Ceritasilat Novel Online

Kisah Pendekar Bongkok 4

Eps 4 Kisah Pendekar Bongkok - Kho Ping Hoo

Baca online Kisah Pendekar Bongkok - Kho Ping Hoo

Cersil Kisah Pendekar Bongkok - Kho Ping Hoo.

Letaknya jauh dari pusat Kun-lun-pai yang agak ke timur dari Pegunungan Kun-lun-san.

Ang-in-kok ini sunyi, tak pernah didatangi manusia karena untuk mendaki puncak ini tidaklah mudah.

Orang harus melalui jurang yang curam dan pendakian yang tidak mungkin dilakukan orang biasa.

Karena sunyi dan indah itulah maka tempat ini dipilih oleh Himalaya Sam Lojin dan supek mereka, yaitu Pek-sim Sian-su untuk menjadi tempat tinggal sementara.

Mereka berempat menggembleng Sie Liong dan karena pemuda remaja ini menjadi murid Pek-sim Sian-su, maka tiga orang kakek yang berasal dari Himalaya itu, tiga orang tokoh besar yang usianya masing-masing sudah tujuh puluh tahun lebih, terhitung sebagai para suheng (kakak seperguruan) dari Sie Liong!

Namun, adalah tiga suheng ini yang pertama-tama mendidik dan menggemblengnya.

Karena tiga orang kakek ini yang merasa dirinya sudah amat tua dan tidak mampu lagi melakukan tugas penting yang membutuhkan kekuatan dan ketahanan tubuh.

Dan mereka mengharapkan sute (adik seperguruan) mereka ini yang akan menjadi wakil mereka, maka merekapun menggembleng anak itu dengan penuh kesungguhan, bahkan mereka lalu mengajarkan ilmu andalan dan simpanan masing-masing kepada Sie Liong.

Pek In Tosu mengajarkan ilmu simpanannya yang disebut Pek-in Sin-ciang (Tangan Sakti Awan Putih), pukulan yang mengandung tenaga sin-kang amat hebatnya sehingga kalau pukulan ini dipergunakan, maka dari kedua telapak tangan pemukulnya keluar uap putih.

Pukulan ini bukan hanya kuat sekali dan angin pukulannya saja mampu merobohkan lawan, akan tetapi juga mampu menahan dan membuyarkan pukulan-pukulan beracun yang jahat dari orang-orang golongan hitam atau kaum sesat.

Orang ke dua dari Himalaya Sam Lojin, yaitu Swat Hwa Cinjin yang selalu tersenyum ramah itu, mengajarkan ilmu simpanannya yang dinamakan Swat-liong Sin-ciang (Tangan Sakti Naga Salju).

Pukulan inipun mengandung tenaga sin-kang yang amat kuat, dan kehebatan ilmu pukulan ini adalah terkandungnya hawa yang amat dingin dalam pukulannya, hawa dingin yang mampu membikin beku darah dalam tubuh orang yang terpukul, sehingga pukulan itu dinamakan Naga Salju!

Orang ke tiga dari Himalaya Sam Lojin, yaitu Hek Bin Tosu yang bermuka hitam, juga mewariskan ilmu simpanannya yang disebut Pay-san Sin-ciang (Tangan Sakti Menolak Gunung)!

Pukulan ini, sesuai dengan namanya, mengandung tenaga raksasa yang seolah-olah dapat merobohkan gunung dengan telapaknya!

Dan ketika dilatih ilmu ini, Sie Liong harus mampu merobohkan batang-batang pohon yang kecil sampai yang besar.

Selama lima tahun Himalaya Sam Lojin menggembleng Sie Liong dengan tekun, anak itupun rajin bukan main.

Tidak saja dia melakukan pekerjaan untuk melayani tiga orang suhengnya dan seorang suhunya, akan tetapi setiap ada waktu luang, dia selalu melatih diri dengan tekun.

Hal ini amat menggembirakan hati tiga orang kakek itu.

Apalagi ketika mereka mendapat kenyataan betapa Sie Liong memang memiliki bakat yang luar biasa sekali.

Tubuh bongkok itu ternyata memiliki darah yang bersih dan tulang yang kuat.

Apa lagi otaknya.

Luar biasa!

Selama lima tahun itu Sie Liong hampir tidak memikirkan hal lain kecuali latihan ilmu-ilmu silat tinggi.

Hanya kadang-kadang saja dia turun dari puncak, pergi ke dusun untuk mencari bahan-bahan makanan yang dibutuhkan tiga orang kakek itu, dengan menukarnya dengan hasil-hasil yang bisa didapatkan di puncak, antara lain kulit-kulit binatang hutan, tanduk-tanduk menjangan yang berkhasiat, akar-akar obat dan ramuan-ramuan lain yang banyak didapatkan di tempat itu atas petunjuk Pek-sim Sian-su yang ahli dalam hal pengobatan.

Selama lima tahun itu, Pek-sim Sian-su jarang keluar dari dalam guhanya.

Dia duduk bersamadhi dan hanya kadang-kadang saja makan, atau kadang-kadang dia keluar melihat kemajuan yang dicapai murid barunya.

Setelah lewat lima tahun, yaitu waktu yang dia berikan kepada tiga orang murid keponakan untuk menggembleng anak itu, mulailah Pek-sin Sian-su sendiri menggembleng Sie Liong yang sudah berusia delapan belas tahun.

Dia telah menjadi seorang pemuda yang sebetulnya bertubuh tinggi besar dan kokoh kuat, akan tetapi karena punggungnya bongkok, dia kelihatan pendek.

Seorang pemuda cacat, bongkok dan agaknya hal ini membuat dia bersikap rendah diri.

Gemblengan yang dilakukan Pek-sim Sian-su merupakan penyempurnaan dari ilmu-ilmu yang telah dipelajari Sie Liong dari tiga orang suhengnya.

Selain menyempurnakan ilmu-ilmu yang sudah dikuasainya, juga Pek-sim Sian-su mengajarkan latihan siu-lian untuk menghimpun sin-kang yang menjadi semakin kuat.

Juga kekuatan batin yang membuat pemuda ini seolah-olah kebal terhadap serangan ilmu sihir.

Dia diberi pelajaran ilmu tongkat yang diberi nama Thian-te Sin-tung (Tongkat Sakti Langit Bumi) dan ilmu pengobatan.

Selama dua tahun lagi dia tekun mempelajari ilmu di bawah bimbingan gurunya, sedangkan tiga orang Himalaya Sam Lojin sudah meninggalkan tempat itu dan kembali ke tempat pertapaan masing-masing.

Setelah membimbing Sie Liong selama dua tahun, pada suatu hari Pek-sim Sian-su berkata kepada muridnya bahwa sudah tiba saatnya mereka untuk saling berpisah.

"Sie Liong, sekarang usiamu sudah dua puluh tahun, sudah cukup dewasa dan sudah cakup pula ilmu-ilmu kaupelajari untuk kaupergunakan dalam hidupmu. Engkau tentu masih ingat apa maksud pinto dan para suhengmu mengajarkan semua ilmu itu kepadamu. Yaitu agar engkau dapat mewakili kami yang sudah terlalu tua ini untuk menegakkan kebenaran dan keadilan di dalam kehidupan rakyat, membela yang benar dan menentang yang jahat. Selain itu, pinto memberi tugas kepadamu untuk melakukan penyelidikan ke Tibet. Engkau tentu masih ingat akan penyerbuan Tibet Ngo-houw itu. Kami semua merasa heran mengapa Dalai Lama mengutus mereka untuk memusuhi kami, padahal golongan kami yang dulu membela dia ketika dia hendak diculik oleh para Lama. Selidikilah apa yang terjadi di sana dan kalau mungkin usahakan agar engkau dapat menghadap Dalai Lama dan menceritakan segala yang terjadi di sini dan minta kepada Dalai Lama agar menghentikan sikap permusuhan para Lama terhadap kami."

"Baik, suhu. Semua petunjuk dan perintah suhu dan tiga orang suheng, akan teecu taati. Dan teecu menghaturkan Terimakasih atas segala budi kebaikan suhu yang telah memberi bimbingen kepada teecu."

Pek-sim Sian-su lalu meninggalkan puncak itu dan kembali ke He-lan-san yang pernah menjadi tempat pertapaannya selama bertahun-tahun.

Sie Liong juga akhirnya meninggalkan tempat itu, menuruni puncak dan dia langsung saja menuju ke dusun Tiong-cin, di dekat perbatasan utara yang cukup jauh.

Dia sudah mendengar keterangan dari encinya tentang dusun tempat kelahirannya itu, di mana menurut encinya ayah ibunya telah tewas akibat penyakit menular.

Dia ingin mengunjungi makam orang tuanya dan bersembahyang di makam mereka.

Setelah melakukan perjalanan jauh yang susah payah, akhirnya berhasil juga Sie Liong memasuki dusun itu.

Ketika dia mendapat keterangan yang meyakinkan bahwa dusun itu adalah dusun Tiong-cin, jantungnya berdebar tegang.

Betapa tidak?

Tempat ini adalah tanah tumpah darahnya, tempat di mana ibunya melahirkannya!

Kampung halaman ayah ibunya yang telah meninggal dunia.

Penduduk dusun itu melihat Sie Liong dengan pandang mata heran.

Jarang ada orang luar memasuki dusun itu, dan tidak ada seorangpun yang pernah merasa kenal dengan pemuda bongkok ini.

Sie Liong juga tidak memperlihatkan sikap yang mencurigakan bahkan dia mencari bagian yang sunyi dari dusun itu, lalu ketika dia melihat seorang kakek memanggul cangkul menuju ke ladangnya, dia cepat menghampiri dan memberi hormat kepada orang tua itu.

"Maaf, lopek (paman tua). Bolehkah saya bertanya sedikit kepadamu?"

Biarpun pemuda yang bongkok itu tidak menarik, akan tetapi sikapnya yang sopan dan kata-katanya yang teratur dan halus membuat kakek itu menghentikan langkahnya dan menghadapi pemuda bongkok itu.

Setelah mengamatinya beberapa lamanya, kakek itupun menjawab.

"Hemm, tentu saja boleh, orang muda. Apakah yang kautanyakan?"

"Maaf, lopek. Saya ingin mengetahui di mana adanya makam dari suami isteri Sie Kian."

Kakek itu membelalakkan matanya dan kini memandang kepada Sie Liong penuh selidik.

"Orang muda, engkau siapakah dan mengapa mencari makam suami isteri Sie Kian?"

Sie Liong tidak mau membuat dirinya menjadi perhatian orang, maka sambil lalu saja dia menjawab.

"Saya masih sanak keluarga jauh dari mereka, lopek, dan saya kebetulan lewat di dusun ini, maka saya ingin berkunjung ke makam mereka untuk memberi hormat."

Kakek yang wajahnya sejak tadi nampak muram itu bersungut-sungut.

"Hem, apa perlunya mengingat orang yang sudah mati? Paling banyak setahun sekali kuburannya ditengok, bahkan kuburan keluarga itu sudah bertahun-tahun tidak ada yang datang menengok! Benar kata orang bahwa kalau hendak berbakti kepada orang tua, berbaktilah selagi mereka masih hidup, karena apa sih artinya berbakti kalau orang tua sudah mati dan tidak lagi dapat merasakan nikmat kebaktian anak?"

Sebelum Sie Liong menjawab, terdengar teriakan orang.

"Heiii, Lo Kwan, tunggu dulu....!"

Sie Liong menengok dan melihat tiga orang laki-laki tinggi besar datang berlari-lari dan melihat mereka, kakek berusia enam puluh tahun itu mengerutkan alisnya dan nampak ketakutan.

Sie Liong lalu melangkah ke samping, berdiri di pinggir untuk melihat apa yang dibicarakan tiga orang itu dengan kakek berwajah muram ini.

Setelah dekat, nampak bahwa tiga orang itu berusia kurang lebih tiga puluh tahun, bertubuh kuat dan di pinggang masing-masing tergantung sebatang golok.

Lagak dan pakaian mereka, juga golok itu, tidak menunjukkan bahwa mereka adalah segolongan petani.

Seorang di antara mereka yang hidungnya besar sekali, seperti baru saja disengat kalajengking, melangkah maju dan menudingkan telunjuknya kepada kakek itu, tidak memperdulikan pemuda bongkok yang berdiri di pinggiran.

"He, kakek Kwan! Apakah sudah tebal kulitmu, maka engkau berani melarikan diri dari rumah? Bukankah hari ini merupakan hari terakhir janjimu untuk membayar hutangmu kepada Bouw Loya? Hayo katakan, engkau hendak minggat ke mana?"

Kakek itu membungkuk dengan sikap takut-takut.

"Aih, mana saya berani melarikan diri? Kalian lihat sendiri, saya membawa cangkul, hendak bekerja di ladang. Tentang hutang itu.... ah, bagaimana lagi? Semua orang juga tahu bahwa panen sekali ini buruk sekali hasilnya karena hujan turun terlalu pagi, banyak merusak gandum yang belum tua benar. Terpaksa saya tidak mampu mengembalikan hutang saya kepada Bouw-chung-cu (kepala dusun Bouw). Harap sampaikan maaf saya kepada beliau dan tahun depan tentu akan saya bayar lunas."

"Enak saja buka mulut! Kalau sedang butuh, minta hutang merengek-rengek akan tetapi kalau disuruh mengembalikan, ada saja alasannya! Tak tahu malu!"

Bentak si hidung besar.

Muka kakek yang muram itu berubah merah, agaknya dia merana penasaran sekali akan tetapi karena takut maka tidak leluasa mengeluarkan perasaan penasaran itu.

"Akan tetapi, selama berbulan-bulan ini saya selalu membayar bunganya, dan kalau dikumpulkan, bunga-bunga itu sudah hampir sama banyaknya dengan jumlah yang saya hutang!"

"Tentu saja kau harus membayar bunga. Memangnya yang yang kauhutang itu milik nenek moyangmu? Akan tetapi hu-tang itu menurut janji harus dikembalikan selama enam bulan dan sekarang sudah delapan bulan. Hari ini adalah hari terakhir, engkau harus membayarnya. Harus kukatakan, mergerti?"

Kakek itu menarik napas panjang.

"Bagaimana saya dapat membayarnya? Saya tidak mempunyai uang dan saya tidak bisa mencari pinjaman kepada orang lain. Sungguh mati saya tidak bisa membayar sekarang, bukan tidak mau.... harap saya diberi waktu."

Si hidung besar menggeleng kepala dan hidungnya nampak menjadi lebih besar dan kemerahan.

"Tidak, majikan kami mengharuskan engkau membayar sekarang juga. Sudahlah, kami akan pergi ke rumahmu dan akan mengambil apa saja yang berharga untuk kami sita!"

Kakek itu tersenyum sedih.

"Barang apa lagi? Semua sudah kami jual untuk membayar bunga kepada Bouw-chung-cu, dan sebagian untuk makan. Di rumah tidak ada lagi sepotongpun benda yang berharga."

"Hemm, kukira tidak demikian, orang tua! Ada bunga yang manis dan bunga itu cukup untuk membayar hutangmu kepada majikan kami!"

Berkata demikian si hidung besar lalu membalikkan tubuh dan pergi bersama dua orang kawannya. Kakek itu kelihatan pucat dan ketakutan.

"Celaka.... celaka.... mereka akan membawa Siu Si! Celaka, ya Tuhan, apa yang dapat saya lakukan untuk menyelamatkan cucuku yang malang itu....?"

Suaranya bercampur tangis kebingungan.

"Lopek yang baik, siapakah itu Siu Si? Dan mengapa mereka hendak membawanya?"

Ditanya oleh pemuda bongkok itu, kakek itu yang sudah putus harapan, berkata.

"Namaku Kwan Sun, hidupku hanya dengan cucuku Siu Si, gadis berusia tujuh belas tahun yang sudah yatim piatu. Memang sudah lama kepala dusun kami, Bouw Kun Hok, tertarik kepada cucuku dan beberapa kali dia ingin mengambil cucuku sebagai selir, akan tetapi selalu kami tolak dengan halus. Dan agaknya, hutangku kepadanya yang akan membuat Siu Si celaka! Ahh, kalau saja mendiang Sie Kauwsu (Guru silat Sie) masih hidup, tentu tidak ada kepala dusun yang berani menekan rakyatnya...."

Ucapan terakhir ini membangkitkan semangat dalam hati Sie Liong.

Ayahnya disebut sebagai seorang yang mencegah terjadinya kejahatan di dusun itu.

Ayahnya sudah tidak ada, akan tetapi dia, puteranya, masih ada!

Dia lalu memegang lengan kakek itu.

"Hayo, lopek, kenapa tinggal diam saja? Cucumu tidak boleh diganggu orang, aku akan membantumu!"

Berkata demikian, Sie Liong menarik tangan kakek itu diajak berjalan cepat.

Kakek itu tetap ketakutan dan meragukan kemampuan pemuda bongkok ini untuk mengajaknya menentang tukang-tukang pukul yang ganas dan kejam itu.

Akan tetapi, mengingat akan ancaman bahaya bagi cucunya, diapun berlari-lari dan menjadi petunjuk jalan menuju ke rumahnya.

Di sepanjang jalan, banyak penduduk dusun yang hanya berani menjenguk dari pintu dan jendela dan mereka itu memandang dengan muka ketakutan dan gelisah sekali.

"Awas, Lo Kwan, cucumu....!"

"Mereka ke sana...."

"Hati-hatilah, Lo Kwan, kepala dusun mengincar cucumu....!"

Dari sikap mereka itu, Sie Liong maklum bahwa semua penduduk berpihak kepada kakek yang she Kwan ini, akan tetapi mereka itu semua ketakutan dan tidak berani bicara terang-terangan, bahkan agaknya tidak berani keluar dari rumah masing-masing melihat ada tiga orang tukang pukul kepala dusun menuju ke rumah kakek Kwan!

Akhirnya mereka tiba di depan rumah kakek itu.

Kakek Kwan Sun cepat mendekati rumahnya dan pada saat itu terdengar jerit tangis cucunya, dan seorang di antara tiga tukang pukul itu, yang berhidung besar, menyeret gadis itu keluar dari rumah memegangi pergelangan tangan kirinya.

Sedangkan dua orang lagi mengobrak-abrik isi rumah.

Ketika gadis berusia tujuh belas tahun yang manis itu, walaupun pakaiannya amat sederhana, melihat kakeknya, ia berteriak sambil menangis.

"Kong-kong, tolonglah aku....!"

Ia meronta-ronta, akan tetapi hanya rasa nyeri pada pergelangan tangan saja yang didapatkan karena pegangan si hidung besar itu sungguh erat sekali.

Melihat cucunya meronta dan menangis tanpa daya, kakek Kwan Sun lupa akan rasa takutnya.

Dia tidak marah melihat barang-barang dalam rumahnya yang tidak berharga itu dirusak, akan tetapi melihat cucunya yang tersayang itu ditangkap, dia marah sekali.

"Lepaskan cucuku! Ia tidak berdosa! Mau apa engkau menangkap cucuku? Hayo lepaskan Siu Si....!"

Teriaknya sambil mendekati si hidung besar dan berusaha membebaskan cucunya.

Akan tetapi, kaki yang panjang dan besar itu menendang dan tubuh Kwan Sun terlempar dan terguling-guling.

Si hidung besar tertawa.

"Ha-ha-ha, apakah kau bosan hidup? Gadis ini kujadikan sandera, dan kalau engkau ingin melihat dia bebas, bayarlah hutangmu pada majikan kami!"

Dia memberi isyarat kepada dua orang kawannya yang sudah merasa puas menghancurkan pintu dan jendela rumah kecil itu, dan menyeret tubuh Kwan Siu Si yang meronta-ronta dan menangis melihat kakeknya ditendang roboh.

"Kawan, perlahan dulu!"

Tiba-tiba Sie Liong sudah menghadang di depan si hidung besar.

Sikapnya tenang, akan tetapi matanya mencorong.

Melihat ada orang berani menghadangnya, si hidung benar memandang heran penuh perhatian karena dia tidak mengenal orang yang punggungnya bongkok ini.

"Siapa engkau dan mau apa kau menghadangku?"

Bentaknya marah.

"Sobat, urusan hutang pihutang uang tidak ada sangkut-pautnya dengan nona ini. Maka, kuharap engkau suka membebaskannya,"

Kata Sie Liong dengan sikap masih tenang. Marahlah si hidung besar.

"Setan! Engkau tidak kenal siapa aku?"

Dia me-nunjuk ke arah hidungnya yang besar.

"Apa kau ingin mampus? Kalau aku tidak mau membebaskan gadis ini, engkau mau apa?"

Sie Liong mengerutkan alisnya.

"Sungguh engkau telah menyeleweng dari kebenaran. Kalau tidak kaubebaskan, terpaksa aku akan memaksamu membebaskannya."

"Hah??"

Si hidung besar membelalakkan matanya yang besar dan hidungnya yang lebih besar lagi itu bergerak-gerak seperti hidung monyet mencium sesuatu yang aneh.

"Kau.... kau.... setan bongkok ini sungguh lancang mulut!"

Dia menoleh kepada dua orang kawannya dan membentak.

"Hajar mampus setan bongkok ini!"

Dua orang temannya itu adalah orang yang pekerjaannya memang tukang memukul dan menyiksa orang.

Tidak ada kesenangan yang lebih mengasikkan bagi mereka melebihi menghajar orang lain.

Hal ini mendatangkan perasaan bangga karena mereka dapat memperlihatkan bahwa mereka lebih kuat, lebih pandai dan lebih berkuasa dari pada yang mereka pukuli, juga mendatangkan perasaan nikmat dalam hati mereka yang kejam.

Selain itu, mendatangkan pula uang karena memang pekerjaan mereka sebagai tukang pukul dari kepala dusun Tiong-cin yang amat diandalkan oleh si kepala dusun.

Apa lagi harus menghajar seorang pemuda bongkok!

Pekerjaan kecil yang amat mudah, pikir mereka.

Dengan lagak bagaikan jagoan-jagoan benar-benar, dua orang yang sombong itu menghampiri Sie Liong sambil menyeringai.

Apalagi pemuda bongkok itu tidak bersenjata, juga tidak memperlihatkan sikap sebagai seorang ahli berkelahi, melainkan seorang pemuda bongkok sederhana saja.

"Sekali pukul bongkokmu itu akan pindah ke depan!"

Seorang di antara mereka mengejek.

"Tidak, biar kupukul sekali lagi, agar bongkoknya berubah menjadi dua, seperti seekor unta dari Mongol!"

Orang ke dua memperoloknya.

Namun, Sie Liong diam saja, bahkan sikapnya seperti mengacuhkan mereka, dan memang dia tahu bahwa dua orang itu hanyalah gentung-gentung kosong yang nyaring bunyinya namun tidak ada isinya.

Dua orang itu agaknya hendak bersaing dan berlumba siapa yang akan lebih dulu merobohkan Sie Liong, maka mereka pun menerjang dengan cepat dari kanan kiri, yang seorang menghantam ke arah kepala Sie Liong, orang ke dua menonjok ke arah dada pemuda bongkok itu.

Sie Liong melihat datangnya dua pukulan itu yang bagi dia tentu saja amat lambat datangnya.

Dia seolah tidak melihat atau tidak mampu menghindar, akan tetapi begitu dua orang itu dekat dan pukulan mereka sudah hampir menyentuh sasaran, tiba-tiba dia mengembangkan kedua lengannya dan....

dua orang itu terlempar ke kanan kiri sampai beberapa meter jauhnya dan terbanting ke atas tanah sampai berdebuk suaranya dan debu mengebul ketika pantat mereka rerbanting keras ke atas tanah.

Dua orang itu meringis dan tangan mereka mengelus pantat yang amat nyeri itu, akan tetapi perasaan malu dan marah membuat mereka segera melupakan rasa nyeri itu.

Mereka sudah meloncat bangun dan kini dengan gemas mereka sudah mencabut golok dari pinggang masing-masing.

Sinar golok yang berkilauan membuat Kwan Sun dan cucunya, Kwan Siu Si, memandang dengan mata terbelalak penuh kengerian.

"Tuan-tuan.... jangan bunuh orang....!"

Kata Kwan Sun, ngeri membayangkan betapa pemuda bongkok yang menolongnya itu akan menjadi korban golok mereka.

"Orang muda, pergilah, larilah....!"

Akan tetapi, tentu saja dua orang tukang pukul yang sudah marah sekali itu tidak memperdulikannya, dan Sie Liong menoleh kepada Kwan Sun.

"Lopek yang baik, jangan khawatir. Mereka ini adalah orang-orang jahat yang mengandalkan kekerasan untuk menindas orang, mereka patut dihajar...."

Baru saja dia bicara demikian, dua orang yang mempergunakan kesempatan selagi pemuda bongkok itu menoleh dan bicara kepada Kwan Sun, sudah menyerang dengan golok mereka dari kanan kiri!

Kwan Sun dan cucunya memejamkan kedua mata saking ngerinya, tidak tahan melihat betapa tubuh pemuda bongkok itu akan menjadi korban bacokan dan roboh mandi darah.

Akan tetapi, dengan tenang saja Sie Liong menggeser kakinya dan dua bacokan golok itu luput!

Dan sebelum dua orang penyerangnya sempat menarik kembali golok mereka, kembali Sie Liong mengembangkan ke dua lengannya.

"Plak! Plakkk!"

Kini dua tubuh itu terlempar lagi seperti tadi, akan tetapi lebih keras sehingga mereka terpental dan terbanting keras sampai mengeluarkan bunyi "ngek!

ngek!"

Dan mereka kini tidak malu-malu lagi mengaduh-aduh sambil menggunakan kedua tangan menekan-nekan pantat mereka yang seperti remuk rasanya.

Mereka mencoba untuk bangkit duduk akan tetapi terguling lagi dan golok mereka entah lenyap ke mana.

Kini si hidung besar terbelalak.

Agaknya baru dia tahu bahwa pemuda bongkok itu lihai!

Dia lalu menggunakan kelicikannya.

Tangan kiri memegang pergelangan tangan Kwan Siu Si, dan tangan kanan mencabut golok lalu ditempelkan kepada leher gadis itu!

"Setan bongkok, mundur kau!

Kalau tidak, akan kubunuh gadis ini!"

Bentaknya. Sie Liong menggelengkan kepalanya dan melangkah maju menghampiri.

"Tidak, engkau tidak akan membunuh gadis itu!"

Katanya dan tiba-tiba tangannya bergerak ke depan dan biarpun jaraknya dengan orang itu masih ada dua meter, namun sambaran angin pukulannya mengenai pundak kanan si hidung besar dan tanpa dapat dihindarkan lagi, si hidung besar yang tiba-tiba merasa lengannya tergetar dan kehilangan tenaga melepaskan goloknya.

Dia terbelalak dan mukanya berubah pucat, akan tetapi pada saat itu, Sie Liong sudah melangkah di depannya.

Dia masih mencoba untuk menggerakkan tangan kanannya menyambut Sie Liong dangan pukulan.

Akan tetapi, Sie Liong menangkap pergelangan tangannya dan mencengkeram.

"Aduh.... aduhhh.... aughhhhh!"

Si hidung besar menjerit-jerit seperti babi disembelih dan otomatis pegangannya pada pergelangan tangan Siu Si terlepas.

Demikian nyeri rasa lengannya yang dicengkeram pemuda bongkok itu.

Di lain saat, Sie Liong sudah mandorongnya dan tubuhnya terlempar jauh ke belakang, terbanting keras dan tidak dapat bergerak lagi karena dia sudah roboh pingsan!

Melihat ini, dua orang temannya cepat menghampirinya, lalu menggotongnya dan tanpa menoleh lagi, mereka berdua lari lintang pukang menggotong si hidung besar yang pingsan.

Melihat kejadian ini, Kwan Sun dan cucunya cepat menjatuhkan diri di depan kaki Sie Liong.

"Taihiap.... mata kami buta, harap maafkan...."

Kata Kwan Sun.

"Kami tidak tahu bahwa taihiap memiliki kepandaian tinggi dan telah menyelamatkan kami, akan tetapi.... harap taihiap cepat pergi dari sini.... kepala dusun Bouw tentu akan datang bersama gerombolannya...."

Sie Liong tersenyum dan merasa suka kepada kakek itu.

Biarpun dirinya sendiri dan cucunya terancam, kakek itu masih sempat mengkhawatirkan dirinya dan tadipun menganjurkan agar dia melarikan diri agar tidak sampai celaka di tangan orang-orang jahat itu.

"Bangkitlah, lopek,"

Katanya sambil menyentuh pundak itu dan menarik orang tua itu bangun.

"Engkau juga, nona. Sekarang, harap kalian kumpulkan penduduk dusun ke sini, terutama kaum prianya dan yang masih muda-muda, aku ingin bicara dengan mereka. Cepat lopek, sebelum kepala dusun jahat itu muncul!"

Tidak sukar pekerjaan ini karena tadipun, ketika pemuda bongkok itu menghajar tiga orang tukang pukul yang amat mereka takuti, banyak penduduk mengintai dan melihatnya.

Mereka hampir tidak percaya bahwa ada seorang pemuda, bongkok pula, mampu mengalahkan mereka bertiga.

Maka, tanpa diperintah, mereka sudah mengabarkan kepada orang-orang lain dan kini banyak orang berdatangan ke rumah kakek Kwan Sun.

Maka, ketika kakek itu minta kepada para penduduk agar datang ke situ karena pemuda bongkok itu hendak bicara dengan mereka, sebentar saja tempat itu sudah penuh dengan para penghuni dusun, terutama para prianya yang masih muda.

Bahkan yang tua-tuapun tidak ketinggalan.

Melihat mereka, diam-diam Sie Liong merasa terharu.

Inilah teman-teman dan para sahabat mendiang orang tuanya!

"Saudara-saudara,"

Katanya dengan suara lantang.

"kalian mempunyai seorang kepala dusun yang jahat dan yang mempunyai kaki tangan penjahat, kenapa diam saja dan tidak melawan?"

Semua orang saling pandang dan wajah mereka membayangkan ketakutan.

"Mana kami berani?"

Akhirnya seorang laki-laki muda menjawab.

"Andaikata Sie-kauwsu masih hidup, apakah mungkin ada kepala dusun yang jahat seperti itu di dusun ini?"

Tanya pula Sie Liong, sekali ini ditujukan kepada mereka yang tua-tua karena tentu saja yang masih muda tidak mengenal Sie Kauwsu.

Mendengar ini, beberapa orang tua segera menjawab.

"Tidak mungkin! Dusun ini aman ketika Sie Kauwsu masih hidup!"

"Nah, ketahuilah paman sekalian. Aku bernama Sie Liong dan aku adalah putera Sie Kauwsu! Aku akan mewakili mendiang ayahku untuk menghajar kepala dusun itu, dan kuharap kalian semua mendukung dan membantuku!"

"Kami.... kami tidak berani...."

Beberapa orang berseru.

"Kepala dusun Bouw mempunyai banyak tukang pukul yang lihai."

"Hemm, kalian lihat saja. Mereka itu hanya pandai menggertak, akan tetapi sama sekali tidak lihai. Apalagi jumlah kalian jauh lebih banyak. Kalian tidak perlu turun tangan, lihat saja aku akan menghajar mereka!"

Kata Sie Liong tanpa nada sombong, melainkan nada penasaran mengapa begini banyak pria di dusun orang tuanya itu mandah saja kehidupan mereka ditindas oleh seorang kepala dusun yang jahat.

Biarpun pemuda ini sudah berjanji akan menghajar kepala dusun Bouw dan anak buahnya, tetap saja para penduduk dusun itu belum yakin benar.

Memang pemuda ini tadi telah mengalahkan tiga orang tukang pukul lurah Bouw, akan tetapi mampukah pemuda yang bongkok itu mengatasi Bouw-chung-cu dengan para jagoannya yang cukup banyak dan kejam?

Maka, mereka tidak berani menyanggupi untuk membantu pemuda bongkok itu dan hanya berdiri bergerombol agak jauh.

"Yang kumaksudkan bukanlah agar kalian membantuku menghajar mereka, melainkan mendukung dan selanjutnya bersikap berani dan bersatu menghadapi kekejaman yang menindas kalian. Juga kalau pembesar tinggi datang, kalian harus berani melaporkan kejahatan para pejabat di sini."

Orang-orang itu mengangguk dan merasa lega bahwa pemuda itu tidak minta mereka untuk membantu dengan perkelahian.

Dengan demikian, andaikata pemuda itu gagal dan kalah, mereka tidak akan dipersalahkan oleh Bouw-chung-cu.

Tak lama kemudian, terdengar suara banyak orang.

Para penduduk dusun itu segera bersembunyi di balik rumah-rumah dan pohon-pohon, seperti kura-kura ketakutan dan menyembunyikan kepalanya di dalam rumahnya.

Nampak lurah Bouw yang bertubuh gendut pendek itu diiringkan oleh lima belas orang yang bersikap gagah dan kasar, di antaranya tiga orang yang tadi dihajar oleh Sie Liong.

Lurah Bouw ini memperoleh kedudukannya sebagai lurah Tiong-cin dengan jalan menyogok pembesar tinggi yang berwenang menentukan siapa lurah di dusun itu, dan dengan jalan mengancam mereka yang tidak setuju dia diangkat menjadi lurah, dengan bantuan belasan orang tukang pukulnya.

Dia bukan orang berasal dari dusun Tiong-cin, dan baru tiga tahun saja menjadi lurah di situ, dia telah menjadi kaya raya dan hidupnya bagai seorang raja kecil.

Ketika mendengar laporan tiga orang tukang pukulnya bahwa di dusunnya datang seorang pemuda bongkok yang berani menentang bahkan menghajar tiga orang tukang pukulnya, lurah Bouw menjadi marah bukan main.

Dia sendiri adalah seorang ahli silat yang cukup pandai, dan dia segera mengumpulkan pembantunya yang berjumlah lima belas orang, membawa senjata lengkap mencari pemuda bongkok itu.

Sie Liong menanti kedatangan mereka dengan sikap tenang saja, sebaliknya, melihat pemuda itu, tiga orang jagoan yang tadi menerima hajarannya segera menuding dan berseru.

"Itulah si setan bongkok!"

Lurah Bouw mendongkol bukan main.

Pemuda itu biasa saja, bahkan cacat, bongkok dan sama sekali tidak mengesankan sebagai seorang yang memiliki ilmu kepandaian.

Dan tiga orang tukang pukulnya yang ditugaskan menyandera Kwan Siu Si yang membuatnya tergila-gila dan mengilar, dapat digagalkan pemuda itu!

Maka begitu berhadapan dengan Sie Liong, lurah Bouw yang juga memegang sebatang golok seperti para anak buahnya, menudingkan goloknya ke arah muka Sie Liong dan membentak marah.

"Engkau ini orang bongkok dari mana, berani datang ke dusun kami dan membikin kacau?"

Sie Liong mengangkat muka memandang wajah lurah itu, sinar matanya yang mencorong mengejutkan hati lurah itu, dan Sie Liong tersenyum.

"Namaku Sie Liong dan aku adalah orang yang dilahirkan di dusun Tiong-cin ini, dan aku datang untuk menengok kuburan ayah ibuku. Tidak tahunya dusun ini telah berada dalam cengkeraman seekor serigala yang kejam! Engkau mengerahkan penjahat-penjahat untuk menindas penduduk dusun. Engkau tidak pantas menjadi lurah, dan aku mewakili ayahku, Sie Kian untuk menghajar kalian dan membersihkan dusun kami ini dari srigala-srigala berwajah manusia yang berkeliaran di sini!"

Wajah lurah Bouw menjadi merah padam saking marahnya.

Memang dia bukan orang berasal dari dusun ini, akan tetapi dia telah berhasil menjadi lurah dan hidup makmur di situ.

"Jahanam keparat, setan bongkok yang sombong!"

Dia menoleh kepada para anak buahnya.

"Pukul dia sampai mati!"

Lima belas orang itu memang sudah siap dengan senjata di tangan.

Begitu mendengar komando ini, mereka serentak maju mengepung dan mengeroyok Sie Liong!

Belasan senjata tajam berupa golok, pedang dan tombak, datang bagaikan hujan ke arah tubuh Sie Liong.

Orang-orang dusun yang mengintai dan menonton, menjadi pucat dan mereka merasa ngeri.

Bahkan ada yang diam-diam sudah meninggalkan tempat itu bersembunyi di rumah sendiri saking takut terlibat.

Akan tetapi, Sie Liong yang kini telah menjadi seorang pendekar sakti, tidak menjadi gugup menghadapi hujan senjata tajam itu.

Tubuhnya membuat gerakan memutar dan kedua tangannya dikibaskan ke kanan kiri dan depan belakang.

Akibatnya, beberapa batang senjata tajam terlempar karena pemegangnya merasa betapa ada tenaga yang dahsyat menyambar tangan mereka dan membuat lengan mereka menjadi seperti lumpuh!

Akan tetapi mereka mengandalkan pengeroyokan banyak orang, maka yang lain masih terus menyerang, dan yang senjatanya terlepas, cepat memungut kembali senjata mereka dan menyerang semakin ganas.

Kini, melihat betapa dalam segebrakan saja beberapa orang anak buahnya melepaskan senjata, lurah Bouw sendiri menjadi penasaran dan sambil mengeluarkan bentakan nyaring, diapun menyerang dengan mengangkat goloknya tinggi-tinggi, kemudian melakukan bacokan yang amat cepat dan kuat.

Hanya dengan miringkan tubuh, Sie Liong membuat bacakan itu luput dan lewat di dekat pundaknya, dan sebelum kepala dusun itu sempat merobah posisinya, tiba-tiba saja dia merasa tengkuknya diraba dan tubuhnya menjadi kaku!

Di lain saat, Sie Liong telah mengangkat tubuh lurah ini dan mempergunakan sebagai perisai atau sebagai senjata yang diputar-putar di atas kepalanya!

Melihat ini, tentu saja para tukang pukul menjadi terkejut bukan main dan mereka menahan senjata mereka!

Sie Liong terus maju dan kedua kakinya secara bergantian menendangi mereka dan beberapa orang pengeroyok kena ditendang sampai terlempar jauh dan terbanting jatuh dengan kerasnya ke atas tanah!

Sebelum mereka dapat bangkit, tiba-tiba datang banyak orang yang memukuli mereka yang terbanting jatuh itu!

Mereka yang memukuli ini adalah orang-orang dusun!

Kiranya ketika para penghuni dusun melihat betapa pemuda bongkok itu benar-benar dapat mengatasi lurah Bouw dan anak buahnya, mereka menjadi bersemangat sehingga melihat beberapa orang tukang pukul yang mereka benci itu terlempar, mereka lalu mengeroyok dan memukulinya dengan tangan mereka!

Tentu saja tukang-tukang pukul yang sudah kehilangan senjata dan masih pening karena terbanting keras, kini hanya mampu berkaok-kaok ketika dikeroyok dan dipukuli para penduduk dusun!

Makin keras dia memaki dan mengancam, makin keras pula orang-orang itu memukulinya sehingga mukanya menjadi bengkak-bengkak dan tubuhpun babak bundas, pakaian mereka robek-robek!

Sie Liong tersenyum gembira melihat ulah para penduduk dusun itu.

Dia telah berhasil membangkitkan semangat para penduduk dusun itu setelah semangat mereka itu lenyap selama bertahun-tahun di bawah penindasan kepala dusun yang jahat itu.

Maka diapun segera melemparkan tubuh kepala dusun Bouw yang jatuh berdebuk dan terguling-guling.

Kepala dusun itu hanya dapat mengeluh karena kepalanya sudah pening sekali ketika tubuhnya diputar-putar, kini terbanting keras pula setelah totokan pada tengkuknya dibebaskan pemuda bongkok yang lihai itu.

Dan diapun terkejut ketika kini orang-orang dusun mengejarnya dan memukulinya.

"Hei....! Keparat.... ini aku, lurahmu....!"

Teriaknya, akan tetapi teriakannya hanya disambut dengan pukulan-pukulan para penduduk yang sudah melihat kesempatan untuk membalas dendam bertahun-tahun itu.

Lucunya, kini banyak pula wanita dusun yang keluar dan merekapun ikut pula memukuli kepala dusun dan anak buahnya dengan gagang-gagang sapu!

Sie Liong mengamuk, dan dalam waktu singkat saja, seluruh tukang pukul yang lima belas orang banyaknya sudah dia robohkan dan kini mereka semua, juga kepala dusun Bouw, berteriak-teriak dan mengaduh-aduh tanpa mampu melawan ketika orang-orang dusun, tua muda, laki perempuan, mengeroyok mereka dan memukuli mereka sampai seluruh muka mereka bengkak-bengkak!

Sampai beberapa lamanya Sie Liong membiarkan orang-orang dusun itu melampiaskan kemarahan dan sakit hati mereka, akan tetapi dia menjaga agar mereka tidak melakukan pembunuhan.

Akhirnya, khawatir kalau-kalau kepala dusun Bouw dan anak buahnya akan mati konyol dia lalu berseru dengan suara nyaring.

"Cukup, saudara-saudara, cukup dan jangan memukul lagi!"

Teriakan yang nyaring ini ditaati seketika oleh para penghuni dusun yang kini penuh semangat itu.

Dipimpin oleh seorang kakek yang bersemangat, mereka pun berseru.

"Hidup putera mendiang Sie Kauwsu....!"

Sie Liong mengangkat kedua tangan ke atas memberi isarat agar mereka tenang, lalu dia memeriksa keadaan enam belas orang musuh itu.

Keadaan mereka sungguh menyedihkan, dan lebih dari setengah mati.

Muka mereka bengkak-bengkak dan bonyok-bonyok, bahkan kepala dusun Bouw tidak mempunyai hidung lagi.

Bukit hidungnya penyok dan hancur, ada yang matanya pecah, patah tulang dan sebagainya.

Akan tetapi Sie Liong merasa bersukur bahwa tidak ada di antara enam belas orang itu yang tewas.

Dia menghampiri lurah Bouw dan mengguncang pundaknya.

Lurah itu mengeluh dan merintih, mencoba untuk membuka kedua matanya yang bengkak-bengkak, memandang kepada Sie Liong.

"Orang she Bouw, bagaimana sekarang? Apakah engkau masih merasa penasaran dan hendak mempergunakan kekuasaanmu untuk menindas rakyat dusun Tiong-cin?"

Lurah Bouw sudah ketakutan setengah mati.

Ketika tadi dipukuli rakyat, dia yang tadinya memaki-maki dan mengancam, mulai menangis dan minta-minta ampun.

"Ampun.... ampunkan saya.... saya tidak berani lagi.... saya akan menjadi lurah yang baik...."

Akan tetapi mendengar ucapannya itu, semua penduduk dusun menolak keras.

"Tidak! Kami tidak mau dia menjadi lurah kami!"

Sie Liong tersenyum dan berkata kepada orang she Bouw itu.

"Nah, engkau sudah mendengar sendiri. Kalau tidak ada aku di sini, engkau tentu telah mereka pukuli terus sampai mati. Orang she Bouw, sekarang lebih baik kalau engkau dan anak buahmu itu pergi dari dusun ini secepatnya. Kami penduduk Tiong-cin tidak membutuhkan engkau dan orang-orangmu, kami dapat mengatur diri sendiri. Aku akan melapor kepada pembesar atasanmu bahwa engkau tidak disuka rakyat dan bahwa engkau telah pergi, dan kami akan mencari pengganti seorang kepala dusun. Nah, sekarang engkau pergilah dan bawalah keluargamu, juga hartamu. Akan tetapi, gudang gandum dan padi harus kautinggalkan, karena itu milik rakyat yang kauperas!"

Semua penghuni dusun bersorak gegap gempita menyambut ucapan Sie Liong itu karena mereka semua merasa setuju sekali.

Menghadapi semangat rakyat yang berkobar itu, Bouw Kun Hok, yaitu kepala dusun yang jahat itu, menjadi ngeri.

Dengan susah payah dia lalu bersama anak buahnya, kembali ke rumahnya dan mengumpulkan keluarga mereka, membawa harta mereka dan pada hari itu juga mereka pergi meninggalkan dusun Tiong-cin, diantar sorak-sorak para penduduk yang merasa lega sekali.

Setelah enam belas orang itu bersama keluarga mereka pergi, dengan dipimpin seorang kakek, yaitu kakek Kwan Sun sendiri, para penghuni dusun menjatuhkan diri berlutut di depan Sie Liong.

Kini mereka semua keluar, termasuk kanak-kanak dan wanita sehingga ratusan orang berlutut di depan Sie Liong.

"Sie-taihiap,"

Kata Kwan Sun dengan suara nyaring.

"kami seluruh penghuni dusun Tiong-cin menghaturkan Terimakasih kepada taihiap yang telah membebaskan kami dari tekanan lurah Bouw. Sekarang kami mohon agar taihiap suka menjadi kepala dusun kami."

"Hidup Sie-taihiap....!"

"Kami setuju!"

"Akur! Sie-taihiap menjadi lurah kami!"

Melihat mereka itu berteriak-teriak, Sie Liong mengangkat kedua tangan ke atas dan hatinya terharu sekali.

Selama ini, orang-orang hanya memandang kepadanya dengan ejekan, dengan olok-olok, ada yang dengan pandang mata kasihan.

Dia seorang bongkok yang dipandang rendah, membuat dia merasa rendah diri.

Akan tetapi sekarang, di dusun orang tuanya, di tempat kelahirannya, dia seperti dipuja-puja!

"Terimakasih atas kepercayaan cu-wi (anda sekalian)!

Akan tetapi, aku masih mempunyai tugas yang amat panting dan tidak mungkin tinggal selamanya di sini.

Karena itu, aku tidak dapat pula menjadi seorang lurah, apalagi mengingat bahwa aku tidak berpengalaman dan tidak berpengetahuan bagaimana memimpin rakyat dusun.

Sebaiknya kalau sekarang cu-wi memilih sendiri seorang di antara cu-wi yang dapat dipercaya, kemudian mengangkatnya menjadi lurah baru."

Kembali terjadi kegaduhan ketika mereka mengajukan nama-nama calon, akan tetapi ternyata sebagian besar suara mereka memilih kakek Kwan Sun.

Melihat ini, Sie Liong juga menyatakan persetujuannya.

"Kalian telah memilih dengan tepat. Kwan Lopek memang tepat untuk menjadi lurah kalian yang baru. Kuharap Kwan Lopek dapat menerimanya dan suka memimpin saudara-saudara ini!"

Kwan Sun bangkit dan mukanya agak merah karena merasa malu bahwa dia, seorang petani biasa, diangkat menjadi lurah.

"Sie-taihiap, bukan saya menolak, akan tetapi bagaimana mungkin saya menjadi lurah tanpa pengangkatan para pembesar yang berwajib di kota besar Wen-su?"

Semua orang menjadi bengong dan bingung karena apa yang diucapkan oleh kakek itu memang benar.

Sie Liong mengangguk-angguk, karena diapun baru tahu akan hal itu sekarang.

"Harap lopek jangan khawatir. Aku sendiri yang akan pergi ke kota Wen-su dan akan kutemui pejabat yang berwenang untuk itu, akan kuceritakan tentang keadaan di Tiong-cin ini, tentang kejahatan lurah Bouw dan tentang keputusan para penduduk mengangkat lopek sebagai lurah!"

Semua orang bersorak gembira karena mereka semua yakin bahwa kalau Pendekar Bongkok yang muda itu turun tangan, pasti akan beres, seperti yang telah dibuktikan ketika dia menumpas lurah Bouw dan anak buahnya.

"Akan tetapi, taihiap. Bagaimana kalau orang she Bouw itu tidak mau menerima dan setelah taihiap pergi dari sini, dia akan datang bersama gerombolannya dan membalas dendam?"

Tanya seorang penduduk muda dan kembali semua orang bengong dan wajah mereka berubah ketakutan.

Membayangkan balas dendam dari lurah Bouw dan gerombolannya, selagi Pendekar Bongkok, demikian mereka menjuluki Sie Liong, tidak berada lagi di dusun itu, membuat mereka mengeluarkan keringat dingin.

"Jangan takut! Kalau kalian sudah bersatu padu seperti tadi, lurah Bouw dan gerombolannya tidak akan mampu berbuat sesuatu! Kulihat tadi di antara cu-wi banyak pula yang kuat dan memiliki gerakan silat. Bukankah mendiang ayahku dahulu adalah guru silat di si-ni dan disebut Sie Kauwsu? Siapakah di antara cu-wi yang pernah berguru kepada ayahku?"

Ternyata ada tujuh orang yang pernah menjadi murid Sie Kauwsu.

Mereka sudah lama tidak pernah berlatih, akan tetapi ketika Sie Liong menyuruh mereka memperlihatkan gerakan silat, ternyata mereka cukup mahir.

"Aku akan melatih tujuh orang saudara ini dengan beberapa jurus silat pilihan, kemudian mereka akan melatih para muda di sini. Jumlah kalian ada ratusan orang, kalau bersatu padu, tentu tidak ada gerombolan penjahat yang banani main-main."

Semua orang setuju dan kakek Kwan Sun dipilih menjadi lurah yang baru, menempati bekas rumah lurah Bouw yang besar!

Dan Sie Liong menjadi tamunya yang dihormati.

Akan tetapi sebelum dia pergi ke rumah baru dari lurah Kwan lebih dahulu dia minta penjelasan dari Kwan Sun tentang orang tuanya.

"Seperti lopek mengetahui, saya datang untuk berkunjung ke makam ayah ibu saya di sini. Sekarang saya ingin pergi dulu berkunjung ke makam itu. Di manakah makam mereka, lopek?"

"Ah, mari kuantar sendiri, taihiap. Makam itu berada di pinggir dusun sebelah timur, tempat pemakaman penduduk kita."

Lurah baru itu lalu mengantar Sie Liong menuju ke tanah kuburan yang sunyi itu.

Tak lama kemudian, Sie Liong sudah berlutut di depan tiga buah makam yang berdampingan.

Makam yang sederhana sekali, den tidak terawat.

Hal ini menunjukkan bahwa ayah ibunya tidak mempunyai sanak keluarga lagi di dusun itu.

Setelah memberi hormat, diapun membersihkan rumput-rumput liar di makam itu, dibantu oleh lurah Kwan.

"Ini makam Sie Kauwsu dan ini makam isterinya. Aku sendiri ikut mengubur jenazah mereka, dan yang ini makam Kim Cu An, muridnya yang menjadi calon mantunya."

Sie Liong terkejut dan heran.

"Apakah suheng Kim Cu An Inipun tewas karena penyakit menular yang ganas itu, lopek?"

Kini lurah Kwan itu yang memandangnya dengan mata terbelalak.

"Penyakit menular? Apa maksudmu, taihiap?"

"Bukankah.... bukankah ayah ibu tewas karena penyakit menular?"

"Ah, dari mana taihiap mendengar berita itu! Sama sekali tidak begitu! Di sini memang pernah berjangkit penyakit menular, akan tetapi tidak berapa hebat dan yang jelas, ayah ibumu tidak tewas oleh penyakit menular, juga Kim Cu An ini tidak pula!"

Sie Liong terkejut bukan main, akan tetapi dia mampu menekan perasaannya sehingga tidak nampak pada wajahnya.

Dia mempersilakan kakek itu duduk di atas rumput, di depan makam ayah ibunya dan suhengnya, lalu dengan lembut dia berkata.

"Kwan Lopek, sekarang aku minta tolong kepadamu. Ceritakanlah dengan jelas apa yang telah terjadi pada ayah ibuku, dan bagaimana mereka itu tewas."

Kwan Sun mengangguk-angguk.

"Mendiang ayahmu terkenal sebagai Sie Kauwsu, guru silat di dusun ini yang gagah perkasa dan kami semua menghormatinya. Dia mempunyai dua orang anak, yang pertama seorang gadis bernama Sie Lan Hong, ketika itu berusia lima belas tahun, dan anak ke dua adalah seorang anak laki-laki yang baru kurang lebih setahun usianya, bernama Sie Liong."

"Akulah anak itu, lopek."

Kakek itu mengangguk.

"Ya, kami sudah menduganya, taihiap, walaupun tadinya kami ragu-ragu...."

Dia memandang ke arah punggung Sie Liong.

"Mendiang ayahmu mempunyai beberapa orang murid, dan yang menjadi murid utamanya adalah mendiang Kim Cu An yang ketika itu berusia kurang lebih dua puluh tahun dan sudah ditunangkan dengan puterinya yaitu Sie Lan Hong. Pada suatu hari, pagi-pagi sekali, kami sedusun dikejutkan oleh keadaan di rumah orang tuamu. Sungguh mengerikan dan menyedihkan sekali...."

Kakek itu berhenti bercerita dan termenung.

"Lalu bagaimana, lopek? Apa yang telah terjadi di rumah orang tuaku?"

Sie Liong mendesak karena dia sudah tidak sabar lagi dan ingin mendengar apa yang sebenarnya terjadi kepada ayah ibunya.

Kwan Sun menghela napas panjang.

"Akulah seorang di antara para tetangga yang pertama kali menyaksikan keadaan itu. Kami mendapatkan ayahmu dan ibumu, juga Kim Cu An, dalam keadaan tewas terbunuh! Bukan hanya mereka bertiga, juga kami mendapatkan bahwa semua binatang peliharaan orang tuamu, anjing, kucing, ayam dan kuda, juga mati terbunuh."

"Ahhh! Apa yang telah terjadi dengan mereka, lopek? Siapa pembunuh mereka?"

Kakek itu manggeleng kepalanya.

"Kami tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka dan siapa pembunuh mereka. Tidak ada tanda-tanda sama sekali! Encimu, Sie Lan Hong dan engkau seudiri, tidak berada di sana, taihiap. Kami tidak tahu pula apa yang terjadi dengan taihiap dan enci taihiap itu. Barang-barang dalam rumah Sie Kauwsu tidak dicuri orang yang menjadi pembunuh itu. Dan barang-barang itu, rumah itu, sudah lama dirampas oleh lurah Bouw."

Sie Liong mengepal tinjunya.

"Jangan-jangan lurah Bouw yang melakukan itu!"

Kakek Kwan menggeleng kepala.

"Saya kira bukan, taihiap. Biarpun dia amat jahat, akan tetapi saya yakin dia tidak akan mampu mengalahkan ayahmu yang gagah. Saya kira, yang mengetahui siapa pembunuhnya hanyalah taihiap sendiri. Akan tetapi ketika itu taihiap baru berusia setahun, akan tetapi encimu, Sie Lan Hong...."

"Lopek,"

Sie Liong memotong.

"apakah di antara para penduduk dusun ini tidak ada yang kebetulan melihat orang asing malam itu di dusun ini, lopek?"

Kakek itu manggeleng kepala lagi.

"Tidak ada. Kalau ada, tentu dia sudah bercerita kepada kami. Kami semua mencinta Sie Kauwsu dan kami semua merasa bersedih dan kehilangan."

Sie Liong mengerutkan alisnya, termenung.

"Lopek, banyak Terimakasih atas keteranganmu, dan aku tidak ingin lagi bicara tentang hal itu."

Setelah berkata demikian, pemuda ini bersila di depan makam dan memejamkan kedua matanya, bersamadhi.

Kakek Kwan tidak lagi berani mengganggunya.

Terjadi perang di dalam pikiran Sie Liong.

Mengapa encinya bercerita lain?

Mengapa encinya seperti hendak menutupi kematian ayah ibunya, dan mengatakan bahwa ayah ibunya tewas karena penyakit menular?

Benarkah encinya tidak tahu akan peristiwa itu?

Ataukah encinya sengaja membohonginya?

Akan tetapi, bagaimana mungkin encinya berbohong kepadanya?

Dia yakin benar betapa besar kasih sayang encinya kepadanya.

Dia tidak mau membicarakan urusan itu lagi dengan Kwan Sun, karena khawatir kalau orang-orang mencurigai encinya.

Bagaimanapun juga, memang segalanya menunjukkan bahwa encinya tentu tahu akan peristiwa itu dan tahu pula siapa pembunuh ayah ibunya!

Hanya encinya yang tahu, dan dia pasti akan mendengarnya dari encinya.

Dia akan bertanya kepada Sie Lan Hong, encinya.

Setelah merasa cukup melakukan sembahyang di depan makam itu, Sie Liong lalu mengikuti Kwan Sun yang menjadi lurah baru untuk pulang ke rumah baru lurah itu.

Dia harus tinggal beberapa hari lamanya di dusun itu untuk melatih beberapa jurus kepada bekas murid-murid ayahnya agar para penduduk dapat menyusun kekuatan untuk menghadapi ancaman orang-orang jahat seperti lurah Bouw.

Dengan penuh semangat para penduduk dusun itu, terutama mereka yang pernah belajar silat kepada Sie Kauwsu berlatih silat di bawah bimbingan Sie Liong selama satu minggu.

Dan pada ma-lam terakhir, Sie Liong duduk bersila di dalam kamarnya di rumah lurah Kwan merenungkan nasibnya.

Nasib yang lebih banyak pahitnya dari pada manisnya.

Sejak kecil dia telah menderita banyak sekali kekecewaan.

Baru setelah dia menjadi murid orang-orang sakti dan berlatih ilmu di puncak bukit, hidupnya nampak indah dan berbahagia.

Sekarang, begitu turun, dia mendengar berita kematian orang tuanya yang amat mengejutkan, yaitu bahwa ayah ibunya tewas karena dibunuh orang, sama sekali bukan karena penyakit.

Ayah ibunya dan seisi rumah dibunuh, kecuali encinya dan dia!

Apa artinya ini semua den mengapakah encinya harus berbohong kepadanya?

Dia harus mendengar penjelasan dari encinya.

Pada keesokan harinya dia berpamit meninggalkan dusun Tiong-cin, tempat kelahirannya itu.

Lurah Kwan terkejut mendengar bahwa pendekar itu hendak pergi meninggalkan dusun mereka.

"Sie Taihiap, kenapa engkau tergesa-gesa hendak meninggalkan kami? Harap taihiap menanti selama beberapa hari karena kami semua bermaksud untuk menjamu taihiap yang telah menyelamatkan semua saudara di dusun ini dari penindasan orang jahat. Selain itu, juga saya sendiri mempunyai urusan yang amat penting untuk diselesaikan kepada taihiap."

Sie Liong tersenyum.

Dia memang memiliki rasa persaudaraan dekat sakali dengan para penghuni dusun Tiong-cin, tempat kelahirannya.

Kalau para penduduk hendak menjamunya, sebagai semacam pesta perpisahan, tidak mungkin dia menolak.

Dia tidak ingin mengecewakan hati mereka, dan pula, menunda beberapa (Lanjut ke

Jilid 09) Kisah Pendekar Bongkok (Serial 06 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 09 haripun apa salahnya? Biarpun hatinya ingin sekali mendengar dari encinya tentang kenatian orang tuanya, namun dia tidak tergesa-gesa.

"Baiklah, Kwan Lopek. Aku tidak berkeberatan untuk menunda dua hari lagi, akan tetapi jangan terlalu lama. Tentang urusanmu itu, apakah itu, lopek?"

"Sebelumnya maaf kalau pertanyaanku ini menyinggung karena terlalu pribadi. Akan tetapi bolehkah aku mengetahui apakah engkau sudah menikah atau bertunangan, Sie Taihiap?"

Sie Liong tersenyum dan menggeleng kepalanya.

Kalau saja dia tidak menerima penggemblengan ilmu-ilmu yang dalam, juga pengertian tentang kehidupan dari para gurunya, tentu pertanyaan itu akan menyinggung perasaannya.

Dia seorang yang cacat, bagaimana berani memikirkan tentang perjodohan?

Wanita mana yang mau didekati seorang laki-laki yang bongkok seperti dia?

Yatim pi-atu, miskin, dan bongkok pula!

"Tidak, lopek.

Aku masih hidup seorang diri."

Tiba-tiba wajah kakek itu berseri gembira sehingga Sie Liong menjadi heran. Bahkan kini kakek itu tertawa.

"Ha-ha-ha, sungguh kebetulan sekali, taihiap. Kalau Tuhan menghendaki, dan kalau taihiap tidak merasa rendah, kami sekeluarga, bahkan seluruh penduduk dusun ini akan merasa berbahagia sekali kalau taihiap sudi menjadi jodoh cucuku Kwan Siu Si. Ia juga sudah yatim piatu dan ia seorang anak yang amat baik, taihiap."

Wajah Sie Liong berubah merah.

Siu Si?

Hemm, gadis yang manis sekali itu!

Memang dia sama sekali belum pernah berpikir tentang jodoh.

Akan tetapi kalau benar gadis yang manis itu mau di-jodohkan dengan dia, sungguh hal itu merupakan suatu anugerah baginya.

Gadis itu berwajah manis, bertubuh padat dan sehat, juga seorang gadis dari dusun tempat kelahirannya sendiri.

"Bagaimana, Sie Taihiap? Maafkan kami kalau usulku tadi menyinggung perasaanmu. Memang kami akui bahwa Siu Si seorang gadis dusun bodoh dan terlalu rendah apabila dibandingkan dengan taihiap."

"Ah, jangan berkata demikian, lopek! Sama sekali aku tidak mempunyai pikiran seperti itu. Bahkan aku merasa berterimakasih sekali. Akan tetapi karena aku sudah tidak mempunyai ayah ibu, aku harus minta keputusan enci-ku dalam hal perjodohan. Maka, bersabarlah kalau aku belum dapat memberi jawaban dan keputusan sekarang. Aku akan menyampaikan kepada enci dan minta keputusan enci."

"Tapi.... tapi, engkau sendiri tidak berkeberatan, taihiap?"

Sie Liong menggelengkan kepala. Lurah Kwan menjadi girang bukan main.

"Terimakasih, taihiap! Aku akan memberitahu kepada kawan-kawan agar secepatnya mempersiapkan jamuan karena engkau akan pulang ke rumah encimu!"

Pada keesokan harinya, perjamuan makan untuk menghormati Sie Liong dan untuk menghaturkan selamat jalan diadakan di rumah Lurah Kwan.

Semua penghuni dusun itu hadir, dan Sie Liong duduk semeja dengan Lurah Kwan, dilayani oleh Siu Si sendiri.

Gadis ini nampak malu-malu, karena ia sudah diberitahu oleh kakeknya tentang usaha kakeknya menjodohkannya dengan pendekar itu.

Sie Liong melihat betapa gadis yang manis ini kelihatan canggung dan malu-malu, akan tetapi penglihatan Sie Liong yang tajam dapat menangkap bekas air mata dan mata yang agak kemerahan oleh tangis, dan bahwa sikap ramah dan senyum di bibir yang mungil itu tidak wajar, seperti dipaksakan.

Lurah Kwan bangkit berdiri dan minta perhatian kepada semua orang, lalu dia membuat pengumuman bahwa dia telah menjodohkan Kwan Siu Si kepada pendekar Sie Liong!

Tentu saja berita ini amat menggembirakan para penduduk dusun itu dan mereka menyambutnya dengan sorakan dan tepuk tangan.

Lurah Kwan mengangkat kedua lengan ke atas dan merekapun diam, wajah mereka berseri dan mereka mendengarkan penuh perhatian apa yang akan diucapkan oleh kepala dusun baru itu.

"Perjodohan ini telah kami bicarakan dengan Sie-taihiap, dan diapun tidak berkeberatan. Akan tetapi jawaban dan keputusannya akan diberikan setelah dia menyampaikan hal itu kepada encinya yang kini tinggal di kota Sung-jan. Karena itu, dalam waktu dekat ini Sie-taihiap akan meninggalkan dusun kita dan pulang ke Sung-jan untuk minta persetujuan encinya."

Kembali orang-orang bersorak dan bertepuk tangan.

Akan tetapi Sie Liong melihat betapa Siu Si, gadis yang tadi melayani mereka bahkan diajak makan bersama oleh kakeknya, diam-diam telah pergi meninggalkan meja dan keluar dari ruangan itu.

Kwan Sun yang melihat hal itu hanya tertawa.

"Maafkan cucuku. Maklum, ia malu-malu,"

Katanya dan Sie Liong juga tidak berkata sesuatu.

Malam itu, di dalam kamarnya, Sie Liong agak gelisah.

Malam terakhir dia di rumah keluarga Kwan yang menjadi lurah baru, karena besok pagi-pagi dia akan pergi meninggalkan dusun itu.

Akan tetapi bukan hal itu yang membuatnya tidak dapat tidur.

Dia membayangkan keadaan sendiri, tentang ikatan jodoh itu.

Bagaimana kalau encinya menyetujui ikatan jodoh itu?

Kalau encinya tidak setuju, hal itu bukan yang digelisahkan.

Kalau encinya tidak setuju, tinggal menyampaikan saja kepada Lurah Kwan dan ikatan itu tidak jadi.

Dia hanya suka saja kepada Siu Si yang manis, apalagi gadis sedusun dengannya.

Dia belum dapat merasakan, belum tahu dan belum mengerti apa itu yang dinamakan cinta antara pria dan wanita.

Akan tetapi, bagaimana kalau encinya setuju?

Apakah dia harus menikah dengan Siu Si?

Lalu apa jadinya dengan dia?

Dia tidak mempunyai rumah tinggal, tidak mempunyai pekerjaan yang menghasilkan sesuatu.

Tinggal di rumah Lurah Kwan?

Sebagai laki-laki, tentu hal ini merendahkan harga dirinya.

Ikut encinya?

Inipun tidak betul, mengingat akan sikap cihu-nya dan bahkan urusan kematian orang tuanya masih menjadi rahasia yang harus dia tanyakan kepada encinya.

Dan Bi Sian....

Tiba-tiba Sie Liong tertegun dan termeung.

Bi Sian!

Terbayanglah wajah anak perempuan yang manis, manja dan galak itu, dan jantungnya berdebar.

Mengapa timbul parasaan yang amat aneh ketika dia teringat kepada Bi Sian?

Uhh, anak itu tentu akan menggodanya setengah mati kalau mendengar bahwa dia hendak kawin!

Tiba-tiba saja timbul penyesalan di dalam hatinya.

Mengapa dia tergesa-gesa menerima usul lurah Kwan?

Kini dia telah melangkah maju, tidak mungkin mundur lagi tanpa menyakiti hati keluarga Kwan.

Tiba-tiba Sie Liong bangkit duduk, memejamkan mata dan mengerahkan pendengarannya yang terlatih.

Dia mendengar suara isak tangis tertahan!

Karena mengkhawatirkan terjadinya sesuatu yang tidak bares, apalagi dia menduga bahwa tangis itu agaknya suara tangis Siu Si di dalam kamarnya, dengan hati-hati Sie Liong membuka jendela kamarnya dan sekali berkelebat dia sudah berada di luar kamarnya, kemudian meloncat naik ke atas genteng dan mengintai ke dalam kamar gadis yang dicalonkan menjadi isterinya itu.

Benar saja.

Siu Si duduk di atas pembaringan sambil menangis lirih.

Agaknya gadis itu menahan suara tangisnya agar tidak kedengaran orang lain.

Seorang wanita setengah tua duduk di dekat gadis itu dan menghiburnya.

"Bibi Liu, kau tidak perlu membujuk dan menghiburku! Percuma kong-kong menyuruh engkau menemaniku dan membujukku. Kong-kong sudah tahu bahwa aku telah lama bersahabat akrab dengan Sui-koko, dan semua orang tahu, engkau juga tahu bahwa kami saling mencinta dan kami mengharapkan kelak menjadi suami isteri. Bahkan kong-kong, biarpun tidak secara resmi, menyetujui kalau Siu-koko kelak menjadi suamiku. Akan tetapi kenapa tiba-tiba saja kong-kong menjodohkan aku dengan.... Si Bongkok itu?"

"Hushh, jangan berkata demikian, Siu Si. Dia adalah seorang pendekar sakti yang budiman...."

"Aku tidak perduli! Biar dia sakti seperti dewa sekalipun, aku tidak sudi, aku tidak suka padanya. Siapa mau dikawinkan dengan seorang yang bongkok dan buruk?"

Siu Si menangis lagi.

"Hushh, kau tidak boleh berkata begitu, Siu Si. Sie-taihiap memang bongkok, akan tetapi dia tidaklah buruk. Pula, dia telah menyelamatkan kita semua, terutama engkau! Kalau tidak ada dia, bukankah engkau telah menjadi tawanan Lurah Bouw?"

"Tapi dia menolongku dengan pamrih! Buktinya, setelah menolongku, kenapa dia tidak pergi saja dan bahkan ingin menjadi suamiku? Aku tidak sudi.... tidak sudi menjadi isteri Si Bongkok! Aihh, aku mau minggat saja dengan Siu-koko...."

"Hushhh....!"

Wajah Sie Liong menjadi pucat, lalu merah kembali dan tanpa diketahui siapapun, dia sudah melayang turun kembali ke dalam kamarnya.

Hatinya seperti ditusuk rasanya.

Dia menyelamatkan dusun kelahirannya, menolong penduduk dengan hati yang jujur, menghindarkan Siu Si dari bahaya dengan sesungguhnya tanpa pamrih.

Akan tetapi kini dia dituduh yang bukan-bukan.

Dan gadis yang ditolongnya itu menyebutnya Si Bongkok dengan nada suara menghina dan penuh kebencian!

Dan gadis yang amat membencinya itu akan menjadi isterinya?

Tidak, tidak mungkin!

Dengan tubuh lemas dan jari tangan agak gemetar Sie Liong lalu menulis sepucuk surat, pendek saja isinya.

Kwan Lopek, Maafkan kepergianku tanpa pamit.

Tentang perjodohanku itu, sebaiknya kita batalkan saja.

Aku tidak mau terikat perjodohan dan aku bukan calon suami yang baik bagi cucumu.

Sie Liong.

Malam itu juga Sie Liong meninggalkan rumah Lurah Kwan, meninggalkan dusun Tiong-cin lalu keluar menuju ke barat.

Menjelang pagi, ketika matahari mulai nampak mengintai dari balik cakrawala di timur, dia sudah tiba di puncak sebuah bukit.

Dia duduk menghadap ke arah matahari yang baru tersembul, duduk memeluk kedua lututnya, tersenyum pahit dan kadang-kadang meraba punggungnya yang bongkok.

Terngiang suara Siu Si di antara isaknya.

"Siapa mau dikawinkan dengan seorang yang bongkok dan buruk? Aku tidak sudi menjadi isteri Si Bongkok...."

Senyum yang menghias wajah Sie Liong menjadi pahit sekali.

Ia mengepal tinjunya, wajahnya merah.

Akan tetapi kepalan tinjunya terbuka kembali dan kepahitan senyumnya menipis.

Kenapa dia harus marah?

Memang dia bongkok, memang dia buruk, habis mengapa?

Biarlah dia berbahagia dengan kebongkokannya, dengan keburukannya.

Bongkok dan buruk hanyalah tubuh.

Dia bahkan harus berterimakasih kepada Siu Si.

Seorang gadis yang hebat!

Tidak mau menyerah begitu saja, berjiwa pemberontak dan berani menentang kesewenang-wenangan.

Kakeknya memang sewenang-wenang!

Kalau kakek Kwan itu sudah tahu bahwa cucunya saling mencinta dengan seorang pemuda lain, kenapa mempunyai niat hendak menjodohkan cucunya itu dengan dia!

Untuk membalas budi?

Untuk mencari muka?

Atau untuk mengikat agar dia mau terus tinggal di dusun itu sehingga menjamin keamanan dan keselamatan penduduk?

Yang jelas, niat itu sudah pasti berpamrih.

Kalau tidak, tentu kakek Kwan tidak akan memutuskan ikatan kasih sayang antara cucunya dan pemuda lain.

Ya, dia harus berterimakasih kepada Siu Si.

Kalau gadis itu seperti para gadis lain yang lemah dan tidak berdaya, tidak menentang melainkan "terima nasib", bukankah dia akan memasuki sebuah perkawinan yang celaka?

Isterinya akan merupakan orang yang sama sekali tidak mencintanya, bahkan membencinya, dan hanya mau menjadi isterinya karena terpaksa!

"Terimakasih, Siu Si...."

Dia berbisik, lalu bangkit berdiri.

Pagi itu indah sekali.

Matahari muncul sebagai sebuah bola merah yang amat besar, dengan sinar redup cemerlang.

Dia tersenyum kepada matahari.

"Terimakasih, matahari, untuk pagi yang seindah ini...."

Dia kembali berbisik dan memandang matahari.

Tidak lama, karena segera sinar matahari mulai menyilaukan dan tidak baik untuk kesehatan mata.

Sie Liong membalikkan tubuh, lalu menuruni puncak bukit itu, senyumnya tidak lagi pahit, melainkan senyum cerah, menyongsong hari yang cerah.

"Terimakasih, Thian, untuk tubuh yang bongkok ini...."

Dia berbisik penuh rasa sukur.

Bukankah tubuhnya itu pemberian Tuhan?

Bongkok atau tidak, pemberian Tuhan adalah anugerah yang sempurna, dan patut disukuri.

Biarlah semua orang tidak menyukainya dan menghinanya karena tubuhnya yang bongkok, dia tidak akan berkecil hati.

Memang dia bongkok, tinggal orang lain mau menerimanya seperti apa adanya ataukah tidak.

Dia memang bongkok dan dia tidak ingin menjadi tidak bongkok, karena keinginan seperti itulah yang menyengsarakan kehidupan manusia.

Mengi-nginkan sesuatu yang tidak dimilikinya, menginginkan sesuatu yang lain dari yang pada yang ada.

Tidak, dia tidak menginginkan apa-apa.

Dia memang bongkok, seorang pemuda yang berbahagia.

"Liong-te....!"

Sie Lan Hong menjerit dan merangkul pemuda bongkok yang muncul di depannya itu. Wanita itu merangkul dan menangis di dada adiknya.

"Aih, Liong-te.... betapa girangnya hatiku melihatmu....!"

Sie Liong membiarkan encinya menangis dan menumpahkan semua peraaaan haru dan rindu, juga kebahagiaan hati melihat bahwa adik yang telah lama menghilang itu kini muncul dalam keadaan selamat dan telah menjadi seorang pemuda dewasa.

Setelah mereda guncangan hatinya, Sie Lan Hong melepaskan rangkulannya.

"Enci, marilah kita duduk dan bicara,"

Kata Sie Liong.

"dan mana ci-hu (kakak ipar)?"

"Cihu-mu.... dia pergi, sebentar tentu akan kembali. Marilah, Liong-te, mari kita duduk di dalam."

Sambil bergandeng tangan mereka masuk.

Diam-diam Sie Liong memperhatikan segala yang nampak di situ.

Encinya nampak kurus dan pucat, dan garis-garis duka membuat encinya nampak tua.

Padahal kini usianya mendiri dua puluh tahun, berarti encinya baru tiga puluh empat tahun.

Belum setua nampaknya!

Tentu encinya hidup dalam kedukaan, pikirnya.

Karena dia pergi?

Dan rumah ini berbeda jauh dengan tujuh delapan tahun yang lalu.

Cihu-nya yang berdagang rempa-rempa dapat dikatakan hidup makmur biarpun tidak terlalu kaya.

Dahulu, prabot rumahmya cukup mewah dan keluarga encinya hidup berkecukupan.

Akan tetapi sekarang sunguh berbeda sekali keadaannya.

Pakaian yang dikenakan encinya juga tidak seindah dulu.

Di tububuya tidak pula nampak perhiasan mahal.

Dan prabot rumah sudah berganti semua, terganti prabot yang murah dan buruk.

Tentu saja hati Sie Liong diliputi perasaan khawatir sekali walaupun wajahnya tidak membayangkan sesuatu ketika dia duduk berhadapan dengan encinya.

Keduanya saling pandang dan wajah wanita itu berseri melihat betapa adiknya, walaupun punggungnya masih bongkok, namun telah menjadi se-orang pemuda dewasa yang wajahnya gagah dan tubuhnya nampak sehat.

"Liong-te, selama ini engkau pergi ke mana saja?"

"Aku mempelajari ilmu silat, enci, berguru kepada orang-orang sakti dari Himalaya."

Sie Liong menceritakan secara singkat tentang riwayatnya ketika belajar ilmu silat. Mendengar ini, encinya girang sekali.

"Ah, sukurlah, adikku. Dengan demikian, maka engkau kini tentu menjadi seorang pendekar yang tidak akan mengecewakan hati ayah dan ibu di alam baka...."

Sie Liong merasa heran. Biasanya dahulu encinya paling tidak suka membicarakan ayah dan ibu mereka yang sudah tiada.

"Enci Hong, kedatanganku ini untuk bertanya sesuatu kepadamu dan harap sekali ini engkau tidak berbohong kepadaku."

Wanita itu terbelalak memandang kepadanya, mukanya segera berubah agak pucat dan sinar matanya membayangkan ketakutan.

"Apa.... apakah yang ingin kautanyakan, adikku?"

"Apa yang telah terjadi dengan ayah dan ibu kita, enci?"

Wanita itu nampak semakin kaget.

"Ayah dan ibu? Mereka.... mereka meninggal dunia...."

"Tak perlu membohong lagi, enci. Aku sudah pergi ke Tiong-cin dan di sana aku mendengar bahwa ayah dan ibu, dan juga suheng Kim Cu An, dua orang pelayan wanita, anjing, ayam dan kuda, semua dibunuh orang pada suatu malam. Nah, enci tidak perlu berbohong lagi!"

Sie Lan Hong menangis, lalu mengusap air matanya dan berkata.

"Engkau maafkan aku, Liong-te. Memang dulu aku berbohong kepadamu agar tidak membuat engkau penasaran dan diracuni dendam. Memang pada malam jahanam itu keluarga ayah diserbu musuh. Ayah telah mengetahuinya, maka dia memaksa aku pergi meninggalkan rumah dan membawa engkau yang baru berusia sepuluh bulan. Ayah memaksaku, dan andaikata aku tidak pergi membawamu mengungsi, tentu kita berdua sudah menjadi korban pembunuhan pula...."

Sie Liong memandang wajah encinya dengan tajam dan penuh selidik.

"Enci, di dusun kita itu tidak ada seorangpun mengetahui siapa pembasmi keluarga kita. Apakah engkau tahu, enci? Siapakah musuh besar yang demikian kejam itu?"

Sie Lan Hong menangis lagi dan menggeleng kepala keras-keras.

"Tidak.... ah, aku tidak tahu.... aku tidak tahu.... aku mengajakmu melarikan diri, adikku. Aku tidak tihu siapa pembunuh itu...."

Melihat encinya menangis lagi, agaknya berduka mengingat akan kematian ayah ibu mereka yang mengerikan, Sie Liong tidak bertanya lagi.

Jadi benar ayah ibunya, suhengnya, dua orang pelayan dan semua binatang peliharaan di rumah orang tuanya dibunuh orang.

Tentu orang itu menyimpan dendam yang amat hebat maka melakukan perbuatan sekejam itu.

Lalu dia teringat kepada Yauw Bi Sian.

"Enci, aku tidak melihat Bi Sian. Di manakah ia?"

Encinya kembali memperlihatkan wajah duka.

"Ia juga pergi mempelajari ilmu. Ia bertemu dengan seorang sakti dan menjadi muridnya, lalu diajak pergi oleh gurunya itu."

"Ahhh....!"

Sie Liong kagum sekali mendengar ini. Anak yang bengal itu akhirnya belajar silat pada seorang sakti! "Siapakah nama gurunya, enci?"

"Namanya Koay Tojin...."

Sie Liong menahan debaran jantungnya.

Koay Tojin?

Kakek yang seperti gila namun yang amat sakti itu?

Koay Tojin adalah sute dari Pek-sim Sian-su, gurunya sendiri!

"Kapan ia pulang, enci?"

Tanyanya, hatinya masih berdebar girang.

"Entah, menurut janjinya dahulu ketika pamit, agaknya sewaktu-waktu ia akan pulang."

"Enci yang baik, engkau kelihatan begini lesu, kurus dan sengsara. Juga aku melihat perubahan dalam rumah ini. Enci, apakah cihu gagal dalam usahanya dan menderita rugi? Apakah engkau sakit, enci?"

Ditanya demikian, Sie Lan Hong tiba-tiba menutupi muka dengan kedua tangannya dan menangis sesenggukan.

Sedih sekali.

Sie Liong terkejut.

Dia mendiamkan saja encinya menangis tersedu-sedu.

Setelah tangis itu mereda, Sie Liong memegang tangan encinya, digenggamnya tangan itu.

"Enci, engkau hanya mempunyai aku sebagai keluargamu. Percayalah kepadaku dan ceritakan semuanya. Siapa tahu aku akan dapat meringankan beban penderitaan batinmu, enci."

Wanita itu menggeleng kepalanya.

"Aih, memang nasibku buruk, adikku. Semenjak engkau pergi, lalu disusul Bi Sian juga pergi. Semenjak itu ah, cihu-mu berubah sama sekali. Dia dahulu begitu baik, begitu mencintaku, akan tetapi sudah beberapa tahun ini.... dia hampir setiap malam pergi. Dia berjudi sampai habis-habisan. Pekerjaannya tidak diurus sehingga bangkrut.... dan dia.... dia hanya berjudi dan pelesir saja...."

Sie Liong mengerutkan alianya.

Cihu-nya itu sungguh semakin tua tidak mencari jalan terang!

Akan tetapi, bagaimana dia dapat mencampuri urusan rumah tangga encinya?

Bagaimanapun juga, cihu-nya telah menyeleweng, dan hal itu perlu ditegur dan diingatkan.

Sie Liong teringat bahwa adiknya baru datang.

Diusapnya air mata dan ia pun memaksa diri tersenyum.

"Aih, engkau datang-datang kuajak bicara hal-hal yang tidak enak saja, Liong-te. Mari, engkau beristirahatlah. Akan kubersihkan kamarmu untukmu."

"Biar kubersihkan sendiri, enci. Akupun tidak akan lama sekali tinggal di sini."

"Liong-te, jangan begitu! Engkau baru pulang dan engkau mendatangkan kegembiraan di hatiku. Jangan tergesa-gesa pergi. Temanilah encimu yang kesepian ini, Liong-te. Ah, kita sudah tidak mempunyai pelayan, semua harus dikerjakan sendiri."

"Baiklah, enci. Aku akan tinggal selama beberapa hari sampai hilang rasa rindu kita."

Diam-diam dia bermakasud untuk membujuk agar cihu-nya kembali ke jalan benar.

Kalau perlu dia akan menggunakan teguran keras!

Setelah jauh malam, baru nampak Yauw Sun Kok pulang menggedor pintu dalam keadaan mabok!

Memang semenjak Bi Sian pergi, Yauw Sun Kok telah berubah sama sekali.

Agaknya karena anaknya tidak ada dan dia merasa kesepian, maka kambuh pula penyakit lamanya.

Dia merasa bosan dengan isterinya dan dia berpelesir di luaran, menjadi langganan rumah pelacuran dan rumah perjudian.

Perdagangannya bangkrut karena tidak diurusnya sehingga perabot rumahpun yang berharga telah dijualnya untuk modal berjudi!

Terhadap isterinya dia tidak perduli, bahkan pernah beberapa kali kalau isterinya mengomelinya, dia tidak segan turun tangan memukulinya.

Melihat encinya tergopoh-gopoh membuka pintu depan, Sie Liong juga ke luar dari dalam kamarnya.

"Brakkkkkk!"

Daun pintu didorong kuat-kuat dari luar ketika kuncinya dibuka oleh encinya dari dalam dan tubuh Sie Lan Hong terdorong oleh daun pintu sampai terhuyung dan hampir jatuh.

"Perempuan gila! Perempuan malas! Engkau sudah segan membuka pintu untuk suamimu, hah? Engkau sudah bosan melayani aku, atau engkau sudah mempunyai seorang pacar simpanan? Awas, kubunuh kau!"

Bentak Yauw Sun Kok sambil berjalan terhuyung menghampiri isterinya.

Jelas bahwa dia mabok.

Karena diperlakukan kasar dan dimaki-maki di depan adiknya, Sie Lan Hong yang biasanya hanya menghadapi suaminya dengan cucuran air mata, kini tak dapat menahan kemarahannya.

"Sungguh bagus sekali sikapmu ini ya? Sejak pagi engkau pergi meninggalkan rumah, pulang sudah malam dalam keadaan mabok, begitu mengetuk pintu segera kubuka, engkau malah memaki-maki aku!"

Sie Liong hampir tidak mengenal cihu-nya.

Bukan hanya wataknya yang berubah, akan tetapi juga keadaan badan orang itu berubah!

Dulu cihu-nya tampan pesolek dan pakaiannya selalu rapi.

Akan tetapi sekarang, rambutnya awut-awutan, pakaiannya kusut, matanya seperti orang mengantuk dan mulutnya cemberut.

Cihu-nya itu seperti orang yang tidak percaya mendengar ucapan isterinya.

"Apa? Engkau hendak melawan, ya? Siapa yang mengajarmu melawan suami? Perempuan sial! Perempuan terkutuk! Engkau minta dihajar, ya?"

Yauw Sun Kok mengangkat tangan ke atas, siap memukul isterinya.

Melihat betapa lengan itu terayun kuat, Sie Liong maklum bahwa kalau encinya terkena pukulan itu, bisa celaka.

Sekali berkelebat tubuhnya sudah melompat dekat dan dia menangkap pergelanggn tangan cihu-nya sambil berkata.

"Harap jangan memukul!"

Yauw Sun Kok menoleh ke kanan.

Ketika melihat bahwa ada seorang pemuda menangkap lengannya, kemarahannya memuncak.

Dia menarik tangannya dan memaki isterinya.

"Bagus! Sungguh perempuan tak bermalu, perempuan lacur! Jadi engkau benar-benar menyimpan seorang laki-laki di rumah, ya? Pantas, engkau berani melawan aku, suamimu!"

Dia maju dan hendak menyerang isterinya. Akan tetapi Sie Liong sudah berdiri menghalang di depannya.

"Cihu, lihatlah baik-baik siapa aku! Harap cihu jangan memukul enci dan mendakwa yang bukan-bukan!"

"Engkau pemuda kurang ajar berani main-main dengan isteriku? Ahh, engkau bongkok! Bongkok....?"

Yauw Sun Kok membelalakkan kedua matanya seolah-olah tidak dapat melihat dengan jelas, lalu mendekatkan mukanya.

"Engkau bongkok....? Benarkah engkau Sie Liong?"

"Benar, cihu. Aku Sie Liong."

"Sie Liong....? Ha-ha-ha....!"

Yauw Sun Kok tertawa bergelak sambil mengamati pemuda bongkok itu.

"Engkau sudah dewasa, akan tetapi masih cacat. Ha-ha-ha!"

Dia tertawa-tawa seperti orang gila.

"Jangan bicara sembarangan. Dia bukan Sie Liong yang dulu lagi. Dia telah menjadi murid orang-orang sakti dan dia datang untuk mencari pembunuh ayah dan ibu kami,"

Kata Sie Lan Hong. Seketika Yauw Sun Kok berhenti tertawa dan dia memandang kepada Sie Liong dengan mata terbelalak.

"Apa? Engkau....? Engkau handak mencari pembunuh ayah ibumu? Hemm, mau apa engkau mencarinya, Sie Liong? Apa kau kira setelah beberapa tahun ini engkau belajar sedikit ilmu silat lalu kaukira akan mampu melawan pembunuh itu? Huh, jangan sombong engkau! Aku sendiri yang memiliki kepandaian tinggi dan banyak pengalaman, masih tidak mampu menandingi pembunuh itu. Apalagi engkau?"

"Hemm, jadi cihu tahu siapa pembunuh ayah dan ibuku? Siapa dia itu, cihu?"

"Dia adalah Tibet Sin-mo (Iblis Sakti Tibet), tokoh Tibet yang amat sakti. Aku sendiri tidak mampu mencarinya. Apa lagi bocah cacat seperti engkau!"

Sie Liong mengerutkan alisnya.

Cihu-nya ini memang telah berubah.

Walaupun dahulu juga cihu-nya tidak suka kepadanyaa, akan tetapi sikapnya baik dan ramah.

Sekarang sikapnya demikian kasar dan menghina.

Teringat dia akan cerita encinya dan tadipun dia melihat betapa encinya akan dipukuli.

"Cihu! Tidak sepatutnya cihu berkata demikian. Cihu memuji-muji musuh, dan cihu tentu tidak bersungguh hati mencari pembunuh ayah ibu kami karena cihu tidak perduli! Dan sekarangpun cihu memperlihatkan sikap yang amat buruk terhadap enci!"

"Apa? Kau anak kurang ajar.... Hemm, encimu sudah mengadu, ya....?"

"Cihu, tanpa pengaduan dari siapa pun juga, aku sudah melihat sikapmu tadi. Engkau mabok-mabokan, pulang malam marah-marah, bahkan mau memukul enci! Keadaan rumah tanggamu menjadi rusak, habis-habisan, karena kauhabiskan untuk berjudi! Cihu, engkau harus sadar bahwa engkau telah terseret ke dalam lumpur...."

"Tutup mulutmu, keparat!"

Tiba-tiba Yauw Sun Kok menerjang dengan marah sekali, mengirim serangan kilat ke arah dada dan leher adik isterinya.

Bi-arpun dia sedang mabok, akan tetapi karena memang dia seorang ahli silat yang pandai, serangannya ini masih amat berbahaya dan kalau hanya ahli silat biasa saja, masih akan sukar untuk dapat menghindarkan diri dari serangan Yauw Sun Kok itu.

Akan tetapi, yang diserangnya adalah Sie Liong, biarpun seorang pemuda cacat, punggungnya bongkok namun dia murid tersayang dari Himalaya Sam Lojin dan Pek-sim Sian-su manusia sakti dari He-lan-san itu.

Dengan mudah saja Sie Liong memiringkan tubuhnya dan menggunakan lengan kirinya untuk mendorong dari samping dan tubuh Yauw Sun Kok terpelanting!

"Cihu, aku tidak mau dihina dan dipukul lagi!"

Melihat betapa akibat serangannya membuat dirinya terpelanting, Sun Kok marah sekali.

Dia menyambar ke arah dinding di mana tergantung sebatang pedang hiasan.

Biar dia mabok, gerakannya masih cepat sekali dan tahu-tahu pedang itu telah berada di tangan kanannya, terlolos dari sarungnya.

"Jangan....! Jangan berkelahi! Jangan pergunakan pedang....!"

Sie Lan Hong berteriak ketakutan.

Akan tetapi suaminya tidak memperdulikan jeritannya dan sudah menyerang Sie Liong dengan pedangnya.

Pedang menyambar ganas ke arah leher pemuda itu.

Sie Liong menekuk lutut sehingga pedang itu menyambar lewat berdesing di atas kepalanya.

Akan tetapi dengan cepat, pedang yang menyambar itu telah membalik dan kini menusuk ke arah dadanya.

"Cihu, engkau sedang mabok!"

Bentak Sie Liong dan dia menggunakan tangannya dari samping memukul pedang sambil mengerahkan tenaganya.

"Plakkk!"

Pedang itu terpukul lepas dari tangan Yauw Sun Kok yang menjadi terkejut bukan main.

Namun dia masih sempat menendang dengan kakinya ke arah perut Sie Liong.

Pemuda ini maklum betapa cihunya yang mabok itu harus diberi hajaran agar sadar bahwa yang dihadapinya bukanlah anak bongkok dan lemah yang dahulu.

Maka, dia sengaja menyambut tendangan kaki itu dengan pengerahan tenaga di perutnya.

"Dukkk!"

Keras sekali tendangan itu, namun akibatnya, bukan tubuh Sie Liong yang terjengkang.

Pemuda itu masih berdiri tegak, akan tetapi tubuh Yauw Sun Kok yang terjengkang dan terbanting cukup keras.

Dia bangkit duduk dengan mata terbelalak, dan pada saat itu, isterinya yang mengkhawatirkan kejadian atau perkelahlan yang lebih hebat, sudah berlutut di dekatnya.

"Hemm, sudahlah. Engkau sedang mabok maka engkau menyerang adik kita sendiri. Hayo, mengasolah.... tidurlah...."

Ia membantu suaminya bangkit berdiri dan memapahnya menuju ke kamar mereka.

Sekali ini Yauw Sun Kok tidak membantah.

Biarpun mabok, sebenarnya orang ini masih cukup sadar untuk melihat kenyataan yang membuatnya terkejut bukan main.

Si Bongkok itu kini telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi!

Sungguh berbahaya sekali.

Dia merasa penasaran dan juga malu, maka dia meraza lebih aman menyembunyikan diri dan berlindung di balik kemabokannya, maka diapun pura-pura tidak ingat apa-apa lagi dan menurut saja ketika dipapah isterinya ke kamar.

Setibanya di dalam kamarnya, langsung dia melempar tubuh ke atas pembaringan dan tak lama kemudian dia sudah tidur mendengkur.

Kakek jembel itu duduk di bawah pohon besar, nampak melenggut.

Memang nyaman sekali pada siang hari yang amat panas itu duduk berteduh di bawah pohon yang rindang dan teduh.

Angin semilir sejuk dan kakek itu mengantuk.

Dia duduk bersandar batang pohon, tongkat bututnya menggeletak di dekat kakinya yang dijulurkan.

Kakek jembel ini sudah tua sekali, hampir delapan puluh tahun usianya.

Pakaiannya butut penuh tambalan.

Tiba-tiba kedua matanya yang tadi tertutup seperti orang tidur, kini terbuka dan dia tertawa-tawa seorang diri, lalu memejamkan kembali matanya.

Orang-orang yang melihat keadaannya ini tentu akan menduga bahwa dia seorang jembel tua yang hidup sengsara dan berotak miring.

Akan tetapi kalau ada tokoh kang-ouw lewat di situ dan melihat jembel tua ini, dia tentu akan terkejut setengah mati.

Kakek tua ren-ta ini sesungguhnya bukanlah orang sembarangan.

Dia adalah Koay Tojin, seorang yang terkenal memiliki kesaktian yang menggiriskan.

Sepak terjangnya aneh dan biarpun dia jarang bahkan hampir tidak pernah mencampuri urusan dunia ramai, akan tetapi orang-orang kang-ouw ketakutan kalau bertemu dengannya.

Hal ini adalah karena wataknya yang aneh dan kadang-kadang ugal-ugalan dan celakalah orang yang sampai berhadapan dengan dia sebagai lawan!

Selagi kakek itu duduk melenggut, tiba-tiba nampak bayangan dua orang berkelebat dan di depan kakek itu kini nampak dua orang muda.

Seorang gadis berusia delapan belas tahun dan seorang pemuda berusia hampir dua puluh tahun.

Gadis itu cantik dan manis sekali, dengan sepasang mata yang jeli dan tajam mencorong, sikap yang jenaka dengan wajah selalu cerah ceria.

Gadis manis inipun mengenakan pakaian tambal-tambalan, akan tetapi bukan sembarang tambalan!

Biarpun pakaiannya tambal-tambalan, namun bersih dan semua tambalan itu terbuat dari kain yang baru!

Sepatu kulitnya juga mengkilat baru, rambutnya bersih licin, sama sekali tidak nampak kesan seorang pengemis!

Pemuda itupun berwajah tampan, matanya mengandung kecerdikan dan mulutnya selalu terhias senyum yang manis sehingga mendatangkan kesan bahwa dia adalah seorang pemuda yang merendahkan orang lain dan memandang diri sendiri terlampau tinggi.

Seperti telah kita ketahui, Koay Tojin mempunyai dua orang murid dan dua orang muda itulah muridnya.

Gadis itu bukan lain adalah Yauw Bi Sian dan pemuda itu adalah Coa Bong Gan.

Biarpun Bi Sian lebih dahulu menjadi murid Koay Tojin, akan tetapi karena ia lebih muda, ia memaksa Bong Gan untuk menyebut sumoi (adik seperguruan wanita) kepadanya, dan ia sendiri menyebut Bong Gan suheng (kakak seperguruan pria).

"Suhu, nih teecu (murid) bawakan oleh-oleh untuk suhu! Bebek tim yang lunak dan bubur!"

Kata gadis itu sambil duduk di atas batu dekat suhunya sambil menyerahkan bungkunan makanan.

"Dan teecu bawakan arak Hang-ciu kesukaan suhu!"

Kata pula Bong Gan gembira menyerahkan seguci arak. Kakek itu membuka matanya dan terkekeh, lalu menyeringai memandang kepada dua orang muridnya.

"Heh-heh, kalian adalah murid-murid yang baik. Kalian tahu saja kesukaan orang tua. Heh-heh, tidak ada yang lebih enak untuk dimakan kecuali bubur dan bebek tim. Lunak dan gurih, tidak perlu menggunakan gigi untuk mengunyah, memudahkan mulutku yang sudah tak bergigi lagi, heh-heh. Dan arak Hang-ciu memang harum dan keras! Ha-ha-ha!"

Dua orang murid itu tersenyum.

Mereka tahu bahwa guru mereka berkelakar karena mereka baru kemarin dulu menyaksikan betapa guru mereka itu, dengan mulutnya tanpa gigi sebuahpun, masih kuat untuk menggigit daging kering yang amat keras dan mengunyahnya dengan mata meram-melek!

Dengan kekuatan sin-kang yang amat hebat, gusi dari guru mereka yang sudah tidak bergigi lagi itu dapat menjadi lebih kuat daripada gigi orang-orang muda!

Kakek itu makan minum tanpa memperdulikan dua orang muridnya yang duduk tak jauh di depannya.

Akan tetapi, diam-diam Koay Tojin kadang-kadang melirik.

Dia merasa senang sekali melihat Bi Sian.

Dia amat sayang kepada muridnya ini yang ternyata selain memiliki bakat baik, juga gadis ini memiliki watak yang gagah perkasa dan baik.

Sebaliknya, kakek ini merasa khawatir dan sangsi kepada muridnya yang pria.

Watak Bong Gan sukar diselami walaupun pada lahirnya, dia juga seorang murid yang berbakat dan amat rajin, pandai mengambil hati.

Akan tetapi ada sesuatu dalam pandang mata pemuda itu yang membuat kakek itu kadang-kadang curiga dan ragu-ragu.

Pernah dia melihat betapa pandang mata pemuda itu ditujukan kepada sumoinya secara tidak wajar.

Bukan memandang biasa, akan tetapi sinar mata pemuda itu penuh nafsu berahi, memandangi ke seluruh bagian tubuh Bi Sian seperti hendak melahapnya!

Sungguh seorang murid yang kadang-kadang menimbulkan rasa khawatir di hatinya.

Jangan-jangan dia telah keliru memilih murid, pikirnya.

Akan tetapi, dia sengaja sudah memberi pelajaran lebih pada Bi Sian sehingga kalau sampai terjadi apa-apa, gadis itu tidak akan kalah menghadapi dan melawan Bong Gan.

Pernah dia ketika berdua saja dengan Bi Sian mengatakan bahwa ia harus berhati-hati terhadap suhengnya.

"Wataknya sukar diselami,"

Demikian dia berkata, akan tetapi gadis itu hanya tersenyum saja.

"Aih, suhu ini ada-ada saja. Bukankah suheng seorang pemuda dan murid yang amat baik?"

Setelah makan, Koay Tojin mengusap mulutnya dengan ujung lengan baju yang sudah butut.

"Kebetulan kalian datang, memang aku bermaksud untuk memanggil kalian."

"Suhu, ada keperluan apakah?"

Bi Sian bertanya sambil mendekati gurunya, sikapnya manja.

Kakek itu tersenyum untuk menutupi rasa nyeri di dalam hatinya.

Dia merasa heran.

Mengapa mendadak saja hatinya begini aneh?

Mengapa bayangan perpisahan dengan muridnya ini mendatangkan rasa sakit?

Padahal selamanya belum pernah dia merasakan hal seperti ini!

Akan tetapi kakek yang lihai ini segera dapat menemukan jawabannya.

Sikap Bi Sian terlalu baik, terlalu menyenangkan hatinya, sehingga gadis itu selama tujuh tahun menjadi muridnya, hidup di sampingnya, seolah-olah menjadi matahari yang menyinari hidupnya!

Kesenangan dan keenakan memang selalu menimbulkan ikatan!

Kalau sudah terikat, maka akan datanglah duka karena kehilangan!

Kalau gadis itu pergi, dibiarkan terpisah darinya, dia seolah-olah kehilangan matahari yang menerangi hidupnya yang sudah tua, membuat dia seperti dalam kegelapan!

Kesenangan mendatangkan ikatan, dan ikatan menciptakan duka!

Itulah hidup.

Ada suka pasti ada duka!

Sudah menjadi imbangannya.

Ada nikmat tentu ada derita.

Dan melihat kenyataan ini, menghadapi kenyataan ini, menerima kenyataan ini secara wajar merupakan seni hidup itu sendiri.

"Bi Sian, dan kau juga Bong Gan, sekarang sudah tiba saatnya bagi kita untuk memenuhi janji. Janji antara aku dan kau, Bi Sian. Janji bahwa kita akan berkumpul sebagai guru dan murid selama tujuh tahun saja."

Gadis itu nampak terkejut!

Selama ikut dengan gurunya, iapun merasakan lebih banyak senangnya dari pada susahnya.

Hidup bebas seperti burung di udara.

Tanpa dirasakannya, tahu-tahu kini sudah tujuh tahun ia mengikuti gurunya.

"Tapi, suhu....! Rasanya belum lama aku ikut suhu, dan aku masih ingin mempelajari ilmu silat yang lebih tinggi!"

Bantahnya, terkejut karena tiba-tiba saja ia mendapat kenyataan bahwa ia harus berpisah dengan suhunya dan melihat pula kenyataan betapa beratnya hal itu kalau terjadi karena ia merasa sayang kepada suhunya yang sudah tua itu!

Koay Tojin tertawa dan nampak mulutnya yang tanpa gigi itu.

"Ha-ha-ha, Bi Sian, janji tetap janji yang harus dipegang teguh. Engkau bukan hanya berjanji kepadaku, akan tetapi juga kepada ayah ibumu yang tentu telah menanti-nanti penuh kerinduan. Tentang kepandaian, sampai berapa tiagginya? Berapa ukurannya? Apa yang kaupelajari selama ini sudah lebih dari pada cukup, Bi Sian. Tinggal terserah kepadamu untuk melatih diri. Dan engkau, Bong Gan, engkaupun sudah dewasa dan kepandaianmu sudah cukup. Hanya berhati-hatilah, karena kepandaian silat seperti juga pedang, dapat dipergunakan untuk berbuat kebaikan akan tetapi juga dapat dipergunakan untuk melaktikan kejahatan. Semua tergantung kepadamu."

Diingatkan kepada ayah ibunya, kedukaan bayangan berpisah dari gurunya agak menipis dari hati Bi Sian, tertutup oleh kegembiraan bayangan akan bertemu dengan ayah dan ibunya.

Ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.

Bong Gang juga berlutut di dekat sumoinya.

"Suhu, selama tujuh tahun ini, suhu telah melimpahkan banyak kebaikan dan kasih sayang kepada teecu. Teecu menghaturkan Terimakasih, suhu dan entah bagaimana teecu akan dapat membalas budi kebaikan suhu. Sebaliknya, teecu sudah banyak menjengkelkan hati suhu, maka mohon suhu memaafkan teecu,"

Kata Bi Sian dengan hati terharu, akan tetapi tidak setetespun air matanya tumpah.

Ia memang pantang menangis, apalagi setelah menjadi murid Koay Tojin.

Koay Tojin tersenyum.

"Engkau anak baik. Kalau hendak membalas budi kepadaku, pergunakanlah semua kepandaian yang kau peroleh dariku itu dengan baik, tidak melakukan penyelewengan. Dengan demikian berarti engkau menjunjung tinggi nama gurumu, sedangkan kalau engkau melakukan kejahatan dan me-nyeleweng, engkau akan menyeret nama gurumu ke dalam lumpur."

"Teecu juga menghaturkan banyak Terimakasih, suhu. Teecu berjanji akan menjunjung tinggi nama suhu,"

Kata Bong Gan.

Koay Tojin tersenyum saja dan memandang wajah murid pria ini dengan penuh keraguan.

Dia tahu bahwa muridnya ini cerdik sekali, demikian cerdiknya sehingga dia tidak dapat menduga apa isi hatinya.

"Engkau berhati-hatilah, Bong Gan. Ingat bahwa musuh yang paling berbahaya, paling lihai dan paling sukar ditundukkan adalah dirimu sendiri. Karena itu, sebelum menundukkan musuh, sebaiknya kalau menundukkan dulu diri sendiri."

Bong Gan tidak menjawab, hanya mengangguk-angguk.

"Sekarang, pergilah kalian sebelum timbul kedukaan dalam hatiku!"

Kata Koay Tojin, lalu tangan kanannya menyambar tongkat di depannya dan dengan gerakan secepat kilat, tongkatnya itu sudah melakukan serangan totokan bertubi-tubi kepada dua orang muridnya yang berlutut di depannya.

Dua orang muda itu terkejut sekali.

Sambaran tongkat di tangan suhu mereka itu bukan main cepat dan dahsyatnya, maka keduanya segera melempar tubuh ke belakang sambil berjungkir balik beberapa kali.

Mereka terhindar dari serangan kilat itu, dan melihat betapa kakek itu masih duduk bersandar batang pohon, memegangi tongkat sambil tertawa.

Tahulah Bi Sian bahwa suhunya memang ingin segera melihat mereka pergi tanpa membiarkan kedukaan karena perpisahan itu memasuki hati.

Maka iapun menjura dan berkata dengan suara dibuat nyaring gembira.

"Suhu, selamat tinggal! Mudah-mudahan suatu waktu kita akan dapat berjumpa kembali!"

"Ha-ha-ha, selamat jalan. Kita pasti akan bertemu kembali, kalau tidak di alam sini tentu di alam sana, heh-heh-heh!"

Bong Gan juga menjura dan kedua orang itu lalu melompat pergi dan dalam waktu singkat mereka sudah lenyap dari pandang mata.

Kakek yang ditinggal seorang diri itu nampak tertegun, matanya yang tua memandang ke arah lenyapnya dua bayangan itu, lalu dia menghela napas panjang berulang kali, lalu bangkit berdiri, dan melangkah perlahan pergi meninggalkan tempat itu, mengambil jurusan yang berlawanan dengan dua orang muridnya.

Dua orang itu berlari cepat, keluar dari dalam hutan itu dan ketika mereka sudah berlari kurang lebih satu jam dan tiba di kaki bukit, Bi Sian menghentikan larinya.

Biarpun tubuhnya terlatih baik, namun karena selama satu jam itu ia berlari cepat sambil menahan getaran hatinya yang penuh haru, kini wajah dan lehernya basah oleh keringat.

Diambilnya saputangannya dan diusapnya keringat dari leher dan wajahnya.

Bong Gan juga mongusap keringatnya.

Tidak seperti Bi Sian, pemuda ini mengenakan pakaian yang tidak ada tambalannya, walaupun dari kain murah dan bentuknya sederhana saja, tidak seperti pakaian Bi Sian yang penuh tambalan namun semua tambalannya kain yang baru.

"Suheng, sekarang engkau hendak pergi ke manakah?"

Tanya Bi Sian.

Bong Gan menghela napas panjang, lalu duduk di atas sebuah batu besar di tepi jalan.

Sebelum menjawab, dia menatap wajah sumoinya dengan tajam, juga dengan wajah yang membayangkan kedukaan.

Betapa cantik manisnya sumoinya ini, pikirnya penuh kagum.

Apakah dia harus berpisah dari gadis manis ini?

Membayangkan perpisahannya dengan gadis yang telah menjadi sahabatnya dan saudara seperguruannya selama tujuh tahun, hampir tak pernah mereka saling berpisah dan mengalami suka-duka bersama-sama, wajah yang tampan itu nampak diliputi kesedihan.

Demikian jelas kedukaan itu sehingga nampak jelas oleh Bi Sian.

"Suheng, engkau pernah menceritakan riwayatmu kepadaku. Engkau sudah yatim piatu, tidak mempunyai keluarga sama sekali, tidak mempunyai handai taulan dan tidak mempunyai tempat tinggal. Oleh karena itulah maka aku sengaja bertanya kepadamu karena aku ingin tahu, ke mana engkau hendak pergi?"

"Justeru pertanyaanmu itulah yang membuat aku membungkam karena sukar bagiku untuk menjawabnya. Aku sendiri sejak tadi bertanya-tanya di dalam hatiku kepada diriku sendiri, sumoi. Ke mana aku harus pergi? Aku tidak mempunyai tujuan sama sekali! Aku menjadi bingung setelah mendengar pertanyaanmu, sumoi."

Bi Sian memandang wajah suhengnya itu dengan hati kasihan.

Selama ini, suhengnya telah membuktikan bahwa dia seorang pemuda yang amat baik, amat rajin dan juga bersikap sopan kepada gurunya dan juga kepada dirinya.

Tidak pernah memperlihatkan kekurang-ajaran sama sekali.

Memang kadang-kadang suhengnya suka pergi meninggalkan ia dan suhunya, akan tetapi kepergiannya itu tentu hanya untuk mencari bahan makanan untuk mereka.

Kalau pulang, suhengnya tentu membawa seekor rusa, atau beberapa ekor kelinci, ayam hutan, atau juga buah-buahan segar.

Beberapa kali suhengnya pernah berpamit kepada suhu mereka untuk berjalan-jalan ke dusun atau kota, dan tidak pernah lancang mengajaknya.

Diam-diam Bi Sian merasa suka sekali kepada pemuda ini, rasa suka yang bercampur rasa iba.

Inikah cinta, beberapa kali ia suka bertanya kepada diri sendiri tanpa mendapat jawaban!

"Suheng, engkau ini bagaimanakah?

Andaikata aku tidak mengajak engkau berhenti dan bertanya, lalu ongkau hendak ke mana?"

"Aku.... aku hanya akan mengikutimu, sumoi. Ke manapun engkau pergi.... tentu saja kalau.... kalau aku tidak terlalu mengganggumu."

Bi Sian tersenyum dan menggeleng kepalanya, mendadak mendapat sebuah pikiran yang dianggap amat bagus.

"Tentu saja engkau tidak mengganggu, suheng. Bahkan kalau engkau suka, marilah engkau ikut bersamaku ke Sung-jan. Tempat tinggal orang tuaku itu merupakan kota yang cukup ramai, dan siapa tahu eng-kau dapat tinggal dan bekerja di sana. Ayahku seorang pedagang, mungkin dapat membantumu mencari pekerjaan."

Wajah yang diliputi kedukaan itu kini menjadi cerah dan berseri. Sepasang mata itu bersinar-sinar dan Bong Gan segera menjura ke arah sumoinya.

"Ah, sumoi, sungguh engkau berbudi mulia sekali! Terimakasih atas kebaikanmu, sumoi. Tentu saja aku suka sekali pergi bersamamu!"

Bi Sian membalas penghormatan suhengnya dan tertawa.

"Ihh, suheng ini! Engkau adalah suhengku dan lebih tua, mengapa memberi hormat kepadaku? Dan di antara kita saudara seperguruan, perlukah bersungkan-sungkan? Sudah sepantasnya kalau kita saling bantu, bukan?"

Demikianlah, suheng dan sumoi ini melakukan perjalanan cepat menuju ke barat.

Berkat adanya Bong Gan di sampingnya, di sepanjang perjalanan Bi Sian tidak menemui banyak gangguan.

Andaikata ia melakukan perjalanan seorang diri, tentu akan banyak timbul gangguan, mengingat bahwa ia seorang gadis yang cantik manis dan melakukan perjalanan jauh seorang diri.

Akan tetapi sikap Bong Gan yang gagah membuat banyak orang menjadi jerih untuk mengganggu mereka.

Padahal, tentu saja andaikata ada gangguan, Bi Sian sama sekali tidak akan merasa gentar bahkan hal itu merupakan kesialan bagi si pengganggu yang tentu akan dihajar habis-habisan!

Ketika mereka pada suatu siang memasuki kota Sung-jan, keduanya langsung saja menuju ke rumah Bi Sian.

Gadis ini nampak gembira sekali, wajahnya cerah berseri dan matanya berkilat-kilat ketika mereka tiba di depan rumah dan toko milik ayahnya.

Akan tetapi ia merasa heran melihat betapa toko itu tertutup dan segera ia mengajak suhengnya memasuki pekarangan dan langsung menuju ke pintu depan.

Dua orang yang tadinya duduk di ruangan depan, bangkit berdiri den melihat Bi Sian, wanita itu menjerit.

"Bi Sian....!"

"Ibuuu....!"

Dua orang wanita itu berlari saling tubruk dan di lain saat mereka telah berangkulan sambil memanggil berulang kali.

Sie Lan Hong menangis dalam rangkulan puterinya, akan tetapi Bi Sian yang juga merasa terharu dan gembira, tidak menangis, akan tetapi menciumi kedua pipi ibunya dengan penuh kerinduan dan kasih sayang.

Ia diam-diam merasa kasihan melihat wajah ibunya yang kurus dan agak pucat.

Tak disangkanya bahwa dalam waktu tujuh tahun ibunya kini nampak tua sekali!

Sementara itu, ketika dua orang wanita itu berangkulan, Bong Gan hanya berdiri menonton dengan canggung.

Juga Sie Liong, pemuda yang tadi sedang duduk bersama encinya, berdiri dan memandang dengan wajah berseri, akan tetapi juga berdiri canggung.

Tentu saja hatinya girang bukan main melihat keponakannya yang dulu menjadi teman bermain yang akrab itu pulang dan kini telah menjadi seorang gadis yang cantik jelita dan manis sekali.

Diapun heran melihat keponakannya itu pulang bersama seorang pemuda yang tampan, yang kini juga berdiri dengan canggung.

Mereka saling pandang sebentar saja, tidak tahu harus berbuat apa karena mereka belum diperkenalkan.

"Ibu.... ah, ibu.... kenapa ibu begini kurus? Mana ayah?"

Sie Lan Hong dapat menguasai keharuan hatinya dan teringat akan dua orang pemuda itu.

"Ayahmu tidak berada di rumah, sedang keluar. Akan tetapi, mari kautemui dulu pamanmu...."

Bi Sian yang melepaskan pelukan ibunya, tiba-tiba memandang dan matanya terbelalak, mulutnya tersenyum dan hampir ia berteriak.

"Paman Liong....!"

Sie Liong juga tersenyum.

"Bi Sian, engkau sudah menjadi seorang gadis dewasa yang cantik dan gagah!"

Bi Sian melangkah maju dan memegang tangan Sie Liong.

Ia lupa bahwa ia kini telah menjadi seorang gadis dewasa dan pamannya itupun sudah menjadi seorang pemuda dewasa.

Digenggamnya tangan pemuda itu.

"Paman Liong! Ah, tidak kusangka akan bertemu denganmu di sini! Dan engkau.... ah, engkau juga sudah menjadi seorang pemuda, paman! Engkau kelihatan gagah dan.... hemm...."

Gadis itu melepaskan tangannya, mundur dan mengamati Sie Liong yang menjadi merah sekali mukanya.

"Dan.... bongkok!"

Sambungnya mendahului, daripada didahului gadis itu.

"Ah, itu aku sudah tahu. Akan tetapi engkau gagah dan tampan, paman!"

Sungguh! Bi Sian masih nakal seperti dulu, pikirnya gembira. Masih lincah jenaka dan suka menggoda orang akan tetapi dengan cara yang menyenangkan.

"Bi Sian, engkau masih seperti dulu! Suka menggoda pamanmu!"

Sie Lan Hong juga tertawa dan ia sendiri terkejut.

Agaknya sudah bertahun-tahun ia lupa untuk tertawa dan baru sekarang ia dapat tertawa kembali.

Anaknya telah pulang!

"Oya, ibu, paman.

Aku sampai lupa memperkenalkan.

Dia ini adalah suhengku, namanya Bong Gan.

Suheng, inilah ibuku dan ini pamanku Sie Liong."

Sejak tadi Bong Gan hanya menonton saja dan hatinya terasa panas dan tidak enak melihat keakraban antara sumoinya dan pemuda bongkok itu.

Biarpun disebut paman, akan tetapi mereka itu sebaya dan juga hubungan mereka demikian akrab, tidak seperti paman dan keponakan.

Seketika, timbul perasaan tidak suka kepada kedua orang itu.

Akan tetapi karena dia diperkenalkan maka dia cepat memberi hormat dan bersoja dan sikapnya amat sopan santun.

"Ibu, mana ayah?"

"Sudah kukatakan, ayahmu sedang keluar rumah. Mari, mari kita bicara di dalam...."

Ibu itu merangkul anaknya dan diajak masuk ke dalam rumah.

Sie Liong mengkuti, akan tetapi Bong Gan merasa ragu-ragu, dan dia menjadi salah tingkah.

Dia bukan anggauta keluarga, bagaimana berani ikut masuk?

Akan tetapi agaknya Bi Sian dapat memaklumi keadaannya, maka iapun menoleh dan berkata kepadanya.

"Suheng, mari silakan masuk saja. Paman Liong, ajaklah suheng. Dia memang pemalu."

Sie Liong sejak tadi memperhatikan suheng dari keponakannya itu.

Seorang pemuda yang tampan dan gagah, dan mengingat bahwa mereka berdua itu murid Koay Tojin, tidak dapat diragukan lagi bahwa kepandaian mereka tentu tinggi sekali.

Akan tetapi, ada sesuatu pada wajah pemuda itu yang membuatnya ragu-ragu.

Entah apanya, mungkin pandang matanya.

"Saudara Bong, silakan masuk,"

Katanya dan Bong Gan menganguk.

"Terimakasih, Terimakasih....!"

Mereka berempatpun memasuki rumah itu.

Seperti juga ketika untuk pertama kalinya Sie Liong masuk ke dalam rumah itu Bi Sian juga melihat perubahan besar di dalam rumahnya.

Prabot-prabot rumahnya sudah berubah, sekarang jelek dan butut, tidak seperti dulu.

Ibunya juga tidak mengenakan perhiasan sedikitpun, dan toko mereka sudah ditutup!

Apa yang terjadi?

Ia tidak berani langsung bertanya kepada ibunya karena di situ terdapat Bong Gan yang bagaimana juga adalah orang luar.

Ia akan bertanya kepada ibunya kalau mereka hanya berdua, atau bertiga saja dengan pamannya.

Mereka berempat duduk menghadap meja besar di ruangan dalam.

Bi Sian segera menceritakan pengalamannya ketika ia diambil murid Koay Tojin dan ia segera menceritakan tentang perbuatan Lu Ki Cong, putera Lu-ciangkun komandan pasukan keamanan di Sung-jan itu.

"Coba ibu bayangkan, bukankah orang itu jahat sekali? Dia mempergunakan anak buahnya yang menyamar sebagai perampok dan menggangguku, kemudian dia muncul sebagai penolongku. Setelah para perampok palsu itu pergi, dia menggangguku! Untung muncul suhu! Dan dia datang lagi membawa perampok-perampok palsu itu dan mengeroyok suhu. Akan tetapi mereka dihajar oleh suhu! Aih, betapa senangku pada waktu itu! Apakah manusia jahat itu sekarang masih hidup, ibu?"

Sie Lan Hong menahan senyumnya.

"Hussssh, jangan berkata demikian, anakku. Memang dia jahat, akan tetapi tidak perlu hal itu diperpanjang. Dia masih hidup dan ayahmu masih mengharapkan perjodohan itu....."

Bi Sian bangkit berdiri dan mengepal tinjunya.

"Apa? Dia masih berani melanjutkan ikatan jodoh itu? Biarlah, aku akan ke sana dan menghajarnya sendiri sampai dia minta ampun!"

"Jangan, Bi Sian! Baru saja engkau pulang, jangan membikin ribut di Sung-jan. Bagaimanapun juga, dia putera kepala pasukan keamanan di sini, dan kekuasaan ayahnya besar sekali. Kalau engkau memusuhi mereka secara terang-terangan begitu, bukankah akibatnya ayah dan ibumu yang akan menanggung?"

"Sumoi, apa yang ibumu katakan itu benar sekali. Engkau adalah penduduk kota ini, tidak baik memusuhi penguasa setempat. Kalau memang engkau ingin memberi hajaran padanya, serahkan saja kepadaku. Di sini aku tidak dikenal orang, maka tiada halangannya kalau aku yang pergi menemui dan menghajar orang yang berani menghinamu,"

Kata Bong Gan dengan sikap gagah.

"Sudahlah Bi Sian. Aku tidak menghendaki ribut-ribut,"

Kata Sie Lan Hong yang teringat akan keadaan suaminya.

Baru menghadapi suaminya saja yang kini berubah demikian jahat, ia sudah berduka sekali.

Apalagi ditambah urusan yang ditimbulkan karena pengamukan Bi Sian terhadap keluarga Lu-ciangkun.

"Engkau baru pulang, Bi Sian. Tidak boleh terjadi hal-hal yang hanya akan mendatangkan keributan dan kekacauan."

Bi Sian masih merasa penasaran, lalu ia menoleh kepada Sie Liong.

"Coba pertimbangkan, paman Liong. Bukankah sudah sepatutnya kalau manusia macam Lu Ki Cong itu kuberi hajaran keras? Dahulupun dia yang menghinamu. Hal itu masih boleh dilupakan karena engkau laki-laki. Akan tetapi penghinaannya terhadap diriku, sungguh membuat hati ini panas dan mendongkol saja."

Sie Liong tersenyum, akan tetapi dia lalu bersikap sungguh-sungguh dan memandang tajam kepada keponakannya itu.

"Bi Sian, kurasa ibumu berkata benar. Tidak perlu mencari gara-gara dan permusuhan. Mengenai kejahatan Lu Ki Cong kepadamu, bukankah katamu tadi dia dan anak buahnya sudah mendapat hajaran keras dari suhumu? Nah, dengan demikian berarti sudah lunas, bukan? Kalau sekarang dia melakukan perbuatan jahat lagi, barulah pantas kau turun tangan menghajarnya. Kukira engkau cukup mengerti bahwa kepandaian yang dipelajari bukan untuk menimbulkan kekacauan, bahkan sebaliknya untuk memadamkan kekacauan. Bukankah begitu?"

Gadis itu memandang dengan mata terbelalak.

"Ehhh? Kepandaian bukan untuk menimbulkan kekacauan melainkan untuk memadamkan kekacauan? Paman, aku pernah mendengar kalimat itu diucapkan suhu! Bukankah begitu, suheng?"

Song Gan mengangguk, akan tetapi dia memandang kepada Sie Liong dengan alis berkerut.

"Kalau begitu, suhumu adalah seorang yang bijaksana sekali, Bi Sian. Memang aku pernah menyaksikan kehebatannya dan mendengar bahwa beliau, yang berjuluk Koay Tojin, adalah seorang yang sakti dan bijaksana!"

"Paman Liong! Engkau.... engkau mengenal suhu?"

Sie Liong tersenyum lagi.

"Mengenal sih tidak, akan tetapi aku pernah bertemu dengan beliau dan berhutang budi karena beliau pernah mengobati aku yang terluka oleh pukulan beracun."

"Kalau begitu, engkau tentu murid orang sakti pula, Paman Liong! Hayo ceritakan pengalamanmu. Siapa itu gurumu yang sakti?"

Tanya Bi Sian gembira sekali membayangkan bahwa pamannya yang disayangnya dan dikasihaninya itu kini telah menjadi seorang yang lihai!

"Aihh, Bi Sian.

Aku yang cacat ini mana bisa mempelajari ilmu silat yang tinggi?

Hanya kebetulan sekali bahwa aku mendengar dari ibumu tentang kepergianmu dibawa oleh seorang sakti bernama Koay Tojin, dan aku mengenal nama itu, karena dia....

dia itu masih terhitung paman guruku juga."

Baik Bi Sian maupun Bong Gan terkejut mendengar ini.

"Apa?"

Gadis itu berseru.

"Suhuku masih paman gurumu? Kalau begitu, siapakah gurumu? Ah, sekarang aku ingat....! Pernah suhu menyebut nama seorang yang katanya paling dia segani dan sayangi di dunia ini. Nama orang itu adalah.... Pek-sim Sian-su! Benarkah engkau muridnya?"

Sie Liong mengangguk. (Lanjut ke

Jilid 10) Kisah Pendekar Bongkok (Serial 06 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 10

"Engkau memang cerdik dari dulu, Bi Sian. Akan tetapi, orang cacat seperti aku ini tidak dapat mempelajari banyak ilmu silat. Aku hanya banyak belajar tentang hidup."

"Ah, aku tidak percaya! Engkau tentu lihai sekali, paman! Sekali waktu engkau harus mengajarku ilmu silat!"

"Wah, mana aku berani? Melawanmu, dalam beberapa jurus saja aku tentu akan roboh!"

Kata Sie Liong dan suasana menjadi semakin gembira karena paman dan keponakan ini seolah-olah merasakan suasana di waktu mereka masih kanak-kanak dahulu.

Hanya Bong Gan yang diam saja.

Dia sendiri memandang rendah dan tidak suka kepada pemuda bongkok itu.

Pemuda bongkok itu kelihatan amat disuka dan dipuji oleh Bi Sian!

Katakanlah pemuda itu sudah mempelajari ilmu dari seorang sakti, akan tetapi dengan punggungnya yang bongkok itu, bagaimana mungkin dia memperoleh ilmu yang tinggi?

Bagaimana mampu menghimpun tenaga sakti kalau tulang punggungnya saja bengkok?

Dia merasa tidak suka sekali, apalagi melihat betapa kadang-kadang sepasang mata pemuda bongkok itu mencorong dan memandang tajam kepadanya, seolah hendak menjenguk isi hatinya sehingga dia merasa ngeri sendiri!

Masih baik bahwa pemuda bongkok itu paman dari Bi Sian, adik ibunya sehingga bukan merupakan seorang saingan dalam memperebutkan hati Bi Sian!

"Aih, kalian jangan main-main!"

Kata Sie Lan Hong.

"Bi Sian, engkau ini baru saja pulang setelah pergi selama tujuh tahun, dan begitu datang engkau hendak menantang pamanmu? Ketahuilah, pamanmu inipun baru dua hari tiba di sini! Kedatangan kalian sungguh kebetulan sekali. Sekarang, kalian harus beristirahat dan kita saling melepas rindu dengan membicarakan pengalaman-pengalamanmu, bukan untuk saling hantam dan gebuk! Aih, aku ini mempunyai keluarga macam apa! Adik jagoan dan anak tukang pukul?"

Mereka tertawa, bahkan Bong Gan juga tersenyum mendengar ucapan itu. Pada saat itu, terdengar teriakan dari luar rumah.

"Haii, mana dia isteriku yang baik dan adiknya yang gagah? Aku sudah pulang siang-siang dan tidak mabok, ha-ha-ha-ha!"

Laki-laki itu muncul di pintu.

Mulutnya mengatakan tidak mabok, akan tetapi keadaannya yang terhuyung-huyung itu jelas membuktikan keadaan yang sebaliknya.

"Ayahhhhh....!"

Bi Sian berseru, bukan seruan girang melainkan seruan kaget melihat keadaan ayahnya.

Dahulu, ayahnya seorang pria yang tampan dan rapi, akan tetapi sekarang, nampak awut-awutan dan kotor!

Orang itu adalah Yauw Sun Kok.

Mendengar panggilan itu, lenyaplah senyum menyeringai dan mengejek tadi dari bibirnya.

Matanya terbuka lebar dan dia memandang kepada gadis yang sudah bangkit berdiri dan melangkah maju menghampirinya itu.

"Bi Sian.... kau.... kau Bi Sian....?"

"Ayah....!"

Bi Sian lari menghampiri.

"Kau kenapakah, ayah?"

Ayahnya merangkul puteri itu dan menangis!

Bi Sian terkejut bukan main.

Ayahnya menangis?

Sungguh luar biasa sekali ini!

Ayahnya yang demikian gagah perkasa, ayahnya yang jantan.

Kini menangis?

"Ayah, tenanglah, ayah.

Mari duduk...."

Ia membimbing ayahnya dan membawa ayahnya duduk di kursi menghadapi meja.

Hanya sebentar saja Sun Kok menangis.

Dia sudah memandang kepada puterinya dengan mata merah.

Lalu dia tertawa.

"Ha-ha-ha, engkau sudah pulang, Bi Sian? Engkau sudah mewarisi ilmu silat tinggi dari Koay Tojin? Bagus! Engkau harus mewakili ayahmu ini, engkau harus dapat mengalahkan Si Bongkok ini. Dia telah mengalahkan aku, Bi Sian...."

"Hemm, engkau telah mabok lagi. Mari, engkau perlu tidur....!"

Sie Lan Hong membantu suaminya bangkit dan memapahnya ke dalam kamar. Yauw Sun Kok tidak membantah, hanya mengomel.

"Kau harus pukul dia, Bi Sian, demi ayahmu, kau pukul bongkoknya, biar mampus....!"

Saking heran dan bingungnya, Bi Sian menjatuhkan diri duduk di atas kursi dan tidak dapat bicara apa-apa.

Ia memandang kepada pamannya yang juga duduk sambil menundukkan mukanya.

Pintu kamar itu tertutup setelah ayahnya dipapah ibunya masuk ke dalamnya dan suasana menjadi sunyi sekali, sunyi dan menegangkan.

"Paman Liong,"

Akhirnya Bi Sian bicara dan biarpun suaranya perlahan, namun terdengar mengejutkan dan memecahkan kesunyian itu.

"Engkau.... engkau benar telah mengalahkan ayah....?"

Sie Liong mengangkat mukanya, memandang kepada keponakannya itu, kemudian melirik ke arah Bong Gan.

Bi Sian mengerti maksud lirikan itu, dan ia berkata.

"Suheng adalah seperti keluarga sendiri, paman. Tidak ada salahnya bicara di depan dia!"

Suaranya sudah terdengar kaku, tanda bahwa dia penasaran mendengar ayahnya dikalahkan Sie Liong, dan tentu ayahnya telah dipukul oleh pamannya itu.

Sie Liong mengangguk-angguk.

"Aku tidak pernah mengalahkah dia, Bi Sian."

"Akan tetapi, ayah tadi mengatakan...."

"Kemarin dulu, ketika aku datang, aku melihat ayahmu hendak memukuli ibumu, dalam keadaan mabok. Terpaksa aku melindungi ibumu, bukan berarti melawan dan mengalahkan ayahmu. Aku hanya mengelak dan menangkis.... dan ayahmu mabok, dan pukulan-pukulan itu.... kalau mengenai ibumu, tentu akan berakibat parah! Kau tidak melihat keadaan mereka? Keadaan rumah ini! Aih, Bi Sian.... kesemuanya berubah....!"

Kembali dia melirik ke arah Bong Gan.

Jelas bahwa dia merasa tidak enak sekali harus bicara lebih banyak di depan orang lain.

Melihat ini, Bong Gan yang sejak tadi sudah merasa tidak enak dengan munculnya ayah Bi Sian yang seperti itu, lalu bangkit berdiri.

"Maafkan aku, sumoi. Sebaiknya kalau aku mencari rumah penginapan di kota. Besok aku akan datang berkunjung, sampaikan maafku kepada ayah den ibumu!"

Bi Sian hanya mengangguk.

Hatinya dipenuhi hal lain, yaitu kenyataan tentang ayah dan ibunya.

Dan dalam keadaan seperti itu, memang sebaiknya kalau suhengnya bermalam di rumah penginapan.

"Baiklah, suheng. Maafkan kami."

Bong Gan pergi meninggalkan rumah itu.

Setelah pemuda itu pergi, barulah Bi Sian duduk di dekat Sie Liong.

Tadi ia memang marah sekali membayangkan bahwa pamannya telah memukul ayahnya, akan tetapi kini sudah hilang kemarahannya.

Ia terlalu percaya kepada Sie Liong, tidak mungkin pamannya ini mau memukul ayahnya.

"Nah, sekarang ceritakanlah keadaan yang seaungguhnya, paman!"

Bi Sian menuntut. Sie Liong menarik napas panjang.

"Sebenarnya, ibumu yang harus menceritakan kepadamu. Akan tetapi biarlah, akupun berkewajiban untuk memberitahukan semua kepadanu. Ketahuilah bahwa setelah kita berdua pergi, ayahmu telah berubah sama sekali. Setiap hari dia bergaul dengan orang-orang sesat, dia berjudi, mabok-mabokan, pelesir, menghamburkan uang sampai usaha dagangnya jatuh dan dia bangkrut. Bukan hanya itu, malah semua barang di rumah, prabot dan perhiasan ibumu, semua dijual untuk dihamburkan di medan perjudian dan pelesiran. Lebih lagi, dia mulai membenci ibumu dan suka memukuli ibumu."

"Ah, mana mungkin itu?"

"Aku sendiripun tidak akan percaya kalau tidak melihat sendiri. Kemarin dulu, dia tidak tahu bahwa aku telah datang, dia datang malam-malam dalam keadaan mabok dan hendak memukuli ibumu. Aku yang melihatnya lalu melindungi ibumu. Aku diserang, bukan main-main, diserang mati-matian dengan pedang. Aku hanya membela diri, sama sekali tidak memukulnya, melainkan merampas pedangnya. Engkau tentu tahu bahwa aku tidak akan berani melakukan hal seperti itu, Bi Sian."

"Aih, ayah....! Kenapa begitu. Ibuu.... ah, kasihan sekali, ibuku...."

Bi Sian lalu meninggalkan Sie Liong dan iapun lari memasuki kamar ayah dan ibunya.

Melihat ini, Sie Liong juga meninggalkan ruangan itu dan pergi mencari hawa sejuk di belakang rumah.

Hatinya lega karena Bi Sian tidak sampai salah paham dengan dia.

Diam-diam dia merasa bangga dan kagum kepada keponakannya itu.

Bi Sian telah menjadi seorang gadis seperti yang selalu dia bayangkan.

Seorang gadis yang lincah jenaka, gagah perkasa, berkepandaian tinggi, juga bijaksana seperti sikapnya tadi ketika melihat ayahnya dan bertanya kepadanya.

Tidak mudah dipengaruhi emosi.

Dan teringatlah dia kepada Bong Gan.

Pemuda itu suheng Bi Sian?

Sebagai suhengnya, tentu memiliki ilmu silat yang lebih tinggi!

Memang, baru melihat sinar matanya saja mudah diduga bahwa pemuda itu tentu lihai sekali.

Akan tetapi ada sesuatu pada pandang mata pemuda itu yang membuat hatinya merasa tidak enak.

Dia duduk di atas bangku di bawah pohon.

Mengapa dia merasa tidak enak?

Karena pemuda itu suheng Bi Sian dan kelihatan amat akrab dengan gadis itu sehingga Bi Sian mengajak pemuda itu pulang?

Hendak diperkenalkan kepada ayah ibunya?

Kalau benar begitu, mengapa dia harus merasa tidak enak?

Sudah sepantasnya kalau Bi Sian saling mencinta dengan pemuda itu!

"Ah, tidak....!"

Tiba-tiba dia bangkit dan mengepal tinju.

Akan tetapi dia teringat dan sadar lagi, duduk kembali.

Ih, engkau ini kenapa?

Demikian dia memaki diri sendiri.

Bi Sian seorang gadis yang cantik manis, dan suhengnya itupun seorang pemuda tampan.

Keduanya sudah dewasa, sudah sepatutnya kalau saling jatuh cinta.

Kenapa di hatinya, harus ikut ribut-ribut?

Dia kan hanya pamannya, dan dia kan hanya seorang bongkok?

"Yang tahu dirilah kau!"

Demikian dia memaki diri sendiri dan Sie Liong duduk termenung di kebun belakang itu sampai lama sekali.

Seorang pemuda memasuki rumah pelesir yang mewah itu.

Pemuda itu tampan dan segera menarik perhatian para pelacur yang hendak memperebutkan perhatian pemuda itu.

Maka, ketika pemuda itu duduk di dalam ruangan makan di depan, segera ada lima orang gadis pelacur menghampirinya, menyapanya dengan ramah dan tanpa diminta mereka segera duduk mengelilingi meja itu.

Pakaian mereka yang tipis, muka mereka yang berbedak tebal, tubuh mereka yang menantang dan disiram minyak wangi, membuat pemuda itu tersenyum-senyum gembira.

Pemuda itu bukan lain adalah Bong Gan!

Sebetulnya, tidak aneh kalau kini dia kelihatan berada di dalam sebuah rumah pelacuran, Walaupun selama ini dia amat pandai menyimpan rahasia.

Semenjak dla melakukan perjinahan dengan Pek Lan, selir ayah angkatnya itu, dia sudah menjadi hamba nafsu berahi yang tidak ketulungan lagi!

Akan tetapi, sebagai murid Koay Tojin dan yang selalu dekat dengan Bi Sian, dia pandai sekali menjaga diri sehingga di luarnya dia nampak alim bukan main, sopan dan tidak pernah kurang ajar.

Akan tetapi, apabila dia memperoleh kesempatan, yaitu ketika melakukan perjalanan seorang diri untuk berbelanja bumbu atau memburu binatang, dia selalu mempergunakan kepandaiannya untuk memuaskan berahinya yang berkobar-kobar.

Di luar dugaan Bi Sian dan Koay Tojin, setelah dewasa, Bong Gan sering sekali mengganggu wanita.

Baik melalui ketampanannya, kepandaiannya, maupun dengan paksa!

Banyak sudah isteri atau anak gadis orang menjadi korbannya, namun selalu dapat menjaga diri, menyembunyikan mukanya sehingga tidak ada yang mengenalnya.

Wanita yang dirobohkannya dengan modal ketampannya, selalu adalah isteri orang yang tentu saja tidak akan membongkar rahasia busuknya sendiri.

Juga, tempat pelacuran bukan tempat asing bagi Bong Gan karena kalau dia tidak mendapat korban, maka tempat pelacuranlah yang menjadi tempat dia melepaskan semua dorongan nafsu birahinya.

Kini dia berada di rumah pelacuran karena hatinya agak kesal.

Dia terpaksa berpisah dari Bi Sian, bermalam di sebuah rumah penginapan dan malam itu, karena iseng, diapun keluar berjalan-jalan dan akhirhya masuk ke dalam sebuah rumah pelesir yang besar di kota Sung-jan.

Bong Gan tidak kekurangan uang.

Sebelum memasuki rumah penginapan tadi, dia sudah mempergunakan kepandaiannya untuk memasuki sebuah rumah gedung dan dari dalam rumah itu, tanpa diketahui siapapun, dia telah berhasil mencuri uang emas yang cukup banyak.

Dengan kepandaian yang dia miliki, kejahatan seperti itu mudah saja dia lakukan.

Tak lama kemudian, dia sudah masuk ke dalam kamar ditemani oleh tiga orang gadis pelacur!

Menjelang tengah malam, baru dia keluar dari dalam kamar itu dan bermaksud untuk kembali ke rumah penginapan.

Besok pagi-pagi dia akan berkunjung ke rumah Bi Sian dan dia tidak ingin kurang tidur.

Akan tetapi, baru saja dia keluar digandeng tiga orang gadis pelacur yang kelihatan amat mencintanya.

Siapa orangnya takkan mencinta seorang pemuda yang tampan, jantan dan royal dengan uangnya?

Apa lagi kalau perempuan itu seorang pelacur!

"Heiii, bukankah engkau suheng dari Bi Sian?"

Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki menegurnya, Song Gan menoleh dan dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia mengenal pria yang menegurnya itu.

Yauw Sun Kok, ayah Bi Sian!

Kalau ada kilat menyambar kepalanya, belum tentu Bong Gan sekaget ketika dia bertemu dengan ayah Bi Sian di rumah pelacuran!

Celaka, pikirnya, habislah namanya.

Rusaklah dia di mata ayah Bi Sian dan tentu sumoinya itu juga akan mendengar dari ayahnya!

Tentu sumoinya itu tidak akan sudi lagi berdekatan dengan dia kalau mendengar bahwa dia dilihat ayahnya di rumah pelacuran, dirangkul tiga orang pelacur.

Dia cepat dapat memulihkan sikapnya, berpura-pura tidak mengenal Yauw Sun Kok dan melepaskan diri dari gandengan tiga orang pelacur, dia lalu keluar sambil berkata dengan suara dirobah.

"Anda salah lihat!"

Yaw Sun Kok belum mabok pada saat itu.

Dia memang langganan rumah pelacuran ini dan kalau dia tidak berjudi, tentu dia berada di sini, main-main dengan gadis pelacur, atau sekedar mabok-mabokan.

Ketika melihat pemuda yang digandeng tiga orang pelacur itu, dia segera mengenalnya dan menegurnya.

Sebetulnya kekhawatiran Song Gan tidak beralasan.

Orang yang sudah menjadi langganan rumah pelacuran seperti Yauw Sun Kok, tentu tidak akan memandang rendah kepada pria lain yang juga datang menghibur diri di tempat itu.

Yauw Sun Kok adalah seorang manusia yang jiwanya lemah, tertutup oleh nafsu-nafsunya sehingga jiwanya menjadi hamba dari nafsunya.

Karena sejak kecil hidup sebagai orang sesat, di tengah-tengah orang yang bekerja sebagai perampok, penjudi dan penjahat-penjahat, Akhirnya isterinya terbunuh oleh Sie Kian, dia menjadi sakit hati dan setelah memperdalam ilmu-ilmunya, dia berhasil membalas dendam, membasmi keluarga musuh besarnya itu.

Akan tetapi dia tergila-gila kepada Sie Lan Hong dan membawa gadis remaja itu sebagai isterinya, juga membiarkan Sie Liong hidup atas permintaan Sie Lan Hong yang pada waktu itu amat dicintanya.

Karena cintanya terhadap isteri yang baru inilah Yauw Sun Kok dapat merobah jalan hidupnya.

Dia dapat mengekang nafsu-nafsunya, karena semua nafsunya telah dipuaskan oleh isteri yang dicintanya itu.

Apalagi ketika Bi Sian terlahir.

Sun Kok bahkan pernah menjadi suami dan ayah yang baik.

Akan tetapi, rasa takutnya akan menerima pembalasan dari Sie Liong membuat sifat jahatnya timbul dan dia bahkan telah membikin cacat adik isterinya itu.

Setelah Sie Liong melarikan diri, dan juga puterinya dibawa orang sakti sebagai murid, dalam keadaan kesepian ini, nafsu-nafsu rendah yang tadinya mulai dapat dikekang, bermunculan kembali dan menguasai jiwa raga Sun Kok!

Maka diapun kembali ke jalan lama membiarkan nafsunya meraja lela dan setiap hari hanya mengejar kesenangan belaka.

Bahkan muncul pula watak kejamnya sehingga dia tidak segan memukuli isterinya yang dulu pernah amat disayangnya itu kalau isterinya dianggap menghalangi kesenangannya!

Segala macam nafsu tidak terpisahkan dari manusia.

Sejak lahir memang kita sudah disertai nafsu-nafsu, karena sesungguhnya nafsu-nafsu merupakan pendorong bagi kita untuk dapat hidup di dunia ini.

Nafsu adalah kemelekatan kita kepada kebutuhan hidup di dunia, kebutuhan badan.

Kemelekatan pada benda, pada makanan, dan sebagainya.

Akan tetapi, nafsu-nafsu ini setelah merasakan segala macam kesenangan melalui badan manusia, lalu ingin menguasai manusia, mencengkeram dan memperhamba manusia sehingga jiwa manusia yang murni terselubung oleh hawa nafsu, menjadi lemah dan tidak berdaya.

Kalau jiwa yang menjadi penghubung antara manusia dengan Tuhannya itu terselubung, maka Kekuasaan Tuhan yang berada di dalam diri tidak dapat bekerja dengan sempurna.

Maka nafsulah yang berkuasa, dan di dalam setiap gerak gerik kita, selalu nafsu yang menjadi pengemudinya!

Kalau keadaan kita manusia ini dapat diumpamakan sebuah kereta, lengkap dengan roda, kerangka, lampu, dan segala perlengkapan sebuah kereta, maka nafsu-nafsu adalah ibarat kuda-kuda yang menarik kereta ini!

Jiwa kita seharusnya menjadi Sang Kusir, yang mengendalikan nafsu-nafsu atau kuda-kuda itu agar kereta dapat berjalan dengan baik.

Tanpa adanya kuda-kuda itu, kereta tidak akan dapat berjalan atau bergerak maju.

Akan tetapi kalau Sang Kusir tidak mampu menguasai kuda-kuda itu, dan sebaliknya kuda-kuda itu yang menguasai kereta, maka tentu kuda-kuda itu menjadi liar dan akan kabur, mungkin saja membawa seluruh kereta berikut Sang Kusir terjun ke dalam jurang!

Demikian pula dengan nafsu.

Kalau jiwa tidak tertutup kotoran, kalau jiwa tetap dekat dengan Tuhan, penuh penyerahan diri, penuh ketawakalan dan penuh keikhlasan membiarkan diri dibimbing kekuasaan Tuhan, maka jiwa akan selalu dapat menguasai nafsu-nafsu.

Bukan berarti nafsu harus dimatikan, seperti kuda yang dibutuhkan untuk menarik kereta.

Nafsu juga perlu untuk membuat kita hidup.

Kita makan karena ada nafsu, kita berpakaian karena ada nafsu, kita melihat, mendengar dan mempergunakan panca indera dan dapat menikmati hidup karena ada nafsu.

Nafsu bagaikan api.

Kalau dikuasai, dapat amat bermanfaat bagi hidup, akan tetapi sebaliknya kalau menguasai kita, dapat membakar segala-galanya!

Nafsu adalah seorang hamba yang amat baik, akan tetapi seorang majikan yang amat jahat!

Melihat Bong Gan bersikap tidak mengenalnya, hanya sebentar Yauw Sun Kok merasa heran.

Akan tetapi tak lama kemudian dia sudah tenggelam ke dalam buaian arak dan lewat tengah malam, diapun berjalan pulang terhuyung-huyung dalam keadaan mabok.

Ketika Sun Kok melewati daerah yang sunyi, di mana tidak ada rumah di kanan kiri jalan, Tiba-tiba berkelebat bayangan hitam yang langsung menyerangnya dengan kepalan tangan.

Serangan itu dahsyat sekali, mendatangkan angin pukulan yang keras.

Bagaimanapun juga, Sun Kok adalah seorang yang sudah lama mempelajari ilmu silat dan tingkat kepandaiannya cukup tinggi.

Dia mendengar suara angin serangan ini dan cepat dia mengelak sambil menggerakkan tangan kiri menangkis dan tangan kanannya membalas dengan cengkeraman ke arah pundak penyerangnya!

Namun, penyerang itu lihai bukan main karena dengan amat mudahnya dia menghindarkan diri dari cengkeraman itu.

Saat itu dipergunakan Sun Kok yang cepat melompat ke belakang itu untuk mengamati penyerangnya.

Cuaca gelap, akan tetapi dia melihat bayangan penyerangnya yang berpunggung bongkok!

"Sie Liong....!"

Teriaknya dengan suara penuh rasa ngeri.

Memang sejak dahulu dia takut kepada adik isterinya, takut kalau sampai anak itu mengetahui bahwa dialah pembunuh orang tuanya.

Kalau saja tidak melihat isterinya, sudah sejak dulu dia membunuh Sie Liong.

Dan kini, apa yang ditakutinya terjadi.

Sie Liong yang sudah dia bikin bongkok itu, masih berhasil mempelajari ilmu silat tinggi dan malam ini agaknya hendak membalas dendam dan menyerangnya!

Maklum bahwa dia terancam maut, tangan Yauw Sun Kok bergerak dan tiga batang piauw beruntun menyambar ke arah tubuh orang bongkok itu.

Namun, dengan sigapnya, lawannya itu berhasil mengelak dengan amat mudah.

Sun Kok sudah mencabut pedangnya, pedang pusaka Pek-lian-kiam dan biarpun dia mabok, akan tetapi perasaan takut melenyapkan maboknya dan dia sudan mainkan pedangnya, menyerang dengan gesit.

Namun, sekali ini dia harus mengakui bahwa dia telah berhadapan dengan seorang lawan yang amat tangguh.

Biarpun lawannya bertangan kosong, namun serangan-serangan pedangnya tidak pernah mampu menyentuh lawannya yang dapat bergerak secepat burung walet terbang.

Kemudian, ketika dengan gugup dia membalik untuk mencari lawan yang tadi berkelebat lenyap ke arah belakangnya, tiba-tiba tangan kanannya menjadi lumpuh tertotok dan pedangnya berpindah tangan!

Sebelum Sun Kok mampu menghindar, sinar pedang berkelebat dan pedang itu telah menembus dada dan jantungnya!

Sun Kok roboh terjengkang, seketika tewas dengan dada ditembusi pedangnya sendiri!

Bayangan berpunggung bongkok itu lalu menyambar tubuh yang tak bernyawa lagi itu, menyeretnya menuju ke rumah Yauw Sun Kok.

Dengan amat cekatan, dia melompat ke atas genteng dan selanjutnya berlompatan sehingga tidak ada orang melihatnya.

Setelah berlompatan dari rumah ke rumah, dia lalu turun ke pekarangan belakang rumah Yauw Sun Kok.

Ketika tiba di dekat sebuah jendela kamar di rumah itu, kakinya tersaruk sebuah benda yang mengeluarkan suara keras.

"Siapa itu?"

Terdengar bentakan suara wanira dari balik jendela.

Bayangan itu tidak menjawab, menyeret mayat itu menjauhi jendela.

Akan tetapi dia kurang cepat karena tiba-tiba daun jendela itu terbuka dari dalam dan Bi Sian masih sempat melihat seorang laki-laki berkedok dan berpunggung bongkok menyeret sesosok mayat ke dalam kebun.

"Paman Liong....?"

Dia memanggil akan tetapi bayangan itu sudah lenyap ke dalam kegelapan malam.

Bi Sian cepat meloncat keluar dari kamarnya dan melakukan pengejaran ke dalam kebun.

Akan tetapi bayangan orang berpunggung bongkok itu lenyap dan ia menemukan sesosok tubuh menggeletak di atas tanah.

Pada waktu itu, kebetulan sekali bulan sepotong yang sejak tadi tertutup awan hitam, terlepas dari cengkeraman awan dan menyinarkan cahayanya yang redup namun cukup terang bagi Bi Sian untuk mengenal wajah orang itu.

"A.... ayahhhhh....!"

Ia menjerit dan cepat berlutut, memeriksa tubuh itu.

Ayahnya, benar ayahnya, telah tewas dengan dada ditembusi sebatang pedang yang dikenalnya sebagai pedang pusaka milik ayahnya sendiri, Pek-lian-kiam!

Jeritan Bi Sian ini mengejutkan para pengnuni rumah itu.

Ibunya terkejut dan berlari keluar.

"Bi Sian, apa yang terjadi....?"

Tanyanya sambil berlari tersaruk-saruk ke dalam kebun.

"Ibu....! Ayah tewas terbunuh orang....!"

Bi Sian berseru dan iapun melompat lalu berlari mencari-cari ke dalam kebun.

Akan tetapi, ia tidak menemukan jejak orang yang tadi menyeret tubuh ayahnya, lalu ia mendexati rumah.

Tiba-tiba ia melihat sesuatu.

Cepat ia berjongkok den diambilnya benda itu.

Sebuah topeng!

Topeng yang tadi ia lihat dikenakan pembunuh ayahnya.

Topeng hitam!

"Bi Sian, ada apakah ribut-ribut itu?"

Mendengar suara Sie Liong, Bi Sian cepat menyimpan topeng itu ke dalam saku dalam bajunya.

Ia memandang tajam kepada wajah Sie Liong.

Biarpun remang-remang, ia melihat bahwa selarut itu pamannya ini belum tidur!

"Paman Liong, apakah engkau tidak mendengar sesuatu?"

Tanyanya sambil memandang tajam penuh selidik.

"Mendengar apa? Aku hanya mendengar teriakanmu memanggil ayahmu, lalu suara enci Lan Hong di belakang sini. Apakah yang telah terjadi?"

"Paman Liong, mari kau lihat sendiri!"

Katanya sambil menarik lengan pamannya itu.

Lengan itu tidak memperlihatkan sesuatu, tidak gemetar, juga sikap pamannya tenang-tenang saja.

Bi Sian ingin melihat bagaimana sikap pamannya kalau melihat cihu-nya menggeletak tewas.

Setelah tiba di tempat itu, dari jauh Sie Liong sudah mendengar ratap tangis encinya dan melihat cihu-nya menggeletak dengan pedang masih menancap di dada, dia terkejut bukan main.

"Enci Hong, apa.... apa yang telah terjadi? Siapa membunuh cihu?"

Dia berlutut dan memeriksa.

Tak salah lagi.

Cihunya telah tewas, tewas seketika melihat pedang itu menembus dada.

Melihat adiknya, Sie Lan Hong menangis semakin mengguguk sambil memeluk mayat suaminya.

"Liong-te.... bagaimanapun juga.... bagaimanapun jahatnya.... aku.... aku mencintanya....!"

Wanita itu meratap dan menangis sejadinya.

Sejak tadi Bi Sian sudah memperhatikan sikap pamannya.

Terlalu tenang, pikirnya.

Terlalu tenang sehingga tidak wajar.

Akan tetapi, mengapa ia masih meragukan kenyataan itu?

Ia melihat dengan matanya sendiri.

Orang yang menyeret mayat ayahnya itu berpunggung bongkok!

Siapa lagi kalau bukan pamannya?

Dan orang itu bertopeng hitam, topeng hitam yang ia temukan di luar kamar Sie Liong pula!

"Engkau pembunuh ayahku!"

Tiba-tiba Bi Sian berteriak sambil melompat dekat Sie Liong, tangannya sudah menyambar sebatang ranting kayu dan kini digenggam di tangannya, telunjuk kirinya menuding ke arah muka Sie Liong.

Pemuda itu terkejut dan heran.

"Apa....? Apa maksudmu, Bi Sian?"

Dia bangkit berdiri.

"Maksudku, Sie Liong, engkaulah yang membunuh ayahku!"

"Ehh? Apa kau sudah gila? Enci, bagaimana ini? Bagaimana anakmu menuduh aku membunuh suamimu?"

Akan tetapi anehnya, Sie Lan Hong hanya menangis, tidak membantah sedikitpun juga.

Memang, di dalam hatinya, Lan Hong juga menduga bahwa tentu adiknya itu yang telah membunuh suaminya, untuk membalaskan sakit hati orang tua mereka.

"Liong-te, kenapa engkau begitu kejam membunuhnya? Bagaimanapun juga, dia ayah Bi Sian, dia suamiku dan aku.... aku cinta padanya...."

Mendengar ratap tangis encinya ini, Sie Liong terbelalak dan merasa bagaikan disambar geledek di hari terang!

Akan tetapi, Bi Sian yang juga mendengar ucapan ibunya, sudah mengeluarkan suara melengking panjang dan ia mengeluarkan topeng hitam itu, melemparkannya ke arah muka Sie Liong yang cepat menangkapnya.

Melihat bahwa yang dilemparkan itu sebuah topeng hitam tipis, Sie Liong tidak tahu maksudnya.

Akan tetapi pada saat itu, tongkat di tangan Bi Sian sudah menyambar dengan totokan-totokan maut ke arah muka, tenggorokan dan ulu hatinya.

Tiga kali totokan bertubi yang kesemuanya amat berbahaya!

Tanpa disadarinya, Sie Liong menyimpan topeng itu ke dalam saku bajunya dan tubuhnya lalu dilempar ke belakang, berjungkir balik setiap kali ada ujung tongkat menyambar dan setelah tiga kali berjungkir balik, dia lalu memalangkan kedua lengannya seperti hendak menggunting kalau tongkat yang amat berbahaya itu menyambar lagi.

Akan tetapi kini tongkat itu tidak menusuknya dari depan, melainkan menghantam dari kanan ke arah lambungnya!

Bukan main cepat dan kuatnya serangan Bi Sian.

Kembali Sie Liong menghindar diri dengan loncatan ke atas.

Celaka, pikirnya.

Bi Sian, dan bahkan encinya sendiri, agaknya sudah yakin bahwa dia pembunuh cihu-nya!

Agaknya membela diri dan menyangkal tidak ada gunanya pada saat keduanya sedang emosi itu, dan melawan serangan Bi Sian amat berbahaya.

Gadis ini memiliki ilmu tongkat yang amat ganas dan lihai, dan teringat dia akan ilmu tongkat yang pernah dipertontonkan Koay Tojin.

"Kalian salah sangka....!"

Katanya dan ketika tongkat itu kembali menyambar dengan totokan maut ke arah pusarnya, Sie Liong melompat ke pinggir lalu kakinya menyambar untuk menendang pinggang Bi Sian dari samping.

Dia mengerahkan tenaga sehingga angin tendangan itu menyambar keras.

Bi Sian terkejut dan cepat melompat ke belakang.

Inilah yang dikehendaki Sie Liong.

Dia mempergunakan kesempatan selagi gadis itu melompat ke belakang, dia pun melompat jauh dan menghilang di dalam kegelapan malam!

"Pembunuh, hendak lari ke mana kau?"

Bi Sian melompat dan melakukan pengejaran.

Akan tetapi, Sie Liong dapat bergerak cepat sekali dan dia sudah tidak nampak bayangannya.

Setelah mengejar ke sana-sini tanpa hasil, dengan hati kesal Bi Sian kembali ke dalam kebun.

Ia menemukan ibunya masih menangisi mayat ayahnya.

"Aku tidak berhasil menyusul pembunuh keparat itu! Akan tetapi, ibu, aku akan mencarinya sampai dapat!"

"Sudahlah, Bi Sian. Yang terpenting sekarang mengurus jenazah ayahmu,"

Kata Sie Lan Hong yang akhirnya dapat menguasai hatinya yang terguncang.

"Tapi, ibu, yang terpenting adalah menangkap pembunuh itu!"

"Hem, bagaimanapun juga, dia adalah pamanmu, adik ibumu."

"Apakah kalau adik ibu, lalu dia boleh membunuh ayah sesukanya? Apakah ibu sudah begitu membenci ayah karena ayah telah berubah selama ini?"

"Bi Sian....!"

Sie Lan Hong menangis lagi dan Bi Sian segera menyadari kekeliruannya. Ia berlutut dan merangkul ibunya.

"Maafkan, ibu. Maafkan aku.... ah, kedukaan membuat aku bersikap kasar kepada ibu."

Gadis itu lalu mengangkat jenazah ayahnya ke dalam rumah.

Para tetangga dan penduduk kota Sung-jan terkejut mendengar berita kematian Yauw Sun Kok yang kabarnya terbunuh orang semalam.

Banyak orang menduga-duga siapa pembunuhnya.

Yauw Sun Kok mereka kenal sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa, walaupun akhir-akhir ini menjadi gila judi dan suka bermain perempuan dan mabok-mabokan.

Sie Lan Hong menangis perlahan di dalam kamarnya.

Ia tidak mau ditemani puterinya dan terpaksa Bi Sian duduk bersila di ruangan di mana jenazah ayahnya dibaringkan, ditemani beberapa orang pria tua tetangga mereka.

Ketika Lan Hong menangis lirih, tiba-tiba daun jendelanya terbuka dari luar.

Begitu perlahan jendela itu terbuka dari luar sehingga Lan Hong tidak mendengar sesuatu.

Baru ia terkejut ketika ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu adiknya telah berdiri di dalam kamar itu.

Lan Hong memandang terbelalak kepada adiknya.

"Mau apa.... kau datang? Engkau sudah membunuhnya, tentu engkau sudah puas, bukan? Biarlah aku yang menderita.... hu-huh.... sejak dulu, aku yang menderita....!"

"Enci, dengarlah baik-baik. Aku tidak membunuhnya, enci. Aku tidak membunuh cihu....!"

Wanita itu menghentikan tangisnya lalu menarik napas panjang.

"Sudahlah, Liong-te. Akupun tidak menyalahkanmu. Dulu akupun hendak membunuhnya dan sudah sepatutnya kalau aku atau engkau membunuhnya...."

"Enci.... apa.... apa maksudmu?"

Sie Liong bertanya, hatinya berdebar tegang.

"Engkau tentu telah menduganya, maka engkau membunuhnya, bukan? Nah, baiklah, karena dia sudah mati, kuceritakan segalanya kepadamu. Memang, Yauw Sun Kok yang menjadi pembunuh ayah dan ibu kita, membunuh suheng Kim Cu An, dan dua orang pelayan keluarga kita dan semua binatang peliharaan kita."

Sedikit banyak memang sudah ada dugaan di dalam hati Sie Liong yang selalu dibantahnya sendiri karena bagaimana mungkin encinya menjadi isteri pembunuh ayah ibu mereka?

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert