan Coa Bu sudah menerjang maju, pedangnya menusuk leher dan pedang adiknya menusuk pusar.
"Trang-trang..!"
Pedang Kayu Harum sudah menangkis kedua pedang itu sekaligus sehingga kedua pedang itu terpental.
Namun kakak beradik Coa itu adalah ahli-ahli pedang yang kenamaan dan banyak pengalaman.
Sungguhpun dari getaran yang melalui pedang mereka itu jelas membuktikan bahwa tenaga sinkang pemuda ini seperti yang sudah mereka ketahui, amat kuat, namun pedang mereka yang terpental itu mereka ikuti dengan tubuh, dan mereka kini berpencar ke kanan kiri.
Cepat sekali datangnya penyerangannya itu, pedang Coa Kiu membabat kaki sedangkan pedang Coa Bu menusuk lambung.
"Sing-singggg...!"
Keng Hong tetap tenang,kakinya meloncat ke depan, tubuhnya membalik, sinar hijau Siang-bhok-kiam membabat ke kanan kiri menangkis.
"Cring-cring...!"
Kembali dua kakek itu memutar tubuh karena pedang mereka terpental, kini mereka saling berdekatan, pedang mereka diputar membentuk gulungan dua sinar yang menyilaukan, makin lama makin cepat dan dua gulungan sinar itu kini bersatu, menjadi segulung sinar yang tebal dan kuat, kemudian tubuh ereka berkelebat lenyap dan yang tampak hanyalah sinar pedang tebal meluncur ke arah Keng Hong.
Pemuda ini maklum bahwa "penyatuan"
Sinar pedang dua kakek ini amat berbahaya dan inilah agaknya yang membuat nama Sepasang Pedang Sakti amat terkenal.
Ia pun lalu mengerahkan tenaganya, mempercepat pemutaran pedang Siang-bhok-kiam sehingga bayangan tubuhnya terbungkus sinar hijau yang meluncur dan menyambut sinar pedang putih yang mengeluarkan suara bercuitan itu.
Terjadilah pertandingan ilmu pedang sakti, yang tampak hanya gulungan putih dan hijau, suara bercuitan dan berdesing-desing diselingi suara "crang-cring-trang-trang!"
Dan tampak bunga api kadang-kadang muncrat berhamburan.
Setelah bertanding selama empat lima puluh jurus, Keng Hong maklum bahwa kalau dia menghendaki, dengan mudah dia akan dapat merobohkan dua orang kakek ini.
Akan tetapi dia tidak mau menyakitkan hati atau membuat malu dua orang kakek yang sudah memiliki nama besar di dunia kang-ouw ini.
Maka dia bersuit nyaring dan gerakannya dipercepat.
Gulungan sinar pedang berwarna hijau menjadi terang dan lebih panjang, membentuk lingkaran-lingkaran aneh dan terus menghimpit dan membelit gulungan puti kedua kakek itu.
Kini tampak betapa Hoa-san Siang-sin-kiam terdesak hebat dan hal ini dapat diikuti dengan pandang mata dan jelas oleh Bun Hoat Tosu dan para muridnya sehingga mereka menjadi kagum sekali.
Akan tetapi para murid Hoa-san-pai yang berdiri di luar ruangan itu, yang ilmu kepandaiannya belum mencapai tingkat setinggi itu dan belum memiliki ketajaman penglihatan sehingga dapat mengikuti kecepatan sinar pedang, tidak dapat mengikuti kecepatan sinar pedang, tidak dapat melihat tiga orang yang bertanding, hanya melihat gulungan-gulungan sinar pedang.
Bagi mereka, pertandingan ini merupakan pertandingan hebat yang menegangkan di mana mereka melihat betapa gulungan sinar pedang putih tidak sehebat tadi bahkan kadang-kadang terpecah menjadi dua bersatu lagi, terpecah lagi bahkan kadang-kadang terpisah makin jauh, keduanya digulung oleh sinar pedang hijau.
"Ji-wi Locianpwe, maafkan saya!"
Tiba-tiba terdengar seruan Keng Hong dan tampaklah dua orang kakek itu meloncat ke kanan kiri dengan muka pucat dan tanpa memegang pedang, sedangkan Keng Hong berdiri di tengah-tengah dengan pedang Siang-bhok-kiam diputar-putar sedangkan dua batang pedang milik kakek itu menempel dan ikut berputar di ujung Siang-bhok-kiam, kemudian tiba-tiba dua batang pedang itu mencelat dan meluncur ke arah pemiliknya masing-masing!
Coa Kiu dan Coa Bu menyambut pedang mereka dan menyimpannya kembali, kemudian menjura ke arah Keng Hong dan berkata.
"Kepandaianmu hebat, orang muda. Kami Hoa-san Siang-sin-kiam mengaku kalah."
Keng Hong sudah lebih dulu menjura dan dia cepat berkata.
"Ah, Ji-wi Locianpwe terlalu mengalah dan sungkan. Terima kasih atas pelajaran yang diberikan kepada saya dan biarkan saya anggap bahwa saya telah lulus ujian."
Bun Hoat Tosu berkata.
"Engkau telah lulus ujian, Cia-taihiap. Ilmu pedangmu benar-benar mentakjubkan!"
Wajah Keng Hong menjadi merah sekali mendengar dia disebut "taihiap"(pendekar besar) oleh ketua Hoa-san-pai.
Benar-benar penghormatan yang berlebihan!
Cepat dia memberi hormat dan berkata.
"Locianpwe, harap jangan menyebut boanpwe dengan sebutan taihiap. Sebutan itu bukan didasarkan atas kepandaian, melainkan atas sepak terjang dan perbuatan seseorang, sedangkan boanpwe adalah seorang yang sama sekali belum melakukan sesuatu yang penting. Selamat tinggal dan mudah-mudahan boanpwe akan dapat segera mengantarkan pedang pusaka Hoa-san-pai yang dahulu dipinjam mendiang suhu. Ji-wi Siang-sin-kiam, ilmu pedang Ji-wi bukan main, saya menyatakan kagum sedalam-dalamnya dan maafkan saya."
Setelah berkata demikian, Keng Hong melangkah keluar meninggalkan Hoa-san-pai diikuti pandang mata mereka dan keadaan di ruangan itu menjadi sunyi sekali.
Terdengar helaan napas Bun Hoat Tosu memecah kesunyian.
"Ahhh, hebat sekali ilmu kepandaian bocah itu, benar-benar mewarisi ilmu dan kelihaian Sie Cun Hong taihiap. Kalian berdua tidak usah merasa penasaran dikalahkan olehnya, karena pinto sendiri mungkin tidak akan dapat mengalahkan dia dengan mudah."
Mendengar pengakuan ketua Hoa-san-pai ini, para anak murid Hoa-san-pai makin kagum kepada Keng Hong dan keadaan pemuda itu memberi dorongan kepada mereka untuk berlatih lebih giat lagi.
Semenjak Kaisar Yung Lo mengalahkan keponakannya sendiri dalam perebutan kekuasaan dan naik tahta Kerajaan Beng pada tahun 1403, terjadilah perubahan besar yang menuju perbaikan keadaan pemerintah.
Kaisar Yung Lo yang tadinya adalah seorang panglima perang, memegang tampuk kerajaan dengan tangan besi sesuai dengan jiwanya sebagai prajurit.
Segala macam bentuk korupsi dan penyalahgunaan wewenang diberantas dan untuk menghindarkan pemerintah yang dipimpinnya dari pengaruh buruk tuan-tuan tanah yang ada pada masa lalu seolah-olah mencengkeram semua alat pemerintah dengan kekuasan uang sogokan dan suapan, maka Kaisar Yung Lo memindahkan ibu kota dari Nanking ke Peking di utara.
Ibu kota utara ini memang tepat di mana dia bertugas ketika masih menjadi panglima, memimpin barisan pertahanan di utara, maka tentu saja Kaisar Yung Lo lebih merasa "di tempat sendiri"
Kalau berada di utara.
Pembangunan besar-besaran dilakukan di ibu kota atau kota raja ini, pembangunan yang dilakukan oleh semua ahli seni bangunan yang didatangkan dari segenap penjuru tanah air.
Istana yang besar-besar dan amat indah dibangun sehingga Kota Raja Peking menjadi kota yang hebat dan indah luar biasa di masa itu, dan terkenal di luar negeri sebagai kota terindah dan mentakjubkan para musafir kelana yang datang dari segala penjuru dunia.
Tembok besar yang melintang di utara, yang merupakan keajaiban di dunia dan membuktikan kehebatan hasil tenaga manusia (panjangnya lk.22500 mil), diperbaiki dan diperkuat.
Juga Terusan Besar yang menghubungan Kota Raja Peking Sungai Yang-tse-kian dengan Sungai Huang-ho,yang belum selesai dibangun oleh kaisar-kaisar Mongol, kini diteruskan dan diperbaiki dan diselesaikan pembangunannya.
Selain mengadakan pembangunan besar-besaran, juga Kaisar Yung Lo berusaha keras untuk meningkatkan kecerdasan kaum petani yang menjadi sebagian besar daripada rakyat dengan jalan memerintahkan penyebarluasan kesusastraan dengan mencetak kitab-kitab pusaka lama dan ajara-ajaran Kong-hu-cu sehingga kitab-kitab itu menjadi murah dan mudah didapatkan dan dipelajari oleh rakyat tidak seperti jaman sebelum itu di mana kitab-kitab hanya dapat dimiliki dan dipelajari oleh kaum ningrat dan hartawan saja.
Maka muncullah sastrawan-sastrawan dari kalangan rakyat miskin, dan mereka itu diberi kesempatan untuk meningkatkan hidup dengan jalan menempuh ujian-ujian yang diadakan setiap tahun di kota raja dan bagi siapa yang lulus akan diberi gelar siucai dan diberi kesempatan menduduki jabatan.
Kaisar Yung Lo memang bijaksana, Tidak hanya dalam hal kesussastraan di mana dia mencurahkan perhatiannya, mempersilakan kaum terpelajar dan sastrawan-sastrawan yang dahulunya banyak yang dikejar-kejar sebagai pemberontak apabila ada di antara mereka yang berani mengeritik istana, Kini datang membantu pemerintahannya dan memberi kedudukan sesuai dengan kepandaian mereka.
Di samping usaha memajukan kesusastraan dan kesenian, sebagai seorang kaisar bekas panglima, tentu saja kaisar ini tidak mengabaikan pertahanan perang, juga dapat menghargai bantuan kaum persilatan.
Maka Kaisar Yung Lo mengumumkan untuk membuka tangan kepada tokoh-tokoh kang-ouw yang suka untuk membantunya, untuk diuji kepandaiannya dan diberi kedudukan pula, dari pengawal-pengawal istana sampai komandan-komandan pasukan, disesuaikan masing-masing dengan tingkat kepandaian dan pengalaman masing-masing.
Dengan janji kedudukan tinggi, Apalagi menjadi pengawal istana yang pada waktu itu merupakan pangkat yang amat besar kekuasaannya (biasanya pengawal lebih galak dan merasa lebih kuasa daripada yang dikawal), Banyaklah para tokoh kang-ouw yang berilmu tinggi datang ke kota raja untuk menghambakan diri kepada kaisar baru Kerajaan Beng ini.
Akan tetapi, tidaklah mudah dapat diterima menjadi pengawal kaisar atau pengawal istana.
Ujiannya terlampau berat.
Ada tiga tingkat pengawal istana kaisar, yaitu tingkat pengawal istana kaisar yang memiliki ilmu kepandaian paling tinggi, tingkat kedua adalah pengawal istana bagian dalam, dan tingkat ke tiga adalah tingkat istana bagian luar.
Untuk dapat diterima menjadi pengawal-pengawal ini, calon harus membuktikan kelihaiannya dengan mengalahkan penguji dari tiga tingkatan.
Dan ternyata tidaklah mudah dan jarang sekali ada tokoh kang-ouw yang dapat mengalahkan atau menandingi para penguji ketiga tingkatan itu, Apalagi tingkat pertamanya!
Kaisar Yung Lo merasa perlu sekali menghimpun tenaga tokoh-tokoh kang-ouw yang lihai untuk memperkuat barisannya karena dia mempunyai cita-cita memperkembangkan kekuasaan negara sampai jauh ke luar negeri, untuk menundukkan daerah-daerah barat dan selatan yang semenjak jatuhnya Kerajaan Mongol tidak mau mengakui lagi kekuasaan pemerintah pusat.
Bahkan Kaisar Yung Lo bercita-cita lebih jauh lagi, yaitu mengirim pasukan-pasukan jauh menyeberangi lautan selatan untuk mencari kemungkinan-kemungkinan yang akan mendatangkan keuntungan dan kebaikan bagi negaranya, karena di mendengar selatan amat kaya akan rempah-rempah dan hasil buminya yang subur.
Pada suatu hari, pagi-pagi sekali, datanglah dua orang muda yang amat menarik perhatian ke kota raja.
Mereka ini menarik perhatian orang karena merupakan pasangan orang muda yang cantik jelita dan tampan perkasa, seorang wanita muda yang sukar ditaksir usianya antara dua puluh dan tiga puluh tahun, berpakaian serba jambon, rambutnya yang hitam digelung ke atas dan dihias burung hong kecil dari emas permata yang amat indah, di punggunggnya terdapat sarung pedang dari emas pula terukir indah sehingga hiasan ini mendatangkan sifat gagah pada kecantikannya.
Adapun pria yang berjalan di sebelahnya juga amat menarik perhatian orang.
Pria ini usianya antara empat puluhan tahun, bertubuh tinggi besar dan gagah.
Pakaiannya mewah sekali, dari ujung rambut yang tersisir rapi dan licin mengkilap sampai ke ujung sepatunya yang baru dan mengkilap pula dapat diketahui bahwa dia adalah seorang pria pesolek yang amat menjaga diri dan pakaiannya agar selalu kelihatan tampan.
Dan memang pria itu berwajah tampan, berpandang mata penuh pikatan, senyumnya pun dapat meruntuhkan hati wanita yang kurang kuat.
Seperti juga wanita muda di sebelahnya, disamping ketampanan dan kegantengannya, laki-laki ini kelihatan gagah dengan adanya pedang yang tergantung di pinggang, pedang yang sarungnya berwarna hitam dan terukir bunga-bunga teratai terbuat dari emas pada gagang pedang dan sarungnya.
Wanita cantik jelita dan gagah itu bukan lain Bhe Cui Im, sedangkan pria di sebelahnya ini adalah Kim-lian Jai-hwa-ong Siauw Lek.
Cui Im yang mendengar pula akan pengumuman istana segera mempergunakan kesempatan ini untuk mengikuti ujian karena wanita yang haus kekuasaan ini menganggap bahwa cara yang paling tepat untuk menjadi nomor satu di dunia adalah menjadi jagoan nomor satu pula.
Maka ia lalu mengajak sekutunya, Siauw Lek untuk datang ke kota raja.
Berbeda dengan sebagian tokoh kang-ouw di masa itu yang segan untuk memperlihatkan diri sehingga terlibat dalam pertentangan, Cui Im dan Siauw Lek yang terlalu percaya kepada diri sendiri dan memandang rendah orang lain, secara terang-terangan bersikap sebagai ahli persilatan dengan lagak terbuka dan menantang!
Maka tentu saja mereka menarik banyak perhatian orang di kota raja dengan lagak mereka yang menginap di rumah penginapan terbesar, makan di rumah makan termewah dan hidup secara royal sekali.
Mereka berdua tidak tergesa-gesa mengunjungi tempat pendaftaran di istana, melainkan berpesiar di kota raja sampai tiga hari.
Siauw Lek yang selalu taat dan tunduk kepada Cui Im, selama di kota raja tidak berani melakukan kebiasaannya, yaitu menganggu wanita-wanita cantik.
"Kita menghendaki kedudukan tinggi sebagai pengawal kaisar, jangan merusak nama dengan perbuatan yang mengacaukan,"
Kata Cui Im.
Siauw Lek tidak berani melanggar dan dia hanya menelan ludah saja setiap kali melihat puteri-puteri cantik yang banyak terdapat di kota raja dan memuaskan nafsunya dengan berfoya-foya bersama wanita kelas satu di kota raja.
Tiga hari kemudian, Cui Im dan Siauw Lek menghadap para petugas pendaftaran, yaitu perwira-perwira pengawal yang menerima semua pendaftaran dan kantornya berada di bangunan samping depan istana.
Pagi itu tidak ada orang lain yang mendaftarkan, dan memang makin lama makin berkuranglah para pendaftar setelah terdengar berita betapa beratnya syarat-syarat ujian dan betapa sebagian besar para peserta gagal dalam menempuh ujian, tidak dapat menandingi kelihaian si penguji.
Belasan orang perwira yang bertugas di situ memandang Cui Im dengan mata terbelalak, penuh kekaguman dan keheranan.
Kalau yang datang mendaftarkan diri seorang pria seperti Siauw Lek, mereka tidak akmn merasa heran, dan kalau seorang wanita tua yang banyak terdapat di kalangan tokoh kang-ouw mendaftarkan, mereka pun akan menerima hal ini sebagai hal wajar dan tidak aneh.
Akan tetapi seorang wanita muda dan cantik jelita seperti Cui Im datang mendaftarkan diri untuk menjadi pengawal!
Benar-benar hal ini membuat mereka terheran-heran.
Akan tetapi mereka adalah petugas-petugas yang langsung berada di bawah pengawasan istana dan berdisiplin, maka mereka menerima Siauw Lek dan Cui Im sebagaimana mestinya dan bertanya kepada dua orang ini hendak mendaftarkan untuk calon pengawal tingkat apa.
"Tentu saja tingkat pengawal kaisar, atau adakah tingkat yang lebih tinggi dari itu? Kalau ada, aku hendak mendaftar untuk tingkat yang lebih tinggi, tingkat yang paling tinggi,"
Kata Cui Im dengan sikap sembarangan.
Para petugas yang sudah terheran-heran itu menjadi melongo saking herannya.
Seorang di antara mereka yang bertugas menuliskan nama pendaftaran khawatir kalau dia salah dengar dan bertanya.
"Siapakah yang mendaftarkan untuk pertama, calon pengawal kaisar, Saudara inikah?"
Ia menuding ke arah Siauw Lek. Siauw Lek tersenyum.
"Kedua-duanya, Sobat. Kami berdua mendaftarkan untuk calon pengawal kaisar. Apakah tidak boleh?"
"Ah, boleh... Boleh..., tentu saja boleh. Akan tetapi ujiannya amat berat dan salah-salah nyawa bisa melayang..."
"Kami sudah siap sedia untuk resiko itu,"
Jawab Cui Im, dan harap catat bahwa aku mempunyai sebuah benda amat berharga yang hendak kupersembahkan kepada kaisar apabila aku dapat lulus ujian dan menjadi pengawal kaisar."
"Disini dilarang untuk menyuap dan menyogok, apalagi terhadap kaisar!"
Tiba-tiba perwira itu berkata tegas. Cui Im bertolak pingang, memandang tajam dan berkata lebih tegas lagi.
"Siapa bicara tentang suap dan sogok? Aku akan menangkan kedudukan pengawal kaisar dengan kepandaianku, akan ku kalahkan pengujinya, dan tentang benda itu ketahuilah hai perwira yang lancang mulut bahwa persembahanku itu adalah kitab Thai-yang-cin-keng. Orang berkedudukan rendah seperti engkau mungkin tidak mengenalnya, akan tetapi aku merasa yakin bahwa kaisar akan mengenal kitab itu."
Para perwira itu diam-diam mendongkol akan tetapi terkejut juga.
Dengan singkat dan tanpa banyak cakap agar tidak menimbulkan keributan dengan orang-orang kang-ouw yang mereka tahu berwatak aneh-aneh itu, nama Siauw Lek dan Cui Im dicatat dan juga rumah penginapan mereka dicatat.
"Ji-wi (kalian berdua) akan dipanggil kalau saat ujian tiba."
Cui Im dan Siauw Lek meninggalkan tempat itu dan mereka berdua sambil menanti panggilan itu melihat-lihat pembangunan yang sedang dilakukan secara besar-besaran oleh kaisar.
Tiada kunjung habis keheranan dan kekaguman mereka berdua akan kehebatan pembangunan itu dan mereka makin bersemangat untuk mencari kedudukan menghambakan diri kepada kaisar yang luar biasa ini.
Karena Bhe Cui Im dan Siauw Lek mendaftarkan nama mereka tanpa julukan, para petugas memandang rendah, akan tetapi ketika mereka menyebut tentang kitab Thai-yang-cin-keng, terkejutlah semua pegawai kaisar dan cepat-cepat mereka melaporkannya kepada kaisar.
Kaisar Yung Lo terkejut juga dan merasa girang sekali.
Tentu saja dia sudah mengenal nama kitab Thai-yang-cin-keng ini, karena sejak dahulu dia mencari-cari kitab ini.
Thai-yang-cin-keng (Kitab Ilmu Barisan Matahari) adalah kitab pusaka ciptaan Raja Besar Jenghis Khan, berisi ilmu dan siasat mengatur barisan.
Mengingat akan hasil yang gilang-gemilang dari bangsa Mongol di bawah bimbingan Jenghis Khan dahulu dapat dibayangkan betapa pentingnya isi kitab ini bagi Kaisar Yung Lo yang berjiwa perajurit.
"Panggil mereka dan biar mereka diuji oleh pengawal nomor satu! Kami akan menyaksikan sendiri ujian ini!"
Berkata kaisar dan sibuklah para pengawal mengatur untuk melaksanakan perintah ini.
Dahulu memang kaisar sendiri sering menonton ujian kelihaian para calon pengawal, akan tetapi karena jarang sekali ada yang lulus, akhir-akhir ini kaisar jarang menonton.
Hanya kalau ada calon yang namanya sudah terkenal, baru kaisar berkenan menonton karena memang menjadi sebuah di antara kesukaan Kaisar Yung Lo untuk menonton pertandingan silat, apalagi dia sendiri adalah seorang ahli silat yang lihai.
Kalau sekarang kaisar berkenan ingin menyaksikan sendiri ujian yang akan dilakukan terhadap Cui Im dan Siauw Lek, hal ini adalah karena kaisar amat tertarik mendengar bahwa wanita muda yang bernama Bhe Cui Im hendak mempersembahkan Thai-yang-cin-keng!
Ketika Cui Im dan Siauw Lek memenuhi panggilan menghadap ke istana, mereka memasuki halaman istana dengan sikap yang biasa saja, tidak kelihatan tegang sama sekali sehingga makin mengagumkan hati para pengawal yang menyambut mereka di pintu gerbang pertama.
Bhe Cui Im mengenakan pakaian berwarna merah muda yang ringkas dan ketat sehingga bentuk tubuhnya tampak membayang nyata, rambutnya digulung ke atas dan diikat pita dengan erat, pinggangnya yang ramping memakai ikat pinggang sutera kuning yang panjang sampai ke depan jari kaki, pedangnya tergantung di punggung,dan dekat pedang itu tampak sebuah buntalan sutera kuning yang berisi kitab dan menempel di punggung.
Siauw Lek berpakaian gagah, pakaian seorang jago silat yang ringkas, kedua pergelangan tangannya dipasangi kulit hitam pelindung pergelangan, Rambut kepalanya tertutup kain pengikat kepala yang dihias bunga teratai emas, pedangnya tergantung di pimggang sebelah kiri, langkahnya tegap, dadanya bidang membusung ke depan, matanya berkilat dan wajahnya berseri, senyumnya tak pernah meninggalkan bibir.
Cui Im dan Siauw Lek diantarkan masuk ke ruangan sebelah samping kiri dan di sepanjang jalan memasuki ruangan itu, mereka berdua melihat barisan pengawal berdiri menjaga di kanan kiri.
Para pengawal yang menjaga sebelah dalam istana ini merupakan pengawal-pengawal tingkat dua dan sikap mereka angker, dengan pandang mata penuh kewaspadaan menjaga segala kemungkinan untuk menjamin keamanan dalam istana.
Akan tetapi Cui Im dan Siauw Lek berjalan dengan sikap tenang, mengikuti petunjuk jalan yang kini berganti rombongan, Yaitu rombongan pengawal dalam yang mengoper tugas dari pengawal luar yang tadi mengantar kedua orang itu.
Rombongan pengawal dalam yang berjumlah enam orang ini terus membawa Cui Im dan Siauw Lek memasuki ruangan yang disediakan untuk menguji para calon pengawal tingkat satu atau pengawal pribadi kaisar.
Ruangan itu amat luas dan ketika mereka memasuki ruangan itu, di situ kosong tidak tampak seorang pun manusia, kecuali beberapa orang pengawal dalam yang menjaga di setiap sudut dengan tombak di tangan seperti arca batu.
Akan tetapi, enam orang pengawal yang mengantar Cui Im dan Siauw Lek menjatuhkan diri berlutut menghadapi sebuah tirai yang berada di sebelah dalam.
Dari tempat itu dapat dilihat samar-samar bahwa di belakang tirai terdapat sebuah meja besar dan beberapa buah kursi.
Akan tetapi di situ pun kosong.
"Harap Ji-wi suka berlutut untuk menghormat Sri Baginda Kaisar,"
Bisik seorang di antara para pengawal kepada Cui Im dan Siauw Lek.
Tempat itu mendatangkan suasana angker dan penuh wibawa, maka mendengar bisikan ini Siauw Lek dan Cui Im menjatuhkan diri berlutut di samping enam orang pengawal itu menghadap ke arah tirai.
"Riiiiittt!"
Tiba-tiba tirai itu terkuak ke kanan kiri sehingga tampaklah meja dan beberapa kursi di balik tirai, juga kini tempat itu menjadi terang sekali, agaknya ada bagian-bagian rahasia yang dibuka sehingga sinar matahari masuk memenuhi ruangan.
Bagaikan setan-setan saja, tahu-tahu di kanan kiri meja itu sudah berdiri lima orang yang berpakaian pengawal, bertopi yang dihias bulu burung sebagai tanda bahwa mereka adalah anggota Gi-lim-kun, pasukan pengawal pribadi kaisar!
Rata-rata mereka sudah berusia lima puluh tahun lebih, ada yang gemuk ada yang kurus, ada yang tinggi ada yang pendek sehingga mereka itu tidaklah kelihatan gagah perkasa seperti para pengawal istana dalam atau pengawal istana luar.
Akan tetapi bagi pandang mata Cui Im dan Siauw Lek, mereka dapat melihat jelas bahwa lima orang anggota Gi-lim-kun itu memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi.
Tiba-tiba terdengar aba-aba yang tidak jelas dari sebelah dalam, pintu terbuka dari dalam dan muncullah kaisar dikawal oleh tujuh orang anggota Gi-lim-kun.
Kaisar Yung Lo berusia kurang lebih lima puluh tahun, bertubuh tinggi tegap dan wajahnya angker sekali.
Sepasang alisnya yang tebal itu merupakan garis yang ujungnya naik ke atas, demikian pula sepasang matanya yang tajam dan membayangkan kemauan keras.
Hidungnya besar dan mulutnya yang juga membayangkan kekerasan hati terhias kumis yang dipotong pendek.
Akan tetapi jenggotnya gemuk dan panjang sekali.
Wajah seorang gagah perkasa, seperti wajah pahlawan besar Kwan Kong!
Akan tetapi pada saat itu kaisar tersenyum dan matanya memandang ramah ke arah kedua orang yang berlutut di atas lantai bersama enam orang pengawal.
"Kedua calon telah menghadap Paduka, Sri Baginda Kaisar yang mulia!"
Seorang di antara pemgawal dalam berkata, suaranya nyaring memecah kesunyian ruangan itu.
Kaisar memberi tanda dengan tangannya dan seorang di antara pengawal pribadi, yang tua berabut putih bertubuh tinggi kurus, berkata kepada para pengawal dalam.
"Para pengawal dalam boleh mundur!"
Enam orang pengawal itu meberi hormat, lalu bangkit dan mengundurkan diri, kembali ke pos mereka yang tadi.
Pengawal berambut putih itu berkata lagi, kini ditujukan kepada Cui Im dan Siauw Lek.
"Kedua orang gagah diperkenankan bangkit berdiri oleh Sri Baginda Kaisar!"
Tempat, suasana, dan suara pengawal itu mendatangkan wibawa, dan Cui Im dan Siauw Lek segera memberi hormat sambil berlutut, kemudian bangkit berdiri menghadap ke arah kaisar.
Betapapun lihai mereka ini, merupakan petualang-petualang yang tak pernah mengenal takut, akan tetapi wibawa yang keluar dari pribadi kaisar dan suasana tempat itu membuat denyut jantung mereka mengencang.
Kini mereka berdua dapat memandang jelas, mereka tidak berani memandang wajah kaisar secara langsung, akan tetapi diam-diam mereka memperhatikan dua belas orang pengawal kaisar itu.
Ternyata tidak seorang pun di antara pengawal kedua orang ini memandang rendah, akan tetapi di hadapan kaisar yang mempunyai wibawa demikian hebat, tentu saja mereka berdua tidak berani banyak tingkah.
Setelah kaisar memandang wajah kedua orang itu, sebagai seorang yang bijaksana dan waspada, hati kaisar agak kecewa.
Ia melihat sifat-sifat tidak baik pada diri kedua orang itu, akan tetapi juga dapat menangkap kelihaian yang terbayang pada tubuh dan wajah mereka.
Dia memerlukan tenaga mereka, dan soal sifat baik dan tidak baik, kekuasaanya akan dapat menundukkan mereka.
Kuda-kuda yang liar memang berbahaya, akan tetapi sekali dapat menundukkan mereka, akan menjadi alat yang amat berguna karena tenaga mereka yang boleh diandalkan, demikian pikir kaisar yang cerdik ini.
"Siapakah di antara kalian berdua yang kabarnya hendak mempersembahkan kitab Thai-yang-cin-keng kepada kami?"
Kaisar bertanya, suaranya halus, akan tetapi memiliki dasar wibawa yang menggetarkan hati pendengarnya.
"Hamba Bhe Cui Im yang membawa persembahan itu untuk Paduka Sri Baginda,"
Jawab Cui Im dengan muka tunduk. Kaisar memandang tajam, tersenyum dan hatinya tidak percaya, akan tetapi ia berkata.
"Wanita muda yang gagah, siapakah julukanmu di dunia kang-ouw?"
Biasanya, kalau ada orang menanyakan nama julukannya, Cui Im tentu akan memberi tahu dengan ahti besar dan bangga, akan tetapi sekali ini, ditanya oleh kaisar sendiri, hatinya menjadi berdebar, dan suaranya tidak garang ketika menjawab.
"Hamba.... hamba.... disebut Ang-kiam Bu-tek!"
"Pedang Merah Tanpa Tanding! Hemm, tentu ilmu pedangmu hebat sekali. Bhe Cui Im, engkau berani menyebut kitab yang hendak kau persembahkan itu sebagai Thai-yang-cin-keng. Sudah yakin benarkah bahwa kitab itu tidak palsu?"
"Hamba bukan seorang ahli barisan tentu saja hamba tidak dapat membedakan mana yang palsu dan mana yang tulen. Akan tetapi hamba mendapatkannya dari peninggalan Sin-jiu Kiam-ong."
"Ahhh! Kalau begitu, tentu saja tulen!"
Kaisar berseru gembira.
Melihat kegembiraan kaisar, Cui Im cepat menurunkan buntalan kitab yang digendong di punggungnya dalam sutera kuning, lalu berlutut dan mengangkat buntalan kitab itu tinggi-tinggi sambil berkata.
"Hamba mempersembahkan kitab ini, mohon Paduka sudi menerima."
"Eh, Ang-kiam Bu-tek, bukankah engkau mengatakan pada para pengawal bahwa engkau akan mempersembahkan kitab itu kalau engkau telah berhasil lulus ujian?"
"Hamba yakin akan lulus,"
Jawab Cui Im, kini dengan suara tegas, karena setelah bercakap-cakap dan mendengar suara kaisar itu ramah, kegentarannya berkurang.
Kaisar tersenyum lebar.
"Engkau yakin? Pengawal tingkat mana yang hendak kau pilih?"
"Tingkat pertama, hamba ingin menjadi pengawal pribadi Paduka yang mulia."
"Ha-ha-ha! Engkau terlalu besar hati, Ang-kiam Bu-tek! Untuk menjadi pengawal pribadiku engkau harus mengalahkan pengawal kepala yang paling lihai di antara dua belas orang pengawal pribadiku ini. Dan engkau takkan menang!"
"Mohon ampun, Sri Baginda. Hamba tidak sombong, akan tetapi hamba merasa yakin akan dapat mengalahkan pengawal Paduka yang manapun juga."
"Wah, engkau benar-benar luar biasa. Hendak kulihat apakah kitab persembahanmu itu tidak palsu, kemudian akan kusaksikan apakah kesanggupanmu itu pun bukan hanya kosong belaka! Kaisar memberi isyarat dan seorang di antara pengawalnya, yang berambut putih itu, menuruni tangga, menghampiri Cui Im. Pengawal ini adalah seorang ahli silat yang berilmu tinggi yang sejak sebelum Kaisar Yung Lo menjadi kaisar telah menjadi pengawal pribadinya. Dia dahulunya adalah seorang tosu perantau yang sudah menjelajah di luar tembok besar daerah utara, mempelajari berbagai ilmu silat dari utara yang dia gabungkan dengan ilmu silat dari selatan. Setelah menjadi pengawal Kaisar Yung Lo yang dahulu masih raja muda, Dia melepaskan jubah tosu dan mempergunakan nama sendiri, yaitu Theng Kiu. Ilmu silat Theng Kiu ini tinggi dan sukar dicari bandingnya, akan tetapi karena dia tidak pernah terjun di dunia kang-ouw, melainkan menjadi pengawal setia, maka namanya tidak terkenal di dunia kang-ouw. Ketika melihat sikap Cui Im yang sama sekali belum dikenalnya dan mendengar ucapan yang begitu yakin, dia menjadi tidak senang dan menganggap bahwa wanita ini sombong sekali. Di antara duabelas orang pengawal pribadi kaisar yang kesemuanya memiliki ilmu kepandaian tinggi, orang-orang pilihan dari berbagai daerah yang sudah diuji kepandaian dan kesetiannya, dia merupakan orang pertama dan boleh dibilang jago nomor satu kecuali lima orang "pengawal rahasia"
Kaisar yang diangkat setelah junjungannya menjadi kaisar.
Kini ada seorang wanita muda, belum tiga puluh tahun usianya, menyatakan di depan kaisar bahwa wanita ini yakin akan dapat mengalahkan setiap orang pengawal pribadi kaisar.
Alangkah sombongnya, dia menjadi penasaran sekali.
Ia merasa yakin bahwa dalam satu dua jurus saja dia akan mampu mengalahkan wanita itu!
Maka ketika dia menerima isyarat kaisar untuk menerima persembahan kitab ilmu perang itu, dia melangkah maju menghampiri Cui Im yang berlutut kemudian menggerakkan tangan untuk menerima kitab yang terbungkus sutera kuning.
Akan tetapi dalam melakukan gerakan ini, dia telah mengerahkan tenaga sinkangnya dengan maksud untuk membikin tergetar tangan Cui Im sehingga wanita itu akan melepaskan kitab jatuh ke lantai.
Hal ini akan membuat malu wanita yang bersumbar akan mengalahkan semua pengawal pribadi kaisar.
Tadinya Cui Im akan menyerahkan kitab itu, akan tetapi begitu tangannya tergetar setelah kakek berambut putih itu menyetuh kitab, dia terkejut dan memandang tajam.
Dilihatnya pengawal itu tersenyum mengejek, maka tahulah ia bahwa pengawal ini sengaja hendak "menguji"
Dan membikin malu.
Ia menjadi marah dan tanpa diketahui siapapun ia mengerahkan sinkangnya sambil mempererat pegangan jari tangannya pada kitab dalam bungkusan itu.
Kini giliran Theng Kiu yang kaget setengah mati.
Tangan wanita itu sama sekali tidak menjadi lumpuh seperti lajimnya orang yang terkena serangan sinkangnya, dan buku itu sama sekali tidak terlepas, bahkan begitu erat terpegang ketika dia mencoba untuk mengambilnya.
Kitab dalam bungkusan itu seolah-olah melekat di tangan Cui Im!
Theng Kiu menjadi penasaran.
Ia lalu menghimpun seluruh tenaga sinkangnya dan mengerahkan tenaga untuk mengambil kitab itu secara paksa.
Namun, tetap saja kitab itu tidak terampas, bergerak sedikit pun tidak!
Tadinya dia masih merasa malu untuk memperlihatkan bahwa dia mengerahkan tenaga, akan tetapi begitu mendapat kenyataan betapa kitab itu benar-benar diambil, dia tidak ingat lagi betapa dia telah memasangkan kuda-kuda di depan wanita yang berlutut itu, kedua kakinya terpentang tegak dan mengeluarkan tenaga sehingga lantai yang diijaknya seolah-olah melekat dengan telapak sepatunya, kemudian dia mengerahkan tenaga dan tampak jelas betapa dadanya melembung besar di balik bajunya.
Hal ini tidak saja tampak oleh semua pengawal, bahkan kaisar sendiri melihatnya dan kaisar ini yang juga mengerti akan ilmu silat tinggi sampai mendoyong ke depan di atas kursinya untuk menyaksikan adu tenaga yang amat hebat itu.
Ia tertarik sekali dan menjadi gembira karena ingin juga dia menyaksikan apakah wanita muda itu sanggup mempertahankan betotan tangan yang demikian kuat dari pengawal nomor satu.
Adu tenaga itu terjadi hanya beberapa detik saja karena Theng Kiu segera maklum bahwa dia benar-benar tidak sanggup merampas kitab itu dari tangan Cui Im.
Dengan muka kemerahan dia lalu melepaskan tangannya, dan berdiri seperti orang bingung.
Melihat ini, hampir saja kaisar bangkit dari kurisnya saking herannya.
Akan tetapi kaisar ini masih menguasai hatinya dan dia bertanya.
"Theng Kiu, bagaimana? Kenapa kau tidak menerima kitab itu?"
Theng Kiu menjadi makin merah wajahnya dan dia menjawab gagap.
"Dia... dia tidak mau memberikannya, Sri Baginda...."
Sepasang mata kaisar itu bersinar-sinar.
Ia maklum apa yang terjadi diam-diam tadi, maklum atau dapat menduga bahwa pengawalnya itu tentu telah menguji tenaga wanita itu dan ternyata tidak mampu merampas kitab.
"Heh, Ang-kiam Bu-tek, mengapa engkau tidak menyerahkan kitab itu kepada pengawalku?"
"Mohon ampun, Sri Baginda. Karena tidak ada perintah dari Sri Baginda bahwa hamba harus menyerahkan kitab kepada orang lain kecuali kepada tangan Sri Baginda sendiri, maka terpaksa hamba tidak memberikannya kepada pengawal ini,"
Jawab Cui Im, dan hati wanita ini lega menyaksikan sinar kegembiraan di wajah kaisar.
Pada saat itu, masuklah pengawal dalam dan berlutut di depan kaisar sambil melaporkan bahwa The-cai-ciangkun (Panglima Besar The) datang mohon menghadap.
Mendengar ini, wajah kaisar berseri dan seolah-olah melupakan peristiwa yang dihadapinya, bertepuk tangan gembira dan berkata.
"Suruh dia cepat datang menghadap. Biarpun sekarang bukan saatnya, akan tetapi aku ingin mendengar hasil persiapannya!"
Theng Kiu menjadi lega hatinya karena dia merasa seolah-olah terlepas dari keadaan yang memalukan.
Ia lalu melangkah kembali ke tempatnya, yaitu di antara sebelas orang rekannya yang berdiri menjaga di kanan kiri Cui Im dan Siauw Lek masih berlutut di situ dan mereka berdua pun tidak berani mengeluarkan suara atau bergerak sebelum di tanya, bahkan Cui Im masih memegangi bungkusan sutera kuning yang berisi kitab.
Tak lama kemudian, masuklah dalam ruangan itu dua orang laki-laki berpakaian pembesar tinggi berpakaian sederhana berusia kurang lebih empat puluh tahun yang kelihatannya seperti orang mengantuk.
Ketika Cui Im melirik ke arah dua orang pembesar itu, diam-diam ia terkejut melihat sinar mata kedua orang pembesar itu demikian terang dan tajam seperti mata harimau di tempat gelap.
Kaisar sendiri menyambut dua orang pembesar itu, akan tetapi jelas bahwa kaisar amat menghormati pembesar yang bertubuh tinggi, yang usianya sudah lebih tua dari kaisar, sedangkan pembesar kedua yang pendek tubuhnya dan memakai topi bundar (peci) dan berpakaian putih pula, membungkuk-bungkuk dengan sikap tenang kepada kaisar, kemudian mereka berdua berlutut menyembah.
"The-ciangkun, bangkitlah dan duduklah. Kebetulan sekali Ciangkun datang, kami sedang melakukan ujian atas diri dua orang calon pengawal yang amat menarik hati. Biarlah urusan kita itu kita bicarakan nanti setelah menguji calon pengawal ini. Dan inikah.. pembantumu yang sebut dahulu itu?"
"Benar demikian, Sri Baginda yang mulia,"
Jawab pembesar yang bertubuh tinggi dengan suaranya yang tenang dan dalam.
"Hamba adalah Ma Huan, berasal dari Sin-kiang dan hamba bersiap sedia untuk membantu The-ciangkun sahabat hamba sejak dahulu untuk melaksanakan tugas memenuhi perintah Sri Baginda."
"Bagus, bagus, duduklah kalian di sisiku sini."
Kata kaisar.
Pembesar itu adalah seorang panglima laksamana yaitu panglima yang menguasai armada yang dibentuk oleh Kerajaan Beng, bernama The Ho (tokoh ini amat terkenal, yaitu utusan Kerajaan Beng yang berlayar sampai ke Indonesia).
Adapun pembesar kedua, Ma Huan, juga amat terkenal karena dia adalah seorang berilmu yang beragama Islam dan karena raja-raja kecil di seberang lautan selatan sebagian besar beragama Islam, maka Panglima The Ho mengajak Ma Huan dalam pelayarannya (ada tersebut dalam dongeng tradisionil bahwa Ma Huan ini dikenal sebagai Dampoawang yang peninggalannya banyak terdapat di Pulau Jawa, di antaranya di Gedong Batu Sampokong di Semarang).
Dua orang pembesar itu duduk di atas kursi di sebelah kiri kaisar, sedangkan laki-laki berpakaian sederhana yang seperti orang mengantuk itu lalu berdiri di belakang The-ciangkun, sikapnya acuh tak acuh.
"Kebetulan sekali engkau datang, The-ciangkun. Lihat dua orang muda itu. Bagaimana pendapat Ciangkun atas diri mereka?"
The Ho menatap tajam wajah Cui Im dan Siauw Lek.
Ketika Cui Im mengerling dan bertemu pandang dengan pembesar itu, ia merasa bulu tengkuknya berdiri.
Ternyata pembesar ini memiliki wibawa yang tidak kalah hebat oleh kaisar sendiri!
Ketika ia melirik ke arah Ma Huan, ia lebih bergidik lagi.
Sinar mata yang amat tenang dan sabar dari kakek berkopiah putih itu seolah-olah menembus jantungnya!
"Hemmm, mengingatkan hamba akan buah yang matang kepanasan, masak kulitnya mentah isinya, Sri Baginda."
Jawab The Ho yang tenang ini membuat jantung Cui Im dan Siauw Lek berdebar tegang.
Apakah hanya dengan sekali pandang saja panglima besar itu sudah mengenal keadaan hati mereka?
Mereka menjadi gentar dan berjanji dalam hati untuk berhati-hati dan tidak sembrono menghadapi kaisar yang selain berwibawa juga memiliki banyak orang sakti itu.
"Ha-ha-ha-ha-ha, wawasanmu terlalu mendalam, The-ciangkun. Akan tetapi bagaimana kalau mereka menjadi pengawal? Yang kita pentingkan adalah kegunaan mereka sebagai pengawal, bukan?"
"Tergantung dari tingkat kepandaian mereka, Sri Baginda."
"Justeru itulah saat ini kami sedang mengujinya. Tahukah engkau, panglimaku yang bijaksana, bahwa dia selain datang untuk melamar, juga wanita lihai yang berjuluk Ang-kiam Bu-tek ini mempersembahkan sebuah kitab Thai-yang-cin-keng kepadaku?"
The Ho tampak kaget dan tercengang mengerutkan keningnya.
"Kalau betul demikian, jasanya tidak kecil."
"Sayangnya, pengawalku tidak mampu mengambil kitab itu dari tangannya kata pula Sri Baginda sambil tersenyum.
"Benarkah? Sri Baginda, bolehkah hamba menyuruh pembantu hamba Tio Hok Gwan untuk mengambilkan kitab itu dari tangannya?"
"Ha-ha-ha, ini pengawal dan muridmu yang dahulu berjuluk Ban-kin-kwi (Setan Bertenaga Selaksa Kati)? Bagus, cobalah!"
The Ho menoleh ke arah pengawalnya dan mengangguk.
Tio Hok Gwan dengan sikap hormat memberi penghormatan kepada kaisar dan kedua orang pembesar, lalu menghampiri Cui Im dengan malas-malasan.
Cui Im maklum bahwa ia hendak diuji lagi, dan dia bingung harus bersikap bagaimana.
Akan tetapi dia sudah kepalang tanggung memperlihatkan kelihaiannya, kalau kini ia menyerah begitu saja, bukankah hal ini amat mengecewakan sebagai seorang gagah?
Tadi dia tidak mengalah terhadap pengawal kepala, masa sekarang terhadap orang pengantuk ini dia harus mengalah.
Ketika ia melihat si pengantuk itu mengulur tangan, ia terkejut bukan main karena mendengar suara berkerotokan yang keluar dari lengan kurus itu dan angin pukulan yang menyambar ke arah lengannya bukan main kuatnya.
Ia tadi mendengar kaisar menyebut si pengantuk ini Setan Bertenaga Selaksa Kati, maka ia dapat menduga bahwa si pengantuk yang malas ini tentu meiliki tenaga dahsyat.
Dia sendiri mengandalkan kelihaiannya pada ilmu-ilmu silatnya yang tinggi, terutama ilmu pedangnya sedangkan dalam hal sinkang, dia belumlah terlalu mempercayai dirinya sendiri.
Akan tetapi karena ia diuji dalam tenaga, tentu saja ia tidak bisa berbuat lain kecuali mengerahkan sinkangnya dan seperti tadi ia memegang kitab terbungkus sutera kuning itu dengan erat-erat.
Biarpun Tio Hok Gwan diam-diam kagum menyaksikan betapa wanita itu tidak melepaskan kitab setelah disambar hawa dari tanganya, namun pada wajahnya yang aras-arasen (malas-malasan) tidak tampak perasaan hatinya.
Ia melanjutkan gerakan tangannya dan memegang sebagian kitab yang terbungkus sutera kuning, kemudian mengerahkan tenaga membetot.
Ia hanya mengerahkan sebagian tenaganya, karena mengira bahwa sekuat-kuatnya, wanita ini tidak akan mampu bertahan.
Akan tetapi dugaannya meleset karena kitab itu tidak terlepas dari tangan Cui Im!
Biarpun wanita ini merasa betapa tenaga raksasa membetot kitab sehingga seolah-olah seluruh tubuhnya ikut terbetot, namun dia mengerahkan sinkang dan mempertahankan diri.
Kaisar, The Ho, dan Ma Huan menonton pertunjukkan itu dengan penuh perhatian.
Kaisar memandang dengan wajah berseri, The Ho dengan tenang mengelus jenggotnya, dan Ma Huan tersenyum-senyum seperti menyaksikan permainan dua orang anak nakal.
Kemudian Tio Hok Gwan menggerakkan sedikit pundak kanannya dan ternyata tenaga bertambah hebat.
Cui Im penasaran dan tetap mempertahankan.
"Brettt....!"
Kain sutera kuning pembungkus kitab hancur lebur tergencet getaran dua tenaga sakti dan Cui Im hampir tidak kuat bertahan lagi, mukanya agak pucat dan napasnya terengah-engah.
"Jangan merusakkan kitab....!"
Cui Im berseru dan Tio Hok Gwan melepaskan tangannya sambil menoleh ke arah kaisar, seolah-olah hendak minta nasihat.
Cui Im yang cerdik dapat mempertahankan kitab, namun kaisar dan dua orang pembesarnya sudah maklum akan kehebatan tenaga Tio Hok Gwan, maklum pula akan kecerdikan Cui Im, maka kaisar berkata,"Bhe Cui Im, kami perintahkan kepadamu untuk menyerahkan kitab kepada Tio Hok Gwan."
"Dengan segala kerendahan dan kesenangan hati, Sri Baginda yang mulia!"
Kata Cui Im dan ia tersenyum dan mengedipkan mata mengejek Tio Hok Gwan yang menerima kitab itu.
Senyum dan kedipan matanya seolah-olah mengatakan bahwa betapapun juga, si pengantuk itu tidak berhasil merampas kitabnya.
Akan tetapi yang diejek tetap aras-arasen, menerima kitab dan mempersembahkan kitab itu kepada kaisar.
Mereka bertiga kaisar, The Ho dan Ma Huan, memeriksa kitab itu dan ketiganya menjadi kagum karena mengenal kitab itu benar-benar adalah peninggalan Jenghis Khan berisi taktik-taktik ilmu perang yang amat penting.
"Engkau perlu mempelajarinya sebelum ke selatan, The-ciangkun,"
Kata kaisar sambil menyerahkan kitab kepada The Ho.
The Ho menerima dan menyerahkannya kepada Tio Hok Gwan untuk disimpan.
Pengawal lihai yang suka mengantuk ini menyimpan kitab penting itu ke dalam saku bajunya sebelah dalam, kemudian berdiri di tempatnya sambil mengantuk!
"Theng Kiu, kami memerintahkan agar engkau suka menguji Ang-kiam Bu-tek Bhe Cui Im, bangkitlah dan lawanlah Theng Kiu, perlihatkan ilmu pedang agar kami dapat menilai apakah patut engkau menjadi pengawal pribadi!"
Theng Kiu memberi hormat, juga Bhe Cui Im.
Adapun Siauw Lek lalu mengundurkan diri, berdiri di pinggiran sambil memandang penuh perhatian.
Cui Im sudah bangkit berdiri, demikian pula Theng Kiu sudah meloncat ke depan wanita itu, di dalam hatinya ingin dia menebus kekalahannya ketika mengadu tenaga memperebutkan kitab tadi.
Ketika Cui Im menggerakkan tangan, tampak sinar merah berkelebat dan dia telah mencabut pedangnya.
Juga Theng Kiu sudah mencabut senjatanya yang ternyata adalah sebatang ruyung berduri yang berwarna kuning seperti emas.
"Mohon ampun, Sri Baginda"
Kata Theng Kiu sambil memberi hormat kepada junjungannya.
"Wanita ini lihai dan dalam pertandingan senjata, hamba khawatir kalau-kalau ada fihak yang terluka atau tewas oleh senjata. Bagaimana kalau sampai hamba terlanjur menewaskannya?"
Kaisar menganguk-angguk.
"Dalam pertandingan mengadu silat, terluka atau mati bukanlah hal yang aneh."
Akan tetapi Cui Im berkata kepada kaisar sambil menyoja dengan kedua tangannya.
"Mohon ampun, Sri Baginda. Seorang yang benar-benar ahli dalam menggunakan senjata, akan dapat mengalahkan lawan tanpa membunuhnya, bahkan tanpa melukainya. Setiap detik senjata masih dapat ditarik kembali sebelum terlanjur."
The Ho mengelus jenggotnya dan berkata perlahan,"Omongan yang hanya dikeluarkan seorang yang benar-benar ahli.
Wanita ini sombong, akan tetapi ucapannya memang benar, Sri Baginda."
"Mulailah!"
Kaisar menggerakkan tangan ke atas dan semua mata memandang ke arah dua orang yang sudah siap itu.
"Lihat serangan!"
Theng Kiu membentak dan ruyungnya menyambar, menjadi sinar keemasan menghantam ke arah kepala Cui Im.
Wanita ini melihat bahwa gerakan lawannya cukup kuat dan cepat baginya.
Ia merendahkan tubuh dengan menekuk kedua lutut sehingga ia tahu bahwa ruyung itu akan melewati atas kepalanya dan langsung ia membalas dengan gerakan pedangnya menyerampang kaki lawan.
Cepat sekali gerakannya itu, hampir bersamaan dengan serangan Theng Kiu seningga pengawal kepala ini terkejut dan cepat meloncat sabil miringkan tubuh dan dia pun meniru lawan untuk bergerak cepat, ruyungnya yang melewati kepala tadi dia balikkan menimpa pundak Cui Im tidak membiarkan tulang pundaknya diremukkan ruyung, ia miringkan tubuh sambil meloncat ke atas dan otomatis pedangnya yang luput menyerapang kaki tadi sudah membentuk lingkaran ke atas dan menukik dengan tusukan ke arah mata Theng Kiu!
Akan tetapi Theng Kiu sudah memutar pergelangan tangannya, ruyungnya menangkis keras.
"Tranggggg...!"
Bunga api berhamburan dan secepat kilat Cui Im yang sudah ke bawah itu menusukkan pedangnya ke arah perut lawan.
Kembali menghadapi serangan yang cepat ini tidak ada lain jalan bagi Theng Kiu kecuali menggerakkan ruyung dari samping menangkis keras.
"Cringgggg....!"
Kini Theng Kiu sambil menangkis, membarengi dengan pukulan tangan kiri ke arah dada Cui Im dari samping.Begitu kedua mendekati sasaran.
Namun Cui I mengelak ke kanan dan mengayun kakinya menendang lutut lawan.
Kalau saja Theng Kiu tidak cepat mengelak sambil memutar ruyungnya melindungi tubuh, tentu lututnya patah atau lehernya terbabat pedang karena sambil menendang tadi pedang Cui Im sudah menyambar ke leher.
Kebali kedua senjata bertemu keras.
"Tranggggg...!"
Theng Kiu menghantam ruyung dari bawah ke arah pinggang, ditangkis Cui Im.
"Cringggg!"
Dan tiba-tiba tampak sinar merah bergulung-gulung ketika Cui Im membalas dengan serangan bertubi-tubi.
Cepat bukan main gerakan pedang wanita ini sehingga tubuhnya lenyap terbungkus sinar pedangnya yang merah.
Theng Kiu terpaksa mengerahkan seluruh tenaga mengimbangi kecepatan lawan, namun tetap saja dia kalah cepat sehingg di antara dua gulung sinar pedang erah dan sinar ruyung keeasan yang membungkus tubuh kedua orang itu, terdengar suara "crang-cring-crang-cring!"
Nyaring berkali-kali dan kesemuanya merupakan pedang yang menyerang dan ruyungnya yang terus menerus menangkis karena tidak diberi kesempatan untuk balas menyerang!
Semua orang yang menonton termasuk kaisar sendiri, menahan napas, kecuali The Ho yang mengelus-elus jenggot, Ma Huan yang tersenyum-senyum dan Tio Hok Gwan yang makin mengantuk sungguhpun kedua mata yang mengantuk ini tak pernah berkedip menonton pertandingan.
Pertandingan itu amat seru dan menegangkan, berlangsung dengan kecepatan yang memusingkan para penonton yang masih belum setinggi itu tingkatnya.
Cui Im memang seorang ahli pedang yang lihai.
Dahulu pun, ketika ia masih menjadi murid Lam-hai Sin-ni dan berjuluk Ang-kiam Tok-sian-li (Dewi Beracun Berpedang Merah), ilmu pedangnya sudah hebat dan jarang ada yang mampu menandinginya.
Sekarang, setelah ia mempelajari ilmu-ilmu yang tinggi dan mujijat dari peninggalan Sin-jiu Kiam-ong selama empat tahun, kepandaiannya sudah meningkat luar biasa.
Ilmu pedangnya kini amat hebat, merupakan gabungan dari ilmu pedangnya sendiri yang ia pelajari dari Lam-hai Sin-ni disempurnakan dengan ilmu pedang yang ia pelajari dari kitab peninggalan Sin-jiu Kiam-ong yang inti sarinya merupakan Ilmu Pedang Siang-bhok-kiam dan yang hanya diiliki atau diwarisi oleh Keng Hong karena Ilmu Pedang Siang-bhok-kiam ini dirahasiakan oleh Sin-jiu Kiam-ong dan hanya Keng Hong yang telah menerima ajaran gurunya.
Namun ilmu pedang ciptaan Sin-jiu Kiam-ong itu benar-benar mencakup semua inti dari ilmu pedang Hoa-san-pai, Kun-lun-pai, Kong-thong-pai dan Siauw-li-pai menjadi satu.
Di masa mudanya, Sin-jiu Kiam-ong yang mencuri ilmu-ilmu dari partai-partai besar telah memetik bagian-bagian yang terlihat kemudian menggabungkannya sehingga kini ilmu pedang yang dimainkan oleh Cui Im benar-benar luar biasa sekali.
Di lain fihak, ilmu silat Theng Kiu adalah ilmu silat gabungan dari utara dan selatan, dan juga dia memiliki jurus-jurus gabungan yang aneh, akan tetapi dibandingkan dengan Cui Im, tingkat ilmu silatnya kalah tinggi.
Selain itu, karena Cui Im sudah mempelajari cara bersamadhi dan menghimpun tenaga dari kitab-kitab peninggalan Sin-jiu Kiam-ong, terutama sekali dari kitab kedua Siauw-lim-pai Seng-to-cin-keng dan I-kiong-hoat-hiat, maka dia telah memiliki sinkang yang amat kuat, lebih kuat daripada tenaga sinkang Theng Kiu sehingga wanita ini menang tenaga dan menang cepat.
Sinar pedang merah yang bergulung-gulung itu makin lama makin membesar dan lingkaran-lingkarannya makin luas, menggulung sinar emas dari ruyung di tangan Theng Kiu.
"Bagaimana pendapatmu, The-ciang-kun?"
Kaisar bertanya kepada Laksamana The Ho yang memandang dengan kagum.
"Hebat, Sri Baginda. Benar-benar hebat kiam-sutnya, dan kalau Sri Baginda dapat mempergunakan tenaga wanita ini sebagai pengawal, sungguh baik sekali. Hamba rasa, Tio Hok Gwan sendiri belum tentu mampu menandingi kiam-sutnya yang seperti itu. Bagaimana, Hok Gwan?"
Si pengantuk itu menggeleng-geleng kepala.
"Luar biasa sekali. Hamba takkan menang bertanding senjata dengan wanita itu."
Dengan ucapan ini, Tio Hok Gwan hanya mengakui kelihaian Cui Im dalam permaian pedang, sedangkan kalau bertanding sungguh-sungguh mencari kemenangan, belum tentu dia akan kalah.
"Pedang yang ganas, semoga Allah menyadarkan untuk mempergunakan ilmunya demi kebenaran!"
Ma Huan berkata sabil menggeleng-geleng kepala.
"Cukup, Theng-ciangkun...!"
Tiba-tiba terdengar seruan Cui Im dan tampak tubuh wanita ini melesat keluar dari gulungan sinar yang lenyap pula.
Wanita ini berdiri sambil tersenyum, wajahnya merah segar dan matanya berseri.
Adapun Theng Kiu berdiri dengan muka lebih merah lagi, napasnya agak terengah.
"Maafkan saya, Theng-ciang-kun dan terimalah kembali kancing bajumu."
Cui Im melemparkan sebuah benda kecil yang diterima oleh Theng Kiu.
Keduanya lalu berlutut menghormat kaisar yang memandang kagum.
Kiranya wanita itu sedemikian lihainya mainkan pedang sehingga dapat menanggalkan kancing baju lawan tanpa melukainya.
Tentu saja peristiwa ini membuktikan kemenangan Cui Im secara mutlak, karena kalau wanita itu menghendaki, tentu saja ujung pedang bukan mengambil kancing, melainkan lebih dalam lagi dibalik baju dan kulit dada, menusuk jantung!
"Bhe Cui Im, engkau lulus ujian.
Ilmu pedangmu benar-benar hebat,"
Kata kaisar.
"Terima kasih, Sri Baginda!"
Kata Cui Im dengan girang sekali.
"Dan bagaimana dengan engkau? Siapakah namamu tadi?"
"Hamba bernama Siauw Lek, Sri Baginda. Hamba pun siap untuk menghadapi pengawal pribadi Paduka yang manapun untuk menguji hamba."
"Apa? Engkau pun berani menghadapi pengawal pribadiku? Dengan senjata?"
"Dengar senjata maupun tangan kosong hamba sanggup menghadapinya, Sri Baginda."
Kaisar tertawa.
"Wah, agaknya kalian berdua memang tokoh-tokoh kang-ouw yang jempol! Engkau telah menyaksikan kepandaian pengawal kepala. Apakah engkau sanggup menandinginya?"
"Theng-ciang-kun tentu telah lelah, kalau tidak, hamba sanggup menghadapinya, Sri Baginda."
Dengan muka merah Theng Kiu memberi hormat dan menjawab.
"Tidak, Sri Baginda. Hamba tidak lelah dan tidak penasaran kalau dikalahkan oleh tokoh kang-ouw yang memang hamba tahu banyak sekali yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kalau Paduka Sri Baginda Kaisar menghendaki, hamba akan menguji Siauw Lek dengan ilmu silat tangan kosong."
"Baik, lakukanlah, Siauw Lek, bersiaplah menandingi Theng Kiu."
Kembali dua orang lawan berhadapan dan kini para pengawal yang menonton mengharapkan kemenangan bagi rekan mereka.
Bukan karena iri hati melihat masuknya pengawal baru, hanya karena mereka maklum bahwa di samping ilmu silatnya yang hebat, Theng Kiu pernah menjadi juara dalam ilu gulat diantara orang-orang Mongol.
Maka banyak harapan baginya untuk memenangkan pertandingan tangan kosong ini.
Andaikata tadi menghadapi Cui Im mereka tidak mengadu ilmu pedang, kiranya belum tentu Theng kiu kalah, demikian pikir mereka.
Betapapun juga, tidak mungkin di depan kaisar mengeluarkan ilmu gulat kalau bertanding melawan seorang wanita!
"Awas pukulan!"Theng Kiu berseru dan mulai menyerang dengan pukulan tangan kanan yang kuat dan mantap.
Siauw Lek yang belum tahu sampai di mana tenaga lawan, tidak mau bersikap sembrono menangkis, mengelak ke kiri dan dari kiri dia balas memukul dengan tangan kanan, lutut ditekuk sehingga pukulannya yang lurus dari pinggang itu menuju ke lambung lawan.
Theng Kiu juga mengelak sambil meloncat ke sebelah kiri Siauw Lek, cepat kakinya menendang ke bawah pusar.
Terdengar suara angin bersiutan saking keras dan cepatnya tendangan ini.
Namun dengan tangkas dan tenang Siauw Lek mengelak dan balas memukul.
Karena pukulan ini cepat sekali datangnya, Theng Kiu menangkis, sekalian hendak mengukur tenaga lawan.
"Duukkk!"
Kedua orang itu terpental ke belakang, tanda bahwa tenaga mereka beribang, sungguhpun dilihat dari jarak mereka terpental itu tampak bahwa Theng Kiu terpental lebih jauh.
Makin serulah pertandingan itu, pukul-memukul, tendang menendang dan tusuk menusuk dengan jari tangan mengarah jalan darah yang akan ditotoknya.
Keduanya sama sigap, sama tangkas dan sama kuat.
Seperti juga ilmunya bersenjata ruyung, juga ilmu silat tangan kosong Theng Kiu amat aneh gerakannya, namun ilmu silat Hek-liong-kun (Ilmu Silat Naga Hitam ) yang dimainkan Siauw Lek juga hebat, bukan main.
Ilmu silat ini adalah ilmu silat ciptaan Gobi Chit-kwi, Tujuh iblis dari Go-bi, yang memiliki sifat ganas dan dahsyat.
Kaisar yang menonton pertandingan itu, diam-diam merasa kagum (Lanjut ke
Jilid 24) Pedang Kayu Harum (Seri ke 01-Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 24 dan dia maklum bahwa biarpun tingkat kepandaian laki-laki pesolek dan tampan ini tidak dapat menandingi kelihaian Cui Im, namun tingkatnya tidak di sebelah bawah pengawal kepala itu.
Diam-diam dia merasa girang sekali karena selain mendapatkan kitab Thai-yang-cin-keng yang sejak dahulu dia cari-cari, juga sekarang dia mendapatkan dua orang pembantu yang tenaga dan kepandaiannya boleh diandalkan.
"Orang ini kepandaiannya juga hebat, Sri Baginda. Akan tetapi hamba mohon agar Paduka bersikap waspada. Orang seperti dia ini sama sekali tidak boleh dipercaya secara bulat-bulat,"
Kata The Ho perlahan secara kaisar. Kaisar tersenyum.
"Anjing yang betapa galak pun kalau pandai mempergunakannya, dapat menjadi penjaga yang setia, Ciangkun."
The Ho menganguk-angguk dan dia pun tidak merasa gelisah karena orang pandai ini sudah mengenal kebijaksanaan junjungannya.
Sementara itu, dua orang yang bertanding itu masih terus saling menyerang dengan seru, akan tetapi kini terjadi perubahan.
Siauw Lek kelihatan mulai mendesak dengan pukulan-pukulan ampuh yang bertubi-tubi sehingga Theng Kiu tidak mampu lagi membalas.
Sebetulnya Theng Kiu tidaklah terdesak, dan memang dia sengaja main mundur dan bersikap seolah-olah terdesak.
Hal ini sengaja dia lakukan untuk membuat lawan lengah.
Ia hendak mempergunkan ilmu gulatnya untuk menangkan pertandingan ini.
Andaikata dia menghadapi lawan lain, tentu sudah dia keluarkan sejak tadi untuk mencapai kemenangan.
Akan tetapi dia maklum bahwa Siauw Lek adalah lawan yang amat tangguh dan senjatanya yang paling ampuh dalam pertandingan tangan kosong hanya ilmu gulatnya.
Kalau dia keluarkan sembarangan dan diketahui lawan, agaknya lawan akan bersikap hati-hati sehingga sukar ditangkap.
Maka dia sengaja bersikap terdesak untuk menyergap lawan secara tiba-tiba selagi lawan lengah.
Pada saat Siauw Lek mengiri pukulan dengan lengan kanan dengan kuat dan cepat sekali ke arah dada Theng Kiu, pengawal berambut putih itu menggerakkan tangan menangkis, akan tetapi tidak seperti yang sudah-sudah tadi, tangkisannya kurang tenaga sehingga kepalan tangan Siauw Lek masih meleset dan menuju dadanya.
Agaknya Theng Kiu waspada sehingga mengirangkan hati Siauw Lek yang merasa bahwa pukulannya tentu akan mengenai sasaran.
Duagaannya memang tepat, kepalan tangannya menyentuh dada lawan akan tetapi tangan yang menangkisnya tadi kini tahu-tahu telah mencekal pergelangan tangannya dan tubuh lawan secara tiba-tiba merendah, membungkuk dan Siauw Lek merasa tubuhnya terlempar tinggi di udara!
Hebat sekali serangan balasan Theng Kiu ini, yang menggunakan cara melontarkan yang istimewa, yaitu meminjam tenaga pukulan Siauw Lek dan mempergunakan tubuhnya sebagai pengganjel lengan Siauw Lek yang ditangkap sebagai pengayun maka terlontarlah tubuh Siauw Lek sampai tinggi dan jauh.
Kalau bukan Siauw Lek yang sudah memiliki ginkang tinggi, berbahayalah lawan yang dilontarkan seperti ini, karena kalau terbanting dengan kepala lebih dulu tentu akan tewas seketika.
Akan tetapi Siauw Lek tidak kehilangan akal.
Sungguhpun tubuhnya melayang ke atas di luar kehendaknya sehingga untuk sesaat dia kehilangan keseimbangan tubuhnya, namun di udara dia sudah dapat menggerakkan tubuh dengan gerakan Lee-hi-ta-teng (Ikan Lee Mencuat) dan di udara itu tubuhnya berpoksai (bersalto) tiga kali sehingga ketika tubuhnya melayang turun kembali, Dia sudah dapat menguasai tubuhnya dan turun dengan arah terkendali, yaitu turun menukik ke arah lawan sabil mengirim pukulan dengan kedua tangan seperti gerakan seekor garuda menyambar kelinci!
Gerakan Theng Kiu ketika menangkap dan melontarkan lawan tadi memang hebat, akan tetapi gerakan Siauw Lek itu lebih indah sehingga terdengar seruan-seruan memuji.
Adapun Theng Kiu yang menjadi penasaran, sudah menggeser tubuh ke belakang sehingga serangan Siauw Lek luput dan mereka kembali saling berhadapan.
Siauw Lek tersenyum dan maklumlah kini dia bahwa "simpanan"
Lawannya adalah ilu melontarkan tubuh lawan yang menjadi sebagian daripada ilu gulat utara.
Siauw Lek bukanlah seorang pemuda hijau.
Dia sudah mengalami banyak pertempuran dan dia banyak tahu akan ilmu silat ini, Maka diam-diam dia mengambil keputusan untuk mengalahkan lawan ini dengan mencari titik kelemahan ilmu gulat!
Ia tahu bahwa seorang ahli gulat, amat takut terlalu lama menangkap seorang ahli silat, takut akan pukulannya, maka begitu menangkap tentu akan dilontarkan atau di banting.
Sebaliknya, seorang ahli silat biasanya bersikap hati-hati kalau melawan seorang ahli gulat, dan selalu bertanding dengan jarak jauh karena maklum akan lihainya ilmu gulat yang bukan lain adalah ilmu mencengkeram dan menangkap semacam Eng-jiauw-kang dan Kin-na-hoat.
Setelah membuat perhitungan dan mencari akal, kembali Siauw Lek menerjang maju dengan pukulan-pukulan berat.
Sekali lagi dia tertangkap, bahkan kini kedua lengannya yang ditangkap dengan beberapa kali tekukan tubuh, Siauw Lek telah diangkat dan sekali ini dia dibanting ke atas lantai.
"Bruuukkkkk!"
Debu mengebul ketika tubuh Siauw Lek terbanting ke atas lantai saking kerasnya bantingan, akan tetapi tubuh Siauw Lek sudah mencelat bangun kembali, sebaliknya, tubuh Theng Kiu terguling dan tidak dapat bangun karena pada saat dia dibanting dan dilepaskan oleh cekalan tangan lawan, Siauw Lek sudah secepat kilat menggerakkan tangan mengirim pukulan sinkang yang tepat mengenai lambung Theng Kiu.
Biarpun tidak sangat tepat dan keras kenanya karena posisi Siauw Lek yang sedang dibanting itu, namun karena pukulan itu mengandung sinkang dan yang terkena adalah bagian tubuh yang lemah, cukup untuk merobohkan Theng Kiu yang perutnya menjadi nyeri dan napasnya sesak!
Melihat keadaan lawannya, Siauw Lek cepat menghampiri dan dengan beberapa kali totokan dan pijatan, akhirnya Theng Kiu tidak begitu menderita.
Keduanya lalu berlutut di depan kaisar dan Theng Kiu berkata.
"Hamba mengaku kalah dalam bertanding tangan kosong dengan saudara Siauw Lek, Sri Baginda."
Kaisar mengangguk-angguk dan The Ho tai-caiangkun berkata.
"Mereka berdua lebih lihai daripada pengawal kepala, pangkat apakah yang akan Paduka berikan kepada mereka, Sri Baginda?"
Kaisar tersenyum memandang panglima tinggi yang dahulunya merupakan sahabat seperjuangan itu, dan berkata lirih.
"Aku telah mempunyai lima orang pengawal rahasia yang terdiri dari orang-orang sakti, kalau kini ditambah dua orang lagi, bukankah lebih baik, The ciangkun? Mereka hidup mewah dan bebas, akan tetapi bertugas untuk secara rahasia mengawal kaisar dengan taruhan nyawa mereka. Ingin mengenal mereka?"
Tanpa menanti jawaban panglima itu tahu pasti akan menyetujuinya, kaisar sudah memasukkan sebuah benda kecil ke mulutnya dan meniup.
Terdengarlah suara melengking tinggi dan beberapa detik kemudian, baru saja kaisar menyimpan kembali benda yang ternyata semacam peluit kecil itu ke dalam saku, dari jendela, pintu, dan atas genteng melayang turun lima bayangan orang yang gerakannya cepat laksana burung-burung menyambar dan tahu-tahu di ruangan itu telah berdiri lima orang laki-laki tua yang memandang kaisar, kemudian memandang ke kanan kiri penuh kewaspadaan dan persiapan.
Cui Im memandang penuh perhatian dan dengan kaget dia mengenal bahwa seorang di antara lima orang kakek itu bukan lain adalah Pak-san Kwi-ong, kakek tinggi besar yang berkulit hitam arang, matanya kelihatan putih dan telinganya lebar seperti telinga gajah, di pinggangnya tergantung senjata rantai dengan kedua ujungnya terdapat tengkorak!
Akan tetapi Siauw Lek lebih kaget lagi karena dia mengenal lima orang itu yang kesemuanya adalah tokoh-tokoh kang-ouw, datuk-datuk dunia hitam atau golongan sesat.
Yang seorang jelas adlah Pak-san Kwi-ong, tokoh nomor satu dari utara, akan tetapi yang empat orang juga merupakan tokoh-tokoh besar yang telah lama menjagoi perbatasan utara dari barat ke timur, merupakan "iblis-iblis"
Sepanjang Tembok Besar.
Yang pertama bernama Gu Coan Kok yang terkenal dengan julukan Iblis Cebol, tingginya tidak ada satu setengah meter, akan tetapi senjatanya adalah sebatang tongkatnya yang panjangnya lebih dari ukuran tubuhnya!
Orang ke dua adalah seorang yang tubuhnya tinggi besar, lebih tinggi dari Pak-san Kwi-ong sendiri, akan tetapi punggungnya bongkok, senjatanya istimewa karena senjata ini tak pernah dapat dia lepaskan, yaitu cakar baja yang telah tertanam di ujung jari tangannya, menggantikan sepuluh kuku jari yang semuanya berbisa.
Dia ini adalah Hok Ku, seorang keturunan suku bangsa Kerait dan berjuluk Toat-beng Tok-ciang (Tangan Beracun Pencabut Nyawa).
Suku bangsa Kerait adalah suku bangsa di utara yang dahulu pernah mengalami masa jaya di samping suku bangsa Nalman, bahkan sebelum suku bangsa mongol menjadi besar.
Mongol pernah tunduk kepada bangsa Kerait.
Orang ke tiga bermuka putih seperti mayat, tinggi kurus dan kedua tangannya memegang pisau kecil runcing dan taja mengkilap.
Dia inilah Kemutani, seorang perankan bangsa Mongol dan Han, dan biarpun senjatanya hanya pisau-pisau kecil, akan tetapi justeru senjata sederhana inilah yang membuat namanya terkenal karena selain dia seorang ahli dalam bersilat menggunakan sepasang pisau ini, juga pisau-pisau itu dapat dia lontarkan dari jarak dekat atau jauh dengan cepat dan tepat sehingga dia mendapat julukan Hui-to (Si Pisau Terbang).
Orang ke empat bertubuh bulat bundar seperti bola saking gendut dan pendeknya, kedua kakinya pendek dan besar seperti kaki gajah, tubuhnya merupakan bulatan besar seperti gentong dan kepalanya merupakan bulatan kecil seperti bola.
Biarpun bentuk tubuhnya lucu, akan tetapi sepak terjang Couw Seng yang berjuluk Thai-lek Sin-mo ( Iblis Sakti Bertenaga Besar) ini sama sekali tidak lucu, apalagi bagi lawannya karena dia benar-benar lihai sekali dan sukar dikalahkan.
"Ha-ha-ha, kalian berlima jangan kaget. Kami memanggil kalian bukan karena ada ancaman bahaya, melainkan hendak kami perkenankan dengan dua orang pengawal rahasia yang baru sebagai rekan-rekan kalian. Mereka berdua itulah pengawal-pengawal yang baru."
Kaisar berkata sambil menuding ke arah Cui Im dan Siauw Lek.
Mendengar ucapan kaisar ini barulah sikap lima orang pengawal rahasia itu tidak tegang dan mereka tersenyum-senyum, bahkan lalu menjura penuh hormat kepada kaisar.
Hanya lima orang pengawal rahasia inilah yang dibebaskan daripada kebiasan menghormat kaisar sambil berlutut karena mereka itu setiap detik harus waspada dan menjaga kaisar secara diam-diam dan rahasia, berbeda dengan para pengawal pribadi yang seolah-olah menjadi kaki tangan kaisar, ke manapun kaisar bergerak selalu harus menjaga di samping kaisar.
Adapun liam orang pengawal rahasia ini seperti bayangan kaisar, kadang-kadang tampak kadang-kadang tidak, namun selalu siap untuk membela kaisar pada saat-saat diperlukan.
Maka begitu kaisar meniup peluit sebagai tanda rahasia panggilan, lima orang pengawal ini muncul secara tiba-tiba.
Secara bergiliran, mereka berlima ini melakukan penjagaan siang malam.
Setelah lima orang ini merasa yakin bahwa keselamatan kaisar tidak terancam, mereka memandang ke arah dua orang yang disebut pengawal baru oleh kaisar itu dan terdengarlah seruan-seruan.
"Kim-lian jai-hwa-ong....!"
"Eh, Tok-sian-li, engkaukah ini?? Benarkah bahwa Lam-hai Sin-ni telah kau...."
"Pak-san Kwi-ong, perlukah kita harus membongkar-bongkar keburukan masing-masing di hadapan yang mulia Sri Baginda Kaisar?"
Cui Im membentak marah sambil menudingkan telunjuknya kepada kakek tinggi besar berkulit hitam itu.
"Urusan pribadi tidak ada sangkut-pautnya dengan pengabdian kita kepada Sri Baginda. Atau, kalau engkau dan empat orang kawanmu ini merasa terlalu tinggi untuk bekerja sejajar dengan aku, dan merasa terlalu pandai, hemmm.... aku Ang-kiam Bu-tek akan mampu membuktikan bahwa aku dapat merobohkan kalian seorang demi seorang atau bahkan sekaligus!"
Siauw Lek juga berkata tersenyum.
"Kalau Sri Baginda ynag mulia menghendaki, aku pun sanggup menghadapi mereka seorang lawan seorang!"
Kaisar malah tertawa girang mendengar ini, akan tetapi dia lalu mengangkat tangan berkata.
"Pak-san Kwi-ong, dengar baik-baik perkataan kami. Kami telah menguji Ang-kiam Bu-tek dan Siauw Lek dan kami memutuskan untuk mengangkat mereka berdua ini menjadi pengawal rahasia di samping kalian berlima. Karena itu, perintahku pertama kepada kalian bertujuh adalah agar kalian jangan membuat ribut sendiri dengan urusan pribadi kalian yang tak ingin kudengar. Nah, Pak-san Kwi-ong, ajaklah mereka berdua ini yang sekarang menjadi rekan-rekanmu ke dalam dan boleh kalian bercakap-cakap di sana, jangan datang kalau tidak kupanggil!"
Lima orang pengawal rahasia itu membungkuk, demikian pula Cui Im dan Siauw Lek yang sudah cepat dapat menyesuaikan diri, kemudian kedua orang baru ini berlalu mengikuti lima orang pengawal rahasia, tidak canggung-canggung lagi dan gerakan mereka bertujuh amat cepat tanpa mengeluarkan suara seolah-olah pribadi kaisar dilindungi oleh tujuh setan.
Setelah mereka bertujuh pergi, kaisar tertawa dan melanjutkan perundingannya dengan Laksamana The Ho dan Ma Huan, membicarakan rencana kaisar untuk mengirim barisan di bawah pimpinan The Ho ke selatan, memjelajah negeri-negeri di seberang lautan.
Adapun di sebelah dalam istana, di tempat rahasia, Cui Im berkata kepada Pak-san Kwi-ong yang oleh kaisar disebut Pak-san-kwi (Setan Pegunungan Utara) dan dihilangkan "ong"
Atau rajanya.
"Kwi-ong, kita harus mentaati perintah kaisar dan ingatlah engkau bahwa aku bukanlah Ang-kiam Tok-sian-li murid Lam-hai Sin-ni seperti dulu lagi. Aku adalah Ang-kiam Bu-tek, pewaris harta peninggalan Sin-jiu Kiam-ong, dan tentang kepandaianku, ingat saja bahwa Lam-hai sin-ni juga roboh dan tewas di tanganku. Kalau kalian berlima menghendaki kerja sama dengan aku untuk mengawasi kaisar, baik sekali. Akan tetapi kalau kalian berlima hendak bertengkar dan menentangku, aku akan membunuh kalian dengan bantuan Kim-lian Jai-hwa-ong dan terpaksa kita semua tidak akan dapat mempertahankan kedudukan kita di sini. Mana yang kau pilih?"
Pak-san Kwi-ong yang dianggap paling sakti di antara teman-temannya, tertawa dan berkata.
"Ang-kiam, sebelum engkau muncul aku sudah menjadi pengawal, tentu saja aku akan selalu mentaati perintah kaisar. Sungguhpun hal ini bukan berarti bahwa aku takut kepadamu, akan tetapi selama engkau diterima oleh kaisar sebagai pengawal rahasia, engkau akan kuanggpap sebagai rekan dan kawan, demikian pula Jai-hwa-ong ini."
Demikianlah, mulai saat itu, Cui Im dan Siauw Lek menjadi pengawal-pengawal rahasia kaisar yang berarti bahwa mereka merupakan dua orang di antara pengawal-pengawal yang paling tinggi kedudukannya, merupakan jagoan-jagoan istana yang disegani dan ditakuti orang lain, kecuali kaisar sendiri.
Bahkan pembesar-pembesar istana yang berpangkat tinggi sekalipun segan terhadap pengawal-pengawal rahasia ini karena mereka semua maklum bahwa apabila ada orang yang tidak setia kepada kaisar, apalagi yang berniat memberontak, tentu akan didatangi oleh pengawal-pengawal rahasia yang sakti ini dan menerima hukuman!
Adanya tujuh orang pengawal rahasia yang kesemuanya terdiri dari bekas-bekas tokoh besar kaum sesat, membuktikan bahwa Kaisar Yung Lo memang pandai mempergunakan orang dan memanfaatkan kepandaian mereka, baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam.
Dan segera terkenal di seluruh dunia kang-ouw bahwa tujuh orang tokoh besar itu menghambakan diri di istana, maka hal ini sudah cukup membuat gentar hati setiap orang yang berniat memberontak.
Biauw Eng bersama Lai Sek tiba di kota raja, sesuai dengan permintaan Lai Sek yang mengajak Biauw Eng mengunjungi sahabatnya yang menjadi orang berpangkat di kota raja untuk minta bantuan sahabatnya agar mereka berdua dapat menjadi suami isteri dan dapat bekerja di kota raja, hidup dengan tenteram.
Atas petunjuk Lai Sek yang sudah tak dapat melihat lagi itu, dengan mudah Biauw Eng menemukan sahabat yang dicari.
Sahabat Lai Sek ini ternyata telah menduduki pangkat tinggi, mendapat pangkat mengepalai pembangunan istana-istana di kota raja.
Pangkat ini amat tinggi dan juga menjadi sumber korupsi karena semenjak jaman itu pun, pembangunan atau usaha pemerintah apa saja yang ada hubungannya dengan keuangan, baik penerimaan maupun pengeluaran uang, selalu menjadi sumber perbuatan korupsi.
Ang Joan Ti, sahabat Sim Lai Sek itu, kini disebut orang Ang-taijin (pembesar Ang) dan menjadi bahan penjilatan dari lidah banyak orang yang menginginkan rejeki dalam usaha pembangunan besar-besaran di kota raja.
Dahulu Ang Joan Ti adalah seorang sahabat ayah Sim Lai Sek, dan masih menjadi pelajar kesusastraan yang tekun dari kota Liok-keng.
Setelah dia menjdi pembesar yang selalu naik pengkat berkat ketekunan dan kecerdikannya, mulailah terjadi perubahan besar pada pribadi dan watak Ang Joan Ti.
Dahulu, sebagai seorang pelajar miskin yang semenjak kecil selalu menderita kekurangan, Joan Ti berwatak sederhana, tidak banyak keinginan kecuali memperdalam pelajarannya dan kelak dapat menduduki pangkat sebagaimana dicita-citakan semua orang pada waktu itu.
Memang, pada waktu itu, hidup yang terhormat, kaya raya atau setidaknya layak, hanya dapat dicapai oleh orang yang menjadi pegawai pemerimtah.
Kecuali beberapa orang tuan tanah dan pedagang yang sudah terlahir kaya, maka seluruh rakyat yang tidak menjadi pegawai pemerintah hanyalah petani-petani miskin.
Setelah Joan Ti lulus ujian dan mendapat pangkat, yang mula-mula kecil di kota raja namun berkat kecerdikannya makin meningkat sampai sekarang ini.
Ang Joan Ti menjadi mabuk kekayaan, mabuk kemuliaan dan mabuk kemewahan.
Karena disanjung banyak orang dan pejabat rendahan yang menjilat-jilatnya agar kebagian rejeki, diangkat-angkat dan dipuji-puji, timbullah sifat sombong pada diri bekas orang dusun miskin yang tadinya amat sederhana dan rendah hati ini.
Puji-pujian membuat dia seperti sebuah balon melayang-layang ke atas tiada puas dan batas, tidak sadar bahwa sewaktu-waktu dapat meletus dan lenyap.
Kedudukan yang mulia, kemewahan yang berlebihan membuat dia terikat lebih kuat kepada kesenangan dunia, membuat dia lupa bahwa kesenangan dunia tidak ada yang bertahan lama.
Yang paling cepat menjerumuskan Joan Ti sehingga menjadi berubah batinnya terutama sekali adalah pejabat bawahannya.
Dalam usaha mereka menjilat dan menyenangkan hati Ang-taijin ini, bermacam-macamlah akal mereka untuk dipergunakan sebagai sogokan atau suapan.
Karena pembesar ini sendiri sudah kaya raya sehingga penyuapan-penyuapan berupa harta benda takkan mengguncangkan hatinya, maka mulailah mereka itu mempergunakan alat lain, dan di antaranya adalah wanita-wanita cantik!
Di waktu mudanya, Joan Ti bukan tergolong seorang yang mata keranjang atau gila wanita, akan tetapi semenjak dia "dilolohi"
Wanita-wanita cantik oleh para penjilatnya, maka hal ini merupakan kesenanagn baru yang segera mencengkeramnya.
Nafsu harus dikekang, kalau dituruti akan menjadi binal seperti kuda liar, dan akan menyeret manusia ke dalam jurang.
Mula-mula Ang-taijin hanya menerima penyuapan berupa gadis cantik ini sebagai iseng-iseng belaka, akan tetapi dia lupa bahwa segala maksiat di dunia ini dimulai dengan iseng-iseng seperti juga api dimulai dengna bunga api yang akan menyala menjadi kebakaran besar.
Iseng-iseng yang makin lama akan menjadi "hobby,"
Akan menjadi ketagihan dan pada waktu itu, Ang-taijin terkenal sebagai seorang yang haus akan wanita cantik!
Dan bagi seorang berkedudukan seperti dia, cadangan untuk korbannya tidak pernah surut, para penjilatnya dengan senang hati akan selalu menyediakan cadangan baru!
Ang-taijin tinggal menunjuk saja kalau melihat wanita cantik dan para penjilat serta kaki tangannya akan berusaha sekuat tenaga, secara halus maupun kasar, untuk mendapatkan wanita cantik itu, baik dia bersuami atau masih gadis.
Dan seorang yang sudah menjadi hamba nafsu berahi tidak lagi memiliki perasaan cinta kasih yang murni.
Rasa cinta kasihnya sudah hambar dan setiap orang wanita yang berhasil didapatkan, dalam waktu satu dua bulan saja sudah membosankan baginya dan harus diganti yang baru.
Wanita bagi seorang penghamba nafsu seperti Ang Joan Ti tiada lebih hanya sebagai benda yang akan membosankan setelah dipakai dan perlu diganti yang baru.
Dalam keadaan seperti itulah Ang Joan Ti menerima kunjungan Sim Lai Sek dan Biauw Eng di gedungnya yang megah.
Pria berusia empat puluh tahun lebih ini tadinya menerima Lai Sek denga kening berkerut, tidak senang hatinya harus bertemu dengan putera kawan sekampung, mengingatkan dia akan keadaannya dahulu yang miskin dan rendah.
Akan tetapi begitu melihat Biauw Eng, kemuraman wajahnya sirna seketika, terganti seri dan senyum, kerling mata menyambar penuh gairah karena harus dia akui bahwa selama petualangannya dengan banyak sekali wanita belum pernah dia bertenu dengan seorang yang secantik Biauw Eng, apalagi tampak menonjol kecantikan asli gadis berpakaian sederhana ini, pakaian yang menutupi bentuk tubuh yang padat dan membayangkan kehangatan dan kekuatan!
"Aihhh, kiranya Sim Lai Sek!
Hampir aku tidak mengenalmu, Hiante!
Karena mata...
Eh, mengapa matamu....?"
Sim Lai Sek tersenyum setelah mengangkat kedua tangan memberi hormat.
"saya tidak lagi dapat melihat Paman Ang, akan tetapi saya masih ingat akan suara Paman. Mata saya menjadi buta karena serangan penyakit.... dan karena keadaan saya inilah maka saya sengaja datang menghadap Paman dengan harapan, sudilah Paman mengingat akan hubungan antara Paman dan mendiang orang tuaku, untuk menolong saya."
Di dalam hatinya Ang-taijin memaki, bukan hanya karena kedatangan orang yang tidak diharapkan dan tidak akan mendatangkan untung baginya ini, akan tetapi juga karena sikap pemuda buta ini kepadanya seperti sikap keluarga sekampung, sikap yang sudah terlupa olehnya karena setiap hari semua orang yang berhadapan dengannya bersikap sebagai orang bawahan terhadap atasannya!
Pemuda buta ini agaknya lupa bahwa dia bukan lagi Ang Joan Ti si sastrawan miskin, melainkan Ang-taijin yang terhormat, berkuasa dan kaya raya!
Akan tetapi, sambil mengerling ke wajah manis Biauw Eng yang menundukkan muka, dia tersenyum dan berkata, suaranya penuh keramahan.
"Sim-hiante, mengapa engkau begini sungkan? Kita seperti keluarga sendiri, dan setelah sekarang aku menjadi seorang pembesar, tentu saja aku akan membantu engkau dan... Eh, siapakah adik ini?"
Suaranya terdengar mesra sekali ketika dia menyebut "siauw moi."
Menyebut adik padahal Biauw Eng lebih patut menjadi anaknya.
Biauw Eng adalah seorang dara remaja yang belum banyak pengalamannya menghadapi pria dengan akal bulus mereka merayu wanita, akan tetapi perasaan kewanitaannya mebisikkan bahwa laki-laki ini tidaklah sejujur seperti yang hendak diperlihatkannya, maka diam-diam dia merasa tidak suka akan tetapi demi Lai Sek, ia diam saja.
"Maaf, Paman Ang, saya lupa meperkenalkan. Dia ini adalah Sie Biauw Eng, tunangan saya."
"Tun... Tunanganmu...?"
Ang-taijin tidak dapat menahan seruannya karena dia benar-benar merasa kaget dan heran.
"Benar, Paman. Dia adalah calon isteri saya."
"Ah, kionghi (selamat), Sim-hiante! Engkau beruntung sekali mendapatkan seorang calon isteri yang begini cantik jelita!"
Lai Sek tersenyum, hatinya girang sekali dan dia menoleh ke arah Biauw Eng sambil berkata.
"Eng-moi, haturkan terima kasih kepada Paman Ang."
Biauw Eng menjura kepada pembesar itu dan berkata lirih.
"Saya mengucapkan terima kasih atas pujian Ang-taijin."
"Ah, nona muda yang baik, di antara orang sendiri, perlu apa sungkan-sungkan? Nah, Sim-hiante, aku akan merasa girang sekali kalau dapat menolong engkau dan adik ini. Bantuan apakah yang kauperlukan?"
Biarpun mulutnya bicara kepada Lai Sek, akan tetapi pandang mata pembesar itu tak pernah meninggalkan wajah dan tubuh Biauw Eng yang makin dipandang makin menggairahkan hatinya dan membangkitkan nafsunya itu.
"Kami berdua mohon pertolongan Paman agar kami berdua dapat membagun rumah tangga di kota raja, dan bisa mendapatkan sekedar usaha untuk menyambung hidup, terutama sekali agar Paman sudi mewakilli kedua orang tua kami yang sudah tidak ada untuk menikahkan kami."
"Eh, jadi kalian belum menikah, jadi..... eh, belum.... belum berhubungan sebagai suami isteri?"
Tanya pembesar itu dengan hati girang sekali sungguhpun mata jalangnya sebagai seorang laki-laki yang banyak pengalamannya tentang wanita dapat menduga bahwa Biauw Eng adalah seorang yang masih gadis.
Pertanyaan ini membuat wajah Lai Sek menjadi merah saking malu dan wajah Biauw Eng merah karena marah.
Akan tetapi gadis ini tetap menunduk dan diam saja, menekan perasaan marahnya.
Adapun Lai Sek lalu menjawab malu.
"Belum, Paman. Kami belum menikah..."
"Bagus! Memang begitulah seharusnya sebagai seorang calon suami yang baik. Jangan khawatir, Lai Sek, aku akan membantu kalian. Akan kusuruh carikan sebuah rumah yang layak untuk kalian tinggal sebagai suami isteri, dan tentang pekerjaan nanti kita pikirkan perlahan-lahan. Sekarang lebih baik kalian tinggal lebih dulu di sini untuk beristirahat sambil menanti didapatkannya rumah. Tentu saja kalau sudah mendapatkan rumah, baru aku akan mewakili orang tuamu merayakan pernikahan kalian."
"Ah, Paman Ang baik sekali! Sudah kusangka Paman akan menolong kami! Terima kasih, Paman!"
Lai Sek menjatuhkan diri berlutut, akan tetapi pembesar itu segera membangunkan pemuda buta ini sambil mengerling ke arah Biauw Eng.
Biauw Eng mengangkat mukanya dan bertemulah pandang mata mereka.
Ang-taijin terkejut dan kagum menyaksikan pandang mata yang demikian tajam seperti ujung pedang, demikian indah seperti mata burung hong.
Sedangkan Biauw Eng merasa makin yakin hatinya bahwa di balik segala keramahan dan pelepasan budi pembesar ini terkandung maksud yang hina dan keji terhadap dirinya.
Tentu saja ia tidak menjadi gentar dan mengingat betapa pembesar ini merupakan ancaman bagi dirinya, ia tersenyum dingin.
Orang macam itu mau bisa berbuat apakah terhadap dirinya?
Hati Ang-taijin berdebar saking girangnya melihat gadis cantik jelita itu tersenyum.
Ia menganggap bahwa senyum itu merupakan "janji"
Dan "kode"
Dari si gadis bahwa dia telah dapat menangkap hasrat hati si pembesar dan sudah siap melayaninya!
Dengan hati girang Ang-taijin lalu memanggil pelayan yang tidak ada yang hadir karena maklum bahwa Ang-taijin sedang bicara dengan tamu urusan pribadi.
Dua orang pelayan wanita datang berlari dan Ang-taijin segera berkata.
"Antarkan Sim-kongcu dan Sie-siocia ke dalam. Berikan sebuah kamar tamu untuk Sim-kongcu, dan ajak Sie-siocia bermalam di sebuah di antara kamar merah!"
"Baik, Taijin,"
Jawab dua orang wanita pelayan itu sambil tersenyum maklum mendengar bahwa gadis cantik itu diberi sebuah kamar merah!
Di bagian dalam gedung itu terdapat tidak kurang dari sepuluh buah kamar-kamar yang indah dan kecil mungil berwarna merah.
Di dalam kamar-kamar inilah Ang-taijin menerima wanita-wanita suguhan yang siap untuk melayaninya.
Sebagai seorang pembosan, penghuni kamar-kamar merah ini sering kali berganti orang, hanya sebuah kamar yang besar yang tidak pernah berganti penghuni, yaitu kamar Ang-hujin (nyonya Ang) yang jarang pula menerima kunjungan Ang-taijin, apalagi di waktu malam.
Namun nyonya Ang sudah kebal akan kebiasaan suaminya, maka tidak lagi merasa cemburu atau marah, bahkan menganggap kebiasaan suainya itu adalah "biasa"
Bagi seorang pembesar.
Dengan hati tidak enak namun tabah, Biauw Eng menggandeng tangan Lai Sek dan mengantarkan pemuda ini sampai ke kamar yang disediakan untuknya, dan baru meninggalkan pemuda ini setelah pelayan meyakinkan hatinya bahwa seorang pelayan yang khusus disediakan untuk melayani segala keperluan pemuda buta itu.
Ia pun lalu mengikuti pelayan dan diam-diam ia kagum sekalli menyaksikan kamar merah yang disediakan untuknya.
Untuk beberapa hari lamanya, baik Lai Sek maupun Biauw Eng mendapatkan pelayanan istimewa sehingga setiap kali mereka bertemu, Lai Sek tentu memuji-muji kebaikan hati pamannya.
Akan tetapi diam-diam hati Biauw Eng tetap tidak enak dan dia mendesak agar Lai Sek suka bersama dia keluar saja dari gedung itu dan mencari tempat sendiri.
"Ah, mana boleh, Moi-moi? Paman Ang telah begitu baik terhadap kita. Biarlah kita bersabar sampai dia mendapatkan rumah untuk kita."
Apa yang dikhawatirkan Biauw Eng terjadi pada malam kelima semenjak dia tinggal di situ.
Malam itu selagi ia merebahkan diri di atas dipan yang mewah, dengan tilam sutera merah muda, rebah termenung memikirkan nasibnya, dan terutama sekali membayangkan wajah Keng Hong, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk orang.
Ia cepat melompat dengan sigap terbawa oleh reaksi tubuhnya sebagai seorang ahli silat yang selalu siap siaga dan waspada lahir batin.
Akan tetapi ia segera bersikap biasa untuk menyembunyikan kepandaiannya, berjalan perlahan menuju pintu dan membukakan daun pintu.
Ia terheran melihat bahwa yang datang adalah Ang Joan Ti yang berpakaian indah, diikuti oleh empat orang pelayan wanita yang tersenyum-senyum dan masing-masing membawa nampan yang terisi masakan-masakan yang masih panas mengepul dan berbau sedap.
"Taijin mau ..... apakah....? Biauw Eng bertanya, menindas perasaan dan pura-pura tidak mengerti sungguh pun dari senyum dan pandang mata pembesar itu ia dapat menduga maksud kedatangan orang ini. Akan tetapi Ang Taijin hanya tersenyum, bahkan menoleh pada para pelayan dan berkata.
"Cepat atur di atas meja dan segera pergi meninggalkan kami!!"
Biarpun suara pembesar itu setengah membentak, yang dibentak tersenyum-senyum dan mengatur makanan di atas meja dalam kamar, kemudian sambil membungkuk-bungkuk dan tertawa-tawa genit mengerling ke arah Biauw Eng, mereka meninggalkan kamar dan menutup daun pintunya.
"Nah, baru sekarang aku dapat menjawab pertanyaanmu tadi, Siauw-moi. Aku sengaja datang membawa hidangan ini karena aku tahu betapa engkau kesepian. Aku merasa kasihan kepadamu, maka aku ingin mengajakmu makan bersama sambil minum arak wangi untuk menghilangkan kesepian dan kekesalan hatimu. Marilah duduk, Manis, dan kusuguhkan arak untukmu!"
"Taijin, ini tidak boleh, tidak layak. Harap Taijin suka keluar dari kamar ini dan jangan menggangguku. Bagaimana Taijin boleh memasuki kamarku seperti ini? Aku adalah calon isteri Sim Lai Sek!"
"Heh heh heh, aku tidak akan mengganggumu menjadi isterinya, Manis. Akan kunikahkan engkau dengan si buta itu, ehemmm......hanya untuk di luarnya saja bukan? Padahal sesungguhnya, ahhhh......kita lebih cocok, dan semenjak aku melihatmu, aku sudah suka sekali kepadamu, aku sudah jatuh cinta kepadamu, Sie Biauw Eng yang jelita. Engkau akan hidup mewah, apa pun yang kau minta akan kuberikan, asal engkau suka melayani aku. Marilah....!"
Pembesar itu mendekat akan tetapi Sie Biauw Eng melangkah mundur.
"Jangan Taijin, aku adalah tunangan Sim Lai Sek dan dia masih hidup, bagaimanan aku sudi berbuat serong? Aku bukan perempuan macam itu! Pergilah Taijin sebelum aku kehabisan kesabaranku."
Ang Taijin tertawa.
"Ihhh, pakai malu-malu kucing segala? Aku pun tahu kau lebih suka kepadaku daripada pemuda buta yang tak dapat menghargai kecantikanmu dengan matanya......!"
"Cukup!!"
Biauw Eng membentak dan saking marahnya ia menusuk kan jari-jari tangannya ke permukaan meja.
"Plongggg!!"
Jari-jari tangan sebanyak lima buah yang kecil mungil itu amblas menusuk meja sampai tembus ke bawahnya.
Ketika diangkat, tampak lima buah lubang kecil bekas tusukan jari.
Melihat ini, seketika wajah Ang Taijin menjadi pucat.
"Taijin aku dapat mengusai jari tanganku, akan tetapi kalau kesabaranku hilang dan aku tidak dapat menguasai hatiku, jangan-jangan bukan meja yang kutusuk bolong, melainkan kepala orang,. Pergilah!"
"Aihhh.....kiranya engkau pandai silat. Hemm..tentu saja, Lai Sek juga seorang ahli silat. Baiklah aku tidak akan mengganggumu kalau engkau tidak suka melayani orang lain karena Lai Sek masih hidup. Akan tetapi katakanlah Nona Biauw Eng yang manis, andaikata di sana tidak ada Lai Sek, engkau tentu suka menyambut cinta kasihku, bukan? Agaknya pembesar ini masih tercengang karena belum pernah ada wanita menolak cintanya dan agaknya bagi laki-laki ini merupakan suatu hal yang mustahil kalau ada wanita yang tidak suka menjadi kekasih pembesar Ang. Biauw Eng sudah hampir tidak dapat menahan kemarahannya, maka untuk membuat pembesar itu cepat pergi, ia berkata.
"Kalau begitu lain lagi, Nah, pergilah dan jangan pernah berani lagi memasuki kamar ini!"
Pembesar itu menghela napas dan pergi meninggalkan kamar Biauw Eng.
Setelah pembesar itu pergi, barulah Biauw Eng teringat akan keselamatan Lai Sek dan teringat akan ucapan Ang Taijin, ia cepat meniup padam lilin di atas meja, kemudia meloncat keluar melalui jendela kamarnya dan membayangi Ang Taijin yang memasuki ruangan tangah.
Di ruangan ini, Ang Taijin bicara perlahan dengan seorang laki-laki berhidung bengkok yang agaknya menjadi penasehatnya.
Biauw Eng cepat menghampiri, bersembunyi dan mengintai.
"Akan tetapi dia pandai silat dan bayangkan, sekali tusuk dengan jari tangan ia mampu melubangi meja! Kalau tusukan itu mengenai kepala, celaka! Mana bisa aku memaksa denga kekerasan?"
Terdengar suara pembesar itu penuh penyesalan.
"Mengapa mengkhawatirkan dia? Ilmu silat seorang gadis cantik itu saja apa artinya? Malam ini juga akan kupanggil Sin-chio Ngo-houw (Lima Harimau Bertombak Sakti) yang menjaga di luar istana untuk mengawal paduka dan kalau perlu menghadapinya,"
"Akan tetapi bagaimana agar dia mau? Aku paling tidak suka mendapatkan wanita dengan kekerasan. Lebih menyenangkan kalau dia menyerahkan diri dengan suka rela dan suka hati, hemmm......!"
"Begini, Taijin....."
Si Hidung Bengkok itu lalu mendekatkan mulut ke telinga pembesar itu, berbisik-bisik sehingga Biauw Eng tidak mampu mendengar apa yang dikatakannya, sedangkan pembesar itu mengerutkan kening, kadang-kadang menggeleng, kadang-kadang cemberut, akan tetapi kemudian mengangguk-angguk dan tersenyum.
Biauw Eng tidak peduli lagi.
Paling-paling mereka itu mengatur siasat untuk menundukkannya dan hal ini ia anggap remeh karena apa pun yang akan mereka lakukan terhadap dirinya, ia tidak khawatir dan merasa yakin akan dapat melindungi dirinya sendiri.
Akan tetapi ia mengkhawatirkan keadaan Lai Sek.
Biarpun pemuda itu juga bukan orang lemah akan tetapi karena kedua matanya buta tentu saja tidak dapat menjaga dirinya sendiri dengan baik.
Ia lalu meloncat pergi tanpa meninggalkan suara, mendatangi kamar Lai Sek dan mengintai dari atas.
Ketika ia melihat Lai Sek sedang tidur pulas dan dalam keadaan selamat, baru ia lega dan kembali ke kamarnya.
Melihat hidangan yang masih panas dan ternyata merupakan masakan-masakan yang lezat, ia tersenyum, menyambar sumpit dan makan beberapa potong daging dan sayur, dipilih yang enak-enak sambil kadang-kadang tersenyum mengenangkan sikap Ang Taijin yang dianggapnya seorang badut yang menggelikan dan juga menyebalkan.
Boleh jadi Biauw Eng seorang gadis gagah perkasa yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Akan tetapi dalam hal pengalaman menghadapi tipu muslihat dan kejahatan hati manusia, ia masih hijau.
Ia tidak mengira bahwa hati laki-laki yang sudah tergila-gila pada seorang wanita dapat menelurkan perbuatan-perbuatan maksiat yang amat keji, tidak pantang melakukan perbuatan apa pun untuk mencapai dorongan nafsu berahinya.
Tiga malam berturut-turut setelah kejadian itu, Biauw Eng tidak pernah diganggu dan ia sudah merasa lega, mengira Ang Taijin tentu jerih oleh ancamannya, maka ia pun tidak menyatakan sesuatu kepada Lai Sek untuk mencegah terjadinya keributan.
Akan tetapi pada suatu pagi di hari keempatnya ia terbangun, ia kaget sekali mendengar jerit tangis wanita disusul tangis melolong-lolong.
Ia meloncat turun dan tiba-tiba daun pintunya dibukadari luar oleh pelayan yang biasa melayaninya.
Pelayan itu pun menangis dan serta merta menjatuhkan dirinya berlutut sambil menangis.
"Celaka, Siocia..... celaka...... ah, mengerikan sekali....!"
"Apa yang terjadi?"
Biauw Eng bertanya, masih tenang.
"Sim-kongcu.....dia.....dia membunuh diri di kamarnya....!"
Tiba-tiba tubuh Biauw Eng berkelebat dari tempat itu, dan ketika pelayan itu mengangkat muka, gadis itu telah lenyap.
Cepat sekali Biauw Eng tiba di tempat Lai Sek dan di situ ia melihat pelayan wanita yang biasa melayani Lai Sek menangis di atas lantai.
Kamar itu penuh orang, ada tiga orang pelayan wanita, dua orang pelayan pria yang dilihat Biauw Eng malam itu, bersama lima orang laki-laki tinggi besar yang memegang tombak.
Mereka semua memandangnya ketika ia memasuki kamar Lai Sek.
Biauw Eng tidak mempedulikan semua orang, langsung ia berlutut di dekat tubuh Lai Sek yang telah menggeletak tanpa nyawa di atas lantai.
Tangan kanannya memegang gagang sebatang pedang, pedang milik Lai Sek, yang kini menembus perutnya sampai ke punggung, sedangkan tangan kiri pemuda itu mencengkeram sehelai kertas.
Dengan muka pucat Biauw Eng mendapat kenyataan bahwa pemuda itu benar-benar telah tewas.
Ia segera mengambil kertas bertulis dari genggaman tangan kiri Lai Sek, merapikan dan membacanya.
Surat itu ditujukan kepadanya dan ia mengenal tulisan Lai Sek.
Eng-moi, Aku maklum bahwa seorang pemuda tak berharga seperti aku hanya akan menjadi penghalang kebahagiaan hidupmu.
Seorang gadis sepertimu berhak untuk hidup mulia sebagai seorang puteri terhormat, di samping seorang yang kau cinta dan yang akan dapat memenuhi segala kebutuhan hidupmu.
Maka, aku mengalah dan lebih baik aku pergi selamanya.
Selamat tinggal, Sim Lai Sek "Ah, Twako....!"
Biauw Eng tidak dapat menahan keharuan dan kedukaan hatinya.
Ia menangis dan memeluki tubuh Lai Sek yang telah menjadi mayat itu.
Ketika ia menangis dan wajahnya dekat sekali dengan leher pemuda yang telah tewas itu karena ia merebahkan mukanya di dada Lai Sek, pandang matanya tertarik oleh dua titik menghitam di dekat tenggorokan.
Ia mengusap air matanya dan mengangkat dagu mayat itu.
Jelas kini tampak dua titik menghitam sebesar ujung jari tangan.
Ia menyentuhnya dan jantungnya berdebar penuh ketegangan dan kemarahan.
Ia tahu bahwa pemuda itu bukan tewas oleh pedang, melainkan tewas atau sedikitnya roboh oleh totokan dua buah jari tangan yang mengandung hawa beracun!
Cepat ia memeriksa luka di perut yang masih tertancap pedang.
Tidak terdapat darah pada luka itu.
Hal ini hanya berarti bahwa pedang itu ditusukkan ke perut setelah pemuda ini tewas!
Karena hatinya masih ragu-ragu, ia membuka surat itu kembali dan membacanya melalui air matanya, membacanya kembali dengan penuh perhatian.
Sudah dua tiga kali ia melihat tulisan tangan Lai Sek dan gaya tulisan, bentuk huruf-huruf surat ini memang benar seperti tulisan Lai Sek.
Akan tetapi.....
tiba-tiba wajahnya berubah.
Tulisan yang berbunyi "Di samping seorang yang kau cinta dan yang akan dapat memenuhi segala kebutuhan hidupmu"
Amat menarik perhatiannya.
Lai Sek mengerti bahwa satu-satunya orang yang ia cinta adalah Keng Hong!
Dan Keng Hong adalah seorang sebatangkara yang miskin.
Mengapa Lai Sek menyatakan bahwa orang yang dicintanya dapat memenuhi segala kebutuhan hidupnya?
"Aduh...., Siauw-moi....
ah, kasihan sekali Lai Sek....!
Ah, bagaimana bisa terjadi malapetaka ini...?"
Ucapan yang keluar dari mulut Ang-taijin yang baru tiba ini mengingatkan Biauw Eng akan segala sikap dan ucapan pembesar ini ketika hendak menggodanya beberapa malam yang lalu.
Gadis ini menekan kemarahannya dan cepat ia bangkit berdiri, membalikkan tubuhnya, memandang pembesar itu dengan mata basah akan tetapi sambil mengacungkan surat di tangannya ia bertanya cepat.
"Taijin, aku ... Aku tidak mengerti.... apa maksud tulisannya ini? Siapa yang dia maksudkan dan mengapa dia mengalah?"
"Masa engkau tidak mengerti, Siauw-moi? Dia maksudkan aku, dan tentu dia mengalah karena merasa takkan mampu membahagiakan engkau.... maka, sudahlah jangan berduka, Siauw-moi, di sini ada aku yang...."
Tiba-tiba pembesar itu menghentikan kata-katanya ketika melihat wajah yang cantik itu mmenjadi beringas, sepasang mata yang indah itu mengeluarkan sinar seperti berapi.
"Bagaimana engkau bisa mengetahui isi suratnya??"
Biauw Eng membentak, suaranya melengking penuh kemarahan meluap-luap.
"Aku... Aku sudah membacanya...."
Ang-taijin yang menjadi gugup menjawab tanpa dia sadari.
"Engkau baru datang bagaimana bisa mebacanya? Surat ini palsu! Tentu engkau dan kaki tanganmu yang menulisnya dan Sim Lai Sek tidak mati karena membunuh diri, melainkan mati terbunuh oleh totokan di lehernya. Tentu engkau.. pembesar jahanam berhati palsu dan keji, engkau yang mengatur semua ini, keparat!"
Sambil berkata demikian, tangan Biauw Eng bergerak ke depan dan tahu-tahu tangannya telah mencengkeram baju pembesar itu di bagian dadanya.
"Jangan.... eh, tolooongg..!"
Laki-laki hidung bengkok yang berdiri di dekat pembesar Ang, cepat menengahi dan berkata.
"Nona, bersabarlah.... dan jangan kurang ajar terhadap Ang-taijin...."
"Engkau tukang mengatur siasat yang menjijikan!"
Tangan kirinya menyambar dan ia sudah menjambak rambut si hidung bengkok, kemudian dengan kemarahan membakar dada dan kepala, gadis ini menggerakkan kedua tangannya.
"Prokkk!"
Dua buah kepala milik Ang Joan Ti dan si hidung bengkok bertemu keras sekali, beradu dahi dan ternyata kepala si hidung bengkok lebih keras karena kalau kepala Ang Joan Ti pecah dan pembesar yang celaka oleh nafsunya sendiri itu tewas seketika.
Si hidung bengkok hanya menjadi pening dan matanya menjuling saja.
Melihat ini, Biauw Eng mengayun tubuh si hidung bengkok, membantingnya ke atas lantai dan terdengar suara keras ketika kepala si hidung bengkok ini pecah berantakan, berbeda dengan kepala Ang Joan Ti yang retak-retak saja.
"Perempuan keji! Pembunuh! Tangkap...!"
Teriakan-teriakan ini terdengar ramai dan keaaan di situ menjadi geger.
Pelayan-pelayan perempuan menjerit dan melarikan diri, adapun lima orang tinggi besar bertombak yang berada di dalam kamar itu, segera menerjang maju dengan tombak mereka.
Biauw Eng yang sudah menjadi mata gelap saking duka dan marahnya melihat nasib Lai Sek, cepat melemparkan mayat Ang-taijin ke arah lima orang pengeroyoknya.
Lima orang itu adalah Sin-chio Ngo-houw, lima orang pengawal luar istana yang oleh si hidung bengkok sengaja di undang untuk menghadapi Biauw Eng.
Akan tetapi sungguh di luar persangkaan mereka bahwa gadis itu memiliki kepandaian sedemikian hebat sehingga gerakannya luar biasa cepatnya dan lima orang pengawal itu tidak sempat lagi mencegah pembunuhan yang dilakukan Biauw Eng atas diri Ang-taijin dan penasihatnya.
Kini lima orang pengawal itu menjadi marah sekali.
Melihat gadis itu dengan ganasnya membunuh Ang-taijin dan melemparkan mayatnya kepada mereka, seorang di antara mereka menerima mayat dengan kedua tangan sedangkan empat orang kawannya segera menerjang Biauw Eng dengan tombak mereka.
"Sim-twako, aku akan membalaskan kematianmu?"
Biauw Eng berseru, mencabut pedang yang menancap di perut mayat Lai Sek, kemudian sambil bercucuran air mata gadis ini mengamuk, menghadapi pengeroyokan lima orang Sin-chio Ngo-houw yang sudah mengurungnya.
Adapun para pelayan sudah menyingkir dengan ketakutan dari kamar itu.
Pertandingan terjadi dengan seru di dalam kamar maut itu di mana menggeletak tiga buah mayat.
Dalam deretan tingkat para pengawal istana, pengawal pribadi rahasia tentu saja menduduki tingkat pertama, kemudian para pengawal pribadi kaisar menduduki tingkat ke dua.
Adapun tingkat ke tiga diduduki oleh para pengawal dalam istana dan pengawal luar istana, seperti Sin-chio Ngo-houw, adalah pengawal tingkat empat.
Mereka ini sudah termasuk ahli-ahli silat kelas tinggi bagi ahli silat umumnya.
Akan tetapi dibandingkan dengan Biauw Eng, tentu saja mereka masih kalah jauh.
Gadis yang menjadi amat berduka dan marah ini menggerakkan pedang Lai Sek dengan cepat, ganas dan kuat sekali sehingga biarpun lima orang pengawal itu mengeroyoknya dengan tombak mereka yang terkenal ampuh, tetap saja dalam belasan jurus Biauw Eng telah merobohkan tiga orang di antara Sin-ciio Ngo-houw sehingga jumlah mayat di dalam kamar itu bertambah menjadi enam!
Akan tetapi tiba-tiba keadaan di luar gedung itu menjadi berisik sekali dan ternyata bahwa sepasukan penjaga keamanan telah menyerbu.
Kota raja menjadi geger ketika mendengar bahwa seorang gadis telah mengamuk di dalam rumah gedung pembesar Ang, bahkan membunuh pembesar Ang dan banyak pembantunya.
Melihat betapa pasukan pengawal menyerbu, Biauw Eng menjadi makin marah, akan tetapi suaranya terdengar dingin menyeramkan ketika ia berkata.
"Puaskanlah hatimu, Sim-twako. Nyawamu akan mendapat tebusan banyak sekali nyawa musuh!"
Setelah berkata demikian, Biauw Eng menubruk maju dan pedangnya bergerak cepat, merobohkan dua orang sisa Sin-chio Ngo-houw dan mendesak mundur pasukan pengawal yang sudah tiba di depan pintu kamar itu.
Biauw Eng maklum bahwa untuk menghadapi pengeroyokan banyak orang, amatlah berbahaya kalau dia terus bertahan di dalam kamar yang sempit itu.
Maka ia menerjang keluar dan di bawah teriakan-teriakan hiruk-pikuk dan hujan senjata para pengeroyok, Biauw Eng mengamuk di ruangan tengah yang luas.
Apa yang dikatakan Biauw eng kepada mayat Sim Lai Sek sebelum ia meninggalkan kamar maut itu terjadilah.
Biauw Eng mengamuk dengan pedang itu dan para pengeroyok yang amat banyak jumlahnya itu roboh seperti rumput di babat.
Mereka, para penjaga keamanan, berteriak-teriak dan mengurung, Akan tetapi mereka ini seperti sekumpulan laron menerjang api, siapa yang berani mendekati Biauw Eng tentu roboh disambar sinar pedang gadis ini.
Ruangan yang kuas dan biasanya bersih itu kini menjadi tempat menyeramkan, banjir darah di lantai dan di dinding, sedangkan mayat berserakan, bertumpuk, ada yang masih berkelojotan, lebih dari dua pulah orang banyaknya!
Melihat betapa pasukan pengeroyok makin banyak, Biauw Eng maklum akan bahaya yang mengancam dirinya, pula dia tidak biasa mainkan pedang yang berat.
Maka ia lalu melolos sabuk suteranya, meninggalkan pedang yang menancap di dada seorang pengeroyok dan begitu sinar sabuknya yang bergulung-gulung putih mengamuk, para pengeroyok mundur dan menjauh.
Jangkauan sabuk sutera yang lebih panjang daripada pedang itu membuat para pengeroyok ngeri.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Biauw Eng untuk meloncat dan lari keluar dari gedung dengan maksud untuk melarikan diri.
Tidak perlu lagi ia mengamuk, kematian Lai Sek sudah cukup dibalas dan kalau terlambat ia tentu akan celaka, tidak mungkin kuat menghadapi pengeroyokan pasukan keamanan yang amat besar jumlahnya dan yang makin banyak berdatangan itu.
Sabuk sutera di tangan Biauw Eng memang merupakan senjatanya yang khusus dan kalau tadi ketika memegang pedang Biauw Eng dapat diumpamakan seekor harimau marah, kini memegang sabuk suteranya dia seperti harimau yang tumbuh sayap!
Dengan membuka jalan berdarah ia berhasil keluar sambil terus mengamuk sampai di luar gedung, di mana telah menanti banyak penjaga keamanan yang terus mengurungnya.
Namun Biauw Eng mengamuk terus, kini tidak lagi mengamuk untuk melampiaskan kemarahan dan sakit hatinya karena kematian Lai Sek, melainkan mengamuk untuk menyelematkan diri.
Sabuk sutera putih itu berubah menjadi sinar putih bergulung-gulung melindungi tubuhnya sehingga senjata para pengeroyoknya tidak ada yang dapat menyentuhnya, bahkan sekali-kali kalau ada pengeroyok yang kurang hati-hati, senjatanya akan terlibat ujung sabuk dan terampas, dilemparkan sampai jauh.
Para pengeroyok berteriak-teriak saling menganjurkan kawan, dan biarpun mereka tidak mampu merobohkan Biauw Eng, sedikitnya mereka berhasil mengurung rapat sehingga sukarlah bagi Biauw Eng untuk dapat meloloskan diri.
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring suara wanita.
"Semua mundur! Biarkan aku menangkap dia!"
Para pengeroyok menengok dan ketika melihat bahwa yang membentak adalah seorang wanita cantik bersama seorang laki-laki tampan, keduanya menunggang kuda, dan sama sekali tidak mereka kenal, para pengeroyok tidak mau ambil peduli.
Akan tetapi tiba-tiba seorang perwira pengawal luar istana yang mengenal dua orang ini cepat memberi aba-aba.
"Semua pasukan mundur!"
Aba-aba ini tentu saja ditaati oleh semua pengeroyok yang menjadi terheran-heran dan terbukalah jalan yang lebar sehingga Biauw Eng kini berhadapan dengan dua orang penunggang kuda itu.
Wajah Biauw Eng menjadi merah, matanya mengeluarkan sinar berapi saking marah dan bencinya ketika ia mengenal wanita itu yang bukan lain adalah Bhe Cui Im dan laki-laki itu adalah Siauw Lek!
Tujuh orang pengawal rahasia kaisar mengatur penjagaan secara bergiliran maka terbukalah kesempatan bagi Cui Im dan Siauw Lek di waktu bebas tugas untuk berjalan-jalan.
Pagi hari itu mereka berdua juga sedang bebas tugas, Maka dengan menunggang kuda mereka jalan-jalan di kota raja dan kebetulan sekali mereka mendengar berita akan mengamuknya seorang gadis di gedung pembesar Ang.
Karena mereka ingin menonjolkan jasa, cepat mereka mendatangi tempat itu dan ketika mereka melihat bahwa yang mengamuk adalah Biauw Eng, Cui Im terkejut dan cepat menyuruh para pengeroyok mundur.
Biauw Eng berdiri dengan sabuk sutera di tangan, maklum bahwa ia berada dalam cengkeraman bahaya maut, akan tetapi ia tidak menjadi gentar dan mengambil keputusan untuk melawan mati-matian.
Dan sesunguhnya, apa sih artinya kematian baginya?
Dia tadinya telah merupakan seorang yang hampir mati, hanya karena kenekatan dan pembelaan Sim Lai Sek yang mencintanya dan yang mengorbankan matanya maka ia masih hidup sampai sekarang.
Dia adalah seorang manusia yang seolah-olah hidup kembali dari kematian, hidup untuk kedua kalinya yang sedianya akan ia lewatkan untuk membalas budi Lai Sek.
Hidupnya yang pertama telah lenyap dan mati bersama....
nama Keng Hong.
Hidupnya yang kedua pun kini tidak ada artinya lagi setelah Lai Sek mati.
Mengapa ia takut menghadapi kematian?
Hatinya menjadi dingin sekali dan ia menghadap Cui Im dengan senyum dingin yang membuat Cui Im meremang bulu tengkukunya.
Melihat bekas sumoinya itu dalam keadaan seperti itu, pakaianya banyak yang robek dalam pertempuran tadi, rambutnya kusut dan mukanya membayangkan kedukaan besar, melihat mulut yang tersenyum dingin, tiba-tiba Cui Im teringat akan perhubungan antara mereka di waktu kecil.
Tanpa turun dari kudanya ia berkata.
"Biauw Eng, engkau telah terlalu banyak menderita. Biarlah mengingat hubungan lama, aku akan mengampunimu asal engkau suka menyerah. Aku yang akan mengusahakan agar perkaramu di sini diperiksa dan engkau akan mendapat hukuman ringan."
Makin dingin senyum Biauw Eng ketika bibirnya merekah makin lebar.
"Bhe Cui Im, aku tidak butuh pengampunanmu, dan kalau engkau hendak membunuhku, coba majulah. Aku tidak pernah dan tidak akan pernah takut kepadamu, perempuan durhaka, murtad dan khianat. Kalau aku tidak dapat membunuhmu saat ini, lebih baik aku mati di tanganmu!"
Wajah Cui Im menjadi merah sekali.
"Perempuan rendah! Tak tahu kebaikan orang! Mampuslah!"
Tiba-tiba tubuhnya mencelat dari atas kuda dan berubah menjadi sinar merah karena dalam kemarahannya, Cui Im mencabut pedang merahnya dan sabil meloncat itu, ia menerjang dan menyerang dengan pedangnya dengan gerakan yang hebat dan dahsyat luar biasa!
Silau juga mata Biuaw Eng menyaksikan gulungan sinar pedang yang menerjangnya itu.
Kedukaan karena kematian Lai Sek ditambah pertandingan ketika ia dikeroyok mebuat tubuhnya lemah dan lemas.
Akan tetapi semangatnya bangkit ketika ia melihat Cui Im, musuh besar yang membunuh ibunya.
Biarpun ia maklum bahwa dia bukan tandingan Cui Im yang sekarang memiliki ilmu kepandaian amat tinggi itu, namun ia tidak gentar dan cepat sabuk suteranya bergerak mengeluarkan suara meledak ketika ia menyambut terjangan Cui Im.
"Cring.... Brettttt!"
Biauw Eng terkejut dan cepat melompat ke belakang ketika pertemuan sabuknya dengan sinar merah membuat sabuknya terbabat putus ujungnya!
"Hi-hi-hik, Biauw Eng, bersiaplah untuk mampus!"
Cui Im mengejek dan menyerang lagi, pedangnya yang berubah gulungan sinar merah itu mengeluarkan suara berdesing-desing.
Cui Im sengaja mengerahkan tenaga dan kepandaiannya setiap kali Biauw Eng menangkis, sabuknya menjadi putus.
Sampai enam kali sabuknya terbabat putus sehingga tinggal satu kaki panjangnya.
Ia terpaksa membuang sabuknya itu dan tangan kirinya bergerak melepas senjata rahasia bola-bola putih berduri.
Akan tetapi Cui Im tertawa dan dengan mudahnya ia membabat dengan pedangnya sambil mendesak.
Bola-bola itu terpukul runtuh dan sinar pedang terus mengejar Biauw Eng.
Melihat datangnya tusukan ke dadanya, Biauw Eng berlaku nekat dan hendak mengadu nyawa.
Biar ia mati asal ia dapat membawa serta nyawa Cui Im!
Ia sengaja bergerak lambat dan tiba-tiba ia mendoyongkan tubuh ke kiri, mengepit pedang lawan di bawah ketiak kanan dan tangan kirinya mencengkeram ke arah perut Cui Im!
Gerakan tiba-tiba ini biarpun membahayakan dirinya sendiri akan tetapi sekali tangannya berhasil mencengkeram perut, tentu perut itu akan pecah!
"Setan!"
Cui Im mendengus kaget, terpaksa menjatuhkan tubuh ke kiri, melepaskan gagang pedangnya dan rabutnya menyambar ke depan menotok ke arah leher Biauw Eng!
Gadis ini miringkan tubuh, akan tetapi ujung rambut masih menampar pundaknya, membuat ia terhuyung ke belakang.
Akan tetapi Biauw Eng sudah melepaskan kempitan pedang merah dan kini ia menyambar gagang pedang itu.
Pada detik berikutnya, tangannya yang memegang pedang itu ditendang Cui Im dengan cara menendang yang sama sekali tidak tersangka-sangka.
Tubuh Biauw Eng yang masih terhuyung itu kehilangan keseimbangan, pedang rampasannya mencelat dan ia pun terguling.
Sambil tertawa-tawa Cui Im yang berkepandaian luar biasa itu telah menyambar kembali pedangnya, kemudian dengan langkah perkahan dan pedang ditodongkan ia menghampiri Biauw Eng yang masih nanar oleh tamparan rambut Cui Im.
Sinar merah berkelabat cepat sekali, membuat sinar kilat di depan mata Biauw Eng yang sukar mengikuti ke mana pedang hendak menyerang dan gadis ini yang merasa tak mungkin dapat menyelamatkan diri, hanya memandang sambil tersenyum dingin penuh ejekan.
Pedang merah menusuk ke arah dada Biauw Eng secepat kilat!
"Tranggggg....!"
"Aiiihhhhh....!"
Cui Im kaget bukan main karena pedang itu hampir terlepas dari tangannya.
Cepat ia meloncat ke belakang dan dengan mata terbelalak ia melihat bahwa yang menangkisnya adalah Keng Hong yang menggunakan Pedang Kayu Harum!
Dengan sikap tenang namun cepat sekali tangan kiri Keng Hong menyambar tubuh Biauw Eng yang setengah pingsan, kemudian sejenak matanya bagaikan dua ujung pedang menembus jantung Cui Im ketika dia memandang wanita itu sambil berkata.
"Cui Im, perempuan sejahat-jahatnya perempuan! Tak boleh engkau mengganggu seujung rambut pun dari wanita yang kucinta sepenuh jiwaku!"
Setelah berkata demikian, menggunakan kesempatan selagi semua orang terbelalak heran dan kaget, tubuhnya meloncat tinggi melampaui kepala orang ke atas genteng, memondong tubuh Biauw Eng yang sudah pingsan ketika mendengar ucapan Keng Hong tadi.
"Keng Hong, manusia menjemukan! Kejar! Tangkap!"
Cui Im menggerakkan tangan kirinya dan sinar-sinar merah dari senjata rahasia jarumnya menyambar ke arah tubuh Keng Hong yang masih melayang.
Namun dengan menggerakkan tangan kanan yang memegang Siang-bhok-kiam, hanya dengan angin sambaran pedang ini saja sudah cukup membuat sinar merah jarum-jarum itu lenyap karena jarum-jarumnya runtuh ke bawah.
Sebelum Cui Im sempat menyerang lagi, Keng Hong telah menghilang di balik wuwungan istana.
Kemudian pemuda perkasa ini mengerahkan seluruh ginkangnya berloncatan dari rumah ke rumah sampai berhasil keluar dari kota raja.
Cui Im meloncat ke atas genteng mengejar, disusul oleh Siauw Lek, namun mereka berdua tidak mampu menandingi kecepatan gerakan Keng Hong sehingga jauh sebelum Keng Hong keluar dari kota raja, mereka berdua sudah kehilangan jejaknya.
Terpaksa Cui Im dan Siauw Lek kembali ke tempat tadi dengan sikap murung, apalagi Cui Im yang menjadi gelisah setelah melihat munculnya Keng Hong yang ia tahu merupakan satu-satunya orang yang berbahaya dan terlalu lihai baginya.
Baru tangkisan tadi saja sudah membuktikan bahwa Keng Hong benar-benar amat lihai, memiliki sinkang yang tak terlawan, kemudian gerakan Keng Hong ketika melarikan diri juga jelas membuktikan keunggulannya.
"Mulai sekarang kita harus berhati-hati. Sebelum manusia itu dapat kubunuh, hidup ini tidak tenteram bagiku,"
Kata Cui Im kepada Siauw Lek yang sudah mendengar dari Cui Im tentang diri murid Sin-jiu Kiam-ong itu.
"Mengapa khawatir?"
Katanya memandang rendah.
"Dengan kepandaian kita berdua, belum tentu kita kalah olehnya. Apalagi di sana ada lima orang rekan kita yang berilmu tinggi."
"Phuhhh! Apa kau kira manusia macam Pak-san Kwi-ong dan yang lain-lain itu akan suka membantu aku?"
"Kalau kita menggunakan akal sehingga Keng Hong dianggap berbahaya untuk istana, tentu saja mereka mau tak mau membantu kita menghadapi Keng Hong. Kalau kita bertujuh sudah maju mengeroyoknya, biar Keng Hong mepunyai kepala tiga dan lengan enam, masa kita tidak mampu membinasakannya?"
Ucapan Siauw Lek itu sedikit banyak menghibur hati Cui Im, akan tetapi wanita ini maklum bahwa mulai saat itu, ia tidak akan dapat menikmati makan lezat tidur nyenyak lagi.
"Mengapa..... mengapa engkau menolongku?"
Pertanyaan lirih sebagai kata-kata pertama yang keluar dari mulut Biauw Eng ini membuat Keng Hong terharu.
Ia hanya memandang ketika gadis itu yang siuman dari pingsannya bergerak perlahan, bangkit dan duduk menyadarkan tubuhnya yang masih lemas itu ke batang pohon.
Wajah itu pucat, rambut yang kusut itu sebagian menutupi muka, bibirnya agak menggigil ketika bertanya dan matanya yang memandang wajah Keng Hong benar-benar merupakan ujung pedang yang menikam jantung bagi Keng Hong.
"Mengapa... Mengapa engkau menolongku? Mengapa tidak kau biarkan saja aku mati agar tidak memperpanjang penderitaan hidupku?"
Kembali Biauw Eng bertanya dan kini dua butir air amta membasahi kedua pipi yang pucat.
"Biauw Eng, masihkah engkau bertanya lagi dan haruskah aku menjawabnya? Engkau tahu bahwa aku tidak mungkin dapat membiarkan engkau terancam bahaya, apalagi ditangan Cui Im yang jahat. Engkau mengerti bahwa aku.... Aku mencintamu..." (Lanjut ke
Jilid 25) Pedang Kayu Harum (Seri ke 01-Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 25
"Ahhh.... Jangan sebut-sebut lagi hal itu....,"
Suara Biauw Eng terisak. Keng Hong menghela napas.
"Aku mengerti bahwa aku tidak berhak mengatakan hal itu karena engkau telah menjatuhkan pilihan hatimu kepada Sim Lai Sek. Seharusnya aku mengubur cinta kasihku di dalam hati ynag terluka.... Ah, sudahlah, memang benar bahwa kita tidak boleh lagi bicara tentag itu. Di manakah dia? Di mana Sm Lai Sek?"
Dengan air mata masih berlinang, pandang mata kosong dan suara menggetar Biauw Eng menjawab lirih.
"Dia... dia telah mati..."
Hampir saja Keng Hong meloncat saking kagetnya.
"Heh....?? Mengapa, bagaimana....?"
"Itulah sebabnya aku mengamuk di kota raja, tidak menyangka bahwa Cui Im juga berada di kota raja."
Dengan singkat, dengan suara pilu Biauw Eng lalu menceritakan semua peristiwa yang dialaminya kepada Keng Hong.
Semenjak ibunya dibunuh Cui Im dan Siauw Lek, kemudian betapa ia terancam maut oleh racun Cui Im dan betapa Lai Sek menyelamatkan nyawanya dengan mengorbankan kedua matanya.
Biauw Eng menceritakan ini sambil bercururan air mata.
"Setelah menerima budi dan cinta kasihnya yang begitu suci murni, dapatkah aku menolaknya? Dapatkah aku meninggalkannya?"
Keng Hong merasa terpukul.
Bagaikan ditusukkan ke dalam matanya cinta kasih yang sedemikian besar dan murninya!
Mengertilah dia kini mengapa Biauw Eng memaksa diri mendampingi Lai Sek dalam hal ini kembali menjadi bukti betapa kuat batin gadis ini yang rela mengorbankan perasaannya sendiri demi membalas budi orang!
Alangkah mulia hati gadis ini.
Jauh bedanya dengan Cui Im, bagikan bumi dengan langit.
Dan masih jauh bedanya dengan dia sendiri!
Mengingat akan hal ini, mukanya menjadi merah dan dia berkata.
"Lalu bagaimana, Biauw Eng? Bagaimana kalian bisa sampai di kota raja dan siapa yang membunuh Lai Sek?"
Biauw Eng melanjutkan ceritanya tentang pengalamannya di kota raja.
Ketika menceritakan ini, matanya berapi dan ia menutup ceritanya dengan kata-kata duka.
"Sungguh menyedikan nasib yang menderita Sim-twako. Akan tetapi aku telah berhasil membalaskan sakit hatinya! Aku sudah puas, dan andaikata aku mati di tangan Cui Im sekalipun, sakit hati Sim-twako telah terbalas. Sayang..... kematian ibuku kiranya tak mungkin akan dapat kubalas, Cui Im terlalu lihai untukku...."
Diam-diam ada rasa girang yang luar biasa di Keng Hong, rasa girang yang membuat dia malu dan merasa berdosa.
Mengapa dia bergirang hati mendengar kematian Lai Sek?
Ia tidak mengaharapkan hal ini terjadi, akan tetapi hal itu terjadi di luar harapan dan pengetahuannya.
Betapapun juga, sudah menjadi kenyataan bahwa Lai Sek telah tewas dan hal ini berarti bahwa Biauw Eng telah bebas!
Bebas hatinya, dan dahulu gadis ini amat mencintanya!
"Biauw Eng...., mengapa engkau berduka akan hal itu?
Engkau tahu bahwa aku selalu siap membantumu menghadapi Cui Im, bukan hanya untuk membalaskan sakit hatimu, juga membalaskan sakit hati ibumu, juga membalaskan segala perbuatan kejinya terhadap dirimu, betapa ia dahulu berusaha merusak namamu.
Kemudian, ia malah mencuri kitab-kitab pusaka suhu.
Antara dia dan aku terdapat perhitungan besar.
Biauw Eng, marilah kita bersama menghadapinya dan percayalah mulai saat ini, aku tidak akan membiarkan engkau diganggu orang, tidak akan membolehkan engkau hidup menderita dan berduka, tidak akan membiarkan engkau terpisah lagi dari sampingku Biauw eng, engkau tentu maklum betapa sesungguhnya selama ini aku mencintamu, semenjak kita berjumpa.
Betapa bodoh dan tololnya aku dahulu, tidak dapat menghargai cinta kasih seorang gadis sepertimu.
Engkau maafkan semua kesalahan-kesalahanku yang lalu, Biauw eng dan aku bersumpah bahwa semenjak saat ini aku Cia Keng Hong akan mencintamu dengan selalu jiwa ragaku..."
Biauw Eng mengeleng-geleng kepala lirih, air matanya mengucur lagi ketika berkata lirih.
"Terlambat, Keng Hong.... terlambat sudah...."
Keng Hong memandang kaget dengan penuh kekhawatiran.
"Apa maksudmu? Telambat bagaimana, Biauw Eng?"
Ia menjadi tegang dan tanpa disadarinya dia memegang kedua tangan gadis itu yang terasa dingin sekali.
Biauw Eng menunduk, membiarkan tangannya di pegang.
Diam-diam ia merasa betapa dari kedua tangan pemuda yang menggenggam tangannya itu keluar getaran hangat yang menyentuh hatinya, yang mendatangkan rasa bahagia, tenteram dan aman, seolah-olah dalam kelelahan yang hebat tiba-tiba mendapatkan sandaran yang melindungi.
"Terlambat..."
Ia memaksa mulutnya bicara lirih.
"Engkau pun tahu bahwa sejak dahulu, cintaku hanya untukmu, jiwaku adalah milikmu, akan tetapi tubuhku.... telah ku serahkan kepada Sim Lai Sek, jasmaniku telah menjadi milik mendiang Sim Lai Sek..."
Tiba-tiba kedua tangan Keng Hong yang memegang tangan gadis itu terlepas dan seluruh tubuh pemuda itu menjadi lemas, seluruh tubuh pemuda itu menjadi lemas, pandang matanya penuh penasaran ditujukan kepada Biauw Eng, hatinya dibakar cemburu dan dia lalu bangkit berdiri dengan gerakan kasar.
"Biauw Eng! Sungguh tidak kusangka.. seorang gadis seperti engkau mudah saja menyerahkan diri kepada orang yang belum menjadi suamimu. Ah... Semua perempuan sama saja di dunia ini.... lemah dan mudah dibujuk nafsu....! Engkau perempuan murah...! Biauw Eng juga bangkit berdiri, tidak kasar seperti Keng Hong, melainkan berdiri perlahan, pandang matanya tak pernah terlepas dari wajah pemuda itu, kemudian ia berkata, suaranya tidak selemah tadi, melainkan tegas dan nyaring mengaandung kemarahan yang ditahan-tahan.
"Sudah kuduga bahwa cintamu kepadaku hanyalah cinta nafsu belaka, dan hanya tubuhku yang kau cinta, maka kini begitu mendengar bahwa tubuhku telah dimiliki pria lain, engkau menjadi kecewa dan marah! Cia Keng Hong, aku tadi hanya ingin mengujimu, sebelum aku mengambil keputusan dan ternyata bahwa aku mengambil keputusan untuk tidak sudi di sampingmu! Dahulu, setiap hari aku menangisimu, setiap hari bersembahyang untukmu akan tetapi ternyata bahwa pria yang kucinta sepenuh jiwaku, hanyalah seorang laki-laki yang diperhamba nafsu. Aku bukan seperti engkau, Keng Hong, aku tidak pernah tergelincir digoda nafsu, dan mendiang Sim Lai Sek adalah seorang pria yang tahu menghormati wanita, tidak sepertu engkau...."
Teringat akan Lai Sek, kembali Biauw Eng menangis.
Ucapan itu bagaikan cengkeraman maut yang mencabut semangat dari tubuh Keng Hong.
Tahulah dia Biauw Eng hanya mengujinya dan dia yang diuji telah jatuh!
Hatinya menjadi gelisah, rasa takut akan kehilangan gadis yang sungguh-sungguh dicintanya ini membuat dia menjatuhkan diri berlutut di depan Biauw Eng dengan kedua kaki lemas!
"Ah, ampunkan aku, Biauw Eng..., ah, betapa bodohku selalu mencurigaimu!
Ampunkan aku yang mencintamu dengan jiwa ragaku.
Aku bersumpah...., hidupku takkan ada artinya kalau engkau meninggalkan aku.
Biauw Eng..
maafkan ucapan dan sikapku tadi, dan ketahuilah bahwa aku dibikin gila oleh rasa cemburu yang besar.
Rasa cinta kasih selalu mendatangkan rasa cemburu, Biauw Eng, dan harap engkau dapat mengerti perasaanku ini dan...."
"Cukuplah, Keng Hong. Engkau bilang bahwa engkau mencinta maka engkau bisa cemburu. Sebaliknya aku pun pandai mencintamu harus pula pandai membencimu. Aku pernah mencintamu dengan cinta kasih yang tulus ikhlas dan suci murni, bukan hanya mencinta jasmanimu sehingga biarpun aku tahu betapa jasmanimu bermain gila dengan wanita lain, cinta kasihku kepadamu tidak pernah goyah. Dan sekarang aku... Aku.... ben.....benci.....ahhhhh!"
Biauw Eng tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena tercekik isak tangis, kemudian ia membalikkan tubuhnya dan lari meninggalkan Keng Hong.
"Biauw Eng .... jangan pergi.... engkau tidak membenciku! Biauw Eng, kembalilah... Eangkau mencintaku, aku yakin akan itu.... ah, Biauw Eng...!"
Akan tetapi jeritan hati Keng Hong ini tidak terucapkan lehernya seperti tercekik dan dia hanya berdiri bengong dengan muka pucat dan wajah muram memandang ke arah bayangan Biauw Eng yang makin mengecil kemudian lenyap.
Ia menarik napas panjang, menjatuhkan diri di atas tanah dan bersandar kepada batang pohon.
Masih terasa olehnya kehangatan bekas tubuh Biauw Eng dan tak terasa pula mata pemuda itu menjadi basah.
"Biauw Eng.... apa artinya hidup ini bagiku sekarang.....?"
Ia mengeluh dengan hati hancur.
Kemudian dia menjadi seperti orang beringas dan ditamparnya kedua pipinya sendiri kanan kiri menjadi biru-biru dan membengkak.
Setelah matanya berkunang dan tubuhnya tergelimpang miring baru dia berhenti menampari mukanya sendiri dan dia menangis terisak-isak.
Keng Hong, pemuda gagah perkasa yang memiliki kesaktian jarang ada bandingnya itu menangis seperti anak kecil!
Jantungnya seperti ditusuk-tusuk rasanya, hatinya diremas-remas.
"Bodoh! Engkau laki-laki tolol! Rasakan sekarang....!"
Seperti orang gila memaki-maki dirinya sendiri dan makin dia ingat dan kenangkan, makin sakit rasa hatinya, teringat betapa dia telah melakukan hal-hal yang amat tidak patut dan tidak adil terhadap Biauw Eng.
Teringatlah dia betapa dengan mudahnya dia tergelincir oleh nafsu berahi, betapa dia melayani wanita-wanita bermain cinta.
Dan dia telah memaki-maki Biauw Eng sebagai gadis tak tahu malu, bahkan sebagai perempuan murah karena gadis itu menyerahkan tubuhnya kepada Lai Sek.
Andaikata gadis itu menyerahkan tubuhnya kepadanya, agaknya akan lagi sikapnya.
Ah, dan ternyata gadis itu hanya mengujinyaa, membohong dan sama sekali belum pernah menyerahkan tubuhnya, apalgi hati dan cinta kasihnya, kepada pria lain!
Biauw Eng selamanya hanya mencinta dia, dan kalau gadis itu dahulu memilih Lai Sek hanya karena gadis itu hendak membals budi.
Ah, betapa mulianya gadis itu, betapa mendalam cinta kasihnya.
Dan sebaliknya betapa rendahnya dia, betapa cintanya dikotorkan oleh nafsu semata.
Dan sampai saat ini, dia tahu benar dan dapat meraba dengan perasaannya, betapa gadis yang merasa sakit hati dan bertekad untuk membencinya itu sebetulnya masih mencintanya.
Bahkan, untuk mengatakan membencinya dengan mulut saja sampai tidak terucapkan.
"Aduh, Biauw Eng.... bagaimana aku dapat menemukan engkau kembali? Bagaimana aku bisa mendapatkan engkau kembali....?"
Keng Hong mengeluh dan menyembunyikan muka di antara kedua lengan yang dia tumpangkan di atas kedua lutut yang dia angkat naik.
Sampai lama dia duduk di bawah pohon seperti itu, kedua pipinya membiru dan bengkak-bengkak, pandang matanya kosong dan sayu.
Menjelang senja, setelah duduk seperti itu selama setengah hari, tiba-tiba ia meloncat berdiri dan mengepal tinjunya.
Bhe Cui Im!
Wanita itulah yang menjadi gara-gara!
Wanita itulah yang pertama kali menyeretnya ke dalam gelombang permainan nafsu!
Wanita itu yang menjatuhkan fitnah secara keji kepada Biauw Eng, bahkan kemudian membunuh ibu Biauw Eng dan hampir membunuh Biauw Eng kalau saja dia tidak ditolong Lai Sek.
Wanita itu sebenarnya membuat Biauw Eng berhutang budi kepada Lai Sek dan menjadi biang keladi pertama sehingga timbul pertentangan dan keretakan dalam cinta kasih antara dia dan Biauw Eng.
Dan Cui Im pulalah orangnya yang harus dia cari, tidak saja untuk mendapatkan kembali semua pusaka yang dicuri gadis itu, yang membuat dia dimusuhi banyak tokoh kang-ouw, juga untuk membunuhnya karena perbuatan-perbuatannya yang kejam dan yang dahulu hampir membunuhnya dalam tempat persembunyian gurunya.
Masih ada urusan di dalam hidupnya!
Masih banyak tugas memanggilnya dan pada saat itu, tugas terpenting adalah membasmi Cui Im dan Siauw Lek yang dia kenal dari cerita Biauw Eng tadi, disamping merampas kembali semua benda pusaka yang dicuri Cui Im.
Timbul kembali semangat hidup dalam diri Keng Hong yang tadinya sudah melayu.
Dan pada saat itu juga dia lalu berlari meninggalkan hutan itu, kembali ke kota raja untuk mencari Cui Im!
Ternyata tidak mudah bagi Keng Hong untuk mendapatkan keterangan tentang Cui Im.
Sekian banyaknya orang yang menyaksikan pertempuran di gedung bangsawan atau pembesar Ang, tidak ada yang mengenal Cui Im, hanya semua orang merasa kagum kepada wanita cantik yang menunggang kuda dan berhasil mengalahkan pembunuh pembesar Ang itu.
Hal ini tidaklah mengherankan karena seperti diketahui, Cui Im adalah seorang pengawal rahasia yang memang tidak dikenal oleh orang biasa kecuali para perwira pengawal.
Apalagi karena Cui Im dan Siauw Lek belum lama menjadi pengawal rahasia kaisar.
Setelah melakukan penyelidikan selama tiga hari, barulah Keng Hong berhasil mendapat keterangan dari seorang perwira yang sedang mabuk di dalam restoran, yang agaknya tergila-gila dan kagum kepada Cui Im.
"Ha-ha-ha, hebat bukan main dia! Kiraku, diantara tujuh orang pengawal rahasia kaisar, dialah orang pertama yang paling lihai! Cantik seperti bidadari dan kepandaiannya,.... Aaahhh....., hebat! Juga kepandaiannya dalam hal... Hi-hi-hik, matipun tidak penasaran seorang pria yang diberi kesempatan mengenalnya luar dalam! Ang-kiam Bu-tek, menang dalam segala macam pertandingan, ha-ha-ha!"
Mendengar ocehan perwira mabuk ini, Keng Hong yang juga makan di restoran itu mendekat dan bertanya, suaranya di buat-buat seperti orang yang punya gairah namun takut-takut.
"Saya berkesempatan menonton ketika mengalahkan pembunuh Ang-taijin. Sungguh saya terpesona dan sekaligus jatuh cinta! Ah, Tai-ciangkun yang baik, dimanakah rumah wanita perkasa itu? Ingin...., ingin.... aku belajar kenal...."
Dengan mata merah karena mabuk perwira itu memandang Keng Hong.
Tentu dia sudah marah kalau saja hatinya tidak terlalu senang disebut tai-ciangkun (panglima besar) tadi.
"Ho-ho-ho, engkau...? Biarpun engkau cukup tampan, akan tetapi untuk mencium telapak kakinya pun jangan harap...., akan tetapi siapa tahu.... sekali waktu kalau dia sedang berkeliling kota raja naik kuda dan dia merasa suka! Ahhh.... dia pengawal rahasia, tentu saja tempatnya di dalam istana...."
Tiba-tiba perwira itu seperti orang tersentak kaget, agaknya dia telah membuka rahasia yang tidak boleh dibicarakan, maka dia membentak.
"Heh, cacing tanah! Mau apa kau tanya-tanya? Pergi sebelum kutendang mukamu!"
Keng Hong menjura dan cepat mengundurkan diri. Ia tidak marah, malah tersenyum dan berkata.
"Terima kasih!"
Memang dia berterima kasih karena dari ocehan perwira mabuk ini dia dapat mengetahui kemana dia harus mencari Cui Im.
Di dalam istana!
Memang amat berbahaya dan besar resikonya, akan tetapi baginya, jangankan harus memasuki istana, walaupun harus menempuh lautan api dia akan mengejarnya juga.
Malam hari itu juga Keng Hong menyelinap di antara kegelapan malam di luar komplek istana, menanti saat baik baginya selagi para peronda baru saja lewat, melompat naik ke atas pagar tembok dan menggunakan kepandaiannya untuk melayang turun di sebelah dalam tembok.
Biarpun para pengawal luar mengadakan penjagaan ketat, namun gerakan Keng Hong yang luar biasa cepatnya itu tak dapat terlihat oleh mereka karena di dalam kegelapan itu, andaikata ada yang kebetulan memandang ke tepat Keng Hong meloncat, tentu hanya akan melihat berkelebat bayang-bayang hitam yang secepat kilat.
Keng Hong menyelinap memasuki taman istana yang berada di belakang.
Cepat dia bersembunyi di balik pohon cemara ketika melihat seorang penjaga, agaknya anggauta pasukan pengawal yang menjaga taman, berjalan perlahan, tangan kiri memegang lampu, tangan kanan memegang golok terhunus, celingukan memandang ke kanan kiri dan menyoroti bagian-bagian gelap dengan lampunya.
Tiba-tiba penjaga ini terkejut melihat bayangan hitam menyambar.
Namun dia tidak sempat bergerak, tidak sempat dia berteriak, bahkan dia tidak tahu mengapa tiba-tiba tubuhnya menjadi lemas.
Keng Hong cepat menyambar lampu yang terlepas dari tangan penjaga itu, meniup pada dan menyeret tubuh yang telah ditotok dan dicengkeram pundaknya itu ke balik pohon cemara.
"Aku bukan penjahat pengacau istana, juga tidak ingin menganggumu. Akan tetapi, kalau engkau tidak memberi tahu dimana aku dapat bertemu dengan Ang-kiam Bu-tek Bhe Cui Im pengawal rahasia kaisar yang baru, terpaksa aku akan membunuhmu."
Setelah berbisik demikian Keng Hong menekan leher si penjaga yang segara dapat mengeluarkan suara kembali.
Tubuhnya gemetar ketakutan dan dia berkata gagap.
"Kau... Siapa.... mau apa....?"
"Aku musuh pribadinya, dan aku hanya akan bertemu dia, tidak akan mengacaukan istana. Lekas jawab, dimana dia?"
Keng Hong menekan pundak orang itu yang mengeluh kesakitan dan cepat menjawab.
"Pondok para pengawal rahasia.... di belakang istana sebelah kiri.. ada tirai bambunya berwarna kuning...!"
Keng Hong menotok kembali orang itu sehingga selain tidak mampu bergerak, juga tidak mampu mengeluarkan suara, kemudian tubuhnya berkelebat ke arah yang ditunjuk penjaga itu.
Setelah melewati taman yang luas itu, menghindarkan pertemuan dengan para penjaga, akhirnya dia melihat pondok yang bertirai bambu kuning itu.
Ia berindap-indap mendekati dan betapa girang rasa hatinya ketika dia mengintai dari balik pintu samping, dia melihat Cui Im sedang duduk mengobrol sambil makan minum bersama Siauw Lek, hanya berdua saja di ruangan yang luas dan sunyi itu, bahkan pondok ini, sebagai pondok para pengawal rahasia, tentu saja tidak ada pasukan penjaganya.
Saking girang dan lega hatinya dapat menemukan musuh besarnya, Keng Hong lalu meloncat.
"Cui Im, akhirnya aku dapat menemukan engkau disini!"
Siauw Lek meloncat bangun dan mencabut senjatanya, pedang hitam yang selalu tergantung di pinggang.
Namun Keng Hong tidak memperdulikan, pandang matanya ditujukan kepda Cui Im yang sama sekali tidak kelihatan gugup seperti Siauw Lek, bahkan wanita ini masih duduk, hanya memutar tubuh menengok sambil tersenyum.
"Hi-hi-hik, pancinganku berhasil melalui perwira mabuk itu ternyata berhasil, dan napas penjaga taman juga kau caplok Keng Hong? Betapa bodoh engkau!"
Keng Hong terkejut, akan tetapi sikapnya tenang.
"Cui Im, tak perlu banyak cakap lagi. Kita sudah sama mengetahui mengapa aku datang mencarimu. Lekas serahkan kembali semua kitab dan senjata rahasia kepadaku!"
Cui Im tertawa mengejek.
"Hi-hi-hik, enak saja kau bicara, Keng Hong. Yang bodoh menjadi makanan yang pintar, yang lemah menjadi injakan kaki yang kuat, hukum ini sudah berlaku semenjak aku masih menjadi murid Lam-hai Sin-ni. Engkau bodoh dan lemah,bahkan sampai sekarang pun masih bodaoh. Keng Hong, tengoklah engkau telah terkurung dan takkan dapat menyelamatkan diri. Engkau akan mati sebagai seorang penjahat dan pemberontak yang berani mengacau di istana kaisar!"
Siauw Lek sudah meniup peluitnya dan setiap orang pengawal rahasia membawa peluit semacam ini untuk memanggil teman.
Terdengarlah suara berisik dan ketika Keng Hong melirik, ternyata di situ telah muncul Pak-san Kwi-ong dan empat orang kakek yang kelihatannya menyeramkan dan berkepandaian tinggi, sedangkan di belakangnya telah muncul pasukan pengawal yang jumlahnya paling tidak ada tiga puluh orang, terdiri dari para pengawal dalam istana!
Keng Hong maklum bahwa dirinya berada dalam bahaya, namun dia tidak menjadi gentar.
Ancaman bahaya maut bukanlah apa-apa bagi seorang yang memperjuangkan kebenaran, apalagi dalam menghadapi kejahatan, dan kedatangannya adalah untuk menentang Cui Im, untuk merampas kembali pusaka yang menjadi haknya, bahkan pusaka-pusaka yang harus dia kembalikan kepada para partai persilatan besar yang menjadi pemiliknya, serta menghukum Cui Im atas segala kejahatan yang dilakukannya terutama sekali terhadap diri Biauw Eng dan terhadap dirinya sendiri.
"Ha-ha-ha, bukankah ini murid Sin-jiu Kiam-ong? Eh, Ang-kiam Bu-tek, mengapa bocah ini kesasar sampai di sini?"
Pak-san Kwi-ong bertanya.
"Pak-san Kwi-ong, mau apalagi dia kalau tidak mau membikin kacau? Gurunya dahulu pun seorang pengacau besar tentu muridnya sama saja!"
Jawab Cui Im.
Tujuh orang pengawal rahasia yang menjadi jago-jago nomor satu dari istana itu telah mengurung dengan sikap mengancam.
Melihat ini, Keng Hong berkata tenang.
"Pak-san Kwi-ong, aku tidak mengerti bagaimana orang-orang macam engkau dan Cui Im, juga Kim-lian Jai-hwa-ong yang nama busuknya sudah kudengar di mana-mana, dapat menjadi pengawal-pengawal kaisar yang terkenal bijaksana. Akan tetapi hal itu bukan urusanku dan aku pun tidak peduli. Kedatanganku ke sini sama sekali tidak ada hubungannya dengan para pengawal, juga sama sekali tidak akan membuat kekacauan. Aku datang khusus untuk menemui Cui Im dan untuk membereskan perhitungan pribadi dengan dia. Harap kalian tidak mencampuri!"
"Ha-ha-ha, bocah lancang! Engkau sudah memasuki istana seperti maling, bagaimana kami tidak akan mencampuri?"
"Kalau tidak lekas dienyahkan, bocah ini membahayakan keselamatan kaisar. Serang!"
Cui Im yang cerdik sudah berseru dan menerjang maju karena kalau Keng Hong diberi kesempatan bicara, mungkin akan mengubah keadaan.
Bersama Siauw Lek ia sudah maju, mencabut pedang merahnya dan Siauw Lek sudah pula mencabut pedang hitamnya.
Pak-san Kwi-ong, sudah pula menggerakkan senjata rantainya sehingga sepasang tengkorak di ujung rantai beterbangan!
Demikian pula Gu Coan Kok Si Iblis Cebol sudah maju dengan tongkatnya, Si Tinggi besar bongkok Hok Ku sudah menyerang dengan cakar besi beracun, Kemutani mainkan sepasang hui-to di kedua tangan, dan Thai-lek Sin Cou Seng sudah menggerakkan pecut bajanya sehingga terdengar suara ledakan-ledakan nyaring.
Melihat sinar-sinar berkelebatan menyerangnya, dan kesemuanya merupakan senjata-senjata ampuh dan berbahaya digerakkan oleh tangan-tangan yang mengandung tenaga sinkang amat kuat maklum bahwa serangan-serangan itu dahsyat, Keng Hong cepat mencabut Siang-bhok-kiam, memutar pedang itu sehingga tampak berkelebatnya sinar hijau menyilaukan mata dan dia pun menggunakan tangan kirinya mendorong ke depan.
Terdengar berturut-turut suara nyaring disusul teriakan-teriakan kaget ketika tujuh orang itu merasa senjata mereka membalik dan disusul angin dorongan yang kuat sekali ke arah mereka!
"Aku Cia Keng Hong tidak bermaksud mengacau istana, tidak pula memusuhi para pengawal, melainkan hendak berurusan dengan Ang-kiam Bu-tek Bhe Cui Im!
Seruan Keng Hong yang dikeluarkan deangan pengerahan tenaga khikang, keluar dari pusarnya ini amat nyaring sehingga menggema di seluruh istana, mengejutkan semua penjaga yang tidak berada di tepat itu, dan menggetarkan jantung para pengurung yang menjadi bengong dan berubah wajahnya.
"Serang pemberontak!"
Kembali Cui Im berseru dan semua pengawal yang tadinya terkejut itu sudah siap mengurung Keng Hong. Pada saat itu, terdengar suara yang berwibawa.
"Hentikan pertempuran!"
Semua orang menengok dan para pengawal terkejut ketika melihat hadirnya tiga orang yang mereka tahu amat berpengaruh dan amat dekat dengan kaisar yaitu Laksamana The Ho yang menjadi panglima besar menguasai armada, Ma Huan seorang sakti dan terpelajar beragama Islam yang diperbantukan kepada laksamana itu dalam perantauannya yang datang, dan Tio Hok Gwan, si tinggi kurus sederhana yang selalu mengantuk dan berjuluk Ban-kin-kwi, pengawal pribadi Laksamana The Ho.
"The-tai-ciangkun, dia adalah seorang pemberontak yang memasuki istana seperti penjahat!"
Cui Im berusaha mempengaruhi pembesar itu. Akan tetapi The Ho mengangkat tangannya dan berkata.
"Harap para pengawal minggir semua dan biarkan aku bicara dengannya. Aku datang atas nama sendiri!"
Mendengar ucapan ini, semua pengawal lalu minggir.
The Ho memandang Keng Hong yang masih berdiri tegak.
Ketika Keng Hong memandang dan melihat sinar mata pembesar ini, dia terkejut sekali.
Cepat-cepat dia menyimpan Siang-bhok-kiam dan memberi hormat dengan berlutut sebelah kaki, lalu berdiri kembali.
"Orang muda yang gagah, engkau siapakah?"
Tadi begitu bertemu pandang dengan The Ho, Keng Hong segera mengenal seorang sakti, kini melihat sikap dan mendengar suaranya, dia benar-benar menjadi kagum dan tunduk.
Diam-diam dia merasa heran sekali mengapa di bawah naungan kekuasaan kaisar, terdapat pengawal-pengawal macam tujuh orang itu disamping pembesar seperti ini.
Betapa mungkin kuda yang baik dapat bekerja sama dengan harimau yang ganas, betapa burung hong dapat terbang bersama dengan burung-burung gagak.
Mendengar pertanyaan yang dikeluarkan dengan suara halus itu, dia cepat menjawab singkat dan hormat.
"Hamba Cia Keng Hong."
"Cia Keng Hong, engkau bukan seorang pekerja istana, telah berani memasuki istana di waktu malam tanpa ijin. Apa kehendakmu?"
Dengan sikap penuh hormat Keng Hong menjawab.
"Mohon maaf kepada Paduka, Taijin, hamba mengaku telah berbuat lancang. Akan tetapi hamba tidak bermaksud mengacau istana, melainkan hendak bertemu dengan Ang-kiam Bu-tek Bhe Cui Im yang menjadi musuh besar hamba."
Hening sejenak, kemudian terdengar suara The Ho menegur.
"Cia Keng Hong, sungguh lancang dan besar dosamu! Kalau aku tidak melihat engkau seorang muda yang gagah perkasa, tentu engkau akan kusuruh tangkap dan menerima hukuman berat. Karena engkau belum melakukan sesuatu yang merusak, biarlah atas nama kaisar kami ampuni. Pergilah sekarang dari tempat ini dan jangan sekali-kali engkau berani lagi masuk tanpa ijin karena tidak ada pengampunan dosa dua kali!"
Suara ini berwibawa sekali dan di dalam hatinya Keng Hong sudah tunduk dan tidak berani melanggar.
Akan tetapi karena dia masih merasa penasaran melihat betapa orang-orang macam Cui Im, Siauw Lek dan Pak-san Kwi-ong bisa menjadi pengawal kaisar, dia lalu bertanya.
"Jadi, hamba tidak boleh menganggu musuh besar hamba ini?"
Ia memandang ke arah Cui Im yang tersenyum mengejek.
"Tidak boleh! Dia adalah pengawal yang berada dalam istana, bagaimana engkau boleh menganggunya?"
"Kalau begitu.... apakah istana melindungi orang-orang jahat dan keji macam Bhe Cui Im, Siauw Lek dan...."
"Cia Keng Hong!"
The Ho membentak, suaranya mengguntur, bukan mengandung kemarahan, melainkan mengandung bantahan dan peringaran.
"Bukalah matamu, pergunakan pikiranmu dan lihatlah kenyataan! Istana mempergunakan orang-orang pandai menjadi pengawal, bukan membutuhkan riwayat hidupnya, melainkan tenaganya! Istana tidak akan memperdulikan urusan pribadi semua petugasnya, dan tidak mengenal siapa keji siapa tidak sebelum menjadi petugas istana! Urusan pribadi antara engkau dan dia sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan istana, kalau engkau hendak menyelesaikan urusan pribadimu itu di luar lingkungan istana, di luar pelaksanaan tugas di istana, hal itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan siapa. Akan tetapi, kedatanganmu malam-malam tanpa ijin memasuki istana, hal ini adalah urusan istana! Mengertikah engkau ataukah pura-pura tidak mengerti??"
Keng Hong terkejut sekali, merasa mukanya seperti di tampar dan matanya seperti dibuka lebar-lebar oleh ucapan yang keluar dari mulut The Ho ini.
Betapa lancang dan bodohnya dia yang mencari Cui Im ke dalam istana sehingga dia membuat kesalahan dan perbuatannya ini saja sudah cukup untuk mendatangkan maut baginya, bisa dianggap pemberontakan.
Dan biarpun pembesar yang memiliki pandang mata begitu tajam berwibawa ini seolah-olah marah kepadanya, namun ternyata telah menginsyafkannya dan telah mengampuninya.
Tak terasa lagi Keng Hong menjatuhkan diri memberi hormat kepada The Ho dan berkata.
"Hamba mengerti dan hamba menghaturkan terima kasih kepada Paduka atas kemurahan hati Paduka yang telah memberi ampun."
Setelah berkata demikian, Keng Hong bangkit, membalikkan tubuhnya dan hendak pergi.
"Tunggu dulu, Cia Keng Hong!"
Tiba-tiba The Ho berkata dan Keng Hong cepat membalikkan tubuh, memandang tajam akan tetapi menanti dengan sikap tenang.
Laksamana yang bermata tajam berwibawa itu tersenyum.
"Kedatanganmu amat menarik perhatianku, orang muda. Engkau tidak bisa pergi begitu saja tanpa meninggalkan sesuatu."
Keng Hong memandang dengan alis berkerut. Apa pula kehendak pembesar yang berwibawa ini? "Apakah yang harus hamba tinggalkan?"
Tanyanya, sikapnya tenang sekali sehingga The Ho dan Ma Huan, dua orang yang memiliki pandang mata waspada itu, diam-diam merasa kagum sekali.
Jarang mereka bertemu dengan seorang pemuda seperti ini dan diam-diam menyesalkan bahwa pemuda seperti ini kini seolah-olah menjadi seorang pelanggar.
Bepatapun juga, mereka tadi hanya menyaksikan sepak terjang Keng Hong segebrakan saja dan ingin mereka menyaksikan kelihaian pemuda ini.
"Aku bukan seorang yang menginginkan benda milik orang lain,"
Jawab The Ho tertawa.
"Akan tetapi aku mempunyai semacam penyakit, yaitu kalau bertemu orang pandai, hatiku belum merasa puas kalau belum menyaksikan kepandaiannya. Karena itu, sebagai imbalan keputusanku mengampunimu, aku minta agar engkau meninggalkan pertunjukkan ilmu silatmu dan suka melayani pengawalku barang sepuluh jurus! Tio Hok Gwan, kau cobalah kelihaian Cia Keng Hong ini, akan tetapi hati-hatilah, sekali ini engkau bertemu tanding."
Tio Hok Gwan si pengantuk itu mengangguk dan melangkah lebar menghadap Keng Hong.
Pemuda ini merasa serba salah.
Menolak berarti dia tidak menghargai sikap pembesar yang baik itu kalau dia menerima berarti dia harus melawan si tinggi kurus yang baru langkahnya saja mendatangkan kesan bahwa si pengantuk ini tentu seorang ahli Iweekeh yang memiliki sinkang kuat sekali.
Juga dia tidak dapat menerka apa yang dikandung dalam hati pembesar itu di balik "ujian"
Ini. Maka dia lalu menjawab.
"Baiklah, karena hamba telah melanggar dan berada di sini, hamba tidak dapat membangkang perintah Paduka. Akan tetapi hendaknya Paduka tidak menganggap hamba kurang ajar dan ingin memamerkan kepandaian, karena sesungguhnya hamba tidak mempunyai kepandaian apa-apa. Mana dapat dibandingkan dengan Locianpwe ini yang menjadi pengawal Paduka?"
Setelah berkata demikian, Keng Hong berdiri tegak dan siap menghadapi Tio Hok Gwan.
Sejenak kedua orang ini berdiri berhadapan dalam jarak tiga meter, saling memandang penuh perhatian seolah-olah dengan pandang mata mereka itu mereka hendak mengukur keadaan lawan.
"Cia Keng Hong, sambutlah!"
Tiba-tiba Tio Hok Gwan berseru dan tubuhnya sudah bergerak ke depan, sekaligus mengirim pukulan dengan tangan kiri ke arah dada Keng Hong.
"Wuuuttttt!"
Angin pukulan yang dahsyat menyambar dan sebelum kepalan itu datang, Keng Hong sudah merasai hawa pukulannya.
Tidak salah dugaannya, pengawal yang mukanya seperti orang kurang tidur ini memiliki sinkang yang hebat.
Cepat dia mementang kedua kaki memutar tubuh iring kekiri untuk mengelak dan dengan kontan dia membalas dengan pukulan tangan kiri ke arah lambung lawan.
Tio Hok Gwan yang agaknya benar-benar hendak mengandalkan kemenangan, tidak mengelak seperti Keng Hong, melainkan cepat menggerakkan tangan kanan dengan jari terbuka menerima hantaman Keng Hong.
"Desss!"
Dua telapak tangan bertemu dan mengeluarkan bunyi keras.
Akibatnya, tubuh Keng Hong terpental ke belakang sedangkan tubuh Tio Hok Gwan tergeser tiga tindak ke belakang!
"Hebat...!"
Terdengar The Ho berseru karena pembesar yang sakti ini dapat mengukur dari pertemuan tenaga kedua orang itu bahwa Keng Hong benar-benar memiliki sinkang yang dapat mengatasi pengawalnya!
Hok Gwan menjadi penasaran.
Selama dia menjadi pengawal The Ho, belum pernah dia menemui tanding yang dapat melawan sinkangnya.
Dalam hal ilmu silat, mungkin banyak tokoh-tokoh, umpamanya ke tujuh orang pengawal rahasia kaisar, yang akan dapat menandingi, bahkan mungkin melebihinya.
Akan tetapi dalam hal kekuatan sinkang, dia berani diadu dengan siapapun juga dan merasa yakin bahwa dia akan lebih kuat.
Siapa kira, pemuda ini dapat menandinginya, bahkan diam-diam dia merasa sangsi apakah dia lebih kuat daripada pemuda ini.
Karena penasaran, dia lalu membuat gerakan miring dan mengirim tendangan dari samping, diikuti pukulan kedua tangannya ke arah muka dan perut lawan!
Cepat dan kuat sekali gerakan Hok Gwan ini sehingga Keng Hong terpaksa harus mengerahkan ginkangnya, meloncat ke arah yang berlawanan dengan tendangan lawan sambil mengibaskan kedua tangan ke bawah dan atas untuk menangkis pukulan tangan lawan.
Kembali kedua tangan saling bertemu dan membuat mereka berdua terhuyung.
Keng Hong tidak mau mengalah karena maklum akan kekuatan lawan, dia cepat membalas dengan pukulan tangan miring menuju tengkuk selagi leher lawan miring.
Namun sambil memutar tubuhnya, kembali Hok Gwan dapat menangkis, Bahkan langsung membarengi dengan jotosan ke arah bawah ketiak lawan yang lengannya sedang terangkat itu.
Keng Hong kembali mengelak karena pemuda ini maklum bahwa kalau dia mengandalkan sinkang untuk selalu menandingi kekuatan lawan, maka hal itu berati keras lawan keras dan tentu akan mengakibatkan luka-luka dalam di antara mereka.
Hal ini tidak dia kehendaki, pertama karena dia tidak mempunyai permusuhan apa-apa dengan Tio Hok Gwan, kedua karena dia ingin pergi dari situ tanpa meninggalkan kesan buruk.
Karena menemui tandingan yang seimbang, Hok Gwan dan Keng Hong menjadi gembira dan mereka beradu kelihaian sampai lebih dari lima puluh jurus tanpa ada yang terdesak!
Keng Hong yang baru saja mewarisi kepandaian dari gurunya dan juga dari Thai Kek Couwsu, diam-diam juga menjadi penasaran.
Kalau dia kalah oleh pengawal The Ho yang amat lihai ini, bukanlah merupakan hal yang besar baginya, akan tetapi karena Cui Im, Siauw Lek dan Pak-san Kwi-ong hadir disitu dan menonton, dia tidak ingin kalah di depan mereka!
Dia harus menang dan pikiran ini membuat Keng Hong makin lama makin cepat dan kuat gerakannya.
Mula-mula kedua orang itu mengandalkan tenaga, kini karena Keng Hong mengerahkan kecepatannya, terpaksa Hok Gwan harus pula mengerahkan ginkangnya yang ternyata tidak sehebat Keng Hong.
Mulailah bayangan kedua orang itu berkelebat cepat dan berubah menjadi bayangan yang bergulung menjadi satu!
Akan tetapi dalam pandangan mata para tokoh yang berada di situ, jelas tampak betapa Keng Hong mulai mendesak Tio Hok Gwan dengan serangan-serangan kilatnya.
"Hiaaaaaaahhhhh!"
Tiba-tiba Hok Gwan mengeluarkan teriakan keras dan gerakannya kini berubah, tidak cepat lagi akan tetapi gerakan merupakan benteng yang amat kuat sehingga semua serangan Keng Hong menemui jalan buntu.
Kalau serangan Keng Hong yang cepat itu seperti air mengalir, pertahanan Hok Gwan seperti tanggul dari baja yang menahan banjirnya air!
Melihat ini, Keng Hong terkejut dan maklum bahwa lawannya sudah bersungguh-sungguh dan kini mengeluarkan simpanannya.
"Haaaiiittt!"
Ia pun memekik dan kini caranya bersilat juga berubah pula.
Gerakan-gerakannya juga lambat, namun setiap gerakan mendatangkan tenaga yang dahsyat, dan kedua lengan melakukan gerakan membentuk lingkaran-lingkaran!
Inilah Thai Kek Sin-kun yang dia pelajari dari kitab peninggalan Thai Kek Couwsu!
Ilmu silat sakti yang digerakkan dengan inti tenaga sinkang dan menghadapi ilmu silat ini, Hok Gwan terkejut dan tampak bingung, bahkan gerakan-gerakannya menjadi agak kacau.
"Ah...., gerakan-gerakan membuat lingkaran itu... Lihat.... delapan macam gerakan tangan.... dengan mengarah delapan jurusan.... eh, apakah ini Pat-kwa Kun-hoat? Akan tetapi berbeda benar... Dan lingkaran-lingkaran itu....."
Terdengar The Ho berseru kaget dan kagum sekali setelah menyaksikan Keng Hong bersilat Thai Kek Sin-kun sampai belasan jurus yang membingungkan Hok Gwan.
"Akan tetapi, Taijin, harap lihat gerakan kakinya. Bukankah berdasarkan Ngo-heng? Gerakan kakinya seperti Ilmu Silat Ngo-heng Kun Hoat, akan tetapi gerakan atasnya lain. Dan lingkaran-lingkaran itu amat aneh....!"
Demikian Ma Huan berkata.
Kedua orang ini saking kagum dan tertariknya, bicara dengan suara keras sambil menonton, lupa bahwa di situ ada tujuh orang pengawal rahasia yang juga menonton dengan bengong dan kagum.
Kata-kata kedua orang pembesar itu tidak terlepas dari pendengaran Keng Hong dan pemuda ini terkejut.
Biarpun tidak dapat menebak dengan tepat, namun pernyataan kedua orang itu sudah mendekati rahasia Ilmu Silat Thai Kek Sin-kun!
Hal itu sudah cukup membuktikan bahwa The Ho dan Ma Huan tentu bukan sembarang pembesar, melainkan orang-orang yang sakti, dan mungkin lebih lihai!
Maka dia berlaku hati-hati sekali.
"Sambutlah!"
Tiba-tiba Hok Gwan mengirim tendangan kilat.
Itulah ilmu tendangan yang amat terkenal di Tiongkok Utara yang disebut Soan-hong-twi atau Tendangan Angin Taufan yang datangnya amat cepat dan susul-menyusul, sedangkan yang diarah oleh kedua kaki adalah bagian atas tubuh.
Ketika kaki lawan menendang ke arah tenggorokannya dengan cepat sekali, Keng Hong lalu membuat gerakan yang indah.
Kaki kirinya diluruskan ke dapan dengan tumit menempel lantai, Kaki kanan berjongkok ketika dia mengelak dari tendangan yang menyambar lewat di atas kepalanya, Tangan kiri yang tadinya melingkar di depan pusar itu membuat gerakan melingkar ke atas sambil mengangkat tubuh menjadi tegak dan dari tangan kanan yang tadinya melingkar dari tangan kanan yang tadinya melingkar di depan dada secara tiba-tiba mendorong ke depan dengan tangan kiri ditarik ke atas kepala.
Inilah jurus yang disebut "Bidadari Meneropong"
Dari Ilmu silat Thai-kek Sin-kun!
Gerakan yang sederhana namun karena dilakukan sebagai lanjutan mengelak tendangan dan pukulan dengan tangan kanan mendorong itu mengandung tenaga sinkang yang hebat luar biasa, membuat Hok Gwan yang tendangannya luput tadi terkejut.
Ia masih dapat menjatuhkan diri ke kanan dan bergulingan, tendangan dari pukulan sakti, namun dia mengalami kekagetan dan ketika melompat bangun dia lalu menyerang lagi dengan hati-hati, lebih mengerahkan tenaga dan perhatian untuk bertahan!
Pertandingan antara jago sakti ini berlangsung sampai seratus jurus lebih dan para pengawal yang menonton pertandingan itu menahan napas.
Bahkan Cui Im sendiri merasa penasaran sekali menyaksikan kehebatan ilmu silat yang dimainkan Keng Hong.
Ia menjadi bingung dan menduga-duga.
Dari mana Keng Hong mendapatkan ilmu ini?
Semua kitab telah dibacanya, dipelajari, bahkan kitab-kitab telah dibacanya, dipelajarinya, bahkan kitab-kitab itu telah dibawanya.
Apakah guru pemuda itu, Sin-jiu Kiam-ong, mempunyai simpanan kitab lain yang tak dilihatnya?
Diam-diam ia menyumpah di dalam hati dan merasa menyesal mengapa dahulu di tempat rahasia ia tergesa-gesa berusaha melenyapkan Keng Hong.
Kini menyaksikan kelihaian Keng Hong dia merasa ragu-ragu apakah dia akan dapat mengatasi pemuda yang makin lihai itu.
Biarpun Tio Hok Gwan ternyata amat lihai dan pertahanannya amat kuat, namun makin lama dia makin terdesak hebat.
The Ho dan Ma Huan menonton dengan gembira, dan biarpun The Ho maklum bahwa pengawalnya tidak akan dapat menangkan Keng Hong.
Namun dia tidak mau menghentikan pertandingan itu saking tertariknya dan ingin menonton sepuasnya!
Hok Gwan diam-diam merasa penasaran sekali.
Selama hidupnya, baru sekali ini baru bertemu tanding yang membuatnya kehabisan akal dan terpaksa harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk membela diri, membentuk pertahanan yang amat kuat.
Namun, ilmu silat yang melakukan gerakan-gerakan tangan melingkar-lingkar itu membingungkannya dan pengawal lihai ini pun maklum bahwa kalau dilanjutkan, lambat laun dia tentu akan roboh.
Gerakan aneh dari lawannya sudah beberapa kali hampir dapat menyusup dan membobolkan pertahanannya.
Ia merasa malu kalau harus menderita kekalahan di depan junjungannya.
Tak lama lagi junjungannya akan memimpin barisan menyerang lautan dan dialah yang selalu akan diandalkan untuk melindungi pembesar itu.
Kalau kini dia kalah oleh seorang pemuda yang usianya baru dua puluh tahun lebih, bukankah dia akan kehilangan muka?
Karena itu, tiba-tiba pengawal ini mengeluarkan pekik yang menyerupai gerengan harimau marah, kedua tangannya membalas dengan pukulan nekat.
Biarpun dia maklum bahwa dengan mengubah gerakan bertahan menjadi menyerang ini membuka sebagian pertahanannya dan dia dapat celaka, Namun dia yakin bahwa kalau lawan melakukan penyerangan, sebuah daripada kedua tangannya akan mengenai sasaran pula dan kalau perlu dia akan roboh bersama lawannya.
Pokoknya asal dia tidak kalah.
Kalau keduanya roboh, berarti tidak ada yang menang!
Keng Hong tadinya bersilat dengan tekun dan sabar.
Maklum akan pertahanan lawan yang amat kuat, dia tahu bahwa kalau akan menjatuhkan lawan tanpa melukainya, dia harus membuat lawan lelah dan pening.
Akan tetapi tiba-tiba dia melihat lawannya menyerang hebat, tidak begitu memperdulikan lagi pertahanannya.
Ia terkejut, tahu bahwa lawan menjadi nekat dan pantang kalah.
Satu-satunya jalan untuk mencapai kemenangan harus melancarkan pukulan maut mendahului kedua tangan lawan.
Posisi tubuhnya lebih baik karena dia dalam keadaan menekan.
Kedua tangan menyambar lurus menuju dada dan lehernya sehingga penjagaan tubuh lawan di bagian bawah terbuka.
Kalau dia merendahkan diri, membuat gerakan melingkar dan menyerang perut dan pusar lawan, dia yakin pasti menang.
Akan tetapi kalau hal ini dia lakukan, berarti Tio Hok Gwan akan menderita luka berat dan mungkin sekali tewas.
Padahal dia tidak menghendaki hal ini terjadi.
Ia maklum bahwa pembesar yang memiliki wibawa luar biasa itu tidak bermaksud buruk terhadap dirinya, dan kalau kini mengujinya semata-mata memang ingin sekali menyaksikan kepandaiannya, hal ini terbukti ketika dia tadi melirik ke arah dua orang pembesar itu, mereka itu menonton dengan wajah berseri dan pandang mata kagum, sama sekali tidak menjadi khawatir atau penasaran melihat pengawalnya didesak.
"Haaaiiittttt!"
Pukulan tangan kanan Hok Gwan menghantam pundaknya, pukulan tangan kiri menghantam lehernya, namun Keng Hong kini menghentikan gerakannya sama sekali, mengerahkan sinkangnya dan menggunakan tenaga mujijatnya yang tidak akan dia keluarkan seandainya keadaan tidak seperti itu.
"Bukkk! Dessssss!!"
Dua pukulan itu tiba pada saat yang hampir bersamaan, hanya setengah detik selisihnya.
The Ho dan Ma Huan berseru kaget.
Mereka benar-benar kaget dan menyesal karena mereka tadi hanya ingin menguji, sama sekali tidak bermaksud menyuruh pengawal itu membunuh pemuda yang amat lihai itu.
Dan mereka terkejut melihat betapa pemuda itu yang tadinya sudah "menang angin"
Kini menerima pukulan begitu saja tanpa mengelak atau menangkis.
Mereka cukup maklum betapa hebatnya pukulan kedua tangan Hok Gwan mampu memukul pohon menjadi remuk isi batangnya tanpa melecetkan kulit batang pohon!
Tembok yang ditutup kertas tipis akan hancur oleh pukulan ini tanpa merobek kertasnya!
Akan tetapi kekagetan kedua orang pembesar ini disusul keheranan yang amat besar sehingga mereka melongo.
The Ho adalah seorang pembesar sakti dan sudah mengalami banyak hal aneh-aneh, akan tetapi belum pernah dia menyaksikan yang seaneh itu.
Jelas bahwa kedua kepalan tangan Hok Gwan mengenai leher dan pundak Keng Hong, akan tetapi pukulan-pukulan itu seperti dua buah batu besar dilempar ke permukaan telaga yang dalam dan amblas tanpa bekas!
Tangan Hok Gwan yang kiri masih menempel di leher Keng Hong, sedangkan tangan kanannya masih melekat di pundak, akan tetapi pengawalnya itu kini membelakkan kedua mata yang biasanya sipit mengantuk itu, seolah-olah dia bangun tidur karena disiram air, mukanya pucat dan mulutnya mengeluarkan suara merintih!
Kedua tangan itu tidak bisa ditariknya kembali seperti biasa dilakukan oleh ahli silat yang setiap memukul tentu menggunakan sasaran untuk menendang balik pukulannya.
Kedua tangan itu melekat pada leher dan pundak Keng Hong sedangkan pemuda yang dipukul itu sama sekali tidak bergerak, seolah-olah tidak merasa sesuatu.
"Aihhh.... Thi-khi-I-beng ...!"
Cui Im berseru kaget karena dia maklum bahwa ilmu yang dimiliki Keng Hong itu adalah ilmunya yang tidak wajar, yaitu yang dimiliki Keng Hong bukan berdasarkan ilmu, melainkan karena sesuatu keanehan dan biasanya pemuda itu tidak tahu bagaimana harus membebaskan lawan yang telah tersedot sinkangnya.
Sejenak teringatlah wanita ini betapa dahulu, tanpa disengaja, Keng Hong telah "menyedot"
Pula sinkangnya secara halus ketika mereka memadu asmara!
Sedetik mukanya menjadi merah sekali dan ia sudah melangkah maju hendak membantu Hok Gwan.
Akan tetapi ketika sinar matanya bertemu dengan pandang mata The Ho, dia mundur lagi.
Jelas tampak bahwa pembesar itu melarang dia turun tangan.
Dan memang sesungguhnya The Ho sendiri tidak tahu akan keadaan pengawalnya sungguhpun dia heran mengapa pengawalnya tidak bergerak dan wajah pengawalnya itu menjadi pucat sekali.
Tio Hok Gwan merasa betapa tenaga sinkangnya membanjir keluar melalui kedua tangannya.
Ia terkejut dan berusaha menarik tangan, makin keras pula tenaga sinkangnya membanjir keluar.
Ia terkejut dan matanya terbelalak saking herannya.
Ketika Keng Hong mendengar seruan Cui Im, dia teringat dan cepat sekali dia mengeluarkan pekik melengking dan menggerakkan tubuh sendiri ke belakang dan menggunakan sinkang menolak.
Tio Hok Gwan berteriak dan tubuh pengawal ini mencelat ke belakang seperti dilontarkan, sedangkan tubuh Keng Hong sendiri berjungkir balik sampai lima kali ke belakang.
Tio Hok Gwan masih dapat turun di atas kedua kakinya dengan terhuyung.
Ia berdiri dan memandang Keng Hong dengan wajah pucat.
Kaget sekali pengawal ini dan dia tidak lagi berani bergerak, melainkan menarik napas dalam-dalam untuk memulihkan tenaga dan menyalurkan sinkang ke pusar, kemudian memutar hawa panas dari pusar untuk menyelidiki keadaan dalam tubuhnya.
Ia merasa lega karena tidak terluka, hanya agak lemas karena ada tenaga sinkang yang membocor keluar secara aneh.
Adapun Keng Hong yang mukanya lebih merah daripada biasanya, akibat kebanjiran sinkang, cepat menjatuhkan diri berlutut di depan The Ho dan berkata.
"Harap Taijin sudi memberi maaf kepada hamba. Pengawal Taijin terlalu lihai, hamba tidak kuat melawannya."
The Ho yang masih terheran-heran menganngguk-anggguk dan berkata.
"Orang muda yang hebat Cia Keng Hong, bagaimana kalau engkau bekerja padaku, membantuku seperti Tio Hok Gwan?"
"Terima kasih, Taijin. Kiranya akan berbahagia sekali bagi hamba untuk dapat menghambakan diri kepada seorang bijaksana seperti Paduka. Akan tetapi maaf, untuk waktu sekarang hamba belum sanggup karena urusan pribadi masih banyak yang harus hamba selesaikan lebih dulu."
Kembali The Ho dan mengangguk-angguk ke arah Cui Im yang memandang Keng Hong dengan wajah sebentar pucat sebentar merah.
"Baiklah kalau begitu. Akan tetapi sebelum engkau pergi, katakanlah apakah benar engkau tadi menggunakan Ilmu Thi-khi-I-beng? Aku mendengar bahwa ilmu mujijat itu telah lenyap dari permukaan dunia kang-ouw!"
"Ah, sesungguhnya hamba sendiri tidak pernah mempelajari ilmu itu dan tidak tahu bagaimanakah macamnya Thi-khi-I-beng. Hamba mohon diperkenankan keluar, Taijin."
"Pergilah, mudah-mudahan kelak kita berjodoh untuk saling berjumpa kembali. Hok Gwan, kau antar Cia Keng Hong keluar dari istana dengan aman!"
Perintah ini melenyapkan harapan Cui Im untuk mencegat dan mengeroyok Keng Hong dalam perjalanannya keluar dari istana.
Hok Gwan segera mengajak Keng Hong pergi dari tempat itu dan dengan adanya pengawal The Ho ini, Keng Hong dapat keluar dengan aman tanpa ada yang berani menganggu.
"Sahabat muda, terima kasih atas kemurahan hatimu dalam pertandingan tadi. Aku takluk benar kepadamu. Siapakah gurumu?"
Tanya Hok Gwan setelah mereka tiba di luar istana dan mereka akan berpisah.
"Mendiang suhu adalah Sin-jiu Kiam-ong..."
"Ah.... sungguh aku tidak tahu diri, maaf...maaf!"
Hok Gwan menjura dan cepat-cepat Keng Hong membalas penghormatan ini.
"Engkau juga hebat sekali, Ciangkun. Dan engkau amat baik hati. Kuharap engkau suka berhati-hati menghadapi orang-orang macam pengawal-pengawal rahasia yang hadir di sana tadi. Mereka bukanlah orang-orang yang baik dan boleh dipercaya."
Tio Hok Gwan mengangguk.
"Aku sudah tahu akan hal itu, dan terima kasih atas peringatanmu. Engkau ingin membekuk wanita cabul itu, bukan?"
"Benar, akan tetapi tak mungkin sekarang. Dia telah menjadi pengawal bagaimana aku akan dapat menyentuhnya? Dia dilindungi oleh kekuasaan kaisar."
"Memang, kalau engkau mencarinya di dalam istana atau menyerangnya selagi ia bertugas sebagai pengawal, engkau akan dianggap pemberontak dan engkau tentu akan menghadapi bencana. Akan tetapi, kalau engkau bersabar, ada cara yang amat baik, yang membuka kesempatan bagimu."
Mendengar ini, Keng Hong cepat-cepat memberi hormat dan berkata.
"Mohon petunjuk Ciangkun bagaimana aku akan dapat membentuk perempuan iblis itu?"
"Dia terkenal sebagai wanita cabul yang tak dapat bertahan lama melewatkan malam dingin sendirian saja."
Hok Gwan tertawa mengejek dan merendahkan.
"Selain ini, di waktu lepas tugas setiap malam dia selalu berkeliaran mencari pemuda untuk menemaninya. Nah, kalau engkau bersabar, Cia-taihiap, engkau dapat menggunakan kesempatan selagi ia bebas tugas seperti itu, menyergapnya dan kalau di waktu itu menewaskannya, engkau tidak akan dianggap pemberontak. Akan tetapi engkau harus bersabar dan untuk beberapa lamanya jangan muncul di kota raja, karena seorang perempuan iblis seperti dia amatlah cerdik dan tentu dia tidak akan berani muncul kalau dia tahu atau menduga bahwa engkau sedang mengintainya seperti seekor kucing menanti munculnya tikus. Mengartikah engkau apa yang kumaksudkan, Taihiap?"
Keng Hong menjadi girang sekali, akan tetapi dia merasa malu sendiri mendengar pengawal yang lihai ini menyebutnya taihiap (pendekar besar)!
Ia cepat menjura dan berkata.
"Banyak terima kasih atas petunjuk Ciangkun. Nah, selamat berpisah sampai jumpa pula."
Tubuh Keng Hong berkelebat dan sebentar saja lenyaplah pemuda ini dari depan Tio Hok Gwan.
Pengawal pengantuk ini sejenak termangu, kemudian menghela napas dan menggeleng kepalanya.
"Pemuda hebat....!"
Kemudian dia pun kembali ke dalam istana.
Keng Hong mempergunakan ilmu lari cepat setelah dia keluar dari kota raja.
Ia memasuki sebuah hutan yang sunyi di sebelah selatan kota raja, kemudian dia duduk di bawah pohon, termenung.
Hatinya girang bahwa dia telah bisa menemukan tepat sembunyi Cui Im.
Biarpun dia sekarang belum berhasil, akan tetapi dia yakin akan dapat menangkap Cui Im, merampas kembali kitab-kitab yang harus dia kembalikan kepada mereka yang berhak, kemudian menghukum gadis itu yang selalu mencelakainya dan telah mendatangkan kesengsaraan kepada Biauw Eng.
Biauw Eng!
Teringat akan gadis itu, tanpa disadarinya Keng Hong menyangga dagu dengan tangan dan menyangga siku lengan lutut.
Hatinya berduka sekali.
Memang ada rasa bahagia di hatinya bahwa dia telah bertemu dengan Biauw Eng, melihar dara itu selamat dan telah membukakan rahasia hatinya kepada Biauw Eng, bahkan telah menceritakan segala kesalahfahaman di masa lalu.
Akan tetapi, akhirnya Biauw Eng marah-marah dan meninggalkannya!
Dan semua itu adalah karena kesalahannya sendiri, karena sikapnya!
Kalau dia kenangkan keadaan gadis itu, hatinya makin pedih dan tampak olehnya betapa mulia dan murninya hati gadis itu, gadis yang menjadi puteri Lam-hai sin-ni si nenek iblis, akan tetapi juga puteri gurunya, Sin-jiu Kiam-ong!
Ia selalu menyangka yang bukan-bukan terhadap Biauw Eng, padahal gadis itu bersih dan tidak berdosa.
Kalau dipikir-pikir kembali, jelas kini bahwa dialah yang kotor dan penuh dosa.
Dan yang terakhir sekali, dia masih memaki Biauw Eng karena gadis ini membalas budi Lai Sek yang amat besar!
"Heh-heh-heh..
tak baik orang muda melamun kosong!
Melamun membikin orang lekas menjadi lekas tua, heh-heh-heh!"
Keng Hong terkejut dan meloncat bangun sambil membalikkan tubuh.
Tidak banyak di dunia kang-ouw ada orang datang tanpa dia ketahui, biarpun dia sedang melamun.
Ternyata di depannya telah berdiri seorang kakek bertubuh kecil bongkok, punggungnya berpunuk dan mukanya ramah tersenyum terus, rambutnya panjang akan tetapi di tengah kepalanya botak, tangan kirinya membawa guci arak.
Siauw-bin Kun-cu!
Di antara selaksa orang, dia mengenal kakek ini, kakek yang selain aneh juga yang amat berjasa kepadanya karena kakek inilah yang membuka rahasia Siang-bhok-kiam.
Kakek inilah yang tanpa disadarinya oleh kakek itu sendiri telah menolongnya sehingga berhasil mendapatkan pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong.
Hanya tampak perbedaan pada pakaian kakek itu.
Kalau dalam pakaiannya yang selalu bersih dan baru itu terbuat dari bahan sederhana dan dengan potongan tidak karuan pula, kini pakaiannya yang amat mewah, berkembang seperti pakaian orang berpangkatan, bahkan kedua kaki yang biasanya telanjang itu kini memakai sepatu baru, berkembang pula!
"Ah, kiranya Locianpwe yang datang!"
Keng Hong cepat menjura penuh horat dan hatinya girang bertemu dengan kakek ini.
"Siauw-bin Kun-cu Locianpwe, sungguh saya hampir tidak mengenal Locianpwe melihat pakaian dan sepetu Locianpwe yang indah!"
"Heh-heh-heh-he-he! Wah, engkau menyindir,ya? Memang pakaian dan sepatuku hebat. Manyalah, ya? Dan caraku berjalan juga berubah. Lihat...!"
Kakek itu lalu mendemonstrasikan cara melangkah kaki seorang pembesar!
Penuh gaya, dengan langkah tegap tenang berwibawa, dagu ditarik ke atas, mata memandang seperti dari angkasa memandang ke bawah.
Akan tetapi karena punuk di punggunggnya membuat dia terpaksa membongkok, biarpun dia memasang aksi tetap saja kelihatan lucu!
Keng Hong menahan rasa geli hatinya dan berkata.
"Locianpwe benar hebat! Telah memperoleh banyak kemajuan kiranya!"
"Tentu saja! Wah, aku tidak mengira akan bertemu denganmu di sini, Cia Keng Hong! Muird Sin-jiu Kiam-ong benar-benar menimbulkan gara-gara dan heboh! Aku telah mendengar akan sepak terjangmu di istana. Sampai-sampai panglima besar seperti The-taijin yang gagah perkasa dan arif bijaksana juga kagum kepadamu. Bagaimana kabarnya, sahabat cilik? Aduh, betapa bahagianya bertemu dengan sahabat lama!"
Keng Hong tersenyum mendengar kalimat terakhir itu yang dikutib oleh si kakek dari pelajaran Nabi Khong Hu Cu.
"Sayalah yang bahagia dan girang dapat bertemu dengan Locianpwe yang bijaksana karena tentu akan mendapatkan banyak petunjuk. Di manakah Locianpwe kini tinggal? Ataukah masih merantau sebatangkara, bebas lepas di udara seperti burung?"
"Heh-heh-heh, orang setua aku, kalau seperti burung terus, bukankah berarti kelak akan mati terlantar dan menyia-nyiakan pengertian yang ku pelajari sampai puluhan tahun? Ha-ha-ha, tidak Cia Keng Hong. Aku sekarang telah menjadi guru besar, aku menjadi pembesar di kota raja, memimpin kebudayaan dan kesusastraan, mengurus pelaksanaan ujian bagi para calon siucai. Ha-ha-ha-ha-ha!"
Keng Hong tertegun.
"Locianpwe... Menjadi pembesar...?"
Kenyataan ini amat aneh dan lucu bagi Keng Hong.
Sulit membayangkan seorang pendekar tua aneh seperti Siauw-bin Kun-cu menjadi seorang pembesar!
"Apa salahnya?"
Mata kakek itu melotot.
"Asal orang telah mengerti dan menjalankan tugas hidupnya sesuai dengan To, menjadi pembesar pun tidak ada salahnya.
Seorang kuncu (budiman) bukan hanya sebutannya saja, juga harus dalam sepak terjangnya!
Aku memegang jabatanku sebagai pembesar berdasarkan pelajaran dari Nabi Khong Hu Cu.
Engkau mau tahu?
Dengarlah!"
Siauw-bin Kun-cu yang masih berdiri itu lalu menengadah dan membaca ujar-ujar dengan suara lantang dan memakai irama seperti orang bernyanyi berdeklamasi.
"Cai-siang-wi, put-leng-he, Cai-he-wi, put-wan-siang! Ceng-ki-ji, put-kiu-I-jin...." (Berada di atas tidak menghina yang bawah, berada di bawah, tidak menjilat atasan! Memperbaiki diri sendiri tidak mengharapkan sesuatu dari orang lain....) Keng Hong melanjutkan.
"Siang put wan Thian, he put yu jin! (Ke atas tidak mencela Tuhan, ke bawah tidak menyalahkan orang!)"
"Heh-heh-heh, engkau murid yang baik! Engkau tahu betapa Nabi Khong HU Cu sampai mengeluh menyaksikan betapa pada masa beliau hidup, pelajarannya yang amat indah dan menuntut manusia ke kebenaran, disia-siakan orang. Karena itu, sekarang aku ikut membantu menyebarkan pelajaran-pelajaran Nabi Khong Hu Cu agar sedikit banyak dapat berguna bagi manusia. Eh, orang muda, mari kita duduk dan mengobrol yang enak, jarang aku bertemu dengan orang yang dapat mengerti baik apabila diajak bicara soal filsafat dan kebatinan."
Keng Hong tersenyum dan mereka duduk di bawah pohon besar, di atas akar-akar pohon.
Kakek itu menenggak arak dari gucinya, menawarkan kepada Keng Hong.
Dengan halus pemuda itu menolak.
Kakek itu minum lagi beberapa teguk, lalu berkata.
"Aah, apa katamu melihat aku menjadi pembesar dan mengajarkan pelajaran Nabi Khong Hu Cu yang memang mulai disebarluaskan oleh kaisar yang pandai memakai orang dan menghargai kebudayaan ini?"
"Maaf, kalau pendapat saya keliru, Locianpwe. Sesungguhnya saya hanya seorang muda yang bodoh dan pelajaran-pelajaran Nabi Khong Hu Cu amatlah sukar bagiku..."
Kakek itu ribut menggoyang-goyang kedua tangannya.
"Salah! Salah! Tidak ada orang pintar atau bodoh di dunia ini. Tidak ada pula sesuatu yang sukar atau mudah! Yang ada hanyalah belum mengerti atau sudah mengerti. Orang biasanya disebut bodoh karena belum mengerti, dan disebut pintar kalau sudah mengerti. Dan untuk jadi mengerti orang harus belajar! Engkau pandai silat, apakah engkau disebut orang pintar! Aku pandai filsafat, apakah aku orang pintar? Kalau kita berdua pergi melihat serorang tukang kayu membuat ukiran-ukiran kayu yang indah, apakah kita dapat melakukannya? Apakah kita pintar dalam pertukangan kayu? Tentu saja tidak. Oleh si tukang kayu kita akan dianggap bodoh. Bukan bodoh, hanya belum mengerti, belum bisa! Dan apakah itu sukar? Apa mudah? Tidak ada. Kalau sudah bisa tentu mudah, kalau belum bisa menjadi sukar. Soalnya hanya MENGERTI, dan untuk mengerti harus belajar!"
"Locianpwe benar sekali, akan tetapi pelajaran budi pekerti sungguh lain lagi, mudah dipelajari, mudah dihafal namun betapa sulitnya melaksanakannya!"
"Salah! Salah! Nabi Khong Hu Cu pernah bersabda demikian . Yang menyebabkan To tidak dilaksanakan . Orang pandai terlampau jauh melewatinya, orang bodoh tidak mampu mencapai/mengertinya. Yang menyebabkan To tidak dimengerti. Orang pintar terlampau jauh melewatinya, orang tidak pintar tidak mampu memahaminya."
Keng Hong mengangguk-angguk karena dia pun hafal akan ujar-ujar itu, akan tetapi dia mendengarkan terus.
Kakek itu menggaruk-garuk botak di kepalanya lalu melanjutkan.
"Ujar-ujar itu melanjutkan . Tidak ada seorang pun manusia yang tidak minum dan makan, akan tetapi hanya sedikit saja yang dapat mengenal cita (Lanjut ke
Jilid 26) Pedang Kayu Harum (Seri ke 01-Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 26 rasanya!"
"Tepat sekali ujar-ujar itu, locianpwe. Memang manusia di dunia ini selalu tertarik oleh kulit tanpa mau memperhatikan isi. Betapa banyaknya orang yang hafal akan segala filsafat, kenal segala pengetahuan batin, mengerti akan segala ilmu kebatinan dan tentang kebajikan. Namun betapa sedikit sepak terjang dalam penghidupan manusia berlandaskan kebenaran dan kebajikan."
Kakek itu mengangguk-angguk dan menghela napas.
"Orang muda, dengan kata-katamu itu engkau menampar mukaku pula! Memang demikianlah, banyak sekali orang, termasuk aku juga agaknya, gila akan kedudukan, akan nama, paling suka kalau disebut seorang kuncu, seorang budiman, seorang cerdik pandai dan arif bijaksana! Segala filsafat yang muluk-muluk ditelan semua, namun apa artinya mengenal dan menghafal seribu satu macam filsafat kebatinan namun tidak menerapkannya dalam hidup satu pun juga? Sama dengan gentong kosong nyaring bunyinya!"
"Kalau Locianpwe sudah tahu akan hal ini, mengapa Locianpwe kini menjadi seorang pembesar, menjadi seorang yang berusaha mengembangkan pelajaran kebatinan atau agama? Bukankah akan sia-sia belaka kalau ada selaksa orang yang mengerti akan semua filsafat kebatinan tanpa melaksanakannya dalam hidup?"
"Eh-eh-eh, orang muda. Lidahmu terlalu tajam dan berbahaya. Coba jelaskan!"
Kakek itu melotot.
"Maaf, Locianpwe, akan pendapat saya yang pandir. Bagi saya, filsafat dan ujar-ujar dalam kitab-kitab suci dibuat untuk dilaksanakan! Kalau hanya untuk dihafalkan belaka kemudian tidak dilaksanakan, sama halnya dengan menodai semua pengetahuan murni dan suci itu! Umpamanya saja, ada dua buah ujar-ujar Nabi Khong Hu Cu yang kalau dituruti oleh semua orang di dunia ini, kiranya dunia akan menjadi aman."
"Heh-heh-heh, kau kira begitu? Ujar-ujar yang manakah itu?"
"Pertama ujar-ujar yang berbunyi . Semua manusia di empat penjuru adalah saudara! Kalau kita berpegang kepada pelajaran ini dan menganggap setiap orang manusia, bangsa apa pun juga, di manapun juga adanya, kaya maupun miskin, berpangkat tinggi maupun rendah, pintar maupun bodoh, adalah seperti saudara sendiri, tentu tidak akan ada musuh! Tentu akan saling bantu, seperti yang selayaknya di antara saudara! Kemudian yang ke dua ujar-ujar yang berbunyi . Jangan melakukan kepada orang lain sesuatu perbuatan yang engkau tidak suka orang lain melakukannya kepadamu. Kalau semua orang mentaati pelajaran ini, saya kira tidak akan ada orang yang suka berbuat jahat terhadap orang lain karena dia sendiri tentu tidak mau kalau orang lain berbuat jahat kepadanya."
"Heh-heh-heh-ha-ha-ha! Apa kau kira hanya untuk itu manusia hidup di dunia ? Apakah cukup dengan mencinta sesama dan tidak berbuat jahat kepada orang lain? Tidak, Keng Hong,. Manusia terikat kewajiban-kewajiban, kewajiban sebagai manusia hidup dan Nabi Khong Hu Cu menunjukkan jalan-jalan dan cara-cara betapa manusia dapat menunaikan kewajiban hidupnya dengan sempurna! Karena itu, mutlak penting bagiku, yang sudah berani memakai nama julukan Kun-cu, untuk menyebarluaskan pelajaran-pelajaran itu agar setiap orang manusia di dunia mengarti, mempejajari, dan kemudian melaksanakannya dalam hidup sehingga semua manusia akan tahu memenuhi kewajiban masing-masing!"
"Maaf, Locianpwe. Akan tetapi bukankah kewajiban pun dapat diartikan banyak sekali, tergantung daripada orang yang mengartikannya?"
"Tidak begitu, ada sabda Nabi Khong Hu Cu mengenai itu yang berbunyi begini . Melakukan kewajiban terhadap ayahku sebagaimana aku ingin melihat puteraku melakukannya terhadap aku. Melakukan kewajiban terhadap rajaku, sebagaimana aku ingin melihat sebawahanku melakukannya terhadap aku. Melakukan kewajiban terhadap kakakku sebagimana aku ingin melihat adikku melakukannya terhadap aku dan demikianlah selanjutnya. Singkatnya merupakan kebalikan daripada ujar-ujar yang kau sebut ke dua tadi. Kalau tadi ujar-ujar itu berbunyi jangan melakukan kepada orang lain sesuatu perbuatan yang engkau tidak suka orang lain melakukannya kepadamu, yaitu, Lakukanlah kepada orang lain perbuatan yang kau ingin orang lain melakukannya kepadamu! Jelaskan?"
"Jelas, Locianpwe. Saya teringat akan sebuah pelajaran yang mengatakan bahwa untuk dapat mengatur dan memperbaiki orang lain harus lebih dulu mengatur dan memperbaiki keluarga sendiri dan untuk dapat mengatur dan memperbaiki keluarga sendiri harus lebih dahulu mengatur dan memperbaiki diri sendiri."
Kakek itu bersungut-sungut dan mengamang-amangkan telunjuknya kepada Keng Hong, seolah-olah hendak menusuk hidung pemuda itu dengan telunjuknya.
"Wah-wah, engkau sekali lagi menyinggung aku, ya? Kata-katamu itu benar-benar "mengenai"
Namanya!
Kau tentu bertanya dalam hatimu apakah aku yang mengajar orang lain ini sudah mengatur keluarga sendiri dan telah memperbaiki diri sendiri, bukan?
Akan tetapi kata-katamu itu memang amat perlu diperhatikan tiap orang.
Memang apakah artinya mengajar orang lain atau keluarga sendiri kalau tidak dapat lebih dulu memperbaiki diri sendiri.
Siu-sin (mengatur dan memperbaiki diri sendiri) ini merupakan pelajaran terpenting dari Nabi Khong Hu Cu mengajarkan demikian .
Seorang Kuncu tidak boleh tidak harus mengatur dan memperbaiki diri sendiri.
Untuk dapat memperbaiki diri sendiri, tidak boleh tidak harus mencinta dan berbakti kepada orang tua.
Untuk dapat mencinta dan berbakti, tidak boleh tidak harus tahu akan prikemanusiaan.
Untuk dapat tahu akan prikemanusiaan, tidak boleh tidak harus tahu akan ketuhanan!"
"Saya mengenal pelajaran itu, Locianpwe. Dilanjutkan dengan pelajaran bahwa ada lima macam jalan kebenaran, yaitu tata susila antara raja dan hulubalangnya, antara orang tua dan anaknya, antara suami dan isterinya, antara kakak dan adiknya dan antara sahabat dengan handai taulannya. Untuk melaksanakan tata susila itu terdapat tiga dasar kebajikan, yaitu pengertian (kesadaran), welas asih, dan gagah berani."
"Benar.... benar....!"
Kalau sudah melaksanakan dalam hidupnya semua pelajaran itu, mau apalagi hidup di dunia?
Heh-heh-ha-ha-ha!
Senang sekali hatiku bertemu dan bicara denganmu Keng Hong!
Engkau masih muda akan tetapi engkau sudah banyak mengerti tentang ilmu kebatinan!"
"Aahhh, Locianpwe. Saya hanya seperti seekor burung beo yang meniru-niru belaka. Ujar-ujar dan ayat-ayat suci, pengetahuan tentang agama bukannya hal yang perlu diributkan dalam percakapan melainkan pelajaran yang harus dilaksanakan dalam perbuatan. Kalau tidak dengan Locianpwe, sungguh saya tidak berani bicara soal itu. Hanya satu hal yang amat membingungkan hati saya, Locianpwe. Saya sudah banyak mendengar akan kebijaksanaan kaisar yang pandai mempergunakan orang-orang bijaksana, sehingga buktinya Locianpwe menghabakan diri kepada kaisar. Hal ini saja sudah cukup bagi saya untuk membuktikan kebenaran kabar yang saya dengar itu. Akan tetapi, Locianpwe. Mengapa dalam tempat yang bersih disimpan barang yang kotor? Mengapa kaisar yang bijaksana memelihara srigala dan harimau buas? Mengapa orang-orang macam mereka itu diangkat menjadi pengawal-pengawal?"
"Mengapa tidak? Hal itu justeru menunjukkan betapa bijaksananya kaisar! Dapat menjinakkan srigala dan harimau sehingga mengubah mereka dari binatang-binatang buas perusak tiada guna menjadi anjing-anjing penjaga yang amat berguna, betapa bijaksananya itu! Jauh lebih bijaksana daripada membiarkan mereka berkeliaran bebas melakukan pengrusakkan sehingga perlu mengerahkan tenaga untuk mengejar-ngejar dan berusaha membasmi mereka!"
Keng Hong tidak membantah, akan tetapi diam-diam dia tidak menyetujui kebijaksanaan itu. Tiba-tiba kakek itu meloncat berdiri.
"Cia Keng Hong, kuperingatkan kepadamu, jangan sekali lagi engkau mengacau istana, karena kalau engkau ulangi lain kali aku sendiri tentu akan ikut muncul untuk menentangmu! Aku suka kepadamu, akan tetapi kalau urusan pribadimu kau bawa-bawa ke istana sehingga mengacaukan istana, terpaksa aku melupakan rasa sukaku kepadamu. Selamat tinggal!"
Setelah berkata demikian, kakek aneh itu lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi.
Keng Hong memandang bengong, teringat akan nasihat Panglima The Ho dan juga nasihat pengawal lihai Tio Hok Gwan.
Baru pergi belasan langkah, Siauw-bin Kuncu menoleh dan berkata.
"Aku mendengar bahwa pengawal rahasia wanita itu mempunyai pondok di luar kota raja sebelah barat, pondok mungil warna merah!"
Setelah berkata demikian, kakek itu bergerak cepat sekali dan seperti juga dahulu.
Keng Hong merasa geli dan kagum melihat kakek itu meloncat-loncat dengan kedua lengan digerakkan seperti seekor ayam lari akan tetapi gerakannya cepat sekali.
Juga hatinya girang.
Ternyata biarpun mulut orang-orang seperti Siauw-bin Kun-cu dan Tio Hok Gwan menentangnya, namun di hati mereka itu berfihak kepadanya dalam menghadapi Ang-kiam Bu-tek Bhe Cui Im.
Ia harus bersabar dan menanti saat dan kesempatan baik untuk menyergap Cui Im di luar istana, dan kalau mungkin di luar kota raja.
Bayangan putih itu berkelebat cepat sekali, sukar diikuti pandang mata manusia biasa saking cepatnya.
Kalau ada orang melihat bayangan putih itu berkelebat di dalam hutan itu, mendengar isak tangisnya, tentu orang itu akan mengira bahwa yang berkelebatan itu adalah iblis penghuni hutan!
Bayangan putih itu adalah Biauw Eng.
Dara ini setelah melarikan diri dari kota raja lalu berlari ke utara.
Di sepanjang jalan ia menangis, menangis dengan hati pilu.
Ibunya telah dibunuh bekas sucinya dan denda ini bukan hanya tidak dapat ia balas, bahkan ia kehilangan Lai Sek, pemuda yang amat mencintanya.
Dua peristiwa ini, kematian ibunya dan Lai Sek, merupakan malapetaka hebat yang amat melukai hatinya, akan tetapi lebih hebat lagi adalah luka di hatinya karena pertemuannya dengan Keng Hong.
Dia harus mengakui bahwa cinta kasihnya terhadap Keng Hong tidak lenyap, bahkan makin mendalam.
Akan tetapi setelah ia menguji hati Keng Hong, ternyata bahwa Keng Hong tidaklah setulus dia cintanya.
Keng Hong hanya mencinta tubuhnya, mencinta kecantikannya sehingga ketika ia mencoba dan membohonginya, mengatakan bahwa tubuhnya telah dimiliki Lai Sek, pemuda itu menjadi marah dan menghinanya!
Ah, betapa dangkal cinta kasih Keng Hong terhadap dirinya, kiranya sama saja dengan cinta kasih pemuda itu terhadap Cui Im atau terhadap para wanita yang pernah dilayaninya bermain cinta.
Cinta pemuda itu sifatnya hanya badani belaka, cinta nafsu, cinta berahi!
Buktinya, begitu mendengar bahwa tubuhnya telah dijamah pria lain, Keng Hong menjadi marah.
Padahal, cinta kasihnya terhadap Keng Hong amatlah murni.
Dia sudah memaafkan Keng Hong walaupun dia tahu bahwa pemuda itu telah bermain cinta dengan Cui Im dan dengan gadis-gadis lain.
Baca Juga: Istana Pulau Es 10
Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 9