Ceritasilat Novel Online

Pedang Kayu Harum 9

Eps 9 Pedang Kayu Harum - Kho Ping Hoo

Baca online Pedang Kayu Harum - Kho Ping Hoo

Cersil Pedang Kayu Harum - Kho Ping Hoo.

Cintanya amat mendalam dan dia sudah berkabung untuk pemuda itu selama bertahun-tahun.

Biarpun tadinya menyangka bahwa pemuda itu telah tewas, ia tetap mencinta Keng Hong.

Dan kini, setelah bertemu dengan pemuda yang ternyata masih hidup itu, ia dikecewakan!

Makin diingat, makin sakit hatinya dan dengan tubuh lemas Biauw Eng menjatuhkan diri di atas rumput dalam hutan itu.

"Ahhh, Keng Hong.... alangkah kejam hatimu...!"

Tentu saja ia melarikan diri dari Keng Hong karena maklum bahwa kalau ia mengikatkan diri dengan pemuda itu, akhirnya ia hanya akan dianggap sebagai sebuah benda indah, dijadikan benda permainannya.

Tentu saja dia tidak sudi.

Lebih baik berpisah!

Akan tetapi, betapa sengsaranya perasaan hatinya terpisah dari pria yang dicintanya!

"Aduhhh..., daripada menderita siksa batin seperti ini, lebih baik aku mati saja...!

mati menyusul ibu...

Menyusul ayah...."

Makin terisak ia menangis ketika teringat bahwa dia adalah puteri Sin-jiu Kiam-ong.

Dia belum pernah bertemu dengan ayahnya.

Dan Keng Hong adalah murid ayahnya, murid yang terkasih!

Kalau saja ia dapat bersanding dengan Keng Hong, akan terobatilah rindunya kepada ayahnya.

Akan tetapi Keng Hong....!

"Lebih baik aku mati...!"

Dan gadis itu menangis sesenggukan, air matanya seperti air sungai meluap, membasahi kedua pipinya, terus menurun ke dagu dan menetes ke dada.

Akan tetapi Biauw Eng adalah seorang gadis yang semenjak kecilnya digembleng kegagahan oleh mendiang ibunya.

Semenjak kecil dia diajar menghadapi segala apa pun di dunia ini penuh ketahanan, penuh keberanian dan kepercayaan kepada diri sendiri.

Kini, pikiran ingin mati hanya terucapkan di mulut karena dorongan rasa duka yang amat mendalam.

Di dalam hatinya, tidak seujung rambut pun keinginan untuk mati, apalagi bunuh diri yang dianggapnya perbuatan seorang pengecut.

Ia tidak takut apa pun juga, mengapa takut melanjutkan hidup.

Pula, kematian ibunya belum terbalas!

Pada saat itu, tidak mungkin bagi dia untuk membalas dendam karena jelaslah bahwa menghadapi Cui Im, dia tidak dapat berbuat apa-apa.

Bekas sucinya itu, yang dahulu bekas lawannya dan akan dapat ia kalahkan dengan mudah, kini telah menjadi seorang wanita yang amat lihai, memiliki kepandaian ynag jauh mengatasinya.

Apalagi di sebelah Cui Im terdapat Siauw Lek yang juga amat lihai.

Kalau saja ada Keng Hong di sampingnya, tentu mereka berdua akan dapat mengalahkan Cui Im dan Siauw Lek.

Keng Hong....!

Ah, tak dapat diharapkan dan ia pun tidak sudi minta pertolongan pemuda berhati palsu itu!

Dia tidak takut mati, akan tetapi dia pun bukan seorang tolol yang menyerahkan kematian begitu saja denagn nekat menyerang Cui Im.

Ibunya dahulu meberi tahu bahwa dengan nekat menyerang lawan yang jauh lebih kuat sehingga diri sendiri dirobohkan, bukanlah perbuatan orang gagah, melainkan perbuatan seorang tolol!

Habis, apa yang akan ia lakukan?

"Aduh, ibu...!"

Biauw Eng menangis lagi, baru pertama kali ini selama hidupnya ia merasa tidak berdaya, kehabisan akal dan kehabisan semangat.

Luka di hati karena asmara memang amat pedih, apalagi kalau dirasakan dan dikenang.

Memang sesungguhnya bukan apa-apa, karena luka seperti itu akan lenyap dengan sendirinya, akan sembuh tanpa diobati.

Obatnya hanya tidak memikirkannya lagi dan mencurahkan pikiran untuk hal-hal lain yang banyak terdapat dalam hidup.

Akhirnya tentu akan lenyap dan kemudian orang yang tadinya terluka asmara akan tertawa geli kalau mengenang kelakuannya sendiri.

Akan tetapi kalau dikenang dan dirasakan, memang tidak ada luka lebih pedih daripada luka asmara, tidak ada penyakit yang lebih parah dan berat daripada penyakit asmara!

Tidak, dia tidak akan mati!

Dia tidak boleh putus asa!

Ia teringat akan ibunya.

Ibunya dahulu juga disakitkan hatinya oleh Sin-jiu Kiam-ong!

Ayahnya, atau guru Keng Hong telah menggoda ibunya, bahkan lebih jauh perbuatan Sin-jiu Kiam-ong, yaitu telah melakukan hubungan cinta dengan ibunya sehingga ibunya mengandung!

Dan ayahnya itu tidak pernah kembali kepada ibunya.

Biarpun demikian, ibunya tidak putus asa, bahkan lalu mengasingkan diri dan berhasil memiliki ilmu kepandaian tinggi, menjadi Lam-hai Sin-ni, tokoh pertama dari semua datuk hitam!

Mengapa dia tidak meniru perbuatan ibunya?

Ia akan pergi jauh, jauh dari tempat ramai, menggembleng diri dengan ilmu sehingga ia akan dapat memiliki ilmu kepandaian yang akan dapat mengatasi Cui Im!

Dia lebih beralasan untuk hidup daripada ibunya dahulu!

Dia akan menggembleng diri dan kelak akan membalas dendamnya kepada Cui Im!

Pikiran ini mendatangkan semangat baru dalam hati Biauw Eng.

Tidak, dia tidak akan putus asa.

Sedikitnya, hubungannya dengan Keng Hong belum sejauh hubungan antara ibunya dengan Sin-jiu Kiam-ong!

Dia masih gadis.

Lai Sek sekalipun, Lai Sek yang amat mencintanya, yang selalu siap berkorban apa saja untuknya, bahkan yang telah ia serahi seluruh tubuhnya, Lai Sek pun tak pernah menyentuhnya!

Sungguh seorang pemuda yang hebat!

Cinta kasihnya demikian murni!

Kalau saja Keng Hong memiliki cinta kasih seperti Lai Sek.

Ah, tidak perlu memikirkan Keng Hong lagi.

"Aku tidak boleh memikirkannya lagi. Dia laki-laki yang tidak berharga! Aku.... benci kepadanya!"

Biauw Eng melompat bangun lalu lari secepatnya ke utara.

Ia lari seperti dikejar setan, dan memang dia melarikan diri untuk lari dari bisikan yang mengejarnya, bisikan bahwa tidak mungkin ia dapat melupakan Keng Hong, bahwa tidak mungkin ia dapat membencinya.

Betapapun cepat ia lari, suara bisikan ini terud mengejarnya, terus terdengar oleh telinganya karena yang berbisik adalah hatinya sendiri.

Ah, cinta!

Sungguh engkau dapat berubah dari seorang dewi pembawa bahagia menjadi seorang iblis yang kejam pembawa derita sengsara!

Dan betapa bodohya orang muda yang sudah dicengkeram kuku-kuku beracun dari asmara!

Lebih lagi, betapa bodohnya seorang pemuda seperti Keng Hong yang tadinya tidak dapat membedakan antara cinta kasih seorang gadis seperti Biauw Eng dari cinta nafsu seorang wanita macam Cui Im!

Biauw Eng melakukan perjalanan yang tidak mengenal lelah.

Hanya kalau kakinya sudah mogok saking lelahnya, baru ia beristirahat.

Kalau matanya sudah hampir tak dapat dibuka saking kantuknya, baru dia tidur dan kalau perutnya sudah tak dapat menahan laparnya, baru ia mencari makanan pengisi perut.

Berbulan-bulan dara yang merana karena asmara ini melakukan perjalananke utara dan pada suatu pagi ia memasuki sebuah hutan di lereng Pegunungan Go-bi-san.

Pakaiannya yang berwarna putih itu masih bersih karena sering kali dia berhenti dan mencucinya di sungai atau danau, akan tetapi pakaian itu sudah banyak yang robek, juga sepatunya sudah bolong-bolong.

Kulit mukanya yang biasanya halus putih itu kini agak hitam karena setiap hari dibakar terik matahari.

Hanya ada perubahan yang amat menyolok, yaitu pada pandang mata gadis ini.

Dahulu, ketika masih bersama ibunya, ketika namanya terkenal sebagai Song-Siu-li (Dara Jelita Berkabung) pandang mata, sikap dan bicaranya dingin seperti sebuah gunung es, dingin akan tetapi amat ganas dan ia dapat membunuh lawannya dengan mata tanpa berkedip.

Akan tetapi kini pandang matanya bersinar-sinar penuh api dan semangat, tanda bahwa di dalam hatinya terkandung cita-cita yang amat besar.

Selain pandang matanya berubah panas, juga ada kematangan dalam sikap dan suaranya.

Kematangan seorang dara muda yang tergembleng oleh tekanan-tekanan batin yang hebat.

Keadaan di hutan itu mendatangkan rasa suka di hatinya.

Banyak tetumbuhan yang aneh dan tak pernah dijumpainya di selatan.

Juga banyak terdapat burung-burung indah beraneka warna bulunya.

Banyak pula kembang-kembang yang indah bentuk maupun warnnanya.

Biauw Eng duduk beristirahat di bawah pohon, memperhatikan bunga kuning yang tumbuh di dekatnya.

Bunga itu aneh bentuknya, dapat dikatakan buruk dan tidak berbau wangi.

Tak jauh dari bunga kuning ini tumbuh bunga lain yang warnanya merah, bentuknya indah seperti bunga kiok-hwa (seruni) dan berbau harum.

Bunga ini dikelilingi beberapa ekor kumbang yang seolah-olah berebut hendak memasuki kelopak bunga merah dan menghisap madunya.

Bunga kuning yang buruk itu tidak dihiraukan kumbang.

Biauw Eng menarik napas panjang mengulur lengan dan menyentuh bunga kuning dengan ujung jari-jari tangannya, sentuhan halus penuh kasih sayang dan rasa iba.

"Jangan berduka, bunga kuning,"

Bisiknya menghibur.

"Dalam kesepianu, engkau lebih bahagia daripada bunga merah itu.

Biauw Eng memperhatikan bunga-bunga itu dan menghela napas panjang.

Betapa sama nasib bunga-bunga ini dengan nasib para wanita.

Di mana-mana, seperti bunga-bunga ini, wanita menjadi permainan kaum pria.

Hanya wanita-wanita cantik yang dikejar-kejar kumbang.

Pria dan kumbang sama saja.

Pria tertarik oleh kecantikan wanita seperti kumbang tertarik oleh keharuman madu kembang.

Kembang-kembang yang tidak harum, seperti kaum wanita yang tidak cantik, tidak dipedulikan dan tersia-sia.

Namun, kembang-kembang tidak harum dan wanita-wanita tidak cantik tidaklah lebih sengsara daripada nasib kembang-kembang harum atau wanita-wanita cantik.

Kembang bermadu setelah madunya habis dihisap kumbang, lalu ditinggal pergi tanpa pamit oleh si kumbang.

Wanita cantik setelah dipermainkan oleh pria, seperti kembang habis madunya, seperti tebu habis manisnya, lalu disia-siakan dan ditinggal begitu saja!

Seperti ibunya!

Dan dia tidak mau dijadikan seperti ibunya seperti kembang beradu harum yang kelak disia-siakan.

Tidak, lebih baik menjadi kembang kuning yang tidak dipedulikan kumbang, akan lebih segar dan dapat bertahan lama, tidak mudah layu!

Persetan dengan kumbang-kumbang palsu itu!

Persetan dengan cinta kasih pria-pria palsu yang hanya membutuhkan kecantikan wajah dan keindahan tubuh!

Tiba-tiba rasa bencinya kepada kaum pria yang mempunyai cinta kasih palsu melimpah dan membuat Biauw Eng marah kepada kumbang-kumbang itu.

Tangan kirinya bergerak menampar dan empat ekor kubang besar terkena tamparan tangannya, terbanting hancur di atas tanah, di bawah kembang kuning.

Biauw Eng memandang puas.

"Tersenyumlah, kembang kuning. Tertawalah, dan lihat kumbang-kumbang palsu itu kini menjadi bangkai, sebentar lagi membusuk dan dimakan semut!"

Saking gembiranya dan puas hatinya melihat "kumbang-kumbang berhati palsu"

Itu tewas, Biauw Eng bicara dengan keras, seolah-olah kembang kuning merupakan seorang wanita lain yang perlu dihibur hatinya.

Tiba-tiba, agaknya terkejut oleh suaranya, dua ekor kijang berbulu coklat berkuningan seperti emas meloncat keluar dari balik semak-semak.

Biauw Eng terkejut dan memandang, ketawa senang dan ia merasa kagum sekali menyaksikan dua ekor kijang jantan betina yang berkejaran itu.

Saking gembiranya, Biauw Eng lupa diri dan seperti seorang anak kecil yang nakal, ia pun lalu mengerahkan ginkangnya dan meloncat pula, lari mengikuti dua ekor kijang yang berlari naik ke bukit.

Dua ekor kijang berlari makin cepat dan kelihatan ketakutan, mengira bahwa manusia yang dapat berlari cepat di belakang mereka itu mengejar mereka dan hendak menangkap mereka.

Mereka mengeluarkan suara ketakutan dan lari kacau balau.

Melihat ini, Biauw Eng menjadi kasihan dan mengikuti dari jauh agar dua ekor kijang itu tidak menjadi ketakutan.

Ia berniat untuk mendekati mereka secara sembunyi agar dia dapat memandang mereka sepuas hatinya.

Tiba-tiba terdengar suara gerengan yang amat nyaring, yang menggetarkan seluruh permukaan bukit.

Gerengan ini disusul suara mengembik yang menyayat hati, dua kali beruntun.

Biauw Eng terkejut bukan main dan cepat ia meloncat tubuhnya berkelebat mengejar ke arah suara.

Ketika ia tiba di tempat itu, dara ini memandang dengan mata terbelalak dan mukanya menjadi merah sekali saking marahnya.

Dua ekor kijang jantan dan betina yang berkejaran tadi kini telah menjadi bangkai, leher mereka terluka dan robek, darah mereka menjadi satu membasahi rumput dan di antara bangkai kedua kijang itu berdiri seekor harimau besar yang mengaum perlahan lalu mencium-cium darah dan tubuh kijang, agaknya hendak menikmati baunya yang sedap dan gurih sebelum mengganyangnya.

Harimau itu besar seperti anak lembu, bulunya kehitaman, ekornya panjang melingkar dan yang aneh sekali adalah sebuah tanduk yang tumbuh di antara kedua telinganya yang kecil!

Akan tetapi Biauw Eng tidak memperdulikan keanehan binatang ini.

Hatinya telah dikuasai nafsu amarah dan sambil mengeluarkan jerit melengking ke depan, menerjang hariau bertanduk satu itu.

Dalam kemarahannya, Biauw Eng menubruk maju dan menghantam dengan tenaga sekuatnya ke arah kepala harimau yang ada tanduknya itu.

"Siuuuuuuttt.... werrrrrrr!"

"Aihhhhh!"

Biauw Eng berseru kaget karena pukulannya yang cepat dan kuat itu mengenai tempat kosong!

Ternyata harimau bertanduk itu telah dapat mengelakkan pukulannya.

Padahal pukulan tadi tidak akan mudah dielakan begitu saja oleh seorang ahli silat yang belum memiliki kepandaian tinggi!

Tentu saja merupakan hal yang amat aneh kalau seekor binatang dapat mengelak dengan gerakan yang begitu cepat akan tetapi juga seenaknya saja karena Biauw Eng melihat betapa harimau itu mengelak secara tenang tidak tergesa-gesa, hanya dengan miringkan kepala ke kiri!

Biauw Eng yang marah sekali melihat sepasang kijang menjadi bangkai diterkam oleh harimau ganas ini, cepat memutar tubuh dan melanjutkan gerakannya dengan sebuah tendangan.

Ujung sepatunya meluncur cepat menyambar bawah iga binatang itu.

Akan tetapi, sambil mengaum harimau itu kini mengelak dengan loncatan ke belakang dan kaki depan kiri yang bercakar runcing tiba-tiba diangkat menampar ke arah kaki Biauw Eng!

"Ehhh.....!"

Biauw Eng terpaksa menarik kembali kakinya.

Ia tidak takut dicakar, akan tetapi celana dan sepatunya bisa dirobek kalau terkait kuku-kuku yang kuat itu.

Ia makin heran dan penasaran.

Dua kali dia menyerang dan dua kali binatang itu mampu mengelak, bahkan balas mencakar ke arah kakinya.

Biauw Eng hampir tidak percaya.

Cepat ia menerjang lagi, kini menggunakan seluruh kecepatan gerakannya, melambung dan ketika tubuhnya menubruk dan menukik, tangan kirinya dengan jari-jari terbuka menusuk ke arah mata harimau itu, dan tangan kanannya diiringkan menghantam ke arah tengkuk.

Dua serangan ini ia lakukan sambil mengerahkan Iweekang.

Melihat gadis itu yang malah menerkamnya, harimau tanduk satu mengangkat muka, agaknya terheran, akan tetapi begitu angin serangan yang dahsyat menyambar, harimau mengaum dan tiba-tiba tubuhnya merendah dan diputar, lalu kaki depan kanannya membuat gerakan melingkar, menangkis tusukan jari ke arah matanya, sedangkan tangan kanan Biauw Eng yang menghantam tengkuk itu ditangkisnya dengan ekornya yang panjang, yang dipergunakan seperti cambuk diayun dari belakang.

"Plakkk! Dukkk!"

"Hayaaaaaa....!"

Biauw Eng cepat melempar diri ke belakang.

Tangkisan-tangkisan itu membuat kedua pukulannya tertahan dan harimau agaknya menjadi marah itu tadi sambil menangkis sudah menggerakkan kepala menggigit sehingga Biauw Eng terpaksa melempar tubuh ke belakang.

Akan tetapi baru saja meloncat turun, harimau yang marah itu sudah menerjangnya dan membalas dengan serangan yang dilakukan secara aneh, Bukan menubruk seperti harimau-harimau biasa, melainkan menggerakkan kedua kaki depan bertubi-tubi mencakarnya dari kanan kiri, sedangkan tubhnya bergerak maju dengan kaki belakang saja.

seperti gerakan manusia!

Biauw Eng melangkah mundur dan melolos sabuknya.

Dalam keadaan biasa kiranya gadis ini akan merasa malu menggunakan senjatanya menghadapi seekor binatang hutan.

Akan tetapi, ia sudah merasa amat marah melihat sepasang kijang yang dibunuh dan ia tahu bahwa harimau ini bukan sembarangan harimau, melainkan seekor harimau yang memiliki kelebihan daripada harimau lain.

Gerakannya selain cepat dan kuat, juga aneh, mirip gerakan yang terlatih, gerakan yang memiliki dasar ilmu silat!

"Binatang jahat dan kejam, mampuslah!"

Biauw Eng membentak dan tangannya bergerak.

Sinar putih menyambar ke depan, sinar putih panjang dari sabuk suteranya.

Dengan sabuk suteranya ini, dahulu Biauw Eng amat dikenal dan ditakuti lawan, karena memang hebat permainan sabuk suteranya yang dala segebrakan saja mampu merapas senjata lawan, kalau perlu mampu merampas nyawa lawan!

Kini ujung sabuk sutera itu melayang ke arah kepala, tenggorokan dan lambung harimau dengan kecepatan yang menyilaukan mata.

Ujung sabuk yang bergerak bertubi-tubi itu seolah-olah berubah menjadi pukulan banyaknya dan ketika menyambar ke arah harimau mengeluarkan bunyi bercuitan mengerikan.

"Cuiiiiiittttt.... dar-dar-dar...!"

Tiga kali ujung sabuk sutera yang tidak mengenai sasaran itu meledak di tempat kosong.

Sekali ini Biauw Eng benar-benar terkejut.

Binatang buas itu mampu mengelak serangan sabuk suteranya secara beruntun tiga kali dengan cara menggulingkan diri.

Mana di dunia ini ada harimau yang mempunyai akal untuk mengelak sambil bergulingan?

Dan bukan sampai disitu saja karena tiba-tiba harimau itu mengaum dan tubuhnya yang tadi bergulingan itu kini berguling mendekat dan secara mendadak sekali tubuh yang kehitaman itu mencelat ke atas dan sudah menubruk ke arah Biauw Eng dengan gerakan dahsyat.

Keempat kakinya bergerak hendak mencengkeram akan tetapi dengan cakar-cakar digerak-gerakkan sehingga sukar ditentukan kemana keempat buah cakar yang mengerikan itu akan mencengkeram, dan serangan ini didahului oleh sebatang "cambuk"

Yaitu ekornya yang digerakkan lebih dulu, bukan menyabet seperti buntut harimau biasa, akan tetapi ekor ini dari bawah menjadi sebatang toya lurus yang menyodok ke arah leher Biauw Eng.

Hebat bukan main serangan binatang itu karena sekali serang, buntutnya menotok leher, keempat cakar kakinya mencengkeram dan mulutnya yang terbuka menggigiit kepala!

"Aihhhhh....!"

Biauw Eng kaget, akan tetapi tidak menjadi gugup.

Ia merendahkan tubuh, tidak mengelak mundur, bahkan cepat ia menyusup ke bawah tubuh harimau yang sedang meloncat.

Harimau menggereng, agaknya menjadi bingung dan merasa diakali oleh lawan karena selagi tubuhnya meloncat tak mungkin membalik.

Hanya buntutnya yang dapat digerakkan secara tidak terduga oleh Biauw Eng dan tiba-tiba menyabet ke bawah selagi gadis itu menyusup.

Hal ini sungguh tidak terduga oleh Biauw Eng sehingga pundaknya terpukul ekor harimau yang menyambar.

Dan ternyata pukulan itu amat keras sehingga Biauw Eng terbanting ke kanan dan pundaknya terasa nyeri seperti dipukul toya oleh lawan yang bertenaga besar!

Kini Biauw Eng marah sekali.

Ia tidak memperdulikan rasa nyeri di pundak cepat ia melompat bangun dan pada saaat harimau itu melayang turun, sabuk suteranya sudah menyambar ganas, merupakan dua sinar putih karena yang menyambar adalah kedua ujungnya sedangkan dara itu memegang bagian tengah.

Kedua ujung sabuk itu dengan kecepatan kilat sudah menyambar dan membelit keempat kaki harimau itu, ujung pertama membelit kedua kaki belakang, ujung ke dua membelit dua kaki depan.

Harimau menggereng dan meronta, namun sia-sia karena tubuhnya tiba-tiba terangkat naik tanpa dapat ditahannya lagi.

Harimau masih meronta-ronta ketika Biauw Eng mengerahkan tenaga menggerakkan tangan.

Tubuh harimau yang sudah dibelenggu oleh kedua ujung sabuk itu kini terbanting ke bawah menghantam sebuah batu gunung.

"Desssss!"

Batu itu remuk dan harimau itu menggerang-gerang kesakitan.

Kembali tubuhnya terangkat dan kini menghantam sebuah batu lain yang lebih besar, hanya kali ini ia terbanting dengan kepala lebih dulu.

"Prokkk!"

Dan kembali batu yang pecah biarpun kepala harimau itu pun terluka dan berdarah.

Biauw Eng menjadi penasaran.

Betapa kuatnya harimau itu.

Saking marah dan penasaran, berkali-kali ia membanting tubuh harimau yang sudah tak berdaya itu sampai kepala harimau itu pecah-pecah.

Sebelum tewas harimau itu mengeluarkan suara mengaum yang amat dahsyat dan nyaring, menggetarkan gunung.

Biauw Eng lalu melontarkan bangkai harimau itu jauh memasuki jurang.

Kemudian Biauw Eng menghampiri bangkai sepasang kijang berjongkok dan memandang bangkai sepasang kijang itu dengan kening berkerut karena kasihan.

Akan tetapi kemarahannya mereda dan sekarang, dalam keadaan tidak panas hatinya, baru ia teringat dan terheran-heran penuh kekaguman akan kelihaian harimau itu.

Baru keadaannya sudah aneh, kepalanya bertanduk, sungguhpun dalam perkelahian tadi ia melihat bahwa benda di kepalanya itu bukan tanduk keras macam lembu, melainkan segumpal daging yang tumbuh di antara kedua telinga.

Selain keadaanya yang aneh, juga kini ia teringat betapa gerakan harimau tidak wajar.

Gerakan-gerakannya mengandung tehnik ilmu silat!

Cara kaki depan menangkis dari samping dengan gerakan memutar dan membesut, cara buntut harimau itu menangkis dan menyerang, semua itu adalah gerakan ilmu silat!

Kemudian Biauw Eng termenung memandangi bangkai dua ekor kijang itu dan ia merasa heran teringat akan kelakuannya sendiri.

Harimau itu membunuh dua ekor kijang ini karena lapar, karena kijang-kijang ini akan dijadikan mangsanya.

Kenapa ia marah-marah dan membunuh harimau itu?

Hal ini tidak biasa ia lakukan.

Mengapa ia menjadi marah melihat harimau membunuh kijang?

Bukankah hal itu sudah sewajarnya dan dahulu sudah sering kali ia melihat kejadian seperti ini tanpa terpengaruh sedikitpun?

Ia memandang lagi dan tiba-tiba mengertilah dia, lalu menghela napas panjang.

Tadi ia melihat dua ekor kijang itu, sepasang kijang indah, jantan dan betina yang kelihatan rukun.

Hatinya yang baru diobrak-abrik asmara itu tadi merasa mesra dan penuh gairah menyaksikan pasangan kijang ini, mengingatkan ia akan Keng Hong.

Betapa akan mesra dan bahagianya kalau dia bersama Keng Hong bisa hidup rukun berdampingan seperti sepasang kijang itu.

Dan harimau itu kemudian muncul menghancurkan kemesraan yang memenuhi dada.

Melihat sepasang kijang rebah menjadi bangkai yang berlumuran darah, ia seolah-olah merasa bahwa si harimau juga menghancurkan kebahagiannya bersama Keng Hong, maka bangkitlah kemarahannya yang luar biasa.

"Ah, Keng Hong... Engkau membuat aku tidak hanya menjadi merana, juga menjadi... Gila!"

Keluhnya dan kini hatinya mulai merasa menyesal mengapa ia membunuh harimau yang sesungguhnya tidak bersalah apa-apa terhadap dirinya itu.

Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan keras, teriakan-teriakan yang makin lama makin mendekati tepat itu.

Biauw Eng terkejut dan cepat meloncat bangun sambil melibatkan sabuk suteranya di pinggang.

Tak lama kemudian muncullah tiga belas orang wanita.

Mereka muncul dari berbagai jurusan, ada yang berlari-larian dari atas, ada yang meloncat keluar dari jurang.

Gerakan mereka gesit-gesit dan mereka memakai pakaian seragam berwarna kuning.

Tangan mereka memegang pedang dan gerakan mereka gesit sekali.

Sambil bertteriak-teriak marah mereka mengurung Biauw Eng yang berdiri tegak dengan sikap tenang.

"Dia membunuh tuan muda..!"

Beberapa orang di antara mereka berteriak sambil menangis.

"Dia menyiksa tubuh tuan muda...., hi-hi-hik!"

Beberapa orang lagi berseru dan".

Tertawa-tawa.

Melihat sikap mereka, meremang bulu tengkuk Biauw Eng.

Wajah tiga belas orang wanita yang berusia antara dua puluh sampai tiga puluh tahun itu rata-rata cantik, akan tetapi sinar mata mereka liar seperti mata orang yang miring otaknya!

Mereka menangis dan tertawa tidak karuan, meloncat-loncat seperti orang menari mengelilinginya.

"Kalian ini mau apakah?"

Biauw Eng membentak.

"Siapa pula yang membunuh tuan muda?"

"Kau yang membunuh siauw-ya (tuan muda)!"

Seorang di antara mereka, yang membiarkan rambutnya terurai dan yang kelihatan paling tua di antara mereka juga paling cantik, membentak dengan suara seperti orang menangis, akan tetapi bentakan marah itu disusul suara ketawa cekikikan!

"Aku?

Tuan muda yang manakah yang kubunuh?"

Biauw Eng bertanya, tengkuknya terasa dingin dan hatinya merasa serem.

Mudah di duga bahwa wanita yang mengurai rambut ini tidak waras pikirannya.

Akan tetapi kalau gila, masa tiga belas orang wanita yang melihat pakaiannya merupakan pasukan seragam ini gila semua?

"Eh, engkau masih berpura-pura?

Engkau telah membunuh tuan muda Tok-kak-houw (Harimau Tanduk Satu)!

Mayatnya kau lempar ke dalam jurang!"

Sambil berkata demikian wanita itu menggerakkan pedangnya menyerang.

"Srattttt... Sing-sing....!"

Cepat sekali gerakan pedangnya, sekaligus sudah membacok satu kali dan menusuk dua kali.

Biauw Eng mengelak tiga kali lalu meloncat mundur, akan tetapi tiga belas orang wanita itu sudah menerjangnya dan menggunakan ginkangnya mengelak ke sana-sini sambil beerseru.

"Heeeeee! Nanti dulu, apakah kalian sudah gila semua? Yang kubunuh adalah seekor binatang! Seekor harimau karena dia telah membunuh sepasang kijang. Aku tidak membunuh seorang manusia, bagaimana kalian menuduhku membunuh tuan muda kalian?"

Tiba-tiba tiga belas wanita itu tertawa semua, tertawa dan dengan telunjuk kiri menuding ke arah hidung Biauw Eng, lalu tertawa lagi terpingkal-pingkal.

Melihat ini, Biauw Eng makin terheran dan serem, bahkan otomatis dia meraba hidungnya sendiri.

Mengapa hidungnya ditunjuk dan ditertawakan?

Hidungnya tidak apa-apa dan gerakannya itu agaknya memancing kegelian hati mereka karena meledaklah suara ketawa mereka makin keras, bahkan ada yang memegangi perut menahan ketawa.

"Hi-hi-hik, heh-heh, engkau sendiri gila mengatakan kami gila! Engkau telah membunuh tuan muda Tok-kak-houw dan masih menyangkal? Hayo lekas berlutut untuk kami belenggu dan kami bawa menghadap Thai-houw (Ratu)!"

Kata pemimpin pasukan itu dan kembali Biauw Eng terkejut.

Apakah di tempat seperti itu ada ratunya?

Kalau harimau mereka sebut tuan muda, bagaimana macamnya ratu mereka?

Tentu mereka ini sekawanan manusia jahat yang sengaja hendak mempermainkannya, dan marah Biauw Eng.

Ia tadi melihat gerakan mereka amat gesit dan lihai, aka ia lalu meloloskan sabuk suteranya dan berkata dengan suara nyaring.

"Kalian ini orang-orang gila jangan main-main dengan aku! Pergilah atau kalian akan mampus seperti harimau siluman itu!"

Tiga belas orang wanita itu tertawa cekikikan, akan tetapi di antara suara ketawa ini terdengar oleh Biauw Eng suara tangis, sehingga keadaan amat menyeramkan.

Gadis ini menjadi serem karena baru saja ia mengeluh dan merasa menyesal bahwa dia telah membunuh harimau, merasa bahwa Keng Hong membuatnya menjadi gila.

Kini, tiga belas orang wanita itu sikapnya begitu aneh dan ia menganggap mereka seperti gila.

Benar gilakah mereka ini?

Ataukah..., dia sendiri yang sebetulnya gila sehingga hal yang wajar tampak olehnya sebagai tidak wajar?

Ia mengkirik dan kemarahan memenuhi hatinya.

Ia merasa ditertawakan dan dihina, maka sambil mengeluarkan jerit melengking nyaring ia lalu menerjang maju, menggerakkan sabuk suteranya yang berubah menjadi sinar putih bergulung-gulung.

Tiga belas orang wanita baju kuning itu berteriak-teriak dan mengeroyoknya.

Biarpun mereka cekikikan seperti orang gila, namun ternyata gerakan mereka selain ringan cepat dan kuat, juga teratur baik sekali sebagai pasukan yang terlatih.

Gulungan sinar putih sabuk sutera Biauw Eng selalu bertemu dengan sambaran-sambaran pedang yang datang bagaikan hujan.

Terpaksa Biauw Eng harus mengerahkan seluruh kepandaiannya karena ternyata olehnya bahwa tiga belas orang itu benar-benat amat lihai dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan.

Gerakan pedang mereka aneh, kadang-kadang membacok atau menusuk secara kasar seperti gerakan tukang menebang pohon saja, akan tetapi kadang-kadang gerakan mereka melingkar-lingkar dan sukar sekali diduga kemana hendak menyerang.

Namun Biauw Eng adalah seorang wanita yang sejak kecil telah dilatih dengan ilmu silat tinggi maka dengan tenang ia dapat menangkis semua serangan dengan membuat benteng dari sinar putih yang mengelilingi tubuhnya secara rapat sekali.

Yang membingungkan adalah gerakan tubuh dan kaki para pengeroyoknya.

Mereka itu bergerak-gerak aneh, kadang-kadang seperti monyet menggoda, dan kadang-kadang seperti tarian manusia-manusia yang liar.

Meloncat-loncat, berjongkok, bahkan ada yang bergulingan di atas tanah menyerang dengan pedang membabat ke arah kaki.

Ada pula yang meloncat tinggi dan seperti burung mematuk, pedangnya menusuk-nusuk ke arah kepala Biauw Eng!

Biauw Eng terheran-heran.

Ilmu silat apakah yang mereka mainkan itu?

Dala hal ginkang dan tenaga sinkang, ia masih dapat mengatasi mereka, akan tetapi menghadapi ilmu silat edan-edanan yang selama hidupnya belum pernah ia saksikan itu, ia benar-benar tidak berani bersikap sembrono dan melawan dengan hati-hati sekali.

Setelah ia melawan dengan pertahanan ketat sampai lima puluh jurus sambil memperhatikan gerakan mereka, Biauw Eng mendapat kenyataan bahwa di balik semua gerakan anak-anak dan edan-edanan itu sebetulnya bersembunyi ilmu silat yang dasarnya tinggi dan indah sekali.

Gerakan aneh-aneh itu hanya terbawa oleh sifat mereka dan juga dipergunakan untuk mengacau lawan!

Sebagai seorang ahli silat tinggi, begitu mengenal dasar mereka, Biauw Eng dapat melihat gerakan-gerakan yang mengandung kelemahan dari mereka yang lebih rendah, maka sekali ia berseru keras secara tiba-tiba ia merebahkan tubuh terlentang akan tetapi berbarengan sabuk suteranya menyambar dengan lingkaran lebar ke arah kaki tiga belas orang yang mengurungnya!

Terdegat jerit-jerit dan tertawa-tawa dan dua orang yang terjungkal roboh karena terlibat sabuk sutera kakinya.

Akan tetapi Biauw Eng cepat menarik kembali sabuknya dan menggunakan kedua tangan menekan tanah sehingga tubuhnya sudah mencelat berdiri di atas tanah.

Tepat seperti dugaannya, sebelas orang yang berhasil mengelak dari serampangan sabuknya kini menusuk atau membacok pinggangnya.

Ia berseru keras, tubuhnya meloncat tinggi.

Ia maklum bahwa pedang-pedang itu akan mengejarnya, maka cepat ia menggunakan kedua kakinya membarengi saat semua pedang menyambar, menginjak pedang-pedang itu, meminjam tenaga mereka mengenjot tubuhnya ke atas.

Sebelas batang pedang yang kena dienjot itu tertekan ke bawah sehingga memperlambat gerakan mereka, dan pada saat itu, tubuh Biauw Eng yang sudah melayang ke atas cepat membuat gerakan membalik, kepalanya menukik ke bawah dan sinar putih sabuk suteranya menyambar dari atas ke arah kepala orang-orang itu.

"Wuuuttt... Trang-trang-cringggg...!"

Beberapa batang pedang yang menangkisnya terlempar, beberapa orang lagi meloncat jauh menghindar, akan tetapi ada tiga orang yang kurang cepat mengelak sehingga pundak mereka terkena totokan ujung sabuk.

Mereka terguling roboh dan....

tertawa cekikikan, padahal yang kena ditotok ujung sabuk adalah jalan darah kin-ceng-hiat-to dan tiong-ca-hiat-to.

Mestinya mereka yang tertotok ini mengalami penderitaan karena nyeri, akan tetapi mereka tidak mengeluh tidak menangis malah tertawa sambil meraba-raba pundak!

Dua orang sudah roboh karena kaki mereka terkilir uratnya, tak dapat bangun, tiga orang lagi tertotok roboh, tinggal delapan orang yang kini mulai mengurung lagi.

Mata mereka makin liar berputaran, mulut menyeringai, ada yang menjilat-jilat bibir basah dengan ujung lidah merah kecil meruncing,sikap mereka amat menyeramkan.

Akan tetapi ada perasaan kasihan timbul di hati Biauw Eng.

Dara ini sekarang merasa yakin bahwa yang mengeroyoknya adalah pasukan wanita yang miring otaknya alias gila!

Ia pikir lebih baik melarikan diri dari situ meninggalkan orang-orang gila yang sebetulnya tidak berdosa ini.

Akan tetapi selagi ia berpikir hendak pergi meninggalkan mereka, tiba-tiba terdengar suara ketawa nyaring melengking, ketawa merdu sekali, akan tetapi ternyata mengandung wibawa hebat bagi delapan serta merta mereka itu menjatuhkan diri berlutut sambil berseru.

"Sian-li datang....!"

Biauw Eng cepat menoleh ke arah wanita-wanita itu menghadap terkejut mendengar mereka menyebut sian-li (dewi) kepada wanita yang tertawa merdu tadi.

Ia makin terheran dan terkejut ketika melihat seorang wanita muda berpakaian serba merah.

Wanita itu masih muda, hanya dua tiga tahun lebih tua dari padanya, berwajah cantik manis dan bersikap gagah, matanya bersinar-sinar seperti sepasang bintang pagi, akan tetapi di balik kemanisan wajahnya ini terbayang kebengisan dan kekerasan hati.

Pakaian yang berwarna merah dan dipinggangnya juga tergantung sebatang pedang yang sarungnya terukir kembang-kembang merah pula.

Dua orang gadis jelita itu berdiri berhadapan dan saling pandang.

Diam-diam Biauw Eng bergidik.

Kalau para pelayannya yang tiga belas orang itu gila, apakah majikannya tidak lebih gila?

Akan tetapi, pelayan-pelayannya sudah begitu lihai, tentu majikannya lebih lihai!

Maka ia bersikap waspada, menggulung sabuk sutera dan bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan.

"Apa yang terjadi di sini?"

Suara wanita baju merah itu halus dan merdu, sikapnya tenang sekali sehingga Biauw Eng menjadi kagum dan lebih hati-hati lagi.

Sikap ini saja sudah menimbulkan dugaan bahwa wanita ini tentu amat lihai.

"Tanpa sebab aku dikeroyok oleh pasukan ini, terpaksa aku membela diri,"

Kata Biauw Eng mendahului orang-orang gila itu.

"Hi-hi-hik, orang gila ini bicaranya tidak karuan, Sianli. Dia melakukan tiga macam kesalahan besar. Pertama, dia membikin marah Thai-houw, ke dua, dia membikin sakit hati Sianli, dan ke tiga, dia menyerang kami!"

Kata wanita gila berambut riap-riapan.

"Bohong!"

Biauw Eng berteriak marah dan penasaran."Mereka itulah yang gila dan miring otaknya!"

"Kau yang gila!"

Teriak tiga belas orang itu berbarengan.

"Kalian yang gila!"

Biauw Eng balas berteriak, tak kalah nyaring.

"Kau......!"

Tiga belas orang itu membalas.

"Kalian!"

Biauw Eng berseru pula.

Beberapa kali tiga belas orang itu dan Biauw Eng saling mengatakan gila.

Dara baju merah mengangkat tangan dan tiga belas orang wanita itu diam, terpaksa Biauw Eng juga diam.

"Hemmm, ternyata kalian semua ini gila. Eh, orang berbaju putih dekil kotor. Benarkah engkau telah melakukan tiga dosa besar itu?"

"Tidak! Bohong semua. Coba buktikan, orang-orang gila. Tiga dosa apakah yang kulakukan? Mengapa aku membikin marah Thai-houw kalian sedangkan bertemu pun belum?"

Wanita berurai rambut bangkit berdiri dan menuding ke arah hidung Biauw Eng.

"Tentu saja engkau membikin marah Thai-houw. Engkau memasuki wilayah kekuasaan Thai-houw tanpa ijin, bukankah hal itu berarti engkau membikin marah Thai-houw?"

Biauw Eng meraba-raba dagunya.

Biarpun alasan yang dikemukakan alasan gila, namun tak dapat disangkal, memang akibatnya akan memarahkan orang yang berkuasa di situ, biarpun ia tidak sengaja melanggar wilayah orang.

Ia masih penasaran dan bertanya.

"Kenapa kalian katakan aku menyakitkan hati Sianli dan menyerang kalian?"

"Dosamu ke dua, engkau telah membunuh tuan muda Tok-kak-houw yang menjadi kesayangan Sianli, bukankah berarti engkau menyakitkan hati Sianli? Dan engkau menyerang kami, kalau tidak menyerang, bagaimana lima orang teman kami bisa roboh? Hayo sangkal kalau bisa, orang gila!"

Biauw Eng mengerutkan alis.

Mereka itu gila, akan tetapi agaknya memiliki kepandaian berdebat melebihi pokrol bambu!

Percuma saja berdebat dengan orang gila, pikirnya.

Maka ia lalu menghadapi gadis baju merah yang agaknya tidak gila itu lalu berkata.

"Aku kebetulan lewat di tempat ini, tidak tahu bahwa aku melanggar wilayah orang. Kemudian aku melihat seekor harimau membunuh dua ekor kijang, maka aku lalu membunuh binatang ganas itu. Tiba-tiba mereka ini muncul dan mengeroyokku, terpaksa aku membela diri dan kalau di antara mereka ada yang roboh, hal itu sudah wajar dalam pertandingan."

"Siapa namamu?"

Tiba-tiba gadis berpakaian merah itu bertanya.

"Namaku Song-bun Siu-li Sie Biauw Eng,"

Biauw Eng memperkenalkan nama julukannya karena bermaksud agar wanita itu tidak akan memandang rendah kapadanya.

Akan tetapi ia kecelik, karena wanita itu seolah-olah tidak kaget mendengar nama julukan yang amat terkenal di dunia kang-ouw itu, bahkan bertanya.

"Julukanmu Gadis Berkabung? Untuk kematian siapa engkau berkabung?"

Pertanyaan ini membuat Biauw Eng tertegun sejenak. Semenjak kecil ia suka berpakaian putih, bukan untuk berkabung dan dia mendapat julukan "Berkabung"

Karena pakaiannya yang selalu putih itu. Kini pertanyaan itu membuatnya berpikir dan tanpa ragu-ragu ia menjawab.

"Aku berkabung untuk ayah bundaku yang sudah tiada."

"Kenapa engkau memakai pakaian putih?"

Pertanyaan tolol, ataukah gila? Biauw Eng mengerutkan keningnya dan menjawab tak sabar.

"Tentu saja berpakaian putih, kan sudah jelas aku berkabung?"

Tiba-tiba wanita cantik berpakaian merah itu tertawa, suara ketawanya seperti tadi, nyaring dan merdu sekali dan anehnya, seperti juga tadi, wanita-wanita gila yang mendengar suara ketawa ini lalu menundukkan muka seperti orang ketakutan.

Apakah suara ketawa itu merupakan tanda bahwa gadis itu sedang marah?

"Mengapa engkau tertawa?"

Biauw Eng bertanya, suaranya dingin dan marah, Gadis baju merah itu tertawa makin nyaring.

"Siapa tidak akan tertawa mendengar engkau berkabung memakai pakaian putih? Lihat, aku pun berkabung karena kematian ayah bundaku, dan aku memakai pakaian serba merah. Ini baru benar-benar berkabung!"

Biauw Eng mengangkat muka dan memandang wajah yang cantik manis itu penuh perhatian.

Celaka, pikirnya.

Agaknya gadis cantik yang kelihatannya waras ini pun ternyata tidak kalah gilanya dengan ketiga belas orang pelayannya!

"Hemmm, seluruh dunia mengakui bahwa warna berkabung adalah putih yang berarti suci dan warna duka.

Kalau engkau berkabung memakai pakaian merah, terserah kepadamu,"

Jawab Biauw Eng yang menganggap tiada akan ada gunanya berdebat dengan orang berotak miring.

"Hi-hi-hi-hi-hik, alangkah lucunya! Siapa bilang warna putih itu suci? Apanya yang suci? Mengapa warna putih dianggap sebagai warna berkabung dan duka? Yang berkabung itu hatinya, ataukah pakaiannya dan warna pakaiannya?"

Diam-diam Biauw Eng mendongkol karena betapapun gilanya bantahan itu, memang sukar untuk dijawab.

Memang harus ia akui bahwa yang menentukan berkabung atau tidaknya, berduka atau tidaknya, bukanlah warna pakaian melainkan hati orangnya.

"Sesukamulah, aku tidak ada waktu untuk mengobrol lagi. Aku hendak pergi dari sini!"

Biauw Eng lalu meloncat hendak pergi, gerakannya cepat sekali.

Akan tetapi tiba-tiba ada bayangan merah melesat cepat seperti kilat menyambar dan tahu-tahu gadis pakaian merah itu sudah berdiri menghadang di depannya.

"Engkau mau apa?"

Bentaknya marah, tidak takut sedikitpun biar ia tahu bahwa gadis itu ternyata memiliki ginkang yang luar biasa.

"Mau apa? Mau membunuhmu! Apakah sepasang kijang itu milikmu?"

"Bukan"

"Nah, engkau telah membunuh kesayanganku sekarang engkau harus menjadi penggantinya, menjadi kesayangan dan teman mainku, kalau tidak mau aku akan membunuhmu."

"Gila! Kau kira aku takut kepadamu?"

Biauw Eng tak dapat menahan marahnya lagi dan ia sudah menubruk dan memukul ke arah muka wanita baju merah itu.

Gadis itu tertawa, mengangkat tangan dan menangkis.

"Dukkk!"

Dua buah lengan yang berkulit putih halus bertemu, dua tenaga dahsyat dari sinkang yang kuat bertumbuk.

Akibatnya, Biauw Eng terhuyung ke belakang dan tubuh gadis baju merah itu bergoyang-goyang.

"Hi-hi-hik, tenagamu boleh juga!"

Gadis berpakaian merah itu tertawa.

"Engkau lebih kuat daripada Tok-kak-houw, pantas dia kalah. Engkau akan menjadi teman main yang lebih menyenangkan."

"Tidak sudi!"

Biauw Eng membentak.

Tentu saja dia marah sekali.

Masa dia hendak dijadikan seekor harimau yang menjadi binatang peliharaan?

Karena maklum akan kelihaian lawan, Biauw Eng sudah meloloskan sabuk suteranya dan ia menggerakkan pergelangan tangan.

"Hi-hi-hik, bagus sekali! Mari kita main-main!"

Si nona berpakaian merah tertawa dan sinar merah berkelebat ketika ia mencabut pedangnya.

"Wuuuttt.. wirrrr.... cringgg....!"

Sinar putih dan sinar hitam itu pecah membuyar dan masing-masing menarik kembali senjatanya ketika ujung sabuk sutera bertemu pedang hitam, membuat tangan mereka tergetar.

Biauw Eng terkejut bukan main.

Gila atau tidak, gadis baju merah itu benar-benar memiliki sinkang yang kuat, ginkang yang tinggi dan senjata pedang yang ampuh!

"Bagus, engkau lihai juga, Sie Biauw Eng!

Jagalah pedangku ini!"

Gadis baju merah itu tiba-tiba mengeluarkan suara melengking ketawa yang amat aneh sehingga Biauw Eng merasa jantungnya berdebar dan sinar bergulung-gulung berwarna hitam datang menyambar seperti badai datang mengamuk.

Biauw Eng kaget, cepat memutar sabuk suteranya dan bertandinglah dua orang gadis cantik itu dengan seru.

Tiga belas orang wanita yang sikapnya seperti gila itu ternyata amat suka menonton pertandingan silat.

Mereka kini bangkit berdiri dan menonton, bahkan yang tadi dirobohkan Biauw Eng juga menonton dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.

Mata yang tadinya liar berputar itu kini kehilangan sifat liarnya, seperti mata orang waras dan memang hanya dalam hal ilmu silat saja mereka ini dapat mengerahkan perhatian maka dapat mempelajari ilmu silat sampai mencapai tingkat tinggi.

Betapapun juga, kini menyaksikan pertandingan hebat itu pandang mata mereka menjadi kabur dan kepala mereka terasa pening.

Yang tampak oleh mereka hanyalah sinar hitam dan putih bergulung-gulung dan mereka mendengar suara ketawa merdu dari wanita baju merah diselingi pujian-pujian akan kelihaian Biauw Eng.

Puteri Lam-hai Sin-ni makin lama menjadi makin kaget dan juga kagum sekali.

Memang banyak sudah ia bertemu tanding yang lihai, akan tetapi selain bekas sucinya yang kini amat lihai, belum pernah ia bertemu dengan wanita sebaya yang memiliki kepandaian seperti wanita baju merah ini.

Hatinya panas mendengar pujian-pujian dan suara ketawa yang keluar dari mulut lawannya.

Dia sudah mandi keringat dan harus mengerahkan semua tenaga dan mengeluarkan semua kepandaiannya, tidak berani memecah perhatian.

Akan tetapi lawannya masih bisa tertawa-tawa dan memujinya.

Pujian itu bagi telinganya merupakan ejekan yang memanas hati.

Maka ia melengking nyaring dan mengeluarkan ilmu simpanannya yang disebut Pek-in-sin-pian (Ilmu Cambuk Awan Putih).

Ilmu silat ini sebetulnya diperuntukkan senjata joan-pian, yaitu ruyung lemas atau senjata seperti cambuk.

Akan tetapi karena senjata Biauw Eng yang istimewa adalah sabuk sutera, maka kini ilmu itu dimainkan dengan sabuknya dan ibunya dahulu sengaja menciptakan ilmu yang khusus untuk sabuknya diambil dari dasar-dasar Pek-in-sin-pian itu.

Segera sabuknya mengeluarkan suara bercuitan dan diakhiri dengan ledakan-ledakan yang keluar dari ujung sabuk yang dilepas kemudian ditarik tiba-tiba seperti orang membunyikan cambuk.

"Hi-hi-hik, ilmu cambuk yang luar biasa!"

Wanita baju merah itu berseru keras, akan tetapi seruannya itu disusul pekik kaget ketika tiba-tiba pedangnya terlibat ujung sabuk dan tanpa dapat ia tahan lagi, pedang itu terlepas dari tangannya direnggut sabuk dan terlempar ke atas tanah!

Pada detik berikutnya, wanita baju merah itu sudah menyambar ujung sabuk sutera dan terjadillah perebutan ketika mereka saling membetot sabuk sutera.

Biauw Eng maklum bahwa kalau mereka berdua berkeras mengeluarkan tenaga, sabuknya akan putus dan hal ini tidak akan menguntungkannya.

Maka tiba-tiba ia melepas sabuknya sehingga ujung yang tadi dipegangnya melecut ke arah muka lawan.

Wanita itu lihai sekali, melepaskan ujung sabuk sambil menggulingkan tubuh ke atas tanah.

Sabuk sutera itu melayang ke belakangnya dan ia tidak mau mengambilnya.

Bahkan ia tertawa-tawa dan meloncat maju menghadapi Biauw Eng dengan tangan kosong.

"Hi-hi-hik, bagus sekali. Engkau teman main yang menyenangkan. Mari kita main-main dengan tangan kosong!"

Melihat datangnya pukulan, Biauw Eng mengelak dan balas menendang, namun lawannya sudah meloncat ke belakang sambil terkekeh.

Biauw Eng kini merasa ragu-ragu.

Agaknya lawannya ini yang dianggapnya gila dan jahat, belum tentu benar-benar jahat, karena siapa tahu maksud kata-katanya teman main adalah teman berlatih.

Mungkin sekali harimau tanduk satu yang juga lihai itu selain menjadi binatang peliharaan, juga menjadi teman berlatih silat!

Agaknya dia bukan dihina, bukan hendak dijadikan binatang peliharaan teman bermain-main, melainkan dijadikan teman berlatih silat.

Berkuranglah kemarahannya akan tetapi ia pun merasa penasaran.

Dalam pertandingan tadi, dialah yang sesungguhnya terdesak karena ilmu pedang wanita itu benar-benar luar biasa sekali.

Kalau ia tadi berhasil merampas pedang, hal itu mungkin karena lawannya terkejut dan bingung menyaksikan perubahan permainan sabuk suteranya, atau mungkin juga lawannya sengaja menyerahkan pedang untuk merampas sabuk sutera!

Dan hasil pertandingan mengadu senjata tadi masih sama kuat, belum ada yang kalah karena keduanya kehilangan senjata.

Dalam hal ilmu silat tangan kosong, Biauw Eng juga amat lihai, maka ia tidak menjadi jerih dan menghadapi lawannya penuh semangat.

Akan tetapi, setelah lewat tiga puluh jurus saling menyerang, saling mengelak dan menangkis, tiba-tiba Biauw Eng terkejut sekali menyaksikan perubahan luar biasa pada permainan silat lawan.

Kini lawannya itu bersilat dengan aneh bukan main, gerakan-gerakannya kadang-kadang lemas dan indah melebihi keindahan orang menari, kadang-kadang amat kaku dan buruk seperti monyet pincang menari!

Dan kadang-kadang bahkan secara tiba-tiba menjatuhkan diri duduk dan membanting-banting kedua kaki sambil menangis seperti seorang bocah nakal sedang ngambek!

Akan tetapi dalam keadaan seperti itu diserang, tiba-tiba mencelat dan membalas serangan dengan lebih hebat!

Makin aneh gerakan wanita baju merah itu, makin sukar dilawan karena Biauw Eng menjadi bingung sekali.

Lima puluh jurus telah lewat dan beberapa kali Biauw Eng tertegun dan berhenti setengah jalan dalam penyerangannya karena melihat gerakan lawan yang terlalu aneh.

Ia mencoba untuk menyatukan pikiran dan tidak mempedulikan sikap lawan yang luar biasa itu.

Sambil berteriak ia menerjang maju, memukul ke arah peruh lawan.

Nona baju merah menangkis dan karena posisinya miring ia terhuyung.

Baiuw Eng mendesak akan tetapi tiba-tiba lawannya itu berteriak keras sekali.

Biauw Eng siap menghadapi terjangan balasan lawan karena teriakan itu biasanya mendahului serangan yang dahsyat.

Karena ia tidak berani memandang rendah lawan yang ia tahu amat lihai, mendengar teriakan itu ia siap membela diri.

Wanita baju merah itu benar saja menggerakkan kedua tangan, yang kiri ditudingkan ke depan, ke arah hidung Biauw Eng, mulutnya tertawa dan tangan kanan dikepal, terus dihantamkan ke arah....

mukanya sendiri!

Biauw Eng terhenti gerakannya, matanya terbelalak lebar saking herannya.

Biarpun hanya sedetik dua detik ia terpesona dan terheran, namun yang sedetik dua detik ini sudah cukup mendatangkan bencana baginya karena tahu-tahu kaki lawannya sudah "menyelonong"

Dan ujung sepatu merah menyentuh lututnya.

Tanpa dapat dielakkannya lagi, tubuh Biauw Eng roboh miring dan sebuah totokan di pundak dan punggung membuat ia tak dapat berkutik lagi!

Lima orang anggota pasukan baju kuning sambil tertawa-tawa menubruk dan mengikat tubuh Biauw Eng seperti orang mengikat seekor domba yang hendak disembelih, kemudian beramai-ramai mereka mengangkat dan menggotong tubuh Biauw Eng, dibawa naik ke atas sebuah puncak sambil tertawa-tawa gembira.

Sikap mereka mengingatkan Biauw Eng akan sikap serombongan pemburu yang pulang membawa seekor harimau hasil buruan.

Ia bergidik.

Akan diapakankah dia?

Segala kemungkinan bisa saja terjadi atas dirinya di tangan orang-orang gila ini.

Apakah mereka akan memanggangnya seperti orang memanggang domba di atas api sampai kulit dagingnya menjadi setengah matang untuk diganyang dengan teman arak wangi?

Kembali ia bergidik dan meramkan matanya, tidak tahan memandangi wajah yang cantik-cantik akan tetapi yang menyeringai seperti muka kuda sakit gigi itu.

Akan tetapi setelah rombongan aneh ini membawanya tiba di puncak, mata Biauw Eng terbelalak memandang ke depan dan kembali ia meragukan apakah mereka itu yang gila ataukah dia sendiri yang sudah berubah pandang mata dan pikirannya sehingga hal-hal yang sebetulnya biasa dan wajar dia anggap aneh dan gila.

Jangan-jangan dia sendiri yang telah gila.

Ingin ia menggosok-gosok kedua matanya, akan tetapi tidak dapat karena kedua tangan dan kedua kakinya dibelenggu pada kayu pikulan di mana ia digotong seperti seekor domba.

Yang membuat ia terbelalak keheranan adalah ketika ia melihat adanya bangunan (Lanjut ke

Jilid 27) Pedang Kayu Harum (Seri ke 01-Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 27 besar di puncak itu.

Bangunan itu besar dan megah, akan tetapi bentuknya sungguh tidak lumrah bangunan manusia.

bentuknya pletat-pletot, bulat bukan persegi pun bukan.

Tiang rumah yang biasanya dan seharusnya lurus itu berbentuk bengkang-bengkong tidak karuan, tembok yang biasanya rata itu brenjal-brenjol tinggi-rendah tidak karuan pula.

Lantainya tidak rata, melainkan penuh lekuk-lengkung sehingga kalau tidak hati-hati berjalan di situ bisa tersanjung atau terjeblos!

Pintunya sekecil jendela, sebaliknya jendelanya selebar pintu.

Daun pintu bangunan itu dibuka dengan engsel di kanan kiri, atau terbuka dengan mengangkat daun pintu ke atas, melainkan daun pintunya amblas ke dalam lantai.

Pendeknya, selama hidupnya belum pernah ia melihat rumah seperti itu.

Agaknya pembuatnya adalah orang-orang dengan pikiran kanak-kanak atau pikiran tidak waras!

Ataukah....

Pikirannya sendiri dan pandang matanya yang sudah berubah sehingga ia melihat sesuatu yang wajar akan tetapi kelihatan aneh?

Para pemikulnya melemparkannya di depan pintu gedung aneh itu, dan mereka semua, termasuk gadis pakaian merah berdiri di pinggiran.

Tiga belas orang pelayan itu berlutut dan menyembah dengan muka mencium tanah, sedangkan gadis pakaian merah itu berlutut dengan sebelah kaki.

Tak lama kemudian terdengar suara ketawa dari dalam gedung.

Suara ketawa terkekeh aneh dan menyeramkan, seperti suara ketawa kuntilanak.

Tubuh ketiga belas orang anak buah pasukan baju kuning tidak ada yang bergerak, muka mereka tetap menempel tanah, sedangkan gadis baju merah yang berlutut dengan kaki kiri itu menunduk, sikapnya penuh hormat.

Hati Biauw Eng berdebar tidak karuan.

Mahluk apakah yang tertawa seperti itu?

Mengingatkan ia akan suara burung hantu yang berbunyi pada tengah malam di tengah tanah kuburan.

Apakah ia akan diserahkan mahluk ajaib yang akan mengganyangnya mentah-mentah?

Ia bergidik dan membuka mata lebar-lebar penuh perhatian ke arah lubang pintu yang hitam gelap.

Suara ketawa disusul suara batuk-batuk serak dan agak lega hati Biauw Eng.

Betapapun juga, yang dapat batuk-batuk seperti itu tentulah seorang manusia.

Akan tetapi manusia macam apakah?

Terdengar bunyi kaki diseret dan ketukan tongkat, tidak rata bunyinya dan Biauw Eng mengerti bahwa orang yang berjalan di atas lantai berlekuk-lengkung, seperti itu mana bisa rata langkahnya?

Tentu sambil berloncatan kalau tidak mau tertelungkup.

Kini muncullah orang yang tertawa dan batuk-batuk itu.

Kiranya seorang nenek yang tua sekali, mukanya sudah kempot peyot dan karena ia tertawa lebar, tampak mulutnya tidak bergigi sama sekali.

Matanya sipit hampir tertutup, keriput, rambutnya putih semua, muntel seperti kapas basah, seluruh kulit tubuhnya yang tampak, dari muka, leher dan tangan, penuh keriput karena kelebihan kulit kekurangan daging.

Biarpun nenek itu sudah kelihatan tua sekali, akan tetapi pakaiannya amat mewah dan indah, terbuat daripada sutera halus dari barat dan berkembang-kembang lima macam warna, kuning merah biru hitam dan putih!

Sepatunya sulaman dan rambut yang putih tinggal sedikit itu dihias burung hong emas bertabur mutiara!

Nenek ini memegang tongkat dan tongkatnya pun terbuat daripada gading yang kepalanya diukir indah merupakan kepala liong.

Sukar ditaksir berapa usia nenek ini, tentu sedikitnya ada seratus tahun.

Bukan main, pikir Biauw Eng, setengah geli akan tetapi juga heran dan merasa ngeri hatinya.

Inilah agaknya sang ratu yang menjadi peran utama di tempat ini!

Ia mengingat-ingat akan penuturan ibunya dahulu tentang nama tokoh-tokoh besar di dunia kang-ouw bagian utara, akan tetapi seingatnya ibunya belum pernah menyebut-nyebut seorang nenek yang masih pesolek seperti ini, yang tinggal di rumah gila dan mempunyai pasukan wanita gila pula!

Seingatnya, seorang di antara Bu-tek Su-kwi atau empat iblis tanpa tanding, yang disebut pula empat datuk hitam, yang menguasai daerah utara adalah Pat-jiu Sian-ong, di timur Ang-bin Kwi-bo dan di selatan adalah ibunya sendiri.

Adapun tokoh-tokoh di Go-bi-san, yang ia dengar adalah Go-bi-pai atau partai persilatan Go-bi-san yang tersohor ilmu pedangnya dan termasuk golongan putih yang pimpinannya adalah hwesio-hwesio dari barat.

Di samping Pak-san Kwi-ong, memang ada tokoh-tokoh Go-bi-san yang tergolong tokoh sesat, yaitu Go-bi Chit-kwi (Tujuh Iblis Go-bi) yang dahulu pernah hampir memperkosa ibunya akan tetapi mereka dipukul mundur oleh Sin-jiu Kiam-ong, sehingga ibunya yang masih gadis menjadi tergila-gila kepada pendekar itu.

Akan tetapi Go-bi Chit-kwi sudah mati dan kini yang ada hanya muridnya, yaitu Kim-lian Jai-hwa-ong Siauw Lek yang menjadi sahabat bekas sucinya.

Akan tetapi nenek gila dan aneh ini?

Dia belum pernah mendengarnya!

"Heh-heh-heh!

Hun Bwe muridku yang hebat, dewiku yang cantik, untuk apa engkau membawa pula hasil buruan seperti ini?

Hi-hi-hi, dagingnya tentu tidak enak dan kalau dipelihara, dia ini gila, bukan?"

"Dia gila segila-gilanya, Thai-houw....!"

Tiga belas orang anak buah pasukan baju kuning menjawab serentak.

"Dia mengatakan hamba semua gila, hi-hi-hik, ha-ha!"

Perempuan berurai rambut berkata sambil tertawa.

"Hush, aku tidak tanya kamu! Mengapa mulutmu terbuka? Bau!"

Sang ratu itu memencet hidungnya. Melihat ini hampir saja Biauw Eng tak dapat menahan ketawanya. Benar-benar ia telah memasuki dunianya orang gila.

"Apa engkau pagi tadi menyikat gigimu?"

Tiba-tiba nenek itu bertanya kepada si rambut riap-riapan.

"Sudah, Thai-houw."

"Perlihatkan gigimu!"

Wanita itu meringis sehingga deretan giginya yang putih seperti mutiara itu tampak semua. Nenek itu menggangguk-angguk.

"Baik, akan tetapi awas, kalau gigimu kotor dan bau, akan kucabuti semua. Gigiku dahulu tinggal sebuah, kuning dan bau maka kucabut sekali. Sekarang bersih. Nah, lihat, bagus dan tidak bau,kan?"

Nenek itu meringis sehingga tampak gusinya yang kemerahan dan gundul tanpa gigi.

Biauw Eng tak dapat menahan ketawanya dan biarpun kaki tangannya masih terbelenggu, gadis ini cekikikan, tak dapat menahan kegelian hatinya.

Melihat ini, nenek itu mencela muridnya yang berpakaian merah.

"Hun Bwe, bagaimana ini? Kulihat dia waras! Dapat tertawa sehat!"

Gadis berpakain merah itu cepat menjawab.

"Dia memang gila, Subo, akan tetapi bisa disembuhkan."

"Hemmm, begitukah? Eh, mengapa dia dibelenggu? Kalau mau dipelihara, harus dibebaskan agar dia senang."

"Dia lihai sekali subo. Teecu khawatir dia memberontak."

"Di depanku, mana bisa memberontak?"

Nenek itu menggerakkan tongkatnya, dan Biauw Eng terkejut bukan main.

Tongkat itu menyambar bagaikan kilat ke arah tubuhnya.

Dia memejamkan mata, siap menerima datangnya pukulan maut.

Ia maklum bahwa menghadapi pukulan tongkat yang anginnya mendatangkan rasa dingin sekali itu ia takkan dapat menyelamatkan diri.

Akan tetapi betapa herannya ketika tiba-tiba kaki tangannya sudah terbebas daripada belenggu!

Ia kagum bukan main, membuka matanya dan melihat betapa tali-tali kuat yang tadi mengikatnya sudah putus seperti dibabat pedang tajam.

Padahal tongkat di tangan nenek itu runcing pun tidak melainkan tumpul.

Cepat ia meloncat bangun dengan sigapnya, siap untuk mempertahankan diri dan membela diri mati-matian sebelum menyerah.

"Heh, di depan ratumu engkau berani berdiri? Hayo berlutut!"

Nenek itu membentak.

Biauw Eng adalah seorang gadis yang berhati keras dan tabah, tentu saja ia tidak sudi berlutut di depan nenek gila ini, biarpun nenek ini menamakan dirinya seorang ratu.

Akan tetapi sebelum ia membantah, tampak sinar kuning berkelebat ke arah kakinya.

Biauw Eng hanya melihat sinar, dapat menduga bahwa dia diserang maka cepat ia meloncat untuk mengelak.

Akan tetapi sinar yang ternyata adalah tongkat nenek itu mengejar ke atas, kakinya ditotok dan ia roboh kembali ke atas tanah!

"Heh-heh-heh, berlutut..

rebahlah....!"

Nenek itu berjingkrak-jingkrak kegirangan.

Merah seluruh wajah Biauw Eng, merah saking malu dan marahnya.

Ia meloncat bangun lagi, akan tetapi sekali ini bukan sinar kuning tongkat nenek itu yang menyambar, melainkan tangan kiri nenek yang kurus itu mendorong ke depan.

Biauw Eng cepat mengelak dengan loncatan ke kiri, akan tetapi seperti juga tadi, percuma saja ia meloncat ke kiri karena pukulan jarak jauh itu tetap saja mengenai tubuhnya dan ia sekali lagi roboh terguling!"

"Nenek iblis!"

Biauw Eng memaki sambil meloncat bangun lagi karena biarpun ia roboh, ternyata hawa pukulan nenek itu tidak melukainya, hanya membuatnya terjengkang karena hawa pukulan itu amat kuat.

"Bagus, terima kasih, nona manis! Aku memang nenek iblis, juga nenek ratu! Pujianmu kuterima dengan hati terbuka!"

Nenek itu berjingkrak kegirangan seperti seorang anak kecil mendapat pujian.

Melihat ini, Biauw Eng tercengang.

Benar-benar nenek yang miring otaknya dan agaknya nenek ini lihai sekali.

Kalau ia tidak cepat merobohkan nenek ini, tentu tidak aka harapan lagi baginya terlepas dari tangan orang-orang gila ini.

Pasukan baju kuning dapat ia atasi, sedangkan gadis baju merah biarpun lihai, dapat pula ia tahan karena tidak selihai nenek ini.

Ia menggunakan kesempatan selagi nenek itu menari-nari dan memutar tubuh, secepat kilat ia menghantam punggung nenek itu dari belakang.

"Wuuuuuuttt..... bleggg!!"

Pukulan Biauw Eng tepat mengenai punggung nenek itu, dan sekali ini ia mengerahkan tenaga sinkang yang dahulu dilatih sambil merendam tangan dalam godokan lima macam racun karenanya dinamai Ngo-tok-ciang (Tangan Lima Racun).

Tadi dalam pertandingan melawan gadis baju merah ia tidak tega menggunakan tangan beracun itu, akan tetapi kini menghadapi nenek yang demikian lihainya, yang perlu ia pukul mati agar ia dapat bebas, ia terpaksa mengeluarkan pukulan ini, bahkan memukul dari belakang.

Pukulannya mengenai punggung dengan tepat.

Nenek itu mengeluh dan terguling miring, dari mulutnya mengeluarkan darah hitam, tanda bahwa pukulan itu mengenai sasaran dan jantung nenek itu telah keracunan.

Anehnya, baik nona baju merah maupun tiga belas orang perempuan baju kuning diam saja seperti patung.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Biauw Eng untuk memutar tubuh dan hendak lari meninggalkan puncak.

Akan tetapi baru melangkah beberapa tindak, terdengar suara ketawa.

"Heh-heh-heh, dewiku yang manis, kau hendak terbang ke mana?"

Biauw Eng terkejut mengenal suara nenek itu dan pada saat itu pun ia terguling roboh karena kedua kakinya kena diserampang tongkat gading.

Biauw Eng menggulingkan diri mendekati tambang yang tadi dipergunakan mengikat tubuhnya.

Ia melihat nenek yang tadinya roboh mati oleh pukulannya itu kini telah berdiri lagi dan terkekeh-kekeh.

Kiranya nenek itu tidak apa-apa dan tadi hanya mempermainkannya saja.

akan tetapi mengapa mulutnya keluar darah hitam?

Biauw Eng bergidik, maklum bahwa nenek ini luar biasa lihainya, memiliki kepandaian yang tidak lumrah manusia, lebih lihai daripada ibunya sendiri.

Sabuk suteranya telah lenyap ketika ia bertanding melawan nona baju merah tadi, maka ia teringat akan tambang yang tadi mengikat dirinya.

Tambang itu pun merupakan benda lemas maka ia dapat pergunakan sebagai senjatanya.

Begitu ia meraba tambang, ia cepat meloncat ke arah tubuh nenek itu, sekaligus ujung tambang menotok ketiga belas jalan darah di depan tubuh yang mematikan!

"Heh-heh-heh, engkau memiliki dasar yang lebih baik daripada Hun Bwe...!"

Dengan matanya sendiri Biauw Eng melihat betapa totokannya yang bertubi-tubi itu semua mengenai sasaran, akan tetapi nenek itu tidak apa-apa, bahkan akhirnya ujung tambang itu membalik dan menotok dadanya sendiri.

Ia cepat menyendal tambang itu sehingga ujung tambang lewat di atas kepalanya.

Keringat dingin mulai keluar dari wajah Biauw Eng.

Tahulah ia bahwa melawan pun tidak akan ada gunanya.

Nenek ini memiliki kepandaian yang amat luar bias seperti siluman saja.

"Sumoi, Subo telah mengambilmu sebagai murid, kenapa engkau masih melawan? Hi-hi-hik, Subo, sudah kukatakan bahwa dia ini memang gila. Betul tidak?"

Mendengar ucapan gadis pakaian merah ini.

Biauw Eng terkejut.

Dia diambil murid?

Sejak kapan?

"Subo sudah menyebutmu dewi, berarti engkau menjadi muridnya,"

Kata lagi wanita itu dan setiap kali bicara dengannya, suara wanita baju merah itu tenang dan wajar.

Akan tetapi begitu bicara kepada nenek itu atau kepada pasukan baju kuning, gadis baju merah itu lalu ketularan gila!

Giranglah hati Biauw Eng.

Bukankah dia mengambil keputusan untuk mengasingkan diri dan menggembleng diri dengan ilmu-ilmu yang tinggi agar kelak dapat menghadapi Cui Im?"

Tempat mana yang lebih tepat untuk mengasingkan diri dari dunia ramai daripada tempat aneh di samping sekumpulan orang gila ini?

Dan guru mana yang akan dpat menggemblengnya lebih hebat daripada nenek gila yang meiliki kepandaian tidak lumrah manusia ini?

Segera ia dapat mengambil keputusan dan cepat Biauw Eng menjatuhkan diri berlutut di depan nenek itu sambil berkata.

"Subo...!"

"Heh-heh-heh, muridku yang manis, engkau tidak lekas memberi hormat?"

Biauw Eng tercengang.

Dia sudah berlutut masih disuruh lekas memberi hormat.

Penghormatan apalagi yang harus ia lakukan?

Cepat ia melakukan pai-kwi (menyembah) sampai delapan kali.

Akan tetapi betapa kagetnya ketika nenek itu berkata lagi.

"Lekas engkau memberi hormat kepada gurumu. Apakah kau tidak suka menjadi muridku?"

Biauw Eng menjadi bingung dan wanita berpakaian merah di dekatnya berbisik.

"Lekas kau mencium ujung kedua sepatunya."

Kemudian nona baju merah itu tertawa.

"Hi-hi-hik, Subo. Bukankah Sumoi ini masih gila dan belum sembuh benar? Akan tetapi teecu percaya dia akan sembuh."

Biauw Eng terkejut dan hampir saja ia meloncat berdiri untuk memaki-maki nenek itu.

Aturan mana ini kalau bukan aturan orang gila?

Masa menjadi murid saja harus merendah diri melebihi budak belian, harus mencium kedua ujung sepatu gurunya!

Akan tetapi kesadarannya membuat ia mempertimbangkan.

Kalau ia bangkit dan menentang, tentu ia akan mati.

Ia tidak takut mati, akan tetapi bukankah kematiannya itu akan sia-sia dan bagaimana ia akan dapat membalas dendamnya terhadap Cui Im dibiarkan enak-enak tak terhukum setelah melakukan kekejian terhadap dirinya dan terhadap ibunya?

Ia mengeraskan hatinya, lalu menghampiri nenek itu, berlutut dan mencium kedua ujung sepatunya.

"Heh-heh-heh, bagus, bagus, engkau mulai sembuh dari penyakit gilamu! Eh, siapa namamu?"

"Nama teecu Sie Biauw Eng,"

Jawab Biauw Eng, diam-diam mengharap agar nenek itu tidak mengeluarkan perintah yang gila-gila lagi.

"Dukkk...!"

Tubuh Biauw Eng terpental dan bergulingan sampai lima meter jauhnya.

Kembali nafsu amarah hampir membuat Biauw Eng meloncat bangun, memaki-maki dan melawan.

Biarpun tendangan itu tidak melukainya karena ia sebetulnya hanya didorong pada pundaknya dengan ujung kaki, namun penghinaan itu terlampau berat baginya.

Untung bahwa sebelum ia melakukan sesuatu yang tentu akan berakibat hebat sesuatu yang tentu akan berakibat hebat bagi dirinya, nenek itu sudah membentak.

"Engkau she Sie ? Apa hubunganmu dengan Sie Cun Hong??"

Saking herannya mendengar nama mendiang ayahnya disebut-sebut nenek itu.

Biauw Eng lupa akan kemarahannya.

Nenek ini gila, semua orang yang berada disitu gila.

Apa salahnya kalau ia membohong?

Semua ucapan mereka pun kacau balau dan tidak ada yang benar!

"Teecu tidak mengenalnya.

Mengapa Subo menyebut-nyebut nama itu?

Siapakah dia?"

"Dia? Heh-heh-heh, dia laki-laki yang paling tampan, paling gagah perkasa di dunia ini! Dia laki-laki satu-satunya yang kucinta, akan tetapi.... sikeparat gila dia menolakku dengan mengatakan aku berotak miring! Heh-heh-heh!"

Mendengar ini dan melihat nenek itu tertawa terkekeh-kekeh, kemudian mendengar pula nona baju merah tertawa diikuti gelak tawa ketiga belas orang pasukan kuning, Biauw Eng lalu tertawa pula.

Tertawa bergelak, lebih nyaring dari yang lain karena gadis ini tertawa sewajarnya, timbul dari hati yang girang bahwa ayahnya dahulu menolak nenek ini yang semenjak mudanya sudah gila!

Melihat sikap Biauw Eng ini, nenek itu kelihatan senang.

"Heh-heh-heh, muridku yang baik, Biauw Eng dewi manis, ternyata engkau sudah sembuh, tidak gila seperti Sie Cun Hong. Biarlah, biar she-mu Sie akan tetapi engkau tidak ada hubungan dengan dia. Kalau masih keluarga, tentu kubunuh sekarang juga engkau. Dan ibumu, di mana ibumu?"

"Ibu sudah meninggal dunia, dibunuh orang. Ayah pun sudah meninggal dunia!"

"Heh-heh-heh-ha-ha! Orang tuamu sudah mati, orang tuaku pun sudah mati. Orang tua Hun Bwe juga sudah mati semua. Ha-ha-ha, betapa sengsara hidup kita, merana sebangkara... Heh-heh-heh!"

"Hi-hi-hik, sungguh sengsara kita!"

Hun Bwe si nona baju merah juga terkekeh. Biauw Eng menjadi bingung, memandang nenek dan "sucinya"

Itu yang tertawa-tawa.

Mereka bilang hidup sebatangkara ditinggal mati orang tua akan tetapi mengapa mereka tertawa-tawa?

Benar-benar gila!

Tiba-tiba nenek itu menghentikan ketawanya dan memandang Biauw Eng.

"Eh, kenapa engkau tidak tertawa? Apakah engkau tidak berduka ditinggal mati orang tuamu?"

Biauw Eng terkejut.

Ia memang berduka diingatkan bahwa ibunya telah mati dengan mengenaskan.

Akan tetapi mengapa dia disuruh tertawa?

Karena tidak dapat menyelami isi hati gurunya ia tertawa akan tetapi tidak seperti tertawa, melainkan menyeringai pahit.

"Wah, ketawamu tidak sedap! Mulutmu bau kalau tertawa seperti itu!"

Nenek itu membentak.

"Subo, Sumoi masih belum sembuh dari gilanya."

Hun Bwee mengingatkan gurunya yang mengangguk-angguk.

"Benar, hampir aku lupa. Mari kita rayakan kedatanganmu Biauw Eng. Kita rayakan datangnya muridku yang baru!"

Biauw Eng digandeng tangannya oleh Hun Bwe dan diajak memasuki gedung aneh mengikuti guru mereka.

Ternyata di sebelah dalam gedang itu amat luas dan biarpun lantainya tidak rata, namun di dalam gedung itu hawanya dingin dan sejuk.

Celaka bagi Biauw Eng, semua perabot rumah itu aneh-aneh.

Bangku-bangkunya diletakkan terbalik, tempat duduknya di bawah dan empat kakinya mencuat ke atas.

Mereka duduk di atas kaki-kaki bangku itu.

Tentu saja amat tidak enak, akan tetapi Biauw Eng yang mulai dapat menyesuaikan diri, bagi orang yang memiliki kepandaian seperti dia, duduk di atas bangku atau di atas ujung tombak sekalipun, sama saja.

Mejanya juga aneh, bentuknya segi tiga tidak rata pletat-pletot dan letaknya miring sehingga kalau meletakkan benda di aatas meja itu tentu akan tergelincir jatuh!

Akan tetapi melihat permukaan meja yang miring itu kasar dan banyak lubang-lubangnya, mengertilah Biauw Eng bahwa menaruh benda di situ harus menggunakan sinkang sehingga bendanya ditekan menancap pada permukaan meja!

Ketika ia melirik ke arah dinding, disitu terdapat gambar-gambar yang aneh.

Warnanya menyolok beraneka macam sehingga menyakitkan mata, dan bentuk lukisan itu sendiri aneh sekali.

Ada orang yang matanya hanya satu, hidungnya dua, Bahkan ada lukisan orang yang kepalanya di bawah kakinya di atas, matanya berada di kuku jempol kaki!

Banyak pula lukisan yang membuat Biauw Eng menjadi pening kepalanya hanya dengan memandanginya saja.

sampai hampir pecah rasa kepalanya hanya dengan memandanginya saja.

Sampai hampir pecah rasa kepalanya ketika ia berusaha untuk mengerti lukisan apa sebenarnya yang tergantung itu.

Namun tetap saja ia tidak mengerti!

Bayangkan saja.

Lukisan itu merupakan coretan-coretan halus, malang melintang dan saling membelit seperti lima macam benang ruwet menjadi satu!

Ada pula lukisan yang merupakan titik-titik hitam di atas putih, dan yang lebih gila lagi adalah lukisan yang hanya hitam saja tidak berbentuk, tak tentu garisnya, akan tetapi lukisan-lukisan aneh ini di taruh di tempat tertinggi dan ada yang diberi bingkai emas!

"Indah, ya?"

Tiba-tiba nenek itu bertanya kepada Biauw Eng ketika melihat gadis ini memandangi lukisan-lukisan yang menghias dinding.

Biauw Eng terpaksa mengangguk-angguk, akan tetapi ia tidak dapat menahan keingin tahuannya dan bertanya.

"Subo, lukisan apakah itu? Apakah lukisan benang lima warna yang ruwet dan awut-awutan?"

"Wah, celaka....! Dasar engkau masih gila, belum sembuh benar, maka tidak bisa mengerti. Itu adalah lukisan yang bernama KECERDASAN!"

Biauw Eng menelan ludah bersama sumpah serapah yang sudah berada di ujung lidah.

Lukisan berjudul Kecerdasan?

Kecerdasan orang gila!

"Karena engkau gila maka engkau tidak dapat menikmati keindahannya.

Lihat saja, betapa goresan si pelukis menjiwai lukisannya.

Betapa jelas menggambarkan kecerdasan manusia, seperti benang-benang sutera halusnya, dapat menyusuri setiap liku-liku hidup dan seisi alam mayapada.

Hemmm, betapa hebatnya si pelukis!"

Nenek itu mengangguk-angguk.

"Dan yang hitam semua itu, Subo. Apakah itu lukisan keindahan waktu malam gelap tiada bulan?"

"Wah-wah, dasar gila! Itu namanya lukisan ketenangan! Dan yang titik-titik hitam di atas putih itu namanya lukisan Titik-titik Dosa."

Bukan main!

Biauw Eng tidak berani memandang atau bertanya lagi, bukan takut disebut gila oleh gurunya, melainkan takut kalau-kalau ia akan betul-betul gila jika ia dapat mengerti lukisan-lukisan seperti itu!

Para anak buah pasukan baju kuning yang kemudian ternyata merupakan pelayan-pelayan dan juga murid-murid si nenek, datang membawa hidangan yang masih mengepul panas.

Semua mangkok dan panci berisi hidangan itu mereka taruh di atas meja sambil mengerahkan sinkang mangkok-mangkok itu tertekan di dalam permukaan meja dan tidak jatuh biarpun permukaan itu miring.

"Mari kita pesta, hayo makan, Biauw Eng!"

Biauw Eng mengambil mangkok dan sumpit, akan tetapi begitu sumpitnya menjadi sepotong daging di dalam panci, ia hampir menjerit karena yang disumpinya itu adalah buntut seekor kadal!

Tiba-tiba, sebelum ia membuang buntut itu sambil menggigil jijik, kakinya diinjak orang dan ia tahu bahwa yang menyentuh kakinya itu kaki Hun Bwee yang duduk di sebelah kirinya.

Ia menoleh dan melihat sedetik mata yang indah dari gadis baju merah itu berkedip.

Biauw Eng melihat Hun Bwee sengaja menyumpit sebutir kepala kadal yang mata melotot, Lalu memasukkan kepala ini ke mulutnya yang merah dan mengunyah, kelihatan enak sekali!

Biauw Eng menelan ludah, hampir muntah.

Akan tetapi ia maklum bahwa kalau ia menolak hidangan itu, gurunya yang gila akan marah dan sucinya itu telah memberi isyarat.

Mengapa sucinya memberi isyarat ?

Ia sambil memejamkan mata seperti orang makan jamu pahit ia memasukkan buntut itu ke mulutnya dan...

Ternyata rasanya enak gurih dan baunya sedap.

Entah bumbu apa yang digunakan, akan tetapi buktinya enak!

Rasa enak ini mengurangi kemuakkannya dan mulailah dia ikut makan.

Dapat dibayangkan betapa muak rasa perut Biauw Eng ketika mendapat kenyataan bahwa yang dimasak itu adalah binatang yang tidak biasa dimakan orang waras.

Ada sop cacing, ada tim cecak, goreng kacoa kering, ca ular berbisa dan kadal godok!

"Hayo makan yang kenyang, ini rasakan sopnya, wah lezat sekali!"

Nenek itu berkata dan sekali sumpitnya bergerak seonggok cacing memasuki mangkok Biauw Eng!

Gadis ini membelalakan matanya, hampir menjerit, akan tetapi kembali Hun Bwee berkedip kepadanya!

Biauw Eng meramkan mata, menyumpit cacing dan memasukkan ke mulutnya.

Ihhhh, memang enak rasanya akan tetapi licin dan seolah-olah cacing-cacing itu masih hidup, terus saja meluncur memasuki tenggorokannya terus ke perut.

Perut Biauw Eng mual dan hampir ia muntah, dan hanya dengan kekuatan kemauannya saja ia dapat bertahan.

Setelah pesta makan, nenek itu lalu menari dan semua orang menari, termasuk Biauw Eng.

Gadis ini selalu berusaha mencontoh Hun Bwee, akan tetapi melihat sucinya itu mengegal-egolkan pantatnya yang bulat membusung, menjadi geli dan tertawa bergelak.

"Eh, mengapa engkau berduka? Mari bergembira!"

Nenek itu menyela melihat Biauw Eng tertawa dan...

Dia lalu menangis tersedu-sedu sambil menari.

Biauw Eng terbelalak heran, lebih lagi kaget dan herannya melihat Hun Bwee juga menangis sambil menari.

Juga tiga belas pelayan wanita itu menangis semua, ada yang merauang-raung, ada yang sesunggukan, ada yang mengguguk, ada yang terisak-isak.

Mereka menangis sambil menari, menggoyangkan pinggul, meliak-liukkan pinggang yang ramping!

Benar-benar lucu dan aneh dan....

Gila!

Terpaksa Biauw Eng juga ikut menangis dan karena ia teringat akan nasibnya,betapa ia sampai tersesat ke dunia gila dan terpaksa ikut-ikutan gila, tangisnya paling menyedihkan!

Hal ini menyenangkan hati nenek itu.

Ia menepuk-nepuk pundak biauw Eng sambil menangis tersedu-sedu dan berkata dengan suara terputus-putus.

"Aahhh... Muridku yang baik.... engkau paling gembira... Ah, hu-hu-huuu, bagus... Engkau menikmati pesta ini... Hu-hu-huuukkk!"

Biauw Eng merasa pening kepalanya, tidak tahu apakah ia harus tertawa atau menangis.

Akan tetapi hatinya penuh duka, dan ia sengaja mengenangkan ibunya, mengenangkan Keng Hong sehingga hatinya seperti diremas-remas dan tangisnya makin mengguguk.

Akhirnya pesta berakhir dan Biauw Eng disuruh mengaso, tidur bersama Hun Bwee.

Kamar tidurnya juga membuat ia menarik napas panjang.

Bukan dipan dengan kasur empuk, melainkan dipan kasar dengan "kasur"

Batu-batu karang yang runcing dan tajam. Ini bukan beristirahat namanya, melainkan menyiksa diri! Melihat wajah sumoinya muram Hun Bwee berbisik.

"Sumoi, kau harus pandai menyesuaikan diri. Pilihlah, tidur di atas dipan, atau tidur bersila di lantai atau tidur... Berdiri."

Biauw Eng kehilangan kesabarannya. Disambarnya tangan sucinya dan ia berkata.

"Suci, apa artinya ini semua? Aku tahu betul, engkau tidak gila!"

"Sssttttt....!"

Hun Bwee menarik tangan sumoinya, diajak duduk di atas lantai dan ia berbisik lirih sekali di dekat telinga suoinya.

"Kalau subo tahu, kita tentu akan dibunuhnya. Engkau ingin memperdalam ilmu silat, bukan?"

Biauw Eng mengangguk.

"Sudah kuduga, maka engkau mau menjadi murid. Aku pun begitu hanya subolah yang akan dapat menggembleng kita. Aku baru setahun di sini akan tetapi ilmuku maju pesat secara luar biasa. Demi tercapainya cita-cita kita harus berani berkorban dan di sini kita hanya berkorban menyesuaikan diri dalam dunia yang tidak normal. Akan tetapi kau tunggu saja, hal ini bahkan akan dapat memberi kemajuan kepada ilmu silatmu. Setahun yang lalu, ketika aku tiba di sini, kepandaianku masih jauh di bawah tingkatmu sekarang."

Biauw Eng terkejut. Kalau begitu jelas bahwa kemajuan yang diperoleh sucinya memang hebat sekali.

"Suci, siapakah subo itu.."

"Mari kita berbaring di atas dipan batu-batu karang itu. Baik sekali untuk latihan ginkang. Aku dapat menempelkan mulut ke telingamu dan kita dapat mengobrol dengan leluasa tanpa khawatir terdengar orang lain."

Hati Biauw Eng girang sekali.

Kenyataan bahwa sucinya bukanlah orang gila seperti guru mereka dan para pelayan, memberi hiburan yang amat besar dan berpengaruh sehingga rasa mual di perutnya seketika lenyap.

Kalau dia harus berpura-pura gila dan makan masakan yang menjijikan itu, kini ia tahu bahwa dia tidak menderita sendirian, Ada Hun Bwee yang juga sama dengan dia nasibnya!

Kedua dara ini lalu membaringkan diri di atas dipan berkasur batu karang dan melihat betapa sucinya dapat berbaring dengan enak Biauw Eng menjadi kagum akan ginkang sucinya.

Ia pun lalu mengerahkan ginkangnya dan berbaring di sebelah sucinya yang kini ia tahu sengaja mengajak dia untuk dijadikan teman agar penderitaaannya menjadi ringan.

Tahulah ia mengapa sucinya ini tadi sengaja memaki-maki dia gila akan tetapi dapat disembuhkan.

Diam-diam ia berterima kasih kepada Hun Bwee dan merasa suka kepada sucinya ini.

Mereka berbisik-bisik dan Hun Bwee menceritakan pengalamannya lebih dulu.

Kini mereka bicara sewajarnya seperti orang waras dan Hun Bwee kelihatan berduka sekali, bercerita sambil bercucuran aiar mata.

"Namaku Tan Hun Bwee, orang tuaku meninggal dunia karena tekanan batin, tidak berhasil membalas dendam kepada musuh besarnya. Aku berusaha melanjutkan cita-cita mereka membalas dendam, akan tetapi musuh besar itu telah tewas. Aku bertemu dengan murid musuh itu, hendak kubalas dendam kepada muridnya, akan tetapi .... aku.... Aku.... Malah diperkosanya...!"

Gadis itu menutupi mukanya dan menangis tanpa suara. Biauw Eng memeluknya.

"Aduh, sungguh buruk nasibmu, Suci. Siapakah jahanam itu? Biar kelak aku membantumu menghancurkan kepalanya!"

Hun Bwee menggeleng kepala.

"Marilah kita berjanji Sumoi. Kita tidak akan mencampuri urursan kita masing-masing. Urusan pribadi kita harus kita selesaikan sendiri dan marilah kita disini saling melatih agar dapat cepat memperoleh hasil, yaitu kepandaian tinggi untuk membalas dendam."

Biauw Eng menarik napas panjang.

Ada benarnya kata-kata sucinya ini.

Urusan pribadi memang tidak baik kalau dicampuri orang lain, biarpun yang mencampuri itu saudara seperguruan sendiri.

"Baiklah, Suci."

Tentu saja Biauw Eng sama sekali tidak pernah mimpi bahwa musuh besar yang dimaksudkan oleh Hun Bwee adalah ayahnya sendiri.

Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong, dan bahwa murid musuh besar yang dikatakan memperkosa dirinya itu bukan lain adalah...

Keng Hong.

Seperti telah dituturkan di bagian depan, Tan Hun Bwee, puteri mendiang Hek-houw Tan Kai Sek atau Tan-piauwsu yang bersama isterinya mati karena tekanan batin tak mampu membalas dendam kepada Sin-jiu Kiam-ong, telah bertemu dengan Keng Hong dan betapa dia telah diperkosa oleh Lian Ci Tojin tokoh Kun-lun-pai yang menyeleweng dan menjadi hamba nafsu berahi, kemudian betapa Hun Bwee ditolong oleh Keng Hong akan tetapi menyangka pemuda itu telah memperkosanya.

"Sumoi, sekarang ceritakanlah pengalamanmu. Tentu pengalamanmu hebat pula, tidak kalah sengsara dari pengalamanku, maka engkau kelihatan seperti orang yang putus asa. Kalau kau tidak keberatan, ceritakanlah pengalamanmu kepadaku, Sumoi."

Diam-diam Biauw Eng merasa terharu mendengar ucapan Hun Bwee yang terdengar penuh kasih sayang.

Suara seperti ini belum pernah ia dengar, dari mulut ibunya yang bersuara dingin pun belum pernah.

Hanya pernah dari suara Keng Hong....

Akan tetapi, pemuda itu hanya menjual madu di bibir!

Merasa betapa ia seolah-olah mendapat seorang kakak, ia lalu merangkul leher Hun Bwee dan menangis terisak-isak di dada gadis itu.

Hun Bwee mengelus-elus rambut yang hitam berombak itu dan gadis itu pun menangis.

Keduanya bertangisan, tangis karena terharu, tangis yang wajar dan tulen, tidak seperti tangis ketika mereka berdua menari-nari tadi.

"Kalau berat hatimu, tak usah kau ceritakan, Sumoi."

"Tidak, Suci... Engkau kuanggap enciku sendiri.. akan tetapi karena janjimu tadi, biarlah kuceritakan tanpa menyebut nama. Namaku memang Sie Biauw Eng, Ayahku telah meninggal dunia dan ibuku dibunuh secara keji sekali oleh suciku sendiri, murid ibuku! Aku telah mencarinya, akan tetapi dia telah memperdalam ilmunya dan kini menjadi seorang yang amat lihai, aku bukan tandingannya sehingga aku hampir putus harapan untuk dapat mengalahkannya. Selain itu aku... aku, ah... aku mencinta seorang pemuda, akan tetapi dia ternyata berhati palsu, hanya mencinta jasmaniku dan aku tidak sudi... Ahhh...."

"Sudahlah, Sumoi. Aku dapat mengerti kesengsaraan hatimu. Aku pun mencinta seorang pria, cinta yang baru bersemi karena melihat dia tampan dan gagah perkasa, akan tetapi dia.. dialah yang memperkosa aku..."

Kedua orang gadis itu menjadi akrab, merasa senasib sependeritaan, terutama sekali sependeritaan dalam menyesuaikan diri di tempat itu, di antara sekumpulan orang gila!

"Suci, siapakah sebenarnya subo?

Benarkah dia amat lihai?"

"Untuk masa sekarang agaknya sukar dicari orang yang lebih lihai dari dia. Engkau tahu, itu Go-bi Chit-kwi yang disohorkan amat lihai, pernah dihajar mati-matian oleh subo sehingga mereka bertujuh merangkak-rangkak minta ampun, baru dibebaskan oleh subo. Kiraku hanya ada satu orang yang mungkin dapat menandinginya, yaitu laki-laki yang pernah mematahkan hatinya, Sin-jiu Kiam-ong Sie Cun Hong!"

"Ohhhhh....!"

Biauw Eng terkejut.

"Kenapa, Sumoi? Pernahkah engkau mendengar nama Sin-jiu Kiam-ong?"

"Tentu saja. siapakah yang tidak mendengar namanya?"

Diam-diam Biauw Eng merasa lega bahwa sucinya tidak pernah mendengar nama julukannya sehingga tidak tahu bahwa dia adalah puteri Lam-hai Sin-ni, sungguhpun andaikata tahu sekalipun, tidak ada halangannya.

Demikianlah, sejak hari itu Biauw Eng menjadi murid nenek itu yang tidak ada orang mengenal namanya.

Bahkan Tan Hun Bwee pun hanya mengenalnya sebagai Go-bi Thai-houw (Ratu Go-bi).

Biauw Eng dilatih bersama Hun Bwee, akan tetapi tidak sama latihan mereka.

Hal ini adalah karena dasar ilmu silat yang mereka miliki jauh berbeda.

Nenek itu mempunyai cara mengajar yang amat lucu dan aneh, disesuaikan dengan dasar kepandaian mereka, akan tetapi tampaknya ilmu silat murid-muridnya itu malah "dirusak"

Karena semua diubah variasinya, diisi gerakan-gerakan seperti orang gila, sungguhpun dasarnya tetap tidak diubah.

Dan Biauw Eng mendapat penjelasan dari sucinya yang membuat ia mulai mengerti mengapa pelajaran nenek itu dapat mendatangkan kemajuan yang cepat luar biasa.

Kiranya, keadaan nenek yang gila ini serba terbalik dari orang waras, sehingga kalau bergembira ia menangis, sebaliknya kalau berduka ia tertawa.

Justeru orang yang dapat menguasai perasaan ini menimbulkan kekuatan batin yang hebat, yaitu dapat tertawa dalam duka dan dapat menangis dalam suka!

Sikap seperti ini biasa saja bagi orang gila, akan tetapi kalau dilaksanakan oleh orang waras, merupakan latihan batin yang amat berat dan hasilnya pun bukan main besarnya, karena orang yang dapat melakukannya, berarti dapat mengatasi perasaan dan nafsu-nafsunya.

Orang yang tidak dikuasai oleh nafsu, berati selalu dalam keadaan "tiong-yong" (lurus, tegak, tidak berat sebelah).

Kalau datang nafsu-nafsu seperti suka-duka marah dan lain-lain, maka perimbangannya menjadi tidak lurus lagi, menjadi miring dan tentu saja hal ini membayangkan kelemahan batin yang dapat mendorong orang lupa diri dan melakukan hal-hal yang menyeleweng.

Dalam ilmu silat pun perlu sekali orang dapat mengatasi semua nafsu, karena ia akan menjadi kuat batinnya dan dengan cepat tenaga sakti (sinkang) di tubuh yang terbenam dalam pusar akan menjadi makin kuat.

Karena pada dasarnya ilmu kepandaian Biauw Eng memang lebih tinggi daripada tingkat Hun Bwee, setelah belajar selama setahun saja, tingkat kepandaian Biauw Eng sudah melampaui tingkat Hun Bwee.

Melihat ini, diam-diam, Hun Bwee menjadi kagum dan menduga-duga siapakah tadinya guru sumoinya ini.

Akan tetapi ia tidak menjadi iri hati karena selama setahun ini ia mendapat kenyataan bahwa Biauw Eng seorang dara yang amat baik budi sehingga hubungan di antara mereka seperti kakak beradik saja.

mereka berdua tekun belajar dan berlatih terus di bawah pengawasan Go-bo Thai-houw yang biarpun gila, akan tetapi ternyata amat tekun mengajar dan banyak macam ilmu aneh ia turunkan kedua muridnya.

Kita tinggalkan dulu Hun Bwee dan Biauw Eng yang belajar dengan tekun sekali karena keduanya mempunyai cita-cita.

Mari kita mengikuti perjalanan Keng Hong yang telah lama kita tinggalkan.

Semenjak pertemuannya dengan Siauw-bin Kun-cu, mulailah Keng Hong dengan sabar sekali melakukan pengintaian untuk dapat bertemu dengan Cui Im di luar kota sehingga ia akan dapat menyergap dan memaksa wanita itu mengembalikan semua pusaka peninggalan gurunya.

Akan tetapi sampai tiga bulan lebih ia mengintai dan menunggu, tidak pernah Cui Im mendatangi pondok merah di luar kota raja yang ditunjukkan oleh Tio Hok Gwan itu.

Ternyata bahwa Cui Im amat cerdik dan sudah dapat menduga bahwa Keng Hong tentu takkan tinggal diam dan akan berusaha menemuinya di luar istana atau luar kota raja sehingga gadis yang cerdik ini jarang sekali meninggalkan istana.

Selain itu, juga Cui Im menyebar banyak mata-mata untuk menyelidiki sehingga akhirnya ia malah tahu bahwa Keng Hong mengintai dan menantinya di luar kota raja, menunggu dia datang ke pondok merahnya!

Tentu saja diam-diam Cui Im menetertawakan Keng Hong, malah gadis ini yang mencari akal muslihat bagaimana caranya melenyapkan Keng Hong dari muka bumi karena selama pemuda itu masih hidup, tentu dia tidak akan merasa aman.

Cui Im mengerti bahwa dia sendiri takkan dapat mengalahkan Keng Hong, bahkan biarpun ia dibantu oleh Siauw Lek sekalipun, belum tentu akan dapat menandingi Keng Hong.

Dia merasa ngeri ketika menyaksikan pertandingan antara Hok Gwan dan Keng Hong, apalagi melihat betapa Keng Hong telah menguasai Thi-khi-I-beng demikian mahirnya, tidak seperti dulu.

Tidak ada jalan baginya, untuk dapat menandingi Keng Hong, selain bantuan Siauw Lek.

Dia harus mendapat bantuan orang-orang pandai seperti Pak-san Kwi-ong dan beberapa orang rekannya pengawal rahasia yang berilmu tinggi.

Mereka berjumlah tujuh orang.

Tentu saja tugas mereka tak mungkin dapat ditinggalkan.

Sedikitnya harus tiga orang yang menjaga keselamatan kaisar.

Kalau ia dibantu Pak-san Kwi-ong dan Kemutani saja, datuk persilatan peranakan Mongol itu, bersama Siauw Lek, agaknya mereka berempat akan dapat menandingi Keng Hong.

Mendengar dari para penyelidiknya bahwa Keng Hong selalu menanti di luar kota raja sebelah barat, tak jauh dari sebuah pondok kecil mungil warna merah yang telah lama selalu kosong seperti kosongnya hati Keng Hong yang mengintai dengan sabar sampai berbulan-bulan, Cui Im lalu mengajak Pak-san Kwi-ong berunding.

"Engkau telah menyaksikannya sendiri, Kwi-ong, ketika Keng Hong melawan Tio Hok Gwan. Dia telah menguasai Thi-khi-I-beng (Mencuri Hawa Pindahkan Nyawa). Kalau dia tidak dilenyapkan dari muka bumi, bukankah kelak nama kita akan hancur olehnya?"

"Ha-ha-ha-ha-ha! Nama siapa yang akan hancur, Ang-kiam?"

Pak-san Kwi-ong seperti biasa tertawa bergelak dan dia memang tidak pernah mau menyebut Cui Im dengan julukan lengkapnya, yaitu Ang-kiam Bu-tek.

Dia tidak mau menyebut gadis itu Bu-tek (Tanpa lawan) karena hal ini akan membuat dia seperti mengaku bahwa gadis itu tidak ada lawannya, berarti dia sendiri pun menyatakan takluk!

Maka ia hanya menyebut Ang-kiam (Pedang Merah) saja.

"Antara dia dan aku tidak ada urusan sesuatu yang dicarinya bukan aku melainkan engkau. Urusan pribadimu dengan dia kau bereskan sendiri saja kalau kau mampu menghadapinya, ha-ha-ha! Mengapa harus aku mencapuri urusanmu?"

Diam-diam Cui Im menyumpah kakek tinggi besar hitam ini.

Akan tetapi biarpun dia jauh lebih muda, patut menjadi cucu kakek itu, dalam hal kecerdikan, Cui Im menang jauh.

Ia hanya tersenyum manis, bukan untuk memikat hati Pak-san Kwi-ong.

Dia tahu bahwa kecantikan wajahnya dan keranuman tubuh mudanya tidak akan dapat menggerakkan hati kakek itu.

Andaikata demikian halnya, pasti dia tidak akan segan untuk menggunakan umpan lain.

"Kwi-ong, jangan engkau membohong. Bukankah engkau dahulu merupakan seorang di antara mereka yang memperebutkan Sian-bhok-kiam untuk mendapatkan pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong? Keng Hong adalah murid Sin-jiu Kiam-ong!"

Kembali kakek hitam itu tertawa bergelak.

"Aku bukan orang bodoh, Ang-kiam. Aku tahu bahwa bocah itu murid Sin-jiu Kiam-ong, akan tetapi kalau dahulu kita semua tidak berhasil membujuk dan mengepung gurunya, bagaimana sekarang akan dapat berhasil memaksa muridnya? Kulihat bocah itu lihai sekali, belum tentu kalah oleh mendiang gurunya, dan juga dalam kekerasan hati, dia tidak kalah. Tidak, aku sudah tua dan kedudukanku di sini sudah amat baik, mau apa lagi? Aku tidak akan mencari penyakit memusuhi murid Sin-jiu Kiam-ong, membahayakan keselamatan sendiri tanpa tujuan yang jelas, kecuali.... Ha-ha-ha, menolong dan membantumu!"

Cui Im tersenyum mengejek.

"Hem, tertawalah, Kwi-ong karena engkau belum tahu, nanti ketawamu akan lain bunyinya. Katakanlah pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong yang manakah yang dahulu amat kau inginkan?"

Pak-san Kwi-ong menghentikan tawanya dan memandang wajah cantik itu dengan sinar mata tajam menyelidik.

"Hemmm, apa artinya kuberitahukan kepadamu? Akan tetapi tidak apalah kuceritakan juga. Di antara kitab-kitab yang dicuri Sin-jiu Kiam-ong, ada sebuah kitab yang amat kubutuhkan, yaitu kitab Siauw-lim-pai..."

"Seng-to-cin-keng? Ataukah kitab I-kiong-hoan-hiat?"

Cui Im memotong. Kakek hitam itu terbelalak.

"Eh, engkau sudah tahu pula? Kitab ke dua itulah, I-kiong-hoan-hiat. Amat kubutuhkan karena ilmu dalam kitab itulah yang akan membantu sempurnanya ilmu yang sedang kuciptakan.

"Sekarang bagaimana? Masih inginkah? Kalau engkau membantuku menghadapi Keng hong, aku tanggung engkau akan memiliki kitab itu."

Kakek itu membelalakkan mata.

"Hemmm, jangan main-main. Andaikata aku membantumu dan kita berhasil mengalahkan Keng Hong, dari mana aku akan bisa mendapatkan kitab itu? Aku sangsi apakah dia akan suka menyerahkan kitab itu, dia seorang yang keras hati dan tak mungkin dapat dipaksa dengan siksaan yang bagaimanapun."

"Hi-hi-hik, ternyata engkau biarpun sudah tua masih tetap bodoh, Kwi-ong."

"Apa maksudmu?"

Kening tebal itu berkerut dan sinar mata datuk dari utara itu membayangkan kemarahan.

"Kau kira dari manakah aku mendapat kepandaian sehingga kini menjadi Ang-kiam Bu-tek, tokoh nomor satu tak terkalahkan? Kau kira bagaimanakah aku sampai dapat mengalahkan bekas guruku, Lam-hai sin-ni yang menjadi tokoh terkuat dari Bu-tek Su-kwi dan membunuhnya? Dari mana aku mendapatkan kepandaian untuk merobohkan semua jagoan yang berani menentangku, membunuh Sin-to Gi-hiap dan yang lain-lain? Akulah orangnya yang telah berhasil mewarisi semua pusaka Sin-jiu Kiam-ong dan termasuk kitab I-kiong-hoan-hoat. Kalau engkau mau membantuku menghadapi Keng Hong sampai dia tewas, aku akan memberimu kitab pusaka Siauw-lim-pai kepadamu."

Sepasang mata yang lebar dan tampak putih sekali karena mukanya hitam itu terbelalak, telinga yang lebar seperti telinga gajah itu bergerak-gerak.

Pak-san Kwi-ong sudah maklum akan kelihaian bekas murid Lam-hai Sin-ni itu, akan tetapi mendengar pengakuan bahwa gadis ini yang berhasil mewarisi pusaka-pusaka Sin-jiu Kiam-ong, benar-benar merupakan hal yang tak disangka-sangkanya.

Ia masih belum mau percaya benar, maka dia berkata.

"Ang-kiam, bagaimana aku bisa tahu bahwa engkau tidak membohong?"

"Pak-san Kwi-ong, apakah kepandaianku masih belum meyakinkan hatimu? Apakah engkau perlu untuk mencobanya lebih dulu?"

Cui Im meraba gagang pedang merahnya.

"Ha-ha-ha! Kita berdua tentu akan dihukum mati oleh kaisar kalau membuat ribut disini. Tentang engkau pandai sampai setinggi langit, aku tidak peduli. Akan tetapi bagaimana aku bisa percaya bahwa kitab I-kiong-hoan-hiat berada padamu kalau aku belum melihat buktinya?"

"Bagus! Aku akan memperlihatkan kitab itu. Kalau memang benar, maukah engkau membantuku menghadapi Keng Hong dan kalau dia tewas aku akan memberikan kitab itu kepadamu sebagai balas jasa?"

Kakek hitam yang amat membutuhkan kitab itu, mengangguk-angguk.

"Kau tunggulah sebentar!"

Cui Im berkelebat pergi dan tak lama kemudian ia sudah datang lagi bersama Siauw Lek yang tersenyum-senyum.

"Lihatlah baik-baik, bukankah ini kitab yang kau inginkan itu?"

Cui Im memegang sebuah kitab yang tadinya terbungkus kain kuning memperlihatkan sampulnya dan membuka-buka lembarannya.

Sepasang mata kakek hitam itu makin melebar dan wajahnya berseri-seri.

Ia mengenal kitab itu yang pernah dilihatnya dahulu di Siauw-lim-si akan tetapi yang tak pernah dapat dia miliki.

Dahulu, dia siap mempertaruhkan nyawanya untuk mendapatkan kitab ini.

Dan sekarang, dia akan dapat memilikinya dengan mudah!

Syaratnya hanya membantu Cui Im menewaskan Keng Hong!

Kalau dia sendiri disuruh menandingi Keng hong, setelah dia melihat kelihaian pemuda itu bertanding melawan Tio hok Gwan, agaknya akan amat sukar mengalahkan pemuda itu.

Akan tetapi bersama-sama Cui Im dan Siauw Lek yang lihai benar-benar tidaklah amat sukar.

"Baiklah, Ang-kiam Bu-tek. Aku terima permintaanmu! Jawabnya penuh gairah. Cui Im menyimpan kitabnya di balik baju dengan hati girang. Yang penting adalah menundukkan kakek ini supaya ikut membantunya. Yang penting adalah menewaskan Keng Hong. Kalau hal itu telah terlaksana, tentang pemberian kitab adalah merupakan urusan belakang! Mereka bertiga duduk melakukan perundingan.

"Aku tidak mau bertindak sembrono,"

Kata Cui Im.

"Menghadapi lawan yang demikian lihai, kita tidak boleh terlalu mengandalkan kepandaian sendiri agar jangan sampai gagal. Terus terang saja, ilmu kepandaian yang dimiliki Keng Hong juga didapatnya dari kitab-kitab pusaka peninggalan Sin-jiu Kiam-ong. Sesungguhnya, aku tidak akan kalah menghadapinya karena kepandaian kami berdua setingkat dan sesumber. Akan tetapi.."

Cui Im menarik napas panjang karena ia benar-benar merasa penasaran dan kecewa.

"dia telah dapat dapat menguasai Thi-khi-I-beng yang entah dia dapatkan dengan cara bagaimana. Bahkan dahulu sebelum kami menemukan kitab-kitab itu, dia sudah memiliki ilmu mujijat itu. Akan tetapi, kalau kita maju bersama, kurasa kita akan dapat mengatasinya."

Pak-san Kwi-ong yang kini menjadi bersemangat karena dia ingin sekali segera dapat memiliki kitab I-kiong-hoan-jiat, berkata.

"Kurasa bukan hanya ilmu menyedot sinkang lawan itu saja yang perlu kita perhatikan. Apakah engkau juga mengenal ilmu silatnya ketika dia melawan Tio Hok Gwan?"

Cui Im menggeleng kepala.

"Belum pernah aku melihat dia mempergunakan ilmu silat aneh itu."

"Ha-ha-ha! Apa sih anehnya ilmu silatnya itu?"

Tiba-tiba Kim-lian Jai-hwa-ong Siauw Lek berkata dengan suara menghina.

"Mereka gerakan tangannya, ilmu silatnya itu bukankah mengambil dari Pat-kwa Kun-hoat dan melihat gerak kakinya, tentulah Ngo-heng-kun. Mungkin merupakan penyatuan dua ilmu silat itu."

Pak-san Kwi-ong yang tentu saja lebih banyak pengalamannya, menggeleng kepala dan berkata serius.

"Bukan! Gerakan lengan yang membentuk lingkaran-lingkaran itu amat aneh dan kurasa merupakan ilmu silat simpanan yang tidak terkenal. Kita harus waspada menghadapi ilmu silatnya itu dan ilmu sedotnya yang lihai!"

"Aku percaya kita bertiga akan dapat mengalahkannya!"

Kata Siauw Lek. Pak-san Kwi-ong mengangguk.

"Kurasa pun begitu. Biarpun dia lihai, mustahil kita bertiga takkan dapat mengalahkannya."

Cui Im mengerutkan alisnya.

"Aku ingin sekali turun tangan tidak sampai gagal. Kalau kita bertiga maju, kita hanya merasa unggul, akan tetapi aku belum yakin, sebaliknya kalau kita bisa mengajak seorang di antara rekan kita. Kurasa Kemutani paling boleh diandalkan dengan hui-to (pisau terbang) dia akan dapat mengacaukan lawan."

"Hemmm, akan tetapi wataknya yang keras mana mungkin dapat kita bujuk?"

Siauw Lek meragu.

"Ha-ha-ha-ha-ha! Kesukaan Kemutani hanya satu dan pandang matanya kepadamu Ang-kiam..."

Cui Im mengangguk.

"Aku mengerti dan aku siap membalas budinya."

"Akan tetapi dia.... mengingatkan aku akan kuda Mongol..."

"Hussshhh, Siauw Lek. Jangan bicara begitu. Harap engkau suka memanggil dia ke sini."

Cui Im mencela dan pandang matanya membuat Siauw Lek tak berani membantah lagi.

Dia adalah kekasih Cui Im, dan dia tidak menjadi cemburu, bahkan tidak peduli kalau Cui Im berpesta pora membagi cinta berahinya kepada pemuda-pemuda tampan.

Akan tetapi, membayangkan Cui Im dengan tubuhnya yang ranum dan menggairahkan, kulitnya yang halus putih kemerahan itu, harus melayani Kemutani?

Dia bergidik.

Teringat ia akan cerita orang betapa sudah ada tiga orang pelayan istana yang dihadiahkan kepada Kemutani, semua mati setelah berada di kamar peranakan Mongol itu selama tiga malam!

Kemutani yang memiliki tenaga Iweekang yang amat kuat, bermuka pucat seperti mayat dan bertubuh tinggi kurus itu mengingatkan dia akan seekor kuda jantan Mongol yang amat berbahaya bagi setiap orang wanita!

Kemutani muncul bersama Siauw Lek dan segera duduk menghadapi Cui Im.

Pandang matanya tanpa disembunyikan lagi melihat belahan dada membusung di atas meja di hadapannya itu, wajahnya pucat berseri dan dia berkata dengan suara yang agak kaku karena dia lebih mahir berbahasa Mongol daripada bahasa Han.

"Nona, engkau memanggil aku? Ada urusan apakah?"

"Kemutani, aku ingin minta pertolonganmu dalam urusan pribadiku."

Kemutani tersenyum dan matanya berkedip-kedip sebelum menjawab.

"Ah, tentu saja, aku bersedia menolong, bukankah kita harus saling menolong? Siapa tahu sekali waktu aku pun ingin minta pertolongan darimu, Nona."

Cui Im mengangguk-angguk dan semua maklum apa yang tersembunyi di balik ucapan itu.

"Memang kita harus saling menolong dan aku berjani jika engkau suka membantuku dalam urusan ini, setelah berhasil aku pun akan suka membalasmu dengan membantumu."

"Heh-heh-heh, betulkah? Katakan dulu, apakah urusan itu?"

"Engkau sudah melihat sendiri bahwa ada datang musuh besarku yang hendak mencelakakan aku. Karena dia lihai, maka aku ingin minta bantuanmu menghadapinya bersama Pak-san Kwi-ong dan Jai-hwa-ong..."

"Ah, pemuda lihai bukan main itu?"

Kemutani tampak kaget karena diapun telah menyaksikan sepak terjang Keng Hong ketika menghadapi Hok Gwan dan diam-diam dia pun telah dapat menilai bahwa dia bukanlah lawan pemuda hebat itu.

"Boleh jadi dia lihai, akan tetapi kalau kita berempat maju, aku yakin dia akan dapat kita tewaskan,"

Jawab Cui Im dengan suara pasti.

"Akan tetapi... Apakah kita tidak akan mendapat teguran kalau melakukan pembunuhan di kota raja? Padahal The-taiciangkun sendiri sudah mengetahui duduknya perkara dan sudah mengenal pemuda itu."

"Kita harus cerdik. Aku akan memancingnya di luar kota raja dan kita habiskan nyawanya di sana. Pendeknya, hal itu kau tak usah khawatir, aku yang akan mengaturnya. Yang penting, maukah engkau membantuku menghadapi dia?"

Kemutani tampak meragu, akan tetapi pada saat itu, senyum manis sekali di bibir setengah terbuka penuh tantangan, pandang mata yang indah, dada yang agak dibusungkan, memberi janji yang menggetarkan nafsu berahinya.

"Nona, apakah balas jasamu untuk membantuku?"

"Sudah kukatakan, kalau kau suka membantuku, aku pun bersedia membantu, apa saja yang kau minta dariku. Kalau engkau membantuku dan kita berhasil menewaskan dia, boleh kau terima balas jasa itu."

"Betul? Heh-heh-heh, engkau bersedia... Eh menemani aku semalam suntuk?"

Ucapan kasar dan terang-terangan di depan orang-orang lain ini tentu akan membikin merah telinga orang, terutama telinga wanita yang bersangkutan.

Akan tetapi Cui Im kebal dan ia malah tersenyum, juga Siauw Lek dan Pak-san Kwi-ong mendengar ucapan ini dengan sikap biasa saja.

Cui Im mengangguk.

"Dengan senang hati aku akan menemanimu, Kemutani, setelah engkau membantu kami menewaskan Keng Hong."

"Wah, aku tidak mau kalau syaratnya harus menewaskan. Bagaimana kalau usaha kita gagal dan dia tidak sampai tewas? Padahal aku sudah membantumu! Bukankah aku akan membantu dengan sia-sia belaka? Tidak, Nona. Janjinya harus begini. Aku akan membantumu menghadapi pemuda sakti itu dan akan kuusahakan sekuat tenagku agar engkau menang dan dia tewas. Akan tetapi, tidak peduli dia terbunuh atau tidak, setelah aku membantumu dan kita kembali ke istana, engkau harus memenuhi permintaanku, menemaniku berenang di lautan asmara selama semalam suntuk. Aku selalu rindu untuk mendapat teman yang akan dapat mengimbangiku dan kurasa hanya engkaulah orangnya, Nona. Bagaimana? Berhasil atau tidak membunuh Keng Hong, engkau harus menemani aku!"

Cui Im mengangguk dan tersenyum, mengerjapkan mata kirinya dengan gaya yang manis memikat, lalu berkata.

"Baiklah, Kemutani. Aku pun ingin sekali menguji sampai di mana kekuatanmu berenang di lautan seperti yang disohorkan orang!"

Ucapan Cui Im ini pun tentu akan terasa menggatalkan telinga orang-orang biasa, akan tetapi mereka yang mendengarkan hanya tertawa.

Mereka lalu berunding di dalam kamar itu mengatur siasat, atau tepatnya, Cui Im yang menjelaskan siasatnya kepada tiga orang pembantunya.

"Menurut penyelidikanku, Keng Hong masih terus menanti di luar kota raja. Kalau kita langsung datang ke sana, tentu dia akan mendapat kesempatan melarikan diri apabila dia melihat akan dikeroyok. Lebih baik kita pura-pura tidak tahu bahwa dia mengintai di sana, biar dia menganggap aku sudah merasa aman dan aku akan bersenang-senang di sana bersama seorang pemuda. Tentu dia muncul dan kalian bertiga yang sudah bersembunyi lebih dulu, menyergap. Kalau dia terjebak memasuki pondok, tidak akan ada jalan keluar lagi baginya."

Tiga orang itu mengangguk-angguk dan akhirnya Siauw Lek bertanya.

"Dengan pemuda mana engkau akan ke sana dan kapan akan dilakukan siasat ini?"

Pertanyaan itu sama sekali tidak mengandung nada suara cemburu, dan Cui Im menjawab.

"Aku belum tahu. Harus kucari dulu, kemudian setelah dapat baru akan kutentukan waktunya."

Berakhirlah perundingan gelap ini dan Cui Im lalu keluar dan seperti biasa di waktu dia bebas tugas, ia menunggang kuda dan mengelilingi kota sambil memasang matanya mencari-cari pemuda yang mencocoki hatinya, seperti mata seekor burung elang mencari anak ayam atau burung kecil yang berdaging penuh.

Biarpun baru kurang lebih setahun Cui I menjadi pengawal istana, akan tetapi ia sudah amat terkenal di kota raja.

Hampir semua orang tahu siapakah gerangan gadis berpakaian mewah dan indah, cantik, jelita, dan menunggang seekor kuda yang besar itu.

Maklum pula bahwa di samping memiliki kepandaian yang disohorkan orang seperti kepandaian seorang dewi dari langit, juga bahwa wanita cantik menggairahkan ini memiliki hobby mencari pemuda tampan untuk diajak bersenang-senang.

Tentu saja bagi pemuda yang dipilih, hal itu merupakan pengalaman yang takkan terlupakan, merasa beruntung seperti kejatuhan bulan.

Maka tidaklah mengherankan apabila Cui Im sedang menunggang kuda keliling kota, para pemudanya keluar dari dalam rumah dan memasang gaya masing-masing di depan pintu.

Siapa tahu mereka akan terpilih!

Akan tetapi sekali ini, Cui Im tidak mau memilih pemuda sembarangan saja.

Sudah terlalu lama, hampir tiga bulan ia terpaksa menahan nafsunya karena tidak berani keluar dari istana, apalagi pergi bersenang-senang di pondoknya di luar kota.

Dia ingin memilih seorang pemuda yang betul-betul memenuhi syarat selera hatinya, untuk diajak bersenang-senang sampai sepuasnya dan juga untuk dipergunakan sebagai umpan memancing keluarnya Keng Hong.

Jadi, untuk malam istimewa yang direncanakan itu dia harus mendapatkan seorang pemuda yang betul-betul istimewa!

Hatinya kesal karena dia tidak melihat pemuda yang baru.

Dia bosan melihat para pemuda yang itu-itu juga berlumba gaya di depan pintu, memasang aksi dan tersenyum-senyum kepadanya.

Akan tetapi tentu saja tidak ada seorang pun di antara para pemuda itu yang berani bersikap kurang ajar.

Mereka semua sudah mengenal siapa Cui Im, seorang wanita yang di satu saat dapat menjadi seorang bidadari dengan jari-jari tangan halus mesra membelai, akan tetapi di saat lain dapat menjadi iblis yang akan membunuh orang tanpa berkedip mata!

Dengan hati kesal Cui Im menghentikan kudanya di depan sebuah restoran yang paling terkenal di kota raja.

Seorang pelayan cepat menuruni anak tangga depan restoran dan sambil terbongkok-bongkok lalu meneria kendali kuda untuk menuntun kuda nona itu ke kandang kuda yang tersedia di belakang restoran.

Cui Im melangkahkan kaki dengan sigap dan sikap angkuh memasuki restoran, tidak begitu mengacuhkan para pelayan yang menyambutnya dengan senyum-senyum menjilat dan tubuh terbongkok-bongkok.

"Sediakan meja di sudut dalam, menghadap keluar. Aku ingin makan masakan yang paling enak!"

Kata Cui Im singkat.

Pengurus rumah makan itu dengan ramah lalu mempersilakan nona ini duduk di meja sudut sebelah dalam.

Cui Im duduk dan memandang keluar.

Dari tempat duduknya ia tidak hanya dapat melihat semua tamu yang memasuki restoran, bahkan dapat melihat orang-orang yang lewat dijalan besar depan restoran itu.

Dia tidak peduli akan pandangan semua tamu yang menoleh ke arahnya sejak ia memasuki restoran sampai ia duduk.

Ada di antara mereka beberapa orang pria muda yang cukup ganteng, Akan tetapi tidak ada yang memenuhi seleranya.

Hal ini agaknya disebabkan oleh sikap orang-orang muda itu sendiri yang memandangnya penuh gairah.

Cui Im terlalu sering melihat pandang mata seperti itu sehingga ia menjadi kebal dan terbiasa.

Pandangan laki-laki penuh gairah dan kagum kepadanya malah membosankan, bahkan menjemukan hatinya.

Dia ingin mencari seorang pria yang betul-betul istimewa, muda atau tua tidak menjadi soal baginya.

Tiba-tiba pandang mata Cui Im berkilat dan seluruh tubuhnya menegang penuh getaran, semangatnya bangkit dan setiap urat syaraf di tubuhnya berdenyut, terbawa oleh jantungnya yang berdebar.

Pandang matanya seperti lekat kepada seorang pemuda yang memasuki restoran itu.

Begitu melihat wajah pemuda ini, melihat tubuhnya yang sedang berpakaian hijau, (Lanjut ke

Jilid 28) Pedang Kayu Harum (Seri ke 01-Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 28 Bertemu pandang dengan sepasang mata tajam di bawah alis yang hitam tebal, nafsu berahinya bangkit, menyala dan berkobar.

Pemuda itu usianya sekitar dua puluh lima tahun, wajahnya membayangkan kejantanan, akan tetapi gerak-geriknya halus.

Alisnya yang tebal hitam, matanya tajam dan hidungnya mancung, bibirnya merah membayangkan kesehatan.

Wajah yang tampan dan membayangkan kehalusan budi.

Melihat bentuk pakaiannya yang kehijauan mudah diketahui bahwa dia adalah seorang pemuda terpelajar, seperti pakaian sastrawan di masa itu, serba longgar, dengan lengan baju lebar.

Akan tetapi pakaian itu agaknya kotor dan berdebu, tanda bahwa dia adalah seorang pendatang dari luar kota raja dan agaknya baru saja datang dari perjalanan jauh.

Ada kelelahan karena perjalanan tapamk dalam keadaan pakaian dan sepatunya yang berdebu.

Sebuah buntalan kain kuning yang cukup besar, agaknya terisi bekal pakaian dan lain-lain, diletakkan pemuda itu di atas bangku dekat meja.

Kemudian ia duduk dan tidak mengacuhkan keadaan sekelilingnya.

Dia bukan seorang yang bersikap tinggi hati, akan tetapi jelas tidak merasa rendah berada di restoran, di antara tamu-tamu yang berpakaian mewah bersih itu.

Dengan suara tenang dan halus dia memesan makanan kepada pelayan.

Kebetulan sekali pemuda itu duduknya menghadap ke dalam sehingga Cui Im dapat melihat wajahnya dari depan.

Debar jantung wanita ini makin mengencang.

Ia merasa amat tertarik.

Inilah pemuda yang dicarinya!

Agaknya pandang mata Cui Im yang tajam penuh perasaan itu terasa getarannya oleh pemuda itu karena dia mengangkat muka dan beberapa detik pandang mata mereka bertaut.

Pemuda itu cepat menunduk dan Cui Im makin tersiksa hatinya dan tergugah nafsunya.

Pemuda itu memandangnya dengan heran, seolah-olah mengherankan kehadiran seorang wanita muda sendirian dalam restoran besar itu.

Sama sekali tidak ada pandang mata gairah dan kagum seperti didapatkan Cui Im berada dalam sinar mata tiap orang pria yang memandangnya.

Dia menjadi makin tertarik dan juga penasaran.

Begitu angkuhkah pemuda ini sehingga tidak tertarik kepadanya?

Hemmm, aku harus mendapatkan engkau dan akan kubikin mabuk engkau dengan kecantikanku, dengan sifat kewanitaanku, sampai engkau suka bertekuk lutut dan mencium telapak kakiku, demikian bisik hati Cui Im yang menjadi penasaran dan gemas karena baru pertama kali ini dia tidak dipedulikan oleh seorang pria!

Memang watak yang aneh dan juga sukar sekali yang dimiliki Cui Im.

Tadi dia merasa jemu melihat semua pemuda memandangnya penuh kagum dan gairah.

Kini bertemu dengan seorang pria yang tidak memandangnya dengan kagum dan gairah, ia menjadi penasaran dan mendongkol!

Pesanan makanan Cui Im datang lebih dulu dan dengan sikap amat hormat dan ramah, dua orang pelayan mengatur hidangan itu di atas meja di depan Cui Im.

Pemuda baju hijau itu terpaksa memandang, bukan untuk mengagumi wajah Cui Im, melainkan karena bau sedap masakan yang mengepul itu menambah perih perutnya yang amat lapar, dan juga sikap dua orang pelayan yang menjilat-jilat, banyaknya hidangan yang sampai tujuh macam di piring dan mangkok besar itulah.

Akan tetapi Cui Im memandang wajah pemuda itu dan ketika dua orang pelayan sudah meninggalkan meja dan kebetulan pandang mata mereka bertemu, Cui Im memandang mesra penuh daya pikat, bibirnya yang manis tersenyum dan mengangguk sedikit memberi isyarat menawarkan.

Merah wajah pemuda itu, Ia merasa telah melakukan hal tidak pantas, memandang orang mau makan.

Melihat isyarat itu ia lalu menggerakkan tubuh membungkuk dan mengangkat kedua tangan di dada sebagai ucapan terima kasih dan minta maaf sekaligus, kemudian menundukkan muka tidak berani memandang lagi.

Sampai lama jari-jari tangan Cui Im menjepit tanpa mulai makan.

Ia terus memandang pemuda itu, hatinya tertarik sekali.

Sikap pemuda itu begitu lemah lembut, begitu sopan dan sama sekali tidak memperlihatkan kagum atau tertarik.

Betapa sukarnya mencari pemuda yang memang sudah mengaguminya, kadang-kadang membosankan.

Belum pernah ia mendapatkan penyerahan diri seorang pria yang tadinya memandang rendah kepadanya.

Betapa akan mesranya kalau pemuda sopan dan tak acuh atas kecantikannya seperti pemuda di depannya itu akhirnya menyerah dalam pelukannya!

Betapa akan terasa bangga hatinya.

Seorang pelayan datang membawa bak terisi makanan yang dipesan pemuda itu.

Cukup seorang saja yang melayaninya karena yang dipesannya pun hanya nasi, bakmi dan semacam masakan bersama seguci arak.

Setelah hidangan di atur di meja dan pelayan mempersilakannya makan, pemuda itu agaknya teringat kepada Cui Im yang tadi menawarinya.

Hatinya merasa tidak enak kalau dia diam saja maka lebih dulu mengerling ke arah meja gadis cantik itu yang tentu sedang asyik makan sehingga dia mendapat alasan untuk tidak menawarkan, Akan tetapi mukanya menjadi merah sekali ketika dia melihat bahwa gadis itu hanya memegang sumpit dan belum mulai makan, bahkan sedang memandanginya dan tersenyum ketika pandang mata mereka bertemu!

Dengan sikap canggung dan tersipu pemuda itu mengangguk untuk menawarkan, dibalas oleh Cui Im yang tersenyum lebar sehingga tampak deretan giginya yang putih.

Tiba-tiba pemuda itu melihat Cui Im mengambil sebuah di antara mangkok-mangkok terisi masakan sekali menggerakkan tangan, mangkok itu melayang di udara, berputaran dan hinggap di atas meja depan pemuda itu, sedikit pun tidak tumpah kuahnya!

Pemuda itu terbelalak kaget dan memandang Cui Im penuh pertanyaan, juga penuh keheranan.

Cui Im tersenyum lalu berkata lirih.

"Silakan, Siangkong (Tuan Muda), masakan yang dihidangkan untukku terlalu banyak."

Wajah pemuda itu menjadi merah sekali, akan tetapi dia hanya mengangguk dan menjawab lirih.

"Terima kasih."

Kemudian mulai makan dengan lambat, tidak berani memandang ke kanan kiri karena dia merasa bahwa para tamu lainnya tentu melihat semua kejadian tadi sehingga dia menjadi malu sekali.

Akan tetapi pemuda ini diam-diam merasa heran sekali mengapa tidak ada seorang pun yang mengeluarkan suara, padahal apa yang dilakukan wanita itu adalah hal yang tentu akan menimbulkan keheranan banyak orang.

Melempar semangkok masakan seperti itu sungguh merupakan perbuatan aneh yang takkan dapat dilakukan oleh sembarangan orang!

Tentu saja pemuda ini sama sekali tidak tahu bahwa wanita cantik itu adalah pengawal rahasia kaisar, dan tidak tahu bahwa tidak ada seorang pun yang berani mencampuri urusan wanita itu, apa pun yang dilakukannya!

Cui Im sudah mengambil keputusan tetap di hatinya.

Pemuda inilah pilihannya!

Pemuda tampan yang merupakan pendatang baru, yang begitu sopan, begitu halus dan lemah lembut, yang masih begitu murni sehingga tidak mengacuhkan kecantikan dan sinar matanya yang penuh pancaran kasih.

Apakah pemuda itu masih begitu bodoh?

Usianya tidaklah muda lagi, akan tetapi agaknya dia masih jejaka dan besar kemungkinan belum pernah berdekatan dengan wanita.

Pikiran ini membuat Cui Im makin terangsang dan ia menelan ludah.

Ia mengilar seperti seorang wanita mengandung melihat buah muda yang masam!

Harus ia dapatkan pemuda itu, untuk menemaninya sepuasnya dan untuk memancing Keng Hong.

Setelah menghabiskan beberapa potong daging dan minum beberapa teguk arak, ia lalu bangkit berdiri dan keluar dari rumah makan itu diikuti para pelayan yang membungkuk-bungkuk penuh hormat.

Cui Im meloncat ke atas punggung kuda.

Setiap rumah makan atau kedai apa saja takkan ada yang berani menerima uang pembayaran Cui Im, apalagi memintanya!

Melihat betapa pelayan-pelayan begitu menghormat, bahkan melihat pula betapa gadis itu pergi saja tanpa membayar, pemuda itu menjadi makin heran.

Dia tidak tertarik oleh kecantikan gadis itu, kecantikan yang dia tahu menyembunyikan sifat yang amat tidak menyenangkan, sungguhpun dia tidak tahu sifat apakah itu, hanya dia dapat menangkap sikap tercela dari sinar mata dan senyum memikat gadis itu.

Akan tetapi dia amat tertarik melihat betapa gadis itu amat dihormat, dan melihat kepandaian hebat gadis itu yang tadi melempar mangkok secara luar biasa.

Karena tertarik, ketika dia selesai akan dam memanggil pelayan untuk membayar, sambil lalu dengan suara tak acuh dia bertanya.

"Lopek, tahukah Lopek (Paman) siapa nona yang duduk di situ tadi?"

Mendengar pertanyaan ini, pelayan itu memandang pemuda itu dengan mata lebar, meneliti pemuda itu dari kepala sampai ke kaki, kemudian menggeleng kepala!

"Ah, tentu Kongcu seorang pendatang dari jauh maka tidak mengenalnya.

Dan sebetulnya Kongcu amatlah bahagia mendapatkan perhatiannya.

Hemmm...

sungguh aneh dunia ini...

Yang mengharapkan tidak mendapat, yang sama sekali tidak sengaja malah menemukan!

Dia itu adalah Bhe-siocia yang terkenal sebagai pengawal istana dan berjuluk Ang-kiam Bu-tek.."

Pelayan itu bergegas menerima pembayaran dan pergi, seolah-olah merasa ketakutan telah berani menyebut nama julukan itu.

Karena bergegas pergi, pelayan itu tidak melihat wajah pemuda pelajar itu berubah mendengar nama julukan Ang-kiam Bu-tek.

Pemuda itu lalu mengambil buntalannya, memanggulnya dan dengan langkah tenang keluar dari restoran, tidak peduli betapa dia menjadi pusat perhatian para tamu lainnya yang merasa iri hati melihat sikap Cui Im tadi kepada pemuda itu dan juga merasa amat heran mengapa ada pemuda yang menerima keuntungan seperti itu sama sekali tidak mengacuhkannya!

Pemuda yang sedang melihat-lihat keramaian kota raja, tiba-tiba mendengar derap kaki kuda yang berhenti lari setelah tiba di belakangnya, kemudian terdengar suara halus merdu menegurnya.

"Siangkong, harap berhenti dulu...!"

Pemuda dapat menduga siapa yang menegurnya sungguhpun di dalam hati dia merasa terheran, maka ketika dia berhenti dan memutar tubuh, melihat Cui Im duduk dengan gaya indah menarik di atas kudanya yang besar, dia tidak menjadi kaget.

Ia cepat mengangkat kedua tangan ke depan dada memberi hormat dan berkata.

"Ah, saya menghaturkan terima kasih atas keramahan Nona di restoran tadi. Tidak tahu apakah yang dapat saya lakukan untukmu maka Nona menghentikan saya?"

Kembali Cui Im kagum.

Pemuda ini benar-benar amat halus dan sopan santun.

Kesopanan yang menimbulkan keraguan di hatinya.

Jangan-jangan pemuda ini jasmaninya selemah sikapnya yang halus.

Akan tetapi ia mengusir keraguannya dan tersenyum manis sekali, kemudian dengan gerakan lemas, dengan gerak pinggang ramping yang lemah gemulai, ia turun dari atas punggung kudanya, menuntun kuda mendekati pemuda itu.

Dengan kendali kuda di tangan ia membalas penghormatan pemuda itu, bersoja (mengangkat kedua tangan depan dada) dan berkata.

"Tidak perlu berterima kasih, Siangkong. Aku tertarik melihat engkau yang agaknya merupakan seorang pendatang baru di kota raja, dan ingin sekali berkenalan. Kalau sudi Siangkong berkenalan dengan seorang bodoh seperti aku.."

Cui Im menutupi mukanya untuk menyembunyikan senyum lebar.

"aku bernama Bhe Cui Im..."

"Nona terlalu merendahkan diri. Kalau seorang seperti Nona menyebut diri bodoh, tentu saya merupakan seorang setolo-tololnya. Tentu saja saya merasa mendapat kehormatan besar sekali dapat berkenalan dengan Nona. Nama saya Yap Cong San."

"Nama yang bagus, sesuai dengan orangnya.."

Kata Cui Im dan ia menahan ketawanya ketika melihat betapa wajah pemuda itu menjadi merah sampai ke leher!

Untuk menolong Cong San dari rasa malu, Cui Im cepat berkata lagi.

"Yap-siangkong datang ke kota raja tentu hendak mengikuti ujian bukan?"

"Hemmm....., ya, benar. Mengikuti ujian, akan tetapi saya adalah seorang yang amat bodoh..."

"Eh, Siangkong terlalu merendahkan diri. Siangkong tentulah seorang terpelajar, aku yakin benar akan hal ini.. eh, tidak enak bicara di tengah jalan begini. Di manakah Siangkong bermalam?"

"Saya baru saja datang, karena lapar terus makan di restoran tadi belum sempat mencari rumah penginapan."

"Ah, kalau begitu saya bisa menolong Siangkong.."

"Jangan merepotkan diri, Nona. Sesunguhnya saya... saya merasa amat malu menganggu Nona. Apalagi, Nona yang terhormat di kota raja ini, kalau dilihat orang bicara dengan seorang sastrawan miskin seperti saya""

"Hemmm.... hendak kulihat siapa yang berani mencela aku..!"

Cui Im sengaja menengok sekelilingnya dan Cong San melihat dengan heran betapa semua orang yang tadinya memandang ke arah mereka, segera menundukkan muka dan melanjutkan perjalanan dengan secepatnya dan tergesa-gesa, seolah-olah dari pandang mata Cui Im memancar api panas yang membuat mereka tidak betah memandang lebih lama.

"Hemmm, Nona tentu seorang yang amat berkuasa di sini."

"Benar, Yap-siangkong. Karena itu, marilah kau ikut denganku dan kucarikan tempat penginapan yang patut untukmu. Marilah!"

Pemuda kelihatan canggung dan malu, akan tetapi dia melangkah dan berjalan di samping nona itu yang bicara dengan senyum-senyum.

"Percayalah, Siangkong, saya tidak mempunyai niat buruk terhadap Siangkong, saya tahu bahwa Siangkong seorang yang pandai dan terpelajar. Sebagai seorang asing di sini, kasihan kalau Siangkong tidak mendapatkan tempat yang layak."

Cui Im membawa Cong San ke sebuah hotel terbesar di kota raja.

Melihat pakaian para pelayan di situ dan melihat tempat penginapan yang besar, tamu-tamu yang berpakaian mewah, Cong San dapat menduga bahwa kalau dia muncul sendirian di situ agaknya dia akan dipandang rendah dan tentu biaya penginapan di situ amat mahal.

Diam-diam ia menghitung bekalnya yang tidak banyak.

Akan tetapi karena dia datang bersama Cui Im, para pelayan sibuk menyambut mereka berdua, bahkan kuasa hotel itu sendiri menyambut sambil membongkok-bongkok sehingga pinggangnya hampir patah.

"Selamat datang, selamat datang, Lihiap (Pendekar Wanita)! Sungguh merupakan kehormatan besar mendapat kunjungan Lihiap. Apakah Lihiap hendak menggunakan kamar? Ataukah ada perintah lain yang harus kami lakukan?"

Kata kuasa hotel itu tersenyum-senyum dan juga tidak lupa menyoja dengan hormat kepada Cong San.

Cui Im tersenyum dan melirik ke arah Cong San seperti hendak membanggakan diri atas sikap kuasa hotel dan para pelayan itu.

"Tidak, bukan aku yang membutuhkan kamar, melainkan sahabat baikku, Yap-siangkong ini. Harap kau suka memberi kamar terbaik untuknya dan melayaninya dengan baik pula."

"Tentu... Tentu, Lihiap. Marilah, Yap-siangkong!"

Kuasa hotel itu menjura kepada Cong San. Pemuda ini cepat berkata kepada Cui Im.

"Banyak terima kasih, Nona."

"Ah, diantara sahabat mengapa banyak sungkan, Siangkong?"

Bantah Cui Im "mengharap Siangkong akan memenuhi undanganku untuk minum arak malam nanti."

Cong San hendak membantah, akan tetapi nona itu sudah melangkah keluar, di ruangan depan ia menengok sambil tersenyum dan berkata.

"Saya akan mengirim utusan mengundangmu, Siangkong."

Lalu dengan langkah ringan dan lincah, Cui Im keluar, meloncat ke atas kudanya dan membalapkan kuda pergi dari situ, meninggalkan debu mengepul di halaan hotel.

"Yap-siangkong amat beruntung menjadi sahabat baik Bhe-lihiap,"

Kuasa hotel itu berkata sambil tertawa.

"Silakan, Siangkong."

Terpaksa Yap Cong San mengikuti kuasa hotel itu, dipandang oleh para pelayan yang tersenyum-senyum dan membungkuk-bungkuk.

Setelah mereka memasuki sebuah kamar yang besar, lengkap dengan perabotan dan amat bersih, Cong San menjadi khawatir dan berkata.

"Twako, terus terang saja, sahabatku nona Bhe Cui Im itu agak berlebihan. Aku seorang miskin, bagaimana dapat menyewa sebuah kamar sebesar dan semewah ini? Beri padaku sebuah kamar yang kecil saja, yang paling murah."

"Aiiihhhhh, mana bisa begitu. Saya masih sayang akan nyawa saya, Siangkong. Lihiap telah menentukan kamar yang terbaik untukmu, mana berani saya melanggar perintahnya? Harap Siangkong tidak merendahkan diri. Sebagai sahabat lihiap, saat ini Siangkong menjadi tamu agung bagi kami."

"Tapi.... tapi..."

Cong San memegang lengan kuasa hotel yang hendak meninggalkan kamar itu.

"Saya... Tidak akan kuat membayar! Berapa sewanya sehari semalam, Twako?"

"Ha-ha-ha-ha-ha! Siangkong berkelakar! Mana berani saya menerima uang sewa dari Siangkong? Tidak usah bayar, biar sampai sebulan sekalipun. Nah, selamat beristirahat, Siangkong. Pelayan akan siap menjaga di luar dan menanti segala perintah Siangkong."

Cong San berdiri tertegun di tengah kamar, kemudian dia menghela napas panjang dan menutup daun pintu, meletakkan buntalan besar di atas meja kemudian dia tertawa seorang diri mengingat segala peristiwa, peristiwa-pwristiwa yang sama sekali tidak pernah diduganya!

Benar saja pelayan hotel itu bersikap amat hormat kepadanya dan melayani segala keperluan.

Cong San juga tidak sungkan-sungkan lagi, malah minta disediakan air panas untuk mandi dan pada sore hari itu ia memesan makanan yang cepat diantar ke kamarnya.

Setelah makan sore, dengan pakaian yang bersih, sedangkan pakaiannya yang kotor cepat-cepat dicuci oleh para pelayan, dia duduk di kamarnya membaca buku.

Melihat kitab yang dibacanya, yaitu kitab-kitab Susi Ngokeng, para pelayang maklum bahwa pemuda ini adalah seorang terpelajar yang datang dari jauh untuk mengikuti ujian negara.

Sementara itu, Cui Im sudah berunding dengan tiga orang pembantunya, yaitu Siauw Lek, Pak-san Kwi-ong dan Kemutani.

Penjagaan sekitar kamar kaisar diserahkan kepada Gu Coan Kok, Hok Ku dan Cou Seng.

Kemudian tiga orang pembantunya itu diam-diam berangkat keluar dan bersembunyi di dekat pondok merah di luar kota raja sebelah barat.

Adapun Cui Im lalu mengirim seorang pelayan ke rumah penginapan untuk memberi tahu kepada Cong San, melalui sebuah surat yang ditulisnya sendiri.

Ketika Cong San yang sedang membaca kitab di kamarnya itu diberi tahu oleh pelayan hotel dan menerima surat dari pelayan istana, dia terkejut dan cepat merobek sampulnya dan membaca surat dengan kertas merah wangi dengan tulisan yang tidak terlalu buruk bagi seorang wanita yang begitu ditakuti orang.

Ternyata surat itu memberitahukan bahwa Bhe Cui Im mengundangnya untuk minum arak sambil bicara tentang sastra di pesanggrahan wanita itu, dan bahwa Cong San diminta untuk bersiap-siap karena akan dijemput sendiri oleh wanita cantik itu!

Cong San, mengangguk-angguk dan berkata kepada pelayan utusan.

"Harap sampaikan terima kasihku kepada nona Bhe, dan katakan bahwa aku siap."

Setelah utusan itu pergi, Cong San cepat berganti pakaian yang paling baik, juga berwarna hijau pupus, kemudian dia menanti di luar kamarnya.

Malam telah mulai gelap dan lampu-lampu telah di nyalakan ketika terdengar derap kaki kuda dan seorang pelayan hotel berlari-lari menyampaikan warta bahwa "lihiap"

Telah menanti di luar.

Cong San menutup pintu kamarnya dan dia berjalan keluar.

Diam-diam dia kagum juga melihat Cui Im yang berdandan serba indah, kelihatan cantik dan gagah perkasa, sedangkan bau yang harum semerbak menyambut hidungnya ketika wanita itu mendekat.

"Ah, engkau baik sekali, Siangkong. Ternyata telah siap. Mari kita segera berangkat sebelum malam terlalu gelap."

"Berangkat ke mana? Di manakah pesanggrahan itu, Nona?"

"Tidak jauh kalau berkuda. Marilah arak dan hidangan telah tersedia di sana! Siangkong duduk di depan atau di belakang?"

Muka Cong San menjadi merah sekali.

Untung bahwa cahaya lampu di ruangan depan hotel itu juga merah sehingga warna mukanya tidak terlalu kentara, akan tetapi andaikata ketahuan juga, para pelayan yang berada di situ tidak ada yang berani mentertawainya.

"Maksudmu... Kita berboncengan?"

Tanyanya, agak gugup karena memang selama hidupnya, biar usianya sudah dua puluh lima tahun, belum pernah dia berdekatan dengan wanita, apalagi boncengan menunggang kuda!"

Cui Im tertawa senang. Makin sukalah ia kepada pemuda yang masih "murni"

Itu, dan ia berkata merdu.

"Maaf, Siangkong. Karena tergesa-gesa, saya hanya membawa seekor kuda. Terpaksa kita boncengan!"

"Ah, mana saya berani, Nona? Biarlah Nona menunggang kuda aku berjalan kaki saja."

"Mana bisa begitu, Siangkong? Apakah Siangkok merasa jijik duduk dekat dengan saya? Ataukah ... Siangkong tidak sudi menerima undanganku?"

"Eh...., eh, bukan begitu, Nona. Engkau sudah begitu baik... Hanya, saya suka berjalan kaki dan... Saya senang sekali memenuhi undangan Nona..."

Cong San berkata gagap.

"Nah, kalau begitu, kita harus boncengan. Jangan khawatir, kudaku ini kuat sekali, biar ditunggangi empat orang yang kuat. Tempat saya itu dekat kalau menunggang kuda, akan tetapi terlalu jauh kalau jalan kaki, di luar kota raja. Siangkong telah melakukan perjalanan jauh, tentu lelah kalau berjalan. Marilah Siangkong suka di depan atau di belakang?"

Melihat wanita cantik itu bicara terang-terangan di depan banyak pengawal yang tentu ikut mendengarkan, Cong San khawatir kalau menjadi buah tertawaan maka dia lalu berkata.

"Biarlah.... Aku di belakang saja, Nona."

Cui Im tertawa dan Cong San merasa betapa pipi dan telinganya panas.

Ia sadar akan kebodohannya.

Kalau dia di belakang, ah, seolah-olah dia merasa senang memangku tubuh yang montok itu.

Akan tetapi bagaimana?

Masa dia seorang laki-laki harus duduk di depan?

Akan tetapi Cui Im sudah meloncat ke atas punggung kuda, menggeser ke depan dan berkata.

"Memang seharusnya Siangkong di belakang, karena saya yang tahu jalan dan saya yang mengendalikan kuda. Marilah, Siangkong!"

Yap Cong San menghampiri kuda dan kelihatan bingung dan malu.

"Kuda begitu tinggi.."

"Meloncatlah!"

Kata Cui Im yang menganggap meloncat ke punggung kuda seperti permainan kanak-kanak saja.

"Saya... Saya tidak bisa....!"

Cong San berkata dan para pelayan yang mendengar ini pun tidak dapat menyalahkan si pemuda karena bagi yang tidak ada kepandaian, apalagi yang tidak biasa menunggang kuda, meloncat setinggi itu bukan pekerjaan mudah.

Lebih-lebih karena di atas punggung kuda itu sudah ada orangnya!

"Mari tanganmu, kubantu!"

Cui Im berkata, kehilangan kesabaran karena ia sudah ingin cepat-cepat berdua dengan pemuda yang menggugah nafsunya ini.

Cong San mengulur tangan, ditangkap oleh tangan kecil halus itu dan tiba-tiba tubuhnya melayang ke atas, ditarik oleh tenaga yang hebat bukan main.

Tahu-tahu dia telah duduk di belakang tubuh nona itu.

"Berpeganglah kuat-kuat!"

Kata Cui Im dan kuda itu sudah meloncat ke depan. Cong San memegangi sela kuda dengan kaku, tubuhnya terguncang dan miring-miring.

"Eh, awas, engkau nanti jatuh.

Berpeganglah padaku, peluk pinggangku kata Cui Im yang membalapkan kudanya lebih cepat lagi dengan maksud agar si pemuda menjadi ketakutan.

Benar saja, terpaksa Cong San merangkul pingang yang ramping itu sehingga diam-diam Cui Im menjadi girang bukan main, tubuhnya terasa panas semua karena nafsu berahinya sudah berkobar!

Sela kuda itu legok bagian tengahnya.

Karena Cui Im duduk di pinggir depan dan tubuh Cong San duduk di pinggir belakang tentu saja tubuh mereka merosot ke tengah dan berada di bagian yang melekuk.

Cong San yang jauh daripada pengaruh nafsu, merasa malu dan canggung dan malu sekali.

Tubuh bagian depannya terpaksa berhimpitan dengan tubuh belakang wanita itu yang lunak, halus dan hangat.

Beberapa kali Cui Im terkekeh genit dan sengaja menggeser makin ke belakang sehingga tubuh mereka merapat berhimpitan!

Bahkan kadang-kadang, kalau kuda meloncat, tubuh wanita itu melambung dan terjatuh di atas paha Cong San sehingga tubuh wanita itu seperti dipangkuannya, sedangkan pinggang wanita itu dipeluknya!

Para penjaga pintu gerbang di barat tadinya menghadang, akan tetapi melihat Cui Im, mereka memberi hormat dan tertawa lalu membukakan pintu gerbang, membiarkan kuda wanita itu lewat tanpa gangguan sedikit pun.

Setelah keluar dari pintu gerbang, kuda membalap cepat dan tak lama kemudian tibalah mereka di sebuah pondok merah yang indah dan diterangi lampu-lampu dengan teng berkembang.

Tiga orang pelayan yang bertubuh tinggi besar segerta menyambut, seorang menerima kuda, dan dua orang mengiringkan Cui Im dan Cong San memasuki pondok merah.

Cong San terbelalak kagum menyaksikan isi pondok yang ternyata mewah dan serba indah.

Di dalam pondok terdapat sebuah ruangan dan disitu tampak sebuah pintu terbuka, memperlihatkan sebuah kamar tidur yang mentereng dan bau harum semerbak keluar dari kamar tidur yang terbuka menantang itu.

Di dalam ruangan terdapat sebuah meja dengan dua bangku dan hidangan yang masih hangat mengepul telah tersedia di atas meja.

"Duduklah, Siangkong. Di sini kita dapat bicara dengan leluasa dan enak sambil akan minum."

Yap Cong San mengerutkan alisnya sebentar, akan tetapi dia mengangguk dan duduk di atas bangku, berhadapan dengan Cui Im.

Dua orang pelayan yang kelihatan kuat dan sigap itu keluar dari ruangan setelah menutupkan pintu ruangan itu.

Sambil tersenyum-senyum Cui Im menuangkan arak ke dalam cawannya dan cawan di depan Cong San sambil berkata.

"Siangkong, mari kita minum demi persahabatan kita!"

Cong San mengangkat cawan dan minum araknya sekali teguk. Cui Im tertawa manis.

"Siangkong sungguh amat baik, suka bersahabat dengan seorang kasar seperti saya."

"Ah, Nona. Sesungguhnya sayalah yang harus malu. Nona adalah seorang yang berpengaruh dan berkuasa, dan.... hemmm, melihat sikap semua orang, melihat cara Nona menunggang kuda dan tadi menarikku ke atas kuda dan tadi menarikku ke atas kuda, saya dapat menduga bahwa Nona tentulah seorang yang memiliki kepandaian ilmu silat tinggi. Bahkan pengurus hotel menyebut Nona lihiap. Sedangkan saya, seorang kutu buku yang lemah, seorang pelajar yang canggung dan seorang sasatrawan yang miskin."

"Wah-wah-wah, Siangkong terlalu merendah diri!"

Cui Im menuangkan lagi arak dari guci ke dalam cawan mereka.

"Silakan minum demi....eh, rasa suka di hatiku terhadap Siangkong!"

Ia mengerling tajam penuh arti. Merah wajah pemuda itu ketika mengangkat cawannya.

"Terima kasih, Nona. Aku ...., eh, tidak berharga untuk rasa suka Nona yang gagah perkasa dan terhormat."

Akan tetapi ia minum juga araknya. Setelah meletakkan cawan kosong di atas meja Cong San berkata.

"Semenjak dahulu, banyak saya membaca tentang sepak terjang seorang pendekar wanita. Kini dapat bertemu, bersahabat, bahkan bercakap-cakap dengan seorang pendekar wanita, betapa bangga dan girang hati saya. Tentu Nona seorang pendekar yang kenamaan. Maukah Nona menceritakan tentang pengalaman Nona bertualang di dunia kang-ouw seperti yang saya baca di dalam buku-buku?"

Cui Im sudah mabuk, bukan mabuk arak melainkan mabuk nafsu berahinya sendiri.

Pemuda ini tadi ketika berhimpitan tidak tergerak nafsunya, hal itu menandakan bahwa dia termasuk golongan laki-laki kuat.

Dia harus dapat membangkitkan gairahnya, menarik perhatiannya, menggugah berahinya.

Dia tahu dari pengalamannya bahwa laki-laki yang tenang dan kuat seperti ini, sekali tergugah berahinya seperti laut yang tadinya tenang diamuk badai.

Menghanyutkan dan menenggelamkan.

Membayangkan ini, Cui Im makin mabuk, maka mendengar pertanyaan Cong San, ia berniat untuk membanggakan diri agar pemuda itu tertarik.

"Yap Cong San, engkau belum mengenal siapakah wanita yang menjadi sahabatmu ini,"

Katanya tersenyum sambil berdiri dan menarik kedua pundak ke belakang sehingga dadanya yang penuh membusung ke depan, pakaiannya yang ketat itu membuat bentuk tubuhnya yang ramping padat tampak nyata.

"Aku terkenal di dunia kang-ouw dengan julukan Ang-kiam Bu-tek! Bukan julukan kosong karena pedang merahku belum pernah ada yang mampu menandinginya!"

Ia duduk kembali, matanya bersinar penuh bafsu berahi dan kegembiraan ketika melihat betapa pemuda itu memandangnya dengan mata bersinar-sinar.

"Wah, engkau tentu hebat sekali, Nona! Aku belum pernah mendangar nama itu, akan tetapi aku dapat menduga bahwa engkau tentulah murid orang pandai, mungkin murid hwesio-hwesio Siauw-li-pai yang kudengar merupakan orang-orang sakti yang berkepandaian seperti dewa."

"Hi-hi-hi-hi-hi-hik! Hwesio Siauw-lim-pai? Mereka itu bukan apa-pa! Thian Ti Hwesio, tokoh Siauw-lim-pai tingkat dua itu dengan mudah saja roboh dan tewas di ujung pedang merahku!"

"Aaaahhhhh!"

Pemuda itu berseru kaget.

"Tidak perlu kaget, sahabatku yang tampan! Aku mempunyai banyak musuh dan jangan kau kaget kalau andaikata malam ini ada musuhku datang menyerangku, karena pedangku akan melindungimu. Nah, katakanlah, wahai pemuda pujaan hati, apakah engkau suka kepadaku?"

Cong San menelan ludah, sukar menjawab dan dia hanya dapat menggangguk.

Diam-diam Cui Im girang, akan tetapi dia masih belum puas benar karena sikap pemuda itu masih membayangkan bahwa dia belum terangsang.

"Mari kita makan hidangan ini!"

Ia mempersilakan dan mereka lalu mulai makan.

Melihat sikap Cong San masih canggung dan belum kelihatan pemuda itu tertarik, Cui Im kembali menuangkan arak, akan tetapi kini ia menuangkan arak dari sebuah guci emas yang kecil dan begitu arak dituang di dalam cawan tercium bau yang harum dan arak itu berwarna merah.

"Minum, sahabatku. Mari kita minum demi.... Cinta kasih kita!"

Cong San mengangkat cawan dan minum habis arak itu.

Cui Im tertawa genit, lalu menawarkan masakan-masakan lezat, diterima oleh Cong San yang tidak banyak bicara lagi.

Arak yang diminum Cong San adalah arak istimewa, arak buatan Cui Im yang mengandung obat perangsang yang amat kuat, yaitu Ai-ang-ciu.

Belum pernah Cui Im mempergunakan arak perangsang ini sebelumnya karena setiap orang pria yang di bawanya ke pondok merah itu, tanpa minum obat perangsang pun sudah terangsang hebat oleh keindahan wajah dan tubuh Cui Im.

Sekali ini terpaksa dia menggunakan araknya yang lihai karena melihat bahwa Cong San benar-benar merupakan seorang pemuda istimewa yang sukar sekali dibangkitkan gairahnya.

Mereka sudah kenyang akan dan arak di guci sudah habis.

Pemuda itu telah minum secawan penuh Ai-ang-ciu dan belasan cawan arak biasa, arak tua dan harum yang keras.

Akan tetapi masih kelihatan "dingin"

Saja.

hal ini membuat Cui Im yang sudah tidak kuat menahan gelora nafsunya menjadi penasaran sekali.

Ia bangkit, memindahkan bangkunya ke sebelah Cong San, duduk merapatkan tubuhnya dan berbisik.

"Cong San.... ah, Cong San.... belum tergerak jugakah hatimu...?"

Aku suka sekali padamu..."

Dalam gairah nafsunya, Cui Im memegang tangan kanan Cong San, mempermainakn jari-jari tangan pemuda itu yang halus seperti jari tangan wanita, jari tangan yang biasa dimiliki kaum sastrawan lalu menciumi tangan itu.

Melihat pemuda itu masih saja dingin, Cui Im membawa tangan itu ke dadanya, dan ia mencondongkan tubuh ke depan mencium pipi Cong San.

Karena gerakan ini, sebelah kakinya bergeser ke depan dan kaki itu menginjak sesuatu yang basah di lantai bawah meja.

Cui Im melepaskan pipi yang diciumnya, melongok ke bawah meja.

"Aihhh...!"

Ia menjerit lirih dan tiba-tiba tubuhnya mencelat ke belakang, bangku yang didudukinya terguling sehingga kini tidak mengalingi lagi lantai di bawah meja yang ternyata basah oleh arak!

Pada saat itu, berkelebat bayangan putih dan terdengar suara bentakan halus penuh kemarahan dan amat berpengaruh.

"Cui Im, akhirnya kita dapat berhadapan juga!"

Cui Im cepat memutar tubuhnya dan ia tidak kaget melihat Keng Hong telah berdiri di situ, bahkan ia lalu tertawa terkekeh, kemudian mencabut pedangnya ke arah Keng Hong sambil membentak.

"Cia Keng Hong! Karena mendengar engkau masih berkeliaran di sini, aku memang sengaja datang untuk memancingmu keluar dari tempat sembunyimu. Sekarang dapat masuk ke pondok ini akan tetapi jangan harap akan dapat keluar sebelum meninggalkan nyawa!"

Keng Hong tersenyum, mengerling ke arah pemuda tampan yang kini mundur-mundur ketakutan dan berdiri di pojok ruangan.

"Sobat, seorang terpelajar seperti engkau tidak semestinya dapat terpikat oleh wanita iblis ini!"

Kemudian Keng Hong memandang Cui Im dengan sinar mata tajam penuh teguran.

"Bhe Cui Im, agaknya setelah engkau mati baru engkau akan menghentikan perbuatanmu yang selalu berlandaskan nafsu! Semua perbuatanmu yang telah engkau menjatuhkan fitnah atas diri Biauw Eng menipuku dan berusaha membunuhku di Kiam-kok-san, membunuh gurumu sendiri, membunuh tokoh-tokoh kang-ouw yang tidak berdosa, sungguh membuktikan bahwa engkau bukanlah manusia, melainkan iblis! Akan tetapi, masih belum terlambat bagimu untuk sadar dan bertobat."

"Heh-heh-heh, Keng Hong manusia sombong! Engkau memaki aku jahat seperti iblis, apakah engkau sendiri suci dan bersih seperti dewa? Dahulu aku cinta padamu dan bersumpah untuk membasmi semua wanita yang berani mencintamu. Dan Biauw Eng ternyata cinta kepadamu! Perbuatanku itu ada dasarnya, yaitu dasar cinta padamu. Apakah kau sendiri tidak sadar bahwa engkau pun seorang yang tidak mengenal cinta dan budi? Lupakah engkau betapa kita bersama menikmati cinta kita? Kemudian engkau malah menghinaku! Dan aku membunuhi tokoh-tokoh besar, apa hubungannya denganmu? Kalau aku tidak membunuh mereka, mana bisa aku disebut Ang-kiam Bu-tek, dan apa gunanya pula susah payah mempelajari semua ilmu, hidup tersiksa selama lima tahun di dalam neraka bersama seorang pria macam engkau yang tiada ubahnya sebuah arca batu? Huh, engkau sekarang mau apa, Keng Hong?"

"Cui Im, mengingat bahwa engkau, biarpun secara tidak resmi, adalah murid guruku juga, biarlah aku mengampunimu asal engkau suka memenuhi dua syaratku!"

"Hi-hi-hik! Keng Hong, engkau benar-benar sombong bukan main. Akan tetapi biarlah aku mendengar dulu apa syaratmu itu?"

"Pertama, sekarang juga engkau harus mengembalikan semua pusaka peninggalan suhu. Aku tidak ingin benda-benda itu, akan tetapi benda-benda itu menjadi hak milik orang-orang dan partai-partai persilatan lain, tidak boleh kau rampas dan curi begitu saja. Ke dua, mulai detik ini engkau harus bertobat, menghentikan perbuatan-perbuatamu yang jahat. Kurasa, dengan bekerja di istana, apalagi di bawah pengawasan pembesar-pembesar-pembesar sakti bijaksana seperti The-taijin, engkau akan dapat menjadi seorang manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa."

Cui Im membanting kakinya dan mengelebatkan pedangnya sehingga tampak sinar merah.

"Keng Hong, syarat-syaratmu adalah syarat yang hendak menang sendiri. Kau katakan aku merampas dan mencuri pedang. Hendak kutanya, bagaimana pusaka-pusaka milik Siauw-lim-pai, Hoa-san-pai dan lain-lain bisa berada di tangan Sin-jiu Kiam-ong gurumu itu? Bukankah dia juga dahulu merampas dan mencurinya? Kau bilang sendiri bahwa aku juga murid Sin-jiu Kiam-ong, nah kalau benar begitu, akulah murid yang berbakti dan setia, melanjutkan cita-cita dan perbuatan guru. Sebaliknya engkau hendak mengembalikan pussaka-pusaka itu kepada peilik asal, berarti engkau hendak menentang perbuatan mendiang guru sendiri! Tidak, aku tidak akan menyerahkan pusaka-pusaka itu, terutama sekali tidak kepada engkau! Dan soal ke dua, kau mengatakan aku melakukan perbuatan jahat! Yang mana? Apakah bersenang-senang dengan dia itu kau anggap jahat? Bagaimana dengan engkau sendiri dengan Sim Ciang Bi gadis Hoa-san-pai, dengan Kim Bwee Ceng dan Tan Swat Si murid-murid Kong-thong-pai itu?"

"Cui Im, perempuan iblis! Engkau yang membunuh mereka, masih berani menyebut nama mereka?"

"Engkau mau apa?"

Cui Im menantang dan mengejek.

"Kalau begitu terpaksa aku akan membunuhmu!"

Bentak Keng Hong yang sudah marah sekali.

Cui Im mengeluarkan suara ketawa melengking tinggi sambil memutar pedangnya sehingga sinar merah bergulung-gulung menyilaukan mata.

"Engkau sudah kutunggu-tunggu!"

Agaknya suara ketawa melengking itu dijadikan tanda rahasia, karena tiba-tiba berkelebat bayangan orang dari jendela dan Siauw Lek bersama Pak-san Kwi-ong telah berada di ruangan itu.

Keng Hong tidak kaget melihat ini.

Biarpun dia tidak tahu bahwa dia dipancing, namun dia sudah menduga bahwa kalau Cui Im berani muncul di malam hari itu, tentu perempuan itu mempunyai andalan dan ternyata Cui Im diam-diam membawa dua orang lihai ini untuk mengeroyoknya.

"Bagus! Pak-san Kwi-ong dan Kim-lian Jai-hwa-ong memang bukan manusia baik-baik. Membunuh mereka amat berjasa bagi manusia!"

Keng Hong mengeluarkan Siang-bhok-kiam dengan gerakan tenang.

"Sombong..!"

Teriak Siauw lek dan begitu tangannya bergerak, sinar hitam menyambar ke arah Keng Hong dan ternyata laki-laki ini membacokkan pedang Hek-liong-kiam ke arah kepala Keng Hong dari samping.

Tanpa menoleh Keng Hong mengangkat Pedang Kayu Harum di tangannya.

"Cringgg..!!"

Hek-liong-kiam tergetar hebat sehingga hampir saja Siauw Lek tidak mampu mempertahankannya.

Cepat dia memutar pedangnya sehingga getaran itu terhenti dan dia melangkah mundur.

Pak-san Kwi-ong sudah melolos senjatanya pula, yaitu rantai panjang yang di kedua ujungnya bergantung dua buah tengkorak.

Sambil memutar-mutar tengkorak di ujung rantai, Pak-san Kwi-ong melangkah miring, demikian pula Cui Im menggerakkan kaki sehingga Keng Hong terkurung oleh tiga orang lawannya.

Yap Cong San yang berdiri di pojok ruangan, dengan kedua tangan gemetar menuangkan isi guci arak ke dalam cawan di tangan kirinya.

Entah kapan dia mengambil guci dan cawan itu, mungkin tadi dia meninggalkan meja dengan kedua tangan masih memegang guci cawan dan kini menyaksikan ketegangan di depan mata yang membuat kakinya seperti terpaku di lantai, dia ingin menenangkan hatinya dengan minum arak!

Sungguh sial bagi pemuda sastrawan ini, dia mundur-mundur sehingga punggungnya menempel daun pintu untuk lebih menjauhkan diri dari mereka yang hendak bertanding, akan tetapi baru saja dia menuangkan arak, tiba-tiba daun pintu terbuka dari luar.

Daun pintu itu menumbuk punggung Cong San membuat pemuda ini kaget dan hampir terperosok ke depan.

Ia terhuyung-huyung dan menoleh marah saking kagetnya.

Ternyata yang menerjang masuk adalah tiga orang pelayan yang bertubuh kuat tinggi besar yang tadi melayani Cui Im dan dia.

Akan tetapi tiga orang pelayan itu kini memegang golok besar dan sikap mereka bukanlah seperti pelayan lagi, melainkan seperti algojo, gerakan mereka tangkas dan kuat.

Memang tiga orang ini adalah tiga orang pengawal istana yang berhasil "dikait"

Oleh Cui Im untuk membantunya menghadapi Keng Hong malam itu.

"Matamu kau taruh di mana?"

Cong San membentak marah.

"Membuka daun pintu tidak melihat-lihat lebih dulu!"

"Eh, oh.... apa kau bilang?"

Seorang di antara pengawal itu balas membentak.

Dalam keadaan seperti itu mereka bukanlah pelayan-pelayan lagi, melainkan pengawal yang galak, apalagi mendengar betapa ucapan pemuda itu tidak sehalus tadi, bahkan membentak kasar.

Cong San yang masih memegang guci arak di tangan kanan, cawan penuh arak di tangan kiri, berkata.

"Aku bilang kalian ini tiga ekor anjing gendut yang matanya buta dan tidak tahu aturan, masuk tanpa permisi dan menubruk-nubruk seperti anjing gila!"

Cui Im juga mendengar suara Cong San ini dan sedetik ia merasa heran, teringat pula akan lantai di bawah meja.

Akan tetapi karena ia sedang siap mengeroyok Keng Hong yang lihai, ia tidak menengok.

Adapun tiga orang pengawal yang mendengar maki-makian ini menjadi marah bukan main.

"Kutu buku, mulutmu lancang sekali!"

Teriak mereka dan ketiganya berlumba aju untuk memukul Cong San.

Sungguh amat mengherankan kalau orang menyaksikan perubahan sikap pemuda sastrawan itu.

Kalau tadi dia amat penakut, bahkan meloncat ke punggung kuda pun merasa ngeri, kini menghadapi ancaman tiga orang pengawal tinggi besar yang marah itu kelihatan tenang saja.

Juga perubahan sikapnya yang tadi lunak halus menjadi kasar amat aneh.

Melihat tiga orang itu berlumba-lumba menghampirinya, entah hendak memukul atau membacok dengan golok mereka.

Cong San tenang-tenang saja, dan setelah ketiga orang itu mendekat, dia hanya menggerakkan kedua tangan dan mengangkat kaki kiri.

Mungkin dia tidak bergerak, atau mungkin juga bergerak akan tetapi tentu cepat sekali karena sama sekali tidak diketahui tiga orang itu.

Akan tetapi, secawan arak telah muncrat dan menyambar muka pengawal pertama yang menjerit karena muka dan kedua matanya seperti disiram air mendidih, kemudian pada setengah detik selanjutnya, ujung sepatu mencium dada, tepat mengenai bagain di mana jantung berada.

Pengawal itu terguling dengan jantung pecah oleh tenaga yang keluar dari tendangan itu.

Dalam detik berikutnya, cawan dan guci melayang, entah yang mana lebih dulu menyambar kepala dua orang pengawal yang lain karena hanya terdengar suara "prok-prok!"

Dua tubuh orang pengawal itu.

Dalam waktu tidak ada setengah menit, tiga orang pengawal itu telah roboh di depan kaki Cong San dalam keadaan tidak bernyawa lagi!

Cui Im tidak melihat ini semua karena dia berdiri membelakangi pemuda itu.

Akan tetapi dia mendengar jerit tiga orang pengawalnya dan mendengar suara gaduh ketika mereka roboh.

Dengan sedikit memutar kepala dan mengerling Cui Im dapat melihat ke belakang dan alangkah kagetnya melihat betapa tiga orang pengawal itu telah mati, sedangkan Cong San masih berdiri di sudut sambil memangku kedua lengan di atas dada!

Keng Hong tertawa.

Dia berdiri menghadap ke arah Cong San maka dia dapat melihat jelas.

"Ha-ha-ha-ha-ha! Betapa lucunya! Batu baja disangka arang lapuk. Aku bermata dua akan tetapi seperti lamur! Sobat, maafkan aku yang tidak mengenal orang gagah. Akan tetapi dalam urusan pribadi ini harap engkau tidak mencampuri dan aku tidak mengharapkan bantuan!"

"Cia-taihiap, lama aku mendengar nama besarmu, beruntung aku dapat bersua malam ini! Tidak ada bantu-membantu karena aku pun mempunyai perhitungan besar dengan iblis betina cabul tak bermalu itu. Aku Yap Cong San ingin membalas kematian suheng Thian Ti Hwesio!"

Keng Hong dan Cui Im menjadi heran sekali.

Mereka mengenal Thian Ti Hwesio, tokoh tingkat dua dari Siauw-lim-pai yang terbunuh oleh Cui Im, Hwesio itu sudah tua, hampir tujuh puluh tahun usianya dan kabarnya murid ketua Siauw-lim-pai sendiri?

Mengapa mempunyai sute yang begini muda?

Akan tetapi Cui Im yang merasa kecelik dan tertipu, sudah menjadi marah sekali dan ia pun maklum bahwa kalau tidak lekas turun tangan, rencananya pasti gagal.

Ia lalu melengking nyaring dan menggerakkan pedang merahnya menyerang Keng Hong.

Gerakannya ini cepat disusul oleh Siauw Lek yang menggerakkan pedang hitamnya, dan disaingi menyambarnya dua buah tengkorak di ujung rantai Pak-san Kwi-ong!

Keng Hong bersikap tenang akan tetapi dia sama sekali tidak berani memandang rendah.

Dia maklum bahwa Cui Im merupakan lawan yang amat tangguh dan banyak mengenal ilmu silatnya, Bahkan mereka belajar bersama di dalam gua di bawah Kiam-kok-san.

Juga dia maklum akan kelihaian Kim-lian Jai-hwa-ong Siauw Lek yang kabarnya murid tunggal Go-bi Chit-kwi.

Tentu saja dia sudah mengenal pula kehebatan ilmu silat Pak-san Kwi-ong sebagai seorang di antara Bu-tek Su-kwi, datuk-datuk hitam yang menggemparkan dunia persilatan.

Dia dikeroyok tiga orang yang berilmu tinggi, maka pemuda sakti ini cepat menggerakkan Siang-bhok-kiam dan pertandingan yang amat seru terjadilah di dalam pondok merah di mana biasanya hanya terjadi pertandingan yang lain lagi sifatnya!

Yap Cong San masih berdiri tenang dan menonton pertandingan yang dahsyat itu.

Dia maklum orang apa adanya Cia Keng Hong yang sudah dia dengar namanya, murid Sin-jiu Kiam-ong yang amat lihai.

Dan dia dapat menyelami watak seorang gagah seperti itu maka dia tidak berani turun tangan membantu begitu saja, khawatir kalau-kalau menyinggung harga dirinya.

Dengan pandang mata tajam penuh selidik dan penilaian, dia menjadi kagum bukan main kepada Keng Hong.

Memang bukan memiliki nama kosong pemuda ini, pikirnya, bahkan tidak lumrah.

Dia pun terkejut menyaksikan gerakan-gerakan tiga orang pengeroyok yang dahsyat.

Terutama sekali pedang merah yang digerakkan Cui Im.

Maklumlah dia bahwa dia sendiri bukan tandingan wanita cabul itu.

Pedang merahnya terlalu hebat dan kalau yang dikeroyok bukan seorang pemuda sakti seperti Keng Hong yang memegang Siang-bhok-kiam, agaknya tentu tak dapat bertahan lama.

Cong San juga kagum menyaksikan gerakan dahsyat Pak-san Kwi-ong.

Dia pun sudah mendengar nama besar raksasa hitam ini, seorang datuk hitam dari utara tokoh besar giolongan sesat.

Dan dia harus mengaku pula dalam hatinya bahwa untuk menangkan kakek hitam itu, harapannya tipis sekali.

Pengeroyok ke tiga tidak dikenalnya akan tetapi karena dia sudah melakukan penyelidikan sebelum memasuki kota raja, dia dapat menduga bahwa laki-laki tampan pesolek yang memegang pedang hitam itu tentulah Kiam-lian Jai-hwa-ong!

Di antara tiga orang pengeroyok kiranya si penjahat cabul ini yang paling rendah tingkatnya.

Namun serendah-rendahnya Cong San masih tidak berani menentukan bahwa dia akan menang menghadapinya.

Benar-benar Cia Keng Hong dikeroyok oleh tiga orang lawan yang amat tinggi kepandaiannya, dan hal ini membuat Cong San makin kagum terhadap Keng Hong.

Keng hong maklum bahwa dia sudah dikurung dan jalan keluar sudah ditutup oleh tiga orang pengeroyoknya.

Hal ini berarti bahwa memang Cui Im sudah melalkukan rencana matang untuk membunuhnya karena dia dianggap penghalang besar dalam hidup wanita itu.

Biarpun ruangan itu cukup luas akan tetapi kalau makin banyak datang anak buah Cui Im akan sukar baginya menyelamatkan diri.

Sedangkan untuk merobohkan tiga orang ini dalam singkat saja merupakan hal yang tak mudah.

Keng Hong memutar pedangnya sekaligus menangkis sambaran senjata tiga orang lawannya lalu melompat ke kanan, kakinya menyambar meja yang mencelat ke depan.

Mangkok-mangkok dan sumpit yang tadi dipergunakan Cui Im dan Cong San, dengan cepat sekali menyambar ke arah tiga orang pengeroyok itu.

Tentu saja mereka bertiga menganggap serangan meja seisinya itu bukan apa-apa, akan tetapi karena ternyata mangkok-mangkok itu masih mengandung banyak kuah, repot juga mengelak sambil berloncatan, bukan takut terluka melainkan takut menjadi kotor pakaian atau tubuh mereka disiram kuah masakan!

Kesempatan itu dipergunakan oleh Keng Hong untuk mencelat ke depan dan Siang-bhok-kiam di tangannya bergerak seperti angin badai menyambar ke arah tiga orang itu.

Hebat bukan main serangan Pedang Kayu Harum ini dan memang Keng Hong telah menyerang dengan jurus Ilmu Pedang Siang-bhok-Kiam-sut ciptaan gurunya.

Getaran pedangnya terasa di seluruh ruangan, bahkan terasa oleh Yap Cong Sang yang berdiri di sudut sehingga pemuda ini tak kuasa menahan seruan pujiannya "Bagus sekali kiam-sut itu!"

Tiga orang pengeroyok itu pun terkejut karena tahu-tahu ada gulungan sinar kehijauan yang amat harum menyambar mereka dari angkasa.

Ke tiganya sudah mengenal ilmu pedang itu.

Cepat mereka menangkis dengan senjata masing-masing.

"Cring-cring-cringgggg...!!"

Siauw Lek terhuyung ke belakang.

Pak-san Kwi-ong menggereng marah melihat betapa bagian dagu sebuah tengkoraknya semplok.

Hanya Cui I yang dapat menangkis dengan baik dan kini wanita itu malah sudah membalas dengan serangan kilat sehingga tubuhnya lenyap dan yang tampak hanya sinar merah pedangnya meluncur seperti anak panah berapi.

Serangan itu disusul Pak-san Kwi-ong yang marah dan Siauw Lek yang penasaran.

Kembali Keng Hong dikurung oleh tiga orang yang membentuk barisan segitiga.

Yap Cong San mengangguk-angguk.

Dia sangsi apakah di dunia ini ada tokoh kang-ouw yang ilmu kepandaian dapat mengatasi Keng Hong.

Dia benar-benar kagum dan mengertilah dia mengapa dahulu nama Sin-jiu Kiam-ong menggetarkan langit dan bumi.

Kiranya memang luar biasa lihainya dan hal itu dapat dilihat dari kelihaian muridnya.

Dia tidak khawatir kalau Keng Hong akan kalah menghadapi tiga orang itu, sungguhpun dia tahu pula bahwa bagi Keng Hong pun tidak akan mudah merobohkan mereka.

Asal tiga orang itu tidak dapat bantuan lagi, dia percaya biarpun agak lama akhirnya murid Sin-jiu Kiam-ong akan menang.

Tiba-tiba Cong San mengeluarkan suara menyumpah marah ketika dia melihat berkilauan menyambar masuk dari jendela.

Maklumlah dia bahwa yang menyambar itu adalah senjata-senjata rahasia yang amat hebat.

Cepat dia merogoh bajunya, tangannya bergerak pula dan beberapa senjata rahasia touw-kut-chi (uang logam penembus tulang) melayang dan memapaki sinar-sinar putih itu.

Terdengar suara nyaring dan beberapa batang pisau terbang itu runtuh ke lantai bersama uang logam yang dilepas Cong San.

Pemuda ini terkejut juga melihat betapa senjata rahasia uang logamnya telah pecah menjadi berkeping-keping.

Hal ini menandakan bahwa si pelempar pisau bukanlah orang sembarangan pula!

Pelempar pisau terbang itu bukan lain adalah Kemutani.

Seperti telah direncanakan Cui Im, Kemutani membantunya dan karena ilmu silat Kemutani adalah paling rendah di antara mereka semua, maka Kemutani disuruh membantu dengan sambitan-sambitan pisau terbangnya!

Dalam ilmu ini Kemutani memang merupakan seorang ahli sehingga biarpun empat orang itu sedang bertanding seru, dia masih sanggup untuk menyerang Keng Hong dengan pisau-pisaunya tanpa membahayakan teman-temannya.

Ketika melihat betapa lemparan pertama dari pisaunya runtuh di tengah jalan.

Kemutani terkejut dan marah sekali.

Siapa yang berani main-main dengan dia?

Ia lalu menerjang masuk melalui pintu untuk dapat menyerang dari luar pondok, melalui jendela.

Karena dia tergesa-gesa masuk, dia tidak melihat Cong San yang berdiri di sudut dekat pintu.

"He, siapa kau dan mau apa?"

Cong San menegur dengan suara dibuat-buat.

Kemutani membalikkan tubuhnya dan begitu melihat Cong San.

Dia meludah!

Tadi ketika berada dalam persembunyian, dia menjadi cemburu dan iri hati sekali melihat betapa pemuda ini dicumbu Cui Im.

"Kau....? Phuah, cacing tanah tiada guna! Kenapa engkau belum menggelinding pergi dari sini? Menghalangi orang bertempur saja!"

Sambil berkata demikian, Kemutani meludah lagi, kini sengaja meludah di dekat kaki Cong San dengan sikap menghina sekali, dan dia membalikkan tubuhnya, tangannya meraba-raba pinggangnya di mana dipasang banyak pisau-pisau kecil yang amat tajam dan runcing.

Itulah pisau-pisau terbangnya, semacam pisau belati yang selain dapat dia pergunakan sebagai senjata dalam pertempuran, juga dapat dia lemparkan seperti anak panah.

Karena senjatanya inilah Kemutani terkenal dengan julukan Hui-toi (Si Golok Terbang) dan dipilih menjadi pegawai rahasia kaisar.

"Eeeiiit-eeeiiit..., nanati dulu. Mengapa tergesa-gesa?"

Merasa betapa lengannya dipegang orang dari belakang, Kemutani mebalikkan tubuh dan betapa heran dan marahnya ketika dia mendapat kenyataan bahwa yang memegang lengannya adalah si sastrawan lemah yang dimakinya cacing tanah itu!

Ia melotot, mukanya yang pucat menajadi agak merah dan dia membentak dengan suara serak dan dengan ludah berhamburan.

"Mau apa...? Perlu apa kamu...??"

"Engkau belum membayar!"

Cong San menjawab sambil menjauhkan mukanya agar tidak kehujanan air ludah.

"Bayar? Bayar apa? Gilakah kamu?"

"Bayar karena kau meludah sembarangan. Bayar pajak, dan inilah bayarannya!"

"Plak-plak-plak....!"

Kedua pipi Kemutani telah ditampar oleh telapak tangan Cong San.

Keras sekali tamparan itu sehingga Kemutani merasa dunia seperti melambung-lambung dan bintang-bintang di langit berjatuhan dan menari-nari di depan kedua matanya.

Akan tetapi rasa heran, kaget dan marah membuat dia cepat dapat menguasai dirinya kembali.

Ia merasa malu terlalu heran melihat sastrawan lemah itu berani menamparnya!

"Kau...

Kamu yang menamparku tadi?"

Cong San mengangguk, bertolak pinggang.

"Apakah mau tambah?"

"Setan demit keparat!"

Kemutani memaki-maki dalam bahasa Mongol dan dua sinar putih menyambar ketika tahu-tahu kedua tangannya yang sudah memegang sebuah belati itu menyambar.

Sebuah menyambar leher dan sebuah lagi menyambar perut.

"Hemmm, bagus juga!"

Cong San cepat mengelak dengan melengkungkan dan menarik tubuh ke belakang.

Diam-diam dia terkejut.

Orang ini tidak hanya lihai melempar pisau, akan tetapi serangannya ini pun hebat.

Ia tidak boleh main-main dan sekali tangan pemuda ini bergerak, dia telah mencabut keluar sebuah pensil putih di tangan kiri dan sebatang lagi pensil hitam di tangan kanan.Inilah senjatanya yang amat lihai yang disebut Im-yang-pit.

Keistimewaan senjata pemuda murid ketua Siauw-lim-pai ini adalah bahwa selain Im-yang-pit dapat dipakai menotok jalan-jalan darah terpenting juga dapat dipakai sebagai alat tulis yang sesuai pula dengan keahliannya, yaitu melukis dan menulis sajak pasangan!

Juga senjata rahasia uang logam yang dipergunakan oleh Yap Cong San adalah uang logam sungguh-sungguh sehingga selain dipakai untuk menyerang lawan, juga bisa dipakai untuk jajan!

Yap Cong San adalah murid terbaru dan tersayang dari Tiong Pek Hoasiang, ketua Siauw-lim-pai yang sudah amat tua dan amat sakti itu.

Sebetulnya, setelah menyerahkan urusan-urusan dunia yang menyangkut Siauw-li-pai kepada dua orang muridnya, yaitu murid-murid kepala Thian Ti Hwesio dan Thian Kek Hwesio, ketua Siauw-lim-pai yang tua ini sudah mengundurkan diri, dan hanya tekun bertapa.

Akan tetapi, pada suatu hari Thian Ti Hwesio yang baru pulang dari tugas keluar, membawa seorang bocah laki-laki menghadap ketua yang menjadi gurunya itu dan menceritakan bahwa bocah itu terpaksa dia bawa ke kelenteng Siauw-lim-pai karena seluruh keluarganya telah terbunuh ketika terjadi perang saudara.

Melihat anak itu yang bukan lain adalah Yap Cong San, hati kakek tua itu terharu dan merasa suka sekali.

Maka, selain Cong San diterima menjadi kacung bukan calon hwesio, juga dia malah menjadi kacung pribadi Tiong Pek Hosiang dan akhirnya malah diangkat menjadi murid terakhir.

Cong San amat cerdik, tidak saja dalam ilmu silat, juga dia pandai sekali dalam ilmu sastra, sehingga ketua Siauw-lim-pai makin menyayangnya.

Hanya ada satu hal yang mengecewakan hati Tiong Pek Hosiang, yaitu bahwa muridnya ini tidak menjadi hwesio.

Betapapun juga, bakat besar yang ada pada diri Cong San membuat Tiong Pek Hosiang tidak segan-segan untuk mencurahkan seluruh perhatiannya dan mengajarkan semua ilmunya kepada pemuda itu.

Apalagi karena Cong San amat tekun belajar sehingga sampai berusia dua puluh lima tahun, pemuda itu tidak pernah keluar kuil, bahkan belum pernah bermalas-malasan.

Kalau tidak membaca kitab-kitab memperdalam ilmu kesusastraan, tentu dia berlatih silat!

Tidaklah mengherankan kalau dengan bakat besar ditabah ketekunan dan bimbingan sorang guru sakti, Cong San dapat menguasai ilmu-ilmu Siauw-li-pai yang tinggi-tinggi dan tingkat kepandaiannya malah melampaui tingkat kedua orang suhengnya, yaitu Thian Ti Hwesio dan Thian Kek Hwesio!

Baru setelah Thian Ti Hwesio terbunuh oleh Ang-kiam Bu-tek Bhe Cui Im, pemuda ini bersumpah untuk membalas dendam dan bermohon kepada gurunya untuk mengijinkannya mencari pembunuh suhengnya.

Tiong Pek Hosiang mengijinkan dan pemuda itu turun gunung, mulai dengan perantauannya mencari jejak Ang-kiam Bu-tek yang akhirnya membawanya ke kota raja.

Biarpun dia telah memiliki ilmu kepandaian silat tinggi, namun Cong San tetap berpakaian sebagai seorang pelajar dan tidak menonjolkan kepandaian silatnya sehingga ahli-ahli silat seperti Cui Im, bahkan Keng Hong sendiri sampai tidak mengenalnya.

Ketika dia diserang oleh Kemutani, Cong San maklum bahwa untuk menghadapi lawan yang bersenjata dua batang pisau lihai itu, tak mungkin dia akan menang jika bertangan kosong.

Diam-diam dia juga merasa terkejut mengapa malam ini di tempat itu, ketika hatinya sudah girang dapat menemukan pembunuh suhengnya, dia bertemu dengan orang-orang yang berilmu tinggi.

Bahkan orang bermuka pucat yang menyerangnya ini pun amatlah lihainya, sama sekali bukan seperti tiga orang pengawal yang dirobohkannya tadi.

Pertandingan segera berlangsung seru antara Kemutani dan Yap Cong San.

Senjata mereka sama sepasangnya, juga sama kecilnya, dan karena senjata kecil membutuhkan kecepatan besar, mereka bergerak cepat seolah-olah bayangan mereka saling belit menjadi satu.

Kemutani bertanding sambil memaki-maki saking marahnya dan saking penasaran hatinya mendapat kenyataan bahwa pemuda yang tadinya dibelai dan dipermainkan Cui Im, ternyata adalah seorang lihai dan seorang musuh pula.

Ia merasa penasaran karena ternyata orang yang dianggap lemah ini merupakan lawan tangguh, dan lebih penasaran hatinya karena halangan Cong San ini membuat dia tidak sempat membantu Cui Im menghadapi Keng Hong.

Seperti juga Cong San yang perlahan-lahan dapat mendesak lawan, Keng Hong yang dikeroyok tiga juga mulai mendesak ketiga orang lawan lihainya dengan Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun.

Ilmu silat ini dapat dia mainkan pedang, bahkan dipetik inti sarinya dan digabung dengan Siang-bhok Kiam-sut yang lihai sehingga tiga orang lawannya menjadi bingung.

Cui Im yang lebih mengenal ilmu-ilmu Keng hong dan yang memiliki kepandaian paling tinggi, di samping ilmu pedangnya sendiri yang amat tangguh, juga menjadi bingung menyaksikan gerakan-gerakan tubuh Keng Hong.

Hanya Cui Im yang berani mengadu tenaga sinkang lewat pedang melawan Keng Hong, karena gadis ini selain memiliki sinkang kuat, juga dapat menghindarkan diri dari tenaga sedotan yang juga dipergunakan Keng Hong dalam menghadapi para pengeroyoknya.

Beberapa kali sudah Pak-san Kwi-ong dan Siauw Lek kena disedot sinkang mereka oleh Keng hong pada saat senjata mereka bertemu.

Senjata kedua orang pengeroyok ini melekat pada Siang-bhok-kiam dan tenaga sinkang mereka membanjir melalui telapak tangan yang memegang senjata.

Untung bahwa Cui Im bergerak cepat dan menggunakan pedangnya untuk menyerang lengan Keng Hong sehingga terpaksa pemuda ini membebaskan senjata lawan dari tempelan pedangnya untuk (Lanjut ke

Jilid 29) Pedang Kayu Harum (Seri ke 01-Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 29 menghadapi Cui Im.

Dan karena beberapa mengalami kekagetan, Pak-san Kwi-ong dan Siauw Lek yang berilmu tinggi menjadi hati-hati sekali, tidak lagi berani mengadu senjata secara berterang.

Hal ini membuat Keng hong mendapat angin dan dia terus mendesak, dan menunjukkan desakannya terutama kepada Cui Im.

Karena gadis ini menolak untuk mengembalikan pusaka-pusaka itu, terpaksa dia akan membunuh Cui Im dan baru kemudian menyelidiki di mana adanya pusaka yang yang dicuri wanita itu.

Hebat bukan main desakan Keng Hong.

Suatu saat, sinar hijau dari pedangnya meluncur ke arah tubuh Cui Im, dan semua tenaga dikerahkan menjadi satu.

Cui Im terkejut bukan main, berusaha menangkis beberapa kali dengan pedang merahnya, akan tetapi sinar hijau itu seperti seekor naga sakti mengamuk, tiap kali ditangkis menyerang terus, makin lama makin cepat dan kuat.

Melihat ini, Pak-san Kwi-ong dan Siauw Lek berseru keras dan menerjang Keng Hong yang sedang mendesak Cui Im itu dari belakang.

Mendadak Keng Hong membalikkan tubuh, sebelah lututnya ditekuk dan tangan kirinya dengan telapak tangan terbuka menghantam ke depan.

"Wirrrrr....!!"

Hawa pukulan sinkang yang keluar dari telapak tangan kiri Keng Hong ini bukan main kuatnya sehingga Pak-san Kwi-ong sendiri sampai terhuyung ke belakang, bahkan Siauw Lek terdorong dan roboh bergulingan sebelum bangkit kembali.

Keng hong sudah mencelat lagi sambil membuat poksai tiga kali dan dari atas tubuhnya didahului sinar hijau pedang Siang-bhok-kiam, menusuk ke bawah dan meluncur ke arah kepala Cui Im.

"Crinnnnggggg...!!"

Cui Im yang menangkis, terdorong dan terjengkang terus bergulingan untuk menyelamatkan diri dari sinar hijau yang hendak menyambarnya.

"Sret-srettt-sretttt...!!"

Keng Hong sudah mengenal Cui Im dan tahu bahwa selain lihai ilmu silatnya, wanita ini juga curang sekali dan amat berbahaya jika sudah terdesak, karena senjata rahasianya amat keji.

Maka ketika tadi Cui Im bergulingan, dia mengejar dengan waspada.

Tepat seperti dugaannya, sinar-sinar merah kecil dari jarum-jarum merah beracun yang disambitkan Cui Im sambil bergulingan menyambarnya.

Keng Hong menggerakkan pedang Siang-bhok-kia dan jarum-jarum itu runtuh semua.

Akan tetapi Cui Im, Pak-san Kwi-ong dan Siauw Lek sudah dapat mengurungnya kembali dengan terjangan dahsyat sehingga Keng Hong cepat mengelak dan menangkis.

Namun sebentar saja Keng Hong yang mainkan ilmu silat campuran Thai-kek Sin-kun dan Siang-bhok Kiam-sut, telah membuat bingung ketiga orang lawannya yang kembali terdesak hebat.

Melihat keadaan tidak menguntungkan ini, Cui Im tanpa malu-malu berteriak.

"Kemutani, hayo bantu....!!"

Pada saat itu, Kemutani sendiri sudah mandi keringat, terdesak oleh sepasang Im-yang-pit yang lihai di tangan Yap Cong San.

Beberapa kali dia terkena totokan, dan biarpun totokan itu tidak tepat kenanya karena selain dia sempat menangkis ditambah kebalnya tubuh, namun dia masih merasakan nyeri sehingga permainan sepasang pisaunya menjadi kacau balau.

Ia kini hanya dapat menangkis dan mengelak, tidak sempat membalas serangan lawan.

Mendengar seruan Cui Im itu, dia menjadi bingung dan mendadak peranakan Mongol ini melempar tubuh ke belakang sambil menyambitkan dua batang pisau yang tadi dipegangnya.

Sambitannya amat cepat dan karena jarak mereka dekat, melihat dua sinar yang menuju ke dada dan perutnya itu Cong San segera menggulingkan tubuh ke kiri terus bergulingan.

Kesempatan itu dipergunakan oleh Kemutani untuk meloncat sambil mencabut beberapa batang pisau, menerjang maju ke gelanggang pertempuran dan kedua tangannya bertubi-tubi, menyambitkan pisau-pisau itu ke arah Keng hong.

Biarpun Keng Hong dapat memukul runtuh semua pisau satu demi satu, namun gangguan ini membuat dia repot juga melayani desakan tiga orang lawannya yang lihai.

Sementara itu, Cong San yang meloncat bangun lagi dan melihat Kemutani sudah meninggalkannya dan menghujani tubuh Keng Hong dengan sambitan-sambitan pisau terbang, menjadi marah dan membentak.

"Pengecut!"

Ia menyimpan kedua pensilnya dan mengeluarkan segenggam uang tembaga, kemudian kedua tangannya juga bekerja.

Belasan buah uang tembaga itu bercuitan menyambar ke arah punggung Kemutani.

Sebagai seorang ahli menggunakan senjata rahasia, Kemutani dapat mengenal desir angin bercuitan ini.

Cepat dia memutar tubuh dan siap untuk mengelak atau menangkis.

Namun karena tadi perhatiannya dicurahkan kepada Keng Hong, dia terlambat mengelak.

Biarpun dia sudah meloncat ke atas untuk menghindarkan sambaran sinar-sinar kehitaman itu, masih ada sepotong uang tembaga yang tadinya menyambar ke perutnya, kini menancap di bawah pusar, tepat pada anggauta rahasia di bawah pusar.

Kemutani mengeluarkan suara jeritan mengerikan dan ketika tubuhnya terbanting ke atas lantai, rasa nyeri membuat dia gelap mata.

Kedua tangannya mencengkera bagian yang nyerinya bukan main itu dan tentu saja sekali remas anggauta badannya sendiri menjadi hancur lebur!

Nyawanya melayang bersama jeritan ke dua yang lebih menyeramkan daripada tadi!

"Cia-taihiap, aku tidak membantumu, akan tetapi aku harus membalas kematian suhengku di tangan wanita iblis ini!"

Sambil berkata demikian, Yap Cong San yang sudah mencabut kembali Im-yang-pit, menubruk maju, pit atau pensil hitamnya menotok mata kanan Cui Im sedangkan pensil putih menotok ulu hati di antara sepasang buah dada.

Cui Im kaget melihat Kemutani roboh dan tewas, juga kaget menyaksikan serangan berbahaya itu.

Ia mengelak dari totokan pada mata dan menangkis totokan pada dadanya, kemudian membarengi tangkisan pedangnya, tangan kirinya bergerak maju mencengkeram ke arah leher Cong San yang cepat meloncat mundur.

Sejenak Cui Im memandang pemuda yang tadi diharapkan akan dapat memuaskan nafsunya itu, dan pandang matanya kehilangan kemesraannya yang tadi, terganti pandangan penuh kebencian.

"Manusia tak kenal budi, mampuslah!"

Pedang merahnya berkelebat dan gerakan pedang yang aneh ini biarpun sudah tiga kali dapat ditangkis oleh sepasang pensil Cong San, tetap saja mendesak terus dan Cong San mundur-mundur terdesak hebat!

Untung baginya bahwa Keng Hong yang melihat bahwa betapapun lihainya pemuda murid Siauw-lim-pai itu takkan dapat menendingi Cui Im, sudah menerjang lagi dengan Siang-bhok-kiam sehingga terpaksa Cui Im meninggalkan Cong San untuk melindungi tubuh terhadap sinar hijau yang bergulung-gulung dahsyat.

Cong San tidak menjadi jerih dan kapok.

Ia sudah menyerang lagi dengan totokan-totokan maut ditujukan kepada tujuh jalan darah di tubuh Cui Im, jalan darah kematian.

Namun Siauw Lek sudah menghadapinya dan menangkis serangannya dengan pedang hitam.

Pak-san Kwi-ong maklum bahwa fihaknya makin lemah dengan robohnya Kemutani, maka dia lalu mengeluarkan suara bercuitan nyaring.

Memang telah direncanakan oleh Cui Im bahwa apabila fihak mereka menang angin, mereka tidak akan membawa-bawa para penjaga tembok kota raja untuk mencampuri urusan pribadi mereka.

Akan tetapi kalau mereka menghadapi kegagalan, tidak ada lain cara untuk menyelamatkan diri kecuali memberi tanda kepada para penjaga, mengerahkan pasukan untuk membantu mereka!

Pak-san Kwi-ong kini menggunakan tanda itu untuk memanggil pasukan yang menjaga di pintu gerbang dan di sepanjang tembok kota raja.

Keng hong dapat menduga apa artinya suitan nyaring itu.

Tentu kakek hitam itu memanggil bala bantuan.

Celaka, pikirnya.

Kalau sampai dia bentrok dengan para pengawal, biarpun terjadi di luar kota raja, dia bisa dianggap pemberontak.

Ia menjadi marah sekali kepada Pak-san Kwi-ong menyabetkan rantainya.

Sebuah tengkorak menangkis pedang Siang-bhok-kiam dan yang sebuah lagi melayang ke arah muka pemuda itu seperti hendak menciumnya.

Ciuman tengkorak senjata Pak-san Kwi-ong adalah ciuman maut!

"Krekkk...!

Darrrr....!!"

Rantai itu patah dibabat Siang-bhok-kiam, sedangkan tengkorak yang akan mencium Keng Hong, dihantam tangan kiri pemuda sakti ini dan meledak!

Untung bahwa Keng Hong sudah waspada, begitu menghantam tengkorak lalu meloncat ke atas.

Kalau tidak tentu dia akan menjadi korban senjata-senjata rahasia yang menyambar keluar dari tengkorak yang pecah dihantamnya tadi.

Bahkan ujung pedangnya yang membabat putus rantai, masih berhasil menusuk leher si kakek hitam.

Pak-san Kwi-ong yang terkejut sekali masih berusaha mengelak, akan tetapi kurang cepat sehingga pundaknya tertusuk Siang-bhok kiam.

Ia menggereng dan melempar tubuh ke belakang lalu bergulingan sampai jauh kemudian meloncat bangun dan menghilang di dalam gelap!

Pada saat itu, pasukan pengawal yang menjaga di sepanjang tebok dan di pintu gerbang, sudah berlari-lari mendatangi, membawa obor dan senjata.

Keng Hong dan Cong San masih bertanding melawan Cui Im dan Siauw Lek ketika pasukan itu datang dan sambil berteriak-teriak mengurung dua orang muda itu.

Cui Im dan Siauw Lek yang mengerti bahwa sekali ini mereka tidak mungkin dapat kembali ke istana karena tentu akan menerima hukuman karena selain meninggalkan tugas, juga mebuat ribut sehingga mengorbankan nyawa Kemutani dan bahkan Pak-san Kwi-ong yang terluka tadi agaknya juga melarikan diri, cepat berseru keras dan menggunakan kesempatan Keng Hong dan Cong San dikeroyok banyak pengawal, mereka meloncat dan menyelinap di antara para pasukan, melarikan diri.

"Saudara Yap, jangan melawan pasukan istana. Kita kejar iblis betina itu!"

Keng Hong mengingatkan pemuda murid ketua Siauw-lim-pai yang gagah perkasa itu, kemudian dia melompat dan merobohkan para penghadang dengan dorongan-dorongan tangannya, mengejar ke arah larinya Siauw Lek dan Cui Im.

Cong San maklum akan maksud Keng Hong.

Memang amat berbahaya kalau mereka memusuhi pasukan istana.

Pula, dia sama sekali tidak ada urusan dengan pasukan pemerintah, melainkan Ang-kiam Bu-tek yang sekarang melarikan diri.

Cepat dia mencontoh perbuatan Keng hong, merobohkan para pengeroyok tanpa melukai mereka dan melarikan diri mengejar Keng Hong yang sudah berhasil lolos dari kepungan.

"Siauw Lek, kita berpencar!"

Kata Cui Im berseru kapada kawannya itu ketika ia melihat ke belakang dan tahu bahwa Keng Hong tentu akan melakukan pengejaran.

Siauw Lek pun mengerti bahwa kalau mereka berpencar, hal ini akan membingungkan Keng Hong dalam melakukan pengejaran.

Selain itu, dia tahu betul bahwa yang diincar oleh Keng Hong dan murid Siauw-limpai itu adalah Cui Im.

Kalau dia lari bersama Cui Im tentu akan ikut celaka di tangan Keng Hong yang lihai bukan main.

"Baik, sampai jumpa, Cui Im!"

Katanya.

Mereka lalu berpencar secepat mungkin.

Malam yang gelap menolong mereka karena bayangan mereka segera lenyap pada saat Keng Hong dan Cong San masih memaksa keluar dari kepungan pasukan.

Ketika akhirnya dua orang muda itu berhasil meninggalkan para pasukan dan mengejar, mereka menjadi bingung karena bayangan Cui Im dan Siauw Lek lenyap dalam hutan yang gelap.

Cong San hendak mengejar terus, akan tetapi tangannya dipegang Keng Hong yang berkata.

"Tiada gunanya dikejar. Selain sia-sia, juga amat berbahaya. Dia lihai dan curang bukan main."

Cong San berhenti mengejar dan mereka sejenak berhadapan. Akhirnya Keng Hong menarik napas panjang dan berkata.

"Aku kagum sekali kepadamu, Yap-loheng (kakak Yap). Aku tak pernah mendengar akan seorang murid Siauw-limpai seperti engkau, akan tetapi kulihat tingkat kepandaianmu tadi benar-benar hebat, tidak kalah oleh suheng-suhengmu, mendiang Thian Ti Hwesio dan Thian Kek Hwesio. Tidak kusangka bahwa Siauw-lim-pai masih menyimpan seorang jago muda seperti engkau."

"Hemmm, kapandaianku tidak ada artinya. Kalau tidak ada engkau. Cia-haihiap, tentu aku sudah tewas. Aku tidak akan menang melawan mereka yang lihai sekali itu."

"Yap-loheng, sungguh tidak enak sekali mendengar seorang gagah seperti engkau menyebutku taihiap (pendekar besar). Aku suka sekali berkenalan, mari kita sama-sama mencari Cui Im. Kalau dia sudah mengembalikan semua pusaka yang ia curi, termasuk pusaka-pusaka yang berupa kitab-kitab dari Siauw-lim-pai, dia akan kuserahkan kepadamu, baik untuk kau tawan dan bawa ke Siauw-lim-pai atau pun hendak kau bunuh, terserah. Dia seorang manusia yang berwatak iblis."

Cong San menjawab, suarnya agak dingin.

"Cia-taihiap. Gurumu, Sin-jiu Kiam-ong juga disebut taihiap oleh suhu sendiri. Engkau sebagai muridnya amat lihai dan sepatutnya aku menyebutmu taihiap. Akan tetapi, maaf... Tentang bekerja sama di antara kita... Hemmm, terus terang saja, Taihiap, secara pribadi aku suka kepadamu dan amat kagum. Akan tetapi...sebagai murid Siauw-lim-pai agaknya tidak mungkin lagi bagi saya untuk bekerja sama denganmu. Tentu Taihiap telah mengerti apa yang kumaksudkan..."

Terdengar dalam gelap pemuda baju hijau itu menghela napas panjang. Keng Hong tersenyum pahit.

"Aku tahu, Loheng. Aku mengerti dan aku tidak menyalahkanmu. Mendiang suhu telah melakukan kesalahan terhadap Siauw-li-pai, telah mengambil dua buah kitab. Justeru untuk itulah aku mengejar-ngejar Cui Im, untuk mendapatkan kembali pusaka-pusaka suhu yang dicurinya, di antaranya ada dua buah kitab Siauw-lim-pai itu. Sebelum dua buah kitab itu kukembalikan kepada Siauw-lim-pai, tentu fihak siauw-lim-pai akan menganggap mendiang suhu sebagai musuh, dan karena aku muridnya..., Hemmm, baiklah. Kita tidak dapat bekerja sama karena engkau sebagai murid yang baik dan berbakti tentu tidak akan mau melanggar pendirian Siauw-lim-pai. Nah, sampai jumpa, Loheng!"

Setelah menjura, Keng Hong berkelebat lenyap dari depan pemuda itu.

Cong San kembali menghela napas dan merasa menyesal sekali.

Dia akan suka sekali bersahabat dengan Keng Hong.

Pula, tanpa bantuan Keng Hong bagaimana dia akan mampu membalas kematian suhengnya?

Tidak mungkin dia akan dapat mengalahkan Ang-kiam Bu-tek yang lihai itu, apalagi perempuan cabul itu mempunyai seorang teman yang lihai seperti pria yang dilawannya tadi.

Juga kakek hitam itu amat lihai.

Betapapun juga, dia akan terus mencari Cui Im sampai dapat dan akan berdaya upaya untuk dapat membalas dendam kematian suhengnya.

Karena Cong San maklum pula bahwa tentu Keng Hong tidak akan tinggal diam dan tentu mencari Cui Im, dan dia pun dapat mengerti bahwa Keng Hong tentu akan lebih dulu dapat menyusul wanita itu, maka dia pun kini tinggal mengikuti jejak Keng Hong saja.

ia bermalam di hutan itu dan pada keesokan harinya dia baru melanjutkan perjalanannya, menuju ke arah perginya Keng Hong malam tadi, yaitu ke selatan.

Ketika dia akan keluar dari hutan, pandang matanya tertarik oleh sebatang pohon yang sebagian kulit batangnya terkupas batang yang "telanjang"

Dan putih itu.

Ia menghampiri dan melihat ukiran huruf yang indah dan kuat goresannya.

JEJAKNYA MENUJU DUSUN SIN-NAM Mudah saja bagi Cong San untuk menduga siapa penulis huruf-huruf terukir itu.

Siapa lagi kalau bukan Keng Hong.

Diam-diam merasa kagum, dan menyesal mengapa tokoh-tokoh Siauw-lim-pai berkukuh menganggap murid Sin-jiu Kiam-ong ini sebagai musuh.

Padahal dia mengerti akan penderitaan batin Keng Hong yang jelas bertekad untuk "menebus dosa"

Gurunya dan mengembalikan pusaka-pusaka yang dahulu diambil gurunya, dan kini telah dicuri oleh Ang-kiam Bu-tek.

Dia merasa girang sekali.

Keng Hong agaknya tidak lupa, kepadanya dan memberi petunjuk.

Di ladang-ladang yang terdapat di luar hutan, dia bertanya kepada seorang petani yang menggarap ladang di mana letak dusun Sin-nam.

Kiranya dusun itu berada di sebelah selatan, hanya belasan li dari situ.

Dengan cepat Cong San melanjutkan perjalanannya menuju ke dusun Sin-nam.

Akan tetapi di dusun ini dia tidak melihat Keng Hong, apalagi Cui Im yang dia cari.

Selagi dia bingung, tidak tahu harus mengejar kemana dan selagi dia hendak bertanya-tanya, tiba-tiba muncul seorang anak kecil berusia kurang lebih sepuluh tahun.

Anak itu menghampirinya dan bertanya.

"Apakah Kongcu ber-she Yap?"

"Hemmmm, bagaimana kau bisa tahu?"

Cong San bertanya curiga.

"Ada seorang tuan muda she Cia memesan kalau ada Kongcu yang berpakaian hijau dan she Yap, saya disuruh menyampaikan bahwa Cia-kongcu menuju ke kota Tek-an di selatan."

"Hemmm.....!"

Jauhkah kota Tek-an dari sini?"

"Saya tidak pernah ke sana, Kongcu. Akan tetapi kata orang membutuhkan perjalanan satu hari penuh."

Lega hati Cong San. Ia merogoh saku mengambil beberapa potong uang tembaga dan memberikannya kepada anak itu.

"Nih hadiah untukmu."

"Tidak, Kongcu. Saya sudah menerima upah dari Cia-kongcu!"

Anak itu lalu berlari meninggalkan Cong San yang melongo.

Pemuda ini menarik napas terharu.

Anak yang jujur dan terdidik baik agaknya oleh orang tuanya.

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 4

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert