Ceritasilat Novel Online

Istana Pulau Es 10

Eps 10 Istana Pulau Es - Kho Ping Hoo

Baca online Istana Pulau Es - Kho Ping Hoo

Cersil Istana Pulau Es - Kho Ping Hoo.

Coa Leng Bu sudah bertahun-tahun mengasingkan diri sehingga dia tidak mengenal rombongan itu, akan tetapi pandang matanya yang tajam dapat mengenal orang pandai.

Sekali pandang saja dia dapat menduga bahwa biarpun disebut pendekar besar, orang she Koan itu hanyalah ahli silat biasa saja, akan tetapi kakek berambut putih dan rombongannya itu adalah orang-orang yang sakti, maka dia bersikap waspada dan memperhatikan wajah murid keponakannya yang jelas kelihatan berubah.

Pek-mau Seng-jin sendiri sekali pandang sudah dapat menduga bahwa wanita muda yang cantik jelita dan seorang kakek berpakaian sederhana yang duduk menyendiri di sudut itu tentulah bukan orang-orang sembarangan, dan bukanlah pengungsi-pengungsi biasa.

Koksu ini adalah seorang yang sakti dan cerdik.

Pada waktu itu, bangsa Yucen mulai berkembang kemajuannya dan melihat penyerbuan-penyerbuan bangsa Mancu terhadap Kerajaan Sung Selatan, Koksu Yucen sengaja menahan pasukan-pasukannya dan membiarkan mereka berperang.

Hal ini menguntungkan Yucen karena dapat menyusun kekuatan yang kelak dapat dipergunakan memukul kedua bangsa yang tentu menjadi lemah oleh perang.

Kini bangsa Yucen hanya menjadi penonton, menanti saat baik untuk mengalahkan semua musuh yang sudah lelah karena bertanding sendiri.

Kedatangannya di tempat itu selain hendak melihat-lihat keadaan dengan mata kepala sendiri, juga untuk mengadakan hubungan-hubungan dengan golongan-golongan yang kuat untuk membantu gerakan bangsa Yucen kalau waktunya sudah tiba.

Kini melihat Siauw Bwee yang sudah tidak dikenalnya lagi karena telah menjadi seorang dara dewasa yang amat cantik jelita, dan melihat Coa Leng Bu yang juga tidak dikenalnya, namun yang ia dapat duga tentu merupakan dua orang yang berilmu tinggi, diam-diam dia memperhatikan dan timbul keinginan hatinya menarik kedua orang itu menjadi pembantunya, atau kalau ternyata kedua orang itu berada di pihak musuh, membasminya di saat itu juga sebelum kelak mereka merupakan penghalang dan pembantu-pembantu musuh yang lihai.

Karena dia hanya menduga saja kelihaian dua orang itu dari sikap dan kedudukan tubuh mereka, maka dia ingin menguji.

Di atas meja di depannya terdapat taplak meja dari kain.

Jari-jari tangan kirinya merobek ujung taplak, lalu dipelintirnya menjadi dua butir kecil dan dengan telunjuknya, ia menyentil kedua butir kain itu ke arah Siauw Bwee dan Coa Leng Bu.

Dua butir kain itu melesat dengan cepat luar biasa, tidak tampak oleh pandang mata yang lain, kecuali oleh para panglima yang lihai yang maklum akan niat atasan mereka dan hanya memandang sambil tersenyum.

Sambaran dua butir gulungan kain itu mendatangkan desir angin yang cukup untuk ditangkap oleh pendengaran kedua orang itu.

Coa Leng Bu terkejut sekali, maklum bahwa ada senjata rahasia menyambar ke arah lehernya.

Cepat dia menjatuhkan sumpitnya dari atas meja dan membungkuk untuk mengambil sumpit itu, padahal gerakan ini adalah gerakan mengelak sehingga benda kecil itu menyambar lewat.

Tentu saja Siauw Bwee yang jauh lebih lihai daripada Leng Bu, maklum pula bahwa Pek-mau Seng-jin menyerangnya.

Dia mengibaskan tangannya mengusir beberapa ekor lalat dari atas meja sambil mengomel.

"Ihhh, banyak benar lalat di sini!"

Bagi orang lain, hanya kelihatan dara jelita itu mengusir lalat, akan tetapi lalat-lalat itu terbang ketakutan, sedangkan di antara jari tangannya terjepit benda kecil yang tadi menyambar ke arah lehernya!

Tadinya Siauw Bwee terkejut dan mengira bahwa Koksu Negara Yucen itu agaknya mengenalnya dan menyerang, akan tetapi ketika ia menangkap senjata rahasia itu dan mendapat kenyataan bahwa benda itu hanyalah segumpal kecil kain, dan yang diserang tadi hanyalah jalan darah yang tidak berbahaya dan hanya akan mendatangkan kelumpuhan tanpa membahayakan keselamatannya, maka tahulah dia bahwa kakek berambut putih itu hanya mengujinya, ingin membuktikan bahwa dia dan supeknya adalah orang-orang yang lihai.

Maka menyesallah Siauw Bwee.

Kalau tahu demikian, tentu dia akan membiarkan saja gumpalan kain itu mengenai lehernya (Lanjut ke

Jilid 30) Istana Pulau Es (Seri ke 05

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 30 agar jangan menimbulkan kecurigaan.

Kini telah terlanjur, maka dia bahkan menjadi mengkal, menoleh ke arah meja rombongan itu dan diam-diam meremas hancur gumpalan kain menjadi debu, kemudian dia meniup tangan kirinya dan....

debu itu melayang ke arah meja rombongan Pek-mau Seng-jin.

Para Panglima Yucen terkejut sekali.

Tak mereka sangka bahwa dara jelita itu ternyata benar-benar sakti, dan diam-diam mereka pun kagum akan ketajaman pandang mata Pek-mau Seng-jin.

Kalau tidak menduga bahwa dara itu lihai, tentu koksu itu tidak sudi sembarangan main-main dengan orang!

Pek-mau Seng-jin tersenyum puas.

Tak salah dugaannya.

Petani sederhana dan dara jelita itu benar-benar bukan orang sembarangan.

Biarpun petani itu hanya pura-pura mengambil sumpit yang jatuh, tidak seperti gadis itu yang sengaja memperlihatkan kepandaiannya, namun jelas bahwa petani sederhana itu bukan ahli silat biasa.

Sambitannya tadi tidak mengandung tenaga yang mematikan, namun telah disambitkan dengan kecepatan sentilan jari tangan dan meluncur cepat sekali, tak tampak oleh mata dan karena kecil ringan maka desir anginnya lirih sekali.

Namun telah dapat disambut oleh mereka dengan cara mengagumkan!

Orang she Koan yang sebetulnya hanyalah seorang di antara kaki tangan bangsa Yucen untuk daerah itu dan yang kini bertugas sebagai penunjuk jalan, tidak melihat apa yang baru terjadi.

Kini dia disuruh mendekat, dibisiki oleh Pek-mau Seng-jin.

Orang itu mengangguk-angguk dan memandang ke arah Siauw Bwee dengan alis berkerut dan sinar mata heran.

Bayangkan saja, pikirnya.

Koksu minta dia mempersilakan dua orang itu untuk makan bersama sebagai tamu terhormat yang diundang!

Koan Tek, demikian nama orang ini, adalah seorang jago silat yang terkenal di daerah itu, maka dihormati oleh pemilik warung makan.

Dia berwatak kasar dan memandang rendah orang lain dan tentu saja orang yang suka memandang orang yang dianggap berada di bawahnya, selalu menjilat kepada orang-orang atasannya.

Mendengar Koksu mengundang dua orang itu yang dianggapnya hanya seorang petani miskin dan seorang gadis cantik, dia merasa penasaran sekali.

Sepanjang pengetahuannya, Koksu Yucen dan para panglimanya adalah orang-orang peperangan yang gagah perkasa, tak pernah terdengar mereka itu suka mempermainkan wanita cantik.

Apakah sebabnya kini Koksu mengundang kedua orang ini?

Akan tetapi, dia tidak berani membantah dan dengan langkah lebar ia menghampiri meja Siauw Bwee.

Karena kedua orang itu merupakan orang yang diundang Koksu, maka dia menjura dengan sikap hormat paksaan sambil berkata.

"Ji-wi diundang untuk makan bersama dengan rombongan kami."

Coa Leng Bu yang maklum akan kekerasan hati Siauw Bwee, cepat mendahului murid keponakannva itu dan dia berdiri sambil membalas penghormatan Koan Tek.

"Terima kasih atas undangan Sicu. Kami berdua telah makan dan sudah hendak melanjutkan perjalanan. Harap maafkan kami."

Dia memberi kedipan mata kepada Siauw Bwee untuk berdiri dan meninggalkan tempat itu.

Akan tetapi, penolakan yang tak disangka-sangka oleh Koan Tek ini membuat dia mendongkol dan marah.

Boleh jadi kedua orang ini tidak mengenal rombongan Koksu dari Yucen, akan tetapi dia yang mengundangnya, mengapa mereka tidak memandang mata kepadanya?

"Loheng, mungkin karena Ji-wi belum mengenal saya, tidak suka menerima undangan kami,"

Katanya dengan nada agak keras.

"Perkenalkanlah, saya Koan Tek, di sini dikenal sebagai Koan-taihiap dan orang-orang yang kami undang bukanlah orang-orang sembarangan, berarti bahwa kami telah menjunjung tinggi kehormatan Ji-wi. Maka saya ulangi, harap Ji-wi tidak menolak undangan kami untuk berkenalan dan makan bersama!"

Biarpun kata-kata itu bersifat undangan, namun nadanya yang keras itu mengandung tekanan, paksaan dan membayangkan ancaman.

Hal ini membuat Siauw Bwee makin marah.

Hati dara muda ini memang sudah mengkal dan marah ketika ia melihat Pek-mau Seng-jin yang mengingatkan dia akan perbuatan koksu itu yang dahulu pernah menawan dia dan Maya kemudian menyerahkan dia dan Maya sebagai hadiah kepada Coa Sin Cu di pantai Po-hai.

Mengingat akan hal ini saja sudah membuat tangannya gatal untuk membalas dendam, karena sekarang dia tidak gentar lagi menghadapi koksu yang lihai itu, kemudian kemarahannya tadi ditambah dengan penyerangan Pek-mau Seng-jin, biarpun penyerangan itu merupakan ujian dan tidak mengandung niat jahat.

Kini, ditambah oleh kata-kata dan sikap Koan Tek, tentu saja dia tidak mau menaati isyarat mata supeknya agar bersabar.

Dia sudah bangkit berdiri dan memandang Koan Tek dengan mata berapi.

"Engkau ini mengundang ataukah hendak memaksa orang? Kalau mengundang bersikaplah sebagai pengundang yang sopan, setelah ditolak dengan alasan tepat segera mundur. Kalau mau memaksa, terus terang saja, tak usah bersembunyi di balik sikap manis agar aku tidak usah ragu-ragu lagi memberi hajaran kepada orang yang hendak memaksaku!"

"Ehhh.... sudahlah.... sudahlah....!"

Coa Leng Bu berkata khawatir. Kakek ini cepat berdiri dan menjura kepada Koan Tek.

"Harap sicu suka maafkan, kami hendak pergi saja."

Akan tetapi Koan Tek sudah marah sekali. Dengan mata melotot ia memandang kepada Siauw Bwee dan membentak.

"Berani engkau kurang ajar kepada Koan-taihiap. Apakah kau sudah bosan hidup?"

Siauw Bwee menudingkan telunjuknya.

"Jangankan baru engkau seorang, biar ada seratus orang macam engkau aku tidak takut! Supek, biarlah, orang macam dia ini kalau tidak dihajar tentu akan menghina orang lain saja!"

Koan Tek hendak menerjang maju, akan tetapi tiba-tiba ada orang menarik lengannya sehingga dia terhuyung ke belakang.

Ketika dia menoleh ternyata yang menariknya adalah seorang kakek tinggi kurus, berpakaian sastrawan dan dia ini adalah seorang di antara para pembantu Koksu, maka dia segera melangkah mundur.

Kakek itu dengan sikap sopan sekali menjura kepada Leng Bu dan Siauw Bwee sambil berkata.

"Harap Ji-wi sudi memaafkan Koan-sicu yang bersikap kasar karena memang dia yang jujur selalu bicara kasar. Harap Ji-wi ketahui bahwa kami mengundang Ji-wi dengan niat bersih hendak berkenalan. Di antara kita terdapat nasib yang sama yaitu selagi negara kita diserbu bangsa Mancu, sebaiknya kalau orang-orang gagah seperti kita bersatu menghadapi musuh. Karena itulah maka pemimpin kami, Pek-mau Seng-jin, mengharap Ji-wi sudi datang berkenalan."

Leng Bu tidak pernah mendengar nama Pek-mau Seng-jin, akan tetapi Siauw Bwee yang tahu bahwa kakek rambut putih itu adalah Koksu Negara Yucen, segera menjawab.

"Kami berdua tidak ada sangkut-pautnya dengan segala urusan perang! Apalagi harus bersekutu dengan pihak ke tiga. Hemm, kami bukan pengkhianat, bukan pula penjilat, lebih baik kalian tidak mencari perkara dan membiarkan kami pergi!"

Setelah berkata demikian, Siauw Bwee memegang tangan supeknya dan diajak pergi.

Akan tetapi baru saja mereka melangkah hendak keluar, terdengar bentakan harus.

"Tahan!"

Dan tampak berkelebat bayangan orang, tahu-tahu Pek-mau Seng-jin sendiri telah berdiri menghadang mereka sambil tersenyum-senyum.

Tadi ketika mendengar ucapan Siauw Bwee yang menyinggung "pihak ke tiga", Koksu itu menjadi kaget sekali dan ia maklum bahwa dara itu telah mengetahui keadaannya sebagai pihak ke tiga, yaitu bukan golongan Mancu dan bukan pula golongan Sung.

Maka dia menjadi khawatir kalau-kalau gadis itu akan membuka rahasianya yang akan menyukarkan penyamaran dan penyelidikannya, juga dia menjadi curiga.

"Nona, siapakah engkau? Dan di golongan manakah engkau berdiri?"

Ingin sekali Siauw Bwee memperkenalkan diri dan menyerang Koksu itu, akan tetapi dia masih menahan diri karena maklum bahwa Koksu ini disertai rombongan orang yang berkepandaian tinggi.

Tentu saja dia tidak takut, hanya dia khawatir akan keselamatan supeknya yang telah terluka pundaknya.

"Aku dan Supek adalah orang-orang perantauan yang tak perlu berkenalan dengan siapapun juga, tidak mempunyai urusan dengan kalian dan tidak mencari perkara. Sudahlah, harap kau orang tua suka minggir dan membiarkan kami lewat!"

"Ha-ha-ha, benar-benar lantang suaranya! Nona, aku kagum sekali menyaksikan keberanian dan kelihaianmu. Orang-orang di dunia kang-ouw berkata bahwa sebelum bertanding tidak akan dapat saling menghargai dan berkenalan, oleh karena itu, setelah kebetulan sekali kita saling bertemu di sini, aku menantang Ji-wi untuk saling menguji kepandaian."

Panaslah hati Siauw Bwee.

Betapapun dia ingin menghindari pertempuran, akan tetapi kalau ditantang terang-terangan seperti itu, mana mungkin dia mundur lagi?

"Hemm, kalian mengandalkan banyak orang untuk menghina?"

Tanyanya sambil memandang ke arah rombongan itu, tersenyum mengejek.

Memang Siauw Bwee memiliki wajah yang arnat cantik jelita, maka biarpun dia tersenyum mengejek wajahnya tampak manis dan menarik sekali.

"Ha-ha-ha! Selain tabah dan pandai bicara, juga cerdik sekali. Nona muda, aku akan merasa malu mengeroyok seorang yang patut menjadi cucuku. Tidak sama sekali, kami bukanlah rombongan pengecut yang main keroyok, melainkan orang-orang yang dapat menghargai kepandaian orang lain dan melalui kepandaian itu kami ingin berkenalan dan bersahabat. Bagaimana, Nona? Aku berjanji tidak akan mengeroyok melainkan menguji kepandaian satu lawan satu!"

"Siapa takut? Majulah!"

Siauw Bwee diam-diam merasa girang karena kini dia memperoleh kesempatan untuk menghajar musuh yang pernah menawannya ini dan tidak takut akan pengeroyokan karena ucapan yang keluar dari mulut seorang Koksu tentu saja dapat dipercaya.

Pek-mau Seng-jin kembali tertawa.

"Hebat! Sebegitu muda sudah memiliki keberanian besar, mengingatkan aku akan kegagahan mendiang pendekar sakti wanita Mutiara Hitam! Tidak, Nona. Dunia kang-ouw akan mentertawakan Pek-mau Seng-jin kalau aku melayani seorang muda seperti engkau. Biarlah aku diwakili oleh...."

"Perkenankanlah hamba menghadapinya!"

Tiba-tiba Koan Tek berkata sambil meloncat maju.

Dia merasa penasaran dan marah sekali kepada Siauw Bwee yang tadi memandang rendah serta menghinanya.

Dia bukan seorang kejam yang suka membunuh orang akan tetapi karena nama besar dan kehormatannya tersinggung, dia ingin memberi hajaran kepada gadis ini.

Pek-mau Seng-jin tersenyum.

Orang kasar macam Koan Tek ini perlu juga menerima hajaran, pikirnya, karena dia yakin bahwa Koan Tek bukanlah lawan kedua orang ini.

"Mundurlah, biar aku yang maju lebih dulu!"

Leng Bu berkata kepada Siauw Bwee.

Dia maklum bahwa murid keponakannya itu hendak menyembunyikan nama dan keadaannya, maka dia tidak menyebut nama.

Sebaliknya Siauw Bwee pun maklum mengapa paman gurunya ini hendak maju biarpun pundaknya sudah terluka.

Tentu paman gurunya ini hendak maju lebih dulu sehingga kalau sampai kalah, Siauw Bwee dapat menggantikannya.

Kalau Siauw Bwee yang maju lebih dulu dan sampai kalah, tentu Leng Bu pun tidak akan berdaya lagi.

Maka Siauw Bwee segera melangkah mundur dan berkata.

"Hati-hatilah, Supek. Pundakmu terluka, mengapa memaksa diri?"

Dengan ucapan ini Siauw Bwee kembali menghina Koan Tek, seolah-olah dia hendak menonjolkan kenyataan bahwa biarpun pundaknya terluka, kakek petani itu masih berani maju menghadapi Koan Tek yang berarti memandang rendah.

"Petani tak tahu diri, kausambutlah seranganku!"

Koan Tek berseru nyaring dan dia sudah maju menerjang dengan pukulan keras ke arah dada Leng Bu.

Leng Bu tidak dapat terlalu menyalahkan Siauw Bwee yang menyambut tantangan sehingga terpaksa terjadi pertandingan.

Dia sendiri tentu saja masih dapat bersabar dan mundur menghadapi tantangan, akan tetapi seorang muda seperti Siauw Bwee, tentu sukar untuk mengelakkan tantangan seperti itu.

Maka dia mendahului Siauw Bwee menyambut lawan sehingga seandainya ia dapat menang dan mengatasi hal ini, tidak akan terjadi persoalan yang lebih hebat.

Dia khawatir apabila Siauw Bwee yang maju, tangan dara yang ampuh itu akan terlalu keras dan terjadi pembunuhan.

Selain itu, andaikata rombongan ini berniat buruk, kalau sampai dia kalah, masih ada Siauw Bwee yang jauh lebih lihai untuk menghadapi mereka.

Pendeknya, biarpun pundaknya luka, dia hendak maju sebagai pengukur keadaan dan iktikad hati mereka ini.

Jotosan tangan Koan Tek itu merupakan serangan yang cukup kuat dan cepat.

Leng Bu mengenal juga serangan ini dan tahu bahwa lawannya adalah seorang ahli gwa-kang yang memiliki tenaga kasar yang besar.

Jurus itu adalah jurus Hek-houw-to-sim (Macan Hitam Menyambar Jantung), sebuah pukulan ke arah dada kirinya dengan kepalan tangan diputar ke kanan kiri ketika lengan itu meluncur dari pinggang.

Pukulan semacam ini dapat menghancurkan batu!

Coa Leng Bu yang memiliki tingkat lebih tinggi daripada Koan Tek yang kasar itu, hanya dengan melangkah ke belakang saja sudah cukup untuk menghindarkan pukulan itu.

Akan tetapi Koan Tek sudah menyambung serangannya dengan jurus serangan berikutnya, yaitu lengan kirinya meluncur ke depan berbareng dengan kaki kiri, memasukkan dua jari tangan kiri ke arah leher lawan.

Itulah jurus Sian-jin-ci-lou (Dewa Menunjukkan Jalan), sebuah totokan ke arah kerongkongan yang amat berbahaya dan merupakan serangan maut.

Saking cepatnya dan kuatnya gerakan ini terdengar angin bercuitan!

Kini Leng Bu tidak mau mundur lagi, bahkan melangkah maju memapaki serangan ini!

Dengan gerakan ringan sekali dia miringkan tubuh sehingga tusukan jari tangan itu meleset lewat dekat lehernya, berbareng dengan itu Leng Bu menggerakkan telapak tangan kirinya mendorong dada lawan.

Koan Tek terkejut sekali dan berusaha menangkis dengan lengan kanan, namun tenaga dorongan itu biarpun tertangkis, tetap saja membuat tubuhnya terjengkang ke belakang.

Koan Tek cukup lihai biarpun tubuhnya terjengkang, dia masih mengangkat kakinya menendang ke arah bawah pusar!

Kembali serangan yang dapat membawa maut.

Leng Bu menjadi tak senang menyaksikan betapa lawannya berusaha untuk membunuhnya, cepat kakinya digeser dan ketika tendangan itu lewat, secepat kilat tangannya menyangga kaki itu dan sekali dia membentak dan mendorong tubuh Koan Tek terlempar ke belakang tanpa dapat dicegahnya lagi.

Tubuhnya tentu akan terbanting keras kalau saja sebuah tangan yang kurus tidak cepat menyambar tengkuknya sehingga dia tidak jadi terbanting.

"Hebat....!"

Kata pemilik tangan kurus yang bukan lain adalah kakek sastrawan pembantu Koksu Yucen.

Sementara itu, para tamu warung yang sebagian besar terdiri dari para pengungsi, berserabutan lari keluar dari warung, sedangkan pemilik warung bersama para pelayannya telah bersembunyi di balik meja dan lemari dengan ketakutan.

"Sungguh mengagumkan sekali dan sepantasnya saya, Tiat-ciang-siucai (Sastrawan Tangan Besi) Lie Bok berkenalan dan ingin mengetahui siapakah nama Enghiong yang perkasa?"

Si Kakek Sastrawan bertanya dengan muka tersenyum. Melihat sikap yang sopan ini, Coa Leng Bu merasa tidak enak dan dia cepat menjura.

"Namaku yang rendah adalah Coa Leng Bu dan harap saja Locianpwe suka memaafkan kami dan membiarkan kami pergi karena sesungguhnya, saya dan keponakan saya tidak ingin bertanding dengan siapapun juga."

"Ha-ha, bukan bertanding melainkan menguji kepandaian untuk bahan perkenalan, Coa-enghiong. Marilah kita main-main sebentar!"

Leng Bu yang maklum bahwa lawannya sekali ini tentu tidak boleh disamakan dengan Koan Tek yang kasar, cepat menyapu dengan kakinya dan meja kursi di sekeliling tempat itu terlempar ke sudut, disambar hawa tendangan kakinya sehingga ruangan itu menjadi lega.

Hal ini saja membuktikan betapa kuat tenaga sin-kang kakek ini sehingga orang yang berjuluk Tiat-ciang-siucai mengangguk-angguk kagum.

"Bagus sekali! Engkau benar-benar amat berharga untuk menjadi teman berlatih. Nah, sambutlah, Coa-enghiong!"

Setelah berkata demikian kakek sastrawan itu melangkah maju, tangan kirinya menampar kepala dan tangan kanannya dalam detik berikutnya mencengkeram ke arah perut!

Itulah jurus Pai-san-to-hai (Menolak Gunung Mengeduk Laut) yang dilakukan dengan tenaga lwee-kang (tenaga dalam) cukup kuat.

Leng Bu tidak tahu pukulan mana yang merupakan pukulan pancingan dan yang mana yang merupakan serangan sesungguhnya karena kedua tangan yang bergerak hampir berbareng itu memang dapat dipergunakan sesuka Si Penyerang, yang satu dipakai memancing, yang ke dua baru merupakan pukulan sesungguhnya.

Dia tidak mau terpancing, maka dia menggunakan kedua tangannya menangkis ke atas dan ke bawah.

"Plakk! Dukkk!"

Tiat-ciang-siucai terdesak mundur dua langkah, sedangkan Leng Bu masih berada di tempatnya akan tetapi wajahnya berubah menyeringai karena pundaknya yang terluka tadi terasa nyeri.

Jelas bahwa sin-kangnya lebih kuat, akan tetapi selisihnya hanya sedikit dan luka di pundaknya membuat dia menderita.

Namun dia tidak mau mundur, bahkan membalas menyerang dengan pengerahan tenaga Jit-goat-sin-kang!

Terdengar angin menyambar dari kedua tangannya dan hawa di ruangan warung itu tiba-tiba menjadi panas seolah-olah ada sinar matahari sepenuhnya memasuki ruangan.

Tiat-ciang-siucai berseru kaget dan cepat ia menggunakan kedua tangannya melindungi tubuh, menangkis bertubi-tubi sehingga dua pasang tangan itu saking cepat gerakannya berubah menjadi banyak.

Namun kakek sastrawan itu terdesak mundur oleh hawa panas.

Tiba-tiba Leng Bu yang ingin segera memperoleh kemenangan itu sudah mengubah gerakannya, ditujukan ke bawah, menyerang tubuh bagian bawah dan tiba-tiba hawa yang panas itu berubah sejuk.

Kembali kakek sastrawan terkejut, dan biarpun dia berhasil menangkis serangan yang seperti hujan datangnya, namun perubahan itu membuat dia bingung dan terhuyung ke belakang.

"Heiii! Bukankah itu Jit-goat-sin-kang?"

Tiba-tiba Pek-mau Seng-jin berseru kaget dan kagum.

Mendengar ini, Coa Leng Bu terkejut.

Tak disangkanya kakek berambut putih itu mengenal Jit-goat-sin-kang yang selama ini tersembunyi dari dunia kang-ouw.

Akan tetapi karena sudah terlanjur dikeluarkan, dia lalu menerjang maju dan mengerahkan tenaganya.

Dari dorongan telapak tangan kanannya keluar hawa pukulan yang bercuitan ke arah tubuh Tiat-ciang-siucai yang terhuyung.

Siucai itu berusaha menahan dengan kedua tangannya, namun tetap saja dia terdorong dan roboh bergulingan.

Leng Bu menghentikan serangannya, meloncat mundur dan menjura.

"Harap maafkan kekasaran saya."

Tiat-ciang-siucai meloncat bangun, matanya terbelalak.

"Luar biasa sekali! Saya mengaku kalah!"

Menyaksikan sikap ini, agak lega hati Coa Leng Bu, karena sikap kakek sastrawan itu menunjukkan sikap seorang kang-ouw yang baik, gagah perkasa, dan jujur, berani menerima kekalahan dengan hati tulus.

Pek-mau Seng-jin girang sekali.

Biarpun belum dapat dikatakan luar biasa, petani tua bertelanjang kaki itu dapat dijadikan seorang pembantunya yang lumayan.

Maka dia memberi tanda dengan mata kepada Panglima Dailuba yang tinggi besar, bermata lebar dan bermuka penuh brewok.

"Biarlah aku menguji kepandaianmu, Coa-enghiong!"

Katanya dengan suaranya yang nyaring besar mengejutkan.

Panglima ini adalah seorang bangsa Yucen tulen, bertenaga besar dan berkepandaian tinggi.

Apalagi setelah dia menjadi pernbantu utama Pek-mau Seng-jin yang melatihnya dengan ilmu-ilmu silat tinggi, panglima ini benar-benar merupakan seorang lawan yang amat tangguh.

Hal ini dapat diduga oleh Siauw Bwee, maka dia berkata.

"Supek, biarkanlah saya yang maju karena Supek tentu lelah sekali."

Akan tetapi Coa Leng Bu menggeleng kepala.

Sebelum dia kalah, lebih baik gadis itu jangan turun tangan yang tentu akan menimbulkan persoalan yang lebih berat lagi.

Sekali gadis itu turun tangan, dia tidak berani tanggung apakah lawan masih dapat keluar dari pertandingan dengan hidup-hidup.

Pula, agaknya yang merupakan lawan terberat hanyalah kakek yang bernama Pek-mau Seng-jin itu, maka biarlah kakek itu nanti bertanding melawan Siauw Bwee.

"Tidak, aku masih belum kalah,"

Jawabnya dan cepat ia maju sambil berkata.

"Sahabat, siapakah nama besarmu?"

Dailuba tertawa bergelak.

"Namaku sama sekali tidak terkenal, Coa-enghiong. Namaku adalah Thai Lu Bauw, seorang kasar yang hanya mempelajari sedikit ilmu. Mana bisa dibandingkan dengan engkau yang memiliki Jit-goat-sin-kang? Harap kau suka mulai."

Coa Leng Bu menggeleng kepala.

"Bukan kami yang menghendaki pertandingan ini, Thai-sicu. Engkau majulah!"

"Lihat serangan!"

Gerakan Dailuba berbeda dengan gerakan Tiat-ciang-siucai Lie Bok tadi.

Gerakan orang tinggi besar ini lambat sekali ketika tangan kanannya yang dibuka itu menyerang dengan dorongan ke arah dada Leng Bu.

Akan tetapi, Coa Leng Bu sebagai seorang yang sudah banyak mengalami pertandingan, tidak mau memandang rendah dan dugaannya ternyata tepat karena ketika ia menangkis pukulan itu, dia terdorong sampai dua langkah, sedangkan lawannya terus melangkah maju dan mengirim dorongan lanjutan dengan tangan kiri.

Ternyata Si Tinggi Besar ini memiliki tenaga yang luar biasa kuatnya!

Terpaksa Coa Leng Bu menangkis dengan pengerahan tenaga Jit-goat-sin-kang sehingga dua tenaga raksasa bertemu dan keduanya tergoyang.

Ketika Leng Bu hendak menarik kembali lengannya, dia kaget bukan main karena lengannya itu lekat pada lengan lawan, seolah-olah tersedot dan tak dapat dilepas lagi dan pada saat itu tangan kanan Dailuba telah datang lagi menampar ke arah kepalanya!

Tahulah dia bahwa lawannya ini telah melatih sin-kangnya dengan tenaga menyedot dan menempel, maka dia cepat miringkan kepala dan mendahului dengan sodokan tangan kiri ke arah perut lawan.

"Plakkk!"

Lengannya yang tertempel itu terlepas, akan tetapi dapat dibayangkan betapa heran dan kagumnya hati Leng Bu ketika merasa betapa sodokannya ke perut yang mengenai sasaran dengan tepat tadi seolah-olah tidak terasa oleh lawan, bahkan jari tangannya terasa nyeri.

Dailuba menggerakkan kakinya yang panjang dan besar menyerang kaki lawan.

Leng Bu cepat meloncat ke atas, akan tetapi angin yang menyambar dari kaki Si Tinggi Besar membuat dia hampir terpelanting!

Coa Leng Bu menjadi penasaran sekali, lalu dia menyerang dengan cepat, menggunakan jurus-jurus simpanan dan mengerahkan tenaga Jit-goat-sin-kang.

Namun, melihat betapa Dailuba dapat menahan serangannya dengan gerakan lambat dan seenaknya, kedua lengan besar yang digerakkan lambat itu telah menciptakan hawa yang merupakan perisai sehingga semua pukulan Leng Bu menyeleweng, maka tahulah Leng Bu bahwa tingkat kepandaian lawannya ini masih jauh lebih tinggi daripada tingkatnya.

Maka dia merasa terkejut dan khawatir, bukan takut kalah, melainkan takut kalau-kalau Siauw Bwee sendiri tidak akan mampu menanggulangi mereka.

Kalau sampai mereka kalah, tentu mereka terpaksa menerima undangan dan perkenalan mereka, padahal dia tahu bahwa Siauw Bwee tidak menghendaki hal itu terjadi.

Maka dia lalu mempercepat serangannya dan kini dia menggunakan Im-yang-sin-kang.

Sebetulnya Im-yang-sin-kang masih kalah setingkat kalau dibandingkan dengan Jit-goat-sin-kang yang merupakan latihan sin-kang dengan bantuan sinar sakti matahari dan bulan, akan tetapi karena dalam latihan ini Leng Bu belum mencapai puncaknya sedangkan Im-yang-sin-kang dia sudah mahir sekali, maka terpaksa dia menggunakan sin-kang yang baginya lebih kuat itu.

Padahal, untuk menggunakan sin-kang ini mengandalkan seluruhnya dari tenaga dalamnya sendiri sedargkan pundaknya sudah terluka, maka hal ini merupakan bahaya baginya.

Dia sekarang mempergunakannya dalam keinginannya untuk mencapai kemenangan.

Ketika lawannya membalas serangannya dengan dorongan kedua telapak tangan, dengan pukulan semacam Thai-lek-sin-kang yang amat kuat, dia menghadapinya dengan Im-yang-sin-kang.

"Bressss!"

Tubuh tinggi besar dari Dailuba terlempar ke belakang dan terguling akan tetapi Leng Bu sendiri terjengkang dan dia mengeluh, pundaknya nyeri bukan main.

"Supek....!"

Siauw Bwee menghampiri, akan tetapi Leng Bu telah bangun kembali, wajahnya pucat menahan sakit dan dia memegangi pundaknya yang luka, sebelah lengannya menjadi lumpuh.

Dailuba juga bangkit berdiri, tampak darah dari ujung bibirnya dan dia menjura.

"Hebat sekali engkau, Coa-enghiong. Biarpun engkau terluka, engkau masih mampu menahan pukulanku!"

"Ha-ha-ha, karena Coa-enghiong terluka, biarlah kita anggap pertandingan tadi berakhir dengan sama-sama dan mudah-mudahan menjadi jembatan perkenalan di antara kita!"

Kata Pek-mau Seng-jin.

"Tidak,"

Siauw Bwee menjawab lantang.

"Kami tetap tidak berkeinginan untuk mengikat tali persahabatan. Kami hendak pergi dan siapa yang menghalangiku, berarti dia hendak memusuhiku!"

Dia lalu memegang tangan supeknya dan berkata.

"Marilah, Supek. Kita pergi dari sini dan jangan melayani mereka yang mabok kekerasan ini!"

"Ha-ha-ha, nanti dulu, Nona. Kalau kalian tidak memiliki kepandaian yang lebih tinggi daripada kami, mengapa begini angkuh? Kami hanya ingin berkenalan, kalau engkau menolak berarti engkau menghina kami,"

Kata Pek-mau Seng-jin sambil menghadang di depan pintu keluar.

"Kalau engkau menganggap aku menghina, habis kau mau apa?"

"Taijin, bocah ini lancang sekali. Biarlah hamba menundukkannya!"

Kata Dailuba yang tak dapat menahan kesabarannya lagi menyaksikan sikap Siauw Bwee demikian berani terhadap orang pertama sesudah Raja Yucen!

Dia sudah melompat maju menghadapi Siauw Bwee.

Dara ini maklum bahwa tanpa memperlihatkan kepandaian, mereka tidak akan mau mundur begitu saja, maka dia melepaskan tangan Leng Bu dan menghampiri Dailuba.

"Kau kira aku takut kepadamu?"

Bentaknya.

Dailuba tersenyum mengejek.

Gadis ini hanyalah murid keponakan Leng Bu.

Sedangkan Coa Leng Bu sendiri tidak mampu mengalahkannya, apalagi murid keponakannya yang hanya seorang dara muda?

"Nona, aku harus mengaku bahwa aku kagum sekali menyaksikan keberanianmu.

Akan tetapi, engkau bukanlah lawan kami dan sesungguhnya aku sendiri merasa malu kalau harus bertanding melawan seorang bocah perempuan seperti Nona.

Sedangkan supekmu sendiri yang cukup lihai tidak mampu mengalahkan aku, bagaimana engkau berani menghadapi aku?"

"Tidak perlu banyak cerewet. Kalau kau berani, majulah!"

Siauw Bwee menantang.

Dailuba menjadi marah.

Akan tetapi dia adalah seorang panglima besar, tentu saja dia dapat menahan diri dan tidak mau menuruti nafsu amarah.

Maka sambil tersenyum dia berkata.

"Baiklah kalau begitu. Seorang anak bandel seperti engkau ini tentu belum mau mengerti kalau belum mengenal kelihaianku. Nah, kau jagalah sentuhan ini!"

Sambil berkata demikian, Dailuba menampar pundak Siauw Bwee dan hanya mempergunakan seperempat bagian tenaganya saja.

Itu pun ia lakukan dengan hati-hati dan perlahan karena khawatir kalau-kalau tulang pundak nona ini akan remuk terkena tamparannya!

Siauw Bwee menjadi makin marah.

Dia tentu saja tahu bahwa lawannya ini tidak sungguh-sungguh menyerangnya, dan hal ini selain dianggap sebagai sikap memandang rendah, juga merupakan penghinaan!

Cepat sekali tangannya bergerak dan tahu-tahu Dailuba berteriak kaget ketika kedua pundak dan kedua lututnya telah kena ditotok oleh jari tangan dan ujung sepatu nona itu sehingga kedua pasang kaki tangannya menjadi lumpuh dan di saat selanjutnya, tubuhnya sudah dilemparkan oleh dara itu dengan menyambar lengannya!

Tembok warung itu bobol kena bentur tubuhnya akan tetapi tubuh yang kuat itu tidak terluka dan begitu dia terbanting, totokan-totokan itu telah punah dan Si Tinggi Besar telah meloncat bangun.

Merah sekali mukanya dan matanya menjadi merah saking marah.

Dia telah dihina di depan Koksu dan para rekannya!

"Keparat!

Tak tahu orang mengalah!"

Bentaknya sambil menubruk maju.

"Siapa minta kau mengalah! Keluarkan semua kepandaianmu!"

Siauw Bwee tersenyum mengejek.

Perasaan malu membuat Dailuba lupa diri dan memuncak kemarahannya.

Belum pernah selamanya dia menerima penghinaan seperti itu, apalagi dilakukan oleh seorang gadis muda di depan Koksu!

Dia adalah orang kepercayaan dan tangan kanan Koksu, dan semua panglima tunduk kepadanya!

Mana mungkin dia menerima saja dipermainkan seorang gadis begitu saja?

Maka begitu ia menubruk maju, dia memukul dengan pengerahan tenaga sekuatnya, tangan kiri menghantam ubun-ubun kepala dan tangan kanan menyodok ke arah pusar.

Kedua tangannya melancarkan pukulan maut dan jarang ada lawan tangguh yang mampu menghindarkan diri dari serangan ini.

Bahkan Koksu sendiri menjadi terkejut dan menyesal mengapa panglimanya itu hendak membunuh gadis yang demikian lihai, namun dia dapat mengerti akan kemarahan Dailuba dan memandang penuh perhatian.

"Mampuslah! Wuushhh.... siuuutt!"

Bentakan Dailuba disusul angin sambaran kedua tangannya.

"Haaaiiittt.... yyaaaahhhh!"

Pek-mau Seng-jin sendiri sampai terbelalak kagum menyaksikan gerakan Siauw Bwee yang asing baginya.

Kedua kaki dara itu bergerak dengan cepat dan aneh, indah sekali seolah-olah kedua kaki dara itu menjadi roda, bergeser ke sana-sini dengan lincah dan ringan, namun tepat sekali sehingga dua pukulan maut itu sama sekali tidak mengenai sasaran.

Padahal dua pukulan itu sukar sekali dielakkan dan Koksu sendiri maklum bahwa jalan satu-satunya menghadapi dua pukulan maut itu hanya menangkis dengan pengerahan sin-kang.

Betapa mungkin gadis itu dapat mengelak tanpa meloncat pergi, hanya mengegos ke sana-sini seolah-olah pukulan itu merupakan pukulan biasa yang dipandang rendah saja?

Juga panglima tinggi besar itu terkejut, namun rasa marah dan penasaran melampaui kekagetannya dan kemarahan membuat dia tidak mau melihat kenyataan, tidak menyadarkannya bahwa sesungguhnya dia menghadapi seorang lawan yang jauh lebih berbahaya daripada Coa Leng Bu, bahkan lebih berbahaya daripada semua lawan yang pernah ia hadapi sebelumnya!

Kemarahan dan penasaran membuat dia menerjang lagi dengan gerakan cepat dan lebih kuat, menggerakkan kedua tangannya menyerang bertubi-tubi dan setiap pukulan, tamparan, atau totokan dia tujukan ke arah bagian-bagian yang mematikan!

Siauw Bwee bukan tidak tahu akan hal ini.

Dia maklum bahwa lawannya sengaja mengirim pukulan-pukulan maut karena kemarahannya, dan hal ini membuat dia ingin menalukkan orang-orang itu dengan memperlihatkan kepandaiannya.

Dia pun bukan seorang gadis bodoh yang hanya menuruti nafsu amarah.

Dia mengenal Pek-mau Seng-jin sebagai seorang Koksu Negara Yucen, dan sudah mendengar bahwa bangsa Yucen pada waktu itu merupakan bangsa yang besar dan kuat.

Dia dapat menduga bahwa orang tinggi besar ini tentu bukan orang sembarangan pula, melainkan seorang yang berkedudukan tinggi di Kerajaan Yucen.

Mengingat bahwa mereka yang tadi berhadapan dengan Coa Leng Bu bersikap gagah dan tidak bermaksud membunuh supeknya itu, maka kini dia pun hanya ingin mencari kemenangan dan segera pergi bersama supeknya melanjutkan perjalanan ke selatan, terutama sekali untuk menyusul suhengnya, Kam Han Ki.

Kini melihat betapa lawannya menerjang dengan hebat, Siauw Bwee terus menggunakan ilmu gerak langkah kilat yang ia pelajari dahulu dari kaum lengan buntung, mengelak ke sana-sini sehingga tubuhnya berkelebatan ke kanan kiri menyelinap di antara pukulan-pukulan itu.

Makin lama, Dailuba menjadi makin penasaran dan memukul makin cepat.

Tidak mungkin ada orang hanya main mengelak saja dari hujan pukulannya, padahal baru sambaran angin pukulannya saja sudah cukup untuk merobohkan lawan.

Namun, pandang matanya sampai berkunang ketika lewat tiga puluh jurus dia menyerang, gadis itu hanya main elak saja dan tak sebuah pun dari pukulan-pukulannya dapat menyentuh ujung baju gadis itu, apalagi mengenai tubuhnya!

Dan makin terheran-heran.

Supek gadis ini tadi harus mengakui keunggulannya hanya dalam belasan jurus saja.

Bagaimana kini gadis ini menghadapi serangan-serangannya sampai tiga puluh jurus lebih tanpa membalas sama sekali, mempermainkannya seperti seorang dewasa mempermainkan anak kecil?

Kalau tidak ingat bahwa di situ ada Koksu dan para rekannya yang menjadi penonton, tentu panglima tinggi besar ini sudah mengeluarkan senjatanya.

Akan tetapi hal itu tidak mungkin dia lakukan di bawah pengawasan Koksu dan para rekannya karena tentu hal itu akan membuat dia menjadi makin rendah dan malu.

Maka kini ia hanya menggigit bibir dait melanjutkan serangan-serangannya dengan tenaga sin-kang Thai-lek-sin-kang!

Melihat pukulan-pukulan yang mengandung hawa sin-kang ini, Siauw Bwee maklum bahwa sudah cukup dia memperlihatkan kepandaiannya.

Dia meloncat mundur, memasang kuda-kuda dan sengaja menyambut pukulan kedua tangan lawannya tadi.

Melihat ini, Coa Leng Bu terkejut sekali.

Dia tahu akan kehebatan ilmu silat murid keponakannya, akan tetapi menghadapi pukulan-pukulan orang yang bernama Thai Lu Bauw begitu saja, benar-benar amat berbahaya karena tenaga sin-kang Si Tinggi Besar itu amat kuat.

Sebaliknya, Dailuba girang sekali melihat gadis itu berani menerima pukulannya tanpa menggunakan langkah-langkah aneh untuk mengelak seperti tadi, maka dia mengerahkan seluruh tenaganya dalam dorongan kedua lengannya itu.

Siauw Bwee tidak berniat membunuh lawannya, akan tetapi kalau sampai dia tidak berani menerima pukulan sin-kang ini, tentu orang-orang itu menyangka takut.

Oleh karena itu, dia tidak mengelak, bahkan kini dia mendorongkan kedua lengannya ke depan menyambut datangnya pukulan jarak jauh yang amat dahsyat ini.

Diam-diam dia menggunakan sin-kang yang dilatihnya bersama Kam Han Ki dan Maya di Pulau Es, sehingga dari kedua tangannya menyambar hawa dingin sekali yang menyambut hawa pukulan Dailuba.

"Wussshhhh.... desss!"

Mereka berdiri berhadapan dengan kedua tangan dilonjorkan, jarak antara kedua pasang tangan itu ada dua kaki, akan tetapi mereka merasa seolah-olah telapak tangan mereka bertemu.

Tubuh Dailuba bergoyang-goyang, kemudian menggigil kedinginan dan tiba-tiba Siauw Bwee mencelat ke atas sambil menarik kedua lengannya dan....

tubuh Dailuba terbawa oleh dorongannya sendiri ketika dia mengerahkan seluruh tenaganya, jatuh menelungkup!

Kalau Siauw Bwee menghendaki, di saat itu tentu saja dia dapat memukul kepala lawannya dari atas, akan tetapi untuk membuktikan kemenangannya, dia hanya merenggut penutup kepala lawannya dan meloncat turun dengan ringan di belakang Dailuba.

Panglima tinggi besar ini terengah-engah, tubuhnya masih terguncang dan menggigil, kemudian melompat bangun dan memutar tubuh, dengan mata terbelalak memandang Siauw Bwee yang tersenyum sambil memegangi topi yang tadi berada di atas kepalanya.

"Terimalah kembali penutup kepalamu!"

Siauw Bwee berkata sambil melontarkan benda terbuat dari kain itu ke arah Dailuba.

Orang tinggi besar itu menyambar topi dengan tangannya, akan tetapi....

"wushhhh!"

Benda itu seperti berubah menjadi burung terbang, mengelak dari sambarannya, melayang ke atas dan jatuh di atas kepalanya.

"Hebat....! Ahhh, sungguh ajaib! Betapa mungkin kepandaian seorang murid keponakan jauh melampaui tingkat supeknya sendiri? Nona, aku kagum sekali dan marilah kita saling menguji kepandaian kita. Aku akan merasa gembira sekali berkenalan dengan Nona setelah kitaa saling mengenal kelihaian masing-masing!"

Koksu berkata dan tubuhnya sudah mencelat ke depan Siauw Bwee.

Hemm, biar akan menimbulkan geger, sekali ini dia akan memberi hajaran keras kepada orang yang telah pernah menawan dia bersama sucinya, Maya.

Pikiran ini membuat Siauw Bwee menjawab lantang.

"Pek-mau Seng-jin, biarpun aku masih muda, sudah banyak aku mendengar namamu yang besar."

"Apa? Engkau sudah mengenal namaku? Jadi engkau tahu siapa aku ini?"

Kakek berambut putih itu bertanya, alisnya berkerut.

Siauw Bwee tersenyum mengejek sambil mengangguk.

Alis putih itu makin berkerut.

Celaka, pikir Pek-mau Seng-jin.

Kalau gadis ini sudah mengenalnya, berarti tahu bahwa dia adalah Koksu dari Yucen, rahasia penyamaran dan perjalanannya telah terbuka!

Gadis ini harus ditarik sebagai sekutunya, atau....

kalau tidak mau, harus dienyahkan sebagai musuh yang berbahaya!

Namun, sikap kakek itu masih tenang saja dan dia bertanya.

"Nona, engkau sudah mengenalku. Sudah sepatutnya kalau aku mengetahui siapakah engkau yang semuda ini telah memiliki kepandaian amat tinggi."

"Aku seorang perantau. Sudah kukatakan bahwa aku tidak ingin bermusuhan dengan siapapun juga. Akan tetapi, kalian memaksa kami untuk bertanding. Kami telah memenuhi permintaan kalian, hanya karena terpaksa, bukan sekali-kali untuk berkenalan. Nah, kita lanjutkan atau tidak?"

"Ha-ha-ha, pantas saja engkau angkuh dan tinggi hati, karena memang engkau lihai sekali. Biarlah, kita main-main sebentar dengan taruhan bahwa kalau engkau kalah, biarpun engkau tidak mau menjadi sahabat kami, engkau harus memperkenalkan namamu kepadaku. Bagaimana?"

"Aku tidak sudi berjanji apa-apa. Dengan pertandingan yang kaupaksakan ini, kalau aku kalah, terserah kepadamu mau berbuat apa. Akan tetapi kalau engkau kalah dan tewas di tanganku, jangan menyalahkan aku!"

"Aduh sombongnya! Baiklah, Nona. Sudah lama aku tidak ketemu lawan yang setanding. Melihat cara engkau mengalahkan pembantuku, ternyata engkau cukup berharga untuk menjadi kawanku. Bersiaplah engkau!"

"Majulah!"

Siauw Bwee sudah memasang kuda-kuda dengan kedua kaki tegak, agak terbuka dan kedua tangannya tergantung lemas di kedua samping tubuhnya, matanya tajam mengawasi lawan dan seluruh urat syaraf di tubuhnya siap menghadapi serangan yang bagaimanapun juga.

Melihat cara persiapan dan kedudukan tubuh dara itu, kembali Pek-mau Seng-jin kagum dan dia tidak berani memandang rendah.

Dara ini tentu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali sehingga dapat bersikap seperti itu, tanpa memasang kuda-kuda teguh seperti yang biasa dilakukan ahli-ahli silat.

"Sambutlah, Nona!"

Pek-mau Seng-jin mulai dengan serangan pertama.

Tangan kirinya bergerak menyambar dari samping menuju ke arah leher Siauw Bwee.

Angin pukulan yang panas sekali menyambar, diikuti oleh lengan baju yang menampar muka, kemudian dalam detik berikutnya disusul pula oleh jari-jari tangan yang melakukan totokan-totokan ke arah lima jalan darah di kedua pundak kanan kiri leher dan tenggorokan!

Bukan main hebatnya serangan ini yang sekali gerak telah mengandung lima serangan.

Baru angin pukulan itu saja sudah amat berbahaya, tidak kalah bahayanya dengan tamparan ujung lengan baju atau totokan-totokan itu sendiri yang rerupakan inti serangan!

Namun Siauw Bwee tidak menjadi gentar.

Tanpa menggeser kaki, tubuh atasnya melirik ke belakang dan lengan kanannya yang kecil menangkap dengan berani.

"Plakk! Brettt....!"

Pek-mau Seng-jin meloncat ke belakang dengan mata terbelalak heran.

Dia tidak mengenal gerak tangan Siauw Bwee tadi yang amat cepat dan hal ini tidak aneh karena dara ini menggunakan ilmu gerak tangan kilat yang merupakan kepandaian khusus dari kaum kaki buntung!

Dengan gerakan kilatnya, sambil menangkis serangan tadi, jarinya dapat digerakkan dengan pemutaran pergelangan tangan cepat sekali sehingga dari samping ia berhasil melubangi ujung dengan baju kakek berambut putih itu!

"Kau....

apakah engkau dara perkasa yang telah membunuh panglima dampit dari Kerajaan Sung?"

Siauw Bwee terkejut dan kagum.

Agaknya Koksu Yucen ini mempunyai banyak mata-mata yang telah menyelundup ke dalam gedung pembesar Sian-yang sehingga mengetahui pula peristiwa itu.

"Kalau betul demikian, mengapa?"

Tanyanya dengan tenang.

"Aihh....! Nona yang perkasa! Kita sepaham dan sehaluan! Marilah engkau bekerja sama dengan kami menghadapi bangsa Mancu yang biadab dan Kerajaan Sung yang sudah hampir roboh!"

"Pek-mau Seng-jin, aku tidak mau mencampuri urusan negara dan perang. Kalau kau tidak ingin melanjutkan pertandingan gila ini, biarkan aku dan Supek pergi."

"Engkau keras kepala! Apa kaukira akan mampu menandingi Pek-mau Sengjin? Jaga serangan!"

Kini kakek itu mengeluarkan seruan keras dan nyaring sekali, seruan yang dikeluarkan dengan tenaga khi-kang sehingga melengking tinggi dan mengejutkan semua orang, bahkan para pembantunya hampir tidak kuat bertahan kalau tidak cepat mengerahkan tenaga sin-kang untuk melawan lengking itu.

Pemilik warung dan para pelayannya yang masih bersembunyi, seketika roboh pingsan!

Namun Siauw Bwee tetap tenang dan melihat kini kakek itu menerjangnya dengan dahsyat, ia cepat mengelak dengan gerakan kakinya yang lincah sambil balas memukul dari samping dengan pengerahan sin-kang yang mengandung tenaga Im-kang kuat sekali.

Pek-mau Seng-jin menangkis.

"Dukkk!"

Keduanya terlempar ke belakang, akan tetapi kalau Siauw Bwee tidak merasakan sesuatu, hanya terpental saking kuatnya lawan, adalah Pek-mau Seng-jin menggoyang tubuhnya mengusir hawa dingin yang menyusup ke tulang-tulangnya!

Pada saat itu terdengar seruan nyaring.

"Tahan! Di antara sahabat sendiri tidak boleh bertanding!"

Tampak bayangan berkelebat dan Suma Hoat telah berdiri di tempat itu, memandang kepada Koksu dan Siauw Bwee, kemudian cepat menjura kepada Pek-mau Seng-jin sambil berkata.

"Seng-jin, dia adalah Coa Leng Bu, suhengku sendiri. Harap jangan melanjutkan perkelahian!"

Pek-mau Seng-jin tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, kau salah sangka, Suma-sicu! Kami bukan berkelahi, melainkan saling menguji kepandaian dan Nona ini benar-benar luar biasa lihainya. Kiranya masih suhengmu sendiri Coa-sicu ini, dan Nona ini, apakah dia juga murid keponakanmu?"

"Murid keponakan....? Saya tidak mengenalnya, biarpun kami pernah saling berjumpa."

Sementara itu Siauw Bwee terheran-heran melihat pemuda tarnpan yang pernah menolongnya lari dari Sian-yang.

Jadi pemuda yang lihai dan mahir Ilmu Jit-goat-sin-kang itu adalah sute dari Coa Leng Bu?

Dia mengerutkan alisnya dan makin tidak mengerti ketika mendengar pemuda itu disebut Suma-sicu oleh Pek-mau Seng-jin.

Pemuda itu bernama keluarga Suma!

Apa artinya ini?

Ketika dia menoleh kepada Coa Leng Bu, kakek ini menarik napas panjang dan berkata.

"Sute, sesungguhnya tidak ada perkelahian dan biarkan kami berdua pergi lebih dulu. Kalau engkau mengenal mereka ini, harap jelaskan bahwa kami bukanlah orang yang suka terlibat dalam urusan negara, sampai jumpa, Sute."

Coa Leng Bu lalu mengajak Siauw Bwee pergi dari situ dan sekali ini rombongan Pek-mau Seng-jin tidak mencegah mereka.

Setelah keluar dari dusun itu, Siauw Bwee tidak dapat menahan hatinya.

"Supek, pemuda itu adalah orang yang menolongku keluar dari Sian-yang. Benarkah dia itu sutemu?"

"Memang begitulah. Tadinya Suhu Bu-tek Lo-jin hanya mempunyai tiga orang murid, yaitu Twa-suheng Lie Soan Hu yang menjadi ketua lembah memimpin orang-orang penderita kusta, ke dua aku sendiri, dan ke tiga adalah Sute Ouw Teng. Akan tetapi belum lama ini, Suhu mengangkat seorang murid baru yang biarpun paling muda, namun memiliki ilmu kepandaian yang hebat. Dia adalah Suma-sute tadi yang sebelum menerima ilmu Jit-goat-sin-kang dan lain-lain dari Suhu, telah memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi daripada kami bertiga. Sungguh tidak kuduga bahwa dia mengenal rombongan Pek-mau Seng-jin tadi, betapapun juga, kedatangannya menghentikan bahaya yang mengancam kita. Sekarang aku ingin sekali tahu, bagaimana engkau mengenal Pek-mau Seng-jin dan siapakah dia sebenarnya?"

"Dia itu bukan lain adalah Koksu Negara Yucen,."

"Aihhhh....!"

Wajah Coa Leng Bu berubah pucat.

"Pantas saja dia lihai bukan main. Dan Suma-sute agaknya mengenal balk mereka itu! Apa artinya ini?"

Siauw Bwee menarik napas panjang.

"Agaknya aku dapat menduga apa artinya, Supek. Koksu Negara Yucen itu tentu melakukan penyelidikan dan mencari bantuan orang-orang pandai, mengingat akan pesatnya gerakan kerajaan itu menyerbu ke selatan. Tadi dia mengajak aku membantunya ketika mendengar bahwa aku menewaskan Panglima Sung, tentu dia mengira aku memusuhi Sung dan Mancu. Dan melihat sikap sutemu tadi, aku tidak akan meragukan kalau dia termasuk di antara orang-orang gagah yang kena terbujuk untuk bersekutu dengannya."

Coa Leng Bu mengangguk-angguk.

"Hemm, agaknya begitulah. Aku bertemu dengan dia di Sian-yang dan akulah yang minta dia mencarimu dan memberi tahu bahwa aku menanti di pintu gerbang selatan. Aku tidak mencampuri urusan pribadinya, namun aku sebagai suhengnya berhak untuk mengingatkannya bahwa tidaklah baik membantu bangsa asing memerangi bangsa sendiri."

Siauw Bwee teringat akan sucinya, Maya. Mengapa sucinya itu juga membantu pasukan Mancu? Maka dia lalu berkata.

"Dalam keadaan negara kacau seperti ini, memang banyak orang merasa serba salah, Supek. Kerajaan Sung makin merosot pamornya, banyak pembesar yang buruk dan jahat. Timbullah Kerajaan bangsa Yucen dan bangsa Mancu, membuat banyak orang menjadi ragu-ragu dan timbul harapan baru untuk melihat munculnya kerajaan baru yang akan dapat mengamankan negara dan memakmurkan kehidupan rakyat. Betapapun juga, tentu saja aku tidak setuju kalau orang mengharapkan kemakmuran dari penjajahan bangsa asing!"

"Cocok, Khu-lihiap! Demlkian pula pendapatku, maka kalau aku bertemu dengan dia, akan kuperingatkan dia."

"Supek, siapakah nama sutemu itu? Aku mendengar tadi disebut Suma-sicu oleh Koksu Yucen."

"Memang dia she Suma, namanya Hoat."

"Suma Hoat....?"

Siauw Bwee mengerutkan alisnya, mengingat-ingat karena dia seperti pernah mendengar nama itu.

"Apakah engkau sudah mengenal namanya pula?"

Siauw Bwee mengangguk.

"Nama itu tidak asing bagiku.... akan tetapi aku lupa lagi...."

Dia benar-benar tidak ingat lagi, akan tetapi dia menduga bahwa tentu pemuda tampan itu masih ada hubungan dengan Panglima Suma Kiat, musuh besar yang telah menjadi biang keladi tewasnya ayahnya dan Menteri Kam Liong!

Ketika hal ini terjadi, dia masih terlalu muda dan memang dia tidak pernah memperhatikan atau mendengar keadaan keluarga Suma Kiat sehingga dia tidak tahu bahwa pemuda berusia tiga puluh tahun yang telah menolongnya itu bukan lain adalah putera tunggal musuh besarnya itu!

Mereka melanjutkan perjalanan dan bermalam di sebuah kota kecil.

"Kita menanti Sute di sini. Aku ingin sekali mendengar apakah betul dia menjadi kaki tangan Kerajaan Yucen."

Siauw Bwee mengangguk setuju.

Dia pun ingin sekali menyelidiki, apakah hubungan sute dari supeknya itu, yang mengingat akan kedudukannya terhitung masih susioknya (paman gurunya) sendiri, dengan musuh besarnya, Suma Kiat!

Sementara itu, setelah menyadarkan pemilik warung dan mengganti semua kerusakan dengan hadiah banyak, rombongan Pek-mau Seng-jin mengajak Suma Hoat keluar dari dusun karena mereka tidak mau menarik perhatian penduduk yang sudah panik dengan adanya pertandingan di dalam warung tadi.

Di dalam hutan di luar dusun itu, mereka bercakap-cakap.

Memang benarlah dugaan Siauw Bwee, Suma Hoat telah menjadi kaki tangan Koksu dari Yucen.

Seperti telah klta ketahui, pemuda yang merasa amat menyesal dan berduka karena dia telah membikin lumpuh Ketua Siauw-lim-pai yang tidak mau melawannya, kemudian makin menyesal karena dia telah menghina kedua orang bibinya sendiri, yaitu Kam Siang Hui dan Kam Siang Kui, bersama Im-yang Seng-cu menyerbu markas besar Hoat Bhok Lama di Pegunungan Heng-toan-san di lembah Sungai Cin-sha.

Dia melihat kedua orang wanita itu tewas dan dia bertemu dengan Bu-tek Lo-jin yang kemudian mengajaknya membunuh Hoat Bhok Lama dan kaki tangannya, kemudian mengangkatnya sebagai murid.

Hati Dewa Pemetik Bunga ini penuh dengan penyesalan akan semua perbuatannya yang lalu, penyesalan yang timbul setelah dia membuat lumpuh kedua kaki Ketua Siauw-lim-pai, yaitu Kian Ti Hosiang.

Penyesalan ini membuat dia mengasingkan diri dan tekun berlatih ilmu silat yang ia peroleh dari Bu-tek Lo-jin yang hanya beberapa bulan saja mengajarkan ilmu-ilmu silat dan Jit-goat-sin-kang kepadanya, kemudian kakek aneh itu pergi lagi meninggalkannya.

Dengan tekun sekali Suma Hoat menggembleng diri dengan ilmu-ilmu itu sambil berusaha melupakan kesenangannya, yaitu bermain asmara dengan wanita-wanita cantik yang membuatnya dijuluki Jai-hwa-sian.

Gurunya menceritakan kepadanya bahwa dia menipunyai tiga orang suheng yang tinggal di tebing Lembah Kaum Kusta.

Ketika dia mengunjungi mereka ke sana, dia hanya bertemu dengan Coa Leng Bu, suhengnya yang ke dua, dan dia enggan menjumpai twa-suhengnya dan sam-suhengnya ketika mendengar dari ji-suheng ini bahwa mereka itu menjadi ketua dari kaum liar dan kaum penderita kusta.

Apalagi karena ia mendapat kenyataan bahwa biarpun disebut ji-suheng, kepandaian Coa Leng Bu tidaklah lebih tinggi daripadanya.

Setelah meninggalkan ji-suhengnya, Suma Hoat lalu teringat kepada ayahnya.

Benar bahwa dia telah disakiti hatinya, telah diusir tanpa salah, karena bukankah permainan asmara dengan Bu Ci Goat adalah karena rayuan ibu tirinya itu?

Betapapun juga, dia adalah anak tunggal, dia harus menghadap ayahnya yang sudah tua.

Dia harus membantu ayahnya setelah kini dia memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Teringat akan ayahnya, Suma Hoat merasa dirinya makin berdosa dan semua ini adalah gara-gara wanita!

Gara-gara Ciok Kim Hwa!

Kalau dia tidak patah hati karena Ciok Kim Hwa membunuh diri, tentu dia tidak sampai bentrok dan diusir ayahnya sehingga kemudian dia membalas dendamnya kepada para wanita dan menjadi seorang pemerkasa dengan Julukan Jai-hwa-sian!

Bahkan kemudian membuat dia melakukan hal yang amat keji, yaitu membuat Ketua Siauw-lim-pai yang sakti dan berbudi mulia itu menjadi cacad, lumpuh kedua kakinya.

Dia harus menebus semua dosanya itu, dengan jalan berbakti kepada ayahnya, berbakti kepada negara, dan berbakti kepada kemanusiaan.

Dengan pikiran inilah Suma Hoat mencari ayahnya, menahan nafsu berahinya yang kadang-kadang bergejolak setiap ia melihat wanita cantik, dan akhirnya dia berhasil bertemu dengan ayahnya, Suma Kiat di kota raja.

Akan tetapi, biarpun dia girang sekali mendapat sambutan gembira dari ayahnya dan ibu tirinya, Bu Ci Goat, di dalam hatinya dia terkejut karena ayahnya segera memberi tahu bahwa ayahnya diam-diam telah membuat persekutuan dengan Kerajaan Yucen, dan membuat persiapan untuk membantua Kerajaan Yucen dari dalam untuk menjatuhkan pemerintah lama!

Biarpun di dalam hatinya terasa panas dan tidak setuju, namun dia tidak mau mengecewakan ayahnya dan akhirnya dia menjalankan tugas yang diperintahkan ayahnya untuk menemui Pek-mau Seng-jin, Koksu Negara Yucen yang sedang melakukan penyelidikan tentang gerakan tentara Mancu.

Dengan membawa surat ayahnya, Suma Hoat berhasil bertemu dengan Pek-mau Seng-jin kemudian dia malah menerima tugas penyelundupan ke dalam kota Sian-yang untuk menghubungi kaki tangan Pek-mau Seng-jin dan menyelidiki keadaan pasukan Mancu yang menduduki kota itu.

Telah ada kata sepakat antara Suma Kiat dan Pek-mau Seng-jin untuk membiarkan pasukan-pasukan Sung berperang melawan pasukan-pasukan Mancu sehingga kedua pihak itu akhirnya menjadi lemah dan mudah dihancurkan oleh pasukan Yucen.

Demikianlah, ketika ia menyelundup ke Sian-yang, Suma Hoat bertemu dengan ji-suhengnya, Coa Leng Bu, dan la disuruh membantu dan memberitahukan jalan keluar kepada nona yang menjadi murid keponakan ji-suhengnya.

Suma Hoat berhasil membantu Siauw Bwee dan begitu bertemu dengan dara itu, jantung Suma Hoat berdebar keras, sekaligus dia tertarik seperti sebatang jarum tertarik oleh besi sembrani!

Ketangkasan dan kelihaian gadis itu, kecantikannya, bentuk tubuhnya, suaranya, segala-galanya membuat jantung Suma Hoat seperti akan dicopot.

Dia telah banyak berjumpa dengan wanita cantik, telah banyak mempermainkan wanita, namun belum pernah dia mengalami getaran jantung seperti ketika bertemu dengan Siauw Bwee, padahal baru dia lihat sebentar sajadi malam itu, di antara sinar obor.

Seolah-olah dia bertemu dengan Ciok Kim Hwa, bahkan lebih lagi karena dalam pandang matanya, Siauw Bwee jauh melampaui daya tarik Kim Hwa!

Dia telah jatuh cinta, bukan cinta berahi seperti kalau dia bertemu wanita-wanita cantik yang dipermainkan dan diperkosanya, melainkan cinta kasih yang membuat dia ingin selamanya berdampingan dan hidup berdua dengan gadis itu, menghentikan semua petualangan asmaranya!

Di dalam hutan kecil, Pek-mau Seng-jin dan kaki tangannya berunding.

"Biarkan pasukan Mancu yang kuat itu menyerbu terus ke selatan,"

Antara lain Pek-mau Seng-jin berkata.

"setelah pasukan-pasukan Mancu jauh meninggalkan induknya, dan tentara Sung mengalami pukulan hebat, baru kita mengerahkan bala bantuan untuk memotong jalan, menghancurkan tentara Mancu dan menyerbu terus ke kota raja Sung Selatan. Suma-sicu, gadis tadi memiliki ilmu kepandaian yang hebat sekali. Sungguh aku merasa heran sekali mengapa murid keponakanmu dapat memiliki ilmu kepandaian yang demikian hebat. Siapakah dia sebenarnya?"

"Saya sendiri belum mengenalnya, Seng-jin,"

Jawab Suma Hoat sejujurnya.

"Ji-suheng hanya mengatakan bahwa gadis itu adalah anak angkat dari Sam-suheng karena itulah maka menyebut Ji-suheng sebagai supeknya."

"Hemm, kalau saja dia dapat kita tarik menjadi pembantu, akan menguntungkan sekali. Suma-sicu, dapatkah kau membujuknya untuk berplhak kepada kita?"

"Akan saya coba, Seng-jin."

"Baik, kalau begitu harap kau suka menyusulnya. Biarkan dia memilih, langsung membantuku atau membantu ayahmu. Dengan tenaga-tenaga lihai seperti dia, perjuangan kita akan makin berhasil. Kami akan kembali dan mempersiapkan pasukan untuk memberi pukulan-pukulan terakhir setelah Mancu dan Sung berhantam sendiri di selatan."

Mereka berpisah dan Suma Hoat cepat pergi mengejar Ji-suhengnya dan gadis jelita yang telah memikat hatinya.

Mendengar betapa dara itu dipuji-puji Pek-mau Seng-jin, dia menjadi makin tertarik.

Benar-benar seorang dara pilihan, pikirnya.

Dahulu, dia tergila-gila kepada Ciok Kim Hwa, seorang gadis lemah.

Sekarang dara yang datang bersama ji-suhengnya itu, selain memiliki daya tarik lebih hebat daripada Ciok Kim Hwa juga memiliki ilmu kepandaian tinggi!

Pantas menjadi kawan hidupnya.

Untuk mendapatkan gadis seperti itu sebagai isterinya, dia siap meninggalkan cara hidupnya yang lalu, yang penuh petualangan dan dosa!

Demikianlah, dapat dibayangkan betapa girang hati Suma Hoat ketika dia bertemu dengan Coa Leng Bu dan Khu Siauw Bwee yang memang menantinya di kota kecil itu.

Kedua orang itu sedang makan pagi di sebuah warung ketika Suma Hoat datang.

"Ahhh, Ji-suheng! Untung sekali aku dapat menyusul kalian di sini!"

Katanya sambil menatap wajah Siauw Bwee dengan jantung berdebar.

Bukan main!

Pagi ini gadis itu tampak makin cantik mempesonakan.

Biarpun mulut Suma Hoat mengeluarkan kata-kata gembira seperti itu, namun dia berdiri terpesona memandang Siauw Bwee, seolah-olah kedua kakinya tidak kuat menaiki anak tangga rumah makan itu!

Menyaksikan sikap pemuda itu, Siauw Bwee mengerutkan alisnya dan tiba-tiba kedua pipinya menjadi merah.

Pandang mata pemuda itu dengan jelasnya memancarkan isi hatinya kepadanya!

Siauw Bwee tidak mampu melawan pandang mata seperti itu lebih lama lagi dan ia menunduk.

Sedangkan Coa Leng Bu yang melihat sikap sutenya ini lalu menegur.

"Sute, mari duduklah. Kenapa berdiri saja di situ?"

Suma Hoat sadar, kedua pipinya menjadi merah, jantungnya berdenyut aneh dan ia merasa heran sekali.

Dia yang sudah bermain cinta dengan banyak gadis cantik dari segala golongan, kenapa sekarang sama sekali tidak berdaya menghadapi gadis ini?

Ia lalu menaiki anak tangga, dan duduk di atas bangku berhadapan dengan Siauw Bwee, di sebelah kiri suhengnya.

"Ji-suheng, aku mendengar bahwa kau terluka pundakmu. Bagaimana lukamu? Apakah sudah sembuh?"

"Hanya luka daging, tidak berbahaya, Sute."

"suheng, Nona ini adalah yang kausuruh aku bantu di Sian-yang tempo hari. Siapakah dia? Harap Suheng memperkenalkan."

Siauw Bwee mengangkat muka dan kini dia menatap wajah orang muda itu penuh perhatian.

Wajah yang tampan, pikirnya, dan sikap yang gagah sekali.

Dia sudah hampir lupa lagi bagaimana wajah Panglima Suma Kiat, akan tetapi dia mendengar bahwa panglima tua itu pun dahulunya seorang yang tampan.

Orang muda di depannya ini memiliki sikap yang gagah perkasa, agaknya tidak patut menjadi seorang jahat, akan tetapi pandang matanya begitu tajam, seolah-olah pandang mata itu menjenguk ke dalam hatinya, bahkan seolah-olah pandang mata itu menelanjanginya!

Diam-diam Siauw Bwee bergidik.

Laki-laki yang jantan dan berbahaya sekali!

Kalau saja cinta kasih di hatinya tidak sebulatnya tertuju kepada suhengnya, pria di depannya ini memiliki daya tarik luar biasa dan tidak anehlah kalau dia tertarik!

Mendengar ucapan sutenya, Coa Leng Bu tertawa.

"Ahhh, aku sampai lupa memperkenalkan. Sute, Khu-lihiap ini adalah puteri angkat dari mendiang Ouw-sute, jadi masih terhitung murid keponakanmu sendiri. Khu-lihiap, ini adalah Suma-sute, masih susiokmu sendiri."

Siauw Bwee bangkit berdiri dan memberi hormat. (Lanjut ke

Jilid 31) Istana Pulau Es (Seri ke 05

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 31

"Susiok....!"

Katanya perlahan dan sederhana. Suma Hoat cepat bangkit berdiri dan membalas penghormatan dara itu sambil berkata.

"Aihh, Nona. Harap jangan menyebut Susiok kepadaku. Kepandaian Nona begitu tinggi, kalau menyebut Susiok kepadaku hanya membuat aku menjadi malu saja. Nona, namaku adalah Suma Hoat dan kuharap Nona tidak menyebut Susiok, sebut saja Twako karena kita telah menjadi sahabat, bukan?"

Ucapan dan sikap Suma Hoat demikian ramah dan wajar, sama sekali tidak memperlihatkan sikap kurang ajar sehingga Siauw Bwee tersenyum.

Senyum yang membuat Suma Hoat hampir terjengkang saking kagum dan girangnya.

"Baiklah, Suma-twako."

Mereka duduk kembali dan Leng Bu cepat memberi isyarat kepada pelayan untuk menambah hidangan dan minuman.

"Nona, engkau she Khu akan tetapi belum memperkenalkan diri."

Sambil tersenyum memandang orang muda yang polos itu, Siauw Bwee menjawab,.

"Namaku Khu Siauw Bwee."

Berkata demikian, ia memandang tajam untuk melihat apakah orang muda she Suma itu mengenal namanya.

Kalau dia keluarga Suma Kiat, tentu akan mengenal bahwa dia adalah puteri mendiang Panglima Khu Tek San!

Akan tetapi tidak tampak perubahan sesuatu pada wajah yang tampan itu dan memang sesungguhnya Suma Hoat tidak mengenal nama ini.

Peristiwa yang menimpa Khu Tek San dan Menteri Kam Liong terjadi ketika dia sudah meninggalkan kota raja.

Sambil makan minum mereka bercakap-cakap.

Beberapa kali Suma Hoat memancing untuk mengetahui keadaan Khu Siauw Bwee, namun gadis itu seolah-olah hendak menyembunyikan keadaannya.

"Nona, kepandaianmu begitu hebat. Siapakah sebetulnya gurumu?"

Akhirnya dia bertanya secara langsung.

"Aku sendiri tidak tahu dan tidak dapat memberi tahu tentang itu, Suma-twako. Aku hanya belajar sedikit-sedikit di sana-sini, dan mula-mula aku belajar di bawah bimbingan suheng dan suciku sendiri."

Siauw Bwee tetap saja mengelak.

"Ahh, kalau begitu, suheng dan sucimu tentu sakti bukan main! Bolehkah aku mengenal mereka?"

"Maaf, Twako. Suheng dan suci merahasiakan diri mereka sehingga aku tidak boleh menyebut nama mereka. Harap kau suka memaklumi watak orang-orang aneh seperti mereka itu."

Suma Hoat kecewa akan tetapi dia mengangguk.

Heran sekali gadis ini sikapnya penuh rahasia, akan tetapi biarpun kecewa, dia tidak merasa menyesal!

Padahal biasanya dia merasa paling benci kalau menghadapi gadis yang angkuh.

"Aku mengerti, Nona, dan maafkan kelancanganku bertanya tadi. Bukan maksudku untuk mengetahui rahasia orang lain, akan tetapi.... aku kagum sekali kepadamu, maka timbul keinginanku untuk mengenalmu lebih baik dengan mengetahui riwayatmu. Maafkan aku."

"Tidak apa, Twako, akulah yang minta maaf,"

Kata Siauw Bwee, tidak enak juga hatinya menyaksikan sikap yang amat ramah, sopan dan baik dari orang muda itu.

"Sute, sekarang aku ingin sekali bertanya kepadamu. Sesungguhnya karena hal inilah maka aku menantimu di sini. Bagaimana engkau dapat mengenal Koksu Negara Yucen dan rombongannya?"

Pertanyaan yang tiba-tiba datangnya ini mengejutkan hati Suma Hoat.

Tak disangkanya bahwa suhengnya tahu akan hal itu.

Suhengnya sudah lama mengasingkan diri, tak mungkin mengenal Pek-mau Seng-jin sebagai Koksu Kerajaan Yucen.

Tak salah lagi, tentulah Khu Siauw Bwee yang mengenal kakek berambut putih itu, maka dia menjadi makin kagum dan heran.

Dara ini selain berilmu tinggi, juga agaknya berpemandangan luas dan berpengalaman dalam dunia kang-ouw.

"Jadi Suheng sudah mengenal Koksu Yucen? Terus terang saja, Suheng. Aku bekerja sama dengan Kerajaan Yucen dan bersekutu dengan Pek-mau Seng-jin."

Diam-diam Coa Leng Bu kagum akan ketepatan pandangan Siauw Bwee. Dia melirik gadis itu yang bersikap tidak mengacuhkan, kemudian berkata.

"Sute, aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusan pribadimu, akan tetapi selagi negara dalam keadaan terancam mengadakan persekutuan dengan bangsa lain, bukanlah hal itu dipantang oleh orang-orang gagah?"

Suma Hoat tersenyum.

"Untuk memberi pandangan tentang perjuangan bangsa, harus lebih dulu mengetahui keadaan sesungguhnya. Suheng melihat sendiri betapa kerajaan terancam oleh pasukan-pasukan Mancu yang kuat sekali. Biarpun semua orang gagah membantu Kerajaan Sung, kiranya kerajaan itu takkan dapat dipertahankan lagi. Jalan satu-satunya yang tepat adalah mengharapkan bantuan bala tentara Yucen dengan maksud menghadapi Mancu, bukanlah hal itu demi keselamatan negara kita?"

Diam-diam Siauw Bwee dapat mengerti kebenaran ini, dan Coa Leng Bu hanya menarik napas panjang.

"Aku tidak tahu tentang politik negara, Sute, hanya kuharap Sute tidak akan menyimpang daripada garis yang dilalui orang-orang gagah, jangan sampai kelak dikenal sebagai seorang pengkhianat bangsa."

"Tidak mungkin, Suheng. Sampai mati pun aku tidak sudi menjadi pengkhianat. Kalau sekarang aku berbaik dengan Koksu Negara Yucen, hal itu semata-mata untuk menarik pihak Yucen menolong Kerajaan Sung yang terancam oleh pihak Mancu."

Keterangan ini memuaskan hati Leng Bu dan kesempatan ini dipergunakan oleh Suma Hoat untuk mengajak mereka mencontoh sikapnya.

"Kuharap Suheng dan Nona Khu dapat melihat kenyataan itu dan marilah kalian ikut bersamaku membantu kerajaan dengan bekerja sama dengan Koksu Yucen. Dengan jalan ini kita akan dapat menyelamatkan negara dari ancaman Mancu."

"Aku tidak mempunyai hasrat untuk melibatkan diri dengan perang, Sute,"

Jawab Leng Bu dengan suara dingin.

"Dan bagaimana dengan pendapatmu, Nona?"

"Aku juga tidak suka mencampuri urusan negara, aku benci akan perang! Dan selain itu, aku mempunyai urusan pribadi yang lebih penting. Biarlah kita mengambil jalan kita masing-masing, Suma-twako. Supek, marilah kita melanjutkan perjalanan ke selatan."

Siauw Bwee ingin sekali segera dapat bertemu dengan Kam Han Ki dan Leng Bu yang maklum akan hal hati dara itu berkata.

"Sebaiknya besok pagi-pagi saja kita berangkat. Kota Sian-tan merupakan benteng kuat dan menjadi pertahanan pasukan Sung, kurasa ke sanalah kita harus menuju. Akan tetapi, mengingat akan peristiwa di Sian-yang, kita harus berhati-hati memasuki kota itu."

Siauw Bwee maklum bahwa setelah mereka berdua mengacau di Sian-yang sebelum pasukan Mancu tiba di sana, tentu mereka akan dimusuhi oleh tentara Sung, dan akan ditangkap oleh Bu-koksu karena dia telah membunuh panglima dampit.

Maka ia mengangguk dan menyatakan setuju.

"Suheng dan Nona Khu. Aku telah mendengar akan sepak terjang kalian di Sian-yang. Bukankah engkau yang telah membunuh panglima dampit dan menimbulkan kekacauan di sana? Kalau benar demikian, amat berbahaya kalau kalian memasuki kota Siang-tan. Pula, bolehkah aku bertanya apa tujuan Nona pergi ke sana?"

"Aku ingin mencari seseorang, urusan pribadi, Twako. Maaf, aku tidak dapat memberi penjelasan kepadamu."

Suma Hoat mengangguk, kembali merasa kecewa akan tetapi tidak menyesal.

Bahkan dia ingin sekali membantu Nona ini karena dia dapat merasa bahwa tentu ada rahasia yang mengganggu hati nona ini.

Dia akan diam-diam menyelidiki dan kalau perlu melindungi dan membantu Nona yang telah menjatuhkan hatinya ini.

"Kalau begitu aku setuju dengan pendapat Ji-suheng. Lebih baik berangkat besok pagi, dan sedapat mungkin memasuki kota di waktu malam, menyelinap di antara kaum pengungsi sehingga tidak akan mudah dikenal."

Siauw Bwee makin suka kepada pemuda ini.

Seorang yang jujur, ramah, sopan dan tahu diri sehingga tidak terus bertekad mengetahui rahasia orang bahkan dapat menghargai dan memaklumi rahasia orang.

"Suma-twako, aku pernah mendengar nama besar seorang Panglima Sung yang bernama Suma Kiat. Tidak tahu apakah persamaan she antara Twako dan dia berarti ada hubungan keluarga?"

Kembali Suma Hoat terkejut, akan tetapi dia dapat menekan hatinya dan tidak memperlihatkan pada wajahnya. Dia tersenyum dan berkata.

"Kebetulan sekali aku adalah puteranya, Nona."

"Ohhh....!"

Siauw Bwee tak dapat menyembunyikan kekagetannya.

Untung dia dapat menahan kemarahannya dengan pendapat bahwa pemuda ini sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan perbuatan Suma Kiat.

Buktinya, pemuda ini tidak mengenalnya dan agaknya tidak tahu menahu tentang perbuatan jahat ayahnya yang telah mengakibatkan kematian Khu Tek San dan Menteri Kam Liong.

Betapapun juga, sukar baginya untuk dapat duduk semeja lagi dengan putera musuh besarnya, maka ia lalu bangkit dan berkata.

"Supek, aku ingin mengaso dulu. Besok pagi-pagi kita melanjutkan perjalanan."

Kepada Suma Hoat dia hanya menjura tanpa memandang wajahnya, kemudian meninggalkan mereka dan pergi memasuki kamarnya di mana dia duduk dan mengatur pernapasan untuk menekan hatinya yang menggelora karena marah.

Dia dapat menyabarkan hatinya ketika mengingat betapa Suma Hoat adalah seorang laki-laki yang baik, tidak seperti ayahnya.

Dia tidak akan mencontoh sucinya, yang membawa-bawa dendam kepada seluruh keluarga, bahkan bangsa!

Tidak, dendamnya hanya tertuju kepada Suma Kiat, dia tidak akan memusuhi Suma Hoat yang sedikit banyak telah menarik hatinya.

Suma Hoat merasa heran akan sikap gadis itu, akan tetapi dia tidak menduga sama sekali akan isi hati Siauw Bwee.

Dia melanjutkan bercakap-cakap dengan suhengnya, dan di pihak Coa Leng Bu, dia sama sekali tidak mengenal siapa adanya sutenya ini.

Puluhan tahun dia menyembunyikan diri, mengasingkan diri dan tidak pernah tahu akan keadaan dunia ramai.

Tentu saja dia tidak tahu akan sepak terjang Suma Kiat, bahkan dia tidak tahu bahwa sutenya ini adalah Jai-hwa-sian, karena nama Jai-hwa-sian pun belum pernah didengarnya.

Dia hanya merasa kagum kepada sutenya yang selain memiliki kepandaian lebih tinggi daripadanya, juga ternyata putera seorang Panglima Sung!

Dia malah merasa malu sendiri bahwa tadi dia telah menegur sutenya, siapa kira sutenya adalah putera panglima yang tentu saja lebih tahu akan keadaan negara.

Karena Suma Hoat juga hendak melanjutkan perjalanan besok, maka pemuda ini menyewa kamar di rumah penginapan yang didiami Leng Bu dan Siauw Bwee.

Melihat Siauw Bwee tidak pernah keluar lagi dari kamarnya, Suma Hoat juga siang-siang sudah memasuki kamar, berusaha melupakan Siauw Bwee namun tak berhasil.

Makin dilupa, wajah gadis itu makin jelas kelihatan di depan mata.

Setiap gerak-gerik gadis itu, lirikan mata, gerak bibirnya, kalau bicara, kejapan matanya, senyum dikulum, aihh, dia benar tergila-gila!

Harus kunyatakan sekarang, pikirnya.

Tidak akan ada kesempatan, lagi.

Berhasil atau gagal, sekarang, malam ini!

Malam ini amat sunyi.

Suara penduduk kota kecil yang biasanya memecahkan kesunyian, malam itu tidak terdengar lagi.

Dan sudah beberapa malam yang lalu, semenjak pasukan-pasukan Mancu menyerbu ke selatan, kota kecil ini menjadi sunyi sekali di waktu malam.

Sebagian besar penduduknya sudah mengungsi ke selatan, mencari tempat yang jauh dari kemungkinan dilanda perang, dan sebagian kecil yang tertinggal, sore-sore sudah masuk tidur, tidur yang tidak pulas karena sedikit suara saja cukup membuat mereka terbangun dan bersiap-siap melarikan diri jika ada bahaya perang mengancam.

Bulan sepotong yang menciptakan keindahan ajaib, pemandangan remang-remang antara terang dan gelap, seakan-akan menambah kesunyian karena tiada yang menikmati dan mengaguminya.

Hanya belalang, jengkerik, kutu-kutu dan burung malam yang dapat menikmati malam sunyi itu.

Makin sunyi, makin menyenangkan bagi mereka.

Mereka dapat bebas mengeluarkan suara, mungkin suara rindu si jantan mengundang si betina, suara untuk melindungi telur atau anak-anak mereka dari bahaya, namun bagi telinga manusia, suara binatang-binatang itu seolah-olah bernyanyi.

Aneh akan tetapi demikianlah kenyataannya bahwa suara-suara berirama ini bahkan menambah rasa sunyi dan hening sang malam yang menciptakan rasa takut dalam hati manusia-manusia yang sudah gelisah oleh bayangan mereka sendiri itu.

Kesunyian terasa benar oleh Siauw Bwee yang berada di dalam kamarnya.

Dia rebah sambil termenung, gelisah memikirkan suhengnya.

Bagaimanakah kalau benar pendapat Coa Leng Bu bahwa suhengnya menjadi korban racun perampas semangat?

Bagaimana kalau sampai tak dapat disembuhkan?

Ngeri dia memikirkan bahwa suhengnya takkan dapat mengenalnya selamanya!

Berkali-kali Siauw Bwee menarik napas panjang dan dia merasa kesunyian, perasaan yang selalu menggoda hatinya semenjak dia meninggalkan Pulau Es.

Kegelisahan dan kesunyian hatinya membuat dia dapat mendengarkan suara binatang malam dengan jelas dan dalam pendengarannya, suara malam itu seperti keluh-kesah yang menggema dari lubuk hatinya.

Tiba-tiba dia bangun duduk di atas pembaringannya.

Suara binatang malam terhenti ketika terdengar suara tiupan suling melengking.

Mula-mula suara suling itu rendah seperti keluhan seekor binatang yang terluka, kemudian makin meninggi dan melagu.

Lengking suling yang merdu mengalun, naik turun dengan lika-liku yang halus, suaranya menggetar seolah-olah hawa yang keluar dari mulut peniupnya mengandung hati yang merana.

Siauw Bwee terpesona.

Seperti juga semua belalang, jengkerik, dan kutu-kutu malam yang semua diam terpesona, dia pun diam tak bergerak, seluruh semangatnya seperti terbetot, terbawa melayang-layang di angkasa, memasuki dunia lamunan.

Suara itu mendatangkan perasaan aneh dan penuh rahasia, seperti perasaan orang kalau mendengarkan dengan penuh perhatian suara angin bersilir mempermainkan daun-daun pohon, seperti dendang anak sungai dengan airnya yang bercanda dengan batu-batu sungai, suara air hujan rincik-rincik menimpa permukaan bumi, suara guntur di angkasa di musim hujan, suara air laut bergemuruh menghantam karang.

Sejenak membuat perasaan pikiran menjadi hampa, sunyi, penuh damai, bebas daripada permainan suka duka.

Namun, suara tiupan suling yang melagu itu menghanyutkannya ke lembah keharuan, mengingatkan dia akan segala kesunyian dan kegelisahannya, membuat Siauw Bwee tanpa disadarinya sendiri berlinang air mata.

Ketika merasa dua titik air hangat mengalir turun di atas pipinya, barulah dia tersadar.

Cepat dihapusnya air matanya, dan ia terheran-heran.

Siapakah yang meniup suling seperti itu?

Seolah-olah dia mendengar keluh kesah, rintihan dan ratap tangis bersembunyi di dalam lengking merdu itu.

Siauw Bwee turun dari pembaringan, membereskan pakaian tanpa mempedulikan rambutnya yang awut-awutan, kemudian dia keluar dari kamarnya, terus keluar dari rumah penginapan, menuju ke belakang dari mana terdengar suara suling itu.

Bulan sepotong masih mengambang tinggi di atas kepala, sinarnya menciptakan cahaya remang-remang, agak kebiruan, agak kekuningan, mendatangkan hawa yang sejuk dan menimbulkan suasana yang penuh rahasia dan keajaiban.

Pohon-pohon yang menjadi permainan cahaya redup dan kegelapan, seolah-olah kehilangan bentuk aselinya dan berubah menjadi bentuk yang penuh rahasia.

Siauw Bwee terus melangkah memasuki sebuah kebun yang kosong, dan tiba-tiba tampaklah olehnya seorang yang duduk membelakanginya, duduk di atas sebuah batu, meniup suling.

Dia adalah seorang laki-laki, akan tetapi sukar dikenal siapa karena selain membelakanginya, juga laki-laki itu duduk terlindung dalam bayangan sebatang pohon.

Kedua tangan memegang suling, kepalanya agak miring ketika meniup lubang suling, kedua pundaknya bidang.

Siauw Bwee berhenti melangkah.

Setelah keluar dari dalam kamar, kini suara suling terdengar makin merdu, seolah-olah melayang-layang di angkasa, bermain-main dengan bayangan, membubung tinggi melalui sinar bulan redup, seperti hendak mencapai bulan.

Teringatlah dia kini dan dia mengenal lagu yang dimainkan suling itu.

Ketika dia masih tinggal bersama orang tuanya di kota raja, Siauw Bwee pernah mempelajari seni suara dan dia mengenal lagu itu, sebuah lagu kuno yang berjudul "Merindukan Bulan".

Bahkan dia masih teringat akan kata-kata nyanyian lagu itu.

Bagaikan dalam mimpi, ketika tiupan suling itu mengulangi lagi nyanyian itu, dia bernyanyi, perlahan, akan tetapi karena dia memiliki tenaga khi-kang yang hebat, suara nyanyian menggetar dan bergelombang sampai jauh, merdu seperti bisikan bulan sendiri melalui cahaya yang kebiruan..Bulan....

tunggulah aku wahai bulan jangan kautinggalkan aku sendiri!

Bulan....

hanya engkaulah pengganti dia hanya engkaulah pencermin wajahnya Bulan....

ke mana engkau lari?

ke mana engkau sembunyi?

Bulan....

kasihanilah aku wahai bulan jangan kau pergi....

jangan....!

Tak terasa lagi, kembali dua titik air mata membasahi pipi Siauw Bwee.

Dia berhenti bernyanyi, dan suara suling itu pun melambat, menurun, akhirnya berhenti sama sekali.

Sejenak sunyi, tiada sedikit pun suara menyusul penghentian lengking suling, kemudian, tiba-tiba, suara binatang malam saling sahut lagi, seolah-olah mereka itu berseru memuji.

Seperti dalam mimpi, Siauw Bwee melihat penyuling itu bangkit, menghampirinya dan tiba-tiba orang itu menjatuhkan diri berlutut di depannya.

"Nona.... engkau benar-benar datang.... terima kasih kepada Thian....! Betapa hatiku menggetarkan suara merindumu, memanggilmu.... dan ternyata engkau dapat menangkap getaran ini.... ahhh, Nona, adakah.... adakah harapan di hatiku yang kering ini?"

Siauw Bwee terbelalak memandang ketika sadar kembali dan terbebas dari hikmat keajaiban malam dan mengenal orang itu yang bukan lain adalah Suma Hoat.

Hampir dia menjerit kalau saja tidak cepat-cepat dia mendekap mulut sendiri dengan telapak tangan kiri, sedangkan tangan kanannya mendekap dada kiri seolah-olah menahan debaran jantungnya.

"Ihhh.... engkau.... engkau.... apa maksudmu? Apa artinya semua ini....?"

Suma Hoat yang sudah tergila-gila itu menjatuhkan diri menelungkup dan mencium ujung sepatu Siauw Bwee.

Gadis itu menjadi makin sadar dan cepat melompat ke belakang.

"Suma Hoat! Apakah engkau sudah gila?"

Bentaknya.

"Nona Khu Siauw Bwee, memang aku sudah gila. Tidak dapatkah engkau menangkap kegilaanku dari suara sulingku, dari sinar mataku kalau memandangmu, dan debar jantungku kalau mendengar suaramu, dari...."

"Kau.... kau gila....!"

Siauw Bwee membentak, wajahnya menjadi merah sekali.

"Benar, aku gila, aku tergila-gila kepadamu, Nona. Aku cinta padamu.... biarlah kaubunuh aku kalau kau merasa terhina, aku rela mati di tanganmu, aku cinta padamu, Khu Siauw Bwee,"

Suma Hoat berkata sambil berlutut, sekali ini, tidaklah seperti kalau dia merayu wanita.

Belum pernah dia merendahkan diri seperti itu, biasanya dia malah angkuh sekali berhadapan dengan wanita.

Dan baru dua kali ini selama hidupnya dia mengaku cinta dengan setulus hatinya.

Melihat sikap ini, lenyaplah kemarahan dari hati Siauw Bwee.

Dia terharu karena sikap laki-laki ini jelas bukanlah rayuan kosong belaka!

Timbul pertentangan di hatinya, antara kasihan yang menimbulkan keharuan dan kebencian karena mengingat bahwa pria ini adalah putera musuh besarnya.

"Suma Hoat, cukuplah sikapmu yang gila ini. Aku tidak mau menerima cintamu, tidak bisa menerima cinta siapapun juga."

Suma Hoat memejamkan matanya.

Aihh, tidak....

tidak....!

Apakah dia harus kembali mengalami kegagalan cinta!

Cinta yang tulus ihklas, cinta yang bukan terdorong berahi semata, melainkan cinta karena daya tarik dari seluruh pribadi wanita itu?

"Kau....

kau....

sudah mencinta orang lainkah....?"

Tanyanya lemah.

"Bukan urusanmu itu, Suma Hoat, dengarlah, kalau aku tidak melihat sikapmu yang baik, tentu sudah sejak kemarin aku mencarimu dan membunuhmu!"

Suma Hoat terkejut bukan main. Dia melompat bangun, memandang gadis itu dengan mata terbelalak lebar.

"Nona, demikian besarkah dosaku? Demikian besarkah dosa seorang pria yang jatuh cinta kepada seorang wanita seperti Nona? Sehingga timbul kebencianmu dan keinginanmu untuk membunuhku?"

"Bukan karena itu, melainkan karena kenyataan bahwa engkau adalah putera musuh besarku, putera si keparat Suma Kiat."

"Ya Tuhan....! Mengapa, Nona? Mengapa engkau memusuhi ayahku?"

"Buka telingamu baik-baik. Suma Hoat! Aku adalah puteri tunggal dari mendiang Khu Tek San! Dan engkau tahu bahwa ayahku dan Menteri Kam Liong, guru ayahku, tewas gara-gara kekejian ayahmu!"

Suma Hoat makin kaget.

Dia tidak melihat peristiwa itu, akan tetapi akhir-akhir ini dia sudah mendengar akan hal itu.

Dengan muka pucat dia memandang gadis itu, kemudian berkata lemah.

"Sungguh buruk nasibku.... Tuhan mengutukku karena perbuatan ayah.... dan.... dari perbuatanku sendiri. Nona, kalau begitu, kaubunuhlah aku, aku takkan melawanmu...."

"Hemmm, kalau aku hendak membunuhmu, apa kaukira engkau mampu melawanku?"

"Khu Siauw Bwee, aku tahu bahwa engkau lihai, akan tetapi harap jangan memandang rendah orang laln. Dan jangan engkau mencari ayahku, karena selain ayahku berilmu tinggi dan mempunyai benyak pasukan, juga aku bersedia menebus kesalahan ayah kepadamu. Aku cinta padamu, Nona. Sungguh, aku bersumpah, aku cinta padamu. Lebih baik engkau membalas dendammu kepadaku dan aku rela mati di tangan wanita yang kucinta dengan seluruh tubuh dan nyawaku."

"Engkau gila! Siapa percaya omonganmu? Engkau perayu. Mana mungkin orang baru berjumpa dua kali sudah menyatakan cinta seperti engkau? Selain itu, aku tidak akan membunuhmu, aku bukan orang yang membabi buta dalam pembalasan dendamnya. Hanya ayahmu yang bersalah dan ke mana pun dia bersembunyi, aku akan dapat mencari dan membunuhnya. Kalau tidak, percuma saja aku bertahun-tahun belajar ilmu di Pulau Es!"

Saking marahnya, Siauw Bwee lupa diri dan menyebut Pulau Es. Suma Hoat makin kaget.

"Apa....? Engkau.... engkau.... penghuni Istana Pulau Es....?"

"Benar! Dan kalau engkau hendak membela ayahmu, majulah agar aku mempunyai alasan untuk menghajarmu!"

Lemas rasa seluruh tubuh Suma Hoat.

Bukan lemas karena takut, melainkan lemas karena maklum bahwa harapan cintanya musnah sama sekali.

Gadis jelita ini adalah penghuni Istana Pulau Es, selain memiliki ilmu kesaktian yang luar biasa, juga agaknya mencintai orang lain, bahkan menjadi musuh ayahnya.

Tak mungkin dara ini sudi membalas cintanya.

"Aku.... aku tidak akan melawanmu, Nona. Betapapun juga, aku tetap mencintamu.... dan agaknya sudah menjadi nasibku untuk selalu kecewa dalam cinta kasih murni, dan hanya dapat mengecap kenikmatan cinta palsu yang hampa. Maafkan aku, Nona. Hanya sebuah hal yang kumohon kepadamu untuk mengaku. Benarkah dugaanku bahwa Nona telah mencinta orang lain?"

Menyaksikan sikap yang begitu menderita dan suara yang menggetar seperti hendak menangis, Siauw Bwee, yang berperasaan halus itu kembali merasa kasihan "Benar dugaanmu, karena itu aku tidak mungkin dapat mendengar pernyataan cinta kasih dari pria lain yang manapun juga!"

Suma Hoat menunduk, jari-jari tangannya meremas.

"Krekkk!"

Sulingnya hancur berkeping-keping.

"Selamat tinggal, Nona. Betapapun juga, cintaku takkan pernah padam dan harapanku takkan pernah musnah. Aku akan menanti, siapa tahu...., Thian akan menaruh iba kepadaku.... dan kelak.... kelak kita masih akan dipertemukan kembali dengan harapan baik bagiku.... selamat tinggal."

Tubuh Suma Hoat melesat cepat meninggalkan tempat itu, dan Siauw Bwee berdiri termangu-mangu, menghela napas panjang.

Teringat ia kepada Yu Goan, pemuda tampan gagah perkasa yang juga jatuh cinta kepadanya dan terpaksa ditolaknya pula.

Akan tetapi, hatinya tidak seberat ketika menghadapi pernyataan cinta kasih Suma Hoat.

Diam-diam dia harus mengaku di dalam hatinya bahwa andaikata Suma Hoat bukan putera Suma Kiat, agaknya tidak sukar baginya untuk memperhatikan pernyataan cinta kasih pemuda itu!

Andaikata....!

"Khu-lihiap, apa yang kaulakukan malam-malam di sini?

Hawanya begini dingin...."

Siauw Bwee sadar dari lamunannya dan membalikkan tubuh.

"Ah, aku tak dapat tidur, Supek."

"Sebaiknya tidur sekarang, besok kita berangkat pagi-pagi. Aku akan membicarakan rencana kita dengan Sute karena dia agaknya lebih mengenal keadaan kota Siang-tan agar lebih mudah kita memasuki kota yang menjadi benteng pertahanan pasukan Sung itu."

"Dia sudah pergi, Supek."

"Apa? Siapa maksudmu?"

"Suma-twako, dia sudah pergi."

Setelah berkata demikian, Siauw Bwee kembali ke penginapan dan memasuki kamarnya.

Coa Leng Bu masih tidak percaya dan membuka pintu kamar sutenya.

Ternyata kamar itu telah kosong.

Dia hanya melongo dan tidak mengerti.

Diam-diam ia menghela napas dan menduga bahwa tentu terjadi sesuatu antara Siauw Bwee dan sutenya itu, akan tetapi dia tidak tahu apa yang terjadi dan tidak berani bertanya.

Ia pun lalu memasuki kamarnya dan tidur.

Pasukan Mancu yang menduduki kota Sian-yang dipimpin sendiri oleh Pangeran Bharigan, dan tentu saja karena jasa Pasukan Maut yang dipimpin oleh Panglima Wanita Maya maka benteng itu dapat direbut dengan mudah.

Setelah berhasil menduduki kota dan mengamankan keadaan, Pangeran Bharigan mengadakan pesta untuk merayakan kemenangan Pasukan Mancu.

Jasa Maya dan pembantu-pembantunya, terutama kedua orang murid Mutiara Hitam, dipuji-puji oleh Pangeran Bharigan yang biarpun cintanya ditolak Maya, masih selalu mengharapkan perubahan hati dara itu.

Biarpun keadaan mengharuskan dia bergembira, namun Maya merasa masih belum puas, apalagi kalau dia mengingat akan suhengnya yang tempo hari membantu pasukan Yucen.

Dia tidak akan merasa puas kalau belum menumpas Kerajaan Sung untuk membalas dendam kematian Menteri Kam Liong, kemudian menumpas bangsa Mongol dan Yucen untuk membalas kematian ayah bundanya, Raja dan Ratu Khitan.

Maka untuk menghentikan puji-pujian itu, dia menjawab.

"Kemenangan kita adalah jasa para perajurit dan kemenangan ini belum ada artinya karena benteng yang berada di depan jauh lebih kuat. Saya mendengar bahwa benteng musuh di kota Siang-tan amat kuatnya."

"Menurut para penyelidik memang benar demikian, Li-ciangkun,"

Kata Pangeran Bharigan.

"Oleh karena itu, kita pun jangan tergesa-gesa melakukan penyerangan. Sambil memberi waktu kepada para anak buah pasukan untuk mengaso, sebaiknya kalau kita mengirim mata-mata untuk menyelidiki keadaan mereka. Kita harus mengetahui kelemahan-kelemahan mereka di samping kekuatan mereka agar pukulan kita tidak akan gagal."

"Sebaiknya demikian, Pangeran. Akan tetapi, untuk menyelidiki kota besar yang merupakan benteng kuat itu, tidaklah mudah. Oleh karena itu, saya mohon perkenan Pangeran untuk pergi menyelidiki sendiri, dengan beberapa orang pembantu yang berkepandalan cukup tinggi."

Pangeran Bharigan mengangguk-angguk.

Memang sebaiknya begitu dan kalau panglima wanita yang sakti itu pergi menyelidiki sendiri, tentu hasilnya akan jauh lebih baik daripada mengirim penyelidik biasa.

Biarpun hatinya khawatir kalau-kalau wanita perkasa yang menarik hatinya dan diharapkan dapat menjadi calon isterinya itu mengalami malapetaka, namun dia tahu bahwa merupakan pantangan bagi Maya untuk bersikap penakut.

"Saya tidak dapat menolak permintaanmu, Li-ciangkun. Kalau memang kauanggap penting bahwa engkau sendiri yang pergi, terserah. Silakan memilih pembantu-pembantumu, dan apakah perlu dengan pasukan?"

Maya menggeleng kepala.

"Saya hanya memerlukan bantuan Ok Yan Hwa, Can Ji Kun, Kwa-huciang dan Theng-ciangkun. Kami berlima akan menyamar sebagai pengungsi dan memasuki kota Siang-tan. Besok pagi-pagi kita berangkat. Kalau Pangeran setuju, kuharap kalian berempat suka bersiap-siap malam ini."

Pangeran Bharigan menyetujui dan bersiaplah lima orang itu.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali di waktu cuaca makin gelap, mereka menyelundup keluar dan berpakaian sebagai penduduk biasa, membawa buntalan pakaian, kemudian menyelinap di antara rombongan pengungsi yang berbondong-bondong menuju ke Siang-tan.

Tidak begitu banyak yang memasuki kota Siang-tan, karena sebagian pengungsi ada yang berhenti di dusun-dusun dan kota-kota sebelum mencapai Siang-tan.

Perjalanan jauh membuat pakaian dan rambut mereka kusut sehingga kecantikan Ok Yan Hwa, terutama sekali Maya, tidaklah begitu menonjol, apalagi mereka sengaja membiarkan sinar matahari membakar kulit muka dan tangan mereka yang biasanya halus dan putih kuning itu.

Kulit mereka menjadi kecoklatan seperti kulit para wanita petani.

Pula, di antara para pengungsi terdapat pula wanita-wanita bangsawan dan hartawan yang dalam perjalanan mengungsi itu tak pernah lupa untuk bersolek, sehingga dipandang sepintas lalu, Yan Hwa dan Maya yang membiarkan kulit mereka dihanguskan matahari, membiarkan pakaian dan rambut mereka kusut, tidak kelihatan cantik luar biasa.

Ketika memasuki pintu gerbang sebelah utara bersama rombongan pengungsi, Maya dan empat orang pembantunya melihat betapa penjagaan di sepanjang tembok kota amat kuat dan rapi.

Para penjaga berbaris dengan lapisan yang ketat, sedangkan setiap orang pengungsi diawasi dengan cermat, bahkan kereta-kereta yang masuk diperiksa dan pengungsi yang membawa senjata dirampas.

Diam-diam Maya harus mengakui bahwa penjagaan bagian pintu gerbang di kota Siang-tan ini jauh lebih kuat daripada penjagaan di kota Sian-yang dan di atas tembok kota penuh pula dengan pasukan penjaga yang selalu siap dengan busur dan anak panah mereka.

Juga di sekeliling tembok dipasangi jebakan-jebakan dengan barisan-barisan pendam yang tidak tampak dari jauh.

Semua ini dicatat dalam hati oleh Maya.

Setelah memasuki kota, Maya dan teman-temannya menyaksikan barisan Sung telah memasang persiapan membentuk pasukan-pasukan peronda, sedangkan induk pasukan yang berada di markas, yang tampak dari luar, kelihatan segar-segar dan penuh semangat.

Banyak sekali rombongan pengungsi yang membanjiri kota ini semenjak beberapa hari yang lalu sehingga semua rumah penginapan penuh oleh para pengungsi yang beruang.

Karena kehabisan kamar, terpaksa Maya dan teman-temannya bermalam di dalam sebuah gedung besar rumah perkumpulan yang oleh para dermawan kota itu disediakan untuk menampung para pengungsi yang tidak dapat menyewa kamar, yang tidak berkeluarga di kota itu dan yang tidak kebagian kamar penginapan lagi.

Saking banyaknya orang yang memasuki gedung ini, sebagiaan besar mereka terpaksa berjubel di dalam ruangan terbuka yang luas.

Di tempat ini mereka, laki-laki wanita, tua muda, kanak-kanak, beristirahat, ada yang duduk mengobrol, ada yang tidur di lantai.

Di sana-sini terdengar suara anak-anak kecil menangis diiringi suara makian atau hiburan orang tuanya, ada pula suara keluh-kesah wanita yang teringat akan rumah dan segala miliknya yang terpaksa ditinggalkan.

Di dalam ruangan ini Maya dan empat orang temannya duduk di sudut, memperhatikan percakapan-percakapan antara para pengungsi karena percakapan-percakapan itu pun merupakan sumber keterangan yang amat penting bagi mereka.

Menyaksikan sikap para pengungsi, melihat wajah mereka tidaklah sekeruh tadi ketika melakukan perjalanan, bahkan kini setelah bercakap-cakap mereka tersenyum-senyum dan sama sekali tidak tampak berduka, diam-diam Maya teringat akan penuturan suhengnya yang seringkali ketika mereka berada di Pulau Es membicarakan filsafat yang banyak diketahui suhengnya itu.

Diam-diam dia dapat melihat kenyataan akan watak manusia pada umumnya seperti yang pernah ia dengar dari suhengnya.

Di dalam segala macam hal, dalam susah maupun senang, manusia selalu bergerak dan bersikap di atas dorongan sifat sayang diri.

Betapapun dukanya hati seseorang karena mengalami derita tertimpa kemalangan, hatinya yang duka itu akan terhibur apabila melihat manusia lain menderita pula, apalagi kalau penderitaan manusia lain itu lebih besar daripada penderitaannya sendiri.

Dia dapat membayangkan betapa akan hancur dan sengsara hati setiap orang diri para pengungsi ini andaikata dia seorang yang mengalami nasib buruk seperti itu!

Akan tetapi, bertemu dan berkumpul dengan banyak orang lain yang senasib, maka mereka itu merasa terhibur!

Sebaliknya, setiap kesenangan dan keuntungan yang datang selalu ingin dikuasai oleh seorang saja sehingga dijadikan perebutan!

Sifat sayang diri dan iba diri inilah yang mengusir cinta kasih antara manusia jauh-jauh dari hati manusia sehingga di mana-mana, bahkan di dalam hati masing-masing manusia, timbul pertentangan-pertentangan.

Padahal, dengan cinta kasih yang mendalam, setiap kedukaan akan terasa ringan apabila dipikul bersama, sebaliknya di setiap kesukaan akan terasa lebih nikmat apabila dinikmati bersama.

Hal ini akan dapat dirasakan oleh setiap orang dalam sebuah keluarga yang penuh cinta kasih, di mana setiap kedukaan menjadi ringan dan setiap kesukaan menjadi besar karena selalu dirasakan oleh seluruh keluarga yang mengandung cinta kasih di dalam hati masing-masing.

Percakapan antara tiga orang laki-laki tua di sebelah kirinya amat menarik hati Maya dan empat orang kawannya.

Mereka itu bercerita tentang keributan di dalam gedung kepala daerah kota Sian-yang, di mana Koksu Negara menjadi tamu.

Keributan yang ditimbulkan oleh seorang dara perkasa yang bertanding melawan pengawal-pengawal Koksu, bahkan yang berhasil membunuh pengawal Koksu yang paling terkenal, yaitu Panglima Dampit.

Maya saling pandang dengan teman-temannya, dan berbisiklah Ok Yan Hwa.

"Tentu dia itu orangnya...."

Maya dan yang lain-lain mengangguk.

Mereka sudah mendengar penuturan Ok Yan Hwa betapa ada seorang gadis lihai bukan main yang hendak kabur keluar dari kota Sian-yang di malam hari dan dalam pengepungan terhadap dara lihai itu, Yan Hwa sendiri tidak berhasil mengalahkannya.

Tadinya Maya juga terheran, akan tetapi ketika mendengar bahwa Yan Hwa baru bertanding beberapa gebrakan saja melawan pelarian itu, dia masih belum yakin benar akan ada seorang gadis yang dapat menandingi Yan Hwa.

Akan tetapi ketika sekarang mendengar bahwa gadis itu dapat membunuh Panglima Dampit dalam pertandingan, Maya benar-benar terkejut bukan main.

Dia maklum akan kelihaian Panglima Dampit, yang amat terkenal dan sukar dikalahkan itu, dan kini dua orang dampit yang lihai itu tewas di tangan gadis itu.

Diam-diam terbayanglah wajah sumoinya, Khu Siauw Bwee di dalam mata Maya, Yan Hwa melihat dara itu di dalam gelap sehingga tidak dapat menceritakan dengan jelas bagaimana wajah gadis itu.

Akan tetapi, melihat keadaannya, seorang gadis cantik yang mampu mengalahkan Panglima Dampit, di dunia ini sukar sekali didapat bahkan Yan Hwa sendiri belum tentu akan mampu mengalahkan dua orang dampit itu, dan kalaupun ada agaknya hanya dia sendiri atau Siauw Bwee!

Dia lalu berbisik kepada Ji Kun.

Pemuda ini mengangguk lalu mendekati orang-orang yang sedang bicara tentang peristiwa di gedung yang ditinggali Bu-ciangkun itu, kemudian bertanya.

"Lopek, benarkah Panglima Dampit terbunuh oleh seorang gadis? Betapa anehnya dan sukar dipercaya. Siapa yang tidak mengenal kelihaian Panglima Dampit?"

Kakek itu memandang Ji Kun dan mengerutkan alisnya.

"Memang benar dia lihai sekali akan tetapi menurut penuturan keponakanku yang menjadi pengawal dan pada waktu itu menyaksikan sendiri pertandingan itu, Panglima Dampit benar-benar tewas dalam keadaan mengerikan di tangan gadis yang mempunyai kepandaian seperti dewi itu."

"Aih, sungguh hebat dan menarik sekali. Lopek, untuk melupakan kesengsaraan kita, sukakah kau menceritakan kejadian itu? Si Dampit adalah panglima betapa mungkin sampai terbunuh, dan bagaimana dengan Koksu dan panglima-panglima lainnya?"

Dengan wajah gembira karena mendapat kesempatan menceritakan peristiwa penting yang tidak sembarangan orang dapat mengetahuinya, kakek itu menghisap huncwe (pipa tembakau) sampai paru-parunya penuh asap.

Kemudian dengan uluran napas panjang ia mengeluarkan asap tambahan yang hilang sarinya itu melalui hidungnya, menikmati pandang mata semua orang di sekelilingnya yang bergantung kepada bibirnya.

Barulah dia menjawab.

"Engkau tidak tahu, orang muda. Pertandingan itu memang disengaja oleh Koksu yang hendak menguji kepandaian gadis perkasa itu. Gadis itu bersama seorang laki-laki tua memasuki ruangan dan entah mengapa, para pengawal tidak ada yang mengerti, dia mengamuk. Menyaksikan kelihaian gadis itu, Koksu menyuruh panglimanya maju bergantian, akan tetapi apa yang terjadi? Benar keponakanku yang mengatakan bahwa gadis itu agaknya bukan manusia biasa melainkan seorang dewi, baik karena kecantikannya yang luar biasa, tubuhnya yang berbentuk menggairahkan, maupun kepandaiannya yang sukar dipercaya. Kalian tahu? Seorang demi seorang para panglima pengawal itu roboh olehnya!"

"Aihhhh....!"

"Ayaaaaaa.... lihai sekali!"

"Tsk-tsk-tskk....!"

"Melihat semua panglimanya roboh, Bu-koksu lalu menyuruh adik angkatnya sendiri, pengawal pribadinya yang penuh rahasia, yang hanya dikenal sebagai Kam-busu untuk maju menghadapi gadis itu!"

"Aihhhh....!"

Sekali ini teriakan kaget keluar dari mulut Maya.

Disebutnya nama Kam-busu yang katanya paling lihai di antara para panglima, membuat hatinya berdebar tegang.

Seorang she Kam menjadi adik angkat Koksu dan paling lihai di antara para panglima pengawal?

Siapa lagi kalau bukan Kam Han Ki?

Ah, akan tetapi sungguh tidak mungkin hal itu terjadi.

Suhengnya menjadi pengawal pribadi Koksu?

Tak masuk akal!

Suhengnya adalah seorang buruan, seorang pelarian yang dimusuhi Kerajaan Sung, mana bisa sekarang menjadi pengawal pribadi Koksu?

Pula kalau betul dugaannya bahwa dara yang lihai sekali itu adalah sumoinya, Khu Siauw Bwee, mana mungkin bertanding melawan Kam Han Ki?

Tentu seorang di antara keduanya itu yang bukan sumoinya atau suhengnya.

Kalau gadis itu betul Siauw Bwee, tentu pengawal itu bukan Han Ki.

Sebaliknya, kalau pengawal itu Han Ki, pasti gadis itu bukan Siauw Bwee.

Betapapun juga, dia hampir yakin bahwa tentu gadis itu sumoinya, sedangkan pengawal itu bukan suhengnya, biarpun mempunyai she Kam.

Kakek itu melanjutkan ceritanya setelah melotot kepada Maya sebagai teguran karena teriakannya tadi.

"Terjadilah pertandingan yang amat luar biasa, mengejutkan semua orang dan agaknya sukar ditentukan siapa di antara mereka itu yang akan menang kalau pertandingan itu dilanjutkan. Sayang, pada saat itu, kota mulai dikacau musuh sehingga Koksu terpaksa meninggalkan ruangan itu dikawal oleh Kam-busu, dan Koksu memerintahkan Panglima Dampit bersama para panglima lain dan para pengawal untuk menangkap atau membunuh gadis ini bersama temannya. Dalam pertempuran inilah, gadis jelita yang lihai itu membunuh Panglima Dampit dan banyak pengawal lain. Untung keponakanku hanya mengalami kepala benjol saja dan tidak mati. Gadis itu yang sepak terjangnya seperti seekor naga betina, berhasil lolos dari kepungan para pengawal, bahkan menolong pula temannya."

Semua orang tercengang dan cara Si Kakek bercerita yang disertai gerakan kedua tangannya mendatangkan kesan mendalam terhadap para pendengarnya, terutama sekali kepada Maya dan temantemannya, tentu saja.

Maya merasa yakin kini bahwa gadis itu tentulah Siauw Bwee.

Gadis mana lagi di dunia ini yang memiliki ilmu kepandaian selihai itu?

Dia maklum bahwa kepandaian sumoinya amat tinggi, tidak banyak selisihnya dengan dia sendiri, bahkan dia tidak berani memastikan bahwa dia akan dapat memenangkan sumoinya itu!

Selagi dia hendak bertanya kepada kakek itu lebih jelas tentang diri Kam-busu, tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di sebelah luar gedung itu.

Suara teriakan-teriakan orang berkelahi!

Mendengar ini, otomatis para pengungsi menjadi pucat wajahnya dan mereka bergegas menyiapkan barang-barang bawaan, ada yang segera menggendong anaknya.

Tak seorang pun berani membuka suara sehingga keadaan yang sunyi itu membuat suara gaduh di luar makin terdengar jelas.

Tak salah lagi, ada dua orang tengah berkelahi sambil saling memaki.

"Hendak lari ke mana kau, keparat?"

Terdengar bentakan disusul gedebak-gedebuknya kaki berlari memasuki gedung.

Kembali terdengar suara perkelahian, di dalam gedung, dekat dengan ruangan itu.

Mendengar suara perkelahian ini makin dekat dengan ruangan itu, seorang kakek yang pucat ketakutan cepat menutupkan daun pintu yang menembus ruangan itu kemudian bergegas ia duduk kembali.

Semua mata terbelalak memandang kepada pintu yang tertutup itu dan dari balik pintu terdengar suara perkelahian, kini berdesingnya senjata.

Jantung mereka menjadi makin tegang dan berdebar.

"Brakkkkk!"

Daun pintu pecah, berantakan dan tubuh seorang laki-laki tinggi besar yang tadi terlempar menubruk daun pintu, jatuh terjengkang di atas daun pintu di sebelah dalam ruangan.

Anak-anak menjerit, juga para wanita, dan semua orang terbelalak memandang, akan tetapi menjadi agak lega ketika melihat bahwa yang berkelahi bukanlah tentara, berarti bahwa di luar tidak terjadi perang.

Yang berkelahi hanyalah dua orang laki-laki setengah tua.

Akan tetapi kini orang yang jatuh cepat mencelat ke samping ketika lawannya, seorang kakek berjenggot pendek, menubruknya.

Kakek berjenggot pendek itu ternyata lihai sekali.

Biarpun dia bertangan kosong, ternyata lawannya yang memegang sebatang golok telah terlempar sampai tubuhnya membobol daun pintu.

Kini kakinya melayang menyusul tubrukannya yang tak berhasil tadi.

Lawannya berseru marah, tangannya tertendang sehingga goloknya terlepas.

Dengan gerengan seperti seekor biruang terluka, orang yang memakai topi bulu domba ini membalas dengan pukulan-pukulan dahsyat dan bertandinglah kedua orang itu di tempat yang amat sesak dengan para pengungsi itu!

Maya dan teman-temannya tetap duduk dengan sikap tenang.

Mereka mendapat kenyataan bahwa kedua orang yang berkelahi itu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.

Gerakan mereka tangkas sekali dan biarpun tempat itu penuh sesak dengan pengungsi, mereka dapat bertanding dengan berloncatan ke sana-sini, melewati kepala orang, bahkan kadang-kadang menggunakan kaki mereka meloncat dari pundak dan kepala para pengungsi lalu melesat ke kanan kiri!

Tentu saja para pengungsi menjadi geger dan melihat bahwa yang berkelahi hanya dua orang biasa, mereka yang kena injak dan yang memiliki kepandaian, melawan dan memukul.

Namun, dua orang itu lihai sekali sehingga setiap serangan dari para pengungsi yang marah karena dikacau dua orang itu, dalam dua tiga gebrakan saja sudah terpukul roboh dan mereka berdua melanjutkan perkelahian mereka!

Melihat ini, Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa sudah marah sekali, hendak meraba pedang yang mereka sembunyikan di balik baju.

Akan tetapi Maya menyentuh lengan mereka, berkedip dan menggoyang kepala sehingga mereka terpaksa menelan kemarahan mereka terhadap dua orang yang benar-benar tidak mengenal tempat dan keadaan, berkelahi di antara bagitu banyak orang sehingga menimbulkan kepanikan.

Tiba-tiba orang yang bertopi bulu domba itu mengelak sambil meloncat ke tempat rombongan Maya.

Seperti tidak disengaja, dia turun dan hendak menginjak pundak Can Ji Kun untuk dipergunakan sebagai landasan!

Tentu saja Ji Kun tidak sudi pundaknya diinjak.

Dia miringkan tubuh, tangannya menyambar ke atas menotok lutut orang dan sambil berteriak kaget orang itu roboh terguling!

Lawannya yang berjenggot pendek menerjang maju, melampaui kepala Yan Hwa, dan gadis itu pun menampar ke atas, mengenai tulang betis Si Jenggot Pendek yang terjungkal pula menimpa tubuh lawannya.

Mereka berdua sudah cepat meloncat bangun, menahan rasa nyeri pada lutut dan tulang betis, kemudian keduanya tiba-tiba bersuit keras sambil meloncat ke pintu.

"Tangkap mereka!"

Kedua orang itu berseru dan dari luar masuklah puluhan orang tentara yang bersenjata lengkap, sedangkan di luar pintu masih tampak banyak sekali anggauta tentara.

Jumlah mereka ada seratus orang lebih!

"Berpencar!

Lari....!"

Maya berbisik.

Maklumlah dia bahwa perkelahian antara dua orang tadi hanyalah sandiwara belaka.

Agaknya mereka adalah panglima-panglima yang menyamar dan melakukan penyelidikan.

Karena kota Sian-yang di utara telah kebobolan karena adanya penyelundupan mata-mata musuh yang lihai, maka kini Koksu Bu Kok Tai tidak mau membiarkan hal itu terulang di kota Siang-tan.

Dia maklum bahwa mata-mata musuh hanya dapat menyelinap masuk di antara pengungsi, maka dia mengatur rencana itu untuk mengetahui siapa di antara pengungsi-pengungsi yang berkepandaian tinggi dan mereka itu harus ditangkap untuk diperiksa.

Kalau ternyata mata-mata, tentu akan dihukum mati, sebaliknya kalau bukan mata-mata, akan dapat dipergunakan untuk membantu mempertahankan kota.

Siasat ini dilakukan pada saat yang sama dan bukan hanya di tempat Maya dan teman-temannya berkumpul saja terjadi perkelahian sandiwara itu, akan tetapi juga di tempat-tempat lain di mana para pengungsi berkumpul.

Dan pada saat pasukan-pasukan menyerbu ke ruangan itu, di lain tempat juga terjadi hal yang sama, yaitu penangkapan-penangkapan atas diri orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, yang terkena pancingan perkelahian palsu tadi!

Maya dan empat orang temannya cepat meloncat dan menyerbu keluar.

Dua orang yang tadi bersandiwara, cepat memerintahkan pasukan mengurung lima orang ini dan terjadilah pertandingan yang jauh berbeda dengan perkelahian antara dua orang tadi.

Pertandingan sekali ini adalah pertempuran sesungguhnya, bahkan mati-matian karena kalau Maya berlima tidak akan menyerah sampai mati, adalah para pimpinan pasukan itu ketika menyaksikan kelihaian lima orang itu menjadi makin curiga bahkan hampir yakin bahwa lima orang itu tentulah mata-mata musuh.

Pengepungan dilakukan ketat sekali, namun Maya, Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa melayang naik, membobol langit-langit dengan kepandaian mereka dan dari atas mereka melempar-lemparkan genteng ke bawah untuk membantu Kwa-huciang dan Theng-ciangkun yang menerjang keluar melalui pintu.

Kepandaian kedua orang panglima pembantu Maya ini hebat sekali, terutama Kwa-huciang yang hanya tinggal sebelah lengannya.

Panglima yang setia ini semenjak lengannya buntung, menerima gemblengan ilmu dari Maya sehingga dia malah lebih lihai daripada sebelum lengannya buntung sebelah.

Kacau-balaulah pihak tentara Sung.

Dari atas ada hujan genteng yang dilepas dengan sambitan keras sekali, siapa yang terkena pasti roboh dengan kepala pecah atau tubuh terluka parah, sedangkan dua orang laki-laki itu mengamuk seperti dua ekor singa.

Akhirnya kedua orang itu berhasil membobol keluar dari gedung itu dan ternyata malam hari itu, di seluruh kota terjadi geger karena penyergapan di tempat-tempat pengungsi yang dilakukan serentak.

Kepanikan penduduk dan kegelapan malam membuka kesempatan baik bagi Kwa-huciang dan Theng-ciangkun sehingga dengan berpencar mereka akhirnya dapat melarikan diri dari para pegejarnya.

Maya, Yan Hwa dan Ji Kun yang berada di atas genteng, segera diserbu oleh anak panah yang dilepas oleh para anggauta pasukan panah dari bawah.

"Kita berpencar,"

Maya cepat berkata setelah meruntuhkan semua anak panah yang menyambar ke arahnya seperti yang dilakukan oleh dua orang pembantunya pula.

"Jangan lupa, pada hari yang ditentukan berkumpul di kuil tua itu!"

Setelah berkata demikian, sekali tubuhnya melesat, Maya telah lenyap dari situ ditelan kegelapan malam.

Ji Kun dan Yan Hwa juga cepat menggunakan gin-kang mereka, berloncatan di atas rumah-rumah penduduk kota dan menghilang.

Maka gegerlah keadaan kota, pasukan-pasukan dikerahkan untuk mencari lima orang mata-mata musuh itu.

Dengan gerakannya yang luar biasa cepatnya, Maya lari seorang diri ke arah timur.

Selama dia menjadi panglima, dara perkasa itu tiada henti-hentinya melatih diri dengan ilmu silatnya, bahkan kecerdasannya membuat dia mampu mengembangkan dan memperbaiki jurus-jurus simpanannya sehingga dari jurus-jurus ilmu silatnya dia dapat menciptakan banyak sekali jurus silat yang aneh dan juga amat lihai.

Dari banyak pertandingan yang dialaminya ketika berperang melawan musuh, dia dapat menemukan banyak gerakan-gerakan aneh dari macam-macam lawan dan semua ini ditampungnya, diolah dan karena dia berbakat mencipta, maka tanpa disadari, Maya telah memperoleh kemajuan pesat dalam ilmu silatnya.

Apalagi ketika ia menerima buah sian-tho dari Pangeran Bharigan, semacam buah yang langka, yang didapat jauh dari utara dekat kutub dan merupakan barang pusaka dari Kerajaan Mancu, maka dara ini memperoleh tenaga sin-kang yang dahsyat.

Buah sian-tho ini bagi orang biasa, mengandung khasiat daya pengobatan yang lebih mujarab daripada jin-som, akan tetapi bagi seorang ahli sin-kang seperti Maya, dapat membangkitkan hawa sakti yang membuat sin-kangnya yang dilatih secara istimewa di Pulau Es itu menjadi lebih kuat lagi.

Maya tidak berani berhenti dan berputaran mencari tempat yang baik untuk memulai dengan penyelidikannya.

Dia harus dapat menemukan markas di mana tinggal Koksu dan para panglima agar dia dapat mengintai dan mendengarkan rencana siasat mereka.

Hanya inilah jalan yang paling baik, karena untuk menyelidiki sendiri keadaan pertahanan musuh, selain berbahaya juga akan memakan waktu lama sekali.

Kota itu amat besar, dan dia tidak tahu di antara gedung-gedung yang banyak sekali itu, yang mana menjadi tempat tinggal Koksu dan para panglimanya.

Dia harus bekerja dengan hati-hati sekali.

Koksu Bu Kok Tai bukanlah orang sembarangan, dan dia maklum akan kelihaian para panglima pengawalnya, sungguhpun Panglima Dampit telah tewas.

Menjelang pagi, Maya menuju ke pinggir tembok kota sebelah timur ketika ia mendengar suara ribut-ribut di sana.

Disangkanya bahwa seorang di antara anak buahnya menghadapi bahaya, maka dia cepat menuju ke tempat itu dan siap untuk menolong kalau benar seperti yang dikhawatirkannya.

Dia mendekam di atas sebuah wuwungan dan melihat seorang laki-laki sedang dikeroyok oleh banyak tentara.

Laki-laki itu tidak tampak jelas mukanya di dalam cuaca yang gelap, akan tetapi gerakannya hebat sekali!

Bukan Kwa-huciang, juga bukan Theng-ciangkun, akan tetapi gerakannya malah lebih lihai daripada kedua orang pembantunya.

Bahkan mungkin tidak di sebelah bawah kelihaian Can Ji Kun sendiri!

Diam-diam Maya menjadi heran sekali.

Orang itu lihai, pikirnya, dan kenyataannya bahwa dia dikeroyok tentara-tentara Sung membuktikan bahwa orang itu tentulah seorang penyelundup dari luar pula.

Akan tetapi dari mana?

"Mundur kalian semua!

Orang-orang tolol tidak mengenal orang!

Aku adalah putera seorang panglima!"

Laki-laki itu mengamuk, merobohkan para pengeroyok sambil membentak-bentak.

"Ha-ha-ha, di kota berkeliaran mata-mata dan biar kau mengaku putera raja sekalipun, siapa mau percaya? Kami tidak pernah bertemu denganmu!"

Pimpinan pasukan yang mengeroyok tertawa dan pengeroyokan menjadi makin ketat.

Mendengar bahwa orang lihai itu mengaku sebagai putera Panglima, Maya mendapatkan sebuah akal yang cerdik dan berani.

Kalau dia bisa menolong dan mengikat persahabatan dengan orang itu, tentu amat berguna bagi penyelidikannya, pikirnya dan dia lalu melompat turun langsung menyerbu para tentara yang mengurung pria itu.

"Heiii.... kau.... ehhh.... !"

Pria itu bukan lain adalah Suma Hoat!

Ketika dia menyusul ayahnya di kota Siang-tan dan menyaksikan kekacauan malam itu dia sengaja keluar untuk melihat apa yang terjadi.

Dalam penyelidikannya inilah dia dicurigai dan dikepung oleh pasukan yang memang belum pernah melihat pemuda yang belum lama kembali ke tempat asalnya itu.

Maya tidak mempedulikan seruan pemuda itu.

Seorang panglima yang berpakaian preman, pada waktu itu banyak panglima berpakaian preman untuk menjadi penyelidik dan menangkapi mata-mata, menyerangnya dari belakang dengan sebatang pedang.

Dengan mudah saja Maya membalikkan tubuh, membiarkan pedang lawan dan sekali tangan kanannya bergerak, pedang itu telah dirampasnya dan sebuah tamparan tangan kirinya membuat Panglima Sung itu terpelanting dan roboh telentang di depannya.

"Heiiii.... kau.... Nona.... siapa dan mengapa....?"

Suma Hoat mengelak dari sebuah tusukan tombak dan menoleh kepada Maya, tergagap saking herannya ketika melihat seorang dara yang demikian cantik jelita tahu-tahu datang membantunya!

Melihat wajah Maya ia tepesona dan terbelalak.

Dia telah gila!

Mengapa sekarang dia pun terpesona, jantungnya berdebar tidak karuan menyaksikan wajah dara ini?

Sungguh mati dia harus mengakui bahwa getaran jantungnya ketika melihat wajah itu sama sekali berbeda dengan getaran nafsu kalau dia melihat wanita-wanita cantik!

Wajah ini....

luar biasa sekali, lebih cantik daripada mendiang Ciok Kim Hwa, lebih jelita daripapada wajah Khu Siauw Bwee!

Mungkinkah dia begitu mudah jatuh cinta sekarang?

Apakah setelah beberapa bulan ini dia menghentikan petualangannya sebagai Jai-hwa-sian, dia lalu mudah tergila-gila dan jatuh cinta dalam arti kata yang murni terhadap setiap gadis cantik yang dijumpainya?

Akan tetapi, kalau tadi dia terpesona oleh wajah itu, oleh kecantikannya, kini dia terpesona menyaksikan betapa pedang rampasan di tangan dara jelita itu berkelebatan merupakan gulungan sinar yang luar biasa sekali dan semua senjata para pengurungnya patah disambar sinar yang bergulung-gulung.

Hebat bukan main!

Mengapa dia selalu bertemu dengan dara-dara yang seperti bidadari namun memiliki kepandaian seperti iblis!

Biarpun Maya mengamuk, namun dia berhati-hati sekali, tidak mau membunuh seorang pun tentara yang kalau dalam perang tentu akan dibasminya sebanyak mungkin itu.

Dia tidak mau menghadapi kesulitan yang tentu timbul kalau sampai dia melakukan pembunuhan.

"Bunuh mata-mata.... !"

Terdengar teriakan keras dan seorang panglima lain yang mukanya seperti tengkorak, berpakaian preman, melayang turun dari atas genteng, terjun ke dalam medan pertempuran itu.

Setelah dekat, ternyata muka seperti tengkorak itu lebih mirip muka kuda.

Suma Hoat membalikkan tubuhnya dan orang bermuka kuda itu terbelalak.

berseru.

"Kongcu....!"

"Eh, Siangkoan Lee! Engkau di sini....?"

Suma Hoat juga berseru.

"Saya mengawal kereta Taijin, itu di sana...."

Siangkoan Lee pelayan dan juga murid Suma Kiat itu cepat membentak.

"Tahan senjata! Apakah kalian sudah buta? Kongcu ini adalah putera Suma-goanswe (Jenderal Suma)!"

Para komandan pasukan mengenal Siangkoan Lee, maka tentu saja mereka terkejut mendengar ini dan mengeluarkan aba-aba untuk menghentikan pengeroyokan.

Sementara itu, ketika Maya melihat munculnya Siangkoan Lee, dan mendengar bahwa pemuda tampan yang dibantu itu adalah putera Suma Kiat, menjadi kaget setengah mati.

Celaka, pikirnya.

Dia telah salah pilih!

Tanpa berkata sesuatu dia sudah meloncat ke atas genteng dan menghilang di dalam gelap.

"Heiiii, Nona....! Tunggu....!"

Melihat dara perkasa yang telah mengguncang jantungnya itu melompat pergi, Suma Hoat cepat meloncat pula mengejar.

"Apakah dia mata-mata?"

Tanya Siangkoan Lee.

"Mata-mata hidungmu!"

Suma Hoat memaki.

"Dia sahabatku! Katakan kepada Ayah nanti aku datang menghadap!"

Tanpa menoleh Suma Hoat melanjutkan pengejarannya terhadap bayangan hitam yang meloncat-loncat ke atas genteng rumah-rumah penduduk itu.

"Heii, Nona! Tunggu, aku mau bicara....!"

Maya mengerutkan kening.

Kalau dia menggunakan gin-kangnya, biar pemuda itu memiliki kepandaian tinggi, tak mungkin pemuda itu dapat menyusulnya.

Juga kalau dia menghadapi pemuda itu, biarpun dia tahu bahwa pemuda itu cukup lihai namun dia percaya akan dapat membunuhnya.

Akan tetapi, kalau hal itu terjadi, Si Pemuda tentu akan mengejar dan berteriak-teriak, dan kalau sampai dia kedapatan oleh para penjaga, padahal malam telah hampir pagi, dia bisa celaka.

Maya mengigit bibir menahan kesabaran hatinya, demi keselamatannya sendiri.

Mengingat bahwa pemuda ini adalah putera Suma Kiat yang amat dibencinya, ingin dia menggerakkan pedang membunuhnya!

Dia terpaksa berhenti dan membalikkan tubuh.

"Engkau mau bicara apakah?"

Kebetulan sekali mereka berhenti di atas genteng rumah yang terkena sorotan sinar dari bawah sehingga wajah dara itu tampak jelas di bawah sinar remang-remang.

Sekali lagi jantung di dalam dada Suma Hoat seperti jungkir-balik.

Wajah ini....

luar biasa cantiknya.

Kecantik jelitaan yang aneh, asing dan belum pernah selama hidupnya ia bertemu dengan seorang gadis berwajah seperti ini.

"Nona, maafkan aku.... setelah Nona tadi menolongku, bagaimana aku dapat membiarkan kau pergi begitu saja sebelum aku menghaturkan terima kasih?"

"Aku tidak mengharapkan terima kasih,"

Jawab Maya singkat.

"Akan tetapi, setelah Nona menolongku, tidak mungkin aku bersikap begitu tak kenal budi. Setidaknya, harap Nona sudi berkenalan. Namaku Suma Hoat, dan siapakah Nona yang cantik jelita seperti bidadari namun berkepandaian setinggi langit?"

Berkerut alis Maya.

Laki-laki ceriwis, pikirnya, sungguhpun dia harus mengakui bahwa putera Jenderal Suma Kiat ini ternyata amat tampan, suaranya halus gerak-geriknya menarik.

"Aku melihat seorang dikeroyok, lalu datang membantu. Hal itu biasa saja, aku melakukannya bukan untuk memancing terima kasih, bukan pula mengharapkan perkenalan. Sudahlah....!"

Melihat gadis itu sekali mencelat melayang ke wuwungan di depan, Suma Hoat terkejut dan takut kalau-kalau (Lanjut ke

Jilid 32) Istana Pulau Es (Seri ke 05

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 32 takkan dapat bertemu lagi, maka dia pun cepat mengejar sambil berseru.

"Nona, tunggu....!"

Maya berhenti dan membalikkan tubuh, membentak.

"Engkau mau apa lagi?"

Suma Hoat kini sudah tergila-gila benar menyaksikan sikap yang demikian keras, sifat yang liar dan penuh kewibawaan, namun juga amat manis.

Maka dia mengambil keputusan untuk dapat berkenalan dengan dara ini.

Cinta kasihnya yang pertama terhadap Ciok Kim Hwa putus, kemudian cinta kasihnya yang kedua, cinta kasih murni terhadap Khu Siauw Bwee, juga gagal karena gadis itu telah mencinta orang lain dan dia tidak berani bermain gila terhadap gadis yang ternyata adalah penghuni Istana Pulau Es itu, dan kini dia merasa jatuh cinta untuk ke tiga kalinya, bukan cinta berahi seperti terhadap semua wanita yang pernah dipermainkannya, melainkan cinta sungguh-sungguh!

Dia tidak mau gagal lagi sekarang.

"Nona, aku berniat baik, mengapa Nona menolak perkenalan? Kalau aku tidak berniat baik terhadap dirimu, tentu aku sudah berteriak bahwa Nona adalah seorang mata-mata dan Nona akan dikepung oleh ribuan orang tentara!"

"Hemm, begitukah? Kalau begitu mampuslah engkau!"

Pedang rampasan di tangan Maya menyambar ganas merupakan sinar kilat menyambar ke arah leher Suma Kiat. Pemuda ini terkejut bukan main.

"Aahhhh....!"

Ia melempar tubuh ke belakang dan berjungkir-balik dengan cepat.

Kembali sinar pedang menyambar dan keringat dingin keluar membasahi dahi Suma Hoat ketika dengan pengerahan gin-kang sekuatnya kembali dia melempar diri ke kiri sambil mengebutkan ujung lengan bajunya ke belakang.

"Brettt!"

Ujung lengan baju itu buntung karena benar seperti dugaannya, sinar pedang itu kembali telah menerjangnya untuk ketiga kalinya dengan gerakan yang bukan main cepatnya.

"Tahan, Nona....!"

Ia meloncat ke belakang, loncatan yang indah sekali karena tubuhnya masih menghadap kepada Maya.

"Aku sudah memperlihatkan niat baik dengan tidak membuka rahasiamu, apakah engkau seorang yang begitu kejam dan tidak mengenal budi, membalas iktikad baik orang dengan serangan maut?"

Maya diam-diam kagum juga.

Tiga kali dia menyerang, sungguh-sungguh, dengan jurus-jurus maut, namun pemuda itu masih mampu menyelamatkan diri, hal itu berarti bahwa pemuda itu telah memiliki tingkat kepandaian yang tinggi, tidak di sebelah bawah tingkat kepandaian Can Ji Kun.

Dan ucapan yang halus penuh teguran itu, betapapun juga membuat kedua pipinya merah.

Ingin dia memperkenalkan diri dan terus menyerang, membunuh pemuda ini karena bagi dia, seluruh keluarga Suma Kiat harus dibunuh!

Akan tetapi dia teringat akan pekerjaannya sebagai penyelidik, maka dia berkata angkuh.

"Aku tidak membutuhkan iktikad baikmu, dan aku pun tidak takut kalau engkau hendak membuka rahasia!"

Bukan main, pikir Suma Hoat.

Gadis ini benar-benar angkuh, seperti seorang puteri kaisar saja!

Seorang dara yang ilmu kepandaiannya amat tinggi, wajahnya amat cantik jelita, dan wataknya amat tinggi pula!

"Dengarlah dulu, Nona.

Nona adalah seorang mata-mata, berarti Nona memusuhi Kerajaan Sung, dan aku pun adalah seorang yang tidak memihak Kerajaan Sung.

Dengan demikian, kita berada di satu pihak.

Dan penjagaan di sini amat ketat dan kuat.

Nona tidak dapat bergerak leluasa, apa yang akan dapat Nona selidiki?

Bahkan banyak bahayanya Nona akan terkepung dan celaka.

Akan tetapi aku dapat bergerak leluasa dan aku dapat menyelidiki dan memberi tahu kepadamu apa yang kau ingin ketahui.

Aku suka membantumu, Nona.

Nah, apakah Nona masih hendak membunuhku?"

Maya memutar otaknya.

Pemuda putera musuh besar ini harus dibunuh, akan tetapi apa yang dikatakannya mengandung kebenaran.

Dia harus bersikap cerdik.

Sebagai seorang panglima perang yang sudah biasa menahan perasaan pribadi demi siasat dan keuntungan pihaknya.

Maya lalu berkata.

"Begitukah? Ucapanmu harus dibuktikan lebih dulu. Sekarang apa yang hendak kau lakukan dengan aku, setelah engkau tahu bahwa aku adalah seorang mata-mata?"

Wajah Suma Hoat girang bukan main.

"Pertama-tama, Nona harus mempunyai tempat persembunyian yang baik dan aku mempunyai sebuah rumah kecil yang kosong dan yang takkan ada yang berani mengganggu atau memasukinya. Nona boleh mempergunakan rumahku itu sebagai tempat bersembunyi. Hanya di waktu malam saja Nona dapat melakukan penyelidikan dan di waktu siangnya Nona boleh bersembunyi di situ. Kemudian, aku dapat membantu mencari keterangan yang sekiranya tak dapat Nona peroleh sendiri. Bagaimana?"

Maya kembali terdiam dan berpikir, kemudian dia berkata sambil menurunkan pedangnya.

"Kalau aku tidak dengar tadi bahwa engkau adalah putera Jenderal Suma Kiat yang kutahu bukanlah seorang pembesar yang setia terhadap Kerajaan Sung, tentu aku tidak percaya omonganmu. Betapapun juga, ketahuilah bahwa disamping aku menerima penawaranmu, aku tetap tidak percaya kepadamu dan sedikit saja engkau memperlihatkan sikap mencurigakan, aku pasti akan membunuhmu. Jangan engkau kira bahwa aku tidak dapat melakukannya! Nah, tunjukkan di mana rumah itu!"

"Mari, Nona! Aku tak perlu bersumpah, akan tetapi Suma Hoat bukanlah seorang yang biasa mengeluarkan kata-kata yang berlainan dengan isi hati! Bukan seorang pengecut yang untuk menolong nyawa sendiri melakukan penipuan-penipuan rendah!"

Dia meloncat dan dara perkasa itu pun meloncat di belakangnya.

Untuk menguji nona itu, Suma Hoat mengerahkan seluruh ilmunya berlari cepat, namun betapapun cepatnya dia berloncatan dan berlari, bayangan gadis itu tetap berada di belakangnya!

Diam-diam dia makin kagum, dan di lain pihak, Maya juga kagum karena pemuda ini benar-benar lihai sekali.

Rumah kecil itu memang milik Jenderal Suma Kiat yang mempunyai banyak rumah di kota Siang-tan.

Rumah itu kosong dan sebagai rumah pembesar itu, tentu saja tidak akan ada yang berani mengganggunya.

Setelah mereka memasuki rumah itu dan duduk berhadapan di ruangan dalam, Suma Hoat berkata.

"Siang ini harap Nona bersembunyi di sini. Nona sudah mengenalku, harap Nona suka memperkenalkan diri dan menceritakan kedudukan Nona agar aku dapat mencarikan keterangan yang Nona kehendaki."

Maya mengerutkan alisnya.

Malam telah berganti pagi dan sinar matahari yang mulai menyinari ruangan itu membuat ia dapat melihat wajah Suma Hoat dengan jelas.

Wajah yang tampan dan sama sekali tidak kelihatan jahat, bahkan wajah yang akan menarik hati wanita mana pun!

Akan tetapi pertanyaan itu tidak menyenangkan hatinya.

Dia tidak mungkin mengakui dirinya sebagai Panglima Pasukan Maut, hal ini terlalu berbahaya karena kalau Suma Hoat mengetahui, belum tentu dia mau memegang janji.

Dia terlalu penting bagi Kerajaan Sung yang akan mempertaruhkan apa saja untuk menangkap panglima wanita yang telah banyak merugikan Kerajaan Sung itu.

"Suma Hoat, ingatlah bahwa bukan aku yang menghendaki kerja sama ini, melainkan engkau! Aku hanya berjanji bahwa kelak aku akan memperkenalkan diri kepadamu, akan tetapi untuk saat ini, cukup untuk kau ketahui bahwa aku adalah seorang mata-mata dari barisan Mancu, tanpa nama! Masih belum terlambat bagimu untuk kau menarik diri, aku pun tidak terlalu mengharapkan bantuanmu!"

Suma Hoat terbelalak, bukan hanya oleh kata-kata yang keras dan penuh keangkuhan ini melainkan juga karena terpesona oleh wajah yang kini tampak jelas olehnya.

Kulit muka itu agak kecoklatan karena tertimpa sinar matahari, namun wajah itu benar-benar luar biasa cantiknya, terutama sekali matanya yang bersinar-sinar seperti bintang pagi, mulutnya yang manis dalam gerakan apapun juga, dan dari seluruh kepribadian gadis ini mengakibatkan getaran di hatinya, getaran yang dirasainya ketika ia bertemu dengan Khu Siauw Bwee.

Tak salah lagi, dia jatuh cinta untuk ketiga kalinya, dan mungkin yang terakhir ini paling parah!

Rasanya dia rela berkorban apapun juga untuk dapat menjadi suami gadis ini!

"Baiklah, aku tidak boleh terlalu banyak mengharap sebelum memperlihatkan kemauan baikku, Nona.

Hanya aku yakin bahwa Nona bukanlah seorang berbangsa Mancu, dan juga bukan seorang gadis Han...."

"Cukup semua ini. Kalau kau memang hendak membantuku, aku ingin mengetahui kekuatan yang menjaga benteng Siang-tan ini, berapa besar bala tentaranya, siapa komandan-komandannya, dari mana akan didatangkan bala tentara kalau benteng terdesak, dan apa macamnya jebakan-jebakan dan barisan pendam di luar tembok benteng, dari mana datangnya pasukan inti kalau musuh datang, di mana ditempatkannya barisan panah."

Suma Hoat melongo.

Benar-benar seorang mata-mata yang hebat, pikirnya, dan agaknya menguasai benar pekerjaan perang!

"Aku akan berusaha mendapatkan keterangan-keterangan itu, Nona.

Di kamar belakang sebelah kanan terdapat bahan-bahan makan dan minum untukmu.

Aku akan pergi mencari keterangan untukmu, malam nanti aku akan datang.

Harap Nona jangan meninggalkan tempat ini sebelum gelap."

Maya mengangguk, akan tetapi sebelum Suma Hoat tiba di pintu dia memanggil.

"Tunggu dulu!"

Suma Hoat membalik dan menatap wajah itu, beberapa kali menelan ludah.

Bibir itu!

Mata itu!

Ingin dia berlutut dan menyatakan cinta kasihnya di saat itu juga!

Akan tetapi, menghadapi seorang wanita seperti ini, dia tidak boleh lancang dan sembrono.

Dan sekali ini dia tidak boleh gagal, cinta kasihnya harus mendapat sambutan, kalau tidak, dia tidak dapat membayangkan betapa akan jadinya kalau kembali cintanya berantakan!

"Ada pesan apakah, Nona?"

"Hanya sebuah pertanyaan yang kuminta kau jawab dengan sebenarnya, karena kalau kau membohong tiada gunanya. Kenapa engkau melakukan ini semua? Kenapa engkau membantu aku, padahal aku tahu pasti bahwa engkau bukanlah seorang sekutu Kerajaan Mancu?"

Setelah bertanya demikian, sambil menanti jawaban Maya memandang dengan sinar mata tajam yang seolah-olah menembus dan menjenguk isi hati pemuda itu.

Suma Hoat merasa silau dan karena memang dia tidak menyembunyikan sesuatu, memang perasaannya terhadap gadis itu sudah jelas dan wajar, maka dia menentang sinar mata tajam itu sambil menjawab dengan hati terbuka sehingga suaranya tenang dan jujur.

"Aku sengaja membantumu bukan karena engkau mata-mata Mancu, Nona, juga bukan karena dalih dan pamrih apapun juga, melainkan semata-mata karena aku ingin membantumu, karena aku kagum kepadamu, dan karena ada dorongan di hatiku yang membuat aku ingin berkorban apa juga demi untukmu. Nah, sampai jumpa!"

Suma Hoat membalikkan tubuhnya tanpa menanti reaksi dari pertanyaannya yang hampir membuka rahasia hatinya itu.

Dia sudah nekat dan pasrah andaikata gadis itu menjadi marah dan menyerangnya.

Akan tetapi, tidak terjadi sesuatu sehingga ketika tiba di luar rumah, hati Suma Hoat lega bukan main, bukan lega karena dia tidak diserang atau dibunuh, melainkan lega penuh harapan karena kalau gadis itu tidak marah, berarti dia sudah menang separuh!

Memang Maya tidak berbuat sesuatu.

Gadis itu telalu heran mendengar jawaban yang ia yakin bukan bohong itu.

Terlalu heran dan terlalu kaget sehingga dia hanya duduk melongo sampai pemuda itu lenyap dari depannya.

Barulah ia sadar dan menarik napas panjang.

Gila!

Putera Suma Kiat menaruh hati cinta kepadanya!

Hemmm, berkali-kali dia digoda cinta kasih pria, dari Can Ji Kun yang masih harus diragukan cintanya yang mungkin palsu, sampai Pangeran Bharigan yang tak dapat diragukan lagi cinta kasihnya.

Namun, mana mungkin dia memperhatikan, apalagi membalas, cinta kasih pria lain kalau hatinya sudah dia serahkan sebulatnya kepada suhengnya, Kam Han Ki?

Hampir Maya menitikkan air mata ketika ia teringat akan suhengnya, teringat betapa pertemuannya dengan suhengnya amat menyakitkan hati.

Dia sudah mengaku cinta, sudah rela meninggalkan semua ini, melupakan semua dendamnya, tidak lagi mencampuri urusan dunia, ikut sehidup semati dengan suhengnya di Pulau Es, memadu cinta sampai hayat meninggalkan raga, asal saja suhengnya tidak membagi kehidupan mereka berdua dengan kehadiran Siauw Bwee.

Akan tetapi, suhengnya tidak mau!

Sungguh menyakitkan hatinya dan menurut patut, tidak seharusnya dia mati-matian mencinta orang yang begitu tak tahu dicinta!

Sudah sepatutnya kalau dia memperhatikan, mungkin membalas cinta kasih yang murni dari Pangeran Bharigan, atau memperhatikan sinar mata mengandung kasih yang begitu mesra dan menggairahkan, yang terpancar dari mata Suma Hoat!

"Alhh, Suheng...., Suheng....!"

Ia mengeluh, hatinya merintih, namun kekerasan hatinya membuat dia pantang menitikkan air mata dan ia melupakan kedukaan hatinya dengan mencurahkan pikiran kepada tugasnya sebagai mata-mata.

Apa pun yang akan terjadi dengan gejolak hatinya, yang terang saja pekerjaannya akan berhasil baik dengan bantuan seorang putera jenderal!

Bahkan kalau dia bisa mempengaruhi Suma Hoat untuk membujuk Jenderal Suma Kiat membantu penyerbuan pasukan Mancu dari dalam kota Siang-tan!

Tentu akan mudah menalukkan kota benteng yang amat kuat ini!

Kedua orang panglima pembantu Maya yaitu Kwa-huciang dan Theng-ciangkun, berhasil menyelamatkan diri dari kepungan dan dengan menyamar sebagai pengemis, mereka dapat menyelinap di antara banyak pengemis yang berkeliaran di kota itu, yang berkelompok di emper-emper kuil, di bawah jembatan, di pasar-pasar.

Berbeda dengan dua orang ini, Ji Kun dan Yan Hwa tidak sudi untuk menyamar sebagai ngemis dan bercampur dengan orang-orang yang berbaju kotor, berbadan kotor dan berbau apek itu.

Di dalam keadaan terancam ini, timbul cinta kasih antara Ji Kun dan Yan Hwa sehingga ke manapun mereka lari bersama, saling melindungi dan tak mau saling berpisah.

Memang demikianlah sifat dan watak kedua orang ini.

Di waktu ada bahaya saling menolong dan saling melindungi tanpa mengingat akan keselamatan diri sendiri, namun dalam keadaan bebas dan damai, keduanya selalu bertengkar dan tak mau saling mengalah.

Mereka sama sekali tidak sadar bahwa Sepasang Pedang Iblis yang berada di tangan mereka itu mengeluarkan pengaruh mujijat dan jahat sekali, yang menambah persaingan di antara mereka karena dengan mengandalkan pedang masing-masing, mereka tidak mau mengalah dan hal inilah yang merupakan penghalang rasa cinta kasih mereka yang sebetulnya amat mendalam itu.

Ketika kedua orang murid Mutiara Hitam ini berhasil lolos dari kepungan para perajurit, mereka bersembunyi di wuwungan rumah lalu berunding sebentar.

Tak lama kemudian, mereka berhasil menyambar dua orang perajurit yang berada di tempat terpisah, melucuti pakaian mereka dan dengan mengenakan pakaian perajurit mereka menyelinap di dalam kegelapan malam kemudian berhasil lolos keluar dari kota melalui pintu gerbang sebelah selatan, yaitu pada saat diadakan penggantian penjaga.

Barulah para penjaga tahu bahwa dua orang di antara mereka adalah palsu ketika Ji Kun dan Yan Hwa berlari cepat meninggalkan pintu gerbang.

Pengejaran dilakukan, akan tetapi tak mungkin pasukan itu dapat menandingi ilmu lari cepat dua orang murid Mutiara Hitam ini.

Apalagi malam yang gelap menelan bayangan mereka.

Setelah berlari jauh, dua orang muda itu meninggalkan pakaian perajurit dan duduk mengaso dalam sebuah hutan, di atas akar pohon menonjol.

Yan Hwa agak terengah-engah dan gadis ini membereskan rambutnya yang tadi awut-awutan karena tadi disembunyikan dalam topi perajurit.

Melihat rambut sumoinya terurai, Ji Kun segera memeluknya dan menciumnya.

Yan Hwa tertawa dan balas mencium dengan mesra.

Pengalaman berbahaya tadi mendekatkan hati mereka dan ciuman-ciuman mereka menambah mesra perasaan hati.

Akan tetapi ketika Ji Kun hendak berbuat lebih jauh lagi, Yan Hwa mendorong dadanya dengan halus.

"Ihhh....! Tugas belum selesai ingin yang bukan-bukan!"

Ji Kun tertawa. Buyarlah hasrat hatinya. Sambil mempermainkan rambut kekasihnya yang panjang hitam dan gemuk, dia berkata.

"Kita telah bebas. Sungguh berbahaya sekali!"

"Malu kita melarikan diri terbirit-birit seperti dua ekor tikus. Enci Maya dan yang lain-lain tentu sedang sibuk melakukan penyelidikan di dalam kota, sedangkan kita berada jauh di luar kota, enak-enakan. Sungguh harus malu!"

Yan Hwa mencela.

"Aihh, bukankah kita sudah bersepakat untuk lari keluar kota? Engkau tidak mau menyamar sebagai pengemis."

"Ihh, jijik!"

"Kita terpaksa lari keluar, karena keadaan amat berbahaya. Dengan keributan seperti itu, dan penjagaan amat ketat di dalam kota, biarpun kita berada di sana juga tak mungkin dapat bekerja. Pula, apakah hanya di dalam kota saja yang perlu diselidiki? Kurasa menyelidiki di luar tembok benteng tidak kalah pentingnya, menyelidiki barisan pendam mereka, dan pertahanan pertama mereka. Selain itu, kalau keadaan di kota sudah mereda, masuk lagi ke sana apa sukarnya bagi kita?"

"Habis, sekarang kita mau apa?"

Yan Hwa bertanya. Ji Kun tertawa.

"Menanti sampai matahari terbit, baru nanti mencari jalan menyelidiki ke dekat tembok benteng. Sekarang, sambil menanti, mau apalagi, Sumoi yang manis?"

Dia memeluk lagi dan sekali ini Yan Hwa juga timbul kasih sayangnya, melayani cumbu rayu suhengnya.

Keduanya tenggelam dalam gelombang asmara, akan tetapi Yan Hwa yang rebah dengan telinga menempel tanah, tiba-tiba mendorong dada kekasihnya.

"Ada barisan datang....!"

Ji Kun terkejut.

Keduanya melompat bangun, lalu dengan cekatan seperti dua ekor burung, mereka melompat ke atas, menyambar dahan pohon dan dalam beberapa detik saja dua orang yang lihai itu telah berada di puncak pohon tertinggi, mengintai ke sana-sini.

Akhirnya mereka melihat lampu bergerak-gerak di selatan, dan akhirnya beberapa pasang lampu itu berhenti.

"Apakah itu?"

Yan Hwa bertanya.

"Menurut suaranya tentu derap kaki kuda, dan lampu-lampu itu tak salah lagi tentu lampu kendaraan kereta. Mereka berhenti di sana, hayo kita menyelidiki!"

Dengan cepat sekali, tanpa mengeluarkan suara, kedua orang muda itu mendekati tempat itu dan melihat bahwa rombongan yang berhenti itu adalah rombongan terdiri dari empat buah kereta yang dikawal ketat oleh pasukan pengawal sejumlah lima puluh orang.

Ketika tenda-tenda kereta yang berkumpul itu tersingkap, dengan heran sekali Yan Hwa dan Ji Kun melihat gadis-gadis cantik yang duduk di dalam joli kereta, setiap kereta terisi enam orang gadis cantik.

Mereka itu kelihatan berduka, ada pula yang menangis terisak.

Ji Kun dan Yan Hwa menyelinap di antara pohon-pohon, mendekati komandan dan para pembantunya yang duduk mengelilingl api unggun, mendengarkan percakapan mereka.

"Dalam keadaan terancam penyerbuan barisan Mancu, mengumpulkan siuli (gadis cantik calon selir pangeran atau raja), sungguh mementingkan kesenangan sendiri saja."

Seorang perwira mengeluh.

"Hati-hati dengan mulutmu!"

Komandan pasukan yang berpakaian panglima membentak bawahannya.

"Bukan tidak ada gunanya kalau Suma-goanswe menyuruh kita mengumpulkan gadis-gadis cantik untuk Pangeran Ci Hok Ong di Siang-tan. Kita hanyalah pelaksana, perlu apa memusingkan sebab-sebabnya?"

"Akan tetapi, mengapa kita bermalam di sini, tidak langsung terus ke Siang-tan?"

Tanya seorang perwira lain.

"Hemm, orang-orang kang-ouw tentu tidak membiarkan perampasan wanita-wanita cantik ini, dan hutan-hutan di depan amat besar, lebih aman melewatkan malam di sini, besok pagi baru melewatkan perjalanan. Kalau kita disergap di dalam hutan, tentu akan sulit mempertahankan penumpang-penumpang itu. Jumlah mereka sudah dihitung, dan kita akan celaka kalau sampai hilang seorang saja. Suma-goanswe tentu akan menghukum kita!"

Ji Kun dan Yan Hwa saling pandang di dalam gelap, kemudian Ji Kun mendekatkan mulutnya di telinga kekasihnya dan berbisik.

"Kesempatan baik untuk kita!"

Ia lalu berbisik-bisik mengatur rencana.

Sumoinya mengangguk-angguk, sehingga pipinya yang halus itu menyentuh dan mengusap hidung dan mulutnya, membuat Ji Kun tidak tahan untuk tidak mencium pipi itu.

Sebuah cubitan dari Yan Hwa memperingatkannya dan mereka lalu berpencar, siap melaksanakan rencana yang dibisikkan Ji Kun tadi.

Tak lama kemudian terdengar pekik kesakitan dan seorang di antara pengawal yang sedang berdiri menjaga di sebelah kanan roboh.

Keadaan menjadi kacau dan semua pengawal lari ke tempat itu di mana terdapat Ji Kun mengamuk di dalam gelap.

Para perwira cepat menghunus golok dan mengepung, akan tetapi sekali melompat, Ji Kun telah lenyap ke dalam kegelapan hutan kecil itu karena dia melihat bayangan sumoinya yang berkelebat dan ternyata sumoinya yang memang seperti direncanakan semula, telah berhasil menculik seorang di antara gadis siuli dari kereta terdepan.

Terdengar jerit para siuli lainnya dan ketika para pengawal melihat bahwa yang terculik adalah gadis yang paling cantik, mereka menjadi bingung, marah dan khawatir bukan main.

Panglima pasukan marah-marah dan terdengar bentakan-bentakannya.

"Hayo cari dia! Kalau tidak dapat terampas kembali, nyawa kita menjadi taruhan!"

Akan tetapi para pengawal sudah dibikin gentar oleh ketangkasan Ji Kun tadi dan mereka menyaksikan bayangan yang melarikan siuli tadi pun seperti iblis saja.

Pula, mereka berada di hutan yang gelap, ke mana harus mencari?

Betapapun juga karena takut kepada komandan mereka, takut pula kalau kehilangan itu akan dilimpahkan kepada mereka, dengan obor di tangan para pengawal itu mencari di sekitar tempat itu.

Namun, Yan Hwa dan Ji Kun sudah berada jauh di tengah hutan besar dan gadis cantik itu kini tidak takut lagi.

Bahkan dia menjatuhkan diri berlutut di depan Yan Hwa dan Ji Kun sambil berkata.

"Terima kasih atas pertolongan Ji-wi, entah bagaimana saya dapat membalas budi pertolongan Ji-wi yang membebaskan saya dari malapetaka ini."

Cuaca pagi kemerahan membuat Ji Kun dapat meneliti wajah gadis itu yang sesungguhnya cantik manis.

Dia lalu memegang kedua pundak gadis itu, diangkatnya bangun sambil tersenyum.

"Manis, kami tidak mengharapkan balasan dan aku akan cukup puas kalau engkau membalasnya dengan sebuah ciuman!"

Berkata demikian, dia memeluk dan mengecup bibir gadis itu yang tentu saja menjadi tersipu-sipu, dan ketika Ji Kun melepaskan pelukannya, gadis itu terhuyung ke belakang dan menangis.

"Suheng! Engkau.... engkau....!"

Yan Hwa membentak marah tangannya meraba gagang pedang.

"Eiiitt, Sumoi. Engkau cemburu?"

"Tentu saja! Hanya sebegitukah cintamu kepadaku? Engkau pernah tergila-gila kepada Enci Maya dan sekarang.... katakan, siapa yang kaucinta? Gadis ini?"

"Wah-wah, apakah engkau anak kecil? Tentu saja hanya engkau yang kucinta, sedangkan yang lain-lain termasuk gadis ini, hanya tubuhku saja yang tertarik, bukan hatiku. Apakah engkau tidak mernbolehkan suhengmu bersenang-senang sedikit?"

"Hemmm.... laki-laki ceriwis mata keranjang! Lihat saja nanti pembalasanku kalau ada kesempatan. Eh, bocah, kami telah menyelamatkanmu dan sekarang bersembunyilah di sini. Jangan pergi ke mana-mana sebelum lewat hari ini atau engkau akan tertawan lagi dan mendapat hukuman. Kami pergi!"

Yan Hwa dan Ji Kun meloncat dan berkelebat pergi meninggalkan gadis itu yang menjadi ketakutan sekali dan menangis di antara semak-semak belukar di mana dia ditinggalkan seorang diri.

Dia seorang gadis yang lemah, dan biarpun dia kini telah dibebaskan, namun ditinggalkan seorang diri di tempat itu, tentu saja dia ketakutan dan tidak tahu ke mana harus pergi.

Untuk kembali ke kampungnya, dia tidak mengenal jalan.

Ketika beberapa orang anak buah pasukan pengawal mencari-cari sampai pagi dan tiba di pinggir hutan besar, tiba-tiba mereka melihat seorang wanita muda yang cantik sedang sibuk mengumpulkan kayu kering.

Wanita ini bukan lain adalah Ok Yan Hwa yang sengaja memperlihatkan sikap terkejut dan takut melihat datangnya tujuh orang pengawal berikut seorang perwira pengawal itu.

Dia menjerit, melepaskan kayu-kayu kering yang dikumpulkannya lalu melarikan diri.

Tentu saja dia berlari biasa seperti lari seorang gadis lemah dan sebentar saja ia telah tertangkap, kedua lengannya dipegang dari kanan kiri oleh dua orang pengawal.

"Ha-ha-ha-ha, engkau hendak lari ke mana?"

Seorang di antara mereka berkata.

"Ehhh....! Ini bukan dia!"

Perwica pengawal berseru kaget setelah melihat Yan Hwa.

"Dia hanya seorang gadis dusun, akan tetapi.... hemmm, aku berani bertaruh dia tidak kalah cantik menarik daripada siuli yang lenyap tadi!"

"Benar, dia jelita sekali!"

Para anak buahnya berkata dan semua mata memandang Yan Hwa dengan kagum. Kedua pipi Yan Hwa menjadi merah dan dia pura-pura meronta sambil berteriak.

"Kalian siapakah? Mengapa aku ditangkap?"

"Anak baik, engkau tinggal di mana?"

Perwira itu bertanya.

"Aku tinggal di sebuah dusun di luar hutan di seberang sana. Aku mencari kayu bakar untuk di jual...."

Yan Hwa menjawab ketakutan, matanya yang indah bening terbelalak.

"Apakah engkau melihat orang-orang di dalam hutan besar ini?"

Yan Hwa menggeleng kepala.

"Hemmm...."

Sang Perwira menggosok-gosok jenggot pendeknya.

"Bawa dia kepada Ciangkun, kurasa jalan satu-satunya hanyalah menggantikan yang hilang dengan dia ini."

Yan Hwa menjerit-jerit ketika dipaksa ikut bersama mereka menuju ke rombongan kereta dan di situ dia menjadi tontonan semua pengawal.

Panglima yang memimpin pasukan pengawal mendengarkan laporan perwira dan mengangguk-angguk.

"Memang tidak ada jalan lain yang lebih baik lagi. Eh, Nona muda. Siapa namamu?"

"Nama saya Yan Hwa, she Ok,"

Jawab Yan Hwa yang tidak khawatir memperkenalkan nama aselinya karena namanya memang tidak terkenal.

"Dengar, Ok Yan Hwa. Engkau ingin mati atau hidup?"

Suara panglima itu terdengar keren dan penuh ancaman.

Dengan sin-kangnya yang sudah tinggi tingkatnya Yan Hwa dapat membuat jalan darahnya terhenti sehingga mukanya menjadi pucat.

"Saya.... saya ingin hidup, Tai-ongya...."

"Hushh! Aku bukan kepala perampok!"

Bentak Si Panglima yang disebut tai-ong (raja besar), sebutan yang biasa dipergunakan orang terhadap kepala perampok.

"Sebut aku Tai-ciangkun, mengerti?"

"Baik, Tai-ciangkun...."

"Kalau engkau ingin hidup, mulai sekarang engkau harus menjadi seorang di antara gadis-gadis cantik di dalam kereta ini untuk dipersembahkan kepada Pangeran Ciu Hok Ong di Siang-tan. Engkau tidak boleh menceritakan tentang peristiwa malam ini kepada siapapun juga. Katakan bahwa engkau adalah seorang di antara mereka yang kami pilih. Kalau engkau menurut, engkau akan hidup mewah dan mulia di istana Pangeran, mungkin menjadi selir Pangeran yang terkasih, sedikitnya menjadi pelayan istana. Kalau menolak, sekarang juga kusembelih lehermu sampai putus!"

"Iihhh.... ampun.... ampun, Tai-ciangkun.... hamba tidak berani menolak, hanya.... hamba harus memberi tahu ayah ibu dulu di dusun...."

"Tidak usah! Tinggal pilih, sekarang juga, ingin mati atau hidup?"

Yan Hwa menangis akan tetapi mengangguk-angguk.

"Baik, Tai-ciangkun.... hamba.... hamba menurut...."

Yan Hwa disuruh memasuki kereta terdepan dan dipaksa berganti pakaian yang indah.

Semua siuli memang diharuskan berpakaian indah dan panglima itu masih mempunyai beberapa potong pakaian untuk perlengkapan.

Setelah itu, komandan pasukan mempersiapkan orang-orangnya untuk memberangkatkan rombongan kereta itu.

Akan tetapi, kembali terjadi kekacauan ketika rombongan itu baru saja berangkat, tiba-tiba dua ekor kuda yang menacik kereta terdepan, meringkik keras lalu membedal ke depan seperti dikejar setan.

Sia-sia saja kusirnya berusaha menahan kedua kuda yang kabur itu, bahkan kini panglima itu sendiri bersama beberapa orang pembantunya membalapkan kuda untuk mengejar dan menyelamatkan kereta itu.

Kalau sampai kereta terguling dan lima orang siuli di dalamnya celaka, benar-benar mereka menghadapi kesulitan besar!

Dua ekor kuda penarik kereta yang kabur itu, melihat panglima itu dan pembantu-pembantunya mengejar, menjadi makin binal.

Kusirnya berteriak-teriak dengan panik, menarik-narik kendali kuda namun tetap tidak berhasil menghentikan kaburnya dua ekor kuda itu.

Tiba-tiba muncul seorang pemuda yang bukan lain adalah Ji Kun.

Dia lari dari samping menangkap kendali kuda, meloncat ke atas punggung kuda dan diam-diam dia mencabut dan membuang dua buah duri yang tadi menancap di dekat ekor kuda, kemudian dia menarik kembali kuda dan menggunakan kekuatan tangan, diam-diam mengerahkan sin-kangnya, kakinya menjapit perut kuda.

Semua ini dilakukan oleh Ji Kun dengan mengurangi ketangkasannya sehingga dia tidak kelihatan sebagai seorang ahli silat yang berkepandaian tinggi, melainkan sebagai seorang ahli mengatasi kuda-kuda kabur.

Setelah dua ekor kuda itu berhenti, dia pura-pura lemas dan ketika melompat turun, dia terhuyung dan hampir jatuh.

Sambil mengusap keringatnya dia berkata.

"Wah, bahaya sekali....! Dua ekor kuda ini malam tadi tentu makan rumput merah dan menjadi binal!"

Panglima dan para perwira sudah tiba di situ dan melihat mereka, Ji Kun cepat menjatuhkan diri berlutut.

Dengan pandang mata penuh kecurigaan panglima itu bertanya.

"Engkau siapa?"

"Nama hamba Can Ji Kun, pekerjaan hamba sebagai ahli kuda. Dahulu di utara hamba pernah bekerja kepada seorang peternak kuda yang besar, kemudian karena perang hamba lari ke selatan dengan maksud mencari pekerjaan yang sesuai dengan kepandaian hamba. Kebetulan hamba melihat kereta dikaburkan kuda dan mengandalkan keahlian hamba, hamba lupa diri dan menolong. Harap Tai-ciangkun sudah memaafkan kelancangan hamba."

Hilanglah kecurigaan panglima itu dan dia mengangguk-angguk.

"Bagus, kami berterima kasih, Ji Kun. Kalau engkau mencari pekerjaan, mulai sekarang kau boleh mengurus kuda dan mengusiri kereta ini. He kau turun!"

Bentak Sang Panglima kepada kusir yang masih pucat wajahnya.

Dengan tubuh gemetar kusir itu turun dari atas kereta dan sekali mengulur tangan panglima itu telah merampas cambuk, kemudian mencambuki kusir itu sambil memaki-maki.

"Manusia tolol! Goblok! Hampir saja engkau mencelakakan kita semua!"

Cambuk itu menari-nari di atas tubuh kusir yang berlutut dan minta-minta ampun.

Pakaiannya robek-robek dan kulit tubuhnya babak-belur dan berdarah.

Setelah puas, panglima itu berkata.

"Kau harus jalan di belakang kereta, pengadilan akan menjatuhkan hukuman nanti di kota!"

Rombongan itu berangkat lagi dan kini Can Ji Kun duduk di tempat kusir, msmegang cambuk dan mengendalikan kuda menarik kereta di mana duduk pula Ok Yan Hwa yang menjadi girang sekali melihat betapa siasat mereka berjalan lancar dan berhasil baik.

Tentu saja dua ekor kuda itu tadi kabur ketika diam-diam Yan Hwa menyerangnya dari belakang dengan dua buah duri yang sudah dipersiapkannya sebelumnya, menyambitkan duri-duri itu mengenai pantat kuda yang menjadi kaget dan kesakitan lalu kabur!

Tak lama kemudian, rombongan memasuki hutan besar yang ditakuti Sang Komandan.

Tiba-tiba komandan ini berteriak.

"Awas, di depan ada orang!"

Ji Kun yang berada di depan kereta pertama, sudah melihat orang-orang itu dan dia mengerutkan alisnya.

Jelas tampak olehnya bahwa yang menghadang di depan itu tentulah orang-orang kang-ouw.

Sikap mereka gagah dan bukanlah kasar seperti sikap perampok.

Ada tujuh orang laki-laki yang menghadang di depan, berjajar memenuhi jalan.

Komandan dan para perwira memberi aba-aba menghentikan kereta, kemudian memerintahkan pasukan mengurung kereta-kereta itu, dan dia sendiri bersama sisa pasukan lalu melarikan kuda menghampiri orang-orang yang menghadang itu.

Seorang laki-laki berusia lima puluh tahun, dengan sebatang golok besar di punggung, berjenggot panjang dan bersikap gagah perkasa, memimpin para penghadang itu.

Berdiri bertolak pinggang dan sinar matanya tajam menatap Sang Panglima yang duduk dengan angkuhnya di atas kuda sambil membentak.

"Kalian mau apakah menghadang di sini? Minggirlah! Apakah tidak melihat bahwa kami pasukan pengawal dari kerajaan? Apakah kalian ini pemberontak-pemberontak atau pengkhianat-pengkhianat yang hendak melawan pasukan kerajaan?"

Laki-laki berjenggot panjang itu mengelus jenggotnya dengan tangan kiri, kemudian menjawab.

"Ciangkun, kami adalah orang-orang gagah yang sama sekali tidak berjiwa pengkhianat atau pemberontak. Bahkan sebaliknya, kami adalah patriot-patriot negara yang menjadi pelindung rakyat yang tertindas! Negara dalam keadaan perang. Mengapa para pembesar hanya mementingkan kesenangan diri pribadi dan menambah beban rakyat dengan menculik dan memaksa gadis-gadis orang untuk dijadikan korban kebuasan nafsu pembesar? Kami tidak akan melawan pasukan kerajaan, akan tetapi kami menuntut agar para gadis yang ditawan dalam kereta itu dibebaskan!"

"Hemm, enak saja kau bicara! Para gadis ini adalah calon-calon dayang atau selir pangeran, nasib mereka sudah pasti akan jauh lebih baik daripada kalau mereka berada di rumah. Mereka akan menjadi orang-orang terhormat dan hidup mewah, bahkan keluarga mereka akan ikut pula menjadi orang terhormat. Kalian bilang bukan pemberontak, akan tetapi hendak menentang kehendak pangeran dan hendak melawan pasukan pemerintah. Pergilah sebelum kami basmi kalian kaum petualang pemberontak!"

"Ciangkun, alasan kuno yang kaukemukakan itu memuakkan! Kau sendiri tahu betapa gadis-gadis itu pergi dengan paksaan. Dengar mereka terisak-isak, menangis. Kalau mereka pergi dengan sukarela, kami pun bukan orang-orang yang lancang mencampuri urusan orang. Akan tetapi karena melihat gadis-gadis itu dipaksa yang berarti penindasan kejam, kami tak mungkin berpeluk tangan saja. Kalau kau tidak mau membebaskan mereka sekarang juga, terpaksa kami menggunakan kekerasan."

"Si pemberontak keparat! Serbu!"

Panglima itu mengeluarkan aba-aba dan para pengawal yang berjalan kaki sudah bersorak sambil maju menyerbu tujuh orang itu.

Mereka ini pun sudah mencabut senjata masing-masing dan terjadilah pertandingan yang seru antara tujuh orang gagah itu melawan tiga puluh orang pasukan pengawal, sedangkan yang lain bertugas menjaga kereta-kereta dengan mengurungnya.

Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa merasa serba salah.

Orang-orang kang-ouw itu ternyata cukup lihai sehingga banyak anak buah pengawal yang roboh, sedangkan panglima dan para perwira juga terdesak.

Terutama sekali Si Jenggot Panjang amat lihai mainkan goloknya.

Dua orang murid Mutiara Hitam menjadi bingung.

Tentu saja di dalam hati mereka, mereka berpihak kepada tujuh orang itu dan andaikata mereka tidak sedang bertugas, tentu mereka membantu tujuh orang itu dan membasmi pasukan pengawal.

Akan tetapi, dalam keadaan mereka sekarang, andaikata mereka turun tangan mereka seharusnya membantu pasukan pengawal dan merobohkan penghalang itu agar mereka dapat cepat masuk kota dan dapat memulai dengan tugas mereka!

Karena serba salah, baik Ji Kun maupun Yan Hwa hanya duduk menonton saja.

Dan dari permainan golok dan pedang para orang gagah itu, mereka dapat menduga bahwa mereka itu tentulah anak-anak murid Hoa-san-pai dan Bu-tong-pai.

Agaknya, pihak pasukan pengawal takkan kuat menghadapi tujuh orang gagah itu kalau pertandingan dilanjutkan seperti itu tanpa campur tangan lain.

Selagi Ji Kun dan Yan Hwa saling lirik ketika Ji Kun menyingkap tenda dan menjenguk ke dalam, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan muncullah sebuah pasukan kecil terdiri dari selosin perajurit berkuda, dikepalai oleh seorang laki-laki bermuka panjang seperti kuda!

Ketika melihat pertempuran itu, laki-laki bermuka kuda itu yang bukan lain adalah Siangkoan Lee, cepat membawa pasukannya menyerbu dan terkejutiah tujuh orang itu karena orang bermuka kuda ini benar-benar hebat sekali kepandaiannya.

Dengan sebuah golok melengkung Siangkoan Lee sudah meloncat turun dari atas kudanya dan mengamuk.

Orang gagah berjenggot panjang yang menandinginya, dirobohkannya dalam waktu belasan jurus saja.

Juga pasukannya ternyata adalah pasukan istimewa yang rata-rata memiliki ilmu silat tinggi.

Orang-orang gagah itu melakukan perlawanan mati-matian, namun akhirnya mereka semua roboh dan tewas jadi sasaran hujan senjata para pasukan pengawal!

Pertempuran berhenti dan berakhir dengan matinya tujuh orang gagah itu dan belasan orang perajurit pengawal.

Siangkoan Lee segera berkata kepada panglima pengawal yang terluka pundaknya dalam pertempuran tadi.

"Atas perintah Goanswe, seluruh siuli supaya langsung dibawa ke istana pangeran dan harap bergerak cepat karena Pangeran sudah tidak sabar menanti. Mengapa baru sekarang tiba di sini?"

"Maaf, Siangkoan-taihiap, kami terpaksa bermalam di luar hutan besar karena kami khawatir akan penyergapan di tengah malam dalam hutan itu."

"Hemm, disergap di pagi hari pun kau tak mampu melindungi kereta-kereta itu!"

Kata Si Muka Kuda dengan suara menghina.

"Kalian sudah terlambat, hayo cepat berangkat!"

Karena takut kalau murid dan orang kepercayaan Jenderal Suma Kiat yang galak dan lihai itu akan menjadi marah dan menyalahkan mereka, maka para pengawal tidak berani bercerita tentang hilangnya seorang gadis yang diganti gadis lain dan seorang kusir baru yang mereka terima untuk jasanya menolong mereka terlepas dari bencana ketika kereta kabur.

Hal ini menguntungkan dua orang murid Mutiara Hitam, karena kalau diketahui Siangkoan Lee, tentu orang yang lihai dan cerdik ini akan menjadi curiga dan menyelidiki mereka.

Demikianlah, tanpa menimbulkan kecurigaan, Yan Hwa bersama para gadis lain ditempatkan di dalam istana pangeran dan berkat kepandaiannya mengurangi riasan muka dan membuat mukanya pucat seperti orang berpenyakitan kalau dihadapkan Pangeran sehingga Pangeran kehilangan seleranya, akan tetapi amat rajin dan pandai melayani, Yan Hwa tidak diambil selir melainkan diberi pekerjaan sebagai dayang pelayan, sedangkan Ji Kun menjadi seorang tukang mengurus kuda.

Tentu saja dua orang muda yang lihai ini mendapatkan kesempatan baik untuk melakukan penyelidikan, dan terutama sekali Yan Hwa, yang selalu dekat dengan Pangeran dan mengetahui apabila ada tamu-tamu penting yang datang bertemu dengan Pangeran.

Maya duduk termenung di dalam pondok di mana dia bersembunyi.

Hari telah hampir malam dan dia menanti kedatangan Suma Hoat.

Telah empat hari dia berada di tempat persembunyiannya ini dan selama empat hari itu, dia mendengar banyak dari Suma Hoat.

Dia sendiri pun setiap malam keluar melakukan penyelidikan, namun harus dia akui bahwa tanpa bantuan keterangan-keterangan yang amat penting dari pemuda itu, akan sukarlah baginya menyelidiki keadaan musuh.

Penjagaan amat ketatnya dan kini dia mendengar dari Suma Hoat bahwa benteng kota Siang-tan ini benar-benar amatlah kuatnya, jauh berbeda dengan kota Sian-yang.

Bahkan dia mendengar dari Suma Hoat bahwa benteng itu sedang mendatangkan barisan bantuan dari selatan untuk menghadapi ancaman pasukan-pasukan Mancu yang telah menduduki Sian-yang.

Dengan barisan bantuan itu, jumlah pasukan Sung menjadi lebih besar daripada pasukan Mancu dan Maya berpikir bahwa untuk menyerbu ke Siang-tan, pasukan Mancu harus mendatangkan bala bantuan juga.

Suma Hoat banyak membantunya dan diam-diam dia merasa berterima kasih kepada pemuda itu.

Pemuda musuh besarnya karena bukankah pemuda itu putera Suma Kiat?

Namun, harus dia akui bahwa di dalam hatinya, dia tidak membenci Suma Hoat.

Bahkan sebaliknya, dia merasa kagum dan suka kepada pemuda itu yang jelas menaruh hati cinta kepadanya.

Hal ini mudah saja dia lihat dari pandang matanya, dari sikap dan gerak-geriknya, dari suara dan dari senyumnya.

Teringat akan hal ini, Maya menarik napas panjang karena terbayanglah wajah satu-satunya orang yang dicintanya, wajah Kam Han Ki.

"Aihhh, Suheng. Banyak pria yang jatuh cinta kepadaku, akan tetapi mengapa engkau seorang yang kuharapkan, bahkan mengecewakan hatiku?"

Teringat akan suhengnya, Maya menundukkan mukanya dan perasaan rindu dendam mencekam hatinya, membuatnya menggigit bibir menahan tangis.

Gerakan orang memasuki rumah itu menyadarkannya dan ia cepat meloncat bangun.

Bukan Suma Hoat, pikirnya.

Pemuda itu memiliki gerakan yang ringan, akan tetapi pendatang ini langkah kakinya berat!

Langkah itu terdengar makin berat dan akhirnya terdengar suara orang roboh.

Maya cepat meloncat ke ruangan depan dan betapa kagetnya melihat Suma Hoat rebah di lantai dalam keadaan pingsan!

Maya cepat berlutut memeriksa dan segera melihat bahwa pemuda ini telah menderita luka oleh pukulan yang hebat, yang membuat tubuhnya dingin sekali dan dada kanannya membiru.

Cepat ia memondong tubuh pemuda itu, membawanya ke dalam kamar tidur dan merebahkannya di atas pembaringan.

Sekali renggut robeklah baju yang menutup dada Suma Hoat dan setelah memeriksa sebentar, tahulah Maya bahwa pemuda itu terkena pukulan yang mengandung hawa Im-kang kuat sekali dan tentu nyawanya akan terancam maut kalau tidak cepat ditolong.

Maka dia lalu duduk bersila di atas pembaringan, menempelkan telapak kanannya di dada kanan pemuda itu sambil mengerahkan hawa sin-kang dari pusarnya melalui lengan.

Untuk melawan luka akibat pukulan Im-kang itu, dia mengobatinya dengan pengerahan Yang-kang.

Mula-mula hawa yang hangat memasuki tubuh Suma Hoat, kehangatan yang makin lama menjadi makin panas mengusir hawa dingin yang dideritanya semenjak dia terkena pukulan itu.

Setelah lewat dua jam lebih, barulah wajah Suma Hoat yang pucat menjadi kemerahan dan napasnya menjadi normal kembali.

Ketika dia membuka matanya perlahan dan melihat tangan Maya menempel di dadanya, merasakan betapa hawa yang panas memasuki dadanya, mendatangkan rasa hangat mengusir rasa dingin yang hampir merenggut nyawanya tadi, Suma Hoat menjadi terharu sekali.

Dia menggerakkan tangan, meraba lengan Maya, membelai lengan itu dan berbisik.

"Aku.... aku cinta padamu...."

Maya yang sedang rindu kepada suhengnya, selama mengobati tadi dia mendapatkan kesempatan untuk mengamati wajah pemuda ini dan jantungnya berdebar, menggelora.

Wajah pemuda itu tampan sekali membuat hatinya amat tertarik.

Di antara pemuda yang pernah menyatakan cinta kasih kepadanya, harus ia akui bahwa Suma Hoat merupakan pria yang paling tampan.

Gejolak darah masa dewasa membuat muka Maya merah sekali, apalagi ketika mendengar bisikan Suma Hoat mengaku cinta begitu pemuda itu siuman, membuat jantungnya berdebar keras dan dia menarik kembali tangannya yang tadi dipakai mengobati dada pemuda itu agar belaian pada lengan yang membuat lengannya gemetar itu tidak sampai diketahui Suma Hoat.

"Suma Hoat, apa yang kau lakukan ini?"

Maya membentak, akan tetapi seluruh tubuhnya terasa lemas sekali, bukan hanya karena dia tadi lama mengerahkan tenaga untuk mengobati pemuda itu, melainkan terutama sekali karena debar jantungnya membuat dia merasa aneh dan lemas, seperti dilolosi seluruh urat dari tubuhnya.

"Nona.... engkau telah menolong nyawaku, dan karena aku tidak tahan untuk menyimpan perasaan hatiku lebih lama, biarlah sekarang aku mengaku dan aku akan rela andaikata engkau marah dan membunuhku. Nona, semenjak pertama kali aku memandangmu, aku telah jatuh cinta ketpadamu. Aku membantumu karena cinta...."

Maya seperti terkena pesona.

Seluruh tubuhnya gemetar dan kedua matanya basah ketika pemuda itu kembali memegang lengannya yang dahaga akan cinta kasih, rindu dendamnya yang selalu ditahan-tahannya terhadap suhengnya, membuat hatinya seolah-olah menjadi sebatang tanaman kering.

Kini sikap dan bisikan Suma Hoat yang penuh getaran cinta kasih, seolah-olah merupakan embun pagi bagi hatinya, sejuk dan menyenangkan.

"Nona, aku cinta padamu.... aku bersumpah, aku mencintamu dengan hati tulus dan murni...."

Maya memejamkan matanya, tubuhnya yang lemas itu menurut saja ketika ditarik dan terdengar rintih perlahan dari dadanya ketika ia merasa betapa tubuhnya dipeluk erat-erat.

Kemudian napasnya berhenti menjadi sedu-sedan ketika ia merasa betapa mulutnya dicium penuh kemesraan oleh Suma Hoat.

Seperti dalam mimpi, kedua lengannya bergerak, membalas rangkulan pemuda itu dan pada saat itu Maya yang rindu akan cinta kasih itu seperti tidak ingat bahwa yang memeluk dan menciuminya bukanlah pemuda yang dicintanya dan dirindukannya, bukanlah Kam Han Ki suhengnya, melainkan Suma Hoat, putera Suma Kiat musuh besarnya!

Selama ini, hanya kepada tiga orang wanita saja Suma Hoat benar-benar jatuh cinta.

Pertama-tama adalah cinta kasihnya kepada Ciok Kim Hwa yang juga merupakan cinta pertamanya.

Kedua kalinya adalah ketika dia berjumpa dengan Khu Siauw Bwee, dan ke tiga kalinya adalah kepada Maya inilah.

Kecuali tiga orang wanita itu, tidak ada lagi wanita yang benar-benar dicinta secara mendalam, bukan hanya cinta berahi belaka, seperti yang telah dia jatuhkan kepada banyak sekali wanita sehingga dia dijuluki Jai-hwa-sian.

Dapat dibayangkan betapa bahagia hati Suma Hoat setelah dapat mendekap dan mencium mulut Maya.

Dia merasa bahagia, mendapatkan pengganti Ciok Kim Hwa, pengganti Khu Siauw Bwee.

"Maya.... bidadariku, kekasih pujaan hatiku.... bumi dan langit menjadi saksi akan cinta kasihku kepadamu, Maya...."

Maya tersentak kaget.

Tadi sebelum mendengar namanya disebut, dia hanyalah seorang gadis dewasa, seorang wanita yang haus akan cinta, yang menderita karena rindu sehingga dia terlena dalam dekapan Suma Hoat, pria tampan yang pandai merayu hati wanita itu.

Akan tetapi, begitu mendengar namanya disebut, dia sadar!

Dia adalah Maya, panglima wanita pemimpin Pasukan Maut.

Dia adalah Puteri Maya, puteri dari Raja dan Ratu Khitan yang sedang berjuang membalaskan kematian ayah bunda dan keluarganya!

Dia adalah Maya, penghuni Istana Pulau Es, sumoi dari Kam Han Ki!

Sekali meronta, Maya telah merenggutkan tubuhnya dari pangkuan dan dekapan Suma Hoat dan dia sudah meloncat turun dari atas pembaringan.

Mukanya berubah pucat, sepasang matanya bersinar-sinar ketika ia memandang Suma Hoat yang menjadi kaget dan khawatir menyaksikan perubahan sikap ini.

"Maya.... kekasihku, kenapa....?"

"Suma Hoat! Bagaimana engkau bisa mengenal namaku?"

Tiba-tiba Maya bertanya, suaranya penuh kecurigaan dan pandang matanya tajam menyelidik.

Sejenak Suma Hoat kagum dan bengong, diam-diam ia harus mengakui bahwa belum pernah dia melihat gadis secantik Maya sehingga dalam keadaan seperti itu masih saja tampak cantik jelita, kecantikan yang aneh namun pada saat itu menguasai seluruh hatinya.

"Ahhh, kekasih pujaan hatiku, jadi itukah yang mengejutkan hatimu?"

Suma Hoat tersenyum lebar.

"Tentu saja aku dapat menduga. Pertama karena aku melihat bahwa wajahmu yang cantik seperti bidadari itu bukan wajah seorang gadis Han dan mengingat engkau bekerja untuk orang Mancu, tentulah engkau seorang gadis Mancu pula. Dan ilmu kepandaianmu demikian hebat. Siapa lagikah gadis secantik dan terlihai di Mancu kalau bukan Panglima Wanita Maya? Akan tetapi, kenyataan itu bahkan menggirangkan hatiku, Maya dewiku. Engkau seorang Panglima Mancu, aku seorang putera jenderal. Kita akan menjadi sepasang suami isteri yang cocok dan...."

"Cukup!"

Tiba-tiba Maya membentak dan melihat pandang mata gadis itu, Suma Hoat baru merasa terkejut sekali karena gadis itu benar-benar telah menjadi marah sekali.

"Maya.... ada apakah....? Mengapa engkau marah-marah....?"

Suma Hoat turun pula dari pembaringan dan melihat perubahan yang amat menggelisahkan ini, dia yang cerdik cepat menceritakan jasanya untuk menyenangkan hati Maya.

"Tidak cukupkah bukti yang kuperlihatkan dalam membantumu? Bukankah engkau sendiri yang tadi mengobati aku yang terluka hebat dan hampir tewas? Maya.... aku rela berkorban nyawa untukmu. Untuk memenuhi permintaanmu dan membantumu, aku tadi menyelidiki ke dalam istana Pangeran Ciu Hok Ong yang sedang mengadakan perundingan dengan Bu-koksu, dan aku mendapatkan sebuah rahasia rencana mereka yang amat penting bagimu!"

Suma Hoat memandang wajah Maya dengan hati gelisah karena gadis itu seolah-olah tidak mendengarnya, bahkan kini tampak penyesalan dan kemarahan membayang di wajah yang cantik itu.

Maya merasa menyesal sekali, menyesalkan diri sendiri yang telah menjadi lemah dan membiarkan pemuda itu memeluk dan menciuminya.

Betapa mungkin hal itu terjadi!

Dia masih nanar kalau memikirkan kembali dekapan dan ciuman yang membuat darahnya menggelora tadi!

"Maya, dengarlah,"

Suma Hoat menyambung cepat.

"Pangeran Ciu dan Koksu berunding dan mengambil keputusan untuk memancing pasukan Mancu meninggalkan Sian-yang menyerbu Siang-tan menggunakan saat itu untuk menyerbu dan merampas kembali Sian-yang dan mengurung pasukan antara kedua kota itu. Sial bagiku, dalam persembunyianku itu, aku ketahuan oleh seorang panglima pengawal Koksu yang amat lihai dan dalam beberapa gebrakan saja aku telah terpukul. Untung keadaan yang kacau memungkinkan aku melarikan diri dan ke sini.... eh, Maya, bukankah sudah terbukti betapa aku rela mengorbankan apa saja untukmu?"

Maya menarik napas panjang.

"Terima kasih atas bantuanmu, Suma Hoat. Akan tetapi jangan kau mengira bahwa semua jasamu itu harus kubalas dengan cinta! Engkau telah mengetahui siapa aku. Aku adalah Puteri Maya, juga Panglima Maya, dan aku adalah penghuni Istana Pulau Es! Tak mungkin aku mencinta orang seperti engkau yang seharusnya kubunuh, karena engkau adalah putera Suma Kiat musuh besarku! Untuk bantuanmu itu, aku membalas dengan mengampunimu, tidak membunuhmu. Nah, selamat tinggal!"

"Maya....!"

Suma Hoat berteriak, kaget bukan main mendengar bahwa Maya adalah penghuni Istana Pulau Es!

Dia mengejar, akan tetapi sekali berkelebat saja Maya telah lenyap dari situ.

"Ahhhh.... tidak.... tidak mungkin....!"

Suma Hoat menjatuhkan diri ke atas pembaringan setelah dia kembali ke kamar itu, hatinya seperti diremas, semua harapannya membuyar.

Mengapa nasibnya seburuk itu dalam cinta kasih?

Setelah gagal memperisteri Ciok Kim Hwa, setelah gagal meraih cinta kasih Khu Siauw Bwee, setelah semua harapannya tercurah kepada Maya dan melihat Maya berada dalam dekapannya mandah diciuminya, kini Maya terlepas dan terbang pula dari tangannya!

Kembali dia gagal!

Tidak ada harapan lagi karena Maya ternyata adalah penghuni Istana Pulau Es yang tentu saja memiliki kepandaian yang amat luar biasa!

Mengapa nasibnya bagitu buruk sehingga dia dipertemukan dengan dua orang dara penghuni Istana Pulau Es?

Apakah seperti Siauw Bwee, Maya juga telah mencinta laki-laki lain?

Ah, nasib!

Ketika Suma Hoat bangkit lagi, rambutnya awut-awutan karena dijambakinya, wajahnya pucat dan sepasang matanya kembali mengandung sinar yang keji, sinar yang telah lama meninggalkan matanya semenjak dia melukai Ketua Siauw-lim-pai, semenjak dia sadar akan kesesatannya.

Hatinya yang berkali-kali mengalami pukulan, kegagalan cinta, membuat perasaannya menjadi kecut dan kambuh kembalilah penyakitnya, penyakit yang membuat dia menjadi Jai-hwa-sian, penyakit yang membuat dia membenci wanita, ingin mempermainkan semua wanita, terutama mempermainkan cinta kasih mereka!

Kalau dia menjadi sakit hati karena cintanya terhadap wanita, dia akan mempermainkan cinta kasih wanita.

Mulai detik itu juga, iblis mulai menguasai hati Suma Hoat lagi, seolah-olah Jai-hwa-sian yang beberapa bulan lamanya telah mati itu kini bangkit dan hidup kembali.

Dan dengan beringas pemuda itu meloncat keluar meninggalkan rumah itu, kemudian di malam hari itu, di sebuah rumah besar, terdengarlah rintihan dari seorang gadis yang dipermainkannya, kemudian menjelang pagi terdengar jerit gadis itu yang mengantar nyawanya terbang meninggalkan tubuhnya yang setelah diperkosa lalu dibunuh oleh tangan Jai-hwa-sian!

Suma Hoat tidak membohong ketika dia bercerita kepada Maya.

Memang sore hari itu dia telah menyelidik ke istana Pangeran Ciu Hok Ong.

Sayang bahwa ketika dia sudah mendengar sebagian dari percakapan antara Pangeran Ciu dan Koksu negara bersama panglima-panglima tinggi, tiba-tiba dia diserang seorang pengawal berpakaian preman yang amar lihai.

Tentu saja Suma Hoat tidak mampu menandingi pengawal itu dan terpaksa melarikan diri dengan membawa luka karena pengawal itu bukan lain adalah Kam Han Ki!

Akan tetapi, pada waktu Pangeran Ciu bersama Bu-koksu mengadakan perundingan di pondok taman yang didirikan di atas telaga buatan itu, ada seorang manusia lain yang juga diam-diam mengintai dan mencuri dengar percakapan orang-orang besar ini.

Dia bukan lain adalah Ok Yan Hwa yang bekerja sebagai dayang dalam istana Pangeran Ciu Hok Ong.

Bedanya, kalau Suma Hoat mengintai dengan bersembunyi di atas wuwungan pondok sehingga dia terlihat dan diserang oleh Kam Han Ki, dara perkasa ini lebih cerdik dan dia bersembunyi di bawah pondok, menyelam ke dalam air, berpegang pada tiang pondok dan hanya menyembulkan kepalanya sambil bersembunyi di balik tiang, mendengar percakapan orang-orang yang duduk di atas papan pondok.

Karena keadaan di kolong pondok itu gelap, tentu saja tempat persembunyian Yan Hwa ini lebih aman sehingga Kam Han Ki yang amat lihai itu sendiri pun tidak dapat melihatnya.

Seperti juga Suma Hoat, Yan Hwa dapat menangkap percakapan antara Pangeran Ciu dan Bu-koksu tentang rencana mereka untuk menjebaknya dan menghancurkan pasukan Mancu.

Dia menjadi girang sekali karena hari itu adalah hari terakhir dan besok pagi-pagi dia sudah harus meninggalkan tempat ini untuk mengadakan pertemuan dengan kawan-kawannya, maka hasil pengintaiannya itu dapat mendengarkan rahasia yang amat penting bagi pasukan Mancu.

Akan tetapi, betapa terkejutnya ketika ia melihat bayangan berkelebat dan seorang laki-laki tampan berdiri di depan Bu-koksu sambil berkata tenang.

"Bu-loheng, aku telah mengusir seorang mata-mata yang tadi mengintai di sini."

"Eh, mengapa kauusir dan tidak kautangkap atau bunuh?"

Koksu Bu Kok Tai bertanya, tidak puas.

"Dia lihai sekali, Loheng. Akan tetapi dia sudah terluka oleh sebuah pukulanku."

"Siapakah dia? Apakah kau mengenal dia?"

"Tempatnya gelap, dia bersembunyi di belakang wuwungan, Loheng. Aku hanya melihat dia dalam cuaca remang-remang, dia masih muda dan tampan, akan tetapi aku tidak mengenalnya."

"Kam-siauwte, engkau telah berjasa. Harap kau suka melakukan penyelidikan ke kota, jangan sampai ada mata-mata musuh dapat menyelundup masuk ke kota Siang-tan ini."

"Baiklah, Loheng."

Setelah berkata demikian, pemuda itu berkelebat dan lenyap dari situ.

Ok Yang Hwa masih memeluk tiang di bawah pondok itu, wajahnya pucat dan dia menggigil.

Bukan menggigil karena kedinginan yang dapat dilawannya dengan pengerahan sin-kangnya, melainkan menggigil karena ketakutan!

Ok Yan Hwa murid Mutiara Hitam, menggigil ketakutan?

Memang benar demikian dan hal ini tidaklah aneh karena dara perkasa itu tadi mengenal Si Pemuda yang menghadap Bu-koksu sebagai Kam Han Ki!

Perasaan terheran-heran melihat adik sepupu gurunya itu kini membantu Koksu Negara Sung, bercampur dengan rasa ngeri dan takut karena kalau sampai Kam Han Ki melihatnya, tentu dia celaka.

Paman gurunya lebih lihai daripada Maya, pernah menundukkan dia dan suhengnya di medan pertempuran, bahkan memperingatkan mereka berdua agar meninggalkan barisan Mancu.

Karena telah mendengar rahasia penting dan hatinya gentar setelah melihat Kam Han Ki, Yan Hwa lalu menyelam, berenang di bawah permukaan air tanpa menimbulkan suara, meninggalkan tempat itu dan langsung dia menghubungi suhengnya, Can Ji Kun yang menyelundup dan bekerja sebagai tukang kuda.

Isyarat suitan yang dikeluarkan Yan Hwa segera mendapat balasan dan tak lama kemudian kedua orang kakak beradik seperguruan, juga sepasang kekasih ini, sudah saling berhadapan di belakang kandang kuda yang gelap.

Ji Kun segera merangkul Yan Hwa dan dia berbisik kaget.

"Aihhh.... kenapa pakaianmu basah semua?"

"Aku baru saja menyelidiki perundingan di pondok telaga dengan hasil baik,"

Yan Hwa balas berbisik.

"Engkau tentu kedinginan. Hayo masuk ke kamarku, tanggalkan pakaian basah ini dan kuhangatkan...."

"Hushhh, itu saja yang kau pikirkan, suheng. Dengarlah, kita harus pergi dari sini, sekarang juga!"

"Kenapa? Kau kelihatan ketakutan, sumoi."

"Memang aku takut setengah mati. Kau tahu.... Kam-susiok berada di sini, dia menjadi pengawal Bu-koksu!"

Can Ji Kun membelalakkan matanya. (Lanjut ke

Jilid 33) Istana Pulau Es (Seri ke 05

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 33

"Apa? Kam-susiok? Kau maksudkan dia.... Kam Han Ki penghuni Istana Pulau Es?"

Yan Hwa mengangguk dan dengan singkat menceritakan semua pengalamannya ketika dia mengintai tadi.

"Karena itulah, kita harus sekarang juga meninggalkan tempat ini. Besok adalah hari yang menentukan bagi kita untuk berkumpul di dalam kuil tua di luar kota. Aku telah mendengar rahasia yang amat penting itu, terutama sekali kehadiran Kam-susiok di sini tentu akan menarik perhatian Maya. Dan kau sendiri tentu sudah mendapatkan banyak keterangan. Selagi gelap begini, akan berkuranglah bahayanya untuk melarikan diri. Mudah-mudahan saja jangan sampai bertemu dengan Kam-susiok!"

Yan Hwa bergidik ngeri karena dia takut sekali kepada adik gurunya itu.

"Baiklah kalau begitu, Sumoi. Nih pedangmu, simpanlah!"

Yan Hwa menerima pedangnya yang ia titipkan kepada suhengnya ketika mereka menjalankan siasat menyelundup kota bersama rombongan siuli.

"Akan tetapi, engkau harus berganti pakaian lebih dulu. Pakaianmu basah kuyup begini."

"Tidak ada waktu untuk kembali ke istana. Kalau ada yang melihat pakaianku tentu akan menimbulkan kecurigaan. Sudahlah, basah begini pun tidak apa-apa, Suheng."

"Bagimu tidak apa-apa, akan tetapi kalau engkau sakit, akulah yang akan kehilangan!"

Ji Kun berkata.

"Tidak, engkau harus berganti pakaian kering. Biarlah engkau memakai pakaianku saja."

Yan Hwa tidak membantah lagi dan dengan belaian-belaian mesra, Ji Kun membantunya menanggalkan pakaian basah dan mengenakan pakaian kering yang tentu saja terlalu besar bagi Yan Hwa.

Dalam keadaan seperti itu, mereka tiada ubahnya sepasang suami isteri muda yang saling mencinta.

Kalau Yan Hwa yang masih ketakutan mengingat kehadiran Kam Han Ki tidak menolaknya, tentu Ji Kun akan melepas rindunya terhadap sumoinya atau kekasihnya itu.

Mereka lalu menyelundup keluar dari lingkungan istana, melalui tembok belakang yang tidak jauh dari kandang-kandang kuda di mana Ji Kun bekerja.

Dengan kepandaian mereka, kedua orang murid Mutiara Hitam ini berhasli meloncat keluar tanpa dilihat para peronda dan penjaga.

Mereka meloncat dan berlarian di atas genteng rumah rumah penduduk kota dengan hati-hati sekali dan legalah hati mereka melihat bahwa di atas rumah-rumah itu tidak nampak penjaga-penjaga.

"Kita harus menghubungi Kwa-huciang dan Theng-ciangkun lebih dulu,"

Kata Ji Kun.

"Kemarin aku telah berhasil menghubungi mereka."

"Apakah mereka masih menyamar sebagai pengemis?"

"Benar, dan mereka bersembunyi di kolong jembatan Ayam Besi di sebelah utara, bersama para pengemis lainnya. Kita harus membantu mereka keluar dari kota. Marilah!"

Akan tetapi ketika mereka melompat ke atas genteng sebuah rumah besar, tiba-tiba muncul empat bayangan orang-orang yang tadinya bersembunyi dengan mendekam di balik wuwungan.

Mereka adalah empat orang pengawal yang memegang pedang dan seorang di antaranya membentak.

"Berhenti! Siapa kalian berdua?"

Kedua orang murid Mutiara Hitam itu menjawab dengan gerakan pedang yang telah mereka cabut dari sarungnya.

Gerakan mereka cepat bukah main dan keduanya seperti berlumba, tampak sinar kilat berkelebat dan empat orang pengawal itu telah roboh dan tewas seketika.

Kakak beradik seperguruan ini masing-masing merobohkan dua orang!

"Tangkap penjahat....!"

Kini muncullah belasan orang pengawal yang berloncatan dari empat penjuru, dan kedua orang muda perkasa itu sudah dikurung.

Terjadilah pertempuran seru di atas genteng.

"Cepat, kita harus pergi dari sini!"

Ji Kun berkata sambil mengelebatkan pedangnya.

Para pengawal yang datang mengeroyok ini memiliki kepandaian lumayan sehingga terdengarlah bunyi berdencing nyaring ketika Sepasang Pedang Iblis di tangan Ji Kun dan Yan Hwa mengamuk, mematahkan senjata-senjata lawan yang menghujani mereka dengan serangan dahsyat.

Dua orang pengawal roboh lagi, akan tetapi kini tampak banyak sekali pengawal berloncatan.

Ji Kun dan Yan Hwa maklum bahwa kalau pasukan pengawal dikerahkan, mereka akan menghadapi bahaya besar dan akan sukar sekali untuk dapat meloloskan diri.

Apalagi kalau mereka teringat kepada Kam Han Ki, mereka merasa ngeri.

Maka sambil memutar pedang yang mengeluarkan hawa menyeramkan dan sinar kilat sehingga para pengeroyok menjadi gentar, keduanya meloncat ke depan, berdiri di atas genteng dan dikejar oleh para pengawal.

Terdengar bunyi suitan-suitan dari para pengawal yang memberi tanda bahaya sehingga dari mana-mana muncullah para penjaga yang tadinya melakukan penjagaan sambil bersembunyi.

Melihat betapa dari depan, kanan, kiri muncul pula banyak pengawal, Ji Kun dan Yan Hwa lalu meloncat turun.

Seperti juga di atas, di bawah sudah terdapat banyak pengawal yang segera menyambut dan mengurung mereka.

Ji Kun dan Yan Hwa mengamuk dan seperti biasa, pedang mereka seolah-olah berubah menjadi naga kilat, sepasang naga yang amat dahsyat dan mereka berlumba membunuhi para musuh yang mengeroyok mereka.

"Sing-sing.... crat-crat....! Delapan orang, Suheng!"

Yan Hwa berseru ketika tubuhnya mencelat ke atas dan pedangnya menyambar ke bawah, merobohkan dua orang pengeroyok yang hampir putus leher mereka terbabat pedang Li-mo-kiam di tangannya.

Ucapannya itu berarti bahwa sudah delapan orang yang dirobohkannya.

Ji Kun menggulingkan tubuhnya, pedangnya membabat ke sekelilingnya.

"Wuuuttt, crok-crok....! Sembilan orang Sumoi!"

Katanya gembira karena dia menang satu orang.

Yan Hwa penasaran dan pedangnya diputar makin hebat.

Kedua orang itu kini telah lupa akan bahaya, lupa akan menyelamatkan diri, bahkan lupa bahwa mereka tadi khawatir sekali akan munculnya Kam Han Ki.

Mereka telah berubah menjadi dua orang yang haus darah, ingin berlumba berbanyak-banyaknya dalam membunuh musuh!

Tiba-tiba terjadi kekacauan di antara para pengeroyok dan ternyata tiga puluh orang lebih yang berpakaian pengemis, mengamuk dan menyerang para pengawal itu.

Keadaan menjadi kacau-balau dan tiba-tiba Ji Kun dan Yan Hwa melihat Kwa-huciang dan Theng-ciangkun muncul dekat mereka.

"Cepat, ikut kami....!"

Bisik Kwa-huciang memberi isyarat dengan tangannya.

Ji Kun dan Yan Hwa maklum bahwa kalau mereka menuruti nafsu hati berlumba membunuhi musuh, akhirnya mereka akan terjebak dan sukar sekali meloloskan diri, maka mereka segera menyelinap dan mengikuti Kwa-huciang dan Theng-ciangkun yang agaknya memang sudah merencanakan pelarian ini.

Menggunakan kekacauan karena para pengemis menyerbu para pengawal, empat orang mata-mata ini berlari dan melalui lorong-lorong gelap, akhirnya mereka itu dapat lolos dari kota dengan jalan merobohkan beberapa orang penjaga tembok kota yang sunyi dan kurang kuat penjagaannya, meloncat ke atas tembok dan menggunakan tali yang sudah disediakan untuk keluar.

Setelah mereka terbebas dari kejaran para pengawal dan penjaga, Ji Kun memuji kawannya dan berkata.

"Eh, Kwa-huciang, untung engkau datang, kalau tidak tentu kami akan repot menghadapi kepungan pasukan-pasukan musuh. Bagaimana kalian berdua dapat menggerakkan para pengemis itu?"

"Mereka itu sebagian besar adalah pengemis-pengemis anggauta Hek-tung Kai-pang yang bergabung dengan Coa-bengcu. Telah kita ketahui bahwa diam-diam Coa-bengcu menjadi sekutu pemerintah Yucen, maka kami berdua lalu mengaku sebagai mata-mata dari Yucen dan mendengar ini, tentu saja mereka siap membantu kami berdua untuk meloloskan diri dari dalam kota."

"Hemm, bagus sekali siasatmu, Kwa-huciang. Sekali tepuk mendapatkan dua ekor lalat! Para pengemis itu adalah kaki tangan Yucen, musuh kita juga, dan tentu mereka akan terbasmi oleh para penjaga Sung. Sungguh bagus, ha-ha-ha!"

Ji Kun memuji. Kwa-huciang mengerutkan alisnya dan dia menarik napas panjang.

"Yaaah, begitulah perang! Demi kemenangan pihak sendiri, orang tidak segan-segan melakukan segala macam hal yang dalam keadaan biasa akan membuatnya malu sekali karena perbuatan semacam yang kami lakukan adalah keji dan curang. Sudahlah, mari kita cepat menuju ke kuil tua di mana tentu Li-ciangkun telah menanti kita."

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert